Asaas 'Amaliyah At-Takwin (Dasar-Dasar Tarbiyah Takwiniyah)

Sinopsis

Takwin atau pembentukan merupakan aktifitas dakwah yang cukup penting dalam merubah masyarakat jahiliyah kepada masyarakat Islamiyah. Tanpa tarbiyah yang berorientasi takwiin, perubahan akan sulit dicapai. Beberapa dasar dalam menjalankan takwiin adalah dai memandang bahwa dakwah yang dibawanya bertujuan untuk membentuk umat yang melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar. Dengan tuj uan pada marhalah ini, maka dai harus mengajak mad'u untuk bergerak dan berdakwah. Di dalam takwiin ada berbagai usaha untuk membersihkan diri para pesertanya melalui program qiyamul lail, tazkirah, tadarus, tadabur Al Quran, menghidupkan ibadah sunnah, dan sebagainya. Pada marhalah ini sangat ditekankan masalah pembersihan jiwa. Marhalah ini juga bertujuan agar mad'u tidak ragu-ragu dalam menerima Islam dan berjihad. Jihad yang dikehendaki dalam dakwah adalah jihad dengan harta dan jiwa. Apapun yang dimilikinya, baik harta maupun jiwa akan diberikan dalam jalan dakwah. Dalam pelaksanaannya, takwin mengajak mad'u untuk bertaubat, memuji Allah, serta mengamalkan perintah Allah SWT sehingga terbentuk umat terbaik, yaitu umat yang melaksanakan dakwah.

Dalam tahap takwin, dakwah ditegakkan dengan melakukan berbagai seleksi terhadap unsur-unsur yang positif dari peserta tarbiyah. Mereka diharapkan mampu untuk memikul beban dan tanggung jawab dakwah sehingga diperlukan suatu kegiatan yang cukup berat. Pada tahap ini juga dilakukan penghimpunan berbagai bagian yang ada dalam acara-acara tertentu. Kegiatan dakwah dalam tahap takwiin bersifat tasawuf murni dalam tataran rohani dan bersifat disiplin dalam tataran operasional. Sehingga pada tahap dakwah ini dibiasakan untuk mendengar dan taat terhadap nilai-nilai yang disampaikan tanpa adanya keraguan.

Setiap kelompok di dalam takwiin adalah representasi dari tahapan dalam kehidupan dakwahnya. Ia berhimpun di dalam jalan dakwah yang juga merupakan jalan dakwahnya nabi Muhammad SAW dalam melakukan pembinaan kepada para sahabat. Dakwah pada tahapan takwiin in bersifat khusus. Tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan yang baik dan benar dalam memikul beban dakwah yang panjang. Oleh karena itu diperlukan beberapa dasar­dasar kegiatan dalam pembinaan yang dapat menjadikan seseorang kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan yang berat. Diharapkan dari kegiatan-kegiatan takwin ini mampu menelorkan totalitas ketaatan di dalam melaksanakan nilai-nilai Islam.

Dasar-dasar kegiatan pembinaan adalah kegiatan-kegiatan yang berintikan kepada menyuruh kebaikan dan melarang dari kemungkaran, mencintai kebersihan, menepati janji, beriman kepada Allah, berkorban di jalan Allah, bertaubat, beribadah, memuji, bangun di malam hari, berjalan di jalan Allah, orang yang ruku, dan orang yang sujud. Kegiatan in sangatlah kompleks dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya. Komitmen yang diharapkan pada tahapan takwin in merupakan suatu komitmen yang penuh dan kesiapan untuk taat sudah terwujud yaitu kesiapan untuk bertakwa dan taat kepada Allah seperti yang disebutkan dalam Al Quran surat Ali Imran:50, Az Zukhruf:63 dan As Syuura: 108 yang artinya "Bertakwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepadaku".

Dasar kegiatan pembinaan in mengikuti kesiapan mad'u. Murabbi memberi dan melaksanakan pembinaan seiring dengan kadar umur dan pengetahuannya. Yang penting adalah adanya kesesuaian dengan kepahamannya terhadap tiga masalah pokok yaitu Allah, rasul dan Islam terhadap Al Quran dan ilmunya, khususnya tilawah dan hafalan. Terhadap sunnah Nabi kita perlu berilmu dan memahami fikih sunnah dan itu juga memahami tauhid dan tasawuf yang bersih. Pada tahap in diharapkan juga adanya pengetahuan tentang ushul fikih, bahasa Arab, sejarah Islam, sirah, wawasan kontemporer dunia Islam, konspirasi untuk menghancurkan Islam dan cara-caranya, studi-studi Islam kontemporer serta figh ad-da'wah.

Selama didapatkan komitmen dan kesiapan mad'u terhadap prinsip-prinsip tersebut maka akan mempermudah berbagai pencapaian tujuan dakwah. Pada takwiin prinsip dasarnya adalah bekeria dan berlatih. Ungkapan Hasan Al Bana tentang kegiatan takwiin adalah sistem dakwah dalam tahapan ini bersifat tasawuf murni dalam aspek ruhiyah dan militer murni dalam aspek operasional. Slogan kedua aspek ini adalah perintah dan taat tanpa ragu dan berat hati. Kegiatan dalam takwiin harus melihat seorang mad'u dengan standar pemahaman yang mendalam, komitmen, pengorbanan, ibadah dan ketakwaannya. Kemudian dalam konteks manhaaj takwiin diminta kepada mad'u untuk menyempurnakan kekurangannya dengan kesungguhan. Penguasaan atas berbagai rujukan ilmu dan pengajaran Islam, kajian dan daurah. Kegiatan lain yang dilakukan selain menuntut adanya kedisiplinan juga menjaga kesufian seperti wirid istighfar, wirid muhasabah, wirid shalat, qiyamul lail, wirid zikr dan doa. Juga kegiatan-kegiatan berupa amar ma'ruf dan nahi munkar dimana adanya keharusan taat kepada yang ma'ruf dan ingkar kepada yang mungkar. Kegiatan yang sempurna di dalam takwiin akan membawa kematangan rnad'u dalam mencapai tujuan takwiin.

Takwin pada dasarnya adalah mentarbiyah orang dengan standar keanggotaan dalam organisasi untuk memainkan perannya yang optimal bagi pelayanan Islam. Hal ini dilakukan melalui berbagai pertemuan, halaqah dan daurah. Halaqah untuk mendapatkan program-program ilmiah dan pengetahuan yang mendesak bagi masing-masing mad'u dan daurah untuk mendapatkan bekal yang mendesak untuk tahapan tertentu. Melalui takwiin inilah seseorang akan ditentukan arahnya untuk berdakwah dan melaksanakan beberapa tugas misalnya menangani tahap ta'rif, takwiin atau tan fiidz.

Kegiatan pembinaan diawali dengan pemahaman kepada hal-hal yang penting dalam Islam yang perlu dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengetahui apa yang diperlukannya dalam menghadapi realitas kehidupan sehari­ hari, mengetahui amalan sunnah harian, pekanan, dan bulanan dalam batas-batas tertentu. Oleh karena itu, diharapkan pada tahapan ini setiap muslim mempelajari buku yang ringkas tentang aqidah, fikih, akhlak, cara membaca Al Quran, tajwid dan menghafal surat-surat yang disunnahkan untuk dihafal. Selain itu juga perlu mengetahui hal-hal yang syubhat dan kesalahan pemahaman tentang Islam yang sengaja ditimbukan oleh musuh-musuh Islam.

Kegiatan pembinaan juga memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang pertarungan antara Islam dan musuh­musuhnya serta mengetahui beberapa hal penting tentang fikih dakwah. Hal-hal tersebut merupakan kadar minimal ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh setiap muslim. Kegiatan pembinaan juga mengarahkan kepada keseriusan individu untuk menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, memberikan loyalitasnya kepada Islam, mempunyai kebiasaan harian dalam membaca Al Quran, istighfar, membaca shalawat, mengulang bacaan tahlil dan qiyamul lail. Kegiatan-kegiatan ini merupakan suatu kewajiban di dalam kegiatan pembinaan.

Dasar-dasar kegiatan pembinaan juga menuntut untuk disiplin dalam melaksanakan setiap kegiatan tersebut. Disiplin dalam beribadah dan juga berdakwah. Selain itu juga disiplin dalam menghadiri setiap pertemuan, mengeluarkan zakat dan melaksanakan segala sesuatu sesuai dengan syariat. Hal ini merupakan suatu kadar minimal sebuah komitmen.

Tahapan takwiin mempunyai dasar-dasar kegiatan yang merujuk pada sifat tasawuf murni dalam aspek ruhani dan kedisiplinan dalam aspek operasional. Tahapan ini merupakan tahapan amal atau kerja dan pembinaan dimana kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada fase ini untuk mendorong dan memotivasi individu beramal dan berdakwah. Kegiatan ruhiyah dilakukan agar individu mencapai ahli zikir dan ibadah, kegiatan amar ma'ruf nahi munkar agar mencapai budaya dakwah pada diri individu dan kegiatan olahraga mencapai standar kesehatan fisik. Hal itu merupakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan tarbiyah ruhiyah dan tarbiyah jasadiyah.

Dengan adanya kegiatan-kegiatan pembinaan yang memiliki beberapa karakter-karakter individu dapat tercapai sempurna apabila individu mewujudkan ilmu pengetahuan, karakter, dan komitmen-menjadi pijakannya. Oleh karena itu, landasan ilmu pengetahuan, karakter dan komitmen tersebut merupakan dasar proses pembinaan dalam mewujudkan individu yang berakhlak mulia dan terbangunnya suatu bangunan dakwah yang kokoh.

Asaas 'Amaliyah At-Takwiin (Dasar Amal Takwin)

Takwin adalah dakwah dan tarbiyah yang berorientasi pada pembentukan dan pembinaan pribadi sehingga memunculkan perubahan-perubahan dalam pribadi­pribadi, keluarga, dan masyarakat. Dakwah tanpa takwin akan sulit menimbulkan perubahan. Contohnya adalah cara taklim dan tabligh yang hanya akan menghasilkan pribadi yang paham namun tidak bergerak dalam amal. Pengetahuan yang diberikan akan menghilang seiring berjalannya waktu. Tarbiyah yang diwarnai dengan takwin merupakan dakwah yang menekankan pada pembentukan dan perubahan-perubahan. Tarbiyah Nabi adalah tarbiyah yang berorientasi pada takwin. Buktinya dapat dilihat pada kualitas keimanan dan amalan para sahabat serta perubahan-perubahan yang terj adi pada masa itu. Beberapa dasar pelaksanaan takwin adalah sebagai berikut:

A. Waltakun Minkum Ummatun Yad'uuna llaa Al-Khair Wa Ya'muruuna Bil-Ma'ruuf Wa Yanhauna 'Anil Munkar (Hendaklah Kamu Menjadi Suatu Umat Yang Mengajak Kepada Kebaikan Menyuruh Dengan Makruf Dan Melarang Dari Yang Mungkar)

Membentuk umat (takwinul ummah) adalah arahan dan perintah Allah agar dapat diwujudkan umat yang melaksanakan amar ma'ruf dan nahi munkar. Inilah umat yang unggul. Dakwah takwiniyah adalah dakwah yang mengajak dan membawa mad'u untuk bergerak. Dengan demikian, dakwah atau tarbiyah tidak hanya berbentuk taklimat atau tazkirah, namun merupakan tadrib (latihan) serta aplikasi ilmu ke dalam perbuatan. Tarbiyah dan dakwah berusaha mengarahkan mad'u ke dunia dakwah dengan melibatkan mereka ke dalam lingkaran dakwah melalui potensi masing-masing.

Umat yang dibentuk adalah pribadi yang mempunyai ciri­ciri'anaashir taghyir (unsur perubah) dan qobilut taghyir (siap melakukan perubahan) atau mereka yang telah melalui marhalah tabligh dan taklim. Dengan keadaan mad'u yang demikian, maka pembentukan akan mudah dilaksanakan.

Dalil

Q.3:104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan, menyuruh kepada kebaikan serta mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.

Hadits. Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Nabi SAW bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kamu menyuruh kepada kemakrufan, mencegah dari kemungkaran, atau Allah menyegerakan pengiriman siksa dari sisi-Nya, kemudian kamu berdoa kepada-Nya, lalu Dia tidak memperkenankan doamu" (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

B. Rijaalun Yuhibbuuna An Yatathahharuu Wallaahu Yuhibbu Al-Muthahhiriin (Orang Yang Mencintai Kebersihan Dan Allah Mencintai Orang Bersih)

Allah SWT meyukai orang yang membersihkan diri, bail lahir maupun batin. Untuk menuju pribadi yang bersihF dapat dilakukan melalui takwin. Hal ini dapat dilihat dar: perjalanan sirah para sahabat. Karena takwin senantiasE membuat program ke arah pembersihan jiwa, misalnyE dengan membiasakan pesertanya untuk membaca A Quran, qiyamul lail, shaum, membaca do'a, dan aktifita: ziarah. Beberapa aktifitas lainnya yang dapat membersihkar jiwa kita adalah i'tikaf di masjid, khuruj (bepergian) untul berdakwah, membantu fakir miskin, aksi sosial, sert-, meningkatkan ukhuwah melalui husnuzhan (berprasangk, baik) dan salamatusadr (lapang dada). Program demikiar hanya dapat berjalan efektif melalui program takwin.

Dalil

Q.9:108. Janganlah kamu shalat di Masjid itu selama­lamanya, karena sesungguhnya masjid (Masjid Quba') yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat disana. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan (mensucikan) dirinya. Dan Al­lah menyukai orang-orang yang membersihkan diri.

Hadits. "Islam itu bersih, maka berlaku bersihlah, karena sesungguhnya tidak masuk surga kecuali yang bersih" (HR Baihaqi).

C. Rijaalun Shadaquu Maa Aahadullaah Alaih Faminhum Man Qadhaa Nahbahu Waminhum Man Yantazhir Wa Maa Baddaluu Tabdiila (Orang­Orang Yang Menepati Janji Mereka Kepada Allah Di Antara Mereka Adalah Yang Telah Syahid, Di Antara Mereka Ada Yang Menunggu-Nunggu Dan Allah Tidak Pernah Menukar Janjinya)

Dasar kegiatan pembinaan bertujuan untuk menjadikan pribadi-pribadi mukmin yang menepati janji kepada Allah untuk berjuang di jalanNya. Bahkan pembinaan ini akan menyiapkan individu untuk bersedia mati syahid di jalan Allah. Mereka tidak takut mati dan tidak pula cinta kepada dunia, tetapi mereka bercita-cita untuk hidup mulia di dunia atau mati syahid.

Dalil

Q. 33:23. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang­orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (Janjinya).

Hadits. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang memiliki perjanjian dengan suatu kaum, maka janganlah melepas tali perjanjian itu dan jangan pula mengencangkannya sebelum batas akhirnya habis atau menyembahkan perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur" (HR Ahmad).

D. Innamaa Al-Mu,minuun Alladziina Aamanuu Billaahi Wa Rasuulihi Tsumma Lam Yartaabuu Wa Jaahaduu Biamwaalihim Wa Anfusihim Fii Sabiilillaah (Hanya Saja Orang Yang Beriman Itu Adalah Orang Yang Beriman Dengan Allah Dan Rasulnya Kemudian Mereka Tidak Ragu Dan Berjihad Dengan Harta Dan Jiwa Mereka Di Jalan Allah)

Allah SWT meyebutkan bahwa orang yang beriman adalah orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya serta mereka yang berjihad di jalan-Nya tanpa ragu-ragu. Untuk mencapai kualitas pribadi seperti itu, diperlukan takwin. Selain mengajak menusia mencari ilmu dan berdakwah, takwin mengajak manusia untuk merasakan jihad. Pengorbanan jiwa dan harta adalah sesuatu yang harus terus disampaikan kepada mad'u melalui tugas dan latihan sehingga terbentuk pribadi yang komitmen dan tidak ragu pada jihad. Fikrah yang jelas disertai kesadaran dan dikuatkan oleh harta akan membuahkan jihad yang dilaksanakan tanpa keraguan. Sahabat-sahabat Nabi adalah contoh orang-orang yang tidak ragu sedikitpun terhadap panggilan jihad. Bahkan mereka bersedia meninggalkan apapun juga seperti istri (walau pada malam pertama), keluarga, jiwa, serta mengorbankan harta dan jiwanya. Kualitas tersebut akan dicapai melalui tarbiyah takwiniyah.

Allah SWT menyuruh kita untuk tidak ragu-ragu dalam menerima ajaran kitab suci Al Quran (Islam). Sikap ini perlu ditumbuhkan sehingga keridhaan kita pada Islam mendarah daging. Apa saja bentuk seruan Islam yang dibawa oleh murabbi yang bersumber dari Al Quran dan sunnah akan langsung dilaksanakannya. Penerimaan yang tidak ragu-ragu ini dapat dicapai melalui dakwah takwiniyah. Dengan demikian, Islam yang sebelumnya hanya diketahui sebagai ilmu akan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Islam itu akan hidup dalam dirinya dan mad'u merasa mantap dengan kelslaman tanpa keraguan.

Dalil

Q.49:15. Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar (pengakuan imannya).

Q.32:23. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerima (Al Quran itu) dan kami jadikan Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil.

Hadits. Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "orang-orang yang beriman di dunia ini terbagi kepada tiga bagian: orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu­ragu dan mereka berjihad dengan jiwa dan harta di jalan Allah; orang yang dikhawatirkan oleh orang lain berkenaan dengan jiwa dan harta mereka dan orang yang apabila ia melihat ketamakan, maka dia meninggalkannya karena Allah" (HRAhmad).

E. Innallaah Isytaraa Min Al-Mu,miniin Anfusahum Wa Amwaalahum Bianna Lahum Al-Jannah (Sesungguhnya Allah Telah Membeli Dari Orang Mukmin Jiwa Mereka Dan Harta Mereka Dengan Surga)

Bentuk jihad yang dikehendaki Allah SWT adalah jihad dengan mengorbankan harta dan jiwa. Kelak Allah SWT akan memberikan balasan berupa surga kepada mereka. Menciptakan kualitas manusia yang siap mengorbankan jiwa dan harta perlu dibina, ditumbuhkan, dan dikembangkan melalui takwin. Takwin atau pembentukan dilakukan dengan pengendalian melalui latihan dan mutaba'ah yang baik untuk merangsang dan membentuk seseorang untuk berjihad (misalnya berdakwah). Apabila seseorang sudah berjihad, maka sudah pasti ia akan mengorbankan jiwanya, seperti mengorbankan waktu, tenaga, pemikiran, perasaan, serta jiwa itu sendiri. Kepada mereka perlu diberikan contoh dan dirangsang untuk mengeluarkan hartanya di jalan dakwah. Janji kepada Al­lah dalam berjihad terlebih dahulu dilakukan dengan jiwa, baru kemudian harta. Sedangkan pelaksanaannya, jihad dimulai dengan pengorbanan harta kemudian diikuti dengan pengorbanan jiwa.

Dalil

Q.9:111. "Sesungguhnya Allah telah membeli diri dari or­ang-orang mukmin, jiwa dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berjuang pada jalan Allah, maka (di antara) mereka ada yang membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam (kitab-kitab) Taurat, Injil, dan Al Quran. Dan Siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) Al­lah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar"

Hadits. Abdullah bin Rawahah RA meriwayatkan, berkata Rasulullah SAW pada malam Aqabah, "Berjanjilah kepada tuhanmu dan kepada dirimu apa yang engkau kehendaki. Beliau melanjutkan, "Aku berjanji kepada Tuhanku kiranya kamu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Aku berjanji dengan diriku kiranya kamu memberiku dengan jiwa dan hartamu yang hendak kamu berikan , "Para sahabat bertanya, `Apa imbalannya jika kami melakukan hal itu ?", Beliau menjawab, "Surga". Mereka berkata, "Jual beli yang menguntungkan. Kami tidak akan banyak bicara" Maka diturunkanlah ayat, "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka,..." "Allah menjamin or­ang yang berangkat di jalan-Nya sedang dia tidak berangkat melainkan untuk berjihad dijalan-Ku dan membenarkan Rasul-Ku, jika dia wafat, maka dia akan dimasukkan kedalam surga atau dipulangkan ke rumahnya dari mana dia berangkat dengan memperoleh pahala dan ghanimah"

F At-Taa'ibuun Al-'Aabiduun Al-Haamiduun As-Saa'ihuun Ar-Raaki'uun As-Saajiduun Al-Aamiruun Bil-Ma'ruuf Wa An-Naahuun `Anil Munkar (Orang-Orang Yang Bertaubat Lagi Beribadah, Lagi Memuji, Orang Yang Mengerjakan Bangun Dimalam Hari (Qiyamul Lail), Orang Yang Berjalan Di Jalan Allah, Orang Yang Ruku Dan Orang Yang Sujud Lagi Menyuruh Dengan Yang Makruf Dan Melarang Dan Yang Mungkar)

Muslim yang senantiasa memuji Allah, beribadah, berbuat kebaikan, serta menjaga hukum Allah tidak terjadi dengan sendirinya. Dakwah melalui pendidikan formal sulit diharapkan untuk mencapai kualitas demikian, begitu juga dengan dakwah melalui tabligh dan taklim. Marhalah tabligh dan takwin mempunyai keterbatasan, di antaranya peserta yang bersifat umum dengan kualitas yang beragam serta bahan yang bersifat umum. Hal ini kurang memungkinkan untuk mencapai sasaran pembentukan kepribadian muslim.

Dakwah takwiniyah dij alankan pada beberapa orang dalam kelompok (maksimal 12 orang) dan dilakukan kepada peserta yang sudah bersedia dibentuk (sebagai hasil dari marhalah tabligh dan taklim). Dakwah takwiniyah dijalankan dengan manhaj yang syamil, program yang kontinyu, sasaran yang jelas, dan proses yang sistematik. Dengan dakwah demikian, maka tercapailah pribadi yang senantiasa bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang menuntut ilmu, yang sujud dan yang berdakwah.

Dalil

Q. 9:112. (Mereka itu ialah): orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang mengembara (untuk menuntut ilmu dan mengembangkan Islam), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah berbuat mungkar, dan yang menjaga hukum­hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman (yang bersifat demikian itu).

Hadits. Rasulullah SAW berkhutbah, "Hai sekalian manusia, bertobatlah kamu sekalian kepada Allah sebelum kamu mati, bersegeralah beramal shaleh sebelum sibuk, sambunglah tali silaturahmi dengan sesama orang di antara kamu dan antara kamu dengan Tuhanmu dengan memperbanyak dzikir kepada Allah dan memperbanyak sedekah dengan cara sembunyi-sembunyi atau terang­terangan, tentu kamu akan mendapatkan rezki, pertolongan dan mendapatkan kecukupan segala kebutuhan kamu" (HR Ibnu Majah).

Hadits. Dari Sahl bin Sa'ad RA dari Rasulullah SAW bersabda, "Pergi di pagi hari atau sore hari di jalan Allah adalah lebih utama (mulia) dari dunia dan seisinya" (HR Bukhari)

G. Kuntum Khaira Ummatin Ukhrijat Linnaas Ta'muruuna Bil-Ma'ruf Wa Tanhauna `Anil Munkar Wa Tu'minuuna Billaah (Kamu Adalah Umat Yang Terbaik Yang Ditampilkan Kepada Manusia Menyuruh Mereka Berbuat Baik Dan Melarang Berbuat Mungkar Dan Beriman Kepada Allah)

Umat yang terbaik tidak dilahirkan begitu saja, tetapi merupakan proses pembinaan yang berdasarkan kepada takwin. Dasar kegiatan tarbiyah takwiniyah ini juga berupaya membentuk kepribadian dai yang senantiasa melakukan dakwah dengan menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar. Pribadi yang berdakwah, tentunya pribadi yang beriman sehingga nilai-nilai Islam yang disampaikannya akan berkesan dan berpengaruh kepada pribadi mad'u.

Dalil

Q. 3:110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Hadits. Dari Durrah binti Abu Lahab, dia berkata, "Seseorang bangkit dan menuju Rasulullah SAW ketika beliau berada dalam mimbar, lalu bertanya, "Ya Rasulullah SAW, siapakah manusia yang paling baik?, Beliau bersabda, "Manusia yang paling baik ialah yang paling tenang, paling bertakwa, paling giat menyuruh kepada makruf, paling gencar melarang kemungkaran, dan paling rajin bersilaturahmi" (HR Imam Ahmad).





 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat