Thaqatul Insan (Potensi Manusia)
Allah Ta’ala membekali manusia dengan at-thaqah –potensi-, yaitu as-sam’u (pendengaran), al-basharu (penglihatan), dan al-fuadu (hati). Banyak sekali firman Allah Ta’ala yang menyebutkan tentang hal ini, diantaranya adalah.
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا
تَشْكُرُونَ
“Katakanlah: ‘Dia-lah
Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati’. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al-Mulk, 67: 23)
Allah Ta’ala
menganugerahkan telinga kepada manusia yang dengannya ia dapat mendengarkan
ajaran-ajaran agama Allah yang disampaikan kepadanya oleh rasul-rasul Allah.
Dianugerahi-Nya pula manusia mata yang dengannya ia dapat melihat, memandang
dan memperhatikan kejadian alam semesta ini. Diberi-Nya manusia hati, akal dan
pikiran untuk memikirkan, merenungkan, menimbang dan membedakan mana yang baik
bagimu dan mana yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak
bermanfaat. Sebenarnya dengan anugerah-Nya itu manusia dapat mencapai semua
yang baik bagi dirinya sebagai makhluk Allah.[1]
Firman-Nya yang lain:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ
أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ
وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun,
dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl, 16: 78)
Allah Ta’ala
mengeluarkan manusia dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa.
Tetapi sewaktu masih di dalam rahim, Allah Ta’ala menganugerahkan bakat dan
kemampuan pada diri manusia, seperti bakat berpikir, mengindra dan lain
sebagainya.
Setelah manusia itu
lahir, dengan hidayah Allah Ta’ala segala bakat-bakat itu berkembang. Akalnya
dapat memikirkan tentang kebaikan, kejahatan, kebenaran dan kesalahan, hak dan
batal. Dan dengan bakat pendengaran dan penglihatan yang telah berkembang itu
manusia mengenali dunia sekitarnya dan mempertahankan hidupnya serta mengadakan
hubungan sesama manusia. Dan dengan perantaraan akal dan indra itu pengalaman
dari pengetahuan manusia dari hari ke hari semakin bertambah dan berkembang.
Kesemuanya itu merupakan rahmat dan anugerah Tuhan kepada manusia yang tidak
terhingga.[2]
Karena itu
seharusnyalah manusia bersyukur kepada-Nya dengan menjalankan al-mas’uliyyah
(tanggung jawab) yang telah dipikulkan kepadanya, yakni mempergunakan segala
nikmat Allah Ta’ala itu untuk beribadah dan patuh kepada-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ
إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS.
Adz-Dzariyat, 51: 56)
Di saat memikul al-mas’uliyyah
itu, ada dua pilihan di hadapan manusia; apakah menindaklanjutinya dengan
al-amanah (sikap amanah) atau dengan al-khiyanah (sikap khianat).
*****
Mereka yang memilih
sikap amanah, di dunia ini akan dianugerahi kehormatan al-khilafah
(kepemimpinan), sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا
اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي
ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah
berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan
amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa
dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap
menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur, 24: 55)
Berkenaan dengan
al-khilafah ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan manusia:
Pertama, manusia bukan
pemilik yang hakiki (‘adamu haqiqatil mulkiyah), karena Pemilik yang hakiki
adalah Allah Ta’ala.
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ
إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ
الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dialah Allah Yang
tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang
Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha
Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.” (QS. Al-Hasyr, 59: 23)
Allah itu merajai
segala apa yang di bumi dan di langit, bertasbih kepada-Nya dengan kehendak-Nya
berdasarkan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya, suci dari segala yang tidak layak
dan tidak sesuai dengan ketinggian dan kesempurnaan-Nya. Tuhan Yang Maha Perkasa,
menundukkan segala makhluk-Nya dengan kekuasaan-Nya, Maha Bijaksana dalam
mengatur hal ihwal mereka. Dia-lah yang lebih mengetahui kemaslahatan mereka,
yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat
kelak.[3]
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
“Senantiasa bertasbih
kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha
Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Jumu’ah, 62: 1)
Kedua, manusia harus
mengembannya sesuai dengan kehendak pihak yang mewakilkan kepemimpinan tersebut
( at-tasharruf bi-iradatil mustakhlif), yakni Allah Ta’ala.
Apa yang dikehendaki
Allah Ta’ala dari mereka yang telah diberi kekuasaan di muka bumi?
Dia berfirman,
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي
الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ
وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“(yaitu) orang-orang
yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan
shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan
yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al Hajj, 22:
41)
Ayat di atas
menegaskan bahwa mereka yang diberi kekuasaan di muka bumi hendaknya melakukan
hal-hal berikut ini:
Mendirikan shalat pada
setiap waktu yang telah ditentukan sesuai dengan yang diperintahkan Allah.
Makna yang lebih luas adalah bahwa para pemimpin Islam hendaknya membimbing
umat Islam agar menjalankan shalat dan peribadahan dengan konsekuen,
mengarahkan mereka agar menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala, menjaga akhlak,
keimanan, dan ketakwaan mereka. Karena salah satu tujuan dari shalat adalah
menyucikan jiwa dan raga, mencegah manusia dari perbuatan keji dan perbuatan
mungkar serta mewujudkan takwa yang sebenarnya.
Menunaikan zakat.
Makna yang lebih luas adalah bahwa para pemimpin Islam hendaknya mengarahkan
umatnya agar meyakini bahwa di dalam harta si kaya terdapat hak orang-orang
fakir dan miskin. Dengan kata lain, seorang pemimpin Islam hendaknya berupaya
mewujudkan solidaritas sosial di tengah-tengah umatnya, diantaranya adalah
dengan menegakkan syariat zakat.
Menyuruh manusia
berbuat makruf dan mencegah perbuatan munkar. Para pemimpin Islam memiliki
tugas untuk mendorong manusia mengerjakan amal saleh, memimpin manusia malalui
jalan lurus yang dibentangkan Allah, dan dengan kekuatannya, mereka mencegah
orang-orang yang biasa mengerjakan larangan-larangan Allah. Dengan kata lain,
seorang pemimpin Islam berkewajiban menjalankan fungsi kontrol sosial.
Tindakan mereka sesuai
dengan firman Allah Ta’ala,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ
لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah
dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran, 3: 110)
Ketiga, dalam
mengembannya manusia tidak boleh menentang peraturan yang telah ditentukan oleh
Allah Ta’ala (‘adamut ta’addi ‘alal hudud).
Sebagai pengemban
khilafah, manusia wajib melaksanakan peraturan Allah dan menjaganya. Allah
Ta’ala menyebutkan bahwa salah satu ciri-ciri orang beriman itu adalah,
وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ
“…dan yang memelihara
hukum-hukum Allah.” (QS. At-Taubah, 9: 112)
Jadi, sebagai individu
dan pemimpin, manusia harus berupaya menjaga diri dan umatnya agar tidak
melampaui batas dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala, yaitu berupa
syariat dan hukum-hukum-Nya demi kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.
*****
Bagi manusia yang
memilih sikap khianat, maka Allah Ta’ala akan mengazab dan menghinakannya,
na’udzubillahi min dzalik. Mereka yang tidak mau menggunakan potensi dirinya
untuk beribadah, diumpakan oleh Allah Ta’ala dengan berbagai perumpamaan yang
hina:
Kal an’am (bagaikan
binatang ternak).
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ
كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا
وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا
أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami
jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
(QS. Al-A’raf, 7: 179)
Kal kalbi (bagaikan
anjing).
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا
وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ
الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ
مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ
لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan kalau Kami
menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,
maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya
dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah
(kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf, 7: 176)
Kal qirdi (seperti
monyet dan kal khinzir (seperti babi).
قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ
ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ
وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ
شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
“Katakanlah: ‘Apakah akan
aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari
(orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan
dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang
yang) menyembah thaghut ?’. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat
dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah, 5: 60)
Kutukan yang
disebutkan dalam ayat di atas -dan juga disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat
65- adalah menceritakan tentang orang-orang Yahudi pada masa lalu yang
melanggar ketentuan yang terdapat di dalam Taurat. Mereka meninggalkan
kewajiban beribadah pada hari Sabtu hanya karena ingin melakukan pekerjaan
duniawi menangkap ikan di laut, dimana pada hari itu ikan-ikan di laut
bermunculan dan mudah ditangkap.
Menurut Mujahid,
sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, “Fisik mereka tidak ditukar menjadi
kera, tetapi hati, jiwa dan sifat mereka dirubah menjadi seperti kera. Oleh
sebab itu mereka tidak dapat menerima pengajaran dan tidak dapat memahami ancaman”
Namun, jumhur ulama
berpendapat, bahwa mereka benar-benar bertukar rupa menjadi kera. Disebut di
dalam riwayat lain bahwa mereka yang dirubah menjadi kera itu, tidak beranak,
tidak makan, tidak minum dan tidak dapat hidup lebih dari tiga hari.[4]
Mengenai kutukan ini
Ibnu Mas’ud berkata,
سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ، أَهِيَ مِنْ نَسْلِ
الْيَهُودِ؟ فَقَالَ: “لَا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَلْعَنْ قَوْمًا
فَيَمْسَخُهُمْفَكَانَ لَهُمْ نَسْلٌ، وَلَكِنْ هَذَا خَلْقٌ كَانَ، فَلَمَّا غَضِبَ
اللَّهُ عَلَى الْيَهُودِ فَمَسَخَهُمْ، جَعَلَهُمْ مِثْلَهُمْ”.
“Kami pernah bertanya
kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kera dan babi, ‘Apakah
kera dan babi yang ada sekarang merupakan keturunan dari orang-orang Yahudi ?’.
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya
Allah sama sekali belum pernah mengutuk suatu kaum, lalu membiarkan mereka
berketurunan. Tetapi kera dan babi yang ada merupakan makhluk yang telah ada
sebelumnya. Dan ketika Allah murka terhadap orang-orang Yahudi, maka Dia
mengutuk mereka dan menjadikan mereka seperti kera dan babi.’” (HR. Muslim)
Kal khasabi (seperti
kayu).
وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ
أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ
مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ
قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan apabila kamu
melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka
berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu
yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan
kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap
mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai
dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun, 63: 4)
Ayat di atas
menyebutkan tentang orang-orang munafik. Mereka memiliki penampilan yang baik,
pandai berbicara, dan berlisan fasih. Perkataan mereka membuat pendengarnya
akan terpesona. Padahal kenyataannya hati mereka sangat lemah, rapuh, mudah
sok, penakut, dan pengecut. Kalbu mereka kosong dari iman. Mereka bagaikan kayu
yang tersandar, tak ada kehidupan dalam diri mereka. Manakala terdengar seruan
sebagaimana seruan di dalam kemiliteran, atau bagaikan seruan orang yang
mencari barang yang hilang, mereka rasakan hal itu ditujukan kepada mereka.
Demikian itu karena hati mereka sudah memendam rasa kecut dan takut terhadap
hal-hal yang akan menimpa mereka yang memperbolehkan darah mereka dialirkan.[5]
Kal hijarah (seperti
batu).
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ
ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ
لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ
فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Kemudian setelah itu
hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara
batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan
diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan
diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah
sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah, 2:
74)
Ayat di atas berbicara
tentang watak orang-orang Yahudi. Sesudah mereka diberi petunjuk ke jalan yang
benar dan mereka sudah pula memahami kebenaran itu, mereka lari darinya dan
hati mereka mengeras seperti batu bahkan lebih keras lagi. Padahal sekeras apa
pun batu, oleh suatu sebab dapat terbelah atau retak. Lalu memancarlah air dan
kemudian berkumpul menjadi anak-anak sungai. Kadang-kadang batu-batu itu jatuh
dari gunung karena patuh kepada kekuasaan Allah. Tapi, hati orang Yahudi lebih
keras dari batu bagaikan tak mengenal retak sedikit pun. Hati mereka tak
terpengaruh oleh ajaran-ajaran agama ataupun nasihat-nasihat yang biasanya
dapat menembus hati manusia.
Kal himar (seperti
keledai).
مَثَلُ
الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ
يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ
اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Perumpamaan
orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya
adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya
perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi
petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jum’ah, 62: 5)
Orang yang tidak mau
mengamalkan isi kitabullah diumpamakan oleh Allah Ta’ala seperti keledai yang
membawa kitab-kitab yang tebal. Bahkan mereka lebih bodoh lagi dari keledai,
karena keledai itu memang tidak mempunyai akal untuk memahaminya sedangkan
mereka itu mempunyai akal tetapi tidak dipergunakanan.
Kal ‘ankabut (seperti
laba-laba).
مَثَلُ
الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ
اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ
كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Perumpamaan
orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti
laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah
rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut, 29: 41)
Orang yang berkhianat
kepada Allah Ta’ala, yakni mereka yang berbuat musyrik, tak ubahnya bagaikan
laba-laba yang membuat sarang, sangat rapuh dan lemah, sebab sarang laba-laba
itulah ibarat dari suatu bangunan rumah yang sangat rapuh.
*****
Oleh karena itu,
at-thaqah (potensi), as-sam’u (pendengaran), al-basharu (penglihatan), dan
al-fuadu (hati) yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kita harus
dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan amanah, sehingga Allah
Ta’ala akan memuliakan kita di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam.
Catatan Kaki:
[1] Al-Qur’anul Karim wa
Tafsiruhu, Jilid X hal. 253
[2] Lihat: Al-Qur’anul
Karim wa Tafsiruhu, Jilid V hal. 359 – 360
[3] Al-Qur’anul Karim wa
Tafsiruhu, jilid X, Hal. 81
[4] Lihat: Al-Qur’anul
Karim wa Tafsiruhu, jilid I Hal. 124 – 125
[5] Lihat penjelasan ayat
ini dalam Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Tafsir Jalalain,
dan Tafsir Al-Misbah
Sumber:
https://risalah.id/thaqatul-insan/
Comments
Post a Comment