Iman Kepada Para Nabi dan Rasul

 PARA RASUL

  • Bagi Setiap Umat Ada Seorang Rasul
  • Rasul Adalah Manusia
  • Rasul Adalah Seorang Laki-Laki
  • Tujuan Diutusnya Para Rasul
  •  'Ishmah (Kehormatan/Keterpeliharaan) Para Nabi
  • Hal-Hal yang Dinisbatkan Kepada Para Rasul
  • Ulul 'Azmi dari Kalangan Para Rasul
  • Penutup Nubuwwah dan Risalah
  • Tugas-Tugas Besar yang Dilaksanakan oleh Rasul
  • Bukti-Bukti Kebenarannya
  • Kabar Gembira tentang Kemunculannya
  • Ayat-Ayat (Mukjizat) Para Rasul
  • Perbedaan Antara Ayat-Ayat Para Rasul dan Kejadian Luar Biasa Lainnya
  • Perbedaan Antara Mukjizat dan Karamah
  • Mukjizat Penutup Para Nabi

Allah menugaskan/wajibkan atas setiap muslim untuk beriman kepada seluruh rasul Allah tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Katakanlah (hai orang-orang mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya patuh kepada-Nya.'" (QS. Al-Baqarah: 136).

Dan Dia menjelaskan bahwa hal ini merupakan keimanan orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Dan mereka berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.'" (QS. Al-Baqarah: 285).

Dia juga memberitahukan bahwa kebajikan (al-birr) terletak pada keimanan ini. Dia berfirman:

"Akan tetapi, kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi..." (QS. Al-Baqarah: 177).

Apabila seseorang beriman kepada sebagian rasul namun tidak beriman kepada sebagian yang lain, serta membeda-bedakan di antara mereka dalam hal keimanan, maka ia tergolong kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang kufur kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, 'Kami beriman kepada sebagian dan kami kufur terhadap sebagian (yang lain),' serta bermaksud mengambil jalan tengah di antara yang demikian (iman atau kufur), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya..." (QS. An-Nisa': 150-151).

Di antara para rasul ini, ada yang dikisahkan oleh Allah kepada kita dengan disebutkan nama-nama mereka, dan ada pula yang tidak dikisahkan kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu sebelum itu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu." (QS. An-Nisa': 164).

Adapun rasul-rasul yang dikisahkan oleh Allah kepada kita berjumlah dua puluh lima orang. Merekalah yang disebutkan dalam firman-Nya:

"Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, 'Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan Isma'il, Alyasa', Yunus, dan Lut. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (pada masanya)." (QS. Al-An'am: 83-86).

Ayat-ayat ini mencakup delapan belas rasul, dan diwajibkan pula beriman kepada tujuh rasul lainnya yang disebutkan dalam beberapa ayat berbeda:

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (pada masanya masing-masing)." (QS. Ali 'Imran: 33).

"Dan kepada kaum 'Aad (Kami utus) saudara mereka, Hud." (QS. Al-A'raf: 65).

"Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh." (QS. Hud: 61).

"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib." (QS. Hud: 84).

"Dan (ingatlah kisah) Isma'il, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Anbiya': 85-86).

"Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah Utusan Allah dan penutup para nabi." (QS. Al-Ahzab: 40).

Telah diriwayatkan bahwa jumlah keseluruhan para nabi adalah 124.000 orang.

Tidak Ada Satu Umat pun yang Sepi dari Rasul

Para rasul ini diutus oleh Allah kepada umat-umat manusia di sepanjang kurun waktu yang panjang. Tidak ada satu umat pun yang sepi dari adanya rasul yang menyeru mereka kepada Allah dan menuntun mereka menuju kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Demi Allah, sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul Kami) kepada umat-umat sebelum engkau..." (QS. An-Nahl: 63).

"Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada di sana seorang pemberi peringatan." (QS. Fatir: 24).

"Dan bagi tiap-tiap umat ada rasul..." (QS. Yunus: 47).

"Dan bagi tiap-tiap kaum ada pemberi petunjuk." (QS. Ar-Ra'd: 7).

Rasul Berasal dari Kaum Umat Itu Sendiri

Rasul adalah seorang manusia dari jenis umat itu sendiri, meskipun ia memiliki keutamaan berupa bakat/potensi akal dan ruhani yang dikhususkan oleh Allah untuknya agar bersiap menerima wahyu dari Allah.

"Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas risalah-Nya." (QS. Al-An'am: 124).

"Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Hajj: 75).

Sesungguhnya Allah mengkhususkan rasul dengan keutamaan-keutamaan dan kelebihan-kelebihan agar ia kuat mengemban beban risalah, serta menjadi teladan yang diikuti dalam urusan agama dan dunia. Sekiranya para rasul Allah tidak diistimewakan dengan keistimewaan akal dan ruhani ini—misalnya fitrah mereka rendah atau akal mereka lemah—niscaya mereka tidak layak mengemban petunjuk Allah untuk disampaikan kepada manusia.

Rasul Adalah Laki-Laki yang Memakan Makanan

Rasul adalah seorang laki-laki yang memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar..." (QS. Al-Furqan: 20).

Rasul Menikah

Rasul menikah dan memiliki keturunan sebagaimana manusia lainnya.

"Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan..." (QS. Ar-Ra'd: 38).

Rasul Mengalami Hal-Hal yang Dialami Manusia Lainnya

Rasul mengalami hal-hal yang dialami oleh manusia lainnya berupa kesehatan dan sakit, kekuatan dan kelemahan, kenikmatan dan rasa sakit, serta kehidupan dan kematian; hanya saja apa yang menimpanya tidak menyebabkan orang-orang lari (menjauh) darinya.

"Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.' Maka Kami kabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami." (QS. Al-Anbiya': 83-84).

"Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sungguh telah berlalu sebelum dia beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun..." (QS. Ali 'Imran: 144).

Seorang rasul—siapa pun rasul itu—tidak memiliki otoritas mengatur alam semesta, tidak memiliki kemanfaatan atau kemudaratan, tidak dapat memengaruhi kehendak Allah, dan tidak mengetahui hal gaib kecuali sekadar apa yang dikehendaki Allah untuknya.

"Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita bahagia bagi orang-orang yang beriman.'" (QS. Al-A'raf: 188).

"(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diratai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan pengawal-pengawal (malaikat) di depan dan di belakangnya. Agar Dia mengetahui bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu." (QS. Al-Jinn: 26-28).

Rasul Adalah Laki-Laki

Seorang rasul tidaklah diutus melainkan dari kalangan laki-laki; Allah tidak mengutus malaikat dan tidak pula wanita.

"Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya..." (QS. Al-Anbiya': 7).

"Katakanlah (Muhammad), 'Sekiranya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan dengan tenang di bumi, niscaya Kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit sebagai rasul.'" (QS. Al-Isra': 95).

Tujuan Diutusnya Para Rasul

Tujuan diutusnya para rasul adalah menyeru untuk beribadah kepada Allah dan menegakkan agama-Nya:

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya': 25).

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut...'" (QS. An-Nahl: 36).

"Dia (Allah) telah mensyariatkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan 'Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya..." (QS. Asy-Syura: 13).

Penegakan agama dan beribadah kepada Allah mencakup keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir; sebagaimana hal itu juga mencakup amal-amal saleh yang menyucikan dan membersihkan jiwa manusia, serta menanamkan kebaikan di dalamnya agar mencapai kesempurnaan materiil dan moril dalam kehidupan ini, serta bersiap untuk kesempurnaan yang lebih tinggi dan abadi.

Ajaran-ajaran yang luhur ini tidak mungkin dicapai oleh manusia hanya dengan akal pikiran mereka semata, melainkan mereka mempelajarinya melalui wahyu dari Allah.

"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu'ah: 2).

Dengan demikian, tidak ada lagi alasan/hujjah bagi orang yang hatinya telah dilalaikan oleh Allah dari mengingat-Nya, mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya melewati batas. Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiansesudahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, 'Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu sebelum itu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung. (Kami mengutus) rasul-rasul penyampai berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah setelah rasul-rasul itu (diutus). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa': 163-165).

"Dan Allah tidak akan menyesatkan suatu kaum, setelah Dia memberi petunjuk kepada mereka hingga Dia menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taubah: 115).

Ibnu Katsir berkata: "Allah Ta'ala mengabarkan tentang diri-Nya yang Mahamulia dan hukum-Nya yang Mahaadil, bahwasanya Dia tidak menyesatkan suatu kaum melainkan setelah sampainya risalah kepada mereka sehingga hujjah telah tegak atas mereka, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk...' (QS. Fussilat: 17)."

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membalas/menyiksa seorang pun sampai Dia menegakkan hujjah atasnya dan memutuskan alasannya.

"...Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isra': 15).

'Ishmah (Keterpeliharaan) Para Nabi

Para rasul diinstal/dipilih dan diangkat oleh Allah:

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (pada masanya masing-masing)." (QS. Ali 'Imran: 33).

Dia mensucikan mereka dari keburukan-keburukan, serta memelihara ('ashama) mereka dari kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar.

"Tidak mungkin seorang nabi berkhianat..." (QS. Ali 'Imran: 161).

Dia menghiasi mereka dengan akhlak yang agung seperti kejujuran, amanah, pengorbanan dalam kebenaran, dan penunaian kewajiban. Di antara mereka ada yang Shiddiq (sangat jujur):

"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan (shiddiq) lagi seorang nabi." (QS. Maryam: 41).

Di antara mereka ada yang diciptakan khusus oleh Allah untuk diri-Nya:

"...Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS. Taha: 39).

"...Lalu engkau tinggal bertahun-tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan wahai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." (QS. Taha: 40-41).

Di antara mereka ada yang berada dalam pengawasan Allah:

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami..." (QS. At-Tur: 48).

Di antara mereka ada yang dipilih dan diajari oleh Allah:

"Dan demikianlah Tuhanmu memilih engkau (untuk jadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi-mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 6).

Setelah Allah menyebutkan sekumpulan nabi dalam Surah Maryam, Dia berfirman:

"Merekalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Tuhan Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (QS. Maryam: 58).

Meskipun mereka bertingkat-tingkat dalam keutamaan, mereka telah mencapai kemuncak keluhuran ruhani dan hubungan dengan Allah.

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada 'Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus..." (QS. Al-Baqarah: 253).

Demikianlah kita menemukan banyak teks yang terdapat dalam Al-Qur'an berkenaan dengan para nabi dan rasul—yang melimpahkan kepada mereka kesucian, kebersihan, dan kerucian sehingga menjadikan mereka sebagai teladan hidup dan gambaran ideal bagi kesempurnaan manusia.

Orang-orang seperti mereka tidak mungkin melainkan terpelihara (ma'shum) dari terjerumus ke dalam dosa, serta disucikan dari jatuh ke dalam kemaksiatan. Mereka tidak meninggalkan kewajiban, tidak melakukan keharaman, dan tidak berkarakter kecuali dengan akhlak mulia yang menjadikan mereka sebagai teladan yang baik dan contoh tertinggi yang dituju oleh manusia dalam berupaya mencapai kesempurnaan yang ditakdirkan bagi mereka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri yang menangani mendidik, membersihkan, merawat, dan mengajari mereka hingga mereka menjadi puncak-puncak yang menjulang tinggi dan layak untuk dipilih dan diangkat.

"Merekalah orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, hikmah dan nubuwwah. Jika orang-orang (kafir) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami telah menyerahkannya kepada suatu kaum yang tidak sekali-kali mengingkarinya. Merekalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka..." (QS. Al-An'am: 89-90).

"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah." (QS. Al-Anbiya': 73).

"...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya': 90).

Ayat-ayat ini merupakan dalil-dalil yang jelas atas sejauh mana kesempurnaan manusia yang dilimpahkan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya. Sekiranya mereka tidak demikian, niscaya wibawa mereka akan jatuh di dalam hati, kedudukan mereka menjadi kerdil di mata manusia, dan dengan demikian hilanglah kepercayaan kepada mereka sehingga tidak ada seorang pun yang mau tunduk kepada mereka. Hal itu akan melenyapkan hikmah diutusnya mereka untuk menjadi pemimpin makhluk menuju kebenaran. Bahkan, sekiranya mereka melakukan sesuatu yang menyalahi kesempurnaan manusia dengan meninggalkan kewajiban, melakukan keharaman, atau menerjang sesuatu yang bertentangan dengan akhlak mulia, niscaya mereka menjadi teladan yang buruk dan bukan menjadi contoh tertinggi maupun menara petunjuk.

Sesungguhnya rasul-rasul Allah menyadari dengan perasaan mereka—yang diistimewakan atas manusia lainnya—bahwa mereka senantiasa berada di hadirat kesucian (Kehadirat Allah). Mereka melihat Allah dalam segala sesuatu, sehingga mereka menyaksikan manifestasi keindahan, keagungan, bukti-bukti kekuasaan, kebesaran, serta jejak-jejak hikmah dan rahmat-Nya. Mereka melihat hal itu dalam diri mereka sendiri dan pada orang-orang di sekeliling mereka: di bumi, di langit, pada malam dan siang hari, serta dalam kehidupan dan kematian. Maka hati mereka dipenuhi rasa agung dan hormat kepada Allah, sehingga tidak tersisa tempat bagi setan, tidak ada ruang bagi hawa nafsu, tidak ada kecenderungan pada syahwat, dan tidak ada kehendak untuk sesuatu selain kehendak Al-Haq (Kebenaran) serta totalitas dan pengorbanan jiwa demi-Nya.

Adapun apa yang termaktub dalam Al-Qur'anul Karim yang secara zahir mengesankan bahwa mereka melakukan hal yang bertentangan dengan keterpeliharaan ('ishmah) mereka, maka hal itu tidak dapat diartikan sesuai makna zahirnya. Hal tersebut menjadi jelas sebagaimana yang kami sebutkan berkenaan dengan apa yang dinisbatkan kepada masing-masing nabi sebagai berikut:

Nabi Adam 'Alaihissalam

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"...dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia." (QS. Taha: 121).

Zahir ayat ini mengesankan bahwa Adam mendurhakai Tuhannya dan sesat karena menyalahi perintah Allah serta memenuhi ajakan setan, dan bahwa hal itu merupakan kekhilafan yang ia terjerumus di dalamnya:

"Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula..." (QS. Al-Baqarah: 36).

Namun apabila kita mencermati dengan mendalam, kita akan melihat bahwa kemaksiatan ini hanyalah terjadi pada Adam karena kelupaan terhadap janji Allah. Perbuatan tersebut tidak bersumber dari kehendak yang disengaja dan maksud (kesengajaan). Allah Subhanahu wa Ta meyakinkan tidak menghukum atas kesalahan yang tidak disengaja dan kelupaan, karena hal itu merupakan pembebanan di luar batas kemampuan (taklif ma la yuthaq), padahal Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Landasan dasar kaidah ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"...Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya ialah) apa yang disengaja oleh hatimu..." (QS. Al-Ahzab: 5).

Serta firman-Nya:

"...'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah...'" (QS. Al-Baqarah: 286).

Dalil bahwa apa yang terjadi pada Adam adalah kelupaan dan tanpa kesengajaan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan sungguh telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa, dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat." (QS. Al-Taha: 115).

Artinya, Adam lupa akan janji Allah yang diwasiatkan kepadanya ketika ia melanggar apa yang dilarang darinya yaitu memakan dari pohon tersebut, dan tidak ditemukan pada dirinya tekad sengaja untuk melakukan apa yang dilarang. Dan selama tidak ada tekad sengaja untuk bermaksiat, maka tidak ada hukuman dosa.

Al-Qur'an menganggap kelupaan tersebut sebagai pendurhakaan semata-mata memandang kedudukan Adam yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh dari-Nya, dimintakan sujud malaikat untuknya, ditempatkan di surga-Nya, dan diajari seluruh nama-nama. Orang yang memiliki kedudukan seperti ini dituntut untuk senantiasa waspada dalam tingkat kewaspadaan yang paling kuat sehingga tidak lupa akan wasiat Allah dan janji-Nya kepadanya. Maka hal ini termasuk dalam kaidah: "Kebaikan orang-orang yang berbuat baik dianggap sebagai keburukan bagi orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)" (Hasanatul Abrar Sayyiatul Muqarrabin).

Nabi Nuh 'Alaihissalam

Adapun Nabi Nuh 'alaihissalam, apa yang terjadi padanya adalah bahwa beliau memohon kepada Allah tentang kebinasaan putranya bersama orang-orang yang binasa dalam angin topan (tufan), padahal ada janji Allah akan keselamatan dirinya dan keluarganya. Beliau berkata:

"...'Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.' Allah berfirman, 'Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargaku (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) adalah perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang jahil.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi.'" (QS. Hud: 45-47).

Nuh 'alaihissalam tidak mengetahui bahwa hubungan nasab putranya dengannya telah terputus disebabkan kekafirannya dan keberpalingannya dari dakwah Allah. Maka ia bertanya kepada Allah bagaimana putranya binasa padahal ada janji keselamatan bagi keluarganya dan putranya adalah bagian dari keluarganya. Lalu Allah mengajarinya bahwa ikatan agama dan nasab ruhani lebih kuat daripada ikatan darah. Apabila ikatan ini terputus, maka terputus pula ikatan nasab dan darah. Maka Allah berfirman kepadanya seraya mengajarinya: "Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu", dengan memberikan alasan bahwa amal perbuatannya adalah amal yang tidak saleh. Selama keadaannya demikian, maka tidak ada lagi ikatan nasab, dan dengan demikian terputuslah nasabnya dari bapaknya sehingga ia tidak tergolong keluarganya yang dijanjikan keselamatan.

Sebagai bapak kedua bagi umat manusia yang telah mengorbankan hidupnya demi Allah dan tinggal di tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun menyeru kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya, Nuh 'alaihissalam seharusmya menyadari dan memahami makna ini. Ketika beliau tidak memperhatikannya dan terdorong oleh perasaan keayahan, hal itu dianggap sebagai kekurangan relative bagi kedudukannya yang tinggi dan derajatnya yang agung yang telah dikurniakan Allah kepadanya. Oleh karena itu, beliau berlindung kepada Allah agar mengampuni kekhilafan ini yang tidak disengaja dan tidak diketahuinya, seraya berkata:

"...'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi.'" (QS. Hud: 47).

Nabi Ibrahim 'Alaihissalam

Termasuk dalam doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah perkatannya:

"dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat." (QS. Asy-Syu'ara': 82).

Kita tidak mengetahui adanya satu kesalahan pun pada Nabi Ibrahim. Yang kita ketahui adalah bahwa Allah telah menjadikannya sebagai Khalil (kekasih dekat) dan melimpahkan kepadanya sifat-sifat kesempurnaan yang layak baginya.

"Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Baqarah: 130).

"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh." (QS. An-Nahl: 120-122).

Permintaannya kepada Allah agar mengampuni kesalahannya bukanlah 'kesalahan' dalam arti kata yang terlintas dalam pikiran awam. Hal itu hanyalah apa yang dirasakannya dalam dirinya berupa rasa kurang/kekurangan dalam mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah dan menunaikan risalah-Nya, memandang kedudukannya yang sangat tinggi dan posisinya yang agung.

Nabi Yusuf 'Alaihissalam

Allah berfirman tentang Nabi Yusuf 'alaihissalam:

"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan wanita itu..." (QS. Yusuf: 24).

Tidak ada dalam ayat ini petunjuk sekecil apa pun bahwa Yusuf bermaksud (hamm) melakukan perbuatan keji. Karena yang dimaksud dengan hamm di sini adalah maksud untuk memukul dan menolak bahaya. Hal itu terjadi ketika istri Al-Aziz merayunya, menutup pintu-pintu, dan mengajaknya melakukan perbuatan terlarang, namun Yusuf memelihara diri, menolak, dan berkata:

"...'Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.' Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung." (QS. Yusuf: 23).

Menghadapi pemeliharaan diri, penolakan, dan sikap enggan merendahkan diri ini, istri Al-Aziz bermaksud memukulnya dan menyakitinya setelah gagal memikatnya dengan segala cara. Maka Yusuf pun berniat membalas perbuatannya untuk membela diri, sekiranya ia tidak melihat bahwa hal tersebut tidak layak bagi orang-orang seperti dirinya yang memiliki jiwa yang agung; terlebih lagi rumah itu telah menampungnya dan memuliakannya, ditambah wanita itu adalah majikannya yang mengasuhnya dan merupakan istri dari seorang pejabat agung pada umat yang besar.

Sekiranya tidak karena melihat semua pertimbangan itu—sedang beliau memiliki perasaan yang mulia dan emosi yang bergejolak—niscaya beliau akan membalasnya dengan tindakan serupa dan menyakitinya dengan pukulan yang keras.

Namun beliau juga tidak ridha untuk pasrah dan berdiri hina menerima pukulan dari seorang wanita yang dihinggapi kegilaan syahwat hewani—padahal beliau adalah sosok yang mulia—maka beliau lebih memilih lari darinya untuk menghindar dari situasi sulit yang dihadapinya. Akan tetapi wanita itu tetap mengejarnya untuk membalas dendam kepadanya.

"Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami wanita itu di depan pintu..." (QS. Yusuf: 25).

Maka dalam peristiwa itulah terdapat pembebasan baginya.

Hal yang menunjukkan hal ini secara sangat jelas adalah: Pertama: Bahwa Allah menganugerahkan hikmah dan ilmu kepadanya.

"Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 22).

Kedua: Bahwa beliau menjawab perayu istri Al-Aziz setelah dirayu dengan jawaban yang menunjukkan secara pasti bahwa keburukan tidak pernah terlintas dalam hatinya:

"Yusuf berkata, 'Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.' Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung." (QS. Yusuf: 23).

Orang yang mengucapkan hal ini tidak mungkin dibayangkan memiliki maksud (hamm) untuk melakukan perbuatan keji.

Ketiga: Bahwa Allah memalingkan darinya keburukan dan kekejian, serta memilihnya secara murni untuk diri-Nya.

"...Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." (QS. Yusuf: 24).

Barang siapa yang keadaannya demikian, jiwanya tidak mungkin mengarah—meski hanya sekadar mengarah—kepada keburukan atau kekejian, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Keempat: Bahwa setiap kata hamm dalam Al-Qur'an bermakna maksud untuk menimpakan keburukan seperti memukul dan membunuh:

"...dan setiap umat telah merencanakan terhadap rasul mereka untuk menawannya..." (QS. Ghafir: 5).

"...dan mereka telah mencita-citakan sesuatu yang mereka tidak mencapainya..." (QS. At-Taubah: 74).

Demikianlah, sekiranya kita menelusuri seluruh alasan kebebasan Yusuf 'alaihissalam dari niat melakukan perbuatan keji, niscaya kita mendapatinya sangat banyak hingga tidak muat dalam ringkasan ini.

Nabi Musa 'Alaihissalam

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Musa 'alaihissalam:

"Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Firaun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa memukulnya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata, 'Ini adalah perbuatan setan sesungguhnya setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (kesesatannya).' Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.' Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Qashas: 15-16).

Nabi Musa 'alaihissalam masuk ke dalam kota, lalu mendapati seorang Mesir dan seorang Israil dari kaumnya sedang berkelahi. Orang Israil yang merupakan kelompok dan kaumnya berada dalam posisi lemah, tidak mampu melawan orang Mesir tersebut, maka ia meminta bantuan kepada Musa untuk menyelamatkannya. Maka terjadilah sebagaimana yang kerap terjadi pada situasi seperti ini, Musa memukul orang Mesir itu dengan tangannya, di mana pukulan itu mengenai bagian mematikan tanpa ada maksud sama sekali untuk membunuhnya. Beliau hanya bermaksud mencegah kezaliman orang itu terhadap saudaranya. Maka terjadilah pembunuhan tidak sengaja (qatl khatha') yang tidak ada hukuman dosa atasnya, kecuali dari sudut pandang kurangnya kehati-hatian dan kewaspadaan penuh, terutama bagi orang yang berada pada tingkatan manusia tertinggi seperti Musa dan selevel dengannya dari kalangan Ulul 'Azmi. Oleh karena itu, beliau kembali kepada Tuhannya seraya mengingat kesalahannya dan memohon maaf serta ampunan dari Allah.

Nabi Daud 'Alaihissalam

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Daud 'alaihissalam:

"Dan apakah telah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar mihrab? Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku' dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Daud berkata, 'Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.' Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia memohon ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat. Maka Kami ampuni baginya kesalahan itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Sad: 21-25).

Kisah ini tidak mengandung petunjuk sama sekali bahwa Daud 'alaihissalam telah bermaksiat kepada Tuhannya dengan melakukan hal yang bertentangan dengan keterpeliharaan ('ishmah).

Segala yang dapat dikatakan dalam hal ini adalah: Beliau memutuskan perkara antara dua pihak yang berselisih setelah mendengar dari salah satu pihak sebelum mendengar dari pihak yang lain. Terburu-buru memberikan keputusan hukum sebelum mendengarkan kedua belah pihak dianggap sebagai pelanggaran dalam pandangan peradilan, terlebih jika hakim tersebut adalah seorang nabi seperti Daud 'alaihissalam yang dikaruniai hikmah dan keputusan yang tegas (fashlal khithab).

Dapat dikatakan pula bahwa beliau merasa takut ketika kedua orang yang berperkara itu memanjat pagar mihrab dan masuk menemui beliau secara tiba-tiba saat beliau berada di hadapan Allah. Beliau khawatir mereka akan membunuhnya sebagaimana kebiasaan Bani Israil dalam membunuh para nabi. Rasa takut ini—saat berada di dalam mihrab dan berdiri di hadapan Allah Yang Maha Memiliki segala sesuatu—merupakan hal yang tidak layak bagi kedudukannya, keagungan derajatnya, dan kebaikan hubungannya dengan Allah.

Baik apa yang dinisbatkan kepada Daud 'alaihissalam itu berupa tergesa-gesa dalam menetapkan hukum atau rasa takut dari pembunuhan, beliau menyadari bahwa dirinya sedang diuji dengan apa yang terjadi padanya, maka beliau memohon ampun kepada Tuhannya, menyungkur ruku', dan bertobat kembali kepada Allah.

Kisah yang disebutkan dalam Al-Qur'an ini tidak mungkin mengandung makna lain di luar itu yang mengurangi derajat seorang nabi yang agung.

Adapun apa yang disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kambing betina (na'jah) adalah wanita, dan bahwa Daud merebut istri salah seorang panglimanya dengan tipu daya yang direncanakannya, maka hal itu termasuk cerita Israiliyyat yang dusta dan penyusupan asing yang bertentangan dengan keagungan risalah, kesempurnaan nubuwwah, dan kemuliaan dakwah yang dipilih oleh Allah bagi hamba-hamba pilihan-Nya.

Nabi Sulaiman 'Alaihissalam

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Sulaiman 'alaihissalam:

"Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami letakkan di atas kursinya satu tubuh (yang tidak berdaya), kemudian ia bertobat. Ia berkata, 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahnya, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.'" (QS. Sad: 34-35).

Ujian yang dialami oleh Sulaiman yaitu penyakit berat yang menjadikannya bagaikan tubuh jasad tergeletak di atas kursi tanpa mampu bergerak—menjadi sebab kelemahan jiwanya dan kelemahan daya tahannya. Maka beliau bertobat kepada Allah dari kelemahan yang biasa menimpa manusia ini, padahal yang lebih indah baginya adalah berhias dengan kesabaran yang baik (shabr jamil).

Dikatakan pula bahwa Sulaiman memiliki seorang anak yang durhaka yang merampas kerajaannya dari ayahnya, maka hilangnya kerajaan Sulaiman di tangan anaknya yang durhaka tersebut merupakan ujian baginya. Kemudian Allah mengembalikan kerajaannya kepadanya setelah dicabut darinya. Setelah itu beliau memohon kepada Allah agar mengampuni apa yang mungkin terjadi berupa kelalaian dalam bersyukur kepada Allah, dan memohon agar dikaruniai kerajaan yang tidak layak bagi seorang pun sesudahnya, lalu Allah mengabulkan permohonannya.

Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam

Termaktub dalam Al-Qur'anul Karim:

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu..." (QS. Muhammad: 19).

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)." (QS. Al-Fath: 1-3).

Zahir ayat pertama mengesankan seolah-olah Rasulullah memiliki dosa dan beliau diperintahkan untuk memohon ampunan kepada Allah. Zahir ayat kedua memberikan pengertian bahwa Allah mengampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

Padahal, yang diketahui dari sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bahwa beliau terpelihara (ma'shum) sebelum diutus menjadi rasul maupun sesudahnya. Allah telah memeliharanya dari permainan masa kanak-kanak dan kelalaian masa muda, sehingga beliau tidak lalai sebagaimana lalainya orang lain, karena beliau telah disiapkan untuk mengemban risalah petunjuk dan cahaya. Beliau telah mengisyaratkan hal ini dalam riwayat tentang dirinya sendiri, beliau bersabda:

«مَا هَمَمْتُ بِشَيْءٍ مِمَّا كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَعْمَلُونَهُ غَيْرَ مَرَّتَيْنِ، كُلُّ ذَلِكَ يَحُولُ اللهُ بَيْنِي وَبَيْنَهُ، ثُمَّ مَا هَمَمْتُ بِهِ حَتَّى أَكْرَمَنِي اللهُ بِرِسَالَتِهِ. قُلْتُ لَيْلَةً لِلْغُلَامِ الَّذِي يَرْعَى مَعِي بِأَعْلَى مَكَّةَ: لَوْ أَبْصَرْتَ لِي غَنَمِي حَتَّى أَدْخُلَ مَكَّةَ، وَأَسْمُرَ بِهَا كَمَا يَسْمُرُ الشَّبَابُ؟ فَقَالَ: أَفْعَلُ، فَخَرَجْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ عِنْدَ أَوَّلِ دَارٍ بِمَكَّةَ، سَمِعْتُ عَزْفًا، فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ فَقَالُوا: عُرْسُ فُلَانٍ بِفُلَانَةَ، فَجَلَسْتُ أَسْمَعُ، فَضَرَبَ اللهُ عَلَى أُذُنِي، فَنِمْتُ، فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا حَرُّ الشَّمْسِ، فَعُدْتُ إِلَى صَاحِبِي، فَسَأَلَنِي، فَأَخْبَرْتُهُ، ثُمَّ قُلْتُ لَهُ لَيْلَةً أُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، وَدَخَلْتُ مَكَّةَ، فَأَصَابَنِي مِثْلُ أَوَّلِ لَيْلَةٍ... ثُمَّ مَا هَمَمْتُ بِسُوءٍ»

"Aku tidak pernah berniat melakukan sesuatu dari apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah kecuali dua kali. Namun Allah senantiasa menghalangi antara aku dan perbuatan itu. Setelah itu aku tidak pernah berniat melakukannya lagi sampai Allah memuliakanku dengan risalah-Nya. Pada suatu malam aku berkata kepada seorang pemuda yang menggembala bersamaku di dataran tinggi Makkah: 'Bisakah engkau menjaga domba-dombaku agar aku bisa masuk ke Makkah dan mengobrol di sana sebagaimana para pemuda mengobrol?' Ia menjawab: 'Tentu.' Maka aku keluar hingga ketika sampai di rumah pertama di Makkah, aku mendengar suara musik/alunan musik. Aku bertanya: 'Ada apa ini?' Mereka menjawab: 'Pernikahan si fulan dengan si fulanah.' Maka aku duduk mendengarkan, lalu Allah menutup pendengaranku hingga aku tertidur, dan tidak ada yang membangunkanku melainkan teriknya matahari. Lalu aku kembali kepada temanku, ia bertanya kepadaku dan aku memberitahukannya. Kemudian pada malam yang lain aku mengatakan hal yang sama kepadanya, aku masuk ke Makkah dan menimpaku hal yang serupa dengan malam pertama... setelah itu aku tidak pernah berniat melakukan keburukan." (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ibnu Hibban, dan Ath-Thabari).

Demikianlah keadaan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sepanjang hidupnya, keburukan tidak pernah terlintas dalam hatinya. Jika keadaannya demikian, maka apakah makna dosa yang beliau diperintahkan untuk memohon ampun darinya, dan yang telah diampuni darinya apa yang telah lalu dan yang akan datang?

Tidak dapat dimungkiri bahwa Rasulullah terkadang melakukan beberapa tindakan yang tidak diturunkan wahyu khusus mengenainya, melainkan urusannya diserahkan kepada ijtihad pribadi beliau. Dalam beberapa kesempatan, ijtihad beliau membawanya pada keputusan yang baik (hasan), namun melewatkan apa yang lebih baik (ahsān). Maka keterhentian beliau pada pendapat yang baik dan tidak tepatnya beliau pada apa yang lebih baik dianggap sebagai 'dosa' relatif bagi beliau, disandarkan pada kedudukan beliau dalam hal ilmu, akal, dan pemahaman (fiqh).

Al-Qur'an telah menyebutkan beberapa contoh mengenai hal itu:

Di antaranya adalah ijtihad beliau mengenai para tawanan Perang Badar dan penerimaan beliau terhadap tebusan (fidyah), di mana Allah menegurnya dengan teguran yang membuatnya menangis:

"Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa azab yang besar karena barang yang kamu ambil itu." (QS. Al-Anfal: 67-68).

Artinya, sekiranya tidak karena hukum dan ketetapan Allah telah mendahului untuk tidak menghukum orang yang berijtihad atas ijtihadnya, niscaya Dia akan mengazab kalian dengan azab yang besar disebabkan mengambil tebusan dan tidak melumpuhkan musuh di muka bumi.

Ketika ayat ini turun, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menangis, dan Abu Bakar pun ikut menangis tersedu-sedu bersama beliau, lalu beliau bersabda: "Sekiranya azab turun dari langit, niscaya tidak ada yang selamat selain Umar."

Maka dalam peristiwa ini tidak ada dari Rasulullah selain ijtihad dalam suatu perkara yang belum diwahyukan kepada beliau. Beliau tidak bersalah dalam hukumnya karena Rasulullah tidak dibiarkan dalam kesalahan, melainkan beliau berpaling dari apa yang lebih baik (ahsān) kepada apa yang sekadar baik (hasan).

Contoh lainnya adalah ketika beliau menerima uzur/alasan orang-orang yang tidak ikut berperang tanpa meneliti alasan-alasan tersebut terlebih dahulu untuk memperjelas baginya siapa yang jujur dan siapa yang berdusta:

"Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar jujur dan sebelum kamu mengetahui orang-orang yang berdusta?" (QS. At-Taubah: 43).

Termasuk pula teguran Allah kepada beliau karena menyembunyikan perkara pernikahannya dengan Zainab binti Jahsy setelah perceraian anak angkatnya, Zaid bin Haritsah darinya. Padahal Allah telah memerintahkannya melakukan hal itu untuk membatalkan tradisi Jahiliyah yang mengharamkan pernikahan dengan bekas istri anak angkat sebagaimana haramnya memikahi bekas istri anak kandung nasab. Maka Rasulullah merasakan kecanggokan sebagaimana manusia pada umumnya ketika merasa canggung untuk menyelisihi tradisi dan keluar dari kebiasaan.

Lalu Allah menghilangkan kecanggokan/kesulitan itu darinya setelah teguran yang lembut:

"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, 'Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,' sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah padanya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku." (QS. Al-Ahzab: 37-38).

Adapun apa yang dikatakan selain itu adalah murni kebatilan.

Termasuk yang masuk dalam cakupan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu tentangnya siapatah tahu ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadamu? Adapun orang yang merasa dirinya cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada Allah, maka kamu mengabaikannya." (QS. 'Abasa: 1-10).

Ini merupakan teguran dari Allah kepada Rasul-Nya ketika beliau sangat menginginkan keislaman beberapa pembesar Quraisy. Beliau menemui dan menyeru mereka kepada Allah, sementara mereka mendengarkan dan memperhatikan beliau.

Di tengah-tengah situasi tersebut, hadir Abdullah bin Ummi Maktum dan mulai memotong pembicaraan Rasulullah seraya berkata: "Ajarilah aku dari apa yang telah diajarkan Allah kepadamu," dan ia mengulangnya berkali-kali. Maka Rasulullah merasa sesak/terganggu dengan pemotongan pembicaraan ini dan bermuka masam karena rasa terganggu tersebut, padahal lelaki itu buta dan tidak melihat muka masam tersebut. Meskipun demikian, Allah menegur beliau mengenainya, sehingga setiap kali beliau bertemu dengannya setelah peristiwa itu, beliau bersabda kepadanya: "Selamat datang kepada orang yang Tuhanku menegurku karenanya."

Termasuk dalam kategori ini pula apa yang diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-'Uzza, dan Manat yang ketiga yang paling terkemudian?" (QS. An-Najm: 19-20).

(Lalu setan membisikkan): "Mereka itu adalah burung-burung yang tinggi, dan sesungguhnya syafaat mereka benar-benar diharapkan."

Maka ini adalah murni kedustaan dan kebohongan yang terlalu kerdil untuk didiskusikan. Tidak ada hubungan sama sekali antara kedustaan ini dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu dalam keinginannya, melainkan Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Hajj: 52).

Ayat ini menetapkan bahwa tidak ada seorang pun nabi maupun rasul yang mendambakan hidayah bagi kaumnya dan agar mereka menyambut dakwahnya, melainkan setan akan datang meletakkan rintangan-rintangan di hadapannya serta membuatnya putus asa untuk mencapai tujuan yang ditujunya. Hanya saja Allah Subhanahu wa Ta'ala menyegerakan penghilangan bisikan putus asa yang dilontarkan setan tersebut, serta menghidupkan kembali harapan dan optimisme di dalam jiwanya.

Inilah hal yang dinisbatkan kepada para rasul dan nabi Allah, yang mana hal itu tidak keluar dari sekadar kekhilafan-kekhilafan ringan (hanat hayyinah) yang tidak sampai pada derajat maksiat, tidak bertentangan dengan sifat kemaksuman ('ishmah), serta tidak mengurangi kedudukan mereka yang mulia maupun menurunkan derajat mereka yang tinggi.

Namun, kaum Yahudi dan Nasrani enggan melainkan tetap mencela banyak nabi dan rasul, serta menisbatkan kepada mereka hal-hal yang justru telah Allah sucikan dan pelihara diri mereka darinya. Bahkan, kitab-kitab mereka menuduh sebagian nabi melakukan dosa-dosa besar (kaba'ir al-itsm) dan perbuatan-perbuatan keji (fawaghis).

Kaum Nasrani sangat berlebihan dan melampaui batas dalam hal ini; demi mewajibkan kemaksuman ('ishmah) hanya bagi Al-Masih semata. Maksud mereka dengan hal ini adalah untuk menegakkan argumen bahwa Isa adalah tuhan yang disucikan dari kesalahan di satu sisi, dan bahwa ia datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa ayahnya, Adam, yang diwarisi oleh anak-cucunya, serta mengorbankan dirinya demi menebus manusia di sisi yang lain.

Doktrin penebusan dosa ('aqidah al-fida') ini merupakan fondasi agama kaum Nasrani. Akan tetapi, kitab-kitab mereka sendiri—di samping keyakinan kita akan penyimpangannya (tahrif)—sudah cukup untuk membantah mereka.

Sebab di dalamnya terdapat teks-teks tegas yang menunjukkan bahwa Yohanes lebih utama dan lebih agung daripada Al-Masih, bahwasanya dialah yang membaptisnya, bahwasanya ia maksum dari setiap dosa, serta tidak pernah meminum khamar sama sekali. Sementara itu, Al-Masih justru dinisbatkan sebagai peminum khamar, sebagaimana dinisbatkan pula kepadanya ketidakmauannya memenuhi panggilan ibunya ketika dipanggil olehnya. (Dan kita menyucikan beliau (Isa 'alaihissalam) dari hal ini, serta kita meyakini bahwasanya beliau adalah seorang yang terkemuka di dunia dan akhirat serta termasuk orang-orang yang saleh)

Dalam Injil Lukas (1:15) disebutkan: "Sebab ia akan menjadi besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya."

Dan di dalamnya pula (1:66): "Saba tangan Tuhan menyertai dia."

Dan Al-Masih berkata di dalamnya (Matius 11:11): "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis."

Dan disebutkan di dalamnya (11:18-19): "Karena Yohanes datang, ia tidak makan dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pemakan dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa."

Adapun Isa 'alaihissalam, Injil-injil telah bersaksi bahwa ia telah menghina ibunya, padahal ibunya adalah wanita yang telah Allah utamakan di atas wanita seluruh alam.

Disebutkan dalam Injil Lukas (8:20-21): "Orang memberitahukan kepadanya: 'Ibumu dan saudara-saudaramu berdiri di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.' Tetapi Ia menjawab mereka: 'Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.'"

Ulul Azmi dari Para Rasul

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar..." (QS. Al-Ahqaf: 35)

Ada yang berpendapat bahwa Ulul 'Azmi adalah seluruh rasul, dan huruf min di situ berfungsi untuk menjelaskan jenis (li bayani al-jins). Al-'Azm: Keteguhan (ats-tsabat) dan kesabaran (ash-shabr)

Namun, pendapat yang paling masyhur adalah bahwa mereka adalah Muhammad, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa 'alaihimus shalatu was salam.

Allah telah menyebutkan nama-nama mereka secara khusus di antara para rasul dalam dua ayat:

Pertama:

"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh." (QS. Al-Ahzab: 7)

Kedua:

"Dia telah meniatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya..." (QS. Asy-Syura: 13)

Rasul yang Paling Utama

Rasul yang paling utama secara mutlak adalah junjungan kita, Muhammad, penutup para nabi (Khatam an-Nabiyyin).

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus." (QS. Al-Baqarah: 253)

Dan rasul yang Allah tinggikan beberapa derajat itu adalah junjungan kita, Muhammad.

Bukti paling jelas mengenai hal ini adalah apa yang terdapat dalam Surah Ali 'Imran berupa kabar gembira para nabi tentangnya, serta pengambilan janji dan ikrar ('ahd wa mitsaq) atas mereka untuk beriman kepadanya dan menolongnya jika mereka mendapati masa kerasulannya:

"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: 'Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.' Allah berfirman: 'Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku atas yang demikian itu?' Mereka menjawab: 'Kami mengakui.' Allah berfirman: 'Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.'" (QS. Ali 'Imran: 81)

Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَاللهِ لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلا أَنْ يَتَّبِعَنِي»

Dari Jabir, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah, seandainya Musa masih hidup di tengah-tengah kalian, tidak ada pilihan lain baginya melainkan harus mengikutiku." [HR. Ahmad dan Al-Bazzar]

Adapun larangan beliau shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi untuk mengutamakan (membeda-bedakan) di antara para nabi Allah, serta sabda beliau: "Janganlah kalian mengutamakan di antara para nabi Allah," maka maksudnya adalah mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam mengagungkan mereka di satu sisi, dan menahan kaum muslimin dari sikap mengurengi/merendahkan salah seorang dari saudara-saudaranya sesama nabi di sisi yang lain.

Penutupan Nubuwwah dan Risalah

Seluruh nabi shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi memiliki tugas untuk menyelamatkan manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Mereka selalu menjadi penyeru kebaikan, imam perbaikan (ishlah), dan pembawa obor di dunia yang gelap. Masing-masing dari mereka datang menyusul yang lain untuk menyempurnakan apa yang telah dibangun oleh pendahulunya, sehingga menambah satu bata perbaikan hingga bangunan itu menjadi sempurna dengan penutup mereka, Muhammad shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi. Maka agamanya menjadi intisari dari agama-agama sebelumnya, dan dakwahnya menjadi dakwah yang layak untuk bertahan lama, karena di dalamnya terdapat unsur-unsur kehidupan dan pilar-pilar perbaikan.

"...Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..." (QS. Al-Ma'idah: 3)

Dengan disempurnakannya agama Allah yang hak ini, maka sempurnalah nikmat Allah atas manusia melalui petunjuk yang diturunkan-Nya kepada mereka, sehingga tidak ada kebutuhan lagi pada petunjuk setelahnya.

Dengan demikian, terputuslah kenabian (nubuwwah) dan ditutuplah kerasulan (risalah).

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi..." (QS. Al-Ahzab: 40)

Jika kenabian telah terputus, secara otomatis kerasulan pun terputus. Maka tidak ada kenabian dan tidak ada kerasulan setelah kenabian Muhammad, penutup para rasul Allah. Mengenai hal tersebut, beliau shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi bersabda:

مَثَلِي وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا ، فَأَكْمَلَهَا وَأَحْسَنَهَا إِلا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ ، فَكَانَ مَنْ دَخَلَهَا فَنَظَرَ إِلَيْهَا قَالَ : مَا أَحْسَنَهَا إِلا مَوْضِعَ هَذِهِ اللَّبِنَةِ ، فَأَنَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ ، خُتِمَ بِيَ الأَنْبِيَاءُ عَلَيْهِمُ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ

"Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, lalu ia menyempurnakan dan memperindah rumah itu kecuali tempat satu buah bata. Maka setiap orang yang memasukinya dan melihatnya berkata: 'Betapa indahnya rumah ini kecuali tempat satu bata ini.' Maka akulah tempat bata tersebut, dan para nabi ditutup denganku 'alaihimush shalatu was salam." [HR. Bukhari dan Muslim]

Karya-karya Besar yang Merekpresentasikan Keberhasilan Junjungan Kita Muhammad

Sesungguhnya Rasul kita shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi memiliki karya-karya besar yang merepresentasikan keberhasilannya dalam dakwahnya. Karya-karya ini dapat diringkas sebagai berikut:

Karya Pertama: Bahwa beliau menumpas kemusyrikan/pemujaan berhala (al-watsaniyyah) dan menggantikannya dengan iman kepada Allah dan Hari Akhir.

Karya Kedua: Bahwa beliau menumpas kehinaan-kehinaan dan kekurangan-kekurangan era Jahiliah, serta menegakkan sebagai gantinya keutamaan-keutamaan, keluhuran budi, dan adab-adab.

Karya Ketiga: Bahwa beliau menegakkan agama yang hak, yang mengantarkan manusia pada puncak kesempurnaan yang ditakdirkan baginya.

Karya Keempat: Bahwa beliau melakukan revolusi besar yang mengubah kondisi, akal, hati, serta sistem kehidupan yang biasa dijalani oleh pemeluk Jahiliah.

Karya Kelima: Bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyatukan bangsa Arab dan mendirikan negara besar di bawah panji Al-Qur'an.

Inilah karya-karya yang merepresentasikan keberhasilan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dalam tugasnya. Semua itu—sebagaimana tampak—merupakan perkara-perkara besar, di mana menegakkannya—bahkan menegakkan salah satunya saja—memiliki tingkat kesulitan dan risiko yang sangat tinggi.

Sesungguhnya tidak mungkin keberhasilan dalam sebagian karya ini—apalagi terkumpulnya keberhasilan di setiap lini ini—dapat dicapai oleh seorang individu biasa.

Menjalankan karya-karya ini dan meraih keberhasilan di dalamnya dengan cara sedemikian rupa sungguh merupakan mukjizat terbesar bagi Rasulullah shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi. Jika Isa memiliki mukjizat menghidupkan orang mati, dan Musa memiliki mukjizat tongkat, maka kedua mukjizat tersebut jika dibandingkan dengan kemenangan-kemenangan dan mukjizat-mukjizat (keberhasilan dakwah) ini tidak ada artinya sama sekali.

Bukti-bukti Kejujuran Beliau:

Di antara bukti kejujuran bahwa Rasul benar-benar diutus dari sisi Allah adalah sebagai berikut:

Pertama: Bahwa beliau adalah seorang yang zuhud terhadap dunia, beliau tidak pernah meminta imbalan atas pekerjaannya. Beliau zuhud terhadap harta dan segala hal yang bersifat materi, sebagaimana beliau juga zuhud terhadap kedudukan dan jabatan.

Adapun kezuhudannya terhadap harta, maka hakikat kehidupannya menunjukkan hal tersebut dengan sejelas-jelasnya. Beliau tidak pernah membentangkan kasur sutra, tidak memakai pakaian sutra tebal (dibaj), dan tidak berhias dengan emas. Rumahnya seperti rumah orang-orang biasa yang paling sederhana, dan pernah berlalu dua bulan tanpa ada api yang menyala di rumahnya. Urwah berkata ketika mendengar bibinya, Aisyah, menceritakan hal ini kepadanya: "Wahai Bibi, apa yang menghidupi kalian?" Aisyah menjawab: "Hanya dua hal yang hitam, yaitu kurma dan air!!"

Suatu kali Umar bin Al-Khattab melihat Rasulullah tidur di atas tikar kasar yang telah berbekas di tubuh beliau, maka Umar pun menangis. Lalu Rasulullah bersabda kepadanya: "Apa yang membuatmu menangis?" Umar menjawab: "Bagaimana bisa Kisra dan Kaisar tidur di atas kasur sutra tebal dan sutra halus, sedangkan engkau adalah Rasulullah, tikar kasar ini berbekas pada lambungmu?" Maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai Umar, apakah engkau tidak ridha dunia menjadi milik mereka dan akhirat menjadi milik kita?"

Sungguh harta rampasan perang (ghanimah) telah datang kepada Rasul setelah kemenangan kaum muslimin, lalu istri-istri beliau ingin menikmati sebagian dari ghanimah ini dan meminta agar mereka diberi bagian dengannya. Tiba-tiba ayat yang mulia turun menjawab permintaan istri-istri tersebut:

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: 'Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian mengingini (ridha) Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.'" (QS. Al-Ahzab: 28-29)

Maka Rasul mengumpulkan istri-istrinya dan berkata kepada mereka: "Apakah kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, ataukah kalian menginginkan dunia dan syahwatnya?" Maka masing-masing dari mereka memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Lalu Allah memuji mereka dan menurunkan firman-Nya berkenaan dengan hak mereka:

"Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam konuşma sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (QS. Al-Ahzab: 32)

Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat dalam keadaan baju besinya teragung (tergadai) pada seorang Yahudi, dan beliau hidup sepanjang hayatnya tanpa pernah kenyang dari roti gandum (sy'ir) sama sekali.

Adapun kezuhudannya terhadap kedudukan (jah), hal itu tercermin dalam setiap keadaannya.

Para sahabat ingin memuji dan menyanjung beliau, namun beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ

"Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Al-Masih putra Maryam." [HR. Bukhari]

Al-Walid bin Al-Mughirah datang kepadanya sebagai utusan dari kaum musyrikin untuk bernegosiasi dengannya, dan ia menawarkan kepadanya seluruh kenikmatan hidup. Maka jawaban beliau adalah dengan membacakan kepadanya pembukaan Surah Ha Mim Fussilat.

Inilah kezuhudan yang merupakan salah satu perangai bawaan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Di antara bukti kenabian beliau 'alaihissalam adalah bahwa beliau seorang yang ummi (ummiyy [tidak bisa membaca dan menulis]), namun beliau mampu menegakkan karya-karya besar ini dalam keadaan ummi: tidak membaca, tidak menulis, tidak pernah masuk lembaga pendidikan, dan tidak pernah berguru pada seorang ustaz pun. Namun beliau berhasil dan mencapai derajat yang tidak pernah dicapai oleh seorang pun sebelum beliau dan tidak pula sesudah beliau.

Al-Qur'an merekam hakikat ini untuk menjadikannya sebagai tanda kejujuran dan bukti amanahnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan tidak mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Asy-Syura: 52-53)

Rasul tidak pernah mengetahui sesuatu pun tentang kenabian, tidak pula tentang hal-hal yang berkaitan dengan Zat Yang Maha Tinggi. Maka terlaksananya karya-karya besar ini melalui kedua tangannya merupakan bukti kemukjizatan (i'jaz).

Sebab, orang-orang terpelajar yang mencurahkan seluruh waktunya untuk ilmu dan penelitian pun pasti cemas dan tidak mampu untuk menghasilkan sesuatu seperti apa yang telah diperbuat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah pertolongan dan taufik dari Allah Tabaraka wa Ta'ala. Dan Al-Qur'an menegaskan:

"Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur'an) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkari(mu)." (QS. Al-'Ankabut: 48)

Sungguh hal itu telah diketahui di kalangan musuh-musuhnya dan beliau menyorotkannya kepada mereka, serta tidak ada seorang pun dari mereka yang sanggup meragukan hakikat yang terang benderang ini. Maka Allah Ta'ala berfirman:

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: 'Bringkanlah Al-Qur'an yang lain dari ini atau gantilah dia.' Katakanlah: 'Tidaklah patut bagiku menggantinya dari diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).' Katakanlah: 'Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu.' Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?" (QS. Yunus: 15-16)

Adapun aspek ketiga adalah kejujuran (ash-shidq). Tidak pernah diketahui dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau berbohong sama sekali, baik sebelum diutus maupun sesudahnya. Sungguh wahyu telah datang kepadanya, lalu beliau pergi kepada Khadijah dan berkata kepadanya: "Sungguh aku mengkhawatirkan diriku." Maka Khadijah berkata kepadanya: "Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau benar-benar menyambung silaturahmi, jujur dalam perkataan, menanggung beban orang lemah, memberi makan tamu, membantu orang miskin, dan menolong orang yang tertimpa musibah kebenaran."

Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada awal masa kenabiannya menawarkan Islam kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, lalu ia membenarkannya pada kali pertama dan tidak ragu-ragu untuk bersegera beriman kepadanya; karena ia telah mengetahui kejujuran dan amanahnya. Seorang Arab Badui pernah masuk menemui beliau, lalu memandangnya dan mendapati kejujuran melingkupinya, maka ia berkata: "Demi Allah, wajah ini bukanlah wajah seorang pembohong."

Kabar Gembira tentang Munculnya Penutup Para Rasul

Kitab-kitab ilahi terdahulu tidak pernah sepi dari kabar gembira (tabsyir) tentang munculnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kenabiannya.

Dalam Kitab Ulangan (Taurat) terdapat kabar gembira yang berbunyi: "Tuhan datang dari bukit Sinai dan terbit bagi mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang bersama sepuluh ribu orang kudus; di sebelah kanan-Nya ada hukum yang menyala bagi mereka."

Kedatangan dari bukit Sinai mengisyaratkan penampakan Tuhan kepada Musa sang Kalimullah. Terbit dari Seir mengisyaratkan dikuasainya Seir oleh Daud. Adapun Paran (Faran) adalah nama kuno untuk tanah Hijaz tempat munculnya Muhammad Rasulullah shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi dari keturunan Ismail 'alaihissalam.

Adapun kedatangan bersama sepuluh ribu orang kudus (para murni) adalah isyarat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, karena beliau memasuki Makkah disertai oleh sepuluh ribu sahabatnya pada hari Pembebasan Makkah (Fathu Makkah).

Dan "di sebelah kanan-Nya keluar kitab ketakwaan (hukum yang menyala)" mengisyaratkan kepada syariat yang dibawa oleh Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kepada dunia, yang cahayanya masih terus menerangi segala hal yang berkaitan dengan agama dan dunia berupa kehidupan umum dan akhlak bermasyarakat.

Dan dalam Injil Yohanes Pasal 14: 15-16:

"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong (Penghibur) yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran."

Dan ini sama seperti apa yang terdapat dalam Al-Qur'anul Karim bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup para nabi (Khatam an-Nabiyyin).

Dan dalam Injil Yohanes Pasal 14: 26:

"Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu..."

Dan ini sama seperti firman Allah Ta'ala:

"...Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu..." (QS. An-Nahl: 89)

Dan dalam Yohanes juga Pasal 16: 12-13:

"Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi kamu belum dapat menanggungnya sekarang. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang."

Dan hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan katakanlah: 'Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.' Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (QS. Al-Isra': 81)

Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Doa Ibrahim dan Kabar Gembira Isa

Sungguh Al-Qur'anul Karim telah merekam bahwasanya Muhammad Rasulullah shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi merupakan perwujudan dari pengabulan doa Ibrahim, sebagaimana beliau juga merupakan kabar gembira yang diberitakan oleh Isa 'alaihissalam. Dalam Surah Al-Baqarah, Al-Qur'anul Karim menceritakan bahwa Ibrahim dan Ismail berdoa kepada Allah ketika mereka meninggikan pondasi Baitullah, seraya keduanya mengucapkan:

"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah: 129)

Dan dalam Surah As-Saff Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: 'Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)...'" (QS. As-Saff: 6)

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang hasan dari Abu Umamah, ia berkata:

Aku bertanya: "Wahai Nabi Allah, apakah awal permulaan dari urusanmu (kenabianmu)?" Beliau menjawab: "Doa ayahku Ibrahim, dan kabar gembira Isa."

Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya ayat yang ada di dalam Al-Qur'an ini:

"Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan..." (QS. Al-Ahzab: 45)

Sifat beliau dalam Taurat disebutkan:

"Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan pelindung bagi orang-orang ummi. Engkau adalah hamba-Ku dan rasul-Ku, Aku menamaimu Al-Mutawakkil (orang yang bertawakal). Ia bukan seorang yang kasar, bukan keras hati, bukan orang yang suka berteriak-teriak di pasar-pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan ia memaafkan dan mengampuni. Allah tidak akan mencabut nyawanya sampai ia menegakkan agama yang bengkok dengannya, hingga mereka mengucapkan: 'Laa ilaaha illallaah' [Tidak ada tuhan selain Allah], sehingga dengannya terbuka mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang tertutup."

AYAT-AYAT (TANDA-TANDA KETUHANAN) PARA RASUL

Tidaklah Allah mengutus seorang rasul untuk menyampaikan agama kepada manusia dan mengajarkan syariat kepada mereka, melainkan Dia menguatkannya dengan āyāt (tanda-tanda kebesaran/kekuasaan) yang menegaskan secara pasti bahwa ia adalah utusan dari sisi-Nya, terhubung dengan Al-Mala' al-A‘lā [alam malaikat/alam atas], serta menerima dan mengambil ajaran-ajaran-Nya dari Allah.

Ayat-ayat yang darinya Allah menguatkan para rasul-Nya ini haruslah berada di luar jangkauan batas kemampuan manusia, di luar lingkup potensi, ilmu, dan pengetahuan mereka. Sebagaimana hal itu juga harus menyalahi hukum-hukum khusus terkait materi, serta menyalahi kebiasaan (khāriq lil-‘ādah) yang dikenal dan hukum-hukum alam yang lazim.

Oleh karena itu, para ulama menamai ayat-ayat ini dengan istilah mu'jizat (mukjizat), karena mukjizat melumpuhkan akal untuk dapat mejelaskannya, sebagaimana ia melumpuhkan kemampuan manusia untuk mendatangkan hal yang semisalnya.

Para ulama mendefinisikan mukjizat sebagai: Suatu hal luar biasa (khāriq lil-‘ādah) yang Allah jalankan melalui kedua tangan seorang nabi yang diutus, guna menegakkan bukti yang pasti atas kebenaran kenabiannya.

Oleh sebab itu, mukjizat merupakan suatu hal yang niscaya (darurat), dan menampakkannya adalah sebuah kewajiban; agar maksud dari penyampaian risalah (tablīgh ar-risālah) dapat sempurna, dan hujah Allah atas manusia dapat ditegakkan.

Ayat-ayat (mukjizat) ini secara zatnya adalah hal yang mungkin terjadi (mumkin), akal tidak menolaknya, ilmu pengetahuan tidak menifikannya, dan realitas mendukung keberadaannya.

Sungguh, telah ada tokoh-tokoh yang mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah, lalu mereka menantang umatnya dengan hal-hal luar biasa yang mereka tampakkan. Manusia pun melihatnya secara langsung dengan mata kepala sendiri, dan beribu-ribu manusia beriman kepadanya melintasi abad dan generasi.

Bahkan, ilmu pengetahuan modern itu sendiri telah membuktikan bahwa hukum-hukum alam (an-nawāmīs a-abī‘iyyah) dapat terhalang dari memunculkan dampaknya oleh hukum-hukum lain yang lebih tinggi tingkatannya. Ilmu pengetahuan juga membuktikan bahwa seluruh mukjizat para nabi adalah benar.

Barang siapa yang memperhatikan apa yang ditulis oleh para ilmuwan modern mengenai dunia roh, keajaiban pemanggilan roh, keunikan hipnosis (at-tanwīm al-maghnāīsī), dan semacamnya, niscaya ia akan menyadari tanpa keraguan bahwa hal-hal luar biasa ini merupakan perkara yang mungkin terjadi, dan tidak ada satu pun darinya yang mustahil secara rasional.

Orang-orang yang beriman kepada Allah tidak ragu-ragu dalam membenarkan sesuatu selama hal itu telah terbukti dengan dalil pasti yang tidak disusupi keraguan; karena mereka mengetahui bahwa Allah Subānahu wa Ta‘ālā tidak terikat oleh hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya. Mereka tahu bahwa Zat yang berkuasa menjadikan api membakar, berkuasa pula untuk mencabut sifat membakar dari api tersebut, sebagaimana yang Dia lakukan pada Nabi Ibrahim ketika beliau dilemparkan ke dalam api, namun beliau tidak terbakar.

Allah Ta‘ālā berfirman:

"Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan tolonglah tuhan-tuhan kamu, jika kamu hendak berbuat.' Kami (Allah) berfirman, 'Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!'" (QS. Al-Anbiya': 68–69).

Mereka juga mengetahui bahwa Zat yang berkuasa menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan, serta menciptakan Adam dari tanah, berkuasa pula untuk menciptakan anak dari Sayyidah Maryam al-‘Adzrā’ (perawan) tanpa melalui pembuahan alami maupun buatan.

Allah Ta‘ālā berfirman:

"Dia (Maryam) berkata, 'Bagaimana mungkin aku mempunyai seorang anak laki-laki, padahal tidak pernah ada seorang manusia pun yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina?' Dia (Jibril) berkata, 'Demikianlah.' Tuhanmu berfirman, 'Hal itu mudah bagi-Ku dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda (kebesaran Kami) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami. Hal itu adalah suatu urusan yang telah diputuskan.'" (QS. Maryam: 20–21).

"Dan (ingatlah kisah Maryam) yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)-nya roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 91).

Mereka juga beriman bahwa Zat yang memberikan kemampuan pembuahan kepada wanita yang subur, berkuasa pula memberikan kemampuan tersebut kepada wanita yang mandul, sebagaimana yang Dia lakukan pada ibunda Yahya bin Zakariya ‘alaihimas-salām:

"Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, 'Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggilnya ketika dia berdiri shalat di mihrab, 'Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.' Dia (Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat seorang anak, padahal aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?' Dia (Allah) berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.'" (QS. Ali 'Imran: 38–40).

Demikianlah orang-orang beriman kepada Allah memandang bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta, Pengatur urusannya, dan Pembuat hukum-hukumnya; Dia tidak terikat oleh hukum-hukum tampak ini. Di balik hukum-hukum alam ini terdapat hukum-hukum lain di luar apa yang kita ketahui. Alam semesta ini tidaklah seperti yang diklaim oleh kaum materialis yang dangkal, yang menganggap alam ini mekanis dan berjalan sesuai bayangan mereka, serta tidak memiliki Pengatur yang mengatur urusannya dan mengorganisasi keadaannya... Tidak! Sesungguhnya alam semesta ini jauh lebih besar dan lebih agung dari apa yang dibayangkan oleh mereka. Tidaklah mereka ketahui darinya melainkan hanyalah istilah-istilah yang mereka gunakan untuk menutupi kebodohan mereka dan meluapkan kesombongan mereka.

Perkaranya adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Al-Qur'an al-Karim:

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85).

Disebutkan dalam buku Al-Islām ma‘al-ayāh di bawah judul: [Ilmu Pengetahuan Modern dan Tertahannya Matahari]:

Disebutkan dalam kisah-kisah para nabi: Bahwa Yusha‘ bin Nun (Yosua) pernah berada dalam peperangan melawan musuh-musuh Allah. Matahari hampir saja terbenam sebelum pertempuran usai, sehingga ia khawatir tidak dapat mengalahkan mereka jika pertempuran berlanjut hingga hari berikutnya. Maka ia berkata kepada matahari: "Engkau berada dalam ketaatan kepada Allah, dan aku pun berada dalam ketaatan kepada Allah. Aku memohon kepadamu agar engkau berhenti sampai Allah membalas musuh-musuh-Nya sebelum matahari terbenam." Maka Allah mengabulkan doa tersebut, matahari pun berhenti, dan siang hari diperpanjang hingga kemenangan Yusha‘ sempurna.

Allah Ta‘ālā berfirman:

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu!' Maka terbelahlah laut itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar." (QS. Asy-Syu'ara': 63).

Para ahli tafsir berkata: Sesungguhnya Nabi Musa 'alaihis-salām dan orang-orang yang bersamanya lari dari Firaun karena takut dibunuh. Ketika mereka sampai di laut dan tidak menemukan jalan untuk menyeberanginya, Allah mewahyukan kepada Musa agar memukul laut dengan tongkatnya. Ketika beliau mematuhi apa yang diperintahkan Allah, air terkumpul di kedua sisi, sebagian di atas sebagian lainnya hingga menjadi seperti gunung. Musa dan para pengikutnya pun keluar (selamat), lalu Firaun dan kaumnya menyusul mereka di jalan yang sama, maka Allah tenggelamkan mereka. Laut tersebut menjadi daratan kering bagi jalan Musa, dan menjadi air (yang menenggelamkan) bagi jalan Firaun.

Orang-orang kafir mendustakan kedua mukjizat atau dua peristiwa tersebut, dengan alasan:

  1. Pertama: Karena hal itu merupakan pengrusakan/pelanggaran terhadap hukum-hukum alam.
  2. Kedua: Jika hal itu benar, niscaya akan disebutkan dalam selain kitab-kitab agama; karena keduanya termasuk peristiwa dunia yang ajaib.

Namun, saya membaca di harian Al-Jumhuriyyah edisi 13-12-1957: Bahwa sebuah buku ilmu fisika baru saja terbit dan menimbulkan kegemparan besar di kalangan ilmiah serta para sejarawan, di mana buku tersebut membuktikan dengan angka-angka konkret kejadian terbelahnya laut dan terhentinya matahari di tengah langit.

Adapun penulisnya adalah seorang ilmuwan fisika asal Rusia bernama Immanuel Velikovsky. Ia mempelajari ilmu-ilmu alam di Universitas Edinburgh, mempelajari sejarah, hukum, dan kedokteran di Universitas Moskow, mempelajari biologi di Berlin dan Zurich, serta mempelajari psikiatri di Wina. Penulis tersebut dari penelitiannya yang berlangsung lebih dari sepuluh tahun menghasilkan kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang secara tidak sengaja mendukung apa yang tercantum dalam Al-Qur'an al-Karim dan sirah para nabi 'alaihimas-salām.

Saya memandang perlu untuk menukilkan bagi para pembaca cuplikan dari buku tersebut sebagaimana yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh harian Al-Jumhuriyyah.

Harian tersebut menyatakan: Penulis berkata bahwa sebuah meteorit raksasa melintas di dekat bola bumi pada zaman Yusha‘, khalifah (pengganti) Musa 'alaihimas-salām. Kemudian fenomena tersebut berulang kembali 700 tahun setelahnya. Fenomena kosmis raksasa yang digerakkan oleh kekuatan gaib tak kasatmata ini menjelaskan mukjizat-mukjizat yang disebutkan dalam Kitab-Kitab Samawi: Taurat, Injil, dan Al-Qur'an.

Mendekatnya sebuah planet atau meteorit besar ke bumi menimbulkan berbagai fenomena, di antaranya rotasi bumi pada porosnya berkurang atau terhenti hingga terbayang oleh manusia bahwa matahari telah berhenti di tengah langit. Di antaranya lagi adalah terbelahnya laut dan terbentuknya tiang-tiang awan pada siang dan malam hari. Sungguh, sebuah planet pernah melintas pada zaman Firaun, lalu memancarkan debu/hujan merah ke bumi yang mewarnai tanah, Sungai Nil, dan laut dengan warna darah. Hal ini mendukung apa yang tercantum dalam ayat Al-Qur'an yang mulia:

"Maka, Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah..." (QS. Al-A'raf: 133).

Debu merah ini jatuh di berbagai penjuru bumi yang terpisah.

Sesungguhnya mukjizat yang menembus seluruh hukum astronomi dan fisika tidaklah dibuat kecuali oleh kekuasaan Sang Pencipta semata.

Mukjizat itu terjadi ketika Musa melarikan diri dari penindasan Firaun Mesir, lalu Firaun mengejarnya bersama pasukannya. Namun laut terbelah, sehingga Musa dan orang-orang bersamanya melintas dengan selamat. Hingga ketika Firaun dan prajuritnya menyusul mereka, laut kembali ke keadaannya semula, menutup para pengejar, dan menelan para prajurit serta penunggang kuda tanpa ada seorang pun yang selamat.

Penulis berkata: Pada zaman yang sejalan dengan zaman Musa, para sejarawan Tiongkok menyebutkan bahwa matahari kala itu tidak terbenam hingga membakar hutan-hutan dan melelehkan es. Demikianlah bumi bergeming diam seolah-olah ada kekuatan dahsyat yang menahannya. Tidak diketahui secara pasti berapa lama terhentinya matahari tersebut sebelum akhirnya melanjutkan kembali rotasinya pada porosnya.

Akan tetapi, apakah bumi melanjutkan rotasinya ke arah yang sama?

Bumi saat ini berputar dari barat ke timur, apakah ia selalu demikian? Jika kita kembali mencari jawaban atas pertanyaan ini pada peta-peta kuno, maka jawabannya adalah tidak; karena peta-peta yang digambar oleh bangsa Mesir Kuno di atap salah satu kuil menunjukkan bahwa bumi sebelum terhenti berputar dari timur ke barat. Hal ini ditegaskan oleh Plato dalam dialognya tentang politik (Politicus), di mana ia berkata:

"Sesungguhnya matahari dahulu terbenam di tempat yang sekarang kita lihat sebagai tempat terbitnya." Ini menjelaskan ayat Al-Qur'an yang mulia:

"Tuhan (yang memelihara) dua tempat terbit matahari dan Tuhan (yang memelihara) dua tempat terbenamnya." (QS. Ar-Rahman: 17).

Perbedaan Antara Ayat-Ayat Para Rasul dan Kejadian Luar Biasa Lainnya

Mukjizat para rasul dan ayat-ayat para nabi tidak boleh dikacaukan dengan kejadian-kejadian luar biasa (khawāriq al-‘ādāt) yang terjadi melalui tangan selain mereka. Sebab, mukjizat datang disertai dengan tantangan (taaddī), serta bersumber dari tokoh-tokoh yang dikenal dengan ketakwaan dan kesalehan, di mana mereka telah mencapai puncak puncak ketakwaan yang tidak dapat dilampaui oleh manusia mana pun.

Mukjizat hadir tanpa ada campur tangan ikhtiar (kasb) dari seorang manusia pun; Allah-lah yang menganugerahkan mukjizat itu secara langsung kepada mereka, karena sebagaimana telah kami katakan, hal itu berada di luar kemampuan mereka maupun kemampuan manusia lainnya. Mukjizat merupakan tanda kekuasaan murni dari Allah semata, serta mukjizat bagi nabi-Nya untuk menantang para penentangnya...

Adapun hal-hal luar biasa yang tampak melalui tangan selain para rasul, maka sebagaimana dikatakan oleh Syekh Rasjid Ridha: Diriwayatkan dari seluruh umat di setiap zaman secara mutawatir dalam jenisnya, bukan dalam perincian bentuknya, dan tidak semuanya bernilai hakiki.

Sebab, di antaranya ada yang memiliki sebab-sebab yang tidak diketahui oleh khalayak umum; di antaranya ada yang bersifat buatan (ṣinā‘ī) yang diperoleh melalui pembelajaran khusus; dan di antaranya ada yang termasuk keistimewaan kekuatan jiwa dalam mengarahkannya pada tujuan, serta pengaruh jiwa yang berkehendak kuat terhadap jiwa yang lemah.

Termasuk dalam dua hal terakhir ini adalah mukāsyafah (tersingkapnya tabir ghaib) dalam beberapa perkara, hipnosis (at-tanwīm al-maghnāīsī), dan penyembuhan sebagian orang sakit, khususnya penderita penyakit saraf yang dipengaruhi oleh keyakinan dan sugesti (waham). Kemudian beliau berkata:

Di antaranya lagi adalah ilusi penglihatan (inkhidā‘ al-baṣar) melalui sulap/halusinasi yang dikuasai secara lihai oleh para pesulap/Tukang sihir. Termasuk di antaranya adalah apa yang dilakukan oleh para penyihir Firaun sebagaimana dimaksud dalam firman Allah Ta‘ālā:

"...Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepadanya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka." (QS. Thaha: 66).

Termasuk di antaranya pula adalah ilusi pendengaran (inkhidā‘ as-sam‘), seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku memanfaatkan jin; ketika mereka berbicara pada malam hari dengan suara-suara yang asing dari suara normal mereka, sehingga orang yang mempercayainya mengira bahwa itu adalah suara jin. Kadang kala mereka berbicara pada siang hari dari dalam perut mereka (ventriloquism) tanpa menggerakkan bibir. Maka tidak sepantasnya memercayai sedikit pun berita-berita dari mereka... dsb.

Lantas, di manakah letak perbandingan hal ini dengan mukjizat para nabi dan ayat-ayat para rasul?!

Di mana letak perbandingan hal ini dengan terbelahnya laut untuk Musa, dihidupkannya orang mati oleh Isa, dikeluarkannya unta betina dari batu karang untuk Shalih, dan memancarnya air dari jemari Muhammad—semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada beliau?!

Perbedaan Antara Mukjizat dan Karamah

Karamah adalah kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada para wali-Nya melalui hal-hal yang Dia tampakkan melalui tangan mereka. Syarat karamah tidak harus berupa hal yang luar biasa (khāriq lil-‘ādah), dan tidak harus keluar dari kebiasaan manusia.

Termasuk bagian dari karamah adalah keistiqamahan, taufik untuk taat kepada Allah, bertambahnya ilmu dan amal, serta membimbing makhluk menuju kebenaran.

Kadang kala terjadi sebagian hal yang luar biasa (khawāriq al-‘ādāt) melalui tangan sebagian orang saleh dalam beberapa kondisi, maka hal itu dianggap sebagai karamah yang menyertai sebagian orang yang ikhlas kepada Allah dan fokus beribadah kepada-Nya, yaitu orang-orang yang fitrahnya selamat dan jiwanya suci, sebagaimana yang terjadi pada Sayyidah Maryam. Al-Qur'an al-Karim telah mengisahkan tentang beliau bahwasanya:

"...Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab, dia mendapati makanan di sisinya. Dia (Zakaria) berkata, 'Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh (makanan) ini?' Dia (Maryam) menjawab, 'Itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan." (QS. Ali 'Imran: 37).

Namun demikian, karamah tidak digunakan untuk menantang (taaddī). Bahkan hukum asal pada karamah adalah disembunyikan dan dirahasiakan. Syekh Ahmad Ar-Rifa'i berkata: "Para wali menyembunyikan karamah sebagaimana seorang wanita menyembunyikan darah haidnya." Hal ini berbeda dengan mukjizat, karena menampakkan mukjizat adalah kewajiban agar penyampaian risalah (tablīgh ar-risālah) menjadi sempurna.

Mukjizat Penutup Para Nabi

Tidaklah Allah mengutus seorang rasul melainkan Dia telah menguatkannya dengan ayat-ayat kosmis (al-āyāt al-kauniyyah) dan mukjizat-mukjizat yang menyalahi hukum alam yang dikenal manusia serta berada di luar kemampuan manusia; agar penampakannya melalui kedua tangannya—padahal ia adalah seorang manusia biasa—menjadi bukti bahwa ia adalah utusan dari sisi Allah.

Maka tidak terbakarnya Ibrahim oleh api, unta Nabi Shalih, tongkat Nabi Musa, serta keajaiban-keajaiban yang tampak melalui kedua tangan Nabi Isa, semuanya termasuk dalam kategori ini.

(Catatan kaki nomor 2 dalam teks asli): [Sihir sangat termasyhur pada zaman Musa, ilmu kedokteran dan pengingkaran terhadap roh termasyhur pada zaman Isa, sedangkan balagah (sastra/keindahan bahasa) termasyhur pada zaman Muhammad. Maka mukjizat setiap nabi adalah dari jenis apa yang termasyhur pada zamannya, dengan memperhatikan bahwa mukjizat berada di atas kemampuan manusia; ia berada pada tingkatan tertinggi dan kedudukan yang paling mulia.]

Ayat-ayat (mukjizat) tersebut bersifat indrawi (issiyyah) pada masa ketika akal manusia berada pada fase belum mencapai kedewasaan, dan pada masa ketika keajaiban-keajaiban tersebut memberi pengaruh mendalam pada jiwa massa hingga mereka tidak memiliki pilihan selain tunduk dan berserah diri.

Namun ketika jenis manusia mulai memasuki usia dewasa, dan kehidupan intelek/akal mulai menemukan jalannya untuk muncul dan berkembang, keajaiban-keajaiban indrawi itu tidak lagi menjadi satu-satunya bukti atas kebenaran risalah. Tidak lagi mudah bagi akal untuk tunduk hanya semata-mata karena melihat sesuatu yang keluar dari kebiasaan hidup.

Akal menginginkan sesuatu yang baru yang sepadan dengan fase yang telah dicapainya. Ia menginginkan iman yang tidak dicampuri keraguan, dan keyakinan yang mengikis kegelapan syubhat.

Allah tidak akan menyokong jenis manusia pada masa kanak-kanaknya dengan sesuatu yang menjaga kehidupan rohaninya, lalu membiarkannya begitu saja setelah manusia mengambil jalannya menuju penalaran rasional dan independensi berpikir tanpa menegakkan bukti-bukti yang sepadan dengan perkembangan yang telah dicapainya. Maka dari itu, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan menguatkannya dengan mukjizat ilmiah (al-mu‘jizah al-‘ilmiyyah) dan hujah rasional (al-ujjah al-‘aqliyyah), yaitu Al-Qur'an al-Karim.

"Katakanlah, 'Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.'" (QS. Al-Isra': 88).

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ البَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُهُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ القِيَامَةِ»

Terjemahan Hadis: "Tidak ada seorang nabi pun di antara para nabi melainkan telah diberikan kepadanya mukjizat yang membuat manusia beriman kepadanya. Namun, apa yang diberikan kepadaku hanyalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Maka aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Qur'an ini bukanlah hasil karangan siapa pun, melainkan wahyu Allah yang diturunkan dalam bentuk wahyu yang paling sempurna.

"Tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah akan berbicara kepadanya, kecuali dengan arahan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana." (QS. Asy-Syura: 51).

Ayat ini menetapkan tiga jenis wahyu:

(a) Wayan (Wahyu langsung): Yaitu menjatuhkan/membisikkan makna ke dalam hati, yang diistilahkan dengan an-nafts fī ar-rū‘ (peniupan ke dalam jiwa). Dalam hadis disebutkan:

«إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ»

Terjemahan Hadis: "Sesungguhnya Ruhul Kudus (Jibril) membisikkan ke dalam jiwaku bahwa suatu jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki."

(b) Berbicara dari belakang tabir (min warā’i ijāb): Yaitu penerima wahyu mendengar kalam Allah dari arah di mana ia tidak melihat-Nya, sebagaimana Nabi Musa ‘alaihi ṣ-ṣalātu was-salām mendengar panggilan dari balik pohon.

"Dia (Musa) berkata kepada keluarganya, 'Tinggallah (di sini). Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa berita kepadamu dari sana atau (membawa) sepotong kayu yang menyala agar kamu dapat berdiang.' Maka, ketika dia sampai ke (tempat) api itu, dia dipanggil dari arah lereng lembah sebelah kanan di tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon, 'Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam.'" (QS. Al-Qashas: 29–30).

(c) Apa yang disampaikan oleh malaikat wahyu yang diutus Allah kepada rasul-Nya: Di mana malaikat tersebut terlihat berwujud menyerupai seorang laki-laki atau tidak berwujud manusia.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, bahwa Al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimanakah wahyu datang kepadamu?" Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيَفْصِمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ المَلَكُ رَجُلًا، فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ»

Terjemahan Hadis: "Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku seperti gemerincing lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku. Lalu keadaan itu terhenti dariku sedang aku telah menghafal apa yang diucapkannya. Dan kadang-kadang malaikat menjelma bagiku sebagai seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku dan aku memahami apa yang diucapkannya." (HR. Bukhari).

Aisyah radhiyallāhu ‘anhā berkata: "Sungguh aku telah melihat beliau ketika wahyu turun kepadanya pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu terhenti dari beliau sedangkan dahi beliau mengucurkan keringat."

Bentuk yang paling sempurna dari jenis-jenis ini adalah pengutusan rasul (malaikat) membawa wahyu. Bentuk inilah yang dengannya Al-Qur'an al-Karim diturunkan, yaitu diturunkan melalui perantara Malaikat Jibril 'alaihis-salām.

"Dan sesungguhnya (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Ia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (QS. Asy-Syu'ara': 192–195).

"Katakanlah (wahai Muhammad), 'Barang siapa menjadi musuh Jibril, maka dialah yang telah mejelaskannya/menurunkannya (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.'" (QS. Al-Baqarah: 97).

Wahyu ini datang sebagai sebuah revolusi melawan kebatilan dalam segala bentuknya, dan melawan kerusakan dalam seluruh manifestasinya. Wahyu membendung takhayul yang mengotori akal, membendung penyimpangan yang merusak fitrah, sebagaimana ia juga membendung tradisi rusak yang memasung kebebasan berpikir dan independensi berkehendak.

Wahyu menentang ini semua dengan gejolak dahsyat yang menghancurkan seluruh tonggak kejahatan, menghapus setiap corak kerusakan, dan menggantinya dengan hakikat-hakikat kebenaran yang menuntun akal, menerangi nurani, serta mengelevasi jiwa; hingga jiwa mencapai titik puncak kesempurnaan kemanusiaan yang telah ditakdirkan baginya.

Wahyu bertujuan untuk mendidik individu, mewujudkan kerja sama masyarakat, dan melahirkan pemerintahan yang berlandaskan musyawarah (syūrā), dengan tujuan menjaga agama Allah, mengurusi urusan dunia manusia, serta menyeru kepada petunjuk agama ini agar persaudaraan kemanusiaan menjadi meluas, yang pada gilirannya menyegerakan terciptanya kedamaian universal di mana manusia hidup di bawah naungannya secara aman.

Revolusi ini tidak bertujuan untuk kepentingan pribadi, tidak pula untuk kemanfaatan nasional/kelompok, tidak untuk memenangkan satu kelompok penguasa atas kelompok lainnya, dan tidak untuk mengutamakan satu mazhab atas mazhab lainnya; melainkan untuk kebaikan seluruh alam dan demi kemaslahatan seluruh manusia.

Wahyu ini datang untuk menyelesaikan problem-problem yang telah membelenggu manusia sejak dahulu hingga modern, serta untuk menjawab setiap pertanyaan dari pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apakah agama itu, dan apa prinsip-prinsip dasarnya?
  2. Siapakah Allah? Dan apa sifat-sifat-Nya?
  3. Apakah risalah itu? Siapakah para rasul itu? Dan apa tugas-tugas mereka?
  4. Apakah hakikat kehidupan setelah kematian?
  5. Apakah kebaikan itu? Apakah kejahatan itu? Dan bagaimana mekanisme pembalasan atas keduanya?
  6. Mengapa manusia diciptakan? Dan apa kedudukannya di alam semesta?
  7. Bagaimana hubungan manusia dengan sesamanya? Dan bagaimana hubungan antarumat serta antarbangsa?
  8. Bagaimana hubungan antara laki-laki dan perempuan?
  9. Apakah kekayaan itu? Dari mana sumbernya? Dan bagaimana tata cara distribusinya?
  10. Apakah kehidupan yang baik (al-ayāh a-ayyibah) itu? Dan apa jalan menuju ke sana?

Demikianlah Al-Qur'an terus memaparkan di hadapan akal manusia ratusan persoalan yang tidak dapat ditinggalkan dalam dunia ilmu dan filsafat; persoalan-persoalan yang seluruh akal manusia tidak mampu menguasai sepersepuluh dari sepersepuluhnya (‘usyru mi‘syārihā), apalagi menguasai semuanya; persoalan-persoalan yang dibutuhkan manusia dalam menempuh tahapan kehidupan ini agar menjadi petunjuk yang menghindarkannya dari kesesatan dalam urusan agama dan penyimpangan dalam dinamika duniawi.

"Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) setelah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah..." (QS. Luqman: 27).

Seluruh persoalan ini hadir dalam gaya bahasa sastra (aslūb balāghī) yang sangat memukau, yang menguasai indra manusia, menawan perasaannya, dan membangkitkan naluri kebaikan di dalamnya, disertai dengan terbebasnya Al-Qur'an dari perselisihan/perbedaan dan keselamatannya dari pertentangan/kontradiksi.

"Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati di dalamnya pertentangan yang banyak." (QS. An-Nisa': 82).

Sungguh, tidak pernah dikenal ada satu kitab pun dari kitab-kitab yang ada yang memiliki keagungan tema, sihir keindahan bahasa, dan kekuatan pengaruh seperti yang dimiliki Al-Qur'an ini; hal yang mengarahkan perhatian para ulama untuk menaruh kepedulian dalam mengkajinya dari segi lafal-lafalnya, makna-maknanya, akidahnya, adab-adabnya, hukum-hukumnya, serta syariat-syariatnya. Melalui kajian ini, mereka menciptakan perbendaharaan ilmu dan literatur yang sangat besar, yang terus dan akan selalu menjadi materi yang layak bagi berdirinya peradaban manusia tempat manusia mengecap kehidupan yang lebih baik dan penghidupan yang lebih sejahtera.

"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) Ruh (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami..." (QS. Asy-Syura: 52).

Inilah mukjizat yang dengannya Allah menguatkan Nabi-Nya yang ummi, yang dengannya Dia mengubah jiwa-jiwa, menghidupkan hati, menerangi mata hati, mendidik suatu umat, dan membentuk sebuah negara hanya dalam hitungan tahun yang dapat dihitung dengan jari.

Jika berubahnya tongkat menjadi ular merupakan suatu mukjizat, maka mengubah akal dan hati manusia adalah mukjizat yang jauh lebih tinggi tingkat keajaibannya.

Jika menghidupkan orang mati termasuk hal luar biasa yang dengannya Allah menguatkan sebagian nabi-Nya, maka menghidupkan umat yang ummi dari kebodohan dan kenistaan serta menjadikannya sebagai sumber pancaran sinar dan petunjuk adalah hal luar biasa yang membuat seluruh mukjizat lainnya tampak kecil di sisinya.

Maha Besar Allah, sungguh agama Muhammad,

Dan Kitab-Nya adalah perkataan yang paling kuat dan paling lurus.

Jangan engkau sebut kitab-kitab terdahulu di hadapannya,

Sebab tatkala fajar telah terbit, ia padamkan pelita (lampu minyak).

 

Sumber: kitab Al-'Aqa'id Al-Islamiyyah karya Syaikh Sayyid Sabiq

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat