Iman Kepada Para Nabi dan Rasul
PARA RASUL
- Bagi Setiap Umat Ada Seorang Rasul
- Rasul Adalah Manusia
- Rasul Adalah Seorang Laki-Laki
- Tujuan Diutusnya Para Rasul
- 'Ishmah (Kehormatan/Keterpeliharaan) Para Nabi
- Hal-Hal yang Dinisbatkan Kepada Para Rasul
- Ulul 'Azmi dari Kalangan Para Rasul
- Penutup Nubuwwah dan Risalah
- Tugas-Tugas Besar yang Dilaksanakan oleh Rasul
- Bukti-Bukti Kebenarannya
- Kabar Gembira tentang Kemunculannya
- Ayat-Ayat (Mukjizat) Para Rasul
- Perbedaan Antara Ayat-Ayat Para Rasul dan Kejadian Luar Biasa Lainnya
- Perbedaan Antara Mukjizat dan Karamah
- Mukjizat Penutup Para Nabi
Allah
menugaskan/wajibkan atas setiap muslim untuk beriman kepada seluruh rasul Allah
tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Katakanlah
(hai orang-orang mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan
kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan
anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang
diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang
pun di antara mereka dan kami hanya patuh kepada-Nya.'" (QS. Al-Baqarah:
136).
Dan
Dia menjelaskan bahwa hal ini merupakan keimanan orang-orang yang beriman.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Rasul
(Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian
pula orang-orang yang beriman. Masing-masing beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata),
'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Dan mereka
berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan
kepada-Mu tempat kembali.'" (QS. Al-Baqarah: 285).
Dia
juga memberitahukan bahwa kebajikan (al-birr) terletak pada keimanan ini. Dia
berfirman:
"Akan
tetapi, kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi..." (QS. Al-Baqarah: 177).
Apabila
seseorang beriman kepada sebagian rasul namun tidak beriman kepada sebagian
yang lain, serta membeda-bedakan di antara mereka dalam hal keimanan, maka ia
tergolong kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya
orang-orang yang kufur kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud
membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan
mengatakan, 'Kami beriman kepada sebagian dan kami kufur terhadap sebagian
(yang lain),' serta bermaksud mengambil jalan tengah di antara yang demikian
(iman atau kufur), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya..."
(QS. An-Nisa': 150-151).
Di
antara para rasul ini, ada yang dikisahkan oleh Allah kepada kita dengan
disebutkan nama-nama mereka, dan ada pula yang tidak dikisahkan kepada kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan
(Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang
mereka kepadamu sebelum itu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang
mereka kepadamu." (QS. An-Nisa': 164).
Adapun
rasul-rasul yang dikisahkan oleh Allah kepada kita berjumlah dua puluh lima
orang. Merekalah yang disebutkan dalam firman-Nya:
"Dan
itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.
Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu
Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan
Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan
kepada Nuh sebelum itu telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari
keturunannya (Ibrahim) yaitu Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, dan Harun.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan
Zakaria, Yahya, 'Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan
Isma'il, Alyasa', Yunus, dan Lut. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di
atas umat (pada masanya)." (QS. Al-An'am: 83-86).
Ayat-ayat
ini mencakup delapan belas rasul, dan diwajibkan pula beriman kepada tujuh
rasul lainnya yang disebutkan dalam beberapa ayat berbeda:
"Sesungguhnya
Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi
segala umat (pada masanya masing-masing)." (QS. Ali 'Imran: 33).
"Dan
kepada kaum 'Aad (Kami utus) saudara mereka, Hud." (QS. Al-A'raf: 65).
"Dan
kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh." (QS. Hud: 61).
"Dan
kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib." (QS. Hud:
84).
"Dan
(ingatlah kisah) Isma'il, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk
orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami.
Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Anbiya':
85-86).
"Muhammad
itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah Utusan
Allah dan penutup para nabi." (QS. Al-Ahzab: 40).
Telah
diriwayatkan bahwa jumlah keseluruhan para nabi adalah 124.000 orang.
Tidak
Ada Satu Umat pun yang Sepi dari Rasul
Para
rasul ini diutus oleh Allah kepada umat-umat manusia di sepanjang kurun waktu
yang panjang. Tidak ada satu umat pun yang sepi dari adanya rasul yang menyeru
mereka kepada Allah dan menuntun mereka menuju kebenaran. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
"Demi
Allah, sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul Kami) kepada umat-umat sebelum
engkau..." (QS. An-Nahl: 63).
"Dan
tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada di sana seorang pemberi
peringatan." (QS. Fatir: 24).
"Dan
bagi tiap-tiap umat ada rasul..." (QS. Yunus: 47).
"Dan
bagi tiap-tiap kaum ada pemberi petunjuk." (QS. Ar-Ra'd: 7).
Rasul
Berasal dari Kaum Umat Itu Sendiri
Rasul
adalah seorang manusia dari jenis umat itu sendiri, meskipun ia memiliki
keutamaan berupa bakat/potensi akal dan ruhani yang dikhususkan oleh Allah
untuknya agar bersiap menerima wahyu dari Allah.
"Allah
lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas risalah-Nya." (QS.
Al-An'am: 124).
"Allah
memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Hajj: 75).
Sesungguhnya
Allah mengkhususkan rasul dengan keutamaan-keutamaan dan kelebihan-kelebihan
agar ia kuat mengemban beban risalah, serta menjadi teladan yang diikuti dalam urusan
agama dan dunia. Sekiranya para rasul Allah tidak diistimewakan dengan
keistimewaan akal dan ruhani ini—misalnya fitrah mereka rendah atau akal mereka
lemah—niscaya mereka tidak layak mengemban petunjuk Allah untuk disampaikan
kepada manusia.
Rasul
Adalah Laki-Laki yang Memakan Makanan
Rasul
adalah seorang laki-laki yang memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan
Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan
makanan dan berjalan di pasar-pasar..." (QS. Al-Furqan: 20).
Rasul
Menikah
Rasul
menikah dan memiliki keturunan sebagaimana manusia lainnya.
"Dan
sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami
berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan..." (QS. Ar-Ra'd: 38).
Rasul
Mengalami Hal-Hal yang Dialami Manusia Lainnya
Rasul
mengalami hal-hal yang dialami oleh manusia lainnya berupa kesehatan dan sakit,
kekuatan dan kelemahan, kenikmatan dan rasa sakit, serta kehidupan dan
kematian; hanya saja apa yang menimpanya tidak menyebabkan orang-orang lari
(menjauh) darinya.
"Dan
(ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, '(Ya Tuhanku),
sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang
dari semua yang penyayang.' Maka Kami kabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan
penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami
lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk
menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami." (QS. Al-Anbiya':
83-84).
"Dan
Muhammad hanyalah seorang Rasul; sungguh telah berlalu sebelum dia beberapa
rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?
Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit
pun..." (QS. Ali 'Imran: 144).
Seorang
rasul—siapa pun rasul itu—tidak memiliki otoritas mengatur alam semesta, tidak
memiliki kemanfaatan atau kemudaratan, tidak dapat memengaruhi kehendak Allah,
dan tidak mengetahui hal gaib kecuali sekadar apa yang dikehendaki Allah
untuknya.
"Katakanlah
(Muhammad), 'Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula)
menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui
yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan
ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa
berita bahagia bagi orang-orang yang beriman.'" (QS. Al-A'raf: 188).
"(Dia
adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada
seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diratai-Nya, maka
sesungguhnya Dia mengadakan pengawal-pengawal (malaikat) di depan dan di
belakangnya. Agar Dia mengetahui bahwa rasul-rasul itu sungguh telah
menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi
apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per
satu." (QS. Al-Jinn: 26-28).
Rasul
Adalah Laki-Laki
Seorang
rasul tidaklah diutus melainkan dari kalangan laki-laki; Allah tidak mengutus
malaikat dan tidak pula wanita.
"Dan
Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang
Kami berikan wahyu kepadanya..." (QS. Al-Anbiya': 7).
"Katakanlah
(Muhammad), 'Sekiranya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan dengan tenang
di bumi, niscaya Kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit sebagai
rasul.'" (QS. Al-Isra': 95).
Tujuan
Diutusnya Para Rasul
Tujuan
diutusnya para rasul adalah menyeru untuk beribadah kepada Allah dan menegakkan
agama-Nya:
"Dan
Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami
wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku."
(QS. Al-Anbiya': 25).
"Dan
sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan),
'Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut...'" (QS. An-Nahl: 36).
"Dia
(Allah) telah mensyariatkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang
telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan 'Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan
janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya..." (QS. Asy-Syura: 13).
Penegakan
agama dan beribadah kepada Allah mencakup keimanan kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir;
sebagaimana hal itu juga mencakup amal-amal saleh yang menyucikan dan
membersihkan jiwa manusia, serta menanamkan kebaikan di dalamnya agar mencapai
kesempurnaan materiil dan moril dalam kehidupan ini, serta bersiap untuk
kesempurnaan yang lebih tinggi dan abadi.
Ajaran-ajaran
yang luhur ini tidak mungkin dicapai oleh manusia hanya dengan akal pikiran
mereka semata, melainkan mereka mempelajarinya melalui wahyu dari Allah.
"Dialah
yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan
mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu'ah: 2).
Dengan
demikian, tidak ada lagi alasan/hujjah bagi orang yang hatinya telah dilalaikan
oleh Allah dari mengingat-Nya, mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya melewati
batas. Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya
Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu
kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiansesudahnya, dan Kami telah memberikan
wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, 'Isa,
Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami
telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka
kepadamu sebelum itu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka
kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung. (Kami
mengutus) rasul-rasul penyampai berita gembira dan pemberi peringatan agar
tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah setelah rasul-rasul itu (diutus).
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa': 163-165).
"Dan
Allah tidak akan menyesatkan suatu kaum, setelah Dia memberi petunjuk kepada
mereka hingga Dia menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taubah: 115).
Ibnu
Katsir berkata: "Allah Ta'ala mengabarkan tentang diri-Nya yang Mahamulia
dan hukum-Nya yang Mahaadil, bahwasanya Dia tidak menyesatkan suatu kaum
melainkan setelah sampainya risalah kepada mereka sehingga hujjah telah tegak
atas mereka, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Dan adapun kaum Tsamud, maka
mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan
(kesesatan) daripada petunjuk...' (QS. Fussilat: 17)."
Dan
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membalas/menyiksa seorang pun sampai Dia
menegakkan hujjah atasnya dan memutuskan alasannya.
"...Dan
Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS.
Al-Isra': 15).
'Ishmah
(Keterpeliharaan) Para Nabi
Para
rasul diinstal/dipilih dan diangkat oleh Allah:
"Sesungguhnya
Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi
segala umat (pada masanya masing-masing)." (QS. Ali 'Imran: 33).
Dia
mensucikan mereka dari keburukan-keburukan, serta memelihara ('ashama)
mereka dari kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar.
"Tidak
mungkin seorang nabi berkhianat..." (QS. Ali 'Imran: 161).
Dia
menghiasi mereka dengan akhlak yang agung seperti kejujuran, amanah,
pengorbanan dalam kebenaran, dan penunaian kewajiban. Di antara mereka ada yang
Shiddiq (sangat jujur):
"Dan
ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya
dia adalah seorang yang sangat membenarkan (shiddiq) lagi seorang nabi."
(QS. Maryam: 41).
Di
antara mereka ada yang diciptakan khusus oleh Allah untuk diri-Nya:
"...Dan
Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya
kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS. Taha: 39).
"...Lalu
engkau tinggal bertahun-tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau datang
menurut waktu yang ditetapkan wahai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk
diri-Ku." (QS. Taha: 40-41).
Di
antara mereka ada yang berada dalam pengawasan Allah:
"Dan
bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya engkau berada
dalam pengawasan Kami..." (QS. At-Tur: 48).
Di
antara mereka ada yang dipilih dan diajari oleh Allah:
"Dan
demikianlah Tuhanmu memilih engkau (untuk jadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu
sebagian dari takwil mimpi-mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan
kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada
dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 6).
Setelah
Allah menyebutkan sekumpulan nabi dalam Surah Maryam, Dia berfirman:
"Merekalah
orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan
Adam, dan dari orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh, dan dari keturunan
Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan
telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Tuhan Yang Maha Pemurah kepada
mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (QS. Maryam:
58).
Meskipun
mereka bertingkat-tingkat dalam keutamaan, mereka telah mencapai kemuncak
keluhuran ruhani dan hubungan dengan Allah.
"Rasul-rasul
itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada
yang Allah berbicara (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya
beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada 'Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran
serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus..." (QS. Al-Baqarah: 253).
Demikianlah
kita menemukan banyak teks yang terdapat dalam Al-Qur'an berkenaan dengan para
nabi dan rasul—yang melimpahkan kepada mereka kesucian, kebersihan, dan
kerucian sehingga menjadikan mereka sebagai teladan hidup dan gambaran ideal
bagi kesempurnaan manusia.
Orang-orang
seperti mereka tidak mungkin melainkan terpelihara (ma'shum) dari
terjerumus ke dalam dosa, serta disucikan dari jatuh ke dalam kemaksiatan.
Mereka tidak meninggalkan kewajiban, tidak melakukan keharaman, dan tidak
berkarakter kecuali dengan akhlak mulia yang menjadikan mereka sebagai teladan
yang baik dan contoh tertinggi yang dituju oleh manusia dalam berupaya mencapai
kesempurnaan yang ditakdirkan bagi mereka.
Allah
Subhanahu wa Ta'ala sendiri yang menangani mendidik, membersihkan, merawat, dan
mengajari mereka hingga mereka menjadi puncak-puncak yang menjulang tinggi dan
layak untuk dipilih dan diangkat.
"Merekalah
orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, hikmah dan nubuwwah. Jika
orang-orang (kafir) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami telah
menyerahkannya kepada suatu kaum yang tidak sekali-kali mengingkarinya.
Merekalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah
petunjuk mereka..." (QS. Al-An'am: 89-90).
"Kami
telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan
kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah
mereka selalu menyembah." (QS. Al-Anbiya': 73).
"...Sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan
cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS.
Al-Anbiya': 90).
Ayat-ayat
ini merupakan dalil-dalil yang jelas atas sejauh mana kesempurnaan manusia yang
dilimpahkan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya. Sekiranya mereka tidak
demikian, niscaya wibawa mereka akan jatuh di dalam hati, kedudukan mereka
menjadi kerdil di mata manusia, dan dengan demikian hilanglah kepercayaan
kepada mereka sehingga tidak ada seorang pun yang mau tunduk kepada mereka. Hal
itu akan melenyapkan hikmah diutusnya mereka untuk menjadi pemimpin makhluk
menuju kebenaran. Bahkan, sekiranya mereka melakukan sesuatu yang menyalahi
kesempurnaan manusia dengan meninggalkan kewajiban, melakukan keharaman, atau
menerjang sesuatu yang bertentangan dengan akhlak mulia, niscaya mereka menjadi
teladan yang buruk dan bukan menjadi contoh tertinggi maupun menara petunjuk.
Sesungguhnya
rasul-rasul Allah menyadari dengan perasaan mereka—yang diistimewakan atas
manusia lainnya—bahwa mereka senantiasa berada di hadirat kesucian (Kehadirat
Allah). Mereka melihat Allah dalam segala sesuatu, sehingga mereka menyaksikan
manifestasi keindahan, keagungan, bukti-bukti kekuasaan, kebesaran, serta
jejak-jejak hikmah dan rahmat-Nya. Mereka melihat hal itu dalam diri mereka
sendiri dan pada orang-orang di sekeliling mereka: di bumi, di langit, pada
malam dan siang hari, serta dalam kehidupan dan kematian. Maka hati mereka
dipenuhi rasa agung dan hormat kepada Allah, sehingga tidak tersisa tempat bagi
setan, tidak ada ruang bagi hawa nafsu, tidak ada kecenderungan pada syahwat,
dan tidak ada kehendak untuk sesuatu selain kehendak Al-Haq (Kebenaran) serta
totalitas dan pengorbanan jiwa demi-Nya.
Adapun
apa yang termaktub dalam Al-Qur'anul Karim yang secara zahir mengesankan bahwa
mereka melakukan hal yang bertentangan dengan keterpeliharaan ('ishmah)
mereka, maka hal itu tidak dapat diartikan sesuai makna zahirnya. Hal tersebut
menjadi jelas sebagaimana yang kami sebutkan berkenaan dengan apa yang
dinisbatkan kepada masing-masing nabi sebagai berikut:
Nabi
Adam 'Alaihissalam
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"...dan
durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia." (QS. Taha: 121).
Zahir
ayat ini mengesankan bahwa Adam mendurhakai Tuhannya dan sesat karena menyalahi
perintah Allah serta memenuhi ajakan setan, dan bahwa hal itu merupakan
kekhilafan yang ia terjerumus di dalamnya:
"Lalu
keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan
semula..." (QS. Al-Baqarah: 36).
Namun
apabila kita mencermati dengan mendalam, kita akan melihat bahwa kemaksiatan
ini hanyalah terjadi pada Adam karena kelupaan terhadap janji Allah. Perbuatan
tersebut tidak bersumber dari kehendak yang disengaja dan maksud (kesengajaan).
Allah Subhanahu wa Ta meyakinkan tidak menghukum atas kesalahan yang tidak
disengaja dan kelupaan, karena hal itu merupakan pembebanan di luar batas
kemampuan (taklif ma la yuthaq), padahal Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai kesanggupannya. Landasan dasar kaidah ini adalah firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala:
"...Dan
tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada
dosanya ialah) apa yang disengaja oleh hatimu..." (QS. Al-Ahzab: 5).
Serta
firman-Nya:
"...'Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami
tersalah...'" (QS. Al-Baqarah: 286).
Dalil
bahwa apa yang terjadi pada Adam adalah kelupaan dan tanpa kesengajaan adalah
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan
sungguh telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa, dan tidak Kami
dapati padanya kemauan yang kuat." (QS. Al-Taha: 115).
Artinya,
Adam lupa akan janji Allah yang diwasiatkan kepadanya ketika ia melanggar apa
yang dilarang darinya yaitu memakan dari pohon tersebut, dan tidak ditemukan
pada dirinya tekad sengaja untuk melakukan apa yang dilarang. Dan selama tidak
ada tekad sengaja untuk bermaksiat, maka tidak ada hukuman dosa.
Al-Qur'an
menganggap kelupaan tersebut sebagai pendurhakaan semata-mata memandang
kedudukan Adam yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh dari-Nya,
dimintakan sujud malaikat untuknya, ditempatkan di surga-Nya, dan diajari
seluruh nama-nama. Orang yang memiliki kedudukan seperti ini dituntut untuk
senantiasa waspada dalam tingkat kewaspadaan yang paling kuat sehingga tidak
lupa akan wasiat Allah dan janji-Nya kepadanya. Maka hal ini termasuk dalam
kaidah: "Kebaikan orang-orang yang berbuat baik dianggap sebagai
keburukan bagi orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)" (Hasanatul
Abrar Sayyiatul Muqarrabin).
Nabi
Nuh 'Alaihissalam
Adapun
Nabi Nuh 'alaihissalam, apa yang terjadi padanya adalah bahwa beliau memohon
kepada Allah tentang kebinasaan putranya bersama orang-orang yang binasa dalam
angin topan (tufan), padahal ada janji Allah akan keselamatan dirinya dan
keluarganya. Beliau berkata:
"...'Ya
Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau
itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.' Allah
berfirman, 'Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargaku (yang
dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) adalah perbuatan
yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu
tidak mengetahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya
kamu jangan termasuk orang-orang yang jahil.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu
yang aku tiada mengetahui (hakikatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi
ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk
orang-orang yang rugi.'" (QS. Hud: 45-47).
Nuh
'alaihissalam tidak mengetahui bahwa hubungan nasab putranya dengannya telah
terputus disebabkan kekafirannya dan keberpalingannya dari dakwah Allah. Maka
ia bertanya kepada Allah bagaimana putranya binasa padahal ada janji
keselamatan bagi keluarganya dan putranya adalah bagian dari keluarganya. Lalu
Allah mengajarinya bahwa ikatan agama dan nasab ruhani lebih kuat daripada
ikatan darah. Apabila ikatan ini terputus, maka terputus pula ikatan nasab dan
darah. Maka Allah berfirman kepadanya seraya mengajarinya: "Sesungguhnya
dia bukanlah termasuk keluargamu", dengan memberikan alasan bahwa amal
perbuatannya adalah amal yang tidak saleh. Selama keadaannya demikian, maka
tidak ada lagi ikatan nasab, dan dengan demikian terputuslah nasabnya dari
bapaknya sehingga ia tidak tergolong keluarganya yang dijanjikan keselamatan.
Sebagai
bapak kedua bagi umat manusia yang telah mengorbankan hidupnya demi Allah dan
tinggal di tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun menyeru kepada
Allah dan berjihad di jalan-Nya, Nuh 'alaihissalam seharusmya menyadari dan
memahami makna ini. Ketika beliau tidak memperhatikannya dan terdorong oleh
perasaan keayahan, hal itu dianggap sebagai kekurangan relative bagi
kedudukannya yang tinggi dan derajatnya yang agung yang telah dikurniakan Allah
kepadanya. Oleh karena itu, beliau berlindung kepada Allah agar mengampuni
kekhilafan ini yang tidak disengaja dan tidak diketahuinya, seraya berkata:
"...'Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau
sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikatnya). Dan sekiranya Engkau tidak
memberi ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku
termasuk orang-orang yang rugi.'" (QS. Hud: 47).
Nabi
Ibrahim 'Alaihissalam
Termasuk
dalam doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah perkatannya:
"dan
Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat." (QS.
Asy-Syu'ara': 82).
Kita
tidak mengetahui adanya satu kesalahan pun pada Nabi Ibrahim. Yang kita ketahui
adalah bahwa Allah telah menjadikannya sebagai Khalil (kekasih dekat)
dan melimpahkan kepadanya sifat-sifat kesempurnaan yang layak baginya.
"Dan
tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh
dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya
dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh." (QS.
Al-Baqarah: 130).
"Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada
Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah
telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan
kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar
termasuk orang-orang yang saleh." (QS. An-Nahl: 120-122).
Permintaannya
kepada Allah agar mengampuni kesalahannya bukanlah 'kesalahan' dalam arti kata
yang terlintas dalam pikiran awam. Hal itu hanyalah apa yang dirasakannya dalam
dirinya berupa rasa kurang/kekurangan dalam mengabdikan diri sepenuhnya kepada
Allah dan menunaikan risalah-Nya, memandang kedudukannya yang sangat tinggi dan
posisinya yang agung.
Nabi
Yusuf 'Alaihissalam
Allah
berfirman tentang Nabi Yusuf 'alaihissalam:
"Sesungguhnya
wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf
pun bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan wanita itu..." (QS. Yusuf:
24).
Tidak
ada dalam ayat ini petunjuk sekecil apa pun bahwa Yusuf bermaksud (hamm)
melakukan perbuatan keji. Karena yang dimaksud dengan hamm di sini
adalah maksud untuk memukul dan menolak bahaya. Hal itu terjadi ketika istri
Al-Aziz merayunya, menutup pintu-pintu, dan mengajaknya melakukan perbuatan
terlarang, namun Yusuf memelihara diri, menolak, dan berkata:
"...'Aku
berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.'
Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung." (QS. Yusuf:
23).
Menghadapi
pemeliharaan diri, penolakan, dan sikap enggan merendahkan diri ini, istri
Al-Aziz bermaksud memukulnya dan menyakitinya setelah gagal memikatnya dengan
segala cara. Maka Yusuf pun berniat membalas perbuatannya untuk membela diri,
sekiranya ia tidak melihat bahwa hal tersebut tidak layak bagi orang-orang
seperti dirinya yang memiliki jiwa yang agung; terlebih lagi rumah itu telah
menampungnya dan memuliakannya, ditambah wanita itu adalah majikannya yang
mengasuhnya dan merupakan istri dari seorang pejabat agung pada umat yang
besar.
Sekiranya
tidak karena melihat semua pertimbangan itu—sedang beliau memiliki perasaan
yang mulia dan emosi yang bergejolak—niscaya beliau akan membalasnya dengan
tindakan serupa dan menyakitinya dengan pukulan yang keras.
Namun
beliau juga tidak ridha untuk pasrah dan berdiri hina menerima pukulan dari
seorang wanita yang dihinggapi kegilaan syahwat hewani—padahal beliau adalah
sosok yang mulia—maka beliau lebih memilih lari darinya untuk menghindar dari
situasi sulit yang dihadapinya. Akan tetapi wanita itu tetap mengejarnya untuk
membalas dendam kepadanya.
"Dan
keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf
dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami wanita itu di depan
pintu..." (QS. Yusuf: 25).
Maka
dalam peristiwa itulah terdapat pembebasan baginya.
Hal
yang menunjukkan hal ini secara sangat jelas adalah: Pertama: Bahwa
Allah menganugerahkan hikmah dan ilmu kepadanya.
"Dan
ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Yusuf: 22).
Kedua:
Bahwa beliau menjawab perayu istri Al-Aziz setelah dirayu dengan jawaban yang
menunjukkan secara pasti bahwa keburukan tidak pernah terlintas dalam hatinya:
"Yusuf
berkata, 'Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku
dengan baik.' Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung."
(QS. Yusuf: 23).
Orang
yang mengucapkan hal ini tidak mungkin dibayangkan memiliki maksud (hamm)
untuk melakukan perbuatan keji.
Ketiga:
Bahwa Allah memalingkan darinya keburukan dan kekejian, serta memilihnya secara
murni untuk diri-Nya.
"...Demikianlah,
agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf
itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." (QS. Yusuf: 24).
Barang
siapa yang keadaannya demikian, jiwanya tidak mungkin mengarah—meski hanya
sekadar mengarah—kepada keburukan atau kekejian, baik dalam perkataan maupun
perbuatan.
Keempat:
Bahwa setiap kata hamm dalam Al-Qur'an bermakna maksud untuk menimpakan
keburukan seperti memukul dan membunuh:
"...dan
setiap umat telah merencanakan terhadap rasul mereka untuk menawannya..."
(QS. Ghafir: 5).
"...dan
mereka telah mencita-citakan sesuatu yang mereka tidak mencapainya..."
(QS. At-Taubah: 74).
Demikianlah,
sekiranya kita menelusuri seluruh alasan kebebasan Yusuf 'alaihissalam dari
niat melakukan perbuatan keji, niscaya kita mendapatinya sangat banyak hingga
tidak muat dalam ringkasan ini.
Nabi
Musa 'Alaihissalam
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Musa 'alaihissalam:
"Dan
Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya
di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari
golongannya (Bani Israil) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Firaun). Maka
orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan
orang yang dari musuhnya lalu Musa memukulnya, dan matilah musuhnya itu. Musa
berkata, 'Ini adalah perbuatan setan sesungguhnya setan itu adalah musuh yang
menyesatkan lagi nyata (kesesatannya).' Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya
aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.' Maka Allah
mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS. Al-Qashas: 15-16).
Nabi
Musa 'alaihissalam masuk ke dalam kota, lalu mendapati seorang Mesir dan
seorang Israil dari kaumnya sedang berkelahi. Orang Israil yang merupakan
kelompok dan kaumnya berada dalam posisi lemah, tidak mampu melawan orang Mesir
tersebut, maka ia meminta bantuan kepada Musa untuk menyelamatkannya. Maka
terjadilah sebagaimana yang kerap terjadi pada situasi seperti ini, Musa
memukul orang Mesir itu dengan tangannya, di mana pukulan itu mengenai bagian
mematikan tanpa ada maksud sama sekali untuk membunuhnya. Beliau hanya
bermaksud mencegah kezaliman orang itu terhadap saudaranya. Maka terjadilah
pembunuhan tidak sengaja (qatl khatha') yang tidak ada hukuman dosa
atasnya, kecuali dari sudut pandang kurangnya kehati-hatian dan kewaspadaan
penuh, terutama bagi orang yang berada pada tingkatan manusia tertinggi seperti
Musa dan selevel dengannya dari kalangan Ulul 'Azmi. Oleh karena itu, beliau
kembali kepada Tuhannya seraya mengingat kesalahannya dan memohon maaf serta
ampunan dari Allah.
Nabi
Daud 'Alaihissalam
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Daud 'alaihissalam:
"Dan
apakah telah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka
memanjat pagar mihrab? Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut
karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut;
(kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat
zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami dengan adil dan
janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang
lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor
kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata, 'Serahkanlah
kambingmu itu kepadaku' dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Daud
berkata, 'Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu
itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari
orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian
yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh;
dan amat sedikitlah mereka ini.' Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya;
maka ia memohon ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat. Maka
Kami ampuni baginya kesalahan itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan
yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Sad: 21-25).
Kisah
ini tidak mengandung petunjuk sama sekali bahwa Daud 'alaihissalam telah
bermaksiat kepada Tuhannya dengan melakukan hal yang bertentangan dengan
keterpeliharaan ('ishmah).
Segala
yang dapat dikatakan dalam hal ini adalah: Beliau memutuskan perkara antara dua
pihak yang berselisih setelah mendengar dari salah satu pihak sebelum mendengar
dari pihak yang lain. Terburu-buru memberikan keputusan hukum sebelum
mendengarkan kedua belah pihak dianggap sebagai pelanggaran dalam pandangan
peradilan, terlebih jika hakim tersebut adalah seorang nabi seperti Daud
'alaihissalam yang dikaruniai hikmah dan keputusan yang tegas (fashlal
khithab).
Dapat
dikatakan pula bahwa beliau merasa takut ketika kedua orang yang berperkara itu
memanjat pagar mihrab dan masuk menemui beliau secara tiba-tiba saat beliau
berada di hadapan Allah. Beliau khawatir mereka akan membunuhnya sebagaimana
kebiasaan Bani Israil dalam membunuh para nabi. Rasa takut ini—saat berada di
dalam mihrab dan berdiri di hadapan Allah Yang Maha Memiliki segala
sesuatu—merupakan hal yang tidak layak bagi kedudukannya, keagungan derajatnya,
dan kebaikan hubungannya dengan Allah.
Baik
apa yang dinisbatkan kepada Daud 'alaihissalam itu berupa tergesa-gesa dalam
menetapkan hukum atau rasa takut dari pembunuhan, beliau menyadari bahwa
dirinya sedang diuji dengan apa yang terjadi padanya, maka beliau memohon ampun
kepada Tuhannya, menyungkur ruku', dan bertobat kembali kepada Allah.
Kisah
yang disebutkan dalam Al-Qur'an ini tidak mungkin mengandung makna lain di luar
itu yang mengurangi derajat seorang nabi yang agung.
Adapun
apa yang disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kambing betina (na'jah)
adalah wanita, dan bahwa Daud merebut istri salah seorang panglimanya dengan
tipu daya yang direncanakannya, maka hal itu termasuk cerita Israiliyyat yang
dusta dan penyusupan asing yang bertentangan dengan keagungan risalah,
kesempurnaan nubuwwah, dan kemuliaan dakwah yang dipilih oleh Allah bagi
hamba-hamba pilihan-Nya.
Nabi
Sulaiman 'Alaihissalam
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Sulaiman 'alaihissalam:
"Dan
sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami letakkan di atas kursinya
satu tubuh (yang tidak berdaya), kemudian ia bertobat. Ia berkata, 'Ya Tuhanku,
ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh
seorang jua pun sesudahnya, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.'"
(QS. Sad: 34-35).
Ujian
yang dialami oleh Sulaiman yaitu penyakit berat yang menjadikannya bagaikan
tubuh jasad tergeletak di atas kursi tanpa mampu bergerak—menjadi sebab
kelemahan jiwanya dan kelemahan daya tahannya. Maka beliau bertobat kepada
Allah dari kelemahan yang biasa menimpa manusia ini, padahal yang lebih indah
baginya adalah berhias dengan kesabaran yang baik (shabr jamil).
Dikatakan
pula bahwa Sulaiman memiliki seorang anak yang durhaka yang merampas
kerajaannya dari ayahnya, maka hilangnya kerajaan Sulaiman di tangan anaknya
yang durhaka tersebut merupakan ujian baginya. Kemudian Allah mengembalikan
kerajaannya kepadanya setelah dicabut darinya. Setelah itu beliau memohon
kepada Allah agar mengampuni apa yang mungkin terjadi berupa kelalaian dalam
bersyukur kepada Allah, dan memohon agar dikaruniai kerajaan yang tidak layak
bagi seorang pun sesudahnya, lalu Allah mengabulkan permohonannya.
Nabi
Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam
Termaktub
dalam Al-Qur'anul Karim:
"Maka
ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi
dosamu..." (QS. Muhammad: 19).
"Sesungguhnya
Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi
ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta
menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan
supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)." (QS.
Al-Fath: 1-3).
Zahir
ayat pertama mengesankan seolah-olah Rasulullah memiliki dosa dan beliau
diperintahkan untuk memohon ampunan kepada Allah. Zahir ayat kedua memberikan
pengertian bahwa Allah mengampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
Padahal,
yang diketahui dari sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bahwa
beliau terpelihara (ma'shum) sebelum diutus menjadi rasul maupun
sesudahnya. Allah telah memeliharanya dari permainan masa kanak-kanak dan
kelalaian masa muda, sehingga beliau tidak lalai sebagaimana lalainya orang
lain, karena beliau telah disiapkan untuk mengemban risalah petunjuk dan
cahaya. Beliau telah mengisyaratkan hal ini dalam riwayat tentang dirinya
sendiri, beliau bersabda:
«مَا هَمَمْتُ بِشَيْءٍ مِمَّا كَانَ
أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَعْمَلُونَهُ غَيْرَ مَرَّتَيْنِ، كُلُّ ذَلِكَ يَحُولُ
اللهُ بَيْنِي وَبَيْنَهُ، ثُمَّ مَا هَمَمْتُ بِهِ حَتَّى أَكْرَمَنِي اللهُ
بِرِسَالَتِهِ. قُلْتُ لَيْلَةً لِلْغُلَامِ الَّذِي يَرْعَى مَعِي بِأَعْلَى
مَكَّةَ: لَوْ أَبْصَرْتَ لِي غَنَمِي حَتَّى أَدْخُلَ مَكَّةَ، وَأَسْمُرَ بِهَا
كَمَا يَسْمُرُ الشَّبَابُ؟ فَقَالَ: أَفْعَلُ، فَخَرَجْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ
عِنْدَ أَوَّلِ دَارٍ بِمَكَّةَ، سَمِعْتُ عَزْفًا، فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟
فَقَالُوا: عُرْسُ فُلَانٍ بِفُلَانَةَ، فَجَلَسْتُ أَسْمَعُ، فَضَرَبَ اللهُ
عَلَى أُذُنِي، فَنِمْتُ، فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا حَرُّ الشَّمْسِ، فَعُدْتُ
إِلَى صَاحِبِي، فَسَأَلَنِي، فَأَخْبَرْتُهُ، ثُمَّ قُلْتُ لَهُ لَيْلَةً أُخْرَى
مِثْلَ ذَلِكَ، وَدَخَلْتُ مَكَّةَ، فَأَصَابَنِي مِثْلُ أَوَّلِ لَيْلَةٍ...
ثُمَّ مَا هَمَمْتُ بِسُوءٍ»
"Aku
tidak pernah berniat melakukan sesuatu dari apa yang biasa dilakukan oleh
orang-orang Jahiliyah kecuali dua kali. Namun Allah senantiasa menghalangi
antara aku dan perbuatan itu. Setelah itu aku tidak pernah berniat melakukannya
lagi sampai Allah memuliakanku dengan risalah-Nya. Pada suatu malam aku berkata
kepada seorang pemuda yang menggembala bersamaku di dataran tinggi Makkah:
'Bisakah engkau menjaga domba-dombaku agar aku bisa masuk ke Makkah dan
mengobrol di sana sebagaimana para pemuda mengobrol?' Ia menjawab: 'Tentu.'
Maka aku keluar hingga ketika sampai di rumah pertama di Makkah, aku mendengar
suara musik/alunan musik. Aku bertanya: 'Ada apa ini?' Mereka menjawab:
'Pernikahan si fulan dengan si fulanah.' Maka aku duduk mendengarkan, lalu Allah
menutup pendengaranku hingga aku tertidur, dan tidak ada yang membangunkanku
melainkan teriknya matahari. Lalu aku kembali kepada temanku, ia bertanya
kepadaku dan aku memberitahukannya. Kemudian pada malam yang lain aku
mengatakan hal yang sama kepadanya, aku masuk ke Makkah dan menimpaku hal yang
serupa dengan malam pertama... setelah itu aku tidak pernah berniat melakukan
keburukan." (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ibnu Hibban, dan
Ath-Thabari).
Demikianlah
keadaan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sepanjang hidupnya, keburukan
tidak pernah terlintas dalam hatinya. Jika keadaannya demikian, maka apakah
makna dosa yang beliau diperintahkan untuk memohon ampun darinya, dan yang
telah diampuni darinya apa yang telah lalu dan yang akan datang?
Tidak
dapat dimungkiri bahwa Rasulullah terkadang melakukan beberapa tindakan yang
tidak diturunkan wahyu khusus mengenainya, melainkan urusannya diserahkan
kepada ijtihad pribadi beliau. Dalam beberapa kesempatan, ijtihad beliau
membawanya pada keputusan yang baik (hasan), namun melewatkan apa yang
lebih baik (ahsān). Maka keterhentian beliau pada pendapat yang baik dan
tidak tepatnya beliau pada apa yang lebih baik dianggap sebagai 'dosa' relatif
bagi beliau, disandarkan pada kedudukan beliau dalam hal ilmu, akal, dan
pemahaman (fiqh).
Al-Qur'an
telah menyebutkan beberapa contoh mengenai hal itu:
Di
antaranya adalah ijtihad beliau mengenai para tawanan Perang Badar dan
penerimaan beliau terhadap tebusan (fidyah), di mana Allah menegurnya
dengan teguran yang membuatnya menangis:
"Tidak
patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau
sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu
ditimpa azab yang besar karena barang yang kamu ambil itu." (QS. Al-Anfal:
67-68).
Artinya,
sekiranya tidak karena hukum dan ketetapan Allah telah mendahului untuk tidak
menghukum orang yang berijtihad atas ijtihadnya, niscaya Dia akan mengazab
kalian dengan azab yang besar disebabkan mengambil tebusan dan tidak
melumpuhkan musuh di muka bumi.
Ketika
ayat ini turun, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menangis, dan Abu
Bakar pun ikut menangis tersedu-sedu bersama beliau, lalu beliau bersabda: "Sekiranya
azab turun dari langit, niscaya tidak ada yang selamat selain Umar."
Maka
dalam peristiwa ini tidak ada dari Rasulullah selain ijtihad dalam suatu
perkara yang belum diwahyukan kepada beliau. Beliau tidak bersalah dalam
hukumnya karena Rasulullah tidak dibiarkan dalam kesalahan, melainkan beliau
berpaling dari apa yang lebih baik (ahsān) kepada apa yang sekadar baik
(hasan).
Contoh
lainnya adalah ketika beliau menerima uzur/alasan orang-orang yang tidak ikut
berperang tanpa meneliti alasan-alasan tersebut terlebih dahulu untuk
memperjelas baginya siapa yang jujur dan siapa yang berdusta:
"Semoga
Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi
berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar jujur dan sebelum
kamu mengetahui orang-orang yang berdusta?" (QS. At-Taubah: 43).
Termasuk
pula teguran Allah kepada beliau karena menyembunyikan perkara pernikahannya
dengan Zainab binti Jahsy setelah perceraian anak angkatnya, Zaid bin Haritsah
darinya. Padahal Allah telah memerintahkannya melakukan hal itu untuk
membatalkan tradisi Jahiliyah yang mengharamkan pernikahan dengan bekas istri
anak angkat sebagaimana haramnya memikahi bekas istri anak kandung nasab. Maka
Rasulullah merasakan kecanggokan sebagaimana manusia pada umumnya ketika merasa
canggung untuk menyelisihi tradisi dan keluar dari kebiasaan.
Lalu
Allah menghilangkan kecanggokan/kesulitan itu darinya setelah teguran yang
lembut:
"Dan
(ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan
nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, 'Tahanlah
terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,' sedang kamu menyembunyikan di
dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia,
sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah
mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu
dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini)
istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah
menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu
pasti terjadi. Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah
ditetapkan Allah padanya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah
Allah pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu
suatu ketetapan yang pasti berlaku." (QS. Al-Ahzab: 37-38).
Adapun
apa yang dikatakan selain itu adalah murni kebatilan.
Termasuk
yang masuk dalam cakupan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dia
(Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta
kepadanya. Tahukah kamu tentangnya siapatah tahu ia ingin membersihkan dirinya
(dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu
memberi manfaat kepadamu? Adapun orang yang merasa dirinya cukup, maka kamu
melayaninya. Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri
(beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk
mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada Allah, maka kamu
mengabaikannya." (QS. 'Abasa: 1-10).
Ini
merupakan teguran dari Allah kepada Rasul-Nya ketika beliau sangat menginginkan
keislaman beberapa pembesar Quraisy. Beliau menemui dan menyeru mereka kepada
Allah, sementara mereka mendengarkan dan memperhatikan beliau.
Di
tengah-tengah situasi tersebut, hadir Abdullah bin Ummi Maktum dan mulai
memotong pembicaraan Rasulullah seraya berkata: "Ajarilah aku dari apa
yang telah diajarkan Allah kepadamu," dan ia mengulangnya berkali-kali.
Maka Rasulullah merasa sesak/terganggu dengan pemotongan pembicaraan ini dan
bermuka masam karena rasa terganggu tersebut, padahal lelaki itu buta dan tidak
melihat muka masam tersebut. Meskipun demikian, Allah menegur beliau
mengenainya, sehingga setiap kali beliau bertemu dengannya setelah peristiwa
itu, beliau bersabda kepadanya: "Selamat datang kepada orang yang
Tuhanku menegurku karenanya."
Termasuk
dalam kategori ini pula apa yang diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Maka
apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-'Uzza,
dan Manat yang ketiga yang paling terkemudian?" (QS. An-Najm: 19-20).
(Lalu
setan membisikkan): "Mereka itu adalah burung-burung yang tinggi, dan
sesungguhnya syafaat mereka benar-benar diharapkan."
Maka
ini adalah murni kedustaan dan kebohongan yang terlalu kerdil untuk
didiskusikan. Tidak ada hubungan sama sekali antara kedustaan ini dengan firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan
Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang
nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan
godaan-godaan ke dalam keinginannya itu dalam keinginannya, melainkan Allah
menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan
ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS.
Al-Hajj: 52).
Ayat
ini menetapkan bahwa tidak ada seorang pun nabi maupun rasul yang mendambakan
hidayah bagi kaumnya dan agar mereka menyambut dakwahnya, melainkan setan akan
datang meletakkan rintangan-rintangan di hadapannya serta membuatnya putus asa
untuk mencapai tujuan yang ditujunya. Hanya saja Allah Subhanahu wa Ta'ala
menyegerakan penghilangan bisikan putus asa yang dilontarkan setan tersebut,
serta menghidupkan kembali harapan dan optimisme di dalam jiwanya.
Inilah
hal yang dinisbatkan kepada para rasul dan nabi Allah, yang mana hal itu tidak
keluar dari sekadar kekhilafan-kekhilafan ringan (hanat hayyinah) yang
tidak sampai pada derajat maksiat, tidak bertentangan dengan sifat kemaksuman ('ishmah),
serta tidak mengurangi kedudukan mereka yang mulia maupun menurunkan derajat
mereka yang tinggi.
Namun,
kaum Yahudi dan Nasrani enggan melainkan tetap mencela banyak nabi dan rasul,
serta menisbatkan kepada mereka hal-hal yang justru telah Allah sucikan dan
pelihara diri mereka darinya. Bahkan, kitab-kitab mereka menuduh sebagian nabi
melakukan dosa-dosa besar (kaba'ir al-itsm) dan perbuatan-perbuatan keji
(fawaghis).
Kaum
Nasrani sangat berlebihan dan melampaui batas dalam hal ini; demi mewajibkan
kemaksuman ('ishmah) hanya bagi Al-Masih semata. Maksud mereka dengan
hal ini adalah untuk menegakkan argumen bahwa Isa adalah tuhan yang disucikan
dari kesalahan di satu sisi, dan bahwa ia datang untuk menyelamatkan manusia
dari dosa ayahnya, Adam, yang diwarisi oleh anak-cucunya, serta mengorbankan
dirinya demi menebus manusia di sisi yang lain.
Doktrin
penebusan dosa ('aqidah al-fida') ini merupakan fondasi agama kaum
Nasrani. Akan tetapi, kitab-kitab mereka sendiri—di samping keyakinan kita akan
penyimpangannya (tahrif)—sudah cukup untuk membantah mereka.
Sebab
di dalamnya terdapat teks-teks tegas yang menunjukkan bahwa Yohanes lebih utama
dan lebih agung daripada Al-Masih, bahwasanya dialah yang membaptisnya,
bahwasanya ia maksum dari setiap dosa, serta tidak pernah meminum khamar sama
sekali. Sementara itu, Al-Masih justru dinisbatkan sebagai peminum khamar,
sebagaimana dinisbatkan pula kepadanya ketidakmauannya memenuhi panggilan
ibunya ketika dipanggil olehnya. (Dan kita menyucikan beliau (Isa
'alaihissalam) dari hal ini, serta kita meyakini bahwasanya beliau adalah
seorang yang terkemuka di dunia dan akhirat serta termasuk orang-orang yang
saleh)
Dalam
Injil Lukas (1:15) disebutkan: "Sebab ia akan menjadi besar di hadapan
Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh
dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya."
Dan
di dalamnya pula (1:66): "Saba tangan Tuhan menyertai dia."
Dan
Al-Masih berkata di dalamnya (Matius 11:11): "Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah
tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis."
Dan
disebutkan di dalamnya (11:18-19): "Karena Yohanes datang, ia tidak
makan dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak
Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang
pemakan dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa."
Adapun
Isa 'alaihissalam, Injil-injil telah bersaksi bahwa ia telah menghina
ibunya, padahal ibunya adalah wanita yang telah Allah utamakan di atas wanita
seluruh alam.
Disebutkan
dalam Injil Lukas (8:20-21): "Orang memberitahukan kepadanya: 'Ibumu
dan saudara-saudaramu berdiri di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.' Tetapi
Ia menjawab mereka: 'Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang
mendengarkan firman Allah dan melakukannya.'"
Ulul
Azmi dari Para Rasul
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Maka
bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari
rasul-rasul telah bersabar..." (QS. Al-Ahqaf: 35)
Ada
yang berpendapat bahwa Ulul 'Azmi adalah seluruh rasul, dan huruf min
di situ berfungsi untuk menjelaskan jenis (li bayani al-jins). Al-'Azm:
Keteguhan (ats-tsabat) dan kesabaran (ash-shabr)
Namun,
pendapat yang paling masyhur adalah bahwa mereka adalah Muhammad, Nuh, Ibrahim,
Musa, dan Isa 'alaihimus shalatu was salam.
Allah
telah menyebutkan nama-nama mereka secara khusus di antara para rasul dalam dua
ayat:
Pertama:
"Dan
(ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu
(sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah
mengambil dari mereka perjanjian yang teguh." (QS. Al-Ahzab: 7)
Kedua:
"Dia
telah meniatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada
Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan
kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya..." (QS. Asy-Syura: 13)
Rasul
yang Paling Utama
Rasul
yang paling utama secara mutlak adalah junjungan kita, Muhammad, penutup para
nabi (Khatam an-Nabiyyin).
"Rasul-rasul
itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara
mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah
meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam
beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus." (QS.
Al-Baqarah: 253)
Dan
rasul yang Allah tinggikan beberapa derajat itu adalah junjungan kita,
Muhammad.
Bukti
paling jelas mengenai hal ini adalah apa yang terdapat dalam Surah Ali 'Imran
berupa kabar gembira para nabi tentangnya, serta pengambilan janji dan ikrar ('ahd
wa mitsaq) atas mereka untuk beriman kepadanya dan menolongnya jika mereka
mendapati masa kerasulannya:
"Dan
(ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: 'Sungguh, apa
saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu
seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan
sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.' Allah berfirman: 'Apakah
kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku atas yang demikian itu?' Mereka
menjawab: 'Kami mengakui.' Allah berfirman: 'Kalau begitu saksikanlah (hai para
nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.'" (QS. Ali 'Imran: 81)
Diriwayatkan
dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَاللهِ لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ
أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلا أَنْ يَتَّبِعَنِي»
Dari
Jabir, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Demi
Allah, seandainya Musa masih hidup di tengah-tengah kalian, tidak ada pilihan
lain baginya melainkan harus mengikutiku." [HR. Ahmad dan Al-Bazzar]
Adapun
larangan beliau shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi untuk mengutamakan
(membeda-bedakan) di antara para nabi Allah, serta sabda beliau:
"Janganlah kalian mengutamakan di antara para nabi Allah," maka
maksudnya adalah mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam mengagungkan
mereka di satu sisi, dan menahan kaum muslimin dari sikap
mengurengi/merendahkan salah seorang dari saudara-saudaranya sesama nabi di
sisi yang lain.
Penutupan
Nubuwwah dan Risalah
Seluruh
nabi shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi memiliki tugas untuk
menyelamatkan manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.
Mereka selalu menjadi penyeru kebaikan, imam perbaikan (ishlah), dan
pembawa obor di dunia yang gelap. Masing-masing dari mereka datang menyusul
yang lain untuk menyempurnakan apa yang telah dibangun oleh pendahulunya,
sehingga menambah satu bata perbaikan hingga bangunan itu menjadi sempurna
dengan penutup mereka, Muhammad shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi. Maka
agamanya menjadi intisari dari agama-agama sebelumnya, dan dakwahnya menjadi
dakwah yang layak untuk bertahan lama, karena di dalamnya terdapat unsur-unsur
kehidupan dan pilar-pilar perbaikan.
"...Pada
hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..." (QS.
Al-Ma'idah: 3)
Dengan
disempurnakannya agama Allah yang hak ini, maka sempurnalah nikmat Allah atas
manusia melalui petunjuk yang diturunkan-Nya kepada mereka, sehingga tidak ada
kebutuhan lagi pada petunjuk setelahnya.
Dengan
demikian, terputuslah kenabian (nubuwwah) dan ditutuplah kerasulan (risalah).
"Muhammad
itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi..." (QS. Al-Ahzab: 40)
Jika
kenabian telah terputus, secara otomatis kerasulan pun terputus. Maka tidak ada
kenabian dan tidak ada kerasulan setelah kenabian Muhammad, penutup para rasul
Allah. Mengenai hal tersebut, beliau shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi
bersabda:
مَثَلِي وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ
كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا ، فَأَكْمَلَهَا وَأَحْسَنَهَا إِلا مَوْضِعَ
لَبِنَةٍ ، فَكَانَ مَنْ دَخَلَهَا فَنَظَرَ إِلَيْهَا قَالَ : مَا أَحْسَنَهَا
إِلا مَوْضِعَ هَذِهِ اللَّبِنَةِ ، فَأَنَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ ، خُتِمَ بِيَ
الأَنْبِيَاءُ عَلَيْهِمُ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ
"Perumpamaanku
dan perumpamaan para nabi adalah seperti seorang laki-laki yang membangun
sebuah rumah, lalu ia menyempurnakan dan memperindah rumah itu kecuali tempat
satu buah bata. Maka setiap orang yang memasukinya dan melihatnya berkata:
'Betapa indahnya rumah ini kecuali tempat satu bata ini.' Maka akulah tempat
bata tersebut, dan para nabi ditutup denganku 'alaihimush shalatu was
salam." [HR. Bukhari dan Muslim]
Karya-karya
Besar yang Merekpresentasikan Keberhasilan Junjungan Kita Muhammad
Sesungguhnya
Rasul kita shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi memiliki karya-karya besar
yang merepresentasikan keberhasilannya dalam dakwahnya. Karya-karya ini dapat
diringkas sebagai berikut:
Karya
Pertama: Bahwa beliau menumpas kemusyrikan/pemujaan berhala (al-watsaniyyah)
dan menggantikannya dengan iman kepada Allah dan Hari Akhir.
Karya
Kedua: Bahwa beliau menumpas kehinaan-kehinaan dan kekurangan-kekurangan
era Jahiliah, serta menegakkan sebagai gantinya keutamaan-keutamaan, keluhuran
budi, dan adab-adab.
Karya
Ketiga: Bahwa beliau menegakkan agama yang hak, yang mengantarkan manusia
pada puncak kesempurnaan yang ditakdirkan baginya.
Karya
Keempat: Bahwa beliau melakukan revolusi besar yang mengubah kondisi, akal,
hati, serta sistem kehidupan yang biasa dijalani oleh pemeluk Jahiliah.
Karya
Kelima: Bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyatukan bangsa
Arab dan mendirikan negara besar di bawah panji Al-Qur'an.
Inilah
karya-karya yang merepresentasikan keberhasilan Rasul shallallahu 'alaihi wa
sallam dalam tugasnya. Semua itu—sebagaimana tampak—merupakan
perkara-perkara besar, di mana menegakkannya—bahkan menegakkan salah satunya
saja—memiliki tingkat kesulitan dan risiko yang sangat tinggi.
Sesungguhnya
tidak mungkin keberhasilan dalam sebagian karya ini—apalagi terkumpulnya
keberhasilan di setiap lini ini—dapat dicapai oleh seorang individu biasa.
Menjalankan
karya-karya ini dan meraih keberhasilan di dalamnya dengan cara sedemikian rupa
sungguh merupakan mukjizat terbesar bagi Rasulullah shalawatullahi wa
salamuhu 'alaihi. Jika Isa memiliki mukjizat menghidupkan orang mati, dan
Musa memiliki mukjizat tongkat, maka kedua mukjizat tersebut jika dibandingkan
dengan kemenangan-kemenangan dan mukjizat-mukjizat (keberhasilan dakwah) ini
tidak ada artinya sama sekali.
Bukti-bukti
Kejujuran Beliau:
Di
antara bukti kejujuran bahwa Rasul benar-benar diutus dari sisi Allah adalah
sebagai berikut:
Pertama:
Bahwa beliau adalah seorang yang zuhud terhadap dunia, beliau tidak pernah
meminta imbalan atas pekerjaannya. Beliau zuhud terhadap harta dan segala hal
yang bersifat materi, sebagaimana beliau juga zuhud terhadap kedudukan dan
jabatan.
Adapun
kezuhudannya terhadap harta, maka hakikat kehidupannya menunjukkan hal tersebut
dengan sejelas-jelasnya. Beliau tidak pernah membentangkan kasur sutra, tidak
memakai pakaian sutra tebal (dibaj), dan tidak berhias dengan emas.
Rumahnya seperti rumah orang-orang biasa yang paling sederhana, dan pernah
berlalu dua bulan tanpa ada api yang menyala di rumahnya. Urwah berkata ketika
mendengar bibinya, Aisyah, menceritakan hal ini kepadanya: "Wahai Bibi,
apa yang menghidupi kalian?" Aisyah menjawab: "Hanya dua hal yang
hitam, yaitu kurma dan air!!"
Suatu
kali Umar bin Al-Khattab melihat Rasulullah tidur di atas tikar kasar yang
telah berbekas di tubuh beliau, maka Umar pun menangis. Lalu Rasulullah
bersabda kepadanya: "Apa yang membuatmu menangis?" Umar
menjawab: "Bagaimana bisa Kisra dan Kaisar tidur di atas kasur sutra tebal
dan sutra halus, sedangkan engkau adalah Rasulullah, tikar kasar ini berbekas
pada lambungmu?" Maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Wahai Umar, apakah engkau tidak ridha dunia menjadi milik
mereka dan akhirat menjadi milik kita?"
Sungguh
harta rampasan perang (ghanimah) telah datang kepada Rasul setelah
kemenangan kaum muslimin, lalu istri-istri beliau ingin menikmati sebagian dari
ghanimah ini dan meminta agar mereka diberi bagian dengannya. Tiba-tiba ayat
yang mulia turun menjawab permintaan istri-istri tersebut:
"Hai
Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: 'Jika kamu sekalian mengingini kehidupan
dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku
ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian mengingini (ridha)
Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan
bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.'" (QS.
Al-Ahzab: 28-29)
Maka
Rasul mengumpulkan istri-istrinya dan berkata kepada mereka: "Apakah
kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, ataukah kalian
menginginkan dunia dan syahwatnya?" Maka masing-masing dari mereka
memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Lalu Allah memuji mereka dan
menurunkan firman-Nya berkenaan dengan hak mereka:
"Hai
istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu
bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam konuşma sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik."
(QS. Al-Ahzab: 32)
Sungguh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat dalam keadaan baju
besinya teragung (tergadai) pada seorang Yahudi, dan beliau hidup sepanjang
hayatnya tanpa pernah kenyang dari roti gandum (sy'ir) sama sekali.
Adapun
kezuhudannya terhadap kedudukan (jah), hal itu tercermin dalam setiap
keadaannya.
Para
sahabat ingin memuji dan menyanjung beliau, namun beliau shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda kepada mereka:
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ
النَّصَارَى الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ
"Janganlah
kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Al-Masih
putra Maryam." [HR. Bukhari]
Al-Walid
bin Al-Mughirah datang kepadanya sebagai utusan dari kaum musyrikin untuk
bernegosiasi dengannya, dan ia menawarkan kepadanya seluruh kenikmatan hidup.
Maka jawaban beliau adalah dengan membacakan kepadanya pembukaan Surah Ha Mim
Fussilat.
Inilah
kezuhudan yang merupakan salah satu perangai bawaan dari Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam.
Di
antara bukti kenabian beliau 'alaihissalam adalah bahwa beliau seorang
yang ummi (ummiyy [tidak bisa membaca dan menulis]), namun beliau mampu
menegakkan karya-karya besar ini dalam keadaan ummi: tidak membaca, tidak
menulis, tidak pernah masuk lembaga pendidikan, dan tidak pernah berguru pada
seorang ustaz pun. Namun beliau berhasil dan mencapai derajat yang tidak pernah
dicapai oleh seorang pun sebelum beliau dan tidak pula sesudah beliau.
Al-Qur'an
merekam hakikat ini untuk menjadikannya sebagai tanda kejujuran dan bukti
amanahnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan
demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami.
Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan tidak mengetahui
apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki
dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan
sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu)
jalan Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS.
Asy-Syura: 52-53)
Rasul
tidak pernah mengetahui sesuatu pun tentang kenabian, tidak pula tentang
hal-hal yang berkaitan dengan Zat Yang Maha Tinggi. Maka terlaksananya
karya-karya besar ini melalui kedua tangannya merupakan bukti kemukjizatan (i'jaz).
Sebab,
orang-orang terpelajar yang mencurahkan seluruh waktunya untuk ilmu dan
penelitian pun pasti cemas dan tidak mampu untuk menghasilkan sesuatu seperti
apa yang telah diperbuat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tidak
diragukan lagi bahwa ini adalah pertolongan dan taufik dari Allah Tabaraka
wa Ta'ala. Dan Al-Qur'an menegaskan:
"Dan
kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur'an) sesuatu Kitab pun dan kamu
tidak pernah menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah
membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang-orang yang
mengingkari(mu)." (QS. Al-'Ankabut: 48)
Sungguh
hal itu telah diketahui di kalangan musuh-musuhnya dan beliau menyorotkannya
kepada mereka, serta tidak ada seorang pun dari mereka yang sanggup meragukan
hakikat yang terang benderang ini. Maka Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang
tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: 'Bringkanlah Al-Qur'an yang
lain dari ini atau gantilah dia.' Katakanlah: 'Tidaklah patut bagiku
menggantinya dari diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang
diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada
siksa hari yang besar (kiamat).' Katakanlah: 'Jikalau Allah menghendaki,
niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya
kepadamu.' Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya.
Maka apakah kamu tidak memikirkannya?" (QS. Yunus: 15-16)
Adapun
aspek ketiga adalah kejujuran (ash-shidq). Tidak pernah diketahui dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau berbohong
sama sekali, baik sebelum diutus maupun sesudahnya. Sungguh wahyu telah datang
kepadanya, lalu beliau pergi kepada Khadijah dan berkata kepadanya:
"Sungguh aku mengkhawatirkan diriku." Maka Khadijah berkata kepadanya:
"Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu
selama-lamanya. Sesungguhnya engkau benar-benar menyambung silaturahmi, jujur
dalam perkataan, menanggung beban orang lemah, memberi makan tamu, membantu
orang miskin, dan menolong orang yang tertimpa musibah kebenaran."
Sungguh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada awal masa kenabiannya
menawarkan Islam kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, lalu ia
membenarkannya pada kali pertama dan tidak ragu-ragu untuk bersegera beriman
kepadanya; karena ia telah mengetahui kejujuran dan amanahnya. Seorang Arab
Badui pernah masuk menemui beliau, lalu memandangnya dan mendapati kejujuran
melingkupinya, maka ia berkata: "Demi Allah, wajah ini bukanlah wajah
seorang pembohong."
Kabar
Gembira tentang Munculnya Penutup Para Rasul
Kitab-kitab
ilahi terdahulu tidak pernah sepi dari kabar gembira (tabsyir) tentang
munculnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kenabiannya.
Dalam
Kitab Ulangan (Taurat) terdapat kabar gembira yang berbunyi: "Tuhan
datang dari bukit Sinai dan terbit bagi mereka dari Seir; Ia tampak bersinar
dari pegunungan Paran dan datang bersama sepuluh ribu orang kudus; di sebelah
kanan-Nya ada hukum yang menyala bagi mereka."
Kedatangan
dari bukit Sinai mengisyaratkan penampakan Tuhan kepada Musa sang Kalimullah.
Terbit dari Seir mengisyaratkan dikuasainya Seir oleh Daud. Adapun Paran (Faran)
adalah nama kuno untuk tanah Hijaz tempat munculnya Muhammad Rasulullah shalawatullahi
wa salamuhu 'alaihi dari keturunan Ismail 'alaihissalam.
Adapun
kedatangan bersama sepuluh ribu orang kudus (para murni) adalah isyarat
kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, karena beliau
memasuki Makkah disertai oleh sepuluh ribu sahabatnya pada hari Pembebasan
Makkah (Fathu Makkah).
Dan
"di sebelah kanan-Nya keluar kitab ketakwaan (hukum yang menyala)"
mengisyaratkan kepada syariat yang dibawa oleh Muhammad shallallahu 'alaihi
wa sallam kepada dunia, yang cahayanya masih terus menerangi segala hal
yang berkaitan dengan agama dan dunia berupa kehidupan umum dan akhlak
bermasyarakat.
Dan
dalam Injil Yohanes Pasal 14: 15-16:
"Jikalau
kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta
kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong (Penghibur) yang
lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran."
Dan
ini sama seperti apa yang terdapat dalam Al-Qur'anul Karim bahwasanya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup para nabi (Khatam
an-Nabiyyin).
Dan
dalam Injil Yohanes Pasal 14: 26:
"Tetapi
Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah
yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu..."
Dan
ini sama seperti firman Allah Ta'ala:
"...Dan
Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala
sesuatu..." (QS. An-Nahl: 89)
Dan
dalam Yohanes juga Pasal 16: 12-13:
"Masih
banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi kamu belum dapat menanggungnya
sekarang. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu
ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya
sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya
dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang."
Dan
hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan
katakanlah: 'Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.' Sesungguhnya
yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (QS. Al-Isra': 81)
Muhammad
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Doa Ibrahim dan Kabar Gembira Isa
Sungguh
Al-Qur'anul Karim telah merekam bahwasanya Muhammad Rasulullah shalawatullahi
wa salamuhu 'alaihi merupakan perwujudan dari pengabulan doa Ibrahim,
sebagaimana beliau juga merupakan kabar gembira yang diberitakan oleh Isa 'alaihissalam.
Dalam Surah Al-Baqarah, Al-Qur'anul Karim menceritakan bahwa Ibrahim dan Ismail
berdoa kepada Allah ketika mereka meninggikan pondasi Baitullah, seraya
keduanya mengucapkan:
"Ya
Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka
Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah
yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah: 129)
Dan
dalam Surah As-Saff Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan
(ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: 'Hai Bani Israil, sesungguhnya aku
adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu Taurat dan
memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang
namanya Ahmad (Muhammad)...'" (QS. As-Saff: 6)
Diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dengan sanad yang hasan dari Abu Umamah, ia berkata:
Aku
bertanya: "Wahai Nabi Allah, apakah awal permulaan dari urusanmu
(kenabianmu)?" Beliau menjawab: "Doa ayahku Ibrahim, dan kabar
gembira Isa."
Abdullah
bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya ayat
yang ada di dalam Al-Qur'an ini:
"Hai
Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira
dan pemberi peringatan..." (QS. Al-Ahzab: 45)
Sifat
beliau dalam Taurat disebutkan:
"Wahai
Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira,
pemberi peringatan, dan pelindung bagi orang-orang ummi. Engkau adalah hamba-Ku
dan rasul-Ku, Aku menamaimu Al-Mutawakkil (orang yang bertawakal). Ia bukan
seorang yang kasar, bukan keras hati, bukan orang yang suka berteriak-teriak di
pasar-pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan ia
memaafkan dan mengampuni. Allah tidak akan mencabut nyawanya sampai ia
menegakkan agama yang bengkok dengannya, hingga mereka mengucapkan: 'Laa ilaaha
illallaah' [Tidak ada tuhan selain Allah], sehingga dengannya terbuka mata yang
buta, telinga yang tuli, dan hati yang tertutup."
AYAT-AYAT
(TANDA-TANDA KETUHANAN) PARA RASUL
Tidaklah
Allah mengutus seorang rasul untuk menyampaikan agama kepada manusia dan
mengajarkan syariat kepada mereka, melainkan Dia menguatkannya dengan āyāt
(tanda-tanda kebesaran/kekuasaan) yang menegaskan secara pasti bahwa ia adalah
utusan dari sisi-Nya, terhubung dengan Al-Mala' al-A‘lā [alam
malaikat/alam atas], serta menerima dan mengambil ajaran-ajaran-Nya dari Allah.
Ayat-ayat
yang darinya Allah menguatkan para rasul-Nya ini haruslah berada di luar
jangkauan batas kemampuan manusia, di luar lingkup potensi, ilmu, dan
pengetahuan mereka. Sebagaimana hal itu juga harus menyalahi hukum-hukum khusus
terkait materi, serta menyalahi kebiasaan (khāriq lil-‘ādah) yang
dikenal dan hukum-hukum alam yang lazim.
Oleh
karena itu, para ulama menamai ayat-ayat ini dengan istilah mu'jizat
(mukjizat), karena mukjizat melumpuhkan akal untuk dapat mejelaskannya,
sebagaimana ia melumpuhkan kemampuan manusia untuk mendatangkan hal yang
semisalnya.
Para
ulama mendefinisikan mukjizat sebagai: Suatu hal luar biasa (khāriq
lil-‘ādah) yang Allah jalankan melalui kedua tangan seorang nabi yang diutus,
guna menegakkan bukti yang pasti atas kebenaran kenabiannya.
Oleh
sebab itu, mukjizat merupakan suatu hal yang niscaya (darurat), dan
menampakkannya adalah sebuah kewajiban; agar maksud dari penyampaian risalah (tablīgh
ar-risālah) dapat sempurna, dan hujah Allah atas manusia dapat ditegakkan.
Ayat-ayat
(mukjizat) ini secara zatnya adalah hal yang mungkin terjadi (mumkin),
akal tidak menolaknya, ilmu pengetahuan tidak menifikannya, dan realitas
mendukung keberadaannya.
Sungguh,
telah ada tokoh-tokoh yang mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah, lalu
mereka menantang umatnya dengan hal-hal luar biasa yang mereka tampakkan.
Manusia pun melihatnya secara langsung dengan mata kepala sendiri, dan
beribu-ribu manusia beriman kepadanya melintasi abad dan generasi.
Bahkan,
ilmu pengetahuan modern itu sendiri telah membuktikan bahwa hukum-hukum alam (an-nawāmīs
aṭ-ṭabī‘iyyah) dapat terhalang
dari memunculkan dampaknya oleh hukum-hukum lain yang lebih tinggi
tingkatannya. Ilmu pengetahuan juga membuktikan bahwa seluruh mukjizat para
nabi adalah benar.
Barang
siapa yang memperhatikan apa yang ditulis oleh para ilmuwan modern mengenai
dunia roh, keajaiban pemanggilan roh, keunikan hipnosis (at-tanwīm al-maghnāṭīsī), dan semacamnya,
niscaya ia akan menyadari tanpa keraguan bahwa hal-hal luar biasa ini merupakan
perkara yang mungkin terjadi, dan tidak ada satu pun darinya yang mustahil
secara rasional.
Orang-orang
yang beriman kepada Allah tidak ragu-ragu dalam membenarkan sesuatu selama hal
itu telah terbukti dengan dalil pasti yang tidak disusupi keraguan; karena
mereka mengetahui bahwa Allah Subḥānahu
wa Ta‘ālā tidak terikat oleh hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya. Mereka
tahu bahwa Zat yang berkuasa menjadikan api membakar, berkuasa pula untuk
mencabut sifat membakar dari api tersebut, sebagaimana yang Dia lakukan pada
Nabi Ibrahim ketika beliau dilemparkan ke dalam api, namun beliau tidak
terbakar.
Allah
Ta‘ālā berfirman:
"Mereka
berkata, 'Bakarlah dia dan tolonglah tuhan-tuhan kamu, jika kamu hendak
berbuat.' Kami (Allah) berfirman, 'Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan
bagi Ibrahim!'" (QS. Al-Anbiya': 68–69).
Mereka
juga mengetahui bahwa Zat yang berkuasa menciptakan manusia dari laki-laki dan
perempuan, serta menciptakan Adam dari tanah, berkuasa pula untuk menciptakan
anak dari Sayyidah Maryam al-‘Adzrā’ (perawan) tanpa melalui pembuahan alami
maupun buatan.
Allah
Ta‘ālā berfirman:
"Dia
(Maryam) berkata, 'Bagaimana mungkin aku mempunyai seorang anak laki-laki,
padahal tidak pernah ada seorang manusia pun yang menyentuhku dan aku bukan
seorang pezina?' Dia (Jibril) berkata, 'Demikianlah.' Tuhanmu berfirman, 'Hal
itu mudah bagi-Ku dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda (kebesaran Kami)
bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami. Hal itu adalah suatu urusan yang
telah diputuskan.'" (QS. Maryam: 20–21).
"Dan
(ingatlah kisah Maryam) yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke
dalam (tubuh)-nya roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda
(kekuasaan Kami) bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 91).
Mereka
juga beriman bahwa Zat yang memberikan kemampuan pembuahan kepada wanita yang
subur, berkuasa pula memberikan kemampuan tersebut kepada wanita yang mandul,
sebagaimana yang Dia lakukan pada ibunda Yahya bin Zakariya ‘alaihimas-salām:
"Di
sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, 'Ya Tuhanku, berilah aku
keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.'
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggilnya ketika dia berdiri shalat di mihrab,
'Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran)
Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan,
berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara
orang-orang saleh.' Dia (Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa
mendapat seorang anak, padahal aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?'
Dia (Allah) berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia
kehendaki.'" (QS. Ali 'Imran: 38–40).
Demikianlah
orang-orang beriman kepada Allah memandang bahwa Allah adalah Pencipta alam
semesta, Pengatur urusannya, dan Pembuat hukum-hukumnya; Dia tidak terikat oleh
hukum-hukum tampak ini. Di balik hukum-hukum alam ini terdapat hukum-hukum lain
di luar apa yang kita ketahui. Alam semesta ini tidaklah seperti yang diklaim
oleh kaum materialis yang dangkal, yang menganggap alam ini mekanis dan
berjalan sesuai bayangan mereka, serta tidak memiliki Pengatur yang mengatur
urusannya dan mengorganisasi keadaannya... Tidak! Sesungguhnya alam semesta ini
jauh lebih besar dan lebih agung dari apa yang dibayangkan oleh mereka.
Tidaklah mereka ketahui darinya melainkan hanyalah istilah-istilah yang mereka
gunakan untuk menutupi kebodohan mereka dan meluapkan kesombongan mereka.
Perkaranya
adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Al-Qur'an al-Karim:
"Dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra':
85).
Disebutkan
dalam buku Al-Islām ma‘al-Ḥayāh
di bawah judul: [Ilmu Pengetahuan Modern dan Tertahannya Matahari]:
Disebutkan
dalam kisah-kisah para nabi: Bahwa Yusha‘ bin Nun (Yosua) pernah berada dalam
peperangan melawan musuh-musuh Allah. Matahari hampir saja terbenam sebelum
pertempuran usai, sehingga ia khawatir tidak dapat mengalahkan mereka jika
pertempuran berlanjut hingga hari berikutnya. Maka ia berkata kepada matahari: "Engkau
berada dalam ketaatan kepada Allah, dan aku pun berada dalam ketaatan kepada
Allah. Aku memohon kepadamu agar engkau berhenti sampai Allah membalas
musuh-musuh-Nya sebelum matahari terbenam." Maka Allah mengabulkan doa
tersebut, matahari pun berhenti, dan siang hari diperpanjang hingga kemenangan
Yusha‘ sempurna.
Allah
Ta‘ālā berfirman:
"Lalu
Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu!' Maka
terbelahlah laut itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar."
(QS. Asy-Syu'ara': 63).
Para
ahli tafsir berkata: Sesungguhnya Nabi Musa 'alaihis-salām dan
orang-orang yang bersamanya lari dari Firaun karena takut dibunuh. Ketika
mereka sampai di laut dan tidak menemukan jalan untuk menyeberanginya, Allah
mewahyukan kepada Musa agar memukul laut dengan tongkatnya. Ketika beliau
mematuhi apa yang diperintahkan Allah, air terkumpul di kedua sisi, sebagian di
atas sebagian lainnya hingga menjadi seperti gunung. Musa dan para pengikutnya
pun keluar (selamat), lalu Firaun dan kaumnya menyusul mereka di jalan yang
sama, maka Allah tenggelamkan mereka. Laut tersebut menjadi daratan kering bagi
jalan Musa, dan menjadi air (yang menenggelamkan) bagi jalan Firaun.
Orang-orang
kafir mendustakan kedua mukjizat atau dua peristiwa tersebut, dengan alasan:
- Pertama: Karena hal itu
merupakan pengrusakan/pelanggaran terhadap hukum-hukum alam.
- Kedua: Jika hal itu benar,
niscaya akan disebutkan dalam selain kitab-kitab agama; karena keduanya
termasuk peristiwa dunia yang ajaib.
Namun,
saya membaca di harian Al-Jumhuriyyah edisi 13-12-1957: Bahwa sebuah
buku ilmu fisika baru saja terbit dan menimbulkan kegemparan besar di kalangan
ilmiah serta para sejarawan, di mana buku tersebut membuktikan dengan
angka-angka konkret kejadian terbelahnya laut dan terhentinya matahari di
tengah langit.
Adapun
penulisnya adalah seorang ilmuwan fisika asal Rusia bernama Immanuel
Velikovsky. Ia mempelajari ilmu-ilmu alam di Universitas Edinburgh, mempelajari
sejarah, hukum, dan kedokteran di Universitas Moskow, mempelajari biologi di
Berlin dan Zurich, serta mempelajari psikiatri di Wina. Penulis tersebut dari
penelitiannya yang berlangsung lebih dari sepuluh tahun menghasilkan
kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang secara tidak sengaja mendukung apa yang
tercantum dalam Al-Qur'an al-Karim dan sirah para nabi 'alaihimas-salām.
Saya
memandang perlu untuk menukilkan bagi para pembaca cuplikan dari buku tersebut
sebagaimana yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh harian Al-Jumhuriyyah.
Harian
tersebut menyatakan: Penulis berkata bahwa sebuah meteorit raksasa melintas di
dekat bola bumi pada zaman Yusha‘, khalifah (pengganti) Musa 'alaihimas-salām.
Kemudian fenomena tersebut berulang kembali 700 tahun setelahnya. Fenomena
kosmis raksasa yang digerakkan oleh kekuatan gaib tak kasatmata ini menjelaskan
mukjizat-mukjizat yang disebutkan dalam Kitab-Kitab Samawi: Taurat, Injil, dan
Al-Qur'an.
Mendekatnya
sebuah planet atau meteorit besar ke bumi menimbulkan berbagai fenomena, di
antaranya rotasi bumi pada porosnya berkurang atau terhenti hingga terbayang
oleh manusia bahwa matahari telah berhenti di tengah langit. Di antaranya lagi
adalah terbelahnya laut dan terbentuknya tiang-tiang awan pada siang dan malam
hari. Sungguh, sebuah planet pernah melintas pada zaman Firaun, lalu
memancarkan debu/hujan merah ke bumi yang mewarnai tanah, Sungai Nil, dan laut
dengan warna darah. Hal ini mendukung apa yang tercantum dalam ayat Al-Qur'an
yang mulia:
"Maka,
Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah..."
(QS. Al-A'raf: 133).
Debu
merah ini jatuh di berbagai penjuru bumi yang terpisah.
Sesungguhnya
mukjizat yang menembus seluruh hukum astronomi dan fisika tidaklah dibuat
kecuali oleh kekuasaan Sang Pencipta semata.
Mukjizat
itu terjadi ketika Musa melarikan diri dari penindasan Firaun Mesir, lalu
Firaun mengejarnya bersama pasukannya. Namun laut terbelah, sehingga Musa dan
orang-orang bersamanya melintas dengan selamat. Hingga ketika Firaun dan
prajuritnya menyusul mereka, laut kembali ke keadaannya semula, menutup para
pengejar, dan menelan para prajurit serta penunggang kuda tanpa ada seorang pun
yang selamat.
Penulis
berkata: Pada zaman yang sejalan dengan zaman Musa, para sejarawan Tiongkok
menyebutkan bahwa matahari kala itu tidak terbenam hingga membakar hutan-hutan
dan melelehkan es. Demikianlah bumi bergeming diam seolah-olah ada kekuatan
dahsyat yang menahannya. Tidak diketahui secara pasti berapa lama terhentinya
matahari tersebut sebelum akhirnya melanjutkan kembali rotasinya pada porosnya.
Akan
tetapi, apakah bumi melanjutkan rotasinya ke arah yang sama?
Bumi
saat ini berputar dari barat ke timur, apakah ia selalu demikian? Jika kita
kembali mencari jawaban atas pertanyaan ini pada peta-peta kuno, maka
jawabannya adalah tidak; karena peta-peta yang digambar oleh bangsa Mesir Kuno
di atap salah satu kuil menunjukkan bahwa bumi sebelum terhenti berputar dari
timur ke barat. Hal ini ditegaskan oleh Plato dalam dialognya tentang politik (Politicus),
di mana ia berkata:
"Sesungguhnya
matahari dahulu terbenam di tempat yang sekarang kita lihat sebagai tempat
terbitnya." Ini menjelaskan ayat Al-Qur'an yang mulia:
"Tuhan
(yang memelihara) dua tempat terbit matahari dan Tuhan (yang memelihara) dua
tempat terbenamnya." (QS. Ar-Rahman: 17).
Perbedaan
Antara Ayat-Ayat Para Rasul dan Kejadian Luar Biasa Lainnya
Mukjizat
para rasul dan ayat-ayat para nabi tidak boleh dikacaukan dengan
kejadian-kejadian luar biasa (khawāriq al-‘ādāt) yang terjadi melalui
tangan selain mereka. Sebab, mukjizat datang disertai dengan tantangan (taḥaddī), serta bersumber
dari tokoh-tokoh yang dikenal dengan ketakwaan dan kesalehan, di mana mereka
telah mencapai puncak puncak ketakwaan yang tidak dapat dilampaui oleh manusia
mana pun.
Mukjizat
hadir tanpa ada campur tangan ikhtiar (kasb) dari seorang manusia pun;
Allah-lah yang menganugerahkan mukjizat itu secara langsung kepada mereka,
karena sebagaimana telah kami katakan, hal itu berada di luar kemampuan mereka
maupun kemampuan manusia lainnya. Mukjizat merupakan tanda kekuasaan murni dari
Allah semata, serta mukjizat bagi nabi-Nya untuk menantang para penentangnya...
Adapun
hal-hal luar biasa yang tampak melalui tangan selain para rasul, maka
sebagaimana dikatakan oleh Syekh Rasjid Ridha: Diriwayatkan dari seluruh umat
di setiap zaman secara mutawatir dalam jenisnya, bukan dalam perincian
bentuknya, dan tidak semuanya bernilai hakiki.
Sebab,
di antaranya ada yang memiliki sebab-sebab yang tidak diketahui oleh khalayak
umum; di antaranya ada yang bersifat buatan (ṣinā‘ī) yang diperoleh
melalui pembelajaran khusus; dan di antaranya ada yang termasuk keistimewaan
kekuatan jiwa dalam mengarahkannya pada tujuan, serta pengaruh jiwa yang
berkehendak kuat terhadap jiwa yang lemah.
Termasuk
dalam dua hal terakhir ini adalah mukāsyafah (tersingkapnya tabir ghaib)
dalam beberapa perkara, hipnosis (at-tanwīm al-maghnāṭīsī), dan penyembuhan
sebagian orang sakit, khususnya penderita penyakit saraf yang dipengaruhi oleh
keyakinan dan sugesti (waham). Kemudian beliau berkata:
Di
antaranya lagi adalah ilusi penglihatan (inkhidā‘ al-baṣar) melalui
sulap/halusinasi yang dikuasai secara lihai oleh para pesulap/Tukang sihir.
Termasuk di antaranya adalah apa yang dilakukan oleh para penyihir Firaun
sebagaimana dimaksud dalam firman Allah Ta‘ālā:
"...Maka
tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepadanya (Musa)
seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka." (QS. Thaha: 66).
Termasuk
di antaranya pula adalah ilusi pendengaran (inkhidā‘ as-sam‘), seperti
yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku memanfaatkan jin; ketika mereka
berbicara pada malam hari dengan suara-suara yang asing dari suara normal
mereka, sehingga orang yang mempercayainya mengira bahwa itu adalah suara jin.
Kadang kala mereka berbicara pada siang hari dari dalam perut mereka (ventriloquism)
tanpa menggerakkan bibir. Maka tidak sepantasnya memercayai sedikit pun
berita-berita dari mereka... dsb.
Lantas,
di manakah letak perbandingan hal ini dengan mukjizat para nabi dan ayat-ayat
para rasul?!
Di
mana letak perbandingan hal ini dengan terbelahnya laut untuk Musa,
dihidupkannya orang mati oleh Isa, dikeluarkannya unta betina dari batu karang
untuk Shalih, dan memancarnya air dari jemari Muhammad—semoga shalawat dan
salam Allah tercurah kepada beliau?!
Perbedaan
Antara Mukjizat dan Karamah
Karamah
adalah kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada para wali-Nya melalui hal-hal
yang Dia tampakkan melalui tangan mereka. Syarat karamah tidak harus berupa hal
yang luar biasa (khāriq lil-‘ādah), dan tidak harus keluar dari
kebiasaan manusia.
Termasuk
bagian dari karamah adalah keistiqamahan, taufik untuk taat kepada Allah,
bertambahnya ilmu dan amal, serta membimbing makhluk menuju kebenaran.
Kadang
kala terjadi sebagian hal yang luar biasa (khawāriq al-‘ādāt) melalui
tangan sebagian orang saleh dalam beberapa kondisi, maka hal itu dianggap
sebagai karamah yang menyertai sebagian orang yang ikhlas kepada Allah dan
fokus beribadah kepada-Nya, yaitu orang-orang yang fitrahnya selamat dan
jiwanya suci, sebagaimana yang terjadi pada Sayyidah Maryam. Al-Qur'an al-Karim
telah mengisahkan tentang beliau bahwasanya:
"...Setiap
kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab, dia mendapati makanan di sisinya. Dia
(Zakaria) berkata, 'Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh (makanan) ini?'
Dia (Maryam) menjawab, 'Itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rezeki
kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan." (QS. Ali 'Imran:
37).
Namun
demikian, karamah tidak digunakan untuk menantang (taḥaddī). Bahkan hukum asal
pada karamah adalah disembunyikan dan dirahasiakan. Syekh Ahmad Ar-Rifa'i
berkata: "Para wali menyembunyikan karamah sebagaimana seorang wanita
menyembunyikan darah haidnya." Hal ini berbeda dengan mukjizat, karena
menampakkan mukjizat adalah kewajiban agar penyampaian risalah (tablīgh
ar-risālah) menjadi sempurna.
Mukjizat
Penutup Para Nabi
Tidaklah
Allah mengutus seorang rasul melainkan Dia telah menguatkannya dengan ayat-ayat
kosmis (al-āyāt al-kauniyyah) dan mukjizat-mukjizat yang menyalahi hukum
alam yang dikenal manusia serta berada di luar kemampuan manusia; agar
penampakannya melalui kedua tangannya—padahal ia adalah seorang manusia
biasa—menjadi bukti bahwa ia adalah utusan dari sisi Allah.
Maka
tidak terbakarnya Ibrahim oleh api, unta Nabi Shalih, tongkat Nabi Musa, serta
keajaiban-keajaiban yang tampak melalui kedua tangan Nabi Isa, semuanya
termasuk dalam kategori ini.
(Catatan
kaki nomor 2 dalam teks asli): [Sihir sangat termasyhur pada zaman Musa,
ilmu kedokteran dan pengingkaran terhadap roh termasyhur pada zaman Isa,
sedangkan balagah (sastra/keindahan bahasa) termasyhur pada zaman Muhammad.
Maka mukjizat setiap nabi adalah dari jenis apa yang termasyhur pada zamannya,
dengan memperhatikan bahwa mukjizat berada di atas kemampuan manusia; ia berada
pada tingkatan tertinggi dan kedudukan yang paling mulia.]
Ayat-ayat
(mukjizat) tersebut bersifat indrawi (ḥissiyyah)
pada masa ketika akal manusia berada pada fase belum mencapai kedewasaan, dan
pada masa ketika keajaiban-keajaiban tersebut memberi pengaruh mendalam pada
jiwa massa hingga mereka tidak memiliki pilihan selain tunduk dan berserah
diri.
Namun
ketika jenis manusia mulai memasuki usia dewasa, dan kehidupan intelek/akal
mulai menemukan jalannya untuk muncul dan berkembang, keajaiban-keajaiban
indrawi itu tidak lagi menjadi satu-satunya bukti atas kebenaran risalah. Tidak
lagi mudah bagi akal untuk tunduk hanya semata-mata karena melihat sesuatu yang
keluar dari kebiasaan hidup.
Akal
menginginkan sesuatu yang baru yang sepadan dengan fase yang telah dicapainya.
Ia menginginkan iman yang tidak dicampuri keraguan, dan keyakinan yang mengikis
kegelapan syubhat.
Allah
tidak akan menyokong jenis manusia pada masa kanak-kanaknya dengan sesuatu yang
menjaga kehidupan rohaninya, lalu membiarkannya begitu saja setelah manusia
mengambil jalannya menuju penalaran rasional dan independensi berpikir tanpa menegakkan
bukti-bukti yang sepadan dengan perkembangan yang telah dicapainya. Maka dari
itu, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan
menguatkannya dengan mukjizat ilmiah (al-mu‘jizah al-‘ilmiyyah) dan
hujah rasional (al-ḥujjah
al-‘aqliyyah), yaitu Al-Qur'an al-Karim.
"Katakanlah,
'Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan
Al-Qur'an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun
mereka saling membantu satu sama lain.'" (QS. Al-Isra': 88).
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwa
Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ
إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ البَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي
أُوتِيتُهُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ
تَابِعًا يَوْمَ القِيَامَةِ»
Terjemahan
Hadis: "Tidak ada seorang nabi pun di antara para nabi melainkan telah
diberikan kepadanya mukjizat yang membuat manusia beriman kepadanya. Namun, apa
yang diberikan kepadaku hanyalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Maka aku
berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Al-Qur'an
ini bukanlah hasil karangan siapa pun, melainkan wahyu Allah yang diturunkan
dalam bentuk wahyu yang paling sempurna.
"Tidak
mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah akan berbicara kepadanya, kecuali
dengan arahan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan
(malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana." (QS. Asy-Syura: 51).
Ayat
ini menetapkan tiga jenis wahyu:
(a)
Waḥyan
(Wahyu langsung): Yaitu menjatuhkan/membisikkan makna ke dalam hati, yang
diistilahkan dengan an-nafts fī ar-rū‘ (peniupan ke dalam jiwa). Dalam
hadis disebutkan:
«إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي
رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا
اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ»
Terjemahan
Hadis: "Sesungguhnya Ruhul Kudus (Jibril) membisikkan ke dalam jiwaku
bahwa suatu jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya. Maka
bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki."
(b)
Berbicara dari belakang tabir (min warā’i ḥijāb): Yaitu penerima
wahyu mendengar kalam Allah dari arah di mana ia tidak melihat-Nya, sebagaimana
Nabi Musa ‘alaihi ṣ-ṣalātu was-salām mendengar panggilan dari balik
pohon.
"Dia
(Musa) berkata kepada keluarganya, 'Tinggallah (di sini). Sesungguhnya aku
melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa berita kepadamu dari sana atau
(membawa) sepotong kayu yang menyala agar kamu dapat berdiang.' Maka, ketika
dia sampai ke (tempat) api itu, dia dipanggil dari arah lereng lembah sebelah
kanan di tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon, 'Wahai Musa! Sesungguhnya
Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam.'" (QS. Al-Qashas: 29–30).
(c)
Apa yang disampaikan oleh malaikat wahyu yang diutus Allah kepada rasul-Nya:
Di mana malaikat tersebut terlihat berwujud menyerupai seorang laki-laki atau
tidak berwujud manusia.
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, bahwa Al-Harits bin
Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, ia
berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimanakah wahyu datang kepadamu?"
Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ
صَلْصَلَةِ الجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيَفْصِمُ عَنِّي وَقَدْ
وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ المَلَكُ رَجُلًا،
فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ»
Terjemahan
Hadis: "Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku seperti gemerincing
lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku. Lalu keadaan itu terhenti dariku
sedang aku telah menghafal apa yang diucapkannya. Dan kadang-kadang malaikat
menjelma bagiku sebagai seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku dan aku
memahami apa yang diucapkannya." (HR. Bukhari).
Aisyah
radhiyallāhu ‘anhā berkata: "Sungguh aku telah melihat beliau
ketika wahyu turun kepadanya pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu
terhenti dari beliau sedangkan dahi beliau mengucurkan keringat."
Bentuk
yang paling sempurna dari jenis-jenis ini adalah pengutusan rasul (malaikat)
membawa wahyu. Bentuk inilah yang dengannya Al-Qur'an al-Karim diturunkan,
yaitu diturunkan melalui perantara Malaikat Jibril 'alaihis-salām.
"Dan
sesungguhnya (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Ia
dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar
engkau menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
dengan bahasa Arab yang jelas." (QS. Asy-Syu'ara': 192–195).
"Katakanlah
(wahai Muhammad), 'Barang siapa menjadi musuh Jibril, maka dialah yang telah
mejelaskannya/menurunkannya (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah,
membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu dan menjadi petunjuk serta berita
gembira bagi orang-orang beriman.'" (QS. Al-Baqarah: 97).
Wahyu
ini datang sebagai sebuah revolusi melawan kebatilan dalam segala bentuknya,
dan melawan kerusakan dalam seluruh manifestasinya. Wahyu membendung takhayul
yang mengotori akal, membendung penyimpangan yang merusak fitrah, sebagaimana
ia juga membendung tradisi rusak yang memasung kebebasan berpikir dan
independensi berkehendak.
Wahyu
menentang ini semua dengan gejolak dahsyat yang menghancurkan seluruh tonggak
kejahatan, menghapus setiap corak kerusakan, dan menggantinya dengan
hakikat-hakikat kebenaran yang menuntun akal, menerangi nurani, serta
mengelevasi jiwa; hingga jiwa mencapai titik puncak kesempurnaan kemanusiaan
yang telah ditakdirkan baginya.
Wahyu
bertujuan untuk mendidik individu, mewujudkan kerja sama masyarakat, dan
melahirkan pemerintahan yang berlandaskan musyawarah (syūrā), dengan
tujuan menjaga agama Allah, mengurusi urusan dunia manusia, serta menyeru
kepada petunjuk agama ini agar persaudaraan kemanusiaan menjadi meluas, yang
pada gilirannya menyegerakan terciptanya kedamaian universal di mana manusia
hidup di bawah naungannya secara aman.
Revolusi
ini tidak bertujuan untuk kepentingan pribadi, tidak pula untuk kemanfaatan
nasional/kelompok, tidak untuk memenangkan satu kelompok penguasa atas kelompok
lainnya, dan tidak untuk mengutamakan satu mazhab atas mazhab lainnya;
melainkan untuk kebaikan seluruh alam dan demi kemaslahatan seluruh manusia.
Wahyu
ini datang untuk menyelesaikan problem-problem yang telah membelenggu manusia
sejak dahulu hingga modern, serta untuk menjawab setiap pertanyaan dari
pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Apakah agama itu, dan apa
prinsip-prinsip dasarnya?
- Siapakah Allah? Dan apa
sifat-sifat-Nya?
- Apakah risalah itu? Siapakah
para rasul itu? Dan apa tugas-tugas mereka?
- Apakah hakikat kehidupan
setelah kematian?
- Apakah kebaikan itu? Apakah
kejahatan itu? Dan bagaimana mekanisme pembalasan atas keduanya?
- Mengapa manusia diciptakan?
Dan apa kedudukannya di alam semesta?
- Bagaimana hubungan manusia
dengan sesamanya? Dan bagaimana hubungan antarumat serta antarbangsa?
- Bagaimana hubungan antara
laki-laki dan perempuan?
- Apakah kekayaan itu? Dari
mana sumbernya? Dan bagaimana tata cara distribusinya?
- Apakah kehidupan yang baik (al-ḥayāh aṭ-ṭayyibah) itu? Dan apa
jalan menuju ke sana?
Demikianlah
Al-Qur'an terus memaparkan di hadapan akal manusia ratusan persoalan yang tidak
dapat ditinggalkan dalam dunia ilmu dan filsafat; persoalan-persoalan yang
seluruh akal manusia tidak mampu menguasai sepersepuluh dari sepersepuluhnya (‘usyru
mi‘syārihā), apalagi menguasai semuanya; persoalan-persoalan yang
dibutuhkan manusia dalam menempuh tahapan kehidupan ini agar menjadi petunjuk
yang menghindarkannya dari kesesatan dalam urusan agama dan penyimpangan dalam
dinamika duniawi.
"Seandainya
pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan
kepadanya tujuh laut (lagi) setelah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis
kalimat-kalimat Allah..." (QS. Luqman: 27).
Seluruh
persoalan ini hadir dalam gaya bahasa sastra (aslūb balāghī) yang sangat
memukau, yang menguasai indra manusia, menawan perasaannya, dan membangkitkan
naluri kebaikan di dalamnya, disertai dengan terbebasnya Al-Qur'an dari
perselisihan/perbedaan dan keselamatannya dari pertentangan/kontradiksi.
"Sekiranya
Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati di dalamnya
pertentangan yang banyak." (QS. An-Nisa': 82).
Sungguh,
tidak pernah dikenal ada satu kitab pun dari kitab-kitab yang ada yang memiliki
keagungan tema, sihir keindahan bahasa, dan kekuatan pengaruh seperti yang
dimiliki Al-Qur'an ini; hal yang mengarahkan perhatian para ulama untuk menaruh
kepedulian dalam mengkajinya dari segi lafal-lafalnya, makna-maknanya,
akidahnya, adab-adabnya, hukum-hukumnya, serta syariat-syariatnya. Melalui
kajian ini, mereka menciptakan perbendaharaan ilmu dan literatur yang sangat
besar, yang terus dan akan selalu menjadi materi yang layak bagi berdirinya
peradaban manusia tempat manusia mengecap kehidupan yang lebih baik dan
penghidupan yang lebih sejahtera.
"Dan
demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) Ruh (Al-Qur'an) dengan perintah
Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan apakah
iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang dengannya Kami memberi
petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami..." (QS.
Asy-Syura: 52).
Inilah
mukjizat yang dengannya Allah menguatkan Nabi-Nya yang ummi, yang dengannya Dia
mengubah jiwa-jiwa, menghidupkan hati, menerangi mata hati, mendidik suatu
umat, dan membentuk sebuah negara hanya dalam hitungan tahun yang dapat
dihitung dengan jari.
Jika
berubahnya tongkat menjadi ular merupakan suatu mukjizat, maka mengubah akal
dan hati manusia adalah mukjizat yang jauh lebih tinggi tingkat keajaibannya.
Jika
menghidupkan orang mati termasuk hal luar biasa yang dengannya Allah menguatkan
sebagian nabi-Nya, maka menghidupkan umat yang ummi dari kebodohan dan
kenistaan serta menjadikannya sebagai sumber pancaran sinar dan petunjuk adalah
hal luar biasa yang membuat seluruh mukjizat lainnya tampak kecil di sisinya.
Maha
Besar Allah, sungguh agama Muhammad,
Dan
Kitab-Nya adalah perkataan yang paling kuat dan paling lurus.
Jangan
engkau sebut kitab-kitab terdahulu di hadapannya,
Sebab
tatkala fajar telah terbit, ia padamkan pelita (lampu minyak).
Sumber:
kitab Al-'Aqa'id Al-Islamiyyah karya Syaikh Sayyid Sabiq
Comments
Post a Comment