Hizbullah (Partai Allah)

Sinopsis

Prasyarat utama menghadapi al bathil adalah dengan memiliki hizbullah. Hizbullah dibina dan dibentuk dengan dua asas utama yaitu al akhlak al Islamiah dan al akhlak al harakiah. Al Akhaak al Islamiah membina kondisi internal yang mantap melalui mahabatillah (cinta Allah), berkasih sayang sesama mukmin, tegas dengan kafir, berjihad dan menghilangkan takut kepada manusia, membersihkan wala semata-mata untuk Allah dan Rasul. Setelah dibentuk persyaratan asasi ini, mukmin diperkokoh dengan al akhlak al harakiah sebagai bangunan untuk menguatkan mukmin terjun ke medan pertempuran menghadapi al bathil. Antara lain ciri-ciri al akhlaq al harakiyah dari golongan hizbullah adalah al thabat (teguh) untuk menghancurkan sifat taraddud (sifat tak pasti), zikrullah sebagai penghapus sifat lalai, taat Allah dan Rasul untuk menghancurkan makshiat, membentuk sifat tidak tanazu' agar melahirkan kesatuan; sifat sabar menghapuskan sifat berkeluh kesah, tidak sombong untuk mewujudkan tawadhu, menghapuskan riya supaya tetap ikhlas, tidak menghalangi dari jalan Allah tetapi terus-menerus menolong di jalan Allah.

Hadirnya hizbullah merupakan suatu keharusan dalam menghadapi hizbus syaithan. Hizbus syaithan selalu melakukan suatu ancaman dan konspirasi menjauhkan Islam secara lokal, regional dan internasional. Hibus syaithan melihat Islam memiliki kekuatan potensial yang setiap saat dapat menggusur dan menggeser dominasi mereka. Kekuatan hizbullah terletak kepada aqidah dan akhlaknya. Hal ini pulalah yang menjadikan suatu keheranan Heraklius seorang raja Romawi terhadap kekuatan hizbullah (golongan orang yang beriman). Suatu saat Heraklius mengirim utusan kepada Abu Sofyan (Abu Sofyan berada di Syam). Utusan Heraklius bertanya kepada Abu Sofyan (masih kafir pada waktu itu) perihal Rasulullah SAW tentang nasabnya dalam keluarga Quraisy, sikapnya terhadap raja, pengikutnya, kejujurannya, peperangan-peperangan yang dilaluinya, dan apa-apa yang diajarkan kepada pengikutnya. Abu Sofyan pun memberi jawaban sebenarnya tentang Rasulullah. Ketika jawaban tersebut sampai kepada Heraklius, dia berkomentar "Kalau benar apa yang kamu katakan itu niscaya ia akan menguasai tempat hingga yang terinjak oleh kakiku ini". Heraklius berkata demikian ketika iamenjadi raja Romawi yang merupakan salah satu kekuasaan super power saat itu. Padahal masalah ini tidak terpikir sedikitpun dalam pikiran Rasulullah SAW.

Begitu pula ketika berkecamuk perang Khandak seluruh suku bangsa Arab bersatu dan menjalin hubungan rahasia dengan Yahudi untuk menghabisi kaum muslimin, hat ini disebabkan karena begitu besarnya kekuatan Islam. Mereka telah melihat begitu besar kekuatan hizbullah yang dibangun oleh Nabi SAW.

Hizbullah sebagai suatu kekuatan umat Islam selalu menjadi serangan bagi Yahudi dan zionisnya serta Barat melalui kekafirannya agar umat Islam jauh dari nilai Islam. Carzoon, seorang menteri luar negeri Inggris berbicara pada sebuah majelis umum yang menjelaskan tentang apa yang sedang terjadi di Turki. Para petinggi negeri Inggris menuduh Turki secara keji, mereka merasa heran mengapa Inggris mengakui kemerdekaan Turki, ternyata kemerdekaan merupakan suatu fenomena tertaklukannya Turki oleh pihak Barat karena telah dihancurkan dua kekuatan yang dimiliki Turki yaitu Islam dan khilafah. Lebih jelas lagi tujuan-tujuan zionis internasional dan ketakutannya kepada Islam serta kepada para pendukungnya (hizbullah) dilatarbelakangi karena potensi aqidah dan akhlak yang dimilikinya.

Hizbus syaithan selalu mengajak manusia kepada kemurtadan dan mereka bersungguh-sungguh melakukannya. Hal ini tertuang dalam surat Al Baqarah:217, "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka dapat mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup". Ayat ini menerangkan hakikat sesungguhnya pertarungan orang yang beriman dan orang yang kafir. Mereka tidak akan membiarkan orang-orang beriman tetap dalam keimanannya sehingga mereka murtad. Ayat tadi juga menyebutkan balasan bagi orang yang meninggalkan agamanya. Hizbullah adalah golongan orang-orang yang beriman yang didatangkan oleh Allah sebagai generasi yang menggantikan orang yang murtad tersebut. Hal ini disebubkan dalam surat Al Maidah: 54-56: "Hai orang-orangyang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap kercis terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya dan or­ang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa mengambil Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya hizbullah (pengikut agama Allah) itulah yang pasti menang".

Ayat di atas memberikan pengertian kepada kita apabila telah berlaku fenomena kemurtadan maka Allah akan mengirimkan suatu kaum yang memiliki sifat-sifat tertentu dan mereka itu adalah hizbullah (pembela Allah yang dijanjikan kemenangan). Kemenangan yang Allah berikan tidak saja bersifat material tetapi merupakan sebuah kemenangan yang dianugerahkan Allah kepada para pembelaNya dalam menghadapi musuh-musuhNya. Hal ini terjadi di luar hukum materialistik karena kemenangan yang dirasakan juga berupa kemuliaan di dunia atau mati syahid.

Beberapa karakter hizbullah disebutkan dalam surat Al Hajj:40-41, "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agamanya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Yaitu orang-orang yang Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, meyuruh berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar dan kepada Allahlah kembali segala urusan". Apabila bangkit segolongan manusia dengan kriteria hizbullah yang tersebut di dalam surat Al Maidah yaitu mereka yng memiliki keinginan kuat untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan rr ncegah dari perbuatan yang mungkar maka tibalah saatnya Alah mengukuhkan kedudukan mereka dan menganugerahkan pertolonganNya. Hal ini dapat tercapai hanya dengan nizhom (sistem) dan qiyadah (kepemimpinan).

Inilah yang disebut dengan hizbullah yang menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang dimunculkan oleh hizbus syaithan. Hizbullah dengan nizhom rabbani (sistem yang bersifat ketuhanan) yang komprehensif dan pola pembinaan intelektual serta kepribadian yang integral dan berjalan dengan penuh kebijaksanaan menuju cita-cita Islam. Hal ini tidak akan mungkin terrealisir tanpa sebuah sistem yang baik di dalam hizbullah. Dengan sistem ini pula akan lahir kepemimpinan yang dihasilkan dari pembinaan intelektual dan kepribadian yang integral dalam membangun pembela­pembela Allah. Keberhasilan hizbullah dalam menegakkan Islam perlu mencontoh perjuangan para nabi alaihimussalam. Keberhasilan kita mengikuti contoh ini tergantung sejauh mana kita mampu berjalan di atas jalan yang benar. Allah berfirman dalam surat Al Anfal:59, "Dan janganlah orang-or­ang yang kafir itu mengira bahwa mereka akan dapat lolos dari kekuasaan Allah, sesungguhnya mereka tidak akan bisa melemahkan Allah".

Dalam AlQuran, hizbullah disebut sebanyak dua kali yaitu di dalam surat Al Mujadilah yang berbicara tentang ketiadaan cinta antara orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir sedangkan kedua di dalam surat Al Maidah berbicara tentang ciri-ciri hizbullah. Allah berfirman dalam surat Al Mujadilah:22, "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu, bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang­orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah hizbullah (golongan penolong Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung". Dalam surat Al Maidah:56, "Dan barangsiapa mengambil Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya hizbullah (pengikut agama Allah) itulah yang pasti menang".

Berdasarkan dua ayat di atas maka hizbullah memiliki dua sikap yaitu bara (berlepas diri) dari musuh-musuh Allah dan musuh-musuh RasulNya dengan tidak memberikan sedikitpun loyalitas secara lahir kepada mereka dan tidak mencintai mereka dalam batin. Kemudian sikap kedua adalah memberikan wala atau loyalitas kepada orang-orang yang beriman secara lahir dan memberikan kasih sayang kepada mereka dalam batin. Adapun orang-orang yang berhak diberi wala demikian adalah mereka yang memiliki sifat keimanan dan ketaatan menjalankan perintah Allah seperti shalat dan zakat.

Seorang yang dikategorikan sebagai bagian dari hizbullah, manakala dalam dirinya terpenuhi sifat tertentu yaitu cinta kepada Alah, punya sifat-sifat yang dicintai oleh Allah, berkasih sayang dengan orang-orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah tanpa takut dicela oleh orang-orang yang suka mencela, serta melepaskan wala (ketaatan) dari orang-orang kafir dan memberikannya hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang mukmin. Cinta yang demikian mempunyai jalan-jalan yang harus ditempuh dengan bersikap keras terhadap orang kafir yang mempunyai tuntutan yang harus dipenuhi.

Hizbullah memiliki beberapa ciri utama yaitu pertama berkemauan keras untuk beramal demi menegakkan Islam, menolong syariatnya, mempersatukan umat, menghidupkan sunnah Rasulullah dan menundukkan seluruh alam kepada ialimat Allah. Kedua menjadi tempat perpaduan dari seluruh ahlak dalam kepribadiannya. Ketiga memutus hubungan baik secara lahir  maupun batin dengan musuh-musuh Allah, sebaliknya memperkuat hubungan lahir dan batin dengan para pembela Allah. Apabila tidak memiliki satu dari persyaratan di atas akan menyebabkan perjalanan seseorang di atas tidak sempurna dalam alur perjalanan hizbullah. Dengan pertimbangan Al Quran, kita bisa mengukur apakah seseorang berjalan di atas orientasi hizbullah atau tidak.

Hizbullah adalah orang-orang muslim sejati baik ulama, rabbaniyun, ataupun yang lainnya, yang berperanan besar ataupun kecil, sendirian maupun bersama orang lain. Seluruh pengertian di atas terkandung di dalam 5 slogan kata yang digaungkan oleh Imam Hasan Al Bana yaitu Allah tujuan kami, Rasul teladan kami, Al Quran pembimbing kami, jihad jalan kami, dan mati di jalan Allah cita-cita kami tertinggi. Slogan tersebut telah mencakupi setiap fenomena hizbullah sebagai sebuah orientasi. Hizbullah memiliki beberapa sasaran yang tidak hanya mencetak kepribadian muslim dengan corak Islami tetapi juga menegakkan nilai Islam tersebut di tengah kehidupan masyarakat. Hizbullah berkeinginan untuk menyatukan umat Islam dan menghidupkan kembali sistem kehilafahan. Nilai yang demikian merupakan satu tujuan bagi hizbullah. Tujuan tersebut tidak akan tercapai tanpa terpenuhinya beberapa akhlak dasar dan akhlak pergerakan yang merupakan persyaratan sebuah hizbullah. Di antara akhlak dasar tersebut adalah cinta kepada Allah, berkasih sayang dengan orang mukmin, tegas kepada orang kafir, berjihad di jalan Allah dan memberikan walanya kepada Allah, Rasul dan orang yang beriman. Setelah itu diperlukan akhlak harakiyah yang memiliki ciri-ciri tidak ragu-ragu, dzikrullah, tidak lalai, taat kepada Allah dan RasulNya, tidak bermaksiat, tidak saling berbantahan, bersatu, sabar, tidak riya dan tidak menghalangi dari jalan Allah.

1. Al Akhlaqul Assasiyah (Akhlak Dasar)

A. Mahabatullah (Cinta Pada Allah)

Al Quran berulang kali menyebut isu kecintaan ini sebagai satu dasar dalam kehidupan manusia. Baik mencintai Al­lah ataupun mencintai selain Allah. Asas kecintaan adalah dorongan yang kuat dalam diri manusia. Kecintaan kepada Allah bukan bermaksud meninggalkan cinta kepada yang lain. Akan tetapi ia menjadi seperti mata air yang menjadikan para mukmin mencintai semua yang Allah kasihi dan menjadikan mukmin bersungguh-sungguh dalam beramal. Cinta Allah dan Rasul mesti diletakkan pada prioritas pertama, bukan kedua.

Dalil

Q. 5:54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Al­lah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.

Q. 2:165. Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah t.indingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaanNya (niscaya mereka menyesal).

Q. 8:2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.

B. Adzilatun Alal Mukminin (Bersikap Lemah Lembut Kepada Mukmin)

Ini adalah sikap yang menjadi buah dari cinta Allah dan keimanan kepada Allah. Allah memerintahkan mukmin mencintai saudaranya sesama mukmin. Asas ukhuwwah menjadikan mukmin merasakan kemuliaan dan menghormarti saudaranya. la juga memahami akan kelemahan manusia dan bersikap lemah lembut serta pemaaf. Dalam konteks tarbiyah bukan hanya menegur atau menasihati, bahkan ada pendekatan khusus yang diajarkan oleh Rasulullah SAW karena kalau kita bersifat kasar tentunya orang lari dari kita.

Q. 5:54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Al¬lah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.

Q. 48:29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang¬orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap or¬ang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

 

C. A'izatun Alai Kafirin (Bersikap Tegas Terhadap Kafir)

Ketegasan mukmin penting bila berhadapan dengan kafir. Mereka adalah musuh yang selalu menggoda orang mukmin. Permusuhan yang berlaku hasil dari pertentangan aqidah, pertentangan then dan pertentangan tujuan akhir. Tugas mukmin adalah berdakwah dan menegakkan al haq sedangkan mereka sebaliknya. Sikap pendirian teguh ini bagi mukmin sangat penting ketika berhadapan dengan kafir dan kekufuran. Kita tidak boleh kompromi dalam perkara dasar Islam. Surah Al Kafirun menegaskan lakum dinukum.

Dalil

Q. 5:54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Al­lah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tdak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.

Q. 48:28-29. Dialah yang mengutus rasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku' dan sujud rnencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda niereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Q. 66:9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan or­ang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

D. Al Jihadullah Wa Adamul Khauf Minannas (Berjihad Di Jalan Allah Dan Tidak Takut Celaan Daripada Manusia)

Inilah jawaban kepada masalah yang dihadapi umat. Mukmin mestilah didorong untuk terjun ke medan jihad bukan duduk diam dan berpangku tangan. Setelah memahami dan meyakini fikrah Islamiah, sewajarnya akhlak mukmin adalah bangkit dan menyebarkan risalah.

Kiranya ada yang ingin menghalanginya tidak patah semangat dan berputus asa. Jihad adalah jalan keluar. la terus menerus besungguh-sungguh di atas jihad dan pengorbanan. Mana mungkin tegak Islam, dan sampai Is­lam kepada kita tanpa darah dan air mata. Sejarah umat Islam kaya dengan warna darah syuhada dan Allah SWT sendiri telah memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada syuhada. Jihad dengan segala macam persediaan, strategi dan taktik, mengikuti marhalah dan perancangan harakiah menjadikan kerja-kerja jihad dilaksanakan oleh jundullah.

Manusia memang suka memberi komentar. Mereka akan mengatakan sesuatu kepada kita. Tetapi apakah kata-kata manusia semuanya enak didengar dan dimasukkan ke hati oleh jundullah? Kalau harus mendengar semua komentar itu, sulitlah kita bekerja. Kita melatih para duat untuk terus beramal dan melaksanakan perencanaan kerja. Tidak harus cepat marah, secara psikologi merasa lemah dengan ghazwul fikri mereka. Kamu tidak akan menang, kamu buat kacau, kamu menyusahkan orang tua, kamu tidak sesuai, kamu bukan ustadz, kamu tidak layak, kamu pelajar, belajarlah dulu, anak isteri akan kau beri makan apa kalau seperti ini, tidak akan ketinggalan zaman, sekarang zaman IT bukan zaman jahiliyyah, kenapa tidak mengikuti Barat saja, kenapa bukan Al Quran saja, mana dalil yang kamu katakan, anda tidak jelas lagi fikrahnya, anda tidak mengikuti Islam yang benar, anda tidak itu, anda tidak ini, dan macam-macam lagi bentuk ejekan dan kritikan. Semua celaan itu bakal kita temui dan menjadi cobaan buat kita, apabila kita berdakwah di jalan Allah.

Dalil

Q. 5:54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Al-, lah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintaigl mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemahts' lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap kerasa terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siap2k yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui."

Q. 9:23-24. Hai orang-orang yang beriman janganlah kamt jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafirarn atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anakr, anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargarnu, hartk. kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggau yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allalal dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, mak:h tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya" Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

Q. 47:31. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akai menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kanv menyatakan (baik buruknya).

Q. 86:6. Dia diciptakan dari air yang terpancar.

Q. 83:35-36. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambi memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah dibeil gaujaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

E. Al Wala (Loyalitas)

·        Allah

·            Lir Rasul (Kepada Rasul)

·            Lil Mukmin (Kepada Mukmin)

Semua orang secara sadar atau tidak akan memberi wala' kepada sesuatu. Sebagai jundullah, sasaran wala kita mestilah terus kepada Allah, RasulNya dan mukmin. Pertolongan kita juga dari Allah dan Allah beserta para mukmin. Wala yang tak terpisah inilah yang akan menyatukan saf mukmin. Mereka tidak akan berpecah belah berdasarkan wala' yang berbeda.

Dalil

Q. 5:55-56. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Al­lah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Al­lah, RasulNya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Al­lah itulah yang pasti menang.

Q. 58:22. Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.

2. Al Akhlaqu Al Harakiyah (Akhlak Pergerakan)

A. Ats Tsabat (Teguh) - Adamu Tarraddud (Tidak Ragu-Ragu)

Menghadapi jihad dan pertempuran sangat melelahkan clan meletihkan. Kalau kendaraan yang berjalan terus menerus akhirnya akan terpaksa berhenti. Untuk terus tetap bagaimana? Ini perlu tarbiyah berkelanjutan. Hati (qulub) ini mesti terus diisi dengan keimanan yang kental, fikrah dan tasawwur tetap dikuatkan dengan kepentingan aural dan jihad. Hubungan terus menerus dengan Allah SWT adalah senjata paling kuat ketika berhadapan dengan suasana gawat medan dakwah dan jihad. Dzikrullah dan merasakan pertolongan Allah menjadikan mukmin tetap tsabat dan tidak akan mundur menghadapi suasana medan jihad, bahkan di medanghazwul fikri inipun kita harus terus tsabat.

Dalil

Q. 8:45-47. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (or­ang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

B. Dzikrullah (Ingat Allah) - Adamul Goflah (Tidak Lalai)

Ketenangan hati (mut'mainal qulub) adalah satu dari puncak kejayaan mukmin. Dalam ketenangan hatilah maka manusia akan mendapat satu nikmat yang besar. Orang boleh kaya raya, rumah besar, semua cukup tapi kalau hati tidak tenang, hilang kenikmatannya. Allah mengajar kita bahwa ketenangan itu hanya datang dengan mengingat­Nya, zikrullah. Memang telah ada banyak uraian dan penjelasan mengenai zikrullah dari Al Quran dan sunnah. Shalat sendiri merupakan zikrullah yang difardhukan 5 kali sehari. Dzikr yang ma'sthur dari Rasulullah juga menjadi amalan dan benteng mukmin. Dzikrullah juga dimaksud mengingat seluruh yang diwahyukan Allah melalui tilawah, tarlarrus dan tadabbur ayat dan tafakkur alam ciptaan Allah. Selalu mengingat Allah, bahkan menjadikan sebagai bekal untuk terus berdakwah.

Senantiasa bersedia dan bersiap menghadapi segala kemungkinan juga sifat jundullah. Persiapannya mengikuti keperluan dan berdasarkan waqie (kenyataan). Serangan datang dalam berbagai bentuk maka perlulah bersiap sedia. Siap sedia ketika di medan dakwah misalnya menunjukkan ciri-ciri istimewa, bahwa mukmin mesti bersedia menunggu apa saja perintah dari qiyadah (pimpinan) dan bersedia taat. Kelalaian mungkin menyebabkan musuh masuk melalui diri kita. Dalam bidang pendidikan misalnya, musuh menggunakan media untuk menyerang kita dengan hebat. Maka kita perlu menyadarinya.

Dalil

Q. 8:45-47. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (or­ang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

Q. 13:28. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tentram.

Q. 2:203. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu) maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepadaNya.

C. Taatillah War Rasul (That Kepada Allah Dan RasulNya)- Adamul Maksiyah (Tidak Maksiyat)

Dengan amalan amal saleh yang kita kerjakan akan menutup peluang untuk bermaksiat kepada Allah. Amal saleh membersihkah hidup mukmin. Ketaatan ini menguatkan iman dan membentuk akhlaq mukmin yang kuat. Tingginya ketaatan kepada Allah adalah seluas Is­lam. Ia memberi peluang dakwah dan peluang berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat. Dalam menunaikan taat, ia melaksanakan amal harakiyahnya. Mukmin menjadi teladan bagi apa yang is dakwahkan. Ketaatan inilah buah iman yang benar kepada Allah. Taat kepada Allah SWT adalah taat yang mutlak.

Maksiat banyak merusakkan kehidupan manusia. la membawa manusia semakin jauh dari hidayah Allah dan jauh dari kebenaran. la menjadi penghalang dari para malaikat dan pertolongan Allah. Maksiat menghitamkan hati dan memberi gambaran yang negatif terhadap para duat. Hendaklah ditarbiyyah dengan terus-menerus agar jahiliyyah ini dapat dikikis sepenuhnya dari hati kita. Dalam sirah pernah Rasulullah SAW menegur Abu Zar yang mengatakan kepada Bilal satu ungkapan dari Jahiliyyah.

Dalil

Q. 8:45-47. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

Q. 4:80. Barangsiapa yang mentaati rasul itu, sesungguhnya is telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutus untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Q. 53:26. Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhaiNya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D. Adamu Tanazu' (Tidak Saling Berbantah-Bantahan) - Al Wahdah (Bersatu)

Perbedaan pendapat dan pandangan manusia memang biasa. Bahkan sahabat seperti Abu Bakar dan Umar RA pun berbeda pendapat. Tetapi yang salah ialah berlebih­lebihan dalam mempertahankan pendapat. la merasa pandangannyalah yang paling benar. Orang lain semua salah. Sehingga akhirnya timbullah perasaan tak puas hati dan dilahirkan dalam bentuk saling berbantah-bantahan. Ini akan menyebabkan perselisihan hati yang membawa kepada berpecah-belah dan hilanglah wihdah (kesatuan). Oleh karena itu, dalam Islam mentarbiyah jundullah untuk tidak berselisih, bermusyawarah dan kemudian taat kepada keputusan.

Tanpa wihdah, kekuatan kita hilang dan musuh dengan mudah mengalahkan kita. Akhirnya, habislah kita. Kesatuan jundullah berdasarkan suatu yang kukuh yaitu Allah yang satu, rasul yang satu, kitab yang satu dan then yang satu. Kesatuan bedasarkan iman dan ukhuwwah. Semuanya mempunyai ghayah yang satu, bagaimana kita bisa berpecah-belah. Kesatuan mesti terus menerus dijaga dan dipelihara terutama ketika kita diserang musuh.

Dalil

Q. 8:45-47. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (or­ ang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerj akan.

Q. 6:153. Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.

Q. 30:31-32. Dengan kembali bertaubat kepadaNya dan bertakwalah kepadaNya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Q. 3:103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah karnu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara: dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat­ ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

E. As Sabru (Sabar) - Adamul Jaza' (Tidak Berkeluh Kesah)

Akhlak yang perlu disiapkan oleh jundullah yang menyertai hizbullah adalah kesabaran. Akhlak ini merupakan benteng dan sekaligus senjata bagi kita yang berdakwah. Dengan kesabaran semua permasalahan dan ujian yang ada di depan serta segala tantangan dakwah dan kehidupan dapat dihadapi dan diatasi dengan baik. Suasana jiwa yang diwarnai oleh sabar ini dapat menentramkan jiwa dan mendamaikan hati. Suasana tenang selalu menyertai segala cobaan dan tantangan dakwah. Kesabaran akan membawa kita kepada kejayaaan. Banyak perintah yang Allah sebutkan agar kita saling menasehati dengan kesabaran setelah kita menasehati al haq kepada orang lain. Demikian juga hadits yang menyuruh kita bersabar sehingga dengan sabar ini kita mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan. Musibah yang akan menimpa kitapun perlu dihadapi dengan sabar, seperti musibah kelaparan, kematian, kemiskinan dan sebagainya. Kesabaran di dalam dakwah merupakan akhlak penting yang perlu disediakan pada diri kita dalam menghadapi cemoohan, fitnah dan hasutan.

Orang yang beriman dan berdakwah tidak ada di dalam dirinya kamus berkeluh kesah. Mereka tidak ada waktu untuk berkeluh kesah, karena sibuk menghadapi dakwah dan menjalankan aktivitas-aktivitas berdakwah. Akhlak yang semacam ini merupakan bagian dari upaya memotivasi diri. Dengan keluh kesah maka kita menjadikan diri sendiri tidak bermotivasi, kurang semangat dan tidak mempunyai harapan. Keadaan yang demikian biasanya, diciptakan oleh diri individu itu sendiri.

Dalil

Q. 8:45-47. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (or­ang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

Q. 3:146. Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

F Adamul Bathar (Tidak Sombong) - Tawadhu' (Rendah Hati)

Akhlak tidak sombong juga perlu menghiasi para jundullah dan dai Allah. Dengan akhlak ini, is mudah menerima pandangan dan perbaikan diri dan dakwah untuk menyongsong kejayaan di masa depan. Tidak sombong adalah juga akhlak para ibadurrahman. Dengan tidak berkeluh kesah kita dapat bertahan berdakwah dan bahkan semakin mempunyai motivasi untuk meningkatkan gerak langkah menuju cita-cita. Selain itu, tidak sombong akan menjadikan kita mudah diterima oleh mad'u, disenangi oleh orang dan juga mudah untuk melaksanakan kebaikan yang dinasehatkan kepadanya.

Akhlak tawadhu' ini hampir sama ruhnya dengan tidak sombong. Mukmin senantiasa berjalan dengan tawadhu', ia tidak sombong dan sentiasa merendahkan hati di hadapan orang lain. la bukan rendah diri karena rendah diri adalah bukan akhlak Islam walaupun ini banyak berlaku di kalangan Islam sebagai hasil dari penjajahan. Rendah hati yaitu berkata tidak tinggi, tidak membanggakan diri dan juga tidak merendahkan orang lain. Bahkan Allah SWT menyuruh kita untuk merendahkan diri kepada pengikutnya dan tentunya juga kepada manusia secara umumnya

Dalil

Q. 8:45-47. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (or­ang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

Q. 26:215. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-or­ang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.

G. Adamul Riya (Tidak Riya) - Al Ikhlas (Ikhlas)

Riya adalah penyakit hati tersembunyi yang sangat berbahaya. Dengan riya ini kekuatan menjadi berkurang dan Allah melepaskan diri dari kita, karena perbuatan maksiat (riya) tersebut. Contoh di dalam Al Quran menceritakan kegagalan dari mereka yang riya karena mereka sombong, menunjuk-nunjuk kehebatannya di depan orang. Perbuatan yang diiringi dengan riya menjadikan amalan tersebut tidak dinilai oleh Alllah SWT Riya ini sukar dibedakan karena berhimpitan dengan ikhlas, perbedaan di antara keduanya sangatlah tipis. Susahnya memisahkan antara riya dan ikhlas dan terkadang muncul kesalahan niat pada diri kita di dalam melaksanakannya, sehingga aktivitas ini mesti diiringi dengan memperbanyak istighfar. Dengan tidak riya maka jundullah akan selalu mendapat dukungan Allah SWT.

Ikhlas lawan dari riya, Allah SWT menyuruh kita untuk beribadah secara ikhlas yaitu beribadah karena Allah saja. Aktivitas di dalam Islam harus didasari niat ikhlas. Ikhlas dapat memberikan dukungan yang kuat kepada ama yang dilaksanakan karena Allah. Dengan ikhlas maka dai akan siap menerima semua tantangan yang mungkin ditemuinya, tak hanya dari luar tetapi juga dari dalam. Ikhlaspun dapat menyediakan diri kita menerima segala bentuk keputusan yang akan diterima, baik kejayaan atau kegagalan. Ikhlaspun akan mudah terbukanya hidayah, bagi yang membawa dakwah atau yang menerima dakwah itu sendiri. Ikhlas dengan mensucikan diri serta membuka diri dan menjadikan tujuan aural hanya kepada Allah saja, maka akan menjadikan dakwah ini berhasil.

Dalil

Q. 8:45-47. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (or­ang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

Q. 41:35-36. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaitan menganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Q. 39:11. Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama.

Q. 39:14. Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agamaku".

H. Adamul Sadd (Tidak Menghalangi Dari Jalan Allah) - Al Munasoroh (Membantu)

Pribadi jundullah yang mempunyai akhlak asasiyah dan harakiyah ini juga mempunyai akhlak yang tdak menghalangi dari jalan Allah. Mereka senantiasa taat dan tidak berbantah-bantahan. Mereka jundullah menjadikan dzikir dan kesabaran sebagai suatu benteng yang kuat. Akhlak demikian tentunya tidak akan menghalangi dari jalan Allah.

Dalil

Q. 8:45-47. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (or­ang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

 



Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat