Manhaj Tadabbur Yang Benar dalam Al-Qur'an

Manhaj Tadabbur Al-Qur’an

مَنْهَجُ تَّدَبُّرِ القُرْآنِ الكَرِيمِ

 

مَعْنَى التَّدَبُّرِ

Makna At-Tadabbur (Merenungkan/Menghayati)

  • التَّدَبُّرُ فِي اللُّغَةِ : النَّظَرُ فِي دُبُرِ الْأُمُورِ أَيْ عَوَاقِبِهَا.

At-Tadabbur secara bahasa adalah: Memperhatikan/melihat akhir dari suatu perkara, yaitu akibat atau dampaknya.

  • وَفِي الاصْطِلَاحِ : تَفَهُّمُ مَعَانِي الْقُرْآنِ وَتَأَمُّلُ مَقَاصِدِهِ لِيَحْصُلَ الاِتِّعَاظُ وَيَقَعَ الْعَمَلُ

Dan secara istilah adalah: Memahami makna-makna Al-Qur'an serta merenungkan tujuan-tujuannya, agar diperoleh pelajaran (nasihat) dan terwujud pengamalannya.

مَنْزِلَةُ التَّدَبُّرِ

Kedudukan At-Tadabbur (Merenungkan/Menghayati)

  • الْغَرَضُ الْأَسَاسِيُّ مِنْ إِنْزَالِ الْقُرْآنِ (38:29)

Tujuan utama diturunkannya Al-Qur'an (QS. Sad [38]: 29).

  • مِنْ عَلَامَاتِ سَلَامَةِ الْقَلْبِ (47:24)

Termasuk salah satu tanda keselamatan (kesehatan) hati (QS. Muhammad [47]: 24).

  • مِفْتَاحُ الْعَمَلِ وَالْمُقَدَّمُ عَلَيْهِ (2:121)

Kunci amal perbuatan dan hal yang didahulukan atasnya (QS. Al-Baqarah [2]: 121).

  • قَالَ الشَّوْكَانِيُّ: ((يَتْلُونَهُ)): يَعْمَلُونَ بِمَا فِيهِ، وَلَا يَكُونُ الْعَمَلُ بِهِ إِلَّا بَعْدَ الْعِلْمِ وَالتَّدَبُّرِ.

Ash-Shawkani berkata: "(Maksud dari) ((Membacanya)): adalah mereka mengamalkan apa yang ada di dalamnya, dan tidaklah pengamalan itu terjadi melainkan setelah adanya ilmu dan tadabbur (penghayatan)."

  • دَأْبُ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم وَالسَّلَفِ الصَّالِحِ

Kebiasaan Rasulullah dan para salafus shalih (generasi terdahulu yang saleh).

طَرِيقَةُ فَهْمِ الْقُرْآنِ

Metode Memahami Al-Qur'an

1. Memahami Al-Qur'an dengan Al-Qur'an

فَهْمُ الْقُرْآنِ بِالْقُرْآنِ

Memahami Al-Qur'an dengan Al-Qur'an:

  • (( صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ )) – (( ...مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ )) (4:69) – (( ...مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ... )) (19:58).

"((Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka))" ditafsirkan oleh: "((...yaitu dari kalangan para nabi, para pencinta kebenaran (shiddiqin), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh))" (QS. An-Nisa [4]: 69) dan "((...yaitu dari para nabi dari keturunan Adam...))" (QS. Maryam [19]: 58).

  • (( فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ )) (2:37) – (( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا... )) (7:23).

"((Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya))" (QS. Al-Baqarah [2]: 37) ditafsirkan oleh kalimat: "((Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri..."))" (QS. Al-A'raf [7]: 23).

2. Memahami Al-Qur'an dengan As-Sunnah

فَهْمُ الْقُرْآنِ بِالسُّنَّةِ (16:44)

Memahami Al-Qur'an dengan As-Sunnah (QS. An-Nahl [16]: 44):

  • (( الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ )) (6:82) أَيْ بِشِرْكٍ، قَالَ الرَّسُولُ صلى الله عليه وسلم: (( أَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ "يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ" (31: 13) )) (رواه البخاري ومسلم).

"((Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman))" (QS. Al-An'am [6]: 82), yaitu dengan kemusyrikan. Rasulullah bersabda: "Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar' (QS. Luqman [31]: 13)?" (HR. Bukhari dan Muslim).

  • (( كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ )) (21:104) – قَالَ الرَّسُولُ صلى الله عليه وسلم: ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ إِلَى اللَّهِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا)) (رواه البخاري).

"((Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya))" (QS. Al-Anbiya [21]: 104) – Rasulullah bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan menghadap Allah dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, dan belum dikhitan." (HR. Bukhari).

3. Memahami Al-Qur'an dengan Perkataan Para Sahabat

فَهْمُ الْقُرْآنِ بِأَقْوَالِ الصَّحَابَةِ :

Memahami Al-Qur'an dengan perkataan para Sahabat:

  • (( وَكَأْسًا دِهَاقًا )) (78:34) – قَالَ عِكْرِمَةُ: مَلْأَى مُتَتَابِعَةً. قَالَ: وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ: أَسْقِنَا كَأْسًا دِهَاقًا. (رواه البخاري).

"((Dan gelas-gelas yang penuh (dihaqa)))" (QS. An-Naba [78]: 34) – Ikrimah berkata: (Maksudnya) penuh dan terus-menerus. Ia berkata: Dan Ibn Abbas berkata: Aku mendengar ayahku berkata pada masa Jahiliyah: "Tuangkanlah untuk kami gelas yang penuh (dihaqa)." (HR. Bukhari).

  • (( ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ )) (41:34) – قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: "الصَّبْرُ عِنْدَ الْغَضَبِ، وَالْعَفْوُ عِنْدَ الْإِسَاءَةِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ عَصَمَهُمُ اللَّهُ وَخَضَعَ لَهُمْ عَدُوُّهُمْ" (رواه البخاري).

"((Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik))" (QS. Fussilat [41]: 34) – Ibn Abbas berkata: "Sabar ketika marah dan memaafkan ketika diperlakukan buruk. Jika mereka melakukannya, Allah akan melindungi mereka dan musuh mereka akan tunduk kepada mereka." (HR. Bukhari).

4. Memahami Al-Qur'an dengan Perkataan Para Tabi'in

فَهْمُ الْقُرْآنِ بِأَقْوَالِ التَّابِعِينَ :

Memahami Al-Qur'an dengan perkataan para Tabi'in:

  • (( وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ )) (89:3) – قَالَ مُجَاهِدٌ: "كُلُّ شَيْءٍ خَلَقَهُ فَهُوَ شَفْعٌ. وَالْوَتْرُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى." (رواه البخاري)

"((Dan demi yang genap dan yang ganjil))" (QS. Al-Fajr [89]: 3) – Mujahid berkata: "Segala sesuatu yang diciptakan-Nya adalah genap (berpasangan), sedangkan yang ganjil adalah Allah Tabaraka wa Ta'ala." (HR. Bukhari).

5. Memahami Al-Qur'an dengan Bahasa Arab

فَهْمُ الْقُرْآنِ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ :

Memahami Al-Qur'an dengan Bahasa Arab:

  • (( فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ )) (35:1) : عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: "كُنْتُ لَا أَدْرِي مَا فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى أَتَانِي أَعْرَابِيَّانِ يَخْتَصِمَانِ فِي بِئْرٍ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: أَنَا فَطَرْتُهَا أَيْ بَدَأْتُهَا." (ابن كثير).

"((Pencipta (Fatir) langit dan bumi))" (QS. Fatir [35]: 1) – Dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Dahulu aku tidak mengetahui apa arti 'Fatir as-samawati wal-ardh' sampai datang kepadaku dua orang Arab Badui yang berselisih tentang kepemilikan sebuah sumur. Salah seorang dari mereka berkata kepada temannya: 'Akulah yang fatartuha', yakni akulah yang mengawalinya/membuatnya pertama kali." (Tafsir Ibn Katsir).

مَا يُعِينُ عَلَى التَّدَبُّرِ

Hal-Hal yang Membantu untuk Melakukan Tadabbur (Merenungkan/Menghayati)

مُرَاعَاةُ آدَابِ التِّلَاوَةِ

Memperhatikan adab-adab dalam membaca Al-Qur'an.

الشُُُُّعُورُ بِأَنَّ الْقُرْآنَ يُخَاطِبُهُ

Merasakan bahwa Al-Qur'an sedang berbicara/ditujukan kepadanya.

التِّلَاوَةُ بِتَأَنٍّ وَخُشُوعٍ، وَأَلَّا يَكُونَ هَمُّهُ نِهَايَةَ السُّورَةِ

Membaca dengan perlahan (perlahan-lahan) dan khusyuk, serta tidak menjadikan fokus/tujuannya hanya untuk sekadar menyelesaikan akhir surah.

الْوُقُوفُ أَمَامَ الْآيَةِ الَّتِي يَقْرَؤُهَا وَقْفَةً مُتَأَنِّيَةً فَاحِصَةً مُكَرَّرَةً

Berhenti sejenak di depan ayat yang dibaca dengan jeda yang tenang, penuh kecermatan, dan diulang-ulang.

النَّظْرَةُ التَّفْصِيلِيَّةُ فِي سِيَاقِ الْآيَةِ (تَرْكِيبُهَا - مَعْنَاهَا - نُزُولُهَا - غَرِيبُهَا - دَلَالَاتُهَا)

Pandangan secara terperinci terhadap konteks ayat (struktur kalimatnya, maknanya, sebab turunnya, kata-kata asing/sukarnya, serta petunjuk-petunjuk maknanya).

مُلَاحَظَةُ الْبُعْدِ الْوَاقِعِيِّ لِلْآيَةِ

Memperhatikan dimensi realitas (kehidupan nyata) dari ayat tersebut.

الْعَوْدَةُ إِلَى فَهْمِ السَّلَفِ لِلْآيَةِ وَتَدَبُُُُّرهِمْ لَهَا وَتَعَامُلِهِمْ مَعَهَا

Kembali kepada pemahaman generasi Salaf terhadap ayat tersebut, penafsiran/penghayatan mereka dengannya, serta interaksi mereka terhadapnya.

الِاطِّلَاعُ عَلَى آرَاءِ بَعْضِ الْمُفَسِّرِينَ فِي الْآيَةِ

Mempelajari/melihat pendapat sebagian mufasir (ahli tafsir) mengenai ayat tersebut.

النَّظْرَةُ الْكُلِّيَّةُ الشَّامِلَةُ لِلْقُرْآنِ

Pandangan yang menyeluruh dan komprehensif terhadap Al-Qur'an.

الِالْتِفَاتُ لِلْأَهْدَافِ الْأَسَاسِيَّةِ لِلْقُرْآنِ

Memperhatikan tujuan-tujuan utama dari Al-Qur'an.

الثِّقَةُ الْمُطْلَقَةُ بِالنَّصِّ الْقُرْآنِيِّ وَإِخْضَاعُ الْوَاقِعِ الْمُخَالِفِ لَهُ

Kepercayaan mutlak terhadap teks Al-Qur'an dan menundukkan realitas yang menyimpang agar tunduk kepadanya.

مُعَايَشَةُ إِيحَاءَاتِ النَّصِّ وَظِلَالِهِ وَلَطَائِفِهِ

Menghayati isyarat-isyarat teks, naungan maknanya, serta kelembutan/keindahan rahasianya.

الِاسْتِعَانَةُ بِالْمَعَارِفِ وَالثَّقَافَاتِ الْحَدِيثَةِ

Memanfaatkan pengetahuan dan wawasan keilmuan modern.

الْعَوْدَةُ الْمُتَجَدِّدَةُ لِلْآيَاتِ، وَعَدَمُ الِاقْتِصَارِ عَلَى التَّدَبُّرِ مَرَّةً وَاحِدَةً

Kembali merenungkan ayat-ayat secara berulang/terus-menerus, dan tidak membatasi tadabbur hanya satu kali saja.

مُلَاحَظَةُ الشَّخْصِيَّةِ الْمُسْتَقِلَّةِ لِلْسُّورَةِ

Memperhatikan karakter/karakteristik independen dari setiap surah.

التَّمَكُّنُ مِنْ أَسَاسِيَّاتِ عُلُومِ التَّفْسِيرِ

Menguasai dasar-dasar ilmu tafsir.

الْقِرَاءَةُ فِي الْكُتُبِ الْمُتَخَصِّصَةِ فِي هَذَا الْمَوْضُوعِ مِثْلُ كِتَابِ: (الْقَوَاعِدُ الْحِسَانُ لِتَفْسِيرِ الْقُرْآنِ) لِلسَّعْدِيِّ، وَكِتَابِ (مَفَاتِيحُ لِلتَّعَامُلِ مَعَ الْقُرْآنِ) وَكِتَابِ (قَوَاعِدُ التَّدَبُّرِ الْأَمْثَلِ لِكِتَابِ اللهِ - عَزَّ وَجَلَّ) لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ حَبَنَّكَةَ الْمَيْدَانِيِّ، وَكِتَابِ (دِرَاسَاتٌ قُرْآنِيَّةٌ) لِمُحَمَّدٍ قُطْبٍ

Membaca buku-buku khusus dalam tema ini, seperti buku: (Al-Qawa'id Al-Hisan li Tafsir Al-Qur'an) karya As-Sa'di, buku (Mafatih lit-Ta'amul ma'al Qur'an), buku (Qawa'id At-Tadabbur Al-Amtsal li Kitabillahi 'Azza wa Jalla) karya 'Abdurrahman Habannakah Al-Maidani, serta buku (Dirasat Qur'aniyyah) karya Muhammad Qutb.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat