Rabbaniyah dan Materialisme (Bab XIII Buku Fiqh Dakwah Musthafa Masyhur)
Pengantar
Oleh
: Muhammad Abdullah Al Khatib
Segala
puji bagi Allah Penguasa semesta alam, shalawat serta salam tetap terlimpahkan
kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Kecintaan
pada dunia yang melalaikan akhirat dan kenikmatannya yang abadi termasuk
penyakit berbahaya yang bisa menggerogoti tubuh suatu masyarakat, baik di masa
dulu maupun sekarang. Tidak satupun masyarakat yang didominasi oleh kecintaan
terhadap dunia kecuali akibat akhirnya adalah kehancuran
Kelemahan
dan perpecahan yang diderita kaum muslimin sekarang ini, serta ambisi yang
diderita kaum muslimin sekarang ini serta ambisi para musuh yang ingin
menguasai wilayah, tempat-tempat suci dan sumber daya alam mereka, tidak lain
merupakan konsekuensi yang pasti dari kecenderungan dan keterikatan mereka
kepada dunia sehingga melalaikan akhirat.
Pada
hari ini kaum muslimin sedang dilanda perpecahan di kalangan para pemimpinnya
dan keserakahan untuk memuaskan nafsu syahwat. Semua orang sangat berambisi
meraih dunia yang hina dan berlari di belakang semua keperluannya tanpa
melibatkan akal dan ketaqwaannya. Padahal Rasulullah SAW Telah bersabda:
“Celakalah
orang yang menjadi budak dinar, celakalah orang yang menjadi budak dirham”.
Akibatnya mereka mengalami kekalahan sebagaimana pendahulu mereka, di Andalus,
di masa-masa Mongol, Tartar dan perang salib.
Rasulullah
saw. Telah mengingatkan kita agar selalu waspada dari ketergantungan kepada
gemerlapnya dunia. Beliau menyerukan kita untuk mencintai akhirat, dan
menjelaskan kepada kita bahwa dunia adalah tempat berteduh yang sementara
(fana) dan tidak akan pernah langgeng.
Siapa
saja yang terbiasa hidup dengan bergelimang kenikmatan, kesenangan dan
kemewahan, tidak akan pernah sanggup menghadapi beban-beban kehidupan dan
kesulitan-kesulitannya atau berjuang sebagai mujahid di jalan Allah. Kehidupan
yang bersahaja selalu menjadi karakteristik utama para pejuang yang akan
meninggikan martabat bangsanya. Sungguh indah kalimat yang dikatakan oleh
Syahid Hasan Al-Banna:
”Sesungguhnya
suatu bangsa apabila hidup dalam kenikmatan, terbiasa berhura-hura, tenggelam
dalam pengagungan materi, terfitnah oleh gemerlap kehidupan dunia, melalaikan
keharusan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan, menanggulangi berbagai bahaya
dan berjuang di jalan kebenaran, maka katakanlah ’selamat jalan’ kepada
kemuliaan dan harapan-harapannya”.
Pada
kesempatan lain beliau juga mengatakan: ”Wahai ikhwan, sesungguhnya suatu
bangsa yang pandai menciptakan kematian dan mengetahui bagaimana mereka harus
mati secara terhormat, Allah akan menganugerahkan kepada mereka kehidupan yang
mulia di dunia dan kenikmatan di akhirat. Sedang kelemahan yang menghinakan
suatu bangsa tidak lain adlah kaena kecintaan mereka kepada dunia dan takut
kepada kematian. Maka persiapkanlah diri kalian untuk kerja besar dan
bersungguh-sungguhlah dalam meraih kematian. Dengan begitulah kalian akan
dianugerahi kehidupan.”
Seakan
imam syahid ingin mengisyaratkan kepada suatu hadits Rasulullah saw: ”Mungkin
pada suatu masa kalian akan dikeroyok oleh bangsa-bangsa sebagaimana makanan di
meja hidangan yang dikeroyok ramai-ramai oleh jago-jago makan. ”Salah seorang
ada yang bertaya: ”Apakah karena jumlah kita sedikit pada waktu itu?” Beliau
menjawab: ”Tidak, bahkan kamu pada masa itu jumlahnya sangat banyak, tetapi
kalian ibarat buih yang terapung. Dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut
terhadap diri kalian dari dada musuh0musuh kalian serta Allah akan melemparkan
dalam hatimu wahn (kelemahan) ada yang bertanya: ”Wahai Rasulullah. Apa yang
dimaksud wahn itu?” ’Beliau menjawab:”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu
Daud)
Seorang
muslim hendaknya mengetahui bahwa bencana zaman ini berupa ketertarikan dan
penghambaan diri kepada dunia dengan penuh keserakahan ingá berlebih-lebihan
merupakan penyakit yang tidak patut bagi seorang yang beriman lepada akhirat
dan hatinya bergantung kepada Allah.
Seorang
muslim hendaknya mengetahui bahwa ia pencari akhirat, bukan pencari dunia
maupun syahwat. Sedang pencari akhirat hendaknya bersikap zuhud dari apa saja
selain yang dicarinya, hanya mencintai apa yang menjadi konsentrasi
pencariannya, mengetahui jalan yang menhantarkannya kepada tujuan dan
jalan-jalan lain yang menyimpangkannya dari tujuan.
Ia
terus maju dengan penuh semangat dan keteguhan sikap, tidak akan dibelokkan
dari pencariannya oleh celaan orang yang mencela ataupun cercaan orang yang
mencerca. Semboyannya adaalah sabar dan hiburannya adalah kepenatannya (Al
Fawa’id, Ibnul Qayyim dinukil dari ar-Raqa’iq hal 53)
Pencari
akhirat yang benar dalam pencariannya, setiap kali ada sesuatu dari dirinya
yang hancur, akan menjadikannya sebagai pemakmur hati dan ruhaninya. Setiap
kali ada sesuatu yang berkurang dari dunianya, Akan menjadikannya sebagai
tambahan bagi akhiratnya. Setiap kali ada sesuatu yang terhalang dari
kenikmatan dunianya, ia menjadikannya sebagai kenikmatan di akhiratnya. Dan
setiap kali mengalami kesedihan, kesusahan, dan kegundahan, ia menjadikan semua
itu sebagai sumber-sumber kebahagiaannya di akhirat. (Al Fawa’id, Ibnul Qoyyim
dinukil dari ar-Raqa’iq, hal 62)
Inilah
yang kami serikan kepada seluruh kaum muslimin di barat dan tumur. Hendaklah
mereka segera menuju bahtera Rabbaniyah, karena di dalamnya terdapat
keselamatan dari kesengsaraan dan krisis akibat peradaban materialis. Maka
adakah orang yang akan menyambut seruan ini?
Dan
risalah ini menyeru setiap muslim untuk memahami permasalahannya dan memikirkan
dominasi materi dan hegemoninya terhadap akal dan hati manusia. Penulis (Syaikh
Musthafa Masyhur, -red) seorang da’i yang sudah sangat berpengalaman yang hidup
untuk dakwahnya dan perjuangan-perjuangannya demi untuk mensukseskannya.
Sudah
sepatutnya bila risalah seperti ini dibaca dari awal sampai akhir, dikaji
seluruh arahan berharga yang terkandung di dalamnya, serta mengaplikasikannya
dalam kehidupan dan setiap tindakannya.
Risalah
yang ditulis oleh pejuang gerakan islam merupakan terapi terbaik bagi kaum
muda, karena mereka memiliki pemahaman yang murni dan benar yang dihimpun dari
peristiwa-peristiwa nyata dan kendala-kendala konkrit yang mereka alami secara
langsung dalam berbagai kondisi yang meliputi dakwah. Sehingga setiap kalimat
di dalamnya tak ubahnya sebagai balsem dan bekal di jalan dakwah.
Kami
berdo’a kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa
mengambil manfaat dari bekal ini dan menjadikan kita sebagai para penebar
petunjuk yang senantiasa mendapatkan bimbingan, sesungguhnya Dia itu Maha
Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan.
Al
Hamdu lillahi Rabbil ’alamin.
KITA
HARUS MEMAHAMI PERSOALAN
Materialisme
telah mendominasi kehidupan masyarakat kita pada saat Rabbaniyah mengalami
kemerosotan yang cukup parah. Hal ini sebagai akibat buruk dari gelombang
kebudayaan materialistis yang sedang membuncah serta peradaban hedonis dan
syahwat yang telah menyerang negara-negara kita seiring dengan penjajahan
terhadap negara-negara kita yang dilakukan oleh pasukan-pasukan perang musuh.
Kekelaman
materi dalam kehidupan kita telah mengalahkan cahaya kebenaran dan ketinggian
ruhani. Parameter dan tata nilai materialis telah menggeser parameter
Rabbaniyah. Dunia dengan berbagai kenikmatannya yang tidak berarti dan fana ini
telah menarik perhatian umat manusia sehingga menjadi antusiasme terbesar dan
puncak pengetahuannya yang abadi serta melalaikannya dari kehidupan akhirat dan
kenikmatannya yang abadi. Moral sebagian besar umat manusia telah bobrok
sehingga semakin mendekati sifat kebinatangan daripada sifat kemanusiaan,
akibatnya sifat egois menggeser sifat itsar, pertentangan dan konflik
menggeser kecintaan dan kasih sayang.
Berbagai
tindak kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, pemerkosaan dan tindak
kejahatan lain dengan berbagai bentuk yang aneh dan nyeleneh semakin
merajalela, yang menunjukkan bahwa para pelaku tindak kejahatan ini tidak
memiliki sedikitpun hati nurani atau rasa takut kepada Allah. Kehampaan jiwa
dan kosongnya dari aspek agama ini telah menyebabkan tersebarnya obat-obat
terlarang dan minuman keras sehingga hal ini menjadi bahaya terbesar yang
paling mematikan bagi umat dan para pemuda kita.
Kelalaian
yang sangat parah dan memprihatinkan telah melanda semua anggota masyarakat
kita. Mereka telah melalaikan hakikat bahwa di sana ada Tuhan yang telah
menciptakan mereka dan mengawasi semua gerak-gerik mereka. Lalai untuk
mengingat dan mentaati-Nya. Lalai terhadap berbagai anugerah dan nikmat-Nya
yang diberikan kepada mereka. Lalai terhadap rahasia keberadaan dan misi mereka
dalam kehidupan, sebagaimana mereka lalai terhadap masa depan yang pasti akan
mereka tuju. Dan lalai terhadap perhitungan dan pembalasan amal yang akan
mereka alami.
Kita
melihat banyak di antara mereka seakan akal mereka telah terbengkalai, mata
mereka seakan buta dan telinga mereka seakan tuli sehingga mereka menjadi
seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat. Inilah kenyataan yang kita
lihat dan rasakan di masyarakat kita sebagai akibat rencana jahat yang telah
dirancang oleh musuh-musuh Islam terhadap umat kita, dengan tujuan mencabut
Islam dari hati dan kehidupan kita setelah mereka gagal dalam semua upaya
mereka untuk menelanjangi kemurnian yang tulus, ibadah yang benar dan akhlaq
yang luhur, dan menyiapkan suasana yang kondusif untuk pemuasan nafsu syahwat,
pembebaran berbagai kerusakan, kebobrokan, mabuk-mabukan, perjudian, perzinaan
dan berbagai bentuk perusakan serta penghancuran terhadap individu, keluarga
dan masyarakat.
Lalu
apa yang harus kita lakukan setelah itu? Tidakkah sudah tiba saatnya bila para
pemikir dan ilmuwan yang tulus dari umat ini bangkit bersama kami untuk
menguasai keadaan dan menyelamatkan umat kita dari keterjerumusan ke dalam
jurang kebinasaan? Semua ini adalah tanggung jawab dan amanat yang apabila kita
terlepas diri dari semua ini adalah tindak kejahatan dan pengkhianatan. Kita
tidak memungkiri bahwa di sana ada orang yang berpikir untuk melakukan
perbaikan, tetapi banyak di antara mereka yang salah jalan dan melupakan
penyakit inti sehingga tidak pernah bisa menemukan terapi yang mujarab. Seakan
mereka telah melupakan sunatullah pada makhluk-Nya bahwa perubahan itu harus
lebih dulu diawali dari jiwa.
"Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)
Jiwa
manusia telah beralih dari sifat Rabbaniyah dan ketinggian ruhiyah menuju sifat
materialis dan keterpurukan dalam sifat kebinatangan sehingga akibatnya adalah
seperti keadaan yang telah kami gambarkan. Jadi terapinya harus dimulai dari
jiwa manusia dengan menempatkan sifat Rabbaniyah pada posisi yang selayaknya
dalam jiwa kita dan meminimalkan gejolak dan dominasi materi. Selain itu adalah
dengan meyakini bahwa Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi telah menciptakan
kita dan Maha Mengetahui segala sesuatu tentang kita, sehingga Dia meridhai
Islam sebagai agama kita yang akan merealisasikan keseimbangan yang tepat
antara Rabbaniyah dan materialisme dalam hidup kita, antara tuntutan-tuntutan
jasad dan ruh, dan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
Terapinya
Adalah Kembali pada Agama
Wahai
umat manusia, bersegeralah kalian menuju terapi yang mujarab dan obat yang
paling manjur untuk semua penyakit, menuju agama Allah sekali lagi dan menuju
Kitab Allah serta Sunah Rasul-Nya. Karena persoalan umat ini tidak akan pernah
terbenahi kecuali dengan apa saja yang telah menjadi sumber kebaikan generasi
pertamanya. Allah berfirman,
"Dan
Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman." (Al-Isra': 82)
Dan
Rasul saw. telah bersabda,
"Aku
tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan pernah tersesat
selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunah
Nabi-Nya." (Hakim dalam Al-Mustadrak, 2/899, Kitabul Qadar)
Kita
ingin agar Rabbaniyah menempati kembali posisi dan tempat yang selayaknya dalam
jiwa kita, sehingga kita bisa mengerdilkan eksistensi materi dan membebaskan
diri dari tali kekangnya serta membersihkan diri dari endapan-endapan dan
sisa-sisa. Ini adalah awal yang benar untuk sebuah upaya perubahan dan
perekonstruksian masyarakat serta tanah air kita di atas fondasi yang sehat dan
kuat.
Keterkaitan
antara Materialisme dan Rabbaniyah
Barangkali
bermanfaat bila kita mengupas bersama masalah keterkaitan antara Rabbaniyah dan
materialisme secara mendalam dan rinci, agar kita memiliki pemahaman yang luas
di saat kita membicarakan perubahan mendasar dalam jiwa kita, kemudian
masyarakat dan tanah air kita.
Allah
telah menciptakan bapak kita Adam as. dari tanah kemudian meniupkan ruh
kepadanya, jadi materialisme dicerminkan oleh unsur tanah sedang sisi ruhiyah
atau Rabbaniyah dicerminkan oleh tiupan dari ruh Allah tersebut. Jadi
materialisme akan menarik manusia untuk turun ke bumi sebagai unsur asli tanah.
Sedang Rabbaniyah akan mengangkat manusia untuk membubung menuju Sang Pencipta
yang telah meniupkan ruh kepadanya. Begitulah manusia hidup antara dua kekuatan
yang saling-tarik menarik, antara tuntutan-tuntutan jasad dan syahwat dengan
tuntutan-tuntutan ruh dan ketinggiannya.
Allah
berfirman,
"Demi
jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Asy-Syams:
7-10)
"Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami
hendak menguji nya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia
mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan yang lurus;
ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur." (Al-Insan: 2-3)
Inilah
wilayah ujian dan cobaan, kehendak dan pilihan, serta wilayah kesungguhan,
pahala dan siksa. Allah berfirman,
"Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Al-Mulk:
2)
"Sesungguhnya
Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi:
7)
Allah
telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab suci untuk membimbing
manusia menuju ketinggian ruhani, sedang setan selalu berusaha untuk
menyesatkannya agar jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya.
Meskipun
manusia keluar dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, tetapi
Allah telah menjadikan untuknya akal, pendengaran dan penglihatan sebagai
sarana pengetahuan. Ia bisa memandang dan mendengar serta berpikir untuk
mengenal dunia yang menjadi tempat tinggalnya, mengenal rahasia keberadaan,
misi dan perannya di dunia, sebagaimana ia berpikir tentang kehidupan setelah
kehidupan dunia dan apa yang sedang menantinya di sana. Allah berfirman,
"Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur." (An-Nahl: 78)
Allah
tidak menyerahkan kita kepada akal kita saja untuk bisa memahami rahasia alam
ini, rahasia keberadaan kita dan segala hal yang terkait dengan keberadaan ini,
jalan yang harus kita tempuh dalam kehidupan kita. Bahkan Dia mengutus para
Rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk mengenalkan dan membimbing kita menuju
jalan yang lurus dan untuk mengenal kebaikan dari keburukan, yang bermanfaat
dan yang berbahaya, dan yang haq dari yang sesat. Karena akal semata
bisa saja menyesatkan pemiliknya karena ketidakmampuan dan keterbatasan-nya,
maka diperlukan adanya cahaya wahyu yang akan menerangi jalannya. Sebagaimana
mata membutuhkan adanya cahaya untuk bisa melihat sesuatu, begitu juga akal
membutuhkan adanya cahaya wahyu yang akan mengarahkannya. Allah berfirman,
"Hai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada
Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan
menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia
mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Hadid:
28)
"Dan
apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di
tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada
dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya." (Al-An'am:
122)
Materialisme
dan Rabbaniyah Lahir Seiring dengan Kelahiran Manusia
Setiap
bayi yang lahir selalu membawa naluri-naluri badaniah di samping fitrah
keimanan dan penghambaan diri kepada Allah. Begitulah, seiring dengan
kelahirannya, lahir pula materialisme dan Rabbaniyah sehingga perlu diciptakan
adanya keseimbangan yang bijak antara Rabbaniyah dan materialisme dalam
kehidupan manusia. Dominasi salah satunya terhadap yang lain akan menyebabkan
kesengsaraan dan kebingungan bagi manusia. Dan tidak akan ada yang sanggup
menentukan keseimbangan yang bijak ini kecuali Sang Pencipta manusia itu
sendiri, yang mengetahui ciptaan-Nya dengan pasti, dan mengetahui apa yang
bermanfaat dan yang berbahaya baginya, serta apa yang bisa memperbaikinya dan
merusaknya. Allah berfirman,
"Apakah
Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan
rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (Al-Mulk: 14)
Dalam
ayat ini Allah menggabungkan antara pengetahuan-Nya yang meliputi semua urusan
manusia dengan sifat-Nya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadap
manusia, mencintai kebaikan untuknya sehingga hal itu mengharuskan-Nya untuk
mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab sebagai petunjuk dan cahaya yang
menerangi bagi umat manusia. Allah berfirman,
"Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu,
(Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang
terang benderang (Al Qur'an)." (An-Nisa': 174)
Apabila
manusia berpaling dari cahaya wahyu yang menerangi mereka menuju jalan yang
lurus dan hanya mengandalkan akal, niscaya mereka akan sesat jalan,
materialisme akan mendominasi kehidupan mereka, Rabbaniyah akan luntur atau
hilang dari jiwa mereka, setan menjadi leluasa untuk menyesatkan dan
menyimpangkan mereka, berbagai bentuk kesesatan akan muncul seperti
pengingkaran terhadap wujud Allah, penyembahan selain Allah seperti batu,
pohon, matahari, bintang, sapi atau makhluk yang lainnya, yang sama sekali
tidak memberikan madharat dan manfaat, sebagaimana kita juga mendapati ada
orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai tuhan dan kita dapati juga
orang-orang yang membenarkan dakwaannya itu serta menyembahnya sebagai tuhan
selain Allah, serta berbagai bentuk kesesatan dan penyimpangan yang lainnya,
sehingga Allah perlu mengutus para Rasul kepada mereka dan menurunkan
kitab-kitab suci untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran menuju
cahaya iman.
Jadi
orang yang bahagia adalah orang yang bisa memanfaatkan cahaya petunjuk,
berjalan di jalan yang lurus, berjuang melawan nafsunya dan menundukkannya
sehingga bisa mengikuti semua prinsip, nilai, teladan, moral dan kewajiban yang
dibawa oleh agama ini. Sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijauhkan
dari petunjuk ini dan disesatkan oleh setan dan cecunguk-cecunguknya serta
disimpangkan dari jalan kebenaran. Allah berfirman,
"Barangsiapa
yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu
untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka
sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri." (Al-Isra':
15)
"Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-'Ankabut: 69)
MATERIALISME,
LANGKAH MUNDUR BAGI MANUSIA
Ketika
materialisme telah mengalahkan Rabbaniyah dalam kehidupan manusia dan
menyimpangkan mereka ke berbagai bentuk kesesatan dan kebobrokan, maka engkau
akan melihat orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai tuhan, dan seringkali
ada saja orang-orang yang akan membenarkan dakwaan palsu ini, engkau akan
mendapati orang-orang yang mengingkari wujud Allah atau menyembah selain Allah
seperti batu, pohon, sapi, api, matahari atau makhluk Allah yang lainnya.
Dan
herannya di zaman ilmu pengetahuan, modernisme dan kebebasan ini —sebagaimana
yang mereka katakan— kita masih mendapati Fir'aun-Fir'aun kecil yang suka
meniru-niru Fir'aun pertama dan mengikutinya—sebagaimana mereka meskipun tidak
sampai mendakwahkan diri sebagai tuhan, tetapi kita seringkali melihat mereka
berlaku sombong di muka bumi tanpa hak sedikitpun, memperbudak rakyat dan
menghinakan serta menindas mereka dengan senjata dan kekerasan, penjara dan
penahanan serta penyiksaan dan pembunuhan, bukan karena apa-apa melainkan hanya
karena mereka mengatakan bahwa Tuhan Kami adalah Allah, atau karena mereka
melakukan kritik dan menyalahkan tindakan-tindakannya, sehingga seakan-akan
tindakannya ini mengatakan sebagaimana yang dulu diucapkan oleh Fir'aun kepada
kaumnya,
"Aku
tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada
menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar." (Al-Mukmin: 29)
Sebagaimana
kita mendapati di sekeliling Fir'aun-Fir'aun kecil ini sekelompok orang yang
meniru-niru pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun dalam menghasud Fir'aun untuk
melibas Musa as. dan para pengikutnya,
"Berkatalah
pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu
membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini dan
meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?" Fir'aun menjawab, "Akan kita
bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka
dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." (Al-A'raf: 127)
Mereka
semua lupa bahwa Allah senantiasa mengintai mereka dan melalaikan apa yang
telah dilakukan oleh Allah kepada Fir'aun dan para pasukannya.
Al-Qur'an
telah menceritakan beberapa gambaran tentang orang-orang yang telah
diselewengkan oleh materialisme kepada penyembahan patung-patung, di antaranya
yang paling penting adalah dialog antara Nabi Ibrahim as. dengan kaumnya, serta
antara beliau dengan ayahnya sebagai pemahat patung sehingga ayahnya merasa
terdesak dengan dialog ini, lalu dengan nada mengancam ia mengatakan, "Bencikah
kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim?, Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya
kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama." (Maryam:
46)
Di
zaman ilmu pengetahuan dan kemajuan ini, kita masih mendapati adanya
orang-orang yang menyembah sapi dan mengambil berkah dari kotorannya serta
orang-orang yang menyembah benda-benda lain yang sama sekali tidak bisa
mendatangkan madharat dan manfaat, sebagai akibat dari dominasi materialisme
yang menjerumuskan dan jauhnya mereka dari Rabbaniyah. Dan pernah datang suatu
masa di mana materialisme telah memperbudak sebagian manusia dan syahwat mereka
juga telah menyeret mereka kepada penyimpangan seksual, di mana mereka
berhubungan seksual dengan kaum laki-laki dan meninggalkan kaum perempuan, lalu
Allah mengutus kepada mereka Nabi Luth untuk meluruskan dan mengingatkan mereka
serta melarang mereka dari perbuatan yang tidak senonoh ini. Allah berfirman, "Maka
tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan, "Usirlah Luth beserta
keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang
(mendakwahkan dirinya) bersih." (An-Naml: 56)
Begitulah,
parameter menjadi berbalik. Kesucian menjadi sesuatu yang aneh dan tidak
disukai. Kemungkaran menjadi sesuatu yang baik dan diminati. Sementara kita
pada saat ini juga bisa menyaksikan perbuatan menjijikkan ini muncul dan
tersebar di banyak negara sehingga dewan perwakilan rakyat Inggris secara hukum
mengakui tindakan cabul. Akibat perbuatan menjijikkan ini, mereka sekarang ini
menghadapi berbagai penyakit berbahaya seperti AIDS. Begitulah, kita melihat
pengaruh-pengaruh buruk dan kebudayaan materialistis dan peradaban hedonis dan
syahwati ini.
Di
masa lalu materialisme telah menyimpang dan menjadikan sebagian orang sampai
bertindak kejam kepada orang-orang beriman dengan membakar mereka dalam api,
menyiksa dan membunuh mereka. Sebagaimana hal ini digambarkan oleh Allah dengan
firman-Nya,
"Binasa
dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan) dengan
kayu bakar, ketika mereka duduk disekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa
yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak
menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman
kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 4-8)
Sebagaimana
juga yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. yang dilemparkan ke dalam api, tetapi
Allah melewatinya dan mengeluarkannya dalam keadaan selamat.
Dan
di masa sekarang ini, kita bisa menyaksikan berbagai bentuk penyiksaan yang
rasa sakitnya melebihi penyiksaan dengan dibakar api yang mungkin hanya
berlangsung beberapa saat saja, hingga melayanglah nyawanya dan ia tidak lagi
merasakan sakit fisik. Sedangkan penyiksaan pada masa sekarang ini telah
melibatkan teknologi modern, di mana tidak sampai menewaskan orang yang disiksa
sehingga memperberat siksa dan penderitaan yang dialaminya karena tidak bisa
segera mati.
Materialisme
telah menghantarkan sebagian orang kepada kegilaan terhadap harta, keserakahan
untuk menumpuk-numpuknya, meraihnya dengan segala cara, dan sikap kikir
terhadap kaum fakir dan miskin, di mana Al-Qur'an telah menceritakan kisah
Qarun dan harta kekayaannya serta ucapannya yang masyhur,
"Sesungguhnya
aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (Al-Qashash:
78)
Kemudian
Al-Qur'an menceritakan tentang siksa Allah kepadanya,
"Maka
Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya
suatu golongampun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia
termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya." (Al-Qashash: 81)
Di
zaman sekarang ini, kita melihat banyak orang yang disibukkan oleh kecintaannya
kepada harta, upaya mengumpulkan harta dan dikuasai oleh harta sehingga mereka
melakukan apa saja tanpa peduli halal atau haram, serta tidak menunaikan hak
Allah di dalamnya. Selain itu kita juga menyaksikan banyak negara yang hasil
produksinya melimpah dan melebihi kadar kebutuhannya, sehingga untuk menjaga
kestabilan harga mereka lebih memilih untuk menggelamkannya ke lautan, padahal
ribuan bahkan jutaan penduduk di belahan bumi yang lain sedang mengalami
kelaparan.
Kita
melihat keterpurukan Rabbaniyah di sebagian negara yang didominasi oleh
materialisme, sehingga mendorong pemerintahan mereka untuk menciptakan berbagai
persenjataan canggih untuk melakukan pembunuhan yang sangat mengerikan seperti
bom nuklir yang bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang tanpa bisa membedakan
antara pasukan perang dengan kaum wanita dan anak-anak yang tidak berdosa. Kita
juga melihat tindakan-tindakan pembajakan pesawat, pembantaian warga masyarakat
dan peledakan mobil-mobil serta aksi-aksi lain yang tidak berperikemanusiaan.
Begitu pula penggunaan senjata-senjata kimiawi dan gas-gas beracun.
Sebagaimana
kita juga melihat materialisme telah mendorong banyak dari penguasa diktator
untuk menjerumuskan rakyat mereka ke dalam berbagai peperangan yang meluluh
lantakkan segalanya, hanya untuk melindungi kepentingan para penguasa dan
menjaga tahta kekuasaan mereka serta sama sekali bukan untuk kemaslahatan tanah
air mereka.
Dunia
sekarang ini sedang menghadapi perang obat-obat terlarang dan bubuk-bubuk putih
yang beracun yang sangat menghancurkan bangsa-bangsa, individu-individu dan
keluarga-keluarga, yang didalangi oleh oknum-oknum dan
pemerintahan-pemerintahan yang sudah kehilangan sama sekali sisa-sisa
Rabbaniyah dalam hati mereka, dan sepenuhnya mereka dunia dikuasai oleh hawa
nafsu, kecintaan kepada harta dan kenikmatan dunia sehingga menjadikan negara
dan rakyat sebagai taruhannya.
Kemunduran
Rabbaniyah dalam jiwa juga mengakibatkan kerancuan intelektual dan ideologi,
sehingga kita menyaksikan dan mendengar perkumpulan-perkumpulan yang beragam di
dasarkan pada prinsip-prinsip ideologi dan keyakinan yang sangat naif dan aneh,
di mana hal ini menunjukkan kebingungan, kerancuan dan kegelisahan. Kiranya
Maha Benar Allah yang telah berfirman,
"Barangsiapa
yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki
Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit,
seolah-olah ia sedang mendaki ke langit." (Al-An'am: 125)
"Barang
siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh
dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang
jauh." (Al-Hajj: 31)
Penyambaran
oleh burung ini menunjukkan kebingungan dan kecerdasan sedangkan jatuh ke
tempat yang jauh menunjukkan keterpencilan dan kesesatan.
Kita
juga melihat di antara akibat dari jauhnya manusia dari Rabbaniyah dan
keterpurukan mereka dalam materialisme adalah tersebarnya penyakit-penyakit
jiwa, banyaknya orang yang mati bunuh diri dan melakukan berbagai tindak
kejahatan yang aneh-aneh seperti seseorang yang membunuh sebagian dari anaknya
atau istrinya sendiri, ibu membunuh anak-anaknya sendiri, serta berbagai
kejahatan korupsi, pencurian, pemerkosaan serta kejahatan yang lainnya.
Kita
telah melihat dari pemaparan sebelumnya beberapa gambaran yang beruntun tentang
dominasi materialisme di masa lalu dan perbandingan dengan di masa kini yang
sering kali lebih kejam disebabkan adanya sarana-sarana ilmu dan teknologi.
Sebagaimana kita lihat juga bagaimana terjadinya kegoncangan dalam kehidupan
manusia disebabkan itu semua, dan bagaimana upaya pengentasan dari semua itu
ternyata tidak lain adalah dengan mengikut ajaran-ajaran Allah yang dibawa oleh
para Rasul yang diutus dan kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, di mana
ajaran-ajaran ini telah memberikan keseimbangan yang bijak antara Rabbaniyah
dan materialisme, antara tuntutan jasad dan tuntutan ruhani, serta antara dunia
dan akhirat. Kita melihat bahwa jauhnya manusia dari ajaran-ajaran ini,
kelalaian dan penentangan mereka terhadapnya akan menyebabkan kesengsaraan dan
kehidupan yang sempit. Maha Benar Allah yang telah berfirman,
"Maka
jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti
petunjuk-ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa
berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang
sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
Berkatalah ia, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan
buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?' Allah berfirman,
'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan
begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." (Tha ha: 123-126)
Bagi
orang yang meninggalkan Rabbaniyah dan cenderung kepada materialisme serta
condong ke bumi dan nafsu syahwatnya, Allah telah memberikan perumpamaan dengan
firman-Nya,
"Dan
bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya
ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri
dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka
jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki,
niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung
kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya
seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka)
kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka
berbuat dzalim."* (Al-A'raf: 175-177)
Alangkah
butuhnya umat manusia sekarang ini kepada upaya penyelamatan dari gelapnya
kesesatan menuju cahaya petunjuk dan upaya pertolongan untuk menuntun tangan
manusia dari ketertarikan dan kecenderungan kepada dunia menuju ketinggian dan
keluhuran ruhani.
Kami
mengajak para pengusung pelita cahaya dan petunjuk, agar mereka menunaikan
kewajiban memberikan bimbingan menuju jalan kebenaran, petunjuk dan cahaya
Tuhan. Kami mengajak siapa saja yang di tangannya tergenggam sebotol obat, yang
komitmen dengan Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya, agar bersegera memberikan obat
itu kepada para penderita penyakit hati sehingga umat manusia bisa terbebas
dari penyakit-penyakit materialisme yang menjijikkan dan bisa merasakan
kebahagiaan dengan agama yang haq dan diridhai oleh Allah untuk para hamba-Nya.
SEKILAS
SEJARAH MATERIALISME DAN DAMPAK NEGATIFNYA
Sesungguhnya
Allah Ta'ala Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada umat manusia dan
menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat bagi mereka. Setiap kali materialisme
telah mengalahkan Rabbaniyah pada sebuah kaum sehingga mereka mengalami
keterpurukan, maka Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul yang membawa
agama-ajaran Rabbaniyah untuk mengembalikan mereka kepada kebenaran dan
keseimbangan, dan menuntun tangan mereka menuju jalan yang lurus dan benar
sekali lagi. Setiap Rasul ini datang kepada kaumnya dengan membawa mukjizat
inderawi agar mereka mengimani risalahnya dan membenarkan dakwahnya menuju
ajaran-ajaran Rabbaniyah yang akan membenahi perjalanan hidup mereka. Oleh
karena itu risalah setiap Rasul khusus untuk kaum yang sezaman dengannya dan
menyaksikan mukjizat inderawinya itu.
Dan
karena dalam ilmu Allah yang azali telah ditetapkan bahwa umat manusia kelak
akan bisa merealisasikan penemuan-penemuan ilmiah yang akan memudahkan
komunikasi dan interaksi antar mereka sehingga umat manusia yang berada di
seluruh penjuru dunia ini seakan berada di sebuah kampung dan mereka semua
menjadi sebuah ladang untuk dakwah, maka Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad
sebagai penutup para Rasul dan Nabi, serta Islam sebagai penutup bagi
agama-agama umat manusia seluruhnya hingga hari kiamat. Dengan begitu
agama-agama sebelumnya berarti sudah terhapuskan sebagaimana ditegaskan oleh
firman-Nya,
"Sesungguhnya
agama di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali-Imran: 19)
"Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama
itu darinya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali
Imran: 85)
Karenanya,
mukjizat Rasul saw. bukanlah mukjizat inderawi, agar bukti kebenarannya tidak
hanya terbatas pada orang-orang yang sezaman dengan Rasul saw. saja, tetapi
oleh Allah mukjizat ini dijadikannya sebagai mukjizat abadi yang tetap akan
kekal hingga akhir zaman, di mana Allah telah berjanji untuk memelihara
mukjizat Al-Qur'an ini dari perubahan dan pemalsuan agar tetap utuh dan
sempurna hingga hari kiamat. Firman-Nya,
"Sesungguhnya
Kami-lah Yang telah menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya." (Al-Hijr: 9)
Dan
sebagai konsekuensi dari kebijaksanaan Allah, Dia telah menjadikan Al-Qur'an
ini berdialog dengan akal dan perasaan agar tetap menjadi hujjah bagi setiap
orang yang berakal di semua masa dan tempat. Sebagaimana yang telah disampaikan
Al-Qur'an ini kepada umat manusia fasilitas. Beliau juga telah menjelaskan dan
memberikan aplikasi praktisnya kepada mereka, di mana dokumen terbaik untuk
semua ini, yang mendapat imbas dari jaminan pemeliharaan Allah terhadap
Al-Qur'an di samping itu Allah juga menghimpun hadits-hadits ini.
Masyarakat
Arab yang hidup sezaman dengan masa kenabian Muhammad saw. berada dalam
kejahiliahan yang bobrok dan penuh dengan berbagai bentuk kerusakan dan
penyimpangan, serta dominannya materialisme terhadap Rabbaniyah. Di mana mereka
menyembah patung-patung berhala ciptaan mereka sendiri, mengubur hidup-hidup
anak perempuan mereka, meminum minuman keras, melakukan perjudian, memakan
riba, menumpahkan darah hanya karena suatu sebab yang sepele sekali pun,
melakukan perzinahan, pencurian dan berbagai kerusakan lain. Dan pada waktu itu
kedhaliman sudah merajalela, perbudakan dan pasar seks sudah dianggap lumrah.
Tetapi
hanya beberapa tahun setelah kenabian Muhammad saw. kondisi buruk itu telah
berbalik, di mana Jazirah Arab menjadi bersih dari kesyirikan dan
berhala-berhala, diwarnai dengan aqidah tauhid dan penyembahan kepada Allah
Yang Maha Esa. Kesesatan dan kekafiran di sana telah berakhir digantikan dengan
dominasi petunjuk dan keimanan, kegelapan telah sirna oleh cahaya yang menebar,
kedaliman bersembunyi dengan merebaknya keadilan sehingga manusia bisa merasa
aman terhadap diri, harta dan kehormatan mereka, perbudakan semakin berkurang
dan hampir habis, kaum wanita menjadi merdeka dan menempati posisi yang
selayaknya, perang antar sesama telah berakhir digantikan oleh cinta dan
keharmonisan.
Demikianlah,
daulah Islamiyah dan umat Islam telah berdiri sebagaimana digambarkan dalam
Al-Qur'an,
"Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (Ali
Imran: 110)
Kemudian
cahaya dan petunjuk ini merebak ke luar Jazirah Arab baik ke arah barat maupun
timur sehingga wilayah daulah Islam menjadi luas dan bisa membangun peradaban
yang luhur dan agung yang menjadi tumpuan kebahagiaan umat manusia. Sebagaimana
juga menegakkan prinsip-prinsip keadilan, keamanan dan perdamaian, sehingga
banyak dari kalangan non-muslim yang lebih senang meninggalkan kampung halaman
mereka untuk hidup di bawah lindungan daulah Islamiyah agar bisa menikmati
keadilan, keamanan dan jaminan sosial yang diberikan kepada setiap warga
negaranya meskipun dari non muslim.
Matahari
Islam Bersinar di Eropa
Peradaban
ini telah memberikan sumbangsih kepada bangsa-bangsa Eropa yang hidup
berdampingan bersama bangsa Arab dan kaum muslimin di Andalus. Peradaban ini
telah memberikan sumbangsih kebangkitan intelektual dan berbagai bidang ilmu
dan pengetahuan yang sangat banyak sehingga muncul di tengah mereka kebangkitan
seni dan keilmuan dalam skala yang amat luas. Tetapi dengan sekuat tenaga yang
dimiliki, gereja mulai menentang fenomena yang dianggap aneh ini, menimpakan
kepada para sastrawan dan ilmuwan berbagai siksa yang amat pedih dan menyiapkan
juga untuk mereka ini dewan inkuisisi.
Namun
semua ini sama sekali tidak mendatangkan manfaat, dan ajaran-ajaran gereja
tidak mampu bertahan menghadapi esensi-esensi ilmu dan penemuan, dan keluarlah
kebangkitan ilmiah sebagai pemenangnya yang disambut gegap gempita oleh negara,
lalu mereka justru bersatu menyergap gereja sampai benar-benar terkapar dan
bisa membebaskan masyarakat Eropa dari kekuasaannya, mereka mengucilkan para
pemimpin agama di gereja-gereja dan biara-biara serta membatasi peran mereka
hanya pada aspek yang sangat sempit dari kehidupan yang sama sekali mereka
tidak boleh keluar dari aspek ini.
Dan
sangat alami sekali bila akhirnya ruh kehidupan merambah Eropa dan berdirilah
peradaban Eropa yang berpijak pada prinsip eliminasi agama dari fenomena
kehidupan masyarakat, terutama dalam urusan negara, pengadilan dan pendidikan.
Kemudian setelah itu dominahlah materialisme yang dijadikan sebagai tolok ukur
dalam segala hal. Akibatnya sebagian dari mereka ada yang mengingkari agama,
mengingkari wujud Allah sebagai reaksi atas dominasi gereja dan para pemimpin
agama, sebagaimana sebagian di antara mereka telah menghapuskan hak-hak milik
pribadi sebagai reaksi dari dominasi kaum feodal yang sewenang-wenang.
Sebagai
konsekuensi dari semua itu, fenomena-fenomena yang tampak dari peradaban ini
adalah fenomena materialistis ansich yang menghancurkan ajaran-ajaran semua
agama langit dan bertentangan secara mendasar dengan prinsip-prinsip yang telah
ditetapkan oleh agama Islam yang hanif, dan sekaligus dijadikan olehnya sebagai
prinsip bagi peradaban Islam yang memadukan antara spiritualisme dengan
materialisme. (Majmu'atu Rasa'il, Baina Amst wal Yaum, 102)
Buah
Busuk Peradaban Eropa
Peradaban
Eropa ini telah diiringi berbagai fenomena di antaranya adalah atheisme dan
keraguan terhadap Allah. (Lihat Majmu'atu Rasa'il, 103) Pengingkaran
terhadap ruh, kealpaan terhadap balasan akhirat dan pembatasan diri pada segala
hal yang bisa dirasakan oleh indera. Allah berfirman,
"Mereka
hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
kehidupan akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 7)
Sebagaimana
muncul juga liberalisme, hedonisme, kepiawaian dalam merengkuh kenikmatan,
pelepasan naluri-naluri keduniaan dari kendalinya, pemuasan syahwat perut dan
kemaluan, menghiasi wanita dengan berbagai dandanan yang merangsang dan
menggiurkan, kecanduan obat-obat terlarang yang menghancurkan fisik dan
akalnya, menghancurkan tatanan keluarga dan merusak kebahagiaan rumah tangga,
oleh karena itu mereka mengeluhkan kekurangan jumlah penduduk.
Kemudian
kita mendapati pengaruh materialisme ini telah merambah semua negara, sehingga
masing-masing bangsa bersikap fanatik terhadap asalnya dan mencela yang
lainnya, serta berusaha mencaplok bangsa yang lebih lemah darinya. Begitu juga
riba beserta kezaliman dan eksploitasi yang ditimbulkannya telah merajalela dan
menjadi salah satu prinsip interaksi.
Adalah
Yahudi, bangsa yang memiliki peran paling besar dalam penyebaran riba ini
sebagaimana mereka memiliki peran dalam memunculkan paham komunis dengan
berbagai penyimpangan dan pertentangannya dengan fitrah manusia.
Pengaruh
Buah Busuk Materialis terhadap Masyarakat Eropa
Fenomena-fenomena
materialisme ansich di tengah masyarakat Eropa ini telah memunculkan berbagai
kerusakan jiwa, kelemahan moral, dan kelesuan dalam memerangi kejahatan,
sehingga permasalahan menjadi menumpuk, bermunculan berbagai prinsip-prinsip
yang destruktif, pemberontakan-pemberontakan yang memporak-porandakan negara
sehingga tidak bisa stabil pada suatu keadaan yang normal, semua menjadi
terpecah belah karena adanya banyak kelompok dan partai-partai.
Dan
materialisme modern ini telah membuktikan ketidakmampuannya secara total dalam
memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat mana pun dan menanamkan kedamaian
dan kesejahteraan pada diri mereka, dan kegagalannya dalam membahagiakan umat
manusia betapa pun telah banyak penemuan-penemuan ilmiah dan pengetahuan yang
diraihnya, dan faktor-faktor kekayaan dan kemakmuran telah melimpah pada
mereka, di samping kekuatan dan kekuasaan yang telah dimiliki oleh
negara-negara ini dari pengalaman yang tidak kurang dari satu abad. (lihat
Majmu'ah Rasa'il:104)
Begitulah,
kita melihat dampak-dampak buruk yang dihasilkan oleh kehidupan materialis dan
jauhnya spiritualisme dari masyarakat Eropa baik yang terkait dengan individu,
keluarga maupun masyarakat dan negara.
Eropa
telah Mengekspor Buah Busuk ini kepada Kaum Muslimin
Bangsa-bangsa
Eropa telah berupaya dengan sekuat tenaga agar kehidupan materialis menebarkan
fenomena-fenomena yang merusak dan virus-virus yang mematikan ke berbagai
negara Islam yang bisa dijangkau oleh tangan mereka dan jatuh dalam kekuasaan
mereka. Di samping itu mereka juga berusaha menghalangi negara-negara ini dari
berbagai unsur kebaikan dan kekuatan, seperti berbagai bidang ilmu, pengetahuan
dan industri serta sistem-sistem yang bermanfaat. Mereka juga merancang dengan
seksama invasi sosial yang diarahkan ke negara-negara ini terutama negeri Mesir
yang menjadi sasaran penting invasi ini.
Mereka
menggunakan kelicikan politik dan kekuatan militer mereka sehingga bisa
mewujudkan apa yang mereka kehendaki. Mereka telah menjerat negara-negara kita
dengan berbagai hutang sehingga mereka memiliki wewenang untuk melakukan
intervensi ekonomi dan menguasai perseroan-perseroan, bank-bank dan sumber dana
mereka, serta mendapatkan keuntungan yang berlipat dan kekayaan yang sangat
melimpah yang tidak pernah dirasakan oleh penduduknya sendiri. Dan setelah itu
mereka bisa merubah kaedah-kaedah hukum, peradilan dan pendidikan dan mewarnai
sistem-sistem politik, perundang-undangan dan kebudayaan dengan warna mereka
yang murni di negara-negara Islam bahkan di negara Islam yang terkuat seperti
Mesir sekalipun, serta menjauhkan warna keislaman yang Rabbaniyah dari
kehidupan manusia.
Tetapi
kehendak Allah yang pasti menang tidak mau bila kondisi ini akan berlangsung
terus sebagaimana adanya, dan telah menyiapkan faktor-faktor yang akan
menghantarkan surutnya gelombang budaya materi dan peradaban hedonis dan
syahwati yang membuncah ini, serta membangkitkan Rabbaniyah sekali lagi untuk
mendominasi kehidupan manusia dengan izin dari Allah.
INVASI
MATERIALISME TERHADAP NEGARA-NEGARA ISLAM
Kami
telah menyebutkan dan menjelaskan dalam kilas sejarah tentang pertumbuhan
kebudayaan materi di negara-negara Eropa, dan kami juga telah menyinggung
bagaimana negara-negara Eropa ini berusaha untuk menginvasi negeri-negeri Islam
dengan peradaban materialistis ini, peradaban hedonis dan syahwati ini.
Seakan-akan mereka menyadari bahwa invasi ini lebih besar pengaruhnya dan lebih
langgeng dalam melemahkan kaum muslimin dari perang salib yang telah membuat
mereka mengalami kerugian besar.
Mereka
telah mendatangkan wanita-wanita telanjang, minuman-minuman keras,
pentas-pentas, tempat-tempat dansa, tempat-tempat hiburan, cerita-cerita,
novel-novel, surat kabar-surat kabar, imajinasi-imajinasi, kesia-siaan dan
kegilaan mereka ke negeri-negeri ini. Mereka juga menghalalkan berbagai bentuk
kejahatan yang diharamkan di negeri-negari mereka sendiri, dan menghiasi dunia
yang hina dan sia-sia ini serta menebarkan dosa-dosa dan kejahatan di mata
orang-orang awam yang tidak paham dari kalangan kaum muslimin yang berada,
orang-orang pandai dan para pejabat serta penguasa.
Mereka
belum merasa cukup dengan semua ini sehingga harus membangun sekolah-sekolah,
lembaga-lembaga keilmuan dan kebudayaan di wilayah negara Islam, yang
menebarkan keraguan dan atheisme pada diri anak-anak mereka, mengajarkan
bagaimana mereka mencela diri mereka sendiri dan mencaci agama dan tanah air
mereka sendiri, menanggalkan diri dari tradisi dan ideologi mereka, memuja-muja
semua yang berbau barat, meyakini bahwa hanya yang datang dari Eropa yang patut
dijadikan teladan tertinggi dalam kehidupan. Sekolah-sekolah ini terbatas hanya
menerima anak-anak dari kalangan elit masyarakat, di mana anak-anak dari
kalangan elit ini adalah para pembesar dan penguasa serta orang-orang yang
sebentar lagi akan mengendalikan pemerintahan di negeri-negeri ini. Dan
anak-anak yang dianggap belum matang di lembaga-lembaga lokal ini, mereka
dikirim secara berkala ke negeri-negeri barat sehingga bisa menjadi matang.
Invasi
sosial yang rapi dan kejam ini mengalami keberhasilan yang luar biasa, karena
invasi ini disukai banyak orang dan diminati hati sehingga akan bertahan lama
dan memiliki pengaruh yang kuat. Dari sini, terlihat bahwa invasi sosial jauh
lebih berbahaya dari invasi politik dan militer.
Sebagian
bangsa muslim ada yang sangat keterlaluan dalam mengagumi peradaban Eropa ini
dan membenci jati diri keislamannya, sehingga Turki misalnya memproklamasikan
diri sebagai negara sekular dan mengikuti secara membabi buta semua yang
dilakukan oleh Eropa. Sebagaimana Amanullah Khan raja Afghanistan juga
melakukan hal yang sama tetapi justru upaya ini telah mengakibatkan hilangnya
singgasana kekuasaannya, sebagaimana penguasa komunis setelahnya juga tumbang
dengan izin Allah.
Di
Mesir, fenomena-fenomena taqlid ini telah merebak parah, sehingga salah seorang
putranya, Thaha Husain, bisa dengan leluasa meneriakkan bahwa tidak ada jalan
lain menuju kebangkitan kecuali dengan mengambil peradaban ini, dengan segala
kebaikan dan keburukannya, manis dan pahitnya, yang dibenci dan yang
disukainya, yang dipuji dan yang dicelanya. Sampai ke tingkat yang aneh seperti
ini fenomena taqlid buta yang merebak di Mesir.
Kemudian
dengan kecepatan tinggi gelombang taqlid ini beralih dari Mesir ke
negara-negara tetangga hingga sampai ke ujung Maghribi dan menggempur
tempat-tempat suci di wilayah Hijaz. Ironisnya, musuh-musuh Islam telah
berhasil mengelabui pemikir-pemikir Muslim dengan selimut tebal yang menutupi
mata sebagian dari mereka dengan mendeskripsikan Islam itu sendiri dengan
deskripsi yang sempit dan terbatas pada hal-hal seputar aqidah, ibadah dan
akhlaq, di samping sekumpulan ritual, khurafat, serta peringatan-peringatan
yang tidak bermakna. Tipuan mereka ini didukung dengan kejahilan kaum muslimin
terhadap hakikat agama mereka sehingga banyak di antara mereka yang merasa
yakin, damai dan ridha dengan deskripsi ini. Dan deskripsi ini telah mengendap
selama masa yang cukup lama pada diri mereka sehingga sangat sulit bagi kita
untuk menanamkan salah seorang di antara mereka bahwa Islam adalah sistem
sosial yang sempurna dan mencakup semua aspek kehidupan.
Dengan
pemaparan aspek historis yang singkat terhadap perkembangan hal ini, saya ingin
memahamkan masyarakat secara umum dan kaum muda yang tidak pernah mengetahui
sedikitpun dari peristiwa sejarah ini secara khusus agar mengetahui hakikat
dari realitas ini dan akar-akarnya, bagaimana kondisi itu bisa sampai berubah
menjadi seperti yang sekarang ini, sehingga kita semua bisa berjuang untuk
mengupayakan perbaikan dengan penuh kesadaran dan pemahaman terhadap permasalahan.
Dalam
konteks ini barangkali sangat berguna sekali bila saya menukilkan ke hadapan
pembaca apa yang dituturkan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna, "Kita bisa
mengatakan bahwa peradaban barat dengan prinsip-prinsip materialisnya telah
berhasil memenangkan peradaban Islam dengan serangkaian langkah pergolakan
sosial melawan peradaban Islam dengan serangkaian langkah yang kokoh,
menyeluruh, serta menyentuh aspek spiritual dan materi secara bersamaan. Lebih
tragis lagi kemenangan peradaban barat ini yang terjadi di bumi Islam, dalam
sebuah peperangan habis-habisan yang taruhannya adalah jiwa, ruh, akidah dan
akal pikiran kaum muslimin sebagaimana peradaban itu telah jaya di medan
politik dan militer.
Memang
tidak perlu heran dalam hal ini, karena fenomena-fenomena kehidupan itu utuh
tidak terpotong-potong. Kekuatan adalah kekuatan di mana fenomena kehidupan itu
semuanya, dan kelemahan juga demikian halnya.
"Dan
masa (kemenangan dan kehancuran) itu Kami gilirkankan antara manusia (agar
mereka mengambil pelajaran)." (Ali Imran: 140)
Meski
pada hakikatnya, prinsip-prinsip dan ajaran Islam itu tetap ada eksistensinya,
merambah ke seluruh penjuru, tumbuh subur dan dinamis serta berhasil menarik
simpati dengan ketakjuban dan keindahannya, ia senantiasa demikian karena Islam
itu adalah haq. Kehidupan manusia tidak mungkin bisa tegak dengan sempurna
tanpa Islam. Mengapa? Karena Islam merupakan produk Ilahi dan senantiasa berada
dalam pemeliharaan-Nya.
"Sesungguhnya
Kami yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami pula yang akan menjaganya." (Al-Hijr:
9)
"Dan
Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang
kafir membencinya." (At-Taubah: 32)
Kemudian
beliau menuturkan, "Sebagaimana halnya invasi politik berpengaruh dalam
menumbuhkan semangat rasialisme, maka tirani serta suara-suara yang menuntut
untuk kembali kepada Islam, memahami hukum-hukumnya, dan merealisasikan
sistemnya. Sudah barang tentu hari ini sudah dekat, suatu hari di saat istana
peradaban barat akan runtuh tepat mengenai kepala para pengikutnya. Saat itulah
mereka akan merasakan betapa kesengsaraan spiritual yang menyala-nyala dalam
hati dan jiwanya. Mereka...
tidak
akan mendapatkan makanan, obat, dan kesembuhan kecuali dengan ajaran-ajaran
yang terang yang terkandung dalam Al-Qur'an yang mulia ini.
"Wahai
manusia telah datang kepadamu nasihat dari Rabbmu dan penyembuh bagi
penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk bagi orang-orang yang
beriman. Katakanlah, "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah
dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari
apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 57-58)
Ketahuilah
wahai pembaca yang budiman, bahwa Islam memiliki kekuatan internal yang
terlindungi, dan kelemahan kaum muslimin pada suatu masa karena kelalaian
mereka dalam mengaplikasikan Islam dan lemahya komitmen mereka terhadapnya
dalam kehidupan, sama sekali tidak mengindikasikan bahwa Islam telah kehilangan
kekuatan dan pengaruhnya dalam membangkitkan jiwa, melahirkan izzah dan
kekuatan dalam jiwa para pemeluknya serta kemampuan untuk menghadapi dan
mengalahkan semua bentuk invasi materialis, politis, sosial dan militer
sehingga kalimah Allah menjadi yang tertinggi, "sehingga tidak ada lagi
fitnah dan agama semuanya menjadi milik Allah". (Al-Anfal: 39)
Seruan-seruan
Sesat yang Menyerukan untuk Meninggalkan Islam dan Menguburkannya:
Pada
masa ini muncul sebagian penulis dan pemikir yang menyerukan materialisme dan
meninggalkan Islam baik yang dilandasi dengan keyakinan ataupun karena dorongan
finansial, tetapi mereka semua ini tidak ada yang sanggup bertahan dengan
kebatilannya dalam menghadapi cahaya kebenaran,
"Sebenarnya
Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya,
maka dengan serta merta yang batil itu lenyap." (Al-Anbiya': 18)
"Demikianlah
Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu,
akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat
kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan." (Ar-Ra'd: 17)
Generasi
transisi yang lebih dekat kepada non Islam telah tampil memegang berbagai
urusan negara kita dan menempati posisi kepemimpinan baik di bidang pemikiran,
keruhanian, politik dan eksekutif di tengah masyarakat kita, sehingga ia
menggiring rakyat yang awam kepada apa yang ia kehendaki dan biasa ia lakukan,
rakyat yang awam ini sama sekali tidak tahu apa yang dikehendaki dari mereka
dan tidak tahu ke mana mereka hendak dibawa.
Pada
waktu itu suara-suara propagandis yang menyeru kepada pemikiran tirani semakin
meninggi untuk menuntut penelanjangan diri kita dari sisa Islam dan
pengaruh-pengaruhnya, menerima dengan suka rela semua konsekuensi, beban,
pemikiran dan fenomena kehidupan ini, Kami jangan sampai kalian menjadi
orang-orang munafik yang penipu dan durhaka yang berlaku sebagaimana kelakuan
orang-orang barat itu. Mengucapkan sebagaimana ucapan kaum muslimin.
Para
kolonialis dan penguasa-penguasa diktator telah mengondisikan segalanya agar di
negeri-negeri kita bergema suara-suara yang menyerang Marksisme yang atheis dan
filsafat-filsafat yang materialistis, dan agar penyerangan dari para pemeluk
keyakinan lain dan dari kalangan pemikir-pemikir semakin berani menghujat para
da'i yang menyeru kepada Allah, mendiskreditkan syariat Allah yang mudah dan
adil ini, dan meragu-ragukan relevansinya untuk semua masa dan tempat, serta
berusaha mengaitkan penerapan syariat Islam dengan tegaknya sebuah pemerintahan
agama yang memiliki wewenang ketuhanan, dan berbagai keraguan-keraguan lainnya.
Tetapi semua yang mereka tulis ini tidak meninggalkan pengaruh sedikitpun dalam
jiwa orang yang agamis, dan tindakan-tindakan serta ucapan-ucapan mereka ini
pasti akan menjadi abu yang berterbangan di terpa angin kencang.
Mereka
mengira apa yang telah mereka tulis dengan pena-pena mereka dan apa yang mereka
ucapkan dengan lisan mereka akan bisa menggeser dakwah kebenaran dan cahayanya,
tetapi Maha benar Allah yang berfirman,
"Mereka
ingin hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka dan Allah tetap
menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya." (Ash-Shaff:
8)
Tidak
ada yang menghalangi kita untuk mengadopsi sesuatu yang bermanfaat dan
mengambil hikmah dimanapun kita mendapatinya, tetapi Islam tidak ridha bila
kita harus menyerupai orang-orang yang tidak beragama dengan mengabaikan dalam
segala hal. Kita tidak boleh melempar aqidah Islam, kewajiban-kewajiban,
batasan-batasan dan hukum-hukumnya agar kita bisa berjalan di belakang kaum
yang terfitnah oleh dunia dan disesatkan oleh setan.
Kami
yakin seyakin-yakinnya terhadap agama kita dan bahwasanya ia adalah
satu-satunya jalan menuju kebaikan dan perbaikan serta untuk merealisasikan
kebahagiaan dunia dan akhirat.
MENYONGSONG
DAN MENYURUTKAN GELOMBANG KEBUDAYAAN MATERI
Setelah
kita menjelaskan kondisi akhir di negeri-negeri kita sebagai akibat invasi
musuh-musuh Islam dan gelombang besar kebudayaan materi dan peradaban kelezatan
dan syahwat yang dihasungnya. Tetapi setelah runtuhnya khilafah dan daulah
Islam, seakan Allah menghendaki kebaikan untuk umat Islam ketika kondisi yang
mengenaskan ini menggerakkan perasaan Imam Hasan Al-Banna dan menjadikannya
berpikir dan meminta pendapat para ulama dan pemimpin kaum muslimin mengenai
jalan penyelamatan dari kondisi yang parah ini.
Berangkat
dari keyakinannya yang mantap kepada Allah dan kepada dukungan-Nya terhadap
hamba-hamba-Nya yang beriman, dan dari keyakinannya terhadap kekuatan Islam
yang sejati dan pengaruhnya yang kuat dalam menghidupkan jiwa, melahirkan
kemuliaan dan kekuatan pada diri pemeluknya, beliau akhirnya mendirikan Jamaah
Ikhwanul Muslimin dan menggariskan dua tujuan asasi:
Pertama:
Bebasnya tanah air Islam dari semua kekuasaan asing, di mana hal ini merupakan
hak asasi bagi setiap manusia yang tidak akan dipungkiri kecuali oleh orang
dzalim yang culas atau diktator yang sewenang-wenang.
Kedua:
Di atas tanah air yang merdeka ini harus berdiri sebuah daulah Islamiyah yang
merdeka, mengamalkan hukum-hukum Islam dan menerapkan sistem sosialnya,
memproklamirkan prinsip-prinsipnya yang luhur, dan menyampaikan dakwahnya yang
bijak kepada umat manusia. Jadi selama daulah ini belum tegak, maka kaum
muslimin semuanya berdosa dan bertanggung jawab di hadapan Allah Yang Maha
Tinggi lagi Maha Besar atas kelalaian kita dalam menegakkannya dan kemalasan
kita dalam mewujudkannya.
Dan
kita mendapati beliau menuturkan, "Adalah suatu kedurhakaan terhadap
kemanusiaan, bila dalam kondisi yang membingungkan ini berdiri sebuah daulah
yang menggemakan prinsip-prinsip yang dhalim dan meneriakkan seruan-seruan yang
lalim, sementara tidak ada di tengah mereka orang-orang yang berjuang
menegakkan daulah kebenaran, keadilan dan kemakmuran."
Kemudian
dengan penuh keyakinan sebagai seorang mukmin dan dengan penuh kekuatan serta
tekad yang tulus, menantang gelombang yang kelam dari kebudayaan materi yang
telah banyak merusak masyarakat kita dan meninggalkan sidik jari kejahatannya,
kita mendapati beliau bertutur, "Lantas apa urgensi keberadaan kita wahai
Ikhwanul Muslimin? Secara umum dapat dikatakan bahwa kita berhadapan dengan
gelombang materialisme, yang mana ia telah memerosotkan moral bangsa-bangsa
Islam, menjauhkan mereka dari kepemimpinan Nabi saw. dan hidayah Al-Qur'an,
mengelupas dunia dari bimbingannya, menarik mundur peradabannya ke masa ratusan
tahun silam sehingga kita terbelenggu di negeri sendiri dan membuat masyarakat
bergulat dengan derita."
Kita
tidak boleh tinggal diam di hadapan ini semua, namun harus kita hadapi mereka
di tempatnya dan siap bertempur di bumi mana ia bercokol hingga dunia
seluruhnya menyuarakan dakwah atas nama Nabi saw. dan menanamkan keyakinan
kepada semua bangsa terhadap nilai-nilai Islam.
Dengan
demikian, terkembanglah payung Islam mengayomi seluruh bumi. Ketika itulah
impian setiap muslim terwujud. Tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya
milik Allah,
"Bagi
Allah-lah segala urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari
kemenangan itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah.
Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi
Maha Penyayang." (Ar-Rum: 4-5)
Indikasi-indikasi
Kemenangan Terhadap Kebudayaan Materialis
Demikianlah,
apa yang dikatakan oleh lelaki ini yang bertolak dari keimanan, telah yang
luas, keyakinan kepada Allah yang memenangkan kebenaran dan mengalahkan
kebatilan betapapun banyaknya. Dan baru kali kita sekarang bisa melihat dan
menyaksikan indikasi-indikasi terealisasinya apa yang telah diungkapkan oleh
Imam Al-Banna, di mana telah nampak prolog-prolog dan indikasi-indikasi
kemunduran gelombang kebudayaan materialistis ini.
Kebangkitan
Islam dan komitmen terhadap agama yang telah merebak di tengah kaum muda serta
antusiasme mereka untuk beribadah dan berakhlaq yang mulia. Fenomena jilbab
yang merebak dan menggeser gaya hidup telanjang, tabarruj dan pornografi.
Bank-bank dan lembaga-lembaga ekonomi Islam yang tampil untuk menggeser sistem
riba dan berbagai kerusakan dan krisis yang diakibatkannya. Suara-suara keras
yang menuntut penerapan syariat Allah. Semangat jihad dan perlawanan terhadap
musuh-musuh Islam yang mulai merayapi bangsa-bangsa Islam dan melahirkan
kepahlawanan-kepahlawanan yang mengagumkan, setelah musuh-musuh mengira bahwa
mereka merasa yakin bisa memadamkan semangat jihad di bangsa kita.
Semua
fenomena ini —dan masih banyak lagi yang lain— sebagai ekspresi dari
langkah-langkah dalam upaya menyurutkan gelombang besar dari kebudayaan materi
di tanah air kita. Tetapi sungguh sangat disayangkan sekali, kita melihat bahwa
pemerintah berusaha menghalangi-halangi langkah-langkah ini, mendukung
kerusakan dan melindunginya, serta memerangi kesucian dan melewannya. Bukti
atas semua yang kami ungkapkan adalah apa yang dilakukan oleh media-media
informasi dan departemen dalam negeri. Kendati demikian, kita selalu yakin
bahwa perbaikan dan pembersihan dari najis-najis ini pada akhirnya yang akan
mendapat kemenangan, karena inilah yang dikehendaki oleh Allah.
"Dan
Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahuinya." (Yusuf: 21)
Sedangkan
serangan terhadap gelombang materialisme di negeri kelahirannya, maka telah
terealisir upaya yang cukup menggembirakan, hal ini bisa kita lihat dari
aktivitas keislaman di negara-negara Eropa dan Amerika, berdirinya Islamic
Center-Islamic Center, yayasan-yayasan Islam, masjid-masjid bahkan
bank-bank Islam, dan penerjemahan banyak dari buku-buku Islam ke berbagai
bahasa asing, serta berbondong-bondongnya sebagian orang-orang di negara-negara
ini untuk masuk Islam. Semua ini menyebak kegelapan materi di negara-negara
ini,
"Sehingga
tidak ada lagi fitnah dan agama semuanya hanya milik Allah." (Al-Anfal:
39)
Begitulah
kita melihat dan merasakan pengaruh dari kebangkitan, kesadaran dan kehidupan
yang mulai merayapi jasad umat Islam agar bisa bangun dari tidur pulasnya,
bangkit dari keterpurukannya, menunaikan usahanya dan menempati posisinya
sebagai umat terbaik yang ditampilkan untuk manusia. Karena itu, hati kita
tidak boleh terasuki keputusasaan melainkan seharusnya dipenuhi dengan harapan
yang besar dan keyakinan bahwa masa depan itu akan menjadi milik agama ini,
meskipun hal ini menuntut pengorbanan yang tidak sedikit dari waktu, upaya,
jiwa... kesabaran, keteguhan, dan kedermawanan.
Betapa
pun hebatnya rancangan musuh-musuh Islam, dahsyat... tipudaya dan konspirasi
mereka, dan maraknya suara-suara dan ideologi... yang menghasung
pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan ide-ide... ideologi sesat yang berupaya
menghapuskan cahaya kebenaran... mendiskreditkan citra Islam yang cemerlang,
kita harus tetap yakin bahwa masa depan akan menjadi milik agama ini, dan
bahwasanya kekuasaan, kemuliaan dan kepemimpinan akan kembali kepada umat
Islam, karena sunatullah pada makhluk-Nya tidak akan pernah berubah,
"Dan
masa-masa (kemenangan dan kekalahan) itu Kami pergilirkan di antara
manusia." (Ali Imran: 140)
Dan
agar makna ini semakin dekat dengan akal dan hati kita, maka kami akan
memberikan sebuah perumpamaan indah yang dikemukakan oleh Imam Al-Banna seputar
makna ini dengan mengatakan, "Saudaraku, ketahuilah bahwa kekuatan dan
kelemahan, keremajaan dan ketuaan suatu bangsa, adalah sama dengan kekuatan dan
kelemahan, keremajaan dan ketuaan seseorang. Ada saat di mana seorang tampil
sebagai sosok individu yang sehat segar, tapi kemudian tiba-tiba saja orang itu
mendapati dirinya tergeletak lemah di atas tempat tidur, digerogoti oleh
berbagai penyakit, ia akan terus mengeluh kesakitan hingga Allah merahmatinya
dengan mendatangkan seorang dokter yang cerdas, yang mengetahui letak penyakit
dan sebab-sebabnya serta mengetahui obat yang tepat untuk penyakit itu, dan
sebentar kemudian, anda menyaksikan orang itu telah kembali sehat wal afiat dan
segar bugar. Bahkan mungkin kekuatannya kini jauh lebih baik dibanding
sebelumnya.
Yang
demikian itu bisa menimpa suatu umat atau bangsa. Sejumlah peristiwa dalam
suatu penggalan zaman terkadang bagai virus yang menggerogoti kekuatan dan
kesehatannya. Itu akan terus berlangsung sampai kekuatannya benar-benar rapuh,
dan sesaat kemudian tiba-tiba saja ia tampak lusuh dan kayu. Kondisi itu
kemudian telah melahirkan keserakahan bangsa-bangsa lain untuk memangsanya,
sementara ia sendiri tidak lagi punya secuilpun kekuatan untuk mempertahankan
diri dari berbagai bentuk serangan dan invasi dari luar.
Umat
yang berada dalam kondisi seperti ini hanya bisa sembuh dengan adanya tiga hal;
mengetahui letak penyakit, sabar dalam menjalani tuntunan pengobatan, dan
adanya dokter yang melakukan pengobatan itu, hingga Allah berkenan
menyembuhkannya dengan sempurna. (Majmu'atu Rasa'il, Da'watuna, 27)
Demikianlah
Imam Al-Banna dalam mendeskripsikan hakikat realitas kita sehingga bisa
membangkitkan dalam diri kita harapan untuk sembuh. Dan barangkali dari
sebagian orang yang mengukur segala persoalan dengan parameter materialistis
ansich mencibir, "Ini hanyalah perkataan teoretis belaka yang sama sekali
tidak memperhitungkan fakta, karena penyakit-penyakit dan problematika yang
menimpa umat Islam sangat diderita dan dieliminir, apa lagi dalam kenyataannya
musuh-musuh Islam masih tetap mensupport penyakit-penyakit ini dengan berbagai
sarana dan kerja sama dengan sebagian pemerintahan di negara-negara kita,
sedangkan orang-orang yang meneriakkan terapi Rabbani itu hanyalah orang-orang
deportan dan tidak memiliki kekuatan."
Kami
akan membantah cibiran seperti ini dengan sebuah penegasan bahwa parameter
materialis terhadap permasalahan ini bukanlah parameter yang tepat, justru di
sana ada parameter Rabbani yang orisinil dan tepat, kemudian tabiat
bangsa-bangsa yang menghadapi kondisi ini dan kekuatan-kekuatan perlawanannya
juga memiliki pengaruh yang signifikan.
Dan
mengenai makna ini, Imam Al-Banna menuturkan, "Apakah yang diharapkan dari
sebuah umat yang telah digerogoti oleh berbagai penyakit ganas dalam semua
aspek kehidupannya? Ada penjajahan dan perpecahan antar golongan di dalamnya,
ada rente dan dominasi perusahaan asing, ada atheisme dan hedonis, ada
kebobrokan sistem pendidikan dan hukum, ada keputusasaan, apatisme, kebakilan,
egoisme, kebencian dan kepengecutan, ada kekaguman berlebihan terhadap
musuhnya, terutama perilaku-perilaku menyimpang, dan masih banyak lagi gejala
memprihatinkan yang lain.
Padahal
satu saja dari penyakit di atas sudah cukup untuk membunuh sebuah umat yang
kuat. Lantas bagaimana pula jika semua penyakit itu menyatu dan menjangkit
tubuh umat ini? Kalau bukan karena kekuatan, imunitas dan ketegaran
bangsa-bangsa Timur —yang dililit oleh musuh-musuhnya dengan tali kuat dalam
tempo begitu panjang, dimana setiap saat mereka menebar racun di sepanjang tali
dan sepanjang tempo itu, hingga bakteri-bakteri itu beranak pinak— tentulah
penyakit-penyakit itu akan memborok dari mayapada. Tetapi Allah berkehendak
lain; orang-orang beriman tak akan pernah melihat hal itu menjadi kenyataan.
Saudaraku,
inilah diagnosa Ikhwanul Muslimin atas penyakit-penyakit yang tengah
menggerogoti umat kita. Dan apa yang tengah kami lakukan adalah upaya
mengembalikan kesehatan dan kekuatan umat yang telah lama hilang". (Majmu'atur
Rasa'il Da'watuna, 28)
Dari
titik tolak ini kita menyeru kaum muslimin semuanya agar berusaha mengumpulkan
sarana-sarana terapi dengan penuh harapan dan membersihkan diri kita dari
segala bentuk keputusasaan ataupun pesimisme, karena semua yang ada di sekitar
kita menginspirasikan harapan betapa pun beratnya pesimisme orang-orang yang
pesimis.
BOROK-BOROK
MATERIALISME DALAM KEHIDUPAN KITA DAN TERAPINYA
Gelombang
besar dari kebudayaan materi dan peradaban kelezatan dan syahwat itu telah
meninggalkan borok-borok dan pengaruh buruknya pada diri kita baik dalam
tataran individu, keluarga ataupun masyarakat, merubah semua parameter,
standart, tata nilai, keteladanan, dan akhlaq, dan menjerumuskan banyak kaum
muslimin dari kehidupan islami yang luhur kepada kehidupan materialistis yang
rendah.
Dan
di sini kami akan berusaha memaparkan sebagian dari borok-borok atau
pengaruh-pengaruh buruk tersebut untuk selanjutnya kita berupaya membersihkan
diri dan meluruskannya sehingga kita bisa kembali kepada Rabbaniyah dengan
berbagai tata nilai, keteladanan dan parameternya.
Memperhatikan
Dunia dan Melalaikan Akhirat
Pengaruh
yang paling menonjol dan meluas imbasnya adalah perhatian yang besar terhadap
persoalan dunia dari sebagian besar kaum muslimin sementara persoalan akhirat
hanya mendapatkan sedikit sekali dari perhatian mereka, bahkan ada yang
melupakannya secara total sehingga dunia menjadi satu-satunya perhatian besar
dan pengetahuan puncak mereka.
Karenanya,
kita melihat ada sebagian orang yang menggunakan semua waktu, tenaga, dan
pikirannya untuk dunianya, dan tiada pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat
untuk akhiratnya, sampai akhirnya ia harus mengalami kematian dan menghadapi
masa depan akhirat yang sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur'an,
"Jangan
(berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut; dan datanglah Tuhanmu;
sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka
Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi
mengingat itu baginya. Dia mengatakan, 'Aduhai baiknya kiranya aku dahulu
mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang
pun yang menyiksa seperti siksa-Nya, tiada seorangpun yang mengikat seperti
ikatan-Nya."* (Al-Fajr: 21-26)
Demikianlah,
kesadaran dan penyesalan itu akan muncul pada hari mana penyesalan pada waktu
itu sama sekali tidak berguna. Allah SWT Maha Suci lagi Maha Tinggi yang telah
menciptakan kita, mengutus para Rasul, dan menurunkan kitab-kitab untuk
menjelaskan hakikat kehidupan dunia dan misi kita di dalamnya serta hakikat
kehidupan akhirat yang merupakan kehidupan yang esensial dan abadi. Ia juga
yang menjelaskan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah medan amal untuk
akhirat kita, barangsiapa yang menunaikan misinya di dunia seperti beriman
kepada Allah dan mengikuti sistem-Nya yang lurus, maka surga menunggunya
sebagai balasan bagi ketaatannya, dan barangsiapa menyeleweng atau
menyia-nyiakan penunaian risalahnya, maka siksa Allah sedang menunggunya.
Agama
Allah telah datang dan menjelaskan kepada kita sistem bagi aspek kehidupan kita
demi kemaslahatan dan kebaikan kita, serta menjadikan kita dari bahaya yang
akan menimpa kita, karena Allah itu lebih tahu dan lebih bijak mengenai semua
ini. Dan kita juga melihat agama kita telah mewujudkan keseimbangan yang bijak
antara tuntutan-tuntutan dunia dengan tuntutan-tuntutan akhirat, sehingga ia
tidak mengakui gaya hidup kependetaan sebagaimana tidak mengakui keterlarutan
dalam syahwat, ia menghalalkan rezeki yang baik-baik dan mengharamkan yang
kotor-kotor, dan ia tidak menghalangi kita dari kesenangan dunia, tetapi hanya
sekadar menentukan batasan-batasan untuk kita dan meminta agar kita tidak
melampauinya.
Sebagaimana
Allah juga telah menjelaskan bahwa dunia bukanlah akhirat itulah sesungguhnya
kehidupan yang abadi dan kenikmatan yang kenikmatan dan kesenangannya itu amat
sedikit dan fana, dan bahwasanya akhirat itulah sesungguhnya kehidupan yang
abadi dan kenikmatan yang langgeng, serta mengingatkan agar kita tidak
menyibukkan diri dengan berbagai kenikmatan dunia sehingga melalaikan akhirat:
"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya
Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna
dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak
memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang
telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan."
(Hud: 15-16)
Sungguh
Kenikmatan Dunia itu Sangat Kecil
Akan
tetapi setan yang terlaknat telah menghiasi dan menjadikan besar di depan mata
kita untuk melalaikan kita dari amal untuk akhirat dan Allah telah mengingatkan
kita dari penghiasan dunia oleh setan,
"Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu,
Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Indah kesenangan hidup di
dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Ali
-Imran: 14)
Kemudian
Allah menjelaskan apa yang dipersiapkan-Nya di akhirat untuk hamba-hamba-Nya
yang bertaqwa dengan firman-Nya,
"Katakanlah,
"Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian
itu?" Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan
mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya. Dan mereka (dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan
Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (Ali Imran: 15)
Apakah
kita boleh bertanya tentang orang-orang yang melalaikan urusan akhirat dan
menyibukkan diri dengan dunia? Apakah hal itu disebabkan karena akhirat itu
sesuatu yang ghaib sedangkan dunia itu hadir dan bisa dilihat mata? Padahal di
antara sifat paling penting bagi orang-orang mukmin adalah keimanan mereka
kepada yang ghaib dan kepada hari akhir, di mana dalam banyak ayat Al-Qur'an
kita sering mendapati kemanan kepada hari akhir disejajarkan dengan keimanan
kepada Allah.
Saudara-saudaraku
kaum muslimin, masalah ini sungguh sangat penting dan membutuhkan kesadaran
yang penuh dari kita, karena tidak ada tempat kembali setelah dunia kecuali
surga dan neraka, sedang manusia itu sekarang ini sedang tertidur, sehingga
ketika mati justru mereka akan menyadari, tetapi sudah terlambat dan
kesempatannya sudah lewat.
Tidakkah
kita ingin agar kita bisa menyadari ketika kita masih hidup sehingga bisa
memahami persoalan dan memperbaiki amalan, perilaku, dan keadaan kita, agar
kita senantiasa berada dalam keridhaan Allah dan siap menghadap-Nya. Nya kapan
saja dari waktu yang telah ditentukan-Nya? Kematian kita itu itu sudah tertulis
dan akan datang tanpa memberikan peringatan. Bisa jadi salah seorang di antara
kita hari ini mengiringi jenazah saudaranya, lalu besoknya justru orang lain
yang mengiringi jenazahnya. Bisa jadi salah seorang di antara kita di pagi hari
bersama keluarganya, lalu di sore hari ia telah berada dalam liang kubur
sendirian. Sungguh cukuplah kematian itu sebagai penasihat.
Karenanya,
saya melihat bahwa merupakan hal yang berguna dan bermanfaat sekali serta bisa
membantu kita dalam membersihkan diri kita dari pengaruh-pengaruh buruk
gelombang materialis dan mendekatkan kita kepada Rabbaniyah, bila kita
melakukan refleksi terhadap kematian dan apa yang terjadi setelah kematian.
Dalam
banyak ayat, Al-Qur'an telah menegaskan bahwa kematian adalah sesuatu yang
telah ditentukan bagi setiap jiwa setelah melewati ujian dan ujian, menegaskan
bahwa balasan itu sebagai hasil dari amal, dan waktu tibanya ajal setiap orang
itu sudah ditentukan oleh Allah dan tidak diketahui oleh pemilik usia,
karenanya kita hendaknya mengkaji beberapa ayat ini dan membacanya dengan penuh
tadabbur yang mendalam.
"Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu
dikembalikan." (Al-Ankabut: 57)
"Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu
dikembalikan." (Al-Anbiya': 35)
"Sesuatu
yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan
yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya
Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala
akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberikan
balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran: 145)
"Dan
tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia mati. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Luqman: 34)
"Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajdah
disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran: 185)
Demikianlah,
kita bisa dengan jelas melihat hakikat yang telah dilupakan oleh banyak orang
ini disebabkan karena kesibukan mereka terhadap dunia dan berbagai hiasannya.
Yakni hakikat bahwa kematian itu pasti datang dan tidak ada keraguan
sedikitpun, tidak ada seorang pun yang bisa memajukan dan mengundurkannya walau
sesaatpun. Kita bisa melihat dengan jelas bahwa kita dalam hidup ini harus
beramal serta datangnya kematian pada waktunya yang sudah ditentukan. Dan
bahwasanya pahala dan perhitungan itu pada hari kiamat nanti. Dan bahwa kita di
dunia ini akan menghadapi ujian dan cobaan dengan kebaikan dan keburukan, dan
keluar dengan selamat dari ujian ini bukanlah hal yang mudah tetapi justru
membutuhkan upaya dan perjuangan, kesadaran, dan kehati-hatian.
"Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu
(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa
oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam
cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya,
'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah
itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214)
Sesungguhnya
pengekspresian dengan kata kerja "dijauhkan dari neraka" dalam firman
Allah Ta'ala "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam
surga." Mengisyaratkan bahwa di dalamnya terdapat penderitaan dan
kepayahan, perlawanan terhadap nafsu dan keburukan-keburukannya, perlawanan
terhadap setan dan godaan-godaannya. Dan Allah mengingatkan agar kita tidak
terbuai dengan kenikmatan hidup.
"Dan
kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."
(Ali Imran: 185)
Sebagaimana
dalam ayat yang lain, Allah telah mengingatkan kita dari fitnah harta, anak dan
istri,
"Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-isterimu dan anak-anakmu
ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan
jika kamu memaafkan dan tidak dimarahi serta mengampuni (mereka) maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan
anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, di sisi Allah-lah pahala yang besar."
(At-Taghabun: 14-15)
Saudaraku
sesama muslim, sungguh ini merupakan konflik yang abadi antara kebenaran dan
kebatilan dalam tataran dunia, negara, masyarakat, keluarga maupun individu.
Konflik antara daya tarik dunia yang diperankan oleh jasad dan berbagai
keinginan dan syahwatnya dengan Rabbaniyah yang diperankan oleh ruhani dan
aqidahnya yang luhur.
Pembaca
yang budiman marilah kita membayangkan bersamaku bahwa di sana ada seorang
muslim yang sudah meyakini dengan bukti yang kuat dan berdasarkan keterangan
para dokter atau dengan cara yang lain bahwa ajalnya sudah dekat dan tidak
sampai melewati enam bulan misalnya, apakah orang seperti dia ini masih patut
untuk melakukan kemaksiatan atau hanya sekadar memikirkannya sekalipun, padahal
usianya sudah memasuki hitungan menurun? Saya yakin orang itu akan berusaha
dengan sekuat tenaga untuk melakukan apa yang bermanfaat baginya di akhirat dan
bila seandainya mungkin untuk tidak tidur agar ia bisa maksimal dalam
memanfaatkan waktu untuk beramal shalih yang berguna baginya di hari kiamat,
niscaya ia akan meakukannya.
Maka
hendaknya setiap orang di antara kita bertanya kepada dirinya sendiri,
"Apakah dia bisa menjamin bahwa dirinya akan bertahan hidup sampai enam
hari saja dan bukannya enam bulan, bahkan enam jam, atau enam detik sekalipun,
meskipun ia tidak dalam keadaan sakit?
Hendaknya
kita semua selalu bersiap dan menunggu-nunggu pertemuan dengan Allah,
menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya, bersemangat untuk meraih ridha-Nya, dan
memanfaatkan semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita untuk
beramal di medan dakwah dan berjuang untuk mengukuhkan agama-Nya serta jihad
untuk merealisasikan tujuan ini.
Kita
akan menyebutkan deskripsi lain yang bisa membantu kita untuk melawan nafsu
kita dan setan. Bila seandainya ada seseorang yang ketika hendak melakukan
kemaksiatan ia menyadari bahwa bisa saja kematian itu datang seketika kepadanya
pada saat ia sedang melakukan kemaksiatan, padahal ia tidak memiliki kemampuan
untuk menolak mati dan menangguhkannya, maka apakah ia akan rela bila ia
mengakhiri hidupnya dengan kemaksiatan ini dan bertemu Allah dalam keadaan
seperti ini? Saya yakin pikiran seperti ini sudah cukup untuk memalingkannya
dari perbuatan maksiat dan berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Kemudian
kita mengatakan kepada mereka yang diperbudak oleh parameter materialis dan
disibukkan oleh dunia sehingga melalaikan akhirat; Marilah kita dengan
parameter materialis ini mengukur antara dunia dan akhirat; dari sisi waktu;
jadi betapa pun panjang usia manusia di dunia, maka sesungguhnya usia dunia
maksimal hanya sampai kiamat, sehingga bila dibandingkan dengan akhirat yang
tiada terbatas itu, dunia ini adalah nol. Dan seandainya semua kenikmatan dunia
ini terkumpul pada seseorang bila dibandingkan dengan kenikmatan surga yang
abadi, maka kenikmatan itu ibarat nol. Dan semua siksa dunia dengan berbagai
kesulitannya bila dibandingkan dengan neraka Jahannam, itu ibarat nol, maka
apakah seorang yang berakal akan memilih nol dan meninggalkan yang tak terbatas?
Alangkah
patutnya jika kita menyadari dan memikirkan dengan pemikiran yang mendalam
mengenai masa depan dunia dan akhirat yang abadi. Kita harus selalu memikirkan
hal ghaib yang sedang menunggu kita, bermula dari saat ini sampai datangnya
ajal kita, dengan selalu berusaha agar masing-masing dari kita mendapatkan
restu untuk bisa mentaati Allah, menjauhkan diri dari kemaksiatan kepada Allah,
beramal dan berjuang dengan penuh keikhlasan kepada Allah. Sebagaimana ia
berusaha untuk selalu memikirkan kehidupan di alam kubur dan berusaha agar
kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman yang ada di surga, memikirkan
hari kebangkitan dan perhitungan, titan penyeberangan dan timbangan amal, surga
dan neraka, ia melewati semuanya ini dan menjalani kehidupan masa depan ini,
seakan-akan semuanya ini adalah realitas yang sedang disaksikan dan
dijalaninya. Semua ini akan mendorongnya untuk bersungguh-sungguh dan bekerja
keras dengan harapan agar kelak pada hari ketakutan terbesar ia menjadi orang
yang berbahagia, bergembira dan merasa aman, karena ia bisa meraih kemenangan
yang besar yaitu surga Allah dan selamat dari siksa Allah.
Mengukur
Segalanya dengan Parameter Syahwati
Di
antara borok yang ditinggalkan oleh materialisme dalam kehidupan masyarakat
kita adalah kerancuan parameter yang digunakan untuk menimbang dan menilai
seseorang, sehingga harta, jabatan, dan kehormatan menjadi ukuran dalam menilai
seseorang dan memberikan sikap terhadapnya sebagai konsekuensi logisnya seperti
sikap penghormatan, pemuliaan, dan keseganan, begitu juga sikap menjilat dan
mendekatkan diri kepadanya.
Padahal
parameter Rabbani adalah parameter yang ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya,
"Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa." (Al-Hujurat:
13)
Dan
dalam hadits Rasul saw. bersabda,
"Wahai
manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, bapakmu juga satu, Ketahuilah bahwa
tidak ada keutamaan bagi orang Arab di atas orang non Arab, dan tidak pula bagi
orang yang berkulit merah atas orang yang berkulit hitam dan tidak pula bagi
orang yang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah kecuali dengan
ketaqwaan." (h.r. Ahmad)
Parameter
yang rancu ini mengimbas ke kondisi pernikahan, sehingga kita mendapati banyak
dari para pemuda yang lebih suka menikah dengan wanita pemilik harta, pangkat
dan keturunan ningrat daripada menikah dengan wanita yang beragama, padahal
Rasulullah saw. telah menjelaskan parameter yang benar dalam hadits beliau, "Seorang
wanita dinikahi karena empat hal, karena harta, pangkat, kecantikan, dan
agamanya, maka pilihlah kamu dengan wanita yang memiliki agama, celakalah
engkau bila memilih selain." (Fathul Bari, 9/35, no. 5090)
Sebagaimana
banyak dari kaum wanita yang menerima lamaran orang yang meminang mereka dengan
melihat status, kedudukan, harta kekayaan dan fasilitas material bagi kehidupan
yang lainnya, padahal mengenai hal ini Rasul saw. telah bersabda, "Bila
ada seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang putrimu, maka
nikahkanlah putrimu dengannya, jika kamu tidak melakukannya maka akan terjadi
fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar." (h.r. Tirmidzi,
3/394, no.1084)
Dan
mengenai status sosial seseorang, kita mendapati bagaimana Allah SWT telah
menegur Rasulullah saw. ketika menelantarkan Abdullah Bin Ummi Maktum yang buta
disebabkan dakwah beliau terhadap sekelompok pemimpin Quraisy untuk mengajak
mereka masuk Islam, mana beliau berharap keislaman mereka ini akan membawa
kebaikan bagi Islam, lalu turunlah firman Allah:
"Dia
(muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta
kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat
kepadanya? Adapun orang yang merasa serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal
tidak ada (celaka) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan
adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapat pengajaran)
sedang ia takut kepada Allah maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan
(demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka
barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia meperhatikannya." (Abasa:
1-12)
Dan
di tempat lain dari kitab Allah kita mendapati bahwasanya Allah telah
menegaskan parameter Rabbani ini kepada Rasul-Nya,
"Dan
bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi
dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu
berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan
janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat
Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati
batas." (Al-Kahfi: 28)
Kebahagiaan
Suami Istri Identik dengan Perkakas Rumah Tangga yang Mewah
Di
antara parameter materialis yang rancu ini adalah asumsi para pemuda dan pemudi
bahwa bahwa kebahagiaan suami istri tidak akan terwujud kecuali dengan tempat
tinggal yang megah dengan aksesorisnya yang mewah, pakaian dan mobil yang
mengkilat, serta berbagai perabot rumah tangga yang modern dan interior yang
menawan.
Ini
adalah pemahaman yang salah, karena kebahagiaan yang hakiki bukanlah datang
dari luar diri kita dan hal-hal di atas itu bukanlah sumber kebahagiaan, tetapi
kebahagiaan itu akan merebak dengan merebaknya ketaqwaan kepada Allah dari
masing-masing suami dan istri.
"Aku
tidak melihat kebahagiaan pada penimbunan harta tetapi orang yang bertaqwa
itulah orang yang berbahagia"
Kebahagiaan
suami istri yang hakiki akan terwujud dengan merebaknya ketaqwaan pada diri
masing-masing suami istri, di mana ketaqwaan ini akan melahirkan kepercayaan
yang timbal balik antara keduanya, karena masing-masing selalu merasa diawasi
oleh Allah dan menunaikan kewajibannya terhadap yang lain sesuai dengan
tuntunan dan etika Islam serta di bawah naungan rasa percaya terhadap
pasangannya yang akan menutup pintu setan, karena tidak ada keraguan,
kebimbangan dan prasangka. Dan di bawah naungan taqwa kepada Allah inilah yang
akan mewujudkan kedamaian, kasih sayang dan kecintaan di antara keduanya
sebagaimana yang difirmankan oleh Allah,
"Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
(Ar-Rum: 21)
Ketaqwaan
kepada Allah akan menjadikan suami istri memandang pernikahan sebagai suatu
ibadah dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan
sebaik-baiknya kewajiban-kewajiban rumah tangga dengan penuh keikhlasan dan
kesungguhan sehingga menjadi ibadah yang diterima oleh Allah dan mendapatkan
balasan pahala dan keridhaan-Nya.
Di
bawah naungan pandangan terhadap kehidupan suami istri seperti inilah kita akan
bisa tegak rumah tangga muslim teladan yang menerapkan Islam dalam semua aspek
kehidupan, akan diwarnai dengan shalat dan tilawah Al-Qur'an serta keteladanan
kepada Rasulullah saw. dalam semua aktivitas di siang dan malam hari. Dan dalam
nuansa Rabbani seperti inilah keturunan yang shalih akan tumbuh dan kelak akan
menjadi pemandangan mata bagi kedua orang tuanya dan sumber bagi kebaikan
mereka di dunia dan akhirat.
Sebaliknya
bila satu keluarga berpijak pada parameter materialis dan tidak komitmen dengan
tuntunan-tuntunan Rabbaniyah, maka setan akan menemukan lahan yang subur di
tengah rumah tangga ini dan tidak akan terwujud kebahagiaan suami istri yang
hakiki serta anak-anak akan tumbuh jauh dari etika dan akhlaq Islam sehingga
seringkali menjadi titik kekacauan dan kesengsaraan bagi kedua orang tua.
Perhatian
terhadap Pengobatan Fisik dan Melalaikan Pengobatan Hati
Di
antara borok materialis di masyarakat kita adalah apa yang kita lihat dari
sikap perhatian orang tua ketika salah seorang anaknya sakit, di mana dengan
segera membawanya ke dokter atau memanggilnya ke rumah, mencarikan obat
untuknya dari luar dan dalam negeri, dan memberikan obat pada waktu-waktunya
dengan penuh kejadian. Padahal bila anaknya ini ada salah seorang dari
saudara-saudaranya ada yang melalaikan urusan ibadah dan agama, kita tidak akan
mendapatkan perhatian dari kedua orang tua seperti perhatian mereka terhadap
penyakit fisik anaknya.
Demikianlah,
fisik yang fana ini menjadi lebih penting bagi mereka daripada aqidah, ibadah
dan ketaatan kepada Allah yang menjadi tumpuan masa depan yang hakiki dan
kehidupan abadi di akhirat. Hal ini tidak berarti kita harus memberikan sedikit
perhatian terhadap pengobatan fisik di saat sakit, tetapi hendaknya parameter
kita itu harus dibenahi, terutama Allah telah menegaskan hal itu dengan
firman-Nya,
"Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan." (At-Tahrim: 6)
Dan
Rasul saw. juga telah menegaskan tanggung jawab ini dalam haditsnya,
"Setiap
kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya,
Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya,
Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab atas
kepemimpinannya, Seorang wanita juga menjadi pemimpin dalam rumah suaminya dan
bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (Fathul Bari, 21/441)
Karenanya,
kita menyeru kaum muslimin untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka
berdasarkan pada ajaran-ajaran dan etika-etika agama agar kelak mereka menjadi
nikmat dan penyejuk mata, jika tidak, maka mereka akan menjadi laknat dan biang
kesengsaraan dan kesusahan.
Dominasi
Tuntutan-tuntutan Fisik atas Tuntutan Ruhani
Di
antara parameter materialis yang dominan di masyarakat kita adalah pemenangan
tuntutan-tuntutan fisik di atas tuntutan-tuntutan ruhani. Di mana banyak orang
yang berusaha memuaskan syahwat dan naluri badaniah, tanpa berpijak pada
rambu-rambu atau komitmen dengan batasan-batasan yang telah digariskan oleh
agama kita, padahal semua rambu dan batasan ini adalah untuk mewujudkan
kemaslahatan dan kebaikan bagi individu baik secara medis maupun sosial, dan
bagi masyarakat agar bisa terbebas dari keterpurukan ke tingkat binatang dan
aturan rimba. Kita melihat perhatian banyak orang tertumpu pada
tuntutan-tuntutan fisik dan pengkonsumsiannya, penjagaannya terhadap suhu panas
dan suhu dingin serta berbagai macam penyakit. Dan kita tidak mendapati
perhatian seperti ini terhadap tuntutan-tuntutan ruhani dan pengkonsumsiannya
dengan agama, ibadah, dzikrullah, dan memperbaiki hubungan kepada Allah serta
menjauhkan diri dari kemaksiatan. Banyak orang yang melewati malam hanya dengan
obrolan, begadang yang sia-sia dan melakukan berbagai kemaksiatan. Mereka sama
sekali tidak pernah menggunakan sebagian malamnya untuk melakukan qiyamul lail,
berdo'a, dan beristighfar di waktu sahur.
Perkataan
kami ini tidak berarti penyia-nyiaan terhadap fisik atau kami menyerukan kepada
sikap zuhud yang berlebihan terhadap urusan dunia dan beralih kepada kehidupan
kependataan. Tetapi kami menyerukan kepada penyelarasan antara
tuntutan-tuntutan fisik dan tuntutan-tuntutan ruhani dengan komitmen terhadap
tuntutan-tuntutan Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah saw. untuk menciptakan
keseimbangan yang bijak, di mana tuntutan-tuntutan fisik dan
kebutuhan-kebutuhannya jauh dari sikap berlebih-lebihan dan pengurangan, begitu
juga tuntutan-tuntutan ruhani jauh dari sikap kependataan dan kehausan ruhani
serta dominasi materi.
Bulan
Lapar dan Ketaatan Berubah Menjadi Bulan Foya-foya dan Kemaksiatan
Di
antara borok materialisme yang menggerogoti aspek penting dalam kehidupan kita
adalah kondisi yang dialami oleh bulan Ramadan yang mulia, bulan puasa, bulan
Al-Qur'an, bulan qiyam, bulan i'tikaf, bulan shadaqah dan taqarrub, yang telah
berubah menjadi bulan foya-foya dengan berbagai macam makanan sehingga uang
belanja untuk membeli makanan di bulan Ramadhan ini pembengkak jauh di atas
pengeluaran di bulan-bulan lain. Makanan-makanan tambahan seperti kue-kue,
martabak, kolak dan sebagainya seakan menjadi kewajiban di bulan Ramadhan,
meskipun harganya sangat mahal dan kecilnya penghasilan telah memperberat
banyak orang untuk mewujudkan hal itu. Kerunyaman ini ditambah lagi dengan
ditayangkannya program dangdut sahur dan berbagai serial sinetron yang
berlangsung hingga menjelang fajar sehingga banyak di antara mereka yang
tertidur dan shalat subuh jauh setelah lewat waktunya.
Banyak
kaum muslimin yang secara terang-terangan makan di siang hari tanpa ada beban
keagamaan sedikitpun, padahal banyak dari kalangan orang-orang kristen qibti
yang makan di siang hari bulan Ramadhan dengan sembunyi-sembunyi sebagai
penghormatan mereka terhadap kaum muslimin.
Banyak
orang yang membatasi puasanya hanya dengan menahan diri dari syahwat perut dan
kemaluan di siang hari Ramadhan, sedangkan anggota badan yang lain seperti
mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki mereka seakan bebas melepaskannya dalam
hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maka puasa apakah ini?
Kami
ingin mengembalikan kepada Ramadhan Rabbaniyah dan ruhaniahnya, dan kami ingin
agar setiap individu dan keluarga menghidupkannya dengan Al-Qur'an, tahajjud,
dzikir, sedekah kepada fakir miskin, dan pencegahan diri dari semua yang
dimurkai oleh Allah dan merusak puasa. Sebagaimana kami menuntut media-media
informasi agar tidak menayangkan program-program bobrok di bulan puasa dan
tidak hanya cukup menyuguhkan beberapa programa keagamaan sementara tetap terus
menayangkan programa-programa yang merusak sekian kali lipatnya.
Sikap
Egois dan Keserakahan
Di
antara pengaruh materialisme adalah merebaknya sikap egois, keserakahan,
kecintaan terhadap diri sendiri, ambisi untuk mewujudkan kepentingan pribadi,
dan tiadanya sikap kasih sayang dan saling menolong dengan yang lain terutama
terhadap orang-orang yang membutuhkannya. Hal ini juga mengimbas pada hubungan
silaturahim, penghormatan kepada tamu, perhatian terhadap hak-hak tetangga,
berbakti kepada anak-anak, yatim dan orang-orang yang fakir miskin, serta
sifat-sifat baik lainnya yang diserukan oleh agama kita dan tidak kita dapatkan
wujudnya di negeri barat materialis kecuali sangat langka sekali.
Di
barat, seringkali kita jumpai ada seorang ayah yang memperlakukan anak-anaknya
dengan perlakuan yang materialis, bahkan kadang sampai menarik uang sewa untuk
kamar yang ditempati anaknya dalam satu rumah. Kadang sempat terjadi
pertengkaran dengan anaknya mengenai besarnya uang sewa lalu akhirnya ia
mengusir anaknya dari rumah. Dan wajar sekali bila perlakuan materialis ini
menimbulkan reaksi balik pada rasa berbakti sang anak kepada ayah, terutama
bila sang ayah ini telah menginjak usia lanjut sehingga ia tidak pernah
mendapatkan perhatian dan perawatan dari anak-anaknya.
Saya
masih ingat di sebuah negeri di Eropa, ketika salah seorang muslim
berkebangsaan Arab sedang berusaha untuk membayar harga karcis bis, atau harga
makanan untuk diri sendiri dan teman-temannya, sehingga terjadi keributan kecil
karena masing-masing ingin membayar untuk diri dan teman-temannya, hal ini
sempat mengundang keheranan salah seorang Eropa, seakan ingin bertanya,
"Mengapa setiap orang dari mereka ini berusaha membayar untuk diri dan
teman-temannya?"
Tiadanya
Rasa Hormat
Islam
menyerukan agar yang kecil menghormati yang besar dan sebaliknya yang besar
menyayangi dan berlemah lembut kepada yang kecil. Dulu kita masih banyak
menjumpai di angkutan-angkutan umum, di mana anak muda akan berdiri untuk
memberikan tempat duduk kepada orang tua, orang yang lebih tua darinya, atau
kaum wanita. Tetapi pemandangan yang indah dan mulia ini mulai surut digantikan
dengan budaya cuek, kekerasan perasaan dan kekerasan hati serta tiadanya rasa
hormat dari yang kecil terhadap yang besar, meskipun kita masih sering
menjumpai kasih sayang dari yang besar kepada yang kecil.
Permintaan
Gaji yang Besar
Di
antara borok materialisme dalam kehidupan kita sebagai akibat kecintaan
terhadap dunia dan harta adalah permintaan upah yang tinggi dari para penjual
jasa atau pekerja atas pelayanan dan kerja yang telah meberikannya tanpa
memperhatikan kemampuan materi yang dimiliki oleh saudaranya, terutama yang
terkait dengan kebutuhan-kebutuhan primer seperti pengobatan dan tempat tinggal
serta yang lainnya.
Jadi
prinsip yang harus dikembangkan adalah sikap tolong-menolong, kasih sayang,
pelayanan yang timbal balik, kelemah lembutan, tidak menyengsarakan orang lain,
tidak membebani diluar kemampuan, atau yang membuatnya sampai terpaksa harus
berhutang.
Hilangnya
Sikap Ksatria, Kejantanan dan Keberanian:
Di
antara dampak buruk yang ditinggalkan oleh gelombang materialisme sebagai
akibat dari ambisi dan kecintaan terhadap harta serta kekayaan, ialah jiwa dari
kemuliaan dan kehormatan pada saat mencari kekayaan, jabatan dan pekerjaan.
Sehingga sikap kejantanan, ksatria dan keberanian menjadi hilang di hadapan
barang dunia yang fana ini. Sungguh ambisi telah menundukkan leher para
pembesar. Sehingga sebagai akibatnya banyak muncul sifat-sifat kemunafikan dan
menjilat kepada para pemegang kendali segala urusan duniawi yang menipu ini.
Jadi
prinsip yang harus kita pegang teguh adalah, kita harus memenuhi
kebutuhan-kebutuhan kita dengan kemuliaan jiwa karena segala urusan itu
berjalan sesuai takdir. Dan memang tidak diragukan lagi bahwa kekuatan suatu
masyarakat tergantung kekuatan para individunya dan makna-makna kekuatan dan
kemuliaan yang mereka usung. Dan adakah kerugian yang lebih besar yang akan
menimpa masyarakat kita dari musibah yang diakibatkan hilangnya kekuatan dan
kemuliaan karena mengejar harta dunia? Sesungguhnya Allah telah menjamin
perolehan rezeki dan meminta kita agar berusaha mendapatkan harta dari
sumber-sumber yang halal disertai sikap mulia seorang mukmin, karena manusia
semuanya ini adalah pemakan sedangkan pemberi rezeki itu hanya satu yaitu Allah
Yang Maha Suci dan sebaik-baik pemberi rezeki.
Bersaing
dalam Bangunan dan Penampilan
Di
antara borok materialisme di masyarakat kita adalah sikap bersaing dan
berlomba-lomba dalam membangun rumah yang megah sekali dan melengkapinya dengan
perabot yang mewah, dan berbagai bentuk kesombongan, kemewahan dan idealisme
materialis yang mengajak kepada kehidupan nikmat yang membuat pemiliknya
cenderung kepada dunia sehingga ia tidak lagi mau berangkat ke medan jihad dan
membenci kematian, seakan kehidupan dunia ini adalah kampung kenikmatan dan
keabadian. Demikianlah, ia memakmurkan dunianya diatas penderitaan akhiratnya.
Hal ini juga akan mempengaruhi kemuliaan tanah air, pertahanan dan pembelaan
terhadapnya.
"Dan
mereka berkata, "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang dalam panas
terik ini". Katakanlah: "Api neraka Jahannam itu lebih
panasnya." (At-Taubah: 81)
Jadi
prinsip pertama yang harus dipegang teguh adalah berusaha seimbang dalam semua
urusan hidup, baik tempat tinggal maupun pakaiannya, membatasi
kebutuhan-kebutuhan tertier, menjauhi sikap bermewah-mewah dan pemborosan,
membiasakan diri hidup bersahaja yang lebih mendekati kehidupan jihad.
Sebagaimana kita juga harus berpikir bahwa di sana masih banyak kaum muslimin
yang mati kelaparan dan tidak mendapatkan tempat tinggal, pakaian dan
obat-obatan.
Dan
prinsip yang kedua adalah hendaknya kita jangan sampai bergantung kepada dunia
atau takut kepada kematian, bahkan kita harus mencintai jihad dan mati syahid
di jalan Allah serta memprioritaskan akhirat di atas dunia. Karena
sarana-sarana dan faktor-faktor kemewahan ibarat beban-beban berat yang akan
menekan pemiliknya untuk cenderung kepada dunia, terutama ketika ada seruan
jihad, di sinilah tersembunyi bahaya itu sehingga Allah perlu mengingatkan kaum
mukminin,
"Hai
orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu,
"Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat
dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia
sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini
(dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak
berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih
dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi
kemadharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu." (At-Taubah: 38-39)
Penghalalan
Minuman Keras
Di
antara borok gelombang materialisme dan peradaban kelezatan dan syahwat di
masyarakat kita adalah penghalalan minuman keras yang merupakan induk bagi
semua kejahatan, sampai-sampai pemerintahan juga ikut memproduksinya di
perusahaan-perusahaan umum.
Sudah
dimaklumi bahwa minuman keras adalah induk bagi segala perbuatan keji dan
sebagai biang dari berbagai tindak pidana dan kasus-kasus kejahatan. Begitu
juga dengan penggunaan obat-obat terlarang yang telah merebak dengan cepat dan
mencengangkan, yang mana kecanduan obat-obat ini pada diri anggota-anggota
masyarakat dari berbagai tingkatan usia akan mendorong mereka untuk melakukan
berbagai bentuk kejahatan yang paling sadis demi untuk mendapatkan uang untuk
membeli obat terlarang ini. Meskipun bahaya yang mengancam ini telah nampak
dengan jelas, namun pemerintah yang berkuasa masih maju mundur untuk menutup
perusahaan-perusahaan minuman keras dan tempat-tempat penjualannya serta
memberlakukan sanksi-sanksi bagi para pengedar racun yang mematikan ini dan
para pemakainya. Ironisnya; banyak selentingan mengatakan bahwa orang-orang
yang memerangi obat-obat terlarang justru mereka sendirilah yang ikut terlibat
dalam perdagangan obat-obat terlarang. Wallahu a'lam.
Tabarruj
dan Pornografi
Di
antara borok materialisme dan peradaban kelezatan dan syahwat yang menyerang
kita dari barat adalah fenomena tabarruj dan buka-bukaan di tengah kaum wanita
dan khususnya para pemudinya, di mana hal ini menimbulkan tersebarnya kekejian,
tindakan kejahatan seksual dan perkosaan. Semua ini diperparah dengan
tayangan-tayangan di media-media informasi kita seperti film-film import
rendahan dan dukungan para aparat pemerintah atas penayangan film-film ini
serta ketidak konsistenan terhadap undang-undang pengawasan sebagaimana terjadi
dalam penayangan film-film ini.
Para
produsen film-film lokal juga tidak mau kalah untuk menandingi arus kebobrokan
yang rendah dalam produksi film mereka, sehingga punya keyakinan bahwa semua
ini sudah menjadi skenario jahat, yang bertujuan untuk menghancurkan warga
negara Mesir, keluarga-keluarga Mesir, Masyarakat Mesir dan melemahkan negara
secara umum sehingga menjadi tunduk kepada kebijakan politik yang diberlakukan
kepada mereka terutama kepada musuh bebuyutannya yaitu zionis.
Kegelisahan
dan Kebosanan Hidup
Rabbaniyah
akan memberikan kepada seseorang ketenangan jiwa, kedamaian hati dan kesabaran,
keridhaan terhadap takdir, perilaku yang seimbang dan sehat, serta interaksi
yang bermoral dengan orang lain. Sebaliknya, menjauhkan diri dari Rabbaniyah
dan kecenderungan kepada materialisme akan melahirkan kegelisahan dan
kekhawatiran serta kesempitan dan kebosanan hidup, di mana ketika salah
seseorang mendapatkan musibah pada harta atau jiwa atau materi-materi kehidupan
yang lain, ia tidak segan-segan untuk melakukan bunuh diri.
Keculasan
para Penguasa dan Ketertindasan Rakyat
Rabbaniyah
akan mendorong para penguasa kepada keadilan dan kasih sayang, kesungguhan
dalam mendidik rakyat dan menjaga mereka dari semua marabahaya internal dan
eksternal. Tetapi tampaknya jauhnya para penguasa ini dari Rabbaniyah dan
keterpengaruhan mereka dengan materialisme ini telah menjerumuskan mereka pada
tindakan-tindakan kejam terhadap rakyat dan menghalangi masyarakat dari hak
asasi paling mahal yang dimilikinya yaitu kemerdekaan, keselamatan jiwa dan
kepemilikan harta. Di mana para penguasa dengan seenaknya memberangus
kemerdekaan rakyat dengan menyeret mereka ke dalam penyiksaan dan pembunuhan
serta perampasan harta kekayaan mereka tanpa ada pengawasan atau perhitungan.
Mereka sama sekali lupa bahwa Allah senantiasa mengawasi dan mengintai mereka,
dan Dia akan membalaskan dendam hamba-hamba-Nya yang tertindas, jika tidak di
dunia maka akan mereka rasakan di akhirat siksa yang sangat pedih.
Kekuatan
dalam pandangan mereka adalah kekuatan sarana-sarana untuk menekan dan menindas
yang berada di tangan mereka. Mereka sama sekali lupa kekuatan Allah sebagai
sumber semua kekuatan dan bahwasanya Ia adalah Maha Perkasa lagi Maha Memaksa.
"Dan
kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi." (Al-Fath: 4)
"Dan
tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri."
(Al-Mudatstsir: 31)
"Dan
Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi ini dan
hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang
mewarisi bumi, dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan
Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman serta tentaranya apa yang selalu
mereka khawatirkan dari mereka itu." (Al-Qashash: 5-6)
Ideologi
Atheis dan Komunis
Borok
paling parah yang ditinggalkan oleh gelombang materialisme di negara-negara
Islam adalah munculnya orang-orang di tengah kita yang memiliki nama-nama
islami tetapi meyakini ideologi atheis komunis serta mengingkari wujud Sang
Pencipta dan Pemberi rezeki mereka dan menyeru orang lain kepada ideologi yang
sesat ini.
Sesungguhnya
ideologi ini termasuk langkah mundur bagi kehidupan umat manusia, karena
bagaimana manusia yang lemah ini yang tidak memiliki kekuasaan sedikitpun
terhadap dirinya sendiri, yang telah diciptakan oleh Allah dan disempurnakan
ciptaannya serta ditegakkannya dalam tahapan-tahapan yang berurutan sehingga ia
menjadi manusia yang seutuhnya, lalu Allah menyediakan rezeki untuknya pada
saat ia masih berada di perut ibunya. Setelah ia keluar ke dunia ia masih dalam
keadaan lemah, lalu tumbuh dewasa dan mampu bekerja, maka Allah pun telah menyiapkan
rezeki untuknya; Bagaimana seorang manusia yang lemah seperti ini bisa saja
setelah itu mendurhakai kekuasaan dan karunia Yang Maha Besar ini serta
mengingkari adanya Sang pencipta?
Binatang
saja mengetahui semua ini dan bertasbih memuji Allah yang berjalan sesuai
dengan ilham Allah kepadanya, sungguh, "Mereka itu tak ubahnya seperti
binatang ternak, bahkan lebih sesat." (Al-A'raf: 179)
Saya
yakin bahwa siapapun orang yang atheis dan mengingkari adanya Allah, seandainya
ia mengalami kesulitan dan tidak mendapatkan pertolongan dari apa yang ada di
bumi yang bisa menyelamatkannya, maka engkau akan mendapatinya—secara tidak
disadari dan dari lubuk hatinya yang paling dalam—akan berdoa dan memohon,
"Ya Tuhanku selamatkanlah aku." Inilah keimanan fitri yang telah
tertutupi oleh ideologi sesat tersebut.
Para
penyeru ideologi ini telah membungkus prinsip mereka ini dengan permasalahan
ekonomi untuk mengelabui manusia selama beberapa waktu lalu setelah itu memaksa
mereka dengan kekuatan senjata. Dan lihatlah pada hari ini mereka sudah
melepaskan ideologi ini karena terbukti gagal dan mengakibatkan dampak buruk
yang sangat fatal.
Kita
harus membersihkan diri dari segala hal yang negatif yang kita derita akibat
gelombang materialisme, dan kembali kepada Rabbaniah yang sejati untuk Allah
agar kita bisa berbahagia di dunia dan akhirat kita.
MENUJU
RABBANIAH SEKALI LAGI
Setelah
pengaruh-pengaruh buruk yang destruktif dari gelombang kebudayaan materialis
dan peradaban kelezatan dan syahwat yang menimpa individu, keluarga dan
masyarakat ini menjadi jelas bagi kita, maka sudah sewajibnya bila kita
bersegera membebaskan diri kita dari belenggu materialisme dan kembali sekali
lagi kepada Rabbaniah dengan segenap keluhuran, dinamisme, kejernihan dan
kemuliaannya.
Marilah
wahai kaum muslimin, kita membebaskan diri dari pandangan materialis yang
sempit ini terhadap kehidupan dunia menuju kepada pandangan yang luas
membentang terhadap kehidupan abadi di akhirat. Marilah kita keluar dari
kesempitan dunia menuju luasnya akhirat.
Marilah
kita membebaskan diri dari daya tarik dunia yang akan membelenggu siapa saja
yang bergelayut dengannya dan menjadikannya merasa berat untuk berjihad karena
lebih cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, sehingga dengan
Rabbaniah ini kita bisa naik ke jajaran Malaikat, dan naik ke derajat yang
tinggi yang telah diraih oleh para Nabi, siddiqun, syuhada' dan orang-orang
shalih.
Marilah
wahai kaum muslimin, kita membebaskan diri kita dari kehinaan, kerendahan dan
ketergantungan terhadap apa saja yang mengenai kita disebabkan oleh kelemahan
iman kita dan keserakahan untuk meraih dunia dan fasilitas-fasilitas materinya,
agar kita bisa kembali meraih kemuliaan dan kekuatan serta kehormatan kita
sebagai umat terbaik yang ditampilkan untuk umat manusia.
Marilah
kita membangkitkan keimanan sekali lagi dalam jiwa kita yang merupakan sumber
kekuatan kita.
"Padahal
kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin,
tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (Al-Munafiqun: 8)
Marilah
kita menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat kita dari kehancuran yang
menimpa kita ini yang disebabkan oleh gelombang materialis, dan kita kembali
kepada Rabbaniyah dan tuntunan-tuntunan agama kita dalam semua aspek kehidupan
kita sekecil apapun.
"Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan." (At-Tahrim: 6)
Marilah
kita semua membebaskan diri dari panas dan semburnya materialisme ini menuju
kepada sejuknya keimanan dan ketinggian ruhani serta kedamaian hati. Marilah
kita membebaskan diri dari kebingungan, kegoncangan dan keterpurukan menuju
kehidupan yang tenang dan sejahtera di bawah naungan iman, kepasrahan kepada
Allah, tawakal kepada Allah, keridhaan kepada ketentuan Allah, dan harapan
untuk meraih pahala, rahmat dan surga dari Allah.
Marilah
kita mencabut rasa takut kepada kematian dari hati kita dan menanamkan
kecintaan untuk bertemu Allah serta senantiasa mengharapkan kesyahidan di jalan
Allah. Marilah kita membangkitkan ruh jihad dan pengorbanan sekali lagi agar
dengan izin Allah kita bisa mengembalikan kemuliaan dan daulah serta
kekhilafahan yang lurus kepada umat Islam.
Marilah
wahai kaum muslimin kita menghapuskan perpecahan dan pertentangan karena
memperebutkan harta dunia dan ambisi pribadi. Marilah kita kembali kepada
persaudaraan keimanan dan kesatuan barisan agar kita bisa bersatu dan saling
membantu dalam menghadapi berbagai tantangan musuh-musuh Islam, "Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara." (Al-Hujurat: 10)
"Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang
teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."
(Ash-Shaff: 4)
Marilah
kita membebaskan diri dari sikap egois, kecintaan terhadap diri sendiri, dan
kekikiran menuju sikap itsar dan kecintaan untuk memberikan kebaikan dan
bantuan kepada orang lain. Marilah kita saling tolong menolong dalam kebaikan
dan ketaqwaan dan bukannya dalam dosa dan permusuhan.
Kepada
setiap muslim yang menyadari arti afiliasinya kepada Islam, setiap mukmin yang
tulus imannya, bahkan setiap warga negara yang rindu kepada tanah airnya, kami
menyerukan agar ia menyambut seruan kami ini dan selanjutnya bersama-sama kami
bersatu dan bekerja sama dalam menghilangkan endapan kotor yang ditinggalkan
oleh gelombang materialisme dalam kehidupan kita, dan berjuang untuk membentuk
pribadi muslim di atas landasan aqidah yang selamat dan iman yang benar. Dari
sini, akan terbangun keluarga atau rumah tangga muslim di atas landasan taqwa,
yang mana keluarga-keluarga muslim ini merupakan komponen-komponen yang dinamis
dan tangguh bagi terbentuknya masyarakat muslim Rabbani yang mengimani syariat
Allah dan konsisten terhadapnya dalam semua aspek mehidupannya serta berjuang
dengan sungguh-sungguh agar menjadi undang-undang kehidupan berbangsa dan
menolak undang-undang dan prinsip-prinsip lainnya.
Kami
tidak ingin perkataan ini hanya sebatas konsep atau sekadar angan-angan, tetapi
kami ingin agar konsep ini diperjuangkan untuk bisa diaplikasikan secara
konkrit dan benar sehingga kita bisa bangkit dari keterpurukan dan bangun dari
tidur pulas ini, serta bisa mengembalikan kejayaan serta posisinya sebagai umat
terbaik yang ditampilkan untuk umat manusia, dan agar umat ini bisa menjalankan
misinya dalam memberikan petunjuk kepada umat manusia dan menyeru mereka kepada
agama yang haq yang diridhai oleh Allah untuk semua hamba-Nya hingga hari
kiamat. "Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama semuanya hanya
menjadi milik Allah." (Al-Anfal: 39)
Kami
menyadari bahwa problem ini sangat besar, tidak ringan dan mudah, serta
membutuhkan adanya pertolongan dan taufik dari Allah serta setelah itu adanya
tekad yang kuat dari para pejuangya. Yang demikian itu karena pengaruh-pengaruh
yang diakibatkannya juga sangat besar, di mana kebaikannya ini akan merata
untuk umat manusia semuanya dan tidak hanya terbatas kaum muslimin saja. Dan
kami menyadari bahwa membangun manusia untuk menjadi pemimpin itu lebih berat
dan lebih penting daripada membangun berbagai yayasan dan proyek. Sebagaimana
kami menyadari bahwa sunatullah dalam perubahan itu tidak akan bergeser dan
berubah-ubah.
"Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)
Perubahan
jiwa manusia tidak bisa terealisir hanya dengan menekan tombol, tetapi
membutuhkan hikmah dan kesabaran, kelembutan dan kontrol, karena jiwa manusia
memiliki berbagai penyakit, memiliki pintu-pintu dan stimulan-stimulan, dan
memiliki kecenderungan-kecenderungan kepada kebaikan dan
kecenderungan-kecenderungan kepada keburukan, di mana perang antara kebaikan
dan keburukan ini akan terus berkecamuk dalam jiwa manusia sampai mati.
Penyakit-penyakit jiwa dan hati itu lebih berbahaya dan mematikan bagi
pengidapnya daripada penyakit-penyakit badan, sehingga pengobatannya
membutuhkan kejelian, hikmah, kesehatan, dan stamina yang panjang, membutuhkan
upaya peningkatan aspek-aspek kebaikan dan membatasi
kecenderungan-kecenderungan kepada keburukan, membutuhkan penjagaan dari godaan
setan dan bangsa jin dan manusia, membutuhkan pemberian obat yang tepat dan
dosis yang tepat, serta pada waktu yang tepat pula, agar kesembuhan dan
kebebasan dari semua penyakit itu bisa terealisir.
Sesungguhnya
obat itu telah berada di hadapan kita; yaitu Kitab Allah dan Sunah Rasul-nya,
di mana di dalamnya terkandung kesembuhan yang total dan terapi yang mujarab
bagi semua penyakit. Sesungguhnya kita semua ini sedang menderita banyak
penyakit sehingga kita perlu bekerja sama untuk bisa sembuh dari
penyakit-penyakit ini, dengan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan
ketaqwaan, saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, serta saling
bantu-membantu dalam berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam.
Semua
ini tentu sangat membutuhkan kesungguhan yang besar dari kita dalam melawan
nafsu dan menundukkannya agar kita bisa menerapkan agama yang haq ini dengan
segenap kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada kita seperti aqidah yang
selamat, aqidah tauhid; ibadah yang benar dan ikhlas kepada Allah, akhlaq
Islamiah yang teguh, sunah Nabawiah yang mulia, muamalah-muamalah Islamiah yang
berpijak pada syariat Allah, dan komitmen untuk menerapkan hukum Allah di
tengah umat manusia. Dan di antara kurnia Allah kepada kita adalah; Dia akan
menolong dan memudahkan kita untuk menempuh jalan hidayah ini, bila Dia melihat
ketulusan tekad dan kesungguhan yang optimal dari diri kita. Maha Benar Allah
yang berfirman:
"Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-Ankabut: 69)
Barangkali
berguna bila kita menukilkan di sini penuturan Imam Syahid Hasan Al-Banna
seputar sikap kita terhadap gelombang materialisme dan pengaruh-pengaruh buruk
yang ditinggalkannya, di mana kita bisa melihat dalam penurunan ini tekad yang
kuat dan tulus untuk menghadapai gelombang materialisme dan berusaha untuk
menyurutkannya dari negeri-negeri kita bahkan menyerangnya dinegeri negeri
tempat kelahiran materialisme. Dalam risalah "Al Ikhwan Muslimun Tahta
Rayatil Qur'an" setelah menyinggung sebagian pengaruh buruk dari gelombang
materialisme yang mendera negeri-negeri kita, beliau menurunkan, "Urgensi
keberadaan kita wahai Ikhwanul muslimin adalah kita berhadapan dengan gelombang
materialisme, yang berupa kebangkitan sektor materi dan peradaban kelezatan dan
syahwat, di mana ia telah merosotkan moral bangsa-bangsa Islam, menjauhkan
mereka dari kepemimpinan Nabi saw, dan hidayah Al-Qur'an, menghalangi dunia
dari bimbingannya, menarik mundur peradabannya ke masa ratusan tahun silam
sehingga kita terbelenggu di negeri sendiri dan membiarkan masyarakat himpit
dengan derita.
Kita
tidak boleh tinggal diam di hadapan ini semua, namun harus kita hadap mereka di
tempatnya dan siap bertempur di bumi mana ia bercokol, hingga dunia seluruhnya
menyuarakan dakwah atas nama Nabi saw., dan menanamkan keyakinan kepada semua
bangsa terhadap nilai-nilai Islam.
Dengan
demikian, terkembanglah payung Islam mengayomi seluruh bumi. Ketika itulah
impian setiap muslim terwujud. Tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya
milik Allah."
"Bagi
Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari kemenangan
itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia
menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Penyayang." (Ar Rum: 4-5)
Begitulah
Imam Syahid mengungkapkan peran yang wajib kita mainkan untuk menghadapi
gelombang yang membuncah ini. Dan dengan obsesi besar yang kadang sebagian
orang membayangkannya sebagai sesuatu yang khayal dan jauh untuk dicapai,
tetapi kami memandangnya sebagai suatu hakikat yang dekat, insya Allah. Dan
tidak diragukan lagi bahwa pemahaman kita terhadap biang penyakit dan
sebab-sebab yang menghantarkan kepada kondisi ini sangat membantu kita dalam
menentukan jalan yang benar untuk melakukan terapi.
Dan
sebelumnya telah kami jelaskan bahwa penyebab yang melatar belakangi invasi
musuh-musuh Allah terhadap negeri-negeri kita sehingga meninggalkan
pengaruh-pengaruh buruk seperti ini, tidak lain adalah diakibatkan oleh
lemahnya iman dalam jiwa kita, kecenderungan kita kepada dunia dan
kesenangannya,di mana hal ini menyebabkan lemahnya kekuatan kaum muslimin dan
perpecahan mereka sehingga membangkitkan ambisi musuh-musuh Islam untuk
menguasai mereka dan mengusir mereka dari tanah air yang dulu adalah wilayah-wilayah
yang telah ditaklukkan oleh Islam seperti Andalus dan yang lainnya. Kemudian
mereka menduduki negeri-negeri kita dengan kekuatan militer mereka dan
menjauhkan syariat Islam dari pemerintahan sebagai gantinya mereka mendatangkan
undang-undang buatan manusia dan membatasi hukum syar'i hanya pada
masalah-masalah pribadi. Bahkan rencana jahat ini terus berlanjut sehingga pada
masanya, Abdun Nasher menghapuskan peradilan agama, dan pada masa Sadat mereka
juga mencoba mengusik undang-undang tentang masalah-masalah pribadi ini,
meskipun belakangan ini telah banyak upaya-upaya untuk membenahi bidang ini.
Kemudian
mereka menyerang negeri-negeri kita dengan berbagai bentuk kerusakan dan
kebobrokan seperti minuman keras, wanita, perjudian, riba, dan prostitusi yang
dilegalkan oleh mereka, sebagaimana mereka juga mengimport prinsip-prinsip
buatan manusia untuk memecah belah kesatuan bangsa dengan berbagai bendera yang
dulu merupakan lambang persatuan kaum muslimin. Kemudian setelah itu mereka
bertindak memicu konflik dan perpecahan bahkan peperangan antar sesama
negara-negara Islam, dan memicu pula pertentangan antar etnis dan
kelompok-kelompok masyarakat.
Ringkas
Penjelasan
Bahwa
sebab asasi yang mengakibatkan kemunduran ini adalah kelemahan iman, dengan
begitu berarti terapi yang asasi adalah memulai dengan membangkitkan keimanan
dalam jiwa sekali lagi, sehingga sosok pribadi muslim yang teladan itu bisa
terwujud, dan keluarga muslim ideal juga bisa terbangun untuk selanjutnya
masyarakat muslim juga bisa terbentuk yang nantinya akan menjadi tulang
punggung pemerintahan Islam yang mengembalikan umat manusia kepada agama Allah
dan Rabbaniyah yang haq.
Inilah
jalan yang benar, meskipun relatif panjang dan berat, tetapi memang di sana
tidak ada jalan lain selain jalan ini. Kemudian terbukti kesungguhan Ikhwanul
Muslimin untuk komitmen dengan jalan ini, rela dakwah mereka kepada manusia
untuk komitmen juga dengan jalan ini, rela mulai merealisasikan sebagian dari
apa yang diungkapkan oleh Imam Syahid di mana semua itu telah menyulutkan
gelombang materialisme di negeri-negeri kita dan menyerang balik materialisme
ini di negeri-negeri yang menjadi sarangnya. Dan Al-hamdu lillah, kiranya telah
banyak bukti yang mengukuhkan penuturan ini.
Dan
kami akan memberikan pembahasan yang cukup rinci seputar permasalahan iman,
karena tampaknya ia merupakan problem mendasar dan senjata yang paling kokoh
dalam perang yang dahsyat antara kebenaran dan kebatilan serta antara
materialisme dan Rabbaniah. "Dan Allah berkuasa terhadap
urusan-Nya." (Yusuf: 21)
BUAH
RABBANIAH YANG BAIK
Bila
materialisme memiliki pengaruh-pengaruh yang buruk dan membahayakan bagi
individu, keluarga dan masyarakat, maka sebaliknya dengan iman dan Rabbaniyah
yang memiliki pengaruh-pengaruh positif dan bermanfaat serta urgen bagi
individu, keluarga, dan masyarakat.
Bila
materialisme itu menyeret dan menjerumuskan manusia kepada tingkat kebinatangan
bahkan lebih sesat lagi, maka sebaliknya dengan iman dan Rabbaniyah yang
mengangkat manusia menuju ke derajat orang-orang yang shiddiq, para
syuhada' dan orang-orang shalih. Dan dalam pembahasan sebelumnya kami telah
memaparkan bentuk-bentuk pengaruh destruktif dari gelombang kebudayaan materi
dan peradaban kelezatan dan syahwat yang menyerang negeri-negeri Islam, maka di
sini kami akan memaparkan sebagian dari bentuk-bentuk pengaruh yang baik bagi
kehidupan yang Rabbani dan iman yang tulus.
Jalan
Menuju Rabbaniyah yang Benar
Sebaik-baik
jalan untuk menerapkan Rabbaniah adalah dengan meneladani Rasulullah saw. dalam
setiap aktifitas, sifat, akhlaq, dan jihadnya di jalan Allah untuk meneguhkan
agama Allah di muka bumi. Seorang muslim sejati sekarang ini harus menyadari
bahwa ia memikul kewajiban yang menjadi tuntutan tabiat fase yang dilalui oleh
dakwah Islamiah; yaitu: mendesaknya perjuangan untuk menegakkan daulah Islam
dan khilafah Islamiyah.
Daulah
Islam Menjadi Kebutuhan Umat Manusia Seluruhnya (Muslim dan Non Muslim)
Daulah
Islam yang merupakan tujuan besar yang diperjuangkan oleh kaum muslimin yang
tulus untuk diwujudkannya ini kalau telah berhasil tegak—dan dengan izin Allah
pasti akan tegak—, maka kebaikannya tidak hanya terbatas pada kaum muslimin
saja, tetapi dengan izin Allah ia akan membentang luas secara horizontal
mencakup semua umat manusia dan secara vertikal akan mencakup berbagai generasi
selanjutnya.
Kadar
kebaikan yang merata dan mencakup kehidupan manusia di dunia dan kehidupan
mereka di akhirat yang kekal abadi ini akan menentukan kadar para pejuang yang
ikut andil dalam mewujudkannya, dan menentukan pula kadar pahala dan balasan
yang besar dari Allah serta kadar keharuman dan kebaikan nama mereka bagi
generasi-generasi yang datang setelah mereka.
Iman
dan Rabbaniah Membangkitkan Berbagai Potensi
Sesungguhnya
Rasul saw. dan orang-orang beriman yang bersamanya telah menempuh jalan dakwah
ini untuk meneguhkan agama ini dan menghadapi tipu daya orang-orang musyrik dan
orang-orang kafir dengan penuh kesabaran, keuletan, perjuangan, kedermawanan,
pengorbanan dan keteguhan serta ketabahan dalam menghadapi berbagai resiko
besar yang menjadi konsekuensi dari perjuangannya.
Bila
memperhatikan, maka kita akan mendapati bahwa iman dan Rabbaniah merupakan
sumber bagi potensi-potensi tersebut yang tidak berhasil memancar dari jiwa
mereka, iman dan Rabbaniah ini pula yang menjadi pendorong bagi tekad dan
semangat tinggi yang menegakkan bangunan megah tersebut dan menghancurkan
kebatilan betapapun kuat dan perkasanya.
Menyeru
Orang Lain dengan Hikmah dan Nasihat yang Baik
Rasulullah
saw. telah menyeru kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik dan
bersabar dalam berdakwah kepada orang-orang musyrik sebagaimana beliau bersabar
atas gangguan mereka, meskipun demikian beliau tetap merasa iba terhadap mereka
dan merasa sedih karena berpalingnya mereka serta ketiadaan respon dari mereka.
"Maka
apakah barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka
berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini
(Al-Qur'an)." (Al-Kahfi: 6)
Demikianlah
seharusnya kesadaran seorang muslim Rabbani terhadap orang-orang yang diserunya
kepada Allah dan perjuangan demi agama Allah. Ia harus berdakwah dan bersabar,
menjadikan setiap gangguan yang dialaminya sebagai tabungan pahala, melanjutkan
perjalanan di medan dakwah tanpa pernah merasa jemu, lelah, lemah, minder
ataupun menyerah demi meraih pahala dan keridhaan dari Allah. Dan demikian juga
Rasulullah saw. telah menyerukan kita untuk bersabar dalam berdakwah dan
memberikan bimbingan kepada masyarakat dengan sabdanya, "Demi Allah,
bila seandainya Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantaramu,
maka hal itu lebih baik bagimu dari sekor unta merah." (h.r.
Muslim, 4/1833, kitab Fadha'ilush Shahabah)
Kesabaran
dan Kesiapan Menanggung Segala Kesulitan
Lihatlah
bagaimana keimanan dan Rabbaniah telah mengangkat orang-orang mukmin sehingga
mereka sanggup bertahan menghadapi penyiksaan sampai mati tanpa mau
mengeluarkan kata kufur sebagaimana Yasir dan Sumayyah yang merupakan contoh
terbaik untuk hal ini sehingga Rasul saw. sampai bersabda,
"Bersabarlah
wahai keluarga Yasir, karena tempat tinggal yang dijanjikan kepadamu adalah
surga." (h.r. Thabrani, Majma'uz Zawa'id, 9/294)
Mereka
lebih mengutamakan pahala dan surga Allah daripada kekayaan dunia dan
kenikmatannya. Lihatlah kaum Muhajirin, bagaimana Rabbaniah telah mengangkat
mereka dari daya tarik dunia dan menjadikan mereka meninggalkan tanah air dan
harta benda mereka serta lebih mengutamakan apa yang berada di sisi Allah. Dan
dalam sirah banyak terdapat teladan-teladan indah sebagai aplikasi yang konkrit
dari makna luhur ini.
Cinta
dan Itsar
Kemudian
lihatlah bagaimana iman dan Rabbaniah telah menjadikan orang-orang Anshar
mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka bahkan lebih
memprioritaskan mereka daripada diri sendiri meskipun sangat membutuhkan.
Demikianlah,
tradisi-tradisi jahiliah dengan berbagai gambarannya yang buruk telah hilang
seperti sifat keras, kesat, suka membunuh, mengubur hidup-hidup anak putri,
permusuhan, penjarahan harta. Dan sebagai gantinya mereka telah menghiasi diri
mereka dengan akhlaq mulia, yang diantaranya adalah cinta dan itsar.
Langkah
Miripnya Malam ini dengan Kemarin
Pada
masa kita sekarang ini, para dai dihadapkan pada kondisi yang hampir serupa
dengan kondisi yang dulu dihadapi oleh Rasul saw. dan para sahabat di saat
mereka berdakwah. Kita mendapati banyak orang yang berpaling dari dakwah kita,
maka kita harus tetap bersabar dalam berdakwah kepada mereka ini. Kita juga
mendapati orang-orang yang menghalangi jalan kepada Allah dan menanamkan
keraguan pada masyarakat tentang dakwah dan sistem kita, maka kita harus
bersabar dan tidak boleh terpengaruh ataupun tekad kita menjadi lemah
menghadapi rintangan dan keraguan ini, bahkan kita tetap menyuarakan kebenaran
dengan lantang dan terang-terangan serta kita tidak takut sedikitpun terhadap
celaan orang-orang yang mencela dalam membela agama Allah.
Bila
kita dihadapkan pada gangguan dan penyiksaan, maka kita harus bersabar, tetap
tegar dan menjadikan itu sebagai peluang untuk meraih pahala dari Allah
sehingga kita sedikit pun tidak boleh merasa lemah atau berhenti di tengah
jalan.
"Mereka
tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan
tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang
yang sabar. Tidak ada Do'a mereka selain ucapan: Ya Tuhan kami, ampunilah
dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan
kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. Karena itu Allah memberikan
kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Ali Imran: 146-148)
Sikap-sikap
Kontemporer yang Seakan Mengulang Sejarah Generasi Pendahulu Kaum Muslimin
Berkat
karunia Allah kemudian berkat pengaruh dari tarbiyah Rabbaniyah, Allah telah
menolong ikhwan yang sedang menghadapi berbagai bentuk penyiksaan, pembunuhan,
dan penahanan sehingga mereka bisa tegar dan bersabar serta tetap teguh dan
tanpa menjadi lemah, mengendor atau menyerah kalah di hadapan keangkuhan dan
kekejaman penguasa. Dan barangkali sangat berguna sekali bila saya menuliskan
beberapa peristiwa dan sikap di belakang terali besi yang menjelaskan pengaruh
Rabbaniyah yang baik terhadap jiwa ketika menghadapi masa-masa sulit.
Ada
salah seorang ikhwan yang diculik oleh aparat keamanan di rumahnya dengan kasar
di tengah malam, lalu dia dijebloskan ke sebuah penjara yang sempit dan gelap
sehingga hampir ia tidak bisa melihat tangannya sendiri lalu setelah itu
pintunya ditutup. Pada saat memasuki masa persidangan ia selalu mendapatkan
siksaan yang sangat berat. Tapi keimanan dan Rabbaniyanya seakan menjadi
penyejuk dan penyegar di mana pada waktu itu terlintas dalam benaknya sebuah
pikiran yang mengalihkannya dari kondisi sempit dan kegelisahan—yang senantiasa
mengiringi kondisi di tempat seperti ini—kepada suasana jiwa yang tenang dan
optimisme.
Pikiran
yang terlintas di benaknya bahwa dirinya tidak sedang berada dalam penjara yang
gelap, tetapi sebagai penghuni kubur yang akan menghadapi hari kebangkitan,
perhitungan dan pembalasan, sehingga ia merasa takut dan sedih kepada dirinya
sendiri dari siksa Allah dan dari neraka Jahannam.
Lalu
seakan ia berlindung kepada Allah dan memohon agar dikembalikan lagi ke dunia
untuk memperbaiki keadaannya dan membenahi urusannya serta melakukan amal
shalih yang akan megarahkannya ke dalam surga dan menyelamatkannya dari siksa
Allah. Dan seakan Allah telah mengabulkan do'anya dan mengembalikannya lagi ke
dunia; dan benar, ternyata dia masih hidup di dunia, di depannya terbentang
kesempatan emas untuk memperbaiki keadaannya sekali lagi dan bersungguh-sungguh
dalam meraih keridhaan Allah. Demikianlah buah yang baik dari Rabbaniyah,
sehingga ia menjadi orang yang berbahagia, bergembira dan optimis tidak lagi
mengalami kesedihan dan kekhawatiran, karena ia satu jam yang lalu atau kurang
dari itu masih berada di tengah keluarganya, lalu tiba-tiba saja ia harus
meringkuk sendirian di sel penjara yang gelap gulita.
Dan
seandainya bila kita membayangkan salah seorang dari mereka yang sisi
Rabbaniyahnya terkalahkan oleh sisi materialismenya, niscaya kita akan
mendapatinya melewati masa-masa sulit seperti ini dalam kondisi kejiwaan yang
mengenaskan, kegelisahan dan kegoncangan jiwa yang hebat. Di mana kami sendiri
pernah melihat sebagian dari mereka yang biasa menyiksa ikhwan di penjara
sedang, ketika mereka dihadapkan pada penahanan dan penyidikan atas berbagai
kasus penyiksaan yang telah mereka lakukan, di mana sebagian dari mereka
menangis sambil merengek-rengek di penjara tak ubahnya seperti anak-anak dan
kaum wanita yang lemah.
Rabbaniyah
Mengubah Kengerian Menjadi Keceriaan
Saya
akan menukilkan deskripsi lain dari balik terali besi yang menjelaskan pengaruh
yang baik dari Rabbaniyah ini, di mana salah seorang ikhwan pernah ditahan
sendirian, yang berarti dia berada di sebuah sel yang sempit dan terkunci
sepanjang siang dan malam serta tidak bisa berhubungan dan berbincang dengan
siapapun, dia hanya keluar untuk keperluan buang hajat kadang di waktu pagi dan
kadang di sore hari dengan pengawalan yang ketat dan sama sekali tidak
diperbolehkan berbicara dengan siapapun di saat berjalan menuju ke kamar kecil
maupun sekembalinya ia dari tempat ini.
Seandainya
kita membayangkan kondisi seperti ini dengan para materialis, niscaya kita akan
memberikan kata putus bahwa akh ini sedang berada dalam kondisi yang
benar-benar menyusahkan, menyedihkan dan mengenaskan, serta berharap seandainya
pintu selnya dibiarkan terbuka meskipun tidak bisa berbicara dengan seorangpun.
Tetapi
dengan keimanan dan Rabbaniahnya saudara kita ini merasa sedang berkhalwat
bersama Allah, dan Kitab Allah menjadi teman terbaiknya yang senantiasa ia
membaca dan mentadabburinya, merenungi cahaya, petunjuk, dan nasihatnya untuk
mengobati apa yang ada di dadanya. Sungguh Al-Qur'an merupakan sumber cahaya,
petunjuk, rahmat, nasihat, dzikir dan obat yang tak akan pernah kering
sebagaimana semua ini juga menjadi nama-nama Al-Qur'an. Akh kita ini senantiasa
melakukan shalat yang sangat khusyu' dengan ruku' dan sujud yang sangat
panjang, di mana pada saat melakukan ruku' dan sujud ini ia merasa sangat dekat
sekali dengan Allah lalu ia berdo'a dengan sungguh-sungguh. Ia juga selalu
bangun waktu sahur untuk melakukan qiyamul lail dan bermunajat kepada Tuhannya
di keheningan malam, seakan mengetuk pintu Allah Yang Maha Pemurah dengan ruku'
dan sujudnya, dengan do'a dan air matanya karena takut kepada-Nya.
Demikianlah
ia bisa hidup dalam suasana ruhiah yang membahagiakan dan kemesraan hubungan
dengan Allah, sehingga seakan ia hidup di dunia yang maha luas tidak ada
dinding yang membatasi dan pintu yang terkunci.
Akh
yang mulia ini menceritakan kepada kami bahwa seorang penjaga yang berdiri di
depan pintunya untuk menjaga jangan sampai ada orang yang berhubungan dengannya
merasa kasihan kepadanya karena keterisolasiannya yang total dan untuk
selamanya, sehingga penjaga ini memanfaatkan waktu istirahatnya para pimpinan
penjara di waktu siang untuk membuka sedikit pintu sel agar akh ini merasa
sedikit longgar. Tetapi akh yang telah hidup dalam suasana Rabbaniah yang
tinggi justru menuturkan bahwa ketika penjaga itu membuka pintu, kemesraan itu
menjadi berkurang dan justru merasa ngeri tidak sebagaimana ketika pintu selnya
itu tertutup. Demikianlah kita melihat bagaimana Rabbaniah dengan makna-makna
dan parameter-parameternya telah mengubah kesedihan menjadi kegembiraan dan
kepedihan menjadi kebahagiaan, serta kengerian menjadi keceriaan.
Sesungguhnya
aspek ruhiah seorang mukmin ketika bisa meningkat dan menguat, maka semua
kepayahan fisik dan materi akan menjadi tidak berarti, dan akan melahirkan pada
dirinya potensi dan kekuatan kesabaran yang tidak terdapat pada diri orang
biasa. Rasulullah saw. melakukan qiyamul lail sampai bengkak kedua kakinya
tetapi beliau sama sekali tidak merasakan lelah atau sakit, karena beliau
mendapatkan kebahagiaan ruhiah yang memuncak sehingga menjadikannya lupa
terhadap semua rasa sakit dan kelelahan fisik.
Kami
juga bisa mengetahui sedikit makna seperti ini pada diri Imam Syahid yang mana
keimanan dan Rabbaniahnya telah mendominasi jiwanya dan mendorongnya untuk
beramal dan mengerahkan segenap potensi yang dimiliki. Di mana pada setiap
peringatan hari-hari besar Islam seperti peringatan Hijrah, perang Badar, Isra'
dan Mi'raj dan peringatan-peringatan yang lainnya, beliau menghabiskan waktu
sebulan penuh untuk mengisi acara-acara menyambut hari-hari besar itu, hampir
setiap hari beliau menghadiri muktamar baik di kota maupun di desa, bahkan
kadang beliau harus menghadiri dua kali muktamar dalam satu hari, dan bepergian
mengelilingi semua wilayah Mesir dari Iskandariyah sampai Aswan, serta setelah
usainya muktamar-muktamar ini beliau banyak menghabiskan waktunya untuk safari
dakwah dan berdialog dengan para ikhwan sehingga beliau tidak tidur kecuali
beberapa saat yang amat sedikit, meskipun demikian beliau tidak pernah
meninggalkan tahajjud menjelang fajar, dan saya mendapati aktifitas dan
energinya selalu baru dalam setiap harinya.
"Demikianlah
karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah
mempunyai karunia yang besar." (Al-Jumu'ah: 4)
SEBAGIAN
PENGARUH RABBANIAH DALAM TRIBULASI
Kehidupan
manusia di dunia ini senantiasa berubah-ubah dan tidak konstant, di mana ia
seringkali mengalami kemudahan dan kesulitan, kekayaan dan kemiskinan,
kelapangan dan kesempitan, kesehatan dan sakit, keselamatan dan berbagai
tribulasi dan seterusnya.
Dan
yang menarik perhatian adalah pengalaman manusia terhadap kondisi yang
berubah-ubah itu sangat beragam dari satu orang ke orang yang lain tergantung
dominasi Rabbaniah atau materialisme pada dirinya.
Barangsiapa
yang aspek Rabbaniahnya mengalahkan aspek materialismenya, maka ia akan
mensikapi berbagai keadaan dengan sikap yang selaras dan positif, berbeda
dengan seseorang yang aspek materialismenya mengalahkan aspek Rabbaniahnya, di
mana ia akan mensikapi berbagai keadaan tersebut dengan sikap-sikap yang
kontradiktif dan negatif.
Kita
mendapati seorang yang Rabbani mensikapi kekayaan dengan rasa syukur karena
menyadari hal itu adalah anugerah Allah dan Dialah-lah Punya nikmat dan Pemberi
anugerah yang hakiki, menyadari bahwa ia harus menunaikan hak Allah dalam harta
ini, memilih yang halal dan menjauhkan diri dari yang haram, serta senantiasa
memiliki kesadaran untuk menghantarkannya kepada fitnah, penyimpangan dan
keterjerumusan ke dalam siksa neraka. Jika seorang yang Rabbani ini mengalami
kekekalan maka kita akan mendapatiya bersabar dan ridha serta tidak mengeluh
karena ia menyadari bahwa dunia bukanlah kampung kenikmatan dan mengingat
kehidupan Rasulullah saw. sebagai hamba yang paling mulia di sisi Allah,
bagaimana makanan, pakaian, perkakas rumah tangga istri-istri beliau, dan
berapa kali beliau terpaksa keluar rumah karena kelaparan.
Sedangkan
seorang yang aspek materialismenya mengalahkan aspek Rabbaniahnya, bila kaya
kita mendapatiya sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, durhaka dan
melupakan pemberi nikmat yang hakiki serta meyakini bahwa harta ini
diperolehnya berkat usahanya, sebagaimana perkataan Qarun, "Sesungguhnya
aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (Al-Qashash:
78)
Ia
juga melupakan orang-orang fakir dan miskin, serta tidak mau menunaikan hak
Allah yang terdapat dalam harta ini sebagai amanat dari Allah pada dirinya.
Sedangkan bila ia mengalami kemiskinan, maka kita akan mendapatiya selalu
gelisah dan bosan hidup serta merasakan betapa sempitnya dunia ini, yang
seringkali kondisi ini mendorongnya untuk melakukan bunuh diri dan mengakhiri
hidupnya.
Demikianlah,
kita melihat seorang mukmin menghadapi kebaikan dan keburukan dengan sikap yang
selaras dan positif, karena ia menyadari bahwa Allahlah yang telah menakdirkan
kebaikan dan keburukan ini. Dan kadang ada seseorang yang berhasil lulus dari
ujian kemiskinan dan kesusahan, tetapi ketika menghadapi ujian kebaikan yang
berupa dunia dan segenap kenikmatan yang mengguncangkannya, ia ternyata
terfitnah dan mengalami kegagalan dalam menjalani ujian ini. Maha benar Allah
yang telah berfirman,
"Dan
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang
sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (Al-Anbiya':
35)
"Dan
sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar, Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (sesungguhnya
kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang
mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Baqarah:155-157)
Dan
benar pula sabda Rasul saw.,
"Sungguh
heran terhadap urusan orang mukmin, semua urusannya itu baik adanya, dan hal
ini tidak terjadi kecuali pada diri seorang mukmin. Bila mendapatkan
kegembiraan ia bersyukur, dan hal ini baik baginya, dan bila ditimpa musibah ia
bersabar, dan hal ini baik baginya." (h.r. Muslim, 4/ 2295, Kitab
Zuhd wa Babul Mu'min Amruhu Kulluhu Khair)
Dalam
kondisi yang penuh dengan tribulasi, seorang mukmin akan menghadapi berbagai
bentuk cobaan, gangguan, penjara, penyiksaan dan pembunuhan, akan tetapi iman
dan Rabbaniah memiliki pengaruh yang besar untuk meringankan beratnya semua
ujian ini dalam dirinya, dan melahirkan kekuatan dan ketegaran dalam melintasi
masa-masa sulit ini.
Kasus-kasus
Kontemporer yang Hidup
Barang
kali berguna sekali bila kami memaparkan beberapa deskripsi dan contoh yang
bisa menjelaskan pengaruh yang baik dari rabbaniyah dalam masa-masa
sulit tersebut. Di antaranya adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh salah
seorang ikhwan pada saat kami sedang mendekam dalam penjara, yang mana berkat
karunia Allah kisah ini memiliki pengaruh yang baik dan lestari bagi kami. Ia
menuturkan, "Ada seorang penguasa yang diktator dan lalim, yang merasa
disudutkan oleh seorang yang shalih lalu ia ingin membalas dendam atas atas
sakit hati dan kemurkaannya dengan menjebloskan orang ini ke dalam penjara agar
merasakan kesedihan dan penderitaan. Setelah beberapa hari ia mengutus
utusannya ke penjara untuk menginformasikan penderitaan dan kesedihan orang ini
kepada penguasa sehingga ia bisa merasa lega dan puas. Ketika tiba di penjara,
sang utusan mendapati orang ini sedang berada dalam keadaan aman, damai,
gembira, dan bahagia, sehingga ia pun kaget lalu bertanya, 'Seharusnya kamu
sedih dan gelisah, tetapi mengapa justru kamu kelihatannya senang dan bahagia,
apa sebabnya sehingga kamu bisa berbahagia seperti ini?'
Orang
shalih itu menjawab, 'Sesungguhnya setiap hari aku selalu minum obat yang
terdiri dari tujuh komposisi yang menjadikanku sebagaimana yang kamu lihat.'
Utusan ini bertanya, 'Obat apakah itu? Dan apakah ketujuh komposisi itu?' Ia
menjawab,
Komposisi
yang pertama: adalah keyakinan kepada Allah. Saya yakin kepada Allah dengan
sepenuhnya, di mana hal ini menjadikanku menyadari bahwa semua yang ditakdirkan
oleh Allah untukku itu lebih baik bagiku, meskipun tampak sebagai sesuatu yang
buruk. "Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)
Komposisi
kedua: Saya menyadari bahwa takdir Allah itu pasti akan terjadi dan tidak
ada tempat untuk berlari serta kemampuan untuk menolak takdir itu. Jadi
kewajiban saya hanya ridha terhadap ketentuan ini dan tidak merasa bersempit
dada terhadapnya.
Komposisi
ketiga: Keadaan saya sekarang ini adalah ujian dari Allah, dan keberhasilan
dalam melalui ujian ini adalah dengan bersikap sabar dan mengharap pahala Allah
serta keinginan yang besar bahwa Allah akan mengganti keburukan ini dengan
kebaikan baik di dunia dan akhirat. Sehingga dengan begitu kesedihan dan
kegoncangan bisa hilang dari diri sama sekali, dan saya bisa melakukan ibadah,
tidur, dan makan dengan penuh ketenangan dan kedamaian.
Komposisi
keempat: Bila saya tidak bersabar, maka keuntungan apa yang bisa saya petik
dari sikap ini? Dan jawaban untuk pertanyaan ini sangat jelas, yaitu
bertambahnya kesedihan di atas kesedihan dan penderitaan di atas penderitaan
sehingga menjadikan pemiliknya semakin mengalami kesedihan dan kegoncangan jiwa
serta tidak akan bisa menikmati tidur, makan dan ibadahnya.
Komposisi
kelima: Saya yakin di sana ada orang yang mengalami penderitaan yang lebih
berat dari penderitaan saya ini, sehingga saya memuji Allah atas penderitaan
yang saya alami ini. Dan disebutkan dalam perumpamaan, "Barang siapa
melihat musibah orang lain, akan menjadi ringan musibah yang menimpanya".
Komposisi
keenam: Saya menyadari bahwa musibah yang menimpaku sama sekali tidak
mengusik agamaku, karena musibah yang sesungguhnya adalah musibah yang me nimpa
agama dengan mengalami kesesatan, kefasikan dan kekafiran. Sedangkan musibah
yang me nimpa harta, anak, atau fisik, maka semuanya itu adalah ringan dan
dampaknya juga ringan bila dibandingkan dengan musibah yang me nimpa agama kita
dan dampak buruk dari musibah ini. Karenanya, Rasul mengajarkan agar kita
senantiasa berdoa: "Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan musibah ini
menimpa agama kami." (h.r. Tirmidzi, 5/493, no. 3502)
Komposisi
ketujuh: Dan terakhir dari waktu ke waktu saya selalu menunggu-nunggu
pembebasan dari Allah, karena semua urusan itu berada di tangan Allah dan
kekalnya satu keadaan itu merupakan satu hal yang mustahil. "Dan masa
(kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka
mendapat pelajaran)." (Ali Imran: 140)
Ketika
utusan itu kembali dan menceritakan apa yang ia lihat dan yang ia dengar,
penguasa itu berkata, 'Bebaskanlah ia, karena saya tidak akan bisa menimpakan
penderitaan kepadanya dari orang-orang sepertinya'.
Dengan
kembali kepada ketujuh komposisi tersebut, kita akan mengetahui bahwa semuanya
ini bersumber dari Rabbaniyah dan pandangan Rabbani. Dan di antara
parameter Rabbani yang urgent dan memiliki pengaruh yang baik dalam diri kita
adalah, "Setiap ujian yang masih kalah oleh dahsyatnya neraka adalah
keselamatan, dan setiap kenikmatan yang masih kalah dengan kenikmatan surga
adalah kecil". Kita mendapati Bilal yang bersabar dan bertahan serta
mengharapkan pahala dari Allah dalam menjalani ujian yang sangat berat, ia
hanya mengatakan, "Ahad, ahad" (Allah Yang Esa, Yang Esa) sebagai
ekspresi dari keimanan kepada Allah Yang Maha Esa yang bersemayam dalam
hatinya. Demikian juga yang mendapati Sumaiyyah dan Yasir menolak untuk
melafadzkan kata-kata kufur dan dengan penuh ketabahan menjalani penyiksaan
mereka, sehingga akhirnya lebih memilih syahid untuk dapat meraih kenikmatan
yang ada di sisi Allah. Begitu juga dengan sikap ahli sihir Fir'aun setelah
keimanan meresap dalam hati mereka, padahal Fir'aun telah mengancam dan
menakut-nakuti mereka dengan siksa yang amat pedih: "Sesungguhnya aku
akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal
balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon
kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih
dan lebih kekal siksanya." (Tha ha: 71)
Tetapi
mereka tidak gentar dan beralih dari keimanan mereka, bahkan keimanan mereka
ini mendorong mereka untuk menjawab ancaman dengan jawaban rabbani yang tegas,
"Mereka
berkata, "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada
bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada
Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu
putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan memutuskan pada kehidupan dunia ini
saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni
kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami
melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (adzab-Nya)."
(Tha ha: 72-73)
Dan
sepanjang zaman para penyeru kepada Allah akan selalu menghadapi berbagai
bentuk gangguan dan penyiksaan. Dan pada saat sekarang ini para musuh-musuh
Allah yang kejam telah menggunakan sarana-sarana penyiksaan yang canggih, namun
demikian orang-orang mukmin yang menjadi korban penyiksaan ini bisa bersabar
dan mengharapkan pahala serta pertolongan dari Allah seraya memohon agar dengan
semua ujian ini mereka bisa dibebaskan dari neraka Jahanam dan berbagai siksa
pedih di dalamnya. Sehingga ketika dibelenggu dengan rantai besi di tangan dan
kaki, lalu diseret dan dijebloskan ke dalam penjara yang sangat sempit, mereka
hanya mengingat deskripsi serupa yang akan dialami oleh para algojo yang lalim
ini di neraka Jahanam, yang telah digambarkan dalam Al-Qur'an seperti firman
Allah,
"Apabila
neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya
dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di
neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan
dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu sekalian mengharapkan satu
kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan:12-14)
"Dan
kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama
dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka
ditutup oleh api neraka." (Ibrahim: 49-50)
"Peganglah
dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam
api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang
panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqah: 30-32)
"Sesungguhnya
orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.
(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka (dikatakan
kepada mereka), 'Rasakanlah sentuhan api neraka'." (Al-Qamar:
47-48)
Dan
di antara pesan-pesan Rabbaniah yang diingatkan oleh salah seorang ikhwan pada
saat kami sedang mendekam dalam penjara dan menunggu keputusan hukum dari
pengadilan lalim yang berupa vonis untuk menjalani kerja-kerja berat seumur
hidup atau vonis kejam lainnya, ia berkata, "Bila Nabi Musa as harus
melewati masa selama delapan atau sepuluh tahun dengan bekerja sebagai mas
kawin untuk istrinya, lalu bagaimana dengan kalian yang ingin menikah dengan
bidadari di surga, maka janganlah kalian menganggap berat dan panjang vonis apa
saja yang akan dijatuhkan kepada kalian.
Saya
akan menutup pembahasan seputar pengaruh rabbaniah di masa-masa tribulasi
dengan firman Allah,
"Dan
ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi
tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik
kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu
kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar
kamu bersyukur." (Al-Anfal: 26)
"Dan
Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan
hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang
mewarisi (bumi), Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan
Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu
mereka khawatirkan dari mereka itu." (Al-Qashash: 5-6)
PARAMETER-PARAMETER
RABBANIAH DI JALAN DAKWAH
Agar
bisa melanjutkan perjalanan dakwah dan mewujudkan tujuan besar yang menjadi
tuntutan tabiat fase yang dilalui dakwah Islamiyah, yaitu peneguhan agama Allah
di muka bumi dengan menegakkan daulah dan khilafahnya, maka kita sangat
membutuhkan seorang individu muslim Rabbani, keluarga muslim Rabbani, dan
masyarakat muslim untuk menegakkan pemerintahan Islam yang Rabbani yang
berpijak pada basis Rabbaniyah yang solid.
Dan
sebagaimana telah jelas bahwa individu muslim Rabbani adalah unsur asasi dalam
setiap tahapan rekonstruksi dakwah dari pembentukan keluarga, masyarakat,
pemerintahan hingga daulah dan khilafah. Dan seiring dengan orisinalitas dan
keteguhan individu muslim ini, maka akan menjadi orisinal dan solid pula
tahapan-tahapan berikutnya, begitu pula sebaliknya.
Pilar-pilar
Asasi pada Diri Seorang Muslim Rabbani
Oleh
karena kita menghendaki kekuatan, kekokohan, kemapanan dan kejayaan daulah yang
kita cita-citakan, maka kita harus memperhatikan sepenuhnya batu bata yang
menjadi unsur pertamanya, yaitu individu muslim, di mana pada dirinya harus
terwujud pilar-pilar asasi yang akan menjadikannya sebagai teladan dan contoh
bagi orang-orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk ikut memberikan
andil dan peran aktif dalam mewujudkan cita-cita yang besar ini.
1.
Keselamatan Aqidah dan Kekuatan Iman
Pilar
yang utama dan paling penting adalah keselamatan aqidah dan kekuatan iman
sebagai landasan yang kokoh bagi pembentukan individu seorang muslim. Jadi
aqidah tauhid hendaknya selalu bersih dan terjaga serta tidak terkotori oleh
noda apapun dari prinsip-prinsip ataupun ideologi-ideologi materialisme. Iman
hanya kepada Allah Yang Maha Esa, loyalitas hanya untuk Allah Yang Maha Esa,
dan keikhlasan juga hanya untuk Al-Khaliq, hari akhir dan taqdir yang baik
ataupun yang buruk.
Jadi
individu ini harus menghiasi diri dengan keimanan yang kuat dan dinamis yang
selalu mendorongnya untuk beramal, bersabar, berjihad, berkorban dan bertahan
di jalan dakwah betapapun panjangnya jalan itu dan banyaknya kendala yang
merintangi.
2.
Kebenaran Ibadah
Di
antara pilar asasi bagi individu muslim yang notabene sebagai pejuang aqidah
dan prajurit dakwah, adalah kebenaran ibadahnya yang pada hakikatnya ibadah ini
merupakan misi utama bagi manusia di dunia ini,
"Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku." (Adz-Dzariat: 56)
Dan
yang dimaksudkan dengan kebenaran ibadah tidak hanya sekadar memperhatikan
hukum-hukum yang menentukan sahnya suatu ibadah dan tidak membatalkannya,
tetapi lebih dari itu kita dituntut untuk menghadirkan hati ketika
melaksanakannya dan menguatkan hubungan kita dengan Allah agar bisa mewujudkan
tujuan dari ibadah tersebut yaitu; ketaqwaan kepada Allah.
"Hai
manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertaqwa." (Al-Baqarah: 21)
"Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (Al-Baqarah: 183)
Allah
itu Maha Kaya dan tidak membutuhkan kita dan ibadah kita, tetapi justru kita
yang membutuhkan ibadah ini agar kita bisa meraih pahala dan keridhaan Allah
serta bisa meraih surga dan selamat dari api neraka. Dan pada hakikatnya bila
setiap kewajiban dari keempat kewajiban ibadah itu dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh, maka akan memberikan aspek-aspek tarbawiyah tertentu yang
berbeda dengan aspek tarbawiyah dari kewajiban ibadah yang lain, di mana semua
aspek ini akan saling menyempurnakan dan menghasilkan teladan yang baik bagi
individu muslim Rabbani. Dan seseorang yang aspek materialismenya lebih dominan
daripada aspek Rabbaniyah dalam mekehidupannya kadang melakukan
kewajiban-kewajiban ibadah ini tetapi tidak bisa melahirkan ketaqwaan yang
merupakan buah dari ibadah ini karena ia melaksanakannya secara fisik dan tidak
memiliki ruh.
3.
Keteguhan Akhlaq
Di
antara pilar penting bagi pejuang dakwah yang Rabbani adalah keteguhan akhlaq,
karena bidang akhlaq adalah bidang yang sangat penting dan batu uji yang
esensial antara Rabbaniyah dan materialisme, di mana Rabbaniyah ini menyeru
kepada akhlaq Islamiyah yang utama dan komitmen terhadapnya dalam semua situasi
dan kondisi. Jadi pejuang dakwah adalah sekaligus pemilik akhlaq yang utama
karena ia memerankan teladan kokoh yang dinamis untuk dakwah Islam, dan
Rabbaniyah juga mendorongnya untuk komitmen dengan akhlaq yang utama ini
sebagai bentuk berbakti kepada Allah dan keteladanan kepada Rasulullah saw.
yang telah bersabda, "Aku diutus untuk menyempurnakan kebaikan
akhlaq." (h.r. Ahmad, 2/381).
Rasulullah
saw. juga bersabda, "Tidak ada sesuatu yang diletakkan dalam timbangan
lebih berat dari akhlaq yang baik, dan sesungguhnya pemilik akhlaq yang baik
benar-benar akan mencapai derajat (orang-orang yang mengerjakan) puasa dan
shalat." (h.r. Tirmidzi, 4/319, no. 2003)
Dan
dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. pernah ditanya tentang sesuatu yang
sering memasukkan manusia ke dalam surga, beliau menjawab, "Taqwa
kepada Allah dan akhlaq yang baik". dan pernah ditanya tentang sesuatu
yang sering menjerumuskan manusia ke dalam neraka, lalu beliau menjawab, "Mulut
dan kemaluan". (h.r. Tirmidzi, 4/319, no. 2004)
Gelombang
kebudayaan materi dan peradaban kelezatan dan syahwat yang membunuh ini telah
merusak akhlaq sebagian besar masyarakat, sehingga hampir yang ma'ruf menjadi
munkar, yang munkar menjadi ma'ruf dan dusta, penipuan, suap, penghianatan
terhadap janji dan kebutuhan akhlaq yang lain menjadi perkara yang lumrah dan
mentradisi. Karena itu perlu sekali melakukan mujahadatun nafs dan menyuguhkan
teladan yang benar bagi individu muslim sebagai pemilik akhlaq Islamiy yang
teguh dan pemilik kemauan yang kuat, sehingga tidak merasa lemah dan kalah
dalam menghadapi kebatilan dan tipu dayanya. sebagai individu yang bersifat
lapang dada terhadap masyarakat dan para penentangnya, memaklum orang-orang
yang mengusilinya, dan bersabar dalam menyeru manusia kepada Allah. Dan juga
sebagai pemilik kesetiaan yang teguh sehingga tidak akan bersikap plinplan dan
menipu. Serta sebagai pemilik pengorbanan paling mahal yang tidak pernah
terhalangi oleh keserakahan dan kekikiran.
4.
Wawasan Pemikiran
Di
antara pilar-pilar individu muslim Rabbani di jalan dakwah, adalah hendaknya ia
memiliki wawasan pemikiran yang luas, karena agama kita sangat menyerukan kita
untuk menuntut ilmu dan pengetahuan. Jadi wajib bagi semua orang yang
menyiapkan diri untuk memberi hidayah kepada umat manusia, hendaknya mereka
memiliki wawasan pemikiran yang luas, komprehensif dan jernih sebagaimana
pertama kali dibawa oleh Rasul saw., jauh dari parsialisme, penyimpangan atau
kesalahan. Mereka hendaknya menjadi orang-orang yang berprestasi dalam berbagai
bidang keilmuan dan berusaha mewarnai bidang-bidang keilmuan tersebut dengan
warna Islam serta mendaya gunakannya untuk pemakmuran bumi dalam rangka
memberikan pelayanan kepada umat manusia dan bukannya dalam rangka menghancurkan
serta membinasakan mereka. Dan wajib juga bagi mereka untuk memiliki perhatian
yang terus-menerus terhadap semua peristiwa dan konflik antar ideologi dan
negara yang terjadi di dunia Islam maupun dunia internasional.
5.
Kekuatan Fisik
Begitu
juga termasuk pilar-pilar penting bagi pejuang dakwah dan prajurit aqidah,
hendaknya ia memiliki fisik yang kuat dan sehat agar bisa menunaikan
tuntutan-tuntutan perjuangan dan dakwah kepada Allah serta jihad di jalan
Allah.
Islam
menyerukan kepada kita untuk memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuh,
Rasulullah saw. bersabda,
"Seorang
mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari seorang
mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan." (h.r.
Muslim, 4/2053, no.2664)
Seorang
mukmin Rabbani akan senantiasa menjaga tubuhnya dari segala hal yang akan
merusak kesehatannya yang sudah banyak merebak di tengah masyarakat yang
terbuai oleh gelombang materialisme.
6.
Kemampuan Bekerja
Seorang
pejuang dakwah Rabbani hendaknya mampu bekerja, berusaha, berproduksi dan tidak
cenderung kepada kemalasan dan menjadi beban bagi orang lain, karena bekerja
adalah kemuliaan dan ibadah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda,
"Tidak
ada satupun makanan yang dimakan oleh seseorang, yang lebih baik daripada
makanan dari hasil kerjanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud alaihi salam
dulu makan dari hasil kerjanya sendiri." (Fathul Bari, 4/355, no.
2072)
Sebagaimana
ibadah juga akan mendorongnya kepada profesionalisme kerjanya. "Sesungguhnya
Allah menyukai bila salah seorang di antara kamu bekerja dan membagusi
kerjanya." (Majma'uz Zawa'id, 4/10)
Wajib
bagi kaum muslimin memiliki kemampuan ekonomi yang mandiri dan penguasaan
berbagai sektor sehingga tidak tunduk kepada kebijakan negara lain terutama
musuh-musuh mereka disebabkan adanya kekurangan di sektor tertentu atau
kekurangan di bidang pangan ataupun persenjataan.
7.
Berguna bagi Orang Lain
Di
antara pilar-pilar individu muslim Rabbani adalah hendaknya ia berguna bagi
orang lain, seperti pohon yang sedang berbuah yang akan memberikan buahnya
kepada manusia, bahkan ketika mereka melemparinya dengan batu, ia membalas
mereka dengan lemparan buah. Seorang pejuang dakwah hendaknya bisa menarik hati
dan simpati orang lain sehingga bisa menerima agama yang haq yang diusungnya
kepada umat manusia. Dan tidak diragukan lagi bahwa pemberian manfaat kepada
orang lain tanpa mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih itu akan
memberikan pengaruh yang mendalam pada diri mereka dan bisa melicinkan jalan
untuk menghantarkan dakwah, nasihat dan bimbingan menuju jalan Allah.
Pada
prinsipnya, seorang pejuang dakwah beramal, berjuang, berikhtiar dan mencari
kesyahidan dalam rangka menyuguhkan kebaikan yang besar berupa agama yang agung
yang diredhai oleh Allah untuk menjadi agama bagi hamba-hamba-Nya, dan menjadi
sumber kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat serta tanpa agama ini mereka
akan mengalami kerugian yang besar,
"Barang
siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi"
(Ali Imran: 85)
8.
Rapi dalam Semua Urusannya
Di
antara pilar-pilar penting itu adalah hendaknya ia menjadi orang yang rapi
dalam semua urusannya, karena misi besar yang membutuhkan upaya dan pengorbanan
yang besar tidak akan terrealisir dengan sikap dan tindakan yang amburadul dan
tidak rapi. Jadi seorang pejuang dakwah Rabbani hendaknya menjadi orang yang
rapi dalam semua urusan dan kerjanya, rapi dalam urusan rumah tangga, kantor,
waktu dan sektor keuangannya.
Dengan
begitu ia akan bisa mengefisienkan waktu dan dananya serta memberikan
sumbangsih dan aset dakwah, berbeda dengan sikap dan tindakan yang kacau dan
tidak disiplin, yang hanya akan membuang banyak waktu, tenaga dan dana.
9.
Perhatian terhadap Waktu
Di
antara pilar asasi bagi pejuang dakwah adalah hendaknya ia menjadi orang yang
memiliki perhatian terhadap waktunya, karena waktu adalah kehidupan sedang
kewajiban-kewajiban itu jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia.
Sungguh
tujuan besar yang sedang kita perjuangkan untuk merealisasikannya yaitu
penegakan daulah islamiyah alamiyah (negara Islam internasional) sangat
membutuhkan upaya yang intensif dan pengorbanan yang besar dengan jiwa, waktu
dan harta, serta transaksi yang menguntungkan dengan Allah.
"Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka." (At-Taubah: 111)
Ia
hendaknya menjadikan semua nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya
seperti harta, tenaga, ilmu, waktu dan jiwa sebagai amanat yang harus
dipersembahkan untuk dakwah tanpa sedikitpun keraguan dan tanpa menyia-nyiakan
sebagian dari nikmat ini dengan melewati sebagian waktu tanpa mendayagunakannya
untuk perjuangan di medan dakwah.
Sesungguhnya
perjuangan di medan dakwah di berbagai bidang merupakan proyek investasi untuk
nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Dan kami rasa sudah
mencukupi bila memberikan sebuah contoh dari salah satu bidang amal di medan
dakwah untuk memperjelas keuntungan besar yang akan kembali kepada kita yang
berarti juga memperjelas nilai waktu bagi kita.
Di
mana Rasul saw. bersabda,
"Demi
Allah, bila seandainya Allah memberikan petunjuk kepada salah seorang dengan
perantaraanmu, maka hal itu lebih baik bagimu dari seekor unta merah."
(h.r. Muslim, 4/187, Kitab Fadha'il Shahabah)
Orang
yang berbahagia adalah orang mendapat perkenaan dari Allah dan mendayagunakan
waktunya dengan baik untuk hal-hal positif yang manfaatnya bisa dirasakan oleh
masyarakat yang seluas-luasnya.
Dan
tidak diragukan lagi bahwa peneguhan agama Allah di muka bumi akan memberi
kebaikan yang secara horizontal merata kepada umat manusia seluruhnya, dan
secara vertikal mencakup generasi-generasi setelahnya. Dan orang yang
menafkahkan harta dan semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah untuk
perjuangan di medan-amal islami akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda
dari Allah, sebagaimana sabda Rasul saw.
"Barang
siapa memberikan nafkah di jalan Allah, maka ditetapkan untuknya balasan tujuh
ratus kali lipat" (h.r. Tirmidzi, 4/143, no.1625)
Dan
sebaliknya kita melihat orang-orang yang didominasi oleh materialisme telah
menghabiskan waktu, kesehatan dan harta mereka dalam kemaksiatan kepada Allah.
10.
Melawan Nafsu
Di
antara pilar-pilar pejuang dakwah Rabbani adalah hendaknya ia menjadi orang
yang senantiasa melakukan mujahadatun nafs (perlawanan terhadap nafsunya).
Karena nafsu manusia merupakan formulasi antara kecenderungan-kecenderungan
baik dan jahat, sehingga untuk menjadikan pemiliknya komitmen terhadap
ajaran-ajaran Islam dan petunjuknya, diperlukan upaya melawan hawa nafsu dan
menundukkannya sehingga terbiasa menempuh jalan yang benar dan prilaku yang
islami dalam semua aspek kehidupan serta menjauhkan diri dan berlari dari
perilaku yang mengundang murka Allah. Benar sekali apa yang diungkapkan oleh
seorang penyair,
"Nafsu
itu ibarat bayi
bila
dibiarkan, sampai besar ia akan terus menyusu
dan
bila disapih akan bisa terhenti dari kebiasaan ini"
Dan
kita mendapati seorang mukmin Rabbani sangat mudah untuk mendisiplinkan dirinya
mengikuti tuntunan-tuntunan Islam dan adab-adabnya, karena ia memahami dengan
sempurna bahwa dalam kebaikan itu terdapat semua kebaikan dan berharap
mendapatkan pahala dan keridhaan dari Allah. Dan karena pemahaman inilah kita
mendapatinya selalu melakukan perlawanan terhadap hawa nafsunya. Sedangkan
orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya akan terjerumus dalam kebinasaan dan
mengalami kerugian di dunia dan akhirat, serta kehilangan potensi Rabbani yang
akan mencegah dan menghalanginya dari kemaksiatan kepada Allah.
PENGARUH
RABBANIAH DALAM KEHIDUPAN MUSLIM
Jalan
dakwah adalah jalan yang paling penting dan agung, untuk merealisasikan tujuan
yang paling penting dan agung, yaitu peneguhan agama Allah di muka bumi dan
menegakkan daulah dan khilafah-Nya. Di tengah perjalanan dakwah seringkali para
aktifis dan jamaah dakwah mengalami berbagai kondisi, sikap dan perubahan yang
sangat membutuhkan parameter-parameter Rabbaniah yang akan menuntunnya dan
mengendalikan perjalanannya, dan tanpa parameter-parameter ini akan banyak
terjadi kerancuan dan penyimpangan, perselisihan dan perpecahan, serta konflik
dan kegagalan.
Oleh
karena seorang muslim adalah sekaligus pejuang dakwah dan prajurit aqidah serta
unsur asasi dalam konstruksi dan tahapan-tahapannya, maka ia harus menjadi
seorang Rabbani yang sejati, baik pria maupun wanita untuk membangun keluarga
muslim yang Rabbani dan membentuk masyarakat muslim yang Rabbani sebagai basis
pemerintahan Islam yang menghantarkan kita pada tegaknya daulah dan khilafah
atas izin Allah.
Hendaknya
Rabbaniah ini mendominasi setiap individu muslim dalam semua aspek
mehidupannya. Dan hendaknya pula Rasulullah saw. menjadi puncak keteladanan
Rabbaniah baginya, lalu mewajibkan dirinya untuk komitmen dengan petunjuk
Rasulullah saw. dan sunahnya. Bahkan do'a-do'anya dalam setiap urusan
kehidupannya. Dan mewajibkan dirinya untuk komitmen dengan tuntunan-tuntunan
Allah dan Rasul-Nya dalam pergaulannya dengan kedua orang tua, keluarga,
tetangga, istri, dan anak-anaknya. Ia harus menjadi teladan yang baik bagi
orang lain, dan menunaikan kewajiban untuk memerintahkan yang baik dan mencegah
yang munkar dengan hikmah dan nasihat yang baik serta tidak takut menghadapi
celaan orang-orang yang mencelanya.
Allah
Ta'ala telah memuji umat Islam sebagai umat terbaik dengan karakteristiknya
yang paling menonjol adalah memerintahkan yang baik dan mencegah yang munkar.
Berikut
adalah transkripsi lengkap dari teks yang terdapat pada kedua halaman gambar
tersebut (tanpa diringkas):
"Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah." (Ali
Imran: 110)
Pada
saat yang sama Allah telah melaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil
melalui lisan Nabi Dawud dan Isa bin Maryam karena mereka ini tidak mau saling
mencegah kemunkaran yang mereka lakukan. Dan di jalan dakwah ini juga harus ada
ukhuwah dan itsar serta cinta karena Allah dan ikatan yang kuat antara
para aktifis di medan dakwah.
Keimanan
dan Rabbaniyah memiliki pengaruh yang efektif dalam mewujudkan dan memelihara
serta me-lindungi sifat-sifat dan makna-makna yang luhur ini dari godaan setan
melalui umpan-umpan materi atau yang lainnya. Maha Benar Allah yang berfirman,
"Dan
orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi
penolong bagi sebagian yang lain." (At-Taubah: 71)
Dan
Rasulullah saw. juga bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam
kasih sayang, kecintaan dan tolong menolong mereka adalah seperti perumpamaan
satu tubuh, bila ada anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh juga akan
ikut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur" (h.r.
Muslim, 4/1999, no. 2586)
Para
aktifis Rabbani di medan dakwah akan didorong oleh sifat Rabbaniyah mereka
untuk mengeliminir semua perselisihan yang muncul di antara mereka dengan
mengembalikan semua itu kepada Allah dan Rasul-Nya dan memurnikan loyalitas
hanya kepada kebenaran dan bukan-nya kepada figur-figur tertentu yang memiliki
kelebihan dan posisi di tengah mereka, apa lagi kepada ambisi pribadi mereka
sendiri, serta menerapkan semua sifat kaum mukminin yang menggariskan hubungan
antar sesama mereka. Seperti,
"Berkasih
sayang sesama mereka." (Al-Fath: 29)
"Yang
bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang mukmin." (Al-Ma'idah:
54)
"Saling
berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran." (Al-Ashr:
3)
"Orang-orang
yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan." (Ali Imran: 134)
"Hendaklah
mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah
mengampunimu." (An-Nur: 22)
"Maka
Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah
orang-orang yang bersaudara." (Ali Imran: 103)
Begitu
juga yang disebutkan dalam hadits seputar makna ini seperti sabda Rasul saw.,
"Seorang
mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain" (h.r. Abu Daud, 4/281,
no. 4918)
"Tidak
akan sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai untuk
saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya." (h.r. Muslim, 1/66,
no. 45)
Dan
masih lagi yang lainnya.
Seorang
pejuang dakwah yang Rabbani akan bersabar, bertahan dan tetap teguh,
menanggulangi berbagai kendala tanpa kemalasan dan penyimpangan, didorong oleh
keimanannya dan keyakinannya kepada Allah serta kesungguhannya dalam meraih
pahala dan kenikmatan dari Allah. Dan sebelumnya kami telah membahas pengaruh
Rabbaniyah dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan.
Seorang
pejuang dakwah yang Rabbani tidak akan pernah dirasuki keputusasaan betapa pun
panjangnya jalan dakwah itu dan banyaknya kendala-kendala yang merintanginya
serta besarnya kebatilan yang terwujud dalam kekuatan materinya, karena
kebatilan itu pasti akan sirna, dan orang-orang mukmin yang rabbani akan
memohon kekuatan dan pertolongan dari Allah,
"Orang-orang
yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di
jalan Thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya
tipu daya setan itu adalah lemah." (An-Nisa': 76)
"Allah
pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
(kekafiran) kepada cahaya(iman). Dan orang-orang yang kafir,
pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada
kegelapan." (Al-Baqarah: 257)
Seorang
mukmin yang Rabbani tidak akan melemah, tunduk dan menyerah dalam menghadapi
kebatilan.
"Dan
berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari
pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang
menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada
musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146)
"Bersabarlah
terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya demikian itu termasuk hal-hal yang
diwajibkan" (Luqman: 17)
Seorang
pejuang dakwah yang Rabbani mengetahui bahwa jihad adalah kewajiban yang tetap
akan berlanjut hingga hari kiamat untuk melawan serangan-serangan musuh Allah
dan menyingkirkan berbagai rintangan yang menghalangi mereka dari penyebaran
dakwah Allah kepada semua hamba Allah.
"Sehingga
tiada lagi fitnah dan semua agama hanya menjadi milik Allah" (Al-Anfal:
39)
Karenanya,
ia harus melakukan perniagaan yang menguntungkan bersama Allah.
"Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka." (At-Taubah: 111)
Dan
agar perniagaan yang menguntungkan ini bisa diraih, maka ia harus menyadari
bahwa ia wajib menghiasi dirinya dengan sifat-sifat kaum mukminin. Kita
berkewajiban untuk mengingatkan bahwa materi dalam kehidupan manusia itu
memiliki daya tarik dan beban-beban yang akan menjadikannya cenderung kepada
dunia dan kenikmatan hidup sehingga bila diseru untuk berjihad ia tidak akan
mau menyambutnya. Dan di akhirat ia akan menghadapi siksa yang pedih dari Allah
Ta'ala. Kiranya ayat-ayat berikut ini memberikan penjelasan yang gamblang
tentang kondisi ini.
"Hai
orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu,
"Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah", kamu merasa berat
dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia
sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini
(dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak
berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih
dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi
kemadharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu." (At-Taubah: 38-39)
Dan
dahulu orang-orang munafik mengatakan, "Janganlah kamu berangkat
(berperang) dalam panas terik ini. Katakanlah, "Api neraka Jahannam itu
lebih sangat panasnya", jikalau mereka mengetahui." (At-Taubah: 81)
Sebaliknya,
kita mendapati di antara orang-orang Rabbani ada yang bercucuran air mata
kesedihan ketika ia tidak mendapatkan kendaraan yang akan membawanya untuk
jihad dari Rasulullah saw.
"Tiada
dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas
orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan
mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya.
Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas
orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka
kendaraan, lalu kamu berkata, "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk
membawamu". Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata
karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka
nafkahkan." (At-Taubah: 91-92)
Seorang
mujahid Rabbani hendaknya mencari kesyahidan dan merindukannya. Rasul saw.
bersabda,
"Barangsiapa
memohon kesyahidan dengan tulus, ia akan diberi (pahala kesyahidan) meskipun
tidak mengalaminya." (h.r. Muslim, 3/1517, no. 1908)
"Barang
siapa memohon kepada Allah kesyahidan dengan tulus, maka Allah akan
menyampaikannya ke posisi orang-orang yang syahid, meskipun ia mati di atas
tempat tidurnya." (h.r. Muslim, 3/1517, no. 1909)
Dan
bila materialisme telah mengalahkan Rabbaniah pada diri seseorang, maka kita
akan mendapatinya lebih mencintai dunia dan membenci kematian. Berbeda sekali
dengan seorang muslim yang Rabbani, di mana mati di jalan Allah merupakan
cita-cita tertingginya.
Di
sini kami ingin mengingatkan perkara yang sangat urgen, yaitu mengikhlaskan
niat untuk Allah dan menjadikan tujuan jihadnya adalah untuk meninggikan
kalimah Allah serta mengenal adab-adab perang dalam Islam dan hukum-hukumnya.
Karena kaum muslimin itu orang-orang yang penyayang dalam jihad mereka sehingga
mereka tidak akan melampaui batas, tidak berbuat jahat, tidak mencincang lawan,
tidak menjarah, tidak merampas, dan tidak melanggar kehormatan dan hal-hal yang
diharamkan. Mereka adalah orang-orang terbaik dalam peperangan sebagaimana
mereka adalah orang-orang yang terbaik pada masa damai.
Seorang
pejuang dakwah yang rabbani akan menafkahkan hartanya di jalan Allah, karena
Rasul saw. menyerukan kita untuk melakukan hal itu dengan sabdanya,
"Barang
siapa menafkahkan harta di jalan Allah, akan dicatat untuknya tujuh ratus kali
lipat." (h.r. Tirmidzi, 4/143, no. 1625)
Dan
orang-orang Rabbani dalam jihadnya akan menjadi teladan yang terbaik dalam
keteguhan, kesabaran dan kesungguhan dalam menjaga persatuan serta menjauhkan
diri dari perpecahan dan pertentangan yang manifestasi dari firman Allah,
"Hai
orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan, maka berteguh hatilah
kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan
taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (Al-Anfal: 45-46)
"Sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang
teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."
(Ash-Shaff: 4)
Para
mujahid Rabbani tidak akan berkhianat dan akan selalu setia dengan perjanjian
serta tidak akan mengalami demam kemenangan dan kekalahan sehingga membuatnya
menghindar dari keadilan, memberangus hak-hak ataupun memperbudak manusia, di
mana mereka mengembalikan kemenangan itu hanya kepada Allah dan bukan kepada
diri mereka. Dan kita semua mengetahui ketawadhuan Rasulullah saw. ketika
berhasil memasuki kota Makkah sebagai pemenang sebagaimana kita juga mengenal
amnesti beliau terhadap orang-orang musyrik Makkah yang telah mengusir beliau
keluar dari kota ini.
Dan
seandainya kaum muslimin ditakdirkan mengalami kekalahan dalam perang karena
satu atau lain sebab, maka mereka tidak akan menyerah karena kekalahan ini,
tetapi mereka akan melanjutkan jihad tanpa pernah merasa lemah ataupun sedih
serta menjadikan semua ini sebagai pelajaran agar di masa depan mereka bisa
mengantisipasi faktor-faktor kekalahan ini.
Dan
setelah kekalahan dalam perang Uhud, Allah menurunkan Al-Qur’an seputar makna
ini,
"Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman. Jika kamu (pada perang uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum
(kafir) itupun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran)
itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan
supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan
supaya sebagian kamu dijadikan-nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak
menyukai orang-orang yang dzalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang
beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. Apakah kamu
mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang
yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (Ali
Imran: 139-142)
Inilah
sebagian dari rambu-rambu bagi seorang pejuang dakwah dan prajurit aqidah
dengan berbagai tahapan dan perkembangannya agar kita bisa komitmen terhadap
semua ini seraya senantiasa memohon agar kita ini termasuk orang-orang yang
layak untuk menjadi penolong dakwah-Nya dan peneguh agama-Nya.
Berikut
transkripsi lengkap dari gambar, tanpa diringkas, dengan mempertahankan
susunan isi, kutipan ayat, dan keterangan sumber sebagaimana tampak pada
halaman 408–411.
MENIMBANG
RABBANIAH DAN MATERIALISME DALAM TATARAN PERASAAN
Kebahagiaan
orang-orang yang Rabbani adalah bila mereka melihat umat manusia meyakini
aqidah yang selamat, pemikiran-pemikiran yang lurus sebagaimana yang mereka
yakini. Mereka hanya ingin sekadar menjadi mediator-mediator yang
mentransformasikan dan menerjemahkan aqidah dan pemikiran itu dari sumbernya
yang jernih sebagaimana mereka sendiri mengambilnya dari sumber ini, sehingga
mereka tidak akan melihat diri mereka sebagai orang yang paling berjasa, dan
tidak pula mereka menunggu-nunggu balasan atau ucapan terima kasih dari orang
lain. Karena ketika menyebarkan aqidah yang selamat ini, mereka meniatkannya
sebagai ibadah kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya. Dan cukuplah sebagai
suatu kebahagiaan, bila mereka merasakan bahwa mereka memiliki hubungan yang
erat dengan sumber yang orisinil ini.
Seorang
muslim Rabbani akan melihat kepada orang non muslim dengan pandangan iba dan
bukan pandangan permusuhan, serta ia berharap agar Allah berkenan melapangkan
dadanya untuk masuk Islam sehingga bisa bersamanya mendapatkan kebaikan yang
besar, selamat dari kesesatan dan siksa Allah. Begitulah perasaan Rasul saw.
terhadap mereka.
“Maka
apakah barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka
berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).”
(Al-Kahfi: 6)
Rasul
saw. juga menganjurkan kepada kita untuk memberikan petunjuk kepada manusia dan
menyelamatkan mereka dengan sabdanya:
“Demi
Allah, bila seandainya Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan
perantaraan kamu, maka hal itu lebih baik bagimu dari seekor unta merah.” (h.r.
Muslim, 4/1872)
Sedangkan
orang-orang yang materialis, maka mereka tidak akan pernah merasakan jenis
kebahagiaan seperti ini. Karena parameter materialislah yang menggerakkan
mereka, dan bila mereka menyebarkan ideologi-ideologi mereka, maka hal itu
dengan motivasi materialis dan karena ambisi untuk meraih keuntungan-keuntungan
pribadi, sehingga ketika semua itu tidak tercapai, maka semangat mereka akan
pudar dan akan mengalami kekecewaan, dan minimal mereka mengharapkan balasan
dan rasa terima kasih dari orang lain atas apa yang telah ia berikan kepada
mereka.
Orang-orang
materialis mempersepsikan bahwa perasaan manusia akan kelemahan dan
ketidakmampuannya di masa dulu itu yang telah menjadikannya berlindung kepada
tuhan agar menolongnya. Tetapi setelah manusia telah mampu menundukkan semua
fasilitas materi yang modern, maka ia merasa telah memiliki kemampuan yang
mencukupinya dan tidak perlu lagi berlindung kepada Tuhan.
Sebagian
orang-orang materialis memandang bahwa pengakuan terhadap keagungan Allah akan
mengurangi harkat seseorang sebagai manusia, seakan Allah dan manusia adalah
dua sosok yang sebanding dan bersaing untuk membuktikan siapa yang paling besar
dan kuat di dunia ini. Mereka ini telah terjerumus dalam kesalahan dan paham
yang fatal ketika mengira bahwa dengan mengingkari wujud Tuhan, berarti telah
meninggikan harkat mereka atau menurunkan eksistensi Tuhan dalam diri mereka.
Sedangkan
dalam pandangan Rabbaniah, bila setiap kali kesadaran kita terhadap kebesaran
Allah itu bertambah, maka akan bertambah pula kebesaran kita karena kita
menyadari bahwa kita ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Besar.. Seorang Rabbani
setiap kali kekuatannya bertambah, maka akan bertambah pula kesadarannya
terhadap kebesaran Allah, karena ia menyadari bahwa Allah-lah sumber kekuatan
ini.
Sesungguhnya
orang-orang yang mengimani kebesaran Allah, tidak akan pernah merasa lemah,
atau disia-siakan bahkan selalu merasakan kemuliaan dan kekuatan dengan
bersandarnya mereka kepada Allah Yang Maha Kuat, Maha perkasa dan Penguasa alam
ini. Mereka ini memiliki cadangan devisa kemuliaan dan kekuatan dalam iman
mereka, yang tidak akan pernah didapatkan oleh mereka yang membesarkan diri
mereka seperti balon, sehingga udara yang ditiupkannya ini menutupi kedua
matanya sehingga tidak bisa melihat kebesaran alam yang sangat luas ini.
Ketika
menyerukan pembebasan kemerdekaan, orang-orang materialis dan sekular itu
bertujuan untuk melepaskan diri dari semua ikatan, semua tradisi dan
kebudayaan, nilai-nilai dan tugas-tugas kemanusiaan. Ia adalah kemerdekaan yang
palsu, karena kemerdekaan seperti ini berakhir kepada ketundukan dan
penghambaan diri kepada naluri-naluri kebinatangan, kecenderungan-kecenderungan
syahwati tanpa batasan, tanpa rasa malu atau pun harga diri. Ini adalah
ketundukan dan kepasrahan kepada nafsu dan syahwat, sehingga manusia menjadi
makhluk yang lebih dekat kepada binatang dibandingkan dengan manusia itu
sendiri, bahkan bisa jadi sebagian binatang yang masih memiliki rasa malu
daripada dia.
Rabbaniah
menyeru kepada kemerdekaan, tetapi kemerdekaan dari ikatan kehinaan, kelemahan
dan penindasan serta kebebasan dari semua ikatan kebinatangan yang memberatkan,
dan menyeru kepada kemerdekaan yang menjadikan manusia sebagai manusia.
Sesungguhnya
Rabbaniah menggariskan perjalanan dan sistem bagi manusia dalam menghadapi
kebutuhan-kebutuhan kemanusiaannya, mengangkat dan mendidiknya serta tidak akan
pernah memperkenankan dorongan-dorongan nafsu untuk mengalahkan dan mendiktenya
dengan menata dan memperbaiki dorongan-dorongan ini. Sebagaimana rabbaniah juga
tidak pernah memperkenankan perasaan hina, lemah, dan ketakutan itu
menguasainya, tetapi justru melahirkan kemuliaan, kekuatan dan keberanian.
Sesungguhnya
sisi Rabbani pada diri manusia akan menjadikan merasa bahagia dan bergembira
ketika bisa memberikan kebahagiaan, keridhaan, harapan dan kegembiraan kepada
orang lain.
Ini
adalah kelezatan samawi yang mengagumkan yang dilahirkan oleh Rabbaniah dan
membuahkan kasih sayang dan kecintaan untuk berbuat kebaikan bagi orang lain
tanpa menunggu-nunggu balasan atau ucapan terima kasih,
“Dan
mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan
orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk
mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan
tidak pula ucapan terima kasih.” (Al-Insan: 8-9)
Mereka
menyadari semua itu adalah keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada mereka
dengan memperkenankan mereka untuk memberikan kebaikan ini kepada orang lain.
Sedangkan orang-orang materialis, mereka tidak akan memberikan kebaikan kepada
orang lain kecuali bila hal itu mendatangkan imbalan materi yang seimbang
kepada mereka. Sebagaimana mereka selalu mengharapkan pujian dari orang lain
dan bergembira sekali dengan pujian tersebut, bahkan kadang mereka berharap
mendapatkan pujian untuk hal-hal yang sama sekali mereka tidak mengerjakannya.
Sesungguhnya
seorang materialis yang hidup untuk dirinya sendiri, akan melihat kehidupan itu
amat singkat dan sempit, yang bermula dari masa di mana ia bisa memahami dan
berakhir dengan habisnya jatah umur yang sudah ditentukan untuknya, serta nilai
kehidupan menurutnya sesuai dengan kadar kenikmatan duniawi yang telah
diraihnya.
Sedangkan
seorang Rabbani yang hidup untuk ideologinya, maka hidupnya akan tampak panjang
dan berkesan, yang bermula sebagaimana manusia lain memulainya dan terus
berlanjut hingga setelah ia bersemayam di perut bumi, ia memperoleh keuntungan
yang berlipat ganda dari usianya yang terbatas, ketika ia menyadari bahwa
perjuangannya adalah untuk ideologinya dan hasil perjuangannya akan terus hidup
sepeninggalnya sampai suatu masa yang dikehendaki oleh Allah, dan ketika
menyadari bahwa ia adalah mata rantai keilmuan dari para pendahulunya yang
telah menghasung ideologi ini. Dan adakah di sana ideologi yang lebih luhur
dari agama yang diridhai oleh Allah untuk menjadi agama bagi para hamba-Nya.
Sesungguhnya
perjuangan untuk meneguhkan agama Allah di muka bumi dan menegakkan daulah
serta khilafahnya akan memberikan pengaruh yang sangat luas yang secara
horizontal akan mencakup semua umat manusia dan secara vertikal akan mencakup
berbagai generasi yang datang setelahnya. Demikianlah, setiap orang yang
berjuang di medan ini usianya akan berlipat ganda banyak sekali.
Oleh
karenanya, kita mendapati Imam Syahid bertutur, “Jalan dakwah adalah jalan yang
satu, yaitu jalan yang dulu ditempuh oleh Rasulullah saw. dan para sahabat,
serta setelah itu ditempuh oleh para dai, dan kita — berkat taufik dari Allah—
akan menempuh jalan ini dengan bekal iman, amal, cinta dan persaudaraan.”
(Majmu’atur Rasa’il, Da’watuna fi Thaurin Jadid, 240)
Ketika
Rabbaniah ini menguasai hati seorang muslim, maka akan menumbuhkan pada dirinya
benih-benih cinta, kelemahlembutan dan kebaikan, sehingga ia bisa berinteraksi
dengan orang lain tanpa ada beban mental, perasaan berat hati dan sikap
menjilat, tidak akan merasa dendam atau dengki kepada orang lain, dan tidak
akan membiarkan kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi ia akan menghormati
seseorang sesuai dengan kebaikan dan sifat-sifat kemuliaan yang ada pada
dirinya dan menyadari bahwa itu adalah karunia dari Allah, ia akan bersikap
lemah lembut terhadap kelemahan-kelemahan mereka dan tidak menyombongkan diri
dihadapan mereka, tetapi justru menghadapi kesalahan mereka dengan pemberian
maaf dan membalas keburukan mereka dengan kebaikan, tidak marah untuk
kepentingan pribadinya, tetapi justru ia disibukkan oleh rasa ingin yang kuat
dan tulus untuk membantu mereka agar bisa menjauhkan diri dari kekurangan dan
kesalahan ini. Maha Benar Allah yang telah berfirman,
"Dan
tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang
lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan
seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu
tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang
besar." (Fushshilat: 34-35)
Jadi
memang benar, tidak akan sanggup untuk memiliki perilaku seperti ini kecuali
orang-orang yang sabar dan orang-orang yang memiliki Rabbaniah dan ketinggian
ruhiah yang besar.
Sedangkan
orang-orang materialis, maka seringkali materi dan kecintaan mereka kepada
materi ini menjerumuskan kepada kehinaan dan keserakahan untuk mewujudkan
kepentingan-kepentingan pribadi yang sifatnya materi, sebagaimana akan
melahirkan pada diri mereka rasa dendam dan dengki terhadap orang-orang yang
memiliki harta dan kedudukan. Mereka ini seringkali bersikap sombong terhadap
orang yang berada di bawah mereka secara materi, dan tidak mau memulangkan apa
saja yang dimilikinya kepada anugerah Allah, tetapi justru kepada kepandaian
dan keahlian mereka. Sebagaimana mereka ini tidak memiliki kemampuan pada
dirinya untuk membalas kejahatan dengan kebaikan atau kesanggupan untuk
bersabar terhadap kesalahan orang lain.
Orang-orang
Rabbani yang berinteraksi langsung dengan sumber Rabbaniah yang orisinil,
dengan ketajaman mata hatinya akan mampu memahami kesatuan universal yang
memiliki beragam warna di alam kehidupan manusia ini sehingga ia tidak pernah
meremehkan apa pun yang ada di alam ini.
Mereka
inilah para pemilik kekuatan-kekuatan ruhiah yang tinggi, membawa cahaya suci
yang akan melebur semua ilmu dan pengetahuan dengan panasnya serta menerangi
jalan menuju tujuan yang tinggi dan luhur. Setiap orang dari mereka dalam
spesialisasinya berusaha mengabdikan diri dengan baik di kantor, laboratorium,
ataupun di perusahaannya, menghibahkan hidupnya dengan penuh keikhlasan
sebagaimana perasaan senang seorang hamba yang menghibahkan ruhnya kepada Tuhan
dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.
Sedangkan
orang-orang materialis yang menjauhkan diri dari sumber Rabbaniah yang orisinil
ini, maka mata hati mereka menjadi tumpul sehingga mereka meyakini bahwa di
sana ada kontradiksi antara berbagai kekuatan yang memiliki warna yang beragam
ini, sehingga mereka ini memerangi ilmu dengan mengatasnamakan agama, memerangi
agama dengan mengatasnamakan ilmu, melecehkan dinamisme yang positif dengan
mengatasnamakan aqidah tasawuf, dan berbagai kerancuan serta kedangkalan
lainnya. Mereka juga mempersepsikan bahwa setiap kekuatan dari
kekuatan-kekuatan ini terpisahkan dari himpunan kekuatan lain yang masih terbit
dari sumber yang sama dan dari kekuatan (Tuhan) yang menguasai alam raya ini.
Seorang
Rabbani akan hidup selaras dengan alam dan makhluk Allah yang lain, karena ia
konsisten dengan sistem yang telah digariskan oleh Allah untuknya dalam
kehidupan dunia ini. Dan cita-cita yang luhur tidak akan pernah tumbuh kecuali
pada hati yang diwarnai dengan Rabbaniah, dan hati seperti ini tidak akan
mungkin menggunakan sarana-sarana yang kotor untuk mewujudkan cita-cita yang
luhur ini, karena sarana-sarana yang kotor akan mengotori ruhani orang-orang
yang menggunakannya.
Sesungguhnya
seorang muslim Rabbani yang menjadikan Allah dan keridhaan-Nya sebagai tujuan
akan senantiasa selektif dalam memilih sarana-sarana yang baik dan suci untuk
mewujudkan tujuan ini, dan ia menyadari bahwa penggunaan sarana-sarana itu
sendiri merupakan ibadah kepada Allah sehingga ia menghendaki agar ibadah ini
luhur dan diterima.
Sedangkan
orang-orang materialis, —karena tujuan mereka ini adalah materi dan seputar
kepentingan-kepentingan pribadi— maka mereka tidak akan segan-segan menempuh
dan menggunakan sarana apa saja yang bisa menghantarkan mereka kepada
tujuan-tujuan mereka meskipun itu merupakan sarana yang kotor atau membahayakan
orang lain. Dan secara umum bangsa Yahudi dan secara khusus zionisme merupakan
contoh yang paling jelas untuk jenis orang-orang materialis yang meyakini
ideologi Machiefeli yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
Seorang
Rabbani akan mengetahui bahwa semua persoalan ini berada di tangan Allah, lalu
dia hanya melakukan ikhtiar-ikhtiar yang diperbolehkan tanpa menggantungkan
nasibnya kepada ikhtiar-ikhtiar ini tetapi justru ia tetap bertawakal kepada
Allah dan menyerahkan permasalahannya kepada Allah, kemudian setelah itu ia
merelakan apa saja yang menjadi taqdir Allah disertai dengan keyakinan bahwa
apa yang dipilihkan oleh Allah untuknya adalah yang terbaik meskipun tidak
seperti yang ia harapkan, karena Allah lebih tahu apa yang bermanfaat dan apa
yang berbahaya baginya.
"Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula
kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)
"Dan
barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."
(Ath-Thalaq: 3)
Sedangkan
seorang yang materialis, maka ia akan mengandalkan kekuatan materi yang
dimilikinya untuk mewujudkan apa saja yang diingininya dan melakukan
ikhtiar-ikhtiar tanpa memperhatikan parameter-parameter syar'i serta
menisbatkan kepada dirinya sendiri keberhasilan yang telah diraihnya dan tidak
mengembalikannya kepada karunia Allah.
"Sesungguhnya
aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (Al-Qashash:
78)
Dan
sebaliknya bila ia mengalami kegagalan maka ia akan merasa kecewa dan berputus
asa, semua sarana materinya tidak akan mampu menolongnya sehingga seringkali
kondisi seperti ini menjadikannya merasakan bahwa dunia ini sudah amat sempit
dan jalan keluarnya adalah dengan bunuh diri.
SUDAH
SAATNYA RABBANIAH MENEMPATI POSISI YANG SELAYAKNYA
Telah
menjadi jelas bagi manusia apa yang ditimbulkan oleh materialisme dalam
kehidupan mereka dari penderitaan dan kesengsaraan, serta penghancuran terhadap
semua individu, keluarga dan masyarakat bahkan negara. Dan kesabaran manusia
dalam menghadapi penderitaan dan kesengsaraan ini tidak akan bertahan lama,
mereka harus mencari terapi dan upaya penyelamatan, dan mereka tidak akan
mendapatkannya kecuali dalam Islam agama yang haq dan sistem Rabbani yang
meninggikan derajat umat manusia, menyerukan kasih sayang dan keadilan,
memadukan antara tuntutan-tuntutan jasad dengan tuntutan-tuntutan ruhani, dan
mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus.
Berkat
karunia Allah kita bisa merasakan adanya perubahan ini di masyarakat Islam, di
mana ada semangat yang luar biasa untuk memahami Islam dan komitmen dengan
ajaran-ajarannya. Dan kebangkitan Islam yang kita saksikan pada diri pemuda dan
pemudi kita dan tuntutan bangsa-bangsa Islam terhadap para penguasa mereka
untuk menerapkan syariat Islam yang akan merealisasikan keamanan, kedamaian,
kerjasama, kemerdekaan dan keadilan, merupakan bukti yang sangat baik untuk hal
ini.
Begitulah,
kita bisa merasakan adanya ruh yang dinamis dan kuat telah merambah dalam tubuh
umat Islam agar bisa bangun dari tidur lelapnya dan bangkit dari
keterpurukannya. Begitu juga kita melihat bangsa-bangsa yang dikuasai oleh
pemerintahan komunis materialistis dan atheis mulai menggeliat bahkan
membangkang dan menolak pemerintahan komunis, meskipun motivasi untuk semua ini
sebagian karena faktor materi dan sebagian lain karena faktor spiritual seperti
rendahnya taraf produksi yang mengakibatkan terpuruknya taraf perekonomian pada
tingkat individu dan keluarga, begitu juga menyebabkan kehancuran, kesengsaraan
dan hilangnya kebebasan.
Mereka
(orang-orang komunis) dan dunia barat materialis pasti merasakan panasnya
materi dan kehausan ruhani yang diakibatkan oleh kebingungan, kegelisahan dan
kegoncangan jiwa serta kebobrokan yang disebabkan terpisahnya antara fisik dan
ruhnya. Semua itu mengakibatkan kebobrokan moral, berbagai tindak penyimpangan
dan kejahatan, diperparah lagi oleh krisis dan meningginya angka pengangguran
dan lain sebagainya, disamping dampak-dampak buruk yang menghancurkan dari
sistem riba.
Sudah
menjadi kebiasaan musuh-musuh Islam ketika menduduki tanah air kaum muslimin
dan setelah hengkangnya mereka dari tanah air kaum muslimin untuk melakukan
pencemaran terhadap agama kita dan menempelkan tuduhan-tuduhan palsu
terhadapnya dan terhadap para penyeru kepada Allah, dengan tujuan menjauhkan
dan melemahkan dominasi agama di jiwa kaum muslimin. Tetapi berkat karunia
Allah kemudian pengaruh gerakan-gerakan Islam dan para penyeru kepada Allah,
Islam telah bangkit melawan tipu daya dan invasi ini. Dan seakan tubuh Islam
telah bangkit melawan tipu daya dan invasi ini. Dan seakan tubuh telah bangkit
melawan tipu daya dan invasi ini. Dan seakan tubuh telah mengaliri tubuh umat
Islam dan pengaruh-pengaruh gerakan materialis ini sedikit demi sedikit mulai
surut tergeser oleh Rabbaniyah dan semangat keagamaan. Dan hati kita dan hati
orang-orang Islam yang telah dipenuhi dengan harapan yang besar akan dukungan
Allah terhadap perjuangan ini sehingga dunia bisa kembali damai dan Islami
serta kembali bergema di seluruh penjuru dunia lantunan do'a.
"Segala
puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Kami sekali-kali
tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk."
(Al-A'raf: 43)
Hal
ini sedikitpun bukan sesuatu khayalan, tetapi merupakan sejarah yang valid. Dan
Maha Benar Allah yang berfirman,
"Mereka
ingin hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka dan Allah tetap
menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang benci. Dialah yang mengutus
Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya
di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci." (Ash-Shaff: 8-9)
Imam
Syahid Hasan Al-Banna telah mengukuhkan harapan yang ini dengan penuturannya,
"Sesungguhnya kami benar-benar tidak putus asa terhadap diri kami. Bahkan
kami berharap akan memberi banyak kebaikan. Kami percaya bahwa tabir yang
memisahkan antara kami dan keberhasilan hanyalah keputusasaan. Jika harapan itu
kuat dalam diri kita maka dengan izin Allah kita akan mencapai banyak kebaikan.
Itulah sebabnya kami tidak pernah putus asa, dan keputusasaan takkan pernah
sanggup merasuki hati kami. Segala puji bagi Allah untuk keyakinan kami
itu."
Walaupun
banyak orang yang pesimis, kami tetap percaya bahwa semua yang ada di
sekeliling kita memberi isyarat kegembiraan. Bila anda menjenguk seseorang yang
sedang sakit, lalu anda menemukan bahwa perlahan bicaranya berubah menjadi
diam, geraknya perlahan terhenti, anda akan merasa kondisinya makin memburuk
dan akhir hidupnya takkan lama lagi. Tapi sebaliknya jika dari diam ia mulai
bicara, geraknya tampak makin lincah, anda tentu yakin orang itu sudah
mendekati kesembuhannya. Ada suatu masa di mana bangsa-bangsa timur digerogoti
oleh kejumudan, sampai kemudian membeku dan kebekuan itu sendiri merasa bosan;
atau dilanda oleh kemandegan, sampai kemandegan itu benci padanya. Tapi kini ia
telah terbangun dan menggeliat dalam semua sisi kehidupannya dengan semangat
membara penuh gelora. Kalau bukan karena terpecahnya beban di satu sisi dan
rancunya kepemimpinan di sisi lain, tentulah kebangunan akan memberi pengaruh
yang sangat kuat lagi indah.
Tapi
belenggu itu tak selamanya jadi belenggu. Zaman akan berputar, dan dalam
sekejap mata dari jenak kebangunannya Allah akan mengubah suatu kenyataan
menjadi kenyataan yang lain. Orang yang sesat takkan selamanya sesat, sebab
setelah kesesatan itu selalu ada petunjuk, setelah kekacauan itu selalu ada
ketenteraman. Hanya di tangan Allah –sebelum dan sesudah itu semua– segala
urusan ditentukan.
Itulah
sebabnya, kami tak pernah mau pesimis. Ayat-ayat Allah dan hadits-hadits
Rasulullah saw. tentang pendidikan dan pembangunan umat menjelang
kehancurannya, kisah-kisah kehancuran dan kebangunan umat-umat terdahulu yang
banyak tertera di dalamnya, semua itu telah mengajak kami untuk senantiasa
memiliki harapan yang besar, dan menunjukkan kepada kami jalan lurus menuju
kebangkitan". Inilah yang dituturkan oleh Imam Syahid sejak puluhan tahun
yang lalu dan dari hari ke hari semakin terbukti kebenarannya.
Setelah
penuturan yang panjang ini, beliau memaparkan kisah Musa dan kaumnya melawan
Fir’aun, dan bagaimana Allah enggan berkehendak melainkan untuk memenangkan
orang-orang yang teraniaya dan membangkitkan orang-orang yang tertindas dari
kalangan orang-orang yang lemah. Sehingga tiba-tiba saja kebatilan materialis
itu runtuh sampai ke akar-akarnya dan bangunan kebenaran menjadi tegak berdiri
dengan kokoh dan para pembelanya yang menjadi pemenang.
Umat
Islam sekarang ini lebih menggelora dan lebih sadar dari sebelumnya, dan
kebangkitan Islam yang dinamis dan kukuh di tengah pemuda dan pemudi muslim
adalah sebaik-baik bukti atas semua itu. Begitu juga antusiasme para pemuda
untuk kembali ke masjid, menunaikan kewajiban haji, fenomena jilbab yang
merebak di banyak negeri dan tergesernya gaya hidup tabarruj, penolakan
bangsa-bangsa terhadap prinsip-prinsip sekuler, pengangkatan slogan Islam
adalah solusi, respon positif dari rakyat pemilih terhadap seruan kembali
kepada Islam setiap kali diadakan pemilihan umum di semua negara Islam, dan
banyak dari partai-partai sekuler yang menjanjikan penerapan syariat Islam
untuk meraih suara para pemilih ini karena mereka menyadari besarnya jumlah
suara yang menyambut seruan ini.
Dan
di antara hal yang amat menggelikan, adalah kita mendapati Najibullah pemimpin
pemerintahan komunis di Afghanistan sampai ikut memperingati hari maulid Nabi
saw. untuk mengelabui bangsa Afghanistan yang muslim, setelah ia dan para
penguasa sebelumnya menyebabkan invasi Rusia dan gugurnya sekitar satu setengah
juta jiwa, lebih dari lima juta penduduknya terpaksa menjadi pengungsi,
disamping lagi para penyandang cacat, anak-anak yatim dan janda-janda miskin,
setelah para petinggi di Rusia mengakui bahwa invasi mereka ke Afghanistan
merupakan kesalahan yang besar.
Dan
herannya, kita mendapati di negara-negara Islam masih ada sebagian orang yang
memegang teguh prinsip-prinsip komunisme yang destruktif ini, setelah para
pencetusnya sendiri berlepas diri dari prinsip komunisme ini karena
kegagalannya.
Bukankah
telah tiba saatnya bagi para pemikir dan ilmuwan agar mereka melihat umat
manusia sedang terpanggang dengan api materialisme, untuk bekerja sama dengan
para aktivis di medan dakwah islamiyah menunaikan tugas para Rasul untuk
menyeru manusia menuju iman kepada Allah dan hari akhir, beribadah kepada-Nya
dan komitmen dengan ajaran agama-Nya yang diridhai untuk menjadi agama
hamba-hamba-Nya, yang mengangkat harkat manusia dan menyelaraskan antara
tuntutan jasad dengan tuntutan-tuntutan ruhani, memadukan antara kehidupan yang
baik di dunia dengan kebahagiaan dan kenikmatan akhirat.
Wahai
para ilmuwan dan pemikir, marilah kita menyeru semua manusia untuk mengenal
pencipta mereka, pencipta alam ini, yang melimpahkan nikmat yang tidak
terhitung ini kepada kita, kita menyeru mereka untuk mengetahui misi mereka
dalam hidup ini dan penyebab mereka dari kesatuan asasi mereka sehingga
menyebabkan mereka terhempas dalam materialisme dan kelalaian mereka seperti
binatang yang lebih sesat bahkan mereka ini lebih sesat.
Marilah
wahai orang-orang yang masih memiliki nurani kita membebaskan manusia dari daya
tarik dunia, kesenangan hidup dunia fana yang mendominasi mereka dan melalaikan
mereka dari akhirat dan kenikmatan yang abadi.
Marilah
kita menyeru mereka untuk mengagungkan Allah dan mensucikan-Nya, memuji dan
menyanjung-Nya, dan keinginan untuk mendapatkan pahala dan kenikmatan-Nya.
Marilah kita membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesembahan selain
Allah, agar mereka menyembah Allah semata tidak menyekutukan-Nya dengan yang
lain. Kita bebaskan mereka dari kehancuran dan kegoncangan jiwa sehingga
mendapatkan keimanan, ketenangan dan kedamaian yang akan memenuhi jiwa mereka.
Kita menyeru mereka untuk bekerja sama dan saling kasih sayang antar sesama
mereka, menggantikan suasana perang dan kehancuran, pembumihangusan sawah
ladang dan keturunan. Kita menyeru mereka untuk menanggalkan keburukan dan
semua akhlag yang tercela serta menghiasi diri mereka dengan keutamaan dan semua
akhlak yang baik.
Marilah
wahai para ilmuwan dan pemikir kita memberikan sumbangsih kepada dakwah agar
Rabbaniah kembali menempati posisi yang selayaknya dan agar materialisme
menjadi surut sampai akhirnya hilang dari permukaan dengan izin Allah "Dan
Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahuinya." (Yusuf: 21)
MENUJU
TERAPI YANG MUJARAB DARI SEMUA PENYAKIT-PENYAKIT MATERIALISME
Telah
nampak dengan jelas berbagai penyakit di semua lapisan masyarakat kita yang
ditinggalkan oleh kebudayaan materialistis dan peradaban hedonistis, dan nampak
dengan jelas pula apa yang ditimbulkannya dari penghancuran terhadap individu
dan keluarga, kebobrokan nilai-nilai dan moral Islam serta parameter Rabbani,
tersebarnya berbagai bentuk kerusakan. Di mana menjadi wajib bagi pemikir yang
memiliki ghirah untuk mencari terapi yang mujarab bagi mendiagnosa penyakit
ini.
Oleh
karena kelemahan iman menjadi faktor yang menghantarkan kepada kondisi yang
mengenaskan ini, maka menjadi sesuatu aksiomatik bila kita mengkonsentrasikan
terapi ini pada upaya pembangunan iman dalam jiwa lalu membersihkannya dari
semua penyakit ini sehingga kita bisa menemukan individu muslim yang teladan,
keluarga muslim yang teladan, kemudian masyarakat muslim yang teladan. Dan di
sini kami akan memaparkan hakikat iman dan bagaimana iman bisa menterapi dan
mengobati hati dan jiwa dari berbagai penyakit ini.
Pada
hakikatnya iman bagi manusia adalah kehidupan dan tanpa iman ia menjadi seperti
mayit. Allah berfirman,
“Dan
apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di
tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada
dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (Al-An’am:
122)
“Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul
menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (Al-Anfal: 24)
Iman
melahirkan pada diri pemiliknya makna-makna kekuatan dan ketenangan, keyakinan
kepada Allah dan kedamaian berada di sisi-Nya, serta harapan akan mendapatkan
pertolongan Allah dan pembelaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman serta
mengalahkan tipu daya orang-orang dzalim terhadap mereka. Allah berfirman,
“Kekuatan
itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (Al-Munafiqun:
8)
“Sesungguhnya
Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (Al-Hajj: 38)
Iman
akan membangkitkan pada diri orang mukmin potensi-potensi yang akan mendorong
pemiliknya untuk berjihad, berkorban, bersabar, bertahan, beramal kebaikan, dan
membantunya dalam melintasi berbagai kendala, betapapun panjang jalan yang
harus ditempuhnya dan betapa pun banyaknya kendala yang harus dihadapi. Allah
berfirman,
“Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah
supaya kamu beruntung.” (Ali Imran: 200)
Iman
mewujudkan ketenangan dan kedamaian jiwa, serta menjauhkan orang yang beriman
dari kegelisahan, kebingungan, kesedihan dan keusaran serta kegoncangan jiwa.
Allah berfirman,
“Yaitu
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d:
28)
“Barangsiapa
mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari
langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
(Al-Hajj: 31)
Iman
akan menerangi jalan bagi pemiliknya sehingga bisa terbimbing menuju jalan yang
lurus dan terjauh dari penyimpangan. Allah berfirman,
“Dan
bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu
mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
kepadamu agar kamu bertaqwa.” (Al-An’am: 153)
“Hai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada
Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan
menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia
mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hadid: 28)
Iman
akan menjaga orang yang beriman dari keterpurukan ke jalan yang haram atau pun
syubhat, karena iman akan melahirkan pada pemiliknya ketakutan kepada Allah,
merasa diawasi oleh Allah dan kekhawatiran terhadap siksa Allah. Sebagaimana
iman juga akan melahirkan keikhlasan kepada Allah, menyucikan niat dari segala
yang mengotorinya, menyembuhkan pemiliknya dari penyakit-penyakit yang merusak
keikhlasan seperti riya, sombong, bangga diri, ambisi kepada kedudukan dan
popularitas.
Iman
akan membersihkan pemiliknya dari penyakit-penyakit seperti individualis dan
egois, dendam, dengki, tradisi jahiliyah, fanatisme kesukuan dan kebangsaan,
serta berbagai konflik dan permusuhan yang seringkali diakibatkan oleh semua
ini.
Iman
menjaga pemiliknya dari kemaksiatan, dosa-dosa besar dan keseronokan,
mencegahnya dari tindakan mengganggu orang lain dengan mencela, mengghibah, adu
domba ataupun bentuk-bentuk gangguan lainnya. Iman juga akan menyeru kepada
kedermawanan dengan sesama warga masyarakat, meskipun agama mereka berbeda.
Allah berfirman,
“Allah
tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang
yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari
negerimu.” (Al-Mumtahanah: 8)
Menyerukan
untuk berbuat adil dan berinteraksi dengan baik kepada orang-orang kafir yang
hidup di negeri kita, “Bagi mereka hak dan kewajiban seperti hak dan kewajiban
kita”. Sehingga tidak menyeru kepada perpecahan rasial dan tidak pula kepada
fanatisme kelompok.
Iman
akan memberikan kepada pemiliknya semua etika yang mulia seperti kelembutan,
pengendalian amarah, sifat mudah memaafkan saudara yang mengganggunya, dan
membela diri dengan cara yang terbaik. Di samping itu iman juga akan memberikan
kepada pemiliknya keutamaan tawadhu’.
Iman
akan mendorong pemiliknya untuk berbakti kepada ibu bapak dan sanak kerabat,
silaturahim, pemuliaan tamu, berbuat baik kepada tetangga, bersikap lemah
lembut kepada anak-anak yatim dan memberi infak kepada orang-orang miskin.
Iman
akan membuahkan kecintaan, kasih sayang, sikap itsar sesama kaum mukminin dan
mencegah dari perpecahan dan permusuhan. Allah swt. berfirman,
“Dan
orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi
penolong bagi sebagian yang lain.” (At-Taubah: 71)
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)
Dalam
hadits Rasul saw. bersabda,
“Kamu
tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak akan beriman
sehingga kamu saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan kepada sesuatu yang
apabila kamu mengerjakannya kamu akan menjadi saling mencintai? Sebarkanlah
salam di antara kamu.” (h.r. Muslim, 1/74, no. 54)
Allah
swt. berfirman,
“Dan
orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar)
sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah
kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap
apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekali pun mereka memerlukan
(apa yang mereka berikan itu) Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)
“Dan
taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)
Iman
akan mendorong untuk memperhatikan urusan kaum muslimin dan problematika mereka
serta membela mereka. Rasul saw. bersabda,
“Perumpamaan
orang-orang yang beriman dalam kecintaan, kasih sayang dan tolong menolong
mereka adalah seperti satu tubuh, bila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka
seluruh anggota tubuh yang lain ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(h.r. Muslim)
Iman
akan menguatkan azam seorang mukmin dan menghilangkan pengaruh sikap inferior
dan pengecut serta perasaan lemah, mencegah dari ketakutan kepada selain Allah,
dan menyerukan kepada sikap tawakal yang baik kepada Allah. Allah berfirman,
“Yaitu
orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada
orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan
untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu
menambah keimanan mereka dan menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami
dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’. Maka mereka kembali dengan nikmat dan
karunia dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti
keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya itu tidak
lain hanyalah setan—yang menakut-nakuti kawannya (orang-orang musyrik Quraisy),
karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika
kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 173-175)
Iman
akan meluruskan parameter-parameter materialistis seorang mukmin tidak
menjadikan dunia sebagai konsentrasinya yang terbesar dan puncak
pengetahuannya, dan ia bisa menahan diri dari daya tarik dunia yang akan
menjadikannya merasa cenderung kepadanya. Sehingga ketika diseru untuk
berjihad, ia pun menyambutnya dan menjadikan kesyahidan di jalan Allah sebagai
cita-cita tertinggi, di mana ia telah mendayagunakan semua nikmat dari Allah
seperti harta, tenaga, ilmu dan jiwa untuk jihad di jalan Allah, dan menjadikan
harta hanya berada di tangannya dan bukannya di dalam hatinya sehingga dengan
ringan ia bisa menafkahkannya di jalan Allah.
Iman
akan menjaga pemiliknya dari sikap pengecut, mudah menyerah dan lemah terutama
bila sedang mengalami kekalahan dalam menghadapi musuh. Allah swt. berfirman,
“Dan
berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari
pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang
menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lemah dan tidak pula menyerah (kepada
musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
“Janganlah
kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih padahal kamulah orang-orang
yang paling tinggi (derajatnya jika kamu orang yang beriman).” (Ali Imran: 139)
Mempersenjatai
diri dengan keimanan merupakan faktor asasi realisasi janji Allah yang akan
memenangkan dan meneguhkan hamba-Nya yang beriman, dan termasuk dalam
upaya-upaya menyiapkan kekuatan. Allah berfirman,
“Dan
Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Rum: 47)
“Dan
orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir
berperang di jalan taghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena
sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (An-Nisa’: 76)
Iman
akan membuahkan kecintaan kepada tanah air dan menyeru kepada kerja yang
produktif dan profesional, untuk mengangkat harkat negara dan mewujudkan
kemandirian, dan mendorong kepada pendayagunaan waktu dengan baik untuk
melakukan aktivitas yang berguna dan bermanfaat, serta memfungsikan semua yang
dimiliki untuk mengupayakan sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan kemanfaatan
bagi manusia.
Iman
dan taqwa akan mendatangkan rezeki yang halal dan baik. Allah berfirman,
“Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
“Barang
siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq:
2-3)
Iman
akan melahirkan kesabaran dan keridhaan, serta keyakinan akan keadilan Allah
dan bahwasanya Dia tidak akan pernah lalai terhadap tindakan orang-orang yang
dzalim dan bahwasanya Dia senantiasa mengintai mereka. Allah swt. berfirman,
“Sesungguhnya
Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka
terbelalak.” (Ibrahim: 42)
Begitu
juga seorang mukmin akan ridha kepada qadha’ dan qadar Allah meski pun nampak
bahwa hal itu merupakan ketentuan yang buruk. Allah berfirman,
“Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu; padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Keimanan
ini bila telah mendominasi suami dan isteri, maka akan mewujudkan kecintaan dan
kasih sayang serta kebahagiaan berumah tangga yang hakiki bagi mereka berdua,
sehingga mereka bisa membangun keluarga muslim teladan dan tumbuhlah dalam
suasana Rabbani ini keturunan yang shalih.
Iman
akan mengecam pemiliknya dari sikap sok berani berfatwa tanpa landasan ilmu,
mewajibkan kepada pemiliknya bersikap wara’, menjaga diri dari sikap merasa
paling pandai, melibatkan diri dalam pembahasan seputar syariat Allah tanpa
memiliki dalil, di mana seringkali sebagian pemuda yang terlibat aktif dalam
perjuangan islami terlibat dalam masalah ini.
Iman
akan memahamkan pemiliknya apa yang menjadi tuntutan dari tabiat fase yang
dilalui dakwah Islam; yaitu pentingnya upaya untuk menegakkan daulah dan
khilafah Islamiyah, dan pentingnya sikap saling menolong dan kerja sama
dengan para pejuang yang tulus lainnya untuk merealisasikan tujuan yang besar
ini. Allah berfirman:
"Dan
perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama itu hanyalah
untuk Allah semata." (QS. Al-Anfal: 39)
Iman
akan mendorong pemiliknya untuk setia dengan bai'at-nya dan tidak
sembrono dalam menunaikan konsekuensi bai'at-nya atau membatalkannya
betapa pun panjang dan banyaknya kendala yang menghalangi jalannya. Allah
berfirman:
"Di
antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di
antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak
mengubah janjinya. Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang
benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya,
atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS. Al-Ahzab: 23-24)
Iman
merupakan syarat untuk menyempurnakan perniagaan yang menguntungkan dengan
Allah.
"Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah: 111)
Iman
dan taqwa akan menjaga seorang mukmin dari godaan setan. Allah berfirman:
"Sesungguhnya
orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat
kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya."
(QS. Al-A'raf: 201)
Iman
akan mewujudkan kebahagiaan dan kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan
serta keselamatan dari api neraka di akhirat. Allah berfirman:
"Barangsiapa
yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadamu kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih bagi mereka
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang
besar." (QS. Al-Buruj: 11)
Iman
akan menjadikan pemiliknya senantiasa bersama Allah, dan barangsiapa yang Allah
selalu bersamanya maka tidak akan kehilangan sesuatu pun, dan barangsiapa yang
Allah menjauhkan diri darinya, maka ia hanya akan menemukan kesia-siaan dan
kesesatan. Allah berfirman:
"Sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat
kebaikan." (QS. An-Nahl: 128)
"Dan
bahwasanya Allah bersama orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anfal: 19)
Begitulah,
kita melihat pengaruh iman dan terapinya untuk berbagai penyakit dan keganjilan
yang diakibatkan oleh materialisme. Dan apa yang telah kami sebutkan ini sama
sekali tidak bermaksud membatasi, karenanya kita harus bersegera menuju
keimanan yang tulus, amal shalih dan rabbaniyyah.
MARI
MEMPERBAHARUI IMAN KITA
Setelah
mengetahui peran iman dan pengaruhnya yang sangat agung dalam kehidupan
individu, keluarga, dan masyarakat, dan mengingat pula bahwa iman adalah terapi
yang mujarab bagi semua penyakit yang ditinggalkan oleh materialisme ini, maka
sudah sewajibnya kita mengingat kembali beberapa faktor yang bisa kita andalkan
untuk mengukuhkan dan memperbaharui keimanan kita, sehingga kita bisa
terpelihara dari berbagai fitnah dan penyimpangan. Begitu juga agar kita bisa
merealisasikan faktor-faktor ini dengan penuh tekad dan kesungguhan seraya
memohon kepada Allah agar memberi kepada kita keimanan yang teguh dan
mengukuhkan kaki-kaki kita untuk tetap melangkah di jalan-Nya.
Pada
hakikatnya, sumber-sumber bekal yang bisa menguatkan keimanan kita itu amat
banyak, tetapi kami akan menjelaskan sebagian saja secara singkat, dan yang
patut kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa mengambil bekal ini dari
sumber-sumber yang tiada akan pernah kering.
Sumber
yang paling penting bahkan paling asasi adalah Al-Qur'an al-Karim, di mana
Allah telah menyifatinya dalam Al-Qur'an sendiri bahwasanya ia adalah petunjuk,
cahaya, rahmat, nasihat, dzikir, dan obat hati serta bahwasanya ia menunjukkan
kepada jalan yang paling lurus dan berbagai sifat lainnya. Sesungguhnya membaca
Al-Qur'an dan mendengarkannya dengan penuh tadabbur akan menambah
keimanan sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan
ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya
mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
“Allah telah menurunkan perkataan yang
terbaik, (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi
berulang-ulang. Oleh karena itu, kulit orang yang takut kepada Tuhannya
gemetar. Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah.
Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia
kehendaki. Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah tidak ada yang dapat memberi
petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 23)
"Wahai
manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu,
penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman." (QS. Yunus: 57)
Kemudian
kita mendapati Al-Qur'an membahas masalah iman kepada Allah, hari akhir,
malaikat, kitab-kitab, para Rasul, dan takdir, mengemukakan dalil-dalilnya
dengan gaya bahasa mudah, logis, dan meyakinkan, serta deskripsi yang tepat dan
mudah dipahami oleh orang yang ingin mencari petunjuk. Allah berfirman:
"Dan
Sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang
mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar: 17)
Jadi
yang diwajibkan bagi kita adalah mempersiapkan perangkat penerima[*], yaitu
hati, dengan menghilangkan segala penutup atau noda yang bisa menghalanginya,
sehingga cahaya dan hikmah Al-Qur'an bisa meresapi hati kita agar menjadi
terpengaruh dan semakin kuat keimanannya. Allah berfirman:
"Maka
apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?"
(QS. Muhammad: 24)
"Sekali-kali
tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati
mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)
Begitulah,
kita mendapati Al-Qur'an memberikan perhatian dan bimbingannya kepada kita
dalam semua aspek dan urusan kita, agar kita bisa menapaki jalan kebenaran yang
diridhai oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.
Al-Qur'an
menjelaskan kepada kita salah satu sumber penting dari sumber-sumber
pembaharuan iman; yaitu memikirkan ciptaan Allah, agar kita bisa mengenal
keagungan dan kekuasaan Allah sehingga hal itu akan memantulkan pengagungan,
penyucian, dan pemujaan kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.
Firman-Nya:
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran: 190-191)
"Maka
apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit,
bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi
bagaimana ia dihamparkan?" (QS. Al-Ghasyiyah: 17-20)
Kita
juga wajib memikirkan diri kita dan apa yang diciptakan di dalam tubuh kita
seperti akal dan berbagai organ yang sangat rumit dan bisa menjalankan
tugas-tugasnya dengan tepat dan rapi. Allah berfirman:
"Dan
pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS.
Adz-Dzariyat: 21)
Ilmu
pengetahuan modern secara beruntun telah menyingkap rahasia-rahasia yang
menakjubkan di ruang angkasa, di dunia binatang, burung dan serangga, serta di
dunia tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati. Allah berfirman, "Inilah
ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan
oleh sesembahan-sesembahanmu selain Allah" (Luqman:11)
Memikirkan
nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita yang sangat banyak dan
tidak terhitung. Firman-Nya, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah,
tidaklah dapat kamu menghitungnya" (Ibrahim:34), agar kita bisa
menghargai keutamaan Allah yang telah dianugerahkan kepada kita dan mengetahui
kebutuhan kita kepada-Nya, sehingga kita bisa memuliakan Allah dengan
sebenar-benarnya dan menunaikan kewajiban syukur kepada-Nya, di mana tingkatan
tertinggi dari syukur ini adalah kita harus menggunakan nikmat-nikmat itu untuk
ketaatan kepada Allah dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Dan
di sini kami akan memaparkan kiat-kiat untuk teguh terhadap nikmat-nikmat Allah
yang diharapkan bisa memberikan pengaruh yang efektif dalam jiwa kita. Yaitu
dengan kita membayangkan keadaan orang yang terkena musibah pada matanya
sehingga tidak bisa melihat, kemudian kita membayangkan perubahan-perubahan
yang akan dialaminya dalam kehidupan, kemudian kita membayangkan juga setelah
itu ia kehilangan pendengarannya di samping kehilangan penglihatannya, seakan
ia berada dalam sebuah sel yang gelap gulita, tidak bisa melihat dan mendengar
orang lain, sehingga mehitung kehidupannya akan semakin sulit sekali. Kemudian
setelah itu kita membayangkan ia juga kehilangan kemampuan berbicara, sehingga
ia tidak bisa melihat, mendengar dan berbicara. Cobalah kita bayangkan wahai
saudara pembaca yang budiman kondisi orang seperti itu yang tidak bisa
menyampaikan apa yang dia harapkan kepada orang lain sebagaimana orang lain
juga tidak bisa mengungkapkan apa yang diinginkan darinya. Sungguh alangkah
naasnya kehidupan tanpa ketiga nikmat dari nikmat-nikmat Allah yang tiada
terhitung ini yang di antaranya adalah nikmat akal.
Memikirkan
kehidupan ghaib yang menanti kita: dari waktu sekarang ini sampai kematian yang
datang secara tiba-tiba, kemudian kehidupan di kubur, kebangkitan, perhitungan
amal, titian, surga dan neraka. Di mana banyak manusia telah disibukkan oleh
dunia dan materi sehingga lupa memikirkan masa depan dan kehidupan yang hakiki
bagi mereka. Allah berfirman, "Pada hari itu ingatlah manusia akan
tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, "Alangkah
baiknya kiranya dulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini" (Al-Fajr:23-24).
Sungguh memikirkan semua ini akan memperkuat keimanan kepada hari akhir dan
masa depan yang tiada pernah berakhir, mendorongnya untuk mempersiapkan diri
dengan amal shalih dan menjauhkan diri dari kemaksiatan terhadap Allah serta
pentingnya kesiapan bertemu Allah di setiap waktu. Di mana seringkali keluarga
atau orang di antara kita pada pagi harinya sedang berada di tengah
keluarganya, kita harus beramal agar kelak kubur kita menjadi salah satu taman
dari taman-taman surga dan kita termasuk penghuni surga. Yang demikian itu bisa
kita wujudkan dengan mendayagunakan semua waktu kita dan semua nikmat Allah
yang telah dianugerahkan kepada kita untuk beramal kebajikan dan meraih ridha
Allah.
Di
antara yang bisa menguatkan keimanan adalah penghayatan terhadap sirah
Nabawiyah dan berbagai peristiwa serta sikap keimanan dari Rasulullah saw.
dan para sahabat untuk kita ambil sebagai teladan. Sungguh banyak sekali
sikap-sikap keimanan itu yang di antaranya adalah pengorbanan Ali ra. ketika
tidur di tempat tidur Nabi saw. pada malam birah menggantikan beliau untuk
memperdayakan musuh, keyakinan Rasul saw. akan perlindungan Allah Yang Maha
Suci kepada dirinya dan Abu Bakar yang saat itu berada dalam gua sedang
orang-orang musyrik berada di pintu gua, beliau hanya berkata kepada Abu Bakar,
"Mengapa engkau bersedih terhadap dua orang yang ketiganya adalah
Allah, (Janganlah engkau bersedih sesungguhnya Allah bersama kita)" (At
-Taubah:40). Begitu juga contoh-contoh yang sangat mengagumkan dalam
kesabaran terhadap gangguan dan penyiksaan orang-orang musyrik meskipun hal itu
sampai mengantarkan kepada kesyahidan sebagaimana yang dialami oleh Yasir dan
Sumayyah ra. serta apa yang telah dialami oleh Bilal dan sahabat yang lainnya.
Dan sirah ini juga kita bisa mengetahui buah keimanan yang tercermin
dalam cinta dan ukhuwah yang telah membuahkan sikap isar antara kaum Anshar dan
Muhajirin, begitu juga sikap-sikap keteguhan, jihad dan pengorbanan serta
kecintaan untuk meraih kesyahidan di jalan Allah. Sebagaimana kita mendapati
dalam sirah ini sikap-sikap keimanan yang kokoh dari wanita-wanita
muslimah seperti Asma' bintu Abu Bakar, Khadijah istri Rasul saw., Nusaibah
binti Ka'ab, Sumayyah istri Yasir dan masih banyak lagi sahabiah yang lain. Dan
oleh karena sirah adalah aplikasi yang pertama untuk Islam pada masa
Rasul saw. dan masa turunnya wahyu, maka akan kita dapati di dalamnya banyak
bekal yang akan membantu kita dalam menempuh perjalanan dakwah dan mengatasi
berbagai rintangannya.
Di
antara faktor-faktor pembaharu dan penguat iman adalah penunaian keempat
kewajiban ibadah, yaitu shalat, puasa, zakat dan haji. Di mana bila kita
menunaikan keempat ibadah ini tepat pada waktunya dengan diiringi kehadiran
hati, maka semua itu akan membekali kita dengan kekuatan iman yang baru dan
meningkatkan bekal ketaqwaan, "Hai manusia sembahlah Tuhanmu Yang telah
menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa" (Al-Baqarah:21),
Firman-Nya, "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan
keji dan munkar" (Al-Ankabut:45). Firman-Nya, "Hai
orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" (Al-Baqarah:183).
Dan di tengah-tengah ayat-ayat haji terdapat perintah-Nya, "Berbekallah,
dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa" (Al-Baqarah:197).
Jadi kita harus menyelami rahasia-rahasia ibadah ini dan tidak hanya mengetahui
dhahirnya saja. Di mana shalat bila kita tunaikan dengan sungguh-sungguh
disertai kehadiran hati akan memberikan kekuatan diri kita minimal lima kali
bekal keimanan yang baru. Begitu pula dengan bulan suci Ramadhan yang penuh
dengan limpahan bekal rohani. Juga dengan zakat akan menyucikan dan
membersihkan jiwa kita. Firman-Nya, "Ambillah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka" (At
-Taubah:103). Sedangkan kewajiban haji memiliki pengaruh spiritual yang
tinggi yang akan menyucikan pelakunya dari seluruh dosa dan mengembalikannya
kepada kesucian seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. Setiap kewajiban dari
keempat kewajiban ini memiliki dampak-dampak tarbawiyah yang sangat penting dan
wajib bagi pembentukan kepribadian muslim teladan.
Di
antara sumber-sumber bekal yang penting adalah tahajjud dan qiyamul
lail khususnya di waktu sahur di keheningan malam pada saat manusia
terlelap dalam tidur, jauh dari penerangan, keributan dan riya', di mana
hati akan menjadi jernih, dan ruhani akan menjadi bersih, sehingga manusia
ber-munajat kepada Allah dengan dzikir, do'a, tasbih, istighfar, rukuk
dan sujud. Dalam suasana yang khusyu' ini seorang mukmin mengetuk pintu Sang
Maha Pemurah lagi Maha Suci untuk memohon Nya lalu Dia-pun mengabulkannya. Ia
mengetuk pintu dengan rukuk-rukuk yang khusyu', sujud-sujud yang tunduk,
do'a-do'a yang tulus, dan dengan air mata yang deras mengucur karena takut
kepada Allah serta dengan membaca kalam-Nya yang suci. Dan Allah telah
mengarahkan Rasul-Nya untuk melakukan qiyamul lail agar siap mengemban
beban-beban yang amat berat. Firman-Nya, "Hai orang yang berselimut
(Muhammad), bangunlah untuk shalat di malam hari, kecuali sedikit darinya,
(yaitu) seperduanya atau kuranglah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari
seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya
Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat" (Al-Muzzammil:1-5).
Dan di antara sifat-sifat orang-orang beriman sebagaimana dalam firman-Nya, "Mereka
sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon
ampun kepada Allah" (Adz-Dzariyat:17-18). Firman-Nya, "Dan
orang yang melalui malam hari lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang
mereka berdoa kepada Tuhan-nya dengan rasa takut dan harap" (As-Sajdah:16).
Dan dalam hadits Rasul saw., "Sesungguhnya di malam hari terdapat suatu
waktu yang tidak ada seorang muslim yang bertepatan berdoa memohon kepada Allah
kebaikan di dunia dan akhirat pada waktu itu melainkan Allah akan
mengabulkannya, dan hal ini terdapat di setiap malam" (Muslim/1/521/no.757).
Alangkah butuhnya kita untuk berdoa pada waktu-waktu ini demi dakwah dunia agar
mendapatkan kemenangan dan keteguhan.
Di
antara sumber-sumber bekal yang baru adalah mengikuti sunah Rasulullah saw.
dalam semua aspek kehidupan kita. Di mana dengan mengikuti sunah Rasulullah
saw. kita bisa meningkatkan jiwa kita baik dalam tataran ruhani maupun perilaku
dengan meneladani apa yang bisa diteladani dari kehidupan Rasul saw. yang
sangat istimewa dan penuh dengan ketinggian ruhani dan kekuatan iman. Di
samping akan menjadikan diri kita mampu menghayati kehidupan kita dengan penuh
kesadaran dan ingatan akan Allah dan nikmat-nikmat-Nya yang dianugerahkan
kepada kita dalam setiap keadaan kita, di mana Rasulullah saw. telah
mengajarkan do'a doa ketika makan, minum, tidur, bangun dari tidur, ketika
memakai pakaian dan melepaskannya, ketika masuk dan keluar dari kamar kecil,
serta keadaan yang lainnya, sehingga kita bisa menjalankan semua aktivitas ini
seraya mengingat karunia Allah dan rahmat-Nya dan kita tidak melakukannya dalam
keadaan lalai sehingga diiringi oleh setan.
Di
antara faktor-faktor yang memperbaharui keimanan adalah istiqamah dalam
dzikrullah, di mana orang yang berdzikir akan selalu bersama Allah dan Allah
selalu bersamanya, dan barangsiapa yang Allah selalu bersamanya maka ia akan
merasakan kedamaian dan ketenangan serta kebahagiaan ruhani. Allah berfirman, "Yaitu
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (Ar-Ra'd:28).
Dan berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan
menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah
kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan
Malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari
kegelapan kepada cahaya (yang terang), Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada
orang-orang yang beriman" (Al-Ahzab:41-43). Dan berfirman, "Yaitu
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring". (Ali Imran:191). Barangsiapa yang istiqamah
dalam berdzikir menyebut nama Allah, maka ia tidak akan termasuk kedalam
golongan orang-orang yang lalai dan setan juga akan menjauh darinya. Ketika
berdzikir mengiringi dzikrullah dengan do'a, maka berarti kita bisa memiliki
hubungan dan keterikatan kita dengan Allah, kesadaran akan kelemahan dan
kebutuhan kita kepada Allah Yang Maha Kaya, Maha Kuat, Maha Memaksa, lagi Maha
Memberi rezeki yang ditangan-Nya segala permasalahan dan Dia Maha Kuasa atas
segalanya. Do'a ini harus dilakukan dengan penuh ketundukan, kehinaan diri dan
keyakinan kepada Allah. Dia berfirman: "Dan Tuhanmu berfirman,
"Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu". (Ghafir:
60) Dan berfirman, "Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri
dan suara yang lembut". (Al-A'raf: 55). Jadi do'a adalah inti
ibadah dan berpaling dari do'a ini adalah suatu bentuk kedurhakaan dan
kesombongan.
Di
antara faktor-faktor yang memperkuat dan memperbaharui keimanan adalah berteman
dengan orang-orang shalih, di mana dengan pertemanan ini akan terealisir sikap
saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, terwujud pemberian peringatan
yang bermanfaat bagi orang-orang beriman, dan terwujud pula sikap tolong
menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan. Sebagaimana iman akan mendorong kepada
amal shalih, begitu juga sebaliknya, amal shalih ini akan mengukuhkan iman dan
menancapkannya dalam jiwa.
Di
sana masih banyak lagi faktor-faktor dan sarana-sarana untuk menguatkan dan
memperbaharui keimanan, di antaranya adalah ketulusan niat dan kesungguhan
dalam mewujudkan semua itu. Maha Benar Allah yang telah berfirman, "Dan
orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik". (Al-'Ankabut:69). Dia
berfirman, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan yang
menyeru kepada iman, (yaitu), "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka
kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan
hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta
orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau
janjikan kepada kami dengan perataan Rasul-Rasul Engkau. Dan janganlah, Engkau
hinakan kami di hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji".
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya dengan berfirman:
"Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal
antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, karena sebagian kamu adalah turunan
dari sebagian yang lain". (Ali Imran:193-195) Sangatlah patut
bagi kita untuk mengetahui sejauh mana ketulusan iman kita, dengan bercermin
kepada sifat-sifat kaum mukminin yang disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunah
Rasul-Nya, agar kita bisa mengetahui sejauh mana kesesuaian kita dengan
sifat-sifat itu, sehingga kita bisa memuji Allah dan memohon tambahan atau
beristighfar kepada-Nya dan beramal serta berusaha untuk menguasai keadaan
sebelum hilangnya kesempatan.
Dan
akhir do'a kita adalah alhamdulillahillahi rabbil 'alamin.
Comments
Post a Comment