Rabbaniyah dan Materialisme (Bab XIII Buku Fiqh Dakwah Musthafa Masyhur)

Pengantar

Oleh : Muhammad Abdullah Al Khatib

Segala puji bagi Allah Penguasa semesta alam, shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Kecintaan pada dunia yang melalaikan akhirat dan kenikmatannya yang abadi termasuk penyakit berbahaya yang bisa menggerogoti tubuh suatu masyarakat, baik di masa dulu maupun sekarang. Tidak satupun masyarakat yang didominasi oleh kecintaan terhadap dunia kecuali akibat akhirnya adalah kehancuran

Kelemahan dan perpecahan yang diderita kaum muslimin sekarang ini, serta ambisi yang diderita kaum muslimin sekarang ini serta ambisi para musuh yang ingin menguasai wilayah, tempat-tempat suci dan sumber daya alam mereka, tidak lain merupakan konsekuensi yang pasti dari kecenderungan dan keterikatan mereka kepada dunia sehingga melalaikan akhirat.

Pada hari ini kaum muslimin sedang dilanda perpecahan di kalangan para pemimpinnya dan keserakahan untuk memuaskan nafsu syahwat. Semua orang sangat berambisi meraih dunia yang hina dan berlari di belakang semua keperluannya tanpa melibatkan akal dan ketaqwaannya. Padahal Rasulullah SAW Telah bersabda:

“Celakalah orang yang menjadi budak dinar, celakalah orang yang menjadi budak dirham”. Akibatnya mereka mengalami kekalahan sebagaimana pendahulu mereka, di Andalus, di masa-masa Mongol, Tartar dan perang salib.

Rasulullah saw. Telah mengingatkan kita agar selalu waspada dari ketergantungan kepada gemerlapnya dunia. Beliau menyerukan kita untuk mencintai akhirat, dan menjelaskan kepada kita bahwa dunia adalah tempat berteduh yang sementara (fana) dan tidak akan pernah langgeng.

Siapa saja yang terbiasa hidup dengan bergelimang kenikmatan, kesenangan dan kemewahan, tidak akan pernah sanggup menghadapi beban-beban kehidupan dan kesulitan-kesulitannya atau berjuang sebagai mujahid di jalan Allah. Kehidupan yang bersahaja selalu menjadi karakteristik utama para pejuang yang akan meninggikan martabat bangsanya. Sungguh indah kalimat yang dikatakan oleh Syahid Hasan Al-Banna:

”Sesungguhnya suatu bangsa apabila hidup dalam kenikmatan, terbiasa berhura-hura, tenggelam dalam pengagungan materi, terfitnah oleh gemerlap kehidupan dunia, melalaikan keharusan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan, menanggulangi berbagai bahaya dan berjuang di jalan kebenaran, maka katakanlah ’selamat jalan’ kepada kemuliaan dan harapan-harapannya”.

Pada kesempatan lain beliau juga mengatakan: ”Wahai ikhwan, sesungguhnya suatu bangsa yang pandai menciptakan kematian dan mengetahui bagaimana mereka harus mati secara terhormat, Allah akan menganugerahkan kepada mereka kehidupan yang mulia di dunia dan kenikmatan di akhirat. Sedang kelemahan yang menghinakan suatu bangsa tidak lain adlah kaena kecintaan mereka kepada dunia dan takut kepada kematian. Maka persiapkanlah diri kalian untuk kerja besar dan bersungguh-sungguhlah dalam meraih kematian. Dengan begitulah kalian akan dianugerahi kehidupan.”

Seakan imam syahid ingin mengisyaratkan kepada suatu hadits Rasulullah saw: ”Mungkin pada suatu masa kalian akan dikeroyok oleh bangsa-bangsa sebagaimana makanan di meja hidangan yang dikeroyok ramai-ramai oleh jago-jago makan. ”Salah seorang ada yang bertaya: ”Apakah karena jumlah kita sedikit pada waktu itu?” Beliau menjawab: ”Tidak, bahkan kamu pada masa itu jumlahnya sangat banyak, tetapi kalian ibarat buih yang terapung. Dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut terhadap diri kalian dari dada musuh0musuh kalian serta Allah akan melemparkan dalam hatimu wahn (kelemahan) ada yang bertanya: ”Wahai Rasulullah. Apa yang dimaksud wahn itu?” ’Beliau menjawab:”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud)

Seorang muslim hendaknya mengetahui bahwa bencana zaman ini berupa ketertarikan dan penghambaan diri kepada dunia dengan penuh keserakahan ingá berlebih-lebihan merupakan penyakit yang tidak patut bagi seorang yang beriman lepada akhirat dan hatinya bergantung kepada Allah.

Seorang muslim hendaknya mengetahui bahwa ia pencari akhirat, bukan pencari dunia maupun syahwat. Sedang pencari akhirat hendaknya bersikap zuhud dari apa saja selain yang dicarinya, hanya mencintai apa yang menjadi konsentrasi pencariannya, mengetahui jalan yang menhantarkannya kepada tujuan dan jalan-jalan lain yang menyimpangkannya dari tujuan.

Ia terus maju dengan penuh semangat dan keteguhan sikap, tidak akan dibelokkan dari pencariannya oleh celaan orang yang mencela ataupun cercaan orang yang mencerca. Semboyannya adaalah sabar dan hiburannya adalah kepenatannya (Al Fawa’id, Ibnul Qayyim dinukil dari ar-Raqa’iq hal 53)

Pencari akhirat yang benar dalam pencariannya, setiap kali ada sesuatu dari dirinya yang hancur, akan menjadikannya sebagai pemakmur hati dan ruhaninya. Setiap kali ada sesuatu yang berkurang dari dunianya, Akan menjadikannya sebagai tambahan bagi akhiratnya. Setiap kali ada sesuatu yang terhalang dari kenikmatan dunianya, ia menjadikannya sebagai kenikmatan di akhiratnya. Dan setiap kali mengalami kesedihan, kesusahan, dan kegundahan, ia menjadikan semua itu sebagai sumber-sumber kebahagiaannya di akhirat. (Al Fawa’id, Ibnul Qoyyim dinukil dari ar-Raqa’iq, hal 62)

Inilah yang kami serikan kepada seluruh kaum muslimin di barat dan tumur. Hendaklah mereka segera menuju bahtera Rabbaniyah, karena di dalamnya terdapat keselamatan dari kesengsaraan dan krisis akibat peradaban materialis. Maka adakah orang yang akan menyambut seruan ini?

Dan risalah ini menyeru setiap muslim untuk memahami permasalahannya dan memikirkan dominasi materi dan hegemoninya terhadap akal dan hati manusia. Penulis (Syaikh Musthafa Masyhur, -red) seorang da’i yang sudah sangat berpengalaman yang hidup untuk dakwahnya dan perjuangan-perjuangannya demi untuk mensukseskannya.

Sudah sepatutnya bila risalah seperti ini dibaca dari awal sampai akhir, dikaji seluruh arahan berharga yang terkandung di dalamnya, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan dan setiap tindakannya.

Risalah yang ditulis oleh pejuang gerakan islam merupakan terapi terbaik bagi kaum muda, karena mereka memiliki pemahaman yang murni dan benar yang dihimpun dari peristiwa-peristiwa nyata dan kendala-kendala konkrit yang mereka alami secara langsung dalam berbagai kondisi yang meliputi dakwah. Sehingga setiap kalimat di dalamnya tak ubahnya sebagai balsem dan bekal di jalan dakwah.

Kami berdo’a kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari bekal ini dan menjadikan kita sebagai para penebar petunjuk yang senantiasa mendapatkan bimbingan, sesungguhnya Dia itu Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan.

Al Hamdu lillahi Rabbil ’alamin.

 

KITA HARUS MEMAHAMI PERSOALAN

Materialisme telah mendominasi kehidupan masyarakat kita pada saat Rabbaniyah mengalami kemerosotan yang cukup parah. Hal ini sebagai akibat buruk dari gelombang kebudayaan materialistis yang sedang membuncah serta peradaban hedonis dan syahwat yang telah menyerang negara-negara kita seiring dengan penjajahan terhadap negara-negara kita yang dilakukan oleh pasukan-pasukan perang musuh.

Kekelaman materi dalam kehidupan kita telah mengalahkan cahaya kebenaran dan ketinggian ruhani. Parameter dan tata nilai materialis telah menggeser parameter Rabbaniyah. Dunia dengan berbagai kenikmatannya yang tidak berarti dan fana ini telah menarik perhatian umat manusia sehingga menjadi antusiasme terbesar dan puncak pengetahuannya yang abadi serta melalaikannya dari kehidupan akhirat dan kenikmatannya yang abadi. Moral sebagian besar umat manusia telah bobrok sehingga semakin mendekati sifat kebinatangan daripada sifat kemanusiaan, akibatnya sifat egois menggeser sifat itsar, pertentangan dan konflik menggeser kecintaan dan kasih sayang.

Berbagai tindak kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, pemerkosaan dan tindak kejahatan lain dengan berbagai bentuk yang aneh dan nyeleneh semakin merajalela, yang menunjukkan bahwa para pelaku tindak kejahatan ini tidak memiliki sedikitpun hati nurani atau rasa takut kepada Allah. Kehampaan jiwa dan kosongnya dari aspek agama ini telah menyebabkan tersebarnya obat-obat terlarang dan minuman keras sehingga hal ini menjadi bahaya terbesar yang paling mematikan bagi umat dan para pemuda kita.

Kelalaian yang sangat parah dan memprihatinkan telah melanda semua anggota masyarakat kita. Mereka telah melalaikan hakikat bahwa di sana ada Tuhan yang telah menciptakan mereka dan mengawasi semua gerak-gerik mereka. Lalai untuk mengingat dan mentaati-Nya. Lalai terhadap berbagai anugerah dan nikmat-Nya yang diberikan kepada mereka. Lalai terhadap rahasia keberadaan dan misi mereka dalam kehidupan, sebagaimana mereka lalai terhadap masa depan yang pasti akan mereka tuju. Dan lalai terhadap perhitungan dan pembalasan amal yang akan mereka alami.

Kita melihat banyak di antara mereka seakan akal mereka telah terbengkalai, mata mereka seakan buta dan telinga mereka seakan tuli sehingga mereka menjadi seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat. Inilah kenyataan yang kita lihat dan rasakan di masyarakat kita sebagai akibat rencana jahat yang telah dirancang oleh musuh-musuh Islam terhadap umat kita, dengan tujuan mencabut Islam dari hati dan kehidupan kita setelah mereka gagal dalam semua upaya mereka untuk menelanjangi kemurnian yang tulus, ibadah yang benar dan akhlaq yang luhur, dan menyiapkan suasana yang kondusif untuk pemuasan nafsu syahwat, pembebaran berbagai kerusakan, kebobrokan, mabuk-mabukan, perjudian, perzinaan dan berbagai bentuk perusakan serta penghancuran terhadap individu, keluarga dan masyarakat.

Lalu apa yang harus kita lakukan setelah itu? Tidakkah sudah tiba saatnya bila para pemikir dan ilmuwan yang tulus dari umat ini bangkit bersama kami untuk menguasai keadaan dan menyelamatkan umat kita dari keterjerumusan ke dalam jurang kebinasaan? Semua ini adalah tanggung jawab dan amanat yang apabila kita terlepas diri dari semua ini adalah tindak kejahatan dan pengkhianatan. Kita tidak memungkiri bahwa di sana ada orang yang berpikir untuk melakukan perbaikan, tetapi banyak di antara mereka yang salah jalan dan melupakan penyakit inti sehingga tidak pernah bisa menemukan terapi yang mujarab. Seakan mereka telah melupakan sunatullah pada makhluk-Nya bahwa perubahan itu harus lebih dulu diawali dari jiwa.

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)

Jiwa manusia telah beralih dari sifat Rabbaniyah dan ketinggian ruhiyah menuju sifat materialis dan keterpurukan dalam sifat kebinatangan sehingga akibatnya adalah seperti keadaan yang telah kami gambarkan. Jadi terapinya harus dimulai dari jiwa manusia dengan menempatkan sifat Rabbaniyah pada posisi yang selayaknya dalam jiwa kita dan meminimalkan gejolak dan dominasi materi. Selain itu adalah dengan meyakini bahwa Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi telah menciptakan kita dan Maha Mengetahui segala sesuatu tentang kita, sehingga Dia meridhai Islam sebagai agama kita yang akan merealisasikan keseimbangan yang tepat antara Rabbaniyah dan materialisme dalam hidup kita, antara tuntutan-tuntutan jasad dan ruh, dan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Terapinya Adalah Kembali pada Agama

Wahai umat manusia, bersegeralah kalian menuju terapi yang mujarab dan obat yang paling manjur untuk semua penyakit, menuju agama Allah sekali lagi dan menuju Kitab Allah serta Sunah Rasul-Nya. Karena persoalan umat ini tidak akan pernah terbenahi kecuali dengan apa saja yang telah menjadi sumber kebaikan generasi pertamanya. Allah berfirman,

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Al-Isra': 82)

Dan Rasul saw. telah bersabda,

"Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan pernah tersesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya." (Hakim dalam Al-Mustadrak, 2/899, Kitabul Qadar)

Kita ingin agar Rabbaniyah menempati kembali posisi dan tempat yang selayaknya dalam jiwa kita, sehingga kita bisa mengerdilkan eksistensi materi dan membebaskan diri dari tali kekangnya serta membersihkan diri dari endapan-endapan dan sisa-sisa. Ini adalah awal yang benar untuk sebuah upaya perubahan dan perekonstruksian masyarakat serta tanah air kita di atas fondasi yang sehat dan kuat.

Keterkaitan antara Materialisme dan Rabbaniyah

Barangkali bermanfaat bila kita mengupas bersama masalah keterkaitan antara Rabbaniyah dan materialisme secara mendalam dan rinci, agar kita memiliki pemahaman yang luas di saat kita membicarakan perubahan mendasar dalam jiwa kita, kemudian masyarakat dan tanah air kita.

Allah telah menciptakan bapak kita Adam as. dari tanah kemudian meniupkan ruh kepadanya, jadi materialisme dicerminkan oleh unsur tanah sedang sisi ruhiyah atau Rabbaniyah dicerminkan oleh tiupan dari ruh Allah tersebut. Jadi materialisme akan menarik manusia untuk turun ke bumi sebagai unsur asli tanah. Sedang Rabbaniyah akan mengangkat manusia untuk membubung menuju Sang Pencipta yang telah meniupkan ruh kepadanya. Begitulah manusia hidup antara dua kekuatan yang saling-tarik menarik, antara tuntutan-tuntutan jasad dan syahwat dengan tuntutan-tuntutan ruh dan ketinggiannya.

Allah berfirman,

"Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Asy-Syams: 7-10)

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak menguji nya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur." (Al-Insan: 2-3)

Inilah wilayah ujian dan cobaan, kehendak dan pilihan, serta wilayah kesungguhan, pahala dan siksa. Allah berfirman,

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Al-Mulk: 2)

"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi: 7)

Allah telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab suci untuk membimbing manusia menuju ketinggian ruhani, sedang setan selalu berusaha untuk menyesatkannya agar jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya.

Meskipun manusia keluar dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, tetapi Allah telah menjadikan untuknya akal, pendengaran dan penglihatan sebagai sarana pengetahuan. Ia bisa memandang dan mendengar serta berpikir untuk mengenal dunia yang menjadi tempat tinggalnya, mengenal rahasia keberadaan, misi dan perannya di dunia, sebagaimana ia berpikir tentang kehidupan setelah kehidupan dunia dan apa yang sedang menantinya di sana. Allah berfirman,

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (An-Nahl: 78)

Allah tidak menyerahkan kita kepada akal kita saja untuk bisa memahami rahasia alam ini, rahasia keberadaan kita dan segala hal yang terkait dengan keberadaan ini, jalan yang harus kita tempuh dalam kehidupan kita. Bahkan Dia mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk mengenalkan dan membimbing kita menuju jalan yang lurus dan untuk mengenal kebaikan dari keburukan, yang bermanfaat dan yang berbahaya, dan yang haq dari yang sesat. Karena akal semata bisa saja menyesatkan pemiliknya karena ketidakmampuan dan keterbatasan-nya, maka diperlukan adanya cahaya wahyu yang akan menerangi jalannya. Sebagaimana mata membutuhkan adanya cahaya untuk bisa melihat sesuatu, begitu juga akal membutuhkan adanya cahaya wahyu yang akan mengarahkannya. Allah berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Hadid: 28)

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya." (Al-An'am: 122)

Materialisme dan Rabbaniyah Lahir Seiring dengan Kelahiran Manusia

Setiap bayi yang lahir selalu membawa naluri-naluri badaniah di samping fitrah keimanan dan penghambaan diri kepada Allah. Begitulah, seiring dengan kelahirannya, lahir pula materialisme dan Rabbaniyah sehingga perlu diciptakan adanya keseimbangan yang bijak antara Rabbaniyah dan materialisme dalam kehidupan manusia. Dominasi salah satunya terhadap yang lain akan menyebabkan kesengsaraan dan kebingungan bagi manusia. Dan tidak akan ada yang sanggup menentukan keseimbangan yang bijak ini kecuali Sang Pencipta manusia itu sendiri, yang mengetahui ciptaan-Nya dengan pasti, dan mengetahui apa yang bermanfaat dan yang berbahaya baginya, serta apa yang bisa memperbaikinya dan merusaknya. Allah berfirman,

"Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (Al-Mulk: 14)

Dalam ayat ini Allah menggabungkan antara pengetahuan-Nya yang meliputi semua urusan manusia dengan sifat-Nya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadap manusia, mencintai kebaikan untuknya sehingga hal itu mengharuskan-Nya untuk mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab sebagai petunjuk dan cahaya yang menerangi bagi umat manusia. Allah berfirman,

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an)." (An-Nisa': 174)

Apabila manusia berpaling dari cahaya wahyu yang menerangi mereka menuju jalan yang lurus dan hanya mengandalkan akal, niscaya mereka akan sesat jalan, materialisme akan mendominasi kehidupan mereka, Rabbaniyah akan luntur atau hilang dari jiwa mereka, setan menjadi leluasa untuk menyesatkan dan menyimpangkan mereka, berbagai bentuk kesesatan akan muncul seperti pengingkaran terhadap wujud Allah, penyembahan selain Allah seperti batu, pohon, matahari, bintang, sapi atau makhluk yang lainnya, yang sama sekali tidak memberikan madharat dan manfaat, sebagaimana kita juga mendapati ada orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai tuhan dan kita dapati juga orang-orang yang membenarkan dakwaannya itu serta menyembahnya sebagai tuhan selain Allah, serta berbagai bentuk kesesatan dan penyimpangan yang lainnya, sehingga Allah perlu mengutus para Rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab suci untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran menuju cahaya iman.

Jadi orang yang bahagia adalah orang yang bisa memanfaatkan cahaya petunjuk, berjalan di jalan yang lurus, berjuang melawan nafsunya dan menundukkannya sehingga bisa mengikuti semua prinsip, nilai, teladan, moral dan kewajiban yang dibawa oleh agama ini. Sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijauhkan dari petunjuk ini dan disesatkan oleh setan dan cecunguk-cecunguknya serta disimpangkan dari jalan kebenaran. Allah berfirman,

"Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri." (Al-Isra': 15)

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-'Ankabut: 69)

MATERIALISME, LANGKAH MUNDUR BAGI MANUSIA

Ketika materialisme telah mengalahkan Rabbaniyah dalam kehidupan manusia dan menyimpangkan mereka ke berbagai bentuk kesesatan dan kebobrokan, maka engkau akan melihat orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai tuhan, dan seringkali ada saja orang-orang yang akan membenarkan dakwaan palsu ini, engkau akan mendapati orang-orang yang mengingkari wujud Allah atau menyembah selain Allah seperti batu, pohon, sapi, api, matahari atau makhluk Allah yang lainnya.

Dan herannya di zaman ilmu pengetahuan, modernisme dan kebebasan ini —sebagaimana yang mereka katakan— kita masih mendapati Fir'aun-Fir'aun kecil yang suka meniru-niru Fir'aun pertama dan mengikutinya—sebagaimana mereka meskipun tidak sampai mendakwahkan diri sebagai tuhan, tetapi kita seringkali melihat mereka berlaku sombong di muka bumi tanpa hak sedikitpun, memperbudak rakyat dan menghinakan serta menindas mereka dengan senjata dan kekerasan, penjara dan penahanan serta penyiksaan dan pembunuhan, bukan karena apa-apa melainkan hanya karena mereka mengatakan bahwa Tuhan Kami adalah Allah, atau karena mereka melakukan kritik dan menyalahkan tindakan-tindakannya, sehingga seakan-akan tindakannya ini mengatakan sebagaimana yang dulu diucapkan oleh Fir'aun kepada kaumnya,

"Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar." (Al-Mukmin: 29)

Sebagaimana kita mendapati di sekeliling Fir'aun-Fir'aun kecil ini sekelompok orang yang meniru-niru pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun dalam menghasud Fir'aun untuk melibas Musa as. dan para pengikutnya,

"Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?" Fir'aun menjawab, "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." (Al-A'raf: 127)

Mereka semua lupa bahwa Allah senantiasa mengintai mereka dan melalaikan apa yang telah dilakukan oleh Allah kepada Fir'aun dan para pasukannya.

Al-Qur'an telah menceritakan beberapa gambaran tentang orang-orang yang telah diselewengkan oleh materialisme kepada penyembahan patung-patung, di antaranya yang paling penting adalah dialog antara Nabi Ibrahim as. dengan kaumnya, serta antara beliau dengan ayahnya sebagai pemahat patung sehingga ayahnya merasa terdesak dengan dialog ini, lalu dengan nada mengancam ia mengatakan, "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim?, Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama." (Maryam: 46)

Di zaman ilmu pengetahuan dan kemajuan ini, kita masih mendapati adanya orang-orang yang menyembah sapi dan mengambil berkah dari kotorannya serta orang-orang yang menyembah benda-benda lain yang sama sekali tidak bisa mendatangkan madharat dan manfaat, sebagai akibat dari dominasi materialisme yang menjerumuskan dan jauhnya mereka dari Rabbaniyah. Dan pernah datang suatu masa di mana materialisme telah memperbudak sebagian manusia dan syahwat mereka juga telah menyeret mereka kepada penyimpangan seksual, di mana mereka berhubungan seksual dengan kaum laki-laki dan meninggalkan kaum perempuan, lalu Allah mengutus kepada mereka Nabi Luth untuk meluruskan dan mengingatkan mereka serta melarang mereka dari perbuatan yang tidak senonoh ini. Allah berfirman, "Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan, "Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwahkan dirinya) bersih." (An-Naml: 56)

Begitulah, parameter menjadi berbalik. Kesucian menjadi sesuatu yang aneh dan tidak disukai. Kemungkaran menjadi sesuatu yang baik dan diminati. Sementara kita pada saat ini juga bisa menyaksikan perbuatan menjijikkan ini muncul dan tersebar di banyak negara sehingga dewan perwakilan rakyat Inggris secara hukum mengakui tindakan cabul. Akibat perbuatan menjijikkan ini, mereka sekarang ini menghadapi berbagai penyakit berbahaya seperti AIDS. Begitulah, kita melihat pengaruh-pengaruh buruk dan kebudayaan materialistis dan peradaban hedonis dan syahwati ini.

Di masa lalu materialisme telah menyimpang dan menjadikan sebagian orang sampai bertindak kejam kepada orang-orang beriman dengan membakar mereka dalam api, menyiksa dan membunuh mereka. Sebagaimana hal ini digambarkan oleh Allah dengan firman-Nya,

"Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan) dengan kayu bakar, ketika mereka duduk disekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 4-8)

Sebagaimana juga yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. yang dilemparkan ke dalam api, tetapi Allah melewatinya dan mengeluarkannya dalam keadaan selamat.

Dan di masa sekarang ini, kita bisa menyaksikan berbagai bentuk penyiksaan yang rasa sakitnya melebihi penyiksaan dengan dibakar api yang mungkin hanya berlangsung beberapa saat saja, hingga melayanglah nyawanya dan ia tidak lagi merasakan sakit fisik. Sedangkan penyiksaan pada masa sekarang ini telah melibatkan teknologi modern, di mana tidak sampai menewaskan orang yang disiksa sehingga memperberat siksa dan penderitaan yang dialaminya karena tidak bisa segera mati.

Materialisme telah menghantarkan sebagian orang kepada kegilaan terhadap harta, keserakahan untuk menumpuk-numpuknya, meraihnya dengan segala cara, dan sikap kikir terhadap kaum fakir dan miskin, di mana Al-Qur'an telah menceritakan kisah Qarun dan harta kekayaannya serta ucapannya yang masyhur,

"Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (Al-Qashash: 78)

Kemudian Al-Qur'an menceritakan tentang siksa Allah kepadanya,

"Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongampun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya." (Al-Qashash: 81)

Di zaman sekarang ini, kita melihat banyak orang yang disibukkan oleh kecintaannya kepada harta, upaya mengumpulkan harta dan dikuasai oleh harta sehingga mereka melakukan apa saja tanpa peduli halal atau haram, serta tidak menunaikan hak Allah di dalamnya. Selain itu kita juga menyaksikan banyak negara yang hasil produksinya melimpah dan melebihi kadar kebutuhannya, sehingga untuk menjaga kestabilan harga mereka lebih memilih untuk menggelamkannya ke lautan, padahal ribuan bahkan jutaan penduduk di belahan bumi yang lain sedang mengalami kelaparan.

Kita melihat keterpurukan Rabbaniyah di sebagian negara yang didominasi oleh materialisme, sehingga mendorong pemerintahan mereka untuk menciptakan berbagai persenjataan canggih untuk melakukan pembunuhan yang sangat mengerikan seperti bom nuklir yang bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang tanpa bisa membedakan antara pasukan perang dengan kaum wanita dan anak-anak yang tidak berdosa. Kita juga melihat tindakan-tindakan pembajakan pesawat, pembantaian warga masyarakat dan peledakan mobil-mobil serta aksi-aksi lain yang tidak berperikemanusiaan. Begitu pula penggunaan senjata-senjata kimiawi dan gas-gas beracun.

Sebagaimana kita juga melihat materialisme telah mendorong banyak dari penguasa diktator untuk menjerumuskan rakyat mereka ke dalam berbagai peperangan yang meluluh lantakkan segalanya, hanya untuk melindungi kepentingan para penguasa dan menjaga tahta kekuasaan mereka serta sama sekali bukan untuk kemaslahatan tanah air mereka.

Dunia sekarang ini sedang menghadapi perang obat-obat terlarang dan bubuk-bubuk putih yang beracun yang sangat menghancurkan bangsa-bangsa, individu-individu dan keluarga-keluarga, yang didalangi oleh oknum-oknum dan pemerintahan-pemerintahan yang sudah kehilangan sama sekali sisa-sisa Rabbaniyah dalam hati mereka, dan sepenuhnya mereka dunia dikuasai oleh hawa nafsu, kecintaan kepada harta dan kenikmatan dunia sehingga menjadikan negara dan rakyat sebagai taruhannya.

Kemunduran Rabbaniyah dalam jiwa juga mengakibatkan kerancuan intelektual dan ideologi, sehingga kita menyaksikan dan mendengar perkumpulan-perkumpulan yang beragam di dasarkan pada prinsip-prinsip ideologi dan keyakinan yang sangat naif dan aneh, di mana hal ini menunjukkan kebingungan, kerancuan dan kegelisahan. Kiranya Maha Benar Allah yang telah berfirman,

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit." (Al-An'am: 125)

"Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (Al-Hajj: 31)

Penyambaran oleh burung ini menunjukkan kebingungan dan kecerdasan sedangkan jatuh ke tempat yang jauh menunjukkan keterpencilan dan kesesatan.

Kita juga melihat di antara akibat dari jauhnya manusia dari Rabbaniyah dan keterpurukan mereka dalam materialisme adalah tersebarnya penyakit-penyakit jiwa, banyaknya orang yang mati bunuh diri dan melakukan berbagai tindak kejahatan yang aneh-aneh seperti seseorang yang membunuh sebagian dari anaknya atau istrinya sendiri, ibu membunuh anak-anaknya sendiri, serta berbagai kejahatan korupsi, pencurian, pemerkosaan serta kejahatan yang lainnya.

Kita telah melihat dari pemaparan sebelumnya beberapa gambaran yang beruntun tentang dominasi materialisme di masa lalu dan perbandingan dengan di masa kini yang sering kali lebih kejam disebabkan adanya sarana-sarana ilmu dan teknologi. Sebagaimana kita lihat juga bagaimana terjadinya kegoncangan dalam kehidupan manusia disebabkan itu semua, dan bagaimana upaya pengentasan dari semua itu ternyata tidak lain adalah dengan mengikut ajaran-ajaran Allah yang dibawa oleh para Rasul yang diutus dan kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, di mana ajaran-ajaran ini telah memberikan keseimbangan yang bijak antara Rabbaniyah dan materialisme, antara tuntutan jasad dan tuntutan ruhani, serta antara dunia dan akhirat. Kita melihat bahwa jauhnya manusia dari ajaran-ajaran ini, kelalaian dan penentangan mereka terhadapnya akan menyebabkan kesengsaraan dan kehidupan yang sempit. Maha Benar Allah yang telah berfirman,

"Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." (Tha ha: 123-126)

Bagi orang yang meninggalkan Rabbaniyah dan cenderung kepada materialisme serta condong ke bumi dan nafsu syahwatnya, Allah telah memberikan perumpamaan dengan firman-Nya,

"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat dzalim."* (Al-A'raf: 175-177)

Alangkah butuhnya umat manusia sekarang ini kepada upaya penyelamatan dari gelapnya kesesatan menuju cahaya petunjuk dan upaya pertolongan untuk menuntun tangan manusia dari ketertarikan dan kecenderungan kepada dunia menuju ketinggian dan keluhuran ruhani.

Kami mengajak para pengusung pelita cahaya dan petunjuk, agar mereka menunaikan kewajiban memberikan bimbingan menuju jalan kebenaran, petunjuk dan cahaya Tuhan. Kami mengajak siapa saja yang di tangannya tergenggam sebotol obat, yang komitmen dengan Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya, agar bersegera memberikan obat itu kepada para penderita penyakit hati sehingga umat manusia bisa terbebas dari penyakit-penyakit materialisme yang menjijikkan dan bisa merasakan kebahagiaan dengan agama yang haq dan diridhai oleh Allah untuk para hamba-Nya.

SEKILAS SEJARAH MATERIALISME DAN DAMPAK NEGATIFNYA

Sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada umat manusia dan menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat bagi mereka. Setiap kali materialisme telah mengalahkan Rabbaniyah pada sebuah kaum sehingga mereka mengalami keterpurukan, maka Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul yang membawa agama-ajaran Rabbaniyah untuk mengembalikan mereka kepada kebenaran dan keseimbangan, dan menuntun tangan mereka menuju jalan yang lurus dan benar sekali lagi. Setiap Rasul ini datang kepada kaumnya dengan membawa mukjizat inderawi agar mereka mengimani risalahnya dan membenarkan dakwahnya menuju ajaran-ajaran Rabbaniyah yang akan membenahi perjalanan hidup mereka. Oleh karena itu risalah setiap Rasul khusus untuk kaum yang sezaman dengannya dan menyaksikan mukjizat inderawinya itu.

Dan karena dalam ilmu Allah yang azali telah ditetapkan bahwa umat manusia kelak akan bisa merealisasikan penemuan-penemuan ilmiah yang akan memudahkan komunikasi dan interaksi antar mereka sehingga umat manusia yang berada di seluruh penjuru dunia ini seakan berada di sebuah kampung dan mereka semua menjadi sebuah ladang untuk dakwah, maka Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad sebagai penutup para Rasul dan Nabi, serta Islam sebagai penutup bagi agama-agama umat manusia seluruhnya hingga hari kiamat. Dengan begitu agama-agama sebelumnya berarti sudah terhapuskan sebagaimana ditegaskan oleh firman-Nya,

"Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali-Imran: 19)

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu darinya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 85)

Karenanya, mukjizat Rasul saw. bukanlah mukjizat inderawi, agar bukti kebenarannya tidak hanya terbatas pada orang-orang yang sezaman dengan Rasul saw. saja, tetapi oleh Allah mukjizat ini dijadikannya sebagai mukjizat abadi yang tetap akan kekal hingga akhir zaman, di mana Allah telah berjanji untuk memelihara mukjizat Al-Qur'an ini dari perubahan dan pemalsuan agar tetap utuh dan sempurna hingga hari kiamat. Firman-Nya,

"Sesungguhnya Kami-lah Yang telah menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al-Hijr: 9)

Dan sebagai konsekuensi dari kebijaksanaan Allah, Dia telah menjadikan Al-Qur'an ini berdialog dengan akal dan perasaan agar tetap menjadi hujjah bagi setiap orang yang berakal di semua masa dan tempat. Sebagaimana yang telah disampaikan Al-Qur'an ini kepada umat manusia fasilitas. Beliau juga telah menjelaskan dan memberikan aplikasi praktisnya kepada mereka, di mana dokumen terbaik untuk semua ini, yang mendapat imbas dari jaminan pemeliharaan Allah terhadap Al-Qur'an di samping itu Allah juga menghimpun hadits-hadits ini.

Masyarakat Arab yang hidup sezaman dengan masa kenabian Muhammad saw. berada dalam kejahiliahan yang bobrok dan penuh dengan berbagai bentuk kerusakan dan penyimpangan, serta dominannya materialisme terhadap Rabbaniyah. Di mana mereka menyembah patung-patung berhala ciptaan mereka sendiri, mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka, meminum minuman keras, melakukan perjudian, memakan riba, menumpahkan darah hanya karena suatu sebab yang sepele sekali pun, melakukan perzinahan, pencurian dan berbagai kerusakan lain. Dan pada waktu itu kedhaliman sudah merajalela, perbudakan dan pasar seks sudah dianggap lumrah.

Tetapi hanya beberapa tahun setelah kenabian Muhammad saw. kondisi buruk itu telah berbalik, di mana Jazirah Arab menjadi bersih dari kesyirikan dan berhala-berhala, diwarnai dengan aqidah tauhid dan penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa. Kesesatan dan kekafiran di sana telah berakhir digantikan dengan dominasi petunjuk dan keimanan, kegelapan telah sirna oleh cahaya yang menebar, kedaliman bersembunyi dengan merebaknya keadilan sehingga manusia bisa merasa aman terhadap diri, harta dan kehormatan mereka, perbudakan semakin berkurang dan hampir habis, kaum wanita menjadi merdeka dan menempati posisi yang selayaknya, perang antar sesama telah berakhir digantikan oleh cinta dan keharmonisan.

Demikianlah, daulah Islamiyah dan umat Islam telah berdiri sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an,

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110)

Kemudian cahaya dan petunjuk ini merebak ke luar Jazirah Arab baik ke arah barat maupun timur sehingga wilayah daulah Islam menjadi luas dan bisa membangun peradaban yang luhur dan agung yang menjadi tumpuan kebahagiaan umat manusia. Sebagaimana juga menegakkan prinsip-prinsip keadilan, keamanan dan perdamaian, sehingga banyak dari kalangan non-muslim yang lebih senang meninggalkan kampung halaman mereka untuk hidup di bawah lindungan daulah Islamiyah agar bisa menikmati keadilan, keamanan dan jaminan sosial yang diberikan kepada setiap warga negaranya meskipun dari non muslim.

Matahari Islam Bersinar di Eropa

Peradaban ini telah memberikan sumbangsih kepada bangsa-bangsa Eropa yang hidup berdampingan bersama bangsa Arab dan kaum muslimin di Andalus. Peradaban ini telah memberikan sumbangsih kebangkitan intelektual dan berbagai bidang ilmu dan pengetahuan yang sangat banyak sehingga muncul di tengah mereka kebangkitan seni dan keilmuan dalam skala yang amat luas. Tetapi dengan sekuat tenaga yang dimiliki, gereja mulai menentang fenomena yang dianggap aneh ini, menimpakan kepada para sastrawan dan ilmuwan berbagai siksa yang amat pedih dan menyiapkan juga untuk mereka ini dewan inkuisisi.

Namun semua ini sama sekali tidak mendatangkan manfaat, dan ajaran-ajaran gereja tidak mampu bertahan menghadapi esensi-esensi ilmu dan penemuan, dan keluarlah kebangkitan ilmiah sebagai pemenangnya yang disambut gegap gempita oleh negara, lalu mereka justru bersatu menyergap gereja sampai benar-benar terkapar dan bisa membebaskan masyarakat Eropa dari kekuasaannya, mereka mengucilkan para pemimpin agama di gereja-gereja dan biara-biara serta membatasi peran mereka hanya pada aspek yang sangat sempit dari kehidupan yang sama sekali mereka tidak boleh keluar dari aspek ini.

Dan sangat alami sekali bila akhirnya ruh kehidupan merambah Eropa dan berdirilah peradaban Eropa yang berpijak pada prinsip eliminasi agama dari fenomena kehidupan masyarakat, terutama dalam urusan negara, pengadilan dan pendidikan. Kemudian setelah itu dominahlah materialisme yang dijadikan sebagai tolok ukur dalam segala hal. Akibatnya sebagian dari mereka ada yang mengingkari agama, mengingkari wujud Allah sebagai reaksi atas dominasi gereja dan para pemimpin agama, sebagaimana sebagian di antara mereka telah menghapuskan hak-hak milik pribadi sebagai reaksi dari dominasi kaum feodal yang sewenang-wenang.

Sebagai konsekuensi dari semua itu, fenomena-fenomena yang tampak dari peradaban ini adalah fenomena materialistis ansich yang menghancurkan ajaran-ajaran semua agama langit dan bertentangan secara mendasar dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh agama Islam yang hanif, dan sekaligus dijadikan olehnya sebagai prinsip bagi peradaban Islam yang memadukan antara spiritualisme dengan materialisme. (Majmu'atu Rasa'il, Baina Amst wal Yaum, 102)

Buah Busuk Peradaban Eropa

Peradaban Eropa ini telah diiringi berbagai fenomena di antaranya adalah atheisme dan keraguan terhadap Allah. (Lihat Majmu'atu Rasa'il, 103) Pengingkaran terhadap ruh, kealpaan terhadap balasan akhirat dan pembatasan diri pada segala hal yang bisa dirasakan oleh indera. Allah berfirman,

"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang kehidupan akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 7)

Sebagaimana muncul juga liberalisme, hedonisme, kepiawaian dalam merengkuh kenikmatan, pelepasan naluri-naluri keduniaan dari kendalinya, pemuasan syahwat perut dan kemaluan, menghiasi wanita dengan berbagai dandanan yang merangsang dan menggiurkan, kecanduan obat-obat terlarang yang menghancurkan fisik dan akalnya, menghancurkan tatanan keluarga dan merusak kebahagiaan rumah tangga, oleh karena itu mereka mengeluhkan kekurangan jumlah penduduk.

Kemudian kita mendapati pengaruh materialisme ini telah merambah semua negara, sehingga masing-masing bangsa bersikap fanatik terhadap asalnya dan mencela yang lainnya, serta berusaha mencaplok bangsa yang lebih lemah darinya. Begitu juga riba beserta kezaliman dan eksploitasi yang ditimbulkannya telah merajalela dan menjadi salah satu prinsip interaksi.

Adalah Yahudi, bangsa yang memiliki peran paling besar dalam penyebaran riba ini sebagaimana mereka memiliki peran dalam memunculkan paham komunis dengan berbagai penyimpangan dan pertentangannya dengan fitrah manusia.

Pengaruh Buah Busuk Materialis terhadap Masyarakat Eropa

Fenomena-fenomena materialisme ansich di tengah masyarakat Eropa ini telah memunculkan berbagai kerusakan jiwa, kelemahan moral, dan kelesuan dalam memerangi kejahatan, sehingga permasalahan menjadi menumpuk, bermunculan berbagai prinsip-prinsip yang destruktif, pemberontakan-pemberontakan yang memporak-porandakan negara sehingga tidak bisa stabil pada suatu keadaan yang normal, semua menjadi terpecah belah karena adanya banyak kelompok dan partai-partai.

Dan materialisme modern ini telah membuktikan ketidakmampuannya secara total dalam memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat mana pun dan menanamkan kedamaian dan kesejahteraan pada diri mereka, dan kegagalannya dalam membahagiakan umat manusia betapa pun telah banyak penemuan-penemuan ilmiah dan pengetahuan yang diraihnya, dan faktor-faktor kekayaan dan kemakmuran telah melimpah pada mereka, di samping kekuatan dan kekuasaan yang telah dimiliki oleh negara-negara ini dari pengalaman yang tidak kurang dari satu abad. (lihat Majmu'ah Rasa'il:104)

Begitulah, kita melihat dampak-dampak buruk yang dihasilkan oleh kehidupan materialis dan jauhnya spiritualisme dari masyarakat Eropa baik yang terkait dengan individu, keluarga maupun masyarakat dan negara.

Eropa telah Mengekspor Buah Busuk ini kepada Kaum Muslimin

Bangsa-bangsa Eropa telah berupaya dengan sekuat tenaga agar kehidupan materialis menebarkan fenomena-fenomena yang merusak dan virus-virus yang mematikan ke berbagai negara Islam yang bisa dijangkau oleh tangan mereka dan jatuh dalam kekuasaan mereka. Di samping itu mereka juga berusaha menghalangi negara-negara ini dari berbagai unsur kebaikan dan kekuatan, seperti berbagai bidang ilmu, pengetahuan dan industri serta sistem-sistem yang bermanfaat. Mereka juga merancang dengan seksama invasi sosial yang diarahkan ke negara-negara ini terutama negeri Mesir yang menjadi sasaran penting invasi ini.

Mereka menggunakan kelicikan politik dan kekuatan militer mereka sehingga bisa mewujudkan apa yang mereka kehendaki. Mereka telah menjerat negara-negara kita dengan berbagai hutang sehingga mereka memiliki wewenang untuk melakukan intervensi ekonomi dan menguasai perseroan-perseroan, bank-bank dan sumber dana mereka, serta mendapatkan keuntungan yang berlipat dan kekayaan yang sangat melimpah yang tidak pernah dirasakan oleh penduduknya sendiri. Dan setelah itu mereka bisa merubah kaedah-kaedah hukum, peradilan dan pendidikan dan mewarnai sistem-sistem politik, perundang-undangan dan kebudayaan dengan warna mereka yang murni di negara-negara Islam bahkan di negara Islam yang terkuat seperti Mesir sekalipun, serta menjauhkan warna keislaman yang Rabbaniyah dari kehidupan manusia.

Tetapi kehendak Allah yang pasti menang tidak mau bila kondisi ini akan berlangsung terus sebagaimana adanya, dan telah menyiapkan faktor-faktor yang akan menghantarkan surutnya gelombang budaya materi dan peradaban hedonis dan syahwati yang membuncah ini, serta membangkitkan Rabbaniyah sekali lagi untuk mendominasi kehidupan manusia dengan izin dari Allah.

INVASI MATERIALISME TERHADAP NEGARA-NEGARA ISLAM

Kami telah menyebutkan dan menjelaskan dalam kilas sejarah tentang pertumbuhan kebudayaan materi di negara-negara Eropa, dan kami juga telah menyinggung bagaimana negara-negara Eropa ini berusaha untuk menginvasi negeri-negeri Islam dengan peradaban materialistis ini, peradaban hedonis dan syahwati ini. Seakan-akan mereka menyadari bahwa invasi ini lebih besar pengaruhnya dan lebih langgeng dalam melemahkan kaum muslimin dari perang salib yang telah membuat mereka mengalami kerugian besar.

Mereka telah mendatangkan wanita-wanita telanjang, minuman-minuman keras, pentas-pentas, tempat-tempat dansa, tempat-tempat hiburan, cerita-cerita, novel-novel, surat kabar-surat kabar, imajinasi-imajinasi, kesia-siaan dan kegilaan mereka ke negeri-negeri ini. Mereka juga menghalalkan berbagai bentuk kejahatan yang diharamkan di negeri-negari mereka sendiri, dan menghiasi dunia yang hina dan sia-sia ini serta menebarkan dosa-dosa dan kejahatan di mata orang-orang awam yang tidak paham dari kalangan kaum muslimin yang berada, orang-orang pandai dan para pejabat serta penguasa.

Mereka belum merasa cukup dengan semua ini sehingga harus membangun sekolah-sekolah, lembaga-lembaga keilmuan dan kebudayaan di wilayah negara Islam, yang menebarkan keraguan dan atheisme pada diri anak-anak mereka, mengajarkan bagaimana mereka mencela diri mereka sendiri dan mencaci agama dan tanah air mereka sendiri, menanggalkan diri dari tradisi dan ideologi mereka, memuja-muja semua yang berbau barat, meyakini bahwa hanya yang datang dari Eropa yang patut dijadikan teladan tertinggi dalam kehidupan. Sekolah-sekolah ini terbatas hanya menerima anak-anak dari kalangan elit masyarakat, di mana anak-anak dari kalangan elit ini adalah para pembesar dan penguasa serta orang-orang yang sebentar lagi akan mengendalikan pemerintahan di negeri-negeri ini. Dan anak-anak yang dianggap belum matang di lembaga-lembaga lokal ini, mereka dikirim secara berkala ke negeri-negeri barat sehingga bisa menjadi matang.

Invasi sosial yang rapi dan kejam ini mengalami keberhasilan yang luar biasa, karena invasi ini disukai banyak orang dan diminati hati sehingga akan bertahan lama dan memiliki pengaruh yang kuat. Dari sini, terlihat bahwa invasi sosial jauh lebih berbahaya dari invasi politik dan militer.

Sebagian bangsa muslim ada yang sangat keterlaluan dalam mengagumi peradaban Eropa ini dan membenci jati diri keislamannya, sehingga Turki misalnya memproklamasikan diri sebagai negara sekular dan mengikuti secara membabi buta semua yang dilakukan oleh Eropa. Sebagaimana Amanullah Khan raja Afghanistan juga melakukan hal yang sama tetapi justru upaya ini telah mengakibatkan hilangnya singgasana kekuasaannya, sebagaimana penguasa komunis setelahnya juga tumbang dengan izin Allah.

Di Mesir, fenomena-fenomena taqlid ini telah merebak parah, sehingga salah seorang putranya, Thaha Husain, bisa dengan leluasa meneriakkan bahwa tidak ada jalan lain menuju kebangkitan kecuali dengan mengambil peradaban ini, dengan segala kebaikan dan keburukannya, manis dan pahitnya, yang dibenci dan yang disukainya, yang dipuji dan yang dicelanya. Sampai ke tingkat yang aneh seperti ini fenomena taqlid buta yang merebak di Mesir.

Kemudian dengan kecepatan tinggi gelombang taqlid ini beralih dari Mesir ke negara-negara tetangga hingga sampai ke ujung Maghribi dan menggempur tempat-tempat suci di wilayah Hijaz. Ironisnya, musuh-musuh Islam telah berhasil mengelabui pemikir-pemikir Muslim dengan selimut tebal yang menutupi mata sebagian dari mereka dengan mendeskripsikan Islam itu sendiri dengan deskripsi yang sempit dan terbatas pada hal-hal seputar aqidah, ibadah dan akhlaq, di samping sekumpulan ritual, khurafat, serta peringatan-peringatan yang tidak bermakna. Tipuan mereka ini didukung dengan kejahilan kaum muslimin terhadap hakikat agama mereka sehingga banyak di antara mereka yang merasa yakin, damai dan ridha dengan deskripsi ini. Dan deskripsi ini telah mengendap selama masa yang cukup lama pada diri mereka sehingga sangat sulit bagi kita untuk menanamkan salah seorang di antara mereka bahwa Islam adalah sistem sosial yang sempurna dan mencakup semua aspek kehidupan.

Dengan pemaparan aspek historis yang singkat terhadap perkembangan hal ini, saya ingin memahamkan masyarakat secara umum dan kaum muda yang tidak pernah mengetahui sedikitpun dari peristiwa sejarah ini secara khusus agar mengetahui hakikat dari realitas ini dan akar-akarnya, bagaimana kondisi itu bisa sampai berubah menjadi seperti yang sekarang ini, sehingga kita semua bisa berjuang untuk mengupayakan perbaikan dengan penuh kesadaran dan pemahaman terhadap permasalahan.

Dalam konteks ini barangkali sangat berguna sekali bila saya menukilkan ke hadapan pembaca apa yang dituturkan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna, "Kita bisa mengatakan bahwa peradaban barat dengan prinsip-prinsip materialisnya telah berhasil memenangkan peradaban Islam dengan serangkaian langkah pergolakan sosial melawan peradaban Islam dengan serangkaian langkah yang kokoh, menyeluruh, serta menyentuh aspek spiritual dan materi secara bersamaan. Lebih tragis lagi kemenangan peradaban barat ini yang terjadi di bumi Islam, dalam sebuah peperangan habis-habisan yang taruhannya adalah jiwa, ruh, akidah dan akal pikiran kaum muslimin sebagaimana peradaban itu telah jaya di medan politik dan militer.

Memang tidak perlu heran dalam hal ini, karena fenomena-fenomena kehidupan itu utuh tidak terpotong-potong. Kekuatan adalah kekuatan di mana fenomena kehidupan itu semuanya, dan kelemahan juga demikian halnya.

"Dan masa (kemenangan dan kehancuran) itu Kami gilirkankan antara manusia (agar mereka mengambil pelajaran)." (Ali Imran: 140)

Meski pada hakikatnya, prinsip-prinsip dan ajaran Islam itu tetap ada eksistensinya, merambah ke seluruh penjuru, tumbuh subur dan dinamis serta berhasil menarik simpati dengan ketakjuban dan keindahannya, ia senantiasa demikian karena Islam itu adalah haq. Kehidupan manusia tidak mungkin bisa tegak dengan sempurna tanpa Islam. Mengapa? Karena Islam merupakan produk Ilahi dan senantiasa berada dalam pemeliharaan-Nya.

"Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami pula yang akan menjaganya." (Al-Hijr: 9)

"Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya." (At-Taubah: 32)

Kemudian beliau menuturkan, "Sebagaimana halnya invasi politik berpengaruh dalam menumbuhkan semangat rasialisme, maka tirani serta suara-suara yang menuntut untuk kembali kepada Islam, memahami hukum-hukumnya, dan merealisasikan sistemnya. Sudah barang tentu hari ini sudah dekat, suatu hari di saat istana peradaban barat akan runtuh tepat mengenai kepala para pengikutnya. Saat itulah mereka akan merasakan betapa kesengsaraan spiritual yang menyala-nyala dalam hati dan jiwanya. Mereka...

tidak akan mendapatkan makanan, obat, dan kesembuhan kecuali dengan ajaran-ajaran yang terang yang terkandung dalam Al-Qur'an yang mulia ini.

"Wahai manusia telah datang kepadamu nasihat dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 57-58)

Ketahuilah wahai pembaca yang budiman, bahwa Islam memiliki kekuatan internal yang terlindungi, dan kelemahan kaum muslimin pada suatu masa karena kelalaian mereka dalam mengaplikasikan Islam dan lemahya komitmen mereka terhadapnya dalam kehidupan, sama sekali tidak mengindikasikan bahwa Islam telah kehilangan kekuatan dan pengaruhnya dalam membangkitkan jiwa, melahirkan izzah dan kekuatan dalam jiwa para pemeluknya serta kemampuan untuk menghadapi dan mengalahkan semua bentuk invasi materialis, politis, sosial dan militer sehingga kalimah Allah menjadi yang tertinggi, "sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama semuanya menjadi milik Allah". (Al-Anfal: 39)

Seruan-seruan Sesat yang Menyerukan untuk Meninggalkan Islam dan Menguburkannya:

Pada masa ini muncul sebagian penulis dan pemikir yang menyerukan materialisme dan meninggalkan Islam baik yang dilandasi dengan keyakinan ataupun karena dorongan finansial, tetapi mereka semua ini tidak ada yang sanggup bertahan dengan kebatilannya dalam menghadapi cahaya kebenaran,

"Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap." (Al-Anbiya': 18)

"Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan." (Ar-Ra'd: 17)

Generasi transisi yang lebih dekat kepada non Islam telah tampil memegang berbagai urusan negara kita dan menempati posisi kepemimpinan baik di bidang pemikiran, keruhanian, politik dan eksekutif di tengah masyarakat kita, sehingga ia menggiring rakyat yang awam kepada apa yang ia kehendaki dan biasa ia lakukan, rakyat yang awam ini sama sekali tidak tahu apa yang dikehendaki dari mereka dan tidak tahu ke mana mereka hendak dibawa.

Pada waktu itu suara-suara propagandis yang menyeru kepada pemikiran tirani semakin meninggi untuk menuntut penelanjangan diri kita dari sisa Islam dan pengaruh-pengaruhnya, menerima dengan suka rela semua konsekuensi, beban, pemikiran dan fenomena kehidupan ini, Kami jangan sampai kalian menjadi orang-orang munafik yang penipu dan durhaka yang berlaku sebagaimana kelakuan orang-orang barat itu. Mengucapkan sebagaimana ucapan kaum muslimin.

Para kolonialis dan penguasa-penguasa diktator telah mengondisikan segalanya agar di negeri-negeri kita bergema suara-suara yang menyerang Marksisme yang atheis dan filsafat-filsafat yang materialistis, dan agar penyerangan dari para pemeluk keyakinan lain dan dari kalangan pemikir-pemikir semakin berani menghujat para da'i yang menyeru kepada Allah, mendiskreditkan syariat Allah yang mudah dan adil ini, dan meragu-ragukan relevansinya untuk semua masa dan tempat, serta berusaha mengaitkan penerapan syariat Islam dengan tegaknya sebuah pemerintahan agama yang memiliki wewenang ketuhanan, dan berbagai keraguan-keraguan lainnya. Tetapi semua yang mereka tulis ini tidak meninggalkan pengaruh sedikitpun dalam jiwa orang yang agamis, dan tindakan-tindakan serta ucapan-ucapan mereka ini pasti akan menjadi abu yang berterbangan di terpa angin kencang.

Mereka mengira apa yang telah mereka tulis dengan pena-pena mereka dan apa yang mereka ucapkan dengan lisan mereka akan bisa menggeser dakwah kebenaran dan cahayanya, tetapi Maha benar Allah yang berfirman,

"Mereka ingin hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya." (Ash-Shaff: 8)

Tidak ada yang menghalangi kita untuk mengadopsi sesuatu yang bermanfaat dan mengambil hikmah dimanapun kita mendapatinya, tetapi Islam tidak ridha bila kita harus menyerupai orang-orang yang tidak beragama dengan mengabaikan dalam segala hal. Kita tidak boleh melempar aqidah Islam, kewajiban-kewajiban, batasan-batasan dan hukum-hukumnya agar kita bisa berjalan di belakang kaum yang terfitnah oleh dunia dan disesatkan oleh setan.

Kami yakin seyakin-yakinnya terhadap agama kita dan bahwasanya ia adalah satu-satunya jalan menuju kebaikan dan perbaikan serta untuk merealisasikan kebahagiaan dunia dan akhirat.

MENYONGSONG DAN MENYURUTKAN GELOMBANG KEBUDAYAAN MATERI

Setelah kita menjelaskan kondisi akhir di negeri-negeri kita sebagai akibat invasi musuh-musuh Islam dan gelombang besar kebudayaan materi dan peradaban kelezatan dan syahwat yang dihasungnya. Tetapi setelah runtuhnya khilafah dan daulah Islam, seakan Allah menghendaki kebaikan untuk umat Islam ketika kondisi yang mengenaskan ini menggerakkan perasaan Imam Hasan Al-Banna dan menjadikannya berpikir dan meminta pendapat para ulama dan pemimpin kaum muslimin mengenai jalan penyelamatan dari kondisi yang parah ini.

Berangkat dari keyakinannya yang mantap kepada Allah dan kepada dukungan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman, dan dari keyakinannya terhadap kekuatan Islam yang sejati dan pengaruhnya yang kuat dalam menghidupkan jiwa, melahirkan kemuliaan dan kekuatan pada diri pemeluknya, beliau akhirnya mendirikan Jamaah Ikhwanul Muslimin dan menggariskan dua tujuan asasi:

Pertama: Bebasnya tanah air Islam dari semua kekuasaan asing, di mana hal ini merupakan hak asasi bagi setiap manusia yang tidak akan dipungkiri kecuali oleh orang dzalim yang culas atau diktator yang sewenang-wenang.

Kedua: Di atas tanah air yang merdeka ini harus berdiri sebuah daulah Islamiyah yang merdeka, mengamalkan hukum-hukum Islam dan menerapkan sistem sosialnya, memproklamirkan prinsip-prinsipnya yang luhur, dan menyampaikan dakwahnya yang bijak kepada umat manusia. Jadi selama daulah ini belum tegak, maka kaum muslimin semuanya berdosa dan bertanggung jawab di hadapan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar atas kelalaian kita dalam menegakkannya dan kemalasan kita dalam mewujudkannya.

Dan kita mendapati beliau menuturkan, "Adalah suatu kedurhakaan terhadap kemanusiaan, bila dalam kondisi yang membingungkan ini berdiri sebuah daulah yang menggemakan prinsip-prinsip yang dhalim dan meneriakkan seruan-seruan yang lalim, sementara tidak ada di tengah mereka orang-orang yang berjuang menegakkan daulah kebenaran, keadilan dan kemakmuran."

Kemudian dengan penuh keyakinan sebagai seorang mukmin dan dengan penuh kekuatan serta tekad yang tulus, menantang gelombang yang kelam dari kebudayaan materi yang telah banyak merusak masyarakat kita dan meninggalkan sidik jari kejahatannya, kita mendapati beliau bertutur, "Lantas apa urgensi keberadaan kita wahai Ikhwanul Muslimin? Secara umum dapat dikatakan bahwa kita berhadapan dengan gelombang materialisme, yang mana ia telah memerosotkan moral bangsa-bangsa Islam, menjauhkan mereka dari kepemimpinan Nabi saw. dan hidayah Al-Qur'an, mengelupas dunia dari bimbingannya, menarik mundur peradabannya ke masa ratusan tahun silam sehingga kita terbelenggu di negeri sendiri dan membuat masyarakat bergulat dengan derita."

Kita tidak boleh tinggal diam di hadapan ini semua, namun harus kita hadapi mereka di tempatnya dan siap bertempur di bumi mana ia bercokol hingga dunia seluruhnya menyuarakan dakwah atas nama Nabi saw. dan menanamkan keyakinan kepada semua bangsa terhadap nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, terkembanglah payung Islam mengayomi seluruh bumi. Ketika itulah impian setiap muslim terwujud. Tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya milik Allah,

"Bagi Allah-lah segala urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari kemenangan itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (Ar-Rum: 4-5)

Indikasi-indikasi Kemenangan Terhadap Kebudayaan Materialis

Demikianlah, apa yang dikatakan oleh lelaki ini yang bertolak dari keimanan, telah yang luas, keyakinan kepada Allah yang memenangkan kebenaran dan mengalahkan kebatilan betapapun banyaknya. Dan baru kali kita sekarang bisa melihat dan menyaksikan indikasi-indikasi terealisasinya apa yang telah diungkapkan oleh Imam Al-Banna, di mana telah nampak prolog-prolog dan indikasi-indikasi kemunduran gelombang kebudayaan materialistis ini.

Kebangkitan Islam dan komitmen terhadap agama yang telah merebak di tengah kaum muda serta antusiasme mereka untuk beribadah dan berakhlaq yang mulia. Fenomena jilbab yang merebak dan menggeser gaya hidup telanjang, tabarruj dan pornografi. Bank-bank dan lembaga-lembaga ekonomi Islam yang tampil untuk menggeser sistem riba dan berbagai kerusakan dan krisis yang diakibatkannya. Suara-suara keras yang menuntut penerapan syariat Allah. Semangat jihad dan perlawanan terhadap musuh-musuh Islam yang mulai merayapi bangsa-bangsa Islam dan melahirkan kepahlawanan-kepahlawanan yang mengagumkan, setelah musuh-musuh mengira bahwa mereka merasa yakin bisa memadamkan semangat jihad di bangsa kita.

Semua fenomena ini —dan masih banyak lagi yang lain— sebagai ekspresi dari langkah-langkah dalam upaya menyurutkan gelombang besar dari kebudayaan materi di tanah air kita. Tetapi sungguh sangat disayangkan sekali, kita melihat bahwa pemerintah berusaha menghalangi-halangi langkah-langkah ini, mendukung kerusakan dan melindunginya, serta memerangi kesucian dan melewannya. Bukti atas semua yang kami ungkapkan adalah apa yang dilakukan oleh media-media informasi dan departemen dalam negeri. Kendati demikian, kita selalu yakin bahwa perbaikan dan pembersihan dari najis-najis ini pada akhirnya yang akan mendapat kemenangan, karena inilah yang dikehendaki oleh Allah.

"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya." (Yusuf: 21)

Sedangkan serangan terhadap gelombang materialisme di negeri kelahirannya, maka telah terealisir upaya yang cukup menggembirakan, hal ini bisa kita lihat dari aktivitas keislaman di negara-negara Eropa dan Amerika, berdirinya Islamic Center-Islamic Center, yayasan-yayasan Islam, masjid-masjid bahkan bank-bank Islam, dan penerjemahan banyak dari buku-buku Islam ke berbagai bahasa asing, serta berbondong-bondongnya sebagian orang-orang di negara-negara ini untuk masuk Islam. Semua ini menyebak kegelapan materi di negara-negara ini,

"Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama semuanya hanya milik Allah." (Al-Anfal: 39)

Begitulah kita melihat dan merasakan pengaruh dari kebangkitan, kesadaran dan kehidupan yang mulai merayapi jasad umat Islam agar bisa bangun dari tidur pulasnya, bangkit dari keterpurukannya, menunaikan usahanya dan menempati posisinya sebagai umat terbaik yang ditampilkan untuk manusia. Karena itu, hati kita tidak boleh terasuki keputusasaan melainkan seharusnya dipenuhi dengan harapan yang besar dan keyakinan bahwa masa depan itu akan menjadi milik agama ini, meskipun hal ini menuntut pengorbanan yang tidak sedikit dari waktu, upaya, jiwa... kesabaran, keteguhan, dan kedermawanan.

Betapa pun hebatnya rancangan musuh-musuh Islam, dahsyat... tipudaya dan konspirasi mereka, dan maraknya suara-suara dan ideologi... yang menghasung pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan ide-ide... ideologi sesat yang berupaya menghapuskan cahaya kebenaran... mendiskreditkan citra Islam yang cemerlang, kita harus tetap yakin bahwa masa depan akan menjadi milik agama ini, dan bahwasanya kekuasaan, kemuliaan dan kepemimpinan akan kembali kepada umat Islam, karena sunatullah pada makhluk-Nya tidak akan pernah berubah,

"Dan masa-masa (kemenangan dan kekalahan) itu Kami pergilirkan di antara manusia." (Ali Imran: 140)

Dan agar makna ini semakin dekat dengan akal dan hati kita, maka kami akan memberikan sebuah perumpamaan indah yang dikemukakan oleh Imam Al-Banna seputar makna ini dengan mengatakan, "Saudaraku, ketahuilah bahwa kekuatan dan kelemahan, keremajaan dan ketuaan suatu bangsa, adalah sama dengan kekuatan dan kelemahan, keremajaan dan ketuaan seseorang. Ada saat di mana seorang tampil sebagai sosok individu yang sehat segar, tapi kemudian tiba-tiba saja orang itu mendapati dirinya tergeletak lemah di atas tempat tidur, digerogoti oleh berbagai penyakit, ia akan terus mengeluh kesakitan hingga Allah merahmatinya dengan mendatangkan seorang dokter yang cerdas, yang mengetahui letak penyakit dan sebab-sebabnya serta mengetahui obat yang tepat untuk penyakit itu, dan sebentar kemudian, anda menyaksikan orang itu telah kembali sehat wal afiat dan segar bugar. Bahkan mungkin kekuatannya kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Yang demikian itu bisa menimpa suatu umat atau bangsa. Sejumlah peristiwa dalam suatu penggalan zaman terkadang bagai virus yang menggerogoti kekuatan dan kesehatannya. Itu akan terus berlangsung sampai kekuatannya benar-benar rapuh, dan sesaat kemudian tiba-tiba saja ia tampak lusuh dan kayu. Kondisi itu kemudian telah melahirkan keserakahan bangsa-bangsa lain untuk memangsanya, sementara ia sendiri tidak lagi punya secuilpun kekuatan untuk mempertahankan diri dari berbagai bentuk serangan dan invasi dari luar.

Umat yang berada dalam kondisi seperti ini hanya bisa sembuh dengan adanya tiga hal; mengetahui letak penyakit, sabar dalam menjalani tuntunan pengobatan, dan adanya dokter yang melakukan pengobatan itu, hingga Allah berkenan menyembuhkannya dengan sempurna. (Majmu'atu Rasa'il, Da'watuna, 27)

Demikianlah Imam Al-Banna dalam mendeskripsikan hakikat realitas kita sehingga bisa membangkitkan dalam diri kita harapan untuk sembuh. Dan barangkali dari sebagian orang yang mengukur segala persoalan dengan parameter materialistis ansich mencibir, "Ini hanyalah perkataan teoretis belaka yang sama sekali tidak memperhitungkan fakta, karena penyakit-penyakit dan problematika yang menimpa umat Islam sangat diderita dan dieliminir, apa lagi dalam kenyataannya musuh-musuh Islam masih tetap mensupport penyakit-penyakit ini dengan berbagai sarana dan kerja sama dengan sebagian pemerintahan di negara-negara kita, sedangkan orang-orang yang meneriakkan terapi Rabbani itu hanyalah orang-orang deportan dan tidak memiliki kekuatan."

Kami akan membantah cibiran seperti ini dengan sebuah penegasan bahwa parameter materialis terhadap permasalahan ini bukanlah parameter yang tepat, justru di sana ada parameter Rabbani yang orisinil dan tepat, kemudian tabiat bangsa-bangsa yang menghadapi kondisi ini dan kekuatan-kekuatan perlawanannya juga memiliki pengaruh yang signifikan.

Dan mengenai makna ini, Imam Al-Banna menuturkan, "Apakah yang diharapkan dari sebuah umat yang telah digerogoti oleh berbagai penyakit ganas dalam semua aspek kehidupannya? Ada penjajahan dan perpecahan antar golongan di dalamnya, ada rente dan dominasi perusahaan asing, ada atheisme dan hedonis, ada kebobrokan sistem pendidikan dan hukum, ada keputusasaan, apatisme, kebakilan, egoisme, kebencian dan kepengecutan, ada kekaguman berlebihan terhadap musuhnya, terutama perilaku-perilaku menyimpang, dan masih banyak lagi gejala memprihatinkan yang lain.

Padahal satu saja dari penyakit di atas sudah cukup untuk membunuh sebuah umat yang kuat. Lantas bagaimana pula jika semua penyakit itu menyatu dan menjangkit tubuh umat ini? Kalau bukan karena kekuatan, imunitas dan ketegaran bangsa-bangsa Timur —yang dililit oleh musuh-musuhnya dengan tali kuat dalam tempo begitu panjang, dimana setiap saat mereka menebar racun di sepanjang tali dan sepanjang tempo itu, hingga bakteri-bakteri itu beranak pinak— tentulah penyakit-penyakit itu akan memborok dari mayapada. Tetapi Allah berkehendak lain; orang-orang beriman tak akan pernah melihat hal itu menjadi kenyataan.

Saudaraku, inilah diagnosa Ikhwanul Muslimin atas penyakit-penyakit yang tengah menggerogoti umat kita. Dan apa yang tengah kami lakukan adalah upaya mengembalikan kesehatan dan kekuatan umat yang telah lama hilang". (Majmu'atur Rasa'il Da'watuna, 28)

Dari titik tolak ini kita menyeru kaum muslimin semuanya agar berusaha mengumpulkan sarana-sarana terapi dengan penuh harapan dan membersihkan diri kita dari segala bentuk keputusasaan ataupun pesimisme, karena semua yang ada di sekitar kita menginspirasikan harapan betapa pun beratnya pesimisme orang-orang yang pesimis.

BOROK-BOROK MATERIALISME DALAM KEHIDUPAN KITA DAN TERAPINYA

Gelombang besar dari kebudayaan materi dan peradaban kelezatan dan syahwat itu telah meninggalkan borok-borok dan pengaruh buruknya pada diri kita baik dalam tataran individu, keluarga ataupun masyarakat, merubah semua parameter, standart, tata nilai, keteladanan, dan akhlaq, dan menjerumuskan banyak kaum muslimin dari kehidupan islami yang luhur kepada kehidupan materialistis yang rendah.

Dan di sini kami akan berusaha memaparkan sebagian dari borok-borok atau pengaruh-pengaruh buruk tersebut untuk selanjutnya kita berupaya membersihkan diri dan meluruskannya sehingga kita bisa kembali kepada Rabbaniyah dengan berbagai tata nilai, keteladanan dan parameternya.

Memperhatikan Dunia dan Melalaikan Akhirat

Pengaruh yang paling menonjol dan meluas imbasnya adalah perhatian yang besar terhadap persoalan dunia dari sebagian besar kaum muslimin sementara persoalan akhirat hanya mendapatkan sedikit sekali dari perhatian mereka, bahkan ada yang melupakannya secara total sehingga dunia menjadi satu-satunya perhatian besar dan pengetahuan puncak mereka.

Karenanya, kita melihat ada sebagian orang yang menggunakan semua waktu, tenaga, dan pikirannya untuk dunianya, dan tiada pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk akhiratnya, sampai akhirnya ia harus mengalami kematian dan menghadapi masa depan akhirat yang sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur'an,

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut; dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, 'Aduhai baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya, tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya."* (Al-Fajr: 21-26)

 

Demikianlah, kesadaran dan penyesalan itu akan muncul pada hari mana penyesalan pada waktu itu sama sekali tidak berguna. Allah SWT Maha Suci lagi Maha Tinggi yang telah menciptakan kita, mengutus para Rasul, dan menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan hakikat kehidupan dunia dan misi kita di dalamnya serta hakikat kehidupan akhirat yang merupakan kehidupan yang esensial dan abadi. Ia juga yang menjelaskan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah medan amal untuk akhirat kita, barangsiapa yang menunaikan misinya di dunia seperti beriman kepada Allah dan mengikuti sistem-Nya yang lurus, maka surga menunggunya sebagai balasan bagi ketaatannya, dan barangsiapa menyeleweng atau menyia-nyiakan penunaian risalahnya, maka siksa Allah sedang menunggunya.

Agama Allah telah datang dan menjelaskan kepada kita sistem bagi aspek kehidupan kita demi kemaslahatan dan kebaikan kita, serta menjadikan kita dari bahaya yang akan menimpa kita, karena Allah itu lebih tahu dan lebih bijak mengenai semua ini. Dan kita juga melihat agama kita telah mewujudkan keseimbangan yang bijak antara tuntutan-tuntutan dunia dengan tuntutan-tuntutan akhirat, sehingga ia tidak mengakui gaya hidup kependetaan sebagaimana tidak mengakui keterlarutan dalam syahwat, ia menghalalkan rezeki yang baik-baik dan mengharamkan yang kotor-kotor, dan ia tidak menghalangi kita dari kesenangan dunia, tetapi hanya sekadar menentukan batasan-batasan untuk kita dan meminta agar kita tidak melampauinya.

Sebagaimana Allah juga telah menjelaskan bahwa dunia bukanlah akhirat itulah sesungguhnya kehidupan yang abadi dan kenikmatan yang kenikmatan dan kesenangannya itu amat sedikit dan fana, dan bahwasanya akhirat itulah sesungguhnya kehidupan yang abadi dan kenikmatan yang langgeng, serta mengingatkan agar kita tidak menyibukkan diri dengan berbagai kenikmatan dunia sehingga melalaikan akhirat: "Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16)

Sungguh Kenikmatan Dunia itu Sangat Kecil

Akan tetapi setan yang terlaknat telah menghiasi dan menjadikan besar di depan mata kita untuk melalaikan kita dari amal untuk akhirat dan Allah telah mengingatkan kita dari penghiasan dunia oleh setan,

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu, Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Indah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Ali -Imran: 14)

Kemudian Allah menjelaskan apa yang dipersiapkan-Nya di akhirat untuk hamba-hamba-Nya yang bertaqwa dengan firman-Nya,

"Katakanlah, "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan mereka (dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (Ali Imran: 15)

Apakah kita boleh bertanya tentang orang-orang yang melalaikan urusan akhirat dan menyibukkan diri dengan dunia? Apakah hal itu disebabkan karena akhirat itu sesuatu yang ghaib sedangkan dunia itu hadir dan bisa dilihat mata? Padahal di antara sifat paling penting bagi orang-orang mukmin adalah keimanan mereka kepada yang ghaib dan kepada hari akhir, di mana dalam banyak ayat Al-Qur'an kita sering mendapati kemanan kepada hari akhir disejajarkan dengan keimanan kepada Allah.

Saudara-saudaraku kaum muslimin, masalah ini sungguh sangat penting dan membutuhkan kesadaran yang penuh dari kita, karena tidak ada tempat kembali setelah dunia kecuali surga dan neraka, sedang manusia itu sekarang ini sedang tertidur, sehingga ketika mati justru mereka akan menyadari, tetapi sudah terlambat dan kesempatannya sudah lewat.

Tidakkah kita ingin agar kita bisa menyadari ketika kita masih hidup sehingga bisa memahami persoalan dan memperbaiki amalan, perilaku, dan keadaan kita, agar kita senantiasa berada dalam keridhaan Allah dan siap menghadap-Nya. Nya kapan saja dari waktu yang telah ditentukan-Nya? Kematian kita itu itu sudah tertulis dan akan datang tanpa memberikan peringatan. Bisa jadi salah seorang di antara kita hari ini mengiringi jenazah saudaranya, lalu besoknya justru orang lain yang mengiringi jenazahnya. Bisa jadi salah seorang di antara kita di pagi hari bersama keluarganya, lalu di sore hari ia telah berada dalam liang kubur sendirian. Sungguh cukuplah kematian itu sebagai penasihat.

Karenanya, saya melihat bahwa merupakan hal yang berguna dan bermanfaat sekali serta bisa membantu kita dalam membersihkan diri kita dari pengaruh-pengaruh buruk gelombang materialis dan mendekatkan kita kepada Rabbaniyah, bila kita melakukan refleksi terhadap kematian dan apa yang terjadi setelah kematian.

Dalam banyak ayat, Al-Qur'an telah menegaskan bahwa kematian adalah sesuatu yang telah ditentukan bagi setiap jiwa setelah melewati ujian dan ujian, menegaskan bahwa balasan itu sebagai hasil dari amal, dan waktu tibanya ajal setiap orang itu sudah ditentukan oleh Allah dan tidak diketahui oleh pemilik usia, karenanya kita hendaknya mengkaji beberapa ayat ini dan membacanya dengan penuh tadabbur yang mendalam.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (Al-Ankabut: 57)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (Al-Anbiya': 35)

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran: 145)

"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Luqman: 34)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajdah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran: 185)

Demikianlah, kita bisa dengan jelas melihat hakikat yang telah dilupakan oleh banyak orang ini disebabkan karena kesibukan mereka terhadap dunia dan berbagai hiasannya. Yakni hakikat bahwa kematian itu pasti datang dan tidak ada keraguan sedikitpun, tidak ada seorang pun yang bisa memajukan dan mengundurkannya walau sesaatpun. Kita bisa melihat dengan jelas bahwa kita dalam hidup ini harus beramal serta datangnya kematian pada waktunya yang sudah ditentukan. Dan bahwasanya pahala dan perhitungan itu pada hari kiamat nanti. Dan bahwa kita di dunia ini akan menghadapi ujian dan cobaan dengan kebaikan dan keburukan, dan keluar dengan selamat dari ujian ini bukanlah hal yang mudah tetapi justru membutuhkan upaya dan perjuangan, kesadaran, dan kehati-hatian.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214)

Sesungguhnya pengekspresian dengan kata kerja "dijauhkan dari neraka" dalam firman Allah Ta'ala "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga." Mengisyaratkan bahwa di dalamnya terdapat penderitaan dan kepayahan, perlawanan terhadap nafsu dan keburukan-keburukannya, perlawanan terhadap setan dan godaan-godaannya. Dan Allah mengingatkan agar kita tidak terbuai dengan kenikmatan hidup.

"Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran: 185)

Sebagaimana dalam ayat yang lain, Allah telah mengingatkan kita dari fitnah harta, anak dan istri,

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak dimarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taghabun: 14-15)

Saudaraku sesama muslim, sungguh ini merupakan konflik yang abadi antara kebenaran dan kebatilan dalam tataran dunia, negara, masyarakat, keluarga maupun individu. Konflik antara daya tarik dunia yang diperankan oleh jasad dan berbagai keinginan dan syahwatnya dengan Rabbaniyah yang diperankan oleh ruhani dan aqidahnya yang luhur.

Pembaca yang budiman marilah kita membayangkan bersamaku bahwa di sana ada seorang muslim yang sudah meyakini dengan bukti yang kuat dan berdasarkan keterangan para dokter atau dengan cara yang lain bahwa ajalnya sudah dekat dan tidak sampai melewati enam bulan misalnya, apakah orang seperti dia ini masih patut untuk melakukan kemaksiatan atau hanya sekadar memikirkannya sekalipun, padahal usianya sudah memasuki hitungan menurun? Saya yakin orang itu akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk melakukan apa yang bermanfaat baginya di akhirat dan bila seandainya mungkin untuk tidak tidur agar ia bisa maksimal dalam memanfaatkan waktu untuk beramal shalih yang berguna baginya di hari kiamat, niscaya ia akan meakukannya.

Maka hendaknya setiap orang di antara kita bertanya kepada dirinya sendiri, "Apakah dia bisa menjamin bahwa dirinya akan bertahan hidup sampai enam hari saja dan bukannya enam bulan, bahkan enam jam, atau enam detik sekalipun, meskipun ia tidak dalam keadaan sakit?

Hendaknya kita semua selalu bersiap dan menunggu-nunggu pertemuan dengan Allah, menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya, bersemangat untuk meraih ridha-Nya, dan memanfaatkan semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita untuk beramal di medan dakwah dan berjuang untuk mengukuhkan agama-Nya serta jihad untuk merealisasikan tujuan ini.

Kita akan menyebutkan deskripsi lain yang bisa membantu kita untuk melawan nafsu kita dan setan. Bila seandainya ada seseorang yang ketika hendak melakukan kemaksiatan ia menyadari bahwa bisa saja kematian itu datang seketika kepadanya pada saat ia sedang melakukan kemaksiatan, padahal ia tidak memiliki kemampuan untuk menolak mati dan menangguhkannya, maka apakah ia akan rela bila ia mengakhiri hidupnya dengan kemaksiatan ini dan bertemu Allah dalam keadaan seperti ini? Saya yakin pikiran seperti ini sudah cukup untuk memalingkannya dari perbuatan maksiat dan berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Kemudian kita mengatakan kepada mereka yang diperbudak oleh parameter materialis dan disibukkan oleh dunia sehingga melalaikan akhirat; Marilah kita dengan parameter materialis ini mengukur antara dunia dan akhirat; dari sisi waktu; jadi betapa pun panjang usia manusia di dunia, maka sesungguhnya usia dunia maksimal hanya sampai kiamat, sehingga bila dibandingkan dengan akhirat yang tiada terbatas itu, dunia ini adalah nol. Dan seandainya semua kenikmatan dunia ini terkumpul pada seseorang bila dibandingkan dengan kenikmatan surga yang abadi, maka kenikmatan itu ibarat nol. Dan semua siksa dunia dengan berbagai kesulitannya bila dibandingkan dengan neraka Jahannam, itu ibarat nol, maka apakah seorang yang berakal akan memilih nol dan meninggalkan yang tak terbatas?

Alangkah patutnya jika kita menyadari dan memikirkan dengan pemikiran yang mendalam mengenai masa depan dunia dan akhirat yang abadi. Kita harus selalu memikirkan hal ghaib yang sedang menunggu kita, bermula dari saat ini sampai datangnya ajal kita, dengan selalu berusaha agar masing-masing dari kita mendapatkan restu untuk bisa mentaati Allah, menjauhkan diri dari kemaksiatan kepada Allah, beramal dan berjuang dengan penuh keikhlasan kepada Allah. Sebagaimana ia berusaha untuk selalu memikirkan kehidupan di alam kubur dan berusaha agar kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman yang ada di surga, memikirkan hari kebangkitan dan perhitungan, titan penyeberangan dan timbangan amal, surga dan neraka, ia melewati semuanya ini dan menjalani kehidupan masa depan ini, seakan-akan semuanya ini adalah realitas yang sedang disaksikan dan dijalaninya. Semua ini akan mendorongnya untuk bersungguh-sungguh dan bekerja keras dengan harapan agar kelak pada hari ketakutan terbesar ia menjadi orang yang berbahagia, bergembira dan merasa aman, karena ia bisa meraih kemenangan yang besar yaitu surga Allah dan selamat dari siksa Allah.

Mengukur Segalanya dengan Parameter Syahwati

Di antara borok yang ditinggalkan oleh materialisme dalam kehidupan masyarakat kita adalah kerancuan parameter yang digunakan untuk menimbang dan menilai seseorang, sehingga harta, jabatan, dan kehormatan menjadi ukuran dalam menilai seseorang dan memberikan sikap terhadapnya sebagai konsekuensi logisnya seperti sikap penghormatan, pemuliaan, dan keseganan, begitu juga sikap menjilat dan mendekatkan diri kepadanya.

Padahal parameter Rabbani adalah parameter yang ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya,

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa." (Al-Hujurat: 13)

Dan dalam hadits Rasul saw. bersabda,

"Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, bapakmu juga satu, Ketahuilah bahwa tidak ada keutamaan bagi orang Arab di atas orang non Arab, dan tidak pula bagi orang yang berkulit merah atas orang yang berkulit hitam dan tidak pula bagi orang yang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah kecuali dengan ketaqwaan." (h.r. Ahmad)

Parameter yang rancu ini mengimbas ke kondisi pernikahan, sehingga kita mendapati banyak dari para pemuda yang lebih suka menikah dengan wanita pemilik harta, pangkat dan keturunan ningrat daripada menikah dengan wanita yang beragama, padahal Rasulullah saw. telah menjelaskan parameter yang benar dalam hadits beliau, "Seorang wanita dinikahi karena empat hal, karena harta, pangkat, kecantikan, dan agamanya, maka pilihlah kamu dengan wanita yang memiliki agama, celakalah engkau bila memilih selain." (Fathul Bari, 9/35, no. 5090)

Sebagaimana banyak dari kaum wanita yang menerima lamaran orang yang meminang mereka dengan melihat status, kedudukan, harta kekayaan dan fasilitas material bagi kehidupan yang lainnya, padahal mengenai hal ini Rasul saw. telah bersabda, "Bila ada seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang putrimu, maka nikahkanlah putrimu dengannya, jika kamu tidak melakukannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar." (h.r. Tirmidzi, 3/394, no.1084)

Dan mengenai status sosial seseorang, kita mendapati bagaimana Allah SWT telah menegur Rasulullah saw. ketika menelantarkan Abdullah Bin Ummi Maktum yang buta disebabkan dakwah beliau terhadap sekelompok pemimpin Quraisy untuk mengajak mereka masuk Islam, mana beliau berharap keislaman mereka ini akan membawa kebaikan bagi Islam, lalu turunlah firman Allah:

"Dia (muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaka) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapat pengajaran) sedang ia takut kepada Allah maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia meperhatikannya." (Abasa: 1-12)

Dan di tempat lain dari kitab Allah kita mendapati bahwasanya Allah telah menegaskan parameter Rabbani ini kepada Rasul-Nya,

"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi: 28)

Kebahagiaan Suami Istri Identik dengan Perkakas Rumah Tangga yang Mewah

Di antara parameter materialis yang rancu ini adalah asumsi para pemuda dan pemudi bahwa bahwa kebahagiaan suami istri tidak akan terwujud kecuali dengan tempat tinggal yang megah dengan aksesorisnya yang mewah, pakaian dan mobil yang mengkilat, serta berbagai perabot rumah tangga yang modern dan interior yang menawan.

Ini adalah pemahaman yang salah, karena kebahagiaan yang hakiki bukanlah datang dari luar diri kita dan hal-hal di atas itu bukanlah sumber kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu akan merebak dengan merebaknya ketaqwaan kepada Allah dari masing-masing suami dan istri.

"Aku tidak melihat kebahagiaan pada penimbunan harta tetapi orang yang bertaqwa itulah orang yang berbahagia"

Kebahagiaan suami istri yang hakiki akan terwujud dengan merebaknya ketaqwaan pada diri masing-masing suami istri, di mana ketaqwaan ini akan melahirkan kepercayaan yang timbal balik antara keduanya, karena masing-masing selalu merasa diawasi oleh Allah dan menunaikan kewajibannya terhadap yang lain sesuai dengan tuntunan dan etika Islam serta di bawah naungan rasa percaya terhadap pasangannya yang akan menutup pintu setan, karena tidak ada keraguan, kebimbangan dan prasangka. Dan di bawah naungan taqwa kepada Allah inilah yang akan mewujudkan kedamaian, kasih sayang dan kecintaan di antara keduanya sebagaimana yang difirmankan oleh Allah,

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Rum: 21)

Ketaqwaan kepada Allah akan menjadikan suami istri memandang pernikahan sebagai suatu ibadah dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan sebaik-baiknya kewajiban-kewajiban rumah tangga dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan sehingga menjadi ibadah yang diterima oleh Allah dan mendapatkan balasan pahala dan keridhaan-Nya.

Di bawah naungan pandangan terhadap kehidupan suami istri seperti inilah kita akan bisa tegak rumah tangga muslim teladan yang menerapkan Islam dalam semua aspek kehidupan, akan diwarnai dengan shalat dan tilawah Al-Qur'an serta keteladanan kepada Rasulullah saw. dalam semua aktivitas di siang dan malam hari. Dan dalam nuansa Rabbani seperti inilah keturunan yang shalih akan tumbuh dan kelak akan menjadi pemandangan mata bagi kedua orang tuanya dan sumber bagi kebaikan mereka di dunia dan akhirat.

Sebaliknya bila satu keluarga berpijak pada parameter materialis dan tidak komitmen dengan tuntunan-tuntunan Rabbaniyah, maka setan akan menemukan lahan yang subur di tengah rumah tangga ini dan tidak akan terwujud kebahagiaan suami istri yang hakiki serta anak-anak akan tumbuh jauh dari etika dan akhlaq Islam sehingga seringkali menjadi titik kekacauan dan kesengsaraan bagi kedua orang tua.

Perhatian terhadap Pengobatan Fisik dan Melalaikan Pengobatan Hati

Di antara borok materialis di masyarakat kita adalah apa yang kita lihat dari sikap perhatian orang tua ketika salah seorang anaknya sakit, di mana dengan segera membawanya ke dokter atau memanggilnya ke rumah, mencarikan obat untuknya dari luar dan dalam negeri, dan memberikan obat pada waktu-waktunya dengan penuh kejadian. Padahal bila anaknya ini ada salah seorang dari saudara-saudaranya ada yang melalaikan urusan ibadah dan agama, kita tidak akan mendapatkan perhatian dari kedua orang tua seperti perhatian mereka terhadap penyakit fisik anaknya.

Demikianlah, fisik yang fana ini menjadi lebih penting bagi mereka daripada aqidah, ibadah dan ketaatan kepada Allah yang menjadi tumpuan masa depan yang hakiki dan kehidupan abadi di akhirat. Hal ini tidak berarti kita harus memberikan sedikit perhatian terhadap pengobatan fisik di saat sakit, tetapi hendaknya parameter kita itu harus dibenahi, terutama Allah telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya,

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6)

Dan Rasul saw. juga telah menegaskan tanggung jawab ini dalam haditsnya,

"Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya, Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, Seorang wanita juga menjadi pemimpin dalam rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (Fathul Bari, 21/441)

Karenanya, kita menyeru kaum muslimin untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka berdasarkan pada ajaran-ajaran dan etika-etika agama agar kelak mereka menjadi nikmat dan penyejuk mata, jika tidak, maka mereka akan menjadi laknat dan biang kesengsaraan dan kesusahan.

Dominasi Tuntutan-tuntutan Fisik atas Tuntutan Ruhani

Di antara parameter materialis yang dominan di masyarakat kita adalah pemenangan tuntutan-tuntutan fisik di atas tuntutan-tuntutan ruhani. Di mana banyak orang yang berusaha memuaskan syahwat dan naluri badaniah, tanpa berpijak pada rambu-rambu atau komitmen dengan batasan-batasan yang telah digariskan oleh agama kita, padahal semua rambu dan batasan ini adalah untuk mewujudkan kemaslahatan dan kebaikan bagi individu baik secara medis maupun sosial, dan bagi masyarakat agar bisa terbebas dari keterpurukan ke tingkat binatang dan aturan rimba. Kita melihat perhatian banyak orang tertumpu pada tuntutan-tuntutan fisik dan pengkonsumsiannya, penjagaannya terhadap suhu panas dan suhu dingin serta berbagai macam penyakit. Dan kita tidak mendapati perhatian seperti ini terhadap tuntutan-tuntutan ruhani dan pengkonsumsiannya dengan agama, ibadah, dzikrullah, dan memperbaiki hubungan kepada Allah serta menjauhkan diri dari kemaksiatan. Banyak orang yang melewati malam hanya dengan obrolan, begadang yang sia-sia dan melakukan berbagai kemaksiatan. Mereka sama sekali tidak pernah menggunakan sebagian malamnya untuk melakukan qiyamul lail, berdo'a, dan beristighfar di waktu sahur.

Perkataan kami ini tidak berarti penyia-nyiaan terhadap fisik atau kami menyerukan kepada sikap zuhud yang berlebihan terhadap urusan dunia dan beralih kepada kehidupan kependataan. Tetapi kami menyerukan kepada penyelarasan antara tuntutan-tuntutan fisik dan tuntutan-tuntutan ruhani dengan komitmen terhadap tuntutan-tuntutan Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah saw. untuk menciptakan keseimbangan yang bijak, di mana tuntutan-tuntutan fisik dan kebutuhan-kebutuhannya jauh dari sikap berlebih-lebihan dan pengurangan, begitu juga tuntutan-tuntutan ruhani jauh dari sikap kependataan dan kehausan ruhani serta dominasi materi.

Bulan Lapar dan Ketaatan Berubah Menjadi Bulan Foya-foya dan Kemaksiatan

Di antara borok materialisme yang menggerogoti aspek penting dalam kehidupan kita adalah kondisi yang dialami oleh bulan Ramadan yang mulia, bulan puasa, bulan Al-Qur'an, bulan qiyam, bulan i'tikaf, bulan shadaqah dan taqarrub, yang telah berubah menjadi bulan foya-foya dengan berbagai macam makanan sehingga uang belanja untuk membeli makanan di bulan Ramadhan ini pembengkak jauh di atas pengeluaran di bulan-bulan lain. Makanan-makanan tambahan seperti kue-kue, martabak, kolak dan sebagainya seakan menjadi kewajiban di bulan Ramadhan, meskipun harganya sangat mahal dan kecilnya penghasilan telah memperberat banyak orang untuk mewujudkan hal itu. Kerunyaman ini ditambah lagi dengan ditayangkannya program dangdut sahur dan berbagai serial sinetron yang berlangsung hingga menjelang fajar sehingga banyak di antara mereka yang tertidur dan shalat subuh jauh setelah lewat waktunya.

Banyak kaum muslimin yang secara terang-terangan makan di siang hari tanpa ada beban keagamaan sedikitpun, padahal banyak dari kalangan orang-orang kristen qibti yang makan di siang hari bulan Ramadhan dengan sembunyi-sembunyi sebagai penghormatan mereka terhadap kaum muslimin.

Banyak orang yang membatasi puasanya hanya dengan menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan di siang hari Ramadhan, sedangkan anggota badan yang lain seperti mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki mereka seakan bebas melepaskannya dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maka puasa apakah ini?

Kami ingin mengembalikan kepada Ramadhan Rabbaniyah dan ruhaniahnya, dan kami ingin agar setiap individu dan keluarga menghidupkannya dengan Al-Qur'an, tahajjud, dzikir, sedekah kepada fakir miskin, dan pencegahan diri dari semua yang dimurkai oleh Allah dan merusak puasa. Sebagaimana kami menuntut media-media informasi agar tidak menayangkan program-program bobrok di bulan puasa dan tidak hanya cukup menyuguhkan beberapa programa keagamaan sementara tetap terus menayangkan programa-programa yang merusak sekian kali lipatnya.

Sikap Egois dan Keserakahan

Di antara pengaruh materialisme adalah merebaknya sikap egois, keserakahan, kecintaan terhadap diri sendiri, ambisi untuk mewujudkan kepentingan pribadi, dan tiadanya sikap kasih sayang dan saling menolong dengan yang lain terutama terhadap orang-orang yang membutuhkannya. Hal ini juga mengimbas pada hubungan silaturahim, penghormatan kepada tamu, perhatian terhadap hak-hak tetangga, berbakti kepada anak-anak, yatim dan orang-orang yang fakir miskin, serta sifat-sifat baik lainnya yang diserukan oleh agama kita dan tidak kita dapatkan wujudnya di negeri barat materialis kecuali sangat langka sekali.

Di barat, seringkali kita jumpai ada seorang ayah yang memperlakukan anak-anaknya dengan perlakuan yang materialis, bahkan kadang sampai menarik uang sewa untuk kamar yang ditempati anaknya dalam satu rumah. Kadang sempat terjadi pertengkaran dengan anaknya mengenai besarnya uang sewa lalu akhirnya ia mengusir anaknya dari rumah. Dan wajar sekali bila perlakuan materialis ini menimbulkan reaksi balik pada rasa berbakti sang anak kepada ayah, terutama bila sang ayah ini telah menginjak usia lanjut sehingga ia tidak pernah mendapatkan perhatian dan perawatan dari anak-anaknya.

Saya masih ingat di sebuah negeri di Eropa, ketika salah seorang muslim berkebangsaan Arab sedang berusaha untuk membayar harga karcis bis, atau harga makanan untuk diri sendiri dan teman-temannya, sehingga terjadi keributan kecil karena masing-masing ingin membayar untuk diri dan teman-temannya, hal ini sempat mengundang keheranan salah seorang Eropa, seakan ingin bertanya, "Mengapa setiap orang dari mereka ini berusaha membayar untuk diri dan teman-temannya?"

Tiadanya Rasa Hormat

Islam menyerukan agar yang kecil menghormati yang besar dan sebaliknya yang besar menyayangi dan berlemah lembut kepada yang kecil. Dulu kita masih banyak menjumpai di angkutan-angkutan umum, di mana anak muda akan berdiri untuk memberikan tempat duduk kepada orang tua, orang yang lebih tua darinya, atau kaum wanita. Tetapi pemandangan yang indah dan mulia ini mulai surut digantikan dengan budaya cuek, kekerasan perasaan dan kekerasan hati serta tiadanya rasa hormat dari yang kecil terhadap yang besar, meskipun kita masih sering menjumpai kasih sayang dari yang besar kepada yang kecil.

Permintaan Gaji yang Besar

Di antara borok materialisme dalam kehidupan kita sebagai akibat kecintaan terhadap dunia dan harta adalah permintaan upah yang tinggi dari para penjual jasa atau pekerja atas pelayanan dan kerja yang telah meberikannya tanpa memperhatikan kemampuan materi yang dimiliki oleh saudaranya, terutama yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan primer seperti pengobatan dan tempat tinggal serta yang lainnya.

Jadi prinsip yang harus dikembangkan adalah sikap tolong-menolong, kasih sayang, pelayanan yang timbal balik, kelemah lembutan, tidak menyengsarakan orang lain, tidak membebani diluar kemampuan, atau yang membuatnya sampai terpaksa harus berhutang.

Hilangnya Sikap Ksatria, Kejantanan dan Keberanian:

Di antara dampak buruk yang ditinggalkan oleh gelombang materialisme sebagai akibat dari ambisi dan kecintaan terhadap harta serta kekayaan, ialah jiwa dari kemuliaan dan kehormatan pada saat mencari kekayaan, jabatan dan pekerjaan. Sehingga sikap kejantanan, ksatria dan keberanian menjadi hilang di hadapan barang dunia yang fana ini. Sungguh ambisi telah menundukkan leher para pembesar. Sehingga sebagai akibatnya banyak muncul sifat-sifat kemunafikan dan menjilat kepada para pemegang kendali segala urusan duniawi yang menipu ini.

Jadi prinsip yang harus kita pegang teguh adalah, kita harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita dengan kemuliaan jiwa karena segala urusan itu berjalan sesuai takdir. Dan memang tidak diragukan lagi bahwa kekuatan suatu masyarakat tergantung kekuatan para individunya dan makna-makna kekuatan dan kemuliaan yang mereka usung. Dan adakah kerugian yang lebih besar yang akan menimpa masyarakat kita dari musibah yang diakibatkan hilangnya kekuatan dan kemuliaan karena mengejar harta dunia? Sesungguhnya Allah telah menjamin perolehan rezeki dan meminta kita agar berusaha mendapatkan harta dari sumber-sumber yang halal disertai sikap mulia seorang mukmin, karena manusia semuanya ini adalah pemakan sedangkan pemberi rezeki itu hanya satu yaitu Allah Yang Maha Suci dan sebaik-baik pemberi rezeki.

Bersaing dalam Bangunan dan Penampilan

Di antara borok materialisme di masyarakat kita adalah sikap bersaing dan berlomba-lomba dalam membangun rumah yang megah sekali dan melengkapinya dengan perabot yang mewah, dan berbagai bentuk kesombongan, kemewahan dan idealisme materialis yang mengajak kepada kehidupan nikmat yang membuat pemiliknya cenderung kepada dunia sehingga ia tidak lagi mau berangkat ke medan jihad dan membenci kematian, seakan kehidupan dunia ini adalah kampung kenikmatan dan keabadian. Demikianlah, ia memakmurkan dunianya diatas penderitaan akhiratnya. Hal ini juga akan mempengaruhi kemuliaan tanah air, pertahanan dan pembelaan terhadapnya.

"Dan mereka berkata, "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka Jahannam itu lebih panasnya." (At-Taubah: 81)

Jadi prinsip pertama yang harus dipegang teguh adalah berusaha seimbang dalam semua urusan hidup, baik tempat tinggal maupun pakaiannya, membatasi kebutuhan-kebutuhan tertier, menjauhi sikap bermewah-mewah dan pemborosan, membiasakan diri hidup bersahaja yang lebih mendekati kehidupan jihad. Sebagaimana kita juga harus berpikir bahwa di sana masih banyak kaum muslimin yang mati kelaparan dan tidak mendapatkan tempat tinggal, pakaian dan obat-obatan.

Dan prinsip yang kedua adalah hendaknya kita jangan sampai bergantung kepada dunia atau takut kepada kematian, bahkan kita harus mencintai jihad dan mati syahid di jalan Allah serta memprioritaskan akhirat di atas dunia. Karena sarana-sarana dan faktor-faktor kemewahan ibarat beban-beban berat yang akan menekan pemiliknya untuk cenderung kepada dunia, terutama ketika ada seruan jihad, di sinilah tersembunyi bahaya itu sehingga Allah perlu mengingatkan kaum mukminin,

"Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemadharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (At-Taubah: 38-39)

Penghalalan Minuman Keras

Di antara borok gelombang materialisme dan peradaban kelezatan dan syahwat di masyarakat kita adalah penghalalan minuman keras yang merupakan induk bagi semua kejahatan, sampai-sampai pemerintahan juga ikut memproduksinya di perusahaan-perusahaan umum.

Sudah dimaklumi bahwa minuman keras adalah induk bagi segala perbuatan keji dan sebagai biang dari berbagai tindak pidana dan kasus-kasus kejahatan. Begitu juga dengan penggunaan obat-obat terlarang yang telah merebak dengan cepat dan mencengangkan, yang mana kecanduan obat-obat ini pada diri anggota-anggota masyarakat dari berbagai tingkatan usia akan mendorong mereka untuk melakukan berbagai bentuk kejahatan yang paling sadis demi untuk mendapatkan uang untuk membeli obat terlarang ini. Meskipun bahaya yang mengancam ini telah nampak dengan jelas, namun pemerintah yang berkuasa masih maju mundur untuk menutup perusahaan-perusahaan minuman keras dan tempat-tempat penjualannya serta memberlakukan sanksi-sanksi bagi para pengedar racun yang mematikan ini dan para pemakainya. Ironisnya; banyak selentingan mengatakan bahwa orang-orang yang memerangi obat-obat terlarang justru mereka sendirilah yang ikut terlibat dalam perdagangan obat-obat terlarang. Wallahu a'lam.

Tabarruj dan Pornografi

Di antara borok materialisme dan peradaban kelezatan dan syahwat yang menyerang kita dari barat adalah fenomena tabarruj dan buka-bukaan di tengah kaum wanita dan khususnya para pemudinya, di mana hal ini menimbulkan tersebarnya kekejian, tindakan kejahatan seksual dan perkosaan. Semua ini diperparah dengan tayangan-tayangan di media-media informasi kita seperti film-film import rendahan dan dukungan para aparat pemerintah atas penayangan film-film ini serta ketidak konsistenan terhadap undang-undang pengawasan sebagaimana terjadi dalam penayangan film-film ini.

Para produsen film-film lokal juga tidak mau kalah untuk menandingi arus kebobrokan yang rendah dalam produksi film mereka, sehingga punya keyakinan bahwa semua ini sudah menjadi skenario jahat, yang bertujuan untuk menghancurkan warga negara Mesir, keluarga-keluarga Mesir, Masyarakat Mesir dan melemahkan negara secara umum sehingga menjadi tunduk kepada kebijakan politik yang diberlakukan kepada mereka terutama kepada musuh bebuyutannya yaitu zionis.

Kegelisahan dan Kebosanan Hidup

Rabbaniyah akan memberikan kepada seseorang ketenangan jiwa, kedamaian hati dan kesabaran, keridhaan terhadap takdir, perilaku yang seimbang dan sehat, serta interaksi yang bermoral dengan orang lain. Sebaliknya, menjauhkan diri dari Rabbaniyah dan kecenderungan kepada materialisme akan melahirkan kegelisahan dan kekhawatiran serta kesempitan dan kebosanan hidup, di mana ketika salah seseorang mendapatkan musibah pada harta atau jiwa atau materi-materi kehidupan yang lain, ia tidak segan-segan untuk melakukan bunuh diri.

Keculasan para Penguasa dan Ketertindasan Rakyat

Rabbaniyah akan mendorong para penguasa kepada keadilan dan kasih sayang, kesungguhan dalam mendidik rakyat dan menjaga mereka dari semua marabahaya internal dan eksternal. Tetapi tampaknya jauhnya para penguasa ini dari Rabbaniyah dan keterpengaruhan mereka dengan materialisme ini telah menjerumuskan mereka pada tindakan-tindakan kejam terhadap rakyat dan menghalangi masyarakat dari hak asasi paling mahal yang dimilikinya yaitu kemerdekaan, keselamatan jiwa dan kepemilikan harta. Di mana para penguasa dengan seenaknya memberangus kemerdekaan rakyat dengan menyeret mereka ke dalam penyiksaan dan pembunuhan serta perampasan harta kekayaan mereka tanpa ada pengawasan atau perhitungan. Mereka sama sekali lupa bahwa Allah senantiasa mengawasi dan mengintai mereka, dan Dia akan membalaskan dendam hamba-hamba-Nya yang tertindas, jika tidak di dunia maka akan mereka rasakan di akhirat siksa yang sangat pedih.

Kekuatan dalam pandangan mereka adalah kekuatan sarana-sarana untuk menekan dan menindas yang berada di tangan mereka. Mereka sama sekali lupa kekuatan Allah sebagai sumber semua kekuatan dan bahwasanya Ia adalah Maha Perkasa lagi Maha Memaksa.

"Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi." (Al-Fath: 4)

"Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri." (Al-Mudatstsir: 31)

"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi ini dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi, dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman serta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu." (Al-Qashash: 5-6)

Ideologi Atheis dan Komunis

Borok paling parah yang ditinggalkan oleh gelombang materialisme di negara-negara Islam adalah munculnya orang-orang di tengah kita yang memiliki nama-nama islami tetapi meyakini ideologi atheis komunis serta mengingkari wujud Sang Pencipta dan Pemberi rezeki mereka dan menyeru orang lain kepada ideologi yang sesat ini.

Sesungguhnya ideologi ini termasuk langkah mundur bagi kehidupan umat manusia, karena bagaimana manusia yang lemah ini yang tidak memiliki kekuasaan sedikitpun terhadap dirinya sendiri, yang telah diciptakan oleh Allah dan disempurnakan ciptaannya serta ditegakkannya dalam tahapan-tahapan yang berurutan sehingga ia menjadi manusia yang seutuhnya, lalu Allah menyediakan rezeki untuknya pada saat ia masih berada di perut ibunya. Setelah ia keluar ke dunia ia masih dalam keadaan lemah, lalu tumbuh dewasa dan mampu bekerja, maka Allah pun telah menyiapkan rezeki untuknya; Bagaimana seorang manusia yang lemah seperti ini bisa saja setelah itu mendurhakai kekuasaan dan karunia Yang Maha Besar ini serta mengingkari adanya Sang pencipta?

Binatang saja mengetahui semua ini dan bertasbih memuji Allah yang berjalan sesuai dengan ilham Allah kepadanya, sungguh, "Mereka itu tak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat." (Al-A'raf: 179)

Saya yakin bahwa siapapun orang yang atheis dan mengingkari adanya Allah, seandainya ia mengalami kesulitan dan tidak mendapatkan pertolongan dari apa yang ada di bumi yang bisa menyelamatkannya, maka engkau akan mendapatinya—secara tidak disadari dan dari lubuk hatinya yang paling dalam—akan berdoa dan memohon, "Ya Tuhanku selamatkanlah aku." Inilah keimanan fitri yang telah tertutupi oleh ideologi sesat tersebut.

Para penyeru ideologi ini telah membungkus prinsip mereka ini dengan permasalahan ekonomi untuk mengelabui manusia selama beberapa waktu lalu setelah itu memaksa mereka dengan kekuatan senjata. Dan lihatlah pada hari ini mereka sudah melepaskan ideologi ini karena terbukti gagal dan mengakibatkan dampak buruk yang sangat fatal.

Kita harus membersihkan diri dari segala hal yang negatif yang kita derita akibat gelombang materialisme, dan kembali kepada Rabbaniah yang sejati untuk Allah agar kita bisa berbahagia di dunia dan akhirat kita.

MENUJU RABBANIAH SEKALI LAGI

Setelah pengaruh-pengaruh buruk yang destruktif dari gelombang kebudayaan materialis dan peradaban kelezatan dan syahwat yang menimpa individu, keluarga dan masyarakat ini menjadi jelas bagi kita, maka sudah sewajibnya bila kita bersegera membebaskan diri kita dari belenggu materialisme dan kembali sekali lagi kepada Rabbaniah dengan segenap keluhuran, dinamisme, kejernihan dan kemuliaannya.

Marilah wahai kaum muslimin, kita membebaskan diri dari pandangan materialis yang sempit ini terhadap kehidupan dunia menuju kepada pandangan yang luas membentang terhadap kehidupan abadi di akhirat. Marilah kita keluar dari kesempitan dunia menuju luasnya akhirat.

Marilah kita membebaskan diri dari daya tarik dunia yang akan membelenggu siapa saja yang bergelayut dengannya dan menjadikannya merasa berat untuk berjihad karena lebih cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, sehingga dengan Rabbaniah ini kita bisa naik ke jajaran Malaikat, dan naik ke derajat yang tinggi yang telah diraih oleh para Nabi, siddiqun, syuhada' dan orang-orang shalih.

Marilah wahai kaum muslimin, kita membebaskan diri kita dari kehinaan, kerendahan dan ketergantungan terhadap apa saja yang mengenai kita disebabkan oleh kelemahan iman kita dan keserakahan untuk meraih dunia dan fasilitas-fasilitas materinya, agar kita bisa kembali meraih kemuliaan dan kekuatan serta kehormatan kita sebagai umat terbaik yang ditampilkan untuk umat manusia.

Marilah kita membangkitkan keimanan sekali lagi dalam jiwa kita yang merupakan sumber kekuatan kita.

"Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (Al-Munafiqun: 8)

Marilah kita menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat kita dari kehancuran yang menimpa kita ini yang disebabkan oleh gelombang materialis, dan kita kembali kepada Rabbaniyah dan tuntunan-tuntunan agama kita dalam semua aspek kehidupan kita sekecil apapun.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6)

Marilah kita semua membebaskan diri dari panas dan semburnya materialisme ini menuju kepada sejuknya keimanan dan ketinggian ruhani serta kedamaian hati. Marilah kita membebaskan diri dari kebingungan, kegoncangan dan keterpurukan menuju kehidupan yang tenang dan sejahtera di bawah naungan iman, kepasrahan kepada Allah, tawakal kepada Allah, keridhaan kepada ketentuan Allah, dan harapan untuk meraih pahala, rahmat dan surga dari Allah.

Marilah kita mencabut rasa takut kepada kematian dari hati kita dan menanamkan kecintaan untuk bertemu Allah serta senantiasa mengharapkan kesyahidan di jalan Allah. Marilah kita membangkitkan ruh jihad dan pengorbanan sekali lagi agar dengan izin Allah kita bisa mengembalikan kemuliaan dan daulah serta kekhilafahan yang lurus kepada umat Islam.

Marilah wahai kaum muslimin kita menghapuskan perpecahan dan pertentangan karena memperebutkan harta dunia dan ambisi pribadi. Marilah kita kembali kepada persaudaraan keimanan dan kesatuan barisan agar kita bisa bersatu dan saling membantu dalam menghadapi berbagai tantangan musuh-musuh Islam, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (Al-Hujurat: 10)

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff: 4)

Marilah kita membebaskan diri dari sikap egois, kecintaan terhadap diri sendiri, dan kekikiran menuju sikap itsar dan kecintaan untuk memberikan kebaikan dan bantuan kepada orang lain. Marilah kita saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan dan bukannya dalam dosa dan permusuhan.

Kepada setiap muslim yang menyadari arti afiliasinya kepada Islam, setiap mukmin yang tulus imannya, bahkan setiap warga negara yang rindu kepada tanah airnya, kami menyerukan agar ia menyambut seruan kami ini dan selanjutnya bersama-sama kami bersatu dan bekerja sama dalam menghilangkan endapan kotor yang ditinggalkan oleh gelombang materialisme dalam kehidupan kita, dan berjuang untuk membentuk pribadi muslim di atas landasan aqidah yang selamat dan iman yang benar. Dari sini, akan terbangun keluarga atau rumah tangga muslim di atas landasan taqwa, yang mana keluarga-keluarga muslim ini merupakan komponen-komponen yang dinamis dan tangguh bagi terbentuknya masyarakat muslim Rabbani yang mengimani syariat Allah dan konsisten terhadapnya dalam semua aspek mehidupannya serta berjuang dengan sungguh-sungguh agar menjadi undang-undang kehidupan berbangsa dan menolak undang-undang dan prinsip-prinsip lainnya.

Kami tidak ingin perkataan ini hanya sebatas konsep atau sekadar angan-angan, tetapi kami ingin agar konsep ini diperjuangkan untuk bisa diaplikasikan secara konkrit dan benar sehingga kita bisa bangkit dari keterpurukan dan bangun dari tidur pulas ini, serta bisa mengembalikan kejayaan serta posisinya sebagai umat terbaik yang ditampilkan untuk umat manusia, dan agar umat ini bisa menjalankan misinya dalam memberikan petunjuk kepada umat manusia dan menyeru mereka kepada agama yang haq yang diridhai oleh Allah untuk semua hamba-Nya hingga hari kiamat. "Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama semuanya hanya menjadi milik Allah." (Al-Anfal: 39)

Kami menyadari bahwa problem ini sangat besar, tidak ringan dan mudah, serta membutuhkan adanya pertolongan dan taufik dari Allah serta setelah itu adanya tekad yang kuat dari para pejuangya. Yang demikian itu karena pengaruh-pengaruh yang diakibatkannya juga sangat besar, di mana kebaikannya ini akan merata untuk umat manusia semuanya dan tidak hanya terbatas kaum muslimin saja. Dan kami menyadari bahwa membangun manusia untuk menjadi pemimpin itu lebih berat dan lebih penting daripada membangun berbagai yayasan dan proyek. Sebagaimana kami menyadari bahwa sunatullah dalam perubahan itu tidak akan bergeser dan berubah-ubah.

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)

Perubahan jiwa manusia tidak bisa terealisir hanya dengan menekan tombol, tetapi membutuhkan hikmah dan kesabaran, kelembutan dan kontrol, karena jiwa manusia memiliki berbagai penyakit, memiliki pintu-pintu dan stimulan-stimulan, dan memiliki kecenderungan-kecenderungan kepada kebaikan dan kecenderungan-kecenderungan kepada keburukan, di mana perang antara kebaikan dan keburukan ini akan terus berkecamuk dalam jiwa manusia sampai mati. Penyakit-penyakit jiwa dan hati itu lebih berbahaya dan mematikan bagi pengidapnya daripada penyakit-penyakit badan, sehingga pengobatannya membutuhkan kejelian, hikmah, kesehatan, dan stamina yang panjang, membutuhkan upaya peningkatan aspek-aspek kebaikan dan membatasi kecenderungan-kecenderungan kepada keburukan, membutuhkan penjagaan dari godaan setan dan bangsa jin dan manusia, membutuhkan pemberian obat yang tepat dan dosis yang tepat, serta pada waktu yang tepat pula, agar kesembuhan dan kebebasan dari semua penyakit itu bisa terealisir.

Sesungguhnya obat itu telah berada di hadapan kita; yaitu Kitab Allah dan Sunah Rasul-nya, di mana di dalamnya terkandung kesembuhan yang total dan terapi yang mujarab bagi semua penyakit. Sesungguhnya kita semua ini sedang menderita banyak penyakit sehingga kita perlu bekerja sama untuk bisa sembuh dari penyakit-penyakit ini, dengan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, serta saling bantu-membantu dalam berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam.

Semua ini tentu sangat membutuhkan kesungguhan yang besar dari kita dalam melawan nafsu dan menundukkannya agar kita bisa menerapkan agama yang haq ini dengan segenap kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada kita seperti aqidah yang selamat, aqidah tauhid; ibadah yang benar dan ikhlas kepada Allah, akhlaq Islamiah yang teguh, sunah Nabawiah yang mulia, muamalah-muamalah Islamiah yang berpijak pada syariat Allah, dan komitmen untuk menerapkan hukum Allah di tengah umat manusia. Dan di antara kurnia Allah kepada kita adalah; Dia akan menolong dan memudahkan kita untuk menempuh jalan hidayah ini, bila Dia melihat ketulusan tekad dan kesungguhan yang optimal dari diri kita. Maha Benar Allah yang berfirman:

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-Ankabut: 69)

Barangkali berguna bila kita menukilkan di sini penuturan Imam Syahid Hasan Al-Banna seputar sikap kita terhadap gelombang materialisme dan pengaruh-pengaruh buruk yang ditinggalkannya, di mana kita bisa melihat dalam penurunan ini tekad yang kuat dan tulus untuk menghadapai gelombang materialisme dan berusaha untuk menyurutkannya dari negeri-negeri kita bahkan menyerangnya dinegeri negeri tempat kelahiran materialisme. Dalam risalah "Al Ikhwan Muslimun Tahta Rayatil Qur'an" setelah menyinggung sebagian pengaruh buruk dari gelombang materialisme yang mendera negeri-negeri kita, beliau menurunkan, "Urgensi keberadaan kita wahai Ikhwanul muslimin adalah kita berhadapan dengan gelombang materialisme, yang berupa kebangkitan sektor materi dan peradaban kelezatan dan syahwat, di mana ia telah merosotkan moral bangsa-bangsa Islam, menjauhkan mereka dari kepemimpinan Nabi saw, dan hidayah Al-Qur'an, menghalangi dunia dari bimbingannya, menarik mundur peradabannya ke masa ratusan tahun silam sehingga kita terbelenggu di negeri sendiri dan membiarkan masyarakat himpit dengan derita.

Kita tidak boleh tinggal diam di hadapan ini semua, namun harus kita hadap mereka di tempatnya dan siap bertempur di bumi mana ia bercokol, hingga dunia seluruhnya menyuarakan dakwah atas nama Nabi saw., dan menanamkan keyakinan kepada semua bangsa terhadap nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, terkembanglah payung Islam mengayomi seluruh bumi. Ketika itulah impian setiap muslim terwujud. Tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya milik Allah."

"Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari kemenangan itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (Ar Rum: 4-5)

Begitulah Imam Syahid mengungkapkan peran yang wajib kita mainkan untuk menghadapi gelombang yang membuncah ini. Dan dengan obsesi besar yang kadang sebagian orang membayangkannya sebagai sesuatu yang khayal dan jauh untuk dicapai, tetapi kami memandangnya sebagai suatu hakikat yang dekat, insya Allah. Dan tidak diragukan lagi bahwa pemahaman kita terhadap biang penyakit dan sebab-sebab yang menghantarkan kepada kondisi ini sangat membantu kita dalam menentukan jalan yang benar untuk melakukan terapi.

Dan sebelumnya telah kami jelaskan bahwa penyebab yang melatar belakangi invasi musuh-musuh Allah terhadap negeri-negeri kita sehingga meninggalkan pengaruh-pengaruh buruk seperti ini, tidak lain adalah diakibatkan oleh lemahnya iman dalam jiwa kita, kecenderungan kita kepada dunia dan kesenangannya,di mana hal ini menyebabkan lemahnya kekuatan kaum muslimin dan perpecahan mereka sehingga membangkitkan ambisi musuh-musuh Islam untuk menguasai mereka dan mengusir mereka dari tanah air yang dulu adalah wilayah-wilayah yang telah ditaklukkan oleh Islam seperti Andalus dan yang lainnya. Kemudian mereka menduduki negeri-negeri kita dengan kekuatan militer mereka dan menjauhkan syariat Islam dari pemerintahan sebagai gantinya mereka mendatangkan undang-undang buatan manusia dan membatasi hukum syar'i hanya pada masalah-masalah pribadi. Bahkan rencana jahat ini terus berlanjut sehingga pada masanya, Abdun Nasher menghapuskan peradilan agama, dan pada masa Sadat mereka juga mencoba mengusik undang-undang tentang masalah-masalah pribadi ini, meskipun belakangan ini telah banyak upaya-upaya untuk membenahi bidang ini.

Kemudian mereka menyerang negeri-negeri kita dengan berbagai bentuk kerusakan dan kebobrokan seperti minuman keras, wanita, perjudian, riba, dan prostitusi yang dilegalkan oleh mereka, sebagaimana mereka juga mengimport prinsip-prinsip buatan manusia untuk memecah belah kesatuan bangsa dengan berbagai bendera yang dulu merupakan lambang persatuan kaum muslimin. Kemudian setelah itu mereka bertindak memicu konflik dan perpecahan bahkan peperangan antar sesama negara-negara Islam, dan memicu pula pertentangan antar etnis dan kelompok-kelompok masyarakat.

Ringkas Penjelasan

Bahwa sebab asasi yang mengakibatkan kemunduran ini adalah kelemahan iman, dengan begitu berarti terapi yang asasi adalah memulai dengan membangkitkan keimanan dalam jiwa sekali lagi, sehingga sosok pribadi muslim yang teladan itu bisa terwujud, dan keluarga muslim ideal juga bisa terbangun untuk selanjutnya masyarakat muslim juga bisa terbentuk yang nantinya akan menjadi tulang punggung pemerintahan Islam yang mengembalikan umat manusia kepada agama Allah dan Rabbaniyah yang haq.

Inilah jalan yang benar, meskipun relatif panjang dan berat, tetapi memang di sana tidak ada jalan lain selain jalan ini. Kemudian terbukti kesungguhan Ikhwanul Muslimin untuk komitmen dengan jalan ini, rela dakwah mereka kepada manusia untuk komitmen juga dengan jalan ini, rela mulai merealisasikan sebagian dari apa yang diungkapkan oleh Imam Syahid di mana semua itu telah menyulutkan gelombang materialisme di negeri-negeri kita dan menyerang balik materialisme ini di negeri-negeri yang menjadi sarangnya. Dan Al-hamdu lillah, kiranya telah banyak bukti yang mengukuhkan penuturan ini.

Dan kami akan memberikan pembahasan yang cukup rinci seputar permasalahan iman, karena tampaknya ia merupakan problem mendasar dan senjata yang paling kokoh dalam perang yang dahsyat antara kebenaran dan kebatilan serta antara materialisme dan Rabbaniah. "Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya." (Yusuf: 21)

BUAH RABBANIAH YANG BAIK

Bila materialisme memiliki pengaruh-pengaruh yang buruk dan membahayakan bagi individu, keluarga dan masyarakat, maka sebaliknya dengan iman dan Rabbaniyah yang memiliki pengaruh-pengaruh positif dan bermanfaat serta urgen bagi individu, keluarga, dan masyarakat.

Bila materialisme itu menyeret dan menjerumuskan manusia kepada tingkat kebinatangan bahkan lebih sesat lagi, maka sebaliknya dengan iman dan Rabbaniyah yang mengangkat manusia menuju ke derajat orang-orang yang shiddiq, para syuhada' dan orang-orang shalih. Dan dalam pembahasan sebelumnya kami telah memaparkan bentuk-bentuk pengaruh destruktif dari gelombang kebudayaan materi dan peradaban kelezatan dan syahwat yang menyerang negeri-negeri Islam, maka di sini kami akan memaparkan sebagian dari bentuk-bentuk pengaruh yang baik bagi kehidupan yang Rabbani dan iman yang tulus.

Jalan Menuju Rabbaniyah yang Benar

Sebaik-baik jalan untuk menerapkan Rabbaniah adalah dengan meneladani Rasulullah saw. dalam setiap aktifitas, sifat, akhlaq, dan jihadnya di jalan Allah untuk meneguhkan agama Allah di muka bumi. Seorang muslim sejati sekarang ini harus menyadari bahwa ia memikul kewajiban yang menjadi tuntutan tabiat fase yang dilalui oleh dakwah Islamiah; yaitu: mendesaknya perjuangan untuk menegakkan daulah Islam dan khilafah Islamiyah.

Daulah Islam Menjadi Kebutuhan Umat Manusia Seluruhnya (Muslim dan Non Muslim)

Daulah Islam yang merupakan tujuan besar yang diperjuangkan oleh kaum muslimin yang tulus untuk diwujudkannya ini kalau telah berhasil tegak—dan dengan izin Allah pasti akan tegak—, maka kebaikannya tidak hanya terbatas pada kaum muslimin saja, tetapi dengan izin Allah ia akan membentang luas secara horizontal mencakup semua umat manusia dan secara vertikal akan mencakup berbagai generasi selanjutnya.

Kadar kebaikan yang merata dan mencakup kehidupan manusia di dunia dan kehidupan mereka di akhirat yang kekal abadi ini akan menentukan kadar para pejuang yang ikut andil dalam mewujudkannya, dan menentukan pula kadar pahala dan balasan yang besar dari Allah serta kadar keharuman dan kebaikan nama mereka bagi generasi-generasi yang datang setelah mereka.

Iman dan Rabbaniah Membangkitkan Berbagai Potensi

Sesungguhnya Rasul saw. dan orang-orang beriman yang bersamanya telah menempuh jalan dakwah ini untuk meneguhkan agama ini dan menghadapi tipu daya orang-orang musyrik dan orang-orang kafir dengan penuh kesabaran, keuletan, perjuangan, kedermawanan, pengorbanan dan keteguhan serta ketabahan dalam menghadapi berbagai resiko besar yang menjadi konsekuensi dari perjuangannya.

Bila memperhatikan, maka kita akan mendapati bahwa iman dan Rabbaniah merupakan sumber bagi potensi-potensi tersebut yang tidak berhasil memancar dari jiwa mereka, iman dan Rabbaniah ini pula yang menjadi pendorong bagi tekad dan semangat tinggi yang menegakkan bangunan megah tersebut dan menghancurkan kebatilan betapapun kuat dan perkasanya.

Menyeru Orang Lain dengan Hikmah dan Nasihat yang Baik

Rasulullah saw. telah menyeru kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik dan bersabar dalam berdakwah kepada orang-orang musyrik sebagaimana beliau bersabar atas gangguan mereka, meskipun demikian beliau tetap merasa iba terhadap mereka dan merasa sedih karena berpalingnya mereka serta ketiadaan respon dari mereka.

"Maka apakah barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an)." (Al-Kahfi: 6)

Demikianlah seharusnya kesadaran seorang muslim Rabbani terhadap orang-orang yang diserunya kepada Allah dan perjuangan demi agama Allah. Ia harus berdakwah dan bersabar, menjadikan setiap gangguan yang dialaminya sebagai tabungan pahala, melanjutkan perjalanan di medan dakwah tanpa pernah merasa jemu, lelah, lemah, minder ataupun menyerah demi meraih pahala dan keridhaan dari Allah. Dan demikian juga Rasulullah saw. telah menyerukan kita untuk bersabar dalam berdakwah dan memberikan bimbingan kepada masyarakat dengan sabdanya, "Demi Allah, bila seandainya Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantaramu, maka hal itu lebih baik bagimu dari sekor unta merah." (h.r. Muslim, 4/1833, kitab Fadha'ilush Shahabah)

Kesabaran dan Kesiapan Menanggung Segala Kesulitan

Lihatlah bagaimana keimanan dan Rabbaniah telah mengangkat orang-orang mukmin sehingga mereka sanggup bertahan menghadapi penyiksaan sampai mati tanpa mau mengeluarkan kata kufur sebagaimana Yasir dan Sumayyah yang merupakan contoh terbaik untuk hal ini sehingga Rasul saw. sampai bersabda,

"Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena tempat tinggal yang dijanjikan kepadamu adalah surga." (h.r. Thabrani, Majma'uz Zawa'id, 9/294)

Mereka lebih mengutamakan pahala dan surga Allah daripada kekayaan dunia dan kenikmatannya. Lihatlah kaum Muhajirin, bagaimana Rabbaniah telah mengangkat mereka dari daya tarik dunia dan menjadikan mereka meninggalkan tanah air dan harta benda mereka serta lebih mengutamakan apa yang berada di sisi Allah. Dan dalam sirah banyak terdapat teladan-teladan indah sebagai aplikasi yang konkrit dari makna luhur ini.

Cinta dan Itsar

Kemudian lihatlah bagaimana iman dan Rabbaniah telah menjadikan orang-orang Anshar mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka bahkan lebih memprioritaskan mereka daripada diri sendiri meskipun sangat membutuhkan.

Demikianlah, tradisi-tradisi jahiliah dengan berbagai gambarannya yang buruk telah hilang seperti sifat keras, kesat, suka membunuh, mengubur hidup-hidup anak putri, permusuhan, penjarahan harta. Dan sebagai gantinya mereka telah menghiasi diri mereka dengan akhlaq mulia, yang diantaranya adalah cinta dan itsar.

Langkah Miripnya Malam ini dengan Kemarin

Pada masa kita sekarang ini, para dai dihadapkan pada kondisi yang hampir serupa dengan kondisi yang dulu dihadapi oleh Rasul saw. dan para sahabat di saat mereka berdakwah. Kita mendapati banyak orang yang berpaling dari dakwah kita, maka kita harus tetap bersabar dalam berdakwah kepada mereka ini. Kita juga mendapati orang-orang yang menghalangi jalan kepada Allah dan menanamkan keraguan pada masyarakat tentang dakwah dan sistem kita, maka kita harus bersabar dan tidak boleh terpengaruh ataupun tekad kita menjadi lemah menghadapi rintangan dan keraguan ini, bahkan kita tetap menyuarakan kebenaran dengan lantang dan terang-terangan serta kita tidak takut sedikitpun terhadap celaan orang-orang yang mencela dalam membela agama Allah.

Bila kita dihadapkan pada gangguan dan penyiksaan, maka kita harus bersabar, tetap tegar dan menjadikan itu sebagai peluang untuk meraih pahala dari Allah sehingga kita sedikit pun tidak boleh merasa lemah atau berhenti di tengah jalan.

"Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada Do'a mereka selain ucapan: Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Ali Imran: 146-148)

Sikap-sikap Kontemporer yang Seakan Mengulang Sejarah Generasi Pendahulu Kaum Muslimin

Berkat karunia Allah kemudian berkat pengaruh dari tarbiyah Rabbaniyah, Allah telah menolong ikhwan yang sedang menghadapi berbagai bentuk penyiksaan, pembunuhan, dan penahanan sehingga mereka bisa tegar dan bersabar serta tetap teguh dan tanpa menjadi lemah, mengendor atau menyerah kalah di hadapan keangkuhan dan kekejaman penguasa. Dan barangkali sangat berguna sekali bila saya menuliskan beberapa peristiwa dan sikap di belakang terali besi yang menjelaskan pengaruh Rabbaniyah yang baik terhadap jiwa ketika menghadapi masa-masa sulit.

Ada salah seorang ikhwan yang diculik oleh aparat keamanan di rumahnya dengan kasar di tengah malam, lalu dia dijebloskan ke sebuah penjara yang sempit dan gelap sehingga hampir ia tidak bisa melihat tangannya sendiri lalu setelah itu pintunya ditutup. Pada saat memasuki masa persidangan ia selalu mendapatkan siksaan yang sangat berat. Tapi keimanan dan Rabbaniyanya seakan menjadi penyejuk dan penyegar di mana pada waktu itu terlintas dalam benaknya sebuah pikiran yang mengalihkannya dari kondisi sempit dan kegelisahan—yang senantiasa mengiringi kondisi di tempat seperti ini—kepada suasana jiwa yang tenang dan optimisme.

Pikiran yang terlintas di benaknya bahwa dirinya tidak sedang berada dalam penjara yang gelap, tetapi sebagai penghuni kubur yang akan menghadapi hari kebangkitan, perhitungan dan pembalasan, sehingga ia merasa takut dan sedih kepada dirinya sendiri dari siksa Allah dan dari neraka Jahannam.

Lalu seakan ia berlindung kepada Allah dan memohon agar dikembalikan lagi ke dunia untuk memperbaiki keadaannya dan membenahi urusannya serta melakukan amal shalih yang akan megarahkannya ke dalam surga dan menyelamatkannya dari siksa Allah. Dan seakan Allah telah mengabulkan do'anya dan mengembalikannya lagi ke dunia; dan benar, ternyata dia masih hidup di dunia, di depannya terbentang kesempatan emas untuk memperbaiki keadaannya sekali lagi dan bersungguh-sungguh dalam meraih keridhaan Allah. Demikianlah buah yang baik dari Rabbaniyah, sehingga ia menjadi orang yang berbahagia, bergembira dan optimis tidak lagi mengalami kesedihan dan kekhawatiran, karena ia satu jam yang lalu atau kurang dari itu masih berada di tengah keluarganya, lalu tiba-tiba saja ia harus meringkuk sendirian di sel penjara yang gelap gulita.

Dan seandainya bila kita membayangkan salah seorang dari mereka yang sisi Rabbaniyahnya terkalahkan oleh sisi materialismenya, niscaya kita akan mendapatinya melewati masa-masa sulit seperti ini dalam kondisi kejiwaan yang mengenaskan, kegelisahan dan kegoncangan jiwa yang hebat. Di mana kami sendiri pernah melihat sebagian dari mereka yang biasa menyiksa ikhwan di penjara sedang, ketika mereka dihadapkan pada penahanan dan penyidikan atas berbagai kasus penyiksaan yang telah mereka lakukan, di mana sebagian dari mereka menangis sambil merengek-rengek di penjara tak ubahnya seperti anak-anak dan kaum wanita yang lemah.

Rabbaniyah Mengubah Kengerian Menjadi Keceriaan

Saya akan menukilkan deskripsi lain dari balik terali besi yang menjelaskan pengaruh yang baik dari Rabbaniyah ini, di mana salah seorang ikhwan pernah ditahan sendirian, yang berarti dia berada di sebuah sel yang sempit dan terkunci sepanjang siang dan malam serta tidak bisa berhubungan dan berbincang dengan siapapun, dia hanya keluar untuk keperluan buang hajat kadang di waktu pagi dan kadang di sore hari dengan pengawalan yang ketat dan sama sekali tidak diperbolehkan berbicara dengan siapapun di saat berjalan menuju ke kamar kecil maupun sekembalinya ia dari tempat ini.

Seandainya kita membayangkan kondisi seperti ini dengan para materialis, niscaya kita akan memberikan kata putus bahwa akh ini sedang berada dalam kondisi yang benar-benar menyusahkan, menyedihkan dan mengenaskan, serta berharap seandainya pintu selnya dibiarkan terbuka meskipun tidak bisa berbicara dengan seorangpun.

Tetapi dengan keimanan dan Rabbaniahnya saudara kita ini merasa sedang berkhalwat bersama Allah, dan Kitab Allah menjadi teman terbaiknya yang senantiasa ia membaca dan mentadabburinya, merenungi cahaya, petunjuk, dan nasihatnya untuk mengobati apa yang ada di dadanya. Sungguh Al-Qur'an merupakan sumber cahaya, petunjuk, rahmat, nasihat, dzikir dan obat yang tak akan pernah kering sebagaimana semua ini juga menjadi nama-nama Al-Qur'an. Akh kita ini senantiasa melakukan shalat yang sangat khusyu' dengan ruku' dan sujud yang sangat panjang, di mana pada saat melakukan ruku' dan sujud ini ia merasa sangat dekat sekali dengan Allah lalu ia berdo'a dengan sungguh-sungguh. Ia juga selalu bangun waktu sahur untuk melakukan qiyamul lail dan bermunajat kepada Tuhannya di keheningan malam, seakan mengetuk pintu Allah Yang Maha Pemurah dengan ruku' dan sujudnya, dengan do'a dan air matanya karena takut kepada-Nya.

Demikianlah ia bisa hidup dalam suasana ruhiah yang membahagiakan dan kemesraan hubungan dengan Allah, sehingga seakan ia hidup di dunia yang maha luas tidak ada dinding yang membatasi dan pintu yang terkunci.

Akh yang mulia ini menceritakan kepada kami bahwa seorang penjaga yang berdiri di depan pintunya untuk menjaga jangan sampai ada orang yang berhubungan dengannya merasa kasihan kepadanya karena keterisolasiannya yang total dan untuk selamanya, sehingga penjaga ini memanfaatkan waktu istirahatnya para pimpinan penjara di waktu siang untuk membuka sedikit pintu sel agar akh ini merasa sedikit longgar. Tetapi akh yang telah hidup dalam suasana Rabbaniah yang tinggi justru menuturkan bahwa ketika penjaga itu membuka pintu, kemesraan itu menjadi berkurang dan justru merasa ngeri tidak sebagaimana ketika pintu selnya itu tertutup. Demikianlah kita melihat bagaimana Rabbaniah dengan makna-makna dan parameter-parameternya telah mengubah kesedihan menjadi kegembiraan dan kepedihan menjadi kebahagiaan, serta kengerian menjadi keceriaan.

Sesungguhnya aspek ruhiah seorang mukmin ketika bisa meningkat dan menguat, maka semua kepayahan fisik dan materi akan menjadi tidak berarti, dan akan melahirkan pada dirinya potensi dan kekuatan kesabaran yang tidak terdapat pada diri orang biasa. Rasulullah saw. melakukan qiyamul lail sampai bengkak kedua kakinya tetapi beliau sama sekali tidak merasakan lelah atau sakit, karena beliau mendapatkan kebahagiaan ruhiah yang memuncak sehingga menjadikannya lupa terhadap semua rasa sakit dan kelelahan fisik.

Kami juga bisa mengetahui sedikit makna seperti ini pada diri Imam Syahid yang mana keimanan dan Rabbaniahnya telah mendominasi jiwanya dan mendorongnya untuk beramal dan mengerahkan segenap potensi yang dimiliki. Di mana pada setiap peringatan hari-hari besar Islam seperti peringatan Hijrah, perang Badar, Isra' dan Mi'raj dan peringatan-peringatan yang lainnya, beliau menghabiskan waktu sebulan penuh untuk mengisi acara-acara menyambut hari-hari besar itu, hampir setiap hari beliau menghadiri muktamar baik di kota maupun di desa, bahkan kadang beliau harus menghadiri dua kali muktamar dalam satu hari, dan bepergian mengelilingi semua wilayah Mesir dari Iskandariyah sampai Aswan, serta setelah usainya muktamar-muktamar ini beliau banyak menghabiskan waktunya untuk safari dakwah dan berdialog dengan para ikhwan sehingga beliau tidak tidur kecuali beberapa saat yang amat sedikit, meskipun demikian beliau tidak pernah meninggalkan tahajjud menjelang fajar, dan saya mendapati aktifitas dan energinya selalu baru dalam setiap harinya.

"Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Al-Jumu'ah: 4)

SEBAGIAN PENGARUH RABBANIAH DALAM TRIBULASI

Kehidupan manusia di dunia ini senantiasa berubah-ubah dan tidak konstant, di mana ia seringkali mengalami kemudahan dan kesulitan, kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, kesehatan dan sakit, keselamatan dan berbagai tribulasi dan seterusnya.

Dan yang menarik perhatian adalah pengalaman manusia terhadap kondisi yang berubah-ubah itu sangat beragam dari satu orang ke orang yang lain tergantung dominasi Rabbaniah atau materialisme pada dirinya.

Barangsiapa yang aspek Rabbaniahnya mengalahkan aspek materialismenya, maka ia akan mensikapi berbagai keadaan dengan sikap yang selaras dan positif, berbeda dengan seseorang yang aspek materialismenya mengalahkan aspek Rabbaniahnya, di mana ia akan mensikapi berbagai keadaan tersebut dengan sikap-sikap yang kontradiktif dan negatif.

Kita mendapati seorang yang Rabbani mensikapi kekayaan dengan rasa syukur karena menyadari hal itu adalah anugerah Allah dan Dialah-lah Punya nikmat dan Pemberi anugerah yang hakiki, menyadari bahwa ia harus menunaikan hak Allah dalam harta ini, memilih yang halal dan menjauhkan diri dari yang haram, serta senantiasa memiliki kesadaran untuk menghantarkannya kepada fitnah, penyimpangan dan keterjerumusan ke dalam siksa neraka. Jika seorang yang Rabbani ini mengalami kekekalan maka kita akan mendapatiya bersabar dan ridha serta tidak mengeluh karena ia menyadari bahwa dunia bukanlah kampung kenikmatan dan mengingat kehidupan Rasulullah saw. sebagai hamba yang paling mulia di sisi Allah, bagaimana makanan, pakaian, perkakas rumah tangga istri-istri beliau, dan berapa kali beliau terpaksa keluar rumah karena kelaparan.

Sedangkan seorang yang aspek materialismenya mengalahkan aspek Rabbaniahnya, bila kaya kita mendapatiya sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, durhaka dan melupakan pemberi nikmat yang hakiki serta meyakini bahwa harta ini diperolehnya berkat usahanya, sebagaimana perkataan Qarun, "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (Al-Qashash: 78)

Ia juga melupakan orang-orang fakir dan miskin, serta tidak mau menunaikan hak Allah yang terdapat dalam harta ini sebagai amanat dari Allah pada dirinya. Sedangkan bila ia mengalami kemiskinan, maka kita akan mendapatiya selalu gelisah dan bosan hidup serta merasakan betapa sempitnya dunia ini, yang seringkali kondisi ini mendorongnya untuk melakukan bunuh diri dan mengakhiri hidupnya.

Demikianlah, kita melihat seorang mukmin menghadapi kebaikan dan keburukan dengan sikap yang selaras dan positif, karena ia menyadari bahwa Allahlah yang telah menakdirkan kebaikan dan keburukan ini. Dan kadang ada seseorang yang berhasil lulus dari ujian kemiskinan dan kesusahan, tetapi ketika menghadapi ujian kebaikan yang berupa dunia dan segenap kenikmatan yang mengguncangkannya, ia ternyata terfitnah dan mengalami kegagalan dalam menjalani ujian ini. Maha benar Allah yang telah berfirman,

"Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (Al-Anbiya': 35)

"Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Baqarah:155-157)

Dan benar pula sabda Rasul saw.,

"Sungguh heran terhadap urusan orang mukmin, semua urusannya itu baik adanya, dan hal ini tidak terjadi kecuali pada diri seorang mukmin. Bila mendapatkan kegembiraan ia bersyukur, dan hal ini baik baginya, dan bila ditimpa musibah ia bersabar, dan hal ini baik baginya." (h.r. Muslim, 4/ 2295, Kitab Zuhd wa Babul Mu'min Amruhu Kulluhu Khair)

Dalam kondisi yang penuh dengan tribulasi, seorang mukmin akan menghadapi berbagai bentuk cobaan, gangguan, penjara, penyiksaan dan pembunuhan, akan tetapi iman dan Rabbaniah memiliki pengaruh yang besar untuk meringankan beratnya semua ujian ini dalam dirinya, dan melahirkan kekuatan dan ketegaran dalam melintasi masa-masa sulit ini.

Kasus-kasus Kontemporer yang Hidup

Barang kali berguna sekali bila kami memaparkan beberapa deskripsi dan contoh yang bisa menjelaskan pengaruh yang baik dari rabbaniyah dalam masa-masa sulit tersebut. Di antaranya adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh salah seorang ikhwan pada saat kami sedang mendekam dalam penjara, yang mana berkat karunia Allah kisah ini memiliki pengaruh yang baik dan lestari bagi kami. Ia menuturkan, "Ada seorang penguasa yang diktator dan lalim, yang merasa disudutkan oleh seorang yang shalih lalu ia ingin membalas dendam atas atas sakit hati dan kemurkaannya dengan menjebloskan orang ini ke dalam penjara agar merasakan kesedihan dan penderitaan. Setelah beberapa hari ia mengutus utusannya ke penjara untuk menginformasikan penderitaan dan kesedihan orang ini kepada penguasa sehingga ia bisa merasa lega dan puas. Ketika tiba di penjara, sang utusan mendapati orang ini sedang berada dalam keadaan aman, damai, gembira, dan bahagia, sehingga ia pun kaget lalu bertanya, 'Seharusnya kamu sedih dan gelisah, tetapi mengapa justru kamu kelihatannya senang dan bahagia, apa sebabnya sehingga kamu bisa berbahagia seperti ini?'

Orang shalih itu menjawab, 'Sesungguhnya setiap hari aku selalu minum obat yang terdiri dari tujuh komposisi yang menjadikanku sebagaimana yang kamu lihat.' Utusan ini bertanya, 'Obat apakah itu? Dan apakah ketujuh komposisi itu?' Ia menjawab,

Komposisi yang pertama: adalah keyakinan kepada Allah. Saya yakin kepada Allah dengan sepenuhnya, di mana hal ini menjadikanku menyadari bahwa semua yang ditakdirkan oleh Allah untukku itu lebih baik bagiku, meskipun tampak sebagai sesuatu yang buruk. "Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)

Komposisi kedua: Saya menyadari bahwa takdir Allah itu pasti akan terjadi dan tidak ada tempat untuk berlari serta kemampuan untuk menolak takdir itu. Jadi kewajiban saya hanya ridha terhadap ketentuan ini dan tidak merasa bersempit dada terhadapnya.

Komposisi ketiga: Keadaan saya sekarang ini adalah ujian dari Allah, dan keberhasilan dalam melalui ujian ini adalah dengan bersikap sabar dan mengharap pahala Allah serta keinginan yang besar bahwa Allah akan mengganti keburukan ini dengan kebaikan baik di dunia dan akhirat. Sehingga dengan begitu kesedihan dan kegoncangan bisa hilang dari diri sama sekali, dan saya bisa melakukan ibadah, tidur, dan makan dengan penuh ketenangan dan kedamaian.

Komposisi keempat: Bila saya tidak bersabar, maka keuntungan apa yang bisa saya petik dari sikap ini? Dan jawaban untuk pertanyaan ini sangat jelas, yaitu bertambahnya kesedihan di atas kesedihan dan penderitaan di atas penderitaan sehingga menjadikan pemiliknya semakin mengalami kesedihan dan kegoncangan jiwa serta tidak akan bisa menikmati tidur, makan dan ibadahnya.

Komposisi kelima: Saya yakin di sana ada orang yang mengalami penderitaan yang lebih berat dari penderitaan saya ini, sehingga saya memuji Allah atas penderitaan yang saya alami ini. Dan disebutkan dalam perumpamaan, "Barang siapa melihat musibah orang lain, akan menjadi ringan musibah yang menimpanya".

Komposisi keenam: Saya menyadari bahwa musibah yang menimpaku sama sekali tidak mengusik agamaku, karena musibah yang sesungguhnya adalah musibah yang me nimpa agama dengan mengalami kesesatan, kefasikan dan kekafiran. Sedangkan musibah yang me nimpa harta, anak, atau fisik, maka semuanya itu adalah ringan dan dampaknya juga ringan bila dibandingkan dengan musibah yang me nimpa agama kita dan dampak buruk dari musibah ini. Karenanya, Rasul mengajarkan agar kita senantiasa berdoa: "Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan musibah ini menimpa agama kami." (h.r. Tirmidzi, 5/493, no. 3502)

Komposisi ketujuh: Dan terakhir dari waktu ke waktu saya selalu menunggu-nunggu pembebasan dari Allah, karena semua urusan itu berada di tangan Allah dan kekalnya satu keadaan itu merupakan satu hal yang mustahil. "Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)." (Ali Imran: 140)

Ketika utusan itu kembali dan menceritakan apa yang ia lihat dan yang ia dengar, penguasa itu berkata, 'Bebaskanlah ia, karena saya tidak akan bisa menimpakan penderitaan kepadanya dari orang-orang sepertinya'.

Dengan kembali kepada ketujuh komposisi tersebut, kita akan mengetahui bahwa semuanya ini bersumber dari Rabbaniyah dan pandangan Rabbani. Dan di antara parameter Rabbani yang urgent dan memiliki pengaruh yang baik dalam diri kita adalah, "Setiap ujian yang masih kalah oleh dahsyatnya neraka adalah keselamatan, dan setiap kenikmatan yang masih kalah dengan kenikmatan surga adalah kecil". Kita mendapati Bilal yang bersabar dan bertahan serta mengharapkan pahala dari Allah dalam menjalani ujian yang sangat berat, ia hanya mengatakan, "Ahad, ahad" (Allah Yang Esa, Yang Esa) sebagai ekspresi dari keimanan kepada Allah Yang Maha Esa yang bersemayam dalam hatinya. Demikian juga yang mendapati Sumaiyyah dan Yasir menolak untuk melafadzkan kata-kata kufur dan dengan penuh ketabahan menjalani penyiksaan mereka, sehingga akhirnya lebih memilih syahid untuk dapat meraih kenikmatan yang ada di sisi Allah. Begitu juga dengan sikap ahli sihir Fir'aun setelah keimanan meresap dalam hati mereka, padahal Fir'aun telah mengancam dan menakut-nakuti mereka dengan siksa yang amat pedih: "Sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Tha ha: 71)

 

Tetapi mereka tidak gentar dan beralih dari keimanan mereka, bahkan keimanan mereka ini mendorong mereka untuk menjawab ancaman dengan jawaban rabbani yang tegas,

"Mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan memutuskan pada kehidupan dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (adzab-Nya)." (Tha ha: 72-73)

Dan sepanjang zaman para penyeru kepada Allah akan selalu menghadapi berbagai bentuk gangguan dan penyiksaan. Dan pada saat sekarang ini para musuh-musuh Allah yang kejam telah menggunakan sarana-sarana penyiksaan yang canggih, namun demikian orang-orang mukmin yang menjadi korban penyiksaan ini bisa bersabar dan mengharapkan pahala serta pertolongan dari Allah seraya memohon agar dengan semua ujian ini mereka bisa dibebaskan dari neraka Jahanam dan berbagai siksa pedih di dalamnya. Sehingga ketika dibelenggu dengan rantai besi di tangan dan kaki, lalu diseret dan dijebloskan ke dalam penjara yang sangat sempit, mereka hanya mengingat deskripsi serupa yang akan dialami oleh para algojo yang lalim ini di neraka Jahanam, yang telah digambarkan dalam Al-Qur'an seperti firman Allah,

"Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan:12-14)

"Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka." (Ibrahim: 49-50)

"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqah: 30-32)

"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka (dikatakan kepada mereka), 'Rasakanlah sentuhan api neraka'." (Al-Qamar: 47-48)

Dan di antara pesan-pesan Rabbaniah yang diingatkan oleh salah seorang ikhwan pada saat kami sedang mendekam dalam penjara dan menunggu keputusan hukum dari pengadilan lalim yang berupa vonis untuk menjalani kerja-kerja berat seumur hidup atau vonis kejam lainnya, ia berkata, "Bila Nabi Musa as harus melewati masa selama delapan atau sepuluh tahun dengan bekerja sebagai mas kawin untuk istrinya, lalu bagaimana dengan kalian yang ingin menikah dengan bidadari di surga, maka janganlah kalian menganggap berat dan panjang vonis apa saja yang akan dijatuhkan kepada kalian.

Saya akan menutup pembahasan seputar pengaruh rabbaniah di masa-masa tribulasi dengan firman Allah,

"Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur." (Al-Anfal: 26)

"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu." (Al-Qashash: 5-6)

PARAMETER-PARAMETER RABBANIAH DI JALAN DAKWAH

Agar bisa melanjutkan perjalanan dakwah dan mewujudkan tujuan besar yang menjadi tuntutan tabiat fase yang dilalui dakwah Islamiyah, yaitu peneguhan agama Allah di muka bumi dengan menegakkan daulah dan khilafahnya, maka kita sangat membutuhkan seorang individu muslim Rabbani, keluarga muslim Rabbani, dan masyarakat muslim untuk menegakkan pemerintahan Islam yang Rabbani yang berpijak pada basis Rabbaniyah yang solid.

Dan sebagaimana telah jelas bahwa individu muslim Rabbani adalah unsur asasi dalam setiap tahapan rekonstruksi dakwah dari pembentukan keluarga, masyarakat, pemerintahan hingga daulah dan khilafah. Dan seiring dengan orisinalitas dan keteguhan individu muslim ini, maka akan menjadi orisinal dan solid pula tahapan-tahapan berikutnya, begitu pula sebaliknya.

Pilar-pilar Asasi pada Diri Seorang Muslim Rabbani

Oleh karena kita menghendaki kekuatan, kekokohan, kemapanan dan kejayaan daulah yang kita cita-citakan, maka kita harus memperhatikan sepenuhnya batu bata yang menjadi unsur pertamanya, yaitu individu muslim, di mana pada dirinya harus terwujud pilar-pilar asasi yang akan menjadikannya sebagai teladan dan contoh bagi orang-orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk ikut memberikan andil dan peran aktif dalam mewujudkan cita-cita yang besar ini.

1. Keselamatan Aqidah dan Kekuatan Iman

Pilar yang utama dan paling penting adalah keselamatan aqidah dan kekuatan iman sebagai landasan yang kokoh bagi pembentukan individu seorang muslim. Jadi aqidah tauhid hendaknya selalu bersih dan terjaga serta tidak terkotori oleh noda apapun dari prinsip-prinsip ataupun ideologi-ideologi materialisme. Iman hanya kepada Allah Yang Maha Esa, loyalitas hanya untuk Allah Yang Maha Esa, dan keikhlasan juga hanya untuk Al-Khaliq, hari akhir dan taqdir yang baik ataupun yang buruk.

Jadi individu ini harus menghiasi diri dengan keimanan yang kuat dan dinamis yang selalu mendorongnya untuk beramal, bersabar, berjihad, berkorban dan bertahan di jalan dakwah betapapun panjangnya jalan itu dan banyaknya kendala yang merintangi.

2. Kebenaran Ibadah

Di antara pilar asasi bagi individu muslim yang notabene sebagai pejuang aqidah dan prajurit dakwah, adalah kebenaran ibadahnya yang pada hakikatnya ibadah ini merupakan misi utama bagi manusia di dunia ini,

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz-Dzariat: 56)

Dan yang dimaksudkan dengan kebenaran ibadah tidak hanya sekadar memperhatikan hukum-hukum yang menentukan sahnya suatu ibadah dan tidak membatalkannya, tetapi lebih dari itu kita dituntut untuk menghadirkan hati ketika melaksanakannya dan menguatkan hubungan kita dengan Allah agar bisa mewujudkan tujuan dari ibadah tersebut yaitu; ketaqwaan kepada Allah.

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa." (Al-Baqarah: 21)

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (Al-Baqarah: 183)

Allah itu Maha Kaya dan tidak membutuhkan kita dan ibadah kita, tetapi justru kita yang membutuhkan ibadah ini agar kita bisa meraih pahala dan keridhaan Allah serta bisa meraih surga dan selamat dari api neraka. Dan pada hakikatnya bila setiap kewajiban dari keempat kewajiban ibadah itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka akan memberikan aspek-aspek tarbawiyah tertentu yang berbeda dengan aspek tarbawiyah dari kewajiban ibadah yang lain, di mana semua aspek ini akan saling menyempurnakan dan menghasilkan teladan yang baik bagi individu muslim Rabbani. Dan seseorang yang aspek materialismenya lebih dominan daripada aspek Rabbaniyah dalam mekehidupannya kadang melakukan kewajiban-kewajiban ibadah ini tetapi tidak bisa melahirkan ketaqwaan yang merupakan buah dari ibadah ini karena ia melaksanakannya secara fisik dan tidak memiliki ruh.

3. Keteguhan Akhlaq

Di antara pilar penting bagi pejuang dakwah yang Rabbani adalah keteguhan akhlaq, karena bidang akhlaq adalah bidang yang sangat penting dan batu uji yang esensial antara Rabbaniyah dan materialisme, di mana Rabbaniyah ini menyeru kepada akhlaq Islamiyah yang utama dan komitmen terhadapnya dalam semua situasi dan kondisi. Jadi pejuang dakwah adalah sekaligus pemilik akhlaq yang utama karena ia memerankan teladan kokoh yang dinamis untuk dakwah Islam, dan Rabbaniyah juga mendorongnya untuk komitmen dengan akhlaq yang utama ini sebagai bentuk berbakti kepada Allah dan keteladanan kepada Rasulullah saw. yang telah bersabda, "Aku diutus untuk menyempurnakan kebaikan akhlaq." (h.r. Ahmad, 2/381).

Rasulullah saw. juga bersabda, "Tidak ada sesuatu yang diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlaq yang baik, dan sesungguhnya pemilik akhlaq yang baik benar-benar akan mencapai derajat (orang-orang yang mengerjakan) puasa dan shalat." (h.r. Tirmidzi, 4/319, no. 2003)

Dan dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. pernah ditanya tentang sesuatu yang sering memasukkan manusia ke dalam surga, beliau menjawab, "Taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik". dan pernah ditanya tentang sesuatu yang sering menjerumuskan manusia ke dalam neraka, lalu beliau menjawab, "Mulut dan kemaluan". (h.r. Tirmidzi, 4/319, no. 2004)

Gelombang kebudayaan materi dan peradaban kelezatan dan syahwat yang membunuh ini telah merusak akhlaq sebagian besar masyarakat, sehingga hampir yang ma'ruf menjadi munkar, yang munkar menjadi ma'ruf dan dusta, penipuan, suap, penghianatan terhadap janji dan kebutuhan akhlaq yang lain menjadi perkara yang lumrah dan mentradisi. Karena itu perlu sekali melakukan mujahadatun nafs dan menyuguhkan teladan yang benar bagi individu muslim sebagai pemilik akhlaq Islamiy yang teguh dan pemilik kemauan yang kuat, sehingga tidak merasa lemah dan kalah dalam menghadapi kebatilan dan tipu dayanya. sebagai individu yang bersifat lapang dada terhadap masyarakat dan para penentangnya, memaklum orang-orang yang mengusilinya, dan bersabar dalam menyeru manusia kepada Allah. Dan juga sebagai pemilik kesetiaan yang teguh sehingga tidak akan bersikap plinplan dan menipu. Serta sebagai pemilik pengorbanan paling mahal yang tidak pernah terhalangi oleh keserakahan dan kekikiran.

4. Wawasan Pemikiran

Di antara pilar-pilar individu muslim Rabbani di jalan dakwah, adalah hendaknya ia memiliki wawasan pemikiran yang luas, karena agama kita sangat menyerukan kita untuk menuntut ilmu dan pengetahuan. Jadi wajib bagi semua orang yang menyiapkan diri untuk memberi hidayah kepada umat manusia, hendaknya mereka memiliki wawasan pemikiran yang luas, komprehensif dan jernih sebagaimana pertama kali dibawa oleh Rasul saw., jauh dari parsialisme, penyimpangan atau kesalahan. Mereka hendaknya menjadi orang-orang yang berprestasi dalam berbagai bidang keilmuan dan berusaha mewarnai bidang-bidang keilmuan tersebut dengan warna Islam serta mendaya gunakannya untuk pemakmuran bumi dalam rangka memberikan pelayanan kepada umat manusia dan bukannya dalam rangka menghancurkan serta membinasakan mereka. Dan wajib juga bagi mereka untuk memiliki perhatian yang terus-menerus terhadap semua peristiwa dan konflik antar ideologi dan negara yang terjadi di dunia Islam maupun dunia internasional.

5. Kekuatan Fisik

Begitu juga termasuk pilar-pilar penting bagi pejuang dakwah dan prajurit aqidah, hendaknya ia memiliki fisik yang kuat dan sehat agar bisa menunaikan tuntutan-tuntutan perjuangan dan dakwah kepada Allah serta jihad di jalan Allah.

Islam menyerukan kepada kita untuk memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuh, Rasulullah saw. bersabda,

"Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari seorang mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan." (h.r. Muslim, 4/2053, no.2664)

Seorang mukmin Rabbani akan senantiasa menjaga tubuhnya dari segala hal yang akan merusak kesehatannya yang sudah banyak merebak di tengah masyarakat yang terbuai oleh gelombang materialisme.

6. Kemampuan Bekerja

Seorang pejuang dakwah Rabbani hendaknya mampu bekerja, berusaha, berproduksi dan tidak cenderung kepada kemalasan dan menjadi beban bagi orang lain, karena bekerja adalah kemuliaan dan ibadah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda,

"Tidak ada satupun makanan yang dimakan oleh seseorang, yang lebih baik daripada makanan dari hasil kerjanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud alaihi salam dulu makan dari hasil kerjanya sendiri." (Fathul Bari, 4/355, no. 2072)

Sebagaimana ibadah juga akan mendorongnya kepada profesionalisme kerjanya. "Sesungguhnya Allah menyukai bila salah seorang di antara kamu bekerja dan membagusi kerjanya." (Majma'uz Zawa'id, 4/10)

Wajib bagi kaum muslimin memiliki kemampuan ekonomi yang mandiri dan penguasaan berbagai sektor sehingga tidak tunduk kepada kebijakan negara lain terutama musuh-musuh mereka disebabkan adanya kekurangan di sektor tertentu atau kekurangan di bidang pangan ataupun persenjataan.

7. Berguna bagi Orang Lain

Di antara pilar-pilar individu muslim Rabbani adalah hendaknya ia berguna bagi orang lain, seperti pohon yang sedang berbuah yang akan memberikan buahnya kepada manusia, bahkan ketika mereka melemparinya dengan batu, ia membalas mereka dengan lemparan buah. Seorang pejuang dakwah hendaknya bisa menarik hati dan simpati orang lain sehingga bisa menerima agama yang haq yang diusungnya kepada umat manusia. Dan tidak diragukan lagi bahwa pemberian manfaat kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih itu akan memberikan pengaruh yang mendalam pada diri mereka dan bisa melicinkan jalan untuk menghantarkan dakwah, nasihat dan bimbingan menuju jalan Allah.

Pada prinsipnya, seorang pejuang dakwah beramal, berjuang, berikhtiar dan mencari kesyahidan dalam rangka menyuguhkan kebaikan yang besar berupa agama yang agung yang diredhai oleh Allah untuk menjadi agama bagi hamba-hamba-Nya, dan menjadi sumber kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat serta tanpa agama ini mereka akan mengalami kerugian yang besar,

"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi" (Ali Imran: 85)

8. Rapi dalam Semua Urusannya

Di antara pilar-pilar penting itu adalah hendaknya ia menjadi orang yang rapi dalam semua urusannya, karena misi besar yang membutuhkan upaya dan pengorbanan yang besar tidak akan terrealisir dengan sikap dan tindakan yang amburadul dan tidak rapi. Jadi seorang pejuang dakwah Rabbani hendaknya menjadi orang yang rapi dalam semua urusan dan kerjanya, rapi dalam urusan rumah tangga, kantor, waktu dan sektor keuangannya.

Dengan begitu ia akan bisa mengefisienkan waktu dan dananya serta memberikan sumbangsih dan aset dakwah, berbeda dengan sikap dan tindakan yang kacau dan tidak disiplin, yang hanya akan membuang banyak waktu, tenaga dan dana.

9. Perhatian terhadap Waktu

Di antara pilar asasi bagi pejuang dakwah adalah hendaknya ia menjadi orang yang memiliki perhatian terhadap waktunya, karena waktu adalah kehidupan sedang kewajiban-kewajiban itu jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Sungguh tujuan besar yang sedang kita perjuangkan untuk merealisasikannya yaitu penegakan daulah islamiyah alamiyah (negara Islam internasional) sangat membutuhkan upaya yang intensif dan pengorbanan yang besar dengan jiwa, waktu dan harta, serta transaksi yang menguntungkan dengan Allah.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (At-Taubah: 111)

Ia hendaknya menjadikan semua nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya seperti harta, tenaga, ilmu, waktu dan jiwa sebagai amanat yang harus dipersembahkan untuk dakwah tanpa sedikitpun keraguan dan tanpa menyia-nyiakan sebagian dari nikmat ini dengan melewati sebagian waktu tanpa mendayagunakannya untuk perjuangan di medan dakwah.

Sesungguhnya perjuangan di medan dakwah di berbagai bidang merupakan proyek investasi untuk nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Dan kami rasa sudah mencukupi bila memberikan sebuah contoh dari salah satu bidang amal di medan dakwah untuk memperjelas keuntungan besar yang akan kembali kepada kita yang berarti juga memperjelas nilai waktu bagi kita.

Di mana Rasul saw. bersabda,

"Demi Allah, bila seandainya Allah memberikan petunjuk kepada salah seorang dengan perantaraanmu, maka hal itu lebih baik bagimu dari seekor unta merah." (h.r. Muslim, 4/187, Kitab Fadha'il Shahabah)

Orang yang berbahagia adalah orang mendapat perkenaan dari Allah dan mendayagunakan waktunya dengan baik untuk hal-hal positif yang manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat yang seluas-luasnya.

Dan tidak diragukan lagi bahwa peneguhan agama Allah di muka bumi akan memberi kebaikan yang secara horizontal merata kepada umat manusia seluruhnya, dan secara vertikal mencakup generasi-generasi setelahnya. Dan orang yang menafkahkan harta dan semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah untuk perjuangan di medan-amal islami akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah, sebagaimana sabda Rasul saw.

"Barang siapa memberikan nafkah di jalan Allah, maka ditetapkan untuknya balasan tujuh ratus kali lipat" (h.r. Tirmidzi, 4/143, no.1625)

Dan sebaliknya kita melihat orang-orang yang didominasi oleh materialisme telah menghabiskan waktu, kesehatan dan harta mereka dalam kemaksiatan kepada Allah.

10. Melawan Nafsu

Di antara pilar-pilar pejuang dakwah Rabbani adalah hendaknya ia menjadi orang yang senantiasa melakukan mujahadatun nafs (perlawanan terhadap nafsunya). Karena nafsu manusia merupakan formulasi antara kecenderungan-kecenderungan baik dan jahat, sehingga untuk menjadikan pemiliknya komitmen terhadap ajaran-ajaran Islam dan petunjuknya, diperlukan upaya melawan hawa nafsu dan menundukkannya sehingga terbiasa menempuh jalan yang benar dan prilaku yang islami dalam semua aspek kehidupan serta menjauhkan diri dan berlari dari perilaku yang mengundang murka Allah. Benar sekali apa yang diungkapkan oleh seorang penyair,

"Nafsu itu ibarat bayi

bila dibiarkan, sampai besar ia akan terus menyusu

dan bila disapih akan bisa terhenti dari kebiasaan ini"

Dan kita mendapati seorang mukmin Rabbani sangat mudah untuk mendisiplinkan dirinya mengikuti tuntunan-tuntunan Islam dan adab-adabnya, karena ia memahami dengan sempurna bahwa dalam kebaikan itu terdapat semua kebaikan dan berharap mendapatkan pahala dan keridhaan dari Allah. Dan karena pemahaman inilah kita mendapatinya selalu melakukan perlawanan terhadap hawa nafsunya. Sedangkan orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya akan terjerumus dalam kebinasaan dan mengalami kerugian di dunia dan akhirat, serta kehilangan potensi Rabbani yang akan mencegah dan menghalanginya dari kemaksiatan kepada Allah.

PENGARUH RABBANIAH DALAM KEHIDUPAN MUSLIM

Jalan dakwah adalah jalan yang paling penting dan agung, untuk merealisasikan tujuan yang paling penting dan agung, yaitu peneguhan agama Allah di muka bumi dan menegakkan daulah dan khilafah-Nya. Di tengah perjalanan dakwah seringkali para aktifis dan jamaah dakwah mengalami berbagai kondisi, sikap dan perubahan yang sangat membutuhkan parameter-parameter Rabbaniah yang akan menuntunnya dan mengendalikan perjalanannya, dan tanpa parameter-parameter ini akan banyak terjadi kerancuan dan penyimpangan, perselisihan dan perpecahan, serta konflik dan kegagalan.

Oleh karena seorang muslim adalah sekaligus pejuang dakwah dan prajurit aqidah serta unsur asasi dalam konstruksi dan tahapan-tahapannya, maka ia harus menjadi seorang Rabbani yang sejati, baik pria maupun wanita untuk membangun keluarga muslim yang Rabbani dan membentuk masyarakat muslim yang Rabbani sebagai basis pemerintahan Islam yang menghantarkan kita pada tegaknya daulah dan khilafah atas izin Allah.

Hendaknya Rabbaniah ini mendominasi setiap individu muslim dalam semua aspek mehidupannya. Dan hendaknya pula Rasulullah saw. menjadi puncak keteladanan Rabbaniah baginya, lalu mewajibkan dirinya untuk komitmen dengan petunjuk Rasulullah saw. dan sunahnya. Bahkan do'a-do'anya dalam setiap urusan kehidupannya. Dan mewajibkan dirinya untuk komitmen dengan tuntunan-tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam pergaulannya dengan kedua orang tua, keluarga, tetangga, istri, dan anak-anaknya. Ia harus menjadi teladan yang baik bagi orang lain, dan menunaikan kewajiban untuk memerintahkan yang baik dan mencegah yang munkar dengan hikmah dan nasihat yang baik serta tidak takut menghadapi celaan orang-orang yang mencelanya.

Allah Ta'ala telah memuji umat Islam sebagai umat terbaik dengan karakteristiknya yang paling menonjol adalah memerintahkan yang baik dan mencegah yang munkar.

Berikut adalah transkripsi lengkap dari teks yang terdapat pada kedua halaman gambar tersebut (tanpa diringkas):

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110)

Pada saat yang sama Allah telah melaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Isa bin Maryam karena mereka ini tidak mau saling mencegah kemunkaran yang mereka lakukan. Dan di jalan dakwah ini juga harus ada ukhuwah dan itsar serta cinta karena Allah dan ikatan yang kuat antara para aktifis di medan dakwah.

Keimanan dan Rabbaniyah memiliki pengaruh yang efektif dalam mewujudkan dan memelihara serta me-lindungi sifat-sifat dan makna-makna yang luhur ini dari godaan setan melalui umpan-umpan materi atau yang lainnya. Maha Benar Allah yang berfirman,

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (At-Taubah: 71)

Dan Rasulullah saw. juga bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, kecintaan dan tolong menolong mereka adalah seperti perumpamaan satu tubuh, bila ada anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh juga akan ikut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur" (h.r. Muslim, 4/1999, no. 2586)

Para aktifis Rabbani di medan dakwah akan didorong oleh sifat Rabbaniyah mereka untuk mengeliminir semua perselisihan yang muncul di antara mereka dengan mengembalikan semua itu kepada Allah dan Rasul-Nya dan memurnikan loyalitas hanya kepada kebenaran dan bukan-nya kepada figur-figur tertentu yang memiliki kelebihan dan posisi di tengah mereka, apa lagi kepada ambisi pribadi mereka sendiri, serta menerapkan semua sifat kaum mukminin yang menggariskan hubungan antar sesama mereka. Seperti,

"Berkasih sayang sesama mereka." (Al-Fath: 29)

"Yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang mukmin." (Al-Ma'idah: 54)

"Saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran." (Al-Ashr: 3)

"Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (Ali Imran: 134)

"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu." (An-Nur: 22)

"Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (Ali Imran: 103)

Begitu juga yang disebutkan dalam hadits seputar makna ini seperti sabda Rasul saw.,

"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain" (h.r. Abu Daud, 4/281, no. 4918)

"Tidak akan sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya." (h.r. Muslim, 1/66, no. 45)

Dan masih lagi yang lainnya.

Seorang pejuang dakwah yang Rabbani akan bersabar, bertahan dan tetap teguh, menanggulangi berbagai kendala tanpa kemalasan dan penyimpangan, didorong oleh keimanannya dan keyakinannya kepada Allah serta kesungguhannya dalam meraih pahala dan kenikmatan dari Allah. Dan sebelumnya kami telah membahas pengaruh Rabbaniyah dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan.

Seorang pejuang dakwah yang Rabbani tidak akan pernah dirasuki keputusasaan betapa pun panjangnya jalan dakwah itu dan banyaknya kendala-kendala yang merintanginya serta besarnya kebatilan yang terwujud dalam kekuatan materinya, karena kebatilan itu pasti akan sirna, dan orang-orang mukmin yang rabbani akan memohon kekuatan dan pertolongan dari Allah,

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah." (An-Nisa': 76)

"Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya(iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan." (Al-Baqarah: 257)

Seorang mukmin yang Rabbani tidak akan melemah, tunduk dan menyerah dalam menghadapi kebatilan.

"Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146)

"Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan" (Luqman: 17)

Seorang pejuang dakwah yang Rabbani mengetahui bahwa jihad adalah kewajiban yang tetap akan berlanjut hingga hari kiamat untuk melawan serangan-serangan musuh Allah dan menyingkirkan berbagai rintangan yang menghalangi mereka dari penyebaran dakwah Allah kepada semua hamba Allah.

"Sehingga tiada lagi fitnah dan semua agama hanya menjadi milik Allah" (Al-Anfal: 39)

Karenanya, ia harus melakukan perniagaan yang menguntungkan bersama Allah.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (At-Taubah: 111)

Dan agar perniagaan yang menguntungkan ini bisa diraih, maka ia harus menyadari bahwa ia wajib menghiasi dirinya dengan sifat-sifat kaum mukminin. Kita berkewajiban untuk mengingatkan bahwa materi dalam kehidupan manusia itu memiliki daya tarik dan beban-beban yang akan menjadikannya cenderung kepada dunia dan kenikmatan hidup sehingga bila diseru untuk berjihad ia tidak akan mau menyambutnya. Dan di akhirat ia akan menghadapi siksa yang pedih dari Allah Ta'ala. Kiranya ayat-ayat berikut ini memberikan penjelasan yang gamblang tentang kondisi ini.

"Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah", kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemadharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (At-Taubah: 38-39)

Dan dahulu orang-orang munafik mengatakan, "Janganlah kamu berangkat (berperang) dalam panas terik ini. Katakanlah, "Api neraka Jahannam itu lebih sangat panasnya", jikalau mereka mengetahui." (At-Taubah: 81)

Sebaliknya, kita mendapati di antara orang-orang Rabbani ada yang bercucuran air mata kesedihan ketika ia tidak mendapatkan kendaraan yang akan membawanya untuk jihad dari Rasulullah saw.

"Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu". Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." (At-Taubah: 91-92)

Seorang mujahid Rabbani hendaknya mencari kesyahidan dan merindukannya. Rasul saw. bersabda,

"Barangsiapa memohon kesyahidan dengan tulus, ia akan diberi (pahala kesyahidan) meskipun tidak mengalaminya." (h.r. Muslim, 3/1517, no. 1908)

"Barang siapa memohon kepada Allah kesyahidan dengan tulus, maka Allah akan menyampaikannya ke posisi orang-orang yang syahid, meskipun ia mati di atas tempat tidurnya." (h.r. Muslim, 3/1517, no. 1909)

Dan bila materialisme telah mengalahkan Rabbaniah pada diri seseorang, maka kita akan mendapatinya lebih mencintai dunia dan membenci kematian. Berbeda sekali dengan seorang muslim yang Rabbani, di mana mati di jalan Allah merupakan cita-cita tertingginya.

Di sini kami ingin mengingatkan perkara yang sangat urgen, yaitu mengikhlaskan niat untuk Allah dan menjadikan tujuan jihadnya adalah untuk meninggikan kalimah Allah serta mengenal adab-adab perang dalam Islam dan hukum-hukumnya. Karena kaum muslimin itu orang-orang yang penyayang dalam jihad mereka sehingga mereka tidak akan melampaui batas, tidak berbuat jahat, tidak mencincang lawan, tidak menjarah, tidak merampas, dan tidak melanggar kehormatan dan hal-hal yang diharamkan. Mereka adalah orang-orang terbaik dalam peperangan sebagaimana mereka adalah orang-orang yang terbaik pada masa damai.

Seorang pejuang dakwah yang rabbani akan menafkahkan hartanya di jalan Allah, karena Rasul saw. menyerukan kita untuk melakukan hal itu dengan sabdanya,

"Barang siapa menafkahkan harta di jalan Allah, akan dicatat untuknya tujuh ratus kali lipat." (h.r. Tirmidzi, 4/143, no. 1625)

Dan orang-orang Rabbani dalam jihadnya akan menjadi teladan yang terbaik dalam keteguhan, kesabaran dan kesungguhan dalam menjaga persatuan serta menjauhkan diri dari perpecahan dan pertentangan yang manifestasi dari firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan, maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (Al-Anfal: 45-46)

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff: 4)

Para mujahid Rabbani tidak akan berkhianat dan akan selalu setia dengan perjanjian serta tidak akan mengalami demam kemenangan dan kekalahan sehingga membuatnya menghindar dari keadilan, memberangus hak-hak ataupun memperbudak manusia, di mana mereka mengembalikan kemenangan itu hanya kepada Allah dan bukan kepada diri mereka. Dan kita semua mengetahui ketawadhuan Rasulullah saw. ketika berhasil memasuki kota Makkah sebagai pemenang sebagaimana kita juga mengenal amnesti beliau terhadap orang-orang musyrik Makkah yang telah mengusir beliau keluar dari kota ini.

Dan seandainya kaum muslimin ditakdirkan mengalami kekalahan dalam perang karena satu atau lain sebab, maka mereka tidak akan menyerah karena kekalahan ini, tetapi mereka akan melanjutkan jihad tanpa pernah merasa lemah ataupun sedih serta menjadikan semua ini sebagai pelajaran agar di masa depan mereka bisa mengantisipasi faktor-faktor kekalahan ini.

Dan setelah kekalahan dalam perang Uhud, Allah menurunkan Al-Qur’an seputar makna ini,

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 139-142)

Inilah sebagian dari rambu-rambu bagi seorang pejuang dakwah dan prajurit aqidah dengan berbagai tahapan dan perkembangannya agar kita bisa komitmen terhadap semua ini seraya senantiasa memohon agar kita ini termasuk orang-orang yang layak untuk menjadi penolong dakwah-Nya dan peneguh agama-Nya.

Berikut transkripsi lengkap dari gambar, tanpa diringkas, dengan mempertahankan susunan isi, kutipan ayat, dan keterangan sumber sebagaimana tampak pada halaman 408–411.

MENIMBANG RABBANIAH DAN MATERIALISME DALAM TATARAN PERASAAN

Kebahagiaan orang-orang yang Rabbani adalah bila mereka melihat umat manusia meyakini aqidah yang selamat, pemikiran-pemikiran yang lurus sebagaimana yang mereka yakini. Mereka hanya ingin sekadar menjadi mediator-mediator yang mentransformasikan dan menerjemahkan aqidah dan pemikiran itu dari sumbernya yang jernih sebagaimana mereka sendiri mengambilnya dari sumber ini, sehingga mereka tidak akan melihat diri mereka sebagai orang yang paling berjasa, dan tidak pula mereka menunggu-nunggu balasan atau ucapan terima kasih dari orang lain. Karena ketika menyebarkan aqidah yang selamat ini, mereka meniatkannya sebagai ibadah kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya. Dan cukuplah sebagai suatu kebahagiaan, bila mereka merasakan bahwa mereka memiliki hubungan yang erat dengan sumber yang orisinil ini.

Seorang muslim Rabbani akan melihat kepada orang non muslim dengan pandangan iba dan bukan pandangan permusuhan, serta ia berharap agar Allah berkenan melapangkan dadanya untuk masuk Islam sehingga bisa bersamanya mendapatkan kebaikan yang besar, selamat dari kesesatan dan siksa Allah. Begitulah perasaan Rasul saw. terhadap mereka.

“Maka apakah barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).” (Al-Kahfi: 6)

Rasul saw. juga menganjurkan kepada kita untuk memberikan petunjuk kepada manusia dan menyelamatkan mereka dengan sabdanya:

“Demi Allah, bila seandainya Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantaraan kamu, maka hal itu lebih baik bagimu dari seekor unta merah.” (h.r. Muslim, 4/1872)

Sedangkan orang-orang yang materialis, maka mereka tidak akan pernah merasakan jenis kebahagiaan seperti ini. Karena parameter materialislah yang menggerakkan mereka, dan bila mereka menyebarkan ideologi-ideologi mereka, maka hal itu dengan motivasi materialis dan karena ambisi untuk meraih keuntungan-keuntungan pribadi, sehingga ketika semua itu tidak tercapai, maka semangat mereka akan pudar dan akan mengalami kekecewaan, dan minimal mereka mengharapkan balasan dan rasa terima kasih dari orang lain atas apa yang telah ia berikan kepada mereka.

Orang-orang materialis mempersepsikan bahwa perasaan manusia akan kelemahan dan ketidakmampuannya di masa dulu itu yang telah menjadikannya berlindung kepada tuhan agar menolongnya. Tetapi setelah manusia telah mampu menundukkan semua fasilitas materi yang modern, maka ia merasa telah memiliki kemampuan yang mencukupinya dan tidak perlu lagi berlindung kepada Tuhan.

Sebagian orang-orang materialis memandang bahwa pengakuan terhadap keagungan Allah akan mengurangi harkat seseorang sebagai manusia, seakan Allah dan manusia adalah dua sosok yang sebanding dan bersaing untuk membuktikan siapa yang paling besar dan kuat di dunia ini. Mereka ini telah terjerumus dalam kesalahan dan paham yang fatal ketika mengira bahwa dengan mengingkari wujud Tuhan, berarti telah meninggikan harkat mereka atau menurunkan eksistensi Tuhan dalam diri mereka.

Sedangkan dalam pandangan Rabbaniah, bila setiap kali kesadaran kita terhadap kebesaran Allah itu bertambah, maka akan bertambah pula kebesaran kita karena kita menyadari bahwa kita ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Besar.. Seorang Rabbani setiap kali kekuatannya bertambah, maka akan bertambah pula kesadarannya terhadap kebesaran Allah, karena ia menyadari bahwa Allah-lah sumber kekuatan ini.

Sesungguhnya orang-orang yang mengimani kebesaran Allah, tidak akan pernah merasa lemah, atau disia-siakan bahkan selalu merasakan kemuliaan dan kekuatan dengan bersandarnya mereka kepada Allah Yang Maha Kuat, Maha perkasa dan Penguasa alam ini. Mereka ini memiliki cadangan devisa kemuliaan dan kekuatan dalam iman mereka, yang tidak akan pernah didapatkan oleh mereka yang membesarkan diri mereka seperti balon, sehingga udara yang ditiupkannya ini menutupi kedua matanya sehingga tidak bisa melihat kebesaran alam yang sangat luas ini.

Ketika menyerukan pembebasan kemerdekaan, orang-orang materialis dan sekular itu bertujuan untuk melepaskan diri dari semua ikatan, semua tradisi dan kebudayaan, nilai-nilai dan tugas-tugas kemanusiaan. Ia adalah kemerdekaan yang palsu, karena kemerdekaan seperti ini berakhir kepada ketundukan dan penghambaan diri kepada naluri-naluri kebinatangan, kecenderungan-kecenderungan syahwati tanpa batasan, tanpa rasa malu atau pun harga diri. Ini adalah ketundukan dan kepasrahan kepada nafsu dan syahwat, sehingga manusia menjadi makhluk yang lebih dekat kepada binatang dibandingkan dengan manusia itu sendiri, bahkan bisa jadi sebagian binatang yang masih memiliki rasa malu daripada dia.

Rabbaniah menyeru kepada kemerdekaan, tetapi kemerdekaan dari ikatan kehinaan, kelemahan dan penindasan serta kebebasan dari semua ikatan kebinatangan yang memberatkan, dan menyeru kepada kemerdekaan yang menjadikan manusia sebagai manusia.

Sesungguhnya Rabbaniah menggariskan perjalanan dan sistem bagi manusia dalam menghadapi kebutuhan-kebutuhan kemanusiaannya, mengangkat dan mendidiknya serta tidak akan pernah memperkenankan dorongan-dorongan nafsu untuk mengalahkan dan mendiktenya dengan menata dan memperbaiki dorongan-dorongan ini. Sebagaimana rabbaniah juga tidak pernah memperkenankan perasaan hina, lemah, dan ketakutan itu menguasainya, tetapi justru melahirkan kemuliaan, kekuatan dan keberanian.

Sesungguhnya sisi Rabbani pada diri manusia akan menjadikan merasa bahagia dan bergembira ketika bisa memberikan kebahagiaan, keridhaan, harapan dan kegembiraan kepada orang lain.

Ini adalah kelezatan samawi yang mengagumkan yang dilahirkan oleh Rabbaniah dan membuahkan kasih sayang dan kecintaan untuk berbuat kebaikan bagi orang lain tanpa menunggu-nunggu balasan atau ucapan terima kasih,

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (Al-Insan: 8-9)

Mereka menyadari semua itu adalah keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada mereka dengan memperkenankan mereka untuk memberikan kebaikan ini kepada orang lain. Sedangkan orang-orang materialis, mereka tidak akan memberikan kebaikan kepada orang lain kecuali bila hal itu mendatangkan imbalan materi yang seimbang kepada mereka. Sebagaimana mereka selalu mengharapkan pujian dari orang lain dan bergembira sekali dengan pujian tersebut, bahkan kadang mereka berharap mendapatkan pujian untuk hal-hal yang sama sekali mereka tidak mengerjakannya.

Sesungguhnya seorang materialis yang hidup untuk dirinya sendiri, akan melihat kehidupan itu amat singkat dan sempit, yang bermula dari masa di mana ia bisa memahami dan berakhir dengan habisnya jatah umur yang sudah ditentukan untuknya, serta nilai kehidupan menurutnya sesuai dengan kadar kenikmatan duniawi yang telah diraihnya.

Sedangkan seorang Rabbani yang hidup untuk ideologinya, maka hidupnya akan tampak panjang dan berkesan, yang bermula sebagaimana manusia lain memulainya dan terus berlanjut hingga setelah ia bersemayam di perut bumi, ia memperoleh keuntungan yang berlipat ganda dari usianya yang terbatas, ketika ia menyadari bahwa perjuangannya adalah untuk ideologinya dan hasil perjuangannya akan terus hidup sepeninggalnya sampai suatu masa yang dikehendaki oleh Allah, dan ketika menyadari bahwa ia adalah mata rantai keilmuan dari para pendahulunya yang telah menghasung ideologi ini. Dan adakah di sana ideologi yang lebih luhur dari agama yang diridhai oleh Allah untuk menjadi agama bagi para hamba-Nya.

Sesungguhnya perjuangan untuk meneguhkan agama Allah di muka bumi dan menegakkan daulah serta khilafahnya akan memberikan pengaruh yang sangat luas yang secara horizontal akan mencakup semua umat manusia dan secara vertikal akan mencakup berbagai generasi yang datang setelahnya. Demikianlah, setiap orang yang berjuang di medan ini usianya akan berlipat ganda banyak sekali.

Oleh karenanya, kita mendapati Imam Syahid bertutur, “Jalan dakwah adalah jalan yang satu, yaitu jalan yang dulu ditempuh oleh Rasulullah saw. dan para sahabat, serta setelah itu ditempuh oleh para dai, dan kita — berkat taufik dari Allah— akan menempuh jalan ini dengan bekal iman, amal, cinta dan persaudaraan.” (Majmu’atur Rasa’il, Da’watuna fi Thaurin Jadid, 240)

Ketika Rabbaniah ini menguasai hati seorang muslim, maka akan menumbuhkan pada dirinya benih-benih cinta, kelemahlembutan dan kebaikan, sehingga ia bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa ada beban mental, perasaan berat hati dan sikap menjilat, tidak akan merasa dendam atau dengki kepada orang lain, dan tidak akan membiarkan kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi ia akan menghormati seseorang sesuai dengan kebaikan dan sifat-sifat kemuliaan yang ada pada dirinya dan menyadari bahwa itu adalah karunia dari Allah, ia akan bersikap lemah lembut terhadap kelemahan-kelemahan mereka dan tidak menyombongkan diri dihadapan mereka, tetapi justru menghadapi kesalahan mereka dengan pemberian maaf dan membalas keburukan mereka dengan kebaikan, tidak marah untuk kepentingan pribadinya, tetapi justru ia disibukkan oleh rasa ingin yang kuat dan tulus untuk membantu mereka agar bisa menjauhkan diri dari kekurangan dan kesalahan ini. Maha Benar Allah yang telah berfirman,

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fushshilat: 34-35)

Jadi memang benar, tidak akan sanggup untuk memiliki perilaku seperti ini kecuali orang-orang yang sabar dan orang-orang yang memiliki Rabbaniah dan ketinggian ruhiah yang besar.

Sedangkan orang-orang materialis, maka seringkali materi dan kecintaan mereka kepada materi ini menjerumuskan kepada kehinaan dan keserakahan untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan pribadi yang sifatnya materi, sebagaimana akan melahirkan pada diri mereka rasa dendam dan dengki terhadap orang-orang yang memiliki harta dan kedudukan. Mereka ini seringkali bersikap sombong terhadap orang yang berada di bawah mereka secara materi, dan tidak mau memulangkan apa saja yang dimilikinya kepada anugerah Allah, tetapi justru kepada kepandaian dan keahlian mereka. Sebagaimana mereka ini tidak memiliki kemampuan pada dirinya untuk membalas kejahatan dengan kebaikan atau kesanggupan untuk bersabar terhadap kesalahan orang lain.

Orang-orang Rabbani yang berinteraksi langsung dengan sumber Rabbaniah yang orisinil, dengan ketajaman mata hatinya akan mampu memahami kesatuan universal yang memiliki beragam warna di alam kehidupan manusia ini sehingga ia tidak pernah meremehkan apa pun yang ada di alam ini.

Mereka inilah para pemilik kekuatan-kekuatan ruhiah yang tinggi, membawa cahaya suci yang akan melebur semua ilmu dan pengetahuan dengan panasnya serta menerangi jalan menuju tujuan yang tinggi dan luhur. Setiap orang dari mereka dalam spesialisasinya berusaha mengabdikan diri dengan baik di kantor, laboratorium, ataupun di perusahaannya, menghibahkan hidupnya dengan penuh keikhlasan sebagaimana perasaan senang seorang hamba yang menghibahkan ruhnya kepada Tuhan dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Sedangkan orang-orang materialis yang menjauhkan diri dari sumber Rabbaniah yang orisinil ini, maka mata hati mereka menjadi tumpul sehingga mereka meyakini bahwa di sana ada kontradiksi antara berbagai kekuatan yang memiliki warna yang beragam ini, sehingga mereka ini memerangi ilmu dengan mengatasnamakan agama, memerangi agama dengan mengatasnamakan ilmu, melecehkan dinamisme yang positif dengan mengatasnamakan aqidah tasawuf, dan berbagai kerancuan serta kedangkalan lainnya. Mereka juga mempersepsikan bahwa setiap kekuatan dari kekuatan-kekuatan ini terpisahkan dari himpunan kekuatan lain yang masih terbit dari sumber yang sama dan dari kekuatan (Tuhan) yang menguasai alam raya ini.

Seorang Rabbani akan hidup selaras dengan alam dan makhluk Allah yang lain, karena ia konsisten dengan sistem yang telah digariskan oleh Allah untuknya dalam kehidupan dunia ini. Dan cita-cita yang luhur tidak akan pernah tumbuh kecuali pada hati yang diwarnai dengan Rabbaniah, dan hati seperti ini tidak akan mungkin menggunakan sarana-sarana yang kotor untuk mewujudkan cita-cita yang luhur ini, karena sarana-sarana yang kotor akan mengotori ruhani orang-orang yang menggunakannya.

Sesungguhnya seorang muslim Rabbani yang menjadikan Allah dan keridhaan-Nya sebagai tujuan akan senantiasa selektif dalam memilih sarana-sarana yang baik dan suci untuk mewujudkan tujuan ini, dan ia menyadari bahwa penggunaan sarana-sarana itu sendiri merupakan ibadah kepada Allah sehingga ia menghendaki agar ibadah ini luhur dan diterima.

Sedangkan orang-orang materialis, —karena tujuan mereka ini adalah materi dan seputar kepentingan-kepentingan pribadi— maka mereka tidak akan segan-segan menempuh dan menggunakan sarana apa saja yang bisa menghantarkan mereka kepada tujuan-tujuan mereka meskipun itu merupakan sarana yang kotor atau membahayakan orang lain. Dan secara umum bangsa Yahudi dan secara khusus zionisme merupakan contoh yang paling jelas untuk jenis orang-orang materialis yang meyakini ideologi Machiefeli yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Seorang Rabbani akan mengetahui bahwa semua persoalan ini berada di tangan Allah, lalu dia hanya melakukan ikhtiar-ikhtiar yang diperbolehkan tanpa menggantungkan nasibnya kepada ikhtiar-ikhtiar ini tetapi justru ia tetap bertawakal kepada Allah dan menyerahkan permasalahannya kepada Allah, kemudian setelah itu ia merelakan apa saja yang menjadi taqdir Allah disertai dengan keyakinan bahwa apa yang dipilihkan oleh Allah untuknya adalah yang terbaik meskipun tidak seperti yang ia harapkan, karena Allah lebih tahu apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya baginya.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Ath-Thalaq: 3)

Sedangkan seorang yang materialis, maka ia akan mengandalkan kekuatan materi yang dimilikinya untuk mewujudkan apa saja yang diingininya dan melakukan ikhtiar-ikhtiar tanpa memperhatikan parameter-parameter syar'i serta menisbatkan kepada dirinya sendiri keberhasilan yang telah diraihnya dan tidak mengembalikannya kepada karunia Allah.

"Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (Al-Qashash: 78)

Dan sebaliknya bila ia mengalami kegagalan maka ia akan merasa kecewa dan berputus asa, semua sarana materinya tidak akan mampu menolongnya sehingga seringkali kondisi seperti ini menjadikannya merasakan bahwa dunia ini sudah amat sempit dan jalan keluarnya adalah dengan bunuh diri.

SUDAH SAATNYA RABBANIAH MENEMPATI POSISI YANG SELAYAKNYA

Telah menjadi jelas bagi manusia apa yang ditimbulkan oleh materialisme dalam kehidupan mereka dari penderitaan dan kesengsaraan, serta penghancuran terhadap semua individu, keluarga dan masyarakat bahkan negara. Dan kesabaran manusia dalam menghadapi penderitaan dan kesengsaraan ini tidak akan bertahan lama, mereka harus mencari terapi dan upaya penyelamatan, dan mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dalam Islam agama yang haq dan sistem Rabbani yang meninggikan derajat umat manusia, menyerukan kasih sayang dan keadilan, memadukan antara tuntutan-tuntutan jasad dengan tuntutan-tuntutan ruhani, dan mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus.

Berkat karunia Allah kita bisa merasakan adanya perubahan ini di masyarakat Islam, di mana ada semangat yang luar biasa untuk memahami Islam dan komitmen dengan ajaran-ajarannya. Dan kebangkitan Islam yang kita saksikan pada diri pemuda dan pemudi kita dan tuntutan bangsa-bangsa Islam terhadap para penguasa mereka untuk menerapkan syariat Islam yang akan merealisasikan keamanan, kedamaian, kerjasama, kemerdekaan dan keadilan, merupakan bukti yang sangat baik untuk hal ini.

Begitulah, kita bisa merasakan adanya ruh yang dinamis dan kuat telah merambah dalam tubuh umat Islam agar bisa bangun dari tidur lelapnya dan bangkit dari keterpurukannya. Begitu juga kita melihat bangsa-bangsa yang dikuasai oleh pemerintahan komunis materialistis dan atheis mulai menggeliat bahkan membangkang dan menolak pemerintahan komunis, meskipun motivasi untuk semua ini sebagian karena faktor materi dan sebagian lain karena faktor spiritual seperti rendahnya taraf produksi yang mengakibatkan terpuruknya taraf perekonomian pada tingkat individu dan keluarga, begitu juga menyebabkan kehancuran, kesengsaraan dan hilangnya kebebasan.

Mereka (orang-orang komunis) dan dunia barat materialis pasti merasakan panasnya materi dan kehausan ruhani yang diakibatkan oleh kebingungan, kegelisahan dan kegoncangan jiwa serta kebobrokan yang disebabkan terpisahnya antara fisik dan ruhnya. Semua itu mengakibatkan kebobrokan moral, berbagai tindak penyimpangan dan kejahatan, diperparah lagi oleh krisis dan meningginya angka pengangguran dan lain sebagainya, disamping dampak-dampak buruk yang menghancurkan dari sistem riba.

Sudah menjadi kebiasaan musuh-musuh Islam ketika menduduki tanah air kaum muslimin dan setelah hengkangnya mereka dari tanah air kaum muslimin untuk melakukan pencemaran terhadap agama kita dan menempelkan tuduhan-tuduhan palsu terhadapnya dan terhadap para penyeru kepada Allah, dengan tujuan menjauhkan dan melemahkan dominasi agama di jiwa kaum muslimin. Tetapi berkat karunia Allah kemudian pengaruh gerakan-gerakan Islam dan para penyeru kepada Allah, Islam telah bangkit melawan tipu daya dan invasi ini. Dan seakan tubuh Islam telah bangkit melawan tipu daya dan invasi ini. Dan seakan tubuh telah bangkit melawan tipu daya dan invasi ini. Dan seakan tubuh telah mengaliri tubuh umat Islam dan pengaruh-pengaruh gerakan materialis ini sedikit demi sedikit mulai surut tergeser oleh Rabbaniyah dan semangat keagamaan. Dan hati kita dan hati orang-orang Islam yang telah dipenuhi dengan harapan yang besar akan dukungan Allah terhadap perjuangan ini sehingga dunia bisa kembali damai dan Islami serta kembali bergema di seluruh penjuru dunia lantunan do'a.

"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (Al-A'raf: 43)

Hal ini sedikitpun bukan sesuatu khayalan, tetapi merupakan sejarah yang valid. Dan Maha Benar Allah yang berfirman,

"Mereka ingin hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci." (Ash-Shaff: 8-9)

Imam Syahid Hasan Al-Banna telah mengukuhkan harapan yang ini dengan penuturannya, "Sesungguhnya kami benar-benar tidak putus asa terhadap diri kami. Bahkan kami berharap akan memberi banyak kebaikan. Kami percaya bahwa tabir yang memisahkan antara kami dan keberhasilan hanyalah keputusasaan. Jika harapan itu kuat dalam diri kita maka dengan izin Allah kita akan mencapai banyak kebaikan. Itulah sebabnya kami tidak pernah putus asa, dan keputusasaan takkan pernah sanggup merasuki hati kami. Segala puji bagi Allah untuk keyakinan kami itu."

Walaupun banyak orang yang pesimis, kami tetap percaya bahwa semua yang ada di sekeliling kita memberi isyarat kegembiraan. Bila anda menjenguk seseorang yang sedang sakit, lalu anda menemukan bahwa perlahan bicaranya berubah menjadi diam, geraknya perlahan terhenti, anda akan merasa kondisinya makin memburuk dan akhir hidupnya takkan lama lagi. Tapi sebaliknya jika dari diam ia mulai bicara, geraknya tampak makin lincah, anda tentu yakin orang itu sudah mendekati kesembuhannya. Ada suatu masa di mana bangsa-bangsa timur digerogoti oleh kejumudan, sampai kemudian membeku dan kebekuan itu sendiri merasa bosan; atau dilanda oleh kemandegan, sampai kemandegan itu benci padanya. Tapi kini ia telah terbangun dan menggeliat dalam semua sisi kehidupannya dengan semangat membara penuh gelora. Kalau bukan karena terpecahnya beban di satu sisi dan rancunya kepemimpinan di sisi lain, tentulah kebangunan akan memberi pengaruh yang sangat kuat lagi indah.

Tapi belenggu itu tak selamanya jadi belenggu. Zaman akan berputar, dan dalam sekejap mata dari jenak kebangunannya Allah akan mengubah suatu kenyataan menjadi kenyataan yang lain. Orang yang sesat takkan selamanya sesat, sebab setelah kesesatan itu selalu ada petunjuk, setelah kekacauan itu selalu ada ketenteraman. Hanya di tangan Allah –sebelum dan sesudah itu semua– segala urusan ditentukan.

Itulah sebabnya, kami tak pernah mau pesimis. Ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah saw. tentang pendidikan dan pembangunan umat menjelang kehancurannya, kisah-kisah kehancuran dan kebangunan umat-umat terdahulu yang banyak tertera di dalamnya, semua itu telah mengajak kami untuk senantiasa memiliki harapan yang besar, dan menunjukkan kepada kami jalan lurus menuju kebangkitan". Inilah yang dituturkan oleh Imam Syahid sejak puluhan tahun yang lalu dan dari hari ke hari semakin terbukti kebenarannya.

Setelah penuturan yang panjang ini, beliau memaparkan kisah Musa dan kaumnya melawan Fir’aun, dan bagaimana Allah enggan berkehendak melainkan untuk memenangkan orang-orang yang teraniaya dan membangkitkan orang-orang yang tertindas dari kalangan orang-orang yang lemah. Sehingga tiba-tiba saja kebatilan materialis itu runtuh sampai ke akar-akarnya dan bangunan kebenaran menjadi tegak berdiri dengan kokoh dan para pembelanya yang menjadi pemenang.

Umat Islam sekarang ini lebih menggelora dan lebih sadar dari sebelumnya, dan kebangkitan Islam yang dinamis dan kukuh di tengah pemuda dan pemudi muslim adalah sebaik-baik bukti atas semua itu. Begitu juga antusiasme para pemuda untuk kembali ke masjid, menunaikan kewajiban haji, fenomena jilbab yang merebak di banyak negeri dan tergesernya gaya hidup tabarruj, penolakan bangsa-bangsa terhadap prinsip-prinsip sekuler, pengangkatan slogan Islam adalah solusi, respon positif dari rakyat pemilih terhadap seruan kembali kepada Islam setiap kali diadakan pemilihan umum di semua negara Islam, dan banyak dari partai-partai sekuler yang menjanjikan penerapan syariat Islam untuk meraih suara para pemilih ini karena mereka menyadari besarnya jumlah suara yang menyambut seruan ini.

Dan di antara hal yang amat menggelikan, adalah kita mendapati Najibullah pemimpin pemerintahan komunis di Afghanistan sampai ikut memperingati hari maulid Nabi saw. untuk mengelabui bangsa Afghanistan yang muslim, setelah ia dan para penguasa sebelumnya menyebabkan invasi Rusia dan gugurnya sekitar satu setengah juta jiwa, lebih dari lima juta penduduknya terpaksa menjadi pengungsi, disamping lagi para penyandang cacat, anak-anak yatim dan janda-janda miskin, setelah para petinggi di Rusia mengakui bahwa invasi mereka ke Afghanistan merupakan kesalahan yang besar.

Dan herannya, kita mendapati di negara-negara Islam masih ada sebagian orang yang memegang teguh prinsip-prinsip komunisme yang destruktif ini, setelah para pencetusnya sendiri berlepas diri dari prinsip komunisme ini karena kegagalannya.

Bukankah telah tiba saatnya bagi para pemikir dan ilmuwan agar mereka melihat umat manusia sedang terpanggang dengan api materialisme, untuk bekerja sama dengan para aktivis di medan dakwah islamiyah menunaikan tugas para Rasul untuk menyeru manusia menuju iman kepada Allah dan hari akhir, beribadah kepada-Nya dan komitmen dengan ajaran agama-Nya yang diridhai untuk menjadi agama hamba-hamba-Nya, yang mengangkat harkat manusia dan menyelaraskan antara tuntutan jasad dengan tuntutan-tuntutan ruhani, memadukan antara kehidupan yang baik di dunia dengan kebahagiaan dan kenikmatan akhirat.

Wahai para ilmuwan dan pemikir, marilah kita menyeru semua manusia untuk mengenal pencipta mereka, pencipta alam ini, yang melimpahkan nikmat yang tidak terhitung ini kepada kita, kita menyeru mereka untuk mengetahui misi mereka dalam hidup ini dan penyebab mereka dari kesatuan asasi mereka sehingga menyebabkan mereka terhempas dalam materialisme dan kelalaian mereka seperti binatang yang lebih sesat bahkan mereka ini lebih sesat.

Marilah wahai orang-orang yang masih memiliki nurani kita membebaskan manusia dari daya tarik dunia, kesenangan hidup dunia fana yang mendominasi mereka dan melalaikan mereka dari akhirat dan kenikmatan yang abadi.

Marilah kita menyeru mereka untuk mengagungkan Allah dan mensucikan-Nya, memuji dan menyanjung-Nya, dan keinginan untuk mendapatkan pahala dan kenikmatan-Nya. Marilah kita membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesembahan selain Allah, agar mereka menyembah Allah semata tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Kita bebaskan mereka dari kehancuran dan kegoncangan jiwa sehingga mendapatkan keimanan, ketenangan dan kedamaian yang akan memenuhi jiwa mereka. Kita menyeru mereka untuk bekerja sama dan saling kasih sayang antar sesama mereka, menggantikan suasana perang dan kehancuran, pembumihangusan sawah ladang dan keturunan. Kita menyeru mereka untuk menanggalkan keburukan dan semua akhlag yang tercela serta menghiasi diri mereka dengan keutamaan dan semua akhlak yang baik.

Marilah wahai para ilmuwan dan pemikir kita memberikan sumbangsih kepada dakwah agar Rabbaniah kembali menempati posisi yang selayaknya dan agar materialisme menjadi surut sampai akhirnya hilang dari permukaan dengan izin Allah "Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya." (Yusuf: 21)

MENUJU TERAPI YANG MUJARAB DARI SEMUA PENYAKIT-PENYAKIT MATERIALISME

Telah nampak dengan jelas berbagai penyakit di semua lapisan masyarakat kita yang ditinggalkan oleh kebudayaan materialistis dan peradaban hedonistis, dan nampak dengan jelas pula apa yang ditimbulkannya dari penghancuran terhadap individu dan keluarga, kebobrokan nilai-nilai dan moral Islam serta parameter Rabbani, tersebarnya berbagai bentuk kerusakan. Di mana menjadi wajib bagi pemikir yang memiliki ghirah untuk mencari terapi yang mujarab bagi mendiagnosa penyakit ini.

Oleh karena kelemahan iman menjadi faktor yang menghantarkan kepada kondisi yang mengenaskan ini, maka menjadi sesuatu aksiomatik bila kita mengkonsentrasikan terapi ini pada upaya pembangunan iman dalam jiwa lalu membersihkannya dari semua penyakit ini sehingga kita bisa menemukan individu muslim yang teladan, keluarga muslim yang teladan, kemudian masyarakat muslim yang teladan. Dan di sini kami akan memaparkan hakikat iman dan bagaimana iman bisa menterapi dan mengobati hati dan jiwa dari berbagai penyakit ini.

Pada hakikatnya iman bagi manusia adalah kehidupan dan tanpa iman ia menjadi seperti mayit. Allah berfirman,

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (Al-An’am: 122)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (Al-Anfal: 24)

Iman melahirkan pada diri pemiliknya makna-makna kekuatan dan ketenangan, keyakinan kepada Allah dan kedamaian berada di sisi-Nya, serta harapan akan mendapatkan pertolongan Allah dan pembelaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman serta mengalahkan tipu daya orang-orang dzalim terhadap mereka. Allah berfirman,

“Kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (Al-Munafiqun: 8)

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (Al-Hajj: 38)

Iman akan membangkitkan pada diri orang mukmin potensi-potensi yang akan mendorong pemiliknya untuk berjihad, berkorban, bersabar, bertahan, beramal kebaikan, dan membantunya dalam melintasi berbagai kendala, betapapun panjang jalan yang harus ditempuhnya dan betapa pun banyaknya kendala yang harus dihadapi. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Ali Imran: 200)

Iman mewujudkan ketenangan dan kedamaian jiwa, serta menjauhkan orang yang beriman dari kegelisahan, kebingungan, kesedihan dan keusaran serta kegoncangan jiwa. Allah berfirman,

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al-Hajj: 31)

Iman akan menerangi jalan bagi pemiliknya sehingga bisa terbimbing menuju jalan yang lurus dan terjauh dari penyimpangan. Allah berfirman,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (Al-An’am: 153)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hadid: 28)

Iman akan menjaga orang yang beriman dari keterpurukan ke jalan yang haram atau pun syubhat, karena iman akan melahirkan pada pemiliknya ketakutan kepada Allah, merasa diawasi oleh Allah dan kekhawatiran terhadap siksa Allah. Sebagaimana iman juga akan melahirkan keikhlasan kepada Allah, menyucikan niat dari segala yang mengotorinya, menyembuhkan pemiliknya dari penyakit-penyakit yang merusak keikhlasan seperti riya, sombong, bangga diri, ambisi kepada kedudukan dan popularitas.

Iman akan membersihkan pemiliknya dari penyakit-penyakit seperti individualis dan egois, dendam, dengki, tradisi jahiliyah, fanatisme kesukuan dan kebangsaan, serta berbagai konflik dan permusuhan yang seringkali diakibatkan oleh semua ini.

Iman menjaga pemiliknya dari kemaksiatan, dosa-dosa besar dan keseronokan, mencegahnya dari tindakan mengganggu orang lain dengan mencela, mengghibah, adu domba ataupun bentuk-bentuk gangguan lainnya. Iman juga akan menyeru kepada kedermawanan dengan sesama warga masyarakat, meskipun agama mereka berbeda. Allah berfirman,

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu.” (Al-Mumtahanah: 8)

Menyerukan untuk berbuat adil dan berinteraksi dengan baik kepada orang-orang kafir yang hidup di negeri kita, “Bagi mereka hak dan kewajiban seperti hak dan kewajiban kita”. Sehingga tidak menyeru kepada perpecahan rasial dan tidak pula kepada fanatisme kelompok.

Iman akan memberikan kepada pemiliknya semua etika yang mulia seperti kelembutan, pengendalian amarah, sifat mudah memaafkan saudara yang mengganggunya, dan membela diri dengan cara yang terbaik. Di samping itu iman juga akan memberikan kepada pemiliknya keutamaan tawadhu’.

Iman akan mendorong pemiliknya untuk berbakti kepada ibu bapak dan sanak kerabat, silaturahim, pemuliaan tamu, berbuat baik kepada tetangga, bersikap lemah lembut kepada anak-anak yatim dan memberi infak kepada orang-orang miskin.

Iman akan membuahkan kecintaan, kasih sayang, sikap itsar sesama kaum mukminin dan mencegah dari perpecahan dan permusuhan. Allah swt. berfirman,

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (At-Taubah: 71)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)

Dalam hadits Rasul saw. bersabda,

“Kamu tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak akan beriman sehingga kamu saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya kamu akan menjadi saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu.” (h.r. Muslim, 1/74, no. 54)

Allah swt. berfirman,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekali pun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu) Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)

Iman akan mendorong untuk memperhatikan urusan kaum muslimin dan problematika mereka serta membela mereka. Rasul saw. bersabda,

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kecintaan, kasih sayang dan tolong menolong mereka adalah seperti satu tubuh, bila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(h.r. Muslim)

Iman akan menguatkan azam seorang mukmin dan menghilangkan pengaruh sikap inferior dan pengecut serta perasaan lemah, mencegah dari ketakutan kepada selain Allah, dan menyerukan kepada sikap tawakal yang baik kepada Allah. Allah berfirman,

“Yaitu orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya itu tidak lain hanyalah setan—yang menakut-nakuti kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 173-175)

Iman akan meluruskan parameter-parameter materialistis seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai konsentrasinya yang terbesar dan puncak pengetahuannya, dan ia bisa menahan diri dari daya tarik dunia yang akan menjadikannya merasa cenderung kepadanya. Sehingga ketika diseru untuk berjihad, ia pun menyambutnya dan menjadikan kesyahidan di jalan Allah sebagai cita-cita tertinggi, di mana ia telah mendayagunakan semua nikmat dari Allah seperti harta, tenaga, ilmu dan jiwa untuk jihad di jalan Allah, dan menjadikan harta hanya berada di tangannya dan bukannya di dalam hatinya sehingga dengan ringan ia bisa menafkahkannya di jalan Allah.

Iman akan menjaga pemiliknya dari sikap pengecut, mudah menyerah dan lemah terutama bila sedang mengalami kekalahan dalam menghadapi musuh. Allah swt. berfirman,

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lemah dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya jika kamu orang yang beriman).” (Ali Imran: 139)

Mempersenjatai diri dengan keimanan merupakan faktor asasi realisasi janji Allah yang akan memenangkan dan meneguhkan hamba-Nya yang beriman, dan termasuk dalam upaya-upaya menyiapkan kekuatan. Allah berfirman,

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Rum: 47)

“Dan orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan taghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (An-Nisa’: 76)

Iman akan membuahkan kecintaan kepada tanah air dan menyeru kepada kerja yang produktif dan profesional, untuk mengangkat harkat negara dan mewujudkan kemandirian, dan mendorong kepada pendayagunaan waktu dengan baik untuk melakukan aktivitas yang berguna dan bermanfaat, serta memfungsikan semua yang dimiliki untuk mengupayakan sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan kemanfaatan bagi manusia.

Iman dan taqwa akan mendatangkan rezeki yang halal dan baik. Allah berfirman,

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Iman akan melahirkan kesabaran dan keridhaan, serta keyakinan akan keadilan Allah dan bahwasanya Dia tidak akan pernah lalai terhadap tindakan orang-orang yang dzalim dan bahwasanya Dia senantiasa mengintai mereka. Allah swt. berfirman,

“Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.” (Ibrahim: 42)

Begitu juga seorang mukmin akan ridha kepada qadha’ dan qadar Allah meski pun nampak bahwa hal itu merupakan ketentuan yang buruk. Allah berfirman,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu; padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Keimanan ini bila telah mendominasi suami dan isteri, maka akan mewujudkan kecintaan dan kasih sayang serta kebahagiaan berumah tangga yang hakiki bagi mereka berdua, sehingga mereka bisa membangun keluarga muslim teladan dan tumbuhlah dalam suasana Rabbani ini keturunan yang shalih.

Iman akan mengecam pemiliknya dari sikap sok berani berfatwa tanpa landasan ilmu, mewajibkan kepada pemiliknya bersikap wara’, menjaga diri dari sikap merasa paling pandai, melibatkan diri dalam pembahasan seputar syariat Allah tanpa memiliki dalil, di mana seringkali sebagian pemuda yang terlibat aktif dalam perjuangan islami terlibat dalam masalah ini.

Iman akan memahamkan pemiliknya apa yang menjadi tuntutan dari tabiat fase yang dilalui dakwah Islam; yaitu pentingnya upaya untuk menegakkan daulah dan khilafah Islamiyah, dan pentingnya sikap saling menolong dan kerja sama dengan para pejuang yang tulus lainnya untuk merealisasikan tujuan yang besar ini. Allah berfirman:

"Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama itu hanyalah untuk Allah semata." (QS. Al-Anfal: 39)

Iman akan mendorong pemiliknya untuk setia dengan bai'at-nya dan tidak sembrono dalam menunaikan konsekuensi bai'at-nya atau membatalkannya betapa pun panjang dan banyaknya kendala yang menghalangi jalannya. Allah berfirman:

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya. Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab: 23-24)

Iman merupakan syarat untuk menyempurnakan perniagaan yang menguntungkan dengan Allah.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah: 111)

Iman dan taqwa akan menjaga seorang mukmin dari godaan setan. Allah berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (QS. Al-A'raf: 201)

Iman akan mewujudkan kebahagiaan dan kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan serta keselamatan dari api neraka di akhirat. Allah berfirman:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadamu kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar." (QS. Al-Buruj: 11)

Iman akan menjadikan pemiliknya senantiasa bersama Allah, dan barangsiapa yang Allah selalu bersamanya maka tidak akan kehilangan sesuatu pun, dan barangsiapa yang Allah menjauhkan diri darinya, maka ia hanya akan menemukan kesia-siaan dan kesesatan. Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl: 128)

"Dan bahwasanya Allah bersama orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anfal: 19)

Begitulah, kita melihat pengaruh iman dan terapinya untuk berbagai penyakit dan keganjilan yang diakibatkan oleh materialisme. Dan apa yang telah kami sebutkan ini sama sekali tidak bermaksud membatasi, karenanya kita harus bersegera menuju keimanan yang tulus, amal shalih dan rabbaniyyah.

MARI MEMPERBAHARUI IMAN KITA

Setelah mengetahui peran iman dan pengaruhnya yang sangat agung dalam kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat, dan mengingat pula bahwa iman adalah terapi yang mujarab bagi semua penyakit yang ditinggalkan oleh materialisme ini, maka sudah sewajibnya kita mengingat kembali beberapa faktor yang bisa kita andalkan untuk mengukuhkan dan memperbaharui keimanan kita, sehingga kita bisa terpelihara dari berbagai fitnah dan penyimpangan. Begitu juga agar kita bisa merealisasikan faktor-faktor ini dengan penuh tekad dan kesungguhan seraya memohon kepada Allah agar memberi kepada kita keimanan yang teguh dan mengukuhkan kaki-kaki kita untuk tetap melangkah di jalan-Nya.

Pada hakikatnya, sumber-sumber bekal yang bisa menguatkan keimanan kita itu amat banyak, tetapi kami akan menjelaskan sebagian saja secara singkat, dan yang patut kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa mengambil bekal ini dari sumber-sumber yang tiada akan pernah kering.

Sumber yang paling penting bahkan paling asasi adalah Al-Qur'an al-Karim, di mana Allah telah menyifatinya dalam Al-Qur'an sendiri bahwasanya ia adalah petunjuk, cahaya, rahmat, nasihat, dzikir, dan obat hati serta bahwasanya ia menunjukkan kepada jalan yang paling lurus dan berbagai sifat lainnya. Sesungguhnya membaca Al-Qur'an dan mendengarkannya dengan penuh tadabbur akan menambah keimanan sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)

“Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik, (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Oleh karena itu, kulit orang yang takut kepada Tuhannya gemetar. Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah tidak ada yang dapat memberi petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 23)

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus: 57)

Kemudian kita mendapati Al-Qur'an membahas masalah iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, para Rasul, dan takdir, mengemukakan dalil-dalilnya dengan gaya bahasa mudah, logis, dan meyakinkan, serta deskripsi yang tepat dan mudah dipahami oleh orang yang ingin mencari petunjuk. Allah berfirman:

"Dan Sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar: 17)

Jadi yang diwajibkan bagi kita adalah mempersiapkan perangkat penerima[*], yaitu hati, dengan menghilangkan segala penutup atau noda yang bisa menghalanginya, sehingga cahaya dan hikmah Al-Qur'an bisa meresapi hati kita agar menjadi terpengaruh dan semakin kuat keimanannya. Allah berfirman:

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad: 24)

"Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Begitulah, kita mendapati Al-Qur'an memberikan perhatian dan bimbingannya kepada kita dalam semua aspek dan urusan kita, agar kita bisa menapaki jalan kebenaran yang diridhai oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.

Al-Qur'an menjelaskan kepada kita salah satu sumber penting dari sumber-sumber pembaharuan iman; yaitu memikirkan ciptaan Allah, agar kita bisa mengenal keagungan dan kekuasaan Allah sehingga hal itu akan memantulkan pengagungan, penyucian, dan pemujaan kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Firman-Nya:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran: 190-191)

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS. Al-Ghasyiyah: 17-20)

Kita juga wajib memikirkan diri kita dan apa yang diciptakan di dalam tubuh kita seperti akal dan berbagai organ yang sangat rumit dan bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan tepat dan rapi. Allah berfirman:

"Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat: 21)

Ilmu pengetahuan modern secara beruntun telah menyingkap rahasia-rahasia yang menakjubkan di ruang angkasa, di dunia binatang, burung dan serangga, serta di dunia tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati. Allah berfirman, "Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sesembahan-sesembahanmu selain Allah" (Luqman:11)

Memikirkan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita yang sangat banyak dan tidak terhitung. Firman-Nya, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya" (Ibrahim:34), agar kita bisa menghargai keutamaan Allah yang telah dianugerahkan kepada kita dan mengetahui kebutuhan kita kepada-Nya, sehingga kita bisa memuliakan Allah dengan sebenar-benarnya dan menunaikan kewajiban syukur kepada-Nya, di mana tingkatan tertinggi dari syukur ini adalah kita harus menggunakan nikmat-nikmat itu untuk ketaatan kepada Allah dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Dan di sini kami akan memaparkan kiat-kiat untuk teguh terhadap nikmat-nikmat Allah yang diharapkan bisa memberikan pengaruh yang efektif dalam jiwa kita. Yaitu dengan kita membayangkan keadaan orang yang terkena musibah pada matanya sehingga tidak bisa melihat, kemudian kita membayangkan perubahan-perubahan yang akan dialaminya dalam kehidupan, kemudian kita membayangkan juga setelah itu ia kehilangan pendengarannya di samping kehilangan penglihatannya, seakan ia berada dalam sebuah sel yang gelap gulita, tidak bisa melihat dan mendengar orang lain, sehingga mehitung kehidupannya akan semakin sulit sekali. Kemudian setelah itu kita membayangkan ia juga kehilangan kemampuan berbicara, sehingga ia tidak bisa melihat, mendengar dan berbicara. Cobalah kita bayangkan wahai saudara pembaca yang budiman kondisi orang seperti itu yang tidak bisa menyampaikan apa yang dia harapkan kepada orang lain sebagaimana orang lain juga tidak bisa mengungkapkan apa yang diinginkan darinya. Sungguh alangkah naasnya kehidupan tanpa ketiga nikmat dari nikmat-nikmat Allah yang tiada terhitung ini yang di antaranya adalah nikmat akal.

Memikirkan kehidupan ghaib yang menanti kita: dari waktu sekarang ini sampai kematian yang datang secara tiba-tiba, kemudian kehidupan di kubur, kebangkitan, perhitungan amal, titian, surga dan neraka. Di mana banyak manusia telah disibukkan oleh dunia dan materi sehingga lupa memikirkan masa depan dan kehidupan yang hakiki bagi mereka. Allah berfirman, "Pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, "Alangkah baiknya kiranya dulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini" (Al-Fajr:23-24). Sungguh memikirkan semua ini akan memperkuat keimanan kepada hari akhir dan masa depan yang tiada pernah berakhir, mendorongnya untuk mempersiapkan diri dengan amal shalih dan menjauhkan diri dari kemaksiatan terhadap Allah serta pentingnya kesiapan bertemu Allah di setiap waktu. Di mana seringkali keluarga atau orang di antara kita pada pagi harinya sedang berada di tengah keluarganya, kita harus beramal agar kelak kubur kita menjadi salah satu taman dari taman-taman surga dan kita termasuk penghuni surga. Yang demikian itu bisa kita wujudkan dengan mendayagunakan semua waktu kita dan semua nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita untuk beramal kebajikan dan meraih ridha Allah.

Di antara yang bisa menguatkan keimanan adalah penghayatan terhadap sirah Nabawiyah dan berbagai peristiwa serta sikap keimanan dari Rasulullah saw. dan para sahabat untuk kita ambil sebagai teladan. Sungguh banyak sekali sikap-sikap keimanan itu yang di antaranya adalah pengorbanan Ali ra. ketika tidur di tempat tidur Nabi saw. pada malam birah menggantikan beliau untuk memperdayakan musuh, keyakinan Rasul saw. akan perlindungan Allah Yang Maha Suci kepada dirinya dan Abu Bakar yang saat itu berada dalam gua sedang orang-orang musyrik berada di pintu gua, beliau hanya berkata kepada Abu Bakar, "Mengapa engkau bersedih terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah, (Janganlah engkau bersedih sesungguhnya Allah bersama kita)" (At -Taubah:40). Begitu juga contoh-contoh yang sangat mengagumkan dalam kesabaran terhadap gangguan dan penyiksaan orang-orang musyrik meskipun hal itu sampai mengantarkan kepada kesyahidan sebagaimana yang dialami oleh Yasir dan Sumayyah ra. serta apa yang telah dialami oleh Bilal dan sahabat yang lainnya. Dan sirah ini juga kita bisa mengetahui buah keimanan yang tercermin dalam cinta dan ukhuwah yang telah membuahkan sikap isar antara kaum Anshar dan Muhajirin, begitu juga sikap-sikap keteguhan, jihad dan pengorbanan serta kecintaan untuk meraih kesyahidan di jalan Allah. Sebagaimana kita mendapati dalam sirah ini sikap-sikap keimanan yang kokoh dari wanita-wanita muslimah seperti Asma' bintu Abu Bakar, Khadijah istri Rasul saw., Nusaibah binti Ka'ab, Sumayyah istri Yasir dan masih banyak lagi sahabiah yang lain. Dan oleh karena sirah adalah aplikasi yang pertama untuk Islam pada masa Rasul saw. dan masa turunnya wahyu, maka akan kita dapati di dalamnya banyak bekal yang akan membantu kita dalam menempuh perjalanan dakwah dan mengatasi berbagai rintangannya.

Di antara faktor-faktor pembaharu dan penguat iman adalah penunaian keempat kewajiban ibadah, yaitu shalat, puasa, zakat dan haji. Di mana bila kita menunaikan keempat ibadah ini tepat pada waktunya dengan diiringi kehadiran hati, maka semua itu akan membekali kita dengan kekuatan iman yang baru dan meningkatkan bekal ketaqwaan, "Hai manusia sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa" (Al-Baqarah:21), Firman-Nya, "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar" (Al-Ankabut:45). Firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" (Al-Baqarah:183). Dan di tengah-tengah ayat-ayat haji terdapat perintah-Nya, "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa" (Al-Baqarah:197). Jadi kita harus menyelami rahasia-rahasia ibadah ini dan tidak hanya mengetahui dhahirnya saja. Di mana shalat bila kita tunaikan dengan sungguh-sungguh disertai kehadiran hati akan memberikan kekuatan diri kita minimal lima kali bekal keimanan yang baru. Begitu pula dengan bulan suci Ramadhan yang penuh dengan limpahan bekal rohani. Juga dengan zakat akan menyucikan dan membersihkan jiwa kita. Firman-Nya, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka" (At -Taubah:103). Sedangkan kewajiban haji memiliki pengaruh spiritual yang tinggi yang akan menyucikan pelakunya dari seluruh dosa dan mengembalikannya kepada kesucian seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. Setiap kewajiban dari keempat kewajiban ini memiliki dampak-dampak tarbawiyah yang sangat penting dan wajib bagi pembentukan kepribadian muslim teladan.

Di antara sumber-sumber bekal yang penting adalah tahajjud dan qiyamul lail khususnya di waktu sahur di keheningan malam pada saat manusia terlelap dalam tidur, jauh dari penerangan, keributan dan riya', di mana hati akan menjadi jernih, dan ruhani akan menjadi bersih, sehingga manusia ber-munajat kepada Allah dengan dzikir, do'a, tasbih, istighfar, rukuk dan sujud. Dalam suasana yang khusyu' ini seorang mukmin mengetuk pintu Sang Maha Pemurah lagi Maha Suci untuk memohon Nya lalu Dia-pun mengabulkannya. Ia mengetuk pintu dengan rukuk-rukuk yang khusyu', sujud-sujud yang tunduk, do'a-do'a yang tulus, dan dengan air mata yang deras mengucur karena takut kepada Allah serta dengan membaca kalam-Nya yang suci. Dan Allah telah mengarahkan Rasul-Nya untuk melakukan qiyamul lail agar siap mengemban beban-beban yang amat berat. Firman-Nya, "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah untuk shalat di malam hari, kecuali sedikit darinya, (yaitu) seperduanya atau kuranglah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat" (Al-Muzzammil:1-5). Dan di antara sifat-sifat orang-orang beriman sebagaimana dalam firman-Nya, "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah" (Adz-Dzariyat:17-18). Firman-Nya, "Dan orang yang melalui malam hari lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan-nya dengan rasa takut dan harap" (As-Sajdah:16). Dan dalam hadits Rasul saw., "Sesungguhnya di malam hari terdapat suatu waktu yang tidak ada seorang muslim yang bertepatan berdoa memohon kepada Allah kebaikan di dunia dan akhirat pada waktu itu melainkan Allah akan mengabulkannya, dan hal ini terdapat di setiap malam" (Muslim/1/521/no.757). Alangkah butuhnya kita untuk berdoa pada waktu-waktu ini demi dakwah dunia agar mendapatkan kemenangan dan keteguhan.

Di antara sumber-sumber bekal yang baru adalah mengikuti sunah Rasulullah saw. dalam semua aspek kehidupan kita. Di mana dengan mengikuti sunah Rasulullah saw. kita bisa meningkatkan jiwa kita baik dalam tataran ruhani maupun perilaku dengan meneladani apa yang bisa diteladani dari kehidupan Rasul saw. yang sangat istimewa dan penuh dengan ketinggian ruhani dan kekuatan iman. Di samping akan menjadikan diri kita mampu menghayati kehidupan kita dengan penuh kesadaran dan ingatan akan Allah dan nikmat-nikmat-Nya yang dianugerahkan kepada kita dalam setiap keadaan kita, di mana Rasulullah saw. telah mengajarkan do'a doa ketika makan, minum, tidur, bangun dari tidur, ketika memakai pakaian dan melepaskannya, ketika masuk dan keluar dari kamar kecil, serta keadaan yang lainnya, sehingga kita bisa menjalankan semua aktivitas ini seraya mengingat karunia Allah dan rahmat-Nya dan kita tidak melakukannya dalam keadaan lalai sehingga diiringi oleh setan.

Di antara faktor-faktor yang memperbaharui keimanan adalah istiqamah dalam dzikrullah, di mana orang yang berdzikir akan selalu bersama Allah dan Allah selalu bersamanya, dan barangsiapa yang Allah selalu bersamanya maka ia akan merasakan kedamaian dan ketenangan serta kebahagiaan ruhani. Allah berfirman, "Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (Ar-Ra'd:28). Dan berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang), Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman" (Al-Ahzab:41-43). Dan berfirman, "Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring". (Ali Imran:191). Barangsiapa yang istiqamah dalam berdzikir menyebut nama Allah, maka ia tidak akan termasuk kedalam golongan orang-orang yang lalai dan setan juga akan menjauh darinya. Ketika berdzikir mengiringi dzikrullah dengan do'a, maka berarti kita bisa memiliki hubungan dan keterikatan kita dengan Allah, kesadaran akan kelemahan dan kebutuhan kita kepada Allah Yang Maha Kaya, Maha Kuat, Maha Memaksa, lagi Maha Memberi rezeki yang ditangan-Nya segala permasalahan dan Dia Maha Kuasa atas segalanya. Do'a ini harus dilakukan dengan penuh ketundukan, kehinaan diri dan keyakinan kepada Allah. Dia berfirman: "Dan Tuhanmu berfirman, "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu". (Ghafir: 60) Dan berfirman, "Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut". (Al-A'raf: 55). Jadi do'a adalah inti ibadah dan berpaling dari do'a ini adalah suatu bentuk kedurhakaan dan kesombongan.

Di antara faktor-faktor yang memperkuat dan memperbaharui keimanan adalah berteman dengan orang-orang shalih, di mana dengan pertemanan ini akan terealisir sikap saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, terwujud pemberian peringatan yang bermanfaat bagi orang-orang beriman, dan terwujud pula sikap tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan. Sebagaimana iman akan mendorong kepada amal shalih, begitu juga sebaliknya, amal shalih ini akan mengukuhkan iman dan menancapkannya dalam jiwa.

Di sana masih banyak lagi faktor-faktor dan sarana-sarana untuk menguatkan dan memperbaharui keimanan, di antaranya adalah ketulusan niat dan kesungguhan dalam mewujudkan semua itu. Maha Benar Allah yang telah berfirman, "Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik". (Al-'Ankabut:69). Dia berfirman, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan yang menyeru kepada iman, (yaitu), "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perataan Rasul-Rasul Engkau. Dan janganlah, Engkau hinakan kami di hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji". Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya dengan berfirman: "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, karena sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain". (Ali Imran:193-195) Sangatlah patut bagi kita untuk mengetahui sejauh mana ketulusan iman kita, dengan bercermin kepada sifat-sifat kaum mukminin yang disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya, agar kita bisa mengetahui sejauh mana kesesuaian kita dengan sifat-sifat itu, sehingga kita bisa memuji Allah dan memohon tambahan atau beristighfar kepada-Nya dan beramal serta berusaha untuk menguasai keadaan sebelum hilangnya kesempatan.

Dan akhir do'a kita adalah alhamdulillahillahi rabbil 'alamin.

 


Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat