Sifat Islam
Shifatul Islam (Julukan Islam)
Karena
kekhasannya, dinul Islam memiliki beberapa shifat (julukan atau ciri) yang
dinisbatkan kepadanya.
Pertama,
Islam disebut sebagai ad-dinul kamil (agama yang sempurna).
Tentang
kesempurnaan Islam telah digambarkan dalam pembahasan sebelumnya (lihat madah:
Syumuliyatul Islam dan Khashaishul Islam), juga akan dibahas di madah setelah
ini, Thabi’atul Islam. Namun jika kita simpulkan, kesempurnaan Islam ini paling
tidak mencakup dua komponen pokok: aqidah dan syariah.
Aqidah
Islam adalah aqidah yang sempurna. Ia adalah aqidah yang bersifat tsabitah
(pasti, tetap, stabil, kokoh, mantap, mapan, permanen, tidak berubah). Allah
Ta’ala berfirman,
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا
كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
٢٤ تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ٢٥
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana
Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik,
akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya
pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan
itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim, 14: 24-25)
Aqidah
Islam bersifat pasti, tetap, stabil, kokoh, mantap, mapan, permanen, tidak
berubah -dari sejak masa nabi dan rasul pertama diutus kepada manusia sampai
saat ini- Intisarinya adalah, kalimat la ilaha illa-Llah (tiada sesembahan
selain Allah).
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ
اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ ٢٥
“Dan Kami
tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya:
‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu
sekalian akan Aku’”. (QS. Al-Anbiya, 21: 25)
Maka,
jika ada agama yang dinisbatkan kepada para rasul, namun aqidahnya menyimpang
dari aqidah tauhid ini -bisa dipastikan agama tersebut pastilah agama yang
batil dan telah menyimpang-. Oleh karena itulah Islam menolak ajaran trinitas
yang dianut oleh kaum nasrani,
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ
وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ
مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗ ۚ اَلْقٰىهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ
ۖفَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا
لَّكُمْ ۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗ سُبْحٰنَهٗٓ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌ
ۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا ࣖ
١٧١
“Wahai
Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu
mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa
putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya
yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka
berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan
: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu.
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak,
segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi
Pemelihara.” (QS. An-Nisa, 4: 171).
Islam
pun menolak pengakuan keimanan orang-orang Yahudi yang mendakwa mencintai dan
beriman kepada Allah Ta’ala, tetapi tidak mau ber-ittiba’ (mengikuti) Rasul
terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman
tentang sikap orang-orang Yahudi ini,
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ
يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
٣١
“Katakanlah:
‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Ali Imran, 3: 31).
Jadi,
aqidah Islam itu tidak terpengaruh situasi dan kondisi; tidak tercampur pikiran
manusia; tidak akan berubah sepanjang masa. Ajaran iman kepada Allah, malaikat,
para rasul, kitab-kitab dan hari akhir tidak akan pernah berubah.
*****
Berikutnya
mengenai komponen syariah. Syariah Islam adalah syariah yang sempurna.
Kesempurnaannya terletak pada karakternya yang unik, yakni mencakup sisi yang
bersifat tsabitah (pasti, tetap, stabil, kokoh, mantap, mapan, permanen, tidak
berubah), dan mencakup sisi yang bersifat murunah (lentur, luwes, dan
fleksibel).
Mengenai
hal ini, Syaikh Yusuf Qaradhawy mengatakan: “Sistem Islam mampu menyatukan
keduanya dalam sebuah kombinasi yang menakjubkan dan meletakkan keduanya pada
kedudukannya masing-masing. Tsabat di dalam persoalan yang memang harus
lestari, sementara murunah di dalam hal yang memang harus berubah dan
berkembang. Karakteristik ini hanya ada dalam risalah Islamiyah dan tidak akan
terdapat dalam agama atau karya manusia yang lainnya.”
Dalam
hal ke-tsabat-an dan ke-murunah-an syariat Islam, lanjut Syaikh Qaradhawi, kita
dapat memberikan batasan sebagai berikut.
Tsabat
dalam hal sasaran dan tujuan, sementara murunah dalam hal sarana (wasilah) dan
cara/teknik (uslub). Tsabat dalam hal kaidah-kaidah fundamental (pokok),
sementara murunah dalam furu’ dan masalah-masalah juz’iyyat
(bagian-bagian/cabang). Tsabat dalam hal nilai-nilai din dan akhlak, sementara
murunah dalam hal-hal keduniaan dan ilmu.[1]
Dalam
kitab Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim mengatakan bahwa hukum itu ada dua macam:
(1) Hukum yang tidak akan berubah, baik oleh zaman, tempat dan oleh ijtihad
imam. Seperti wajibnya perkara yang wajib, haramnya perkara yang haram dan
hudud yang sudah ditetapkan terhadap masalah-masalah kriminal. Ini semua tidak
mungkin dapat berubah dan tidak ada ijtihad yang mampu menentangnya, (2) Hukum
yang dapat berubah karena tuntutan maslahat, baik yang berkenaan dengan waktu,
tempat dan situasi. Seperti jenis dan kadar ta’zir (hukuman terhadap perilaku
kriminal yang tidak diebutkan jenis hukumannya oleh syariat. Dalam hal ini
Allah Ta’ala memberikan keluasan sesuai maslahat. Guna memperjelas pembahasan
ini, Penyusun sebutkan contoh-contoh karakter tsabat dan murunah dalam syariat
Islam melalui bagan (lihat lampiran).
Kedua,
Islam disebut sebagai dinun ni’mah (agama yang membawa kebaikan, keberkahan,
dan anugerah).
Islam
membawa kebaikan, keberkahan, dan anugerah kepada hal-hal yang aqliyan
(berhubungan dengan akal). Maksudnya, risalah Islam yang rasional ini apabila
difahami dengan baik tentu akan membawa pengaruh kepada perkembangan akal
pikiran, kepandaian, dan intelektual manusia.
Interaksi
yang utuh dengan risalah ini akan membentuk manusia-manusia yang cerdik pandai.
Bagaimana tidak, bukankah Islam memerintahkan manusia untuk selalu melakukan
aktivitas dzikir dan fikir?
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal..” (QS. Ali Imran, 3: 190)
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا
وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
(yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): ‘Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha
suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran, 3:
191).
Dalam
pembahasan madah Ilmullah (dalam kajian madah Ma’rifatullah, Ebook Ushulul
Islam, Bag. 1), kita sudah mengetahui bahwa Allah Ta’ala melalui ayat-ayat-Nya,
senantiasa mengarahkan manusia untuk membaca dan memperhatikan alam semesta
ini.
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ
عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
“Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran qalam (alat tulis). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.” (QS. Al-Alaq, 96: 1-5)
Ayat-ayat
qauliyah yang diturunkan Allah Ta’ala merangsang jiwa dan akal fikiran manusia
agar selalu berfikir dan terus berfikir. Perhatikan ayat-ayat berikut ini,
وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ
فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًا ۗوَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ
اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
٣
“Dan Dia-lah Tuhan yang
membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan
menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam
kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar-Ra’du, 13: 3)
وَفِى الْاَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّجَنّٰتٌ
مِّنْ اَعْنَابٍ وَّزَرْعٌ وَّنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَّغَيْرُ صِنْوَانٍ يُّسْقٰى بِمَاۤءٍ
وَّاحِدٍۙ وَّنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُكُلِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ
لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ ٤
“Dan di bumi ini terdapat
bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan
pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang
sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain
tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ra’du, 13: 4)
Silahkan
simak pula ayat-ayat lainnya. Al-Qur’an surat Fathir, 35: 27-28 yang
menyebutkan anjuran kepada manusia untuk memperhatikan hujan yang menumbuhkan
aneka buah-buahan, memperhatikan gunung-gunung dengan aneka bebatuannya,
memperhatikan macam-macam jenis binatang. Berikutnya dalam sura Yasin, 36:
71-73 yang menganjurkan manusia untuk memperhatikan binatang ternak yang
ditundukkan kepada manusia sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tunggangan,
sumber makanan atau minuman.
Jadi,
interaksi yang benar dengan ajaran Islam akan menggiring manusia kepada
ilmullah yang terangkum dalam ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah.
*****
Berikutnya,
Islam juga membawa kebaikan, keberkahan, dan anugerah kepada hal-hal yang
berkaitan dengan fithratan (kefitrahan). Maksudnya, risalah Islam itu membawa
pengaruh yang baik bagi pembentukan sifat, karakter, serta naluri manusia yang
pada dasarnya selalu cenderung kepada kebaikan. Hal ini akan diulas di poin
keempat, insya Allah.
Berikutnya,
Islam juga membawa kebaikan, keberkahan, dan anugerah kepada hal-hal yang
berkaitan dengan ‘adatan (adat kebiasaan, tata krama, serta hal-hal yang normal
dan lazim) dalam kehidupan manusia. Maksudnya, Islam itu mewarnai kebiasaan,
adat istiadat, dan perilaku sosial manusia ke arah yang benar. Islam juga
menghargai kebiasaan, adat istiadat, dan perilaku sosial manusia yang tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip nilai kebenaran.
Diantara
contoh pewarnaan Islam terhadap kebiasaan, adat istiadat, dan perilaku sosial
manusia adalah perintah berkerudung bagi kaum wanita. Allah Ta’ala berfirman,
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ
وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ
اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ
اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ
اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ
اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ
الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ
بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى
اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٣١
“Katakanlah kepada orang laki–laki
yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya
Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang
beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya,
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka,
atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki
mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam,
atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh,
wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’” (QS. An-Nur, 24:31)
Ketika
turun ayat ini, para wanita muslimah saat itu pun bersegera melaksanakannya
sebagaimana kesaksian Aisyah radhiyallahu ‘anha,
لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ
الْآيَةُ { وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ } أَخَذْنَ
أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
“Tatkala
turun ayat: ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.’. Maka
mereka (wanita Anshar) langsung mengambil sarung-sarung mereka dan menyobeknya
dari bagian bawah lalu menjadikannya sebagai kerudung mereka.” (HR. Bukhari No.
4387)
Sedangkan
perintah berjilbab disebutkan dalam Firman-Nya,
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ
وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ
ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
٥٩
“Wahai Nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin,
‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !’ Yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak
di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab,
33:59)
Kewajiban
syariat berkerudung dan berjilbab ini kemudian menjadi kebiasaan, adat
istiadat, dan perilaku sosial yang melekat kepada wanita muslimah dimana pun
mereka berada.
*****
Selanjutnya,
diantara contoh penghargaan Islam terhadap kebiasaan, adat istiadat, dan
perilaku sosial manusia yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip nilai
kebenaran dan syariat adalah penghargaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam terhadap hiburan. Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha pernah
mengantar mempelai wanita ke tempat mempelai pria dari kalangan Anshar.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا عَائِشَةُ، مَا
كَانَ مَعَكُمْ لَهْوٌ؟ فَإِنَّ اْلأَنْصَارَ يُعْجِبُهُمُ اللَّهْوُ
“Wahai
‘Aisyah, apakah ada hiburan yang menyertai kalian? Sebab, orang-orang Anshar
suka kepada hiburan.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari [no. 5162], al-Hakim
[II/183-184], al-Baihaqi [VII/288] dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [no.
2267]).
Jadi,
Islam tidak melarang dan tidak menghapuskan kebiasaan, adat istiadat, dan
perilaku sosial manusia selama hal itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai
syariah. Islam akan turun tangan memberikan arahan serta koreksi, jika kebiasaan, adat istiadat, dan perilaku
sosial itu telah menyimpang dari nilai-nilai aqidah dan syariah. Dalam konteks
nyanyian misalnya, Islam mengarahkan agar nyanyian tersebut tidak tercampuri
oleh syair-syair yang buruk. Ar Rubai’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha
berkata,
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَبِيحَةَ عُرْسِي وَعِنْدِي
جَارِيَتَانِ يَتَغَنَّيَتَانِ وَتَنْدُبَانِ آبَائِي الَّذِينَ قُتِلُوا يَوْمَ
بَدْرٍ وَتَقُولَانِ فِيمَا تَقُولَانِ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ
فَقَالَ أَمَّا هَذَا فَلَا تَقُولُوهُ مَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ
“Di hari
pernikahanku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumahku di saat
hari masih pagi, sementara di sisiku ada dua orang budak wanita yang sedang
memukul rebana dan bernyanyi memuji bapak-bapak kami yang gugur pada perang
badar, hingga mereka mengucapkan apa yang mereka ucapkan (dalam nyanyiannya),
‘Padahal di sisi kami ada Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa
yang akan datang.’ Maka beliau pun bersabda: ‘Adapun (syair nyanyian) yang ini,
jangan kalian ucapkan, sebab tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa
datang selain Allah.’” (HR. Ibnu Majah Nomor 1887)
Contoh
penghargaan Islam kepada kebiasaan, adat istiadat, dan perilaku sosial suatu
masyarakat, juga terungkap dari hadits Anas bin Malik, ia berkata,
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى رَهْطٍ أَوْ
أُنَاسٍ مِنْ الْأَعَاجِمِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُمْ لَا يَقْبَلُونَ كِتَابًا
إِلَّا عَلَيْهِ خَاتَمٌ فَاتَّخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَكَأَنِّي بِوَبِيصِ
أَوْ بِبَصِيصِ الْخَاتَمِ فِي إِصْبَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَوْ فِي كَفِّهِ
“Bahwasanya
Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak menulis surat kepada pemuka kaum
atau sekelompok orang asing, lantas diberitahukan kepada beliau; ‘Sesungguhnya
mereka tidak akan menerima surat Anda kecuali jika surat tersebut dibubuhi
stempel, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat stempel (cincin) dari
perak yang diukir dengan tulisan ‘Muhammad Rasulullah’, seolah-olah saya
melihat kilauan atau kilatan cincin berada di jari tangan Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam atau di telapak tangan beliau.’” (HR. Bukhari No. 5423).
Dengan
demikian, agar kebiasaan, adat istiadat, tata krama, dan perilaku sosial kita
mengarah kepada nilai-nilai kebenaran, sangat penting bagi kita untuk mengikuti
tuntunan risalah Islam. Al-Islamu hajatuna, Islam adalah kebutuhan kita.
Ketiga,
Islam disebut sebagai dinur ridha (agama keridhaan).
Maksudnya,
Islam adalah agama yang mengajarkan keridhaan, kerelaan, dan penerimaan
terhadap tuntunan Allah Ta’ala yang diajarkan oleh rasul-Nya berupa dinul
Islam. Dengan kata lain ar-ridha adalah tumbuhnya al-i’tinaq (kepercayaan) dan
al-iltizam (komitmen) yang kuat kepada Allah, Islam, dan Rasul-Nya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَاقَ طَعْمَ
الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ
رَسُولًا
“Akan merasakan kelezatan iman, orang yang
ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul” (HR
Muslim).
Dengan
sikap seperti itulah seseorang akan mendapatkan iqbalullah (penyambutan dari
Allah Ta’ala), penyambutan dari kerajaan langit dalam keadaan radhiyatan
(ridha) dan mardhiyatan (diridhai),
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ
٢٧ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ ٢٨ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ
٢٩ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ٣٠
“Hai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai;
lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr, 89: 27-30)
Keempat,
Islam disebut sebagai dinul fithrah (agama kefitrahan).
Maksudnya,
Islam adalah agama yang musayaratul fithrah (selaras dengan fitrah, sifat,
watak dasar, karakter, dan naluri manusia). Islam melakukan muhafadzatan
(penjagaan), ri’ayatan (pemeliharaan), tanmiyatan (pengembangan), dan taujihan
(pengarahan) terhadap fitrah ini agar menjadikan dinul Islam sebagai
wijhah-nya. Dengan demikian ia akan senantiasa terjaga di atas fitrahnya yang
murni; cenderung kepada kebenaran dan kepatuhan kepada Allah Ta’ala,
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ
فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ
ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ٣٠
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)
agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum, 30:
30)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلا أُحَدِّثُكُمْ
بِمَا حَدَّثَنِي اللَّهُ فِي الْكِتَابِ ، أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ وَبَنِيهِ
حُنَفَاءَ مُسْلِمِينَ ، وَأَعْطَاهُمُ الْمَالَ حَلالا لا حَرَامَ فِيهِ ،
فَجَعَلُوا مِمَّا أَعْطَاهُمُ اللَّهُ حَلالا وَحَرَامًا
“Apakah
kamu suka aku menceritakan kepadamu apa yang telah diceritakan Allah kepadaku
dalam Kitab-Nya? Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dan anak cucunya
cenderung kepada kebenaran dan patuh kepada Allah. Allah memberi mereka harta
yang halal tidak yang haram. Lalu mereka menjadikan harta yang diberikan kepada
mereka itu menjadi halal dan haram.” (H.R. Iyad bin Himar)
Seluruh
sebutan terhadap Islam ini menegaskan bahwa Islam adalah dinul quwwah, yakni
agama yang kuat, solid, teguh, tegas,
berenergi, mulia, tinggi, hebat,
tak terkalahkan, kokoh, unggul, dan tangguh.
Wallahu
a’lam.
Lampiran:
Bagan:
Contoh Karakter Tsabat dan Murunah Ajaran Islam
|
Tsabat |
Murunah |
|
Islam memerintahkan musyawarah (42: 38,
3: 159) |
Teknis musyawarah tidak diatur dan
diserahkan kepada kaum muslimin. |
|
Islam memerintahkan untuk menghukumi
manusia secara adil (4: 58, 5: 49) |
Bentuk dan teknis pengadilan tidak
ditentukan. Hakim tunggal atau kolektif? Berjenjang atau terpusat? Perlukah
pemisahan pengadilan pidana dan perdata? |
|
Islam melarang menjadikan orang-orang
kafir menjadi wali (3: 28) |
Pengecualian dalam situasi darurat (3:
28, 16: 106, 4: 148) |
|
Islam mengharamkan bangkai, darah, daging
babi, dll (5: 3) |
Pengecualian dalam situasi darurat (5: 3,
2: 173) |
|
Islam melarang melakukan penghancuran dan
perusakan (7: 56, 11: 85) |
Pengecualian saat perang berusaha
menghancurkan musuh (59: 5) |
|
Dalam sirah nabawiyah kita temukan sikap
tsabat Rasulullah: (1) Rasulullah diperintahkan menolak tawaran negosiasi
kafir Quraisy dalam hal saling menyembah sesembahan masing-masing (109: 1 –
6); (2) Rasulullah menolak tawaran kesenangan dunia agar menghentikan dakwah;
(3) Rasulullah menolak syarat kabilah Bani Amir bin Sha’sha’ah yang siap
masuk Islam dan membela beliau tapi dengan catatan mereka harus diberi
kekuasaan setelah itu; (4) Rasulullah menolak negosiasi Musailamah Al-Kadzab
yang ingin membagi wilayah kekuasaan dengan beliau. |
Dalam sirah nabawiyah kita temukan sikap
murunah Rasulullah: (1) Dalam perang khandaq beliau sempat bermaksud
memberikan sejumlah hasil panen kurma Madinah kepada Bani Ghatafan agar
mereka keluar dari barisan pasukan Ahzab; (2) Rasulullah mengizinkan Nu’aim
bin Mas’ud Al-Asyja’i untuk melakukan tipu muslihat (kebohongan) guna memecah
belah antara Quraisy dan Yahudi dalam perang Ahzab; (3) Dalam perjanjian
Hudaibiyah, Rasulullah menerima berbagai syarat ‘yang menyakitkan’ bagi
muslimin karena pandangannya yang jauh ke depan; (4) Dalam perjanjian itu
Rasulullah juga menyetujui penghapusan kata Bismillahirrahmanirrahim dan
Muhammad Rasulullah yang tertulis dalam naskah. |
|
Rasulullah tegas dalam menetapkan hukuman
bagi wanita Bani Makhzum yang mencuri. |
Rasulullah pernah melarang penerapan
hukum potong tangan pada saat peperangan, karena dikhawatirkan pencuri itu
akan lari dan bergabung dengan musuh. |
|
Rasulullah keras dan tegas dalam
melaksanakan perkara-perkara fardhu seperti shalat, zakat, puasa dan yang
lainnya. |
Rasulullah mengajarkan rukhshoh dalam
masalah shalat dan puasa, seperti ketika sakit, bepergian, salah, lupa, dan
suasana terpaksa, dll. Membolehkan qashar, jama’ dalam shalat; membolehkan
tayamum. |
|
Rasulullah menolak syarat seorang wanita
yang membuat ketentuan sendiri yang bertentangan dengan syariat agar bisa
membebaskan anaknya dari hukuman rajam (lihat haditsnya di madah Wadhifatur
Rasul, point tentang tugas rasul untuk menjelaskan kaifiyat ibadah). |
Rasulullah membolehkan syarat yang
ditentukan diantara dua pihak yang tidak bertentangan dengan nash atau kaidah
syara’. Rasulullah bersabda, الصُّلْحُ
جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلاَّ صُلْحًا حَرّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ
حَرَامًا “Perjanjian
dengan sesama muslimin itu diperbolehkan kecuali perjanjian yang menghalalkan
suatu yang haram atau mengharamkan suatu yang halal. Dan kaum Muslimin harus
memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang
mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram.” |
Catatan
Kaki:
[1]
Khashaisul Islam, terjemah Rofi’ Munawwar, hal. 242
Sumber:
https://risalah.id/shifatul-islam/
Comments
Post a Comment