Ash-Shibghah wal Inqilab (Celupan dan Perubahan)
Sinopsis
Syahaadatain yang terdiri dari syahaadah Laa ilaaha illa
Allah dan Muhammad Rasulullah
mesti diucapkan, diyakini dan diamalkan
dengan baik. Ucapan Laa ilaaha illa Allaah menjadikan pengabdian hanya kepada Allah
SWT saja. Sikap kita kepada syahaadah
uluhiyah ini adalah ikhlas
menerima dan meng-amalkan. Sedangkan
Muhammad Rasulullah dijadikan sebagai
contoh yang hasanah dan dijadikan sebagai ikutan kita. Syahaadatain mesti didasari kepada mahabbah
(cinta) yang kemudian menghasilkan ridha kepada setiap
yang disuruhnya. Dari cinta
dan ridha ini muncul iman yang kemudian
akan mewarnai diri kita dan sekaligus merubah diri kita dari segi I'tiqadi,
fikri, syu'uuri dan suluki sehingga muncul pribadi muslim yang mempunyai nilai di sisi Allah.
Asy-Syahaadatain (Dua
Kalimat Syahadat)
Dua kalimat syahaadah merupakan keyakinan yang tertanam di lubuk hati setiap muslim.
Tidak sekadar keluar dari mulut saja tetapi
menuntut bukti dalam amal perbuatan. la terdiri dari dua
bahagian yaitu pengakuan bahwa tiada ilah selain Allah SWT dan pengakuan bahwa Muhammad
Rasulullah. Iman bukan merupakan angan-angan
tetapi menuntut perbuatan yang mencerminkan nilai-nilai iman tersebut. Nilai iman adalah nilai kalimat syahadatain yang
perlu tegak dan diamalkan secara
baik dengan menjadikan satusatunya ilah hanya
Allah saja. Allah SWT membenci orang
yang beriman hanya dengan mulutnya saja. Karena Al Quran menyuruh orang yang beriman agar beramal shaleh bahkan ciri keimanan seseorang adalah beramal shaleh. Iman selalu
dituntut beramal shaleh. Orang mukmin sejati memiliki interaksi yang kuat
dengan kitabullah sehingga mengamalkan Islam yang berdasarkan Al Quran yang dipahaminya. Di antara ahli kitab yang sungguh-sungguh mukmin
selalu membaca kitabullah, beramar
ma'ruf dan nahi munkar, serta
bersegera dalam kebaikan.
Dalil
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ
تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ
تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣
Q. 61:2-3. Hai orang-orang yang beriman,
mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ
خُشُوْعًا ۩ ١٠٩
Q. 17:109. Dan mereka
menyungkur atas muka mereka sambil
menangis dan mereka bertambah khusyu'.
۞
لَيْسُوْا سَوَاۤءً ۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ
اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ ١١٣
Q. 3:113. Mereka itu tidak sama; di
antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka
membaca ayatayat Allah pada beberapa waktu
di malam hari, sedang merekajugabersujud
(sembahyang).
A. Asyhadu an Laa llaaha illaa Allaah (Pengakuan Bahwa
Tiada Ilah Selain Allah)
Merupakan bahagian pertama syahaadatain
yang maknanya tiada yang dapat, sesuai atau wajib
disembah kecuali hanya Allah SWT Penyembahan
yang benar terhadap Allah SWT melahirkan sikap ikhlas. Pengertian laa ilaaha illa Allaah adalah tiada yang diabdi selain Allah SWT Tiada yang ditakuti kecuali Allah dan
hanya kepadaNya kita berlindung serta meminta tolong. Pengertian laa ilaaha illa Allaah menuntut adanya penghambaan secara
menyeluruh kepada Allah SWT dan pengingkaran kepada thagut.
Dalil
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا
نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ ٢٥
Q. 21:25. Dan Kami tidak mengutus seorang
rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan
(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ
بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ
رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
٢٢ وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا
بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ
اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٢٣
Q. 2:22-23. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan
bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan
air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal
kamu mengetahui. Dan jika kamu
(tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an Yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah
satu surat (saja) yang semisal Al
Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu
selain Allah, jika kamu orang-orang
yang benar.
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ
الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ
الْمُكَذِّبِيْنَ ٣٦
Q.
16:36. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang
yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula
di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang
yang mendustakan (rasul-rasul).
Hadits. Rasulullah SAW
bersabda,"Bersaksilah kalian: bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasulullah. Tidak akan
menemui Allah dengan kalimat syahadat itu
seorang hamba selain yang meragukannya, sehingga
syurga pun tertutup baginya.
B. Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah (Pengakuan
Bahwa
Muhammad Rasulullah)
Bagian
kedua dari syahaadatain adalah menerima secara ikhlas dan senang hati
Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT Dengan
penerimaan ini muncul kesediaan menjadikan
Rasulullah sebagai uswah. Rasulullah
SAW adalah teladan sekaligus uswah dalam
kehidupan muslim. Konsekwensi
pengakuan bahwa Muhammad adalah rasul
Allah adalah dengan menjadikannya
sebagai contoh dan surf teladan bagi kehidupannya. Seorang Rasul diutus
untuk ditaati, maka penyelewengan terhadap perintah Rasul adalah ke-munafikan
dan mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kewajiban mukmin adalah memenuhi seruan Allah SWT dan RasulNya, sedangkan tidak mentaati Rasul akan membuat tertutup hatinya.
Dalil
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ
اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ
وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
Q. 33:21. Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari kiamat dan
dia banyak menyebut Allah.
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ
يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ ٣١
Q. 3:31. Katakanlah: "Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ
تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ ٨٠
Q. 4:80. Barangsiapa yang menta`ati Rasul
itu, sesungguhnya ia telah menta`ati
Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari
keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ
اللّٰهِ ۗوَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ
فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ
تَوَّابًا رَّحِيْمًا ٦٤
Q. 4:64. Dan kami tidak mengutus seseorang
rasul, melainkan untuk dita'ati
dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya
dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun
kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan
ampun untuk mereka, tentulah mereka
mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ
بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ
لِوَاذًاۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ
تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٦٣
Q. 24:63. Janganlah kamu jadikan
panggilan Rasul di antara kamu
seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah
mengetahui orangorang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan
berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orangorang yang menyalahi perintah Rasul takut
akan ditimpa cobaan atau ditimpa
azab yang pedih.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ
وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ
يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ ٢٤
Q. 8:24. Hai orang-orang yang beriman,
penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul
apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi
kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara
manusia dan hatinya dan sesungguhnya
kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
Hadits. Rasulullah SAW
bersabda,"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai keinginannya mengikuti apa yang aku bawa". "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih
dicintai daripada anak, ayahnya, dan manusia seluruhnya."
Al-Mahabbah (Cinta)
Merupakan dasar kesediaan seorang mukmin
dalam meng-amalkan kandungan syahaadatain.
Cinta sebagai landasan
penerimaan syahaadatain. Tanpa rasa cinta
kepada Allah dan RasulNya, maka sulit bagi seseorang menjadikan Allah sebagai satu-satunya ilah sembahan dan menjadikan
Muhammad sebagai ikutan dan teladan kehidupannya.
Dalil
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا
يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا
لِّلّٰهِ ۙوَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ
الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ ١٦٥
Q. 2:165. Dan di antara manusia ada
orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat
sangat cintanya kepada Allah. Dan jika
seandainya orang-orang yang berbuat
zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat
siksaanNya (niscaya mereka
menyesal).
Q.
8:2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
Hadits. Dari Anas Ibnu Malik R.A. berkata
Rasulullah SAW bersabda,"
"Tiga hal, barangsiapa dalam dirinya ada ketiganya,
akan mendapatkan manisnya iman, bila Allah dan
Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada selain keduanya, bila seseorang mencintai seseorang yang lain, ia
tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan apabila ia tidak ingin kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan dirinya dari kekufuran itu
sebagaimana ia tidak ingin
dijebloskan ke dalam neraka." (HR.Bukhari dan Muslim ).
Ar-Ridhaa (Rela)
Merupakan hasil logis cinta mukmin kepada
Allah SWT dan Rasulnya adalah
wujudnya kerelaan. Ridha sebagai realisasi
cinta. Orang yang cinta kepada sesuatu akan ridha kepada
sesuatu tersebut apakah dari segala
perintahnya, keinginannya dan perbuatannya. Apabila yang dicintai adalah Allah maka kita akan rela kepada semua perintahNya yang terdapat di dalam Al
Quran dan bersedia untuk
mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalil
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ
اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ ٣٠
Q. 76:30. Dan kamu tidak mampu (menempuh
jalan itu), kecuali bila
dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Al-limaan (Iman)
Syahadat
muslim merupakan realisasi imannya kepada Allah
SWT Kelezatannya dapat dicapai dengan adanya cinta dan ridha kepada Allah SWT, Rasul dan Islam. Syahaadatain adalah realitas iman kepada
Allah SWT dan Rasul. Konsekuensi iman
kepada Allah dan Rasul adalah juga iman kepada malaikat, kitab, kiamat,
dan qadar baik/ buruk. Perjanjian syahadat
berhubungan dengan keimanan kepada Allah
SWT, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari akhir dan qadha' qadar.
Dalil
Q. 61:10-11. Hai orang-orang yang
beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari
azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَمِيْثَاقَهُ
الَّذِيْ وَاثَقَكُمْ بِهٖٓ ۙاِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا ۖوَاتَّقُوا
اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ ٧
Q. 5:7. (yaitu) kamu beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan
Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
Q. 2:285. Rasul telah beriman kepada Al
Qur'an yang diturunkan kepadanya
dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.
(Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan:
"Kami dengar dan kami ta'at".
(Mereka berdo' a): `Ampunilah kami ya Tuhan kami dan
kepada Engkaulah tempat kembali".
Ash-Shibghah (Celupan)
Dengan
keimanan yang benar maka perilaku dan kehidupan
mukmin diwarnai oleh Allah SWT. Fenomenanya
adalah berubahnya seluruh aktivitas hidupnya
menjadi ibadah kepada Allah SWT Sibghah merupakan keimanan kepada Allah SWT yang sesungguhnya. Seluruh perilaku mukmin
diwarnai oleh syahaadatain dan merupakan pengabdian kepada Allah SWT
Dalil
صِبْغَةَ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةً ۖ
وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ ١٣٨
Q. 2:138. Shibghah Allah. Dan siapakah
yang lebih baik shibghahnya daripada
Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.
Hadits. Rasulullah SAW bersabda,"Wahai segenap manusia, Ingatlah sesungguhnya Tuhan
kalian adalah satu dan sesungguhnya ayah
kalian pun satu. Ingatlah, tidak ada kelebihan orang arab atas orang non arab, tidak adal kelebihan
bagi orang non arab atas orang arab, tidak ada kelebihan orang kulit merah atas kulit hitam, dan tidak ada
kelebihan orang kulit hitam atas orang kulit merah, kecuali dengan takwa." (musnad Imam
Ahmad).
Al-Inqilaab (Perubahan Menyeluruh)
Syahadat yang telah masuk ke dalam diri mukmin dan mewarnai hidupnya pasti melahirkan perubahan yang menyeluruh yang mencakupi perubahan keyakinan, perubahan pemikiran, perubahan perasaan dan
perubahan tingkah laku.
A. Al-I'tiqaadi
(Keyakinan)
Sebelum syahadatnya mungkin dia
berkeyakinan bahwa loyalitas dan ketaatan
dapat dibe-rikan kepada tanah air, bangsa, masyarakat, seni, ilmu dan sebagainya, disamping mengabdi kepada Allah SWT Tetapi setelah
bersyahadat ia melepaskan semua itu
dan hanya menjadikan Allah SWT sebagai
satu-satunya yang diabdi, ditaati dan diminta pertolongan di atas segalanya.
B. Al-Fikri (Pemikiran)
Sebelum meyakini syahadatnya mungkin ia berfikir boleh menerima syariat, aturan hidup dan
perundang-undangan bersumber kepada adat istiadat datuk atau nenek
moyang, pemikiran jahiliyah dari ilmuwan dan filosof, hawa nafsu penguasa dan sebagainya. Setelah me-mahami akibat dari syahaadatain maka ia hanya mengikuti pola fikir Islam yang bersumber dari Allah SWT dan RasulNya, kemu-dian
hasil ijtihad orang-orang mukmin yang sesuai dengan bimbingan Allah SWT dan Rasul.
C.
Asy-Syu'uuri (Perasaan)
Sebelum memahami syahaadatain ini mungkin perasaannya yang berupa cinta, takut, benci, marah,
sedih atau senang ditentukan oleh situasi
dan kondisi yang menimpa dirinya atau keadaan di sekelilingnya. Misalnya ia
senang dengan mendapatkan keuntungan
dari hasil usaha-nya, mendapat baju
yang paling trendy, mendapat
profesi yang menguntungkan. Sedih
karena hilangnya kekayaan, merasa hina karena kemiskinan dan sebagainya. Maka setelah meng-hayati makna syahaadatain,
tiada yang menyenangkan
dan menyedihkan melainkan
semua terkait dengan kepen-tingan Allah SWT
dan RasulNya. Maka ia sedih bila
ada yang masuk ke dalam kekufuran, sedih bila ada muslim yang disakiti, sedih memikirkan
nasib kaum muslimin sebagai umat Mu-ham-mad. Kemudian dia merasa senang dengan kemajuan dak-wah, kebangkitan umat dan sebagainya.
D. As-Suluuki
(Tingkah Laku)
Sebelum
mengerti kandungan syahaadatain, mungkin tingkah laku
seseorang mengikuti hawa nafsunya, menuruti bagaimana kondisi lingkungan. Ber-pakaian, bersikap, bergaul, mengisi waktu dengan
kebiasaan-kebiasaan ahiliyah yang tidak ada tuntunannya dari Islam. Tetapi setelah mengerti syahaadatain ini ia berubah.
Tingkah lakunya mencerminkan akhlak Islam, pergaulannya meng-ikuti syariah, waktunya diisi dengan hal-hal
yang bermanfaat apakah bagi dirinya
maupun orang lain.
Dalil
Hadits. Dari Abu Musa Al-Asy'ari R.A bahwasanya Rasulullah bersabda,"Perumpamaan
hidayah dan ilmu yang dibawakan dari sisi
Allah adalah seperti hujan yang turun ke bumi. Maka
ada sebagian lahan yang dapat menerima air
itu, lalu ia menumbuhkan rerumputan dan pepohonan yang lebat. Dan di antara lahan ada yang menyerap
dan dapat menahan air sehingga Allah
memberi manfaat kepada manusia,
melalui air itu, untuk minum, menggembala, mengairi dan bercocok tanam. Huj an pun turun ke wilayah cadas sehingga is tidak dapat menahan air dan tidak
menumbuhkan rumput. Itulah
perumpamaan orang yang mendalami
agama Allah. Allah memberi manfaat melalui apa yang aku bawa, kemudian is memanfaatkannya, mengkajinya
kemudian mengajarkannya, adapula orang yang
tidak memberikan perhatian kepadanya sedikitpun dan tidak menerima hidayah Allah yang aku diutus karenanya. (HR. Bukhari-Muslim).
Perubahan menyeluruh terjadi pada
pribadi Ummar bin Khattab RA, Mus'ab bin
Umair, Saad bin Abi Waqqash dan
para sahabat lainnya, ini merupakan bukti bahwa syahaadatain membawa perubahan pada diri yang mengucapkannya.
Contoh ini terjadi pada tingkah laku
Mus'ab bin Umair yang sebelum Islam
merupakan seseorang pemuda yang sangat
dikenal ketampanannya di kota Mekkah. Setelah Islam
is menjadi mujahid dakwah, ketika wafatnya is hanya punya sehelai kain burdah untuk menutupi jasadnya yang syahid. Bila kepalanya ditutup kakinya terbuka
dan bila kakinya ditutup maka kepalanya terbuka.
Asy-Syakhshiyah Al-Islaamiyah (Kepribadian yang Islami)
Dengan adanya perubahan pada empat hal diatas maka muslim memiliki kepribadian yang Islami. Pribadi
ini men-dasarkan keyakinan, bentuk berfikir, emosi, sikap, pan-dangan, tingkah laku, pergaulan dan masalah
apa saja dengan dasar Islam. Akhlak
pribadi yang Islami terdapat pada diri Rasulullah. Nabi SAW memiliki akhlak yang disenangi oleh
musuh atau kawan, justru dengan
akhlak Nabi ini dapat menarik manusia kafir untuk mengikuti Islam.
Akhlak yang mulia sebagai ciri kepribadian
muslim merupakan akhlak yang sangat adil, objektif dan universal.
Dalil
Q. 68:4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti yang agung.
Hadits. Akhlak Rasul adalah akhlak
Al-Quran.
Al-Qayyimah (Bernilai Di Sisi Allah)
Tatkala seorang muslim telah memiliki kepribadian Islami
dengan utuh, maka is akan memiliki nilai disisi Allah SWT
Pribadi-pribadi ini dalam jumlah yang banyak bergabung menjadi umat. Bila umat Islam telah memiliki banyak pribadi seperti ini is akan diperhitungkan oleh
lawanlawannya. Umat seperti ini
mampu membawa amanat menegakkan khilafah Islamiyah. Janji Allah SWT akan tegaknya khilafah,
adalah bagi mereka yang beriman dan
beramal shaleh. Ciri khalifah akan
ditemui kepada mereka yang berdakwah karena perannya sebagai membangun dan memelihara alam. Amanah memikul then dibebankan pada
manusia. Hanya manusia yang mau
menerima amanah Allah tersebut, manakala makhluk lainnya tidak bersedia menerima amanah tersebut karena tidak mampu
menjalankannya.
Dalil
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا
يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ
الْفٰسِقُوْنَ ٥٥
Q. 24:55. Dan Allah telah berjanji
kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang saleh
bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum
mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang
telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah
mereka berada dalam ketakutan menjadi
aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku
dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik.
Q. 33:72. Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu amat zalim dan amat bodoh.

Comments
Post a Comment