Wahabiyah
DAKWAH SALAFIYAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
Pengertian:
Dakwah Salafiyah adalah dakwah yang menyeru untuk kembali kepada petunjuk
Salafus Shalih [generasi pendahulu yang saleh] sejak era risalah yang gemilang.
Oleh karena itu, Dakwah Salafiyah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dinilai
secara objektif sebagai pelopor gerakan-gerakan pembaharuan [tajdid] yang
muncul di tengah masa kemunduran dan kebekuan berpikir [jumud] di dunia Islam.
Dakwah ini menyeru untuk mengembalikan akidah Islam kepada fondasi aslinya yang
murni, serta menekankan pembersihan konsep tauhid dari berbagai bentuk syirik
yang mengotorinya. Sebagian pihak—secara keliru—menamakannya dengan sebutan
"Wahhabiyah", yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab. Padahal, dakwah ini bukanlah sebuah mazhab baru atau aliran yang diada-adakan
(bid'ah), melainkan merupakan kelanjutan dan pembaharuan bagi dakwah Salafiyah.
Ia adalah sebuah manhaj dan ajakan untuk menelusuri jejak Salafus Shalih serta
berjalan di atas jalan mereka, demi mengamalkan firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:
"Orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan orang-orang
Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah
ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi
mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah:
100)
Dan
sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadis sahih
mengenai Al-Firqah An-Najiyah (Golongan yang Selamat):
هُمْ مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا
أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي "Mereka adalah orang-orang yang
berada di atas apa yang aku dan para sahabatku jalani pada hari ini."
Penokohan
dan Tokoh-Tokoh Utama
Di
antara tokoh utama Dakwah Salafiyah pada era modern adalah Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab Al-Musyarrafi At-Tamimi An-Najdi (1115–1206 H / 1703–1791 M).
Beliau
lahir di kota Uyainah, dekat Riyadh. Beliau menimba ilmu dasarnya dari sang
ayah dengan mempelajari sebagian fikih Hanbali, tafsir, dan hadis, serta telah
menghafal Al-Qur'an pada usia sepuluh tahun.
Beliau
berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan belajar kepada para ulama
di sana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk menambah perbekalan
ilmu syar'i. Di Madinah, beliau bertemu dengan gurunya, Syaikh Muhammad Hayat
As-Sindi (wafat 1165 H), dan beliau sangat terpengaruh olehnya. Beliau juga
berguru kepada Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif.
Beliau
kembali ke Uyainah, lalu bertolak ke Irak pada tahun (1136 H / 1724 M) untuk
mengunjungi Basrah, Baghdad, dan Mosul. Di setiap kota tersebut, beliau bertemu
dengan para masyaikh dan ulama serta menimba ilmu dari mereka.
Beliau
terpaksa meninggalkan Basrah menuju Al-Ahsa, kemudian menuju Huraimila karena
ayahnya yang bekerja sebagai qadi (hakim) berpindah ke sana. Di Huraimilah
inilah beliau mulai menyebarkan dakwah tauhid secara terang-terangan, yaitu
pada tahun (1143 H / 1730 M). Namun, tidak lama kemudian beliau meninggalkannya
karena adanya konspirasi dari sebagian orang-orang bodoh (sufaha') yang
berencana membunuhnya.
Beliau
bertolak ke Uyainah dan menawarkan dakwahnya kepada penguasanya, Utsman bin
Mu'ammar, yang kemudian bersama-sama beliau merubuhkan bangunan makam dan
kubah-kubah. Amir tersebut juga membantunya dalam menjatuhkan hukuman rajam
terhadap seorang wanita pezina yang datang mengaku secara sukarela.
Penguasa
Al-Ahsa, Ura'ir bin Dujain, mengirim surat kepada penguasa Uyainah yang
memerintahkannya untuk membunuh Syaikh. Di saat yang sama, para ulama jahat ('ulama
as-su') juga menulis surat kepada Ibn Mu'ammar untuk menanamkan keraguan
terhadap dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka Ibn Mu'ammar mendesak Syaikh
untuk keluar menuju tempat mana saja yang beliau kehendaki, lalu Syaikh pun
keluar meninggalkan Uyainah.
Beliau
menuju Ad-Dir'iyah, pusat pemerintahan keluarga Al Saud, dan singgah sebagai
tamu di rumah Muhammad bin Suwailim Al-'Uraini pada tahun (1158 H), di mana
para murid berbondong-bondong mendatanginya dan memuliakannya.
Amir
Muhammad bin Saud, yang memerintah pada rentang periode (1139–1179 H),
mengetahui kedatangan Syaikh, lalu beliau mendatangi Syaikh seraya
menyambutnya. Beliau berjanji untuk melindungi dan mendukung Syaikh. Dalam
kesempatan itu, berlangsung dialog berikut yang kami sebutkan karena nilai
pentingnya dalam sejarah:
Amir:
"Bergembiralah dengan negeri yang lebih baik dari negerimu, serta
bergembiralah dengan kemuliaan dan perlindungan." Syaikh: "Dan
aku pun memberi kabar gembira kepadamu dengan kemuliaan dan kekuasaan (tamkin).
Kalimat Laa ilaaha illallah ini, barangsiapa yang berpegang teguh
padanya, mengamalkannya, dan membelanya, niscaya dia akan menguasai negeri dan
manusia. Ia adalah kalimat tauhid yang diserukan oleh seluruh rasul Allah, dan
bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang muslim."
Kemudian
Amir mengajukan dua syarat kepada Syaikh:
- Syaikh tidak berpindah
meninggalkan mereka dan tidak menggantikan mereka dengan pihak lain.
- Syaikh tidak menghalangi
penguasa untuk mengambil upeti/hasil panen yang biasa diambil dari
penduduk Dir'iyah pada musim buah.
Mengenai
syarat pertama, Syaikh berkata kepadanya: "Ulurkan tanganmu, aku berjanji
setia (bai'at) kepadamu.. darah dibayar darah, dan kehancuran dibayar
kehancuran [maksudnya: duka kalian adalah dukaku, dan pembelaan untuk kalian
adalah pembelaanku]."
Adapun
syarat kedua, Syaikh berkata kepadanya: "Semoga Allah membukakan bagimu
berbagai penaklukan, sehingga Allah menggantikannya bagimu dengan harta
rampasan perang (ghanimah) yang jauh lebih baik darinya."
Syaikh
meyakini bahwasanya kebenaran harus memiliki kekuatan yang melindunginya, sebab
Allah mencegah dengan kekuasaan (sultan) apa yang tidak bisa dicegah
hanya dengan Al-Qur'an.
Syaikh
dan Amir terus melangkah dalam menyebarkan dakwah di pelosok Najd. Ketika Amir
wafat, beliau digantikan oleh putranya, Abdul Aziz bin Muhammad (1111–1218 H),
untuk melanjutkan pembelaan terhadap dakwah bersama Syaikh, hingga akhirnya
Syaikh diwafatkan oleh Allah di Dir'iyah dan dimakamkan di sana.
Syaikh
memiliki banyak karya tulis, yang terpenting di antaranya: Kitab At-Tauhid
fima Yajibu min Haqillahi 'alal 'Ibad, Kitab Al-Iman, Kasyf
Asy-Syubuhat, Adab Al-Masyyi ila Ash-Shalah, Masa'il Al-Jahiliyah,
serta sejumlah ringkasan dan risalah yang berkisar pada masalah-masalah fikih
dan usul, yang sebagian besarnya membahas tentang tauhid.
Banyak
murid yang menimba ilmu dari Syaikh. Di antara murid-murid beliau dan murid
dari murid beliau adalah sebagai berikut:
- Saud bin Abdul Aziz bin
Muhammad bin Saud, yang senantiasa mendampingi Syaikh, mengambil ilmu
darinya, dan membaca kitab di hadapannya.
- Husain bin Muhammad bin Abdul
Wahhab: Qadi (hakim) negeri Dir'iyah.
- Ali bin Muhammad bin Abdul
Wahhab: Seorang ulama yang mulia, wara', dan sangat takut kepada Allah Azza
wa Jalla; pernah ditawari jabatan qadi namun beliau menolaknya.
- Abdullah bin Muhammad bin
Abdul Wahhab (1165–1242 H): Menjadi qadi Dir'iyah pada masa Saud bin Abdul
Aziz bin Muhammad bin Saud, memiliki pemahaman dan pengetahuan yang
mendalam, dan wafat di Mesir.
- Ibrahim bin Muhammad bin
Abdul Wahhab: Seorang ulama yang utama dan teliti.
- Abdul Rahman bin Khamis: Imam
istana Al Saud di Dir'iyah dan qadi pada masa Raja Abdul Aziz dan
putranya, Raja Saud.
- Husain bin Ghannam: Penulis
kitab Raudhat Al-Afkar, seorang ulama yang berpengetahuan luas.
- Abdul Aziz bin Abdullah
Al-Hushain (wafat 1237 H).
- Hamad bin Nasir bin Mu'ammar.
- Abdul Rahman bin Hasan bin
Muhammad bin Abdul Wahhab (1193–1284 H): Seorang tokoh berwibawa dan
ulama, menimba ilmu dari kakeknya dan mengambil ilmu darinya secara
langsung, memegang jabatan qadi dan pengajaran, serta penulis kitab Ar-Radd
Al-Nafis 'ala Syubuhat Daud bin Jarjis.
- Syaikh Abdul Latif bin Abdul
Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab: Penulis kitab Tasiis
At-Taqdis fir-Radd 'ala Daud bin Jarjis dan Mishbah Adh-Dhalam
fir-Radd 'ala Asy-Syaikh Al-Imam.
- Sulaiman bin Abdullah bin
Muhammad bin Abdul Wahhab (1200–1233 H): Cerdas dan pemberani, dibunuh
oleh Ibrahim Pasha setelah jatuhnya Dir'iyah, dan merupakan penulis kitab Taisir
Al-'Aziz Al-Hamid fi Syarh Kitab At-Tauhid.
- Syaikh Al-'Allamah Muhammad
bin Ibrahim: Salah seorang cucu Syaikh (wafat 1389 H), pernah menjabat
sebagai Mufti Arab Saudi, serta Kepala Urusan Kehakiman dan Agama;
terkenal dengan keilmuan, ketelitian (tahqiq), kekuatan hafalan,
serta pandangan yang jauh. Allah mengaruniakannya kewibawaan dalam jiwa
manusia, sebagaimana beliau dikenal wara', banyak beribadah, dan dermawan.
- Syaikh Ahmad bin Isa: Syarah Nuniyah
Ibn Al-Qayyim (wafat 1329 H).
- Syaikh Abdullah bin Abdul
Rahman Babthin: Yang pada zamannya dijuluki sebagai Mufti Negeri Najd
(wafat 1282 H).
- Sulaiman bin Sahman: Pemilik
pena yang tajam dan karya tulis yang banyak (wafat 1349 H).
- Syaikh Hamad bin Ali bin Atiq
(wafat 1306 H).
- Di antara tokoh menonjol
mereka adalah Yang Mulia Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Agung Kerajaan
Arab Saudi saat ini [pada saat pembukuan dilakukan].
- Dan selain mereka.
Di
antara orang-orang yang terpengaruh oleh dakwah beliau di luar Kerajaan Arab
Saudi adalah Muhammad Basyir As-Sahsawani dan Mahmud Al-Alusi, serta yang
lainnya. Banyak ulama, dai, dan beberapa gerakan pembaharuan lainnya yang
terpengaruh oleh gerakan Salafiyah ini.
Pemikiran
dan Keyakinan
- Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab bermazhab Hanbali dalam studinya, namun beliau tidak terikat
padanya dalam fatwa-fatwanya apabila dalil yang lebih kuat menurut
pandangannya menyelisihi mazhab tersebut. Oleh karena itu, dakwah beliau
bercirikan mengikuti dalil sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih.
- Menekankan pentingnya kembali
kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta menghidupkan kembali ajaran mazhab
Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang telah terkikis.
- Mengadopsi manhaj Ahlus
Sunnah wal Jama'ah dalam memahami dalil dan membangun hukum di atasnya.
- Seruan untuk memurnikan
konsep tauhid dan menuntut umat Islam untuk mengembalikannya kepada
kondisi umat pada masa awal Islam. Hal ini berdiri di atas Tauhid
Al-Asma' wa Ash-Sifat: yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang
telah ditetapkan oleh Allah Ta'ala untuk diri-Nya atau yang ditetapkan
oleh Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, tanpa tamtsil
(pemerataan/pemisalan), tanpa takyif (penanyaan bagaimana
bentuknya), tanpa tahrif (penyimpangan makna), dan tanpa ta'thil
(penolakan).
- Berfokus pada konsep Tauhid
Al-'Ubudiyah (Tauhid Ibadah/Uluhiyah):
"Dan
sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan),
'Sembahlah Allah dan jauhilah thagut'." (QS. An-Nahl: 36)
- Menghidupkan kembali
kewajiban jihad; Syaikh merupakan cerminan sosok mujahid yang bergerak
maju dalam membuka wilayah, menyebarkan dakwah, dan mengikis manifestasi
kemusyrikan yang membuat masyarakat merosot ke dalamnya.
- Memberantas bid'ah dan
khurafat yang tersebar luas kala itu akibat kebodohan dan kemunduran,
seperti:
- Mengunjungi kuburan yang
diklaim sebagai kuburan sahabat Dhirar bin Al-Azwar dan meminta pemenuhan
hajat kepadanya.
- Mengunjungi kubah yang
dikatakan sebagai milik Zaid bin Al-Khattab.
- Bolak-balik mendatangi
pohon yang diklaim sebagai pohon Abu Dujanah, serta pohon lain yang
dinamakan Ath-Tharfiyah.
- Mengunjungi gua yang
dinamakan Gua Binti Al-Amir.
- Membagi tawasul
menjadi dua jenis berdasarkan induksi (istiqra') terhadap
dalil-dalil syar'i:
- Tawasul Masyru'
(disyariatkan): Yaitu bertawasul kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang
husna, atau dengan amal-amal saleh, atau dengan doa saudaranya yang
muslim.
- Tawasul Mubtada'
(dibuat-buat/dilarang): Yaitu tawasul yang tidak memiliki dalil sahih,
seperti bertawasul dengan zat orang-orang saleh, dengan kedudukan
Rasulullah, atau dengan kehormatan Syaikh Fulan...
- Melarang pembangunan di atas
kuburan, memberi kain penutup (kiswah), memberi pencahayaan
(lampu), dan bid'ah-bid'ah semisal itu yang menyertainya.
- Menghadapi penyimpangan (syathahat)
tarekat-tarekat sufi dan hal-hal baru yang mereka masukkan ke dalam agama
yang sebelumnya tidak ada.
- Pengharaman berkata atas nama
Allah tanpa ilmu:
"...dan
(mengharamkan) kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui."
(QS. Al-A'raf: 33)
- Memerangi thagut.
Menurut beliau: "Thagut adalah segala sesuatu yang dengannya seorang
hamba melampaui batasnya, baik berupa sesembahan, pengikut, atau pihak
yang ditaati. Tokoh-tokoh thagut ada lima: Iblis—semoga Allah
melaknatnya—, orang yang disembah sedangkan ia ridha, orang yang mengajak
manusia untuk menyembah dirinya, orang yang mengaku mengetahui sesuatu
dari ilmu gaib, dan orang yang memutuskan hukum dengan selain apa yang
diturunkan Allah. Seseorang tidak akan menjadi beriman kepada Allah sampai
ia kufur kepada thagut."
- Bahwa segala sesuatu yang
didiamkan oleh Syariat adalah dimaafkan ('afw); tidak halal bagi
siapa pun untuk mengharamkannya, mewajibkannya, menyatukannya sebagai
sunnah, atau memakruhkannya:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal
yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu..." (QS.
Al-Ma'idah: 101)
- Mengabaikan dalil yang jelas
dan menggunakan dalil yang berlafaz mutasyabih (samar) adalah
jalannya orang-orang yang menyimpang seperti kaum Rafidhah dan Khawarij:
"...Adapun
orang-orang yang dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, mereka mengikuti
yang samar-samar darinya untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari
takwilnya..." (QS. Ali 'Imran: 7)
- Bahwa Nabi Shallallahu
'Alaihi wa Sallam telah menyebutkan bahwasanya yang halal itu jelas
dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara
yang samar (syubhat). Maka barangsiapa yang tidak memahami kaidah
ini dan hendak berbicara tentang setiap permasalahan dengan perkataan yang
memutuskan, sungguh ia telah sesat dan menyesatkan.
- Syaikh menyebutkan dalam
penjelasannya mengenai jenis-jenis dan tingkatan-tingkatan syirik bahwa:
- Syirik Akbar (Syirik
Besar): Yaitu syirik dalam ibadah, maksud/tujuan, ketaatan, dan
kecintaan.
- Syirik Asghar
(Syirik Kecil): Yaitu riya', berdasarkan sabda Nabi Shallallahu
'Alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim:
"Sesungguhnya riya' yang sedikit itu adalah syirik."
- Syirik Khafi (Syirik
Tersembunyi): Yang mana seorang mukmin bisa saja jatuh ke dalamnya tanpa
ia sadari, sebagaimana sabda beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:
الشرك في هذه الأمة أخفى من دبيب
النملة السوداء على صفاة سوداء في ظلمة الليل "Kesyirikan pada
umat ini lebih tersembunyi daripada langkah semut hitam di atas batu hitam yang
licin dalam kegelapan malam."
- Para ulama dakwah ini
memahami isu-isu pada zaman mereka serta mengerti permasalahan baru (nawazil)
pada era mereka. Anda dapat melihat Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab—sebagai contoh—sangat menaruh perhatian pada penetapan Tauhid
Al-'Ibadah dan penjelasan mengenai hal-hal yang membatalkannya, karena
Tauhid Al-'Ibadah merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukalaf,
dan karena hal itulah penyimpangan dominan yang terjadi di lingkungannya
kala itu. Ketika dakwah ini muncul di luar negeri Najd, timbul kebutuhan
untuk menambah penjelasan dan perincian dalam pembahasan nama-nama dan
sifat-sifat Allah (Al-Asma' wa Ash-Sifat), karena ta'thil
(penolakan sifat) dan tahrif (penyimpangan makna) tampak nyata di
banyak negeri Muslim. Hal ini sebagaimana kita temukan—sebagai
contoh—dalam risalah-risalah Syaikh Abdul Rahman bin Hasan, putranya
Al-'Allamah Syaikh Abdul Latif, dan Syaikh Ahmad bin Isa.
- Pada era sekarang di mana
hukum thagut merebak, yang terwujud dalam hukum-hukum sekuler buatan
manusia (al-qawanin al-wadh'iyah) dari Barat, para ulama dakwah ini
memiliki sikap-sikap yang monumental dan jawaban-jawaban cekatan dalam
membendung hukum-hukum tersebut serta menjelaskan hukum Allah Ta'ala
mengenainya. Contohnya adalah apa yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin
Ibrahim dalam fatwa-fatwa dan risalah-risalahnya.
- Dakwah ini telah bekerja
untuk membangunkan umat Islam secara pemikiran setelah sebelumnya mereka
diselimuti oleh tabir kemunduran, kelengahan, dan taklid buta.
- Memberikan perhatian pada
pengajaran masyarakat awam dan mengedukasi mereka, serta membuka pikiran
para terpelajar di antara mereka dan mengarahkan pandangan mereka untuk
mencari dalil, serta mengajak mereka untuk menggali isi kitab-kitab induk
dan rujukan sebelum menerima gagasan apa pun, apalagi menerapkannya.
Akar
Pemikiran dan Akidah
Dakwah
ini merupakan kelanjutan dari apa yang dipegang teguh oleh Salafus Shalih umat
ini dan abad-abad yang diutamakan (al-qurun al-mufadhdhalah). Oleh
karena itu, ia adalah dakwah untuk mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai
dengan pemahaman Salafus Shalih.
Penyebaran
dan Wilayah Pengaruh
Dakwah
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Salafiyah menyebar sebagai dakwah umum dan
gerakan rakyat yang merangkul basis massa luas dari penduduk Najd, serta
mencapai puncak kekuasaan bersama pemerintahan Saudi di negeri-negeri Mekkah
Al-Mukarramah pada tahun 1219 H dan Madinah Al-Munawwarah pada tahun 1220 H.
Ketika
dakwah ini dimusuhi dan diperangi, pengaruh dari para pendukung dakwah ini
terhadap pasukan yang memerangi mereka sangatlah besar, hingga mereka (pasukan
lawan) menulis tentang mereka seraya berkata: "Kaum itu apabila telah
masuk waktu shalat, para muazin mengumandangkan azan dan mereka berbaris rapi
dalam saf-saf di belakang satu imam dengan penuh khusyuk dan ketundukan. Mereka
berseru di kamp militer mereka: 'Kemarilah menuju perang melawan orang-orang
musyrik, orang-orang yang mencukur jenggot, membolehkan perzinaanal dan
penyimpangan seksual (homoseksual), peminum khamar, pembuat dosa meninggalkan
shalat, pemakan riba, pembunuh jiwa, dan orang-orang yang menghalalkan hal-hal
yang diharamkan'." Masyhur nama mereka menyebar di setiap tempat,
dibicarakan oleh orang yang dekat maupun yang jauh, dan urusan mereka tersebar
di seluruh penjuru dunia Islam.
Dakwah
ini telah meninggalkan jejak-jejak dan pengaruhnya pada gerakan-gerakan
pembaharuan yang berdiri di dunia Islam, baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Sudah
menjadi hal yang dimaklumi bahwasanya dakwah Salafiyah Ibn Abdul Wahhab tidak
selamat dari para penentang yang mencaci-maki dan menyebarkan banyak kebohongan
tentangnya setelah mereka merasa bahwa dakwah ini mengancam mereka, terutama
dari kalangan ahli bid'ah, kaum sufi, dan kelompok-kelompok sesat. Hal ini
adalah sesuatu yang diperkirakan dan lumrah terjadi dalam pertentangan antara
kebenaran dan kebatilan. Sebagaimana terdapat pula kritikan terhadap sebagian
pengikut dakwah Syaikh Ibn Abdul Wahhab dalam beberapa hal yang mungkin ada
benarnya.
Di
antaranya—sebagai contoh—apa yang dikritikkan terhadap sebagian pengikut dakwah
berupa sikap keras saat mengingkari kemungkaran, serta fokus yang berlebihan
pada isu-isu bid'ah dan syirik dengan mengabaikan aspek-aspek Islam lainnya
yang berkaitan dengan ekonomi, sosial, dan politik. Namun demikian, hal ini
telah berubah pada sebagian besar pengikut generasi baru. Perhatian terhadap
masyarakat dan komprehensifnya Islam (syumuliyatul Islam) mulai
mengambil porsi yang jelas dalam aktivitas dakwah, dan sebagian anggotanya
mengambil inisiatif dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan/relief dan dakwah yang
komprehensif di berbagai negara di dunia.
Dari
paparan di atas, menjadi jelas bahwa:
Bahwasanya
Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Salafiyah adalah dakwah untuk
kembali kepada akidah Tauhid yang murni, serta berpegang teguh pada petunjuk
Salafus Shalih sejak era risalah yang gemilang. Dakwah ini bersandar pada
Al-Qur'an, As-Sunnah, dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam memahami dan
kembali kepada dalil. Beliau menyeru untuk membuka pintu ijtihad sesuai dengan
syarat-syarat dan dhabit (ketentuan)-nya, serta menyeru untuk memurnikan tauhid
dari hal-hal syirik yang mengotorinya dan menutup jalan-jalan (sadd
adz-dzara'i') yang mengantarkan kepada kesyirikan.
Oleh
karena itu, wajib bagi seorang muslim dalam akidah tauhid untuk memadukan
antara Tauhid Ar-Rububiyah—bahwa Allah adalah Maha Pencipta dan Maha
Pemberi Rezeki—dengan Tauhid Al-Uluhiyah atau Al-Ilahiyah, yaitu
memesakan Allah dalam ibadah kepada-Nya. Mereka menyembah-Nya tanpa
menysekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; Allah adalah Yang Maha Esa, Tunggal,
tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada
seorang pun yang setara dengan-Nya. Hal ini secara niscaya menuntut pemesaan
Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya (Tauhid Al-Asma' wa Ash-Sifat)
tanpa tamtsil, takyif, tahrif, dan ta'thil,
disertai dengan menghidupkan kembali jihad serta membasmi seluruh bentuk
bid'ah, khurafat, dan perkara kemusyrikan yang merebak di masyarakat Muslim.
Dengan demikian, ia merupakan satu-satunya gerakan pembaharuan di era modern
yang berhasil mendirikan sebuah negara yang memerintah dengan hukum Islam.
Referensi
untuk Studi Lebih Lanjut:
- 'Unwan Al-Majd fi Tarikh
Najd, karya Syaikh Utsman bin Abdullah bin Bisyr Al-Hanbali – Cetakan
Kementerian Pendidikan Kerajaan Arab Saudi.
- Raudhat Al-Afkar,
karya Syaikh Husain bin Ghannam – Tahqiq Dr. Nasiruddin Al-Asad – Matba'ah
Al-Madani – Mesir.
- Atsar Asy-Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab, karya Dr. Ahmad Muhammad Adh-Dhubaib – Al-Mathabi'
Al-Ahliyah lil Offset – Riyadh – 1397 H.
- Al-Imam Muhammad bin
Abdul Wahhab Intishar Al-Madzhab As-Salafi, karya Abdul Halim Al-Jundi
– Dar Al-Ma'arif – Mesir.
- Muhammad bin Abdul Wahhab,
karya Ahmad Abdul Ghafur Attar – Cetakan 1397 H.
- Al-Wahhabiyah: Harakah
Al-Fikr wa Ad-Daulah Al-Islamiyah, karya Abdul Rahman Sulaiman
Ar-Ruwaisyid – Cet. 1 – Dar Al-'Ulum lith-Thiba'ah – Kairo – 1397 H / 1977
M.
- Buhuts Usbu' Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, Pusat Penelitian Universitas Islam Imam
Muhammad bin Saud – Riyadh – 1403 H / 1983 M.
- Mu'allafat Asy-Syaikh
Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Terbitan Universitas Islam Imam
Muhammad bin Saud di Riyadh.
- Majmu'ah Ar-Rasa'il wa
Al-Masa'il An-Najdiyah, Matba'ah Al-Manar.
- Fi Sirah Muhammad bin
Abdul Wahhab, Tahqiq dan Catatan Syaikh Abdul Rahman bin Abdul Rahman
bin Abdul Latif Al Asy-Syaikh – Terbitan Darah Al-Malik Abdul Aziz.
- Intisyar Da'wah
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Kharij Al-Jazirah Al-'Arabiyah,
karya Muhammad Kamal Juma'ah – Cet. 2 – Terbitan Darah Al-Malik Abdul Aziz
– Riyadh – 1401 H / 1981 M.
- Kaifa Kana Zhuhur Syaikh
Al-Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, karya Penulis Anonim – Studi,
Tahqiq, dan Catatan Dr. Abdullah Al-Salih Al-'Utsaimin – Terbitan Darah
Al-Malik Abdul Aziz – Riyadh – 1403 H / 1983 M.
- Da'awa Al-Munawi'in li
Da'wah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karya Abdul Aziz Al-Abdul
Latif – Dar Al-Wathan.
- Al-Mujaddidun fil Islam
min Al-Qarn Al-Awwal ila Al-Rabi' 'Asyar Al-Hijri, karya Abdul Muta'al
Ash-Sha'idi.
- Harakah Al-Ishlah wa
At-Tajdid fi Najd, karya Dr. Muhammad Abdullah Al-'Ajlan – Makalah
pada Seminar Ittijahat Al-Fikr Al-Islami Al-Mu'ashir di Bahrain –
1405 H / 1986 M.
- Al-Ittijah As-Salafi
baina At-Ta'shil wa Al-Muwajahah, karya Dr. Rajih Al-Kurdi – Makalah
pada Seminar Ittijahat Al-Fikr Al-Islami Al-Mu'ashir di Bahrain –
1405 H / 1986 M.
- Atsar Da'wah Syaikh
Al-Islam Ibn Taimiyah fil Harakat Al-Islamiyah Al-Mu'ashirah, karya
Salahuddin Maqbul – Majma' Al-Buhuts Al-'Ilmiyah Al-Islamiyah – New Delhi.
- Aqidah Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, karya Salih Al-'Abud.
- Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab, karya Ahmad bin Hajar Al Bu Thami.
- Muhammad bin Abdul Wahhab
Mushlih Mazhlum wa Muftara 'Alaih, karya Mas'ud An-Nadwi.
- Muhammad bin Abdul Wahhab
Hayatuhu wa Fikruhu, karya Abdullah Al-'Utsaimin.
- Da'wah Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, karya Muhammad bin Abdullah As-Salman.
- 'Ulama Najd Khilal Sittah
Qurun, karya Abdullah Al-Bassam.
- Masyahir 'Ulama Najd,
karya Abdul Rahman Al Asy-Syaikh.
- Ad-Durar As-Saniyah fil
Ajwibah An-Najdiyah, Dihimpun oleh Abdul Rahman Al-Qasim.
- Da'wah Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab baina Al-Mu'ayyidin wa Al-Mu'aridhin wa
Al-Munawi'in, karya Muhammad Jamil Zainu.
- Tashhih Khatha' Tarikhi
haul Al-Wahhabiyah, karya Dr. Muhammad bin Sa'ad Asy-Syuwai'ir.
Sumber:
الموسوعة الميسرة في الأديان
والمذاهب والأحزاب المعاصرة (WAMY)
https://islamhouse.com/ar/books/497017/?utm_source=chatgpt.com
Comments
Post a Comment