Prinsip Kesinambungan Tarbiyah

Sinopsis

Telah dijelaskan bagaimana pentingnya tarbiyah bagi kehidupan manusia, sehingga tarbiyah yang kita lakukan dapat membawakan hasil segalanya untuk kejayaan di dunia ataupun di akhirat. Bahkan tarbiyah dapat mengantarkan keberhasilan manusia sebagai khalifah untuk dirinya dan juga untuk alam semesta. Pentingnya tarbiyah demikian biikan berarti menyamakan istilah dan pelaksanaan kegiatan tarbiyah yang sudah menjadi istilah umum seperti fakultas tarbiyah, jurusan tarbiyah atau organisasi tarbiyah dan banyak istilah yang digunakan lainnya, karena mernang tarbiyah itu sendiri berarti pendidikan. Sehingga penggunaan istilah tarbiyah ini juga bersifat umum.

Pemahaman tentang kepentingan tarbiyah dan bagaimana tercapainya tujuan-tujuan tarbiyah telah dipaparkan pada bab sebelumnya, hanya saja keberhasilan tersebut diperoleh melalui tarbiyah Islamiyah yang dilaksanakan dalanA pergerakan. Inilah yang membedakan pengertian dan pelaksanaan tarbiyah yang dipaparkan dalam btiku ini. Tarbiyah Islamiyah dalam pergerakan menggambarkan bahwa pribadi yang mengikuti tarbiyah tidak saja muncul perubahan menjadi pribadi muslim, tetapi dapat mengantarkan mereka kepada pribadi dai.

Tarbiyah tidak hanya penting untuk dilaksanakan pada suatu saat, tetapi penting untuk dilaksanakan secara berkelanjutan. Kepentingan tarbiyah dan tujuan-tujuan yang akan dicapainya tidak akan mungkin dapat dicapai dengan tarbiyah sesaat. Tarbiyah adalah menuntut ilmu seumur hidup, bahkan dalam keadaan apapun tarbiyah tetap diutamakan urituk diikuti dan dilaksanakan.

Selain disebabkan karena pentingnya tarbiyah dan tujuan tarbiyah yang baik, tarbiyah perlu dilaksanakan secara berkelanjutan yang disebabkan karena manusia cenderung memiliki keimanan yang naik dan turun akibat dari dosa dan kemaksiatan yang mungkin saja terjadi pada semua manusia. Oleh karena itu, tarbiyah perlu dilaksanakan selama kita masih hidup, karena tarbiyah tidak saja membentuk kepribadian muslim tetapi juga meningkatkan dan memelihara nilai-nilai yang telah dianutnya.

Tidak semua realitas tarbiyah berjalan terus sebagaimana mestinya, karena faktor kemanusiaan peserta atau murabbi dan pengaruh-pengaruh dari luar bisa menyebabkan tarbiyah menjadi berhenti atau terganggu pelaksanaannya. Beberapa prinsip atau dasar tarbiyah berkelanjutan adalah pribadi rnutarabbi dan murabbi yang beriman secara sempurna, adanya kecintaan yang mendalam di antara peserta dan terhadap murabbi, juga karena adanya pengorbanan yang tulus. Ketiga prinsip dasar ini dapat membawa tarbiyah kita berkelanjutan.

Iman yang sempurna artinya iman kepada Allah, Rasul dan Islam. Keimanan seseorang sebagai satu ukuran bagi individu bahwa tarbiyah amat sangat diperlukan untuk menjaga imannya. Dengan iman yang sempurna akan terhindar segala gangguan dan cohaan untuk menjauhkan diri dari beramal saleh dan meninggalkan perintah Nya. Orang yang beriman senantiasa beramal saleh, sehingga mereka cinta kepada kegiatan tarbiyah yang menghidupkan amal saleh. Tarbiyah di lain pihak juga dapat membantu meningkatkan dan mempertahankan iman peserta tarbiyah. Keimanan kepada Allah, berarti iman kepada Rasul, juga kepada malaikat, kitab, hari akhir dan qadar baik atau buruk. Keimanan yang utuh dikembangkan dengan tarbiyah melalui pemahaman sehingga mereka yang beriman amat butuh dengan tarbiyah. Dengan tarbiyah, keimanan seseorang akan menghasilkan akidah yang sangat mendalam.

Prinsip dasar kedua agar tarbiyah dapat berkelanjutan adalah hubungan yang harmonis di antara peserta dan hubungannya dengan murabbi. Tarbiyah adalah kumpulan manusia apabila hubungan antara manusia tidak terjalin baik maka akan mengakibatkan gangguan tarbiyah, di antaranya mereka tidak bersedia dan tidak senang mengikuti program tarbiyah, yang kemudian mereka malas menghadiri setiap program, kemudian lambat laun tidak mengikuti sama sekali program tarbiyah. Hubungan di antara peserta tarbiyah dengan bentuk kecintaannya akan menghasilkan saling merindukan yang menumbuhkan semangat untuk menghadiri setiap acara tarbiyah, bahkan mereka merindukan kehadiran dan menunggu-nunggu jadwal tarbiyah Menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap peserta tarbiyah perlu diikuti proses dan langkah saling berkenalan, saling memahami dan saling merasakan senasib dan sepenanggungan. Program untuk mencapai kecintaan yang mendalam adalah perlu berkenalan secara fisik, kejiwaan dan pemikiran. Dari perkenalan ini akan menimbulkan saling memahami di antara sesama peserta. Saling memahami akan mengurangi kemungkinan perselisihan dan perdebatan. Saling memahami ini memunculkan saling merasa senasib dan sepenanggungan, sehingga persaudaraan Islam telah terjalin kokoh. Dengan pemahaman akan muncul di antaranya saling tolong menolong dan saling membantu dalam kebaikan dan takwa. Mewujudkan persaudaraan Islam diperlukan waktu yang panjang karena persaudaraan Islam ini merupakan rahmat dari Allah dan Allah juga yang menggerakkan hati manusia, sehingga persaudaraan tidak cukup hanya dengan program manusia tetapi juga perlu meminta kepada Allah agar Allah mempersatukan hati hamba-hambanya.

Prinsip dasar yang ketiga adalah pengorbanan yang tulus. Tidak ada satupun kegiatan dakwah tanpa pengorbanan. Allah telah menyebutkan dalam berbagai ayat tentang pengorbanan orang-orang beriman dalam menegakkan Islam, begitu juga Nabi SAW telah memberikan contoh kepada kita tentang pengorbanan yang telah dilakukan. Pengorbanan dalam tarbiyah yang mengandung banyak kegiatan di antaranya adalah pengorbanan harta, pemikiran clan kejiwaan (misalnya perasaan). Keinginan untuk berkorban akan menjadikan tarbiyah berkelanjutan, karena jiwa pengorbanan yang akan dilakukan adalah sesuatu yang dituntut oleh tarbiyah. Tanpa pengorbanan, tarbiyah sulit diikuti dengan baik, minimal pengorbanan waktu, tenaga, perasaan, pemikiran dan uang. Menghadiri kegiatan tarbiyah apapun mesti mengorbankan waktu istirahat kita untuk tarbiyah, atau mengorbankan tenaga dan uang untuk bensin kendaraan. Tanpa pengorbanan, tarbiyah tidak akan berkelanjutan. Pengorbanan dalam tarbiyah akan menghasilkan pendukung dakwah yang taat.

Ketiga prinsip dasar untuk mempertahankan keutuhan tarbiyah dibangun dengan sikap perlahan tetapi pasti menuju tujuan dan hasil. Peserta tarbiyah tidak tergesa-gesa dan tidak cepat putus asa ketika belum mendapatkan hasil yang sesuai. Tarbiyah dengan penumbuhan yang baik tersebut akan menghasilkan pendukung-pendukung yang beriman dan bertakwa pada Allah. Mereka menjadi pelopor-pelopor dakwah yang senantiasa merujuk kepada Allah sebagai pencipta dan menjadikan Allah sebagai dab sembahannya. Pendukung rabbani ini tidak lemah semangat dan juga tidak takut tetapi berani maju dalam menghadapi berbagai rintangan dakwah.

Apabila melihat realitas tarbiyah di masyarakat, maka masih terdapat pendukung dakwah yang tidak memiliki karakter tersebut di atas. Bahkan sebagian lainnya futur (lepas) dari tarbiyah. Mereka ada yang bertahan lama bersama tarbiyah dan bahkan yang telah lama terlibat tarbiyah juga ditemui ada yang lepas dan tidak lagi terlibat dengan dakwah. Ini menggambarkan bahwa manusia adalah tetap manusia yang memiliki hawa nafsu, apabila tidak dikendalikan melalui sarana tarbiyah maka mereka akan surut dan menjauh dari jalan Islam. Imam Syahid Hasan Al Banna pernah berkata: Jalan yang kita tempuh ini merupakan jalan yang amat panjang dan penuh dengan kesulitan, barang siapa yang ingin memetik buahnya di masa panen hendaklah ia bersabar akan tetapi siapa yang memetiknya sebelum masanya maka akan merasakan hasil usahanya.

Tarbiyah yang panjang harus diiringi dengan kekuatan untuk mempertahankannya. Banyak juga ditemukan mereka yang begitu semangat mengikuti tarbiyah di masa awalnya kemudian surut ke belakang dan tidak lagi terlibat. Hal ini disebabkan selain karena pernahaman yang belum kokoh terhadap tarbiyah juga tidak memiliki ketiga prinsip dasar tersebut. Ketiga prinsip ini menjadi suatu perekat dan pengikat agar tetap berada dalam dakwah dan terpelihara dari berbagai godaan. Apabila terdapat satu saja dari ketiga prinsip ini kelernahan maka akan muncul gangguan perjalanan tarbiyah.

1. AI-Iimaan Al-Kaamil (Iman Yang Sempurna)

·               Allaah (Allah)

·             Ar-Rasuul (Rasul)

·               Al-Islaam (Islam)

·             Al-'Aqiidah Al-'Amiiqah (Akidah Yang Mendalam)

A. Allah dan Rasul

·    Iman berarti pembenaran dalam hati, pengakuan dalam lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan. Keimanan kepada Allah dan Rasul adalah suatu prinsip dasar dalam melaksanakan segala kegiatan ibadah.

·    Iman kepada Allah menuntut kita beriman kepada Rasul dan dilarang menukarnya dengan kekafiran. Keimanan akan membawa kebaikan manakala kekufuran membawa kesesatan. Keimanan akan menghapus segala kesalahan dan menghantarkan kita ke surga.

·    Tarbiyah senantiasa diperlukan bagi meningkatkan keimanan sehingga mereka yang heriman akan selalu berada dalam aktifitas tarbiyah.

Dalil

·    Q, 2: 108. Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.

·    Q. 4: 170. Sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan membawa kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu.

·    Q. 64: 8-9. Berimanlah kamu kepada Allah, RasulNya dan kepada cahaya (Al Quran) yang telah karni turunkan. Al­lah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Ingatlah hari yang waktu itu Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk hisab), itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Barangsiapa heriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, maka Allah akan menghapus segala kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.

·    Hadits. Rasul menyuruh agar kita beriman kepada Allah dan RasulNya.

B. Al-Islaam (Islam)

·   Islam yakni ketundukan kepada Allah dan pengakuan dengan lisan. Allah tidak akan menerima agama selain Is­lam daripada hambaNya. Keyakinan kepada Islam sebagai suatu nilai yang dapat mengatur kehidupannya dan menjadikan Islam sebagai suatu pedoman hidup.

·   Keimanan kepada Islam merupakan bagian dari kewajiban seorang muslim yang meyakini Islam sebagai pedoman hidup. Muslim mesti meyakini bahwa Islam membawa kebaikan kehidupan karena Islam telah sempurna sebagai aturan hidup. Merugi bagi manusia yang tidak mengambil Islam sebagai kompas hidupnya. Kegiatan yang tidak didasari nilai Islam, tidak diterima amalannya oleh Allah SWT

·   Iman yang sempurna, berarti mengimani Islam sebagai agama Allah. Keimanan ini akan menuntut kita untuk memelihara keyakinan agar tidak terpengaruh oleh gangguan syaitan. Syaitan selalu mengganggu manusia berlslam secara kaafah (sempurna).

·   Tuntutan terhadap tarbiyah yang berkelanjutan adalah untuk menghindari dari gangguan syaitan yang senantiasa menjauhkan kita dari Islam. Dengan tarbiyah, kita dilibatkan dengan banyak amal saleh yang mampu menghadapi gangguan syaitan.

Dalil

·   Q. 3: 85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islara, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

·   Q. 61: 7. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

·  Q. 21: 108. Katakanlah: Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah bahwasanya Tuhanmu adalah tuhan yang Mahaesa, maka hendaklah kamu berserah diri kepadaNya.

·   Q. 5: 3. Diharamkan baginut (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi riasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku­cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Is­lam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

·   Q. 2: 208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

·   Hadits. Dari Umar RA berkata, "Saat kami duduk dekat Rasulullah SAW disuatu hari, maka tiba-tiba tampaklah oleh kami seorang laki-laki memakai pakaian sangat putih dan berambut hitam, tak terlihat padanya bekas (tanda­tanda dalam perjalanan dan tak seorang pun di antara kami yang mengenalnya, maka duduklah ia dihadapan Nabi SAW, lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi, dan meletakkan tangannya di atas paha Nabi kemudian ia berkata, "Hai Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam!" Maka, jawab Rasulullah SAW, "Islam, yaitu engkau bersaksi tiada tuhan selain Allah dan sungguh Muhammad itu utusan Allah, zakat, berpuasa bulan Ramadhan dan mengerjakan haji ke Baitullah, jika engkau kuasa menjalaninya. Berkata Orang itu, "Benar." Kami heran ia yang bertanya dan ia pula yang membenarkannya. Maka bertanya lagi orang itu, "beritahukanlah padaku tentang Iman!" Jawab Nabi, "Engkau beriman kepada Allah dan kepada Malaikat-ya, kepada Kitab-Nya, Kepada Rasul­Rasul-Nya, kepada hari kiamat dan beriman kepada qadar baik dan yang buruk, " Berkatalah orang tadi, "Benar." Bertanya lagi orang itu, "Maka beritahukanlah padaku tentang Ihsan!" Jawab Nabi, "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat kepada-Nya, sekalipun engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya la melihatmu" Tanya orang itu lagi, "Beritahukanlah aku tentang hari kiamat." Jawab Nabi, "Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya." Tanya orang itu, "Beritahukanlah aku tentang tanda-tandanya." Jawab Nabi, "Di antaranya jika seorang hamba telah melahirkan majikannya, dan jika engkau lihat orang yang tadinya miskin papa, berbaju compang-camping sebagai penggembala kambing sudah berkemampuan, berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan" Kemudian pergilah orang tadi. Aku diam tenang sejenak kemudian Nabi berkata kepadaku, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya tadi ?" Jawabku, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Kata Nabi, "Dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian mengajarkan tentang agama kalian" (HR Muslim).

·   Hadits. Dari Abdurrahman Abdillah bin Umar Al-Khattab RA berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Bangunan Islam itu atas 5 perkara, mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, puasa bulan Ramadhan" (HR Bukhari-Muslim).

C. Al-`Aqiidah Al-`Amiiqah (Akidah Yang Mendalam)

·    Akidah yang mendalam merupakan hasil dari keimanan kepada Allah, Rasul dan Islam. Dengan keyakinan yang mendalam ini akan menghasilkan akidah yang kuat dan tahan terhadap segala macam tantangan zaman.

·    Tarbiyah mempunyai sistem yang jelas dan memiliki sifat yang berterusan serta mampu menanamkan akidah yang benar. Akidah yang dipegang oleh individu akan membawa mereka tetap bertahan dalam tarbiyah.

·    Rasul menyuruh kita untuk selalu memperbarui iman karena iman itu bisa naik dan turun. Sarana tarbiyah mampu untuk memperbarui iman individu dengan latihan amal saleh dan keterlibatan dalam nilai-nilai Islam. Tarbiyah juga mampu membentengi peserta tarbiyah dari gangguan taghut (syaitan).

·    Akidah yang tertanam pada diri peserta tarbiyah akan menjadikan mereka tetap terlibat dalam segala program tarbiyah. Tarbiyah akan berkelanjutan karena tarbiyah dibutuhkan bagi orang yang ingin memelihara keimanannya.

Dalil

·    Q. 3:195. Maka tuhan mereka memperkenankan permohonannya dengan berfirman: Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, karena sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain. Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalanKu, yang berperang dan dibunuh pastilah akan Ku hapuskan kesalahan­kesalahan mereka dan pastilah aku memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah dan Allah pada sisiNya pahala yang baik.

·    Q. 12: 108. Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikuti, mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.

·    Q. 2: 256. Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Is­lam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

·    Hadits. Perbaruilah imanmu...perbaruilah imanmu.

2. Al-Hubb Al-Watsiiq (Kecintaan Yang Mendalam)

·                   At-Ta'aaruf (Saling Mengenal)

·                   At-Tafaahum (Saling Memahami)

·                   At-Takaaful (Saling Menanggung)

·               Al-Ukhuwwah Ar-Raabithah (Persaudaraan Yang Mengikat)

A. At-Ta'aaruf (Saling Mengenal)

·    Taaruf atau saling mengenal adalah awal dari ketiga rukun ukhuwah. Oleh karenanya, peserta tarbiyah harus saling mengenal dan saling berkasih sayang dalam naungan Allah.

·    Saling mengenal tidak saja dalam fisik tetapi juga mengenal kejiwaan dan pemikiran saudara kita dalam tarbiyah. Dengan mengenal karakter, emosi dan kebiasaannya maka kita dapat memahami dan mencintainya.

·    Taaruf ini merupakan tahap yang paling penting karena diwajibkan oleh Allah agar manusia saling kenal mengenal (Q. 49: 13). Pada dasarnya, karena berbagai ragam kulit, bahasa, suku, bangsa dan tanah aimya, umat manusia harus saling mengenal dan tolong menolong. Apalagi sesama kaum muslimin dan sesama orang yang beriman.

·    Perkenalan ini biasanya dimulai dengan mengenal nama, pekerjaan, alamat, status dalam keluarga, dan saudaranya. Kemudian juga mengenal kejiwaannya, kecenderungan, orientasi pemikiran, wawasan, keruhanian, kadar keseriusannya beribadah dan taqarub ilallah (kedekatan kepada Allah). Juga mengenal fisik, segenap potensi yang dimilikinya dan kondisi sosial ekonominya secara menyeluruh. Dari situ dapat berbagi kemampuan dan keahlian yang dimilikinya dan mengetahui sejauhmana kemampuannya melakukan pekerjaan, bahkan sejauh mana kadar pengetahuannya tentang jenis dan karakter orang lain.

·    Taaruf terus dilanjutkan dengan mengetahui semua hal yang terkait dengan saudara kita sesama peserta tarbiyah. Puncaknya dari taaruf ini adalah mengenal kegiatan hariannya dan mengenal watak dan kebiasaannya.

·    Semua ini sangat penting bagi para peserta tarbiyah untuk mengoptimalkan segenap potensi yang dimiliki dalam mencapai tujuan-tujuan tarbiyah.

Dalil

·     Q. 49: 10. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

·     Q. 3: 103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan., maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat­ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

·       Hadits. Orang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan, sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.

·     Hadits. Seorang muslim itu bersaudara muslim lainnya, tidak menzalimi dan tidak menyerahkannya kepada musuh.

·     Hadits. Perumpamaan orang yang beriman dalam hal cinta, kasih sayang dan kelemah lembutan, seperti jasad yang satu.

B. At-Tafaahum (Sating Memahami)

·      Saling menasehati dan menerima nasehat saudaranya dengan penuh rasa cinta kasih dan rasa terima kasih kepadanya.

·      Bagi yang menasehati, agar berhati-hati jangan sampai hatinya herubah niat, meskipun hanya sehelai rambut.

·      Menjaga jangan sampai peserta tarbiyah merasa serba kurang dan engkau dirasakannya punya kelebihan dibandingkan dirinya. Apabila melihat aibnya, biarkan selama kurang lebih sebulan kemudian nasehati dia.

·      Melalui tafahum dapat menghilangkan faktor-faktor penyebab kekeringan dan keretakan hubungan sesama peserta tarbiyah.

·      Cinta, kasih dan lembut hati, jika dilaksanakan dengan sebenarnya akan menciptakan tafahum yang benar.

·      Tafahum dapat menghilangkan perpecahan dan perselisihan serta menjaga persaudaraan. Perbedaan pemikiran, sikap, watak dan pendapat merupakan suatu hal biasa dan bisa diselesaikan dengan baik. Saling memahami berarti saling memahami perbedaan di antara kita yang tidak perlu membuat perselisihan dan perpecahan: Oleh karena itu sikap toleran diperlukan untuk hal-hal yang berkaitan dengan masalah dunia atau bukan prinsip agama.

Dalil

·     Q. 3:103. Dan berpegang kamu semuanya kepada tali Allah (agama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (semasa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah selamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat­Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk hidayah Nya.

·     Hadits. Seorang mukmin itu hatinya lunak. Tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak dapat menarik simpati dan tidak simpati (Musnad Imam Ahmad).

C. At-Takaaful (Saling Menanggung)

·    Esensi nyata dari iman dan ukhuwah adalah saling memikul beban di antara sesama muslim.

·    Takaful merupakan rukun ukhuwah yang penting dari rukun lainnya. Takaful (karakter senasib sepenanggungan) dalam tarbiyah merupakan karakter yang paling istimewa yang membedakannya dari individu lainnya. Kedermawanan peserta tarbiyah untuk mencurahkan harta, tenaga, dan waktu mereka demi menolong saudara-saudara mereka patut dijadikan teladan.

·      Takaful dalam tarbiyah ini adalah produk dari taaruf dan tafahum yang benar.

·      Secara umum, takaful berarti seseorang memikul beban orang lain ketika ia dalam kesulitan atau membutuhkannya.

Dalil

·     Hadits. Seseorang yang berjalan dalam rangka memenuhi hajat saudaranya, lebih baik baginya dari pada i'tikaf satu bulan di masjidku ini.

·     Hadits. Barangsiapa memasukkan kegembiraan kepada satu keluarga dari kalangan kaum muslimin, Allah tidak melihat balasan baginya kecuali surga.

·    Q. 22:77. Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

·     Hadits. Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain (seraya beliau satukan kedua telapak tangan dengan saling menyilangkan jari-jarinya) (Muttafaqun Alaih).

·     Hadits. Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kecintaan, kasih sayang, dan kelemahlembutan adalah seperti jasad yang satu. Apabila ada salah satu anggota badan yang sakit, maka sekujur badan akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam (Muttafaqun Alaih).

·     Hadits. Tolonglah saudaramu, baik ketika berbuat zalirn maupun ketika dizalimi. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, aku menolongnya apabila ia dizalimi. Akan tetapi apabila ia menzalimi, bagaimana aku menolongnya? Beliau menjawab, Engkau menghalanginya dari berbuat zalim. Demikian itu bentuk pertolonganmu kepadanya.

D. Al-Ukhuwwah Ar-Raabithah (Persaudaraan Yang Mengikat)

·    Kecintaan yang mendalam perlu diproses melalui taaruf, tafahum dan takaful. Dari ketiga proses ini akan muncul persaudaraan muslim yang kuat. Begitu banyak hadits tentang persaudaraan muslim yang digambarkan pada zaman para sahabat Nabi SAW Keadaan yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi SAW, nampaknya sulit untuk diamalkan dalam kehidupan saat ini. Hal ini terjadi karena syarat untuk tercapainya persaudaraan belum terpenuhi. Beberapa syarat tersebut adalah proses taaruf, tafahum dan takaful.

·    Karakter persaudaraan tersebut adalah saling menolong, saling mendoakan, saling kasih sayang, lemah lembut, tidak dengki, ticlak sombong, tidak benci, tidak menzalimi, tidak menghina, tidak mencemooh, dan tidak membongkar aibnya di depan orang lain. Dengan karakter persaudaraan ini menjadikan peserta tarbiyah disenangi oleh peserta lainnya bahkan saling merindukan. Dengan demikian mereka juga merindukan kehadirannya dalam tarbiyah, maka tarbiyah akan berkelanjutan.

Dalil

·    Q. 48:29. Muhammad itu utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang­orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka.

·    Hadits. Janganlah engkau saling mendengki, membongkar aib, membenci dan membelakangi, serta j anganlah sebagian dari kamu menjual barang dagangan yang sudah dijual kepada sebagian yang lain. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara; seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak menzalimi, menghina dan mencemoohkannya. Takwa itu tempatnya disini (seraya beliau menunjuk ke arah dada tiga kali). Cukuplah sebagai keburukan apabila ada seseorang mencela saudaranya sesama muslim. Setiap muslim dilarang mengganggu muslim yang lain, dalam hal darah, harta dan kehormatannya (HR. Muslim).

·    Hadits. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa menolong saudaranya, Allah akan menolongnya. Barangsiapa membebaskan saudaranya dari satu bencana, Allah akan membebaskannya dari bencana di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat (Muttafaqun Alaih).

3. At-Tadhhiyah Al-Khaalishah (Pengorbanan Yang Tulus)

·                    Al-Maaliyah (Harta)

·                Al-Fikriyah (Pemikiran)

·                An-Nafsiyah (Jiwa)

·                Al-Jundiyah Al-Muthii'ah (Pendukung Yang Taat)

A. Al-Maaliyah (Harta)

  • Pengorbanan dalam dakwah memerlukan pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan. Tidak ada kegiatan tanpa pengorbanan.
  • Pengorbanan harta benda merupakan suatu konsekuensi dari perjuangan, karena hampir setiap gerak dan kegiatan perjuangan memerlukan dana. Allah SWT banyak menyuruh kita untuk mengorbankan harta. Harta perlu dikeluarkan dalam bentuk zakat fisabilillah atau infak, sadaqah dan sebagainya.

Dalil

·       Q. 9: 11 1. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang­orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

·       Q. 9: 24. Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara­saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah, tempat tinggal, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan RasulNya, dan dari jihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik

·       Hadits. Dari Addi bin Hatim RA berkata Rasulullah SAW bersabda, "Peliharalah dirimu dari api neraka walaupun dengan sebelah buah kurma" (HR Bukhari).

B. Al-Fikriyah (Pemikiran)

·   Pengorbanan dalam aktifitas Islam merupakan sesuatu yang tak dapat dihindari. Pengorbanan dalam bentuk fikriyah adalah memberikan bantuan opini, ide, pendapat, pemikiran dan berbagai produk intelektual lainnya.

·   Pemikiran yang cemerlang amatlah sangat diperlukan dalam tarbiyah, karena pemikiran ini mampu menyelesaikan berbagai permasalahan umat dan mampu memberikan berbagai alternatif penyelesaian.

·   Dalam musyawarah, terkadang terjadi diskusi untuk membuat suatu perencanaan dakwah dan tarbiyah yang tidak selalu menerirna pemikiran kita, oleh karena itu dibiasakan juga untuk menerirna pendapat orang lain.

·   Musuh-musuh Allah berupaya semaksimal mungkin dengan kemampuan pemikirannya untuk merancang strategi menjauhkan umat dari agamanya. Oleh karena itu, kita perlu juga menghadapi dengan segenap pemikiran yang kita miliki.

Dalil

·    Q. 34:33. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: (tidak) sebenarnya tipu daya Mu di waktu malam dan siang ketika kamu menyeru kepada kamu supaya kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagiNya.

·    Hadits. Dari Sahl bin Sa'd RA berkata Rasulullah SAW bersabda, "Pergi di pagi hari atau sore hari di jalan Allah adalah lebih utama dari dunia dan seisinya" (HR Bukhari).

C. An-Nafsiyah (Jiwa)

·     Pengorbanan jiwa dalam tarbiyah merupakan pengorbanan yang pertama kali sebelum pengorbanan harta clan pemikiran. Pengorbanan jiwa di antaranya yang ringan adalah mengorbankan waktu istirahat, mengorbankan perasaan dan mengorbankan fisiknya.

·     Beberapa contoh yang mengorbankan badan atau fisiknya untuk dakwah adalah sahabat Nabi SAW yang bernama Nusaibah RA yang rela menjadi tameng untuk fisik Nabi SAW dari serbuan musuh sehingga badarinya penuh dengan anak panah bagaikan landak.

·     Begitu banyak ayat-ayat Allah yang menyuruh kita untuk mengorbankan jiwa dan hartanya untuk meraih surga atau kemenangan. Namun demikian, untuk mencapai jiwa pengorbanan ini tidaklah mudah dan perlu adanya latihan. Tarbiyah menyediakan latihan ini agar kita siap dan mampu berkorban.

Dalil

·    Q. 49. 15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

·    Hadits. Dari Qais Al-Jadzami berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Akan diberikan kepada seseorang yang syahid di medan tempur enam perkara; ketika cucuran darah pertamanya menetes, maka aka dihapuskan semua dosanya, dia akan melihat tempatnya di surga, dia akan dikawinkan dengan bidadari, dia akan aman dari rasa takut yang amat besar, dia diamankan dari siksa kubur, akan diberikan kepadanya perhiasan iman" (HR Ahmad).

D. Al-Jundiyah Al-Muthii'ah (Pendukung Yang Taat)

·     Pendukung atau tentara yang taat ini adalah menjalankan perintah dan merealisasikannya dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas.

·     Pengorbanan terhadap harta dan jiwanya serta pemikirannya diberikan dalam keadaan apapun. Mereka yang taat kepada Allah dan RasulNya akan berkorban dalam keadaan ringan ataupun berat. Karena mereka mengetahui bahwa pengorbanan ini rnembawa kebaikan. Di antara kebaikan yang diperolehnya adalah mereka akan senantiasa terlibat dengan berbagai kegiatan tarbiyah.

Dalil

·    Q. 9: 41. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

·    Hadits. Dari Abu Hurairah RA berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Semua umatku akan masuk surga kecuali yang menolak." Para Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang menolak ?" Rasulullah SAW menjawab, "Siapa yang taat kepadaku ia masuk surga, dan siapa yang berpaling dariku, maka ia benar-benar telah menolak" (HR Bukhari).

4. Al-Muta’anniyah (Lambat Tapi Pasti)

·    Ketiga prinsip tarbiyah berkelanjutan ini (iman yang mendalam, kecintaan dan pengorbanan) dikembangkan dalam tarbiyah dengan cara perlahan tapi pasti. Cara inilah yang membawa kepada suatu kemenangan.

·     Sikap atau cara terburu-buru adalah perbuatan syaitan yang tidak akan menghasilkan apa-apa. Tarbiyah mengajarkan kepada kita untuk tidak terburu-buru dalam mendapatkan hasilnya dan tidak pula merasa cepat putus asa. Tarbiyah memerlukan waktu yang lama untuk melakukan perubahan, walaupun hasil tarbiyah pasti akan diperoleh.

·     Tarbiyah yang terburu-buru biasanya akan tersangkut dan berhenti, karena hal ini tidak mengiringi karakter fitrah manusia dan pola perubahan kemanusiaan yang bertahap. Cara tarbiyah adalah cara yang bertahap dengan mengikuti proses namun pasti dan jelas untuk mendapatkan buah dari tarbiyah tersebut.

5. Ar-Rijaal Ar-Rabbaaniyuun (Orang Yang Dekat Dengan Tuhan)

·     Karakter pendukung tarbiyah yang telah terbina dengan cara yang tidak tergesa-gesa dan tidak terburu-buru akan menghasilkan karakter orang yang bertakwa dengan ciri­-ciri tidak lemah dan tidak pula menyerah kepada musuh serta senantiasa bersabar dalam menghadapi berbagai musibah.

·     Pribadi dengan karakter rabbaniyun juga pribadi yang senantiasa mengajarkan Al Kitab dan sekaligus mempelajarinya. Karakter ini adalah karakter pribadi muslim dan sekaligus pribadi dai. Karakter ini pula yang dapat membawa tarbiyah tetap berjalan dan berkelanjutan.

Dalil

·     Q. 3: 146. Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar.

·     Q. 3: 79. Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi or­ang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

·     Hadits. Dari Utsman berkata Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya" (HR Bukhari).

Ringkasan Dalil

1.    Al-limaan Al-Kaamil (Iman Yang Sempurna)

·       Allah dan Ar-Rasuul (Rasul) (Q. 2:208, Q. 4:170, Q. 64:8-9, Hadits)

·       Al-Islaam (Islam) (Q. 3:85, Q. 61:7, Q. 21:108, Q. 5:3,Q. 2:208)

·       Al-`Aqiidah Al-`Amiigah (Akidah Yang Mendalam) (Q. 3:195, Q.12:108, Q.2:256, Hadits).

2.      Al-Hubb Al-Watsiiq (Kecintaan Yang Mendalam)

·      At-Ta'aaruf (Saling Mengenal) (Q. 49:10, Q. 3:103, hadits)

·       At-Tafaahum (Saling Memahami) (Q. 3:103, hadits).

·               At-Takaaful (SalingMenanggung) (Q. 22:72, hadits).

·      Al-Ukhuwwah Ar-Raabithah (Persaudaraan Yang Mengikat) (Q. 48:29, hadits).

3.      At-Tadhhiyyah Al-Khaalishah (Pengorbanan Yang Tulus)

·     Al-Maaliyah (Harta) (Q. 9:111, Q. 9:24)

·     Al-Fikriyah (Pemikiran) (Q. 34:33)

·      An-Nafsiyah Uiwa) (Q. 49:15)

·     Al-Jundiyah Al-Muthii'ah (Pendukung Yang Taat) (Q. 9:41)

4.        Al-Muta’anniyah (Lambat Tapi Pasti)

5.     Ar-Rijaal Ar-Rabbaaniyuun (Orang Yang Dekat Dengan Tuhan) (Q. 3:146, Q. 3:79)

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat