Orientalisme
ORIENTALISME
Definisi:
Orientalisme
(Orientalism) adalah istilah yang menunjukkan kecenderungan ke arah
Timur. Istilah ini disematkan pada setiap studi yang membahas tentang urusan
bangsa-bangsa Timur, kebudayaan, dan sejarah mereka. Yang dimaksud dengan
orientalisme adalah arus pemikiran yang terwujud dalam pelaksanaan berbagai
studi tentang dunia Timur Islam, mencakup peradaban, agama-agama, kesusastraan,
bahasa-bahasa, dan kebudayaannya. Arus ini berkontribusi dalam membentuk
persepsi Barat tentang dunia Timur secara umum, dan tentang dunia Islam secara
khusus, sebagai cerminan dari latar belakang pemikiran konflik peradaban di
antara keduanya.
Pembentukan
dan Tokoh-Tokoh Terkemuka
Awal
Mula:
- Sangat sulit untuk menentukan
permulaan pasti dari orientalisme. Sebagian sejarawan meruntutnya kembali
ke zaman Negara Islam di Andalusia, sementara sebagian lainnya meruntutnya
ke zaman Perang Salib, dan banyak sejarawan mengembalikannya ke zaman
Dinasti Umayyah pada abad kedua Hijriah. Gerakan ini aktif di Syam melalui
perantara seorang biarawan () bernama Yohanes dari Damaskus (John of
Damascus) dalam dua bukunya: Pertama: Kehidupan Muhammad; dan Kedua:
Dialog Antara Seorang Kristen dan Seorang Muslim. Tujuannya adalah untuk
membimbing umat Nasrani dalam berdebat () melawan umat Islam. Bagaimanapun
juga, gerakan orientalisme telah bertolak dari dorongan keagamaan yang
bertujuan untuk melayani kolonialisme (), mempermudah kerjanya, dan
menyebarkan agama Kristen ().
- Orientalisme teologis dimulai
secara resmi ketika dikeluarkannya keputusan Konsili Wina gereja pada
tahun 1312 M, yaitu dengan mendirikan sejumlah kursi guru besar bahasa
Arab di beberapa universitas di Eropa.
- Konsep Orientalisme (Orientalism)
belum muncul di Eropa kecuali pada akhir abad kedelapan belas. Konsep ini
pertama kali muncul di Inggris pada tahun 1779 M, lalu di Prancis pada
tahun 1799 M, dan dimasukkan ke dalam Kamus Akademi Prancis pada tahun
1838 M.
- Herbert de Aurillac (938–1003
M) (Herbert de Oraliac) dari Ordo () Benediktin, pergi menuju
Andalusia dan belajar kepada para gurunya. Setelah kepulangannya, ia
terpilih sebagai Paus Agung dengan nama Silvester II (999–1003 M),
sehingga ia menjadi Papa/Paus () Prancis pertama.
- Pada tahun 1130 M, Uskup
Agung (*) Toledo menerjemahkan beberapa buku ilmiah berbahasa Arab.
- Gerard dari Cremona
(1114–1187 M) (Gerard de Cremona), seorang berkebangsaan Italia,
pergi ke Toledo dan menerjemahkan tidak kurang dari 87 karya dalam bidang
filsafat (*), kedokteran, astronomi, dan geomansi (ramal pasir).
- Petrus Venerabilis (1094–1156
M) (Pierre le Vénérable), seorang Prancis dari Ordo Benediktin,
pimpinan Biara Cluny, membentuk sebuah kelompok penerjemah untuk
memperoleh pengetahuan yang objektif tentang Islam. Dia sendiri adalah
sosok di balik terjemahan makna Al-Qur'an pertama ke dalam bahasa Latin
pada tahun 1143 M yang dilakukan oleh orang Inggris, Robert dari Ketton (Robert
of Ketton).
- Yohanes dari Sevilla (Juan
de Sevilla), seorang Yahudi yang masuk Kristen, muncul pada
pertengahan abad kedua belas dan menaruh perhatian pada ilmu astrologi
(*). Ia menerjemahkan empat buku karya Abu Ma'shar al-Balkhi dari bahasa
Arab pada tahun 1133 M dengan bantuan Adelard dari Bath (Adelard of
Bath).
- Roger Bacon (1214–1294 M) (Roger
Bacon), seorang Inggris, menimba ilmu di Oxford dan Paris hingga
memperoleh gelar doktor dalam bidang Teologi (*). Ia menerjemahkan buku Cermin
Kimia (Mirrour of Alkimy) dari bahasa Arab di Nuremberg pada
tahun 1251 M.
- Ramon Llull / Raymond Lull
(1235–1314 M), menghabiskan sembilan tahun (1266–1275 M) untuk mempelajari
bahasa Arab dan mengkaji Al-Qur'an. Ia mendatangi Paus di Roma dan
memintanya mendirikan universitas-universitas yang mengajarkan bahasa Arab
guna melahirkan orientalist-orientalis yang mampu memerangi Islam, dan
Paus menyetujuinya. Pada Konsili Wina tahun 1312 M, ditetapkan pendirian
kursi-kursi bahasa Arab di lima universitas Eropa, yaitu: Paris, Oxford,
Bologna di Italia, Salamanca di Spanyol, serta Universitas Kepausan di
Roma.
Para
orientalis melakukan berbagai kajian tentang Islam, bahasa Arab, dan masyarakat
Muslim. Mereka memanfaatkan latar belakang kebudayaan dan pelatihan penelitian
mereka untuk mempelajari peradaban Islam serta menyibak rahasia-rahasianya demi
mencapai tujuan-tujuan kolonial dan misionaris (penyebaran agama Kristen)
Barat.
Sejumlah
orientalis menaruh perhatian yang tulus terhadap peradaban Islam dan berusaha
menyikapinya secara objektif. Sebagian kecil dari mereka berhasil dalam bidang
ini. Namun, bahkan mereka yang mencoba bersikap adil terhadap Islam, Kitab
Suci-Nya, dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak
mampu melepaskan diri dari pengaruh kebudayaan dan keyakinan mereka, sehingga
terucap/terbit dari mereka hal-hal yang tidak dapat diterima oleh umat Islam.
Ini berarti bahwa pengklasifikasian orientalis menjadi kelompok yang
"adil/objektif" (munsifin) dan kelompok yang
"fanatik" (muta'ashshibin) merupakan hal yang rentan perbedaan
pendapat. Sebab, bisa saja keluar pendapat atau pandangan yang ditolak dari
sosok yang dikenal moderat, dan sebaliknya, beberapa pandangan orientalis yang
fanatik bisa jadi merupakan bentuk pengakuan/keadilan yang indah bagi Islam.
Oleh karena itu, kami memperkirakan bahwa beberapa nama yang masuk dalam
klasifikasi kami berikut ini mungkin masih perlu ditinjau kembali.
Orientalis
yang Dinilai Objektif/Adil (Munsifun):
- Hadrian Reland
(1676–1718 M) (Hadrian Reland): Guru besar bahasa-bahasa Timur di
Universitas Utrecht, Belanda. Ia menulis buku Agama Muhammad (De
Religione Mohammedica) dalam dua jilid bahasa Latin pada tahun 1705 M.
Namun, Gereja (*) di Eropa memasukkan bukunya ke dalam daftar buku
terlarang untuk diedarkan.
- Johann Jakob Reiske
(1716–1774 M) (J. J. Reiske): Orientalis Jerman yang patut dicatat.
Ia dituduh melakukan zindik/atestasi (*) karena sikap positifnya terhadap
Islam. Ia hidup dalam kesengsaraan dan meninggal karena penyakit TBC.
Kepadanyalah kredit diberikan atas tersedianya tempat yang terpandang bagi
studi-studi Arab di Jerman.
- Silvestre de Sacy
(meninggal 1838 M) (Silvestre de Sacy): Menaruh perhatian pada
sastra dan tata bahasa Arab serta menjauhi pendalaman kajian-kajian
keislaman. Kepadanya diberikan kredit atas dijadikannya Paris sebagai
pusat studi bahasa Arab. Di antara orang yang berhubungan dengannya adalah
Rifa'ah at-Tahtawi.
- Thomas Arnold
(1864–1930 M): Orang Inggris, memiliki karya The Preaching of Islam
(Seruan Kepada Islam) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Turki, Urdu, dan Arab.
- Gustave Le Bon:
Orientalis dan filsuf materialis (), tidak mempercayai agama-agama ()
sama sekali. Penelitian dan bukunya yang banyak ditandai oleh sikap adil
terhadap peradaban Islam, yang menyebabkan orang-orang Barat
mengabaikannya dan tidak mengapresiasinya.
- Sigrid Hunke:
Tulisan-tulisannya dicirikan oleh keadilan/objektivitas, yaitu dengan
menonjolkan pengaruh peradaban Arab terhadap Barat dalam karyanya yang
terkenal Matahari Arab Terbit di Barat (Allahs Sonne über dem
Abendland).
- Di antara yang moderat juga
adalah: Jacques Berque, Annemarie Schimmel, Thomas Carlyle, René Guénon,
Dr. Grenier, dan Goethe dari Jerman.
- A. J. Arberry (A.
J. Arberry): Di antara bukunya adalah Islam Today (terbit 1943
M), Sufism (terbit 1950 M), dan terjemahan makna-makna Al-Qur'an.
Orientalis
yang Fanatik (Muta'ashshibun):
- Ignaz Goldziher (Goldziher):
Orang Hungaria keturunan Yahudi. Di antara karyanya adalah Mazhab-Mazhab
Tafsir Islam (Die Richtungen der koranischen Auslegung) serta Aqidah
dan Syariat (Vorlesungen über den Islam). Ia menjadi pemimpin
keilmuan Islamologi di Eropa tanpa tandingan.
- John Maynard (Maynard):
Orang Amerika yang fanatik, salah satu redaktur Journal of Near Eastern
Studies / majalah studi keislaman.
- Samuel Marinus Zwemer
(S. M. Zwemer): Orientalis misionaris, pendiri majalah The
Moslem World di Amerika. Memiliki buku Islam, a Challenge to Faith
(terbit 1908 M), dan buku tentang Islam yang merupakan kumpulan makalah
yang disajikan pada Konferensi Misionaris Kedua tahun 1911 M di Lucknow,
India.
- Gustave E. von Grunebaum
(G. Von Grunebaum): Orang Jerman keturunan Yahudi, mengajar di
universitas-universitas Amerika. Memiliki karya Muhammadan Festivals
(1951 M) dan Studies in Islamic Cultural History (1954 M).
- A. J. Wensinck (A.
J. Wensink): Musuh Islam, memiliki buku Keyakinan Islam (The
Muslim Creed, 1932 M). Ia adalah penerbit Concordance et Indices de
la Tradition Musulmane (Kamus Terindeks Lafal Hadis Nabi) dalam
bahasa aslinya.
- Kenneth Cragg (Cragg):
Orang Amerika yang fanatik, memiliki buku The Call of the Minaret
(1956 M).
- Louis Massignon (Massignon):
Orang Prancis, misionaris, penasihat di Kementerian Jajahan Prancis untuk
urusan Afrika Utara. Memiliki karya Al-Hallaj, Sufi Martir Islam
(1922 M).
- Duncan Black Macdonald
(D. B. Macdonald): Orang Amerika, fanatik, misionaris. Memiliki
buku Development of Muslim Theology, Jurisprudence and Constitutional
Theory (1930 M) dan The Religious Attitude and Life in Islam
(1908 M).
- Miles Green (M.
Green): Sekretaris redaksi Middle East Journal.
- David Samuel Margoliouth
(D. S. Margoliouth): Orang Inggris, fanatik. Di antara murid murid
dari sekolah/pemikirannya adalah Taha Hussein dan Ahmad Amin. Memiliki
buku The Early Development of Mohammedanism (terbit 1913 M), Mohammed
and the Rise of Islam (terbit 1905 M), dan The Pan-Islamic Movement
(terbit 1912 M).
- Baron Carra de Vaux (Baron
Carra de Vaux): Orang Prancis yang fanatik, termasuk redaktur senior Encyclopaedia
of Islam.
- H. A. R. Gibb (H.
A. R. Gibb, 1895–1971 M): Orang Inggris. Di antara karyanya adalah Mohammedanism
(1947 M) dan Modern Trends in Islam (1947 M).
- R. A. Nicholson (R.
A. Nicholson): Orang Inggris, mengingkari bahwa Islam adalah agama
spiritual dan menyifatinya dengan materialistis serta ketiadaan keluhuran
kemanusiaan. Memiliki buku The Mystics of Islam (1910 M) dan A
Literary History of the Arabs (1930 M).
- Henri Lammens S.J.
(1862–1937 M) (H. Lammens): Orang Prancis, Yesuit, fanatik.
Memiliki buku Islam: Beliefs and Institutions dan buku Ta'if.
Termasuk redaktur Encyclopaedia of Islam.
- Joseph Schacht (Schacht):
Orang Jerman, fanatik membenci Islam. Memiliki buku The Origins of
Muhammadan Jurisprudence.
- Régis Blachère (Blachère):
Pernah bekerja di Kementerian Luar Negeri Prancis sebagai pakar urusan
Arab dan Muslim.
- Alfred Guillaume (A.
Guillaume): Orang Inggris, fanatik membenci Islam. Di antara bukunya
adalah Islam.
Pemikiran
dan Keyakinan:
Tujuan-Tujuan
Orientalisme:
- Tujuan Keagamaan:
Tujuan
inilah yang berada di balik kemunculan orientalisme dan menyertainya sepanjang
tahapan sejarahnya yang panjang, yang terwujud dalam:
- Meragukan keabsahan risalah
Nabi (*), serta mengklaim bahwa hadis Nabi hanyalah hasil buatan umat
Islam selama tiga abad pertama. Tujuan jahat di balik hal tersebut adalah
memerangi Sunnah dengan maksud menjatuhkannya, sehingga umat Islam
kehilangan gambaran penerapan nyata yang autentik dari hukum-hukum Islam
dan kehidupan Rasulullah (sallallahu 'alaihi wa sallam), yang dengan
demikian Islam kehilangan unsur kekuatan terbesarnya.
- Meragukan keautentikan
Al-Qur'an dan mencelanya agar umat Islam berpaling dari bersatu di atas
satu tujuan yang menghimpun mereka dan menjadi sumber kekuatan mereka,
serta menjauhkan mereka melalui dialek-dialek kebangsaan dari Wahyu selaku
sumber utama agama ini. padahal ia adalah:
"Yang
diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji." (QS. Fussilat
[41]: 42)
- Meminimalkan nilai Fikih
Islam dan menganggapnya diserap/diturunkan dari Hukum Romawi.
- Mencela bahasa Arab dan
mengesampingkan kemampuannya untuk mengimbangi laju perkembangan, serta
mengukuhkan pengkajian dialek-dialek lokal (bahasa amiyah) untuk
menggantikan bahasa Arab fusha (baku).
- Mengembalikan ajaran Islam
kepada sumber-sumber Yahudi dan Nasrani, bukannya mengembalikan kesamaan
antara Islam dan kedua agama tersebut kepada kesatuan sumbernya (yaitu
sama-sama dari Allah).
- Berupaya mengkristenkan umat
Islam.
- Bersandar pada hadis-hadis
lemah (dha'if) dan berita-berita palsu (maudhu') demi
mendukung pandangan-pandangan mereka dan membangun teori-teori mereka.
- Tujuan strategis keagamaan
dari kampanye distorsi terhadap Islam ini adalah untuk melindungi Eropa
agar tidak menerima Islam, setelah Eropa gagal memusnahkannya melalui
perang-perang fisik (Perang Salib).
- Tujuan Komersial:
Lembaga-lembaga dan perusahaan-perusahaan besar, serta para raja,
mengeluarkan dana yang melimpah kepada para peneliti untuk mempelajari
negara-negara Islam dan menulis laporan tentangnya. Hal ini sangat jelas
terlihat pada era sebelum kolonialisme (*) Barat terhadap dunia Islam pada
abad kesembilan belas dan kedua puluh.
- Tujuan Politik, yang
bertujuan untuk:
- Melemahkan semangat
persaudaraan di antara sesama Muslim dan mengupayakan perpecahan mereka
demi memperkokoh dominasi atas mereka.
- Memberikan perhatian pada
dialek-dialek lokal (amiyah) dan mempelajari adat istiadat yang
berlaku untuk merobek kesatuan masyarakat Muslim.
- Mereka mengarahkan para
pegawai mereka di wilayah-wilayah jajahan ini untuk mempelajari
bahasa-bahasa negara tersebut, mempelajari kesusastraan, dan agamanya,
agar mereka mengetahui cara mengelola dan memimpin mereka.
- Sering kali para orientalis
ditempatkan melekat pada dinas intelijen untuk memetakan kondisi mendalam
umat Islam serta memberikan nasihat tentang apa yang harus dilakukan untuk
menanggulangi gerakan-gerakan kebangkitan Islam.
- Tujuan Ilmiah Murni:
Sebagian dari mereka mengarah pada penelitian dan pengkajian untuk
mengetahui kebenaran yang murni. Sebagian dari kelompok ini ada yang
sampai pada petunjuk Islam dan masuk ke dalamnya. Di antara mereka yang
kami sebutkan:
- Thomas Arnold, yang
bersikap adil terhadap umat Islam dalam bukunya The Preaching of Islam
(Seruan Kepada Islam).
- Orientalis Prancis, René
Guénon (Etienne Dinet / René Guénon), yang masuk Islam dan tinggal di
Aljazair. Ia memiliki karya Sinar Khusus Cahaya Islam. Ia meninggal
di Prancis tetapi dimakamkan di Aljazair.
Karya-Karya
Terpenting:
- Geschichte der
arabischen Litteratur (Sejarah Sastra Arab): Carl Brockelmann
(meninggal 1956 M).
- Encyclopaedia of Islam
(Ensiklopedia Islam): Edisi pertama muncul dalam bahasa Inggris,
Prancis, dan Jerman, diterbitkan pada periode 1913–1938 M. Namun edisi
baru diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Prancis saja dari tahun 1945 M
hingga 1977 M.
- Concordance et Indices
de la Tradition Musulmane (Kamus Terindeks Lafal Hadis Nabawi),
yang mencakup Kitab Enam (Al-Kutub as-Sittah) yang terkenal,
ditambah Musnad ad-Darimi, Muwatta' Malik, dan Musnad
Ahmad bin Hanbal. Disusun dalam tujuh jilid yang diterbitkan mulai
tahun 1936 M.
Karya-karya
yang mereka tulis tentang dunia Timur dalam kurun waktu satu setengah abad
(sejak awal abad kesembilan belas hingga pertengahan abad kedua puluh) mencapai
enam puluh ribu buku.
Konferensi
dan Perhimpunan:
- Konferensi Internasional
Orientalis pertama diadakan di Paris pada tahun 1873 M.
- Konferensi-konferensi
berikutnya terus berlanjut hingga mencapai lebih dari tiga puluh
konferensi internasional, di samping banyak simposium dan pertemuan
regional khusus bagi tiap-tiap negara, seperti Konferensi Orientalis
Jerman yang diadakan di kota Dresden, Jerman, pada tahun 1849 M.
Konferensi-konferensi semacam ini masih terus berlangsung secara berkala
hingga saat ini.
- Konferensi-konferensi ini
dihadiri oleh ratusan ilmuwan orientalis; di mana Konferensi Oxford
dihadiri oleh sembilan ratus (900) ilmuwan dari dua puluh lima negara,
delapan puluh universitas, dan enam puluh sembilan perhimpunan ilmiah.
- Terdapat banyak perhimpunan
orientalisme, seperti Société Asiatique di Paris yang didirikan
pada tahun 1822 M, Royal Asiatic Society di Britania Raya dan
Irlandia pada tahun 1823 M, American Oriental Society pada tahun
1842 M, dan Deutsche Morgenländische Gesellschaft (Perhimpunan
Timur Jerman) pada tahun 1845 M.
Jurnal-Jurnal
Orientalisme:
Para
orientalis saat ini memiliki jumlah jurnal dan terbitan berkala yang sangat
besar, melebihi tiga ratus jurnal yang beragam dalam berbagai bahasa. Kami
sebutkan di antaranya sebagai contoh:
- Majalah The Muslim World
(Dunia Muslim): Didirikan oleh Samuel Zwemer (meninggal 1952 M) di
Britania Raya pada tahun 1911 M, dan Zwemer ini adalah pemimpin Misionaris
di Timur Tengah.
- Majalah Mir Islama (Dunia
Islam): Terbit di St. Petersburg pada tahun 1912 M, tetapi tidak
bertahan lama.
- Majalah Fundgruben des
Orients (Mata Air Timur): Diterbitkan oleh Hammer-Purgstall di
Wina dari tahun 1809 hingga 1818 M.
- Majalah L'Islam:
Terbit di Paris pada tahun 1895 M, kemudian digantikan pada tahun 1906 M
oleh majalah Revue du Monde Musulman yang diterbitkan oleh Misi
Ilmiah Prancis di Maroko, yang kemudian berubah menjadi Revue des
Études Islamiques.
- Pada tahun 1910 M, muncul
majalah Der Islam.
Orientalisme
dalam Melayani Kolonialisme (*):
- Carl Heinrich Becker
(meninggal 1933 M): Pendiri majalah Der Islam Jerman, melakukan
kajian-kajian yang melayani tujuan-tujuan kolonial di Afrika.
- W. Barthold
(meninggal 1930 M): Pendiri majalah Mir Islama Rusia, melakukan
penelitian yang melayani kepentingan supremasi Rusia di Asia Tengah.
- Christiaan Snouck
Hurgronje dari Belanda (1857–1936 M): Datang ke Mekkah pada tahun 1884
M menggunakan nama "Abdul Ghaffar" dan menetap selama setengah
tahun. Ia kembali untuk menulis laporan-laporan yang melayani kolonialisme
di Dunia Islam Timur. Sebelumnya ia telah tinggal di Jawa selama 17 tahun.
Foto-foto yang diambilnya di Mekkah dan tempat-tempat suci diterbitkan
dalam sebuah buku dalam rangka memperingati seratus tahun pemotretannya.
- École des Langues
Orientales (Institut Bahasa-Bahasa Timur) di Paris yang didirikan pada
tahun 1885 M: Tugasnya adalah memperoleh informasi tentang negara-negara
Timur dan negara-negara Timur Jauh, yang membentuk landasan untuk
mempermudah proses kolonisasi di wilayah-wilayah tersebut.
Dengan
demikian, kita melihat bahwa para orientalis semacam ini merupakan bagian dari
rencana besar, yaitu rencana Zionis-Salibis untuk memerangi Islam. Kita tidak
dapat memahami hakikat mereka yang sebenarnya kecuali ketika kita melihat
mereka dalam bingkai rencana tersebut yang bertujuan melahirkan
generasi-generasi yang tidak mengenal Islam, atau tidak mengenal Islam kecuali
keraguan-keraguan (syubhat). Individu-individu dari generasi ini telah
dipilih untuk menduduki jabatan-jabatan tertinggi serta pusat-pusat
kepemimpinan dan pengarahan guna terus melayani kolonialisme (*).
Pandangan-Pandangan
Orientalisme yang Berbahaya:
- George Sale (G.
Sale): Mengklaim dalam pengantar terjemahan makna Al-Qur'an miliknya
pada tahun 1736 M, bahwa Al-Qur'an hanyalah rekaan Muhammad (sallallahu
'alaihi wa sallam) dan hasil karangannya, serta menyatakan hal itu sebagai
perkara yang tidak dapat diperdebatkan lagi (*).
- Richard Bell (Richard
Bell): Mengklaim bahwa Nabi () Muhammad (sallallahu 'alaihi wa
sallam) mengambil Al-Qur'an dari sumber-sumber Yahudi, khususnya
Perjanjian Lama, serta dari sumber-sumber Nasrani ().
- Reinhart Dozy
(meninggal 1883 M): Mengklaim bahwa Al-Qur'anul Karim memiliki cita rasa
yang sangat buruk dan sangat sedikit hal baru di dalamnya, sebagaimana ia
mengklaim bahwa di dalamnya terdapat uraian yang sangat bertele-tele dan
sangat membosankan.
- Disebutkan dalam laporan
Menteri Jajahan Inggris, Ormsby-Gore, kepada Perdana Menterinya tertanggal
9 Januari 1938 M: "Bahwa perang telah mengajarkan kita bahwa
persatuan Islam adalah bahaya terbesar yang harus diwaspadai dan diperangi
oleh Kekaisaran, dan bukan hanya Kekaisaran saja tetapi juga Prancis.
Betapa bahagianya kita, Kekhalifahan () telah lenyap, dan saya
berharap ia tidak akan kembali lagi."*
- Sheldon Amos berkata:
"Bahwa syariat Muhammad tidak lain hanyalah Hukum Romawi dari
Kekaisaran Timur yang dimodifikasi sesuai dengan kondisi politik di
wilayah kekuasaan Arab." Ia juga berkata: "Bahwa hukum
Muhammad tidak lain hanyalah Hukum Yustinianus dalam pakaian Arab."
- Ernest Renan dari
Prancis berkata: "Bahwa filsafat Arab adalah filsafat Yunani yang
ditulis dengan huruf-huruf Arab."
- Adapun Louis Massignon,
ia adalah pemimpin gerakan yang bertujuan untuk menulis dalam bahasa Arab
pasaran (amiyah) dan menggunakan huruf Latin.
Namun
demikian:
- Tidak diragukan lagi bahwa
para orientalis memiliki jasa besar dalam mengeluarkan banyak buku-buku
turats (warisan klasik) dan menerbitkannya dalam keadaan telah ditahkik
(diteliti keabsahannya), diberi indeks, dan disistematisasikan.
- Tidak diragukan pula bahwa
banyak dari mereka memiliki metodologi ilmiah yang membantu mereka dalam
penelitian.
- Tidak diragukan lagi bahwa
sebagian dari mereka memiliki kesabaran, ketekunan, dan ketahanan dalam
melakukan tahkik, pencermatan, serta penelusuran masalah-masalah ilmu.
Seorang
penuntut ilmu hendaknya mengambil kebaikan dari karya-karya mereka dengan tetap
waspada terhadap titik-titik penyusupan (das) dan penyimpangan (tahrif);
agar ia dapat menghindarinya, membongkarnya, atau membantahnya. Sebab, hikmah
adalah barang hilang milik orang beriman, di mana pun ia menemukannya maka
dialah yang paling berhak atasnya. Terlebih lagi, pemikiran orientalisme
kontemporer telah mulai mengubah metode dan roman mukanya demi menjaga
persahabatan dan kerja sama antara dunia Barat dan dunia Islam, serta membangun
dialog antara Agama Kristen (*) dan Islam dan berupaya mengubah pandangan
dangkal Barat terhadap umat Islam, atau mungkin sebagai upaya untuk merangkul
kekuatan-kekuatan Islam dan memanfaatkannya demi melayani tujuan-tujuan mereka.
Maka, hendaklah kita bersikap waspada.
Akar
Pemikiran dan Akidah
Orientalisme
lahir dari interaksi antara Dunia Timur Islam dan Dunia Barat Nasrani pada masa
Perang Salib, serta melalui utusan-utusan diplomatik dan perjalanan-perjalanan.
Selalu teramati bahwa terdapat kedekatan dan kerja sama antara "tiga
serangkai yang merusak": Misionarisasi (Tanshir), Orientalisme (Istisyraq),
dan Kolonialisme (Isti'mar) (*). Para penjajah mendukung para orientalis
dan misionaris karena mereka mengambil banyak manfaat dari keduanya dalam
rencana-rencana kolonial mereka.
Motif
utamanya adalah sisi teologis (*) Nasrani dengan tujuan menghancurkan Islam
dari dalam melalui penyusupan, tipu daya, dan distorsi. Akan tetapi,
orientalisme setelah itu dan pada masa-masa belakangan mulai melepaskan diri
dari keterikatan ini sampai batas tertentu untuk beralih menuju pendekatan yang
lebih dekat dengan semangat ilmiah.
Penyebaran
dan Wilayah Pengaruh
Barat
adalah panggung tempat para orientalis bergerak. Di antara mereka ada
orang-orang Jerman, Inggris, Prancis, Belanda, dan Hungaria. Sebagian dari
mereka muncul di Italia dan Spanyol, dan bintang orientalisme sangat cemerlang
di Amerika hingga memiliki banyak pusat kajian di sana.
Pemerintah,
lembaga, perusahaan, yayasan, maupun gereja tidak pernah kikir dalam mendukung
gerakan orientalisme dan menyokongnya dengan dana yang dibutuhkan, dukungan,
serta membuka jalan bagi mereka di universitas-universitas, hingga jumlah para
orientalis ini mencapai ribuan banyaknya.
Gerakan
orientalisme diabdikan untuk melayani kolonialisme, misionarisasi, dan terakhir
melayani Yahudi serta Zionisme yang berkepentingan untuk melemahkan Dunia Timur
Islam dan memperkokoh dominasi atasnya secara langsung maupun tidak langsung.
Para
orientalis berhasil menyusup ke dalam akademi-akademi ilmiah, dan sejumlah
besar dari mereka diangkat sebagai anggota di akademi-akademi ini di Suriah dan
Mesir. Mereka juga mampu memengaruhi studi-studi Arab dan Islam di Dunia Islam
melalui murid-murid dan karya-karya tulis mereka.
Dari
uraian di atas menjadi jelas bahwa: Orientalisme adalah arus pemikiran yang
mengarah ke Timur untuk mempelajari peradaban, agama, kebudayaan, bahasa, dan
sastranya melalui gagasan-gagasan yang sebagian besarnya ditandai oleh
fanatisme, keinginan melayani kolonialisme, mengkristenkan umat Islam, dan
menjadikan mereka bentukan kerdil yang terdistorsi dari kebudayaan Barat. Hal
itu dilakukan dengan menanamkan rasa rendah diri (inferiority complex)
pada mereka, menjelaskan bahwa agama mereka adalah campuran dari Yahudi dan
Nasrani, syariat mereka adalah hukum-hukum Romawi yang ditulis dengan huruf
Arab, mencela bahasa mereka, serta merusak akidah dan nilai-nilai mereka.
Namun
demikian, sebagian dari mereka melihat cahaya kebenaran lalu masuk Islam dan
melayani akidah Islam serta memengaruhi para orientalis kontemporer. Maka,
tulisan-tulisan mereka mulai cenderung ke arah keilmiahan dan menuju kedalaman
alih-alih dangkal. Hal ini bisa jadi bersumber dari keinginan sebagian mereka
untuk merangkul kekuatan-kekuatan Islam dan memanfaatkannya demi melayani
tujuan-tujuan orientalisme mereka. Hal ini menuntut kewaspadaan saat
berinteraksi dengan pemikiran orientalisme yang saat ini mengenakan jubah
objektivitas.
Referensi
untuk Pendalaman:
- Al-Istisyraq
(Orientalisme), Edward Said – Terjemahan Kamal Abu Deeb – Mu'assasat
al-Abhats al-'Arabiyyah, Beirut, 1981 M.
- Al-Mustasyriqun
(Para Orientalis), Najib al-'Aqiqi – Dar al-Ma'arif – Kairo – 1981 M.
- Al-Istisyraq
wal-Mustasyriqun (Orientalisme dan Para Orientalis), Dr. Mustafa
as-Siba'i – Cet. 2 – Al-Maktab al-Islami – Beirut – 1979 M.
- As-Sunnah wa Makanatuhu
fit-Tasyri' al-Islami (As-Sunnah dan Kedudukannya dalam Penetapan
Hukum Islam), Dr. Mustafa as-Siba'i – Beirut – 1978 M.
- Intaj al-Mustasyriqin
(Karya-Karya Para Orientalis), Malik bin Nabi.
- Urubba wal-Islam
(Eropa dan Islam), Hisham Djait – Terjemahan Talal Atrissi – Dar
al-Haqiqah – 1980 M.
- Ats-Tsaqafah
al-Gharbiyyah fi Ra'iyyat asy-Syarq al-Awsat (Kebudayaan Barat dalam
Naungan Timur Tengah), Dr. George Sarton – Terjemahan Dr. Omar Farrukh –
Cet. 1 – Maktabat al-Ma'arif – Beirut – 1952 M.
- Al-Istisyraq
wal-Khalfiyyah al-Fikriyyah lil-Shira' al-Hadhari (Orientalisme dan
Latar Belakang Pemikiran Konflik Peradaban), Dr. Mahmoud Hamdi Zaqzouq –
Cet. 1 – Kitab al-Ummah – 1404 H.
- Al-Fikr al-Islami
al-Hadits wa Shilatuhu bil-Isti'mar al-Gharbi (Pemikiran Islam Modern
dan Hubungannya dengan Kolonialisme Barat), Muhammad al-Bahi – Dar al-Fikr
– Beirut – 1973 M.
- Al-Madkhal li Dirasat
asy-Syari'ah al-Islamiyyah (Pengantar Studi Syariat Islam), Dr. Abdul
Karim Zaidan – Mu'assasat ar-Risalah – Beirut – 1981 M.
- Al-Islam fil-Fikr
al-Gharbi (Islam dalam Pemikiran Barat), Mahmoud Hamdi Zaqzouq – Dar
al-Qalam – Kuwait – 1981 M.
- Ad-Dirasat al-Islamiyyah
bil-'Arabiyyah fil-Jami'at al-Almaniyyah (Studi-Studi Keislaman
Berbahasa Arab di Universitas-Universitas Jerman), Rudi Paret – Terjemahan
Dr. Mustafa Maher – Kairo – 1967 M.
- Adhwa' 'alal-Istisyraq
(Sorotan atas Orientalisme), Dr. Muhammad Abdul Fattah Uliyan – Cet. 1 –
Dar al-Buhuts al-'Ilmiyyah – Kuwait – 1980 M.
- Al-Mustasyriqun
wal-Islam (Para Orientalis dan Islam), Ceramah oleh Ustadz Muhammad
Qutb.
- Al-Mustasyriqun
wal-Maudhu'iyyah (Para Orientalis dan Objektivitas), Dr. Ahmad Ghorab.
Referensi
Asing:
- Rudi Paret: Der Koran
Uebersetzung, Stuttgart, 1980.
- C.E. Bosworth: Orientalism
and Orientalists (in Arab Islamic Bibliography), 1977, Great
Britain.
- H.A. Fischer-Barnicol: Die
Islamische Revolution, Stuttgart, 1981.
- Johann Fück: Die
Arabischen Studien in Europa, Leipzig, 1955.
- Gustav Pfannmüller: Handbuch
der Islam-Literatur, Berlin, 1933.
- M. Rodinson: Mohammed,
Frankfurt, 1975.
Sumber:
Al-Nadwah
al-ʿĀlamiyyah
li al-Shabāb al-Islāmī. Al-Mawsūʿah
al-Muyassarah fī al-Adyān wa
al-Madhāhib wa al-Aḥzāb al-Muʿāṣirah.
Supervised by Maniʿ ibn Ḥammād al-Juhanī. 4th ed.
Riyadh: Al-Nadwah al-ʿĀlamiyyah li al-Shabāb al-Islāmī, 1999.
Comments
Post a Comment