Asbaab At-Tafarruq Wa'ilaajuhu (Sebab-Sebab Perpecahan dan Solusinya)
Sinopsis
Terjadinya perpecahan
dan kesulitan mencari ilaj (solusi)nya merupakan gambaran umat Islam yang sebenarnya pada saat in. Perpecahan terjadi disebabkan adanya proses yang melanggar perjanjian, mengerjakan hal-hal yang dilaknat Allah, keras hati, mempermainkan minhaj, melupakan
minhaj, khianat, tumbuh kebencian dan saling bermusuhan
satu dengan yang lain sehingga
terjadi perpecahan.
Banyak sebab yang membuat terjadinya perpecahan, namun demikian perpecahan lebih bersifat
individu/internal dibandingkan disebabkan oleh eksternal. Bersatu atau berpecah tergantung kepada hati individu yang bersangkutan,
walaupun begitu banyak aral melintang yang mengganggu tetapi dirinya sendiri yang dapat menentukan. Beberapa
penyebab individu selain hati yang keras dan tidak mengamalkan
nilai-nilai Islam, terdapat beberapa sebab lainnya
yang cukup berperan di antaranya adalah cemburu dengan orang lain, sombong dan senang tampil, sikap menganggap ringan masalah dan takut mati.
Cemburu dengan orang lain, terutama terhadap orang-orang
yang terdepan,
terpandang, sukses dan yang dikaruniai
keahlian yang tidak
dimiliki oleh orang lain. Cemburu ini akan merusak hati dan merusak hubungan sesama muslim. Penyakit ini perlu di atasi karena adanya
kawan yang maju,
berhasil dan sukses adalah hal yang biasa dalam kehidupan ini.
Apabila cemburu ini tidak dihilangkan maka yang bersangkutan akan rugi karena ia akan menemui hal yang sama di
tempat yang lain. Hal ini dapat menimbulkan bencana besar dimana seorang yang melampaui
batas, sehingga lepas kontrol serta terlepas dari segala sifat baiknya akan mencelakakan diri dan kawannya
sendiri.
Senang tampil dan berbuat sombong adalah
satu penyakit hati yang juga dapat merusak hubungan persaudaraan. Beriringan dengan sifat ini adalah individu tidak rela
kalau ada orang lain tampil lebih mampu dari dirinya. Kesombongan juga akan mengakibatkan tidak mengakui kepada
kebesaran Allah dan akan meninggalkan perintah Allah. Suatu hal yang sulit
berhubungan dengan orang lain apabila
individu tidak mau menerima kehebatan orang lain dan ingin sendiri yang tampil. Bahkan senang tampil di depan umum akan mengurangi keikhlasannya dalam berdakwah. Penyakit batin ini sangat berbahaya, karena dapat menghancurkan jiwa para aktifis dakwah, merusak amal, menghapus pahala dan mencelakakan mereka di akhirat.
Sikap menganggap ringan
syariat Allah dan pelaksanaan hukum Allah SWT
serta menganggap enteng komitmen kepada
hukum-hukum Islam juga
termasuk sifat yang merusak
ukhuwah. Sifat ini akan memperlonggar ikatan dirinya
dengan Islam. Sifat ini pula secara bertahap akan menjauhkan dirinya dari Allah SWT,
kemudian Allah melaknatinya
karena telah meninggalkan hukum Allah. Syariat Allah harus diterima secara utuh. Tidak ditambah dan juga
tidak dikurangi, karena orang yang menambah
sama dengan orang yang mengurangi yaitu campur tangan pada urusan Allah. Orang yang terbiasa dengan berbagai keringanan
akan tidak mampu membawa dirinya pada pelaksanaan
kewajiban. Bahkan mereka tidak akan mampu bersaudara
dengan mukmin lainnya karena telah menjauhkan
diri dari Islam.
Proses penyelesaian
perpecahan adalah menepati perjanjian sehingga memperoleh rahmah (kasih
sayang) Allah, komitmen
dengan minhaj-Nya, senantiasa ingat minhaj,
sikap amanah, menumbuhkan saling kasih sayang dan
akhirnya timbullah kesatuan. Yang terpenting dari upaya untuk menyelesaikan
masalah perpecahan adalah mendekatkan diri
kepada Allah dalam ketaatan beribadah, sehingga kemudian Allah menyatukan
hati manusia.
Ketakwaan yang merupakan hasil dari ketaatan ibadah akan mendekatkan diri kita kepada Allah, sehingga
Allah akan
menyatukan hati manusia yang membersihkan jiwa manusia dan yang mendekatkan
dirinya kepada Allah. Untuk melengkapi ini, maka
diperlukan cara penyelesaian kemanusiaan
yaitu hablumminannas (hubungan sesama manusia)
dengan melakukan perbaikan hubungan.
Melengkapi usaha
penyelesaian perpecahan dikembalikan kepada
sebab-sebab perpecahan secara khusus. Di antara penyelesaian tersebut adalah
membersihkan jiwa dengan melakukan pengamalan aktifitas ruhiyah seperti qiyamul
lail,
shalat tahajud, baca Al Quran,
berdzikir, berdoa dan memperbanyak beribadah. Menyibukkan diri dengan kegiatan dakwah juga satu usaha untuk melupakan kita kepada hal-hal yang sepele yang biasanya dapat membuat penyakit
hati muncul. Penyelesaian perpecahan dengan kesibukan
dakwah dilakukan dengan cara menyusun program kegiatan
dakwah, memfokuskan kepada kegiatan dakwah
dan menjalankan dakwah secara sungguh-sungguh. Penyelesaian yang berhubungan dengan manusia adalah mendidik jiwa pemaaf atas kesalahan orang lain dan membina mental toleran, menasihati dengan lembut dan berhusnudzan (sangka baik) dengan saudara seiman. Manakala penyelesaian kearah dirinya adalah bertaubat, berdzikir kepada Allah, dan beribadah.
Sebab-sebab perpecahan dapat diselesaikan
dengan beberapa bentuk penyelesaian yang sesuai, walaupun penyelesaian
yang utama adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT,
berikutnya disesuaikan dengan sebab perpecahannya.
ASBAAB AT-TAFARRUQ WA `ILAAJUHU (Sebab-sebab Perpecahan dan Obatnya)
Kelemahan paling besar
yang menghancurkan kekuatan Islam adalah perpecahan di kalangan umat. Perpecahan ini disebabkan faktor internal (kaum munafik dan kaum fasik)
dan faktor eksternal (kafirin dari musyrikin dan ahli kitab), mereka adalah musuh Islam. Musuh-musuh
Islam telah
melanggar fitrah dan sunatullah yang telah mereka ikrarkan
di alam arwah, ketika mereka mengakui bahwa Allah adalah rabb dan ilah. Mereka telah melanggar janji dengan tidak mengakui fitrah yang ada pada dirinya dan juga tidak
mengamalkan janjinya kepada Allah.
Perpecahan disebabkan
oleh orang-orang fasik yang mengkhianati
perjanjian setelah diteguhkan-Nya, tidak memutuskan perkara sesuai dengan
yang diputuskan
Allah, dan
mereka membuat kerusakan dan bencana di muka bumi.
Proses dan sebab
terjadinya furqah berawal dari melanggar perjanjian
dengan Allah yaitu
melakukan penolakan hukum dan nilai-nilai Allah SWT serta melakukan kerusakan.
Manusia secara umum dapat disebut melanggar janji Allah karena tidak mengikuti fitrah dan kecenderungan dirinya. Selain itu, bagi muslim yang berjanji -menyerahkan
diri dan bersyahadat tetapi tidak menepatinya, maka inilah tanda munculnya
pelanggaran. Muslim mestinya menepati janji
untuk menjadikan Allah sebagai
ilah dan tidak menjadikan ilah lain sebagai sembahan. Begitu juga perjanjian yang menjadikan Muhammad
sebagai Rasul, harus dibuktikan dengan meninggalkan
segala uswah selain Nabi SAW.
1. Naqdh Al-Miitsaaq (Melanggar Janji)
Melanggar perjanjian
akan dilaknat Allah SWT, sehingga Dia tidak
memberikan berkah dan rahmat. Manusia yang dilaknat Allah berarti mendapatkan kemurkaan-Nya di mana hidup kita menjadi susah, tidak tenang dan tidak bahagia.
Tidak dapat rahmah dan
juga tidak dapat berkah dari Allah SWT akan menj adikan keras hatinya, mudah marah, gelisah, susah dan tidak tenang. Keadaan jiwa yang demikian
mungkin akan menyebabkan hati ini rusak dan bahkan akan
mengalami gangguan jiwa.
Dalil
Q.
2:26-27. Sesungguhnya
Allah tiada segan membuat perumpamaan
berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.
Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu
benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan
ini untuk perumpamaan?".
Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan
Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberiNya petunjuk. Dan tidak
ada yang disesatkan
Allah kecuali orang-orang yang fasik.
Hadits. Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang memiliki perjanjian dengan suatu
kaum, maka janganlah melepas tali perjanjian
itu dan jangan pula mengencangkannya sebelum batas akhirnya habis atau menyembahkan perjanjian itu kepada mereka dengan
cara yang jujur"
(HR Ahmad).
2. La'natullaah (Mendapat Laknat Allah)
Orang yang tidak mengikuti
perintah Allah dan tidak
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari
berarti menentang perintah dan
kekuasaan Allah. Allah sebagai Pencipta manusia telah memberikan petunjuk dan jalan kebaikan bagi manusia berupa aturan-aturan yang tertuang dalam Al Quran. Namun apabila aturan tersebut tidak dijalankannya bahkan diingkari maka Allah akan marah kepadanya,
salah satu kemarahan Allah adalah diberikannya laknat.
3. Qaswah Al-Quluub (Keras Hati)
Manusia
yang dilaknat Allah hatinya menjadi keras. Akibatnya, tingkah lakunya akan mengikuti hawa nafsu. Hal ini pun akan menimpa orang yang
mempermainkan minhaj Islam. Islam dipermainkan
berdasarkan hawa nafsu yang tidak mempunyai prinsip dan
kedudukan yang jelas. Islam hanya dilaksanakan sebagian dan
ditinggalkan sebagian lainnya. Begitupun dengan
pemikiran yang menggugat dan menghujat Allah dan Islam.
Dalil
Q.
5:13. (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.
Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya,
dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka
kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
4. At-Talaa'ub Bil Minhaaj (Mempemainkan Pedoman)
Orang yang melanggar
janji dengan tidak mengamalkan perintah Allah adalah orang yang dilaknati Allah dan mereka memiliki hati yang kesat
sehingga disesatkan Allah. Mereka juga mempermainkan pedoman atau aturan Allah sesuka hatinya dan mengikuti
kemauan atar kepentingannya saja, orang yang demikian
akan mendapatkan balasan yang setimpal.
5. Nisyaan Al-Minhaaj (Melupakan Pedoman)
Mereka yang melanggar
janji ini akan sampai kepada melupakan minhaj dan
konsep Islam diketahuinya
atau yang sudah
difahaminya. Melupakan konsep dengan sengaja atau
tidak sengaja yang disebabkan
oleh maksiat yang tumbuh di
dalam dirinya akan menghilangkan ingatan dan
kecenderungan yang positif.
6. Al-Khiyaanah (Berkhianat)
Akhirnya mereka
berkhianat dan banyak melakukan berbagai
tindakan dan tingkah laku yang menentang Islam dan yang menyesatkan.
Allah SWT
berfirman mengenai bahaya gangguan syaitan yang mempengaruhi
manusia sehingga menjadi sesat. Khianat adalah orang yang tidak menunaikan amanah yang Allah dan manusia berikan. Keadaan
khianat menunjukkan keprbadian yang tidak bertanggung jawab,
sehingga dimusuhi oleh banyak orang dan juga
dimurkai Allah SWT
7. Al-'Adaawah - Al-Baghdhaa' (Bennusuhan dan Kebencian)
Sifat khianat
menumbuhkan kebencian dan saling bermusuhan.
Kepribadian yang tidak bertanggung jawab dan berkhianat kepada
manusia dan Allah akan menuai kerusakan yang dilakukannya.
Manusia akan saling benci dan permusuhan akan
terjadi. Tindakan dan tingkah lakunya
berdasarkan kemauan sendiri dan tidak mempedulikan
kepentingan
orang lain.
8. Al-Furqah (Perpecahan)
Perpecahan yang terjadi
di kalangan manusia disebabkan oleh ulah
manusia yang melanggar
aturan Allah dan tidak mengikuti
perintahNya. Dengan konsekuensinya adalah muncul
perpecahan. Manusia yang tidak mengikuti aturan Allah akan mendapatkan banyak kerugian dan Allah memberikan
banyak azab di dunia ataupun di akhirat. Akibat dari keadaan yang demikian
adalah terjadinya perpecahan di kalangan manusia.
1. Al Wafaa' Bil-Miitsaaq
(Menepati Janji)
Perpecahan yang disebabkan
tidak menepati janji maka proses
penyelesaiannya diawali dengan menepati
perjanjian. Perjanjian sebagai muslim beriman dan sebagai manusia yang mengikuti
fitrah dan mengakui Allah sebagai Rabb. Menepati janji dengan Allah, juga akan menepati
janji dengan sesama manusia. Usaha menepati janji ini
kepada Allah SWT akan
memperoleh rahmah, kasih sayang Allah. Allah mencintai manusia yang jujur mengakui keadaan dirinya
dan mengamalkan komitmen kesepakatan. Rasa berterima kasih dan bersyukur kepada
Allah merupakan
sikap orang yang menerima
keberadaan Allah dan manusia yang menepati
janji. Mereka akan mendapatkan kasih sayang sebagai balasan atas komitmen dan usaha menepati janji .
A. Rahmatun Minallaah (Memperoleh
Rahmat
Allah)
Muslim yang selalu
menepati janji dan mendapatkan rahmat dari Allah akan
menjadikan hatinya halus, tidak kasar,
tidak keras dan tidak rusuh. Rahmat juga diberikan kepada mereka yang bersatu hatinya dan bersaudara karena cinta kepadaNya. Dengan rahmat Allah ini, hidup menjadi aman, damai dan tenteram.
B. Riqqah Al-Quluub (Lembut Hati)
Rahmat dari Allah yang menenangkan
hati ini akan menjadikan ciri individu yang komitmen dengan minhajNya.
Had yang lembut
juga akan membawa hubungan kemanusiaan yang baik dan
harmonis, sehingga akan membawa kepada persatuan dan kesatuan hati dalam sebuah jamaah Islam.
2. Al-lltizaam Bil Minhaaj (Komitmen dengan Pedoman)
Komitmen dengan minhaj
Islam adalah ciri
mereka yang menepati
janji terhadap manusia dan Allah.
Al Quran dan Hadits adalah
minhaj bagi kehidupan manusia. Allah memerintahkan manusia untuk mengikuti minhaj dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai Islam yang diikuti akan membawa kepada persaudaraan Islam dan kesatuan
umat. Islam sebagai
rujukan yang sama dengan muslim lainnya akan membawa kepada persatuan. Minhaj yang jelas dan lengkap sebagai
rujukan akan membawa kepada persatuan umat.
3. At-Tadzakkur Bil Minhaaj (Mengingat Pedoman)
Mereka selalu ingat
minhaj dan merujuk kepada aturan, bimbingan, arahan dan kesepakatan yang dibuat
sesama manusia atau dengan Allah yang sebelum dilahirkan kita berjanji
kepada-Nya.
4. Al-Amaanah (Amanah)
Sikap amanah ada pada
pribadi yang menepati
janji. Sehingga manusia merasakan kepuasan. Sedangkan amanah Allah untuk
manusia agar menjadi
khalifah dilaksanakan dengan baik. Peranan membangun (al, imarah) dan peranan
memelihara (ar-ria'yah)
dapat dilaksanakan oleh
mereka yang amanah.
5. At-Taraahum Wa At Talaahum (Saling Kasih Sayang dan
Saling Mempererat)
Amanah akan menumbuhkan
saling menyayangi yang mendarah
daging dan menumbuhkan kesatuan. Persaudaraan
yang hakiki
adalah persaudaraan yang berdasarkan
kepada saling kasih sayang dan berjalan berkelindan.
6. AI Wihdah (Kesatuan)
Kesatuan dan persatuan akan tercapai apabila
manusia mengikuti perintah Allah SWT. Kesatuan yang dikehendaki adalah kesatuan akidah dengan mengikatkan kita kepada keimanan kepada Allah (tali Allah).
Persaudaraan akan
menghasilkan kesatuan yang kemudian akan memunculkan suatu kekuatan Islam. Segala
program dan agenda dakwah
dapat dilaksanakan dengan cara bersatu.
Dalil
Q.
3:103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan
antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang
yang bersaudara:
dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk.
Hadits. Dari Abu Hurairah
berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya Allah menyukai
dari kamu tiga perkara dan membencimu dalam tiga perkara. Dia ridha kepadamu jika kamu menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan apapun, agar kamu semua berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak
bercerai berai, dan agar kamu setia kepada orang yang telah diserahi urusanmu
oleh Allah. Allah murka kepadamu lantaran tiga
perkara, banyak bicara, banyak bertanya, dan menghamburkan
harta" (HR Muslim).
Ringkasan Dalil
Sebab-sebab perpecahan
dan obatnya: proses sebab terjadinya oleh
melanggar perjanjian (Q. 2:26-27)
·
Laknat
dari Allah (Q. 5:13)
·
Keras
hatinya
·
Mempermainkan
minhaj
·
Melupakan
konsepsi
·
Berkhianat
·
Tumbuh
kcbcncian satu dengan yang lain dan
saling bermusuhan
·
Terjadi
perpecahan
Proses obatnya adalah menepati perjanjian
·
Memperoleh
rahmah (kasih sayang) Allah
·
Komitmen
dengan manhaj-Nya
·
Senantiasa
ingat minhaj
·
Sikap
amanah
Menumbuhkan saling kasih sayang dan berjalin berkelindan (mendarah daging) Timbul kesatuan (Q.3:103)
Comments
Post a Comment