Sejarah Yahudi di Palestina
Sejarah Lengkap Penjajahan Israel atas Palestina
02
Oct 2024, 04:00 WIB
Oleh
FITRIYAN ZAMZAMI
Kisah
panjang penjajahan Israel dan perlawanan Palestina sudah merentang di tiga abad
yang berbeda. Berikut kejadian-kejadian kunci yang mewarnai perjuangan panjang
tersebut.
Abad
ke-19
Pada
29-31 Agustus 1897 Theodor Herzl memimpin Kongres Zionis Pertama. Mereka
menyepakati langkah-langkah untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina yang
saat itu dikuasai Turki Utsmani. Pendanaan kuat dari bankir-bankir Yahudi di
Eropa menyokong gerakan ini. Melalui dana itu, imigran Yahudi mulai berdatangan
ke Palestina dan membeli tanah-tanah warga Arab yang sudah berabad-abad tinggal
lebih dulu di Palestina.
Pada
1897 itu juga komisi Arab dibentuk di Yerusalem untuk menghentikan pencaplokan
lahan oleh imigran Yahudi. Kala itu, para tuan tanah Yahudi mulai mengusir
warga Arab. Warga Arab mulai mencurigai rencana pendirian negara Israel.
Abad
ke-20
Pada
pergantian milenium, dengan semakin banyaknya imigran Yahudi, kesadaran
nasionalisme di kalangan pribumi Arab juga timbul. Mereka juga memimpikan
negara sendiri di Palestina dan jengah melihat para tuan tanah Yahudi yang kian
semena-mena.
Pada
1915, di tengah Perang Dunia I, Inggris berhasil merayu Sharif Makkah Hussein
bin Ali melancarkan pemberontakan melawan Turki Utsmani dengan janji dukungan
atas pembentukan negara Arab yang meliputi sebagian besar Timur Tengah termasuk
Palestina.
Pada
2 November 1917, melalui lobi bankir Yahudi, Walter Rothschild, Menteri Luar
Negeri Inggris Arthur Balfour mengumumkan dukungan Inggris atas pembentukan
negara Yahudi di Palestina. Deklarasi ini dilihat Syarif Makkah dan bangsa Arab
secara keseluruhan adalah pengkhianatan terhadap janji Inggris sebelumnya.
Deklarasi
Balfour juga makin mendorong imigrasi masif etnis Yahudi ke Palestina. Populasi
Yahudi melonjak drastis sejak itu, dari 5 persen menjadi 30 persen pada 1935.
Pada
1918, Inggris sebagai pemenang Perang Dunia I menduduki Palestina dengan status
mandatorat. Sejak itu, kebijakan-kebijakan pro-Yahudi dijalankan Inggris.
Pekerja Yahudi dibayar lebih mahal, bendera Zionis boleh berkibar sementara
bendera Arab dilarang. Merasa mendapat angin, aktivis dan media Zionis mulai
mengampanyekan pengusiran etnis Arab sepenuhnya dari Palestina pada 1919.
Tak
lama sejak 1920, bentrokan-bentrokan mulai terjadi antara etnis Arab dan
imigran Yahudi yang kian masif kedatangannya. Bentrokan-bentrokan ini memuncak
pada pertengahan hingga akhir 1930-an, saat dua ulama Palestina, Izzudin
al-Qassam dan Amin al-Husseini melancarkan pemogokan masa. Inggris dengan
brutal memberangus pemberontakan itu, mengakibatkan sekitar 19 ribu warga Arab
meninggal.
Selepas
kekerasan pada 1930-an, Inggris melunak. Pada 1939, Inggris mengeluarkan
kebijakan pembatasan imigran Yahudi, juga menolak pembentukan negara khusus
untuk etnis Yahudi saja. Pendirian negara baru juga harus melalui persetujuan
warga Arab Palestina.
Gelombang
kekerasan pada 1930-an juga memicu pembentukan milisi-milis teroris Yahudi
seperti Haganah dan Irgun. Mereka kerap melakukan teror terhadap desa-desa Arab
di Palestina yang disertai pembunuhan dan penganiayaan.
Genosida
yang dilakukan Nazi Jerman di Eropa terhadap warga Yahudi menjelang dan selama
Perang Dunia II juga memicu migrasi besar-besaran Yahudi ke Palestina.
Setelah
Perang Dunia II, genosida di Jerman memberi angin pada para pemukim Yahudi di
Palestina terkait pembentukan negara Zionis. Pada 29 November 1947 PBB kemudian
mengeluarkan Resolusi 181 (II) yang membagi Palestina menjadi dua negara.
Komunitas Arab menolak karena solusi itu tak adil. Etnis Yahudi yang meliputi
33 persen populasi dan memiliki secara sah 7 persen saja lahan di Palestina
diberi wilayah negara seluas 56 persen dari wilayah Mandat Palestina. Sementara
warga Arab yang meliputi 67 persen populasi dan pemilik sah sedikitnya 80
persen tanah di Palestina mendapat wilayah lebih sedikit, yakni 43 persen saja.
Pada
1948 gelombang kekerasan menggelora di Palestina. Warga Arab yang menilai
resolusi PBB tak adil kerap melakukan aksi protes, Sementara pasukan teroris
Yahudi melakukan kekejaman di berbagai desa di Palestina. Salah satu yang
mencolok terjadi di Deir Yassin di dekat Yerusalem pada April 1948. Ratusan
warga desa saat itu dibantai Irgun dan kelompok teroris Yahudi lainnya, Lehu.
Pada
10 Maret 1948, para pemimpin Zionis, atas usulan David Ben Gurion menyepakati
Rencana Daleth. Rencana itu merupakan aksi terencana untuk melakukan
pembersihan etnis terhadap warga Palestina. Sebulan kemudian Israel
memproklamasikan kemerdekaannya, saat Inggris melepas secara resmi
mandatoriatnya di Palestina.
Proklamasi
Israel memicu tanggapan dari negara-negara Arab dan relawan pejuang di
Palestina. Namun pasukan Israel yang jumlah totalnya sudah mencapai 50 ribu
personel bermodal senjata paling canggih saat itu yang dibeli dari Uni Soviet
dengan mudah mengalahkan pasukan Arab yang jumlahnya lebih sedikit serta
bersenjata minimal. Israel berhasil menguasai sebagian besar Palestina,
sementara Yordania mencaplok Tepi Barat dan Mesir menguasai Jalur Gaza.
Seiring
perang Arab-Israel, negara Zionis mulai menjalankan pembersihan etnis berupa
pengusiran sekitar 800 ribu warga Arab Palestina dari kampung halaman.
Peristiwa ini dikenal dengan nama Nakba alias "malapetaka" di
Palestina. Ratusan ribu pengungsi itu kemudian tersebar di Gaza, Tepi Barat,
Lebanon, Suriah, Mesir, dan negara-negara lain.
Palestina
mendeklarasikan kemerdekaan pada 22 September 1948, dan dengan bantuan Mesir
dan Yordania melakukan serangan-serangan ke perbatasan dengan Israel pada
1950-an. Pada 1964, Yasser Arafat mendirikan Organisasi Pembebasan Palestina
(PLO) di pengasingan. Gerakan itu mendapat legitimasi negara-negara Arab yang
melihatnya sebagai organisasi perlawanan utama Palestina.
Israel
melakukan serangan mendadak ke wilayah Mesir pada 1967 dengan dalih mengamankan
jalur laut mereka. Serangan ini memicu perang enam hari antara Israel melawan
Mesir, Yordania, dan Suriah. Israel dengan persenjataan dari Barat memenangkan
pertempuran dan menguasai Gaza, Tepi Barat, Yerusalem, serta Semenanjung Sinai.
Sekitar 600 ribu warga Arab terusir dari Gaza dan Tepi Barat, peristiwa
malapetaka kedua yang kemudian dikenal dengan nama Naksa.
Meyakini
tak bisa mengalahkan Israel lewat perang terbuka, pejuang Palestina menggunakan
taktik gerilya guna memperjuangkan kemerdekaan. Sepanjang 1970-an, pembajakan
pesawat, bom bunuh diri, dan penyanderaan mulai dilakukan pejuang dari PLO dan
Front Populer Pembebasan Palestina (PFLP) yang dipimpin seorang kristen
Palestina George Habash.
Perlawanan
Palestina juga dilakukan melalui Lebanon sepanjang 1970-1980-an. Ini
berbarengan dengan perang sipil di Lebanon. Israel kemudian menginvasi Lebanon
pada 1982 untuk menghabisi perjuangan PLO di Lebanon. Pada 1982, Israel
memfasilitasi dan membiarkan pembantaian terhadap 3.500 pengungsi Palestina di
Pengungsian Sabra-Shatila
Pada
akhir 1987, warga Palestina di wilayah yang diduduki Israel mendidih akibat
diskriminasi, penangkapan, pelarangan beribadah, dan pembunuhan. Pada Desember
1987, truk tentara Israel menabrak mati sejumlah warga Palestina dan memicu
protes besar-besaran. Protes itu kemudian menjadi perlawanan semesta warga
Palestina yang dikenal dengan nama Intifadah. Pada masa-masa ini terbentuk
kelompok yang nantinya berperan besar dalam perlawanan, yakni Hamas. Sebanyak
1.962 warga Palestina gugur dan 200 warga Israel terbunuh.
Didorong
oleh perlawanan Intifadah, pemerintah Israel di bawah perdana menteri Yitzhak
Rabin kemudian bersedia melakukan perundingan damai dengan Yasser Arafat
dimakelari oleh AS pada 1993. Pada 1995, kedua pihak sepakat soal keberadaan
entitas Palestina yang akan memerintah di Tepi Barat dan Gaza. Meski masih
merugikan Palestina, perjanjian ini menyudahi Intifada. Sementara di Israel,
Yitzhak Rabin dieksekusi teroris sayap kanan Yahudi akibat perjanjian ini.
Abad
ke-21
Meski
Yitzhak Rabin dibunuh, perundingan damai terus berjalan. Namun pada September
2000, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon melakukan kunjungan provokatif ke
Masjid Al-Aqsa. Hal ini memicu Intifada kedua yang lebih mematikan ketimbang
yang pertama. Sekitar 3.000 meninggal di Pihak Palestina dan 1.000 di pihak
Israel. Intifada kedua resmi berakhir pada 2005 saat kedua pihak sepakat tak
saling serang.
Pada
2006, pemilu Palestina digelar dengan tujuan pendirian negara Palestina.
Kelompok Hamas memenangkan mayoritas suara sebesar 44 persen. Israel dan AS
menolak mengakui hasil pemilu karena sikap Hamas yang saat itu masih menolak
keberadaan Israel. Sementara pada 2007, Hamas dan Fatah terlibat pertikaian
internal yang berujung penguasaan Gaza di tangan Hamas dan Tepi Barat di bawah
Otoritas Palestina.
Pada
akhir 2008 pasukan Israel menyerang sejumlah pos polisi dan terowongan di Gaza.
Hamas yang menilai serangan itu sebagai pelanggaran gencatan senjata membalas
dengan tembakan roket. Hal itu kemudian meledak jadi konflik terbuka saat
Israel melancarkan operasi Cast Lead di Gaza, yang menimbulkan ribuan korban
sipil. Pada Februari 2009, gencatan senjata ditandatangani dengan mediasi
internasional antara kedua pihak.
Pada
2012, gencatan senjata kembali diteken Hamas dan Israel. Isinya adalah bawah
kedua pihak tak akan menyerang satu sama lain. Kesepakatan itu juga
mensyaratkan dicabutnya blokade Israel terhadap Gaza. Barang-barang dan warga
Gaza tak boleh lagi dihalangi keluar-masuk wilayah tersebut. Poin kesepakatan
yang terakhir ini berulang kali dilanggar Israel hingga akhirnya meletus perang
pada 2014. Bombardir Israel ke Gaza saat itu menimbulkan 2.300 warga Gaza
gugur, 70 persen diantaranya warga sipil.
Pada
Mei 2021, Israel melakukan pengusiran paksa warga Palestina di Sheikh Jarrah,
di dekat Masjid Al-Aqsa. Hal ini memicu protes dan kemudian pengepungan jamaah
yang beriktikaf di Masjid Al-Aqsa. Roket Hamas dan balasan Israel ke Gaza
terjadi menyusul insiden itu. Eskalasi kala itu krusial karena untuk pertama
kalinya, sentimen pembelaan Palestina jadi awam di berbagai penjuru dunia.
Pada
November 2022, Benjamin Netanyahu kembali terpilih sebagai perdana menteri,
kemudian membentuk kabinet dan koalisi dengan kelompok sayap kanan Israel.
Pemerintahan koalisi ini terus meluaskan pengungsian ilegal di Tepi Barat,
mendorong militansi pemukim ilegal Yahudi, melakukan provokasi di Masjidil
Aqsa, dan secara reguler melakukan penggerebekan di Tepi Barat yang menewaskan
ratusan warga Palestina. Sementara jumlah warga Palestina yang ditahan tanpa
proses hukum juga terus melonjak mencapai 5.000 orang pada awal 2023.
Berbagai pihak mengingatkan, aksi-aksi Israel itu akan memicu perang, tapi tak
digubris Israel.
Pada
7 Oktober 2023, dengan dalih menghentikan aksi-aksi Israel itu seribuan
pejuang-pejuang Hamas menembus perbatasan Israel dalam Operasi Badai Al-Aqsa.
Mereka menyerang pos-pos militer dan pemukiman Israel. Pihak Israel mengeklaim
1.400 warga tewas akibat serangan, beserta ratusan tentara Israel. Ratusan juga
ditawan Hamas selepas penyerangan itu.
Israel
kemudian melancarkan bombardir paling brutal sepanjang sejarah ke Gaza.
Memenuhi unsur-unsur kejahatan perang dan genosida, menghancurkan tanpa pandang
bulu bangunan-bangunan sipil, serta memutus aliran listrik, air bersih,
makanan, bahan bakar, dan telekomunikasi. Sedikitnya 41.500 warga Gaza,
mayoritas adalah anak-anak, syahid dalam serangan itu.
Sumber:
https://www.republika.id/posts/47141/sejarah-lengkap-penjajahan-israel-atas-palestina
Comments
Post a Comment