Al-Furqan (Pembeda yang Haq dan Bathil)
Sinopsis
Sikap furqan atau pembeda antara haq dengan bathil merupakan sikap yang berdasarkan kepada pemahaman tentang al haq dan al bathil secara benar. Mereka memahami bahwa Allah sebagai wakil al
haq dan taghut sebagai wakil kebatilan. Pemimpin al
haq adalah Allah (yang
Benar) dimana Allah SWT sebagai al
haq akan mengajak manusia
menuju cahaya. Berupa bimbingan
kepada manusia dengan mendatangkan Islam
sebagai then sehingga
dapat menyelesaikan
permasalahan yang ada. Dengan al haq dibawanya mereka ke dalam surga. Sementara pemimpin kebatilan adalah taghut.
Taghut sebagai wakil dan pembawa kebatilan selalu berada di dalam kegelapan. Warna
gelap kebatilan membawa kejahiliyahan
yang menjadi sumber masalah umat dan
perintis munculnya masalah. Keadaan ini akan membawa manusia sampai ke
neraka.
Sikap furqan yang
harus kita pegang dalam menghadapi pertempuran
ini adalah membedakan secara benar mana yang Kami berfirman, 'turunlah kamu semua
dari surga itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu niscaya tidak ada kekhawatiran
atas mereka, dan mereka tidak pula bersedih hati"'.
Sikap al furqan berarti juga bara kepada taghut
(syaitan) karena taghut
rnembawa kebatilan yang
berisi kegelapan jahiliyah sehingga
membawa manusia kepada neraka. Perintah
Allah SWT kepada Iblis agar bersujud namun dijawab dengan penolakan dan kesombongan dengan menggunakan analogi yang keliru yang
dibuat oleh Iblis yaitu bahwa api (bahan dasar
Iblis) lebih baik daripada tanah (bahan dasar manusia). Dengan demikian maka mengangkat diri sebagai tandingan bagi Allah SWT
merupakan suatu perbuatan yang dilaknati
oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat
Allah. Kelompok yang mendukung Iblis dan memperjuangkan kebatilan tidak hanya mendapatkan kegelapan tetapi juga kesesatan. Sikap
furqan amat diperlukan untuk membedakan
kebatilan dari kebenaran sehingga mereka dapat berpegang teguh dengan tali Allah. Walaupun demikian kenyataannya, manusia ada yang mengelompokkan dirinya kepada
keimanan dan ada pula
yang mengelompokkan diri kepada
kekafiran. Seperti difirmankan oleh
Allah dalam surat At Taghabun:2, "Dialah yang telah menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang beriman, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan".
Mereka yang menjawab dan memenuhi seruan para rasul, beriman kepada kitab-kitab Allah yang
telah diturunkan, serta beriman pada
rasul-rasul yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, mereka itu adalah awliyau rahman (wali-wali Allah Yang Maha Pemurah) sedangkan
golongan yang berpaling dan takabur
adalah awliyau syaithan (wali-wali syaitan). Sikap furqan dapat
berjalan dengan baik apabila dasar
dari kegiatan yang dilakukannya karena Allah (Islam), bersama Allah (Islam) dan
ditujukan kepada Allah (Islam). Oleh karena itu, sikap furgan yang didasari dengan
Allah (Islam) maka dia berpegang
teguh kepada tali Allah.
Permusuhan antara Adam dan Iblis yang terdapat dalam Al Quran menambahkan penjelasan kepada
kita adanya pertentangan antara haq
dan bathil. Oleh karena itu Allah memberikan peringatan kepada bani Adam agar berhati-hati terhadap bujukan syaitan dan jangan
sampai berpaling dari jalan Allah yang lurus.
Allah SWT berfirman "Wahai orangorang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan,
dan janganlah kamu turuti langkah-langkah
syaitan. Sesungguhnya syaitan itu
musuh yang nyata bagimu" (Al Baqarah:208). Kemudian Allah mengingatkan dalam
Kebatilan yang dibawa oleh syaitan menyingkapkan kepada manusia bahwa syaitan memusuhi
kebenaran. Rencana-rencana syaitan
dapat menghancurkan kebenaran yang
dibawa oleh orang beriman. Allah berfirman dalam
Bisikan syaitan yang mengajak manusia kufur kepada kebenaran merupakan suatu permusuhan,
kedengkian, ejekan, makar, tipuan
dan peperangan. Setiap yang dibisikkan Iblis kepada para pengikutnya merupakan senjata golongan
syaitan. Golongan syaitan (hizbusyaithan) adalah golongan yang menunggu-nunggu orang beriman lalu berupaya semaksimal
mungkin untuk menghalangi mereka dari mengingat
Allah. Allah telah memberitahukan kepada kita mengenai hal itu di berbagai
tempat dalam kitabNya. Allah SWT
berfirman tentang penghinaan musuh-musuh Allah terhadap golongan Allah (hizbullah). Allah berfirman dalam
Begitulah
penggambaran Al Quran mengenai permusuhan golongan syaitan dengan
segala mat yang ada di dalam hati mereka
untuk melawan orang-orang yang beriman. Allah berfirman dalam
Furgan sebagai pembeda antara haq dan bathil perlu dijadikan sebagai dasar sikap bagi setiap
muslim dengan cara memahami permusuhan yang
terjadi antara haq dan bathil. Al haq yang dibawa oleh nabi Adam AS dan bathil yang dibawa oleh Iblis merupakan satu simbol atas
permusuhan tersebut. Sejarah umat manusia
seluruhnya tidak lain merupakan bukti akan terbaginya manusia menjadi dua kelompok yaitu yang mendapatkan petunjuk serta kelompok yang
mengikuti hawa nafsu dan syaitan. Hal ini disebutkan dalam
surat At Taghabun ayat 2.
'Tidak akan ada pertemuan antara kelompok al haq dan al bathil baik di dunia maupun di akhirat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan di
antara sunatullah itu adalah jika la menghendaki kemenangan agamaNya, maka la menjadikan adanya orang yang menentang agamanya sehingga ia membenarkan
yang benar dengan kalimatnya dan ia melontarkan
yang benar kepada yang batil lalu yang benar itu menghancurkannya, maka serta merta yang batil itu lenyap. Sikap furqan ini akan memberi kemampuan muslim untuk menghancurkan kebatilan. Karena dengan sikap furqan, Allah akan menguatkan hati orang yang beriman menghadapi kebatilan. Kekuatan furqan yang dimiliki para nabi digambarkan
dalam kemenangan nabi di atas permusuhan kaumnya seperti kaum Nuh AS kepada
nabinya, kaum Ad , kaum Saleh, kaum Syuaib, kaum Ibrahim,
kaum Musa, kaum Isa serta kaum nabi Muhammad SAW Juga
gambaran kemenangan Nabi SAW atas permusuhan
yang dilancarkan oleh kaum Jahiliyah terhadap orang yang beriman hingga Allah mewarisi bumi ini. Kesesatan yang dibawa oleh
syaitan membawa manusia terus jatuh
ke dalam lumpur kebodohan sehingga
mereka menjadi penyembah taghut. Mereka berorientasi kepada
tandingan yang disembah selain Allah SWT,
nafsu yang hendak dilampiaskan, kekuasaan yang dicari dan beberapa bentuk pengabdian selain Allah.
Golongan Allah (hizbullah) adalah mereka yang berafiliasi kepada Allah SWT, bernaung dengan panjinya serta menjadikan Allah sebagai wali dan tidak akan
menjadikan seorangpun sebagai wali
selainnya. Mereka itu adalah keluarga dan
saudara yang satu umat dari berbagai generasi dan abad, tempat maupun negeri
serta dari berbagai tempat tinggal dan rumah.
Agama Islam ini datang membawa pemisah antara yang haq dan
bathil
(furqan) antara Islam dan
Jahiliyah. la tidak menjadikan
pertemuan manusia atas dasar ras, warna kulit, kebangsaan atau tanah air seperti yang dilakukan oleh Jahiliyah klasik
maupun modern tetapi Islam mempertemukan
manusia atas dasar aqidah serta menjadikan perbandingan
keutamaan manusia dengan amal saleh. Bertolak
dari sini, maka orang beriman itu adalah wali-wali Allah sebab mereka memenuhi apa yang dikehendaki
oleh Allah sehingga is hanya menerima
dariNya saja. Dan hanya takut
kepadaNya. Berbeda dengan kelompok yang kedua yang menentang Allah. Wali-wali syaitan berpaling dari
syariat Allah serta mengikuti nafsu
dan syaitan.
Mengenal permusuhan antara kedua golongan tersebut merupakan perkara yang esensial. Perkara
yang dapat menyingkap tipu daya
syaitan dengan menamakan diri melalui
nama-nama Islam, namun berupaya meleburkan muslim di dalam lautan suasana jahiliyah modern serta meluluhkan loyalitasnya kepada Tuhannya.
Bahkan mempengaruhi sikap bara
dan permusuhannya
terhadap setiap musuh agama ini.
1. Al Furqan (Pembeda Antara Yang Haq Dan Yang
Bathil)
Furqan adalah pembeda haq dengan bathil. Al Quran sendiri berperanan
sebagai furqan karena salah satu
nama Al Quran adalah al
furqan. Al Quran sebagai al haq berarti langsung memberikan pemahaman bahwa di luar atau yang bertentangan dengan nilai-nilai Al Quran adalah
kebatilan yang perlu diingkari dan ditolak. Al Quran sebagai furqan karena di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk yang membawa manusia ke jalan benar dan membedakannya dengan kebatilan. Orang yang mengamalkan furqan biasanya orang yang bertakwa kepada Allah. Dengan keadaan ini niscaya Allah akan mengadakan kepada kita
(petunjuk) yang membedakan antara
yang benar dengan yang salah, dan
kemudian Allah SWT akan menghapuskan segala
kesalahan-kesalahan, serta mengampunkan (dosadosa) kita.
Furqan sebagai pembeda haq dan bathil ini merupakan pertarungan di antara Allah
dengan Taghut yang
secara implikasinya berlaku di antara orang beriman
dengan orang kafir.
Dalil
Q. 25:1. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan
(Al Quran) kepada hambaNya, agar dia menjadi
pemberi peringatan kepada seluruh alam.
Q. 2:185.
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara
yang haq dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat
tinggalnya) di bulan itu, maka
hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu is berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu. Dan
hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan
Allah atas petunjukNya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Q. 8:29. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
memberikan kepadamu furqan dan
menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.
2. Allah
·
Al Haq (Kebenaran)
· An Nur (Cahaya)
·
Ar Rusydu (Jalan Yang Benar)
·
Al Islam (Islam)
·
Halul Musykilat (Penyelesaian Masalah)
·
Al Janah (Surga)
Allah SWT sebagai Al Haq karena Dialah yang menciptakan manusia dan alam. Dia wajar
mengetahui akan ciptaanNya sehingga
ilmu yang dimilikiNya merupakan bukti kebenaran yang dibawaNya.
Dengan kebenaran maka wujudlah cahaya yang boleh menyinari kegelapan dan mendapatkan
penjelasan bagaimana semestinya
kita hidup dan berjalan dengan baik dalam mencapai kejayaan. Keberadaan Muhammad SAW dan kitab yang diturunkan Allah (Al
Quran) adalah cara untuk lebih menjelaskan haq yang sebenarnya.
Islam sebagai pembimbing,
karena cahaya yang dibawanya. Oleh karena itu
dilarang mencampurkan cahaya dengan kegelapan. Dilarang kita
mencampuradukkan haq ini dengan kebatilan. Haq tetaplah haq dan laksanakan haq semampunya. Sedangkan batil adalah tetap batil
yang merupakan kesesatan dan
menjauhlah darinya. Mencampuradukkan
haq dan bathil berarti kita tidak bersikap furqan tetapi larut dengan situasi.
Islam yang berisikan kebenaran akan menjadi penyelesai masalah umat sehingga umat lepas dari
penjara dunia yang senantiasa mengukung
umat dalam kegelapan. Islam tampil di pentas dunia untuk mengajak manusia ke jalan yang benar sehingga dibawanya ke akhirat masuk
surga.
Dalil
Q. 2:256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa
yang ingkar kepada Tuhan dan beriman kepada Allah, maka
sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul
tali yang amat kuat yang tidak akan
putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Q. 2:257. Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia
mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan
orang-orang yang kafir, pelindungpelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan
(kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya.
Q. 18:1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al Kitab (Al Quran) dan
Dia tidak mengadakan kebengkokan
di dalamnya.
Q. 2:42. Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan
yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedang kamu mengetahui.
3. At Taghut (Syaitan)
·
Al Bathil (Kesesatan)
·
Az Zhulumat (Kegelapan)
·
Al Ghoyi (Jalan Yang Salah)
· Al Jahiliyah (Kebodohan)
·
Masydarul Musykilat (Sumber Permasalahan) An Nar (Neraka)
Di lain pihak, taghut sebagai wakil dari kebatilan senantiasa membawa kegelapan yang menjadikan
pengikutnya tidak tahu kemana akan pergi
dan bagaimana kesudahannya. Keadaan
kegelapan ini mungkin menjadikan diri muslim tersesat di dalam kejahiliyahan atau kebodohan yang di dalamnya berkembang segala masalah umat.
Jahiliyah dengan kehidupannya merupakan contoh nyata amalan yang bukan Islam. Mereka tidak
mempunyai pegangan dan tidak jelas
akan kemana sehingga perjalanan di dalam kejahiliyahan telah menyesatkannya.
Jahiliyah dengan keadaan yang sedemikian itu, maka wajar dari dalamnya muncul banyak permasalahan yang akan menghancurkan umat Islam dan dunia seisinya. Akhirnya
mereka akan dibawa ke neraka.
Dalil
Q. 2:256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada j clan yang salah. Karena itu barangsiapa
yang ingkar kepada Tuhan dan beriman kepada
Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat yang tidak akan
putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Q. 18:56. Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira
dan sebagai pemberi peringatan;
tetapi orang-orang yang kafir membantah
dengan yang batil dengan demikian mereka dapat
melenyapkan yang haq, dan mereka menganggap ayat-ayat
Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.
Q. 31:20. Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan
untukmu nikmatNya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang
memberi penerangan.
Q. 2:257. Allah pelindung orang-orang yang beriman;
dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan
orang-orang yang kafir, pelindungpelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan
(kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya.
4. Al Urwatul Wutsqo (Ikatan Yang Kuat)
·
Al Kufru (Kafir)
·
Al Iman (Iman)
Sikap kita menghadapi keadaan pertempuran haq dengan kebatilan adalah membuat hubungan
yang kuat dengan berpegang pada tali
yang kuat dan kukuh (al urwatul wutsgo). Pegangan ini didasari atas kejelasannya
terhadap al haq dan
al bathil. Tanpa mengetahui al haq, bagaimana seseorang akan berpegang dan kepada siapa pula ia mesti
berpegang. Selain itu juga diketahui
bagaimana kita mengenal jahiliyah sehingga kita perlu berjaga-jaga terhadap kebathilan. Karena kebathilan ini akan membawa
kesesatan. Al urwatul wutsqo dapat diamalkan dengan cara beriman kepada Allah dan
mengingkari taghut. Beriman kepada
Allah dan mengingkari Taghut mesti tertanam di dalam hati agar kita berjalan dalam kehidupan ini dengan stabil tanpa goncangan.
Al Urwatul Wutsqo akan tercapai apabila mengimani segala sesuatu yang berasal dari Allah SWT dan
sekaligus mengingkari taghut yang senantiasa membawa kebatilan. Furqan
menghasilkan iman kepada
Allah dan ingkar kepada taghut.
Dalil
Q. 2:256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang salah. Karena
itu barangsiapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya is telah berpegang kepada buhul tali yang
amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
5. Lillah (Karena Allah) - Ma'allah (Bersama Allah)llallah (Kepada Allah)
Melaksanakan al urwatul wutsqo ini, kits perlu mempunyai prinsip pelaksanaannya. Di antara prinsip
ini adalah kita menjadikan aktivitas ini berdasarkan Allah
dan pelaksanaannya bersama Allah (mengikuti
perintah Allah) dan ditujukan kepada
Allah. Lil Islam berarti kita mendasari aktivitas dengan ikhlas. Cara pelaksanaannya bersama Allah berarti kita menjadikan hidup dan
mati untuk Allah dan Islam, serta
berdasarkan nilai-nilai Islam. Sedangkan
tujuan kepada Allah (ilAllah) adalah mencari keridhaanNya.
Dalil
Q. 98:5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus,
dan supaya mereka mendirikan shalat
dan menunaikan zakat; dan yang demikian
itulah agama yang lurus.
Q.
6:162. Katakanlah: "Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku,
hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Q. 16:128. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat
kebaikan.
Q.
2:207. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan
dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.
Ringkasan Dalil
· Al Furqan: pembeda
(antara yang Haq dengan yang Bathil) (Q. 25:1, 2:185,
Allah
· Pemimpinnya Allah (Q.
2:257)
· Al Haq (yang Benar) (Q.
18:1,
· Membawa kepada cahaya
(Q. 2:257)
· Kebenaran (Q.
2:256), Al Islam, penyelesaian
masalah sampai ke surga.
Thagut
· Pemimpinnya thagut (Q.
2:256)
· Al Bathil (Q.
· Membawa kepada kegelapan
(Q. 2:257) sampai ke neraka
· Kesalahan, sistem
jahiliyah, sumber segala permasalahan,
ke neraka.
Untuk furqan harus berpegang teguh kepada tali Allah yang sangat kukuh (al urwatul wutsqo) (Q. 2:256)
Prinsipnya
·
Lillah (karena Allah) (Q. 98:5, 6:162)
·
Ma'allah (beserta Allah) (Q. 16:128)
·
Ilalah (menuju ridha Allah) (Q. 2:207)

Comments
Post a Comment