Urgensi Do'a

DOA

(Metode / Sumber: Atsar: 21 | Hadis: 99 | Ayat: 113)

DOA (SECARA BAHASA / ETIMOLOGI)

Kata doa secara bahasa berasal dari akar kata (d-‘a-w / دَعَوَ) yang pada dasarnya menunjukkan makna mencenderungkan/menarik sesuatu kepada dirimu dengan suara dan perkataan yang berasal darimu.

Dari akar kata inilah terbentuk kata ad-du‘ā’ (الدُّعَاءُ) dalam makna ar-raghbah ilā Allāh (berharap/memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla). Kata ini merupakan bentuk tunggal (mufrad) dari al-ad‘iyah (الأَدْعِيَةُ - doa-doa). Bentuk kata kerjanya adalah da‘ā – yad‘ū (دَعَا – يَدْعُو), sedangkan bentuk masdarnya adalah ad-du‘ā’ dan ad-da‘wā. Adapun kata ad-da‘wah menunjukkan makna satu kali doa.

Di antaranya adalah hadis syarif:

"Maka sesungguhnya doa mereka mengelilingi dari belakang mereka," artinya: mengelilingi, meliputi, dan menjaga mereka.

Kata ad-du‘ā’ juga digunakan dengan arti an-nidā’ (panggilan). Dikatakan: da‘ā ar-rajulu ar-rajula da‘wan wa du‘ā’an, artinya: dia memanggilnya. Dan da‘awtu fulānan, artinya: aku berteriak memanggilnya dan mengundangnya. Dikatakan pula: da‘āhu al-amīr, artinya: penguasa itu menggiringnya/memanggilnya.

Lalu kata dā‘iyan (pemanggil/penda'i) dalam firman Allah Subhānahū:

"Dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan sebagai pelita yang menerangi." (QS. Al-Ahzab: 46)

Maknanya adalah: penyeru menuju tauhid Allah dan apa saja yang mendekatkan diri kepada-Nya.

Ad-du‘āt (الـدُّعَاةُ) adalah sekelompok orang yang menyeru kepada baiat petunjuk atau kesesatan, bentuk tunggalnya adalah dā‘in (داَعٍ). Seseorang disebut dā‘iyah (دَاعِيَةٌ) apabila ia menyeru manusia kepada suatu bid'ah atau agama; huruf hā’ (ta' marbuthah) ditambahkan di akhirnya untuk fungsi mubālaghah (menunjukkan tingkat keseriusan/sangat aktif). Nabi  adalah dā‘i Allāh (penyeru agama Allah), demikian pula halnya seorang muazin.

Ar-Raghib al-Ashfahani berkata: Terkadang kata ad-du‘ā’ digunakan dalam arti at-tasmiyah (penamaan), seperti ucapanmu: da‘awtu ibnī Zaydan, artinya: aku menamai anakku Zaid. Dikatakan pula: da‘awtullāha idzā sa’altahū wa idzā istaghatstahū (aku berdoa kepada Allah artinya jika aku memohon kepada-Nya dan meminta pertolongan-Nya). Di antaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

"Merekapun berkata, 'Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami...'" (QS. Al-Baqarah: 68)

Maksudnya adalah: mintalah kepada-Nya.

Adapun ad-du‘ā’ (seruan) menuju sesuatu artinya adalah dorongan untuk menujunya. Di antaranya adalah firman Allah Subhānahū:

"Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga)..." (QS. Yunus: 25)

Kata ad-da‘wā juga datang dengan makna doa sebagaimana firman Allah yang Mahagung firman-Nya:

"Doa mereka di dalamnya ialah..." (QS. Yunus: 10)

Adapun ad-da‘wah adalah satu permohonan tunggal, bentuk jamaknya adalah da‘awāt. Kata ini juga diartikan untuk menunjukkan keagungan/kemuliaan kedudukan sebagaimana dalam firman-Nya Ta‘ālā:

"Tidak ada keraguan bahwa apa yang kamu seru aku kepadanya tidak memiliki seruan (hak/kedudukan) di dunia dan tidak pula di akhirat..." (QS. Ghafir: 43).

DOA (SECARA ISTILAH / TERMINOLOGI)

  • At-Thibi berkata: "Doa adalah menampakkan puncak ketundukan, rasa butuh (paling dalam) kepada Allah, serta kerendahan hati di hadapan-Nya."
  • Al-Munawi berkata: "Doa adalah lisannya rasa butuh (al-iftiqār) yang menjelaskan kondisi darurat (al-idhthirār)."
  • Ada pula yang mengatakan: "Doa adalah perantara (syafī‘) bagi pemenuhan kebutuhan dan keberhasilannya diraih dengan kesungguhan/ketekunan (al-lajājah)."
  • Dikatakan pula: "Doa adalah tuntutan untuk menghilangkan kesusahan dengan menatap takdir yang telah dibagikan (mhawdhi‘ al-qismah)."

PERBEDAAN ANTARA DOA (الدُّعَاء) DAN PANGGILAN (النِّدَاء)

Ar-Raghib berkata: "Doa itu serupa dengan panggilan (nidā’), hanya saja nidā’ terkadang diucapkan dengan kata panggil 'yā' (يا) atau 'ayā' (أيا) dan sejenisnya dari kata panggil tanpa disertakan nama di belakangnya. Sedangkan doa hampir tidak pernah diucapkan kecuali disertakan nama bersamanya, seperti: 'Wahai Fulan'. Meskipun demikian, terkadang masing-masing dari keduanya digunakan untuk menggantikan posisi yang lain."

PEMBAGIAN DOA

Lafal ad-du‘ā’ dan ad-da‘wah di dalam Al-Qur'anul Karim mencakup dua makna:

  1. Doa Ibadah (Du‘ā’ al-‘Ibādah)
  2. Doa Permohonan (Du‘ā’ al-Mas’alah)

1. Doa Permohonan (Du‘ā’ al-Mas’alah)

Adalah memohon apa yang bermanfaat bagi orang yang berdoa, serta memohon dihilangkannya dan dihindarkannya apa yang memudaratkannya. Setiap Dzat yang memiliki/menguasai kemudaratan dan kemanfaatan, maka Dialah Sembahan yang hak (al-Ma‘būd bi aqq).

2. Doa Ibadah (Du‘ā’ al-‘Ibādah)

Adalah doa yang mengandung pujian kepada Allah dengan apa yang menjadi hak-Nya, yang disertai dengan rasa takut (khawf) dan harapan (rajā’).

Doa di dalam Al-Qur'an terkadang dimaksudkan untuk makna yang pertama, terkadang makna yang kedua, dan terkadang dimaksudkan untuk gabungan keduanya, karena keduanya saling berkaitan (mutalāzimān).

Seorang hamba memohon untuk meraih manfaat atau menolak mudarat dinamakan Doa Permohonan, dan ia berdoa dengan rasa takut serta harap dinamakan Doa Ibadah. Maka, setiap Doa Ibadah menghendaki Doa Permohonan, dan setiap Doa Permohonan mengandung Doa Ibadah.

Kedua makna ini disebutkan sekaligus dalam firman Allah Subhānahū:

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'raf: 55-56)

Adapun firman Allah Subhānahū:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku..." (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini mencakup kedua jenis doa tersebut, dan dinukilkan penafsiran ayat ini dengan kedua-duanya. Ada yang berpendapat maknanya: "Aku berikan kepadanya jika ia meminta kepada-Ku", dan ada yang berpendapat: "Aku beri ia pahala jika ia beribadah kepada-Ku". Kedua pendapat ini saling melengkapi.

Hal itu sebagaimana dalam firman-Nya Subhānahū:

"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu...'" (QS. Ghafir: 60)

Namun indikasi pada Doa Ibadah di sini lebih jelas, oleh karena itu dilanjutkan dengan kalimat:

"...Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (‘ibādatī*)..."* (QS. Ghafir: 60)

Doa dalam ayat ini telah ditafsirkan dengan makna ini dan makna itu.

Adapun firman-Nya Subhānahū:

"Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk membuatnya..." (QS. Al-Hajj: 73)

Maka yang dimaksud di sini adalah Doa Ibadah yang mengandung Doa Permohonan.

Sedangkan firman-Nya Subhānahū:

"Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya..." (QS. Ghafir: 14)

Maka ini adalah Doa Ibadah, maknanya: "Sembahlah Dia saja dan murnikan ibadah untuk-Nya". Hal ini berbeda dengan firman-Nya Ta‘ālā:

"Dan dikatakan (kepada mereka), 'Panggillah sekutu-sekutumu,' lalu mereka memanggilnya, tetapi sekutu-sekutunya itu tidak memperkenankan seruan mereka..." (QS. Al-Qashash: 64)

Maka ini adalah Doa Permohonan, Allah Ta‘ālā mempermalukan dan menghinakan mereka pada hari kiamat dengan memperlihatkan bahwa sekutu-sekutu mereka tidak merespons seruan mereka, dan bukanlah maksudnya "sembahlah mereka".

FAEDAH-FAEDAH MERAHSIAKAN (MENGECILKAN SUARA) DOA

Sungguh Allah Subhānahū wa Ta‘ālā telah memerintahkan untuk merahasiakan/mengecilkan suara doa dalam ayat surah Al-A'raf:

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut..." (QS. Al-A'raf: 55)

Doa di sini meskipun mencakup kedua jenis doa, namun lebih tampak jelas pada Doa Permohonan yang mengandung Doa Ibadah. Allah memerintahkan untuk merahasiakan dan menyembunyikannya. Di dalam perahsiaan doa ini terdapat banyak sekali faedah, di antaranya:

  1. Lebih Agung Tingkat Imannya: Karena orang yang berdoa menyadari dan meyakini bahwa Allah Maha Mendengar doa yang samar/bisikan rahasia.
  2. Lebih Agung dalam Adab dan Penghormatan (At-Ta‘zhīm).
  3. Lebih Meresap dalam Kerendahan Hati (At-Tadharru‘) dan Kekhusyukan (Al-Khusyū‘).
  4. Lebih Mencapai Tingkat Keikhlasan yang Tinggi.
  5. Lebih Menghimpun Konsentrasi Hati (Jam‘iyyat al-Qalb) atas Kehinaan di Hadapan-Nya.
  6. Merupakan Bukti Dekatnya Orang yang Berdoa dengan Pelindungnya (Allah) yang Maha Dekat dengannya, bukan permohonan dari jarak jauh kepada yang jauh. Nabi  telah mengisyaratkan makna ini secara eksplisit ketika para sahabat meninggikan suara mereka dengan takbir saat mereka bersama beliau dalam suatu perjalanan:

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا، أَقْرَبَ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ»

Dari Abu Musa al-Asy'ari RA, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah SAW, apabila kami menaiki bukit/lembah kami bertahlil dan bertakbir dengan suara keras. Maka Nabi SAW bersabda: "Kandangkanlah diri kalian (kasihanilah diri kalian dan pelankan suara kalian), sesungguhnya kalian tidaklah menyeru zat yang tuli dan tidak pula gaib. Sesungguhnya kalian sedang menyeru Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, Dia lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher unta tunggangannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana firman-Nya Ta‘ālā:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku..." (QS. Al-Baqarah: 186)

Kedekatan dengan pendoa ini merupakan kedekatan khusus, bukan kedekatan yang bersifat umum untuk semua orang. Maka Dia Subhānahū dekat dengan pendoa-Nya, dekat dengan penyembah-Nya, dan keadaan paling dekat seorang hamba dari Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud.

  1. Merahasiakan Doa Lebih Mendorong Kesinambungan Permohonan dan Permintaan.
  2. Lebih Menjauhkan Orang yang Berdoa dari Hal-Hal yang Memutuskan Konsentrasi dan Gangguan.
  3. Di dalamnya Terdapat Sifat Menyembunyikan Nikmat (yaitu nikmat kekhusyukan dan beribadah) dari pandangan orang-orang yang dengki (āsid).
  4. Doa Adalah Salah Satu Bentuk Zikir yang Mengandung Permintaan Kepada-Nya, serta pujian kepada-Nya dengan Nama-Nama-Nya yang Husna dan Sifat-Sifat-Nya yang Maha Tinggi. Maka doa adalah zikir dan nilai tambah. Allah Ta‘ālā telah berfirman: "Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara..." (QS. Al-A'raf: 205)

Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya dalam ayat ini untuk mengingat-Nya dalam jiwanya/hatinya. Mujahid dan Ibn Juraij berkata: "Diperintahkan untuk mengingat-Nya di dalam dada (ash-shadr) dengan penuh kerendahan hati dan ketundukan tanpa meninggikan suara atau berteriak."

I‘TIDĀ’ (MELAMPAUI BATAS) DALAM BERDOA

Al-Qurthubi Rahimahullāh Ta‘ālā berkata: "Bentuk melampaui batas (al-i‘tidā’) dalam berdoa ada beberapa bentuk, di antaranya: mengeraskan suara secara berlebihan dan berteriak, dan di antaranya seseorang mendoakan dirinya dengan sesuatu yang tidak berhak ia dapatkan (seperti meminta kedudukan seorang nabi), atau berdoa untuk hal yang mustahil, atau berdoa meminta hal yang bermaksiat, atau berdoa dengan lafal yang tidak ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah."

Ibn Taimiyah Rahimahullāh Ta‘ālā berkata:

"Melampaui batas dalam berdoa terkadang dengan cara meminta sesuatu yang tidak boleh ia minta berupa bantuan atas perbuatan-perbuatan haram. Terkadang pula dengan meminta sesuatu yang tidak dilakukan oleh Allah, seperti meminta agar dirinya dikekalkan hidup sampai hari kiamat, atau meminta agar diangkat darinya sifat-sifat kemanusiaan seperti kebutuhan pada makanan, minuman, dan sejenisnya yang di dalamnya terdapat bentuk melampaui batas yang tidak disukai oleh Allah, dan Allah tidak menyukai pemohonnya."

"Dan kezaliman/pelanggaran batas yang paling besar adalah mereka yang berdoa kepada selain-Nya bersama-sama dengan-Nya, karena sesungguhnya kezaliman yang paling besar adalah syirik. Termasuk pelanggaran batas pula seseorang berdoa kepada-Nya tanpa rasa rendah diri (mutaarri‘); barang siapa yang tidak meminta dengan cara pintaan orang miskin yang merendahkan diri dan merasa takut, maka ia adalah pendoa yang melampaui batas."

"Termasuk pelanggaran batas pula beribadah kepada-Nya dengan tata cara yang tidak Dia syariatkan, atau memuji-Nya dengan ucapan yang tidak Dia gunakan untuk memuji Diri-Nya sendiri serta tidak Dia izinkan. Sesungguhnya hal ini merupakan bentuk melampaui batas dalam doanya yang bernilai pujian dan ibadah, dan ini setara dengan melampaui batas dalam doa permohonan dan permintaan."

ADAB-ADAB BERDOA

Imam Al-Ghazali Rahimahullāh Ta‘ālā berkata: "Di antara adab-adab berdoa adalah:"

  1. Mengincar Waktu-Waktu Mulia untuk Berdoa: Seperti Hari Arafah dalam setahun, bulan Ramadan dalam hitungan bulan, hari Jumat dalam sepekan, dan waktu sahur (sepertiga malam terakhir) di antara jam-jam malam.
  2. Memanfaatkan Keadaan-Keadaan yang Mulia: Seperti saat berkecamuknya perang, ketika turun hujan, ketika iqamah salat, ketika berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, kondisi sujud, dan saat dalam perjalanan (safar).
  3. Berdoa Menghadap Kiblat: Disertai merendahkan suara di antara rasa takut dan suara keras, serta tidak memaksakan diri membuat rima/sajak (saja‘) dalam berdoa, karena kondisi pendoa seharusnya berada dalam keadaan merendahkan diri, dan memaksakan rima tidak sesuai dengan kondisi tersebut.
  4. Ikhlas dalam Berdoa, Merendahkan Diri, Khusyuk, Penuh Harapan (Raghbah), dan Rasa Takut (Rahbah): Serta mantap/tegas dalam berdoa, meyakini pengabulan doa, dan jujur/sungguh-sungguh harapannya kepada Allah.
  5. Mendesak (Terus-menerus) dalam Berdoa dan Mengulanginya Tiga Kali: Serta tidak sepantasnya ia menganggap lambat pengabulan doa.
  6. Membuka Doa dan Menutupnya dengan Zikir kepada Allah Ta‘ālā serta Shalawat atas Nabi , kemudian baru memulai permohonan.
  7. Bertaubat, Mengembalikan Hak-Hak Orang yang Dizalimi (Radd al-Mazhālim), Mengahadapkan Diri kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan Sepenuh Jiwa Raga: Ini merupakan adab batin dan merupakan fondasi utama dalam pengabulan doa, serta menjaga makanan agar hanya memakan yang halal.

DOA DALAM AL-QUR'ANUL KARIM

Lafal doa disebutkan di dalam Al-Qur'an dalam beberapa orientasi makna, di antaranya:

  • Pertama: Bermakna Ucapan (Al-Qawl)

"Maka tidak ada keluhan (da‘wāhum) mereka ketika cobaan Kami datang kepada mereka, selain ucapan..." (QS. Al-Anbiya: 15)

  • Kedua: Bermakna Ibadah (Al-‘Ibādah)

"Katakanlah, 'Apakah kita akan menyeru/menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kita...'" (QS. Al-An'am: 71)

  • Ketiga: Bermakna Panggilan (An-Nidā’)

"...Dan engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan..." (QS. An-Naml: 80, QS. Ar-Rum: 52)

  • Keempat: Bermakna Meminta Pertolongan (Al-Isti‘ānah) dan Imbauan Pertolongan (Al-Istighātsah)

"...Dan ajaklah/panggillah saksi-saksimu..." (QS. Al-Baqarah: 23)

  • Kelima: Bermakna Azab dan Hukuman (Al-‘Azhāb wa al-‘Uqūbah)

"Yang memanggil/menyeru orang yang membelakangi dan berpaling." (QS. Al-Ma'arij: 17) Maksudnya: mengazab.

  • Keenam: Bermakna Penawaran (Al-‘Ardh)

"Dan wahai kaumku, mengapa aku menyeru kamu kepada keselamatan..." (QS. Ghafir: 41) Maksudnya: aku menawarkan keselamatan itu kepadamu.

  • Bermakna Permohonan (As-Su’āl): Seperti firman-Nya "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu" (QS. Ghafir: 60).
  • Bermakna Penamaan (At-Tasmiyah): Seperti firman-Nya "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)" (QS. An-Nur: 63).

Untuk Pendalaman Lebih Lanjut, Lihat:

Sifāt al-‘Ibādah – Al-Istikhārah – Al-Isti‘ānah – Al-Istighātsah – At-Tawīd – Az-Zikr – Al-Ibtihāl – Al-Qunūt – Al-Inābah – Al-Khawf – Ar-Rajā’ – At-Tawassul – Ar-Raghbah wa ar-Rahbah – Al-Istighfār – Ats-Tsanā’ – Al-amd – Asy-Syukr.

Dan pada Lawan Katanya, Lihat:

Sifāt al-I‘rā – Al-Ghurūr – Al-Qunū – Al-Ya’s – Ittibā‘ al-Hawā – Al-Kibr wa al-‘Ujb.

AYAT-AYAT YANG WARID TENTANG (DOA)

Doa Dalam Makna Permohonan dan Permintaan (As-Su’āl wa ath-Thalab):

  1. "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu!' Maka memancarlah darinya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan." (QS. Al-Baqarah: 60)
  2. "Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, 'Wahai Musa, kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia melahirkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merahnya.' Ia (Musa) berkata, 'Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Turunlah kamu ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.' Lalu ditimpakanlah kepada mereka kenistaan dan kemiskinan, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu karena mereka menyangkal ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka mendurhakai dan melampaui batas." (QS. Al-Baqarah: 61)
  3. "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyembelih seekor sapi betina.' Mereka berkata, 'Apakah engkau akan menjadikan kami ejekan?' Musa menjawab, 'Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.' Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami sapi betina apakah itu.' Dia (Musa) menjawab, 'Dia (Allah) berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda, bertubuh sedang di antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.' Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.' Dia (Musa) menjawab, 'Dia (Allah) berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya.' Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami dan jika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat petunjuk.'" (QS. Al-Baqarah: 67-70)
  4. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 186)
  5. " (Ingatlah) ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Tuhanku, sungguh aku menazarkan kepada-Mu anak yang masih dalam kandunganku, menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu). Maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.' Maka ketika melahirkannya, dia berkata, 'Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.' Padahal Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. 'Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari gangguan setan yang terkutuk.' Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus), dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, 'Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?' Dia (Maryam) menjawab, 'Itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, 'Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.'" (QS. Ali 'Imran: 35-38)
  6. "Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan), 'Sekiranya Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.'' Katakanlah (Muhammad), 'Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.'" (QS. Al-An'am: 63-64)
  7. "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang dimohonkan Musa), mereka pun berkata, 'Wahai Musa! Mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau dapat menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan pasti akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.'" (QS. Al-A'raf: 134)
  8. "Dan Allah memiliki Asma'ul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf: 180)
  9. "Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan darinya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya mengandung kandungan yang ringan, dan hiduplah ia dengan ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) berdoa kepada Allah, Tuhannya seraya berkata, 'Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.' Maka setelah Dia memberi keduanya seorang anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah diberikan-Nya kepada mereka itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, sedangkan berhala-berhala itu sendiri diciptakan? Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembahnya dan kepada diri mereka sendiri pun tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (wahai orang-orang musyrik) menyeru mereka (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya mereka tidak akan menuruti ajakanmu; sama saja bagimu apakah kamu menyeru mereka atau kamu berdiam diri. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah adalah makhluk (jua) yang sama seperti kamu. Maka panggillah berhala-berhala itu, lalu biarkanlah mereka memperkenankan permohonanmu, jika kamu orang-orang yang benar. Apakah mereka (berhala-berhala) mempunyai kaki untuk berjalan, atau mempunyai tangan untuk memegang, atau mempunyai mata untuk melihat, atau mempunyai telinga untuk mendengar? Katakanlah (Muhammad), 'Panggillah sekutu-sekutumu, kemudian lakukanlah tipu daya terhadapku, tanpa menunda-nunda lagi. Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang saleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidak sanggup menolongmu, bahkan tidak sanggup menolong diri mereka sendiri.' Dan jika kamu menyeru mereka untuk memberi petunjuk, mereka tidak mendengarnya. Dan engkau melihat mereka memandang kepadamu padahal mereka tidak melihat." (QS. Al-A'raf: 189-198)
  10. "Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (menempuh jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang kerjakan." (QS. Yunus: 12)
  11. "Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah kapal itu membawa mereka dengan angin yang tiupannya baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah angin badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka merasa telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya semata (seraya berkata), 'Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.'" (QS. Yunus: 22)

Catatan Penjelas Tambahan:

  • [1] Mawdhi‘ al-qismah (مَوْضِعُ القِسْمَةِ): Makna alegoris ushul/tasawuf yang mengacu pada pembagian ketetapan/takdir yang telah ditentukan oleh Allah bagi setiap hamba-Nya.
  • [2] Penulis mengutip pembagian Doa menjadi Du‘ā’ al-Ibadah dan Du‘ā’ al-Mas’alah bersumber dari kajian ushul takwil Majmu' Fatawa karya Ibnu Taimiyah dan At-Tafsīr al-Qayyım karya Ibn al-Qayyim.

11. (Musa berdoa): "Ya Tuhan kami, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepada Fir'aun dan para pemukanya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta mereka dan kunci matilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang sangat pedih. Dia (Allah) berfirman: "Sungguh, doa kamu berdua telah dikabulkan. Oleh karena itu, tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan jangan sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. Yunus: 88-89)

12. Dan manusia (sering kali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana dia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia memang bersifat tergesa-gesa. (QS. Al-Isra': 11)

13. Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi atas sebagian yang lain, dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. Katakanlah (Nabi Muhammad): "Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki kuasa untuk menghilangkan bahaya dari kamu dan tidak (pula) memindahkannya." Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al-Isra': 55-57)

14. Kaf Ha Ya 'Ain Shad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, (yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, sedangkan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku." (QS. Maryam: 1-4)

15. Katakanlah (Nabi Muhammad kepada orang-orang kafir): "Tuhanku tidak mengindahkanmu kalau bukan karena doamu (ibadahmu). Sungguh, kamu telah mendustakan (Nya/Rasul-Nya). Oleh karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu)." (QS. Al-Furqan: 77)

16. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan kesusahan, dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pengelola) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat. (QS. An-Naml: 62)

17. Katakanlah (Nabi Muhammad): "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki kekuasaan seberat zarrah pun di langit maupun di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi, serta tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Syafaat di sisi-Nya tidak berguna, kecuali bagi orang yang telah diizinkan-Nya, sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab, "(Perkataan) yang benar," dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahagbesar. (QS. Saba': 22-23)

18. Fir'aun berkata, "Biarkan aku membunuh Musa dan hendaklah dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku takut dia akan mengganti agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi." (QS. Ghafir: 26)

19. Orang-orang yang berada di dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab dari kami sehari saja. (Penjaga Jahannam) berkata, "Bukankah rasul-rasulmu telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?" Mereka menjawab, "Benar." (Penjaga Jahannam) berkata, "Berdoalah kamu (sendiri)!" Doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ghafir: 49-50)

20. Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Ghafir: 60)

21. Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Tidak ada buah-buahan yang keluar dari kelopaknya dan tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan dengan pengetahuan-Nya. Pada hari ketika Dia menyeru mereka, "Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu?" Mereka menjawab, "Kami katakan kepada-Mu bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang dapat memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu). Dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulu selalu mereka sembah, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka jalan keluar (dari azab). Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

 

Jika Kami mencerimakan kepadanya suatu rahmat dari Kami setelah ditimpa kesusahan, niscaya dia akan berkata, "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, sesungguhnya aku akan mendapatkan kebaikan di sisi-Nya." Sungguh, Kami benar-benar akan memberitahukan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan, dan sungguh Kami akan mencicipkan kepada mereka azab yang tebal/berat. Apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ditimpa malapetaka, dia banyak berdoa (meminta tolong). (QS. Fussilat: 47-51)

22. Sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami kepada Fir'aun dan para pemukanya. Maka, dia berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Maka, ketika dia datang kepada mereka dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami, seketika itu mereka tertawa mengejeknya. Tidaklah Kami perlihatkan suatu tanda (kekuasaan) kepada mereka, melainkan (tanda) itu lebih besar daripada tanda sebelumnya. Kami timpakan azab kepada mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Maka, mereka berkata, "Wahai pesihir! Berdoalah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji yang telah dibuat-Nya denganmu! Sesungguhnya kami benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk." Maka, ketika Kami hilangkan azab itu dari mereka, seketika itu pula mereka menyalahi janjinya. (QS. Az-Zukhruf: 46-50)

23. Hari Kiamat makin dekat dan bulan pun terbelah. Jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (kekuasaan Allah), mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang terus-menerus. Mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya. Sungguh, telah datang kepada mereka berita-berita yang di dalamnya terdapat ancaman (untuk mencegah mereka dari kekafiran). (Itulah) hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka). Maka, berpalinglah (wahai Muhammad) dari mereka pada hari ketika penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan. Pandangan mereka tertunduk saat keluar dari kubur seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, seraya datang dengan cepat menuju penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, "Ini adalah hari yang sulit." Sebelum mereka, kaum Nuh juga telah mendustakan (rasul). Mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan berkata, "Dia orang gila," dan dia diancam. Maka, dia (Nuh) berdoa kepada Tuhannya, "Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku)." (QS. Al-Qamar: 1-10)

24. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam... Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (sebagian dari hartanya) memperoleh pahala yang besar. Mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajak kamu agar kamu beriman kepada Tuhanmu dan Dia telah mengambil perjanjian darimu jika kamu orang-orang mukmin? (QS. Al-Hadid: 6-8)

DOA DALAM MAKNA IBADAH

25. Katakanlah (Nabi Muhammad), "Terangkanlah kepadaku jika azab Allah datang kepadamu atau hari Kiamat datang kepadamu, apakah kamu akan menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar? (Tidak,) hanya Dialah yang kamu seru. Maka, Dia akan menghilangkan bahaya yang kamu mohonkan kepada-Nya jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan apa yang kamu persekutukan (dengan Allah). (QS. Al-An'am: 40-41)

26. Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, sedangkan mereka mengharapkan keridaan-Nya. Engkau tidak bertanggung jawab sedikit pun atas hisab mereka dan mereka pun tidak bertanggung jawab sedikit pun atas hisabmu, yang menyebabkan engkau mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-An'am: 52)

27. Apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakannya dan Allah memerintahkan kami mengerjakannya." Katakanlah, "Sesungguhnya Allah tidak pernah memerintahkan perbuatan keji. Apakah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah, "Tuhanku memerintahkan keadilan. Luruskanlah wajahmu (fokuskan ibadahmu) di setiap masjid dan berdoalah kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan, demikian pula kamu akan kembali (kepada-Nya). Sebagian Dia beri petunjuk dan sebagian yang lain telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka telah menjadikan setan-setan sebagai pelindung selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-A'raf: 28-30)

28. Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuk mereka dalam Kitab sampai apabila utusan-utusan Kami (malaikat maut) datang kepada mereka untuk mencabut nyawanya, mereka (para malaikat) berkata, "Di manakah tuhan-tuhan yang biasa kamu sembah/seru selain Allah?" Mereka menjawab, "Tuhan-tuhan itu telah lenyap dari kami," dan mereka bersaksi terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir.  (QS. Al-A'raf: 37)

29.  Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.  Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Al-A'raf: 54-56)

30. Ingatlah, sesungguhnya milik Allah-lah siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi. Orang-orang yang menyembah sekutu-sekutu selain Allah tidaklah mengikuti (suatu kebenaran). Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. (QS. Yunus: 66)

31. Itulah sebagian dari berita negeri-negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara negeri-negeri itu ada yang masih tersisa bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. Oleh karena itu, tuhan-tuhan mereka yang mereka sembah/seru selain Allah tidak berguna sedikit pun bagi mereka ketika keputusan Tuhanmu datang. Tuhan-tuhan itu hanya menambah kebinasaan bagi mereka. (QS. Hud: 100-101)

32. Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan rasa takut dan harapan, dan Dia yang menjadikan awan mendung. Guruh itu bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya. Dia melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, padahal Dia Mahakeras siksaan-Nya. Hanya bagi-Nya hak (panggilan/doa) yang benar. Orang-orang yang menyembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membentangkan kedua telapak tangannya ke dalam air agar air sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ar-Ra'd: 12-14)

33. Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharapkan keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami kelalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas. (QS. Al-Kahf: 28)

34. Ceritakanlah (Nabi Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. (Ingatlah) ketika dia berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?" "Wahai ayahku, sungguh telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu. Maka, ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus." "Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan! Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih." "Wahai ayahku, sesungguhnya aku takut engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih sehingga engkau menjadi teman bagi setan." Dia (ayahnya) berkata, "Apakah engkau benci kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam. Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama." Dia (Ibrahim) berkata, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." "Aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sembah/seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dalam berdoa kepada Tuhanku." (QS. Maryam: 41-48)

35. Dan (ingatlah kisah) Zakaria ketika dia berdoa kepada Tuhannya, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik." Maka, Kami mengabulkan doanya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan menyembuhkan istrinya (sehingga dapat hamil). Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (QS. Al-Anbiya': 89-90)

36. Apabila mereka naik ke dalam kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, seketika itu juga mereka mempersekutukan (Allah). (QS. Al-'Ankabut: 65)

37. Apabila manusia ditimpa bahaya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan kembali bertobat kepada-Nya. Kemudian, apabila Dia memberikan kepada mereka mencicipi rahmat dari-Nya, seketika itu sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya. (QS. Ar-Rum: 33)

38. Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam serta menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai pada waktu yang ditentukan? Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak (benar) dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah adalah batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Tidakkah engkau memperhatikan bahwa kapal berlayar di laut dengan nikmat Allah agar Dia memperlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. Apabila mereka digulung gelombang yang seperti naungan (gunung), mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di darat, sebagian dari mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali setiap orang yang tidak tahu berterima kasih lagi sangat kufur. (QS. Luqman: 29-32)

39. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya, mereka menyungkur sujud dan bertasbih seraya memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa (berbagai nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 15-17)

40. Sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu tidak bertakwa?" "Apakah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan Sebaik-baik Pencipta," "(yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?" Maka, mereka mendustakannya. Oleh karena itu, mereka pasti akan diseret (ke dalam neraka), kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan (dari dosa). (QS. As-Saffat: 123-128)

41. Apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya. Kemudian, apabila Dia memberinya nikmat dari-Nya, dia lupa akan bahaya yang dia berdoa kepada-Nya sebelum itu dan dia menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sebentar! Sesungguhnya engkau termasuk penghuni neraka." (QS. Az-Zumar: 8)

42. Apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami. Kemudian, apabila Kami memberinya nikmat dari Kami, dia berkata, "Sesungguhnya aku diberi (nikmat) ini hanyalah karena ilmu (yang ada padaku)." Padahal, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sungguh, orang-orang sebelum mereka pun telah mengatakan hal itu, maka tidak berguna bagi mereka apa yang selalu mereka usahakan. (QS. Az-Zumar: 49-50)

43. Sesungguhnya orang-orang yang kafir diseru (pada hari Kiamat), "Sungguh, kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri ketika kamu diseru untuk beriman, lalu kamu kufur." Mereka berkata, "Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali, lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka, adakah jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" Yang demikian itu karena apabila Allah diseru sendirian, kamu kufur; tetapi apabila Dia dipersekutukan, kamu percaya. Maka, keputusan (hukum) itu adalah bagi Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Dialah yang memperlihatkan tanda-tanda (kekuasaan)-Nya kepadamu dan menurunkan rezeki dari langit untukmu. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang kembali (kepada Allah). Maka, berdoalah/sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. (QS. Ghafir: 10-14)

44. Dialah Yang Mahahidup, tidak ada tuhan selain Dia. Maka, berdoalah kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Katakanlah (Nabi Muhammad), "Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku bukti-bukti yang nyata dari Tuhanku, dan aku diperintahkan agar berserah diri kepada Tuhan semesta alam." (QS. Ghafir: 65-66)

45. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Kitab (Al-Qur'an) dan apa yang Kami utus dengannya bersama rasul-rasul Kami. Kelak mereka akan mengetahui, kontak belenggu dan rantai dipasang di leher mereka seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api. Kemudian dikatakan kepada mereka, "Di manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan" sebagai sembahan selain Allah?" Mereka menjawab, "Berhala-berhala itu telah lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu pun." Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. (QS. Ghafir: 70-74)

46. Ha Mim. Turunnya Kitab ini dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang hak dan dalam waktu yang ditentukan. Namun, orang-orang yang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka. Katakanlah (Nabi Muhammad), "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah! Perlihatkan kepadaku bagian mana dari bumi ini yang telah mereka ciptakan atau adakah peran serta mereka dalam (penciptaan) langit? Bawa kemari kepadaku kitab sebelum (Al-Qur'an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu orang-orang yang benar!" Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah selain Allah, (sembahan) yang tidak dapat mengabulkan (doanya) sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari doa (seruan) mereka? (QS. Al-Ahqaf: 1-5)

47. Orang-orang yang beriman dan keturunan mereka mengikuti mereka dalam iman, Kami hubungkan keturunan mereka itu dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. Kami anugerahkan kepada mereka buah-buahan dan daging dari jenis yang mereka sukai. Di dalam surga mereka saling mengulurkan gelas (berisi minuman) yang tidak menimbulkan perkataan yang sia-sia dan tidak pula perbuatan dosa. Mengelilingi mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka adalah mutiara yang tersimpan. Sebagian mereka berhadap-hadapan dengan yang lain seraya saling bertanya. Mereka berkata, "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, merasa takut (akan azab)." "Maka, Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka." "Sesungguhnya kami dahulu menyembah/berdoa kepada-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan lagi Maha Penyayang." (QS. At-Tur: 21-28)

48. Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah/mendoakan seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Sesungguhnya ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri berdoa (menyembah-Nya), mereka (jin-jin) berdesak-desakan mengerumuninya. Katakanlah (Nabi Muhammad), "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan-Nya." (QS. Al-Jin: 18-20)

DOA DALAM MAKNA UCAPAN/PERKATAAN

49. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Tuhan memberikan petunjuk kepada mereka karena keimanannya. Di bawahnya mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. Doa (ucapan) mereka di dalamnya ialah, "Subhanakallahumma" (Mahasuci Engkau, ya Tuhan kami), penghormatan mereka di dalamnya ialah "Salam" (keselamatan), dan penutup doa (ucapan) mereka ialah, "Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin" (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam). (QS. Yunus: 9-10)

50. "Berapa banyak (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami ciptakan setelah mereka kaum yang lain (sebagai penggantinya)? Maka, ketika merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu melarikan diri! Kembalilah kamu kepada kenikmatan yang telah kamu rasakan dan tempat-tempat konduksimu (rumah-rumahmu) agar kamu dapat ditanya! Mereka berkata, 'Betapa celakanya kami! Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.' Demikianlah keluhan mereka yang tidak henti-hentinya sampai Kami jadikan mereka seperti tanaman yang telah dituai dan padam (mati)." (QS. Al-Anbiya' [21]: 11-15 - Makkiyyah)

51. "Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan (perempuan muslimah) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran." (QS. Al-Baqarah [2]: 221 - Madaniyyah)

52. "Hendaklah ada di antara kamu sekelompok orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran [3]: 104 - Madaniyyah)

53. "Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu! Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al-Anfal [8]: 24-25 - Madaniyyah)

54. "Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang Dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus (Islam)." (QS. Yunus [10]: 25 - Makkiyyah)

55. "Dia (Yusuf) berkata, 'Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Jika Engkau tidak menghindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh.'" (QS. Yusuf [12]: 33 - Makkiyyah)

56. "Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (ialah) mengalir di bawahnya sungai-sungai; bahan makanannya kekal, dan naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad), dan di antara golongan-golongan (orang-orang Yahudi dan Nasrani) ada yang mengingkari sebagiannya. Katakanlah, 'Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Hanya kepada-Nya aku menyeru dan hanya kepada-Nya tempat kembaliku.'" (QS. Ar-Ra'd [13]: 35-36 - Makkiyyah)

57. "Apakah belum sampai kepadamu berita tentang orang-orang sebelum kamu, (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Samud, dan orang-orang setelah mereka? Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Rasul-rasul telah datang kepada mereka membawa bukti-bukti yang nyata, lalu mereka memegang tangan mereka ke mulutnya (karena marah dan heran) dan berkata, 'Sesungguhnya kami tidak percaya akan apa yang kamu diutus dengannya dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu serukan kepada kami.'"  "Rasul-rasul mereka berkata, 'Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia mengajak kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)-mu sampai waktu yang ditentukan.' Mereka berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. Kamu bermaksud menghalangi kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami. Karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.'"  "Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Tidak pantas bagi kami mendatangkan bukti kepadamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.'" (QS. Ibrahim [14]: 9-11 - Makkiyyah)

Makna Doa (Ad-Du'a) sebagai Seruan (An-Nida') dan Dorongan (At-Targhib):

58. "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.'"  "'Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia. Maka barangsiapa mengikutiku, sungguh dia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakai aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" "'Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tumbuh-tumbuhan di dekat rumah Engkau yang dihormati (Baitullah). Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.'" "'Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.'"  "'Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa.'" "'Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.'" "'Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang beriman pada hari terjadinya perhitungan (hari kiamat).'" (QS. Ibrahim [14]: 35-41 - Makkiyyah)

59. "Katakanlah, 'Jadilah kamu batu atau besi, atau suatu makhluk dari yang kamu anggap besar dalam dadamu!' Maka mereka akan bertanya, 'Siapakah yang akan mengembalikan kami (hidup kembali)?' Katakanlah, 'Yang telah menciptakan kamu pada pertama kali.' Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu dan berkata, 'Kapankah itu (terjadi)?' Katakanlah, 'Boleh jadi itu sudah dekat.'" "Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira bahwa kamu tidak tinggal (di dalam kubur) melainkan sebentar saja." (QS. Al-Isra' [17]: 50-52 - Makkiyyah)

60. "Katakanlah, 'Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asma'ul husna (nama-nama yang terbaik).' Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." (QS. Al-Isra' [17]: 110 - Makkiyyah)

61. "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (di balik kawannya). Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan (fitnah) atau ditimpa azab yang pedih." (QS. An-Nur [24]: 63 - Madaniyyah)

62. "Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim."  "Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?'"  "Maka mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.'" "Dia (Ibrahim) berkata, 'Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya), atau dapat memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?'" (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 69-73 - Makkiyyah)

63. "Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut jangka waktu yang ditentukan. Yang berbuat demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (tadb'una) selain Allah tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari (qithmir)." "Jika kamu menyeru (tad'uhum) mereka, mereka tidak mendengar seruanmu (du'a'akum); dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu; dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui." (QS. Fatir [35]: 13-14 - Makkiyyah)

64. "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'" "'Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta (tadda'un).'"  "Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."  "Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (da'a) kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslimin)?'" (QS. Fussilat [41]: 30-33 - Makkiyyah)

Makna Doa (Ad-Du'a) sebagai Permintaan Tolong (Al-Isti'anah) dan Pemohonan Bantuan (Al-Istighatsah):

65. "Bahkan mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah membuat-buat Al-Qur'an itu.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya yang dibuat-buat, dan ajaklah (wad'u) siapa saja yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.'" "Jika mereka tidak memenuhi tantanganmu itu, maka ketahuilah bahwa Al-Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (masuk Islam)?" (QS. Hud [11]: 13-14 - Makkiyyah)

Makna Doa (Ad-Du'a) sebagai Azab dan Siksaan (Al-'Azab wa Al-'Uqubah):

66. "Sama sekali tidak! Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil (tad'u) orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama)." (QS. Al-Ma'arij [70]: 15-17 - Makkiyyah)

Makna Doa (Ad-Du'a) sebagai Penawaran/Ajakan (Al-'Ardh):

67. "Dan wahai kaumku, bagaimanakah ini, aku menyerumu (ad'ukum) kepada keselamatan, sedangkan kamu menyeruku (tad'unanî) ke neraka?" "Kamu menyeruku agar aku kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak aku ketahui, padahal aku menyerumu kepada (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Pengampun."  "Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru aku kepadanya tidak mempunyai seruan (da'wah) baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya tempat kembali kita adalah kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." (QS. Ghafir [40]: 41-43 - Makkiyyah)

Di Antara Doa-Doa Al-Qur'an al-Karim

68- “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 5-6) [Makkiyah]

69- “(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, begitu pula keturunan kami, jadikanlah mereka umat yang berserah diri kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.'” (QS. Al-Baqarah [2]: 127-128) [Madaniyah]

70- “Di antara mereka ada juga yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.'” (QS. Al-Baqarah [2]: 201) [Madaniyah]

71- “Ketika mereka maju menghadapi Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.'” (QS. Al-Baqarah [2]: 250) [Madaniyah]

72- “Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadaya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Mereka juga berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.' Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan ia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau beban kan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.'” (QS. Al-Baqarah [2]: 285-286) [Madaniyah]

73- “Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat [jelas dan tegas maknanya], itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat [memerlukan penafsiran khusus]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.' Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa,) 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau berpalingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.' 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya.' Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ali 'Imran [3]: 7-9) [Madaniyah]

74- “Katakanlah, 'Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?' Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (ada juga) pasangan-pasangan yang disucikan serta keridaan dari Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.'” (QS. Ali 'Imran [3]: 15-16) [Madaniyah]

75- “Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Engkau beri rezeki siapa saja yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.'” (QS. Ali 'Imran [3]: 26-27) [Madaniyah]

76- “'Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.'” (QS. Ali 'Imran [3]: 53) [Madaniyah]

77- “Berapa banyak nabi yang berperang bersama sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan, 'Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.'” (QS. Ali 'Imran [3]: 146-147) [Madaniyah]

78- “Orang-orang yang disampaikan kepada mereka, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata ucapan itu menambah iman mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.'” (QS. Ali 'Imran [3]: 173) [Madaniyah]

79- “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang memanggil kepada iman, (yaitu), 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.' Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka (dengan berfirman), 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti di jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Di sisi Allah ada pahala yang baik.'” (QS. Ali 'Imran [3]: 190-195) [Madaniyah]

80- “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, serta berilah kami penolong dari sisi-Mu.'” (QS. An-Nisa' [4]: 75) [Madaniyah]

81- “Wahai Adam, tinggallah engkau bersama istrimu di dalam surga dan makanlah makanan apa saja yang kamu berdua sukai, tetapi janganlah kamu mendekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim. Kemudian Setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan telanjang mereka yang tertutup. Setan berkata, 'Tuhanmu tidak melarang kamu mendekati pohon ini, melainkan agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).' Dan setan bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya aku termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.' Maka Setan membujuk keduanya dengan tipu daya. Ketika keduanya telah merasai (buah) pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, 'Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?' Keduanya berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.'” (QS. Al-A'raf [7]: 19-23) [Makkiyah]

82- “Dan Apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama kaum yang zalim itu.'” (QS. Al-A'raf [7]: 47) [Makkiyah]

83- “Sungguh kami telah ada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah Tuhan kami menghendakinya. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah pemberi keputusan yang terbaik.” (QS. Al-A'raf [7]: 89) [Makkiyah]

84- “Dan engkau tidak membalas dendam kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. (Mereka berdoa,) 'Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslim).'” (QS. Al-A'raf [7]: 126) [Makkiyah]

85- “Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, 'Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu, Engkau menyesatkan siapa yang Engkau kehendaki dengan cobaan itu dan Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Pelindung kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah sebaik-baik pemenang dosa. Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada-Mu.' Allah berfirman, 'Siksaan-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.'” (QS. Al-A'raf [7]: 155-156) [Makkiyah]

86- “Musa berkata, 'Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang muslim.' Lalu mereka berkata, 'Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah [objek kezaliman/penindasan] bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari kaum yang kafir.'” (QS. Yunus [10]: 84-86) [Makkiyah]

87- “Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Allah) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.” (QS. Yusuf [12]: 101) [Makkiyah]

88- “Katakanlah (Muhammad), 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.'” (QS. Al-Isra' [17]: 80) [Makkiyah]

AYAT-AYAT AL-QUR'AN TENTANG DOA

89. "Ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.'" (QS. Al-Kahf: 10 — Makkiyah)

90. "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku," (QS. Taha: 25–27 — Makkiyah)

91. "Maka, Mahatinggi Allah, Raja yang Sebenarnya. Janganlah engkau (Nabi Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum wahyunya selesai diturunkan kepadamu dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'" (QS. Taha: 114 — Makkiyah)

92. "Dan (ingatlah) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, 'Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.'" (QS. Al-Anbiya': 87 — Madaniyah)

93. "Dan (ingatlah) Zakaria ketika dia berdoa kepada Tuhannya, 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.'" (QS. Al-Anbiya': 89 — Madaniyah)

94. "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.'" (QS. Al-Mu'minun: 29 — Makkiyah)

95. "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan dan aku berlindung (pula) kepada-Mu, ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.'" (QS. Al-Mu'minun: 97–98 — Makkiyah)

96. "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat.'" (QS. Al-Mu'minun: 109 — Makkiyah)

97. "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Ya Tuhanku, ampunilah dan berilah rahmat! Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat.'" (QS. Al-Mu'minun: 118 — Makkiyah)

98. "Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, 'Salam.' Orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri. Orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami karena sesungguhnya azabnya itu kekal.' Sesungguhnya (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan di antara keduanya." (QS. Al-Furqan: 63–67 — Makkiyah)

99. "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh, jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan," (QS. Asy-Syu'ara': 83–85 — Makkiyah)

100. "Janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara': 87–89 — Makkiyah)

101. "Maka, dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.'" (QS. An-Naml: 19 — Makkiyah)

102. "Dia (Musa) berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.' Maka, Allah mengampuninya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Qasas: 16 — Makkiyah)

103. "Maka, keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut dan waspada. Dia berdoa, 'Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.'" (QS. Al-Qasas: 21 — Makkiyah)

104. "Demikianlah telah pasti berlaku ketetapan Tuhanku terhadap orang-orang kafir, bahwa sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka. (Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya, beriman kepada-Nya, serta memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu serta peliharalah mereka dari azab neraka Jahim. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, orang-orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Peliharalah mereka dari (ancaman) kejahatan. Orang yang Engkau pelihara dari (ancaman) kejahatan pada hari itu, sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya. Demikian itulah kemenangan yang agung.'" (QS. Ghafir: 6–9 — Makkiyah)

105. "Ya Tuhan kami, hilangkanlah azab itu dari kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beriman." (QS. Ad-Dukhan: 12 — Makkiyah)

106. "Kami berwasiat kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungkannya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan mencapat umur empat puluh tahun, dia berdoa, 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, dan berilah aku kebaikan dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.'" (QS. Al-Ahqaf: 15 — Makkiyah)

107. "Orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.'" (QS. Al-Hasyr: 10 — Madaniyah)

108. "Sungguh, telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,' kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, 'Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak sesuatu pun dari Allah untukmu.' (Mereka berdoa), 'Ya Tuhan kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertobat, dan hanya kepada-Mu tempat kembali. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.'" (QS. Al-Mumtahanah: 4–5 — Madaniyah)

109. "Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya (taubatan nasuha). Mudah-mudahan Tuhanku menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.'" (QS. At-Tahrim: 8 — Makkiyah)

110. "Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Firaun, ketika dia berkata, 'Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.'" (QS. At-Tahrim: 11 — Makkiyah)

111. "Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman, serta semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran." (QS. Nuh: 28 — Makkiyah)

112. "Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Diciptakan-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.'" (QS. Al-Falaq: 1–5 — Makkiyah)

113. "Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.'" (QS. An-Nas: 1–6 — Makkiyah)

HADIS-HADIS TENTANG DOA

1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»

"Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai lagi lengah."

(HR. At-Tirmidzi [3479] dan ia berkata: Hadis gharib. Serta Al-Hakim [1/493] dan ia berkata: Sanad hadis ini lurus/lurus jalurnya. Disebutkan pula oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah dan ia menyandarkannya pula kepada Ibnu Asakir serta Miftah Ma'ani Al-Atsar, dan ia menyebutkan bahwa hadis ini memiliki syahid [penguat] di sisi Ahmad [hadis 594]. Dan beliau rahimahullah menyandarkannya dalam Bulughul Maram kepada An-Nasa'i dan Ibnu Hibban, dan hadis ini terdapat dalam Al-Musnad [3/225]).

2. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«ادْعُوا فَإِنَّ الدُّعَاءَ يَرُدُّ القَضَاءَ»

"Berdoalah kalian, karena sesungguhnya doa itu dapat menolak ketetapan (takdir/qadha')."

(HR. At-Thabrani dalam Ad-Du'a [3/798, no. 29] dan penyusun takhrij berkata: Sanadnya hasan. Diriwayatkan juga oleh Ahmad [3/155, 255] dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [5/165], dan kedua penyusun takhrijnya berkata: Sanadnya hasan).

3. Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia mendengar putranya berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu istana putih yang berada di sebelah kanan surga apabila aku memasukinya." Maka Abdullah berkata: "Wahai putramu, mohonlah surga kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya dari neraka, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الطُّهُورِ وَالدُّعَاءِ»

"Sesungguhnya akan ada pada umat ini suatu kaum yang berlebihan (melampaui batas) dalam bersuci dan berdoa."

(HR. Abu Daud [96] dan lafaz ini milik beliau, At-Thabrani dalam Al-Kabir [2/811, no. 59] dan penyusun takhrij berkata: Sanadnya hasan. Serta Ibnu Majah [3864]).

4. Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ»

"Doa tidak akan ditolak di antara azan dan ikamah."

(HR. At-Tirmidzi [212] dan ia berkata: Hasan shahih. Abu Daud [521]. Al-Hafiz berkata: Hadis ini hasan, serta dalam Al-Adzkar karya An-Nawawi [95]).

5. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang wanita datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa bayinya, lalu wanita itu berkata: "Wahai Nabi Allah, berdoalah kepada Allah untuknya, karena sungguh aku telah menguburkan tiga orang anakku." Nabi bersabda: "Apakah engkau telah menguburkan tiga orang anak?" Wanita itu menjawab: "Ya." Nabi bersabda:

«لَقَدْ احْتَظَرْتِ بِحِظَارٍ شَدِيدٍ مِنَ النَّارِ»

"Sungguh engkau telah membentengi dirimu dengan benteng yang sangat kokoh dari api neraka." [Ahtazharti: Engkau telah memagari/membentengi diri dengan penghalang yang kuat]. (HR. Muslim [2636]).

6. Dari Ummu ad-Darda' radhiyallahu 'anha, ia berkata kepada Safwan bin Abdullah bin Safwan ketika Safwan datang mengunjunginya dari Syam—dan Safwan menikahi putri Ummu ad-Darda': "Apakah engkau berniat hendak menunaikan ibadah haji tahun ini?" Safwan menjawab: "Ya." Ummu ad-Darda' berkata: "Berdoalah kepada Allah untuk kebaikan kami, karena sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu pernah bersabda:

«دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ . كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ»

"Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya (secara sembunyi-sembunyi) adalah doa yang dikabulkan. Di dekat kepalanya ada malaikat yang diutus. Setiap kali ia berdoa untuk kebaikan saudaranya, malaikat yang diutus tersebut berkata: 'Amin, dan bagimu kebaikan yang serupa.'" (HR. Muslim [2733]).

7. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ ، وَلَا يَقُولَنَّ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي فَإِنَّهُ لَا مُسْتَكْرِهَ لَهُ»

"Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia mantap dalam memohon (liya'zimil mas'alah / bersungguh-sungguh dan mendesak dalam berdoa), dan jangan sekali-kali ia mengucapkan: 'Ya Allah, jika Engkau berkenan maka berilah aku,' karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa Allah." (HR. Al-Bukhari - Al-Fath 11 [6338]).

8. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُولَنَّ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ لِيُعْظِمِ رَغْبَتَهُ ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَعْطَاهُ»

"Apabila salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia mengucapkan: 'Ya Allah, jika Engkau berkenan,' tetapi hendaklah ia membesarkan harapannya, karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar bagi-Nya untuk Dia berikan." (HR. Ahmad dalam Al-Musnad [2/457-458], At-Thabrani dalam Ad-Du'a [2/817, no. 76] dan penyusun takhrij berkata: Sanadnya hasan).

9. Dari Amr bin Abasah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ»

"Kedekatan paling dekat antara Tuhan dengan hamba-Nya adalah di sepertiga malam yang terakhir. Maka, jika engkau mampu menjadi bagian dari orang-orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, jadilah!" (HR. At-Tirmidzi [3579] dan ia berkata: Hasan shahih gharib. An-Nasa'i [1/279, 280] dengan konteks yang lebih panjang dari ini. Al-Albani berkata dalam Mukhtashar Al-'Uluw: Hadis shahih [97]. Dan At-Thabrani dalam Ad-Du'a: Di dalamnya beliau bersabda: "Doa yang paling dekat (dikabulkan) adalah pada sepertiga malam yang terakhir" [2/840, no. 128] dan ia berkata: Sanadnya hasan).

10. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ»

"Kondisi paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa!" (HR. Muslim [482]).

11. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ ، وَأَبْخَلَ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلامِ»

"Sesungguhnya orang yang paling lemah adalah orang yang lemah (enggan) dalam berdoa, dan orang yang paling kikir adalah orang yang kikir dalam mengucapkan salam." (HR. At-Thabrani dalam Ad-Du'a [2/811, no. 60] dan penyusun takhrij berkata: Sanadnya hasan. Serta Majma' az-Zawa'id [10/146] dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Abu Ya'la secara mauquf dan para perawinya adalah perawi Ash-Shahih).

12. Dari Usair bin Jabir radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan: Bahwa penduduk Kufah mengutus utusan kepada Umar, dan di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang biasa mengejek Uwais. Maka Umar bertanya: "Apakah di sini ada seseorang dari suku Qaran?" Lalu datanglah laki-laki tersebut. Umar berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

«إِنَّ رَجُلًا يَأْتِيكُمْ مِنَ الْيَمَنِ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ . لَا يَدَعُ بِالْيَمَنِ غَيْرَ أُمٍّ لَهُ قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللَّهَ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ الدِّينَارِ أَوِ الدِّرْهَمِ ، فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ»

"Sesungguhnya seorang laki-laki akan datang kepada kalian dari Yaman yang bernama Uwais. Dia tidak meninggalkan di Yaman selain ibunya. Dahulu dia memiliki penyakit belang (sopak), lalu dia berdoa kepada Allah sehingga Allah menyembuhkannya kecuali tersisa seluas mata uang dinar atau dirham. Maka siapa saja di antara kalian yang bertemunya, hendaklah meminta kepadanya agar memohonkan ampunan untuk kalian." (HR. Muslim [2542]).

13. Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ بِدَعْوَةٍ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا لَيْسَ فِيهِمَا شَيْءٌ»

"Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu kepada hamba-Nya apabila hamba tersebut mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk berdoa, lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan hampa/kosong tidak membawa apa-apa." (HR. At-Tirmidzi [3556], Abu Daud [1488], Ibnu Majah [3865], Al-Hakim [1/535] dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh Adz-Dzahabi, At-Thabrani dalam Ad-Du'a [2/877, no. 202] dan penyusun takhrij berkata: Sanadnya hasan. Al-Hafiz berkata dalam Al-Fath: Sanadnya jayyid [bagus], dan Al-Albani berkata dalam Shahih-nya: Shahih [1/123, no. 557]).

14. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya ada seorang laki-laki berdoa dengan mengacungkan dua jarinya, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«أَحَدٌ أَحَدٌ»

"Esa-kanlah, Esa-kanlah!" [Ahadun Ahad: Yaitu isyaratkanlah dengan satu jari saja, karena Dzat yang engkau sembah dan engkau berdo'a kepada-Nya adalah Dzat Yang Maha Esa, yaitu Allah Ta'ala. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Al-Atsir dalam An-Nihayah]. (HR. At-Tirmidzi [3557] dan ia berkata: Hadis hasan shahih gharib. An-Nasa'i [3/38], dan Al-Albani berkata dalam Shahih-nya: Shahih [1/272, no. 1207]).

15. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengutus Mu'adz ke Yaman, beliau bersabda:

«إِنَّكَ تَقْدُمُ عَلَى أَهْلِ كِتابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ . فَإِذَا فَعَلُوا ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا ، فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ»

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: «وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

"Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka hendaklah hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla. Jika mereka telah mengenal Allah, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah melaksanakannya, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu disalurkan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaati hal tersebut, maka ambillah dari mereka dan hindarilah harta-harta pilihan (terbaik) mereka."

Dan dalam lafaz lain: "Dan takutilah olehmu doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah." (HR. Al-Bukhari - Al-Fath 5 [2448], dan Muslim [19] dan lafaz ini milik beliau).

16. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ»

قَالَ: وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيفَةٌ.

"Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim mendapatinya sedang ia memohon kebaikan kepada Allah pada waktu tersebut, melainkan Allah akan mengabulkannya."

Beliau berkata: Dan waktu tersebut sangat singkat.

Dan redaksi di sisi At-Thabrani berbunyi: "Pada hari Jumat terdapat satu waktu yang tidaklah dijumpai oleh seorang hamba dalam keadaan ia sedang salat atau menunggu salat seraya berdoa kepada Allah 'Azza wa Jalla pada waktu tersebut, melainkan Allah pasti mengabulkannya."

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath [935], dan Muslim [852] dan lafaz ini milik beliau. Serta At-Thabrani [2/849, no. 149] dan penyusun takhrij berkata: Sanadnya hasan).

17. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«بَيْنَمَا ثَلَاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ إِذْ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ . فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ فَانْطَبَقَ عَلَيْهِمْ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : إِنَّهُ وَاللَّهِ يَا هَؤُلَاءِ لَا يُنَجِّيكُمْ إِلَّا الصِّدْقُ، فَلْيَدْعُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ بِمَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ صَدَقَ فِيهِ. فَقَالَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ : اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ لِي أَجِيرٌ عَمِلَ لِي عَلَى فَرَقٍ مِنْ أَرُزٍّ ، فَذَهَبَ وَتَرَكَهُ ، وَأَنِّي عَمَدْتُ إِلَى ذَلِكَ الْفَرَقِ فَزَرَعْتُهُ ، فَصَارَ مِنْ أَمْرِهِ أَنِّي اشْتَرَيْتُ مِنْهُ بَقَرًا ، وَأَنَّهُ أَتَانِي يَطْلُوبُ أَجْرَهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : اعْمِدْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ فَسُقْهَا ، فَقَالَ لِي : إِنَّمَا لِي عِنْدَكَ فَرَقٌ مِنْ أَرُزٍ فَقُلْتُ لَهُ : اعْمِدْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ، فَإِنَّهَا مِنْ ذَلِكَ الْفَرَقِ. فَسَاقَهَا. فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا فَانْسَاحَتْ عَنْهُمُ الصَّخْرَةُ، فَقَالَ الآخَرُ : اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ آتِيهِمَا كُلَّ لَيْلَةٍ بِلَبَنِ غَنَمٍ لِي، فَأَبْطَأْتُ عَنْهُمَا لَيْلَةً، فَجِئْتُ وَقَدْ رَقَدَا وَأَهْلِي وَعِيَالِي يَتَضَاغَوْنَ مِنَ الْجُوعِ، وَكُنْتُ لَا أَسْقِيهِمْ حَتَّى يَشْرَبَ أَبَوَايَ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَهُمَا، وَكَرِهْتُ أَنْ أَدَعَهُمَا فَيَسْتَكِنَّا لِشَرْبَتِهِمَا، فَلَمْ أَزَلْ أَنْتَظِرُ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ. فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا فَانْسَاحَتْ عَنْهُمُ الصَّخْرَةُ حَتَّى نَظَرُوا إِلَى السَّمَاءِ. فَقَالَ الآخَرُ : اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمٍّ مِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَيَّ، وَأَنِّي رَاوَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا فَأَبَتْ إِلَّا أَنْ آتِيَهَا بِمِائَةِ دِينَارٍ ، فَطَلَبْتُهَا حَتَّى قَدَرْتُ ، فَأَتَيْتُهَا بِهَا فَدَفَعْتُهَا إِلَيْهَا، فَأَمْكَنَتْنِي مِنْ نَفْسِهَا، فَلَمَّا قَعَدْتُ بَيْنَ رِجْلَيْهَا قَالَتْ : اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلَّا بِحَقِّهِ، فَقُمْتُ وَتَرَكْتُ الْمِائَةَ الدِّينَارِ، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا ، فَفَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَخَرَجُوا»

"Ketika tiga orang dari orang-orang sebelum kalian sedang berjalan, tiba-tiba hujan menimpa mereka, lalu mereka berlindung ke dalam sebuah gua, namun batu besar mengurung mereka. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: 'Demi Allah, wahai kalian, tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian kecuali kejujuran. Maka hendaklah setiap orang dari kalian berdoa dengan amalan yang ia tahu ia telah jujur/ikhlas di dalamnya.'

Maka salah seorang dari mereka berdoa: 'Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku dahulu memiliki seorang pekerja yang bekerja padaku dengan upah satu faraq [faraq: takaran beras/gandum] beras, lalu ia pergi dan meninggalkannya. Lantas aku sengaja mengambil beras satu faraq tersebut lalu aku menanamnya, hingga dari hasilnya itu aku dapat membeli beberapa ekor sapi. Kemudian pekerja itu datang kepadaku menagih upahnya, maka aku katakan padanya: 'Pergilah ke sapi-sapi itu dan giringlah!' Orang itu berkata: 'Aku hanya punya hak satu faraq beras padamu.' Aku jawab: 'Pergilah ke sapi-sapi itu dan giringlah, karena sapi-sapi itu berasal dari beras satu faraq tersebut.' Lalu ia pun menggiringnya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena rasa takut kepada-Mu, maka bukakanlah kesulitan ini dari kami.' Maka batu besar itu pun bergeser sedikit.

Orang kedua berdoa: 'Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku memiliki kedua orang tua yang sudah sangat renta, dan aku biasa membawakan untuk mereka susu kambing perahanku setiap malam. Suatu malam aku terlambat pulang, lalu aku mendatangi mereka berdua namun mereka sudah tertidur, sedangkan istri dan anak-anakku menangis melengking karena kelaparan di kakiku. Aku tidak ingin memberi minum mereka sebelum kedua orang tuaku minum. Aku benci membangunkan mereka berdua, dan aku pun benci meninggalkan mereka sehingga mereka kehilangan cangkir minuman mereka. Maka aku terus menunggu (memegang wadah susu) hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena rasa takut kepada-Mu, maka lapangkanlah kesulitan ini dari kami.' Maka batu besar itu pun bergeser lagi hingga mereka bisa melihat langit.

Orang ketiga berdoa: 'Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku dahulu memiliki seorang sepupu wanita yang merupakan orang yang paling aku cintai. Aku merayu dan mengajak dirinya untuk berzina, tetapi ia menolak kecuali jika aku membawakannya seratus dinar. Maka aku berusaha mencarinya hingga aku sanggup melunasinya, lalu aku membawakan uang itu kepadanya dan menyerahkannya. Ia pun menyerahkan dirinya kepadaku. Ketika aku telah duduk di antara kedua kakinya, wanita itu berkata: 'Bertaqwalah kepada Allah, dan janganlah engkau merusak cincin (keperawanan) kecuali dengan haknya (pernikahan)!' Maka aku pun langsung bangkit meninggalkannya dan membiarkan uang seratus dinar tersebut. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena rasa takut kepada-Mu, maka bukakanlah jalan keluar bagi kami.' Maka Allah pun membukakan jalan keluar bagi mereka sehingga mereka dapat keluar dari gua tersebut."

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 6 [3465] dan lafaz ini milik beliau, serta Muslim [2743]).

18. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ المَظْلُومِ»

"Ada tiga doa yang dikabulkan tanpa ada keraguan padanya: doa orang tua (untuk anaknya), doa seorang musafir, dan doa orang yang terzalimi." (HR. Abu Daud [1536] dan lafaz ini milik beliau, serta Ibnu Majah [3862]).

19. Rasulullah bersabda:

( ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ ، وَالإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ : وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ )

"Ada tiga kelompok orang yang doanya tidak akan ditolak: orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi. Allah mengangkat doanya ke atas awan dan membukakan pintu-pintu langit untuknya, seraya Tuhan berfirman: 'Demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku benar-benar akan menolongmu walaupun setelah beberapa waktu.'" (HR. At-Tirmidzi [3598] dan ini adalah redaksinya, ia berkata: "Hadis hasan". Ibnu Majah [1752]. At-Thabrani dalam ad-Du'a [3/1416] hadis no. 1322 dan ia berkata: "Para perawi sanadnya hasan").

20. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( ثَلَاثَةٌ لَا يُرَدُّ دُعَاؤُهُمُ : الذَّاكِرُ اللَّهَ كَثِيرًا ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، وَالإِمَامُ الْمُقْسِطُ )

"Ada tiga kelompok orang yang tidak akan ditolak doa mereka: orang yang banyak mengingat Allah, doa orang yang terzalimi, dan pemimpin yang adil." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman [2/399]. Al-Albani menyebutkannya dalam Shahih al-Jami' [2/72] dan berkata: "Hasan". Serta dalam as-Silsilah ash-Shahihah miliknya [3/211, 212] dan berkata: "Sanadnya hasan").

21. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Ummu Sulaim datang kepada Nabi lalu berkata: "Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku kalimat-kalimat yang bisa aku berdoa dengannya dalam salatku." Beliau bersabda:

( سَبِّحِي اللهَ عَشْرًا، وَاحْمَدِيهِ عَشْرًا ، وَكَبِرِيهِ عَشْرًا ، ثُمَّ سَلِيهِ حَاجَتَكِ يَقُلْ : نَعَمْ نَعَمْ )

"Bertasbihlah (ucapkan Subhanallah) kepada Allah sepuluh kali, bertamhidlah (ucapkan Alhamdulillah) sepuluh kali, dan bertakbirlah (ucapkan Allahu Akbar) sepuluh kali. Kemudian mintalah kebutuhanmu, niscaya Dia (Allah) berfirman: 'Ya, Ya (Aku kabulkan).'" (HR. An-Nasa'i [3/51] dan ini adalah redaksinya. Al-Albani berkata: "Sanadnya hasan". HR. At-Thabrani dalam ad-Du'a [3/1417] hadis no. 1325 dan berkata: "Takhrij-nya hasan". HR. At-Tirmidzi [481] dan berkata: "Hasan gharib". Al-Hakim [1/317, 318] dan berkata: "Shahih sesuai syarat Muslim" dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Syaikh Ahmad Syakir menyebutkan dalam catatannya atas At-Tirmidzi [2/348] bahwa Al-Mundziri dalam at-Targhib wa at-Tarhib juga menisbatkannya kepada Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).

22. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah , maka Rasulullah berdiri menunaikan salat. Beliau memperlama berdirinya sangat lama, kemudian rukuk dan memperlama rukuknya sangat lama, kemudian mengangkat kepalanya lalu memperlama berdirinya sangat lama namun durasinya lebih pendek dari berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk dan memperlama rukuknya namun durasinya lebih pendek dari rukuk yang pertama, kemudian beliau sujud, lalu berdiri lagi dan memperlama berdirinya namun lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian rukuk dan memperlama rukuknya namun lebih pendek dari rukuk yang pertama. Kemudian beliau mengangkat kepalanya lalu berdiri dan memperlama berdirinya namun lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian rukuk dan memperlama rukuknya namun lebih pendek dari rukuk yang pertama, kemudian beliau sujud, lalu Rasulullah selesai dari salatnya sedangkan matahari telah terang kembali.

Maka beliau berkhotbah di hadapan manusia, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda:

( إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا وَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا )

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, shalatlah, dan bersedekahlah."

Kemudian beliau bersabda:

( يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، إِنْ مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ. يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا ، أَلَا هَلْ بَلَغْتُ )

"Wahai umat Muhammad, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah ketika hamba laki-lakinya atau hamba perempuannya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Ketahuilah, bukankah aku telah menyampaikan?" (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 11 [6631] dan Muslim [901] dan ini adalah redaksinya. Lafal "إن من أحد" di sini menggunakan "إن" nafiyah yang bermakna "ما" [tidak ada]).

23. Dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ )

"Doa itu adalah ibadah."

Kemudian beliau membaca ayat:

Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Ghafir: 60).

(HR. Abu Dawud [1479], At-Tirmidzi [3247] dan ia berkata: "Hadis ini hasan shahih" dan ini adalah redaksinya, Ibnu Majah [3828]. Al-Hafiz dalam Fathul Bari berkata: "Diriwayatkan oleh imam yang empat dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi").

24. Dari Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( دَعْوَةُ ذِي النَّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ؛ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ )

"Doa Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus: 'Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.' Sesungguhnya tidaklah seorang hamba muslim berdoa dengannya dalam urusan apa pun melainkan Allah pasti memperkenankan baginya." (HR. At-Tirmidzi [3505], Al-Hakim [1/505] dan berkata: "Shahih sanadnya namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari-Muslim" dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, At-Thabrani dalam ad-Du'a [2/838] hadis no. 124 dan berkata takhrij-nya: "Sanadnya hasan").

25. Dari Fadhalah bin 'Ubaid Al-Ausi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah mendengar seorang laki-laki yang berdoa dalam salatnya tanpa mengagungkan Allah dan tanpa bersalawat kepada Nabi . Maka Rasulullah bersabda: "Engkau tergesa-gesa, wahai orang yang salat." Kemudian Rasulullah mengajari mereka. Lalu Rasulullah mendengar seseorang salat lalu mengagungkan Allah, memuji-Nya, dan bersalawat kepada Nabi , maka Rasulullah bersabda:

( ادْعُ تُجَبْ وَسَلْ تُعْطَ )

"Berdoalah, niscaya akan dikabulkan, dan mintalah, niscaya akan diberikan." (HR. Abu Dawud [1481], An-Nasa'i [3/44-45] dan ini adalah redaksinya, dan disebutkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa'i [1/275] hadis no. 1217, At-Tirmidzi [3476] dan berkata: "Hadis hasan").

26. Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku berkata kepada Rasulullah : "Ajarkanlah aku suatu doa yang bisa aku baca dalam salatku!" Beliau bersabda: "Ucapkanlah:

( اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ )

'Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 2 [834] dan ini adalah redaksinya, Muslim [2705]).

27. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

Rasulullah membuka tirai sedangkan orang-orang sedang bershaf-shaf di belakang Abu Bakar, lalu beliau bersabda:

( أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنْ مُبَشِّرَاتِ النُّبُوَّةِ إِلَّا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ ، يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ ، أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا ، فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ ، وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِيهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ )

"Wahai manusia, sesungguhnya tidak tersisa lagi dari kabar-kabar gembira kenabian melainkan mimpi yang saleh, yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya. Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur'an dalam keadaan rukuk atau sujud. Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan Yang Mahagagah lagi Mahagagah di dalamnya. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena sangat layak [pantas] untuk dikabulkan bagi kalian." (HR. Muslim [479]. Kata "قَمِنٌ" berarti pantas/layak).

28. Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami dahulu apabila berada bersama Nabi di dalam salat, kami mengucapkan: "Keselamatan atas Allah dari hamba-hamba-Nya, keselamatan atas Fulan dan Fulan." Maka Nabi bersabda:

"Janganlah kalian mengucapkan 'Keselamatan atas Allah', karena sesungguhnya Allah Dialah As-Salam (Maha Sejahtera). Namun ucapkanlah:

( التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ )

'Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala salat dan kebaikan. Keselamatan atasmu wahai Nabi, serta rahmat Allah dan berkah-Nya. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh.' Karena apabila kalian mengucapkan hal itu, niscaya akan mengenai setiap hamba di langit atau di antara langit dan bumi.

( أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ )

'Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.' Kemudian hendaklah ia memilih doa yang paling ia sukai, lalu berdoa dengannya."

(HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 2 [831] dan ini adalah redaksinya, Muslim [402]).

29. Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Nabi dalam suatu perjalanan. Apabila kami mendaki tempat yang tinggi, kami bertakbir. Maka beliau bersabda:

( ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا قَرِيبًا )

"Kasihanilah diri kalian [pelankanlah suara kalian], karena sesungguhnya kalian tidak mendoakan Dzat yang tuli dan tidak pula yang gaib (jauh). Kalian sedang berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, lagi Mahadekat."

Kemudian beliau mendatangi aku sedangkan aku mengucapkan dalam hatiku: "Laa haula walaa quwwata illaa billaah". Maka beliau bersabda:

( يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ ، قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ، فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ )

"Wahai 'Abdullah bin Qais, ucapkanlah 'Laa haula walaa quwwata illaa billaah' (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), karena sesungguhnya ia adalah salah satu simpanan harta karun surga." Atau beliau bersabda: "Maukah aku tunjukkan kepadamu..." (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 13 [7386] dan ini adalah redaksinya, Muslim [2704]. Kata "ارْبَعُوا" berarti: bersikap lembutlah pada diri kalian dan rendahkanlah suara kalian).

30. Dari Ummu 'Athiyyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Kami dahulu mengobati orang-orang yang terluka dan merawat orang-orang yang sakit. Lalu saudariku bertanya kepada Nabi : "Apakah ada dosa bagi salah seorang dari kami apabila ia tidak memiliki jilbab untuk tidak keluar (menghadiri salat 'Id)?" Beliau bersabda:

( لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ، وَلْتَشْهَدِ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ )

"Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya kepadanya, dan hendaklah ia menghadiri kebaikan serta doa orang-orang muslim."

(HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 1 [324] dan ini adalah redaksinya, Muslim [890]. "الكَلْمَى" adalah bentuk jamak dari kaliim yaitu orang yang terluka).

31. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah duduk bersama Rasulullah dan ada seorang laki-laki yang sedang berdiri salat. Ketika ia rukuk, sujud, dan bertasyahud, ia berdoa. Ia mengucapkan dalam doanya:

( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ المَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَاذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ ، إِنِّي أَسْأَلُكَ )

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu karena bagi-Mu segala pujian, tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Pemberi Karunia, Pencipta langit dan bumi, wahai Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu."

Maka Nabi bersabda kepada para sahabatnya: "Tahukah kalian dengan apa ia berdoa?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda:

( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى )

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya Yang Agung, yang apabila Dia diajak berdoa dengannya pasti Dia mengabulkan, dan apabila diminta dengannya pasti Dia memberi." (Sahih Sunan an-Nasa'i [1233], dan ia berkata: "Shahih". Ibnu Majah [3858]).

32. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda: Nabi Ibrahim 'alahis salam tidak pernah berbohong sama sekali kecuali tiga kebohongan; dua di antaranya dilakukan demi zat Allah. Yaitu perkataannya: "Sesungguhnya aku sakit" (QS. As-Saffat: 89), dan perkataannya: "Sebenarnya patung besar mereka itulah yang melakukannya" (QS. Al-Anbiya: 63). Dan satu lagi berkaitan dengan urusan Sarah.

Yaitu ketika ia tiba di wilayah seorang penguasa zalim bersama Sarah, dan Sarah adalah wanita yang paling cantik. Maka Ibrahim berkata kepadanya: "Sesungguhnya penguasa zalim ini jika tahu engkau adalah istriku, ia akan merebutmu dariku. Maka jika ia bertanya kepadamu, beritahukanlah kepadanya bahwa engkau adalah saudariku, karena engkau adalah saudariku dalam Islam. Sebab aku tidak mengetahui ada orang muslim di bumi ini selain aku dan engkau."

Ketika Ibrahim memasuki wilayah penguasa itu, sebagian pengikut si penguasa melihat Sarah, lalu ia mendatangi penguasa dan berkata: "Telah datang ke wilayahmu seorang wanita yang tidak layak menjadi milik siapa pun kecuali milikmu." Maka penguasa itu mengutus utusan untuk mengambilnya, lalu Sarah dibawa kepadanya. Maka Nabi Ibrahim 'alaihissalam berdiri menunaikan salat.

Ketika Sarah masuk ke tempat penguasa itu, si penguasa tidak dapat menahan dirinya untuk mengulurkan tangannya kepada Sarah, namun tangannya mendadak terikat/terkejang dengan ikatan yang sangat kuat. Maka penguasa itu berkata kepada Sarah: "Berdoalah kepada Allah agar melepaskan tanganku dan aku tidak akan mengganggumu." Maka Sarah berdo'a, lalu tangan penguasa itu terlepas. Namun penguasa itu mengulanginya lagi, lalu tangannya terikat kembali lebih kuat dari ikatan pertama. Ia berkata lagi seperti itu kepada Sarah, lalu Sarah berdoa dan tangannya terlepas. Namun ia mengulanginya lagi hingga tangannya terikat jauh lebih kuat dari dua ikatan sebelumnya. Maka ia berkata: "Berdoalah kepada Allah agar melepaskan tanganku, dan Allah menjadi saksi bagimu bahwa aku tidak akan mengganggumu."

Sarah pun berdoa, lalu tangan penguasa itu terlepas. Kemudian penguasa itu memanggil orang yang membawa Sarah tadi dan berkata kepadanya: "Sesungguhnya yang engkau bawa kepadaku ini adalah setan, bukan manusia! Keluarkan dia dari negeriku dan berikan Hajar kepadanya."

Sarah pun kembali pulang sambil berjalan. Ketika Ibrahim 'alaihissalam melihatnya, ia telah selesai dari salatnya lalu bertanya kepada Sarah: "Bagaimana kabarmu?" Sarah menjawab: "Kebaikan, Allah telah menahan tangan orang jahat itu dan memberikan seorang pelayan."

(HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 6 [3358], Muslim [2371] dan ini adalah redaksinya. Lafal "فَلَكِ اللهُ" artinya jaminan dan garansi bahwa aku tidak mengganggumu. "مَهْيَمْ" artinya: Ada apa denganmu dan bagaimana kabar berita? "وَأَخْدَمَ خَادِمًا" artinya: memberikan kepadaku seorang pelayan yaitu Hajar. Kata khadim digunakan untuk laki-laki maupun perempuan)

33. Dari Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia telah melakukan pengobatan dengan besi panas (kay) sebanyak tujuh kali di perutnya, ia berkata: "Seandainya Rasulullah tidak melarang kita untuk berdoa memohon kematian, niscaya aku telah berdoa memohon kematian." (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 11 [6349] dan ini adalah redaksinya, Muslim [2681]).

34. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ )

"Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di sisi Allah Ta'ala daripada doa." (HR. At-Tirmidzi [3370] dan ia berkata: "Hasan gharib". Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad [249] hadis no. 712. At-Thabrani dalam ad-Du'a [2/798] hadis no. 28 dan takhrij-nya: "Hasan". Al-Hakim dalam Al-Mustadrak [1/490] dan berkata: "Shahih sanadnya namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari-Muslim" dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

35. Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ )

"Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, melainkan Allah akan mengabulkannya atau Allah akan memalingkan darinya keburukan yang sepadan dengannya, selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau memutuskan tali silaturahmi."

Lalu seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata: "Jika demikian, kita akan memperbanyak doa." Beliau bersabda: "Allah memiliki karunia yang jauh lebih banyak." (HR. At-Tirmidzi [3573] dan berkata: "Hadis ini hasan shahih gharib". Dikeluarkan pula yang semisal darinya oleh Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari hadis Abu Sa'id Al-Khudri dengan tambahan: [atau Allah menyimpankannya untuknya di akhirat] [248] hadis no. 710, dan semisalnya di sisi At-Thabrani dalam ad-Du'a [2/802] hadis no. 37 dan takhrij-nya: "Hasan").

36. Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa yang terbangun di malam hari [terbalik-balik di tempat tidur lalu terbangun], kemudian ia mengucapkan:

( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ )

'Tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, tidak ada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, dan tidak ada daya maupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.'

Kemudian ia berdoa: 'Ya Allah, ampunilah aku', atau ia berdoa dengan doa lain, niscaya akan dikabulkan. Apabila ia berwudu lalu melaksanakan salat, maka salatnya akan diterima." (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 3 [1154]. Kata "تَعَارَّ" dengan ra' bertasydid artinya terbalik-balik di atas tempat tidur pada malam hari, dikatakan juga artinya terjaga dan bangun, atau menggeliat dan merintih).

37. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُسْتَجَابَ لَهُ عِنْدَ الْكَرْبِ وَالشَّدَائِدِ فَلْيُكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ فِي الرَّخَاءِ )

"Barangsiapa yang merasa senang untuk dikabulkan doanya saat tertimpa kesusahan dan kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa pada saat lapang/senang." (HR. At-Thabrani dalam ad-Du'a [2/805] hadis no. 44 dan takhrij-nya: "Sanadnya hasan". Al-Hakim dalam Al-Mustadrak [1/544] dan berkata: "Shahih sanadnya" dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

38. Dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa yang membaca ketika mendengar seruan azan:

( اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ )

'Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini dan salat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan tinggi) dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.' Maka syafaatku berhak didapatkannya pada hari kiamat." (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 2 [614]).

39. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( لَا يَتَمَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ ، وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ ، إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ ، وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا )

"Janganlah salah seorang dari kalian mengangan-angankan kematian, dan jangan pula berdoa memohon kematian sebelum datang waktunya. Karena sesungguhnya apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, dan sesungguhnya tidaklah umur seorang mukmin bertambah melainkan akan menambah kebaikan baginya." (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 11 [6351], Muslim [2682] dan ini adalah redaksinya).

40. Dari Tsauban radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ )

"Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar diharamkan dari rezeki disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya." (HR. At-Tirmidzi [2139] dan berkata: "Hasan gharib". Ibnu Majah [4022] dan berkata dalam az-Zawa'id: "Sanadnya hasan". Ahmad [5/277, 282], At-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir [2/100] hadis no. 1442 dan dalam ad-Du'a [2/799] hadis no. 31. Al-Albani menyebutkannya dalam as-Silsilah ash-Shahihah [1/236] hadis no. 154. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak [1/493] dan ini adalah redaksinya, ia berkata: "Shahih sanadnya namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari-Muslim" dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

41. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: Allah Ta'ala berfirman:

( يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً )

"Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu menumpuk setinggi langit, kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menysekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula." (HR. At-Tirmidzi [3540] dan ini adalah redaksinya, ia berkata: "Hadis ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini". Ad-Darimi [2788] dari hadis Abu Dzar radhiyallahu 'anhu. Ahmad [5/154, 167] dari hadis Abu Dzar radhiyallahu 'anhu pula. At-Thabrani dalam ad-Du'a [2/791] hadis no. 13 dan takhrij-nya: "Sanadnya hasan lighairihi").

42. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ ، يَقُولُ : دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي )

"Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan ia mengatakan: 'Aku telah berdoa namun belum juga dikabulkan bagiku.'" (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 11 [6340] dan ini adalah redaksinya, Muslim [2735]).

43. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ )

"Tuhan kita Yang Mahaberkah lagi Mahatinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berfirman: 'Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan baginya, siapa yang memohon kepada-Ku maka akan Aku berikan kepadanya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka akan Aku ampuni dia.'" (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 13 [7494] dan ini adalah redaksinya, Muslim [758]).

44. Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda kepadaku: "Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, berwudulah sebagaimana wudumu untuk salat, kemudian berbaringlah di atas lambung kananmu lalu ucapkanlah:

( اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ )

'Ya Allah, aku pasrahkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat selamat dari (ancaman)-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.'

Jika engkau meninggal (pada malam itu), maka engkau meninggal di atas fitrah. Dan jadikanlah kalimat-kalimat ini sebagai ucapan terakhir yang engkau ucapkan."

Al-Bara' berkata: Maka aku mengulanginya untuk menghafalnya, lalu aku mengucapkan: "Dan kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus." Beliau bersabda: "Tidak, namun (tetaplah membaca): 'Dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.'" (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 11 [6311] dan ini adalah redaksinya, Muslim [2710]).

45. Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian menuju tempat tidurnya, hendaklah ia membaca:

( اللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا ، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا ، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا ، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ )

'Ya Allah, Engkaulah yang menciptakan jiwaku dan Engkaulah yang mewafatkatkannya. Milik-Mulah mati dan hidupnya. Jika Engkau menghidupkannya maka peliharalah ia, dan jika Engkau mematikkannya maka ampunilah ia. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan (al-'afiyah).'" (HR. Muslim [2712]).

46. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Apabila salah seorang dari kalian menuju ke tempat tidurnya, hendaklah ia mengambil ujung bagian dalam kain sarungnya lalu mengibaskannya ke tempat tidurnya dan menyebut nama Allah (membaca Bismillah). Sebab ia tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya di atas tempat tidurnya.

Apabila ia hendak berbaring, hendaklah ia berbaring di atas lambung kanan-Nya dan membaca:

( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّي بِكَ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ )

'Mahasuci Engkau, ya Allah Rabfku. Dengan nama-Mu aku meletakkan lambungku dan dengan nama-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan jiwaku (mematikannya), maka ampunilah ia. Dan jika Engkau melepaskannya (menghidupkannya), maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh.'" (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 11 [6320], Muslim [2714] dan ini adalah redaksinya).

47. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا . وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الْحِمَارِ ، فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإِنَّهَا رَأَتْ شَيْطَانًا )

"Apabila kalian mendengar berkokoknya ayam jantan, maka memohonlah kepada Allah dari karunia-Nya, karena sesungguhnya ayam itu melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari godaan setan, karena sesungguhnya keledai itu melihat setan." (HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 6 [3303] dan ini adalah redaksinya, Muslim [2729]).

48. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الأَرْبَعِ : مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ ، وَقَلْبٍ لَا يَخْشَعُ ، وَنَفْسٍ لَا تَشْبَعُ ، وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ )

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari empat hal: dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan)." (HR. Al-Hakim, dan ia berkata: "Shahih namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari-Muslim" dan disepakati oleh Adz-Dzahabi [1/104]. Diriwayatkan pula dari hadis Ibnu 'Umar. HR. An-Nasa'i [3/112] cetakan Al-Albani hadis no. 5050 dan ia berkata: "Shahih". Ibnu Majah [250], dan disebutkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' [1/140] hadis no. 1308 dan ia berkata: "Shahih").

49. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari orang-orang yang berzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang sedang berzikir mengingat Allah, mereka saling memanggil: 'Kemarilah menuju kebutuhan kalian!' Beliau bersabda: 'Lalu para malaikat itu menaungi mereka dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia.'

Beliau bersabda: 'Maka Tuhan mereka Azza wa Jalla bertanya kepada mereka—sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka—: Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?'

Para malaikat menjawab: 'Maha Bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, bertahmid kepada-Mu, dan mengagungkan-Mu.'

Allah berfirman: 'Apakah mereka pernah melihat-Ku?'

Para malaikat menjawab: 'Tidak, demi Allah, mereka tidak pernah melihat-Mu.'

Allah berfirman: 'Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?'

Para malaikat menjawab: 'Seandainya mereka melihat-Mu, niscaya mereka akan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Mu, lebih agung dalam memuji-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.'

Allah berfirman: 'Lalu apa yang mereka mohon kepada-Ku?'

Para malaikat menjawab: 'Mereka memohon surga kepada-Mu.'

Allah berfirman: 'Apakah mereka pernah melihatnya?'

Para malaikat menjawab: 'Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka belum pernah melihatnya.'

Allah berfirman: 'Bagaimana seandainya mereka pernah melihatnya?'

Para malaikat menjawab: 'Seandainya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka akan lebih semangat menginginkannya, lebih keras mencarinya, dan lebih besar hasrat kepadanya.'

Allah berfirman: 'Dari hal apa mereka memohon perlindungan?'

Para malaikat menjawab: 'Dari neraka.'

Allah berfirman: 'Apakah mereka pernah melihatnya?'

Para malaikat menjawab: 'Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka belum pernah melihatnya.'

Allah berfirman: 'Bagaimana seandainya mereka pernah melihatnya?'

Para malaikat menjawab: 'Seandainya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka akan lari sejauh-jauhnya darinya dan lebih besar rasa takut dengannya.'

Maka Allah berfirman: 'Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.'

Beliau bersabda: 'Salah satu malaikat berkata: Di antara mereka ada Fulan yang tidak termasuk kelompok mereka, ia datang hanyalah karena suatu keperluan.' Allah berfirman: 'Merekalah orang-orang yang duduk bersama, yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka.'"

(HR. Al-Bukhari - Fathul Bari 11 [6408] dan ini adalah redaksinya, Muslim [2689]).

50. Dari Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah mendatangi kami sedangkan kami berada di majelis Sa'ad bin 'Ubadah. Maka Basyir bin Sa'ad berkata kepada beliau: "Allah Ta'ala telah memerintahkan kami untuk kami mengucapkan shalawat kepadamu wahai Rasulullah, lalu bagaimanakah cara kami mengucapkan shalawat kepadamu?"

Maka Rasulullah diam, hingga kami berangan-angan seandainya penanya tersebut tidak menanyakannya. Hingga ketika beliau bersabda:

"Ucapkanlah:

(Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim di semesta alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).

Adapun salam adalah sebagaimana yang telah kalian ketahui." (HR. Muslim no. 405, dan dikeluarkan pula oleh Al-Bukhari dari hadis Abu Sa'id [6358] serta Abu Humaid Assa'idi [6360]).

51. Dari Ka'b bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Bahwasanya Nabi keluar menemui kami, lalu kami berkata: 'Wahai Rasulullah, sungguh kami telah mengetahui bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimanakah cara kami mengucapkan shalawat kepadamu?' Beliau bersabda:

(Ucapkanlah: Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)'." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 11 [6357] dan lafaz ini milik beliau, serta HR. Muslim [406]).

52. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Wanita yang pertama kali memakai sabuk (minthaq) adalah ibunda Ismail [Siti Hajar]. Ia memakai sabuk untuk menyembunyikan jejak kakinya dari Sarah. Kemudian Nabi Ibrahim datang membawanya beserta putranya, Ismail, yang saat itu masih menyusu, hingga Ibrahim menempatkan keduanya di dekat Al-Bait [Ka'bah] di dekat sebuah pohon besar (dauhah) di atas Zamzam pada bagian tertinggi Masjidil Haram. Pada hari itu di Mekkah tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada air. Lalu beliau menempatkan keduanya di sana dan meletakkan di dekat mereka sebuah kantong kulit berisi kurma dan sebuah geriba berisi air.

Kemudian Ibrahim berbalik untuk pergi. Maka ibunda Ismail mengikutinya seraya berkata: 'Wahai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini?' Ia mengucapkan hal itu berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Lalu ibunda Ismail bertanya: 'Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?' Ibrahim menjawab: 'Ya.' Ibunda Ismail berkata: 'Jika demikian, Dia tidak akan menelantarkan kami.'

Kemudian ibunda Ismail kembali, dan Ibrahim pun berangkat. Hingga ketika beliau sampai di bukit Ats-Tsaniyyah tempat di mana mereka tidak dapat melihatnya lagi, beliau menghadap ke arah Ka'bah lalu berdoa dengan kalimat-kalimat ini seraya mengangkat kedua tangannya:

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati..." sampai pada firman-Nya: "...agar mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37).

Ibunda Ismail mulai menyusui Ismail dan minum dari air geriba tersebut. Hingga ketika air yang ada di dalam geriba habis, ia merasa haus dan putranya pun kehausan. Ia mulai melihat putranya berguling-guling [atau beliau berkata: bergeliat-geliat menahan haus]^1. Ibunda Ismail pergi karena tidak tega melihat anaknya. Ia mendapati bahwa bukit Shafa adalah gunung terdekat di tanah itu dengannya. Maka ia berdiri di atasnya, kemudian menghadap ke arah lembah untuk melihat apakah ada seseorang, namun ia tidak melihat siapa pun.

Lalu ia turun dari Shafa, hingga ketika mencapai lembah, ia mengangkat ujung gaunnya lalu berlari seperti larian orang yang bersusah payah hingga melewati lembah. Kemudian ia sampai di bukit Marwah, berdiri di atasnya lalu melihat apakah ada seseorang, namun ia tidak melihat siapa pun. Ia melakukan hal tersebut sebanyak tujuh kali.

Ibnu 'Abbas berkata: Nabi bersabda: 'Maka itulah awal mula sa'i yang dilakukan manusia di antara kedua bukit tersebut.'

Ketika ibunda Ismail berada di puncak Marwah, ia mendengar sebuah suara, lalu ia berkata pada dirinya sendiri: 'Diamlah!' Kemudian ia mendengarkan kembali secara saksama, lalu berkata: 'Engkau telah memperdengarkan suara, jika engkau memiliki pertolongan (maka tolonglah).' Tiba-tiba ia melihat Malaikat di tempat Zamzam, lalu malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya—atau beliau bersabda: dengan sayapnya—hingga keluarlah air. Maka ibunda Ismail mulai membendungnya dan mengisyaratkan dengan tangannya begini, lalu ia menampung air tersebut ke dalam geribanya, sedang air itu terus memancar setelah ia menampungnya.

Ibnu 'Abbas berkata: Nabi bersabda:

(Semoga Allah merahmati ibunda Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam —atau beliau bersabda: Seandainya ia tidak menampung air itu— tentulah Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir deras).

Lalu ia minum dan menyusui anaknya. Maka Malaikat berkata kepadanya: 'Janganlah kalian takut ditelantarkan, karena sesungguhnya di sini terdapat Rumah Allah (Baitullah) yang akan dibangun oleh anak ini bersama ayahnya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya.'

Adapun bangunan Ka'bah saat itu berada di tempat yang tinggi dari permukaan tanah seperti bukit kecil, yang diterjang banjir dari sisi kanan dan kirinya. Keadaan mereka terus berlangsung demikian hingga lewatlah rombongan musafir dari suku Jurhum —atau keluarga dari Jurhum— yang datang dari jalan Kada'^2. Lalu mereka singgah di bagian bawah Mekkah. Mereka melihat burung yang terbang berputar-putar, maka mereka berkata: 'Sesungguhnya burung ini berputar-putar di atas air, padahal setahu kita lembah ini tidak ada airnya.'

Maka mereka mengutus satu atau dua orang utusan (jariyy)^3, dan ternyata mereka menemukan air. Utusan itu kembali dan memberitahukan tentang adanya air, maka mereka pun datang menghampiri. Ibunda Ismail sedang berada di dekat air tersebut. Mereka bertanya: 'Apakah engkau mengizinkan kami untuk singgah di dekatmu?' Ibunda Ismail menjawab: 'Ya, tetapi kalian tidak memiliki hak kepemilikan atas air ini.' Mereka menjawab: 'Baiklah.'

Ibnu 'Abbas berkata: Nabi bersabda: 'Maka hal itu menyenangkan ibunda Ismail karena ia menyukai adanya teman/keramaian.'

Lalu mereka pun singgah dan mengirim utusan kepada keluarga mereka hingga mereka ikut singgah bersama. Sampai ketika di sana telah berdiri beberapa rumah tangga dari mereka, dan anak kecil itu (Ismail) tumbuh dewasa serta belajar bahasa Arab dari mereka. Mereka sangat menyukai dan mengaguminya ketika ia tumbuh dewasa. Ketika ia telah beranjak dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka, dan tidak lama kemudian ibunda Ismail meninggal dunia.

Setelah Ismail menikah, Ibrahim datang untuk melihat peninggalannya, namun beliau tidak mendapati Ismail. Maka beliau bertanya kepada istri Ismail tentang dirinya, lalu istrinya menjawab: 'Dia keluar mencari nafkah untuk kami.' Kemudian Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka, lalu istrinya menjawab: 'Kami dalam keadaan buruk, kami berada dalam kesempitan dan kesukaran,' ia mengeluhkan keadaannya kepada Ibrahim.

Ibrahim berkata: 'Jika suamimu datang, sampaikan salam dariku padanya dan katakan kepadanya agar mengubah ambang pintu rumahnya.'

Ketika Ismail datang, ia merasakan sesuatu lalu bertanya: 'Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?' Istrinya menjawab: 'Ya, telah datang kepada kami seorang tua dengan penampilan begini dan begitu, ia menanyakan tentangmu lalu aku beritahukan. Ia menanyakan bagaimana kehidupan kita, maka aku beritahukan bahwa kita dalam kesulitan dan kesukaran.' Ismail bertanya: 'Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?' Istrinya menjawab: 'Ya, ia memerintahkanku untuk menyampaikan salam padamu dan berpesan agar engkau mengubah ambang pintu rumahmu.'

Ismail berkata: 'Dialah ayahku, dan sungguh ia telah memerintahkanku untuk menceraikanmu, maka kembalilah kepada keluargamu.' Ismail pun menceraikannya, lalu menikah dengan wanita lain dari kalangan mereka.

Ibrahim meninggalkannya sekian lama sesuai kehendak Allah, kemudian beliau datang kembali setelah itu namun tidak mendapati Ismail. Beliau masuk menemui istrinya lalu menanyakan tentang Ismail. Istrinya menjawab: 'Dia keluar mencari nafkah untuk kami.' Ibrahim bertanya: 'Bagaimana keadaan kalian?' Beliau menanyakan kehidupan dan keadaan mereka. Istrinya menjawab: 'Kami dalam keadaan baik dan serba kecukupan,' serta ia memuji Allah. Ibrahim bertanya: 'Apa makanan kalian?' Istrinya menjawab: 'Daging.' Ibrahim bertanya: 'Apa minuman kalian?' Istrinya menjawab: 'Air.'

Ibrahim berdoa: 'Ya Allah, berkahilah mereka pada daging dan air.'

Nabi bersabda: 'Pada hari itu mereka belum memiliki biji-bijian (gandum/beras). Seandainya mereka memilikinya, tentulah Ibrahim akan mendoakannya pula.'

Beliau bersabda: *'Maka tidak ada seorang pun di luar Mekkah yang hanya mengonsumsi kedua hal tersebut (daging dan air) melainkan tidak akan cocok dengannya (akan merasa sakit).' *

Ibrahim berkata: 'Jika suamimu datang, sampaikan salam padanya dan perintahkan agar ia memperkokoh ambang pintu rumahnya.'

Ketika Ismail datang, ia bertanya: 'Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?' Istrinya menjawab: 'Ya, telah datang kepada kami seorang tua yang berpenampilan baik' —dan ia memujinya— 'ia menanyakan tentangmu lalu aku beritahukan, ia menanyakan bagaimana kehidupan kita lalu aku beritahukan bahwa kita dalam keadaan baik.' Ismail bertanya: 'Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?' Istrinya menjawab: 'Ya, ia menyampaikan salam padamu dan memerintahkanmu untuk memperkokoh ambang pintu rumahmu.'

Ismail berkata: 'Dialah ayahku, dan engkau adalah ambang pintu itu. Beliau memerintahkanku untuk mempertahankanmu.'

Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka sekian lama sesuai kehendak Allah. Beliau datang kembali setelah itu ketika Ismail sedang meraut anak panahnya di bawah pohon besar dekat Zamzam. Ketika melihatnya, Ismail segera berdiri menyambutnya, lalu keduanya saling berbuat sebagaimana layaknya ayah terhadap anak dan anak terhadap ayahnya.

Kemudian Ibrahim berkata: 'Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku dengan suatu perintah.' Ismail menjawab: 'Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu padamu.' Ibrahim bertanya: 'Apakah engkau akan membantuku?' Ismail menjawab: 'Aku akan membantumu.' Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membangun sebuah Rumah (Baitullah) di sini' —seraya menunjuk ke sebuah bukit kecil yang lebih tinggi dari sekelilingnya.

Beliau berkata: 'Maka pada saat itulah keduanya meninggikan pondasi-pondasi Baitullah. Ismail membawa batu-batu dan Ibrahim yang membangunnya. Hingga ketika bangunan telah tinggi, Ismail membawa batu ini [Maqam Ibrahim] lalu meletakkannya untuk Ibrahim. Maka Ibrahim berdiri di atas batu tersebut sambil membangun, sedangkan Ismail menyerahkan batu-batu kepadanya, dan keduanya mengucapkan doa:

"Ya Tuhan kami, terimalah (amalan) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127).

Beliau berkata: 'Maka keduanya terus membangun hingga mengelilingi Baitullah seraya mengucapkan doa: "Ya Tuhan kami, terimalah (amalan) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

53. Dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda kepadaku:

(Ucapkanlah: Ya Allah, berilah aku petunjuk dan berilah aku ketepatan/kelurusan. Dan hadirkanlah dalam ingatanmu saat meminta petunjuk itu seperti petunjukmu pada jalan, dan saat meminta ketepatan seperti tepatnya sasaran anak panah). (HR. Muslim no. 2725).

54. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah biasa memerintahkan kami apabila hendak berbaring di tempat tidur untuk membaca:

(Ya Allah, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb 'Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Yang Membelah biji dan benih, Yang Menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan [Al-Qur'an]. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau adalah Yang Awal maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, Engkau adalah Yang Akhir maka tidak ada sesuatu pun setelah-Mu, Engkau adalah Yang Zhahir [Maha Nyata/Tinggi] maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkau adalah Yang Batin [Maha Dekat/Tersembunyi] maka tidak ada sesuatu pun yang menghalangi-Mu. Lunasilah utang kami dan bebaskanlah kami dari kefakiran). (HR. Muslim no. 2713).

55. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda:

(Seandainya salah seorang dari kalian apabila hendak mendatangi [gaul] istrinya membaca: 'Bismillah, Ya Allah jauhkalah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami', maka sesungguhnya jika ditakdirkan lahir seorang anak dari hubungan tersebut, setan tidak akan dapat memudaratkannya selama-lamanya). (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 11 dan lafaz ini milik beliau, serta HR. Muslim no. 1434).

56. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Ketika turun ayat ini kepada Rasulullah :

"Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 284).

Ia berkata: Hal itu terasa sangat berat bagi para sahabat Rasulullah . Maka mereka datang menemui Rasulullah lalu berlutut. Mereka berkata: 'Wahai Rasulullah, kami telah dibebani amalan-amalan yang sanggup kami kerjakan, yaitu shalat, puasa, jihad, dan sedekah. Namun sungguh telah diturunkan kepadamu ayat ini, sedangkan kami tidak sanggup memikulnya.'

Rasulullah bersabda: 'Apakah kalian ingin mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ahli Kitab dari dua kitab sebelum kalian: "Kami mendengar dan kami membangkang"? Akan tetapi katakanlah: "Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Rabb kami, dan kepada-Mu tempat kembali".'

Maka mereka berkata: 'Kami mendengar dan kami taat, ampunilah kami wahai Rabb kami, dan kepada-Mu tempat kembali.'

Ketika kaum muslimin telah membacanya dan lidah mereka tunduk/terbiasa dengannya, maka Allah Ta'ala menghapus (menasakh) hukum ayat tersebut. Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan setelahnya:

"Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Menerangkan,) 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Mereka juga berkata, 'Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Rabb kami, dan kepada-Mu tempat kembali.'" (QS. Al-Baqarah: 285).

Ketika mereka melakukan hal tersebut, Allah menghapusnya lalu menurunkan:

"Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan ia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.'" (Allah menjawab: Ya/Aku kabulkan).

"Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau beban kan kepada orang-orang sebelum kami." (Allah menjawab: Ya/Aku kabulkan).

"Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya." (Allah menjawab: Ya/Aku kabulkan).

"Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.'" (Allah menjawab: Ya/Aku kabulkan). (QS. Al-Baqarah: 286).

(HR. Muslim no. 125).

Teladan Aplikatif dari Kehidupan Nabi dalam Doa

57. Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda kepadaku:

(Datangilah kaummu lalu katakanlah: Sesungguhnya Rasulullah bersabda: Suku Aslam, semoga Allah menyelamatkannya; dan suku Ghifar, semoga Allah mengampuninya). (HR. Muslim no. 2514).

58. Dari Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia berkata:

Perbekalan orang-orang berkurang dan mereka mengalami kelaparan, lalu mereka menemui Nabi untuk meminta izin menyembelih unta-unta mereka, maka beliau pun mengizinkannya. Kemudian 'Umar bertemu dengan mereka dan mereka memberitahukannya. 'Umar berkata: 'Bagaimana kalian bisa bertahan hidup setelah unta-unta kalian habis?' Lalu 'Umar masuk menemui Nabi dan berkata: 'Wahai Rasulullah, bagaimana mereka bisa bertahan hidup setelah unta-unta mereka habis?'

Maka Rasulullah bersabda: 'Serulah orang-orang agar membawa sisa-sisa perbekalan mereka.' Beliau lalu berdoa dan memohon keberkahan atas perbekalan tersebut. Kemudian beliau meminta mereka membawa wadah-wadah mereka, lalu orang-orang mengambil perbekalan dengan kedua tangan mereka hingga selesai. Kemudian Rasulullah bersabda:

(Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah). (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 6 [2982] dan lafaz ini milik beliau, serta HR. Muslim no. 27 dari hadis Abu Hurairah).

59. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Bahwasanya Rasulullah apabila hendak berbaring ke tempat tidurnya biasa membaca:

(Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan memberi kami minum, serta mencukupi kami dan memberi kami tempat bernaung. Berapa banyak orang yang tidak ada yang mencukupinya dan tidak ada yang memberinya tempat bernaung). (HR. Muslim no. 2715).

60. Dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah bahwasanya apabila beliau berdiri untuk shalat, beliau membaca:

(Aku menghadapkan wajahku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku termasuk orang-orang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Raja, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau adalah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah seluruh dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Tunjukilah aku pada akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat menunjuki pada akhlak yang paling baik kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan akhlak yang buruk dariku kecuali Engkau. Aku menyambut panggilan-Mu dengan senang hati, seluruh kebaikan berada di kedua tangan-Mu, sedangkan keburukan tidak disandarkan kepada-Mu. Aku ada karena-Mu dan akan kembali kepada-Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi Engkau, aku memohon ampunan-Mu dan bertobat kepada-Mu).

Dan apabila ruku', beliau membaca:

(Ya Allah, hanya kepada-Mu aku ruku', kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, dan urat sarafku tunduk khusyuk kepada-Mu).

Dan apabila bangkit dari ruku' (I'tidal), beliau membaca:

(Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit, sepenuh bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari sesuatu setelah itu).

Dan apabila sujud, beliau membaca:

(Ya Allah, kepada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Rabb yang menciptakannya, membentuk rupanya, serta membuka pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik).

Kemudian di antara akhir yang beliau baca di antara tasyahhud dan salam adalah:

(Ya Allah, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, dan apa yang Engkau lebih ketahui daripadaku. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau). (HR. Muslim no. 771).

61. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Bahwasanya Rasulullah biasa berdoa dengan kalimat-kalimat ini dan mengucapkannya ketika berada dalam kesulitan (karb):

(Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Rabb 'Arsy yang agung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Rabb langit dan bumi, serta Rabb 'Arsy yang agung). (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 [7426], 2 [832], 11 [6345]).

62. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Bahwasanya Rasulullah biasa berdoa dalam shalat:

(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan utang).

Maka seseorang bertanya kepada beliau: 'Betapa sering engkau berlindung dari utang, wahai Rasulullah?'

Beliau bersabda: 'Sesungguhnya seseorang apabila berutang, jika berbicara ia akan berdusta, dan jika berjanji ia akan mengingkari.' (HR. Muslim no. 589).

63. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Bahwasanya Rasulullah apabila bangun shalat di tengah malam biasa membaca:

(Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Cahaya langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Pemelihara langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Rabb langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, surga itu benar, neraka itu benar, dan hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku membela/berdebat, dan kepada-Mu aku memohon keputusan hukum. Maka ampunilah aku atas apa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, apa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau). (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 [7499], dan HR. Muslim [769] serta ini adalah lafaz beliau).

64. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Bahwasanya Nabi apabila berada dalam perjalanan dan memasuki waktu sahur (as-har)^4, beliau mengucapkan:

(Moga-moga ada yang mendengarkan [dan menyaksikan] pujian kami kepada Allah dan kebaikan ujian-Nya atas kami^5. Wahai Rabb kami, lindungilah kami dan berikanlah karunia kepada kami, seraya kami berlindung kepada Allah dari neraka). (HR. Muslim no. 2718).

65. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Bahwasanya Nabi apabila ditimpa suatu urusan yang menggelisahkan/mendesak, beliau mendongakkan kepalanya ke langit..." [teks berlanjut pada halaman berikutnya].

66.  (Dari Abu Musa - radhiyallahu 'anhu-) Bahwasanya Nabi pernah berdoa dengan doa ini: « رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي ، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَجَدِّي وَكُلَّ ذَلِكَ عِنْدِي ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ » "Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebih-lebihan dalam segala urusanku, serta apa saja yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Ya Allah, ampunilah kesalahan-kesalahanku, perbuatanku yang disengaja, kebodohanku, dan kesungguhanku, dan semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, dosa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, Engkau adalah Yang Maha Mendahulukan dan Yang Maha Mengakhirkan, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." [HR. Bukhari dan Muslim].

67.  (Dari 'Abdullah bin Abi 'Aufa - radhiyallahu 'anhuma-) ia berkata: Sesungguhnya Nabi dahulu mengucapkan: « اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ ، اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ ، اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الْوَسَخِ » "Ya Allah, bagi-Mu segala puji sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki selain itu. Ya Allah, sucikanlah aku dengan salju, embun, dan air yang dingin. Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan sebagaimana dibersihkannya pakaian yang putih dari kotoran." [HR. Muslim].

68.  (Dari Al-Bara' bin 'Azib - radhiyallahu 'anhuma-) ia berkata: Bahwasanya mereka (para sahabat) bersama Rasulullah pada hari Hudaibiyah sebanyak seribu empat ratus orang atau lebih. Mereka lalu singgah di sebuah sumur, kemudian mereka menguras airnya hingga habis. Maka mereka mendatangi Rasulullah , lalu beliau mendatangi sumur tersebut dan duduk di pinggirnya, kemudian bersabda: "Bawakan kepadaku satu timba dari airnya!" Maka dibawakanlah timba tersebut, lalu beliau meludah padanya dan berdoa. Kemudian beliau bersabda: "Biarkanlah sumur ini selama satu jam!" Maka mereka (akhirnya) dapat memberi minum diri mereka sendiri dan hewan-hewan tunggangan mereka hingga mereka berangkat. [HR. Bukhari].

69.  (Dari 'Ammar bin Yasir - radhiyallahu 'anhuma-) bahwasanya ia mengerjakan suatu shalat lalu ia meringankannya (mempercepatnya). Maka sebagian kaum berkata kepadanya: "Sungguh engkau telah meringankan atau mempercepat shalatmu." Maka ia menjawab: "Adapun mengenai hal itu, sungguh aku telah berdoa di dalamnya dengan doa-doa yang aku dengar langsung dari Rasulullah ." Ketika ia berdiri (pergi), seseorang dari kaum itu mengikutinya lalu menanyakannya tentang doa tersebut, maka ia memberitahukannya kepada kaum itu: « اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي ، وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي ، وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى ، وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لاَ يَنْفَدُ ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لاَ تَنْقَطِعُ ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ » "Ya Allah, dengan ilmu-Mu terhadap hal yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas seluruh makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau mengetahui bahwa kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku. Dan aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu dalam keadaan rahasia (sendiri) maupun terang-terangan, aku memohon kepada-Mu perkataan yang haq (benar) dalam keadaan ridha maupun marah, aku memohon kepada-Mu kesederhanaan/kesederhanaan sikap dalam keadaan fakir maupun kaya, aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak akan habis, aku memohon kepada-Mu kesejukan mata (kebahagiaan) yang tidak terputus, aku memohon kepada-Mu keridhaan setelah adanya takdir/keputusan, aku memohon kepada-Mu kesejukan hidup setelah kematian, aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang Wajah-Mu dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman, dan jadikanlah kami para penunjuk jalan yang mendapat petunjuk." [HR. An-Nasa'i, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya sebagai hadis shahih].

70.  (Dari Jarir bin 'Abdillah Al-Bajali - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Rasulullah bersabda: "Tidakkah engkau membuatku tenang dari Dzul Khalashah?" —ia adalah sebuah berhala yang dahulu mereka sembah yang dinamakan Al-Ka'bah Al-Yamaniyyah—. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang tidak kokoh penunggangannya di atas kuda." Maka beliau menepuk dadaku seraya berdoa: « اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ وَاجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا » "Ya Allah, kokohkanlah ia dan jadikanlah ia sebagai pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk." Jarir berkata: Maka aku keluar bersama lima puluh orang dari kaumku (suku Ahmas), lalu aku mendatangi berhala itu dan membakarnya, kemudian aku mendatangi Nabi dan berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, aku tidak mendatangi-Mu melainkan setelah aku meninggalkannya bagaikan unta yang kudisan (hangus berkulit hitam)." Maka beliau mendoakan keberkahan bagi suku Ahmas dan kuda-kuda mereka. [HR. Bukhari dan Muslim].

71.  (Dari 'Aisyah - radhiyallahu 'anha-) Bahwasanya Rasulullah pernah disihir hingga dihalusinasi seolah-olah beliau telah melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Dan sesungguhnya beliau berdoa kepada Rabbnya, lalu bersabda: "Apakah engkau menyadari bahwa Allah telah memberikan fatwa (jawaban) kepadaku mengenai apa yang aku tanyakan kepada-Nya?" Maka 'Aisyah berkata: "Apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Telah datang kepadaku dua orang laki-laki (malaikat), lalu salah satunya duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya di dekat kakiku. Salah satunya berkata kepada temannya: 'Apakah penyakit orang ini?' Ia menjawab: 'Kena sihir.' Yang satu bertanya lagi: 'Siapa yang menyihirnya?' Ia menjawab: 'Labid bin Al-A'sham.' Yang satu bertanya: 'Dengan benda apa?' Ia menjawab: 'Dengan sisir, rontokan rambut, dan seludang mayang kurma jantan.' Yang satu bertanya: 'Di mana benda itu?' Ia menjawab: 'Di sumur Dzarwan.' —dan Dzarwan adalah sebuah sumur di bani Zuraiq." 'Aisyah berkata: Maka Rasulullah mendatangi sumur tersebut kemudian kembali kepada 'Aisyah seraya bersabda: "Demi Allah, seolah-olah airnya adalah rendaman daun pacar/hinna', dan seolah-olah pohon-pohon kurmanya seperti kepala-kepala setan." 'Aisyah berkata: Maka Rasulullah datang dan memberitahukan kepadanya tentang sumur itu. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menyebarkannya/melihatkannya (mengeluar kannya)?" Beliau bersabda: "Adapun aku, maka Allah telah menyembuhkanku, dan aku benci menimbulkan keburukan (fitnah) bagi manusia." Dalam suatu riwayat: "Beliau disihir, maka beliau berdoa dan terus berdoa." [HR. Bukhari dan Muslim].

72.  (Dari Ubay bin Ka'b - radhiyallahu 'anh-) Bahwasanya Rasulullah apabila menyebutkan seseorang lalu mendoakannya, beliau memulainya dengan mendoakan dirinya sendiri. [HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan Gharib, dan dihasankan oleh peneliti Jami' al-Ushul].

73.  (Dari Ibn 'Abbas - radhiyallahu 'anhuma-) ia berkata: Aku menginap di rumah Maimunah (bibiku), lalu Nabi bangun untuk memenuhi hajatnya (buang air) kemudian membasuh wajah dan kedua tangannya, lalu tidur. Kemudian beliau bangun lagi, mendatangi tempat air (qirbah) lalu melepas ikatannya, kemudian beliau berwudhu dengan wudhu sedang antara dua wudhu (tidak terlalu banyak menggunakan air) tetapi telah sempurna wudhunya. Lalu beliau shalat, maka aku pun bangun seraya menggeliat agar beliau tidak melihat bahwa aku mengawasinya, lalu aku berwudhu. Beliau berdiri shalat, maka aku pun berdiri di sebelah kirinya, lalu beliau memegang telingaku dan memutarku ke sebelah kanannya. Maka shalat beliau genap menjadi tiga belas rakaat, kemudian beliau berbaring dan tidur hingga berbunyi napasnya —dan beliau apabila tidur biasa berbunyi napasnya—. Lalu Bilal memberitahukan beliau untuk shalat, maka beliau pun shalat tanpa berwudhu lagi. Dan beliau biasa mengucapkan dalam doanya: « اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا ، وَفِي بَصَرِي نُورًا ، وَفِي سَمْعِي نُورًا ، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا ، وَعَنْ يَسَارِي نُورًا ، وَفَوْقِي نُورًا ، وَتَحْتِي نُورًا ، وَأَمَامِي نُورًا ، وَخَلْفِي نُورًا ، وَاجْعَلْ لِي نُورًا » "Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, pada penglihatanku cahaya, pada pendengaranku cahaya, dari sebelah kananku cahaya, dari sebelah kiriku cahaya, dari atasku cahaya, dari bawahku cahaya, dari depanku cahaya, dari belakangku cahaya, dan jadikanlah bagiku cahaya." [HR. Bukhari dan Muslim].

74.  (Dari Anas bin Malik - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Ketika Nabi sedang berkhotbah pada hari Jumat, berdirilah seorang laki-laki seraya berkata: "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan kepada kami!" Maka langit pun menjadi berawan tebal dan hujan turun kepada kami hingga seseorang hampir tidak bisa sampai ke rumahnya. Hujan terus turun hingga Jumat berikutnya. Lalu laki-laki tersebut —atau orang lain— berdiri seraya berkata: "Berdoalah kepada Allah agar Dia mengalihkan hujan dari kami, karena kami telah tenggelam (kejahatan air/kebanjiran)!" Maka beliau berdoa: « اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا » "Ya Allah, turunkanlah di sekitar kami dan jangan di atas kami (yang merusak)." Maka awan itu pun mulai terputus-putus (terbelah) di sekitar Madinah dan tidak menurunkan hujan di atas penduduk Madinah. [HR. Bukhari dan Muslim].

75.  (Dari Abu Musa Al-Asy'ari - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Nabi meminta dibawakan air lalu berwudhu darinya, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ » "Ya Allah, ampunilah 'Ubaid Abu 'Amir." —dan aku melihat putih kedua ketiaknya— Lalu beliau bersabda: « اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ » "Ya Allah, jadikanlah ia pada hari kiamat di atas mayoritas makhluk-Mu dari kalangan manusia." [HR. Bukhari dan Muslim].

76.  (Dari As-Sa'ib bin Yazid - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Bibiku membawaku kepada Rasulullah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya putra saudariku ini sedang sakit." Maka beliau mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan bagiku. Kemudian beliau berwudhu, lalu aku minum dari sisa air wudhunya. Kemudian aku berdiri di belakang punggung beliau, lalu aku melihat ke tanda kenabian (Khatam an-Nubuwwah) di antara kedua pundaknya seperti kancing kelambu (atau telur burung merpati). [HR. Bukhari dan Muslim].

77.  (Dari 'Auf bin Malik Al-Asyja'i - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Rasulullah menshalatkan jenazah, maka aku menghafal doa dari shalat beliau di mana beliau mengucapkan: « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ (أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ) » "Ya Allah, ampunilah dia, rahmati dia, sejahterakan dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat singgahnya, luaskanlah tempat masuknya, basuhlah dia dengan air, salju, dan embun, dan bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan pakaian yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya, masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dia dari azab kubur (atau dari azab neraka)." 'Auf berkata: Hingga aku berangan-angan seandainya akulah jenazah tersebut. [HR. Muslim].

78.  (Dari 'Aisyah - radhiyallahu 'anha-) ia berkata: Aku kehilangan Rasulullah pada suatu malam dari tempat tidur, maka aku mencari-carinya. Lalu tanganku menyentuh bagian dalam telapak kakinya yang sedang ditegakkan sementara beliau berada di dalam masjid dalam keadaan sujud, dan beliau mengucapkan: « اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ » "Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan keafiatan-Mu dari siksaan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari (siksaan)-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri." [HR. Muslim].

79.  (Dari Anas bin Malik - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Ibuku berkata: "Wahai Rasulullah, pelayanmu Anas, berdoalah kepada Allah untuknya!" Beliau bersabda: « اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ » "Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, serta berkahilah baginya atas apa yang telah Engkau berikan kepadanya." [HR. Bukhari dan Muslim].

80.  (Dari Abu Hurairah - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Ath-Thufail bin 'Amr Ad-Dausi datang kepada Rasulullah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah bermaksiat dan membangkang, maka berdoalah kepada Allah atas (kehurukan) mereka!" Orang-orang pun menduga bahwasanya beliau akan mendoakan keburukan atas mereka, namun beliau justru bersabda: « اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا ، وَأْتِ بِهِمْ » "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (dalam Islam)." [HR. Bukhari].

81.  (Dari Syahr bin Hausyab) ia berkata: Aku berkata kepada Ummu Salamah - radhiyallahu 'anha-: "Wahai Ummul Mukminin, apakah doa yang paling sering diucapkan oleh Rasulullah apabila beliau berada di sisimu?" Ia menjawab: Doa beliau yang paling sering adalah: « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ » "Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu." [HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan, dan Al-Hakim].

82.  (Dari Anas bin Malik - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Doa yang paling sering diucapkan oleh Nabi adalah: « اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ » "Ya Allah, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." Dan apabila Anas hendak berdoa dengan suatu doa, ia berdoa dengannya; dan apabila ia hendak berdoa dengan doa yang banyak, ia menyertakan doa ini di dalamnya. [HR. Bukhari dan Muslim].

83.  (Dari 'Aisyah - radhiyallahu 'anha-) ia berkata: Rasulullah apabila mendatangi orang yang sakit, beliau mendoakannya dengan mengucapkan: « أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي ، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا » "Hilangkanlah penyakit ini wahai Rabb manusia, sembuhkanlah karena Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun." [HR. Bukhari dan Muslim].

84.  (Dari 'Abdullah bin Mas'ud - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Rasulullah apabila memasuki waktu sore, beliau mengucapkan: « أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ » "Kami memasuki waktu sore dan kerajaan tetap milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan malam ini dan kebaikan setelahnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan malam ini dan keburukan setelahnya. Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan buruknya masa tua. Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari azab di neraka dan azab di dalam kubur." Dan apabila memasuki waktu pagi, beliau juga mengucapkan hal itu: « أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ... » "Kami memasuki waktu pagi dan kerajaan tetap milik Allah..." [HR. Muslim].

85.  (Dari Anas bin Malik - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Rasulullah apabila memasuki tempat buang hajat (al-khala'), beliau mengucapkan: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ » "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki [^1] dan setan perempuan [^2]." [HR. Bukhari dan Muslim].

86.  (Dari Al-Bara' bin 'Azib - radhiyallahu 'anhuma-) ia berkata: Nabi apabila hendak berbaring di tempat tidurnya, beliau mengucapkan: « اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ » "Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati." Dan apabila beliau bangun tidur, beliau mengucapkan: « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ » "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan (tidur) kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali." [HR. Bukhari].

87.  (Dari 'Umar bin Al-Khaththab - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya dalam berdoa, beliau tidak melepaskannya/menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan kedua tangan tersebut. [HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibn Majah, dan sanadnya naik derajatnya menjadi Hasan].

88.  (Dari Ibn 'Abbas - radhiyallahu 'anhuma-) ia berkata: Rasulullah biasa berdoa: « رَبِّ أَعِنِّي وَلاَ تُعِنْ عَلَيَّ ، وَانْصُرْنِي وَلاَ تَنْصُرْ عَلَيَّ ، وَامْكُرْ لِي وَلاَ تَمْكُرْ عَلَيَّ ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ هُدَايَ إِلَيَّ ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا ، لَكَ ذَاكِرًا ، لَكَ رَاهِبًا ، لَكَ مِطْوَاعًا ، إِلَيْكَ مُحْبِتًا أَوْ مُنِيبًا ، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي ، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي ، وَأَجِبْ دَعْوَتِي ، وَثَبِّتْ حُجَّتِي ، وَاهْدِ قَلْبِي ، وَسَدِّدْ لِسَانِي ، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي » "Ya Rabbku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong (musuh) atas diriku; memenangkanlah aku dan jangan Engkau memenangkan (musuh) atas diriku; buatkanlah rencana/strategi kebaikan bagiku dan jangan jadikan rencana buruk berbalik atas diriku; berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagiku; serta tolonglah aku atas orang yang berbuat zalim kepadaku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, sangat takut kepada-Mu, sangat taat kepada-Mu, tunduk pasrah dan kembali kepada-Mu. Ya Rabbku, terimalah taubatku, basuhlah/ hapuskanlah dosaku, perkenankanlah doaku, teguhkanlah argumentasiku, berilah petunjuk kepada hatiku, luruskanlah lisanku, dan cabutlah kedengkian/kotoran dari hatiku." [HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, sanadnya Shahih].

89.  (Dari 'Aisyah - radhiyallahu 'anha-) ia berkata: Rasulullah biasa berdoa dengan mengucapkan: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ ، وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ » "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku perbuat, dan dari keburukan apa yang belum aku perbuat." [HR. Muslim].

90.  (Dari 'Aisyah - radhiyallahu 'anha-) ia berkata: Rasulullah menyukai doa-doa yang padat, ringkas, dan mencakup segala kebaikan (Jawami' ad-Dua'), dan beliau meninggalkan doa selain dari itu. [HR. Abu Daud, At-Thabrani, Al-Hakim, sanadnya Hasan].

91.  (Dari Abu Hurairah - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Rasulullah biasa mengucapkan: « اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي ، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي ، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي ، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ » "Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan benteng penjaga urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya terdapat penghidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang merupakan tempat kembaliku; jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan bagiku dari setiap keburukan." [HR. Muslim].

92.  (Dari 'Abdullah bin 'Umar - radhiyallahu 'anhuma-) ia berkata: Di antara doa Rasulullah adalah: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ » "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari berubahnya keafiatan/keselamatan dari-Mu, dari datangnya siksaan-Mu secara tiba-tiba, dan dari seluruh kemurkaan-Mu." [HR. Muslim].

93.  (Dari 'Aisyah - radhiyallahu 'anha-) ia berkata: Nabi pernah dibawakan anak-anak kecil, lalu beliau mendoakan mereka. Maka dibawakanlah seorang bayi laki-laki lalu bayi itu kencing di pakaian beliau. Lantas beliau meminta air lalu memercikannya / mengikutkannya pada bekas kencing itu dan tidak mencucinya. [HR. Bukhari].

94.  (Dari Abu Hurairah - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Nabi biasa berlindung dari beratnya ujian/cobaan, tertimpa kesengsaraan, buruknya takdir, dan kegembiraan musuh atas penderitaan. [HR. Bukhari].

95.  (Dari 'Aisyah - radhiyallahu 'anha-) ia berkata: Nabi Allah apabila bangun shalat di malam hari, beliau membuka shalatnya dengan mengucapkan: « اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ » "Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui hal ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan hukum di antara hamba-hamba-Mu dalam apa yang mereka perselisihkan. Berilah aku petunjuk kepada kebenaran dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus." [HR. Muslim].

96.  (Dari Abu Hurairah - radhiyallahu 'anh-) ia berkata: Rasulullah bersabda: « لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُو بِهَا ، وَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي فِي الآخِرَةِ » "Setiap Nabi memiliki satu doa yang pasti dikabulkan yang ia panjatkan, dan aku ingin menyimpan/mencadangkan doaku sebagai syafaat bagi umatku di akhirat kelak." [HR. Bukhari dan Muslim].

97.  (Dari Ibn 'Umar - radhiyallahu 'anhuma-) ia berkata: Rasulullah tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan pagi hari petang dan ketika pagi tiba: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan/kesejahteraan ('āfiyah) di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan/kesejahteraan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (keburukan/kekuranganku) dan tenteramkanlah rasa takutku. Ya Allah, jagalah aku dari arah depanku, belakangku, kanan dan kiriku, serta dari atas keberadaanku. Dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari dianiaya/dibenamkan secara tiba-tiba dari arah bawahku." (An aghtāla min tahtī: Maksudnya adalah ditenggelamkan ke dalam bumi (al-khasf)) (HR. Abu Daud (5074), Ibn Majah (3871), dan al-Hakim (1/517), serta disepakati oleh adz-Dzahabi).

98 - Dari Zaid bin Arqam radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Aku tidak mengatakan kepada kalian melainkan sebagaimana yang dahulu Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam katakan." Beliau biasa berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا ، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kikir, pikun, dan azab kubur. Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, dan sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Zat yang menyucikannya, Engkaulah Pelindung dan Penguasanya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan." (HR. Muslim (2722)).

99 - Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: "Ayahku meninggal dunia dan meninggalkan tujuh (atau sembilan) anak perempuan, lalu aku menikahi seorang wanita. Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bertanya: 'Apakah engkau telah menikah, wahai Jabir?' Aku menjawab: 'Ya.' Beliau bertanya: 'Gadis atau janda?' Aku menjawab: 'Janda.' Beliau bersabda: 'Mengapa engkau tidak menikahi gadis sehingga engkau bisa bermain-main dengannya dan ia pun bermain-main denganmu, atau engkau bisa tertawa bersamanya dan ia pun tertawa bersamamu?' Aku menjawab: 'Ayahku telah meninggal dan meninggalkan tujuh (atau sembilan) anak perempuan, maka aku tidak suka mendatangkan kepada mereka gadis yang sebaya dengan mereka. Sebab itu, aku menikahi wanita yang dapat mengurus dan membimbing mereka.' Beliau bersabda: 'Semoga Allah melimpahkan keberkahan atasmu.'" (HR. Al-Bukhari - al-Fath 11 (6387)).

Atsar serta Ucapan para Ulama dan Mufasir mengenai (Doa)

1 - Dari 'Umar bin al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Sesungguhnya doa itu tertahan di antara langit dan bumi, tidak akan naik sedikit pun darinya sampai engkau berselawat kepada Nabimu." (HR. At-Tirmidzi (486). Syaikh Ahmad Syakir berkata (1/356): "Hadis ini statusnya mauqūf namun dihukumi marfū'." Dan dinukil ucapan Al-Qadhi Abu Bakr ibn al-'Arabi dalam al-'Āridhah, serta disebutkan oleh Al-Hafizh dalam al-Fath (11/164) dan dinisbatkan kepada at-Tirmidzi).

2 - Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: "Sampaikanlah nasihat/hadis kepada manusia setiap hari Jumat. Jika engkau enggan, maka dua kali. Jika engkau ingin memperbanyak, maka tiga kali, dan janganlah engkau membuat manusia bosan terhadap Al-Qur'an ini. Dan sungguh aku tidak ingin mendapati engkau mendatangi suatu kaum yang sedang asyik dalam pembicaraan mereka, lalu engkau menyampaikan kisah kepada mereka sehingga memotong pembicaraan mereka dan membuat mereka bosan. Akan tetapi, diamlah, lalu jika mereka memintamu maka sampaikanlah hadis kepada mereka saat mereka menginginkannya. Perhatikanlah gaya bahasa bersajak (saja') dalam doa dan jauhilah ia, karena sesungguhnya aku mendapati Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau tidak melakukan hal itu melainkan menjauhinya." (HR. Al-Bukhari - al-Fath 11 (6337)).

3 - Sebagian Sahabat berkata mengenai makna firman Allah Ta'ala:

Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu. (QS. Al-Isra': 110)

Yaitu: Janganlah engkau meninggikan suaramu dalam doamu sehingga engkau menyebutkan dosa-dosamu lalu engkau dicela/diejek karenanya (Fath al-Bārī (8/406)).

4 - Dari Salim bin 'Abdillah bin 'Umar rahimahullāhu Ta'ālā: Bahwasanya ia melihat seorang peminta-minta sedang meminta-minta kepada manusia pada hari Arafah, maka ia berkata: "Wahai orang yang lemah, apakah di hari ini engkau meminta kepada selain Allah 'Azza wa Jalla?" (Al-Adzkār karya an-Nawawi (291)).

5 - Mujahid rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Sesungguhnya salat itu dijadikan pada waktu-waktu terbaik, maka hendaklah kalian berdoa setelah selesai salat-salat (fardu)." (Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn karya al-Ghazali (1/304)).

6 - Al-Hasan al-Bashri rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Apabila tiba hari Kiamat, seorang penyeru akan berseru: 'Kelak majelis ini akan mengetahui siapakah orang-orang yang paling berhak mendapatkan kemuliaan! Di manakah orang-orang yang lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. As-Sajdah: 16)'

Ia berkata: Maka mereka pun berdiri melangkahi leher-leher manusia. Kemudian penyeru berseru: 'Kelak majelis ini akan mengetahui siapakah orang-orang yang paling berhak mendapatkan kemuliaan! Di manakah orang-orang yang:

Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah... (QS. An-Nur: 37)'

Ia berkata: Maka mereka pun berdiri melangkahi leher-leher manusia. Kemudian penyeru berseru: 'Kelak majelis ini akan mengetahui siapakah orang-orang yang paling berhak mendapatkan kemuliaan! Di manakah orang-orang yang senantiasa memuji Allah dalam setiap keadaan?' Ia berkata: Maka berdirilah mereka, dan jumlah mereka sangat banyak. Kemudian barulah terjadi hisab (perhitungan amal) dan pemberian kenikmatan bagi yang tersisa." (Al-Wābil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib karya Ibn al-Qayyim (89)).

7 - Imam Malik rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Aku membenci seseorang yang berdoa dengan mengucapkan: 'Wahai Tuanku, wahai Tuanku, wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang.' Akan tetapi hendaklah ia berdoa dengan doa yang dipanjatkan oleh para nabi: Ya Rabb kami... (Majmū' al-Fatāwā karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (10/285))"

8 - Al-Auza'i rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Masyarakat mengalami kemarau panjang pada zaman Bilal bin Sa'id, lalu manusia keluar untuk memohon hujan (istisqā'). Bilal bin Sa'id pun berdiri, lalu ia memuji Allah Ta'ala dan mengagungkan-Nya, kemudian berkata: 'Wahai sekalian orang yang hadir, bukankah kalian mengakui perbuatan buruk (dosa kalian)?' Mereka menjawab: 'Benar.' Maka ia berdoa: 'Ya Allah, sesungguhnya kami telah mendengar Engkau berfirman:

Tidak ada alasan apa pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. (QS. At-Taubah: 91)

Dan kami telah mengakui perbuatan buruk kami, maka apakah ampunan-Mu diperuntukkan bagi orang-orang seperti kami? Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan siramilah kami dengan hujan!' Lalu ia mengangkat kedua tangannya dan orang-orang pun mengangkat tangan mereka, maka mereka pun diberi hujan." (Al-Adzkār karya an-Nawawi (612)).

9 - Sufyan ats-Tsauri rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Telah sampai kepadaku bahwasanya Bani Israil ditimpa kemarau panjang selama tujuh tahun, hingga mereka memakan bangkai dari tempat-tempat sampah dan memakan anak-anak. Mereka keluar menuju gunung-gunung seraya menangis dan merendahkan diri (berdoa). Lalu Allah 'Azza wa Jalla memberi wahyu kepada para nabi mereka 'alaihimussalām: 'Seandainya kalian berjalan menuju Aku dengan kaki telanjang hingga lutut kalian lecet, dan tangan kalian memanjat mencapai awan di langit, serta lidah kalian lelah berdoa, Aku tidak akan memperkenankan doa kalian dan tidak akan meratai kalian dengan rahmat hingga kalian mengembalikan hak-hak kezaliman kepada pemiliknya.' Maka mereka pun mengembalikannya pada hari itu juga, lalu mereka diberi hujan." (Al-Ihyā' (1/307)).

10 - Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Barang siapa yang ingin memohon suatu kebutuhan kepada Allah Ta'ala, hendaklah ia memulainya dengan selawat kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, kemudian memohon kebutuhannya, lalu menutupnya dengan selawat kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam. Sebab Allah 'Azza wa Jalla Mahamulia untuk menerima dua selawat dan mengabaikan apa yang ada di antara keduanya." (Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn (1/307)).

11 - Sufyan bin 'Uyainah rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Jangan sekali-kali seseorang enggan berdoa karena keburukan yang ia ketahui ada pada dirinya yakni berupa kekurangan/dosa—karena sesungguhnya Allah telah mengabulkan doa makhluk-Nya yang paling buruk, yaitu Iblis, ketika ia berkata:

Ya Rabbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Hijr: 36 / QS. Shad: 79)" (Al-Fath (11/144-145)).

12 - Yahya al-Ghassan rahimahullāhu Ta'ālā berkata: Manusia ditimpa kemarau panjang pada masa Nabi Daud 'alaihissalām. Lalu mereka memilih tiga orang dari ulama mereka, kemudian mereka keluar untuk memohon hujan (istisqā') bersama mereka. Salah seorang dari mereka berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menurunkan dalam Taurat-Mu agar kami memaafkan orang yang menzalimi kami. Ya Allah, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri, maka maafkanlah kami." Orang kedua berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menurunkan dalam Taurat-Mu agar kami memerdekakan budak-budak kami. Ya Allah, kami adalah hamba-hamba-Mu, maka merdekakanlah kami." Orang ketiga berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menurunkan dalam Taurat-Mu agar kami tidak menolak orang-orang miskin jika mereka berdiri di pintu-pintu kami. Ya Allah, kami adalah orang-orang miskin-Mu yang berdiri di pintu-Mu, maka janganlah Engkau tolak doa kami." Maka mereka pun diberi hujan (Al-Adzkār karya an-Nawawi (612)).

13 - Ad-Dawudi rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Wajib bagi orang yang berdoa untuk bersungguh-sungguh dan mendesak dalam berdoa. Janganlah ia mengucapkan: 'Jika Engkau berkenan,' seperti orang yang memberi pengecualian, melainkan berdoa seperti doanya orang yang sengsara dan sangat membutuhkan." (Al-Fath (11/145)).

14 - Ibn Baththal rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Pantas bagi orang yang berdoa untuk bersungguh-sungguh dalam doa dan senantiasa berharap akan dikabulkan, serta tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya ia sedang berdoa kepada Zat Yang Mahamulia." (Referensi sebelumnya (11/144)).

15 - Beliau (Ibn Baththal) juga berkata: "Allah telah berjanji melalui lisan Nabi-Nya bahwa barang siapa yang bangun dari tidurnya dalam keadaan lidahnya basah dengan tauhid kepada Rabbnya, tunduk kepada kekuasaan-Nya, mengakui nikmat-nikmat-Nya seraya memuji-Nya atas nikmat tersebut, mensucikan-Nya dari apa yang tidak layak bagi-Nya dengan bertasbih kepada-Nya, tunduk kepada-Nya dengan bertakbir, dan berserah diri kepada-Nya dengan mengakui kelemahan diri dari daya upaya kecuali atas pertolongan-Nya, maka hendaknya ia mengetahui bahwa jika ia berdoa kepada-Nya, niscaya Allah mengabulkannya, dan jika ia salat, niscaya salatnya diterima." (Referensi sebelumnya (3/41)).

16 - Al-Qadhi Husain rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Disunahkan bagi siapa saja yang tertimpa kesulitan/kesusahan untuk berdoa dengan bertawasul melalui amal salehnya." (Al-Adzkār karya an-Nawawi (612)).

17 - Ibn 'Aqil al-Hanbali rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Demi Allah, aku tidak menyandarkan harapanku pada kenyataan bahwa aku seorang mukmin karena salat dan puasaku. Namun, aku menyandarkan harapanku ketika aku melihat hatiku di saat-saat gundah/sulit bersegera lari kepada-Nya (yakni dengan berdoa) dan rasa syukurku atas nikmat yang Dia berikan kepadaku." Beliau berkata: (Seolah-olah) Allah Ta'ala berfirman: "Sungguh Aku telah memeliharamu dengan segala makna agar engkau tidak menjadi hamba bagi sesama hamba, dan Aku telah memberitahukanmu bahwa Akulah Sang Pencipta dan Maha Pemberi Rezeki. Namun engkau meninggalkan-Ku dan berpaling kepada hamba-hamba. Kalian semua meminta kepada-Ku pada waktu kemarau hujan, tetapi setelah dikabulkan, sebagian dari kalian justru menyembah sebagian yang lain." (Al-Ādāb asy-Syar'iyyah karya Ibn Muflih (1/150)).

18 - Ibn Muflih rahimahullāhu Ta'ālā berkata: "Orang yang 'arif [yaitu orang yang mengetahui hak Allah atas dirinya, misalnya] akan bersungguh-sungguh dalam mengupayakan sebab-sebab dikabulkannya doa, baik dari segi waktu, tempat, maupun selainnya, tanpa merasa bosan dan jenuh. Ia juga bersungguh-sungguh dalam berhubungan antara dirinya dan Rabbnya 'Azza wa Jalla pada waktu selain kesulitan, karena hal itu lebih berhasil. Maka yang wajib adalah memperhatikan berbagai hal; jika doa belum dikabulkan, hendaklah ia mengetahui bahwa hal itu terjadi mungkin karena ketiadaan sebagian syarat pengabulan doa atau karena adanya penghalang (māni'). Maka hendaklah ia mengoreksi dirinya sendiri dan bukan orang lain, serta memperhatikan kondisi Tuan para makhluk dan Yang Paling Mulia di antara mereka di hadapan Allah 'Azza wa Jalla, bagaimana perjuangan dan kesungguhan beliau pada Perang Badar dan selainnya, sementara beliau yakin akan janji Rabbnya 'Azza wa Jalla pada firman-Nya:

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. (QS. Ghafir: 60)

Dan hendaknya ia mengetahui pula bahwa segala sesuatu di sisi Allah memiliki batas waktu yang telah ditentukan." (Al-Ādāb asy-Syar'iyyah (1/149)).

19 - Sebagian ahli ilmu berkata: "Berdoalah dengan bahasa kerendahan dan rasa butuh (al-iftiqār), bukan dengan bahasa kelancaran bicara (fashāhah) dan gaya bahasa yang dibuat-buat (inthilāq)." (Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn (1/306)).

20 - Imam asy-Syafi'i rahimahullāhu Ta'ālā berkata (dalam syairnya):

أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيهِ ... وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ

سِهَامُ اللَّيْلِ لاَ تُخْطِي وَلَكِنْ ... لَهَا أَمَدٌ وَلِلأَمَدِ انْقِضَاءُ

Apakah engkau meremehkan doa dan memandangnya sebelah mata?... Padahal engkau tidak tahu apa yang sanggup dilakukan oleh doa.

Anak-anak panah malam (doa di sepertiga malam) tidak akan pernah meleset, akan tetapi... Ia memiliki tenggat waktu, dan setiap tenggat waktu pasti akan berakhir. (Dīwān asy-Syāfi'ī (48), tahqiq Dr. Khafaji).

21 - Beliau (Imam asy-Syafi'i) juga berkata:

فَمَا كَانَ لِي الإِسْلَامُ إِلَّا تَعَبُّدًا ... وَأَدْعِيَةً لَا تُتَّقَى بِدُرُوعِ

وَحَسْبُكَ أَنْ يَنْجُوَ الظَّالِمُ وَخَلْفَهُ ... سِهَامُ دُعَاءٍ مِنْ قِسِيِّ رُكُوعِ

مُرَيَّشَةً بِالْهَدْبِ مِنْ كُلِّ سَاهِرٍ ... مُهَلَّلَةً أَطْرَافُهَا بِدُمُوعِ

Maka tidaklah Islam bagiku melainkan sebagai penghambaan diri...Dan doa-doa yang tidak bisa ditangkis dengan perisai.

Cukuplah (menjadi kebinasaan) bagi zalim jika ia selamat sementara di belakangnya...Meluncur anak panah doa dari busur-busur orang yang rukuk.

Anak panah yang terpasang bulu berupa bulu mata dari setiap orang yang terbangun malam...Yang ujung-ujungnya dibasahi oleh linangan air mata. (Murayyasyatan bil-hadbi: Kiasan dari menempelkan bulu mata pada anak panah agar kecepatannya bertambah. Maknanya: Doa orang yang terzalimi dilepaskan seperti anak panah yang cepat karena dibasahi oleh bulu mata dan air mata pelupuk mata) (Dīwān asy-Syāfi'ī (91)).

Di Antara Manfaat-Manfaat "Doa"

  1. Mempercepat datangnya kelapangan dan menghilangkan kesulitan (kurb).
  2. Pasrahnya jiwa yang cemas kepada Rabb karena prasangka baik atas kedekatan-Nya.
  3. Senjata untuk membentengi diri dari musuh dan ketetapan takdir yang buruk.
  4. Mendatangkan berbagai maslahat dan menolak berbagai kerusakan.
  5. Membusyukkan hamba dengan dosanya sendiri sehingga ia disibukkan dari mengurus aib orang lain.
  6. Senantiasa merasakan kelemahan dan hajat (butuh kepada Allah), sehingga ia terus-menerus berdoa sampai mendapatkan hajatnya.
  7. Dianggap sebagai salah satu jenis ibadah yang paling agung; maka doa ditujukan untuk zat ibadah itu sendiri sebagaimana ditujukannya doa untuk pemenuhan hajat dan menolak bahaya.
  8. Mendorong seorang muslim untuk mempelajari adab-adab syariat.
  9. Seorang muslim senantiasa merasa berada dalam kebersamaan bersama Hakikat (Allah) sepanjang waktu.

 

Sumber:

Ibn Humayd, Ṣāli ibn ‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Narat an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li an-Nashr wa at-Tawzī‘

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat