Nahdhatul Ulama

Nahdlatul Ulama (NU; bahasa Arab: نهضة العلماء, har. 'Kebangkitan Ulama', pelafalan dalam bahasa Indonesia: [nahˈdatʊl ʊˈlama]) adalah organisasi Islam di Indonesia. Jumlah anggotanya melebihi 108 juta pada tahun 2019,[2] menjadikannya organisasi Islam terbesar di dunia.[3] NU juga merupakan badan amal yang mendanai sekolah dan rumah sakit serta mengorganisir komunitas untuk membantu mengurangi kemiskinan.

NU didirikan pada tahun 1926 oleh para ulama dan pedagang muslim untuk mempertahankan praktik-praktik Islam tradisional (sesuai dengan mazhab Syafi'i) serta kepentingan ekonomi anggotanya.[4] Pandangan agama NU dianggap "tradisionalis" karena menerima tradisi budaya lokal yang tidak bertentangan dengan hukum Islam (berbeda dengan kelompok fundamentalis Islam).[5] Di sisi lain, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, dianggap “reformis” karena mengambil tafsir yang lebih literal terhadap Al-Qur'an dan Sunnah.[5]

Banyak pemimpin Nahdlatul Ulama merupakan pendukung setia Islam Nusantara, sebuah varian Islam yang unik yang telah mengalami interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi sesuai dengan kondisi sosial budaya di Indonesia.[6] Islam Nusantara mengedepankan moderasi, anti-fundamentalisme, pluralisme, dan sejauh tertentu sinkretisme.[7] Namun, beberapa ulama, pemimpin, dan cendekiawan agama NU telah menolak Islam Nusantara dan lebih memilih pendekatan yang lebih konservatif.[8]

Mazhab

Nahdlatul Ulama mengikuti mazhab Asy'ariyah,[9] mengambil jalan tengah antara kecenderungan aqli (rasionalis) dan naqli (skripturalis). Organisasi tersebut mengidentifikasi Al-Qur'an, Sunnah, dan kemampuan akal ditambah dengan realitas empiris sebagai sumber pemikirannya. NU mengaitkan pendekatan ini dengan para pemikir sebelumnya, seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari[10] dan Abu Mansur Al-Maturidi[11] di bidang teologi.[12]

Di bidang fikih, NU mengakui empat mazhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali (berbeda dengan PERTI yang hanya bermazhab Syafi'i) tetapi dalam praktiknya jama'ah NU mayoritas dan cenderung bermazhab Syafi'i. Dalam hal tasawuf,[13] NU mengikuti jalan Al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi.[12][14] NU telah digambarkan oleh media barat sebagai gerakan Islam yang progresif, liberal dan pluralistik,[15][16] tetapi merupakan organisasi yang beragam dengan faksi konservatif yang besar juga.[17]

Nahdlatul Ulama telah menyatakan bahwa mereka tidak terikat pada organisasi politik manapun.[18]

Sejarah

Asal-usul

NU didirikan pada tahun 1926 sebagai organisasi ulama Muslim Asy'ari ortodoks,[19] yang bertentangan dengan kebijakan modernis Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis), dan munculnya gerakan Salafi dari organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah[20] di Indonesia yang sama sekali menolak adat istiadat setempat yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu dan Buddha Jawa pra-Islam. Organisasi ini didirikan setelah Komite Hijaz telah memenuhi tugasnya dan akan dibubarkan. Organisasi ini didirikan oleh Hasyim Asy'ari,[21] kepala pesantren di Jawa Timur. Organisasi NU berkembang, tetapi basis dukungannya tetap di Jawa Timur. Pada tahun 1928, NU menggunakan bahasa Jawa dalam khotbahnya, di samping bahasa Arab.[22]:169[23]:168[24]:233236

Pada tahun 1937, meskipun hubungan NU dengan organisasi-organisasi Islam Sunni lainnya di Indonesia buruk, organisasi-organisasi tersebut membentuk Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) sebagai forum diskusi. Mereka bergabung dengan sebagian besar organisasi Islam lainnya yang ada pada saat itu. Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia dan pada bulan September diadakan konferensi para pemimpin Islam di Jakarta.[22]:191,194[24]:233236

Jepang ingin menggantikan MIAI, tetapi konferensi tidak hanya memutuskan untuk mempertahankan organisasi, tetapi juga memilih tokoh-tokoh politik yang tergabung dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) untuk kepemimpinan, daripada anggota non-politik NU atau Muhammadiyah seperti yang diinginkan penjajah. Lebih dari setahun kemudian, MIAI dibubarkan dan digantikan oleh Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang disponsori Jepang. Hasjim Asy'ari adalah ketua nasional, tetapi dalam praktiknya organisasi baru itu dipimpin oleh putranya, Wahid Hasyim.[25] Tokoh NU dan Muhammadiyah lainnya memegang posisi kepemimpinan.[22]:191,194[24]:233236

Pada tahun 1945, Soekarno dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Selama perang kemerdekaan Indonesia, NU menyatakan bahwa perang melawan pasukan kolonial Belanda adalah jihad/perang suci, wajib bagi semua umat Islam. Di antara kelompok gerilya yang memperjuangkan kemerdekaan adalah Hizbullah dan Sabililah yang dipimpin oleh NU.[24]:233236

Paham keagamaan

Nahdlatul Ulama menganut paham Ahlussunah wal Jama'ah,[26] yaitu sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara Nash (Al Qur'an dan Hadits) dengan Akal (Ijma' dan Qiyas). Oleh sebab itu sumber hukum Islam bagi warga NU tidak hanya Al Qur'an, dan As Sunnah saja, melainkan juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empiris.[butuh rujukan]

Maka, di dalam persoalan aqidah, NU merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy'ari, sedangkan dalam persoalan fiqih, NU merujuk kepada Imam Syafi'i,[27] dan dalam bidang tashawwuf, NU merujuk kepada Imam Al Ghazali. Namun NU tetap mengakui dan bersikap tasamuh kepada para mujtahid lainnya, seperti dalam bidang aqidah dikenal seorang mujtahid bernama Abu Mansur Al Maturidi, kemudian dalam bidang fiqih terdapat tiga mujtahid besar selain Imam Syafi'i, yakni Imam Abu Hanifah,[28] Imam Malik, dan Imam Hanbali, serta dalam bidang tashawwuf dikenal pula Imam Junaid al-Baghdadi.[butuh rujukan]

Adapun gagasan "Kembali ke Khittah NU" pada tahun 1984 merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fiqih maupun sosial, serta merumuskan kembali hubungan NU dengan Negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.[29]

Organisasi

Struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama terdiri dari tujuh pengurus dari tingkat pusat hingga daerah.

·       Pengurus Besar (PBNU), untuk kepengurusan pusat tingkat nasional di Jakarta.

·       Pengurus Wilayah (PWNU), untuk kepengurusan di tingkat provinsi.

·       Pengurus Cabang (PCNU), untuk kepengurusan di tingkat kabupaten/kota.

·       Majelis Wakil Cabang (MWCNU), untuk kepengurusan di tingkat kecamatan.

·       Pengurus Ranting (PRNU), untuk kepengurusan di tingkat desa/kelurahan.

·       Pengurus Anak Ranting (PARNU), untuk kepengurusan di tingkat dusun/masjid/kelompok.

·       Pengurus Cabang Istimewa (PCINU), untuk kepengurusan di luar Indonesia; berkedudukan setara dengan PCNU.

Lembaga

Lembaga adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama sesuai dan berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan yang memerlukan penanganan khusus.[31] Lembaga Nahdlatul Ulama meliputi:

·       Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

·       Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU)

·       Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LPMNU)

·       Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU)

·       Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU)

·       Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU)

·       Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPKNU)

·       Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU)

·       Lembaga Kajian & Pengembangan SDM Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM-NU)

·       Lembaga Penyuluhan & Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU)

·       Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (LESBUMI)

·       Lembaga Zakat, Infaq, & Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU)

·       Lembaga Waqaf & Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWPNU)

·       Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU)

·       Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU)

·       Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU)Lembaga Penanggulangan Bencana &

·       Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBPINU)

·       Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU)Lembaga Perguruan Tinggi

·       Nahdlatul Ulama (LPTNU)

Badan otonom

Badan Otonom NU adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan. Badan Otonom dikelompokkan dalam katagori Badan Otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu, dan Badan Otonom berbasis profesi dan kekhususan lainnya.[32] Jenis badan otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu adalah :

·       Gerakan Pemuda Ansor

·       Muslimat

·       Fatayat

·       Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)

·       Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)

·       Jam'iyatul Qurra' wal Huffazh (JQH)

·       Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu)

·       Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

·       Pencak Silat Pagar Nusa

·       Jam'iyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah an Nahdliyah (Jatman)

·       Ikatan Seni Hadrah Indonesia Nahdlatul Ulama (Ishari)Ikatan Sarjana Nahdlatul

·       Ulama (ISNU)

·       Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi)

·       Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU)

NU dan politik

Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Soekarno, dan bergabung dalam NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis). Nasionalis diwakili Partai Nasional Indonesia (PNI), Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), dll. Agama diwakili Partai Nahdhatul Ulama, Masyumi, Partai Katolik, Parkindo (Partai Kristen Indonesia), dll. Dan Komunis diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).[33]

NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk 'Kembali ke Khittah 1926' yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi.

Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR.

Referensi

1.      http://pps.uin-suka.ac.id/id/berita/213-teliti-teologi-muhammadiyah-dan-nu-zuriatul-khairi-raih-doktor.html#:~:text=Drs.%20H.%20Zuriatul%20Khairi%2C,pandangan%20umat%20Islam%20di%20Indonesia.&text=Keduanya%20adalah%20penganut%20Islam%2

2.      0ortodoks. Diarsipkan 2021-08-06 di Wayback Machine."Survei SMRC: 40 Juta Anggota NU Jadi Pemilih di Pilpres 2024". NU Online. Diakses tanggal 2024-11-

3.      07.Esposito, John (2013). Oxford Handbook of Islam and Politics. OUP USA. hlm. 570. ISBN 9780195395891. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 April 2022. Diakses tanggal 17 November 2015.Esposito, John (2013). Oxford Handbook of Islam and

4.      Politics. OUP USA. hlm. 570. ISBN 9780195395891. Diakses tanggal 17 November2015.

5.      Pieternella, Doron-Harder (2006). Women Shaping Islam. University of Illinois Press. hlm. 198. ISBN 9780252030772. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 April 2022. Diakses tanggal 17 November 2015.

6.      "Apa yang Dimaksud dengan Islam Nusantara?". Nahdlatul Ulama. 22 April 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2019. Diakses tanggal 11 August 2017.

7.      F Muqoddam (2019). "Syncretism of Slametan Tradition As a Pillar of Islam Nusantara'". E Journal IAIN Madura. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-04-07. Diakses tanggal 2021-02-15.

8.      Arifianto, Alexander R. (23 January 2017). "Islam Nusantara & Its Critics: The Rise of NU's Young Clerics" (PDF). RSIS Commentary. 18. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 31 January 2022. Diakses tanggal 21 March 2018.

9.      "Madzhab Asy'ariyah, Pelanjut Madzhab Salaf dan Sahabat". NU Online. Diakses tanggal 2026-03-12.

10.  "Biografi Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari, Sang Penyelamat Umat". NU Online. Diakses tanggal 2026-03-12.

11.  "Abu Manshur al-Maturidi, Imam Aqidah Ahlusunnah wal Jama'ah". NU Online. Diakses tanggal 2026-03-12.

12.  http://www.nu.or.id/a,public-m,static-s,detail-lang,en-ids,1-id,7-t,religious+ideology-.phpx

13.  Manab, Abd; Rahman, Taufikur (2022-08-05). "ANALISA YURIDIS TERHADAP EKSEKUSI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA YANG TELAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP ATAS OBJEK SENGKETA YANG SAMA DENGAN PUTUSAN YANG BERBEDA". ASA. 4 (2): 1–18. doi:10.58293/asa.v4i2.43. ISSN 2722-9882.

14.  "Syekh Junaid Al-Baghdadi, Imam Tasawuf Panutan NU". NU Online. Diakses tanggal 2026-03-12.

15.  "From Indonesia, a challenge to the ideology of the Islamic State". The New York Times. Jakarta. 4 December 2015. Diakses tanggal 4 December 2015.

16.  Varagur, Krithika (2 December 2015). "World's Largest Islamic Organization Tells ISIS To Get Lost". The Huffington Post. Diakses tanggal 4 December 2015.

17.  Arifianto, Alexander R. (23 January 2017). "Islam Nusantara & Its Critics: The Rise of NU's Young Clerics" (PDF). RSIS Commentary. 18.

18.  Robin Bush, Robin Bush Rickard. Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power Within Islam and Politics in Indonesia. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 78.

19.  University of Cumbria, Division of Religion and Philosophy. "Nahdatul Ulama". www.philtar.ac.uk. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-03. Diakses tanggal 2021-03-09.

20.  "Tentang Al-Irsyad". Alirsyad Alislamiyyah. Diakses tanggal 2026-03-12.

21.  "Menilik Profil KH M Hasyim Asy'ari Sang Pendiri Nahdlatul Ulama". NU Online. Diakses tanggal 2026-03-12.

22.  Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford: Stanford University Press. ISBN 0-8047-4480-7.

23.  Schwartz, Adam (1994). A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s. Allen & Unwin. ISBN 1-86373-635-2.

24.  Feith, Herbert (2007). The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. Equinox Publishing (Asia) Pte Ltd. ISBN 978-9-79378-045-0.

25.  "Profil Singkat Tokoh NU KH Wahid Hasyim". NU Online. Diakses tanggal 2026-03-

26.  12."Ahlussunnah wal Jama'ah menurut NU". NU Online. Diakses tanggal 2026-03-12.

27.  Rosyidin, Muhammad Abror (2018-10-11). "Imam Syafi'i: Perjalanan Hidup dan Keilmuan". Tebuireng Online. Diakses tanggal 2026-03-12.

28.  "Biografi Imam Abu Hanifah | Almanhaj" (dalam bahasa American English). 2016-03-26. Diakses tanggal 2026-03-12.

29.  tim. "Sejarah Berdirinya NU Sejak Masa Penjajahan". nasional. Diakses tanggal  202112-03.

30.  Muhlasin (2016-12-22). "Biografi Abdul Wahab Hasbullah - Pendiri Nahdatul Ulama". PCNU Tulungagung. Diakses tanggal 2026-03-12.

31.  "Daftar Lembaga-lembaga di Bawah Naungan NU". nu.or.id. Diakses tanggal 2022-01-30.

32.  "Badan-badan Otonom (Banom) di Bawah Naungan NU". nu.or.id. Diakses tanggal 2022-01-30.

33.  https://rasindonews.wordpress.com/2022/06/06/perkembangan-politik-partai-komunis-indonesia-1948-1965/

 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat