Pasal 8: Pertanyaan Itu Adalah Jawaban
BAB DELAPAN: PERTANYAAN DAN JAWABAN
Tujuan
Umum:
- Memahami pentingnya
pertanyaan dan jawaban dalam mengubah arah perasaan dan pikiran.
- Mengenal metode-metode
mengajukan pertanyaan yang positif.
- Melalui aktivitas pendamping
dan pendukung, berlatih memanfaatkan pertanyaan dan jawaban dengan cara
yang konstruktif dan mendorong kemajuan.
Tujuan
Perilaku Instruksional Tema:
Setelah
selesainya proses pembelajaran tema ini, peserta didik diharapkan mampu untuk
melakukan hal-hal berikut:
Pertama:
Tujuan Kognitif:
- Menyebutkan contoh-contoh
dari kehidupan kontemporer mengenai kekuatan kata dalam mengubah keadaan.
- Menjelaskan beserta contoh
empat cara manusia dalam menyikapi emosi.
- Menentukan langkah-langkah
keunggulan emosional disertai penyebutan contoh.
- Menjelaskan apa yang dimaksud
dengan sepuluh sinyal tindakan disertai penyebutan contoh.
- Menerangkan apa yang
membentuk kehidupan dan menentukan hakikat jati diri.
- Menghubungkan antara metode
mengajukan pertanyaan dengan kesuksesan yang dicapainya.
- Mengorganisasi kembali
caranya dalam mengarahkan pertanyaan kepada diri sendiri atau
menyajikannya kepada orang-orang di sekitarnya.
- Menciptakan metode baru untuk
menyajikan pertanyaan dan menyampaikannya dalam bentuk yang membantu
memicu optimisme.
- Membuktikan pentingnya kata
dalam membentuk atau mengubah keyakinan.
- Menggunakan kamus
transformasional kata-kata yang menyebabkan perasaan negatif dalam segala
urusan kehidupannya.
Kedua:
Tujuan Afektif (Sikap):
- Selalu bersikap optimis
terhadap kebaikan.
- Lebih mengutamakan penggunaan
pertanyaan yang menyebarkan harapan dan kekuatan.
- Berkomitmen untuk menggunakan
kemampuan dan bakatnya secara optimal.
- Menghindari segala hal yang
menyebabkan frustrasi dan negativitas.
- Memfokuskan pengalihan pusat
berpikir menuju hal-hal yang memberinya kebahagiaan agar dapat mengatasi
hal-hal negatif.
- Menunjukkan ketertarikan
untuk menggunakan pertanyaan yang mewujudkan kebahagiaan dan rasa percaya
diri bagi dirinya.
- Percaya pada diri sendiri dan
kemampuannya, serta selalu memperkuat perasaan ini di dalam dirinya.
- Membangkitkan
pertanyaan-pertanyaan terbaik di dalam dirinya agar mendapatkan
jawaban-jawaban terbaik.
- Menghadapi masalah dengan
optimisme dan kemampuan untuk menyelesaikannya, alih-alih meratapi
nasibnya.
- Berlatih menggunakan
kata-kata yang memiliki pengaruh tinggi untuk mengubah atau membentuk
keyakinan.
- Membiasakan diri menggunakan
kata-kata yang baik (kalimah thayyibah) dalam membantu orang lain.
- Meneladani Rasulullah ﷺ
dalam menggunakan kata-kata yang meningkatkan moral dan semangat.
- Mengurutkan langkah-langkah
keunggulan emosional berdasarkan tingkat kepentingannya.
- Selalu memperhatikan
lafal-lafal dan ekspresinya yang memancarkan harapan serta kebahagiaan
bagi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
- Memilih lafal-lafal yang
indah lagi bermanfaat, serta menjauhkan diri dari ucapan yang menjatuhkan
harga diri maupun sia-sia.
Ketiga:
Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):
- Mahir menggunakan pertanyaan
terbaik agar menghasilkan jawaban terbaik dalam setiap urusannya.
- Menyelaraskan data-data yang
ia suguhkan kepada akalnya agar mendapatkan jawaban terbaik.
- Memiliki jaringan pertanyaan
terarah yang membantunya mengatasi berbagai masalah.
- Mencatat contoh-contoh dari
sejarah Islam mengenai kekuatan kata dalam meningkatkan moral dan
semangat.
- Menuliskan sejumlah kata yang
menciptakan perasaan negatif pada dirinya beserta alternatif penggantinya.
- Menggunakan kamus
transformasional secara benar dan akurat untuk mengubah segala hal negatif
di dalam hidupnya.
- Menerapkan
pelajaran-pelajaran yang telah ia pelajari di dalam kehidupannya.
- Menuliskan daftar pertanyaan
yang memberinya kekuatan pada waktu pagi dan malam hari.
- Mengikuti instruksi yang
diperlukan untuk mengajukan pertanyaan yang memberinya kekuatan dan
optimisme.
- Membaca apa yang dikatakan
seputar praduga (presuposisi) dan menerapkannya pada diri sendiri.
- Menerapkan langkah-langkah
pengondisian saraf yang saling berhubungan (neuro-association)
dengan penerapan yang baik.
- Memperbaiki penafsiran
terhadap kondisi-kondisi di sekitar dirinya.
Materi
Ilmiah:
Bukan
peristiwa-peristiwa yang terjadi yang membentuk kehidupanku dan menentukan
hakikat perasaan serta tindakanku, melainkan cara akulah yang menafsirkan dan
mengevaluasi pengalaman-pengalaman hidupku tersebut.
Perbedaan
mendasar antara orang-orang yang meraih kesuksesan dengan mereka yang belum
meraih kesuksesan serupa adalah bahwa orang-orang sukses mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang lebih baik, sehingga sebagai hasilnya, mereka
berhasil mencapai jawaban-jawaban yang lebih baik pula. Mereka berhasil
mencapai jawaban yang memberi mereka kekuatan untuk mengetahui apa yang harus
dilakukan dalam situasi apa pun yang mereka hadapi, demi mewujudkan hasil yang
mereka cita-citakan. Maka, pertanyaan-pertanyaan meletakkan batu pertama bagi
efek domino yang memiliki dampak di luar imajinasi. Sesungguhnya tindakan
mempertanyakan batasan-batasan yang menghalangi kita itulah yang akan
menghancurkan tembok-tembok penghalang di dalam kehidupan.
Ketika
orang-orang merasa depresi, penyebabnya sering kali adalah karena mereka secara
rutin mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat frustrasi dan merampas
kekuatan diri mereka sendiri, seperti: "Apa gunanya?". Jika
kamu mengajukan pertanyaan yang menjengkelkan, maka kamu akan menerima jawaban
yang menjengkelkan pula. Jika kamu bertanya: "Mengapa aku tidak sukses
saja?", maka jawaban dari akalmu bisa jadi: "Karena kamu
bodoh".
Seseorang
pernah mengalami luka bakar yang sangat parah di tubuhnya, namun ia memilih
untuk bertanya kepada dirinya sendiri: "Bagaimana aku bisa menggunakan
(pengalaman) ini?", alih-alih berkata: "Mengapa harus aku yang
mengalami ini?". Ia menyadari bahwa perasaan marah, terluka, dan
frustrasi tidak akan mengubah hidupnya. Oleh karena itu, alih-alih berfokus
pada apa yang hilang dari dirinya, ia berkata kepada dirinya sendiri: "Apa
lagi yang masih aku miliki? Apakah aku ini hanya sekadar tubuhku saja, ataukah
aku lebih dari itu? Apa yang bisa aku lakukan sekarang bahkan melebihi apa yang
bisa aku lakukan sebelumnya?".
Kota
New York pernah menghadapi kebangkrutan, lalu para investor yang mengeluh
berkata: "Bagaimana mungkin kita bisa hidup sementara kota ini sedang
hancur?". Namun, salah seorang miliarder justru mengajukan pertanyaan
yang unik, yaitu: "Bagaimana aku bisa menjadi kaya pada saat rasa takut
sedang mengendalikan semua orang selain diriku?". Pertanyaan ini
membantunya dalam membentuk banyak keputusan bisnisnya dan menuntunnya ke
posisi kendali ekonomi. Ia bertanya kepada dirinya sendiri: "Apa hal
terburuk yang mungkin terjadi?". Keyakinannya adalah jika ia tahu
bahwa ia sanggup menghadapi konsekuensi terburuk yang mungkin terjadi, maka ia
harus menuntaskan kesepakatan bisnis tersebut. Kendati demikian, ia terjerumus
ke dalam kesulitan ekonomi setelah itu karena ia meyakini bahwa dirinya (tidak
terkalahkan), sehingga ia berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan
kreatifnya.
Pikiranmu
laksana jin lampu Aladin; ia tidak akan memberikan kepadamu kecuali apa yang
kamu minta darinya. Oleh karena itu, kamu harus berhati-hati dalam pertanyaan
yang kamu ajukan, karena kamu tidak akan menemukan kecuali apa yang kamu cari.
Mengapa
tidak tersedia lebih banyak lagi orang yang menikmati kebahagiaan, kesehatan,
kekayaan, dan kebijaksanaan? Mengapa ada begitu banyak orang yang dilingkupi
frustrasi dan merasa seolah-olah tidak ada jawaban dalam hidup mereka? Salah
satu jawabannya adalah karena ketika mereka mengajukan pertanyaan, mereka
kekurangan rasa keyakinan yang memungkinkan jawaban-jawaban itu muncul di
hadapan mata mereka. Dan yang lebih penting dari itu, mereka gagal mengajukan
pertanyaan kepada diri mereka sendiri secara sadar (yaitu pertanyaan-pertanyaan
yang memberi mereka kekuatan). Mereka menyikapi urusan tersebut dengan sikap
tidak acuh dan tanpa menyadari hakikat kekuatan yang mereka salah gunakan
akibat hilangnya rasa percaya diri terhadap apa yang mereka pikirkan.
Sebagai
contoh, orang yang ingin menurunkan berat badannya namun ia tidak mampu karena
ia selalu bertanya kepada dirinya sendiri: "Apa yang membuatku merasa
sangat kenyang? Makanan mana yang kaya akan lemak dan gula?". Hal ini
adalah jaminan pasti menuju kesengsaraan. Mengapa ia tidak bertanya kepada
dirinya sendiri sebagai gantinya: "Apa yang menyediakan nutrisi sehat
yang diperlukan bagi tubuhku? Makanan ringan apa yang bisa aku konsumsi untuk
memberiku energi? Berapa harga tertinggi yang harus aku bayar jika aku tidak
berhenti melahap makanan?". Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
ini, kamu dapat menghubungkan antara rasa sakit dengan makan berlebihan, dan
dengan begitu kamu akan mengubah perilakumu seketika itu juga.
Bagaimana
Pertanyaan Menjalankan Perannya:
Pertanyaan
mewujudkan tiga hal yang berbeda:
1.
Pertanyaan mengubah apa yang kita fokuskan secara seketika, dan sebagai
konsekuensinya, mengubah apa yang kita rasakan:
Jika
kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang buruk: "Mengapa aku depresi?
Mengapa orang-orang tidak menyukaiku?", maka pertanyaan itu akan
membuatmu fokus pada referensi-referensi negatif dan menyimpulkan bahwa pasti
ada alasan di balik depresimu.
Namun,
jika kamu bertanya: "Bagaimana aku bisa mengubah kondisiku sehingga aku
merasa bahagia dan merasa dicintai?", maka kamu pasti akan fokus pada
solusi, dan kamu akan mendapatkan jawaban-jawaban yang kamu butuhkan serta
layak kamu dapatkan.
Ada
perbedaan besar antara penegasan (afirmasi) dan pertanyaan. Kalimat "Aku
bahagia" berbeda dengan kalimat "Apakah aku bahagia
sekarang?".
Ubahlah
pusat fokusmu dan pikirkanlah momen-momen yang menggairahkan serta berkesan
dalam hidupmu. Jika kamu memikirkannya, maka seketika itu juga perasaan luar
biasa akan melingkupimu. Katakanlah: "Apa kenangan terbaikku yang
paling membahagiakan? Apa hal hebat yang ada di dalam hidupku saat ini?".
Sungguh,
belajar mengajukan pertanyaan yang memberi kekuatan di saat-olah krisis
merupakan sebuah keterampilan yang krusial.
Walt
Disney memiliki metode unik dalam meminta pendapat orang lain. Ia biasa
menyediakan satu dinding penuh untuk memajang proyek yang sedang mereka
kerjakan, naskah, atau ide, dengan ketentuan bahwa setiap orang yang bekerja di
perusahaan tersebut harus menuliskan jawaban atas pertanyaan: "Bagaimana
kita bisa meningkatkan hal ini?". Maka mereka pun memenuhi seluruh
dinding tersebut dengan saran-saran mereka.
2.
Pertanyaan mengubah apa yang kamu eliminasi (abaikan):
Jika
kamu sedang sedih, maka penyebabnya adalah karena kamu mengeliminasi
(menghapus) semua alasan yang memampukanmu untuk mencapai perasaan yang baik.
Sebaliknya, jika kamu merasakan perasaan yang baik, hal ini dikarenakan kamu
mengeliminasi semua hal buruk yang bisa saja kamu fokuskan. Oleh karena itu,
ketika kamu mengarahkan pertanyaan kepada seseorang, kamu sebenarnya sedang
mengubah titik fokusnya sekaligus apa yang ia eliminasi. Jika kamu ditanya: "Apa
hal paling hina dalam hidupmu?", kamu mungkin akan merasa buruk.
Tetapi jika kamu ditanya: "Apa hal paling luar biasa dalam
hidupmu?", kamu mungkin akan mendapati dirimu menikmati perasaan yang
sangat baik seketika itu juga. Oleh karena itu, jika kamu sedang marah, maka
hal terbaik yang bisa kamu tanyakan adalah: "Bagaimana aku bisa belajar
dari masalah ini sehingga ia tidak akan pernah terjadi lagi padaku sama
sekali?".
Apa
yang kamu cari, itulah yang akan kamu temukan.
Jika
aku bertanya kepadamu: "Apa saja benda-benda berwarna cokelat di dalam
ruangan ini?", maka kamu akan mendapati dirimu fokus dan menoleh pada
benda-benda berwarna cokelat saja. Namun jika aku bertanya kepadamu: "Apa
saja benda-benda berwarna hijau di dalam ruangan ini?", maka kamu akan
mendapati dirimu fokus pada segala hal yang berwarna hijau dan kamu akan
melihat lebih banyak warna hijau di hadapanmu.
Kekuatan
Praduga (Presuposisi):
Kata-kata
yang kita pilih, bahkan urutan kata-katanya, dapat mendorong kita untuk tidak
mempertimbangkan hal-hal tertentu, sementara kita menerima hal-hal lainnya
sebagai sesuatu yang sudah semestinya terjadi (taken for granted). Hal
ini disebut sebagai "Kekuatan Praduga" (power of
presupposition), sebuah perkara yang harus kita perhatikan baik-baik.
Sebab, hal ini memprogram kita sedemikian rupa sehingga kita menerima
perkara-perkara yang mungkin benar dan mungkin juga tidak benar, bahkan hal ini
bisa digunakan untuk menyudutkan kita. Jika kamu mengajukan pertanyaan seperti:
"Mengapa aku selalu menyabotase diriku sendiri?", maka otakmu
akan mendatangkan jawaban yang menuruti perkara ini dan memberimu jawaban atas
apa pun yang kamu tanyakan di dalamnya. Sebab, kamu akan menganggap perkara
sabotase diri itu sebagai sesuatu yang sudah pasti terjadi, hal itu dikarenakan
kamu fokus pada "alasan" mengapa kamu melakukannya, bukan pada
"apakah" kamu benar-benar melakukannya.
Sebagai
contoh, pada pemilu presiden Amerika Serikat tahun 1988, kandidat George Bush
mengumumkan pemilihan Dan Quayle sebagai wakilnya. Pihak oposisi lantas
mengajukan pertanyaan kepada masyarakat dalam sebuah jajak pendapat: "Apakah
Anda merasa terganggu bahwa Dan Quayle telah menggunakan pengaruh keluarganya
untuk masuk ke dalam barisan Pengawal Nasional agar ia tidak dikirim ke
Vietnam?". Perkara tersebut merupakan sesuatu yang tidak pernah
terbukti sama sekali, namun masyarakat menjawab jajak pendapat ini seolah-olah
isu ini adalah fakta yang nyata terjadi. Mereka tidak pernah mempertanyakannya
sama sekali, melainkan menerimanya secara otomatis. Oleh karena itu, jangan
sampai kamu jatuh ke dalam perangkap menerima praduga-praduga di sekitarmu,
baik yang kamu asumsikan sendiri maupun yang diasumsikan oleh orang lain.
3.
Pertanyaan mengubah sumber daya yang tersedia bagi kita:
Aku
menemukan bahwa salah satu mitra bisnisku telah melakukan penggelapan dana.
Pertanyaan-pertanyaan yang gagal aku arahkan kepada orang ini ketika aku
mempekerjakannya dahulu adalah hal yang membawaku sampai ke titik ini, dan
nasibku sekarang bergantung pada pertanyaan-pertanyaan baru yang akan aku
ajukan. Semua orang telah memberi tahu aku bahwa satu-satunya pilihan di
hadapanku adalah mengumumkan kebangkrutan, lalu mereka mulai mengajukan
pertanyaan: "Apa yang harus kita jual terlebih dahulu?".
Namun, aku menolak menerima kekalahan dan aku bertekad untuk menemukan jalan
yang memungkinkan perusahaanku bertahan hidup bagaimanapun caranya. Maka aku
mengajukan pertanyaan yang lebih baik: "Bagaimana aku bisa mengubah
perusahaanku secara total dari jalur kemunduran ini?". Aku tahu bahwa
jika aku mengajukan pertanyaan yang lebih baik, aku akan menerima jawaban yang
lebih baik pula. Pertanyaan memainkan peran mendasar dalam dunia bisnis, di
mana ia membuka dunia baru dan memampukan kita mengakses sumber daya yang
sebelumnya tidak kita sadari mungkin tersedia untuk kita.
Presiden
direktur perusahaan Ford mengajukan sebuah pertanyaan yang membawa
perusahaannya berjalan di atas jalur kesuksesan yang gilang-gemilang dan
peningkatan keuntungan. Ia bertanya kepada desainer perusahaannya: "Apakah
kamu menyukai mobil-mobil yang kamu desain sendiri?". Desainer itu
menjawab: "Sebenarnya tidak". Maka ia mengajukan pertanyaan
krusial kepadanya: "Kalau begitu, mengapa kamu tidak mengabaikan saja
pihak manajemen dan mendesain sebuah mobil yang kamu sendiri ingin
memilikinya?". Desainer tersebut menyambutnya dan mendesain
mobil-mobil yang meraih kekaguman semua orang, yang mana mewujudkan kesuksesan
besar bagi perusahaan.
Waspadalah
dari mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terbatas, karena jika tidak, kamu
akan menerima jawaban yang terbatas pula. Satu-satunya hal yang membatasi
pertanyaan-pertanyaanmu adalah keyakinanmu seputar apa yang mungkin terjadi.
Ciptakanlah pertanyaan yang lebih baik, maka kamu akan menerima jawaban yang
lebih baik.
Kuncinya
adalah mengembangkan pola pertanyaan terus-menerus yang memberimu kekuatan.
Masalahnya bukanlah bahwa kamu akan menghadapi kesulitan, melainkan bagaimana
kamu akan menyikapinya ketika kamu menghadapinya.
Berikut
adalah lima pertanyaan yang saya gunakan untuk jenis masalah apa pun yang
muncul di hadapan Anda, yang mana pertanyaan-pertanyaan ini pasti akan mengubah
hidup Anda. (Sebagai contoh: masalah ketika saya baru kembali dari perjalanan
bisnis dan mendapati bahwa saya harus membalas 120 panggilan dan pesan yang
masuk dari para klien saya):
- Apa hal yang penting di
dalam masalah ini? (Jawabannya: Yaitu bahwa sekarang saya memiliki
lebih dari 100 klien yang berinteraksi dengan saya, padahal bertahun-tahun
lalu saya sangat berharap jumlah mereka bisa mencapai 20 orang). Maka saya
pun menertawakan diri saya sendiri, merasa bersyukur, dan mematahkan pola
stres saya.
- Apa hal yang belum
mencapai tingkat kesempurnaan? (Di sini terdapat praduga bahwa segala
urusan pada akhirnya akan mencapai tingkat kesempurnaan, dan hal ini
mengembalikan rasa percaya diri Anda).
- Apa hal yang siap saya
lakukan untuk mengubah masalah ini ke arah jalur yang saya inginkan?
- Apa hal yang siap untuk
tidak saya lakukan agar segala urusan berjalan sesuai dengan apa yang saya
inginkan? (Jawabannya: Meratapi nasibku dan mengeluh).
- Bagaimana saya bisa
menikmati proses ini sementara saya sedang melakukan apa yang diperlukan
agar segala urusan berjalan dengan baik? (Jawabannya: Menikmati mandi
air hangat sementara saya melakukan panggilan-panggilan telepon saya).
Pertanyaan-Pertanyaan
yang Memberimu Kekuatan di Pagi Hari:
Pertanyaan-pertanyaan
ini mewujudkan lebih banyak perasaan bahagia, antusiasme, kebanggaan, rasa
syukur, kegembiraan, komitmen, dan cinta bagi dirimu, serta menciptakan
kualitas hidup yang lebih baik:
- Apa sumber kebahagiaanku di
dalam hidup saat ini?
- Apa yang membuatku merasa
antusias/bersemangat di dalam hidupku saat ini?
- Apa yang membangkitkan rasa
bangga di dalam diriku saat ini?
- Apa yang membangkitkan rasa
syukur di dalam diriku saat ini?
- Apa yang paling aku nikmati
melebihi apa pun di dalam hidupku saat ini?
- Apa yang menjadi komitmenku
di dalam hidupku saat ini?
- Siapa yang aku cintai? Dan
siapa orang yang mencintaiku?
Pertanyaan-Pertanyaan
yang Memberimu Kekuatan di Malam Hari:
- Apa yang telah aku berikan
hari ini (Kontribusi/Kedermawanan)?
- Apa yang telah aku pelajari
hari ini?
- Bagaimana hari ini memberikan
nilai tambah bagi kualitas hidupku? Dan bagaimana aku bisa menggunakannya
sebagai investasi bagi masa depan bisnis/pekerjaanku?
Ajukanlah
pertanyaan-pertanyaan ini secara rutin, niscaya mereka akan memberimu kekuatan.
Anugerah
dari Hadiah Mengajukan Pertanyaan:
Sahabatku
menerima pukulan yang sangat telak; mitranya di kantor hukum cabang New York
tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. Ia pun terus mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang salah: "Bagaimana bisa mitraku
meninggalkanku dengan cara seperti ini dan menghancurkan hidupku?"
Maka
aku memutuskan untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Ia sempat
berkata: "Aku rasa tidak ada satu pun yang bisa membantuku saat
ini...". Namun, aku tetap mengajukan pertanyaan-pertanyaan pagi
kepadanya dan menanyakan beberapa masalah yang sedang dihadapinya, lalu aku
berkata kepadanya: "Apa hal yang membuatmu bahagia saat ini?".
Ia menjawab: "Tidak ada". Lalu aku bertanya: "Apa hal
yang 'bisa' membuatmu bahagia saat ini?". Ia menjawab: "Aku
bahagia atas hubunganku dengan istriku," lalu ia mulai menceritakan
tentang istrinya dengan penuh kebahagiaan. (Di sini, aku telah berhasil
mengalihkan pikirannya dari apa yang mengusik ketenangannya, mematahkan pola
stresnya, dan membantunya berpindah ke kondisi yang lebih baik. Dengan
demikian, ia akan berada dalam kondisi emosional dan lingkungan yang lebih
baik, sehingga ia akan menemukan metode-metode yang lebih baik dalam menyikapi
tantangan yang sedang dihadapinya).
Kemudian
aku bertanya kepadanya: "Apa lagi yang membuatmu bahagia?". Ia
menjawab bahwa ia baru saja menandatangani kontrak untuk buku pertamanya, dan
bahwa ia seharusya merasa bangga, namun saat ini ia tidak merasakannya. Aku
berkata kepadanya: "Jika kamu merasakan kebanggaan itu, akan seperti
apa perasaanmu dalam kondisi tersebut?". Sontak, kondisi tubuh dan
emosinya mulai berubah seketika itu juga. Aku bertanya lagi: "Apa hal
yang membuatmu merasa bangga?". Ia menjawab: "Keberhasilan
anak-anakku...". Aku bertanya: "Bagaimana perasaanmu ketika
menyadari bahwa kamu telah mewujudkan semua pengaruh besar ini?". Ia
menjawab: "Merasa bersyukur...". (Dan tiba-tiba saja, manusia
yang tadinya sempat pasrah dan yakin bahwa hidupnya telah berakhir itu kembali
hidup).
Lalu
aku bertanya kepadanya: "Apa yang mendorongmu untuk merasa
bersyukur?". Ia menjawab bahwa dahulu ia hanyalah seorang pengacara
muda yang merintis segalanya dari nol (self-made), namun ia berhasil
mengubah jalan hidupnya menuju kesuksesan yang sangat besar. Aku berkata lagi: "Apa
hal yang kamu rasakan telah membangkitkan antusiasme di dalam dirimu?".
Ia menjawab: "Apa yang membuatku antusias saat ini sebenarnya adalah
bahwa di hadapanku ada kesempatan untuk mengubah keadaan pada momen ini
juga". (Dan ini adalah kali pertama ia memikirkan perkara tersebut,
yang mana merupakan hasil dari perubahan kondisi emosionalnya).
Aku
bertanya kepadanya: "Siapa yang kamu cintai dan siapa yang
mencintaimu?". Ia menjawab: "Istriku, anak-anakku, dan para
kerabatku". Lalu aku mengajukan pertanyaan pamungkas: "Apa hal
luar biasa di balik fakta bahwa mitramu akan meninggalkanmu?". Ia
menjawab: "Karena aku tidak perlu lagi terpaksa harus pergi ke New York
jauh-jauh dari rumahku...". Setelah itu, ia mulai berbicara tentang
serangkaian peluang, lalu memutuskan dengan penuh tekad untuk mendirikan kantor
hukum di dekat rumahnya dan membiarkan mesin penjawab telepon saja yang bekerja
di New York. Ia pun mulai merasa sangat antusias.
Sungguh,
ia selalu memiliki sumber daya yang memampukannya untuk menyikapi tantangan
yang ia hadapi. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan yang merampas kekuatan diri
yang ia ajukan sebelumnya telah membuat kekuatannya sendiri menjadi sulit untuk
dijangkau.
Seseorang
pernah mengadukan kemiskinannya kepada salah seorang tokoh sufi besar. Tokoh
sufi itu bertanya kepadanya: "Apakah kamu mau jika aku mencopot kedua
matamu, lalu sebagai gantinya aku memberimu uang seratus ribu?". Ia
menjawab: "Tidak". Sufi itu bertanya lagi: "Apakah
kamu mau jika aku memotong kedua kakimu, lalu sebagai gantinya aku memberimu
uang seratus ribu?". Ia menjawab: "Tidak". Tokoh sufi
tersebut terus menghitung satu demi satu nikmat Allah Ta'ala kepadanya sembari
menawarkan opsi pencabutan nikmat tersebut, sementara orang itu selalu
menjawab: "Tidak". Maka tokoh sufi itu berkata: "Lalu
bagaimana bisa kamu mendaku dirimu miskin, padahal kamu memiliki uang sekian
dan sekian ratus ribu (di dalam tubuhmu)?"
Dan
ketika kaki Urwah bin Al-Zubair harus diamputasi, dan pada saat yang bersamaan
anak laki-lakinya jatuh dari atap rumah hingga meninggal dunia, begitu ia
mengetahui hal tersebut, ia langsung berkata: "Ya Allah, bagi-Mu segala
puji. Jika Engkau telah mengambil, maka sesungguhnya Engkau pun telah banyak
memberi."
Masalah
Takdir / Garis Hidup:
Seorang
penulis besar bercerita bahwa ayahnya setiap hari selalu mengajukan pertanyaan
kepadanya: "Apa yang telah kamu pelajari hari ini, wahai anakku?",
dan ia wajib memberikan jawabannya. Pola ini melekat hingga sekarang, di mana
ia tidak akan pergi ke tempat tidur pada hari apa pun sebelum ia mempelajari
sesuatu yang baru dan bernilai. Dengan demikian, ia merangsang akalnya secara
terus-menerus.
Di
antara pertanyaan paling bermanfaat saat menghadapi tantangan apa pun adalah: "Apa
hal yang luar biasa di dalam perkara ini? (makna positif yang kuat)"
dan "Bagaimana aku bisa menggunakan hal ini?". Selain itu, ada
juga pertanyaan-pertanyaan penting seperti: "Apa tujuan sejati dari
hidupku? Mengapa aku ada di sini? Dan siapakah aku?". Jawaban
emosional pertama yang kamu dapatkan sering kali merupakan jawaban yang harus
kamu percayai dan kamu jadikan dasar dalam bertindak. Kendati demikian, ada
satu titik di mana kamu harus berhenti mengajukan pertanyaan dan mulai
melangkah bekerja demi mewujudkan kemajuan nyata.
Ekspresi
Kesuksesan Mutakhir:
Sebagian
besar keyakinan terbentuk dari kata-kata, dan kata-kata pulalah yang mengubah
keyakinan tersebut. Para pemimpin besar telah menggunakan kata-kata untuk
mengubah emosi kita dan meyakinkan kita untuk mengadopsi suatu ide. Setiap
bangsa memiliki kata-katanya yang abadi. Namun, hanya sedikit orang yang
menyadari seberapa besar kekuatan kita ketika kita menggunakan kata-kata untuk
memancarkan antusiasme di dalam jiwa kita, kekuatan di dalam tubuh kita, serta
mendorong diri kita untuk bekerja dan meraih kesuksesan.
Ketika
kekalahan hampir menimpa barisan kaum muslimin dalam pertempuran di "Kebun
Maut" (Perang Yamamah), Khalid bin Al-Walid radiyallahu 'anhu
berseru: "Berpisahlah kalian sesuai kelompok masing-masing, wahai
manusia, agar kita mengetahui dari arah mana kelengahan kita dimasuki!".
Ketika setiap kabilah telah memisahkan diri menjadi kelompok tersendiri, mereka
sangat menjaga diri agar tidak memalukan kelompoknya, sehingga mereka bertempur
dengan sengit hingga akhirnya kemenangan pun terwujud setelahnya.
Dan
ketika kaum muslimin hampir saja terpukul mundur di hadapan pasukan Tartar
(Mongol) dalam pertempuran Ain Jalut, sang panglima, Saifuddin Qutuz, berteriak
dengan suara tertingginya: "Waa Islamah! (Wahai Islamku!)".
Seolah-olah kaum muslimin tersengat oleh sesuatu, gairah pembelaan terhadap
Islam seketika membakar mereka, dan mereka bertempur dengan gagah berani hingga
menorehkan kemenangan yang sangat besar atas pasukan Tartar.
Sesungguhnya
kata-kata yang kita pilih berdasarkan kebiasaan akan memengaruhi cara kita
berkomunikasi dengan diri kita sendiri, dan sebagai konsekuensinya, memengaruhi
apa yang kita alami dan rasakan. Orang-orang yang menggunakan kosakata yang
miskin akan menjalani kehidupan emosional yang miskin pula, berbeda halnya
dengan mereka yang menggunakan kosakata yang kaya. Seorang suami yang memilih
kata-kata paling baik untuk menyapa istrinya akan menjalani kehidupan yang
lebih baik daripada suami yang minim kata-kata indah kepada istrinya; demikian
pula halnya dengan anak-anak. Anda dapat menerapkan hal ini di tempat kerja
bersama rekan-rekan sejawat atau dengan orang-orang yang bekerja di bawah
arahan Anda. Oleh karena itu, kita harus mengevaluasi dan meningkatkan kamus
kata yang kita gunakan secara sadar guna memastikan bahwa kamus ini menuntun
kita ke arah yang kita inginkan.
Penggunaan
kata-kata yang bermuatan emosional positif dapat mengubah kondisi Anda atau
kondisi orang lain secara ajaib.
Hanya
dengan mengubah kamus harian Anda yang biasa digunakan untuk menggambarkan
emosi yang Anda rasakan di dalam hidup, Anda dapat mengubah cara berpikir, cara
merasa, dan cara hidup Anda pada momen itu juga.
Di
tengah-tengah rapat bisnis perusahaan antara Direktur Eksekutif (CEO) dengan
seorang mitra kami, aku memaparkan fakta-fakta mengenai kondisi perusahaan.
Tiba-tiba sang Direktur naik pitam, marah besar, dan mengekspresikan
perasaannya dengan kata-kata yang kuat seperti: "Aku sangat murka dan
jengkel!", serta kemarahan yang luar biasa tampak jelas pada dirinya.
Sementara itu, mitraku mampu mengendalikan emosinya dan merespons situasi
tersebut tanpa rasa panik, ia hanya berkata bahwa dirinya "sedikit
terganggu". Sang Direktur menafsirkan sikapnya bahwa jika ia marah,
maka ia akan menjadi lebih kuat, mampu mengendalikan situasi, dan dapat
membalikkan arah keadaan. Sedangkan sang mitra berkata: "Jika aku
panik/marah, maka aku akan kehilangan kendali atas diriku sendiri".
Jika kita membandingkan keduanya, kita duga salah satu dari mereka
menghubungkan kepuasan mengendalikan situasi dengan kemarahan, sedangkan yang
lain menghubungkan kemarahan dengan rasa sakit akibat kehilangan kendali.
Perilaku masing-masing dari mereka mencerminkan keyakinan khususnya sendiri.
Tidaklah
penting bagiku untuk marah agar bisa menyikapi berbagai hal, melainkan aku bisa
tetap memiliki efektivitas yang sama sekalipun aku berada di puncak
kebahagiaan. Rasulullah ﷺ
bersabda: "Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat,
tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika
marah." Dan Umar bin Al-Khattab radiyallahu 'anhu berkata: "Tidak
ada satu tegukan yang ditelan oleh seorang hamba yang lebih baik daripada
tegukan amarah (yang mampu ia tahan)." [^1]
Sang
mitra mengekspresikan perasaannya dengan kata bahwa ia "sedikit
terganggu" atau terusik olehmu. Aku mulai bertanya-tanya: "Jika
aku menggunakan kata ini untuk menggambarkan emosiku, bagaimana aku akan
merasakannya? Apakah aku akan mendapati diriku tersenyum dalam situasi yang
sebelumnya sempat memengaruhiku?". Aku pun mencoba menggunakan
kata-kata baru, dan aku menemukan bahwa mengucapkan kata-kata tersebut terbukti
meredakan intensitas emosiku dan dampaknya seketika itu juga.
Perubahan
lafal inilah yang aku sebut dengan "Kamus Transformasional".
Kita harus memilih secara sadar kata-kata yang kita gunakan untuk menggambarkan
kondisi emosional kita, jika tidak, kita akan menderita akibat menciptakan rasa
sakit yang lebih besar daripada apa yang semestinya atau pantas bagi situasi
tersebut.
Tiga
orang bisa saja mengalami pengalaman yang sama persis, namun salah satu dari
mereka merasa murka, yang kedua merasa marah, dan yang ketiga hanya merasa
terganggu.
Kamus
transformasional memampukan kita untuk memperkuat atau memperlemah kondisi
emosional apa pun.
Jika
ada sekelompok kata yang biasa Anda gunakan ternyata menciptakan kondisi yang
merampas kekuatan diri Anda, maka Anda wajib menyingkirkan kata-kata ini dan
menggantinya dengan kata-kata yang memberi Anda kekuatan.
Dahulu
aku dan istriku sama-sama memiliki sifat emosional yang reaktif. Di awal
pernikahan kami, sering terjadi di antara kami apa yang kami sebut dengan (konfrontasi
sengit). Namun setelah itu, kami memutuskan untuk menamai obrolan-obrolan
tersebut dengan istilah (diskusi aktif). Hal ini terbukti mengubah
perspektif kami terhadap obrolan-obrolan tersebut.
Anda
Dapat Menggunakan Kamus Transformasional untuk Membantu Orang Lain:
Seorang
sahabat berbicara kepadaku menggambarkan betapa ia merasa depresi. Ia
menggunakan kata "depresi" dan "tertekan" sebanyak sepuluh
kali selama dua puluh menit. Maka aku berkata kepadanya: "Berjanjilah
kepadaku untuk tidak menggunakan kata ini sama sekali selama sepuluh hari ke
depan. Gantilah ia dengan kalimat: 'Suasana hatiku sedang sedikit
menyimpang/kurang pas', atau: 'Aku merasa sedang menuju kondisi yang lebih
baik', atau 'Aku sedang mengubah kondisiku'". Sejak saat itu, ia tidak
pernah lagi merasa depresi, karena ia tidak lagi menggunakan kata tersebut
untuk menggambarkan kondisinya. Oleh karena itu, sudah semestinya kita
mendoakan orang yang sakit dan menguatkannya, alih-alih mengingatkannya akan
penyakit dan kelemahannya.
Menggunakan
kamus transformasional adalah proses yang sangat mudah lagi sederhana, namun ia
langsung meningkatkan kualitas hidup Anda seketika itu juga.
Sebuah
perusahaan kargo menemukan fakta bahwa 60% dari kontrak pengiriman yang mereka
lakukan mengalami kesalahan. Hal itu disebabkan oleh kekeliruan para pekerja
dalam menentukan kontainer yang tepat untuk mengangkut barang, yang mana
merugikan perusahaan jutaan dolar setiap tahunnya. Mereka menemukan bahwa cara
terbaik untuk mengubah tingkat komitmen terhadap kualitas dari para pekerja
adalah dengan cara mengubah cara pandang para pekerja tersebut terhadap diri
mereka sendiri. Alih-alih menggunakan sebutan (buruh atau sopir truk),
para pekerja ini mulai menyandang nama (profesional ahli). Hasilnya,
persentase kesalahan pun menurun drastis. Nabi ﷺ dahulu juga suka mengubah nama-nama yang
memiliki makna yang keras seperti Shakhr (batu keras), Kilab
(anjing-anjing), dan Harb (perang), dan menggantinya dengan nama-nama
yang lebih baik seperti Abdurrahman, Ali, atau Sahl
(kemudahan).
Tuliskan
3 kata yang biasa Anda gunakan yang mana kata tersebut menciptakan perasaan
negatif di dalam hidup Anda. Kemudian, tuliskan daftar kata alternatif
penggantinya yang dapat mematahkan pola stres Anda dengan cara memicu Anda
untuk tertawa karena kata tersebut sangat lucu, atau setidaknya memiliki
intensitas yang jauh lebih rendah.
Kemudian
Terapkan Langkah-Langkah Pengondisian Saraf yang Saling Berhubungan
(Neuro-Association):
- Putuskan bahwa Anda
berkomitmen untuk mendapatkan lebih banyak kesenangan di dalam hidup dan
jauh lebih sedikit rasa sakit.
- Dapatkan daya dorong bagi
diri Anda sendiri untuk menggunakan kata-kata baru ini. Sebagai contoh:
Pikirkanlah betapa lucunya Anda sampai harus mengamuk hebat, padahal Anda
memiliki pilihan untuk merasakan perasaan yang baik.
Penggunaan
kamus transformasional tidak hanya terbatas pada meredakan intensitas hal-hal
negatif saja, melainkan ia juga memberikan kita kesempatan untuk memperkuat
pengalaman kita dari emosi-emosi positif. Ketika seseorang bertanya kepadamu: "Bagaimana
kabarmu?", jangan katakan kepadanya: "Biasa saja",
jangan pula katakan: "Lumayan" atau "Setengah-setengah",
melainkan katakanlah kepadanya: "Aku merasa berada dalam kondisi
terbaik!". Meskipun hal ini tampak seperti penyederhanaan, namun ia
menciptakan pola baru yang luas di dalam sistem saraf Anda yang akan
mengantarkan Anda pada kesenangan.
Apa
yang Diucapkan dan Dilakukan oleh Nabi ﷺ Ketika Berada di Sisi Orang Sakit:
Al-Bukhari
mengeluarkan di dalam kitab Al-Adab al-Mufrad (hlm. 79) dari Ibnu Abbas radiyallahu
'anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ
apabila menjenguk orang sakit, beliau duduk di dekat kepalanya kemudian
mengucapkan sebanyak tujuh kali:
أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ
الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ
(Aku
memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan Arsy Yang Maha Agung, agar
menyembuhkanmu). Jika ajalnya masih ditangguhkan, maka ia akan disembuhkan
dari rasa sakitnya.
Ibnu
Abi Shaibah mengeluarkan dari Ali radiyallahu 'anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
apabila masuk menemui orang sakit, beliau mengucapkan:
أَذْهِبِ الْبَأسَ رَبَّ النَّاسِ
وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ
(Hilangkanlah
penyakit ini, wahai Tuhan manusia, dan sembuhkanlah, Engkau-lah Maha Penyembuh,
tidak ada penyembuh kecuali Engkau). Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan
Al-Tirmidzi—ia berkata: hadis hasan gharib—serta Al-Dawraqi dan Ibnu Jarir, dan
ia mensahihkannya dengan lafal:
لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ
شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
(Tidak
ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan
rasa sakit sedikit pun). Demikian yang termaktub di dalam Kanz al-Ummal
(5/50).
Di
sisi Ibnu Mardawaih dan Abu Ali al-Haddad di dalam kitab Mu'jam-nya dari
Ali radiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ apabila menjenguk orang sakit, beliau
meletakkan tangan kanannya di atas pipi kanan orang sakit tersebut lalu
mengucapkan: "Tidak apa-apa, hilangkanlah penyakit ini wahai Tuhan
manusia, sembuhkanlah Engkau-lah Maha Penyembuh, tidak ada yang dapat
menyingkap kemudaratan kecuali Engkau."
Di
sisi Ibnu Abi Shaibah dari Anas radiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ apabila masuk menemui
orang sakit, beliau mengucapkan: "Hilangkanlah penyakit ini wahai Tuhan
manusia, dan sembuhkanlah Engkau-lah Maha Penyembuh, kesembuhan yang tidak
meninggalkan rasa sakit sedikit pun." Demikian yang termaktub di dalam
Kanz al-Ummal (5/51).
Abu
Ya'la mengeluarkan dari Aisyah radiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah
ﷺ apabila menjenguk
orang sakit, beliau meletakkan tangannya pada tempat yang terasa sakit kemudian
mengucapkan: "Bismillah, tidak apa-apa." Al-Haitsami berkata
(2/299): Para perawinya adalah orang-orang yang tepercaya (tsiqah).
Al-Thabarani mengeluarkan di dalam kitab Al-Mu'jam
al-Kabir dari Salman radiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ masuk menemuiku untuk
menjengukku, maka ketika beliau hendak keluar, beliau bersabda: "Wahai
Salman, semoga Allah menyingkap kemudaratanmu, mengampuni dosamu, dan
memberikan keafiatan pada agamamu serta jasadmu hingga ajalmu." Di
dalam sanadnya terdapat Amru bin Khalid al-Qurasyi dan ia adalah perawi yang
lemah, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami (2/299).
Kurangilah
Intensitas Cara Anda Menyikapi Rasa Sakit Bersama Orang Lain:
Pola
bahasa yang biasa aku gunakan dapat memicu reaksi pada diri orang yang berada
di hadapanku, meskipun hal itu terjadi tanpa ada maksud sengaja dariku. Sebagai
contoh, aku bisa mengatakan: (Aku sebenarnya 'sedikit tertarik' mengenai
suatu urusan.. apakah Anda bisa membantuku?), hal itu sebagai pengganti
dari ucapanku: (Aku 'cemas'..). Sebab kata "cemas" memberikan
kesan akan ketidakpencayaanmu terhadap kemampuan orang tersebut. Selain itu,
penambahan kata "sedikit" dapat meredakan intensitas pesan tersebut
dalam kadar yang besar, sekaligus meningkatkan level komunikasiku dengannya.
Anak-anak
maupun orang dewasa sering kali memasukkan berbagai hal ke dalam hati (personal).
Oleh karena itu, kita harus sensitif terhadap konsekuensi-konsekuensi yang
mungkin timbul dari ekspresi yang keluar dari kita tanpa dipikirkan terlebih
dahulu. Alih-alih kita terburu-buru mengatakan dengan tidak sabar: (Betapa
bodohnya kamu!) atau (Betapa bebalnya kamu!), karena hal ini akan
menimbulkan dampak yang buruk pada perasaan anak terhadap harga diri
personalnya, maka aku harus mematahkan polaku dengan mengatakan misalnya: (Aku
mulai merasa kurang nyaman dengan perilakumu). Hal ini memampukan
masing-masing dari kita untuk masuk ke dalam kondisi yang lebih baik yang
membuat kita bisa menyampaikan perasaan dan keinginan kita secara cerdas. Di
samping itu, hal ini mengirimkan pesan kepada anak bahwa tantangan tersebut
tidak ditujukan kepada dirinya sebagai person, melainkan terhadap perilakunya,
yang mana perilaku itu adalah sesuatu yang bisa diubah. Dan inilah fondasi bagi
terwujudnya komunikasi yang lebih kuat dan positif antara dua orang.
Kita
harus mampu mematahkan pola kebiasaan yang buruk, jika tidak, kamu mungkin akan
mengatakan hal-hal yang akan kamu sesali di kemudian hari dan berujung pada
hancurnya hubungan. Dalam kondisi marah, kamu bisa saja mengucapkan hal-hal
yang melukai perasaan orang lain dan mendorongnya untuk membalas ucapanmu, atau
ia merasa sangat tersakiti sekira ia tidak akan pernah mau terbuka lagi
kepadamu selamanya.
Aku
tidak memintamu untuk menjalani kehidupan yang hampa dari perasaan dan emosi
negatif, karena ada situasi-situasi di mana emosi tersebut tampak sangat
penting. Namun, tujuan kita adalah agar kita senantiasa merasakan sesedikit
mungkin rasa sakit di dalam hidup kita dan sebanyak mungkin kesenangan yang
bisa diraih. Dan jalan kita yang mudah lagi kuat untuk itu adalah dengan
menguasai kamus transformasional.
Kata-kata
yang Anda gunakan akan membuahkan dampak biokimiawi yang kuat di dalam tubuh.
Maka dari itu, marilah kita waspada dan berhati-hati terhadap penamaan
(istilah). Karena begitu sebuah nama dilekatkan pada sesuatu, kita sebenarnya
sedang menciptakan emosi yang selaras dengan nama tersebut. Pada saat sebuah
penyakit didiagnosis (yaitu peletakan sebuah nama atas gejala-gejala yang
dikeluhkan oleh pasien.. seperti kanker atau penyakit jantung..), maka kondisi
pasien biasanya mulai memburuk, yang mana hal itu memicu perasaan panik,
perasaan bahwa mereka sudah tidak memiliki harapan lagi, serta perasaan
depresi. Hal ini tentu memengaruhi efektivitas sistem kekebalan tubuh (sistem
imun) di dalam jasad mereka.
Kata-kata
dapat menyembuhkan penyakit, sebagaimana ia juga dapat membunuh.
Jika
para pasien dapat dibebaskan dari depresi yang diakibatkan oleh
penamaan/istilah penyakit ini, maka sistem kekebalan tubuh akan aktif kembali.
Oleh karena itu, para dokter yang memiliki kebijaksanaan akan sangat
berhati-hati dalam cara mereka berkomunikasi dengan pasien.
Anda
dapat menguji kosakata kamus transformasional ini pada diri Anda sendiri untuk
melihat apa yang akan terjadi.
Anda
dapat meredakan intensitas emosional Anda; alih-alih Anda mengatakan: (Aku
hampir mati kelaparan), Anda bisa mengatakan: (Aku sedikit lapar).
Hal ini akan mengurangi nafsu makan Anda dalam beberapa momen.
Dan
alih-alih ucapan Anda: (Aku akan mengalami depresi berat / breakdown),
katakanlah: (..Aku tidak sedang hancur, melainkan kemampuan-kemampuanku
sedang dinonaktifkan sementara). Hanya dengan mengubah penamaan yang Anda
lekatkan pada proses ini, kondisi emosional Anda akan berubah total, dan dengan
demikian Anda telah mengubah realitasnya.
Inilah
kesempatan Anda. Pegang kendali urusan Anda. Perhatikan kata-kata yang biasa
Anda gunakan dan gantilah ia dengan kata lain yang memberimu kekuatan, sekira
ia dapat menaikkan atau menurunkan kondisi emosional Anda sebagaimana yang
sesuai dengan situasi yang ada, dan pastikan komitmen Anda.
Sungguh,
Islam telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap tema perkataan dan
metode penyampaiannya. Hal itu dikarenakan perkataan yang bersumber dari
seorang manusia menunjukkan isi dan karakter akalnya serta memengaruhi zat
jiwanya sendiri. Oleh karena itu, Islam mendorong kita untuk memperbagus ucapan
dan memilih kata-kata yang terbaik. Allah Ta'ala berfirman:
لَّا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن
نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ
النَّاسِ
Tidak
ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali dari pembicaraan
rahasia orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf,
atau mengadakan perdamaian di antara manusia. [Surah An-Nisa': Ayat 114].
Sesungguhnya
cara-cara berbicara di dalam suatu kelompok masyarakat menjadi tolok ukur yang
menghakimi tingkat kemajuan umum mereka dan seberapa jauh kebajikan telah
meresap di dalam lingkungan mereka. Islam melarang melontarkan perkataan tanpa
dipikirkan matang-matang dan menganggapnya sebagai perbuatan sia-sia (laghu),
serta menjadikan sikap menjauhkan diri darinya sebagai salah satu sifat
orang-orang mukmin. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ
مُعْرِضُونَ
Dan
orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada
berguna. [Surah Al-Mu'minun: Ayat 3]. Jika seorang manusia berbicara,
hendaklah ia mengucapkan kebaikan dan membiasakan lidahnya dengan perkataan
yang indah lagi bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Serta
ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. [Surah Al-Baqarah: Ayat 83].
Aktivasi
Praktis dari Fakta-Fakta Tema dan Nilai-Nilainya Melalui Aktivitas-Aktivitas
Berikut:
Pertama:
Aktivitas Pendamping (Asosiatif):
- Berbicara di hadapan
teman-teman sejawatnya tentang dampak pertanyaan dan metode penyajiannya
dalam mencapai jawaban-jawaban yang benar.
- Menceritakan suatu situasi di
mana ia berhasil membantu salah seorang sahabatnya dan mengeluarkannya
dari krisis dengan menggunakan kata-kata yang baik (kalimah thayyibah).
- Memaparkan di hadapan
teman-teman sejawatnya tentang lafal-lafal yang menyebabkan frustrasi pada
dirinya, lalu menggantinya dengan lafal-lafal yang meningkatkan rasa
percaya diri.
- Menggunakan sejumlah
pertanyaan terarah yang membantu dirinya dan teman-teman sejawatnya untuk
melewati berbagai kesulitan.
Kedua:
Aktivitas Pendukung:
- Menuliskan daftar pertanyaan
yang memberinya kekuatan pada waktu pagi dan malam hari dengan meminta
bantuan dari elemen-elemen tema materi.
- Mencatat sejumlah kata yang
menciptakan perasaan negatif pada dirinya, seperti frustrasi dan lain
sebagainya.
- Mencatat sejumlah kata yang
meningkatkan rasa percaya diri dan memberinya optimisme.
- Membuat sebuah kamus khusus
milik sendiri untuk mengubah lafal-lafal negatif menjadi lafal-lafal
positif.
- Menyampaikan sebuah kuliah
tentang nilai kata yang baik (kalimah thayyibah) dan dampaknya di
dalam jiwa dengan bersandar pada sabda-sabda Rasulullah ﷺ dan sikap-sikap
beliau.
- Mendokumentasikan di dalam
agenda khususnya beberapa pertanyaan yang dengannya ia dapat membantu
orang lain, serta kata-kata yang diperlukan untuk meningkatkan moral dan
mewujudkan rasa percaya diri.
- Mengadakan lokakarya (workshop)
seputar penentuan pertanyaan dan jawaban untuk sarana pelatihan.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri:
Pertama:
Pertanyaan Esai:
- Kata yang baik memiliki
dampak yang sangat mendalam dalam memancarkan aktivitas dan
antusiasme—buktikanlah hal tersebut!
- Sebutkan contoh-contoh dari
penggunaan kata yang baik oleh Nabi ﷺ untuk
meningkatkan moral dan semangat!
- Pertanyaan mewujudkan tiga
hal yang berbeda, maka apa saja tiga hal tersebut?
- (Belajar mengajukan
pertanyaan yang memberi kekuatan di saat-saat krisis merupakan sebuah
kemampuan yang krusial)—jelaskanlah hal tersebut!
- Sebutkan suatu situasi di
mana Anda berhasil memberikan sebuah pertanyaan kepada sahabat Anda yang
mana pertanyaan itu mengeluarkannya dari masalah yang dideritanya!
- Terangkan hubungan antara
kata dengan keyakinan!
- Apa yang dimaksud dengan
kamus transformasional? Dan apa manfaatnya?
- Bagaimana cara menggunakan
kamus transformasional?
- Tuliskan tiga kata
alternatif untuk kata-kata yang menyebabkan perasaan negatif di dalam
hidup Anda!
- Tuliskan tiga kata
alternatif dari kata-kata sebelumnya yang dapat mematahkan pola stres Anda
dan meningkatkan moral Anda!
- Anda merasa bahwa Anda
sedang menderita masalah obesitas (kegemukan), maka apa saja
pertanyaan-pertanyaan yang dapat Anda arahkan kepada diri Anda sendiri
untuk mengatasi masalah tersebut, alih-alih Anda meratapi nasib Anda?
Kedua:
Pertanyaan Objektif:
- Lengkapilah titik-titik
di bawah ini berdasarkan pemahaman Anda terhadap tema:
- Yang dimaksud dengan
kekuatan praduga (presuposisi) adalah .................
- Kamus transformasional
bermanfaat bagi kita dalam hal .................
- Pilihlah ekspresi yang
paling akurat dan paling menegaskan makna pada kalimat di bawah ini:
- “Aku bahagia”
...... “Aku bahagia karena aku .................”
- Berilah tanda (V) atau
tanda (X) di depan pernyataan yang sesuai di bawah ini:
- Al-Qur'an al-Karim
mengobati depresi dengan cara menganjurkan untuk berzikir mengingat
Allah.
- Islam memberikan
perhatian untuk memilih perkataan terbaik demi menjaga keselamatan hati
dan kenyamanan jiwa.
- Pertanyaan hanya memiliki
peran yang lemah dalam mengubah arah berpikir dan kondisi psikologis.
Catatan
Kaki Teks Asli:
[^1]:
Kanz al-Ummal (2/161).
Comments
Post a Comment