Pasal 8: Pertanyaan Itu Adalah Jawaban

BAB DELAPAN: PERTANYAAN DAN JAWABAN

Tujuan Umum:

  1. Memahami pentingnya pertanyaan dan jawaban dalam mengubah arah perasaan dan pikiran.
  2. Mengenal metode-metode mengajukan pertanyaan yang positif.
  3. Melalui aktivitas pendamping dan pendukung, berlatih memanfaatkan pertanyaan dan jawaban dengan cara yang konstruktif dan mendorong kemajuan.

Tujuan Perilaku Instruksional Tema:

Setelah selesainya proses pembelajaran tema ini, peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan hal-hal berikut:

Pertama: Tujuan Kognitif:

  1. Menyebutkan contoh-contoh dari kehidupan kontemporer mengenai kekuatan kata dalam mengubah keadaan.
  2. Menjelaskan beserta contoh empat cara manusia dalam menyikapi emosi.
  3. Menentukan langkah-langkah keunggulan emosional disertai penyebutan contoh.
  4. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan sepuluh sinyal tindakan disertai penyebutan contoh.
  5. Menerangkan apa yang membentuk kehidupan dan menentukan hakikat jati diri.
  6. Menghubungkan antara metode mengajukan pertanyaan dengan kesuksesan yang dicapainya.
  7. Mengorganisasi kembali caranya dalam mengarahkan pertanyaan kepada diri sendiri atau menyajikannya kepada orang-orang di sekitarnya.
  8. Menciptakan metode baru untuk menyajikan pertanyaan dan menyampaikannya dalam bentuk yang membantu memicu optimisme.
  9. Membuktikan pentingnya kata dalam membentuk atau mengubah keyakinan.
  10. Menggunakan kamus transformasional kata-kata yang menyebabkan perasaan negatif dalam segala urusan kehidupannya.

Kedua: Tujuan Afektif (Sikap):

  1. Selalu bersikap optimis terhadap kebaikan.
  2. Lebih mengutamakan penggunaan pertanyaan yang menyebarkan harapan dan kekuatan.
  3. Berkomitmen untuk menggunakan kemampuan dan bakatnya secara optimal.
  4. Menghindari segala hal yang menyebabkan frustrasi dan negativitas.
  5. Memfokuskan pengalihan pusat berpikir menuju hal-hal yang memberinya kebahagiaan agar dapat mengatasi hal-hal negatif.
  6. Menunjukkan ketertarikan untuk menggunakan pertanyaan yang mewujudkan kebahagiaan dan rasa percaya diri bagi dirinya.
  7. Percaya pada diri sendiri dan kemampuannya, serta selalu memperkuat perasaan ini di dalam dirinya.
  8. Membangkitkan pertanyaan-pertanyaan terbaik di dalam dirinya agar mendapatkan jawaban-jawaban terbaik.
  9. Menghadapi masalah dengan optimisme dan kemampuan untuk menyelesaikannya, alih-alih meratapi nasibnya.
  10. Berlatih menggunakan kata-kata yang memiliki pengaruh tinggi untuk mengubah atau membentuk keyakinan.
  11. Membiasakan diri menggunakan kata-kata yang baik (kalimah thayyibah) dalam membantu orang lain.
  12. Meneladani Rasulullah dalam menggunakan kata-kata yang meningkatkan moral dan semangat.
  13. Mengurutkan langkah-langkah keunggulan emosional berdasarkan tingkat kepentingannya.
  14. Selalu memperhatikan lafal-lafal dan ekspresinya yang memancarkan harapan serta kebahagiaan bagi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
  15. Memilih lafal-lafal yang indah lagi bermanfaat, serta menjauhkan diri dari ucapan yang menjatuhkan harga diri maupun sia-sia.

Ketiga: Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):

  1. Mahir menggunakan pertanyaan terbaik agar menghasilkan jawaban terbaik dalam setiap urusannya.
  2. Menyelaraskan data-data yang ia suguhkan kepada akalnya agar mendapatkan jawaban terbaik.
  3. Memiliki jaringan pertanyaan terarah yang membantunya mengatasi berbagai masalah.
  4. Mencatat contoh-contoh dari sejarah Islam mengenai kekuatan kata dalam meningkatkan moral dan semangat.
  5. Menuliskan sejumlah kata yang menciptakan perasaan negatif pada dirinya beserta alternatif penggantinya.
  6. Menggunakan kamus transformasional secara benar dan akurat untuk mengubah segala hal negatif di dalam hidupnya.
  7. Menerapkan pelajaran-pelajaran yang telah ia pelajari di dalam kehidupannya.
  8. Menuliskan daftar pertanyaan yang memberinya kekuatan pada waktu pagi dan malam hari.
  9. Mengikuti instruksi yang diperlukan untuk mengajukan pertanyaan yang memberinya kekuatan dan optimisme.
  10. Membaca apa yang dikatakan seputar praduga (presuposisi) dan menerapkannya pada diri sendiri.
  11. Menerapkan langkah-langkah pengondisian saraf yang saling berhubungan (neuro-association) dengan penerapan yang baik.
  12. Memperbaiki penafsiran terhadap kondisi-kondisi di sekitar dirinya.

Materi Ilmiah:

Bukan peristiwa-peristiwa yang terjadi yang membentuk kehidupanku dan menentukan hakikat perasaan serta tindakanku, melainkan cara akulah yang menafsirkan dan mengevaluasi pengalaman-pengalaman hidupku tersebut.

Perbedaan mendasar antara orang-orang yang meraih kesuksesan dengan mereka yang belum meraih kesuksesan serupa adalah bahwa orang-orang sukses mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih baik, sehingga sebagai hasilnya, mereka berhasil mencapai jawaban-jawaban yang lebih baik pula. Mereka berhasil mencapai jawaban yang memberi mereka kekuatan untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dalam situasi apa pun yang mereka hadapi, demi mewujudkan hasil yang mereka cita-citakan. Maka, pertanyaan-pertanyaan meletakkan batu pertama bagi efek domino yang memiliki dampak di luar imajinasi. Sesungguhnya tindakan mempertanyakan batasan-batasan yang menghalangi kita itulah yang akan menghancurkan tembok-tembok penghalang di dalam kehidupan.

Ketika orang-orang merasa depresi, penyebabnya sering kali adalah karena mereka secara rutin mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat frustrasi dan merampas kekuatan diri mereka sendiri, seperti: "Apa gunanya?". Jika kamu mengajukan pertanyaan yang menjengkelkan, maka kamu akan menerima jawaban yang menjengkelkan pula. Jika kamu bertanya: "Mengapa aku tidak sukses saja?", maka jawaban dari akalmu bisa jadi: "Karena kamu bodoh".

Seseorang pernah mengalami luka bakar yang sangat parah di tubuhnya, namun ia memilih untuk bertanya kepada dirinya sendiri: "Bagaimana aku bisa menggunakan (pengalaman) ini?", alih-alih berkata: "Mengapa harus aku yang mengalami ini?". Ia menyadari bahwa perasaan marah, terluka, dan frustrasi tidak akan mengubah hidupnya. Oleh karena itu, alih-alih berfokus pada apa yang hilang dari dirinya, ia berkata kepada dirinya sendiri: "Apa lagi yang masih aku miliki? Apakah aku ini hanya sekadar tubuhku saja, ataukah aku lebih dari itu? Apa yang bisa aku lakukan sekarang bahkan melebihi apa yang bisa aku lakukan sebelumnya?".

Kota New York pernah menghadapi kebangkrutan, lalu para investor yang mengeluh berkata: "Bagaimana mungkin kita bisa hidup sementara kota ini sedang hancur?". Namun, salah seorang miliarder justru mengajukan pertanyaan yang unik, yaitu: "Bagaimana aku bisa menjadi kaya pada saat rasa takut sedang mengendalikan semua orang selain diriku?". Pertanyaan ini membantunya dalam membentuk banyak keputusan bisnisnya dan menuntunnya ke posisi kendali ekonomi. Ia bertanya kepada dirinya sendiri: "Apa hal terburuk yang mungkin terjadi?". Keyakinannya adalah jika ia tahu bahwa ia sanggup menghadapi konsekuensi terburuk yang mungkin terjadi, maka ia harus menuntaskan kesepakatan bisnis tersebut. Kendati demikian, ia terjerumus ke dalam kesulitan ekonomi setelah itu karena ia meyakini bahwa dirinya (tidak terkalahkan), sehingga ia berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan kreatifnya.

Pikiranmu laksana jin lampu Aladin; ia tidak akan memberikan kepadamu kecuali apa yang kamu minta darinya. Oleh karena itu, kamu harus berhati-hati dalam pertanyaan yang kamu ajukan, karena kamu tidak akan menemukan kecuali apa yang kamu cari.

Mengapa tidak tersedia lebih banyak lagi orang yang menikmati kebahagiaan, kesehatan, kekayaan, dan kebijaksanaan? Mengapa ada begitu banyak orang yang dilingkupi frustrasi dan merasa seolah-olah tidak ada jawaban dalam hidup mereka? Salah satu jawabannya adalah karena ketika mereka mengajukan pertanyaan, mereka kekurangan rasa keyakinan yang memungkinkan jawaban-jawaban itu muncul di hadapan mata mereka. Dan yang lebih penting dari itu, mereka gagal mengajukan pertanyaan kepada diri mereka sendiri secara sadar (yaitu pertanyaan-pertanyaan yang memberi mereka kekuatan). Mereka menyikapi urusan tersebut dengan sikap tidak acuh dan tanpa menyadari hakikat kekuatan yang mereka salah gunakan akibat hilangnya rasa percaya diri terhadap apa yang mereka pikirkan.

Sebagai contoh, orang yang ingin menurunkan berat badannya namun ia tidak mampu karena ia selalu bertanya kepada dirinya sendiri: "Apa yang membuatku merasa sangat kenyang? Makanan mana yang kaya akan lemak dan gula?". Hal ini adalah jaminan pasti menuju kesengsaraan. Mengapa ia tidak bertanya kepada dirinya sendiri sebagai gantinya: "Apa yang menyediakan nutrisi sehat yang diperlukan bagi tubuhku? Makanan ringan apa yang bisa aku konsumsi untuk memberiku energi? Berapa harga tertinggi yang harus aku bayar jika aku tidak berhenti melahap makanan?". Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, kamu dapat menghubungkan antara rasa sakit dengan makan berlebihan, dan dengan begitu kamu akan mengubah perilakumu seketika itu juga.

Bagaimana Pertanyaan Menjalankan Perannya:

Pertanyaan mewujudkan tiga hal yang berbeda:

1. Pertanyaan mengubah apa yang kita fokuskan secara seketika, dan sebagai konsekuensinya, mengubah apa yang kita rasakan:

Jika kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang buruk: "Mengapa aku depresi? Mengapa orang-orang tidak menyukaiku?", maka pertanyaan itu akan membuatmu fokus pada referensi-referensi negatif dan menyimpulkan bahwa pasti ada alasan di balik depresimu.

Namun, jika kamu bertanya: "Bagaimana aku bisa mengubah kondisiku sehingga aku merasa bahagia dan merasa dicintai?", maka kamu pasti akan fokus pada solusi, dan kamu akan mendapatkan jawaban-jawaban yang kamu butuhkan serta layak kamu dapatkan.

Ada perbedaan besar antara penegasan (afirmasi) dan pertanyaan. Kalimat "Aku bahagia" berbeda dengan kalimat "Apakah aku bahagia sekarang?".

Ubahlah pusat fokusmu dan pikirkanlah momen-momen yang menggairahkan serta berkesan dalam hidupmu. Jika kamu memikirkannya, maka seketika itu juga perasaan luar biasa akan melingkupimu. Katakanlah: "Apa kenangan terbaikku yang paling membahagiakan? Apa hal hebat yang ada di dalam hidupku saat ini?".

Sungguh, belajar mengajukan pertanyaan yang memberi kekuatan di saat-olah krisis merupakan sebuah keterampilan yang krusial.

Walt Disney memiliki metode unik dalam meminta pendapat orang lain. Ia biasa menyediakan satu dinding penuh untuk memajang proyek yang sedang mereka kerjakan, naskah, atau ide, dengan ketentuan bahwa setiap orang yang bekerja di perusahaan tersebut harus menuliskan jawaban atas pertanyaan: "Bagaimana kita bisa meningkatkan hal ini?". Maka mereka pun memenuhi seluruh dinding tersebut dengan saran-saran mereka.

2. Pertanyaan mengubah apa yang kamu eliminasi (abaikan):

Jika kamu sedang sedih, maka penyebabnya adalah karena kamu mengeliminasi (menghapus) semua alasan yang memampukanmu untuk mencapai perasaan yang baik. Sebaliknya, jika kamu merasakan perasaan yang baik, hal ini dikarenakan kamu mengeliminasi semua hal buruk yang bisa saja kamu fokuskan. Oleh karena itu, ketika kamu mengarahkan pertanyaan kepada seseorang, kamu sebenarnya sedang mengubah titik fokusnya sekaligus apa yang ia eliminasi. Jika kamu ditanya: "Apa hal paling hina dalam hidupmu?", kamu mungkin akan merasa buruk. Tetapi jika kamu ditanya: "Apa hal paling luar biasa dalam hidupmu?", kamu mungkin akan mendapati dirimu menikmati perasaan yang sangat baik seketika itu juga. Oleh karena itu, jika kamu sedang marah, maka hal terbaik yang bisa kamu tanyakan adalah: "Bagaimana aku bisa belajar dari masalah ini sehingga ia tidak akan pernah terjadi lagi padaku sama sekali?".

Apa yang kamu cari, itulah yang akan kamu temukan.

Jika aku bertanya kepadamu: "Apa saja benda-benda berwarna cokelat di dalam ruangan ini?", maka kamu akan mendapati dirimu fokus dan menoleh pada benda-benda berwarna cokelat saja. Namun jika aku bertanya kepadamu: "Apa saja benda-benda berwarna hijau di dalam ruangan ini?", maka kamu akan mendapati dirimu fokus pada segala hal yang berwarna hijau dan kamu akan melihat lebih banyak warna hijau di hadapanmu.

Kekuatan Praduga (Presuposisi):

Kata-kata yang kita pilih, bahkan urutan kata-katanya, dapat mendorong kita untuk tidak mempertimbangkan hal-hal tertentu, sementara kita menerima hal-hal lainnya sebagai sesuatu yang sudah semestinya terjadi (taken for granted). Hal ini disebut sebagai "Kekuatan Praduga" (power of presupposition), sebuah perkara yang harus kita perhatikan baik-baik. Sebab, hal ini memprogram kita sedemikian rupa sehingga kita menerima perkara-perkara yang mungkin benar dan mungkin juga tidak benar, bahkan hal ini bisa digunakan untuk menyudutkan kita. Jika kamu mengajukan pertanyaan seperti: "Mengapa aku selalu menyabotase diriku sendiri?", maka otakmu akan mendatangkan jawaban yang menuruti perkara ini dan memberimu jawaban atas apa pun yang kamu tanyakan di dalamnya. Sebab, kamu akan menganggap perkara sabotase diri itu sebagai sesuatu yang sudah pasti terjadi, hal itu dikarenakan kamu fokus pada "alasan" mengapa kamu melakukannya, bukan pada "apakah" kamu benar-benar melakukannya.

Sebagai contoh, pada pemilu presiden Amerika Serikat tahun 1988, kandidat George Bush mengumumkan pemilihan Dan Quayle sebagai wakilnya. Pihak oposisi lantas mengajukan pertanyaan kepada masyarakat dalam sebuah jajak pendapat: "Apakah Anda merasa terganggu bahwa Dan Quayle telah menggunakan pengaruh keluarganya untuk masuk ke dalam barisan Pengawal Nasional agar ia tidak dikirim ke Vietnam?". Perkara tersebut merupakan sesuatu yang tidak pernah terbukti sama sekali, namun masyarakat menjawab jajak pendapat ini seolah-olah isu ini adalah fakta yang nyata terjadi. Mereka tidak pernah mempertanyakannya sama sekali, melainkan menerimanya secara otomatis. Oleh karena itu, jangan sampai kamu jatuh ke dalam perangkap menerima praduga-praduga di sekitarmu, baik yang kamu asumsikan sendiri maupun yang diasumsikan oleh orang lain.

3. Pertanyaan mengubah sumber daya yang tersedia bagi kita:

Aku menemukan bahwa salah satu mitra bisnisku telah melakukan penggelapan dana. Pertanyaan-pertanyaan yang gagal aku arahkan kepada orang ini ketika aku mempekerjakannya dahulu adalah hal yang membawaku sampai ke titik ini, dan nasibku sekarang bergantung pada pertanyaan-pertanyaan baru yang akan aku ajukan. Semua orang telah memberi tahu aku bahwa satu-satunya pilihan di hadapanku adalah mengumumkan kebangkrutan, lalu mereka mulai mengajukan pertanyaan: "Apa yang harus kita jual terlebih dahulu?". Namun, aku menolak menerima kekalahan dan aku bertekad untuk menemukan jalan yang memungkinkan perusahaanku bertahan hidup bagaimanapun caranya. Maka aku mengajukan pertanyaan yang lebih baik: "Bagaimana aku bisa mengubah perusahaanku secara total dari jalur kemunduran ini?". Aku tahu bahwa jika aku mengajukan pertanyaan yang lebih baik, aku akan menerima jawaban yang lebih baik pula. Pertanyaan memainkan peran mendasar dalam dunia bisnis, di mana ia membuka dunia baru dan memampukan kita mengakses sumber daya yang sebelumnya tidak kita sadari mungkin tersedia untuk kita.

Presiden direktur perusahaan Ford mengajukan sebuah pertanyaan yang membawa perusahaannya berjalan di atas jalur kesuksesan yang gilang-gemilang dan peningkatan keuntungan. Ia bertanya kepada desainer perusahaannya: "Apakah kamu menyukai mobil-mobil yang kamu desain sendiri?". Desainer itu menjawab: "Sebenarnya tidak". Maka ia mengajukan pertanyaan krusial kepadanya: "Kalau begitu, mengapa kamu tidak mengabaikan saja pihak manajemen dan mendesain sebuah mobil yang kamu sendiri ingin memilikinya?". Desainer tersebut menyambutnya dan mendesain mobil-mobil yang meraih kekaguman semua orang, yang mana mewujudkan kesuksesan besar bagi perusahaan.

Waspadalah dari mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terbatas, karena jika tidak, kamu akan menerima jawaban yang terbatas pula. Satu-satunya hal yang membatasi pertanyaan-pertanyaanmu adalah keyakinanmu seputar apa yang mungkin terjadi. Ciptakanlah pertanyaan yang lebih baik, maka kamu akan menerima jawaban yang lebih baik.

Kuncinya adalah mengembangkan pola pertanyaan terus-menerus yang memberimu kekuatan. Masalahnya bukanlah bahwa kamu akan menghadapi kesulitan, melainkan bagaimana kamu akan menyikapinya ketika kamu menghadapinya.

Berikut adalah lima pertanyaan yang saya gunakan untuk jenis masalah apa pun yang muncul di hadapan Anda, yang mana pertanyaan-pertanyaan ini pasti akan mengubah hidup Anda. (Sebagai contoh: masalah ketika saya baru kembali dari perjalanan bisnis dan mendapati bahwa saya harus membalas 120 panggilan dan pesan yang masuk dari para klien saya):

  1. Apa hal yang penting di dalam masalah ini? (Jawabannya: Yaitu bahwa sekarang saya memiliki lebih dari 100 klien yang berinteraksi dengan saya, padahal bertahun-tahun lalu saya sangat berharap jumlah mereka bisa mencapai 20 orang). Maka saya pun menertawakan diri saya sendiri, merasa bersyukur, dan mematahkan pola stres saya.
  2. Apa hal yang belum mencapai tingkat kesempurnaan? (Di sini terdapat praduga bahwa segala urusan pada akhirnya akan mencapai tingkat kesempurnaan, dan hal ini mengembalikan rasa percaya diri Anda).
  3. Apa hal yang siap saya lakukan untuk mengubah masalah ini ke arah jalur yang saya inginkan?
  4. Apa hal yang siap untuk tidak saya lakukan agar segala urusan berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan? (Jawabannya: Meratapi nasibku dan mengeluh).
  5. Bagaimana saya bisa menikmati proses ini sementara saya sedang melakukan apa yang diperlukan agar segala urusan berjalan dengan baik? (Jawabannya: Menikmati mandi air hangat sementara saya melakukan panggilan-panggilan telepon saya).

Pertanyaan-Pertanyaan yang Memberimu Kekuatan di Pagi Hari:

Pertanyaan-pertanyaan ini mewujudkan lebih banyak perasaan bahagia, antusiasme, kebanggaan, rasa syukur, kegembiraan, komitmen, dan cinta bagi dirimu, serta menciptakan kualitas hidup yang lebih baik:

  1. Apa sumber kebahagiaanku di dalam hidup saat ini?
  2. Apa yang membuatku merasa antusias/bersemangat di dalam hidupku saat ini?
  3. Apa yang membangkitkan rasa bangga di dalam diriku saat ini?
  4. Apa yang membangkitkan rasa syukur di dalam diriku saat ini?
  5. Apa yang paling aku nikmati melebihi apa pun di dalam hidupku saat ini?
  6. Apa yang menjadi komitmenku di dalam hidupku saat ini?
  7. Siapa yang aku cintai? Dan siapa orang yang mencintaiku?

Pertanyaan-Pertanyaan yang Memberimu Kekuatan di Malam Hari:

  1. Apa yang telah aku berikan hari ini (Kontribusi/Kedermawanan)?
  2. Apa yang telah aku pelajari hari ini?
  3. Bagaimana hari ini memberikan nilai tambah bagi kualitas hidupku? Dan bagaimana aku bisa menggunakannya sebagai investasi bagi masa depan bisnis/pekerjaanku?

Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan ini secara rutin, niscaya mereka akan memberimu kekuatan.

Anugerah dari Hadiah Mengajukan Pertanyaan:

Sahabatku menerima pukulan yang sangat telak; mitranya di kantor hukum cabang New York tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. Ia pun terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang salah: "Bagaimana bisa mitraku meninggalkanku dengan cara seperti ini dan menghancurkan hidupku?"

Maka aku memutuskan untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Ia sempat berkata: "Aku rasa tidak ada satu pun yang bisa membantuku saat ini...". Namun, aku tetap mengajukan pertanyaan-pertanyaan pagi kepadanya dan menanyakan beberapa masalah yang sedang dihadapinya, lalu aku berkata kepadanya: "Apa hal yang membuatmu bahagia saat ini?". Ia menjawab: "Tidak ada". Lalu aku bertanya: "Apa hal yang 'bisa' membuatmu bahagia saat ini?". Ia menjawab: "Aku bahagia atas hubunganku dengan istriku," lalu ia mulai menceritakan tentang istrinya dengan penuh kebahagiaan. (Di sini, aku telah berhasil mengalihkan pikirannya dari apa yang mengusik ketenangannya, mematahkan pola stresnya, dan membantunya berpindah ke kondisi yang lebih baik. Dengan demikian, ia akan berada dalam kondisi emosional dan lingkungan yang lebih baik, sehingga ia akan menemukan metode-metode yang lebih baik dalam menyikapi tantangan yang sedang dihadapinya).

Kemudian aku bertanya kepadanya: "Apa lagi yang membuatmu bahagia?". Ia menjawab bahwa ia baru saja menandatangani kontrak untuk buku pertamanya, dan bahwa ia seharusya merasa bangga, namun saat ini ia tidak merasakannya. Aku berkata kepadanya: "Jika kamu merasakan kebanggaan itu, akan seperti apa perasaanmu dalam kondisi tersebut?". Sontak, kondisi tubuh dan emosinya mulai berubah seketika itu juga. Aku bertanya lagi: "Apa hal yang membuatmu merasa bangga?". Ia menjawab: "Keberhasilan anak-anakku...". Aku bertanya: "Bagaimana perasaanmu ketika menyadari bahwa kamu telah mewujudkan semua pengaruh besar ini?". Ia menjawab: "Merasa bersyukur...". (Dan tiba-tiba saja, manusia yang tadinya sempat pasrah dan yakin bahwa hidupnya telah berakhir itu kembali hidup).

Lalu aku bertanya kepadanya: "Apa yang mendorongmu untuk merasa bersyukur?". Ia menjawab bahwa dahulu ia hanyalah seorang pengacara muda yang merintis segalanya dari nol (self-made), namun ia berhasil mengubah jalan hidupnya menuju kesuksesan yang sangat besar. Aku berkata lagi: "Apa hal yang kamu rasakan telah membangkitkan antusiasme di dalam dirimu?". Ia menjawab: "Apa yang membuatku antusias saat ini sebenarnya adalah bahwa di hadapanku ada kesempatan untuk mengubah keadaan pada momen ini juga". (Dan ini adalah kali pertama ia memikirkan perkara tersebut, yang mana merupakan hasil dari perubahan kondisi emosionalnya).

Aku bertanya kepadanya: "Siapa yang kamu cintai dan siapa yang mencintaimu?". Ia menjawab: "Istriku, anak-anakku, dan para kerabatku". Lalu aku mengajukan pertanyaan pamungkas: "Apa hal luar biasa di balik fakta bahwa mitramu akan meninggalkanmu?". Ia menjawab: "Karena aku tidak perlu lagi terpaksa harus pergi ke New York jauh-jauh dari rumahku...". Setelah itu, ia mulai berbicara tentang serangkaian peluang, lalu memutuskan dengan penuh tekad untuk mendirikan kantor hukum di dekat rumahnya dan membiarkan mesin penjawab telepon saja yang bekerja di New York. Ia pun mulai merasa sangat antusias.

Sungguh, ia selalu memiliki sumber daya yang memampukannya untuk menyikapi tantangan yang ia hadapi. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan yang merampas kekuatan diri yang ia ajukan sebelumnya telah membuat kekuatannya sendiri menjadi sulit untuk dijangkau.

Seseorang pernah mengadukan kemiskinannya kepada salah seorang tokoh sufi besar. Tokoh sufi itu bertanya kepadanya: "Apakah kamu mau jika aku mencopot kedua matamu, lalu sebagai gantinya aku memberimu uang seratus ribu?". Ia menjawab: "Tidak". Sufi itu bertanya lagi: "Apakah kamu mau jika aku memotong kedua kakimu, lalu sebagai gantinya aku memberimu uang seratus ribu?". Ia menjawab: "Tidak". Tokoh sufi tersebut terus menghitung satu demi satu nikmat Allah Ta'ala kepadanya sembari menawarkan opsi pencabutan nikmat tersebut, sementara orang itu selalu menjawab: "Tidak". Maka tokoh sufi itu berkata: "Lalu bagaimana bisa kamu mendaku dirimu miskin, padahal kamu memiliki uang sekian dan sekian ratus ribu (di dalam tubuhmu)?"

Dan ketika kaki Urwah bin Al-Zubair harus diamputasi, dan pada saat yang bersamaan anak laki-lakinya jatuh dari atap rumah hingga meninggal dunia, begitu ia mengetahui hal tersebut, ia langsung berkata: "Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Jika Engkau telah mengambil, maka sesungguhnya Engkau pun telah banyak memberi."

Masalah Takdir / Garis Hidup:

Seorang penulis besar bercerita bahwa ayahnya setiap hari selalu mengajukan pertanyaan kepadanya: "Apa yang telah kamu pelajari hari ini, wahai anakku?", dan ia wajib memberikan jawabannya. Pola ini melekat hingga sekarang, di mana ia tidak akan pergi ke tempat tidur pada hari apa pun sebelum ia mempelajari sesuatu yang baru dan bernilai. Dengan demikian, ia merangsang akalnya secara terus-menerus.

Di antara pertanyaan paling bermanfaat saat menghadapi tantangan apa pun adalah: "Apa hal yang luar biasa di dalam perkara ini? (makna positif yang kuat)" dan "Bagaimana aku bisa menggunakan hal ini?". Selain itu, ada juga pertanyaan-pertanyaan penting seperti: "Apa tujuan sejati dari hidupku? Mengapa aku ada di sini? Dan siapakah aku?". Jawaban emosional pertama yang kamu dapatkan sering kali merupakan jawaban yang harus kamu percayai dan kamu jadikan dasar dalam bertindak. Kendati demikian, ada satu titik di mana kamu harus berhenti mengajukan pertanyaan dan mulai melangkah bekerja demi mewujudkan kemajuan nyata.

Ekspresi Kesuksesan Mutakhir:

Sebagian besar keyakinan terbentuk dari kata-kata, dan kata-kata pulalah yang mengubah keyakinan tersebut. Para pemimpin besar telah menggunakan kata-kata untuk mengubah emosi kita dan meyakinkan kita untuk mengadopsi suatu ide. Setiap bangsa memiliki kata-katanya yang abadi. Namun, hanya sedikit orang yang menyadari seberapa besar kekuatan kita ketika kita menggunakan kata-kata untuk memancarkan antusiasme di dalam jiwa kita, kekuatan di dalam tubuh kita, serta mendorong diri kita untuk bekerja dan meraih kesuksesan.

Ketika kekalahan hampir menimpa barisan kaum muslimin dalam pertempuran di "Kebun Maut" (Perang Yamamah), Khalid bin Al-Walid radiyallahu 'anhu berseru: "Berpisahlah kalian sesuai kelompok masing-masing, wahai manusia, agar kita mengetahui dari arah mana kelengahan kita dimasuki!". Ketika setiap kabilah telah memisahkan diri menjadi kelompok tersendiri, mereka sangat menjaga diri agar tidak memalukan kelompoknya, sehingga mereka bertempur dengan sengit hingga akhirnya kemenangan pun terwujud setelahnya.

Dan ketika kaum muslimin hampir saja terpukul mundur di hadapan pasukan Tartar (Mongol) dalam pertempuran Ain Jalut, sang panglima, Saifuddin Qutuz, berteriak dengan suara tertingginya: "Waa Islamah! (Wahai Islamku!)". Seolah-olah kaum muslimin tersengat oleh sesuatu, gairah pembelaan terhadap Islam seketika membakar mereka, dan mereka bertempur dengan gagah berani hingga menorehkan kemenangan yang sangat besar atas pasukan Tartar.

Sesungguhnya kata-kata yang kita pilih berdasarkan kebiasaan akan memengaruhi cara kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri, dan sebagai konsekuensinya, memengaruhi apa yang kita alami dan rasakan. Orang-orang yang menggunakan kosakata yang miskin akan menjalani kehidupan emosional yang miskin pula, berbeda halnya dengan mereka yang menggunakan kosakata yang kaya. Seorang suami yang memilih kata-kata paling baik untuk menyapa istrinya akan menjalani kehidupan yang lebih baik daripada suami yang minim kata-kata indah kepada istrinya; demikian pula halnya dengan anak-anak. Anda dapat menerapkan hal ini di tempat kerja bersama rekan-rekan sejawat atau dengan orang-orang yang bekerja di bawah arahan Anda. Oleh karena itu, kita harus mengevaluasi dan meningkatkan kamus kata yang kita gunakan secara sadar guna memastikan bahwa kamus ini menuntun kita ke arah yang kita inginkan.

Penggunaan kata-kata yang bermuatan emosional positif dapat mengubah kondisi Anda atau kondisi orang lain secara ajaib.

Hanya dengan mengubah kamus harian Anda yang biasa digunakan untuk menggambarkan emosi yang Anda rasakan di dalam hidup, Anda dapat mengubah cara berpikir, cara merasa, dan cara hidup Anda pada momen itu juga.

Di tengah-tengah rapat bisnis perusahaan antara Direktur Eksekutif (CEO) dengan seorang mitra kami, aku memaparkan fakta-fakta mengenai kondisi perusahaan. Tiba-tiba sang Direktur naik pitam, marah besar, dan mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata yang kuat seperti: "Aku sangat murka dan jengkel!", serta kemarahan yang luar biasa tampak jelas pada dirinya. Sementara itu, mitraku mampu mengendalikan emosinya dan merespons situasi tersebut tanpa rasa panik, ia hanya berkata bahwa dirinya "sedikit terganggu". Sang Direktur menafsirkan sikapnya bahwa jika ia marah, maka ia akan menjadi lebih kuat, mampu mengendalikan situasi, dan dapat membalikkan arah keadaan. Sedangkan sang mitra berkata: "Jika aku panik/marah, maka aku akan kehilangan kendali atas diriku sendiri". Jika kita membandingkan keduanya, kita duga salah satu dari mereka menghubungkan kepuasan mengendalikan situasi dengan kemarahan, sedangkan yang lain menghubungkan kemarahan dengan rasa sakit akibat kehilangan kendali. Perilaku masing-masing dari mereka mencerminkan keyakinan khususnya sendiri.

Tidaklah penting bagiku untuk marah agar bisa menyikapi berbagai hal, melainkan aku bisa tetap memiliki efektivitas yang sama sekalipun aku berada di puncak kebahagiaan. Rasulullah bersabda: "Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah." Dan Umar bin Al-Khattab radiyallahu 'anhu berkata: "Tidak ada satu tegukan yang ditelan oleh seorang hamba yang lebih baik daripada tegukan amarah (yang mampu ia tahan)." [^1]

Sang mitra mengekspresikan perasaannya dengan kata bahwa ia "sedikit terganggu" atau terusik olehmu. Aku mulai bertanya-tanya: "Jika aku menggunakan kata ini untuk menggambarkan emosiku, bagaimana aku akan merasakannya? Apakah aku akan mendapati diriku tersenyum dalam situasi yang sebelumnya sempat memengaruhiku?". Aku pun mencoba menggunakan kata-kata baru, dan aku menemukan bahwa mengucapkan kata-kata tersebut terbukti meredakan intensitas emosiku dan dampaknya seketika itu juga.

Perubahan lafal inilah yang aku sebut dengan "Kamus Transformasional". Kita harus memilih secara sadar kata-kata yang kita gunakan untuk menggambarkan kondisi emosional kita, jika tidak, kita akan menderita akibat menciptakan rasa sakit yang lebih besar daripada apa yang semestinya atau pantas bagi situasi tersebut.

Tiga orang bisa saja mengalami pengalaman yang sama persis, namun salah satu dari mereka merasa murka, yang kedua merasa marah, dan yang ketiga hanya merasa terganggu.

Kamus transformasional memampukan kita untuk memperkuat atau memperlemah kondisi emosional apa pun.

Jika ada sekelompok kata yang biasa Anda gunakan ternyata menciptakan kondisi yang merampas kekuatan diri Anda, maka Anda wajib menyingkirkan kata-kata ini dan menggantinya dengan kata-kata yang memberi Anda kekuatan.

Dahulu aku dan istriku sama-sama memiliki sifat emosional yang reaktif. Di awal pernikahan kami, sering terjadi di antara kami apa yang kami sebut dengan (konfrontasi sengit). Namun setelah itu, kami memutuskan untuk menamai obrolan-obrolan tersebut dengan istilah (diskusi aktif). Hal ini terbukti mengubah perspektif kami terhadap obrolan-obrolan tersebut.

Anda Dapat Menggunakan Kamus Transformasional untuk Membantu Orang Lain:

Seorang sahabat berbicara kepadaku menggambarkan betapa ia merasa depresi. Ia menggunakan kata "depresi" dan "tertekan" sebanyak sepuluh kali selama dua puluh menit. Maka aku berkata kepadanya: "Berjanjilah kepadaku untuk tidak menggunakan kata ini sama sekali selama sepuluh hari ke depan. Gantilah ia dengan kalimat: 'Suasana hatiku sedang sedikit menyimpang/kurang pas', atau: 'Aku merasa sedang menuju kondisi yang lebih baik', atau 'Aku sedang mengubah kondisiku'". Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi merasa depresi, karena ia tidak lagi menggunakan kata tersebut untuk menggambarkan kondisinya. Oleh karena itu, sudah semestinya kita mendoakan orang yang sakit dan menguatkannya, alih-alih mengingatkannya akan penyakit dan kelemahannya.

Menggunakan kamus transformasional adalah proses yang sangat mudah lagi sederhana, namun ia langsung meningkatkan kualitas hidup Anda seketika itu juga.

Sebuah perusahaan kargo menemukan fakta bahwa 60% dari kontrak pengiriman yang mereka lakukan mengalami kesalahan. Hal itu disebabkan oleh kekeliruan para pekerja dalam menentukan kontainer yang tepat untuk mengangkut barang, yang mana merugikan perusahaan jutaan dolar setiap tahunnya. Mereka menemukan bahwa cara terbaik untuk mengubah tingkat komitmen terhadap kualitas dari para pekerja adalah dengan cara mengubah cara pandang para pekerja tersebut terhadap diri mereka sendiri. Alih-alih menggunakan sebutan (buruh atau sopir truk), para pekerja ini mulai menyandang nama (profesional ahli). Hasilnya, persentase kesalahan pun menurun drastis. Nabi dahulu juga suka mengubah nama-nama yang memiliki makna yang keras seperti Shakhr (batu keras), Kilab (anjing-anjing), dan Harb (perang), dan menggantinya dengan nama-nama yang lebih baik seperti Abdurrahman, Ali, atau Sahl (kemudahan).

Tuliskan 3 kata yang biasa Anda gunakan yang mana kata tersebut menciptakan perasaan negatif di dalam hidup Anda. Kemudian, tuliskan daftar kata alternatif penggantinya yang dapat mematahkan pola stres Anda dengan cara memicu Anda untuk tertawa karena kata tersebut sangat lucu, atau setidaknya memiliki intensitas yang jauh lebih rendah.

Kemudian Terapkan Langkah-Langkah Pengondisian Saraf yang Saling Berhubungan (Neuro-Association):

  1. Putuskan bahwa Anda berkomitmen untuk mendapatkan lebih banyak kesenangan di dalam hidup dan jauh lebih sedikit rasa sakit.
  2. Dapatkan daya dorong bagi diri Anda sendiri untuk menggunakan kata-kata baru ini. Sebagai contoh: Pikirkanlah betapa lucunya Anda sampai harus mengamuk hebat, padahal Anda memiliki pilihan untuk merasakan perasaan yang baik.

Penggunaan kamus transformasional tidak hanya terbatas pada meredakan intensitas hal-hal negatif saja, melainkan ia juga memberikan kita kesempatan untuk memperkuat pengalaman kita dari emosi-emosi positif. Ketika seseorang bertanya kepadamu: "Bagaimana kabarmu?", jangan katakan kepadanya: "Biasa saja", jangan pula katakan: "Lumayan" atau "Setengah-setengah", melainkan katakanlah kepadanya: "Aku merasa berada dalam kondisi terbaik!". Meskipun hal ini tampak seperti penyederhanaan, namun ia menciptakan pola baru yang luas di dalam sistem saraf Anda yang akan mengantarkan Anda pada kesenangan.

Apa yang Diucapkan dan Dilakukan oleh Nabi Ketika Berada di Sisi Orang Sakit:

Al-Bukhari mengeluarkan di dalam kitab Al-Adab al-Mufrad (hlm. 79) dari Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi apabila menjenguk orang sakit, beliau duduk di dekat kepalanya kemudian mengucapkan sebanyak tujuh kali:

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

(Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan Arsy Yang Maha Agung, agar menyembuhkanmu). Jika ajalnya masih ditangguhkan, maka ia akan disembuhkan dari rasa sakitnya.

Ibnu Abi Shaibah mengeluarkan dari Ali radiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah apabila masuk menemui orang sakit, beliau mengucapkan:

أَذْهِبِ الْبَأسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ

(Hilangkanlah penyakit ini, wahai Tuhan manusia, dan sembuhkanlah, Engkau-lah Maha Penyembuh, tidak ada penyembuh kecuali Engkau). Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan Al-Tirmidzi—ia berkata: hadis hasan gharib—serta Al-Dawraqi dan Ibnu Jarir, dan ia mensahihkannya dengan lafal:

لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

(Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun). Demikian yang termaktub di dalam Kanz al-Ummal (5/50).

Di sisi Ibnu Mardawaih dan Abu Ali al-Haddad di dalam kitab Mu'jam-nya dari Ali radiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah apabila menjenguk orang sakit, beliau meletakkan tangan kanannya di atas pipi kanan orang sakit tersebut lalu mengucapkan: "Tidak apa-apa, hilangkanlah penyakit ini wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah Engkau-lah Maha Penyembuh, tidak ada yang dapat menyingkap kemudaratan kecuali Engkau."

Di sisi Ibnu Abi Shaibah dari Anas radiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah apabila masuk menemui orang sakit, beliau mengucapkan: "Hilangkanlah penyakit ini wahai Tuhan manusia, dan sembuhkanlah Engkau-lah Maha Penyembuh, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun." Demikian yang termaktub di dalam Kanz al-Ummal (5/51).

Abu Ya'la mengeluarkan dari Aisyah radiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah apabila menjenguk orang sakit, beliau meletakkan tangannya pada tempat yang terasa sakit kemudian mengucapkan: "Bismillah, tidak apa-apa." Al-Haitsami berkata (2/299): Para perawinya adalah orang-orang yang tepercaya (tsiqah).

 Al-Thabarani mengeluarkan di dalam kitab Al-Mu'jam al-Kabir dari Salman radiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah masuk menemuiku untuk menjengukku, maka ketika beliau hendak keluar, beliau bersabda: "Wahai Salman, semoga Allah menyingkap kemudaratanmu, mengampuni dosamu, dan memberikan keafiatan pada agamamu serta jasadmu hingga ajalmu." Di dalam sanadnya terdapat Amru bin Khalid al-Qurasyi dan ia adalah perawi yang lemah, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami (2/299).

Kurangilah Intensitas Cara Anda Menyikapi Rasa Sakit Bersama Orang Lain:

Pola bahasa yang biasa aku gunakan dapat memicu reaksi pada diri orang yang berada di hadapanku, meskipun hal itu terjadi tanpa ada maksud sengaja dariku. Sebagai contoh, aku bisa mengatakan: (Aku sebenarnya 'sedikit tertarik' mengenai suatu urusan.. apakah Anda bisa membantuku?), hal itu sebagai pengganti dari ucapanku: (Aku 'cemas'..). Sebab kata "cemas" memberikan kesan akan ketidakpencayaanmu terhadap kemampuan orang tersebut. Selain itu, penambahan kata "sedikit" dapat meredakan intensitas pesan tersebut dalam kadar yang besar, sekaligus meningkatkan level komunikasiku dengannya.

Anak-anak maupun orang dewasa sering kali memasukkan berbagai hal ke dalam hati (personal). Oleh karena itu, kita harus sensitif terhadap konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari ekspresi yang keluar dari kita tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Alih-alih kita terburu-buru mengatakan dengan tidak sabar: (Betapa bodohnya kamu!) atau (Betapa bebalnya kamu!), karena hal ini akan menimbulkan dampak yang buruk pada perasaan anak terhadap harga diri personalnya, maka aku harus mematahkan polaku dengan mengatakan misalnya: (Aku mulai merasa kurang nyaman dengan perilakumu). Hal ini memampukan masing-masing dari kita untuk masuk ke dalam kondisi yang lebih baik yang membuat kita bisa menyampaikan perasaan dan keinginan kita secara cerdas. Di samping itu, hal ini mengirimkan pesan kepada anak bahwa tantangan tersebut tidak ditujukan kepada dirinya sebagai person, melainkan terhadap perilakunya, yang mana perilaku itu adalah sesuatu yang bisa diubah. Dan inilah fondasi bagi terwujudnya komunikasi yang lebih kuat dan positif antara dua orang.

Kita harus mampu mematahkan pola kebiasaan yang buruk, jika tidak, kamu mungkin akan mengatakan hal-hal yang akan kamu sesali di kemudian hari dan berujung pada hancurnya hubungan. Dalam kondisi marah, kamu bisa saja mengucapkan hal-hal yang melukai perasaan orang lain dan mendorongnya untuk membalas ucapanmu, atau ia merasa sangat tersakiti sekira ia tidak akan pernah mau terbuka lagi kepadamu selamanya.

Aku tidak memintamu untuk menjalani kehidupan yang hampa dari perasaan dan emosi negatif, karena ada situasi-situasi di mana emosi tersebut tampak sangat penting. Namun, tujuan kita adalah agar kita senantiasa merasakan sesedikit mungkin rasa sakit di dalam hidup kita dan sebanyak mungkin kesenangan yang bisa diraih. Dan jalan kita yang mudah lagi kuat untuk itu adalah dengan menguasai kamus transformasional.

Kata-kata yang Anda gunakan akan membuahkan dampak biokimiawi yang kuat di dalam tubuh. Maka dari itu, marilah kita waspada dan berhati-hati terhadap penamaan (istilah). Karena begitu sebuah nama dilekatkan pada sesuatu, kita sebenarnya sedang menciptakan emosi yang selaras dengan nama tersebut. Pada saat sebuah penyakit didiagnosis (yaitu peletakan sebuah nama atas gejala-gejala yang dikeluhkan oleh pasien.. seperti kanker atau penyakit jantung..), maka kondisi pasien biasanya mulai memburuk, yang mana hal itu memicu perasaan panik, perasaan bahwa mereka sudah tidak memiliki harapan lagi, serta perasaan depresi. Hal ini tentu memengaruhi efektivitas sistem kekebalan tubuh (sistem imun) di dalam jasad mereka.

Kata-kata dapat menyembuhkan penyakit, sebagaimana ia juga dapat membunuh.

Jika para pasien dapat dibebaskan dari depresi yang diakibatkan oleh penamaan/istilah penyakit ini, maka sistem kekebalan tubuh akan aktif kembali. Oleh karena itu, para dokter yang memiliki kebijaksanaan akan sangat berhati-hati dalam cara mereka berkomunikasi dengan pasien.

Anda dapat menguji kosakata kamus transformasional ini pada diri Anda sendiri untuk melihat apa yang akan terjadi.

Anda dapat meredakan intensitas emosional Anda; alih-alih Anda mengatakan: (Aku hampir mati kelaparan), Anda bisa mengatakan: (Aku sedikit lapar). Hal ini akan mengurangi nafsu makan Anda dalam beberapa momen.

Dan alih-alih ucapan Anda: (Aku akan mengalami depresi berat / breakdown), katakanlah: (..Aku tidak sedang hancur, melainkan kemampuan-kemampuanku sedang dinonaktifkan sementara). Hanya dengan mengubah penamaan yang Anda lekatkan pada proses ini, kondisi emosional Anda akan berubah total, dan dengan demikian Anda telah mengubah realitasnya.

Inilah kesempatan Anda. Pegang kendali urusan Anda. Perhatikan kata-kata yang biasa Anda gunakan dan gantilah ia dengan kata lain yang memberimu kekuatan, sekira ia dapat menaikkan atau menurunkan kondisi emosional Anda sebagaimana yang sesuai dengan situasi yang ada, dan pastikan komitmen Anda.

Sungguh, Islam telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap tema perkataan dan metode penyampaiannya. Hal itu dikarenakan perkataan yang bersumber dari seorang manusia menunjukkan isi dan karakter akalnya serta memengaruhi zat jiwanya sendiri. Oleh karena itu, Islam mendorong kita untuk memperbagus ucapan dan memilih kata-kata yang terbaik. Allah Ta'ala berfirman:

لَّا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali dari pembicaraan rahasia orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. [Surah An-Nisa': Ayat 114].

Sesungguhnya cara-cara berbicara di dalam suatu kelompok masyarakat menjadi tolok ukur yang menghakimi tingkat kemajuan umum mereka dan seberapa jauh kebajikan telah meresap di dalam lingkungan mereka. Islam melarang melontarkan perkataan tanpa dipikirkan matang-matang dan menganggapnya sebagai perbuatan sia-sia (laghu), serta menjadikan sikap menjauhkan diri darinya sebagai salah satu sifat orang-orang mukmin. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. [Surah Al-Mu'minun: Ayat 3]. Jika seorang manusia berbicara, hendaklah ia mengucapkan kebaikan dan membiasakan lidahnya dengan perkataan yang indah lagi bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. [Surah Al-Baqarah: Ayat 83].

Aktivasi Praktis dari Fakta-Fakta Tema dan Nilai-Nilainya Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut:

Pertama: Aktivitas Pendamping (Asosiatif):

  1. Berbicara di hadapan teman-teman sejawatnya tentang dampak pertanyaan dan metode penyajiannya dalam mencapai jawaban-jawaban yang benar.
  2. Menceritakan suatu situasi di mana ia berhasil membantu salah seorang sahabatnya dan mengeluarkannya dari krisis dengan menggunakan kata-kata yang baik (kalimah thayyibah).
  3. Memaparkan di hadapan teman-teman sejawatnya tentang lafal-lafal yang menyebabkan frustrasi pada dirinya, lalu menggantinya dengan lafal-lafal yang meningkatkan rasa percaya diri.
  4. Menggunakan sejumlah pertanyaan terarah yang membantu dirinya dan teman-teman sejawatnya untuk melewati berbagai kesulitan.

Kedua: Aktivitas Pendukung:

  1. Menuliskan daftar pertanyaan yang memberinya kekuatan pada waktu pagi dan malam hari dengan meminta bantuan dari elemen-elemen tema materi.
  2. Mencatat sejumlah kata yang menciptakan perasaan negatif pada dirinya, seperti frustrasi dan lain sebagainya.
  3. Mencatat sejumlah kata yang meningkatkan rasa percaya diri dan memberinya optimisme.
  4. Membuat sebuah kamus khusus milik sendiri untuk mengubah lafal-lafal negatif menjadi lafal-lafal positif.
  5. Menyampaikan sebuah kuliah tentang nilai kata yang baik (kalimah thayyibah) dan dampaknya di dalam jiwa dengan bersandar pada sabda-sabda Rasulullah dan sikap-sikap beliau.
  6. Mendokumentasikan di dalam agenda khususnya beberapa pertanyaan yang dengannya ia dapat membantu orang lain, serta kata-kata yang diperlukan untuk meningkatkan moral dan mewujudkan rasa percaya diri.
  7. Mengadakan lokakarya (workshop) seputar penentuan pertanyaan dan jawaban untuk sarana pelatihan.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Pertama: Pertanyaan Esai:

  1. Kata yang baik memiliki dampak yang sangat mendalam dalam memancarkan aktivitas dan antusiasme—buktikanlah hal tersebut!
  2. Sebutkan contoh-contoh dari penggunaan kata yang baik oleh Nabi untuk meningkatkan moral dan semangat!
  3. Pertanyaan mewujudkan tiga hal yang berbeda, maka apa saja tiga hal tersebut?
  4. (Belajar mengajukan pertanyaan yang memberi kekuatan di saat-saat krisis merupakan sebuah kemampuan yang krusial)—jelaskanlah hal tersebut!
  5. Sebutkan suatu situasi di mana Anda berhasil memberikan sebuah pertanyaan kepada sahabat Anda yang mana pertanyaan itu mengeluarkannya dari masalah yang dideritanya!
  6. Terangkan hubungan antara kata dengan keyakinan!
  7. Apa yang dimaksud dengan kamus transformasional? Dan apa manfaatnya?
  8. Bagaimana cara menggunakan kamus transformasional?
  9. Tuliskan tiga kata alternatif untuk kata-kata yang menyebabkan perasaan negatif di dalam hidup Anda!
  10. Tuliskan tiga kata alternatif dari kata-kata sebelumnya yang dapat mematahkan pola stres Anda dan meningkatkan moral Anda!
  11. Anda merasa bahwa Anda sedang menderita masalah obesitas (kegemukan), maka apa saja pertanyaan-pertanyaan yang dapat Anda arahkan kepada diri Anda sendiri untuk mengatasi masalah tersebut, alih-alih Anda meratapi nasib Anda?

Kedua: Pertanyaan Objektif:

  1. Lengkapilah titik-titik di bawah ini berdasarkan pemahaman Anda terhadap tema:
    • Yang dimaksud dengan kekuatan praduga (presuposisi) adalah .................
    • Kamus transformasional bermanfaat bagi kita dalam hal .................
    • Pilihlah ekspresi yang paling akurat dan paling menegaskan makna pada kalimat di bawah ini:
      • “Aku bahagia” ...... “Aku bahagia karena aku .................”
  2. Berilah tanda (V) atau tanda (X) di depan pernyataan yang sesuai di bawah ini:
    • Al-Qur'an al-Karim mengobati depresi dengan cara menganjurkan untuk berzikir mengingat Allah.
    • Islam memberikan perhatian untuk memilih perkataan terbaik demi menjaga keselamatan hati dan kenyamanan jiwa.
    • Pertanyaan hanya memiliki peran yang lemah dalam mengubah arah berpikir dan kondisi psikologis.

Catatan Kaki Teks Asli:

[^1]: Kanz al-Ummal (2/161).

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat