Pasal 3: Falsafah Kesuksesan
BAB KETIGA: Hal-Hal yang Anda Yakini dalam Filosofi Sukses yang Harus Diikuti
Tujuan
Umum:
- Membekali pembelajar dengan
bekal pengetahuan yang mendasari teori kesuksesan dan menaklukkan
kegagalan.
- Membentuk sikap positif pada
diri pembelajar untuk memulai perjalanan menuju kesuksesan.
- Melatih pembelajar untuk
mempraktikkan mekanisme kesuksesan melalui berbagai aktivitas.
Tujuan
Perilaku Instruksional (Indikator Capaian):
Setelah
menyelesaikan proses pembelajaran pada tema ini, pembelajar diharapkan mampu
untuk:
Pertama:
Tujuan Kognitif (Pengetahuan):
- Menyebutkan sumber-sumber
kesuksesan yang paling penting.
- Menjelaskan pentingnya
mengadopsi filosofi dan keyakinan yang benar yang dapat membantunya meraih
kesuksesan.
- Menentukan target-target
terpenting yang ingin dicapai dalam hidupnya dan merumuskan berbagai
alternatif yang dapat membantunya dalam hal tersebut.
- Mengurutkan target-target
yang ingin dicapai berdasarkan tingkat kepentingan dan prioritas
pencapaiannya.
- Menyebutkan momen-momen dari
kehidupan orang-orang besar yang menetapkan target bagi diri mereka lalu
berhasil mewujudkannya.
- Menjelaskan cara Rasulullah saw
(Shallallahu 'alaihi wa sallam) mengatasi berbagai risiko dan bahaya.
- Merangkum beberapa bentuk
penindasan/gangguan yang dialami oleh Rasulullah dari kaum Quraisy serta
jawaban beliau kepada mereka.
- Menggunakan metode ilmiah
dalam memecahkan masalah.
- Menciptakan cara-cara baru
demi meraih kesuksesan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang-orang di
sekitarnya.
- Menyebutkan berbagai
alternatif yang dapat membantu dirinya dalam mewujudkan target-targetnya.
Kedua:
Tujuan Afektif (Sikap/Spritual):
- Percaya pada kemampuan dan
pemikiran dirinya sendiri.
- Bersemangat untuk mengadopsi
keyakinan dan filosofi yang benar yang membantunya meraih kesuksesan.
- Selalu meyakini bahwa pada
setiap masalah pasti ada solusi yang menyertainya.
- Meneladani Rasulullah saw
terutama dalam menghadapi kesulitan dan mengatasinya.
- Terbiasa berpikir secara
terorganisasi dalam menyampaikan ide-idenya.
- Berpegang teguh pada
prinsip-prinsip agama Islam yang lurus.
- Bersabar atas segala
kesulitan dan cobaan hingga mampu mengatasinya.
- Menunjukkan kecenderungan
untuk membangun jaringan keyakinan benar yang kuat.
- Bersemangat dalam menentukan
target-targetnya dan menyusunnya dengan urutan yang benar.
- Menunjukkan apresiasi
terhadap pentingnya memanfaatkan potensi dan energi yang dimilikinya.
- Menghindari rasa takut serta
dampak frustrasi yang ditimbulkannya.
- Selalu teguh di atas prinsip
yang benar dan tidak tergoyahkan oleh ilusi maupun ketakutan.
- Meneladani Rasulullah saw
dalam mengatasi risiko/bahaya dan menanggung gangguan.
- Menunjukkan semangat untuk
bersahabat dengan orang-orang baik dan orang-orang yang memiliki semangat
tinggi.
Ketiga:
Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):
- Mahir dalam membangun
jaringan keyakinan dan filosofi benar yang kuat.
- Menciptakan metode baru yang
membantunya mewujudkan target-target yang telah ia tetapkan di depan
matanya.
- Mahir memanfaatkan alam bawah
sadar dalam membentuk pola-pola kebiasaan dengan cara mengulangnya, baik
secara ide maupun pikiran.
- Mahir membedakan antara peran
pikiran sadar dan pikiran bawah sadar serta tugas-tugas yang dilakukan
oleh masing-masing.
- Mahir mengambil manfaat dari
persahabatan dengan orang-orang baik.
- Beradaptasi dengan
kondisi-kondisi sulit hingga mampu mengatasinya.
- Mahir memilih orang-orang
yang dapat membantunya mewujudkan target dari kalangan orang yang memiliki
semangat tinggi.
Materi
Ilmiah:
"Salah
satu hal ajaib dalam hidup ini adalah: jika kamu tidak menerima apa pun kecuali
yang terbaik, maka sering kali kamu akan mendapatkannya." (Somerset
Maugham)
Hidup
ini—sebagaimana yang pernah diperhatikan oleh seorang nelayan tua—menyerupai
memancing ikan salem (salmon). Ketika kamu mengarungi arus sungai untuk
mengeluarkan rezeki yang menantimu di dalamnya, jika kamu tidak menancapkan
kedua kakimu dengan baik, kamu akan hanyut bersamanya. Kamu akan kehilangan
kemampuan untuk melawan kekuatan yang mendorongmu ke arah mana pun ia mengalir.
Untuk
menghindari hanyut tanpa arah, kamu harus memiliki filosofi yang kokoh, yaitu
sekumpulan hal yang kamu yakini, yang telah kamu capai secara sadar dan penuh
perhatian. Di sisi lain, kamu harus mencapai keyakinan baru setiap kali
menghadapi keputusan krusial dalam hidupmu. Jika kamu memiliki jaringan
keyakinan yang kuat, hal itu akan membantumu memilih di antara
alternatif-alternatif yang sulit, dan membuatmu berdiri di atas pijakan yang
solid ketika arus kehidupan berputar-putar di sekelilingmu dalam pusaran badai.
Di
Antara Filosofi Sukses:
Paula
Blanchard adalah salah satu orang yang merasakan kebutuhan mendesak untuk
merumuskan filosofi hidup yang menuntun dirinya. Secara kasatmata, Paula berada
di puncak dunia dalam segala aspek lahiriah. Dia menikah dengan kekasihnya
semasa kuliah, seorang pengacara muda ambisius yang terpilih masuk ke Kongres
AS di awal kariernya, dan terus melaju hingga menjadi Gubernur Negara Bagian
Michigan.
Mereka
berdua memiliki pengaruh besar di berbagai lini kehidupan politik dan sosial di
Michigan. Mereka memiliki rumah yang indah, serta segala fasilitas istimewa
yang didapatkan oleh para pemegang jabatan tinggi di pemerintahan. Sebagai Ibu
Negara Bagian Michigan (First Lady), Paula menjadi juru bicara bagi negara
bagian tersebut dan memiliki reputasi yang baik. Dia juga bekerja sebagai
penasihat khusus penuh waktu untuk cabang Departemen Perdagangan di Michigan
dengan menerima gaji atas jabatan tersebut.
Namun,
ada sesuatu yang hilang. Paula berkata: "Aku menemukan bahwa hidupku
menjadi tidak seimbang secara mengerikan karena terlalu banyak waktu yang aku
curahkan untuk pekerjaan dan ambisi suamiku. Akibatnya, tidak ada lagi waktu
yang cukup untuk memperkuat ikatan pernikahan, keluarga, dan menikmati
kenyamanan hidup. Tidak ada waktu untuk hal-hal penting lainnya dalam hidupku:
keluarga, teman, istirahat, serta aktivitas hiburan, rekreasi, kontemplasi
(merenung), dan ibadah."
Dalam
sebuah wawancara di kantornya di Southfield, Michigan, Paula menceritakan
tentang hidupnya: "Aku menyadari bahwa usiaku telah mendekati empat puluh
tahun, tetapi aku tidak sedang menjalani hidupku sendiri, melainkan menjalani
hidup suamiku. Hal ini sangat sering terjadi ketika seorang wanita memikirkan
apa yang diinginkannya dari hidup; kamu akan mendapatinya membiarkan target
orang lain mengalahkan target-target dirinya sendiri. Wanita melakukan apa yang
menurut suami, bos di tempat kerja, ayah, atau ibunya harus ia lakukan."
"Seandainya
aku harus menjalani hidupku sekali lagi, aku akan melakukan kesalahan yang
sama, tetapi kesalahan-kesalahan itu akan terjadi lebih cepat." (Tallulah
Bankhead)
Kesadaran
ini membawa Paula pada fase introspeksi diri (kontemplasi internal) yang
panjang untuk memikirkan pilihan-pilihannya, mencoba menyelaraskan diri dengan
karakter pribadinya, dengan ekspektasinya terhadap kehidupan, serta apa yang ia
harapkan dari pernikahan.
Paula
berkata: "Ide ini memaksaku untuk kembali kepada nilai-nilai yang aku
pegang, karena aku harus memutuskan apa hal terpenting bagiku, dan bagaimana
menjalani kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai ini."
Dia
sempat terhanyut dalam kehidupan materi yang membuatnya menjauh dari nutrisi
jiwa dan kebahagiaan yang hakiki. Oleh karena itu, Islam hadir sebagai materi
dan jiwa, dunia dan akhirat, yang mewujudkan aktualisasi diri manusia dan
cita-citanya di dunia, serta mewujudkan kebaikan, amal saleh, pahala Allah, dan
keberuntungan di akhirat baginya. Dan inilah yang harus dilakukan oleh keluarga
serta setiap individu di dalamnya.
Filosofi
pribadi yang lahir dari pengalaman Paula inilah yang mengarahkan
keputusan-keputusan menyakitkan yang akan diambilnya pada minggu-minggu dan
bulan-bulan setelah kesadaran tersebut. Jaringan keyakinan inilah yang
menyokong dirinya hari ini. Selama bulan-bulan setelah masa introspeksi
tersebut, Paula mengajukan gugatan cerai dan pindah keluar dari wilayah
kediaman gubernur di Lansing.
Dia
menyelesaikan program pelatihan untuk mendapatkan gelar Magister dalam bidang
produksi video dari Universitas Michigan, mendirikan perusahaan produksi
audio-visual, dan mengubah total jalan hidupnya.
Sebelum
posisinya saat ini sebagai Wakil Presiden Komunikasi di Dana Moneter Nasional
untuk Kebun Botani Amerika Serikat, Paula menjabat sebagai Wakil Presiden di
perusahaan "Casey Communication Management Inc.", sebuah perusahaan
konsultan terkemuka di wilayah Midwest Amerika yang menyediakan layanan
penasihat untuk urusan publik dan hubungan masyarakat, yang kemudian merger
dengan perusahaan Chadwick. Dia juga meraih penghargaan keunggulan dari
Fakultas Pendidikan di State University of Michigan, menerima tiga gelar Doktor
Kehormatan (Honoris Causa) dari tiga universitas, menulis kolom bulanan di
majalah wanita Detroit Metropolitan, serta aktif berbicara secara
konsisten mengenai isu-isu perempuan dan hal lainnya.
Tentukan
Target Anda:
Seperti
kebanyakan orang yang meraih pencapaian besar dalam hidup mereka, Paula
Blanchard adalah pendukung kuat dari metode penetapan target (goal-setting).
Paula menunjukkan metode yang digunakan oleh Bo Schembechler, mantan pelatih
tim sepak bola Universitas Michigan yang terkenal dengan kecerdasan dan
kelincahannya, yang di kemudian hari menjadi Manajer Umum untuk klub
"Detroit Tigers".
Ketika
melatih di Universitas Michigan, Bo bekerja bersama tim untuk menetapkan
target-target mereka, dan meminta setiap pemain untuk menuliskan target
pribadinya masing-masing.
"Percaya
pada diri sendiri (mandiri) berarti kamu mampu berdiri di atas kedua kakimu
sendiri tanpa bantuan orang lain. Ini tidak berarti tidak peduli atau menolak
bantuan orang lain, melainkan kamu berada dalam kedamaian dengan dirimu
sendiri, bahwa kamu layak menghormati dirimu sendiri ketika bantuan dari orang
lain tidak kunjung datang kepadamu." (Mahatma Gandhi)
Paula
melanjutkan: Bo meminta setiap pemain di timnya untuk menuliskan target
pribadinya pada satu sisi kartu, dan menuliskan target tim di sisi kartu yang
lain. Setelah itu, ia meminta setiap orang untuk selalu membawa kartu tersebut
di dalam dompet mereka, dan membacanya minimal satu kali setiap hari. Para
pemain tidak pernah tahu kapan waktu di mana Bo akan meminta mereka melafalkan
target pribadi atau target tim mereka secara acak, oleh karena itu mereka harus
menghafalnya di luar kepala. Mereka harus mengetahui target mereka,
menghafalnya, mengingatnya, dan membacanya setiap hari.
Bagaimana
Mengatasi Risiko:
Menentukan
target itu penuh dengan risiko karena melibatkan pilihan dan perubahan.
"Jika
kamu memilih alternatif A sebagai ganti dari B, maka kamu berspekulasi
kehilangan B. Terkadang masalah ini terasa sangat menakutkan dan menyebabkan
kelumpuhan mental."
Inilah
yang disebutkan oleh Paula, karena dia meyakini bahwa mengendalikan risiko
adalah proses yang sulit, khususnya bagi wanita. Dia juga berkata: Masyarakat
menuntut wanita untuk bertanggung jawab melindungi keluarganya, baik hal itu
dinyatakan secara terang-terangan maupun tidak. Wanita dibebani tanggung jawab
atas rumah, yaitu tempat di mana keluarga merasakan keamanan dan keselamatan.
Tanggung jawab wanitalah untuk menyediakan lingkungan tersebut. Padahal,
perubahan itu penuh dengan risiko, dan menghadapi risiko itulah keamanan yang
sesungguhnya.
Bagaimana
Rasulullah saw Mengatasi Risiko dan Bahaya?
Rasulullah
saw menghadapi risiko dan bahaya yang sangat besar dari kaum Quraisy demi
mengemban dakwahnya dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Namun, keimanan
dan tekad kuatnya mampu mengalahkan kerumunan orang musyrik yang menyakitinya.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita mempelajari apa saja yang beliau hadapi,
bagaimana beratnya gangguan yang ditanggung oleh beliau 'alaihissalam, dan kita
wajib berjalan di atas sunahnya dalam menaklukkan kesulitan serta mengatasi
hambatan dan risiko.
Al-Baihaqi
mengeluarkan riwayat dari Abdullah bin Ja'far radhiyallahu 'anhuma, ia
berkata: "Ketika Abu Thalib meninggal dunia, seorang bodoh dari kalangan
Quraisy menghadang Rasulullah saw lalu melemparkan tanah ke atas kepala beliau.
Beliau pun pulang ke rumahnya, lalu salah seorang anak perempuannya datang
mengusap tanah tersebut dari wajahnya sambil menangis. Maka Rasulullah mulai
menghiburnya dengan bersabda: 'Wahai putriku! Janganlah menangis, karena
sesungguhnya Allah adalah pelindung ayahmu.' Di antara sela-sela waktu itu
beliau juga bersabda: 'Kaum Quraisy tidak pernah berhasil menimpakan sesuatu
yang tidak aku sukai secara terang-terangan sampai Abu Thalib meninggal dunia,
baru setelah itu mereka berani memulainya.'" — Demikianlah yang
termaktub dalam kitab Al-Bidayah (Jilid 3, hal. 134).
Dan
Abu Nu'aim mengeluarkan dalam kitab Al-Hilyah (Jilid 8, hal. 308) dari
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Ketika Abu Thalib meninggal
dunia, kaum kafir Quraisy bersikap tajahhamu (Arti dari tajahhamu
adalah mereka menemui beliau dengan kekasaran, kekejaman, dan wajah yang
masis/benci) terhadap Nabi saw, maka beliau bersabda: 'Wahai paman, alangkah
cepatnya aku merasakan dampak kehilangan dirimu.'
Apa
yang Dialami oleh Beliau 'Alaihissalam Berupa Gangguan dari Kaum Quraisy dan
Bagaimana Beliau Menjawab Mereka:
At-Thabarani
mengeluarkan riwayat dari Al-Harits bin Al-Harits, ia berkata: Aku bertanya
kepada ayahku: "Ada apa dengan perkumpulan orang banyak itu?" Ayahku
menjawab: "Mereka adalah kaum yang berkumpul untuk menghadapi orang yang
keluar dari agama mereka (shabi`—yang dimaksud adalah Nabi)."
Al-Harits
berkata: "Lalu kami turun mendekat, dan ternyata di sana ada Rasulullah saw
sedang menyeru manusia kepada tauhid (mengesakan) Allah Azza wa Jalla dan
beriman kepada-Nya, sementara mereka menolak perkataan beliau dan menyakiti
beliau hingga tengah hari, lalu orang-orang itu pun bubar meninggalkan beliau.
Kemudian
datanglah seorang wanita yang tampak bagian pangkal lehernya (Yaitu bagian
dadanya) membawa sebuah cawan dan saputangan. Beliau lalu mengambilnya,
meminumnya, dan berwudu. Setelah itu beliau mengangkat kepalanya dan bersabda: 'Wahai
putriku! Tutuplah pangkal lehermu dengan kerudungmu, dan janganlah kamu
mengkhawatirkan ayahmu.' Kami bertanya: 'Siapakah wanita ini?' Mereka
menjawab: 'Ini adalah Zainab, putri beliau—radhiyallahu 'anha—'." Al-Haitsami
berkata (Jilid 6, hal. 21): "Para perawi hadis ini adalah orang-orang yang
tepercaya (tsiqat)."
Dan
di sisi At-Thabarani juga, dari Munbit al-Azdi, ia berkata: "Aku melihat
Rasulullah saw pada masa jahiliah sedang bersabda: 'Wahai sekalian manusia!
Katakanlah tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, niscaya kalian
akan beruntung.' Di antara mereka ada yang meludahi wajah beliau, ada yang
menaburkan (melempar) tanah ke atas beliau, dan ada yang mencaci maki beliau
hingga tengah hari.
Lalu
datanglah seorang anak perempuan membawa wadah besar berisi air, kemudian
beliau membasuh wajah dan kedua tangannya, lalu bersabda: 'Wahai putriku!
Janganlah kamu takut ayahmu akan dibunuh secara sembunyi-sembunyi (dikhianati)
(Dengan harakat kasrah (Ghiilah): Berarti tipu daya dan pembunuhan
terencana, dan membunuhnya secara ghiilah artinya: menipunya lalu
membawanya ke suatu tempat kemudian membunuhnya di sana) dan jangan pula
takut akan kehinaan.' Maka aku bertanya: 'Siapakah ini?' Mereka menjawab: 'Zainab,
putri Rasulullah saw, dan dia adalah seorang anak perempuan yang rupawan (Diambil
dari kata Al-Wadha`ah yang berarti rupawan/cantik).'" Al-Haitsami
berkata (Jilid 6, hal. 21): "Di dalamnya ada Munbit ibn Mudrik, dan aku
tidak mengenalnya, sedangkan sisa perawi lainnya adalah orang-orang yang
tepercaya (tsiqat)."
Al-Bukhari
mengeluarkan riwayat dari Urwah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku bertanya
kepada Ibnu al-'Ash radhiyallahu 'anhu, kataku: "Kabarkanlah kepadaku
tentang perkara paling kejam yang dilakukan oleh kaum musyrik terhadap
Rasulullah saw."
Ia
menjawab: "Ketika Nabi saw sedang salat di dalam Hijr Ka'bah, tiba-tiba
Uqbah bin Abi Mu'aith datang menghampiri beliau, lalu melilitkan pakaiannya ke
leher beliau dan mencekik beliau dengan cekikan yang sangat keras.
Maka
Abu Bakar radhiyallahu 'anhu datang hingga memegang pundak Uqbah dan
mendorongnya menjauh dari Nabi saw sambil berkata: 'Apakah kamu akan
membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: Tuhanku ialah Allah, padahal
dia telah datang kepadamu membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu' (Al-Mu'min
ayat 28)—hingga akhir ayat; demikianlah dalam kitab Al-Bidayah
(Jilid 3, hal. 46).
Di
sisi Ibnu Abi Syaibah, dari Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Aku tidak pernah melihat kaum Quraisy berniat untuk membunuh Nabi saw
kecuali pada suatu hari; mereka berunding tentang beliau saat mereka sedang
duduk di bawah naungan Ka'bah, sedangkan Rasulullah saw sedang salat di dekat
Maqam (Ibrahim).
Lalu
Uqbah bin Abi Mu'aith berdiri menuju beliau dan menaruh selendangnya di leher
beliau, kemudian menariknya dengan keras hingga beliau jatuh bertumpu pada
kedua lututnya dalam keadaan tersungkur. Orang-orang pun berteriak-teriak dan
mengira bahwa beliau telah terbunuh.
Maka
Abu Bakar radhiyallahu 'anhu datang dengan berlari cepat hingga memegang kedua
pangkal lengan Rasulullah saw dari arah belakang beliau sambil berkata: 'Apakah
kalian akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: Tuhanku ialah
Allah.' Kemudian mereka pergi meninggalkan Nabi saw, lalu Rasulullah saw
berdiri dan melanjutkan salatnya.
Setelah
menyelesaikan salatnya, beliau berjalan melewati mereka—yang saat itu sedang
duduk di bawah naungan Ka'bah—lalu bersabda: 'Wahai sekalian kaum Quraisy!
Ketahuilah, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidaklah aku
diutus kepada kalian melainkan dengan penyembelihan (hukuman mati bagi yang
menentang)' dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah
tenggorokannya.
Maka
Abu Jahal berkata kepada beliau: 'Engkau bukanlah orang yang bodoh (kejam).'
Lalu Rasulullah saw bersabda kepadanya: 'Kamu termasuk bagian dari mereka
(yang akan disembelih)'—demikianlah dalam kitab Kanzul 'Ummal (Jilid
2, hal. 327). Abu Ya'la dan At-Thabarani juga mengeluarkannya dengan redaksi
yang semisal. Al-Haitsami berkata (Jilid 6, hal. 16): "Di dalamnya ada
Muhammad bin Amr bin Alqamah, dan hadisnya bernilai hasan; sedangkan sisa
perawi At-Thabarani lainnya adalah perawi kitab Shahih. Abu Nu'aim juga
mengeluarkannya dalam Dala`il an-Nubuwwah (hal. 67).
Ahmad
mengeluarkan riwayat dari Urwah bin az-Zubair, dari Abdullah bin Amr
radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Aku bertanya kepadanya: "Apa perkara
paling banyak (kejam) yang pernah kamu lihat menimpa Rasulullah saw dari kaum
Quraisy terkait permusuhan yang mereka tampakkan?"
Ia
menjawab: "Aku pernah menghadiri mereka ketika para pembesar mereka sedang
berkumpul di dalam Hijr (Ismail), lalu mereka berkata: 'Kita tidak pernah
melihat perlakuan seperti apa yang kita sabarkan atas orang ini sama sekali;
dia membodoh-bodohkan akal kita, mencaci maki nenek moyang kita, mencela agama
kita, memecah belah persatuan kita, dan menghina tuhan-tuhan kita. Sungguh kita
telah bersabar darinya atas perkara yang sangat besar'—atau sebagaimana
perkataan yang mereka ucapkan—.
Ia
melanjutkan: "Ketika mereka berada dalam kondisi demikian, tiba-tiba
Rasulullah saw muncul di hadapan mereka, beliau berjalan hingga menghadap ke
arah Rukun (Hajar Aswad), kemudian berjalan melewati mereka saat sedang tawaf
di Baitullah. Ketika beliau melewati mereka, mereka ghamzuhu
(menyindir/mencemooh beliau, yaitu mereka memberikan isyarat (mengejek)
kepadanya) dengan sebagian perkataan yang beliau ucapkan."
Ia
berkata: "Maka aku mengetahui hal tersebut dari perubahan di wajah beliau,
kemudian beliau terus berlalu. Ketika beliau melewati mereka untuk kedua
kalinya, mereka menyindir beliau dengan hal yang serupa, dan aku mengetahui hal
tersebut dari wajah beliau, kemudian beliau terus berlalu.
Ketika
beliau melewati mereka untuk ketiga kalinya dan mereka menyindir beliau dengan
hal yang serupa, maka beliau bersabda: 'Apakah kalian mendengar wahai
sekalian kaum Quraisy? Ketahuilah, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di
tangan-Nya! Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan penyembelihan.'
Maka
perkataan beliau itu langsung membungkam kaum tersebut, hingga tidak ada
seorang laki-laki pun dari mereka melainkan seolah-olah di atas kepalanya ada
seekor burung yang sedang hinggap. Bahkan orang yang paling keras
penentangannya terhadap beliau sebelum itu, seketika melunakkan suaranya (Yaitu
menenangkan beliau, bersikap lembut kepadanya, dan mendoakannya) dengan ucapan
terbaik yang bisa ia temukan, hingga ia berkata: 'Pergilah wahai Abul Qasim!
Pergilah dengan petunjuk. Demi Allah! Engkau bukanlah orang yang bodoh.' Maka
Rasulullah saw pun berlalu."
Apa
yang dialami oleh Rasulullah saw tersebut tidak sedikit pun melemahkan
kekuatannya, hingga akhirnya beliau mampu membentuk umat Islam yang memimpin
dunia dan menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kami telah
memaparkan kepadamu sebagian kecil dari kesabaran beliau saw di awal dakwah.
Dan wajib bagimu untuk mempelajari sirah (sejarah kehidupan) Rasul agar kamu
mengetahui banyak hal dan mempelajari banyak hal.
Ketika
manusia atau kesulitan mengetuk pintu akalmu, atau ketika kecemasan,
ketegangan, dan keraguan menembus pikiranmu, lihatlah pada visi dan targetmu.
Pikirkanlah tentang kekuatan mutlak di dalam alam bawah sadarmu yang mampu kamu
ciptakan melalui pemikiran dan imajinasimu, maka hal itu akan memberimu rasa
percaya diri, kekuatan, dan keberanian. Teruslah berada dalam kondisi tersebut
hingga fajar terbit dan bayang-bayang ketakutan itu sirna.
Tinjau
Kembali Kekuatan Berpikir Anda:
- Solusi itu berada di dalam
masalah. Jawaban itu ada pada setiap pertanyaan. Kecerdasan mutlakmu
akan merespons dirimu kapan saja ia dipanggil dengan landasan iman dan
rasa percaya diri.
- Kebiasaan adalah fungsi
dari alam bawah sadarmu. Dan kekuatan merupakan bukti terbesar atas
kemampuan ajaib dari alam bawah sadarmu, serta kebiasaan yang
mengendalikanmu itu nyata ada dalam kehidupanmu. Kamu adalah makhluk yang
dibentuk di atas kebiasaan.
- Bahwa kamu membentuk
pola-pola kebiasaan di dalam alam bawah sadarmu dengan cara mengulangnya
secara ide dan tindakan, berulang-ulang kali hingga meninggalkan bekas
di dalam alam bawah sadar, dan menjadi sesuatu yang otomatis seperti
kebiasaan mandi, mengetik di mesin tik, berjalan, menyetir mobil, dan lain
sebagainya.
- Sesungguhnya kamu
menikmati kebebasan memilih. Oleh karena itu, kamu bisa memilih
kebiasaan yang baik atau kebiasaan yang buruk. Salat adalah kebiasaan yang
baik, begitu pula dengan akhlak yang mulia, amar makruf (mengajak
kebaikan), dan nahi mungkar (mencegah kemungkaran).
- Semua gambaran mental yang
didukung oleh keimanan, kamu menyimpannya di dalam pikiran sadarmu,
dan alam bawah sadarmu akan membawanya untuk menembus dirimu.
- Satu-satunya penentu bagi
kesuksesan dan pencapaianmu adalah pemikiranmu sendiri dan impresi
(kesan) mentalmu.
- Ketika fokus perhatianmu
terpecah, kamu mampu mengembalikannya dengan cara berpikir dan merenungkan
kebaikan-kebaikanmu atau target-targetmu. Jadikanlah hal itu sebagai
kebiasaan, dan ini dinamakan dengan pengorganisasian akal.
- Sesungguhnya pikiran
sadarmu adalah kamera, sedangkan alam bawah sadarmu adalah pelat
sensitif atau klise cetak tempat gambar tersebut direkam.
- Satu-satunya kesialan yang
menghantui seseorang adalah rasa takutnya yang berulang-ulang kali di
dalam akal. Patahkan kesialan itu dengan meyakini bahwa apa pun awalnya,
hal itu akan menuntunmu pada akhirnya secara teratur, yaitu gambaran akhir
yang bahagia yang didukung oleh rasa percaya diri.
- Untuk membentuk kebiasaan
baru, kamu harus diyakinkan bahwa hal itu adalah kebiasaan yang
diinginkan. Ketika keinginanmu untuk membuang kebiasaan buruk lebih
kuat daripada keinginan untuk terus melakukannya, maka sesungguhnya kamu
telah sembuh darinya sebesar 51%.
- Ekspresi dan pernyataan
orang lain tidak akan membahayakanmu kecuali melalui pemikiranmu sendiri
dan kontribusi mentalmu. Kenalilah dirimu sendiri, dan jadikan targetmu
adalah kedamaian, keselarasan, dan kebahagiaan. Karena kamu adalah
satu-satunya pemikir di dalam duniamu. Dan Nabi 'Alaihissalatu wassalam
telah bersabda: "Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun manusia
memberikan fatwa kepadamu (atau membenarkanmu)."
- Berlebih-lebihan dalam
meminum khamar (miras) atau kebiasaan buruk adalah pemikiran negatif dan
merusak. Obatnya adalah dengan memikirkan tentang keselamatan,
kebebasan, kesempurnaan, dan penguasaan diri, serta merasakan dampak dari
sebuah pencapaian. Islam telah mengharamkan khamar, maka kaum muslimin pun
meninggalkannya dengan mudah dan tanpa pernah kembali kepadanya lagi.
- Banyak orang terus
kecanduan pada sesuatu karena mereka menolak untuk mengakui kotornya
apa yang mereka perbuat, atau mereka mengelabui diri mereka sendiri dengan
mengira bahwa mereka adalah orang yang lemah.
- Sesungguhnya hukum alam
bawah sadarmu yang bisa menahanmu dan membatasi kebebasanmu, juga mampu
memberimu kebebasan dan kebahagiaan. Dan hal itu bergantung pada
bagaimana cara kamu menggunakannya.
- Ketika rasa takut mengetuk
pintu akalmu, biarkanlah keimanan kepada Allah dan kepada hal-hal yang
baik yang membuka pintu tersebut. "Dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya."
Bagaimana
Cara Memilih Panutan (Idola/Target Peniruan):
Paula
juga menjelaskan bahwa teladan (قدوة) memiliki urgensi yang sangat besar dalam mencapai filosofi
kesuksesan pribadi. Paula mengenang kembali memorinya seraya berkata: "Sesungguhnya
nenekku memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diriku, beliau adalah
teladan ideal bagiku. Beliau menjadi janda pada usia dua puluh sembilan tahun
di pertengahan tahun 1930-an, ketika kakekku meninggal dunia setelah perjuangan
panjang melawan penyakit TBC yang dideritanya sejak Perang Dunia Pertama."
Penyakit
itu meninggalkannya sendirian di rumah bersama tiga orang anak yang semuanya
masih berusia di bawah enam tahun. Agar bisa merawat mereka, beliau bekerja
sebagai guru di sebuah sekolah di kota Clarkston, Michigan, yang merupakan
tempat kelahiranku.
Pada
masa-masa itu, nenekku tidak membutuhkan gelar sarjana untuk bisa bekerja di
bidang keguruan. Beliau bekerja di bidang ini selama bertahun-tahun, tidak
pernah menikah lagi, dan membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Di kemudian
hari, beliau diminta untuk masuk kuliah guna mendapatkan gelar sarjana, dan
beliau lulus dari Universitas Michigan pada tahun yang sama ketika ayahku lulus
dari universitas yang sama pula.
Nenekku
pernah mengajakku ke kota New York naik kereta api saat aku berusia sebelas
tahun. Beliau mengajakku bermain seluncur es di Rockefeller Center, mengajakku
ke kawasan Saks Fifth Avenue, dan ke Radio City Music Hall untuk menonton
pertunjukan The Rockettes. Nenekku saat itu berada di dekade kelima dari
usianya (umur 40-an tahun), namun beliau sangat menikmati hidup.
Baru
belakangan inilah aku menyadari betapa luar biasanya nenekku pada masa yang ia
lalui tersebut. Beliau selalu mengenakan pakaian yang paling modis, bepergian
ke seluruh penjuru dunia, dan memiliki teman yang tak terhitung jumlahnya, yang
mana beliau saling berkirim surat dengan mereka. Beliau menjalani kehidupan
yang sangat menarik, dan mengajarkan kepadaku bahwa manusia bisa hidup mandiri
dengan kehidupan yang penuh warna.
"Menjalani
kehidupan yang kamu impikan, dan mati demi membela kehidupan ini saat
dibutuhkan, adalah jauh lebih baik daripada menjalani kehidupan di mana kamu
meraih lebih banyak keuntungan namun kehilangan kebahagiaanmu." (Marjorie
Kinnan Rawlings)
Pilihlah
Guru-Gurumu:
Paula
menyarankan untuk mengambil peran aktif dalam mencari orang-orang yang dapat
memberi nasihat (mentor). Bacalah biografi-biografi untuk mengetahui bagaimana
orang-orang sukses menyikapi peluang atau bagaimana mereka menghadapi
tantangan. Jangan menunggu orang-orang yang kamu kagumi itu mengundangmu untuk
bekerja bersama mereka dan belajar dari mereka. Datangilah mereka, beri tahu
mereka bahwa kamu menghormati mereka, dan mintalah mereka untuk menjadi bagian
dari guru-gurumu.
Paula
berkata: "Sesungguhnya kamu sedang menyenangkan ego kebanyakan orang
ketika kamu memberi tahu mereka bahwa kamu kagum dengan metode kerja mereka
atau bahwa kamu menghormati pencapaian yang telah mereka raih dalam pekerjaan
mereka. Tentukan guru-gurumu dari kalangan pria maupun wanita, dan berikan
mereka undangan makan malam satu kali setiap bulan. Metode ini sangat
membantuku, dan menerangi banyak jalan dalam perjalanan karierku. Kamu tidak
bisa hanya berdiam diri di tempatmu sambil menunggu undangan dari orang lain.
Pegang kendali atas hidupmu, tanggunglah konsekuensinya, dan jadilah orang yang
bertanggung jawab atas perkembangan kariermu serta kebahagiaan pribadimu."
Paula
menutup perkataannya dengan berkata: "Tidak akan ada orang lain yang
melakukan hal ini untukmu. Maka dari itu, kamu harus melakukannya sendiri untuk
mewujudkan kehidupan yang bahagia dan produktif. Karena sejatinya: Hidup adalah
sebuah petualangan, dan hampir tidak ada hal yang mustahil. Termasuk bagian
dari tuntutan hikmah (kebijaksanaan) adalah mengetahui apa saja hal yang harus
kamu abaikan." (William James)
Di
antara sebab terbesar untuk meningkatkan semangat (همة) adalah: bersahabat dengan orang-orang
yang memiliki semangat tinggi, serta menelaah kisah-kisah perjalanan hidup
mereka.
Sebab
burung itu akan hinggap bersama yang sejenisnya, dan setiap orang akan
meneladani temannya. Dan sesungguhnya seorang hamba dapat mengambil pelajaran
dari tatapan mata orang-orang saleh sebelum ucapan mereka, karena melihat
mereka saja sudah mengingatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla. Dari Anas
radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya
di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan
penutup pintu keburukan" (DIriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinilai
hasan oleh Al-Albani No. 1332).
Dari
Ja'far, ia berkata: (Dahulu jika aku merasakan kekerasan di dalam hatiku,
aku akan memandang wajah Muhammad bin Wasi' dengan sekali pandang. Dan jika aku
melihat wajah Muhammad bin Wasi', aku merasa seolah-olah wajahnya adalah wajah
seorang ibu yang kehilangan anaknya [karena khusyuk dan sedihnya]).
Dan
Ibnu al-Mubarak berkata: (Jika aku memandang kepada "Fudhail" [bin
'Iyadh], maka kesedihanku akan diperbarui, dan aku menjadi benci pada diriku
sendiri [karena merasa kurang saleh]).
Dan
dahulu Imam Ahmad (jika sampai kepadanya kabar tentang kesalehan seseorang,
atau kezuhudannya, atau penegakannya terhadap kebenaran, atau ketaatannya pada
perintah agama: beliau akan bertanya tentangnya, dan beliau suka jika terjalin
perkenalan antara dirinya dengan orang tersebut, serta beliau suka untuk
mengetahui keadaan-keadaannya).
Dan
karena menguji karakter itu dilakukan sebelum menjadikannya orang dekat, maka
Imam Ahmad rahimahullah sangat teliti dalam memilih siapa yang ia dekatkan dan
ia posisikan di sisinya. Beliau dikenal luas dengan sifat tersebut, hingga
seorang penyair berkata memuji beliau:
Dan beliau berbuat baik demi Dzat Allah jika beliau melihat
Orang yang dizalimi dari kalangan pembela kebenaran, beliau
tidak pernah bosan menghadapi ujian
Dan saudara-saudara dekatnya adalah setiap orang yang
mendapat taufik
Yang
jeli terhadap perintah Allah dan kedudukannya tinggi menjulang ke atas
kemuliaan
Ibnu
al-Qayyim rahimahullah menceritakan sebagian dari apa yang ia manfaatkan dari
mengamati gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah Ta'ala, beliau
berkata: (Dan Allah mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun
yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau sama sekali, padahal beliau berada
dalam kondisi kehidupan yang sempit, jauh dari kemewahan dan kenikmatan—bahkan
kebalikannya—, serta apa yang beliau alami berupa jeruji penjara, ancaman, dan
tekanan. Namun bersamaan dengan itu, beliau termasuk manusia yang paling
bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling
gembira jiwanya. Rona kenikmatan terpancar di wajahnya. Dahulu kami jika rasa
takut telah mencekam kami, prasangka-prasangka buruk mulai membayangi kami, dan
bumi terasa sempit bagi kami, kami segera mendatangi beliau. Maka tidak ada hal
lain melainkan begitu kami melihatnya dan mendengar ucapannya, seketika semua
rasa takut itu sirna, dan berubah menjadi kelapangan dada, kekuatan, keyakinan,
serta ketenteraman) (Al-Wabil ash-Shayyib hal. 76).
Amirul
Mukminin Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Tidaklah seorang hamba
dianugerahi kenikmatan setelah Islam yang lebih baik daripada saudara yang
saleh. Maka jika salah seorang dari kalian merasakan kasih sayang dari
saudaranya, hendaklah ia memegangnya erat-erat."
Dan
Hasan al-Bashri berkata: "Saudara-saudara (seiman) kami adalah lebih
kami cintai daripada keluarga dan anak-anak kami. Karena keluarga kami
mengingatkan kami pada dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami
pada akhirat."
Dan
bersahabat dengan orang-orang mulia yang bersungguh-sungguh serta terjaga
pemanfaatannya terhadap hitungan menit dan detik ini, memiliki pengaruh yang
sangat agung dalam tingginya semangat tokoh-tokoh seperti Imam Ibnu Jarir
ath-Thabari, Ibnu 'Aqil al-Hanbali, Ibnu 'Asakir ad-Dimasqi, Ibnu Taimiyah,
Ibnu al-Qayyim, Ibnu an-Nafis, Al-Mizzi, Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar, dan
orang-orang yang sepadan dengan mereka dalam hal melimpahnya karya tulis mereka
serta kebaruannya.
Imam
Ibnu 'Aqil al-Hanbali, penulis kitab Al-Funun—yang kisahnya telah lewat
sebelum ini—berkata: "Dan Allah telah menjagaku sejak masa puncak
mudaku dengan berbagai bentuk penjagaan, dan Dia membatasi kecintaanku hanya
pada ilmu dan ahli ilmu saja. Maka aku tidak pernah sekalipun berbaur dengan
orang-orang yang suka bermain-main, dan aku tidak pernah berteman akrab kecuali
dengan orang-orang yang sepadan denganku dari kalangan para penuntut
ilmu."
Maka
orang yang bersemangat tinggi lagi mendapat taufik yang menginginkan
kedudukan-kedudukan tinggi, tidak akan kamu lihat dirinya kecuali bersama para
ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang memiliki keutamaan,
kesungguhan, hikmah, dan mata hati. Hal itu agar apa yang ada pada mereka
menular kepadanya atau sebagian darinya, sehingga ia menjadi seperti mereka
atau dekat dengan kedudukan mereka.
Sesungguhnya
bersahabat dengan mereka itu mengajarkanmu cara berlomba dengan waktu. Sedangkan
bersahabat dengan pengangguran (orang yang malas) mengajarkanmu cara
menyia-nyiakan waktu.
Guru
kita, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Nilailah
seseorang itu dari siapa yang menjadi sahabatnya, karena sesungguhnya seseorang
itu hanya akan bersahabat dengan orang yang sepadan dengannya."
Maka
kita berlindung kepada Allah dari bersahabat dengan orang-orang yang malas). (Sawanih
wa Ta'ammulat fi Qimat az-Zaman hal. 48).
Pemberlakuan
Praktis dari Hakikat Tema serta Nilai-Nilainya Melalui Aktivitas-Aktivitas
Berikut:
Pertama:
Aktivitas Pendamping (Asosiatif):
- Mencatat serangkaian
situasi/kondisi di mana dirinya telah meraih kesuksesan yang tinggi.
- Menyusun sebuah program
harian khusus bagi dirinya untuk mengelola waktunya secara terorganisasi.
Kedua:
Aktivitas Pendukung (Suplemen):
- Banyak membaca tentang kisah
perjalanan hidup (biografi) orang-orang yang memiliki tekad kuat dan
semangat yang tinggi.
- Menguasai perencanaan untuk
memanfaatkan potensinya dalam mengatasi berbagai risiko.
- Membaca selama tiga puluh
menit setiap hari hingga ia dapat merumuskan suatu filosofi khusus bagi
dirinya yang dapat membantunya dalam mewujudkan tujuan-tujuannya.
- Menguasai perencanaan untuk
memanfaatkan potensinya dalam mengatasi berbagai risiko melalui suatu
program pelatihan.
- Melaksanakan dan menerapkan
program yang telah dipersiapkan dengan menggunakan usulan-usulan yang
diajukan secara pelaksanaan yang sempurna.
- Bersahabat dengan orang-orang
yang memiliki semangat tinggi.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri:
Pertama:
Pertanyaan Esai (Subjektif):
- Sebutkanlah sumber-sumber
kesuksesan yang paling utama!
- Apa pentingnya mengadopsi
filosofi serta keyakinan yang benar untuk meraih kesuksesan?
- Sebutkan lima sarana yang
dapat membantumu untuk meraih kesuksesan!
- Sebutkan lima alternatif yang
dapat membantumu untuk mewujudkan tujuan-tujuan sebelumnya!
- Tulislah sebuah laporan yang
berisi nama-nama orang yang telah mampu memengaruhi kehidupanmu melalui
kesuksesan dan pencapaian mereka, dengan menjelaskan rahasia kekagumanmu
kepada mereka serta sejauh mana kamu mengambil manfaat dari mereka!
- Metode ilmiah dalam
memecahkan masalah memiliki urgensi yang sangat besar dalam mengorganisasi
tujuan dan mengatasi berbagai problematika. Jelaskanlah hal tersebut, dan
bagaimana kamu dapat memanfaatkan hal itu dalam mengatasi
masalah-masalahmu serta menentukan tujuan-tujuanmu?
- Susunlah sebuah program
harian selama pekan ini yang dapat membantumu untuk mengorganisasi
ide-idemu kemudian mengorganisasi tujuan-tujuanmu!
- Sebutkanlah serangkaian bait
puisi yang menjelaskan tentang pentingnya bersahabat dengan orang-orang
baik!
- Sering kali kamu menghadapi
masalah dalam ketepatan waktu dan bangun untuk salat subuh, maka bagaimana
kita dapat mengatasi hal tersebut?
Kedua:
Pertanyaan Objektif:
- Letakkan tanda ( ✓ ) di depan
pernyataan yang benar, dan tanda ( ✗ ) di depan pernyataan
yang tidak benar dari hal-hal berikut ini:
- Kebiasaan adalah fungsi
dari alam bawah sadar. ( )
- Solusi itu ada di dalam
setiap masalah. ( )
- Mandi tidak termasuk ke
dalam bagian dari kebiasaan. ( )
- Manusia tidak mampu
mendahulukan suatu kebiasaan di atas kebiasaan lainnya. (
)
- Hambatan pertama bagi
kesuksesanmu adalah impresi (kesan) mentalmu. (
)
- Untuk membentuk kebiasaan
baru, kamu harus diyakinkan bahwa hal itu adalah kebiasaan yang
diinginkan. ( )
- Rasa takut adalah hambatan
di jalan menuju kesuksesan yang tidak ada obatnya. (
)
- Apa hubungan antara pikiran
sadar dengan alam bawah sadar?
- Sempurnakanlah kalimat
berikut ini:
- Bersahabat dengan para
ulama yang mengamalkan ilmunya memiliki manfaat yang sangat banyak, di
antaranya:
- .................... 2.
.................... 3. .................... 4. .................... 5.
....................
Comments
Post a Comment