Pasal 3: Falsafah Kesuksesan

BAB KETIGA: Hal-Hal yang Anda Yakini dalam Filosofi Sukses yang Harus Diikuti

Tujuan Umum:

  1. Membekali pembelajar dengan bekal pengetahuan yang mendasari teori kesuksesan dan menaklukkan kegagalan.
  2. Membentuk sikap positif pada diri pembelajar untuk memulai perjalanan menuju kesuksesan.
  3. Melatih pembelajar untuk mempraktikkan mekanisme kesuksesan melalui berbagai aktivitas.

Tujuan Perilaku Instruksional (Indikator Capaian):

Setelah menyelesaikan proses pembelajaran pada tema ini, pembelajar diharapkan mampu untuk:

Pertama: Tujuan Kognitif (Pengetahuan):

  1. Menyebutkan sumber-sumber kesuksesan yang paling penting.
  2. Menjelaskan pentingnya mengadopsi filosofi dan keyakinan yang benar yang dapat membantunya meraih kesuksesan.
  3. Menentukan target-target terpenting yang ingin dicapai dalam hidupnya dan merumuskan berbagai alternatif yang dapat membantunya dalam hal tersebut.
  4. Mengurutkan target-target yang ingin dicapai berdasarkan tingkat kepentingan dan prioritas pencapaiannya.
  5. Menyebutkan momen-momen dari kehidupan orang-orang besar yang menetapkan target bagi diri mereka lalu berhasil mewujudkannya.
  6. Menjelaskan cara Rasulullah saw (Shallallahu 'alaihi wa sallam) mengatasi berbagai risiko dan bahaya.
  7. Merangkum beberapa bentuk penindasan/gangguan yang dialami oleh Rasulullah dari kaum Quraisy serta jawaban beliau kepada mereka.
  8. Menggunakan metode ilmiah dalam memecahkan masalah.
  9. Menciptakan cara-cara baru demi meraih kesuksesan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
  10. Menyebutkan berbagai alternatif yang dapat membantu dirinya dalam mewujudkan target-targetnya.

Kedua: Tujuan Afektif (Sikap/Spritual):

  1. Percaya pada kemampuan dan pemikiran dirinya sendiri.
  2. Bersemangat untuk mengadopsi keyakinan dan filosofi yang benar yang membantunya meraih kesuksesan.
  3. Selalu meyakini bahwa pada setiap masalah pasti ada solusi yang menyertainya.
  4. Meneladani Rasulullah saw terutama dalam menghadapi kesulitan dan mengatasinya.
  5. Terbiasa berpikir secara terorganisasi dalam menyampaikan ide-idenya.
  6. Berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama Islam yang lurus.
  7. Bersabar atas segala kesulitan dan cobaan hingga mampu mengatasinya.
  8. Menunjukkan kecenderungan untuk membangun jaringan keyakinan benar yang kuat.
  9. Bersemangat dalam menentukan target-targetnya dan menyusunnya dengan urutan yang benar.
  10. Menunjukkan apresiasi terhadap pentingnya memanfaatkan potensi dan energi yang dimilikinya.
  11. Menghindari rasa takut serta dampak frustrasi yang ditimbulkannya.
  12. Selalu teguh di atas prinsip yang benar dan tidak tergoyahkan oleh ilusi maupun ketakutan.
  13. Meneladani Rasulullah saw dalam mengatasi risiko/bahaya dan menanggung gangguan.
  14. Menunjukkan semangat untuk bersahabat dengan orang-orang baik dan orang-orang yang memiliki semangat tinggi.

Ketiga: Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):

  1. Mahir dalam membangun jaringan keyakinan dan filosofi benar yang kuat.
  2. Menciptakan metode baru yang membantunya mewujudkan target-target yang telah ia tetapkan di depan matanya.
  3. Mahir memanfaatkan alam bawah sadar dalam membentuk pola-pola kebiasaan dengan cara mengulangnya, baik secara ide maupun pikiran.
  4. Mahir membedakan antara peran pikiran sadar dan pikiran bawah sadar serta tugas-tugas yang dilakukan oleh masing-masing.
  5. Mahir mengambil manfaat dari persahabatan dengan orang-orang baik.
  6. Beradaptasi dengan kondisi-kondisi sulit hingga mampu mengatasinya.
  7. Mahir memilih orang-orang yang dapat membantunya mewujudkan target dari kalangan orang yang memiliki semangat tinggi.

Materi Ilmiah:

"Salah satu hal ajaib dalam hidup ini adalah: jika kamu tidak menerima apa pun kecuali yang terbaik, maka sering kali kamu akan mendapatkannya." (Somerset Maugham)

Hidup ini—sebagaimana yang pernah diperhatikan oleh seorang nelayan tua—menyerupai memancing ikan salem (salmon). Ketika kamu mengarungi arus sungai untuk mengeluarkan rezeki yang menantimu di dalamnya, jika kamu tidak menancapkan kedua kakimu dengan baik, kamu akan hanyut bersamanya. Kamu akan kehilangan kemampuan untuk melawan kekuatan yang mendorongmu ke arah mana pun ia mengalir.

Untuk menghindari hanyut tanpa arah, kamu harus memiliki filosofi yang kokoh, yaitu sekumpulan hal yang kamu yakini, yang telah kamu capai secara sadar dan penuh perhatian. Di sisi lain, kamu harus mencapai keyakinan baru setiap kali menghadapi keputusan krusial dalam hidupmu. Jika kamu memiliki jaringan keyakinan yang kuat, hal itu akan membantumu memilih di antara alternatif-alternatif yang sulit, dan membuatmu berdiri di atas pijakan yang solid ketika arus kehidupan berputar-putar di sekelilingmu dalam pusaran badai.

Di Antara Filosofi Sukses:

Paula Blanchard adalah salah satu orang yang merasakan kebutuhan mendesak untuk merumuskan filosofi hidup yang menuntun dirinya. Secara kasatmata, Paula berada di puncak dunia dalam segala aspek lahiriah. Dia menikah dengan kekasihnya semasa kuliah, seorang pengacara muda ambisius yang terpilih masuk ke Kongres AS di awal kariernya, dan terus melaju hingga menjadi Gubernur Negara Bagian Michigan.

Mereka berdua memiliki pengaruh besar di berbagai lini kehidupan politik dan sosial di Michigan. Mereka memiliki rumah yang indah, serta segala fasilitas istimewa yang didapatkan oleh para pemegang jabatan tinggi di pemerintahan. Sebagai Ibu Negara Bagian Michigan (First Lady), Paula menjadi juru bicara bagi negara bagian tersebut dan memiliki reputasi yang baik. Dia juga bekerja sebagai penasihat khusus penuh waktu untuk cabang Departemen Perdagangan di Michigan dengan menerima gaji atas jabatan tersebut.

Namun, ada sesuatu yang hilang. Paula berkata: "Aku menemukan bahwa hidupku menjadi tidak seimbang secara mengerikan karena terlalu banyak waktu yang aku curahkan untuk pekerjaan dan ambisi suamiku. Akibatnya, tidak ada lagi waktu yang cukup untuk memperkuat ikatan pernikahan, keluarga, dan menikmati kenyamanan hidup. Tidak ada waktu untuk hal-hal penting lainnya dalam hidupku: keluarga, teman, istirahat, serta aktivitas hiburan, rekreasi, kontemplasi (merenung), dan ibadah."

Dalam sebuah wawancara di kantornya di Southfield, Michigan, Paula menceritakan tentang hidupnya: "Aku menyadari bahwa usiaku telah mendekati empat puluh tahun, tetapi aku tidak sedang menjalani hidupku sendiri, melainkan menjalani hidup suamiku. Hal ini sangat sering terjadi ketika seorang wanita memikirkan apa yang diinginkannya dari hidup; kamu akan mendapatinya membiarkan target orang lain mengalahkan target-target dirinya sendiri. Wanita melakukan apa yang menurut suami, bos di tempat kerja, ayah, atau ibunya harus ia lakukan."

"Seandainya aku harus menjalani hidupku sekali lagi, aku akan melakukan kesalahan yang sama, tetapi kesalahan-kesalahan itu akan terjadi lebih cepat." (Tallulah Bankhead)

Kesadaran ini membawa Paula pada fase introspeksi diri (kontemplasi internal) yang panjang untuk memikirkan pilihan-pilihannya, mencoba menyelaraskan diri dengan karakter pribadinya, dengan ekspektasinya terhadap kehidupan, serta apa yang ia harapkan dari pernikahan.

Paula berkata: "Ide ini memaksaku untuk kembali kepada nilai-nilai yang aku pegang, karena aku harus memutuskan apa hal terpenting bagiku, dan bagaimana menjalani kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai ini."

Dia sempat terhanyut dalam kehidupan materi yang membuatnya menjauh dari nutrisi jiwa dan kebahagiaan yang hakiki. Oleh karena itu, Islam hadir sebagai materi dan jiwa, dunia dan akhirat, yang mewujudkan aktualisasi diri manusia dan cita-citanya di dunia, serta mewujudkan kebaikan, amal saleh, pahala Allah, dan keberuntungan di akhirat baginya. Dan inilah yang harus dilakukan oleh keluarga serta setiap individu di dalamnya.

Filosofi pribadi yang lahir dari pengalaman Paula inilah yang mengarahkan keputusan-keputusan menyakitkan yang akan diambilnya pada minggu-minggu dan bulan-bulan setelah kesadaran tersebut. Jaringan keyakinan inilah yang menyokong dirinya hari ini. Selama bulan-bulan setelah masa introspeksi tersebut, Paula mengajukan gugatan cerai dan pindah keluar dari wilayah kediaman gubernur di Lansing.

Dia menyelesaikan program pelatihan untuk mendapatkan gelar Magister dalam bidang produksi video dari Universitas Michigan, mendirikan perusahaan produksi audio-visual, dan mengubah total jalan hidupnya.

Sebelum posisinya saat ini sebagai Wakil Presiden Komunikasi di Dana Moneter Nasional untuk Kebun Botani Amerika Serikat, Paula menjabat sebagai Wakil Presiden di perusahaan "Casey Communication Management Inc.", sebuah perusahaan konsultan terkemuka di wilayah Midwest Amerika yang menyediakan layanan penasihat untuk urusan publik dan hubungan masyarakat, yang kemudian merger dengan perusahaan Chadwick. Dia juga meraih penghargaan keunggulan dari Fakultas Pendidikan di State University of Michigan, menerima tiga gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari tiga universitas, menulis kolom bulanan di majalah wanita Detroit Metropolitan, serta aktif berbicara secara konsisten mengenai isu-isu perempuan dan hal lainnya.

Tentukan Target Anda:

Seperti kebanyakan orang yang meraih pencapaian besar dalam hidup mereka, Paula Blanchard adalah pendukung kuat dari metode penetapan target (goal-setting). Paula menunjukkan metode yang digunakan oleh Bo Schembechler, mantan pelatih tim sepak bola Universitas Michigan yang terkenal dengan kecerdasan dan kelincahannya, yang di kemudian hari menjadi Manajer Umum untuk klub "Detroit Tigers".

Ketika melatih di Universitas Michigan, Bo bekerja bersama tim untuk menetapkan target-target mereka, dan meminta setiap pemain untuk menuliskan target pribadinya masing-masing.

"Percaya pada diri sendiri (mandiri) berarti kamu mampu berdiri di atas kedua kakimu sendiri tanpa bantuan orang lain. Ini tidak berarti tidak peduli atau menolak bantuan orang lain, melainkan kamu berada dalam kedamaian dengan dirimu sendiri, bahwa kamu layak menghormati dirimu sendiri ketika bantuan dari orang lain tidak kunjung datang kepadamu." (Mahatma Gandhi)

Paula melanjutkan: Bo meminta setiap pemain di timnya untuk menuliskan target pribadinya pada satu sisi kartu, dan menuliskan target tim di sisi kartu yang lain. Setelah itu, ia meminta setiap orang untuk selalu membawa kartu tersebut di dalam dompet mereka, dan membacanya minimal satu kali setiap hari. Para pemain tidak pernah tahu kapan waktu di mana Bo akan meminta mereka melafalkan target pribadi atau target tim mereka secara acak, oleh karena itu mereka harus menghafalnya di luar kepala. Mereka harus mengetahui target mereka, menghafalnya, mengingatnya, dan membacanya setiap hari.

Bagaimana Mengatasi Risiko:

Menentukan target itu penuh dengan risiko karena melibatkan pilihan dan perubahan.

"Jika kamu memilih alternatif A sebagai ganti dari B, maka kamu berspekulasi kehilangan B. Terkadang masalah ini terasa sangat menakutkan dan menyebabkan kelumpuhan mental."

Inilah yang disebutkan oleh Paula, karena dia meyakini bahwa mengendalikan risiko adalah proses yang sulit, khususnya bagi wanita. Dia juga berkata: Masyarakat menuntut wanita untuk bertanggung jawab melindungi keluarganya, baik hal itu dinyatakan secara terang-terangan maupun tidak. Wanita dibebani tanggung jawab atas rumah, yaitu tempat di mana keluarga merasakan keamanan dan keselamatan. Tanggung jawab wanitalah untuk menyediakan lingkungan tersebut. Padahal, perubahan itu penuh dengan risiko, dan menghadapi risiko itulah keamanan yang sesungguhnya.

Bagaimana Rasulullah saw Mengatasi Risiko dan Bahaya?

Rasulullah saw menghadapi risiko dan bahaya yang sangat besar dari kaum Quraisy demi mengemban dakwahnya dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Namun, keimanan dan tekad kuatnya mampu mengalahkan kerumunan orang musyrik yang menyakitinya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita mempelajari apa saja yang beliau hadapi, bagaimana beratnya gangguan yang ditanggung oleh beliau 'alaihissalam, dan kita wajib berjalan di atas sunahnya dalam menaklukkan kesulitan serta mengatasi hambatan dan risiko.

Al-Baihaqi mengeluarkan riwayat dari Abdullah bin Ja'far radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Ketika Abu Thalib meninggal dunia, seorang bodoh dari kalangan Quraisy menghadang Rasulullah saw lalu melemparkan tanah ke atas kepala beliau. Beliau pun pulang ke rumahnya, lalu salah seorang anak perempuannya datang mengusap tanah tersebut dari wajahnya sambil menangis. Maka Rasulullah mulai menghiburnya dengan bersabda: 'Wahai putriku! Janganlah menangis, karena sesungguhnya Allah adalah pelindung ayahmu.' Di antara sela-sela waktu itu beliau juga bersabda: 'Kaum Quraisy tidak pernah berhasil menimpakan sesuatu yang tidak aku sukai secara terang-terangan sampai Abu Thalib meninggal dunia, baru setelah itu mereka berani memulainya.'" — Demikianlah yang termaktub dalam kitab Al-Bidayah (Jilid 3, hal. 134).

Dan Abu Nu'aim mengeluarkan dalam kitab Al-Hilyah (Jilid 8, hal. 308) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum kafir Quraisy bersikap tajahhamu (Arti dari tajahhamu adalah mereka menemui beliau dengan kekasaran, kekejaman, dan wajah yang masis/benci) terhadap Nabi saw, maka beliau bersabda: 'Wahai paman, alangkah cepatnya aku merasakan dampak kehilangan dirimu.'

Apa yang Dialami oleh Beliau 'Alaihissalam Berupa Gangguan dari Kaum Quraisy dan Bagaimana Beliau Menjawab Mereka:

At-Thabarani mengeluarkan riwayat dari Al-Harits bin Al-Harits, ia berkata: Aku bertanya kepada ayahku: "Ada apa dengan perkumpulan orang banyak itu?" Ayahku menjawab: "Mereka adalah kaum yang berkumpul untuk menghadapi orang yang keluar dari agama mereka (shabi`—yang dimaksud adalah Nabi)."

Al-Harits berkata: "Lalu kami turun mendekat, dan ternyata di sana ada Rasulullah saw sedang menyeru manusia kepada tauhid (mengesakan) Allah Azza wa Jalla dan beriman kepada-Nya, sementara mereka menolak perkataan beliau dan menyakiti beliau hingga tengah hari, lalu orang-orang itu pun bubar meninggalkan beliau.

Kemudian datanglah seorang wanita yang tampak bagian pangkal lehernya (Yaitu bagian dadanya) membawa sebuah cawan dan saputangan. Beliau lalu mengambilnya, meminumnya, dan berwudu. Setelah itu beliau mengangkat kepalanya dan bersabda: 'Wahai putriku! Tutuplah pangkal lehermu dengan kerudungmu, dan janganlah kamu mengkhawatirkan ayahmu.' Kami bertanya: 'Siapakah wanita ini?' Mereka menjawab: 'Ini adalah Zainab, putri beliau—radhiyallahu 'anha—'." Al-Haitsami berkata (Jilid 6, hal. 21): "Para perawi hadis ini adalah orang-orang yang tepercaya (tsiqat)."

Dan di sisi At-Thabarani juga, dari Munbit al-Azdi, ia berkata: "Aku melihat Rasulullah saw pada masa jahiliah sedang bersabda: 'Wahai sekalian manusia! Katakanlah tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, niscaya kalian akan beruntung.' Di antara mereka ada yang meludahi wajah beliau, ada yang menaburkan (melempar) tanah ke atas beliau, dan ada yang mencaci maki beliau hingga tengah hari.

Lalu datanglah seorang anak perempuan membawa wadah besar berisi air, kemudian beliau membasuh wajah dan kedua tangannya, lalu bersabda: 'Wahai putriku! Janganlah kamu takut ayahmu akan dibunuh secara sembunyi-sembunyi (dikhianati) (Dengan harakat kasrah (Ghiilah): Berarti tipu daya dan pembunuhan terencana, dan membunuhnya secara ghiilah artinya: menipunya lalu membawanya ke suatu tempat kemudian membunuhnya di sana) dan jangan pula takut akan kehinaan.' Maka aku bertanya: 'Siapakah ini?' Mereka menjawab: 'Zainab, putri Rasulullah saw, dan dia adalah seorang anak perempuan yang rupawan (Diambil dari kata Al-Wadha`ah yang berarti rupawan/cantik).'" Al-Haitsami berkata (Jilid 6, hal. 21): "Di dalamnya ada Munbit ibn Mudrik, dan aku tidak mengenalnya, sedangkan sisa perawi lainnya adalah orang-orang yang tepercaya (tsiqat)."

Al-Bukhari mengeluarkan riwayat dari Urwah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu al-'Ash radhiyallahu 'anhu, kataku: "Kabarkanlah kepadaku tentang perkara paling kejam yang dilakukan oleh kaum musyrik terhadap Rasulullah saw."

Ia menjawab: "Ketika Nabi saw sedang salat di dalam Hijr Ka'bah, tiba-tiba Uqbah bin Abi Mu'aith datang menghampiri beliau, lalu melilitkan pakaiannya ke leher beliau dan mencekik beliau dengan cekikan yang sangat keras.

Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu datang hingga memegang pundak Uqbah dan mendorongnya menjauh dari Nabi saw sambil berkata: 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu' (Al-Mu'min ayat 28)—hingga akhir ayat; demikianlah dalam kitab Al-Bidayah (Jilid 3, hal. 46).

Di sisi Ibnu Abi Syaibah, dari Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku tidak pernah melihat kaum Quraisy berniat untuk membunuh Nabi saw kecuali pada suatu hari; mereka berunding tentang beliau saat mereka sedang duduk di bawah naungan Ka'bah, sedangkan Rasulullah saw sedang salat di dekat Maqam (Ibrahim).

Lalu Uqbah bin Abi Mu'aith berdiri menuju beliau dan menaruh selendangnya di leher beliau, kemudian menariknya dengan keras hingga beliau jatuh bertumpu pada kedua lututnya dalam keadaan tersungkur. Orang-orang pun berteriak-teriak dan mengira bahwa beliau telah terbunuh.

Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu datang dengan berlari cepat hingga memegang kedua pangkal lengan Rasulullah saw dari arah belakang beliau sambil berkata: 'Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: Tuhanku ialah Allah.' Kemudian mereka pergi meninggalkan Nabi saw, lalu Rasulullah saw berdiri dan melanjutkan salatnya.

Setelah menyelesaikan salatnya, beliau berjalan melewati mereka—yang saat itu sedang duduk di bawah naungan Ka'bah—lalu bersabda: 'Wahai sekalian kaum Quraisy! Ketahuilah, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidaklah aku diutus kepada kalian melainkan dengan penyembelihan (hukuman mati bagi yang menentang)' dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah tenggorokannya.

Maka Abu Jahal berkata kepada beliau: 'Engkau bukanlah orang yang bodoh (kejam).' Lalu Rasulullah saw bersabda kepadanya: 'Kamu termasuk bagian dari mereka (yang akan disembelih)'—demikianlah dalam kitab Kanzul 'Ummal (Jilid 2, hal. 327). Abu Ya'la dan At-Thabarani juga mengeluarkannya dengan redaksi yang semisal. Al-Haitsami berkata (Jilid 6, hal. 16): "Di dalamnya ada Muhammad bin Amr bin Alqamah, dan hadisnya bernilai hasan; sedangkan sisa perawi At-Thabarani lainnya adalah perawi kitab Shahih. Abu Nu'aim juga mengeluarkannya dalam Dala`il an-Nubuwwah (hal. 67).

Ahmad mengeluarkan riwayat dari Urwah bin az-Zubair, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Aku bertanya kepadanya: "Apa perkara paling banyak (kejam) yang pernah kamu lihat menimpa Rasulullah saw dari kaum Quraisy terkait permusuhan yang mereka tampakkan?"

Ia menjawab: "Aku pernah menghadiri mereka ketika para pembesar mereka sedang berkumpul di dalam Hijr (Ismail), lalu mereka berkata: 'Kita tidak pernah melihat perlakuan seperti apa yang kita sabarkan atas orang ini sama sekali; dia membodoh-bodohkan akal kita, mencaci maki nenek moyang kita, mencela agama kita, memecah belah persatuan kita, dan menghina tuhan-tuhan kita. Sungguh kita telah bersabar darinya atas perkara yang sangat besar'—atau sebagaimana perkataan yang mereka ucapkan—.

Ia melanjutkan: "Ketika mereka berada dalam kondisi demikian, tiba-tiba Rasulullah saw muncul di hadapan mereka, beliau berjalan hingga menghadap ke arah Rukun (Hajar Aswad), kemudian berjalan melewati mereka saat sedang tawaf di Baitullah. Ketika beliau melewati mereka, mereka ghamzuhu (menyindir/mencemooh beliau, yaitu mereka memberikan isyarat (mengejek) kepadanya) dengan sebagian perkataan yang beliau ucapkan."

Ia berkata: "Maka aku mengetahui hal tersebut dari perubahan di wajah beliau, kemudian beliau terus berlalu. Ketika beliau melewati mereka untuk kedua kalinya, mereka menyindir beliau dengan hal yang serupa, dan aku mengetahui hal tersebut dari wajah beliau, kemudian beliau terus berlalu.

Ketika beliau melewati mereka untuk ketiga kalinya dan mereka menyindir beliau dengan hal yang serupa, maka beliau bersabda: 'Apakah kalian mendengar wahai sekalian kaum Quraisy? Ketahuilah, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan penyembelihan.'

Maka perkataan beliau itu langsung membungkam kaum tersebut, hingga tidak ada seorang laki-laki pun dari mereka melainkan seolah-olah di atas kepalanya ada seekor burung yang sedang hinggap. Bahkan orang yang paling keras penentangannya terhadap beliau sebelum itu, seketika melunakkan suaranya (Yaitu menenangkan beliau, bersikap lembut kepadanya, dan mendoakannya) dengan ucapan terbaik yang bisa ia temukan, hingga ia berkata: 'Pergilah wahai Abul Qasim! Pergilah dengan petunjuk. Demi Allah! Engkau bukanlah orang yang bodoh.' Maka Rasulullah saw pun berlalu."

Apa yang dialami oleh Rasulullah saw tersebut tidak sedikit pun melemahkan kekuatannya, hingga akhirnya beliau mampu membentuk umat Islam yang memimpin dunia dan menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kami telah memaparkan kepadamu sebagian kecil dari kesabaran beliau saw di awal dakwah. Dan wajib bagimu untuk mempelajari sirah (sejarah kehidupan) Rasul agar kamu mengetahui banyak hal dan mempelajari banyak hal.

Ketika manusia atau kesulitan mengetuk pintu akalmu, atau ketika kecemasan, ketegangan, dan keraguan menembus pikiranmu, lihatlah pada visi dan targetmu. Pikirkanlah tentang kekuatan mutlak di dalam alam bawah sadarmu yang mampu kamu ciptakan melalui pemikiran dan imajinasimu, maka hal itu akan memberimu rasa percaya diri, kekuatan, dan keberanian. Teruslah berada dalam kondisi tersebut hingga fajar terbit dan bayang-bayang ketakutan itu sirna.

Tinjau Kembali Kekuatan Berpikir Anda:

  1. Solusi itu berada di dalam masalah. Jawaban itu ada pada setiap pertanyaan. Kecerdasan mutlakmu akan merespons dirimu kapan saja ia dipanggil dengan landasan iman dan rasa percaya diri.
  2. Kebiasaan adalah fungsi dari alam bawah sadarmu. Dan kekuatan merupakan bukti terbesar atas kemampuan ajaib dari alam bawah sadarmu, serta kebiasaan yang mengendalikanmu itu nyata ada dalam kehidupanmu. Kamu adalah makhluk yang dibentuk di atas kebiasaan.
  3. Bahwa kamu membentuk pola-pola kebiasaan di dalam alam bawah sadarmu dengan cara mengulangnya secara ide dan tindakan, berulang-ulang kali hingga meninggalkan bekas di dalam alam bawah sadar, dan menjadi sesuatu yang otomatis seperti kebiasaan mandi, mengetik di mesin tik, berjalan, menyetir mobil, dan lain sebagainya.
  4. Sesungguhnya kamu menikmati kebebasan memilih. Oleh karena itu, kamu bisa memilih kebiasaan yang baik atau kebiasaan yang buruk. Salat adalah kebiasaan yang baik, begitu pula dengan akhlak yang mulia, amar makruf (mengajak kebaikan), dan nahi mungkar (mencegah kemungkaran).
  5. Semua gambaran mental yang didukung oleh keimanan, kamu menyimpannya di dalam pikiran sadarmu, dan alam bawah sadarmu akan membawanya untuk menembus dirimu.
  6. Satu-satunya penentu bagi kesuksesan dan pencapaianmu adalah pemikiranmu sendiri dan impresi (kesan) mentalmu.
  7. Ketika fokus perhatianmu terpecah, kamu mampu mengembalikannya dengan cara berpikir dan merenungkan kebaikan-kebaikanmu atau target-targetmu. Jadikanlah hal itu sebagai kebiasaan, dan ini dinamakan dengan pengorganisasian akal.
  8. Sesungguhnya pikiran sadarmu adalah kamera, sedangkan alam bawah sadarmu adalah pelat sensitif atau klise cetak tempat gambar tersebut direkam.
  9. Satu-satunya kesialan yang menghantui seseorang adalah rasa takutnya yang berulang-ulang kali di dalam akal. Patahkan kesialan itu dengan meyakini bahwa apa pun awalnya, hal itu akan menuntunmu pada akhirnya secara teratur, yaitu gambaran akhir yang bahagia yang didukung oleh rasa percaya diri.
  10. Untuk membentuk kebiasaan baru, kamu harus diyakinkan bahwa hal itu adalah kebiasaan yang diinginkan. Ketika keinginanmu untuk membuang kebiasaan buruk lebih kuat daripada keinginan untuk terus melakukannya, maka sesungguhnya kamu telah sembuh darinya sebesar 51%.
  11. Ekspresi dan pernyataan orang lain tidak akan membahayakanmu kecuali melalui pemikiranmu sendiri dan kontribusi mentalmu. Kenalilah dirimu sendiri, dan jadikan targetmu adalah kedamaian, keselarasan, dan kebahagiaan. Karena kamu adalah satu-satunya pemikir di dalam duniamu. Dan Nabi 'Alaihissalatu wassalam telah bersabda: "Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun manusia memberikan fatwa kepadamu (atau membenarkanmu)."
  12. Berlebih-lebihan dalam meminum khamar (miras) atau kebiasaan buruk adalah pemikiran negatif dan merusak. Obatnya adalah dengan memikirkan tentang keselamatan, kebebasan, kesempurnaan, dan penguasaan diri, serta merasakan dampak dari sebuah pencapaian. Islam telah mengharamkan khamar, maka kaum muslimin pun meninggalkannya dengan mudah dan tanpa pernah kembali kepadanya lagi.
  13. Banyak orang terus kecanduan pada sesuatu karena mereka menolak untuk mengakui kotornya apa yang mereka perbuat, atau mereka mengelabui diri mereka sendiri dengan mengira bahwa mereka adalah orang yang lemah.
  14. Sesungguhnya hukum alam bawah sadarmu yang bisa menahanmu dan membatasi kebebasanmu, juga mampu memberimu kebebasan dan kebahagiaan. Dan hal itu bergantung pada bagaimana cara kamu menggunakannya.
  15. Ketika rasa takut mengetuk pintu akalmu, biarkanlah keimanan kepada Allah dan kepada hal-hal yang baik yang membuka pintu tersebut. "Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya."

Bagaimana Cara Memilih Panutan (Idola/Target Peniruan):

Paula juga menjelaskan bahwa teladan (قدوة) memiliki urgensi yang sangat besar dalam mencapai filosofi kesuksesan pribadi. Paula mengenang kembali memorinya seraya berkata: "Sesungguhnya nenekku memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diriku, beliau adalah teladan ideal bagiku. Beliau menjadi janda pada usia dua puluh sembilan tahun di pertengahan tahun 1930-an, ketika kakekku meninggal dunia setelah perjuangan panjang melawan penyakit TBC yang dideritanya sejak Perang Dunia Pertama."

Penyakit itu meninggalkannya sendirian di rumah bersama tiga orang anak yang semuanya masih berusia di bawah enam tahun. Agar bisa merawat mereka, beliau bekerja sebagai guru di sebuah sekolah di kota Clarkston, Michigan, yang merupakan tempat kelahiranku.

Pada masa-masa itu, nenekku tidak membutuhkan gelar sarjana untuk bisa bekerja di bidang keguruan. Beliau bekerja di bidang ini selama bertahun-tahun, tidak pernah menikah lagi, dan membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Di kemudian hari, beliau diminta untuk masuk kuliah guna mendapatkan gelar sarjana, dan beliau lulus dari Universitas Michigan pada tahun yang sama ketika ayahku lulus dari universitas yang sama pula.

Nenekku pernah mengajakku ke kota New York naik kereta api saat aku berusia sebelas tahun. Beliau mengajakku bermain seluncur es di Rockefeller Center, mengajakku ke kawasan Saks Fifth Avenue, dan ke Radio City Music Hall untuk menonton pertunjukan The Rockettes. Nenekku saat itu berada di dekade kelima dari usianya (umur 40-an tahun), namun beliau sangat menikmati hidup.

Baru belakangan inilah aku menyadari betapa luar biasanya nenekku pada masa yang ia lalui tersebut. Beliau selalu mengenakan pakaian yang paling modis, bepergian ke seluruh penjuru dunia, dan memiliki teman yang tak terhitung jumlahnya, yang mana beliau saling berkirim surat dengan mereka. Beliau menjalani kehidupan yang sangat menarik, dan mengajarkan kepadaku bahwa manusia bisa hidup mandiri dengan kehidupan yang penuh warna.

"Menjalani kehidupan yang kamu impikan, dan mati demi membela kehidupan ini saat dibutuhkan, adalah jauh lebih baik daripada menjalani kehidupan di mana kamu meraih lebih banyak keuntungan namun kehilangan kebahagiaanmu." (Marjorie Kinnan Rawlings)

Pilihlah Guru-Gurumu:

Paula menyarankan untuk mengambil peran aktif dalam mencari orang-orang yang dapat memberi nasihat (mentor). Bacalah biografi-biografi untuk mengetahui bagaimana orang-orang sukses menyikapi peluang atau bagaimana mereka menghadapi tantangan. Jangan menunggu orang-orang yang kamu kagumi itu mengundangmu untuk bekerja bersama mereka dan belajar dari mereka. Datangilah mereka, beri tahu mereka bahwa kamu menghormati mereka, dan mintalah mereka untuk menjadi bagian dari guru-gurumu.

Paula berkata: "Sesungguhnya kamu sedang menyenangkan ego kebanyakan orang ketika kamu memberi tahu mereka bahwa kamu kagum dengan metode kerja mereka atau bahwa kamu menghormati pencapaian yang telah mereka raih dalam pekerjaan mereka. Tentukan guru-gurumu dari kalangan pria maupun wanita, dan berikan mereka undangan makan malam satu kali setiap bulan. Metode ini sangat membantuku, dan menerangi banyak jalan dalam perjalanan karierku. Kamu tidak bisa hanya berdiam diri di tempatmu sambil menunggu undangan dari orang lain. Pegang kendali atas hidupmu, tanggunglah konsekuensinya, dan jadilah orang yang bertanggung jawab atas perkembangan kariermu serta kebahagiaan pribadimu."

Paula menutup perkataannya dengan berkata: "Tidak akan ada orang lain yang melakukan hal ini untukmu. Maka dari itu, kamu harus melakukannya sendiri untuk mewujudkan kehidupan yang bahagia dan produktif. Karena sejatinya: Hidup adalah sebuah petualangan, dan hampir tidak ada hal yang mustahil. Termasuk bagian dari tuntutan hikmah (kebijaksanaan) adalah mengetahui apa saja hal yang harus kamu abaikan." (William James)

Di antara sebab terbesar untuk meningkatkan semangat (همة) adalah: bersahabat dengan orang-orang yang memiliki semangat tinggi, serta menelaah kisah-kisah perjalanan hidup mereka.

Sebab burung itu akan hinggap bersama yang sejenisnya, dan setiap orang akan meneladani temannya. Dan sesungguhnya seorang hamba dapat mengambil pelajaran dari tatapan mata orang-orang saleh sebelum ucapan mereka, karena melihat mereka saja sudah mengingatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla. Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup pintu keburukan" (DIriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinilai hasan oleh Al-Albani No. 1332).

Dari Ja'far, ia berkata: (Dahulu jika aku merasakan kekerasan di dalam hatiku, aku akan memandang wajah Muhammad bin Wasi' dengan sekali pandang. Dan jika aku melihat wajah Muhammad bin Wasi', aku merasa seolah-olah wajahnya adalah wajah seorang ibu yang kehilangan anaknya [karena khusyuk dan sedihnya]).

Dan Ibnu al-Mubarak berkata: (Jika aku memandang kepada "Fudhail" [bin 'Iyadh], maka kesedihanku akan diperbarui, dan aku menjadi benci pada diriku sendiri [karena merasa kurang saleh]).

Dan dahulu Imam Ahmad (jika sampai kepadanya kabar tentang kesalehan seseorang, atau kezuhudannya, atau penegakannya terhadap kebenaran, atau ketaatannya pada perintah agama: beliau akan bertanya tentangnya, dan beliau suka jika terjalin perkenalan antara dirinya dengan orang tersebut, serta beliau suka untuk mengetahui keadaan-keadaannya).

Dan karena menguji karakter itu dilakukan sebelum menjadikannya orang dekat, maka Imam Ahmad rahimahullah sangat teliti dalam memilih siapa yang ia dekatkan dan ia posisikan di sisinya. Beliau dikenal luas dengan sifat tersebut, hingga seorang penyair berkata memuji beliau:

Dan beliau berbuat baik demi Dzat Allah jika beliau melihat

Orang yang dizalimi dari kalangan pembela kebenaran, beliau tidak pernah bosan menghadapi ujian

Dan saudara-saudara dekatnya adalah setiap orang yang mendapat taufik

Yang jeli terhadap perintah Allah dan kedudukannya tinggi menjulang ke atas kemuliaan

Ibnu al-Qayyim rahimahullah menceritakan sebagian dari apa yang ia manfaatkan dari mengamati gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah Ta'ala, beliau berkata: (Dan Allah mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau sama sekali, padahal beliau berada dalam kondisi kehidupan yang sempit, jauh dari kemewahan dan kenikmatan—bahkan kebalikannya—, serta apa yang beliau alami berupa jeruji penjara, ancaman, dan tekanan. Namun bersamaan dengan itu, beliau termasuk manusia yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling gembira jiwanya. Rona kenikmatan terpancar di wajahnya. Dahulu kami jika rasa takut telah mencekam kami, prasangka-prasangka buruk mulai membayangi kami, dan bumi terasa sempit bagi kami, kami segera mendatangi beliau. Maka tidak ada hal lain melainkan begitu kami melihatnya dan mendengar ucapannya, seketika semua rasa takut itu sirna, dan berubah menjadi kelapangan dada, kekuatan, keyakinan, serta ketenteraman) (Al-Wabil ash-Shayyib hal. 76).

Amirul Mukminin Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Tidaklah seorang hamba dianugerahi kenikmatan setelah Islam yang lebih baik daripada saudara yang saleh. Maka jika salah seorang dari kalian merasakan kasih sayang dari saudaranya, hendaklah ia memegangnya erat-erat."

Dan Hasan al-Bashri berkata: "Saudara-saudara (seiman) kami adalah lebih kami cintai daripada keluarga dan anak-anak kami. Karena keluarga kami mengingatkan kami pada dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami pada akhirat."

Dan bersahabat dengan orang-orang mulia yang bersungguh-sungguh serta terjaga pemanfaatannya terhadap hitungan menit dan detik ini, memiliki pengaruh yang sangat agung dalam tingginya semangat tokoh-tokoh seperti Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu 'Aqil al-Hanbali, Ibnu 'Asakir ad-Dimasqi, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, Ibnu an-Nafis, Al-Mizzi, Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar, dan orang-orang yang sepadan dengan mereka dalam hal melimpahnya karya tulis mereka serta kebaruannya.

Imam Ibnu 'Aqil al-Hanbali, penulis kitab Al-Funun—yang kisahnya telah lewat sebelum ini—berkata: "Dan Allah telah menjagaku sejak masa puncak mudaku dengan berbagai bentuk penjagaan, dan Dia membatasi kecintaanku hanya pada ilmu dan ahli ilmu saja. Maka aku tidak pernah sekalipun berbaur dengan orang-orang yang suka bermain-main, dan aku tidak pernah berteman akrab kecuali dengan orang-orang yang sepadan denganku dari kalangan para penuntut ilmu."

Maka orang yang bersemangat tinggi lagi mendapat taufik yang menginginkan kedudukan-kedudukan tinggi, tidak akan kamu lihat dirinya kecuali bersama para ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang memiliki keutamaan, kesungguhan, hikmah, dan mata hati. Hal itu agar apa yang ada pada mereka menular kepadanya atau sebagian darinya, sehingga ia menjadi seperti mereka atau dekat dengan kedudukan mereka.

Sesungguhnya bersahabat dengan mereka itu mengajarkanmu cara berlomba dengan waktu. Sedangkan bersahabat dengan pengangguran (orang yang malas) mengajarkanmu cara menyia-nyiakan waktu.

Guru kita, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Nilailah seseorang itu dari siapa yang menjadi sahabatnya, karena sesungguhnya seseorang itu hanya akan bersahabat dengan orang yang sepadan dengannya."

Maka kita berlindung kepada Allah dari bersahabat dengan orang-orang yang malas). (Sawanih wa Ta'ammulat fi Qimat az-Zaman hal. 48).

Pemberlakuan Praktis dari Hakikat Tema serta Nilai-Nilainya Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut:

Pertama: Aktivitas Pendamping (Asosiatif):

  1. Mencatat serangkaian situasi/kondisi di mana dirinya telah meraih kesuksesan yang tinggi.
  2. Menyusun sebuah program harian khusus bagi dirinya untuk mengelola waktunya secara terorganisasi.

Kedua: Aktivitas Pendukung (Suplemen):

  1. Banyak membaca tentang kisah perjalanan hidup (biografi) orang-orang yang memiliki tekad kuat dan semangat yang tinggi.
  2. Menguasai perencanaan untuk memanfaatkan potensinya dalam mengatasi berbagai risiko.
  3. Membaca selama tiga puluh menit setiap hari hingga ia dapat merumuskan suatu filosofi khusus bagi dirinya yang dapat membantunya dalam mewujudkan tujuan-tujuannya.
  4. Menguasai perencanaan untuk memanfaatkan potensinya dalam mengatasi berbagai risiko melalui suatu program pelatihan.
  5. Melaksanakan dan menerapkan program yang telah dipersiapkan dengan menggunakan usulan-usulan yang diajukan secara pelaksanaan yang sempurna.
  6. Bersahabat dengan orang-orang yang memiliki semangat tinggi.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Pertama: Pertanyaan Esai (Subjektif):

  1. Sebutkanlah sumber-sumber kesuksesan yang paling utama!
  2. Apa pentingnya mengadopsi filosofi serta keyakinan yang benar untuk meraih kesuksesan?
  3. Sebutkan lima sarana yang dapat membantumu untuk meraih kesuksesan!
  4. Sebutkan lima alternatif yang dapat membantumu untuk mewujudkan tujuan-tujuan sebelumnya!
  5. Tulislah sebuah laporan yang berisi nama-nama orang yang telah mampu memengaruhi kehidupanmu melalui kesuksesan dan pencapaian mereka, dengan menjelaskan rahasia kekagumanmu kepada mereka serta sejauh mana kamu mengambil manfaat dari mereka!
  6. Metode ilmiah dalam memecahkan masalah memiliki urgensi yang sangat besar dalam mengorganisasi tujuan dan mengatasi berbagai problematika. Jelaskanlah hal tersebut, dan bagaimana kamu dapat memanfaatkan hal itu dalam mengatasi masalah-masalahmu serta menentukan tujuan-tujuanmu?
  7. Susunlah sebuah program harian selama pekan ini yang dapat membantumu untuk mengorganisasi ide-idemu kemudian mengorganisasi tujuan-tujuanmu!
  8. Sebutkanlah serangkaian bait puisi yang menjelaskan tentang pentingnya bersahabat dengan orang-orang baik!
  9. Sering kali kamu menghadapi masalah dalam ketepatan waktu dan bangun untuk salat subuh, maka bagaimana kita dapat mengatasi hal tersebut?

Kedua: Pertanyaan Objektif:

  1. Letakkan tanda ( ✓ ) di depan pernyataan yang benar, dan tanda ( ) di depan pernyataan yang tidak benar dari hal-hal berikut ini:
    • Kebiasaan adalah fungsi dari alam bawah sadar. (         )
    • Solusi itu ada di dalam setiap masalah. (         )
    • Mandi tidak termasuk ke dalam bagian dari kebiasaan. (         )
    • Manusia tidak mampu mendahulukan suatu kebiasaan di atas kebiasaan lainnya. (         )
    • Hambatan pertama bagi kesuksesanmu adalah impresi (kesan) mentalmu. (         )
    • Untuk membentuk kebiasaan baru, kamu harus diyakinkan bahwa hal itu adalah kebiasaan yang diinginkan. (         )
    • Rasa takut adalah hambatan di jalan menuju kesuksesan yang tidak ada obatnya. (         )
  2. Apa hubungan antara pikiran sadar dengan alam bawah sadar?
  3. Sempurnakanlah kalimat berikut ini:
    • Bersahabat dengan para ulama yang mengamalkan ilmunya memiliki manfaat yang sangat banyak, di antaranya:
      1. .................... 2. .................... 3. .................... 4. .................... 5. ....................

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat