Iman Kepada Allah

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari kejahatan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Semoga selawat dan salam yang berlimpah tercurah kepadanya, kepada keluarganya, dan kepada para sahabatnya.

Amma ba'du:

Sesungguhnya muasal kerusakan adalah menyelisihi kebenaran (al-haqq) dan menyimpang dari jalannya. Sebaliknya, kebaikan seluruh urusan terletak pada upaya mengikuti kebenaran dan berkomitmen pada jalannya. Kebenaran itu sendiri merupakan ketetapan baku yang atas dasarnya Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya, atau yang Dia kehendaki agar makhluk tersebut berada di atasnya. Hal itu karena tidak ada satu pun makhluk di dunia ini melainkan Allah sendiri yang menciptakannya; tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan tersebut. Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikannya pada tatanan tertentu dan mengatur urusannya dengan mekanisme tertentu pula. Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Sempurna lagi Maha Suci dari kesalahan, maka kebaikan seluruhnya ada pada penciptaan dan pengaturan-Nya. Segala sesuatu yang bergeser dari tatanan Ilahi dan pengaturan ketuhanan pasti akan rusak. Langit dan bumi ini diciptakan oleh Allah dengan kebenaran, dan Dia mengatur urusan keduanya dengan hikmah-Nya, sehingga keduanya menjadi baik karena penciptaan dan pengaturan-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya: "Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah binasa." (QS. Al-Anbya': 22) .

Manusia merupakan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk Allah Azza wa Jalla. Kebaikan hidupnya digantungkan pada sejauh mana ia mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Sementara kerusakannya merupakan akibat pasti dari ketidaktahuannya terhadap kebenaran, atau bentuk pembangkangannya terhadap kebenaran tersebut meskipun ia telah mengetahuinya. Tatkala Allah Subhanahu Dialah Sang Kebenaran, dan dari-Nya lah bersumber kebenaran, serta perintah dan pengaturan-Nya adalah kebenaran, maka penyebab kerusakan seluruh kehidupan manusia adalah kekufuran kepada Sang Pencipta, kekufuran kepada perintah dan pengaturan-Nya, serta kekufuran kepada kebenaran yang diturunkan-Nya. Sebaliknya, penyebab kebaikan seluruh kehidupan ini adalah keimanan kepada Allah Azza wa Jalla, keimanan kepada apa yang diturunkan dari-Nya, serta komitmen terhadap kehendak dan perintah-Nya dalam seluruh tatanan kehidupan manusia.

Oleh karena itu, Allah yang Maha Mulia firman-Nya menyatakan: "Maka, jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 123-124) . Dan tidak ada yang mengikuti petunjuk-Nya melainkan orang yang beriman kepada-Nya, mengingat-Nya, serta menginternalisasi keberadaan-Nya, sifat-sifat-Nya, dan keagungan-Nya Subhanahu. Barangsiapa yang melupakan zikir kepada Allah, ia pasti berpaling dari petunjuk-Nya. Manusia diuji di dunia ini dengan dua perkara ini: mengingat Allah (dzikrullah) dan mengikuti petunjuk-Nya, atau melupakan-Nya dan tersesat. Manusia berada di persimpangan dua jalan yang tidak ada pilihan ketiga di antara keduanya: jalan keimanan, petunjuk, dan kebahagiaan di dunia serta akhirat; atau jalan kekufuran, kesesatan, dan kesengsaraan di kedua negeri tersebut.

Oleh sebab itu, perkara paling mulia yang dipelajari oleh manusia dan diajarkan kepada orang lain adalah perkara keimanan, rukun-rukunnya, serta konsekuensi-konsekuensinya. Sebaliknya, benteng pertahanan dan senjata paling utama yang harus dipersiapkan adalah mengetahui rambu-rambu kekufuran, penyebab-penyebabnya, serta konsekuensi-konsekuensinya. Apabila manusia memiliki petunjuk yang jelas (bashirah) mengenai dua perkara yang sangat krusial ini, niscaya ia akan mengenali jalan kebahagiaannya lalu berkomitmen di atasnya tanpa pernah menyimpang, serta mengenali jalan kesengsaraannya sehingga ia dapat menjauhinya.

Melalui buku ini, kami berharap dapat menjelaskan—berdasarkan ilmu yang Allah anugerahkan kepada kami dan kebenaran yang Dia bukakan untuk kami—perkara-perkara keimanan beserta rukun-rukunnya, serta rambu-rambu kekufuran, penyebab, dan pintu-pintu masuknya. Hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala Dzat yang memberi taufik menuju kebenaran. Apa saja yang benar di dalamnya, maka itu bersumber dari kebenaran Allah Jalla wa Ala. Sedangkan apa saja yang keliru, maka itu bersumber dari diri kami pribadi dan dari setan; kami bersimpuh memohon ampunan kepada Allah atas kekeliruan tersebut, serta berharap Dia menggerakkan di antara hamba-hamba-Nya yang saleh orang yang sudi meluruskan dan menjelaskan kebenaran di dalamnya.

Kami membagi buku ini ke dalam dua bagian utama:

  • Bagian Pertama: Kami membahas tentang rukun-rukun keimanan beserta hakikatnya.
  • Bagian Kedua: Kami membahas tentang penyebab-penyebab kekufuran beserta pintu-pintu masuknya.

BAGIAN PERTAMA: RUKUN-RUKUN IMAN

Allah Azza wa Jalla berfirman: "Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka (juga) berkata, “Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami, dan hanya kepada-Mu tempat kembali.”" (QS. Al-Baqarah: 285).

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, sungguh dia telah tersesat sangat jauh." (QS. An-Nisa': 136) .

Dia juga berfirman: "Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi..." (QS. Al-Baqarah: 177).

Di dalam hadis Jibril yang masyhur, ketika ia mendatangi Nabi dalam rupa seorang Arab Badui untuk bertanya tentang Islam, Iman, dan Ihsan, beliau bersabda mengenai iman:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

"Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk." (HR. Imam Muslim dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu — Lihat: Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi, Juz 1, hlm. 157. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dengan redaksi senada dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — Lihat: Al-Bukhari ma'a Fath al-Bari, Juz 1, hlm. 96-97) .

Enam perkara inilah yang disebut sebagai rukun-rukun iman. Enam perkara ini pula yang menjadi pokok-pokok ajaran yang mendasari diutusnya para rasul—semoga selawat dan salam Allah tercurah kepada mereka—serta diturunkannya kitab-kitab. Iman seseorang tidak akan sah kecuali jika ia mengimani seluruh rukun tersebut secara utuh, sesuai dengan cara yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya . Barangsiapa yang mengingkari satu saja dari rukun-rukun tersebut, maka ia telah keluar dari lingkaran keimanan dan termasuk golongan orang-orang kafir.

BERIMAN KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Beriman kepada Allah Azza wa Jalla bermakna keyakinan yang bulat dan pasti (al-i'tiqad al-jazim) bahwa Allah adalah Tuhan penguasa (Rabb), pemilik, sekaligus pencipta segala sesuatu. Serta meyakini bahwa Dialah satu-satunya Dzat yang berhak ditunggalkan dalam ibadah; baik berupa salat, puasa, doa, harapan (raja'), rasa takut (khauf), kerendahan diri, maupun ketundukan. Selain itu, juga meyakini bahwa Dia disifati dengan seluruh sifat kesempurnaan dan Mahasuci dari segala bentuk kekurangan.

Oleh karena itu, beriman kepada Allah Subhanahu mencakup penauhidan-Nya dalam tiga perkara: dalam Rububiyah-Nya, dalam Uluhiyah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Makna menauhidkan Allah dalam perkara-perkara ini adalah meyakini keesaan-Nya Subhanahu dalam hal Rububiyah, Uluhiyah, sifat-sifat kesempurnaan, serta nama-nama keagungan. Seorang hamba tidak dianggap beriman kepada Allah sampai ia meyakini bahwa Allah adalah Tuhan pencipta (Rabb) segala sesuatu dan tidak ada Tuhan pencipta selain Dia, sembahan (Ilah) bagi segala sesuatu dan tidak ada sembahan yang benar selain Dia, serta Dialah yang Maha Sempurna dalam sifat-sifat dan nama-nama-Nya, dan tidak ada yang maha sempurna selain Dia (Lihat: Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 76; Taysir al-Aziz al-Hamid, hlm. 17; al-Raudhah al-Nadiyyah, hlm. 9 dinukil dari Madarij al-Salikin).

Tiga jenis tauhid ini masuk ke dalam cakupan makna beriman kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagian ulama mengembalikan klasifikasi tiga jenis tauhid ini menjadi dua jenis saja: jenis pertama berkaitan dengan ilmu dan keyakinan (al-ilm wa al-i'tiqad), yang mencakup Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma' wa Shifat; jenis kedua berkaitan dengan kehendak dan tujuan (al-iradah wa al-qashd), yaitu Tauhid Uluhiyah Subhanahu (Lihat: Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 88; Fath al-Majid, hlm. 15; Syarh Qashidah Ibnu al-Qayyim, Juz 2, hlm. 259; Tathhir al-I'tiqad, hlm. 3).

Berikut adalah perincian penjelasan mengenai masing-masing jenis tauhid tersebut:

Jenis Pertama: Tauhid Rububiyah

Maknanya secara global adalah keyakinan yang bulat dan pasti bahwa Allah adalah Tuhan Pencipta (Rabb) segala sesuatu dan tidak ada Tuhan Pencipta selain Dia (Lihat: Al-Mishbah al-Munir). Penjelasannya: Kata Al-Rabb secara etimologis (bahasa) berarti pemilik yang mengatur (al-malik al-mudabbir). Rububiyah Allah atas makhluk-Nya berarti keesaan-Nya Subhanahu dalam menciptakan mereka, memiliki mereka, dan mengatur urusan-urusan mereka.

Maka, mentauhidkan Allah dalam Rububiyah adalah pengakuan bahwa hanya Dia Subhanahu semata Sang Pencipta makhluk, Yang Memiliki mereka, Yang Menghidupkan dan Mematikan mereka, Yang Memberi manfaat dan Mendatangkan mudarat, Yang Mengabulkan doa mereka dalam kondisi genting, Yang Maha Kuasa atas mereka, Yang Memberi serta Menahan. Hanya milik-Nya lah segala penciptaan dan hanya milik-Nya lah segala urusan pemerintahan. Sebagaimana firman-Nya mengenai diri-Nya sendiri: "Ingatlah, hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan urusan. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-A'raf: 54) .

Termasuk ke dalam cakupan tauhid ini adalah mengimani takdir Allah Subhanahu, yaitu mengimani bahwa setiap perkara yang baru terjadi (muhdats) pasti bersumber dari ilmu Allah Azza wa Jalla, kehendak-Nya (iradah), dan kekuasaan-Nya (qudrah) (Lihat: Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 76-77; Taysir al-Aziz al-Hamid, hlm. 17-18). Dengan redaksi lain, tauhid ini bermakna pengakuan bahwa Allah Azza wa Jalla Dialah Pelaku Mutlak (al-Fa'il al-Muthlaq) di jagat raya ini melalui tindakan menciptakan, mengatur, mengubah, memudahkan, menambah, mengurangi, menghidupkan, mematikan, dan tindakan-tindakan lainnya, tanpa ada seorang pun yang menyekutui tindakan-Nya Subhanahu (Lihat: Tafsir ath-Thabari, Juz 5, hlm. 395; Syarh Mulla Ali al-Qari 'ala al-Fiqh al-Akbar, hlm. 9).

Al-Qur'an telah menguraikan jenis tauhid ini dengan sejelas-jelasnya. Nyaris tidak ada satu surah pun dalam Al-Qur'an melainkan menyebutkan atau mengisyaratkan jenis tauhid ini. Kedudukannya laksana fondasi bagi jenis-jenis tauhid lainnya. Sebab, Dzat Yang Maha Pencipta, Maha Memiliki, lagi Maha Mengatur, Dialah satu-satunya yang layak dijadikan tujuan ibadah, kekhusyukan, dan ketundukan. Dialah satu-satunya yang berhak menerima pujian (tahmid), kesyukuran, zikir, doa, harapan, rasa takut, dan semisalnya. Segala bentuk ibadah tidak sah diserahkan kecuali kepada Dzat yang memiliki hak penciptaan dan hak pengaturan seluruh urusan (Lihat: Fath al-Majid, hlm. 13; al-As'ilah wa al-Ajwibah, hlm. 29-30).

Di sisi lain, Dzat Yang Maha Pencipta, Maha Memiliki, lagi Maha Mengatur adalah satu-satunya Dzat yang berhak menyandang sifat-sifat keagungan (jalal), keindahan (jamal), dan kesempurnaan (kamal). Sebab, sifat-sifat tersebut tidak mungkin ada kecuali pada Tuhan semesta alam (Rabb al-Alamin). Mustahil menetapkan sifat Rububiyah dan kepemilikan bagi sesuatu yang tidak hidup, tidak mendengar, tidak melihat, tidak kuasa, tidak berfirman, tidak berbuat atas apa yang dikehendaki-Nya, serta tidak bijaksana dalam ucapan dan perbuatan-Nya.

Oleh karena itu, kita mendapati Al-Qur'anul Karim menyebutkan jenis tauhid ini dalam konteks memuji Allah, beribadah kepada-Nya, tunduk, serta berserah diri kepada-Nya. Begitu pula dalam konteks menjelaskan sifat-sifat-Nya yang agung dan nama-nama-Nya yang indah (al-asma' al-husna).

Dalam konteks pujian (al-hamd), seorang Muslim membaca pada setiap rakaat salatnya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-Fatihah: 2) . Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman: "Maka, segala puji bagi Allah, Tuhan pemilik langit dan Tuhan pemilik bumi, Tuhan semesta alam." (QS. Al-Jasiyah: 36) .

Dalam konteks berserah diri (al-istislam) dan tunduk kepada-Nya, Allah Azza wa Jalla berfirman: "...Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya) dan kita diperintah agar berserah diri kepada Tuhan semesta alam.”" (QS. Al-An'am: 71).

Dalam konteks menghadapkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dan memurnikan tujuan kepada-Nya, Dia berfirman: "Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am: 162).

Dalam konteks menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai pelindung tunggal dan bukan selain-Nya, Dia berfirman: "Katakanlah (Muhammad), “Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Allah yang menumbuhkan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?” Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri (kepada-Nya) dan jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang musyrik.”" (QS. Al-An'am: 14).

Dalam konteks doa, Allah Azza wa Jalla berfirman: "...Ingatlah, hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan urusan. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-A'raf: 54-55) .

Dalam konteks beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, Dia berfirman: "Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan?" (QS. Yasin: 22) . Dia juga berfirman: "Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Maka, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 21-22) .

Sesungguhnya Pencipta langit dan bumi beserta apa yang ada di dalam keduanya, Dialah satu-satunya Dzat yang berhak dijadikan oleh seorang hamba sebagai Sembahan (Ilah) dan Pelindung (Wali), tempat menyerahkan diri, tempat berdoa, dan tempat menghadapkan diri.

Di sisi lain, kita mendapati Al-Qur'anul Karim memadukan antara Rububiyah Allah Azza wa Jalla yang terepresentasi dalam kepemilikan-Nya atas langit dan bumi beserta isinya serta sifat kekekalan pengaturan-Nya (qayyumiyah) atas keduanya, dengan nama-nama-Nya yang indah (al-asma' al-husna) dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi (al-shifat al-ula). Renungkanlah firman-Nya dalam Ayat Kursi: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak pula tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung." (QS. Al-Baqarah: 255) . Maka, Dzat yang menciptakan langit dan bumi Dialah satu-satunya Yang Maha Hidup yang tidak mati, Maha Mengurus (al-Qayyum), Maha Mengetahui (al-Alim), Maha Memelihara (al-Hafizh), Maha Tinggi (al-Aliy), lagi Maha Agung (al-Azhim). Kemudian perhatikan pula firman-Nya: "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf: 16) . Serta firman-Nya: "Apakah (pantas) Dzat yang menciptakan itu tidak mengetahui, padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (QS. Al-Mulk: 14) . Maka tidak ada perdebatan sama sekali bahwa Dzat yang menciptakan makhluk Dialah Pengawas atas mereka, yang Maha Halus (al-Lathif) lagi Maha Mengetahui (al-Khabir) terhadap apa yang mereka perbuat.

Adapun orang-orang yang mengakui bahwa Allah adalah Tuhan penguasa segala sesuatu dan Pencipta segala sesuatu, namun tidak menauhidkan-Nya dalam Uluhiyah-Nya sehingga menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam ibadah, serta tidak menauhidkan-Nya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan cara menolaknya (ta'thil), menyerupakannya dengan sifat makhluk (tasybih), atau menakwilkannya dengan takwil-takwil yang rusak tanpa dasar, maka tauhid jenis ini saja tidak bermanfaat bagi mereka. Tauhid ini tidak mengeluarkan mereka dari lingkaran kekufuran menuju lingkaran keimanan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengisahkan tentang orang-orang musyrik bahwa mereka dahulu mengakui bahwa Allah semata Pencipta segala sesuatu, namun bersamaan dengan itu mereka tetap berstatus musyrik. Hal itu karena mereka tidak menauhidkan Allah dalam Uluhiyah-Nya sehingga mereka menyembah selain-Nya, dan karena mereka tidak menauhidkan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya sehingga mereka mengingkari sebagiannya dan tidak mengimaninya (Lihat: Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 79; Fath al-Majid, hlm. 17; Taysir al-Aziz al-Hamid, hlm. 17; Tathhir al-I'tiqad, hlm. 5).

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman tentang mereka: "Sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan menyekutukan-Nya (dengan sesembahan lain)." (QS. Yusuf: 106) . Mujahid mengomentari ayat ini dengan mengatakan: "Keimanan mereka kepada Allah adalah ucapan mereka bahwa Allah menciptakan kami, memberi rezeki kepada kami, dan mematikan kami. Ini adalah bentuk iman yang bercampur dengan kesyirikan ibadah mereka kepada selain-Nya." (Lihat: Tafsir ath-Thabari, Juz 16, hlm. 287) .

Sekelompok ulama Salaf lainnya juga menyatakan: "Jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Mereka pasti menjawab, 'Allah'. Namun bersamaan dengan itu, mereka tetap menyembah selain-Nya." Perkataan ini diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas, Mujahid, 'Atha', 'Ikrimah, Asy-Sya'bi, Qatadah, Adh-Dhahhak, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4, hlm. 494; Tafsir ath-Thabari, Juz 16, hlm. 286-288).

Allah telah mengabarkan tentang orang-orang musyrik bahwa mereka mengimani bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, lagi Maha Memiliki. Firman-Nya yang Maha Mulia menyatakan: "Sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka?” Niscaya mereka akan menjawab, “Allah”..." (QS. Az-Zukhruf: 87). Dia juga berfirman: "Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi kamu rezeki dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”" (QS. Yunus: 31).

Dengan demikian, tidak setiap orang yang mengakui bahwa Allah Ta'ala adalah Tuhan penguasa segala sesuatu otomatis menjadi muwahid (orang yang bertauhid) dalam Uluhiyah, sifat, dan nama-nama-Nya. Mayoritas hamba tidak mengingkari keberadaan Sang Pencipta dan Rububiyah-Nya atas makhluk, akan tetapi mayoritas kekufuran mereka justru bersumber dari tindakan mereka menyembah selain Allah Azza wa Jalla (Lihat: Fath al-Majid, hlm. 17; Syarh Mulla Ali al-Qari 'ala al-Fiqh al-Akbar, hlm. 9; Ihya' Ulumiddin, Juz 1, hlm. 182; Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 78).

Jenis Kedua: Tauhid Uluhiyah

Maknanya secara global adalah keyakinan yang bulat dan pasti bahwa Allah Subhanahu Dialah Sembahan yang Haq (al-Ilah al-Haqq), tidak ada sembahan yang benar selain Dia, serta menunggalkan-Nya Subhanahu dalam ibadah. Penjelasannya: Kata Al-Ilah bermakna al-ma'luh, yaitu yang disembah (al-ma'bud) [^1]. Kata ibadah secara etimologis (bahasa) berarti ketundukan, penghinaan diri, dan kepatuhan [^2]. Sebagian ulama mendefinisikannya sebagai: Kesempurnaan cinta disertai kesempurnaan ketundukan (kamal al-hubb ma'a kamal al-khudhu') (Lihat: Syarh Qashidah Ibnu al-Qayyim, Juz 2, hlm. 259; Ighatsah al-Lahfan, Juz 2, hlm. 128-129).

Maka, Tauhid Uluhiyah dibangun di atas asas pemurnian ibadah hanya untuk Allah semata, baik secara batin maupun lahir, sehingga tidak ada satu pun bagian dari ibadah tersebut yang diserahkan kepada selain-Nya Subhanahu. Orang yang beriman kepada Allah akan menyembah Allah semata dan tidak menyembah selain-Nya. Ia memurnikan kecintaan, rasa takut, harapan, doa, tawakal, ketaatan, kepasrahan, ketundukan, serta seluruh jenis dan bentuk ibadah hanya untuk Allah.

Jenis tauhid ini pada hakikatnya sudah mencakup seluruh jenis tauhid lainnya. Ia mengandung Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma' wa Shifat, namun tidak berlaku sebaliknya. Pengakuan seorang hamba terhadap Rububiyah Allah tidak serta-merta menjadikannya bertauhid dalam Uluhiyah, karena bisa jadi ia mengakui Rububiyah namun enggan menyembah Allah Azza wa Jalla. Demikian pula, mentauhidkan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya tidak otomatis mencakup jenis tauhid lainnya.

Akan tetapi, seorang hamba yang menauhidkan Allah dalam Uluhiyah-Nya atas makhluk, lalu mengakui bahwa hanya Dia semata yang berhak disembah dan selain-Nya tidak berhak disembah sedikit pun, maka pada realitasnya ia telah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, serta memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang sempurna. Sebab, pemurnian ibadah tidak mungkin diserahkan kepada selain Tuhan pencipta, dan tidak mungkin diserahkan kepada zat yang memiliki kekurangan. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak menciptakan dan tidak mampu mengatur urusan makhluk disembah? Bagaimana mungkin zat yang cacat atau kurang disembah?

Dari sinilah syahadat La Ilaha Illallah mengandung seluruh jenis tauhid. Makna langsungnya adalah Tauhid Uluhiyah, yang secara inheren mengandung Tauhid Rububiyah serta Asma' wa Shifat. Oleh karena itu, tauhid ini merupakan awal agama, akhirnya, batinnya, sekaligus lahirnya. Dan demi tauhid inilah makhluk diciptakan, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56) (Lihat: Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 79 dst).

Ibnu Taimiyah menyatakan: "Tauhid inilah yang menjadi pembeda antara muwahid (orang yang bertauhid) dan musyrik. Di atas tauhid inilah balasan pahala dan siksa diletakkan di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang tidak memenuhinya, maka ia termasuk golongan orang-orang musyrik." (Lihat: Risalah al-Hasanah wa al-Sayyiah dalam kumpulan risalah Ibnu Taimiyah, hlm. 261) .

Demi tauhid ini pula para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan. Tidak ada seorang rasul pun yang diutus oleh Allah kepada para hamba melainkan tauhid ini yang menjadi fondasi dan inti dakwahnya. Allah Azza wa Jalla berfirman: "Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!”..." (QS. An-Nahl: 36). Dia Subhanahu juga berfirman: "Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbya': 25) . Allah Azza wa Jalla mengabarkan tentang para rasul-Nya: Nuh, Hud, Shalih, dan Syuaib, bahwa mereka semua menyerukan kalimat ini kepada kaumnya: "...Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia..." (QS. Al-Mu'minun: 23, QS. Hud: 61, QS. Al-A'raf: 65). Sebagaimana Dia Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang Ibrahim Alaihis Salam ketika berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik." (QS. Al-An'am: 79) .

Tatkala tauhid ini merupakan hakikat dari agama Islam, maka dua kalimat syahadat dijadikan sebagai rukun pertama dari rukun-rukun agama ini. Rasulullah bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

"Islam dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim — Lihat: Zad al-Muslim fima Ittafaqa 'alaihi al-Bukhari wa Muslim, Jilid 1, hlm. 129) .

Selanjutnya, konsekuensi dari mentauhidkan Allah dalam Uluhiyah-Nya adalah kita wajib menghadapkan diri hanya kepada-Nya semata melalui seluruh jenis dan bentuk ibadah, serta membersihkan hati kita di dalamnya dari segala tendensi lainnya. Ungkapan ini mencakup banyak perkara, di antaranya yang kami sebutkan berikut:

1. Wajib memurnikan kecintaan (ikhlas al-mahabbah) hanya untuk Allah Azza wa Jalla. Seorang hamba tidak boleh mengambil tandingan bagi Allah dalam hal cinta, di mana ia mencintainya sebagaimana ia mencintai Allah, atau mendahulukannya di atas cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka ia termasuk golongan orang-orang musyrik. Allah Jalla wa Ala berfirman tentang mereka: "Di antara manusia ada yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah..." (QS. Al-Baqarah: 165). Termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Allah kecuali dengan taubat nasuha darinya adalah: seorang hamba mengambil tandingan selain Allah yang ia cintai sebagaimana ia mencintai Allah Azza wa Jalla (Lihat: Syarh Qashidah Ibnu al-Qayyim, Juz 2, hlm. 368).

Apabila manusia secara naluri (fithrah) dibekali kecintaan terhadap diri sendiri, orang tua, tanah air, dan harta benda, maka pemurnian penghambaan diri kepada Allah tidak berarti mematikan naluri tersebut. Melainkan, yang dituntut dari seorang mukmin adalah menjadikan cintanya kepada segala sesuatu di dunia ini berada di urutan setelah cintanya kepada Allah Azza wa Jalla, dan menjadikan cintanya kepada Allah Subhanahu berada di atas segala cinta. Sampai-sampai ia rela mengorbankan seluruh nilai-nilai duniawi tersebut demi jalan Allah apabila terjadi kontradiksi antara nilai-nilai tersebut dengan konsekuensi cintanya kepada Tuhannya. Allah Azza wa Jalla telah mengancam orang-orang yang mendahulukan nilai-nilai duniawi ini di atas cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya melalui firman-Nya: "Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah yang lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggahlah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (QS. At-Taubah: 24) .

2. Wajib menunggalkan Allah Ta'ala dalam doa, tawakal, dan harapan (raja') dalam perkara yang tidak dimampui kecuali oleh-Nya Subhanahu. Allah Azza wa Jalla berfirman: "Janganlah engkau menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat kepadamu dan tidak pula memberi mudarat kepadamu. Jika engkau melakukannya, sesungguhnya engkau jika demikian termasuk orang-orang zalim." (QS. Yunus: 106) . Dia Ta'ala juga berfirman: "...Dan hanya kepada Allah bertawakallah kamu, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Al-Ma'idah: 23) . Serta firman-Nya Ta'ala: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah..." (QS. Al-Baqarah: 218).

3. Wajib menunggalkan Allah Azza wa Jalla dalam hal rasa takut (khauf). Barangsiapa yang meyakini bahwa sebagian makhluk dapat mendatangkan mudarat kepadanya berdasarkan kehendak dan kekuasaan makhluk itu sendiri [^3], lalu ia takut kepadanya, maka ia telah berbuat syirik kepada Allah. Berdasarkan firman-Nya Ta'ala: "...Maka, hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut." (QS. An-Nahl: 51) . Serta firman-Nya pula: "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri. Jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Yunus: 107) .

4. Wajib menunggalkan Allah Subhanahu dalam seluruh jenis ibadah jasmani (badaniyah) maupun ucapan (qauliyah). Seperti salat, rukuk, sujud, puasa, penyembelihan (dzabh), tawaf, serta seluruh ibadah ucapan seperti nazar, istigfar, dan lain sebagainya. Ibadah-ibadah ini beserta yang lainnya wajib diperuntukkan hanya bagi Allah Ta'ala semata. Barangsiapa yang memalingkan satu saja dari ibadah tersebut kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik. Allah Ta'ala telah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) kesyirikan kepada-Nya dan Dia mengampuni segala dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, sungguh dia telah tersesat sangat jauh." (QS. An-Nisa': 48) .

Jenis Ketiga: Tauhid Asma' wa Shifat

Maknanya secara global adalah keyakinan yang bulat dan pasti bahwa Allah Azza wa Jalla disifati dengan seluruh Sifat Kesempurnaan dan Mahasuci dari seluruh sifat kekurangan, serta meyakini bahwa Dia terasing atau Esa dalam hal tersebut dari seluruh makhluk. Hal ini diwujudkan dengan cara menetapkan (itsbat) apa saja yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu untuk diri-Nya sendiri, atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya , berupa nama-nama dan sifat-sifat yang termaktub di dalam Al-Qur'an dan Sunah. Penetapan ini harus dilakukan tanpa mengubah lafaz maupun maknanya (tahrif), tanpa menolak keberadaannya atau menolak sebagiannya dari Allah Azza wa Jalla (ta'thil), tanpa mereka-reka bentuknya dengan membatasi hakikatnya atau menetapkan mekanisme tertentu baginya (takyif), serta tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk (tasybih).

Berdasarkan definisi ini, jelaslah bahwa Tauhid Asma' wa Shifat berdiri di atas tiga pilar utama. Barangsiapa yang menyimpang dari ketiganya, maka ia belum dianggap menauhidkan Tuhannya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya (Lihat: Manhaj wa Dirasat li Ayat al-Asma' wa al-Shifat oleh Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi, hlm. 3-25).

  • Pilar Pertama: Mensucikan Allah Jalla wa Ala dari keserupaan dengan makhluk dan dari segala bentuk kekurangan.
  • Pilar Kedua: Mengimani nama-nama dan sifat-sifat yang valid (tsabit) di dalam Al-Qur'an dan Sunah tanpa melampauinya, baik dengan cara menguranginya, menambahinya, mengubahnya (tahrif), atau menolaknya (ta'thil).
  • Pilar Ketiga: Memutus ambisi akal untuk dapat menjangkau mekanisme/bentuk hakiki (kaifiyah) dari sifat-sifat tersebut.

Adapun pilar pertama, yaitu mensucikan Allah Azza wa Jalla dari kemungkinan adanya sesuatu dari sifat-sifat-Nya yang menyerupai sesuatu dari Sifat Makhluk. Landasan pokok ini ditunjukkan oleh firman-Nya Ta'ala: "...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia..." (QS. Asy-Syura: 11).

Al-Qurthubi menyatakan saat menafsirkan firman-Nya Ta'ala tersebut: "Hal yang wajib diyakini dalam bab ini adalah bahwa Allah Jalla Ismuhu dalam keagungan-Nya, kesombongan-Nya, kerajaan-Nya, nama-nama-Nya yang indah, serta sifat-sifat-Nya yang maha tinggi, tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya dan Dia pun tidak menyerupai sesuatu pun dari mereka. Lafaz-lafaz yang dilekatkan oleh syariat baik kepada Sang Pencipta maupun kepada makhluk, maka tidak ada keserupaan di antara keduanya dalam makna yang hakiki. Sebab, sifat-sifat Dzat yang Terdahulu tanpa permulaan (al-Qadim) Jalla wa Azza sangat berbeda dengan sifat-sifat makhluk." (Lihat: Tafsir al-Qurthubi, Juz 16, hlm. 8, cetakan Dar al-Kutub al-Mishriyyah)

Al-Wasithi Rahimahullah juga menyatakan: "Tidak ada zat yang seperti Dzat-Nya, tidak ada nama yang seperti Nama-Nya, tidak ada perbuatan yang seperti Perbuatan-Nya, dan tidak ada sifat yang seperti Sifat-Nya, kecuali dari sisi keselarasan lafaz semata. Mahasuci Dzat yang Terdahulu tanpa permulaan (al-Dzat al-Qadimah) dari memiliki sifat yang baru diadakan (shifah haditsah), sebagaimana mustahilnya zat yang baru diadakan (al-dzat al-muhdatsah) memiliki sifat yang terdahulu tanpa permulaan (shifah qadimah). Ini semua merupakan mazhab Ahlul Haq, Sunah, wal Jamaah." (Fi Zhilalil Qur’anul Karim, juz 7 Halaman 272).

Catatan Kaki (Footnote) / Penjelasan Istilah Teknis: [^1]: Berada di atas wazan fi'al yang bermakna maf'ul, serupa dengan kata kitab yang bermakna maktub (yang ditulis) — Lihat: Al-Mishbah al-Munir, lihat juga: Thariq al-Wushul ila al-Sulam al-Ma'mul, hlm. 12. [^2]: Kita mengatakan: Thariq mu'abbad, artinya jalan yang dihinakan/diratakan/ditundukkan agar mudah dilewati — Lihat: Asas al-Balaghah karya Al-Zamakhsyari, Al-Mishbah al-Munir, dan Tathhir al-I'tiqad, hlm. 6. [^3]: Batasan (qayd) ini digunakan untuk membedakan antara rasa takut ibadah (khauf al-ibadah) dengan rasa takut yang bersifat naluriah (al-khauf al-fithri). Rasa takut jenis pertama tidak sah dialamatkan kecuali hanya kepada Allah Azza wa Jalla, yang maknanya adalah manusia meyakini bahwa zat yang berkuasa mutlak mendatangkan mudarat dengan kehendak dan kekuasaannya sendiri hanyalah Allah, sedangkan selain-Nya tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat kecuali jika Allah menjadikannya sebagai sebab mudarat atau manfaat tersebut. Di antara tanda takut ibadah adalah rasa takut itu muncul di dalam hati setiap kali objek yang ditakuti tersebut disebut. Adapun rasa takut naluriah, seperti takut kepada binatang buas atau takut saat ditodong senjata dan semisalnya, ia tidak muncul di dalam hati kecuali saat berhadapan langsung dengan perkara yang tidak disukai tersebut. Takut naluriah ini tidak mencederai tauhid karena merupakan bagian dari fitrah manusia yang telah Allah tetapkan (Lihat: al-As'ilah wa al-Ajwibah, hlm. 32-33).

Sayyid Quthb rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat yang disebutkan di atas: "Fitrah manusia mengimani hal ini secara aksiomatik [spontan tanpa memerlukan dalil rumit], sebab Pencipta segala sesuatu tidak mungkin serupa dengan makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya." (Fi Zhilalil Qur'an Al-Karim, Juz 7, hal. 372)

Termasuk dalam landasan ini adalah menyucikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dari segala hal yang menyelisihi apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri, atau apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya . Mentauhidkan Allah dalam sifat-sifat-Nya menuntut seorang Muslim untuk menyucikan Tuhannya dari istri, sekutu, tandingan, pembantu, pemberi syafaat (tanpa izin Allah), dan pelindung dari kehinaan. Landasan ini juga menuntutnya untuk menyucikan Allah dari tidur, keletihan, kelelahan, kematian, kebodohan, kezaliman, kelalaian, lupa, kantuk, batasan ruang (tahayyuz), serta sifat-sifat kekurangan lainnya.

Adapun landasan kedua menuntut kewajiban membatasi diri dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah hanya pada apa yang termaktub di dalam Al-Qur'an Al-Karim atau di dalam Sunnah yang sahih. Sifat-sifat tersebut diterima melalui jalur periwayatan (sam'iyyah), bukan melalui logika pemikiran (araa'). Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla tidak boleh disifatkan kecuali dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri, atau apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya .

Dia juga tidak boleh dinamai kecuali dengan apa yang Dia namai diri-Nya sendiri atau apa yang dinamai oleh Rasulullah , karena Allah Azza wa Jalla adalah yang paling mengetahui tentang diri-Nya, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya. Allah Ta'ala berfirman: "...Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah?..." (QS. Al-Baqarah: 140). Jika Dia adalah yang paling mengetahui tentang diri-Nya, dan para rasul-Nya adalah orang-orang yang jujur lagi dibenarkan perkataannya yang tidak mengabarkan kecuali apa yang diwahyukan kepada mereka dari Tuhan mereka, maka wajib mengembalikan urusan bab nama dan Sifat—baik dalam hal penafian maupun penetapan—kepada apa yang dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla dan apa yang dikabarkan oleh Rasul-Nya. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: "Allah tidak boleh disifatkan kecuali dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri, atau apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya; tidak boleh melampaui Al-Qur'an dan hadis." (Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 23; Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah oleh Muhammad Khalil Harras, hal. 21. Lihat dua rujukan sebelumnya; Ittihaf Al-Kainat, hal. 6; dan Syarh Mulla Ali Al-Qari, hal. 15.)

Nu'aim bin Hammad, guru Imam Al-Bukhari, berkata: "Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Dan barangsiapa yang mengingkari apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri atau apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya, maka ia telah kafir. Tidak ada unsur penyerupaan (tasybih) maupun pemisalan (tamtsil) pada apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri atau apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya."

Landasan ini menuntut setiap hamba yang mukalaf untuk mengimani sifat-sifat dan nama-nama yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya , serta memberlakukannya sesuai dengan maknanya yang jelas dan lahiriah dalam bahasa Arab. Ia tidak boleh melakukan ta'thil, yaitu mengingkari atau menafikan sebagian sifat tersebut dari Allah Azza wa Jalla, dan tidak pula melakukan tahrif (menyimpangkan) dari makna lahiriahnya.

Adapun landasan ketiga menuntut hamba yang mukalaf untuk mengimani sifat-sifat dan nama-nama yang termaktub dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tersebut tanpa mempertanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya) dan tanpa meneliti hakikat zatnya. Hal itu karena pengetahuan tentang bagaimana bentuk suatu sifat bergantung pada pengetahuan tentang bagaimana bentuk zatnya, sebab sifat itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan zat yang disifatinya. Karena Zat Allah Azza wa Jalla tidak boleh dipertanyakan hakikat dan bagaimananya, maka demikian pula dengan sifat-sifat-Nya Subhanahu, tidak sah mempertanyakan tentang bagaimananya (Manhaj wa Dirasat li Ayat Al-Asma' wa Al-Sifat - Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi, hal. 25; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 23, 28). Oleh karena itu, dinukil dari banyak ulama salaf bahwa ketika mereka ditanya tentang bagaimana bentuk istiwā’ [bersemayamnya] Allah Azza wa Jalla, mereka menjawab: "Istiwa’ itu telah diketahui maknanya, sedangkan bagaimananya (kaif) tidak diketahui, mengimaninya (Yaitu yang dimaksud adalah Al-Istiwa’.) adalah wajib, dan mempertanyakannya adalah bid'ah." (Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 29) Para ulama salaf tersebut telah sepakat bahwa bagaimananya sifat tersebut tidak diketahui oleh kita, dan mempertanyakannya adalah bid'ah.

Seandainya ada seseorang yang bertanya kepada kita: "Bagaimana Tuhan kita turun ke langit dunia?" Maka dikatakan kepadanya: "Bagaimana Zat-Nya?" Jika ia menjawab: "Aku tidak mengetahui bagaimananya Zat-Nya," maka dikatakan kepadanya: "Kami pun tidak mengetahui bagaimana cara turun-Nya. Sebab, pengetahuan tentang bagaimana bentuk sifat menuntut pengetahuan tentang bagaimana bentuk zat yang disifati, karena sifat itu mengekor dan mengikuti zat. Lalu bagaimana Anda menuntut kami untuk menjelaskan bagaimana bentuk pendengaran Allah, penglihatan-Nya, kalam-Nya, istiwā’-Nya, dan turun-Nya, sedangkan Anda sendiri tidak mengetahui bagaimana bentuk Zat-Nya?!" Jika Anda mengakui bahwa Allah Azza wa Jalla adalah hakikat yang pasti ada yang berhak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, maka pendengaran, penglihatan, kalam, turun, dan istiwā’-Nya adalah hakikat yang pasti ada, di mana Dia disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan yang tidak menyerupai pendengaran, penglihatan, perkataan, turun, dan istiwā’ para makhluk. (Lihat Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 34)

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa tauhid ini dapat dirusak oleh beberapa perkara yang wajib dijauhi oleh seorang Muslim, yaitu:

  1. Tasybih (Penyerupaan): Yaitu menyerupakan sifat-sifat Pencipta dengan sifat-sifat makhluk. Contohnya seperti penyerupaan yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Al-Masih putra Maryam dengan Allah Subhanahu, penyerupaan kaum Yahudi terhadap Uzair dengan Allah, penyerupaan kaum musyrik terhadap berhala-berhala mereka dengan Allah, serta penyerupaan sebagian kelompok yang menyerupakan wajah Allah dengan wajah makhluk, tangan Allah dengan tangan makhluk, pendengaran Allah dengan pendengaran makhluk, dan sejenisnya. (Al-As'ilah wa Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah - karya Abdul Aziz Al-Muhammad Al-Salman, hal. 35; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 35)
  2. Tahrif (Penyimpangan): Yaitu mengubah dan mengganti, seperti menyimpangkan lafaz nama dan sifat dengan menambah, mengurangi, atau mengubah harakat ikrabnya. Atau menyimpangkan maknanya, yang oleh sebagian ahli bid'ah disebut sebagai ta'wil, yaitu mengalihkan lafaz kepada makna yang rusak yang tidak dikenal dalam penggunaan bahasa Arab, seperti mentakwil kata 'Wajah' menjadi 'Zat', dan kata 'Istiwa’' menjadi 'Istimla’' (menguasai).( ) Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 25; Al-As'ilah wa Al-Ajwibah, hal. 32, 33)
  3. Ta'thil (Pengosongan/Penafian): Yaitu menolak sifat-sifat ketuhanan dan mengingkari keberadaannya pada Zat Allah Subhanahu. Contohnya seperti mengosongkan Allah Jalla wa 'Ala dari kesempurnaan-Nya yang suci dengan cara mengingkari nama-nama dan sifat-sifat-Nya; atau menolak berinteraksi dengan Allah Azza wa Jalla dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya; atau memisahkan ciptaan dari Penciptanya seperti orang yang mengatakan bahwa makhluk itu bersifat qadim (ada tanpa bermula) dan mengingkari bahwa Allah yang menciptakan serta membuatnya (Lihat dua rujukan sebelumnya).
  4. Takyif (Penggambaran): Yaitu menentukan bagaimana bentuk sifat-sifat tersebut dan menetapkan hakikat bentuknya.

Manhaj ini dalam menerima sifat dan nama yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan makna lahiriahnya tanpa tasybih, tahrif, ta'thil, maupun takyif ini adalah mazhab Salaf dari kalangan Sahabat radhiyallahu 'anhum, para Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in. Asy-Syaukani berkata: "Sesungguhnya mazhab Salaf dari kalangan Sahabat radhiyallahu 'anhum, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in adalah membawakan dalil-dalil sifat sesuai dengan lahiriahnya tanpa melakukan tahrif terhadapnya, tanpa ta'wil yang dipaksakan pada sesuatu pun darinya, tanpa tasybih, dan tanpa ta'thil yang banyak dihasilkan dari proses takwil. Dahulu, jika ada seorang penanya yang bertanya tentang sesuatu dari sifat-sifat Allah, mereka akan membacakan dalilnya kepadanya, lalu mereka menahan diri dari kasak-kusuk perkataan (qila wa qala). Mereka berkata: 'Allah berfirman demikian, dan kami tidak tahu selain itu, kami tidak membebani diri, dan tidak berbicara tentang apa yang tidak kami ketahui, serta Allah tidak mengizinkan kami untuk melampauinya.' Jika penanya tersebut ingin mendapatkan tambahan di luar makna lahiriah dari mereka, mereka akan menghardiknya dari menyelami apa yang tidak bermanfaat baginya, dan melarangnya dari menuntut sesuatu yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan terjerumus ke dalam bid'ah yang menyelisihi jalan mereka, serta menyelisihi apa yang mereka hafal dari Rasulullah , yang dihafal oleh para Tabi'in dari para Sahabat, dan dihafal oleh generasi setelah Tabi'in dari para Tabi'in. Pada abad-abad yang utama tersebut, ucapan dalam masalah sifat-sifat Allah berada dalam satu kesepakatan, dan metode mereka semua seirama. Kesibukan mereka adalah pada apa yang Allah perintahkan kepada mereka untuk disibukkan, dan apa yang Allah tugaskan kepada mereka untuk menegakkan kewajiban-kewajibannya, berupa iman kepada Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa, haji, jihad, menginfakkan harta dalam berbagai jenis kebaikan, menuntut ilmu yang bermanfaat, membimbing manusia kepada kebaikan dengan berbagai jenisnya, menjaga sebab-sebab keberuntungan meraih surga dan keselamatan dari neraka, serta menegakkan amar makruf nahi mungkar, dan menindak tangan orang yang zalim sesuai dengan tingkat kemampuan dan batas kekuatan mereka. Mereka tidak menyibukkan diri dengan selain itu dari hal-hal yang tidak Allah bebankan amalnya kepada mereka, dan tidak pula Allah meminta mereka beribadah dengan mengetahui hakikat bentuknya. Maka agama pada saat itu bersih dari kekeruhan bid'ah..." (Lihat: Al-Tuhaf fi Madzahib Al-Salaf oleh Asy-Syaukani, hal. 7)

Jenis-Jenis Sifat:

Sifat-sifat yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah ada dua jenis (Lihat: Al-As'ilah wa Al-Ajwibah, hal. 48; dan Al-Fiqh Al-Akbar beserta syarahnya oleh Mulla Ali Al-Qari, hal. 15): Sifat Dzatiyyah dan Sifat Fi'liyyah.

  • Sifat Dzatiyyah: Yaitu sifat-sifat yang tidak pernah terpisah dari Allah Subhanahu, seperti Diri (Nafs), Ilmu, Hidup, Kuasa, Mendengar, Melihat, Wajah, Kalam, Qadam (Kaki), Kekuasaan, Keagungan, Keperkasaan, Ketinggian, Kekayaan, Rahmat, dan Hikmah. Batasan jenis sifat ini adalah sifat yang melekat pada Zat Allah Azza wa Jalla, di mana sifat-sifat tersebut senantiasa ada pada Allah Subhanahu dan tidak pernah terpisah dari-Nya.
  • Sifat Fi'liyyah: Yaitu sifat-sifat yang berkaitan dengan kehendak (masyi'ah) dan kekuasaan Allah, seperti Istiwa’ (bersemayam), Nuzul (turun), Maji' (datang), 'Ajab (heran), Dhahik (tertawa), Ridha, Cinta, Benci, Murka, Gembira, Marah, Makar (membalas tipu daya), Kaid (membuat tipu daya), dan Maqt (kebencian yang besar).

Kewajiban dalam sifat-sifat ini dengan kedua jenisnya adalah menetapkannya bagi Allah Azza wa Jalla sesuai dengan makna yang layak bagi kesempurnaan Allah Ta'ala, yaitu makna hakikinya, karena di dalamnya tidak ada unsur tasybih, ta'thil, tahrif, maupun takyif. Kita mengucapkan seperti apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu: "Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah." (Al-As'ilah wa Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah, hal. 50)

Nama-Nama Allah Azza wa Jalla:

Adapun nama-nama Allah Azza wa Jalla, ia merupakan nama diri (a'lam) bagi-Nya, yang dikabarkan oleh Allah kepada kita dalam Kitab-Nya, dan oleh Rasulullah dalam Sunnahnya. Setiap nama dari nama-nama ini menunjukkan suatu sifat atau beberapa sifat Allah Subhanahu. Setiap nama tersebut diderivasi dari masdarnya, seperti Al-'Alim (Yang Maha Mengetahui), Al-Qadir (Yang Maha Kuasa), As-Sami' (Yang Maha Mendengar), Al-Bashir (Yang Maha Melihat), dan sejenisnya. Nama Al-'Alim diderivasi dari Al-'Ilmu (pengetahuan), dan ia menunjukkan sifat ilmu bagi Sang Pencipta, demikian pula dengan nama-nama yang lainnya.

Nama yang menghimpun seluruh makna nama dan sifat secara keseluruhan adalah lafaz "Allah". Para ulama berbeda pendapat mengenai derivasi (isytiqāq) lafaz ini: Sekelompok ulama berpendapat bahwa lafaz tersebut adalah isim musytak (bentukan), asalnya adalah "Al-Ilāh", kemudian mereka menghapus hamzahnya dan mengidgamkan lam ke dalam lam sehingga menjadi satu lam yang bertasydid dan ditebalkan. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Al-Qayyim, Sibawaih, dan At-Thabari. Sementara sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa lafaz tersebut bukanlah isim musytak (yakni isim jamid yang tidak terbentuk dari kata lain) (Lihat: Fathul Majid, hal. 11. At-Thabari berkata mengenai makna lafaz jalalah Allah: Dzat yang memiliki hak ketuhanan dan penyembahan atas seluruh makhluk-Nya - Tafsir At-Thabari, Juz 20, hal. 123).

Perlu diketahui bahwa tidak ada kontradiksi antara keberadaan nama-nama ini sebagai kata sifat (nu'ūt) bagi Allah Azza wa Jalla sekaligus sebagai nama diri (a'lām) bagi-Nya. Maka Ar-Rahman adalah nama-Nya sekaligus sifat-Nya. Seluruh nama Allah menunjukkan makna-maknanya dan semuanya merupakan sifat-sifat pujian (Fathul Majid, hal. 14; Al-As'ilah wa Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah, hal. 44). Nama-nama tersebut dinamakan "Al-Husna" (Yang Terbaik/Terindah) karena menunjukkan pada Diri yang paling baik dan kandungan makna yang paling mulia.

Mentauhidkan Allah dalam nama-nama-Nya menuntut keimanan pada setiap nama yang Dia gunakan untuk menamai diri-Nya sendiri, keimanan pada makna yang ditunjukkan oleh nama tersebut, serta keimanan pada dampak-dampak (atsar) yang berkaitan dengan nama tersebut. Sebagai contoh: Di dalam Al-Qur'an terdapat nama Allah Ar-Rahim. Maka kita mengimani bahwa ini adalah nama diri bagi Allah Azza wa Jalla, kita mengimani bahwa nama ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat rahmat (kasih sayang), dan kita juga mengimani bahwa Allah merahmati siapa saja yang Dia kehendaki. Demikian pula berlaku untuk setiap nama yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya . (Al-As'ilah wa Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah, hal. 44)

Adapun jumlah nama-nama Allah Jalla wa 'Ala, maka yang terdapat dalil tekstualnya berjumlah sembilan puluh sembilan nama. Disebutkan dalam sahih Al-Bukhari dan sahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitungnya (menjaga/menghafalnya) maka ia masuk surga. Sesungguhnya Dia itu ganjil dan menyukai yang ganjil." (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah) .( Dikeluarkan oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah - Lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fathul Bari, Juz 5, hal. 372; Hidayat Al-Bari, Juz 1, hal. 135; dan Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi, Juz 17, hal. 5)

Para ulama telah sepakat bahwa sabda Nabi "sembilan puluh sembilan nama" tidak menunjukkan bahwa nama Allah terbatas pada jumlah tersebut saja. Melainkan, batas maksimal kandungan hadis sahih ini adalah bahwa Allah memiliki nama-nama tersebut, yang mana barangsiapa menghitungnya akan masuk surga. Di dalam hadis tersebut tidak ada penafian nama-nama selain itu bagi Allah Subhanahu. Maka maksudnya adalah mengabarkan tentang masuknya surga dengan menghitungnya, bukan mengabarkan tentang pembatasan nama-nama tersebut. (Al-Asma' wa Al-Sifat oleh Al-Baihaqi, hal. 6; Itsar Al-Haq 'ala Al-Khalq oleh Al-Murtadha Al-Yamani, hal. 169; Fathul Bari, Juz 11, hal. 183; Tafsir Al-Qasimi, Juz 7, hal. 2911; Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah, hal. 110; Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi, Juz 17, hal. 5)

Hal yang menunjukkan bahwa di sana ada nama-nama yang tidak dikabarkan oleh Sang Pencipta kepada kita, melainkan Dia simpan dalam ilmu gaib di sisi-Nya, adalah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

مَا أَصَابَ مُسْلِمًا قَطُّ هَمٌّ وَلَا حَزَنٌ فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذِهَابَ هَمِّي وَغَمِّي، إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ عَنْهُ هَمَّهُ وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ هَمِّهِ فَرَحًا

"Tidaklah seorang Muslim ditimpa kegundahan maupun kesedihan lalu ia berdoa: 'Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, dan anak dari hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, ketentuan-Mu adil atasku. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau gunakan untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi kesedihanku, serta pelenyap bagi kegundahan dan kesusahanku,' melainkan Allah akan menghilangkan kegundahannya dan menggantikan kesedihannya dengan kegembiraan.". Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami mempelajari kalimat-kalimat ini?" Beliau menjawab: "Tentu, seyogianya bagi siapa saja yang mendengarnya untuk mempelajarinya." (HR. Ahmad, Abu 'Awanah dalam sahihnya, Abu Ya'la, dan Al-Bazzar) . (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu 'Awanah dalam kitab Shahihnya. Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawaid: Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya'la, Al-Bazzar, dan perawi Ahmad adalah perawi kitab Shahih, kecuali Salamah Al-Juhani yang telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Itsar Al-Haq, hal. 170; Al-Asma' wa Al-Sifat oleh Al-Baihaqi, hal. 6, 7; dan Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah, hal. 110)

Adapun makna menghitung (ihshā') nama-nama Allah yang terdapat dalam hadis terdahulu adalah: mengetahuinya, menghafalnya, memahaminya, mengimaninya, merawatnya dengan baik, menjaga batasan-batasannya dalam berinteraksi dengan Allah melaluinya, serta berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengannya. Maka makna yang termaktub dalam hadis tersebut adalah: barangsiapa yang menghafalnya seraya memikirkan kandungan maknanya, mengambil pelajaran darinya, mengamalkan konsekuensinya, serta menyucikan Zat yang dinamai dengannya, maka ia akan masuk surga () Al-Asma' wa Al-Sifat oleh Al-Baihaqi, hal. 6; Al-As'ilah wa Al-Ajwibah, hal. 45; Fathul Bari, Juz 13, hal. 322; Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi, Juz 17, hal. 605).

Dalil-Dalil Tauhid Asma' wa Sifat:

Dalil-dalil jenis tauhid ini di dalam Al-Qur'an Al-Karim dan As-Sunnah yang sahih sangatlah banyak. Bahkan tidak ada satu surah pun dari surah-surah Al-Qur'an, dan tidak ada satu halaman pun dari halaman-halamannya, melainkan di dalamnya disebutkan sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya. Anda akan mendapati Al-Qur'an menyebutkannya dan mengingatkannya dalam berbagai tema bahasan, mulai dari tauhid, ibadah, tasyri' (syariat), pada posisi perintah dan larangan, janji (wa'd) dan ancaman (wa'id), serta kisah-kisah dan permisalan-permisalan. Kami akan sebutkan kepada Anda pada kesempatan ini sebuah surah yang komprehensif dalam tauhid asma' wa sifat, serta ayat yang paling agung dari ayat-ayat Al-Qur'an.

Adapun surah tersebut adalah Surah Al-Ikhlas, yang nilainya sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an, sebagaimana dikabarkan oleh Al-Musthafa . Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.'" (QS. Al-Ikhlas: 1-4). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa seorang laki-laki mendengar orang lain membaca 'Qul Huwallahu Ahad' dengan mengulang-ulangnya. Ketika pagi hari tiba, ia mendatangi Rasulullah lalu menceritakan hal itu kepada beliau—dan seolah-olah laki-laki itu menganggapnya remeh (sedikit)—maka Rasulullah bersabda: 'Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surah itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an.' Dan dari Abu Sa'id, ia berkata: Nabi bersabda kepada para sahabatnya: 'Apakah salah seorang di antara kalian merasa lemah untuk membaca sepertiga Al-Qur'an dalam satu malam?' Maka hal itu terasa berat bagi mereka, dan mereka berkata: 'Siapa di antara kami yang mampu melakukan itu, wahai Rasulullah?' Beliau bersabda: 'Allahul Wahid Al-Shamad adalah sepertiga Al-Qur'an.' Lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fathul Bari, Juz 9, hal. 49. Hadis-hadis mengenai keutamaan Surah Al-Ikhlas sangat banyak sekali: Zad Al-Ma'ad, Juz 1, hal. 82)

Surah yang agung ini mengandung penetapan seluruh kesempurnaan bagi Allah Azza wa Jalla, dan menafikan seluruh kekurangan dari-Nya. Dia mengabarkan di dalamnya bahwa Dialah Allah Yang Maha Esa (Al-Ahad) lagi tempat bergantung (As-Shamad), Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada yang setara dengan-Nya. Makna Al-Ahad adalah yang tidak ada kemiripan bagi-Nya dan tidak ada tandingan-Nya (Al-Asma' wa Al-Sifat, hal. 21; Syarh Mulla Ali Al-Qari 'ala Al-Fiqh Al-Akbar, hal. 14). Nama yang mulia ini menunjukkan bahwa Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya dalam sifat-sifat kesempurnaan yang ditetapkan bagi-Nya. Sedangkan makna As-Shamad adalah Penguasa tertinggi yang dituju dalam segala urusan dan dimaksudkan dalam setiap hajat serta kebutuhan (Fathul Bari, Juz 8, hal. 601; Al-Asma' wa Al-Sifat, hal. 58; Syarh Mulla Ali Al-Qari 'ala Al-Fiqh Al-Akbar, hal. 14). Nama ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak untuk dituju dalam segala kebutuhan dan persoalan. Hak ini tidak menjadi batil dengan berpalingnya orang-orang yang berpaling dari kebenaran dan tersesat jalannya, di mana mereka menuju kepada makhluk dan berpaling dari Sang Pencipta Jalla wa 'Ala. Sebab, apabila Allah adalah Pencipta dan Pengatur bagi apa yang diciptakan-Nya, tidak ada pencipta selain-Nya dan tidak ada pengatur di samping-Nya, maka berpaling dari menuju kepada-Nya merupakan bentuk kebodohan dan ketololan, karena segala urusan berada di tangan-Nya (Al-Asma' wa Al-Sifat, hal. 58). Demikianlah nama Al-Ahad menetapkan penafian seluruh sifat kekurangan dari Allah Azza wa Jalla, dan sesungguhnya nama ini (As-Shamad) telah menetapkan bagi Allah Ta'ala seluruh sifat kesempurnaan dan keagungan. (Fathul Bari, Juz 9, hal. 50)

Dari sinilah Anda menyadari mengapa Rasulullah mengabarkan bahwa surah ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an Al-Karim, karena ia telah mengandung akidah Islam seluruhnya yang tegak di atas penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Sang Pencipta, menafikan sifat-sifat kekurangan dari-Nya, serta hak-Nya Subhanahu untuk diibadahi dan dijadikan tujuan permohonan.

Al-Qur'an secara keseluruhan merupakan akidah yang menjelaskan kepada para hamba apa yang wajib atas mereka berupa makrifatullah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya; juga merupakan syariat yang menjelaskan hak-hak dan kewajiban mereka serta cara berinteraksi di antara mereka; serta merupakan kabar dan kisah yang menjelaskan kepada para hamba sunatullah dalam memperlakukan makhluk, menepis pahala dan siksaan-Nya, janji dan ancaman-Nya. Ibnu Al-Qayyim berkata dalam menjelaskan hakikat surah ini: "Maka Surah Al-Ikhlas mengandung tauhid iktikad dan makrifat, serta apa yang wajib ditetapkan bagi Tuhan Ta'ala berupa keesaan (ahadiyyah) yang menafikan segala bentuk keserikatan dari berbagai sisi, serta sifat shamadityah, penafian anak dan orang tua yang merupakan konsekuensi dari sifat shamadityah, serta penafian kesetaraan (kufu') yang mengandung penafian penyerupaan, pemisalan, dan penandingan. Maka surah ini mengandung penetapan seluruh kesempurnaan bagi-Nya, menafikan seluruh kekurangan dari-Nya, menafikan adanya serupa atau misal bagi-Nya dalam kesempurnaan-Nya, serta menafikan sekutu secara mutlak dari-Nya. Landasan-landasan inilah yang menjadi himpunan tauhid ilmiah iktikadi yang membedakan pemiliknya dari seluruh sekte kesesatan dan kesyirikan." (Lihat Zad Al-Ma'ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, Juz 1, hal. 81, 82)

Adapun ayatnya, ia adalah Ayat Kursi, yang dikabarkan oleh Rasulullah sebagai ayat yang paling agung di dalam Al-Qur'an. Di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung." (QS. Al-Baqarah: 255) .

Ayat yang agung ini mengandung kaidah-kaidah tauhid dengan ketiga jenisnya, karena ia mencakup sifat-sifat dan nama-nama yang masing-masing darinya menjadi kaidah dari kaidah-kaidah akidah Islamiyah:

Firman-Nya Ta'ala: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia" menetapkan kaidah Uluhiyah, yang merupakan fondasi tauhid dan tempat memancarnya manhaj Islam untuk kehidupan seluruhnya. Ia menuntut penyerahan diri hanya kepada Allah semata dengan penghambaan dan ibadah: maka manusia tidak boleh menjadi hamba kecuali kepada Allah, tidak boleh menghadapkan ibadah kecuali kepada Allah Azza wa Jalla, tidak boleh berkomitmen pada ketaatan kecuali ketaatan kepada Allah, tidak boleh berhukum kecuali kepada Allah, serta tidak boleh mengambil syariat, nilai, akhlak, maupun konsep pemikirannya kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. (Fi Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 418)

Firman-Nya Ta'ala: "Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)" menetapkan dua nama yang agung bagi Zat-Nya Yang Maha Tinggi:

  • Al-Hayyu (Yang Maha Hidup): Yaitu Yang memiliki kehidupan yang kekal, dan kelestarian yang tidak memiliki awal maupun akhir.( Tafsir At-Thabari, Juz 5, hal. 388; Al-Asma' wa Al-Sifat, hal. 20) Kehidupan yang disifatkan kepada Allah adalah kehidupan dzatiyyah yang tidak berasal dari sumber lain, berbeda dengan kehidupan makhluk yang diperoleh dan dianugerahkan kepadanya dari Sang Pencipta. Demikian pula, ia adalah kehidupan azali abadi yang tidak bermula dari suatu titik awal dan tidak berakhir pada suatu titik akhir. (Fi Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 418, 419)
  • Al-Qayyum (Yang Terus-menerus Mengurus): Yaitu Yang menegakkan urusan para makhluk dan mengatur alam semesta dalam seluruh keadaannya. Dialah pengurus segala sesuatu yang memberi rezeki, menjaga, merawat, dan mengaturnya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki Jalla wa 'Ala. (Al-Asma' wa Al-Sifat, hal. 48; Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah, hal. 124; Tafsir At-Thabari, Juz 5, hal. 388; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 61)

Kedua nama ini (Al-Hayyu Al-Qayyum) termasuk di antara nama-nama Allah yang paling agung, karena di atas keduanyalah berputar seluruh nama-nama baik (Asma'ul Husna) lainnya, dan kepada keduanyalah kembali makna-maknanya. Sesungguhnya sifat hidup meniscayakan seluruh sifat kesempurnaan; tidak ada satu sifat pun yang tertinggal darinya kecuali disebabkan oleh lemahnya kehidupan. Karena Allah Ta'ala memiliki kehidupan yang sempurna, maka Dia memiliki segala kesempurnaan. Sementara sifat qayyumiyah mengandung kesempurnaan kekayaan-Nya Subhanahu dan kesempurnaan kekuasaan-Nya; Dialah Yang berdiri sendiri, sehingga tidak membutuhkan kepada selain-Nya dari sisi mana pun, dan Dialah Yang menegakkan selain-Nya. Maka setiap yang ada bersandar kepada keberadaan Allah dan pengaturan-Nya. (Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah, hal. 124)

Kedua nama ini memiliki dampak yang agung dalam kehidupan seorang Muslim yang mengimaninya dan menghadirkan makna-makna agung yang terkandung di dalamnya. Sanubarinya akan senantiasa terikat dengan Allah dalam cinta, ibadah, dan ketaatan, karena ia mengetahui bahwa Tuhannyalah yang mengendalikan urusannya dan urusan segala sesuatu di sekitarnya berdasarkan hikmah dan pengaturan. Maka ia pun berkomitmen dalam kehidupannya dengan manhaj yang telah digariskan yang tegak di atas hikmah dan pengaturan, mengambil nilai-nilai serta timbangannya dari-Nya, dan senantiasa merasa diawasi oleh-Nya dalam seluruh keadaannya. (Fi Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 419)

Firman-Nya Ta'ala: "tidak mengantuk dan tidak tidur" merupakan penegasan bagi pengurusan-Nya Subhanahu atas segala sesuatu dan tegaknya segala sesuatu dengan-Nya, karena kantuk (sinah) dan tidur menafikan kehidupan yang sempurna serta pengurusan (qayyumiyah) yang sempurna. (Rujukan sebelumnya; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 63)

Firman-Nya Ta'ala: "Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi" menetapkan kepemilikan-Nya Subhanahu yang meliputi segala sesuatu, mutlak dari ikatan apa pun, dan disucikan dari sekutu mana pun. Akidah ini, apabila telah menetap di dalam hati manusia, akan memiliki dampak yang agung dalam kehidupan mereka. Sayyid Quthb rahimahullah berkata: "Apabila kepemilikan yang hakiki telah murni milik Allah, maka manusia pada dasarnya tidak memiliki kepemilikan atas sesuatu pun. Kepemilikan mereka hanyalah sebagai status delegasi (istikhlaf) dari Pemilik tunggal yang asli yang memiliki segala sesuatu. Dari sinilah, mereka wajib tunduk dalam status delegasi mereka terhadap syarat-syarat dari Pemilik yang mendelegasikan kepemilikan ini. Syarat-syarat Pemilik yang mendelegasikan itu telah dijelaskan kepada mereka di dalam syariat-Nya, maka mereka tidak boleh keluar darinya, jika tidak maka batallah kepemilikan mereka yang muncul dari akad delegasi tersebut, dan tindakan-tindakan mereka jatuh menjadi batil... Di samping itu, sekadar menetapnya hakikat ini di dalam sanubari... sekadar perasaan manusia akan hakikat Pemilik Subhanahu terhadap apa yang ada di langit dan di bumi, sekadar bayangan manusia akan kosongnya tangannya sendiri dari kepemilikan sesuatu yang ia katakan bahwa ia memilikinya, serta mengembalikan kepemilikan ini kepada pemiliknya yang asli... sekadar perasaan bahwa apa yang ada di tangannya adalah pinjaman ('ariyah) untuk jangka waktu tertentu, kemudian akan diambil kembali oleh pemiliknya yang meminjamkannya pada waktu yang telah ditentukan... sekadar menghadirkan hakikat-hakikat dan perasaan-perasaan ini sudah cukup untuk meredam ketajaman ketamakan dan keserakahan, ketajaman kebakhilan dan kekikiran, serta ketajaman perebutan yang gila. Hal itu juga cukup untuk menanamkan dalam jiwa rasa qanaah dan ridha terhadap rezeki yang diperoleh, kelapangan dada, kemurahan hati untuk menyedekahkan apa yang ada, serta mengalirkan ketenangan ke dalam hati dan kemantapan dalam jiwa, baik di kala berkecukupan maupun di kala kekurangan. Maka jiwa tidak akan pergi dengan penuh penyesalan atas apa yang luput atau hilang, dan hati tidak akan terbakar oleh ketamakan terhadap apa yang diincar dan dicari." (Fi Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 420, 421)

Firman-Nya Ta'ala: "Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya" merupakan penjelasan bagi kedudukan uluhiyah dan kedudukan ubudiyah. Setiap makhluk adalah hamba Allah, tidak melampaui batas ubudiyah dan tidak melewati batasannya, maka ia tidak memiliki hak syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya. Dengan demikian, akidah ini memberikan pemisah yang jelas antara hakikat ubudiyah dan hakikat rububiyah, sehingga keduanya tidak bercampur dan tidak berserikat dalam sesuatu pun dari sifat atau karakteristik. (Rujukan sebelumnya)

Firman-Nya Ta'ala: "Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki" merupakan penetapan bagi liputan ilmu-Nya Subhanahu dan cakupannya terhadap waktu, tempat, dan segala perkara; serta menjadi penjelasan bagi kelemahan para makhluk dan kekurangan ilmu mereka kecuali apa yang Allah kehendaki untuk diajarkan kepada mereka (Tafsir At-Thabari, Juz 5, hal. 396, 397; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 64). Keimanan seorang Muslim terhadap sifat Allah Azza wa Jalla ini serta penghadirannya di dalam hati akan menjadikannya senantiasa merasa diawasi oleh Tuhannya, menjaga batasan-batasan-Nya, dan bersegera bertobat kepada-Nya jika berbuat buruk. Kesadarannya akan hakikat dirinya serta nikmat Allah atasnya dalam hal apa yang Dia ajarkan kepadanya berupa hakikat-hakikat, menjadikannya senantiasa bersyukur kepada Allah, serta jauh dari sikap angkuh, sombong, dan membanggakan diri.

Firman-Nya Ta'ala: "Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya" merupakan dalil atas kesempurnaan kekuasaan-Nya Subhanahu dan kematangannya.

Kemudian Allah Subhanahu menutup ayat yang agung ini dengan menyebutkan dua nama dari nama-nama-Nya yang baik, Dia berfirman: "dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung."

  • Al-'Aliyy (Yang Maha Tinggi): Yang memiliki ketinggian dan keluhuran di atas makhluk-Nya (Tafsir At-Thabari, Juz 5, hal. 405). Tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri menandingi kedudukan-Nya melainkan Allah akan mengembalikannya pada kerendahan dan kehinaan di dunia, serta azab dan kehinaan di akhirat.
  • Al-'Adhim (Yang Maha Agung): Yang memiliki keagungan yang segala sesuatu berada di bawah-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih agung daripada Dia Subhanahu.

Ketika hakikat ketinggian Allah dan keagungan-Nya telah menetap di dalam jiwa manusia, maka ia akan mengetahui kadar dirinya dan kembali kepada makam ubudiyah (penghambaan) kepada Allah Azza wa Jalla. Ia tidak akan berlaku sombong dan tidak pula melampaui batas, melainkan ia akan takut kepada Allah, segan kepada-Nya, serta beradab bersama-Nya dan bersama makhluk-Nya Subhanahu. (Fi Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 424)

Itulah sebagian dari manifestasi keagungan Ayat Kursi, maka seyogianya bagi setiap Muslim untuk bersemangat menjaganya, menghafalnya, mentadaburi makna-maknanya, menghadirkan kandungannya, serta menjaga hak-haknya. Sungguh telah terdapat hadis-hadis sahih mengenai keutamaannya, di antaranya: apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah dalam sebuah hadis yang panjang bahwa Rasulullah bersabda kepadanya:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ.. حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّهُ لَنْ يَزَال عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

"Jika kamu hendak pergi ke tempat tidurmu, maka bacalah Ayat Kursi: 'Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya...' hingga kamu menyelesaikan ayat tersebut. Karena sesungguhnya senantiasa akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari." (HR. Al-Bukhari) . (Lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fathul Bari, Juz 2, hal. 384)

Dan hadis yang dikeluarkan oleh Muslim dalam sahihnya dari Ubay bin Ka'ab, ia berkata: Rasulullah bersabda:

يَا أَبَا المُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ: قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: يَا أَبَا المُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ: قُلْتُ: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ. قَالَ: فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ: وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ

"Wahai Abu Al-Mundzir, tahukah kamu ayat mana dari Kitabullah yang ada bersamamu yang paling agung?" Ubay berkata: Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bertanya lagi: "Wahai Abu Al-Mundzir, tahukah kamu ayat mana dari Kitabullah yang ada bersamamu yang paling agung?" Ubay berkata: Aku menjawab: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya (Ayat Kursi)." Ubay berkata: Maka beliau menepuk dadaku dan bersabda: "Demi Allah, semoga ilmu ini menjadi berkah bagimu, wahai Abu Al-Mundzir." (HR. Muslim) . (Lihat Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi, Juz 6, hal. 93)

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat