Iman Kepada Allah
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon
ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari
kejahatan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah,
maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan, maka
tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan
yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan
rasul-Nya. Semoga selawat dan salam yang berlimpah tercurah kepadanya, kepada
keluarganya, dan kepada para sahabatnya.
Amma
ba'du:
Sesungguhnya
muasal kerusakan adalah menyelisihi kebenaran (al-haqq) dan menyimpang
dari jalannya. Sebaliknya, kebaikan seluruh urusan terletak pada upaya
mengikuti kebenaran dan berkomitmen pada jalannya. Kebenaran itu sendiri
merupakan ketetapan baku yang atas dasarnya Allah menciptakan
makhluk-makhluk-Nya, atau yang Dia kehendaki agar makhluk tersebut berada di
atasnya. Hal itu karena tidak ada satu pun makhluk di dunia ini melainkan Allah
sendiri yang menciptakannya; tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan
tersebut. Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini melainkan Allah Subhanahu
wa Ta'ala telah menjadikannya pada tatanan tertentu dan mengatur urusannya
dengan mekanisme tertentu pula. Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Sempurna
lagi Maha Suci dari kesalahan, maka kebaikan seluruhnya ada pada penciptaan dan
pengaturan-Nya. Segala sesuatu yang bergeser dari tatanan Ilahi dan pengaturan
ketuhanan pasti akan rusak. Langit dan bumi ini diciptakan oleh Allah dengan
kebenaran, dan Dia mengatur urusan keduanya dengan hikmah-Nya, sehingga
keduanya menjadi baik karena penciptaan dan pengaturan-Nya Subhanahu wa
Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya: "Sekiranya di langit dan di bumi ada
tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah binasa." (QS. Al-Anbya':
22) .
Manusia
merupakan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk Allah Azza wa Jalla.
Kebaikan hidupnya digantungkan pada sejauh mana ia mengetahui kebenaran dan
mengikutinya. Sementara kerusakannya merupakan akibat pasti dari
ketidaktahuannya terhadap kebenaran, atau bentuk pembangkangannya terhadap
kebenaran tersebut meskipun ia telah mengetahuinya. Tatkala Allah Subhanahu
Dialah Sang Kebenaran, dan dari-Nya lah bersumber kebenaran, serta perintah dan
pengaturan-Nya adalah kebenaran, maka penyebab kerusakan seluruh kehidupan
manusia adalah kekufuran kepada Sang Pencipta, kekufuran kepada perintah dan
pengaturan-Nya, serta kekufuran kepada kebenaran yang diturunkan-Nya.
Sebaliknya, penyebab kebaikan seluruh kehidupan ini adalah keimanan kepada
Allah Azza wa Jalla, keimanan kepada apa yang diturunkan dari-Nya, serta
komitmen terhadap kehendak dan perintah-Nya dalam seluruh tatanan kehidupan
manusia.
Oleh
karena itu, Allah yang Maha Mulia firman-Nya menyatakan: "Maka, jika
datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku,
ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari
peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha:
123-124) . Dan tidak ada yang mengikuti petunjuk-Nya melainkan orang yang
beriman kepada-Nya, mengingat-Nya, serta menginternalisasi keberadaan-Nya,
sifat-sifat-Nya, dan keagungan-Nya Subhanahu. Barangsiapa yang melupakan
zikir kepada Allah, ia pasti berpaling dari petunjuk-Nya. Manusia diuji di
dunia ini dengan dua perkara ini: mengingat Allah (dzikrullah) dan
mengikuti petunjuk-Nya, atau melupakan-Nya dan tersesat. Manusia berada di
persimpangan dua jalan yang tidak ada pilihan ketiga di antara keduanya: jalan
keimanan, petunjuk, dan kebahagiaan di dunia serta akhirat; atau jalan
kekufuran, kesesatan, dan kesengsaraan di kedua negeri tersebut.
Oleh
sebab itu, perkara paling mulia yang dipelajari oleh manusia dan diajarkan
kepada orang lain adalah perkara keimanan, rukun-rukunnya, serta
konsekuensi-konsekuensinya. Sebaliknya, benteng pertahanan dan senjata paling
utama yang harus dipersiapkan adalah mengetahui rambu-rambu kekufuran,
penyebab-penyebabnya, serta konsekuensi-konsekuensinya. Apabila manusia
memiliki petunjuk yang jelas (bashirah) mengenai dua perkara yang sangat
krusial ini, niscaya ia akan mengenali jalan kebahagiaannya lalu berkomitmen di
atasnya tanpa pernah menyimpang, serta mengenali jalan kesengsaraannya sehingga
ia dapat menjauhinya.
Melalui
buku ini, kami berharap dapat menjelaskan—berdasarkan ilmu yang Allah
anugerahkan kepada kami dan kebenaran yang Dia bukakan untuk
kami—perkara-perkara keimanan beserta rukun-rukunnya, serta rambu-rambu
kekufuran, penyebab, dan pintu-pintu masuknya. Hanya Allah Subhanahu wa
Ta'ala Dzat yang memberi taufik menuju kebenaran. Apa saja yang benar di
dalamnya, maka itu bersumber dari kebenaran Allah Jalla wa Ala.
Sedangkan apa saja yang keliru, maka itu bersumber dari diri kami pribadi dan
dari setan; kami bersimpuh memohon ampunan kepada Allah atas kekeliruan
tersebut, serta berharap Dia menggerakkan di antara hamba-hamba-Nya yang saleh
orang yang sudi meluruskan dan menjelaskan kebenaran di dalamnya.
Kami
membagi buku ini ke dalam dua bagian utama:
- Bagian Pertama: Kami
membahas tentang rukun-rukun keimanan beserta hakikatnya.
- Bagian Kedua: Kami
membahas tentang penyebab-penyebab kekufuran beserta pintu-pintu masuknya.
BAGIAN
PERTAMA: RUKUN-RUKUN IMAN
Allah
Azza wa Jalla berfirman: "Rasul (Muhammad) beriman pada apa
(Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang
yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak
membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka (juga) berkata, “Kami
mendengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami, dan hanya kepada-Mu
tempat kembali.”" (QS. Al-Baqarah: 285).
Allah
Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman: "Wahai orang-orang yang
beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad), Kitab (Al-Qur’an)
yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang diturunkan sebelumnya.
Barangsiapa yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, sungguh dia telah tersesat sangat jauh."
(QS. An-Nisa': 136) .
Dia
juga berfirman: "Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur
dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada
Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi..." (QS.
Al-Baqarah: 177).
Di
dalam hadis Jibril yang masyhur, ketika ia mendatangi Nabi ﷺ dalam rupa seorang
Arab Badui untuk bertanya tentang Islam, Iman, dan Ihsan, beliau ﷺ bersabda mengenai
iman:
أَنْ تُؤْمِنَ
بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ،
وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
"Engkau
beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk."
(HR. Imam Muslim dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu — Lihat: Shahih
Muslim bi Syarh An-Nawawi, Juz 1, hlm. 157. Diriwayatkan pula oleh
Al-Bukhari dengan redaksi senada dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu —
Lihat: Al-Bukhari ma'a Fath al-Bari, Juz 1, hlm. 96-97) .
Enam
perkara inilah yang disebut sebagai rukun-rukun iman. Enam perkara ini pula
yang menjadi pokok-pokok ajaran yang mendasari diutusnya para rasul—semoga
selawat dan salam Allah tercurah kepada mereka—serta diturunkannya kitab-kitab.
Iman seseorang tidak akan sah kecuali jika ia mengimani seluruh rukun tersebut
secara utuh, sesuai dengan cara yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunah
Rasul-Nya ﷺ.
Barangsiapa yang mengingkari satu saja dari rukun-rukun tersebut, maka ia telah
keluar dari lingkaran keimanan dan termasuk golongan orang-orang kafir.
BERIMAN
KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA
Beriman
kepada Allah Azza wa Jalla bermakna keyakinan yang bulat dan pasti (al-i'tiqad
al-jazim) bahwa Allah adalah Tuhan penguasa (Rabb), pemilik,
sekaligus pencipta segala sesuatu. Serta meyakini bahwa Dialah satu-satunya
Dzat yang berhak ditunggalkan dalam ibadah; baik berupa salat, puasa, doa,
harapan (raja'), rasa takut (khauf), kerendahan diri, maupun
ketundukan. Selain itu, juga meyakini bahwa Dia disifati dengan seluruh sifat
kesempurnaan dan Mahasuci dari segala bentuk kekurangan.
Oleh
karena itu, beriman kepada Allah Subhanahu mencakup penauhidan-Nya dalam
tiga perkara: dalam Rububiyah-Nya, dalam Uluhiyah-Nya, serta dalam nama-nama
dan sifat-sifat-Nya. Makna menauhidkan Allah dalam perkara-perkara ini adalah
meyakini keesaan-Nya Subhanahu dalam hal Rububiyah, Uluhiyah,
sifat-sifat kesempurnaan, serta nama-nama keagungan. Seorang hamba tidak
dianggap beriman kepada Allah sampai ia meyakini bahwa Allah adalah Tuhan
pencipta (Rabb) segala sesuatu dan tidak ada Tuhan pencipta selain Dia,
sembahan (Ilah) bagi segala sesuatu dan tidak ada sembahan yang benar
selain Dia, serta Dialah yang Maha Sempurna dalam sifat-sifat dan
nama-nama-Nya, dan tidak ada yang maha sempurna selain Dia (Lihat: Syarh
al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 76; Taysir al-Aziz al-Hamid, hlm. 17;
al-Raudhah al-Nadiyyah, hlm. 9 dinukil dari Madarij al-Salikin).
Tiga
jenis tauhid ini masuk ke dalam cakupan makna beriman kepada Allah Azza wa
Jalla. Sebagian ulama mengembalikan klasifikasi tiga jenis tauhid ini
menjadi dua jenis saja: jenis pertama berkaitan dengan ilmu dan keyakinan (al-ilm
wa al-i'tiqad), yang mencakup Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma' wa Shifat;
jenis kedua berkaitan dengan kehendak dan tujuan (al-iradah wa al-qashd),
yaitu Tauhid Uluhiyah Subhanahu (Lihat: Syarh al-Aqidah
ath-Thahawiyah, hlm. 88; Fath al-Majid, hlm. 15; Syarh Qashidah
Ibnu al-Qayyim, Juz 2, hlm. 259; Tathhir al-I'tiqad, hlm. 3).
Berikut
adalah perincian penjelasan mengenai masing-masing jenis tauhid tersebut:
Jenis
Pertama: Tauhid Rububiyah
Maknanya
secara global adalah keyakinan yang bulat dan pasti bahwa Allah adalah Tuhan
Pencipta (Rabb) segala sesuatu dan tidak ada Tuhan Pencipta selain Dia
(Lihat: Al-Mishbah al-Munir). Penjelasannya: Kata Al-Rabb secara
etimologis (bahasa) berarti pemilik yang mengatur (al-malik al-mudabbir).
Rububiyah Allah atas makhluk-Nya berarti keesaan-Nya Subhanahu dalam
menciptakan mereka, memiliki mereka, dan mengatur urusan-urusan mereka.
Maka,
mentauhidkan Allah dalam Rububiyah adalah pengakuan bahwa hanya Dia Subhanahu
semata Sang Pencipta makhluk, Yang Memiliki mereka, Yang Menghidupkan dan
Mematikan mereka, Yang Memberi manfaat dan Mendatangkan mudarat, Yang
Mengabulkan doa mereka dalam kondisi genting, Yang Maha Kuasa atas mereka, Yang
Memberi serta Menahan. Hanya milik-Nya lah segala penciptaan dan hanya
milik-Nya lah segala urusan pemerintahan. Sebagaimana firman-Nya mengenai
diri-Nya sendiri: "Ingatlah, hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan
urusan. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-A'raf: 54) .
Termasuk
ke dalam cakupan tauhid ini adalah mengimani takdir Allah Subhanahu,
yaitu mengimani bahwa setiap perkara yang baru terjadi (muhdats) pasti
bersumber dari ilmu Allah Azza wa Jalla, kehendak-Nya (iradah),
dan kekuasaan-Nya (qudrah) (Lihat: Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah,
hlm. 76-77; Taysir al-Aziz al-Hamid, hlm. 17-18). Dengan redaksi lain,
tauhid ini bermakna pengakuan bahwa Allah Azza wa Jalla Dialah Pelaku
Mutlak (al-Fa'il al-Muthlaq) di jagat raya ini melalui tindakan
menciptakan, mengatur, mengubah, memudahkan, menambah, mengurangi,
menghidupkan, mematikan, dan tindakan-tindakan lainnya, tanpa ada seorang pun
yang menyekutui tindakan-Nya Subhanahu (Lihat: Tafsir ath-Thabari,
Juz 5, hlm. 395; Syarh Mulla Ali al-Qari 'ala al-Fiqh al-Akbar, hlm. 9).
Al-Qur'an
telah menguraikan jenis tauhid ini dengan sejelas-jelasnya. Nyaris tidak ada
satu surah pun dalam Al-Qur'an melainkan menyebutkan atau mengisyaratkan jenis
tauhid ini. Kedudukannya laksana fondasi bagi jenis-jenis tauhid lainnya.
Sebab, Dzat Yang Maha Pencipta, Maha Memiliki, lagi Maha Mengatur, Dialah
satu-satunya yang layak dijadikan tujuan ibadah, kekhusyukan, dan ketundukan.
Dialah satu-satunya yang berhak menerima pujian (tahmid), kesyukuran,
zikir, doa, harapan, rasa takut, dan semisalnya. Segala bentuk ibadah tidak sah
diserahkan kecuali kepada Dzat yang memiliki hak penciptaan dan hak pengaturan
seluruh urusan (Lihat: Fath al-Majid, hlm. 13; al-As'ilah wa
al-Ajwibah, hlm. 29-30).
Di
sisi lain, Dzat Yang Maha Pencipta, Maha Memiliki, lagi Maha Mengatur adalah
satu-satunya Dzat yang berhak menyandang sifat-sifat keagungan (jalal),
keindahan (jamal), dan kesempurnaan (kamal). Sebab, sifat-sifat
tersebut tidak mungkin ada kecuali pada Tuhan semesta alam (Rabb al-Alamin).
Mustahil menetapkan sifat Rububiyah dan kepemilikan bagi sesuatu yang tidak
hidup, tidak mendengar, tidak melihat, tidak kuasa, tidak berfirman, tidak
berbuat atas apa yang dikehendaki-Nya, serta tidak bijaksana dalam ucapan dan
perbuatan-Nya.
Oleh
karena itu, kita mendapati Al-Qur'anul Karim menyebutkan jenis tauhid ini dalam
konteks memuji Allah, beribadah kepada-Nya, tunduk, serta berserah diri
kepada-Nya. Begitu pula dalam konteks menjelaskan sifat-sifat-Nya yang agung
dan nama-nama-Nya yang indah (al-asma' al-husna).
Dalam
konteks pujian (al-hamd), seorang Muslim membaca pada setiap rakaat
salatnya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (QS.
Al-Fatihah: 2) . Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman: "Maka,
segala puji bagi Allah, Tuhan pemilik langit dan Tuhan pemilik bumi, Tuhan
semesta alam." (QS. Al-Jasiyah: 36) .
Dalam
konteks berserah diri (al-istislam) dan tunduk kepada-Nya, Allah Azza
wa Jalla berfirman: "...Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang sebenarnya) dan kita diperintah agar berserah diri kepada
Tuhan semesta alam.”" (QS. Al-An'am: 71).
Dalam
konteks menghadapkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dan memurnikan
tujuan kepada-Nya, Dia berfirman: "Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya
salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam." (QS. Al-An'am: 162).
Dalam
konteks menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai pelindung tunggal dan
bukan selain-Nya, Dia berfirman: "Katakanlah (Muhammad), “Apakah aku akan
menjadikan pelindung selain Allah yang menumbuhkan langit dan bumi, padahal Dia
memberi makan dan tidak diberi makan?” Katakanlah, “Sesungguhnya aku
diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri (kepada-Nya)
dan jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang musyrik.”" (QS. Al-An'am:
14).
Dalam
konteks doa, Allah Azza wa Jalla berfirman: "...Ingatlah, hanya
milik-Nyalah segala penciptaan dan urusan. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya
Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-A'raf:
54-55) .
Dalam
konteks beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, Dia berfirman:
"Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan hanya
kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan?" (QS. Yasin: 22) . Dia juga
berfirman: "Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai
hamparan bagimu dan langit sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari
langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai
rezeki untukmu. Maka, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah,
padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 21-22) .
Sesungguhnya
Pencipta langit dan bumi beserta apa yang ada di dalam keduanya, Dialah
satu-satunya Dzat yang berhak dijadikan oleh seorang hamba sebagai Sembahan (Ilah)
dan Pelindung (Wali), tempat menyerahkan diri, tempat berdoa, dan tempat
menghadapkan diri.
Di
sisi lain, kita mendapati Al-Qur'anul Karim memadukan antara Rububiyah Allah Azza
wa Jalla yang terepresentasi dalam kepemilikan-Nya atas langit dan bumi
beserta isinya serta sifat kekekalan pengaturan-Nya (qayyumiyah) atas
keduanya, dengan nama-nama-Nya yang indah (al-asma' al-husna) dan
sifat-sifat-Nya yang maha tinggi (al-shifat al-ula). Renungkanlah
firman-Nya dalam Ayat Kursi: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha
Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk
dan tidak pula tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia
mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka.
Mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia
kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat
memelihara keduanya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung." (QS.
Al-Baqarah: 255) . Maka, Dzat yang menciptakan langit dan bumi Dialah
satu-satunya Yang Maha Hidup yang tidak mati, Maha Mengurus (al-Qayyum),
Maha Mengetahui (al-Alim), Maha Memelihara (al-Hafizh), Maha
Tinggi (al-Aliy), lagi Maha Agung (al-Azhim). Kemudian perhatikan
pula firman-Nya: "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan
mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya." (QS. Qaf: 16) . Serta firman-Nya: "Apakah
(pantas) Dzat yang menciptakan itu tidak mengetahui, padahal Dia Maha Halus
lagi Maha Mengetahui?" (QS. Al-Mulk: 14) . Maka tidak ada perdebatan sama
sekali bahwa Dzat yang menciptakan makhluk Dialah Pengawas atas mereka, yang
Maha Halus (al-Lathif) lagi Maha Mengetahui (al-Khabir) terhadap
apa yang mereka perbuat.
Adapun
orang-orang yang mengakui bahwa Allah adalah Tuhan penguasa segala sesuatu dan
Pencipta segala sesuatu, namun tidak menauhidkan-Nya dalam Uluhiyah-Nya
sehingga menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam ibadah, serta tidak
menauhidkan-Nya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan cara menolaknya (ta'thil),
menyerupakannya dengan sifat makhluk (tasybih), atau menakwilkannya
dengan takwil-takwil yang rusak tanpa dasar, maka tauhid jenis ini saja tidak
bermanfaat bagi mereka. Tauhid ini tidak mengeluarkan mereka dari lingkaran
kekufuran menuju lingkaran keimanan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
mengisahkan tentang orang-orang musyrik bahwa mereka dahulu mengakui bahwa
Allah semata Pencipta segala sesuatu, namun bersamaan dengan itu mereka tetap
berstatus musyrik. Hal itu karena mereka tidak menauhidkan Allah dalam
Uluhiyah-Nya sehingga mereka menyembah selain-Nya, dan karena mereka tidak
menauhidkan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya sehingga mereka
mengingkari sebagiannya dan tidak mengimaninya (Lihat: Syarh al-Aqidah
ath-Thahawiyah, hlm. 79; Fath al-Majid, hlm. 17; Taysir al-Aziz
al-Hamid, hlm. 17; Tathhir al-I'tiqad, hlm. 5).
Oleh
karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman tentang mereka: "Sebagian
besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan
menyekutukan-Nya (dengan sesembahan lain)." (QS. Yusuf: 106) . Mujahid
mengomentari ayat ini dengan mengatakan: "Keimanan mereka kepada Allah
adalah ucapan mereka bahwa Allah menciptakan kami, memberi rezeki kepada kami,
dan mematikan kami. Ini adalah bentuk iman yang bercampur dengan kesyirikan
ibadah mereka kepada selain-Nya." (Lihat: Tafsir ath-Thabari, Juz
16, hlm. 287) .
Sekelompok
ulama Salaf lainnya juga menyatakan: "Jika engkau bertanya kepada mereka,
'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Mereka pasti menjawab, 'Allah'.
Namun bersamaan dengan itu, mereka tetap menyembah selain-Nya." Perkataan
ini diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas, Mujahid, 'Atha', 'Ikrimah,
Asy-Sya'bi, Qatadah, Adh-Dhahhak, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam (Lihat: Tafsir
Ibnu Katsir, Juz 4, hlm. 494; Tafsir ath-Thabari, Juz 16, hlm.
286-288).
Allah
telah mengabarkan tentang orang-orang musyrik bahwa mereka mengimani bahwa
Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, lagi Maha Memiliki. Firman-Nya yang
Maha Mulia menyatakan: "Sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka,
“Siapakah yang menciptakan mereka?” Niscaya mereka akan menjawab, “Allah”..."
(QS. Az-Zukhruf: 87). Dia juga berfirman: "Katakanlah (Muhammad),
“Siapakah yang memberi kamu rezeki dari langit dan bumi, atau siapakah yang
kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan
yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan
siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka
katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”" (QS. Yunus: 31).
Dengan
demikian, tidak setiap orang yang mengakui bahwa Allah Ta'ala adalah Tuhan
penguasa segala sesuatu otomatis menjadi muwahid (orang yang bertauhid) dalam
Uluhiyah, sifat, dan nama-nama-Nya. Mayoritas hamba tidak mengingkari
keberadaan Sang Pencipta dan Rububiyah-Nya atas makhluk, akan tetapi mayoritas
kekufuran mereka justru bersumber dari tindakan mereka menyembah selain Allah Azza
wa Jalla (Lihat: Fath al-Majid, hlm. 17; Syarh Mulla Ali al-Qari
'ala al-Fiqh al-Akbar, hlm. 9; Ihya' Ulumiddin, Juz 1, hlm. 182; Syarh
al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 78).
Jenis
Kedua: Tauhid Uluhiyah
Maknanya
secara global adalah keyakinan yang bulat dan pasti bahwa Allah Subhanahu
Dialah Sembahan yang Haq (al-Ilah al-Haqq), tidak ada sembahan yang
benar selain Dia, serta menunggalkan-Nya Subhanahu dalam ibadah.
Penjelasannya: Kata Al-Ilah bermakna al-ma'luh, yaitu yang
disembah (al-ma'bud) [^1]. Kata ibadah secara etimologis (bahasa)
berarti ketundukan, penghinaan diri, dan kepatuhan [^2]. Sebagian ulama
mendefinisikannya sebagai: Kesempurnaan cinta disertai kesempurnaan ketundukan
(kamal al-hubb ma'a kamal al-khudhu') (Lihat: Syarh Qashidah Ibnu
al-Qayyim, Juz 2, hlm. 259; Ighatsah al-Lahfan, Juz 2, hlm.
128-129).
Maka,
Tauhid Uluhiyah dibangun di atas asas pemurnian ibadah hanya untuk Allah
semata, baik secara batin maupun lahir, sehingga tidak ada satu pun bagian dari
ibadah tersebut yang diserahkan kepada selain-Nya Subhanahu. Orang yang
beriman kepada Allah akan menyembah Allah semata dan tidak menyembah
selain-Nya. Ia memurnikan kecintaan, rasa takut, harapan, doa, tawakal,
ketaatan, kepasrahan, ketundukan, serta seluruh jenis dan bentuk ibadah hanya
untuk Allah.
Jenis
tauhid ini pada hakikatnya sudah mencakup seluruh jenis tauhid lainnya. Ia
mengandung Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma' wa Shifat, namun tidak berlaku
sebaliknya. Pengakuan seorang hamba terhadap Rububiyah Allah tidak serta-merta
menjadikannya bertauhid dalam Uluhiyah, karena bisa jadi ia mengakui Rububiyah
namun enggan menyembah Allah Azza wa Jalla. Demikian pula, mentauhidkan
Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya tidak otomatis mencakup jenis tauhid
lainnya.
Akan
tetapi, seorang hamba yang menauhidkan Allah dalam Uluhiyah-Nya atas makhluk,
lalu mengakui bahwa hanya Dia semata yang berhak disembah dan selain-Nya tidak
berhak disembah sedikit pun, maka pada realitasnya ia telah mengakui bahwa
Allah adalah Tuhan semesta alam, serta memiliki nama-nama yang indah dan
sifat-sifat yang sempurna. Sebab, pemurnian ibadah tidak mungkin diserahkan
kepada selain Tuhan pencipta, dan tidak mungkin diserahkan kepada zat yang
memiliki kekurangan. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak menciptakan dan tidak
mampu mengatur urusan makhluk disembah? Bagaimana mungkin zat yang cacat atau
kurang disembah?
Dari
sinilah syahadat La Ilaha Illallah mengandung seluruh jenis tauhid.
Makna langsungnya adalah Tauhid Uluhiyah, yang secara inheren mengandung Tauhid
Rububiyah serta Asma' wa Shifat. Oleh karena itu, tauhid ini merupakan awal
agama, akhirnya, batinnya, sekaligus lahirnya. Dan demi tauhid inilah makhluk
diciptakan, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat:
56) (Lihat: Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 79 dst).
Ibnu
Taimiyah menyatakan: "Tauhid inilah yang menjadi pembeda antara muwahid
(orang yang bertauhid) dan musyrik. Di atas tauhid inilah balasan pahala dan
siksa diletakkan di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang tidak
memenuhinya, maka ia termasuk golongan orang-orang musyrik." (Lihat: Risalah
al-Hasanah wa al-Sayyiah dalam kumpulan risalah Ibnu Taimiyah, hlm. 261) .
Demi
tauhid ini pula para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan. Tidak ada seorang
rasul pun yang diutus oleh Allah kepada para hamba melainkan tauhid ini yang
menjadi fondasi dan inti dakwahnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk
menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!”..." (QS. An-Nahl: 36).
Dia Subhanahu juga berfirman: "Kami tidak mengutus seorang rasul
pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak
ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbya': 25) . Allah Azza
wa Jalla mengabarkan tentang para rasul-Nya: Nuh, Hud, Shalih, dan Syuaib,
bahwa mereka semua menyerukan kalimat ini kepada kaumnya: "...Sembahlah
Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia..." (QS. Al-Mu'minun: 23, QS.
Hud: 61, QS. Al-A'raf: 65). Sebagaimana Dia Subhanahu wa Ta'ala
mengabarkan tentang Ibrahim Alaihis Salam ketika berkata kepada kaumnya:
"Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan
langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah
termasuk orang-orang musyrik." (QS. Al-An'am: 79) .
Tatkala
tauhid ini merupakan hakikat dari agama Islam, maka dua kalimat syahadat
dijadikan sebagai rukun pertama dari rukun-rukun agama ini. Rasulullah ﷺ bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ:
شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ،
وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ
الْبَيْتِ
"Islam
dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak
disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat,
menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah." (HR.
Al-Bukhari dan Muslim — Lihat: Zad al-Muslim fima Ittafaqa 'alaihi
al-Bukhari wa Muslim, Jilid 1, hlm. 129) .
Selanjutnya,
konsekuensi dari mentauhidkan Allah dalam Uluhiyah-Nya adalah kita wajib
menghadapkan diri hanya kepada-Nya semata melalui seluruh jenis dan bentuk
ibadah, serta membersihkan hati kita di dalamnya dari segala tendensi lainnya.
Ungkapan ini mencakup banyak perkara, di antaranya yang kami sebutkan berikut:
1.
Wajib memurnikan kecintaan (ikhlas al-mahabbah) hanya untuk Allah Azza
wa Jalla. Seorang hamba tidak boleh mengambil tandingan bagi Allah
dalam hal cinta, di mana ia mencintainya sebagaimana ia mencintai Allah, atau
mendahulukannya di atas cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa
yang melakukan hal tersebut, maka ia termasuk golongan orang-orang musyrik.
Allah Jalla wa Ala berfirman tentang mereka: "Di antara manusia ada
yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah yang mereka cintai seperti mencintai
Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada
Allah..." (QS. Al-Baqarah: 165). Termasuk syirik akbar yang tidak diampuni
oleh Allah kecuali dengan taubat nasuha darinya adalah: seorang hamba mengambil
tandingan selain Allah yang ia cintai sebagaimana ia mencintai Allah Azza wa
Jalla (Lihat: Syarh Qashidah Ibnu al-Qayyim, Juz 2, hlm. 368).
Apabila
manusia secara naluri (fithrah) dibekali kecintaan terhadap diri
sendiri, orang tua, tanah air, dan harta benda, maka pemurnian penghambaan diri
kepada Allah tidak berarti mematikan naluri tersebut. Melainkan, yang dituntut
dari seorang mukmin adalah menjadikan cintanya kepada segala sesuatu di dunia
ini berada di urutan setelah cintanya kepada Allah Azza wa Jalla, dan
menjadikan cintanya kepada Allah Subhanahu berada di atas segala cinta.
Sampai-sampai ia rela mengorbankan seluruh nilai-nilai duniawi tersebut demi
jalan Allah apabila terjadi kontradiksi antara nilai-nilai tersebut dengan
konsekuensi cintanya kepada Tuhannya. Allah Azza wa Jalla telah
mengancam orang-orang yang mendahulukan nilai-nilai duniawi ini di atas cinta
kepada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya ﷺ melalui firman-Nya: "Katakanlah,
“Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah yang lebih kamu cintai
daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggahlah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada
kaum yang fasik." (QS. At-Taubah: 24) .
2.
Wajib menunggalkan Allah Ta'ala dalam doa, tawakal, dan harapan (raja')
dalam perkara yang tidak dimampui kecuali oleh-Nya Subhanahu. Allah Azza
wa Jalla berfirman: "Janganlah engkau menyembah selain Allah, sesuatu
yang tidak memberi manfaat kepadamu dan tidak pula memberi mudarat kepadamu.
Jika engkau melakukannya, sesungguhnya engkau jika demikian termasuk
orang-orang zalim." (QS. Yunus: 106) . Dia Ta'ala juga berfirman:
"...Dan hanya kepada Allah bertawakallah kamu, jika kamu benar-benar orang
yang beriman." (QS. Al-Ma'idah: 23) . Serta firman-Nya Ta'ala:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan orang-orang
yang berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah..."
(QS. Al-Baqarah: 218).
3.
Wajib menunggalkan Allah Azza wa Jalla dalam hal rasa takut (khauf).
Barangsiapa yang meyakini bahwa sebagian makhluk dapat mendatangkan mudarat
kepadanya berdasarkan kehendak dan kekuasaan makhluk itu sendiri [^3], lalu ia
takut kepadanya, maka ia telah berbuat syirik kepada Allah. Berdasarkan
firman-Nya Ta'ala: "...Maka, hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut."
(QS. An-Nahl: 51) . Serta firman-Nya pula: "Jika Allah menimpakan suatu
kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri.
Jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.
Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya. Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.
Yunus: 107) .
4.
Wajib menunggalkan Allah Subhanahu dalam seluruh jenis ibadah jasmani (badaniyah)
maupun ucapan (qauliyah). Seperti salat, rukuk, sujud, puasa,
penyembelihan (dzabh), tawaf, serta seluruh ibadah ucapan seperti nazar,
istigfar, dan lain sebagainya. Ibadah-ibadah ini beserta yang lainnya wajib
diperuntukkan hanya bagi Allah Ta'ala semata. Barangsiapa yang memalingkan satu
saja dari ibadah tersebut kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.
Allah Ta'ala telah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni
(dosa) kesyirikan kepada-Nya dan Dia mengampuni segala dosa yang selain itu
bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, sungguh
dia telah tersesat sangat jauh." (QS. An-Nisa': 48) .
Jenis
Ketiga: Tauhid Asma' wa Shifat
Maknanya
secara global adalah keyakinan yang bulat dan pasti bahwa Allah Azza wa
Jalla disifati dengan seluruh Sifat Kesempurnaan dan Mahasuci dari seluruh
sifat kekurangan, serta meyakini bahwa Dia terasing atau Esa dalam hal tersebut
dari seluruh makhluk. Hal ini diwujudkan dengan cara menetapkan (itsbat)
apa saja yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu untuk diri-Nya
sendiri, atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya ﷺ, berupa nama-nama dan sifat-sifat yang
termaktub di dalam Al-Qur'an dan Sunah. Penetapan ini harus dilakukan tanpa
mengubah lafaz maupun maknanya (tahrif), tanpa menolak keberadaannya
atau menolak sebagiannya dari Allah Azza wa Jalla (ta'thil),
tanpa mereka-reka bentuknya dengan membatasi hakikatnya atau menetapkan
mekanisme tertentu baginya (takyif), serta tanpa menyerupakannya dengan
sifat-sifat makhluk (tasybih).
Berdasarkan
definisi ini, jelaslah bahwa Tauhid Asma' wa Shifat berdiri di atas tiga pilar
utama. Barangsiapa yang menyimpang dari ketiganya, maka ia belum dianggap
menauhidkan Tuhannya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya (Lihat: Manhaj wa
Dirasat li Ayat al-Asma' wa al-Shifat oleh Syaikh Muhammad Al-Amin
Asy-Syanqithi, hlm. 3-25).
- Pilar Pertama:
Mensucikan Allah Jalla wa Ala dari keserupaan dengan makhluk dan
dari segala bentuk kekurangan.
- Pilar Kedua: Mengimani
nama-nama dan sifat-sifat yang valid (tsabit) di dalam Al-Qur'an
dan Sunah tanpa melampauinya, baik dengan cara menguranginya,
menambahinya, mengubahnya (tahrif), atau menolaknya (ta'thil).
- Pilar Ketiga: Memutus
ambisi akal untuk dapat menjangkau mekanisme/bentuk hakiki (kaifiyah)
dari sifat-sifat tersebut.
Adapun
pilar pertama, yaitu mensucikan Allah Azza wa Jalla dari kemungkinan
adanya sesuatu dari sifat-sifat-Nya yang menyerupai sesuatu dari Sifat Makhluk.
Landasan pokok ini ditunjukkan oleh firman-Nya Ta'ala: "...Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan Dia..." (QS. Asy-Syura: 11).
Al-Qurthubi
menyatakan saat menafsirkan firman-Nya Ta'ala tersebut: "Hal yang wajib
diyakini dalam bab ini adalah bahwa Allah Jalla Ismuhu dalam
keagungan-Nya, kesombongan-Nya, kerajaan-Nya, nama-nama-Nya yang indah, serta
sifat-sifat-Nya yang maha tinggi, tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang
menyerupai-Nya dan Dia pun tidak menyerupai sesuatu pun dari mereka.
Lafaz-lafaz yang dilekatkan oleh syariat baik kepada Sang Pencipta maupun
kepada makhluk, maka tidak ada keserupaan di antara keduanya dalam makna yang
hakiki. Sebab, sifat-sifat Dzat yang Terdahulu tanpa permulaan (al-Qadim)
Jalla wa Azza sangat berbeda dengan sifat-sifat makhluk." (Lihat: Tafsir
al-Qurthubi, Juz 16, hlm. 8, cetakan Dar al-Kutub al-Mishriyyah)
Al-Wasithi
Rahimahullah juga menyatakan: "Tidak ada zat yang seperti Dzat-Nya,
tidak ada nama yang seperti Nama-Nya, tidak ada perbuatan yang seperti
Perbuatan-Nya, dan tidak ada sifat yang seperti Sifat-Nya, kecuali dari sisi
keselarasan lafaz semata. Mahasuci Dzat yang Terdahulu tanpa permulaan (al-Dzat
al-Qadimah) dari memiliki sifat yang baru diadakan (shifah haditsah),
sebagaimana mustahilnya zat yang baru diadakan (al-dzat al-muhdatsah)
memiliki sifat yang terdahulu tanpa permulaan (shifah qadimah). Ini
semua merupakan mazhab Ahlul Haq, Sunah, wal Jamaah." (Fi Zhilalil Qur’anul
Karim, juz 7 Halaman 272).
Catatan
Kaki (Footnote) / Penjelasan Istilah Teknis: [^1]: Berada di atas wazan fi'al
yang bermakna maf'ul, serupa dengan kata kitab yang bermakna maktub
(yang ditulis) — Lihat: Al-Mishbah al-Munir, lihat juga: Thariq
al-Wushul ila al-Sulam al-Ma'mul, hlm. 12. [^2]: Kita mengatakan: Thariq
mu'abbad, artinya jalan yang dihinakan/diratakan/ditundukkan agar mudah
dilewati — Lihat: Asas al-Balaghah karya Al-Zamakhsyari, Al-Mishbah
al-Munir, dan Tathhir al-I'tiqad, hlm. 6. [^3]: Batasan (qayd)
ini digunakan untuk membedakan antara rasa takut ibadah (khauf al-ibadah)
dengan rasa takut yang bersifat naluriah (al-khauf al-fithri). Rasa
takut jenis pertama tidak sah dialamatkan kecuali hanya kepada Allah Azza wa
Jalla, yang maknanya adalah manusia meyakini bahwa zat yang berkuasa mutlak
mendatangkan mudarat dengan kehendak dan kekuasaannya sendiri hanyalah Allah,
sedangkan selain-Nya tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat kecuali jika
Allah menjadikannya sebagai sebab mudarat atau manfaat tersebut. Di antara
tanda takut ibadah adalah rasa takut itu muncul di dalam hati setiap kali objek
yang ditakuti tersebut disebut. Adapun rasa takut naluriah, seperti takut
kepada binatang buas atau takut saat ditodong senjata dan semisalnya, ia tidak
muncul di dalam hati kecuali saat berhadapan langsung dengan perkara yang tidak
disukai tersebut. Takut naluriah ini tidak mencederai tauhid karena merupakan
bagian dari fitrah manusia yang telah Allah tetapkan (Lihat: al-As'ilah wa
al-Ajwibah, hlm. 32-33).
Sayyid
Quthb rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat yang disebutkan di
atas: "Fitrah manusia mengimani hal ini secara aksiomatik [spontan tanpa
memerlukan dalil rumit], sebab Pencipta segala sesuatu tidak mungkin serupa
dengan makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya." (Fi Zhilalil Qur'an Al-Karim,
Juz 7, hal. 372)
Termasuk
dalam landasan ini adalah menyucikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dari
segala hal yang menyelisihi apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri, atau
apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya ﷺ. Mentauhidkan Allah dalam sifat-sifat-Nya menuntut seorang
Muslim untuk menyucikan Tuhannya dari istri, sekutu, tandingan, pembantu,
pemberi syafaat (tanpa izin Allah), dan pelindung dari kehinaan. Landasan ini
juga menuntutnya untuk menyucikan Allah dari tidur, keletihan, kelelahan,
kematian, kebodohan, kezaliman, kelalaian, lupa, kantuk, batasan ruang
(tahayyuz), serta sifat-sifat kekurangan lainnya.
Adapun
landasan kedua menuntut kewajiban membatasi diri dalam menetapkan nama-nama dan
sifat-sifat Allah hanya pada apa yang termaktub di dalam Al-Qur'an Al-Karim
atau di dalam Sunnah yang sahih. Sifat-sifat tersebut diterima melalui jalur
periwayatan (sam'iyyah), bukan melalui logika pemikiran (araa').
Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla tidak boleh disifatkan kecuali
dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri, atau apa yang disifatkan
oleh Rasul-Nya ﷺ.
Dia
juga tidak boleh dinamai kecuali dengan apa yang Dia namai diri-Nya sendiri
atau apa yang dinamai oleh Rasulullah ﷺ, karena Allah Azza wa Jalla adalah
yang paling mengetahui tentang diri-Nya, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya.
Allah Ta'ala berfirman: "...Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah
Allah?..." (QS. Al-Baqarah: 140). Jika Dia adalah yang paling mengetahui
tentang diri-Nya, dan para rasul-Nya adalah orang-orang yang jujur lagi
dibenarkan perkataannya yang tidak mengabarkan kecuali apa yang diwahyukan
kepada mereka dari Tuhan mereka, maka wajib mengembalikan urusan bab nama dan
Sifat—baik dalam hal penafian maupun penetapan—kepada apa yang dikabarkan oleh
Allah Azza wa Jalla dan apa yang dikabarkan oleh Rasul-Nya. Imam Ahmad
bin Hanbal rahimahullah berkata: "Allah tidak boleh disifatkan
kecuali dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri, atau apa yang
disifatkan oleh Rasul-Nya; tidak boleh melampaui Al-Qur'an dan hadis." (Al-Raudhah
Al-Nadiyyah, hal. 23; Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah oleh Muhammad Khalil
Harras, hal. 21. Lihat dua rujukan sebelumnya; Ittihaf Al-Kainat, hal. 6; dan
Syarh Mulla Ali Al-Qari, hal. 15.)
Nu'aim
bin Hammad, guru Imam Al-Bukhari, berkata: "Barangsiapa yang menyerupakan
Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Dan barangsiapa yang mengingkari
apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri atau apa yang disifatkan oleh
Rasul-Nya, maka ia telah kafir. Tidak ada unsur penyerupaan (tasybih)
maupun pemisalan (tamtsil) pada apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya
sendiri atau apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya."
Landasan
ini menuntut setiap hamba yang mukalaf untuk mengimani sifat-sifat dan
nama-nama yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ, serta
memberlakukannya sesuai dengan maknanya yang jelas dan lahiriah dalam bahasa
Arab. Ia tidak boleh melakukan ta'thil, yaitu mengingkari atau menafikan
sebagian sifat tersebut dari Allah Azza wa Jalla, dan tidak pula
melakukan tahrif (menyimpangkan) dari makna lahiriahnya.
Adapun
landasan ketiga menuntut hamba yang mukalaf untuk mengimani sifat-sifat dan
nama-nama yang termaktub dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tersebut tanpa
mempertanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya) dan tanpa meneliti hakikat
zatnya. Hal itu karena pengetahuan tentang bagaimana bentuk suatu sifat
bergantung pada pengetahuan tentang bagaimana bentuk zatnya, sebab sifat itu
berbeda-beda sesuai dengan perbedaan zat yang disifatinya. Karena Zat Allah Azza
wa Jalla tidak boleh dipertanyakan hakikat dan bagaimananya, maka demikian
pula dengan sifat-sifat-Nya Subhanahu, tidak sah mempertanyakan tentang
bagaimananya (Manhaj wa Dirasat li Ayat Al-Asma' wa Al-Sifat - Muhammad Al-Amin
Asy-Syanqithi, hal. 25; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 23, 28). Oleh karena itu,
dinukil dari banyak ulama salaf bahwa ketika mereka ditanya tentang bagaimana
bentuk istiwā’ [bersemayamnya] Allah Azza wa Jalla, mereka
menjawab: "Istiwa’ itu telah diketahui maknanya, sedangkan
bagaimananya (kaif) tidak diketahui, mengimaninya (Yaitu yang
dimaksud adalah Al-Istiwa’.) adalah wajib, dan mempertanyakannya adalah
bid'ah." (Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 29) Para ulama salaf tersebut telah
sepakat bahwa bagaimananya sifat tersebut tidak diketahui oleh kita, dan
mempertanyakannya adalah bid'ah.
Seandainya
ada seseorang yang bertanya kepada kita: "Bagaimana Tuhan kita turun ke
langit dunia?" Maka dikatakan kepadanya: "Bagaimana Zat-Nya?"
Jika ia menjawab: "Aku tidak mengetahui bagaimananya Zat-Nya," maka
dikatakan kepadanya: "Kami pun tidak mengetahui bagaimana cara turun-Nya.
Sebab, pengetahuan tentang bagaimana bentuk sifat menuntut pengetahuan tentang
bagaimana bentuk zat yang disifati, karena sifat itu mengekor dan mengikuti
zat. Lalu bagaimana Anda menuntut kami untuk menjelaskan bagaimana bentuk
pendengaran Allah, penglihatan-Nya, kalam-Nya, istiwā’-Nya, dan
turun-Nya, sedangkan Anda sendiri tidak mengetahui bagaimana bentuk
Zat-Nya?!" Jika Anda mengakui bahwa Allah Azza wa Jalla adalah
hakikat yang pasti ada yang berhak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak
ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, maka pendengaran, penglihatan, kalam,
turun, dan istiwā’-Nya adalah hakikat yang pasti ada, di mana Dia
disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan yang tidak menyerupai pendengaran,
penglihatan, perkataan, turun, dan istiwā’ para makhluk. (Lihat
Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 34)
Dari
penjelasan di atas, jelaslah bahwa tauhid ini dapat dirusak oleh beberapa
perkara yang wajib dijauhi oleh seorang Muslim, yaitu:
- Tasybih (Penyerupaan):
Yaitu menyerupakan sifat-sifat Pencipta dengan sifat-sifat makhluk.
Contohnya seperti penyerupaan yang dilakukan kaum Nasrani terhadap
Al-Masih putra Maryam dengan Allah Subhanahu, penyerupaan kaum
Yahudi terhadap Uzair dengan Allah, penyerupaan kaum musyrik terhadap
berhala-berhala mereka dengan Allah, serta penyerupaan sebagian kelompok
yang menyerupakan wajah Allah dengan wajah makhluk, tangan Allah dengan
tangan makhluk, pendengaran Allah dengan pendengaran makhluk, dan
sejenisnya. (Al-As'ilah wa Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah - karya Abdul Aziz
Al-Muhammad Al-Salman, hal. 35; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 35)
- Tahrif
(Penyimpangan): Yaitu mengubah dan mengganti, seperti menyimpangkan
lafaz nama dan sifat dengan menambah, mengurangi, atau mengubah harakat
ikrabnya. Atau menyimpangkan maknanya, yang oleh sebagian ahli bid'ah
disebut sebagai ta'wil, yaitu mengalihkan lafaz kepada makna yang
rusak yang tidak dikenal dalam penggunaan bahasa Arab, seperti mentakwil
kata 'Wajah' menjadi 'Zat', dan kata 'Istiwa’' menjadi 'Istimla’'
(menguasai).( ) Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 25; Al-As'ilah wa Al-Ajwibah,
hal. 32, 33)
- Ta'thil
(Pengosongan/Penafian): Yaitu menolak sifat-sifat ketuhanan dan
mengingkari keberadaannya pada Zat Allah Subhanahu. Contohnya
seperti mengosongkan Allah Jalla wa 'Ala dari kesempurnaan-Nya yang
suci dengan cara mengingkari nama-nama dan sifat-sifat-Nya; atau menolak
berinteraksi dengan Allah Azza wa Jalla dengan cara meninggalkan
ibadah kepada-Nya; atau memisahkan ciptaan dari Penciptanya seperti orang
yang mengatakan bahwa makhluk itu bersifat qadim (ada tanpa bermula) dan
mengingkari bahwa Allah yang menciptakan serta membuatnya (Lihat dua
rujukan sebelumnya).
- Takyif
(Penggambaran): Yaitu menentukan bagaimana bentuk sifat-sifat tersebut
dan menetapkan hakikat bentuknya.
Manhaj
ini dalam menerima sifat dan nama yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah
sesuai dengan makna lahiriahnya tanpa tasybih, tahrif, ta'thil,
maupun takyif ini adalah mazhab Salaf dari kalangan Sahabat radhiyallahu
'anhum, para Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in. Asy-Syaukani berkata:
"Sesungguhnya mazhab Salaf dari kalangan Sahabat radhiyallahu 'anhum,
Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in adalah membawakan dalil-dalil sifat sesuai dengan
lahiriahnya tanpa melakukan tahrif terhadapnya, tanpa ta'wil yang
dipaksakan pada sesuatu pun darinya, tanpa tasybih, dan tanpa ta'thil
yang banyak dihasilkan dari proses takwil. Dahulu, jika ada seorang penanya
yang bertanya tentang sesuatu dari sifat-sifat Allah, mereka akan membacakan
dalilnya kepadanya, lalu mereka menahan diri dari kasak-kusuk perkataan (qila
wa qala). Mereka berkata: 'Allah berfirman demikian, dan kami tidak tahu
selain itu, kami tidak membebani diri, dan tidak berbicara tentang apa yang
tidak kami ketahui, serta Allah tidak mengizinkan kami untuk melampauinya.' Jika
penanya tersebut ingin mendapatkan tambahan di luar makna lahiriah dari mereka,
mereka akan menghardiknya dari menyelami apa yang tidak bermanfaat baginya, dan
melarangnya dari menuntut sesuatu yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan
terjerumus ke dalam bid'ah yang menyelisihi jalan mereka, serta menyelisihi apa
yang mereka hafal dari Rasulullah ﷺ, yang dihafal oleh para Tabi'in dari para Sahabat, dan dihafal
oleh generasi setelah Tabi'in dari para Tabi'in. Pada abad-abad yang utama
tersebut, ucapan dalam masalah sifat-sifat Allah berada dalam satu kesepakatan,
dan metode mereka semua seirama. Kesibukan mereka adalah pada apa yang Allah
perintahkan kepada mereka untuk disibukkan, dan apa yang Allah tugaskan kepada
mereka untuk menegakkan kewajiban-kewajibannya, berupa iman kepada Allah,
menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa, haji, jihad, menginfakkan harta
dalam berbagai jenis kebaikan, menuntut ilmu yang bermanfaat, membimbing
manusia kepada kebaikan dengan berbagai jenisnya, menjaga sebab-sebab
keberuntungan meraih surga dan keselamatan dari neraka, serta menegakkan amar
makruf nahi mungkar, dan menindak tangan orang yang zalim sesuai dengan tingkat
kemampuan dan batas kekuatan mereka. Mereka tidak menyibukkan diri dengan
selain itu dari hal-hal yang tidak Allah bebankan amalnya kepada mereka, dan
tidak pula Allah meminta mereka beribadah dengan mengetahui hakikat bentuknya.
Maka agama pada saat itu bersih dari kekeruhan bid'ah..." (Lihat: Al-Tuhaf
fi Madzahib Al-Salaf oleh Asy-Syaukani, hal. 7)
Jenis-Jenis
Sifat:
Sifat-sifat
yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah ada dua jenis (Lihat: Al-As'ilah wa
Al-Ajwibah, hal. 48; dan Al-Fiqh Al-Akbar beserta syarahnya oleh Mulla Ali
Al-Qari, hal. 15): Sifat Dzatiyyah dan Sifat Fi'liyyah.
- Sifat Dzatiyyah: Yaitu
sifat-sifat yang tidak pernah terpisah dari Allah Subhanahu,
seperti Diri (Nafs), Ilmu, Hidup, Kuasa, Mendengar, Melihat, Wajah, Kalam,
Qadam (Kaki), Kekuasaan, Keagungan, Keperkasaan, Ketinggian, Kekayaan,
Rahmat, dan Hikmah. Batasan jenis sifat ini adalah sifat yang melekat pada
Zat Allah Azza wa Jalla, di mana sifat-sifat tersebut senantiasa
ada pada Allah Subhanahu dan tidak pernah terpisah dari-Nya.
- Sifat Fi'liyyah: Yaitu
sifat-sifat yang berkaitan dengan kehendak (masyi'ah) dan kekuasaan
Allah, seperti Istiwa’ (bersemayam), Nuzul (turun), Maji' (datang),
'Ajab (heran), Dhahik (tertawa), Ridha, Cinta, Benci, Murka, Gembira,
Marah, Makar (membalas tipu daya), Kaid (membuat tipu daya), dan Maqt
(kebencian yang besar).
Kewajiban
dalam sifat-sifat ini dengan kedua jenisnya adalah menetapkannya bagi Allah Azza
wa Jalla sesuai dengan makna yang layak bagi kesempurnaan Allah Ta'ala,
yaitu makna hakikinya, karena di dalamnya tidak ada unsur tasybih, ta'thil,
tahrif, maupun takyif. Kita mengucapkan seperti apa yang
dikatakan oleh Imam Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu: "Aku beriman
kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah.
Dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa yang datang dari Rasulullah
sesuai dengan maksud Rasulullah." (Al-As'ilah wa Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah,
hal. 50)
Nama-Nama
Allah Azza wa Jalla:
Adapun
nama-nama Allah Azza wa Jalla, ia merupakan nama diri (a'lam)
bagi-Nya, yang dikabarkan oleh Allah kepada kita dalam Kitab-Nya, dan oleh
Rasulullah dalam Sunnahnya. Setiap nama dari nama-nama ini menunjukkan suatu
sifat atau beberapa sifat Allah Subhanahu. Setiap nama tersebut
diderivasi dari masdarnya, seperti Al-'Alim (Yang Maha Mengetahui), Al-Qadir
(Yang Maha Kuasa), As-Sami' (Yang Maha Mendengar), Al-Bashir (Yang Maha
Melihat), dan sejenisnya. Nama Al-'Alim diderivasi dari Al-'Ilmu (pengetahuan),
dan ia menunjukkan sifat ilmu bagi Sang Pencipta, demikian pula dengan
nama-nama yang lainnya.
Nama
yang menghimpun seluruh makna nama dan sifat secara keseluruhan adalah lafaz
"Allah". Para ulama berbeda pendapat mengenai derivasi (isytiqāq)
lafaz ini: Sekelompok ulama berpendapat bahwa lafaz tersebut adalah isim
musytak (bentukan), asalnya adalah "Al-Ilāh", kemudian mereka
menghapus hamzahnya dan mengidgamkan lam ke dalam lam sehingga menjadi satu lam
yang bertasydid dan ditebalkan. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Al-Qayyim,
Sibawaih, dan At-Thabari. Sementara sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa
lafaz tersebut bukanlah isim musytak (yakni isim jamid yang tidak terbentuk
dari kata lain) (Lihat: Fathul Majid, hal. 11. At-Thabari berkata mengenai
makna lafaz jalalah Allah: Dzat yang memiliki hak ketuhanan dan penyembahan
atas seluruh makhluk-Nya - Tafsir At-Thabari, Juz 20, hal. 123).
Perlu
diketahui bahwa tidak ada kontradiksi antara keberadaan nama-nama ini sebagai
kata sifat (nu'ūt) bagi Allah Azza wa Jalla sekaligus sebagai
nama diri (a'lām) bagi-Nya. Maka Ar-Rahman adalah nama-Nya sekaligus
sifat-Nya. Seluruh nama Allah menunjukkan makna-maknanya dan semuanya merupakan
sifat-sifat pujian (Fathul Majid, hal. 14; Al-As'ilah wa Al-Ajwibah
Al-Ushuliyyah, hal. 44). Nama-nama tersebut dinamakan "Al-Husna"
(Yang Terbaik/Terindah) karena menunjukkan pada Diri yang paling baik dan
kandungan makna yang paling mulia.
Mentauhidkan
Allah dalam nama-nama-Nya menuntut keimanan pada setiap nama yang Dia gunakan
untuk menamai diri-Nya sendiri, keimanan pada makna yang ditunjukkan oleh nama
tersebut, serta keimanan pada dampak-dampak (atsar) yang berkaitan
dengan nama tersebut. Sebagai contoh: Di dalam Al-Qur'an terdapat nama Allah Ar-Rahim.
Maka kita mengimani bahwa ini adalah nama diri bagi Allah Azza wa Jalla,
kita mengimani bahwa nama ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat rahmat
(kasih sayang), dan kita juga mengimani bahwa Allah merahmati siapa saja yang
Dia kehendaki. Demikian pula berlaku untuk setiap nama yang terdapat dalam
Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ. (Al-As'ilah wa Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah, hal. 44)
Adapun
jumlah nama-nama Allah Jalla wa 'Ala, maka yang terdapat dalil
tekstualnya berjumlah sembilan puluh sembilan nama. Disebutkan dalam sahih
Al-Bukhari dan sahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً
وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ،
إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
"Sesungguhnya
Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa
yang menghitungnya (menjaga/menghafalnya) maka ia masuk surga. Sesungguhnya Dia
itu ganjil dan menyukai yang ganjil." (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai,
dan Ibnu Majah) .( Dikeluarkan oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu
Majah - Lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fathul Bari, Juz 5, hal. 372; Hidayat
Al-Bari, Juz 1, hal. 135; dan Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi, Juz 17,
hal. 5)
Para
ulama telah sepakat bahwa sabda Nabi ﷺ "sembilan puluh sembilan nama" tidak menunjukkan
bahwa nama Allah terbatas pada jumlah tersebut saja. Melainkan, batas maksimal
kandungan hadis sahih ini adalah bahwa Allah memiliki nama-nama tersebut, yang
mana barangsiapa menghitungnya akan masuk surga. Di dalam hadis tersebut tidak
ada penafian nama-nama selain itu bagi Allah Subhanahu. Maka maksudnya
adalah mengabarkan tentang masuknya surga dengan menghitungnya, bukan
mengabarkan tentang pembatasan nama-nama tersebut. (Al-Asma' wa Al-Sifat oleh
Al-Baihaqi, hal. 6; Itsar Al-Haq 'ala Al-Khalq oleh Al-Murtadha Al-Yamani, hal.
169; Fathul Bari, Juz 11, hal. 183; Tafsir Al-Qasimi, Juz 7, hal. 2911; Syarh
Al-Aqidah At-Thahawiyyah, hal. 110; Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi, Juz
17, hal. 5)
Hal
yang menunjukkan bahwa di sana ada nama-nama yang tidak dikabarkan oleh Sang
Pencipta kepada kita, melainkan Dia simpan dalam ilmu gaib di sisi-Nya, adalah
hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:
مَا أَصَابَ مُسْلِمًا
قَطُّ هَمٌّ وَلَا حَزَنٌ فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ،
وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ
قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ
فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ
فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي،
وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذِهَابَ هَمِّي وَغَمِّي، إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ عَنْهُ
هَمَّهُ وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ هَمِّهِ فَرَحًا
"Tidaklah
seorang Muslim ditimpa kegundahan maupun kesedihan lalu ia berdoa: 'Ya Allah,
sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, dan anak dari
hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku
padaku, ketentuan-Mu adil atasku. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang
menjadi milik-Mu, yang Engkau gunakan untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau
turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari
makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau
menjadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi kesedihanku, serta
pelenyap bagi kegundahan dan kesusahanku,' melainkan Allah akan menghilangkan
kegundahannya dan menggantikan kesedihannya dengan kegembiraan.". Para
sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami mempelajari
kalimat-kalimat ini?" Beliau menjawab: "Tentu, seyogianya bagi siapa
saja yang mendengarnya untuk mempelajarinya." (HR. Ahmad, Abu 'Awanah
dalam sahihnya, Abu Ya'la, dan Al-Bazzar) . (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu
'Awanah dalam kitab Shahihnya. Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawaid:
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya'la, Al-Bazzar, dan perawi Ahmad adalah perawi
kitab Shahih, kecuali Salamah Al-Juhani yang telah ditsiqahkan oleh Ibnu
Hibban. Lihat Itsar Al-Haq, hal. 170; Al-Asma' wa Al-Sifat oleh Al-Baihaqi,
hal. 6, 7; dan Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah, hal. 110)
Adapun
makna menghitung (ihshā') nama-nama Allah yang terdapat dalam hadis
terdahulu adalah: mengetahuinya, menghafalnya, memahaminya, mengimaninya,
merawatnya dengan baik, menjaga batasan-batasannya dalam berinteraksi dengan
Allah melaluinya, serta berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengannya. Maka
makna yang termaktub dalam hadis tersebut adalah: barangsiapa yang menghafalnya
seraya memikirkan kandungan maknanya, mengambil pelajaran darinya, mengamalkan
konsekuensinya, serta menyucikan Zat yang dinamai dengannya, maka ia akan masuk
surga () Al-Asma' wa Al-Sifat oleh Al-Baihaqi, hal. 6; Al-As'ilah wa
Al-Ajwibah, hal. 45; Fathul Bari, Juz 13, hal. 322; Shahih Muslim dengan Syarah
An-Nawawi, Juz 17, hal. 605).
Dalil-Dalil
Tauhid Asma' wa Sifat:
Dalil-dalil
jenis tauhid ini di dalam Al-Qur'an Al-Karim dan As-Sunnah yang sahih sangatlah
banyak. Bahkan tidak ada satu surah pun dari surah-surah Al-Qur'an, dan tidak
ada satu halaman pun dari halaman-halamannya, melainkan di dalamnya disebutkan
sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya. Anda akan mendapati Al-Qur'an
menyebutkannya dan mengingatkannya dalam berbagai tema bahasan, mulai dari
tauhid, ibadah, tasyri' (syariat), pada posisi perintah dan larangan, janji (wa'd)
dan ancaman (wa'id), serta kisah-kisah dan permisalan-permisalan. Kami
akan sebutkan kepada Anda pada kesempatan ini sebuah surah yang komprehensif
dalam tauhid asma' wa sifat, serta ayat yang paling agung dari ayat-ayat
Al-Qur'an.
Adapun
surah tersebut adalah Surah Al-Ikhlas, yang nilainya sebanding dengan
sepertiga Al-Qur'an, sebagaimana dikabarkan oleh Al-Musthafa ﷺ. Allah Azza wa
Jalla berfirman:
"Katakanlah
(Muhammad), 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.
(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang
setara dengan Dia.'" (QS. Al-Ikhlas: 1-4). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dalam kitab Shahihnya dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa seorang laki-laki
mendengar orang lain membaca 'Qul Huwallahu Ahad' dengan mengulang-ulangnya.
Ketika pagi hari tiba, ia mendatangi Rasulullah lalu menceritakan hal itu kepada
beliau—dan seolah-olah laki-laki itu menganggapnya remeh (sedikit)—maka
Rasulullah bersabda: 'Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya
surah itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an.' Dan dari Abu Sa'id, ia
berkata: Nabi bersabda kepada para sahabatnya: 'Apakah salah seorang di antara
kalian merasa lemah untuk membaca sepertiga Al-Qur'an dalam satu malam?' Maka
hal itu terasa berat bagi mereka, dan mereka berkata: 'Siapa di antara kami
yang mampu melakukan itu, wahai Rasulullah?' Beliau bersabda: 'Allahul Wahid
Al-Shamad adalah sepertiga Al-Qur'an.' Lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fathul
Bari, Juz 9, hal. 49. Hadis-hadis mengenai keutamaan Surah Al-Ikhlas sangat
banyak sekali: Zad Al-Ma'ad, Juz 1, hal. 82)
Surah
yang agung ini mengandung penetapan seluruh kesempurnaan bagi Allah Azza wa
Jalla, dan menafikan seluruh kekurangan dari-Nya. Dia mengabarkan di
dalamnya bahwa Dialah Allah Yang Maha Esa (Al-Ahad) lagi tempat
bergantung (As-Shamad), Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,
serta tidak ada yang setara dengan-Nya. Makna Al-Ahad adalah yang tidak
ada kemiripan bagi-Nya dan tidak ada tandingan-Nya (Al-Asma' wa Al-Sifat, hal.
21; Syarh Mulla Ali Al-Qari 'ala Al-Fiqh Al-Akbar, hal. 14). Nama yang mulia
ini menunjukkan bahwa Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya dalam sifat-sifat
kesempurnaan yang ditetapkan bagi-Nya. Sedangkan makna As-Shamad adalah
Penguasa tertinggi yang dituju dalam segala urusan dan dimaksudkan dalam setiap
hajat serta kebutuhan (Fathul Bari, Juz 8, hal. 601; Al-Asma' wa Al-Sifat, hal.
58; Syarh Mulla Ali Al-Qari 'ala Al-Fiqh Al-Akbar, hal. 14). Nama ini
menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak untuk dituju dalam segala kebutuhan
dan persoalan. Hak ini tidak menjadi batil dengan berpalingnya orang-orang yang
berpaling dari kebenaran dan tersesat jalannya, di mana mereka menuju kepada
makhluk dan berpaling dari Sang Pencipta Jalla wa 'Ala. Sebab, apabila
Allah adalah Pencipta dan Pengatur bagi apa yang diciptakan-Nya, tidak ada
pencipta selain-Nya dan tidak ada pengatur di samping-Nya, maka berpaling dari
menuju kepada-Nya merupakan bentuk kebodohan dan ketololan, karena segala
urusan berada di tangan-Nya (Al-Asma' wa Al-Sifat, hal. 58). Demikianlah nama
Al-Ahad menetapkan penafian seluruh sifat kekurangan dari Allah Azza wa
Jalla, dan sesungguhnya nama ini (As-Shamad) telah menetapkan bagi Allah
Ta'ala seluruh sifat kesempurnaan dan keagungan. (Fathul Bari, Juz 9, hal. 50)
Dari
sinilah Anda menyadari mengapa Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa surah ini sebanding
dengan sepertiga Al-Qur'an Al-Karim, karena ia telah mengandung akidah Islam
seluruhnya yang tegak di atas penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Sang
Pencipta, menafikan sifat-sifat kekurangan dari-Nya, serta hak-Nya Subhanahu
untuk diibadahi dan dijadikan tujuan permohonan.
Al-Qur'an
secara keseluruhan merupakan akidah yang menjelaskan kepada para hamba apa yang
wajib atas mereka berupa makrifatullah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya;
juga merupakan syariat yang menjelaskan hak-hak dan kewajiban mereka serta cara
berinteraksi di antara mereka; serta merupakan kabar dan kisah yang menjelaskan
kepada para hamba sunatullah dalam memperlakukan makhluk, menepis pahala dan
siksaan-Nya, janji dan ancaman-Nya. Ibnu Al-Qayyim berkata dalam menjelaskan
hakikat surah ini: "Maka Surah Al-Ikhlas mengandung tauhid iktikad dan
makrifat, serta apa yang wajib ditetapkan bagi Tuhan Ta'ala berupa keesaan (ahadiyyah)
yang menafikan segala bentuk keserikatan dari berbagai sisi, serta sifat shamadityah,
penafian anak dan orang tua yang merupakan konsekuensi dari sifat shamadityah,
serta penafian kesetaraan (kufu') yang mengandung penafian penyerupaan,
pemisalan, dan penandingan. Maka surah ini mengandung penetapan seluruh
kesempurnaan bagi-Nya, menafikan seluruh kekurangan dari-Nya, menafikan adanya
serupa atau misal bagi-Nya dalam kesempurnaan-Nya, serta menafikan sekutu
secara mutlak dari-Nya. Landasan-landasan inilah yang menjadi himpunan tauhid
ilmiah iktikadi yang membedakan pemiliknya dari seluruh sekte kesesatan dan
kesyirikan." (Lihat Zad Al-Ma'ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, Juz 1, hal. 81,
82)
Adapun
ayatnya, ia adalah Ayat Kursi, yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ sebagai ayat yang
paling agung di dalam Al-Qur'an. Di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
"Allah,
tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus
(makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di
sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang
di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang
ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.
Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha
Agung." (QS. Al-Baqarah: 255) .
Ayat
yang agung ini mengandung kaidah-kaidah tauhid dengan ketiga jenisnya, karena
ia mencakup sifat-sifat dan nama-nama yang masing-masing darinya menjadi kaidah
dari kaidah-kaidah akidah Islamiyah:
Firman-Nya
Ta'ala: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia" menetapkan kaidah Uluhiyah,
yang merupakan fondasi tauhid dan tempat memancarnya manhaj Islam untuk
kehidupan seluruhnya. Ia menuntut penyerahan diri hanya kepada Allah semata
dengan penghambaan dan ibadah: maka manusia tidak boleh menjadi hamba kecuali
kepada Allah, tidak boleh menghadapkan ibadah kecuali kepada Allah Azza wa
Jalla, tidak boleh berkomitmen pada ketaatan kecuali ketaatan kepada Allah,
tidak boleh berhukum kecuali kepada Allah, serta tidak boleh mengambil syariat,
nilai, akhlak, maupun konsep pemikirannya kecuali dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala. (Fi Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 418)
Firman-Nya
Ta'ala: "Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus
(makhluk-Nya)" menetapkan dua nama yang agung bagi Zat-Nya Yang Maha
Tinggi:
- Al-Hayyu (Yang Maha
Hidup): Yaitu Yang memiliki kehidupan yang kekal, dan kelestarian yang
tidak memiliki awal maupun akhir.( Tafsir At-Thabari, Juz 5, hal. 388;
Al-Asma' wa Al-Sifat, hal. 20) Kehidupan yang disifatkan kepada Allah
adalah kehidupan dzatiyyah yang tidak berasal dari sumber lain, berbeda
dengan kehidupan makhluk yang diperoleh dan dianugerahkan kepadanya dari
Sang Pencipta. Demikian pula, ia adalah kehidupan azali abadi yang tidak
bermula dari suatu titik awal dan tidak berakhir pada suatu titik akhir. (Fi
Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 418, 419)
- Al-Qayyum (Yang
Terus-menerus Mengurus): Yaitu Yang menegakkan urusan para makhluk dan
mengatur alam semesta dalam seluruh keadaannya. Dialah pengurus segala
sesuatu yang memberi rezeki, menjaga, merawat, dan mengaturnya sesuai
dengan apa yang Dia kehendaki Jalla wa 'Ala. (Al-Asma' wa Al-Sifat,
hal. 48; Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah, hal. 124; Tafsir At-Thabari, Juz
5, hal. 388; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 61)
Kedua
nama ini (Al-Hayyu Al-Qayyum) termasuk di antara nama-nama Allah yang
paling agung, karena di atas keduanyalah berputar seluruh nama-nama baik (Asma'ul
Husna) lainnya, dan kepada keduanyalah kembali makna-maknanya. Sesungguhnya
sifat hidup meniscayakan seluruh sifat kesempurnaan; tidak ada satu sifat pun
yang tertinggal darinya kecuali disebabkan oleh lemahnya kehidupan. Karena
Allah Ta'ala memiliki kehidupan yang sempurna, maka Dia memiliki segala
kesempurnaan. Sementara sifat qayyumiyah mengandung kesempurnaan
kekayaan-Nya Subhanahu dan kesempurnaan kekuasaan-Nya; Dialah Yang
berdiri sendiri, sehingga tidak membutuhkan kepada selain-Nya dari sisi mana
pun, dan Dialah Yang menegakkan selain-Nya. Maka setiap yang ada bersandar
kepada keberadaan Allah dan pengaturan-Nya. (Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah,
hal. 124)
Kedua
nama ini memiliki dampak yang agung dalam kehidupan seorang Muslim yang
mengimaninya dan menghadirkan makna-makna agung yang terkandung di dalamnya. Sanubarinya
akan senantiasa terikat dengan Allah dalam cinta, ibadah, dan ketaatan, karena
ia mengetahui bahwa Tuhannyalah yang mengendalikan urusannya dan urusan segala
sesuatu di sekitarnya berdasarkan hikmah dan pengaturan. Maka ia pun
berkomitmen dalam kehidupannya dengan manhaj yang telah digariskan yang tegak
di atas hikmah dan pengaturan, mengambil nilai-nilai serta timbangannya
dari-Nya, dan senantiasa merasa diawasi oleh-Nya dalam seluruh keadaannya. (Fi
Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 419)
Firman-Nya
Ta'ala: "tidak mengantuk dan tidak tidur" merupakan penegasan
bagi pengurusan-Nya Subhanahu atas segala sesuatu dan tegaknya segala
sesuatu dengan-Nya, karena kantuk (sinah) dan tidur menafikan kehidupan
yang sempurna serta pengurusan (qayyumiyah) yang sempurna. (Rujukan
sebelumnya; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 63)
Firman-Nya
Ta'ala: "Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi" menetapkan kepemilikan-Nya Subhanahu yang meliputi segala
sesuatu, mutlak dari ikatan apa pun, dan disucikan dari sekutu mana pun. Akidah
ini, apabila telah menetap di dalam hati manusia, akan memiliki dampak yang
agung dalam kehidupan mereka. Sayyid Quthb rahimahullah berkata:
"Apabila kepemilikan yang hakiki telah murni milik Allah, maka manusia
pada dasarnya tidak memiliki kepemilikan atas sesuatu pun. Kepemilikan mereka
hanyalah sebagai status delegasi (istikhlaf) dari Pemilik tunggal yang
asli yang memiliki segala sesuatu. Dari sinilah, mereka wajib tunduk dalam
status delegasi mereka terhadap syarat-syarat dari Pemilik yang mendelegasikan
kepemilikan ini. Syarat-syarat Pemilik yang mendelegasikan itu telah dijelaskan
kepada mereka di dalam syariat-Nya, maka mereka tidak boleh keluar darinya,
jika tidak maka batallah kepemilikan mereka yang muncul dari akad delegasi
tersebut, dan tindakan-tindakan mereka jatuh menjadi batil... Di samping itu,
sekadar menetapnya hakikat ini di dalam sanubari... sekadar perasaan manusia
akan hakikat Pemilik Subhanahu terhadap apa yang ada di langit dan di
bumi, sekadar bayangan manusia akan kosongnya tangannya sendiri dari
kepemilikan sesuatu yang ia katakan bahwa ia memilikinya, serta mengembalikan
kepemilikan ini kepada pemiliknya yang asli... sekadar perasaan bahwa apa yang
ada di tangannya adalah pinjaman ('ariyah) untuk jangka waktu tertentu,
kemudian akan diambil kembali oleh pemiliknya yang meminjamkannya pada waktu
yang telah ditentukan... sekadar menghadirkan hakikat-hakikat dan
perasaan-perasaan ini sudah cukup untuk meredam ketajaman ketamakan dan
keserakahan, ketajaman kebakhilan dan kekikiran, serta ketajaman perebutan yang
gila. Hal itu juga cukup untuk menanamkan dalam jiwa rasa qanaah dan ridha
terhadap rezeki yang diperoleh, kelapangan dada, kemurahan hati untuk
menyedekahkan apa yang ada, serta mengalirkan ketenangan ke dalam hati dan
kemantapan dalam jiwa, baik di kala berkecukupan maupun di kala kekurangan.
Maka jiwa tidak akan pergi dengan penuh penyesalan atas apa yang luput atau
hilang, dan hati tidak akan terbakar oleh ketamakan terhadap apa yang diincar
dan dicari." (Fi Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 420, 421)
Firman-Nya
Ta'ala: "Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa
izin-Nya" merupakan penjelasan bagi kedudukan uluhiyah dan kedudukan
ubudiyah. Setiap makhluk adalah hamba Allah, tidak melampaui batas ubudiyah dan
tidak melewati batasannya, maka ia tidak memiliki hak syafaat di sisi Allah
kecuali dengan izin-Nya. Dengan demikian, akidah ini memberikan pemisah yang
jelas antara hakikat ubudiyah dan hakikat rububiyah, sehingga keduanya tidak
bercampur dan tidak berserikat dalam sesuatu pun dari sifat atau karakteristik.
(Rujukan sebelumnya)
Firman-Nya
Ta'ala: "Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di
belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya
melainkan apa yang Dia kehendaki" merupakan penetapan bagi liputan
ilmu-Nya Subhanahu dan cakupannya terhadap waktu, tempat, dan segala
perkara; serta menjadi penjelasan bagi kelemahan para makhluk dan kekurangan
ilmu mereka kecuali apa yang Allah kehendaki untuk diajarkan kepada mereka (Tafsir
At-Thabari, Juz 5, hal. 396, 397; Al-Raudhah Al-Nadiyyah, hal. 64). Keimanan
seorang Muslim terhadap sifat Allah Azza wa Jalla ini serta
penghadirannya di dalam hati akan menjadikannya senantiasa merasa diawasi oleh
Tuhannya, menjaga batasan-batasan-Nya, dan bersegera bertobat kepada-Nya jika
berbuat buruk. Kesadarannya akan hakikat dirinya serta nikmat Allah atasnya
dalam hal apa yang Dia ajarkan kepadanya berupa hakikat-hakikat, menjadikannya
senantiasa bersyukur kepada Allah, serta jauh dari sikap angkuh, sombong, dan
membanggakan diri.
Firman-Nya
Ta'ala: "Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat
memelihara keduanya" merupakan dalil atas kesempurnaan kekuasaan-Nya Subhanahu
dan kematangannya.
Kemudian
Allah Subhanahu menutup ayat yang agung ini dengan menyebutkan dua nama
dari nama-nama-Nya yang baik, Dia berfirman: "dan Dia Maha Tinggi, Maha
Agung."
- Al-'Aliyy (Yang Maha
Tinggi): Yang memiliki ketinggian dan keluhuran di atas makhluk-Nya (Tafsir
At-Thabari, Juz 5, hal. 405). Tidak ada seorang pun yang menyombongkan
diri menandingi kedudukan-Nya melainkan Allah akan mengembalikannya pada
kerendahan dan kehinaan di dunia, serta azab dan kehinaan di akhirat.
- Al-'Adhim (Yang Maha
Agung): Yang memiliki keagungan yang segala sesuatu berada di
bawah-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih agung daripada Dia Subhanahu.
Ketika
hakikat ketinggian Allah dan keagungan-Nya telah menetap di dalam jiwa manusia,
maka ia akan mengetahui kadar dirinya dan kembali kepada makam ubudiyah
(penghambaan) kepada Allah Azza wa Jalla. Ia tidak akan berlaku sombong
dan tidak pula melampaui batas, melainkan ia akan takut kepada Allah, segan
kepada-Nya, serta beradab bersama-Nya dan bersama makhluk-Nya Subhanahu.
(Fi Zhilalil Qur'an, Jilid 1, hal. 424)
Itulah
sebagian dari manifestasi keagungan Ayat Kursi, maka seyogianya bagi setiap
Muslim untuk bersemangat menjaganya, menghafalnya, mentadaburi makna-maknanya,
menghadirkan kandungannya, serta menjaga hak-haknya. Sungguh telah terdapat
hadis-hadis sahih mengenai keutamaannya, di antaranya: apa yang diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah dalam sebuah hadis yang panjang bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda kepadanya:
إِذَا أَوَيْتَ إِلَى
فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ
الْقَيُّومُ.. حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّهُ لَنْ يَزَال عَلَيْكَ مِنَ
اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ
"Jika
kamu hendak pergi ke tempat tidurmu, maka bacalah Ayat Kursi: 'Allah, tidak ada
tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya...'
hingga kamu menyelesaikan ayat tersebut. Karena sesungguhnya senantiasa akan
ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi
hari." (HR. Al-Bukhari) . (Lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fathul Bari,
Juz 2, hal. 384)
Dan
hadis yang dikeluarkan oleh Muslim dalam sahihnya dari Ubay bin Ka'ab, ia
berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
يَا أَبَا المُنْذِرِ،
أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ: قُلْتُ:
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: يَا أَبَا المُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ
مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ: قُلْتُ: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا
هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ. قَالَ: فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ: وَاللَّهِ
لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ
"Wahai
Abu Al-Mundzir, tahukah kamu ayat mana dari Kitabullah yang ada bersamamu yang
paling agung?" Ubay berkata: Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang
lebih mengetahui." Beliau bertanya lagi: "Wahai Abu Al-Mundzir,
tahukah kamu ayat mana dari Kitabullah yang ada bersamamu yang paling
agung?" Ubay berkata: Aku menjawab: "Allah, tidak ada tuhan selain
Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya (Ayat
Kursi)." Ubay berkata: Maka beliau menepuk dadaku dan bersabda: "Demi
Allah, semoga ilmu ini menjadi berkah bagimu, wahai Abu Al-Mundzir." (HR.
Muslim) . (Lihat Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi, Juz 6, hal. 93)
Comments
Post a Comment