Berbicara Jelas dan Mengulangi (2 Hadits)
Bab 89: Disunnahkannya Menjelaskan Perkataan dan Menerangkannya kepada Orang yang Diajak Bicara, serta Mengulangnya agar Dapat Dipahami jika Tidak Bisa Dipahami Kecuali dengan Cara Tersebut
٨٩ - بابُ
اسْتِحْبَابِ بَيَانِ الكَلَامِ وَإِيْضَاحِهِ لِلْمُخَاطَبِ وَتَكْرِيرِهِ
لِيُفْهَمَ إِذَا لَمْ يَفْهَمْ إِلَّا بِذَلِكَ
Hadits Pertama (No. 696)
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا
تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ، وَإِذَا أَتَى
عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا». رَوَاهُ
الْبُخَارِيُّ.
الْحَدِيْثُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ الْعِلْمِ (بَابُ مَنْ
أَعَادَ الْحَدِيثَ ثَلَاثًا) وَفِي الْاسْتِئْذَانِ (بَابُ التَّسْلِيمِ
وَالْاسْتِئْذَانِ ثَلَاثًا).
Terjemahan Hadits:
Dari Anas radhiyallahu 'anhu: "Bahwa Nabi ﷺ apabila mengucapkan
suatu kalimat, beliau mengulangnya sebanyak tiga kali agar dipahami dari
beliau. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum lalu memberi salam kepada
mereka, beliau mengucapkan salam sebanyak tiga kali." (HR. Al-Bukhari).
Keterangan takhrij: Hadits ini diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam Kitab Al-'Ilm (Bab: Orang yang mengulang hadits tiga kali) dan
dalam Kitab Al-Isti'dzan (Bab: Mengucapkan salam dan meminta izin tiga kali).
لُغَةُ
الْحَدِيثِ (Kosakata Hadits):
- أَعَادَهَا:
كَرَّرَهَا.
(A'ādahā artinya: Beliau mengulangnya).
فِقْهُ
الْحَدِيثِ وَمَا يُرْشِدُ إِلَيْهِ (Kandungan Hukum Hadits &
Pelajarannya):
- تَكْرَارُ
الْكَلَامِ وَالْفِكْرِ، وَالْإِعْلَامِ عِنْدَ الْحَاجَةِ، كَشِدَّةِ هَمِّ
السَّامِعِ أَوْ فَهْمِهِ، أَوْ مَنْدُوبٌ.
Mengulang-ulang perkataan, pemikiran, dan penyampaian
informasi hukumnya dianjurkan (mandub) ketika ada keperluan, seperti karena
sangat pentingnya bagi pendengar atau demi kepahaman pendengar.
- وَتَكْرَارُ
ثَلَاثِ مَرَّاتٍ غَايَةٌ مَا يَقَعُ بِهِ الْبَيَانُ.
Mengulang sebanyak tiga kali adalah batas maksimal
tercapainya penjelasan yang jelas.
- تَوْجِيهُ
الْمُعَلِّمِينَ وَالْمُؤَدِّبِينَ لِتَعْلِيمِ النَّاسِ وَتَوْجِيهِهِمْ
إِلَى أَصْوَبِ الْهَدْيِ وَالْكَلَامِ.
Arahan bagi para pengajar dan pendidik untuk mendidik
manusia serta mengarahkan mereka kepada petunjuk dan perkataan yang paling
tepat.
Hadits Kedua (No. 697)
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: «كَانَ كَلَامُ
رَسُولِ اللهِ ﷺ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ يَسْمَعُهُ». رَوَاهُ
أَبُو دَاوُدَ.
الْحَدِيثُ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي الْأَدَبِ (بَابُ الْهَدْيِ فِي
الْكَلَامِ).
Terjemahan Hadits:
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:
"Perkataan Rasulullah ﷺ
adalah perkataan yang jelas (terperinci/terpisah antara kalimat satu dengan
yang lain), yang dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya." (HR.
Abu Dawud).
Keterangan takhrij: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu
Dawud dalam Kitab Al-Adab (Bab: Petunjuk dalam berbicara).
لُغَةُ
الْحَدِيثِ (Kosakata Hadits):
- فَصْلًا:
أَيْ
بَيِّنًا ظَاهِرًا، أَوْ فَاصِلًا بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ. قَالَ
تَعَالَى: {إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ}، وَالْمَعْنَى الْأَوَّلُ أَقْرَبُ.
(Fashlan artinya: Jelas dan tampak gamblang, atau
pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya
Al-Qur'an itu benar-benar firman yang memisahkan (antara yang hak dan yang
bathil)". Namun, makna yang pertama (jelas/gamblang) adalah yang lebih
mendekati konteks).
فِقْهُ
الْحَدِيثِ وَمَا يُرْشِدُ إِلَيْهِ (Kandungan Hukum Hadits &
Pelajarannya):
- الْفَصَاحَةُ
الَّتِي وَقَعَتْ لَهُ ﷺ، وَأَفْهَمَتِ النَّاسَ لِمَا يَقُولُونَ.
Kefasihan yang dimiliki oleh Nabi ﷺ, dan bagaimana beliau membuat orang-orang
paham terhadap apa yang diucapkan.
Comments
Post a Comment