Bab III: Cara-cara Berdakwah

BAB KETIGA: METODE-METODE DAKWAH

  • Pasal Pertama: Memperdalam Akidah dan Mengambil Manfaat dari Hasilnya
  • Pasal Kedua: Menghilangkan Syubhat [Kerancuan Pemikiran]
  • Pasal Ketiga: Targhib [Motivasi/Kabar Gembira] dan Tarhib [Ancaman/Peringatan]
  • Pasal Keempat: Tarbiyah dan Pengajaran

Pasal Pertama: Memperdalam Akidah dan Mengambil Manfaat dari Hasilnya

Seorang dai Muslim memiliki metode dan strategi yang ia ikuti dalam dakwahnya menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menuju jalan-Nya yang lurus.

Di antaranya adalah:

Fokus pada makna-makna akidah di dalam jiwa. Sebab manusia dalam kehidupan ini dikendalikan oleh keyakinan dan prinsip yang dianutnya. Manusia, sebagaimana yang telah maklum, dikendalikan dari dalam dirinya. Apabila bagian dalam ini berdenyut dan tersinari oleh akidah yang benar, maka keindahan iman akan meresap ke dalam jiwanya, ruh kehidupan akan mengalir di dalamnya, potensi-potensinya akan bergerak, dan ia akan melesat terbang dengan bahan bakar ketuhanan yang bersumber dari Allah, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api, cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Kemudian, sang dai bertujuan untuk menghilangkan syubhat yang diembuskan oleh para pengikut kebatilan di sekitar dai dan dakwahnya, agar kegelapan kebatilan tidak menghalangi cahaya kebenaran yang benderang, berkilau, lagi murni.

Selanjutnya, sang dai menggunakan bahasa targhib (memotivasi) dan tarhib (menakut-nakuti) sesuai dengan kondisi dan situasi. Sebab, di antara jiwa manusia ada yang tertuntun menuju kebaikan karena motivasi, dan ada pula yang tidak tunduk kecuali oleh rasa takut dan ancaman.

Di antara metodenya pula adalah tarbiyah (pendidikan) dan pengajaran. Hati adalah wadah, dan akal adalah tempat bersemayam bagi apa saja yang dilontarkan ke dalamnya. Jika kebaikan telah menetap di dalamnya, ia akan membuahkan hasil yang baik. Namun jika dibiarkan bagi setan, ia akan menjadi tandus, kering, serta menumbuhkan buah hanzhal [tanaman pahit] dan zaqqum. Dan benarlah Rasulullah : "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."

Kami akan memaparkan metode-metode tersebut dengan sedikit penjelasan.

Pembahasan Pertama: Fokus pada Makna-Makna Akidah

Tugas seorang dai adalah menghubungkan hati dengan Allah, mengenalkan manusia kepada Tuhan mereka, dan menghidupkan rasa takut kepada-Nya di dalam hati mereka. Dialah Sang Pencipta, Sang Sembahan yang haq, yang bersifat dengan sifat-sifat kesempurnaan, dan Mahasuci dari segala kekurangan:

"Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. (Dialah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. (Dialah) Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, lagi Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Maha Pencipta, Yang Mewujudkan dari tiada, lagi Yang Membentuk Rupa. Dia memiliki nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna). Apa yang di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Al-Hasyr: 22-24).

Di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan kepada-Nyalah segala urusan dikembalikan.

"Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)

"Tidak ada suatu nikmat pun pada seorang pun di sisi-Nya yang mendapat balasan, kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi." (QS. Al-Lail: 19)

"Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)-mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu, yang lahir maupun yang batin?" (QS. Luqman: 20)

Dialah Tuhan semesta alam yang mengurusi urusan makhluk-Nya dan menjamin apa yang membawa kemaslahatan bagi mereka. Dialah Yang menghilangkan kemudaratan dari mereka:

"Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia." (QS. Al-An'am: 17)

Dialah Yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan dan Yang menghilangkan keburukan:

"Atau, siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang berada dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan keburukan, dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?" (QS. An-Naml: 62)

Apakah ada tuhan bersama Allah? Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah yang paling berhak untuk diingat, yang paling mulia untuk disembah, yang paling menolong bagi siapa saja yang mencari-Nya, yang paling pengasih dari penguasa mana pun, yang paling dermawan ketika diminta, dan yang paling luas pemberian-Nya. Segala hati tunduk berserah kepada-Nya, dan segala rahasia di hadapan-Nya adalah terang-terangan. Mahasuci Engkau, perkara yang halal adalah apa yang Engkau halalkan, perkara yang haram adalah apa yang Engkau haramkan, dan agama adalah apa yang Engkau syariatkan. Makhluk adalah makhluk-Mu, hamba adalah hamba-Mu, dan Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkau adalah Raja yang tidak ada sekutu bagi-Mu, segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Mu. Engkau adalah Saksi yang paling dekat, Penjaga yang paling karib, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, Pencipta langit dan bumi, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau.

Wahai Tuhanku, kapankah Engkau gaib sehingga memerlukan dalil yang menunjukkan keberadaan-Mu? Dan kapankah Engkau jauh sehingga jejak-jejak makhluk itulah yang menyampaikan kepada-Mu? Butalah mata yang tidak melihat-Mu, dan rugilah jiwa yang tidak dimasuki oleh cahaya-Mu. Kami berlindung kepada-Mu dari kedudukan orang-orang kafir dan berpalingnya orang-orang yang lalai. Kami juga berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang malang, takdir yang buruk, dan kegembiraan musuh atas penderitaan kami.

Demikianlah seharusnya seorang Muslim, dan begitulah akidahnya menjadi ruh yang hidup yang mengalir dalam persendiannya serta menerangi hatinya. Karena bersama Tuhannya, ia adalah segala sesuatu, dan tanpa-Nya ia bukan apa-apa. Akidahnya adalah pengendali urusannya, cahaya jalannya, fondasi manhajnya, bahan bakar amalnya, sumber peradabannya, mata air pemikirannya, dan bingkai ilmunya. Akidah itu memberi, menganugerahkan, mengilhami, membimbing, menolong, mengokohkan langkahnya, memuliakannya, meninggikan panjinya, dan menegakkan benderanya.

Pembahasan Kedua: Anugerah Akidah Bagi Individu Muslim

Kita dapat merangkum apa yang dianugerahkan oleh akidah kepada seorang individu Muslim sebagai berikut:

1. Mengenalkannya kepada Sang Pencipta dan Maha Pemberi Rezeki yang telah menciptakannya dari ketiadaan.

"Bukankah telah datang atas manusia suatu masa dari peredaran waktu, sedang ia belum menjadi sesuatu yang dapat disebut?"

Dan yang menciptakannya dari tanah:

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)."

Akidah senantiasa menjawab pertanyaan-pertanyaan dan keraguan yang bergejolak dalam imajinasi serta pemikiran manusia, yang hampir saja membinasakan dan mencabik-cabiknya jika ia tidak memiliki ilmu tentangnya.

Seorang mukmin memberikan perumpamaan untuk hal itu dengan berkata: Seandainya kita membayangkan ada seseorang yang tertidur, lalu ia terbangun dan mendapati dirinya berada di dalam istana yang megah, makanan dan minumannya datang setiap waktu dan setiap saat, sementara ia tidak tahu siapa pemilik istana ini dan siapa yang membawakannya makanan, minuman, serta pakaian ini tanpa ia lihat. Apakah menurutmu jiwanya akan merasa tenang atau hatinya akan merasa nyaman sebelum ia mengetahui di mana ia berada, milik siapa istana ini, siapa yang membawakannya makanan dan minuman ini, apa tujuan dari semua ini, dan berapa hari ia akan tinggal di tempat ini?

Maka, jika datang kepadanya seorang yang jujur lalu berkata kepadanya: "Istana ini diberikan kepadamu oleh Pangeran Fulan sebagai balasan atas amalmu, dan makanan serta minuman ini adalah bagian dari nikmat ini, dan tujuannya adalah untuk memuliakan orang-orang yang beramal dan membalas orang-orang yang ikhlas, dan kamu akan tetap berada di istana ini selama kamu menjadi orang yang berbuat baik, beramal, lagi ikhlas." Bukankah hatinya akan menjadi nyaman dan tenang?

Begitu pula manusia, ia melihat dirinya berada dalam kehidupan, ia tidak tahu siapa yang menciptakannya di dalamnya, siapa yang memberinya rezeki, dan ke mana tempat kembali serta akhir tujuannya. Maka, ketika akidah menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan di dalam hatinya ini, jiwanya menjadi tenang, pikirannya menjadi tenteram, dan ia mengetahui apa yang ada di sekitarnya.

Adapun jika ia tetap tersesat dalam kehidupan ini tanpa ada akidah yang menunjukinya atau risalah yang membimbingnya, maka ia akan hidup dalam keadaan bercerai-berai, bingung, kehilangan keseimbangan, dan pikirannya kacau. Kita dapat melihat hal ini dalam ucapan orang-orang ini dan itu. Sebagai contoh, kita melihat Omar Khayyam berkata:

Aku mengenakan pakaian kehidupan tanpa dimintai pendapat...

Dan aku bingung di dalamnya di antara berbagai pemikiran.

Dan aku akan menanggalkan pakaian ini dariku padahal aku belum...

Memahami mengapa aku datang? Dan ke mana jalan keluar?

Dan Iliya Abu Madi berkata:

Aku datang tanpa mengetahui dari mana, tetapi aku telah datang,

Dan aku telah melihat sebuah jalan di hadapanku, maka aku pun berjalan,

Dan aku akan tetap berjalan, apakah aku mau atau menolak,

Bagaimana aku datang? Bagaimana aku melihat jalanku?

Aku tidak tahu!

Sampai ia berkata:

Apakah menurutmu sebelum ini aku telah menjadi manusia?

Ataukah menurutmu aku dahulu adalah sesuatu yang sirna dan mustahil?

Apakah teka-teki ini ada solusinya? Ataukah ia akan tetap abadi?

Aku tidak tahu. Dan mengapa aku tidak tahu?

Aku tidak tahu!

2. Akidah mengilhami manusia menuju keluhuran jiwa dan istikamah.

Akidah mengajarkan manusia keluhuran jiwa, membersihkannya dari setiap kotoran, kenajisan, kefasikan, dan kemaksiatan, serta mengharamkan atasnya perbuatan keji dan dosa.

"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, dan perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang benar.”" (QS. Al-A'raf: 33)

Akidah mengangkatnya ke derajat kemanusiaannya dan tidak membiarkannya merosot ke dalam kubangan syahwatnya. Sebaliknya, akidah melukiskan untuknya jalan yang lurus yang membimbing langkahnya, menegakkan kepalanya, dan meninggikan tekadnya. Marilah kita membaca firman Allah Yang Maha Benar:

"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhanmu kepadamu, yaitu janganlah mempersekutukan urusan apa pun dengan-Nya, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, janganlah membunuh anak-anakmu karena kemiskinan—Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka—janganlah mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, dan janganlah membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.” Demikian itu Dia wasiatkan kepadamu agar kamu mengerti. Janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang paling baik sampai dia mencapai usia dewasa. Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, berlakulah adil sekalipun dia kerabat(mu) dan penuhilah janji Allah. Demikian itu Dia wasiatkan kepadamu agar kamu ingat." (QS. Al-An'am: 151-152)

"Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka, ikutilah ia! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena dapat mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itu Dia wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'am: 153)

Akidah senantiasa mengajarkan dan membimbing. Siapa saja yang membuka lembaran-lembaran ayat Al-Qur'an Al-Karim, ia akan melihat konstitusi akhlak yang tiada bandingnya, dan melihat pendidikan luhur yang luar biasa yang menerbangkannya jauh dari ufuk kedustaan, kelaliman, kezaliman, dan kesombongan.

Di antara hal menakjubkan yang kita lihat dan kita dengar dari perkara akidah ini adalah bahwa ia berkata kepada seorang Muslim: "Janganlah kamu berbuat zalim, karena Tuhanmu tidak berbuat zalim. Janganlah kamu melampaui batas, karena Tuhanmu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu menjauhi kebenaran, karena Penciptamu Dialah Kebenaran Yang Nyata."

Allah Ta'ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا، يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ، يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ، يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقَصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ، يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

"Wahai hamba-Hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua berada dalam kesesatan kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri petunjuk kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua berada dalam kelaparan kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku beri makan kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku beri pakaian kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan bahaya kepada-Ku lalu kalian membahayakan-Ku, dan kalian tidak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku lalu kalian memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu kalian dan orang-orang belakangan kalian, dari kalangan manusia maupun jin, mereka semua berada pada tingkat ketakwaan hati seorang yang paling bertakwa di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu kalian dan orang-orang belakangan kalian, dari kalangan manusia maupun jin, mereka semua berada pada tingkat kefasikan hati seorang yang paling fasik di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu kalian dan orang-orang belakangan kalian, dari kalangan manusia maupun jin, berdiri di satu tempat yang luas, lalu mereka meminta kepada-Ku, kemudian Aku berikan kepada setiap manusia apa yang dimintanya, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali seperti berkurangnya jarum apabila dimasukkan ke dalam laut. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku catat untuk kalian, kemudian Aku sempurnakan balasannya untuk kalian. Maka barang siapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah, dan barang siapa yang mendapati selain itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri." (Dikeluarkan oleh Muslim dan At-Tirmidzi).

Kemanusiaan tidak akan bahagia atau tenteram kecuali dengan keluhuran jiwa dan peningkatan akhlak ini, yang memenuhi keluarga dan masyarakat dengan cahaya, kesucian, serta kemurnian. Dan umat atau generasi mana pun tidak akan bisa lepas dari kebutuhan terhadap hal ini.

Oleh karena itu, dai berfokus pada menghidupkan akidah di dalam jiwa agar manusia menjadi luhur secara ruhani, pemikiran, dan langkah, serta menjadi elemen yang bermanfaat di lingkungan dan masyarakatnya.

3. Akidah menanamkan ketenteraman dan harapan di dalam hati.

Hal terbaik yang mewariskan ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman di dalam hati adalah akidah, hubungan dengan Allah, dan bertawakal kepada-Nya setelah mengikuti ajaran-ajaran-Nya serta berjalan di atas sunah Rasul-Nya. Dan benarlah Allah:

"Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun: 11)

Ketenangan ilahi ini merupakan pemberian dan nikmat rabbani yang Allah berikan kepada hati orang-orang yang beriman, sebagai tanda keridaan-Nya kepada mereka, sebagai pengokoh bagi mereka dalam kehidupan ini, dan sebagai dukungan dalam menghadapi kebatilan. Al-Qur'an telah menceritakan kepada kita tentang semua situasi ini dengan memberikan penjelasan dan penerangan, seraya berfirman:

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan mereka makin bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)." (QS. Al-Fath: 4)

"Sungguh, Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat." (Al-Fath: 18)

"Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan membantunya dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak kamu lihat." (At-Taubah: 40)

Sakinah adalah keteguhan, ketenteraman, keagungan, dan kewibawaan yang masuk ke dalam hati orang mukmin, sehingga menghilangkan darinya keluh kesah dan rasa cemas, menjauhkan darinya kelemahan serta kebingungan, dan membuatnya merasakan kebersamaan Allah serta rahmat-Nya. Maka datanglah pengokohan kepadanya dan ia diliputi oleh rasa percaya diri sehingga menjadi lebih kuat daripada musibah dan peristiwa yang terjadi. Bagaimana tidak demikian, sedangkan bersamanya ada kebersamaan Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqara: 194)

Ia merasakan dan menghayatinya, ia bermunajat kepada-Nya dan Dia mendengar, ia berdoa kepada-Nya dan Dia mengabulkan:

"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk." (Al-Baqarah: 186)

Oleh karena itu, ketenteraman ini senantiasa menyertai orang-orang mukmin dalam situasi-situasi yang sulit, sehingga menjadi elemen yang pasti dan penting dari elemen-elemen kemenangan dan keunggulan. Ketenangan ini menyertai orang-orang mukmin dalam Perang Badar, maka Allah Yang Maha Benar berfirman mengabarkan tentang hal itu:

"(Ingatlah) ketika Dia membuat kamu mengantuk sebagai penenteram dari-Nya dan menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu, menghilangkan gangguan-gangguan setan dari kamu, mengikat hati kamu, dan memperkokoh langkahmu dengannya." (QS. Al-Anfal: 11)

Maka ketika dua pasukan saling bertemu dan ketika tentara saling bertempur dalam peperangan yang tidak seimbang dalam jumlah maupun persiapan, terjadilah pengokohan dan pengikatan hati. Maka ditemukanlah keseimbangan, bahkan bobot orang-orang mukmin lebih berat mengungguli orang-orang kafir berkat ketenteraman ini yang bersemayam di dalam dada, menahan jiwa, dan menjauhkan waswas darinya.

Ketenangan ini juga menyertai mereka dalam Perang Uhud, sehingga mereka tidak menjadi lemah karena apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak menjadi lemah, dan tidak pula menyerah:

"(Yaitu) orang-orang (mukmin) yang jelas-jelas ada orang yang mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka.” (Ucapan) itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Hasbunallāh wa ni‘mal-wakīl” (cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung). Maka, mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana pun dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah memiliki karunia yang sangat besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan para pengikutnya. Oleh karena itu, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang mukmin."

Ketenangan ini juga menyertai mereka dalam Perang Khandaq:

"Ketika orang-orang mukmin melihat pasukan sekutu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Benarlah Allah dan Rasul-Nya. (Peristiwa) itu justru menambah keimanan dan keislaman mereka." (QS. Al-Ahzab: 22)

Ketenangan ini juga menyertai mereka dalam Baiat Ridwan, dan ia selalu menyertai mereka serta berjalan bersama mereka. Ketenangan ini pun menyertai mereka saat wafatnya Rasulullah . Ia menyertai Ash-Shiddiq [Abu Bakar] dalam situasi yang sangat kritis ini, situasi wafatnya kekasihnya, Rasulullah, dan pilihan-Nya. Maka ia berdiri tegak lurus bagaikan gunung yang kokoh, mengumumkannya dengan lantang, tinggi, lagi menggema: "Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati."

Ketenangan ini juga menyertai Ash-Shiddiq dalam situasi yang lebih berat, yaitu ketika orang-orang Arab murtad dari Islam setelah wafatnya Rasulullah . Maka ia berdiri bagaikan gunung yang kokoh, gunung yang menancap kuat, dan panji yang menjulang tinggi, seraya berkata kepada dunia: "Demi Allah, seandainya mereka menolak untuk menyerahkan seekor tali pengikat unta kepadaku yang dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka karenanya selama pedang masih bisa digenggam oleh tanganku."

Ketenangan ini juga menyertai orang-orang setelah mereka dari kalangan tabiin yang mengikuti mereka dengan baik, dari para mujahid, orang-orang yang beramal, dan orang-orang yang ikhlas di saat-saat sulit, kritis, dan sempit. Dan benarlah Allah:

"Sesungguhnya Kami benar-benar menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tegaknya para saksi (hari Kiamat)." (QS. Ghafir: 51)

Demikianlah akidah dan begitulah para tokoh akidah; dunia bergoncang sementara mereka tenang, bumi bergoyang sementara mereka teguh, badai mengamuk sementara mereka bagaikan gunung, dan hati-hati bertumbangan sementara mereka tetap menjadi lelaki sejati.

4. Keberanian dan Jiwa Ksatria.

Akidah memberikan kepada seorang Muslim keberanian, jiwa ksatria, dan kepahlawanan. Keberanian di setiap medan dari medan-medan kehidupan. Keberanian dalam menghadapi diri sendiri dan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan hewani beserta bebannya.

Maka kita melihat banyak dari pemilik akidah ini menorehkan contoh-contoh paling mengagumkan dalam hal istikamah dan keteladanan yang baik setelah sejarah yang panjang dalam kejahilan, kecintaan pada harta benda dunia, dan pemenuhan syahwat. Mereka mampu menjadi para penunjuk jalan menuju jalan yang lurus, serta menjadi teladan bagi orang-orang yang menuju kebenaran, orang-orang yang suci, dan orang-orang yang beramal. Satu pandangan saja kepada masyarakat jahiliyah yang ditinggalkan oleh para pemuda pemilik tekad baja—yang mampu menegakkan agama, menyampaikan risalah, dan menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia—sudah cukup untuk membuktikan apa yang diwariskan oleh akidah berupa keberanian dalam menghadapi diri sendiri dan mengalahkan beratnya sifat hewani dalam diri manusia.

Keberanian dalam menghadapi kesulitan dan melawan kebatilan:

Para pemilik akidah tidak takut kepada kematian dan tidak gentar terhadap maut, karena mereka mengetahui bahwa kematian adalah sebuah kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya:

"Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, ia pasti menemui kamu.”" (QS. Al-Jumu'ah: 8)

Dan mereka mengetahui bahwa Allah telah membeli dari mereka diri mereka dengan surga:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Hal itu berhak mereka terima sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an." (QS. At-Taubah: 111)

Oleh karena itu, mereka tidak mempedulikan dunia, karena dunia menginginkan kehidupan apa saja, sedangkan mereka menginginkan kehidupan yang menyampaikan kepada surga. Maka jika ditemukan apa yang menyampaikan mereka kepadanya, hal itu adalah keberuntungan yang nyata. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari mereka tertusuk [dalam perang] dan ia tahu bahwa ia akan menemui Tuhannya, ia langsung berseru seketika itu juga: "Aku telah beruntung, demi Tuhan Pemilik Ka'bah!" Kita telah melihat, dan sejarah pun telah menyaksikan, contoh-contoh menakjubkan dari keberanian yang langka ini di sepanjang sejarah pada berbagai masa kejayaan Islam.

Inilah Uqbah bin Nafi' yang berdiri di ujung daratan Afrika di pantai Samudra Atlantik, lalu mengucapkan perkataannya yang berani lagi ksatria seraya berbicara kepada laut: "Demi Allah wahai laut, seandainya aku tahu bahwa di balikmu ada daratan, niscaya aku akan mengarungimu dengan kudaku ini untuk berperang di jalan Allah."

Dan inilah Qutaibah al-Bahili yang menyusup jauh ke belahan bumi timur hingga berdiri di perbatasan Tiongkok, dan ia bertekad untuk memasukinya sebagai penakluk di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka salah seorang sahabatnya berkata kepadanya karena merasa kasihan dan khawatir atas dirinya, serta memintanya untuk menahan diri: "Kamu telah menyusup terlalu jauh ke negeri Turki wahai Qutaibah, dan peristiwa-peristiwa di antara sayap-sayap masa bisa datang dan pergi." Maka Qutaibah menjawabnya, sementara keberanian iman berdenyut di dalam hatinya dan terucap melalui lisannya: "Dengan kepercayaanku kepada pertolongan Allah aku menyusup jauh, dan apabila ajal telah tiba, persiapan senjata tidak lagi berguna."

Mereka adalah lelaki yang menyusu pada air susu wahyu dan mengetahui bahwa mereka berjalan di atas jalan tersebut. Mereka mempelajari pelajaran, mengambil ibrah [pelajaran berharga], dan berjalan dalam rombongan para lelaki yang Allah firmankan tentang mereka:

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23)

Tidaklah Uqbah bin Amir dan para sahabatnya melainkan orang-orang yang berjalan di atas jalan ini, jalan yang telah dilalui oleh para sahabat generasi pertama. Sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata kepada Rasulullah di Perang Badar: "Demi Allah wahai Rasulullah, kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa: 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.' Akan tetapi kami mengatakan kepadamu: 'Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami bersama kalian berdua ikut berperang.' Demi Allah wahai Rasulullah, seandainya engkau membawa kami mengarungi laut ini lalu engkau menyelaminya, niscaya kami akan menyelaminya bersamamu, tidak akan ada satu pun lelaki dari kami yang tertinggal."

Oleh karena itu, satu orang dari mereka dengan akidahnya memiliki bobot yang setara dengan sepuluh orang lelaki, dan benarlah Allah:

"Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang (musuh). Jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti." (QS. Al-Anfal: 65)

Ini adalah sunatullah [hukum alam] yang tetap, tidak dikhususkan bagi suatu kaum tanpa kaum yang lain, dan tidak dibatasi oleh suatu masa tanpa masa yang lain. Melainkan ini adalah hukum umum yang berlaku sesuai sunahnya bagi para pemilik akidah di masa lalu maupun masa kini, dan benarlah Allah:

"Berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah? Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 249)

Setelah semua ini, tidakkah Anda melihat bersamaku mengapa dai berfokus pada akidah, pada menghidupkannya, dan menyalakan baranya di dalam jiwa? Agar ia menjadi bahan bakar yang menggerakkan manusia dalam menghadapi kebatilan:

"Janganlah kamu (merasa) lemah dan janganlah (pula) berduka cita, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin." (QS. Ali 'Imran: 139)

Dan agar ia menjadi kebebasan dalam menghadapi perbudakan, menjadi keamanan dalam menghadapi kezaliman, menjadi ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan dalam menghadapi keguncangan serta gangguan kejiwaan, dan agar ia menjadi titik tolak yang kokoh dalam melaksanakan manhaj yang Allah kehendaki bagi umat manusia.

PASAL II: MENGHILANGKAN SYUBHAT

Syubhat merupakan bentuk jamak dari kata syubhah. Dalam bahasa Arab dikatakan: isytabahatal-umuru wa tasya-bahat, apabila perkara-perkara tersebut saling samar (serupa), sehingga tidak dapat dibedakan dan tidak tampak jelas.

Sementara syubhat dalam masalah akidah berarti: kesesatan yang dikesankan seolah-olah sebagai sebuah kebenaran. Dinamakan syubhah karena para pengikut kebatilan membungkus kesesatan mereka dengan pakaian kebenaran, sehingga kebatilan tersebut menyerupai kebenaran dan menjadi samar bagi manusia.( Al-Mishbah al-Munir dan Lisan al-'Arab pada materi (sya-ba-ha))

Ini merupakan kebiasaan orang-orang yang memusuhi kebenaran di setiap masa dan zaman. Allah Ta'ala berfirman dalam rangka membongkar kesesatan dan menjelaskan kepalsuan mereka:

"Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?" (QS. Ali 'Imran: 71).

"Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 42)

"Segolongan Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), 'Berimanlah kamu pada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman pada awal siang dan ingkarilah pada akhirnya, agar mereka kembali (kepada kekafiran). Dan janganlah kamu percaya kecuali kepada orang yang mengikuti agamamu.'" (QS. Ali 'Imran: 72-73).

Yang dimaksud dengan syubhat di sini adalah: melontarkan berbagai kedustaan dan fitnah, serta menyebarkan hal-hal yang memicu keraguan dan kebimbangan terhadap kejujuran seorang dai maupun terhadap kebenaran yang didakwahkannya. Kebatilan tersebut dibungkus dengan pakaian kebenaran melalui berbagai metode, sehingga dapat menghalangi cahaya kebenaran yang diusung oleh dai tersebut, atau menimbulkan keraguan di sekitarnya. Akibatnya, hal ini menghalangi manusia untuk berkumpul di sekelilingnya, menunda respons masyarakat terhadap dakwahnya, atau berujung pada goyahnya keyakinan para pengikut dan orang-orang yang berafiliasi kepadanya.

PASAL PERTAMA: SEJARAH PENYEBARAN SYUBHAT

Sejak dahulu kala, seiring dengan keberadaan manusia, petunjuk dan kesesatan telah saling berdampingan. Yaitu sejak hari di mana Iblis diberi kemampuan untuk menyesatkan dan memimpin seruan perusakan. Iblis berkata:

"(Iblis) berkata, 'Karena Engkau telah menghukumku tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.'" (QS. Al-A'raf: 16-17).

Namun di sisi lain, para penyeru kebenaran serta pembawa petunjuk, cahaya, dan makrifat juga senantiasa ada. Yaitu ketika Allah Yang Mahabenar Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada pemimpin gerakan perusakan dan penyesatan tersebut:

"Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak mempunyai kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga." (QS. Al-Isra': 65).

"...Maka, apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku?..." (QS. Al-Kahf: 102).

Kebatilan itu memiliki kekuatan dan para pendukung, meskipun sebenarnya ia rapuh dan rusak. Dengan kekuatan itu, kebatilan mencoba untuk menyerang, berkuasa, dan mendominasi; terkadang ia bersembunyi, dan di waktu lain ia menyombongkan diri. Sebaliknya, kebenaran pun memiliki wibawa, tentara, dan para lelaki tangguh yang mengembannya, membelanya, serta menjaga batas-batas wilayahnya.

Telah berlaku sunatullah sejak dahulu kala bahwa kebenaran dan kebatilan akan saling bertarung. Demikianlah Allah mengomporsikan antara kebenaran dan kebatilan. Adapun buih akan hilang tanpa guna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan menetap di bumi.( QS. Ar-Rad - 17)

Meskipun pertarungan ini secara umum berlangsung sengit dan kejam, serta membutuhkan kesabaran, keteguhan, kewaspadaan, dan pengorbanan.

Namun pada akhirnya, pertarungan ini akan menghasilkan akhir yang terpuji dan hasil yang terjamin, demi kokohnya kebenaran, kejelasan, serta kekuasaannya. Mahabenar Allah dalam firman-Nya:

"Sebenarnya Kami melemparkan yang benar kepada yang batil, lalu (yang benar) itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap..." (QS. Al-Anbiya': 18).

Oleh karena itu, setiap kali kebenaran ada, pasti kebatilan akan menghadangnya, berdiri di depannya, dan melawannya. Allah Ta'ala berfirman seraya menyapa Nabi-Nya yang mulia, Muhammad :

"Apa yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu tidak lain adalah apa yang telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelummu..." (QS. Fussilat: 43).

Apa yang dikatakan kepada Rasulullah dalam menghadapi hidayah adalah kebatilan yang selalu menghadang setiap rasul, setiap muslih [reformis], dan setiap dai yang menyeru kepada kebenaran. Artinya, kebatilan, kesesatan, gangguan, dan syubhat yang dilontarkan kepadamu, adalah hal yang sama yang terus diulang-ulang sepanjang hari dan keadaan. Mahabesar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

"Demikianlah, tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyihir atau orang gila.' Apakah mereka saling berpesan tentang hal itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas." (QS. Az-Zariyat: 52-53).

Artinya, inilah kebiasaan dan tuduhan mereka terhadap para rasul dan nabi di sepanjang pertemuan dan perdebatan. Demikian pula yang dilakukan kaum Quraisy terhadap Rasulullah , di mana mereka menuduhnya gila dan tukang sihir demi membuat manusia lari darinya dan menjauh dari dakwahnya. Waraqah bin Naufal telah mengabarkan hal tersebut pada hari ketika ia bertemu dengan beliau dan mendengar cerita beliau, lalu ia berkata: "Wahai, andai saja aku masih muda kuat saat itu. Andaikan aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu." Rasulullah bertanya: "Apakah mereka akan mengusirku?" As-Suhaili berkata: "Rasulullah mengatakan demikian karena berpisah dari tanah air itu terasa sangat berat bagi jiwa."

Waraqah menjawab: "Benar. Tidak ada seorang pun yang membawa seperti apa yang kamu bawa melainkan ia pasti dimusuhi. Jika aku mendapati harimu itu, niscaya aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat (mu'azzara)," artinya menolongmu dengan pertolongan yang perkasa dan kuat selamanya.( Sirah Ibnu Katsir 1/396, cetakan 'Isa al-Halabi)

Al-Qur'an adalah saksi terbaik atas syubhat dan kesesatan yang dihadapi oleh Rasulullah—semoga selawat Allah dan salam-Nya tercurah kepada mereka semua.

Al-Qur'an sangat berkomitmen untuk menjelaskan hal tersebut kepada orang-orang beriman dan memaparkannya karena beberapa alasan, di antaranya:

1. Tamhis (Penjernihan/Ujian) dan Ikhtibar (Tes)

Karena mereka akan menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, dan mereka akan menjadi tiang-tiang fondasi tempat dibangunnya peradaban kemanusiaan yang luas. Karena mereka adalah khalifah di bumi ini yang merepresentasikan manhaj Rabbani yang tinggi dan agung. Oleh karena itu, penjelasan-penjelasan dan bayan-bayan Qur'ani datang untuk menerangi jalan dan menjelaskan rambu-rambunya, agar barisan kaum mukmin tidak disusupi oleh orang-orang yang lemah dan kerdil jiwanya serta sakit hatinya. Allah Ta'ala berfirman:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-'Ankabut: 2-3).

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan dan kesengsaraan, serta diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah: 214).

"Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sampai Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan Kami uji perihal kamu." (QS. Muhammad: 31).

"Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik..." (QS. Ali 'Imran: 179).

"...dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir." (QS. Ali 'Imran: 141).

Demikianlah, dengan segala keterusterangan dan kejelasan, barisan mukmin dituntut untuk memiliki iman yang kuat dalam menghadapi badai yang akan datang. Setiap kali keburukan (khabats) bertambah banyak, maka dibutuhkan sosok-sosok lelaki yang memiliki kekuatan besar dan tekad sekuat besi.

Setiap kali tanggung jawab semakin berat dan jarak perjalanan semakin jauh, maka manhaj dan dakwah kepada Allah membutuhkan kesucian, kejelasan, serta jarak dari keburukan dan sendi-sendi kebatilan. Sebab, kebatilan itu selalu merayap secara lembek, rapuh, menginginkan syahwatnya tanpa tedeng aling-aling, ingin mengambil tanpa memberi, dan menginginkan keselamatan tanpa membayar harga. Mahabenar Allah:

"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' tetapi apabila dia disakiti (karena membelas agama) Allah, dia menganggap ujian manusia itu sebagai azab Allah. Dan jika datang pertolongan dari Tuhanmu, niscaya mereka berkata, 'Sesungguhnya kami bersama kamu.' Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada semua manusia? Dan Allah pasti mengetahui orang-orang yang beriman dan Dia pasti mengetahui orang-orang yang munafik." (QS. Al-'Ankabut: 10-11).(1)

2. Mendidik Tekad dan Mencetak Tokoh (Tarbiyahtul 'Azaim wa Tansi'atur Rijal)

Sesungguhnya dakwah Allah tidak akan tegak melainkan dengan tekad-tekad baja ini, yang mengetahui nilai kebenaran, merasakan manisnya, serta membelanya dengan penuh kerinduan dan semangat.

Rasulullah bersabda:

Tekad-tekad yang tunduk pada perintah Allah dan mengetahui bahwa di dalamnya terdapat kebaikan, karena mereka membenarkan janji Allah dan patuh kepada-Nya.

"Maka berpegang teguhlah engkau pada (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya engkau berada di jalan yang lurus. Dan sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban." (QS. Az-Zukhruf: 43-44).(3)

Maka inilah hati-hati yang telah menundukkan syahwatnya demi apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu:

"Oleh karena itu, serulah (mereka untuk beriman) dan tetaplah (berdakwah dan beristiqamah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti keinginan mereka, dan katakanlah, 'Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah...'" (QS. Asy-Syura: 15).(4)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur. Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka." (QS. Al-Insan: 23-24).(5)

Serta jiwa-jiwa yang merasa segala sesuatu menjadi remeh demi menyebarkan dakwah kebenaran, dan mereka tidak lagi melihat kecuali pada nilai-nilai yang luhur. Mereka mengambil iman beserta konsekuensinya dan merasakan beban-bebannya, lalu melaksanakannya sebagai ibadah, keimanan, pendekatan diri (qurbah), ikhlas mencari pahala (ihtisab), kesabaran, dan jihad. Al-Qur'an telah melukiskan gambaran yang jujur tentang hal ini, Allah Yang Maha Agung berfirman:

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 177).

3. Mengambil Pelajaran dan Ibrah (Al-Istifadah minal Durus wal 'Ibar)

Di antara manfaat dari pelajaran ini adalah berusaha menyebarkan kebajikan yang merupakan fondasi perbaikan di bumi, serta komitmen untuk mengambil manfaat dan berjalan di atas jalur yang benar, karena kebatilan itu berbiaya mahal dan dibenci.

Mahabenar Allah:

"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al-Hajj: 41).

Di antara manfaat ini juga adalah mengetahui bahwa keadilan Allah tidak memihak (nepotisme) kepada siapa pun, dan bahwa barangsiapa yang melenceng dari jalan, ia akan ditindak dan tidak akan lolos dari hukuman.

"Dan kamu telah tinggal di tempat-tempat kediaman orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu perumpamaan-perumpamaan. Dan sungguh, mereka telah menjalankan tipu daya mereka, padahal tipu daya mereka itu (tercatat) di sisi Allah, meskipun tipu daya mereka itu dapat meruntuhkan gunung-gunung. Maka janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah mengingkari janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya. Sungguh, Allah Mahaperkasa, mempunyai (balasan) hukuman." (QS. Ibrahim: 45-47).

"Maka perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya." (QS. An-Naml: 51).

Seorang dai harus memahami hal ini dengan sangat baik agar ia tidak terhempas oleh syubhat dan berbagai peristiwa, serta agar ia tidak mengira bahwa ujian tersebut merupakan bentuk kemurkaan Allah atas dirinya atau bahwa hal itu hanya khusus terjadi pada dirinya sendiri. Melainkan, ini adalah sunah dalam dakwah dan jalan bagi risalah-risalah samawi.

PASAL KEDUA: TUJUAN DI BALIK SYUBHAT

Tidak diragukan lagi bahwa para pembuat syubhat dan perancang fitnah mengincar tujuan-tujuan tertentu di balik aksi mereka, guna menjatuhkan martabat dai, mengurangi pengaruhnya di hadapan manusia, dan menjauhkan masyarakat dari kecenderungan terhadap kebenaran yang ia serukan. Mahabenar Allah:

"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya." (QS. As-Saff: 8).

"...Adapun orang-orang yang dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya..." (QS. Ali 'Imran: 7).

Di antara tujuan-tujuan tersebut adalah:

1. Meragukan Sosok Dai dan Dakwahnya

Tujuannya adalah untuk mengelabui manusia dan memalingkan pandangan mereka dari keagungan dan keindahan apa yang diserukan kepada mereka. Serta dengan maksud membangun benteng desas-desus dan kebohongan yang menghalangi pandangan serta mendung mendung tebal penuh petir, sehingga jalan orang-orang mukmin tidak terlihat jelas atau sirath orang-orang bertakwa menjadi kabur.

2. Menghalangi Manusia dari Memahami Kebenaran, Meyakinnya, dan Berkumpul di Sekitarnya

Sebab bagi mereka, kebenaran yang bermanfaat dan jernih itu ada pada diri mereka sendiri, sedangkan pada diri selain mereka adalah kepalsuan dan kedustaan, yang membawa fitnah serta keluar dari hal-hal yang lumrah dan adat kebiasaan manusia, memicu kekacauan, dan menakut-nakuti orang-orang yang aman. Inilah yang mendorong Abu Jahal—Firaun umat ini—untuk melakukan penipuan di depan manusia dengan ucapannya sebelum Perang Badar: "Ya Allah, orang yang paling memutuskan silaturahmi di antara kita dan membawa sesuatu yang tidak kami kenal, maka binasakanlah ia pagi ini." Ia bermaksud menyifati dakwah kebenaran sebagai gerakan yang mencerai-beraikan rahim, memutuskan ikatan, dan sebagai keanehan di antara keanehan yang harus dihadapi dengan sabar dan diperangi. Namun, roda nasib berbalik menghantamnya dan turunlah firman Allah Yang Mahabenar Tabaraka wa Ta'ala:

"Jika kamu (orang-orang musyrik) memohon keputusan, maka keputusan telah datang kepadamu; dan jika kamu berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali (memusuhi), niscaya Kami kembali (mendatangkan azab); dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya pun darimu, biarpun jumlahnya banyak. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anfal: 19).

Di antara contoh lainnya adalah apa yang dilakukan oleh kaum Quraisy dan kaum musyrik Jahiliyah ketika mendatangkan dongeng-dongeng dan kisah-kisah dari Persia dan selainnya untuk mengaburkan Al-Qur'an serta kisah-kisah para nabi dan rasul yang ada di dalam Kitab yang Mulia, serta memalingkan manusia dari kebenaran dan dari mengikuti jalan orang-orang mukmin. An-Nadr bin al-Harits sengaja membeli kitab-kitab yang berisi dongeng-dongeng Persia serta kisah-kisah para pahlawan dan peperangan mereka, kemudian ia duduk di jalur orang-orang yang hendak pergi mendengarkan Al-Qur'an dari Rasulullah , mencoba menarik mereka untuk mendengarkan dongeng-dongeng tersebut agar mereka merasa tidak butuh lagi pada kisah-kisah Al-Qur'an serta hidayah dan petunjuk yang dikandungnya. Tujuannya adalah untuk menyesatkan manusia dengan perkataan yang tidak berguna ini serta menyebarkan syubhat di sekitar kebenaran dan apa yang dibawa oleh Al-Qur'an.

Al-Qur'an telah menceritakan hal tersebut dalam firman-Nya:

"Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olok. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya; maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih." (QS. Luqman: 6-7).

3. Mempertahankan Kebatilan dan Para Pengikutnya

Tidak diragukan lagi bahwa para pemimpin kesesatan dan tokoh Jahiliyah di setiap waktu dan tempat memegang urusan-urusan yang sebenarnya mereka tidak kompeten di dalamnya, tidak mampu mengaturnya dengan baik, atau tidak kuat mengembannya. Mereka mengelilingi diri mereka dengan kesombongan, keangkuhan, ilusi siang hari, lingkaran penipuan, iring-iringan budak, dan majelis kemunafikan. Maka, apabila kebenaran mendatangi mereka dan wibawanya menyerang mereka secara mendadak, mereka terkejut dan bangkit membela kejayaan palsu mereka, logika mereka yang rapuh, dan kedudukan mereka yang runtuh.

Kita melihat hal ini dalam sebuah dialog di antara para pemimpin kaum musyrik yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Ia menceritakan bahwa Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Ahnas bin Syariq keluar pada suatu malam untuk mendengarkan Al-Qur'an dari Rasulullah di tengah malam saat beliau sedang salat di rumahnya. Masing-masing mengambil tempat duduk tersembunyi untuk mendengarkan, dan tidak ada yang mengetahui keberadaan temannya. Mereka begadang mendengarkan beliau hingga subuh menyingsing, lalu mereka berpencar. Di tengah jalan mereka saling bertemu, lalu saling menyalahkan. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: "Jangan kembali lagi, sebab jika sebagian orang bodoh di antara kalian melihat kalian, niscaya kalian akan menimbulkan keraguan di dalam hatinya." Kemudian mereka pulang.

Hingga ketika malam kedua tiba, masing-masing kembali ke tempat duduknya semula. Mereka begadang mendengarkan beliau hingga subuh menyingsing, lalu berpencar dan bertemu di jalan. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain seperti apa yang mereka katakan pada kali pertama, lalu mereka pulang.

Ketika malam ketiga tiba, masing-masing kembali mengambil tempat duduknya dan begadang mendengarkan beliau hingga subuh menyingsing, lalu berpencar dan bertemu di jalan. Mereka berkata: "Jangan beranjak sampai kita saling berjanji untuk tidak kembali lagi!" Maka mereka saling berjanji atas hal itu, lalu berpencar.

Ketika pagi hari arrived, Al-Ahnas bin Syariq mengambil tongkatnya lalu keluar hingga mendatangi rumah Abu Sufyan. Ia berkata: "Kabarkan kepadaku, wahai Abu Hanzhalah, bagaimana pendapatmu tentang apa yang kamu dengar dari Muhammad?" Abu Sufyan menjawab: "Wahai Abu Tsa'labah, demi Allah, aku mendengar hal-hal yang aku ketahui maknanya dan tahu apa yang dimaksudkan dengannya, namun aku juga mendengar hal-hal yang tidak aku ketahui maknanya dan tidak tahu apa yang dimaksudkan dengannya." Al-Ahnas berkata: "Aku pun demikian, demi Dzat yang kamu gunakan bersumpah."

Kemudian ia keluar dari rumah Abu Sufyan hingga mendatangi rumah Abu Jahal, lalu masuk menemuinya dan bertanya: "Wahai Abul Hakam, bagaimana pendapatmu tentang apa yang kamu dengar dari Muhammad?" Abu Jahal menjawab: "Apa yang aku dengar? Kami dan Bani Abdi Manaf saling berebut kemuliaan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka menanggung beban, kami pun menanggung beban. Mereka memberi pemberian, kami pun memberi pemberian. Hingga ketika kami telah berlutut berhadapan dan kami seperti dua kuda pacuan yang setara, mereka berkata: 'Di antara kami ada seorang nabi yang menerima wahyu dari langit!' Kapan kita bisa menyusul kemuliaan seperti ini? Demi Allah, kami tidak akan mendengarkannya selamanya dan tidak akan membenarkannya!"

Kemudian Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah, ia berkata: "Hari pertama aku mengenali Rasulullah adalah saat aku sedang berjalan bersama Abu Jahal bin Hisyam di salah satu jalan di Mekah. Tiba-tiba kami bertemu Rasulullah , lalu beliau berkata kepada Abu Jahal: 'Wahai Abul Hakam, kemarilah menuju Allah dan Rasul-Nya, aku menyerumu kepada Allah.' Abu Jahal menjawab: 'Wahai Muhammad, apakah kamu tidak mau berhenti mencaci maki tuhan-tuhan kami? Apakah kamu hanya ingin agar kami bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan? Kami bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan. Demi Allah, sekiranya aku tahu bahwa apa yang kamu katakan itu benar, niscaya aku telah mengikutimu.'"

Maka Rasulullah pun berlalu, lalu Abu Jahal menghadap kepadaku dan berkata: "Demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa apa yang ia katakan itu benar, akan tetapi ada sesuatu yang menghalangiku. Bani Qushay berkata: 'Kalian memegang urusan tirai Ka'bah (Hijabah)', kami jawab: 'Ya.' Kemudian mereka berkata: 'Kalian memegang urusan penyediaan air (Siqayah)', kami jawab: 'Ya.' Kemudian mereka berkata: 'Kalian memegang urusan parlemen (Nadwah)', kami jawab: 'Ya.' Kemudian mereka berkata: 'Kalian memegang urusan panji perang (Liwa')', kami jawab: 'Ya.' Kemudian mereka memberi makan dan kami pun memberi makan, hingga ketika lutut saling bergesekan, mereka berkata: 'Dari kami lahir seorang nabi.' Demi Allah, aku tidak akan melakukannya (beriman)."

Meskipun Abu Jahal dan sekutu-sekutunya mengatakan demikian, rombongan orang-orang yang tertipu tetap berjalan di belakang mereka, membela kemungkaran, mempromosikannya, melayani kebatilan dan pengikutnya, serta membodoh-bodohkan kebenaran dan para dainya, padahal mereka berada dalam kesombongan, penipuan, dan ilusi.

4. Melayani Tujuan dan Pemikiran Tertentu

Ada berbagai faktor, sebab, dan dorongan di balik penggalangan syubhat ini, di antaranya: mengubur pemikiran Islam dan warisan (turats) Islam serta memangsa para pengikutnya. Saya tidak memiliki kesempatan dalam ruang ini selain merujuk pada analisis mendalam mengenai fenomena ini yang dipaparkan oleh seorang tokoh dai Islam besar, Al-Ustadz Abu al-Hasan an-Nadwi, di mana ia mengatakan:

"Sesungguhnya ada pertarungan pemikiran, bahkan pertempuran pemikiran dalam ungkapan yang lebih tepat, di seluruh negeri Islam, antara pemikiran dan nilai-nilai Barat. Inilah pertempuran penentu yang sengit dan nyata yang sedang diarungi oleh dunia Islam saat ini, dan pertempuran inilah yang akan menentukan masa depannya. Ini adalah pertempuran yang membuat seluruh pertempuran lainnya tampak kecil, yang digambarkan secara berlebihan atau didramatisasi oleh para penulis dan pengarang. Setiap pertempuran selain pertempuran besar yang kami isyaratkan ini—hanyalah pertempuran lokal, pertempuran cabang, atau pertempuran semu. Sejarah kuno negeri-negeri ini, kecintaan bangsa-bangsa Muslim terhadap Islam, hubungan mereka yang kuat lagi mendalam dengannya, serta nama yang diperjuangkan oleh para pejuang sehingga kebebasan dan penjagaannya berhasil diraih dahulu; seluruh fakta ini membuktikan bahwa bumi tempat meletusnya pertempuran ini tidak memiliki tempat kecuali bagi pemikiran-pemikiran Islam dan nilai-nilai Islam, dan tidak ada yang agung di dalamnya kecuali manhaj dan sistem yang diserukan oleh Islam.

Akan tetapi, ada akal-akal di negeri-negeri ini yang kebudayaannya, pendidikannya, serta kepentingan pribadi dan politiknya menuntut agar nilai-nilai Barat dan pemikirannya tumbuh subur di sana, dan agar negeri-negeri ini mengikuti negara-negara Barat jengkal demi jengkal, hasta demi hasta. Mereka mengubah konsep-konsep keagamaan mereka, tradisi nasional mereka, dan hukum-hukum Islam mereka dengan kondisi-kondisi Barat, atau mengembangkannya jika hal tersebut bertentangan dengan tujuan ini dan menghalangi pencapaian target tersebut. Dalam ungkapan yang ringkas, mereka melebur negeri-negeri ini secara perlahan dan tenang, namun dengan kesadaran dan desakan, ke dalam cawan lebur peradaban Barat.

Di antara negeri-negeri ini, ada yang telah menempuh jarak yang sangat jauh dalam perjalanan ini dan telah sampai pada tujuan yang diincarnya atau hampir sampai. Dan di antaranya ada yang berdiri bimbang di persimpangan jalan, akan tetapi tampaknya waktunya sudah dekat."( Al-Shira' baina al-Fikrah al-Islamiyyah wa al-Fikrah al-Gharbiyyah, hlm. 605)

Saya katakan: Benar, di sana ada mazhab-mazhab, pemikiran-pemikiran, dan sekte-sekte yang ingin menyerbu kaum Muslimin di negeri dan tanah air mereka, merampas akal mereka, dan merusak jiwa mereka. Hal itu tidak akan terjadi melainkan dengan menaburkan keraguan, menyebarkan syubhat, serta melemahkan Islam, manhaj-Nya, dan ajaran-Nya di dalam jiwa kaum Muslimin. Delegasi-delegasi Barat dan pemikiran-pemikiran yang mencurigakan ini tidak dilayani atau dibawa oleh pasukan bersenjata, tank, pesawat terbang, atau meriam, melainkan dibawa oleh racun, arahan, dan fitnah yang mendesak secara terus-menerus terhadap akal, pemikiran, dan keyakinan kaum Muslimin.

Oleh karena itu, wajib bagi seorang dai untuk menjelaskan syubhat-syubhat ini dan membongkar racun-racun tersebut dengan hujah dan logika, serta menampakkan keindahan Islam, keagungannya, dan hegemoninya atas nama-nama yang rapuh lagi terbongkar ini, yang bertujuan merampas kepribadian umat ini, warisannya, dan manhajnya. Mahabenar Allah:

"...Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad dan keluar dari agamamu, jika mereka sanggup..." (QS. Al-Baqarah: 217).(1)

"Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki yang ada dalam diri mereka, setelah kebenaran nyata bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah: 109).(2)

5. Membuka Jalan bagi Invasi Budaya (Al-Ghazwul Fikri)

Invasi budaya hari ini adalah kolonialisme gaya baru di era modern, di mana bangsa-bangsa tidak merasakan tekanan pasukan tentara atau ketakutan terhadap senjata. Melainkan, ia adalah penjajahan pemikiran dan sugesti psikologis yang ditanamkan ke dalam jiwa mangsa, sehingga menuntunnya menuju kematiannya dalam keadaan terbius dan mabuk. Kita dapat mendefinisikannya sebagai:

Invasi terhadap suatu bangsa oleh musuh-musuhnya dengan berbagai jenis kebudayaan asing serta pemikiran impor yang menyimpang, guna menyesatkannya dari kebudayaan aslinya, merampas kepribadiannya, menyeretnya agar mengekor kepada para musuh tersebut, serta mengeksploitasi dan menjajahnya dengan cara yang paling mudah namun memiliki dampak yang paling dalam.

Kekuatan umat Islam terletak pada akidahnya, kohesivitasnya ada pada kebudayaannya, dan wibawanya ada pada komitmennya dalam berpegang teguh pada Kitab dan manhajnya. Jika umat Islam meninggalkan akidahnya dan menanggalkan asupan ruhaninya serta kedalaman imannya, maka ia akan menjadi seperti sehelai bulu yang tergantung ditiup angin ke mana saja. Hal ini telah diketahui oleh orang yang jauh maupun yang dekat. Oleh karena itu, umat ini senantiasa saling berwasiat di antara sesama mereka untuk tsabat (teguh) dan bangga dengan Kitab mereka, akidah mereka, dan iman mereka.

'Amir bin Mathar berkata: "Hudzaifah berkata kepadaku di dalam sebuah pembicaraan: 'Bagaimana engkau, wahai 'Amir bin Mathar, jika manusia menempuh suatu jalan, sedangkan Al-Qur'an menempuh jalan yang lain, bersama siapakah engkau?' 'Amir menjawab: 'Aku katakan kepadanya: Bersama Al-Qur'an aku hidup dan bersama Al-Qur'an aku mati.' Hudzaifah berkata kepadanya: 'Kalau begitu, engkau adalah engkau (sejati).'" Ibnu Hazm yang meriwayatkan kisah ini dalam kitab Al-Muhalla seraya memberikan komentar atas ucapan ini berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh 'Amir: Demi Allah, aku akan bersama Al-Qur'an, aku hidup dengan berpegang teguh kepadanya, dan aku mati—insya Allah—dengan berpegang teguh kepadanya, dan aku tidak peduli dengan orang yang menempuh jalan selain Al-Qur'an, meskipun mereka adalah seluruh penduduk bumi selain diriku."( Mu'jam Ibnu Hazm al-Zahiri - 1/35, cetakan Damaskus)

Para pakar sejarah dan pemimpin bangsa telah mengetahui hal ini. Gustave Le Bon mengatakan bahwa sebab kemunduran Timur adalah karena ia meninggalkan spirit Islam dan keterikatannya pada pemikiran-pemikiran yang batil.

Dahulu bangsa Arab adalah manusia yang paling hina, lalu mereka menjadi pemimpin dunia. Dahulu mereka adalah manusia yang paling rendah, lalu mereka menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Dahulu mereka adalah manusia yang paling lemah dan paling remeh, lalu mereka membangun imperium yang sejarah tidak pernah melahirkan tandingan atau yang serupa dengannya.

Thomas Carlyle mengatakan: "Pasukan para penggembala domba kemarin keluar menyerbu bumi ke timur dan ke barat, melakukan penaklukan atas nama agama baru. Dalam kurun waktu satu abad saja, mereka berhasil menumbangkan kekuatan-kekuatan besar dan menguasai bumi di bawah kaki mereka. Sesungguhnya ini adalah mukjizat, dan sekiranya ini bukan sebuah fakta sejarah, niscaya aku akan mengatakan bahwa ini adalah dongeng atau khayalan.

Sesungguhnya teriakan Muhammad itu ibarat percikan api menyala yang jatuh bukan di atas gundukan pasir gurun yang malas, melainkan di atas gunung-gunung mesiu yang meledak sekaligus, sehingga cahayanya meliputi ufuk dari dataran tinggi India hingga lembah-lembah Andalusia."( Al-Hadharah al-Gharbiyyah Muqaranatan bil Hadharah al-Islamiyyah oleh penulis, hlm. 670)

Oleh karena itu, para musuh Islam memfokuskan serangan dan penyesatan mereka pada manhaj Islam serta pada para pengembannya dan para dai yang menyeru kepadanya. Mereka mengadakan muktamar-muktamar dan seminar-seminar, begadang di malam-malam yang panjang untuk meneliti, merancang, menyusun, dan berpikir, guna memotong urat-urat nadi akidah di dalam hati Muslim, menghentikan denyut iman dari jasad mukmin, dan menggantinya dengan pipa-pipa buatan mereka serta alat-alat ciptaan mereka, agar jasad tersebut tidak mampu menggerakkan kaki atau mengangkat tubuh.

Di antara senjata terbesar mereka adalah melontarkan syubhat di sekitar dakwah dan para dai, serta di sekitar pemikiran dan para pelaksananya, kemudian mendiktekan syubhat-syubhat tersebut kepada para musuh dakwah dan dai di dalam maupun di luar negeri, sehingga terbentuk gumpalan awan gelap dan menyebar asap hitam yang menyesatkan manusia dari kebenaran, serta memicu kegaduhan dan meluncurkan kebisingan kuat yang menulikan telinga dari mendengar petunjuk.

Secara alami, jika manusia berpaling dari iman, petunjuk, dan kebenaran, maka tidak ada yang tersisa kecuali kesesatan, mengikuti kesesatan, dan jatuh ke dalam jerat-jerat setan. Mahabenar Allah:

"...Maka tidak ada setelah kebenaran itu, kecuali kesesatan..." (QS. Yunus: 32).

Apabila para dai kebenaran dicemari nama baiknya, para pengembannya ditekan, rintangan-rintangan diletakkan di jalan mereka, dan kecurigaan mengitari mereka, maka tidak ada lagi yang tersisa kecuali para pemuja syahwat, yang jiwanya, pemikirannya, akhlaknya, dan rekam jejaknya telah hancur. Angin kebatilan membolak-balikkan mereka ke mana saja ia bertiup, dan jerat-jerat setan memburu mereka lalu melemparkannya ke tempat yang runtuh. Penurunan martabat terasa ringan bagi mereka, kejatuhan menjadi hal yang mereka sukai, dan mereka lari dari kebajikan akibat istilah-istilah berkilau yang disematkan pada kebatilan, serta slogan-slogan memikat yang ditempelkan pada kemungkaran. Kemudian mereka lari dari istiqamah, mengejek para pengembannya, mengolok-olok dainya, menyifati mereka dengan sifat-sifat yang dibenci, serta melabeli mereka dengan julukan-julukan yang merendahkan dan hina. Inilah kondisi kebatilan di setiap waktu dan tempat. Mahabenar Allah:

"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan mata. Dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin) itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat.'" (QS. Al-Muthaffifin: 29-32).

Sebagai contoh, di antara istilah-istilah yang digunakan di era modern untuk menghiasi kebatilan dan mempercantik kejatuhan moral, yang disebarkan oleh para penyusup dan musuh umat:

  • Menyebut wanita-wanita yang "berpakaian tetapi telanjang" sebagai wanita yang modern/maju, alih-alih menyebut mereka sebagai wanita yang keluar dari ajaran Islam.
  • Menyebut wanita yang duduk berbaur dengan kaum lelaki, merangkul, dan berdansa dengan mereka sebagai wanita yang memiliki kepribadian kuat dan percaya diri, alih-alih menyisipkan sebutan bahwa dia telah mengalami degradasi moral.
  • Menyebut sebagian wanita yang melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang keluar dari ajaran Islam sebagai bintang, bintang kejora, pujaan kedewaan massa (Lafaz ini kami sesali penyebutannya, karena tidak boleh menyematkan lafaz "ma'bud" (yang disembah/pujaan kedewaan) kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, akan tetapi kami ingin menjelaskan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan manusia), tokoh masyarakat, atau pelopor kebebasan, alih-alih menyematkan istilah-istilah yang dicintai ini kepada kelompok wanita yang melakukan pekerjaan-pekerjaan agung, berkontribusi secara aktif dalam menciptakan iklim kesucian ('iffah), kehormatan, penelitian ilmiah, serta kemajuan pemikiran, materi, dan peradaban dalam bingkai akidah yang luhur, risalah yang abadi, manhaj yang unik, dan tujuan yang dinanti, demi mengembalikan umat ke kedudukan yang layak baginya, menolak kezaliman, penindasan, serta kehinaan darinya, mengalungkan mahkota kemuliaan, kemenangan, keberuntungan, dan kehormatan bagi umat, serta mengeluarkan dunia dari kegelapan menuju cahaya.

Dan segala puji bagi Allah, di antara wanita kaum kita terdapat banyak sosok yang menyadari hakikat ini, bekerja untuknya, dan tidak tertipu oleh kilatan-kilatan dusta ini.

Demikian pula istilah-istilah semacam ini disematkan kepada kaum lelaki. Sebagai contoh:

  • Lelaki yang bermudah-mudah dalam urusan kehormatan keluarganya disebut sebagai orang yang berpikiran terbuka (liberal), alih-alih disebut sebagai dayuts (Dayuts adalah lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap keluarganya).
  • Lelaki yang berperilaku kemayu (mukhannats) dan menyerupai wanita disebut sebagai orang yang berperasaan halus dan beradab, alih-alih disebut dengan istilah takhannuts atau jenis kelamin ketiga.
  • Orang yang menerima kehinaan, tidak bangkit membela kehormatannya, atau tidak mencoba menolak kezaliman dan agresi disebut sebagai orang yang realistis, alih-alih disebut sebagai penakut atau pembelot, serta julukan-julukan lain yang digunakan untuk menipu orang-orang awam.

Sementara itu, bagi siapa saja yang kokoh berdiri di hadapan kebatilan, melawannya atau mengalahkannya, dan ingin menjaga sisa-sisa kebaikan yang ada pada dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya; bagi siapa saja yang melihat penyakit umatnya lalu merasa perih dan terjaga di malam hari akibat kemunduran dan keterpurukannya, kemudian berusaha keras menghentikan penyakit tersebut dan mengobatinya; bagi siapa saja yang mencoba mencegah perampokan akidah umat, warisannya, kejantanannya, dan kemuliaannya, lalu menghadang gelombang taklid buta, badai ateisme yang membabi buta, dan epidemi penularan moral yang membinasakan; maka dipasangkanlah padanya julukan-julukan yang membuat orang lari dan sifat-sifat yang memprovokasi. Ia dicap sebagai orang yang terbelakang, disifati sebagai kolot/terbelakang (retrograde), dituduh kaku (jumud) serta tidak realistis, dan ditiupkan di sekitarnya berbagai syubhat yang banyak.

Masyarakat kontemporer telah menyaksikan banyak orang yang ingin menyebarkan kekacauan di dalam umat untuk menghancurkannya dari dalam. Kita melihat para pengikut invasi budaya, bahkan dari kalangan misionaris Kristen yang mengklaim cemburu (peduli) kepada kaum wanita, menyebarkan racun mereka di tengah-tengah kaum Muslimin. Kita melihat contohnya pada seorang penulis Kristen, Salama Moussa, yang menyerang Islam dengan sindiran dan celaan, serta memprovokasi wanita-wanita mukmin dengan mengatakan kepada kaum wanita di Mesir: "Campakkan tradisi kuno kalian yang usang, keluarlah dan berbaurlah dengan kaum lelaki dengan berani, serbulah pabrik-pabrik dan toko-toko untuk bekerja, bukan demi memenuhi kebutuhan darurat, melainkan sebagai bentuk penantangan terhadap tradisi yang mengurung kalian untuk urusan keibuan dan merawat reproduksi manusia!" Kemudian ia berkata kepada wanita: "Tataplah mata kaum lelaki dengan dua mata yang mantap, angkatlah kepalamu dengan nada menantang, dan jangan menundukkan pandangan. Demikianlah kemajuan itu dicapai!" Bukan dengan ilmu, bukan dengan amal nyata yang dibutuhkan oleh umat, melainkan demi syahwat vulgar dan keluar dari ajaran kesucian serta kehormatan, dan karena menyukai kekonyolan serta keberanian dalam tatapan mata dan lirikan. Mengapa ia tidak mengatakan demikian, sementara ia dan orang-orang yang sepertinya adalah pihak yang mengadakan perlombaan antara wanita dan lelaki untuk memilih "pemilik mata yang berani" dan "si mata berani", yaitu wanita yang tidak memiliki rasa malu, tidak beradab, lalu keluarlah lagu-lagu yang memuja "si mata berani" untuk dinyanyikan oleh para wanita dan gadis di dalam umat... Apakah ini yang dinamakan kemajuan? Apakah hal ini membawa kebaikan bagi rumah, keluarga, atau masyarakat?

Dapat dibaca dalam sejarah kaum Muslimin bahwa Sayyidah 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha telah meriwayatkan hadis-hadis serta perbuatan-perbuatan Rasulullah yang menjadi tiang pancang kokoh dalam ajaran Islam. Beliau berpartisipasi dalam banyak urusan dengan memberikan pandangan dan musyawarah, mengarungi peperangan, dan keluar bersama pasukan untuk mengobati orang-orang yang terluka serta menyuplai pasukan dengan makanan dan logistik yang dibutuhkan. Dan beliau tidak pernah berbicara dengan kaum lelaki kecuali dari balik tabir (hijab).

Sifat malu (al-haya') termasuk di antara kemuliaan akhlak, bagian dari ajaran Islam, dan termasuk keaslian tabiat manusia yang dapat mencegah dari berbagai kerendahan moral. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah melewati seorang lelaki dari kalangan Ansar yang sedang menasihati saudaranya dalam hal rasa malu, maka Rasulullah bersabda: "Biarkan dia, karena sesungguhnya rasa malu itu bagian dari iman." Dan dalam riwayat milik Abu al-Sawar al-'Adawi, Rasulullah bersabda: "Rasa malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan." Maka Basyir bin Ka'b berkata: "Sesungguhnya tertulis di dalam hikmah bahwa di antara rasa malu itu melahirkan wibawa (waqar) dan di antaranya melahirkan ketenangan (sakinah)."

Dan di antara apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Rasulullah itu lebih pemalu daripada seorang gadis perawan di dalam pingitannya. Apabila beliau melihat sesuatu yang beliau benci, kami dapat mengetahuinya dari wajah beliau."

Apakah sifat sangat pemalu yang dimiliki Sayyidah 'Aisyah menghalanginya untuk percaya diri? Apakah sifat sangat pemalu yang dimiliki Rasulullah menghalangi beliau untuk memenuhi dunia dengan cahaya dan keutamaan? Sampai kapan kapak-kapak ini terus menghancurkan eksistensi kaum Muslimin dan ibu mereka? Dan mahabenar Rasulullah saat bersabda:

PASAL KETIGA: SUMBER-SUMBER SYUBHAT

Seluruh pihak yang memiliki kepentingan untuk menekan kebenaran dan menyingkirkannya dari jalur kehidupan di berbagai masyarakat akan bersatu padu menyerang dakwah dan sosok dai. Mereka semua dipersatukan oleh satu tujuan dan satu target yang mereka usahakan melalu berbagai metode dan jalan. Di antara tujuan dan metode tersebut adalah meragukan dakwah Islam dan manhajnya, mendistorsi rekam jejak orang-orang yang menyerukannya, menaburkan benih keraguan di sekitar mereka, meluncurkan desas-desus, mempromosikan kebatilan, menanam syubhat, mempersempit ruang gerak mereka, serta memerangi mereka dalam pemikiran dan mata pencaharian mereka. Mahabenar Allah:

"Mereka itulah orang-orang yang berkata (kepada orang-orang Ansar), 'Janganlah kamu memberikan infak kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah sampai mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)...'" (QS. Al-Munafiqun: 7).

Anda dapat mengatakan bahwa sumber-sumber syubhat yang menjadi tempat meluncurnya anak panah beracun ke arah dakwah Islam dan para pengembannya sangatlah banyak di era sekarang, beraneka ragam, bervariasi, berkemampuan besar, dan efektif. Kami akan mengisyaratkan tiga sumber di antaranya:

1. Musuh yang Memiliki Kepentingan ('Aduwwun wa Shahibu Mashlahah)

Para musuh Islam bergerak dalam kegilaan yang membara, meluncurkan tuduhan-tuduhan kepada Islam, menempelkan kekurangan padanya, membuat-buat kedustaan atasnya, serta melepaskan desas-desus dan syubhat di sekitarnya dengan permusuhan yang aneh lagi unik dalam sejarah kemanusiaan. Hal itu karena Islam telah membongkar kepalsuan agama, psikologis, dan peradaban mereka, membodoh-bodohkan praktik perbudakan mereka terhadap manusia, tindakan mereka memakan harta manusia dengan cara batil, serta penghalalan mereka terhadap kehormatan dan pelanggaran mereka terhadap batasan-batasan suci.

Juga karena Islam membangun manusia yang lurus, yang tidak menzalimi, tidak diperbudak, dan tidak dihinakan. Dan karena Islam adalah satu-satunya agama praktis yang membangun sebuah negara yang melindungi kebenaran, menuntun tangan orang yang lemah, dan menumbangkan kezaliman di mana pun dan kapan pun adanya. Islam berdiri laksana gunung yang kokoh dan puncak yang tinggi di hadapan orang-orang yang melampaui batas, mendendam, dan berkuasa, sehingga patahlah anak-anak panah para penakut yang eksploitatif, para spekulan, dan kolonialis di atas ujung tombak Islam. Islam laksana penjaga waspada yang menakut-nakuti para pencuri dan perusak, serta menembakkan peluru kepada para pembunuh berdarah dingin. Maka, para pencuri memusuhinya dengan kejam, para pembunuh dengan keji, dan para penguasa zalim dengan kekuatan penuh. Akan tetapi, Islam selalu laksana siang hari dan takdir, tidak ada malam yang sanggup bertahan di depannya, dan tidak berguna di hadapannya segala bentuk persiapan atau jumlah pasukan, karena ia adalah kehendak Allah.

Meskipun sebagian manusia hari ini merasakan kejamnya permusuhan terhadap Islam dan melihat keganasannya—dan ini adalah sebuah fakta—maka sudah sepatutnya bagi mereka juga untuk memperhatikan besarnya rasa panik dan ketakutan yang tergambar di bibir para musuhnya, tampak di lembaran-lembaran surat kabar mereka, dan pada gemetarnya pena-pena mereka, agar mereka percaya pada diri mereka sendiri dan melanjutkan perjuangan hingga Allah menyempurnakan cahaya-Nya dan kalimat-Nya meninggi. Meskipun saya merasakan bahwa jalannya masih panjang dan jaraknya masih jauh, sebanding dengan kejamnya permusuhan dan besarnya kedengkian yang memenuhi dada para musuh. Lawrence Brown mengatakan: "Sesungguhnya bahaya yang nyata itu laten di dalam sistem Islam, dalam kemampuannya untuk melakukan ekspansi dan penundukan, serta dalam vitalitasnya. Ia adalah satu-satunya dinding di hadapan kolonialisme Barat."( Al-Hadharah al-Islamiyyah Muqaranatan bil Hadharah al-Gharbiyyah oleh penulis) Ya, dahulu Islam adalah satu-satunya dinding di dada pasukan Salib yang penuh dendam lagi kejam, menjadi satu-satunya dinding dalam membendung pasukan Tatar serta kebiadaban dan barbarisme yang merusak. Islam menjadi satu-satunya dinding di hadapan serangan kolonial modern, dan sekelompok kecil orang yang bangga dengan agamanya di berbagai penjuru tanah air Islam mampu melelahkan banyak pasukan kolonial dan mengusir mereka mundur di kegelapan malam setelah mereka mengira telah nyaman tinggal dan memetik buahnya. Para pemimpin mereka yang mabuk oleh kemenangan sementara berkata mengekspresikan dendam yang mereka warisi turun-temurun:

Patterson Smyth mengatakan dalam kitabnya The People's Life of Christ: "Perang Salib berakhir dengan kegagalan, akan tetapi sebuah peristiwa besar terjadi setelah itu, ketika Inggris mengirimkan ekspedisi Salib kedelapan dan berhasil menang kali ini. Sesungguhnya serangan Allenby ke Yerusalem pada masa Perang Dunia Pertama adalah perang Salib kedelapan dan yang terakhir." Surat kabar Inggris menerbitkan foto Jenderal Allenby yang memasuki Yerusalem pada tahun 1918 M, dan menuliskan di bawahnya ucapannya yang terkenal yang ia katakan saat penaklukan Yerusalem: "Hari ini, Perang Salib telah berakhir."

Dengan cara yang sama dan dendam yang sama yang keluar dari Jenderal Inggris, demikian pula perilaku Jenderal Prancis, Gouraud, panglima tentara Prancis saat memasuki Damaskus. Ia segera menuju ke makam Salahuddin al-Ayyubi Rahimahullah di dekat Masjid Umayyah, lalu menendangnya dengan kakinya dan berkata kepadanya: "Saksikan, kami telah kembali, wahai Salahuddin!" Pada hari kedua, ia melakukan hal yang sama di Homs, di mana ia pergi ke makam Khalid bin al-Walid Radhiyallahu 'Anhu dan berkata: "Kami di sini, wahai Khalid."(1) Sesungguhnya akar dendam ini sudah kuno, menghunjam dalam di lubuk sejarah, menampakkan dirinya saat melemahnya kaum Muslimin dan keterpurukan mereka, seolah-olah meskipun berbeda negeri dan kaum, ia keluar dari satu dada dan satu lisan yang sama. Ini di bidang militer. Ketika mereka menemukan bahwa metode militer tidak lagi sesuai dengan zaman dan tidak dapat bertahan di hadapan gairah Islam, mereka beralih untuk menghancurkan Islam, para dai, dan para pemeluknya dari dalam. Untuk itu diletakkanlah kurikulum-kurikulum, rencana-rencana, serta dilatihlah kader-kader dan personel untuk melaksanakan tugas ini, guna menjauhkan Muslim dari sumber kekuatannya, yaitu Islam.

Masmir yang alim mengatakan: "Sesungguhnya orang Barat tidak akan menjadi ilmuwan kecuali jika ia meninggalkan agamanya, berbeda dengan Muslim, sesungguhnya ia tidak akan meninggalkan agamanya kecuali jika ia menjadi orang bodoh."(Syubuhat al-Taghrib, hlm. 20)

Maka para musuh Islam beralih untuk menanam syubhat, menghidupkan fanatisme golongan (ashabiyah), memperbagus kesesatan, mencoba menghidupkan kembali tradisi Jahiliyah dan adat kuno atas nama folklor dan orisinalitas, menghidupkan gerakan Syu'ubiyah, membangkitkan kezindikan atas nama filsafat, menakut-nakuti masyarakat dengan momok masa lalu dalam hal akhlak dan adat yang mulia, serta menyebarkan paham permisif atas nama kebebasan melalui sarana cerita (fiksi). Mereka membisu dari menyebut kejayaan kaum Muslimin dan tokoh-tokoh Islam, tidak mendidik anak-anak atau tidak memberikan asupan yang diperlukan untuk mendidik mereka di atas pilar-pilar Islam dan manhaj Rabbani, serta meninggikan contoh-contoh anomali dari orang-orang yang menyimpang dalam sejarah pemikiran Islam seperti Abu Nuwas, Basysyar, Ibnu al-Rawandi, Abul Faraj al-Ashfahani, Ibnu al-Muqaffa', dan orang-orang yang sejenis mereka.

Para misionaris dan orientalis telah menyatakan lebih dari sekali bahwa target tertinggi mereka dari melontarkan syubhat adalah melahirkan generasi baru dari kalangan Arab Muslim yang memandang rendah seluruh pilar kehidupan Islam, mengolok-olok pemikiran Islam dan dainya, serta saling memerangi dan bertikai di antara sesama mereka sendiri.

Raja Louis IX dari Prancis yang pernah ditawan di Dar Ibnu Luqman di Mansoura, menyatakan dalam sebuah dokumen yang tersimpan di Arsip Nasional di Paris: bahwa tidak mungkin meraih kemenangan atas kaum Muslimin melalui jalur peperangan, melainkan kemenangan atas mereka dapat diraih melalui jalur politik dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

  • Menyebarkan perpecahan di antara para pemimpin Muslim, dan jika hal itu terjadi, maka harus diusahakan untuk memperlebar jarak perpecahan tersebut semaksimal mungkin agar perselisihan ini menjadi faktor pelemah kaum Muslimin.
  • Tidak membiarkan negeri-negeri Islam dan Arab dipimpin oleh pemerintahan yang saleh (baik).
  • Merusak sistem pemerintahan di negeri-negeri Islam dengan suap, korupsi, dan wanita, hingga terputus hubungan antara basis massa bawah dengan puncak pimpinan.
  • Menghalangi terbentuknya pasukan tentara yang beriman pada hak tanah airnya, yang mau berkorban demi prinsipnya, yaitu Islam.
  • Berusaha membangun sebuah negara asing di kawasan Arab yang membentang antara Gaza di selatan hingga Antiokhia di utara, kemudian mengarah ke timur, dan membentang hingga sampai ke barat.(1)

Perhatikan bagaimana tawanan ini merancang dan mempelajari rencana ini di dasar penjaranya, dan bagaimana rencananya telah dan masih terus bekerja serta menampakkan dampaknya hingga era modern.

Ketika negosiasi Perjanjian Lausanne dimulai untuk mengadakan perdamaian di antara pihak-beperang, Inggris memberikan syarat kepada Turki bahwa ia tidak akan menarik pasukan dari wilayahnya kecuali setelah dilaksanakannya syarat-syarat berikut:

  • A. Menghapus sistem Khilafah Islamiyah, mengusir Khalifah dari Turki, dan menyita harta kekayaannya.
  • B. Turki berkomitmen untuk memadamkan setiap gerakan yang dilakukan oleh orang-orang Islam pendukung Khilafah.
  • C. Turki memutus hubungannya dengan Islam.
  • D. Turki memilih undang-undang sipil (sekuler) sebagai ganti dari undang-undang yang bersumber dari hukum-hukum Islam.

Maka Mustafa Kemal Ataturk melaksanakan syarat-syarat tersebut di atas, lalu negara-negara penjajah menarik pasukannya dari Turki. Ketika Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris, berdiri di Majelis Rendah Inggris (House of Commons) memaparkan apa yang terjadi dengan Turki, sebagian anggota parlemen Inggris melayangkan protes keras kepada Curzon. Mereka heran bagaimana bisa Inggris mengakui kemerdekaan Turki, yang berpotensi mengumpulkan kembali negara-negara Islam di sekitarnya sekali lagi lalu menyerang Barat.

Maka Curzon menjawab: "Kita telah menghabisi Turki, yang tidak akan pernah bangkit lagi setelah hari ini... karena kita telah menghancurkan kekuatannya yang terepresentasi dalam dua hal: Islam dan Khilafah." Maka seluruh anggota parlemen Inggris bertepuk tangan, dan berhentilah oposisi.( Kaifa Hudimat al-Khilafah, hlm. 190)

Apakah kita telah melihat apa target para musuh Islam, apa tujuan mereka, dan mengapa mereka melontarkan syubhat, mengadopsinya, dan menyiapkannya?

Tidak diragukan lagi bahwa di balik pengeksporan syubhat penuh dendam kepada Islam, pemeluk, dan dainya ini, terdapat sekumpulan orang yang mendendam, musuh, dan pemuja hawa nafsu, yang dipersatukan oleh partai pendosa dan target murahan. Mereka dihimpun oleh koalisi mengerikan yang merusak lagi mencemari, yang menyokong rombongan-rombongan mencurigakan ini dengan ekor-ekor dari kalangan orang yang tertipu serta para pengikut dari kalangan munafik, pencari keuntungan, dan orang-orang bodoh.

Para musuh Islam dan musuh kebenaran di timur bumi dan baratnya, meskipun berbeda warna kulit dan jenis bangsa mereka, dipersatukan oleh komitmen yang kuat untuk memusuhi Islam dan membuat tipu daya terhadapnya. Sangat jarang ditemukan dalam sejarah modern maupun kuno secara setara, adanya kepahitan, kebencian yang mendalam, keras, lagi ganas terhadap satu agama seperti yang diarahkan kepada Islam dan para dainya. Sesungguhnya kezaliman, kesewenang-wenangan yang keji, dan ketidakadilan nyata yang ditumpahkan kepada kaum Muslimin dahulu dan ditumpahkan kepada mereka sekarang tanpa dosa atau kesalahan, adalah hal yang aneh dalam sejarah dan layak untuk dipelajari serta direnungkan. Walaupun permusuhan ini tidak mengejutkan kita atau membuat kita heran, karena Tuhan kita Yang Maha Agung telah mengabarkannya kepada kita sejak hari pertama, dan di awal jalan. Firman-Nya yang Mahasuci:

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka..." (QS. Al-Baqarah: 120).

"...Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad dan keluar dari agamamu, jika mereka sanggup..." (QS. Al-Baqarah: 217).

"...Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melemparimu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka..." (QS. Al-Kahf: 20).

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menaati orang-orang yang kafir, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (menjadi kafir), lalu kamu menjadi orang-orang yang rugi." (QS. Ali 'Imran: 149).

Jika kita kembali kepada sejarah Islam sejak hari pertamanya dan kepada dakwahnya di fajar kemunculannya, kita akan menemukan fenomena ini sangat jelas. Al-Qur'an al-Karim telah mencatatnya di tahapan-tahapan awalnya, membongkar bahaya laten yang dirancang terhadap kebenaran dan pengembannya, serta tentang kesigapan laksana singa yang mengintai untuk memangsa dakwah yang baru lahir tersebut. Maka Al-Qur'an menyeru kaum Muslimin untuk selalu waspada dan menghadapi dengan kokoh, serta melakukan persiapan sebatas kemampuan. Firman-Nya: "Bersiaplah, bersabarlah, dan bersiagalah." Al-Qur'an menggariskan kurikulum yang jelas untuk membela kebenaran guna mengangkat panjinya dan berjalan dengannya menuju targetnya yang dikehendaki Allah untuk terwujud di bumi.

Jika Anda meneliti banyak syubhat dan jika ingin mengetahui kedalaman serta sumber-sumbernya, Anda akan menemukan bahwa semuanya berafiliasi kepada para musuh Islam dan kaum Muslimin, serta kepada para pemilik kepentingan dalam menekan kebenaran dan memadamkan cahayanya.

2. Kader-Kader Terlatih untuk Mengelabui Manusia

Urusan memalsukan syubhat hari ini tidak sekadar keluar dari hati yang mendendam atau lisan yang melukai semata. Melainkan, hal itu diikuti, didukung, dan diperkuat oleh perencanaan yang matang dan pengaturan yang terorganisasi, yang diemban dan disampaikan oleh kader-kader terlatih, dipersiapkan, diajar, dan dipilih dengan metode yang bervariasi lagi teruji, dalam bentuk yang bermacam-macam. Seperti misi-misi misionaris, sekolah-sekolah asing, yayasan-yayasan karitatif (sosial), organisasi-organisasi internasional, delegasi-delegasi ilmiah, dan slogan-slogan nasional.

Hal itu dibarengi dengan propaganda yang sesuai, surat kabar yang memikat, buku yang menarik, novel yang dicintai, siaran radio yang kuat, muktamar dan ceramah, studi dan seminar, serta eksploitasi terhadap emosi dan kecenderungan. Oleh karena itu, syubhat-syubhat tersebut menari-nari di akal para pemuda, mengetuk hati para remaja, dan mendesak jiwa, saraf, serta naluri mereka. Maka mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya kecuali orang-orang yang dijaga oleh Tuhanmu.

3. Orang Rusak dan Pemuja Hawa Nafsu (Fasidun wa Shahibu Hawa)

Yaitu para pemuja syahwat, budak hawa nafsu, pencinta ketersesatan, korban kemewahan, dan kehancuran ruhani. Mereka ingin tenggelam dalam kelezatan, menyelam dalam syahwat, dan menghabiskan energi. Mereka mabuk dengan kesesatan, tidak ingin terjaga dari tidur, dan tidak mau bangun dari kelalaian atau kebodohan. Mereka mengikuti setiap hal asing yang aneh dan terengah-engah mengejar setiap kenikmatan yang menjijikkan. Maka Anda melihat mereka tertular penyakit-penyakit mematikan akibat ketelanjangan, gaya hidup hippie (khunfusa'), sifat kemayu pada lelaki, sifat kelaki-lakian pada wanita, dan setiap hal aneh menyimpang yang merusak kemanusiaan manusia, menghancurkan kejantanannya, dan menjauhkannya dari kemuliaannya yang telah dikhususkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala baginya di antara seluruh makhluk-makhluk-Nya yang lain.

Oleh karena itu, ia membenci kejantanan, memusuhi kebajikan, lari dari mengambil manfaat, dan memusuhi hidayah. Ia tidak menyukai keseriusan dan tidak menyukai jalannya, tidak mau memikul tanggung jawab atau tidak kuat mengemban amanah, melainkan lari darinya dan membencinya.

Karena alasan ini, Anda melihatnya menyatakan perang terhadap dakwah dan para tokohnya, karena ia mengira bahwa mereka akan merampas kenyamanannya, merenggut kelezatan dan syahwatnya, menyingkap auratnya, dan memburu kebatilannya. Ia ingin menampakkan kemuliaan bagi dirinya lalu membuat-buat kedustaan atas para pengusung dakwah dan manhajnya, serta menampakkan bahwa ia memiliki keutamaan lalu meniupkan syubhat di sekitar para dai keutamaan dan pengikut kebenaran serta kebajikan. Mahabenar Allah:

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah berbuat kerusakan di bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.' Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!' Mereka menjawab, 'Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu beriman?' Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu." (QS. Al-Baqarah: 11-13).

Termasuk dalam golongan ini adalah para pemuja hawa nafsu dan orang-orang zalim yang memakan daging manusia dan mengisap darah mereka. Jika mereka melihat kebenaran, mereka akan memangsanya demi membela kebatilan mereka. Di antara mereka ada yang memperbudak manusia, mengeksploitasi kekuatan mereka, dan menghalalkan hal-hal suci mereka. Jika manusia ingin lari, mereka akan menyerang dan membinasakan mereka. Jika sebuah undang-undang, penguasa, dakwah, atau dai menuntut hak mereka, mereka akan menumpahkan kehancuran dan kezaliman atas mereka. Mahabenar Allah:

"...Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?" (QS. Al-Baqarah: 87).

Para pemuja hawa nafsu dan perusak di bumi tidak melakukan hal itu terhadap dakwah dan para dai melainkan setelah mereka kehilangan setiap kecenderungan pada kebaikan di dalam diri mereka dan setiap getaran hati nurani di dalam dada mereka. Mereka telah menulikan telinga mereka, menutup akal mereka, dan membinasakan diri mereka sendiri. Sekiranya mereka mau, niscaya mereka dapat mengangkat jiwa dengan kebenaran, meninggikan tekad dengannya, dan membangun kemuliaan dengannya. Akan tetapi, itu adalah tindakan condong pada kebinatangan yang liar dan pada tanah liat yang cair. Mahabenar Allah:

"Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan, maka jadilah dia termasuk orang yang sesat. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami..." (QS. Al-A'raf: 175-176).

Pemilik hawa nafsu berpaling dari petunjuk demi mengikuti hawa nafsunya, turun dari ufuk yang terang lalu menempel pada tanah liat yang gelap, sehingga ia menjadi sasaran bagi setan-setan, dan seketika itu ia bermetamorfosis menjadi serupa dengan anjing.

Apakah Anda mengira makhluk ini, setelah mengarah ke derajat yang rendah ini, akan menerima suatu nilai atau mau berdamai dengan para pengikut kebenaran?

4. Al-Mala' (Para Pembesar/Elit)

Al-Mala' adalah para bangsawan manusia dan tokoh terkemuka mereka yang memenuhi mata dengan keindahan dan memenuhi hati dengan wibawa.( Al-Furuq fi al-Lughah oleh Abu Hilal al-'Askari - pada materi tersebut)

Biasanya, Al-Mala' memiliki hubungan dengan kekuasaan; mereka menjilat kekuasaan dan kekuasaan memanfaatkan mereka, mereka memujinya dan kekuasaan memberinya imbalan, mereka mendekatkan diri kepadanya dan kekuasaan mendekat kepada mereka. Mereka berserikat dalam banyak kepentingan bersama penguasa, dan diikat oleh jalinan keuntungan dan maslahat. Mereka adalah lingkaran dalam penguasa, matahari-mataharinya, dan bulan-bulannya, berserikat bersama penguasa dalam satu galaksi, dan berputar bersamanya dalam satu orbit.

Oleh karena itu, setiap hal yang tidak diridai oleh penguasa, maka hal itu tidak mereka ridai. Bahkan, sering kali mereka menjadi lisan bagi kondisi penguasa, atau pihak yang memprovokasi penguasa untuk melakukan hal yang sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan mereka, demi menambah wibawa, dominasi, kekuatan atas para hamba, dan kemewahan dari harta manusia.

Al-Qur'an telah berbicara tentang Al-Mala', dan menjelaskan peran mereka dalam menghadapi dakwah para rasul—semoga selawat Allah dan salam-Nya tercurah kepada mereka.

Kita melihat Al-Qur'an menceritakan konfrontasi Al-Mala' terhadap Nuh 'Alaihissalam, firman-Nya:

"Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat).' Pemuka-pemuka (Al-Mala') dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang engkau benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.'" (QS. Al-A'raf: 59-60).

Kita melihat mereka dalam konfrontasi melawan Hud 'Alaihissalam:

"Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?' Pemuka-pemuka (Al-Mala') yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang engkau benar-benar berada dalam kebodohan, dan sesungguhnya kami yakin engkau termasuk orang-orang pendusta.'" (QS. Al-A'raf: 65-66).

Dan kita melihat mereka dalam konfrontasi melawan Shalih 'Alaihissalam:

"Pemuka-pemuka (Al-Mala') yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, yaitu orang-orang yang telah beriman di antara mereka, 'Tahukah kamu bahwa Shalih itu seorang rasul dari Tuhannya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami beriman kepada apa yang diserukan melalui dia.' Orang-orang yang menyombongkan diri itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang yang mengingkari apa yang kamu imani.'" (QS. Al-A'raf: 75-76).

Kita melihat mereka dalam konfrontasi melawan Syu'aib 'Alaihissalam:

"Pemuka-pemuka (Al-Mala') yang menyombongkan diri dari kaumnya berkata, 'Wahai Syu'aib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, atau engkau kembali kepada agama kami.' Dia (Syu'aib) berkata, 'Apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami membencinya?'" (QS. Al-A'raf: 88).

"Dan pemuka-pemuka (Al-Mala') yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi.'" (QS. Al-A'raf: 90).

Dalam konfrontasi melawan Musa 'Alaihissalam:

"Pemuka-pemuka (Al-Mala') dari kaum Firaun berkata, 'Sesungguhnya orang ini (Musa) adalah pesihir yang mahir.'" (QS. Al-A'raf: 109).

Kita melihat bagaimana para pembesar (Al-Mala') ini berdiri menjadi batu sandungan di jalan dakwah kebenaran dan di jalan penyampaian hidayah. Bagaimana mereka menghadang para rasul dan mencoba membinasakan mereka serta menyebarkan kedustaan di sekitar mereka agar tidak ada seorang rasul atau reformis pun yang mampu mengubah kerusakan, eksploitasi, dan dominasi yang sedang mereka nikmati. Bahkan, kita melihat mereka, jika badai telah mereda dan beberapa pusaran angin telah tenang, mereka akan meniupkannya kembali dari awal, mengembuskan api permusuhan, dan menyalakan kegilaan keangkuhan di dalam diri para penguasa. Kita mendengar firman-Nya:

"Dan pemuka-pemuka (Al-Mala') dari kaum Firaun berkata, 'Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk berbuat kerusakan di bumi dan meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu?' (Firaun) berkata, 'Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka.'" (QS. Al-A'raf: 127).

Apabila Al-Mala' melihat adanya kelesuan dari pihak penguasa, mereka sendiri yang mengemban beban memerangi dai dan memprovokasi massa untuk melawannya, bahkan dengan membunuhnya jika memungkinkan serta bersekongkol melawannya:

"Dan datanglah seorang lelaki dari ujung kota dengan bergegas dia berkata, 'Wahai Musa! Sesungguhnya pembesar-pembesar (Al-Mala') sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.'" (QS. Al-Qashash: 20).

Lantas, apa yang mendorong para pembesar (Al-Mala') ini menuju seluruh permusuhan ini, menuju seluruh dendam ini, dan konfrontasi mematikan ini? Mereka didorong oleh kecintaan pada syahwat mereka, perlindungan atas apa yang mereka raih tanpa hak, pengambilan keuntungan dari kerusakan, dan pendudukan jabatan serta posisi yang sebenarnya tidak layak bagi mereka. Sekiranya urusan ini diserahkan kepada ahlinya, niscaya mereka berada di dasar bawah bukan di puncak atas, berada di kerendahan bukan di keluhuran, dan berada dalam kesempitan hidup bukan dalam kelapangan, kemewahan, serta pemborosannya. Apakah Anda mengira mereka akan menyerah dengan mudah atau mau beriman dengan sukarela?

5. Al-'Awam (Orang Awam) "Orang-Orang Bodoh"

Mereka adalah sekelompok manusia yang dinamakan oleh sebagian orang sebagai orang awam—meskipun dalam penamaan ini terdapat semacam simplifikasi—dan dinamakan oleh sebagian lain sebagai orang-orang yang bodoh terhadap konsekuensi urusan. Mereka adalah sekumpulan manusia yang tidak memperhitungkan dampak, atau tidak menimbang perbuatan dan perkataan mereka dengan akal mereka untuk menyaringnya. Kelompok inilah yang dimaksud oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya:

"Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. Dan sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja." (QS. An-Nisa': 83).

Orang-orang ini, meskipun mereka termasuk dari kalangan kaum Muslimin, akan tetapi mereka tidak memperhitungkan hasil akhir. Mereka mengambil berita-berita dusta lalu menyebarkannya dengan niat baik karena suka menyiarkan berita dan demi memuaskan sebuah syahwat di dalam diri mereka, sehingga mereka membantu musuh dari arah yang tidak mereka sadari.

Gambaran yang dilukiskan oleh teks ini adalah gambaran sekelompok Muslim yang jiwanya belum terbiasa dengan kedisiplinan, atau belum memperhitungkan atau memahami nilai dan volume dampak yang ditimbulkan oleh syubhat atau desas-desus dalam mengacaukan barisan Muslim, serta hasil akhir yang diakibatkannya. Dampak tersebut bisa jadi mematikan karena mereka tidak naik ke level peristiwa, tidak menyadari keseriusan situasi atau kedudukan dai. Sesungguhnya sebuah kata yang terucap tanpa sengaja dan ketergelinciran lisan dapat menyeret konsekuensi buruk bagi orang itu sendiri, bagi dakwah, dan bagi sosok dai, hal-hal yang tidak terlintas dalam pikiran, dan tidak dapat diperbaiki setelah terjadinya dengan cara apa pun.

Sesungguhnya barisan mukmin mustahil terbebas dari sebagian kesalahan yang tidak disengaja. Apabila kesalahan tersebut diletakkan di bawah pengeras suara, disebarkan, dan dijadikan saksi atasnya sebagian orang-orang lugu yang tidak memperhitungkan konsekuensi, maka hal itu akan memberikan dampak yang buruk bagi dakwah dan para dai.

Bagaimanapun juga, ini menjadi ciri khas bagi umat atau kelompok yang sistem kedisiplinannya belum sempurna, belum terbiasa mengendalikan urusan dan memikul tanggung jawab, serta loyalitasnya belum sempurna kepada kepemimpinannya, umatnya, dan akidahnya. Kelompok ini dahulu pernah ada di dalam masyarakat Muslim, kemudian masyarakat berhasil—dengan ajaran Al-Qur'an dan dengan hidayah Rasulullah —mendidik kelompok ini dan mengarahkan mereka kepada apa yang wajib dilakukan saat mendengar berita-berita yang membahayakan akidah, kaum Muslimin, atau para dai. Firman-Nya yang Mahasuci: "Dan sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka." Artinya, mereka mengembalikan apa yang sampai kepada mereka berupa berita, kabar, dan syubhat kepada Rasul jika beliau berada bersama mereka, atau kepada ulil amri mereka dan para spesialis di antara mereka, agar diketahui oleh orang-orang yang mampu menyimpulkan hakikat kebenaran, dan mereka mengeluarkan dari celah-celahnya racun-racun tendensius yang dimaksudkan untuk menyebarkan kekacauan dan kebisingan di sekitar dakwah, dai, dan kaum Muslimin.

Bisa jadi di antara mereka ada orang yang dieksploitasi untuk melawan kaumnya sendiri dan melawan akidah mereka sendiri, dari kalangan orang-orang yang terbujuk materi (targhib) atau ketakutan (tarhib). Seperti para pemilik kebudayaan asing, kelompok Kelima (Fifth Column), orang-orang yang diusir dari negeri mereka karena perilaku buruk mereka atau karena melakukan tindakan yang mencoreng akidah dan dakwah mereka, orang-orang yang kalah secara psikologis dan akidah, atau orang-orang yang ditakut-takuti dengan persekusi terhadap keluarga mereka atau penyitaan harta benda mereka, dan selain itu.

Kelompok ini dan itu dieksploitasi untuk berkata-kata dusta menyerang Islam, kaum Muslimin, umat mereka, dakwah mereka, dan dai mereka, sehingga mereka menjadi komoditas propaganda dan pilar bagi syubhat-syubhat.

PASAL KEEMPAT: MACAM-MACAM SYUBHAT

Para pembuat syubhat di sekitar dakwah dan dai bergerak meluncurkan desas-desus tendensius dan membuat-buat kedustaan yang menyesatkan di setiap penjuru: di tengah masyarakat, di lembaran surat kabar, di dalam buku-buku, di siaran radio, dan di televisi.

Juga di dalam seminar, penelitian, dan muktamar. Mereka menginginkan hal itu menjadi gema yang membinasakan, kabut yang pekat, bahkan api yang berkobar di sekitar dakwah dan dai, atau di sekitar pemikiran dan pelaksanaan, atau di sekitar manhaj dan keteladanan. Agar hal itu menjadi demikian dan agar membuahkan tujuan yang dituntut darinya dengan sebaik-baiknya, mereka melemparkan syubhat-syubhat tersebut kepada tiga target:

  1. Target Pertama: Sosok Dai.
  2. Target Kedua: Dakwah itu sendiri.
  3. Target Ketiga: Medan Dakwah, yaitu manusia yang berada di sekitar dai.

Syubhat di Sekitar Sosok Dai

Adapun apa yang berkaitan dengan dai, sesungguhnya syubhat-syubhat itu mesti mengitari dirinya dari seluruh penjurunya, laksana gelang mengitari pergelangan tangan sebagaimana yang mereka katakan. Hal itu terepresentasi dalam bentuk mencela pribadinya, keluarganya, kabilahnya, aliansinya, perilakunya, dan rekam jejak jalannya. Juga pada kedudukannya dan kondisi sosialnya, pada akalnya dengan menuduhnya bodoh (safah), gila, tidak berilmu, sesat, dan dusta. Pada target dan tujuannya dengan menuduh bahwa ia menginginkan kepemimpinan, berusaha meraih kekuasaan, jabatan, gengsi, dan otoritas. Pada amanahnya dengan mengatakan bahwa ia adalah agen (antek) atau mata-mata yang bekerja untuk kepentingan musuh atau pihak asing, serta sifat-sifat lain yang dipilihkan indikasi, dalil, dan saksi-saksinya agar orang awam tertipu, orang berakal menjadi ragu, orang ikhlas menjadi putus asa, orang bersemangat menjadi tertekan, dan para aktivis menjadi binasa.

Kita melihat Al-Qur'an menceritakan kepada kita tentang celaan dan kedustaan yang diluncurkan oleh kaum musyrik kepada Rasulullah , serta kepada para nabi dan rasul—semoga selawat Allah dan salam-Nya tercurah kepada mereka semua—sebagai berikut:

1. Keyatiman dan Kemiskinan

Mereka berkata tentang Rasulullah bahwa beliau adalah seorang yatim yang miskin: "Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dari dua negeri ini (Mekah dan Taif)?" Demikian pula dikatakan kepada para nabi: "Bagaimana mungkin ia memiliki kekuasaan atas kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan kekuasaan daripada dia, dan dia tidak diberi kelapangan harta?"

2. Abhtar (Terputus Keturunannya)

Dikatakan: abhtar, tidak memiliki keturunan lelaki setelahnya. Para ahli tafsir berkata: Anak lelaki terbesar Rasulullah adalah Al-Qasim, kemudian Zainab, kemudian Abdullah, kemudian Ummu Kultsum, kemudian Fatimah, kemudian Ruqayyah. Maka Al-Qasim 'Alaihissalam wafat, dan ia adalah anak pertama yang wafat dari anak-anak beliau di Mekah. Kemudian Abdullah 'Alaihissalam wafat, maka Al-'Ash bin Wa'il al-Sahmi berkata: "Keturunannya telah terputus, maka ia adalah abhtar (terputus keturunannya)." Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: "Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)."( Tafsir al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, juz 30, hlm. 317, Dar al-Fikr - Beirut)

3. Gila, Puisi, Sihir, dan Keadunan (Dukun)

"Dan mereka berkata, 'Wahai orang yang kepadanya diturunkan Al-Qur'an, sesungguhnya engkau benar-benar orang gila.'" (QS. Al-Hijr: 6).

Dan mereka berkata:

"Demikianlah, tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyihir atau orang gila.'" (QS. Az-Zariyat: 52).

"Maka berilah peringatan, karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang orang gila." (QS. At-Thur: 29).

"Atau mereka berkata, 'Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.' Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka membenci kebenaran itu." (QS. Al-Mu'minun: 70).

"Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), dan ia bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam." (QS. Al-Haqqah: 40-43).

Sangat aneh urusan orang-orang ini. Sungguh para rasul telah tinggal di tengah-tengah mereka dalam kurun waktu yang sangat lama sebelum datangnya risalah, namun mereka tidak pernah menuduh para rasul dengan sesuatu pun. Bahkan, dahulu para rasul menjadi objek penghormatan, pengagungan, simbol akal sehat, ketenangan, amanah, kecerdasan, serta reputasi dan rekam jejak yang baik. Namun, ketika petunjuk ini telah sempurna dengan risalah dan Allah telah menyempurnakan cahaya-Nya dengan wahyu, seketika itu mereka berubah menjadi orang-orang gila, penyihir, dukun, dan penyair.

Padahal sudah seharusnya urusan itu diukur dengan hal-hal yang serupa dan dikembalikan kepada asalnya; orang yang berakal, cerdas, lagi amanah di waktu kecilnya, pastilah di waktu besarnya ia menjadi orang yang dewasa, paling kuat akalnya, paling lurus jalannya, dan paling tepat hidayah yang dicari. Inilah hal yang diarahkan oleh Al-Qur'an al-Karim kepada orang-orang tersebut melalui firman-Nya: "Maukah Aku kabarkan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berbuat dosa." (QS. Asy-Syu'ara': 221-222). Dan apa yang diarahkan oleh firman-Nya: "Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat?" (QS. Asy-Syu'ara': 224-226).

Artinya, setan-setan itu tidak akan turun, berinteraksi, atau mengadakan kontak dalam bentuk bantuan dan kesepakatan melainkan atas orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan setan-setan manusia yang berdosa, berdusta, lagi membuat-buat fitnah. Adapun para nabi, pembawa petunjuk, dan orang-orang ikhlas, sesungguhnya mereka dibantu dengan cahaya wahyu, sinar hidayah, dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Demikian pula para pengikut rasul, sahabat nabi, dan kaum penolong (hawariyyun) hidayah; mereka mengambil berkah dari lentera mereka, mengambil petunjuk dengan hidayah mereka, dan berjalan di atas manhaj mereka. Ruh-ruh itu ibarat pasukan yang dikerahkan; mana yang saling mengenal niscaya akan bersatu, dan mana yang saling asing niscaya akan berselisih. "Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)..." (QS. An-Nur: 26).

Inilah apa yang wajib dipahami oleh pemilik akal sehat, ahli pikir, dan orang-orang yang bijaksana. Adapun para pemilik jiwa yang sakit, pemahaman yang cacat, dan cita rasa yang lumpuh; adapun para pengintai yang mendendam lagi jatuh martabatnya, sesungguhnya mereka memiliki urusan lain dan ufuk yang berbeda yang dicirikan oleh kejatuhan, kebodohan, dan kekakuan, serta disifati dengan kehinaan dan pengubahan hakikat kepada kebalikannya.

Maka Anda melihat mereka menyifati orang-orang genius sebagai orang gila, menyifati pembawa petunjuk sebagai penyihir, dan menyifati para hamba yang ikhlas sebagai dukun, serta sifat-sifat menyimpang lainnya. "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang engkau benar-benar berada dalam kebodohan, dan sesungguhnya kami yakin engkau termasuk orang-orang pendusta.' Dia (Hud) berkata, 'Wahai kaumku! Tidak ada kebodohan padaku, tetapi aku adalah seorang rasul dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan kepadamu risalah-risalah Tuhanku dan aku bagimu adalah seorang pemberi nasihat yang terpercaya.'" (QS. Al-A'raf: 65-68 [teks asli menuliskan Ibrahim 10-11, namun yang benar adalah Al-A'raf 65-68]).

4. Berbuat Kerusakan di Bumi (Al-Ifsadu fil Ardh)

Kisah tentang tuduhan berbuat kerusakan di bumi dan tuduhan memicu fitnah termasuk di antara kisah yang paling aneh yang pernah didengar di masa lalu maupun masa kini. Dan yang menakjubkan adalah bahwa kisah-kisah dan ucapan-ucapan ini meluncur dari lisan para perusak yang paling kejam, dan dari lisan orang-orang zalim yang paling melampaui batas—guna menyerang manusia yang paling suci, paling utama, dan paling saleh dari kalangan para nabi, pembawa petunjuk, dan dai menuju kebajikan. Seseorang hampir saja kehilangan akalnya karena takjub dan bingung, saat mendengar ucapan ini keluar misalnya dari lisan Firaun dan dari lisan setiap sosok firaun di sepanjang zaman dan masa, mereka yang membunuhi manusia dan meminum darah siang malam, mereka yang melanggar batasan suci dan menghalalkan manusia pagi petang.

Mari kita perhatikan pemandangan ini untuk melihat siapa sebenarnya perusak dan siapa yang mengadakan perbaikan, siapa yang melampaui batas dan siapa yang bersabar lagi ikhlas mencari pahala: "Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dia menindas segolongan dari mereka, dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 4).

Dan kita lihat pemandangan lain bagi Firaun dan para pembesarnya: "Dan pemuka-pemuka dari kaum Firaun berkata, 'Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk berbuat kerusakan di bumi dan meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu?' (Firaun) berkata, 'Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka.' Musa berkata kepada kaumnya, 'Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-A'raf: 127-128).

Kezaliman, kelampauan batas, kebodohan, teror, dan genosida (pembantaian massal). Namun, ketika Musa datang membawa petunjuk, akal sehat, kebahagiaan, dan keamanan, dialah yang dituduh sebagai perusak yang melampaui batas, penegak fitnah, dan provokator pembangkangan. Sekiranya Musa melakukan hal itu dalam menghadapi genosida yang zalim lagi membinasakan ini, niscaya itu sudah selayaknya bagi beliau dan menjadi salah satu metode menolak kezaliman. Akan tetapi, beliau mengatakan kepada kaumnya hal yang berbeda dari itu, beliau mengambil jalur keselamatan dan perdamaian mutlak: "Musa berkata kepada kaumnya, 'Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah...'" Akan tetapi, bagaimana bisa penguasa berkata: "Musa merusak," bukankah di dalam tindakan Musa ini terdapat kerusakan dan fitnah menurut mereka? Ya, sesungguhnya itu adalah salah satu perkara besar yang selalu berulang dan tidak ada yang memperhatikannya kecuali orang-orang yang berakal sehat.

Mari kita biarkan Al-Qur'an mengisahkan kisah ini kepada kita dalam beberapa baris kalimat, dan kita dengarkan penjelasan yang menakjubkan serta isyarat yang mukjizat ini melukiskan kepada kita kesombongan, kebodohan, dan keangkuhan ini dalam menghadapi hidayah Allah dan rasul-Nya: "Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan bukti yang nyata, kepada Firaun, Haman, dan Qarun; maka mereka berkata, '(Dia) adalah seorang pesihir dan pendusta.' Maka ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak laki-laki dari orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkan hidup anak-anak perempuan mereka.' Namun tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan dalam kesesatan. Dan Firaun berkata, 'Biarkan aku membunuh Musa dan silakan dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan mengganti agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan.'" (QS. Ghafir: 23-27).

Tragedi ini terus berulang menimpa para nabi, reformis, dan dai. Tidaklah Al-Qur'an menyebutkannya melainkan untuk menampakkan kebenaran dari kebatilan, memperingatkan akal pikiran bahwa penilaian terhadap segala sesuatu wajib dilakukan melalui jalur hakikat bukan melalui jalur slogan, klaim, dan kebisingan media; serta melalui jalur penggunaan standar kebajikan dan manhaj hidayah Rabbani, bukan dari mulut para pemilik kepentingan dan pemuja syahwat.

5. Mencari Kepemimpinan dan Kekuasaan (Thalabu Riyasah wa Sulthah)

Sesungguhnya kekuasaan atas massa pada hakikatnya adalah beban keletihan, tanggung jawab, dan kelelahan, karena ia adalah amanah di seluruh aspeknya. Tidak ada yang layak mengembannya kecuali orang yang kuat lagi amanah. Oleh karena itu, Rasulullah bersabda kepada Abu Dzarr ketika ia berkata: "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mempekerjakanku (memberiku jabatan)?" Beliau menepuk pundakku dengan tangan beliau kemudian bersabda: "Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau lemah, dan jabatan itu adalah amanah." Maka penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya dan dibebani tugas merawat kemaslahatan mereka serta mengurus urusan mereka, sebagaimana layaknya seorang penggembala (ra'in). Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata: *"Aku mendengar Rasulullah bersabda:

Amanah ini berada di bawah pengawasan dari Allah dan dari manusia. Jika pemimpin melenceng darinya, niscaya rakyat akan meluruskannya dengan perkataan dan perbuatan. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ringkasannya, ia berkata: "Kami pernah berada di sisi Umar bin al-Khaththab tiba-tiba datang seorang lelaki dari penduduk Mesir lalu berkata: 'Wahai Amirul Mukminin, Amr bin al-'Ash mengadakan perlombaan kuda di Mesir, maka kudaku berhasil mendahului. Ketika manusia menyaksikannya, Muhammad bin Amr bin al-'Ash bangkit lalu berkata: Demi Tuhan Ka'bah, ini kudaku! Aku katakan: Demi Tuhan Ka'bah, ini kudaku! Maka ia bangkit dan memukulku dengan cambuk seraya berkata: Ambil perlombaan ini dan aku adalah anak orang-orang paling mulia (Ibnu al-Akramin).' Maka Amirul Mukminin memanggil Amr bin al-'Ash dan anaknya. Ketika keduanya datang, beliau menghadirkan orang Mesir tersebut. Setelah Amirul Mukminin mendapatkan kepastian berita, beliau berkata kepada orang Mesir: 'Peganglah cambuk ini! Pukullah anak orang paling mulia itu!' Maka ia memukulnya. Umar berkata kepada gubernurnya, Amr: 'Demi Allah, tidaklah anakmu memukulnya melainkan karena modal kekuasaanmu. Wahai Amr, sejak kapan kalian memperbudak manusia padahal ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?' Dan beliau mengizinkan orang Mesir itu pulang seraya berkata: 'Jika engkau melihat sesuatu hal, maka tulislah surat kepadaku."( Sirah Umar oleh Ibnul Qayyim, hlm. 73)'"

Jika penguasa istiqamah maka ia dipertahankan, dan jika tidak maka manusia akan melengserkannya. Qadhi 'Iyadh berkata: "Maka sekiranya terjadi pada dirinya—yaitu Khalifah—kekafiran, pengubahan terhadap syariat, atau bid'ah, niscaya ia keluar dari hukum kekuasaan, gugurlah kewajiban taat kepadanya, dan wajib bagi kaum Muslimin untuk bangkit melawannya, melengserkannya, dan mengangkat seorang imam yang adil." Ini merupakan pembenaran bagi hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ubadah bin al-Samit Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Rasulullah bersabda: 'Akan memimpin urusan kalian setelahku para lelaki yang mengenalkan kepada kalian apa yang kalian ingkari dan mengingkari atas kalian apa yang kalian kenal. Maka barangsiapa yang mendapati hal itu di antara kalian, maka tidak ada ketaatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah 'Azza wa Jalla.'" Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan At-Thabarani, dan ia adalah hadis sahih.

Maka kekuasaan dan pemerintahan di atas dasar ini adalah beban-beban berat, tidak layak dikejar oleh seseorang sekadar demi syahwat atau hawa nafsu. Melainkan, umat harus mengangkatnya, ridha kepadanya, dan mengetahui bahwa ia akan mengemban amanah. Karena alasan inilah Nabi bersabda: "Sesungguhnya kami tidak menyerahkan urusan pekerjaan kami ini kepada orang yang menginginkannya." Dan dalam sebuah riwayat: "Dan sesungguhnya kami tidak meminta bantuan dalam pekerjaan kami kepada orang yang memintanya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka kepemimpinan itu adalah beban yang besar dan pekerjaan yang tidak ringan bagi orang yang menunaikan haknya.

Adapun bagi orang yang menganggap kekuasaan sebagai rampasan keuntungan, kesenangan, kemewahan, dan sarana eksploitasi manusia; adapun bagi orang yang memperbudak manusia, mengeksploitasi hak-hak mereka, dan menunggangi punggung mereka; sesungguhnya ia tidak merasakan sedikit pun dari amanah tersebut dan dari hak-hak ini. Diilustrasikan baginya bahwa kekuasaan adalah kerajaan absolut miliknya, dan bahwa ia adalah hak yang diraih atau warisan dari nenek moyang yang berhak ia belanjakan dengan cara menjual atau menghibahkannya. Oleh karena itu, setiap orang yang menyelisihi dirinya, menyeru kepada kebenaran, maju membawa perbaikan, kritik, keluhan, atau sekadar keberatan atas sebuah kesalahan; niscaya ia tuduh sebagai orang yang tamak pada kesenangan yang berada di bawah tangannya ini, dan tamak pada kenikmatan yang sedang ia rasakan.

Karena alasan ini, kita melihat bahwa para utusan Allah ketika datang membawa hidayah untuk menyingkirkan kekafiran, kezaliman, kelampauan batas, dan agresi; mereka dituduh dengan cepat bahwa mereka menginginkan kekuasaan dan kerajaan. Allah Berfirman menceritakan tentang kaum Nuh:

"Maka berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya, 'Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang ingin mempunyai kelebihan (riyasah) atas kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia menurunkan malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.'" (QS. Al-Mu'minun: 24).

Demikian pula dikatakan kepada Musa 'Alaihissalam: "Mereka berkata, 'Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan agar kamu berdua mempunyai kekuasaan di bumi?'" Dan dikatakan kepada Rasulullah : "Dan jika engkau menginginkan kerajaan, niscaya kami akan mengangkatmu menjadi raja atas kami." Kalimat ini dikatakan kepada setiap pencari perbaikan dan pemilik dakwah jika ia berada di atmosfer yang penuh sesak oleh syahwat yang menyimpang dari kebenaran.

6. Pengkhianatan dan Hubungan Mencurigakan (Al-Khiyanah wal Ittishal al-Masybuh)

Di antara metode para pengikut kebatilan dalam meniupkan syubhat di sekitar dai adalah klaim mereka bahwa ia mengadakan kontak dengan pihak asing atau dengan kaum tertentu untuk bekerja demi kepentingan mereka, dan mereka memprovokasinya atas apa yang ia lakukan. Mereka menuduh bahwa dai ini memiliki hubungan yang mencurigakan yang bertujuan untuk memicu kekacauan, menyebarkan fitnah, dan menggoyang stabilitas sistem. Makna dari hal ini adalah bahwa ia merupakan agen pengkhianat yang ditakuti bahayanya, dan bahwa dakwahnya merupakan jalan untuk sampai pada target-target merusak yang diincarnya. Oleh karena itu, wajib menindak tangannya dengan keras, memperingatkan manusia darinya, dan membongkar rencana-rencana serta tujuannya. Maka atas nama kebenaran, atas nama kebebasan, dan atas nama umat, wajib mengantisipasi bahaya ini, memotong penyakit ini, dan menghabisi praktik keagenan dan pengkhianatan ini.

Sumber-sumber peniup syubhat terus-menerus mengulang-ulang kebohongan ini di telinga manusia pagi petang, terus menyusun indikasi-indikasi yang rapuh dan dalil-dalil yang remeh untuknya, menyebarkannya, dan meminta jajak pendapat atasnya, hingga mereka memvisualisasikannya sebagai sebuah hakikat, menjadikannya bangunan kokoh, dan menegakkan panji-panji untuknya.

Sebelum itu dan setelahnya, mereka menyimpan niat jahat untuk melelahkan dai, mencemari reputasinya, membinasakannya, dan menyingkirkannya dari jalur kebatilan. Syubhat ini bukanlah hal yang baru; sungguh Rasulullah telah menghadapinya, dakwah Islam telah menghadapinya, dan Al-Qur'an al-Karim telah menyebutkannya serta memberikan peringatan atasnya melalu firman-Nya:

"Dan orang-orang kafir berkata, '(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dan dia dibantu oleh kaum yang lain.' Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, '(Itu adalah) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta untuk dituliskan, lalu didiktekan kepadanya pagi dan petang.' Katakanlah (Muhammad), '(Al-Qur'an) itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (QS. Al-Furqan: 4-6).

Dan di antara hal yang aneh adalah bahwa dai terkadang dituduh dengan kebalikan dari apa yang ia dakwahkan dan apa yang ia lawan. Sebagai contoh, kita mendengar di berbagai penjuru tanah air Islam bahwa orang-orang yang berpegang teguh dan menyeru kepada Islam dituduh sebagai agen Israel. Padahal faktanya adalah bahwa setiap Muslim yang beraktivitas untuk Islam dan mengemban risalahnya, musuh nomor satunya adalah Israel karena tindakannya merampas tanah air Islam, mengusir kaum Muslimin dari rumah-rumah mereka, mengambil harta benda mereka, melecehkan kehormatan mereka, dan menumpahkan darah mereka. Dari sisi lain, sesungguhnya musuh nomor satu bagi Israel adalah tipe manusia seperti ini, mereka yang berpegang teguh dengan agama mereka, menjaga nilai-nilai mereka, dan berjihad di jalan risalah mereka. Karena alasan inilah Ben-Gurion, Perdana Menteri Israel, mengatakan: "Sesungguhnya hal yang paling kami takuti adalah munculnya sosok Muhammad baru di dunia Arab."(1) Penulis zionis, Earl Voghra, mengatakan dalam kitabnya The Covenant and the Sword yang diterbitkan pada tahun 1965 teksnya sebagai berikut: "Sesungguhnya prinsip yang melandasi eksistensi Israel sejak awal adalah bahwa bangsa Arab mau tidak mau suatu hari nanti harus berinisiatif untuk bekerja sama dengannya. Dan agar kerja sama ini menjadi mungkin, wajib menghabisi seluruh elemen yang memberi asupan bagi perasaan permusuhan terhadap Israel di dunia Arab, dan mereka adalah elemen-elemen kolot dari kalangan agamawan dan para syekh."(2)

Para musuh Islam—seluruh musuh Islam—mengetahui dengan sangat baik siapa musuh nomor satu mereka yang wajib dibinasakan, dan apa rintangan-rintangan yang wajib disingkirkan dari jalur mereka agar mereka mampu melumat negeri-negeri Islam tersebut dan mengambilnya sebagai suapan yang lezat lagi gurih. Dan rintangan nomor satu tersebut adalah: orang-orang yang berpegang teguh dengan Islam dan para dai yang menyeru kepadanya. Maka mau tidak mau mereka harus disingkirkan dan dibinasakan.

Seorang perwira besar Arab yang pernah menjadi tawanan di tangan Yahudi pada tahun 1948 menceritakan bahwa panglima tentara Yahudi mengundangnya ke kantornya menjelang pembebasannya, dan bersikap lemah lembut kepadanya dalam pembicaraan. Perwira Mesir tersebut bertanya kepadanya: "Apakah aku boleh bertanya, mengapa kalian tidak menyerang desa Sur Baher?"

Panglima Israel tersebut menundukkan kepalanya dalam-dalam dalam waktu yang lama, kemudian berkata: "Aku jawab kepadamu dengan jujur, sesungguhnya kami tidak menyerang desa Sur Baher karena di dalamnya terdapat kekuatan besar dari kalangan sukarelawan Muslim yang fanatik."

Perwira Mesir tersebut terkejut, lalu segera bertanya kepadanya: "Lantas apa masalahnya dengan hal itu? Sungguh kalian telah menyerang posisi-posisi lain yang di dalamnya terdapat pasukan yang lebih banyak... dan dalam kondisi yang lebih sulit!!"

Panglima Israel menjawabnya: "Apa yang kamu katakan itu benar, akan tetapi kami menemukan bahwa para sukarelawan dari kalangan Muslim fanatik ini berbeda dari para pejuang reguler lainnya, mereka sangat berbeda. Pertempuran bagi mereka bukanlah sebuah profesi yang mereka jalankan sesuai perintah yang ditujukan kepada mereka, melainkan ia adalah sebuah hobi yang mereka terjun ke dalamnya dengan semangat dan gairah yang gila. Dalam hal itu mereka menyerupai tentara-tentara kami yang bertempur demi akidah yang kokoh untuk melindungi Israel. Akan tetapi, ada perbedaan yang sangat besar antara tentara kami dengan para sukarelawan Muslim ini; sesungguhnya tentara kami bertempur untuk membangun sebuah tanah air tempat mereka hidup, adapun tentara sukarelawan dari kalangan Muslim sesungguhnya mereka bertempur untuk mati. Sesungguhnya mereka mencari kematian dengan gairah yang lebih dekat pada kegilaan, dan mereka menerjang maju seolah-olah mereka adalah setan-setan. Sesungguhnya menyerang orang-orang seperti mereka merupakan spekulasi besar, serupa dengan menyerang hutan yang penuh dengan binatang buas. Dan kami tidak menyukai spekulasi yang menakutkan seperti ini. Kemudian, sesungguhnya menyerang mereka dapat memicu wilayah-wilayah lain untuk melawan kami lalu mereka melakukan tindakan serupa dengan tindakan mereka, sehingga mereka merusak segala urusan atas kami, dan terwujudlah bagi mereka apa yang mereka inginkan."

(1) Lihat surat kabar al-Kifah al-Islami 1955 - nomor minggu kedua bulan April.

(2) Al-Islam fi Mu'tarak al-Hadharah oleh Umar Baha' al-Amiri, hlm. 28, cetakan 1, Dar al-Fath, Beirut, tahun 1968 M.

Perwira Mesir tersebut terkejut mendengar jawaban panglima Israel, akan tetapi ia melanjutkan pertanyaannya untuk mengetahui sebab nyata yang menakut-nakuti Yahudi dari para sukarelawan Muslim ini.

Ia berkata kepadanya: "Katakan kepadaku dengan pandangan jujurmu, apa yang menimpa orang-orang itu hingga mereka mencintai kematian dan berubah menjadi kekuatan raksasa yang menantang setiap hal yang masuk akal?!!"

Panglima Israel menjawab dengan spontan: "Ia adalah agama Islam, wahai Tuan Perwira!" Kemudian ia tergagap dan mencoba menyembunyikan jawabannya lalu berkata: "Sesungguhnya orang-orang itu tidak mendapatkan kesempatan sebagaimana yang diberikan kepadamu, agar mereka mempelajari urusan dengan studi yang sadar yang membuka mata mereka pada hakikat kehidupan, dan membebaskan mereka dari khurafat serta takhayul para pedagang agama. Sesungguhnya mereka masih menjadi korban-korban malang bagi janji Islam kepada mereka berupa surga yang menanti mereka setelah kematian."

Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya: "Sesungguhnya orang-orang fanatik dari kalangan Muslim ini adalah ganjalan dari segala ganjalan di jalur perdamaian yang wajib kita kerja sama atasnya, dan mereka adalah bahaya besar atas setiap usaha yang dikerahkan untuk membangun hubungan yang sehat lagi sadar antara kami dengan kalian." Ia melanjutkan seraya memprovokasi perwira Mesir tersebut untuk melawan orang-orang Muslim ini: "Bayangkan, wahai Tuanku, sesungguhnya bahaya orang-orang itu tidak terbatas atas kami saja, melainkan ia juga merupakan bahaya atas kalian sendiri. Sebab kondisi negeri kalian tidak akan stabil hingga orang-orang itu sirna, dan terputus teriakan-teriakan mereka yang menyerukan jihad dan mati syahid di jalan Allah. Logika ini menyelisihi abad kedua puluh, abad sains, Perserikatan Bangsa-Bangsa, opini publik global, dan hak asasi manusia." Panglima Israel menutup pembicaraannya dengan ucapannya: "Wahai Tuan Perwira, aku bahagia dengan pembicaraan yang jujur bersamamu ini. Dan aku berharap kita dapat bertemu pada pertemuan yang akan datang, untuk bekerja sama dalam suasana persaudaraan yang tidak dikeruhkan atas kita oleh orang-orang fanatik dari kalangan Muslim yang gila dengan jihad dan cinta mati syahid di jalan Allah.( Majalah al-Muslimun - Nomor Pertama dari Jilid Kedelapan - bulan Juli tahun 1964 M, dan ringkasan Qadah al-Gharbi Yaquluna lil Jalal al-Alam, hlm. 43 dan setelahnya)"

Setelah semua ini dan setelah rentetan peristiwa yang berurutan, apakah Anda melihat siapa sebenarnya yang mencurigakan dan siapa yang melaksanakan perintah para musuh kaum Muslimin serta siapa yang berjalan di atas rencana-rencana mereka? Sesungguhnya para musuh Islam tidak akan membiarkan kaum Muslimin tanpa fitnah, perselisihan, atau pertikaian. Maka hendaklah semuanya waspada dan hendaklah kaum Muslimin hidup bersaudara di bawah naungan hidayah Rabbani yang penuh kasih sayang.

Syubhat di Sekitar Dakwah

Tidak ada dakwah seorang rasul pun dari para rasul yang selamat dari syubhat dan dari celaan yang menyertai kemunculannya, dan mengiringi kemajuannya, di masa lalu maupun masa kini. Dakwah telah dituduh di masa lalu dengan hal-hal berikut:

1. Bid'ah dan Keluar dari Hal yang Lumrah

Mereka keluar dari hal yang lumrah bagi manusia, tradisi mereka, dan sistem mereka. Bahkan mereka heran bahwa datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri: "Bahkan mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, 'Ini adalah suatu hal yang amat aneh. Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang jauh (tidak mungkin).'" (QS. Qaf: 2-3).

Dan firman-Nya:

"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, padahal ia telah hancur luluh?'" (QS. Yasin: 78).

Dan mereka heran bahwa datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri: "Mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta. Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.'" (QS. Shad: 4-5).

2. Keluar dari Agama Nenek Moyang dan Warisan Leluhur

"Mereka berkata, 'Apakah engkau datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka datangkanlah azab yang engkau ancamkan kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang benar.'" (QS. Al-A'raf: 70).

"Dan demikian juga, Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad) seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.' (Rasul itu) berkata, 'Apakah (kamu akan mengikuti mereka juga) sekalipun aku membawa kepadamu petunjuk yang lebih lurus daripada apa yang kamu dapati nenek moyangmu menganutnya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.'" (QS. Az-Zukhruf: 23-24).

Sangat aneh metode manusia seperti ini dalam menghadapi petunjuk, dan dalam menghadapi Rasul. Tidaklah akal diberikan kepada manusia melainkan agar ia menjadi timbangan untuk menentukan benar dan salah, maka menonaktifkannya merupakan sebuah kejahatan. Khususnya jika manusia berada dalam kesalahan yang nyata, lalu datang kepadanya sebuah risalah yang jelas, benar, lagi mengagumkan di tangan seorang rasul yang amanah yang mereka sendiri mempersaksikan hal itu bagi beliau dan mengakuinya. Lantas bagaimana bisa kebenaran ini dan cahaya ini ditinggalkan, lalu manusia berjalan dalam keadaan mata tertutup mengikuti sebuah adat kebiasaan yang nyata kejelekannya, tidak memiliki sandaran melainkan perbuatan para leluhur dan nenek moyang yang telah keluar dari jalur jalan yang lurus akibat jauhnya mereka dari petunjuk dan akibat perbuatan setan-setan manusia dan orang-orang sesat dari kalangan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan yang lebih aneh dari itu adalah keluarnya sebagian manusia hari ini dari petunjuk yang benar dan dari jalan nenek moyang mereka yang istiqamah, menuju cahaya akal mereka yang batil yang tidak memiliki dalil atau bukti di atasnya, atau sekadar demi kebiasaan atau adat. Dan para utusan mereka dalam hal itu adalah sekumpulan orang-orang pendusta dan dukun palsu yang semuanya mempersaksikan tipu daya mereka, kebusukan mereka, dan permusuhan mereka kepada kaum Muslimin.

3. Dakwah yang Mengeksploitasi Penderitaan Manusia

Mereka menuduh bahwa dakwah ini memikat kaum miskin dan orang-orang marginal (tidak dikenal). Oleh karena itu, mereka adalah orang-orang pertama yang berusaha mendatangi dakwah, paling banyak bergabung dengannya, dan paling kuat mendukungnya:

"Maka berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat engkau (Nuh), melainkan sebagai seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti engkau, melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu sebagai orang-orang pendusta.'" (QS. Hud: 27 [teks asli menuliskan 28, namun yang benar ayat 27]).

"Mereka berkata, 'Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal orang-orang yang hina telah mengikutimu?' Dia (Nuh) berkata, 'Tidak ada pengetahuanku tentang apa yang telah mereka kerjakan. Perhitungan (amal) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, jika kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku ini tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.'" (QS. Asy-Syu'ara': 111-115).

Sesungguhnya dakwah Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah salah satu hukum dari hukum-hukum-Nya. Ia laksana matahari, bulan, udara, dan air. Matahari masuk ke setiap rumah, sama saja apakah ia berupa gubuk reyot ataupun istana yang megah. Demikian pula bulan. Demikian pula udara; ia mengalir di setiap paru-paru, masuk ke setiap dada, menjernihkan setiap darah, dan memberi asupan bagi setiap jasad dengan oksigen. Akan tetapi, di sana ada kaum yang menghalangi diri mereka sendiri dari matahari dan bulan, mereka hidup di atmosfer yang tercemar dan mencegah udara bersih untuk merembes masuk ke dalam dada mereka. Lantas menurut Anda siapakah yang patut dicela, siapakah yang berdosa, dan siapakah yang merugi?

Sungguh Rasulullah telah membuat perumpamaan bagi petunjuk yang beliau bawa, dengan air hujan yang turun lalu meliputi semuanya, menyirami semuanya, dan sampai kepada setiap manusia. Di antara mereka ada yang mengambil manfaat dan memberi manfaat, di antara mereka ada yang menjadi sebab kemanfaatan bagi orang lain saja, dan di antara mereka ada yang tidak mengambil manfaat dan tidak pula memberi manfaat. Beliau bersabda:

Sesungguhnya di sana ada hati-hati yang telah diselimuti oleh dosa dan dipenuhi oleh hawa nafsu, maka Anda melihatnya bertolak belakang dengan hidayah, menolak kebenaran, keadilan, dan cahaya. Mahabenar Allah:

"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. Sekalif-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya." (QS. Al-Muthaffifin: 14-15).

Hati-hati seperti ini tidak akan mampu mengemban risalah, mendakwahkannya, atau bahkan sekadar hidup berdampingan dengannya. Kecuali jika ia membersihkan dirinya sendiri dari kotoran dan noda-nodanya, serta merontokkan darinya sampah-sampah dan najis-najisnya. Jika tidak, ia akan terus melihat melalui kacamata yang kotor, gelap, lagi ternoda—menatap wahyu, pancaran risalah, dan fajar hidayah—lalu mengira bahwa itu adalah malam yang panjang dan kegelapan yang pekat.

Meskipun demikian, Anda melihat hati-hati ini berubah dengan cepat menuju urusan yang lain, yang meridai kesombongan dan keangkuhannya meskipun pada saat yang sama hal itu mendustakan klaim pertama mereka. Anda melihat mereka meminta kepada para pemilik dakwah agar mengusir orang-orang marginal yang miskin tersebut agar mereka mau bergabung dengan dakwah ini, dan agar kepemimpinan serta kedudukan terhormat berada di tangan mereka. Mereka menginginkan kepemimpinan dan kedudukan tersebut demi kepemimpinan itu sendiri, bukan demi dakwah dan risalah. Jika tidak demikian, niscaya mereka telah menundukkan kesombongan mereka, meringankan keangkuhan mereka, menurunkan kepala-kepala yang mendongak tegak tersebut, menyadari keagungan Allah yang di bawah naungan-Nya seluruh kepala menjadi sama derajatnya, dan merasakan ikatan akidah yang dengannya manusia berubah menjadi bersaudara.

Akan tetapi, sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu Jahiliyah, dan memberlakukan standar-standar Jahiliyah dalam urusan akidah dan urusan para hamba. Padahal akidah tidak akan menang dan tidak akan mulia melainkan dengan orang-orang yang menginginkannya demi akidah itu sendiri secara ikhlas. Adapun orang-orang yang menginginkannya demi syahwat mereka, atau karena ia sedang menang, agar mereka dapat memimpin para pengikut dengannya dan mencari jabatan dengannya; sesungguhnya akidah akan menjadi malapetaka atas mereka dan mereka menjadi malapetaka atas akidah. Karena alasan inilah Al-Qur'an memerintahkan Rasulullah agar menjauh dari tipe manusia seperti ini dan mencampakkan lingkaran kemewahan serta jabatan mereka, karena jabatan tanpa Islam merupakan nilai palsu yang akan sirna, tidak akan kokoh tanpa ketakwaan di medan dakwah.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Sa'd bin Abi Waqqash Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Kami pernah berada bersama Nabi , saat itu kami berjumlah enam orang. Maka kaum musyrik berkata kepada Nabi : 'Usirlah orang-orang ini, mereka tidak berani meremehkan kami!' Sa'd berkata: 'Aku sendiri, Ibnu Mas'ud, seorang lelaki dari kabilah Hudzail, Bilal, dan dua orang lelaki yang aku lupa nama keduanya.' Maka terlintas di dalam jiwa Rasulullah apa yang dikehendaki Allah untuk terlintas, lalu Allah 'Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya: 'Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridhaan-Nya...'" Dikatakan bahwa ketika mereka tidak mendapati respons atas tuntutan mereka, mereka meminta kepada Rasul agar menjadikan bagi mereka satu hari khusus dan bagi orang-orang lemah serta budak tersebut satu hari yang lain. Karena mereka memakai pakaian yang menebarkan bau keringat sehingga mengganggu para tuan dari pembesar Quraisy.

Akan tetapi mereka dilarang dari opsi yang kedua ini pula. Maka Anda melihat Al-Qur'an setelah itu memerintahkan Rasul untuk menetap bersama orang-orang lemah ini dan bersabar atas mereka, firman-Nya:

"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya itu melewati batas. Dan katakanlah (Muhammad), 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir...'" (QS. Al-Kahf: 28-29).

Ya, bersabarlah bersama para pencari kebenaran dan pemburu iman, karena sesungguhnya mereka tidak menginginkan dengan amal perbuatan mereka melainkan wajah Allah Subhanahu. Di atas orang-orang yang seperti merekalah dakwah ditegakkan dan risalah diwujudkan. Dengan kemuliaan ini, keterusterangan ini, dan kejelasan ini, kebenaran berjalan di jalurnya sebagai nilai yang mulia, tidak ada kebengkokan di dalamnya; kuat, tidak ada kelemahan di dalamnya; terus terang, tidak ada basa-basi di dalamnya. Maka barangsiapa menghendaki hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki biarlah dia kafir. Tidaklah risalah diturunkan untuk satu generasi manusia saja atau untuk satu kurun waktu saja, melainkan ia adalah hidayah untuk umat yang membentang panjang, risalah yang abadi untuk semesta alam, dan sistem yang menolak kezaliman dan agresi, sehingga manusia di bawah naungannya menjadi sama derajatnya laksana gigi-gigi sisir.

Ini adalah syubhat lama yang selalu baru, karena manusia adalah manusia meskipun penampilan atau nama-nama telah berubah. Dan di sana ada syubhat-syubhat yang baru diciptakan di era modern, dan kebatilan akan terus membuat-buat kedustaan selama di sana terdapat kebenaran dan kebatilan, dan selama di sana terdapat hidayah dan kesesatan.

  • Mereka mengatakan bahwa Islam membolehkan perbudakan (al-riqq). Faktanya adalah bahwa Islam datang mendapati perbudakan sebagai sebuah sistem yang sudah mapan berjalan. Maka Islam menyumbat pintu-pintu masuknya, menganjurkan untuk memerdekakan budak dan menjadikannya sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah Subhanahu, serta memberikan budak ini hak-hak yang setara dengan tuannya: "Barangsiapa yang saudaranya berada di bawah tangannya, maka hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan, memberinya pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah ia membebaninya dengan apa yang tidak ia mampui. Jika ia membebaninya, maka hendaklah ia membantunya."

Beliau bersabda: "Saudara-saudara kalian adalah pembantu kalian, maka barangsiapa yang saudaranya berada di bawah tangannya hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan, memberinya pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah kalian membebani mereka dengan apa yang mengalahkan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka." Al-Qur'an telah berwasiat tentang mereka di antara apa yang diwasiatkannya, firman-Nya: "Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki..." (QS. An-Nisa': 36).

Sekiranya manusia berjalan sesuai dengan syariat Islam, niscaya perbudakan telah punah setelah beberapa tahun yang dapat dihitung. Dan orang-orang yang menuduh Islam dengan hal ini, justru mereka sendiri yang memperbudak bangsa-bangsa bukan sekadar individu, dan praktik diskriminasi rasial masih terus menancapkan kemahnya di berbagai penjuru tanah air mereka, namun mereka tidak memiliki rasa malu.

  • Mereka mengatakan bahwa Islam adalah sistem yang menjadikan wanita bernilai setengah dari lelaki. Faktanya adalah bahwa wanita di sepanjang sejarah selalu dizalimi hak-haknya, karena ia adalah makhluk yang lebih lemah daripada lelaki, dan dunia dahulu tidak berinteraksi kecuali dengan hukum kekuatan, dan sampai sekarang pun masih demikian. Maka orang yang lemah niscaya patah sayapnya dan dizalimi haknya, dan dunia laksana hutan rimba tempat hewan yang kuat memangsa hewan yang lemah. Bahkan bangsa-bangsa yang lemah secara keseluruhan, mau tidak mau harus dieksploitasi untuk kepentingan bangsa-bangsa yang kuat. Akan tetapi Islam adalah sistem moral yang menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, manusia di dalamnya sama derajatnya laksana gigi-gigi sisir. Islam adalah sistem yang berbeda dari sistem-sistem buas, kebinatangan, dan rasis tersebut.

Karena alasan inilah wanita mengambil posisinya dalam sistem ini, ia menjadi belahan kembar bagi lelaki, bahkan menjadi penyejuk mata baginya dan permata yang berharga lagi terjaga di sisinya: "Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki yang banyak dan perempuan..." (QS. An-Nisa': 1). Maka wanita adalah kesatuan yang sempurna bersama lelaki dalam asal mula kejadian dan tempat kembali, serta kesetaraan yang sempurna dalam eksistensi kemanusiaan. Bahkan Allah menjadikan wanita sebagai salah satu dari tanda-tanda kebesaran-Nya Subhanahu, firman-Nya: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang..." (QS. Ar-Rum: 21). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-Furqan: 74).

Inilah kesetaraan dalam kemuliaan. Di saat agama-agama terdahulu yang telah dideformasi (diubah) merasa pelit untuk mengakui sifat kemanusiaan pada wanita, dan ini merupakan pandangan para ilmuwan dan filosof di Barat sampai kurun waktu yang dekat; di mana mereka saling berdebat tentang urusan wanita: apakah ia memiliki ruh atau tidak memiliki ruh? Dan jika ia memiliki ruh, apakah ia berupa ruh kemanusiaan atau ruh kebinatangan? Inilah pemikiran Barat yang katanya maju, di saat kita mendengar Islam berfirman: "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar... Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab: 35).

Dan kita mendengar firman Tuhan kita: "Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan; (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain...'" (QS. Ali 'Imran: 195). Kemudian Islam menjadikan bagi wanita hak kepemilikan finansial yang terpisah dari lelaki; ia memiliki hartanya sendiri yang ia bebas membelanjakannya, tidak ada hak campur tangan bagi suaminya atau walinya di dalamnya. Kemudian nafkah atas dirinya wajib dipenuhi saat ia sebagai anak perempuan ataupun sebagai istri; disiapkan baginya tempat tinggal, pakaian, makanan, upah menyusui, dan pelayan jika wanita yang sepertinya biasa dilayani. Ia tidak menanggung dari hal itu sedikit pun.

Lantas apakah hal ini dapat disetarakan dengan wanita yang diusir dari rumahnya saat mencapai usia enam belas tahun, wanita yang tidak memiliki hak kepemilikan finansial, dan wanita yang tidak diberi nafkah, dll., dll.

Adapun keberadaan dirinya mendapatkan setengah dari bagian lelaki dalam urusan warisan (al-mirats), maka faktanya adalah bahwa Islam menyetarakan antara lelaki dan wanita dalam urusan pemberian ('athiyyah), hibah, wasiat, dan hal-hal yang sejenis itu. Adapun dalam urusan warisan, sesungguhnya Islam mewajibkan nafkah atas lelaki bukan atas wanita; nafkah istri dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal; nafkah anak-anak dalam urusan pendidikan, kehidupan, dan seluruh apa yang mereka butuhkan; nafkah pemberian makan kepada keluarga, dan penanggungan denda finansial (diyat) bersama kabilah ('aqilah) dalam kasus pembunuhan tidak sengaja (qatlu khatha') dan menyerupai sengaja (syibhu 'amd). Maka karena alasan itulah lelaki wajib dibantu untuk menanggung beban-beban berat ini. Dan hal ini bukan termasuk bab pengutamaan derajat (tafdhil), melainkan termasuk bab memperhatikan kondisi, keadaan, dan konsekuensi tanggung jawab.

Dan masalah ini pada hakikatnya jika kita kembalikan secara hitungan matematis, niscaya ia berada di pihak wanita lebih banyak daripada di pihak lelaki; wanita mengambil sepertiga bagian dan ia tidak menafkahkannya sedikit pun darinya, sedangkan lelaki mengambil dua pertiga kekayaan untuk ia nafkahkannya atas istrinya—yaitu atas wanita—dan konsekuensi tanggung jawab. Maka siapakah yang mendapatkan bagian lebih banyak dan siapakah yang menjadi pihak yang beruntung? Masalah ini membutuhkan akal sehat dan keikhlasan, bukan klaim dusta.

Maka Islam menyetarakan antara lelaki dan wanita ketika kesetaraan itu merupakan keadilan, dan membedakan antara keduanya ketika pembedaan itu merupakan keadilan.

  • Kemudian mereka mengatakan bahwa Islam adalah sistem yang memiliki hukuman rajam, potong tangan, dan cambuk... hingga akhir dari kebohongan-kebohongan ini yang tidak dapat dihitung dan tidak dapat dijumlahkan, karena semuanya adalah kedustaan, dan kedustaan itu mengikuti hawa nafsu dan dendam, dan ia tidak akan terputus hingga hati mereka terputus.

Akan tetapi Islam meskipun menghadapi kebohongan-kebohongan ini, ia mengejutkan mereka dengan daya tariknya bagi jiwa, sihirnya bagi hati, dan kehidupannya yang terus berjalan mengekspansi, bangkit, lagi raksasa. Islam mengejutkan mereka dengan fakta bahwa ia memiliki pilar-pilar kehidupan di masa depan yang tidak dimiliki oleh sistem lain mana pun yang dikenal oleh umat manusia hingga hari ini. Meskipun terdapat propaganda dan kepalsuan yang menghiasi sistem-sistem tersebut, dan meskipun terdapat perang yang dideklarasikan atas Islam, akidahnya, dainya, dan pemeluknya.

Syubhat di Sekitar Orang-Orang yang Didakwahi (Mad'uwwin)

Para musuh dakwah dan dai tidak membiarkan orang-orang yang didakwahi tanpa peniupan keraguan atau pengguguran bagi makna-makna yang telah mereka ketahui tentang dakwah. Mereka tidak membiarkan kekosongan antara manusia dengan para dai; di mana manusia mendengar dari dai, meneladani mereka, dan mengamalkan dakwah mereka. Lantas bagaimana mungkin para musuh membiarkan tanaman yang segar tumbuh, bertunas, memiliki batang, dan membuahkan hasil? Dan bagaimana mungkin mereka membiarkan sihir kebenaran, keindahan logika, dan hidayah Allah bekerja di dalam hati, dan menetap di dalam dada dan sanubari? Hal ini tidak akan terjadi, dan tidak akan lewat dalam logika mereka tanpa adanya rintangan, rencana, atau syubhat di sana-sini.

Maka Anda melihat mereka memukul telinga manusia, dan mengacaukan pemikiran serta pemahaman mereka dengan kebatilan yang dihiasi, dan kebohongan yang busuk. Karena alasan inilah kita melihat Al-Qur'an memperingatkan dari setan-setan ini dan dari apa yang mereka sembunyikan di dalam dada mereka berupa kesesatan, firman-Nya:

"Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka tidak menyesatkan melainkan diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari. Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu menyaksikannya? Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? Dan segolongan dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), 'Berimanlah kamu pada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman pada awal siang dan ingkarilah pada akhirnya, agar mereka kembali (kepada kekafiran).'" (QS. Ali 'Imran: 69-72 [teks asli menuliskan 68-72, namun teks ayat mulai dari ayat 69]).

Maka kelompok sesat ini memasang jerat dan merajut konspirasi untuk menjauhkan manusia dari kebenaran dan mengacaukan mereka, dan mereka menginfakkan untuk hal itu waktu dan harta benda:

"Tidakkah engkau melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari Kitab? Mereka membeli kesesatan dan mereka menghendaki agar kamu tersesat dari jalan (yang lurus)." (QS. An-Nisa': 44).

Maka mereka ingin menyesatkan kaum Muslimin dengan berbagai sarana, jalan, dan tipu muslihat. Mereka berusaha menghapus rambu-rambu hidayah dari sekitar mereka agar tidak ada seorang pun di sekitar dakwah dan dai atau tidak ada yang menyambutnya. Kemudian mereka mengutamakan segala sesuatu dan memperbagus segala sesuatu meskipun sesuatu itu berupa penyembahan berhala, jibt, dan thaghut—daripada agama kaum Muslimin dan daripada dakwah hidayah. Dan permusuhan ini serta kecenderungan ini masih terus tumbuh subur hingga hari ini. Maka di dunia ini terdapat banyak penyembah sapi, berhala, dan hewan hari ini, namun tidak ada seorang pun dari orang-orang itu atau mereka yang membodoh-bodohkan akal mereka atau mencela sembahan mereka. Dan kita mendengar Al-Qur'an menceritakan tentang urusan yang aneh tersebut melalui firman-Nya:

"Tidakkah engkau melihat orang-orang yang diberi bagian dari Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa': 51).

Ibnu Ishaq mengeluarkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Orang-orang yang menghimpun pasukan sekutu (Ahzab) dari kaum Quraisy, Ghathafan, dan Bani Quraizhah, adalah sekumpulan orang dari Yahudi; mereka adalah Huyayy bin Akhtab, Salam bin al-Haqiq, Abu Rafi', Al-Rabi' bin al-Haqiq, Abu 'Amir, Haudzah bin Qais, dan sekumpulan rabi dari rabi-rabi Yahudi. Dan sisa dari mereka berasal dari Bani al-Nadhir. Ketika mereka mendatangi kaum Quraisy, mereka berkata: 'Mereka ini adalah para rabi Yahudi dan ahli ilmu dengan Kitab yang Pertama, maka tanyalah kepada mereka: apakah agama kalian yang lebih baik ataukah agama Muhammad?' Maka mereka bertanya kepada para rabi tersebut, lalu para rabi menjawab: 'Agama kalian lebih baik daripada agamanya, dan kalian lebih lurus jalannya daripada dia dan dari orang yang mengikutinya.'" Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: "Tidakkah engkau melihat orang-orang yang diberi bagian dari Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah. Dan barangsiapa dilaknat Allah, niscaya engkau tidak akan mendapati penolong baginya." (QS. An-Nisa': 51-52).

Dan sungguh aneh ucapan Yahudi tersebut, bahwa agama kaum musyrik lebih baik daripada agama Muhammad dan orang-orang yang bersama beliau, dan bahwa kaum musyrik lebih lurus jalannya daripada orang-orang yang beriman kepada wahyu dan hidayah. Akan tetapi pada hakikatnya hal itu tidak aneh bagi Yahudi dan sekutu-sekutu mereka dari kalangan musuh kebenaran, karena sesungguhnya mereka hanyalah beraktivitas demi ketamakan mereka yang tidak pernah berakhir, hawa nafsu mereka yang tidak pernah padam, dan dendam mereka yang tidak pernah sirna. Kekafiran itu seluruhnya adalah satu agama (millah), dan kekafiran serta kesesatan tidak akan pernah mendapati di sisi kebenaran dan pengembannya adanya bantuan sedikit pun dalam urusan ketamakan, hawa nafsu, dan dendam mereka. Melainkan mereka selalu mendapati kemenangan dan bantuan di sisi para pengikut kebatilan.

Kondisi ini bersifat permanen dan sebab terjadinya pun mapan tegak. Mereka mengatakan hari ini dan esok, bahwa mereka akan mendistorsi dengan sarana-sarana propaganda yang berada di tangan mereka setiap gerakan Islam yang sukses di muka bumi, membantu kebatilan untuk melawannya, meniupkan syubhat di sekitarnya, dan memfitnah manusia di sekitarnya untuk mendistorsinya dan menghancurkannya. Serta bahwa mereka akan meminta bantuan dengan setiap kebatilan dan kebatilan akan membantu mereka, dan meminta pertolongan dengan setiap orang yang menyimpang dan ia akan menolong mereka; dengan harapan mereka mampu menghabisi kebenaran, pengembannya, dan dainya. Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Para pemilik syubhat selalu memakai jubah para rahib, dan pakaian para pemberi nasihat yang mengkhawatirkan kondisi manusia, mengkhawatirkan maslahat mereka, dan keuntungan mereka sebagaimana yang mereka klaim. Maka mereka mengatakan bahwa mereka begadang demi kenyamanan manusia, terjaga demi ketenteraman mereka, bersedih karena kesedihan mereka, dan bahagia karena kebahagiaan mereka. Mereka masuk dengan cara ini ke dalam jiwa manusia bahwa mereka adalah para pemberi nasihat yang wajib didengar ucapannya, pemilik pemikiran yang wajib dipasrahkan kepadanya, dan ahli keikhlasan yang wajib berjalan di belakangnya.

Oleh karena itu, jika mereka menyeru manusia kepada sesuatu hal, niscaya manusia harus keluar dengan cepat menyambutnya dalam keadaan terengah-engah, seraya memuji dan bersyukur, karena seruan ini dan dakwah tersebut tidak dimaksudkan melainkan demi kemuliaan mereka, kebahagiaan mereka, kesejahteraan mereka, dan penjagaan atas keyakinan mereka, warisan mereka, peninggalan nenek moyang mereka, keagungan umat mereka, dan kehormatan bangsa mereka, dll., dll. Karena alasan inilah kita melihat para pemilik kebohongan, kedustaan, penipuan, kecurangan, kelampauan batas, dan penindasan mengolok-olok akal manusia dan pemahaman mereka, serta memprovokasi massa melawan kebenaran dan pengembannya. Kita melihat mereka di dalam Al-Qur'an memprovokasi massa melawan Ibrahim 'Alaihissalam untuk membunuhnya dan membakarnya demi membela bangunan-bangunan yang runtuh ini dan membela kebatilan yang mapan ini; bukan demi agama mereka sebagaimana yang mereka klaim, dan bukan demi tuhan-tuhan mereka sebagaimana yang mereka tampakkan. Karena berhala-berhala itu adalah benda-benda yang tidak memberi manfaat atau mendatangkan mudarat, melainkan ia hanyalah tirai dan kabut yang menutupi kezaliman orang-orang tersebut, syahwat mereka, dan hawa nafsu mereka. Dan Al-Qur'an menceritakan pemandangan yang aneh ini melalui firman-Nya:

" Mereka berkata, “Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar hendak berbuat.'" (QS. Al-Anbiya': 68).

Bantulah batu-batu dengan cara membunuh para nabi dan membunuh hidayah. Sungguh sebuah malapetaka yang aneh, dan kesesatan yang jauh. Orang-orang yang lalai mengira bahwa ini adalah jalan untuk membunuh kebenaran, menjauhkan hidayah, dan mengokohkan kebatilan; namun mereka melupakan kekuatan kebenaran, kekuatan Dzat Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa, wibawa hidayah, cahaya risalah, dan sinar pagi hari dalam firman-Nya Ta'ala:

"Kami (Allah) berfirman, 'Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan keselamatan bagi Ibrahim.' Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi." (QS. Al-Anbiya': 69-70).

Bagaimana bisa batu-batu berubah menjadi tuhan-tuhan? Demikianlah para tuan menghendaki agar keinginan mereka menjadi kehendak mutlak.

Dan bagaimana bisa demi batu-batu itu para nabi dan rasul dibakar, hidayah terbenam dan meleleh di dalam jilatan api neraka? Dan bagaimana bisa bangsa-bangsa tersebut bersegera berkumpul bersama, patuh seraya menundukkan kepala, tidak mendengar adanya keberatan, perselisihan, pengingkaran, atau bahkan sekadar berpaling? Apakah tidak ada di antara mereka seorang lelaki yang rasyid (cerdas)?!! Sesungguhnya ia adalah propaganda yang matang, penjinakan yang lihai, perbudakan yang melumat, dan penghinaan yang mematikan.

Dan Anda mendengar penipuan yang sama dan kesesatan yang sama keluar dari lisan Firaun, lingkaran dalamnya, dan para pembantunya dalam menghadapi Musa dan memusuhinya: ketika Musa mendebatnya, dan para pesihir beriman ketika sinar mukjizat menyilaukan mereka, Firaun berkata: "Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu tipu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). Pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang, kemudian pasti akan aku salib kamu semuanya." (QS. Al-A'raf: 123-124). Artinya bahwa hidayah dan pengikutan kepada Musa merupakan sebuah konspirasi atas manusia dan atas kota, serta bentuk pemikatan terhadap akal manusia untuk menyeret mereka menuju kerusakan, meninggalkan rumah-rumah dan menghancurkannya. Di dalam tindakan ini terdapat perusakan terhadap ekonomi, penghentian aktivitas tenaga kerja, pengetiman anak-anak, pemutusan hubungan keluarga, pemisahan antara suami dan istrinya, dan dakwah untuk membenci tanah air, serta pengalihan loyalitas darinya menuju pihak yang lain.

Hingga daftar-daftar lain yang dipersiapkan untuk menipu manusia, memprovokasi mereka, dan membakar emosi mereka melawan hidayah dan melawan para dai yang menyeru kepadanya. Dengan maksud menimbulkan fitnah dan mencari takwilnya dari tujuan aslinya yang dimaksudkan darinya, yaitu menjaga kebatilan dan pengikutnya serta menghancurkan kebenaran dan pengembannya. Dan mereka merancang tipu daya dan Allah merancang tipu daya, dan Allah adalah sebaik-baik perancang tipu daya.

Pembahasan Kelima

Sikap Da'i Terhadap Syubhat [Kerancuan Berpikir/Tuduhan Palsu]

Tidak diragukan lagi bahwa syubhat membentuk rintangan-rintangan di hadapan seorang da'i, meletakkan hambatan-hambatan di jalurnya, dan menyebabkan rasa sakit secara psikologis yang tidak boleh diremehkan. Meskipun dampak ini berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lain, dan antara satu da'i dengan da'i lainnya berdasarkan situasi, kondisi lingkungan yang mengelilinginya, serta kedudukannya di tengah kaumnya, namun secara umum syubhat tersebut menyebabkan kepedihan, kebingungan, dan pencemaran opini publik terhadap sang da'i.

Sesungguhnya masyarakat tidak akan pernah sepi dari orang-orang yang berjiwa lemah, orang-orang munafik, dan orang-orang jahil yang membentuk kelompok massa yang gemar menikmati syubhat-syubhat semacam ini, lalu menjelma menjadi corong-corong yang menyuarakan kebohongan tersebut.

Ambillah contoh Rasulullah di tengah kaum dan para sahabat beliau. Kedudukan beliau di antara mereka tidaklah tersembunyi, dan kecintaan manusia kepada Rasulullah pun tidak pernah tertutupi. Walaupun demikian, sebuah rumor tetap bisa berembus, kedustaan disebarkan, dan syubhat diembuskan, sehingga Anda akan menemukan di tengah kaum itu ada orang-orang yang mengunyahnya, mengulang-ulangnya, dan ikut menyebarluaskannya.

Contohnya adalah peristiwa Haditsul Ifki (berita bohong) yang terjadi dalam urusan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Berita ini dilemparkan oleh gembong kebohongan dan fitnah dari kalangan kaum munafik dengan tujuan menyakiti Rasulullah dan mencemarkan nama baik beliau. Sebagian orang mukmin yang teperdaya pun ikut hanyut di dalamnya, seperti Misthah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahsy.

Peristiwa ini telah menguras banyak hal dari jiwa-jiwa paling suci dalam sejarah umat manusia seluruhnya, serta menimpakan kepedihan yang tak tertahankan. Peristiwa ini juga menuntut seluruh umat Islam melewati sebuah ujian yang paling berat dalam sejarahnya yang panjang, serta melanda hati orang-orang besar dengan kebingungan, keraguan, dan kecemasan. Peristiwa ini mengguncang hati Rasulullah , hati Aisyah radhiyallahu 'anha, hati Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, dan hati Shafwan bin al-Mu'aththal. Fitnah tersebut melanda mereka dengan kecemasan, kepedihan, dan kesedihan yang tak tertahankan selama satu bulan penuh. Mengapa demikian? Karena fitnah ini menyasar rumah tangga kenabian yang suci lagi mulia; menyasar kehormatan Rasulullah , manusia paling mulia di sisi Allah dan di mata umat Islam; menyasar kehormatan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, manusia paling mulia di mata kaum muslimin setelah Rasulullah; serta menyasar kehormatan seorang sahabat pria, Shafwan bin al-Mu'aththal, yang mana Rasulullah dan kaum muslimin tidak pernah mengetahui darinya melainkan melulu kebaikan.

Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kisah ini:

Imam Ahmad mengeluarkan riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah jika hendak keluar untuk melakukan suatu perjalanan, beliau mengundi di antara para istrinya. Maka, siapa saja di antara mereka yang keluar undiannya, Rasulullah akan keluar bersamanya. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Maka beliau mengundi di antara kami dalam sebuah peperangan yang beliau ikuti, lalu keluarlah undian namaku. Aku pun keluar bersama Rasulullah , dan peristiwa itu terjadi setelah turunnya ayat hijab. Aku dibawa di dalam sekedupku [tandu di atas unta] dan diturunkan bersama sekedup itu.

Kami terus berjalan hingga ketika Rasulullah telah selesai dari peperangannya tersebut dan kembali pulang. Saat kami telah dekat dengan Madinah, beliau mengumumkan pada suatu malam untuk melanjutkan perjalanan. Aku pun bangkit ketika mendengar pengumuman itu, lalu berjalan hingga melewati batas pasukan. Setelah aku menyelesaikan hajatku, aku kembali menuju tempat pemberhentianku. Aku meraba dadaku, ternyata kalungku yang terbuat dari manik-manik Zhafar [nama kota di Yaman] telah terputus. Maka aku kembali untuk mencari kalungku, dan pencarian itu menahanku.

Sementara itu, rombongan orang yang bertugas menyiapkan tanduku datang, lalu mereka mengangkat sekedupku dan menaikkannya ke atas unta yang biasa aku tunggangi. Mereka menyangka bahwa aku berada di dalamnya. Aisyah berkata: Pada masa itu kaum wanita bertubuh ringan, tidak gemuk, dan tidak tertutup oleh daging (lemak), karena mereka hanya memakan sedikit makanan. Oleh karena itu, orang-orang tidak menaruh curiga terhadap ringannya sekedup tersebut saat mereka mengangkat dan membawanya, apalagi aku saat itu adalah seorang gadis yang masih belia.

Maka mereka mengalihkan unta itu lalu berangkat berjalan. Aku baru menemukan kalungku setelah pasukan itu berlalu pergi. Ketika aku mendatangi tempat pemberhentian mereka, di sana sudah tidak ada lagi orang yang memanggil ataupun menjawab. Maka aku menuju ke tempat istirahatku semula, dan aku menyangka bahwa orang-orang akan menyadari kehilanganku lalu kembali kepadaku.

Tatkala aku sedang duduk di tempatku, mataku terasa berat lalu aku tertidur. Sementara itu, Shafwan bin al-Mu'aththal as-Sulami adz-Dzakwani berada di belakang pasukan untuk beristirahat di akhir malam. Ia lalu berjalan di sisa malam dan sampai di tempatku pada pagi hari. Ia melihat bayangan hitam seseorang yang sedang tidur, lalu ia mendatangiku dan mengenaliku saat melihatku. Ia memang pernah melihatku sebelum ayat hijab turun.

Aku pun terbangun karena ucapan istirja' [kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un] yang diucapkannya saat mengenalku. Maka aku segera menutup wajahku dengan jilbabku. Demi Allah, ia tidak mengajakku bicara sepatah kata pun, dan aku tidak mendengar darinya satu kalimat pun selain ucapan istirja'-nya tersebut, hingga ia menderumkan tunggangannya lalu menginjak kaki depan unta itu. Aku pun menungganginya, lalu ia berjalan menuntun tunggangan yang membawaku hingga kami mendatangi pasukan setelah mereka berhenti beristirahat di tengah terik siang.

Maka binasalah orang yang binasa dalam urusanku ini, dan orang yang mengambil porsi terbesar dalam menyebarkan kebohongan ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.

Kemudian kami tiba di Madinah, lalu aku jatuh sakit selama satu bulan sejak kedatangan kami, sementara orang-orang sedang ramai memperbincangkan ucapan para penyebar berita bohong tersebut, sedangkan aku tidak menyadari sedikit pun tentang hal itu. Namun, ada hal yang meragukanku saat aku sakit, yaitu aku tidak melihat kelembutan dari Rasulullah yang biasa aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Rasulullah hanya masuk, mengucapkan salam, kemudian bertanya: "Bagaimana keadaan kalian (wanita itu)?" Itulah yang membuatku ragu, namun aku tetap tidak menyadari adanya keburukan, hingga aku keluar setelah masa penyembuhanku.

Ketika itu, Ummu Misthah keluar bersamaku menuju Al-Manashid' [tempat buang hajat], dan itu adalah tempat buang hajat kami. Kami tidak keluar melainkan dari malam ke malam, dan hal itu terjadi sebelum kami membuat tempat buang hajat di dekat rumah-rumah kami. Kebiasaan kami saat itu sama seperti kebiasaan orang Arab terdahulu dalam hal membuang hajat di padang terbuka, karena kami merasa terganggu jika membuat tempat buang hajat di dalam rumah-rumah kami.

Maka aku berangkat bersama Ummu Misthah, ia adalah putri Abu Ruhm bin al-Muththalib bin Abdi Manaf, dan ibunya adalah putri Shakhr bin Amir, bibi Abu Bakar ash-Shiddiq, sedangkan putranya adalah Misthah bin Utsatsah bin Abdul Muththalib. Aku dan putri Abu Ruhm (Ummu Misthah) berjalan menuju rumahku setelah kami selesai dari urusan kami. Tiba-tiba Ummu Misthah tersandung kain mantelnya, lalu ia berkata: "Celakalah Misthah!" Maka aku berkata kepadanya: "Buruk sekali apa yang kamu katakan! Apakah kamu mencerca seorang pria yang telah ikut serta dalam Perang Badar?" Ia berkata: "Wahai gadis lugu, apakah kamu belum mendengar apa yang telah ia katakan?" Aku bertanya: "Apa yang telah ia katakan?" Aisyah melanjutkan: Maka ia mengabarkan kepadaku tentang ucapan para penyebar berita bohong (Ahlul Ifki). Mendengar hal itu, penyakitku pun bertambah di atas penyakitku yang sudah ada. Tatkala aku kembali ke rumahku, Rasulullah masuk lalu bertanya: "Bagaimana keadaan kalian (wanita itu)?" Maka aku berkata: "Izinkan aku untuk mendatangi kedua orang tuaku." Aku saat itu ingin memastikan kebenaran berita tersebut dari pihak keduanya, maka beliau mengizinkanku.

Aku pun mendatangi kedua orang tuaku, lalu aku bertanya kepada ibuku: "Wahai ibuku, apa yang sedang diperbincangkan oleh orang-orang?" Ibuku menjawab: "Wahai putriku, ringankanlah urusan ini atas dirimu. Demi Allah, jarang sekali ada seorang wanita cantik yang berada di sisi seorang pria yang mencintainya, dan ia memiliki madu-madu (istri-istri lain) melainkan mereka akan memperbanyak cerita miring tentangnya." Aku berkata: "Subhanallah! Apakah benar orang-orang telah memperbincangkan hal ini?" Aisyah berkata: Maka aku menangis pada malam itu hingga pagi hari, air mataku tidak pernah berhenti berlinang dan mataku tidak bisa terpejam oleh tidur. Kemudian pada pagi harinya aku masih terus menangis. Sementara itu, Rasulullah memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu ketika wahyu tidak kunjung turun, untuk meminta pendapat keduanya mengenai kemungkinan menceraikan istrinya.

Aisyah berkata: Adapun Usamah, ia memberikan pendapat kepada beliau berdasarkan apa yang diketahuinya tentang kesucian istri beliau, dan berdasarkan rasa kasih sayang yang ada di dalam dirinya terhadap mereka. Usamah berkata: "Mereka adalah istrimu, wahai Rasulullah, dan demi Allah, kami tidak mengetahui tentang mereka melainkan melulu kebaikan." Adapun Ali bin Abi Thalib, ia berkata: "Wahai Rasulullah, Allah tidak memberikan kesempitan kepadamu, dan wanita selain dia masih banyak. Tanyakanlah kepada budak perempuan itu [Barirah], niscaya ia akan berkata jujur kepadamu." Aisyah berkata: Maka Rasulullah memanggil Barirah, lalu beliau bertanya: "Wahai Barirah, apakah kamu melihat sesuatu yang meragukanmu darinya?" Barirah menjawab: "Tidak, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai seorang Nabi. Aku tidak pernah melihat padanya suatu urusan yang aku cela darinya lebih dari bahwa ia adalah seorang gadis belia yang tertidur di dekat adonan tepung keluarganya, lalu datanglah hewan ternak (kambing) kemudian memakannya."

Aisyah berkata: Maka Rasulullah bangkit pada hari itu juga, dan meminta pertanggungjawaban atas sikap Abdullah bin Ubay bin Salul. Beliau bersabda saat berada di atas mimbar:

مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ رَجُلٍ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي أَهْلِي، فَوَاللهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا خَيْرًا، وَلَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلًا مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا، وَمَا كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا مَعِي

Artinya: "Siapakah yang mau membelaku dari seorang pria yang gangguannya telah sampai kepadaku terkait urusan keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku melainkan kebaikan. Dan sungguh mereka telah menyebut-nyebut seorang pria yang aku tidak mengetahui darinya melainkan kebaikan, dan tidaklah ia masuk menemui keluargaku melainkan bersamaku."

Aisyah berkata: Maka Saad bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu bangkit lalu berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah akulah yang akan membelamu darinya. Jika ia berasal dari suku Aus, maka kami akan memenggal lehernya. Dan jika ia berasal dari saudara-saudara kami dari suku Khazraj, maka laksanakanlah perintahmu kepada kami terhadapnya." Mendengar hal itu, Saad bin Ubadah radhiyallahu 'anhu—ia adalah pemimpin suku Khazraj, seorang pria yang saleh, namun ia terlanjur dikuasai oleh rasa kesukuan—bangkit lalu berkata kepada Saad bin Mu'adz: "Kamu berbohong, demi umur Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan kamu tidak akan mampu melakukan hal itu." Maka bangkitlah Usaid bin Hudhair radhiyallahu 'anhu—ia adalah sepupu Saad bin Mu'adz—lalu berkata kepada Saad bin Ubadah: "Kamu berbohong, demi umur Allah! Kami benar-benar akan membunuhnya, karena sesungguhnya kamu adalah seorang munafik yang membela kaum munafik." Maka bergejolaklah kedua suku tersebut, yaitu Aus dan Khazraj, hingga mereka hampir saja saling membunuh, sementara Rasulullah masih berada di atas mimbar. Beliau terus berusaha menenangkan mereka hingga mereka diam dan beliau pun turun.

Aku terus menangis pada hari itu, air mataku tidak pernah berhenti berlinang dan mataku tidak bisa terpejam oleh tidur. Kemudian aku menangis lagi pada malam berikutnya, air mataku tidak kunjung berhenti berlinang dan mataku tidak bisa terpejam oleh tidur. Kedua orang tuaku mendapati diriku dalam keadaan telah menangis selama dua malam dan satu hari, sampai-sampai aku menyangka bahwa tangisan itu akan membelah hatiku.

Tatkala keduanya sedang duduk di dekatku sementara aku terus menangis, tiba-tiba seorang wanita dari kaum Ansar meminta izin, lalu aku mengizinkannya. Ia pun duduk menangis bersamaku. Saat kami berada dalam kondisi yang demikian, tiba-tiba Rasulullah masuk menemui kami, lalu beliau duduk. Beliau tidak pernah duduk di dekatku sejak hari pertama diucapkannya apa yang diucapkan sebelum itu. Beliau telah tinggal selama satu bulan tanpa ada wahyu yang diturunkan kepada beliau mengenai urusanku sedikit pun.

Beliau membaca syahadat ketika duduk, kemudian bersabda: "Amma ba'du. Sesungguhnya telah sampai kepadaku darimu berita begini dan begitu. Jika kamu berada dalam posisi berlepas diri (bersih), maka Allah Ta'ala akan membersihkanmu. Namun jika kamu telah terlanjur melakukan suatu dosa, maka mohonlah ampunan kepada Allah Ta'ala dan bertaubatlah kepada-Nya. Karena sesungguhnya seorang hamba jika mengakui dosanya kemudian bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatnya." Tatkala Rasulullah telah menyelesaikan ucapannya, air mataku langsung surut hingga aku tidak merasakan setetes pun darinya. Maka aku berkata kepada ayahku: "Jawablah Rasulullah atas apa yang beliau katakan!" Ayahku menjawab: "Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah ." Maka aku berkata kepada ibuku: "Jawablah Rasulullah atas apa yang beliau katakan!" Ibuku menjawab: "Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah ."

Aisyah berkata: Dan aku adalah seorang gadis yang masih belia, yang belum banyak membaca Al-Qur'an. Maka aku berkata: "Sesungguhnya aku, demi Allah, mengetahui bahwa kalian telah mendengar berita yang diperbincangkan oleh orang-orang ini, dan berita itu telah menetap di dalam jiwa kalian serta kalian telah membenarkannya. Maka sekiranya aku katakan kepada kalian bahwa aku bersih—dan Allah mengetahui bahwa aku benar-benar bersih—kalian tidak akan membenarkanku dalam hal itu. Dan sekiranya aku mengakui kepada kalian suatu urusan—padahal Allah mengetahui bahwa aku bersih darinya—niscaya kalian akan membenarkanku. Maka demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan bagi diriku dan kalian melainkan seperti ayah Yusuf [Nabi Ya'qub] tatkala ia berkata: 'Maka kesabaran yang indah (itulah yang terbaik). Dan Allah tempat memohon pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.'"

Kemudian aku berbalik lalu berbaring di atas tempat tidurku. Aku saat itu mengetahui bahwa aku bersih dan bahwa Allah Ta'ala akan membersihkanku karena kesucianku. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka bahwa Allah Ta'ala akan menurunkan wahyu yang terus dibaca mengenai urusanku. Urusanku di dalam diriku sendiri terasa lebih remeh daripada sekadar Allah Ta'ala berfirman tentangku dalam suatu urusan yang terus dibaca. Namun, aku tadinya berharap agar Rasulullah melihat suatu mimpi di dalam tidurnya yang dengannya Allah Ta'ala membersihkan namaku.

Maka demi Allah, beliau belum beranjak dari tempat duduknya dan tidak ada seorang pun dari penghuni rumah yang keluar, hingga Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Beliau pun mengalami kondisi berat yang biasa menimpanya saat wahyu turun [berupa keringat yang mengucur]. Setelah kondisi itu mengendur dari beliau, beliau pun tertawa. Kata pertama yang beliau ucapkan adalah beliau bersabda kepadaku: "Wahai Aisyah, pujilah Allah Ta'ala, karena sesungguhnya Dia telah membersihkan namamu!" Maka ibuku berkata kepadaku: "Bangkitlah menuju Rasulullah !" Aku menjawab: "Demi Allah, aku tidak akan bangkit menuju kepadanya dan aku tidak akan memuji melainkan kepada Allah Ta'ala. Dialah Dzat yang telah menurunkan pembebasanku." Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam pembuatan dan penyebaran berita bohong itu, baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tidak menyangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.'"

(QS. An-Nur: 11-12) hingga sepuluh ayat (An-Nur: 11-20).

Inilah kisah yang dibawa oleh komplotan penyebar berita bohong (Usbatul Ifki). Jadi, bukan Abdullah bin Salul seorang diri yang melepaskan fitnah ini dan mempromosikannya, melainkan bersamanya ada sekelompok orang dari kaum munafik dan Yahudi yang tidak mampu memerangi Islam secara terang-terangan. Maka mereka bersembunyi di balik metode tipu daya dan pencemaran nama baik untuk merusak Islam dan da'inya secara sembunyi-sembunyi. Peristiwa Haditsul Ifki adalah salah satu dari tipu daya mematikan mereka.

Kemudian sebagian kaum muslimin terpengaruh oleh mereka, lalu ikut hanyut di dalamnya orang-orang yang ikut hanyut. Padahal, seharusnyalah bagi mereka untuk melakukan tabayyun (konfirmasi) dan berprasangka baik terhadap kaum mukmin laki-laki dan perempuan, serta merasa tenang karena hati yang beriman—terutama di dalam rumah tangga kenabian—mustahil melakukan urusan keji tersebut. Peristiwa ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang mukmin agar mereka selalu waspada terhadap rumor-rumor semacam itu, dan agar mereka percaya pada keimanan mereka serta diri mereka sendiri, dan tidak ikut hanyut bersama orang-orang yang tenggelam dalam menyebarkan syubhat dengan tujuan mencemarkan nama baik kaum muslimin.

Sungguh, ini adalah sebuah pertempuran yang dilalui oleh Rasulullah , dilalui oleh masyarakat muslim dan jamaah muslimah yang masih belia pada masa itu, serta dilalui oleh dakwah. Rasulullah keluar darinya sebagai pemenang yang agung, dengan melipat luka-lukanya, menahan kepedihannya, sembari tetap menjaga kewibawaan dirinya, kesucian ucapannya, dan kesabaran hatinya. Tidak ada riwayat yang terekam dari beliau pada periode kritis ini—meskipun beliau ditikam pada bagian yang paling berharga di dalam rumah tangganya—bahwa beliau melakukan suatu tindakan yang remeh atau gegabah yang sampai memecah belah barisan jamaah mukminah atau memalingkan mereka dari tujuannya.

Sungguh, periode tersebut sangat kritis dan berbahaya bagi dakwah, bagi reputasinya, dan bagi keagungannya. Bahkan, barangkali peristiwa itu termasuk di antara kepedihan dan ujian terbesar yang dihadapi oleh dakwah Islam dalam sejarahnya. Akan tetapi, keimanan sang pemimpin, kecerdikannya, keagungan Rasul, keimanan, serta kesabaran beliau, jauh lebih besar dan lebih kokoh daripada ujian tersebut. Oleh karena itulah, Allah memberikan jalan keluar dari kesempitan ini, dan menampakkan kebenaran setelah memberikan pelajaran yang bermanfaat namun bermakna pedih bagi jamaah muslimah, serta setelah melewati ujian yang berat, namun berfungsi sebagai imunisasi bagi barisan dan bekal bagi mereka di atas jalan dakwah, agar tidak terpedaya lagi oleh hal-hal semacam ini di masa mendatang.

Maka, sikap da'i dalam menghadapi syubhat diringkas ke dalam beberapa urusan, di antaranya:

Apa yang Seyogianya Dilakukan oleh Da'i:

1. Menjauhkan Diri dari Syubhat:

Sepantasnya bagi seorang da'i untuk menjauhkan diri dari syubhat sebisa mungkin yang ia dapati jalan ke arah sana, berdasarkan sabda Rasulullah :

مَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ، اسْتَبْرَأَ لِعِرْضِهِ وَدِينِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكَ أَنْ يُوَاقِعَهُ

Artinya: "Barangsiapa yang menjaga diri dari syubhat (perkara yang samar), maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan barangsiapa yang jatuh ke dalam syubhat, maka ia seperti seorang penggembala yang menggembala di sekitar kawasan terlarang, dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya." (Bagian dari hadis yang disepakati kesahihannya [Muttafaqun 'Alaih]).

Maka, barangsiapa yang menjauhkan diri dari syubhat, ia akan aman dari cacat yang dicari-cari manusia tentangnya, membersihkan kehormatannya, berhati-hati untuk dirinya, agamanya, serta dakwahnya, memotong jalan bagi banyak orang yang mengintainya, menghemat banyak tenaga dan waktunya, serta bekerja untuk menenangkan jiwa, pikiran, dan hatinya.

Dari Abul Jauza', dari Ibnu Abbas [Teks asli menyebutkan Ibnu Al-Jauza' secara keliru, yang benar adalah Abul Jauza' dari Ibnu Abbas, atau Abu Al-Hawra' as-Sa'di], ia berkata: Aku bertanya kepada Al-Hasan bin Ali: "Apa yang kamu hafal dari Rasulullah ?" Ia menjawab: Aku menghafal dari beliau sabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

Artinya: "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu." (HR. An-Nasai, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih).

Hassan bin Sinan berkata: "Aku tidak melihat sesuatu yang lebih mudah daripada sifat warak; tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Para sahabat dan ulama terdahulu selalu menjauhkan diri dari syubhat, khususnya pada masa-masa fitnah, di saat setiap kekhilafan ditakuti dan manusia selalu menyoroti mereka. Dahulu Al-Mukhtar pernah mengirimkan hadiah-hadiah kepada Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, lalu keduanya menerimanya. Namun, ketika Abdul Malik bin Marwan mengirimkan sejumlah harta kepada Ibnu Umar pada masa fitnah pertempuran melawan Ibnu az-Zubair, beliau menolak untuk menerimanya. Tatkala fitnah tersebut telah lenyap, Abdul Malik mengirimkan lagi kepadanya, lalu beliau menerimanya. Artinya, beliau menahan diri pada masa fitnah karena takut akan tuduhan miring, dan agar tidak dikatakan bahwa beliau mendukung salah satu pihak dalam fitnah tersebut. Ketika kekuasaan telah stabil dan orang-orang mukmin telah tenang, maka syubhat itu pun hilang.

Yang dimaksudkan dari seorang da'i dalam urusan ini adalah agar sang da'i meneliti setiap ucapan yang ia katakan, mengetahui pintu masuk dan keluarnya, serta dalam setiap perbuatan yang ia lakukan, ia mengetahui dampaknya dan apa saja yang dapat diakibatkannya, atau kesulitan, beban, maupun syubhat yang diseret oleh perbuatan tersebut.

Kami sebutkan sebuah peristiwa kontemporer yang menimpa salah seorang ulama yang mulia, yaitu Syekh Musthafa Abdul Raziq, seorang ulama besar yang dipersaksikan ilmu dan keutamaannya oleh manusia. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Wakaf Mesir kemudian menjadi Syekh Al-Azhar. Beliau diundang ke sebuah acara yang diadakan oleh seorang wanita bernama Huda Sya'rawi.

Huda Sya'rawi ini adalah orang yang menyerukan emansipasi/pembebasan wanita sebagaimana yang mereka katakan, dan ia menjadi kepanjangan tangan bagi pemikiran-pemikiran kolonialisme serta invasi budaya (ghazwul fikri) yang menyerang dunia Timur pada periode tersebut. Ia memiliki kedudukan di mata kaum penjajah, orientalis, dan para penyeru pembaratan (tasgrib) atau perusakan. Acara-acaranya selalu bercampur baur (ikhtilath) antara pria dan wanita.

Di dalam acara tersebut disajikan apa yang biasa disajikan dalam perayaan sejenis, dan ia memilih momen apa saja untuk memperbanyak pertemuan dan perkenalan antar lawan jenis sehingga memicu keakraban. Wanita ini telah mengundang sang Syekh, Musthafa Abdul Raziq yang menjabat sebagai Menteri Wakaf Mesir pada waktu itu, ke salah satu dari acara-acara ini dengan kedok aksi amal.

Begitu sang Syekh masuk, Huda bersama beberapa wanita cantik langsung mengelilinginya dalam sebuah jebakan yang telah direncanakan. Surat kabar kemudian mempublikasikan foto Menteri Wakaf Syekh Musthafa Abdul Raziq dalam sebuah bidikan di depan Huda Sya'rawi dalam acara tersebut, dengan posisi yang membayangkan bagi orang yang melihatnya pada pandangan pertama seolah-olah sang Syekh dengan sorbannya sedang berdansa bersama Huda Sya'rawi, sementara wanita itu memegang sebatang rokok di tangannya. Majalah Al-Musawwar Mesir sengaja memuat foto tersebut dalam ukuran yang memenuhi satu halaman penuh.

Hal ini membuat sebagian orang yang memiliki gairah (cemburu terhadap agama) menulis sebuah artikel dengan judul "Sorban Ini, Kami Berlepas Diri Darinya," dan meminta tindakan dari raja pada waktu itu. Artikel tersebut dicetak, dan yang menambah parah keadaan adalah sebagian orang mencetak artikel beserta foto tersebut dalam bentuk selebaran lalu membagikannya di jalan-jalan kota Kairo.

Begitu artikel itu sampai kepada Muhammad Mahmud Basya, Menteri Dalam Negeri sekaligus Perdana Menteri pada waktu itu yang sedang sakit terbaring di tempat tidur, ia langsung mengamuk dan memerintahkan penyitaan majalah tersebut serta mengadili pemimpin redaksinya. Akan tetapi, Syekh Musthafa Abdul Raziq—pria yang mulia itu—ketika mengetahui hal tersebut, segera bergegas menuju rumah Perdana Menteri dan mengancam akan mengundurkan diri jika ada tindakan yang dilaksanakan dari apa yang diperintahkan oleh Perdana Menteri. Beliau berkata: "Wahai Basya, akulah yang bersalah. Tidak seharusnya aku menghadiri perayaan ini, dan wajib bagiku untuk menyelidiki serta memastikan hakikatnya sebelum pergi ke perayaan tersebut."

Dari peristiwa ini, kita melihat betapa besarnya tingkat kebusukan dan kelicikan yang dirancang untuk menjebak para da'i dan ulama. Di sisi lain, kita juga melihat tingkat keterusterangan para ulama, pengakuan mereka terhadap kesalahan, kepercayaan diri mereka, serta tindakan mereka dalam mencegah bahaya apa pun yang menimpa orang lain akibat kesalahan yang muncul dari mereka. Ini adalah tindakan yang ksatria dan jelas dari sang Syekh rahimahullah, dan merupakan penempatan urusan pada porsinya yang tepat.

Aku pernah memperhatikan salah seorang da'i besar dalam kondisi-kondisi semacam ini. Jika beliau diundang ke sebuah perayaan yang secara lahiriah mengandung kebaikan, atau beliau berprasangka kuat bahwa acara itu memiliki hakikat tertentu namun dilapisi oleh kepalsuan, atau beliau meragukan tindakan penyelenggaranya seperti acara pernikahan, momentum tertentu, atau yang sejenisnya; beliau akan mengutus salah seorang yang loyal untuk menyelidiki urusan tersebut. Jika utusan itu menemukan hal yang memicu syubhat, beliau akan meminta maaf (uzur) atau mengirimkan telegram ucapan selamat tanpa menghadirinya. Namun jika urusannya biasa saja dan tidak ada hal yang mencoreng rasa malu atau menyelisihi ajaran Islam, beliau akan pergi, memberikan penghormatan, dan memenuhi undangan tersebut, dan tidak ada dosa baginya dalam hal itu.

Oleh karena itu, seorang da'i haruslah cerdas, pemikir, mampu memperkirakan dampak dari segala urusan, menggunakan pikiran yang telah Allah anugerahkan kepadanya, tidak berjalan berdasarkan emosi dalam seluruh urusannya, dan tidak menjadikan spontanitas sebagai pemandu. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman kepadanya:

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra': 36)

Maka wajib bagi seorang da'i untuk memiliki bashirah (mata batin/ilmu yang nyata), melihat segala urusan di bawah cahaya dakwah dan realitasnya, sehingga ia tidak mengucapkan suatu kalimat melainkan ia mengetahui dampak dan pengaruhnya. Sejak masa dahulu, Aktsam bin Shaifi telah berkata: "Kematian seorang pria berada di antara dua rahangnya [lidahnya]." Ia juga berkata: "Bisa jadi suatu ucapan lebih dahsyat daripada serangan pedang." Al-Muhallab berkata kepada anak-anaknya: "Jagalah diri kalian dari ketergelinciran lidah, karena sesungguhnya aku mendapati seorang pria yang tersandung kakinya maka ia bisa bangkit dari ketergelincirannya, namun jika tergelincir lidahnya, maka di dalam hal itu terdapat kebinasaannya."

Sebagaimana layaknya bagi seorang da'i untuk menjadi orang yang waspada lagi penyimpan rahasia bagi urusannya dari musuh-musuhnya. Ada sebuah pepatah mengatakan: "Barangsiapa yang menyembunyikan rahasianya, maka pilihan berada di tangannya. Dan barangsiapa yang memosisikan dirinya di tempat tuduhan, maka janganlah ia mencela melainkan dirinya sendiri." Pernah dikatakan kepada Abu Muslim: "Dengan urusan apa kamu mendapati urusan (kesuksesan) ini?" Ia menjawab: "Aku berbaju dengan ketenangan, bersarung dengan ketegasan, menyelisihi hawa nafsu, dan dibantu oleh takdir, maka aku mendapati apa yang aku cari dan meraih apa yang aku inginkan."

Telah diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah ucapannya:

(Penulis tidak mencantumkan kelanjutan teks syair di sini).

Dan beliau radhiyallahu 'anhu berkata: "Sembunyikanlah dirimu jangan sampai disebut-sebut, dan diamlah niscaya kamu akan selamat." [Hidayatul Mursyidin karya Syekh Ali Mahfuzh hal. 17 cet. Darul Ma'rifah (dinukil dari Imam Muhammad Abduh).]

Artinya dengan ucapan ini: Janganlah kamu membeberkan rahasiamu kepada musuh, dan jangan pula urusan dalammu kepada orang jahat yang mengintaimu, yang akan mencemarkan nama baikmu dan menjadikanmu sebagai sasaran bagi anak panahnya.

2. Membantah Syubhat dengan Hujjah (Argumen):

Terhadap syubhat yang membutuhkan penjelasan. Sebab, terkadang ada syubhat yang tidak membutuhkan apa pun melainkan pengabaian. Syubhat yang membutuhkan penjelasan biasanya adalah syubhat yang memiliki gema yang keras, atau merupakan syubhat mendasar dalam dakwah atau pada diri sang da'i, atau syubhat yang memicu fitnah yang besar.

Kita telah melihat Rasulullah membantah syubhat Haditsul Ifki dengan hikmah dan logika, di mana beliau bersabda: "Siapakah yang mau membelaku dari seorang pria yang gangguannya telah sampai kepadaku terkait urusan keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku melainkan kebaikan. Dan sungguh mereka telah menyebut-nyebut seorang pria yang aku tidak mengetahui darinya melainkan kebaikan, dan tidaklah ia masuk menemui keluargaku melainkan bersمامي (bersamaku)."

Kita juga melihat Al-Qur'an membantah dengan hujjah atas peristiwa ini, serta memperingatkan kepada hal-hal yang wajib dipahami oleh manusia agar hukumnya menjadi benar. Di antara hal-hal tersebut adalah:

a. Wajib bagi kaum mukmin laki-laki dan perempuan untuk berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan tidak mendengarkan ucapan musuh serta kaum munafik.

b. Tidak boleh berbicara mengenai kehormatan berdasarkan prasangka. Barangsiapa yang menuduh, ia harus mendatangkan empat orang saksi, jika tidak maka ia harus diam atau didera dengan hukum qadzaf (tuduhan zina tanpa saksi).

c. Wajib menghadapkan setiap ucapan kepada akal dan logika dengan menggunakan hujjah-hujjah serta bukti-bukti, dan janganlah kalian berucap dengan mulut-mulut kalian tanpa hujjah atau ilmu.

d. Menyebarluaskan kekejian dan Menstigma kaum muslimin dengannya merupakan kejahatan di dunia dan akhirat yang menyeret kepada azab yang pedih di dalam keduanya, maka bagaimana lagi jika hal itu menimpa rumah tangga kenabian.

e. Al-Qur'an menutup pembicaraan tentang peristiwa fitnah Ifki ini dengan sebuah hakikat yang nyata dalam dunia manusia yang wajib menjadi timbangan saat menghukumi segala sesuatu. Yaitu bahwa jiwa yang khabis (buruk) akan menyatu dengan jiwa yang buruk pula, dan bahwa jiwa yang thayyib (baik) akan bercampur dengan jiwa yang baik. Atas dasar inilah hubungan di antara pasang suami istri dibangun, dan tidaklah mungkin bagi Aisyah radhiyallahu 'anha menjadi seperti apa yang mereka tuduhkan, sementara ia telah ditakdirkan untuk jiwa yang paling baik di atas muka bumi [Rasulullah ].

Kita melihat Al-Qur'an membantah tuduhan terhadap para Rasul dengan tuduhan sebagai dukun, tukang sihir, bodoh, dan gila, karena hal tersebut merupakan syubhat-syubhat yang mendasar.

Kita melihat Al-Qur'an juga membantah orang yang membilang-bilang tuhan (politeisme) dan orang yang mengingkari eksistensi Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta membantah setiap syubhat mendasar yang menyertai dakwah dan da'i.

Akan tetapi, pada saat yang sama Al-Qur'an memerintahkan untuk melewati syubhat-syubhat dan cercaan harian yang memiliki pengaruh kecil, serta memerintahkan untuk tidak berhenti di sana. Karena hal itu dapat menghambat da'i, menyibukkannya dari dakwahnya, dan membawanya jauh dari target spesifik yang telah dirancang yang seyogianya dicapai. Allah Ta'ala berfirman dalam mensifati orang-orang mukmin:

"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata: 'Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.'" (QS. Al-Qashash: 55)

Dan Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang his yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna." (QS. Al-Mu'minun: 3)

Kemudian Allah Ta'ala berfirman dalam mensifati hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih (Ibadurrahman):

"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS. Al-Furqan: 63)

Maka kebodohan orang-orang bodoh tidak menyibukkan mereka dari amal mereka yang terus-menerus lagi bersungguh-sungguh, tidak pula dari tujuan mulia mereka.

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199)

"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain." (QS. Al-An'am: 68)

"Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; sesungguhnya mereka itu adalah najis." (QS. At-Taubah: 95)

Demikianlah, seorang da'i wajib menyadari apa yang berputar di sekelilingnya. Begitu pula masyarakat muslim dan umat Islam dalam membela dirinya; tidak disibukkan oleh hal-hal yang remeh, dan membalas penghinaan tanpa menyibukkannya dari perkara-perkara besar dan tujuan-tujuan agung.

3. Tidak Berperilaku Rendah dan Membalas Mereka dengan Hal yang Sama:

Seorang da'i itu kuat karena akidahnya, kuat karena akhlaknya, kuat karena kepercayaan dirinya dalam melangkah. Mengabaikan kelemahan manusiawi orang-orang jahil, mengasihi mereka, serta bersikap toleran kepada mereka merupakan kewajiban orang-orang besar yang kuat terhadap orang-orang kecil yang lemah. Dan orang yang paling utama memiliki sifat toleran, kemudahan, dan pengabaian adalah para da'i yang mengajarkan manusia keutamaan dan akhlak yang mulia.

Sebagian ulama berkata: Manusia itu ada dua macam; adakalanya ia orang yang berbuat baik (muhsin), maka ambillah apa yang mudah bagimu dari kebaikannya dan janganlah kamu membebaninya di atas kemampuannya serta apa yang menyulitkannya. Dan adakalanya ia orang yang berbuat buruk (musi'), maka perintahkanlah ia kepada yang makruf. Jika ia terus-menerus berada di atas kesesatannya, membangkang kepadamu, dan melanjutkan kejahilannya, maka berpalinglah darinya. Barangkali tindakan itu dapat mengembalikan tipu dayanya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan cara yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.'" (QS. Al-Mu'minun: 96-98)

Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Fushshilat: 34-35 )

Dan Allah Ta'ala berfirman: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-A'raf: 199-200)

Ayat-ayat di dalam surah Al-A'raf, Al-Mu'minun, dan Fushshilat ini membimbing untuk memperlakukan orang yang bermaksiat dari kalangan manusia dengan cara yang makruf. Bahkan, ini merupakan strategi dakwah di tengah-tengah kaum muslimin yang lalai.

Namun, terkadang ada strategi lain untuk memperlakukan pelaku maksiat dari pihak penguasa jika kehormatan Allah tabaaraka wa ta'ala telah dilanggar; dan strategi lain bagi masyarakat muslim terhadap orang-orang ini. Penguasa memiliki strategi lain dalam menegakkan hukum-hukum Allah (hudud) serta menjaga syariat, manhaj, dan ajaran-Nya. Penguasa muslim tidak boleh berkompromi dalam urusan akidah maupun kewajiban syariat, karena di dalam akidah Islam dan syariat-Nya tidak ada istilah kompromi. Dahulu Rasulullah tidak pernah marah untuk dirinya sendiri sama sekali, namun jika pelanggaran itu terjadi pada agama Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat berdiri menghalangi kemarahan beliau. Syariat qishash dan penegakan hudud tidak ada kelonggaran di dalamnya, dan tidak berhak bagi siapa pun dalam urusan hudud untuk memberikan syafaat (pembelaan) atau kelonggaran. Demikian pula dalam mencegah kejahatan dan penyerangan terhadap harta, kehormatan, jiwa, dan akal.

Masyarakat muslim juga memiliki strategi lain dalam memperlakukan para pelaku kejahatan yang keluar dari manhaj Allah tabaaraka wa ta'ala, mulai dari mengucilkan mereka (i'tizal) hingga menggugurkan persaksian serta kredibilitas ('adalah) mereka berdasarkan syarat-syarat yang telah dirinci oleh para pakar fikih. Barangsiapa yang ingin merujuk kepadanya, maka di hadapannya terbentang buku-buku fikih Islam.

Akan tetapi, apa yang sedang kita bahas di sini adalah perlakuan dalam hal akhlak dan persahabatan yang terjadi di antara sesama kaum muslimin, atau dalam hal bersabar terhadap orang yang jahil atau orang yang sedang belajar, atau gangguan yang bersifat pribadi berupa kekasaran, kekeraspalaan, cinta diri (egoisme), dan kecenderungan pada sikap mementingkan diri sendiri.

Seorang da'i adalah pria yang menyeru kepada sebuah risalah dengan kalimat yang baik, keteladanan yang luhur, dan rekam jejak yang harum. Maka senjata pertamanya adalah apa yang ia hiasi dirinya dengannya berupa sifat-sifat mulia. Karena da'i ingin membangun dan mendidik di atas ajaran serta nilai-nilai yang pada hakikatnya merupakan hidayah yang menuntun manusia menuju kesempurnaan, mencegahnya dari penyimpangan, dan menghalanginya dari melanggar kehormatan Allah Ta'ala atau terkena tuntutan dari penguasa atau masyarakat. Jadi, ajaran adalah yang pertama, hidayah adalah yang pertama, dakwah adalah yang pertama, perlakuan dengan cara yang baik, pembiasaan pada hukum kemanusiaan, serta kesabaran tanpa batas di atas jalan ini—dan inilah tugas para da'i.

Jika ada seorang individu yang menyimpang lalu menyerang hak-hak dasar manusia dan masyarakat dengan mencampakkan setiap dakwah, hidayah, dan ajaran di belakang punggungnya; maka tugas penguasalah untuk menghentikannya dan mencegah bahayanya. Ini selaras dengan teori keadilan yang ditonjolkan oleh Al-Qur'anul Karim dalam firman Allah Ta'ala:

"Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isra': 15)

Dan firman Allah Ta'ala: "Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan setelah ada orang-orang yang memberi peringatan kepadanya; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim." (QS. Asy-Syu'ara': 208-209)

"Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi." (QS. At-Taubah: 115)

Tugas da'i adalah tugas memberikan penjelasan di awal jalan. Kemudian setelah itu, ia memperingatkan otoritas (penguasa) jika di sana terdapat penguasa muslim. Jika penguasa tersebut belum ada, maka ia wajib mengadakannya setelah itu atau menyeru kepadanya. Tugas para da'i adalah memberikan penjelasan, hidayah, amar makruf, dan menggandeng tangan manusia dengan kelembutan dan kasih sayang menuju jalan yang lurus, hingga terbentuk umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.

Kita telah melihat Al-Qur'anul Karim memerintahkan Rasul-Nya dengan ayat-ayat yang nyata tersebut dan berfirman kepadanya: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi bahwa beliau bersabda:

إِنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Artinya: "Sesungguhnya kalian tidak akan mampu menampung manusia dengan harta kalian, akan tetapi mereka dapat ditampung oleh wajah yang berseri-seri dan akhlak yang baik dari kalian."

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadis Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari saudaranya, Abdullah bin az-Zubair mengenai firman-Nya: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf," ia berkata: "Tidaklah Allah menurunkan ayat ini melainkan dalam hal akhlak manusia."

Al-Alusi berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh," artinya: "Dan janganlah kamu membalas orang-orang bodoh itu dengan kebodohan yang serupa dengan mereka." [Ruhul Ma'ani karya Al-Alusi jilid 9 hal. 144] Ibnu Katsir berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh," Allah memerintahkan Nabi-Nya 'Alaihis Salam untuk memerintahkan hamba-hamba-Nya kepada yang makruf, dan masuk ke dalam hal itu seluruh bentuk ketaatan; serta dengan berpaling dari orang-orang bodoh. Perintah itu, meskipun ditujukan kepada Nabi-Nya, sesungguhnya merupakan pendidikan bagi makhluk-Nya untuk menahan diri dari orang yang menzalimi mereka dan menyerang mereka, bukan berpaling dari ketidaktahuan terhadap hak yang wajib dari Allah Ta'ala, bukan pula memaafkan orang yang kafir kepada Allah dan tidak tahu akan keesaan-Nya padahal ia berada dalam posisi memerangi kaum muslimin. [Tafsir Al-Qur'anul 'Azhim karya Ibnu Katsir jilid 2 hal. 281.]

Para da'i dan sahabat di sepanjang sejarah telah menjadi teladan hidup bagi akhlak yang baik ini dan bagi penjelasan ketuhanan ini. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Uyainah bin Hishn meminta izin untuk menemui Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, dan bersamanya ada Al-Hurr bin Qais. Tatkala Uyainah masuk, ia berkata: "Wahai putra Al-Khaththab, demi Allah kamu tidak memberi kami pemberian yang banyak dan tidak memutuskan hukum di antara kami dengan adil!" Aisyah berkata: Maka Umar marah hingga hampir saja memukulnya. Lalu Al-Hurr bin Qais berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah berfirman kepada Nabi-Nya 'Alaihis Salam: 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh,' dan sesungguhnya orang ini termasuk dari orang-orang yang bodoh." Demi Allah, Umar tidak melewati ayat tersebut ketika Al-Hurr membacakannya kepadanya, dan beliau adalah orang yang selalu berhenti [patuh] di hadapan kitab Allah 'Azza wa Jalla.

Isham bin al-Musthaliq berkata: Aku masuk ke kota Madinah lalu aku melihat Al-Hasan bin Ali 'Alaihimas Salam. Aku merasa takjub dengan pembawaannya yang tenang dan penampilannya yang elok. Hal itu memicu rasa hasad di dalam diriku atas apa yang disembunyikan oleh dadaku berupa kebencian kepada ayahnya. Maka aku berkata: "Apakah kamu putra Abi Thalib?!"

Ia menjawab: "Benar." Maka aku berlebihan dalam mencaci makinya dan mencaci maki ayahnya. Ia lalu memandangku dengan pandangan orang yang penuh kasih lagi penyayang, kemudian berkata: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Ia membacanya hingga firman Allah Ta'ala: "Maka seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahan mereka)." Kemudian ia berkata kepadaku: "Ringankanlah atas dirimu, aku memohon ampunan kepada Allah untukku dan untukmu. Sesungguhnya jika kamu meminta pertolongan kepada kami, niscaya kami akan menolongmu. Jika kamu meminta pemberian kepada kami, niscaya kami akan memberimu. Dan jika kamu meminta petunjuk kepada kami, niscaya kami akan menunjukimu." Ia melihat tanda penyesalan pada diriku atas apa yang telah luput dariku, lalu ia berkata: "Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu). Dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Apakah kamu termasuk penduduk Syam?" Aku menjawab: "Benar." Maka ia berkata: "Sebuah tabiat yang aku kenal dari Akhzam [nama orang dalam pepatah Arab]. Semoga Allah menghidupkanmu, membuatmu tersenyum, memberikan afiat kepadamu, dan menyampaikanku kepadamu. Lapangkanlah dirimu kepada kami dalam kebutuhan-kebutuhanmu, dan apa saja yang menimpamu niscaya kamu akan mendapati kami sesuai prasangkamu, insya Allah." Isham berkata: Maka bumi terasa sempit bagiku dengan segala keluasannya dan aku berharap sekiranya bumi menelan diriku. Kemudian aku menyelinap pergi darinya secara sembunyi-sembunyi, dan tidak ada di atas muka bumi ini orang yang lebih aku cintai daripada dia dan daripada ayahnya. [Tafsir Al-Qur'anul 'Azhim karya Ibnu Katsir jilid 2 hal. 282.]

Berdasarkan hal ini, sesungguhnya seorang da'i seyogianya tidak memperlakukan manusia dengan perlakuan yang serupa dengan perlakuan mereka kepadanya, melainkan ia harus bersikap lembut lagi penyayang kepada mereka, menghadapi keburukan dengan kebaikan.

4. Sabar dan Mengharap Pahala (Ikhtisab):

Sabar termasuk dari karakter da'i; sabar atas gangguan, sabar dalam menyampaikan dakwah, sabar atas panjangnya jalan dan jauhnya jarak perpisahan, serta menahan diri dari syahwat dunia. Sabar atas kebodohan orang yang bodoh dan keangkuhan orang yang tolol.

Sabar di dalam Islam adalah sabar dalam menanggung kesulitan di jalan Allah; dan ia adalah kesabaran seorang pejuang, petarung, lagi pemberani, bukan kesabaran ketundukan, kehinaan, dan kepasrahan. Karena ini bukanlah urusan seorang muslim, bukan pula tabiat dan karakternya.

"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar." (QS. Al-Ahqaf: 35)

Kesabaran orang-orang yang memiliki keteguhan hati (Ulul 'Azmi) dan orang-orang yang memiliki kekuatan. Oleh karena itulah, madrasah kesabaran adalah madrasah para imam, pemimpin, dan orang-orang besar. Dan benarlah firman Allah:

"And Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (QS. As-Sajdah: 24)

Oleh karena itu, kita melihat Al-Qur'an mengarahkan pandangan kepada kesabaran ini di tempat-tempatnya yang agung, dan menjadikannya sebagai tanda atas kejujuran, ketakwaan, keikhlasan, serta kebaikan jihad. Allah berfirman setelah membilang-bilang sifat-sifat ketakwaan dan keimanan, lalu menutupnya dengan firman-Nya:

"Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 177)

Kemudian Dia berfirman:

"Tatkala mereka tampak maju untuk melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.'" (QS. Al-Baqarah: 250)

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran: 142)

"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran: 146)

Jadi, ia adalah kesabaran para pejuang, kesabaran kaum rabbani, kesabaran para imam pahlawan, kesabaran yang mendorong kemajuan. Bahkan, ia adalah kekuatan yang tidak mengenal keputusasaan, ketahanan yang tidak mengenal kelemahan, keteguhan yang tidak mengenal kemunduran, dan tekad yang tidak mengenal kelesuan.

"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Hud: 115)

Inilah kesabaran yang diperintahkan, ia adalah kesabaran da'i muslim; kesabaran kemenangan, perjuangan, amal, dan pengorbanan tenaga agar keberuntungan serta kemenangan dapat terwujud. Dan benarlah firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran: 200)

Penulis kitab Azh-Zhilal [Fi Zhilalil Qur'an] berkata: "Al-Qur'an dipenuhi oleh penyebutan sabar dan penyebutan takwa; keduanya disebutkan secara bersendiri maupun disebutkan secara bersamaan. Konteks ayat yang telah berlalu serta surah yang ada di dalamnya juga dipenuhi oleh seruan untuk bersatu, berjuang, dan menolak tipu daya, serta tidak mendengarkan para penyeru kekalahan dan kegoncangan. Oleh karena itulah, ayat ini datang membawa perintah sabar, mushabarah (menguatkan kesabaran), murabahah (bersiap siaga), dan takwa.

Dan sabar adalah bekal perjalanan di dalam dakwah ini. Sesungguhnya ia adalah jalan yang panjang, berat, dipenuhi oleh rintangan dan duri, dihamparkan dengan darah dan serpihan tubuh, serta dengan gangguan dan ujian. Sabar atas banyak hal: sabar atas syahwat jiwa, keinginan-keinginan, ketamakan, ambisi, kelemahan, kekurangan, ketergesa-gesaan, dan rasa bosannya yang datang cepat. Sabar atas syahwat manusia, kekurangan, kelemahan, kebodohan, buruknya tindakan mereka, penyimpangan tabiat mereka, keegoisan, keangkuhan, kelicikan, dan ketergesa-gesaan mereka untuk memetik buah dakwah.

Sabar atas kebatilan dan kebiadaban tirani, suburnya keburukan, dominasi syahwat, serta pengecilan keangkuhan dan kesombongan. Sabar atas sedikitnya penolong, lemahnya pembantu, panjangnya jalan, bisikan setan di saat-saat kritis dan sempit, serta sabar atas kepahitan jihad. Atas ini semua dan apa yang dipicunya di dalam jiwa berupa gejolak emosi yang beragam, mulai dari rasa sakit, amarah, kejengkelan, kesempitan, melemahnya kepercayaan adakalanya terhadap kebaikan, sedikitnya harapan adakalanya pada fitrah manusia, serta rasa bosan, kelesuan, keputusasaan, dan patah semangat adakalanya.

Dan sabar setelah itu semua dalam hal mengendalikan diri di saat memiliki kemampuan, kemenangan, dan keunggulan; serta menyambut kelapangan dalam kondisi tawaduk dan syukur, tanpa kesombongan dan tanpa dorongan untuk balas dendam yang melewati batas qishash yang hak menuju tindakan melampaui batas. Serta tetap bertahan dalam kondisi suka maupun duka di atas hubungan dengan Allah, berserah diri pada takdir-Nya, dan mengembalikan seluruh urusan kepada-Nya dalam kondisi tenang, percaya, dan khusyuk. Sabar atas ini semua dan atas yang sejenisnya—dari apa yang dihadapi oleh salik (penempuh jalan) di atas jalan yang panjang ini." [Fi Zhilalil Qur'an karya Sayyid Quthb jilid 1 hal. 560]

Kemudian ia berkata: "Sesungguhnya dakwah ini menghadapi manusia dengan sebuah manhaj kehidupan yang riil; manhaj yang mengendalikan hati sanubari mereka, sebagaimana ia mengendalikan harta mereka, dan sebagaimana ia mengendalikan sistem kehidupan serta mata pencaharian mereka. Manhaj kebaikan, keadilan, lagi lurus. Akan tetapi, keburukan tidak merasa nyaman dengan manhaj kebaikan yang adil lagi lurus; kebatilan tidak menyukai kebaikan, keadilan, dan keistiqamaan; dan tirani tidak akan menyerah pada keadilan, kesetaraan, dan kemuliaan." Oleh karena itulah, bangkit melawan dakwah ini musuh-musuh dari kalangan pemilik keburukan, kebatilan, dan tirani. Dan bangkit untuk memeranginya orang-orang yang mencari keuntungan pribadi, para eksploitator yang tidak ingin melepaskan diri dari mencari keuntungan dan eksploitasi. Bangkit pula untuk memeranginya para tiran yang sombong yang tidak ingin melepaskan diri dari tirani dan kesombongan. Serta tampil untuk memeranginya orang-orang yang ugal-ugalan lagi rusak moralnya, karena mereka tidak ingin melepaskan diri dari kerusakan moral dan syahwat.

Maka tidak boleh tidak, harus ada perjuangan melawan mereka semua, dan tidak boleh tidak, harus ada sabar dan mushabarah. Oleh karena inilah, wajib bagi seorang da'i untuk menjadi orang yang penyabar, bijaksana, lagi mengharap pahala; mempersiapkan bekal untuk setiap urusan, lalu membiarkan sunnatullah di alam semesta ini setelah itu bekerja, sehingga ia tidak tergesa-gesa dan tidak pula berputus asa. Dan benarlah firman Allah:

"Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 96)

Pasal Ketiga: Targhib [Motivasi/Kabar Gembira] dan Tarhib [Ancaman/Peringatan]

Pembahasan Pertama: Makna Targhib dan Tarhib Secara Bahasa dan Syariat

Ar-Raghbah secara bahasa artinya menghendaki sesuatu. Dikatakan: “Raghibtu fis syai-i” apabila Anda menghendakinya. Allah Ta'ala berfirman:

"Maka, apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap." (QS. Al-Insyirah: 7-8) [^1]

Dan dikatakan: “Raghiba ‘anisy syai-i” jika ia zuhud terhadapnya dan tidak menghendakinya. Allah Ta'ala berfirman:

"Orang yang membenci agama Ibrahim hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri." (QS. Al-Baqarah: 130)

Adapun yang dimaksud dengan Targhib secara syariat adalah: segala hal yang membuat orang yang didakwahi (mad’u) merasa rindu dan tertarik untuk menyambut seruan, menerima kebenaran, serta istiqamah di atasnya.

Ar-Rahbah secara bahasa artinya rasa takut yang panjang dan berkelanjutan. Oleh karena itu, seorang rahib dinamakan rahib karena ia terus-menerus memelihara rasa takut.

Sedangkan Tarhib artinya menakut-nakuti dan mengancam.

Adapun yang dimaksud dengan Tarhib secara syariat adalah: segala hal yang menakuti-nakuti dan memperingatkan orang yang didakwahi agar tidak menolak kebenaran atau tidak menyimpang dari keistiqamahannya di atas kebenaran.

Allah Ta'ala berfirman mengenai para nabi-Nya yang beriman:

"Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya': 90)

Maka dari itu, Targhib dan Tarhib adalah upaya menumbuhkan kerinduan manusia terhadap pahala Allah dan surga-Nya, serta menakut-nakuti mereka dari azab Allah dan neraka-Nya.

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menjelang wafatnya pernah berkata: "Raghibun rahibun," artinya orang yang berharap pada pahala Allah sekaligus takut akan azab-Nya.

Penerapan Targhib dan Tarhib di dalam syariat datang disesuaikan dengan kondisi, jiwa, dan situasi. Ia datang sebagai obat penawar sekaligus pencegah; datang sebagai pembawa kabar gembira (basyir) sekaligus pemberi peringatan (nadzir).

Sebab, di antara jiwa manusia ada yang condong kepada kebaikan, merindukan petunjuk, dan mendambakan cahaya. Penyebutan kebaikan akan memotivasinya, ajakan berbuat ihsan akan mendorongnya, dan cahaya kebenaran akan menghangatinya.

Namun, di antara manusia ada pula yang terengah-engah memburu syahwat, berlari mengejar materi, dan tergila-gila pada kemungkaran. Maka, orang seperti ini perlu dicambuk dengan Tarhib, dihentikan dengan peringatan, dan digugah dengan ancaman yang menakutkan mengenai dampak buruk dari perbuatan yang sedang ia geluti.

Oleh karena itulah Al-Qur'an diturunkan dalam bentuk Matsani [yang berulang/berpasangan]. Allah Ta'ala berfirman:

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang." [^2] (QS. Az-Zumar: 23)

Ibnu Katsir berkata mengenai ayat ini: "Artinya, konteks Al-Qur'an adakalanya berada dalam satu makna, dan inilah yang dimaksud dengan mutasyabih [serupa]. Namun adakalanya disebutkan suatu perkara beserta lawannya, seperti penyebutan orang-orang mukmin kemudian orang-orang kafir, atau sifat surga kemudian sifat neraka, dan yang sejenis dengannya. Inilah yang dimaksud dengan Matsani [berpasangan/berulang]. Contohnya seperti firman Allah Ta'ala: 'Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam (neraka) Jahim.' (QS. Al-Infithar: 13-14), dan firman-Nya: 'Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin.' (QS. Al-Muthaffifin: 7) sampai firman-Nya: 'Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam 'Illiyyin.' (QS. Al-Muthaffifin: 18). Serta firman-Nya: 'Ini adalah sebutan (yang baik bagi mereka). Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa disediakan tempat kembali yang baik.' (QS. Shad: 49) sampai firman-Nya: 'Ini (bencana bagi mereka). Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka pasti (disediakan) tempat kembali yang buruk.' (QS. Shad: 55), dan konteks-konteks lain yang serupa. Ini semua dinamakan Matsani, yaitu mengandung dua makna yang saling berhadapan." [^3]

Demikian pula kita dapati sunnah Rasulullah berjalan di atas manhaj ini: mengandung unsur Targhib dan Tarhib.

Beliau bersabda:

«مَنْ سَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ، وَمِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ شَرًّا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ، وَمِثْلُ أَوْزَارِ مَنْ تَبِعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Artinya: "Barangsiapa membuat suatu jalan kebaikan lalu jalan itu diikuti, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa membuat suatu jalan keburukan lalu jalan itu diikuti, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Ahmad dan Al-Hakim, dan ia berkata: Sanadnya sahih).

Beliau juga bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا، ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Artinya: "Sedekah yang paling utama adalah seorang muslim mempelajari suatu ilmu, kemudian ia mengajarkannya kepada saudaranya yang muslim." (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan).

Kemudian beliau bersabda (sebagai bentuk Tarhib):

مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي بِأَقْوَامٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ الَّذِينَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

Artinya: "Pada malam aku diisra'kan, aku melewati kaum yang bibir-bibir mereka digunting dengan gunting dari neraka. Aku bertanya: 'Siapakah mereka wahai Jibril?' Jibril menjawab: 'Mereka adalah para penceramah dari umatmu yang mengatakan apa yang tidak mereka perbuat.'" (Ditakhrij oleh Al-Bukhari dan Muslim). [Penulis menyebutkan HR. Bukhari Muslim, namun lafaz ini diriwayatkan pula oleh Ahmad].

Beliau juga bersabda:

مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجَعَ إِلَى الدُّنْيَا، وَأَنَّ لَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ، فَإِنَّهُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجَعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ

Di dalam riwayat lain disebutkan:

لِمَا يَرَى مِنْ فَضْلِ الشَّهَادَةِ

Artinya: "Tidak ada seorang pun yang telah masuk surga yang ingin kembali ke dunia meskipun ia diberikan segala sesuatu yang ada di atas bumi, kecuali orang yang mati syahid. Sesungguhnya ia berangan-angan untuk kembali ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali lagi karena ia melihat kemuliaan yang diberikan kepadanya." Dalam riwayat lain: "karena ia melihat keutamaan mati syahid." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kemudian beliau bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

Artinya: "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan! Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, apa saja perkara itu?' Beliau menjawab: 'Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, dan menuduh zina wanita-wanita mukminah yang suci lagi lalai [tidak berpikir berbuat zina].'" (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasai).

Beliau juga bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Artinya: "Barangsiapa yang mati dalam keadaan belum pernah berperang [di jalan Allah] dan tidak pernah meniatkan dirinya untuk berperang, maka ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan." (HR. Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasai).

Metode Targhib dan Tarhib ini merupakan bagian dari manhaj dakwah para rasul shalawatullahi wa salamuhu 'alaihim ajma'in. Al-Qur'anul Karim menjelaskan hal ini melalui firman-Nya:

"Kami tidak mengutus para rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan." (QS. Al-An'am: 48)

Dan firman-Nya:

"(Kami mengutus) rasul-rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu (diutus)." (QS. An-Nisa': 165)

Allah juga berfirman mengenai Rasulullah :

"Wahai Nabi (Muhammad), sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya serta menjadi lampu yang menerangi." (QS. Al-Ahzab: 45-46)

Dan firman-Nya:

"Kami tidak mengutusmu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan." (QS. Saba': 28)

Para utusan Allah adalah para da'i yang datang membawa wahyu, risalah, kebenaran, dan hidayah. Barangsiapa yang menerima petunjuk Allah, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka; para rasul akan memberinya kabar gembira dengan hidayah tersebut serta membuatnya bahagia dengan kemenangan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, barangsiapa yang berpaling dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala, para rasul akan memperingatkannya dengan kebinasaan dan kehancuran di dunia dan akhirat, mengancamnya, serta menakut-nakutinya dengan azab Allah dan murka-Nya, sebagai balasan atas kekufuran, pembangkangan, dan ketaatannya kepada setan.

Pembahasan Kedua: Dengan Apa Targhib dan Tarhib Dilakukan

Prinsip dasar dalam Targhib adalah memotivasi manusia untuk meraih rida Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia dan akhirat, menggapai pahala-Nya di akhirat, serta memperoleh kemenangan di dalamnya. Sedangkan prinsip dasar dalam Tarhib adalah menakut-nakuti manusia dengan kemurkaan Allah dan siksaan-Nya di dunia dan akhirat. Bukti dari Kitabullah mengenai hal tersebut adalah:

  • 1. Kisah Nabi Nuh 'Alaihis Salam:

"Maka, aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu." (QS. Nuh: 10-12)

Dan firman-Nya:

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), 'Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih!'" (QS. Nuh: 1)

  • 2. Kisah orang beriman dari kalangan keluarga Firaun:

"(Orang mukmin itu berkata,) 'Wahai kaumku, milikmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di bumi. Maka, siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Firaun berkata, 'Aku hanya mengemukakan kepadamu apa yang aku pandang baik dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar.' Orang yang beriman itu berkata, 'Wahai kaumku, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa (bencana) seperti hari kehancuran golongan-golongan yang bersekutu, (yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Ad, Samud, dan orang-orang yang datang setelah mereka. Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Wahai kaumku, sesungguhnya aku takut kepadamu akan (siksaan) hari saling memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu berpaling ke belakang (lari), tidak ada seorang pun yang mampu menyelamatkan kamu dari (azab) Allah. Siapa yang dikesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang memberi petunjuk baginya.'" (QS. Ghafir: 29-33)

Terkadang Targhib juga dilakukan dengan hal-hal berikut:

1. Dengan menyebutkan kebaikan yang melimpah dan hidayah yang luas yang akan mereka peroleh di dunia. Hal itu semua didapatkan karena istiqamah di atas perintah Allah, mengikuti manhaj-Nya, dan berjalan di atas ajaran-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)

Dan firman-Nya:

"Bahwa sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang lebat (rezeki yang banyak)." (QS. Al-Jinn: 16)

Dan firman-Nya:

"Sekiranya mereka menegakkan Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka (kurnia langit) dan dari bawah kaki mereka (kurnia bumi). Di antara mereka ada sekelompok orang yang hemat (jujur/lurus), tetapi banyak dari mereka yang sangat buruk apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Ma'idah: 66)

Dan firman-Nya:

"Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini (disediakan) kebaikan. Sungguh, negeri akhirat itu lebih baik. Pastilah itu sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. An-Nahl: 30)

2. Dengan menyebutkan pertolongan, kemenangan, kemuliaan, dan harga diri yang akan mereka raih di kehidupan dunia di antara bangsa-bangsa.

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai." (QS. An-Nour: 55)

Dan firman-Nya: "Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin."  (QS. Al-Munafiqun: 8)

Dan firman-Nya: "Dia (juga) mewariskan kepadamu tanah, kampung halaman, dan harta benda mereka, serta tanah yang belum pernah kamu injak." (QS. Al-Ahzab: 27)

Dan firman-Nya: "Allah telah menetapkan, 'Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.' Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Muhadilah: 21)

Dan firman-Nya: "Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi." (QS. Al-A'raf: 137)

3. Dengan menyebutkan keamanan, kedamaian, ketenteraman, serta kecintaan makhluk yang akan mereka nikmati.

"Maka hendaknya mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut." (QS. Quraisy: 3-4)

Dan firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan membenarkan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka)." (QS. Maryam: 96)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata mengenai ayat ini: "Artinya, Allah mencintai mereka dan membuat makhluk-Nya mencintai mereka."

Di dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Nabi :

إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا يَقُولُ لِجِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللهَ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْمَحَبَّةُ فِي الْأَرْضِ

Artinya: "Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman kepada Jibril 'Alaihis Salam: 'Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia!' Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penduduk langit: 'Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia!' Maka penduduk langit pun mencintainya, lalu diletakkanlah rasa penerimaan (cinta) baginya di muka bumi." (HR. Muslim 4/40-41). [Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari].

4. Di antara sarana Targhib yang paling bermanfaat adalah mengingatkan individu dan umat kepada kejayaan masa lalu para pendahulu mereka yang saleh (Salafush Shalih). Merekalah orang-orang yang telah meninggikan menara ilmu dan agama, mengibarkan panji keadilan dan kebebasan, menumbangkan kezaliman dan kesewenang-wenangan, serta menyinari dunia dengan menjelajahi wilayah barat dan timur bumi sebagai pemenang yang bertakbir membawa hidayah. Mereka adalah sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:

Dahulu kami adalah gunung di atas gunung, bahkan

Jika kami mengarungi samudera, lautan pun kami jadikan jalan perlintasan

Di tempat ibadah bangsa asing, azan kami berkumandang

Sebelum pasukan maju, ia telah membuka kota-kota yang membentang

Kami tidak pernah takut kepada thaghut yang memerangi kami

Meskipun maut mendirikan benteng-benteng yang mengepung kami

Kami menyeru dengan lantang: Tiada tuhan selain Dia

Dzat yang menciptakan semesta dan menetapkan garis takdir-Nya

Dengan ingatan ini, diharapkan umat dan bangsa-bangsa merasa malu ketika melihat kemunduran dan keengganan mereka untuk mengejar ketertinggalan dari para pendahulu mereka. Sehingga mereka menyesal lalu bangkit, berusaha meniru, dan menyusul kafilah yang diberkahi tersebut. Diharapkan pula mereka mencabut diri dari keburukan dan kerusakan yang melanda akhlak, adat, ucapan, dan perbuatan mereka, serta merasa malu atas keterpurukan mereka hingga menjadi bangsa yang paling buncit, setelah sebelumnya menjadi pemimpin dan barisan terdepan.

5. Targhib dalam hal ibadah dan mencintai keutamaan kemanusiaan. Sebab, ibadah itu mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran, mendidik jiwa di atas akhlak yang mulia, serta menjauhkan dari waswas setan.

Sedangkan Tarhib terkadang dilakukan dengan hal-hal berikut:

1. Dengan mengarahkan pandangan ke akhirat, serta mengutamakan negeri yang kekal atas negeri yang fana. Sebab, ada jiwa-jiwa yang terbuai oleh kesenangan duniawi dan syahwat sehingga lalai dari amal-amal yang agung, lalu terjerumus ke dalam kubangan kezaliman dan pembangkangan demi mengejar kesenangan yang fana dan menukar petunjuk dengan kesesatan. Benarlah firman Allah:

"Kemudian, generasi (berikutnya) menggantikan mereka yang mewarisi Kitab (Taurat). Mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini sambil berkata, 'Kami akan diampuni.' Jika harta benda duniawi yang serupa datang lagi kepada mereka, mereka pun akan mengambilnya juga. Bukankah janji Kitab (Taurat) sudah dipersyaratkan kepada mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan tentang Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang ada di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak mengerti?" (QS. Al-A'raf: 169)

Oleh karena itu, wajib bagi seorang dai untuk memperingatkan manusia dari tipu daya dunia dan bahaya hanyut di belakang syahwat yang liar. Al-Qur'an telah mengingatkan hal tersebut melalui firman-Nya:

"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu hanyalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah mencapai keindahannya dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) seperti tanaman yang sudah dituai, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang berpikir." (QS. Yunus: 24)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta rida-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang mengecoh." (QS. Al-Hadid: 20)

Dalam konteks seperti ini, Rasulullah bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا

Artinya: "Sesungguhnya di antara yang paling aku takuti menimpa kalian setelah peninggalanku adalah dibukakannya untuk kalian keindahan dunia dan perhiasannya." (Muttafaqun 'Alaih).

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda:

اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ

Artinya: "Ya Allah, tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan akhirat." (Muttafaqun 'Alaih).

Dari Abdullah bin asy-Syikhkhir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendatangi Nabi ketika beliau sedang membaca surah Alhakumut takatsur, lalu beliau bersabda:

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، وَهَلْ لَكَ يَا بْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟

Artinya: "Anak Adam berkata: 'Hartaku, hartaku!' Padahal, tidak ada bagian dari hartamu wahai anak Adam melainkan apa yang telah kamu makan lalu kamu habiskan, atau apa yang kamu pakai lalu kamu lusuhkan, atau apa yang kamu sedekahkan lalu kamu kekalkan?!" (HR. Muslim).

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah tidur di atas selembar tikar pelepah kurma, lalu beliau bangkit dalam keadaan tikar itu telah membekas pada lambung beliau. Kami berkata: "Wahai Rasulullah, sekiranya kami membuatkan kasur yang empuk untukmu!" Di dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: "Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, sekiranya engkau memberi tahu kami, niscaya kami akan menggelarkan sesuatu untukmu yang dapat melindungimu!'" Maka beliau bersabda:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Artinya: "Apalah artiku dan dunia ini? Tidaklah aku di dunia ini melainkan seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah naungan sebatang pohon, kemudian ia beristirahat sejenak lalu pergi meninggalkannya." (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: hadis ini hasan sahih).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Kalimat paling jujur yang pernah diucapkan oleh seorang penyair adalah perkataan Labid: 'Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.'" (Muttafaqun 'Alaih).

Maksud dari Zuhud

Maksud dari semua ini bukanlah agar manusia bersikap pasrah pada kemalasan dan syahwat lalu meninggalkan amal-amal saleh yang kekal, atau enggan melakukan urusan-urusan besar, reformasi, dan mengerahkan kemampuan dalam berbuat kebaikan. Maksudnya adalah agar ia mempergunakan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala anugerahkan kepadanya berupa harta, kebaikan, kesehatan, afiat, waktu, tenaga, akal, dan strategi, di jalan untuk menegakkan manhaj Allah di muka bumi, mengokohkan kebenaran, dan mengibarkan panji hidayah. Maksudnya bukan membenci dunia, memusuhi harta, atau menghina materi. Sebab, dunia tidak lain adalah ladang bagi akhirat; ia adalah ladang orang mukmin tempat ia menanam kebaikan dan memanen kebajikan serta pahala.

Risalah Islam datang tidak lain untuk memperbaiki kehidupan, menegakkan manhaj Allah di dalamnya, serta menjadikan kalimat Allah itulah yang paling tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah. Seorang muslim telah diperintahkan untuk berjalan menjelajahi segala penjuru bumi melalui firman-Nya:

"Maka, berجالanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al-Mulk: 15)

Serta diperintahkan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di dalamnya:

"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan hak kepada kerabat dekat. Dia juga melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan." (QS. An-Nahl: 90)

Allah Tahraba wa Ta'ala [Penulis bermaksud Tabaaraka wa Ta'ala] telah memerintahkan untuk mencari nafkah dan bekerja, maka orang-orang saleh dan para rasul pun bekerja. Al-Qur'an menyebutkan bahwa Nabi Dawud 'Alaihis Salam adalah seorang ahli kerajinan yang menghasilkan kebaikan bagi dirinya dan masyarakatnya. Allah berfirman:

"Kami telah mengajarkan kepadanya (Dawud) pembuatan baju besi untukmu guna melindungi kamu dalam peperanganmu. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?" (QS. Al-Anbiya': 80)

Dan Dia berfirman:

"Kami telah melunakkan besi untuknya. (Kami berfirman), 'Buatlah baju-baju besi yang besar dan ukurlah jalinannya; serta kerjakanlah kebajikan. Sesungguhnya Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.'" (QS. Saba': 10-11)

Di antara para nabi ada pula yang memiliki kekayaan melimpah dan kekuasaan luas yang tidak pernah diberikan kepada seorang pun setelah mereka, seperti Nabi Sulaiman 'Alaihis Salam. Akan tetapi, kekayaan yang dimilikinya ini dipergunakan mutah-mutah dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu.

Di samping itu, Allah Subhanahu telah memerintahkan untuk menjaga harta dan melarang sikap boros (tabdzir). Dia Subhanahu berfirman:

"Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."

(QS. Al-Isra': 27)

Dan Dia berfirman:

"Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan pula engkau mengulurkannya sejauh-jauhnya (boros) sehingga engkau menjadi tercela lagi menyesal." (QS. Al-Isra': 29)

Islam menjadikan harta sebagai penopang kehidupan individu, kelompok, dan umat, serta memerintahkan untuk menjaganya dan menjauhkannya dari jangkauan orang-orang yang bodoh (sufaha'). Allah Ta'ala berfirman:

"Janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam pengawasanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan bagimu." (QS. An-Nisa': 5)

2. Tarhib dilakukan dengan memberikan peringatan dari kemurkaan Allah dan siksaan-Nya. Caranya adalah dengan menyebutkan ayat-ayat yang termaktub di dalam Al-Qur'anul Karim yang menakut-nakuti para pelaku dosa, orang-orang maksiat, orang fasik, dan para tiran yang sombong. Contohnya seperti firman Allah Ta'ala:

"Maka, tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Kami jadikan mereka sebagai generasi masa lampau dan contoh bagi orang-orang yang datang kemudian." (QS. Az-Zukhruf: 55-56)

Mereka ditimpa kemurkaan Allah disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan, kelancangan mereka dalam melanggar hal-hal yang suci, serta pembangkangan mereka terhadap hidayah. Maka, Allah Subhanahu menjadikan mereka sebagai pelajaran bagi orang-orang setelah mereka, dan sebagai contoh bagi generasi yang akan datang di sepanjang masa.

Contoh lainnya adalah firman Allah yang Haq Subhanahu mengenai keadaan Bani Israil:

"Maka, setelah mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina!'" (QS. Al-A'raf: 166)

Dan firman-Nya Ta'ala:

"(Yaitu) orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan orang yang menyembah thaghut." (QS. Al-Ma'idah: 60)

Hukuman dari Allah Ta'ala ini merupakan balasan atas pembangkangan, kesombongan, kezaliman, serta penolakan mereka terhadap hidayah. Maka Allah mewariskan kepada mereka kebodohan, kehinaan, kenestapaan, serta kebusukan hati.

Di dalam hal ini terdapat peringatan yang menggetarkan dan menakutkan bagi orang-orang yang lancang lagi zalim terhadap syariat Allah dan larangan-larangan-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

"Siapa yang menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas petunjuk baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan Kami masukkan dia ke dalam (neraka) Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisa': 115)

Bagi mereka kehinaan di dunia, dan di akhirat mereka mendapatkan azab yang besar.

3. Tarhib dilakukan dengan menakut-nakuti dari tertutupnya hati, rusaknya fitrah, serta kekhawatiran dikuncinya hati sehingga keluar dari jalan orang-orang mukmin. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutup hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Hakim (dan keduanya mensahihkannya), An-Nasai, Ibnu Majah, dan selainnya, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi bersabda:

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ نُكِتَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ لَمْ يَتُبْ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ»

Artinya: "Sesungguhnya seorang mukmin apabila melakukan suatu dosa, niscaya akan dititikkan sebuah titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat dan memohon ampun, hatinya akan dibersihkan kembali. Namun jika ia tidak bertaubat, titik hitam itu akan bertambah hingga menguasai (menutupi) hatinya." Yaitu titik hitam itu akan menyelimuti dan menutupinya. Itulah Ar-Ran [karat/penutup] yang disebutkan oleh Allah di dalam Kitab-Nya: "Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutup hati mereka."

Khudzifah [Penulis bermaksud Hudzaifah] radhiyallahu 'anhu berkata: "Apabila seorang hamba berbuat dosa, dititikkan di dalam hatinya sebuah titik hitam. Jika ia berbuat dosa lagi, dititikkan lagi sebuah titik hitam hingga seluruh hatinya menjadi hitam pekat."

Hal ini diperkuat oleh ucapan ulama Salaf: "Kemaksiatan adalah kurir kekufuran," artinya ia adalah utusannya. Sebab, jika kemaksiatan telah mewariskan warna hitam ini pada hati dan menyelimutinya, hati itu tidak akan sudi lagi menerima kebaikan selamanya. Benarlah firman Allah:

"Siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, sungguh dia telah menderita kerugian yang nyata. (Setan itu) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka, kecuali tipu daya belaka." (QS. An-Nisa': 119-120)

Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah berada di dekat Umar bin al-Khaththab, lalu ia bertanya: "Siapakah di antara kalian yang mendengar Rasulullah menyebutkan tentang fitnah [ujian/kekacauan]?" Kaum yang hadir menjawab: "Kami mendengarnya." Umar berkata: "Barangkali yang kalian maksud adalah fitnah seorang pria pada keluarga, harta, dan tetangganya?" Mereka menjawab: "Benar." Umar berkata: "Fitnah yang itu dapat dihapuskan oleh salat, puasa, dan sedekah. Akan tetapi, siapakah di antara kalian yang mendengar Rasulullah menyebutkan fitnah yang bergejolak seperti gelombang lautan?" Hudzaifah berkata: Maka orang-orang pun terdiam. Lalu aku berkata: "Aku mendengarnya." Umar berkata: "Engkau? Demi Allah, bagus sekali ayahmu [pujian Arab]!" Hudzaifah berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى يَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ: عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا، لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Artinya: "Fitnah-fitnah akan ditimpakan ke dalam hati bagaikan anyaman tikar yang jalin-menjalin sebatang demi sebatang. Hati mana saja yang menyerapnya, akan dititikkan padanya sebuah titik hitam. Dan hati mana saja yang mengingkarinya, akan dititikkan padanya sebuah titik putih, hingga hati manusia terbagi menjadi dua kondisi: (Pertama) hati yang putih bersih bagaikan batu marmer yang halus, yang tidak akan dicelakai oleh fitnah apa pun selama langit dan bumi masih ada. (Kedua) hati yang hitam pekat lagi abu-abu bagai ragam warna yang kusam, terbalik umpama piala yang telungkup; ia tidak lagi mengenal kebajikan dan tidak lagi mengingkari kemungkaran, melainkan melulu apa yang telah diserap oleh hawa nafsunya." (HR. Muslim).

Maka, membiasakan diri dengan kemaksiatan dan menikmatinya akan menyebabkan seseorang terlepas dari ikatan hidayah, memberontak terhadap nilai-nilai keutamaan dan keimanan, serta lancang melanggar batasan hukum Allah. Hal ini memicu keterlemparan dari jalur orang-orang mukmin dan jalan orang-orang yang mendapat petunjuk.

4. Tarhib dilakukan dengan menakut-nakuti dari rusaknya keturunan. Sebab, dosa-dosa dan perbuatan yang rusak dampaknya akan menyeret diri dan anak keturunan, serta berimbas pada masa kini maupun masa depan. Bakti orang tua akan mengundang bakti anak-anaknya, sedangkan durhaka kepada orang tua akan memicu anak-anaknya berbuat durhaka pula kepada dirinya.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda:

بِرُّوا آبَاءَكُمْ تَبِرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ، وَعِفُّوا تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ

Artinya: "Berbaktilah kepada ayah-ayah kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian; dan jagalah kesucian diri kalian [dari zina], niscaya istri-istri kalian akan menjaga kesucian dirinya." (HR. Thabrani dengan sanad yang hasan, dan diriwayatkan pula oleh selainnya dari hadis Aisyah).

Al-Qur'an juga memberikan peringatan yang menakutkan mengenai dampak kerusakan terhadap keturunan di dunia dan akhirat. Adapun di dunia, contohnya seperti firman Allah Ta'ala:

"Hendaklah merasa takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan kesejahteraannya. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS. An-Nisa': 9)

Adapun di akhirat, contohnya seperti firman Allah Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim: 6)

Artinya, jika Anda memiliki kekhawatiran terhadap anak-anakmu yang masih kecil lagi lemah, maka bertakwalah kepada Allah dalam perbuatan dan ucapanmu, jagalah hak Allah dan peliharalah batasan-batasan-Nya. Niscaya Allah Subhanahu yang akan mengurus keturunanmu, memudahkan bagi mereka orang yang akan membimbing mereka, serta menyiapkan petunjuk bagi urusan mereka. Hal ini selaras dengan firman Allah Ta'ala:

"Adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh. Maka, Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku sendiri." (QS. Al-Kahfi: 82)

Tidak diragukan lagi bahwa setiap manusia mencintai anak-anaknya dan keturunannya; demi mereka ia mengumpulkan harta, terjaga di waktu malam, serta bekerja keras dengan sungguh-sungguh. Apabila ia menyadari bahwa ketaatannya kepada Allah dan amalnya dalam mencari rida-Nya akan membawa dampak kebaikan bagi anak-anak dan keturunannya sepeninggal dirinya, hal itu akan mendorongnya untuk berbuat amal saleh, kebajikan, dan tidak membuat kerusakan di muka bumi.

Apalagi kerusakan itu dapat menular sebagaimana kebaikan pun dapat menular. Jika penularan pada penyakit fisik adalah hal yang lumrah dan jamak diketahui, maka penularan pada sifat, perbuatan, dan amal jauh lebih kuat dan lebih berbahaya. Benarlah firman Allah:

"Tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya. Adapun tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana." (QS. Al-A'raf: 58)

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imran di atas seluruh umat (pada masa masing-masing). (Mereka merupakan) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Ali 'Imran: 33-34)

"(Mereka berkata,) 'Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu bukan seorang yang buruk dan ibumu bukan seorang pezina.'" (QS. Maryam: 28)

"Orang-orang yang beriman dan keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka itu dengan mereka dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka." (QS. At-Thur: 21)

"Sungguh, Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim serta menempatkan kenabian dan kitab pada keturunan keduanya." (QS. Al-Hadid: 26)

Barangsiapa yang meneliti kondisi orang-orang yang durhaka, ia akan mendapati bahwa mereka tidak melahirkan melainkan orang-orang yang durhaka pula, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Tuhanmu. Nabi Nuh 'Alaihis Salam berkata di dalam doanya:

"(Nuh berdoa,) 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang durhaka lagi sangat kafir.'" (QS. Nuh: 26-27)

Terkadang bisa saja anak-anak dari orang durhaka lahir sebagai orang-orang yang saleh, namun hal ini terjadi di luar kaidah umum karena adanya suatu urusan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu. Mengenai hal ini, seorang penyair berkata:

Apabila asal seorang pria itu baik, maka akan baik pula cabang-cabangnya

Dan di antara keajaiban, duri pun terkadang membuahkan bunga mawar yang indah

Namun terkadang cabang bisa menjadi buruk padahal asalnya baik

Untuk menampakkan kuasa Allah dalam hukum pembalikan dan penetapan hukum-Nya

5. Tarhib dilakukan dengan menakut-nakuti dari berubahnya keadaan; dari kebaikan menjadi keburukan, dari kenikmatan menjadi kesengsaraan, dan dari kemakmuran menjadi kekeringan serta bencana.

Allah Ta'ala berfirman:

"Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, (yaitu) dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kami katakan kepada mereka,) 'Makanlah rezeki dari Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.' Namun, mereka berpaling. Maka, Kami kirimkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Al-Atsl, dan sedikit pohon sidr. Demikianlah Kami memberi mereka balasan karena kekufuran mereka. Kami tidak menjatuhkan azab yang demikian itu, kecuali kepada orang yang sangat kufur." (QS. Saba': 15-17).

Dan benarlah Rasulullah dalam sabdanya:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

Artinya: "Sesungguhnya seseorang benar-benar dapat diharamkan dari rezekinya disebabkan oleh dosa yang ia lakukan." (HR. Al-Hakim dengan sanad yang sahih).

Mengenai hal ini, Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Tidaklah seorang muslim ditimpa penyakit yang lama (washab) maupun kelelahan (nashab), hingga duri yang menusuknya, bahkan hingga putusnya tali sandalnya, melainkan hal itu disebabkan oleh dosa, dan apa yang dimaafkan oleh Allah jauh lebih banyak."

Mengenai hal ini pula, sebagian ulama arif berkata: "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui dampak hukuman atas dosaku dari perubahan perangai keledai tungganganku." Yang lain berkata, yaitu Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah: "Tidaklah seseorang luput dari salat berjamaah melainkan disebabkan oleh dosa yang telah ia perbuat."

Rezeki yang dimaksud di sini mencakup kedua jenisnya: rezeki materi (hissi) maupun rezeki maknawi. Para pemburu dunia dihukum dalam hal rezeki dunia mereka dengan dipersulitnya jalan-jalan usaha, berkurangnya harta, dan kerusakannya. Sedangkan para pencari akhirat dihukum dengan diharamkannya rezeki akhirat; berupa sedikitnya taufik untuk mengamalkan kebajikan, serta tertutupnya pintu-pintu pembuka ilmu yang bermanfaat.

Oleh karena itulah, dinukil riwayat yang masyhur dari Imam Asy-Syafii ucapannya:

Aku mengadukan kepada Waki' tentang buruknya hafalanku

Maka ia membimbingku untuk meninggalkan kemaksiatan

Ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat

Sebagian ulama berkata: "Apabila kenikmatan datang beruntun kepada pelaku maksiat padahal ia terus-menerus berada dalam kemaksiatannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj [jebakan yang melalaikan] baginya; ia diharamkan dari indahnya bersyukur atas nikmat tersebut hingga akhirnya ia dihukum atas kekufurannya."

"Sebaliknya, apabila bala [ujian] datang kepada orang yang taat, maka sesungguhnya itu adalah ujian baginya, pelebur bagi dosa-dosanya, dan pengangkat bagi derajatnya."

Sebagian mereka berkata: "Setiap petaka yang dibarengi dengan kesabaran, maka hakikatnya ia adalah nikmat."

Atas dasar ini semua, seorang dai laksana seorang dokter yang andal dan apoteker yang cerdas; ia meracik obat dari ramuan Al-Qur'an dan dari madu murni Sunnah yang dapat menyembuhkan jiwa serta mengobati hati. Ia juga bertindak sebagai pemandu yang berpengalaman dan penunjuk jalan yang tulus lagi terpercaya; ia menerangi jalan-jalan para penempuh jalur spiritual (salikin) dan rute para pencari kebenaran dengan lentera-lentera Al-Qur'an dan lampu-lampu Sunnah. Ia juga merupakan seorang ayah yang penuh kasih, saudara yang mulia, sahabat karib, dan teman yang penyayang; ia mencintai untuk manusia apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci untuk mereka apa yang ia benci untuk dirinya. Ia menasihati tanpa merendahkan, dan memberikan wejangan tanpa membuat orang berputus asa. Sebab, terlalu banyak mencela terkadang justru membawa dampak buruk, sebagaimana membiarkan tanpa adanya bimbingan juga merusak. Hal ini sebagaimana perkataan seorang penyair:

Engkau telah berlebihan dalam mencelaku hingga melewati batasnya

Padahal tadinya engkau mengira bahwa celaan itu akan membawa manfaat baginya

Maka, Tarhib bukanlah upaya untuk membuat manusia berputus asa, hilang harapan, atau memicu ketakutan yang melumpuhkan nalar berpikir. Melainkan ia adalah bentuk peringatan dari kesalahan, petunjuk menuju kebenaran, serta pengarah bagi amal perbuatan agar energi-energi yang kuat dapat melejit menuju sasaran tanpa adanya hambatan atau rintangan.

Sebagaimana Targhib juga bukanlah bagian dari lamunan fana di siang bolong, bukan pula berupa janji-janji manis belaka. Melainkan ia adalah pembangkit bagi himmah [semangat], penyemangat bagi potensi-potensi terpendam, dan pengasah bagi tekad yang kuat. Posisinya laksana hadiah bagi para peserta lomba di arena ihsan, produktivitas, dan kesungguhan jihad. Inilah jalan orang-orang yang bertakwa, dan metode para dai yang aktif lagi mendalam pemahamannya (faqih). Dan benarlah firman Allah:

"Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya': 90)

Pasal Keempat: Pendidikan dan Pengajaran

Umat Islam, jika boleh dinamai dengan nama-nama tertentu yang memperjelas berbagai dimensinya, menafsirkan hakikatnya, serta menerangkan tujuan-tujuannya, maka di antara nama terpenting yang tampak menonjol, luhur, dan tinggi di hadapan manusia adalah bahwa ia merupakan umat ilmu dan umat pendidikan yang lurus (tarbiyah qowimah), bahkan umat yang memegang kepeloporan (ustadzah) dalam bidang ini. Dan mahabenar Allah yang agung dengan firman-Nya:

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar" (QS. Ali 'Imran: 110).

Maka setelah itu—atau setelah pemahaman ini—tidaklah mengherankan bagi manusia untuk mengetahui bahwa Islam telah mendeklarasikan dakwahnya sejak hari pertama, bahkan sejak momen pertama melalui firman Allah Ta'ala:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1–5).

Sungguh, kaum Arab, bahkan kelompok Hunafa' [orang-orang yang menjaga benih tauhid sebelum Islam] maupun yang lainnya, bisa saja meramalkan segala sesuatu, namun tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menduga bahwa wahyu akan diawali dengan kata "Bacalah". Terlebih lagi, wahyu tidak dimulai dengan kata "Ilmu" (al-'ilm), melainkan dengan perintah membaca. Membaca mengandung konsekuensi adanya tulisan, pena, dan kertas. Sementara ilmu, terkadang bersifat wahbi [pemberian langsung dari Allah tanpa proses belajar] yang tidak membutuhkan pena, aktivitas membaca, tulisan, maupun kertas. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu ini [ilmu peradaban Islam] nantinya akan lahir dari pena, kertas, perpustakaan, buku, karya tulis, lembaran catatan, eksperimen, serta buah kecerdasan. (1)

Demikian pula tidak mengherankan jika Islam menjadikan kedudukan tinggi manusia bertumpu pada dua hal; pertama adalah iman, dan kedua adalah ilmu. Allah Ta'ala berfirman:

"Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadalah: 11).

(1) Lihat mengenai hal itu dalam kitab "As-Sa'adah wal Qiyadah", hlm. 136.

Islam juga mengkhususkan nikmat hidayah dan rasa takut (khasyah) hanya kepada seorang alim yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya Ta'ala:

"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama." (QS. Fatir: 28).

Serta menjadikan mereka sebagai pemelihara wahyu-Nya dan penjaga syariat-Nya, melalui firman-Nya Ta'ala:

"Tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ululalbab." (QS. Ali 'Imran: 7).

Subpembahasan Pertama

Karakteristik Ilmu dalam Islam

Ilmu dalam Islam dibangun di atas fondasi dan kaidah tertentu yang bukan merupakan produk pemikiran spekulatif, bukan khayalan akal, dan bukan pula lahir dari eksperimen, hawa nafsu, atau kecenderungan kelompok manusia tertentu. Melainkan, ia merupakan sebuah ketetapan (namus) dan hukum yang tingkat kestabilan, kekokohan, dan kebenarannya setara dengan hakikat manusia itu sendiri; baik hakikat manusia secara jasad maupun ruh, serta insting (gharizah) maupun akal. Oleh karena itu, Tarbiyah Islamiyah [Pendidikan Islam] mampu mewujudkan kebahagiaan dan mengantarkan kepada tujuan yang dimaksud dalam kehidupan dunia manusia maupun kehidupan akhiratnya. Pendidikan ini tidak mewariskan trauma ( 'uqad), tidak menyisakan luka, penyimpangan, kecemasan, maupun kezaliman, serta tidak menuntun manusia pada jalan-jalan yang mengekang dan menghancurkan kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain.

Adapun peran akal dalam pendidikan ini adalah membangun di atas fondasi tersebut, menegakkan kaidah-kaidahnya, menyampaikannya, mendidik generasi di atasnya, merawatnya, mengembangkannya, serta menginovasikan berbagai metode dan sarana untuknya. Akal juga berfungsi memahami rahasia, makna, serta tujuannya agar manusia dapat mengambil manfaat, berbahagia, mulia, dan hidup tenteram.

2 — Di antara karakteristik istimewa lainnya dari ilmu dalam Islam adalah keterikatannya dengan akidah, hakikat, dan sumber otentik. Ilmu tersebut menjelajah dan mengarungi alam semesta ciptaan Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terbatas [alat-uhu al-mahdudah], serta ayat-ayat-Nya yang tersebar luas. Dan mahabenar Allah dengan firman-Nya:

"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah memulai penciptaan bagi kehidupan akhirat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”" (QS. Al-'Ankabut: 20).

Segala sesuatu di sisi-Nya berada dalam ukuran yang pasti (bi-miqdar). Setiap unsur dalam kehidupan ini tidak diciptakan secara sia-sia ('abatsan) atau ganjil (nizyadan). Melainkan, ia tercipta dalam keadaan saling terikat dengan yang lain, selaras satu sama lain, terukur, terencana, dan seimbang. Ia memiliki hukumnya sendiri, memiliki tujuan, serta targetnya sendiri. Dan mahabenar Allah dengan firman-Nya:

"(Dia) menyingsingkan pagi, menjadikan malam untuk beristirahat, serta (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am: 96).

"Bumi telah Kami hamparkan, Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung, dan Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu yang bobotnya ditentukan." (QS. Al-Hijr: 19).

Ilmu dalam Islam juga menunjukkan kepada seorang muslim suatu hakikat abadi yang membawa sebuah revolusi besar dan krusial, yaitu bahwa ilmu itu tidak memiliki batas dan tidak ada akhirnya. Dan mahabenar Allah dengan firman-Nya:

"Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.”" (QS. Al-Isra': 85).

"Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”" (QS. Al-Kahfi: 109).

"Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta) yang dibantu oleh tujuh lautan lagi setelah itu, niscaya kalimat-kalimat Allah belum habis ditulis. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Luqman: 27).

Kendati demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjamin bagi manusia—apabila ia menajamkan pandangan, membaguskan pemikiran, dan menelusuri sebab-sebab yang tersebar di alam semesta—bahwa Dia akan menunjukkan kepadanya sebagian rahasia ciptaan-Nya dan mengajarkan apa yang tidak diketahuinya. Dan mahabenar Allah dengan firman-Nya:

"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 5).

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar." (QS. Fussilat: 53).

"Tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka suatu mukjizat, kecuali (mukjizat itu) lebih besar daripada mukjizat yang sebelumnya." (QS. Az-Zukhruf: 48).

Subpembahasan Kedua

Fondasi-Fondasi Pendidikan dan Pengajaran

Merupakan hal yang jelas dan tidak diragukan lagi bahwa Tarbiyah Islamiyah dibangun di atas ajaran Islam dengan segala cakupan, realisme, dan keluasannya. Namun, mungkin ada manfaatnya dalam kesempatan singkat ini jika kita menyoroti beberapa fondasi tersebut dan yang paling penting dalam bidang ini:

1 — Iman yang Jujur/Sincere (Al-Iman Ash-Shadiq) sebagaimana yang dijelaskan oleh akidah Islam, diterangkan oleh Al-Qur'an al-Karim, dan dipaparkan oleh Sunnah yang disucikan; yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, Hari Akhir, serta qada dan qadar.

A — Iman yang mewariskan rasa takut (khasyah) di dalam hati:

"Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya; tidak ada antara lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya; dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Mujadalah: 7).

B — Iman yang menanamkan rasa percaya diri di dalam hati anak kecil maupun orang dewasa, serta mengokohkan langkah dalam amal saleh dan kebenaran yang nyata:

Dan mahabenar Rasulullah ketika menjelaskan hal tersebut kepada Ibnu 'Abbas:

يَا غُلَامُ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَا يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَا يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، جَفَّتِ الأَقْلَامُ وَطُوِيَتِ الصُّحُفُ

"Wahai anak muda, jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa andai umat manusia bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan andai mereka bersatu untuk menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, mereka tidak akan dapat memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah kering." (Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi nomor 2516 [tertulis di teks 2518], dan At-Tirmidzi berkata: Hasan Sahih. Dan Ahmad dalam Al-Musnad nomor 2669 dengan sanad sahih. Jami' al-Ushul - 11/685)

C — Iman yang mendorong menuju tujuan-tujuan besar agar agama ini seluruhnya hanya bagi Allah, dan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi sedangkan kalimat orang-orang kafir menjadi yang paling rendah, serta bagi Allah-lah kemuliaan, juga bagi Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.

Iman ini dipelajari dengan cara membuka pandangan mata (bashar) dan mata hati (bashirah) terhadap karunia-karunia Allah serta alam semesta-Nya yang luas terbentang, serta dengan bertafakur dan mentadaburi ayat-ayat-Nya yang tersebar dan nikmat-nikmat-Nya yang dihamparkan.

Sebagaimana ia juga dipelajari dengan membersamai Al-Qur'an serta menyelami wahyu ilahi dan petunjuk rabbani; sebuah kebersamaan dan penyelaman yang membuat manusia merasakan munajat kepada Tuhannya, merasakan keagungan, kesucian, dan kebesaran-Nya, serta melihat cahaya-cahaya-Nya yang menerangi langit dan bumi, yang dengannya tersingkap hakikat segala makhluk baik yang lahir maupun yang batin. Ia juga dipelajari dengan membersamai para nabi dan rasul, berjalan di atas sunnah mereka, mengikuti jejak mereka, serta berguru kepada imam dan pemimpin mereka, yaitu Muhammad Rasulullah , dengan cara mempelajari sirah beliau, mengikuti petunjuknya, mengamalkan syariatnya, berakhlak dengan akhlaknya, menghias diri dengan sifat-sifatnya, serta meneladani budi pekerti (syamail) dan perbuatan beliau, serta mempelajari ucapan dan tindakannya.

"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat" (QS. Al-Ahzab: 21).

D — Sebagaimana ia juga dipelajari melalui teladan yang baik (al-qudwah al-hasanah), seperti yang telah kami jelaskan pada diri Rasulullah, kemudian pada diri para sahabat yang mulia.

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya." (QS. Al-Fath: 29).

Abu Sa'id Al-Khudri meriwayatkan, ia berkata: Rasulullah bersinar:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيَقُولُونَ: فِيكُمْ مَنْ صاحَبَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ؟ فَيَقُولُونَ لَهُمْ نَعَمْ، فَيُفْتَحُ لَهُمْ، ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ فَيُقَالُ: فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ، ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ فَيُقَالُ: هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ؟ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ

"Akan datang suatu zaman kepada manusia, lalu sekelompok besar manusia berperang, kemudian mereka bertanya: 'Apakah di antara kalian ada orang yang pernah membersamai Rasulullah ?' Mereka menjawab: 'Ya,' maka kemenangan pun diberikan kepada mereka. Kemudian akan datang lagi suatu zaman kepada manusia, lalu sekelompok besar manusia berperang, lalu dikatakan: 'Apakah di antara kalian ada orang yang pernah membersamai sahabat Rasulullah ?' Mereka menjawab: 'Ya,' maka kemenangan diberikan kepada mereka. Kemudian akan datang lagi suatu zaman kepada manusia, lalu sekelompok besar manusia berperang, lalu dikatakan: 'Apakah di antara kalian ada orang yang pernah membersamai orang yang telah membersamai sahabat Rasulullah ?' Mereka menjawab: 'Ya,' maka kemenangan diberikan kepada mereka." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Al-Fath 7/3.

Dan karena apa yang diriwayatkan oleh 'Imran bin Husain radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda:

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ - قَالَ عِمْرَانُ: فَلَا أَدْرِي أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا - ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ، وَيَنْذُرُونَ وَلَا يُوفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ

"Sebaik-baik umatku adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. —'Imran berkata: Aku tidak tahu apakah beliau menyebutkan setelah generasinya dua generasi atau tiga generasi.— Kemudian sesudah kalian akan ada suatu kaum yang bersaksi padahal tidak diminta kesaksiannya, mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bernazar namun tidak menepatinya, dan tampak pada mereka kegemukan." Fathul Bari 7/3.

Dan karena apa yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id dari Rasulullah :

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ كُلَّ يَوْمٍ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

"Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku! Karena seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud setiap hari, hal itu tidak akan menyamai satu mud [satu cakupan penuh dua telapak tangan] infak salah seorang dari mereka, tidak pula setengahnya." Sahih.

Maka, menjadikankan teladan para pemilik iman—yang telah Allah persaksikan keutamaan mereka, dan Rasul-Nya telah mendorong untuk menghormati mereka serta menjelaskan kelebihan, kesegeraan, dan nilai mereka—akan menemani manusia menuju ufuk keagungan, keikhlasan, dan amal nyata. Sebaliknya, menentang mereka dan memisahkan diri dari jalan mereka akan berujung pada terputusnya kebaikan, keluhuran, dan hidayah, bahkan dapat mendatangkan kemurkaan Allah dan kesudahan yang buruk, wal 'iyadzu billah [kita berlindung kepada Allah].

Dari Abdullah bin Mughaffal, ia berkata: Rasulullah bersabda:

اللهَ اللهَ فِي أَصْحَابِي، لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ، وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي، وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللهَ، وَمَنْ آذَى اللهَ يُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ

"Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah perihal sahabat-sahabatku! Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran celaan sesudahku. Barang siapa yang mencintai mereka, maka karena mencintaiku-lah ia mencintai mereka. Barang siapa yang membenci mereka, maka karena membenciku-lah ia membenci mereka. Barang siapa yang menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku. Barang siapa yang menyakitiku, sungguh ia telah menyakiti Allah. Dan barang siapa yang menyakiti Allah, maka hampir saja Allah akan mengazabnya." At-Tirmidzi 3862.

*2 — Ilmu yang Bermanfaat (Al-'Ilm An-Nafi')

Yaitu ilmu yang selaras dengan manhaj akidah dan syariat; tidak berlebihan hingga membakar syahwat, menyulut fitnah, mencairkan nilai-nilai akhlak, dan membuat kemungkaran dicintai; tidak pula merendah hingga menyingkap aurat, menumpahkan kehormatan, menghancurkan ladang dan keturunan, serta membinasakan yang hijau maupun yang kering [segala hal tanpa sisa].

Melainkan, ilmu tersebut haruslah ilmu yang berguna, yang mengangkat manusia secara ruh, jiwa, dan jasad, serta memberikannya kebahagiaan, ketenteraman, dan kemantapan. Hal itu berlaku pada setiap pengetahuan yang menambah kedekatan hubungan manusia dengan Allah, serta menambah kemampuannya dalam menjalankan tugas-tugas kekhilafahan di bumi, dan memakmurkan kehidupan dengan kebaikan serta keadilan di antara manusia, sekaligus membawa kebahagiaan dan kesejahteraan di dalamnya sesuai apa yang dihalalkan dan disyariatkan oleh Allah.

Sebagai contoh, eksploitasi ilmu dalam memproduksi senjata pemusnah massal bertenaga nuklir, kimia, dan biologi demi meneror orang-orang yang lemah, menindas mereka, merampas kekayaan mereka, mengisap darah mereka, melanggar kehormatan mereka, serta memata-matai privasi mereka; semua itu tidak masuk dalam kerangka ilmu yang bermanfaat dan berguna.

Sebaliknya, pemanfaatan ilmu atau atom dalam bidang kedokteran, dalam menggerakkan roda kehidupan, dan dalam memakmurkan bumi untuk memberikan kelapangan bagi manusia, mengenyangkan perut yang lapar, meringankan penderitaan, serta mengasihi orang-orang yang membutuhkan dan tertimpa musibah; barulah masuk dalam kerangka ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat masuk ke dalam seluruh lini kehidupan yang berbeda dengan segala bentuk dan aktivitasnya. Imam Al-Ghazali menyatakan:

"Ilmu itu memiliki tingkatan-tingkatan, dan begitu pula terbagi menjadi ilmu syar'i dan non-syar'i. Ilmu syar'i adalah ilmu yang diperoleh dari para nabi—shalawat dan salam Allah semoga tercurah atas mereka. Sedangkan ilmu non-syar'i adalah seperti ilmu hitung (matematika), kedokteran, dan bahasa. Ilmu-ilmu yang non-syar'i ini terbagi lagi menjadi ilmu yang terpuji (mahmud), tercela (madzmum), dan mubah."

"Ilmu yang terpuji adalah ilmu yang terkait dengan kemaslahatan urusan dunia, seperti kedokteran, ilmu hitung, dan selain keduanya. Ilmu jenis ini terbagi menjadi apa yang hukumnya fardu kifayah dan apa yang merupakan keutamaan (fadhilah) namun bukan kewajiban. Adapun fardu kifayah adalah ilmu yang keberadaannya tidak boleh tidak ada dalam menegakkan urusan-urusan dunia, seperti kedokteran; karena ia sangat darurat dalam kebutuhan menjaga kelangsungan tubuh manusia. Demikian pula ilmu hitung; karena ia sangat darurat dalam muamalah, pembagian wasiat, warisan (mawarits), dan selainnya. Begitu juga segala hal yang serupa dengan keduanya. Ilmu-ilmu ini, sekiranya suatu negeri kosong dari orang yang menguasainya, niscaya berdosalah seluruh penduduk negeri tersebut..."

"Dan janganlah heran dengan ucapan kami bahwa kedokteran dan ilmu hitung termasuk fardu kifayah; karena pokok-pokok bidang industri/keterampilan juga termasuk fardu kifayah, seperti pertanian, menenun, politik, bahkan bekam (hijamah) dan menjahit. Sebab, andai suatu negeri kosong dari tukang bekam, niscaya kebinasaan akan segera mendatangi mereka, dan mereka berdosa karena menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam kebinasaan. Karena sesungguhnya Dzat yang menurunkan penyakit, telah menurunkan pula obatnya, membimbing untuk menggunakannya, serta menyediakan sebab-sebab untuk mengupayakannya. Maka tidak boleh menjerumuskan diri pada kebinasaan dengan mengabaikannya... Adapun ilmu yang tercela adalah ilmu sihir, jimat-jimat (thalasamat), sulap (sya'badzah), dan manipulasi/kamuflase (talbisat)." (Lihat Al-Ihya' 1/16.)

Al-Ghazali telah menjelaskan faktor-faktor tercelanya suatu ilmu ke dalam tiga hal, yang pertamanya adalah:

1 — Ilmu tersebut mendatangkan kemudaratan, baik bagi pemiliknya maupun bagi orang lain, seperti ilmu sihir dan jimat-jimat.

2 — Ilmu tersebut dibangun di atas khurafat atau di atas keyakinan bahwa segala materi/benda itulah yang memberikan pengaruh (al-muatstsir) tanpa adanya Sang Pencipta Pengaruh (Muatstsir [yaitu Allah]). Beliau melarang hal tersebut dari tiga sisi:

  • Pertama: Karena ilmu itu membahayakan mayoritas makhluk. Seperti orang yang mempelajari ilmu perbintangan [astrologi] tanpa pemahaman dan tanpa pengetahuan tentang hisabnya [astronomi] yang telah disebutkan oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya Ta'ala: "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan." (QS. Ar-Rahman: 5), dan "Bulan pun telah Kami tetapkan tempat-tempat peredarannya sehingga (setelah sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua." (QS. Yasin: 39). Lalu terbetik dalam jiwanya bahwa bintang-bintang itulah yang memberikan pengaruh, dan bahwa mereka adalah tuhan-tuhan yang mengatur karena mereka merupakan substansi (jawahir) samawi yang mulia; atau ia melihat bahwa kebaikan dan keburukan itu perlu diwaspadai atau diharapkan datang dari arah bintang-bintang tersebut, seraya melupakan bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk di bawah perintah-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Dengan demikian, ia menjerumuskan manusia ke dalam keburukan yang besar.
  • Kedua: Menghukumi segala sesuatu berdasarkan spekulasi (takhtmin) dan dugaan (zhann) yang tidak memiliki dalil. Maka tercelanya ilmu ini adalah dari sisi bahwa ia merupakan tindakan menyelami kebodohan yang mengantarkan pada kebodohan berikutnya, bukan pada ilmu.
  • Ketiga: Bahwa tidak ada manfaat di dalamnya. Maka menyia-nyiakan umur—yang merupakan modal manusia yang paling berharga—untuk hal yang tidak bermanfaat adalah puncak kerugian.

Faktor ketiga dari sebab tercelanya suatu ilmu: Menekuni ilmu tidak pada tujuan yang semestinya, atau dengan cara yang keliru, seperti mempelajari ilmu-ilmu yang rumit/detail sebelum menguasai yang pokok/besar, dan mempelajari hal yang samar sebelum hal yang jelas; atau seperti membahas rahasia-rahasia ketuhanan (al-asrar al-ilahiyah) pada perkara yang tidak mampu dijangkau oleh manusia. Sungguh, Rasulullah telah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak berguna dan tidak bermanfaat, beliau bersabda:

نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

"Kami berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat." Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dengan sanad hasan. (Ihya' Ulumiddin secara ringkas/adaptasi 1/29)

3 — Amal Saleh (Al-'Amal Ash-Shalih)

Amal saleh adalah pasangan bagi ilmu yang bermanfaat sekaligus bukti atas iman yang jujur. Amal saleh juga merupakan indikator atas kesalehan ilmu yang diserap, serta atas keikhlasan seorang alim yang berbicara dan mengajar. Amal terkadang berupa penjelasan terhadap kebenaran serta kesiapan memikul konsekuensinya, seperti firman-Nya Ta'ala yang mencela orang-orang yang menyelisihi hal itu, condong padanya, bermuka dua (dahana) atasnya, dan menukarnya dengan kesenangan dunia yang sedikit:

"(Ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi kitab (Taurat dan Injil), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.” Namun, mereka melemparkan (perjanjian) itu di belakang punggung mereka dan menukarnya dengan harga yang murah. Maka, itulah seburuk-buruk apa yang mereka beli." (QS. Ali 'Imran: 187).

Kemudian Allah memuji orang selain mereka dari kalangan orang-orang yang mengamalkan ilmunya lewat firman-Nya Ta'ala:

"Sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah, pada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an), dan pada apa yang diturunkan kepada mereka. Mereka berendah hati kepada Allah dan tidak menukar ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka itulah yang memperoleh pahala di sisi Tuhannya." (QS. Ali 'Imran: 199).

Sebagaimana amal juga diwujudkan dengan menjadi teladan dalam perbuatan-perbuatan saleh dan berada di atas jalan hidayah sesuai dengan perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya, seperti firman-Nya Ta'ala:

"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri" (QS. Al-Baqarah: 44).

Dan firman-Nya Ta'ala: "Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 3).

Serta firman-Nya Ta'ala: "Aku tidak bermaksud menyelisihimu (dengan melakukan) apa yang aku larang." (QS. Hud: 88).

Maka ilmu dalam Islam mengajarkan amal bersamaan dengan ilmu itu sendiri. Ilmu Islam bukanlah ilmu teoretis yang bersifat sofistik (safsatha-iyyan), melainkan ilmu yang memanifestasikan kinerjanya di tengah umat. Jadi, tidaklah ilmu berada di suatu lembah sedangkan umat berada di lembah yang lain. Akan tetapi, ia adalah ilmu yang menyatu dengan adat kebiasaan umat, amal, perbuatan, serta perjalanan hidupnya; merasuk kuat di dalam kehidupan sosial dan budayanya.

Atas dasar ini, umat Islam menghiasi ilmunya dengan penerapan dan amal, serta membimbing perjalanan hidupnya dengan ilmu, pemikiran, penelitian, dan argumen (hujjah). Maka, menuntut ilmu di sisi mereka adalah ibadah, bertafakur adalah ibadah, dan beramal saleh adalah ibadah.

Dan mahabenar Allah dengan firman-Nya:

"Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang mempunyai ilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Ali 'Imran: 18).

"Katakanlah (Muhammad), “Aku hanya mau menasihati kamu tentang satu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan”" (QS. Saba': 46).

"Wahai para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan." (QS. Al-Mu'minun: 51).

"Katakanlah (Muhammad), “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin”" (QS. At-Taubah: 105).

"Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (QS. Al-Isra': 9).

Maka iman umat mendorongnya menuju amal saleh dan kesungguhan dalam kebaikan, bukan kepada sikap pasrah, keputusasaan (tawakul), maupun kerahiban (rahbanbiyah). Iman itu menuntunnya menuju produktivitas dan menempuh sebab-sebab kausalitas, bukan kepada kemalasan, kepatuhan yang buta, maupun ketundukan yang menghinakan. Iman yang mengajaknya untuk berjalan mencari rezeki dalam firman-Nya Ta'ala:

"maka berjalannya di segenap penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al-Mulk: 15).

Iman tersebut juga mendorongnya untuk melakukan perjalanan guna memikirkan segala sesuatu dan memahami berbagai peristiwa agar dapat menyadari sunatullah yang tersebar di bumi. Allah Ta'ala berfirman:

"Apakah mereka tidak berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami" (QS. Al-Hajj: 46).

"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk)”" (QS. Al-'Ankabut: 20).

"Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunatullah (ketentuan-ketentuan Allah). Maka, berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran)." (QS. Ali 'Imran: 137).

Serta memalingkan perhatiannya kepada kaum-kaum terdahulu yang mengabaikan amal saleh, berbuat kerusakan di bumi, dan enggan mengikuti kebajikan, sehingga kesudahan urusan mereka adalah kerugian. Allah Ta'ala berfirman:

"Apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) peninggalan-peninggalannya di bumi, maka Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya. Dan tidak ada seorang pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah." (QS. Ghafir: 21).

"Apakah mereka tidak berjalan di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Allah telah menghancurkan mereka; dan bagi orang-orang kafir (akan menerima) nasib yang serupa itu." (QS. Muhammad: 10).

Islam telah menjadikan akidahnya bertumbuh suci (tazku) dengan amal, تفكر (tafakur), serta optimalisasi pandangan mata dan mata hati. Allah Ta'ala berfirman:

"Katakanlah, “Aku hanya mau menasihati kamu tentang satu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan”" (QS. Saba': 46).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi ululalbab," (QS. Ali 'Imran: 190 [tertulis di teks 191]).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Di bumi ada bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang. (Semuanya) diairi dengan air yang sama, tetapi Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ra'd: 4).

Semua amal ini dan semua ilmu ini didedikasikan demi kemanfaatan umat manusia, serta menjadi bahan bakar yang baik bagi melesatnya jiwa orang mukmin untuk menunaikan perannya dalam kehidupan ini secara bahagia lagi mulia; tanpa kedengkian, tanpa trauma, tanpa kezaliman, tanpa kelancangan, serta tanpa merasa berjasa (mann), memperbudak, maupun menindas. Hal itu karena perhitungan pahalanya berada di tangan Allah; ia beramal demi pahala dari-Nya dan mengharapkan balasan hanya dari-Nya Subhanahu. Dan mahabenar Allah:

"Jika kamu berpaling, aku tidak meminta imbalan sedikit pun darimu. Imbalanku tidak lain kecuali dari Allah dan aku diperintah agar termasuk orang-orang muslim.”" (QS. Yunus: 72).

"Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain kecuali dari Tuhan semesta alam." (QS. Asy-Syu'ara': 109 [tertulis di teks 164]).

4 — Akhlak yang Mulia (Al-Akhlaq Al-Karimah)

Akhlak yang utama dan nilai-nilai yang mulia merupakan fondasi yang luas dari fondasi-fondasi pendidikan dan pengajaran dalam Islam. Fondasi ini ditegakkan di atas modal fitrah yang baik serta cadangan dorongan alami di dalam jiwa manusia yang telah Allah titipkan dalam tabiat manusia sejak Dia menciptakannya Subhanahu wa Ta'ala:

"(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu." (QS. Ar-Rum: 30).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا وَيُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

"Tidak ada seorang anak pun yang lahir melainkan dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan utuh tanpa cacat, apakah kalian merasakan ada yang terpotong telinganya?" Kemudian Abu Hurairah berkata: Dan bacalah jika kalian mau: (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Diriwayatkan oleh Muslim 8/52.

Oleh karena itu, pendidikan Islam berjalan selaras dengan fitrah yang sehat. Sebagaimana termasuk tugas pendidikan Islam adalah menepis penyimpangan dan keretakan kepribadian yang ditinggalkan oleh ajaran-ajaran yang sesat. Termasuk tugasnya pula adalah mengosongkan jiwa manusia dari energi kebinatangan yang liar yang menarik manusia tersebut ke jurang kebinasaan, perpecahan, dan kesewenang-wenangan; lalu menggantinya dengan energi-energi lain yang mulia, serta menyalakan dan menyuplai energi fitrah yang suci di dalam jiwa dengan asupan makanan yang diperlukan baginya, agar jiwa, perasaan, dan pemikiran manusia dapat memancarkan cahaya kehidupan yang stabil, bermanfaat, lagi luhur.

Oleh sebab itu, pendidikan Islam menjadi sebuah keniscayaan bagi kepuasan insani dan stabilitas emosional, serta keniscayaan bagi kehidupan yang stabil dan masyarakat yang terbimbing. Ia merupakan hakikat yang nyata dan timbangan yang tegak, yang menjulang tinggi dengan sendirinya di atas individu maupun kelompok, serta memaksakan dirinya atas manusia terlepas dari hawa nafsu, kepentingan, dan keinginan-keinginan pribadinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu dan kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya atau miskin, Allah lebih tahu kemaslahatan keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling, sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. An-Nisa': 135).

Islam telah memfokuskan pendidikan pada akhlak yang mulia karena banyak alasan, kami sebutkan di antaranya:

1 — Karena akhlak adalah nilai hakiki bagi manusia: Rasulullah bersabda:

إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ

"Sesungguhnya di antara orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan yang paling lembut kepada keluarganya." At-Tirmidzi, hasan sahih. Dan beliau bersabda:

كَرَمُ الْمُؤْمِنِ دِينُهُ، وَمُرُوءَتُهُ عَقْلُهُ، وَحَسَبُهُ خُلُقُهُ

"Kemuliaan seorang mukmin adalah agamanya, muruah [harga diri]-nya adalah akalnya, dan kehormatan nasabnya adalah akhlaknya." Al-Hakim dan Al-Bhaihaqi, sahih sesuai syarat Muslim.

2 — Akhlak sebagai tanda atas keselamatan iman: Beliau bersabda:

أَحْسَنُ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Manusia yang terbaik adalah yang paling baik akhlaknya." Potongan hadis sahih diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Thabarani dengan sanad yang baik (jayyid).

3 — Akhlak sebagai tanda kesuksesan di dunia dan akhirat: Allah Ta'ala berfirman:

"Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (QS. Ali 'Imran: 159 [tertulis di teks QS. An-Nisa': 135]).

Rasulullah bersabda:

إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

"Sesungguhnya kalian tidak akan mampu merangkul manusia dengan harta kalian, melainkan kalian dapat merangkul mereka dengan wajah yang berseri-seri dan akhlak yang baik." Abu Ya'la dan Al-Bazzar, hasan.

"Jadilah pemaaf, perintahkanlah (orang-orang) mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199).

Rasulullah bersabda:

وَمَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ، وَمَنْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ

"Dan barang siapa yang diberi bagian dari sifat lemah lembut, maka sungguh ia telah diberi bagian dari kebaikan. Dan barang siapa yang dihalangi dari bagian sifat lemah lembut, maka ia dihalangi dari bagian kebaikan." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, hasan sahih.

5 — Rasa Percaya dan Tawakal (At-Tsiqah wat-Tawakkul)

Rasa percaya dan tawakal dalam kehidupan ini ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, setelah menempuh sebab-sebab kausalitas dan menjejaki jalan-jalannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Pencipta sebab-sebab tersebut dan Dialah yang menjadikannya sebagai jalan untuk meraih apa yang diinginkan dalam kehidupan ini. Maka, tawakal kepada Allah adalah memohon pertolongan (isti'anah) dari Allah dan taufik dari-Nya Subhanahu untuk mengikuti jalan yang benar dan paling ideal dalam menempuh sebab-sebab tersebut serta mengamalkannya. Kemudian, menyandarkan punggung kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya setelah habisnya usaha manusia dan batas kemampuan insani di jalan tersebut. Sebab, Dialah Pengatur segala urusan, Pemilik segala perintah, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Di atas jalan ini dan dengan pemahaman seperti inilah Al-Qur'an al-Karim menanamkan makna-makna tersebut di dalam hati Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia. Allah Ta'ala berfirman:

"Ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Benarlah Allah dan Rasul-Nya. (Peristiwa) itu justru menambah iman dan keislaman mereka." (QS. Al-Ahzab: 22).

"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (kaum musyrik) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung.” Maka, mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana pun dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Ali 'Imran: 173–174). (2)

"Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 159). (3)

Maka tawakal dalam konsep seorang muslim adalah kekuatan yang dengannya ia menundukkan sebab-sebab kausalitas, serta merupakan keteguhan tekad, rasa percaya, energi, dan keberanian tatkala sebab-sebab duniawi telah habis. Walaupun dunia ini bersatu menghadangnya, sesungguhnya kehendak Allah dan kebersamaan-Nya (ma'iyyah) senantiasa bersamanya.

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata perihal ayat: Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung: "Kalimat itu diucapkan oleh Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api, dan diucapkan oleh Muhammad ketika orang-orang berkata: 'Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung.'" (Al-Bukhari).

At-Tirmidzi dan Ahmad mengeluarkan hadis dengan sanad sahih dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Aku pernah dibonceng di belakang Nabi , lalu beliau bersabda:

«يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللهُ لَكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَى ذَلِكَ، وَلَوْ اجْتَمَعَتِ الأُمَّةُ عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ»

"Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa andai umat manusia bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu yang belum Allah tetapkan bagimu, mereka tidak akan mampu melakukannya. Dan andai umat manusia bersatu untuk memudaratkanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah kering." Hasan sahih. Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas dari jalur yang sangat banyak sekali. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad. Dua Al-Hafiz (Ibnu Rajab Al-Hanbali) berkata: Diriwayatkan oleh Ikrimah, 'Atha' bin Abi Rabah, 'Amr bin Dinar, Ubaidullah bin Abdullah, Ibnu Abi Mulikah, dan selain mereka.

Dan terdapat tambahan dalam riwayat lain sebagai penyempurna hadis:

فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَعْمَلَ بِالرِّضَى فِي الْيَقِينِ فَافْعَلْ، وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ، فَإِنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا، وَلَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ

"Jika engkau mampu beramal dengan keridaan di atas keyakinan, maka lakukanlah. Namun jika engkau tidak mampu, sesungguhnya pada kesabaran terhadap apa yang engkau benci terdapat kebaikan yang banyak. Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, dan satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan."

Lihat Jami' al-Ushul 11/686, At-Tirmidzi nomor 2518, Ahmad nomor 2669, dan Jami' al-'Ulum wal-Hikam, dan hadis ini sahih. Jam'ul Jawami' karya As-Suyuthi 975.

Oleh karena itu, seorang muslim senantiasa merasa mulia, kuat, dan percaya diri bersama Tuhannya seraya bertawakal kepada-Nya, bukan menjadi orang yang pasrah tanpa usaha (mutawaakilan), gemetar, lagi goyah.

6 — Cinta karena Allah (Al-Hubb fillah)

Cinta karena Allah merupakan salah satu karakteristik seorang muslim, bukti dari bukti-bukti keimanan, serta pilar yang kokoh dari pilar-pilar masyarakat muslim. Di mana umat Islam berkumpul di atas satu tujuan, di jalan satu target untuk mewujudkan satu risalah, sehingga mereka laksana satu tubuh; apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan hal itu kepada mereka seraya berfirman:

"Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai! Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika kamu dahulu) berada di tepi jurang neraka, lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran: 103).

Al-Qur'an menetapkan bahwa cinta karena Allah dan loyalitas kepada orang-orang mukmin (mualat al-mu'minin) merupakan tanda dari tanda-tanda iman yang jujur. Allah Ta'ala berfirman:

"Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (QS. At-Taubah: 71).

Dan hal ini dikukuhkan oleh Rasulullah dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»

"Ada tiga perkara yang barang siapa mengerjakannya, ia akan merasakan manisnya iman: Seseorang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, seseorang yang mencintai seorang hamba yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan seseorang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda:

خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

"Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya kepada sahabatnya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya kepada tetangganya." At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Sahih sesuai syarat Muslim.

Dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu, ia merafakkannya [menyandarkannya kepada Nabi ], beliau bersabda:

مَا مِنْ رَجُلَيْنِ تَحَابَّا فِي اللهِ بِظَهْرِ الْغَيْيبِ إِلَّا كَانَ أَحَبُّهُمَا إِلَى اللهِ أَشَدُّهُمَا حُبًّا لِصَاحِبِهِ

"Tidaklah ada dua orang yang saling mencintai karena Allah tanpa saling bertatap muka (bi-zhahril ghaib), melainkan yang paling dicintai di antara keduanya oleh Allah adalah yang paling kuat cintanya kepada sahabatnya." At-Thabarani dengan sanad yang baik (jayyid) lagi kuat.

Beliau bersabda:

مَنْ أَعْطَى للهِ، وَمَنَعَ للهِ، وَأَحَبَّ للهِ، وَأَبْغَضَ للهِ، وَأَنْكَحَ للهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ

"Barang siapa yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencinta karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan imannya." Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim dengan sanad sahih.

Al-Qur'an juga menetapkan bahwa barang siapa yang membenci orang-orang mukmin dan berloyalitas kepada selain mereka, maka ia adalah orang yang berdosa, menyelisihi perintah-perintah Allah Subhanahu, lemah imannya, jauh dari Tuhannya dan dari jalan orang-orang mukmin, serta sungguh ia telah melepas tali pengikat Islam dari lehernya. Allah Ta'ala berfirman:

"Engkau (Nabi Muhammad) tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan di dalam hatinya dan Dia kuatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya." (QS. Al-Mujadalah: 22).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang (munafik) ke suatu kaum yang telah dimurkai Allah? Mereka bukan dari (kalangan) kamu dan bukan pula dari (kalangan) mereka. Mereka bersumpah atas kebohongan, sedangkan mereka mengetahuinya. Allah telah menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka. Sesungguhnya sangat buruk apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 14).

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong(mu). Sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai penolong, sesungguhnya dia termasuk lingkaran mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Ma'idah: 51).

Para ahli fikih (fuqaha) menyatakan: Umat telah bersepakat (ijma') bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya hukumnya fardu. Demikian pula mencintai orang-orang yang bertakwa dan para ulama hukumnya wajib; karena orang yang dicintai oleh sang kekasih, pastilah ikut dicintai, dan utusan dari sang kekasih, tentulah dicintai pula. Mencintai orang-orang saleh memberikan manfaat di dunia dan akhirat. Di dunia, ia mengajak untuk membangun amal-amal saleh dengan keteladanan yang baik, saling tolong-menonjol dalam perbuatan baik dan kebajikan (al-birr), saling menasihati, serta bersepakat dalam mencurahkan ketaatan. Barang siapa mencintai seseorang, ia akan menyetujuinya, beramal seperti amalnya, dan mengambil petunjuk dengan petunjuknya, sehingga ia tumbuh di atas kesempurnaan, berkembang di atas sifat-sifat terpuji, serta meraih pahala Allah di akhirat. Sebagaimana membersamai orang-orang buruk (al-asyrar) mendatangkan kemudaratan di dunia dan akhirat, membinasakan energi dan amal, serta mengundang kemurkaan Allah Subhanahu.

Sungguh, Rasulullah telah menuntun umat Islam menuju pendidikan yang benar lagi sehat. Mulai dari pendidikan jasad dengan asupan makanan yang baik lagi halal, hingga olahraga, berenang, dan menunggang kuda; agar individu muslim memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melanjutkan amal dan perjuangan dalam hidup. Hingga mendidiknya di atas kekuatan militer dan pelatihan perang; agar menjadikannya senantiasa mampu menjaga kebenaran, membelanya, menolak agresi, serta mendidiknya atas ketaatan, kedisiplinan, memobilisasi energi, serta membangkitkan emosi dan kemarahan demi membela kebenaran.

Sebagaimana beliau juga mendidiknya di atas ibadah; agar ia menjadi orang yang kuat ruhnya, agung jiwanya, senantiasa percaya diri, mampu memberi, bersiap mengharap pahala (al-ihtisab), sabar, qanaah, dan rida.

Kemudian dengan pendidikan melalui amal saleh dan akhlak yang lurus; agar ia menjadi pemilik tujuan dan target luhur yang tinggi yang tidak menurunkannya ke dalam kubangan lumpur kehinaan atau ke dasar syahwat yang liar.

Semua pendidikan ini dan yang lainnya telah ditetapkan oleh Sunnah, dijelaskan oleh Sirah yang harum, dan dibangun di dalam jiwa muslim yang luhur laksana raksasa peradaban (al-muslim al-'imlaq) hingga menjadikannya sebagai teladan yang mulia, perkasa, lagi menjulang tinggi.

Dan agar ia senantiasa berada di atas jalan yang terang (al-mahajjah al-baidha') dan jalan yang lurus (as-shirath al-mustaqim), tidak sesat dan tidak celaka. Dari 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda:

لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ

"Sungguh, aku telah meninggalkan kalian di atas sesuatu yang laksana jalan yang terang menderang, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa." Hasan, At-Targhib wat-Tarhib 1/52.

Subpembahasan Ketiga

Metode-Metode Pendidikan

1 — Interaksi dengan Kitabullah [Al-Qur’an] Ta'ala:

Umat manusia, baik pada masa lalu maupun masa kini, tidak pernah mengenal sebuah kitab, konstitusi, atau metode yang mengandung kekayaan edukatif, tujuan-tujuan luhur, kandungan-kandungan yang agung, serta metode-metode yang berpasangan dengan keluhuran, realisme, cakupan luas, dan keseimbangan, laksana Al-Qur'an al-Karim. Al-Qur'an meletakkan dasar bagi pendidikan yang meliputi dan mencakup seluruh energi manusia, bakat-bakatnya, instingnya, kerinduannya, serta tujuan-tujuannya. Ia tidak keluar dari satu tujuan tersebut yang tegak lurus di atas manhaj yang unik; yang menebarkan kedamaian, ketenangan, dan ketenteraman di dalam jiwa, serta menanamkan kemantapan dan kebahagiaan di luar jiwa bersama alam semesta dan masyarakat, sekaligus menghiasi kehidupan dengan keindahan, ihsan, dan persaudaraan.

Di antara metode pendidikan dalam Al-Qur'an al-Karim adalah pendidikan dengan doktrinasi (at-talqin), peniruan (al-muhakah), mengikuti teladan yang baik melalui pengajaran, praktik langsung, dan pembiasaan. Juga melalui amal, penggunaan logika, peniruan aktual, memberikan pengaruh pada jiwa, mengunggah emosi, serta melalui metode kisah-kisah dan ibrah dari kondisi kaum terdahulu. Serta melalui penjelasan yang mukjizat (al-bayan al-mu'jiz), dialog (al-hiwar), pembuatan perumpamaan (dharbul amtsal), penggunaan hikmah, penetapan realitas, serta pemanfaatan indra, tafakur, tadabur, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, amar makruf nahi mungkar, transparansi ruh, kesucian nurani, keikhlasan, cinta, tarhib (ancaman/peringatan) dan targhib (motivasi/janji pahala), qisas, hukuman edukatif (at-ta'zir), penerimaan tobat dan ampunan, amal saleh, serta kesucian dan keutamaan... dsb.

2 — Interaksi dengan Sirah Nabawiyah:

Sirah Nabawiyah adalah pelatihan praktis bagi pendidikan. Di mana pelatihan praktis bagi pendidikan tetap menjadi salah satu metode terpenting dalam pendidikan dan pengajaran.

Allah Ta'ala berfirman seraya memerintahkan untuk meneladani Rasulullah :

"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu" (QS. Al-Ahzab: 21).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa': 59).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, padahal kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)." (QS. Al-Anfal: 20).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Tidaklah pantas bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 36).

Dari 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah telah memberikan nasihat kepada kami dengan sebuah nasihat yang membuat hati bergetar, maka kami berkata: "Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan, maka berikanlah wasiat kepada kami!" Beliau bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat walau yang memimpin kalian adalah seorang budak. Dan sesungguhnya, barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian! Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru [dalam agama], karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan." Hasan sahih, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud.

3 — Interaksi dengan Salafus Saleh:

Salafus saleh adalah madrasah dan mereka adalah kebersamaan yang mulia yang mendampingi turunnya wahyu, belajar darinya, dan berjalan mengiringi kafilah dakwah. Mereka adalah buah-buah dari pendidikan, bunga-bunga dari taman riyadhoh, keharuman iman, perbincangan sepanjang zaman, kisah dari berbagai abad, serta kabar gembira bagi risalah-risalah dan para rasul. Dan mahabenar Allah:

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat dan perumpamaan mereka dalam Injil, seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu membuatnya kuat, kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak memusahkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka." (QS. Al-Fath: 29).

Mereka adalah wujud nyata dari persaudaraan seutuhnya, sifat mengutamakan orang lain (al-itsar) seutuhnya, kemuliaan seutuhnya, cinta seutuhnya, kesucian seutuhnya, dan keberuntungan seutuhnya. Dan mahabenar Allah:

"Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya atas apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri, meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”" (QS. Al-Hasyr: 9–10).

Mereka adalah wujud nyata dari sifat kelaki-lakian/kesatria (ar-rujulah) seutuhnya, keteguhan tekad, perjuangan, kejujuran, kesetiaan, keikhlasan, pengorbanan (at-tadhhiyah), dan kesiapan menebus dengan jiwa. Dan mahabenar Allah:

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23 [tertulis di teks 22]).

Mereka adalah pemilik lisan-lisan yang menjaga kesucian ('afifah), kemaluan-kemaluan yang bersih, tangan-tangan yang amanah, shalat yang khusyuk, harta-harta yang zakat [suci/berkembang], serta janji-janji yang dipelihara. Dan mahabenar Allah:

"Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia, orang-orang yang menunaikan zakat, orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Bagang siapa mencari (pelampiasan syahwat) di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya, serta orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi," (QS. Al-Mu'minun: 1–10).

Maka dari itu, kondisi Salafus Saleh terdahulu menjadi cahaya, hidayah, teladan, serta tanda-tanda di atas jalan yang dijadikan petunjuk oleh seorang mukmin dalam menempuh jalannya, jihadnya, dan dakwahnya.

Dengan demikian, mendidik seorang muslim di atas makna-mana Islam—terkhusus pada hari-hari ini—serta membentuk perilakunya, amalnya, dan tindakannya selaras dengan ajaran-ajaran ini merupakan perkara darurat yang tidak boleh tidak ada bagi umat Islam agar ia dapat bangkit, tegak batangnya, dan semakin kuat barisannya. Maka, wajib atas para dai untuk memberikan perhatian besar padanya jika mereka ingin mengibarkan panji bagi Islam, menerapkan syariat untuknya, serta mendidik bagi Islam suatu generasi yang dengannya ia merasa bangga, mulia, dan meraih kemenangan, insya Allah.

Dan di antara hal yang wajib diperhatikan dalam bidang ini adalah bahwa Salafus Saleh merupakan penerapan praktis dan indikator yang jelas di atas jalan Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka tidak berdiri hanya dengan zat mereka semata, atau hanya dengan akal mereka belas.

Di antara sikap abadi yang dideklarasikan oleh para ulama yang ikhlas dalam bidang ini adalah sikap ulama zaman ini sekaligus pembimbingnya, yaitu Syaikh Said Al-Nursi asal Turki yang dijuluki sebagai "Badiuzzaman" rahimahullah [semoga Allah merahmatinya] dan melipatgandakan pahalanya. Sikap ini terangkum dalam peristiwa ketika ia pada suatu kali merasakan bahwa di antara para murid dan pengikutnya ada yang berlebihan dalam menguduskan dan mengagungkannya hingga batas yang amat besar, serta mengaitkan tolok ukur kebenaran pada sosok dirinya yang fana. Maka ia berkata kepada mereka seraya berwasiat, mengarahkan, dan menasihati:

"Jangan sekali-kali kalian mengaitkan kebenaran yang aku serukan kepada kalian ini pada sosok diriku yang fana. Akan tetapi, wajib atas kalian untuk segera mengaitkannya pada sumbernya yang paling suci: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. Dan ketahuilah bahwa aku ini tidak lebih dari seorang makelar yang menjajakan barang dagangan milik Ar-Rahman Jalla Jalaluhu. Dan ketahuilah bahwa aku tidaklah maksum; terkadang bisa luput dariku suatu dosa, atau tampak dariku suatu penyimpangan, sehingga penampilan kebenaran yang kalian kaitkan pada diriku menjadi cacat akibat dosa atau penyimpangan tersebut. Dan perbuatan dosaku atau penyimpanganku itu kelak bisa menjadi penghalang bagi kalian dari kebenaran disebabkan apa yang merusaknya dan bercampur dengannya dari penyimpangan dan dosa-dosaku." (Lihat mengenai hal itu dalam kitab "Tarbiyatul Awlad fil Islam" karya Alwan - 2/858)

Oleh karena itu, barang siapa yang teperdaya oleh dirinya sendiri sehingga enggan menerapkan hukum-hukum syariat, maka ia bukanlah orang saleh dan tidak termasuk bagian dari Salafus Saleh sedikit pun. Melainkan ia termasuk dari golongan orang yang buruk, serta ulama jahat ('ulamaus su') dan ulama fitnah. Beliau bersabda:

الْعِلْمُ عِلْمَانِ: فَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ فَذَلِكَ حُجَّةُ اللهِ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ، وَعِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ

"Ilmu itu ada dua macam: Ilmu yang hanya berada di lisan, maka itu adalah hujah Allah Ta'ala atas makhluk-Nya. Dan ilmu yang meresap di dalam hati, maka itulah ilmu yang bermanfaat." Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad sahih.

Dan beliau bersabda:

لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلِتَصْرِفُوا وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْكُمْ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَهُوَ فِي النَّارِ

"Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk memamerkannya di hadapan para ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh dengannya, atau untuk memalingkan wajah-wajah manusia agar melihat kepada kalian. Maka barang siapa yang melakukan hal itu, ia berada di neraka." Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari hadis Jabir dengan sanad sahih.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat