Bab III: Cara-cara Berdakwah
BAB KETIGA: METODE-METODE DAKWAH
- Pasal Pertama:
Memperdalam Akidah dan Mengambil Manfaat dari Hasilnya
- Pasal Kedua:
Menghilangkan Syubhat [Kerancuan Pemikiran]
- Pasal Ketiga: Targhib
[Motivasi/Kabar Gembira] dan Tarhib [Ancaman/Peringatan]
- Pasal Keempat:
Tarbiyah dan Pengajaran
Pasal
Pertama: Memperdalam Akidah dan Mengambil Manfaat dari Hasilnya
Seorang
dai Muslim memiliki metode dan strategi yang ia ikuti dalam dakwahnya menuju
Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menuju jalan-Nya yang lurus.
Di
antaranya adalah:
Fokus
pada makna-makna akidah di dalam jiwa. Sebab manusia dalam kehidupan ini
dikendalikan oleh keyakinan dan prinsip yang dianutnya. Manusia, sebagaimana
yang telah maklum, dikendalikan dari dalam dirinya. Apabila bagian dalam ini
berdenyut dan tersinari oleh akidah yang benar, maka keindahan iman akan
meresap ke dalam jiwanya, ruh kehidupan akan mengalir di dalamnya,
potensi-potensinya akan bergerak, dan ia akan melesat terbang dengan bahan
bakar ketuhanan yang bersumber dari Allah, yang minyaknya saja hampir-hampir
menerangi walaupun tidak disentuh api, cahaya di atas cahaya, Allah membimbing
kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Kemudian, sang dai bertujuan untuk
menghilangkan syubhat yang diembuskan oleh para pengikut kebatilan di sekitar
dai dan dakwahnya, agar kegelapan kebatilan tidak menghalangi cahaya kebenaran
yang benderang, berkilau, lagi murni.
Selanjutnya,
sang dai menggunakan bahasa targhib (memotivasi) dan tarhib
(menakut-nakuti) sesuai dengan kondisi dan situasi. Sebab, di antara jiwa
manusia ada yang tertuntun menuju kebaikan karena motivasi, dan ada pula yang
tidak tunduk kecuali oleh rasa takut dan ancaman.
Di
antara metodenya pula adalah tarbiyah (pendidikan) dan pengajaran. Hati adalah
wadah, dan akal adalah tempat bersemayam bagi apa saja yang dilontarkan ke
dalamnya. Jika kebaikan telah menetap di dalamnya, ia akan membuahkan hasil
yang baik. Namun jika dibiarkan bagi setan, ia akan menjadi tandus, kering,
serta menumbuhkan buah hanzhal [tanaman pahit] dan zaqqum. Dan benarlah
Rasulullah ﷺ:
"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
Kami
akan memaparkan metode-metode tersebut dengan sedikit penjelasan.
Pembahasan
Pertama: Fokus pada Makna-Makna Akidah
Tugas
seorang dai adalah menghubungkan hati dengan Allah, mengenalkan manusia kepada
Tuhan mereka, dan menghidupkan rasa takut kepada-Nya di dalam hati mereka.
Dialah Sang Pencipta, Sang Sembahan yang haq, yang bersifat dengan sifat-sifat
kesempurnaan, dan Mahasuci dari segala kekurangan:
"Dialah
Allah, tidak ada tuhan selain Dia. (Dialah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang
nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada
tuhan selain Dia. (Dialah) Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang
Menjaga Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, lagi
Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka
persekutukan. Dialah Allah Yang Maha Pencipta, Yang Mewujudkan dari tiada, lagi
Yang Membentuk Rupa. Dia memiliki nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna). Apa
yang di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Dialah Yang
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Al-Hasyr: 22-24).
Di
tangan-Nyalah segala kebaikan, dan kepada-Nyalah segala urusan dikembalikan.
"Dia
telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika
kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu
menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)
"Tidak
ada suatu nikmat pun pada seorang pun di sisi-Nya yang mendapat balasan,
kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang
Mahatinggi." (QS. Al-Lail: 19)
"Tidakkah
kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa
yang ada di bumi untuk (kepentingan)-mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu,
yang lahir maupun yang batin?" (QS. Luqman: 20)
Dialah
Tuhan semesta alam yang mengurusi urusan makhluk-Nya dan menjamin apa yang
membawa kemaslahatan bagi mereka. Dialah Yang menghilangkan kemudaratan dari
mereka:
"Jika
Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat
menghilangkannya selain Dia." (QS. Al-An'am: 17)
Dialah
Yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan dan Yang
menghilangkan keburukan:
"Atau,
siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang berada dalam kesulitan apabila
dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan keburukan, dan menjadikan kamu (manusia)
sebagai khalifah di bumi?" (QS. An-Naml: 62)
Apakah
ada tuhan bersama Allah? Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah yang paling
berhak untuk diingat, yang paling mulia untuk disembah, yang paling menolong
bagi siapa saja yang mencari-Nya, yang paling pengasih dari penguasa mana pun,
yang paling dermawan ketika diminta, dan yang paling luas pemberian-Nya. Segala
hati tunduk berserah kepada-Nya, dan segala rahasia di hadapan-Nya adalah
terang-terangan. Mahasuci Engkau, perkara yang halal adalah apa yang Engkau
halalkan, perkara yang haram adalah apa yang Engkau haramkan, dan agama adalah
apa yang Engkau syariatkan. Makhluk adalah makhluk-Mu, hamba adalah hamba-Mu,
dan Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkau adalah Raja yang tidak ada
sekutu bagi-Mu, segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Mu. Engkau adalah
Saksi yang paling dekat, Penjaga yang paling karib, Yang Maha Hidup lagi Maha
Berdiri Sendiri, Pencipta langit dan bumi, tidak ada tuhan yang berhak disembah
selain Engkau.
Wahai
Tuhanku, kapankah Engkau gaib sehingga memerlukan dalil yang menunjukkan
keberadaan-Mu? Dan kapankah Engkau jauh sehingga jejak-jejak makhluk itulah
yang menyampaikan kepada-Mu? Butalah mata yang tidak melihat-Mu, dan rugilah
jiwa yang tidak dimasuki oleh cahaya-Mu. Kami berlindung kepada-Mu dari
kedudukan orang-orang kafir dan berpalingnya orang-orang yang lalai. Kami juga
berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang malang, takdir
yang buruk, dan kegembiraan musuh atas penderitaan kami.
Demikianlah
seharusnya seorang Muslim, dan begitulah akidahnya menjadi ruh yang hidup yang
mengalir dalam persendiannya serta menerangi hatinya. Karena bersama Tuhannya,
ia adalah segala sesuatu, dan tanpa-Nya ia bukan apa-apa. Akidahnya adalah
pengendali urusannya, cahaya jalannya, fondasi manhajnya, bahan bakar amalnya,
sumber peradabannya, mata air pemikirannya, dan bingkai ilmunya. Akidah itu
memberi, menganugerahkan, mengilhami, membimbing, menolong, mengokohkan
langkahnya, memuliakannya, meninggikan panjinya, dan menegakkan benderanya.
Pembahasan
Kedua: Anugerah Akidah Bagi Individu Muslim
Kita
dapat merangkum apa yang dianugerahkan oleh akidah kepada seorang individu
Muslim sebagai berikut:
1.
Mengenalkannya kepada Sang Pencipta dan Maha Pemberi Rezeki yang telah
menciptakannya dari ketiadaan.
"Bukankah
telah datang atas manusia suatu masa dari peredaran waktu, sedang ia belum
menjadi sesuatu yang dapat disebut?"
Dan
yang menciptakannya dari tanah:
"Sungguh,
Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah.
Kemudian, Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim)."
Akidah
senantiasa menjawab pertanyaan-pertanyaan dan keraguan yang bergejolak dalam
imajinasi serta pemikiran manusia, yang hampir saja membinasakan dan
mencabik-cabiknya jika ia tidak memiliki ilmu tentangnya.
Seorang
mukmin memberikan perumpamaan untuk hal itu dengan berkata: Seandainya kita
membayangkan ada seseorang yang tertidur, lalu ia terbangun dan mendapati
dirinya berada di dalam istana yang megah, makanan dan minumannya datang setiap
waktu dan setiap saat, sementara ia tidak tahu siapa pemilik istana ini dan
siapa yang membawakannya makanan, minuman, serta pakaian ini tanpa ia lihat.
Apakah menurutmu jiwanya akan merasa tenang atau hatinya akan merasa nyaman
sebelum ia mengetahui di mana ia berada, milik siapa istana ini, siapa yang
membawakannya makanan dan minuman ini, apa tujuan dari semua ini, dan berapa
hari ia akan tinggal di tempat ini?
Maka,
jika datang kepadanya seorang yang jujur lalu berkata kepadanya: "Istana
ini diberikan kepadamu oleh Pangeran Fulan sebagai balasan atas amalmu, dan
makanan serta minuman ini adalah bagian dari nikmat ini, dan tujuannya adalah
untuk memuliakan orang-orang yang beramal dan membalas orang-orang yang ikhlas,
dan kamu akan tetap berada di istana ini selama kamu menjadi orang yang berbuat
baik, beramal, lagi ikhlas." Bukankah hatinya akan menjadi nyaman dan
tenang?
Begitu
pula manusia, ia melihat dirinya berada dalam kehidupan, ia tidak tahu siapa
yang menciptakannya di dalamnya, siapa yang memberinya rezeki, dan ke mana
tempat kembali serta akhir tujuannya. Maka, ketika akidah menjelaskan
pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan di dalam hatinya ini, jiwanya menjadi
tenang, pikirannya menjadi tenteram, dan ia mengetahui apa yang ada di
sekitarnya.
Adapun
jika ia tetap tersesat dalam kehidupan ini tanpa ada akidah yang menunjukinya
atau risalah yang membimbingnya, maka ia akan hidup dalam keadaan
bercerai-berai, bingung, kehilangan keseimbangan, dan pikirannya kacau. Kita
dapat melihat hal ini dalam ucapan orang-orang ini dan itu. Sebagai contoh,
kita melihat Omar Khayyam berkata:
Aku mengenakan pakaian kehidupan tanpa dimintai pendapat...
Dan aku bingung di dalamnya di antara berbagai pemikiran.
Dan aku akan menanggalkan pakaian ini dariku padahal aku
belum...
Memahami mengapa aku datang? Dan ke mana jalan keluar?
Dan Iliya Abu Madi berkata:
Aku datang tanpa mengetahui dari mana, tetapi aku telah
datang,
Dan aku telah melihat sebuah jalan di hadapanku, maka aku
pun berjalan,
Dan aku akan tetap berjalan, apakah aku mau atau menolak,
Bagaimana aku datang? Bagaimana aku melihat jalanku?
Aku
tidak tahu!
Sampai
ia berkata:
Apakah menurutmu sebelum ini aku telah menjadi manusia?
Ataukah menurutmu aku dahulu adalah sesuatu yang sirna dan
mustahil?
Apakah teka-teki ini ada solusinya? Ataukah ia akan tetap
abadi?
Aku tidak tahu. Dan mengapa aku tidak tahu?
Aku
tidak tahu!
2.
Akidah mengilhami manusia menuju keluhuran jiwa dan istikamah.
Akidah
mengajarkan manusia keluhuran jiwa, membersihkannya dari setiap kotoran,
kenajisan, kefasikan, dan kemaksiatan, serta mengharamkan atasnya perbuatan
keji dan dosa.
"Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang terlihat
maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, dan perbuatan melampaui batas tanpa
alasan yang benar.”" (QS. Al-A'raf: 33)
Akidah
mengangkatnya ke derajat kemanusiaannya dan tidak membiarkannya merosot ke
dalam kubangan syahwatnya. Sebaliknya, akidah melukiskan untuknya jalan yang
lurus yang membimbing langkahnya, menegakkan kepalanya, dan meninggikan
tekadnya. Marilah kita membaca firman Allah Yang Maha Benar:
"Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhanmu kepadamu,
yaitu janganlah mempersekutukan urusan apa pun dengan-Nya, berbuat baiklah
kepada kedua orang tua, janganlah membunuh anak-anakmu karena
kemiskinan—Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka—janganlah
mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, dan
janganlah membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang
benar.” Demikian itu Dia wasiatkan kepadamu agar kamu mengerti. Janganlah kamu
mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang paling baik sampai dia
mencapai usia dewasa. Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami
tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Apabila kamu
berbicara, berlakulah adil sekalipun dia kerabat(mu) dan penuhilah janji Allah.
Demikian itu Dia wasiatkan kepadamu agar kamu ingat." (QS. Al-An'am:
151-152)
"Sungguh,
inilah jalan-Ku yang lurus. Maka, ikutilah ia! Janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain) karena dapat mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya.
Demikian itu Dia wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'am:
153)
Akidah
senantiasa mengajarkan dan membimbing. Siapa saja yang membuka
lembaran-lembaran ayat Al-Qur'an Al-Karim, ia akan melihat konstitusi akhlak
yang tiada bandingnya, dan melihat pendidikan luhur yang luar biasa yang
menerbangkannya jauh dari ufuk kedustaan, kelaliman, kezaliman, dan
kesombongan.
Di
antara hal menakjubkan yang kita lihat dan kita dengar dari perkara akidah ini
adalah bahwa ia berkata kepada seorang Muslim: "Janganlah kamu berbuat
zalim, karena Tuhanmu tidak berbuat zalim. Janganlah kamu melampaui batas,
karena Tuhanmu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu menjauhi
kebenaran, karena Penciptamu Dialah Kebenaran Yang Nyata."
Allah
Ta'ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi:
يَا عِبَادِي إِنِّي
حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا
تَظَالَمُوا، يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ
فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ، يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ
أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ، يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا
مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي
أَكْسُكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا
أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي
إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي
فَتَنْفَعُونِي، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ
وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ
ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ
وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ
مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ
وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي
فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي
إِلَّا كَمَا يَنْقَصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ، يَا عِبَادِي
إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا
فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا
يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
"Wahai
hamba-Hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan
Aku telah menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling
menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua berada dalam kesesatan kecuali
orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku
beri petunjuk kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua berada dalam
kelaparan kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku,
niscaya Aku beri makan kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang
kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya
Aku beri pakaian kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa
di waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah
ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku,
sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan bahaya kepada-Ku lalu kalian
membahayakan-Ku, dan kalian tidak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku lalu
kalian memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya
orang-orang terdahulu kalian dan orang-orang belakangan kalian, dari kalangan
manusia maupun jin, mereka semua berada pada tingkat ketakwaan hati seorang
yang paling bertakwa di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan menambah
kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu
kalian dan orang-orang belakangan kalian, dari kalangan manusia maupun jin,
mereka semua berada pada tingkat kefasikan hati seorang yang paling fasik di
antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun.
Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu kalian dan orang-orang
belakangan kalian, dari kalangan manusia maupun jin, berdiri di satu tempat
yang luas, lalu mereka meminta kepada-Ku, kemudian Aku berikan kepada setiap
manusia apa yang dimintanya, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada
di sisi-Ku kecuali seperti berkurangnya jarum apabila dimasukkan ke dalam laut.
Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku catat
untuk kalian, kemudian Aku sempurnakan balasannya untuk kalian. Maka barang
siapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah, dan barang siapa yang
mendapati selain itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri."
(Dikeluarkan oleh Muslim dan At-Tirmidzi).
Kemanusiaan
tidak akan bahagia atau tenteram kecuali dengan keluhuran jiwa dan peningkatan
akhlak ini, yang memenuhi keluarga dan masyarakat dengan cahaya, kesucian,
serta kemurnian. Dan umat atau generasi mana pun tidak akan bisa lepas dari
kebutuhan terhadap hal ini.
Oleh
karena itu, dai berfokus pada menghidupkan akidah di dalam jiwa agar manusia
menjadi luhur secara ruhani, pemikiran, dan langkah, serta menjadi elemen yang
bermanfaat di lingkungan dan masyarakatnya.
3.
Akidah menanamkan ketenteraman dan harapan di dalam hati.
Hal
terbaik yang mewariskan ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman di dalam hati
adalah akidah, hubungan dengan Allah, dan bertawakal kepada-Nya setelah
mengikuti ajaran-ajaran-Nya serta berjalan di atas sunah Rasul-Nya. Dan
benarlah Allah:
"Siapa
yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun: 11)
Ketenangan
ilahi ini merupakan pemberian dan nikmat rabbani yang Allah berikan kepada hati
orang-orang yang beriman, sebagai tanda keridaan-Nya kepada mereka, sebagai
pengokoh bagi mereka dalam kehidupan ini, dan sebagai dukungan dalam menghadapi
kebatilan. Al-Qur'an telah menceritakan kepada kita tentang semua situasi ini
dengan memberikan penjelasan dan penerangan, seraya berfirman:
"Dialah
yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan
mereka makin bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)." (QS. Al-Fath:
4)
"Sungguh,
Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia
kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati
mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada
mereka dengan kemenangan yang dekat." (Al-Fath: 18)
"Salah
seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, ketika dia berkata
kepada sahabatnya, “Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah bersama
kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan membantunya dengan
bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak kamu lihat." (At-Taubah: 40)
Sakinah
adalah keteguhan, ketenteraman, keagungan, dan kewibawaan yang masuk ke dalam
hati orang mukmin, sehingga menghilangkan darinya keluh kesah dan rasa cemas,
menjauhkan darinya kelemahan serta kebingungan, dan membuatnya merasakan
kebersamaan Allah serta rahmat-Nya. Maka datanglah pengokohan kepadanya dan ia
diliputi oleh rasa percaya diri sehingga menjadi lebih kuat daripada musibah
dan peristiwa yang terjadi. Bagaimana tidak demikian, sedangkan bersamanya ada
kebersamaan Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Bertakwalah
kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang
bertakwa." (QS. Al-Baqara: 194)
Ia
merasakan dan menghayatinya, ia bermunajat kepada-Nya dan Dia mendengar, ia
berdoa kepada-Nya dan Dia mengabulkan:
"Apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku
dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa
kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku
agar mereka mendapat petunjuk." (Al-Baqarah: 186)
Oleh
karena itu, ketenteraman ini senantiasa menyertai orang-orang mukmin dalam
situasi-situasi yang sulit, sehingga menjadi elemen yang pasti dan penting dari
elemen-elemen kemenangan dan keunggulan. Ketenangan ini menyertai orang-orang
mukmin dalam Perang Badar, maka Allah Yang Maha Benar berfirman mengabarkan
tentang hal itu:
"(Ingatlah)
ketika Dia membuat kamu mengantuk sebagai penenteram dari-Nya dan menurunkan
air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu,
menghilangkan gangguan-gangguan setan dari kamu, mengikat hati kamu, dan
memperkokoh langkahmu dengannya." (QS. Al-Anfal: 11)
Maka
ketika dua pasukan saling bertemu dan ketika tentara saling bertempur dalam
peperangan yang tidak seimbang dalam jumlah maupun persiapan, terjadilah
pengokohan dan pengikatan hati. Maka ditemukanlah keseimbangan, bahkan bobot
orang-orang mukmin lebih berat mengungguli orang-orang kafir berkat
ketenteraman ini yang bersemayam di dalam dada, menahan jiwa, dan menjauhkan
waswas darinya.
Ketenangan
ini juga menyertai mereka dalam Perang Uhud, sehingga mereka tidak menjadi
lemah karena apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak menjadi lemah, dan
tidak pula menyerah:
"(Yaitu)
orang-orang (mukmin) yang jelas-jelas ada orang yang mengatakan kepada mereka,
“Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk
(menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka.” (Ucapan) itu justru
menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Hasbunallāh wa ni‘mal-wakīl”
(cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung). Maka, mereka
kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu
bencana pun dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah memiliki karunia yang
sangat besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan yang
menakut-nakuti (kamu) dengan para pengikutnya. Oleh karena itu, janganlah takut
kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang mukmin."
Ketenangan
ini juga menyertai mereka dalam Perang Khandaq:
"Ketika
orang-orang mukmin melihat pasukan sekutu, mereka berkata, “Inilah yang
dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Benarlah Allah dan Rasul-Nya.
(Peristiwa) itu justru menambah keimanan dan keislaman mereka." (QS. Al-Ahzab:
22)
Ketenangan
ini juga menyertai mereka dalam Baiat Ridwan, dan ia selalu menyertai mereka
serta berjalan bersama mereka. Ketenangan ini pun menyertai mereka saat
wafatnya Rasulullah ﷺ.
Ia menyertai Ash-Shiddiq [Abu Bakar] dalam situasi yang sangat kritis ini,
situasi wafatnya kekasihnya, Rasulullah, dan pilihan-Nya. Maka ia berdiri tegak
lurus bagaikan gunung yang kokoh, mengumumkannya dengan lantang, tinggi, lagi
menggema: "Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya
Muhammad telah wafat. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya
Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati."
Ketenangan
ini juga menyertai Ash-Shiddiq dalam situasi yang lebih berat, yaitu ketika
orang-orang Arab murtad dari Islam setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Maka ia berdiri
bagaikan gunung yang kokoh, gunung yang menancap kuat, dan panji yang menjulang
tinggi, seraya berkata kepada dunia: "Demi Allah, seandainya mereka
menolak untuk menyerahkan seekor tali pengikat unta kepadaku yang dahulu mereka
serahkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka karenanya selama
pedang masih bisa digenggam oleh tanganku."
Ketenangan
ini juga menyertai orang-orang setelah mereka dari kalangan tabiin yang
mengikuti mereka dengan baik, dari para mujahid, orang-orang yang beramal, dan
orang-orang yang ikhlas di saat-saat sulit, kritis, dan sempit. Dan benarlah
Allah:
"Sesungguhnya
Kami benar-benar menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia dan pada hari tegaknya para saksi (hari Kiamat)." (QS. Ghafir:
51)
Demikianlah
akidah dan begitulah para tokoh akidah; dunia bergoncang sementara mereka
tenang, bumi bergoyang sementara mereka teguh, badai mengamuk sementara mereka
bagaikan gunung, dan hati-hati bertumbangan sementara mereka tetap menjadi
lelaki sejati.
4.
Keberanian dan Jiwa Ksatria.
Akidah
memberikan kepada seorang Muslim keberanian, jiwa ksatria, dan kepahlawanan.
Keberanian di setiap medan dari medan-medan kehidupan. Keberanian dalam
menghadapi diri sendiri dan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan hewani
beserta bebannya.
Maka
kita melihat banyak dari pemilik akidah ini menorehkan contoh-contoh paling
mengagumkan dalam hal istikamah dan keteladanan yang baik setelah sejarah yang
panjang dalam kejahilan, kecintaan pada harta benda dunia, dan pemenuhan
syahwat. Mereka mampu menjadi para penunjuk jalan menuju jalan yang lurus,
serta menjadi teladan bagi orang-orang yang menuju kebenaran, orang-orang yang
suci, dan orang-orang yang beramal. Satu pandangan saja kepada masyarakat
jahiliyah yang ditinggalkan oleh para pemuda pemilik tekad baja—yang mampu
menegakkan agama, menyampaikan risalah, dan menjadi umat terbaik yang
dilahirkan untuk manusia—sudah cukup untuk membuktikan apa yang diwariskan oleh
akidah berupa keberanian dalam menghadapi diri sendiri dan mengalahkan beratnya
sifat hewani dalam diri manusia.
Keberanian
dalam menghadapi kesulitan dan melawan kebatilan:
Para
pemilik akidah tidak takut kepada kematian dan tidak gentar terhadap maut,
karena mereka mengetahui bahwa kematian adalah sebuah kebenaran yang tidak ada
keraguan di dalamnya:
"Katakanlah,
“Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, ia pasti menemui kamu.”" (QS.
Al-Jumu'ah: 8)
Dan
mereka mengetahui bahwa Allah telah membeli dari mereka diri mereka dengan
surga:
"Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Hal itu berhak mereka terima sebagai) janji yang benar
dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an." (QS. At-Taubah: 111)
Oleh
karena itu, mereka tidak mempedulikan dunia, karena dunia menginginkan
kehidupan apa saja, sedangkan mereka menginginkan kehidupan yang menyampaikan
kepada surga. Maka jika ditemukan apa yang menyampaikan mereka kepadanya, hal
itu adalah keberuntungan yang nyata. Oleh karena itu, apabila salah seorang
dari mereka tertusuk [dalam perang] dan ia tahu bahwa ia akan menemui Tuhannya,
ia langsung berseru seketika itu juga: "Aku telah beruntung, demi Tuhan
Pemilik Ka'bah!" Kita telah melihat, dan sejarah pun telah menyaksikan,
contoh-contoh menakjubkan dari keberanian yang langka ini di sepanjang sejarah
pada berbagai masa kejayaan Islam.
Inilah
Uqbah bin Nafi' yang berdiri di ujung daratan Afrika di pantai Samudra
Atlantik, lalu mengucapkan perkataannya yang berani lagi ksatria seraya
berbicara kepada laut: "Demi Allah wahai laut, seandainya aku tahu bahwa
di balikmu ada daratan, niscaya aku akan mengarungimu dengan kudaku ini untuk
berperang di jalan Allah."
Dan
inilah Qutaibah al-Bahili yang menyusup jauh ke belahan bumi timur hingga
berdiri di perbatasan Tiongkok, dan ia bertekad untuk memasukinya sebagai
penakluk di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka salah seorang
sahabatnya berkata kepadanya karena merasa kasihan dan khawatir atas dirinya,
serta memintanya untuk menahan diri: "Kamu telah menyusup terlalu jauh ke
negeri Turki wahai Qutaibah, dan peristiwa-peristiwa di antara sayap-sayap masa
bisa datang dan pergi." Maka Qutaibah menjawabnya, sementara keberanian
iman berdenyut di dalam hatinya dan terucap melalui lisannya: "Dengan
kepercayaanku kepada pertolongan Allah aku menyusup jauh, dan apabila ajal
telah tiba, persiapan senjata tidak lagi berguna."
Mereka
adalah lelaki yang menyusu pada air susu wahyu dan mengetahui bahwa mereka
berjalan di atas jalan tersebut. Mereka mempelajari pelajaran, mengambil ibrah
[pelajaran berharga], dan berjalan dalam rombongan para lelaki yang Allah
firmankan tentang mereka:
"Di
antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara
mereka ada pula yang menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah
(janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23)
Tidaklah
Uqbah bin Amir dan para sahabatnya melainkan orang-orang yang berjalan di atas
jalan ini, jalan yang telah dilalui oleh para sahabat generasi pertama.
Sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata kepada Rasulullah ﷺ di Perang Badar:
"Demi Allah wahai Rasulullah, kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti
apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa: 'Pergilah kamu bersama
Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di
sini.' Akan tetapi kami mengatakan kepadamu: 'Pergilah engkau bersama
Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami bersama kalian berdua ikut
berperang.' Demi Allah wahai Rasulullah, seandainya engkau membawa kami
mengarungi laut ini lalu engkau menyelaminya, niscaya kami akan menyelaminya
bersamamu, tidak akan ada satu pun lelaki dari kami yang tertinggal."
Oleh
karena itu, satu orang dari mereka dengan akidahnya memiliki bobot yang setara
dengan sepuluh orang lelaki, dan benarlah Allah:
"Jika
ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan
dua ratus orang (musuh). Jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu,
niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir karena orang-orang kafir
itu adalah kaum yang tidak mengerti." (QS. Al-Anfal: 65)
Ini
adalah sunatullah [hukum alam] yang tetap, tidak dikhususkan bagi suatu kaum
tanpa kaum yang lain, dan tidak dibatasi oleh suatu masa tanpa masa yang lain.
Melainkan ini adalah hukum umum yang berlaku sesuai sunahnya bagi para pemilik
akidah di masa lalu maupun masa kini, dan benarlah Allah:
"Berapa
banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah? Allah
bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 249)
Setelah
semua ini, tidakkah Anda melihat bersamaku mengapa dai berfokus pada akidah,
pada menghidupkannya, dan menyalakan baranya di dalam jiwa? Agar ia menjadi
bahan bakar yang menggerakkan manusia dalam menghadapi kebatilan:
"Janganlah
kamu (merasa) lemah dan janganlah (pula) berduka cita, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin."
(QS. Ali 'Imran: 139)
Dan
agar ia menjadi kebebasan dalam menghadapi perbudakan, menjadi keamanan dalam
menghadapi kezaliman, menjadi ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan dalam
menghadapi keguncangan serta gangguan kejiwaan, dan agar ia menjadi titik tolak
yang kokoh dalam melaksanakan manhaj yang Allah kehendaki bagi umat manusia.
PASAL
II: MENGHILANGKAN SYUBHAT
Syubhat
merupakan bentuk jamak dari kata syubhah. Dalam bahasa Arab dikatakan: isytabahatal-umuru
wa tasya-bahat, apabila perkara-perkara tersebut saling samar (serupa),
sehingga tidak dapat dibedakan dan tidak tampak jelas.
Sementara
syubhat dalam masalah akidah berarti: kesesatan yang dikesankan
seolah-olah sebagai sebuah kebenaran. Dinamakan syubhah karena para
pengikut kebatilan membungkus kesesatan mereka dengan pakaian kebenaran,
sehingga kebatilan tersebut menyerupai kebenaran dan menjadi samar bagi
manusia.( Al-Mishbah al-Munir dan Lisan al-'Arab pada materi (sya-ba-ha))
Ini
merupakan kebiasaan orang-orang yang memusuhi kebenaran di setiap masa dan
zaman. Allah Ta'ala berfirman dalam rangka membongkar kesesatan dan
menjelaskan kepalsuan mereka:
"Wahai
Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan
menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?" (QS. Ali 'Imran: 71).
"Dan
janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu
sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 42)
"Segolongan
Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), 'Berimanlah kamu pada apa yang
diturunkan kepada orang-orang yang beriman pada awal siang dan ingkarilah pada
akhirnya, agar mereka kembali (kepada kekafiran). Dan janganlah kamu percaya
kecuali kepada orang yang mengikuti agamamu.'" (QS. Ali 'Imran: 72-73).
Yang
dimaksud dengan syubhat di sini adalah: melontarkan berbagai kedustaan
dan fitnah, serta menyebarkan hal-hal yang memicu keraguan dan kebimbangan
terhadap kejujuran seorang dai maupun terhadap kebenaran yang didakwahkannya.
Kebatilan tersebut dibungkus dengan pakaian kebenaran melalui berbagai metode,
sehingga dapat menghalangi cahaya kebenaran yang diusung oleh dai tersebut,
atau menimbulkan keraguan di sekitarnya. Akibatnya, hal ini menghalangi manusia
untuk berkumpul di sekelilingnya, menunda respons masyarakat terhadap
dakwahnya, atau berujung pada goyahnya keyakinan para pengikut dan orang-orang
yang berafiliasi kepadanya.
PASAL
PERTAMA: SEJARAH PENYEBARAN SYUBHAT
Sejak
dahulu kala, seiring dengan keberadaan manusia, petunjuk dan kesesatan telah
saling berdampingan. Yaitu sejak hari di mana Iblis diberi kemampuan untuk
menyesatkan dan memimpin seruan perusakan. Iblis berkata:
"(Iblis)
berkata, 'Karena Engkau telah menghukumku tersesat, pasti aku akan selalu
menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan
mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka.
Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.'" (QS. Al-A'raf:
16-17).
Namun
di sisi lain, para penyeru kebenaran serta pembawa petunjuk, cahaya, dan
makrifat juga senantiasa ada. Yaitu ketika Allah Yang Mahabenar Subhanahu wa
Ta'ala berfirman kepada pemimpin gerakan perusakan dan penyesatan tersebut:
"Sesungguhnya
hamba-hamba-Ku, kamu tidak mempunyai kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah
Tuhanmu sebagai penjaga." (QS. Al-Isra': 65).
"...Maka,
apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku
menjadi penolong selain Aku?..." (QS. Al-Kahf: 102).
Kebatilan
itu memiliki kekuatan dan para pendukung, meskipun sebenarnya ia rapuh dan
rusak. Dengan kekuatan itu, kebatilan mencoba untuk menyerang, berkuasa, dan
mendominasi; terkadang ia bersembunyi, dan di waktu lain ia menyombongkan diri.
Sebaliknya, kebenaran pun memiliki wibawa, tentara, dan para lelaki tangguh
yang mengembannya, membelanya, serta menjaga batas-batas wilayahnya.
Telah
berlaku sunatullah sejak dahulu kala bahwa kebenaran dan kebatilan akan saling
bertarung. Demikianlah Allah mengomporsikan antara kebenaran dan kebatilan.
Adapun buih akan hilang tanpa guna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan
menetap di bumi.( QS. Ar-Rad - 17)
Meskipun
pertarungan ini secara umum berlangsung sengit dan kejam, serta membutuhkan
kesabaran, keteguhan, kewaspadaan, dan pengorbanan.
Namun
pada akhirnya, pertarungan ini akan menghasilkan akhir yang terpuji dan hasil
yang terjamin, demi kokohnya kebenaran, kejelasan, serta kekuasaannya.
Mahabenar Allah dalam firman-Nya:
"Sebenarnya
Kami melemparkan yang benar kepada yang batil, lalu (yang benar) itu
menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap..." (QS.
Al-Anbiya': 18).
Oleh
karena itu, setiap kali kebenaran ada, pasti kebatilan akan menghadangnya,
berdiri di depannya, dan melawannya. Allah Ta'ala berfirman seraya
menyapa Nabi-Nya yang mulia, Muhammad ﷺ:
"Apa
yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu tidak lain adalah apa yang
telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelummu..." (QS. Fussilat: 43).
Apa
yang dikatakan kepada Rasulullah ﷺ dalam menghadapi hidayah adalah kebatilan yang selalu
menghadang setiap rasul, setiap muslih [reformis], dan setiap dai yang menyeru
kepada kebenaran. Artinya, kebatilan, kesesatan, gangguan, dan syubhat yang
dilontarkan kepadamu, adalah hal yang sama yang terus diulang-ulang sepanjang
hari dan keadaan. Mahabesar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:
"Demikianlah,
tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka,
melainkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyihir atau orang gila.'
Apakah mereka saling berpesan tentang hal itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang
melampaui batas." (QS. Az-Zariyat: 52-53).
Artinya,
inilah kebiasaan dan tuduhan mereka terhadap para rasul dan nabi di sepanjang
pertemuan dan perdebatan. Demikian pula yang dilakukan kaum Quraisy terhadap
Rasulullah ﷺ,
di mana mereka menuduhnya gila dan tukang sihir demi membuat manusia lari
darinya dan menjauh dari dakwahnya. Waraqah bin Naufal telah mengabarkan hal
tersebut pada hari ketika ia bertemu dengan beliau dan mendengar cerita beliau,
lalu ia berkata: "Wahai, andai saja aku masih muda kuat saat itu.
Andaikan aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu." Rasulullah ﷺ bertanya: "Apakah
mereka akan mengusirku?" As-Suhaili berkata: "Rasulullah
mengatakan demikian karena berpisah dari tanah air itu terasa sangat berat bagi
jiwa."
Waraqah
menjawab: "Benar. Tidak ada seorang pun yang membawa seperti apa yang
kamu bawa melainkan ia pasti dimusuhi. Jika aku mendapati harimu itu, niscaya
aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat (mu'azzara)," artinya
menolongmu dengan pertolongan yang perkasa dan kuat selamanya.( Sirah Ibnu
Katsir 1/396, cetakan 'Isa al-Halabi)
Al-Qur'an
adalah saksi terbaik atas syubhat dan kesesatan yang dihadapi oleh
Rasulullah—semoga selawat Allah dan salam-Nya tercurah kepada mereka semua.
Al-Qur'an
sangat berkomitmen untuk menjelaskan hal tersebut kepada orang-orang beriman
dan memaparkannya karena beberapa alasan, di antaranya:
1.
Tamhis (Penjernihan/Ujian) dan Ikhtibar (Tes)
Karena
mereka akan menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, dan mereka akan
menjadi tiang-tiang fondasi tempat dibangunnya peradaban kemanusiaan yang luas.
Karena mereka adalah khalifah di bumi ini yang merepresentasikan manhaj Rabbani
yang tinggi dan agung. Oleh karena itu, penjelasan-penjelasan dan bayan-bayan
Qur'ani datang untuk menerangi jalan dan menjelaskan rambu-rambunya, agar
barisan kaum mukmin tidak disusupi oleh orang-orang yang lemah dan kerdil
jiwanya serta sakit hatinya. Allah Ta'ala berfirman:
"Apakah
manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) mengatakan, 'Kami
telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji
orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar
dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-'Ankabut: 2-3).
"Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu
(cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa kemelaratan dan kesengsaraan, serta diguncang (dengan berbagai cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah
datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat
dekat." (QS. Al-Baqarah: 214).
"Dan
sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sampai Kami mengetahui orang-orang
yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan Kami uji perihal
kamu." (QS. Muhammad: 31).
"Allah
sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu
sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik..." (QS.
Ali 'Imran: 179).
"...dan
agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan
membinasakan orang-orang kafir." (QS. Ali 'Imran: 141).
Demikianlah,
dengan segala keterusterangan dan kejelasan, barisan mukmin dituntut untuk
memiliki iman yang kuat dalam menghadapi badai yang akan datang. Setiap kali
keburukan (khabats) bertambah banyak, maka dibutuhkan sosok-sosok lelaki
yang memiliki kekuatan besar dan tekad sekuat besi.
Setiap
kali tanggung jawab semakin berat dan jarak perjalanan semakin jauh, maka
manhaj dan dakwah kepada Allah membutuhkan kesucian, kejelasan, serta jarak
dari keburukan dan sendi-sendi kebatilan. Sebab, kebatilan itu selalu merayap
secara lembek, rapuh, menginginkan syahwatnya tanpa tedeng aling-aling, ingin
mengambil tanpa memberi, dan menginginkan keselamatan tanpa membayar harga.
Mahabenar Allah:
"Dan
di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' tetapi apabila
dia disakiti (karena membelas agama) Allah, dia menganggap ujian manusia itu
sebagai azab Allah. Dan jika datang pertolongan dari Tuhanmu, niscaya mereka
berkata, 'Sesungguhnya kami bersama kamu.' Bukankah Allah lebih mengetahui apa
yang ada di dalam dada semua manusia? Dan Allah pasti mengetahui orang-orang
yang beriman dan Dia pasti mengetahui orang-orang yang munafik." (QS.
Al-'Ankabut: 10-11).(1)
2.
Mendidik Tekad dan Mencetak Tokoh (Tarbiyahtul 'Azaim wa Tansi'atur Rijal)
Sesungguhnya
dakwah Allah tidak akan tegak melainkan dengan tekad-tekad baja ini, yang
mengetahui nilai kebenaran, merasakan manisnya, serta membelanya dengan penuh
kerinduan dan semangat.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
Tekad-tekad
yang tunduk pada perintah Allah dan mengetahui bahwa di dalamnya terdapat
kebaikan, karena mereka membenarkan janji Allah dan patuh kepada-Nya.
"Maka
berpegang teguhlah engkau pada (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu.
Sesungguhnya engkau berada di jalan yang lurus. Dan sesungguhnya (Al-Qur'an)
itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan
diminta pertanggungjawaban." (QS. Az-Zukhruf: 43-44).(3)
Maka
inilah hati-hati yang telah menundukkan syahwatnya demi apa yang dicintai oleh
Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu:
"Oleh
karena itu, serulah (mereka untuk beriman) dan tetaplah (berdakwah dan
beristiqamah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti
keinginan mereka, dan katakanlah, 'Aku beriman kepada kitab yang diturunkan
Allah...'" (QS. Asy-Syura: 15).(4)
"Sesungguhnya
Kami telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur.
Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau
ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka." (QS.
Al-Insan: 23-24).(5)
Serta
jiwa-jiwa yang merasa segala sesuatu menjadi remeh demi menyebarkan dakwah
kebenaran, dan mereka tidak lagi melihat kecuali pada nilai-nilai yang luhur.
Mereka mengambil iman beserta konsekuensinya dan merasakan beban-bebannya, lalu
melaksanakannya sebagai ibadah, keimanan, pendekatan diri (qurbah),
ikhlas mencari pahala (ihtisab), kesabaran, dan jihad. Al-Qur'an telah
melukiskan gambaran yang jujur tentang hal ini, Allah Yang Maha Agung
berfirman:
"Kebajikan
itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu
ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang yang dalam
perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang
melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji
apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada
masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 177).
3.
Mengambil Pelajaran dan Ibrah (Al-Istifadah minal Durus wal 'Ibar)
Di
antara manfaat dari pelajaran ini adalah berusaha menyebarkan kebajikan yang
merupakan fondasi perbaikan di bumi, serta komitmen untuk mengambil manfaat dan
berjalan di atas jalur yang benar, karena kebatilan itu berbiaya mahal dan
dibenci.
Mahabenar
Allah:
"(Yaitu)
orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan
kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al-Hajj: 41).
Di
antara manfaat ini juga adalah mengetahui bahwa keadilan Allah tidak memihak
(nepotisme) kepada siapa pun, dan bahwa barangsiapa yang melenceng dari jalan,
ia akan ditindak dan tidak akan lolos dari hukuman.
"Dan
kamu telah tinggal di tempat-tempat kediaman orang yang menganiaya diri mereka
sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka
dan telah Kami berikan kepadamu perumpamaan-perumpamaan. Dan sungguh, mereka
telah menjalankan tipu daya mereka, padahal tipu daya mereka itu (tercatat) di
sisi Allah, meskipun tipu daya mereka itu dapat meruntuhkan gunung-gunung. Maka
janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah mengingkari janji-Nya kepada
rasul-rasul-Nya. Sungguh, Allah Mahaperkasa, mempunyai (balasan) hukuman."
(QS. Ibrahim: 45-47).
"Maka
perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka
dan kaum mereka semuanya." (QS. An-Naml: 51).
Seorang
dai harus memahami hal ini dengan sangat baik agar ia tidak terhempas oleh
syubhat dan berbagai peristiwa, serta agar ia tidak mengira bahwa ujian
tersebut merupakan bentuk kemurkaan Allah atas dirinya atau bahwa hal itu hanya
khusus terjadi pada dirinya sendiri. Melainkan, ini adalah sunah dalam dakwah
dan jalan bagi risalah-risalah samawi.
PASAL
KEDUA: TUJUAN DI BALIK SYUBHAT
Tidak
diragukan lagi bahwa para pembuat syubhat dan perancang fitnah mengincar
tujuan-tujuan tertentu di balik aksi mereka, guna menjatuhkan martabat dai,
mengurangi pengaruhnya di hadapan manusia, dan menjauhkan masyarakat dari
kecenderungan terhadap kebenaran yang ia serukan. Mahabenar Allah:
"Mereka
hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka,
tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir
membencinya." (QS. As-Saff: 8).
"...Adapun
orang-orang yang dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka
mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan
untuk mencari-cari takwilnya..." (QS. Ali 'Imran: 7).
Di
antara tujuan-tujuan tersebut adalah:
1.
Meragukan Sosok Dai dan Dakwahnya
Tujuannya
adalah untuk mengelabui manusia dan memalingkan pandangan mereka dari keagungan
dan keindahan apa yang diserukan kepada mereka. Serta dengan maksud membangun
benteng desas-desus dan kebohongan yang menghalangi pandangan serta mendung
mendung tebal penuh petir, sehingga jalan orang-orang mukmin tidak terlihat
jelas atau sirath orang-orang bertakwa menjadi kabur.
2.
Menghalangi Manusia dari Memahami Kebenaran, Meyakinnya, dan Berkumpul di
Sekitarnya
Sebab
bagi mereka, kebenaran yang bermanfaat dan jernih itu ada pada diri mereka
sendiri, sedangkan pada diri selain mereka adalah kepalsuan dan kedustaan, yang
membawa fitnah serta keluar dari hal-hal yang lumrah dan adat kebiasaan
manusia, memicu kekacauan, dan menakut-nakuti orang-orang yang aman. Inilah
yang mendorong Abu Jahal—Firaun umat ini—untuk melakukan penipuan di depan
manusia dengan ucapannya sebelum Perang Badar: "Ya Allah, orang yang
paling memutuskan silaturahmi di antara kita dan membawa sesuatu yang tidak
kami kenal, maka binasakanlah ia pagi ini." Ia bermaksud menyifati
dakwah kebenaran sebagai gerakan yang mencerai-beraikan rahim, memutuskan
ikatan, dan sebagai keanehan di antara keanehan yang harus dihadapi dengan
sabar dan diperangi. Namun, roda nasib berbalik menghantamnya dan turunlah
firman Allah Yang Mahabenar Tabaraka wa Ta'ala:
"Jika
kamu (orang-orang musyrik) memohon keputusan, maka keputusan telah datang
kepadamu; dan jika kamu berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik
bagimu; dan jika kamu kembali (memusuhi), niscaya Kami kembali (mendatangkan
azab); dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya pun darimu,
biarpun jumlahnya banyak. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
beriman." (QS. Al-Anfal: 19).
Di
antara contoh lainnya adalah apa yang dilakukan oleh kaum Quraisy dan kaum
musyrik Jahiliyah ketika mendatangkan dongeng-dongeng dan kisah-kisah dari
Persia dan selainnya untuk mengaburkan Al-Qur'an serta kisah-kisah para nabi
dan rasul yang ada di dalam Kitab yang Mulia, serta memalingkan manusia dari
kebenaran dan dari mengikuti jalan orang-orang mukmin. An-Nadr bin al-Harits
sengaja membeli kitab-kitab yang berisi dongeng-dongeng Persia serta
kisah-kisah para pahlawan dan peperangan mereka, kemudian ia duduk di jalur
orang-orang yang hendak pergi mendengarkan Al-Qur'an dari Rasulullah ﷺ, mencoba menarik
mereka untuk mendengarkan dongeng-dongeng tersebut agar mereka merasa tidak
butuh lagi pada kisah-kisah Al-Qur'an serta hidayah dan petunjuk yang
dikandungnya. Tujuannya adalah untuk menyesatkan manusia dengan perkataan yang
tidak berguna ini serta menyebarkan syubhat di sekitar kebenaran dan apa yang
dibawa oleh Al-Qur'an.
Al-Qur'an
telah menceritakan hal tersebut dalam firman-Nya:
"Dan
di antara manusia ada orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk
menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olok.
Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan
kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah
dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya; maka
gembirakanlah dia dengan azab yang pedih." (QS. Luqman: 6-7).
3.
Mempertahankan Kebatilan dan Para Pengikutnya
Tidak
diragukan lagi bahwa para pemimpin kesesatan dan tokoh Jahiliyah di setiap
waktu dan tempat memegang urusan-urusan yang sebenarnya mereka tidak kompeten
di dalamnya, tidak mampu mengaturnya dengan baik, atau tidak kuat mengembannya.
Mereka mengelilingi diri mereka dengan kesombongan, keangkuhan, ilusi siang
hari, lingkaran penipuan, iring-iringan budak, dan majelis kemunafikan. Maka,
apabila kebenaran mendatangi mereka dan wibawanya menyerang mereka secara
mendadak, mereka terkejut dan bangkit membela kejayaan palsu mereka, logika
mereka yang rapuh, dan kedudukan mereka yang runtuh.
Kita
melihat hal ini dalam sebuah dialog di antara para pemimpin kaum musyrik yang
diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Ia menceritakan bahwa Abu Jahal, Abu Sufyan, dan
Al-Ahnas bin Syariq keluar pada suatu malam untuk mendengarkan Al-Qur'an dari
Rasulullah ﷺ
di tengah malam saat beliau sedang salat di rumahnya. Masing-masing mengambil
tempat duduk tersembunyi untuk mendengarkan, dan tidak ada yang mengetahui
keberadaan temannya. Mereka begadang mendengarkan beliau hingga subuh
menyingsing, lalu mereka berpencar. Di tengah jalan mereka saling bertemu, lalu
saling menyalahkan. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: "Jangan
kembali lagi, sebab jika sebagian orang bodoh di antara kalian melihat kalian,
niscaya kalian akan menimbulkan keraguan di dalam hatinya." Kemudian
mereka pulang.
Hingga
ketika malam kedua tiba, masing-masing kembali ke tempat duduknya semula.
Mereka begadang mendengarkan beliau hingga subuh menyingsing, lalu berpencar
dan bertemu di jalan. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain seperti
apa yang mereka katakan pada kali pertama, lalu mereka pulang.
Ketika
malam ketiga tiba, masing-masing kembali mengambil tempat duduknya dan begadang
mendengarkan beliau hingga subuh menyingsing, lalu berpencar dan bertemu di
jalan. Mereka berkata: "Jangan beranjak sampai kita saling berjanji
untuk tidak kembali lagi!" Maka mereka saling berjanji atas hal itu,
lalu berpencar.
Ketika
pagi hari arrived, Al-Ahnas bin Syariq mengambil tongkatnya lalu keluar hingga
mendatangi rumah Abu Sufyan. Ia berkata: "Kabarkan kepadaku, wahai Abu
Hanzhalah, bagaimana pendapatmu tentang apa yang kamu dengar dari
Muhammad?" Abu Sufyan menjawab: "Wahai Abu Tsa'labah, demi
Allah, aku mendengar hal-hal yang aku ketahui maknanya dan tahu apa yang
dimaksudkan dengannya, namun aku juga mendengar hal-hal yang tidak aku ketahui
maknanya dan tidak tahu apa yang dimaksudkan dengannya." Al-Ahnas
berkata: "Aku pun demikian, demi Dzat yang kamu gunakan
bersumpah."
Kemudian
ia keluar dari rumah Abu Sufyan hingga mendatangi rumah Abu Jahal, lalu masuk
menemuinya dan bertanya: "Wahai Abul Hakam, bagaimana pendapatmu
tentang apa yang kamu dengar dari Muhammad?" Abu Jahal menjawab: "Apa
yang aku dengar? Kami dan Bani Abdi Manaf saling berebut kemuliaan. Mereka
memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka menanggung beban, kami pun
menanggung beban. Mereka memberi pemberian, kami pun memberi pemberian. Hingga
ketika kami telah berlutut berhadapan dan kami seperti dua kuda pacuan yang
setara, mereka berkata: 'Di antara kami ada seorang nabi yang menerima wahyu
dari langit!' Kapan kita bisa menyusul kemuliaan seperti ini? Demi Allah, kami
tidak akan mendengarkannya selamanya dan tidak akan membenarkannya!"
Kemudian
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah, ia berkata: "Hari
pertama aku mengenali Rasulullah ﷺ adalah saat aku sedang berjalan bersama
Abu Jahal bin Hisyam di salah satu jalan di Mekah. Tiba-tiba kami bertemu
Rasulullah ﷺ,
lalu beliau berkata kepada Abu Jahal: 'Wahai Abul Hakam, kemarilah menuju Allah
dan Rasul-Nya, aku menyerumu kepada Allah.' Abu Jahal menjawab: 'Wahai
Muhammad, apakah kamu tidak mau berhenti mencaci maki tuhan-tuhan kami? Apakah
kamu hanya ingin agar kami bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan? Kami
bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan. Demi Allah, sekiranya aku tahu bahwa
apa yang kamu katakan itu benar, niscaya aku telah mengikutimu.'"
Maka
Rasulullah ﷺ
pun berlalu, lalu Abu Jahal menghadap kepadaku dan berkata: "Demi
Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa apa yang ia katakan itu benar, akan tetapi
ada sesuatu yang menghalangiku. Bani Qushay berkata: 'Kalian memegang urusan
tirai Ka'bah (Hijabah)', kami jawab: 'Ya.' Kemudian mereka berkata: 'Kalian
memegang urusan penyediaan air (Siqayah)', kami jawab: 'Ya.' Kemudian mereka
berkata: 'Kalian memegang urusan parlemen (Nadwah)', kami jawab: 'Ya.' Kemudian
mereka berkata: 'Kalian memegang urusan panji perang (Liwa')', kami jawab:
'Ya.' Kemudian mereka memberi makan dan kami pun memberi makan, hingga ketika
lutut saling bergesekan, mereka berkata: 'Dari kami lahir seorang nabi.' Demi
Allah, aku tidak akan melakukannya (beriman)."
Meskipun
Abu Jahal dan sekutu-sekutunya mengatakan demikian, rombongan orang-orang yang
tertipu tetap berjalan di belakang mereka, membela kemungkaran,
mempromosikannya, melayani kebatilan dan pengikutnya, serta membodoh-bodohkan
kebenaran dan para dainya, padahal mereka berada dalam kesombongan, penipuan,
dan ilusi.
4.
Melayani Tujuan dan Pemikiran Tertentu
Ada
berbagai faktor, sebab, dan dorongan di balik penggalangan syubhat ini, di
antaranya: mengubur pemikiran Islam dan warisan (turats) Islam serta
memangsa para pengikutnya. Saya tidak memiliki kesempatan dalam ruang ini
selain merujuk pada analisis mendalam mengenai fenomena ini yang dipaparkan
oleh seorang tokoh dai Islam besar, Al-Ustadz Abu al-Hasan an-Nadwi, di mana ia
mengatakan:
"Sesungguhnya
ada pertarungan pemikiran, bahkan pertempuran pemikiran dalam ungkapan yang
lebih tepat, di seluruh negeri Islam, antara pemikiran dan nilai-nilai Barat.
Inilah pertempuran penentu yang sengit dan nyata yang sedang diarungi oleh
dunia Islam saat ini, dan pertempuran inilah yang akan menentukan masa
depannya. Ini adalah pertempuran yang membuat seluruh pertempuran lainnya
tampak kecil, yang digambarkan secara berlebihan atau didramatisasi oleh para
penulis dan pengarang. Setiap pertempuran selain pertempuran besar yang kami
isyaratkan ini—hanyalah pertempuran lokal, pertempuran cabang, atau pertempuran
semu. Sejarah kuno negeri-negeri ini, kecintaan bangsa-bangsa Muslim terhadap
Islam, hubungan mereka yang kuat lagi mendalam dengannya, serta nama yang
diperjuangkan oleh para pejuang sehingga kebebasan dan penjagaannya berhasil
diraih dahulu; seluruh fakta ini membuktikan bahwa bumi tempat meletusnya
pertempuran ini tidak memiliki tempat kecuali bagi pemikiran-pemikiran Islam
dan nilai-nilai Islam, dan tidak ada yang agung di dalamnya kecuali manhaj dan
sistem yang diserukan oleh Islam.
Akan
tetapi, ada akal-akal di negeri-negeri ini yang kebudayaannya, pendidikannya,
serta kepentingan pribadi dan politiknya menuntut agar nilai-nilai Barat dan
pemikirannya tumbuh subur di sana, dan agar negeri-negeri ini mengikuti
negara-negara Barat jengkal demi jengkal, hasta demi hasta. Mereka mengubah
konsep-konsep keagamaan mereka, tradisi nasional mereka, dan hukum-hukum Islam
mereka dengan kondisi-kondisi Barat, atau mengembangkannya jika hal tersebut
bertentangan dengan tujuan ini dan menghalangi pencapaian target tersebut.
Dalam ungkapan yang ringkas, mereka melebur negeri-negeri ini secara perlahan
dan tenang, namun dengan kesadaran dan desakan, ke dalam cawan lebur peradaban
Barat.
Di
antara negeri-negeri ini, ada yang telah menempuh jarak yang sangat jauh dalam
perjalanan ini dan telah sampai pada tujuan yang diincarnya atau hampir sampai.
Dan di antaranya ada yang berdiri bimbang di persimpangan jalan, akan tetapi
tampaknya waktunya sudah dekat."( Al-Shira' baina al-Fikrah
al-Islamiyyah wa al-Fikrah al-Gharbiyyah, hlm. 605)
Saya
katakan: Benar, di sana ada mazhab-mazhab, pemikiran-pemikiran, dan sekte-sekte
yang ingin menyerbu kaum Muslimin di negeri dan tanah air mereka, merampas akal
mereka, dan merusak jiwa mereka. Hal itu tidak akan terjadi melainkan dengan
menaburkan keraguan, menyebarkan syubhat, serta melemahkan Islam, manhaj-Nya,
dan ajaran-Nya di dalam jiwa kaum Muslimin. Delegasi-delegasi Barat dan
pemikiran-pemikiran yang mencurigakan ini tidak dilayani atau dibawa oleh
pasukan bersenjata, tank, pesawat terbang, atau meriam, melainkan dibawa oleh
racun, arahan, dan fitnah yang mendesak secara terus-menerus terhadap akal,
pemikiran, dan keyakinan kaum Muslimin.
Oleh
karena itu, wajib bagi seorang dai untuk menjelaskan syubhat-syubhat ini dan
membongkar racun-racun tersebut dengan hujah dan logika, serta menampakkan
keindahan Islam, keagungannya, dan hegemoninya atas nama-nama yang rapuh lagi
terbongkar ini, yang bertujuan merampas kepribadian umat ini, warisannya, dan
manhajnya. Mahabenar Allah:
"...Mereka
tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad dan keluar dari agamamu,
jika mereka sanggup..." (QS. Al-Baqarah: 217).(1)
"Banyak
di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu
setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki yang ada dalam
diri mereka, setelah kebenaran nyata bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah:
109).(2)
5.
Membuka Jalan bagi Invasi Budaya (Al-Ghazwul Fikri)
Invasi
budaya hari ini adalah kolonialisme gaya baru di era modern, di mana
bangsa-bangsa tidak merasakan tekanan pasukan tentara atau ketakutan terhadap
senjata. Melainkan, ia adalah penjajahan pemikiran dan sugesti psikologis yang
ditanamkan ke dalam jiwa mangsa, sehingga menuntunnya menuju kematiannya dalam
keadaan terbius dan mabuk. Kita dapat mendefinisikannya sebagai:
Invasi
terhadap suatu bangsa oleh musuh-musuhnya dengan berbagai jenis kebudayaan
asing serta pemikiran impor yang menyimpang, guna menyesatkannya dari
kebudayaan aslinya, merampas kepribadiannya, menyeretnya agar mengekor kepada
para musuh tersebut, serta mengeksploitasi dan menjajahnya dengan cara yang
paling mudah namun memiliki dampak yang paling dalam.
Kekuatan
umat Islam terletak pada akidahnya, kohesivitasnya ada pada kebudayaannya, dan
wibawanya ada pada komitmennya dalam berpegang teguh pada Kitab dan manhajnya.
Jika umat Islam meninggalkan akidahnya dan menanggalkan asupan ruhaninya serta
kedalaman imannya, maka ia akan menjadi seperti sehelai bulu yang tergantung
ditiup angin ke mana saja. Hal ini telah diketahui oleh orang yang jauh maupun
yang dekat. Oleh karena itu, umat ini senantiasa saling berwasiat di antara
sesama mereka untuk tsabat (teguh) dan bangga dengan Kitab mereka, akidah
mereka, dan iman mereka.
'Amir
bin Mathar berkata: "Hudzaifah berkata kepadaku di dalam sebuah
pembicaraan: 'Bagaimana engkau, wahai 'Amir bin Mathar, jika manusia menempuh
suatu jalan, sedangkan Al-Qur'an menempuh jalan yang lain, bersama siapakah
engkau?' 'Amir menjawab: 'Aku katakan kepadanya: Bersama Al-Qur'an aku hidup
dan bersama Al-Qur'an aku mati.' Hudzaifah berkata kepadanya: 'Kalau begitu,
engkau adalah engkau (sejati).'" Ibnu Hazm yang meriwayatkan kisah ini
dalam kitab Al-Muhalla seraya memberikan komentar atas ucapan ini
berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku mengatakan sebagaimana yang dikatakan
oleh 'Amir: Demi Allah, aku akan bersama Al-Qur'an, aku hidup dengan berpegang
teguh kepadanya, dan aku mati—insya Allah—dengan berpegang teguh kepadanya, dan
aku tidak peduli dengan orang yang menempuh jalan selain Al-Qur'an, meskipun
mereka adalah seluruh penduduk bumi selain diriku."( Mu'jam Ibnu Hazm
al-Zahiri - 1/35, cetakan Damaskus)
Para
pakar sejarah dan pemimpin bangsa telah mengetahui hal ini. Gustave Le Bon
mengatakan bahwa sebab kemunduran Timur adalah karena ia meninggalkan spirit
Islam dan keterikatannya pada pemikiran-pemikiran yang batil.
Dahulu
bangsa Arab adalah manusia yang paling hina, lalu mereka menjadi pemimpin
dunia. Dahulu mereka adalah manusia yang paling rendah, lalu mereka menjadi
umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Dahulu mereka adalah manusia yang
paling lemah dan paling remeh, lalu mereka membangun imperium yang sejarah
tidak pernah melahirkan tandingan atau yang serupa dengannya.
Thomas
Carlyle mengatakan: "Pasukan para penggembala domba kemarin keluar
menyerbu bumi ke timur dan ke barat, melakukan penaklukan atas nama agama baru.
Dalam kurun waktu satu abad saja, mereka berhasil menumbangkan
kekuatan-kekuatan besar dan menguasai bumi di bawah kaki mereka. Sesungguhnya
ini adalah mukjizat, dan sekiranya ini bukan sebuah fakta sejarah, niscaya aku
akan mengatakan bahwa ini adalah dongeng atau khayalan.
Sesungguhnya
teriakan Muhammad itu ibarat percikan api menyala yang jatuh bukan di atas
gundukan pasir gurun yang malas, melainkan di atas gunung-gunung mesiu yang
meledak sekaligus, sehingga cahayanya meliputi ufuk dari dataran tinggi India
hingga lembah-lembah Andalusia."( Al-Hadharah al-Gharbiyyah Muqaranatan
bil Hadharah al-Islamiyyah oleh penulis, hlm. 670)
Oleh
karena itu, para musuh Islam memfokuskan serangan dan penyesatan mereka pada
manhaj Islam serta pada para pengembannya dan para dai yang menyeru kepadanya.
Mereka mengadakan muktamar-muktamar dan seminar-seminar, begadang di
malam-malam yang panjang untuk meneliti, merancang, menyusun, dan berpikir,
guna memotong urat-urat nadi akidah di dalam hati Muslim, menghentikan denyut
iman dari jasad mukmin, dan menggantinya dengan pipa-pipa buatan mereka serta
alat-alat ciptaan mereka, agar jasad tersebut tidak mampu menggerakkan kaki
atau mengangkat tubuh.
Di
antara senjata terbesar mereka adalah melontarkan syubhat di sekitar dakwah dan
para dai, serta di sekitar pemikiran dan para pelaksananya, kemudian
mendiktekan syubhat-syubhat tersebut kepada para musuh dakwah dan dai di dalam
maupun di luar negeri, sehingga terbentuk gumpalan awan gelap dan menyebar asap
hitam yang menyesatkan manusia dari kebenaran, serta memicu kegaduhan dan
meluncurkan kebisingan kuat yang menulikan telinga dari mendengar petunjuk.
Secara
alami, jika manusia berpaling dari iman, petunjuk, dan kebenaran, maka tidak
ada yang tersisa kecuali kesesatan, mengikuti kesesatan, dan jatuh ke dalam
jerat-jerat setan. Mahabenar Allah:
"...Maka
tidak ada setelah kebenaran itu, kecuali kesesatan..." (QS. Yunus: 32).
Apabila
para dai kebenaran dicemari nama baiknya, para pengembannya ditekan,
rintangan-rintangan diletakkan di jalan mereka, dan kecurigaan mengitari
mereka, maka tidak ada lagi yang tersisa kecuali para pemuja syahwat, yang
jiwanya, pemikirannya, akhlaknya, dan rekam jejaknya telah hancur. Angin
kebatilan membolak-balikkan mereka ke mana saja ia bertiup, dan jerat-jerat
setan memburu mereka lalu melemparkannya ke tempat yang runtuh. Penurunan
martabat terasa ringan bagi mereka, kejatuhan menjadi hal yang mereka sukai,
dan mereka lari dari kebajikan akibat istilah-istilah berkilau yang disematkan
pada kebatilan, serta slogan-slogan memikat yang ditempelkan pada kemungkaran.
Kemudian mereka lari dari istiqamah, mengejek para pengembannya, mengolok-olok
dainya, menyifati mereka dengan sifat-sifat yang dibenci, serta melabeli mereka
dengan julukan-julukan yang merendahkan dan hina. Inilah kondisi kebatilan di
setiap waktu dan tempat. Mahabenar Allah:
"Sesungguhnya
orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang
yang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan
mereka, mereka saling mengedipkan mata. Dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka
kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin) itu,
mereka berkata, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang
sesat.'" (QS. Al-Muthaffifin: 29-32).
Sebagai
contoh, di antara istilah-istilah yang digunakan di era modern untuk menghiasi
kebatilan dan mempercantik kejatuhan moral, yang disebarkan oleh para penyusup
dan musuh umat:
- Menyebut wanita-wanita yang
"berpakaian tetapi telanjang" sebagai wanita yang modern/maju,
alih-alih menyebut mereka sebagai wanita yang keluar dari ajaran Islam.
- Menyebut wanita yang duduk
berbaur dengan kaum lelaki, merangkul, dan berdansa dengan mereka sebagai
wanita yang memiliki kepribadian kuat dan percaya diri,
alih-alih menyisipkan sebutan bahwa dia telah mengalami degradasi moral.
- Menyebut sebagian wanita
yang melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang keluar dari ajaran Islam
sebagai bintang, bintang kejora, pujaan kedewaan massa
(Lafaz ini kami sesali penyebutannya, karena tidak boleh menyematkan
lafaz "ma'bud" (yang disembah/pujaan kedewaan) kecuali kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala, akan tetapi kami ingin menjelaskan
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan manusia), tokoh masyarakat,
atau pelopor kebebasan, alih-alih menyematkan istilah-istilah yang
dicintai ini kepada kelompok wanita yang melakukan pekerjaan-pekerjaan
agung, berkontribusi secara aktif dalam menciptakan iklim kesucian ('iffah),
kehormatan, penelitian ilmiah, serta kemajuan pemikiran, materi, dan
peradaban dalam bingkai akidah yang luhur, risalah yang abadi, manhaj yang
unik, dan tujuan yang dinanti, demi mengembalikan umat ke kedudukan yang
layak baginya, menolak kezaliman, penindasan, serta kehinaan darinya,
mengalungkan mahkota kemuliaan, kemenangan, keberuntungan, dan kehormatan
bagi umat, serta mengeluarkan dunia dari kegelapan menuju cahaya.
Dan
segala puji bagi Allah, di antara wanita kaum kita terdapat banyak sosok yang
menyadari hakikat ini, bekerja untuknya, dan tidak tertipu oleh kilatan-kilatan
dusta ini.
Demikian
pula istilah-istilah semacam ini disematkan kepada kaum lelaki. Sebagai contoh:
- Lelaki yang bermudah-mudah
dalam urusan kehormatan keluarganya disebut sebagai orang yang
berpikiran terbuka (liberal), alih-alih disebut sebagai dayuts
(Dayuts adalah lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap
keluarganya).
- Lelaki yang berperilaku
kemayu (mukhannats) dan menyerupai wanita disebut sebagai orang
yang berperasaan halus dan beradab, alih-alih disebut dengan
istilah takhannuts atau jenis kelamin ketiga.
- Orang yang menerima kehinaan,
tidak bangkit membela kehormatannya, atau tidak mencoba menolak kezaliman
dan agresi disebut sebagai orang yang realistis, alih-alih disebut
sebagai penakut atau pembelot, serta julukan-julukan lain
yang digunakan untuk menipu orang-orang awam.
Sementara
itu, bagi siapa saja yang kokoh berdiri di hadapan kebatilan, melawannya atau
mengalahkannya, dan ingin menjaga sisa-sisa kebaikan yang ada pada dirinya,
keluarganya, dan masyarakatnya; bagi siapa saja yang melihat penyakit umatnya
lalu merasa perih dan terjaga di malam hari akibat kemunduran dan
keterpurukannya, kemudian berusaha keras menghentikan penyakit tersebut dan
mengobatinya; bagi siapa saja yang mencoba mencegah perampokan akidah umat,
warisannya, kejantanannya, dan kemuliaannya, lalu menghadang gelombang taklid
buta, badai ateisme yang membabi buta, dan epidemi penularan moral yang
membinasakan; maka dipasangkanlah padanya julukan-julukan yang membuat orang
lari dan sifat-sifat yang memprovokasi. Ia dicap sebagai orang yang terbelakang,
disifati sebagai kolot/terbelakang (retrograde), dituduh kaku
(jumud) serta tidak realistis, dan ditiupkan di sekitarnya berbagai
syubhat yang banyak.
Masyarakat
kontemporer telah menyaksikan banyak orang yang ingin menyebarkan kekacauan di
dalam umat untuk menghancurkannya dari dalam. Kita melihat para pengikut invasi
budaya, bahkan dari kalangan misionaris Kristen yang mengklaim cemburu (peduli)
kepada kaum wanita, menyebarkan racun mereka di tengah-tengah kaum Muslimin.
Kita melihat contohnya pada seorang penulis Kristen, Salama Moussa, yang
menyerang Islam dengan sindiran dan celaan, serta memprovokasi wanita-wanita
mukmin dengan mengatakan kepada kaum wanita di Mesir: "Campakkan
tradisi kuno kalian yang usang, keluarlah dan berbaurlah dengan kaum lelaki
dengan berani, serbulah pabrik-pabrik dan toko-toko untuk bekerja, bukan demi
memenuhi kebutuhan darurat, melainkan sebagai bentuk penantangan terhadap
tradisi yang mengurung kalian untuk urusan keibuan dan merawat reproduksi
manusia!" Kemudian ia berkata kepada wanita: "Tataplah mata
kaum lelaki dengan dua mata yang mantap, angkatlah kepalamu dengan nada
menantang, dan jangan menundukkan pandangan. Demikianlah kemajuan itu
dicapai!" Bukan dengan ilmu, bukan dengan amal nyata yang dibutuhkan
oleh umat, melainkan demi syahwat vulgar dan keluar dari ajaran kesucian serta
kehormatan, dan karena menyukai kekonyolan serta keberanian dalam tatapan mata
dan lirikan. Mengapa ia tidak mengatakan demikian, sementara ia dan orang-orang
yang sepertinya adalah pihak yang mengadakan perlombaan antara wanita dan
lelaki untuk memilih "pemilik mata yang berani" dan "si mata
berani", yaitu wanita yang tidak memiliki rasa malu, tidak beradab, lalu
keluarlah lagu-lagu yang memuja "si mata berani" untuk dinyanyikan
oleh para wanita dan gadis di dalam umat... Apakah ini yang dinamakan kemajuan?
Apakah hal ini membawa kebaikan bagi rumah, keluarga, atau masyarakat?
Dapat
dibaca dalam sejarah kaum Muslimin bahwa Sayyidah 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha
telah meriwayatkan hadis-hadis serta perbuatan-perbuatan Rasulullah ﷺ yang menjadi tiang
pancang kokoh dalam ajaran Islam. Beliau berpartisipasi dalam banyak urusan
dengan memberikan pandangan dan musyawarah, mengarungi peperangan, dan keluar
bersama pasukan untuk mengobati orang-orang yang terluka serta menyuplai
pasukan dengan makanan dan logistik yang dibutuhkan. Dan beliau tidak pernah
berbicara dengan kaum lelaki kecuali dari balik tabir (hijab).
Sifat
malu (al-haya') termasuk di antara kemuliaan akhlak, bagian dari ajaran
Islam, dan termasuk keaslian tabiat manusia yang dapat mencegah dari berbagai
kerendahan moral. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin
Umar Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ melewati seorang lelaki dari kalangan
Ansar yang sedang menasihati saudaranya dalam hal rasa malu, maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Biarkan
dia, karena sesungguhnya rasa malu itu bagian dari iman." Dan dalam
riwayat milik Abu al-Sawar al-'Adawi, Rasulullah ﷺ bersabda: "Rasa malu itu tidak
datang kecuali dengan membawa kebaikan." Maka Basyir bin Ka'b berkata:
"Sesungguhnya tertulis di dalam hikmah bahwa di antara rasa malu itu
melahirkan wibawa (waqar) dan di antaranya melahirkan ketenangan
(sakinah)."
Dan
di antara apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id
al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Rasulullah ﷺ itu lebih pemalu
daripada seorang gadis perawan di dalam pingitannya. Apabila beliau melihat
sesuatu yang beliau benci, kami dapat mengetahuinya dari wajah beliau."
Apakah
sifat sangat pemalu yang dimiliki Sayyidah 'Aisyah menghalanginya untuk percaya
diri? Apakah sifat sangat pemalu yang dimiliki Rasulullah ﷺ menghalangi beliau
untuk memenuhi dunia dengan cahaya dan keutamaan? Sampai kapan kapak-kapak ini
terus menghancurkan eksistensi kaum Muslimin dan ibu mereka? Dan mahabenar
Rasulullah ﷺ
saat bersabda:
PASAL
KETIGA: SUMBER-SUMBER SYUBHAT
Seluruh
pihak yang memiliki kepentingan untuk menekan kebenaran dan menyingkirkannya
dari jalur kehidupan di berbagai masyarakat akan bersatu padu menyerang dakwah
dan sosok dai. Mereka semua dipersatukan oleh satu tujuan dan satu target yang
mereka usahakan melalu berbagai metode dan jalan. Di antara tujuan dan metode
tersebut adalah meragukan dakwah Islam dan manhajnya, mendistorsi rekam jejak
orang-orang yang menyerukannya, menaburkan benih keraguan di sekitar mereka,
meluncurkan desas-desus, mempromosikan kebatilan, menanam syubhat, mempersempit
ruang gerak mereka, serta memerangi mereka dalam pemikiran dan mata pencaharian
mereka. Mahabenar Allah:
"Mereka
itulah orang-orang yang berkata (kepada orang-orang Ansar), 'Janganlah kamu
memberikan infak kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah sampai mereka
bubar (meninggalkan Rasulullah)...'" (QS. Al-Munafiqun: 7).
Anda
dapat mengatakan bahwa sumber-sumber syubhat yang menjadi tempat meluncurnya
anak panah beracun ke arah dakwah Islam dan para pengembannya sangatlah banyak
di era sekarang, beraneka ragam, bervariasi, berkemampuan besar, dan efektif.
Kami akan mengisyaratkan tiga sumber di antaranya:
1.
Musuh yang Memiliki Kepentingan ('Aduwwun wa Shahibu Mashlahah)
Para
musuh Islam bergerak dalam kegilaan yang membara, meluncurkan tuduhan-tuduhan
kepada Islam, menempelkan kekurangan padanya, membuat-buat kedustaan atasnya,
serta melepaskan desas-desus dan syubhat di sekitarnya dengan permusuhan yang
aneh lagi unik dalam sejarah kemanusiaan. Hal itu karena Islam telah membongkar
kepalsuan agama, psikologis, dan peradaban mereka, membodoh-bodohkan praktik
perbudakan mereka terhadap manusia, tindakan mereka memakan harta manusia
dengan cara batil, serta penghalalan mereka terhadap kehormatan dan pelanggaran
mereka terhadap batasan-batasan suci.
Juga
karena Islam membangun manusia yang lurus, yang tidak menzalimi, tidak
diperbudak, dan tidak dihinakan. Dan karena Islam adalah satu-satunya agama
praktis yang membangun sebuah negara yang melindungi kebenaran, menuntun tangan
orang yang lemah, dan menumbangkan kezaliman di mana pun dan kapan pun adanya.
Islam berdiri laksana gunung yang kokoh dan puncak yang tinggi di hadapan
orang-orang yang melampaui batas, mendendam, dan berkuasa, sehingga patahlah
anak-anak panah para penakut yang eksploitatif, para spekulan, dan kolonialis
di atas ujung tombak Islam. Islam laksana penjaga waspada yang menakut-nakuti
para pencuri dan perusak, serta menembakkan peluru kepada para pembunuh
berdarah dingin. Maka, para pencuri memusuhinya dengan kejam, para pembunuh dengan
keji, dan para penguasa zalim dengan kekuatan penuh. Akan tetapi, Islam selalu
laksana siang hari dan takdir, tidak ada malam yang sanggup bertahan di
depannya, dan tidak berguna di hadapannya segala bentuk persiapan atau jumlah
pasukan, karena ia adalah kehendak Allah.
Meskipun
sebagian manusia hari ini merasakan kejamnya permusuhan terhadap Islam dan
melihat keganasannya—dan ini adalah sebuah fakta—maka sudah sepatutnya bagi
mereka juga untuk memperhatikan besarnya rasa panik dan ketakutan yang
tergambar di bibir para musuhnya, tampak di lembaran-lembaran surat kabar
mereka, dan pada gemetarnya pena-pena mereka, agar mereka percaya pada diri
mereka sendiri dan melanjutkan perjuangan hingga Allah menyempurnakan
cahaya-Nya dan kalimat-Nya meninggi. Meskipun saya merasakan bahwa jalannya
masih panjang dan jaraknya masih jauh, sebanding dengan kejamnya permusuhan dan
besarnya kedengkian yang memenuhi dada para musuh. Lawrence Brown mengatakan:
"Sesungguhnya bahaya yang nyata itu laten di dalam sistem Islam, dalam
kemampuannya untuk melakukan ekspansi dan penundukan, serta dalam vitalitasnya.
Ia adalah satu-satunya dinding di hadapan kolonialisme Barat."( Al-Hadharah
al-Islamiyyah Muqaranatan bil Hadharah al-Gharbiyyah oleh penulis) Ya,
dahulu Islam adalah satu-satunya dinding di dada pasukan Salib yang penuh
dendam lagi kejam, menjadi satu-satunya dinding dalam membendung pasukan Tatar
serta kebiadaban dan barbarisme yang merusak. Islam menjadi satu-satunya
dinding di hadapan serangan kolonial modern, dan sekelompok kecil orang yang
bangga dengan agamanya di berbagai penjuru tanah air Islam mampu melelahkan
banyak pasukan kolonial dan mengusir mereka mundur di kegelapan malam setelah
mereka mengira telah nyaman tinggal dan memetik buahnya. Para pemimpin mereka
yang mabuk oleh kemenangan sementara berkata mengekspresikan dendam yang mereka
warisi turun-temurun:
Patterson
Smyth mengatakan dalam kitabnya The People's Life of Christ: "Perang
Salib berakhir dengan kegagalan, akan tetapi sebuah peristiwa besar terjadi
setelah itu, ketika Inggris mengirimkan ekspedisi Salib kedelapan dan berhasil
menang kali ini. Sesungguhnya serangan Allenby ke Yerusalem pada masa Perang
Dunia Pertama adalah perang Salib kedelapan dan yang terakhir." Surat
kabar Inggris menerbitkan foto Jenderal Allenby yang memasuki Yerusalem pada
tahun 1918 M, dan menuliskan di bawahnya ucapannya yang terkenal yang ia
katakan saat penaklukan Yerusalem: "Hari ini, Perang Salib telah
berakhir."
Dengan
cara yang sama dan dendam yang sama yang keluar dari Jenderal Inggris, demikian
pula perilaku Jenderal Prancis, Gouraud, panglima tentara Prancis saat memasuki
Damaskus. Ia segera menuju ke makam Salahuddin al-Ayyubi Rahimahullah di
dekat Masjid Umayyah, lalu menendangnya dengan kakinya dan berkata kepadanya: "Saksikan,
kami telah kembali, wahai Salahuddin!" Pada hari kedua, ia melakukan
hal yang sama di Homs, di mana ia pergi ke makam Khalid bin al-Walid Radhiyallahu
'Anhu dan berkata: "Kami di sini, wahai Khalid."(1) Sesungguhnya
akar dendam ini sudah kuno, menghunjam dalam di lubuk sejarah, menampakkan
dirinya saat melemahnya kaum Muslimin dan keterpurukan mereka, seolah-olah
meskipun berbeda negeri dan kaum, ia keluar dari satu dada dan satu lisan yang
sama. Ini di bidang militer. Ketika mereka menemukan bahwa metode militer tidak
lagi sesuai dengan zaman dan tidak dapat bertahan di hadapan gairah Islam,
mereka beralih untuk menghancurkan Islam, para dai, dan para pemeluknya dari
dalam. Untuk itu diletakkanlah kurikulum-kurikulum, rencana-rencana, serta
dilatihlah kader-kader dan personel untuk melaksanakan tugas ini, guna
menjauhkan Muslim dari sumber kekuatannya, yaitu Islam.
Masmir
yang alim mengatakan: "Sesungguhnya orang Barat tidak akan menjadi ilmuwan
kecuali jika ia meninggalkan agamanya, berbeda dengan Muslim, sesungguhnya ia
tidak akan meninggalkan agamanya kecuali jika ia menjadi orang bodoh."(Syubuhat
al-Taghrib, hlm. 20)
Maka
para musuh Islam beralih untuk menanam syubhat, menghidupkan fanatisme golongan
(ashabiyah), memperbagus kesesatan, mencoba menghidupkan kembali tradisi
Jahiliyah dan adat kuno atas nama folklor dan orisinalitas, menghidupkan
gerakan Syu'ubiyah, membangkitkan kezindikan atas nama filsafat, menakut-nakuti
masyarakat dengan momok masa lalu dalam hal akhlak dan adat yang mulia, serta
menyebarkan paham permisif atas nama kebebasan melalui sarana cerita (fiksi).
Mereka membisu dari menyebut kejayaan kaum Muslimin dan tokoh-tokoh Islam,
tidak mendidik anak-anak atau tidak memberikan asupan yang diperlukan untuk
mendidik mereka di atas pilar-pilar Islam dan manhaj Rabbani, serta meninggikan
contoh-contoh anomali dari orang-orang yang menyimpang dalam sejarah pemikiran
Islam seperti Abu Nuwas, Basysyar, Ibnu al-Rawandi, Abul Faraj al-Ashfahani,
Ibnu al-Muqaffa', dan orang-orang yang sejenis mereka.
Para
misionaris dan orientalis telah menyatakan lebih dari sekali bahwa target
tertinggi mereka dari melontarkan syubhat adalah melahirkan generasi baru dari
kalangan Arab Muslim yang memandang rendah seluruh pilar kehidupan Islam,
mengolok-olok pemikiran Islam dan dainya, serta saling memerangi dan bertikai
di antara sesama mereka sendiri.
Raja
Louis IX dari Prancis yang pernah ditawan di Dar Ibnu Luqman di Mansoura,
menyatakan dalam sebuah dokumen yang tersimpan di Arsip Nasional di Paris:
bahwa tidak mungkin meraih kemenangan atas kaum Muslimin melalui jalur
peperangan, melainkan kemenangan atas mereka dapat diraih melalui jalur politik
dengan mengikuti langkah-langkah berikut:
- Menyebarkan perpecahan di
antara para pemimpin Muslim, dan jika hal itu terjadi, maka harus
diusahakan untuk memperlebar jarak perpecahan tersebut semaksimal mungkin
agar perselisihan ini menjadi faktor pelemah kaum Muslimin.
- Tidak membiarkan
negeri-negeri Islam dan Arab dipimpin oleh pemerintahan yang saleh (baik).
- Merusak sistem pemerintahan
di negeri-negeri Islam dengan suap, korupsi, dan wanita, hingga terputus
hubungan antara basis massa bawah dengan puncak pimpinan.
- Menghalangi terbentuknya
pasukan tentara yang beriman pada hak tanah airnya, yang mau berkorban
demi prinsipnya, yaitu Islam.
- Berusaha membangun sebuah
negara asing di kawasan Arab yang membentang antara Gaza di selatan hingga
Antiokhia di utara, kemudian mengarah ke timur, dan membentang hingga
sampai ke barat.(1)
Perhatikan
bagaimana tawanan ini merancang dan mempelajari rencana ini di dasar
penjaranya, dan bagaimana rencananya telah dan masih terus bekerja serta
menampakkan dampaknya hingga era modern.
Ketika
negosiasi Perjanjian Lausanne dimulai untuk mengadakan perdamaian di antara
pihak-beperang, Inggris memberikan syarat kepada Turki bahwa ia tidak akan
menarik pasukan dari wilayahnya kecuali setelah dilaksanakannya syarat-syarat
berikut:
- A. Menghapus sistem
Khilafah Islamiyah, mengusir Khalifah dari Turki, dan menyita harta
kekayaannya.
- B. Turki berkomitmen
untuk memadamkan setiap gerakan yang dilakukan oleh orang-orang Islam
pendukung Khilafah.
- C. Turki memutus
hubungannya dengan Islam.
- D. Turki memilih
undang-undang sipil (sekuler) sebagai ganti dari undang-undang yang
bersumber dari hukum-hukum Islam.
Maka
Mustafa Kemal Ataturk melaksanakan syarat-syarat tersebut di atas, lalu
negara-negara penjajah menarik pasukannya dari Turki. Ketika Curzon, Menteri
Luar Negeri Inggris, berdiri di Majelis Rendah Inggris (House of Commons)
memaparkan apa yang terjadi dengan Turki, sebagian anggota parlemen Inggris
melayangkan protes keras kepada Curzon. Mereka heran bagaimana bisa Inggris
mengakui kemerdekaan Turki, yang berpotensi mengumpulkan kembali negara-negara
Islam di sekitarnya sekali lagi lalu menyerang Barat.
Maka
Curzon menjawab: "Kita telah menghabisi Turki, yang tidak akan pernah
bangkit lagi setelah hari ini... karena kita telah menghancurkan kekuatannya
yang terepresentasi dalam dua hal: Islam dan Khilafah." Maka seluruh
anggota parlemen Inggris bertepuk tangan, dan berhentilah oposisi.( Kaifa
Hudimat al-Khilafah, hlm. 190)
Apakah
kita telah melihat apa target para musuh Islam, apa tujuan mereka, dan mengapa
mereka melontarkan syubhat, mengadopsinya, dan menyiapkannya?
Tidak
diragukan lagi bahwa di balik pengeksporan syubhat penuh dendam kepada Islam,
pemeluk, dan dainya ini, terdapat sekumpulan orang yang mendendam, musuh, dan
pemuja hawa nafsu, yang dipersatukan oleh partai pendosa dan target murahan.
Mereka dihimpun oleh koalisi mengerikan yang merusak lagi mencemari, yang
menyokong rombongan-rombongan mencurigakan ini dengan ekor-ekor dari kalangan
orang yang tertipu serta para pengikut dari kalangan munafik, pencari
keuntungan, dan orang-orang bodoh.
Para
musuh Islam dan musuh kebenaran di timur bumi dan baratnya, meskipun berbeda
warna kulit dan jenis bangsa mereka, dipersatukan oleh komitmen yang kuat untuk
memusuhi Islam dan membuat tipu daya terhadapnya. Sangat jarang ditemukan dalam
sejarah modern maupun kuno secara setara, adanya kepahitan, kebencian yang
mendalam, keras, lagi ganas terhadap satu agama seperti yang diarahkan kepada
Islam dan para dainya. Sesungguhnya kezaliman, kesewenang-wenangan yang keji,
dan ketidakadilan nyata yang ditumpahkan kepada kaum Muslimin dahulu dan
ditumpahkan kepada mereka sekarang tanpa dosa atau kesalahan, adalah hal yang
aneh dalam sejarah dan layak untuk dipelajari serta direnungkan. Walaupun
permusuhan ini tidak mengejutkan kita atau membuat kita heran, karena Tuhan
kita Yang Maha Agung telah mengabarkannya kepada kita sejak hari pertama, dan
di awal jalan. Firman-Nya yang Mahasuci:
"Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau
mengikuti agama mereka..." (QS. Al-Baqarah: 120).
"...Mereka
tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad dan keluar dari agamamu,
jika mereka sanggup..." (QS. Al-Baqarah: 217).
"...Sesungguhnya
jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melemparimu dengan
batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka..." (QS. Al-Kahf: 20).
"Wahai
orang-orang yang beriman! Jika kamu menaati orang-orang yang kafir, niscaya
mereka mengembalikan kamu ke belakang (menjadi kafir), lalu kamu menjadi
orang-orang yang rugi." (QS. Ali 'Imran: 149).
Jika
kita kembali kepada sejarah Islam sejak hari pertamanya dan kepada dakwahnya di
fajar kemunculannya, kita akan menemukan fenomena ini sangat jelas. Al-Qur'an
al-Karim telah mencatatnya di tahapan-tahapan awalnya, membongkar bahaya laten
yang dirancang terhadap kebenaran dan pengembannya, serta tentang kesigapan
laksana singa yang mengintai untuk memangsa dakwah yang baru lahir tersebut.
Maka Al-Qur'an menyeru kaum Muslimin untuk selalu waspada dan menghadapi dengan
kokoh, serta melakukan persiapan sebatas kemampuan. Firman-Nya: "Bersiaplah,
bersabarlah, dan bersiagalah." Al-Qur'an menggariskan kurikulum yang
jelas untuk membela kebenaran guna mengangkat panjinya dan berjalan dengannya
menuju targetnya yang dikehendaki Allah untuk terwujud di bumi.
Jika
Anda meneliti banyak syubhat dan jika ingin mengetahui kedalaman serta
sumber-sumbernya, Anda akan menemukan bahwa semuanya berafiliasi kepada para
musuh Islam dan kaum Muslimin, serta kepada para pemilik kepentingan dalam
menekan kebenaran dan memadamkan cahayanya.
2.
Kader-Kader Terlatih untuk Mengelabui Manusia
Urusan
memalsukan syubhat hari ini tidak sekadar keluar dari hati yang mendendam atau
lisan yang melukai semata. Melainkan, hal itu diikuti, didukung, dan diperkuat
oleh perencanaan yang matang dan pengaturan yang terorganisasi, yang diemban
dan disampaikan oleh kader-kader terlatih, dipersiapkan, diajar, dan dipilih
dengan metode yang bervariasi lagi teruji, dalam bentuk yang bermacam-macam.
Seperti misi-misi misionaris, sekolah-sekolah asing, yayasan-yayasan karitatif
(sosial), organisasi-organisasi internasional, delegasi-delegasi ilmiah, dan
slogan-slogan nasional.
Hal
itu dibarengi dengan propaganda yang sesuai, surat kabar yang memikat, buku
yang menarik, novel yang dicintai, siaran radio yang kuat, muktamar dan
ceramah, studi dan seminar, serta eksploitasi terhadap emosi dan kecenderungan.
Oleh karena itu, syubhat-syubhat tersebut menari-nari di akal para pemuda,
mengetuk hati para remaja, dan mendesak jiwa, saraf, serta naluri mereka. Maka
mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya kecuali orang-orang yang
dijaga oleh Tuhanmu.
3.
Orang Rusak dan Pemuja Hawa Nafsu (Fasidun wa Shahibu Hawa)
Yaitu
para pemuja syahwat, budak hawa nafsu, pencinta ketersesatan, korban kemewahan,
dan kehancuran ruhani. Mereka ingin tenggelam dalam kelezatan, menyelam dalam
syahwat, dan menghabiskan energi. Mereka mabuk dengan kesesatan, tidak ingin
terjaga dari tidur, dan tidak mau bangun dari kelalaian atau kebodohan. Mereka
mengikuti setiap hal asing yang aneh dan terengah-engah mengejar setiap
kenikmatan yang menjijikkan. Maka Anda melihat mereka tertular
penyakit-penyakit mematikan akibat ketelanjangan, gaya hidup hippie
(khunfusa'), sifat kemayu pada lelaki, sifat kelaki-lakian pada wanita, dan
setiap hal aneh menyimpang yang merusak kemanusiaan manusia, menghancurkan
kejantanannya, dan menjauhkannya dari kemuliaannya yang telah dikhususkan oleh
Allah Subhanahu wa Ta'ala baginya di antara seluruh makhluk-makhluk-Nya yang
lain.
Oleh
karena itu, ia membenci kejantanan, memusuhi kebajikan, lari dari mengambil
manfaat, dan memusuhi hidayah. Ia tidak menyukai keseriusan dan tidak menyukai
jalannya, tidak mau memikul tanggung jawab atau tidak kuat mengemban amanah,
melainkan lari darinya dan membencinya.
Karena
alasan ini, Anda melihatnya menyatakan perang terhadap dakwah dan para
tokohnya, karena ia mengira bahwa mereka akan merampas kenyamanannya, merenggut
kelezatan dan syahwatnya, menyingkap auratnya, dan memburu kebatilannya. Ia
ingin menampakkan kemuliaan bagi dirinya lalu membuat-buat kedustaan atas para
pengusung dakwah dan manhajnya, serta menampakkan bahwa ia memiliki keutamaan
lalu meniupkan syubhat di sekitar para dai keutamaan dan pengikut kebenaran
serta kebajikan. Mahabenar Allah:
"Dan
apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah berbuat kerusakan di bumi!' Mereka
menjawab, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.'
Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak
menyadari. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana
orang lain telah beriman!' Mereka menjawab, 'Apakah kami akan beriman
sebagaimana orang-orang yang bodoh itu beriman?' Ingatlah, sesungguhnya
merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu." (QS.
Al-Baqarah: 11-13).
Termasuk
dalam golongan ini adalah para pemuja hawa nafsu dan orang-orang zalim yang
memakan daging manusia dan mengisap darah mereka. Jika mereka melihat
kebenaran, mereka akan memangsanya demi membela kebatilan mereka. Di antara
mereka ada yang memperbudak manusia, mengeksploitasi kekuatan mereka, dan
menghalalkan hal-hal suci mereka. Jika manusia ingin lari, mereka akan
menyerang dan membinasakan mereka. Jika sebuah undang-undang, penguasa, dakwah,
atau dai menuntut hak mereka, mereka akan menumpahkan kehancuran dan kezaliman
atas mereka. Mahabenar Allah:
"...Apakah
setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu yang tidak kamu inginkan,
kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu
bunuh?" (QS. Al-Baqarah: 87).
Para
pemuja hawa nafsu dan perusak di bumi tidak melakukan hal itu terhadap dakwah
dan para dai melainkan setelah mereka kehilangan setiap kecenderungan pada
kebaikan di dalam diri mereka dan setiap getaran hati nurani di dalam dada
mereka. Mereka telah menulikan telinga mereka, menutup akal mereka, dan
membinasakan diri mereka sendiri. Sekiranya mereka mau, niscaya mereka dapat
mengangkat jiwa dengan kebenaran, meninggikan tekad dengannya, dan membangun
kemuliaan dengannya. Akan tetapi, itu adalah tindakan condong pada kebinatangan
yang liar dan pada tanah liat yang cair. Mahabenar Allah:
"Dan
bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan
ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu
dia diikuti oleh setan, maka jadilah dia termasuk orang yang sesat. Dan
sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan
(ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya
yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dia
menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya
(juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami..." (QS. Al-A'raf: 175-176).
Pemilik
hawa nafsu berpaling dari petunjuk demi mengikuti hawa nafsunya, turun dari
ufuk yang terang lalu menempel pada tanah liat yang gelap, sehingga ia menjadi
sasaran bagi setan-setan, dan seketika itu ia bermetamorfosis menjadi serupa
dengan anjing.
Apakah
Anda mengira makhluk ini, setelah mengarah ke derajat yang rendah ini, akan
menerima suatu nilai atau mau berdamai dengan para pengikut kebenaran?
4.
Al-Mala' (Para Pembesar/Elit)
Al-Mala'
adalah para bangsawan manusia dan tokoh terkemuka mereka yang memenuhi mata
dengan keindahan dan memenuhi hati dengan wibawa.( Al-Furuq fi al-Lughah
oleh Abu Hilal al-'Askari - pada materi tersebut)
Biasanya,
Al-Mala' memiliki hubungan dengan kekuasaan; mereka menjilat kekuasaan
dan kekuasaan memanfaatkan mereka, mereka memujinya dan kekuasaan memberinya
imbalan, mereka mendekatkan diri kepadanya dan kekuasaan mendekat kepada
mereka. Mereka berserikat dalam banyak kepentingan bersama penguasa, dan diikat
oleh jalinan keuntungan dan maslahat. Mereka adalah lingkaran dalam penguasa,
matahari-mataharinya, dan bulan-bulannya, berserikat bersama penguasa dalam
satu galaksi, dan berputar bersamanya dalam satu orbit.
Oleh
karena itu, setiap hal yang tidak diridai oleh penguasa, maka hal itu tidak
mereka ridai. Bahkan, sering kali mereka menjadi lisan bagi kondisi penguasa,
atau pihak yang memprovokasi penguasa untuk melakukan hal yang sesuai dengan
hawa nafsu dan kepentingan mereka, demi menambah wibawa, dominasi, kekuatan
atas para hamba, dan kemewahan dari harta manusia.
Al-Qur'an
telah berbicara tentang Al-Mala', dan menjelaskan peran mereka dalam
menghadapi dakwah para rasul—semoga selawat Allah dan salam-Nya tercurah kepada
mereka.
Kita
melihat Al-Qur'an menceritakan konfrontasi Al-Mala' terhadap Nuh
'Alaihissalam, firman-Nya:
"Sungguh,
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, 'Wahai kaumku!
Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku
takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat).' Pemuka-pemuka (Al-Mala')
dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang engkau benar-benar berada
dalam kesesatan yang nyata.'" (QS. Al-A'raf: 59-60).
Kita
melihat mereka dalam konfrontasi melawan Hud 'Alaihissalam:
"Dan
kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Dia berkata, 'Wahai kaumku!
Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak
bertakwa?' Pemuka-pemuka (Al-Mala') yang kafir dari kaumnya berkata,
'Sesungguhnya kami memandang engkau benar-benar berada dalam kebodohan, dan
sesungguhnya kami yakin engkau termasuk orang-orang pendusta.'" (QS.
Al-A'raf: 65-66).
Dan
kita melihat mereka dalam konfrontasi melawan Shalih 'Alaihissalam:
"Pemuka-pemuka
(Al-Mala') yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada
orang-orang yang dianggap lemah, yaitu orang-orang yang telah beriman di antara
mereka, 'Tahukah kamu bahwa Shalih itu seorang rasul dari Tuhannya?' Mereka
menjawab, 'Sesungguhnya kami beriman kepada apa yang diserukan melalui dia.'
Orang-orang yang menyombongkan diri itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah
orang yang mengingkari apa yang kamu imani.'" (QS. Al-A'raf: 75-76).
Kita
melihat mereka dalam konfrontasi melawan Syu'aib 'Alaihissalam:
"Pemuka-pemuka
(Al-Mala') yang menyombongkan diri dari kaumnya berkata, 'Wahai Syu'aib!
Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri
kami, atau engkau kembali kepada agama kami.' Dia (Syu'aib) berkata, 'Apakah
(kamu akan mengusir kami), kendatipun kami membencinya?'" (QS. Al-A'raf:
88).
"Dan
pemuka-pemuka (Al-Mala') yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya
jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi.'"
(QS. Al-A'raf: 90).
Dalam
konfrontasi melawan Musa 'Alaihissalam:
"Pemuka-pemuka
(Al-Mala') dari kaum Firaun berkata, 'Sesungguhnya orang ini (Musa)
adalah pesihir yang mahir.'" (QS. Al-A'raf: 109).
Kita
melihat bagaimana para pembesar (Al-Mala') ini berdiri menjadi batu
sandungan di jalan dakwah kebenaran dan di jalan penyampaian hidayah. Bagaimana
mereka menghadang para rasul dan mencoba membinasakan mereka serta menyebarkan
kedustaan di sekitar mereka agar tidak ada seorang rasul atau reformis pun yang
mampu mengubah kerusakan, eksploitasi, dan dominasi yang sedang mereka nikmati.
Bahkan, kita melihat mereka, jika badai telah mereda dan beberapa pusaran angin
telah tenang, mereka akan meniupkannya kembali dari awal, mengembuskan api
permusuhan, dan menyalakan kegilaan keangkuhan di dalam diri para penguasa.
Kita mendengar firman-Nya:
"Dan
pemuka-pemuka (Al-Mala') dari kaum Firaun berkata, 'Apakah engkau akan
membiarkan Musa dan kaumnya untuk berbuat kerusakan di bumi dan meninggalkanmu
dan tuhan-tuhanmu?' (Firaun) berkata, 'Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka
dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka; dan sesungguhnya kita
berkuasa penuh atas mereka.'" (QS. Al-A'raf: 127).
Apabila
Al-Mala' melihat adanya kelesuan dari pihak penguasa, mereka sendiri
yang mengemban beban memerangi dai dan memprovokasi massa untuk melawannya,
bahkan dengan membunuhnya jika memungkinkan serta bersekongkol melawannya:
"Dan
datanglah seorang lelaki dari ujung kota dengan bergegas dia berkata, 'Wahai
Musa! Sesungguhnya pembesar-pembesar (Al-Mala') sedang berunding tentang
engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.'" (QS. Al-Qashash:
20).
Lantas,
apa yang mendorong para pembesar (Al-Mala') ini menuju seluruh
permusuhan ini, menuju seluruh dendam ini, dan konfrontasi mematikan ini?
Mereka didorong oleh kecintaan pada syahwat mereka, perlindungan atas apa yang
mereka raih tanpa hak, pengambilan keuntungan dari kerusakan, dan pendudukan
jabatan serta posisi yang sebenarnya tidak layak bagi mereka. Sekiranya urusan
ini diserahkan kepada ahlinya, niscaya mereka berada di dasar bawah bukan di
puncak atas, berada di kerendahan bukan di keluhuran, dan berada dalam
kesempitan hidup bukan dalam kelapangan, kemewahan, serta pemborosannya. Apakah
Anda mengira mereka akan menyerah dengan mudah atau mau beriman dengan
sukarela?
5.
Al-'Awam (Orang Awam) "Orang-Orang Bodoh"
Mereka
adalah sekelompok manusia yang dinamakan oleh sebagian orang sebagai orang
awam—meskipun dalam penamaan ini terdapat semacam simplifikasi—dan dinamakan
oleh sebagian lain sebagai orang-orang yang bodoh terhadap konsekuensi urusan.
Mereka adalah sekumpulan manusia yang tidak memperhitungkan dampak, atau tidak
menimbang perbuatan dan perkataan mereka dengan akal mereka untuk menyaringnya.
Kelompok inilah yang dimaksud oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya:
"Dan
apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan,
mereka (langsung) menyiarkannya. Dan sekiranya mereka menyerahkannya kepada
Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin
mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil
Amri). Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah
kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja." (QS. An-Nisa': 83).
Orang-orang
ini, meskipun mereka termasuk dari kalangan kaum Muslimin, akan tetapi mereka
tidak memperhitungkan hasil akhir. Mereka mengambil berita-berita dusta lalu
menyebarkannya dengan niat baik karena suka menyiarkan berita dan demi
memuaskan sebuah syahwat di dalam diri mereka, sehingga mereka membantu musuh
dari arah yang tidak mereka sadari.
Gambaran
yang dilukiskan oleh teks ini adalah gambaran sekelompok Muslim yang jiwanya
belum terbiasa dengan kedisiplinan, atau belum memperhitungkan atau memahami
nilai dan volume dampak yang ditimbulkan oleh syubhat atau desas-desus dalam
mengacaukan barisan Muslim, serta hasil akhir yang diakibatkannya. Dampak
tersebut bisa jadi mematikan karena mereka tidak naik ke level peristiwa, tidak
menyadari keseriusan situasi atau kedudukan dai. Sesungguhnya sebuah kata yang
terucap tanpa sengaja dan ketergelinciran lisan dapat menyeret konsekuensi
buruk bagi orang itu sendiri, bagi dakwah, dan bagi sosok dai, hal-hal yang
tidak terlintas dalam pikiran, dan tidak dapat diperbaiki setelah terjadinya
dengan cara apa pun.
Sesungguhnya
barisan mukmin mustahil terbebas dari sebagian kesalahan yang tidak disengaja.
Apabila kesalahan tersebut diletakkan di bawah pengeras suara, disebarkan, dan
dijadikan saksi atasnya sebagian orang-orang lugu yang tidak memperhitungkan
konsekuensi, maka hal itu akan memberikan dampak yang buruk bagi dakwah dan
para dai.
Bagaimanapun
juga, ini menjadi ciri khas bagi umat atau kelompok yang sistem kedisiplinannya
belum sempurna, belum terbiasa mengendalikan urusan dan memikul tanggung jawab,
serta loyalitasnya belum sempurna kepada kepemimpinannya, umatnya, dan
akidahnya. Kelompok ini dahulu pernah ada di dalam masyarakat Muslim, kemudian
masyarakat berhasil—dengan ajaran Al-Qur'an dan dengan hidayah Rasulullah ﷺ—mendidik kelompok ini
dan mengarahkan mereka kepada apa yang wajib dilakukan saat mendengar
berita-berita yang membahayakan akidah, kaum Muslimin, atau para dai.
Firman-Nya yang Mahasuci: "Dan sekiranya mereka menyerahkannya kepada
Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin
mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka."
Artinya, mereka mengembalikan apa yang sampai kepada mereka berupa berita,
kabar, dan syubhat kepada Rasul jika beliau berada bersama mereka, atau kepada
ulil amri mereka dan para spesialis di antara mereka, agar diketahui oleh
orang-orang yang mampu menyimpulkan hakikat kebenaran, dan mereka mengeluarkan
dari celah-celahnya racun-racun tendensius yang dimaksudkan untuk menyebarkan
kekacauan dan kebisingan di sekitar dakwah, dai, dan kaum Muslimin.
Bisa
jadi di antara mereka ada orang yang dieksploitasi untuk melawan kaumnya
sendiri dan melawan akidah mereka sendiri, dari kalangan orang-orang yang
terbujuk materi (targhib) atau ketakutan (tarhib). Seperti para
pemilik kebudayaan asing, kelompok Kelima (Fifth Column), orang-orang
yang diusir dari negeri mereka karena perilaku buruk mereka atau karena
melakukan tindakan yang mencoreng akidah dan dakwah mereka, orang-orang yang
kalah secara psikologis dan akidah, atau orang-orang yang ditakut-takuti dengan
persekusi terhadap keluarga mereka atau penyitaan harta benda mereka, dan
selain itu.
Kelompok
ini dan itu dieksploitasi untuk berkata-kata dusta menyerang Islam, kaum
Muslimin, umat mereka, dakwah mereka, dan dai mereka, sehingga mereka menjadi
komoditas propaganda dan pilar bagi syubhat-syubhat.
PASAL
KEEMPAT: MACAM-MACAM SYUBHAT
Para
pembuat syubhat di sekitar dakwah dan dai bergerak meluncurkan desas-desus
tendensius dan membuat-buat kedustaan yang menyesatkan di setiap penjuru: di
tengah masyarakat, di lembaran surat kabar, di dalam buku-buku, di siaran
radio, dan di televisi.
Juga
di dalam seminar, penelitian, dan muktamar. Mereka menginginkan hal itu menjadi
gema yang membinasakan, kabut yang pekat, bahkan api yang berkobar di sekitar
dakwah dan dai, atau di sekitar pemikiran dan pelaksanaan, atau di sekitar
manhaj dan keteladanan. Agar hal itu menjadi demikian dan agar membuahkan
tujuan yang dituntut darinya dengan sebaik-baiknya, mereka melemparkan
syubhat-syubhat tersebut kepada tiga target:
- Target Pertama: Sosok Dai.
- Target Kedua: Dakwah itu
sendiri.
- Target Ketiga: Medan Dakwah,
yaitu manusia yang berada di sekitar dai.
Syubhat
di Sekitar Sosok Dai
Adapun
apa yang berkaitan dengan dai, sesungguhnya syubhat-syubhat itu mesti mengitari
dirinya dari seluruh penjurunya, laksana gelang mengitari pergelangan tangan
sebagaimana yang mereka katakan. Hal itu terepresentasi dalam bentuk mencela
pribadinya, keluarganya, kabilahnya, aliansinya, perilakunya, dan rekam jejak
jalannya. Juga pada kedudukannya dan kondisi sosialnya, pada akalnya dengan
menuduhnya bodoh (safah), gila, tidak berilmu, sesat, dan dusta. Pada
target dan tujuannya dengan menuduh bahwa ia menginginkan kepemimpinan,
berusaha meraih kekuasaan, jabatan, gengsi, dan otoritas. Pada amanahnya dengan
mengatakan bahwa ia adalah agen (antek) atau mata-mata yang bekerja
untuk kepentingan musuh atau pihak asing, serta sifat-sifat lain yang
dipilihkan indikasi, dalil, dan saksi-saksinya agar orang awam tertipu, orang
berakal menjadi ragu, orang ikhlas menjadi putus asa, orang bersemangat menjadi
tertekan, dan para aktivis menjadi binasa.
Kita
melihat Al-Qur'an menceritakan kepada kita tentang celaan dan kedustaan yang
diluncurkan oleh kaum musyrik kepada Rasulullah ﷺ, serta kepada para nabi dan rasul—semoga
selawat Allah dan salam-Nya tercurah kepada mereka semua—sebagai berikut:
1.
Keyatiman dan Kemiskinan
Mereka
berkata tentang Rasulullah ﷺ
bahwa beliau adalah seorang yatim yang miskin: "Mengapa Al-Qur'an ini
tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dari dua negeri ini
(Mekah dan Taif)?" Demikian pula dikatakan kepada para nabi: "Bagaimana
mungkin ia memiliki kekuasaan atas kami, padahal kami lebih berhak
mengendalikan kekuasaan daripada dia, dan dia tidak diberi kelapangan
harta?"
2.
Abhtar (Terputus Keturunannya)
Dikatakan:
abhtar, tidak memiliki keturunan lelaki setelahnya. Para ahli tafsir
berkata: Anak lelaki terbesar Rasulullah ﷺ adalah Al-Qasim, kemudian Zainab, kemudian
Abdullah, kemudian Ummu Kultsum, kemudian Fatimah, kemudian Ruqayyah. Maka
Al-Qasim 'Alaihissalam wafat, dan ia adalah anak pertama yang wafat dari
anak-anak beliau di Mekah. Kemudian Abdullah 'Alaihissalam wafat, maka
Al-'Ash bin Wa'il al-Sahmi berkata: "Keturunannya telah terputus, maka
ia adalah abhtar (terputus keturunannya)." Maka Allah Ta'ala
menurunkan firman-Nya: "Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad)
nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.
Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat
Allah)."( Tafsir al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, juz 30, hlm. 317, Dar al-Fikr
- Beirut)
3.
Gila, Puisi, Sihir, dan Keadunan (Dukun)
"Dan
mereka berkata, 'Wahai orang yang kepadanya diturunkan Al-Qur'an, sesungguhnya
engkau benar-benar orang gila.'" (QS. Al-Hijr: 6).
Dan
mereka berkata:
"Demikianlah,
tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka,
melainkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyihir atau orang
gila.'" (QS. Az-Zariyat: 52).
"Maka
berilah peringatan, karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah
seorang tukang tenung dan bukan pula seorang orang gila." (QS. At-Thur:
29).
"Atau
mereka berkata, 'Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.' Sebenarnya dia telah
membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka membenci kebenaran
itu." (QS. Al-Mu'minun: 70).
"Sesungguhnya
(Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia
(Jibril), dan ia bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu
beriman. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil
pelajaran. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam." (QS.
Al-Haqqah: 40-43).
Sangat
aneh urusan orang-orang ini. Sungguh para rasul telah tinggal di tengah-tengah
mereka dalam kurun waktu yang sangat lama sebelum datangnya risalah, namun
mereka tidak pernah menuduh para rasul dengan sesuatu pun. Bahkan, dahulu para
rasul menjadi objek penghormatan, pengagungan, simbol akal sehat, ketenangan,
amanah, kecerdasan, serta reputasi dan rekam jejak yang baik. Namun, ketika
petunjuk ini telah sempurna dengan risalah dan Allah telah menyempurnakan
cahaya-Nya dengan wahyu, seketika itu mereka berubah menjadi orang-orang gila,
penyihir, dukun, dan penyair.
Padahal
sudah seharusnya urusan itu diukur dengan hal-hal yang serupa dan dikembalikan
kepada asalnya; orang yang berakal, cerdas, lagi amanah di waktu kecilnya,
pastilah di waktu besarnya ia menjadi orang yang dewasa, paling kuat akalnya,
paling lurus jalannya, dan paling tepat hidayah yang dicari. Inilah hal yang
diarahkan oleh Al-Qur'an al-Karim kepada orang-orang tersebut melalui
firman-Nya: "Maukah Aku kabarkan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu
turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berbuat dosa."
(QS. Asy-Syu'ara': 221-222). Dan apa yang diarahkan oleh firman-Nya: "Dan
penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau
melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan
apa yang tidak mereka perbuat?" (QS. Asy-Syu'ara': 224-226).
Artinya,
setan-setan itu tidak akan turun, berinteraksi, atau mengadakan kontak dalam
bentuk bantuan dan kesepakatan melainkan atas orang-orang yang serupa dengan
mereka dari kalangan setan-setan manusia yang berdosa, berdusta, lagi
membuat-buat fitnah. Adapun para nabi, pembawa petunjuk, dan orang-orang
ikhlas, sesungguhnya mereka dibantu dengan cahaya wahyu, sinar hidayah, dan
taufik dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Demikian pula para pengikut rasul,
sahabat nabi, dan kaum penolong (hawariyyun) hidayah; mereka mengambil
berkah dari lentera mereka, mengambil petunjuk dengan hidayah mereka, dan
berjalan di atas manhaj mereka. Ruh-ruh itu ibarat pasukan yang dikerahkan;
mana yang saling mengenal niscaya akan bersatu, dan mana yang saling asing
niscaya akan berselisih. "Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki
yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula),
sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan
laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)..."
(QS. An-Nur: 26).
Inilah
apa yang wajib dipahami oleh pemilik akal sehat, ahli pikir, dan orang-orang
yang bijaksana. Adapun para pemilik jiwa yang sakit, pemahaman yang cacat, dan
cita rasa yang lumpuh; adapun para pengintai yang mendendam lagi jatuh
martabatnya, sesungguhnya mereka memiliki urusan lain dan ufuk yang berbeda
yang dicirikan oleh kejatuhan, kebodohan, dan kekakuan, serta disifati dengan
kehinaan dan pengubahan hakikat kepada kebalikannya.
Maka
Anda melihat mereka menyifati orang-orang genius sebagai orang gila, menyifati
pembawa petunjuk sebagai penyihir, dan menyifati para hamba yang ikhlas sebagai
dukun, serta sifat-sifat menyimpang lainnya. "Pemuka-pemuka yang kafir
dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang engkau benar-benar berada
dalam kebodohan, dan sesungguhnya kami yakin engkau termasuk orang-orang
pendusta.' Dia (Hud) berkata, 'Wahai kaumku! Tidak ada kebodohan padaku, tetapi
aku adalah seorang rasul dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan kepadamu
risalah-risalah Tuhanku dan aku bagimu adalah seorang pemberi nasihat yang
terpercaya.'" (QS. Al-A'raf: 65-68 [teks asli menuliskan Ibrahim
10-11, namun yang benar adalah Al-A'raf 65-68]).
4.
Berbuat Kerusakan di Bumi (Al-Ifsadu fil Ardh)
Kisah
tentang tuduhan berbuat kerusakan di bumi dan tuduhan memicu fitnah termasuk di
antara kisah yang paling aneh yang pernah didengar di masa lalu maupun masa
kini. Dan yang menakjubkan adalah bahwa kisah-kisah dan ucapan-ucapan ini
meluncur dari lisan para perusak yang paling kejam, dan dari lisan orang-orang
zalim yang paling melampaui batas—guna menyerang manusia yang paling suci,
paling utama, dan paling saleh dari kalangan para nabi, pembawa petunjuk, dan
dai menuju kebajikan. Seseorang hampir saja kehilangan akalnya karena takjub
dan bingung, saat mendengar ucapan ini keluar misalnya dari lisan Firaun dan
dari lisan setiap sosok firaun di sepanjang zaman dan masa, mereka yang
membunuhi manusia dan meminum darah siang malam, mereka yang melanggar batasan
suci dan menghalalkan manusia pagi petang.
Mari
kita perhatikan pemandangan ini untuk melihat siapa sebenarnya perusak dan
siapa yang mengadakan perbaikan, siapa yang melampaui batas dan siapa yang
bersabar lagi ikhlas mencari pahala: "Sesungguhnya Firaun telah berbuat
sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dia menindas
segolongan dari mereka, dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan
hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat
kerusakan." (QS. Al-Qashash: 4).
Dan
kita lihat pemandangan lain bagi Firaun dan para pembesarnya: "Dan
pemuka-pemuka dari kaum Firaun berkata, 'Apakah engkau akan membiarkan Musa dan
kaumnya untuk berbuat kerusakan di bumi dan meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu?'
(Firaun) berkata, 'Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan
hidup anak-anak perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas
mereka.' Musa berkata kepada kaumnya, 'Mohonlah pertolongan kepada Allah dan
bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa
yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik bagi
orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-A'raf: 127-128).
Kezaliman,
kelampauan batas, kebodohan, teror, dan genosida (pembantaian massal). Namun,
ketika Musa datang membawa petunjuk, akal sehat, kebahagiaan, dan keamanan,
dialah yang dituduh sebagai perusak yang melampaui batas, penegak fitnah, dan
provokator pembangkangan. Sekiranya Musa melakukan hal itu dalam menghadapi
genosida yang zalim lagi membinasakan ini, niscaya itu sudah selayaknya bagi
beliau dan menjadi salah satu metode menolak kezaliman. Akan tetapi, beliau
mengatakan kepada kaumnya hal yang berbeda dari itu, beliau mengambil jalur
keselamatan dan perdamaian mutlak: "Musa berkata kepada kaumnya,
'Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah...'" Akan tetapi,
bagaimana bisa penguasa berkata: "Musa merusak," bukankah di
dalam tindakan Musa ini terdapat kerusakan dan fitnah menurut mereka? Ya,
sesungguhnya itu adalah salah satu perkara besar yang selalu berulang dan tidak
ada yang memperhatikannya kecuali orang-orang yang berakal sehat.
Mari
kita biarkan Al-Qur'an mengisahkan kisah ini kepada kita dalam beberapa baris
kalimat, dan kita dengarkan penjelasan yang menakjubkan serta isyarat yang
mukjizat ini melukiskan kepada kita kesombongan, kebodohan, dan keangkuhan ini
dalam menghadapi hidayah Allah dan rasul-Nya: "Dan sungguh, Kami telah
mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan bukti yang nyata, kepada
Firaun, Haman, dan Qarun; maka mereka berkata, '(Dia) adalah seorang pesihir
dan pendusta.' Maka ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa kebenaran
dari sisi Kami, mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak laki-laki dari orang-orang
yang beriman bersamanya dan biarkan hidup anak-anak perempuan mereka.' Namun
tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan dalam kesesatan. Dan Firaun
berkata, 'Biarkan aku membunuh Musa dan silakan dia memohon kepada Tuhannya.
Sesungguhnya aku khawatir dia akan mengganti agamamu atau menimbulkan kerusakan
di bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan
Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada
hari perhitungan.'" (QS. Ghafir: 23-27).
Tragedi
ini terus berulang menimpa para nabi, reformis, dan dai. Tidaklah Al-Qur'an
menyebutkannya melainkan untuk menampakkan kebenaran dari kebatilan,
memperingatkan akal pikiran bahwa penilaian terhadap segala sesuatu wajib
dilakukan melalui jalur hakikat bukan melalui jalur slogan, klaim, dan
kebisingan media; serta melalui jalur penggunaan standar kebajikan dan manhaj
hidayah Rabbani, bukan dari mulut para pemilik kepentingan dan pemuja syahwat.
5.
Mencari Kepemimpinan dan Kekuasaan (Thalabu Riyasah wa Sulthah)
Sesungguhnya
kekuasaan atas massa pada hakikatnya adalah beban keletihan, tanggung jawab,
dan kelelahan, karena ia adalah amanah di seluruh aspeknya. Tidak ada yang
layak mengembannya kecuali orang yang kuat lagi amanah. Oleh karena itu,
Rasulullah ﷺ
bersabda kepada Abu Dzarr ketika ia berkata: "Wahai Rasulullah,
tidakkah engkau mempekerjakanku (memberiku jabatan)?" Beliau menepuk
pundakku dengan tangan beliau kemudian bersabda: "Wahai Abu Dzarr,
sesungguhnya engkau lemah, dan jabatan itu adalah amanah." Maka
penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya dan dibebani tugas merawat
kemaslahatan mereka serta mengurus urusan mereka, sebagaimana layaknya seorang
penggembala (ra'in). Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud telah
meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhuma,
ia berkata: *"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Amanah
ini berada di bawah pengawasan dari Allah dan dari manusia. Jika pemimpin
melenceng darinya, niscaya rakyat akan meluruskannya dengan perkataan dan
perbuatan. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ringkasannya, ia berkata:
"Kami pernah berada di sisi Umar bin al-Khaththab tiba-tiba datang seorang
lelaki dari penduduk Mesir lalu berkata: 'Wahai Amirul Mukminin, Amr bin
al-'Ash mengadakan perlombaan kuda di Mesir, maka kudaku berhasil mendahului.
Ketika manusia menyaksikannya, Muhammad bin Amr bin al-'Ash bangkit lalu
berkata: Demi Tuhan Ka'bah, ini kudaku! Aku katakan: Demi Tuhan Ka'bah, ini
kudaku! Maka ia bangkit dan memukulku dengan cambuk seraya berkata: Ambil
perlombaan ini dan aku adalah anak orang-orang paling mulia (Ibnu al-Akramin).'
Maka Amirul Mukminin memanggil Amr bin al-'Ash dan anaknya. Ketika keduanya
datang, beliau menghadirkan orang Mesir tersebut. Setelah Amirul Mukminin
mendapatkan kepastian berita, beliau berkata kepada orang Mesir: 'Peganglah
cambuk ini! Pukullah anak orang paling mulia itu!' Maka ia memukulnya. Umar
berkata kepada gubernurnya, Amr: 'Demi Allah, tidaklah anakmu memukulnya
melainkan karena modal kekuasaanmu. Wahai Amr, sejak kapan kalian memperbudak
manusia padahal ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?' Dan
beliau mengizinkan orang Mesir itu pulang seraya berkata: 'Jika engkau melihat
sesuatu hal, maka tulislah surat kepadaku."( Sirah Umar oleh Ibnul
Qayyim, hlm. 73)'"
Jika
penguasa istiqamah maka ia dipertahankan, dan jika tidak maka manusia akan
melengserkannya. Qadhi 'Iyadh berkata: "Maka sekiranya terjadi pada
dirinya—yaitu Khalifah—kekafiran, pengubahan terhadap syariat, atau bid'ah,
niscaya ia keluar dari hukum kekuasaan, gugurlah kewajiban taat kepadanya, dan
wajib bagi kaum Muslimin untuk bangkit melawannya, melengserkannya, dan
mengangkat seorang imam yang adil." Ini merupakan pembenaran bagi
hadis Rasulullah ﷺ
yang diriwayatkan oleh Ubadah bin al-Samit Radhiyallahu 'Anhu, ia
berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Akan memimpin urusan kalian setelahku para lelaki
yang mengenalkan kepada kalian apa yang kalian ingkari dan mengingkari atas
kalian apa yang kalian kenal. Maka barangsiapa yang mendapati hal itu di antara
kalian, maka tidak ada ketaatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah 'Azza
wa Jalla.'" Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan At-Thabarani, dan ia adalah
hadis sahih.
Maka
kekuasaan dan pemerintahan di atas dasar ini adalah beban-beban berat, tidak
layak dikejar oleh seseorang sekadar demi syahwat atau hawa nafsu. Melainkan,
umat harus mengangkatnya, ridha kepadanya, dan mengetahui bahwa ia akan
mengemban amanah. Karena alasan inilah Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kami tidak
menyerahkan urusan pekerjaan kami ini kepada orang yang menginginkannya."
Dan dalam sebuah riwayat: "Dan sesungguhnya kami tidak meminta bantuan
dalam pekerjaan kami kepada orang yang memintanya." (HR. Bukhari dan
Muslim).
Maka
kepemimpinan itu adalah beban yang besar dan pekerjaan yang tidak ringan bagi
orang yang menunaikan haknya.
Adapun
bagi orang yang menganggap kekuasaan sebagai rampasan keuntungan, kesenangan,
kemewahan, dan sarana eksploitasi manusia; adapun bagi orang yang memperbudak
manusia, mengeksploitasi hak-hak mereka, dan menunggangi punggung mereka;
sesungguhnya ia tidak merasakan sedikit pun dari amanah tersebut dan dari
hak-hak ini. Diilustrasikan baginya bahwa kekuasaan adalah kerajaan absolut
miliknya, dan bahwa ia adalah hak yang diraih atau warisan dari nenek moyang
yang berhak ia belanjakan dengan cara menjual atau menghibahkannya. Oleh karena
itu, setiap orang yang menyelisihi dirinya, menyeru kepada kebenaran, maju
membawa perbaikan, kritik, keluhan, atau sekadar keberatan atas sebuah
kesalahan; niscaya ia tuduh sebagai orang yang tamak pada kesenangan yang berada
di bawah tangannya ini, dan tamak pada kenikmatan yang sedang ia rasakan.
Karena
alasan ini, kita melihat bahwa para utusan Allah ketika datang membawa hidayah
untuk menyingkirkan kekafiran, kezaliman, kelampauan batas, dan agresi; mereka
dituduh dengan cepat bahwa mereka menginginkan kekuasaan dan kerajaan. Allah
Berfirman menceritakan tentang kaum Nuh:
"Maka
berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya, 'Orang ini tidak lain
hanyalah manusia seperti kamu, yang ingin mempunyai kelebihan (riyasah)
atas kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia menurunkan malaikat. Belum
pernah kami mendengar (seruan seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang
dahulu.'" (QS. Al-Mu'minun: 24).
Demikian
pula dikatakan kepada Musa 'Alaihissalam: "Mereka berkata, 'Apakah
engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati
nenek moyang kami mengerjakannya, dan agar kamu berdua mempunyai kekuasaan di
bumi?'" Dan dikatakan kepada Rasulullah ﷺ: "Dan jika engkau menginginkan
kerajaan, niscaya kami akan mengangkatmu menjadi raja atas kami."
Kalimat ini dikatakan kepada setiap pencari perbaikan dan pemilik dakwah jika
ia berada di atmosfer yang penuh sesak oleh syahwat yang menyimpang dari
kebenaran.
6.
Pengkhianatan dan Hubungan Mencurigakan (Al-Khiyanah wal Ittishal al-Masybuh)
Di
antara metode para pengikut kebatilan dalam meniupkan syubhat di sekitar dai
adalah klaim mereka bahwa ia mengadakan kontak dengan pihak asing atau dengan
kaum tertentu untuk bekerja demi kepentingan mereka, dan mereka memprovokasinya
atas apa yang ia lakukan. Mereka menuduh bahwa dai ini memiliki hubungan yang
mencurigakan yang bertujuan untuk memicu kekacauan, menyebarkan fitnah, dan
menggoyang stabilitas sistem. Makna dari hal ini adalah bahwa ia merupakan agen
pengkhianat yang ditakuti bahayanya, dan bahwa dakwahnya merupakan jalan untuk
sampai pada target-target merusak yang diincarnya. Oleh karena itu, wajib
menindak tangannya dengan keras, memperingatkan manusia darinya, dan membongkar
rencana-rencana serta tujuannya. Maka atas nama kebenaran, atas nama kebebasan,
dan atas nama umat, wajib mengantisipasi bahaya ini, memotong penyakit ini, dan
menghabisi praktik keagenan dan pengkhianatan ini.
Sumber-sumber
peniup syubhat terus-menerus mengulang-ulang kebohongan ini di telinga manusia
pagi petang, terus menyusun indikasi-indikasi yang rapuh dan dalil-dalil yang
remeh untuknya, menyebarkannya, dan meminta jajak pendapat atasnya, hingga
mereka memvisualisasikannya sebagai sebuah hakikat, menjadikannya bangunan
kokoh, dan menegakkan panji-panji untuknya.
Sebelum
itu dan setelahnya, mereka menyimpan niat jahat untuk melelahkan dai, mencemari
reputasinya, membinasakannya, dan menyingkirkannya dari jalur kebatilan.
Syubhat ini bukanlah hal yang baru; sungguh Rasulullah ﷺ telah menghadapinya,
dakwah Islam telah menghadapinya, dan Al-Qur'an al-Karim telah menyebutkannya
serta memberikan peringatan atasnya melalu firman-Nya:
"Dan
orang-orang kafir berkata, '(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang
diada-adakan oleh dia (Muhammad), dan dia dibantu oleh kaum yang lain.'
Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar. Dan mereka berkata,
'(Itu adalah) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta untuk
dituliskan, lalu didiktekan kepadanya pagi dan petang.' Katakanlah (Muhammad),
'(Al-Qur'an) itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan
di bumi. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (QS. Al-Furqan:
4-6).
Dan
di antara hal yang aneh adalah bahwa dai terkadang dituduh dengan kebalikan
dari apa yang ia dakwahkan dan apa yang ia lawan. Sebagai contoh, kita
mendengar di berbagai penjuru tanah air Islam bahwa orang-orang yang berpegang
teguh dan menyeru kepada Islam dituduh sebagai agen Israel. Padahal faktanya
adalah bahwa setiap Muslim yang beraktivitas untuk Islam dan mengemban
risalahnya, musuh nomor satunya adalah Israel karena tindakannya merampas tanah
air Islam, mengusir kaum Muslimin dari rumah-rumah mereka, mengambil harta
benda mereka, melecehkan kehormatan mereka, dan menumpahkan darah mereka. Dari
sisi lain, sesungguhnya musuh nomor satu bagi Israel adalah tipe manusia
seperti ini, mereka yang berpegang teguh dengan agama mereka, menjaga
nilai-nilai mereka, dan berjihad di jalan risalah mereka. Karena alasan inilah
Ben-Gurion, Perdana Menteri Israel, mengatakan: "Sesungguhnya hal yang
paling kami takuti adalah munculnya sosok Muhammad baru di dunia Arab."(1)
Penulis zionis, Earl Voghra, mengatakan dalam kitabnya The Covenant and the
Sword yang diterbitkan pada tahun 1965 teksnya sebagai berikut:
"Sesungguhnya prinsip yang melandasi eksistensi Israel sejak awal adalah
bahwa bangsa Arab mau tidak mau suatu hari nanti harus berinisiatif untuk
bekerja sama dengannya. Dan agar kerja sama ini menjadi mungkin, wajib
menghabisi seluruh elemen yang memberi asupan bagi perasaan permusuhan terhadap
Israel di dunia Arab, dan mereka adalah elemen-elemen kolot dari kalangan
agamawan dan para syekh."(2)
Para
musuh Islam—seluruh musuh Islam—mengetahui dengan sangat baik siapa musuh nomor
satu mereka yang wajib dibinasakan, dan apa rintangan-rintangan yang wajib
disingkirkan dari jalur mereka agar mereka mampu melumat negeri-negeri Islam
tersebut dan mengambilnya sebagai suapan yang lezat lagi gurih. Dan rintangan
nomor satu tersebut adalah: orang-orang yang berpegang teguh dengan Islam dan
para dai yang menyeru kepadanya. Maka mau tidak mau mereka harus disingkirkan
dan dibinasakan.
Seorang
perwira besar Arab yang pernah menjadi tawanan di tangan Yahudi pada tahun 1948
menceritakan bahwa panglima tentara Yahudi mengundangnya ke kantornya menjelang
pembebasannya, dan bersikap lemah lembut kepadanya dalam pembicaraan. Perwira
Mesir tersebut bertanya kepadanya: "Apakah aku boleh bertanya, mengapa
kalian tidak menyerang desa Sur Baher?"
Panglima
Israel tersebut menundukkan kepalanya dalam-dalam dalam waktu yang lama,
kemudian berkata: "Aku jawab kepadamu dengan jujur, sesungguhnya kami
tidak menyerang desa Sur Baher karena di dalamnya terdapat kekuatan besar dari
kalangan sukarelawan Muslim yang fanatik."
Perwira
Mesir tersebut terkejut, lalu segera bertanya kepadanya: "Lantas apa
masalahnya dengan hal itu? Sungguh kalian telah menyerang posisi-posisi lain
yang di dalamnya terdapat pasukan yang lebih banyak... dan dalam kondisi yang
lebih sulit!!"
Panglima
Israel menjawabnya: "Apa yang kamu katakan itu benar, akan tetapi kami
menemukan bahwa para sukarelawan dari kalangan Muslim fanatik ini berbeda dari
para pejuang reguler lainnya, mereka sangat berbeda. Pertempuran bagi mereka
bukanlah sebuah profesi yang mereka jalankan sesuai perintah yang ditujukan
kepada mereka, melainkan ia adalah sebuah hobi yang mereka terjun ke dalamnya
dengan semangat dan gairah yang gila. Dalam hal itu mereka menyerupai
tentara-tentara kami yang bertempur demi akidah yang kokoh untuk melindungi
Israel. Akan tetapi, ada perbedaan yang sangat besar antara tentara kami dengan
para sukarelawan Muslim ini; sesungguhnya tentara kami bertempur untuk
membangun sebuah tanah air tempat mereka hidup, adapun tentara sukarelawan dari
kalangan Muslim sesungguhnya mereka bertempur untuk mati. Sesungguhnya mereka
mencari kematian dengan gairah yang lebih dekat pada kegilaan, dan mereka
menerjang maju seolah-olah mereka adalah setan-setan. Sesungguhnya menyerang
orang-orang seperti mereka merupakan spekulasi besar, serupa dengan menyerang
hutan yang penuh dengan binatang buas. Dan kami tidak menyukai spekulasi yang
menakutkan seperti ini. Kemudian, sesungguhnya menyerang mereka dapat memicu
wilayah-wilayah lain untuk melawan kami lalu mereka melakukan tindakan serupa
dengan tindakan mereka, sehingga mereka merusak segala urusan atas kami, dan
terwujudlah bagi mereka apa yang mereka inginkan."
(1)
Lihat surat kabar al-Kifah al-Islami 1955 - nomor minggu kedua bulan April.
(2)
Al-Islam fi Mu'tarak al-Hadharah oleh Umar Baha' al-Amiri, hlm. 28, cetakan 1,
Dar al-Fath, Beirut, tahun 1968 M.
Perwira
Mesir tersebut terkejut mendengar jawaban panglima Israel, akan tetapi ia
melanjutkan pertanyaannya untuk mengetahui sebab nyata yang menakut-nakuti
Yahudi dari para sukarelawan Muslim ini.
Ia
berkata kepadanya: "Katakan kepadaku dengan pandangan jujurmu, apa yang
menimpa orang-orang itu hingga mereka mencintai kematian dan berubah menjadi
kekuatan raksasa yang menantang setiap hal yang masuk akal?!!"
Panglima
Israel menjawab dengan spontan: "Ia adalah agama Islam, wahai Tuan
Perwira!" Kemudian ia tergagap dan mencoba menyembunyikan jawabannya
lalu berkata: "Sesungguhnya orang-orang itu tidak mendapatkan
kesempatan sebagaimana yang diberikan kepadamu, agar mereka mempelajari urusan
dengan studi yang sadar yang membuka mata mereka pada hakikat kehidupan, dan
membebaskan mereka dari khurafat serta takhayul para pedagang agama.
Sesungguhnya mereka masih menjadi korban-korban malang bagi janji Islam kepada
mereka berupa surga yang menanti mereka setelah kematian."
Kemudian
ia melanjutkan pembicaraannya: "Sesungguhnya orang-orang fanatik dari
kalangan Muslim ini adalah ganjalan dari segala ganjalan di jalur perdamaian
yang wajib kita kerja sama atasnya, dan mereka adalah bahaya besar atas setiap
usaha yang dikerahkan untuk membangun hubungan yang sehat lagi sadar antara
kami dengan kalian." Ia melanjutkan seraya memprovokasi perwira Mesir
tersebut untuk melawan orang-orang Muslim ini: "Bayangkan, wahai
Tuanku, sesungguhnya bahaya orang-orang itu tidak terbatas atas kami saja,
melainkan ia juga merupakan bahaya atas kalian sendiri. Sebab kondisi negeri
kalian tidak akan stabil hingga orang-orang itu sirna, dan terputus
teriakan-teriakan mereka yang menyerukan jihad dan mati syahid di jalan Allah.
Logika ini menyelisihi abad kedua puluh, abad sains, Perserikatan
Bangsa-Bangsa, opini publik global, dan hak asasi manusia." Panglima
Israel menutup pembicaraannya dengan ucapannya: "Wahai Tuan Perwira, aku
bahagia dengan pembicaraan yang jujur bersamamu ini. Dan aku berharap kita
dapat bertemu pada pertemuan yang akan datang, untuk bekerja sama dalam suasana
persaudaraan yang tidak dikeruhkan atas kita oleh orang-orang fanatik dari
kalangan Muslim yang gila dengan jihad dan cinta mati syahid di jalan Allah.(
Majalah al-Muslimun - Nomor Pertama dari Jilid Kedelapan - bulan Juli tahun
1964 M, dan ringkasan Qadah al-Gharbi Yaquluna lil Jalal al-Alam, hlm. 43 dan
setelahnya)"
Setelah
semua ini dan setelah rentetan peristiwa yang berurutan, apakah Anda melihat
siapa sebenarnya yang mencurigakan dan siapa yang melaksanakan perintah para
musuh kaum Muslimin serta siapa yang berjalan di atas rencana-rencana mereka?
Sesungguhnya para musuh Islam tidak akan membiarkan kaum Muslimin tanpa fitnah,
perselisihan, atau pertikaian. Maka hendaklah semuanya waspada dan hendaklah
kaum Muslimin hidup bersaudara di bawah naungan hidayah Rabbani yang penuh
kasih sayang.
Syubhat
di Sekitar Dakwah
Tidak
ada dakwah seorang rasul pun dari para rasul yang selamat dari syubhat dan dari
celaan yang menyertai kemunculannya, dan mengiringi kemajuannya, di masa lalu
maupun masa kini. Dakwah telah dituduh di masa lalu dengan hal-hal berikut:
1.
Bid'ah dan Keluar dari Hal yang Lumrah
Mereka
keluar dari hal yang lumrah bagi manusia, tradisi mereka, dan sistem mereka.
Bahkan mereka heran bahwa datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari
kalangan mereka sendiri: "Bahkan mereka heran karena telah datang
kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri, maka
berkatalah orang-orang kafir, 'Ini adalah suatu hal yang amat aneh. Apakah
apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu
adalah suatu pengembalian yang jauh (tidak mungkin).'" (QS. Qaf: 2-3).
Dan
firman-Nya:
"Dan
dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata,
'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, padahal ia telah hancur
luluh?'" (QS. Yasin: 78).
Dan
mereka heran bahwa datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari
kalangan mereka sendiri: "Mereka heran karena telah datang kepada
mereka seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Orang-orang
kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta. Apakah dia
menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar
sesuatu yang sangat mengherankan.'" (QS. Shad: 4-5).
2.
Keluar dari Agama Nenek Moyang dan Warisan Leluhur
"Mereka
berkata, 'Apakah engkau datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja
dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka
datangkanlah azab yang engkau ancamkan kepada kami jika engkau termasuk
orang-orang yang benar.'" (QS. Al-A'raf: 70).
"Dan
demikian juga, Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad) seorang pemberi
peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di
negeri itu berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut
suatu agama dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.' (Rasul
itu) berkata, 'Apakah (kamu akan mengikuti mereka juga) sekalipun aku membawa
kepadamu petunjuk yang lebih lurus daripada apa yang kamu dapati nenek moyangmu
menganutnya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu
diutus untuk menyampaikannya.'" (QS. Az-Zukhruf: 23-24).
Sangat
aneh metode manusia seperti ini dalam menghadapi petunjuk, dan dalam menghadapi
Rasul. Tidaklah akal diberikan kepada manusia melainkan agar ia menjadi
timbangan untuk menentukan benar dan salah, maka menonaktifkannya merupakan
sebuah kejahatan. Khususnya jika manusia berada dalam kesalahan yang nyata,
lalu datang kepadanya sebuah risalah yang jelas, benar, lagi mengagumkan di
tangan seorang rasul yang amanah yang mereka sendiri mempersaksikan hal itu
bagi beliau dan mengakuinya. Lantas bagaimana bisa kebenaran ini dan cahaya ini
ditinggalkan, lalu manusia berjalan dalam keadaan mata tertutup mengikuti
sebuah adat kebiasaan yang nyata kejelekannya, tidak memiliki sandaran
melainkan perbuatan para leluhur dan nenek moyang yang telah keluar dari jalur
jalan yang lurus akibat jauhnya mereka dari petunjuk dan akibat perbuatan
setan-setan manusia dan orang-orang sesat dari kalangan hamba-hamba Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Dan
yang lebih aneh dari itu adalah keluarnya sebagian manusia hari ini dari
petunjuk yang benar dan dari jalan nenek moyang mereka yang istiqamah, menuju
cahaya akal mereka yang batil yang tidak memiliki dalil atau bukti di atasnya,
atau sekadar demi kebiasaan atau adat. Dan para utusan mereka dalam hal itu
adalah sekumpulan orang-orang pendusta dan dukun palsu yang semuanya
mempersaksikan tipu daya mereka, kebusukan mereka, dan permusuhan mereka kepada
kaum Muslimin.
3.
Dakwah yang Mengeksploitasi Penderitaan Manusia
Mereka
menuduh bahwa dakwah ini memikat kaum miskin dan orang-orang marginal (tidak
dikenal). Oleh karena itu, mereka adalah orang-orang pertama yang berusaha
mendatangi dakwah, paling banyak bergabung dengannya, dan paling kuat
mendukungnya:
"Maka
berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat engkau
(Nuh), melainkan sebagai seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak
melihat orang-orang yang mengikuti engkau, melainkan orang-orang yang hina di
antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu
kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu sebagai orang-orang
pendusta.'" (QS. Hud: 27 [teks asli menuliskan 28, namun yang benar ayat
27]).
"Mereka
berkata, 'Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal orang-orang yang hina
telah mengikutimu?' Dia (Nuh) berkata, 'Tidak ada pengetahuanku tentang apa
yang telah mereka kerjakan. Perhitungan (amal) mereka tidak lain hanyalah
kepada Tuhanku, jika kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir
orang-orang yang beriman. Aku ini tidak lain hanyalah seorang pemberi
peringatan yang nyata.'" (QS. Asy-Syu'ara': 111-115).
Sesungguhnya
dakwah Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah salah satu hukum dari hukum-hukum-Nya.
Ia laksana matahari, bulan, udara, dan air. Matahari masuk ke setiap rumah,
sama saja apakah ia berupa gubuk reyot ataupun istana yang megah. Demikian pula
bulan. Demikian pula udara; ia mengalir di setiap paru-paru, masuk ke setiap
dada, menjernihkan setiap darah, dan memberi asupan bagi setiap jasad dengan
oksigen. Akan tetapi, di sana ada kaum yang menghalangi diri mereka sendiri
dari matahari dan bulan, mereka hidup di atmosfer yang tercemar dan mencegah
udara bersih untuk merembes masuk ke dalam dada mereka. Lantas menurut Anda
siapakah yang patut dicela, siapakah yang berdosa, dan siapakah yang merugi?
Sungguh
Rasulullah ﷺ
telah membuat perumpamaan bagi petunjuk yang beliau bawa, dengan air hujan yang
turun lalu meliputi semuanya, menyirami semuanya, dan sampai kepada setiap
manusia. Di antara mereka ada yang mengambil manfaat dan memberi manfaat, di
antara mereka ada yang menjadi sebab kemanfaatan bagi orang lain saja, dan di
antara mereka ada yang tidak mengambil manfaat dan tidak pula memberi manfaat.
Beliau bersabda:
Sesungguhnya
di sana ada hati-hati yang telah diselimuti oleh dosa dan dipenuhi oleh hawa
nafsu, maka Anda melihatnya bertolak belakang dengan hidayah, menolak
kebenaran, keadilan, dan cahaya. Mahabenar Allah:
"Sekali-kali
tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.
Sekalif-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang
dari (melihat) Tuhannya." (QS. Al-Muthaffifin: 14-15).
Hati-hati
seperti ini tidak akan mampu mengemban risalah, mendakwahkannya, atau bahkan
sekadar hidup berdampingan dengannya. Kecuali jika ia membersihkan dirinya
sendiri dari kotoran dan noda-nodanya, serta merontokkan darinya sampah-sampah
dan najis-najisnya. Jika tidak, ia akan terus melihat melalui kacamata yang
kotor, gelap, lagi ternoda—menatap wahyu, pancaran risalah, dan fajar
hidayah—lalu mengira bahwa itu adalah malam yang panjang dan kegelapan yang
pekat.
Meskipun
demikian, Anda melihat hati-hati ini berubah dengan cepat menuju urusan yang
lain, yang meridai kesombongan dan keangkuhannya meskipun pada saat yang sama
hal itu mendustakan klaim pertama mereka. Anda melihat mereka meminta kepada
para pemilik dakwah agar mengusir orang-orang marginal yang miskin tersebut
agar mereka mau bergabung dengan dakwah ini, dan agar kepemimpinan serta
kedudukan terhormat berada di tangan mereka. Mereka menginginkan kepemimpinan
dan kedudukan tersebut demi kepemimpinan itu sendiri, bukan demi dakwah dan
risalah. Jika tidak demikian, niscaya mereka telah menundukkan kesombongan
mereka, meringankan keangkuhan mereka, menurunkan kepala-kepala yang mendongak
tegak tersebut, menyadari keagungan Allah yang di bawah naungan-Nya seluruh
kepala menjadi sama derajatnya, dan merasakan ikatan akidah yang dengannya
manusia berubah menjadi bersaudara.
Akan
tetapi, sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu Jahiliyah, dan
memberlakukan standar-standar Jahiliyah dalam urusan akidah dan urusan para
hamba. Padahal akidah tidak akan menang dan tidak akan mulia melainkan dengan
orang-orang yang menginginkannya demi akidah itu sendiri secara ikhlas. Adapun
orang-orang yang menginginkannya demi syahwat mereka, atau karena ia sedang
menang, agar mereka dapat memimpin para pengikut dengannya dan mencari jabatan
dengannya; sesungguhnya akidah akan menjadi malapetaka atas mereka dan mereka
menjadi malapetaka atas akidah. Karena alasan inilah Al-Qur'an memerintahkan
Rasulullah ﷺ
agar menjauh dari tipe manusia seperti ini dan mencampakkan lingkaran kemewahan
serta jabatan mereka, karena jabatan tanpa Islam merupakan nilai palsu yang
akan sirna, tidak akan kokoh tanpa ketakwaan di medan dakwah.
Imam
Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Sa'd bin Abi Waqqash Radhiyallahu
'Anhu, ia berkata: "Kami pernah berada bersama Nabi ﷺ, saat itu kami
berjumlah enam orang. Maka kaum musyrik berkata kepada Nabi ﷺ: 'Usirlah orang-orang
ini, mereka tidak berani meremehkan kami!' Sa'd berkata: 'Aku sendiri, Ibnu
Mas'ud, seorang lelaki dari kabilah Hudzail, Bilal, dan dua orang lelaki yang
aku lupa nama keduanya.' Maka terlintas di dalam jiwa Rasulullah apa yang dikehendaki
Allah untuk terlintas, lalu Allah 'Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya: 'Dan
janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang
hari, mereka mengharapkan keridhaan-Nya...'" Dikatakan bahwa ketika
mereka tidak mendapati respons atas tuntutan mereka, mereka meminta kepada
Rasul agar menjadikan bagi mereka satu hari khusus dan bagi orang-orang lemah
serta budak tersebut satu hari yang lain. Karena mereka memakai pakaian yang menebarkan
bau keringat sehingga mengganggu para tuan dari pembesar Quraisy.
Akan
tetapi mereka dilarang dari opsi yang kedua ini pula. Maka Anda melihat
Al-Qur'an setelah itu memerintahkan Rasul untuk menetap bersama orang-orang
lemah ini dan bersabar atas mereka, firman-Nya:
"Dan
bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada
pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu
berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan
janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari
mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya itu melewati batas.
Dan katakanlah (Muhammad), 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka
barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa
menghendaki (kafir) biarlah dia kafir...'" (QS. Al-Kahf: 28-29).
Ya,
bersabarlah bersama para pencari kebenaran dan pemburu iman, karena
sesungguhnya mereka tidak menginginkan dengan amal perbuatan mereka melainkan
wajah Allah Subhanahu. Di atas orang-orang yang seperti merekalah dakwah
ditegakkan dan risalah diwujudkan. Dengan kemuliaan ini, keterusterangan ini,
dan kejelasan ini, kebenaran berjalan di jalurnya sebagai nilai yang mulia,
tidak ada kebengkokan di dalamnya; kuat, tidak ada kelemahan di dalamnya; terus
terang, tidak ada basa-basi di dalamnya. Maka barangsiapa menghendaki hendaklah
dia beriman, dan barangsiapa menghendaki biarlah dia kafir. Tidaklah risalah
diturunkan untuk satu generasi manusia saja atau untuk satu kurun waktu saja,
melainkan ia adalah hidayah untuk umat yang membentang panjang, risalah yang
abadi untuk semesta alam, dan sistem yang menolak kezaliman dan agresi,
sehingga manusia di bawah naungannya menjadi sama derajatnya laksana gigi-gigi
sisir.
Ini
adalah syubhat lama yang selalu baru, karena manusia adalah manusia meskipun
penampilan atau nama-nama telah berubah. Dan di sana ada syubhat-syubhat yang
baru diciptakan di era modern, dan kebatilan akan terus membuat-buat kedustaan
selama di sana terdapat kebenaran dan kebatilan, dan selama di sana terdapat
hidayah dan kesesatan.
- Mereka mengatakan bahwa
Islam membolehkan perbudakan (al-riqq). Faktanya adalah bahwa
Islam datang mendapati perbudakan sebagai sebuah sistem yang sudah mapan
berjalan. Maka Islam menyumbat pintu-pintu masuknya, menganjurkan untuk
memerdekakan budak dan menjadikannya sebagai sarana pendekatan diri kepada
Allah Subhanahu, serta memberikan budak ini hak-hak yang setara dengan
tuannya: "Barangsiapa yang saudaranya berada di bawah tangannya,
maka hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan, memberinya
pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah ia membebaninya dengan apa
yang tidak ia mampui. Jika ia membebaninya, maka hendaklah ia
membantunya."
Beliau
bersabda: "Saudara-saudara kalian adalah pembantu kalian, maka
barangsiapa yang saudaranya berada di bawah tangannya hendaklah ia memberinya
makan dari apa yang ia makan, memberinya pakaian dari apa yang ia pakai, dan
janganlah kalian membebani mereka dengan apa yang mengalahkan mereka. Jika
kalian membebani mereka, maka bantulah mereka." Al-Qur'an telah
berwasiat tentang mereka di antara apa yang diwasiatkannya, firman-Nya: "Dan
berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil
dan hamba sahaya yang kamu miliki..." (QS. An-Nisa': 36).
Sekiranya
manusia berjalan sesuai dengan syariat Islam, niscaya perbudakan telah punah
setelah beberapa tahun yang dapat dihitung. Dan orang-orang yang menuduh Islam
dengan hal ini, justru mereka sendiri yang memperbudak bangsa-bangsa bukan
sekadar individu, dan praktik diskriminasi rasial masih terus menancapkan
kemahnya di berbagai penjuru tanah air mereka, namun mereka tidak memiliki rasa
malu.
- Mereka mengatakan bahwa
Islam adalah sistem yang menjadikan wanita bernilai setengah dari lelaki.
Faktanya adalah bahwa wanita di sepanjang sejarah selalu dizalimi
hak-haknya, karena ia adalah makhluk yang lebih lemah daripada lelaki, dan
dunia dahulu tidak berinteraksi kecuali dengan hukum kekuatan, dan sampai
sekarang pun masih demikian. Maka orang yang lemah niscaya patah sayapnya
dan dizalimi haknya, dan dunia laksana hutan rimba tempat hewan yang kuat
memangsa hewan yang lemah. Bahkan bangsa-bangsa yang lemah secara
keseluruhan, mau tidak mau harus dieksploitasi untuk kepentingan
bangsa-bangsa yang kuat. Akan tetapi Islam adalah sistem moral yang
menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, manusia di dalamnya sama
derajatnya laksana gigi-gigi sisir. Islam adalah sistem yang berbeda dari
sistem-sistem buas, kebinatangan, dan rasis tersebut.
Karena
alasan inilah wanita mengambil posisinya dalam sistem ini, ia menjadi belahan
kembar bagi lelaki, bahkan menjadi penyejuk mata baginya dan permata yang
berharga lagi terjaga di sisinya: "Wahai manusia! Bertakwalah kepada
Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah)
menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki yang banyak dan perempuan..." (QS.
An-Nisa': 1). Maka wanita adalah kesatuan yang sempurna bersama lelaki dalam
asal mula kejadian dan tempat kembali, serta kesetaraan yang sempurna dalam
eksistensi kemanusiaan. Bahkan Allah menjadikan wanita sebagai salah satu dari
tanda-tanda kebesaran-Nya Subhanahu, firman-Nya: "Dan di antara
tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu
dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang..." (QS. Ar-Rum: 21).
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan
kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa.'" (QS. Al-Furqan: 74).
Inilah
kesetaraan dalam kemuliaan. Di saat agama-agama terdahulu yang telah
dideformasi (diubah) merasa pelit untuk mengakui sifat kemanusiaan pada wanita,
dan ini merupakan pandangan para ilmuwan dan filosof di Barat sampai kurun
waktu yang dekat; di mana mereka saling berdebat tentang urusan wanita: apakah
ia memiliki ruh atau tidak memiliki ruh? Dan jika ia memiliki ruh, apakah ia
berupa ruh kemanusiaan atau ruh kebinatangan? Inilah pemikiran Barat yang
katanya maju, di saat kita mendengar Islam berfirman: "Sesungguhnya
laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin,
laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan
yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar... Allah telah menyediakan untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab: 35).
Dan
kita mendengar firman Tuhan kita: "Maka Tuhan mereka memperkenankan
permohonannya (dengan berfirman), 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal
orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan; (karena)
sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain...'" (QS. Ali
'Imran: 195). Kemudian Islam menjadikan bagi wanita hak kepemilikan finansial
yang terpisah dari lelaki; ia memiliki hartanya sendiri yang ia bebas
membelanjakannya, tidak ada hak campur tangan bagi suaminya atau walinya di
dalamnya. Kemudian nafkah atas dirinya wajib dipenuhi saat ia sebagai anak
perempuan ataupun sebagai istri; disiapkan baginya tempat tinggal, pakaian,
makanan, upah menyusui, dan pelayan jika wanita yang sepertinya biasa dilayani.
Ia tidak menanggung dari hal itu sedikit pun.
Lantas
apakah hal ini dapat disetarakan dengan wanita yang diusir dari rumahnya saat
mencapai usia enam belas tahun, wanita yang tidak memiliki hak kepemilikan
finansial, dan wanita yang tidak diberi nafkah, dll., dll.
Adapun
keberadaan dirinya mendapatkan setengah dari bagian lelaki dalam urusan warisan
(al-mirats), maka faktanya adalah bahwa Islam menyetarakan antara lelaki
dan wanita dalam urusan pemberian ('athiyyah), hibah, wasiat, dan
hal-hal yang sejenis itu. Adapun dalam urusan warisan, sesungguhnya Islam
mewajibkan nafkah atas lelaki bukan atas wanita; nafkah istri dalam hal
makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal; nafkah anak-anak dalam urusan
pendidikan, kehidupan, dan seluruh apa yang mereka butuhkan; nafkah pemberian
makan kepada keluarga, dan penanggungan denda finansial (diyat) bersama
kabilah ('aqilah) dalam kasus pembunuhan tidak sengaja (qatlu khatha')
dan menyerupai sengaja (syibhu 'amd). Maka karena alasan itulah lelaki
wajib dibantu untuk menanggung beban-beban berat ini. Dan hal ini bukan
termasuk bab pengutamaan derajat (tafdhil), melainkan termasuk bab
memperhatikan kondisi, keadaan, dan konsekuensi tanggung jawab.
Dan
masalah ini pada hakikatnya jika kita kembalikan secara hitungan matematis,
niscaya ia berada di pihak wanita lebih banyak daripada di pihak lelaki; wanita
mengambil sepertiga bagian dan ia tidak menafkahkannya sedikit pun darinya,
sedangkan lelaki mengambil dua pertiga kekayaan untuk ia nafkahkannya atas
istrinya—yaitu atas wanita—dan konsekuensi tanggung jawab. Maka siapakah yang
mendapatkan bagian lebih banyak dan siapakah yang menjadi pihak yang beruntung?
Masalah ini membutuhkan akal sehat dan keikhlasan, bukan klaim dusta.
Maka
Islam menyetarakan antara lelaki dan wanita ketika kesetaraan itu merupakan
keadilan, dan membedakan antara keduanya ketika pembedaan itu merupakan
keadilan.
- Kemudian mereka mengatakan
bahwa Islam adalah sistem yang memiliki hukuman rajam, potong tangan, dan
cambuk... hingga akhir dari kebohongan-kebohongan ini yang tidak dapat
dihitung dan tidak dapat dijumlahkan, karena semuanya adalah kedustaan,
dan kedustaan itu mengikuti hawa nafsu dan dendam, dan ia tidak akan
terputus hingga hati mereka terputus.
Akan
tetapi Islam meskipun menghadapi kebohongan-kebohongan ini, ia mengejutkan
mereka dengan daya tariknya bagi jiwa, sihirnya bagi hati, dan kehidupannya
yang terus berjalan mengekspansi, bangkit, lagi raksasa. Islam mengejutkan
mereka dengan fakta bahwa ia memiliki pilar-pilar kehidupan di masa depan yang
tidak dimiliki oleh sistem lain mana pun yang dikenal oleh umat manusia hingga
hari ini. Meskipun terdapat propaganda dan kepalsuan yang menghiasi
sistem-sistem tersebut, dan meskipun terdapat perang yang dideklarasikan atas
Islam, akidahnya, dainya, dan pemeluknya.
Syubhat
di Sekitar Orang-Orang yang Didakwahi (Mad'uwwin)
Para
musuh dakwah dan dai tidak membiarkan orang-orang yang didakwahi tanpa peniupan
keraguan atau pengguguran bagi makna-makna yang telah mereka ketahui tentang
dakwah. Mereka tidak membiarkan kekosongan antara manusia dengan para dai; di
mana manusia mendengar dari dai, meneladani mereka, dan mengamalkan dakwah
mereka. Lantas bagaimana mungkin para musuh membiarkan tanaman yang segar
tumbuh, bertunas, memiliki batang, dan membuahkan hasil? Dan bagaimana mungkin
mereka membiarkan sihir kebenaran, keindahan logika, dan hidayah Allah bekerja
di dalam hati, dan menetap di dalam dada dan sanubari? Hal ini tidak akan
terjadi, dan tidak akan lewat dalam logika mereka tanpa adanya rintangan,
rencana, atau syubhat di sana-sini.
Maka
Anda melihat mereka memukul telinga manusia, dan mengacaukan pemikiran serta
pemahaman mereka dengan kebatilan yang dihiasi, dan kebohongan yang busuk.
Karena alasan inilah kita melihat Al-Qur'an memperingatkan dari setan-setan ini
dan dari apa yang mereka sembunyikan di dalam dada mereka berupa kesesatan,
firman-Nya:
"Segolongan
dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka tidak menyesatkan
melainkan diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari. Wahai Ahli Kitab!
Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu menyaksikannya? Wahai
Ahli Kitab! Mengapa kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan
menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? Dan segolongan dari Ahli
Kitab berkata (kepada sesamanya), 'Berimanlah kamu pada apa yang diturunkan
kepada orang-orang yang beriman pada awal siang dan ingkarilah pada akhirnya,
agar mereka kembali (kepada kekafiran).'" (QS. Ali 'Imran: 69-72 [teks
asli menuliskan 68-72, namun teks ayat mulai dari ayat 69]).
Maka
kelompok sesat ini memasang jerat dan merajut konspirasi untuk menjauhkan
manusia dari kebenaran dan mengacaukan mereka, dan mereka menginfakkan untuk
hal itu waktu dan harta benda:
"Tidakkah
engkau melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari Kitab? Mereka membeli
kesesatan dan mereka menghendaki agar kamu tersesat dari jalan (yang
lurus)." (QS. An-Nisa': 44).
Maka
mereka ingin menyesatkan kaum Muslimin dengan berbagai sarana, jalan, dan tipu
muslihat. Mereka berusaha menghapus rambu-rambu hidayah dari sekitar mereka
agar tidak ada seorang pun di sekitar dakwah dan dai atau tidak ada yang
menyambutnya. Kemudian mereka mengutamakan segala sesuatu dan memperbagus
segala sesuatu meskipun sesuatu itu berupa penyembahan berhala, jibt, dan
thaghut—daripada agama kaum Muslimin dan daripada dakwah hidayah. Dan
permusuhan ini serta kecenderungan ini masih terus tumbuh subur hingga hari
ini. Maka di dunia ini terdapat banyak penyembah sapi, berhala, dan hewan hari
ini, namun tidak ada seorang pun dari orang-orang itu atau mereka yang
membodoh-bodohkan akal mereka atau mencela sembahan mereka. Dan kita mendengar
Al-Qur'an menceritakan tentang urusan yang aneh tersebut melalui firman-Nya:
"Tidakkah
engkau melihat orang-orang yang diberi bagian dari Kitab? Mereka percaya kepada
jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah),
bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman."
(QS. An-Nisa': 51).
Ibnu
Ishaq mengeluarkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Orang-orang yang
menghimpun pasukan sekutu (Ahzab) dari kaum Quraisy, Ghathafan, dan Bani
Quraizhah, adalah sekumpulan orang dari Yahudi; mereka adalah Huyayy bin
Akhtab, Salam bin al-Haqiq, Abu Rafi', Al-Rabi' bin al-Haqiq, Abu 'Amir,
Haudzah bin Qais, dan sekumpulan rabi dari rabi-rabi Yahudi. Dan sisa dari
mereka berasal dari Bani al-Nadhir. Ketika mereka mendatangi kaum Quraisy,
mereka berkata: 'Mereka ini adalah para rabi Yahudi dan ahli ilmu dengan Kitab
yang Pertama, maka tanyalah kepada mereka: apakah agama kalian yang lebih baik
ataukah agama Muhammad?' Maka mereka bertanya kepada para rabi tersebut, lalu
para rabi menjawab: 'Agama kalian lebih baik daripada agamanya, dan kalian
lebih lurus jalannya daripada dia dan dari orang yang mengikutinya.'"
Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: "Tidakkah engkau melihat
orang-orang yang diberi bagian dari Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan
thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka
itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman. Mereka itulah
orang-orang yang dilaknat Allah. Dan barangsiapa dilaknat Allah, niscaya engkau
tidak akan mendapati penolong baginya." (QS. An-Nisa': 51-52).
Dan
sungguh aneh ucapan Yahudi tersebut, bahwa agama kaum musyrik lebih baik
daripada agama Muhammad ﷺ
dan orang-orang yang bersama beliau, dan bahwa kaum musyrik lebih lurus
jalannya daripada orang-orang yang beriman kepada wahyu dan hidayah. Akan
tetapi pada hakikatnya hal itu tidak aneh bagi Yahudi dan sekutu-sekutu mereka
dari kalangan musuh kebenaran, karena sesungguhnya mereka hanyalah beraktivitas
demi ketamakan mereka yang tidak pernah berakhir, hawa nafsu mereka yang tidak
pernah padam, dan dendam mereka yang tidak pernah sirna. Kekafiran itu
seluruhnya adalah satu agama (millah), dan kekafiran serta kesesatan
tidak akan pernah mendapati di sisi kebenaran dan pengembannya adanya bantuan
sedikit pun dalam urusan ketamakan, hawa nafsu, dan dendam mereka. Melainkan
mereka selalu mendapati kemenangan dan bantuan di sisi para pengikut kebatilan.
Kondisi
ini bersifat permanen dan sebab terjadinya pun mapan tegak. Mereka mengatakan
hari ini dan esok, bahwa mereka akan mendistorsi dengan sarana-sarana
propaganda yang berada di tangan mereka setiap gerakan Islam yang sukses di
muka bumi, membantu kebatilan untuk melawannya, meniupkan syubhat di
sekitarnya, dan memfitnah manusia di sekitarnya untuk mendistorsinya dan
menghancurkannya. Serta bahwa mereka akan meminta bantuan dengan setiap
kebatilan dan kebatilan akan membantu mereka, dan meminta pertolongan dengan
setiap orang yang menyimpang dan ia akan menolong mereka; dengan harapan mereka
mampu menghabisi kebenaran, pengembannya, dan dainya. Dan Allah berkuasa atas
urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Para
pemilik syubhat selalu memakai jubah para rahib, dan pakaian para pemberi
nasihat yang mengkhawatirkan kondisi manusia, mengkhawatirkan maslahat mereka,
dan keuntungan mereka sebagaimana yang mereka klaim. Maka mereka mengatakan
bahwa mereka begadang demi kenyamanan manusia, terjaga demi ketenteraman
mereka, bersedih karena kesedihan mereka, dan bahagia karena kebahagiaan
mereka. Mereka masuk dengan cara ini ke dalam jiwa manusia bahwa mereka adalah
para pemberi nasihat yang wajib didengar ucapannya, pemilik pemikiran yang
wajib dipasrahkan kepadanya, dan ahli keikhlasan yang wajib berjalan di
belakangnya.
Oleh
karena itu, jika mereka menyeru manusia kepada sesuatu hal, niscaya manusia
harus keluar dengan cepat menyambutnya dalam keadaan terengah-engah, seraya
memuji dan bersyukur, karena seruan ini dan dakwah tersebut tidak dimaksudkan
melainkan demi kemuliaan mereka, kebahagiaan mereka, kesejahteraan mereka, dan
penjagaan atas keyakinan mereka, warisan mereka, peninggalan nenek moyang
mereka, keagungan umat mereka, dan kehormatan bangsa mereka, dll., dll. Karena
alasan inilah kita melihat para pemilik kebohongan, kedustaan, penipuan,
kecurangan, kelampauan batas, dan penindasan mengolok-olok akal manusia dan
pemahaman mereka, serta memprovokasi massa melawan kebenaran dan pengembannya.
Kita melihat mereka di dalam Al-Qur'an memprovokasi massa melawan Ibrahim
'Alaihissalam untuk membunuhnya dan membakarnya demi membela bangunan-bangunan
yang runtuh ini dan membela kebatilan yang mapan ini; bukan demi agama mereka
sebagaimana yang mereka klaim, dan bukan demi tuhan-tuhan mereka sebagaimana
yang mereka tampakkan. Karena berhala-berhala itu adalah benda-benda yang tidak
memberi manfaat atau mendatangkan mudarat, melainkan ia hanyalah tirai dan
kabut yang menutupi kezaliman orang-orang tersebut, syahwat mereka, dan hawa
nafsu mereka. Dan Al-Qur'an menceritakan pemandangan yang aneh ini melalui
firman-Nya:
"
Mereka berkata, “Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu
benar-benar hendak berbuat.'" (QS. Al-Anbiya': 68).
Bantulah
batu-batu dengan cara membunuh para nabi dan membunuh hidayah. Sungguh sebuah
malapetaka yang aneh, dan kesesatan yang jauh. Orang-orang yang lalai mengira
bahwa ini adalah jalan untuk membunuh kebenaran, menjauhkan hidayah, dan
mengokohkan kebatilan; namun mereka melupakan kekuatan kebenaran, kekuatan Dzat
Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa, wibawa hidayah, cahaya risalah, dan sinar pagi
hari dalam firman-Nya Ta'ala:
"Kami
(Allah) berfirman, 'Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan keselamatan bagi
Ibrahim.' Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami
menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi." (QS. Al-Anbiya':
69-70).
Bagaimana
bisa batu-batu berubah menjadi tuhan-tuhan? Demikianlah para tuan menghendaki
agar keinginan mereka menjadi kehendak mutlak.
Dan
bagaimana bisa demi batu-batu itu para nabi dan rasul dibakar, hidayah terbenam
dan meleleh di dalam jilatan api neraka? Dan bagaimana bisa bangsa-bangsa
tersebut bersegera berkumpul bersama, patuh seraya menundukkan kepala, tidak
mendengar adanya keberatan, perselisihan, pengingkaran, atau bahkan sekadar
berpaling? Apakah tidak ada di antara mereka seorang lelaki yang rasyid
(cerdas)?!! Sesungguhnya ia adalah propaganda yang matang, penjinakan yang
lihai, perbudakan yang melumat, dan penghinaan yang mematikan.
Dan
Anda mendengar penipuan yang sama dan kesesatan yang sama keluar dari lisan
Firaun, lingkaran dalamnya, dan para pembantunya dalam menghadapi Musa dan
memusuhinya: ketika Musa mendebatnya, dan para pesihir beriman ketika sinar
mukjizat menyilaukan mereka, Firaun berkata: "Sesungguhnya (perbuatan)
ini adalah suatu tipu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini,
untuk mengeluarkan penduduknya darinya; maka kelak kamu akan mengetahui
(akibatnya). Pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang, kemudian
pasti akan aku salib kamu semuanya." (QS. Al-A'raf: 123-124). Artinya
bahwa hidayah dan pengikutan kepada Musa merupakan sebuah konspirasi atas
manusia dan atas kota, serta bentuk pemikatan terhadap akal manusia untuk
menyeret mereka menuju kerusakan, meninggalkan rumah-rumah dan menghancurkannya.
Di dalam tindakan ini terdapat perusakan terhadap ekonomi, penghentian
aktivitas tenaga kerja, pengetiman anak-anak, pemutusan hubungan keluarga,
pemisahan antara suami dan istrinya, dan dakwah untuk membenci tanah air, serta
pengalihan loyalitas darinya menuju pihak yang lain.
Hingga
daftar-daftar lain yang dipersiapkan untuk menipu manusia, memprovokasi mereka,
dan membakar emosi mereka melawan hidayah dan melawan para dai yang menyeru
kepadanya. Dengan maksud menimbulkan fitnah dan mencari takwilnya dari tujuan
aslinya yang dimaksudkan darinya, yaitu menjaga kebatilan dan pengikutnya serta
menghancurkan kebenaran dan pengembannya. Dan mereka merancang tipu daya dan
Allah merancang tipu daya, dan Allah adalah sebaik-baik perancang tipu daya.
Pembahasan
Kelima
Sikap
Da'i Terhadap Syubhat [Kerancuan Berpikir/Tuduhan Palsu]
Tidak
diragukan lagi bahwa syubhat membentuk rintangan-rintangan di hadapan seorang
da'i, meletakkan hambatan-hambatan di jalurnya, dan menyebabkan rasa sakit
secara psikologis yang tidak boleh diremehkan. Meskipun dampak ini berbeda-beda
antara satu tempat dengan tempat lain, dan antara satu da'i dengan da'i lainnya
berdasarkan situasi, kondisi lingkungan yang mengelilinginya, serta
kedudukannya di tengah kaumnya, namun secara umum syubhat tersebut menyebabkan
kepedihan, kebingungan, dan pencemaran opini publik terhadap sang da'i.
Sesungguhnya
masyarakat tidak akan pernah sepi dari orang-orang yang berjiwa lemah,
orang-orang munafik, dan orang-orang jahil yang membentuk kelompok massa yang
gemar menikmati syubhat-syubhat semacam ini, lalu menjelma menjadi
corong-corong yang menyuarakan kebohongan tersebut.
Ambillah
contoh Rasulullah ﷺ
di tengah kaum dan para sahabat beliau. Kedudukan beliau di antara mereka
tidaklah tersembunyi, dan kecintaan manusia kepada Rasulullah ﷺ pun tidak pernah
tertutupi. Walaupun demikian, sebuah rumor tetap bisa berembus, kedustaan
disebarkan, dan syubhat diembuskan, sehingga Anda akan menemukan di tengah kaum
itu ada orang-orang yang mengunyahnya, mengulang-ulangnya, dan ikut
menyebarluaskannya.
Contohnya
adalah peristiwa Haditsul Ifki (berita bohong) yang terjadi dalam urusan
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Berita ini dilemparkan oleh
gembong kebohongan dan fitnah dari kalangan kaum munafik dengan tujuan
menyakiti Rasulullah ﷺ
dan mencemarkan nama baik beliau. Sebagian orang mukmin yang teperdaya pun ikut
hanyut di dalamnya, seperti Misthah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah
binti Jahsy.
Peristiwa
ini telah menguras banyak hal dari jiwa-jiwa paling suci dalam sejarah umat
manusia seluruhnya, serta menimpakan kepedihan yang tak tertahankan. Peristiwa
ini juga menuntut seluruh umat Islam melewati sebuah ujian yang paling berat
dalam sejarahnya yang panjang, serta melanda hati orang-orang besar dengan
kebingungan, keraguan, dan kecemasan. Peristiwa ini mengguncang hati Rasulullah
ﷺ, hati Aisyah radhiyallahu
'anha, hati Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, dan hati Shafwan bin
al-Mu'aththal. Fitnah tersebut melanda mereka dengan kecemasan, kepedihan, dan
kesedihan yang tak tertahankan selama satu bulan penuh. Mengapa demikian?
Karena fitnah ini menyasar rumah tangga kenabian yang suci lagi mulia; menyasar
kehormatan Rasulullah ﷺ,
manusia paling mulia di sisi Allah dan di mata umat Islam; menyasar kehormatan
Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, manusia paling mulia di mata kaum muslimin
setelah Rasulullah; serta menyasar kehormatan seorang sahabat pria, Shafwan bin
al-Mu'aththal, yang mana Rasulullah dan kaum muslimin tidak pernah mengetahui
darinya melainkan melulu kebaikan.
Untuk
memberikan gambaran yang jelas mengenai kisah ini:
Imam
Ahmad mengeluarkan riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
jika hendak keluar untuk melakukan suatu perjalanan, beliau mengundi di antara
para istrinya. Maka, siapa saja di antara mereka yang keluar undiannya,
Rasulullah ﷺ
akan keluar bersamanya. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Maka beliau
mengundi di antara kami dalam sebuah peperangan yang beliau ikuti, lalu
keluarlah undian namaku. Aku pun keluar bersama Rasulullah ﷺ, dan peristiwa itu
terjadi setelah turunnya ayat hijab. Aku dibawa di dalam sekedupku [tandu di
atas unta] dan diturunkan bersama sekedup itu.
Kami
terus berjalan hingga ketika Rasulullah ﷺ telah selesai dari peperangannya tersebut
dan kembali pulang. Saat kami telah dekat dengan Madinah, beliau mengumumkan
pada suatu malam untuk melanjutkan perjalanan. Aku pun bangkit ketika mendengar
pengumuman itu, lalu berjalan hingga melewati batas pasukan. Setelah aku
menyelesaikan hajatku, aku kembali menuju tempat pemberhentianku. Aku meraba
dadaku, ternyata kalungku yang terbuat dari manik-manik Zhafar [nama
kota di Yaman] telah terputus. Maka aku kembali untuk mencari kalungku, dan
pencarian itu menahanku.
Sementara
itu, rombongan orang yang bertugas menyiapkan tanduku datang, lalu mereka
mengangkat sekedupku dan menaikkannya ke atas unta yang biasa aku tunggangi.
Mereka menyangka bahwa aku berada di dalamnya. Aisyah berkata: Pada masa itu
kaum wanita bertubuh ringan, tidak gemuk, dan tidak tertutup oleh daging
(lemak), karena mereka hanya memakan sedikit makanan. Oleh karena itu,
orang-orang tidak menaruh curiga terhadap ringannya sekedup tersebut saat
mereka mengangkat dan membawanya, apalagi aku saat itu adalah seorang gadis
yang masih belia.
Maka
mereka mengalihkan unta itu lalu berangkat berjalan. Aku baru menemukan
kalungku setelah pasukan itu berlalu pergi. Ketika aku mendatangi tempat
pemberhentian mereka, di sana sudah tidak ada lagi orang yang memanggil ataupun
menjawab. Maka aku menuju ke tempat istirahatku semula, dan aku menyangka bahwa
orang-orang akan menyadari kehilanganku lalu kembali kepadaku.
Tatkala
aku sedang duduk di tempatku, mataku terasa berat lalu aku tertidur. Sementara
itu, Shafwan bin al-Mu'aththal as-Sulami adz-Dzakwani berada di belakang
pasukan untuk beristirahat di akhir malam. Ia lalu berjalan di sisa malam dan
sampai di tempatku pada pagi hari. Ia melihat bayangan hitam seseorang yang
sedang tidur, lalu ia mendatangiku dan mengenaliku saat melihatku. Ia memang
pernah melihatku sebelum ayat hijab turun.
Aku
pun terbangun karena ucapan istirja' [kalimat Inna lillahi wa inna
ilaihi raji'un] yang diucapkannya saat mengenalku. Maka aku segera menutup
wajahku dengan jilbabku. Demi Allah, ia tidak mengajakku bicara sepatah kata
pun, dan aku tidak mendengar darinya satu kalimat pun selain ucapan istirja'-nya
tersebut, hingga ia menderumkan tunggangannya lalu menginjak kaki depan unta
itu. Aku pun menungganginya, lalu ia berjalan menuntun tunggangan yang
membawaku hingga kami mendatangi pasukan setelah mereka berhenti beristirahat
di tengah terik siang.
Maka
binasalah orang yang binasa dalam urusanku ini, dan orang yang mengambil porsi
terbesar dalam menyebarkan kebohongan ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.
Kemudian
kami tiba di Madinah, lalu aku jatuh sakit selama satu bulan sejak kedatangan
kami, sementara orang-orang sedang ramai memperbincangkan ucapan para penyebar
berita bohong tersebut, sedangkan aku tidak menyadari sedikit pun tentang hal
itu. Namun, ada hal yang meragukanku saat aku sakit, yaitu aku tidak melihat
kelembutan dari Rasulullah ﷺ
yang biasa aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Rasulullah ﷺ hanya masuk,
mengucapkan salam, kemudian bertanya: "Bagaimana keadaan kalian (wanita
itu)?" Itulah yang membuatku ragu, namun aku tetap tidak menyadari
adanya keburukan, hingga aku keluar setelah masa penyembuhanku.
Ketika
itu, Ummu Misthah keluar bersamaku menuju Al-Manashid' [tempat buang
hajat], dan itu adalah tempat buang hajat kami. Kami tidak keluar melainkan
dari malam ke malam, dan hal itu terjadi sebelum kami membuat tempat buang
hajat di dekat rumah-rumah kami. Kebiasaan kami saat itu sama seperti kebiasaan
orang Arab terdahulu dalam hal membuang hajat di padang terbuka, karena kami
merasa terganggu jika membuat tempat buang hajat di dalam rumah-rumah kami.
Maka
aku berangkat bersama Ummu Misthah, ia adalah putri Abu Ruhm bin al-Muththalib
bin Abdi Manaf, dan ibunya adalah putri Shakhr bin Amir, bibi Abu Bakar
ash-Shiddiq, sedangkan putranya adalah Misthah bin Utsatsah bin Abdul
Muththalib. Aku dan putri Abu Ruhm (Ummu Misthah) berjalan menuju rumahku
setelah kami selesai dari urusan kami. Tiba-tiba Ummu Misthah tersandung kain
mantelnya, lalu ia berkata: "Celakalah Misthah!" Maka aku
berkata kepadanya: "Buruk sekali apa yang kamu katakan! Apakah kamu
mencerca seorang pria yang telah ikut serta dalam Perang Badar?" Ia
berkata: "Wahai gadis lugu, apakah kamu belum mendengar apa yang telah
ia katakan?" Aku bertanya: "Apa yang telah ia katakan?"
Aisyah melanjutkan: Maka ia mengabarkan kepadaku tentang ucapan para penyebar
berita bohong (Ahlul Ifki). Mendengar hal itu, penyakitku pun bertambah
di atas penyakitku yang sudah ada. Tatkala aku kembali ke rumahku, Rasulullah ﷺ masuk lalu bertanya: "Bagaimana
keadaan kalian (wanita itu)?" Maka aku berkata: "Izinkan aku
untuk mendatangi kedua orang tuaku." Aku saat itu ingin memastikan
kebenaran berita tersebut dari pihak keduanya, maka beliau mengizinkanku.
Aku
pun mendatangi kedua orang tuaku, lalu aku bertanya kepada ibuku: "Wahai
ibuku, apa yang sedang diperbincangkan oleh orang-orang?" Ibuku
menjawab: "Wahai putriku, ringankanlah urusan ini atas dirimu. Demi
Allah, jarang sekali ada seorang wanita cantik yang berada di sisi seorang pria
yang mencintainya, dan ia memiliki madu-madu (istri-istri lain) melainkan
mereka akan memperbanyak cerita miring tentangnya." Aku berkata: "Subhanallah!
Apakah benar orang-orang telah memperbincangkan hal ini?" Aisyah berkata:
Maka aku menangis pada malam itu hingga pagi hari, air mataku tidak pernah
berhenti berlinang dan mataku tidak bisa terpejam oleh tidur. Kemudian pada
pagi harinya aku masih terus menangis. Sementara itu, Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abi
Thalib dan Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu ketika wahyu tidak kunjung
turun, untuk meminta pendapat keduanya mengenai kemungkinan menceraikan
istrinya.
Aisyah
berkata: Adapun Usamah, ia memberikan pendapat kepada beliau berdasarkan apa
yang diketahuinya tentang kesucian istri beliau, dan berdasarkan rasa kasih
sayang yang ada di dalam dirinya terhadap mereka. Usamah berkata: "Mereka
adalah istrimu, wahai Rasulullah, dan demi Allah, kami tidak mengetahui tentang
mereka melainkan melulu kebaikan." Adapun Ali bin Abi Thalib, ia
berkata: "Wahai Rasulullah, Allah tidak memberikan kesempitan kepadamu,
dan wanita selain dia masih banyak. Tanyakanlah kepada budak perempuan itu
[Barirah], niscaya ia akan berkata jujur kepadamu." Aisyah berkata:
Maka Rasulullah ﷺ
memanggil Barirah, lalu beliau bertanya: "Wahai Barirah, apakah kamu
melihat sesuatu yang meragukanmu darinya?" Barirah menjawab: "Tidak,
demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai seorang Nabi. Aku tidak
pernah melihat padanya suatu urusan yang aku cela darinya lebih dari bahwa ia
adalah seorang gadis belia yang tertidur di dekat adonan tepung keluarganya,
lalu datanglah hewan ternak (kambing) kemudian memakannya."
Aisyah
berkata: Maka Rasulullah ﷺ
bangkit pada hari itu juga, dan meminta pertanggungjawaban atas sikap Abdullah
bin Ubay bin Salul. Beliau bersabda saat berada di atas mimbar:
مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ
رَجُلٍ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي أَهْلِي، فَوَاللهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي
إِلَّا خَيْرًا، وَلَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلًا مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا،
وَمَا كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا مَعِي
Artinya:
"Siapakah yang mau membelaku dari seorang pria yang gangguannya telah
sampai kepadaku terkait urusan keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui
tentang keluargaku melainkan kebaikan. Dan sungguh mereka telah menyebut-nyebut
seorang pria yang aku tidak mengetahui darinya melainkan kebaikan, dan tidaklah
ia masuk menemui keluargaku melainkan bersamaku."
Aisyah
berkata: Maka Saad bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu bangkit lalu berkata: "Wahai
Rasulullah, demi Allah akulah yang akan membelamu darinya. Jika ia berasal dari
suku Aus, maka kami akan memenggal lehernya. Dan jika ia berasal dari
saudara-saudara kami dari suku Khazraj, maka laksanakanlah perintahmu kepada
kami terhadapnya." Mendengar hal itu, Saad bin Ubadah radhiyallahu
'anhu—ia adalah pemimpin suku Khazraj, seorang pria yang saleh, namun ia
terlanjur dikuasai oleh rasa kesukuan—bangkit lalu berkata kepada Saad bin
Mu'adz: "Kamu berbohong, demi umur Allah! Kamu tidak akan membunuhnya
dan kamu tidak akan mampu melakukan hal itu." Maka bangkitlah Usaid
bin Hudhair radhiyallahu 'anhu—ia adalah sepupu Saad bin Mu'adz—lalu
berkata kepada Saad bin Ubadah: "Kamu berbohong, demi umur Allah! Kami
benar-benar akan membunuhnya, karena sesungguhnya kamu adalah seorang munafik
yang membela kaum munafik." Maka bergejolaklah kedua suku tersebut,
yaitu Aus dan Khazraj, hingga mereka hampir saja saling membunuh, sementara
Rasulullah ﷺ
masih berada di atas mimbar. Beliau terus berusaha menenangkan mereka hingga
mereka diam dan beliau pun turun.
Aku
terus menangis pada hari itu, air mataku tidak pernah berhenti berlinang dan
mataku tidak bisa terpejam oleh tidur. Kemudian aku menangis lagi pada malam
berikutnya, air mataku tidak kunjung berhenti berlinang dan mataku tidak bisa
terpejam oleh tidur. Kedua orang tuaku mendapati diriku dalam keadaan telah
menangis selama dua malam dan satu hari, sampai-sampai aku menyangka bahwa
tangisan itu akan membelah hatiku.
Tatkala
keduanya sedang duduk di dekatku sementara aku terus menangis, tiba-tiba
seorang wanita dari kaum Ansar meminta izin, lalu aku mengizinkannya. Ia pun
duduk menangis bersamaku. Saat kami berada dalam kondisi yang demikian,
tiba-tiba Rasulullah ﷺ
masuk menemui kami, lalu beliau duduk. Beliau tidak pernah duduk di dekatku
sejak hari pertama diucapkannya apa yang diucapkan sebelum itu. Beliau telah
tinggal selama satu bulan tanpa ada wahyu yang diturunkan kepada beliau
mengenai urusanku sedikit pun.
Beliau
membaca syahadat ketika duduk, kemudian bersabda: "Amma ba'du.
Sesungguhnya telah sampai kepadaku darimu berita begini dan begitu. Jika kamu
berada dalam posisi berlepas diri (bersih), maka Allah Ta'ala akan
membersihkanmu. Namun jika kamu telah terlanjur melakukan suatu dosa, maka
mohonlah ampunan kepada Allah Ta'ala dan bertaubatlah kepada-Nya. Karena
sesungguhnya seorang hamba jika mengakui dosanya kemudian bertaubat, niscaya
Allah akan menerima taubatnya." Tatkala Rasulullah ﷺ telah menyelesaikan
ucapannya, air mataku langsung surut hingga aku tidak merasakan setetes pun
darinya. Maka aku berkata kepada ayahku: "Jawablah Rasulullah ﷺ atas apa yang beliau
katakan!" Ayahku menjawab: "Demi Allah, aku tidak tahu apa
yang harus aku katakan kepada Rasulullah ﷺ." Maka aku berkata kepada ibuku: "Jawablah
Rasulullah ﷺ
atas apa yang beliau katakan!" Ibuku menjawab: "Demi Allah,
aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah ﷺ."
Aisyah
berkata: Dan aku adalah seorang gadis yang masih belia, yang belum banyak
membaca Al-Qur'an. Maka aku berkata: "Sesungguhnya aku, demi Allah,
mengetahui bahwa kalian telah mendengar berita yang diperbincangkan oleh
orang-orang ini, dan berita itu telah menetap di dalam jiwa kalian serta kalian
telah membenarkannya. Maka sekiranya aku katakan kepada kalian bahwa aku
bersih—dan Allah mengetahui bahwa aku benar-benar bersih—kalian tidak akan
membenarkanku dalam hal itu. Dan sekiranya aku mengakui kepada kalian suatu
urusan—padahal Allah mengetahui bahwa aku bersih darinya—niscaya kalian akan
membenarkanku. Maka demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan bagi diriku dan
kalian melainkan seperti ayah Yusuf [Nabi Ya'qub] tatkala ia berkata: 'Maka
kesabaran yang indah (itulah yang terbaik). Dan Allah tempat memohon
pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.'"
Kemudian
aku berbalik lalu berbaring di atas tempat tidurku. Aku saat itu mengetahui
bahwa aku bersih dan bahwa Allah Ta'ala akan membersihkanku karena kesucianku.
Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka bahwa Allah Ta'ala akan
menurunkan wahyu yang terus dibaca mengenai urusanku. Urusanku di dalam diriku
sendiri terasa lebih remeh daripada sekadar Allah Ta'ala berfirman tentangku
dalam suatu urusan yang terus dibaca. Namun, aku tadinya berharap agar
Rasulullah ﷺ
melihat suatu mimpi di dalam tidurnya yang dengannya Allah Ta'ala membersihkan
namaku.
Maka
demi Allah, beliau belum beranjak dari tempat duduknya dan tidak ada seorang
pun dari penghuni rumah yang keluar, hingga Allah Ta'ala menurunkan wahyu
kepada Nabi-Nya. Beliau pun mengalami kondisi berat yang biasa menimpanya saat
wahyu turun [berupa keringat yang mengucur]. Setelah kondisi itu mengendur dari
beliau, beliau pun tertawa. Kata pertama yang beliau ucapkan adalah beliau
bersabda kepadaku: "Wahai Aisyah, pujilah Allah Ta'ala, karena
sesungguhnya Dia telah membersihkan namamu!" Maka ibuku berkata
kepadaku: "Bangkitlah menuju Rasulullah ﷺ!" Aku
menjawab: "Demi Allah, aku tidak akan bangkit menuju kepadanya dan aku
tidak akan memuji melainkan kepada Allah Ta'ala. Dialah Dzat yang telah
menurunkan pembebasanku." Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya:
"Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga).
Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu.
Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan
barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam pembuatan dan
penyebaran berita bohong itu, baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu
mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tidak
menyangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: 'Ini
adalah suatu berita bohong yang nyata.'"
(QS.
An-Nur: 11-12) hingga sepuluh ayat (An-Nur: 11-20).
Inilah
kisah yang dibawa oleh komplotan penyebar berita bohong (Usbatul Ifki).
Jadi, bukan Abdullah bin Salul seorang diri yang melepaskan fitnah ini dan
mempromosikannya, melainkan bersamanya ada sekelompok orang dari kaum munafik
dan Yahudi yang tidak mampu memerangi Islam secara terang-terangan. Maka mereka
bersembunyi di balik metode tipu daya dan pencemaran nama baik untuk merusak
Islam dan da'inya secara sembunyi-sembunyi. Peristiwa Haditsul Ifki
adalah salah satu dari tipu daya mematikan mereka.
Kemudian
sebagian kaum muslimin terpengaruh oleh mereka, lalu ikut hanyut di dalamnya
orang-orang yang ikut hanyut. Padahal, seharusnyalah bagi mereka untuk
melakukan tabayyun (konfirmasi) dan berprasangka baik terhadap kaum
mukmin laki-laki dan perempuan, serta merasa tenang karena hati yang
beriman—terutama di dalam rumah tangga kenabian—mustahil melakukan urusan keji
tersebut. Peristiwa ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi
orang-orang mukmin agar mereka selalu waspada terhadap rumor-rumor semacam itu,
dan agar mereka percaya pada keimanan mereka serta diri mereka sendiri, dan
tidak ikut hanyut bersama orang-orang yang tenggelam dalam menyebarkan syubhat
dengan tujuan mencemarkan nama baik kaum muslimin.
Sungguh,
ini adalah sebuah pertempuran yang dilalui oleh Rasulullah ﷺ, dilalui oleh
masyarakat muslim dan jamaah muslimah yang masih belia pada masa itu, serta
dilalui oleh dakwah. Rasulullah ﷺ keluar darinya sebagai pemenang yang agung, dengan melipat
luka-lukanya, menahan kepedihannya, sembari tetap menjaga kewibawaan dirinya,
kesucian ucapannya, dan kesabaran hatinya. Tidak ada riwayat yang terekam dari
beliau pada periode kritis ini—meskipun beliau ditikam pada bagian yang paling
berharga di dalam rumah tangganya—bahwa beliau melakukan suatu tindakan yang
remeh atau gegabah yang sampai memecah belah barisan jamaah mukminah atau
memalingkan mereka dari tujuannya.
Sungguh,
periode tersebut sangat kritis dan berbahaya bagi dakwah, bagi reputasinya, dan
bagi keagungannya. Bahkan, barangkali peristiwa itu termasuk di antara
kepedihan dan ujian terbesar yang dihadapi oleh dakwah Islam dalam sejarahnya.
Akan tetapi, keimanan sang pemimpin, kecerdikannya, keagungan Rasul, keimanan,
serta kesabaran beliau, jauh lebih besar dan lebih kokoh daripada ujian
tersebut. Oleh karena itulah, Allah memberikan jalan keluar dari kesempitan
ini, dan menampakkan kebenaran setelah memberikan pelajaran yang bermanfaat
namun bermakna pedih bagi jamaah muslimah, serta setelah melewati ujian yang
berat, namun berfungsi sebagai imunisasi bagi barisan dan bekal bagi mereka di
atas jalan dakwah, agar tidak terpedaya lagi oleh hal-hal semacam ini di masa
mendatang.
Maka,
sikap da'i dalam menghadapi syubhat diringkas ke dalam beberapa urusan, di
antaranya:
Apa
yang Seyogianya Dilakukan oleh Da'i:
1.
Menjauhkan Diri dari Syubhat:
Sepantasnya
bagi seorang da'i untuk menjauhkan diri dari syubhat sebisa mungkin yang ia
dapati jalan ke arah sana, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ اتَّقَى
الشُّبُهَاتِ، اسْتَبْرَأَ لِعِرْضِهِ وَدِينِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ
كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكَ أَنْ يُوَاقِعَهُ
Artinya:
"Barangsiapa yang menjaga diri dari syubhat (perkara yang samar), maka
ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan barangsiapa yang jatuh ke
dalam syubhat, maka ia seperti seorang penggembala yang menggembala di sekitar
kawasan terlarang, dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya." (Bagian
dari hadis yang disepakati kesahihannya [Muttafaqun 'Alaih]).
Maka,
barangsiapa yang menjauhkan diri dari syubhat, ia akan aman dari cacat yang
dicari-cari manusia tentangnya, membersihkan kehormatannya, berhati-hati untuk
dirinya, agamanya, serta dakwahnya, memotong jalan bagi banyak orang yang
mengintainya, menghemat banyak tenaga dan waktunya, serta bekerja untuk
menenangkan jiwa, pikiran, dan hatinya.
Dari
Abul Jauza', dari Ibnu Abbas [Teks asli menyebutkan Ibnu Al-Jauza' secara
keliru, yang benar adalah Abul Jauza' dari Ibnu Abbas, atau Abu Al-Hawra'
as-Sa'di], ia berkata: Aku bertanya kepada Al-Hasan bin Ali: "Apa yang
kamu hafal dari Rasulullah ﷺ?" Ia menjawab: Aku menghafal dari beliau sabda:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ
إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ
Artinya:
"Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak
meragukanmu." (HR. An-Nasai, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dengan sanad
yang sahih).
Hassan
bin Sinan berkata: "Aku tidak melihat sesuatu yang lebih mudah daripada
sifat warak; tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak
meragukanmu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Para
sahabat dan ulama terdahulu selalu menjauhkan diri dari syubhat, khususnya pada
masa-masa fitnah, di saat setiap kekhilafan ditakuti dan manusia selalu
menyoroti mereka. Dahulu Al-Mukhtar pernah mengirimkan hadiah-hadiah kepada
Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, lalu keduanya menerimanya. Namun, ketika Abdul Malik
bin Marwan mengirimkan sejumlah harta kepada Ibnu Umar pada masa fitnah
pertempuran melawan Ibnu az-Zubair, beliau menolak untuk menerimanya. Tatkala
fitnah tersebut telah lenyap, Abdul Malik mengirimkan lagi kepadanya, lalu
beliau menerimanya. Artinya, beliau menahan diri pada masa fitnah karena takut
akan tuduhan miring, dan agar tidak dikatakan bahwa beliau mendukung salah satu
pihak dalam fitnah tersebut. Ketika kekuasaan telah stabil dan orang-orang
mukmin telah tenang, maka syubhat itu pun hilang.
Yang
dimaksudkan dari seorang da'i dalam urusan ini adalah agar sang da'i meneliti
setiap ucapan yang ia katakan, mengetahui pintu masuk dan keluarnya, serta
dalam setiap perbuatan yang ia lakukan, ia mengetahui dampaknya dan apa saja
yang dapat diakibatkannya, atau kesulitan, beban, maupun syubhat yang diseret
oleh perbuatan tersebut.
Kami
sebutkan sebuah peristiwa kontemporer yang menimpa salah seorang ulama yang
mulia, yaitu Syekh Musthafa Abdul Raziq, seorang ulama besar yang dipersaksikan
ilmu dan keutamaannya oleh manusia. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri
Wakaf Mesir kemudian menjadi Syekh Al-Azhar. Beliau diundang ke sebuah acara
yang diadakan oleh seorang wanita bernama Huda Sya'rawi.
Huda
Sya'rawi ini adalah orang yang menyerukan emansipasi/pembebasan wanita
sebagaimana yang mereka katakan, dan ia menjadi kepanjangan tangan bagi
pemikiran-pemikiran kolonialisme serta invasi budaya (ghazwul fikri)
yang menyerang dunia Timur pada periode tersebut. Ia memiliki kedudukan di mata
kaum penjajah, orientalis, dan para penyeru pembaratan (tasgrib) atau
perusakan. Acara-acaranya selalu bercampur baur (ikhtilath) antara pria
dan wanita.
Di
dalam acara tersebut disajikan apa yang biasa disajikan dalam perayaan sejenis,
dan ia memilih momen apa saja untuk memperbanyak pertemuan dan perkenalan antar
lawan jenis sehingga memicu keakraban. Wanita ini telah mengundang sang Syekh,
Musthafa Abdul Raziq yang menjabat sebagai Menteri Wakaf Mesir pada waktu itu,
ke salah satu dari acara-acara ini dengan kedok aksi amal.
Begitu
sang Syekh masuk, Huda bersama beberapa wanita cantik langsung mengelilinginya
dalam sebuah jebakan yang telah direncanakan. Surat kabar kemudian
mempublikasikan foto Menteri Wakaf Syekh Musthafa Abdul Raziq dalam sebuah
bidikan di depan Huda Sya'rawi dalam acara tersebut, dengan posisi yang
membayangkan bagi orang yang melihatnya pada pandangan pertama seolah-olah sang
Syekh dengan sorbannya sedang berdansa bersama Huda Sya'rawi, sementara wanita
itu memegang sebatang rokok di tangannya. Majalah Al-Musawwar Mesir
sengaja memuat foto tersebut dalam ukuran yang memenuhi satu halaman penuh.
Hal
ini membuat sebagian orang yang memiliki gairah (cemburu terhadap agama)
menulis sebuah artikel dengan judul "Sorban Ini, Kami Berlepas Diri
Darinya," dan meminta tindakan dari raja pada waktu itu. Artikel
tersebut dicetak, dan yang menambah parah keadaan adalah sebagian orang
mencetak artikel beserta foto tersebut dalam bentuk selebaran lalu
membagikannya di jalan-jalan kota Kairo.
Begitu
artikel itu sampai kepada Muhammad Mahmud Basya, Menteri Dalam Negeri sekaligus
Perdana Menteri pada waktu itu yang sedang sakit terbaring di tempat tidur, ia
langsung mengamuk dan memerintahkan penyitaan majalah tersebut serta mengadili
pemimpin redaksinya. Akan tetapi, Syekh Musthafa Abdul Raziq—pria yang mulia
itu—ketika mengetahui hal tersebut, segera bergegas menuju rumah Perdana
Menteri dan mengancam akan mengundurkan diri jika ada tindakan yang
dilaksanakan dari apa yang diperintahkan oleh Perdana Menteri. Beliau berkata: "Wahai
Basya, akulah yang bersalah. Tidak seharusnya aku menghadiri perayaan ini, dan
wajib bagiku untuk menyelidiki serta memastikan hakikatnya sebelum pergi ke
perayaan tersebut."
Dari
peristiwa ini, kita melihat betapa besarnya tingkat kebusukan dan kelicikan
yang dirancang untuk menjebak para da'i dan ulama. Di sisi lain, kita juga
melihat tingkat keterusterangan para ulama, pengakuan mereka terhadap
kesalahan, kepercayaan diri mereka, serta tindakan mereka dalam mencegah bahaya
apa pun yang menimpa orang lain akibat kesalahan yang muncul dari mereka. Ini
adalah tindakan yang ksatria dan jelas dari sang Syekh rahimahullah, dan
merupakan penempatan urusan pada porsinya yang tepat.
Aku
pernah memperhatikan salah seorang da'i besar dalam kondisi-kondisi semacam
ini. Jika beliau diundang ke sebuah perayaan yang secara lahiriah mengandung
kebaikan, atau beliau berprasangka kuat bahwa acara itu memiliki hakikat
tertentu namun dilapisi oleh kepalsuan, atau beliau meragukan tindakan
penyelenggaranya seperti acara pernikahan, momentum tertentu, atau yang
sejenisnya; beliau akan mengutus salah seorang yang loyal untuk menyelidiki
urusan tersebut. Jika utusan itu menemukan hal yang memicu syubhat, beliau akan
meminta maaf (uzur) atau mengirimkan telegram ucapan selamat tanpa
menghadirinya. Namun jika urusannya biasa saja dan tidak ada hal yang mencoreng
rasa malu atau menyelisihi ajaran Islam, beliau akan pergi, memberikan
penghormatan, dan memenuhi undangan tersebut, dan tidak ada dosa baginya dalam
hal itu.
Oleh
karena itu, seorang da'i haruslah cerdas, pemikir, mampu memperkirakan dampak
dari segala urusan, menggunakan pikiran yang telah Allah anugerahkan kepadanya,
tidak berjalan berdasarkan emosi dalam seluruh urusannya, dan tidak menjadikan
spontanitas sebagai pemandu. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman
kepadanya:
"Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta
pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra': 36)
Maka
wajib bagi seorang da'i untuk memiliki bashirah (mata batin/ilmu yang
nyata), melihat segala urusan di bawah cahaya dakwah dan realitasnya, sehingga
ia tidak mengucapkan suatu kalimat melainkan ia mengetahui dampak dan
pengaruhnya. Sejak masa dahulu, Aktsam bin Shaifi telah berkata: "Kematian
seorang pria berada di antara dua rahangnya [lidahnya]." Ia juga
berkata: "Bisa jadi suatu ucapan lebih dahsyat daripada serangan
pedang." Al-Muhallab berkata kepada anak-anaknya: "Jagalah
diri kalian dari ketergelinciran lidah, karena sesungguhnya aku mendapati
seorang pria yang tersandung kakinya maka ia bisa bangkit dari
ketergelincirannya, namun jika tergelincir lidahnya, maka di dalam hal itu
terdapat kebinasaannya."
Sebagaimana
layaknya bagi seorang da'i untuk menjadi orang yang waspada lagi penyimpan
rahasia bagi urusannya dari musuh-musuhnya. Ada sebuah pepatah mengatakan: "Barangsiapa
yang menyembunyikan rahasianya, maka pilihan berada di tangannya. Dan
barangsiapa yang memosisikan dirinya di tempat tuduhan, maka janganlah ia
mencela melainkan dirinya sendiri." Pernah dikatakan kepada Abu
Muslim: "Dengan urusan apa kamu mendapati urusan (kesuksesan)
ini?" Ia menjawab: "Aku berbaju dengan ketenangan, bersarung
dengan ketegasan, menyelisihi hawa nafsu, dan dibantu oleh takdir, maka aku
mendapati apa yang aku cari dan meraih apa yang aku inginkan."
Telah
diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah ucapannya:
(Penulis
tidak mencantumkan kelanjutan teks syair di sini).
Dan
beliau radhiyallahu 'anhu berkata: "Sembunyikanlah dirimu jangan
sampai disebut-sebut, dan diamlah niscaya kamu akan selamat." [Hidayatul
Mursyidin karya Syekh Ali Mahfuzh hal. 17 cet. Darul Ma'rifah (dinukil dari
Imam Muhammad Abduh).]
Artinya
dengan ucapan ini: Janganlah kamu membeberkan rahasiamu kepada musuh, dan
jangan pula urusan dalammu kepada orang jahat yang mengintaimu, yang akan
mencemarkan nama baikmu dan menjadikanmu sebagai sasaran bagi anak panahnya.
2.
Membantah Syubhat dengan Hujjah (Argumen):
Terhadap
syubhat yang membutuhkan penjelasan. Sebab, terkadang ada syubhat yang tidak
membutuhkan apa pun melainkan pengabaian. Syubhat yang membutuhkan penjelasan
biasanya adalah syubhat yang memiliki gema yang keras, atau merupakan syubhat
mendasar dalam dakwah atau pada diri sang da'i, atau syubhat yang memicu fitnah
yang besar.
Kita
telah melihat Rasulullah ﷺ
membantah syubhat Haditsul Ifki dengan hikmah dan logika, di mana beliau
bersabda: "Siapakah yang mau membelaku dari seorang pria yang
gangguannya telah sampai kepadaku terkait urusan keluargaku? Demi Allah, aku
tidak mengetahui tentang keluargaku melainkan kebaikan. Dan sungguh mereka
telah menyebut-nyebut seorang pria yang aku tidak mengetahui darinya melainkan
kebaikan, dan tidaklah ia masuk menemui keluargaku melainkan bersمامي (bersamaku)."
Kita
juga melihat Al-Qur'an membantah dengan hujjah atas peristiwa ini, serta
memperingatkan kepada hal-hal yang wajib dipahami oleh manusia agar hukumnya
menjadi benar. Di antara hal-hal tersebut adalah:
a.
Wajib bagi kaum mukmin laki-laki dan perempuan untuk berprasangka baik terhadap
diri mereka sendiri, dan tidak mendengarkan ucapan musuh serta kaum munafik.
b.
Tidak boleh berbicara mengenai kehormatan berdasarkan prasangka. Barangsiapa
yang menuduh, ia harus mendatangkan empat orang saksi, jika tidak maka ia harus
diam atau didera dengan hukum qadzaf (tuduhan zina tanpa saksi).
c.
Wajib menghadapkan setiap ucapan kepada akal dan logika dengan menggunakan
hujjah-hujjah serta bukti-bukti, dan janganlah kalian berucap dengan
mulut-mulut kalian tanpa hujjah atau ilmu.
d.
Menyebarluaskan kekejian dan Menstigma kaum muslimin dengannya merupakan
kejahatan di dunia dan akhirat yang menyeret kepada azab yang pedih di dalam
keduanya, maka bagaimana lagi jika hal itu menimpa rumah tangga kenabian.
e.
Al-Qur'an menutup pembicaraan tentang peristiwa fitnah Ifki ini dengan
sebuah hakikat yang nyata dalam dunia manusia yang wajib menjadi timbangan saat
menghukumi segala sesuatu. Yaitu bahwa jiwa yang khabis (buruk) akan menyatu
dengan jiwa yang buruk pula, dan bahwa jiwa yang thayyib (baik) akan bercampur
dengan jiwa yang baik. Atas dasar inilah hubungan di antara pasang suami istri
dibangun, dan tidaklah mungkin bagi Aisyah radhiyallahu 'anha menjadi
seperti apa yang mereka tuduhkan, sementara ia telah ditakdirkan untuk jiwa
yang paling baik di atas muka bumi [Rasulullah ﷺ].
Kita
melihat Al-Qur'an membantah tuduhan terhadap para Rasul dengan tuduhan sebagai
dukun, tukang sihir, bodoh, dan gila, karena hal tersebut merupakan
syubhat-syubhat yang mendasar.
Kita
melihat Al-Qur'an juga membantah orang yang membilang-bilang tuhan (politeisme)
dan orang yang mengingkari eksistensi Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta
membantah setiap syubhat mendasar yang menyertai dakwah dan da'i.
Akan
tetapi, pada saat yang sama Al-Qur'an memerintahkan untuk melewati
syubhat-syubhat dan cercaan harian yang memiliki pengaruh kecil, serta
memerintahkan untuk tidak berhenti di sana. Karena hal itu dapat menghambat
da'i, menyibukkannya dari dakwahnya, dan membawanya jauh dari target spesifik
yang telah dirancang yang seyogianya dicapai. Allah Ta'ala berfirman dalam
mensifati orang-orang mukmin:
"Dan
apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling
darinya dan mereka berkata: 'Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal
kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang
jahil.'" (QS. Al-Qashash: 55)
Dan
Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan
orang-orang his yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak
berguna." (QS. Al-Mu'minun: 3)
Kemudian
Allah Ta'ala berfirman dalam mensifati hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih (Ibadurrahman):
"Dan
hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS.
Al-Furqan: 63)
Maka
kebodohan orang-orang bodoh tidak menyibukkan mereka dari amal mereka yang
terus-menerus lagi bersungguh-sungguh, tidak pula dari tujuan mulia mereka.
"Jadilah
engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah
dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199)
"Dan
apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka
tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain." (QS.
Al-An'am: 68)
"Kelak
mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada
mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka;
sesungguhnya mereka itu adalah najis." (QS. At-Taubah: 95)
Demikianlah,
seorang da'i wajib menyadari apa yang berputar di sekelilingnya. Begitu pula
masyarakat muslim dan umat Islam dalam membela dirinya; tidak disibukkan oleh
hal-hal yang remeh, dan membalas penghinaan tanpa menyibukkannya dari
perkara-perkara besar dan tujuan-tujuan agung.
3.
Tidak Berperilaku Rendah dan Membalas Mereka dengan Hal yang Sama:
Seorang
da'i itu kuat karena akidahnya, kuat karena akhlaknya, kuat karena kepercayaan
dirinya dalam melangkah. Mengabaikan kelemahan manusiawi orang-orang jahil,
mengasihi mereka, serta bersikap toleran kepada mereka merupakan kewajiban
orang-orang besar yang kuat terhadap orang-orang kecil yang lemah. Dan orang
yang paling utama memiliki sifat toleran, kemudahan, dan pengabaian adalah para
da'i yang mengajarkan manusia keutamaan dan akhlak yang mulia.
Sebagian
ulama berkata: Manusia itu ada dua macam; adakalanya ia orang yang berbuat baik
(muhsin), maka ambillah apa yang mudah bagimu dari kebaikannya dan
janganlah kamu membebaninya di atas kemampuannya serta apa yang menyulitkannya.
Dan adakalanya ia orang yang berbuat buruk (musi'), maka perintahkanlah
ia kepada yang makruf. Jika ia terus-menerus berada di atas kesesatannya,
membangkang kepadamu, dan melanjutkan kejahilannya, maka berpalinglah darinya.
Barangkali tindakan itu dapat mengembalikan tipu dayanya, sebagaimana firman
Allah Ta'ala:
"Tolaklah
perbuatan buruk mereka dengan cara yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa
yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Engkau
dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu ya Tuhanku,
dari kedatangan mereka kepadaku.'" (QS. Al-Mu'minun: 96-98)
Dan
Allah Ta'ala berfirman: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang
antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang
sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada
orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang
yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Fushshilat: 34-35 )
Dan
Allah Ta'ala berfirman: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang
mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan
jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-A'raf:
199-200)
Ayat-ayat
di dalam surah Al-A'raf, Al-Mu'minun, dan Fushshilat ini membimbing untuk
memperlakukan orang yang bermaksiat dari kalangan manusia dengan cara yang
makruf. Bahkan, ini merupakan strategi dakwah di tengah-tengah kaum muslimin
yang lalai.
Namun,
terkadang ada strategi lain untuk memperlakukan pelaku maksiat dari pihak
penguasa jika kehormatan Allah tabaaraka wa ta'ala telah dilanggar; dan
strategi lain bagi masyarakat muslim terhadap orang-orang ini. Penguasa
memiliki strategi lain dalam menegakkan hukum-hukum Allah (hudud) serta
menjaga syariat, manhaj, dan ajaran-Nya. Penguasa muslim tidak boleh
berkompromi dalam urusan akidah maupun kewajiban syariat, karena di dalam
akidah Islam dan syariat-Nya tidak ada istilah kompromi. Dahulu Rasulullah ﷺ tidak pernah marah
untuk dirinya sendiri sama sekali, namun jika pelanggaran itu terjadi pada
agama Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat berdiri menghalangi kemarahan
beliau. Syariat qishash dan penegakan hudud tidak ada kelonggaran di
dalamnya, dan tidak berhak bagi siapa pun dalam urusan hudud untuk
memberikan syafaat (pembelaan) atau kelonggaran. Demikian pula dalam mencegah
kejahatan dan penyerangan terhadap harta, kehormatan, jiwa, dan akal.
Masyarakat
muslim juga memiliki strategi lain dalam memperlakukan para pelaku kejahatan
yang keluar dari manhaj Allah tabaaraka wa ta'ala, mulai dari mengucilkan
mereka (i'tizal) hingga menggugurkan persaksian serta kredibilitas ('adalah)
mereka berdasarkan syarat-syarat yang telah dirinci oleh para pakar fikih.
Barangsiapa yang ingin merujuk kepadanya, maka di hadapannya terbentang
buku-buku fikih Islam.
Akan
tetapi, apa yang sedang kita bahas di sini adalah perlakuan dalam hal akhlak
dan persahabatan yang terjadi di antara sesama kaum muslimin, atau dalam hal
bersabar terhadap orang yang jahil atau orang yang sedang belajar, atau
gangguan yang bersifat pribadi berupa kekasaran, kekeraspalaan, cinta diri
(egoisme), dan kecenderungan pada sikap mementingkan diri sendiri.
Seorang
da'i adalah pria yang menyeru kepada sebuah risalah dengan kalimat yang baik,
keteladanan yang luhur, dan rekam jejak yang harum. Maka senjata pertamanya
adalah apa yang ia hiasi dirinya dengannya berupa sifat-sifat mulia. Karena
da'i ingin membangun dan mendidik di atas ajaran serta nilai-nilai yang pada
hakikatnya merupakan hidayah yang menuntun manusia menuju kesempurnaan,
mencegahnya dari penyimpangan, dan menghalanginya dari melanggar kehormatan
Allah Ta'ala atau terkena tuntutan dari penguasa atau masyarakat. Jadi, ajaran
adalah yang pertama, hidayah adalah yang pertama, dakwah adalah yang pertama,
perlakuan dengan cara yang baik, pembiasaan pada hukum kemanusiaan, serta
kesabaran tanpa batas di atas jalan ini—dan inilah tugas para da'i.
Jika
ada seorang individu yang menyimpang lalu menyerang hak-hak dasar manusia dan
masyarakat dengan mencampakkan setiap dakwah, hidayah, dan ajaran di belakang
punggungnya; maka tugas penguasalah untuk menghentikannya dan mencegah
bahayanya. Ini selaras dengan teori keadilan yang ditonjolkan oleh Al-Qur'anul
Karim dalam firman Allah Ta'ala:
"Dan
Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS.
Al-Isra': 15)
Dan
firman Allah Ta'ala: "Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun,
melainkan setelah ada orang-orang yang memberi peringatan kepadanya; untuk
menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim." (QS.
Asy-Syu'ara': 208-209)
"Dan
Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi
petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus
mereka jauhi." (QS. At-Taubah: 115)
Tugas
da'i adalah tugas memberikan penjelasan di awal jalan. Kemudian setelah itu, ia
memperingatkan otoritas (penguasa) jika di sana terdapat penguasa muslim. Jika
penguasa tersebut belum ada, maka ia wajib mengadakannya setelah itu atau
menyeru kepadanya. Tugas para da'i adalah memberikan penjelasan, hidayah, amar
makruf, dan menggandeng tangan manusia dengan kelembutan dan kasih sayang
menuju jalan yang lurus, hingga terbentuk umat terbaik yang dilahirkan untuk
manusia.
Kita
telah melihat Al-Qur'anul Karim memerintahkan Rasul-Nya dengan ayat-ayat yang
nyata tersebut dan berfirman kepadanya: "Jadilah engkau pemaaf dan
suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang
yang bodoh." Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau
bersabda:
إِنَّكُمْ لَا
تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ
الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
Artinya:
"Sesungguhnya kalian tidak akan mampu menampung manusia dengan harta
kalian, akan tetapi mereka dapat ditampung oleh wajah yang berseri-seri dan
akhlak yang baik dari kalian."
Al-Bukhari
meriwayatkan dari hadis Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari saudaranya,
Abdullah bin az-Zubair mengenai firman-Nya: "Jadilah engkau pemaaf dan
suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf," ia berkata: "Tidaklah
Allah menurunkan ayat ini melainkan dalam hal akhlak manusia."
Al-Alusi
berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Serta berpalinglah dari
orang-orang yang bodoh," artinya: "Dan janganlah kamu membalas
orang-orang bodoh itu dengan kebodohan yang serupa dengan mereka." [Ruhul
Ma'ani karya Al-Alusi jilid 9 hal. 144] Ibnu Katsir berkata mengenai firman
Allah Ta'ala: "Serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh,"
Allah memerintahkan Nabi-Nya 'Alaihis Salam untuk memerintahkan hamba-hamba-Nya
kepada yang makruf, dan masuk ke dalam hal itu seluruh bentuk ketaatan; serta
dengan berpaling dari orang-orang bodoh. Perintah itu, meskipun ditujukan
kepada Nabi-Nya, sesungguhnya merupakan pendidikan bagi makhluk-Nya untuk
menahan diri dari orang yang menzalimi mereka dan menyerang mereka, bukan
berpaling dari ketidaktahuan terhadap hak yang wajib dari Allah Ta'ala, bukan
pula memaafkan orang yang kafir kepada Allah dan tidak tahu akan keesaan-Nya
padahal ia berada dalam posisi memerangi kaum muslimin. [Tafsir Al-Qur'anul
'Azhim karya Ibnu Katsir jilid 2 hal. 281.]
Para
da'i dan sahabat di sepanjang sejarah telah menjadi teladan hidup bagi akhlak
yang baik ini dan bagi penjelasan ketuhanan ini. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa
Uyainah bin Hishn meminta izin untuk menemui Umar bin al-Khaththab radhiyallahu
'anhu, dan bersamanya ada Al-Hurr bin Qais. Tatkala Uyainah masuk, ia
berkata: "Wahai putra Al-Khaththab, demi Allah kamu tidak memberi kami
pemberian yang banyak dan tidak memutuskan hukum di antara kami dengan
adil!" Aisyah berkata: Maka Umar marah hingga hampir saja memukulnya.
Lalu Al-Hurr bin Qais berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya
Allah telah berfirman kepada Nabi-Nya 'Alaihis Salam: 'Jadilah engkau pemaaf
dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang
yang bodoh,' dan sesungguhnya orang ini termasuk dari orang-orang yang
bodoh." Demi Allah, Umar tidak melewati ayat tersebut ketika Al-Hurr
membacakannya kepadanya, dan beliau adalah orang yang selalu berhenti [patuh]
di hadapan kitab Allah 'Azza wa Jalla.
Isham
bin al-Musthaliq berkata: Aku masuk ke kota Madinah lalu aku melihat Al-Hasan
bin Ali 'Alaihimas Salam. Aku merasa takjub dengan pembawaannya yang tenang dan
penampilannya yang elok. Hal itu memicu rasa hasad di dalam diriku atas apa
yang disembunyikan oleh dadaku berupa kebencian kepada ayahnya. Maka aku
berkata: "Apakah kamu putra Abi Thalib?!"
Ia
menjawab: "Benar." Maka aku berlebihan dalam mencaci makinya
dan mencaci maki ayahnya. Ia lalu memandangku dengan pandangan orang yang penuh
kasih lagi penyayang, kemudian berkata: "Aku berlindung kepada Allah
dari setan yang terkutuk, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang. Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang
ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Ia membacanya
hingga firman Allah Ta'ala: "Maka seketika itu juga mereka melihat
(kesalahan-kesalahan mereka)." Kemudian ia berkata kepadaku: "Ringankanlah
atas dirimu, aku memohon ampunan kepada Allah untukku dan untukmu. Sesungguhnya
jika kamu meminta pertolongan kepada kami, niscaya kami akan menolongmu. Jika
kamu meminta pemberian kepada kami, niscaya kami akan memberimu. Dan jika kamu
meminta petunjuk kepada kami, niscaya kami akan menunjukimu." Ia
melihat tanda penyesalan pada diriku atas apa yang telah luput dariku, lalu ia
berkata: "Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan
Allah mengampuni (kamu). Dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para
penyayang. Apakah kamu termasuk penduduk Syam?" Aku menjawab: "Benar."
Maka ia berkata: "Sebuah tabiat yang aku kenal dari Akhzam [nama orang
dalam pepatah Arab]. Semoga Allah menghidupkanmu, membuatmu tersenyum,
memberikan afiat kepadamu, dan menyampaikanku kepadamu. Lapangkanlah dirimu
kepada kami dalam kebutuhan-kebutuhanmu, dan apa saja yang menimpamu niscaya
kamu akan mendapati kami sesuai prasangkamu, insya Allah." Isham
berkata: Maka bumi terasa sempit bagiku dengan segala keluasannya dan aku
berharap sekiranya bumi menelan diriku. Kemudian aku menyelinap pergi darinya
secara sembunyi-sembunyi, dan tidak ada di atas muka bumi ini orang yang lebih
aku cintai daripada dia dan daripada ayahnya. [Tafsir Al-Qur'anul 'Azhim
karya Ibnu Katsir jilid 2 hal. 282.]
Berdasarkan
hal ini, sesungguhnya seorang da'i seyogianya tidak memperlakukan manusia
dengan perlakuan yang serupa dengan perlakuan mereka kepadanya, melainkan ia
harus bersikap lembut lagi penyayang kepada mereka, menghadapi keburukan dengan
kebaikan.
4.
Sabar dan Mengharap Pahala (Ikhtisab):
Sabar
termasuk dari karakter da'i; sabar atas gangguan, sabar dalam menyampaikan
dakwah, sabar atas panjangnya jalan dan jauhnya jarak perpisahan, serta menahan
diri dari syahwat dunia. Sabar atas kebodohan orang yang bodoh dan keangkuhan
orang yang tolol.
Sabar
di dalam Islam adalah sabar dalam menanggung kesulitan di jalan Allah; dan ia
adalah kesabaran seorang pejuang, petarung, lagi pemberani, bukan kesabaran
ketundukan, kehinaan, dan kepasrahan. Karena ini bukanlah urusan seorang
muslim, bukan pula tabiat dan karakternya.
"Maka
bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari
rasul-rasul telah bersabar." (QS. Al-Ahqaf: 35)
Kesabaran
orang-orang yang memiliki keteguhan hati (Ulul 'Azmi) dan orang-orang
yang memiliki kekuatan. Oleh karena itulah, madrasah kesabaran adalah madrasah
para imam, pemimpin, dan orang-orang besar. Dan benarlah firman Allah:
"And
Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat
Kami." (QS. As-Sajdah: 24)
Oleh
karena itu, kita melihat Al-Qur'an mengarahkan pandangan kepada kesabaran ini
di tempat-tempatnya yang agung, dan menjadikannya sebagai tanda atas kejujuran,
ketakwaan, keikhlasan, serta kebaikan jihad. Allah berfirman setelah
membilang-bilang sifat-sifat ketakwaan dan keimanan, lalu menutupnya dengan
firman-Nya:
"Dan
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang
sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang
bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 177)
Kemudian
Dia berfirman:
"Tatkala
mereka tampak maju untuk melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa: 'Ya Tuhan
kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan
tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.'" (QS. Al-Baqarah: 250)
"Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah
orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang
sabar." (QS. Ali 'Imran: 142)
"Dan
berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari
pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang
menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah
menyukai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran: 146)
Jadi,
ia adalah kesabaran para pejuang, kesabaran kaum rabbani, kesabaran para imam
pahlawan, kesabaran yang mendorong kemajuan. Bahkan, ia adalah kekuatan yang
tidak mengenal keputusasaan, ketahanan yang tidak mengenal kelemahan, keteguhan
yang tidak mengenal kemunduran, dan tekad yang tidak mengenal kelesuan.
"Dan
bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang
yang berbuat kebaikan." (QS. Hud: 115)
Inilah
kesabaran yang diperintahkan, ia adalah kesabaran da'i muslim; kesabaran
kemenangan, perjuangan, amal, dan pengorbanan tenaga agar keberuntungan serta
kemenangan dapat terwujud. Dan benarlah firman Allah:
"Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah,
supaya kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran: 200)
Penulis
kitab Azh-Zhilal [Fi Zhilalil Qur'an] berkata: "Al-Qur'an
dipenuhi oleh penyebutan sabar dan penyebutan takwa; keduanya disebutkan secara
bersendiri maupun disebutkan secara bersamaan. Konteks ayat yang telah berlalu
serta surah yang ada di dalamnya juga dipenuhi oleh seruan untuk bersatu, berjuang,
dan menolak tipu daya, serta tidak mendengarkan para penyeru kekalahan dan
kegoncangan. Oleh karena itulah, ayat ini datang membawa perintah sabar,
mushabarah (menguatkan kesabaran), murabahah (bersiap siaga), dan takwa.
Dan
sabar adalah bekal perjalanan di dalam dakwah ini. Sesungguhnya ia adalah jalan
yang panjang, berat, dipenuhi oleh rintangan dan duri, dihamparkan dengan darah
dan serpihan tubuh, serta dengan gangguan dan ujian. Sabar atas banyak hal:
sabar atas syahwat jiwa, keinginan-keinginan, ketamakan, ambisi, kelemahan,
kekurangan, ketergesa-gesaan, dan rasa bosannya yang datang cepat. Sabar atas
syahwat manusia, kekurangan, kelemahan, kebodohan, buruknya tindakan mereka,
penyimpangan tabiat mereka, keegoisan, keangkuhan, kelicikan, dan
ketergesa-gesaan mereka untuk memetik buah dakwah.
Sabar
atas kebatilan dan kebiadaban tirani, suburnya keburukan, dominasi syahwat,
serta pengecilan keangkuhan dan kesombongan. Sabar atas sedikitnya penolong,
lemahnya pembantu, panjangnya jalan, bisikan setan di saat-saat kritis dan
sempit, serta sabar atas kepahitan jihad. Atas ini semua dan apa yang dipicunya
di dalam jiwa berupa gejolak emosi yang beragam, mulai dari rasa sakit, amarah,
kejengkelan, kesempitan, melemahnya kepercayaan adakalanya terhadap kebaikan,
sedikitnya harapan adakalanya pada fitrah manusia, serta rasa bosan, kelesuan,
keputusasaan, dan patah semangat adakalanya.
Dan
sabar setelah itu semua dalam hal mengendalikan diri di saat memiliki
kemampuan, kemenangan, dan keunggulan; serta menyambut kelapangan dalam kondisi
tawaduk dan syukur, tanpa kesombongan dan tanpa dorongan untuk balas dendam
yang melewati batas qishash yang hak menuju tindakan melampaui batas. Serta
tetap bertahan dalam kondisi suka maupun duka di atas hubungan dengan Allah,
berserah diri pada takdir-Nya, dan mengembalikan seluruh urusan kepada-Nya
dalam kondisi tenang, percaya, dan khusyuk. Sabar atas ini semua dan atas yang
sejenisnya—dari apa yang dihadapi oleh salik (penempuh jalan) di atas jalan
yang panjang ini." [Fi Zhilalil Qur'an karya Sayyid Quthb jilid
1 hal. 560]
Kemudian
ia berkata: "Sesungguhnya dakwah ini menghadapi manusia dengan sebuah
manhaj kehidupan yang riil; manhaj yang mengendalikan hati sanubari mereka,
sebagaimana ia mengendalikan harta mereka, dan sebagaimana ia mengendalikan
sistem kehidupan serta mata pencaharian mereka. Manhaj kebaikan, keadilan, lagi
lurus. Akan tetapi, keburukan tidak merasa nyaman dengan manhaj kebaikan yang
adil lagi lurus; kebatilan tidak menyukai kebaikan, keadilan, dan keistiqamaan;
dan tirani tidak akan menyerah pada keadilan, kesetaraan, dan kemuliaan."
Oleh karena itulah, bangkit melawan dakwah ini musuh-musuh dari kalangan
pemilik keburukan, kebatilan, dan tirani. Dan bangkit untuk memeranginya
orang-orang yang mencari keuntungan pribadi, para eksploitator yang tidak ingin
melepaskan diri dari mencari keuntungan dan eksploitasi. Bangkit pula untuk
memeranginya para tiran yang sombong yang tidak ingin melepaskan diri dari
tirani dan kesombongan. Serta tampil untuk memeranginya orang-orang yang
ugal-ugalan lagi rusak moralnya, karena mereka tidak ingin melepaskan diri dari
kerusakan moral dan syahwat.
Maka
tidak boleh tidak, harus ada perjuangan melawan mereka semua, dan tidak boleh
tidak, harus ada sabar dan mushabarah. Oleh karena inilah, wajib bagi
seorang da'i untuk menjadi orang yang penyabar, bijaksana, lagi mengharap
pahala; mempersiapkan bekal untuk setiap urusan, lalu membiarkan sunnatullah di
alam semesta ini setelah itu bekerja, sehingga ia tidak tergesa-gesa dan tidak
pula berputus asa. Dan benarlah firman Allah:
"Dan
sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl:
96)
Pasal
Ketiga: Targhib [Motivasi/Kabar Gembira] dan Tarhib [Ancaman/Peringatan]
Pembahasan
Pertama: Makna Targhib dan Tarhib Secara Bahasa dan Syariat
Ar-Raghbah
secara bahasa artinya menghendaki sesuatu. Dikatakan: “Raghibtu fis syai-i”
apabila Anda menghendakinya. Allah Ta'ala berfirman:
"Maka,
apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras
(untuk urusan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau
berharap." (QS. Al-Insyirah: 7-8) [^1]
Dan
dikatakan: “Raghiba ‘anisy syai-i” jika ia zuhud terhadapnya dan tidak
menghendakinya. Allah Ta'ala berfirman:
"Orang
yang membenci agama Ibrahim hanyalah orang yang memperbodoh dirinya
sendiri." (QS. Al-Baqarah: 130)
Adapun
yang dimaksud dengan Targhib secara syariat adalah: segala hal yang
membuat orang yang didakwahi (mad’u) merasa rindu dan tertarik untuk
menyambut seruan, menerima kebenaran, serta istiqamah di atasnya.
Ar-Rahbah
secara bahasa artinya rasa takut yang panjang dan berkelanjutan. Oleh karena
itu, seorang rahib dinamakan rahib karena ia terus-menerus memelihara
rasa takut.
Sedangkan
Tarhib artinya menakut-nakuti dan mengancam.
Adapun
yang dimaksud dengan Tarhib secara syariat adalah: segala hal yang
menakuti-nakuti dan memperingatkan orang yang didakwahi agar tidak menolak
kebenaran atau tidak menyimpang dari keistiqamahannya di atas kebenaran.
Allah
Ta'ala berfirman mengenai para nabi-Nya yang beriman:
"Sesungguhnya
mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada
Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk
kepada Kami." (QS. Al-Anbiya': 90)
Maka
dari itu, Targhib dan Tarhib adalah upaya menumbuhkan kerinduan
manusia terhadap pahala Allah dan surga-Nya, serta menakut-nakuti mereka dari
azab Allah dan neraka-Nya.
Umar
bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menjelang wafatnya pernah berkata: "Raghibun
rahibun," artinya orang yang berharap pada pahala Allah sekaligus
takut akan azab-Nya.
Penerapan
Targhib dan Tarhib di dalam syariat datang disesuaikan dengan
kondisi, jiwa, dan situasi. Ia datang sebagai obat penawar sekaligus pencegah;
datang sebagai pembawa kabar gembira (basyir) sekaligus pemberi
peringatan (nadzir).
Sebab,
di antara jiwa manusia ada yang condong kepada kebaikan, merindukan petunjuk,
dan mendambakan cahaya. Penyebutan kebaikan akan memotivasinya, ajakan berbuat
ihsan akan mendorongnya, dan cahaya kebenaran akan menghangatinya.
Namun,
di antara manusia ada pula yang terengah-engah memburu syahwat, berlari
mengejar materi, dan tergila-gila pada kemungkaran. Maka, orang seperti ini
perlu dicambuk dengan Tarhib, dihentikan dengan peringatan, dan digugah
dengan ancaman yang menakutkan mengenai dampak buruk dari perbuatan yang sedang
ia geluti.
Oleh
karena itulah Al-Qur'an diturunkan dalam bentuk Matsani [yang
berulang/berpasangan]. Allah Ta'ala berfirman:
"Allah
telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang
serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang." [^2] (QS. Az-Zumar: 23)
Ibnu
Katsir berkata mengenai ayat ini: "Artinya, konteks Al-Qur'an adakalanya
berada dalam satu makna, dan inilah yang dimaksud dengan mutasyabih
[serupa]. Namun adakalanya disebutkan suatu perkara beserta lawannya, seperti
penyebutan orang-orang mukmin kemudian orang-orang kafir, atau sifat surga
kemudian sifat neraka, dan yang sejenis dengannya. Inilah yang dimaksud dengan Matsani
[berpasangan/berulang]. Contohnya seperti firman Allah Ta'ala: 'Sesungguhnya
orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh)
kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam
(neraka) Jahim.' (QS. Al-Infithar: 13-14), dan firman-Nya: 'Sekali-kali
tidak! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam
Sijjin.' (QS. Al-Muthaffifin: 7) sampai firman-Nya: 'Sekali-kali tidak!
Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam
'Illiyyin.' (QS. Al-Muthaffifin: 18). Serta firman-Nya: 'Ini adalah
sebutan (yang baik bagi mereka). Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa
disediakan tempat kembali yang baik.' (QS. Shad: 49) sampai firman-Nya: 'Ini
(bencana bagi mereka). Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka pasti
(disediakan) tempat kembali yang buruk.' (QS. Shad: 55), dan
konteks-konteks lain yang serupa. Ini semua dinamakan Matsani, yaitu
mengandung dua makna yang saling berhadapan." [^3]
Demikian
pula kita dapati sunnah Rasulullah ﷺ berjalan di atas manhaj ini: mengandung unsur Targhib
dan Tarhib.
Beliau
ﷺ bersabda:
«مَنْ
سَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ، وَمِثْلُ أُجُورِ مَنْ
تَبِعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ شَرًّا
فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ، وَمِثْلُ أَوْزَارِ مَنْ تَبِعَهُ
غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا
Artinya:
"Barangsiapa membuat suatu jalan kebaikan lalu jalan itu diikuti, maka
ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi
pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa membuat suatu jalan keburukan lalu
jalan itu diikuti, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya
tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Ahmad dan Al-Hakim,
dan ia berkata: Sanadnya sahih).
Beliau
ﷺ juga bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ
أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا، ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ
الْمُسْلِمَ
Artinya:
"Sedekah yang paling utama adalah seorang muslim mempelajari suatu
ilmu, kemudian ia mengajarkannya kepada saudaranya yang muslim." (HR.
Ibnu Majah dengan sanad yang hasan).
Kemudian
beliau ﷺ
bersabda (sebagai bentuk Tarhib):
مَرَرْتُ لَيْلَةَ
أُسْرِيَ بِي بِأَقْوَامٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، قُلْتُ:
مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ الَّذِينَ يَقُولُونَ
مَا لَا يَفْعَلُونَ
Artinya:
"Pada malam aku diisra'kan, aku melewati kaum yang bibir-bibir mereka
digunting dengan gunting dari neraka. Aku bertanya: 'Siapakah mereka wahai
Jibril?' Jibril menjawab: 'Mereka adalah para penceramah dari umatmu yang
mengatakan apa yang tidak mereka perbuat.'" (Ditakhrij oleh Al-Bukhari
dan Muslim). [Penulis menyebutkan HR. Bukhari Muslim, namun lafaz ini
diriwayatkan pula oleh Ahmad].
Beliau
ﷺ juga bersabda:
مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجَعَ إِلَى الدُّنْيَا، وَأَنَّ لَهُ مَا عَلَى
الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ، فَإِنَّهُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجَعَ
إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ
Di
dalam riwayat lain disebutkan:
لِمَا يَرَى مِنْ
فَضْلِ الشَّهَادَةِ
Artinya:
"Tidak ada seorang pun yang telah masuk surga yang ingin kembali ke
dunia meskipun ia diberikan segala sesuatu yang ada di atas bumi, kecuali orang
yang mati syahid. Sesungguhnya ia berangan-angan untuk kembali ke dunia lalu
terbunuh sepuluh kali lagi karena ia melihat kemuliaan yang diberikan
kepadanya." Dalam riwayat lain: "karena ia melihat keutamaan
mati syahid." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kemudian
beliau ﷺ
bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ
الْمُوبِقَاتِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الْإِشْرَاكُ
بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا
بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ
الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ
Artinya:
"Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan! Para sahabat bertanya:
'Wahai Rasulullah, apa saja perkara itu?' Beliau menjawab: 'Syirik kepada
Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang
benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan
pertempuran, dan menuduh zina wanita-wanita mukminah yang suci lagi lalai
[tidak berpikir berbuat zina].'" (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud,
dan An-Nasai).
Beliau
ﷺ juga bersabda:
مَنْ مَاتَ وَلَمْ
يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
Artinya:
"Barangsiapa yang mati dalam keadaan belum pernah berperang [di jalan
Allah] dan tidak pernah meniatkan dirinya untuk berperang, maka ia mati di atas
salah satu cabang kemunafikan." (HR. Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasai).
Metode
Targhib dan Tarhib ini merupakan bagian dari manhaj dakwah para
rasul shalawatullahi wa salamuhu 'alaihim ajma'in. Al-Qur'anul Karim
menjelaskan hal ini melalui firman-Nya:
"Kami
tidak mengutus para rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan." (QS. Al-An'am: 48)
Dan
firman-Nya:
"(Kami
mengutus) rasul-rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar
tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu
(diutus)." (QS. An-Nisa': 165)
Allah
juga berfirman mengenai Rasulullah ﷺ:
"Wahai
Nabi (Muhammad), sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa
kabar gembira, dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada (agama)
Allah dengan izin-Nya serta menjadi lampu yang menerangi." (QS. Al-Ahzab:
45-46)
Dan
firman-Nya:
"Kami
tidak mengutusmu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai
pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan." (QS. Saba': 28)
Para
utusan Allah adalah para da'i yang datang membawa wahyu, risalah, kebenaran,
dan hidayah. Barangsiapa yang menerima petunjuk Allah, ia tidak akan sesat dan
tidak akan celaka; para rasul akan memberinya kabar gembira dengan hidayah
tersebut serta membuatnya bahagia dengan kemenangan di dunia dan akhirat.
Sebaliknya, barangsiapa yang berpaling dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala,
para rasul akan memperingatkannya dengan kebinasaan dan kehancuran di dunia dan
akhirat, mengancamnya, serta menakut-nakutinya dengan azab Allah dan murka-Nya,
sebagai balasan atas kekufuran, pembangkangan, dan ketaatannya kepada setan.
Pembahasan
Kedua: Dengan Apa Targhib dan Tarhib Dilakukan
Prinsip
dasar dalam Targhib adalah memotivasi manusia untuk meraih rida Allah
Subhanahu wa Ta'ala di dunia dan akhirat, menggapai pahala-Nya di akhirat,
serta memperoleh kemenangan di dalamnya. Sedangkan prinsip dasar dalam Tarhib
adalah menakut-nakuti manusia dengan kemurkaan Allah dan siksaan-Nya di dunia
dan akhirat. Bukti dari Kitabullah mengenai hal tersebut adalah:
- 1. Kisah Nabi Nuh
'Alaihis Salam:
"Maka,
aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia
Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan
yang lebat dari langit kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, serta
mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu." (QS. Nuh: 10-12)
Dan
firman-Nya:
"Sesungguhnya
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), 'Berilah kaummu
peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih!'" (QS. Nuh: 1)
- 2. Kisah orang
beriman dari kalangan keluarga Firaun:
"(Orang
mukmin itu berkata,) 'Wahai kaumku, milikmulah kerajaan pada hari ini dengan
berkuasa di bumi. Maka, siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika
azab itu menimpa kita?' Firaun berkata, 'Aku hanya mengemukakan kepadamu apa
yang aku pandang baik dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar.'
Orang yang beriman itu berkata, 'Wahai kaumku, sesungguhnya aku takut kamu akan
ditimpa (bencana) seperti hari kehancuran golongan-golongan yang bersekutu,
(yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Ad, Samud, dan orang-orang yang datang
setelah mereka. Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.
Wahai kaumku, sesungguhnya aku takut kepadamu akan (siksaan) hari saling
memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu berpaling ke belakang (lari), tidak ada
seorang pun yang mampu menyelamatkan kamu dari (azab) Allah. Siapa yang
dikesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang memberi petunjuk
baginya.'" (QS. Ghafir: 29-33)
Terkadang
Targhib juga dilakukan dengan hal-hal berikut:
1.
Dengan menyebutkan kebaikan yang melimpah dan hidayah yang luas yang akan
mereka peroleh di dunia. Hal itu semua didapatkan karena istiqamah di atas
perintah Allah, mengikuti manhaj-Nya, dan berjalan di atas ajaran-Nya. Allah
Ta'ala berfirman:
"Barangsiapa
mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami berikan
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu
mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)
Dan
firman-Nya:
"Bahwa
sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya
Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang lebat (rezeki yang banyak)." (QS.
Al-Jinn: 16)
Dan
firman-Nya:
"Sekiranya
mereka menegakkan Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka
dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka (kurnia
langit) dan dari bawah kaki mereka (kurnia bumi). Di antara mereka ada
sekelompok orang yang hemat (jujur/lurus), tetapi banyak dari mereka yang
sangat buruk apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Ma'idah: 66)
Dan
firman-Nya:
"Bagi
orang-orang yang berbuat baik di dunia ini (disediakan) kebaikan. Sungguh,
negeri akhirat itu lebih baik. Pastilah itu sebaik-baik tempat bagi orang-orang
yang bertakwa." (QS. An-Nahl: 30)
2.
Dengan menyebutkan pertolongan, kemenangan, kemuliaan, dan harga diri yang akan
mereka raih di kehidupan dunia di antara bangsa-bangsa.
"Allah
telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di
bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai." (QS.
An-Nour: 55)
Dan
firman-Nya: "Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan
bagi orang-orang mukmin." (QS.
Al-Munafiqun: 8)
Dan
firman-Nya: "Dia (juga) mewariskan kepadamu tanah, kampung halaman, dan
harta benda mereka, serta tanah yang belum pernah kamu injak." (QS.
Al-Ahzab: 27)
Dan
firman-Nya: "Allah telah menetapkan, 'Aku dan rasul-rasul-Ku pasti
menang.' Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Muhadilah:
21)
Dan
firman-Nya: "Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian
timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi." (QS. Al-A'raf: 137)
3.
Dengan menyebutkan keamanan, kedamaian, ketenteraman, serta kecintaan makhluk
yang akan mereka nikmati.
"Maka
hendaknya mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah), yang telah
memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka
dari rasa takut." (QS. Quraisy: 3-4)
Dan
firman-Nya:
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan membenarkan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha
Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka)." (QS.
Maryam: 96)
Dari
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata mengenai ayat ini:
"Artinya, Allah mencintai mereka dan membuat makhluk-Nya mencintai
mereka."
Di
dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Nabi ﷺ:
إِذَا أَحَبَّ اللهُ
عَبْدًا يَقُولُ لِجِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا
فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ
اللهَ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ
يُوضَعُ لَهُ الْمَحَبَّةُ فِي الْأَرْضِ
Artinya:
"Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman kepada Jibril
'Alaihis Salam: 'Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia!' Maka
Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penduduk langit:
'Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia!' Maka penduduk
langit pun mencintainya, lalu diletakkanlah rasa penerimaan (cinta) baginya di
muka bumi." (HR. Muslim 4/40-41). [Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari].
4.
Di antara sarana Targhib yang paling bermanfaat adalah mengingatkan individu
dan umat kepada kejayaan masa lalu para pendahulu mereka yang saleh (Salafush
Shalih). Merekalah orang-orang yang telah meninggikan menara ilmu dan
agama, mengibarkan panji keadilan dan kebebasan, menumbangkan kezaliman dan
kesewenang-wenangan, serta menyinari dunia dengan menjelajahi wilayah barat dan
timur bumi sebagai pemenang yang bertakbir membawa hidayah. Mereka adalah
sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:
Dahulu kami adalah gunung di atas gunung, bahkan
Jika kami mengarungi samudera, lautan pun kami jadikan
jalan perlintasan
Di tempat ibadah bangsa asing, azan kami berkumandang
Sebelum pasukan maju, ia telah membuka kota-kota yang
membentang
Kami tidak pernah takut kepada thaghut yang memerangi kami
Meskipun maut mendirikan benteng-benteng yang mengepung
kami
Kami menyeru dengan lantang: Tiada tuhan selain Dia
Dzat
yang menciptakan semesta dan menetapkan garis takdir-Nya
Dengan
ingatan ini, diharapkan umat dan bangsa-bangsa merasa malu ketika melihat
kemunduran dan keengganan mereka untuk mengejar ketertinggalan dari para
pendahulu mereka. Sehingga mereka menyesal lalu bangkit, berusaha meniru, dan
menyusul kafilah yang diberkahi tersebut. Diharapkan pula mereka mencabut diri
dari keburukan dan kerusakan yang melanda akhlak, adat, ucapan, dan perbuatan
mereka, serta merasa malu atas keterpurukan mereka hingga menjadi bangsa yang
paling buncit, setelah sebelumnya menjadi pemimpin dan barisan terdepan.
5.
Targhib dalam hal ibadah dan mencintai keutamaan kemanusiaan. Sebab, ibadah
itu mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran, mendidik jiwa di atas akhlak
yang mulia, serta menjauhkan dari waswas setan.
Sedangkan
Tarhib terkadang dilakukan dengan hal-hal berikut:
1.
Dengan mengarahkan pandangan ke akhirat, serta mengutamakan negeri yang kekal
atas negeri yang fana. Sebab, ada jiwa-jiwa yang terbuai oleh kesenangan
duniawi dan syahwat sehingga lalai dari amal-amal yang agung, lalu terjerumus
ke dalam kubangan kezaliman dan pembangkangan demi mengejar kesenangan yang
fana dan menukar petunjuk dengan kesesatan. Benarlah firman Allah:
"Kemudian,
generasi (berikutnya) menggantikan mereka yang mewarisi Kitab (Taurat). Mereka
mengambil harta benda dunia yang rendah ini sambil berkata, 'Kami akan
diampuni.' Jika harta benda duniawi yang serupa datang lagi kepada mereka,
mereka pun akan mengambilnya juga. Bukankah janji Kitab (Taurat) sudah
dipersyaratkan kepada mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan tentang
Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang ada di
dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah
kamu tidak mengerti?" (QS. Al-A'raf: 169)
Oleh
karena itu, wajib bagi seorang dai untuk memperingatkan manusia dari tipu daya
dunia dan bahaya hanyut di belakang syahwat yang liar. Al-Qur'an telah
mengingatkan hal tersebut melalui firman-Nya:
"Sesungguhnya
perumpamaan kehidupan dunia itu hanyalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan
dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman
bumi, di antaranya ada yang dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga
apabila bumi itu telah mencapai keindahannya dan berhias, dan pemiliknya
mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya
azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya)
seperti tanaman yang sudah dituai, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang
yang berpikir." (QS. Yunus: 24)
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"Ketahuilah
bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling
membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak
keturunan, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian
(tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi
hancur. Di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
rida-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang mengecoh." (QS.
Al-Hadid: 20)
Dalam
konteks seperti ini, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَخَافُ
عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا
وَزِينَتِهَا
Artinya:
"Sesungguhnya di antara yang paling aku takuti menimpa kalian setelah
peninggalanku adalah dibukakannya untuk kalian keindahan dunia dan
perhiasannya." (Muttafaqun 'Alaih).
Dari
Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ
إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ
Artinya:
"Ya Allah, tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan
akhirat." (Muttafaqun 'Alaih).
Dari
Abdullah bin asy-Syikhkhir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku
mendatangi Nabi ﷺ
ketika beliau sedang membaca surah Alhakumut takatsur, lalu beliau
bersabda:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ:
مَالِي، مَالِي، وَهَلْ لَكَ يَا بْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ
فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟
Artinya:
"Anak Adam berkata: 'Hartaku, hartaku!' Padahal, tidak ada bagian dari
hartamu wahai anak Adam melainkan apa yang telah kamu makan lalu kamu habiskan,
atau apa yang kamu pakai lalu kamu lusuhkan, atau apa yang kamu sedekahkan lalu
kamu kekalkan?!" (HR. Muslim).
Dari
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ tidur di atas
selembar tikar pelepah kurma, lalu beliau bangkit dalam keadaan tikar itu telah
membekas pada lambung beliau. Kami berkata: "Wahai Rasulullah,
sekiranya kami membuatkan kasur yang empuk untukmu!" Di dalam riwayat
Ibnu Majah disebutkan: "Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, sekiranya
engkau memberi tahu kami, niscaya kami akan menggelarkan sesuatu untukmu yang
dapat melindungimu!'" Maka beliau bersabda:
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟
مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ
رَاحَ وَتَرَكَهَا
Artinya:
"Apalah artiku dan dunia ini? Tidaklah aku di dunia ini melainkan
seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah naungan sebatang pohon,
kemudian ia beristirahat sejenak lalu pergi meninggalkannya." (HR.
Tirmidzi, dan ia berkata: hadis ini hasan sahih).
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Kalimat
paling jujur yang pernah diucapkan oleh seorang penyair adalah perkataan Labid:
'Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.'" (Muttafaqun
'Alaih).
Maksud
dari Zuhud
Maksud
dari semua ini bukanlah agar manusia bersikap pasrah pada kemalasan dan syahwat
lalu meninggalkan amal-amal saleh yang kekal, atau enggan melakukan
urusan-urusan besar, reformasi, dan mengerahkan kemampuan dalam berbuat
kebaikan. Maksudnya adalah agar ia mempergunakan apa yang telah Allah Subhanahu
wa Ta'ala anugerahkan kepadanya berupa harta, kebaikan, kesehatan, afiat,
waktu, tenaga, akal, dan strategi, di jalan untuk menegakkan manhaj Allah di
muka bumi, mengokohkan kebenaran, dan mengibarkan panji hidayah. Maksudnya
bukan membenci dunia, memusuhi harta, atau menghina materi. Sebab, dunia tidak
lain adalah ladang bagi akhirat; ia adalah ladang orang mukmin tempat ia
menanam kebaikan dan memanen kebajikan serta pahala.
Risalah
Islam datang tidak lain untuk memperbaiki kehidupan, menegakkan manhaj Allah di
dalamnya, serta menjadikan kalimat Allah itulah yang paling tinggi dan kalimat
orang-orang kafir menjadi rendah. Seorang muslim telah diperintahkan untuk
berjalan menjelajahi segala penjuru bumi melalui firman-Nya:
"Maka,
berجالanlah di segala
penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu
(kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al-Mulk: 15)
Serta
diperintahkan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di dalamnya:
"Sesungguhnya
Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan hak kepada
kerabat dekat. Dia juga melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan
permusuhan." (QS. An-Nahl: 90)
Allah
Tahraba wa Ta'ala [Penulis bermaksud Tabaaraka wa Ta'ala] telah memerintahkan
untuk mencari nafkah dan bekerja, maka orang-orang saleh dan para rasul pun
bekerja. Al-Qur'an menyebutkan bahwa Nabi Dawud 'Alaihis Salam adalah seorang
ahli kerajinan yang menghasilkan kebaikan bagi dirinya dan masyarakatnya. Allah
berfirman:
"Kami
telah mengajarkan kepadanya (Dawud) pembuatan baju besi untukmu guna melindungi
kamu dalam peperanganmu. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?" (QS.
Al-Anbiya': 80)
Dan
Dia berfirman:
"Kami
telah melunakkan besi untuknya. (Kami berfirman), 'Buatlah baju-baju besi yang
besar dan ukurlah jalinannya; serta kerjakanlah kebajikan. Sesungguhnya Aku
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.'" (QS. Saba': 10-11)
Di
antara para nabi ada pula yang memiliki kekayaan melimpah dan kekuasaan luas
yang tidak pernah diberikan kepada seorang pun setelah mereka, seperti Nabi
Sulaiman 'Alaihis Salam. Akan tetapi, kekayaan yang dimilikinya ini
dipergunakan mutah-mutah dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu.
Di
samping itu, Allah Subhanahu telah memerintahkan untuk menjaga harta dan
melarang sikap boros (tabdzir). Dia Subhanahu berfirman:
"Sesungguhnya
para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar
kepada Tuhannya."
(QS.
Al-Isra': 27)
Dan
Dia berfirman:
"Janganlah
engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan pula engkau
mengulurkannya sejauh-jauhnya (boros) sehingga engkau menjadi tercela lagi
menyesal." (QS. Al-Isra': 29)
Islam
menjadikan harta sebagai penopang kehidupan individu, kelompok, dan umat, serta
memerintahkan untuk menjaganya dan menjauhkannya dari jangkauan orang-orang
yang bodoh (sufaha'). Allah Ta'ala berfirman:
"Janganlah
kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka
yang ada dalam pengawasanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan
bagimu." (QS. An-Nisa': 5)
2.
Tarhib dilakukan dengan memberikan peringatan dari kemurkaan Allah dan
siksaan-Nya. Caranya adalah dengan menyebutkan ayat-ayat yang termaktub di
dalam Al-Qur'anul Karim yang menakut-nakuti para pelaku dosa, orang-orang
maksiat, orang fasik, dan para tiran yang sombong. Contohnya seperti firman
Allah Ta'ala:
"Maka,
tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka, lalu Kami
tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Kami jadikan mereka sebagai generasi
masa lampau dan contoh bagi orang-orang yang datang kemudian." (QS.
Az-Zukhruf: 55-56)
Mereka
ditimpa kemurkaan Allah disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan,
kelancangan mereka dalam melanggar hal-hal yang suci, serta pembangkangan
mereka terhadap hidayah. Maka, Allah Subhanahu menjadikan mereka sebagai
pelajaran bagi orang-orang setelah mereka, dan sebagai contoh bagi generasi
yang akan datang di sepanjang masa.
Contoh
lainnya adalah firman Allah yang Haq Subhanahu mengenai keadaan Bani Israil:
"Maka,
setelah mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang, Kami katakan kepada
mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina!'" (QS. Al-A'raf: 166)
Dan
firman-Nya Ta'ala:
"(Yaitu)
orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan
kera dan babi, dan orang yang menyembah thaghut." (QS. Al-Ma'idah: 60)
Hukuman
dari Allah Ta'ala ini merupakan balasan atas pembangkangan, kesombongan,
kezaliman, serta penolakan mereka terhadap hidayah. Maka Allah mewariskan
kepada mereka kebodohan, kehinaan, kenestapaan, serta kebusukan hati.
Di
dalam hal ini terdapat peringatan yang menggetarkan dan menakutkan bagi
orang-orang yang lancang lagi zalim terhadap syariat Allah dan
larangan-larangan-Nya. Allah Ta'ala berfirman:
"Siapa
yang menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas petunjuk baginya dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan
yang telah dilakukannya itu dan Kami masukkan dia ke dalam (neraka) Jahanam.
Itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisa': 115)
Bagi
mereka kehinaan di dunia, dan di akhirat mereka mendapatkan azab yang besar.
3.
Tarhib dilakukan dengan menakut-nakuti dari tertutupnya hati, rusaknya fitrah,
serta kekhawatiran dikuncinya hati sehingga keluar dari jalan orang-orang
mukmin. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Sekali-kali
tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutup hati
mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)
Diriwayatkan
oleh Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Hakim (dan keduanya mensahihkannya), An-Nasai, Ibnu
Majah, dan selainnya, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ نُكِتَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ
تَابَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ لَمْ يَتُبْ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ
قَلْبَهُ»
Artinya:
"Sesungguhnya seorang mukmin apabila melakukan suatu dosa, niscaya akan
dititikkan sebuah titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat dan memohon
ampun, hatinya akan dibersihkan kembali. Namun jika ia tidak bertaubat, titik
hitam itu akan bertambah hingga menguasai (menutupi) hatinya." Yaitu
titik hitam itu akan menyelimuti dan menutupinya. Itulah Ar-Ran
[karat/penutup] yang disebutkan oleh Allah di dalam Kitab-Nya: "Sekali-kali
tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutup hati
mereka."
Khudzifah
[Penulis bermaksud Hudzaifah] radhiyallahu 'anhu berkata: "Apabila
seorang hamba berbuat dosa, dititikkan di dalam hatinya sebuah titik hitam.
Jika ia berbuat dosa lagi, dititikkan lagi sebuah titik hitam hingga seluruh
hatinya menjadi hitam pekat."
Hal
ini diperkuat oleh ucapan ulama Salaf: "Kemaksiatan adalah kurir
kekufuran," artinya ia adalah utusannya. Sebab, jika kemaksiatan telah
mewariskan warna hitam ini pada hati dan menyelimutinya, hati itu tidak akan
sudi lagi menerima kebaikan selamanya. Benarlah firman Allah:
"Siapa
yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, sungguh dia telah
menderita kerugian yang nyata. (Setan itu) memberikan janji-janji kepada mereka
dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak
menjanjikan kepada mereka, kecuali tipu daya belaka." (QS. An-Nisa':
119-120)
Dari
Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah berada di dekat
Umar bin al-Khaththab, lalu ia bertanya: "Siapakah di antara kalian
yang mendengar Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang fitnah [ujian/kekacauan]?" Kaum
yang hadir menjawab: "Kami mendengarnya." Umar berkata: "Barangkali
yang kalian maksud adalah fitnah seorang pria pada keluarga, harta, dan
tetangganya?" Mereka menjawab: "Benar." Umar berkata:
"Fitnah yang itu dapat dihapuskan oleh salat, puasa, dan sedekah. Akan
tetapi, siapakah di antara kalian yang mendengar Rasulullah ﷺ menyebutkan fitnah
yang bergejolak seperti gelombang lautan?" Hudzaifah berkata: Maka
orang-orang pun terdiam. Lalu aku berkata: "Aku mendengarnya."
Umar berkata: "Engkau? Demi Allah, bagus sekali ayahmu [pujian
Arab]!" Hudzaifah berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
تُعْرَضُ الْفِتَنُ
عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ
فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ
بَيْضَاءُ، حَتَّى يَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ: عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا
فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ
أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا، لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا
يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
Artinya:
"Fitnah-fitnah akan ditimpakan ke dalam hati bagaikan anyaman tikar
yang jalin-menjalin sebatang demi sebatang. Hati mana saja yang menyerapnya,
akan dititikkan padanya sebuah titik hitam. Dan hati mana saja yang
mengingkarinya, akan dititikkan padanya sebuah titik putih, hingga hati manusia
terbagi menjadi dua kondisi: (Pertama) hati yang putih bersih bagaikan batu
marmer yang halus, yang tidak akan dicelakai oleh fitnah apa pun selama langit
dan bumi masih ada. (Kedua) hati yang hitam pekat lagi abu-abu bagai ragam
warna yang kusam, terbalik umpama piala yang telungkup; ia tidak lagi mengenal
kebajikan dan tidak lagi mengingkari kemungkaran, melainkan melulu apa yang
telah diserap oleh hawa nafsunya." (HR. Muslim).
Maka,
membiasakan diri dengan kemaksiatan dan menikmatinya akan menyebabkan seseorang
terlepas dari ikatan hidayah, memberontak terhadap nilai-nilai keutamaan dan
keimanan, serta lancang melanggar batasan hukum Allah. Hal ini memicu
keterlemparan dari jalur orang-orang mukmin dan jalan orang-orang yang mendapat
petunjuk.
4.
Tarhib dilakukan dengan menakut-nakuti dari rusaknya keturunan. Sebab,
dosa-dosa dan perbuatan yang rusak dampaknya akan menyeret diri dan anak
keturunan, serta berimbas pada masa kini maupun masa depan. Bakti orang tua
akan mengundang bakti anak-anaknya, sedangkan durhaka kepada orang tua akan
memicu anak-anaknya berbuat durhaka pula kepada dirinya.
Dari
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
بِرُّوا آبَاءَكُمْ
تَبِرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ، وَعِفُّوا تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ
Artinya:
"Berbaktilah kepada ayah-ayah kalian, niscaya anak-anak kalian akan
berbakti kepada kalian; dan jagalah kesucian diri kalian [dari zina], niscaya
istri-istri kalian akan menjaga kesucian dirinya." (HR. Thabrani
dengan sanad yang hasan, dan diriwayatkan pula oleh selainnya dari hadis
Aisyah).
Al-Qur'an
juga memberikan peringatan yang menakutkan mengenai dampak kerusakan terhadap
keturunan di dunia dan akhirat. Adapun di dunia, contohnya seperti firman Allah
Ta'ala:
"Hendaklah
merasa takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan
yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan kesejahteraannya. Oleh
karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur
kata yang benar." (QS. An-Nisa': 9)
Adapun
di akhirat, contohnya seperti firman Allah Ta'ala:
"Wahai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim: 6)
Artinya,
jika Anda memiliki kekhawatiran terhadap anak-anakmu yang masih kecil lagi
lemah, maka bertakwalah kepada Allah dalam perbuatan dan ucapanmu, jagalah hak
Allah dan peliharalah batasan-batasan-Nya. Niscaya Allah Subhanahu yang akan
mengurus keturunanmu, memudahkan bagi mereka orang yang akan membimbing mereka,
serta menyiapkan petunjuk bagi urusan mereka. Hal ini selaras dengan firman
Allah Ta'ala:
"Adapun
dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya
tersimpan harta bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang
saleh. Maka, Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa dan
mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak
melakukannya berdasarkan kemauanku sendiri." (QS. Al-Kahfi: 82)
Tidak
diragukan lagi bahwa setiap manusia mencintai anak-anaknya dan keturunannya;
demi mereka ia mengumpulkan harta, terjaga di waktu malam, serta bekerja keras
dengan sungguh-sungguh. Apabila ia menyadari bahwa ketaatannya kepada Allah dan
amalnya dalam mencari rida-Nya akan membawa dampak kebaikan bagi anak-anak dan
keturunannya sepeninggal dirinya, hal itu akan mendorongnya untuk berbuat amal
saleh, kebajikan, dan tidak membuat kerusakan di muka bumi.
Apalagi
kerusakan itu dapat menular sebagaimana kebaikan pun dapat menular. Jika
penularan pada penyakit fisik adalah hal yang lumrah dan jamak diketahui, maka
penularan pada sifat, perbuatan, dan amal jauh lebih kuat dan lebih berbahaya.
Benarlah firman Allah:
"Tanah
yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya. Adapun tanah
yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana." (QS. Al-A'raf: 58)
"Sesungguhnya
Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imran di atas
seluruh umat (pada masa masing-masing). (Mereka merupakan) satu keturunan,
sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui." (QS. Ali 'Imran: 33-34)
"(Mereka
berkata,) 'Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu bukan seorang yang buruk dan
ibumu bukan seorang pezina.'" (QS. Maryam: 28)
"Orang-orang
yang beriman dan keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami
hubungkan keturunan mereka itu dengan mereka dan Kami tidak mengurangi sedikit
pun pahala amal mereka." (QS. At-Thur: 21)
"Sungguh,
Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim serta menempatkan kenabian dan kitab pada
keturunan keduanya." (QS. Al-Hadid: 26)
Barangsiapa
yang meneliti kondisi orang-orang yang durhaka, ia akan mendapati bahwa mereka
tidak melahirkan melainkan orang-orang yang durhaka pula, kecuali orang-orang
yang dirahmati oleh Tuhanmu. Nabi Nuh 'Alaihis Salam berkata di dalam doanya:
"(Nuh
berdoa,) 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara
orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan
mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka hanya
akan melahirkan anak-anak yang durhaka lagi sangat kafir.'" (QS. Nuh:
26-27)
Terkadang
bisa saja anak-anak dari orang durhaka lahir sebagai orang-orang yang saleh,
namun hal ini terjadi di luar kaidah umum karena adanya suatu urusan yang
dikehendaki oleh Allah Subhanahu. Mengenai hal ini, seorang penyair berkata:
Apabila asal seorang pria itu baik, maka akan baik pula
cabang-cabangnya
Dan di antara keajaiban, duri pun terkadang membuahkan
bunga mawar yang indah
Namun terkadang cabang bisa menjadi buruk padahal asalnya
baik
Untuk
menampakkan kuasa Allah dalam hukum pembalikan dan penetapan hukum-Nya
5.
Tarhib dilakukan dengan menakut-nakuti dari berubahnya keadaan; dari kebaikan
menjadi keburukan, dari kenikmatan menjadi kesengsaraan, dan dari kemakmuran
menjadi kekeringan serta bencana.
Allah
Ta'ala berfirman:
"Sungguh,
bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, (yaitu)
dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kami katakan kepada
mereka,) 'Makanlah rezeki dari Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu)
adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha
Pengampun.' Namun, mereka berpaling. Maka, Kami kirimkan kepada mereka banjir
yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi
(pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Al-Atsl, dan sedikit pohon sidr.
Demikianlah Kami memberi mereka balasan karena kekufuran mereka. Kami tidak
menjatuhkan azab yang demikian itu, kecuali kepada orang yang sangat
kufur." (QS. Saba': 15-17).
Dan
benarlah Rasulullah ﷺ
dalam sabdanya:
إِنَّ الرَّجُلَ
لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
Artinya:
"Sesungguhnya seseorang benar-benar dapat diharamkan dari rezekinya
disebabkan oleh dosa yang ia lakukan." (HR. Al-Hakim dengan sanad yang
sahih).
Mengenai
hal ini, Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Tidaklah seorang
muslim ditimpa penyakit yang lama (washab) maupun kelelahan (nashab), hingga
duri yang menusuknya, bahkan hingga putusnya tali sandalnya, melainkan hal itu
disebabkan oleh dosa, dan apa yang dimaafkan oleh Allah jauh lebih banyak."
Mengenai
hal ini pula, sebagian ulama arif berkata: "Sesungguhnya aku
benar-benar mengetahui dampak hukuman atas dosaku dari perubahan perangai
keledai tungganganku." Yang lain berkata, yaitu Abu Sulaiman ad-Darani
rahimahullah: "Tidaklah seseorang luput dari salat berjamaah
melainkan disebabkan oleh dosa yang telah ia perbuat."
Rezeki
yang dimaksud di sini mencakup kedua jenisnya: rezeki materi (hissi)
maupun rezeki maknawi. Para pemburu dunia dihukum dalam hal rezeki dunia mereka
dengan dipersulitnya jalan-jalan usaha, berkurangnya harta, dan kerusakannya.
Sedangkan para pencari akhirat dihukum dengan diharamkannya rezeki akhirat;
berupa sedikitnya taufik untuk mengamalkan kebajikan, serta tertutupnya
pintu-pintu pembuka ilmu yang bermanfaat.
Oleh
karena itulah, dinukil riwayat yang masyhur dari Imam Asy-Syafii ucapannya:
Aku mengadukan kepada Waki' tentang buruknya hafalanku
Maka ia membimbingku untuk meninggalkan kemaksiatan
Ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya
Dan
cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat
Sebagian
ulama berkata: "Apabila kenikmatan datang beruntun kepada pelaku
maksiat padahal ia terus-menerus berada dalam kemaksiatannya, maka sesungguhnya
itu adalah istidraj [jebakan yang melalaikan] baginya; ia diharamkan dari
indahnya bersyukur atas nikmat tersebut hingga akhirnya ia dihukum atas
kekufurannya."
"Sebaliknya,
apabila bala [ujian] datang kepada orang yang taat, maka sesungguhnya itu
adalah ujian baginya, pelebur bagi dosa-dosanya, dan pengangkat bagi
derajatnya."
Sebagian
mereka berkata: "Setiap petaka yang dibarengi dengan kesabaran, maka
hakikatnya ia adalah nikmat."
Atas
dasar ini semua, seorang dai laksana seorang dokter yang andal dan apoteker
yang cerdas; ia meracik obat dari ramuan Al-Qur'an dan dari madu murni Sunnah
yang dapat menyembuhkan jiwa serta mengobati hati. Ia juga bertindak sebagai
pemandu yang berpengalaman dan penunjuk jalan yang tulus lagi terpercaya; ia
menerangi jalan-jalan para penempuh jalur spiritual (salikin) dan rute
para pencari kebenaran dengan lentera-lentera Al-Qur'an dan lampu-lampu Sunnah.
Ia juga merupakan seorang ayah yang penuh kasih, saudara yang mulia, sahabat
karib, dan teman yang penyayang; ia mencintai untuk manusia apa yang ia cintai
untuk dirinya sendiri, dan membenci untuk mereka apa yang ia benci untuk
dirinya. Ia menasihati tanpa merendahkan, dan memberikan wejangan tanpa membuat
orang berputus asa. Sebab, terlalu banyak mencela terkadang justru membawa
dampak buruk, sebagaimana membiarkan tanpa adanya bimbingan juga merusak. Hal
ini sebagaimana perkataan seorang penyair:
Engkau telah berlebihan dalam mencelaku hingga melewati
batasnya
Padahal
tadinya engkau mengira bahwa celaan itu akan membawa manfaat baginya
Maka,
Tarhib bukanlah upaya untuk membuat manusia berputus asa, hilang
harapan, atau memicu ketakutan yang melumpuhkan nalar berpikir. Melainkan ia
adalah bentuk peringatan dari kesalahan, petunjuk menuju kebenaran, serta
pengarah bagi amal perbuatan agar energi-energi yang kuat dapat melejit menuju
sasaran tanpa adanya hambatan atau rintangan.
Sebagaimana
Targhib juga bukanlah bagian dari lamunan fana di siang bolong, bukan
pula berupa janji-janji manis belaka. Melainkan ia adalah pembangkit bagi
himmah [semangat], penyemangat bagi potensi-potensi terpendam, dan pengasah
bagi tekad yang kuat. Posisinya laksana hadiah bagi para peserta lomba di arena
ihsan, produktivitas, dan kesungguhan jihad. Inilah jalan orang-orang yang
bertakwa, dan metode para dai yang aktif lagi mendalam pemahamannya (faqih).
Dan benarlah firman Allah:
"Sesungguhnya
mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada
Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk
kepada Kami." (QS. Al-Anbiya': 90)
Pasal
Keempat: Pendidikan dan Pengajaran
Umat
Islam, jika boleh dinamai dengan nama-nama tertentu yang memperjelas berbagai
dimensinya, menafsirkan hakikatnya, serta menerangkan tujuan-tujuannya, maka di
antara nama terpenting yang tampak menonjol, luhur, dan tinggi di hadapan
manusia adalah bahwa ia merupakan umat ilmu dan umat pendidikan yang
lurus (tarbiyah qowimah), bahkan umat yang memegang kepeloporan (ustadzah)
dalam bidang ini. Dan mahabenar Allah yang agung dengan firman-Nya:
"Kamu
(umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu)
menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar" (QS. Ali
'Imran: 110).
Maka
setelah itu—atau setelah pemahaman ini—tidaklah mengherankan bagi manusia untuk
mengetahui bahwa Islam telah mendeklarasikan dakwahnya sejak hari pertama,
bahkan sejak momen pertama melalui firman Allah Ta'ala:
"Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia)
dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS.
Al-'Alaq: 1–5).
Sungguh,
kaum Arab, bahkan kelompok Hunafa' [orang-orang yang menjaga benih
tauhid sebelum Islam] maupun yang lainnya, bisa saja meramalkan segala sesuatu,
namun tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menduga bahwa wahyu akan
diawali dengan kata "Bacalah". Terlebih lagi, wahyu tidak dimulai
dengan kata "Ilmu" (al-'ilm), melainkan dengan perintah
membaca. Membaca mengandung konsekuensi adanya tulisan, pena, dan kertas.
Sementara ilmu, terkadang bersifat wahbi [pemberian langsung dari Allah
tanpa proses belajar] yang tidak membutuhkan pena, aktivitas membaca, tulisan,
maupun kertas. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu ini [ilmu peradaban Islam]
nantinya akan lahir dari pena, kertas, perpustakaan, buku, karya tulis,
lembaran catatan, eksperimen, serta buah kecerdasan. (1)
Demikian
pula tidak mengherankan jika Islam menjadikan kedudukan tinggi manusia bertumpu
pada dua hal; pertama adalah iman, dan kedua adalah ilmu. Allah Ta'ala
berfirman:
"Allah
niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadalah: 11).
(1)
Lihat mengenai hal itu dalam kitab "As-Sa'adah wal Qiyadah", hlm.
136.
Islam
juga mengkhususkan nikmat hidayah dan rasa takut (khasyah) hanya kepada
seorang alim yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya Ta'ala:
"Di
antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama." (QS.
Fatir: 28).
Serta
menjadikan mereka sebagai pemelihara wahyu-Nya dan penjaga syariat-Nya, melalui
firman-Nya Ta'ala:
"Tidak
ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Orang-orang yang mendalam ilmunya
berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.”
Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ululalbab." (QS. Ali
'Imran: 7).
Subpembahasan
Pertama
Karakteristik
Ilmu dalam Islam
Ilmu
dalam Islam dibangun di atas fondasi dan kaidah tertentu yang bukan merupakan
produk pemikiran spekulatif, bukan khayalan akal, dan bukan pula lahir dari
eksperimen, hawa nafsu, atau kecenderungan kelompok manusia tertentu.
Melainkan, ia merupakan sebuah ketetapan (namus) dan hukum yang tingkat
kestabilan, kekokohan, dan kebenarannya setara dengan hakikat manusia itu
sendiri; baik hakikat manusia secara jasad maupun ruh, serta insting (gharizah)
maupun akal. Oleh karena itu, Tarbiyah Islamiyah [Pendidikan Islam]
mampu mewujudkan kebahagiaan dan mengantarkan kepada tujuan yang dimaksud dalam
kehidupan dunia manusia maupun kehidupan akhiratnya. Pendidikan ini tidak
mewariskan trauma ( 'uqad), tidak menyisakan luka, penyimpangan,
kecemasan, maupun kezaliman, serta tidak menuntun manusia pada jalan-jalan yang
mengekang dan menghancurkan kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain.
Adapun
peran akal dalam pendidikan ini adalah membangun di atas fondasi tersebut,
menegakkan kaidah-kaidahnya, menyampaikannya, mendidik generasi di atasnya,
merawatnya, mengembangkannya, serta menginovasikan berbagai metode dan sarana
untuknya. Akal juga berfungsi memahami rahasia, makna, serta tujuannya agar
manusia dapat mengambil manfaat, berbahagia, mulia, dan hidup tenteram.
2 —
Di antara karakteristik istimewa lainnya dari ilmu dalam Islam adalah
keterikatannya dengan akidah, hakikat, dan sumber otentik. Ilmu tersebut
menjelajah dan mengarungi alam semesta ciptaan Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya
yang terbatas [alat-uhu al-mahdudah], serta ayat-ayat-Nya yang tersebar
luas. Dan mahabenar Allah dengan firman-Nya:
"Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana (Allah)
memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah memulai penciptaan bagi kehidupan
akhirat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”" (QS.
Al-'Ankabut: 20).
Segala
sesuatu di sisi-Nya berada dalam ukuran yang pasti (bi-miqdar). Setiap
unsur dalam kehidupan ini tidak diciptakan secara sia-sia ('abatsan)
atau ganjil (nizyadan). Melainkan, ia tercipta dalam keadaan saling
terikat dengan yang lain, selaras satu sama lain, terukur, terencana, dan
seimbang. Ia memiliki hukumnya sendiri, memiliki tujuan, serta targetnya
sendiri. Dan mahabenar Allah dengan firman-Nya:
"(Dia)
menyingsingkan pagi, menjadikan malam untuk beristirahat, serta (menjadikan)
matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa
lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am: 96).
"Bumi
telah Kami hamparkan, Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung, dan Kami
tumbuhkan di sana segala sesuatu yang bobotnya ditentukan." (QS. Al-Hijr:
19).
Ilmu
dalam Islam juga menunjukkan kepada seorang muslim suatu hakikat abadi yang
membawa sebuah revolusi besar dan krusial, yaitu bahwa ilmu itu tidak memiliki
batas dan tidak ada akhirnya. Dan mahabenar Allah dengan firman-Nya:
"Kamu
tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.”" (QS. Al-Isra': 85).
"Katakanlah
(Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat
Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai
(ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”" (QS.
Al-Kahfi: 109).
"Seandainya
pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta) yang dibantu oleh
tujuh lautan lagi setelah itu, niscaya kalimat-kalimat Allah belum habis
ditulis. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Luqman:
27).
Kendati
demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjamin bagi manusia—apabila ia
menajamkan pandangan, membaguskan pemikiran, dan menelusuri sebab-sebab yang
tersebar di alam semesta—bahwa Dia akan menunjukkan kepadanya sebagian rahasia
ciptaan-Nya dan mengajarkan apa yang tidak diketahuinya. Dan mahabenar Allah
dengan firman-Nya:
"Dia
mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 5).
"Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap
penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa
(Al-Qur’an) itu adalah benar." (QS. Fussilat: 53).
"Tidaklah
Kami perlihatkan kepada mereka suatu mukjizat, kecuali (mukjizat itu) lebih
besar daripada mukjizat yang sebelumnya." (QS. Az-Zukhruf: 48).
Subpembahasan
Kedua
Fondasi-Fondasi
Pendidikan dan Pengajaran
Merupakan
hal yang jelas dan tidak diragukan lagi bahwa Tarbiyah Islamiyah
dibangun di atas ajaran Islam dengan segala cakupan, realisme, dan keluasannya.
Namun, mungkin ada manfaatnya dalam kesempatan singkat ini jika kita menyoroti
beberapa fondasi tersebut dan yang paling penting dalam bidang ini:
1
— Iman yang Jujur/Sincere (Al-Iman Ash-Shadiq) sebagaimana yang
dijelaskan oleh akidah Islam, diterangkan oleh Al-Qur'an al-Karim, dan
dipaparkan oleh Sunnah yang disucikan; yaitu iman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, Hari Akhir, serta qada
dan qadar.
A
— Iman yang mewariskan rasa takut (khasyah) di dalam hati:
"Tidakkah
engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa
yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan
Dialah yang keempatnya; tidak ada antara lima orang, melainkan Dialah yang
keenamnya; dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia
bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia akan memberitakan
kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Mujadalah: 7).
B
— Iman yang menanamkan rasa percaya diri di dalam hati anak kecil maupun orang
dewasa, serta mengokohkan langkah dalam amal saleh dan kebenaran yang nyata:
Dan
mahabenar Rasulullah ﷺ
ketika menjelaskan hal tersebut kepada Ibnu 'Abbas:
يَا غُلَامُ، احْفَظِ
اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ
اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ
اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَا يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ
قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَا
يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، جَفَّتِ الأَقْلَامُ
وَطُوِيَتِ الصُّحُفُ
"Wahai
anak muda, jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya
engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada
Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah bahwa andai umat manusia bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan
kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan
sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan andai mereka bersatu untuk
menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, mereka tidak akan dapat memudaratkanmu
kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah
diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah kering." (Dikeluarkan oleh
At-Tirmidzi nomor 2516 [tertulis di teks 2518], dan At-Tirmidzi berkata: Hasan
Sahih. Dan Ahmad dalam Al-Musnad nomor 2669 dengan sanad sahih. Jami' al-Ushul
- 11/685)
C
— Iman yang mendorong menuju tujuan-tujuan besar agar agama ini seluruhnya
hanya bagi Allah, dan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi sedangkan
kalimat orang-orang kafir menjadi yang paling rendah, serta bagi Allah-lah
kemuliaan, juga bagi Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.
Iman
ini dipelajari dengan cara membuka pandangan mata (bashar) dan mata hati
(bashirah) terhadap karunia-karunia Allah serta alam semesta-Nya yang
luas terbentang, serta dengan bertafakur dan mentadaburi ayat-ayat-Nya yang
tersebar dan nikmat-nikmat-Nya yang dihamparkan.
Sebagaimana
ia juga dipelajari dengan membersamai Al-Qur'an serta menyelami wahyu ilahi dan
petunjuk rabbani; sebuah kebersamaan dan penyelaman yang membuat manusia
merasakan munajat kepada Tuhannya, merasakan keagungan, kesucian, dan
kebesaran-Nya, serta melihat cahaya-cahaya-Nya yang menerangi langit dan bumi,
yang dengannya tersingkap hakikat segala makhluk baik yang lahir maupun yang
batin. Ia juga dipelajari dengan membersamai para nabi dan rasul, berjalan di
atas sunnah mereka, mengikuti jejak mereka, serta berguru kepada imam dan
pemimpin mereka, yaitu Muhammad Rasulullah ﷺ, dengan cara mempelajari sirah beliau,
mengikuti petunjuknya, mengamalkan syariatnya, berakhlak dengan akhlaknya,
menghias diri dengan sifat-sifatnya, serta meneladani budi pekerti (syamail)
dan perbuatan beliau, serta mempelajari ucapan dan tindakannya.
"Sungguh,
pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat"
(QS. Al-Ahzab: 21).
D
— Sebagaimana ia juga dipelajari melalui teladan yang baik (al-qudwah
al-hasanah), seperti yang telah kami jelaskan pada diri Rasulullah,
kemudian pada diri para sahabat yang mulia.
"Muhammad
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat
mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya." (QS.
Al-Fath: 29).
Abu
Sa'id Al-Khudri meriwayatkan, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersinar:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ
زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيَقُولُونَ: فِيكُمْ مَنْ صاحَبَ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ؟ فَيَقُولُونَ لَهُمْ نَعَمْ، فَيُفْتَحُ لَهُمْ، ثُمَّ يَأْتِي
عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ فَيُقَالُ: فِيكُمْ مَنْ
صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ،
ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ فَيُقَالُ:
هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ؟
فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ
"Akan
datang suatu zaman kepada manusia, lalu sekelompok besar manusia berperang,
kemudian mereka bertanya: 'Apakah di antara kalian ada orang yang pernah
membersamai Rasulullah ﷺ?'
Mereka menjawab: 'Ya,' maka kemenangan pun diberikan kepada mereka. Kemudian
akan datang lagi suatu zaman kepada manusia, lalu sekelompok besar manusia
berperang, lalu dikatakan: 'Apakah di antara kalian ada orang yang pernah
membersamai sahabat Rasulullah ﷺ?' Mereka menjawab: 'Ya,' maka kemenangan diberikan kepada
mereka. Kemudian akan datang lagi suatu zaman kepada manusia, lalu sekelompok
besar manusia berperang, lalu dikatakan: 'Apakah di antara kalian ada orang
yang pernah membersamai orang yang telah membersamai sahabat Rasulullah ﷺ?' Mereka menjawab:
'Ya,' maka kemenangan diberikan kepada mereka." Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari, Al-Fath 7/3.
Dan
karena apa yang diriwayatkan oleh 'Imran bin Husain radhiyallahu 'anhuma,
ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
خَيْرُ أُمَّتِي
قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ - قَالَ
عِمْرَانُ: فَلَا أَدْرِي أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا -
ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَخُونُونَ
وَلَا يُؤْتَمَنُونَ، وَيَنْذُرُونَ وَلَا يُوفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ
"Sebaik-baik
umatku adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian
orang-orang setelah mereka. —'Imran berkata: Aku tidak tahu apakah beliau
menyebutkan setelah generasinya dua generasi atau tiga generasi.— Kemudian
sesudah kalian akan ada suatu kaum yang bersaksi padahal tidak diminta
kesaksiannya, mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bernazar
namun tidak menepatinya, dan tampak pada mereka kegemukan." Fathul Bari
7/3.
Dan
karena apa yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id dari Rasulullah ﷺ:
لَا تَسُبُّوا
أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ كُلَّ يَوْمٍ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا
مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
"Janganlah
kalian mencela sahabat-sahabatku! Karena seandainya salah seorang di antara
kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud setiap hari, hal itu tidak akan
menyamai satu mud [satu cakupan penuh dua telapak tangan] infak salah seorang
dari mereka, tidak pula setengahnya." Sahih.
Maka,
menjadikankan teladan para pemilik iman—yang telah Allah persaksikan keutamaan
mereka, dan Rasul-Nya telah mendorong untuk menghormati mereka serta
menjelaskan kelebihan, kesegeraan, dan nilai mereka—akan menemani manusia
menuju ufuk keagungan, keikhlasan, dan amal nyata. Sebaliknya, menentang mereka
dan memisahkan diri dari jalan mereka akan berujung pada terputusnya kebaikan,
keluhuran, dan hidayah, bahkan dapat mendatangkan kemurkaan Allah dan kesudahan
yang buruk, wal 'iyadzu billah [kita berlindung kepada Allah].
Dari
Abdullah bin Mughaffal, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
اللهَ اللهَ فِي
أَصْحَابِي، لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي
أَحَبَّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ، وَمَنْ آذَاهُمْ
فَقَدْ آذَانِي، وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللهَ، وَمَنْ آذَى اللهَ يُوشِكُ
أَنْ يَأْخُذَهُ
"Bertakwalah
kepada Allah, bertakwalah kepada Allah perihal sahabat-sahabatku! Janganlah
kalian menjadikan mereka sebagai sasaran celaan sesudahku. Barang siapa yang
mencintai mereka, maka karena mencintaiku-lah ia mencintai mereka. Barang siapa
yang membenci mereka, maka karena membenciku-lah ia membenci mereka. Barang
siapa yang menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku. Barang siapa yang
menyakitiku, sungguh ia telah menyakiti Allah. Dan barang siapa yang menyakiti
Allah, maka hampir saja Allah akan mengazabnya." At-Tirmidzi 3862.
*2
— Ilmu yang Bermanfaat (Al-'Ilm An-Nafi')
Yaitu
ilmu yang selaras dengan manhaj akidah dan syariat; tidak berlebihan hingga
membakar syahwat, menyulut fitnah, mencairkan nilai-nilai akhlak, dan membuat
kemungkaran dicintai; tidak pula merendah hingga menyingkap aurat, menumpahkan
kehormatan, menghancurkan ladang dan keturunan, serta membinasakan yang hijau
maupun yang kering [segala hal tanpa sisa].
Melainkan,
ilmu tersebut haruslah ilmu yang berguna, yang mengangkat manusia secara ruh,
jiwa, dan jasad, serta memberikannya kebahagiaan, ketenteraman, dan kemantapan.
Hal itu berlaku pada setiap pengetahuan yang menambah kedekatan hubungan
manusia dengan Allah, serta menambah kemampuannya dalam menjalankan tugas-tugas
kekhilafahan di bumi, dan memakmurkan kehidupan dengan kebaikan serta keadilan
di antara manusia, sekaligus membawa kebahagiaan dan kesejahteraan di dalamnya
sesuai apa yang dihalalkan dan disyariatkan oleh Allah.
Sebagai
contoh, eksploitasi ilmu dalam memproduksi senjata pemusnah massal bertenaga
nuklir, kimia, dan biologi demi meneror orang-orang yang lemah, menindas
mereka, merampas kekayaan mereka, mengisap darah mereka, melanggar kehormatan
mereka, serta memata-matai privasi mereka; semua itu tidak masuk dalam kerangka
ilmu yang bermanfaat dan berguna.
Sebaliknya,
pemanfaatan ilmu atau atom dalam bidang kedokteran, dalam menggerakkan roda
kehidupan, dan dalam memakmurkan bumi untuk memberikan kelapangan bagi manusia,
mengenyangkan perut yang lapar, meringankan penderitaan, serta mengasihi
orang-orang yang membutuhkan dan tertimpa musibah; barulah masuk dalam kerangka
ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat masuk ke dalam seluruh lini
kehidupan yang berbeda dengan segala bentuk dan aktivitasnya. Imam Al-Ghazali
menyatakan:
"Ilmu
itu memiliki tingkatan-tingkatan, dan begitu pula terbagi menjadi ilmu syar'i
dan non-syar'i. Ilmu syar'i adalah ilmu yang diperoleh dari para nabi—shalawat
dan salam Allah semoga tercurah atas mereka. Sedangkan ilmu non-syar'i adalah
seperti ilmu hitung (matematika), kedokteran, dan bahasa. Ilmu-ilmu yang
non-syar'i ini terbagi lagi menjadi ilmu yang terpuji (mahmud), tercela
(madzmum), dan mubah."
"Ilmu
yang terpuji adalah ilmu yang terkait dengan kemaslahatan urusan dunia, seperti
kedokteran, ilmu hitung, dan selain keduanya. Ilmu jenis ini terbagi menjadi
apa yang hukumnya fardu kifayah dan apa yang merupakan keutamaan (fadhilah)
namun bukan kewajiban. Adapun fardu kifayah adalah ilmu yang keberadaannya
tidak boleh tidak ada dalam menegakkan urusan-urusan dunia, seperti kedokteran;
karena ia sangat darurat dalam kebutuhan menjaga kelangsungan tubuh manusia.
Demikian pula ilmu hitung; karena ia sangat darurat dalam muamalah, pembagian
wasiat, warisan (mawarits), dan selainnya. Begitu juga segala hal yang
serupa dengan keduanya. Ilmu-ilmu ini, sekiranya suatu negeri kosong dari orang
yang menguasainya, niscaya berdosalah seluruh penduduk negeri tersebut..."
"Dan
janganlah heran dengan ucapan kami bahwa kedokteran dan ilmu hitung termasuk
fardu kifayah; karena pokok-pokok bidang industri/keterampilan juga termasuk
fardu kifayah, seperti pertanian, menenun, politik, bahkan bekam (hijamah)
dan menjahit. Sebab, andai suatu negeri kosong dari tukang bekam, niscaya
kebinasaan akan segera mendatangi mereka, dan mereka berdosa karena
menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam kebinasaan. Karena sesungguhnya Dzat
yang menurunkan penyakit, telah menurunkan pula obatnya, membimbing untuk
menggunakannya, serta menyediakan sebab-sebab untuk mengupayakannya. Maka tidak
boleh menjerumuskan diri pada kebinasaan dengan mengabaikannya... Adapun ilmu
yang tercela adalah ilmu sihir, jimat-jimat (thalasamat), sulap (sya'badzah),
dan manipulasi/kamuflase (talbisat)." (Lihat Al-Ihya' 1/16.)
Al-Ghazali
telah menjelaskan faktor-faktor tercelanya suatu ilmu ke dalam tiga hal, yang
pertamanya adalah:
1 —
Ilmu tersebut mendatangkan kemudaratan, baik bagi pemiliknya maupun bagi orang
lain, seperti ilmu sihir dan jimat-jimat.
2 —
Ilmu tersebut dibangun di atas khurafat atau di atas keyakinan bahwa segala
materi/benda itulah yang memberikan pengaruh (al-muatstsir) tanpa adanya
Sang Pencipta Pengaruh (Muatstsir [yaitu Allah]). Beliau melarang hal
tersebut dari tiga sisi:
- Pertama: Karena ilmu
itu membahayakan mayoritas makhluk. Seperti orang yang mempelajari ilmu
perbintangan [astrologi] tanpa pemahaman dan tanpa pengetahuan tentang
hisabnya [astronomi] yang telah disebutkan oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya
Ta'ala: "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan." (QS.
Ar-Rahman: 5), dan "Bulan pun telah Kami tetapkan tempat-tempat
peredarannya sehingga (setelah sampai ke tempat peredaran yang terakhir)
kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua." (QS. Yasin: 39). Lalu
terbetik dalam jiwanya bahwa bintang-bintang itulah yang memberikan
pengaruh, dan bahwa mereka adalah tuhan-tuhan yang mengatur karena mereka
merupakan substansi (jawahir) samawi yang mulia; atau ia melihat
bahwa kebaikan dan keburukan itu perlu diwaspadai atau diharapkan datang
dari arah bintang-bintang tersebut, seraya melupakan bahwa matahari,
bulan, dan bintang-bintang tunduk di bawah perintah-Nya Subhanahu wa
Ta'ala. Dengan demikian, ia menjerumuskan manusia ke dalam keburukan yang
besar.
- Kedua: Menghukumi
segala sesuatu berdasarkan spekulasi (takhtmin) dan dugaan (zhann)
yang tidak memiliki dalil. Maka tercelanya ilmu ini adalah dari sisi bahwa
ia merupakan tindakan menyelami kebodohan yang mengantarkan pada kebodohan
berikutnya, bukan pada ilmu.
- Ketiga: Bahwa tidak
ada manfaat di dalamnya. Maka menyia-nyiakan umur—yang merupakan modal
manusia yang paling berharga—untuk hal yang tidak bermanfaat adalah puncak
kerugian.
Faktor
ketiga dari sebab tercelanya suatu ilmu: Menekuni ilmu tidak pada tujuan
yang semestinya, atau dengan cara yang keliru, seperti mempelajari ilmu-ilmu
yang rumit/detail sebelum menguasai yang pokok/besar, dan mempelajari hal yang
samar sebelum hal yang jelas; atau seperti membahas rahasia-rahasia ketuhanan (al-asrar
al-ilahiyah) pada perkara yang tidak mampu dijangkau oleh manusia. Sungguh,
Rasulullah ﷺ
telah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak berguna dan tidak bermanfaat,
beliau bersabda:
نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ
عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
"Kami
berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat." Diriwayatkan
oleh Ibnu Abdil Barr dengan sanad hasan. (Ihya' Ulumiddin secara
ringkas/adaptasi 1/29)
3
— Amal Saleh (Al-'Amal Ash-Shalih)
Amal
saleh adalah pasangan bagi ilmu yang bermanfaat sekaligus bukti atas iman yang
jujur. Amal saleh juga merupakan indikator atas kesalehan ilmu yang diserap,
serta atas keikhlasan seorang alim yang berbicara dan mengajar. Amal terkadang
berupa penjelasan terhadap kebenaran serta kesiapan memikul konsekuensinya,
seperti firman-Nya Ta'ala yang mencela orang-orang yang menyelisihi hal itu,
condong padanya, bermuka dua (dahana) atasnya, dan menukarnya dengan
kesenangan dunia yang sedikit:
"(Ingatlah)
ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi kitab
(Taurat dan Injil), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi kitab itu)
kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.” Namun, mereka melemparkan
(perjanjian) itu di belakang punggung mereka dan menukarnya dengan harga yang
murah. Maka, itulah seburuk-buruk apa yang mereka beli." (QS. Ali 'Imran:
187).
Kemudian
Allah memuji orang selain mereka dari kalangan orang-orang yang mengamalkan
ilmunya lewat firman-Nya Ta'ala:
"Sesungguhnya
di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah, pada apa yang
diturunkan kepadamu (Al-Qur’an), dan pada apa yang diturunkan kepada mereka.
Mereka berendah hati kepada Allah dan tidak menukar ayat-ayat Allah dengan
harga murah. Mereka itulah yang memperoleh pahala di sisi Tuhannya." (QS.
Ali 'Imran: 199).
Sebagaimana
amal juga diwujudkan dengan menjadi teladan dalam perbuatan-perbuatan saleh dan
berada di atas jalan hidayah sesuai dengan perintah-perintah Allah dan
larangan-larangan-Nya, seperti firman-Nya Ta'ala:
"Mengapa
kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan
dirimu sendiri" (QS. Al-Baqarah: 44).
Dan
firman-Nya Ta'ala: "Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu
mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 3).
Serta
firman-Nya Ta'ala: "Aku tidak bermaksud menyelisihimu (dengan melakukan)
apa yang aku larang." (QS. Hud: 88).
Maka
ilmu dalam Islam mengajarkan amal bersamaan dengan ilmu itu sendiri. Ilmu Islam
bukanlah ilmu teoretis yang bersifat sofistik (safsatha-iyyan),
melainkan ilmu yang memanifestasikan kinerjanya di tengah umat. Jadi, tidaklah
ilmu berada di suatu lembah sedangkan umat berada di lembah yang lain. Akan
tetapi, ia adalah ilmu yang menyatu dengan adat kebiasaan umat, amal,
perbuatan, serta perjalanan hidupnya; merasuk kuat di dalam kehidupan sosial
dan budayanya.
Atas
dasar ini, umat Islam menghiasi ilmunya dengan penerapan dan amal, serta
membimbing perjalanan hidupnya dengan ilmu, pemikiran, penelitian, dan argumen
(hujjah). Maka, menuntut ilmu di sisi mereka adalah ibadah, bertafakur
adalah ibadah, dan beramal saleh adalah ibadah.
Dan
mahabenar Allah dengan firman-Nya:
"Allah
menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan
orang-orang yang mempunyai ilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan
selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Ali 'Imran: 18).
"Katakanlah
(Muhammad), “Aku hanya mau menasihati kamu tentang satu hal saja, yaitu agar
kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian
kamu pikirkan”" (QS. Saba': 46).
"Wahai
para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah
kebajikan." (QS. Al-Mu'minun: 51).
"Katakanlah
(Muhammad), “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga
Rasul-Nya dan orang-orang mukmin”" (QS. At-Taubah: 105).
"Sesungguhnya
Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar
gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada
pahala yang besar." (QS. Al-Isra': 9).
Maka
iman umat mendorongnya menuju amal saleh dan kesungguhan dalam kebaikan, bukan
kepada sikap pasrah, keputusasaan (tawakul), maupun kerahiban (rahbanbiyah).
Iman itu menuntunnya menuju produktivitas dan menempuh sebab-sebab kausalitas,
bukan kepada kemalasan, kepatuhan yang buta, maupun ketundukan yang
menghinakan. Iman yang mengajaknya untuk berjalan mencari rezeki dalam
firman-Nya Ta'ala:
"maka
berjalannya di segenap penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan
hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al-Mulk:
15).
Iman
tersebut juga mendorongnya untuk melakukan perjalanan guna memikirkan segala
sesuatu dan memahami berbagai peristiwa agar dapat menyadari sunatullah yang
tersebar di bumi. Allah Ta'ala berfirman:
"Apakah
mereka tidak berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami" (QS.
Al-Hajj: 46).
"Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana (Allah)
memulai penciptaan (makhluk)”" (QS. Al-'Ankabut: 20).
"Sungguh,
telah berlalu sebelum kamu sunatullah (ketentuan-ketentuan Allah). Maka,
berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
mendustakan (kebenaran)." (QS. Ali 'Imran: 137).
Serta
memalingkan perhatiannya kepada kaum-kaum terdahulu yang mengabaikan amal
saleh, berbuat kerusakan di bumi, dan enggan mengikuti kebajikan, sehingga
kesudahan urusan mereka adalah kerugian. Allah Ta'ala berfirman:
"Apakah
mereka tidak berjalan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan
orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya
daripada mereka dan (lebih banyak) peninggalan-peninggalannya di bumi, maka
Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya. Dan tidak ada seorang pun yang
melindungi mereka dari (azab) Allah." (QS. Ghafir: 21).
"Apakah
mereka tidak berjalan di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan
orang-orang yang sebelum mereka? Allah telah menghancurkan mereka; dan bagi
orang-orang kafir (akan menerima) nasib yang serupa itu." (QS. Muhammad:
10).
Islam
telah menjadikan akidahnya bertumbuh suci (tazku) dengan amal, تفكر (tafakur), serta
optimalisasi pandangan mata dan mata hati. Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah,
“Aku hanya mau menasihati kamu tentang satu hal saja, yaitu agar kamu menghadap
Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu
pikirkan”" (QS. Saba': 46).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi ululalbab," (QS. Ali 'Imran: 190
[tertulis di teks 191]).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"Di
bumi ada bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman,
dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang. (Semuanya) diairi
dengan air yang sama, tetapi Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas
sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang
berpikir." (QS. Ar-Ra'd: 4).
Semua
amal ini dan semua ilmu ini didedikasikan demi kemanfaatan umat manusia, serta
menjadi bahan bakar yang baik bagi melesatnya jiwa orang mukmin untuk
menunaikan perannya dalam kehidupan ini secara bahagia lagi mulia; tanpa
kedengkian, tanpa trauma, tanpa kezaliman, tanpa kelancangan, serta tanpa
merasa berjasa (mann), memperbudak, maupun menindas. Hal itu karena
perhitungan pahalanya berada di tangan Allah; ia beramal demi pahala dari-Nya
dan mengharapkan balasan hanya dari-Nya Subhanahu. Dan mahabenar Allah:
"Jika
kamu berpaling, aku tidak meminta imbalan sedikit pun darimu. Imbalanku tidak
lain kecuali dari Allah dan aku diperintah agar termasuk orang-orang
muslim.”" (QS. Yunus: 72).
"Aku
tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain kecuali
dari Tuhan semesta alam." (QS. Asy-Syu'ara': 109 [tertulis di teks 164]).
4
— Akhlak yang Mulia (Al-Akhlaq Al-Karimah)
Akhlak
yang utama dan nilai-nilai yang mulia merupakan fondasi yang luas dari
fondasi-fondasi pendidikan dan pengajaran dalam Islam. Fondasi ini ditegakkan
di atas modal fitrah yang baik serta cadangan dorongan alami di dalam jiwa
manusia yang telah Allah titipkan dalam tabiat manusia sejak Dia menciptakannya
Subhanahu wa Ta'ala:
"(tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu."
(QS. Ar-Rum: 30).
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ
إِلَّا وَيُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ
وَيُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ
تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
"Tidak
ada seorang anak pun yang lahir melainkan dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua
orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana
seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan utuh tanpa cacat, apakah kalian
merasakan ada yang terpotong telinganya?" Kemudian Abu Hurairah berkata:
Dan bacalah jika kalian mau: (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.
Diriwayatkan oleh Muslim 8/52.
Oleh
karena itu, pendidikan Islam berjalan selaras dengan fitrah yang sehat.
Sebagaimana termasuk tugas pendidikan Islam adalah menepis penyimpangan dan
keretakan kepribadian yang ditinggalkan oleh ajaran-ajaran yang sesat. Termasuk
tugasnya pula adalah mengosongkan jiwa manusia dari energi kebinatangan yang
liar yang menarik manusia tersebut ke jurang kebinasaan, perpecahan, dan
kesewenang-wenangan; lalu menggantinya dengan energi-energi lain yang mulia,
serta menyalakan dan menyuplai energi fitrah yang suci di dalam jiwa dengan
asupan makanan yang diperlukan baginya, agar jiwa, perasaan, dan pemikiran
manusia dapat memancarkan cahaya kehidupan yang stabil, bermanfaat, lagi luhur.
Oleh
sebab itu, pendidikan Islam menjadi sebuah keniscayaan bagi kepuasan insani dan
stabilitas emosional, serta keniscayaan bagi kehidupan yang stabil dan
masyarakat yang terbimbing. Ia merupakan hakikat yang nyata dan timbangan yang
tegak, yang menjulang tinggi dengan sendirinya di atas individu maupun
kelompok, serta memaksakan dirinya atas manusia terlepas dari hawa nafsu,
kepentingan, dan keinginan-keinginan pribadinya:
"Wahai
orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah,
walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu dan kerabatmu. Jika dia (yang
terdakwa) kaya atau miskin, Allah lebih tahu kemaslahatan keduanya. Maka,
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.
Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling, sesungguhnya Allah
Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. An-Nisa': 135).
Islam
telah memfokuskan pendidikan pada akhlak yang mulia karena banyak alasan, kami
sebutkan di antaranya:
1
— Karena akhlak adalah nilai hakiki bagi manusia: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ
الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ
"Sesungguhnya
di antara orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaknya dan yang paling lembut kepada keluarganya." At-Tirmidzi, hasan
sahih. Dan beliau ﷺ
bersabda:
كَرَمُ الْمُؤْمِنِ
دِينُهُ، وَمُرُوءَتُهُ عَقْلُهُ، وَحَسَبُهُ خُلُقُهُ
"Kemuliaan
seorang mukmin adalah agamanya, muruah [harga diri]-nya adalah akalnya, dan
kehormatan nasabnya adalah akhlaknya." Al-Hakim dan Al-Bhaihaqi, sahih
sesuai syarat Muslim.
2
— Akhlak sebagai tanda atas keselamatan iman: Beliau bersabda:
أَحْسَنُ النَّاسِ
أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Manusia
yang terbaik adalah yang paling baik akhlaknya." Potongan hadis sahih
diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Thabarani dengan sanad yang baik (jayyid).
3
— Akhlak sebagai tanda kesuksesan di dunia dan akhirat: Allah Ta'ala
berfirman:
"Maka,
berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Seandainya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah
ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan
itu." (QS. Ali 'Imran: 159 [tertulis di teks QS. An-Nisa': 135]).
Rasulullah
ﷺ bersabda:
إِنَّكُمْ لَنْ
تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ
الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
"Sesungguhnya
kalian tidak akan mampu merangkul manusia dengan harta kalian, melainkan kalian
dapat merangkul mereka dengan wajah yang berseri-seri dan akhlak yang
baik." Abu Ya'la dan Al-Bazzar, hasan.
"Jadilah
pemaaf, perintahkanlah (orang-orang) mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah
dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199).
Rasulullah
ﷺ bersabda:
وَمَنْ أُعْطِيَ
حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ، وَمَنْ حُرِمَ
حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ
"Dan
barang siapa yang diberi bagian dari sifat lemah lembut, maka sungguh ia telah
diberi bagian dari kebaikan. Dan barang siapa yang dihalangi dari bagian sifat
lemah lembut, maka ia dihalangi dari bagian kebaikan." Diriwayatkan oleh
At-Tirmidzi, hasan sahih.
5
— Rasa Percaya dan Tawakal (At-Tsiqah wat-Tawakkul)
Rasa
percaya dan tawakal dalam kehidupan ini ditujukan kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala, setelah menempuh sebab-sebab kausalitas dan menjejaki jalan-jalannya.
Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Pencipta sebab-sebab tersebut dan
Dialah yang menjadikannya sebagai jalan untuk meraih apa yang diinginkan dalam
kehidupan ini. Maka, tawakal kepada Allah adalah memohon pertolongan (isti'anah)
dari Allah dan taufik dari-Nya Subhanahu untuk mengikuti jalan yang benar dan
paling ideal dalam menempuh sebab-sebab tersebut serta mengamalkannya.
Kemudian, menyandarkan punggung kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan
kepada-Nya setelah habisnya usaha manusia dan batas kemampuan insani di jalan
tersebut. Sebab, Dialah Pengatur segala urusan, Pemilik segala perintah, dan
Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Di
atas jalan ini dan dengan pemahaman seperti inilah Al-Qur'an al-Karim
menanamkan makna-makna tersebut di dalam hati Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya
yang mulia. Allah Ta'ala berfirman:
"Ketika
orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka
berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Benarlah
Allah dan Rasul-Nya. (Peristiwa) itu justru menambah iman dan keislaman
mereka." (QS. Al-Ahzab: 22).
"(Yaitu)
orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang
mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (kaum musyrik) telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,”
ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah
Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung.” Maka,
mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu
bencana pun dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang
besar." (QS. Ali 'Imran: 173–174). (2)
"Kemudian,
apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah." (QS.
Ali 'Imran: 159). (3)
Maka
tawakal dalam konsep seorang muslim adalah kekuatan yang dengannya ia
menundukkan sebab-sebab kausalitas, serta merupakan keteguhan tekad, rasa
percaya, energi, dan keberanian tatkala sebab-sebab duniawi telah habis.
Walaupun dunia ini bersatu menghadangnya, sesungguhnya kehendak Allah dan
kebersamaan-Nya (ma'iyyah) senantiasa bersamanya.
Dari
Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata perihal ayat: Cukuplah
Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung:
"Kalimat itu diucapkan oleh Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api, dan
diucapkan oleh Muhammad ﷺ
ketika orang-orang berkata: 'Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata
(ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah
(menjadi penolong) bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung.'"
(Al-Bukhari).
At-Tirmidzi
dan Ahmad mengeluarkan hadis dengan sanad sahih dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu
'anhuma, ia berkata: Aku pernah dibonceng di belakang Nabi ﷺ, lalu beliau
bersabda:
«يَا
غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ
تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ
فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ
يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللهُ لَكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَى ذَلِكَ،
وَلَوْ اجْتَمَعَتِ الأُمَّةُ عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ
إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ
الصُّحُفُ»
"Wahai
anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah
Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan
mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika
engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa
andai umat manusia bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu dengan
sesuatu yang belum Allah tetapkan bagimu, mereka tidak akan mampu melakukannya.
Dan andai umat manusia bersatu untuk memudaratkanmu dengan sesuatu, mereka
tidak akan mampu memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah
tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah
kering." Hasan sahih. Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas dari
jalur yang sangat banyak sekali. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad. Dua
Al-Hafiz (Ibnu Rajab Al-Hanbali) berkata: Diriwayatkan oleh Ikrimah, 'Atha' bin
Abi Rabah, 'Amr bin Dinar, Ubaidullah bin Abdullah, Ibnu Abi Mulikah, dan
selain mereka.
Dan
terdapat tambahan dalam riwayat lain sebagai penyempurna hadis:
فَإِنِ اسْتَطَعْتَ
أَنْ تَعْمَلَ بِالرِّضَى فِي الْيَقِينِ فَافْعَلْ، وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ،
فَإِنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا، وَاعْلَمْ أَنَّ
النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ
الْعُسْرِ يُسْرًا، وَلَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ
"Jika
engkau mampu beramal dengan keridaan di atas keyakinan, maka lakukanlah. Namun
jika engkau tidak mampu, sesungguhnya pada kesabaran terhadap apa yang engkau
benci terdapat kebaikan yang banyak. Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu
bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama
kesulitan ada kemudahan, dan satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua
kemudahan."
Lihat
Jami' al-Ushul 11/686, At-Tirmidzi nomor 2518, Ahmad nomor 2669, dan Jami'
al-'Ulum wal-Hikam, dan hadis ini sahih. Jam'ul Jawami' karya As-Suyuthi 975.
Oleh
karena itu, seorang muslim senantiasa merasa mulia, kuat, dan percaya diri
bersama Tuhannya seraya bertawakal kepada-Nya, bukan menjadi orang yang pasrah
tanpa usaha (mutawaakilan), gemetar, lagi goyah.
6
— Cinta karena Allah (Al-Hubb fillah)
Cinta
karena Allah merupakan salah satu karakteristik seorang muslim, bukti dari
bukti-bukti keimanan, serta pilar yang kokoh dari pilar-pilar masyarakat
muslim. Di mana umat Islam berkumpul di atas satu tujuan, di jalan satu target
untuk mewujudkan satu risalah, sehingga mereka laksana satu tubuh; apabila
salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain ikut
merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala
telah memerintahkan hal itu kepada mereka seraya berfirman:
"Berpegangteguhlah
kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai!
Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan,
lalu Dia mempersatukan hatimu sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.
(Ingatlah pula ketika kamu dahulu) berada di tepi jurang neraka, lalu Dia
menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran: 103).
Al-Qur'an
menetapkan bahwa cinta karena Allah dan loyalitas kepada orang-orang mukmin (mualat
al-mu'minin) merupakan tanda dari tanda-tanda iman yang jujur. Allah Ta'ala
berfirman:
"Orang-orang
mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain." (QS. At-Taubah: 71).
Dan
hal ini dikukuhkan oleh Rasulullah ﷺ dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«ثَلَاثٌ
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ
وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لَا
يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ
أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»
"Ada
tiga perkara yang barang siapa mengerjakannya, ia akan merasakan manisnya iman:
Seseorang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain
keduanya, seseorang yang mencintai seorang hamba yang ia tidak mencintainya
kecuali karena Allah, dan seseorang yang benci untuk kembali kepada kekufuran
setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan
ke dalam api." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Dari
Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ الْأَصْحَابِ
عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ
خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ
"Sebaik-baik
sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya kepada sahabatnya. Dan
sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya kepada
tetangganya." At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Sahih sesuai syarat Muslim.
Dari
Abu Darda radhiyallahu 'anhu, ia merafakkannya [menyandarkannya kepada
Nabi ﷺ], beliau bersabda:
مَا مِنْ رَجُلَيْنِ
تَحَابَّا فِي اللهِ بِظَهْرِ الْغَيْيبِ إِلَّا كَانَ أَحَبُّهُمَا إِلَى اللهِ
أَشَدُّهُمَا حُبًّا لِصَاحِبِهِ
"Tidaklah
ada dua orang yang saling mencintai karena Allah tanpa saling bertatap muka (bi-zhahril
ghaib), melainkan yang paling dicintai di antara keduanya oleh Allah adalah
yang paling kuat cintanya kepada sahabatnya." At-Thabarani dengan sanad
yang baik (jayyid) lagi kuat.
Beliau
bersabda:
مَنْ أَعْطَى للهِ،
وَمَنَعَ للهِ، وَأَحَبَّ للهِ، وَأَبْغَضَ للهِ، وَأَنْكَحَ للهِ فَقَدِ
اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ
"Barang
siapa yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencinta karena Allah,
membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sungguh ia telah
menyempurnakan imannya." Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim dengan sanad
sahih.
Al-Qur'an
juga menetapkan bahwa barang siapa yang membenci orang-orang mukmin dan
berloyalitas kepada selain mereka, maka ia adalah orang yang berdosa,
menyelisihi perintah-perintah Allah Subhanahu, lemah imannya, jauh dari
Tuhannya dan dari jalan orang-orang mukmin, serta sungguh ia telah melepas tali
pengikat Islam dari lehernya. Allah Ta'ala berfirman:
"Engkau
(Nabi Muhammad) tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan
hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara,
atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan
keimanan di dalam hatinya dan Dia kuatkan mereka dengan pertolongan
dari-Nya." (QS. Al-Mujadalah: 22).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"Tidakkah
engkau memperhatikan orang-orang (munafik) ke suatu kaum yang telah dimurkai
Allah? Mereka bukan dari (kalangan) kamu dan bukan pula dari (kalangan) mereka.
Mereka bersumpah atas kebohongan, sedangkan mereka mengetahuinya. Allah telah
menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka. Sesungguhnya sangat buruk apa
yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 14).
"Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan
Nasrani sebagai penolong(mu). Sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian
yang lain. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai penolong,
sesungguhnya dia termasuk lingkaran mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Ma'idah: 51).
Para
ahli fikih (fuqaha) menyatakan: Umat telah bersepakat (ijma')
bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya hukumnya fardu. Demikian pula mencintai
orang-orang yang bertakwa dan para ulama hukumnya wajib; karena orang yang
dicintai oleh sang kekasih, pastilah ikut dicintai, dan utusan dari sang
kekasih, tentulah dicintai pula. Mencintai orang-orang saleh memberikan manfaat
di dunia dan akhirat. Di dunia, ia mengajak untuk membangun amal-amal saleh
dengan keteladanan yang baik, saling tolong-menonjol dalam perbuatan baik dan
kebajikan (al-birr), saling menasihati, serta bersepakat dalam
mencurahkan ketaatan. Barang siapa mencintai seseorang, ia akan menyetujuinya,
beramal seperti amalnya, dan mengambil petunjuk dengan petunjuknya, sehingga ia
tumbuh di atas kesempurnaan, berkembang di atas sifat-sifat terpuji, serta
meraih pahala Allah di akhirat. Sebagaimana membersamai orang-orang buruk (al-asyrar)
mendatangkan kemudaratan di dunia dan akhirat, membinasakan energi dan amal,
serta mengundang kemurkaan Allah Subhanahu.
Sungguh,
Rasulullah ﷺ
telah menuntun umat Islam menuju pendidikan yang benar lagi sehat. Mulai dari
pendidikan jasad dengan asupan makanan yang baik lagi halal, hingga olahraga,
berenang, dan menunggang kuda; agar individu muslim memiliki kekuatan dan
kemampuan untuk melanjutkan amal dan perjuangan dalam hidup. Hingga mendidiknya
di atas kekuatan militer dan pelatihan perang; agar menjadikannya senantiasa
mampu menjaga kebenaran, membelanya, menolak agresi, serta mendidiknya atas
ketaatan, kedisiplinan, memobilisasi energi, serta membangkitkan emosi dan
kemarahan demi membela kebenaran.
Sebagaimana
beliau juga mendidiknya di atas ibadah; agar ia menjadi orang yang kuat ruhnya,
agung jiwanya, senantiasa percaya diri, mampu memberi, bersiap mengharap pahala
(al-ihtisab), sabar, qanaah, dan rida.
Kemudian
dengan pendidikan melalui amal saleh dan akhlak yang lurus; agar ia menjadi
pemilik tujuan dan target luhur yang tinggi yang tidak menurunkannya ke dalam
kubangan lumpur kehinaan atau ke dasar syahwat yang liar.
Semua
pendidikan ini dan yang lainnya telah ditetapkan oleh Sunnah, dijelaskan oleh
Sirah yang harum, dan dibangun di dalam jiwa muslim yang luhur laksana raksasa
peradaban (al-muslim al-'imlaq) hingga menjadikannya sebagai teladan
yang mulia, perkasa, lagi menjulang tinggi.
Dan
agar ia senantiasa berada di atas jalan yang terang (al-mahajjah al-baidha')
dan jalan yang lurus (as-shirath al-mustaqim), tidak sesat dan tidak
celaka. Dari 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia
mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda:
لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ
عَلَى مِثْلِ الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ
عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ
"Sungguh,
aku telah meninggalkan kalian di atas sesuatu yang laksana jalan yang terang
menderang, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang berpaling darinya
setelahku melainkan ia akan binasa." Hasan, At-Targhib wat-Tarhib 1/52.
Subpembahasan
Ketiga
Metode-Metode
Pendidikan
1
— Interaksi dengan Kitabullah [Al-Qur’an] Ta'ala:
Umat
manusia, baik pada masa lalu maupun masa kini, tidak pernah mengenal sebuah
kitab, konstitusi, atau metode yang mengandung kekayaan edukatif, tujuan-tujuan
luhur, kandungan-kandungan yang agung, serta metode-metode yang berpasangan
dengan keluhuran, realisme, cakupan luas, dan keseimbangan, laksana Al-Qur'an
al-Karim. Al-Qur'an meletakkan dasar bagi pendidikan yang meliputi dan mencakup
seluruh energi manusia, bakat-bakatnya, instingnya, kerinduannya, serta
tujuan-tujuannya. Ia tidak keluar dari satu tujuan tersebut yang tegak lurus di
atas manhaj yang unik; yang menebarkan kedamaian, ketenangan, dan ketenteraman
di dalam jiwa, serta menanamkan kemantapan dan kebahagiaan di luar jiwa bersama
alam semesta dan masyarakat, sekaligus menghiasi kehidupan dengan keindahan,
ihsan, dan persaudaraan.
Di
antara metode pendidikan dalam Al-Qur'an al-Karim adalah pendidikan dengan
doktrinasi (at-talqin), peniruan (al-muhakah), mengikuti teladan
yang baik melalui pengajaran, praktik langsung, dan pembiasaan. Juga melalui
amal, penggunaan logika, peniruan aktual, memberikan pengaruh pada jiwa,
mengunggah emosi, serta melalui metode kisah-kisah dan ibrah dari kondisi kaum
terdahulu. Serta melalui penjelasan yang mukjizat (al-bayan al-mu'jiz),
dialog (al-hiwar), pembuatan perumpamaan (dharbul amtsal),
penggunaan hikmah, penetapan realitas, serta pemanfaatan indra, tafakur,
tadabur, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, amar makruf nahi
mungkar, transparansi ruh, kesucian nurani, keikhlasan, cinta, tarhib
(ancaman/peringatan) dan targhib (motivasi/janji pahala), qisas, hukuman
edukatif (at-ta'zir), penerimaan tobat dan ampunan, amal saleh, serta
kesucian dan keutamaan... dsb.
2
— Interaksi dengan Sirah Nabawiyah:
Sirah
Nabawiyah adalah pelatihan praktis bagi pendidikan. Di mana pelatihan praktis
bagi pendidikan tetap menjadi salah satu metode terpenting dalam pendidikan dan
pengajaran.
Allah
Ta'ala berfirman seraya memerintahkan untuk meneladani Rasulullah ﷺ:
"Sungguh,
pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu" (QS.
Al-Ahzab: 21).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) serta
ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat
tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa': 59).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu
berpaling daripada-Nya, padahal kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)."
(QS. Al-Anfal: 20).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"Tidaklah
pantas bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya
telah menetapkan suatu keputusan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka
tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh
dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 36).
Dari
'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ telah memberikan
nasihat kepada kami dengan sebuah nasihat yang membuat hati bergetar, maka kami
berkata: "Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan,
maka berikanlah wasiat kepada kami!" Beliau bersabda:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى
اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"Aku
wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat
walau yang memimpin kalian adalah seorang budak. Dan sesungguhnya, barang siapa
di antara kalian yang hidup sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang
banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah
Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi
geraham kalian! Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru [dalam
agama], karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah
kesesatan." Hasan sahih, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud.
3
— Interaksi dengan Salafus Saleh:
Salafus
saleh adalah madrasah dan mereka adalah kebersamaan yang mulia yang mendampingi
turunnya wahyu, belajar darinya, dan berjalan mengiringi kafilah dakwah. Mereka
adalah buah-buah dari pendidikan, bunga-bunga dari taman riyadhoh, keharuman
iman, perbincangan sepanjang zaman, kisah dari berbagai abad, serta kabar
gembira bagi risalah-risalah dan para rasul. Dan mahabenar Allah:
"Muhammad
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat
mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda
mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah perumpamaan
mereka dalam Taurat dan perumpamaan mereka dalam Injil, seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu membuatnya kuat, kemudian menjadi besar
dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak memusahkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang
besar kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara
mereka." (QS. Al-Fath: 29).
Mereka
adalah wujud nyata dari persaudaraan seutuhnya, sifat mengutamakan orang lain (al-itsar)
seutuhnya, kemuliaan seutuhnya, cinta seutuhnya, kesucian seutuhnya, dan
keberuntungan seutuhnya. Dan mahabenar Allah:
"Orang-orang
(Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan telah beriman sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke tempat
mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya atas apa yang
diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya
sendiri, meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya
dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang
datang setelah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah
kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan dan
janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang
beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”"
(QS. Al-Hasyr: 9–10).
Mereka
adalah wujud nyata dari sifat kelaki-lakian/kesatria (ar-rujulah)
seutuhnya, keteguhan tekad, perjuangan, kejujuran, kesetiaan, keikhlasan,
pengorbanan (at-tadhhiyah), dan kesiapan menebus dengan jiwa. Dan
mahabenar Allah:
"Di
antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara
mereka ada pula yang menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah
(janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23 [tertulis di teks 22]).
Mereka
adalah pemilik lisan-lisan yang menjaga kesucian ('afifah),
kemaluan-kemaluan yang bersih, tangan-tangan yang amanah, shalat yang khusyuk,
harta-harta yang zakat [suci/berkembang], serta janji-janji yang dipelihara.
Dan mahabenar Allah:
"Sungguh,
beruntunglah orang-orang mukmin, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam
shalatnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang
sia-sia, orang-orang yang menunaikan zakat, orang-orang yang menjaga
kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka
miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Bagang siapa mencari
(pelampiasan syahwat) di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui
batas. (Beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya, serta
orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan
mewarisi," (QS. Al-Mu'minun: 1–10).
Maka
dari itu, kondisi Salafus Saleh terdahulu menjadi cahaya, hidayah, teladan,
serta tanda-tanda di atas jalan yang dijadikan petunjuk oleh seorang mukmin
dalam menempuh jalannya, jihadnya, dan dakwahnya.
Dengan
demikian, mendidik seorang muslim di atas makna-mana Islam—terkhusus pada
hari-hari ini—serta membentuk perilakunya, amalnya, dan tindakannya selaras
dengan ajaran-ajaran ini merupakan perkara darurat yang tidak boleh tidak ada
bagi umat Islam agar ia dapat bangkit, tegak batangnya, dan semakin kuat
barisannya. Maka, wajib atas para dai untuk memberikan perhatian besar padanya
jika mereka ingin mengibarkan panji bagi Islam, menerapkan syariat untuknya,
serta mendidik bagi Islam suatu generasi yang dengannya ia merasa bangga,
mulia, dan meraih kemenangan, insya Allah.
Dan
di antara hal yang wajib diperhatikan dalam bidang ini adalah bahwa Salafus
Saleh merupakan penerapan praktis dan indikator yang jelas di atas jalan
Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka tidak berdiri hanya dengan zat mereka semata, atau
hanya dengan akal mereka belas.
Di
antara sikap abadi yang dideklarasikan oleh para ulama yang ikhlas dalam bidang
ini adalah sikap ulama zaman ini sekaligus pembimbingnya, yaitu Syaikh Said
Al-Nursi asal Turki yang dijuluki sebagai "Badiuzzaman" rahimahullah
[semoga Allah merahmatinya] dan melipatgandakan pahalanya. Sikap ini terangkum
dalam peristiwa ketika ia pada suatu kali merasakan bahwa di antara para murid
dan pengikutnya ada yang berlebihan dalam menguduskan dan mengagungkannya
hingga batas yang amat besar, serta mengaitkan tolok ukur kebenaran pada sosok
dirinya yang fana. Maka ia berkata kepada mereka seraya berwasiat, mengarahkan,
dan menasihati:
"Jangan
sekali-kali kalian mengaitkan kebenaran yang aku serukan kepada kalian ini pada
sosok diriku yang fana. Akan tetapi, wajib atas kalian untuk segera
mengaitkannya pada sumbernya yang paling suci: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.
Dan ketahuilah bahwa aku ini tidak lebih dari seorang makelar yang menjajakan
barang dagangan milik Ar-Rahman Jalla Jalaluhu. Dan ketahuilah bahwa aku
tidaklah maksum; terkadang bisa luput dariku suatu dosa, atau tampak dariku
suatu penyimpangan, sehingga penampilan kebenaran yang kalian kaitkan pada
diriku menjadi cacat akibat dosa atau penyimpangan tersebut. Dan perbuatan
dosaku atau penyimpanganku itu kelak bisa menjadi penghalang bagi kalian dari
kebenaran disebabkan apa yang merusaknya dan bercampur dengannya dari penyimpangan
dan dosa-dosaku." (Lihat mengenai hal itu dalam kitab "Tarbiyatul
Awlad fil Islam" karya Alwan - 2/858)
Oleh
karena itu, barang siapa yang teperdaya oleh dirinya sendiri sehingga enggan
menerapkan hukum-hukum syariat, maka ia bukanlah orang saleh dan tidak termasuk
bagian dari Salafus Saleh sedikit pun. Melainkan ia termasuk dari golongan
orang yang buruk, serta ulama jahat ('ulamaus su') dan ulama fitnah.
Beliau bersabda:
الْعِلْمُ عِلْمَانِ:
فَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ فَذَلِكَ حُجَّةُ اللهِ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ،
وَعِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ
"Ilmu
itu ada dua macam: Ilmu yang hanya berada di lisan, maka itu adalah hujah Allah
Ta'ala atas makhluk-Nya. Dan ilmu yang meresap di dalam hati, maka itulah ilmu
yang bermanfaat." Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad sahih.
Dan
beliau bersabda:
لَا تَعَلَّمُوا
الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ،
وَلِتَصْرِفُوا وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْكُمْ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَهُوَ فِي
النَّارِ
"Janganlah
kalian mempelajari ilmu untuk memamerkannya di hadapan para ulama, atau untuk
mendebat orang-orang bodoh dengannya, atau untuk memalingkan wajah-wajah
manusia agar melihat kepada kalian. Maka barang siapa yang melakukan hal itu,
ia berada di neraka." Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari hadis Jabir dengan
sanad sahih.
Comments
Post a Comment