Aqabat Ala Thariqi Dakwah
Rintangan dan Kewajiban di Jalan Dakwah – Bersama Bekal Para Salik (Zad As-Sairin)
Pertama:
Rintangan-Rintangan yang Diperkirakan
Dengan
kearifan seorang pakar, pengalaman seorang yang telah teruji, dan ketelitian
seorang ulama, Imam Hasan al-Banna menjelaskan hakikat serta sebab-sebab
rintangan yang diperkirakan akan menghadang di jalan dakwah, sekaligus
bagaimana sikap al-Ikhwan dalam menghadapinya. Beliau—rahimahullah—berkata:
«Aku
ingin berterus terang kepada kalian bahwa dakwah kalian saat ini masih belum
dikenal oleh mayoritas manusia. Pada hari mereka mulai mengetahuinya dan
memahami maksud serta tujuan-tujuannya, kalian akan menghadapi penentangan yang
sengit dan permusuhan yang kejam dari mereka. Kalian akan mendapati banyak
kesulitan di hadapan kalian, dan kalian akan diadang oleh berbagai rintangan.
Pada saat itulah kalian baru mulai menapak jalan yang dilalui oleh para
pengemban dakwah terdahulu. Adapun sekarang, kalian masih belum dikenal, dan
kalian masih berada dalam tahapan merintis jalan bagi dakwah serta bersiap-siap
menghadapi apa yang dituntutnya berupa perjuangan dan jihad». (Risalah Baina
Al-Ams wa Al-Yaum)
Dalam
risalah yang sama, Ustadz Al-Banna menetapkan rintangan-rintangan utama
tersebut, yaitu:
- Rintangan Pertama:
Ketidaktahuan (kejahilan) umat/rakyat.
- Rintangan Kedua:
Keheranan orang-orang yang taat beragama (kaum taat yang kaku) dan
penolakan dari para ulama resmi (pemerintah/institusional).
- Rintangan Ketiga:
Kebencian para pemimpin, tokoh masyarakat, serta pemilik kedudukan dan
kekuasaan.
- Rintangan Keempat:
Sikap menentang dari seluruh pemerintah secara seragam di hadapan kalian,
serta pembatasan terhadap aktivitas kalian.
- Rintangan Kelima:
Upaya para perampas kekuasaan/penjajah (al-ghashibin) dengan segala
cara untuk menjatuhkan kalian dan memadamkan cahaya dakwah kalian.
- Rintangan Keenam:
Hembusan debu-debu syubhat (keraguan) dan kezaliman tuduhan-tuduhan
(fitnah).
"Mereka
hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka,
tetapi Allah menolak melainkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang
kafir itu tidak menyukainya." (QS. At-Taubah: 32)
Kedua:
Ujian dan Penggemblengan (Mihnah)
Kemudian
kita mendapati Imam Al-Banna merinci dengan penuh transparansi dan pandangan
futuristik di dalam risalah ini mengenai bentuk-bentuk cobaan yang akan dialami
oleh al-Ikhwan sebagai konsekuensi dari rintangan-rintangan di atas, yaitu
sebagai berikut:
- Ujian Pertama: (Maka
kalian akan dipenjara dan ditahan)
- Ujian Kedua: (Kalian
akan dimutasi/diasingkan dan dikesampingkan)
- Ujian Ketiga: (Aset
dan kepentingan kalian akan disita, serta aktivitas usaha kalian akan
dilumpuhkan)
- Ujian Keempat: (Rumah-rumah
kalian akan digeledah, dan boleh jadi ujian ini akan berlangsung lama bagi
kalian)
"Apakah
manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami
telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2)
Ketiga:
Sepuluh Kewajiban Saat Menghadapi Mihnah dan Rintangan
Pada
bagian akhir, beliau menetapkan kewajiban-kewajiban atau faktor-faktor
keberhasilan untuk mengatasi berbagai ujian dan rintangan tersebut sebagai
berikut:
- Kewajiban Pertama:
Beriman kepada Allah, merasa izzah (mulia) dengan makrifat kepada-Nya, dan
berserah diri (tawakkal) kepada-Nya.
- Kewajiban Kedua: Tidak
memiliki rasa takut dan gentar kecuali hanya kepada Allah Ta'ala.
- Kewajiban Ketiga:
Menunaikan perkara-perkara yang fardhu (wajib) dan menjauhi segala
larangan.
- Kewajiban Keempat:
Berakhlak dengan nilai-nilai keutamaan (al-fadhail) dan berpegang
teguh pada sifat-sifat kesempurnaan.
- Kewajiban Kelima:
Fokus berinteraksi dengan Al-Qur'an dan Sirah Nabawiyah serta mengkajinya
(madarasah).
- Kewajiban Keenam:
Memberikan perhatian besar pada aspek aplikatif (amal nyata) dan
menjauhkan diri dari perdebatan (jadal).
- Kewajiban Ketujuh:
Saling mencintai (tahabb) dan berkomitmen menjaga ikatan
persaudaraan (rabthah akhuwiyah).
- Kewajiban Kedelapan:
Teguh di atas prinsip (tsabat 'ala al-mabda').
- Kewajiban Kesembilan:
Mendengar dan taat (sam'an wa tha'atan) kepada pimpinan.
- Kewajiban Kesepuluh:
Senantiasa optimis menanti datangnya kemenangan dan pertolongan dari Allah
Ta'ala.
"Wahai
orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang
dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (10) (Yaitu) kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah
yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (11) Niscaya Allah mengampuni
dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, dan tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah
kemenangan yang agung. (12) Dan (ada lagi karunia) yang lain yang kamu sukai
(yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan
sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (13) Wahai
orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana
Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia,
"Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama)
Allah?" Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, "Kamilah
penolong-penolong (agama) Allah," lalu segolongan dari Bani Israil beriman
dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang
yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang
yang menang." (QS. Ash-Shaff: 10-14)
«Semoga
Allah memberikan taufik kepada kami dan kalian semua menuju apa yang Dia cintai
dan ridhai, menuntun kalian dan kami ke jalan orang-orang pilihan yang mendapat
petunjuk, menghidupkan kita dalam kehidupan orang-orang yang mulia lagi
bahagia, serta mewatikan kita dalam kematian para mujahid dan syuhada.
Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong». (Risalah
Baina Al-Ams wa Al-Yaum)
Comments
Post a Comment