Bab V: Tabligh dengan Amal

BAB KELIMA

TABLIG DAN AMAL, SERTA SARANA-SARANANYA

Mencakup:

  • Pasal Kesatu: Teladan yang Baik (Al-Qudwah al-Hasanah)
  • Pasal Kedua: Peran Masjid dalam Dakwah
  • Pasal Ketiga: Peran Sekolah dalam Dakwah
  • Pasal Keempat: Peran Universitas dalam Dakwah
  • Pasal Kelima: Media Massa dan Dakwah

PASAL KESATU

TELADAN YANG BAIK (AL-QUDWAH AL-HASANAH)

Pembahasan Pertama: Konsep Amal dan Apa yang Dimaksud Dengannya

Yang kami maksud dengan tablig melalui amal (al-tablīgh bi al-‘amal) adalah setiap tindakan yang membawa pada penghapusan kemungkaran serta pembelaan dan penampakan kebenaran. Penghapusan kemungkaran disyaratkan harus menggunakan sarana-sarana yang telah kami bahas dalam bab Amar Makruf Nahi Mungkar mengenai mengubah dengan tangan. Maka, siapa saja yang ingin merujuk kembali kepadanya, tidak mengapa, agar ia mengetahui batasan, kadar, dan syarat-syarat dari amal ini.

Di sini kami akan memaparkan amal-amal lain yang terkadang memiliki manfaat dan syiar tentang Islam yang sama seperti ucapan, atau bahkan lebih besar dalam beberapa kondisi, karena di dalamnya terdapat hal-hal tertentu yang merealisasikan tegaknya syariat Allah pada salah satu sisinya. Amal ini, dengan sendirinya, menjadi dakwah yang senyap (da'wah shāmitah) menuju Islam, menguatkan keberadaannya, menyebarkan prinsip-prinsipnya, serta menyiarkan syiar-syiarnya. Di antara amal-amal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Memilih orang yang saleh untuk memimpin lembaga penting seperti lembaga media massa atau pers. Tindakan ini pada hakikatnya merupakan dakwah senyap menuju perbaikan (ishlāh) dan keistiqamaan, serta membiasakan masyarakat luas pada kebiasaan-kebiasaan Islami dan tutur kata yang baik (al-kalimah al-thayyibah), baik yang dibaca maupun didengar melalui lembaga-lembaga penting tersebut. Lembaga-lembaga ini sangat diincar oleh orang-orang yang berpikiran non-Islami untuk menduduki jabatan-jabatan tertinggi di dalamnya agar mereka dapat menyebarkan pemikiran dan menyiarkan prinsip mereka melaluinya. Oleh karena itu, jika lembaga-lembaga ini dipimpin oleh seorang pemikir Muslim, hal itu akan menjadi kebaikan yang sangat besar bagi Islam dan kaum Muslim. (1) Al-Furqan: 63
  1. Mencetak buku-buku Islami dan memudahkannya bagi orang-orang yang berminat dengan harga yang murah, seperti mencetak buku-buku warisan Islam (turāts), buku-buku hadis, buku-buku karya para pemikir Islam kontemporer, serta buku-buku yang menjelaskan sisi-sisi penting dalam amal Islami dan membahas masalah-masalah yang dihadapi pemuda dan masyarakat, seperti kebebasan wanita, hijab, riba, asuransi, pemerintahan Islam, dan syura.

Demikian pula buku-buku yang menjelaskan kekuatan akidah Islam, mengobati penyakit-penyakit sosial, kesukuan/nasionalisme, dan psikologis, serta mengembalikan rasa percaya diri ke dalam barisan orang-orang beriman (al-shaff al-mu'min), membangkitkan kerinduan serta semangat mereka, dan menampakkan keutamaan serta peradabannya.

  1. Membangun sekolah-sekolah Islami yang mendidik generasi muda Muslim di atas ajaran-ajaran Islam dan petunjuk-Nya. Sekolah-sekolah ini menjalankan perannya dalam kesenyapan, dan melalui sekolah-sekolah tersebut, upaya-upaya yang ikhlas dapat mengembangkan kurikulum serta menerapkan Islam secara praktis kepada para siswanya, serta mewajibkan mereka pada hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan umat mereka. Tidak tersembunyi lagi betapa besar manfaat dan agungnya amal dalam pendidikan Islam, dan kami telah memaparkan sebagian dari hal itu di halaman [...].
  2. Membangun rumah-rumah tahfiz Al-Qur'an untuk mengajarkan kitab Allah dan menjelaskan maknanya kepada anak-anak maupun orang dewasa. Sebab, Al-Qur'an adalah undang-undang dasar (dustūr) umat, penjaga ajaran-ajarannya, dan mukjizat Rasul yang kekal hingga hari kiamat.
  3. Membangun masjid-masjid dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan Islami di dalamnya, serta menyediakannya dengan mushaf-mushaf dan buku-buku yang bermanfaat. Tidak diragukan lagi bahwa amal ini memiliki manfaat yang sangat banyak, khususnya di negeri-negeri yang marak dengan gerakan yang memusuhi Islam dan kaum Muslim, atau di negeri-negeri yang di dalamnya terdapat minoritas Muslim.
  1. Membangun rumah sakit-rumah sakit dan panti-panti sosial. Rumah sakit Islami, khususnya di negara-negara miskin, menjaga kaum Muslim dari serangan misionaris (al-hajmah al-tabsyīriyyah), mengobati penyakit mereka, meringankan rasa sakit mereka, dan menyehatkan tubuh mereka. Para dokter Muslim yang berkomitmen (multazim) di rumah sakit-rumah sakit ini menjalankan peran besar dalam dakwah menuju Allah Tabāraka wa Ta‘ālā. Para misionaris telah mengeksploitasi sarana ini untuk menggoyahkan akidah kaum Muslim, memengaruhi mereka, serta menampakkan rasa iba dan kasih sayang demi menyesatkan manusia dan menjauhkan mereka dari jalan yang benar. Demikian pula halnya dengan panti-panti sosial dalam merawat keluarga-keluarga miskin, menyayangi mereka, membagikan apa yang disumbangkan oleh orang-orang baik, serta mengasuh anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan kaum daif dengan perawatan, bimbingan, serta pelatihan keterampilan atau kejuruan.

Selain itu, statistik mengenai kondisi kaum Muslim sungguh mencengangkan dan menarik perhatian, yang menyerukan kepada kaum Muslim agar mewaspadai bahaya-bahaya yang tidak dapat diatasi kecuali dengan amal nyata. Dalam statistik Organisasi Kebaikan Islam Internasional (Al-Hai'ah al-Khairiyyah al-Islāmiyyah al-‘Ālamiyyah) mengenai kondisi kaum Muslim disebutkan sebagai berikut: Sesungguhnya 1.000 anak meninggal setiap hari karena kelaparan, malanutrisi, dan penyakit, yang sebagian besarnya adalah Muslim. Sebanyak 1.050 juta orang di dunia berada dalam kemiskinan ekstrem, terancam kelaparan dan malanutrisi, yang sebagian besarnya adalah Muslim. Sebanyak 36 negara merupakan negara termiskin dan paling tertinggal di dunia, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Invasi Pemikiran (Ghazwul Fikri) terhadap Kaum Muslim dalam Agama dan Akidah Mereka:

Mantan Menteri Wakaf Kuwait, Tuan Yusuf al-Hajji, menyampaikan sebuah pernyataan melalui pidato yang disampaikannya pada konferensi pendirian pertama Organisasi Kebaikan Islam, mengenai eksploitasi terhadap kaum Muslim karena kebutuhan dan kemiskinan mereka oleh kekuatan-kekuatan yang dengki terhadap Islam dan kaum Muslim, guna mengeksploitasi mereka dan menghapus kepribadian Islami mereka melalui kebutuhan, kefakiran, kemiskinan, kebodohan, dan penyakit mereka. Beliau berkata: "Biarkan angka-angka yang berbicara:"

  • 16 ribu orang Muslim murtad dari agama mereka setiap hari sebagai akibat dari aktivitas aliran-aliran destruktif.
  • 18% persentase jumlah kaum Muslim di Malawi, setelah sebelumnya mencapai 70%.

Inilah pemikiran yang pintunya adalah kemiskinan dan peningkatannya adalah pengabaian terhadapnya (1). Di dalam laporan tersebut terdapat fakta-fakta mencengangkan yang menuntut kaum Muslim untuk mempelajari bahasa amal dan tindakan, agar mereka dapat menjaga diri mereka sendiri, apalagi untuk mengajak orang lain kepada Islam.

Sebab serigala-serigala tengah mengintai dan bersiap-siap untuk mencabik-cabik tubuh kaum Muslim serta mengisap darah mereka yang tidak berdosa. (1) Lihat pernyataan Organisasi Islam Internasional yang diterbitkan di Kuwait tahun 1404 H / 1984 M, hlm. 28, 29.

Pembahasan Kedua: Tablig Melalui Rekam Jejak yang Baik (Al-Sīrah al-Hasanah)

Rekam jejak yang baik (al-sīrah al-hasanah) adalah kunci ajaib bagi hati, dan obat yang pasti bagi penyakit-penyakit ruhani. Dengannya, seorang dai mampu mengobati penyakit-penyakit jiwa, menyembuhkan penyakit-penyakit hati, dan membasuh kotoran-kotoran dada, sementara ia sendiri berada dalam ketenangan jiwa; tidak terpancing oleh amarah dan tidak terhasut oleh kebodohan yang menguasai orang-orang jahil. Ia juga tidak akan dihadapi dengan penolakan, kekerasan, dan pengingkaran yang merupakan metode orang-orang keras kepala serta profesi orang-orang yang sesat.

Sungguh, rekam jejak yang baik dan perlakuan yang mulia merupakan daya tarik yang tidak dapat ditolak dan magnet yang tidak dapat ditangkis, sebagaimana ia juga merupakan senjata yang tajam di tangan para dai yang ikhlas. Maha Benar Allah dalam firman-Nya:

"...Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu..." (Ali 'Imran: 159)

Maka rekam jejak dai yang mulia adalah lisan yang fasih dalam menjelaskan kebenaran dan meninggikan risalah, logika yang balig dalam menerangkan petunjuk dan menyerukannya, serta cahaya yang menyelimuti kegelapan lalu mencerai-beraikan kepekatannya, menampakkan fajarnya, dan menyingsingkan paginya.

Adapun jika sang dai buruk akhlaknya, kaku, keras hatinya, kasar jiwanya, dan tumpul perasaannya, niscaya jiwa dan ruh akan menjauh darinya, serta hati dan sanubari akan menjauhinya. Jika ia berbicara, seolah-olah ia sedang berkaok di tempat yang runtuh atau berseru di tengah kematian.

Sikap Dai terhadap Hal yang Baik (Al-Hasan) dan yang Buruk (Al-Qub):

Rekam jejak dai yang baik adalah rekam jejak yang selaras dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman dan kedalaman, tanpa sikap berlebih-lebihan (tanatthu‘) atau kekerasan.

Terkadang, meskipun memiliki rekam jejak yang baik dan amal yang lurus, seorang dai tetap menghadapi penentangan, sikap keras kepala, kezaliman, dan kelaliman dari orang-orang yang rekam jejaknya ternoda, pemahamannya dangkal, dan pemikirannya sakit. Maka, ini adalah takdirnya dan itulah risalahnya. Ia harus bersabar, mengharap pahala (ihtisāb), beramal, dan bersungguh-sungguh hingga ia dapat mengubah realitas yang memilukan ini, tradisi yang rusak, dan kebiasaan-kebiasaan yang buruk.

Namun, ada fakta-fakta yang harus diperhatikan, dan hal ini tidak tunduk pada pembenaran atau pendustaan, kepatuhan atau kerenggangan, melainkan mengikuti warisan kemanusiaan, hati, dan emosi, yang tidak diingkari oleh hati mana pun atau ditentang oleh manusia mana pun, yaitu perbuatan-perbuatan yang mulia pada zatnya: seperti menjenguk orang sakit, menoolong orang yang membutuhkan, bertakziah kepada orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang lemah dan menyayanginya, berlaku adil dan meninggalkan kezaliman, jujur dan menjauhi kebohongan, amanah dan menjauhi pengkhianatan, serta menyayangi orang yang tertimpa musibah dan anak yatim. Perbuatan-perbuatan ini dan yang sejenisnya adalah warisan mulia bagi kemanusiaan yang tidak dibenci oleh siapa pun atau ditentang oleh sekelompok orang, dan inilah yang harus difokuskan oleh seorang dai. Ali Karramallāhu Wajhah berkata: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan kebaikan dan menciptakan orang-orang yang layak baginya, lalu Dia menjadikannya dicintai oleh mereka dan menjadikan perbuatannya dicintai oleh mereka, serta mengarahkan orang-orang yang mencarinya kepada mereka, sebagaimana Dia mengarahkan air ke tanah yang tandus agar tanah itu hidup dengannya dan hidup pula penduduknya dengannya. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebaikan (ahlul ma'ruf) di dunia adalah orang-orang yang memperoleh kebaikan di akhirat" (1).

Dari Abu Hurairah radiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ: تَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا،

أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

"Setiap persendian manusia wajib dikeluarkan sedekahnya setiap hari selama matahari terbit: engkau mendamaikan (berlaku adil) di antara dua orang adalah sedekah, engkau menolong seseorang naik ke atas hewan tunggangannya lalu engkau menaikkannya ke atasnya atau engkau mengangkat barang bawaannya ke atasnya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang engkau ayunkan menuju salat adalah sedekah, dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalanan adalah sedekah." (Muttafaq 'Alaih)

"Tidak ada kebaikan pada banyak bisikan mereka, kecuali dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar." (An-Nisa': 114)

Dari Abu Hurairah radiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ: وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ، فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

"Ada seorang laki-laki melewati dahan pohon di tengah jalan, lalu ia berkata: 'Demi Allah, sungguh aku akan menyingkirkan dahan ini dari kaum Muslim agar tidak mengganggu mereka,' maka ia pun dimasukkan ke dalam surga." (HR. Muslim)

Berdasarkan hal ini, amal-amal saleh yang menjadi sebab mengalirnya manfaat bagi manusia dan kemudahan bagi mereka merupakan amal yang diperintahkan kepada seorang Muslim, dan di dalamnya terdapat banyak pahala dan ganjaran. Sebagaimana di dalamnya juga terdapat pelunakan hati dan jiwa serta penarikan simpati manusia kepada sang dai dalam jumlah yang banyak yang patut dijaga oleh seorang Muslim.

Dasar-Dasar Rekam Jejak yang Baik Tersebut:

Rekam jejak yang baik memiliki dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang harus ditegakkan dan diwujudkan agar dapat disifati dengan sifat ini, serta agar dapat menjalankan peran yang dituntut dan dibebankan kepadanya. Di antaranya:

  1. Akhlak yang baik (Husn al-Khuluq): Akhlak yang baik adalah kalimat yang di dalamnya tercakup banyak sifat mulia yang wajib dimiliki oleh seorang manusia Muslim. Dalam kesempurnaannya terdapat kesempurnaan iman, dan dalam kekurangannya terdapat kekurangan iman. Benarlah Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam saat bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik bagi istri-istrinya." (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: Hadis Hasan Shahih).

Al-Qur'an sungguh telah memuji Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam karena akhlaknya yang baik, lalu berfirman:

"Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam: 4)

Demikian pula, akhlak yang baik memiliki kedudukan yang agung dalam ranah amal saleh, serta derajat yang besar di sisi Allah Subhānahu wa Ta‘ālā. Beliau bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ، وَإِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

"Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji lagi berkata kotor." (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: Hasan Shahih).

Seseorang tidak dapat disifati dengan akhlak yang baik kecuali jika ia mengumpulkan atau menghiasi diri dengan banyak cabang dari cabang-cabang akhlak, di antaranya:

    • Tawaduk: "...yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir..." (Al-Ma'idah: 54)
    • Menepati janji: "...Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." (Al-Isra': 34)
    • Amanah: "Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil..." (An-Nisa': 58)
    • Kekuatan tekad (Quwwat al-‘Azīmah): "...Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah..." (Ali 'Imran: 159)
    • Keberanian: "(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang mengatakan kepadanya, 'Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.'" (Ali 'Imran: 173)
    • Kesabaran: "Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (Ali 'Imran: 200)
    • Syukur: "Maka dari itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (Al-Baqarah: 152)
    • Kesantunan dan Kelembutan (Al-Hilm wa al-Rifq): "Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199)
    • Ketakwaan dan Rasa Malu: "...Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya." (At-Thalaq: 4)
    • Pemaaf dan Toleransi (Al-‘Afw wa al-Tasāmuh): "Jika kamu membalas, balaslah dengan (siksaan) yang serupa dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." (An-Nahl: 126)
    • Kasih Sayang (Al-Rahmah): "Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..." (Al-Fath: 29)
    • Kedermawanan (Al-Jūd wa al-Karam): "Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya." (Ali 'Imran: 92)
    • Menjaga Lisan: Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (Muttafaq 'Alaih)

    • Kejujuran: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur)." (At-Taubah: 119)
    • Keadilan: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..." (An-Nahl: 90)

Akhlak yang baik ini menjadi pintu kebaikan bagi dai dan dakwahnya, bagi pemikiran dan pengembannya, serta bagi manhaj [sistem/metode] dan orang-orang yang berkomitmen dengannya. Ia juga menjadi cahaya yang menyingkap kebatilan serta membongkar kelaliman dan kemungkaran, tanpa menimbulkan luka, rasa sakit, permusuhan, ataupun pertikaian.

  1. Amalnya harus sesuai dengan ucapannya: Perbuatannya harus selaras dengan jalan yang lurus (al-tharīq al-mustaqīm) dan jalan yang terang (al-shirāth al-mubīn), serta rekam jejaknya harus menjadi penerapan praktis dari perkataannya, dan lahiriahnya tidak boleh menyelisihi batiniahnya. Jika ia memerintahkan sesuatu, ia harus berkomitmen melaksanakannya, dan jika ia melarang sesuatu, ia harus menjadi orang pertama yang meninggلكannya, agar nasihatnya memberikan manfaat, bimbingannya membuahkan hasil, dan jejaknya diikuti. Jika ia memerintahkan kebaikan namun tidak melakukannya, dan melarang keburukan sementara ia sendiri terjerumus ke dalamnya, maka dalam kondisi seperti ini ia menjadi penghalang di jalan perbaikan (ishlāh). Sungguh mustahil, amat mustahil orang lain dapat mengambil manfaat darinya, karena ia telah kehilangan petunjuk pada dirinya sendiri dan kebaikan pada zatnya sendiri; lalu bagaimana mungkin ia dapat membimbing orang lain?

Malik bin Dinar berkata: "Sesungguhnya seorang alim, apabila ia tidak mengamalkan ilmunya, niscaya nasihatnya akan tergelincir dari hati sebagaimana butiran air hujan tergelincir dari batu yang licin."

Hujjatul Islam Al-Ghazali Rahimahullāhu Ta‘ālā berkata dalam surat yang ditulisnya kepada Abu Hamid Ahmad bin Salamah di Mosul: "Adapun mengenai memberi nasihat, aku tidak melihat diriku layak untuk itu. Karena nasihat adalah zakat yang nisabnya adalah mengambil pelajaran (al-itti‘āzh). Maka barang siapa yang tidak memiliki nisab, bagaimana mungkin ia mengeluarkan zakat? Orang yang kehilangan cahaya, bagaimana mungkin orang lain bisa mendapat penerangan darinya? Dan kapankah bayangan akan lurus jika kayunya bengkok?"

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullāhu berkata: "Ulama suu' [ulama yang buruk] duduk di depan pintu surga; mereka mengajak manusia ke surga dengan ucapan mereka, namun mengajak manusia ke neraka dengan perbuatan mereka. Setiap kali ucapan mereka berkata kepada manusia, 'Kemarilah!', perbuatan mereka justru berkata, 'Jangan dengarkan mereka!'. Seandainya apa yang mereka serukan itu benar, niscaya mereka adalah orang pertama yang menyambutnya. Secara lahiriah mereka tampak sebagai penunjuk jalan, namun pada hakikatnya mereka adalah para perampok jalanan."

Ali Radiyallāhu ‘Anhu berkata: "Ada dua orang yang mematahkan punggungku: seorang alim yang terang-terangan berbuat maksiat (mutahattik) dan seorang jahil yang tekun beribadah (mutanassik). Orang yang jahil memperdaya manusia dengan ibadahnya, sedangkan orang yang alim memperdaya manusia dengan kemaksiatan yang dilakukannya secara terang-terangan."

Salah seorang saleh berkata: "Manusia yang paling merusak adalah orang jahil yang tekun beribadah dan orang alim yang fujur [berbuat dosa]. Yang pertama mengajak manusia pada kebodohannya melalui ibadahnya, sedangkan yang kedua membuat manusia lari dari ilmunya karena kefasikannya."

Abu Darda berkata: "Celakalah bagi orang jahil satu kali, dan celakalah bagi orang alim tujuh kali" (1).

Al-Hasan Rahimahullāhu berkata: "Hukuman bagi para ulama adalah matinya hati, dan matinya hati adalah mencari dunia dengan amal akhirat." (1) Lihat mengenai hal itu di kitab Hidāyat al-Mursyidīn, hlm. 93, 94, cet. Dar al-Ma'rifah.

Said bin al-Musayyib Rahimahullāhu berkata: "Jika kalian melihat seorang alim sering mendatangi para penguasa (umarā’), maka ia adalah seorang pencuri." Yang beliau maksud dengan hal itu adalah orang yang mendatangi mereka untuk mencari keuntungan materi atau menuntut apa yang ada pada mereka.

Umar Radiyallāhu ‘Anhu berkata: "Jika kalian melihat seorang alim mencintai dunia, maka curigailah ia atas agama kalian, karena setiap orang yang mencintai sesuatu akan tenggelam dalam apa yang dicintainya."

Yahya bin Muadz ar-Razi biasa berkata kepada para ulama dunia: "Wahai para pemilik ilmu, istana-istana kalian bercorak Kaisar (Qaişariyyah), rumah-rumah kalian bercorak Kisra (Kisrawiyyah), pakaian kalian bercorak lahiriah (zhāhiriyyah), sepatu bot kalian bercorak Jalut (Jālūtiyyah), kendaraan kalian bercorak Qarun (Qārūniyyah), bejana-bejana kalian bercorak Firaun (Fir‘auniyyah), upacara duka kalian bercorak Jahiliyah (Jāhiliyyah), dan jalan pemikiran (madzāhib) kalian bercorak setan (Syaithāniyyah); maka di manakah syariat Muhammad?"

Sufyan ats-Tsauri berkata: "Fitnah hadis [mencari kedudukan lewat hadis] lebih berat daripada fitnah keluarga, harta, dan anak. Bagaimana mungkin fitnahnya tidak ditakuti, padahal telah dikatakan kepada junjungan kita Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam: 'Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)-mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka.'" (Al-Isra': 74)

Fudhail bin Iyadh Rahimahullāhu berkata: "Telah sampai kepadaku kabar bahwa orang-orang fasik dari kalangan ulama akan diazab pada hari kiamat terlebih dahulu sebelum para penyembah berhala."

Umar Radiyallāhu ‘Anhu berkata: "Ada tiga hal yang meruntuhkan zaman, salah satunya adalah ketergelinciran seorang alim (zallat ‘ālim); jika seorang alim tergelincir, maka bersamanya tergelincir pula banyak manusia dari kalangan makhluk."

Ibnu Abbas Radiyallāhu ‘Anhumā berkata: "Ulama umat ini ada dua macam: Seseorang yang dianugerahi ilmu oleh Allah lalu ia menyebarkannya kepada manusia, tidak mengambil ketamakan darinya, dan tidak menukarnya dengan harga (materi); orang tersebut didoakan keselamatannya oleh burung-burung di langit, ikan-ikan di air, hewan-hewan melata di bumi, dan para malaikat pencatat yang mulia (Al-Kirām al-Kātibūn). Ia akan menghadap Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat sebagai seorang pemimpin yang mulia hingga ia mendampingi para rasul. Dan seseorang yang dianugerahi ilmu oleh Allah di dunia, lalu ia bakhil dengannya kepada hamba-hamba Allah, mengambil ketamakan darinya, dan menukarnya dengan harga (materi); orang tersebut akan datang pada hari kiamat dalam keadaan dikekang dengan kekang dari api neraka, lalu seorang penyeru akan berseru di hadapan khalayak ramai: 'Ini adalah Fulan bin Fulan, Allah telah menganugerahinya ilmu di dunia lalu ia bakhil dengannya kepada hamba-hamba-Nya, mengambil ketamakan darinya, dan menukarnya dengan harga (materi).' Maka ia akan diazab sampai manusia selesai dari perhitungan amal" (1). (1) Lihat mengenai hal ini di Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 1/60-62, cet. Dar al-Ma'rifah.

Bagian-Bagian dari Golongan Ini:

Orang yang memperhatikan hakikat dari golongan manusia ini akan mendapati mereka terbagi menjadi berbagai macam bagian dan ragam yang berbeda karena perbedaan tujuan serta sudut pandang mereka. Namun pada akhirnya, mereka disatukan oleh satu jalan yang sama. Tidak mengapa jika kita memaparkan beberapa bagian ini:

  1. Orang-orang yang menyembunyikan ilmu karena hawa nafsu, kelalaian, atau karena disibukkan oleh dunia yang telah dibukakan bagi mereka serta harta yang melimpah di tangan mereka, atau karena penjelasan tersebut akan membebani mereka dengan kerugian pada harta atau diri mereka. Mereka inilah yang dimaksud oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur’an), mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat, kecuali orang-orang yang telah bertobat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan(nya). Mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 159-160)

b. Golongan Kedua: Kelompok yang menjadikan penjelasan hanya sebatas kata-kata yang mereka tuntut dari orang lain namun tidak mereka tuntut dari diri mereka sendiri; mereka melarang manusia tetapi tidak berhenti (dari larangan tersebut), dan mereka memerintahkan manusia tetapi tidak melaksanakannya. Golongan inilah yang dimaksud oleh firman Allah Ta'ala: > "Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?" (Al-Baqarah: 44)

Dan firman Allah Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (As-Saff: 2-3)

Ia juga yang dimaksud oleh sabda beliau şallallāhu ‘alaihi wa sallam:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَى

فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَالُكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ

فَيَقُولُ بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأَتِيهِ

"Seseorang akan didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, hingga usus-usus perutnya keluar terburai di dalam neraka. Dia pun berputar-putar dengannya sebagaimana seekor keledai berputar mengelilingi alat gilingannya. Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya lalu berkata: 'Wahai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu selalu memerintahkan kami berbuat makruf dan melarang kami dari kemungkaran?' Dia menjawab: 'Benar, dahulu aku memerintahkan perbuatan makruf namun aku tidak melaksanakannya, dan aku melarang kalian dari kemungkaran namun aku justru mengerjakannya.'" (HR. Bukhari dan Muslim) (1). (1) Bukhari 6/238 di bab Permulaan Makhluk, dan Muslim (2989) di bab Zuhud.

Ia juga yang dimaksud oleh sabda beliau:

رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي رِجَالًا تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ قُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟

قَالَ: هَؤُلَاءِ خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

"Aku melihat pada malam saat aku diisrakan, ada orang-orang yang bibir mereka digunting dengan gunting-gunting dari api neraka. Aku bertanya: 'Siapakah mereka itu, wahai Jibril?' Jibril menjawab: 'Mereka adalah para penceramah dari kalangan umatmu, mereka memerintahkan manusia untuk berbuat kebajikan namun melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca Al-Kitab; tidakkah mereka mengerti?'" (Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban: Hadis Hasan) (2). (2) Dikeluarkan oleh Ahmad 3/120, 231 dan dikeluarkan oleh Ibnu Hibban (53) Hadis Hasan.

Golongan ini beserta golongan sebelumnya menjadi sebab tersesatnya banyak manusia, serta menjauhnya mereka dari hidayah dan jalan yang lurus. Golongan yang pertama membiarkan manusia terombang-ambing dalam kesesatan, kelaliman, dan dosa, padahal cahaya ada bersama mereka namun mereka tidak melangkah maju bersamanya atau menjelaskannya kepada manusia. Mereka, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, menjadi penyebab bagi kesesatan dan kebingungan ini. Hukum atas mereka seperti hukum atas orang yang menahan air dari orang yang kehausan, atau menahan makanan dari orang yang kelaparan hingga ia binasa dan mati kelaparan atau kehausan; atau hukum atas mereka seperti hukum atas orang yang membiarkan orang tenggelam hingga ditelan ombak dan diseret arus, padahal ia mampu menyelamatkannya.

Adapun golongan kedua: Dialah golongan yang memperalat massa demi ambisi dan syahwatnya, serta menggunakan undang-undang dan otoritas kekuasaan untuk melindungi ketamakan dan kezalimannya. Golongan inilah yang menyebabkan hilangnya keteladanan, hilangnya hidayah, dan menyebabkan kata-kata kehilangan maknanya, lafal kehilangan fungsinya, serta petunjuk kehilangan jalannya menuju realitas. Ia menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan, masyarakat, serta terhadap elemen-elemen pengarah. Oleh karena itu, ia menjadi elemen yang efektif dalam kehancuran umat dan keterpurukannya dalam segala hal, karena melalui perbuatannya ia menjadi penyeru kepada sikap meremehkan agama dan kelancangan dalam berbuat maksiat. Ia juga menjadi penyeru kepada sikap abai dan tidak adanya komitmen terhadap nilai, tujuan, cita-cita, ataupun keikhlasan apa pun. Metode ini telah banyak sekali digunakan oleh para pemimpin umat yang terbelakang, hingga melenyapkan seluruh elemen vital dalam pemikiran, jiwa, hati, serta aktivitas pergerakan dan produktivitas di dalam umat. Akibatnya, umat pun jatuh ke titik terendah, kekuatannya sirna, ikatannya terurai, dan ia ditinggalkan.

ج. Golongan Ketiga: Kelompok yang menjual integritas mereka dan membeli kesesatan dengan petunjuk. Mereka mempertaruhkan prinsip-prinsip dan dakwah, lalu makan, minum, dan mengeruk keuntungan dari ajaran serta risalah-risalah tersebut, dan menjualnya demi kesenangan duniawi yang fana. Mereka inilah yang dimaksud oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya: > "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturnkan Allah, yaitu Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api ke dalam perutnya. Allah tidak akan menyapa mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang sangat pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan azab dengan ampunan. Maka, alangkah beraninya mereka menantang api neraka!" (Al-Baqarah: 174-175)

Dan firman Allah Ta'ala:

> "(Ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab, 'Hendaklah kamu benar-benar menjelaskannya (isi kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.' Namun, mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka, itulah seburuk-buruk apa yang mereka beli." (Ali 'Imran: 187)

 

Konteks Al-Qur'an memperlihatkan kerugian dari transaksi yang hina ini dengan gayanya yang mengagumkan; seolah-olah itu adalah transaksi di mana mereka menyerahkan petunjuk lalu menerima kesesatan, mengorbankan prinsip dan nilai demi mengambil remah-remah. Alangkah ruginya transaksi tersebut dan alangkah bodohnya! Sungguh buruk apa yang telah mereka beli dan apa yang telah mereka pilih!

Transaksi-transaksi ini terkadang terjadi dalam berbagai bentuk yang berbeda; terkadang terwujud dalam bentuk jabatan-jabatan tinggi, gelar-gelar yang mentereng, dan tanda kehormatan yang agung. Terkadang pula terwujud dalam bentuk hibah, pemberian, anugerah, dan kepemilikan tanah, atau terjadi melalui jalan jual beli, ganti rugi, ataupun pemberian yang bervariasi di setiap masa, zaman, dan tempat.

Pada saat itulah rakyat dan bangsa-bangsa akan kehilangan sesuatu yang paling berharga bagi mereka dan nilai yang paling bernilai yang mereka miliki; mereka kehilangan kemanusiaan dan fitrahnya, kehilangan energi dan pergerakannya yang lurus, kehilangan kebebasan dan kehormatannya, kehilangan kesucian diri dan kemuliaannya, kehilangan stabilitas dan kebahagiaannya, serta kehilangan—pertama dan terakhir—hubungannya dengan Tuhannya, kebahagiaannya dengan ajaran-ajaran-Nya, dan keberuntungannya dalam meraih pahala serta keridaan-Nya.

Setelah itu, rakyat akan dijual di pasar-pasar perbudakan, diseret ke dalam kerja paksa dan kehinaan, dibelenggu dengan rantai-rantai yang tebal lagi kokoh, dibungkam dengan penutup mulut yang menjijikkan, dan dikelilingi oleh para pemuka agama gadungan yang berhati keras, sesat, lagi fasik, yang telah dibutakan oleh ketamakan, kerakusan, dan pengisapan darah.

Golongan ini merepresentasikan pengkhianatan yang nyata terhadap umatnya, merepresentasikan agen terbesar bagi setan-setan dari kalangan manusia dan jin, serta mencakup simbol yang hina dan rendah atas hilangnya amanah akibat perdagangan terhadap kehormatan manusia, masa depan, dan masa kini mereka. Golongan ini adalah air bah yang tendensius serta malapetaka yang memilukan bagi umat, bangsa-bangsa, ajaran-ajaran, dan risalah-risalah.

د. Golongan Keempat: Golongan yang menghimpun berbagai keburukan, melakukan setiap kemungkaran yang telah disebutkan sebelumnya, dan menambahinya dengan kedustaan, kepongahan, serta perusakan. Maka, penyakit kelompok ini lebih mematikan bagi bangsa-bangsa daripada wabah dan lebih berbahaya daripada taun. Golongan inilah yang dimaksud oleh Allah Subhānahu dalam firman-Nya: > "Di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras. Apabila berpaling (dari hadapanmu), dia berusaha melakukan kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan. Apabila dikatakan kepadanya, 'Bertakwalah kepada Allah,' bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka, cukuplah (balasannya) neraka Jahanam. Sungguh, (Jahanam itu) seburuk-buruk tempat tinggal." (Al-Baqarah: 204-206)

Mereka menanggung dosa-dosa dari perbuatan tersembunyi mereka dan perusakan mereka terhadap tanaman dan keturunan, sebagaimana mereka juga menanggung akibat dari kejahatan dan kerusakan mereka yang telah merata dan meluas. Mereka pun menanggung dosa orang-orang yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu dan mereka tipu tanpa kesalahan. Dengan demikian, mereka memikul dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu; ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu. Mereka adalah orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya:

"Sungguh, mereka pasti akan memikul beban-beban (dosa) mereka sendiri dan beban-beban yang lain bersama beban mereka. Mereka pasti akan ditanya pada hari kiamat tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan." (Al-‘Ankabut: 13)

Ia juga yang dimaksud oleh sabda beliau şallallāhu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

"Barang siapa yang mencontohkan suatu perbuatan yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya." (Dikeluarkan oleh Muslim [1017] di bab Zakat).

Inilah golongan-golongan manusia yang telah menjauh sangat jauh dari jalan yang lurus, dan berjalan di jalan-jalan alternatif lain yang menjauhkan mereka dari hidayah dan petunjuk.

Padahal, jalan teladan yang baik (al-qudwah al-hasanah) adalah jalan yang bersih laksana salju dan embun dingin; jelas, bercahaya, dan bersinar terang karena perbuatan-perbuatan baik para pelakunya, sifat-sifat mereka yang mulia, akhlak mereka yang suci, serta amal-amal mereka yang terpuji.

Sungguh, Islam telah tersebar di banyak negara di belahan timur dan barat dunia melalui rekam jejak yang baik dari kaum Muslim, yang mampu menarik perhatian orang-orang yang sebelumnya tertindas oleh adat istiadat yang hina, kezaliman yang sewenang-wenang, serta kebinatangan yang buas. Tiba-tiba orang-orang tersebut melihat pada diri kaum Muslim berupa fitrah yang selamat, hati yang penuh kasih, serta jiwa yang tenang, ikhlas, berbakti, lagi penyayang.

Keteladanan yang baik senantiasa melekat pada seluruh kaum Muslim; baik pemimpin maupun rakyat biasa, orang kaya maupun orang miskin. Keteladanan yang baik juga merupakan elemen efektif dalam ketaatan kaum Muslim kepada para pemimpin mereka.

Ibnu Saad dan Ibnu Asakir mengeluarkan riwayat dari Ibnu Umar Radiyallāhu ‘Anhumā, ia berkata: "Adalah

Umar bin Al-Khattab, apabila ingin melarang dari sesuatu, beliau mendatangi keluarganya lalu berkata: 'Aku tidak mendapati seorang pun yang terjerumus ke dalam sesuatu yang telah aku larang melainkan aku akan melipatgandakan hukuman baginya'" (1). (1) Kanz al-‘Ummāl, 2/141; Hayāt al-Şahābah, 3/296, cet. Dar al-Qalam, Beirut.

Demikian pula Al-Qur'an memerintahkan keluarga/istri-istri Nabi untuk berkomitmen, jika tidak, hukuman akan dilipatgandakan bagi mereka. Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai istri-istri Nabi, siapa di antara kamu yang melakukan perbuatan keji yang nyata, niscaya azabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Yang demikian itu bagi Allah sangat mudah." (Al-Ahzab: 30)

Hal itu dikarenakan keteladanan memiliki pengaruh yang besar terhadap manusia. Manusia senantiasa melihat kepada sang dai; jika ia berkomitmen (pada aturan), mereka pun akan berkomitmen, dan jika ia lalai/bebas melanggar, mereka pun akan ikut lalai/bebas melanggar.

Oleh karena itu, wajib bagi dai Muslim untuk menjadi orang yang memiliki keselarasan antara ucapan dan amal, perkataan dan perbuatan, serta tidak boleh lahiriahnya menyelisihi batiniahnya[cite: 13].

Beliau [Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam] bersabda:[cite: 13]

مَنْ طَلَبَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ تَعَالَى لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barang siapa menuntut ilmu yang mengharapkan wajah Allah Ta'ala dengannya, namun ia menuntutnya hanya untuk mendapatkan kesenangan duniawi, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat." (2)[cite: 13]. (2) Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang jayyid; Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 1/61[cite: 13].

PASAL KEDUA

PERAN NYATA MASJID DALAM DAKWAH

Bagian Pertama

Karakteristik Masjid, Perannya dalam Tarbiyah, dan Peran Dai

Masjid memiliki karakteristik mendasar bagi masyarakat Muslim. Ia merupakan sumber pancaran cahaya dan pusat tarbiyah [pendidikan Islam] yang penting. Selain itu, kedudukan masjid dalam kehidupan seorang Muslim berkaitan sangat erat dengan kehidupan spiritual dan hatinya. Jiwa-jiwa manusia merasa terikat dengannya, hati sanubari melayang rindu di sekitarnya, bayang-bayang penerimaan Ilahi meliputi dirinya, serta pancaran kesucian dan cahaya hidayah menyelimutinya, karena masjid merupakan:

Pertama: Tempat turunnya inspirasi, cahaya, dan sarana untuk berhubungan dengan Al-Haq Subhanahu wa Ta'ala dalam salat ketika berdiri, rukuk, sujud, dalam doa, pengharapan, serta ketundukan. Ia adalah tempat untuk membekali diri dengan takwa. Oleh karena itu, Al-Haq Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk berlindung ke sana, menghadapkan wajah di dekatnya, dan menundukkan perasaan untuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“...Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap masjid dan berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya...” (QS. Al-A'raf: 29).

Jika jiwa telah dipenuhi kerinduan terhadap masjid dan hati telah terpikat kepadanya, maka panji-panji keberuntungan akan berkibar di atas kepala manusia, dan bendera-bendera kemenangan serta penerimaan akan melambai di hadapannya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW [semoga kedamaian dan berkah tercurah kepada beliau] memasukkan golongan ini—yaitu orang-orang yang hatinya terpikat pada masjid—sebagai bagian dari orang-orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Beliau bersabda:

"...dan seorang laki-laki yang hatinya terpikat dengan masjid-masjid."

Benar, masjid adalah rumah-rumah Allah di bumi dan tempat yang paling Dia cintai. Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAWbersabda:

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا ، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَسْوَاقُهَا

"Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dibenci oleh Allah Ta'ala adalah pasar-pasarnya."

Masjid menjadi tempat yang paling dicintai karena ia merupakan tempat kesucian serta tempat bagi orang-orang yang bersuci, orang-orang yang bertobat, orang-orang yang iktikaf, dan orang-orang yang rukuk serta sujud. Sedangkan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar, karena di dalamnya banyak terjadi penipuan, pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan, dan sumpah palsu yang durhaka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطَوَاتُهُ ، إِحْدَاهَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

"Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah dari rumah-rumah Allah [masjid] untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban yang Allah tetapkan, maka langkah-langkah kakinya yang satu akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajat."

Kedua: Karena masjid merupakan tempat turunnya para malaikat. Malaikat-malaikat Allah turun ke dalamnya pada waktu malam dan siang hari. Nabi bersabda bahwa para malaikat bergantian menyertai kalian pada malam hari dan siang hari. Selain itu, masjid adalah tempat tinggal orang-orang yang suci dan orang-orang yang berbakti. Mahabenar Allah yang berfirman:

“...Di dalamnya ada orang-orang yang gemar membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri.” (QS. At-Tawbah: 108).

Masjid juga merupakan tempat ibadah bagi orang-orang yang menegakkan salat, yang rukuk, dan yang sujud, serta tempat turunnya kabar gembira dan rahmat. Allah telah mengisyaratkan sebagian dari hal tersebut dalam kisah Nabi Zakaria, di mana Allah Ta'ala berfirman:

“Kemudian para malaikat memanggilnya ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, “Sejatinya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (lahirnya) Yahya yang membenarkan firman dari Allah, menjadi panutan, berkemampuan menahan diri (dari syahwat), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.”” (QS. Ali 'Imran: 39).

Ketiga: Tempatnya para lelaki sejati, tempat bersemayamnya tekad yang kuat, tempat dikajinya cita-cita yang tinggi, wadah bagi kehendak yang perkasa, dan kemenangan yang dominan. Mahabenar Allah yang berfirman:

“(Cahaya itu) di rumah-rumah (masjid) yang Allah telah perintahkan untuk diagungkan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Di sana bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan...” (QS. An-Nur: 36-38).

Keempat: Karena masjid merupakan sumber titik tolak pertama bagi dakwah kemanusiaan, yaitu "dakwah Islam", dan mata air hidayah ketuhanan, yaitu "dakwah Al-Qur'an". Masjid di Madinah dahulu merupakan basis dan fondasi utama yang menjadi poros pergerakan basis jihad terbesar. Ia merupakan poros tempat bertemunya ide-ide, emosi, dan perasaan yang menanamkan cinta, persaudaraan, keamanan, ketenteraman, dan kedamaian di muka bumi. Masjid juga merupakan inkubator yang mendidik kelompok pilihan dan para pelopor yang membawa obor cahaya serta peradaban, lalu membawanya keliling ke berbagai negeri dan menyerukannya ke segala penjuru ufuk. Maka terciptalah sebuah peradaban yang membawa karakteristik masjid, aromanya, dan kesuciannya, karena ia adalah peradaban ketuhanan yang penuh kasih dan mulia. Peradaban ini mendidik akal agar bersih dari kejahatan, penyimpangan, kerusakan, dan kezaliman; mendidik pemikiran agar bersih dari hawa nafsu, penyimpangan ekstrem, dan trauma/hambatan psikologis; serta mendidik jasad dan perut agar tidak mengenali harta haram (suht), tidak mendekati dosa, dan tidak tertarik pada hal yang haram. Dengan demikian, tegaklah kemanusiaan secara budaya, akal, pemikiran, dan jasad. Kehidupan pun menjadi lurus, bumi bersinar dengan cahaya Tuhannya, sembuh dengan syariat Allah, dan mendapat petunjuk dengan hidayah-Nya.

Kelima: Karena masjid merupakan lambang keimanan yang bertolak belakang dengan kekufuran dan maksiat, serta memisahkan diri dari kezaliman, kesewenang-wenangan, dan permusuhan. Maka para pemakmur masjid memiliki cahaya seperti cahaya matahari. Mereka mempunyai tekad yang tidak mengenal rasa takut, hati yang tidak mengenal kelemahan, jiwa yang tidak mengenal kehinaan, dan amal perbuatan yang tidak mengenal dusta. Kebersamaan Allah selalu menyertai mereka, karunia Allah mendampingi mereka, dan pertolongan Allah mengiringi mereka. Di tengah ketidaktahuan mereka memiliki sifat santun (hilm), dan di dalam kegelapan mereka memiliki cahaya. Perumpamaan mereka di antara manusia seperti surga Firdaus di dalam surga. Mereka itulah para pemakmur masjid, orang-orang yang menujunya, lulusannya, dan para pelopornya. Mahabenar Allah yang Agung yang berfirman:

“Tidak pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui kekafiran diri mereka sendiri. Mereka itu adalah orang-orang yang sia-sia amal perbuatannya dan mereka kekal di dalam neraka. Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah...” (QS. At-Tawbah: 17-18).

Dan Nabi bersabda: "Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?" Para sahabat menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak menyenangkan, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu salat setelah salat. Itulah yang disebut ribath [perjuangan menahan diri di garis depan]." Diriwayatkan oleh Muslim.

Peran Masjid dalam Tarbiyah (Pendidikan)

Oleh karena itu, masjid memiliki peran yang istimewa dalam tarbiyah Islamiyah. Yaitu tarbiyah yang didirikan di atas akidah dan iman, yang asasnya adalah sifat ketuhanan (rabbaniyah) dalam pemahaman, ucapan, dan perbuatan. Mahabenar Allah yang berfirman:

“...Akan tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu para penyembah Allah yang setia karena kamu selalu mengajarkan Kitab Suci dan karena kamu selalu mempelajarinya.”” (QS. Ali 'Imran: 79).

Oleh karena itu, karakteristik utama dari tarbiyah ini diringkas dalam poin-poin berikut:

A. Tarbiyah Jiwa dan Spiritual yang terwujud dalam:

  1. Hubungan antara hamba dan Tuhannya: Sehingga hamba tersebut berada dalam kedekatan, hubungan, dan perlindungan (wilayah) Allah. Hal ini tecermin dalam sabda beliau 'alaihi as-salam dalam hadis qudsi: "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

'Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku (kekasih-Ku), maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang dia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya, dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya.'" Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 11: 292-297.

  1. Takwa: Yang membuat hati manusia menjadi makmur dan jiwanya menjadi bergetar takut, selalu mencari apa yang diridhai Allah, sehingga pemeliharaan Allah selalu bersamanya. Mahabenar Allah yang berfirman:

“...Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka...” (QS. At-Talaq: 2-3).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil) kepadamu, menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29).

  1. Pengorbanan seorang Muslim demi akidah dan prinsip-prinsipnya: Karena dia telah berbaiat kepada Allah untuk menyampaikan dakwah-Nya dan menegakkan risalah-Nya di bumi. Sebuah baiat yang menyeluruh dan mengikat, yang tidak menyisakan uzur bagi orang yang mencari-cari alasan, dan tidak memberi jalan bagi orang yang bermalas-malasan. Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu sudah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu! Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Tawbah: 111).

Maka seorang Muslim selalu menjadi penentang terhadap kefasikan, kekufuran, keingkaran, serta terhadap kezaliman, kesewenang-wenangan, dan permusuhan, yang tidak akan jera kecuali dengan kekuatan kebenaran dan kewibawaan orang-orang yang jujur. Hal itu telah terjadi pada Baiat Ridwan, ketika tersiar kabar bahwa orang-orang musyrik telah membunuh Utsman radhiyallahu 'anhu, dan mereka lebih memilih kesewenang-wenangan daripada kebaikan serta kebodohan daripada akal sehat. Maka tidak ada pilihan bagi Rasulullah dan para sahabatnya yang berjumlah sedikit melainkan bertekad untuk menghadapi kebatilan yang sombong tersebut. Jadilah itu sebuah baiat untuk berjihad, sehingga orang-orang musyrik menjadi takut dan menghormati kebenaran. Peristiwa itu menjadi sikap para pahlawan yang didengar oleh sejarah dan dunia, serta diabadikan oleh Al-Qur'an melalui firman Allah Ta'ala:

“Sungguh, Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) serta harta rampasan perang yang banyak yang dapat mereka ambil. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Fath: 18-19).

B. Persaudaraan Iman (Ukhuwah Imaniyah): Yang mengikat antara sesama Muslim dengan ikatan akidah dan iman, serta membimbing tangan mereka menuju jalan cinta, kerja sama, dan mengutamakan orang lain (itsar). Persaudaraan ini dijadikan Allah sebagai pagar bagi pergerakan keimanan, sehingga ia menjadi nikmat dari Allah untuk hamba-hamba-Nya. Mahabenar Allah yang berfirman:

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai! Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara...” (QS. Ali 'Imran: 103).

Persaudaraan ini tecermin dalam unsur-unsur tertentu, di antaranya:

Pertama: Cinta yang murni dari hawa nafsu, kepentingan pribadi, syahwat, dan dosa. Di mana seorang Muslim akan menemukan manisnya cinta tersebut di dalam mulutnya dan rasa yang mulia di tenggorokannya. Hal ini dijelaskan oleh sabda Rasulullah $\rho$:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

"Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, hendaknya dia mencintai seseorang yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan hendaknya dia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci jika dilemparkan ke dalam neraka." Muttafaq 'Alaih.

Dan sabda beliau:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا ، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ ، أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." Diriwayatkan oleh Muslim.

Kedua: Solidaritas (takaful), saling menolong dalam kebajikan dan takwa, serta saling menasihati bagi setiap Muslim. Allah Ta'ala berfirman:

“...Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan...” (QS. Al-Ma'idah: 2).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-'Asr: 1-3).

Karena iman adalah jalan menuju kemuliaan, kebahagiaan, dan kemenangan yang melewati amal perbuatan orang-orang Muslim, di antara degup hati mereka, jalan-jalan amal mereka, dan bukti-bukti perbuatan mereka.

Nabi bersabda: "Agama adalah nasihat." Kami bertanya: "Untuk siapa?" Beliau bersabda: "Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan orang-orang awam mereka." Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud (4944).

Termasuk di antaranya adalah memenuhi kebutuhan kaum Muslimin. Nabi bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, dia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan satu kesulitan seorang Muslim dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat." Muttafaq 'Alaih.

Ketiga: Menutup aib dan mendamaikan perselisihan (ishlah dzatil bain). Karena seorang Muslim itu memiliki kehormatan, dan reputasinya pun memiliki kehormatan. Maka mengumbarnya merupakan suatu kejahatan, kekejian, dan perbuatan dusta yang besar. Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat...” (QS. An-Nur: 19).

Dan mendamaikan perselisihan karena persaudaraan menuntut perbaikan terhadap keretakan dan kerusakan dalam tubuh kaum mukmin, serta menuntut dijauhkannya perpecahan, kehinaan, dan disintegrasi. Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damai-kanlah antara kedua saudaramu...” (QS. Al-Hujurat: 10).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

“...Perdamaian itu lebih baik...” (QS. An-Nisa': 128).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

“...Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara komunikasimu [persaudaraanmu]...” (QS. Al-Anfal: 1).

Nabi SAW bersabda:

كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ : تَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ ، وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

"Setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap hari di mana matahari terbit: engkau mendamaikan antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, engkau menolong seseorang pada tunggangannya lalu engkau menaikkannya di atasnya atau engkau mengangkat barang bawaannya ke atas tunggangannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang engkau ayunkan menuju salat adalah sedekah, dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalanan adalah sedekah." Muttafaq 'Alaih.

C. Wawasan/Budaya yang Bermanfaat: Yang berkaitan dengan batasan-batasan akhlak, serta keteladanan dan ajaran ketuhanan. Wawasan ini bertolak dari fondasi yang kokoh, yaitu akidah dan perilaku Islami yang mulia. Dampaknya terlihat dalam unsur-unsur tertentu, yang paling penting adalah:

Pertama: Ilmu yang bermanfaat yang membawa kebahagiaan dalam hidup dan tidak menyengsarakannya, memperbaiki manusia dan tidak merusak mereka, serta meluruskan naluri-naluri dan tidak melepaskan atau mengobarkannya. Ilmu yang menempati tempatnya yang tepat dan mengenai sasarannya yang benar. Mahabenar Allah yang berfirman:

“...Barangsiapa dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak...” (QS. Al-Baqarah: 269).

Dan Allah SAW telah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat, beliau bersabda: "Kami berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat." Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang hasan.

Kedua: Ilmu yang tersambung dengan tadabur terhadap makhluk-makhluk Allah, keindahan ciptaan-Nya, dan keagungan kebaikan-Nya. Yaitu ilmu yang meskipun bekerja di dunia dan melakukan perbaikan di dalamnya, namun tidak melupakan akhirat dan apa yang dipersiapkan untuknya. Maka ilmu dengan metode dan cara pandang seperti ini menjadi sarana penghidupan di dunia sekaligus bekal menuju akhirat serta jembatan penyeberangan menuju kepadanya. Manusia dengan ilmunya tidak menjadi bagian dari orang-orang yang lalai, yang dikabarkan oleh Al-Haq Subhanahu wa Ta'ala melalui firman-Nya:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7).

Dan Allah Ta'ala berfirman mengajarkan kepada seorang mukmin tentang undang-undang kehidupannya:

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...” (QS. Al-Qashash: 77).

Ketiga: Wawasan untuk beramal dan menerapkan, bukan hanya untuk kata-kata, ucapan ekstrem (syathahat), atau angan-angan belaka tanpa adanya amal perbuatan nyata atau persiapan untuknya. Allah Ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? (Perbuatan) itu sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3).

Wawasan yang mendidik untuk memikul konsekuensi dan memikul tanggung jawab, bukan mendidik atas penipuan, riya, mengisap darah manusia, memakan daging mereka [menggunjing], dan meminum keringat mereka. Mahabenar Allah yang berfirman:

“Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami...” (QS. Al-A'raf: 175-176).

Keempat: Membuka ruang bagi akal yang cerdas dan pemikiran yang tercerahkan untuk memahami, meminta penjelasan, dan berdiskusi, melalui pelajaran-pelajaran yang tenang dan kajian-kajian yang mendalam di bawah bimbingan para sahabat yang diberkahi, kelompok ulama, dan elite pilihan dari pemilik sifat-sifat mulia serta akhlak yang tinggi. Mereka adalah orang-orang yang membawa ilmu, adab, kesabaran, dan keteguhan, baik dengan mengharap pahala [tanpa pamrih], sukarela, maupun orang-orang yang mendedikasikan diri (muhabasiin) dan berjaga (murabithiin) untuk pekerjaan yang tenang, mulia, lagi agung ini. Mahabenar Allah yang berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain Allah. Cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Ahzab: 39).

Peran Dai di Masjid

Karena titik tolak pertama bagi dakwah Islam bersumber dari masjid, dan para lelaki pertama yang membawa panji serta menyambut seruan menuju kemuliaan adalah anak-anak singa masjid dan para pemuda rumah-rumah Allah; karena para ulama, ahli fikih, dan ahli balagah adalah lulusan rumah-rumah Allah; serta karena kebangkitan peradaban Islam bersumber dari spiritualitas masjid, maka wajib bagi seorang dai Muslim untuk memberikan perhatian khusus kepada masjid, merawatnya dengan perawatan yang besar, dan menjadikannya sebagai fondasi pertama dalam membangun batu bata Islami yang serius, ikhlas, dan bekerja untuk mengemban risalahnya serta mencari ridha Tuhannya.

Karena hati kaum Muslimin terikat dengan masjid, merindukannya, berkumpul di sekitarnya, mereguk bekal darinya, dan mengambil cahaya dari lenteranya, maka wajib bagi dai Muslim untuk menjaga risalah masjid dan menyusun program-program yang dapat meningkatkan pemanfaatan keterikatan ini, serta memperkuat ikatan dengan cahaya dan pancaran tersebut.

Jika kita melihat risalah masjid dan usaha dai yang wajib menyertai risalah tersebut, kita akan menemukan bahwa dengan melihat pada perbuatan Rasulullah SAW dan para sahabat setelah beliau serta para salafus saleh umat ini, dan dengan melihat realitas masjid pada masa-masa awal Islam, maka menonjol dari itu semua sebuah program tertentu yang wajib diikuti jejaknya dan dijalani polanya oleh dai. Hal itu terkadang disertai dengan beberapa pekerjaan yang dituntut oleh perbedaan zaman dan waktu, yang berjalan beriringan dengan program-program awal pada masa yang gemilang tersebut. Di antara program-program ini adalah sebagai berikut:

Kedua: Peran Ilmiah Masjid

Masjid menjalankan risalah ilmiah yang paling agung dan paling tinggi yang pernah dikenal oleh sejarah dan didengar oleh kemanusiaan hingga hari ini, dan akan terus demikian sampai Allah mewarisi bumi dan apa yang ada di atasnya. Di antaranya adalah:

  1. Pelajaran-pelajaran ilmu (durusul 'ilmi) dan halakah-halakah kajian: Yang memberikan pemahaman mendalam kepada seorang mukmin dalam pertemuan yang tenang mengenai urusan agama dan dunianya, serta mendidik potensi ilmiah, akhlak, dan inovatifnya. Pelajaran-pelajaran ini memiliki waktu yang panjang, kontribusi yang beragam, dan pahala yang diharap di sisi Allah. Kajian tersebut tidak meninggalkan perkara kecil maupun besar melainkan menghitungnya [membahasnya], dan tidak ada perkara yang asing atau yang datang melainkan menelitinya secara tuntas. Dai memaparkan dalam pelajaran-pelajaran tersebut dengan perlahan, mengalirkan ilmu dengan ketenangan dan kehati-hatian, sehingga tanaman memberikan buahnya setiap waktu dengan izin Tuhannya.
  2. Masjid wajib dibekali dengan perpustakaan yang menghimpun kitab-kitab induk yang bermanfaat: Serta hasil pemikiran Muslim yang terus diperbarui, agar kitab tersebut bekerja sama dengan dai dalam memberi makan akal dan pemikiran serta membimbing tangannya menuju jalan yang lurus. Agar masjid melakukan pekerjaannya di dalam dan di luar, di koridor-koridornya, di bawah naungannya, dan di luar lingkupnya seperti di rumah dan tempat lainnya. Sebab, buku Islami membawa ruh masjid dan aromanya bersama pembawa dan pembacanya di tempat mana pun dia pergi.
  3. Perpustakaan Audio-Visual: Seyogianya masjid juga dilengkapi dengan perpustakaan audio. Setiap dai yang cerdas dan setiap ulama yang mumpuni wajib menjaga ucapan, perkataan, dan ilmunya, jika tidak di dalam dada maka di dalam tulisan dan kaset-kaset yang didengar serta direkam melalui suara dan gambar jika memungkinkan. Hal itu agar lebih menguasai jiwa, lebih tertanam dalam benak, dan lebih kuat dalam memberikan pengaruh, arahan, serta kepeloporan. Karena dai wajib memanfaatkan sarana-sarana zaman terkini dalam hal yang bermanfaat untuk melayani risalah dan umatnya, dan tidak meninggalkan bidang ini bagi musuh-musuhnya untuk dipersenjatai melaluinya sementara dia sendiri tetap bertangan hampa dari setiap senjata. Karena dai diperintahkan untuk menyampaikan (tabligh) dengan segala sarana penyampaian dan pengaruh, dan jika dia tidak melakukannya maka dia dinilai belum menyampaikan. Hal ini juga menuntut dirinya untuk memiliki alat-alat dokumentasi dan presentasi yang dikhususkan untuk pelajaran-pelajaran, ceramah-ceramah, dan majelis-majelis ilmu yang bermanfaat ini.
  4. Kata-kata yang tertulis juga seyogianya memiliki peran di masjid: Melalui majalah dinding atau majalah cetak, sehingga para pengunjung masjid dari kalangan pemuda dan kaum terpelajar terbiasa menulis dalam berbagai tema yang penting bagi masyarakat Muslim dan mengarahkannya ke arah yang dituntut darinya. Serta agar majalah-majalah ini menonjolkan apa yang ada dalam warisan Islam (turats) berupa sejarah kehidupan (sirah), hikmah, kisah-kisah langka, keteladanan, dan ajaran yang dibutuhkan oleh masyarakat Muslim, agar masyarakat tidak melirik pada apa yang ada pada masyarakat lain yang lalai lagi menyimpang. Serta agar masyarakat Muslim mengetahui setiap hal baru yang bermanfaat di zamannya dan setiap inovasi yang berguna bagi umatnya, di samping memperingatkan dari setiap hal yang membinasakan lagi menghancurkan, mengambil manfaat dari setiap pelajaran, dan agar dia menjadi orang yang memiliki hati atau menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.
  5. Ceramah-ceramah di masjid: Masjid memiliki peran yang besar—sebagaimana yang telah kita ketahui—dalam menyebarkan wawasan/budaya. Maka masjid wajib dibekali dengan aula-aula ceramah agar menjadi pusat perhatian kaum terpelajar dan agar berjalan beriringan dengan arus perkembangan budaya di setiap zaman. Ceramah-ceramah tersebut terkadang berada di dalam masjid, dan terkadang juga berada di tempat-tempat yang terhubung dengan masjid karena kondisi yang menuntut penayangan alat peraga visual, kehadiran di luar waktu salat, atau adanya persiapan tertentu yang dapat mengganggu masjid dari menegakkan syiar ibadah dengan khusyuk, serta hal-hal lainnya yang lebih utama jika ditempatkan di ruangan yang terhubung dengan masjid. Didatangkan ke aula-aula ini para penceramah dari kalangan orang-orang yang cerdas dalam dakwah dan dalam berbagai urusan ilmiah lainnya, serta diundang setiap orang untuk mendengarkan ceramah-ceramah tersebut dan mengambil manfaat darinya. Maka masjid menjadi poros bagi berbagai wawasan dan penggerak bagi kehidupan pemikiran, sebagaimana kondisinya pada masa-masa awal Islam.
  6. Pelajaran tambahan (bimbingan belajar/pengayaan): Di antara aktivitas ilmiah yang dilakukan oleh masjid dan para dainya adalah bekerja untuk mengikat para pemuda dengan masjid melalui berbagai aktivitas, di antaranya pelajaran tambahan dalam berbagai bidang ilmu, membantu para murid untuk memahami, meraih pencapaian, dan menguasai pelajaran, serta membantu mereka yang tidak mampu melakukan hal tersebut dengan menyediakan apa yang mereka butuhkan dengan usaha yang paling sedikit dan biaya yang paling ringan di bawah pengawasan sekelompok guru yang aktif di medan dakwah atau dari orang-orang yang mencintai kebaikan. Maka hal itu menjadi sarana yang lebih kuat untuk keteladanan yang baik dan tarbiyah melalui kebersamaan hidup (mu'ayasyah), contoh nyata, serta perawatan yang baik. Pelajaran-pelajaran tersebut menjadi bagian dari kontribusi yang diberikan masjid kepada pelajar, dan kontribusi masjid itu beragam, masing-masing sesuai dengan ukuran, kondisi, dan waktunya, sehingga pelajar merasakan peran masjid dalam kehidupannya secara nyata dan spiritual dengan logika yang dia pahami dan dia hargai.

Kedua: Peran Spiritual dan Tarbiyah Masjid

Tidak ada keraguan bahwa peran spiritual masjid dalam kedalaman manusia Muslim memiliki akar yang tertanam sangat dalam. Hal itu karena salat fardu maupun salat sunah memiliki peran dalam hubungannya dengan Tuhannya dan orientasinya menuju Pelindungnya; karena pelajaran, khotbah, dan nasihat memiliki pengaruh dalam jiwa dan eksistensinya; serta karena suasana masjid memiliki spiritualitas yang melimpah yang dituangkan ke dalam ruh dan jiwa.

Namun, ada beberapa perkara yang wajib diikuti agar spiritualitas ini dapat merasuk ke dalam hati dan jiwa, serta menjelma secara nyata dalam masyarakat manusia. Di antara perkara tersebut adalah:

  1. Persaudaraan Islam (Al-Ikha' al-Islami): Gagasan persaudaraan wajib dikembalikan lagi dari awal di tengah suasana kehidupan modern yang menyesakkan dan di tengah suasana materialisme yang menghanyutkan. Persaudaraan, saling mengenal (ta'aruf), solidaritas (takamul), saling mengunjungi (tazawur), berkumpul di atas kebaikan, di atas kitab Allah, di atas halakah ilmu, serta di atas tindakan menolong orang yang membutuhkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan, khususnya jika manusia tersebut adalah orang asing yang jauh dari negerinya. Maka dia dipersaudarakan dengan seorang saudara baginya dalam Islam dari penduduk kota tersebut yang mempermudah urusannya, menghilangkan kesulitannya, memenuhi kebutuhannya, memberikan pemahaman tentang urusannya, dan menutupi auratnya [aibnya]. Allah berfirman:

“...Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Mereka tidak mendapat keinginan di dalam hati mereka atas apa yang diberikan (kepada Muhajirin) dan mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, meskipun mereka memerlukan...” (QS. Al-Hasyr: 9).

Di bawah naungan persaudaraan Islam yang dimaksud oleh firman Allah Ta'ala "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara" dan firman Allah Ta'ala "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain," persaudaraan yang bermanfaat dan diperintahkan dalam Islam ini diorganisasikan. Dan yang paling berhak bagi persaudaraan ini adalah berada di bawah atap rumah dari rumah-rumah Allah. Pengorganisasian persaudaraan tersebut dilakukan oleh para dai bersama manajemen masjid serta orang-orang yang memiliki kebaikan dan kesalehan.

  1. Iktikaf dan Tahajud, beserta asal dan hakikatnya: Iktikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Ta'ala. Iktikaf itu ada yang disunahkan, ada yang diwajibkan, dan ada yang dianjurkan (mustahab). Iktikaf yang disunahkan adalah apa yang dilakukan secara sukarela oleh seorang Muslim sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, mencari pahala-Nya, dan meneladani Rasulullah SAW, dan hal itu dikuatkan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Sedangkan iktikaf yang wajib adalah apa yang diwajibkan oleh seseorang atas dirinya sendiri [nazar]. Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah bernazar untuk beriktikaf satu malam di Masjidil Haram." Maka beliau bersabda: "Penuhilah nazarmu."

Iktikaf yang dianjurkan tidak memiliki waktu tertentu, ia terwujud dengan berdiam diri di masjid disertai niat iktikaf, baik disertai dengan puasa maupun tidak. Adapun tahajud termasuk sifat-sifat 'Ibadurrahman [hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih]. Allah Ta'ala berfirman:

“...Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.” (QS. Al-Furqan: 64).

Dan Allah Ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya SAW

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra': 79).

Dan Nabi bersabda: "Hendaklah kalian melakukan qiyamul lail (salat malam), karena sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kalian kepada Tuhan kalian, penghapus kesalahan-kesalahan, pencegah dari perbuatan dosa, dan pengusir penyakit dari tubuh." Dan beliau bersabda: "Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan salatlah di waktu malam ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat." Diriwayatkan oleh Al-Hakim, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, ia berkata: hadis hasan shahih. Oleh karena itu, seyogianya seorang Muslim membiasakan diri mencintai iktikaf di masjid-masjid dan mencintai qiyamul lail, karena hal ini akan memperkuat ikatan di antara saudara-saudara Muslim dan di antara orang-orang yang mengemban urusan risalah ini.

  1. Berpuasa beberapa hari dalam seminggu: Seperti hari Senin dan Kamis misalnya, lalu berbuka puasa bersama secara berjamaah atau di tempat salah seorang saudara. Ketika para lelaki atau pemuda masjid melakukan hal tersebut, maka ikatan persahabatan dan kecintaan di antara mereka akan semakin kuat, dan hal itu menjadi penolong bagi mereka untuk menaati Allah serta lebih dekat untuk menjadi teladan bagi orang lain, bergabung dengan mereka, dan berjalan di atas sunah mereka.
  2. Mendirikan halakah-halakah tahfiz Al-Qur'an di masjid: Halakah-halakah khusus untuk menghafal dan tajwid bagi orang dewasa, serta halakah-halakah untuk anak-anak dan pemuda. Nabi bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا مُرٌّ

"Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an seperti buah utrujjah, aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an seperti buah kurma, tidak ada aromanya namun rasanya manis. Dan perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an seperti buah hanzhalah, tidak ada aromanya dan rasanya pahit."

Halakah-halakah ini memiliki keutamaan yang besar di mana ia mengumpulkan hati di atas kitab Allah Tabaraka wa Ta'ala, di atas pemahaman makna-maknanya, tadabur hukum-hukumnya, pelaksanaan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya, di samping keutamaan Al-Qur'an itu sendiri dan apa yang dipersiapkan bagi para pemiliknya berupa pahala yang melimpah.

  1. Perjalanan umrah dan menunaikan ibadah haji: Perjalanan-perjalanan yang diberkahi seperti ini mengikat hati dengan rumah-rumah Allah, berkontribusi dalam meringankan biaya, dan menjadikan manusia sebagai satu tubuh, sebagian mereka melayani sebagian yang lain, saling menolong satu sama lain, serta menciptakan kepemimpinan di lingkungan sekitar yang mampu bertindak dan melakukan kebaikan.
  2. Memberi makan orang-orang fakir, menampung orang-orang yang membutuhkan yang tertimpa musibah: Serta mengurus urusan manusia pada masa-masa yang mendesak, khususnya pada waktu perang dan kondisi darurat.

Bagian Kedua

Peran Sosial Masjid dan Aktivitas yang Dilakukannya

Masjid memiliki peran sosial yang luas pada zaman Rasulullah SAWdan pada masa-masa salafus saleh radhiyallahu 'anhum ajma'in. Peran tersebut tecermin dalam banyak hal yang berkontribusi dalam merawat umat, serta menganugerahinya apa yang dibutuhkannya berupa kasih sayang, perhatian, dan bantuan. Dengan ungkapan yang lebih tepat, ia berkontribusi dalam merawat kehidupan manusiawi bagi seorang Muslim dengan segala beban, konsekuensi, problematika, dan hambatannya, guna menegakkan sebuah masyarakat yang mewujudkan prinsip-prinsipnya, menerapkan teorinya tentang eksistensi, dan menjelaskan pandangannya tentang kehidupan. Dengan demikian, Islam tidak mungkin menjauh dari masyarakat, dan tidak mungkin pula masjid atau arahan spiritual dijauhkan dari hiruk-pikuk kehidupan serta arusnya yang mengalir deras. Karena Islam menjadikan perawatan terhadap manusia sebagai bagian dari inti dan hakikatnya. Mahabenar Allah yang berfirman:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Maka, celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan.” (QS. Al-Ma'un: 1-7).

Islam sama sekali tidak akan pernah rida terhadap seorang Muslim yang ikhlas dalam akidah dan ibadahnya namun lalai dalam peran sosialnya dan hidup dalam kefarduan [individualisme] serta sifat egois, tidak berpartisipasi dalam mewujudkan ketenteraman, keadilan, dan bantuan kepada manusia serta kepada kehidupan.

Oleh karena itu, Al-Haq Subhanahu wa Ta'ala selalu mengingatkan kita pada peran ini melalui firman-Nya yang mulia:

“Namun, dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apa jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Itulah) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat sengsara. Kemudian, dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka itulah golongan kanan.” (QS. Al-Balad: 11-18).

Kemudian Allah mencela orang-orang yang hatinya keras lalu melupakan peran yang penting ini, di mana Allah berfirman:

“Sekali-kali tidak! Bahkan, kamu tidak memuliakan anak yatim, tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkannya (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20).

Dan Allah berfirman:

“Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar dan tidak menyukai (mengajak orang lain) memberi makan orang miskin. Maka, tidak ada seorang teman setia pun baginya pada hari ini di sini dan tidak ada makanan (bagi-nya), kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya, kecuali orang-orang yang bersalah.” (QS. Al-Haqqah: 33-37).

Maka masjid karena hakikat ini tidak membedakan antara sisi makrifatullah [mengenal Allah] dan ibadah kepada-Nya dengan sisi komitmennya terhadap kehidupan. Oleh karena itu, masjid dahulu menjadi tempat bagi orang-orang fakir dan Ahlu Suffah [para sahabat miskin yang tinggal di emperan masjid], menjadi tempat bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan, serta pusat perawatan dan kebangkitan. Karena itu, masjid-masjid tidak boleh diisolasi dari risalahnya dalam kehidupan seorang Muslim. Demikian pula seyogianya bagi seorang dai untuk memanfaatkan peran ini dalam dakwahnya dan dalam menghidupkan kembali tugas bangunan Islam yang agung ini melalui poin-poin berikut:

  1. Dalam amal kebajikan dan pelayanan: Diorganisasikan di masjid-masjid amal kebajikan, mulai dari pengumpulan sedekah, zakat, dan bantuan-bantuan, lalu mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya dari kalangan orang-orang yang membutuhkan; baik mereka dari kalangan orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya (muta'affifiin) yang dikira oleh orang bodoh sebagai orang kaya karena sifat menjaga diri mereka, maupun dari kalangan orang-orang yang meminta kepada manusia secara mendesak. Pemberian bantuan tersebut atau penerimaannya baik dalam bentuk tunai maupun barang ('aini), seperti daging kurban dan kulitnya, pakaian dan potongan kain, barang-barang kebutuhan rumah tangga, dan lain sebagainya; untuk merawat keluarga-keluarga mulia yang ditimpa kesulitan oleh roda zaman, keluarga-keluarga yang kehilangan pencari nafkahnya, serta keluarga-keluarga yang ditimpa musibah seperti kebakaran dan tenggelam.
  2. Amal kemanusiaan: Seperti membantu pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan, dengan cara menghubungi para pemilik usaha dan lembaga-lembaga serta memberikan rekomendasi (tazkiyah) bagi orang-orang saleh dari kalangan pengunjung masjid yang memiliki keistimewaan berupa keikhlasan dalam bekerja, kebersihan tangan [kejujuran], dan pengalaman. Serta membantu para pemilik modal kecil untuk memutarnya pada lembaga-lembaga perdagangan yang tepercaya agar menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya dan memberikan manfaat bagi lembaga perdagangan yang beroperasi sesuai dengan kaidah-kaidah dan ajaran syariat Islam.
  3. Pendidikan profesi (pelatihan kerja) dan pengawasannya: Di lembaga-lembaga yang terhubung dengan masjid atau di lingkungan itu sendiri, disertai dengan merawat keluarga-keluarga produktif dan memanfaatkan waktu luang para ibu rumah tangga dalam hal yang membawa kebaikan bagi keluarga dan masyarakat, seperti pembuatan karpet, pakaian jadi, rajutan (tricot), dan lain-lain.
  4. Mendirikan tempat penitipan anak (PAUD/TK): Atau memanfaatkan sebagian keluarga miskin untuk merawat anak-anak kaum Muslimin, khususnya mereka yang anak-anaknya membutuhkan perawatan karena berbagai sebab seperti yatim dan lain sebagainya.
  5. Berkomitmen untuk memperbaiki masjid-masjid, sekolah-sekolah sosial, dan rumah-rumah orang miskin yang hampir roboh: Untuk menjaga kelestariannya, serta menyuplai masjid-masjid dengan para khatib dari kalangan orang-orang yang memiliki kesalehan dan ketakwaan.
  6. Mendirikan klinik-klinik kesehatan sosial dengan biaya murah (simbolis): Untuk mengobati orang-orang fakir dan para pengunjung masjid demi keselamatan jasmani dan rohani mereka.
  7. Mendirikan komite-komite perdamaian di antara manusia: Mempermudah pernikahan bagi laki-laki dan perempuan yang menginginkannya, serta membantu mempermudah urusan kedua mempelai baik dalam hal perabot rumah tangga maupun tempat tinggal.

Peran Olahraga Masjid

Telah diketahui bahwa Islam memperhatikan tubuh yang sehat dan kekuatan jasmani, sebagaimana memperhatikan akal yang sehat dan kekuatan rohani. Nabi bersabda: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya terdapat kebaikan." Diriwayatkan oleh Muslim.

Oleh karena itu, seyogianya di samping masjid terdapat klub-klub olahraga fisik dan perawatan sosial untuk memenuhi keinginan jiwa Muslim dari hal yang halal, dan memanfaatkan hal yang halal tersebut dalam mendidik akhlak yang terpuji, menanamkan makna akidah dalam jiwanya, membiasakan anak mencintai orang lain, dan memperkuat fisiknya. Imam Ahmad mengeluarkan hadis dengan sanad yang hasan dari Abdullah bin al-Harits radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah SAWpernah membariskan Abdullah, Ubaidullah, dan Katsir putra-putra Al-Abbas radhiyallahu 'anhum, kemudian beliau bersabda: 'Barangsiapa yang mendahului sampai kepadaku maka dia akan mendapatkan ini dan itu'." Ia berkata: "Maka mereka berlomba-lomba menuju beliau lalu mereka menjatuhkan diri di atas punggung dan dada beliau, lalu beliau mencium mereka dan memeluk mereka."

Dan Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Ajarilah anak-anak kalian berenang dan memanah, dan perintahkanlah mereka agar mereka melompat di atas kuda dengan sekali lompat." Berangkat dari teks-teks ini dan teks lainnya, para pakar pendidikan Islam menyerukan kebutuhan para pemuda untuk bermain, bergembira, dan menyegarkan jiwa setelah selesai dari pelajaran dan pekerjaan.

Al-Ghazali berkata dalam Al-Ihya': "Seyogianya anak kecil diizinkan setelah pulang dari tempat belajar (kuttab) untuk bermain dengan permainan yang indah yang dapat mengistirahatkan dirinya dari kelelahan tempat belajar tersebut, dengan sekiranya dia tidak lelah karena permainan itu. Karena jika anak kecil dilarang bermain dan dipaksa untuk belajar terus-menerus, maka akan mematikan hatinya, membatalkan kecerdasannya, dan mengeruhkan kehidupannya hingga dia mencari tipu daya untuk lepas dari pendidikan."

Oleh karena itu, seyogianya terdapat masjid-masjid yang mengawasi lembaga-lembaga ini agar arahan olahraga tidak terpisah dari arahan akhlak, dan agar olahraga memiliki maksud dan tujuan, bukan olahraga itu sendiri yang menjadi maksud dan tujuan.

Oleh karena itu, seyogianya dihubungkan dengan masjid pula lapangan-lapangan memanah, pasukan pramuka (kasysyafah), dan kolam-kolam renang, agar anak singa masjid menjadi olahragawan, menjadi anggota pramuka, menjadi perenang, dan penunggang kuda yang memiliki tujuan yang mulia serta persiapan yang baik.

Aktivitas Wanita (Aktivitas Muslimah)

Wanita Muslimah memiliki perannya yang istimewa dalam kehidupan sosial pada umat Islam dan dalam masyarakat yang beriman.

Peran wanita Muslimah telah menonjol dalam kehidupan Islam sejak hari pertama munculnya dakwah ini yang ditegakkan oleh Rasul yang terpercaya. Setelah itu, dia senantiasa menjadi penolong dan oasis yang mulia bagi lelaki Muslim, membantunya untuk meraih keridaan Allah, menjadi ketenteraman dan kasih sayang baginya, serta menyediakan baginya suasana keakraban, ketenteraman, dan bantuan yang menguatkan dukungannya dan mengangkat cita-citanya. Dalam hal itu, wanita memiliki teladan yang saleh lagi mulia pada diri Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha ketika beliau berdiri mendampingi Rasulullah dalam dakwahnya menuju Tuhannya, menghibur beliau dengan harta dan jiwanya, memotivasi beliau, dan menguatkan dukungannya. Maka beliau memiliki pengaruh yang tidak dimiliki oleh para lelaki agung dan para pahlawan yang mulia.

Maka wanita Muslimah itu tidak seperti wanita mana pun. Wanita Muslimah memiliki risalah dan memiliki tujuan yang dia usahakan dan dia berlari cepat menuju kepadanya. Pertama-tama, dia adalah madrasah pertama yang membentuk generasi dan mencetak tunas bangsa. Dialah yang meletakkan batu bata pertama dalam bangunan kepahlawanan dan tekad yang menyala-nyala di dalam dada para pemuda dan lelaki secara sama. Kedua, dia adalah saudara kandung lelaki dalam kisah perjuangan yang agung dan kewajiban besar yang dibebankan Allah kepada umat Islam berupa penyampaian risalah-Nya, penegakan syariat-Nya, dan pemberian hidayah kepada makhluk-Nya. Mahabenar Allah yang berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Tawbah: 71).

Ketiga, dia adalah setengah dari masyarakat yang bekerja lagi cerdas seperti lelaki. Dia memiliki perannya dalam kehidupan dalam hal produksi yang sesuai dengan tabiatnya dalam kehidupan sosial yang berkembang serta dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga. Maka wanita Muslimah tidak seperti wanita yang moralnya runtuh lagi bodoh, yang tidak mementingkan apa pun kecuali penampilan yang memukau, keanggunan yang memikat, perhiasan yang durhaka, begadang yang melalaikan, dan pakaian yang seronok. Melainkan dia adalah wanita yang cerdas yang berdiri di atas sebuah pos penjagaan dalam kehidupan, dan tegak di atas sebuah bangunan dalam umat, bekerja agar perannya dan perbuatannya memberikan pengaruh yang luar biasa.

Titik Tolak Pergerakan Wanita:

Seyogianya wanita bergerak untuk bekerja bagi Islam dari rumahnya dan tempat tinggalnya, kemudian dari masjid atau dari ruangan-ruangan yang terhubung dengan masjid yang dikhususkan untuk kaum wanita.

Peran Wanita di Masjid:

Peran wanita Muslimah pada zaman ini tidak hanya terbatas pada salat di masjid-masjid saja, melainkan melampaui hal tersebut pada zaman yang saling terkait dan saling berkonflik ini menuju aktivitas-aktivitas lain yang menunaikan peran efektifnya dalam masyarakat Islam. Di antara aktivitas-aktivitas tersebut adalah:

  1. Pelajaran ilmu dan pengetahuan bagi kaum wanita: Dari kalangan para ibu dan putri masyarakat Islam. Kita mengetahui bahwa wanita Muslimah hari ini berada pada tingkat pendidikan yang besar, dan sebagian mereka telah mempelajari pendidikan agama dan tarbiyah yang melayakkan mereka untuk memerangi pemikiran-pemikiran dan sistem kontemporer yang merusak, serta pemikiran-pemikiran dan penyimpangan ekstrem yang menghancurkan yang menyusup ke dalam rumah tangga Muslim dan umat Islam. Sebagaimana hal itu melayakkan mereka untuk mengajarkan adab-adab dan ajaran-ajaran Islam, membangkitkan ruh iman yang bergerak lagi menyala-nyala di dalam keluarga dan wanita Muslimah, serta meniupkan ruh perjuangan, jihad, dan rasa percaya diri pada jiwa yang beriman; sehingga dia dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya dan mewarnainya dengan warna kesucian, kemurnian, dan kepeloporan. Oleh karena itu, wajib diusahakan untuk mendidik generasi dai wanita (da'iyat) untuk berdakwah menuju Islam dan ajaran-ajarannya di lingkungan wanita, sehingga tegak model-model bagi wanita ideal yang bangkit membela kehormatan dan rasa malunya, lalu menghancurkan sistem-sistem yang amoral, permisif, lagi durhaka tersebut, serta melindungi kehormatan umat dari serangan permisivisme yang membabi buta ini yang ingin menghabisi sisa-sisa akhlak umat dan pilar-pilar kebahagiaannya, sebagaimana dengan itu dia menjaga umat dari para penipu yang memperdagangkan kehormatannya dan menganggapnya sebagai kesenangan serta komoditas yang dijual dan dibeli di arena hawa nafsu yang durhaka dan syahwat yang liar.
  2. Partisipasi wanita dalam aktivitas sosial umat: Dengan syarat bahwa pekerjaan tersebut merupakan kebaikan, dan berada di tengah-tengah serta bidang pekerjaan wanita, seperti:

Wanita bergerak dalam amal Islami untuk berinteraksi dengan kaum mukminah secara positif, dia mengajak wanita-wanita Muslimah dan keluarga-keluarga beriman melalui perilakunya, keimanannya, komitmennya, dan penerapannya terhadap Islam sebagai teladan yang baik bagi wanita-wanita Islam dan untuk tarbiyah keimanan. Dia menjelaskan hakikat Islam ini dan melaksanakannya secara nyata sebagaimana yang dia pelajari dari Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya, guna mengeluarkan kaum wanita dan keluarga dari tawanan adat istiadat yang menyusup dan pemikiran-pemikiran impor barat, yang menyerupai penyimpangan-penyimpangan zaman dan penyakit pemikiran merusak yang masuk ke dalam masyarakat kita bagaikan pencuri yang kotor, yang merampas iman, kesucian, dan keutamaan dari jiwa-jiwa.

Sesungguhnya masyarakat Islam hari ini menoleh pada peran wanita Muslimah dan pada pekerjaannya yang berpengaruh yang meninggalkan jejak-jejaknya berupa kebaikan, keberkahan, dan petunjuk di atas fitrah, serta mengobati penyakit-penyakit masyarakat secara positif, realistis, dan sederhana. Peran inilah yang dengannya Allah mengukuhkan wanita-wanita yang lemah jiwanya dan para pengobar syahwat serta fitnah.

Oleh karena itu, kebutuhan masyarakat Islam sangat mendesak terhadap usaha wanita Muslimah yang bekerja untuk agamanya dan risalahnya, karena pembangunan masyarakat Muslim selalu membutuhkan wanita-wanita mukminah yang dipersenjatai dengan kesadaran dan kesucian serta berusaha menuju tujuan dengan penuh rasa percaya diri, kesabaran, dan kemuliaan; untuk melahirkan generasi-generasi beriman yang agung dan wanita-wanita yang enggan tunduk pada kehinaan dan syahwat serta kukuh menolak peniruan dan penyimpangan. Mereka memiliki kepribadian yang istimewa, inovatif, lagi kreatif dalam bidang kebahagiaan, kemuliaan, dan keagungan. Mereka juga memiliki peran penting dalam membentuk lingkungan Islami dan norma Islami yang sahih, yang percaya diri dalam langkahnya serta menegakkan kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat di atas manhaj yang lurus, berpengaruh, lagi efektif.

A. Membantu keluarga para gadis dan beberapa keluarga miskin, dengan memberikan pakaian, bantuan pangan, pengobatan, dan bantuan-bantuan lainnya.

B. Bekerja untuk mengajarkan kepada keluarga-keluarga miskin beberapa keterampilan industri [kerajinan tangan] seperti menjahit, menenun, pembuatan karpet, pekerjaan jarum [merajut], dan bordir, hingga pekerjaan-pekerjaan bermanfaat lainnya seperti membuat busana Muslimah yang sesuai untuk para wanita, dan lain sebagainya.

C. Mendirikan tempat penitipan anak (PAUD/TK) untuk membantu para ibu rumah tangga dan wanita karier serta untuk mendidik anak-anak kecil di atas prinsip-prinsip Islam dan akhlak yang mulia. Begitu pula mendirikan panti asuhan untuk merawat anak-anak yatim, lansia, dan orang-orang yang lemah.

D. Melakukan perdamaian di antara para wanita di dalam rumah tangga dan mengobati penyimpangan ekstrem serta pelanggaran yang menjadi sebab hancurnya keluarga dan terputusnya ikatan masyarakat.

E. Menyebarkan wawasan kesehatan, menyampaikan arahan-arahan, dan mengajarkan kepada para ibu rumah tangga pertolongan pertama (P3K), membersihkan luka dan luka bakar serta membalutnya, mengajarkan cara memberikan suntikan, dan prinsip-prinsip medis yang berkaitan dengan pencegahan kesehatan.

F. Menjalankan peran penting dalam pemberantasan buta aksara di kalangan wanita, membiasakan kaum wanita metode mendidik anak-anak, menyampaikan pelajaran dalam bidang ekonomi rumah tangga, dan dalam hal kewajiban keluarga dalam mengembangkan masyarakat Muslim; serta agar dia menjalankan sebuah pekerjaan ekonomi sekaya apa pun keluarga tersebut, dan agar dia mendukung industri nasional.

G. Amal-amal jihad: jika wanita mengajukan diri untuk memikul beban-beban jihad pada umatnya, maka seyogianya titik tolak pergerakannya juga dari masjid. Dia mempelajari pertolongan pertama, pembalutan luka, evakuasi medan pertempuran, pelatihan dalam tugas logistik konsumsi, komunikasi, pembelaan diri, dan kesadaran sipil. Wanita pada masa Rasulullah SAWtelah berpartisipasi dalam aktivitas sosial dan militer.

Dari Hafshah binti Sirin, dari Ummu Athiyyah, Nusaba binti Ka'ab al-Anshariyyah berkata: "Aku ikut berperang bersama Rasulullah SAWsebanyak tujuh kali peperangan, aku mengurus logistik di tenda-tenda mereka, membuatkan makanan untuk mereka, merawat orang yang sakit, dan mengobati orang-orang yang terluka."

Dan dari Khalid bin Dzakwan, dari Ar-Rabi' binti Mu'awwidz bin Afra', ia berkata: "Kami dahulu ikut berperang bersama Rasulullah SAW, maka kami melayani kaum tersebut, memberi minum mereka, dan mengembalikan orang-orang yang terluka serta terbunuh ke Madinah."

Dan dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma'dan, dari Umair bin al-Aswad al-Ansi, bahwa ia menceritakan kepadanya bahwa ia mendatangi Ubadah bin ash-Shamit ketika ia berada di pantai Homs di sebuah bangunan miliknya dan bersamanya istrinya, Ummu Haram. Umair berkata: "Maka Ummu Haram menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Rasulullah SAWbersabda: 'Pasukan pertama dari umatku yang berperang mengarungi lautan telah dipastikan (mendapatkan surga).' Ummu Haram berkata: 'Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk dari mereka?' Beliau bersabda: 'Engkau termasuk dari mereka'."

Dari Anas, ia berkata: "Abu Thalhah datang pada hari Hunain sambil membuat Rasulullah SAWtertawa karena Ummu Sulaim, lalu ia berkata: 'Wahai Rasulullah, tidakkah engkau melihat Ummu Sulaim bersamanya sebuah belati?' Maka Rasulullah SAWbertanya kepadanya: 'Apa yang engkau lakukan dengan belati itu, wahai Ummu Sulaim?' Ia menjawab: 'Aku ingin jika salah seorang dari mereka mendekat kepadaku, maka aku akan menikamnya'."

Dan dari Anas juga, ia berkata: "Ketika terjadi hari Uhud, aku melihat Aisyah dan Ummu Sulaim, dan sesungguhnya keduanya menyingsingkan pakaiannya—aku melihat perhiasan betis keduanya—keduanya memindahkan qirbah [wadah air dari kulit] di atas punggung keduanya, kemudian keduanya menuangkannya ke dalam mulut-mulut kaum tersebut, kemudian keduanya kembali lalu memenuhinya, kemudian keduanya menuangkannya ke dalam mulut-mulut kaum tersebut." Dan inilah Ummu Umarah yang Rasulullah SAWbersabda tentangnya: "Tidaklah aku menoleh pada hari Uhud ke kanan maupun ke kiri melainkan aku melihatnya berperang membelaku." Dan begitulah dahulu peran wanita Muslimah sangat efektif, positif, kuat, lagi nyata.

Catatan Kaki (Footnote) Teks Asli:

(1) HR. Muslim, no. 671

(2) HR. Muslim, no. 666

(3) HR. Muslim, no.

(1) [Halaman 394] HR. Bukhari, bab tentang memerangi Romawi.

(2) [Halaman 394] Lihat mengenai hal itu dalam Sifatus Shafwah 2/63 dan setelahnya. Cetakan Darul Ma'rifah.

Bab Ketiga: Peran Ilmiah Sekolah dalam Dakwah

Sekolah merupakan titik awal bagi fajar pembentukan generasi pelopor Islam yang bergerak menuju masa depan yang cerah dan esok hari yang agung. Sekolah membangun fondasi Islam yang luas dan kukuh, yang kelak akan mewujudkan asa yang dinantikan serta harapan yang digantungkan kepadanya.

Oleh karena itu, segala upaya di sekolah—baik dari para guru maupun aktivis dakwah—harus disatukan demi membentuk generasi Qurani yang unik, serta para pemuda yang tulus iman dan tekadnya. Generasi dan pemuda inilah yang menjadi modal masa depan, tentara kebenaran, dan kesatria kejujuran; mereka yang tidak dilalaikan oleh dunia, dan tidak dipalingkan oleh syahwat dari menunaikan risalah mereka yang agung, yaitu risalah Islam.

Subbab Pertama: Tiada Alternatif Selain Islam (Islam atau Air Bah)

Sesungguhnya suatu umat yang tidak membimbing pemudanya sejak usia dini—untuk meluruskan penyimpangannya, membangkitkan harga dirinya, dan membentengi perilakunya—niscaya mereka akan segera memanen duri dan memetik buah yang pahit sebagai balasan atas sikap apatis, kemalasan, tidur panjang, serta kelalaian mereka yang membinasakan.

Adapun umat yang merawat para pemudanya dan mendidik generasi mudanya, merekalah yang akan menuai buah yang baik dan memetik bunga-bunga yang harum setaman. Dan tidak ada yang lebih utama dalam mendidik generasi muda selain risalah Islam dan petunjuk Al-Qur'an. Sungguh benar Rasulullah saat bersabda:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلَةٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

"Tidak ada pemberian yang diberikan oleh seorang orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik." (HR. Tirmidzi).

Beliau juga bersabda: "Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka."

Sesuatu yang paling utama untuk menjadi materi bagi pendidikan tersebut adalah Kitabullah Tabaraka wa Ta'ala. Akidah adalah penggerak sekaligus pembenteng:

"...Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka." (QS. Al-Kahf: 13).

Jiwa pun menjadi selamat dan sehat:

"Wahai anakku, tegakkanlah salat, suruhlah (manusia) berbuat makruf, cegahlah (mereka) dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu! Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang penting." (QS. Luqman: 17).

Serta membuahkan perilaku yang agung dan bernilai:

"Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin, (yaitu) orang-orang die yang khusyuk dalam salatnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia, orang-orang yang menunaikan zakat, orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tentu saja siapa yang mencari di luar itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya, serta orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yaitu) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Mu'minun: 1–11).

Hendaklah semuanya—baik ayah, ibu, pendidik, maupun para penanggung jawab—waspada terhadap air bah yang menghanyutkan; yaitu air bah kerusakan yang melanda generasi yang tengah tumbuh dan pemuda yang masih belia, sehingga mewariskan sifat-sifat tercela, akhlak yang buruk, serta kebiasaan-kebiasaan yang diingkari, di antaranya:

1. Fenomena Hedonisme dan Dekadensi Moral

Fenomena ini dibawa kepada para pemuda oleh para penyeru yang keluar dari nilai-nilai agama lagi bayaran. Mereka menggambarkan kehidupan kepada para pemuda seolah-olah hanya kesenangan yang lezat, syahwat yang instan, dan kelezatan yang memuaskan. Jika hal itu luput dari mereka, maka luput pulalah malam-malam kebersamaan serta hari-hari penuh kegembiraan dan asmara. Padahal pada hakikatnya, itu semua hanyalah kesenangan sesaat yang fana lagi lacur, syahwat yang rendah lagi nista, kelezatan yang buruk, hari-hari yang sia-sia, malam-malam yang hina, serta dunia perbudakan, penindasan, dan kerusakan akal. Di antara manifestasi dari penyakit-penyakit ini adalah fenomena Takhannuf [gaya hidup eksentrik/pemberontakan budaya modern], Tabarruj [bersolek berlebihan], Takhannuts [perilaku menyerupai wanita], kecerobohan, kemalasan, sikap fatalistik (tawakul), serta enggan memikul tanggung jawab.

2. Fenomena Taklid Buta (Ikut-ikutan)

Yaitu runtuhnya kepribadian, hilangnya jati diri, dan lenyapnya keteguhan prinsip. Fenomena ini membuat pemuda menjadi rapuh laksana sehelai bulu yang melayang di udara. Al-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا، لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى

"Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan jangan pula orang-orang Nasrani."

Maksudnya adalah dalam hal adat istiadat dan tradisi. Adapun dalam hal ilmu pengetahuan dan kebaikan, maka hikmah (ilmu yang bermanfaat) adalah barang hilang milik orang mukmin; di mana pun ia menemukannya, maka ia lebih berhak mengambilnya. Orang mukmin boleh mengambil dan mempelajari segala hal yang bermanfaat seperti kedokteran, teknik, fisika, kimia, sarana perang, dan rahasia-rahasia materi. Namun, para pengekor dari kalangan pemuda yang teperdaya saat ini tidak mengambil kecuali perilaku takhannuts, hedonisme, tren pakaian, ketelanjangan, dekadensi moral, kesesatan berpikir, serta paham-paham destruktif, yang dibantu pula oleh musuh-musuh negeri Islam. Sebaliknya, jika ia dituntut untuk mencari ilmu yang bermanfaat, ia tidak diberikan hal itu, tidak dibantu, ataupun ditunjukkan kepadanya, sementara ia sendiri lalai akan hal tersebut.

3. Fenomena Larut dalam Bermewah-mewah

Yaitu saling membanggakan fasilitas sekunder, perabotan, dan kemewahan rumah; mengumpulkan harta dengan cara apa pun; menyembah materi dan mendapatkannya dari sumber mana pun, serta menggadaikan harga diri demi kedua hal tersebut, meskipun tebusannya adalah kehormatan, kemuliaan, dan kebajikan.

4. Fenomena Sufur (Membuka Aurat), Tabarruj, dan Ikhtilat (Campur Baur)

Serta segala hal yang mengikuti hal itu berupa sarana-sarana yang mengorganisasi keburukan ini, mengobarkannya, dan mendorong kepadanya.

5. Fenomena Narkoba dan Kecanduan Zat Adiktif yang Membinasakan

Hal ini diiringi dengan dampak kehancuran bagi harta dan kesehatan, serta mendatangkan berbagai penyakit seperti kanker, TBC, asma, dan pengerasan pembuluh darah (arterioskelosis). Allah telah mengharamkan hal tersebut melalui firman-Nya:

"...dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..." (QS. Al-Baqarah: 195).

"...Janganlah kamu membunuh dirimu..." (QS. An-Nisa': 29).

"...Jangan pula kamu menukar yang baik dengan yang buruk..." (QS. An-Nisa': 2).

"...Dia (Nabi) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk..." (QS. Al-A'raf: 157).

6. Fenomena Perpecahan, Putus Sekolah, Pembangkangan

Serta gemar menyelisih aturan, menampilkan maskulinitas palsu, kepahlawanan semu, dan meremehkan nilai-nilai luhur.

7. Fenomena Onani, Penyimpangan Seksual (Homoseksualitas/Lesbianisme), atau Gender Ketiga (Waria/Androgini)

Termasuk pula gemar menganiaya orang lain, atau menarik diri dari lingkungan (introvert ekstrem), serta dampak yang ditimbulkannya berupa penyakit psikologis dan mental, rasa muak antara satu jender terhadap jender lainnya, hingga hilangnya potensi produktif dan efektif dari suatu umat.

8. Fenomena Minder (Rendah Diri), Ketakutan, Merasa Memiliki Kekurangan, dan Berbohong

Hingga fenomena-fenomena lainnya yang tiada berujung ketika petunjuk, syariat, dan akidah telah sirna. Hal ini telah diperhatikan oleh orang-orang Barat, dan mereka menetapkan bahwa tidak ada benteng dari penyakit-penyakit ini kecuali agama dan akidah.

Filsuf Jerman, Fichte, mengatakan: "Akhlak tanpa agama adalah kesia-siaan."

Filsuf dan pemimpin India, Gandhi, mengatakan: "Kemuliaan akhlak dan agama adalah satu hal yang sama, tidak menerima pemisahan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Keduanya adalah kesatuan yang tidak terbagi. Agama laksana roh bagi akhlak, dan akhlak laksana udara bagi roh. Dengan ungkapan lain, agama memberi makan akhlak, menumbuhkan, dan menyegarkannya, sebagaimana air memberi makan tanaman dan menumbuhkannya."

Kant juga berkata: "Tidak ada eksistensi bagi akhlak tanpa adanya tiga keyakinan: eksistensi Tuhan, keabadian roh, dan hisab setelah kematian." ^[1]

Anda telah melihat pendapat para filsuf tersebut mengenai akidah dan agama, maka bagaimana gerangan dengan Islam, rohnya, dan keindahannya?

Sesungguhnya Islam adalah mukjizat pendidikan yang luar biasa. Sungguh benar firman Allah:

"...Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas. Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan izin-Nya Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, serta memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus." (QS. Al-Ma'idah: 15–16).

Sekolah, jika tidak berhasil dalam memberikan pengarahan dan pendidikan, ia akan menjadi lingkungan dan sarang bagi wabah-wabah asing, serta menjadi tempat pertemuan yang membawa kebinasaan dan saling tolong-menonjol dalam kedurhakaan; terutama jika di dalamnya banyak terdapat pemuda yang rusak moralnya, yang tidak dicegah oleh hukum, tidak ditahan oleh akhlak, atau tidak dibimbing oleh guru yang mulia.

Terlebih lagi, jika di sekolah-sekolah tersebut banyak ustadz dan guru yang tidak memahami pendidikan yang benar melainkan sekadar taklid kepada orang asing dalam perilaku dan akhlaknya, serta membebek kepada Barat atau Timur dalam adat istiadatnya yang tercela, pemikirannya, serta penyimpangan-penyimpangannya yang membinasakan. Terlebih lagi, jika buku-buku pelajaran yang dipelajari oleh para siswa di sekolah mereka sarat dengan infiltrasi, peraguan, dan penyerangan terhadap agama-agama, serta seruan menuju kekufuran, ateisme, dan peraguan terhadap segala hal yang sudah mapan lagi bermanfaat, lalu menyifatinya dengan sifat-sifat yang tercela; serta menyajikan khurafat dan teori-teori yang runtuh lagi rapuh seperti Teori Darwin dan teori lainnya seolah-olah sebagai hakikat ilmiah, lalu menjadikannya sebagai dalih untuk meragukan Sang Pencipta, padahal sains telah membuktikan kesalahan serta penyimpangannya dan telah membuangnya ke keranjang sampah.

Oleh karena itu, wajib bagi para guru, pendidik, dan da'i untuk menaruh perhatian besar pada sekolah dan pendidikan Islam di dalamnya, agar generasi yang lahir tumbuh dengan selamat dan sehat serta mampu mewujudkan harapan.

Subbab Kedua: Langkah-Langkah Praktis Pendidikan dan Tahapannya

Tidak diragukan lagi bahwa setiap tahapan usia memiliki fokus perhatian tersendiri dan kecenderungan tertentu yang harus dipertimbangkan oleh seorang da'i, pendidik, dan pengarah.

  1. Tahap Imajinasi Fantatif (Khayali): dari usia 3 sampai 6 tahun.
  2. Tahap Realistis (Waqi'i): dari usia 6 tahun sampai masa pubertas (remaja).
  3. Tahap Individualitas dan Kemandirian Berpikir: dimulai sejak masa remaja.

Seorang da'i mutlak harus menyusun pendekatan dakwah dan interaksi yang khusus bagi setiap tahapan dengan objek dakwah (mad'u). Di setiap periode dan tahapan tersebut, da'i juga wajib menyajikan asupan pemikiran yang memenuhi kebutuhannya. Hal itu dapat dicapai melalui berbagai aktivitas halal yang sesuai dengan nalar, akal, dan kecenderungannya.

A. Tahap Pra-Akil Balig (Sebelum Pubertas)

Setiap tahapan memiliki kebutuhan psikologis dan intelektual. Sebagai contoh, tahap pra-akil balig membutuhkan pemenuhan tertentu, di antaranya:

a. Kebutuhan akan rasa aman dan ketenteraman.

b. Cinta, penghargaan, kasih sayang, dan kelembutan.

c. Mulai dihadapkan pada beberapa masalah keagamaan dan logika.

d. Persepsi anak terhadap harga dirinya; ia membenci penghinaan dan peremehan terhadap urusannya.

e. Kebutuhan akan loyalitas dan rasa memiliki (afiliasi).

f. Kecenderungan untuk melamun (angan-angan siang hari).

Maka, wajib bagi da'i pada tahap ini untuk menyeleksi siapa saja yang mampu menjalankan peran ini untuk membimbing para pemuda belia tersebut, dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Berinteraksi dengan para siswa secara bijaksana; tidak membawa mereka keluar dari sistem umum sekolah sehingga membuat mereka terkena sanksi, problem akademis, rasa takut dihukum, atau memicu konflik dengan orang tua mereka.
  2. Membantu mereka memahami pelajaran dengan cara menerangkannya, memberikan kelas remedial (bimbingan belajar gratis), atau memberikan tips belajar, sehingga kepercayaan diri mereka meningkat, menjauhkan mereka dari ketakutan terhadap sekolah, serta membuat orang tua merasa tenang terhadap anak-anak dan masa depan mereka.
  3. Memperlakukan mereka dengan cinta, penghargaan, kasih sayang, dan kelembutan. Hal ini dicapai melalui tutur kata yang manis, saling memberi hadiah, kunjungan (silaturahmi), mengadakan rekreasi, jalan-jalan, dan sebagainya.
  4. Menjawab tanpa rasa jengkel terhadap beberapa persoalan agama yang mereka tanyakan, serta tidak mencoba untuk membodoh-bodohkan pendapat mereka, merasa heran di hadapan orang lain, atau mengarahkannya untuk bahan ejekan.
  5. Berupaya mengangkat harga diri siswa, mendukung cita-citanya, memanfaatkan pemikiran-pemikirannya yang visioner, lalu mengaitkannya dengan kisah-kisah para pahlawan, sahabat Nabi, para penakluk, penemu, dan ilmuwan muslim.
  6. Menjadi saudara, sahabat, sekaligus penasihat baginya; serta menumbuhkan perasaan di dalam dirinya bahwa ia telah menjadi bagian dari dakwah ini, bagian dari lingkaran sahabat yang beriman, bagian dari Rasul yang mulia ini, serta bagian dari warisan yang agung ini, yaitu warisan Islam.
  7. Memanfaatkan angan-angan para siswa untuk diarahkan secara benar menuju kepahlawanan Islam, kebangkitan iman, kecintaan pada amal, perjuangan, dan keberanian; serta menyelenggarakan aktivitas yang dapat mewujudkan sebagian dari cita-cita tersebut.

Aktivitas ini juga harus dibersamai dengan kegiatan olahraga, hiburan, dan seni peran (teater) yang membantu menyerap makna-makna ini dalam atmosfer Islami yang mulia.

Pada periode ini, fokusnya tidak disyaratkan pada pendalaman studi Islam yang berat, melainkan disyaratkan untuk memfokuskan sentuhan emosi serta mengajarkan dan memperkuat rasa cinta Islami, ibadah yang benar, rukun-rukun Islam, kecintaan kepada Al-Qur'an, Rasul, dan para pendahulu yang saleh (Salafus Shalih), serta memberikan peringatan secara umum dari menjauhkan diri dari rida Allah dan mengikuti apa yang diharamkan Allah.

B. Tahap Pasca-Akil Balig (Setelah Pubertas)

Tahap ini merepresentasikan masa sekolah menengah atas (SMA) dan setelahnya. Pelakunya melewati fase psikologis tertentu, di antaranya:

  1. Memiliki loyalitas yang sangat kuat terhadap kelompok sebayanya (peer group), serta cenderung menjauh dari arahan orang dewasa atau keluarga.
  2. Cenderung tertutup (menyimpan rahasia); takut untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya karena khawatir akan kritik orang lain.
  3. Cenderung memberontak terhadap apa yang ada (papan mapan) sepanjang hal itu tidak sejalan dengan rencana dan tujuannya.
  4. Mengalami pergolakan batin dengan dirinya sendiri dan keyakinannya; ia bertanya tentang Allah dan eksistensi-Nya, belum matang dalam urusan kehidupan, meragukan segala sesuatu, dan terkadang bisa hanyut ke dalam hal apa pun.

Oleh karena itu, tahap ini pun harus memiliki para da'i dan pemimpinnya yang mampu memahami kecenderungan psikologis dan mental ini, mampu berinteraksi dengannya secara bijaksana dan penuh pemahaman, serta memenuhinya dengan ketenangan, pemikiran yang lurus, serta perencanaan yang matang lagi sabar. Langkah-langkah dalam tahapan ini seharusnya sebagai berikut:

  1. Sebaiknya pada periode ini, para da'i bergerak aktif bersama para siswa yang cerdas lagi berkomitmen (ber-iltizam) yang memiliki sifat-sifat khusus, yang mendapatkan kepercayaan dan cinta dari semua orang, serta menjadi teladan yang mulia bagi dakwah yang mulia; misalnya teladan dalam ilmu, ketaatan, istikamah, adab, akhlak, iman, dan komitmen pada ajaran Islam. Mereka juga harus memiliki rasa cinta yang besar kepada saudara-saudaranya, bersabar atas mereka, memantau perkembangan mereka, mengunjungi mereka, menjalin persahabatan, berbaur, dan hidup bersama mereka. Melalui potensi ini, mereka mampu menjadi sumber pemberian bagi saudara-saudara mereka dan pusat daya tarik bagi kaumnya; alih-alih para pemuda ini dimanfaatkan oleh teman-teman yang buruk, pergaulan yang nista, dan paham-paham destruktif. Terlebih lagi, ahli hidayah memiliki hujah, logika, dan cahaya yang di dalamnya Allah jadikan petunjuk dan bimbingan.
  2. Da'i melalui kebijaksanaan sikapnya harus bisa memenangkan kepercayaan para pemuda ini dengan cara mendekati mereka terlebih dahulu. Hendaklah waspada dari menyerang mereka dengan kata-kata yang melukai, menghardik, membuat mereka putus asa, atau mengejek mereka. Pendekatan tersebut bisa berupa pemberian hadiah pada momen-momen tertentu seperti kelulusan, kedatangan dari safar, selamat dari kecelakaan atau musibah; atau melalui kunjungan pada acara-acara keluarga dan hari raya, menghadiahkan buku, atau mengundang mereka dalam acara-acara yang menggembirakan. Jika pemuda tersebut telah percaya kepada da'i, membuka hatinya, dan mencintainya, maka hal itu menjadi jaminan baginya untuk mau mendengar kebenaran, menyambutnya, dan memperhatikannya.
  3. Da'i harus menghias diri dengan kesabaran, mengharap pahala (ihtisab), toleran terhadap kesalahan, dan memaafkan kekeliruan. Ia harus memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam dirinya, kemudian meyakinkannya dengan lemah lembut. Sebaiknya hal itu dilakukan dalam pertemuan khusus (privat) agar pemuda tersebut tidak merasa malu jika tampak kesalahannya atau merasa tersudut, yang mana hal itu bisa menjadi penghalang baginya untuk mengikuti kebenaran dan kembali kepadanya. Begitu pula nasihat harus disertai dengan dalil, serta jauh dari sikap tinggi hati atau merasa ingin menang sendiri; melainkan harus disampaikan dengan bahasa persaudaraan, cinta, dan penjelasan kebenaran dalam masalah tersebut.
  4. Keraguan dan ateisme pada diri pemuda tidak boleh dihadapi dengan celaan, laknat, dan pengusiran. Namun, harus dihadapi dengan metode yang benar dalam mengantarkan mereka menuju hakikat kebenaran. Sebagaimana yang dikatakan oleh para pakar psikologi, pergolakan agama dan keraguan merupakan dua fenomena dari fenomena masa muda di zaman ini. Oleh karena itu, wajib bagi da'i untuk menyiapkan hujah-hujah yang benderang lagi jelas, serta dalil-dalil rasional (aqliyah) maupun tekstual (naqliyah) untuk diberikan kepada pemuda tersebut dosis demi dosis hingga mencapai kesembuhan total.

Subbab Ketiga: Berbagai Aktivitas dan Apa yang Memengaruhi Pemuda

Pikiran dan akal para pemuda dapat didekati melalui berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi manusia secara akal dan pemikiran. Di dalam aktivitas-aktivitas ini, harus tampak ajaran-ajaran terdahulu yang wajib diperhatikan secara saksama, agar aktivitas tersebut menjadi program pendidikan praktis atas ajaran Islam dan akhlaknya; serta menjadi lingkungan yang baik tempat siswa muslim melatih banyak hal dan memunculkan bakat-bakatnya melaui kegiatan tersebut. Di antara aktivitas-aktivitas ini adalah:

1. Aktivitas Olahraga

Ini merupakan salah satu aktivitas paling menonjol yang disukai oleh para siswa. Oleh karena itu, da'i tidak boleh mengabaikan aktivitas ini, baik di luar sekolah maupun di dalam sekolah. Di antara sarana aktivitas ini adalah:

a. Tim sepak bola, bola voli, dan bola basket.

b. Tim tenis meja, bulu tangkis, dan tenis lapangan.

Da'i harus menaruh perhatian pada tiga permainan ini karena dapat mengokohkan hubungan antar sesama siswa, dan antara siswa dengan para pengelola olahraga. Hal ini juga dapat membantu siswa yang belum mahir dalam permainan ini untuk berlatih dan berpartisipasi di dalamnya.

c. Balap sepeda: diadakan di antara para pemuda pada waktu dan tempat yang sesuai. Kegiatan ini dapat disediakan hadiah berupa mushaf Al-Qur'an, buku-buku, kaset, lencana, medali, dan piala.

d. Lari cepat dan lari lintas alam (maraton): Sungguh Nabi dahulu pernah lomba lari bersama istrinya, Aisyah.

e. Olahraga binaraga (keindahan jasmani) dan gulat: Sungguh Rasulullah pernah menggulat Rukanah, lalu Nabi merobohkannya.

f. Olahraga renang: Umar bin Khattab berkata: "Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah, dan perintahkanlah mereka agar melompat ke atas punggung kuda dengan tangkas."

g. Olahraga memanah dan berkuda, atau pacuan kuda dan ketangkasan berkuda (furusiyyah).

Hingga olahraga-olahraga lainnya yang bermanfaat bagi pemuda, menyatukan mereka, serta mempertautkan hati mereka dengan para pengemban dakwah Islam. Sebab, mereka adalah anak-anak dakwah, dan aktivitas mereka wajib berada di bawah naungan, ajaran, serta dalam pengawasan tokoh-tokoh dan penjaganya.

2. Aktivitas Seni dan Hiburan

Aktivitas seni diminati oleh sebagian siswa, dan mereka suka memuaskan keinginan mereka di waktu senggang melaluinya. Ini merupakan sarana yang baik untuk memanfaatkan waktu luang pada hal yang bermanfaat, serta memanfaatkan potensi yang menyukainya dalam berbagai aktivitas dakwah Islam. Ini pada hakikatnya merupakan sisi baik dari wajah dakwah Islam di kalangan pemuda dan selain mereka; di mana melalui sarana ini dapat dipentaskan karya-karya teater yang agung, dendang syair, serta nasyid keagamaan.

a. Dendang Syair dan Nasyid

Yaitu bait-bait syiir yang mudah lagi dicintai yang dapat membangkitkan semangat, mengajarkan tujuan, dan memberikan pemahaman tentang prinsip-prinsip dengan sentuhan emosi yang lembut serta rima yang mudah lagi indah, yang mana jiwa dapat menerimanya dan hati cenderung kepadanya. Hal ini dapat menggantikan sekaligus memberikan manfaat daripada lagu-lagu syahwat beraliran hewani, seksual yang dibenci, lagi berkarakter melankolis/lemah (mukhannats).

Nasyid-nasyid ini tersedia banyak namun membutuhkan seleksi yang ketat, sekiranya dapat menunaikan tujuan yang diharapkan darinya; seperti Nasyid Islami karya Dr. Muhammad Iqbal:

Cina milik kita, Arab milik kita...

India milik kita, dan semuanya milik kita...

Islam telah menjadi agama bagi kita, dan seluruh alam menjadi tanah air kita...

Tauhid kepada Allah adalah cahaya bagi kita, kita telah siapkan ruh sebagai tempat tinggalnya...

Alam semesta bisa saja sirna, namun lembaran-lembaran kemuliaan kita tidak akan terhapus oleh zaman...

Di bawah naungan pedang kita dididik, dan kita bangun kejayaan bagi negara kita...

Panji Islam sepanjang masa, adalah syiar keagungan bagi umat kita...

Dengan hilal kemenangan ia menyinari kita, dan merepresentasikan belati kekuatan kita...

Sesungguhnya nama Muhammad Sang Penunjuk jalan, adalah ruh bagi harapan kebangkitan kita...

Serta seperti Nasyid Dua Kalimat Syahadat:

Jika engkau bertanya tentang Tuhanku, maka Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...

Atau engkau bertanya tentang Nabiku, maka beliau adalah manusia yang agung...

Atau engkau bertanya tentang Kitabku, maka ia adalah Al-Qur'an yang mulia...

Atau engkau bertanya tentang musuhku, maka ia adalah setan yang terkutuk...

Serta seperti Nasyid Dua Kalimat Syahadat [lainnya]:

Setiap kali penyeru mengumandangkan, Allahu Akbar seraya menyeru...

Lima kali kita salat, dengan khusyuk dan bertafakur...

Dalam rukuk, berdiri, duduk, dan sujud...

Betapa indahnya salat, kita mengharap ampunan Ilahi...

b. Acara Hiburan dan Acara Serius

Siswa dapat mengadakan acara pementasan teater yang serius, yang mendorong pada suatu kebajikan atau mencegah dari suatu kenistaan. Panggung dakwah sarat dengan kepahlawanan dan kisah-kisah menarik yang dibutuhkan oleh masyarakat dan dicita-citakan oleh para pemuda.

Acara Hiburan:

Siswa juga mengadakan acara hiburan. Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah berkata: "Sesungguhnya hati itu bisa bosan sebagaimana badan bisa bosan, maka carilah untuk hati tersebut hikmah-hikmah yang segar."

Beliau juga berkata: "Istirahatkanlah hati jam demi jam (saat demi saat), karena hati itu jika dipaksa akan buta."

Berdasarkan hal ini, tidak mengapa seorang muslim bermain, bergembira, dan bersenda gurau... dengan syarat hal itu tidak menjadi penghalang baginya dari menunaikan kewajibannya, tidak membawanya kepada hal yang haram, atau tidak menjadikan hal itu sebagai kebiasaan dan karakternya.

Alangkah indahnya apa yang dikatakan dalam hal ini: "Berikanlah waktu itu haknya dari hiburan—yaitu yang mubah—sekadar porsi pemberian garam pada makanan."

Acara hiburan dapat diarahkan untuk mencapai suatu target dari target-target yang ada; seperti peringatan dari kemalasan, dari kebodohan, atau kritik terhadap kondisi rusak yang menipu manusia, dan sebagainya.

c. Menggambar dan Seni Dekorasi

Bakat-bakat dalam menggambar, seni dekorasi, desain tata letak (interior/exterior), serta menampakkan keindahan dalam seni Islam berupa ukiran, pemandangan alam, pembuatan barang kerajinan, barang antik, dan sebagainya dapat dimanfaatkan.

3. Aktivitas Eksternal (Luar Sekolah)

Siswa juga harus memiliki aktivitas luar sekolah yang membantu memperkuat hubungan, mengumpulkan informasi, meningkatkan pengetahuan, dan lain sebagainya. Hal ini dapat direpresentasikan dalam bentuk:

a. Perjalanan Haji dan Umrah ke Baitullah al-Haram dan ziarah ke Masjid Rasulullah , agar hati terpaut dengan Masjidilharam, melihat persatuan umat Islam, dan mengambil cahaya ini agar ruh-ruh bergantung kepadanya, menancap kuat dalam benak, serta mendapatkan berkah dari tempat yang dimakmurkan ini.

b. Perjalanan Ilmiah (Studi Tur) untuk melihat peninggalan peradaban Islam, mengenal negeri-negeri muslim, mempelajari kondisi mereka, serta merasakan apa yang mereka rasakan.

c. Perjalanan Kepanduan (Pramuka/Kamping) dan Kemah Musim Panas, serta pelaksanaan program tertentu yang membiasakan manusia muslim pada kehidupan sehari-hari Islami yang semestinya diketahui dan dijalani oleh seorang muslim dalam atmosfer yang mulia; sehingga ketika ia kembali ke rumahnya, ia telah memiliki keteladan yang semestinya ia ikuti polanya. Dalam pertemuan-pertemuan ini, mereka juga terbiasa mandiri, bijaksana dalam bertindak, hidup sederhana (taqasquf), dan menyatu dengan alam. Di dalam kegiatan ini dan lainnya terdapat materi pengetahuan yang sejati, persaudaraan yang sempurna, cinta yang aplikatif, serta pelatihan yang bermanfaat.

4. Aktivitas Jurnalistik dan Media

Aktivitas ini merepresentasikan kemampuan menulis, mengekspresikan diri, serta menganalisis peristiwa dan mengambil manfaat darinya. Hal tersebut dapat diwujudkan dalam:

  1. Majalah Dinding (Mading) dan Poster yang mengekspresikan pemikiran dakwah dan risalah Islam; menulis di media massa keagamaan, menjelaskan teori-teori Islam, serta membantah dengan cara yang baik (Ahsan) terhadap orang-orang yang meragukan risalahnya, atau para musuh yang menyerang dan mengada-ada terhadap ajarannya.
  2. Menulis Buku dan Buku Saku (Risalah) untuk mengajak umat Islam kepada kebaikan dan jalan yang lurus, yang mana tujuannya adalah membangkitkan umat Islam dari tidur panjang mereka dan mendorong mereka dengan penuh semangat untuk beramal bagi Islam serta menunaikan kewajiban mereka terhadapnya.
  3. Aktivitas Pidato (Retorika): Sebaiknya diadakan mingguan dan dalam tema-tema yang terbatas lagi terarah, serta dilakukan di hadapan khalayak ramai agar siswa terbiasa mengekspresikan dirinya dan hilang rasa takut serta gemetarnya. Di dalamnya juga diselenggarakan festival budaya dan pembacaan puisi.
  4. Aktivitas Siaran (Radio Sekolah): Ini direpresentasikan dalam siaran radio sekolah, kultum pagi, kalimat hikmah dan nasihat yang disampaikan, serta komentar terhadap peristiwa harian dan momen-momen yang dilewati sepanjang tahun ajaran, dan sebagainya.
  5. Aktivitas Budaya (Literasi): Ini direpresentasikan dalam kunjungan para tokoh da'i senior ke sekolah, aktivitas perpustakaan dan aktivitas para pengunjungnya, jenis buku yang diseleksi untuk siswa, kompetisi budaya, menghafal Al-Qur'an dan tafsirnya, menghafal hadis-hadis Nabawi yang mulia, serta mengkaji sirah Rasulullah. Selain itu, diadakan pula pameran buku untuk siswa, di mana buku-buku tersebut dihadirkan langsung kepada mereka di sekolah dengan potongan harga yang memotivasi siswa untuk memiliki buku-buku Islam yang bermanfaat.

Demikianlah, aktivitas para da'i di sekolah harus mencakup dan mengarahkan seluruh aktivitas dan potensi, serta merangkul seluruh kecenderungan dan keinginan, untuk mengarahkannya menuju kecintaan pada dakwah dan kecintaan beramal untuknya.

5. Aktivitas Keagamaan

Melalui sekolah, melalui elemen-elemen yang mencintai kebaikan di dalamnya, serta melalui para guru pendidikan Islam dan bahasa Arab—yang mana sebagian besar atau seluruhnya telah menempuh studi keagamaan yang spesifik—maka didirikanlah aktivitas keagamaan yang multidimensi, yang direpresentasikan sebagai berikut:

1. Kelompok (Eskul) Tilawah Al-Qur'an dan Tajwidnya

Kelompok ini dibimbing oleh sebagian guru Pendidikan Agama Islam. Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Utsman bin Affan radiyallahu 'anhu dari Nabi , beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."

Beliau juga bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ، وَالْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

"Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya adalah seperti buah utrujah; rasanya enak dan aromanya wangi. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an namun mengamalkannya adalah seperti buah kurma; tidak ada aromanya namun rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an adalah seperti rihanah; aromanya wangi namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah hanzhalah; tidak ada aromanya dan rasanya pahit." (HR. Bukhari).

Allah Ta'ala juga berfirman:

"...Maka, siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha: 123).

2. Kelompok Hadis, Sirah Nabawiyah, dan Studi Sejarah Islam

Kelompok ini memiliki peran besar dalam memahami sunah dan meneladani pemilik dakwah (Rasulullah ). Sungguh benar firman Allah:

"Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah..." (QS. An-Nisa': 80).

"...Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah..." (QS. Al-Hasyr: 7).

Beliau bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

"Semoga Allah memperindah wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Sebab, bisa jadi orang yang disampaikan berita lebih paham daripada orang yang mendengar langsung." (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: Hadis Hasan Shahih).

Dari Irbadh bin Sariyah radiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah memberikan nasihat kepada kami dengan suatu nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Maka kami berkata: 'Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah wasiat kepada kami!' Beliau bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

'Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Dan sesungguhnya, barang siapa di antara kalian yang hidup setelahku, niscaya ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap bid'ah adalah sesat.'" (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan Tirmidzi berkata: Hasan Shahih).

Melalui kelompok ini, siswa belajar bagaimana meneladani Rasulullah , bagaimana berjalan mengikuti langkah-langkah beliau, bagaimana mengambil manfaat dari sirah para pendahulu yang saleh (Salafus Shalih) radiyallahu 'anhum, serta bagaimana mengapresiasi warisan ilmiah kaum muslimin.

3. Kelompok Kebajikan dan Sosial (Filantropi)

Kelompok ini bertugas membantu para siswa dan menyelesaikan masalah keuangan mereka serta mengumpulkan donasi untuk urusan tersebut. Kelompok ini juga ikut serta dalam meringankan penderitaan bangsa-bangsa muslim sesuai batas kemampuan, serta amal-amal kebajikan lainnya.

4. Kelompok Dakwah atau Amar Makruf Nahi Mungkar

Serta menjaga adab-adab umum, mengawasi perilaku siswa, memberikan arahan moral dengan cara yang baik (ihsan), persaudaraan, dan nasihat yang baik (mau'izhah hasanah). Kelompok ini juga berpartisipasi dalam aktivitas siaran radio dan jurnalistik melalui untaian kata yang sesuai dengan peran yang diemban ini.

5. Kelompok Pemeliharaan Masjid

Serta ajakan untuk mendirikan salat berjamaah di masjid, mengadakan kajian, dan seminar yang diselenggarakan oleh kelompok dakwah, atau salah seorang guru, siswa, maupun tamu eksternal.

Demikianlah berbagai aktivitas di sekolah saling bekerja sama di bawah kepemimpinan yang bijaksana, sehingga terjalin koordinasi di antaranya demi menunaikan tujuan yang diharapkan.

Catatan Kaki (Footnote): ^[1] Tarbiyahtul Awlad fil Islam, Abdullah Nashih Ulwan, Juz 1,

PASAL KEEMPAT: Peran Internasional Universitas dalam Dakwah

Pengantar

Tidak diragukan lagi bahwa universitas merupakan lingkungan ilmiah yang matang di dalam masyarakat. Universitas adalah pilar yang kokoh dalam mencetak para tokoh yang dikader dalam setiap bidang ilmu dan keahlian, guna memikul tanggung jawab mereka terhadap umatnya. Para pemuda mencapainya pada fase akademis tertentu dan pada tingkat intelektual tertentu. Oleh karena itu, peran universitas dalam menyampaikan dakwah Islam merupakan peran yang sangat mendasar dan penting, karena lingkungan universitas tidak sama dengan lingkungan lainnya, dan masyarakatnya tidak seperti masyarakat lainnya, disebabkan oleh dua alasan:

  • Pertama: Karena di beberapa negara, di dalam universitas terdapat otoritas-otoritas ilmiah khusus yang mungkin mengusung pemikiran tertentu, atau meyakini konsep-konsep yang bertentangan dengan konsep-konsep dasar dakwah Islam, atau bertentangan dengan da'i muslim yang berkomitmen (multazim). Otoritas-otoritas ini dipimpin oleh para dosen spesialis yang mungkin tidak sepakat dengan da'i—atau da'i tersebut tidak sejalan dengan mereka—mengenai manhaj [metode] tertentu atau uslub [gaya] tertentu. Mereka ini tidak diragukan lagi memiliki kehormatan, pengaruh, serta bobot secara intelektual, ilmiah, dan legalitas hukum.
  • Kedua: Sesungguhnya mahasiswa universitas memiliki pemikiran, kecenderungan, dan cita-cita khususnya sendiri, di samping keterbukaan ilmiah dan budayanya terhadap berbagai tren serta kebudayaan global maupun lokal. Hal ini belum lagi ditambah dengan kesibukannya terhadap isu-isu umat, generasi, dan kehidupan di sekitarnya; isu-isu yang ia pandang dengan kacamata kepemudaan yang penuh antusiasme, vitalitas, dan kedinamisan.

Kita dapat merangkum fokus perhatian utama pemuda universitas, atau gambaran cita-cita pemuda kampus dalam dua kata, yaitu: apa yang sedang terjadi di panggung lokal dan internasional.

Sebagaimana kita juga dapat merangkum problematika pemuda kampus dalam dua kata pula, yaitu: keikhlasan dan kemurnian, yang membutuhkan lebih banyak pengalaman; atau emosi dan antusiasme, yang semestinya dikendalikan dengan lebih banyak hakikat kenyataan. Oleh karena itu, seorang da'i muslim seyogianya menghargai keikhlasan, antusiasme, dan emosi tersebut, sehingga ia dapat mengetahui kunci-kunci kepribadian mereka.

Subbab Pertama: Kunci-Kunci Kepribadian Mahasiswa Universitas dan Problematikanya

Sebagaimana telah kita ketahui, kepribadian mahasiswa adalah kepribadian yang dinamis lagi ambisius, yang menaruh perhatian pada problematika umatnya saat ini. Masalah-masalah ini bisa jadi berbeda dari satu zaman ke zaman lain, dari satu generasi ke generasi lain, dan dari satu umat ke umat lain.

Melalui realitas kehidupan kita, tampak jelas adanya problematika umum yang menarik perhatian pemuda universitas. Di antara problematika yang bersifat umum dan khusus ini adalah masalah sosial, politik, ekonomi, bahkan psikologis dan perilaku; seperti masalah yang dipelajari dunia hari ini berupa pemberontakan di kalangan pemuda dan keluar dari hal yang lumrah atau dari adab yang dikenal.

Demikian pula masalah ateisme dan sikap membebek di balik pemikiran-pemikiran impor, masalah kecemasan, keraguan, pergolakan batin, serta masalah yang berkaitan dengan sebagian nilai; seperti hubungan wanita dengan pria serta upaya pemahaman yang benar terhadapnya, masalah perceraian, dan poligami, demi pemahaman yang utuh terhadap maksud dari syariat tersebut. Ada pula sebagian masalah asmara dan perhatian pada penampilan luar, yang lahir dari interaksi alami sebagai dampak dari manifestasi kehidupan terbuka di sekelilingnya tanpa batas, sekat, atau arahan yang berpengaruh.

Hal ini tentu saja terjadi pada pemuda biasa. Adapun pemuda yang serius atau yang mendapatkan arahan dari masyarakat, orang tua, akidah, atau dari perilaku keimanan, maka ini adalah hal lain yang memiliki fokus perhatian tertentu yang digariskan oleh pendidikan tersebut atau dikendalikan oleh akidah-akidah tersebut. Namun, pertanyaan yang tersisa adalah: berapa persentase mereka di dalam komunitas mahasiswa universitas sehingga mereka dapat memberikan pengaruh yang diharapkan?

Hal lainnya: apakah pemuda yang tidak biasa ini memiliki fokus perhatian yang sama sehingga bisa menjadi pemberi pengaruh? Ataukah perhatian mereka bercabang-cabang sesuai dengan orientasi pendidikan, lingkungan, dan akidah mereka yang boleh jadi juga beraneka ragam, sehingga melemahkan pengaruhnya? Terlebih lagi bahwa dorongan-dorongan dasarnya tersembunyi di dalam dirinya laksana api di dalam sekam, atau laksana air di dalam ranting hijau; ia terkadang muncul dan terkadang meredup sesuai dengan kekuatan pendidikan, tingkatannya, dan kewaspadaannya.

Oleh karena itu, untuk semua hal ini saya katakan: orientasi-orientasi awal tetap menjadi hal mendasar yang harus dipertimbangkan secara saksama, karena ia merupakan poros umum dan kunci menyeluruh bagi pemuda universitas secara keseluruhan, kecuali mereka yang dirahmati oleh Tuhanmu.

Berikut adalah penjelasan mengenai orientasi dan problematika yang terpenting:

1. Problematika Sosial

Ada masalah-masalah sosial yang dialami oleh para pemuda di sebagian umat, yang membuat mereka berdiri dalam posisi bimbang atau posisi takut. Masalah tersebut bisa jadi mencabik-cabiknya, menghanyutkannya, atau melemahkannya; seperti maraknya tempat hiburan malam dan kemaksiatan, merebaknya sarana godaan dan fitnah, serta desakan faktor-faktor dekadensi moral dan kerusakan. Hal itu juga tampak pada hilangnya nilai-nilai, terjerumus ke dalam kubangan sikap apatis, maraknya suap, kecurangan, kemunafikan, hilangnya rasa tanggung jawab, adanya anggapan bahwa tujuan menghalalkan segala cara, matinya hati nurani, hilangnya partisipasi sosial, serta fokus pada apa yang memuaskan hawa nafsu dan memenuhi ketamakan jiwa.

Semua ini terjadi bersamaan dengan hilangnya teladan yang saleh, hilangnya kerja keras, adanya kecenderungan pada kemalasan, dan melemparkan beban tanggung jawab kepada orang lain. Belum lagi ditambah dengan ketidakadilan sosial yang mencengkeram kuat, hilangnya kebebasan, serta penistaan terhadap kemanusiaan manusia dengan memperlakukannya laksana mesin atau laksana binatang yang hidup hanya untuk perutnya.

2. Problematika Pemikiran (Intelektual)

Banyak isu pemikiran yang diembuskan di kalangan pemuda universitas, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, dikarenakan tuntutan lingkungan ilmiah atau dikarenakan kecenderungan taklid. Saya sekarang tidak sedang dalam posisi mencari sumber dari isu-isu tersebut, melainkan berada dalam posisi menampakkan dan menyingkapnya terlebih dahulu.

  • Masalah pertama dan yang paling berbahaya: Terpengaruhnya banyak pemuda oleh tren ateisme yang mereka serap melalui sebagian aliran asing. Aliran-aliran ini mendapatkan dukungan dari pihak-pihak tertentu yang memiliki target untuk memperkuat tren tersebut, bukan karena cinta kepada pemuda ini atau umatnya, melainkan karena cinta untuk menanam benih keburukan, kebingungan, dan pergolakan yang menghancurkan di dalam hati para pemuda yang masih belia, segar, lagi dinamis ini. Ada dua hal yang membuka jalan bagi pemikiran semacam ini:
    • Hal pertama: Apa yang mereka lihat pada masyarakat muslim berupa praktik-praktik yang salah, kelemahan, kerapuhan, kebodohan, dan kehinaan.
    • Hal kedua: Sedikitnya da'i muslim yang cerdas yang memenuhi medan dakwah Islam; mereka yang memiliki pemahaman dan kemampuan untuk mengatasi berbagai urusan dengan pemikiran Islam yang unggul dan kebudayaan Islam yang mencerahkan, serta memiliki kemampuan untuk mengembalikan praktik-praktik yang salah di dalam masyarakat Islam kepada sumbernya yang benar. Sumber kesalahan itu adakalanya berupa sikap mengikuti kebudayaan asing dan meninggalkan ajaran Islam yang agung, atau runtuhnya mental yang disebabkan oleh keraguan akibat terpengaruh oleh propaganda batil ini.
  • Masalah kedua: Hubungan antara sains dengan agama, atau dengan akhlak, teladan, dan ajaran Islam. Ini adalah isu yang diadopsi dari masyarakat lain, yang diembuskan oleh sebagian pemikiran yang menggambarkan bahwa sains telah menciptakan apa yang telah diciptakannya di alam semesta dan membawa manusia melompat secara material dengan lompatan yang dahsyat. Atas dasar itu, sains diklaim berhak menjadi alternatif pengganti agama dan pengganti konsep ketuhanan. Mereka mengklaim bahwa ketundukan manusia di zaman ini pada konsep beragama telah menyelisihi semangat zaman, di mana manusia telah menaklukkan materi dan melahirkan hal-hal yang menakjubkan darinya.

Masalah ini membuat manusia atau pemuda muslim hidup dalam pergolakan antara akal dan sanubarinya. Di hadapan apa yang dikatakan oleh sains ia menemukan suatu sikap, dan di hadapan apa yang dikatakan oleh agama ia menemukan sikap yang bertolak belakang. Dari sinilah lahir pergolakan dan menguatlah kecemasan yang menghancurkan manusia, kecuali mereka yang dirahmati oleh Tuhanmu.

Di sini, orang yang objektif akan bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah Al-Qur'an, hadis, atau atsar-atsar Islam pernah melarang sains atau meremehkan kedudukannya? Justru sebaliknya, Islam mendorong untuk menuntut ilmu dan mengarahkan pandangan kepadanya, serta memerintahkan untuk memperhatikan alam semesta dan merenungkan ayat-ayat Allah serta mengambil manfaat darinya. Bahkan, unsur-unsur yang ada di alam semesta, hukum-hukum, dan hubungan yang mengatur unsur-unsur serta fenomena tersebut, juga seluruh eksistensi ini termasuk manusia itu sendiri, merupakan dalil atas kekuasaan Allah, wujud-Nya, kebaikan-Nya, dan kemurahan-Nya. Sains pada hakikatnya tidak menciptakan sesuatu pun, melainkan hanya menyingkap hukum-hukum tersebut atas taufik dari Allah dan dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya Subhanahu. Sungguh benar firman Allah:

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar..." (QS. Fussilat: 53).

"...Kamu tidak diberi ilmu pengetahuan, kecuali sedikit.” (QS. Al-Isra': 85).

Maka bagaimana mungkin sebab-sebab hidayah itu sendiri menjadi sebab-sebab penyimpangan dan kesesatan? Dan apakah ada salah seorang dari para ilmuwan tersebut yang mengklaim bahwa ia yang menciptakan unsur-unsur dan materi, atau mengatakan bahwa ia mampu mendatangkan sesuatu yang berada di luar kerajaan Allah Subhanahu?

  • Masalah ketiga: Isu kebebasan manusia dan batas-batasnya, serta isu nilai-nilai. Isu ini juga dimanfaatkan di negara-negara berkembang untuk menghancurkan kepribadiannya, memukul dorongan-dorongan kebaikan di dalamnya, serta mengosongkannya dari kandungan positif dan modal efektifnya hingga ia kehilangan segala sesuatu, sehingga tidak mampu bangkit atau sekadar memikirkannya. Kita mengetahui bahwa kebebasan bukanlah hal yang mutlak, melainkan ada hukum dan aturan yang mengaturnya, yaitu kebebasan orang lain dan perasaan mereka, serta diatur oleh maslahat individu dan kolektif.

Sebagai contoh, bukanlah bagian dari kebebasan jika seseorang duduk dan buang hajat di jalan umum dan di pinggir jalan, karena kebebasan ini bertentangan dengan orang lain dan bertentangan dengan adab umum. Bukan pula bagian dari kebebasan jika seseorang mengendarai mobilnya melawan arus lalu lintas kendaraan, karena hal itu membahayakan orang lain. Wanita berhak memakai pakaian yang mewah dan perhiasan yang mahal, namun hal itu wajib dilakukan dalam bingkai kesopanan yang menjaga kemanusiaannya dan menjaga adab umum dari keruntuhan. Ini berarti bahwa wanita harus membedakan antara berhias biasa dengan tabarruj, dan pemuda harus membedakan antara kebebasan dengan anarki. Sungguh benar firman Allah:

"...Allah tidak menghendaki untuk menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia menghendaki untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur." (QS. Al-Ma'idah: 6).

3. Problematika Nasional (Umat)

Pemuda selalu menatap tujuan-tujuan besar dan teladan yang luhur secara tabiatnya. Ia menyukai tantangan, medan kepahlawanan, dan sikap-sikap kesatria. Ia ingin menang bukan kalah, ingin menaklukkan bukan ditaklukkan, serta ingin tinggi bukan diinjak-injak dengan kaki. Oleh karena itu, pemuda di setiap umat, baik dahulu maupun sekarang, merupakan tiang kebangkitannya dan rahasia kekuatannya, serta menjadi pembawa panji dalam setiap pemikiran. Sungguh benar firman Allah:

"...Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka." (QS. Al-Kahf: 13).

Oleh karena itu, timbangan-timbangan di sebagian umat terkadang kacau sehingga umat tersebut menjadi lemah, rapuh, kalah, terhina, hak-haknya dirampas, dan dizalimi. Kondisi ini menjadi bencana bagi pemuda tersebut dan bagi akal-akal muda yang dinamis ini.

Maka bergejolaklah di dalam pemikiran dan imajinasinya perasaan yang meluap-luap menentang sistem politik, sosial, dan moral yang ia duga menjadi sebab kegagalan harapan dan cita-citanya; terutama jika pemuda ini terhubung dengan masa lalu yang luas, pemikiran yang dinamis, warisan kepahlawanan, dan peradaban yang luhur.

4. Problematika Kebebasan Politik

Hal ini terangkum dalam bentuk penindasan dan pengekangan yang dipaksakan terhadap pemikiran-pemikiran perbaikan, atau terhadap kritik atas kondisi yang rusak, penyingkapan kebohongan yang palsu, pembongkaran penipuan politik dan pemikiran, pemakaian baju kebatilan pada kebenaran dan baju kebenaran pada kebatilan, serta upaya membebaskan diri dari perbudakan penuh eksploitasi yang dibenci yang mengisap darah dan melenyapkan harga diri.

5. Problematika Agen Asing (Antek)

Yaitu masalah loyalitas kepada pihak asing, baik dari Timur maupun Barat. Sungguh benar firman Allah:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong-penolong(mu). Sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai penolong, sesungguhnya dia termasuk bagian dari mereka..." (QS. Al-Ma'idah: 51).

Masalah ini menjadi penyebab terputusnya tali silaturahmi, tumpahnya darah persaudaraan, dan tercabiknya ikatan cinta kepada keluarga dan karib kerabat. Al-Haq Subhanahu telah mengingatkan tentang loyalitas yang benar melalui firman-Nya:

"Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat, menunaikan zakat, dan rukuk. Siapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang menang." (QS. Al-Ma'idah: 55–56).

Sikap Da'i terhadap Masalah Ini:

Inilah masalah-masalah terpenting yang dihadapi oleh para pemuda. Maka wajib bagi da'i muslim untuk mempertimbangkannya dan mengobati isu-isu ini dengan pengobatan Islam yang hakiki. Sesuatu yang terbaik yang dapat memberikan solusi bagi isu-isu ini adalah Islam, yang telah membentuk individu muslim dengan pembentukan yang komprehensif, yang memperhatikan seluruh aspek kehidupan: jasmani, pemikiran, dan dimensi spiritual, serta membangun kehidupan manusia di atas fitrah manusiawi dan di atas hukum fitrah ini yang telah Allah gariskan kepada manusia.

Oleh karena itu, ilmu hukum sekarang mengakui setelah penelitian yang panjang, bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk mencari sendiri hukum kehidupan. Batasan biologis dan akal kita menghalangi jalan kita secara pasti. Hal itu telah diakui oleh pakar hukum, George Whitecross Paton, di mana ia mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai standar hukum yang disepakati adalah dengan mengakui wahyu samawi sebagai hukum.

Lord Acton (1834–1902) juga berkata—dan ia benar dalam apa yang dikatakannya: "Kekuasaan itu cenderung korup, dan kekuasaan mutlak pasti korup secara mutlak." Sesungguhnya pelajaran dan pengalaman sejarah manusia seluruhnya menyaksikan bahwa manusia berbuat zalim dan rusak ketika mendapatkan kekuasaan mutlak. Sifat dasar manusia menegaskan bahwa manusia dapat menjalani kehidupan yang benar di bawah pengawasan otoritas yang lebih tinggi darinya, sementara kekuasaan mutlak pasti akan merusaknya ^[1].

Hakikat-hakikat ini dan yang lainnya memberikan gambaran kepada da'i muslim tentang sejauh mana akal manusia kembali—dalam satu bentuk atau bentuk lain—kepada ajaran Islam. Maka, wajib baginya untuk menghilangkan penutup dari akal pikiran yang beriman, dan menghilangkan darinya momok propaganda yang menyesatkan yang ingin memalingkan pemuda dari manhajnya yang benar, pemikirannya yang asli, dan akidahnya yang luhur.

Subbab Kedua: Peran Da'i dan Karakteristik Dasarnya

1. Menjadi Teladan yang Baik (Uswah Hasanah)

Peran pertama dari peran para da'i dalam bidang ini adalah keteladanan yang baik. Tindakan yang baik dan komitmen pada perilaku yang mulia adalah hal pertama yang menyeru pada penghormatan dan keyakinan. Ini dengan sendirinya merupakan dakwah menuju risalah. Rasulullah pun demikian dalam dakwahnya. Sayyidah Aisyah radiyallahu 'anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah , maka ia menjawab: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." Beliau juga bersabda: "Tuhanku telah mendidikku, maka Dia memperbaiki pendidikanku." Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4).

Da'i juga harus menjadi teladan dalam hal-hal yang menarik perhatian para pemuda: sebagai seorang yang pemberani, ksatria, saleh, menolak kerusakan, dicintai oleh semua orang, atau menghimpun sifat-sifat yang memaksa semua orang untuk menghormatinya. Sungguh benar orang yang menggubah syair tentang Rasulullah :

Nisbatkanlah kepada jasadnya kemuliaan apa saja yang engkau kehendaki...

Dan nisbatkanlah kepada kedudukannya keagungan apa saja yang engkau kehendaki...

Karena sesungguhnya keutamaan Rasulullah tidak memiliki batas...

Sehingga tidak ada lisan pembicara yang mampu mengekspresikannya dengan mulut...

Maka batas akhir ilmu tentang beliau adalah bahwa beliau seorang manusia...

Dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah semuanya...

Barang siapa yang tabiatnya demikian, maka sudah menjadi hal yang aksiomatik jika hati akan tertarik kepadanya, jiwa akan meneladaninya, dan manusia akan menemukan pada dirinya keteladanan yang sempurna serta teladan luhur dalam segala hal yang berkaitan dengan harapan dan cita-cita mereka. Manusia hari ini telah bosan dengan kata-kata manis dan ucapan yang dihias, namun mereka kehilangan tindakan yang baik dan perilaku yang lurus. Oleh karena itu, sirnalah kepercayaan, sirna pula cinta dan keikhlasan.

Di antara hal aneh yang diriwayatkan dalam hal ini adalah bahwa seorang penanggung jawab di Perhimpunan Perlindungan Hewan di Paris pernah ditanya: "Mengapa orang-orang Prancis memperlakukan anjing-anjing mereka seperti mereka memperlakukan diri mereka sendiri?" Maka ia menjawab: "Karena mereka ingin mencintai, namun mereka tidak menemukan di antara manusia orang yang bisa mereka cintai."

Maka hendaklah da'i berupaya keras untuk menjadi teladan yang baik, karena dengan demikian ia akan dicintai, sebab manusia hari ini sedang mencari orang yang dapat mereka cintai.

2. Keunggulan Ilmiah (Al-Ibhar al-Ilmi)

Manusia—terutama para pemuda—akan tertarik perhatiannya oleh keluhuran, kemampuan, dan keunggulan. Da'i di medan universitas tidak memiliki sarana untuk itu melainkan keunggulan ilmiah, keistimewaan dalam bidang spesifikasinya, serta kesuksesan pribadi. Kesuksesan pribadi itu akan menyeru pada kesuksesan prinsip dan keselamatan manhaj, serta menarik perhatian pada pemikiran pemiliknya, kemampuannya, tekadnya, dan perjuangannya. Banyak dari orang-orang yang berprestasi itu, hati dan pandangan berputar di sekeliling mereka, telinga dan pemahaman menyimak mereka, diadakan perayaan dan penghargaan untuk mereka, posisi serta jabatan menanti mereka, dan orang-orang membicarakan mereka. Di atas semua yang telah disebutkan, adanya penghormatan dari para pengarah dan dosen kepada mereka serta upaya untuk berbangga dengan mereka, sebagaimana hal itu juga menenangkan keluarga dan orang tua atas pemuda mereka dan atas masa depan mereka, sehingga keluarga tidak menjadi beban atas mereka melainkan pendukung bagi mereka.

Demikianlah para pendahulu mereka sebelumnya, menjadi mercusuar di jalan kemajuan ilmiah, menjadi bintang-bintang di langit keunggulan pemikiran, dan menjadi pahlawan di medan jihad peperangan.

Alangkah indahnya ucapan sebagian da'i: "Kita adalah umat Islam... kita tidak memasuki sejarah dengan perantaraan Abu Jahal, Abu Lahab, atau Ubay bin Khalaf... melainkan kita memasukinya dengan perantaraan Rasul Arabi shalawatullah wa salamuhu 'alaihi, Abu Bakar, dan Umar. Kita tidak membuka penaklukan dengan Perang Basus, Perang Dahis, dan Ghabra', melainkan kita membukanya dengan Perang Badar, Qadisiyah, dan Yarmuk... Kita tidak memimpin dunia dengan Mu'allaqat yang tujuh, melainkan kita memimpinnya dengan Al-Qur'an yang mulia... Kita tidak membawa kepada manusia risalah Latta dan Uzza, melainkan kita membawa kepada mereka risalah Islam dan prinsip-prinsip Al-Qur'an."

Maka kaum muslimin dahulu menjadi pusat keunggulan dalam segala hal: dalam pemikiran, akal, pengaturan, kebudayaan, ajaran, teladan, dan kepahlawanan.

3. Sabar dan Meneguhkan Kesabaran (Ash-Shabr wal Mushabarah)

Sesungguhnya sabar dan meneguhkan kesabaran bagi da'i di universitas memiliki karakteristik dan standarnya yang khusus. Sebagai contoh:

  • Da'i bersabar atas perilaku pemuda yang terburu-buru dan menggebu-gebu, yang terkadang melakukan tindakan-tindakan yang menyelisihi konsep dakwah, kebiasaan Islam, atau orientasi umat muslim. Ia tidak menghadapinya dengan kekerasan atau kekejaman, melainkan menghadapinya dengan argumen, nasihat yang baik (mau'izhah hasanah), penjelasan, dan ucapan yang lemah lembut.

"...Maka, berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut!” (QS. Thaha: 44).

Ia menghadapinya dengan tambahan penjelasan dan kejelasan bagi target-target dakwah Islam, keindahan ajaran Islam, serta kegunaannya bagi umat Islam. Ia menghadapinya dengan semakin mendekatkan diri kepadanya, peduli pada maslahatnya, mengunjunginya, dan menghilangkan kerenggangan antara da'i dengan dirinya. Sebab hati itu jika telah mencintai, ia akan mendengar dan tunduk; namun jika telah membenci, ia akan membentur, menjadi tuli, menjauh, dan memberontak. Ini tidak diragukan lagi membutuhkan kesabaran yang panjang dan besar dari da'i. Hal itu tidak akan tersedia kecuali pada jiwa-jiwa yang besar, mereka yang melebur dalam ketaatan kepada Allah dan melupakan bagian hawa nafsu serta syahwat dalam tubuh dan amal mereka.

  • Bersabar atas sistem universitas yang boleh jadi di sebagian negeri Islam mengarah pada apa yang sedikit atau banyak membentur sebagian konsep Islam. Bersabar untuk melakukan kerja yang terorganisasi lagi matang, bersabar atas upayanya untuk mengubah sistem tersebut, menjelaskan cacat dan kelemahannya, serta menyajikan alternatif yang saleh lagi meyakinkan. Bersabar untuk menghormati para dosen apa pun orientasi dan kecenderungan mereka, karena menghormati manusia adalah wajib. Adapun mengubah pemikirannya atau meyakinkannya dengan hal yang sebaliknya adalah hal lain yang memiliki medan dan rencananya sendiri. Begitu pula tindakannya yang menyelisihi ajaran Islam adalah hal lain yang memiliki sanksinya tersendiri dari pihak yang bertanggung jawab atasnya atau dari masyarakat. Da'i bukanlah seorang hakim, penguasa, atau polisi. Kewajiban da'i jika melihat pelanggaran tidak lain adalah mengingatkan, mewaspadakan, dan mengangkat urusan tersebut kepada pihak yang berwenang. Jika usahanya disambut baik maka itu adalah sebuah nikmat, namun jika tidak disambut baik, maka kerjanya di dalam opini publik dan lingkungan mahasiswa serta penyebaran risalah Islam olehnya sudah cukup untuk mengubah hal tersebut, insya Allah Ta'ala.
  • Sabar atas kurikulum yang boleh jadi menyelisihi atau membentur pemikiran Islam di sebagian fakultas di sebagian negara atau universitas Islam, jika hal itu memang ada. Saya tidak mengira bahwa hal itu ada di sebagian negara Islam, insya Allah. Namun jika memang ditemukan, maka hendaklah perubahan itu dilakukan dengan mengingatkan adanya pelanggaran-pelanggaran ini. Boleh jadi itu bukan pelanggaran, atau boleh jadi itu pelanggaran dari sudut pandangnya saja, atau boleh jadi pihak tersebut memiliki niat yang baik namun tidak mengetahui hukum Islam dalam masalah tersebut. Dengan asumsi bahwa hal itu memang ada dan pihak tersebut bersikeras atasnya, maka hendaklah perubahan dilakukan dengan mengingatkan. Jika hal itu tidak membuahkan hasil, maka dengan melipatgandakan kerja, penjelasan, menampakkan alternatif, memenangkan lingkungan mahasiswa, serta mengarahkan opini publik mahasiswa untuk bersikap tegas atas hal tersebut, menjaganya, dan tidak meremehkannya. Sebab hal itu setelahnya akan mengantarkan pada perubahan, insya Allah Ta'ala. Sabar atas banyak hal dan berinteraksi dengannya menggunakan akal, pemikiran, dan tindakan yang baik. Sebagai contoh, bersabar atas syubhat-syubhat [kerancuan pemikiran] yang diembuskan di sekitar dakwah dan para da'i, serta berinteraksi dengannya sesuai dengan apa yang telah kita isyaratkan sebelumnya, dan hal-hal lain yang terjadi di lingkungan mahasiswa.

4. Aktivitas di Berbagai Bidang

Yaitu secara sosial, ilmiah, dan hiburan; karena mahasiswa yang menjadi da'i adalah manusia yang bergerak, yang mengelola kehidupan, menggerakkannya, memanfaatkan potensi, menumbuhkannya, dan mengambil manfaat darinya. Selain itu, pemanfaatan potensi ini untuk mengokohkan hubungan antar sesama mahasiswa dan memenangkan kepercayaan mereka merupakan urusan yang penting lagi dituntut. Demikian pula menampakkan kebiasaan Islam dan uruf [tradisi] akhlak merupakan target penting dari target-target yang baik. Sebaiknya hal itu dilakukan secara bertahap, tidak menyudutkan, serta melalui perantaraan keteladanan yang baik dari da'i, rasa cinta, dan saling memahami.

5. Mempelajari Kondisi Dunia Islam dan Menyibukkan Diri Dengannya

Di mana mahasiswa universitas mutlak harus merasakan bahwa di atas pundaknya ada beban tanggung jawab yang harus ia persiapkan untuk memikul dan mempertahankannya. Sebagaimana ia juga wajib merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara muslimnya di timur bumi dan di baratnya. Kaum muslimin itu laksana tubuh yang satu; jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut berjaga tidak tidur dan merasakan demam. Nabi bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah laksana satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh tubuh lainnya akan ikut berjaga tidak tidur dan merasakan demam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah Ta'ala berfirman:

"Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah dari yang mungkar..." (QS. At-Taubah: 71).

Energi manusia itu akan menyertai fokus perhatiannya dan dukungannya terhadap apa yang bergejolak di dalam pemikiran dan lingkungannya. Sebagaimana yang mereka katakan: "Dirimu itu jika tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan." Oleh karena itu, sebagian serigala berwujud manusia mencoba menyibukkan sebagian bangsa dengan isu-isu yang di dalamnya mereka tidak memiliki kepentingan sama sekali, guna mengisap potensi mereka dan mengalihkan perjuangan mereka demi kemaslahatan serigala tersebut. Ini merupakan jenis perbudakan dan sikap membebek yang berbahaya, yang wajib diwaspadai oleh umat muslim.

Sebagaimana perasaan kaum muslimin di timur bumi juga merepresentasikan persatuan dan kekuatan mereka yang mendatangkan manfaat bagi semuanya, serta menjadi salah satu unsur kekuatan dan pasokan bagi kemuliaan umat di tengah perbedaan negeri dan wilayah mereka.

6. Memunculkan Kepemimpinan Islam (Kaderisasi)

Tidak diragukan lagi bahwa setiap umat ingin mengambil manfaat dari anak-anaknya dalam membangun pilar kebangkitannya. Oleh karena itu, umat bekerja untuk mendidik pemudanya, mengader mereka, dan mempersenjatai mereka dengan ilmu, iman, serta tekad. Demi tujuan inilah didirikan universitas-universitas dan berbagai lembaga ilmiah yang beraneka ragam. Orang yang paling baik untuk melakukan tugas ini adalah mereka yang memiliki tangan yang bersih, rekam jejak yang suci, akhlak yang lurus, tekad yang menyala-nyala, serta cinta yang meluap-luap kepada tanah air mereka yang dinaungi oleh agama Allah, serta pengagungan kepada umat mereka yang pada hakikatnya merupakan pasokan yang melimpah bagi tentara kebenaran dan sumber yang jernih bagi peradaban iman.

Kepemimpinan ini tidak akan muncul melainkan melalui kerja keras yang sehat lagi terorganisasi, dan melalui ladang-ladang subur yang mengeluarkan buah yang matang yang memperkaya kerja intelektual, sosial, dan politik bagi umat muslim. Para da'i muslim wajib berada pada level kemampuan memikul beban tanggung jawab tersebut, sehingga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dari tangan mereka dan menjauhkannya dari hadapan mereka. Sebagaimana cahaya ajaran Islam juga wajib tampak dari sela-sela perbuatan, tindakan, dan sirah kehidupan mereka, sehingga mereka menjadi pembela bagi ajaran tersebut, bukan pencorengnya.

Subbab Ketiga: Pemikiran-Pemikiran yang Wajib Diperhatikan

Para pemimpin Islam wajib menaruh perhatian pada kondisi-kondisi berikut, atau semestinya menetapkan dan menegaskan konsep-konsep berikut:

1. Persatuan Umat Islam (Wihdatul Ummah)

Di mana urusan yang semestinya tidak luput dari ingatan adalah bahwa umat Islam wajib untuk tidak dipisahkan oleh batas-batas buatan, atau tercabik oleh kebudayaan asing, atau oleh permusuhan yang dibenci.

2. Kesatuan Pemikiran (Wihdatul Fikr)

Karakteristik Islam wajib tetap hidup di dalam jiwa anak-anak umat Islam agar ia tetap memiliki keistimewaan dan kemandiriannya. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap bangsa yang kehilangan karakteristiknya dan melebur dalam cawan bangsa lain, maka penyeru kematian akan mengumumkan kematiannya dan mendoakan rahmat atasnya di antara orang-orang mati; ia berubah menjadi puing setelah tadinya berupa kenyataan, dan menjadi kenangan setelah tadinya berupa hakikat.

Oleh karena itu, agar umat ini bertahan lama, ia wajib mewariskan kepada anak-anaknya pemikiran, warisan peradaban, jiwa, dan akhlaknya. Hal itu dilakukan melalui sistem pendidikan dan pengajaran yang membawa di dalam lipatannya kebudayaan tersebut. Hal itu juga dilakukan melalui kesadaran para mahasiswa dan sirah kehidupan mereka bahwa mereka adalah muslim yang diseru untuk menjalani kehidupan Islam di atas bumi mereka, kemudian mewariskan kehidupan ini kepada generasi setelah mereka. Hal itu semestinya dilakukan melalui metode-metode berikut:

a. Keharusan fokus pada prinsip-prinsip Islam dan menjaganya.

b. Keharusan berpegang teguh pada akhlak Islam dan peradaban Islam.

c. Keharusan menyingkap prinsip-prinsip destruktif dan mewaspadakan bahayanya.

d. Keharusan bekerja dengan setiap upaya yang baik untuk mencegah pornografi/kemaksiatan dan dominasi kenistaan.

e. Keharusan menemukan solusi-solusi Islam yang jelas bagi setiap masalah yang menghadang manusia, serta menjelaskan keindahan prinsip-prinsip tersebut disertai komparasi dengan yang lainnya.

f. Penjelasan tentang bahaya para dosen yang mencurigakan, mereka yang telah menjual diri mereka kepada kebudayaan asing dan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan pemuda umat dan memalingkan mereka dari jalan yang lurus.

g. Keharusan fokus untuk menutupi kekurangan kurikulum pendidikan dan menghubungkannya dengan baik pada peradaban Islam, akhlaknya, warisannya, dan akidahnya.

h. Keharusan menjaga pendidikan olahraga, kepanduan (pramuka), dan militer; karena umat Islam adalah umat yang berjihad, pembela kebenaran, dan modalnya adalah para pemudanya.

Melalui hal ini dan yang lainnya dari apa yang menjaga keselamatan umat, keselamatan jasadnya, pemikirannya, dan warisannya, maka umat akan bangkit dan pemuda universitas akan menunaikan perannya dalam kehidupan.

Adapun jika pandangan-pandangan Islam dan dampak-dampaknya yang baik itu sirna, maka sudah menjadi ketetapan bahwa bagian generasi mendatang dari hal itu akan habis. Karena para pemudi dan pemuda yang lulus dari lembaga-lembaga pendidikan kita tanpa senjata ini, tidak dapat kita harapkan untuk menjadi generasi yang akan dididik di dalam pangkuan mereka dengan berhiaskan pandangan-pandangan Islam dan dampak akhlak yang langka ini. Sebab, pandangan dan dampak ini tidak akan tercetak padanya kecuali oleh orang yang menyaksikan ibunya atau ayahnya menjalaninya; orang yang menyaksikan ibunya salat atau ayahnya salat dan mendengar keduanya membaca Al-Qur'an, serta mendengar dari keduanya zikir kepada Allah dan Rasul-Nya.

Adapun mereka yang tidak mengalir di atas lisan mereka melainkan nama-nama aktris bioskop, penari latar yang memesona, komentar terhadap film-film murahan, dan pembicaraan tentang tempat hiburan serta permainan yang menyimpang; sementara jarang sekali salah seorang dari mereka membasahi lisannya dengan zikir kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka ini tidak lain akan menjadi orang-orang yang merugi. Dan apakah orang-orang yang tumbuh besar di dalam pangkuan mereka, dapat engkau harapkan untuk berjuang atas nama Allah dan Rasul-Nya, siap mati demi membela keduanya, serta berada pada level tanggung jawab?

Alangkah pantasnya kita dalam medan ini untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Al-Maududi Rahimahullah dalam hal itu, di mana ia mengatakan:

"Dan kita demi kebenaran, jika kita ingin menyiapkan pemuda kita sekiranya ia memandang murah jiwa dan harta yang berharga di jalan Islam, menghadapi kematian, dan menyambutnya dalam membela negara-negara Islam dan membela sistem kehidupan Islam; maka tidak ada jalan elak bagi kita selain memikirkan pendidikan Islam mereka pada level tertinggi—di samping pelatihan militer mereka yang tinggi—yaitu pendidikan yang memperdalam akar iman di dalam hati mereka, serta menumbuhkan di dalam diri mereka akidah-akidah Islam dan akhlak mulia yang melayakkan mereka untuk maju melakukan pengorbanan terbesar yang bisa digambarkan oleh seorang muslim di jalan Allah. Dan ini adalah satu-satunya perisai yang mungkin melindungi kita dari musuh kita yang kekuatannya berlipat-lipat ganda lebih besar dari kita, dan ia adalah benteng kokoh yang menjaga kita dan memungkinkan kita untuk hidup mulia di dunia yang sarat dengan musuh-musuh kita yang merencanakan untuk membinasakan kita dan menghapus kita dari eksistensi, jangan sampai Allah menetapkannya." ^[2]

Catatan Kaki (Footnote): ^[1] Asy-Syari'ah al-Islamiyyah wa Tahaddiyat al-Ashr, Wahiduddin Khan, hlm. 23. ^[2] Daur ath-Thalabah fi Bina' al-Mustaqbal, Abu Al-A'la Al-Maududi, hlm. 28.

PASAL KELIMA: Media Massa dan Dakwah

Pengantar

Dakwah—sebagaimana telah kita ketahui—tujuan akhirnya adalah menyampaikan risalah, sebagai pembenaran atas firman Allah Ta'ala:

"Wahai Rasul (Muhammad), sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak kamu lakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya..." (QS. Al-Ma'idah: 67).

Sejak dahulu, tiang penopang utama dalam penyampaian dakwah adalah kata-kata, baik yang diucapkan maupun yang dituliskan:

"Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya Kami yang bermaksud mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya Kami yang bermaksud menjelaskannya." (QS. Al-Qiyamah: 16–19).

"Kami telah menuliskan untuknya (Musa) pada luh-luh (tablet batu) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala sesuatu..." (QS. Al-A'raf: 145).

Hingga hari ini, kata-kata tetap menjadi fondasi utama dalam penyampaian dakwah, di samping adanya perkembangan dalam metode dan penyajiannya. Kata-kata, baik yang diucapkan, ditulis, divisualisasikan, dipahat, maupun dilantunkan, merupakan poros utama dan batu penjuru dalam dakwah serta penyampaian risalah, sekaligus menjadi sarananya. Demikian pula, kata-kata menjadi sarana media massa pada hari ini.

Manusia di atas hamparan bumi ini adalah target dari dakwah, sekaligus menjadi target dari media massa. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa media massa dan dakwah berserikat dalam sarana dan target, serta dalam instrumen dan tujuan akhir.

Subbab Pertama: Hubungan Antara Media Massa dan Dakwah

Yang kami maksud dengan hubungan antara media massa dan dakwah adalah hubungan antara media massa hari ini sebagai sebuah ilmu dan seni, dengan dakwah Islam hari ini sebagai aktivitas amar makruf nahi mungkar, nasihat, serta penyampaian risalah Islam. Sudah sepatutnya kita mengakui secara jujur bahwa ilmu-ilmu dan seni media massa pada hari ini telah mencapai tingkat yang sangat agung dalam hal studi, analisis, dan diagnosis terhadap perasaan manusia, kebiasaan, tradisi, pemikiran, kecenderungan mereka, serta berbagai instrumen pengaruh yang ada di sekitar mereka. Media massa juga telah mencapai tingkat kemajuan yang besar dalam mempersiapkan sarana-sarana informasi baru yang terus membayangi manusia modern di mana pun ia berada, kapan pun, dan dalam kondisi apa pun, hingga media tersebut seolah hidup bersamanya saat terjaga maupun tidur, saat menetap maupun bepergian. Manusia menghirupnya sebagaimana menghirup udara dan mengonsumsinya sebagaimana meminum air. Kondisi ini laksana apa yang dikatakan oleh Nabighah Az-Zubyani dalam syairnya:

Sesungguhnya engkau laksana malam yang pasti mengejarku...

Meskipun aku mengira bahwa jarak yang jauh darimu itu luas...

Para pakar media massa juga telah berhasil mempelajari dampak dari sarana-sarana ini terhadap manusia dari berbagai sudut pandang yang bermacam-macam dan dari sudut pemikiran yang berbeda. Sebagai contoh, terdapat studi tentang perilaku personal individu. Ada pula studi tentang keluarga sebagai kelompok kecil yang memiliki kecenderungan saling berdekatan, yang menerima informasi melalui berbagai sarana media massa, sehingga informasi tersebut memengaruhi perilaku anggota keluarga tersebut, baik secara negatif maupun positif.

Kemudian, studi tersebut meluas ke sektor-sektor masyarakat, seperti sektor buruh, mahasiswa, dan pegawai. Studi ini bahkan meluas ke tingkat bangsa secara keseluruhan untuk mengeluarkan penilaian-penilaian yang bersifat umum atas mereka. Misalnya, mereka mengatakan bahwa rakyat di negara tertentu adalah masyarakat yang homogen dan memiliki perilaku yang seragam, atau mereka adalah masyarakat yang emosional, mudah dipengaruhi, serta dapat dipengaruhi melalui warna-warna propaganda tertentu dan dengan metode ucapan atau tindakan tertentu. Mereka juga mengatakan bahwa rakyat di negara anu adalah masyarakat yang tidak homogen karena keragaman etnis yang membentuknya, oleh karena itu mereka memiliki latar belakang dan kecenderungan yang bermacam-macam, sehingga membutuhkan penanganan yang begini dan begitu.

Berbagai kecenderungan di dunia kontemporer kita telah memanfaatkan hasil studi-studi ini, seperti tren politik, ekonomi, dan pemikiran.

Namun, sangat disayangkan, hingga hari ini tren dakwah Islam belum memanfaatkan studi-studi tersebut. Dakwah Islam sampai saat ini masih terpenjara dalam kebodohan yang nyata terhadap seluruh studi, sarana, dan ilmu-ilmu media massa ini.

Dengan demikian, hubungan antara ilmu-ilmu media massa hari ini dengan dakwah Islam telah terputus dan terpisah. Bahkan, tidaklah berlebihan jika saya katakan: sesungguhnya sebagian orang hari ini berjalan di garis yang berlawanan dengan ilmu-ilmu tersebut. Artinya, mereka mencoba menyampaikan dakwah dengan metode-metode yang membuat orang lari (munaffir), serta tanpa mempertimbangkan perasaan, kecenderungan, keadaan, dan latar belakang individu, kelompok, maupun bangsa. Padahal, warisan Islam (turats) sangat sarat dan penuh dengan prinsip-prinsip serta pengalaman berharga ini, yang telah dan masih terus dimanfaatkan hingga hari ini oleh orang-orang non-muslim di timur bumi dan di baratnya.

Subbab Kedua: Hal Terpenting yang Wajib Diperhatikan oleh Dakwah Islam di Bidang Media Massa

1. Pemilihan Kader Dakwah (Da'i)

Tidak setiap manusia mampu menjadi orang yang sukses atau berpengaruh di medan dakwah. Ini bukan berarti bahwa dakwah tidak wajib bagi semua orang, akan tetapi para da'i yang spesialis wajib memiliki kualifikasi yang tinggi dalam menghias diri dengan sifat-sifat tertentu; seperti menjadi sosok yang dipercaya oleh manusia, serta memiliki sifat terhormat, berpengalaman, dan jujur. Orang yang dipilih untuk tugas ini juga harus memiliki kompetensi seorang da'i berupa keluwesan bertutur kata (labaqah), kefasihan (fashahah), dan kecerdasan (fathanah), di samping ia harus menjadi seorang spesialis yang mengkaji fikrah [gagasan/konsep] dakwahnya serta menguasainya dengan sangat baik.

2. Mengkaji Fikrah yang Ingin Disampaikan dan Merencanakannya

Mengkaji gagasan tersebut secara ilmiah dan analitis, yang disesuaikan dengan opini publik (ray'ul 'am) yang menjadi target penyampaian, yaitu dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

a. Memilih sarana terbaik untuk berkomunikasi dengan massa dan menjangkau pendengaran mereka guna menyampaikan dakwah.

b. Fikrah tersebut harus jelas, dikaji secara mendalam, memiliki dalil pendukung, dan dipersiapkan dengan argumen-argumen ilmiah.

c. Fikrah tersebut harus realistis, mungkin untuk diterapkan, dan mampu dilaksanakan oleh massa. Jika tidak demikian, maka gagasan atau perintah tersebut harus disajikan secara bertahap [tadrij] agar dapat diterapkan atau diambil manfaatnya.

d. Fikrah tersebut harus mengandung sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi manusia dalam kehidupan mereka, dan da'i harus mampu meyakinkan massa akan kebutuhan mereka terhadap gagasan tersebut. Fikrah tersebut juga seyogianya membawa karakter kemaslahatan umum, bukan kemaslahatan pribadi yang murni.

e. Fikrah yang disajikan harus sudah dikaji dan mendiskusikan pandangan-pandangan yang menentangnya atau mazhab-mazhab yang menyelisihi pemikirannya, serta da'i harus siap untuk menerapkannya.

f. Fikrah tersebut harus sesuai dengan tuntutan kondisi [muqtadhal hal], serta berada pada tingkat akal pikiran dan pemahaman manusia. Jika tidak demikian, maka wajib bagi da'i untuk menyederhanakannya.

g. Gagasan-gagasan ini tidak boleh disampaikan dengan gaya bahasa yang superior (merasa tinggi), berupa instruksi kaku, atau ancaman dari pihak penyampai gagasan. Sebaliknya, ia harus mampu menjangkau perasaan, emosi, dan akal pikiran mereka dengan metode-metode yang diperlukan untuk hal tersebut.

3. Sarana Penyampaian dan Komunikasi (Wasa'il al-Ishal wat Tabligh)

a. Komunikasi Lisan Langsung (Al-Musyafahah): Jika da'i mampu menyampaikan kepada manusia secara lisan langsung, maka hal itu lebih efektif dalam memberikan pengaruh dan mendatangkan respons. Sebab, dalam pertemuan langsung terdapat makna-makna dan kesan mendalam yang tidak ada pada sarana komunikasi lainnya. Oleh karena itu, khotbah, pelajaran, ceramah, dan diskusi langsung termasuk sarana paling sukses dalam penyampaian dakwah serta dalam mempercepat respons dari manusia, individu, maupun massa.

b. Sarana Audio-Visual: Seperti televisi, teater, dan bioskop. Instrumen-instrumen ini wajib dimanfaatkan untuk menjelaskan prinsip-prinsip dan pemikiran Islam dengan metode modern, seperti melalui kisah, cerita, dan pementasan teater. Sarana-sarana ini memiliki peran pengarahan yang sangat krusial karena pengaruh personalnya yang kuat, di samping penyebarannya yang luas dan kemampuannya masuk ke setiap rumah, perkumpulan, serta setiap tempat yang memungkinkan sarana ini dibawa ke sana.

c. Sarana Visual Saja: Seperti penggunaan peta dan foto-foto. Contohnya adalah foto-foto tragedi, bencana, foto dampak kehancuran dan peperangan, serta foto kaum lemah dan penyandang disabilitas akibat kezaliman orang-orang yang berbuat zalim dan penghancuran orang-orang yang melakukan perusakan.

d. Sarana Audio Saja: Seperti siaran radio, alat perekam, dan kaset rekaman yang berisi khotbah, pelajaran, ceramah, pernyataan, instruksi, dan pengarahan. Sarana-sarana ini sangat mudah dan praktis, serta mampu menjungkirbalikkan banyak peta kekuatan di era modern karena pengaruhnya yang besar serta kemudahannya untuk diakses oleh semua orang di setiap waktu dan tempat.

4. Metode Psikologis dan Pemberian Pengaruh

a. Mempelajari selera bangsa-bangsa serta individu, dan karakteristik kebudayaan mereka yang bersifat khusus.

b. Mempelajari konsep-konsep pemahaman bangsa-bangsa dan kesiapan khusus mereka.

c. Mempelajari keyakinan bangsa-bangsa, mazhab-mazhab, agama-agama mereka, serta pengaruh hal tersebut terhadap diri mereka.

d. Mempelajari adat istiadat, tradisi, protokoler, dan kerinduan dari setiap bangsa atau kelompok masyarakat.

e. Mempelajari cita-cita individu, umat, dan bangsa-bangsa, serta harapan-harapan mereka yang bersifat khusus maupun umum.

Setelah seluruh studi ini dilakukan, dakwah kemudian diorganisasikan berdasarkan hasil studi yang disimpulkan tersebut, lalu disampaikan melalui tiga jenis stimulan pengaruh yang telah dikenal luas, yaitu:

  1. Stimulan Sensorik (Al-Mu'atstsirat al-Hissiyyah): Yaitu stimulan yang menyasar wilayah rasa, seperti cinta, benci, syahwat, dan insting. Semua ini wajib dilakukan dalam koridor perkara yang halal dan mubah secara syariat.
  2. Stimulan Rasional (Al-Mu'atstsirat al-Aqliyyah): Yaitu stimulan yang merangsang akal dan proses berpikir; seperti pembenaran, pendustaan, kekaguman, penolakan, dan kecaman.
  3. Stimulan Psikologis (Al-Mu'atstsirat an-Nafsiyyah): Yaitu stimulan yang menyasar wilayah alam bawah sadar atau nir-sadar (al-la syu'ur), dan menjalankan perannya di dalam wilayah ketidaksadaran (al-la wa'yu). Dampak dari stimulan ini tidak akan lama untuk segera muncul ke permukaan pada suatu hari nanti. Contohnya adalah tindakan da'i yang selalu berbuat baik bahkan kepada musuh-musuhnya sekalipun. Tindakan tersebut memiliki pengaruh kuat, meskipun tidak tampak secara instan, namun ia terukir di dalam alam bawah sadar yang kelak akan diterjemahkan menjadi amal-amal saleh yang mendukung dakwah dan da'i pelaku kebaikan tersebut. Sungguh benar orang yang berkata:

Barang siapa yang berbuat kebaikan, ia tidak akan kehilangan para pembalas kebaikannya...

Penyair lain juga berkata:

Kebaikan itu tidak akan lenyap di antara Allah dan manusia...

Apakah kebaikan itu diingkari oleh orang yang kufur atau disyukuri oleh orang yang tahu berterima kasih...

Dan di sisi Allah, apa yang diingkari oleh orang yang kufur tidak akan disia-siakan...

Tangan kebaikan adalah sebuah keuntungan di mana pun ia berada...

Maka di sisi orang-orang yang bersyukur, ada balasan yang nyata untuk kebaikan itu...

Prinsip-Prinsip Umum yang Wajib Diikuti dan Dimanfaatkan

Rencana studi dan praktis seorang da'i yang semestinya ia cari metode-metodenya di berbagai aspek guna merealisasikan tujuannya dalam menyukseskan dakwahnya, dapat dirangkum dalam poin-poin berikut:

1. Memahami Psikologi Opini Publik

Wajib bagi da'i untuk mempelajari psikologi opini publik, karena masyarakat terbentuk dari rajutan individu-individu yang memiliki kecenderungan, keinginan, dan kehendak masing-masing.

Da'i yang sukses adalah orang yang memahami massa dengan pemahaman yang sempurna. Ia mengetahui jalan-jalan yang dapat mengantarkannya untuk meyakinkan mereka dengan gagasannya, serta mengetahui cara-cara yang mengikat mereka agar selalu terhubung dengannya, serta membuat mereka merasakan kehadirannya dan tidak mampu melepaskan diri darinya. Kata-kata da'i tersebut di kemudian hari bisa menjadi teladan yang diikuti oleh rakyat atau menjadi slogan-slogan yang senantiasa dilantunkan. Di antara contoh hal tersebut adalah apa yang diucapkan oleh sebagian tokoh pembaru di negeri mereka, yang kemudian diambil oleh masyarakat sebagai slogan mereka. Salah satunya adalah apa yang dikatakan oleh Imam Muhammad Abduh, yang kemudian dikutip oleh manusia setelahnya:

Beliau ingin menyadarkan opini publik agar mampu membedakan apa yang menjadi porsi ketaatan rakyat yang wajib diberikan kepada pemerintah, dan apa yang menjadi porsi keadilan pemerintah yang berhak didapatkan oleh rakyat. Penguasa adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar, dan tidak ada yang dapat menghalanginya dari kesalahan melainkan kewaspadaan opini publik, serta berdirinya opini publik di hadapan penguasa tersebut jika ia telah melampaui batasnya, baik dalam ucapan maupun tindakan ^[1].

2. Faktor Kreativitas dan Pembaruan (Al-Khalq wat Tajdid)

Wajib bagi da'i untuk menggunakan metode kreativitas dan pembaruan demi meraih beberapa faktor. Pertama: unsur kejutan ('unshur al-mufajah) yang dapat memalingkan pandangan dan menarik perhatian. Kedua: menjauhkan diri dari rasa bosan, lesu, dan sikap apatis. Pembaruan ini mutlak harus dibersamai oleh kecerdasan da'i agar pembaruan tersebut tidak berubah menjadi bentuk pengubahan yang buruk (maskh), menjadi bahan tertawaan, atau mendatangkan kecaman, yang justru akan membawa dampak yang berlawanan dari apa yang diharapkan.

3. Faktor Keluwesan Jiwa, Humor, dan Jenaka

Faktor-faktor ini memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap opini publik dan dalam mengikat massa dengan da'i. Sebuah humor adakalanya bisa menjadi sebab runtuhnya kepemimpinan, lenyapnya pemikiran, lumpuhnya akal pikiran, dan kegagalan mazhab-mazhab. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian masyarakat sangat menyukai humor dan gandrung dengannya. Humor tersebut bisa jadi disajikan dalam bentuk karikatur atau hal-hal lain yang sejenis.

4. Faktor Merangsang Harga Diri, Membangkitkan Tekad, serta Menghidupkan dan Mengobarkan Akidah

Faktor-faktor ini jika telah terbangun dari suatu umat, niscaya cukup untuk membuat umat tersebut melesat lebih cepat daripada roket menuju realisasi target-target yang diinginkan dan dicita-citakan. Sumber mata air bagi da'i muslim dalam hal ini adalah lautan dan samudra yang tidak akan pernah kering. Ia memiliki ayat-ayat dan hadis-hadis yang tidak terhitung jumlahnya untuk dijadikan hujah dalam jalan jihad di jalan Allah dan dalam membangkitkan tekad, yang dengannya ia mampu membangunkan benda mati sekalipun, terlebih lagi terhadap bangsa-bangsa muslim atau orang-orang yang berakal.

Kita menemukan di era modern ini gerakan Zionisme yang mengeksploitasi agama Yahudi, serta mengubah dan mengganti isi kitab Taurat demi membakar emosi dan tekad bangsa Zionis menuju suatu gagasan tertentu. Kita juga melihat sebelum mereka, bangsa-bangsa Salibis yang memerangi kaum muslimin di bawah panji salib dan menduduki negeri serta tanah air mereka. Tidak ada yang mampu mengeluarkan mereka dari negeri kaum muslimin melainkan gerakan pembaruan agama yang dipimpin oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, setelah ia berhasil membangkitkan kembali harga diri Islam dan menghidupkan akidah rabbaniyah di dalam hati orang-orang mukmin yang jujur terhadap apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.

5. Faktor Ketekunan dan Mengisi Ruang Kosong

Da'i muslim mutlak harus mengisi ruang kosong di media massa dan tidak membiarkan telinga manusia mendengarkan pihak lain. Bahkan, ia harus menerapkan teori "gemuruh media" (ad-dawiy al-i'lami) atau peliputan media secara total (at-taghthiyah al-i'lamiyyah al-kamilah). Caranya adalah dengan membicarakan gagasan tersebut di setiap tempat, meluncurkan slogan-slogan yang mudah dihafal, menulis artikel-artikel yang menjelaskan berbagai sisi dari urusan atau gagasan tersebut, mengadakan seminar, ceramah, forum-forum orasi, serta menerbitkan buku-buku dan buletin yang memperdalam gagasan, menerangkan prinsip-prinsip, dan menjelaskan ajaran-ajarannya. Demikian seterusnya dari berbagai metode hingga gagasan tersebut menancap kuat dan tetap hidup serta saling berinteraksi.

6. Metode Kesederhanaan dan Kejelasan

Wajib bagi da'i untuk belajar bagaimana cara menyampaikan gagasan ke dalam akal pikiran dalam bentuk yang sederhana, jelas, dan mudah, karena era sekarang adalah era yang cenderung menyukai corak ini. Slogan-slogan yang dipilih juga harus mampu menjelaskan hak-hak asasi manusia, mengekspresikan harapan dan cita-citanya, memberikan titik terang pada problematika hidupnya, serta memenuhi kerinduan dan keinginannya. Gagasan tersebut harus diformulasikan dalam prinsip-prinsip yang mudah lagi jelas agar memiliki pengaruh dan daya sihir yang mampu menggerakkan emosi dan menarik perhatian.

7. Metode Memanfaatkan Peluang dan Menangkap Momen

Rasulullah dahulu selalu memanfaatkan momentum pasar-pasar bangsa Arab, demikian pula memanfaatkan momentum kedatangan para jemaah haji di Makkah untuk menyampaikan dakwahnya dan menyebarkan risalah Tuhannya.

Sebab, opini publik akan sangat terpengaruh apabila akal pikirannya sedang terbuka menuju suatu peluang tertentu atau momen khusus, lalu ia menemukan orang yang ikut serta bersamanya dalam peluang tersebut atau mengarahkannya di dalam momen itu.

8. Metode Menyingkap Kebatilan dan Menjelaskan Bahayanya bagi Manusia dan Masyarakat

Para pakar media massa mengatakan bahwa wajib untuk mempublikasikan skandal dan keburukan pihak lawan secara terus-menerus dan cepat, agar pandangan manusia beralih kepada bahaya yang sedang mengepung mereka.

Oleh karena itu, wajib bagi da'i muslim untuk menjelaskan bahaya invasi pemikiran (al-ghazw al-fikri) terhadap umat, bahaya sikap membebek secara buta terhadap tradisi dan kebiasaan asing, serta bahaya mazhab-mazhab menyimpang terhadap eksistensi umat, masa depan, kemuliaan, kemajuan ilmiah dan peradabannya, bahkan terhadap kesehatan umat itu sendiri. Maka da'i mempublikasikan berbagai statistik tentang jumlah penderita gangguan jiwa, pelaku penyimpangan seksual, orang-orang yang menyimpang, para pecandu dan orang-orang yang hancur, serta mempublikasikan berbagai sarana penghancur yang dipersiapkan oleh para pengusung mazhab tersebut demi membinasakan kemanusiaan. Ia juga menyingkap kezaliman bangsa-bangsa tersebut, kelaliman mereka, bantuan mereka kepada orang-orang zalim dan para penyerang, serta pembunuhan mereka terhadap orang-orang yang tidak bersalah, hingga orang yang tertipu dan orang yang tertidur menjadi tersadar.

9. Metode Cek Ombak (Jas-sun Nabdh)

Yaitu metode untuk tidak mengejutkan bangsa-bangsa dengan perubahan secara sekaligus. Al-Qur'an telah banyak menggunakan metode ini dalam mengubah kebiasaan masyarakat jahiliah, seperti perubahan dalam kebiasaan meminum khamar dan yang lainnya.

Metode ini akan melindungi da'i dari bahaya kejutan, situasi yang memalukan, dan krisis. Metode ini juga membuka jalan yang lapang bagi gagasan-gagasannya serta menghemat banyak tenaga dan waktu yang sangat berharga.

10. Metode Diam atau Metode Rahasia (Al-Uslub as-Sirri)

Metode rahasia ini memberikan manfaat yang besar dalam kondisi penindasan (al-idhthihad) dan dalam banyak kondisi yang menuntut agar suatu urusan disembunyikan karena alasan tertentu. Sebab, tidak semua urusan harus berada di wilayah yang terang benderang.

Sebagaimana metode diam ini juga bermanfaat untuk tidak menyingkap sebagian hakikat yang ingin disembunyikan oleh da'i demi kemaslahatan kaum muslimin atau dakwah. Bangsa-bangsa dan individu lambat laun akan melupakannya setelah beberapa saat. Metode diam ini bisa jadi sangat bermanfaat dalam banyak keadaan ketika da'i tidak ingin membuka front pertempuran baru bagi dakwah dan dirinya dari pihak musuh yang ingin menyibukkan da'i dari dakwahnya dan memalingkannya dari risalahnya. Metode inilah yang digunakan oleh Al-Qur'an dalam kondisi tertentu, di antaranya adalah firman Allah Ta'ala:

"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam (selamat).”" (QS. Al-Furqan: 63).

11. Metode Berbicara kepada Manusia Sesuai Kadar Akal Mereka

"Sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk peringatan. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar: 17).

Metode ini telah banyak digunakan di era modern. Dahulu Hitler jika menghadiri pertemuan para buruh, ia akan berbicara kepada mereka mengenai urusan mereka dan dengan bahasa mereka. Namun jika ia menghadiri komunitas militer, ia akan berbicara kepada mereka dengan bahasa mereka. Demikian pula metode ini digunakan oleh sebagian da'i yang cerdas. Apabila mereka berbicara kepada masyarakat pedesaan, mereka akan berbicara dengan bahasa pedesaan dan membuat permisalan dari realitas kehidupan mereka. Namun jika mereka hadir dan berbicara di hadapan komunitas terpelajar, mereka akan menggunakan argumen, logika, serta metode analitis dan persuasif.

Napoleon juga menggunakan metode ini bersama pasukannya untuk membakar semangat mereka. Saat menginvasi Mesir, ia berkata kepada mereka seraya menunjuk ke arah piramida: "Sesungguhnya empat puluh abad waktu sedang memandang kalian dari atas piramida-piramida ini." Ia juga mencoba berbicara kepada rakyat Mesir dengan bahasa Arab mereka. Ia membawa serta mesin cetaknya agar dapat mencetak pamflet-pamflet dalam bahasa Arab, dan membagikan khotbah-khotbahnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

12. Menaruh Perhatian pada Dorongan-Dorongan Individu dan Kelompok

Adapun perhatian pada dorongan-dorongan kelompok telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan perhatian pada dorongan-dorongan individu, disyaratkan agar hal itu tidak mengorbankan dorongan-dorongan kelompok, melainkan berada dalam lingkaran yang menyempurnakannya. Sebab, stabilitas individu merupakan stabilitas bagi masyarakat, dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya yang halal merupakan kebahagiaan bagi semuanya. Hal itu seperti merespons dorongan kebutuhannya dalam hal kesehatan, kenyamanan, perlindungan dari rasa takut, pernikahan, pendidikan, jaminan pekerjaan, kebebasan, keadilan, dan perhatian-perhatian lain yang dicari oleh individu.

Wajib bagi da'i untuk memberikan ruang di dalam dakwahnya demi menampakkan perhatian-perhatian personal ini, sehingga tampak sisi kehidupan, personal, urusan domestik, dan keluarga. Hal itu akan menjadi faktor yang lebih kuat bagi diterimanya dakwahnya dan didengarnya ucapannya.

Subbab Ketiga: Prinsip-Prinsip yang Wajib Diketahui dan Diwaspadai

Para pemimpin Islam wajib menaruh perhatian pada kondisi-kondisi berikut, atau semestinya menetapkan dan menegaskan konsep-konsep di bawah ini:

1. Faktor Distorsi (Al-Tahrif)

Musuh-musuh adakalanya sengaja menggunakan faktor distorsi terhadap ucapan da'i, mengembuskan syubhat di seputar perkataannya, atau membebani ucapannya dengan makna yang tidak dikandungnya.

2. Faktor Kebohongan, Fitnah, dan Rekayasa Krisis

Wajib bagi da'i untuk mencermati metode-metode musuh dan mengetahui target di balik hal tersebut agar ia tidak terjerumus ke dalam apa yang tidak ia inginkan.

3. Faktor Eliminasi (Al-Hadzf) atau Pengabaian

Musuh-musuh dakwah Islam adakalanya sengaja mengabaikan dakwah, mengeliminasi rekam jejak perjuangannya, dan tidak mempublikasikan segala hal yang berkaitan dengannya agar manusia melupakannya. Tindakan ini menerapkan prinsip media: "Jika engkau ingin mengabaikan seorang tokoh yang memusuhimu, maka sarananya adalah dengan mengeliminasi berita-berita dan pernyataan-pernyataan tokoh tersebut. Sesungguhnya waktu cukup menjadi senjata untuk membunuh reputasi tokoh tersebut." Cara ini juga bisa digunakan untuk mengeliminasi berita-berita musuh.

Jika ada kekuatan apa pun yang ingin mengeliminasi seorang da'i atau sebuah gerakan dakwah, maka da'i mutlak harus melipatgandakan aktivitasnya hingga mampu menutup eliminasi yang disengaja tersebut. Ia juga harus memiliki media cetak dan majalahnya sendiri yang mampu menggantikan eliminasi ini.

4. Metode Hiperbola (Al-Tadkhim) dan Dramatisasi (Al-Tahwil)

Apabila surat kabar ingin menonjolkan suatu berita, mereka akan menampakkannya dan menulisnya dengan judul-judul yang besar. Demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang yang menginstruksikan pekerjaan ini kepada surat kabar tersebut. Metode dramatisasi dan hiperbola ini terkadang digunakan untuk menyerang para da'i, yaitu dengan cara menonjolkan kesalahan-kesalahan kecil seolah-olah kesalahan tersebut adalah perbuatan yang besar dan keji. Lalu diadakan seminar dan dipersiapkan ceramah-ceramah untuk menyibukkan da'i dan memalingkan manusia darinya, serta mendramatisasi hal itu di dalam pemahaman manusia. Dampak lanjutannya adalah memalingkan manusia dari kesalahan-kesalahan para pelaku rekayasa ini dan mengamankan tindakan-tindakan tertentu.

5. Metode Penipuan dengan Ucapan Pihak Lain

Ini adalah metode yang diikuti dalam propaganda ketika suatu pemerintah ingin memuji kinerjanya sendiri atau menghias kebatilannya. Pemerintah tersebut akan berpaling pada sebuah surat kabar di negara asing yang mana surat kabar tersebut merupakan afiliasinya, atau sengaja mempublikasikan berita tersebut dengan membayar sejumlah uang. Surat kabar asing tersebut lalu mengalirkan pujian bagi kinerja yang diklaim agung ini, serta memberikan sanjungan yang telah didiktekan kepadanya. Setelah itu, pemerintah tersebut sengaja mengutip pujian ini dan menyiarkannya kepada rakyat, dengan klaim bahwa itu adalah kesaksian yang jujur dan pengakuan dari pihak-pihak netral atas keagungan tindakan atau perbuatan tersebut.

Perkara-perkara ini juga dieksploitasi untuk meremehkan sebagian urusan atau menakut-nakuti dari urusan yang lain, yang mana hal ini menjadi batu pijakan untuk tujuan tertentu dan bentuk penipuan yang disengaja. Wajib bagi da'i untuk memiliki pandangan yang tajam terhadap rencana-rencana dan permainan yang disengaja ini.

6. Metode Konsumsi Lokal (Al-Istihlak al-Mahalli) dan Pengalihan Pandangan

Yaitu dengan cara merekayasa sesuatu dan mengalihkan pandangan kepadanya, atau menciptakan krisis atau fitnah lalu menyibukkan manusia dengannya. Tindakan ini dilakukan untuk mengeksploitasi sesuatu demi mengelabui manusia. Korban dari metode ini adakalanya adalah seorang da'i atau sebuah gerakan dakwah, dan da'i wajib mencermati hal tersebut lalu mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.

Amma Ba'du:

Bukanlah maksud dari tulisan yang singkat ini untuk menyajikan studi yang komplet mengenai tema ini. Melainkan maksudnya adalah memalingkan perhatian da'i kepada fondasi-fondasi dan pilar-pilar mutlak yang wajib diperhatikan, serta melanjutkan penelitian di dalamnya dan mengambil manfaat darinya, agar ia mampu menghadapi zaman, pemikiran-pemikirannya, dan para penyerunya. Jika tidak demikian, maka panggung kehidupan ini akan penuh dengan peristiwa-peristiwa besar, pemikiran-pemikiran yang rapuh, dan tren yang bermacam-macam.

Kalaulah bukan karena kokohnya prinsip-prinsip Islam secara tabiatnya, tingginya ajaran Islam dengan argumennya, dan menancap kuatnya akidah Islam dengan hidayahnya, niscaya kaum muslimin di zaman ini akan berada dalam kondisi yang lain. Islam saat ini berdiri sendirian di medan laga; ia bertarung lalu menang, bergelut lalu merobohkan lawan, dan berjihad lalu meraih kemenangan. Maka bagaimana jadinya jika Islam dibersamai oleh tokoh-tokohnya, atau memiliki tentaranya, atau ditegakkan oleh para da'inya?

"...Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS. Al-Hajj: 40).

Maha Benar Allah Yang Maha Agung.

Catatan Kaki (Footnote): ^[1] Zu'ama al-Ishlah, karangan Ahmad Amin, hlm. 100–101, cetakan Kairo tahun 1960. ^[2] Daur ath-Thalabah fi Bina' al-Mustaqbal, Abu Al-A'la Al-Maududi, hlm. 28.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat