Bab V: Tabligh dengan Amal
BAB KELIMA
TABLIG
DAN AMAL, SERTA SARANA-SARANANYA
Mencakup:
- Pasal Kesatu: Teladan yang
Baik (Al-Qudwah al-Hasanah)
- Pasal Kedua: Peran Masjid
dalam Dakwah
- Pasal Ketiga: Peran Sekolah
dalam Dakwah
- Pasal Keempat: Peran
Universitas dalam Dakwah
- Pasal Kelima: Media Massa
dan Dakwah
PASAL
KESATU
TELADAN
YANG BAIK (AL-QUDWAH AL-HASANAH)
Pembahasan
Pertama: Konsep Amal dan Apa yang Dimaksud Dengannya
Yang
kami maksud dengan tablig melalui amal (al-tablīgh bi al-‘amal) adalah
setiap tindakan yang membawa pada penghapusan kemungkaran serta pembelaan dan
penampakan kebenaran. Penghapusan kemungkaran disyaratkan harus menggunakan
sarana-sarana yang telah kami bahas dalam bab Amar Makruf Nahi Mungkar mengenai
mengubah dengan tangan. Maka, siapa saja yang ingin merujuk kembali kepadanya,
tidak mengapa, agar ia mengetahui batasan, kadar, dan syarat-syarat dari amal
ini.
Di
sini kami akan memaparkan amal-amal lain yang terkadang memiliki manfaat dan
syiar tentang Islam yang sama seperti ucapan, atau bahkan lebih besar dalam
beberapa kondisi, karena di dalamnya terdapat hal-hal tertentu yang
merealisasikan tegaknya syariat Allah pada salah satu sisinya. Amal ini, dengan
sendirinya, menjadi dakwah yang senyap (da'wah shāmitah) menuju Islam,
menguatkan keberadaannya, menyebarkan prinsip-prinsipnya, serta menyiarkan
syiar-syiarnya. Di antara amal-amal tersebut adalah sebagai berikut:
- Memilih orang yang saleh
untuk memimpin lembaga penting seperti lembaga media massa atau pers.
Tindakan ini pada hakikatnya merupakan dakwah senyap menuju perbaikan (ishlāh)
dan keistiqamaan, serta membiasakan masyarakat luas pada
kebiasaan-kebiasaan Islami dan tutur kata yang baik (al-kalimah
al-thayyibah), baik yang dibaca maupun didengar melalui
lembaga-lembaga penting tersebut. Lembaga-lembaga ini sangat diincar oleh
orang-orang yang berpikiran non-Islami untuk menduduki jabatan-jabatan
tertinggi di dalamnya agar mereka dapat menyebarkan pemikiran dan
menyiarkan prinsip mereka melaluinya. Oleh karena itu, jika
lembaga-lembaga ini dipimpin oleh seorang pemikir Muslim, hal itu akan
menjadi kebaikan yang sangat besar bagi Islam dan kaum Muslim. (1)
Al-Furqan: 63
- Mencetak buku-buku Islami
dan memudahkannya bagi orang-orang yang berminat dengan harga yang murah,
seperti mencetak buku-buku warisan Islam (turāts), buku-buku hadis,
buku-buku karya para pemikir Islam kontemporer, serta buku-buku yang
menjelaskan sisi-sisi penting dalam amal Islami dan membahas
masalah-masalah yang dihadapi pemuda dan masyarakat, seperti kebebasan
wanita, hijab, riba, asuransi, pemerintahan Islam, dan syura.
Demikian
pula buku-buku yang menjelaskan kekuatan akidah Islam, mengobati
penyakit-penyakit sosial, kesukuan/nasionalisme, dan psikologis, serta
mengembalikan rasa percaya diri ke dalam barisan orang-orang beriman (al-shaff
al-mu'min), membangkitkan kerinduan serta semangat mereka, dan menampakkan
keutamaan serta peradabannya.
- Membangun sekolah-sekolah
Islami yang mendidik generasi muda Muslim di atas ajaran-ajaran Islam dan
petunjuk-Nya. Sekolah-sekolah ini menjalankan perannya dalam
kesenyapan, dan melalui sekolah-sekolah tersebut, upaya-upaya yang ikhlas
dapat mengembangkan kurikulum serta menerapkan Islam secara praktis kepada
para siswanya, serta mewajibkan mereka pada hal-hal yang mendatangkan
kebahagiaan bagi mereka dan umat mereka. Tidak tersembunyi lagi betapa
besar manfaat dan agungnya amal dalam pendidikan Islam, dan kami telah
memaparkan sebagian dari hal itu di halaman [...].
- Membangun rumah-rumah
tahfiz Al-Qur'an untuk mengajarkan kitab Allah dan menjelaskan
maknanya kepada anak-anak maupun orang dewasa. Sebab, Al-Qur'an adalah
undang-undang dasar (dustūr) umat, penjaga ajaran-ajarannya, dan
mukjizat Rasul yang kekal hingga hari kiamat.
- Membangun masjid-masjid
dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan Islami di dalamnya, serta
menyediakannya dengan mushaf-mushaf dan buku-buku yang bermanfaat. Tidak
diragukan lagi bahwa amal ini memiliki manfaat yang sangat banyak,
khususnya di negeri-negeri yang marak dengan gerakan yang memusuhi Islam
dan kaum Muslim, atau di negeri-negeri yang di dalamnya terdapat minoritas
Muslim.
- Membangun rumah
sakit-rumah sakit dan panti-panti sosial. Rumah sakit Islami,
khususnya di negara-negara miskin, menjaga kaum Muslim dari serangan
misionaris (al-hajmah al-tabsyīriyyah), mengobati penyakit mereka,
meringankan rasa sakit mereka, dan menyehatkan tubuh mereka. Para dokter
Muslim yang berkomitmen (multazim) di rumah sakit-rumah sakit ini
menjalankan peran besar dalam dakwah menuju Allah Tabāraka wa Ta‘ālā.
Para misionaris telah mengeksploitasi sarana ini untuk menggoyahkan akidah
kaum Muslim, memengaruhi mereka, serta menampakkan rasa iba dan kasih sayang
demi menyesatkan manusia dan menjauhkan mereka dari jalan yang benar.
Demikian pula halnya dengan panti-panti sosial dalam merawat
keluarga-keluarga miskin, menyayangi mereka, membagikan apa yang
disumbangkan oleh orang-orang baik, serta mengasuh anak-anak yatim,
orang-orang miskin, dan kaum daif dengan perawatan, bimbingan, serta
pelatihan keterampilan atau kejuruan.
Selain
itu, statistik mengenai kondisi kaum Muslim sungguh mencengangkan dan menarik
perhatian, yang menyerukan kepada kaum Muslim agar mewaspadai bahaya-bahaya
yang tidak dapat diatasi kecuali dengan amal nyata. Dalam statistik Organisasi
Kebaikan Islam Internasional (Al-Hai'ah al-Khairiyyah al-Islāmiyyah
al-‘Ālamiyyah) mengenai kondisi kaum Muslim disebutkan sebagai berikut:
Sesungguhnya 1.000 anak meninggal setiap hari karena kelaparan, malanutrisi,
dan penyakit, yang sebagian besarnya adalah Muslim. Sebanyak 1.050 juta orang
di dunia berada dalam kemiskinan ekstrem, terancam kelaparan dan malanutrisi,
yang sebagian besarnya adalah Muslim. Sebanyak 36 negara merupakan negara
termiskin dan paling tertinggal di dunia, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.
Invasi
Pemikiran (Ghazwul Fikri) terhadap Kaum Muslim dalam Agama dan Akidah
Mereka:
Mantan
Menteri Wakaf Kuwait, Tuan Yusuf al-Hajji, menyampaikan sebuah pernyataan
melalui pidato yang disampaikannya pada konferensi pendirian pertama Organisasi
Kebaikan Islam, mengenai eksploitasi terhadap kaum Muslim karena kebutuhan dan
kemiskinan mereka oleh kekuatan-kekuatan yang dengki terhadap Islam dan kaum
Muslim, guna mengeksploitasi mereka dan menghapus kepribadian Islami mereka
melalui kebutuhan, kefakiran, kemiskinan, kebodohan, dan penyakit mereka.
Beliau berkata: "Biarkan angka-angka yang berbicara:"
- 16 ribu orang Muslim murtad
dari agama mereka setiap hari sebagai akibat dari aktivitas aliran-aliran
destruktif.
- 18% persentase jumlah kaum
Muslim di Malawi, setelah sebelumnya mencapai 70%.
Inilah
pemikiran yang pintunya adalah kemiskinan dan peningkatannya adalah pengabaian
terhadapnya (1). Di dalam laporan tersebut terdapat fakta-fakta mencengangkan
yang menuntut kaum Muslim untuk mempelajari bahasa amal dan tindakan, agar
mereka dapat menjaga diri mereka sendiri, apalagi untuk mengajak orang lain
kepada Islam.
Sebab
serigala-serigala tengah mengintai dan bersiap-siap untuk mencabik-cabik tubuh
kaum Muslim serta mengisap darah mereka yang tidak berdosa. (1) Lihat
pernyataan Organisasi Islam Internasional yang diterbitkan di Kuwait tahun 1404
H / 1984 M, hlm. 28, 29.
Pembahasan
Kedua: Tablig Melalui Rekam Jejak yang Baik (Al-Sīrah al-Hasanah)
Rekam
jejak yang baik (al-sīrah al-hasanah) adalah kunci ajaib bagi hati, dan
obat yang pasti bagi penyakit-penyakit ruhani. Dengannya, seorang dai mampu
mengobati penyakit-penyakit jiwa, menyembuhkan penyakit-penyakit hati, dan
membasuh kotoran-kotoran dada, sementara ia sendiri berada dalam ketenangan
jiwa; tidak terpancing oleh amarah dan tidak terhasut oleh kebodohan yang
menguasai orang-orang jahil. Ia juga tidak akan dihadapi dengan penolakan,
kekerasan, dan pengingkaran yang merupakan metode orang-orang keras kepala
serta profesi orang-orang yang sesat.
Sungguh,
rekam jejak yang baik dan perlakuan yang mulia merupakan daya tarik yang tidak
dapat ditolak dan magnet yang tidak dapat ditangkis, sebagaimana ia juga
merupakan senjata yang tajam di tangan para dai yang ikhlas. Maha Benar Allah
dalam firman-Nya:
"...Sekiranya
engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekitarmu..." (Ali 'Imran: 159)
Maka
rekam jejak dai yang mulia adalah lisan yang fasih dalam menjelaskan kebenaran
dan meninggikan risalah, logika yang balig dalam menerangkan petunjuk dan
menyerukannya, serta cahaya yang menyelimuti kegelapan lalu mencerai-beraikan
kepekatannya, menampakkan fajarnya, dan menyingsingkan paginya.
Adapun
jika sang dai buruk akhlaknya, kaku, keras hatinya, kasar jiwanya, dan tumpul
perasaannya, niscaya jiwa dan ruh akan menjauh darinya, serta hati dan sanubari
akan menjauhinya. Jika ia berbicara, seolah-olah ia sedang berkaok di tempat
yang runtuh atau berseru di tengah kematian.
Sikap
Dai terhadap Hal yang Baik (Al-Hasan) dan yang Buruk (Al-Qubḥ):
Rekam
jejak dai yang baik adalah rekam jejak yang selaras dengan Al-Kitab dan
As-Sunnah dengan pemahaman dan kedalaman, tanpa sikap berlebih-lebihan (tanatthu‘)
atau kekerasan.
Terkadang,
meskipun memiliki rekam jejak yang baik dan amal yang lurus, seorang dai tetap
menghadapi penentangan, sikap keras kepala, kezaliman, dan kelaliman dari
orang-orang yang rekam jejaknya ternoda, pemahamannya dangkal, dan pemikirannya
sakit. Maka, ini adalah takdirnya dan itulah risalahnya. Ia harus bersabar,
mengharap pahala (ihtisāb), beramal, dan bersungguh-sungguh hingga ia
dapat mengubah realitas yang memilukan ini, tradisi yang rusak, dan
kebiasaan-kebiasaan yang buruk.
Namun,
ada fakta-fakta yang harus diperhatikan, dan hal ini tidak tunduk pada
pembenaran atau pendustaan, kepatuhan atau kerenggangan, melainkan mengikuti
warisan kemanusiaan, hati, dan emosi, yang tidak diingkari oleh hati mana pun
atau ditentang oleh manusia mana pun, yaitu perbuatan-perbuatan yang mulia pada
zatnya: seperti menjenguk orang sakit, menoolong orang yang membutuhkan,
bertakziah kepada orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang lemah dan
menyayanginya, berlaku adil dan meninggalkan kezaliman, jujur dan menjauhi
kebohongan, amanah dan menjauhi pengkhianatan, serta menyayangi orang yang
tertimpa musibah dan anak yatim. Perbuatan-perbuatan ini dan yang sejenisnya
adalah warisan mulia bagi kemanusiaan yang tidak dibenci oleh siapa pun atau
ditentang oleh sekelompok orang, dan inilah yang harus difokuskan oleh seorang
dai. Ali Karramallāhu Wajhah berkata: "Sesungguhnya Allah Ta'ala
menciptakan kebaikan dan menciptakan orang-orang yang layak baginya, lalu Dia
menjadikannya dicintai oleh mereka dan menjadikan perbuatannya dicintai oleh
mereka, serta mengarahkan orang-orang yang mencarinya kepada mereka,
sebagaimana Dia mengarahkan air ke tanah yang tandus agar tanah itu hidup
dengannya dan hidup pula penduduknya dengannya. Sesungguhnya orang-orang yang
berbuat kebaikan (ahlul ma'ruf) di dunia adalah orang-orang yang
memperoleh kebaikan di akhirat" (1).
Dari
Abu Hurairah radiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah şallallāhu
‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ سُلَامَى مِنَ
النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ: تَعْدِلُ
بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ
عَلَيْهَا،
أَوْ تَرْفَعُ لَهُ
عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ
خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ
الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
"Setiap
persendian manusia wajib dikeluarkan sedekahnya setiap hari selama matahari
terbit: engkau mendamaikan (berlaku adil) di antara dua orang adalah sedekah,
engkau menolong seseorang naik ke atas hewan tunggangannya lalu engkau
menaikkannya ke atasnya atau engkau mengangkat barang bawaannya ke atasnya
adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang engkau
ayunkan menuju salat adalah sedekah, dan engkau menyingkirkan gangguan dari
jalanan adalah sedekah." (Muttafaq 'Alaih)
"Tidak
ada kebaikan pada banyak bisikan mereka, kecuali dari orang yang menyuruh
(manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di
antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka
kelak Kami akan memberinya pahala yang besar." (An-Nisa': 114)
Dari
Abu Hurairah radiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah şallallāhu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ
شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ: وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ
الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ، فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
"Ada
seorang laki-laki melewati dahan pohon di tengah jalan, lalu ia berkata: 'Demi
Allah, sungguh aku akan menyingkirkan dahan ini dari kaum Muslim agar tidak
mengganggu mereka,' maka ia pun dimasukkan ke dalam surga." (HR. Muslim)
Berdasarkan
hal ini, amal-amal saleh yang menjadi sebab mengalirnya manfaat bagi manusia
dan kemudahan bagi mereka merupakan amal yang diperintahkan kepada seorang
Muslim, dan di dalamnya terdapat banyak pahala dan ganjaran. Sebagaimana di
dalamnya juga terdapat pelunakan hati dan jiwa serta penarikan simpati manusia
kepada sang dai dalam jumlah yang banyak yang patut dijaga oleh seorang Muslim.
Dasar-Dasar
Rekam Jejak yang Baik Tersebut:
Rekam
jejak yang baik memiliki dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang harus ditegakkan
dan diwujudkan agar dapat disifati dengan sifat ini, serta agar dapat
menjalankan peran yang dituntut dan dibebankan kepadanya. Di antaranya:
- Akhlak yang baik (Husn
al-Khuluq): Akhlak yang baik adalah kalimat yang di dalamnya
tercakup banyak sifat mulia yang wajib dimiliki oleh seorang manusia
Muslim. Dalam kesempurnaannya terdapat kesempurnaan iman, dan dalam
kekurangannya terdapat kekurangan iman. Benarlah Rasulullah şallallāhu
‘alaihi wa sallam saat bersabda:
أَكْمَلُ
الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ
لِنِسَائِهِمْ
"Orang
mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan
sebaik-baik kalian adalah yang paling baik bagi istri-istrinya." (HR.
Tirmidzi, dan ia berkata: Hadis Hasan Shahih).
Al-Qur'an
sungguh telah memuji Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam karena
akhlaknya yang baik, lalu berfirman:
"Sesungguhnya
engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam: 4)
Demikian
pula, akhlak yang baik memiliki kedudukan yang agung dalam ranah amal saleh,
serta derajat yang besar di sisi Allah Subhānahu wa Ta‘ālā. Beliau bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ
أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ،
وَإِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ
"Tidak
ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari
kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji
lagi berkata kotor." (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: Hasan Shahih).
Seseorang
tidak dapat disifati dengan akhlak yang baik kecuali jika ia mengumpulkan atau
menghiasi diri dengan banyak cabang dari cabang-cabang akhlak, di antaranya:
- Tawaduk:
"...yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan
bersikap tegas terhadap orang-orang kafir..." (Al-Ma'idah: 54)
- Menepati janji:
"...Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta
pertanggungjawabannya." (Al-Isra': 34)
- Amanah:
"Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia,
hendaklah kamu menetapkannya dengan adil..." (An-Nisa': 58)
- Kekuatan tekad (Quwwat
al-‘Azīmah): "...Kemudian, apabila engkau telah membulatkan
tekad, bertawakallah kepada Allah..." (Ali 'Imran: 159)
- Keberanian:
"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada
orang-orang yang mengatakan kepadanya, 'Sesungguhnya orang-orang
(Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu
takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka
dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia
sebaik-baik pelindung.'" (Ali 'Imran: 173)
- Kesabaran:
"Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah
kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan
bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (Ali 'Imran: 200)
- Syukur: "Maka
dari itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.
Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
(Al-Baqarah: 152)
- Kesantunan dan
Kelembutan (Al-Hilm wa al-Rifq): "Jadilah pemaaf,
suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang
yang bodoh." (Al-A'raf: 199)
- Ketakwaan dan Rasa
Malu: "...Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia
menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya." (At-Thalaq: 4)
- Pemaaf dan Toleransi (Al-‘Afw
wa al-Tasāmuh): "Jika kamu membalas, balaslah dengan
(siksaan) yang serupa dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan
tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi
orang-orang yang sabar." (An-Nahl: 126)
- Kasih Sayang (Al-Rahmah):
"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka..." (Al-Fath: 29)
- Kedermawanan (Al-Jūd
wa al-Karam): "Kamu sekali-kali tidak akan mencapai
kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang
kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahuinya." (Ali 'Imran: 92)
- Menjaga Lisan:
Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau
diam." (Muttafaq 'Alaih)
- Kejujuran:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur)." (At-Taubah:
119)
- Keadilan:
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan..." (An-Nahl: 90)
Akhlak
yang baik ini menjadi pintu kebaikan bagi dai dan dakwahnya, bagi pemikiran dan
pengembannya, serta bagi manhaj [sistem/metode] dan orang-orang yang
berkomitmen dengannya. Ia juga menjadi cahaya yang menyingkap kebatilan serta
membongkar kelaliman dan kemungkaran, tanpa menimbulkan luka, rasa sakit,
permusuhan, ataupun pertikaian.
- Amalnya harus sesuai
dengan ucapannya: Perbuatannya harus selaras dengan jalan yang lurus (al-tharīq
al-mustaqīm) dan jalan yang terang (al-shirāth al-mubīn), serta
rekam jejaknya harus menjadi penerapan praktis dari perkataannya, dan
lahiriahnya tidak boleh menyelisihi batiniahnya. Jika ia memerintahkan
sesuatu, ia harus berkomitmen melaksanakannya, dan jika ia melarang
sesuatu, ia harus menjadi orang pertama yang meninggلكannya, agar
nasihatnya memberikan manfaat, bimbingannya membuahkan hasil, dan jejaknya
diikuti. Jika ia memerintahkan kebaikan namun tidak melakukannya, dan
melarang keburukan sementara ia sendiri terjerumus ke dalamnya, maka dalam
kondisi seperti ini ia menjadi penghalang di jalan perbaikan (ishlāh).
Sungguh mustahil, amat mustahil orang lain dapat mengambil manfaat
darinya, karena ia telah kehilangan petunjuk pada dirinya sendiri dan
kebaikan pada zatnya sendiri; lalu bagaimana mungkin ia dapat membimbing
orang lain?
Malik
bin Dinar berkata: "Sesungguhnya seorang alim, apabila ia tidak
mengamalkan ilmunya, niscaya nasihatnya akan tergelincir dari hati sebagaimana
butiran air hujan tergelincir dari batu yang licin."
Hujjatul
Islam Al-Ghazali Rahimahullāhu Ta‘ālā berkata dalam surat yang
ditulisnya kepada Abu Hamid Ahmad bin Salamah di Mosul: "Adapun mengenai
memberi nasihat, aku tidak melihat diriku layak untuk itu. Karena nasihat
adalah zakat yang nisabnya adalah mengambil pelajaran (al-itti‘āzh).
Maka barang siapa yang tidak memiliki nisab, bagaimana mungkin ia mengeluarkan
zakat? Orang yang kehilangan cahaya, bagaimana mungkin orang lain bisa mendapat
penerangan darinya? Dan kapankah bayangan akan lurus jika kayunya
bengkok?"
Imam
Ibnul Qayyim Rahimahullāhu berkata: "Ulama suu' [ulama yang buruk]
duduk di depan pintu surga; mereka mengajak manusia ke surga dengan ucapan
mereka, namun mengajak manusia ke neraka dengan perbuatan mereka. Setiap kali
ucapan mereka berkata kepada manusia, 'Kemarilah!', perbuatan mereka justru
berkata, 'Jangan dengarkan mereka!'. Seandainya apa yang mereka serukan itu
benar, niscaya mereka adalah orang pertama yang menyambutnya. Secara lahiriah
mereka tampak sebagai penunjuk jalan, namun pada hakikatnya mereka adalah para
perampok jalanan."
Ali Radiyallāhu
‘Anhu berkata: "Ada dua orang yang mematahkan punggungku: seorang alim
yang terang-terangan berbuat maksiat (mutahattik) dan seorang jahil yang
tekun beribadah (mutanassik). Orang yang jahil memperdaya manusia dengan
ibadahnya, sedangkan orang yang alim memperdaya manusia dengan kemaksiatan yang
dilakukannya secara terang-terangan."
Salah
seorang saleh berkata: "Manusia yang paling merusak adalah orang jahil
yang tekun beribadah dan orang alim yang fujur [berbuat dosa]. Yang pertama
mengajak manusia pada kebodohannya melalui ibadahnya, sedangkan yang kedua
membuat manusia lari dari ilmunya karena kefasikannya."
Abu
Darda berkata: "Celakalah bagi orang jahil satu kali, dan celakalah bagi
orang alim tujuh kali" (1).
Al-Hasan
Rahimahullāhu berkata: "Hukuman bagi para ulama adalah matinya
hati, dan matinya hati adalah mencari dunia dengan amal akhirat." (1)
Lihat mengenai hal itu di kitab Hidāyat al-Mursyidīn, hlm. 93, 94, cet.
Dar al-Ma'rifah.
Said
bin al-Musayyib Rahimahullāhu berkata: "Jika kalian melihat seorang
alim sering mendatangi para penguasa (umarā’), maka ia adalah seorang
pencuri." Yang beliau maksud dengan hal itu adalah orang yang mendatangi
mereka untuk mencari keuntungan materi atau menuntut apa yang ada pada mereka.
Umar
Radiyallāhu ‘Anhu berkata: "Jika kalian melihat seorang alim
mencintai dunia, maka curigailah ia atas agama kalian, karena setiap orang yang
mencintai sesuatu akan tenggelam dalam apa yang dicintainya."
Yahya
bin Muadz ar-Razi biasa berkata kepada para ulama dunia: "Wahai para
pemilik ilmu, istana-istana kalian bercorak Kaisar (Qaişariyyah),
rumah-rumah kalian bercorak Kisra (Kisrawiyyah), pakaian kalian bercorak
lahiriah (zhāhiriyyah), sepatu bot kalian bercorak Jalut (Jālūtiyyah),
kendaraan kalian bercorak Qarun (Qārūniyyah), bejana-bejana kalian
bercorak Firaun (Fir‘auniyyah), upacara duka kalian bercorak Jahiliyah (Jāhiliyyah),
dan jalan pemikiran (madzāhib) kalian bercorak setan (Syaithāniyyah);
maka di manakah syariat Muhammad?"
Sufyan
ats-Tsauri berkata: "Fitnah hadis [mencari kedudukan lewat hadis] lebih
berat daripada fitnah keluarga, harta, dan anak. Bagaimana mungkin fitnahnya
tidak ditakuti, padahal telah dikatakan kepada junjungan kita Rasulullah şallallāhu
‘alaihi wa sallam: 'Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)-mu, niscaya
engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka.'" (Al-Isra': 74)
Fudhail
bin Iyadh Rahimahullāhu berkata: "Telah sampai kepadaku kabar bahwa
orang-orang fasik dari kalangan ulama akan diazab pada hari kiamat terlebih
dahulu sebelum para penyembah berhala."
Umar
Radiyallāhu ‘Anhu berkata: "Ada tiga hal yang meruntuhkan zaman,
salah satunya adalah ketergelinciran seorang alim (zallat ‘ālim); jika
seorang alim tergelincir, maka bersamanya tergelincir pula banyak manusia dari
kalangan makhluk."
Ibnu
Abbas Radiyallāhu ‘Anhumā berkata: "Ulama umat ini ada dua macam:
Seseorang yang dianugerahi ilmu oleh Allah lalu ia menyebarkannya kepada
manusia, tidak mengambil ketamakan darinya, dan tidak menukarnya dengan harga
(materi); orang tersebut didoakan keselamatannya oleh burung-burung di langit,
ikan-ikan di air, hewan-hewan melata di bumi, dan para malaikat pencatat yang
mulia (Al-Kirām al-Kātibūn). Ia akan menghadap Allah ‘Azza wa Jalla
pada hari kiamat sebagai seorang pemimpin yang mulia hingga ia mendampingi para
rasul. Dan seseorang yang dianugerahi ilmu oleh Allah di dunia, lalu ia bakhil
dengannya kepada hamba-hamba Allah, mengambil ketamakan darinya, dan menukarnya
dengan harga (materi); orang tersebut akan datang pada hari kiamat dalam
keadaan dikekang dengan kekang dari api neraka, lalu seorang penyeru akan
berseru di hadapan khalayak ramai: 'Ini adalah Fulan bin Fulan, Allah telah
menganugerahinya ilmu di dunia lalu ia bakhil dengannya kepada hamba-hamba-Nya,
mengambil ketamakan darinya, dan menukarnya dengan harga (materi).' Maka ia
akan diazab sampai manusia selesai dari perhitungan amal" (1). (1) Lihat
mengenai hal ini di Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 1/60-62, cet. Dar al-Ma'rifah.
Bagian-Bagian
dari Golongan Ini:
Orang
yang memperhatikan hakikat dari golongan manusia ini akan mendapati mereka
terbagi menjadi berbagai macam bagian dan ragam yang berbeda karena perbedaan
tujuan serta sudut pandang mereka. Namun pada akhirnya, mereka disatukan oleh
satu jalan yang sama. Tidak mengapa jika kita memaparkan beberapa bagian ini:
- Orang-orang yang
menyembunyikan ilmu karena hawa nafsu, kelalaian, atau karena disibukkan
oleh dunia yang telah dibukakan bagi mereka serta harta yang melimpah
di tangan mereka, atau karena penjelasan tersebut akan membebani mereka
dengan kerugian pada harta atau diri mereka. Mereka inilah yang dimaksud
oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya
orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa
keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia
dalam Kitab (Al-Qur’an), mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh
mereka yang melaknat, kecuali orang-orang yang telah bertobat, mengadakan
perbaikan, dan menjelaskan(nya). Mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan
Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah:
159-160)
b. Golongan
Kedua: Kelompok yang menjadikan penjelasan hanya sebatas kata-kata yang mereka
tuntut dari orang lain namun tidak mereka tuntut dari diri mereka sendiri;
mereka melarang manusia tetapi tidak berhenti (dari larangan tersebut), dan
mereka memerintahkan manusia tetapi tidak melaksanakannya. Golongan inilah yang
dimaksud oleh firman Allah Ta'ala: > "Mengapa kamu menyuruh orang lain
(mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu
membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?" (Al-Baqarah: 44)
Dan
firman Allah Ta'ala:
"Wahai
orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang
tidak kamu kerjakan." (As-Saff: 2-3)
Ia
juga yang dimaksud oleh sabda beliau şallallāhu ‘alaihi wa sallam:
يُجَاءُ بِالرَّجُلِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي
النَّارِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَى
فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ
أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَالُكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا
بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ
فَيَقُولُ بَلَى،
كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ
وَأَتِيهِ
"Seseorang
akan didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, hingga
usus-usus perutnya keluar terburai di dalam neraka. Dia pun berputar-putar
dengannya sebagaimana seekor keledai berputar mengelilingi alat gilingannya.
Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya lalu berkata: 'Wahai Fulan, ada
apa denganmu? Bukankah kamu dahulu selalu memerintahkan kami berbuat makruf dan
melarang kami dari kemungkaran?' Dia menjawab: 'Benar, dahulu aku memerintahkan
perbuatan makruf namun aku tidak melaksanakannya, dan aku melarang kalian dari
kemungkaran namun aku justru mengerjakannya.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
(1). (1) Bukhari 6/238 di bab Permulaan Makhluk, dan Muslim (2989) di bab
Zuhud.
Ia
juga yang dimaksud oleh sabda beliau:
رَأَيْتُ لَيْلَةَ
أُسْرِيَ بِي رِجَالًا تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ قُلْتُ مَنْ
هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟
قَالَ: هَؤُلَاءِ
خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ
أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
"Aku
melihat pada malam saat aku diisrakan, ada orang-orang yang bibir mereka
digunting dengan gunting-gunting dari api neraka. Aku bertanya: 'Siapakah
mereka itu, wahai Jibril?' Jibril menjawab: 'Mereka adalah para penceramah dari
kalangan umatmu, mereka memerintahkan manusia untuk berbuat kebajikan namun
melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca Al-Kitab; tidakkah mereka
mengerti?'" (Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban: Hadis Hasan) (2). (2)
Dikeluarkan oleh Ahmad 3/120, 231 dan dikeluarkan oleh Ibnu Hibban (53) Hadis
Hasan.
Golongan
ini beserta golongan sebelumnya menjadi sebab tersesatnya banyak manusia, serta
menjauhnya mereka dari hidayah dan jalan yang lurus. Golongan yang pertama
membiarkan manusia terombang-ambing dalam kesesatan, kelaliman, dan dosa,
padahal cahaya ada bersama mereka namun mereka tidak melangkah maju bersamanya
atau menjelaskannya kepada manusia. Mereka, baik secara sengaja maupun tidak
sengaja, menjadi penyebab bagi kesesatan dan kebingungan ini. Hukum atas mereka
seperti hukum atas orang yang menahan air dari orang yang kehausan, atau
menahan makanan dari orang yang kelaparan hingga ia binasa dan mati kelaparan
atau kehausan; atau hukum atas mereka seperti hukum atas orang yang membiarkan
orang tenggelam hingga ditelan ombak dan diseret arus, padahal ia mampu
menyelamatkannya.
Adapun
golongan kedua: Dialah golongan yang memperalat massa demi ambisi dan
syahwatnya, serta menggunakan undang-undang dan otoritas kekuasaan untuk
melindungi ketamakan dan kezalimannya. Golongan inilah yang menyebabkan
hilangnya keteladanan, hilangnya hidayah, dan menyebabkan kata-kata kehilangan
maknanya, lafal kehilangan fungsinya, serta petunjuk kehilangan jalannya menuju
realitas. Ia menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan,
masyarakat, serta terhadap elemen-elemen pengarah. Oleh karena itu, ia menjadi
elemen yang efektif dalam kehancuran umat dan keterpurukannya dalam segala hal,
karena melalui perbuatannya ia menjadi penyeru kepada sikap meremehkan agama
dan kelancangan dalam berbuat maksiat. Ia juga menjadi penyeru kepada sikap abai
dan tidak adanya komitmen terhadap nilai, tujuan, cita-cita, ataupun keikhlasan
apa pun. Metode ini telah banyak sekali digunakan oleh para pemimpin umat yang
terbelakang, hingga melenyapkan seluruh elemen vital dalam pemikiran, jiwa,
hati, serta aktivitas pergerakan dan produktivitas di dalam umat. Akibatnya,
umat pun jatuh ke titik terendah, kekuatannya sirna, ikatannya terurai, dan ia
ditinggalkan.
ج. Golongan Ketiga:
Kelompok yang menjual integritas mereka dan membeli kesesatan dengan petunjuk.
Mereka mempertaruhkan prinsip-prinsip dan dakwah, lalu makan, minum, dan
mengeruk keuntungan dari ajaran serta risalah-risalah tersebut, dan menjualnya
demi kesenangan duniawi yang fana. Mereka inilah yang dimaksud oleh Al-Qur'an
dalam firman-Nya: > "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa
yang telah diturnkan Allah, yaitu Kitab, dan menjualnya dengan harga murah,
mereka hanya menelan api ke dalam perutnya. Allah tidak akan menyapa mereka
pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang sangat
pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan
azab dengan ampunan. Maka, alangkah beraninya mereka menantang api
neraka!" (Al-Baqarah: 174-175)
Dan
firman Allah Ta'ala:
>
"(Ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah
diberi Kitab, 'Hendaklah kamu benar-benar menjelaskannya (isi kitab itu) kepada
manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.' Namun, mereka melemparkan janji
itu ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka, itulah
seburuk-buruk apa yang mereka beli." (Ali 'Imran: 187)
Konteks
Al-Qur'an memperlihatkan kerugian dari transaksi yang hina ini dengan gayanya
yang mengagumkan; seolah-olah itu adalah transaksi di mana mereka menyerahkan
petunjuk lalu menerima kesesatan, mengorbankan prinsip dan nilai demi mengambil
remah-remah. Alangkah ruginya transaksi tersebut dan alangkah bodohnya! Sungguh
buruk apa yang telah mereka beli dan apa yang telah mereka pilih!
Transaksi-transaksi
ini terkadang terjadi dalam berbagai bentuk yang berbeda; terkadang terwujud
dalam bentuk jabatan-jabatan tinggi, gelar-gelar yang mentereng, dan tanda
kehormatan yang agung. Terkadang pula terwujud dalam bentuk hibah, pemberian,
anugerah, dan kepemilikan tanah, atau terjadi melalui jalan jual beli, ganti
rugi, ataupun pemberian yang bervariasi di setiap masa, zaman, dan tempat.
Pada
saat itulah rakyat dan bangsa-bangsa akan kehilangan sesuatu yang paling
berharga bagi mereka dan nilai yang paling bernilai yang mereka miliki; mereka
kehilangan kemanusiaan dan fitrahnya, kehilangan energi dan pergerakannya yang
lurus, kehilangan kebebasan dan kehormatannya, kehilangan kesucian diri dan
kemuliaannya, kehilangan stabilitas dan kebahagiaannya, serta
kehilangan—pertama dan terakhir—hubungannya dengan Tuhannya, kebahagiaannya
dengan ajaran-ajaran-Nya, dan keberuntungannya dalam meraih pahala serta
keridaan-Nya.
Setelah
itu, rakyat akan dijual di pasar-pasar perbudakan, diseret ke dalam kerja paksa
dan kehinaan, dibelenggu dengan rantai-rantai yang tebal lagi kokoh, dibungkam
dengan penutup mulut yang menjijikkan, dan dikelilingi oleh para pemuka agama
gadungan yang berhati keras, sesat, lagi fasik, yang telah dibutakan oleh
ketamakan, kerakusan, dan pengisapan darah.
Golongan
ini merepresentasikan pengkhianatan yang nyata terhadap umatnya,
merepresentasikan agen terbesar bagi setan-setan dari kalangan manusia dan jin,
serta mencakup simbol yang hina dan rendah atas hilangnya amanah akibat
perdagangan terhadap kehormatan manusia, masa depan, dan masa kini mereka.
Golongan ini adalah air bah yang tendensius serta malapetaka yang memilukan
bagi umat, bangsa-bangsa, ajaran-ajaran, dan risalah-risalah.
د. Golongan Keempat:
Golongan yang menghimpun berbagai keburukan, melakukan setiap kemungkaran yang
telah disebutkan sebelumnya, dan menambahinya dengan kedustaan, kepongahan,
serta perusakan. Maka, penyakit kelompok ini lebih mematikan bagi
bangsa-bangsa daripada wabah dan lebih berbahaya daripada taun. Golongan inilah
yang dimaksud oleh Allah Subhānahu dalam firman-Nya: > "Di antara
manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan dia
menjadikan Allah sebagai saksi atas isi hatinya, padahal dia adalah penentang
yang paling keras. Apabila berpaling (dari hadapanmu), dia berusaha melakukan
kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai
kerusakan. Apabila dikatakan kepadanya, 'Bertakwalah kepada Allah,' bangkitlah
kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka, cukuplah (balasannya) neraka Jahanam.
Sungguh, (Jahanam itu) seburuk-buruk tempat tinggal." (Al-Baqarah:
204-206)
Mereka
menanggung dosa-dosa dari perbuatan tersembunyi mereka dan perusakan mereka
terhadap tanaman dan keturunan, sebagaimana mereka juga menanggung akibat dari
kejahatan dan kerusakan mereka yang telah merata dan meluas. Mereka pun
menanggung dosa orang-orang yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu dan mereka
tipu tanpa kesalahan. Dengan demikian, mereka memikul dosa-dosa mereka sendiri
dan dosa-dosa orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu; ketahuilah, alangkah
buruknya apa yang mereka pikul itu. Mereka adalah orang-orang yang dimaksud
oleh Allah dalam firman-Nya:
"Sungguh,
mereka pasti akan memikul beban-beban (dosa) mereka sendiri dan beban-beban
yang lain bersama beban mereka. Mereka pasti akan ditanya pada hari kiamat
tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan." (Al-‘Ankabut: 13)
Ia
juga yang dimaksud oleh sabda beliau şallallāhu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً
سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
"Barang
siapa yang mencontohkan suatu perbuatan yang buruk, maka ia menanggung dosanya
dan dosa orang yang mengamalkannya." (Dikeluarkan oleh Muslim [1017] di
bab Zakat).
Inilah
golongan-golongan manusia yang telah menjauh sangat jauh dari jalan yang lurus,
dan berjalan di jalan-jalan alternatif lain yang menjauhkan mereka dari hidayah
dan petunjuk.
Padahal,
jalan teladan yang baik (al-qudwah al-hasanah) adalah jalan yang bersih
laksana salju dan embun dingin; jelas, bercahaya, dan bersinar terang karena
perbuatan-perbuatan baik para pelakunya, sifat-sifat mereka yang mulia, akhlak
mereka yang suci, serta amal-amal mereka yang terpuji.
Sungguh,
Islam telah tersebar di banyak negara di belahan timur dan barat dunia melalui
rekam jejak yang baik dari kaum Muslim, yang mampu menarik perhatian
orang-orang yang sebelumnya tertindas oleh adat istiadat yang hina, kezaliman
yang sewenang-wenang, serta kebinatangan yang buas. Tiba-tiba orang-orang
tersebut melihat pada diri kaum Muslim berupa fitrah yang selamat, hati yang
penuh kasih, serta jiwa yang tenang, ikhlas, berbakti, lagi penyayang.
Keteladanan
yang baik senantiasa melekat pada seluruh kaum Muslim; baik pemimpin maupun
rakyat biasa, orang kaya maupun orang miskin. Keteladanan yang baik juga
merupakan elemen efektif dalam ketaatan kaum Muslim kepada para pemimpin
mereka.
Ibnu
Saad dan Ibnu Asakir mengeluarkan riwayat dari Ibnu Umar Radiyallāhu ‘Anhumā,
ia berkata: "Adalah
Umar
bin Al-Khattab, apabila ingin melarang dari sesuatu, beliau mendatangi
keluarganya lalu berkata: 'Aku tidak mendapati seorang pun yang terjerumus ke
dalam sesuatu yang telah aku larang melainkan aku akan melipatgandakan hukuman
baginya'" (1). (1) Kanz al-‘Ummāl, 2/141; Hayāt al-Şahābah,
3/296, cet. Dar al-Qalam, Beirut.
Demikian
pula Al-Qur'an memerintahkan keluarga/istri-istri Nabi untuk berkomitmen, jika
tidak, hukuman akan dilipatgandakan bagi mereka. Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai
istri-istri Nabi, siapa di antara kamu yang melakukan perbuatan keji yang
nyata, niscaya azabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Yang
demikian itu bagi Allah sangat mudah." (Al-Ahzab: 30)
Hal
itu dikarenakan keteladanan memiliki pengaruh yang besar terhadap manusia.
Manusia senantiasa melihat kepada sang dai; jika ia berkomitmen (pada aturan),
mereka pun akan berkomitmen, dan jika ia lalai/bebas melanggar, mereka pun akan
ikut lalai/bebas melanggar.
Oleh
karena itu, wajib bagi dai Muslim untuk menjadi orang yang memiliki keselarasan
antara ucapan dan amal, perkataan dan perbuatan, serta tidak boleh lahiriahnya
menyelisihi batiniahnya[cite: 13].
Beliau
[Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wa sallam] bersabda:[cite: 13]
مَنْ طَلَبَ عِلْمًا
مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ تَعَالَى لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ
الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barang
siapa menuntut ilmu yang mengharapkan wajah Allah Ta'ala dengannya, namun ia
menuntutnya hanya untuk mendapatkan kesenangan duniawi, maka ia tidak akan
mencium aroma surga pada hari kiamat." (2)[cite: 13]. (2) Dikeluarkan oleh
Ibnu Majah dengan sanad yang jayyid; Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 1/61[cite: 13].
PASAL
KEDUA
PERAN
NYATA MASJID DALAM DAKWAH
Bagian
Pertama
Karakteristik
Masjid, Perannya dalam Tarbiyah, dan Peran Dai
Masjid
memiliki karakteristik mendasar bagi masyarakat Muslim. Ia merupakan sumber
pancaran cahaya dan pusat tarbiyah [pendidikan Islam] yang penting.
Selain itu, kedudukan masjid dalam kehidupan seorang Muslim berkaitan sangat
erat dengan kehidupan spiritual dan hatinya. Jiwa-jiwa manusia merasa terikat
dengannya, hati sanubari melayang rindu di sekitarnya, bayang-bayang penerimaan
Ilahi meliputi dirinya, serta pancaran kesucian dan cahaya hidayah
menyelimutinya, karena masjid merupakan:
Pertama:
Tempat turunnya inspirasi, cahaya, dan sarana untuk berhubungan dengan Al-Haq Subhanahu
wa Ta'ala dalam salat ketika berdiri, rukuk, sujud, dalam doa, pengharapan,
serta ketundukan. Ia adalah tempat untuk membekali diri dengan takwa. Oleh
karena itu, Al-Haq Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk
berlindung ke sana, menghadapkan wajah di dekatnya, dan menundukkan perasaan
untuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“...Hadapkanlah
wajahmu (kepada Allah) pada setiap masjid dan berdoalah kepada-Nya dengan
mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya...” (QS. Al-A'raf: 29).
Jika
jiwa telah dipenuhi kerinduan terhadap masjid dan hati telah terpikat
kepadanya, maka panji-panji keberuntungan akan berkibar di atas kepala manusia,
dan bendera-bendera kemenangan serta penerimaan akan melambai di hadapannya.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW [semoga kedamaian dan berkah tercurah kepada
beliau] memasukkan golongan ini—yaitu orang-orang yang hatinya terpikat pada
masjid—sebagai bagian dari orang-orang yang akan dinaungi Allah di bawah
naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Beliau
bersabda:
"...dan
seorang laki-laki yang hatinya terpikat dengan masjid-masjid."
Benar,
masjid adalah rumah-rumah Allah di bumi dan tempat yang paling Dia cintai.
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa
Rasulullah SAWbersabda:
أَحَبُّ الْبِلَادِ
إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا ، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
أَسْوَاقُهَا
"Tempat
yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling
dibenci oleh Allah Ta'ala adalah pasar-pasarnya."
Masjid
menjadi tempat yang paling dicintai karena ia merupakan tempat kesucian serta
tempat bagi orang-orang yang bersuci, orang-orang yang bertobat, orang-orang
yang iktikaf, dan orang-orang yang rukuk serta sujud. Sedangkan tempat yang
paling dibenci Allah adalah pasar-pasar, karena di dalamnya banyak terjadi
penipuan, pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan, dan sumpah palsu yang
durhaka.
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ تَطَهَّرَ فِي
بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً
مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطَوَاتُهُ ، إِحْدَاهَا تَحُطُّ خَطِيئَةً
وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
"Barangsiapa
yang bersuci di rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah dari
rumah-rumah Allah [masjid] untuk menunaikan salah satu kewajiban dari
kewajiban-kewajiban yang Allah tetapkan, maka langkah-langkah kakinya yang satu
akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajat."
Kedua:
Karena masjid merupakan tempat turunnya para malaikat. Malaikat-malaikat Allah
turun ke dalamnya pada waktu malam dan siang hari. Nabi bersabda bahwa para
malaikat bergantian menyertai kalian pada malam hari dan siang hari. Selain
itu, masjid adalah tempat tinggal orang-orang yang suci dan orang-orang yang
berbakti. Mahabenar Allah yang berfirman:
“...Di
dalamnya ada orang-orang yang gemar membersihkan diri. Allah menyukai
orang-orang yang membersihkan diri.” (QS. At-Tawbah: 108).
Masjid
juga merupakan tempat ibadah bagi orang-orang yang menegakkan salat, yang
rukuk, dan yang sujud, serta tempat turunnya kabar gembira dan rahmat. Allah
telah mengisyaratkan sebagian dari hal tersebut dalam kisah Nabi Zakaria, di
mana Allah Ta'ala berfirman:
“Kemudian
para malaikat memanggilnya ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab,
“Sejatinya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (lahirnya) Yahya
yang membenarkan firman dari Allah, menjadi panutan, berkemampuan menahan diri
(dari syahwat), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.”” (QS. Ali
'Imran: 39).
Ketiga:
Tempatnya para lelaki sejati, tempat bersemayamnya tekad yang kuat, tempat
dikajinya cita-cita yang tinggi, wadah bagi kehendak yang perkasa, dan
kemenangan yang dominan. Mahabenar Allah yang berfirman:
“(Cahaya
itu) di rumah-rumah (masjid) yang Allah telah perintahkan untuk diagungkan dan
disebut nama-Nya di dalamnya. Di sana bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan
petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari
mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada
suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka
melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik
daripada apa yang telah mereka kerjakan...” (QS. An-Nur: 36-38).
Keempat:
Karena masjid merupakan sumber titik tolak pertama bagi dakwah kemanusiaan,
yaitu "dakwah Islam", dan mata air hidayah ketuhanan, yaitu
"dakwah Al-Qur'an". Masjid di Madinah dahulu merupakan basis dan
fondasi utama yang menjadi poros pergerakan basis jihad terbesar. Ia merupakan
poros tempat bertemunya ide-ide, emosi, dan perasaan yang menanamkan cinta,
persaudaraan, keamanan, ketenteraman, dan kedamaian di muka bumi. Masjid juga
merupakan inkubator yang mendidik kelompok pilihan dan para pelopor yang
membawa obor cahaya serta peradaban, lalu membawanya keliling ke berbagai
negeri dan menyerukannya ke segala penjuru ufuk. Maka terciptalah sebuah
peradaban yang membawa karakteristik masjid, aromanya, dan kesuciannya, karena
ia adalah peradaban ketuhanan yang penuh kasih dan mulia. Peradaban ini
mendidik akal agar bersih dari kejahatan, penyimpangan, kerusakan, dan
kezaliman; mendidik pemikiran agar bersih dari hawa nafsu, penyimpangan
ekstrem, dan trauma/hambatan psikologis; serta mendidik jasad dan perut agar
tidak mengenali harta haram (suht), tidak mendekati dosa, dan tidak
tertarik pada hal yang haram. Dengan demikian, tegaklah kemanusiaan secara
budaya, akal, pemikiran, dan jasad. Kehidupan pun menjadi lurus, bumi bersinar
dengan cahaya Tuhannya, sembuh dengan syariat Allah, dan mendapat petunjuk
dengan hidayah-Nya.
Kelima:
Karena masjid merupakan lambang keimanan yang bertolak belakang dengan
kekufuran dan maksiat, serta memisahkan diri dari kezaliman,
kesewenang-wenangan, dan permusuhan. Maka para pemakmur masjid memiliki cahaya
seperti cahaya matahari. Mereka mempunyai tekad yang tidak mengenal rasa takut,
hati yang tidak mengenal kelemahan, jiwa yang tidak mengenal kehinaan, dan amal
perbuatan yang tidak mengenal dusta. Kebersamaan Allah selalu menyertai mereka,
karunia Allah mendampingi mereka, dan pertolongan Allah mengiringi mereka. Di
tengah ketidaktahuan mereka memiliki sifat santun (hilm), dan di dalam
kegelapan mereka memiliki cahaya. Perumpamaan mereka di antara manusia seperti
surga Firdaus di dalam surga. Mereka itulah para pemakmur masjid, orang-orang
yang menujunya, lulusannya, dan para pelopornya. Mahabenar Allah yang Agung
yang berfirman:
“Tidak
pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan
mereka mengakui kekafiran diri mereka sendiri. Mereka itu adalah orang-orang
yang sia-sia amal perbuatannya dan mereka kekal di dalam neraka. Sesungguhnya
yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah
dan hari akhir, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada
siapa pun) selain Allah...” (QS. At-Tawbah: 17-18).
Dan
Nabi bersabda: "Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang
dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?" Para sahabat
menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda:
"Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak menyenangkan, memperbanyak
langkah menuju masjid, dan menunggu salat setelah salat. Itulah yang disebut ribath
[perjuangan menahan diri di garis depan]." Diriwayatkan oleh Muslim.
Peran
Masjid dalam Tarbiyah (Pendidikan)
Oleh
karena itu, masjid memiliki peran yang istimewa dalam tarbiyah
Islamiyah. Yaitu tarbiyah yang didirikan di atas akidah dan iman, yang
asasnya adalah sifat ketuhanan (rabbaniyah) dalam pemahaman, ucapan, dan
perbuatan. Mahabenar Allah yang berfirman:
“...Akan
tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu para penyembah Allah yang setia karena kamu
selalu mengajarkan Kitab Suci dan karena kamu selalu mempelajarinya.”” (QS. Ali
'Imran: 79).
Oleh
karena itu, karakteristik utama dari tarbiyah ini diringkas dalam
poin-poin berikut:
A.
Tarbiyah Jiwa dan Spiritual yang terwujud dalam:
- Hubungan antara hamba dan
Tuhannya: Sehingga hamba tersebut berada dalam kedekatan, hubungan,
dan perlindungan (wilayah) Allah. Hal ini tecermin dalam sabda
beliau 'alaihi as-salam dalam hadis qudsi: "Sesungguhnya Allah
Ta'ala berfirman:
مَنْ عَادَى لِي
وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي
بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي
يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ
بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ،
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ
اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
'Barangsiapa
yang memusuhi wali-Ku (kekasih-Ku), maka Aku mengumumkan perang kepadanya.
Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku
cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa
mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.
Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan
untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang
dia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika
dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya, dan jika dia memohon
perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya.'" Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari 11: 292-297.
- Takwa: Yang membuat
hati manusia menjadi makmur dan jiwanya menjadi bergetar takut, selalu
mencari apa yang diridhai Allah, sehingga pemeliharaan Allah selalu
bersamanya. Mahabenar Allah yang berfirman:
“...Barangsiapa
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan
menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka...” (QS.
At-Talaq: 2-3).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
“Wahai
orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil)
kepadamu, menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah
memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29).
- Pengorbanan seorang
Muslim demi akidah dan prinsip-prinsipnya: Karena dia telah berbaiat
kepada Allah untuk menyampaikan dakwah-Nya dan menegakkan risalah-Nya di
bumi. Sebuah baiat yang menyeluruh dan mengikat, yang tidak menyisakan
uzur bagi orang yang mencari-cari alasan, dan tidak memberi jalan bagi
orang yang bermalas-malasan. Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu sudah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Siapakah yang lebih menepati janjinya
daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan
itu! Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Tawbah: 111).
Maka
seorang Muslim selalu menjadi penentang terhadap kefasikan, kekufuran,
keingkaran, serta terhadap kezaliman, kesewenang-wenangan, dan permusuhan, yang
tidak akan jera kecuali dengan kekuatan kebenaran dan kewibawaan orang-orang
yang jujur. Hal itu telah terjadi pada Baiat Ridwan, ketika tersiar kabar bahwa
orang-orang musyrik telah membunuh Utsman radhiyallahu 'anhu, dan mereka
lebih memilih kesewenang-wenangan daripada kebaikan serta kebodohan daripada
akal sehat. Maka tidak ada pilihan bagi Rasulullah dan para sahabatnya yang
berjumlah sedikit melainkan bertekad untuk menghadapi kebatilan yang sombong
tersebut. Jadilah itu sebuah baiat untuk berjihad, sehingga orang-orang musyrik
menjadi takut dan menghormati kebenaran. Peristiwa itu menjadi sikap para
pahlawan yang didengar oleh sejarah dan dunia, serta diabadikan oleh Al-Qur'an
melalui firman Allah Ta'ala:
“Sungguh,
Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia
kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di dalam
hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan
kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) serta harta rampasan
perang yang banyak yang dapat mereka ambil. Allah Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana.” (QS. Al-Fath: 18-19).
B.
Persaudaraan Iman (Ukhuwah Imaniyah): Yang mengikat antara sesama Muslim
dengan ikatan akidah dan iman, serta membimbing tangan mereka menuju jalan
cinta, kerja sama, dan mengutamakan orang lain (itsar). Persaudaraan ini
dijadikan Allah sebagai pagar bagi pergerakan keimanan, sehingga ia menjadi
nikmat dari Allah untuk hamba-hamba-Nya. Mahabenar Allah yang berfirman:
“Berpegangteguhlah
kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai!
Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan,
lalu Dia mempersatukan hatimu sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi
bersaudara...” (QS. Ali 'Imran: 103).
Persaudaraan
ini tecermin dalam unsur-unsur tertentu, di antaranya:
Pertama:
Cinta yang murni dari hawa nafsu, kepentingan pribadi, syahwat, dan dosa. Di
mana seorang Muslim akan menemukan manisnya cinta tersebut di dalam mulutnya
dan rasa yang mulia di tenggorokannya. Hal ini dijelaskan oleh sabda Rasulullah
$\rho$:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ
فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ
إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا
لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ
يُقْذَفَ فِي النَّارِ
"Tiga
perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya
iman: hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya,
hendaknya dia mencintai seseorang yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena
Allah, dan hendaknya dia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia
benci jika dilemparkan ke dalam neraka." Muttafaq 'Alaih.
Dan
sabda beliau:
وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا ، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى
تَحَابُّوا ، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ
، أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
"Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai
kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah
aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang apabila kalian melakukannya,
kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian."
Diriwayatkan oleh Muslim.
Kedua:
Solidaritas (takaful), saling menolong dalam kebajikan dan takwa, serta
saling menasihati bagi setiap Muslim. Allah Ta'ala berfirman:
“...Tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan permusuhan...” (QS. Al-Ma'idah: 2).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
“Demi
masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk
kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-'Asr: 1-3).
Karena
iman adalah jalan menuju kemuliaan, kebahagiaan, dan kemenangan yang melewati
amal perbuatan orang-orang Muslim, di antara degup hati mereka, jalan-jalan
amal mereka, dan bukti-bukti perbuatan mereka.
Nabi
bersabda: "Agama adalah nasihat." Kami bertanya: "Untuk
siapa?" Beliau bersabda: "Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya,
para pemimpin kaum Muslimin, dan orang-orang awam mereka."
Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud (4944).
Termasuk
di antaranya adalah memenuhi kebutuhan kaum Muslimin. Nabi bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو
الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ
كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ
الدُّنْيَا فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Seorang
Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, dia tidak menzaliminya dan tidak
menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya,
maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan satu
kesulitan seorang Muslim dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan
melapangkan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari kiamat. Dan
barangsiapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya
pada hari kiamat." Muttafaq 'Alaih.
Ketiga:
Menutup aib dan mendamaikan perselisihan (ishlah dzatil bain). Karena
seorang Muslim itu memiliki kehormatan, dan reputasinya pun memiliki
kehormatan. Maka mengumbarnya merupakan suatu kejahatan, kekejian, dan
perbuatan dusta yang besar. Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya
orang-orang yang ingin agar perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang
yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat...” (QS.
An-Nur: 19).
Dan
mendamaikan perselisihan karena persaudaraan menuntut perbaikan terhadap
keretakan dan kerusakan dalam tubuh kaum mukmin, serta menuntut dijauhkannya
perpecahan, kehinaan, dan disintegrasi. Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damai-kanlah antara kedua
saudaramu...” (QS. Al-Hujurat: 10).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
“...Perdamaian
itu lebih baik...” (QS. An-Nisa': 128).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
“...Bertakwalah
kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara komunikasimu
[persaudaraanmu]...” (QS. Al-Anfal: 1).
Nabi
SAW bersabda:
كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ
عَلَيْهِ صَدَقَةٌ ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ : تَعْدِلُ بَيْنَ
الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ
عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ
صَدَقَةٌ ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ ، وَتُمِيطُ
الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
"Setiap
persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap hari di mana matahari
terbit: engkau mendamaikan antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah,
engkau menolong seseorang pada tunggangannya lalu engkau menaikkannya di
atasnya atau engkau mengangkat barang bawaannya ke atas tunggangannya adalah
sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang engkau ayunkan
menuju salat adalah sedekah, dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalanan
adalah sedekah." Muttafaq 'Alaih.
C.
Wawasan/Budaya yang Bermanfaat: Yang berkaitan dengan batasan-batasan
akhlak, serta keteladanan dan ajaran ketuhanan. Wawasan ini bertolak dari
fondasi yang kokoh, yaitu akidah dan perilaku Islami yang mulia. Dampaknya
terlihat dalam unsur-unsur tertentu, yang paling penting adalah:
Pertama:
Ilmu yang bermanfaat yang membawa kebahagiaan dalam hidup dan tidak
menyengsarakannya, memperbaiki manusia dan tidak merusak mereka, serta
meluruskan naluri-naluri dan tidak melepaskan atau mengobarkannya. Ilmu yang
menempati tempatnya yang tepat dan mengenai sasarannya yang benar. Mahabenar
Allah yang berfirman:
“...Barangsiapa
dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak...” (QS.
Al-Baqarah: 269).
Dan
Allah SAW telah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat, beliau
bersabda: "Kami berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak
bermanfaat." Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang hasan.
Kedua:
Ilmu yang tersambung dengan tadabur terhadap makhluk-makhluk Allah, keindahan
ciptaan-Nya, dan keagungan kebaikan-Nya. Yaitu ilmu yang meskipun bekerja di
dunia dan melakukan perbaikan di dalamnya, namun tidak melupakan akhirat dan
apa yang dipersiapkan untuknya. Maka ilmu dengan metode dan cara pandang
seperti ini menjadi sarana penghidupan di dunia sekaligus bekal menuju akhirat
serta jembatan penyeberangan menuju kepadanya. Manusia dengan ilmunya tidak
menjadi bagian dari orang-orang yang lalai, yang dikabarkan oleh Al-Haq Subhanahu
wa Ta'ala melalui firman-Nya:
“Mereka
hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan tentang
(kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7).
Dan
Allah Ta'ala berfirman mengajarkan kepada seorang mukmin tentang undang-undang
kehidupannya:
“Carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...” (QS. Al-Qashash: 77).
Ketiga:
Wawasan untuk beramal dan menerapkan, bukan hanya untuk kata-kata, ucapan
ekstrem (syathahat), atau angan-angan belaka tanpa adanya amal perbuatan
nyata atau persiapan untuknya. Allah Ta'ala berfirman:
“Wahai
orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?
(Perbuatan) itu sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang
tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3).
Wawasan
yang mendidik untuk memikul konsekuensi dan memikul tanggung jawab, bukan
mendidik atas penipuan, riya, mengisap darah manusia, memakan daging mereka
[menggunjing], dan meminum keringat mereka. Mahabenar Allah yang berfirman:
“Bacakanlah
(Nabi Muhammad) kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat
Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia
diikuti oleh setan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Sekiranya
Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan (ayat-ayat) itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Perumpamaannya
seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu
membiarkannya, ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan kaum
yang mendustakan ayat-ayat Kami...” (QS. Al-A'raf: 175-176).
Keempat:
Membuka ruang bagi akal yang cerdas dan pemikiran yang tercerahkan untuk
memahami, meminta penjelasan, dan berdiskusi, melalui pelajaran-pelajaran yang
tenang dan kajian-kajian yang mendalam di bawah bimbingan para sahabat yang
diberkahi, kelompok ulama, dan elite pilihan dari pemilik sifat-sifat mulia
serta akhlak yang tinggi. Mereka adalah orang-orang yang membawa ilmu, adab,
kesabaran, dan keteguhan, baik dengan mengharap pahala [tanpa pamrih],
sukarela, maupun orang-orang yang mendedikasikan diri (muhabasiin) dan
berjaga (murabithiin) untuk pekerjaan yang tenang, mulia, lagi agung
ini. Mahabenar Allah yang berfirman:
“(Yaitu)
orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya
dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain Allah. Cukuplah Allah sebagai
pembuat perhitungan.” (QS. Al-Ahzab: 39).
Peran
Dai di Masjid
Karena
titik tolak pertama bagi dakwah Islam bersumber dari masjid, dan para lelaki
pertama yang membawa panji serta menyambut seruan menuju kemuliaan adalah
anak-anak singa masjid dan para pemuda rumah-rumah Allah; karena para ulama,
ahli fikih, dan ahli balagah adalah lulusan rumah-rumah Allah; serta karena
kebangkitan peradaban Islam bersumber dari spiritualitas masjid, maka wajib
bagi seorang dai Muslim untuk memberikan perhatian khusus kepada masjid,
merawatnya dengan perawatan yang besar, dan menjadikannya sebagai fondasi
pertama dalam membangun batu bata Islami yang serius, ikhlas, dan bekerja untuk
mengemban risalahnya serta mencari ridha Tuhannya.
Karena
hati kaum Muslimin terikat dengan masjid, merindukannya, berkumpul di
sekitarnya, mereguk bekal darinya, dan mengambil cahaya dari lenteranya, maka
wajib bagi dai Muslim untuk menjaga risalah masjid dan menyusun program-program
yang dapat meningkatkan pemanfaatan keterikatan ini, serta memperkuat ikatan
dengan cahaya dan pancaran tersebut.
Jika
kita melihat risalah masjid dan usaha dai yang wajib menyertai risalah
tersebut, kita akan menemukan bahwa dengan melihat pada perbuatan Rasulullah SAW
dan para sahabat setelah beliau serta para salafus saleh umat ini, dan dengan
melihat realitas masjid pada masa-masa awal Islam, maka menonjol dari itu semua
sebuah program tertentu yang wajib diikuti jejaknya dan dijalani polanya oleh
dai. Hal itu terkadang disertai dengan beberapa pekerjaan yang dituntut oleh
perbedaan zaman dan waktu, yang berjalan beriringan dengan program-program awal
pada masa yang gemilang tersebut. Di antara program-program ini adalah sebagai
berikut:
Kedua:
Peran Ilmiah Masjid
Masjid
menjalankan risalah ilmiah yang paling agung dan paling tinggi yang pernah
dikenal oleh sejarah dan didengar oleh kemanusiaan hingga hari ini, dan akan
terus demikian sampai Allah mewarisi bumi dan apa yang ada di atasnya. Di
antaranya adalah:
- Pelajaran-pelajaran ilmu
(durusul 'ilmi) dan halakah-halakah kajian: Yang memberikan
pemahaman mendalam kepada seorang mukmin dalam pertemuan yang tenang
mengenai urusan agama dan dunianya, serta mendidik potensi ilmiah, akhlak,
dan inovatifnya. Pelajaran-pelajaran ini memiliki waktu yang panjang,
kontribusi yang beragam, dan pahala yang diharap di sisi Allah. Kajian
tersebut tidak meninggalkan perkara kecil maupun besar melainkan
menghitungnya [membahasnya], dan tidak ada perkara yang asing atau yang
datang melainkan menelitinya secara tuntas. Dai memaparkan dalam
pelajaran-pelajaran tersebut dengan perlahan, mengalirkan ilmu dengan
ketenangan dan kehati-hatian, sehingga tanaman memberikan buahnya setiap
waktu dengan izin Tuhannya.
- Masjid wajib dibekali
dengan perpustakaan yang menghimpun kitab-kitab induk yang bermanfaat:
Serta hasil pemikiran Muslim yang terus diperbarui, agar kitab tersebut
bekerja sama dengan dai dalam memberi makan akal dan pemikiran serta
membimbing tangannya menuju jalan yang lurus. Agar masjid melakukan
pekerjaannya di dalam dan di luar, di koridor-koridornya, di bawah
naungannya, dan di luar lingkupnya seperti di rumah dan tempat lainnya.
Sebab, buku Islami membawa ruh masjid dan aromanya bersama pembawa dan
pembacanya di tempat mana pun dia pergi.
- Perpustakaan
Audio-Visual: Seyogianya masjid juga dilengkapi dengan perpustakaan
audio. Setiap dai yang cerdas dan setiap ulama yang mumpuni wajib menjaga
ucapan, perkataan, dan ilmunya, jika tidak di dalam dada maka di dalam
tulisan dan kaset-kaset yang didengar serta direkam melalui suara dan
gambar jika memungkinkan. Hal itu agar lebih menguasai jiwa, lebih
tertanam dalam benak, dan lebih kuat dalam memberikan pengaruh, arahan,
serta kepeloporan. Karena dai wajib memanfaatkan sarana-sarana zaman
terkini dalam hal yang bermanfaat untuk melayani risalah dan umatnya, dan
tidak meninggalkan bidang ini bagi musuh-musuhnya untuk dipersenjatai
melaluinya sementara dia sendiri tetap bertangan hampa dari setiap
senjata. Karena dai diperintahkan untuk menyampaikan (tabligh)
dengan segala sarana penyampaian dan pengaruh, dan jika dia tidak
melakukannya maka dia dinilai belum menyampaikan. Hal ini juga menuntut
dirinya untuk memiliki alat-alat dokumentasi dan presentasi yang
dikhususkan untuk pelajaran-pelajaran, ceramah-ceramah, dan majelis-majelis
ilmu yang bermanfaat ini.
- Kata-kata yang tertulis
juga seyogianya memiliki peran di masjid: Melalui majalah dinding atau
majalah cetak, sehingga para pengunjung masjid dari kalangan pemuda dan
kaum terpelajar terbiasa menulis dalam berbagai tema yang penting bagi
masyarakat Muslim dan mengarahkannya ke arah yang dituntut darinya. Serta
agar majalah-majalah ini menonjolkan apa yang ada dalam warisan Islam (turats)
berupa sejarah kehidupan (sirah), hikmah, kisah-kisah langka,
keteladanan, dan ajaran yang dibutuhkan oleh masyarakat Muslim, agar
masyarakat tidak melirik pada apa yang ada pada masyarakat lain yang lalai
lagi menyimpang. Serta agar masyarakat Muslim mengetahui setiap hal baru
yang bermanfaat di zamannya dan setiap inovasi yang berguna bagi umatnya,
di samping memperingatkan dari setiap hal yang membinasakan lagi
menghancurkan, mengambil manfaat dari setiap pelajaran, dan agar dia
menjadi orang yang memiliki hati atau menggunakan pendengarannya sedang
dia menyaksikannya.
- Ceramah-ceramah di
masjid: Masjid memiliki peran yang besar—sebagaimana yang telah kita
ketahui—dalam menyebarkan wawasan/budaya. Maka masjid wajib dibekali
dengan aula-aula ceramah agar menjadi pusat perhatian kaum terpelajar dan
agar berjalan beriringan dengan arus perkembangan budaya di setiap zaman.
Ceramah-ceramah tersebut terkadang berada di dalam masjid, dan terkadang
juga berada di tempat-tempat yang terhubung dengan masjid karena kondisi
yang menuntut penayangan alat peraga visual, kehadiran di luar waktu
salat, atau adanya persiapan tertentu yang dapat mengganggu masjid dari
menegakkan syiar ibadah dengan khusyuk, serta hal-hal lainnya yang lebih
utama jika ditempatkan di ruangan yang terhubung dengan masjid.
Didatangkan ke aula-aula ini para penceramah dari kalangan orang-orang
yang cerdas dalam dakwah dan dalam berbagai urusan ilmiah lainnya, serta
diundang setiap orang untuk mendengarkan ceramah-ceramah tersebut dan
mengambil manfaat darinya. Maka masjid menjadi poros bagi berbagai wawasan
dan penggerak bagi kehidupan pemikiran, sebagaimana kondisinya pada
masa-masa awal Islam.
- Pelajaran tambahan
(bimbingan belajar/pengayaan): Di antara aktivitas ilmiah yang
dilakukan oleh masjid dan para dainya adalah bekerja untuk mengikat para
pemuda dengan masjid melalui berbagai aktivitas, di antaranya pelajaran
tambahan dalam berbagai bidang ilmu, membantu para murid untuk memahami,
meraih pencapaian, dan menguasai pelajaran, serta membantu mereka yang
tidak mampu melakukan hal tersebut dengan menyediakan apa yang mereka
butuhkan dengan usaha yang paling sedikit dan biaya yang paling ringan di
bawah pengawasan sekelompok guru yang aktif di medan dakwah atau dari
orang-orang yang mencintai kebaikan. Maka hal itu menjadi sarana yang
lebih kuat untuk keteladanan yang baik dan tarbiyah melalui
kebersamaan hidup (mu'ayasyah), contoh nyata, serta perawatan yang
baik. Pelajaran-pelajaran tersebut menjadi bagian dari kontribusi yang
diberikan masjid kepada pelajar, dan kontribusi masjid itu beragam,
masing-masing sesuai dengan ukuran, kondisi, dan waktunya, sehingga
pelajar merasakan peran masjid dalam kehidupannya secara nyata dan
spiritual dengan logika yang dia pahami dan dia hargai.
Kedua:
Peran Spiritual dan Tarbiyah Masjid
Tidak
ada keraguan bahwa peran spiritual masjid dalam kedalaman manusia Muslim
memiliki akar yang tertanam sangat dalam. Hal itu karena salat fardu maupun
salat sunah memiliki peran dalam hubungannya dengan Tuhannya dan orientasinya
menuju Pelindungnya; karena pelajaran, khotbah, dan nasihat memiliki pengaruh
dalam jiwa dan eksistensinya; serta karena suasana masjid memiliki
spiritualitas yang melimpah yang dituangkan ke dalam ruh dan jiwa.
Namun,
ada beberapa perkara yang wajib diikuti agar spiritualitas ini dapat merasuk ke
dalam hati dan jiwa, serta menjelma secara nyata dalam masyarakat manusia. Di
antara perkara tersebut adalah:
- Persaudaraan Islam
(Al-Ikha' al-Islami): Gagasan persaudaraan wajib dikembalikan lagi
dari awal di tengah suasana kehidupan modern yang menyesakkan dan di
tengah suasana materialisme yang menghanyutkan. Persaudaraan, saling
mengenal (ta'aruf), solidaritas (takamul), saling
mengunjungi (tazawur), berkumpul di atas kebaikan, di atas kitab
Allah, di atas halakah ilmu, serta di atas tindakan menolong orang yang
membutuhkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan, khususnya jika manusia
tersebut adalah orang asing yang jauh dari negerinya. Maka dia dipersaudarakan
dengan seorang saudara baginya dalam Islam dari penduduk kota tersebut
yang mempermudah urusannya, menghilangkan kesulitannya, memenuhi
kebutuhannya, memberikan pemahaman tentang urusannya, dan menutupi
auratnya [aibnya]. Allah berfirman:
“...Dan
orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan telah beriman
sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke
tempat mereka. Mereka tidak mendapat keinginan di dalam hati mereka atas apa
yang diberikan (kepada Muhajirin) dan mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada
diri mereka sendiri, meskipun mereka memerlukan...” (QS. Al-Hasyr: 9).
Di
bawah naungan persaudaraan Islam yang dimaksud oleh firman Allah Ta'ala "Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara" dan firman Allah Ta'ala "Dan
orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain," persaudaraan yang bermanfaat dan
diperintahkan dalam Islam ini diorganisasikan. Dan yang paling berhak bagi
persaudaraan ini adalah berada di bawah atap rumah dari rumah-rumah Allah.
Pengorganisasian persaudaraan tersebut dilakukan oleh para dai bersama
manajemen masjid serta orang-orang yang memiliki kebaikan dan kesalehan.
- Iktikaf dan Tahajud,
beserta asal dan hakikatnya: Iktikaf adalah berdiam diri di masjid
dengan niat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Ta'ala.
Iktikaf itu ada yang disunahkan, ada yang diwajibkan, dan ada yang
dianjurkan (mustahab). Iktikaf yang disunahkan adalah apa yang
dilakukan secara sukarela oleh seorang Muslim sebagai bentuk pendekatan
diri kepada Allah, mencari pahala-Nya, dan meneladani Rasulullah SAW, dan
hal itu dikuatkan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Sedangkan
iktikaf yang wajib adalah apa yang diwajibkan oleh seseorang atas dirinya
sendiri [nazar]. Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Umar radhiyallahu
'anhu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah
bernazar untuk beriktikaf satu malam di Masjidil Haram." Maka
beliau bersabda: "Penuhilah nazarmu."
Iktikaf
yang dianjurkan tidak memiliki waktu tertentu, ia terwujud dengan berdiam diri
di masjid disertai niat iktikaf, baik disertai dengan puasa maupun tidak.
Adapun tahajud termasuk sifat-sifat 'Ibadurrahman [hamba-hamba Allah
Yang Maha Pengasih]. Allah Ta'ala berfirman:
“...Dan
orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk Tuhan mereka dengan bersujud
dan berdiri.” (QS. Al-Furqan: 64).
Dan
Allah Ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya SAW
“Dan
pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan
bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS.
Al-Isra': 79).
Dan
Nabi bersabda: "Hendaklah kalian melakukan qiyamul lail (salat malam),
karena sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian,
sarana mendekatkan diri kalian kepada Tuhan kalian, penghapus
kesalahan-kesalahan, pencegah dari perbuatan dosa, dan pengusir penyakit dari
tubuh." Dan beliau bersabda: "Sebarkanlah salam, berilah
makan, sambunglah tali silaturahmi, dan salatlah di waktu malam ketika manusia
sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat."
Diriwayatkan oleh Al-Hakim, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, ia berkata: hadis
hasan shahih. Oleh karena itu, seyogianya seorang Muslim membiasakan diri
mencintai iktikaf di masjid-masjid dan mencintai qiyamul lail, karena
hal ini akan memperkuat ikatan di antara saudara-saudara Muslim dan di antara
orang-orang yang mengemban urusan risalah ini.
- Berpuasa beberapa hari
dalam seminggu: Seperti hari Senin dan Kamis misalnya, lalu berbuka
puasa bersama secara berjamaah atau di tempat salah seorang saudara.
Ketika para lelaki atau pemuda masjid melakukan hal tersebut, maka ikatan
persahabatan dan kecintaan di antara mereka akan semakin kuat, dan hal itu
menjadi penolong bagi mereka untuk menaati Allah serta lebih dekat untuk
menjadi teladan bagi orang lain, bergabung dengan mereka, dan berjalan di
atas sunah mereka.
- Mendirikan
halakah-halakah tahfiz Al-Qur'an di masjid: Halakah-halakah khusus
untuk menghafal dan tajwid bagi orang dewasa, serta halakah-halakah untuk
anak-anak dan pemuda. Nabi bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah
orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari.
Dan
Muslim meriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ
الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ
وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ
كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ
الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَا رِيحَ لَهَا
وَطَعْمُهَا مُرٌّ
"Perumpamaan
seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an seperti buah utrujjah, aromanya wangi dan
rasanya enak. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an seperti
buah kurma, tidak ada aromanya namun rasanya manis. Dan perumpamaan seorang munafik
yang tidak membaca Al-Qur'an seperti buah hanzhalah, tidak ada aromanya dan
rasanya pahit."
Halakah-halakah
ini memiliki keutamaan yang besar di mana ia mengumpulkan hati di atas kitab
Allah Tabaraka wa Ta'ala, di atas pemahaman makna-maknanya, tadabur
hukum-hukumnya, pelaksanaan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi
larangan-larangan-Nya, di samping keutamaan Al-Qur'an itu sendiri dan apa yang
dipersiapkan bagi para pemiliknya berupa pahala yang melimpah.
- Perjalanan umrah dan
menunaikan ibadah haji: Perjalanan-perjalanan yang diberkahi seperti
ini mengikat hati dengan rumah-rumah Allah, berkontribusi dalam
meringankan biaya, dan menjadikan manusia sebagai satu tubuh, sebagian
mereka melayani sebagian yang lain, saling menolong satu sama lain, serta
menciptakan kepemimpinan di lingkungan sekitar yang mampu bertindak dan
melakukan kebaikan.
- Memberi makan
orang-orang fakir, menampung orang-orang yang membutuhkan yang tertimpa
musibah: Serta mengurus urusan manusia pada masa-masa yang mendesak,
khususnya pada waktu perang dan kondisi darurat.
Bagian
Kedua
Peran
Sosial Masjid dan Aktivitas yang Dilakukannya
Masjid
memiliki peran sosial yang luas pada zaman Rasulullah SAWdan pada masa-masa
salafus saleh radhiyallahu 'anhum ajma'in. Peran tersebut tecermin dalam
banyak hal yang berkontribusi dalam merawat umat, serta menganugerahinya apa
yang dibutuhkannya berupa kasih sayang, perhatian, dan bantuan. Dengan ungkapan
yang lebih tepat, ia berkontribusi dalam merawat kehidupan manusiawi bagi
seorang Muslim dengan segala beban, konsekuensi, problematika, dan hambatannya,
guna menegakkan sebuah masyarakat yang mewujudkan prinsip-prinsipnya,
menerapkan teorinya tentang eksistensi, dan menjelaskan pandangannya tentang
kehidupan. Dengan demikian, Islam tidak mungkin menjauh dari masyarakat, dan
tidak mungkin pula masjid atau arahan spiritual dijauhkan dari hiruk-pikuk kehidupan
serta arusnya yang mengalir deras. Karena Islam menjadikan perawatan terhadap
manusia sebagai bagian dari inti dan hakikatnya. Mahabenar Allah yang
berfirman:
“Tahukah
kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim
dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Maka, celakalah
orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan.” (QS. Al-Ma'un:
1-7).
Islam
sama sekali tidak akan pernah rida terhadap seorang Muslim yang ikhlas dalam
akidah dan ibadahnya namun lalai dalam peran sosialnya dan hidup dalam
kefarduan [individualisme] serta sifat egois, tidak berpartisipasi dalam
mewujudkan ketenteraman, keadilan, dan bantuan kepada manusia serta kepada
kehidupan.
Oleh
karena itu, Al-Haq Subhanahu wa Ta'ala selalu mengingatkan kita pada
peran ini melalui firman-Nya yang mulia:
“Namun,
dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apa jalan yang
mendaki lagi sukar itu? (Itulah) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada
hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kerabat, atau orang
miskin yang sangat sengsara. Kemudian, dia termasuk orang-orang yang beriman
dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk berkasih sayang.
Mereka itulah golongan kanan.” (QS. Al-Balad: 11-18).
Kemudian
Allah mencela orang-orang yang hatinya keras lalu melupakan peran yang penting
ini, di mana Allah berfirman:
“Sekali-kali
tidak! Bahkan, kamu tidak memuliakan anak yatim, tidak saling mengajak memberi
makan orang miskin, memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkannya (yang
halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang
berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20).
Dan
Allah berfirman:
“Sesungguhnya
dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar dan tidak menyukai
(mengajak orang lain) memberi makan orang miskin. Maka, tidak ada seorang teman
setia pun baginya pada hari ini di sini dan tidak ada makanan (bagi-nya),
kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya, kecuali orang-orang
yang bersalah.” (QS. Al-Haqqah: 33-37).
Maka
masjid karena hakikat ini tidak membedakan antara sisi makrifatullah [mengenal
Allah] dan ibadah kepada-Nya dengan sisi komitmennya terhadap kehidupan. Oleh
karena itu, masjid dahulu menjadi tempat bagi orang-orang fakir dan Ahlu
Suffah [para sahabat miskin yang tinggal di emperan masjid], menjadi tempat
bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan, serta pusat perawatan dan
kebangkitan. Karena itu, masjid-masjid tidak boleh diisolasi dari risalahnya
dalam kehidupan seorang Muslim. Demikian pula seyogianya bagi seorang dai untuk
memanfaatkan peran ini dalam dakwahnya dan dalam menghidupkan kembali tugas
bangunan Islam yang agung ini melalui poin-poin berikut:
- Dalam amal kebajikan dan
pelayanan: Diorganisasikan di masjid-masjid amal kebajikan, mulai dari
pengumpulan sedekah, zakat, dan bantuan-bantuan, lalu mendistribusikannya
kepada yang berhak menerimanya dari kalangan orang-orang yang membutuhkan;
baik mereka dari kalangan orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya (muta'affifiin)
yang dikira oleh orang bodoh sebagai orang kaya karena sifat menjaga diri
mereka, maupun dari kalangan orang-orang yang meminta kepada manusia
secara mendesak. Pemberian bantuan tersebut atau penerimaannya baik dalam
bentuk tunai maupun barang ('aini), seperti daging kurban dan
kulitnya, pakaian dan potongan kain, barang-barang kebutuhan rumah tangga,
dan lain sebagainya; untuk merawat keluarga-keluarga mulia yang ditimpa
kesulitan oleh roda zaman, keluarga-keluarga yang kehilangan pencari
nafkahnya, serta keluarga-keluarga yang ditimpa musibah seperti kebakaran
dan tenggelam.
- Amal kemanusiaan:
Seperti membantu pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan, dengan cara
menghubungi para pemilik usaha dan lembaga-lembaga serta memberikan
rekomendasi (tazkiyah) bagi orang-orang saleh dari kalangan
pengunjung masjid yang memiliki keistimewaan berupa keikhlasan dalam
bekerja, kebersihan tangan [kejujuran], dan pengalaman. Serta membantu
para pemilik modal kecil untuk memutarnya pada lembaga-lembaga perdagangan
yang tepercaya agar menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya dan memberikan
manfaat bagi lembaga perdagangan yang beroperasi sesuai dengan
kaidah-kaidah dan ajaran syariat Islam.
- Pendidikan profesi
(pelatihan kerja) dan pengawasannya: Di lembaga-lembaga yang terhubung
dengan masjid atau di lingkungan itu sendiri, disertai dengan merawat
keluarga-keluarga produktif dan memanfaatkan waktu luang para ibu rumah
tangga dalam hal yang membawa kebaikan bagi keluarga dan masyarakat,
seperti pembuatan karpet, pakaian jadi, rajutan (tricot), dan
lain-lain.
- Mendirikan tempat
penitipan anak (PAUD/TK): Atau memanfaatkan sebagian keluarga miskin
untuk merawat anak-anak kaum Muslimin, khususnya mereka yang anak-anaknya
membutuhkan perawatan karena berbagai sebab seperti yatim dan lain
sebagainya.
- Berkomitmen untuk
memperbaiki masjid-masjid, sekolah-sekolah sosial, dan rumah-rumah orang
miskin yang hampir roboh: Untuk menjaga kelestariannya, serta
menyuplai masjid-masjid dengan para khatib dari kalangan orang-orang yang
memiliki kesalehan dan ketakwaan.
- Mendirikan klinik-klinik
kesehatan sosial dengan biaya murah (simbolis): Untuk mengobati
orang-orang fakir dan para pengunjung masjid demi keselamatan jasmani dan
rohani mereka.
- Mendirikan komite-komite
perdamaian di antara manusia: Mempermudah pernikahan bagi laki-laki
dan perempuan yang menginginkannya, serta membantu mempermudah urusan
kedua mempelai baik dalam hal perabot rumah tangga maupun tempat tinggal.
Peran
Olahraga Masjid
Telah
diketahui bahwa Islam memperhatikan tubuh yang sehat dan kekuatan jasmani,
sebagaimana memperhatikan akal yang sehat dan kekuatan rohani. Nabi bersabda: "Mukmin
yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah,
dan pada masing-masingnya terdapat kebaikan." Diriwayatkan oleh
Muslim.
Oleh
karena itu, seyogianya di samping masjid terdapat klub-klub olahraga fisik dan
perawatan sosial untuk memenuhi keinginan jiwa Muslim dari hal yang halal, dan
memanfaatkan hal yang halal tersebut dalam mendidik akhlak yang terpuji,
menanamkan makna akidah dalam jiwanya, membiasakan anak mencintai orang lain,
dan memperkuat fisiknya. Imam Ahmad mengeluarkan hadis dengan sanad yang hasan
dari Abdullah bin al-Harits radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah
SAWpernah membariskan Abdullah, Ubaidullah, dan Katsir putra-putra Al-Abbas
radhiyallahu 'anhum, kemudian beliau bersabda: 'Barangsiapa yang mendahului
sampai kepadaku maka dia akan mendapatkan ini dan itu'." Ia berkata: "Maka
mereka berlomba-lomba menuju beliau lalu mereka menjatuhkan diri di atas
punggung dan dada beliau, lalu beliau mencium mereka dan memeluk mereka."
Dan
Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Ajarilah
anak-anak kalian berenang dan memanah, dan perintahkanlah mereka agar mereka
melompat di atas kuda dengan sekali lompat." Berangkat dari teks-teks
ini dan teks lainnya, para pakar pendidikan Islam menyerukan kebutuhan para
pemuda untuk bermain, bergembira, dan menyegarkan jiwa setelah selesai dari
pelajaran dan pekerjaan.
Al-Ghazali
berkata dalam Al-Ihya': "Seyogianya anak kecil diizinkan setelah
pulang dari tempat belajar (kuttab) untuk bermain dengan permainan yang indah
yang dapat mengistirahatkan dirinya dari kelelahan tempat belajar tersebut,
dengan sekiranya dia tidak lelah karena permainan itu. Karena jika anak kecil
dilarang bermain dan dipaksa untuk belajar terus-menerus, maka akan mematikan
hatinya, membatalkan kecerdasannya, dan mengeruhkan kehidupannya hingga dia
mencari tipu daya untuk lepas dari pendidikan."
Oleh
karena itu, seyogianya terdapat masjid-masjid yang mengawasi lembaga-lembaga
ini agar arahan olahraga tidak terpisah dari arahan akhlak, dan agar olahraga
memiliki maksud dan tujuan, bukan olahraga itu sendiri yang menjadi maksud dan
tujuan.
Oleh
karena itu, seyogianya dihubungkan dengan masjid pula lapangan-lapangan
memanah, pasukan pramuka (kasysyafah), dan kolam-kolam renang, agar anak
singa masjid menjadi olahragawan, menjadi anggota pramuka, menjadi perenang,
dan penunggang kuda yang memiliki tujuan yang mulia serta persiapan yang baik.
Aktivitas
Wanita (Aktivitas Muslimah)
Wanita
Muslimah memiliki perannya yang istimewa dalam kehidupan sosial pada umat Islam
dan dalam masyarakat yang beriman.
Peran
wanita Muslimah telah menonjol dalam kehidupan Islam sejak hari pertama
munculnya dakwah ini yang ditegakkan oleh Rasul yang terpercaya. Setelah itu,
dia senantiasa menjadi penolong dan oasis yang mulia bagi lelaki Muslim,
membantunya untuk meraih keridaan Allah, menjadi ketenteraman dan kasih sayang
baginya, serta menyediakan baginya suasana keakraban, ketenteraman, dan bantuan
yang menguatkan dukungannya dan mengangkat cita-citanya. Dalam hal itu, wanita
memiliki teladan yang saleh lagi mulia pada diri Sayyidah Khadijah binti
Khuwailid radhiyallahu 'anha ketika beliau berdiri mendampingi
Rasulullah dalam dakwahnya menuju Tuhannya, menghibur beliau dengan harta dan
jiwanya, memotivasi beliau, dan menguatkan dukungannya. Maka beliau memiliki
pengaruh yang tidak dimiliki oleh para lelaki agung dan para pahlawan yang
mulia.
Maka
wanita Muslimah itu tidak seperti wanita mana pun. Wanita Muslimah memiliki
risalah dan memiliki tujuan yang dia usahakan dan dia berlari cepat menuju
kepadanya. Pertama-tama, dia adalah madrasah pertama yang membentuk generasi
dan mencetak tunas bangsa. Dialah yang meletakkan batu bata pertama dalam
bangunan kepahlawanan dan tekad yang menyala-nyala di dalam dada para pemuda
dan lelaki secara sama. Kedua, dia adalah saudara kandung lelaki dalam kisah
perjuangan yang agung dan kewajiban besar yang dibebankan Allah kepada umat
Islam berupa penyampaian risalah-Nya, penegakan syariat-Nya, dan pemberian
hidayah kepada makhluk-Nya. Mahabenar Allah yang berfirman:
“Dan
orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan
mencegah dari yang munkar, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada
Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya
Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Tawbah: 71).
Ketiga,
dia adalah setengah dari masyarakat yang bekerja lagi cerdas seperti lelaki.
Dia memiliki perannya dalam kehidupan dalam hal produksi yang sesuai dengan
tabiatnya dalam kehidupan sosial yang berkembang serta dalam kehidupan keluarga
dan rumah tangga. Maka wanita Muslimah tidak seperti wanita yang moralnya
runtuh lagi bodoh, yang tidak mementingkan apa pun kecuali penampilan yang
memukau, keanggunan yang memikat, perhiasan yang durhaka, begadang yang
melalaikan, dan pakaian yang seronok. Melainkan dia adalah wanita yang cerdas
yang berdiri di atas sebuah pos penjagaan dalam kehidupan, dan tegak di atas
sebuah bangunan dalam umat, bekerja agar perannya dan perbuatannya memberikan
pengaruh yang luar biasa.
Titik
Tolak Pergerakan Wanita:
Seyogianya
wanita bergerak untuk bekerja bagi Islam dari rumahnya dan tempat tinggalnya,
kemudian dari masjid atau dari ruangan-ruangan yang terhubung dengan masjid
yang dikhususkan untuk kaum wanita.
Peran
Wanita di Masjid:
Peran
wanita Muslimah pada zaman ini tidak hanya terbatas pada salat di masjid-masjid
saja, melainkan melampaui hal tersebut pada zaman yang saling terkait dan
saling berkonflik ini menuju aktivitas-aktivitas lain yang menunaikan peran
efektifnya dalam masyarakat Islam. Di antara aktivitas-aktivitas tersebut
adalah:
- Pelajaran ilmu dan
pengetahuan bagi kaum wanita: Dari kalangan para ibu dan putri
masyarakat Islam. Kita mengetahui bahwa wanita Muslimah hari ini berada
pada tingkat pendidikan yang besar, dan sebagian mereka telah mempelajari
pendidikan agama dan tarbiyah yang melayakkan mereka untuk
memerangi pemikiran-pemikiran dan sistem kontemporer yang merusak, serta
pemikiran-pemikiran dan penyimpangan ekstrem yang menghancurkan yang
menyusup ke dalam rumah tangga Muslim dan umat Islam. Sebagaimana hal itu
melayakkan mereka untuk mengajarkan adab-adab dan ajaran-ajaran Islam,
membangkitkan ruh iman yang bergerak lagi menyala-nyala di dalam keluarga
dan wanita Muslimah, serta meniupkan ruh perjuangan, jihad, dan rasa
percaya diri pada jiwa yang beriman; sehingga dia dapat memengaruhi
orang-orang di sekitarnya dan mewarnainya dengan warna kesucian,
kemurnian, dan kepeloporan. Oleh karena itu, wajib diusahakan untuk
mendidik generasi dai wanita (da'iyat) untuk berdakwah menuju Islam
dan ajaran-ajarannya di lingkungan wanita, sehingga tegak model-model bagi
wanita ideal yang bangkit membela kehormatan dan rasa malunya, lalu
menghancurkan sistem-sistem yang amoral, permisif, lagi durhaka tersebut,
serta melindungi kehormatan umat dari serangan permisivisme yang membabi
buta ini yang ingin menghabisi sisa-sisa akhlak umat dan pilar-pilar
kebahagiaannya, sebagaimana dengan itu dia menjaga umat dari para penipu
yang memperdagangkan kehormatannya dan menganggapnya sebagai kesenangan
serta komoditas yang dijual dan dibeli di arena hawa nafsu yang durhaka
dan syahwat yang liar.
- Partisipasi wanita dalam
aktivitas sosial umat: Dengan syarat bahwa pekerjaan tersebut
merupakan kebaikan, dan berada di tengah-tengah serta bidang pekerjaan
wanita, seperti:
Wanita
bergerak dalam amal Islami untuk berinteraksi dengan kaum mukminah secara
positif, dia mengajak wanita-wanita Muslimah dan keluarga-keluarga beriman
melalui perilakunya, keimanannya, komitmennya, dan penerapannya terhadap Islam
sebagai teladan yang baik bagi wanita-wanita Islam dan untuk tarbiyah
keimanan. Dia menjelaskan hakikat Islam ini dan melaksanakannya secara nyata
sebagaimana yang dia pelajari dari Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya, guna
mengeluarkan kaum wanita dan keluarga dari tawanan adat istiadat yang menyusup
dan pemikiran-pemikiran impor barat, yang menyerupai penyimpangan-penyimpangan
zaman dan penyakit pemikiran merusak yang masuk ke dalam masyarakat kita
bagaikan pencuri yang kotor, yang merampas iman, kesucian, dan keutamaan dari
jiwa-jiwa.
Sesungguhnya
masyarakat Islam hari ini menoleh pada peran wanita Muslimah dan pada
pekerjaannya yang berpengaruh yang meninggalkan jejak-jejaknya berupa kebaikan,
keberkahan, dan petunjuk di atas fitrah, serta mengobati penyakit-penyakit
masyarakat secara positif, realistis, dan sederhana. Peran inilah yang
dengannya Allah mengukuhkan wanita-wanita yang lemah jiwanya dan para pengobar
syahwat serta fitnah.
Oleh
karena itu, kebutuhan masyarakat Islam sangat mendesak terhadap usaha wanita
Muslimah yang bekerja untuk agamanya dan risalahnya, karena pembangunan
masyarakat Muslim selalu membutuhkan wanita-wanita mukminah yang dipersenjatai
dengan kesadaran dan kesucian serta berusaha menuju tujuan dengan penuh rasa
percaya diri, kesabaran, dan kemuliaan; untuk melahirkan generasi-generasi
beriman yang agung dan wanita-wanita yang enggan tunduk pada kehinaan dan
syahwat serta kukuh menolak peniruan dan penyimpangan. Mereka memiliki
kepribadian yang istimewa, inovatif, lagi kreatif dalam bidang kebahagiaan,
kemuliaan, dan keagungan. Mereka juga memiliki peran penting dalam membentuk
lingkungan Islami dan norma Islami yang sahih, yang percaya diri dalam
langkahnya serta menegakkan kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat di
atas manhaj yang lurus, berpengaruh, lagi efektif.
A. Membantu keluarga para gadis dan beberapa keluarga
miskin, dengan memberikan pakaian, bantuan pangan, pengobatan, dan
bantuan-bantuan lainnya.
B. Bekerja untuk mengajarkan kepada keluarga-keluarga
miskin beberapa keterampilan industri [kerajinan tangan] seperti menjahit,
menenun, pembuatan karpet, pekerjaan jarum [merajut], dan bordir, hingga
pekerjaan-pekerjaan bermanfaat lainnya seperti membuat busana Muslimah yang
sesuai untuk para wanita, dan lain sebagainya.
C. Mendirikan tempat penitipan anak (PAUD/TK) untuk
membantu para ibu rumah tangga dan wanita karier serta untuk mendidik anak-anak
kecil di atas prinsip-prinsip Islam dan akhlak yang mulia. Begitu pula
mendirikan panti asuhan untuk merawat anak-anak yatim, lansia, dan orang-orang
yang lemah.
D. Melakukan perdamaian di antara para wanita di dalam
rumah tangga dan mengobati penyimpangan ekstrem serta pelanggaran yang menjadi
sebab hancurnya keluarga dan terputusnya ikatan masyarakat.
E. Menyebarkan wawasan kesehatan, menyampaikan
arahan-arahan, dan mengajarkan kepada para ibu rumah tangga pertolongan pertama
(P3K), membersihkan luka dan luka bakar serta membalutnya, mengajarkan cara
memberikan suntikan, dan prinsip-prinsip medis yang berkaitan dengan pencegahan
kesehatan.
F. Menjalankan peran penting dalam pemberantasan buta
aksara di kalangan wanita, membiasakan kaum wanita metode mendidik anak-anak,
menyampaikan pelajaran dalam bidang ekonomi rumah tangga, dan dalam hal
kewajiban keluarga dalam mengembangkan masyarakat Muslim; serta agar dia
menjalankan sebuah pekerjaan ekonomi sekaya apa pun keluarga tersebut, dan agar
dia mendukung industri nasional.
G. Amal-amal jihad: jika wanita mengajukan diri untuk
memikul beban-beban jihad pada umatnya, maka seyogianya titik tolak
pergerakannya juga dari masjid. Dia mempelajari pertolongan pertama, pembalutan
luka, evakuasi medan pertempuran, pelatihan dalam tugas logistik konsumsi,
komunikasi, pembelaan diri, dan kesadaran sipil. Wanita pada masa Rasulullah SAWtelah
berpartisipasi dalam aktivitas sosial dan militer.
Dari
Hafshah binti Sirin, dari Ummu Athiyyah, Nusaba binti Ka'ab al-Anshariyyah
berkata: "Aku ikut berperang bersama Rasulullah SAWsebanyak tujuh kali
peperangan, aku mengurus logistik di tenda-tenda mereka, membuatkan makanan
untuk mereka, merawat orang yang sakit, dan mengobati orang-orang yang
terluka."
Dan
dari Khalid bin Dzakwan, dari Ar-Rabi' binti Mu'awwidz bin Afra', ia berkata: "Kami
dahulu ikut berperang bersama Rasulullah SAW, maka kami melayani kaum tersebut,
memberi minum mereka, dan mengembalikan orang-orang yang terluka serta terbunuh
ke Madinah."
Dan
dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma'dan, dari Umair bin al-Aswad al-Ansi,
bahwa ia menceritakan kepadanya bahwa ia mendatangi Ubadah bin ash-Shamit
ketika ia berada di pantai Homs di sebuah bangunan miliknya dan bersamanya
istrinya, Ummu Haram. Umair berkata: "Maka Ummu Haram menceritakan
kepada kami bahwa ia mendengar Rasulullah SAWbersabda: 'Pasukan pertama dari
umatku yang berperang mengarungi lautan telah dipastikan (mendapatkan surga).'
Ummu Haram berkata: 'Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk dari mereka?' Beliau
bersabda: 'Engkau termasuk dari mereka'."
Dari
Anas, ia berkata: "Abu Thalhah datang pada hari Hunain sambil membuat
Rasulullah SAWtertawa karena Ummu Sulaim, lalu ia berkata: 'Wahai Rasulullah,
tidakkah engkau melihat Ummu Sulaim bersamanya sebuah belati?' Maka Rasulullah SAWbertanya
kepadanya: 'Apa yang engkau lakukan dengan belati itu, wahai Ummu Sulaim?' Ia
menjawab: 'Aku ingin jika salah seorang dari mereka mendekat kepadaku, maka aku
akan menikamnya'."
Dan
dari Anas juga, ia berkata: "Ketika terjadi hari Uhud, aku melihat
Aisyah dan Ummu Sulaim, dan sesungguhnya keduanya menyingsingkan pakaiannya—aku
melihat perhiasan betis keduanya—keduanya memindahkan qirbah [wadah air dari
kulit] di atas punggung keduanya, kemudian keduanya menuangkannya ke dalam
mulut-mulut kaum tersebut, kemudian keduanya kembali lalu memenuhinya, kemudian
keduanya menuangkannya ke dalam mulut-mulut kaum tersebut." Dan inilah
Ummu Umarah yang Rasulullah SAWbersabda tentangnya: "Tidaklah aku
menoleh pada hari Uhud ke kanan maupun ke kiri melainkan aku melihatnya
berperang membelaku." Dan begitulah dahulu peran wanita Muslimah
sangat efektif, positif, kuat, lagi nyata.
Catatan
Kaki (Footnote) Teks Asli:
(1)
HR. Muslim, no. 671
(2)
HR. Muslim, no. 666
(3)
HR. Muslim, no.
(1)
[Halaman 394] HR. Bukhari, bab tentang memerangi Romawi.
(2)
[Halaman 394] Lihat mengenai hal itu dalam Sifatus Shafwah 2/63 dan
setelahnya. Cetakan Darul Ma'rifah.
Bab
Ketiga: Peran Ilmiah Sekolah dalam Dakwah
Sekolah
merupakan titik awal bagi fajar pembentukan generasi pelopor Islam yang
bergerak menuju masa depan yang cerah dan esok hari yang agung. Sekolah
membangun fondasi Islam yang luas dan kukuh, yang kelak akan mewujudkan asa
yang dinantikan serta harapan yang digantungkan kepadanya.
Oleh
karena itu, segala upaya di sekolah—baik dari para guru maupun aktivis
dakwah—harus disatukan demi membentuk generasi Qurani yang unik, serta para
pemuda yang tulus iman dan tekadnya. Generasi dan pemuda inilah yang menjadi
modal masa depan, tentara kebenaran, dan kesatria kejujuran; mereka yang tidak
dilalaikan oleh dunia, dan tidak dipalingkan oleh syahwat dari menunaikan
risalah mereka yang agung, yaitu risalah Islam.
Subbab
Pertama: Tiada Alternatif Selain Islam (Islam atau Air Bah)
Sesungguhnya
suatu umat yang tidak membimbing pemudanya sejak usia dini—untuk meluruskan
penyimpangannya, membangkitkan harga dirinya, dan membentengi
perilakunya—niscaya mereka akan segera memanen duri dan memetik buah yang pahit
sebagai balasan atas sikap apatis, kemalasan, tidur panjang, serta kelalaian
mereka yang membinasakan.
Adapun
umat yang merawat para pemudanya dan mendidik generasi mudanya, merekalah yang
akan menuai buah yang baik dan memetik bunga-bunga yang harum setaman. Dan
tidak ada yang lebih utama dalam mendidik generasi muda selain risalah Islam
dan petunjuk Al-Qur'an. Sungguh benar Rasulullah ﷺ saat bersabda:
مَا نَحَلَ وَالِدٌ
وَلَدًا مِنْ نَحْلَةٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
"Tidak
ada pemberian yang diberikan oleh seorang orang tua kepada anaknya yang lebih
utama daripada adab yang baik." (HR. Tirmidzi).
Beliau
ﷺ juga bersabda:
"Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka."
Sesuatu
yang paling utama untuk menjadi materi bagi pendidikan tersebut adalah
Kitabullah Tabaraka wa Ta'ala. Akidah adalah penggerak sekaligus pembenteng:
"...Sesungguhnya
mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami
menambahkan petunjuk kepada mereka." (QS. Al-Kahf: 13).
Jiwa
pun menjadi selamat dan sehat:
"Wahai
anakku, tegakkanlah salat, suruhlah (manusia) berbuat makruf, cegahlah (mereka)
dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu! Sesungguhnya
yang demikian itu termasuk urusan yang penting." (QS. Luqman: 17).
Serta
membuahkan perilaku yang agung dan bernilai:
"Sungguh,
beruntunglah orang-orang mukmin, (yaitu) orang-orang die yang khusyuk dalam
salatnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang
sia-sia, orang-orang yang menunaikan zakat, orang-orang yang memelihara
kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka
miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tentu saja siapa yang mencari
di luar itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Beruntung pula)
orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya, serta orang-orang yang
memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yaitu) yang
akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (QS.
Al-Mu'minun: 1–11).
Hendaklah
semuanya—baik ayah, ibu, pendidik, maupun para penanggung jawab—waspada
terhadap air bah yang menghanyutkan; yaitu air bah kerusakan yang melanda
generasi yang tengah tumbuh dan pemuda yang masih belia, sehingga mewariskan
sifat-sifat tercela, akhlak yang buruk, serta kebiasaan-kebiasaan yang
diingkari, di antaranya:
1.
Fenomena Hedonisme dan Dekadensi Moral
Fenomena
ini dibawa kepada para pemuda oleh para penyeru yang keluar dari nilai-nilai
agama lagi bayaran. Mereka menggambarkan kehidupan kepada para pemuda
seolah-olah hanya kesenangan yang lezat, syahwat yang instan, dan kelezatan
yang memuaskan. Jika hal itu luput dari mereka, maka luput pulalah malam-malam
kebersamaan serta hari-hari penuh kegembiraan dan asmara. Padahal pada
hakikatnya, itu semua hanyalah kesenangan sesaat yang fana lagi lacur, syahwat
yang rendah lagi nista, kelezatan yang buruk, hari-hari yang sia-sia,
malam-malam yang hina, serta dunia perbudakan, penindasan, dan kerusakan akal.
Di antara manifestasi dari penyakit-penyakit ini adalah fenomena Takhannuf
[gaya hidup eksentrik/pemberontakan budaya modern], Tabarruj [bersolek
berlebihan], Takhannuts [perilaku menyerupai wanita], kecerobohan,
kemalasan, sikap fatalistik (tawakul), serta enggan memikul tanggung
jawab.
2.
Fenomena Taklid Buta (Ikut-ikutan)
Yaitu
runtuhnya kepribadian, hilangnya jati diri, dan lenyapnya keteguhan prinsip.
Fenomena ini membuat pemuda menjadi rapuh laksana sehelai bulu yang melayang di
udara. Al-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ
تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا، لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى
"Bukan
termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami. Janganlah kalian
menyerupai orang-orang Yahudi dan jangan pula orang-orang Nasrani."
Maksudnya
adalah dalam hal adat istiadat dan tradisi. Adapun dalam hal ilmu pengetahuan
dan kebaikan, maka hikmah (ilmu yang bermanfaat) adalah barang hilang milik
orang mukmin; di mana pun ia menemukannya, maka ia lebih berhak mengambilnya.
Orang mukmin boleh mengambil dan mempelajari segala hal yang bermanfaat seperti
kedokteran, teknik, fisika, kimia, sarana perang, dan rahasia-rahasia materi.
Namun, para pengekor dari kalangan pemuda yang teperdaya saat ini tidak
mengambil kecuali perilaku takhannuts, hedonisme, tren pakaian,
ketelanjangan, dekadensi moral, kesesatan berpikir, serta paham-paham
destruktif, yang dibantu pula oleh musuh-musuh negeri Islam. Sebaliknya, jika
ia dituntut untuk mencari ilmu yang bermanfaat, ia tidak diberikan hal itu,
tidak dibantu, ataupun ditunjukkan kepadanya, sementara ia sendiri lalai akan
hal tersebut.
3.
Fenomena Larut dalam Bermewah-mewah
Yaitu
saling membanggakan fasilitas sekunder, perabotan, dan kemewahan rumah;
mengumpulkan harta dengan cara apa pun; menyembah materi dan mendapatkannya
dari sumber mana pun, serta menggadaikan harga diri demi kedua hal tersebut,
meskipun tebusannya adalah kehormatan, kemuliaan, dan kebajikan.
4.
Fenomena Sufur (Membuka Aurat), Tabarruj, dan Ikhtilat (Campur Baur)
Serta
segala hal yang mengikuti hal itu berupa sarana-sarana yang mengorganisasi
keburukan ini, mengobarkannya, dan mendorong kepadanya.
5.
Fenomena Narkoba dan Kecanduan Zat Adiktif yang Membinasakan
Hal
ini diiringi dengan dampak kehancuran bagi harta dan kesehatan, serta
mendatangkan berbagai penyakit seperti kanker, TBC, asma, dan pengerasan
pembuluh darah (arterioskelosis). Allah telah mengharamkan hal tersebut melalui
firman-Nya:
"...dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..." (QS.
Al-Baqarah: 195).
"...Janganlah
kamu membunuh dirimu..." (QS. An-Nisa': 29).
"...Jangan
pula kamu menukar yang baik dengan yang buruk..." (QS. An-Nisa': 2).
"...Dia
(Nabi) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka
segala yang buruk..." (QS. Al-A'raf: 157).
6.
Fenomena Perpecahan, Putus Sekolah, Pembangkangan
Serta
gemar menyelisih aturan, menampilkan maskulinitas palsu, kepahlawanan semu, dan
meremehkan nilai-nilai luhur.
7.
Fenomena Onani, Penyimpangan Seksual (Homoseksualitas/Lesbianisme), atau Gender
Ketiga (Waria/Androgini)
Termasuk
pula gemar menganiaya orang lain, atau menarik diri dari lingkungan (introvert
ekstrem), serta dampak yang ditimbulkannya berupa penyakit psikologis dan
mental, rasa muak antara satu jender terhadap jender lainnya, hingga hilangnya
potensi produktif dan efektif dari suatu umat.
8.
Fenomena Minder (Rendah Diri), Ketakutan, Merasa Memiliki Kekurangan, dan
Berbohong
Hingga
fenomena-fenomena lainnya yang tiada berujung ketika petunjuk, syariat, dan
akidah telah sirna. Hal ini telah diperhatikan oleh orang-orang Barat, dan
mereka menetapkan bahwa tidak ada benteng dari penyakit-penyakit ini kecuali
agama dan akidah.
Filsuf
Jerman, Fichte, mengatakan: "Akhlak tanpa agama adalah
kesia-siaan."
Filsuf
dan pemimpin India, Gandhi, mengatakan: "Kemuliaan akhlak dan agama
adalah satu hal yang sama, tidak menerima pemisahan dan tidak dapat dipisahkan
antara satu dengan yang lain. Keduanya adalah kesatuan yang tidak terbagi.
Agama laksana roh bagi akhlak, dan akhlak laksana udara bagi roh. Dengan
ungkapan lain, agama memberi makan akhlak, menumbuhkan, dan menyegarkannya,
sebagaimana air memberi makan tanaman dan menumbuhkannya."
Kant
juga berkata: "Tidak ada eksistensi bagi akhlak tanpa adanya tiga
keyakinan: eksistensi Tuhan, keabadian roh, dan hisab setelah kematian."
^[1]
Anda
telah melihat pendapat para filsuf tersebut mengenai akidah dan agama, maka
bagaimana gerangan dengan Islam, rohnya, dan keindahannya?
Sesungguhnya
Islam adalah mukjizat pendidikan yang luar biasa. Sungguh benar firman Allah:
"...Sungguh,
telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas. Dengan Kitab
itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan dengan izin-Nya Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan
kepada cahaya, serta memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus."
(QS. Al-Ma'idah: 15–16).
Sekolah,
jika tidak berhasil dalam memberikan pengarahan dan pendidikan, ia akan menjadi
lingkungan dan sarang bagi wabah-wabah asing, serta menjadi tempat pertemuan
yang membawa kebinasaan dan saling tolong-menonjol dalam kedurhakaan; terutama
jika di dalamnya banyak terdapat pemuda yang rusak moralnya, yang tidak dicegah
oleh hukum, tidak ditahan oleh akhlak, atau tidak dibimbing oleh guru yang
mulia.
Terlebih
lagi, jika di sekolah-sekolah tersebut banyak ustadz dan guru yang tidak
memahami pendidikan yang benar melainkan sekadar taklid kepada orang asing
dalam perilaku dan akhlaknya, serta membebek kepada Barat atau Timur dalam adat
istiadatnya yang tercela, pemikirannya, serta penyimpangan-penyimpangannya yang
membinasakan. Terlebih lagi, jika buku-buku pelajaran yang dipelajari oleh para
siswa di sekolah mereka sarat dengan infiltrasi, peraguan, dan penyerangan
terhadap agama-agama, serta seruan menuju kekufuran, ateisme, dan peraguan
terhadap segala hal yang sudah mapan lagi bermanfaat, lalu menyifatinya dengan
sifat-sifat yang tercela; serta menyajikan khurafat dan teori-teori yang runtuh
lagi rapuh seperti Teori Darwin dan teori lainnya seolah-olah sebagai hakikat
ilmiah, lalu menjadikannya sebagai dalih untuk meragukan Sang Pencipta, padahal
sains telah membuktikan kesalahan serta penyimpangannya dan telah membuangnya
ke keranjang sampah.
Oleh
karena itu, wajib bagi para guru, pendidik, dan da'i untuk menaruh perhatian
besar pada sekolah dan pendidikan Islam di dalamnya, agar generasi yang lahir
tumbuh dengan selamat dan sehat serta mampu mewujudkan harapan.
Subbab
Kedua: Langkah-Langkah Praktis Pendidikan dan Tahapannya
Tidak
diragukan lagi bahwa setiap tahapan usia memiliki fokus perhatian tersendiri
dan kecenderungan tertentu yang harus dipertimbangkan oleh seorang da'i,
pendidik, dan pengarah.
- Tahap Imajinasi Fantatif
(Khayali): dari usia 3 sampai 6 tahun.
- Tahap Realistis
(Waqi'i): dari usia 6 tahun sampai masa pubertas (remaja).
- Tahap Individualitas dan
Kemandirian Berpikir: dimulai sejak masa remaja.
Seorang
da'i mutlak harus menyusun pendekatan dakwah dan interaksi yang khusus bagi
setiap tahapan dengan objek dakwah (mad'u). Di setiap periode dan
tahapan tersebut, da'i juga wajib menyajikan asupan pemikiran yang memenuhi
kebutuhannya. Hal itu dapat dicapai melalui berbagai aktivitas halal yang
sesuai dengan nalar, akal, dan kecenderungannya.
A.
Tahap Pra-Akil Balig (Sebelum Pubertas)
Setiap
tahapan memiliki kebutuhan psikologis dan intelektual. Sebagai contoh, tahap
pra-akil balig membutuhkan pemenuhan tertentu, di antaranya:
a. Kebutuhan akan rasa aman dan ketenteraman.
b. Cinta, penghargaan, kasih sayang, dan kelembutan.
c. Mulai dihadapkan pada beberapa masalah keagamaan dan
logika.
d. Persepsi anak terhadap harga dirinya; ia membenci
penghinaan dan peremehan terhadap urusannya.
e. Kebutuhan akan loyalitas dan rasa memiliki
(afiliasi).
f. Kecenderungan untuk melamun (angan-angan siang
hari).
Maka,
wajib bagi da'i pada tahap ini untuk menyeleksi siapa saja yang mampu
menjalankan peran ini untuk membimbing para pemuda belia tersebut, dengan
mengikuti langkah-langkah berikut:
- Berinteraksi dengan para
siswa secara bijaksana; tidak membawa mereka keluar dari sistem umum
sekolah sehingga membuat mereka terkena sanksi, problem akademis, rasa
takut dihukum, atau memicu konflik dengan orang tua mereka.
- Membantu mereka memahami
pelajaran dengan cara menerangkannya, memberikan kelas remedial (bimbingan
belajar gratis), atau memberikan tips belajar, sehingga kepercayaan diri
mereka meningkat, menjauhkan mereka dari ketakutan terhadap sekolah, serta
membuat orang tua merasa tenang terhadap anak-anak dan masa depan mereka.
- Memperlakukan mereka dengan
cinta, penghargaan, kasih sayang, dan kelembutan. Hal ini dicapai melalui
tutur kata yang manis, saling memberi hadiah, kunjungan (silaturahmi),
mengadakan rekreasi, jalan-jalan, dan sebagainya.
- Menjawab tanpa rasa jengkel
terhadap beberapa persoalan agama yang mereka tanyakan, serta tidak
mencoba untuk membodoh-bodohkan pendapat mereka, merasa heran di hadapan
orang lain, atau mengarahkannya untuk bahan ejekan.
- Berupaya mengangkat harga
diri siswa, mendukung cita-citanya, memanfaatkan pemikiran-pemikirannya
yang visioner, lalu mengaitkannya dengan kisah-kisah para pahlawan,
sahabat Nabi, para penakluk, penemu, dan ilmuwan muslim.
- Menjadi saudara, sahabat,
sekaligus penasihat baginya; serta menumbuhkan perasaan di dalam dirinya
bahwa ia telah menjadi bagian dari dakwah ini, bagian dari lingkaran
sahabat yang beriman, bagian dari Rasul yang mulia ini, serta bagian dari
warisan yang agung ini, yaitu warisan Islam.
- Memanfaatkan angan-angan
para siswa untuk diarahkan secara benar menuju kepahlawanan Islam,
kebangkitan iman, kecintaan pada amal, perjuangan, dan keberanian; serta
menyelenggarakan aktivitas yang dapat mewujudkan sebagian dari cita-cita
tersebut.
Aktivitas
ini juga harus dibersamai dengan kegiatan olahraga, hiburan, dan seni peran
(teater) yang membantu menyerap makna-makna ini dalam atmosfer Islami yang
mulia.
Pada
periode ini, fokusnya tidak disyaratkan pada pendalaman studi Islam yang berat,
melainkan disyaratkan untuk memfokuskan sentuhan emosi serta mengajarkan dan
memperkuat rasa cinta Islami, ibadah yang benar, rukun-rukun Islam, kecintaan
kepada Al-Qur'an, Rasul, dan para pendahulu yang saleh (Salafus Shalih),
serta memberikan peringatan secara umum dari menjauhkan diri dari rida Allah
dan mengikuti apa yang diharamkan Allah.
B.
Tahap Pasca-Akil Balig (Setelah Pubertas)
Tahap
ini merepresentasikan masa sekolah menengah atas (SMA) dan setelahnya.
Pelakunya melewati fase psikologis tertentu, di antaranya:
- Memiliki loyalitas yang
sangat kuat terhadap kelompok sebayanya (peer group), serta
cenderung menjauh dari arahan orang dewasa atau keluarga.
- Cenderung tertutup
(menyimpan rahasia); takut untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya
karena khawatir akan kritik orang lain.
- Cenderung memberontak
terhadap apa yang ada (papan mapan) sepanjang hal itu tidak sejalan dengan
rencana dan tujuannya.
- Mengalami pergolakan batin
dengan dirinya sendiri dan keyakinannya; ia bertanya tentang Allah dan
eksistensi-Nya, belum matang dalam urusan kehidupan, meragukan segala
sesuatu, dan terkadang bisa hanyut ke dalam hal apa pun.
Oleh
karena itu, tahap ini pun harus memiliki para da'i dan pemimpinnya yang mampu
memahami kecenderungan psikologis dan mental ini, mampu berinteraksi dengannya
secara bijaksana dan penuh pemahaman, serta memenuhinya dengan ketenangan,
pemikiran yang lurus, serta perencanaan yang matang lagi sabar. Langkah-langkah
dalam tahapan ini seharusnya sebagai berikut:
- Sebaiknya pada periode ini,
para da'i bergerak aktif bersama para siswa yang cerdas lagi berkomitmen
(ber-iltizam) yang memiliki sifat-sifat khusus, yang mendapatkan
kepercayaan dan cinta dari semua orang, serta menjadi teladan yang mulia
bagi dakwah yang mulia; misalnya teladan dalam ilmu, ketaatan, istikamah,
adab, akhlak, iman, dan komitmen pada ajaran Islam. Mereka juga harus
memiliki rasa cinta yang besar kepada saudara-saudaranya, bersabar atas
mereka, memantau perkembangan mereka, mengunjungi mereka, menjalin
persahabatan, berbaur, dan hidup bersama mereka. Melalui potensi ini,
mereka mampu menjadi sumber pemberian bagi saudara-saudara mereka dan
pusat daya tarik bagi kaumnya; alih-alih para pemuda ini dimanfaatkan oleh
teman-teman yang buruk, pergaulan yang nista, dan paham-paham destruktif.
Terlebih lagi, ahli hidayah memiliki hujah, logika, dan cahaya yang di
dalamnya Allah jadikan petunjuk dan bimbingan.
- Da'i melalui kebijaksanaan
sikapnya harus bisa memenangkan kepercayaan para pemuda ini dengan cara
mendekati mereka terlebih dahulu. Hendaklah waspada dari menyerang mereka
dengan kata-kata yang melukai, menghardik, membuat mereka putus asa, atau
mengejek mereka. Pendekatan tersebut bisa berupa pemberian hadiah pada
momen-momen tertentu seperti kelulusan, kedatangan dari safar, selamat
dari kecelakaan atau musibah; atau melalui kunjungan pada acara-acara
keluarga dan hari raya, menghadiahkan buku, atau mengundang mereka dalam
acara-acara yang menggembirakan. Jika pemuda tersebut telah percaya kepada
da'i, membuka hatinya, dan mencintainya, maka hal itu menjadi jaminan
baginya untuk mau mendengar kebenaran, menyambutnya, dan memperhatikannya.
- Da'i harus menghias diri
dengan kesabaran, mengharap pahala (ihtisab), toleran terhadap
kesalahan, dan memaafkan kekeliruan. Ia harus memberikan ruang bagi siswa
untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam dirinya, kemudian
meyakinkannya dengan lemah lembut. Sebaiknya hal itu dilakukan dalam
pertemuan khusus (privat) agar pemuda tersebut tidak merasa malu jika
tampak kesalahannya atau merasa tersudut, yang mana hal itu bisa menjadi
penghalang baginya untuk mengikuti kebenaran dan kembali kepadanya. Begitu
pula nasihat harus disertai dengan dalil, serta jauh dari sikap tinggi
hati atau merasa ingin menang sendiri; melainkan harus disampaikan dengan
bahasa persaudaraan, cinta, dan penjelasan kebenaran dalam masalah
tersebut.
- Keraguan dan ateisme pada
diri pemuda tidak boleh dihadapi dengan celaan, laknat, dan pengusiran.
Namun, harus dihadapi dengan metode yang benar dalam mengantarkan mereka
menuju hakikat kebenaran. Sebagaimana yang dikatakan oleh para pakar
psikologi, pergolakan agama dan keraguan merupakan dua fenomena dari
fenomena masa muda di zaman ini. Oleh karena itu, wajib bagi da'i untuk
menyiapkan hujah-hujah yang benderang lagi jelas, serta dalil-dalil
rasional (aqliyah) maupun tekstual (naqliyah) untuk
diberikan kepada pemuda tersebut dosis demi dosis hingga mencapai
kesembuhan total.
Subbab
Ketiga: Berbagai Aktivitas dan Apa yang Memengaruhi Pemuda
Pikiran
dan akal para pemuda dapat didekati melalui berbagai aktivitas yang bermanfaat
bagi manusia secara akal dan pemikiran. Di dalam aktivitas-aktivitas ini, harus
tampak ajaran-ajaran terdahulu yang wajib diperhatikan secara saksama, agar
aktivitas tersebut menjadi program pendidikan praktis atas ajaran Islam dan
akhlaknya; serta menjadi lingkungan yang baik tempat siswa muslim melatih
banyak hal dan memunculkan bakat-bakatnya melaui kegiatan tersebut. Di antara
aktivitas-aktivitas ini adalah:
1.
Aktivitas Olahraga
Ini
merupakan salah satu aktivitas paling menonjol yang disukai oleh para siswa.
Oleh karena itu, da'i tidak boleh mengabaikan aktivitas ini, baik di luar
sekolah maupun di dalam sekolah. Di antara sarana aktivitas ini adalah:
a. Tim sepak bola, bola voli, dan bola basket.
b. Tim tenis meja, bulu tangkis, dan tenis lapangan.
Da'i
harus menaruh perhatian pada tiga permainan ini karena dapat mengokohkan
hubungan antar sesama siswa, dan antara siswa dengan para pengelola olahraga.
Hal ini juga dapat membantu siswa yang belum mahir dalam permainan ini untuk
berlatih dan berpartisipasi di dalamnya.
c. Balap sepeda: diadakan di antara para pemuda pada
waktu dan tempat yang sesuai. Kegiatan ini dapat disediakan hadiah berupa
mushaf Al-Qur'an, buku-buku, kaset, lencana, medali, dan piala.
d. Lari cepat dan lari lintas alam (maraton): Sungguh
Nabi ﷺ dahulu pernah lomba
lari bersama istrinya, Aisyah.
e. Olahraga binaraga (keindahan jasmani) dan gulat:
Sungguh Rasulullah ﷺ
pernah menggulat Rukanah, lalu Nabi ﷺ merobohkannya.
f. Olahraga renang: Umar bin Khattab berkata: "Ajarilah
anak-anakmu berenang dan memanah, dan perintahkanlah mereka agar melompat ke
atas punggung kuda dengan tangkas."
g. Olahraga memanah dan berkuda, atau pacuan kuda dan
ketangkasan berkuda (furusiyyah).
Hingga
olahraga-olahraga lainnya yang bermanfaat bagi pemuda, menyatukan mereka, serta
mempertautkan hati mereka dengan para pengemban dakwah Islam. Sebab, mereka
adalah anak-anak dakwah, dan aktivitas mereka wajib berada di bawah naungan,
ajaran, serta dalam pengawasan tokoh-tokoh dan penjaganya.
2.
Aktivitas Seni dan Hiburan
Aktivitas
seni diminati oleh sebagian siswa, dan mereka suka memuaskan keinginan mereka
di waktu senggang melaluinya. Ini merupakan sarana yang baik untuk memanfaatkan
waktu luang pada hal yang bermanfaat, serta memanfaatkan potensi yang
menyukainya dalam berbagai aktivitas dakwah Islam. Ini pada hakikatnya
merupakan sisi baik dari wajah dakwah Islam di kalangan pemuda dan selain
mereka; di mana melalui sarana ini dapat dipentaskan karya-karya teater yang
agung, dendang syair, serta nasyid keagamaan.
a.
Dendang Syair dan Nasyid
Yaitu
bait-bait syiir yang mudah lagi dicintai yang dapat membangkitkan semangat,
mengajarkan tujuan, dan memberikan pemahaman tentang prinsip-prinsip dengan
sentuhan emosi yang lembut serta rima yang mudah lagi indah, yang mana jiwa
dapat menerimanya dan hati cenderung kepadanya. Hal ini dapat menggantikan
sekaligus memberikan manfaat daripada lagu-lagu syahwat beraliran hewani,
seksual yang dibenci, lagi berkarakter melankolis/lemah (mukhannats).
Nasyid-nasyid
ini tersedia banyak namun membutuhkan seleksi yang ketat, sekiranya dapat
menunaikan tujuan yang diharapkan darinya; seperti Nasyid Islami karya Dr.
Muhammad Iqbal:
Cina milik kita, Arab milik kita...
India milik kita, dan semuanya milik kita...
Islam telah menjadi agama bagi kita, dan seluruh alam
menjadi tanah air kita...
Tauhid kepada Allah adalah cahaya bagi kita, kita telah
siapkan ruh sebagai tempat tinggalnya...
Alam semesta bisa saja sirna, namun lembaran-lembaran
kemuliaan kita tidak akan terhapus oleh zaman...
Di bawah naungan pedang kita dididik, dan kita bangun
kejayaan bagi negara kita...
Panji Islam sepanjang masa, adalah syiar keagungan bagi
umat kita...
Dengan hilal kemenangan ia menyinari kita, dan
merepresentasikan belati kekuatan kita...
Sesungguhnya
nama Muhammad Sang Penunjuk jalan, adalah ruh bagi harapan kebangkitan kita...
Serta
seperti Nasyid Dua Kalimat Syahadat:
Jika engkau bertanya tentang Tuhanku, maka Dia Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang...
Atau engkau bertanya tentang Nabiku, maka beliau adalah
manusia yang agung...
Atau engkau bertanya tentang Kitabku, maka ia adalah
Al-Qur'an yang mulia...
Atau engkau bertanya tentang musuhku, maka ia adalah setan
yang terkutuk...
Serta seperti Nasyid Dua Kalimat Syahadat [lainnya]:
Setiap kali penyeru mengumandangkan, Allahu Akbar seraya
menyeru...
Lima kali kita salat, dengan khusyuk dan bertafakur...
Dalam rukuk, berdiri, duduk, dan sujud...
Betapa
indahnya salat, kita mengharap ampunan Ilahi...
b.
Acara Hiburan dan Acara Serius
Siswa
dapat mengadakan acara pementasan teater yang serius, yang mendorong pada suatu
kebajikan atau mencegah dari suatu kenistaan. Panggung dakwah sarat dengan
kepahlawanan dan kisah-kisah menarik yang dibutuhkan oleh masyarakat dan
dicita-citakan oleh para pemuda.
Acara
Hiburan:
Siswa
juga mengadakan acara hiburan. Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah
berkata: "Sesungguhnya hati itu bisa bosan sebagaimana badan bisa
bosan, maka carilah untuk hati tersebut hikmah-hikmah yang segar."
Beliau
juga berkata: "Istirahatkanlah hati jam demi jam (saat demi saat),
karena hati itu jika dipaksa akan buta."
Berdasarkan
hal ini, tidak mengapa seorang muslim bermain, bergembira, dan bersenda
gurau... dengan syarat hal itu tidak menjadi penghalang baginya dari menunaikan
kewajibannya, tidak membawanya kepada hal yang haram, atau tidak menjadikan hal
itu sebagai kebiasaan dan karakternya.
Alangkah
indahnya apa yang dikatakan dalam hal ini: "Berikanlah waktu itu haknya
dari hiburan—yaitu yang mubah—sekadar porsi pemberian garam pada makanan."
Acara
hiburan dapat diarahkan untuk mencapai suatu target dari target-target yang
ada; seperti peringatan dari kemalasan, dari kebodohan, atau kritik terhadap
kondisi rusak yang menipu manusia, dan sebagainya.
c.
Menggambar dan Seni Dekorasi
Bakat-bakat
dalam menggambar, seni dekorasi, desain tata letak (interior/exterior),
serta menampakkan keindahan dalam seni Islam berupa ukiran, pemandangan alam,
pembuatan barang kerajinan, barang antik, dan sebagainya dapat dimanfaatkan.
3.
Aktivitas Eksternal (Luar Sekolah)
Siswa
juga harus memiliki aktivitas luar sekolah yang membantu memperkuat hubungan,
mengumpulkan informasi, meningkatkan pengetahuan, dan lain sebagainya. Hal ini
dapat direpresentasikan dalam bentuk:
a. Perjalanan Haji dan Umrah ke Baitullah al-Haram dan
ziarah ke Masjid Rasulullah ﷺ,
agar hati terpaut dengan Masjidilharam, melihat persatuan umat Islam, dan
mengambil cahaya ini agar ruh-ruh bergantung kepadanya, menancap kuat dalam
benak, serta mendapatkan berkah dari tempat yang dimakmurkan ini.
b. Perjalanan Ilmiah (Studi Tur) untuk melihat
peninggalan peradaban Islam, mengenal negeri-negeri muslim, mempelajari kondisi
mereka, serta merasakan apa yang mereka rasakan.
c. Perjalanan Kepanduan (Pramuka/Kamping) dan Kemah Musim
Panas, serta pelaksanaan program tertentu yang membiasakan manusia muslim
pada kehidupan sehari-hari Islami yang semestinya diketahui dan dijalani oleh
seorang muslim dalam atmosfer yang mulia; sehingga ketika ia kembali ke
rumahnya, ia telah memiliki keteladan yang semestinya ia ikuti polanya. Dalam
pertemuan-pertemuan ini, mereka juga terbiasa mandiri, bijaksana dalam
bertindak, hidup sederhana (taqasquf), dan menyatu dengan alam. Di dalam
kegiatan ini dan lainnya terdapat materi pengetahuan yang sejati, persaudaraan
yang sempurna, cinta yang aplikatif, serta pelatihan yang bermanfaat.
4.
Aktivitas Jurnalistik dan Media
Aktivitas
ini merepresentasikan kemampuan menulis, mengekspresikan diri, serta
menganalisis peristiwa dan mengambil manfaat darinya. Hal tersebut dapat
diwujudkan dalam:
- Majalah Dinding (Mading)
dan Poster yang mengekspresikan pemikiran dakwah dan risalah Islam;
menulis di media massa keagamaan, menjelaskan teori-teori Islam, serta
membantah dengan cara yang baik (Ahsan) terhadap orang-orang yang
meragukan risalahnya, atau para musuh yang menyerang dan mengada-ada
terhadap ajarannya.
- Menulis Buku dan Buku
Saku (Risalah) untuk mengajak umat Islam kepada kebaikan dan jalan
yang lurus, yang mana tujuannya adalah membangkitkan umat Islam dari tidur
panjang mereka dan mendorong mereka dengan penuh semangat untuk beramal
bagi Islam serta menunaikan kewajiban mereka terhadapnya.
- Aktivitas Pidato
(Retorika): Sebaiknya diadakan mingguan dan dalam tema-tema yang
terbatas lagi terarah, serta dilakukan di hadapan khalayak ramai agar
siswa terbiasa mengekspresikan dirinya dan hilang rasa takut serta
gemetarnya. Di dalamnya juga diselenggarakan festival budaya dan pembacaan
puisi.
- Aktivitas Siaran (Radio
Sekolah): Ini direpresentasikan dalam siaran radio sekolah, kultum
pagi, kalimat hikmah dan nasihat yang disampaikan, serta komentar terhadap
peristiwa harian dan momen-momen yang dilewati sepanjang tahun ajaran, dan
sebagainya.
- Aktivitas Budaya
(Literasi): Ini direpresentasikan dalam kunjungan para tokoh da'i
senior ke sekolah, aktivitas perpustakaan dan aktivitas para
pengunjungnya, jenis buku yang diseleksi untuk siswa, kompetisi budaya,
menghafal Al-Qur'an dan tafsirnya, menghafal hadis-hadis Nabawi yang
mulia, serta mengkaji sirah Rasulullah. Selain itu, diadakan pula pameran
buku untuk siswa, di mana buku-buku tersebut dihadirkan langsung kepada
mereka di sekolah dengan potongan harga yang memotivasi siswa untuk
memiliki buku-buku Islam yang bermanfaat.
Demikianlah,
aktivitas para da'i di sekolah harus mencakup dan mengarahkan seluruh aktivitas
dan potensi, serta merangkul seluruh kecenderungan dan keinginan, untuk
mengarahkannya menuju kecintaan pada dakwah dan kecintaan beramal untuknya.
5.
Aktivitas Keagamaan
Melalui
sekolah, melalui elemen-elemen yang mencintai kebaikan di dalamnya, serta
melalui para guru pendidikan Islam dan bahasa Arab—yang mana sebagian besar
atau seluruhnya telah menempuh studi keagamaan yang spesifik—maka didirikanlah
aktivitas keagamaan yang multidimensi, yang direpresentasikan sebagai berikut:
1.
Kelompok (Eskul) Tilawah Al-Qur'an dan Tajwidnya
Kelompok
ini dibimbing oleh sebagian guru Pendidikan Agama Islam. Al-Bukhari telah
meriwayatkan dari Utsman bin Affan radiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ
تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik
kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."
Beliau
juga bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ
الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ
وَرِيحُهَا طَيِّبٌ، وَالْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ
بِهِ كَالتَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ
الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا
مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ
لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
"Perumpamaan
orang mukmin yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya adalah seperti buah
utrujah; rasanya enak dan aromanya wangi. Perumpamaan orang mukmin yang tidak
membaca Al-Qur'an namun mengamalkannya adalah seperti buah kurma; tidak ada
aromanya namun rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an
adalah seperti rihanah; aromanya wangi namun rasanya pahit. Dan perumpamaan
orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah hanzhalah; tidak
ada aromanya dan rasanya pahit." (HR. Bukhari).
Allah
Ta'ala juga berfirman:
"...Maka,
siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak
akan celaka." (QS. Thaha: 123).
2.
Kelompok Hadis, Sirah Nabawiyah, dan Studi Sejarah Islam
Kelompok
ini memiliki peran besar dalam memahami sunah dan meneladani pemilik dakwah
(Rasulullah ﷺ).
Sungguh benar firman Allah:
"Siapa
yang menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati
Allah..." (QS. An-Nisa': 80).
"...Apa
yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu,
tinggalkanlah..." (QS. Al-Hasyr: 7).
Beliau
bersabda:
نَضَّرَ اللَّهُ
امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ
أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ
"Semoga
Allah memperindah wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu
menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Sebab, bisa jadi orang yang
disampaikan berita lebih paham daripada orang yang mendengar langsung."
(HR. Tirmidzi, dan ia berkata: Hadis Hasan Shahih).
Dari
Irbadh bin Sariyah radiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah ﷺ memberikan nasihat
kepada kami dengan suatu nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air
mata. Maka kami berkata: 'Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat
perpisahan, maka berilah wasiat kepada kami!' Beliau bersabda:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى
اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
'Aku
wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat,
meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Dan sesungguhnya, barang
siapa di antara kalian yang hidup setelahku, niscaya ia akan melihat banyak
perselisihan. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah
Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham
kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya
setiap bid'ah adalah sesat.'" (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah,
dan Tirmidzi berkata: Hasan Shahih).
Melalui
kelompok ini, siswa belajar bagaimana meneladani Rasulullah ﷺ, bagaimana berjalan
mengikuti langkah-langkah beliau, bagaimana mengambil manfaat dari sirah para
pendahulu yang saleh (Salafus Shalih) radiyallahu 'anhum, serta
bagaimana mengapresiasi warisan ilmiah kaum muslimin.
3.
Kelompok Kebajikan dan Sosial (Filantropi)
Kelompok
ini bertugas membantu para siswa dan menyelesaikan masalah keuangan mereka
serta mengumpulkan donasi untuk urusan tersebut. Kelompok ini juga ikut serta
dalam meringankan penderitaan bangsa-bangsa muslim sesuai batas kemampuan,
serta amal-amal kebajikan lainnya.
4.
Kelompok Dakwah atau Amar Makruf Nahi Mungkar
Serta
menjaga adab-adab umum, mengawasi perilaku siswa, memberikan arahan moral
dengan cara yang baik (ihsan), persaudaraan, dan nasihat yang baik (mau'izhah
hasanah). Kelompok ini juga berpartisipasi dalam aktivitas siaran radio dan
jurnalistik melalui untaian kata yang sesuai dengan peran yang diemban ini.
5.
Kelompok Pemeliharaan Masjid
Serta
ajakan untuk mendirikan salat berjamaah di masjid, mengadakan kajian, dan
seminar yang diselenggarakan oleh kelompok dakwah, atau salah seorang guru,
siswa, maupun tamu eksternal.
Demikianlah
berbagai aktivitas di sekolah saling bekerja sama di bawah kepemimpinan yang
bijaksana, sehingga terjalin koordinasi di antaranya demi menunaikan tujuan
yang diharapkan.
Catatan
Kaki (Footnote): ^[1] Tarbiyahtul Awlad fil Islam, Abdullah Nashih
Ulwan, Juz 1,
PASAL
KEEMPAT: Peran Internasional Universitas dalam Dakwah
Pengantar
Tidak
diragukan lagi bahwa universitas merupakan lingkungan ilmiah yang matang di
dalam masyarakat. Universitas adalah pilar yang kokoh dalam mencetak para tokoh
yang dikader dalam setiap bidang ilmu dan keahlian, guna memikul tanggung jawab
mereka terhadap umatnya. Para pemuda mencapainya pada fase akademis tertentu
dan pada tingkat intelektual tertentu. Oleh karena itu, peran universitas dalam
menyampaikan dakwah Islam merupakan peran yang sangat mendasar dan penting,
karena lingkungan universitas tidak sama dengan lingkungan lainnya, dan
masyarakatnya tidak seperti masyarakat lainnya, disebabkan oleh dua alasan:
- Pertama: Karena di
beberapa negara, di dalam universitas terdapat otoritas-otoritas ilmiah
khusus yang mungkin mengusung pemikiran tertentu, atau meyakini
konsep-konsep yang bertentangan dengan konsep-konsep dasar dakwah Islam,
atau bertentangan dengan da'i muslim yang berkomitmen (multazim).
Otoritas-otoritas ini dipimpin oleh para dosen spesialis yang mungkin
tidak sepakat dengan da'i—atau da'i tersebut tidak sejalan dengan
mereka—mengenai manhaj [metode] tertentu atau uslub [gaya] tertentu.
Mereka ini tidak diragukan lagi memiliki kehormatan, pengaruh, serta bobot
secara intelektual, ilmiah, dan legalitas hukum.
- Kedua: Sesungguhnya
mahasiswa universitas memiliki pemikiran, kecenderungan, dan cita-cita
khususnya sendiri, di samping keterbukaan ilmiah dan budayanya terhadap
berbagai tren serta kebudayaan global maupun lokal. Hal ini belum lagi
ditambah dengan kesibukannya terhadap isu-isu umat, generasi, dan
kehidupan di sekitarnya; isu-isu yang ia pandang dengan kacamata
kepemudaan yang penuh antusiasme, vitalitas, dan kedinamisan.
Kita
dapat merangkum fokus perhatian utama pemuda universitas, atau gambaran
cita-cita pemuda kampus dalam dua kata, yaitu: apa yang sedang terjadi di
panggung lokal dan internasional.
Sebagaimana
kita juga dapat merangkum problematika pemuda kampus dalam dua kata pula,
yaitu: keikhlasan dan kemurnian, yang membutuhkan lebih banyak pengalaman; atau
emosi dan antusiasme, yang semestinya dikendalikan dengan lebih banyak hakikat
kenyataan. Oleh karena itu, seorang da'i muslim seyogianya menghargai
keikhlasan, antusiasme, dan emosi tersebut, sehingga ia dapat mengetahui
kunci-kunci kepribadian mereka.
Subbab
Pertama: Kunci-Kunci Kepribadian Mahasiswa Universitas dan Problematikanya
Sebagaimana
telah kita ketahui, kepribadian mahasiswa adalah kepribadian yang dinamis lagi
ambisius, yang menaruh perhatian pada problematika umatnya saat ini.
Masalah-masalah ini bisa jadi berbeda dari satu zaman ke zaman lain, dari satu
generasi ke generasi lain, dan dari satu umat ke umat lain.
Melalui
realitas kehidupan kita, tampak jelas adanya problematika umum yang menarik
perhatian pemuda universitas. Di antara problematika yang bersifat umum dan
khusus ini adalah masalah sosial, politik, ekonomi, bahkan psikologis dan
perilaku; seperti masalah yang dipelajari dunia hari ini berupa pemberontakan
di kalangan pemuda dan keluar dari hal yang lumrah atau dari adab yang dikenal.
Demikian
pula masalah ateisme dan sikap membebek di balik pemikiran-pemikiran impor,
masalah kecemasan, keraguan, pergolakan batin, serta masalah yang berkaitan
dengan sebagian nilai; seperti hubungan wanita dengan pria serta upaya
pemahaman yang benar terhadapnya, masalah perceraian, dan poligami, demi
pemahaman yang utuh terhadap maksud dari syariat tersebut. Ada pula sebagian
masalah asmara dan perhatian pada penampilan luar, yang lahir dari interaksi
alami sebagai dampak dari manifestasi kehidupan terbuka di sekelilingnya tanpa
batas, sekat, atau arahan yang berpengaruh.
Hal
ini tentu saja terjadi pada pemuda biasa. Adapun pemuda yang serius atau yang
mendapatkan arahan dari masyarakat, orang tua, akidah, atau dari perilaku
keimanan, maka ini adalah hal lain yang memiliki fokus perhatian tertentu yang
digariskan oleh pendidikan tersebut atau dikendalikan oleh akidah-akidah
tersebut. Namun, pertanyaan yang tersisa adalah: berapa persentase mereka di
dalam komunitas mahasiswa universitas sehingga mereka dapat memberikan pengaruh
yang diharapkan?
Hal
lainnya: apakah pemuda yang tidak biasa ini memiliki fokus perhatian yang sama
sehingga bisa menjadi pemberi pengaruh? Ataukah perhatian mereka
bercabang-cabang sesuai dengan orientasi pendidikan, lingkungan, dan akidah
mereka yang boleh jadi juga beraneka ragam, sehingga melemahkan pengaruhnya?
Terlebih lagi bahwa dorongan-dorongan dasarnya tersembunyi di dalam dirinya
laksana api di dalam sekam, atau laksana air di dalam ranting hijau; ia
terkadang muncul dan terkadang meredup sesuai dengan kekuatan pendidikan,
tingkatannya, dan kewaspadaannya.
Oleh
karena itu, untuk semua hal ini saya katakan: orientasi-orientasi awal tetap
menjadi hal mendasar yang harus dipertimbangkan secara saksama, karena ia
merupakan poros umum dan kunci menyeluruh bagi pemuda universitas secara
keseluruhan, kecuali mereka yang dirahmati oleh Tuhanmu.
Berikut
adalah penjelasan mengenai orientasi dan problematika yang terpenting:
1.
Problematika Sosial
Ada
masalah-masalah sosial yang dialami oleh para pemuda di sebagian umat, yang
membuat mereka berdiri dalam posisi bimbang atau posisi takut. Masalah tersebut
bisa jadi mencabik-cabiknya, menghanyutkannya, atau melemahkannya; seperti
maraknya tempat hiburan malam dan kemaksiatan, merebaknya sarana godaan dan
fitnah, serta desakan faktor-faktor dekadensi moral dan kerusakan. Hal itu juga
tampak pada hilangnya nilai-nilai, terjerumus ke dalam kubangan sikap apatis,
maraknya suap, kecurangan, kemunafikan, hilangnya rasa tanggung jawab, adanya
anggapan bahwa tujuan menghalalkan segala cara, matinya hati nurani, hilangnya
partisipasi sosial, serta fokus pada apa yang memuaskan hawa nafsu dan memenuhi
ketamakan jiwa.
Semua
ini terjadi bersamaan dengan hilangnya teladan yang saleh, hilangnya kerja
keras, adanya kecenderungan pada kemalasan, dan melemparkan beban tanggung
jawab kepada orang lain. Belum lagi ditambah dengan ketidakadilan sosial yang
mencengkeram kuat, hilangnya kebebasan, serta penistaan terhadap kemanusiaan
manusia dengan memperlakukannya laksana mesin atau laksana binatang yang hidup
hanya untuk perutnya.
2.
Problematika Pemikiran (Intelektual)
Banyak
isu pemikiran yang diembuskan di kalangan pemuda universitas, baik secara
sengaja maupun tidak sengaja, dikarenakan tuntutan lingkungan ilmiah atau
dikarenakan kecenderungan taklid. Saya sekarang tidak sedang dalam posisi
mencari sumber dari isu-isu tersebut, melainkan berada dalam posisi menampakkan
dan menyingkapnya terlebih dahulu.
- Masalah pertama dan yang
paling berbahaya: Terpengaruhnya banyak pemuda oleh tren ateisme yang
mereka serap melalui sebagian aliran asing. Aliran-aliran ini mendapatkan
dukungan dari pihak-pihak tertentu yang memiliki target untuk memperkuat
tren tersebut, bukan karena cinta kepada pemuda ini atau umatnya,
melainkan karena cinta untuk menanam benih keburukan, kebingungan, dan
pergolakan yang menghancurkan di dalam hati para pemuda yang masih belia,
segar, lagi dinamis ini. Ada dua hal yang membuka jalan bagi pemikiran
semacam ini:
- Hal pertama: Apa
yang mereka lihat pada masyarakat muslim berupa praktik-praktik yang
salah, kelemahan, kerapuhan, kebodohan, dan kehinaan.
- Hal kedua:
Sedikitnya da'i muslim yang cerdas yang memenuhi medan dakwah Islam;
mereka yang memiliki pemahaman dan kemampuan untuk mengatasi berbagai
urusan dengan pemikiran Islam yang unggul dan kebudayaan Islam yang
mencerahkan, serta memiliki kemampuan untuk mengembalikan praktik-praktik
yang salah di dalam masyarakat Islam kepada sumbernya yang benar. Sumber
kesalahan itu adakalanya berupa sikap mengikuti kebudayaan asing dan
meninggalkan ajaran Islam yang agung, atau runtuhnya mental yang
disebabkan oleh keraguan akibat terpengaruh oleh propaganda batil ini.
- Masalah kedua: Hubungan
antara sains dengan agama, atau dengan akhlak, teladan, dan ajaran Islam.
Ini adalah isu yang diadopsi dari masyarakat lain, yang diembuskan oleh
sebagian pemikiran yang menggambarkan bahwa sains telah menciptakan apa
yang telah diciptakannya di alam semesta dan membawa manusia melompat
secara material dengan lompatan yang dahsyat. Atas dasar itu, sains
diklaim berhak menjadi alternatif pengganti agama dan pengganti konsep
ketuhanan. Mereka mengklaim bahwa ketundukan manusia di zaman ini pada
konsep beragama telah menyelisihi semangat zaman, di mana manusia telah
menaklukkan materi dan melahirkan hal-hal yang menakjubkan darinya.
Masalah
ini membuat manusia atau pemuda muslim hidup dalam pergolakan antara akal dan
sanubarinya. Di hadapan apa yang dikatakan oleh sains ia menemukan suatu sikap,
dan di hadapan apa yang dikatakan oleh agama ia menemukan sikap yang bertolak
belakang. Dari sinilah lahir pergolakan dan menguatlah kecemasan yang
menghancurkan manusia, kecuali mereka yang dirahmati oleh Tuhanmu.
Di
sini, orang yang objektif akan bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah
Al-Qur'an, hadis, atau atsar-atsar Islam pernah melarang sains atau meremehkan
kedudukannya? Justru sebaliknya, Islam mendorong untuk menuntut ilmu dan
mengarahkan pandangan kepadanya, serta memerintahkan untuk memperhatikan alam
semesta dan merenungkan ayat-ayat Allah serta mengambil manfaat darinya.
Bahkan, unsur-unsur yang ada di alam semesta, hukum-hukum, dan hubungan yang
mengatur unsur-unsur serta fenomena tersebut, juga seluruh eksistensi ini
termasuk manusia itu sendiri, merupakan dalil atas kekuasaan Allah, wujud-Nya,
kebaikan-Nya, dan kemurahan-Nya. Sains pada hakikatnya tidak menciptakan
sesuatu pun, melainkan hanya menyingkap hukum-hukum tersebut atas taufik dari
Allah dan dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya Subhanahu. Sungguh
benar firman Allah:
"Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk
dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu
adalah benar..." (QS. Fussilat: 53).
"...Kamu
tidak diberi ilmu pengetahuan, kecuali sedikit.” (QS. Al-Isra': 85).
Maka
bagaimana mungkin sebab-sebab hidayah itu sendiri menjadi sebab-sebab
penyimpangan dan kesesatan? Dan apakah ada salah seorang dari para ilmuwan
tersebut yang mengklaim bahwa ia yang menciptakan unsur-unsur dan materi, atau
mengatakan bahwa ia mampu mendatangkan sesuatu yang berada di luar kerajaan
Allah Subhanahu?
- Masalah ketiga: Isu
kebebasan manusia dan batas-batasnya, serta isu nilai-nilai. Isu ini juga
dimanfaatkan di negara-negara berkembang untuk menghancurkan
kepribadiannya, memukul dorongan-dorongan kebaikan di dalamnya, serta
mengosongkannya dari kandungan positif dan modal efektifnya hingga ia
kehilangan segala sesuatu, sehingga tidak mampu bangkit atau sekadar
memikirkannya. Kita mengetahui bahwa kebebasan bukanlah hal yang mutlak,
melainkan ada hukum dan aturan yang mengaturnya, yaitu kebebasan orang lain
dan perasaan mereka, serta diatur oleh maslahat individu dan kolektif.
Sebagai
contoh, bukanlah bagian dari kebebasan jika seseorang duduk dan buang hajat di
jalan umum dan di pinggir jalan, karena kebebasan ini bertentangan dengan orang
lain dan bertentangan dengan adab umum. Bukan pula bagian dari kebebasan jika
seseorang mengendarai mobilnya melawan arus lalu lintas kendaraan, karena hal
itu membahayakan orang lain. Wanita berhak memakai pakaian yang mewah dan
perhiasan yang mahal, namun hal itu wajib dilakukan dalam bingkai kesopanan
yang menjaga kemanusiaannya dan menjaga adab umum dari keruntuhan. Ini berarti
bahwa wanita harus membedakan antara berhias biasa dengan tabarruj, dan
pemuda harus membedakan antara kebebasan dengan anarki. Sungguh benar firman
Allah:
"...Allah
tidak menghendaki untuk menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia
menghendaki untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar
kamu bersyukur." (QS. Al-Ma'idah: 6).
3.
Problematika Nasional (Umat)
Pemuda
selalu menatap tujuan-tujuan besar dan teladan yang luhur secara tabiatnya. Ia
menyukai tantangan, medan kepahlawanan, dan sikap-sikap kesatria. Ia ingin
menang bukan kalah, ingin menaklukkan bukan ditaklukkan, serta ingin tinggi
bukan diinjak-injak dengan kaki. Oleh karena itu, pemuda di setiap umat, baik
dahulu maupun sekarang, merupakan tiang kebangkitannya dan rahasia kekuatannya,
serta menjadi pembawa panji dalam setiap pemikiran. Sungguh benar firman Allah:
"...Sesungguhnya
mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami
menambahkan petunjuk kepada mereka." (QS. Al-Kahf: 13).
Oleh
karena itu, timbangan-timbangan di sebagian umat terkadang kacau sehingga umat
tersebut menjadi lemah, rapuh, kalah, terhina, hak-haknya dirampas, dan
dizalimi. Kondisi ini menjadi bencana bagi pemuda tersebut dan bagi akal-akal
muda yang dinamis ini.
Maka
bergejolaklah di dalam pemikiran dan imajinasinya perasaan yang meluap-luap
menentang sistem politik, sosial, dan moral yang ia duga menjadi sebab
kegagalan harapan dan cita-citanya; terutama jika pemuda ini terhubung dengan
masa lalu yang luas, pemikiran yang dinamis, warisan kepahlawanan, dan
peradaban yang luhur.
4.
Problematika Kebebasan Politik
Hal
ini terangkum dalam bentuk penindasan dan pengekangan yang dipaksakan terhadap
pemikiran-pemikiran perbaikan, atau terhadap kritik atas kondisi yang rusak,
penyingkapan kebohongan yang palsu, pembongkaran penipuan politik dan
pemikiran, pemakaian baju kebatilan pada kebenaran dan baju kebenaran pada
kebatilan, serta upaya membebaskan diri dari perbudakan penuh eksploitasi yang
dibenci yang mengisap darah dan melenyapkan harga diri.
5.
Problematika Agen Asing (Antek)
Yaitu
masalah loyalitas kepada pihak asing, baik dari Timur maupun Barat. Sungguh
benar firman Allah:
"Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan
Nasrani sebagai penolong-penolong(mu). Sebagian mereka adalah penolong bagi
sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai
penolong, sesungguhnya dia termasuk bagian dari mereka..." (QS.
Al-Ma'idah: 51).
Masalah
ini menjadi penyebab terputusnya tali silaturahmi, tumpahnya darah
persaudaraan, dan tercabiknya ikatan cinta kepada keluarga dan karib kerabat.
Al-Haq Subhanahu telah mengingatkan tentang loyalitas yang benar melalui
firman-Nya:
"Sesungguhnya
penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang
menegakkan salat, menunaikan zakat, dan rukuk. Siapa yang menjadikan Allah,
Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, sesungguhnya
pengikut (agama) Allah itulah yang menang." (QS. Al-Ma'idah: 55–56).
Sikap
Da'i terhadap Masalah Ini:
Inilah
masalah-masalah terpenting yang dihadapi oleh para pemuda. Maka wajib bagi da'i
muslim untuk mempertimbangkannya dan mengobati isu-isu ini dengan pengobatan
Islam yang hakiki. Sesuatu yang terbaik yang dapat memberikan solusi bagi
isu-isu ini adalah Islam, yang telah membentuk individu muslim dengan
pembentukan yang komprehensif, yang memperhatikan seluruh aspek kehidupan:
jasmani, pemikiran, dan dimensi spiritual, serta membangun kehidupan manusia di
atas fitrah manusiawi dan di atas hukum fitrah ini yang telah Allah gariskan
kepada manusia.
Oleh
karena itu, ilmu hukum sekarang mengakui setelah penelitian yang panjang, bahwa
manusia tidak memiliki kemampuan untuk mencari sendiri hukum kehidupan. Batasan
biologis dan akal kita menghalangi jalan kita secara pasti. Hal itu telah
diakui oleh pakar hukum, George Whitecross Paton, di mana ia mengatakan bahwa
satu-satunya jalan untuk mencapai standar hukum yang disepakati adalah dengan
mengakui wahyu samawi sebagai hukum.
Lord
Acton (1834–1902) juga berkata—dan ia benar dalam apa yang dikatakannya: "Kekuasaan
itu cenderung korup, dan kekuasaan mutlak pasti korup secara mutlak."
Sesungguhnya pelajaran dan pengalaman sejarah manusia seluruhnya menyaksikan
bahwa manusia berbuat zalim dan rusak ketika mendapatkan kekuasaan mutlak.
Sifat dasar manusia menegaskan bahwa manusia dapat menjalani kehidupan yang
benar di bawah pengawasan otoritas yang lebih tinggi darinya, sementara
kekuasaan mutlak pasti akan merusaknya ^[1].
Hakikat-hakikat
ini dan yang lainnya memberikan gambaran kepada da'i muslim tentang sejauh mana
akal manusia kembali—dalam satu bentuk atau bentuk lain—kepada ajaran Islam.
Maka, wajib baginya untuk menghilangkan penutup dari akal pikiran yang beriman,
dan menghilangkan darinya momok propaganda yang menyesatkan yang ingin
memalingkan pemuda dari manhajnya yang benar, pemikirannya yang asli, dan
akidahnya yang luhur.
Subbab
Kedua: Peran Da'i dan Karakteristik Dasarnya
1.
Menjadi Teladan yang Baik (Uswah Hasanah)
Peran
pertama dari peran para da'i dalam bidang ini adalah keteladanan yang baik.
Tindakan yang baik dan komitmen pada perilaku yang mulia adalah hal pertama
yang menyeru pada penghormatan dan keyakinan. Ini dengan sendirinya merupakan
dakwah menuju risalah. Rasulullah ﷺ pun demikian dalam dakwahnya. Sayyidah Aisyah radiyallahu
'anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, maka ia menjawab: "Akhlak beliau
adalah Al-Qur'an." Beliau juga bersabda: "Tuhanku telah
mendidikku, maka Dia memperbaiki pendidikanku." Allah Ta'ala
berfirman:
"Sesungguhnya
engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4).
Da'i
juga harus menjadi teladan dalam hal-hal yang menarik perhatian para pemuda:
sebagai seorang yang pemberani, ksatria, saleh, menolak kerusakan, dicintai
oleh semua orang, atau menghimpun sifat-sifat yang memaksa semua orang untuk
menghormatinya. Sungguh benar orang yang menggubah syair tentang Rasulullah ﷺ:
Nisbatkanlah kepada jasadnya kemuliaan apa saja yang engkau
kehendaki...
Dan nisbatkanlah kepada kedudukannya keagungan apa saja
yang engkau kehendaki...
Karena sesungguhnya keutamaan Rasulullah tidak memiliki
batas...
Sehingga tidak ada lisan pembicara yang mampu
mengekspresikannya dengan mulut...
Maka batas akhir ilmu tentang beliau adalah bahwa beliau
seorang manusia...
Dan
bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah semuanya...
Barang
siapa yang tabiatnya demikian, maka sudah menjadi hal yang aksiomatik jika hati
akan tertarik kepadanya, jiwa akan meneladaninya, dan manusia akan menemukan
pada dirinya keteladanan yang sempurna serta teladan luhur dalam segala hal
yang berkaitan dengan harapan dan cita-cita mereka. Manusia hari ini telah
bosan dengan kata-kata manis dan ucapan yang dihias, namun mereka kehilangan
tindakan yang baik dan perilaku yang lurus. Oleh karena itu, sirnalah
kepercayaan, sirna pula cinta dan keikhlasan.
Di
antara hal aneh yang diriwayatkan dalam hal ini adalah bahwa seorang penanggung
jawab di Perhimpunan Perlindungan Hewan di Paris pernah ditanya: "Mengapa
orang-orang Prancis memperlakukan anjing-anjing mereka seperti mereka
memperlakukan diri mereka sendiri?" Maka ia menjawab: "Karena
mereka ingin mencintai, namun mereka tidak menemukan di antara manusia orang
yang bisa mereka cintai."
Maka
hendaklah da'i berupaya keras untuk menjadi teladan yang baik, karena dengan
demikian ia akan dicintai, sebab manusia hari ini sedang mencari orang yang
dapat mereka cintai.
2.
Keunggulan Ilmiah (Al-Ibhar al-Ilmi)
Manusia—terutama
para pemuda—akan tertarik perhatiannya oleh keluhuran, kemampuan, dan
keunggulan. Da'i di medan universitas tidak memiliki sarana untuk itu melainkan
keunggulan ilmiah, keistimewaan dalam bidang spesifikasinya, serta kesuksesan
pribadi. Kesuksesan pribadi itu akan menyeru pada kesuksesan prinsip dan
keselamatan manhaj, serta menarik perhatian pada pemikiran pemiliknya,
kemampuannya, tekadnya, dan perjuangannya. Banyak dari orang-orang yang
berprestasi itu, hati dan pandangan berputar di sekeliling mereka, telinga dan
pemahaman menyimak mereka, diadakan perayaan dan penghargaan untuk mereka,
posisi serta jabatan menanti mereka, dan orang-orang membicarakan mereka. Di
atas semua yang telah disebutkan, adanya penghormatan dari para pengarah dan
dosen kepada mereka serta upaya untuk berbangga dengan mereka, sebagaimana hal
itu juga menenangkan keluarga dan orang tua atas pemuda mereka dan atas masa
depan mereka, sehingga keluarga tidak menjadi beban atas mereka melainkan
pendukung bagi mereka.
Demikianlah
para pendahulu mereka sebelumnya, menjadi mercusuar di jalan kemajuan ilmiah,
menjadi bintang-bintang di langit keunggulan pemikiran, dan menjadi pahlawan di
medan jihad peperangan.
Alangkah
indahnya ucapan sebagian da'i: "Kita adalah umat Islam... kita tidak
memasuki sejarah dengan perantaraan Abu Jahal, Abu Lahab, atau Ubay bin
Khalaf... melainkan kita memasukinya dengan perantaraan Rasul Arabi
shalawatullah wa salamuhu 'alaihi, Abu Bakar, dan Umar. Kita tidak membuka
penaklukan dengan Perang Basus, Perang Dahis, dan Ghabra', melainkan kita
membukanya dengan Perang Badar, Qadisiyah, dan Yarmuk... Kita tidak memimpin
dunia dengan Mu'allaqat yang tujuh, melainkan kita memimpinnya dengan Al-Qur'an
yang mulia... Kita tidak membawa kepada manusia risalah Latta dan Uzza,
melainkan kita membawa kepada mereka risalah Islam dan prinsip-prinsip
Al-Qur'an."
Maka
kaum muslimin dahulu menjadi pusat keunggulan dalam segala hal: dalam
pemikiran, akal, pengaturan, kebudayaan, ajaran, teladan, dan kepahlawanan.
3.
Sabar dan Meneguhkan Kesabaran (Ash-Shabr wal Mushabarah)
Sesungguhnya
sabar dan meneguhkan kesabaran bagi da'i di universitas memiliki karakteristik
dan standarnya yang khusus. Sebagai contoh:
- Da'i bersabar atas perilaku
pemuda yang terburu-buru dan menggebu-gebu, yang terkadang melakukan
tindakan-tindakan yang menyelisihi konsep dakwah, kebiasaan Islam, atau
orientasi umat muslim. Ia tidak menghadapinya dengan kekerasan atau
kekejaman, melainkan menghadapinya dengan argumen, nasihat yang baik (mau'izhah
hasanah), penjelasan, dan ucapan yang lemah lembut.
"...Maka,
berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lemah lembut,
mudah-mudahan dia sadar atau takut!” (QS. Thaha: 44).
Ia
menghadapinya dengan tambahan penjelasan dan kejelasan bagi target-target
dakwah Islam, keindahan ajaran Islam, serta kegunaannya bagi umat Islam. Ia
menghadapinya dengan semakin mendekatkan diri kepadanya, peduli pada
maslahatnya, mengunjunginya, dan menghilangkan kerenggangan antara da'i dengan
dirinya. Sebab hati itu jika telah mencintai, ia akan mendengar dan tunduk;
namun jika telah membenci, ia akan membentur, menjadi tuli, menjauh, dan
memberontak. Ini tidak diragukan lagi membutuhkan kesabaran yang panjang dan
besar dari da'i. Hal itu tidak akan tersedia kecuali pada jiwa-jiwa yang besar,
mereka yang melebur dalam ketaatan kepada Allah dan melupakan bagian hawa nafsu
serta syahwat dalam tubuh dan amal mereka.
- Bersabar atas sistem
universitas yang boleh jadi di sebagian negeri Islam mengarah pada apa
yang sedikit atau banyak membentur sebagian konsep Islam. Bersabar untuk
melakukan kerja yang terorganisasi lagi matang, bersabar atas upayanya
untuk mengubah sistem tersebut, menjelaskan cacat dan kelemahannya, serta
menyajikan alternatif yang saleh lagi meyakinkan. Bersabar untuk
menghormati para dosen apa pun orientasi dan kecenderungan mereka, karena
menghormati manusia adalah wajib. Adapun mengubah pemikirannya atau
meyakinkannya dengan hal yang sebaliknya adalah hal lain yang memiliki
medan dan rencananya sendiri. Begitu pula tindakannya yang menyelisihi
ajaran Islam adalah hal lain yang memiliki sanksinya tersendiri dari pihak
yang bertanggung jawab atasnya atau dari masyarakat. Da'i bukanlah seorang
hakim, penguasa, atau polisi. Kewajiban da'i jika melihat pelanggaran
tidak lain adalah mengingatkan, mewaspadakan, dan mengangkat urusan
tersebut kepada pihak yang berwenang. Jika usahanya disambut baik maka itu
adalah sebuah nikmat, namun jika tidak disambut baik, maka kerjanya di
dalam opini publik dan lingkungan mahasiswa serta penyebaran risalah Islam
olehnya sudah cukup untuk mengubah hal tersebut, insya Allah Ta'ala.
- Sabar atas kurikulum yang
boleh jadi menyelisihi atau membentur pemikiran Islam di sebagian fakultas
di sebagian negara atau universitas Islam, jika hal itu memang ada. Saya
tidak mengira bahwa hal itu ada di sebagian negara Islam, insya Allah.
Namun jika memang ditemukan, maka hendaklah perubahan itu dilakukan dengan
mengingatkan adanya pelanggaran-pelanggaran ini. Boleh jadi itu bukan
pelanggaran, atau boleh jadi itu pelanggaran dari sudut pandangnya saja,
atau boleh jadi pihak tersebut memiliki niat yang baik namun tidak
mengetahui hukum Islam dalam masalah tersebut. Dengan asumsi bahwa hal itu
memang ada dan pihak tersebut bersikeras atasnya, maka hendaklah perubahan
dilakukan dengan mengingatkan. Jika hal itu tidak membuahkan hasil, maka
dengan melipatgandakan kerja, penjelasan, menampakkan alternatif,
memenangkan lingkungan mahasiswa, serta mengarahkan opini publik mahasiswa
untuk bersikap tegas atas hal tersebut, menjaganya, dan tidak
meremehkannya. Sebab hal itu setelahnya akan mengantarkan pada perubahan,
insya Allah Ta'ala. Sabar atas banyak hal dan berinteraksi dengannya
menggunakan akal, pemikiran, dan tindakan yang baik. Sebagai contoh,
bersabar atas syubhat-syubhat [kerancuan pemikiran] yang diembuskan di
sekitar dakwah dan para da'i, serta berinteraksi dengannya sesuai dengan
apa yang telah kita isyaratkan sebelumnya, dan hal-hal lain yang terjadi
di lingkungan mahasiswa.
4.
Aktivitas di Berbagai Bidang
Yaitu
secara sosial, ilmiah, dan hiburan; karena mahasiswa yang menjadi da'i adalah
manusia yang bergerak, yang mengelola kehidupan, menggerakkannya, memanfaatkan
potensi, menumbuhkannya, dan mengambil manfaat darinya. Selain itu, pemanfaatan
potensi ini untuk mengokohkan hubungan antar sesama mahasiswa dan memenangkan
kepercayaan mereka merupakan urusan yang penting lagi dituntut. Demikian pula
menampakkan kebiasaan Islam dan uruf [tradisi] akhlak merupakan target penting
dari target-target yang baik. Sebaiknya hal itu dilakukan secara bertahap,
tidak menyudutkan, serta melalui perantaraan keteladanan yang baik dari da'i,
rasa cinta, dan saling memahami.
5.
Mempelajari Kondisi Dunia Islam dan Menyibukkan Diri Dengannya
Di
mana mahasiswa universitas mutlak harus merasakan bahwa di atas pundaknya ada
beban tanggung jawab yang harus ia persiapkan untuk memikul dan
mempertahankannya. Sebagaimana ia juga wajib merasakan apa yang dirasakan oleh
saudara-saudara muslimnya di timur bumi dan di baratnya. Kaum muslimin itu
laksana tubuh yang satu; jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka
seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut berjaga tidak tidur dan merasakan
demam. Nabi ﷺ
bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ
فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا
اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
"Perumpamaan
orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling
mengasihi adalah laksana satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh mengeluh
sakit, maka seluruh tubuh lainnya akan ikut berjaga tidak tidur dan merasakan
demam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah
Ta'ala berfirman:
"Orang-orang
mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah
dari yang mungkar..." (QS. At-Taubah: 71).
Energi
manusia itu akan menyertai fokus perhatiannya dan dukungannya terhadap apa yang
bergejolak di dalam pemikiran dan lingkungannya. Sebagaimana yang mereka
katakan: "Dirimu itu jika tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, ia
akan menyibukkanmu dengan kebatilan." Oleh karena itu, sebagian
serigala berwujud manusia mencoba menyibukkan sebagian bangsa dengan isu-isu
yang di dalamnya mereka tidak memiliki kepentingan sama sekali, guna mengisap
potensi mereka dan mengalihkan perjuangan mereka demi kemaslahatan serigala
tersebut. Ini merupakan jenis perbudakan dan sikap membebek yang berbahaya,
yang wajib diwaspadai oleh umat muslim.
Sebagaimana
perasaan kaum muslimin di timur bumi juga merepresentasikan persatuan dan
kekuatan mereka yang mendatangkan manfaat bagi semuanya, serta menjadi salah
satu unsur kekuatan dan pasokan bagi kemuliaan umat di tengah perbedaan negeri
dan wilayah mereka.
6.
Memunculkan Kepemimpinan Islam (Kaderisasi)
Tidak
diragukan lagi bahwa setiap umat ingin mengambil manfaat dari anak-anaknya
dalam membangun pilar kebangkitannya. Oleh karena itu, umat bekerja untuk
mendidik pemudanya, mengader mereka, dan mempersenjatai mereka dengan ilmu,
iman, serta tekad. Demi tujuan inilah didirikan universitas-universitas dan
berbagai lembaga ilmiah yang beraneka ragam. Orang yang paling baik untuk
melakukan tugas ini adalah mereka yang memiliki tangan yang bersih, rekam jejak
yang suci, akhlak yang lurus, tekad yang menyala-nyala, serta cinta yang
meluap-luap kepada tanah air mereka yang dinaungi oleh agama Allah, serta
pengagungan kepada umat mereka yang pada hakikatnya merupakan pasokan yang
melimpah bagi tentara kebenaran dan sumber yang jernih bagi peradaban iman.
Kepemimpinan
ini tidak akan muncul melainkan melalui kerja keras yang sehat lagi
terorganisasi, dan melalui ladang-ladang subur yang mengeluarkan buah yang
matang yang memperkaya kerja intelektual, sosial, dan politik bagi umat muslim.
Para da'i muslim wajib berada pada level kemampuan memikul beban tanggung jawab
tersebut, sehingga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dari tangan mereka dan
menjauhkannya dari hadapan mereka. Sebagaimana cahaya ajaran Islam juga wajib
tampak dari sela-sela perbuatan, tindakan, dan sirah kehidupan mereka, sehingga
mereka menjadi pembela bagi ajaran tersebut, bukan pencorengnya.
Subbab
Ketiga: Pemikiran-Pemikiran yang Wajib Diperhatikan
Para
pemimpin Islam wajib menaruh perhatian pada kondisi-kondisi berikut, atau
semestinya menetapkan dan menegaskan konsep-konsep berikut:
1.
Persatuan Umat Islam (Wihdatul Ummah)
Di
mana urusan yang semestinya tidak luput dari ingatan adalah bahwa umat Islam
wajib untuk tidak dipisahkan oleh batas-batas buatan, atau tercabik oleh
kebudayaan asing, atau oleh permusuhan yang dibenci.
2.
Kesatuan Pemikiran (Wihdatul Fikr)
Karakteristik
Islam wajib tetap hidup di dalam jiwa anak-anak umat Islam agar ia tetap
memiliki keistimewaan dan kemandiriannya. Sejarah telah membuktikan bahwa
setiap bangsa yang kehilangan karakteristiknya dan melebur dalam cawan bangsa
lain, maka penyeru kematian akan mengumumkan kematiannya dan mendoakan rahmat
atasnya di antara orang-orang mati; ia berubah menjadi puing setelah tadinya
berupa kenyataan, dan menjadi kenangan setelah tadinya berupa hakikat.
Oleh
karena itu, agar umat ini bertahan lama, ia wajib mewariskan kepada
anak-anaknya pemikiran, warisan peradaban, jiwa, dan akhlaknya. Hal itu
dilakukan melalui sistem pendidikan dan pengajaran yang membawa di dalam
lipatannya kebudayaan tersebut. Hal itu juga dilakukan melalui kesadaran para
mahasiswa dan sirah kehidupan mereka bahwa mereka adalah muslim yang diseru
untuk menjalani kehidupan Islam di atas bumi mereka, kemudian mewariskan
kehidupan ini kepada generasi setelah mereka. Hal itu semestinya dilakukan
melalui metode-metode berikut:
a. Keharusan fokus pada prinsip-prinsip Islam dan
menjaganya.
b. Keharusan berpegang teguh pada akhlak Islam dan
peradaban Islam.
c. Keharusan menyingkap prinsip-prinsip destruktif dan
mewaspadakan bahayanya.
d. Keharusan bekerja dengan setiap upaya yang baik
untuk mencegah pornografi/kemaksiatan dan dominasi kenistaan.
e. Keharusan menemukan solusi-solusi Islam yang jelas
bagi setiap masalah yang menghadang manusia, serta menjelaskan keindahan
prinsip-prinsip tersebut disertai komparasi dengan yang lainnya.
f. Penjelasan tentang bahaya para dosen yang
mencurigakan, mereka yang telah menjual diri mereka kepada kebudayaan asing dan
dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan pemuda umat dan
memalingkan mereka dari jalan yang lurus.
g. Keharusan fokus untuk menutupi kekurangan kurikulum
pendidikan dan menghubungkannya dengan baik pada peradaban Islam, akhlaknya,
warisannya, dan akidahnya.
h. Keharusan menjaga pendidikan olahraga, kepanduan
(pramuka), dan militer; karena umat Islam adalah umat yang berjihad, pembela
kebenaran, dan modalnya adalah para pemudanya.
Melalui
hal ini dan yang lainnya dari apa yang menjaga keselamatan umat, keselamatan
jasadnya, pemikirannya, dan warisannya, maka umat akan bangkit dan pemuda
universitas akan menunaikan perannya dalam kehidupan.
Adapun
jika pandangan-pandangan Islam dan dampak-dampaknya yang baik itu sirna, maka
sudah menjadi ketetapan bahwa bagian generasi mendatang dari hal itu akan
habis. Karena para pemudi dan pemuda yang lulus dari lembaga-lembaga pendidikan
kita tanpa senjata ini, tidak dapat kita harapkan untuk menjadi generasi yang
akan dididik di dalam pangkuan mereka dengan berhiaskan pandangan-pandangan
Islam dan dampak akhlak yang langka ini. Sebab, pandangan dan dampak ini tidak
akan tercetak padanya kecuali oleh orang yang menyaksikan ibunya atau ayahnya
menjalaninya; orang yang menyaksikan ibunya salat atau ayahnya salat dan
mendengar keduanya membaca Al-Qur'an, serta mendengar dari keduanya zikir
kepada Allah dan Rasul-Nya.
Adapun
mereka yang tidak mengalir di atas lisan mereka melainkan nama-nama aktris
bioskop, penari latar yang memesona, komentar terhadap film-film murahan, dan
pembicaraan tentang tempat hiburan serta permainan yang menyimpang; sementara
jarang sekali salah seorang dari mereka membasahi lisannya dengan zikir kepada
Allah dan Rasul-Nya, mereka ini tidak lain akan menjadi orang-orang yang
merugi. Dan apakah orang-orang yang tumbuh besar di dalam pangkuan mereka,
dapat engkau harapkan untuk berjuang atas nama Allah dan Rasul-Nya, siap mati
demi membela keduanya, serta berada pada level tanggung jawab?
Alangkah
pantasnya kita dalam medan ini untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh
Al-Maududi Rahimahullah dalam hal itu, di mana ia mengatakan:
"Dan
kita demi kebenaran, jika kita ingin menyiapkan pemuda kita sekiranya ia
memandang murah jiwa dan harta yang berharga di jalan Islam, menghadapi
kematian, dan menyambutnya dalam membela negara-negara Islam dan membela sistem
kehidupan Islam; maka tidak ada jalan elak bagi kita selain memikirkan
pendidikan Islam mereka pada level tertinggi—di samping pelatihan militer
mereka yang tinggi—yaitu pendidikan yang memperdalam akar iman di dalam hati
mereka, serta menumbuhkan di dalam diri mereka akidah-akidah Islam dan akhlak
mulia yang melayakkan mereka untuk maju melakukan pengorbanan terbesar yang
bisa digambarkan oleh seorang muslim di jalan Allah. Dan ini adalah
satu-satunya perisai yang mungkin melindungi kita dari musuh kita yang
kekuatannya berlipat-lipat ganda lebih besar dari kita, dan ia adalah benteng
kokoh yang menjaga kita dan memungkinkan kita untuk hidup mulia di dunia yang
sarat dengan musuh-musuh kita yang merencanakan untuk membinasakan kita dan
menghapus kita dari eksistensi, jangan sampai Allah menetapkannya." ^[2]
Catatan
Kaki (Footnote): ^[1] Asy-Syari'ah al-Islamiyyah wa Tahaddiyat al-Ashr,
Wahiduddin Khan, hlm. 23. ^[2] Daur ath-Thalabah fi Bina' al-Mustaqbal,
Abu Al-A'la Al-Maududi, hlm. 28.
PASAL
KELIMA: Media Massa dan Dakwah
Pengantar
Dakwah—sebagaimana
telah kita ketahui—tujuan akhirnya adalah menyampaikan risalah, sebagai
pembenaran atas firman Allah Ta'ala:
"Wahai
Rasul (Muhammad), sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika
tidak kamu lakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak
menyampaikan risalah-Nya..." (QS. Al-Ma'idah: 67).
Sejak
dahulu, tiang penopang utama dalam penyampaian dakwah adalah kata-kata, baik
yang diucapkan maupun yang dituliskan:
"Jangan
engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak
cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya Kami yang bermaksud mengumpulkannya
(di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya,
ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya Kami yang bermaksud
menjelaskannya." (QS. Al-Qiyamah: 16–19).
"Kami
telah menuliskan untuknya (Musa) pada luh-luh (tablet batu) segala sesuatu
sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala sesuatu..." (QS. Al-A'raf:
145).
Hingga
hari ini, kata-kata tetap menjadi fondasi utama dalam penyampaian dakwah, di
samping adanya perkembangan dalam metode dan penyajiannya. Kata-kata, baik yang
diucapkan, ditulis, divisualisasikan, dipahat, maupun dilantunkan, merupakan
poros utama dan batu penjuru dalam dakwah serta penyampaian risalah, sekaligus
menjadi sarananya. Demikian pula, kata-kata menjadi sarana media massa pada
hari ini.
Manusia
di atas hamparan bumi ini adalah target dari dakwah, sekaligus menjadi target
dari media massa. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa media massa dan
dakwah berserikat dalam sarana dan target, serta dalam instrumen dan tujuan
akhir.
Subbab
Pertama: Hubungan Antara Media Massa dan Dakwah
Yang
kami maksud dengan hubungan antara media massa dan dakwah adalah hubungan
antara media massa hari ini sebagai sebuah ilmu dan seni, dengan dakwah Islam
hari ini sebagai aktivitas amar makruf nahi mungkar, nasihat, serta penyampaian
risalah Islam. Sudah sepatutnya kita mengakui secara jujur bahwa ilmu-ilmu dan
seni media massa pada hari ini telah mencapai tingkat yang sangat agung dalam
hal studi, analisis, dan diagnosis terhadap perasaan manusia, kebiasaan,
tradisi, pemikiran, kecenderungan mereka, serta berbagai instrumen pengaruh
yang ada di sekitar mereka. Media massa juga telah mencapai tingkat kemajuan
yang besar dalam mempersiapkan sarana-sarana informasi baru yang terus
membayangi manusia modern di mana pun ia berada, kapan pun, dan dalam kondisi
apa pun, hingga media tersebut seolah hidup bersamanya saat terjaga maupun
tidur, saat menetap maupun bepergian. Manusia menghirupnya sebagaimana
menghirup udara dan mengonsumsinya sebagaimana meminum air. Kondisi ini laksana
apa yang dikatakan oleh Nabighah Az-Zubyani dalam syairnya:
Sesungguhnya
engkau laksana malam yang pasti mengejarku...
Meskipun
aku mengira bahwa jarak yang jauh darimu itu luas...
Para
pakar media massa juga telah berhasil mempelajari dampak dari sarana-sarana ini
terhadap manusia dari berbagai sudut pandang yang bermacam-macam dan dari sudut
pemikiran yang berbeda. Sebagai contoh, terdapat studi tentang perilaku
personal individu. Ada pula studi tentang keluarga sebagai kelompok kecil yang
memiliki kecenderungan saling berdekatan, yang menerima informasi melalui
berbagai sarana media massa, sehingga informasi tersebut memengaruhi perilaku
anggota keluarga tersebut, baik secara negatif maupun positif.
Kemudian,
studi tersebut meluas ke sektor-sektor masyarakat, seperti sektor buruh,
mahasiswa, dan pegawai. Studi ini bahkan meluas ke tingkat bangsa secara
keseluruhan untuk mengeluarkan penilaian-penilaian yang bersifat umum atas
mereka. Misalnya, mereka mengatakan bahwa rakyat di negara tertentu adalah
masyarakat yang homogen dan memiliki perilaku yang seragam, atau mereka adalah
masyarakat yang emosional, mudah dipengaruhi, serta dapat dipengaruhi melalui
warna-warna propaganda tertentu dan dengan metode ucapan atau tindakan
tertentu. Mereka juga mengatakan bahwa rakyat di negara anu adalah masyarakat
yang tidak homogen karena keragaman etnis yang membentuknya, oleh karena itu
mereka memiliki latar belakang dan kecenderungan yang bermacam-macam, sehingga
membutuhkan penanganan yang begini dan begitu.
Berbagai
kecenderungan di dunia kontemporer kita telah memanfaatkan hasil studi-studi
ini, seperti tren politik, ekonomi, dan pemikiran.
Namun,
sangat disayangkan, hingga hari ini tren dakwah Islam belum memanfaatkan
studi-studi tersebut. Dakwah Islam sampai saat ini masih terpenjara dalam
kebodohan yang nyata terhadap seluruh studi, sarana, dan ilmu-ilmu media massa
ini.
Dengan
demikian, hubungan antara ilmu-ilmu media massa hari ini dengan dakwah Islam
telah terputus dan terpisah. Bahkan, tidaklah berlebihan jika saya katakan:
sesungguhnya sebagian orang hari ini berjalan di garis yang berlawanan dengan
ilmu-ilmu tersebut. Artinya, mereka mencoba menyampaikan dakwah dengan
metode-metode yang membuat orang lari (munaffir), serta tanpa
mempertimbangkan perasaan, kecenderungan, keadaan, dan latar belakang individu,
kelompok, maupun bangsa. Padahal, warisan Islam (turats) sangat sarat
dan penuh dengan prinsip-prinsip serta pengalaman berharga ini, yang telah dan
masih terus dimanfaatkan hingga hari ini oleh orang-orang non-muslim di timur
bumi dan di baratnya.
Subbab
Kedua: Hal Terpenting yang Wajib Diperhatikan oleh Dakwah Islam di Bidang Media
Massa
1.
Pemilihan Kader Dakwah (Da'i)
Tidak
setiap manusia mampu menjadi orang yang sukses atau berpengaruh di medan
dakwah. Ini bukan berarti bahwa dakwah tidak wajib bagi semua orang, akan
tetapi para da'i yang spesialis wajib memiliki kualifikasi yang tinggi dalam
menghias diri dengan sifat-sifat tertentu; seperti menjadi sosok yang dipercaya
oleh manusia, serta memiliki sifat terhormat, berpengalaman, dan jujur. Orang
yang dipilih untuk tugas ini juga harus memiliki kompetensi seorang da'i berupa
keluwesan bertutur kata (labaqah), kefasihan (fashahah), dan
kecerdasan (fathanah), di samping ia harus menjadi seorang spesialis
yang mengkaji fikrah [gagasan/konsep] dakwahnya serta menguasainya dengan
sangat baik.
2.
Mengkaji Fikrah yang Ingin Disampaikan dan Merencanakannya
Mengkaji
gagasan tersebut secara ilmiah dan analitis, yang disesuaikan dengan opini
publik (ray'ul 'am) yang menjadi target penyampaian, yaitu dengan
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Memilih sarana terbaik untuk berkomunikasi dengan
massa dan menjangkau pendengaran mereka guna menyampaikan dakwah.
b. Fikrah tersebut harus jelas, dikaji secara mendalam,
memiliki dalil pendukung, dan dipersiapkan dengan argumen-argumen ilmiah.
c. Fikrah tersebut harus realistis, mungkin untuk
diterapkan, dan mampu dilaksanakan oleh massa. Jika tidak demikian, maka
gagasan atau perintah tersebut harus disajikan secara bertahap [tadrij] agar
dapat diterapkan atau diambil manfaatnya.
d. Fikrah tersebut harus mengandung sesuatu yang
mendatangkan manfaat bagi manusia dalam kehidupan mereka, dan da'i harus mampu
meyakinkan massa akan kebutuhan mereka terhadap gagasan tersebut. Fikrah
tersebut juga seyogianya membawa karakter kemaslahatan umum, bukan kemaslahatan
pribadi yang murni.
e. Fikrah yang disajikan harus sudah dikaji dan
mendiskusikan pandangan-pandangan yang menentangnya atau mazhab-mazhab yang
menyelisihi pemikirannya, serta da'i harus siap untuk menerapkannya.
f. Fikrah tersebut harus sesuai dengan tuntutan kondisi
[muqtadhal hal], serta berada pada tingkat akal pikiran dan pemahaman manusia.
Jika tidak demikian, maka wajib bagi da'i untuk menyederhanakannya.
g. Gagasan-gagasan ini tidak boleh disampaikan dengan
gaya bahasa yang superior (merasa tinggi), berupa instruksi kaku, atau ancaman
dari pihak penyampai gagasan. Sebaliknya, ia harus mampu menjangkau perasaan,
emosi, dan akal pikiran mereka dengan metode-metode yang diperlukan untuk hal
tersebut.
3.
Sarana Penyampaian dan Komunikasi (Wasa'il al-Ishal wat Tabligh)
a. Komunikasi Lisan Langsung (Al-Musyafahah):
Jika da'i mampu menyampaikan kepada manusia secara lisan langsung, maka hal itu
lebih efektif dalam memberikan pengaruh dan mendatangkan respons. Sebab, dalam
pertemuan langsung terdapat makna-makna dan kesan mendalam yang tidak ada pada
sarana komunikasi lainnya. Oleh karena itu, khotbah, pelajaran, ceramah, dan
diskusi langsung termasuk sarana paling sukses dalam penyampaian dakwah serta
dalam mempercepat respons dari manusia, individu, maupun massa.
b. Sarana Audio-Visual: Seperti televisi, teater, dan
bioskop. Instrumen-instrumen ini wajib dimanfaatkan untuk menjelaskan
prinsip-prinsip dan pemikiran Islam dengan metode modern, seperti melalui
kisah, cerita, dan pementasan teater. Sarana-sarana ini memiliki peran pengarahan
yang sangat krusial karena pengaruh personalnya yang kuat, di samping
penyebarannya yang luas dan kemampuannya masuk ke setiap rumah, perkumpulan,
serta setiap tempat yang memungkinkan sarana ini dibawa ke sana.
c. Sarana Visual Saja: Seperti penggunaan peta dan
foto-foto. Contohnya adalah foto-foto tragedi, bencana, foto dampak kehancuran
dan peperangan, serta foto kaum lemah dan penyandang disabilitas akibat
kezaliman orang-orang yang berbuat zalim dan penghancuran orang-orang yang
melakukan perusakan.
d. Sarana Audio Saja: Seperti siaran radio, alat
perekam, dan kaset rekaman yang berisi khotbah, pelajaran, ceramah, pernyataan,
instruksi, dan pengarahan. Sarana-sarana ini sangat mudah dan praktis, serta
mampu menjungkirbalikkan banyak peta kekuatan di era modern karena pengaruhnya
yang besar serta kemudahannya untuk diakses oleh semua orang di setiap waktu
dan tempat.
4.
Metode Psikologis dan Pemberian Pengaruh
a. Mempelajari selera bangsa-bangsa serta individu, dan
karakteristik kebudayaan mereka yang bersifat khusus.
b. Mempelajari konsep-konsep pemahaman bangsa-bangsa
dan kesiapan khusus mereka.
c. Mempelajari keyakinan bangsa-bangsa, mazhab-mazhab,
agama-agama mereka, serta pengaruh hal tersebut terhadap diri mereka.
d. Mempelajari adat istiadat, tradisi, protokoler, dan
kerinduan dari setiap bangsa atau kelompok masyarakat.
e. Mempelajari cita-cita individu, umat, dan
bangsa-bangsa, serta harapan-harapan mereka yang bersifat khusus maupun umum.
Setelah
seluruh studi ini dilakukan, dakwah kemudian diorganisasikan berdasarkan hasil
studi yang disimpulkan tersebut, lalu disampaikan melalui tiga jenis stimulan
pengaruh yang telah dikenal luas, yaitu:
- Stimulan Sensorik (Al-Mu'atstsirat
al-Hissiyyah): Yaitu stimulan yang menyasar wilayah rasa, seperti
cinta, benci, syahwat, dan insting. Semua ini wajib dilakukan dalam
koridor perkara yang halal dan mubah secara syariat.
- Stimulan Rasional (Al-Mu'atstsirat
al-Aqliyyah): Yaitu stimulan yang merangsang akal dan proses
berpikir; seperti pembenaran, pendustaan, kekaguman, penolakan, dan
kecaman.
- Stimulan Psikologis (Al-Mu'atstsirat
an-Nafsiyyah): Yaitu stimulan yang menyasar wilayah alam bawah
sadar atau nir-sadar (al-la syu'ur), dan menjalankan perannya di
dalam wilayah ketidaksadaran (al-la wa'yu). Dampak dari stimulan
ini tidak akan lama untuk segera muncul ke permukaan pada suatu hari
nanti. Contohnya adalah tindakan da'i yang selalu berbuat baik bahkan
kepada musuh-musuhnya sekalipun. Tindakan tersebut memiliki pengaruh kuat,
meskipun tidak tampak secara instan, namun ia terukir di dalam alam bawah
sadar yang kelak akan diterjemahkan menjadi amal-amal saleh yang mendukung
dakwah dan da'i pelaku kebaikan tersebut. Sungguh benar orang yang
berkata:
Barang
siapa yang berbuat kebaikan, ia tidak akan kehilangan para pembalas
kebaikannya...
Penyair
lain juga berkata:
Kebaikan itu tidak akan lenyap di antara Allah dan
manusia...
Apakah kebaikan itu diingkari oleh orang yang kufur atau
disyukuri oleh orang yang tahu berterima kasih...
Dan di sisi Allah, apa yang diingkari oleh orang yang kufur
tidak akan disia-siakan...
Tangan kebaikan adalah sebuah keuntungan di mana pun ia
berada...
Maka
di sisi orang-orang yang bersyukur, ada balasan yang nyata untuk kebaikan
itu...
Prinsip-Prinsip
Umum yang Wajib Diikuti dan Dimanfaatkan
Rencana
studi dan praktis seorang da'i yang semestinya ia cari metode-metodenya di
berbagai aspek guna merealisasikan tujuannya dalam menyukseskan dakwahnya,
dapat dirangkum dalam poin-poin berikut:
1.
Memahami Psikologi Opini Publik
Wajib
bagi da'i untuk mempelajari psikologi opini publik, karena masyarakat terbentuk
dari rajutan individu-individu yang memiliki kecenderungan, keinginan, dan
kehendak masing-masing.
Da'i
yang sukses adalah orang yang memahami massa dengan pemahaman yang sempurna. Ia
mengetahui jalan-jalan yang dapat mengantarkannya untuk meyakinkan mereka
dengan gagasannya, serta mengetahui cara-cara yang mengikat mereka agar selalu
terhubung dengannya, serta membuat mereka merasakan kehadirannya dan tidak
mampu melepaskan diri darinya. Kata-kata da'i tersebut di kemudian hari bisa
menjadi teladan yang diikuti oleh rakyat atau menjadi slogan-slogan yang
senantiasa dilantunkan. Di antara contoh hal tersebut adalah apa yang diucapkan
oleh sebagian tokoh pembaru di negeri mereka, yang kemudian diambil oleh
masyarakat sebagai slogan mereka. Salah satunya adalah apa yang dikatakan oleh
Imam Muhammad Abduh, yang kemudian dikutip oleh manusia setelahnya:
Beliau
ingin menyadarkan opini publik agar mampu membedakan apa yang menjadi porsi
ketaatan rakyat yang wajib diberikan kepada pemerintah, dan apa yang menjadi
porsi keadilan pemerintah yang berhak didapatkan oleh rakyat. Penguasa adalah
manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar, dan tidak ada yang dapat
menghalanginya dari kesalahan melainkan kewaspadaan opini publik, serta
berdirinya opini publik di hadapan penguasa tersebut jika ia telah melampaui
batasnya, baik dalam ucapan maupun tindakan ^[1].
2.
Faktor Kreativitas dan Pembaruan (Al-Khalq wat Tajdid)
Wajib
bagi da'i untuk menggunakan metode kreativitas dan pembaruan demi meraih
beberapa faktor. Pertama: unsur kejutan ('unshur al-mufajah) yang dapat
memalingkan pandangan dan menarik perhatian. Kedua: menjauhkan diri dari rasa
bosan, lesu, dan sikap apatis. Pembaruan ini mutlak harus dibersamai oleh
kecerdasan da'i agar pembaruan tersebut tidak berubah menjadi bentuk pengubahan
yang buruk (maskh), menjadi bahan tertawaan, atau mendatangkan kecaman,
yang justru akan membawa dampak yang berlawanan dari apa yang diharapkan.
3.
Faktor Keluwesan Jiwa, Humor, dan Jenaka
Faktor-faktor
ini memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap opini publik dan dalam mengikat
massa dengan da'i. Sebuah humor adakalanya bisa menjadi sebab runtuhnya
kepemimpinan, lenyapnya pemikiran, lumpuhnya akal pikiran, dan kegagalan
mazhab-mazhab. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian masyarakat sangat
menyukai humor dan gandrung dengannya. Humor tersebut bisa jadi disajikan dalam
bentuk karikatur atau hal-hal lain yang sejenis.
4.
Faktor Merangsang Harga Diri, Membangkitkan Tekad, serta Menghidupkan dan
Mengobarkan Akidah
Faktor-faktor
ini jika telah terbangun dari suatu umat, niscaya cukup untuk membuat umat
tersebut melesat lebih cepat daripada roket menuju realisasi target-target yang
diinginkan dan dicita-citakan. Sumber mata air bagi da'i muslim dalam hal ini
adalah lautan dan samudra yang tidak akan pernah kering. Ia memiliki ayat-ayat
dan hadis-hadis yang tidak terhitung jumlahnya untuk dijadikan hujah dalam
jalan jihad di jalan Allah dan dalam membangkitkan tekad, yang dengannya ia
mampu membangunkan benda mati sekalipun, terlebih lagi terhadap bangsa-bangsa
muslim atau orang-orang yang berakal.
Kita
menemukan di era modern ini gerakan Zionisme yang mengeksploitasi agama Yahudi,
serta mengubah dan mengganti isi kitab Taurat demi membakar emosi dan tekad
bangsa Zionis menuju suatu gagasan tertentu. Kita juga melihat sebelum mereka,
bangsa-bangsa Salibis yang memerangi kaum muslimin di bawah panji salib dan
menduduki negeri serta tanah air mereka. Tidak ada yang mampu mengeluarkan
mereka dari negeri kaum muslimin melainkan gerakan pembaruan agama yang
dipimpin oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, setelah ia berhasil membangkitkan kembali
harga diri Islam dan menghidupkan akidah rabbaniyah di dalam hati orang-orang
mukmin yang jujur terhadap apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.
5.
Faktor Ketekunan dan Mengisi Ruang Kosong
Da'i
muslim mutlak harus mengisi ruang kosong di media massa dan tidak membiarkan
telinga manusia mendengarkan pihak lain. Bahkan, ia harus menerapkan teori
"gemuruh media" (ad-dawiy al-i'lami) atau peliputan media
secara total (at-taghthiyah al-i'lamiyyah al-kamilah). Caranya adalah
dengan membicarakan gagasan tersebut di setiap tempat, meluncurkan
slogan-slogan yang mudah dihafal, menulis artikel-artikel yang menjelaskan
berbagai sisi dari urusan atau gagasan tersebut, mengadakan seminar, ceramah,
forum-forum orasi, serta menerbitkan buku-buku dan buletin yang memperdalam
gagasan, menerangkan prinsip-prinsip, dan menjelaskan ajaran-ajarannya.
Demikian seterusnya dari berbagai metode hingga gagasan tersebut menancap kuat
dan tetap hidup serta saling berinteraksi.
6.
Metode Kesederhanaan dan Kejelasan
Wajib
bagi da'i untuk belajar bagaimana cara menyampaikan gagasan ke dalam akal
pikiran dalam bentuk yang sederhana, jelas, dan mudah, karena era sekarang
adalah era yang cenderung menyukai corak ini. Slogan-slogan yang dipilih juga
harus mampu menjelaskan hak-hak asasi manusia, mengekspresikan harapan dan
cita-citanya, memberikan titik terang pada problematika hidupnya, serta
memenuhi kerinduan dan keinginannya. Gagasan tersebut harus diformulasikan
dalam prinsip-prinsip yang mudah lagi jelas agar memiliki pengaruh dan daya
sihir yang mampu menggerakkan emosi dan menarik perhatian.
7.
Metode Memanfaatkan Peluang dan Menangkap Momen
Rasulullah
ﷺ dahulu selalu
memanfaatkan momentum pasar-pasar bangsa Arab, demikian pula memanfaatkan
momentum kedatangan para jemaah haji di Makkah untuk menyampaikan dakwahnya dan
menyebarkan risalah Tuhannya.
Sebab,
opini publik akan sangat terpengaruh apabila akal pikirannya sedang terbuka
menuju suatu peluang tertentu atau momen khusus, lalu ia menemukan orang yang
ikut serta bersamanya dalam peluang tersebut atau mengarahkannya di dalam momen
itu.
8.
Metode Menyingkap Kebatilan dan Menjelaskan Bahayanya bagi Manusia dan
Masyarakat
Para
pakar media massa mengatakan bahwa wajib untuk mempublikasikan skandal dan
keburukan pihak lawan secara terus-menerus dan cepat, agar pandangan manusia
beralih kepada bahaya yang sedang mengepung mereka.
Oleh
karena itu, wajib bagi da'i muslim untuk menjelaskan bahaya invasi pemikiran (al-ghazw
al-fikri) terhadap umat, bahaya sikap membebek secara buta terhadap tradisi
dan kebiasaan asing, serta bahaya mazhab-mazhab menyimpang terhadap eksistensi
umat, masa depan, kemuliaan, kemajuan ilmiah dan peradabannya, bahkan terhadap
kesehatan umat itu sendiri. Maka da'i mempublikasikan berbagai statistik
tentang jumlah penderita gangguan jiwa, pelaku penyimpangan seksual,
orang-orang yang menyimpang, para pecandu dan orang-orang yang hancur, serta
mempublikasikan berbagai sarana penghancur yang dipersiapkan oleh para
pengusung mazhab tersebut demi membinasakan kemanusiaan. Ia juga menyingkap
kezaliman bangsa-bangsa tersebut, kelaliman mereka, bantuan mereka kepada orang-orang
zalim dan para penyerang, serta pembunuhan mereka terhadap orang-orang yang
tidak bersalah, hingga orang yang tertipu dan orang yang tertidur menjadi
tersadar.
9.
Metode Cek Ombak (Jas-sun Nabdh)
Yaitu
metode untuk tidak mengejutkan bangsa-bangsa dengan perubahan secara sekaligus.
Al-Qur'an telah banyak menggunakan metode ini dalam mengubah kebiasaan
masyarakat jahiliah, seperti perubahan dalam kebiasaan meminum khamar dan yang
lainnya.
Metode
ini akan melindungi da'i dari bahaya kejutan, situasi yang memalukan, dan
krisis. Metode ini juga membuka jalan yang lapang bagi gagasan-gagasannya serta
menghemat banyak tenaga dan waktu yang sangat berharga.
10.
Metode Diam atau Metode Rahasia (Al-Uslub as-Sirri)
Metode
rahasia ini memberikan manfaat yang besar dalam kondisi penindasan (al-idhthihad)
dan dalam banyak kondisi yang menuntut agar suatu urusan disembunyikan karena
alasan tertentu. Sebab, tidak semua urusan harus berada di wilayah yang terang
benderang.
Sebagaimana
metode diam ini juga bermanfaat untuk tidak menyingkap sebagian hakikat yang
ingin disembunyikan oleh da'i demi kemaslahatan kaum muslimin atau dakwah.
Bangsa-bangsa dan individu lambat laun akan melupakannya setelah beberapa saat.
Metode diam ini bisa jadi sangat bermanfaat dalam banyak keadaan ketika da'i
tidak ingin membuka front pertempuran baru bagi dakwah dan dirinya dari pihak
musuh yang ingin menyibukkan da'i dari dakwahnya dan memalingkannya dari
risalahnya. Metode inilah yang digunakan oleh Al-Qur'an dalam kondisi tertentu,
di antaranya adalah firman Allah Ta'ala:
"Adapun
hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di
bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan
kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam (selamat).”" (QS.
Al-Furqan: 63).
11.
Metode Berbicara kepada Manusia Sesuai Kadar Akal Mereka
"Sungguh,
Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk peringatan. Maka, adakah orang yang mau
mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar: 17).
Metode
ini telah banyak digunakan di era modern. Dahulu Hitler jika menghadiri
pertemuan para buruh, ia akan berbicara kepada mereka mengenai urusan mereka
dan dengan bahasa mereka. Namun jika ia menghadiri komunitas militer, ia akan
berbicara kepada mereka dengan bahasa mereka. Demikian pula metode ini
digunakan oleh sebagian da'i yang cerdas. Apabila mereka berbicara kepada
masyarakat pedesaan, mereka akan berbicara dengan bahasa pedesaan dan membuat
permisalan dari realitas kehidupan mereka. Namun jika mereka hadir dan
berbicara di hadapan komunitas terpelajar, mereka akan menggunakan argumen,
logika, serta metode analitis dan persuasif.
Napoleon
juga menggunakan metode ini bersama pasukannya untuk membakar semangat mereka.
Saat menginvasi Mesir, ia berkata kepada mereka seraya menunjuk ke arah
piramida: "Sesungguhnya empat puluh abad waktu sedang memandang kalian
dari atas piramida-piramida ini." Ia juga mencoba berbicara kepada
rakyat Mesir dengan bahasa Arab mereka. Ia membawa serta mesin cetaknya agar
dapat mencetak pamflet-pamflet dalam bahasa Arab, dan membagikan
khotbah-khotbahnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
12.
Menaruh Perhatian pada Dorongan-Dorongan Individu dan Kelompok
Adapun
perhatian pada dorongan-dorongan kelompok telah dijelaskan sebelumnya.
Sedangkan perhatian pada dorongan-dorongan individu, disyaratkan agar hal itu
tidak mengorbankan dorongan-dorongan kelompok, melainkan berada dalam lingkaran
yang menyempurnakannya. Sebab, stabilitas individu merupakan stabilitas bagi
masyarakat, dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya yang halal merupakan
kebahagiaan bagi semuanya. Hal itu seperti merespons dorongan kebutuhannya
dalam hal kesehatan, kenyamanan, perlindungan dari rasa takut, pernikahan,
pendidikan, jaminan pekerjaan, kebebasan, keadilan, dan perhatian-perhatian
lain yang dicari oleh individu.
Wajib
bagi da'i untuk memberikan ruang di dalam dakwahnya demi menampakkan
perhatian-perhatian personal ini, sehingga tampak sisi kehidupan, personal,
urusan domestik, dan keluarga. Hal itu akan menjadi faktor yang lebih kuat bagi
diterimanya dakwahnya dan didengarnya ucapannya.
Subbab
Ketiga: Prinsip-Prinsip yang Wajib Diketahui dan Diwaspadai
Para
pemimpin Islam wajib menaruh perhatian pada kondisi-kondisi berikut, atau
semestinya menetapkan dan menegaskan konsep-konsep di bawah ini:
1.
Faktor Distorsi (Al-Tahrif)
Musuh-musuh
adakalanya sengaja menggunakan faktor distorsi terhadap ucapan da'i,
mengembuskan syubhat di seputar perkataannya, atau membebani ucapannya dengan
makna yang tidak dikandungnya.
2.
Faktor Kebohongan, Fitnah, dan Rekayasa Krisis
Wajib
bagi da'i untuk mencermati metode-metode musuh dan mengetahui target di balik
hal tersebut agar ia tidak terjerumus ke dalam apa yang tidak ia inginkan.
3.
Faktor Eliminasi (Al-Hadzf) atau Pengabaian
Musuh-musuh
dakwah Islam adakalanya sengaja mengabaikan dakwah, mengeliminasi rekam jejak
perjuangannya, dan tidak mempublikasikan segala hal yang berkaitan dengannya
agar manusia melupakannya. Tindakan ini menerapkan prinsip media: "Jika
engkau ingin mengabaikan seorang tokoh yang memusuhimu, maka sarananya adalah
dengan mengeliminasi berita-berita dan pernyataan-pernyataan tokoh tersebut.
Sesungguhnya waktu cukup menjadi senjata untuk membunuh reputasi tokoh
tersebut." Cara ini juga bisa digunakan untuk mengeliminasi
berita-berita musuh.
Jika
ada kekuatan apa pun yang ingin mengeliminasi seorang da'i atau sebuah gerakan
dakwah, maka da'i mutlak harus melipatgandakan aktivitasnya hingga mampu
menutup eliminasi yang disengaja tersebut. Ia juga harus memiliki media cetak
dan majalahnya sendiri yang mampu menggantikan eliminasi ini.
4.
Metode Hiperbola (Al-Tadkhim) dan Dramatisasi (Al-Tahwil)
Apabila
surat kabar ingin menonjolkan suatu berita, mereka akan menampakkannya dan
menulisnya dengan judul-judul yang besar. Demikian pula yang dilakukan oleh
orang-orang yang menginstruksikan pekerjaan ini kepada surat kabar tersebut.
Metode dramatisasi dan hiperbola ini terkadang digunakan untuk menyerang para
da'i, yaitu dengan cara menonjolkan kesalahan-kesalahan kecil seolah-olah
kesalahan tersebut adalah perbuatan yang besar dan keji. Lalu diadakan seminar
dan dipersiapkan ceramah-ceramah untuk menyibukkan da'i dan memalingkan manusia
darinya, serta mendramatisasi hal itu di dalam pemahaman manusia. Dampak
lanjutannya adalah memalingkan manusia dari kesalahan-kesalahan para pelaku
rekayasa ini dan mengamankan tindakan-tindakan tertentu.
5.
Metode Penipuan dengan Ucapan Pihak Lain
Ini
adalah metode yang diikuti dalam propaganda ketika suatu pemerintah ingin
memuji kinerjanya sendiri atau menghias kebatilannya. Pemerintah tersebut akan
berpaling pada sebuah surat kabar di negara asing yang mana surat kabar
tersebut merupakan afiliasinya, atau sengaja mempublikasikan berita tersebut
dengan membayar sejumlah uang. Surat kabar asing tersebut lalu mengalirkan
pujian bagi kinerja yang diklaim agung ini, serta memberikan sanjungan yang
telah didiktekan kepadanya. Setelah itu, pemerintah tersebut sengaja mengutip
pujian ini dan menyiarkannya kepada rakyat, dengan klaim bahwa itu adalah
kesaksian yang jujur dan pengakuan dari pihak-pihak netral atas keagungan
tindakan atau perbuatan tersebut.
Perkara-perkara
ini juga dieksploitasi untuk meremehkan sebagian urusan atau menakut-nakuti
dari urusan yang lain, yang mana hal ini menjadi batu pijakan untuk tujuan
tertentu dan bentuk penipuan yang disengaja. Wajib bagi da'i untuk memiliki
pandangan yang tajam terhadap rencana-rencana dan permainan yang disengaja ini.
6.
Metode Konsumsi Lokal (Al-Istihlak al-Mahalli) dan Pengalihan Pandangan
Yaitu
dengan cara merekayasa sesuatu dan mengalihkan pandangan kepadanya, atau
menciptakan krisis atau fitnah lalu menyibukkan manusia dengannya. Tindakan ini
dilakukan untuk mengeksploitasi sesuatu demi mengelabui manusia. Korban dari
metode ini adakalanya adalah seorang da'i atau sebuah gerakan dakwah, dan da'i
wajib mencermati hal tersebut lalu mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Amma
Ba'du:
Bukanlah
maksud dari tulisan yang singkat ini untuk menyajikan studi yang komplet
mengenai tema ini. Melainkan maksudnya adalah memalingkan perhatian da'i kepada
fondasi-fondasi dan pilar-pilar mutlak yang wajib diperhatikan, serta
melanjutkan penelitian di dalamnya dan mengambil manfaat darinya, agar ia mampu
menghadapi zaman, pemikiran-pemikirannya, dan para penyerunya. Jika tidak
demikian, maka panggung kehidupan ini akan penuh dengan peristiwa-peristiwa
besar, pemikiran-pemikiran yang rapuh, dan tren yang bermacam-macam.
Kalaulah
bukan karena kokohnya prinsip-prinsip Islam secara tabiatnya, tingginya ajaran
Islam dengan argumennya, dan menancap kuatnya akidah Islam dengan hidayahnya,
niscaya kaum muslimin di zaman ini akan berada dalam kondisi yang lain. Islam
saat ini berdiri sendirian di medan laga; ia bertarung lalu menang, bergelut
lalu merobohkan lawan, dan berjihad lalu meraih kemenangan. Maka bagaimana
jadinya jika Islam dibersamai oleh tokoh-tokohnya, atau memiliki tentaranya,
atau ditegakkan oleh para da'inya?
"...Allah
pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat
lagi Mahaperkasa." (QS. Al-Hajj: 40).
Maha
Benar Allah Yang Maha Agung.
Catatan
Kaki (Footnote): ^[1] Zu'ama al-Ishlah, karangan Ahmad Amin, hlm.
100–101, cetakan Kairo tahun 1960. ^[2] Daur ath-Thalabah fi Bina'
al-Mustaqbal, Abu Al-A'la Al-Maududi, hlm. 28.
Comments
Post a Comment