Pasal 7: Kekuatan Yang Membentuk Kehidupan Anda

BAB KETUJUH: Kekuatan yang Membentuk Kehidupanmu

Tujuan Umum:

  1. Memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai kekuatan terpendam yang membentuk kehidupannya.
  2. Membimbing peserta didik agar memahami sistem keyakinan (organisasi qana'ah) beserta metode-metode untuk mengganti keyakinan negatif dengan keyakinan yang positif.
  3. Mengenal ilmu-ilmu saraf (neuroscience) dan fisiologi tubuh.
  4. Mendayagunakan pengetahuan ini dalam meraih kekuatan yang membentuk kehidupan yang diridai oleh seorang muslim yang aktif bagi dirinya sendiri.

Tujuan Perilaku Instruksional untuk Tema Ini:

Dengan berakhirnya proses pembelajaran pada tema ini, diharapkan peserta didik mampu melakukan hal-hal berikut:

Pertama: Tujuan Kognitif (Pengetahuan):

  1. Menjelaskan peran rasa sakit (penderitaan) dan kesenangan (kenikmatan) dalam kehidupan manusia.
  2. Menyebutkan hal-hal paling penting yang menjadi sumber rasa sakit baginya.
  3. Menyimpulkan pengaruh rasa sakit atau kesenangan dalam membentuk takdirnya.
  4. Menerangkan apa yang dimaksud dengan hubungan saraf (neuro-asosiasi).
  5. Menentukan cara-cara yang membantunya untuk memanfaatkan rasa sakit dan kesenangan sedemikian rupa sehingga ia sendiri yang memegang kendali atas kehidupannya.
  6. Menjelaskan pentingnya merencanakan kehidupannya sendiri dan tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membuatkan perencanaan bagi dirinya.
  7. Membandingkan antara kekuatan kreativitas/inovasi dengan kekuatan penghancuran, serta mengambil manfaat dari hasil perbandingan tersebut.
  8. Menyebutkan contoh-contoh dari tokoh-tokoh yang mampu menaklukkan berbagai kesulitan dan mengubahnya menjadi sebuah kekuatan praktis atau kekuatan politik.
  9. Mengenal esensi keyakinan-keyakinan, tingkat kepentingannya, beserta pola-polanya.
  10. Mengklasifikasikan sebab-sebab ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness) beserta pola-polanya.
  11. Menjelaskan peran Islam dalam mengubah keyakinan-keyakinan serta pemikiran-pemikiran zaman Jahiliah.
  12. Menyimpulkan pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari Perang Hamra al-Asad.
  13. Merangkum peran penting yang dijalankan oleh hubungan saraf bagi setiap manusia.

Kedua: Tujuan Afektif (Sikap/Nilai):

  1. Melawan rasa takut terhadap masa depan beserta kerugian dan kemunduran yang diakibatkannya.
  2. Menunjukkan rasa lega dan tenteram atas perubahan-perubahan yang telah ia tetapkan bagi dirinya yang memiliki tujuan-tujuan jelas.
  3. Menunjukkan rasa empati kepada orang lain serta bersedia berbagi dalam suka dan duka mereka.
  4. Menolak untuk menyerah pada realitas kenyataan atau melarikan diri darinya.
  5. Mengubah keyakinan-keyakinannya ke arah yang lebih baik.
  6. Menghindari rasa takut terhadap ketidakpastian (sesuatu yang tidak diketahui).
  7. Meneladani tokoh-tokoh yang telah menaklukkan kesulitan dan mengubahnya menjadi kekuatan ilmiah, politik, atau ekonomi.
  8. Menempuh jalan-jalan yang benar untuk mengubah keyakinan-keyakinan negatifnya yang dapat menyeretnya ke dalam rasa takut.
  9. Antusias untuk mengubah sebuah ide menjadi sebuah keyakinan yang kuat.
  10. Menentang segala sebab dan pola ketidakberdayaan yang dipelajari.
  11. Menunjukkan kesungguhan untuk merasakan rasa percaya diri, bersikap tidak ambil pusing terhadap kesulitan, serta menjauhi rasa putus asa.
  12. Bersemangat untuk mendampingi orang-orang yang unggul lagi sukses serta meneladani mereka.
  13. Menghargai nikmat-nikmat Allah yang ada pada dirinya berupa akal pikiran dan potensi-potensi yang tidak terbatas.
  14. Menunjukkan antusiasme untuk mengambil manfaat dari enam langkah ilmu kondisioning neuro-asosiasi (Neuro-Associative Conditioning).
  15. Mengurutkan hal-hal yang dapat mendatangkan kesenangan bagi dirinya berdasarkan skala prioritas kepentingan.
  16. Menjelajahi kekuatan akal pikirannya beserta potensi-potensinya yang tidak ada tandingannya.
  17. Menyusun makalah (kertas kerja) atau buku saku tentang pentingnya rasa percaya diri dengan menyertakan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
  18. Menggunakan kekuatan rasa sakit dan kesenangan secara baik dalam mewujudkan tujuan-tujuannya.

Ketiga: Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):

  1. Membaca tema ini dengan bacaan yang cermat, tenang, lagi penuh kesadaran.
  2. Mencoba menggunakan kekuatan rasa sakit dan kesenangan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya.
  3. Mahir dalam menghubungkan antara tujuan-tujuan, impian-impian, serta keyakinan-keyakinannya.
  4. Mengaitkan kebahagiaan dirinya dengan tindakan membantu orang lain agar mereka dapat hidup bahagia.
  5. Menggunakan ilmu dan pemikiran-pemikirannya untuk mewujudkan kesenangan bagi dirinya sendiri dan orang lain.
  6. Menghadapi masalah-masalah yang menghadang dengan penuh rasa percaya diri dan ketenangan atas kemampuannya dalam menghadapi hal tersebut.
  7. Mahir dalam memanfaatkan apa-apa yang dikaitkan dengan kesenangan dan rasa sakit untuk membentuk takdirnya.
  8. Memegang kendali penuh dalam merencanakan kehidupannya sendiri dan tidak membiarkan kesempatan bagi siapa pun untuk membuat perencanaan baginya.
  9. Mahir dalam mengubah keyakinan-keyakinannya sedemikian rupa sehingga dapat mewujudkan kesenangan baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek.
  10. Menguasai pemanfaatan berbagai kesulitan dan menundukkannya agar dapat menambah kekuatannya.
  11. Berlatih untuk mengubah sebuah ide menjadi sebuah keyakinan yang kuat.
  12. Mencatat catatan-catatannya seputar dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh ketidakberdayaan yang dipelajari pada dirinya sendiri maupun pada diri orang lain.
  13. Menerapkan apa yang telah dipelajarinya berupa pengubahan pada sebagian keyakinan yang ada pada dirinya.
  14. Mahir dalam menggunakan kemampuan-kemampuan dan potensi-potensi totalitasnya dengan pemanfaatan yang paling optimal.
  15. Berinovasi menciptakan cara yang memiliki target untuk menggunakan enam langkah modifikasi perilaku secara benar.
  16. Menciptakan metode-metode baru yang membuatnya mampu mengubah keyakinan-keyakinan negatif yang ada pada dirinya.

Materi Ilmiah:

Apakah yang mendorong seseorang yang berasal dari "lingkungan yang baik" untuk berperilaku sedemikian keji tanpa adanya pencegah dari hati nuraninya sedikit pun? (Seperti contoh kasus sekelompok orang yang melakukan penyerangan terhadap seorang gadis di sebuah taman, memerkosanya, kemudian membunuhnya secara brutal). Sementara di sisi lain, ada orang yang mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan orang-orang yang sama sekali asing baginya? Apakah yang melahirkan seorang pahlawan, seorang yang lemah, seorang kriminal, atau seseorang yang berkontribusi dengan peran yang mulia? Apakah yang menentukan perbedaan-perbedaan di dalam perilaku manusia tersebut?... Tidak diragukan lagi bahwa di sana terdapat satu kekuatan pendorong tunggal yang berdiri di balik seluruh perilaku manusia... Kekuatan itu adalah rasa sakit (penderitaan) dan kesenangan (kenikmatan). Maka, segala hal yang kamu lakukan dan yang aku lakukan, sesungguhnya kita lakukan didorong oleh kebutuhan kita untuk menghindari rasa sakit atau karena keinginan kita untuk mendapatkan kesenangan... Sesungguhnya kesadaran dan penggunaan kekuatan rasa sakit dan kesenangan akan mengizinkanmu untuk mewujudkan perubahan-perubahan serta perbaikan-perbaikan yang terus-menerus... Kegagalan dalam menyadari kekuatan ini akan membuatmu hidup dalam kondisi yang sekadar merespons (reaktif) di sepanjang hidupmu, laksana sebuah mesin atau binatang... Dan kamu wajib bertanya kepada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak melangkah untuk melakukan sebagian urusan yang sebenarnya kamu ketahui bahwa kamu wajib melakukannya? Apa arti dari penundaan dan sikap nanti-nanti (prokrastinasi)? Sesungguhnya kamu meyakini pada suatu tingkatan tertentu bahwasanya tindakanmu mengambil tindakan nyata pada momen ini akan mendatangkan rasa sakit yang lebih besar bagimu dibandingkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh penundaan.

Akan tetapi, ketika tindakan tidak mengambil tindakan nyata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih memicu rasa sakit dibandingkan tindakan mengambil tindakan nyata, maka kamu akan merasakan adanya kekuatan penekan yang mendorongmu untuk melakukan urusan tersebut.

Manusia yang menderita sebelum adanya keharusan untuk menderita, sesungguhnya ia menderita lebih banyak daripada apa yang diperlukan.

Apakah yang menghalangimu untuk memulai sebuah proyek pekerjaan baru yang telah kamu rencanakan sejak bertahun-tahun lalu? Itu karena kamu mengaitkan antara apa yang wajib kamu kerjakan dengan rasa sakit... porsinya lebih besar dibandingkan pengaitanmu terhadap rasa sakit akibat melewatkan kesempatan bagi dirimu untuk mewujudkan pekerjaan ini... Mayoritas manusia takut terhadap kerugian dengan gambaran yang lebih besar dan lebih kuat daripada keinginan mereka untuk mendapatkan kemenangan, dan hal ini memelihara sifat pengecut di dalam dirinya hingga sifat itu melahap habis seluruh pemikiran dan impian-impiannya.

Sesungguhnya rahasia kesuksesan adalah kamu belajar bagaimana cara menggunakan rasa sakit dan kesenangan, alih-alih kamu membiarkan rasa sakit dan kesenangan menggunakan dirimu... Jika kamu melakukannya maka kamu akan memegang kendali atas kehidupanmu, namun jika tidak, maka kehidupanlah yang akan memegang kendali atas dirimu.

Apakah rahasia di balik jatuhnya manusia menjadi mangsa bagi rasa sakit, namun bersamaan dengan itu mereka gagal untuk berubah? Itu karena mereka belum tunduk pada porsi rasa sakit yang cukup... Mereka belum sampai pada apa yang aku sebut dengan (ambang batas emosional/emotional threshold). Jika kamu telah sampai pada tingkatan rasa sakit tersebut, sekiranya kamu tidak lagi memiliki kesiapan untuk menanggungnya lebih lama lagi, maka saat itulah kamu mengambil keputusan... Pada saat itu, rasa sakit berubah menjadi teman bagi kita, karena ia mendorong kita untuk mengambil tindakan baru dan mewujudkan hasil-hasil yang baru... Perubahan itu juga akan menciptakan porsi kebahagiaan dan kesenangan yang besar di dalam kehidupan kita; yaitu kesenangan dari tindakan memusnahkan sumber rasa sakit di dalam kehidupanmu dan tindakan menggantikan rasa sakit tersebut dengan kebahagiaan serta kesenangan... Kesenangan dari perasaan bangga, lega, menghormati diri sendiri, dan menjalankan kehidupan dengan cara yang telah kamu rencanakan untuk dirimu sendiri.

Di sana terdapat beberapa tingkatan dari rasa sakit, seperti perasaan tidak nyaman atau rasa bosan... Sebagian dari perasaan-perasaan ini memiliki tingkat kepekatan yang lebih rendah daripada sebagian yang lain, namun ia tetap masuk dalam hitungan persamaan pengambilan keputusan... Di sana juga terdapat beberapa tingkatan dari kesenangan, mulai dari ekstasi (kegembiraan meluap) hingga rasa lega... Dan boleh jadi perasaan lega itu mengungguli perasaan ekstasi, yang mana hal ini bergantung pada sudut pandang individual bagi setiap orang... Sesungguhnya kehidupan kita setiap harinya dipenuhi oleh sejenis negosiasi psikologis di dalam diri kita sendiri, karena kita secara terus-menerus menimbang di antara tindakan-tindakan yang boleh jadi akan kita lakukan dengan pengaruh dari tindakan tersebut atas diri kita.

Pelajaran Paling Penting di Dalam Kehidupan:

Pelajaran paling penting yang kita terima di dalam kehidupan kita adalah apa yang menciptakan rasa sakit dan kesenangan bagi kita... Dan pelajaran ini berbeda-beda bagi setiap dari kita, yang mana hal ini pada gilirannya menuntun pada perbedaan di dalam perilaku kita.

Maka bagi sebagian orang kaya, ia boleh jadi belajar untuk mewujudkan kesenangan bagi dirinya dengan cara memiliki kapal pesiar (yacht) yang paling besar dan paling mahal, dan hal yang mendatangkan puncak rasa sakit terbesar baginya di dalam kehidupan adalah ia merasakan bahwasanya di sana ada seseorang yang mengunggulinya di medan apa pun dari medan-medan yang ada... Dan ini merupakan sebuah motivator yang lebih kuat daripada keinginannya untuk mewujudkan kesenangan semata.

Adapun bagi seorang dokter wanita muslimah sebagai contoh, maka urusannya adalah kebalikan dari hal tersebut; ia memiliki rasa empati yang sangat mendalam ketika melihat orang lain menderita sakit, sampai-sampai ia sendiri ikut merasakan penderitaan dari rasa sakit tersebut... Dan ketika ia melangkah untuk membantu orang-orang tersebut, maka rasa sakit mereka pun hilang sebagaimana hilangnya rasa sakit yang ia rasakan sendiri... Dan boleh jadi kesenangan bagi dirinya artinya adalah mengarungi lumpur hingga setinggi lutut sampai ia tiba di sebuah gubuk untuk mengulurkan tangan bantuan bagi anak-anak demi mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Yaitu dengan cara menyediakan kesenangan bagi mereka—maka ia sendiri pun akan merasakan kesenangan. Kedua orang ini membentuk takdir mereka masing-masing di atas dasar apa yang mereka kaitkan dengan rasa sakit dan kesenangan. Dan keduanya telah mengambil keputusan yang sadar seputar apa yang mereka nilai sebagai sebuah hadiah atau sebuah hukuman bagi mereka.

Apa yang Kamu Kaitkan dengan Rasa Sakit dan Apa yang Kamu Kaitkan dengan Kesenangan akan Membentuk Takdirmu:

Anthony Robbins berkata: Aku telah memulai sejak usia dini mengaitkan tingkatan tertinggi kebahagiaanku dengan ilmu pengetahuan... Dan setiap dokter yang aku ajak bicara, mereka mengaitkan puncak kesenangannya dengan tindakan membantu manusia untuk menghentikan rasa sakit, pulih dari penyakit, dan menyelamatkan nyawa.

Sebagian orang terkenal melarikan diri pada obat-obatan contohnya, untuk membatasi apa yang mereka derita dari rasa sakit sebagai bentuk usaha putus asa untuk melarikan diri dan untuk mencapai kesenangan, namun kesenangan sementara ini justru menuntun pada kejatuhan mereka.

Salah satu sebab yang membentengiku dari meminum minuman keras adalah bahwasanya di sana dahulu ada beberapa orang di dalam keluargaku yang berperilaku dengan gambaran yang buruk/dibenci saat mereka meminum minuman ini, sekiranya hal itu membuatku mengaitkan antara tingkatan rasa sakit tertinggi dengan tindakan meminum minuman keras tersebut.

Inilah yang aku sebut sebagai: "Hubungan Saraf (Neuro-Asosiasi)", dan dialah yang mengarahkan keputusan-keputusanku di masa depan kehidupanku.

Maka hubungan saraf yang negatif di dalam kehidupanku dengan minuman keras tersebut telah memengaruhi banyak dari keputusan-keputusanku di dalam kehidupan; ia telah menentukan contohnya kualitas orang seperti apa yang aku jadikan teman di masa-masa studi... Sebagaimana ia juga menentukan bagaimana aku belajar untuk menemukan kesenangan dengan cara belajar, bersenang-senang, dan melakukan olahraga.

Jika kita menghubungkan antara rasa sakit yang bersangatan dengan perilaku apa pun atau pola dari perasaan emosional apa pun, maka kita pasti akan menghindari tindakan melangkah padanya dengan mengerahkan seluruh kekuatan kita... Dan kita memiliki kemampuan menggunakan pengendalian ini dengan tujuan mengubah pola apa pun dari pola-pola kehidupan kita... Contohnya, jika kamu ingin melindungi anak-anakmu dari jerat obat-obatan, maka waktu yang paling tepat untuk hal itu adalah waktu yang mendahului pengalaman mereka mencobanya... Atau sebelum ada seseorang yang melangkah untuk mengajari mereka agar mereka menghubungkan secara palsu antara obat-obatan dengan kesenangan... Bawalah mereka dalam sebuah perjalanan yang tidak akan mereka lupakan di sepanjang hidup mereka, yang mana di dalam perjalanan tersebut mereka melihat apa yang dapat dilakukan oleh obat-obatan pada diri manusia berupa penghancuran mental, emosional, dan fisik.

Di sebuah tempat rehabilitasi kecanduan contohnya, dalam sebuah tur untuk mengunjungi sebagian orang yang telah kehilangan kesehatan dan akal pikirannya, melihat kondisi sosial mereka, kemudian setelah itu bawalah mereka contohnya untuk melihat kepada para juara gulat, kepada para atlet, dan kepada orang-orang yang sukses di dalam kehidupan sosial mereka yang mana mereka jauh dari tindakan mengonsumsi obat-obatan ini.

Melalui kekuatan kehendak (kemauan) kita, kita mampu menimbang sesuatu seperti rasa sakit fisik yang ditimbulkan oleh rasa lapar berbanding dengan rasa sakit fisik yang ditimbulkan oleh tindakan menyerah terhadap nilai-nilai luhur kita... Dan dengan begitu kita mampu menciptakan makna-makna yang lebih tinggi dan kita memegang kendali dengannya atas urusan-urusan kita... Adapun jika kita gagal dalam mengarahkan apa yang kita hubungkan dengan rasa sakit dan kegembiraan, maka sesungguhnya kita hanyalah menjalani kehidupan yang tidak beranjak naik dari tingkatan kehidupan binatang atau mesin, dan kita selalu menjadi sasaran bagi respons-respons dari lingkungan sekitar kita.

Jika kita tidak menghapuskan sebab (akar) dari masalah, maka masalah tersebut pasti akan kembali muncul ke permukaan dari baru... Dan agar perubahan itu dapat berlangsung terus-menerus pada akhirnya, maka kita wajib mengaitkan rasa sakit dengan perilaku kita yang terdahulu, dan mengaitkan kesenangan dengan perilaku kita yang baru, serta mengondisikan perilaku ini sekiranya ia menjadi sesuatu yang terus-menerus.

Agar perilaku buruk kita berubah (seperti berlebihan dalam mengonsumsi makanan yang manis-manis) menjadi perubahan jangka panjang, maka kita wajib mengaitkan rasa sakit dengan tindakan mengonsumsi makanan tersebut sekiranya kita tidak kembali memiliki keinginan padanya, sementara di sisi lain kita mengaitkan kesenangan dengan makanan-makanan yang memberikan nutrisi bagi kita.

Jika Kamu Tidak Memiliki Rencana bagi Kehidupanmu, Maka Boleh Jadi Orang Lain yang Akan Membuatkan Perencanaannya untukmu:

Sesungguhnya tugas perusahaan-perusahaan iklan adalah memengaruhi apa yang kita hubungkan dengan rasa sakit dan kesenangan. Mereka menghubungkan kesenangan (musik, gambar, warna, atau kecantikan para gadis) dengan produk-produk mereka; persis seperti eksperimen membunyikan lonceng saat menyajikan makanan kepada seekor anjing, yang mana hal itu memicu si anjing hingga air liurnya menetes... Pengulangan yang terus-menerus terhadap urusan ini akan menciptakan sebuah hubungan emosional. Para pembuat iklan mengajari kita contohnya: jika kamu memiliki mobil BMW, maka kamu akan dianggap sebagai orang yang istimewa dan memiliki selera yang tinggi. Para pembuat iklan telah memperhatikan bahwa jika seseorang mampu menciptakan perasaan senang dan gembira yang cukup, maka para konsumen sering kali akan mengabaikan rasa takut terhadap rasa sakit (kerugian).

Jika kita tidak mengarahkan pemikiran-pemikiran kita, maka kita akan jatuh di bawah pengaruh orang-orang yang mengondisikan kita untuk berperilaku dengan cara yang mereka inginkan. Maka, jika kita ingin memegang kendali atas kehidupan kita, kita wajib belajar untuk ("membuat iklan sendiri bagi otak kita oleh diri kita sendiri"). Kita dapat melakukan hal itu dalam satu momen saja, yaitu dengan cara mengaitkan puncak rasa sakit yang bersangatan dengan perilaku kita yang ingin kita hentikan, sekiranya kita tidak kembali memikirkannya setelah itu... Serta dengan cara mengaitkan kesenangan dan kegembiraan dengan perilaku baru yang diinginkan oleh dirimu. Melalui pengulangan dan intensitas emosional yang kuat, kamu dapat mengondisikan dirimu atas perilaku ini dan menanamkan akarnya di dalam dirimu hingga ia menjadi sesuatu yang otomatis. Begitu pula halnya dengan bangsa-bangsa yang terbelakang; mereka tidak percaya pada diri mereka sendiri sehingga mereka tidak melakukan sesuatu pun yang dapat mengganjal perut mereka (memenuhi kebutuhan hidup) atau menangkal kelaparan ekonomi, sosial, dan industri mereka. Akibatnya, mereka selalu menjadi tawanan bagi orang lain, dan para pemimpin mereka tetap dalam kondisi tidak berdaya untuk melakukan sesuatu selama ketidakmampuan menjadi metode yang diambil, serta rasa takut terhadap apa yang mereka sangka sebagai hal mustahil, ketidakberanian menghadapi tantangan, dan ketidakmauan memikul tanggung jawab telah mengakar kuat pada bangsa-bangsa tersebut beserta otoritas pemerintahannya.

Kebanyakan manusia fokus pada bagaimana cara menghindari rasa sakit dan mewujudkan kesenangan dalam jangka pendek, dan dengan begitu mereka sebenarnya sedang menciptakan rasa sakit bagi diri mereka sendiri dalam jangka panjang. Akan tetapi, kita wajib mengingat bahwa segala sesuatu yang berharga yang kamu inginkan, menuntutmu untuk menahan rasa sakit jangka pendek (momen-momen kecemasan dan godaan yang lewat sekilas) dan melompatinya demi mendapatkan kesenangan jangka panjang (yaitu: nilai-nilai dan standar-standar personalmu).

Namun, mengapa sebagian orang bersikeras untuk terus bertahan dalam sebuah hubungan yang tidak memuaskan tanpa mereka berpikir untuk menemukan solusi-solusi baginya atau dengan mengakhirinya lalu melanjutkan kehidupan mereka? Hal ini dikembalikan kepada fakta bahwa mereka mengetahui bahwa perubahan akan mengantarkan mereka kepada sesuatu yang tidak diketahui (misteri). Dan kebanyakan manusia meyakini bahwa sesuatu yang tidak diketahui itu lebih menyakitkan daripada apa yang telah mereka coba (rasakan) hingga saat ini ("Setan yang kita kenal lebih baik daripada setan yang tidak kita kenal") ("Seekor burung di tangan lebih baik daripada sepuluh ekor burung di atas pohon")... Keyakinan-keyakinan kuat yang tertanam seperti ini menghalangi kita dari melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengubah kehidupan kita.

Kebanyakan urusan di dalam kehidupan kita menuntut kita untuk berperilaku dengan gambaran yang berkebalikan dari apa yang telah menjadi kebiasaan bagi sistem saraf kita.

Mari Kita Lakukan Perubahan Sekarang Juga:

  • Pertama: Catatlah empat tindakan yang sudah seharusnya kamu ambil, namun kamu hanya terus mengawasinya (menundanya) dari waktu ke waktu (seperti: menurunkan berat badanmu / berhenti merokok... meraih nilai tinggi dalam pekerjaanmu, atau keunggulan dalam industri tertentu).
  • Kedua: Catatlah di bawah setiap tindakan tersebut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut: Mengapa kamu tidak mengambil tindakan yang sesuai itu? Apakah rasa sakit yang dahulu kamu kaitkan di masa lalu dengan tindakan mengambil langkah ini? Kamu akan menyadari bahwa jawabannya adalah karena kamu menghubungkan antara tindakan tersebut dengan risiko menghadapi rasa sakit yang lebih besar.
  • Ketiga: Catatlah seluruh kesenangan yang telah kamu nikmati di masa lalu sebagai hasil dari tenggelam dalam kondisi negatif ini.
  • Keempat: Catatlah harga (kerugian) yang harus kamu bayar jika kamu tidak melakukan perubahan sekarang... Apakah harga yang akan kamu bayar selama tiga, empat, atau lima tahun ke depan?

(Secara emosional... dan dari sisi penilaianmu terhadap dirimu sendiri, secara finansial, dan dari sisi hubunganmu dengan orang-orang yang dekat denganmu) —Bagaimanakah kamu menilai perasaanmu dari sisi ini? Tidak cukup bagimu hanya dengan mengatakan bahwa hal itu akan menghabiskan sejumlah uangku atau aku akan menjadi gemuk... Hal ini tidaklah cukup, melainkan kamu wajib mengingat bahwa yang menggerakkan kita adalah emosi kita, maka gunakanlah rasa sakit sebagai temanmu yang mendorongmu menuju kesuksesan yang lebih banyak.

  • Kelima: Catatlah seluruh kesenangan yang akan kamu nikmati setelah kamu melakukan seluruh tindakan ini terhitung sejak momen ini... Buatlah sebuah daftar yang besar yang menyediakan dukungan emosional bagimu serta menuntun pada dorongan dan bangkitnya semangatmu.

Manfaatkanlah kesempatan yang tersedia hari ini... karena tidak ada yang lebih baik daripada waktu sekarang (saat ini).

Sistem Keyakinan: Kekuatan Inovasi & Kreativitas dan Kekuatan Penghancuran:

Ada seorang pria yang kecanduan obat-obatan sedemikian rupa hingga ia hampir membunuh dirinya sendiri berkali-kali, dan sekarang ia berada di dalam penjara. Ia memiliki dua orang anak laki-laki; salah satunya tumbuh besar dan menjadi sama persis seperti ayahnya, sedangkan yang lain—yang jarak usia dengan saudaranya hanya satu tahun—tumbuh besar sebagai seorang warga negara yang saleh lagi sukses... Maka, bagaimanakah bisa kedua pemuda ini menjadi sangat berbeda padahal mereka dibesarkan di lingkungan yang sama?... Mengapa kehidupanmu menuju ke arah ini?

Dua orang pilot Amerika ditembak jatuh pesawatnya di Vietnam dan ditawan di dalam penjara yang sama, serta mendapatkan kondisi penahanan yang sama pula... Akan tetapi, keyakinan dari masing-masing keduanya sama sekali berbeda. Salah satunya menganggap kehidupannya telah berakhir, dan untuk menghindari rasa sakit yang lebih banyak, ia melangkah melakukan bunuh diri... Sementara orang yang kedua justru memetik dari pengalamannya itu tambahan kekuatan keyakinan terhadap dirinya sendiri, terhadap manusia, dan terhadap Sang Pencipta Azza wa Jalla, serta terhadap kemampuannya untuk mengatasi segala jenis rasa sakit atau tantangan.

Salah seorang dari mereka masuk penjara lalu mengira bahwa masa depannya telah sirna dan di hadapannya ada waktu sepuluh tahun, sedangkan yang lain memanfaatkan hal tersebut untuk membaca, menulis karya (mengarang buku), dan memikirkan tentang apa yang wajib dikerjakan. Maka siapakah yang lebih kuat? Dan betapa banyak tokoh yang telah menaklukkan berbagai kesulitan dan mengubahnya menjadi kekuatan ilmiah atau politik, sehingga mereka setelah itu menjadi penyokong bagi umat dan dakwah mereka. Contohnya adalah Ibnu Taimiyah; dan Louis IX yang menulis wasiat-wasiatnya di dalam penjara di Mansoura sehingga dokumennya tetap abadi hingga sekarang, serta selain keduanya masih banyak lagi.

Seperti yang kamu lihat, bukanlah lingkungan dan bukan pula peristiwa-peristiwa yang mengepung kehidupan kita yang membentuk siapa kita sekarang dan akan menjadi apa kita esok hari, melainkan makna yang kita berikan kepada peristiwa-peristiwa tersebut—bagaimana kita menafsirkan dan memahaminya... Maka keyakinan-keyakinan itulah yang menentukan apakah kita akan menjalani kehidupan yang diwarnai oleh kegembiraan ataukah oleh kesengsaraan dan kehancuran.

Sesungguhnya keyakinan-keyakinan kita adalah kekuatan pendorong yang menentukan bagi kita apa yang menuntun kita pada rasa sakit dan apa yang menuntun kita pada kesenangan... Dan keyakinan-keyakinan kita diarahkan oleh generalisasi tentang apa yang telah kita pelajari bahwa hal itu boleh jadi menuntun kita pada rasa sakit dan kesenangan... Kamu mengetahui bahwa cara membuka pintu adalah dengan memutar gagangnya... bahkan meskipun pintu itu adalah pintu yang baru bagimu dan belum pernah kamu lihat sebelumnya... Sesungguhnya keyakinanmu dalam urusan ini memberikanmu perasaan keyakinan (kepastian) atas kemampuanmu untuk membuka pintu tersebut... Tanpa adanya perasaan keyakinan ini, kita tidak akan mampu untuk meninggalkan rumah, mengendarai mobil, menggunakan telepon, dan melakukan mayoritas aktivitas harian kita... Maka, generalisasi itu memudahkan jalannya kehidupan kita... Akan tetapi, generalisasi dalam urusan-urusan yang lebih kompleks boleh jadi menuntun pada keyakinan-keyakinan yang membatasi potensi-potensi kita... Contohnya, boleh jadi tumbuh pada dirimu sebuah keyakinan bahwa kamu tidak memiliki kompetensi yang dituntut, yang mana hal itu terjadi hanya karena kegagalanmu di masa lalu dalam melanjutkan sebagian proyekmu... Dan kebanyakan keyakinan kita merupakan bentuk generalisasi seputar masa lalu kita yang dibangun di atas penafsiran kita terhadap pengalaman-pengalaman yang menyakitkan atau yang menyenangkan. Namun, mayoritas dari kita tidak memutuskan secara sadar apa yang wajib kita imani, dan sering kali keyakinan-keyakinan kita dibangun di atas salah penafsiran terhadap pengalaman-pengalaman kita, sebagaimana kita memperlakukan keyakinan seolah-olah ia adalah fakta-fakta yang konstan atau perkataan yang sakral.

Seluruh tindakan kita adalah hasil dari keyakinan-keyakinan kita... Maka jika kamu ingin menciptakan perubahan-perubahan jangka panjang dan terus-menerus di dalam perilakumu, kamu wajib mengubah keyakinan-keyakinan yang menyeretmu ke belakang.

Keyakinan memiliki kekuatan yang menuntun pada kreativitas atau penghancuran... Dan setiap dari kita memiliki kemampuan untuk menciptakan makna-makna yang memberikan kita kekuatan, akan tetapi mayoritas dari kita tidak menggunakan kemampuan ini dan bahkan boleh jadi tidak menyadari sekadar eksistensi keberadaannya saja.

Keyakinan tidak hanya terbatas pada pengaruhnya terhadap emosi dan tindakan kita saja, melainkan ia dapat mengubah tubuh kita. Keyakinan menuntun pada pengendalian sistem saraf yang berujung pada perubahan-perubahan biokimiawi, sehingga tubuh mereka benar-benar berubah... Bahkan, keyakinan memiliki kekuatan yang dapat mengungguli pengaruh obat-obatan pada tubuh... Manfaat obat merupakan hasil langsung dari keyakinan si pasien, dialah yang memberikan dampak terbesar pada kondisi kesehatannya... Sebaliknya, keyakinan kita memiliki kemampuan untuk membuat kita jatuh menjadi mangsa bagi kondisi-kondisi penyakit, atau membuat kita pulih dengan cepat, karena ia memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Obat-obatan tidak selalu diperlukan, akan tetapi keyakinan akan kesembuhan selalu diperlukan.

Sering kali kita mengekspresikan keyakinan-keyakinan kita dengan perkataan: "Hidup ini adalah...", "Aku...", "Manusia...". Dan inilah yang disebut keyakinan global (menyeluruh) seputar segala hal yang ada di dalam kehidupan kita.

Keyakinan-keyakinan kita... begitu kita menerimanya, maka ia berubah menjadi laksana perintah-perintah yang tidak didebat bagi sistem saraf kita... Maka jika kita ingin mengarahkan kehidupan kita, kita wajib mengendalikan keyakinan-keyakinan kita dengan gambaran yang sadar.

Apakah Keyakinan-Keyakinan (Qana'ah) Itu?:

Ia adalah perasaan kepastian dan keyakinan tentang sesuatu hal (dan adakalanya keyakinan-keyakinan ini disebut dengan iktikad/kepercayaan).

Dan keyakinan itu dasarnya adalah sebuah ide. Jika kamu berkata kepada dirimu sendiri ("Sesungguhnya aku adalah seorang penulis yang mumpuni"), maka adakalanya ini berupa sebuah ide atau sebuah keyakinan... Hal ini bergantung pada sejauh mana rasa percaya diri yang kamu rasakan ketika kamu mengucapkan kalimat ini.

Bagaimana Mengubah Ide Menjadi Keyakinan:

Ide itu laksana permukaan meja yang tidak akan bisa berdiri tegak tanpa adanya kaki-kaki... Adapun keyakinan, ia memiliki kaki-kaki... Dan kaki-kaki tersebut adalah pengalaman-pengalaman dari kehidupan kita yang mendukung ide tersebut.

Dan kita memiliki kemampuan untuk mengembangkan ide kita seputar sesuatu hal jika kita mampu menemukan kaki-kaki yang cukup (pengalaman-pengalaman yang cukup yang kita jadikan sandaran) untuk membangun keyakinan ini.

Ide "Aku seorang penulis yang mumpuni": ditopang oleh wawasan (tsaqafah) yang besar, kekayaan kosakata bahasa yang lumayan, kemampuan dalam penyusunan kalimat, serta teman-temanku memuji sebagian ide yang aku tulis.

Dan pertanyaannya adalah: Manakah dari semua ini yang merupakan keyakinan yang benar? Bukankah yang penting manakah yang merupakan keyakinan yang benar, melainkan yang penting adalah manakah yang memberikanmu kekuatan yang lebih besar... Karena setiap dari kita dapat menemukan orang yang mendukung keyakinannya dan membuat kita lebih beriman kepadanya... Dan inilah yang membuat manusia mampu untuk membenarkan urusan-urusan (mencari alasan) dan menundanya... Namun pertanyaan mendasarnya: Apakah keyakinan ini memperkuat kita ataukah melemahkan kita?

Sistem saraf kita dapat menguji sesuatu seolah-olah hal itu nyata (bahkan meskipun ia belum terjadi) jika tersedia bagi sistem tersebut intensitas emosional dan pengulangan yang cukup... Orang-orang sukses yang meraih pencapaian-pencapaian luar biasa memiliki kemampuan berupa keyakinan yang pasti bahwasanya mereka mampu untuk sukses, meskipun belum ada seorang pun yang mendahului mereka dalam meraih pencapaian tersebut sebelumnya... Mereka mampu menciptakan referensi-referensi yang mereka jadikan sandaran meskipun tidak adanya dokumen-dokumen pendukung ini... Serta mampu mewujudkan apa yang tadinya tampak mustahil.

Mereka Mengatakan:

Sesungguhnya Bill Gates pemilik perusahaan Microsoft: "Kejeniusannya adalah kemampuannya untuk merasakan keyakinan (kepastian), maka ia menggunakan keyakinannya untuk menghadirkan sumber-sumber dayanya, menempatkan dirinya dalam posisi tantangan dan kesuksesan, serta menciptakan jalan bagi dirinya hingga ia menjadi seorang miliarder di usianya yang ketiga puluh." Maka, keyakinan itu menciptakan kekuatan.

Sering kali berkembang pada sebagian manusia keyakinan-keyakinan yang membatasi kemampuan mereka seputar kepribadian dan potensi mereka, dan mereka meyakini bahwa mereka tidak akan sukses di masa depan selama mereka tidak sukses di masa sekarang. Dan kebanyakan manusia yang fokus untuk menjadi orang yang realistis, mereka pada realitasnya hidup dalam kondisi kecemasan karena takut tertimpa kekecewaan... Adapun para pemimpin besar, mereka jarang sekali bersikap realistis (jika diukur berdasarkan standar orang-orang lain)... Maka di sana terdapat perbedaan tentang apa yang disebut realistis, yang mana hal itu sesuai dengan referensi dari masing-masing keduanya... Seperti Gandhi, Khalid bin Walid, Saad bin Abi Waqqas, dan Hasan al-Banna.

Jika kamu akan melakukan kesalahan di dalam kehidupanmu, maka cobalah untuk melakukan kesalahan dalam bentuk berlebihan dalam menilai potensi kemampuanmu (dengan syarat jangan sampai membahayakan kehidupanmu); karena potensi-potensi yang tersedia pada diri manusia jauh lebih besar daripada apa yang tampak di hadapan kita.

"Ketidakberdayaan yang Dipelajari" (Learned Helplessness):

Sebagian manusia merasa bahwa tidak ada gunanya apa pun yang mereka lakukan, dan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang cemburu (lemah) dan akan terus menjadi bagian dari orang-orang yang merugi, yang mana hal itu disebabkan oleh referensi-referensi mereka dalam hal kegagalan dan ketidakberhasilan.

Dan sebab-sebab dari jenis ketidakberdayaan ini adalah tiga pola dari keyakinan-keyakinan yang membuat kita merasakan ketidakberdayaan:

  1. Permanensi (Dimumah)
  2. Pervasif/Universal (Syumul)
  3. Personalisasi (Sifat-sifat Personal)

Ketiga hal inilah yang membentuk perbedaan dalam keyakinan antara para pemenang dan orang-orang yang kalah:

  1. Permanensi (Dimumah): Yaitu keyakinan kita seputar apa yang bersifat "tetap/permanen" dan apa yang bersifat "tidak tetap/sementara" di dalam masalah-masalah kita... Maka wajib atas mereka memiliki keyakinan bahwasanya masalah mereka tidaklah permanen, dan bahwasanya "ini pun akan berlalu". Dan wajib bagi mereka untuk mengaitkan rasa sakit yang bersangatan dengan keyakinan negatif tersebut, serta wajib bagi mereka untuk bertekad kuat (bertahan) sampai mereka menemukan jalan keluar dari situasi ini.
  2. Pervasif/Universal (Syumuliyah): Yaitu keyakinan kita seputar "cakupan masalah secara menyeluruh", yang mana seseorang melihat bahwa masalahnya memegang kendali atas kehidupannya secara utuh... Jika mereka mendapati sebuah masalah finansial, mereka akan meyakini bahwa seluruh kehidupan mereka telah hancur... Dan jika mereka gagal dalam suatu urusan, mereka meyakini bahwa diri mereka adalah "orang gagal"... Maka wajib bagimu untuk memandang masalah tersebut bahwasanya ia memiliki pengaruh yang terbatas (lokal) saja.
  3. Personalisasi (Sisi Personal): Yaitu keyakinan bahwasanya masalah itu bersumber dari adanya aib/kekurangan di dalam kepribadianmu dan terpendam di dalam dirimu. Maka apakah kamu bisa membayangkan bahwa kamu mampu menyelesaikan sesuatu urusan dalam keadaan kamu terus-menerus mencambuk dirimu sendiri dan mengarahkan celaan kepadanya? Oleh karena itu, wajib bagi para pengemban dakwah yang telah mengerahkan usaha-usaha mereka untuk berhenti dari tindakan mencela diri mereka sendiri dan dakwah mereka serta terlalu banyak menuduhnya, agar mereka tidak menimbulkan pelemahan pada keyakinan diri mereka sendiri pertama-tama, dan pada keyakinan manusia kedua-duanya. Akan tetapi, wajib bagi mereka untuk melipatgandakan usaha, membuka pintu harapan, merasa optimis dengan masa depan, serta memberikan kabar gembira dengannya agar dapat memotivasi orang-orang lain.

Sesungguhnya berpegang teguh pada keyakinan-keyakinan yang melemahkan lagi membatasi ini, pengaruhnya sama persis dengan mengonsumsi dosis-dosis kecil dari racun arsenik, yang mana ia terkumpul hari demi hari hingga berubah menjadi dosis yang mematikan. Oleh karena itu, wajib bagimu untuk menghindarinya dengan segala cara.

Bagaimanakah Kamu Dapat Mengubah Keyakinan yang Ada Pada Dirimu?

Setiap pekerjaan personal yang mulia yang berhasil kamu wujudkan, selalu dimulai dengan sebuah perubahan pada keyakinan-keyakinanmu... Sesungguhnya jalan yang paling berpengaruh adalah ketika benakmu menghubungkan keyakinan lamamu dengan rasa sakit yang bersangatan, dan setelah itu kamu menghubungkan kegembiraan yang amat besar dengan ide untuk mengadopsi keyakinan yang baru.

Pengalaman-pengalaman tidaklah menjamin terjadinya perubahan pada keyakinan. Sebab, boleh jadi sebagian manusia menghadapi pengalaman-pengalaman yang sama sekali berkebalikan dengan keyakinan mereka, namun mereka menafsirkan kembali pengalaman tersebut dengan cara yang sesuai bagi mereka dan yang mereka inginkan demi mendukung kepercayaaan-kepercayaan mereka yang sudah ada.

Pengalaman-pengalaman baru akan mendatangkan suatu perubahan jika ia menuntun pada lahirnya pertanyaan (keraguan) seputar keyakinan-keyakinan kita... Dan pada realitasnya, banyak dari keyakinan kita yang bersandar pada informasi-informasi yang kita terima dari orang lain, yang mana kita tidak mencoba untuk mempertanyakannya pada waktu tersebut. Akan tetapi, jika kita mengujinya dengan cermat, maka akan tampak jelas bagi kita bahwasanya apa yang kita yakini di dalam alam bawah sadar selama bertahun-tahun, sesungguhnya hanyalah dibangun di atas sekumpulan asumsi yang keliru (seperti contohnya cara penyusunan huruf-huruf pada mesin ketik; susunan tersebut sudah ada sejak 120 tahun lalu dan kita tidak pernah mendiskusikan sejauh mana kesesuaiannya, padahal ia pada dasarnya disusun untuk menurunkan kecepatan mengetik agar selaras dengan pergerakan potongan-potongan logam di dalamnya).

Keyakinan Dapat Dibagi Menjadi Tiga Pola:

  1. Pendapat (Opini): Yaitu suatu urusan yang kita rasakan memiliki keyakinan yang relatif terhadapnya, akan tetapi ia tetap bersifat sementara, dapat berubah, dan biasanya dibangun di atas referensi-referensi yang sedikit.
  2. Keyakinan (Qana'ah): Yaitu sesuatu yang dibangun di atas referensi-referensi yang lebih banyak, dan kita merasakan adanya tingkatan kepastian yang kuat terhadapnya, sekiranya kita menjadi tertutup dari kemungkinan untuk diyakinkan oleh informasi-informasi yang baru.
  3. Akidah (Keyakinan Mutlak): Pemiliknya tidak merasa cukup dengan sekadar merasakan kepastian terhadapnya, melainkan ia akan marah jika akidah tersebut diletakkan dalam posisi dipertanyakan... Dan ia memiliki kesiapan untuk menanggung cemoohan orang lain terhadap dirinya serta penolakan mereka kepadanya demi menjaga akidahnya. Akan tetapi, kepercayaan-kepercayaan ini dicirikan dengan sifat positif karena adanya emosi yang diembuskannya kepada kita, sekiranya ia memberikan kita kekuatan yang mendorongmu untuk melangkah melakukan tindakan nyata.

Sesungguhnya hal terbaik yang dapat kamu lakukan agar kamu mahir dalam apa yang kamu kerjakan di belahan mana pun dari belahan-belahan kehidupanmu adalah dengan cara mengangkat tingkatan keyakinanmu hingga ia mencapai tingkatan akidah.

Lalu bagaimanakah kamu dapat sampai pada tindakan menciptakan akidah yang kukuh?

  1. Mulailah dari keyakinan-keyakinan dasarmu.
  2. Perkuatlah keyakinan-keyakinanmu dengan menambahkan referensi-referensi baru yang lebih kuat dan lebih menyentuh emosi.
  3. Carilah suatu kejadian yang mendorongmu, atau ciptakanlah urusan yang seperti itu (misalnya: saksikanlah kehancuran yang ditimbulkan oleh obat-obatan).
  4. Melangkahlah untuk bertindak (bekerja).

Akan tetapi, terkadang manusia mengimani suatu urusan hanya karena orang-orang lain mengimaninya, dan hal ini di dalam ilmu psikologi disebut dengan "Bukti Sosial" (Social Proof). Meskipun demikian, hal itu tidak selalu benar... Dan urusan tersebut berpotensi membatasi kehidupanmu secara besar-besaran, karena ia menjadikan kehidupanmu laksana salinan yang persis sama dari kehidupan orang lain... Dan tindakan mengikuti orang-orang yang kita sebut sebagai pakar tanpa adanya penyaringan (pemeriksaan) adalah tindakan yang tidak sehat... Bahkan, perasaan-perasaan personalmu sendiri boleh jadi tidak sehat dalam banyak waktu dan tidak dapat dipercaya.

Namun bagaimana kamu bisa mengetahui keyakinan manakah yang harus kamu adopsi? Jawabannya adalah kamu harus menemukan seseorang yang telah mewujudkan hasil-hasil yang sangat ingin kamu wujudkan, sehingga ia menjadi teladan bagimu. Karena di balik semua orang sukses, pastilah tersembunyi sekumpulan keyakinan yang memberikan mereka kekuatan... Dan urusan ini memberikan kita kekuatan serta kesenangan... Orang-orang sukses itu tersedia di sekitar kita, dan urusan ini tidak lebih dari sekadar mengarahkan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka seperti: Apakah yang kamu yakini bahwa hal itu membedakanmu dari orang lain? Apa sajakah keyakinan-keyakinanmu yang unik yang hanya ada pada dirimu sendiri? ... Sesungguhnya aku telah menjadi seorang pemburu bagi orang-orang yang istimewa, yang mana aku terus-menerus mencari wanita dan pria yang istimewa demi memperjelas keyakinan-keyakinan mereka, nilai-nilai mereka, serta strategi-strategi yang mereka ikuti untuk sampai pada kesuksesan mereka.

Filsuf Jerman, Schopenhauer, berkata: "Setiap kebenaran pasti melewati tiga tahapan: Pertama: Menjadi bahan cemoohan. Kedua: Ditentang dengan keras. Ketiga: Dan pada akhirnya, diterima sebagai sesuatu yang jelas yang tidak membutuhkan dalil pendukung."

Di antara keyakinan global paling penting yang dapat kamu adopsi adalah keyakinan bahwasanya wajib bagi kita—agar kita sukses dan bahagia—untuk terus-menerus memperbaiki kualitas kehidupan kita, serta terus-menerus tumbuh dan berkembang / atau "Perbaikan yang Terus-Menerus dan Tanpa Akhir" (Constant and never ending improvement) / sebuah perbaikan terus-menerus yang bertahap, bahkan berukuran sangat kecil (mikro) namun dampaknya sangat berpengaruh dalam jangka panjang.

Kunci Kesuksesan adalah Menumbuhkan Perasaan Percaya Diri:

Tentukanlah keyakinan yang paling merampas kekuatanmu dibandingkan yang lain:

Ingatlah bahwasanya begitu kamu meragukan suatu keyakinan tertentu, maka kamu sebenarnya sedang mulai menggoyang kaki-kaki referensi yang menjadi sandarannya, sekiranya ia tidak lagi berpengaruh atas dirimu [Beliau menyerupakan keyakinan seperti permukaan meja yang memiliki kaki-kaki; jika kamu ingin melepaskan keyakinan tersebut, maka wajib bagimu untuk melonggarkan kaki-kaki tersebut sampai kamu mencabutnya, maka dengan begitu keyakinan tersebut akan runtuh].

Singkirkanlah kaki-kaki kepastian dari bawah keyakinan-keyakinan yang merampas kekuatanmu ini, yaitu dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan berikut:

  1. Bagaimana bisa keyakinan ini menjadi sesuatu yang menggelikan atau konyol?
  2. Apakah orang yang kamu pelajari keyakinan ini darinya merupakan sosok yang layak untuk kamu teladani di bidang ini?
  3. Apakah biaya (konsekuensi) emosional akhir yang akan kamu bayar jika kamu tidak melepaskan diri dari keyakinan ini? Dan dari sisi hubungan-hubunganmu? Secara fisik? Secara finansial? Dan secara kekeluargaan?

Jika kamu mengambil waktu yang cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, maka kamu akan mendapati bahwasanya keyakinanmu telah mulai melemah... Kaitkanlah hal itu dengan rasa sakit yang bersangatan sekiranya kamu dapat membebaskan dirimu secara total darinya untuk selama-lamanya, dan putuskanlah pada akhirnya untuk melakukan hal tersebut.

Kamu wajib menuliskan alternatif (pengganti) bagi keyakinan yang telah kamu hapus ini... Apakah kebalikan darinya? Karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu melepaskan diri dari suatu pola tertentu tanpa kamu menggantikan pola tersebut dengan pola yang baru.

Kepemimpinan dan Kekuatan Keyakinan:

Para pemimpin adalah individu-individu yang hidup berdasarkan keyakinan-keyakinan yang memberikan mereka kekuatan, dan mereka mengajari orang-orang lain bagaimana cara mengeluarkan seluruh potensi mereka dengan cara beralih dari keyakinan-keyakinan yang membatasi potensi-potensi tersebut.

Ibu Guru Iman Taufiq telah menciptakan sebuah perubahan yang tidak boleh diremehkan di dalam kehidupan murid-muridnya yang dahulu hidup di sekolah-sekolah pemerintah yang tidak memperhatikan mereka di kota Mansoura, yaitu dari kalangan murid-murid kelas dua sekolah dasar. Mereka dahulu menderita kesulitan dalam membaca, belajar, dan berperilaku. Akan tetapi, beliau memutuskan bahwasanya masalahnya tidaklah terletak pada anak-anak ini, melainkan pada metode yang bersumber dalam pengajaran mereka; yang mana mereka dahulu tidak dihadapkan pada porsi tantangan yang cukup, dan oleh karena itu mereka tidak memiliki keyakinan-keyakinan yang menciptakan rasa percaya diri pada mereka sendiri. Maka, beliau melemparkan ke samping seluruh buku-buku kurikulum yang ditetapkan, dan beliau mulai mengajarkan mereka sejarah perjalanan hidup orang-orang besar yang mulia seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Al-Ghazali. Guru-guru yang lain pun terperangah dan menolak hal tersebut, akan tetapi para murid justru menunjukkan kesuksesan yang luar biasa karena beliau benar-benar membawa mereka untuk percaya pada diri mereka sendiri... Dan beliau memperkuat kualitas kehidupan mereka dengan menggunakan prinsip-prinsip penataan segitiga (tiga serangkai):

  1. Beliau membuat mereka meningkatkan standar-standar mereka.
  2. Membantu mereka untuk mengadopsi keyakinan-keyakinan baru yang memberikan mereka kekuatan untuk melompati rintangan.
  3. Dan memperkuat seluruh hal tersebut dengan keterampilan-keterampilan serta strategi-strategi yang diperlukan untuk mewujudkan kesuksesan di sepanjang hidup mereka.

Dan hasilnya, para murid berubah menjadi sosok yang percaya diri, bahkan menikmati kompetensi yang mengagumkan... Dan salah seorang murid pernah ditanya tentang apa yang telah ia pelajari dari ibu guru ini, maka ia menjawab: ("Aku belajar bahwasanya masyarakat boleh jadi bisa meramal masa depanku, akan tetapi aku sendirilah yang akan menentukan takdirku").

Jelaslah bagi kita bahwasanya di sana terdapat kekuatan yang terpendam di dalam diri kita yang membutuhkan tindakan kita untuk membangunnkannya. Dan kekuatan ini dimulai dengan kemampuan untuk mengambil keputusan-keputusan yang sadar yang mana urusan tersebut akan membentuk takdir kita.

Apakah Perubahan Itu Mampu Terjadi Secara Langsung (Seketika)?:

Agar aku memiliki kemampuan untuk membantu manusia untuk berubah, maka wajib bagiku untuk memiliki kemampuan untuk mengubah diriku sendiri terlebih dahulu, dan untuk memotivasi diriku sendiri. Maka, aku mempelajari metode-metode teknik yang memiliki kemampuan untuk mendatangkan pengaruh-pengaruh di dalam kehidupan manusia secepat kilat, seperti hipnotis dan Pemrograman Neuro-Linguistik (NLP). Dan aku dahulu langsung menerapkan seluruh apa yang aku pelajari seketika itu juga.

Masalahnya adalah kebanyakan dari kita menunggu sampai terjadinya suatu urusan tertentu agar kita memutuskan untuk melakukan sebagian transformasi perubahan.

Seberapa cepatkah seseorang sebagai contoh mampu melompati rasa sakit yang ditimbulkan akibat kehilangan orang yang dicintai dan mulai merasakan perasaan yang berbeda? Kita memiliki sekumpulan keyakinan bahwasanya wajib bagi kita untuk bersedih selama kurun waktu tertentu, dan oleh karena itu kita memilih rasa sakit dari kesedihan tersebut alih-alih mengubah emosi kita, sampai kita merasa bahwasanya kita telah memenuhi tuntutan dari aturan-aturan dan standar-standar tempat kita dibesarkan mengenai kadar kesedihan yang sesuai dalam kondisi ini. Dan oleh karena itulah Islam menentukan masa-masa takziah (belasungkawa) dan berkabung, serta menjadikan tindakan menambah atas waktu tersebut sebagai sesuatu yang diharamkan—atau perkara baru yang diada-adakan (bidah).

Adalah sebuah kesalahan—jika kamu ingin manusia itu berubah—kamu mengambil sendiri tanggung jawab untuk mengubah mereka... Karena mereka bisa saja kembali dengan mudah kepada perilaku mereka yang terdahulu jika mereka menghadapi tantangan yang sulit. Oleh karena itu, kata "pemrograman" adalah kata yang kurang tepat, adapun perumpamaan yang lebih baik untuk perubahan jangka panjang ini adalah pengondisian (penjinakan/kondisioning)... Dan ia menuntut kita untuk menyadari bagaimana cara menggunakan rasa sakit dan kesenangan. Dan oleh karena inilah Islam tidak memaksa seorang pun untuk memeluknya, akan tetapi Islam menampakkan kepadanya kebenaran, mendalilkannya, serta menyajikannya secara teori maupun praktik.

Begitu kita memunculkan suatu perubahan, maka wajib bagi kita untuk langsung memperkuatnya kembali seketika itu juga, kemudian mengondisikan kembali sistem saraf kita agar kita sukses untuk selamanya, bukan hanya untuk satu kali saja.

Aku telah mencetuskan nama "Ilmu Pengondisian (Penjinakan) Neuro-Asosiasi" (Neuro-Associative Conditioning): yaitu sebuah proses yang berjalan langkah demi langkah dan ia memiliki kemampuan untuk mengondisikan sistem sarafmu agar ia menghubungkan kesenangan dengan urusan-urusan yang ingin kamu dekati sedikit demi sedikit... Sebagaimana ia menghubungkan rasa sakit dengan urusan-urusan yang ingin kamu hindari agar kamu sukses di dalam kehidupanmu secara terus-menerus tanpa kamu mengerahkan usaha atau kekuatan kemauan yang konstan.

Segala Sesuatu Tidaklah Berubah, Melainkan Kita yang Berubah:

Sesungguhnya kita semua mengubah salah satu dari dua hal:

  1. Bagaimana cara perasaan kita terhadap segala sesuatu, atau:
  2. Perilaku kita.

Dan salah satu komponen utama untuk menciptakan perubahan jangka panjang adalah melakukan transformasi pada keyakinan-keyakinan kita. Maka, wajib bagi kita untuk memiliki dua keyakinan berikut ini:

  1. Keyakinan pertama adalah: "Bahwasanya kita mampu untuk berubah sekarang juga." ... Di sana ada suatu momen yang mana di dalamnya terjadi perubahan, maka mengapa momen tersebut tidak berupa waktu sekarang... Karena sesungguhnya apa yang memakan waktu lama pada diri manusia hanyalah proses bersiap-siap untuk berubah.
  2. Keyakinan kedua adalah: "Bahwasanya kita sendirilah yang bertanggung jawab untuk mengubah diri kita sendiri, dan bukan orang lain." ... Dan ini mencakup 3 keyakinan:

·        A. Pertama, wajib bagi kita untuk percaya bahwasanya sesuatu hal "harus" berubah "secara pasti" (pasti diubah).

·        B. Wajib bagi kita untuk tidak hanya percaya bahwasanya urusan-urusan itu harus berubah, melainkan kita percaya bahwasanya wajib atas "kita sendiri" yang mengubahnya agar perubahan itu bersifat final dan terus-menerus, jika tidak maka kita akan terus mencari orang lain yang mendatangkan perubahan tersebut bagi kita.

·        C. Wajib bagi kita untuk meyakini dengan keyakinan yang pasti: "Bahwasanya kita mampu untuk mengubah hal tersebut."

Dan tanpa adanya keyakinan-keyakinan ini, maka perubahan apa pun yang kita munculkan sering kali hanya akan bersifat sementara saja.

Adalah sebuah hal yang baik jika kamu selalu memiliki orang yang melatihmu (pakar, terapis, konsultan, atau sosok teladan), akan tetapi pada akhirnya kamu akan tetap menjadi sumber perubahan bagi dirimu sendiri.

Kita memiliki kemampuan untuk menganalisis masalah-masalah kita selama bertahun-tahun, akan tetapi tidak ada sesuatu pun yang berubah sampai kita mengubah perasaan-perasaan yang kita hubungkan dengan suatu pengalaman tertentu di dalam sistem saraf kita.

Kekuatan Otakmu:

Wajib bagimu untuk menyadari bahwasanya otakmu sedang menunggu dengan penuh kerinduan setiap perintah yang kamu arahkan kepadanya, dengan menunjukkan kesiapannya untuk memenuhi permintaan apa pun yang kamu minta darinya... Dan akal pikiran itu mengungguli teknologi komputer yang paling mutakhir; ia memproses 30 miliar informasi dalam satu detik, mengandung 6.000 mil kabel, dan di dalamnya terdapat 28 miliar sel saraf yang mana masing-masing darinya merupakan komputer mini berukuran kecil yang independen dan mampu memproses sejuta informasi... Dan panjang serat-serat saraf yang menghubungkan antar-sel saraf mencapai 100.000 mil. Dan reaksi refleks pada sel saraf mana pun memiliki kemampuan untuk menyebarkannya kepada ratusan ribu sel saraf yang lain dalam waktu kurang dari 20 bagian dari satu detik... Dan akal pikiran memiliki kemampuan untuk mengenali wajah yang familier (dikenal) dalam waktu kurang dari satu detik, sebuah urusan yang melompati komputer yang paling kuat... Sebagaimana miliaran sel saraf memiliki kemampuan untuk menyerang suatu masalah pada waktu yang sama, berkebalikan dengan komputer yang berjalan langkah demi langkah.

Dan dengan adanya seluruh kekuatan yang luar biasa ini yang diletakkan di bawah pelayanan kita, maka mengapa kita tidak mampu untuk mengubah kebiasaan yang buruk? Dan mengapa kita tidak mampu untuk membawa diri kita sendiri agar merasakan kebahagiaan secara terus-menerus?

Kita pasti mampu melakukan hal tersebut.

Ilmu Saraf (Neuroscience): Tiketmu Menuju Perubahan yang Kekal

Pada setiap kali kita merasakan rasa sakit atau kesenangan, maka akal pikiran kita akan mencari sebabnya dan mencatat hal tersebut di dalam sistem saraf kita sekiranya kita menjadi mampu untuk mengambil keputusan-keputusan yang lebih baik tentang apa yang akan kita lakukan di masa depan.

Dan ketika kita mengerjakan sesuatu urusan untuk pertama kalinya, maka kita sebenarnya sedang menciptakan hubungan fisik, yaitu berupa serat-serat saraf mikro yang mengizinkan kita untuk memanggil kembali emosi atau perilaku ini dari baru di masa depan. Dan pada setiap kali kita mengulang perilaku ini, maka hubungan tersebut akan semakin tebal karena ia menambahkan serat lainnya pada hubungan saraf kita... Dan kita memiliki kemampuan melalui pengulangan yang cukup dan intensitas emosional untuk menambahkan serat-serat yang baru... Hubungan saraf ini merupakan fakta biologis nyata, dan setiap kali kita semakin tenggelam dalam suatu pola dari pola-pola perilaku, maka pola tersebut akan menjadi semakin kuat... Adapun jika kamu berhenti dari tindakan tenggelam dalam perilaku atau emosi ini selama kurun waktu tertentu, maka hubungan saraf tersebut akan melemah dan menyusut (atropi), dan dengan begitu akan sirna pula pola-pola emosional atau perilaku yang merampas kekuatanmu. (Dan hal ini terjadi contohnya ketika kamu berhenti dari kebiasaan merokok; pada permulaan tindakan berhentimu kamu akan merasakan adanya perasaan memaksa yang mengendalikanmu untuk terus merokok disebabkan oleh hubungan-hubungan saraf yang ada, akan tetapi ia akan melemah setelah beberapa waktu).

Bagaimana Cara Menemukan Jalan Pintas yang Rata yang Membebaskanmu dari Rasa Sakit dan Mengantarkanmu pada Kesenangan:

Ilmu pengondisian hubungan saraf menawarkan kepadamu enam langkah untuk memodifikasi perilaku dengan cara memutus pola-pola yang merampas kekuatanmu, dan langkah-langkah tersebut adalah:

  1. Tentukanlah apa yang kamu inginkan secara tepat dan apa yang menghalangimu untuk mencapainya sekarang.
  2. Dapatkanlah daya dorong (dukungan): Hubungkan rasa sakit yang bersangatan dengan tindakan tidak berubah sekarang, dan kegembiraan yang bersangatan dengan pengalaman berubah sekarang.
  3. Putuskanlah pola-pola yang membatasi potensi-potensi kemampuanmu.
  4. Ciptakanlah alternatif baru yang memberikanmu kekuatan.
  5. Cobalah mengondisikan pola yang baru tersebut sampai ia berubah menjadi kebiasaan yang konstan.
  6. Ujilah apa yang telah berhasil kamu selesaikan.

Di waktu kapan pun kamu merasakan rasa sakit yang kuat atau kesenangan yang kuat, maka otakmu akan langsung mencari sebabnya seketika itu juga dengan menggunakan tiga kriteria, yaitu:

  1. Ia mencari sesuatu yang unik... yang tidak biasa di bawah bayang-bayang kondisi yang ada.
  2. Ia mencari sesuatu yang terjadi pada momen dan waktu yang sama di saat kamu merasakan rasa sakit atau kesenangan tersebut.
  3. Ia mencari sesuatu yang konstan dan terus-menerus, yaitu setiap kali hal ini terjadi padamu maka kamu merasakan rasa sakit atau kesenangan... Dan dengan begitu otakmu akan memastikan bahwasanya inilah sebab bagi rasa sakit atau kesenangan yang kamu rasakan.

Akan tetapi, dikarenakan kriteria-kriteria ini membentuk hubungan-hubungan saraf yang tidak akurat, maka adalah hal yang mudah bagi seseorang untuk jatuh menjadi mangsa bagi salah penafsiran terhadap urusan-urusan, dan apa yang kita sebut sebagai hubungan saraf palsu (neuro-asosiasi semu). Maka sering kali kita melemparkan kesalahan pada sebab yang bukan sebenarnya, dan dengan begitu kita menghalangi diri kita sendiri dari kemampuan mencapai solusi-solusi yang benar.

Sumber Sabotase Diri (Penghambatan Diri):

Di antara urusan-urusan yang mendatangkan tipu daya yang besar adalah: Hubungan saraf yang bercampur (neuro-asosiasi campuran), karena ia merupakan sumber bagi tindakan menyabotase diri... Yaitu suatu kondisi yang mana di dalamnya bercampur antara rasa sakit dengan kesenangan dalam satu situasi. Contohnya, masalah uang; kamu boleh jadi mengaitkannya dengan kesenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan, akan tetapi sebagian manusia boleh jadi mengaitkannya dengan keletihan dan rasa sakit dalam usahanya untuk mendapatkannya, atau mereka mengaitkannya dengan sifat serakah dan eksploitasi...

Ketika kamu berada dalam proses mengambil keputusan seputar apa yang ingin kamu lakukan, maka otakmu akan merasakan keletihan dan kebingungan jika ia tidak menerima isyarat-isyarat yang jelas seputar apa yang dapat ia timbang antara rasa sakit atau kegembiraan. Dan sebagai hasil dari hal tersebut, kamu kehilangan kekuatan dorong dan kekuatan yang membuatmu mampu untuk melangkah melakukan tindakan-tindakan yang menentukan.

Jika kamu memberikan pesan-pesan yang bercampur kepada otakmu, maka kamu pasti akan menerima hasil-hasil yang bercampur pula... Pikirkanlah proses pembuatan keputusan di dalam otakmu seolah-olah ia adalah sebuah timbangan: Jika aku melakukan ini, apakah artinya rasa sakit ataukah kegembiraan? Dan bukanlah jumlah faktor yang ada pada setiap sisi yang penting, melainkan berat (bobot) dari masing-masing faktor tersebut.

Tembok Pembatas Rasa Sakit – Rasa Sakit:

Terkadang kamu boleh jadi sampai pada suatu titik yang mana kamu merasakan pada saat itu bahwasanya kamu akan merasakan rasa sakit apa pun yang kamu lakukan (titik tembok pembatas rasa sakit – rasa sakit), maka sering kali kemampuan-kemampuan kita terhenti sampai pada batas lumpuh dan kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan.

Sesungguhnya penggunaan enam langkah dari ilmu pengondisian hubungan saraf akan membantumu untuk menafsirkan pola-pola yang merampas kekuatan ini, karena kamu akan menciptakan jalan-jalan alternatif sekiranya kamu tidak merasa cukup dengan sekadar berharap untuk menghindari perilaku yang tidak diinginkan tersebut atau menghindarinya dalam jangka pendek saja, melainkan kamu akan mengkondisikan kembali dirimu sendiri sekiranya kamu merasakan dan menempuh cara yang selaras dengan pilihan-pilihan barumu yang memberikanmu kekuatan. Karena tanpa adanya perubahan pada apa yang kamu kaitkan dengan rasa sakit dan kesenangan di dalam sistem sarafmu, maka seluruh perubahan tidak akan pernah bertahan lama.

Detail Enam Langkah Ilmu Pengondisian Asosiatif (Neuro-Asosiasi):

Langkah Pertama:

Kita harus memutuskan apa yang sebenarnya kita inginkan, sehingga ada sesuatu yang kita tuju/bergerak ke arahnya... Kita juga harus mengetahui apa hal yang menghalangi kita dari mewujudkan apa yang kita inginkan; misalnya, kita mungkin mengira bahwa kita akan menderita rasa sakit, atau kita takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui (misteri).

Langkah Kedua:

Kebanyakan orang berkata, "Kami ingin berubah, tetapi kami tidak bisa membawa diri kami untuk melakukan perubahan tersebut"... Padahal, perubahan itu biasanya bukanlah masalah "kemampuan", melainkan hampir selalu merupakan masalah "motivasi". Sebagai contoh, jika seseorang menodongkan pistol ke wajahmu, kamu pasti akan langsung berlari... Atau jika kamu mendengar seseorang berteriak: Kebakaran! Kebakaran!... Kamu akan berlari dengan sangat cepat. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang mendorong kita untuk berubah sekarang adalah dengan menciptakan suatu kondisi darurat yang kita rasakan, yang mana intensitasnya sedemikian kuat hingga memaksa kita untuk menuntaskan urusan tersebut.

Terkadang kita memiliki emosi yang bercampur. Di satu sisi, kita ingin berubah karena kita tidak ingin terkena penyakit kanker akibat kecanduan merokok, namun di sisi lain kita takut berubah karena kita berpikir bisa saja mati karena kanker juga meskipun tanpa merokok, ditambah lagi fakta bahwa kita akan kehilangan kenikmatan merokok. Perasaan yang bercampur ini membuat benak kita tidak yakin tentang apa yang harus dilakukan, sehingga menghalangi kita dari penggunaan seluruh kemampuan yang kita miliki.

Lalu bagaimana kita membalikkan situasi ini? Salah satu solusinya adalah kita harus mencapai tingkat "Ambang Batas Rasa Sakit" (Pain Threshold). Jika kamu telah mencoba untuk melakukan perubahan berkali-kali namun gagal, ini berarti tingkat rasa sakit yang dihasilkan dari kegagalan untuk berubah belum mencapai intensitas yang cukup (ambang batas). Oleh karena itu, saya sebagai seorang terapis psikologi bersikeras untuk menetapkan tarif $3.000 untuk satu sesi tunggal, karena tarif tersebut menciptakan kekuatan pendorong dalam diri pembayarnya yang menjadikan perubahan sebagai urusan yang alami. Sebab, membayar jumlah uang sebesar itu menegaskan bahwasanya mereka benar-benar bertekad kuat untuk berubah dan sangat menginginkannya... Dengan demikian, saya akan berhasil bersama mereka.

Sesungguhnya jika kita mengumpulkan sekumpulan alasan kuat yang cukup untuk berubah, kita akan mampu untuk berubah dalam waktu satu menit saja.

Jika kamu ingin membantu seseorang, kamu tidak akan mampu memunculkan kekuatan pendorong tersebut dengan cara menunjukkan kesalahan atau kontradiksi yang ada pada dirinya... Melainkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendorongnya untuk menyadari kontradiksi tersebut oleh dirinya sendiri.

Misalnya, kamu bertanya kepadanya: Apakah kamu yang lebih kuat ataukah rokok itu? Atau misalnya: Apakah kamu sudah melihat statistik yang menunjukkan bahwa pasien akibat merokok itu begini, begitu, dan seterusnya?

Kalau begitu, mengapa manusia tidak kunjung berubah padahal ia merasakan dan mengetahui bahwasanya ia harus berubah? Karena ia menghubungkan rasa sakit yang lebih besar dengan tindakan melakukan perubahan dibandingkan rasa sakit yang akan ia rasakan jika ia tidak berubah... Kita, dengan segala kesederhanaan, wajib membalikkan persamaan ini sekiranya tindakan tidak berubah berubah menjadi sesuatu yang luar biasa menyakitkan (menyakitkan hingga melampaui ambang batas daya tahan kita), sementara tindakan berubah berubah menjadi sesuatu yang menarik serta mendatangkan kebahagiaan dan kesenangan.

Dan agar kamu mendapatkan kekuatan pendorong yang sesungguhnya:

A. Ajukan kepada dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan perasaan sakit: Apakah harga dari tindakan tidak berubahnya diriku? Apa sajakah yang akan hilang dari kehidupanku? Jadikanlah rasa sakit yang dihasilkan dari tindakan tidak berubah itu meresap ke dalam perasaanmu secara nyata, kuat, dan seketika itu juga, sekiranya kamu tidak mampu lagi untuk menunda-nunda. Jika kamu tidak menemukan kekuatan pendorong yang cukup pada hal tersebut, maka kamu wajib memfokuskan perhatian pada dampak urusan itu terhadap orang-orang yang kamu cintai.

B. Kemudian gunakan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kesenangan sekiranya kamu menghubungkan sensasi-sensasi positif ini dengan ide perubahan: Jika aku berubah, bagaimanakah perasaanku saat itu? Dan kumpulkanlah sebanyak mungkin alasan kuat yang cukup untuk memunculkan perubahan seketika itu juga.

Langkah Ketiga:

Definisi gangguan jiwa (gila): Yaitu mengulang tindakan yang sama berkali-kali dengan mengharapkan hasil yang berbeda.

Seseorang pernah mengaku bahwa ia ingin melepaskan diri dari kebiasaan mengonsumsi cokelat, namun di dalam alam bawah sadarnya ia meyakini bahwa mengonsumsinya memberikan dirinya hal-hal yang tidak akan bisa ia dapatkan melalui jalan-jalan yang lain. Untuk menyelesaikan dilema ini, wajib bagi kita untuk menyediakan kekuatan pendorong yang cukup bagi orang tersebut akan pentingnya perubahan, namun di saat yang sama kita wajib menunjukkan kepadanya jalan baru untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya... Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menggunakan pola interupsi/penghancuran pola (pattern interruption) yang kuat agar bisa sampai pada kekuatan pendorong yang diinginkan... Maka saya berkata kepadanya: Kamu tidak boleh makan apa pun selain cokelat selama sembilan hari ke depan... Namun ia tidak menyadari bahwasanya ia tidak sedang berkompetisi dengan saya, melainkan dengan dirinya sendiri. Dengan cara itu, saya meminta bantuan tubuhnya untuk menjadi kekuatan pendorong yang bekerja memutus pola perilakunya... Hasilnya, ia kehilangan hasratnya untuk mengonsumsi cokelat... Kemudian saya membantunya dalam memilih alternatif-alternatif yang memberinya kekuatan dan jalan-jalan baru menuju kesenangan yang memberinya kekuatan lebih besar, yaitu berupa hidangan yang bervariasi dari perilaku sehat, latihan fisik yang memberinya kekuatan, makanan yang kaya akan kandungan air, dan yang sejenisnya. Dahulu semua orang memintanya untuk berhenti makan cokelat, sedangkan saya justru memintanya untuk memakannya... Dan ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak ia duga, dan hal inilah yang menghancurkan pola yang selama ini ia tunduk kepadanya, sehingga dalam waktu cepat ia mulai menghubungkan antara sensasi-sensasi menyakitkan dengan tindakan makan cokelat.

Salah satu sarana terbaik untuk menghancurkan pola yang diikuti oleh seseorang adalah dengan cara bertindak dengan metode yang tidak ia duga sama sekali. Seorang dokter psikologi berkata: Ketika saya mengadakan sesi terapi personal, orang-orang datang kepada saya lalu salah seorang dari mereka berkata: "Masalahku adalah..." dan setelah itu mereka meledak dalam tangis tanpa mampu mengendalikan diri mereka sendiri. Di saat itulah saya berdiri dan berteriak: "Tolong..." (dan hal ini mengejutkan/mengguncang mereka) kemudian saya melanjutkan: "Kita belum memulainya." Mereka biasanya menjawab: "Maaf, maaf sekali..." dan dalam waktu cepat mereka mengubah kondisi emosional mereka serta mendapatkan kembali kendali atas diri mereka sendiri... Orang-orang yang tadinya merasa bahwa mereka tidak mampu mengendalikan kehidupan mereka ini, dalam waktu cepat langsung membuktikan seketika itu juga bahwasanya mereka sebenarnya tahu persis bagaimana cara mengubah sensasi-sensasi perasaan mereka.

Jika kamu merasakan depresi pada suatu waktu, maka pada kali-kali berikutnya, melompatlah dari tempatmu, tataplah ke arah langit, bertakbirlah dengan suara yang keras, dan bersalawatlah kepada Rasulullah, maka dalam waktu cepat pusat perhatianmu akan berubah dan kamu tidak lagi menjadi orang yang depresi.

Jika kamu berlebihan dalam menyantap makanan secara terus-menerus dan ingin berhenti... Melompatlah ke tengah-tengah restoran, tunjuklah kursimu, dan berteriaklah dengan suaramu yang paling keras: Di sana ada orang-orang yang kelaparan yang tidak mendapati makanan!

Karena dengan begitu kamu akan mengaitkan banyak rasa sakit dengan jenis perilaku seperti ini... Dan setiap kali sikapmu dalam melepaskan diri dari suatu pola perilaku adalah sikap yang mengerikan/ekstrem, maka hal itu akan menjadi lebih efektif.

Dan jalan yang mudah untuk memutus pola tertentu adalah melalui cara mencampuradukkan sensasi perasaan. Jika bosmu di tempat kerja berteriak di hadapan wajahmu dan kamu memanggil kembali situasi tersebut di dalam benakmu sepanjang hari, maka mengapa kamu mengizinkan pengalaman ini memengaruhi dirimu secara terus-menerus? Ikutilah langkah-langkah berikut:

A. Bayangkan di dalam otakmu situasi yang dahulu sangat mengganggumu itu... Bayangkan ia seolah-olah sebuah film bioskop... Jangan rasakan gangguan terhadap situasi ini.

B. Ambillah pengalaman yang sama ini dan ubahlah di dalam akal pikiranmu menjadi film kartun animasi... Duduklah di kursimu sembari mengukir senyuman yang lebar di wajahmu, ambillah napas yang panjang, dan putar kembali gambar-gambar tersebut dengan kecepatan yang sangat tinggi dan dengan urutan yang berkebalikan (mundur) agar kamu melihat segala sesuatu terjadi dengan cara yang berkebalikan... Kemudian putar ia berjalan ke depan dengan kecepatan yang lebih besar lagi... Dan sekarang ubahlah warna gambar-gambar tersebut sekiranya wajah semua orang berubah menjadi warna-warna pelangi... Jika di sana ada seseorang yang mengganggumu, maka jadikanlah kedua telinganya membesar seperti Mickey Mouse dan hidungnya membesar, kemudian besarkan hal itu sepuluh kali lipat dan putar gambar-gambar ini di dalam otakmu bolak-balik bersamaan dengan menghapus gambar tersebut dengan kecepatan yang luar biasa disertai cemoohan/kelucuan. Bayangkan beberapa musik latar belakang, yang mana tujuannya adalah meremehkan gangguan tersebut sampai ia hilang, dan kelucuan ini mampu melakukan hal tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini akan mengubah sensasi perasaanmu... Tingkatkanlah kecepatan, kelucuan, dan hiperbola (pembesaran)...

C. Dan sekarang, pikirkanlah situasi yang dahulu mengganggumu itu dan perhatikanlah kualitas perasaanmu saat ini... Dan kamu akan mendapati bahwa adalah hal yang sulit untuk kembali kepada sensasi-sensasi negatif tersebut.

Metode ini sering kali berhasil karena seluruh perasaanmu dibangun di atas gambar-gambar yang kita fokuskan di dalam benak kita, serta di atas suara-suara dan sensasi yang kita hubungkan dengan gambar-gambar khusus ini. Ketika kita mengubah gambar dan suara, maka kita mengubah perasaan kita juga.

Langkah Keempat:

Sebab utama yang menjadikan usaha-usaha perubahan hanya bersifat sementara saja adalah kegagalan kebanyakan orang pada realitasnya dalam menemukan alternatif yang memungkinkan mereka untuk melepaskan diri dari rasa sakit dan mewujudkan perasaan gembira... Maka apa yang kita butuhkan adalah mengisi celah kosong tersebut dengan sekumpulan pilihan baru yang akan memberikanmu perasaan gembira yang sama tanpa adanya dampak-dampak sampingan yang negatif. Jika kamu menderita kecemasan sebagai contoh, maka gantikanlah ia dengan kerja intensif atau dengan rencana untuk mewujudkan tujuan-tujuanmu... Adapun depresi, maka gantikanlah ia dengan fokus pada tindakan membantu orang lain yang membutuhkan.

Seseorang dahulu lebih memilih mengunyah tembakau daripada kesenangan mana pun dari kesenangan-kesenangan kehidupan... Lalu apa yang membawanya untuk mengubah perilakunya? Ia pada akhirnya berhasil mewujudkan kekuatan pendorong yang mendesaknya untuk melepaskan diri dari kebiasaan tersebut... Ia memandang tindakan mengunyah tembakau sebagai suatu urusan yang sama sekali bertentangan dengan kualitas kehidupan yang ia inginkan, karena ia dahulu menderita kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan ini sangat menyakitkan baginya. Maka ia mulai mengarahkan benaknya pada potensi dirinya terkena penyakit kanker dan merasakan jijik terhadap rasa tembakau.

Dan kunci penting berikutnya adalah bahwasanya ia menciptakan jalan-jalan baru yang mewujudkan kesenangan bagi dirinya, maka ia mulai mencurahkan seluruh usahanya ke dalam pekerjaannya, kemudian ia menikah...

Akan tetapi, sebagian perokok yang memutus pola merokok terkadang berat badan mereka justru bertambah, karena benak mereka mencari jalan-jalan baru untuk menciptakan jenis perasaan menyenangkan yang sama, sehingga mereka beralih pada tindakan berlebihan dalam makanan.

Sebuah studi pernah dilakukan untuk mengevaluasi tingkat rehabilitasi pada para pengguna obat-obatan (narkoba) dan pengadopsian perilaku alternatif:

  1. Kelompok pertama: Berhenti dari kecanduan di bawah tekanan eksternal yang dipaksakan dari otoritas peradilan... Akan tetapi, tekanan yang seperti ini jarang sekali mendatangkan pengaruh yang langgeng, karena mereka langsung kembali kepada kebiasaan lama mereka begitu tekanan ini diangkat dari mereka dan mereka keluar dari penjara.
  2. Kelompok kedua: Mereka mencoba berhenti atas kemauan dari diri mereka sendiri (kekuatan pendorongnya pada dasarnya bersifat internal), oleh karena itu perubahan-perubahan perilaku ini bertahan untuk kurun waktu yang lebih lama, akan tetapi mereka kembali lagi kepada kecanduan setelah dua tahun dikarenakan mereka tidak menemukan alternatif (pengganti).
  3. Kelompok ketiga: Mereka mengganti kecanduan tersebut dengan alternatif baru seperti ketaatan beragama, hubungan-hubungan yang memuaskan, atau profesi yang mereka gantungkan diri kepadanya... Dan mereka tetap terbebas dari kecanduan selama jangka waktu yang rata-ratanya lebih dari delapan tahun sebelum akhirnya mereka tergelincir kembali ke dalamnya... Mengapa? Karena mereka tidak menggunakan langkah kelima yang sangat menentukan: Cobalah mengondisikan pola yang baru tersebut sampai ia berubah menjadi kebiasaan yang konstan.

Langkah Kelima:

Yaitu untuk memastikan bahwasanya perubahan yang telah kamu ciptakan akan tetap konstan dan bertahan untuk jangka waktu yang lama, hal itu dilakukan dengan cara:

  1. Mengulang dan mereproduksinya kembali berkali-kali sampai tercipta sebuah jalur saraf untuknya, jika tidak maka kamu akan kembali kepada polamu yang terdahulu.
  2. Langkah berikutnya adalah kamu menetapkan jadwal waktu untuk memperkuat perilaku barumu... Yaitu dengan menghadiahi dirimu sendiri atas kesuksesanmu... Jangan menunggu sampai berlalu satu tahun penuh atas tindakanmu berhenti merokok, melainkan hadiahilah dirimu sendiri setelah berlalunya satu hari saja... Tentukanlah serangkaian tujuan jangka pendek atau batu loncatan di tengah jalan, dan begitu kamu sampai pada salah satu dari tujuan atau batu loncatan ini, kamu wajib langsung menghadiahi dirimu sendiri seketika itu juga... Dengan cara ini, sistem sarafmu belajar untuk menghubungkan kesenangan yang maksimal dengan perubahan. Dan dengan pengulangan penguatan pola yang baru, ia akan berubah menjadi bentuk respons yang otomatis dan terkondisikan...

Dan penguatan itu ada dua jenis: positif dengan hadiah, dan negatif misalnya dengan hukuman fisik, dahi yang mengernyit, atau teriakan... Contohnya, sang pelatih langsung berteriak sesaat setelah permainan yang indah: Luar biasa!... Dan ini jauh lebih baik daripada menunggu sampai setelah selesainya pertandingan.

Sebaliknya, di dalam dunia peradilan, hukuman tidak dieksekusi terhadap pelaku kriminal kecuali mungkin setelah bertahun-tahun dari waktu kejahatan, dan dalam situasi ini pola perilaku kriminal yang menuntun pada terjadinya kejahatan tetap berada pada kondisinya tanpa ada perubahan; ia tidak dihancurkan sebagaimana tidak adanya rasa sakit yang dihubungkan dengannya... Demikian pula halnya di dalam perusahaan-perusahaan; mereka mencoba memotivasi para pegawai mereka dengan beralih pada penguatan-penguatan negatif menggunakan rasa takut terhadap hukuman sebagai motivator utama bagi mereka... Dan ini berjalan dalam jangka pendek namun tidak berguna dalam jangka panjang... Terkadang perusahaan menggunakan insentif keuangan sebagai motivator positif, dan meskipun ia sangat bagus, namun di sana ada batas bagi efektivitasnya. Karena ada suatu titik yang mana setelahnya insentif-insentif ini tidak lagi menjadi pendorong untuk memproduksi kualitas pekerjaan yang lebih baik; pegawai boleh jadi mengharapkan bahwa mereka akan mendapatkan hadiah setiap kali mereka menyelesaikan sesuatu yang bernilai, dan mereka tidak lagi bekerja kecuali demi hadiah keuangan saja, di saat pihak tempat kerja mereka tidak lagi mampu untuk memenuhi tuntutan-tuntutan ekonomi bagi para pegawainya. Adapun metode yang paling kuat untuk memotivasi manusia adalah melalui jalan pertumbuhan personal dengan cara membantu para pegawai untuk tumbuh dan memperluas kepribadian mereka yang berangkat dari perasaan bangga secara personal, dan bukan sebagai hasil dari tekanan dari luar.

Dan unsur kejutan yang menyenangkan menyediakan porsi kesenangan yang paling besar bagi manusia, maka yang paling baik adalah mengadopsi (jadwal penguatan yang berubah-ubah/variabel) jika kamu ingin suatu perilaku terus berlanjut.

Misalnya: Pelatih lumba-lumba pertama-tama memberikan lumba-lumba seekor ikan pada setiap kali ia melakukan gerakan yang benar sampai tercipta hubungan saraf yang menghubungkan antara kesenangan dan perilaku... Akan tetapi, sang pelatih tidak lagi memberinya ikan setelah itu kecuali ketika ia melompat dengan lompatan yang tinggi, dan dengan begitu, ia—dengan cara menaikkan standar yang dituntut dari lumba-lumba—sebenarnya sedang membentuk perilakunya. Karena jika ia diberi hadiah secara terus-menerus, ia bisa saja menjadi terbiasa atas hal itu dan tidak memberikan seluruh apa yang dimilikinya secara 100%. Dengan metode ini, lumba-lumba tetap berada dalam kondisi tidak yakin lompatan manakah yang akan membuatnya menerima hadiah... Dan perasaan ekspektasi serta penantian akan potensi meraih hadiah inilah yang mendorong lumba-lumba untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya secara terus-menerus.

Menerima hadiah sekecil apa pun dan menang dalam jumlah yang sedikit, sesungguhnya akan membangkitkan kondisi ekspektasi dan penantian akan kemenangan di dalam dirimu.

Orang-orang yang berhenti dari kebiasaan buruk (seperti merokok) kemudian memutuskan untuk mempraktikkan kebiasaan ini untuk satu kali saja, sesungguhnya mereka pada realitasnya sedang memperkuat kembali pola yang sama yang sedang mereka coba hancurkan tersebut, sekiranya berubah menjadi sangat sulit untuk terbebas dari kebiasaan ini di sepanjang hidup mereka dikarenakan diaktifkannya kembali hubungan saraf tersebut.

Para pekerja yang menerima gaji mereka satu kali setiap dua minggu mengetahui bahwasanya mereka dituntut untuk menunaikan pekerjaan tertentu yang mana mereka menerima upah yang telah ditetapkan dan tidak berubah atas pekerjaan itu. Akibatnya, mereka belajar untuk tidak menyelesaikan pekerjaan kecuali sebatas minimal apa yang diperlukan untuk mencapai hadiah tersebut, dikarenakan tidak adanya kejutan yang menunggu mereka; gaji-gaji tersebut sudah dapat diprediksi... Maka mereka tidak akan mengerahkan kecuali sedikit sekali dari usaha sebagai imbalan dari upah yang mereka harapkan tersebut. Adapun jika di sana terdapat kejutan-kejutan di antara satu waktu ke waktu yang lain seperti sertifikat penghargaan, kenaikan jabatan, atau bonus, maka para pekerja tanpa diragukan lagi akan mengerahkan usaha-usaha tambahan atas dasar harapan dan ekspektasi. Maka wajib bagimu untuk memvariasikan hadiah-hadiahmu dan jadikan di sana ada hadiah besar yang jauh lebih banyak daripada apa yang diharapkan... Dan prinsip ini memiliki efek sihir, khususnya dalam cara interaksimu dengan anak-anakmu.

Langkah Keenam:

Yaitu: Menguji perubahan ini untuk memastikan bahwasanya ia akan berhasil di masa depan:

  1. Pastikan bahwa rasa sakit telah dihubungkan dengan polamu yang lama.
  2. Pastikan bahwa kesenangan telah dihubungkan dengan pola yang baru.
  3. Pastikan bahwa kamu menyelaraskan pola yang baru dengan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinanmu.
  4. Pastikan untuk mempertahankan keuntungan-keuntungan (manfaat positif) dari pola yang lama.
  5. Mengukur masa depan: Bayangkan dirimu sedang berperilaku dengan cara yang baru ini di masa depan... Bayangkan urusan yang tadinya memiliki kemampuan untuk mendorongmu mengadopsi pola yang lama (misalnya: stres yang mungkin mendorongmu untuk mengambil sebatang rokok)... Dan pastikan bahwasanya kamu mampu menggunakan pola yang baru sebagai pengganti dari yang lama... Perhatikanlah apakah kamu akan merasakan adanya dorongan yang mendorongmu menuju tindakan membaca, berlari, atau alternatif apa pun yang telah kamu kondisikan dengannya, dan bahwasanya alternatif baru tersebut memberikanmu kekuatan... Jika hal itu telah berubah menjadi pola yang otomatis, maka kamu akan mengetahui dalam kondisi ini bahwasanya pola yang baru akan layak bagimu di masa depan (sesuai dan berkelanjutan).

Mari kita asumsikan bahwa kamu merasa cemas secara berlebihan seputar urusan-urusan yang tidak mampu kamu kendalikan: Maka bagaimanakah mungkin bagimu menggunakan enam langkah ini untuk mengubah kondisi yang merampas kekuatanmu ini?

  1. Ajukan pertanyaan kepada dirimu sendiri: Apa yang ingin aku lakukan sebagai ganti dari rasa cemas?
  2. Carilah kekuatan pendorong yang kamu pacu dengannya dirimu sendiri, dan cobalah untuk menyadari sejauh mana kehancuran yang disebabkan oleh rasa cemas kepadamu... Dan cobalah untuk membawanya sampai ke titik ujung (tepi) lalu hitunglah sejauh mana biayanya bagi kehidupanmu.
  3. Hancurkan pola yang kamu ikuti pada setiap kali kamu merasa cemas... Tunjukkan kemarahanmu yang total serta penolakanmu lalu berteriaklah: Alangkah indahnya pagi ini!
  4. Ciptakan alternatif yang memberikan kalian kekuatan: Apa yang kamu lakukan sebagai ganti dari tindakan merasa cemas? Seperti berlari misalnya.
  5. Kondisikan dan jinakkan pola yang baru... Bayangkan ia dengan segala kejelasan dan transparansi, dan ulangilah hal itu sampai ia menjadi otomatis. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Biasakanlah diri kalian dengan kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu adalah kebiasaan." Dan Al-Ghazali berkata: "Manusia adalah tawanan bagi kebiasaannya, bahkan jika ia terbiasa memakan tanah niscaya ia akan memakannya." Dan kebiasaan-kebiasaan yang besar adalah kekuatan tarik yang sangat luar biasa yang masuk ke dalam lubuk terdalam, yang ditanam dari praktik-praktik harian dan dengan gambaran yang istimewa yang berbeda dari orang lain. Orang-orang terdahulu berkata: "Kebiasaan adalah alam tabiat kedua, ia memiliki kekuatan yang mendekati alam tabiat pertama yaitu fitrah," kemudian perkuatlah sikapmu... Sesungguhnya melihat hasil-hasilnya terlebih dahulu memberikanmu kesenangan. Kemudian beralihlah pada tindakan pengulangan dan emosi yang meluap-luap agar kamu mengondisikan pola yang baru sampai ia berubah menjadi konstan dan berkelanjutan.

Tabel (6): Uji Pengembangan Bakat Personal

  • Nilai Skor:
    • 0 - 7: Bakat tidak aktif
    • 8 - 12: Bakat aktif
    • 9 - 13: Bakat yang telah dikembangkan dengan baik
  • Instruksi: Diminta untuk meletakkan lingkaran di sekitar angka yang mengekspresikan perilakumu, atau pandanganmu terhadap setiap pernyataan dari pernyataan-pernyataan berikut.
    • (0 = Tidak pernah terjadi, 2 = Kadang-kadang, 4 = Selalu).

Pandangan Terhadap Diri (Self-View):

No

Pernyataan

Tidak (0)

(1)

Kadang-kadang (2)

(3)

Selalu (4)

1

Apakah saya dapat melihat pikiran dan perasaan saya secara netral, lalu mengujinya, dan mengubahnya?

0

1

2

3

4

2

Apakah saya menyadari nilai-nilai dasar saya, dan sejauh mana pengaruhnya terhadap kecenderungan saya, perilaku saya, serta hasil-hasil yang saya dapatkan di dalam kehidupan saya?

0

1

2

3

4

3

Apakah saya memiliki pengetahuan tentang perbedaan antara pembentukan organik, genetik, psikologis, dan sosial dengan pikiran-pikiran mendalam saya dari dalam diri?

0

1

2

3

4

4

Ketika reaksi manusia terhadap saya atau terhadap perilaku saya bertentangan dengan pandangan yang saya gunakan untuk melihat diri saya sendiri, apakah saya mampu mengevaluasi reaksi-reaksi tersebut?

0

1

2

3

4

5

Apakah saya mengevaluasi hal ini dari perspektif pengetahuan yang mendalam tentang diri saya sendiri, kemudian saya belajar dari diri saya sendiri?

0

1

2

3

4

Hati Nurani (Conscience):

No

Pernyataan

Tidak (0)

(1)

Kadang-kadang (2)

(3)

Selalu (4)

1

Apakah ada perasaan internal yang membimbing saya untuk melakukan atau tidak melakukan suatu urusan tertentu ketika saya sedang dalam proses melakukan urusan tersebut?

0

1

2

3

4

2

Apakah saya membedakan perbedaan antara hati nurani sosial—yaitu nilai-nilai yang dipaksakan oleh masyarakat kepada saya—dengan bimbingan internal yang bersumber dari diri saya sendiri yaitu hati nurani saya sendiri?

0

1

2

3

4

3

Apakah saya merasakan di dalam diri saya nilai-nilai Islam yang sesungguhnya seperti nilai-nilai kehormatan (kemuliaan) dan perwira (muru'ah), serta tindakan menjadi tempat kepercayaan bagi orang lain?

0

1

2

3

4

4

Apakah saya memperhatikan adanya pola tertentu dalam pengalaman manusia secara umum (yang lebih besar, dan lebih luas daripada yang dipaksakan oleh masyarakat tempat saya hidup di dalamnya) yang menegaskan realitas prinsip-prinsip yang luhur?

0

1

2

3

4

Kehendak Independen (Independent Will):

No

Pernyataan

Tidak (0)

(1)

Kadang-kadang (2)

(3)

Selalu (4)

1

Apakah saya mampu menetapkan janji-janji yang jujur kepada diri saya sendiri dan kepada orang lain?

0

1

2

3

4

2

Apakah saya mampu bertindak dari perspektif hati nurani internal, bahkan jika hal itu berarti harus berenang melawan arus?

0

1

2

3

4

3

Apakah saya memiliki kemampuan untuk meletakkan tujuan-tujuan yang penting di dalam kehidupan saya?

0

1

2

3

4

4

Apakah saya mengerahkan perasaan-perasaan saya demi melayani komitmen-komitmen saya?

0

1

2

3

4

Imajinasi Kreatif (Creative Imagination):

No

Pernyataan

Tidak (0)

(1)

Kadang-kadang (2)

(3)

Selalu (4)

1

Apakah saya termasuk jenis orang yang memikirkan masa depan dan membuat rencana untuknya?

0

1

2

3

4

2

Apakah saya mampu melihat kehidupan saya melampaui dari realitas yang hadir saat ini?

0

1

2

3

4

3

Apakah saya menggunakan pandangan masa depan untuk mewujudkan tujuan-tujuan saya?

0

1

2

3

4

4

Apakah saya selalu mencari metode-metode baru untuk memecahkan masalah di dalam setiap situasi, dan menghargai pandangan yang berbeda dari orang lain?

0

1

2

3

4

Lihatlah secara mendalam pada pertanyaan-pertanyaan yang tertera di dalam tabel di atas dan cobalah untuk menjawabnya. Jawabanmu akan memperjelas kepadamu sampai sejauh mana kamu telah mengembangkan bakat-bakat personal tersebut pada dirimu, serta tingkat ketergantunganmu kepadanya dalam menjalankan kehidupanmu [Lihat dalam urusan itu, buku Manajemen Prioritas hlm. 84, 85.].

6- Ujilah Pola yang Baru:

Pikirkanlah situasi yang dahulu menjadi sebab timbulnya rasa cemas bagimu, dan pastikanlah apakah kamu tidak akan merasa cemas lagi di dalam situasi ini.

Kamu juga dapat menggunakan enam langkah untuk pengondisian dengan hubungan saraf ini untuk menandatangani sebuah kontrak dengan dirimu sendiri seputar pemunculan perubahan ini:

  1. Pastikan dengan jelas apa yang ingin kamu wujudkan.
  2. Wujudkan kekuatan pendorong yang diperlukan (hubungkan rasa sakit dengan tindakan menahan diri dari kontrak, dan kesenangan dengan tindakan mengadakan kontrak tersebut).
  3. Hancurkan pola dari keyakinan apa pun yang menghalangi kesepakatan transaksi ini.
  4. Ciptakan alternatif baru yang mewujudkan kebutuhan kalian berdua.
  5. Perkuatlah alternatif tersebut dengan kesenangan dan dengan dampak positif dari alternatif tersebut secara terus-menerus.
  6. Pastikan bahwasanya perubahan ini akan mewujudkan hasil-hasil yang baik bagi semua orang (win-win / keuntungan penuh).

Kamu dapat menggunakan prinsip-prinsip yang sama ini untuk mendorong anak-anakmu agar membersihkan kamar-kamar mereka dan merapikannya, untuk memperbaiki kondisi-kondisi kehidupan pernikahanmu, untuk menaikkan tingkat kualitas di tempat kerja profesionalmu, serta untuk mewujudkan kesenangan yang lebih besar dari praktik pelaksanaan pekerjaanmu.

Bagaimana Cara Mewujudkan Apa yang Benar-Benar Kamu Inginkan:

Mengapa si fulan... yang merupakan salah satu pecandu terkenal, sengaja menghancurkan tubuhnya dengan cara yang mengherankan ini melalui kecanduan? Jawabannya adalah karena ia lebih memilih untuk tetap kehilangan kesadaran di bawah pengaruh obat-obatan daripada berada dalam kondisi sadar namun merana. Para pecandu itu melarikan diri dari rasa sakit di kehidupan mereka dengan cara berlindung kepada kecanduan.

Karakteristik para pecandu:

  1. Mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kehidupan ini, oleh karena itu mereka memalingkan diri mereka sendiri dan mengacaukannya dengan berbagai jenis bahan buatan yang mengubah suasana hati (mood) mereka.
  2. Jalur-jalur saraf tidak tumbuh pada diri mereka, melainkan jalan-jalan pintas yang cepat yang mengantarkan mereka pada rasa sakit. Terlepas dari kesuksesan-kesuksesan mereka yang dahulu mereka impikan dan dikelilinginya mereka oleh jutaan pengagum, sesungguhnya referensi-referensi rasa sakit di dalam diri mereka jauh lebih besar daripada semua hal itu.
  3. Mereka tidak mengetahui bagaimana cara merasakan bahwasanya mereka berada dalam kondisi baik-baik saja.
  4. Mereka tidak pernah mempelajari metode-metode dan sarana yang mengarahkan mereka pada apa yang mereka fokuskan di dalam benak mereka secara sadar. Mereka telah membiarkan rasa sakit dan kesenangan di lingkungan sekitar mereka untuk mengendalikan mereka, alih-alih mereka yang mengendalikan diri mereka sendiri.

Ajukan pertanyaan kepada dirimu sendiri: Apa yang kamu inginkan secara spesifik? Dan mengapa kamu menginginkannya?... Sesungguhnya apa yang kamu inginkan pada realitasnya adalah mewujudkan urusan-urusan atau hasil-hasil tersebut karena kamu memandangnya sebagai sarana untuk sampai pada perasaan, emosi, dan kondisi tertentu yang kamu harapkan... Dan kita memiliki kemampuan untuk mengubah apa yang kita yakini dapat menuntun pada rasa sakit atau kesenangan seketika itu juga, yaitu dengan cara mengarahkan kembali fokus kita serta dengan mengubah kondisi mental, emosional, dan fisik kita.

Apakah pernah tampak jelas bagimu bahwasanya kamu tidak mampu mengingat nama salah seorang temanmu? Apakah sebab yang menghalangimu? Apakah karena kamu bodoh? Sama sekali tidak... Melainkan karena kamu sedang berada dalam kondisi (situasi mental) yang bodoh... Jadi, urusan tersebut tidak bergantung pada kemampuanmu, melainkan pada kondisi benakmu atau tubuhmu pada momen tertentu... Oleh karena itu, agar kamu dapat mengubah kemampuan-kemampuanmu, kamu wajib mengubah kondisimu menuju kondisi yang dicirikan dengan kemahiran dan ekspektasi yang aktif.

Di samping itu, ada dua cara yang terlihat nyata untuk mengubah emosimu setelah itu: baik dengan cara mengubah metode yang kamu gunakan pada tubuhmu, atau dengan cara mengubah titik fokusmu.

Fisiologi Tubuh: Kekuatan Gerakan:

Saya telah menemukan bahwasanya emosi itu diproduksi oleh gerakan... Maka mari kita coba bersama-sama sebuah gerakan yang lucu untuk sesaat waktu... Gerakan ini dan kecepatan yang berhasil kamu ciptakan, baik pada tubuhmu maupun pada pita suaramu, akan mengubah cara perasaanmu.

Setiap emosi yang kamu rasakan, sesungguhnya ia terhubung dengan fisiologi yang spesifik: yaitu pada posisi tubuhmu, pada pola napasmu, atau pada pola-pola gerakanmu dan ekspresi wajahmu.

Kamu setelah itu dapat kembali pada kondisi-kondisi ini atau menghindarinya hanya dengan cara mengubah kondisi fisikmu. Dan tantangan yang kita hadapi adalah bahwasanya kamu terbiasa pada pola-pola perilaku fisik yang terbatas.

Setiap dari kita memiliki lebih dari 80 otot di bagian wajah... Dan jika otot-otot ini terbiasa untuk mengekspresikan depresi atau kebosanan, ia akan mulai mendiktekan kondisi-kondisi kita kepada kita dan akan memengaruhi kepribadian baru kita.

Sesungguhnya setiap dari kita memiliki jumlah yang terbatas dari kondisi fisik yang menuntun pada pola ekspresi yang terbatas pula... Maka seluruh kondisi dan emosi ini rata-rata berkisar pada sepuluh jenis: (Stres / Frustrasi / Marah / Tidak Aman / Kesepian / Bosan / Sengsara / Bahagia / Merasa Nyaman dan Gembira / Cinta / Kegembiraan yang Meluap / Kegembiraan yang Amat Sangat).

Kamu dapat mencoba emosi mana pun dari emosi-emosi ini dengan cara mengubah metode yang kamu gunakan pada tubuhmu... Kamu dapat merasakan bahwasanya kamu kuat, kamu dapat tersenyum, dan kamu dapat mengubah seluruh apa yang kamu rasakan dalam kurun waktu satu menit dengan cara tertawa.

Jika kamu menggunakan tubuhmu dengan jalan yang lemah—jika kamu menurunkan kedua pundakmu secara terus-menerus dan jika kamu berjalan dalam kondisi lelah—maka kamu akan selalu merasakan kelelahan... Lalu bagaimanakah kamu dapat menghindari hal tersebut?

Sesungguhnya tubuhmulah yang memimpin emosimu, dan kondisi emosional yang mengendalikanmu akan mulai memengaruhi tubuhmu sehingga ia menjadi laksana lingkaran setan yang tidak ada akhirnya...

Perhatikanlah bagaimana cara kamu duduk sekarang... Tegakkanlah posisi dudukmu pada momen ini juga dan embuskanlah lebih banyak energi ke dalam tubuhmu tanpa sekadar merasa cukup dengan membaca saja, melainkan cobalah untuk menguasainya (mempraktikkannya) juga. Ambillah napas dalam-dalam melalui hidungmu kemudian embuskan melalui mulutmu. Ukirlah senyuman yang besar di wajahmu dan berkomitmenlah untuk meluangkan waktu satu menit sebanyak lima kali dalam sehari dalam kondisi kamu mengukir senyuman yang lebar dari telinga ke telinga lalu tataplah cermin... Urusan ini mungkin tampak konyol, akan tetapi ingatlah bahwasanya kamu dengan gerakan fisik ini sesungguhnya sedang melepas pelatuk (pemicu) dari bagian otakmu itu dan sedang menciptakan jalur saraf bagi kesenangan dan kenikmatan yang akan menjadi seperti kebiasaan pada dirimu... Dengan begitu, kamu mengubah suasana hatimu dan suasana hati orang lain juga... Karena tawa itu berubah menjadi sesuatu yang menular bagi setiap orang yang mendengarnya.

Dalil-Dalil Hadis Mengenai Tawa dan Keceriaan Wajah Rasulullah :

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Rasulullah apabila datang wahyu kepadanya atau ketika berkhotbah (memberi nasihat), aku katakan: (Beliau laksana) pemberi peringatan bagi suatu kaum yang akan didatangi oleh azab. Namun apabila hal itu telah hilang dari beliau, aku melihat beliau menjadi manusia yang paling ceria wajahnya, paling banyak tawanya, dan paling tampan raut mukanya."

Al-Haitsami berkata (9/17): "Sanadnya hasan." Dan di dalam riwayat Al-Thabarani dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah adalah termasuk manusia yang paling banyak tertawa dan paling baik jiwanya." Di dalam sanadnya terdapat Ali bin Yazid Al-Alhani dan dia adalah seorang yang lemah, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami (9/17).

Tawa Beliau pada Hari Perang Khandaq:

Al-Tirmidzi mengeluarkan di dalam Al-Syamail (hlm. 16) dari Amir bin Sa'd, ia berkata: Sa'd radhiyallahu 'anhu berkata:

"Sungguh aku telah melihat Rasulullah tertawa pada hari perang Khandaq hingga tampak gigi gerahamnya." Perawi bertanya: "Bagaimanakah (tawa) beliau?" Sa'd menjawab: "Ada seorang laki-laki yang bersamanya sebuah perisai, dan Sa'd adalah seorang pemanah. Laki-laki (musuh) itu melakukan begini dan begitu dengan perisainya untuk menutupi dahinya. Maka Sa'd mencabut sebatang anak panah untuknya, dan ketika laki-laki itu mengangkat kepalanya, Sa'd langsung memanahnya dan tidak meleset dari bagian ini darinya—yaitu dahinya. Laki-laki itu pun jungkir balik dan mengangkat kakinya. Maka Rasulullah tertawa hingga tampak gigi gerahamnya." Aku bertanya: "Karena hal apa beliau tertawa?" Sa'd menjawab: "Karena apa yang dilakukan Sa'd terhadap laki-laki tersebut."

Tawa Beliau karena Perbuatan Seorang Laki-Laki yang Fakir di Bulan Ramadan:

Al-Bukhari mengeluarkan di dalam Shahih-nya (2/899) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Ada seorang laki-laki mendatangi Nabi lalu berkata: 'Celaka aku! Aku telah menyetubuhi istriku di bulan Ramadan.' Beliau bersabda: 'Merdekakanlah seorang budak.' Laki-laki itu berkata: 'Aku tidak memilikinya.' Beliau bersabda: 'Berpuasalah dua bulan berturut-turut.' Ia berkata: 'Aku tidak mampu.' Beliau bersabda: 'Berilah makan enam puluh orang miskin.' Ia berkata: 'Aku tidak mendapatinya.' Kemudian dibawakan kepada Nabi sebuah 'araq yang di dalamnya berisi kurma—Ibrahim berkata: 'Araq adalah miktal (keranjang) (dari anyaman daun kurma) —maka beliau bersabda: 'Di manakah orang yang bertanya tadi? Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya.' Laki-laki itu berkata: 'Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku? Demi Allah, tidak ada di antara dua labah (dua daerah berbatu hitam yang mengapit kota Madinah) penghuni rumah yang lebih fakir daripada kami.' Maka Nabi tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, lalu beliau bersabda: 'Kalau begitu, berikanlah kepada keluargamu'."

Hadis Abu Dzar dan Ibnu Mas'ud tentang Tawa Beliau :

Al-Tirmidzi mengeluarkan di dalam Al-Syamail (hlm. 16) dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui orang pertama yang masuk surga dan orang terakhir yang keluar dari neraka. Didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat lalu dikatakan: 'Tunjukkan kepadanya dosa-dosa kecilnya dan sembunyikan darinya dosa-dosa besarnya.' Maka dikatakan kepadanya: 'Kamu telah mengamalkan pada hari ini begini dan begitu.' Dan ia mengakuinya tanpa mengingkari, sementara ia dalam keadaan cemas terhadap dosa-dosa besarnya. Lalu dikatakan: 'Berikanlah kepadanya sebagai ganti dari setiap keburukan yang telah diamalkannya berupa satu kebaikan.' Maka laki-laki itu berkata: 'Sesungguhnya aku memiliki dosa-dosa yang tidak aku lihat di sini'." Abu Dzar berkata: "Sungguh aku telah melihat Rasulullah tertawa hingga tampak gigi gerahamnya."

Dan di dalam kitab yang sama juga dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari penduduk neraka; yaitu seorang laki-laki yang keluar darinya dalam keadaan merangkak, lalu dikatakan kepadanya: 'Pergilah dan masuklah ke dalam surga'." Beliau bersabda: "Maka ia pergi untuk masuk ke dalam surga, namun ia mendapati manusia telah menempati tempat-tempat tinggal (kedudukan) mereka. Ia pun kembali lalu berkata: 'Wahai Rabbku, manusia telah menempati tempat-tempat tinggal mereka.' Maka dikatakan kepadanya: 'Apakah kamu ingat zaman yang kamu berada di dalamnya dahulu?' Ia menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: Dikatakan kepadanya: 'Berangan-anganlah.' Maka ia pun berangan-angan, lalu dikatakan kepadanya: 'Sesungguhnya bagimu apa yang kamu angan-angankan dan sepuluh kali lipat dari dunia.' Beliau bersabda: Laki-laki itu berkata: 'Apakah Engkau mengejekku padahal Engkau adalah Sang Raja!'." Ibnu Mas'ud berkata: "Sungguh aku telah melihat Rasulullah tertawa hingga tampak gigi gerahamnya."

Kewibawaan Nabi :

Al-Qadhi 'Iyadh mengeluarkan di dalam kitab Al-Syifa dari Kharijah bin Zaid radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi adalah manusia yang paling berwibawa di dalam majelisnya, beliau hampir tidak pernah mengeluarkan (menampakkan) sesuatu pun dari ujung-ujung anggota tubuhnya (menjaga sikap tubuh dengan sangat sopan)." Dan Abu Dawud mengeluarkannya di dalam Al-Marasil, sebagaimana yang terdapat di dalam Syarh Al-Syifa karya Al-Khafaji (2/117).

Maka jika kamu ingin memperbaiki kualitas kehidupanmu, kamu wajib belajar untuk tertawa.

Cobalah untuk tertawa tanpa sikap kaku sebanyak tiga kali dalam sehari... Dan tawa itu berpengaruh pada tindakan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh di dalam jasmani.

Mengapa kamu tidak mencoba untuk menemukan seseorang yang sedang tertawa lalu meniru dirinya... Kamu akan merasa bahwa kamu tidak berwibawa pada permulaannya, akan tetapi kamu akan menerima urusan tersebut di kemudian hari... Sesungguhnya kamu dengan cara itu sedang meletakkan dasar-dasar jaringan saraf yang menciptakan tawa secara terus-menerus, dan ketika kamu mengulang hal tersebut, kamu akan menghabiskan waktu-waktu yang menyenangkan. "Tawa itu mendatangkan kegembiraan, dan sedikitnya tawa mendatangkan kesengsaraan. Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah sedekah."

Sesungguhnya kunci segala urusan di dalam kehidupan ini adalah kemampuanmu untuk membawa dirimu sendiri agar merasakan perasaan yang baik jika pada realitasnya kamu tidak merasakan perasaan tersebut. "Islam menyeru pada sikap optimisme dan kelapangan dada."

Sesungguhnya mempraktikkan olahraga di udara terbuka di tengah pemandangan alam yang memukau berpengaruh pada tubuh, khususnya terhadap aliran hormon adrenalin... Dan hal ini memperbaiki kreativitasmu.

Kita dapat mengubah tingkat performa kita dengan cara mengubah kondisi tubuh kita dan meletakkannya dalam kondisi-kondisi yang memungkinkan kita untuk mengeluarkan kemampuan-kemampuan ini.

Sesungguhnya kunci kesuksesan adalah menciptakan pola-pola dari gerakan yang menciptakan perasaan percaya diri pada diri kita, serta sensasi kekuatan, fleksibilitas, kekuatan personal, dan keceriaan.

Sesungguhnya kondisi stagnasi (mandek) dan kebusukan itu hanyalah bersumber dari ketiadaan gerakan.

Kamu wajib menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda... Hendaknya ada musim semi pada langkah kakimu dan senyuman di wajahmu... Mengapa kamu tidak menjadikan keceriaan, kegembiraan yang meluap, dan canda tawa sebagai prioritas di dalam kehidupanmu? Berusahalah agar perasaan yang baik menjadi kaidah dasar di dalam kehidupanmu... Karena tidak ada sesuatu pun yang menghalangimu dari hal tersebut; kamu masih hidup dan kamu memiliki kemampuan untuk merasakan perasaan yang baik tanpa perlu adanya sebab langsung untuk hal tersebut. Berdirilah dan tanyakan pada dirimu sendiri: Apakah aku bahagia?

Pertanyaan paling sulit bagi manusia adalah ketika ia menyendiri dengan dirinya sendiri, lalu merenungkan realitasnya, yaitu ketika ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku bahagia? Boleh jadi ia telah sampai pada jabatan-jabatan tertinggi, memiliki harta yang melimpah, dan menjadi bahan pembicaraan manusia, akan tetapi apakah ia bahagia? Dan apakah itu kebahagiaan yang hakiki? Ataukah sekadar formalitas (tampak luar)? Apakah ia merasakan kenyamanan? Dan keridaan yang mendalam di dalam lubuk hatinya?

Istirahat Semata:

Berhentilah sekarang, menyendirilah, menjauhlah dari manusia, dengarkanlah sensasi perasaanmu yang mendalam dan tanyakan pada dirimu sendiri: Apakah kamu bahagia?

Dan di antara pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan pergolakan di dalam jiwa adalah pertanyaan: Siapakah aku? Apakah kamu mengenal dirimu sendiri? Apakah kamu mengetahui kemampuan-kemampuanmu? Apakah kamu memiliki tujuan di dalam kehidupan? Apakah kamu akan meninggalkan jejak yang baik setelah kematianmu?

Banyak manusia yang dialihkan dari pertanyaan-pertanyaan ini oleh gilingan mesin kehidupan, dari hari ke hari, dan dari momen ke momen bersama kehidupan rutinitas yang kaku dan membunuh. Pertanyaan-pertanyaan ini terpendam semakin dalam di lubuk hati, maka lahirlah pergolakan. Pergolakan ini menuntun pada ketiadaan keridaan internal di dalam jiwa manusia, dan menuntun pada kecemasan yang tidak biasa pada orang-orang Barat. Oleh karena itulah, 80% dari masyarakat Amerika mengonsumsi pil-pil penenang atau obat penenang, mengapa? Dikarenakan tidak adanya kenyamanan internal.

Hal inilah yang menjadikan negara seperti Swedia hidup di dalam kecemasan dan kebingungan, padahal bangsa Swedia adalah satu-satunya bangsa yang hidup dalam tingkat ekonomi yang menyerupai mimpi-mimpi, dan hampir tidak ada di dalam kehidupan mereka rasa takut terhadap kemiskinan, masa tua, atau pengangguran. Terlepas dari semua itu, orang-orang menjalani kehidupan yang cemas; semuanya berisi kesempitan, ketegangan, keluhan, kemarahan, kejengkelan, dan keputusasaan, hingga akhir kesudahannya adalah bunuh diri [Al-Iman wa Al-Hayah hlm. 67, dengan sedikit adaptasi].

Sesungguhnya itu adalah siksaan psikologis yang berakar di dalam lubuk terdalam jiwa manusia yang menuntun sebanyak (300 perwira setiap tahunnya di Amerika, yang mana sepuluh di antaranya di New York melakukan tindakan bunuh diri, dan sejak tahun 1987 M jumlah perwira polisi yang bunuh diri di sana terus meningkat) [Surat kabar Al-Sharq Al-Awsat nomor 5823 pada tanggal 4/6/1415 H, dari sebuah artikel yang diterbitkan di dalamnya].

Semua itu menuntun pada siksaan psikologis, keraguan, gangguan, dan kecemasan yang tidak normal. Akan tetapi, Islam menghilangkan seluruh siksaan tersebut dengan firman Allah:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram. [QS. Ar-Ra'd: 28]

Sesungguhnya rahasia kesuksesan adalah: ketenangan dan ketenteraman hati yang akan menuntun pada tindakan manusia menikmati kehidupannya. Itulah rahasia yang dibisikkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, di mana beliau berkata:

"Di dalam hati terdapat kekusutan yang tidak dapat dirapikan kecuali dengan menghadap kepada Allah, di dalamnya terdapat kesepian yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan merasa akrab dengan Allah, di dalamnya terdapat kesedihan yang tidak dapat disirnakan kecuali dengan kegembiraan mengenal-Nya dan kejujuran bermuamalah dengan-Nya, di dalamnya terdapat kecemasan yang tidak dapat ditenangkan kecuali dengan berkumpul atas-Nya dan lari menuju kepada-Nya, di dalamnya terdapat api penyesalan yang tidak dapat dipadamkan kecuali dengan rida terhadap perintah-Nya, larangan-Nya, dan takdir-Nya serta memeluk erat kesabaran atas hal tersebut sampai waktu berjumpa dengan-Nya, dan di dalamnya terdapat kefakiran (kebutuhan mendesak) yang tidak dapat ditutup kecuali dengan mencintai-Nya, kembali bertaubat kepada-Nya, terus-menerus mengingat-Nya, dan kejujuran ikhlas kepada-Nya. Seandainya ia diberikan dunia beserta isinya, niscaya kefakiran tersebut tidak akan pernah bisa tertutup selamanya." [Dikutip dari buku Al-Iman wa Al-Hayah hlm. 78]

Sesungguhnya itu adalah hubungan ketuhanan (rabbani), hubungan bumi dengan langit, yang menjadikan manusia hidup bahagia dan tenteram. Itulah rahasia yang menjadikan Imam Ahmad bin Hanbal hidup bahagia dan tenteram, padahal pakaiannya penuh tambalan yang beliau jahit dengan tangannya sendiri, tinggal di tiga kamar yang terbuat dari tanah, dan tidak mendapati makanan kecuali remah-remah roti bersama minyak. Dan sepatu beliau tetap bertahan sebagaimana yang dikatakan oleh para penulis biografi tentangnya: selama tujuh belas tahun beliau menambalnya dan menjahitnya, dan beliau memakan daging dalam satu bulan hanya satu kali. Berdasarkan ukuran ahli dunia saat ini, beliau adalah orang yang: miskin dan sedih. Akan tetapi mereka itu tidak mengetahui bahwasanya kebahagiaan internal dan keridaan internal tidak dapat disentuh oleh seorang pun dari kalangan manusia, karena ia berada di dalam lubuk terdalam, dan karena ia tersambung dengan Allah. Maka ia adalah ruh yang berdenyut untuk kehidupan dengan gerakan, dan cahaya yang memancarkan jalan bagi manusia. Itulah rahasia di dalam industri pembuatan kesuksesan [Shina'at Al-Najah hlm. 40].

Fokus:

Kekuatan Fokus:

Bukankah kamu bisa menjadi depresi hanya dalam waktu satu menit saja jika kamu mau? Tidak diragukan lagi bahwa kamu pasti bisa, yaitu cukup dengan memfokuskan diri pada sesuatu yang sangat mengganggu di masa lalumu. Lalu mengapa kamu terus menonton kembali film-film bencana yang pernah menimpamu?

Dan jika kamu ingin merasakan sensasi kegembiraan yang meluap (ecstasy) sekarang juga, apakah kamu bisa melakukannya? Ya, kamu bisa melakukannya dengan kemudahan yang sama, cukup dengan berfokus atau mengingat kembali suatu waktu di saat kamu benar-benar merasakan kegembiraan yang mutlak.

Apa pun yang kita fokuskan akan menjadi gagasan kita tentang realitas.

Pikirkanlah kekuatan fokus kita laksana sebuah lensa kamera; ia hanya menampilkan gambar dan sudut dari objek yang kamu fokuskan saja. Oleh karena itu, foto-foto yang kamu ambil bisa jadi mendistorsi realitas, karena ia hanya memberikan satu bagian kecil dari gambaran keseluruhan. Sangat penting untuk diingat bahwa cara kita merepresentasikan berbagai hal di dalam benak kita adalah hal yang menentukan kualitas perasaan kita.

Kita semua tahu bahwa kamera dapat mendistorsi realitas, dan gambar yang diperbesar bisa menampilkan objek dalam ukuran yang lebih besar daripada ukuran aslinya yang sebenarnya.

Makna Tersirat Sering Kali Bersumber dari Titik Fokus:

Jika kamu memiliki janji temu namun orang tersebut tidak kunjung datang, bagaimana perasaanmu? Hal ini bergantung pada apa yang kamu fokuskan di dalam benakmu. Benakmulah yang akan memutuskan apakah kamu memandang realitasmu sebagai sesuatu yang buruk atau baik, dan apakah kamu akan merasa sedih atau bahagia. (Apakah karena ia tidak memedulikanmu, ataukah karena kemacetan lalu lintas di jalan yang menjadi penyebabnya, atau barangkali ia sengaja terlambat agar bisa memberikan penawaran kesepakatan yang lebih baik untukmu?).

Ketika kamu sedang mengendarai mobil balap, kamu tidak boleh membiarkan fokusmu beralih barang sedetik pun dari hasil yang ingin kamu capai. Kamu tidak boleh membatasi perhatianmu pada posisi tempat kamu berada saat ini, atau pada masa lalu, atau mematoknya pada titik yang jauh di masa depan. Sebab, di samping kesadaran penuhmu terhadap posisi tempat kamu berada saat ini, kamu juga harus mengantisipasi apa yang akan terjadi dalam waktu dekat.

Fokuslah pada tempat yang ingin kamu tuju, bukan pada apa yang kamu takuti. Jika mobil balapmu tergelincir ke arah dinding pembatas, jangan fokus pada dinding tersebut! Jika tidak, maka dinding itulah yang tepat akan kamu tabrak. Akan tetapi, fokuslah pada tempat yang ingin kamu tuju di jalanan yang jauh dari dinding, maka pergerakanmu akan menuntunmu ke arah tersebut jika kamu mampu melawan rasa takut dan memiliki kepercayaan diri. Kamu tidak akan memiliki kesempatan sama sekali jika kamu berfokus pada rasa takutmu. Berfokus pada solusi selalu mendatangkan keuntungan bagimu.

Kisah Adi bin Hatim Al-Tha'i:

Adi bin Hatim Al-Tha'i berkata ketika ia hendak menemui Rasulullah : Aku berkata: "Demi Allah, jika aku mendatangi laki-laki ini, jika ia seorang pendusta maka ia tidak merugikanku, dan jika ia seorang yang jujur maka aku akan mengetahuinya."

Ia berkata: "Maka aku berangkat lalu mendatanginya. Ketika aku datang, orang-orang berseru: 'Adi bin Hatim! Adi bin Hatim!'."

Ia berkata: "Maka aku masuk menemui Rasulullah , lalu beliau bersabda kepadaku: 'Wahai Adi bin Hatim, masuk Islamlah niscaya kamu selamat'—beliau mengucapkannya tiga kali—. Aku berkata: 'Sesungguhnya aku telah memeluk suatu agama'. Beliau bersabda: 'Aku lebih mengetahui tentang agamamu daripada dirimu sendiri'. Aku berkata: 'Engkau lebih mengetahui tentang agamaku daripada aku?!'. Beliau bersabda: 'Ya, bukankah kamu termasuk penganut Rakusiyyah (satu sekte antara Kristen dan Sabi'in) dan kamu memakan seperempat dari harta rampasan kaummu?'. Aku menjawab: 'Benar'. Beliau bersabda: 'Sesungguhnya hal ini tidak halal bagimu di dalam agamamu'."

Adi berkata: "Beliau tidak mengulanginya lagi setelah mengatakannya, maka aku pun merasa tunduk karena ucapan itu."

Lalu beliau bersabda: "Adapun sesungguhnya aku mengetahui apa yang menghalangimu dari memeluk Islam. Kamu pasti mengatakan: 'Orang-orang yang mengikutinya hanyalah orang-orang yang lemah di antara manusia dan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan, serta mereka telah dimusuhi oleh bangsa Arab'. Apakah kamu tahu kota Al-Hirah?". Aku menjawab: "Aku belum pernah melihatnya, namun aku pernah mendengarnya." Beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan (agama) ini hingga seorang wanita yang mengendarai sekedup keluar dari Al-Hirah hingga ia melakukan tawaf di Baitullah tanpa merasa takut kepada perlindungan siapa pun. Dan sungguh akan dibuka perbendaharaan harta Kisra bin Hurmuz." Adi berkata: Aku bertanya: "Kisra bin Hurmuz?". Beliau bersabda: "Ya, Kisra bin Hurmuz. Dan sungguh harta akan melimpah ruah hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya."

Adi bin Hatim berkata: "Maka wanita yang mengendarai sekedup ini benar-benar datang dari Al-Hirah lalu melakukan tawaf di Baitullah tanpa ada perlindungan (dari siapa pun karena aman). Dan sungguh aku termasuk di antara orang-orang yang membuka perbendaharaan harta Kisra. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh perkara yang ketiga pasti akan terjadi, karena Rasulullah telah menyabdakannya." Demikianlah yang termaktub di dalam Al-Bidayah (5/66) dan dikeluarkan juga oleh Al-Baghawi di dalam kitab Mu'jam-nya dengan makna yang serupa, sebagaimana terdapat di dalam kitab Al-Ishabah (2/468).

Cara paling kuat untuk mengendalikan fokus adalah dengan cara mengajukan pertanyaan. Pertanyaan merupakan alat yang sangat kuat untuk menciptakan perubahan di dalam hidupmu, dan ia bertindak sebagai kunci yang membuka kekuatan-kekuatan laten di dalam diri kita yang tidak memiliki batas.

Pengalaman kita di dunia ini terbentuk melalui informasi yang kita terima dengan menggunakan panca indra kita. Meskipun demikian, masing-masing dari kita cenderung mengembangkan gaya tertentu dalam berfokus. Sebagian orang misalnya, lebih terpengaruh oleh apa yang mereka lihat karena sistem visual mereka yang lebih dominan. Bagi yang lain, suara adalah hal yang memicu pengalaman terbesar dalam hidup mereka, sementara bagi yang lainnya lagi, perasaan/sensasi fisik (kinestetik) adalah dasarnya.

Perasaan-perasaan ini dapat diubah untuk meningkatkan atau mengurangi intensitas pengalaman kita. Komponen-komponen dasar ini disebut dengan "Sub-Modalitas". Anda misalnya dapat membayangkan sebuah gambar di dalam benak Anda, kemudian mengambil satu sisi dari gambar ini (yaitu sebuah sub-modalitas) lalu mengubahnya demi mengubah perasaan Anda terhadap gambar tersebut. Hal ini dikenal dengan istilah perubahan sub-modalitas, yang mana mengubah makna dari perasaan-perasaan ini bagi Anda, dan sebagai konsekuensinya, mengubah apa yang dapat Anda lakukan terhadap perasaan tersebut.

Jika Anda cenderung fokus pada modalitas visual misalnya, maka tingkat kesenangan yang Anda dapatkan dari memori tertentu akan bergantung pada ukuran, warna, kecerahan, dan tingkat gerakan yang diwujudkan oleh gambaran visual yang telah Anda bentuk. Dan jika Anda cenderung fokus pada modalitas auditori (pendengaran), maka tingkat kesenangan akan bergantung pada seberapa keras suara, intonasi, dan nadanya.

Sebagai contoh, jika beberapa orang ingin mencapai motivasi yang diinginkan, maka mereka harus fokus pada saluran tertentu terlebih dahulu (misalnya elemen-elemen visual dari suatu situasi tertentu akan memberi mereka kekuatan emosional yang lebih besar terhadap situasi tersebut). Sesungguhnya kemampuan kita untuk mengubah arah perasaan kita bergantung pada kemampuan kita untuk mengubah sub-modalitas kita.

Pernahkah Anda mendapati diri Anda berkata pada suatu hari bahwa Anda perlu menjaga jarak antara diri Anda dengan masalah? Pikirkanlah suatu situasi yang mewakili tantangan bagi Anda saat ini. Gambarlah potret situasi tersebut di dalam benak Anda, lalu bayangkan bahwa Anda menjauhkan gambar ini sehingga ia menjadi semakin jauh dan menjauh dari Anda. Berdirilah di atas gambar ini dan lihatlah ia dari atas dengan perspektif yang baru. Apa yang terjadi pada intensitas emosional yang Anda rasakan? Intensitas ini akan menyusut bagi sebagian besar orang. Demikian pula jika gambar tersebut menjadi kurang jelas atau menjadi lebih kecil. Dan sekarang, ambillah gambar masalah tersebut, dekatkanlah, dan buatlah ia menjadi lebih terang; hal ini akan membuat emosi menjadi lebih intens.

Anda misalnya dapat memikirkan sesuatu yang terjadi kemarin. Bayangkan pengalaman ini sesaat. Ambillah gambar ingatan ini, tinggalkan ia di belakang Anda, lalu doronglah ia secara bertahap hingga ia berada bermil-mil jauhnya dari Anda, sampai ia menjadi sebuah titik gelap yang sangat kecil yang menghilang di tengah kegelapan. Apakah ia tampak bagi Anda seperti baru terjadi kemarin atau sudah lama sekali berlalu? Jika ingatan ini luar biasa indah, maka panggillah ia kembali. Jika tidak, maka biarkanlah ia menjauh di sana.

Pikirkanlah sekarang sebuah pengalaman yang terjadi waktu lampau. Ingatlah gambarnya, panggil kembali, dan letakkan di hadapan Anda. Perbesarlah gambar tersebut, buatlah ia menjadi terang, berwarna, dan tiga dimensi (3D). Masuklah ke dalam tubuh Anda sebagaimana kondisi Anda saat itu, dan rasakanlah pengalaman tersebut sekarang seolah-olah Anda sedang menjalaninya sebagaimana yang terjadi pada waktu itu. Apakah Anda merasakan sensasi yang sama dengan apa yang Anda rasakan waktu lampau? Dan apakah ia sesuatu yang Anda nikmati sekarang? Sesungguhnya pengalaman Anda yang berkaitan dengan waktu telah berubah dengan mengubah sub-modalitas khususnya.

Ciptakan Ciri Khas Anda Sendiri:

Menemukan sub-modalitas Anda adalah proses yang menyenangkan, terlebih jika Anda melakukannya bersama dengan orang lain.

Mulailah dengan mengevaluasi setiap pertanyaan yang ada di dalam daftar periksa (checklist) dengan membandingkannya dengan pengalaman Anda. Ketika Anda mengingat pengalaman Anda misalnya, fokuslah pada sub-modalitas visual, kemudian perhatikan sub-modalitas mana yang paling mengubah intensitas emosional Anda dibandingkan yang lain. Setelah itu, fokuslah pada sub-modalitas auditori; apa arti dari menaikkan volume suara terhadap tingkat kesenangan yang Anda rasakan? Dan sebagai penutup, fokuslah pada sub-modalitas perasaan kinestetik (gerakan). Bagaimana tubuh Anda rasakan saat Anda melakukan semua perubahan ini? Catatlah setiap perubahan tersebut. Dan ketika Anda selesai mencoba semua yang tercakup dalam daftar periksa sub-modalitas, kembalilah dan sesuaikan gambar tersebut sampai gambar yang paling menyenangkan bagi Anda muncul kembali. Wujudkan gambar ini sedemikian rupa hingga Anda membayangkannya seolah-olah Anda sedang memeluknya.

Dengan mengenali sub-modalitas yang mewakili pemicu khusus bagi diri Anda, dengan begitu Anda akan mengenali emosi-emosi positif dan memperkuatnya, sementara Anda dapat mengurangi emosi-emosi negatif.

Jika Anda Mengubah Kondisi Anda, Maka Hidup Anda Akan Berubah:

Jika ada perkara-perkara yang ingin Anda selesaikan namun Anda tidak menemukan motivasi untuk itu, maka Anda harus menyadari bahwa Anda sedang tidak berada dalam kondisi (state) yang tepat. Namun ini bukanlah alasan. Ini adalah sebuah perintah untuk melakukan segala hal yang diperlukan guna mengubah kondisi Anda menuju kondisi yang kreatif dalam kondisi yang penuh gairah. Dan Anda harus berada dalam kondisi ketetapan hati (tekad) yang kuat agar bisa sukses. Individu-individu yang diasumsikan memiliki kemampuan terbatas akan mendapati bahwa bakat mereka melonjak tinggi hingga ke langit-langit jika mereka berpindah ke kondisi yang baru.

Para konsultan dalam pengembangan diri mampu dalam waktu 30 menit atau bahkan kurang dari itu dalam banyak kesempatan, untuk membantu para peserta pelatihan mengatasi ketakutan mereka dan mempelajari cara mendobrak penghalang apa pun yang menghalangi jalannya kehidupan mereka.

  1. Keahlian pertama yang wajib Anda kuasai adalah kemampuan untuk mengubah kondisi Anda "seketika itu juga" apa pun lingkungan yang mengelilingi Anda, atau seberapa pun besarnya rasa takut atau frustrasi yang Anda rasakan. Orang-orang yang menyadari bahwa mereka tidak bisa melakukan sesuatu harus melakukan sesuatu agar mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya bisa melakukan hal tersebut.
  2. Keahlian kedua adalah Anda harus mampu mengubah kondisi ini secara konsisten (terus-menerus).
  3. Keahlian ketiga adalah menanamkan akar-akar dari pola kebiasaan yang memungkinkan Anda untuk menggunakan kekuatan fisiologis dan fokus Anda.
  4. Keahlian/Tujuan keempat adalah memampukan orang lain untuk mengubah kondisi mereka seketika itu juga.

Definisi saya tentang kesuksesan adalah menjalani hidup Anda dengan gaya yang memungkinkan Anda merasakan bahwa Anda memiliki berton-ton kesenangan dan sedikit rasa sakit. Dan dikarenakan pola hidup Anda ini, Anda membuat orang-orang di sekitar Anda merasakan kesenangan yang lebih besar daripada rasa sakit yang mereka rasakan.

Obat-obatan terlarang sangat mungkin untuk dihilangkan melalui zat-zat kimiawi yang Anda ciptakan sendiri di dalam tubuh Anda dengan cara menyesuaikan fokus Anda dan dengan metode yang Anda gunakan dalam mengaktifkan potensi fisiologis Anda.

Pelajaran yang Kita Petik dari Rasulullah :

Hari perang Uhud adalah hari ujian, musibah, dan pembersihan (tamhish). Allah menguji orang-orang mukmin melaluinya, dan membersihkan orang-orang munafik dari kalangan mereka yang menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka. Orang-orang mukmin tampak menonjol dengan sikap mengharap pahala dari Allah (ihtisab) serta kejantanan mereka yang tidak takut terhadap celaan orang yang mencela di jalan Allah. Dan menjadi jelas bahwa orang-orang musyrik ketika mereka kembali dari Uhud, mereka bertekad untuk menumpas orang-orang Islam sampai ke akar-akarnya. Mari kita lihat sabda beliau ketika mengetahui hal tersebut.

Rasulullah bersama kaum muslimin kembali ke Madinah setelah peristiwa Uhud. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari penduduk Makkah yang baru saja datang ke Madinah pada waktu itu juga. Maka Rasulullah bertanya kepadanya tentang Abu Sufyan dan para sahabatnya. Laki-laki itu menjawab: "Aku telah singgah bersama mereka dan aku mendengar mereka saling menyalahkan satu sama lain, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: 'Kalian tidak menghasilkan apa-apa. Kalian hanya memukul kekuatan utama mereka saja lalu kalian meninggalkan mereka begitu saja tanpa menumpas mereka sampai habis, padahal masih tersisa para pemimpin dari mereka yang akan mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian kembali'." [Al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir (3/97)]

Ketika Rasulullah mengetahui hal tersebut, beliau memerintahkan kaum muslimin yang ikut serta dalam perang Uhud untuk bersiap-siap memerangi orang-orang musyrik dan berjalan di bawah kepemimpinan beliau untuk menghadapi Quraish dan memeranginya.

Kaum muslimin pun berjalan dalam kondisi luka-luka mereka masih mengalirkan darah, borok-borok mereka masih bernanah, rasa lelah telah membuat mereka payah, kepayahan telah melemahkan mereka, dan rasa sakit telah membuat mereka terjaga di malam hari. Namun, Rasulullah enggan untuk membiarkan orang selain mereka berbagi kehormatan dan kemuliaan ini, sehingga beliau tidak mengizinkan sahabat lain yang tidak ikut serta dalam perang Uhud kecuali untuk satu orang saja, yaitu Jabir bin Abdullah.

Adapun Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong orang-orang munafik, ia ingin keluar bersama Rasulullah namun beliau menolaknya. [Al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir (3/97)]

Sungguh telah tampak jelas sikap sabar dan kepatuhan terhadap perintah Rasulullah di dalam peperangan ini dari semuanya, sehingga tidak ada seorang pun yang tertinggal dari orang-orang yang terkena luka-luka tersebut.

Ibnu Ishaq rahimahullah meriwayatkan tentang gambaran dari bentuk-bentuk kepatuhan ini dengan sanadnya dari seorang laki-laki dari Bani Abdul Ashhal, ia berkata: (Aku mengikuti perang Uhud, aku dan saudara laki-lakiku, lalu kami berdua kembali dalam keadaan terluka. Ketika penyeru Rasulullah mengizinkan untuk keluar dalam rangka mengejar musuh, aku berkata kepada saudaraku dan ia pun berkata kepadaku: "Apakah kita akan melewatkan sebuah peperangan bersama Rasulullah ? Demi Allah, kita tidak memiliki hewan tunggangan untuk kita kendarai, dan tidak ada di antara kita melainkan dalam keadaan luka parah". Namun kami tetap keluar bersama Rasulullah , dan aku adalah orang yang lukanya lebih ringan daripada dia. Maka apabila ia telah kepayahan, aku menggendongnya pada satu kesempatan dan ia berjalan pada kesempatan yang lain (bergantian), hingga kami sampai pada batas tempat berhentinya kaum muslimin). [Al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam (2/101)]

Dan Allah menurunkan ayat berkenaan dengan mereka yang mematuhi perintah Rasulullah ini:

اَلَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۖ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا اَجْرٌ عَظِيْمٌۚ ١٧٢

(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. [Surah Ali 'Imran: Ayat 172]

Pasukan Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah melanjutkan perjalanan hingga sampai ke suatu tempat yang disebut Hamra al-Asad. Beliau menetap di sana selama tiga hari untuk menantang orang-orang musyrik, namun tidak ada seorang pun yang berani untuk menemui dan melawannya. Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk menyalakan api, sehingga mereka menyalakan lima ratus titik api dalam waktu yang bersamaan. [Al-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa'd (2/43)]

Manfaat Sekutu Politik:

Suku Khuza'ah, baik yang muslim maupun yang kafir di antara mereka, adalah tempat rahasia Rasulullah . Mereka telah mengikat janji setia dengan beliau untuk tidak menyembunyikan sesuatu pun dari beliau yang terjadi di wilayah Tihamah.

Ma'bad bin Abi Ma'bad adalah salah satu pemimpin mereka pada hari itu yang masih berada dalam kesyirikannya. Ia melintas bertemu Rasulullah ketika beliau sedang menetap di Hamra al-Asad. Ia pun menghibur beliau, dan menampakkan simpatinya kepada kaum muslimin serta rasa sedihnya atas apa yang menimpa mereka di Uhud berupa pembunuhan dan luka-luka.

Ma'bad kembali dari sisi Rasulullah dari Hamra al-Asad hingga ia berpapasan dengan Abu Sufyan bin Harb dan orang-orang yang bersamanya dari kalangan musyrik di Ar-Rauha'. Mereka telah sepakat untuk kembali memerangi kaum muslimin. Maka Abu Sufyan bertanya kepada Ma'bad: "Apa berita di belakangmu, wahai Ma'bad?"

Ia menjawab: "Muhammad telah keluar bersama para sahabatnya mencari kalian dalam jumlah pasukan yang belum pernah aku lihat seumpamanya sama sekali. Mereka sangat membara untuk menyerang kalian. Telah bergabung bersamanya orang-orang yang tadinya tertinggal darimu pada harimu itu, dan mereka menyesali apa yang telah mereka perbuat. Di dalam diri mereka terdapat kemarahan yang meluap kepada kalian yang belum pernah aku lihat seumpamanya sama sekali."

Abu Sufyan berkata: "Celaka kamu, apa yang kamu katakan?!"

Ma'bad berkata: "Demi Allah, aku tidak melihatmu akan berangkat meninggalkan tempat ini hingga kamu melihat ubun-ubun kuda pasukan mereka."

Abu Sufyan berkata: "Sebab demi Allah, kami telah sepakat untuk menyerang balik mereka, guna menumpas sisa-sisa kekuatan mereka."

Ma'bad berkata: "Maka sesungguhnya aku melarangmu dari hal tersebut. Dan demi Allah, apa yang aku lihat telah mendorongku untuk menggubah beberapa bait syair tentangnya."

Abu Sufyan bertanya: "Dan apa yang kamu katakan?"

Ma'bad menjawab: "Aku katakan:

Hampir saja tungganganku roboh karena suara-suara gemuruh,

Ketika bumi mengalirkan kuda-kuda jantan yang berbondong-bondong. [Al-Jurd: Leher-leher kuda (kuda yang pendek bulunya/tangkas). Al-Ababil: Kelompok-kelompok/berbondong-bondong. Tardi: Berlari cepat. Tuhadd: Jatuh/roboh]

Ia berlari kencang membawa singa-singa yang mulia, bukan orang-orang cebol (lemah),

Ketika pertempuran tiba, mereka tidak condong dan tidak pula tak bersenjata. [Al-Tanabilah: Orang-orang yang pendek. Al-Mil: Bentuk jamak dari Amial, yaitu orang yang tidak membawa tombak atau perisai, dikatakan juga orang yang tidak kokoh di atas pelana. Al-Ma'azil: Orang-orang yang tidak membawa senjata]

Maka aku terus berlari kencang karena mengira bumi sedang miring,

Ketika mereka meninggikan pemimpin yang tidak akan ditelantarkan.

Maka aku katakan: "Celakalah putra Harb (Abu Sufyan) dari pertemuan dengan kalian,"

Apabila lembah Al-Batha' bergolak dipenuhi oleh generasi pasukan. [Taghathmathat: Bergetar/bergolak. Al-Jail: Angkatan/barisan manusia]

Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi penduduk Al-Basl (Quraish) secara terang-terangan,

Bagi setiap orang yang memiliki kecerdasan dan akal di antara mereka. [Ahlu al-Basl: Suku Quraish, karena mereka penduduk Makkah. Al-Dhahiyah: Yang tampak menantang matahari. Al-Irbah: Akal]

Dari pasukan Ahmad yang bukan orang-orang keji dan bukan pula orang-orang cebol,

Dan tidaklah disifatkan orang yang aku peringatkan itu dengan kelemahan. [Al-Wakhsy: Yang buruk/rendah. Tanabilah: Orang-orang pendek]

Maka bait-bait syair tersebut memalingkan tekad Abu Sufyan dan orang-orang yang bersamanya (sehingga mereka ketakutan dan mengurungkan niat). [Al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir (3/99 - 100), dan Al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam (2/102 - 103)]

Abu Sufyan ingin menutupi mundurnya pasukan ini dengan cara melancarkan perang urat syaraf (psychological warfare) terhadap kaum muslimin, dengan harapan dapat menakut-nakuti mereka.

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam kitab Al-Sirah bahwasanya rombongan pengendara dari Abdul Qais melintas bertemu Abu Sufyan, lalu ia bertanya kepada mereka: "Ke mana kalian hendak pergi?"

Mereka menjawab: "Madinah."

Ia bertanya: "Untuk apa?"

Mereka menjawab: "Kami menginginkan bahan makanan."

Ia berkata: "Maukah kalian menyampaikan sebuah pesan dariku kepada Muhammad yang aku utus kalian dengannya kepadanya, dan aku akan muati unta-unta kalian ini besok dengan kismis di pasar Ukaz apabila kalian telah memenuhinya?"

Mereka menjawab: "Ya."

Ia berkata: "Jika kalian telah sampai kepadanya, maka kabarkanlah kepadanya bahwasanya kami telah sepakat untuk berjalan menuju kepadanya dan kepada para sahabatnya untuk menumpas sisa-sisa mereka."

Maka rombongan pengendara itu melintas bertemu Rasulullah sewaktu beliau berada di Hamra al-Asad, lalu mereka mengabarkan kepada beliau tentang apa yang dikatakan oleh Abu Sufyan. Maka beliau bersabda: "Hasbunallah wa ni'mal wakil (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung)." [Al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir (3/100)]

Dan Rasulullah menawan dua orang laki-laki dari kalangan musyrik di dalam peperangan ini: Abu 'Azzah sang penyair, dan Mu'awiyah bin Al-Mughirah bin Abi Al-'Ash. Adapun yang pertama, Rasulullah memerintahkan untuk membunuhnya seketika itu juga. Sedangkan yang kedua, beliau memerintahkan untuk membunuhnya setelah berlalu tiga hari.

Pelajaran dan Hukum-Hukum dari Hamra al-Asad:

Dapat dipetik dari perang Hamra al-Asad beberapa pelajaran dan hukum, di antaranya:

  1. Kewaspadaan Nabi yang abadi, dan kehati-hatian beliau yang terus-menerus: Rasulullah selalu memantau pergerakan Quraish dengan cara menanyakan berita tentang mereka dan pergerakan mereka, serta mengambil keputusan-keputusan yang diperlukan berdasarkan berita yang beliau miliki. Di dalam peperangan ini, beliau berhasil mengetahui apa yang diinginkan oleh Quraish setelah perang Uhud, maka beliau mengambil keputusannya dengan cepat.
  2. Kekuatan mental/semangat juang yang dinikmati oleh sang Panglima, yaitu Rasulullah , dan begitu pula semangat juang yang tinggi yang dinikmati oleh para sahabat di dalam peperangan ini, yang mana tidak ada seorang pun yang tertinggal dari peperangan ini meskipun mereka dirundung luka-luka dan rasa sakit.
  3. Telah terbersit di dalam jiwaku—dan Allah Subhanahu wa Ta'ala Mahatahu—bahwasanya kepatuhan yang total dan seketika ini merupakan aplikasi dari pelajaran tentang "ketaatan" yang sempat mereka lupakan atau kurang mereka acuhkan di Uhud, sehingga terjadilah apa yang terjadi berupa hukuman bagi mereka dengan diharamkannya mereka dari nikmat kemenangan atas musuh mereka.
  4. Kami mengira—dan Allah Mahatahu—bahwasanya Nabi menginginkan dengan keluarnya pasukan ini untuk mewujudkan beberapa tujuan:
    • Tujuan Pertama: Memperkuat semangat juang di kalangan kaum muslimin meskipun ia sudah kuat, dan memberanikan mereka untuk memerangi orang-orang musyrik.
    • Tujuan Kedua: Mengembalikan reputasi kaum muslimin di mata orang lain, khususnya kabilah-kabilah di Jazirah Arab. Sebab kabilah-kabilah tersebut akan mendengar tentang keluarnya Rasulullah dan para sahabatnya, serta ketidakberanian Quraish untuk menghadapi dan memeranginya.
    • Tujuan Ketiga: Memberi pelajaran kepada orang-orang munafik dan Yahudi di Madinah, serta menakut-nakuti mereka dengan cara menakut-nakuti orang-orang musyrik. Karena musuh domestik (dalam negeri) apabila merasakan kekuatan kaum muslimin, mereka akan merasa gentar, terdiam, menghentikan fitnah, dan tidak akan berani berpikir untuk menyakiti kaum muslimin. Sebaliknya, jika mereka merasakan kelemahan front internal dan ketidakmampuannya menghadapi musuh dari luar, mereka akan melampaui batas, sewenang-wenang, dan berbuat kerusakan di muka bumi.
  5. Mengambil keputusan yang cepat, tegas, dan krusial dalam menghadapi Quraish beserta bahayanya yang mengancam kaum muslimin, serta menghadapi kekuatan dengan kekuatan. Hal itu dikarenakan kekuatan adalah jalan paling terjamin untuk menegakkan kebenaran, dan ia merupakan penjaga yang aman lagi kuat yang memelihara kelangsungan hak bagi pemiliknya. Demikianlah seharusnyanya kaum muslimin—baik rakyat maupun pemerintah—belajar dan menerapkan hal tersebut.
  6. Etos kerja/semangat yang tinggi yang membawa pemiliknya untuk melupakan rasa sakit, dan tujuan tertinggi yang membuat pemiliknya rela menanggung kesulitan dan bahaya, sehingga ia tidak takut mendaki gunung-gunung agar tidak terus hidup di dalam lubang-lubang.
  7. Dan inilah apa yang kita petik dari sikap dua orang laki-laki yang terluka dari Bani Abdul Ashhal.

Apakah Anda tahu bagaimana cara membawa diri Anda agar merasakan perasaan yang baik? Tidak diragukan lagi bahwa Anda memiliki beberapa sarana, namun saya berharap Anda memperluas daftar ini. Duduklah pada momen ini juga dan tulislah sebuah daftar berisi hal-hal yang Anda lakukan sekarang untuk mengubah perasaan Anda, dan tambahkan ke dalamnya hal-hal lain yang belum pernah Anda coba sebelumnya yang mana barangkali bisa juga mengubah kondisi Anda. Jangan berhenti sampai Anda memiliki setidaknya 15 cara... Jadikan ia 25 cara... Teruskan sampai terkumpul pada diri Anda ratusan cara.

Misalnya bagi saya pribadi: Olahraga adalah sesuatu yang bisa saya gunakan untuk mengubah kondisi saya dengan cepat... Membaca... Mengubah gerakan-gerakan tubuh saya... Mendengarkan kaset rekaman... Mengambil mandi air hangat... Saling bertukar cerita dengan orang lain... Memeluk anak-anak saya... Pergi bersama istri saya untuk bertamasya... Memperbaiki apa pun... Menciptakan ide baru... Bercanda bersama teman-teman saya... Membantu orang lain... Memoles ingatan-ingatan saya sedemikian rupa sehingga saya mengingat kembali pengalaman yang luar biasa indah...

Ciptakanlah sebuah daftar sarana yang sangat besar sekira Anda tidak perlu lagi menengok kepada sarana-sarana lain yang bersifat merusak. Hubungkanlah rasa sakit dengan kebiasaan-kebiasaan yang merusak, dan hubungkanlah semakin banyak kesenangan dengan sarana-sarana baru ini yang memberikan Anda kekuatan. Jadikan daftar ini sebagai realitas yang tegak berdiri. Kembangkanlah sebuah rencana kesenangan untuk setiap hari dari hari-hari yang ada.

Aktivasi Praktis dari Fakta-Fakta Tema dan Nilai-Nilainya Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut:

Pertama: Aktivitas Pendamping (Asosiatif):

  1. Berbicara di hadapan teman-teman sejawatnya tentang dampak dari perubahan akidah dan pemikiran.
  2. Setiap peserta didik mengisi lembar kuesioner yang terdapat pada halaman 144 dan kuesioner halaman 147.
  3. Berbicara tentang peran Islam dalam mengubah keyakinan-keyakinan Jahiliyah dan menanamkan keyakinan-keyakinan Islami.
  4. Mencatat sejumlah nama dari orang-orang yang mampu mengubah keyakinan mereka serta sikap-sikap yang dapat dipetik dari kehidupan mereka.
  5. Mendiskusikan bersama teman-teman sejawatnya tentang pengaruh rasa sakit dan kesenangan dalam mewujudkan tujuan.
  6. Memberikan contoh-contoh dari keyakinan yang telah berubah pada dirinya sendiri dan bagaimana hal itu bisa terjadi padanya.

Kedua: Aktivitas Pendukung:

  1. Memimpin sebuah seminar seputar metode-metode menanamkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip.
  2. Berlatih bersama saudara-saudaranya tentang langkah-langkah mengambil keputusan yang benar dan menghindari hambatan-hambatannya.
  3. Menulis sebuah artikel yang menjelaskan di dalamnya tentang bahaya akibat tidak adanya perencanaan bagi kehidupan kita.
  4. Menyebutkan contoh-contoh di dalam buku mengenai peran keyakinan para pemimpin dalam mengubah individu-individu di sekitar mereka.
  5. Menyampaikan sebuah kuliah tentang bagaimana cara mengubah diri sendiri dan langkah-langkah yang wajib diambil untuk hal tersebut.
  6. Berlatih bersama saudara-saudaranya tentang metode-metode mengembangkan bakat-bakat personal.
  7. Menulis sebuah penelitian tentang keyakinan-keyakinan Jahiliyah dan bagaimana Islam mengubahnya serta menggantinya dengan keyakinan-keyakinan Islami.
  8. Menulis sebuah artikel seputar pentingnya dialog musyawarah dalam mempertemukan keyakinan-keyakinan, saling mengembangkannya, serta mengubah apa yang tidak baik dari keyakinan tersebut.
  9. Mengadakan seminar-seminar seputar tema: (Kekuatan Membentuk Manusia).
  10. Mempersiapkan sebuah lokakarya (workshop) seputar manajemen diri dan mengubah keyakinan.
  11. Membuat sebuah kursus pelatihan seputar: (Mewujudkan Kehendak-Kehendak).
  12. Menulis sebuah penelitian tentang rekayasa perubahan individu dan sosial di dalam Islam.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Pertama: Pertanyaan Esai:

  1. Apa yang diakibatkan dari perubahan akidah dan pemikiran pada diri seorang muslim?
  2. Apakah nilai terbesar di dalam kehidupan manusia?
  3. Jelaskan metode-metode menanamkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip di dalam jiwa manusia!
  4. Bagaimana cara melepaskan kekuatan tersembunyi yang Anda miliki? Dan apakah tiga prinsip perubahan yang pertama?
  5. Hitunglah bidang-bidang yang seharusnya dikuasai di dalam kehidupan Anda!
  6. Jelaskan dengan disertai contoh langkah-langkah mengambil keputusan yang benar, dengan menerangkan bagaimana cara menghindari hambatan-hambatan!
  7. Bagaimana rasa sakit dan kesenangan membentuk sikap-sikap dan perilaku Anda?
  8. Apa saja risiko yang diakibatkan dari mengabaikan perencanaan bagi kehidupan Anda?
  9. Apa langkah-langkah yang wajib diambil untuk mewujudkan cita-cita yang mana Anda harus mengambil keputusan-keputusan terkait dengannya?
  10. Apa peran keyakinan-keyakinan dalam menentukan jalan Anda? Sebutkan dengan disertai contoh!
  11. Sebutkan dengan contoh bagaimana cara Anda mengembangkan bakat-bakat personal Anda!
  12. Dan bagaimana cara Anda memfokuskan fokus yang kuat? Sebutkan langkah-langkahnya!
  13. Bagaimana cara membawa diri Anda agar merasakan perasaan yang baik... jelaskan dengan contoh!

Kedua: Pertanyaan Objektif:

  1. Mulailah terlebih dahulu dengan jawaban objektif atas kuesioner dan pertanyaan-pertanyaan yang menjelaskan bidang-bidang berikut:
    • Visi Diri: hlm. 145 - hlm. 146.
    • Hati Nurani: hlm. 146.
    • Kehendak Independen: hlm. 147.
    • Imajinasi Kreatif: hlm. 147.
  2. Lengkapilah titik-titik di bawah ini:
    1. (Ambang Emosional) adalah Anda melampaui kadar yang cukup dari...
    2. (Ketidakberdayaan yang Dipelajari / Learned Helplessness) maksudnya adalah...
    3. (Koneksi Saraf / Neuro-Association) maksudnya adalah...
    4. Di antara tiga keyakinan ketidakberdayaan yang dipelajari adalah sifat permanen, ................., dan .................
    5. Keyakinan dapat dibagi menjadi tiga pola, yaitu pendapat-pendapat, ................., dan .................
    6. Setiap kebenaran melewati tiga tahapan; pertama terdiri dari menjadi bahan ejekan, kedua ................., dan ketiga .................
  1. Berilah tanda (V) atau tanda (X) di depan pernyataan yang sesuai di bawah ini:
    • Seekor burung di tangan lebih baik daripada sepuluh ekor di atas pohon.
    • Sesuatu yang kamu ketahui lebih baik daripada sesuatu yang tidak kamu ketahui.
    • Jika kamu tidak memiliki perencanaan bagi kehidupanmu sebagaimana yang kamu inginkan, maka orang lain yang akan membuatkan rencana untukmu sesuai dengan apa yang ia inginkan.
    • Tampaknya mengubah keyakinan pada diri orang lain adalah perkara yang mustahil.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat