Pasal 7: Kekuatan Yang Membentuk Kehidupan Anda
BAB KETUJUH: Kekuatan yang Membentuk Kehidupanmu
Tujuan
Umum:
- Memberikan pemahaman kepada
peserta didik mengenai kekuatan terpendam yang membentuk kehidupannya.
- Membimbing peserta didik
agar memahami sistem keyakinan (organisasi qana'ah) beserta metode-metode
untuk mengganti keyakinan negatif dengan keyakinan yang positif.
- Mengenal ilmu-ilmu saraf
(neuroscience) dan fisiologi tubuh.
- Mendayagunakan pengetahuan
ini dalam meraih kekuatan yang membentuk kehidupan yang diridai oleh
seorang muslim yang aktif bagi dirinya sendiri.
Tujuan
Perilaku Instruksional untuk Tema Ini:
Dengan
berakhirnya proses pembelajaran pada tema ini, diharapkan peserta didik mampu
melakukan hal-hal berikut:
Pertama:
Tujuan Kognitif (Pengetahuan):
- Menjelaskan peran rasa sakit
(penderitaan) dan kesenangan (kenikmatan) dalam kehidupan manusia.
- Menyebutkan hal-hal paling
penting yang menjadi sumber rasa sakit baginya.
- Menyimpulkan pengaruh rasa
sakit atau kesenangan dalam membentuk takdirnya.
- Menerangkan apa yang
dimaksud dengan hubungan saraf (neuro-asosiasi).
- Menentukan cara-cara yang
membantunya untuk memanfaatkan rasa sakit dan kesenangan sedemikian rupa
sehingga ia sendiri yang memegang kendali atas kehidupannya.
- Menjelaskan pentingnya
merencanakan kehidupannya sendiri dan tidak memberikan kesempatan kepada
orang lain untuk membuatkan perencanaan bagi dirinya.
- Membandingkan antara
kekuatan kreativitas/inovasi dengan kekuatan penghancuran, serta mengambil
manfaat dari hasil perbandingan tersebut.
- Menyebutkan contoh-contoh
dari tokoh-tokoh yang mampu menaklukkan berbagai kesulitan dan mengubahnya
menjadi sebuah kekuatan praktis atau kekuatan politik.
- Mengenal esensi
keyakinan-keyakinan, tingkat kepentingannya, beserta pola-polanya.
- Mengklasifikasikan
sebab-sebab ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness)
beserta pola-polanya.
- Menjelaskan peran Islam
dalam mengubah keyakinan-keyakinan serta pemikiran-pemikiran zaman
Jahiliah.
- Menyimpulkan
pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari Perang Hamra al-Asad.
- Merangkum peran penting yang
dijalankan oleh hubungan saraf bagi setiap manusia.
Kedua:
Tujuan Afektif (Sikap/Nilai):
- Melawan rasa takut terhadap
masa depan beserta kerugian dan kemunduran yang diakibatkannya.
- Menunjukkan rasa lega dan
tenteram atas perubahan-perubahan yang telah ia tetapkan bagi dirinya yang
memiliki tujuan-tujuan jelas.
- Menunjukkan rasa empati
kepada orang lain serta bersedia berbagi dalam suka dan duka mereka.
- Menolak untuk menyerah pada
realitas kenyataan atau melarikan diri darinya.
- Mengubah
keyakinan-keyakinannya ke arah yang lebih baik.
- Menghindari rasa takut
terhadap ketidakpastian (sesuatu yang tidak diketahui).
- Meneladani tokoh-tokoh yang
telah menaklukkan kesulitan dan mengubahnya menjadi kekuatan ilmiah,
politik, atau ekonomi.
- Menempuh jalan-jalan yang
benar untuk mengubah keyakinan-keyakinan negatifnya yang dapat menyeretnya
ke dalam rasa takut.
- Antusias untuk mengubah
sebuah ide menjadi sebuah keyakinan yang kuat.
- Menentang segala sebab dan
pola ketidakberdayaan yang dipelajari.
- Menunjukkan kesungguhan
untuk merasakan rasa percaya diri, bersikap tidak ambil pusing terhadap
kesulitan, serta menjauhi rasa putus asa.
- Bersemangat untuk
mendampingi orang-orang yang unggul lagi sukses serta meneladani mereka.
- Menghargai nikmat-nikmat
Allah yang ada pada dirinya berupa akal pikiran dan potensi-potensi yang
tidak terbatas.
- Menunjukkan antusiasme untuk
mengambil manfaat dari enam langkah ilmu kondisioning neuro-asosiasi
(Neuro-Associative Conditioning).
- Mengurutkan hal-hal yang
dapat mendatangkan kesenangan bagi dirinya berdasarkan skala prioritas
kepentingan.
- Menjelajahi kekuatan akal
pikirannya beserta potensi-potensinya yang tidak ada tandingannya.
- Menyusun makalah (kertas
kerja) atau buku saku tentang pentingnya rasa percaya diri dengan
menyertakan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
- Menggunakan kekuatan rasa
sakit dan kesenangan secara baik dalam mewujudkan tujuan-tujuannya.
Ketiga:
Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):
- Membaca tema ini dengan
bacaan yang cermat, tenang, lagi penuh kesadaran.
- Mencoba menggunakan kekuatan
rasa sakit dan kesenangan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya.
- Mahir dalam menghubungkan
antara tujuan-tujuan, impian-impian, serta keyakinan-keyakinannya.
- Mengaitkan kebahagiaan
dirinya dengan tindakan membantu orang lain agar mereka dapat hidup
bahagia.
- Menggunakan ilmu dan
pemikiran-pemikirannya untuk mewujudkan kesenangan bagi dirinya sendiri
dan orang lain.
- Menghadapi masalah-masalah
yang menghadang dengan penuh rasa percaya diri dan ketenangan atas
kemampuannya dalam menghadapi hal tersebut.
- Mahir dalam memanfaatkan
apa-apa yang dikaitkan dengan kesenangan dan rasa sakit untuk membentuk
takdirnya.
- Memegang kendali penuh dalam
merencanakan kehidupannya sendiri dan tidak membiarkan kesempatan bagi
siapa pun untuk membuat perencanaan baginya.
- Mahir dalam mengubah
keyakinan-keyakinannya sedemikian rupa sehingga dapat mewujudkan
kesenangan baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek.
- Menguasai pemanfaatan
berbagai kesulitan dan menundukkannya agar dapat menambah kekuatannya.
- Berlatih untuk mengubah
sebuah ide menjadi sebuah keyakinan yang kuat.
- Mencatat catatan-catatannya
seputar dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh ketidakberdayaan yang
dipelajari pada dirinya sendiri maupun pada diri orang lain.
- Menerapkan apa yang telah
dipelajarinya berupa pengubahan pada sebagian keyakinan yang ada pada
dirinya.
- Mahir dalam menggunakan
kemampuan-kemampuan dan potensi-potensi totalitasnya dengan pemanfaatan
yang paling optimal.
- Berinovasi menciptakan cara
yang memiliki target untuk menggunakan enam langkah modifikasi perilaku
secara benar.
- Menciptakan metode-metode
baru yang membuatnya mampu mengubah keyakinan-keyakinan negatif yang ada
pada dirinya.
Materi
Ilmiah:
Apakah
yang mendorong seseorang yang berasal dari "lingkungan yang baik"
untuk berperilaku sedemikian keji tanpa adanya pencegah dari hati nuraninya
sedikit pun? (Seperti contoh kasus sekelompok orang yang melakukan penyerangan
terhadap seorang gadis di sebuah taman, memerkosanya, kemudian membunuhnya
secara brutal). Sementara di sisi lain, ada orang yang mengorbankan nyawanya
demi menyelamatkan orang-orang yang sama sekali asing baginya? Apakah yang
melahirkan seorang pahlawan, seorang yang lemah, seorang kriminal, atau
seseorang yang berkontribusi dengan peran yang mulia? Apakah yang menentukan
perbedaan-perbedaan di dalam perilaku manusia tersebut?... Tidak diragukan lagi
bahwa di sana terdapat satu kekuatan pendorong tunggal yang berdiri di balik
seluruh perilaku manusia... Kekuatan itu adalah rasa sakit (penderitaan)
dan kesenangan (kenikmatan). Maka, segala hal yang kamu lakukan dan yang
aku lakukan, sesungguhnya kita lakukan didorong oleh kebutuhan kita untuk
menghindari rasa sakit atau karena keinginan kita untuk mendapatkan
kesenangan... Sesungguhnya kesadaran dan penggunaan kekuatan rasa sakit dan
kesenangan akan mengizinkanmu untuk mewujudkan perubahan-perubahan serta
perbaikan-perbaikan yang terus-menerus... Kegagalan dalam menyadari kekuatan
ini akan membuatmu hidup dalam kondisi yang sekadar merespons (reaktif) di
sepanjang hidupmu, laksana sebuah mesin atau binatang... Dan kamu wajib
bertanya kepada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak melangkah untuk melakukan
sebagian urusan yang sebenarnya kamu ketahui bahwa kamu wajib melakukannya? Apa
arti dari penundaan dan sikap nanti-nanti (prokrastinasi)? Sesungguhnya kamu
meyakini pada suatu tingkatan tertentu bahwasanya tindakanmu mengambil tindakan
nyata pada momen ini akan mendatangkan rasa sakit yang lebih besar bagimu
dibandingkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh penundaan.
Akan
tetapi, ketika tindakan tidak mengambil tindakan nyata itu berubah menjadi
sesuatu yang lebih memicu rasa sakit dibandingkan tindakan mengambil tindakan
nyata, maka kamu akan merasakan adanya kekuatan penekan yang mendorongmu untuk
melakukan urusan tersebut.
Manusia
yang menderita sebelum adanya keharusan untuk menderita, sesungguhnya ia
menderita lebih banyak daripada apa yang diperlukan.
Apakah
yang menghalangimu untuk memulai sebuah proyek pekerjaan baru yang telah kamu
rencanakan sejak bertahun-tahun lalu? Itu karena kamu mengaitkan antara apa
yang wajib kamu kerjakan dengan rasa sakit... porsinya lebih besar dibandingkan
pengaitanmu terhadap rasa sakit akibat melewatkan kesempatan bagi dirimu untuk
mewujudkan pekerjaan ini... Mayoritas manusia takut terhadap kerugian dengan
gambaran yang lebih besar dan lebih kuat daripada keinginan mereka untuk
mendapatkan kemenangan, dan hal ini memelihara sifat pengecut di dalam dirinya
hingga sifat itu melahap habis seluruh pemikiran dan impian-impiannya.
Sesungguhnya
rahasia kesuksesan adalah kamu belajar bagaimana cara menggunakan rasa sakit
dan kesenangan, alih-alih kamu membiarkan rasa sakit dan kesenangan menggunakan
dirimu... Jika kamu melakukannya maka kamu akan memegang kendali atas
kehidupanmu, namun jika tidak, maka kehidupanlah yang akan memegang kendali
atas dirimu.
Apakah
rahasia di balik jatuhnya manusia menjadi mangsa bagi rasa sakit, namun
bersamaan dengan itu mereka gagal untuk berubah? Itu karena mereka belum tunduk
pada porsi rasa sakit yang cukup... Mereka belum sampai pada apa yang aku sebut
dengan (ambang batas emosional/emotional threshold). Jika kamu telah
sampai pada tingkatan rasa sakit tersebut, sekiranya kamu tidak lagi memiliki
kesiapan untuk menanggungnya lebih lama lagi, maka saat itulah kamu mengambil
keputusan... Pada saat itu, rasa sakit berubah menjadi teman bagi kita, karena
ia mendorong kita untuk mengambil tindakan baru dan mewujudkan hasil-hasil yang
baru... Perubahan itu juga akan menciptakan porsi kebahagiaan dan kesenangan
yang besar di dalam kehidupan kita; yaitu kesenangan dari tindakan memusnahkan
sumber rasa sakit di dalam kehidupanmu dan tindakan menggantikan rasa sakit
tersebut dengan kebahagiaan serta kesenangan... Kesenangan dari perasaan
bangga, lega, menghormati diri sendiri, dan menjalankan kehidupan dengan cara
yang telah kamu rencanakan untuk dirimu sendiri.
Di
sana terdapat beberapa tingkatan dari rasa sakit, seperti perasaan tidak nyaman
atau rasa bosan... Sebagian dari perasaan-perasaan ini memiliki tingkat
kepekatan yang lebih rendah daripada sebagian yang lain, namun ia tetap masuk
dalam hitungan persamaan pengambilan keputusan... Di sana juga terdapat
beberapa tingkatan dari kesenangan, mulai dari ekstasi (kegembiraan meluap)
hingga rasa lega... Dan boleh jadi perasaan lega itu mengungguli perasaan
ekstasi, yang mana hal ini bergantung pada sudut pandang individual bagi setiap
orang... Sesungguhnya kehidupan kita setiap harinya dipenuhi oleh sejenis
negosiasi psikologis di dalam diri kita sendiri, karena kita secara
terus-menerus menimbang di antara tindakan-tindakan yang boleh jadi akan kita
lakukan dengan pengaruh dari tindakan tersebut atas diri kita.
Pelajaran
Paling Penting di Dalam Kehidupan:
Pelajaran
paling penting yang kita terima di dalam kehidupan kita adalah apa yang
menciptakan rasa sakit dan kesenangan bagi kita... Dan pelajaran ini
berbeda-beda bagi setiap dari kita, yang mana hal ini pada gilirannya menuntun
pada perbedaan di dalam perilaku kita.
Maka
bagi sebagian orang kaya, ia boleh jadi belajar untuk mewujudkan kesenangan
bagi dirinya dengan cara memiliki kapal pesiar (yacht) yang paling besar dan
paling mahal, dan hal yang mendatangkan puncak rasa sakit terbesar baginya di
dalam kehidupan adalah ia merasakan bahwasanya di sana ada seseorang yang
mengunggulinya di medan apa pun dari medan-medan yang ada... Dan ini merupakan
sebuah motivator yang lebih kuat daripada keinginannya untuk mewujudkan
kesenangan semata.
Adapun
bagi seorang dokter wanita muslimah sebagai contoh, maka urusannya adalah
kebalikan dari hal tersebut; ia memiliki rasa empati yang sangat mendalam
ketika melihat orang lain menderita sakit, sampai-sampai ia sendiri ikut
merasakan penderitaan dari rasa sakit tersebut... Dan ketika ia melangkah untuk
membantu orang-orang tersebut, maka rasa sakit mereka pun hilang sebagaimana
hilangnya rasa sakit yang ia rasakan sendiri... Dan boleh jadi kesenangan bagi
dirinya artinya adalah mengarungi lumpur hingga setinggi lutut sampai ia tiba
di sebuah gubuk untuk mengulurkan tangan bantuan bagi anak-anak demi mewujudkan
kehidupan yang lebih baik.
Yaitu
dengan cara menyediakan kesenangan bagi mereka—maka ia sendiri pun akan
merasakan kesenangan. Kedua orang ini membentuk takdir mereka masing-masing di
atas dasar apa yang mereka kaitkan dengan rasa sakit dan kesenangan. Dan
keduanya telah mengambil keputusan yang sadar seputar apa yang mereka nilai
sebagai sebuah hadiah atau sebuah hukuman bagi mereka.
Apa
yang Kamu Kaitkan dengan Rasa Sakit dan Apa yang Kamu Kaitkan dengan Kesenangan
akan Membentuk Takdirmu:
Anthony
Robbins berkata: Aku telah memulai sejak usia dini mengaitkan tingkatan
tertinggi kebahagiaanku dengan ilmu pengetahuan... Dan setiap dokter yang aku
ajak bicara, mereka mengaitkan puncak kesenangannya dengan tindakan membantu
manusia untuk menghentikan rasa sakit, pulih dari penyakit, dan menyelamatkan
nyawa.
Sebagian
orang terkenal melarikan diri pada obat-obatan contohnya, untuk membatasi apa
yang mereka derita dari rasa sakit sebagai bentuk usaha putus asa untuk
melarikan diri dan untuk mencapai kesenangan, namun kesenangan sementara ini
justru menuntun pada kejatuhan mereka.
Salah
satu sebab yang membentengiku dari meminum minuman keras adalah bahwasanya di
sana dahulu ada beberapa orang di dalam keluargaku yang berperilaku dengan
gambaran yang buruk/dibenci saat mereka meminum minuman ini, sekiranya hal itu
membuatku mengaitkan antara tingkatan rasa sakit tertinggi dengan tindakan
meminum minuman keras tersebut.
Inilah
yang aku sebut sebagai: "Hubungan Saraf (Neuro-Asosiasi)", dan
dialah yang mengarahkan keputusan-keputusanku di masa depan kehidupanku.
Maka
hubungan saraf yang negatif di dalam kehidupanku dengan minuman keras tersebut
telah memengaruhi banyak dari keputusan-keputusanku di dalam kehidupan; ia
telah menentukan contohnya kualitas orang seperti apa yang aku jadikan teman di
masa-masa studi... Sebagaimana ia juga menentukan bagaimana aku belajar untuk
menemukan kesenangan dengan cara belajar, bersenang-senang, dan melakukan
olahraga.
Jika
kita menghubungkan antara rasa sakit yang bersangatan dengan perilaku apa pun
atau pola dari perasaan emosional apa pun, maka kita pasti akan menghindari
tindakan melangkah padanya dengan mengerahkan seluruh kekuatan kita... Dan kita
memiliki kemampuan menggunakan pengendalian ini dengan tujuan mengubah pola apa
pun dari pola-pola kehidupan kita... Contohnya, jika kamu ingin melindungi
anak-anakmu dari jerat obat-obatan, maka waktu yang paling tepat untuk hal itu
adalah waktu yang mendahului pengalaman mereka mencobanya... Atau sebelum ada
seseorang yang melangkah untuk mengajari mereka agar mereka menghubungkan
secara palsu antara obat-obatan dengan kesenangan... Bawalah mereka dalam
sebuah perjalanan yang tidak akan mereka lupakan di sepanjang hidup mereka,
yang mana di dalam perjalanan tersebut mereka melihat apa yang dapat dilakukan
oleh obat-obatan pada diri manusia berupa penghancuran mental, emosional, dan
fisik.
Di
sebuah tempat rehabilitasi kecanduan contohnya, dalam sebuah tur untuk
mengunjungi sebagian orang yang telah kehilangan kesehatan dan akal pikirannya,
melihat kondisi sosial mereka, kemudian setelah itu bawalah mereka contohnya
untuk melihat kepada para juara gulat, kepada para atlet, dan kepada
orang-orang yang sukses di dalam kehidupan sosial mereka yang mana mereka jauh
dari tindakan mengonsumsi obat-obatan ini.
Melalui
kekuatan kehendak (kemauan) kita, kita mampu menimbang sesuatu seperti rasa
sakit fisik yang ditimbulkan oleh rasa lapar berbanding dengan rasa sakit fisik
yang ditimbulkan oleh tindakan menyerah terhadap nilai-nilai luhur kita... Dan
dengan begitu kita mampu menciptakan makna-makna yang lebih tinggi dan kita
memegang kendali dengannya atas urusan-urusan kita... Adapun jika kita gagal
dalam mengarahkan apa yang kita hubungkan dengan rasa sakit dan kegembiraan,
maka sesungguhnya kita hanyalah menjalani kehidupan yang tidak beranjak naik
dari tingkatan kehidupan binatang atau mesin, dan kita selalu menjadi sasaran
bagi respons-respons dari lingkungan sekitar kita.
Jika
kita tidak menghapuskan sebab (akar) dari masalah, maka masalah tersebut pasti
akan kembali muncul ke permukaan dari baru... Dan agar perubahan itu dapat
berlangsung terus-menerus pada akhirnya, maka kita wajib mengaitkan rasa sakit
dengan perilaku kita yang terdahulu, dan mengaitkan kesenangan dengan perilaku
kita yang baru, serta mengondisikan perilaku ini sekiranya ia menjadi sesuatu
yang terus-menerus.
Agar
perilaku buruk kita berubah (seperti berlebihan dalam mengonsumsi makanan yang
manis-manis) menjadi perubahan jangka panjang, maka kita wajib mengaitkan rasa
sakit dengan tindakan mengonsumsi makanan tersebut sekiranya kita tidak kembali
memiliki keinginan padanya, sementara di sisi lain kita mengaitkan kesenangan
dengan makanan-makanan yang memberikan nutrisi bagi kita.
Jika
Kamu Tidak Memiliki Rencana bagi Kehidupanmu, Maka Boleh Jadi Orang Lain yang
Akan Membuatkan Perencanaannya untukmu:
Sesungguhnya
tugas perusahaan-perusahaan iklan adalah memengaruhi apa yang kita hubungkan
dengan rasa sakit dan kesenangan. Mereka menghubungkan kesenangan (musik,
gambar, warna, atau kecantikan para gadis) dengan produk-produk mereka; persis
seperti eksperimen membunyikan lonceng saat menyajikan makanan kepada seekor
anjing, yang mana hal itu memicu si anjing hingga air liurnya menetes...
Pengulangan yang terus-menerus terhadap urusan ini akan menciptakan sebuah
hubungan emosional. Para pembuat iklan mengajari kita contohnya: jika kamu
memiliki mobil BMW, maka kamu akan dianggap sebagai orang yang istimewa dan
memiliki selera yang tinggi. Para pembuat iklan telah memperhatikan bahwa jika
seseorang mampu menciptakan perasaan senang dan gembira yang cukup, maka para
konsumen sering kali akan mengabaikan rasa takut terhadap rasa sakit
(kerugian).
Jika
kita tidak mengarahkan pemikiran-pemikiran kita, maka kita akan jatuh di bawah
pengaruh orang-orang yang mengondisikan kita untuk berperilaku dengan cara yang
mereka inginkan. Maka, jika kita ingin memegang kendali atas kehidupan kita,
kita wajib belajar untuk ("membuat iklan sendiri bagi otak kita oleh
diri kita sendiri"). Kita dapat melakukan hal itu dalam satu momen
saja, yaitu dengan cara mengaitkan puncak rasa sakit yang bersangatan dengan
perilaku kita yang ingin kita hentikan, sekiranya kita tidak kembali
memikirkannya setelah itu... Serta dengan cara mengaitkan kesenangan dan
kegembiraan dengan perilaku baru yang diinginkan oleh dirimu. Melalui
pengulangan dan intensitas emosional yang kuat, kamu dapat mengondisikan dirimu
atas perilaku ini dan menanamkan akarnya di dalam dirimu hingga ia menjadi
sesuatu yang otomatis. Begitu pula halnya dengan bangsa-bangsa yang
terbelakang; mereka tidak percaya pada diri mereka sendiri sehingga mereka
tidak melakukan sesuatu pun yang dapat mengganjal perut mereka (memenuhi
kebutuhan hidup) atau menangkal kelaparan ekonomi, sosial, dan industri mereka.
Akibatnya, mereka selalu menjadi tawanan bagi orang lain, dan para pemimpin
mereka tetap dalam kondisi tidak berdaya untuk melakukan sesuatu selama
ketidakmampuan menjadi metode yang diambil, serta rasa takut terhadap apa yang
mereka sangka sebagai hal mustahil, ketidakberanian menghadapi tantangan, dan
ketidakmauan memikul tanggung jawab telah mengakar kuat pada bangsa-bangsa
tersebut beserta otoritas pemerintahannya.
Kebanyakan
manusia fokus pada bagaimana cara menghindari rasa sakit dan mewujudkan
kesenangan dalam jangka pendek, dan dengan begitu mereka sebenarnya sedang
menciptakan rasa sakit bagi diri mereka sendiri dalam jangka panjang. Akan
tetapi, kita wajib mengingat bahwa segala sesuatu yang berharga yang kamu
inginkan, menuntutmu untuk menahan rasa sakit jangka pendek (momen-momen
kecemasan dan godaan yang lewat sekilas) dan melompatinya demi mendapatkan
kesenangan jangka panjang (yaitu: nilai-nilai dan standar-standar personalmu).
Namun,
mengapa sebagian orang bersikeras untuk terus bertahan dalam sebuah hubungan
yang tidak memuaskan tanpa mereka berpikir untuk menemukan solusi-solusi
baginya atau dengan mengakhirinya lalu melanjutkan kehidupan mereka? Hal ini
dikembalikan kepada fakta bahwa mereka mengetahui bahwa perubahan akan
mengantarkan mereka kepada sesuatu yang tidak diketahui (misteri). Dan
kebanyakan manusia meyakini bahwa sesuatu yang tidak diketahui itu lebih
menyakitkan daripada apa yang telah mereka coba (rasakan) hingga saat ini ("Setan
yang kita kenal lebih baik daripada setan yang tidak kita kenal") ("Seekor
burung di tangan lebih baik daripada sepuluh ekor burung di atas pohon")...
Keyakinan-keyakinan kuat yang tertanam seperti ini menghalangi kita dari
melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengubah kehidupan kita.
Kebanyakan
urusan di dalam kehidupan kita menuntut kita untuk berperilaku dengan gambaran
yang berkebalikan dari apa yang telah menjadi kebiasaan bagi sistem saraf kita.
Mari
Kita Lakukan Perubahan Sekarang Juga:
- Pertama: Catatlah
empat tindakan yang sudah seharusnya kamu ambil, namun kamu hanya terus
mengawasinya (menundanya) dari waktu ke waktu (seperti: menurunkan berat
badanmu / berhenti merokok... meraih nilai tinggi dalam pekerjaanmu, atau
keunggulan dalam industri tertentu).
- Kedua: Catatlah di
bawah setiap tindakan tersebut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut:
Mengapa kamu tidak mengambil tindakan yang sesuai itu? Apakah rasa sakit
yang dahulu kamu kaitkan di masa lalu dengan tindakan mengambil langkah
ini? Kamu akan menyadari bahwa jawabannya adalah karena kamu menghubungkan
antara tindakan tersebut dengan risiko menghadapi rasa sakit yang lebih
besar.
- Ketiga: Catatlah
seluruh kesenangan yang telah kamu nikmati di masa lalu sebagai hasil dari
tenggelam dalam kondisi negatif ini.
- Keempat: Catatlah
harga (kerugian) yang harus kamu bayar jika kamu tidak melakukan perubahan
sekarang... Apakah harga yang akan kamu bayar selama tiga, empat, atau
lima tahun ke depan?
(Secara emosional... dan dari sisi penilaianmu terhadap
dirimu sendiri, secara finansial, dan dari sisi hubunganmu dengan orang-orang
yang dekat denganmu) —Bagaimanakah kamu menilai perasaanmu dari sisi ini?
Tidak cukup bagimu hanya dengan mengatakan bahwa hal itu akan menghabiskan
sejumlah uangku atau aku akan menjadi gemuk... Hal ini tidaklah cukup,
melainkan kamu wajib mengingat bahwa yang menggerakkan kita adalah emosi kita,
maka gunakanlah rasa sakit sebagai temanmu yang mendorongmu menuju kesuksesan yang
lebih banyak.
- Kelima: Catatlah
seluruh kesenangan yang akan kamu nikmati setelah kamu melakukan seluruh
tindakan ini terhitung sejak momen ini... Buatlah sebuah daftar yang besar
yang menyediakan dukungan emosional bagimu serta menuntun pada dorongan
dan bangkitnya semangatmu.
Manfaatkanlah kesempatan yang tersedia hari ini... karena
tidak ada yang lebih baik daripada waktu sekarang (saat ini).
Sistem
Keyakinan: Kekuatan Inovasi & Kreativitas dan Kekuatan Penghancuran:
Ada
seorang pria yang kecanduan obat-obatan sedemikian rupa hingga ia hampir
membunuh dirinya sendiri berkali-kali, dan sekarang ia berada di dalam penjara.
Ia memiliki dua orang anak laki-laki; salah satunya tumbuh besar dan menjadi
sama persis seperti ayahnya, sedangkan yang lain—yang jarak usia dengan
saudaranya hanya satu tahun—tumbuh besar sebagai seorang warga negara yang
saleh lagi sukses... Maka, bagaimanakah bisa kedua pemuda ini menjadi sangat
berbeda padahal mereka dibesarkan di lingkungan yang sama?... Mengapa
kehidupanmu menuju ke arah ini?
Dua
orang pilot Amerika ditembak jatuh pesawatnya di Vietnam dan ditawan di dalam
penjara yang sama, serta mendapatkan kondisi penahanan yang sama pula... Akan
tetapi, keyakinan dari masing-masing keduanya sama sekali berbeda. Salah
satunya menganggap kehidupannya telah berakhir, dan untuk menghindari rasa
sakit yang lebih banyak, ia melangkah melakukan bunuh diri... Sementara orang
yang kedua justru memetik dari pengalamannya itu tambahan kekuatan keyakinan
terhadap dirinya sendiri, terhadap manusia, dan terhadap Sang Pencipta Azza wa
Jalla, serta terhadap kemampuannya untuk mengatasi segala jenis rasa sakit atau
tantangan.
Salah
seorang dari mereka masuk penjara lalu mengira bahwa masa depannya telah sirna
dan di hadapannya ada waktu sepuluh tahun, sedangkan yang lain memanfaatkan hal
tersebut untuk membaca, menulis karya (mengarang buku), dan memikirkan tentang
apa yang wajib dikerjakan. Maka siapakah yang lebih kuat? Dan betapa banyak
tokoh yang telah menaklukkan berbagai kesulitan dan mengubahnya menjadi
kekuatan ilmiah atau politik, sehingga mereka setelah itu menjadi penyokong
bagi umat dan dakwah mereka. Contohnya adalah Ibnu Taimiyah; dan Louis IX yang
menulis wasiat-wasiatnya di dalam penjara di Mansoura sehingga dokumennya tetap
abadi hingga sekarang, serta selain keduanya masih banyak lagi.
Seperti
yang kamu lihat, bukanlah lingkungan dan bukan pula peristiwa-peristiwa yang
mengepung kehidupan kita yang membentuk siapa kita sekarang dan akan menjadi
apa kita esok hari, melainkan makna yang kita berikan kepada
peristiwa-peristiwa tersebut—bagaimana kita menafsirkan dan memahaminya...
Maka keyakinan-keyakinan itulah yang menentukan apakah kita akan menjalani
kehidupan yang diwarnai oleh kegembiraan ataukah oleh kesengsaraan dan
kehancuran.
Sesungguhnya
keyakinan-keyakinan kita adalah kekuatan pendorong yang menentukan bagi kita
apa yang menuntun kita pada rasa sakit dan apa yang menuntun kita pada
kesenangan... Dan keyakinan-keyakinan kita diarahkan oleh generalisasi tentang
apa yang telah kita pelajari bahwa hal itu boleh jadi menuntun kita pada rasa
sakit dan kesenangan... Kamu mengetahui bahwa cara membuka pintu adalah dengan
memutar gagangnya... bahkan meskipun pintu itu adalah pintu yang baru bagimu
dan belum pernah kamu lihat sebelumnya... Sesungguhnya keyakinanmu dalam urusan
ini memberikanmu perasaan keyakinan (kepastian) atas kemampuanmu untuk membuka
pintu tersebut... Tanpa adanya perasaan keyakinan ini, kita tidak akan mampu
untuk meninggalkan rumah, mengendarai mobil, menggunakan telepon, dan melakukan
mayoritas aktivitas harian kita... Maka, generalisasi itu memudahkan jalannya
kehidupan kita... Akan tetapi, generalisasi dalam urusan-urusan yang lebih
kompleks boleh jadi menuntun pada keyakinan-keyakinan yang membatasi potensi-potensi
kita... Contohnya, boleh jadi tumbuh pada dirimu sebuah keyakinan bahwa kamu
tidak memiliki kompetensi yang dituntut, yang mana hal itu terjadi hanya karena
kegagalanmu di masa lalu dalam melanjutkan sebagian proyekmu... Dan kebanyakan
keyakinan kita merupakan bentuk generalisasi seputar masa lalu kita yang
dibangun di atas penafsiran kita terhadap pengalaman-pengalaman yang
menyakitkan atau yang menyenangkan. Namun, mayoritas dari kita tidak memutuskan
secara sadar apa yang wajib kita imani, dan sering kali keyakinan-keyakinan
kita dibangun di atas salah penafsiran terhadap pengalaman-pengalaman kita,
sebagaimana kita memperlakukan keyakinan seolah-olah ia adalah fakta-fakta yang
konstan atau perkataan yang sakral.
Seluruh
tindakan kita adalah hasil dari keyakinan-keyakinan kita... Maka jika kamu
ingin menciptakan perubahan-perubahan jangka panjang dan terus-menerus di dalam
perilakumu, kamu wajib mengubah keyakinan-keyakinan yang menyeretmu ke
belakang.
Keyakinan
memiliki kekuatan yang menuntun pada kreativitas atau penghancuran... Dan
setiap dari kita memiliki kemampuan untuk menciptakan makna-makna yang
memberikan kita kekuatan, akan tetapi mayoritas dari kita tidak menggunakan
kemampuan ini dan bahkan boleh jadi tidak menyadari sekadar eksistensi
keberadaannya saja.
Keyakinan
tidak hanya terbatas pada pengaruhnya terhadap emosi dan tindakan kita saja,
melainkan ia dapat mengubah tubuh kita. Keyakinan menuntun pada pengendalian
sistem saraf yang berujung pada perubahan-perubahan biokimiawi, sehingga tubuh
mereka benar-benar berubah... Bahkan, keyakinan memiliki kekuatan yang dapat
mengungguli pengaruh obat-obatan pada tubuh... Manfaat obat merupakan hasil
langsung dari keyakinan si pasien, dialah yang memberikan dampak terbesar pada
kondisi kesehatannya... Sebaliknya, keyakinan kita memiliki kemampuan untuk
membuat kita jatuh menjadi mangsa bagi kondisi-kondisi penyakit, atau membuat
kita pulih dengan cepat, karena ia memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Obat-obatan
tidak selalu diperlukan, akan tetapi keyakinan akan kesembuhan selalu
diperlukan.
Sering
kali kita mengekspresikan keyakinan-keyakinan kita dengan perkataan: "Hidup
ini adalah...", "Aku...", "Manusia...".
Dan inilah yang disebut keyakinan global (menyeluruh) seputar segala hal yang
ada di dalam kehidupan kita.
Keyakinan-keyakinan
kita... begitu kita menerimanya, maka ia berubah menjadi laksana
perintah-perintah yang tidak didebat bagi sistem saraf kita... Maka jika kita
ingin mengarahkan kehidupan kita, kita wajib mengendalikan keyakinan-keyakinan
kita dengan gambaran yang sadar.
Apakah
Keyakinan-Keyakinan (Qana'ah) Itu?:
Ia
adalah perasaan kepastian dan keyakinan tentang sesuatu hal (dan adakalanya
keyakinan-keyakinan ini disebut dengan iktikad/kepercayaan).
Dan
keyakinan itu dasarnya adalah sebuah ide. Jika kamu berkata kepada dirimu
sendiri ("Sesungguhnya aku adalah seorang penulis yang mumpuni"),
maka adakalanya ini berupa sebuah ide atau sebuah keyakinan... Hal ini
bergantung pada sejauh mana rasa percaya diri yang kamu rasakan ketika kamu
mengucapkan kalimat ini.
Bagaimana
Mengubah Ide Menjadi Keyakinan:
Ide
itu laksana permukaan meja yang tidak akan bisa berdiri tegak tanpa adanya
kaki-kaki... Adapun keyakinan, ia memiliki kaki-kaki... Dan kaki-kaki tersebut
adalah pengalaman-pengalaman dari kehidupan kita yang mendukung ide tersebut.
Dan
kita memiliki kemampuan untuk mengembangkan ide kita seputar sesuatu hal jika
kita mampu menemukan kaki-kaki yang cukup (pengalaman-pengalaman yang cukup
yang kita jadikan sandaran) untuk membangun keyakinan ini.
Ide "Aku
seorang penulis yang mumpuni": ditopang oleh wawasan (tsaqafah) yang
besar, kekayaan kosakata bahasa yang lumayan, kemampuan dalam penyusunan
kalimat, serta teman-temanku memuji sebagian ide yang aku tulis.
Dan
pertanyaannya adalah: Manakah dari semua ini yang merupakan keyakinan yang
benar? Bukankah yang penting manakah yang merupakan keyakinan yang benar,
melainkan yang penting adalah manakah yang memberikanmu kekuatan yang lebih
besar... Karena setiap dari kita dapat menemukan orang yang mendukung
keyakinannya dan membuat kita lebih beriman kepadanya... Dan inilah yang
membuat manusia mampu untuk membenarkan urusan-urusan (mencari alasan) dan
menundanya... Namun pertanyaan mendasarnya: Apakah keyakinan ini memperkuat
kita ataukah melemahkan kita?
Sistem
saraf kita dapat menguji sesuatu seolah-olah hal itu nyata (bahkan meskipun ia
belum terjadi) jika tersedia bagi sistem tersebut intensitas emosional dan
pengulangan yang cukup... Orang-orang sukses yang meraih pencapaian-pencapaian
luar biasa memiliki kemampuan berupa keyakinan yang pasti bahwasanya mereka
mampu untuk sukses, meskipun belum ada seorang pun yang mendahului mereka dalam
meraih pencapaian tersebut sebelumnya... Mereka mampu menciptakan
referensi-referensi yang mereka jadikan sandaran meskipun tidak adanya
dokumen-dokumen pendukung ini... Serta mampu mewujudkan apa yang tadinya tampak
mustahil.
Mereka
Mengatakan:
Sesungguhnya
Bill Gates pemilik perusahaan Microsoft: "Kejeniusannya adalah
kemampuannya untuk merasakan keyakinan (kepastian), maka ia menggunakan
keyakinannya untuk menghadirkan sumber-sumber dayanya, menempatkan dirinya
dalam posisi tantangan dan kesuksesan, serta menciptakan jalan bagi dirinya
hingga ia menjadi seorang miliarder di usianya yang ketiga puluh."
Maka, keyakinan itu menciptakan kekuatan.
Sering
kali berkembang pada sebagian manusia keyakinan-keyakinan yang membatasi
kemampuan mereka seputar kepribadian dan potensi mereka, dan mereka meyakini
bahwa mereka tidak akan sukses di masa depan selama mereka tidak sukses di masa
sekarang. Dan kebanyakan manusia yang fokus untuk menjadi orang yang realistis,
mereka pada realitasnya hidup dalam kondisi kecemasan karena takut tertimpa
kekecewaan... Adapun para pemimpin besar, mereka jarang sekali bersikap
realistis (jika diukur berdasarkan standar orang-orang lain)... Maka di sana
terdapat perbedaan tentang apa yang disebut realistis, yang mana hal itu sesuai
dengan referensi dari masing-masing keduanya... Seperti Gandhi, Khalid bin
Walid, Saad bin Abi Waqqas, dan Hasan al-Banna.
Jika
kamu akan melakukan kesalahan di dalam kehidupanmu, maka cobalah untuk
melakukan kesalahan dalam bentuk berlebihan dalam menilai potensi kemampuanmu
(dengan syarat jangan sampai membahayakan kehidupanmu); karena potensi-potensi
yang tersedia pada diri manusia jauh lebih besar daripada apa yang tampak di
hadapan kita.
"Ketidakberdayaan
yang Dipelajari" (Learned Helplessness):
Sebagian
manusia merasa bahwa tidak ada gunanya apa pun yang mereka lakukan, dan
bahwasanya mereka adalah orang-orang yang cemburu (lemah) dan akan terus
menjadi bagian dari orang-orang yang merugi, yang mana hal itu disebabkan oleh
referensi-referensi mereka dalam hal kegagalan dan ketidakberhasilan.
Dan
sebab-sebab dari jenis ketidakberdayaan ini adalah tiga pola dari
keyakinan-keyakinan yang membuat kita merasakan ketidakberdayaan:
- Permanensi (Dimumah)
- Pervasif/Universal
(Syumul)
- Personalisasi
(Sifat-sifat Personal)
Ketiga
hal inilah yang membentuk perbedaan dalam keyakinan antara para pemenang dan
orang-orang yang kalah:
- Permanensi (Dimumah):
Yaitu keyakinan kita seputar apa yang bersifat "tetap/permanen"
dan apa yang bersifat "tidak tetap/sementara" di dalam
masalah-masalah kita... Maka wajib atas mereka memiliki keyakinan
bahwasanya masalah mereka tidaklah permanen, dan bahwasanya "ini
pun akan berlalu". Dan wajib bagi mereka untuk mengaitkan rasa
sakit yang bersangatan dengan keyakinan negatif tersebut, serta wajib bagi
mereka untuk bertekad kuat (bertahan) sampai mereka menemukan jalan keluar
dari situasi ini.
- Pervasif/Universal
(Syumuliyah): Yaitu keyakinan kita seputar "cakupan masalah
secara menyeluruh", yang mana seseorang melihat bahwa masalahnya
memegang kendali atas kehidupannya secara utuh... Jika mereka mendapati
sebuah masalah finansial, mereka akan meyakini bahwa seluruh kehidupan
mereka telah hancur... Dan jika mereka gagal dalam suatu urusan, mereka
meyakini bahwa diri mereka adalah "orang gagal"... Maka wajib
bagimu untuk memandang masalah tersebut bahwasanya ia memiliki pengaruh
yang terbatas (lokal) saja.
- Personalisasi (Sisi
Personal): Yaitu keyakinan bahwasanya masalah itu bersumber dari
adanya aib/kekurangan di dalam kepribadianmu dan terpendam di dalam
dirimu. Maka apakah kamu bisa membayangkan bahwa kamu mampu menyelesaikan
sesuatu urusan dalam keadaan kamu terus-menerus mencambuk dirimu sendiri
dan mengarahkan celaan kepadanya? Oleh karena itu, wajib bagi para
pengemban dakwah yang telah mengerahkan usaha-usaha mereka untuk berhenti
dari tindakan mencela diri mereka sendiri dan dakwah mereka serta terlalu
banyak menuduhnya, agar mereka tidak menimbulkan pelemahan pada keyakinan
diri mereka sendiri pertama-tama, dan pada keyakinan manusia kedua-duanya.
Akan tetapi, wajib bagi mereka untuk melipatgandakan usaha, membuka pintu
harapan, merasa optimis dengan masa depan, serta memberikan kabar gembira
dengannya agar dapat memotivasi orang-orang lain.
Sesungguhnya
berpegang teguh pada keyakinan-keyakinan yang melemahkan lagi membatasi ini,
pengaruhnya sama persis dengan mengonsumsi dosis-dosis kecil dari racun
arsenik, yang mana ia terkumpul hari demi hari hingga berubah menjadi dosis
yang mematikan. Oleh karena itu, wajib bagimu untuk menghindarinya dengan
segala cara.
Bagaimanakah
Kamu Dapat Mengubah Keyakinan yang Ada Pada Dirimu?
Setiap
pekerjaan personal yang mulia yang berhasil kamu wujudkan, selalu dimulai
dengan sebuah perubahan pada keyakinan-keyakinanmu... Sesungguhnya jalan yang
paling berpengaruh adalah ketika benakmu menghubungkan keyakinan lamamu dengan
rasa sakit yang bersangatan, dan setelah itu kamu menghubungkan kegembiraan
yang amat besar dengan ide untuk mengadopsi keyakinan yang baru.
Pengalaman-pengalaman
tidaklah menjamin terjadinya perubahan pada keyakinan. Sebab, boleh jadi
sebagian manusia menghadapi pengalaman-pengalaman yang sama sekali berkebalikan
dengan keyakinan mereka, namun mereka menafsirkan kembali pengalaman tersebut dengan
cara yang sesuai bagi mereka dan yang mereka inginkan demi mendukung
kepercayaaan-kepercayaan mereka yang sudah ada.
Pengalaman-pengalaman
baru akan mendatangkan suatu perubahan jika ia menuntun pada lahirnya
pertanyaan (keraguan) seputar keyakinan-keyakinan kita... Dan pada realitasnya,
banyak dari keyakinan kita yang bersandar pada informasi-informasi yang kita
terima dari orang lain, yang mana kita tidak mencoba untuk mempertanyakannya
pada waktu tersebut. Akan tetapi, jika kita mengujinya dengan cermat, maka akan
tampak jelas bagi kita bahwasanya apa yang kita yakini di dalam alam bawah
sadar selama bertahun-tahun, sesungguhnya hanyalah dibangun di atas sekumpulan
asumsi yang keliru (seperti contohnya cara penyusunan huruf-huruf pada mesin
ketik; susunan tersebut sudah ada sejak 120 tahun lalu dan kita tidak pernah
mendiskusikan sejauh mana kesesuaiannya, padahal ia pada dasarnya disusun untuk
menurunkan kecepatan mengetik agar selaras dengan pergerakan potongan-potongan
logam di dalamnya).
Keyakinan
Dapat Dibagi Menjadi Tiga Pola:
- Pendapat (Opini):
Yaitu suatu urusan yang kita rasakan memiliki keyakinan yang relatif
terhadapnya, akan tetapi ia tetap bersifat sementara, dapat berubah, dan
biasanya dibangun di atas referensi-referensi yang sedikit.
- Keyakinan (Qana'ah):
Yaitu sesuatu yang dibangun di atas referensi-referensi yang lebih banyak,
dan kita merasakan adanya tingkatan kepastian yang kuat terhadapnya,
sekiranya kita menjadi tertutup dari kemungkinan untuk diyakinkan oleh
informasi-informasi yang baru.
- Akidah (Keyakinan
Mutlak): Pemiliknya tidak merasa cukup dengan sekadar merasakan
kepastian terhadapnya, melainkan ia akan marah jika akidah tersebut
diletakkan dalam posisi dipertanyakan... Dan ia memiliki kesiapan untuk
menanggung cemoohan orang lain terhadap dirinya serta penolakan mereka
kepadanya demi menjaga akidahnya. Akan tetapi, kepercayaan-kepercayaan ini
dicirikan dengan sifat positif karena adanya emosi yang diembuskannya
kepada kita, sekiranya ia memberikan kita kekuatan yang mendorongmu untuk
melangkah melakukan tindakan nyata.
Sesungguhnya
hal terbaik yang dapat kamu lakukan agar kamu mahir dalam apa yang kamu
kerjakan di belahan mana pun dari belahan-belahan kehidupanmu adalah dengan
cara mengangkat tingkatan keyakinanmu hingga ia mencapai tingkatan akidah.
Lalu
bagaimanakah kamu dapat sampai pada tindakan menciptakan akidah yang kukuh?
- Mulailah dari
keyakinan-keyakinan dasarmu.
- Perkuatlah
keyakinan-keyakinanmu dengan menambahkan referensi-referensi baru yang
lebih kuat dan lebih menyentuh emosi.
- Carilah suatu kejadian yang
mendorongmu, atau ciptakanlah urusan yang seperti itu (misalnya:
saksikanlah kehancuran yang ditimbulkan oleh obat-obatan).
- Melangkahlah untuk
bertindak (bekerja).
Akan
tetapi, terkadang manusia mengimani suatu urusan hanya karena orang-orang lain
mengimaninya, dan hal ini di dalam ilmu psikologi disebut dengan "Bukti
Sosial" (Social Proof). Meskipun demikian, hal itu tidak selalu
benar... Dan urusan tersebut berpotensi membatasi kehidupanmu secara
besar-besaran, karena ia menjadikan kehidupanmu laksana salinan yang persis
sama dari kehidupan orang lain... Dan tindakan mengikuti orang-orang yang kita
sebut sebagai pakar tanpa adanya penyaringan (pemeriksaan) adalah tindakan yang
tidak sehat... Bahkan, perasaan-perasaan personalmu sendiri boleh jadi tidak
sehat dalam banyak waktu dan tidak dapat dipercaya.
Namun
bagaimana kamu bisa mengetahui keyakinan manakah yang harus kamu adopsi?
Jawabannya adalah kamu harus menemukan seseorang yang telah mewujudkan
hasil-hasil yang sangat ingin kamu wujudkan, sehingga ia menjadi teladan
bagimu. Karena di balik semua orang sukses, pastilah tersembunyi sekumpulan
keyakinan yang memberikan mereka kekuatan... Dan urusan ini memberikan kita
kekuatan serta kesenangan... Orang-orang sukses itu tersedia di sekitar kita,
dan urusan ini tidak lebih dari sekadar mengarahkan pertanyaan-pertanyaan
kepada mereka seperti: Apakah yang kamu yakini bahwa hal itu membedakanmu
dari orang lain? Apa sajakah keyakinan-keyakinanmu yang unik yang hanya
ada pada dirimu sendiri? ... Sesungguhnya aku telah menjadi seorang pemburu
bagi orang-orang yang istimewa, yang mana aku terus-menerus mencari wanita dan
pria yang istimewa demi memperjelas keyakinan-keyakinan mereka, nilai-nilai
mereka, serta strategi-strategi yang mereka ikuti untuk sampai pada kesuksesan
mereka.
Filsuf
Jerman, Schopenhauer, berkata: "Setiap kebenaran pasti melewati tiga
tahapan: Pertama: Menjadi bahan cemoohan. Kedua: Ditentang dengan keras.
Ketiga: Dan pada akhirnya, diterima sebagai sesuatu yang jelas yang tidak
membutuhkan dalil pendukung."
Di
antara keyakinan global paling penting yang dapat kamu adopsi adalah keyakinan
bahwasanya wajib bagi kita—agar kita sukses dan bahagia—untuk terus-menerus
memperbaiki kualitas kehidupan kita, serta terus-menerus tumbuh dan berkembang
/ atau "Perbaikan yang Terus-Menerus dan Tanpa Akhir" (Constant
and never ending improvement) / sebuah perbaikan terus-menerus yang
bertahap, bahkan berukuran sangat kecil (mikro) namun dampaknya sangat
berpengaruh dalam jangka panjang.
Kunci
Kesuksesan adalah Menumbuhkan Perasaan Percaya Diri:
Tentukanlah
keyakinan yang paling merampas kekuatanmu dibandingkan yang lain:
Ingatlah
bahwasanya begitu kamu meragukan suatu keyakinan tertentu, maka kamu sebenarnya
sedang mulai menggoyang kaki-kaki referensi yang menjadi sandarannya, sekiranya
ia tidak lagi berpengaruh atas dirimu [Beliau menyerupakan keyakinan seperti
permukaan meja yang memiliki kaki-kaki; jika kamu ingin melepaskan keyakinan
tersebut, maka wajib bagimu untuk melonggarkan kaki-kaki tersebut sampai kamu
mencabutnya, maka dengan begitu keyakinan tersebut akan runtuh].
Singkirkanlah
kaki-kaki kepastian dari bawah keyakinan-keyakinan yang merampas kekuatanmu
ini, yaitu dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan berikut:
- Bagaimana bisa keyakinan
ini menjadi sesuatu yang menggelikan atau konyol?
- Apakah orang yang kamu
pelajari keyakinan ini darinya merupakan sosok yang layak untuk kamu
teladani di bidang ini?
- Apakah biaya (konsekuensi)
emosional akhir yang akan kamu bayar jika kamu tidak melepaskan diri dari
keyakinan ini? Dan dari sisi hubungan-hubunganmu? Secara fisik? Secara
finansial? Dan secara kekeluargaan?
Jika
kamu mengambil waktu yang cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, maka
kamu akan mendapati bahwasanya keyakinanmu telah mulai melemah... Kaitkanlah
hal itu dengan rasa sakit yang bersangatan sekiranya kamu dapat membebaskan
dirimu secara total darinya untuk selama-lamanya, dan putuskanlah pada akhirnya
untuk melakukan hal tersebut.
Kamu
wajib menuliskan alternatif (pengganti) bagi keyakinan yang telah kamu hapus
ini... Apakah kebalikan darinya? Karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu
melepaskan diri dari suatu pola tertentu tanpa kamu menggantikan pola tersebut
dengan pola yang baru.
Kepemimpinan
dan Kekuatan Keyakinan:
Para
pemimpin adalah individu-individu yang hidup berdasarkan keyakinan-keyakinan
yang memberikan mereka kekuatan, dan mereka mengajari orang-orang lain
bagaimana cara mengeluarkan seluruh potensi mereka dengan cara beralih dari
keyakinan-keyakinan yang membatasi potensi-potensi tersebut.
Ibu
Guru Iman Taufiq telah menciptakan sebuah perubahan yang tidak boleh diremehkan
di dalam kehidupan murid-muridnya yang dahulu hidup di sekolah-sekolah
pemerintah yang tidak memperhatikan mereka di kota Mansoura, yaitu dari
kalangan murid-murid kelas dua sekolah dasar. Mereka dahulu menderita kesulitan
dalam membaca, belajar, dan berperilaku. Akan tetapi, beliau memutuskan
bahwasanya masalahnya tidaklah terletak pada anak-anak ini, melainkan pada
metode yang bersumber dalam pengajaran mereka; yang mana mereka dahulu tidak
dihadapkan pada porsi tantangan yang cukup, dan oleh karena itu mereka tidak
memiliki keyakinan-keyakinan yang menciptakan rasa percaya diri pada mereka
sendiri. Maka, beliau melemparkan ke samping seluruh buku-buku kurikulum yang
ditetapkan, dan beliau mulai mengajarkan mereka sejarah perjalanan hidup
orang-orang besar yang mulia seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Al-Ghazali.
Guru-guru yang lain pun terperangah dan menolak hal tersebut, akan tetapi para
murid justru menunjukkan kesuksesan yang luar biasa karena beliau benar-benar
membawa mereka untuk percaya pada diri mereka sendiri... Dan beliau memperkuat
kualitas kehidupan mereka dengan menggunakan prinsip-prinsip penataan segitiga
(tiga serangkai):
- Beliau membuat mereka
meningkatkan standar-standar mereka.
- Membantu mereka untuk
mengadopsi keyakinan-keyakinan baru yang memberikan mereka kekuatan untuk
melompati rintangan.
- Dan memperkuat seluruh hal
tersebut dengan keterampilan-keterampilan serta strategi-strategi yang
diperlukan untuk mewujudkan kesuksesan di sepanjang hidup mereka.
Dan
hasilnya, para murid berubah menjadi sosok yang percaya diri, bahkan menikmati
kompetensi yang mengagumkan... Dan salah seorang murid pernah ditanya tentang
apa yang telah ia pelajari dari ibu guru ini, maka ia menjawab: ("Aku
belajar bahwasanya masyarakat boleh jadi bisa meramal masa depanku, akan tetapi
aku sendirilah yang akan menentukan takdirku").
Jelaslah
bagi kita bahwasanya di sana terdapat kekuatan yang terpendam di dalam diri
kita yang membutuhkan tindakan kita untuk membangunnkannya. Dan kekuatan ini
dimulai dengan kemampuan untuk mengambil keputusan-keputusan yang sadar yang
mana urusan tersebut akan membentuk takdir kita.
Apakah
Perubahan Itu Mampu Terjadi Secara Langsung (Seketika)?:
Agar
aku memiliki kemampuan untuk membantu manusia untuk berubah, maka wajib bagiku
untuk memiliki kemampuan untuk mengubah diriku sendiri terlebih dahulu, dan
untuk memotivasi diriku sendiri. Maka, aku mempelajari metode-metode teknik
yang memiliki kemampuan untuk mendatangkan pengaruh-pengaruh di dalam kehidupan
manusia secepat kilat, seperti hipnotis dan Pemrograman Neuro-Linguistik (NLP).
Dan aku dahulu langsung menerapkan seluruh apa yang aku pelajari seketika itu
juga.
Masalahnya
adalah kebanyakan dari kita menunggu sampai terjadinya suatu urusan tertentu
agar kita memutuskan untuk melakukan sebagian transformasi perubahan.
Seberapa
cepatkah seseorang sebagai contoh mampu melompati rasa sakit yang ditimbulkan
akibat kehilangan orang yang dicintai dan mulai merasakan perasaan yang
berbeda? Kita memiliki sekumpulan keyakinan bahwasanya wajib bagi kita untuk
bersedih selama kurun waktu tertentu, dan oleh karena itu kita memilih rasa
sakit dari kesedihan tersebut alih-alih mengubah emosi kita, sampai kita merasa
bahwasanya kita telah memenuhi tuntutan dari aturan-aturan dan standar-standar
tempat kita dibesarkan mengenai kadar kesedihan yang sesuai dalam kondisi ini.
Dan oleh karena itulah Islam menentukan masa-masa takziah (belasungkawa) dan
berkabung, serta menjadikan tindakan menambah atas waktu tersebut sebagai
sesuatu yang diharamkan—atau perkara baru yang diada-adakan (bidah).
Adalah
sebuah kesalahan—jika kamu ingin manusia itu berubah—kamu mengambil sendiri
tanggung jawab untuk mengubah mereka... Karena mereka bisa saja kembali dengan
mudah kepada perilaku mereka yang terdahulu jika mereka menghadapi tantangan
yang sulit. Oleh karena itu, kata "pemrograman" adalah kata yang
kurang tepat, adapun perumpamaan yang lebih baik untuk perubahan jangka panjang
ini adalah pengondisian (penjinakan/kondisioning)... Dan ia menuntut
kita untuk menyadari bagaimana cara menggunakan rasa sakit dan kesenangan. Dan
oleh karena inilah Islam tidak memaksa seorang pun untuk memeluknya, akan
tetapi Islam menampakkan kepadanya kebenaran, mendalilkannya, serta
menyajikannya secara teori maupun praktik.
Begitu
kita memunculkan suatu perubahan, maka wajib bagi kita untuk langsung
memperkuatnya kembali seketika itu juga, kemudian mengondisikan kembali sistem
saraf kita agar kita sukses untuk selamanya, bukan hanya untuk satu kali saja.
Aku
telah mencetuskan nama "Ilmu Pengondisian (Penjinakan)
Neuro-Asosiasi" (Neuro-Associative Conditioning): yaitu sebuah
proses yang berjalan langkah demi langkah dan ia memiliki kemampuan untuk
mengondisikan sistem sarafmu agar ia menghubungkan kesenangan dengan
urusan-urusan yang ingin kamu dekati sedikit demi sedikit... Sebagaimana ia
menghubungkan rasa sakit dengan urusan-urusan yang ingin kamu hindari agar kamu
sukses di dalam kehidupanmu secara terus-menerus tanpa kamu mengerahkan usaha
atau kekuatan kemauan yang konstan.
Segala
Sesuatu Tidaklah Berubah, Melainkan Kita yang Berubah:
Sesungguhnya
kita semua mengubah salah satu dari dua hal:
- Bagaimana cara perasaan
kita terhadap segala sesuatu, atau:
- Perilaku kita.
Dan
salah satu komponen utama untuk menciptakan perubahan jangka panjang adalah
melakukan transformasi pada keyakinan-keyakinan kita. Maka, wajib bagi kita
untuk memiliki dua keyakinan berikut ini:
- Keyakinan pertama
adalah: "Bahwasanya kita mampu untuk berubah sekarang juga."
... Di sana ada suatu momen yang mana di dalamnya terjadi perubahan, maka
mengapa momen tersebut tidak berupa waktu sekarang... Karena sesungguhnya
apa yang memakan waktu lama pada diri manusia hanyalah proses bersiap-siap
untuk berubah.
- Keyakinan kedua adalah:
"Bahwasanya kita sendirilah yang bertanggung jawab untuk mengubah
diri kita sendiri, dan bukan orang lain." ... Dan ini mencakup 3
keyakinan:
·
A. Pertama, wajib
bagi kita untuk percaya bahwasanya sesuatu hal "harus" berubah
"secara pasti" (pasti diubah).
·
B. Wajib bagi kita
untuk tidak hanya percaya bahwasanya urusan-urusan itu harus berubah, melainkan
kita percaya bahwasanya wajib atas "kita sendiri" yang mengubahnya
agar perubahan itu bersifat final dan terus-menerus, jika tidak maka kita akan
terus mencari orang lain yang mendatangkan perubahan tersebut bagi kita.
·
C. Wajib bagi kita
untuk meyakini dengan keyakinan yang pasti: "Bahwasanya kita mampu untuk
mengubah hal tersebut."
Dan
tanpa adanya keyakinan-keyakinan ini, maka perubahan apa pun yang kita
munculkan sering kali hanya akan bersifat sementara saja.
Adalah
sebuah hal yang baik jika kamu selalu memiliki orang yang melatihmu (pakar,
terapis, konsultan, atau sosok teladan), akan tetapi pada akhirnya kamu akan
tetap menjadi sumber perubahan bagi dirimu sendiri.
Kita
memiliki kemampuan untuk menganalisis masalah-masalah kita selama
bertahun-tahun, akan tetapi tidak ada sesuatu pun yang berubah sampai kita
mengubah perasaan-perasaan yang kita hubungkan dengan suatu pengalaman tertentu
di dalam sistem saraf kita.
Kekuatan
Otakmu:
Wajib
bagimu untuk menyadari bahwasanya otakmu sedang menunggu dengan penuh kerinduan
setiap perintah yang kamu arahkan kepadanya, dengan menunjukkan kesiapannya
untuk memenuhi permintaan apa pun yang kamu minta darinya... Dan akal pikiran
itu mengungguli teknologi komputer yang paling mutakhir; ia memproses 30 miliar
informasi dalam satu detik, mengandung 6.000 mil kabel, dan di dalamnya
terdapat 28 miliar sel saraf yang mana masing-masing darinya merupakan komputer
mini berukuran kecil yang independen dan mampu memproses sejuta informasi...
Dan panjang serat-serat saraf yang menghubungkan antar-sel saraf mencapai
100.000 mil. Dan reaksi refleks pada sel saraf mana pun memiliki kemampuan
untuk menyebarkannya kepada ratusan ribu sel saraf yang lain dalam waktu kurang
dari 20 bagian dari satu detik... Dan akal pikiran memiliki kemampuan untuk
mengenali wajah yang familier (dikenal) dalam waktu kurang dari satu detik,
sebuah urusan yang melompati komputer yang paling kuat... Sebagaimana miliaran
sel saraf memiliki kemampuan untuk menyerang suatu masalah pada waktu yang
sama, berkebalikan dengan komputer yang berjalan langkah demi langkah.
Dan
dengan adanya seluruh kekuatan yang luar biasa ini yang diletakkan di bawah
pelayanan kita, maka mengapa kita tidak mampu untuk mengubah kebiasaan yang
buruk? Dan mengapa kita tidak mampu untuk membawa diri kita sendiri agar
merasakan kebahagiaan secara terus-menerus?
Kita
pasti mampu melakukan hal tersebut.
Ilmu
Saraf (Neuroscience): Tiketmu Menuju Perubahan yang Kekal
Pada
setiap kali kita merasakan rasa sakit atau kesenangan, maka akal pikiran kita
akan mencari sebabnya dan mencatat hal tersebut di dalam sistem saraf kita
sekiranya kita menjadi mampu untuk mengambil keputusan-keputusan yang lebih
baik tentang apa yang akan kita lakukan di masa depan.
Dan
ketika kita mengerjakan sesuatu urusan untuk pertama kalinya, maka kita
sebenarnya sedang menciptakan hubungan fisik, yaitu berupa serat-serat saraf
mikro yang mengizinkan kita untuk memanggil kembali emosi atau perilaku ini
dari baru di masa depan. Dan pada setiap kali kita mengulang perilaku ini, maka
hubungan tersebut akan semakin tebal karena ia menambahkan serat lainnya pada
hubungan saraf kita... Dan kita memiliki kemampuan melalui pengulangan yang
cukup dan intensitas emosional untuk menambahkan serat-serat yang baru...
Hubungan saraf ini merupakan fakta biologis nyata, dan setiap kali kita semakin
tenggelam dalam suatu pola dari pola-pola perilaku, maka pola tersebut akan
menjadi semakin kuat... Adapun jika kamu berhenti dari tindakan tenggelam dalam
perilaku atau emosi ini selama kurun waktu tertentu, maka hubungan saraf
tersebut akan melemah dan menyusut (atropi), dan dengan begitu akan sirna pula
pola-pola emosional atau perilaku yang merampas kekuatanmu. (Dan hal ini
terjadi contohnya ketika kamu berhenti dari kebiasaan merokok; pada permulaan
tindakan berhentimu kamu akan merasakan adanya perasaan memaksa yang
mengendalikanmu untuk terus merokok disebabkan oleh hubungan-hubungan saraf
yang ada, akan tetapi ia akan melemah setelah beberapa waktu).
Bagaimana
Cara Menemukan Jalan Pintas yang Rata yang Membebaskanmu dari Rasa Sakit dan
Mengantarkanmu pada Kesenangan:
Ilmu
pengondisian hubungan saraf menawarkan kepadamu enam langkah untuk memodifikasi
perilaku dengan cara memutus pola-pola yang merampas kekuatanmu, dan
langkah-langkah tersebut adalah:
- Tentukanlah apa yang kamu
inginkan secara tepat dan apa yang menghalangimu untuk mencapainya
sekarang.
- Dapatkanlah daya dorong
(dukungan): Hubungkan rasa sakit yang bersangatan dengan tindakan tidak
berubah sekarang, dan kegembiraan yang bersangatan dengan pengalaman
berubah sekarang.
- Putuskanlah pola-pola yang
membatasi potensi-potensi kemampuanmu.
- Ciptakanlah alternatif baru
yang memberikanmu kekuatan.
- Cobalah mengondisikan pola
yang baru tersebut sampai ia berubah menjadi kebiasaan yang konstan.
- Ujilah apa yang telah
berhasil kamu selesaikan.
Di
waktu kapan pun kamu merasakan rasa sakit yang kuat atau kesenangan yang kuat,
maka otakmu akan langsung mencari sebabnya seketika itu juga dengan menggunakan
tiga kriteria, yaitu:
- Ia mencari sesuatu yang
unik... yang tidak biasa di bawah bayang-bayang kondisi yang ada.
- Ia mencari sesuatu yang
terjadi pada momen dan waktu yang sama di saat kamu merasakan rasa sakit
atau kesenangan tersebut.
- Ia mencari sesuatu yang
konstan dan terus-menerus, yaitu setiap kali hal ini terjadi padamu maka
kamu merasakan rasa sakit atau kesenangan... Dan dengan begitu otakmu akan
memastikan bahwasanya inilah sebab bagi rasa sakit atau kesenangan yang
kamu rasakan.
Akan
tetapi, dikarenakan kriteria-kriteria ini membentuk hubungan-hubungan saraf
yang tidak akurat, maka adalah hal yang mudah bagi seseorang untuk jatuh
menjadi mangsa bagi salah penafsiran terhadap urusan-urusan, dan apa yang kita
sebut sebagai hubungan saraf palsu (neuro-asosiasi semu). Maka sering kali kita
melemparkan kesalahan pada sebab yang bukan sebenarnya, dan dengan begitu kita
menghalangi diri kita sendiri dari kemampuan mencapai solusi-solusi yang benar.
Sumber
Sabotase Diri (Penghambatan Diri):
Di
antara urusan-urusan yang mendatangkan tipu daya yang besar adalah: Hubungan
saraf yang bercampur (neuro-asosiasi campuran), karena ia merupakan sumber
bagi tindakan menyabotase diri... Yaitu suatu kondisi yang mana di dalamnya
bercampur antara rasa sakit dengan kesenangan dalam satu situasi. Contohnya,
masalah uang; kamu boleh jadi mengaitkannya dengan kesenangan, kenyamanan, dan
kebahagiaan, akan tetapi sebagian manusia boleh jadi mengaitkannya dengan
keletihan dan rasa sakit dalam usahanya untuk mendapatkannya, atau mereka
mengaitkannya dengan sifat serakah dan eksploitasi...
Ketika
kamu berada dalam proses mengambil keputusan seputar apa yang ingin kamu
lakukan, maka otakmu akan merasakan keletihan dan kebingungan jika ia tidak
menerima isyarat-isyarat yang jelas seputar apa yang dapat ia timbang antara
rasa sakit atau kegembiraan. Dan sebagai hasil dari hal tersebut, kamu
kehilangan kekuatan dorong dan kekuatan yang membuatmu mampu untuk melangkah
melakukan tindakan-tindakan yang menentukan.
Jika
kamu memberikan pesan-pesan yang bercampur kepada otakmu, maka kamu pasti akan
menerima hasil-hasil yang bercampur pula... Pikirkanlah proses pembuatan
keputusan di dalam otakmu seolah-olah ia adalah sebuah timbangan: Jika aku
melakukan ini, apakah artinya rasa sakit ataukah kegembiraan? Dan bukanlah
jumlah faktor yang ada pada setiap sisi yang penting, melainkan berat (bobot)
dari masing-masing faktor tersebut.
Tembok
Pembatas Rasa Sakit – Rasa Sakit:
Terkadang
kamu boleh jadi sampai pada suatu titik yang mana kamu merasakan pada saat itu
bahwasanya kamu akan merasakan rasa sakit apa pun yang kamu lakukan (titik
tembok pembatas rasa sakit – rasa sakit), maka sering kali kemampuan-kemampuan
kita terhenti sampai pada batas lumpuh dan kita tidak tahu apa yang harus kita
lakukan.
Sesungguhnya
penggunaan enam langkah dari ilmu pengondisian hubungan saraf akan membantumu
untuk menafsirkan pola-pola yang merampas kekuatan ini, karena kamu akan
menciptakan jalan-jalan alternatif sekiranya kamu tidak merasa cukup dengan
sekadar berharap untuk menghindari perilaku yang tidak diinginkan tersebut atau
menghindarinya dalam jangka pendek saja, melainkan kamu akan mengkondisikan
kembali dirimu sendiri sekiranya kamu merasakan dan menempuh cara yang selaras
dengan pilihan-pilihan barumu yang memberikanmu kekuatan. Karena tanpa adanya
perubahan pada apa yang kamu kaitkan dengan rasa sakit dan kesenangan di dalam
sistem sarafmu, maka seluruh perubahan tidak akan pernah bertahan lama.
Detail
Enam Langkah Ilmu Pengondisian Asosiatif (Neuro-Asosiasi):
Langkah
Pertama:
Kita
harus memutuskan apa yang sebenarnya kita inginkan, sehingga ada sesuatu yang
kita tuju/bergerak ke arahnya... Kita juga harus mengetahui apa hal yang
menghalangi kita dari mewujudkan apa yang kita inginkan; misalnya, kita mungkin
mengira bahwa kita akan menderita rasa sakit, atau kita takut terhadap sesuatu
yang tidak diketahui (misteri).
Langkah
Kedua:
Kebanyakan
orang berkata, "Kami ingin berubah, tetapi kami tidak bisa membawa diri
kami untuk melakukan perubahan tersebut"... Padahal, perubahan itu
biasanya bukanlah masalah "kemampuan", melainkan hampir selalu
merupakan masalah "motivasi". Sebagai contoh, jika seseorang
menodongkan pistol ke wajahmu, kamu pasti akan langsung berlari... Atau jika
kamu mendengar seseorang berteriak: Kebakaran! Kebakaran!... Kamu akan
berlari dengan sangat cepat. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang mendorong
kita untuk berubah sekarang adalah dengan menciptakan suatu kondisi darurat
yang kita rasakan, yang mana intensitasnya sedemikian kuat hingga memaksa kita
untuk menuntaskan urusan tersebut.
Terkadang
kita memiliki emosi yang bercampur. Di satu sisi, kita ingin berubah karena
kita tidak ingin terkena penyakit kanker akibat kecanduan merokok, namun di
sisi lain kita takut berubah karena kita berpikir bisa saja mati karena kanker
juga meskipun tanpa merokok, ditambah lagi fakta bahwa kita akan kehilangan
kenikmatan merokok. Perasaan yang bercampur ini membuat benak kita tidak yakin
tentang apa yang harus dilakukan, sehingga menghalangi kita dari penggunaan
seluruh kemampuan yang kita miliki.
Lalu
bagaimana kita membalikkan situasi ini? Salah satu solusinya adalah kita harus
mencapai tingkat "Ambang Batas Rasa Sakit" (Pain Threshold).
Jika kamu telah mencoba untuk melakukan perubahan berkali-kali namun gagal, ini
berarti tingkat rasa sakit yang dihasilkan dari kegagalan untuk berubah belum
mencapai intensitas yang cukup (ambang batas). Oleh karena itu, saya sebagai
seorang terapis psikologi bersikeras untuk menetapkan tarif $3.000 untuk satu
sesi tunggal, karena tarif tersebut menciptakan kekuatan pendorong dalam diri
pembayarnya yang menjadikan perubahan sebagai urusan yang alami. Sebab,
membayar jumlah uang sebesar itu menegaskan bahwasanya mereka benar-benar
bertekad kuat untuk berubah dan sangat menginginkannya... Dengan demikian, saya
akan berhasil bersama mereka.
Sesungguhnya
jika kita mengumpulkan sekumpulan alasan kuat yang cukup untuk berubah, kita
akan mampu untuk berubah dalam waktu satu menit saja.
Jika
kamu ingin membantu seseorang, kamu tidak akan mampu memunculkan kekuatan
pendorong tersebut dengan cara menunjukkan kesalahan atau kontradiksi yang ada
pada dirinya... Melainkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
mendorongnya untuk menyadari kontradiksi tersebut oleh dirinya sendiri.
Misalnya,
kamu bertanya kepadanya: Apakah kamu yang lebih kuat ataukah rokok itu?
Atau misalnya: Apakah kamu sudah melihat statistik yang menunjukkan bahwa
pasien akibat merokok itu begini, begitu, dan seterusnya?
Kalau
begitu, mengapa manusia tidak kunjung berubah padahal ia merasakan dan
mengetahui bahwasanya ia harus berubah? Karena ia menghubungkan rasa sakit yang
lebih besar dengan tindakan melakukan perubahan dibandingkan rasa sakit yang
akan ia rasakan jika ia tidak berubah... Kita, dengan segala kesederhanaan,
wajib membalikkan persamaan ini sekiranya tindakan tidak berubah berubah
menjadi sesuatu yang luar biasa menyakitkan (menyakitkan hingga melampaui
ambang batas daya tahan kita), sementara tindakan berubah berubah menjadi
sesuatu yang menarik serta mendatangkan kebahagiaan dan kesenangan.
Dan
agar kamu mendapatkan kekuatan pendorong yang sesungguhnya:
A.
Ajukan kepada dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan perasaan
sakit: Apakah harga dari tindakan tidak berubahnya diriku? Apa sajakah yang
akan hilang dari kehidupanku? Jadikanlah rasa sakit yang dihasilkan dari
tindakan tidak berubah itu meresap ke dalam perasaanmu secara nyata, kuat, dan
seketika itu juga, sekiranya kamu tidak mampu lagi untuk menunda-nunda. Jika
kamu tidak menemukan kekuatan pendorong yang cukup pada hal tersebut, maka kamu
wajib memfokuskan perhatian pada dampak urusan itu terhadap orang-orang yang
kamu cintai.
B.
Kemudian gunakan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kesenangan
sekiranya kamu menghubungkan sensasi-sensasi positif ini dengan ide perubahan: Jika
aku berubah, bagaimanakah perasaanku saat itu? Dan kumpulkanlah sebanyak
mungkin alasan kuat yang cukup untuk memunculkan perubahan seketika itu juga.
Langkah
Ketiga:
Definisi
gangguan jiwa (gila): Yaitu mengulang tindakan yang sama berkali-kali
dengan mengharapkan hasil yang berbeda.
Seseorang
pernah mengaku bahwa ia ingin melepaskan diri dari kebiasaan mengonsumsi
cokelat, namun di dalam alam bawah sadarnya ia meyakini bahwa mengonsumsinya
memberikan dirinya hal-hal yang tidak akan bisa ia dapatkan melalui jalan-jalan
yang lain. Untuk menyelesaikan dilema ini, wajib bagi kita untuk menyediakan
kekuatan pendorong yang cukup bagi orang tersebut akan pentingnya perubahan,
namun di saat yang sama kita wajib menunjukkan kepadanya jalan baru untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya... Oleh karena itu, saya memutuskan untuk
menggunakan pola interupsi/penghancuran pola (pattern interruption) yang
kuat agar bisa sampai pada kekuatan pendorong yang diinginkan... Maka saya
berkata kepadanya: Kamu tidak boleh makan apa pun selain cokelat selama
sembilan hari ke depan... Namun ia tidak menyadari bahwasanya ia tidak
sedang berkompetisi dengan saya, melainkan dengan dirinya sendiri. Dengan cara
itu, saya meminta bantuan tubuhnya untuk menjadi kekuatan pendorong yang
bekerja memutus pola perilakunya... Hasilnya, ia kehilangan hasratnya untuk
mengonsumsi cokelat... Kemudian saya membantunya dalam memilih
alternatif-alternatif yang memberinya kekuatan dan jalan-jalan baru menuju
kesenangan yang memberinya kekuatan lebih besar, yaitu berupa hidangan yang bervariasi
dari perilaku sehat, latihan fisik yang memberinya kekuatan, makanan yang kaya
akan kandungan air, dan yang sejenisnya. Dahulu semua orang memintanya untuk
berhenti makan cokelat, sedangkan saya justru memintanya untuk memakannya...
Dan ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak ia duga, dan hal inilah yang
menghancurkan pola yang selama ini ia tunduk kepadanya, sehingga dalam waktu
cepat ia mulai menghubungkan antara sensasi-sensasi menyakitkan dengan tindakan
makan cokelat.
Salah
satu sarana terbaik untuk menghancurkan pola yang diikuti oleh seseorang adalah
dengan cara bertindak dengan metode yang tidak ia duga sama sekali. Seorang
dokter psikologi berkata: Ketika saya mengadakan sesi terapi personal,
orang-orang datang kepada saya lalu salah seorang dari mereka berkata:
"Masalahku adalah..." dan setelah itu mereka meledak dalam tangis
tanpa mampu mengendalikan diri mereka sendiri. Di saat itulah saya berdiri dan
berteriak: "Tolong..." (dan hal ini mengejutkan/mengguncang mereka)
kemudian saya melanjutkan: "Kita belum memulainya." Mereka biasanya
menjawab: "Maaf, maaf sekali..." dan dalam waktu cepat mereka
mengubah kondisi emosional mereka serta mendapatkan kembali kendali atas diri
mereka sendiri... Orang-orang yang tadinya merasa bahwa mereka tidak mampu
mengendalikan kehidupan mereka ini, dalam waktu cepat langsung membuktikan
seketika itu juga bahwasanya mereka sebenarnya tahu persis bagaimana cara
mengubah sensasi-sensasi perasaan mereka.
Jika
kamu merasakan depresi pada suatu waktu, maka pada kali-kali berikutnya,
melompatlah dari tempatmu, tataplah ke arah langit, bertakbirlah dengan suara
yang keras, dan bersalawatlah kepada Rasulullah, maka dalam waktu cepat pusat
perhatianmu akan berubah dan kamu tidak lagi menjadi orang yang depresi.
Jika
kamu berlebihan dalam menyantap makanan secara terus-menerus dan ingin
berhenti... Melompatlah ke tengah-tengah restoran, tunjuklah kursimu, dan
berteriaklah dengan suaramu yang paling keras: Di sana ada orang-orang yang
kelaparan yang tidak mendapati makanan!
Karena
dengan begitu kamu akan mengaitkan banyak rasa sakit dengan jenis perilaku
seperti ini... Dan setiap kali sikapmu dalam melepaskan diri dari suatu pola
perilaku adalah sikap yang mengerikan/ekstrem, maka hal itu akan menjadi lebih
efektif.
Dan
jalan yang mudah untuk memutus pola tertentu adalah melalui cara
mencampuradukkan sensasi perasaan. Jika bosmu di tempat kerja berteriak di
hadapan wajahmu dan kamu memanggil kembali situasi tersebut di dalam benakmu
sepanjang hari, maka mengapa kamu mengizinkan pengalaman ini memengaruhi dirimu
secara terus-menerus? Ikutilah langkah-langkah berikut:
A.
Bayangkan di dalam otakmu situasi yang dahulu sangat mengganggumu itu...
Bayangkan ia seolah-olah sebuah film bioskop... Jangan rasakan gangguan
terhadap situasi ini.
B.
Ambillah pengalaman yang sama ini dan ubahlah di dalam akal pikiranmu menjadi
film kartun animasi... Duduklah di kursimu sembari mengukir senyuman yang lebar
di wajahmu, ambillah napas yang panjang, dan putar kembali gambar-gambar
tersebut dengan kecepatan yang sangat tinggi dan dengan urutan yang
berkebalikan (mundur) agar kamu melihat segala sesuatu terjadi dengan cara yang
berkebalikan... Kemudian putar ia berjalan ke depan dengan kecepatan yang lebih
besar lagi... Dan sekarang ubahlah warna gambar-gambar tersebut sekiranya wajah
semua orang berubah menjadi warna-warna pelangi... Jika di sana ada seseorang
yang mengganggumu, maka jadikanlah kedua telinganya membesar seperti Mickey
Mouse dan hidungnya membesar, kemudian besarkan hal itu sepuluh kali lipat dan
putar gambar-gambar ini di dalam otakmu bolak-balik bersamaan dengan menghapus
gambar tersebut dengan kecepatan yang luar biasa disertai cemoohan/kelucuan.
Bayangkan beberapa musik latar belakang, yang mana tujuannya adalah meremehkan
gangguan tersebut sampai ia hilang, dan kelucuan ini mampu melakukan hal
tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini akan mengubah sensasi
perasaanmu... Tingkatkanlah kecepatan, kelucuan, dan hiperbola (pembesaran)...
C.
Dan sekarang, pikirkanlah situasi yang dahulu mengganggumu itu dan
perhatikanlah kualitas perasaanmu saat ini... Dan kamu akan mendapati bahwa
adalah hal yang sulit untuk kembali kepada sensasi-sensasi negatif tersebut.
Metode
ini sering kali berhasil karena seluruh perasaanmu dibangun di atas
gambar-gambar yang kita fokuskan di dalam benak kita, serta di atas suara-suara
dan sensasi yang kita hubungkan dengan gambar-gambar khusus ini. Ketika kita
mengubah gambar dan suara, maka kita mengubah perasaan kita juga.
Langkah
Keempat:
Sebab
utama yang menjadikan usaha-usaha perubahan hanya bersifat sementara saja
adalah kegagalan kebanyakan orang pada realitasnya dalam menemukan alternatif
yang memungkinkan mereka untuk melepaskan diri dari rasa sakit dan mewujudkan
perasaan gembira... Maka apa yang kita butuhkan adalah mengisi celah kosong
tersebut dengan sekumpulan pilihan baru yang akan memberikanmu perasaan gembira
yang sama tanpa adanya dampak-dampak sampingan yang negatif. Jika kamu
menderita kecemasan sebagai contoh, maka gantikanlah ia dengan kerja intensif
atau dengan rencana untuk mewujudkan tujuan-tujuanmu... Adapun depresi, maka
gantikanlah ia dengan fokus pada tindakan membantu orang lain yang membutuhkan.
Seseorang
dahulu lebih memilih mengunyah tembakau daripada kesenangan mana pun dari
kesenangan-kesenangan kehidupan... Lalu apa yang membawanya untuk mengubah
perilakunya? Ia pada akhirnya berhasil mewujudkan kekuatan pendorong yang
mendesaknya untuk melepaskan diri dari kebiasaan tersebut... Ia memandang
tindakan mengunyah tembakau sebagai suatu urusan yang sama sekali bertentangan
dengan kualitas kehidupan yang ia inginkan, karena ia dahulu menderita
kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan ini sangat menyakitkan baginya.
Maka ia mulai mengarahkan benaknya pada potensi dirinya terkena penyakit kanker
dan merasakan jijik terhadap rasa tembakau.
Dan
kunci penting berikutnya adalah bahwasanya ia menciptakan jalan-jalan baru yang
mewujudkan kesenangan bagi dirinya, maka ia mulai mencurahkan seluruh usahanya
ke dalam pekerjaannya, kemudian ia menikah...
Akan
tetapi, sebagian perokok yang memutus pola merokok terkadang berat badan mereka
justru bertambah, karena benak mereka mencari jalan-jalan baru untuk
menciptakan jenis perasaan menyenangkan yang sama, sehingga mereka beralih pada
tindakan berlebihan dalam makanan.
Sebuah
studi pernah dilakukan untuk mengevaluasi tingkat rehabilitasi pada para
pengguna obat-obatan (narkoba) dan pengadopsian perilaku alternatif:
- Kelompok pertama:
Berhenti dari kecanduan di bawah tekanan eksternal yang dipaksakan dari
otoritas peradilan... Akan tetapi, tekanan yang seperti ini jarang sekali
mendatangkan pengaruh yang langgeng, karena mereka langsung kembali kepada
kebiasaan lama mereka begitu tekanan ini diangkat dari mereka dan mereka
keluar dari penjara.
- Kelompok kedua:
Mereka mencoba berhenti atas kemauan dari diri mereka sendiri (kekuatan
pendorongnya pada dasarnya bersifat internal), oleh karena itu
perubahan-perubahan perilaku ini bertahan untuk kurun waktu yang lebih
lama, akan tetapi mereka kembali lagi kepada kecanduan setelah dua tahun
dikarenakan mereka tidak menemukan alternatif (pengganti).
- Kelompok ketiga:
Mereka mengganti kecanduan tersebut dengan alternatif baru seperti
ketaatan beragama, hubungan-hubungan yang memuaskan, atau profesi yang
mereka gantungkan diri kepadanya... Dan mereka tetap terbebas dari
kecanduan selama jangka waktu yang rata-ratanya lebih dari delapan tahun
sebelum akhirnya mereka tergelincir kembali ke dalamnya... Mengapa? Karena
mereka tidak menggunakan langkah kelima yang sangat menentukan: Cobalah
mengondisikan pola yang baru tersebut sampai ia berubah menjadi kebiasaan
yang konstan.
Langkah
Kelima:
Yaitu
untuk memastikan bahwasanya perubahan yang telah kamu ciptakan akan tetap
konstan dan bertahan untuk jangka waktu yang lama, hal itu dilakukan dengan
cara:
- Mengulang dan
mereproduksinya kembali berkali-kali sampai tercipta sebuah jalur saraf
untuknya, jika tidak maka kamu akan kembali kepada polamu yang terdahulu.
- Langkah berikutnya adalah
kamu menetapkan jadwal waktu untuk memperkuat perilaku barumu... Yaitu
dengan menghadiahi dirimu sendiri atas kesuksesanmu... Jangan menunggu
sampai berlalu satu tahun penuh atas tindakanmu berhenti merokok,
melainkan hadiahilah dirimu sendiri setelah berlalunya satu hari saja...
Tentukanlah serangkaian tujuan jangka pendek atau batu loncatan di tengah
jalan, dan begitu kamu sampai pada salah satu dari tujuan atau batu
loncatan ini, kamu wajib langsung menghadiahi dirimu sendiri seketika itu
juga... Dengan cara ini, sistem sarafmu belajar untuk menghubungkan
kesenangan yang maksimal dengan perubahan. Dan dengan pengulangan
penguatan pola yang baru, ia akan berubah menjadi bentuk respons yang
otomatis dan terkondisikan...
Dan
penguatan itu ada dua jenis: positif dengan hadiah, dan negatif misalnya dengan
hukuman fisik, dahi yang mengernyit, atau teriakan... Contohnya, sang pelatih
langsung berteriak sesaat setelah permainan yang indah: Luar biasa!...
Dan ini jauh lebih baik daripada menunggu sampai setelah selesainya
pertandingan.
Sebaliknya,
di dalam dunia peradilan, hukuman tidak dieksekusi terhadap pelaku kriminal
kecuali mungkin setelah bertahun-tahun dari waktu kejahatan, dan dalam situasi
ini pola perilaku kriminal yang menuntun pada terjadinya kejahatan tetap berada
pada kondisinya tanpa ada perubahan; ia tidak dihancurkan sebagaimana tidak
adanya rasa sakit yang dihubungkan dengannya... Demikian pula halnya di dalam
perusahaan-perusahaan; mereka mencoba memotivasi para pegawai mereka dengan
beralih pada penguatan-penguatan negatif menggunakan rasa takut terhadap
hukuman sebagai motivator utama bagi mereka... Dan ini berjalan dalam jangka
pendek namun tidak berguna dalam jangka panjang... Terkadang perusahaan
menggunakan insentif keuangan sebagai motivator positif, dan meskipun ia sangat
bagus, namun di sana ada batas bagi efektivitasnya. Karena ada suatu titik yang
mana setelahnya insentif-insentif ini tidak lagi menjadi pendorong untuk
memproduksi kualitas pekerjaan yang lebih baik; pegawai boleh jadi mengharapkan
bahwa mereka akan mendapatkan hadiah setiap kali mereka menyelesaikan sesuatu
yang bernilai, dan mereka tidak lagi bekerja kecuali demi hadiah keuangan saja,
di saat pihak tempat kerja mereka tidak lagi mampu untuk memenuhi
tuntutan-tuntutan ekonomi bagi para pegawainya. Adapun metode yang paling kuat
untuk memotivasi manusia adalah melalui jalan pertumbuhan personal dengan cara
membantu para pegawai untuk tumbuh dan memperluas kepribadian mereka yang
berangkat dari perasaan bangga secara personal, dan bukan sebagai hasil dari
tekanan dari luar.
Dan
unsur kejutan yang menyenangkan menyediakan porsi kesenangan yang paling besar
bagi manusia, maka yang paling baik adalah mengadopsi (jadwal penguatan yang
berubah-ubah/variabel) jika kamu ingin suatu perilaku terus berlanjut.
Misalnya:
Pelatih lumba-lumba pertama-tama memberikan lumba-lumba seekor ikan pada setiap
kali ia melakukan gerakan yang benar sampai tercipta hubungan saraf yang
menghubungkan antara kesenangan dan perilaku... Akan tetapi, sang pelatih tidak
lagi memberinya ikan setelah itu kecuali ketika ia melompat dengan lompatan
yang tinggi, dan dengan begitu, ia—dengan cara menaikkan standar yang dituntut
dari lumba-lumba—sebenarnya sedang membentuk perilakunya. Karena jika ia diberi
hadiah secara terus-menerus, ia bisa saja menjadi terbiasa atas hal itu dan
tidak memberikan seluruh apa yang dimilikinya secara 100%. Dengan metode ini,
lumba-lumba tetap berada dalam kondisi tidak yakin lompatan manakah yang akan
membuatnya menerima hadiah... Dan perasaan ekspektasi serta penantian akan
potensi meraih hadiah inilah yang mendorong lumba-lumba untuk mengerahkan
kemampuan terbaiknya secara terus-menerus.
Menerima
hadiah sekecil apa pun dan menang dalam jumlah yang sedikit, sesungguhnya akan
membangkitkan kondisi ekspektasi dan penantian akan kemenangan di dalam dirimu.
Orang-orang
yang berhenti dari kebiasaan buruk (seperti merokok) kemudian memutuskan untuk
mempraktikkan kebiasaan ini untuk satu kali saja, sesungguhnya mereka pada
realitasnya sedang memperkuat kembali pola yang sama yang sedang mereka coba
hancurkan tersebut, sekiranya berubah menjadi sangat sulit untuk terbebas dari
kebiasaan ini di sepanjang hidup mereka dikarenakan diaktifkannya kembali
hubungan saraf tersebut.
Para
pekerja yang menerima gaji mereka satu kali setiap dua minggu mengetahui
bahwasanya mereka dituntut untuk menunaikan pekerjaan tertentu yang mana mereka
menerima upah yang telah ditetapkan dan tidak berubah atas pekerjaan itu.
Akibatnya, mereka belajar untuk tidak menyelesaikan pekerjaan kecuali sebatas
minimal apa yang diperlukan untuk mencapai hadiah tersebut, dikarenakan tidak
adanya kejutan yang menunggu mereka; gaji-gaji tersebut sudah dapat
diprediksi... Maka mereka tidak akan mengerahkan kecuali sedikit sekali dari
usaha sebagai imbalan dari upah yang mereka harapkan tersebut. Adapun jika di
sana terdapat kejutan-kejutan di antara satu waktu ke waktu yang lain seperti
sertifikat penghargaan, kenaikan jabatan, atau bonus, maka para pekerja tanpa
diragukan lagi akan mengerahkan usaha-usaha tambahan atas dasar harapan dan
ekspektasi. Maka wajib bagimu untuk memvariasikan hadiah-hadiahmu dan jadikan
di sana ada hadiah besar yang jauh lebih banyak daripada apa yang diharapkan...
Dan prinsip ini memiliki efek sihir, khususnya dalam cara interaksimu dengan
anak-anakmu.
Langkah
Keenam:
Yaitu:
Menguji perubahan ini untuk memastikan bahwasanya ia akan berhasil di masa
depan:
- Pastikan bahwa rasa sakit
telah dihubungkan dengan polamu yang lama.
- Pastikan bahwa kesenangan
telah dihubungkan dengan pola yang baru.
- Pastikan bahwa kamu
menyelaraskan pola yang baru dengan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinanmu.
- Pastikan untuk
mempertahankan keuntungan-keuntungan (manfaat positif) dari pola yang
lama.
- Mengukur masa depan:
Bayangkan dirimu sedang berperilaku dengan cara yang baru ini di masa
depan... Bayangkan urusan yang tadinya memiliki kemampuan untuk
mendorongmu mengadopsi pola yang lama (misalnya: stres yang mungkin
mendorongmu untuk mengambil sebatang rokok)... Dan pastikan bahwasanya
kamu mampu menggunakan pola yang baru sebagai pengganti dari yang lama...
Perhatikanlah apakah kamu akan merasakan adanya dorongan yang mendorongmu
menuju tindakan membaca, berlari, atau alternatif apa pun yang telah kamu
kondisikan dengannya, dan bahwasanya alternatif baru tersebut memberikanmu
kekuatan... Jika hal itu telah berubah menjadi pola yang otomatis, maka
kamu akan mengetahui dalam kondisi ini bahwasanya pola yang baru akan
layak bagimu di masa depan (sesuai dan berkelanjutan).
Mari
kita asumsikan bahwa kamu merasa cemas secara berlebihan seputar urusan-urusan
yang tidak mampu kamu kendalikan: Maka bagaimanakah mungkin bagimu menggunakan
enam langkah ini untuk mengubah kondisi yang merampas kekuatanmu ini?
- Ajukan pertanyaan kepada
dirimu sendiri: Apa yang ingin aku lakukan sebagai ganti dari rasa
cemas?
- Carilah kekuatan pendorong
yang kamu pacu dengannya dirimu sendiri, dan cobalah untuk menyadari
sejauh mana kehancuran yang disebabkan oleh rasa cemas kepadamu... Dan
cobalah untuk membawanya sampai ke titik ujung (tepi) lalu hitunglah
sejauh mana biayanya bagi kehidupanmu.
- Hancurkan pola yang kamu
ikuti pada setiap kali kamu merasa cemas... Tunjukkan kemarahanmu yang
total serta penolakanmu lalu berteriaklah: Alangkah indahnya pagi ini!
- Ciptakan alternatif yang
memberikan kalian kekuatan: Apa yang kamu lakukan sebagai ganti dari
tindakan merasa cemas? Seperti berlari misalnya.
- Kondisikan dan jinakkan
pola yang baru... Bayangkan ia dengan segala kejelasan dan transparansi,
dan ulangilah hal itu sampai ia menjadi otomatis. Abdullah bin Mas'ud
berkata: "Biasakanlah diri kalian dengan kebaikan, karena
sesungguhnya kebaikan itu adalah kebiasaan." Dan Al-Ghazali
berkata: "Manusia adalah tawanan bagi kebiasaannya, bahkan jika ia
terbiasa memakan tanah niscaya ia akan memakannya." Dan
kebiasaan-kebiasaan yang besar adalah kekuatan tarik yang sangat luar
biasa yang masuk ke dalam lubuk terdalam, yang ditanam dari
praktik-praktik harian dan dengan gambaran yang istimewa yang berbeda dari
orang lain. Orang-orang terdahulu berkata: "Kebiasaan adalah alam
tabiat kedua, ia memiliki kekuatan yang mendekati alam tabiat pertama
yaitu fitrah," kemudian perkuatlah sikapmu... Sesungguhnya
melihat hasil-hasilnya terlebih dahulu memberikanmu kesenangan. Kemudian
beralihlah pada tindakan pengulangan dan emosi yang meluap-luap agar kamu
mengondisikan pola yang baru sampai ia berubah menjadi konstan dan
berkelanjutan.
Tabel
(6): Uji Pengembangan Bakat Personal
- Nilai Skor:
- 0 - 7: Bakat tidak
aktif
- 8 - 12: Bakat
aktif
- 9 - 13: Bakat yang
telah dikembangkan dengan baik
- Instruksi: Diminta
untuk meletakkan lingkaran di sekitar angka yang mengekspresikan
perilakumu, atau pandanganmu terhadap setiap pernyataan dari
pernyataan-pernyataan berikut.
- (0 = Tidak pernah
terjadi, 2 = Kadang-kadang, 4 = Selalu).
Pandangan
Terhadap Diri (Self-View):
|
No |
Pernyataan |
Tidak
(0) |
(1) |
Kadang-kadang
(2) |
(3) |
Selalu
(4) |
|
1 |
Apakah
saya dapat melihat pikiran dan perasaan saya secara netral, lalu mengujinya,
dan mengubahnya? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
2 |
Apakah
saya menyadari nilai-nilai dasar saya, dan sejauh mana pengaruhnya terhadap
kecenderungan saya, perilaku saya, serta hasil-hasil yang saya dapatkan di
dalam kehidupan saya? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
3 |
Apakah
saya memiliki pengetahuan tentang perbedaan antara pembentukan organik,
genetik, psikologis, dan sosial dengan pikiran-pikiran mendalam saya dari
dalam diri? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
4 |
Ketika
reaksi manusia terhadap saya atau terhadap perilaku saya bertentangan dengan
pandangan yang saya gunakan untuk melihat diri saya sendiri, apakah saya
mampu mengevaluasi reaksi-reaksi tersebut? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
5 |
Apakah
saya mengevaluasi hal ini dari perspektif pengetahuan yang mendalam tentang
diri saya sendiri, kemudian saya belajar dari diri saya sendiri? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
Hati
Nurani (Conscience):
|
No |
Pernyataan |
Tidak
(0) |
(1) |
Kadang-kadang
(2) |
(3) |
Selalu
(4) |
|
1 |
Apakah
ada perasaan internal yang membimbing saya untuk melakukan atau tidak
melakukan suatu urusan tertentu ketika saya sedang dalam proses melakukan
urusan tersebut? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
2 |
Apakah
saya membedakan perbedaan antara hati nurani sosial—yaitu nilai-nilai yang
dipaksakan oleh masyarakat kepada saya—dengan bimbingan internal yang
bersumber dari diri saya sendiri yaitu hati nurani saya sendiri? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
3 |
Apakah
saya merasakan di dalam diri saya nilai-nilai Islam yang sesungguhnya seperti
nilai-nilai kehormatan (kemuliaan) dan perwira (muru'ah), serta tindakan
menjadi tempat kepercayaan bagi orang lain? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
4 |
Apakah
saya memperhatikan adanya pola tertentu dalam pengalaman manusia secara umum
(yang lebih besar, dan lebih luas daripada yang dipaksakan oleh masyarakat
tempat saya hidup di dalamnya) yang menegaskan realitas prinsip-prinsip yang
luhur? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
Kehendak
Independen (Independent Will):
|
No |
Pernyataan |
Tidak
(0) |
(1) |
Kadang-kadang
(2) |
(3) |
Selalu
(4) |
|
1 |
Apakah
saya mampu menetapkan janji-janji yang jujur kepada diri saya sendiri dan
kepada orang lain? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
2 |
Apakah
saya mampu bertindak dari perspektif hati nurani internal, bahkan jika hal
itu berarti harus berenang melawan arus? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
3 |
Apakah
saya memiliki kemampuan untuk meletakkan tujuan-tujuan yang penting di dalam
kehidupan saya? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
4 |
Apakah
saya mengerahkan perasaan-perasaan saya demi melayani komitmen-komitmen saya? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
Imajinasi
Kreatif (Creative Imagination):
|
No |
Pernyataan |
Tidak
(0) |
(1) |
Kadang-kadang
(2) |
(3) |
Selalu
(4) |
|
1 |
Apakah
saya termasuk jenis orang yang memikirkan masa depan dan membuat rencana
untuknya? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
2 |
Apakah
saya mampu melihat kehidupan saya melampaui dari realitas yang hadir saat
ini? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
3 |
Apakah
saya menggunakan pandangan masa depan untuk mewujudkan tujuan-tujuan saya? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
4 |
Apakah
saya selalu mencari metode-metode baru untuk memecahkan masalah di dalam
setiap situasi, dan menghargai pandangan yang berbeda dari orang lain? |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
Lihatlah secara mendalam pada pertanyaan-pertanyaan yang
tertera di dalam tabel di atas dan cobalah untuk menjawabnya. Jawabanmu akan
memperjelas kepadamu sampai sejauh mana kamu telah mengembangkan bakat-bakat
personal tersebut pada dirimu, serta tingkat ketergantunganmu kepadanya dalam
menjalankan kehidupanmu [Lihat dalam urusan itu, buku Manajemen Prioritas
hlm. 84, 85.].
6-
Ujilah Pola yang Baru:
Pikirkanlah
situasi yang dahulu menjadi sebab timbulnya rasa cemas bagimu, dan pastikanlah
apakah kamu tidak akan merasa cemas lagi di dalam situasi ini.
Kamu
juga dapat menggunakan enam langkah untuk pengondisian dengan hubungan saraf
ini untuk menandatangani sebuah kontrak dengan dirimu sendiri seputar
pemunculan perubahan ini:
- Pastikan dengan jelas apa
yang ingin kamu wujudkan.
- Wujudkan kekuatan pendorong
yang diperlukan (hubungkan rasa sakit dengan tindakan menahan diri dari
kontrak, dan kesenangan dengan tindakan mengadakan kontrak tersebut).
- Hancurkan pola dari
keyakinan apa pun yang menghalangi kesepakatan transaksi ini.
- Ciptakan alternatif baru
yang mewujudkan kebutuhan kalian berdua.
- Perkuatlah alternatif
tersebut dengan kesenangan dan dengan dampak positif dari alternatif
tersebut secara terus-menerus.
- Pastikan bahwasanya
perubahan ini akan mewujudkan hasil-hasil yang baik bagi semua orang (win-win
/ keuntungan penuh).
Kamu
dapat menggunakan prinsip-prinsip yang sama ini untuk mendorong anak-anakmu
agar membersihkan kamar-kamar mereka dan merapikannya, untuk memperbaiki
kondisi-kondisi kehidupan pernikahanmu, untuk menaikkan tingkat kualitas di
tempat kerja profesionalmu, serta untuk mewujudkan kesenangan yang lebih besar
dari praktik pelaksanaan pekerjaanmu.
Bagaimana
Cara Mewujudkan Apa yang Benar-Benar Kamu Inginkan:
Mengapa
si fulan... yang merupakan salah satu pecandu terkenal, sengaja menghancurkan
tubuhnya dengan cara yang mengherankan ini melalui kecanduan? Jawabannya adalah
karena ia lebih memilih untuk tetap kehilangan kesadaran di bawah pengaruh
obat-obatan daripada berada dalam kondisi sadar namun merana. Para pecandu itu
melarikan diri dari rasa sakit di kehidupan mereka dengan cara berlindung
kepada kecanduan.
Karakteristik
para pecandu:
- Mereka tidak mengetahui apa
yang sebenarnya mereka inginkan dari kehidupan ini, oleh karena itu mereka
memalingkan diri mereka sendiri dan mengacaukannya dengan berbagai jenis
bahan buatan yang mengubah suasana hati (mood) mereka.
- Jalur-jalur saraf tidak
tumbuh pada diri mereka, melainkan jalan-jalan pintas yang cepat yang
mengantarkan mereka pada rasa sakit. Terlepas dari kesuksesan-kesuksesan
mereka yang dahulu mereka impikan dan dikelilinginya mereka oleh jutaan
pengagum, sesungguhnya referensi-referensi rasa sakit di dalam diri mereka
jauh lebih besar daripada semua hal itu.
- Mereka tidak mengetahui
bagaimana cara merasakan bahwasanya mereka berada dalam kondisi baik-baik
saja.
- Mereka tidak pernah
mempelajari metode-metode dan sarana yang mengarahkan mereka pada apa yang
mereka fokuskan di dalam benak mereka secara sadar. Mereka telah
membiarkan rasa sakit dan kesenangan di lingkungan sekitar mereka untuk
mengendalikan mereka, alih-alih mereka yang mengendalikan diri mereka
sendiri.
Ajukan
pertanyaan kepada dirimu sendiri: Apa yang kamu inginkan secara spesifik?
Dan mengapa kamu menginginkannya?... Sesungguhnya apa yang kamu inginkan
pada realitasnya adalah mewujudkan urusan-urusan atau hasil-hasil tersebut
karena kamu memandangnya sebagai sarana untuk sampai pada perasaan, emosi, dan
kondisi tertentu yang kamu harapkan... Dan kita memiliki kemampuan untuk
mengubah apa yang kita yakini dapat menuntun pada rasa sakit atau kesenangan
seketika itu juga, yaitu dengan cara mengarahkan kembali fokus kita serta
dengan mengubah kondisi mental, emosional, dan fisik kita.
Apakah
pernah tampak jelas bagimu bahwasanya kamu tidak mampu mengingat nama salah
seorang temanmu? Apakah sebab yang menghalangimu? Apakah karena kamu bodoh?
Sama sekali tidak... Melainkan karena kamu sedang berada dalam kondisi (situasi
mental) yang bodoh... Jadi, urusan tersebut tidak bergantung pada kemampuanmu,
melainkan pada kondisi benakmu atau tubuhmu pada momen tertentu... Oleh karena
itu, agar kamu dapat mengubah kemampuan-kemampuanmu, kamu wajib mengubah
kondisimu menuju kondisi yang dicirikan dengan kemahiran dan ekspektasi yang
aktif.
Di
samping itu, ada dua cara yang terlihat nyata untuk mengubah emosimu setelah
itu: baik dengan cara mengubah metode yang kamu gunakan pada tubuhmu, atau
dengan cara mengubah titik fokusmu.
Fisiologi
Tubuh: Kekuatan Gerakan:
Saya
telah menemukan bahwasanya emosi itu diproduksi oleh gerakan... Maka mari kita
coba bersama-sama sebuah gerakan yang lucu untuk sesaat waktu... Gerakan ini
dan kecepatan yang berhasil kamu ciptakan, baik pada tubuhmu maupun pada pita
suaramu, akan mengubah cara perasaanmu.
Setiap
emosi yang kamu rasakan, sesungguhnya ia terhubung dengan fisiologi yang
spesifik: yaitu pada posisi tubuhmu, pada pola napasmu, atau pada pola-pola
gerakanmu dan ekspresi wajahmu.
Kamu
setelah itu dapat kembali pada kondisi-kondisi ini atau menghindarinya hanya
dengan cara mengubah kondisi fisikmu. Dan tantangan yang kita hadapi adalah
bahwasanya kamu terbiasa pada pola-pola perilaku fisik yang terbatas.
Setiap
dari kita memiliki lebih dari 80 otot di bagian wajah... Dan jika otot-otot ini
terbiasa untuk mengekspresikan depresi atau kebosanan, ia akan mulai
mendiktekan kondisi-kondisi kita kepada kita dan akan memengaruhi kepribadian
baru kita.
Sesungguhnya
setiap dari kita memiliki jumlah yang terbatas dari kondisi fisik yang menuntun
pada pola ekspresi yang terbatas pula... Maka seluruh kondisi dan emosi ini
rata-rata berkisar pada sepuluh jenis: (Stres / Frustrasi / Marah / Tidak Aman
/ Kesepian / Bosan / Sengsara / Bahagia / Merasa Nyaman dan Gembira / Cinta /
Kegembiraan yang Meluap / Kegembiraan yang Amat Sangat).
Kamu
dapat mencoba emosi mana pun dari emosi-emosi ini dengan cara mengubah metode
yang kamu gunakan pada tubuhmu... Kamu dapat merasakan bahwasanya kamu kuat,
kamu dapat tersenyum, dan kamu dapat mengubah seluruh apa yang kamu rasakan
dalam kurun waktu satu menit dengan cara tertawa.
Jika
kamu menggunakan tubuhmu dengan jalan yang lemah—jika kamu menurunkan kedua
pundakmu secara terus-menerus dan jika kamu berjalan dalam kondisi lelah—maka
kamu akan selalu merasakan kelelahan... Lalu bagaimanakah kamu dapat
menghindari hal tersebut?
Sesungguhnya
tubuhmulah yang memimpin emosimu, dan kondisi emosional yang mengendalikanmu
akan mulai memengaruhi tubuhmu sehingga ia menjadi laksana lingkaran setan yang
tidak ada akhirnya...
Perhatikanlah
bagaimana cara kamu duduk sekarang... Tegakkanlah posisi dudukmu pada momen ini
juga dan embuskanlah lebih banyak energi ke dalam tubuhmu tanpa sekadar merasa
cukup dengan membaca saja, melainkan cobalah untuk menguasainya
(mempraktikkannya) juga. Ambillah napas dalam-dalam melalui hidungmu kemudian
embuskan melalui mulutmu. Ukirlah senyuman yang besar di wajahmu dan
berkomitmenlah untuk meluangkan waktu satu menit sebanyak lima kali dalam
sehari dalam kondisi kamu mengukir senyuman yang lebar dari telinga ke telinga
lalu tataplah cermin... Urusan ini mungkin tampak konyol, akan tetapi ingatlah
bahwasanya kamu dengan gerakan fisik ini sesungguhnya sedang melepas pelatuk
(pemicu) dari bagian otakmu itu dan sedang menciptakan jalur saraf bagi kesenangan
dan kenikmatan yang akan menjadi seperti kebiasaan pada dirimu... Dengan
begitu, kamu mengubah suasana hatimu dan suasana hati orang lain juga... Karena
tawa itu berubah menjadi sesuatu yang menular bagi setiap orang yang
mendengarnya.
Dalil-Dalil
Hadis Mengenai Tawa dan Keceriaan Wajah Rasulullah ﷺ:
Dari
Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Rasulullah
ﷺ apabila datang wahyu
kepadanya atau ketika berkhotbah (memberi nasihat), aku katakan: (Beliau
laksana) pemberi peringatan bagi suatu kaum yang akan didatangi oleh azab.
Namun apabila hal itu telah hilang dari beliau, aku melihat beliau menjadi
manusia yang paling ceria wajahnya, paling banyak tawanya, dan paling tampan
raut mukanya."
Al-Haitsami
berkata (9/17): "Sanadnya hasan." Dan di dalam riwayat
Al-Thabarani dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah
ﷺ
adalah termasuk manusia yang paling banyak tertawa dan paling baik
jiwanya." Di dalam sanadnya terdapat Ali bin Yazid Al-Alhani dan dia
adalah seorang yang lemah, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami (9/17).
Tawa
Beliau ﷺ
pada Hari Perang Khandaq:
Al-Tirmidzi
mengeluarkan di dalam Al-Syamail (hlm. 16) dari Amir bin Sa'd, ia
berkata: Sa'd radhiyallahu 'anhu berkata:
"Sungguh
aku telah melihat Rasulullah ﷺ
tertawa pada hari perang Khandaq hingga tampak gigi gerahamnya." Perawi
bertanya: "Bagaimanakah (tawa) beliau?" Sa'd menjawab: "Ada
seorang laki-laki yang bersamanya sebuah perisai, dan Sa'd adalah seorang
pemanah. Laki-laki (musuh) itu melakukan begini dan begitu dengan perisainya
untuk menutupi dahinya. Maka Sa'd mencabut sebatang anak panah untuknya, dan
ketika laki-laki itu mengangkat kepalanya, Sa'd langsung memanahnya dan tidak
meleset dari bagian ini darinya—yaitu dahinya. Laki-laki itu pun jungkir balik
dan mengangkat kakinya. Maka Rasulullah tertawa hingga tampak gigi
gerahamnya." Aku bertanya: "Karena hal apa beliau tertawa?" Sa'd
menjawab: "Karena apa yang dilakukan Sa'd terhadap laki-laki
tersebut."
Tawa
Beliau ﷺ
karena Perbuatan Seorang Laki-Laki yang Fakir di Bulan Ramadan:
Al-Bukhari
mengeluarkan di dalam Shahih-nya (2/899) dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu, ia berkata:
"Ada
seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata: 'Celaka aku! Aku telah menyetubuhi istriku di
bulan Ramadan.' Beliau bersabda: 'Merdekakanlah seorang budak.' Laki-laki itu
berkata: 'Aku tidak memilikinya.' Beliau bersabda: 'Berpuasalah dua bulan
berturut-turut.' Ia berkata: 'Aku tidak mampu.' Beliau bersabda: 'Berilah makan
enam puluh orang miskin.' Ia berkata: 'Aku tidak mendapatinya.' Kemudian
dibawakan kepada Nabi ﷺ
sebuah 'araq yang di dalamnya berisi kurma—Ibrahim berkata: 'Araq
adalah miktal (keranjang) (dari anyaman daun kurma) —maka beliau
bersabda: 'Di manakah orang yang bertanya tadi? Ambillah ini dan bersedekahlah
dengannya.' Laki-laki itu berkata: 'Apakah kepada orang yang lebih fakir
dariku? Demi Allah, tidak ada di antara dua labah (dua daerah berbatu hitam yang
mengapit kota Madinah) penghuni rumah yang lebih fakir daripada kami.' Maka
Nabi ﷺ tertawa hingga tampak
gigi gerahamnya, lalu beliau bersabda: 'Kalau begitu, berikanlah kepada
keluargamu'."
Hadis
Abu Dzar dan Ibnu Mas'ud tentang Tawa Beliau ﷺ:
Al-Tirmidzi
mengeluarkan di dalam Al-Syamail (hlm. 16) dari Abu Dzar radhiyallahu
'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui orang
pertama yang masuk surga dan orang terakhir yang keluar dari neraka.
Didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat lalu dikatakan: 'Tunjukkan
kepadanya dosa-dosa kecilnya dan sembunyikan darinya dosa-dosa besarnya.' Maka
dikatakan kepadanya: 'Kamu telah mengamalkan pada hari ini begini dan begitu.'
Dan ia mengakuinya tanpa mengingkari, sementara ia dalam keadaan cemas terhadap
dosa-dosa besarnya. Lalu dikatakan: 'Berikanlah kepadanya sebagai ganti dari
setiap keburukan yang telah diamalkannya berupa satu kebaikan.' Maka laki-laki
itu berkata: 'Sesungguhnya aku memiliki dosa-dosa yang tidak aku lihat di
sini'." Abu Dzar berkata: "Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ tertawa hingga tampak
gigi gerahamnya."
Dan
di dalam kitab yang sama juga dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu,
ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui orang yang paling
terakhir keluar dari penduduk neraka; yaitu seorang laki-laki yang keluar
darinya dalam keadaan merangkak, lalu dikatakan kepadanya: 'Pergilah dan
masuklah ke dalam surga'." Beliau bersabda: "Maka ia pergi untuk
masuk ke dalam surga, namun ia mendapati manusia telah menempati tempat-tempat
tinggal (kedudukan) mereka. Ia pun kembali lalu berkata: 'Wahai Rabbku, manusia
telah menempati tempat-tempat tinggal mereka.' Maka dikatakan kepadanya:
'Apakah kamu ingat zaman yang kamu berada di dalamnya dahulu?' Ia menjawab:
'Ya.' Beliau bersabda: Dikatakan kepadanya: 'Berangan-anganlah.' Maka ia pun
berangan-angan, lalu dikatakan kepadanya: 'Sesungguhnya bagimu apa yang kamu
angan-angankan dan sepuluh kali lipat dari dunia.' Beliau bersabda: Laki-laki
itu berkata: 'Apakah Engkau mengejekku padahal Engkau adalah Sang Raja!'."
Ibnu Mas'ud berkata: "Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ tertawa hingga tampak
gigi gerahamnya."
Kewibawaan
Nabi ﷺ:
Al-Qadhi
'Iyadh mengeluarkan di dalam kitab Al-Syifa dari Kharijah bin Zaid radhiyallahu
'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ adalah manusia yang paling berwibawa di dalam majelisnya,
beliau hampir tidak pernah mengeluarkan (menampakkan) sesuatu pun dari
ujung-ujung anggota tubuhnya (menjaga sikap tubuh dengan sangat sopan)."
Dan Abu Dawud mengeluarkannya di dalam Al-Marasil, sebagaimana yang
terdapat di dalam Syarh Al-Syifa karya Al-Khafaji (2/117).
Maka
jika kamu ingin memperbaiki kualitas kehidupanmu, kamu wajib belajar untuk
tertawa.
Cobalah
untuk tertawa tanpa sikap kaku sebanyak tiga kali dalam sehari... Dan tawa itu
berpengaruh pada tindakan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh di dalam jasmani.
Mengapa
kamu tidak mencoba untuk menemukan seseorang yang sedang tertawa lalu meniru
dirinya... Kamu akan merasa bahwa kamu tidak berwibawa pada permulaannya, akan
tetapi kamu akan menerima urusan tersebut di kemudian hari... Sesungguhnya kamu
dengan cara itu sedang meletakkan dasar-dasar jaringan saraf yang menciptakan
tawa secara terus-menerus, dan ketika kamu mengulang hal tersebut, kamu akan
menghabiskan waktu-waktu yang menyenangkan. "Tawa itu mendatangkan
kegembiraan, dan sedikitnya tawa mendatangkan kesengsaraan. Senyummu di hadapan
wajah saudaramu adalah sedekah."
Sesungguhnya
kunci segala urusan di dalam kehidupan ini adalah kemampuanmu untuk membawa
dirimu sendiri agar merasakan perasaan yang baik jika pada realitasnya kamu
tidak merasakan perasaan tersebut. "Islam menyeru pada sikap optimisme
dan kelapangan dada."
Sesungguhnya
mempraktikkan olahraga di udara terbuka di tengah pemandangan alam yang memukau
berpengaruh pada tubuh, khususnya terhadap aliran hormon adrenalin... Dan hal
ini memperbaiki kreativitasmu.
Kita
dapat mengubah tingkat performa kita dengan cara mengubah kondisi tubuh kita
dan meletakkannya dalam kondisi-kondisi yang memungkinkan kita untuk
mengeluarkan kemampuan-kemampuan ini.
Sesungguhnya
kunci kesuksesan adalah menciptakan pola-pola dari gerakan yang menciptakan
perasaan percaya diri pada diri kita, serta sensasi kekuatan, fleksibilitas,
kekuatan personal, dan keceriaan.
Sesungguhnya
kondisi stagnasi (mandek) dan kebusukan itu hanyalah bersumber dari ketiadaan
gerakan.
Kamu
wajib menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda... Hendaknya ada musim semi
pada langkah kakimu dan senyuman di wajahmu... Mengapa kamu tidak menjadikan
keceriaan, kegembiraan yang meluap, dan canda tawa sebagai prioritas di dalam
kehidupanmu? Berusahalah agar perasaan yang baik menjadi kaidah dasar di dalam
kehidupanmu... Karena tidak ada sesuatu pun yang menghalangimu dari hal
tersebut; kamu masih hidup dan kamu memiliki kemampuan untuk merasakan perasaan
yang baik tanpa perlu adanya sebab langsung untuk hal tersebut. Berdirilah dan
tanyakan pada dirimu sendiri: Apakah aku bahagia?
Pertanyaan
paling sulit bagi manusia adalah ketika ia menyendiri dengan dirinya sendiri,
lalu merenungkan realitasnya, yaitu ketika ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah
aku bahagia? Boleh jadi ia telah sampai pada jabatan-jabatan tertinggi,
memiliki harta yang melimpah, dan menjadi bahan pembicaraan manusia, akan
tetapi apakah ia bahagia? Dan apakah itu kebahagiaan yang hakiki? Ataukah
sekadar formalitas (tampak luar)? Apakah ia merasakan kenyamanan? Dan keridaan
yang mendalam di dalam lubuk hatinya?
Istirahat
Semata:
Berhentilah
sekarang, menyendirilah, menjauhlah dari manusia, dengarkanlah sensasi
perasaanmu yang mendalam dan tanyakan pada dirimu sendiri: Apakah kamu
bahagia?
Dan
di antara pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan pergolakan di dalam jiwa
adalah pertanyaan: Siapakah aku? Apakah kamu mengenal dirimu sendiri? Apakah
kamu mengetahui kemampuan-kemampuanmu? Apakah kamu memiliki tujuan di dalam
kehidupan? Apakah kamu akan meninggalkan jejak yang baik setelah kematianmu?
Banyak
manusia yang dialihkan dari pertanyaan-pertanyaan ini oleh gilingan mesin
kehidupan, dari hari ke hari, dan dari momen ke momen bersama kehidupan
rutinitas yang kaku dan membunuh. Pertanyaan-pertanyaan ini terpendam semakin
dalam di lubuk hati, maka lahirlah pergolakan. Pergolakan ini menuntun pada
ketiadaan keridaan internal di dalam jiwa manusia, dan menuntun pada kecemasan
yang tidak biasa pada orang-orang Barat. Oleh karena itulah, 80% dari
masyarakat Amerika mengonsumsi pil-pil penenang atau obat penenang, mengapa?
Dikarenakan tidak adanya kenyamanan internal.
Hal
inilah yang menjadikan negara seperti Swedia hidup di dalam kecemasan dan
kebingungan, padahal bangsa Swedia adalah satu-satunya bangsa yang hidup dalam
tingkat ekonomi yang menyerupai mimpi-mimpi, dan hampir tidak ada di dalam
kehidupan mereka rasa takut terhadap kemiskinan, masa tua, atau pengangguran.
Terlepas dari semua itu, orang-orang menjalani kehidupan yang cemas; semuanya
berisi kesempitan, ketegangan, keluhan, kemarahan, kejengkelan, dan
keputusasaan, hingga akhir kesudahannya adalah bunuh diri [Al-Iman wa
Al-Hayah hlm. 67, dengan sedikit adaptasi].
Sesungguhnya
itu adalah siksaan psikologis yang berakar di dalam lubuk terdalam jiwa manusia
yang menuntun sebanyak (300 perwira setiap tahunnya di Amerika, yang mana
sepuluh di antaranya di New York melakukan tindakan bunuh diri, dan sejak tahun
1987 M jumlah perwira polisi yang bunuh diri di sana terus meningkat) [Surat
kabar Al-Sharq Al-Awsat nomor 5823 pada tanggal 4/6/1415 H, dari sebuah
artikel yang diterbitkan di dalamnya].
Semua
itu menuntun pada siksaan psikologis, keraguan, gangguan, dan kecemasan yang
tidak normal. Akan tetapi, Islam menghilangkan seluruh siksaan tersebut dengan
firman Allah:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ
بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
(Yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram. [QS. Ar-Ra'd:
28]
Sesungguhnya
rahasia kesuksesan adalah: ketenangan dan ketenteraman hati yang akan menuntun
pada tindakan manusia menikmati kehidupannya. Itulah rahasia yang dibisikkan
oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, di mana beliau berkata:
"Di
dalam hati terdapat kekusutan yang tidak dapat dirapikan kecuali dengan
menghadap kepada Allah, di dalamnya terdapat kesepian yang tidak dapat
dihilangkan kecuali dengan merasa akrab dengan Allah, di dalamnya terdapat
kesedihan yang tidak dapat disirnakan kecuali dengan kegembiraan mengenal-Nya
dan kejujuran bermuamalah dengan-Nya, di dalamnya terdapat kecemasan yang tidak
dapat ditenangkan kecuali dengan berkumpul atas-Nya dan lari menuju kepada-Nya,
di dalamnya terdapat api penyesalan yang tidak dapat dipadamkan kecuali dengan
rida terhadap perintah-Nya, larangan-Nya, dan takdir-Nya serta memeluk erat
kesabaran atas hal tersebut sampai waktu berjumpa dengan-Nya, dan di dalamnya
terdapat kefakiran (kebutuhan mendesak) yang tidak dapat ditutup kecuali dengan
mencintai-Nya, kembali bertaubat kepada-Nya, terus-menerus mengingat-Nya, dan
kejujuran ikhlas kepada-Nya. Seandainya ia diberikan dunia beserta isinya,
niscaya kefakiran tersebut tidak akan pernah bisa tertutup selamanya." [Dikutip
dari buku Al-Iman wa Al-Hayah hlm. 78]
Sesungguhnya
itu adalah hubungan ketuhanan (rabbani), hubungan bumi dengan langit, yang
menjadikan manusia hidup bahagia dan tenteram. Itulah rahasia yang menjadikan
Imam Ahmad bin Hanbal hidup bahagia dan tenteram, padahal pakaiannya penuh
tambalan yang beliau jahit dengan tangannya sendiri, tinggal di tiga kamar yang
terbuat dari tanah, dan tidak mendapati makanan kecuali remah-remah roti
bersama minyak. Dan sepatu beliau tetap bertahan sebagaimana yang dikatakan
oleh para penulis biografi tentangnya: selama tujuh belas tahun beliau
menambalnya dan menjahitnya, dan beliau memakan daging dalam satu bulan hanya
satu kali. Berdasarkan ukuran ahli dunia saat ini, beliau adalah orang
yang: miskin dan sedih. Akan tetapi mereka itu tidak mengetahui bahwasanya
kebahagiaan internal dan keridaan internal tidak dapat disentuh oleh seorang
pun dari kalangan manusia, karena ia berada di dalam lubuk terdalam, dan karena
ia tersambung dengan Allah. Maka ia adalah ruh yang berdenyut untuk kehidupan
dengan gerakan, dan cahaya yang memancarkan jalan bagi manusia. Itulah rahasia
di dalam industri pembuatan kesuksesan [Shina'at Al-Najah hlm. 40].
Fokus:
Kekuatan
Fokus:
Bukankah
kamu bisa menjadi depresi hanya dalam waktu satu menit saja jika kamu mau?
Tidak diragukan lagi bahwa kamu pasti bisa, yaitu cukup dengan memfokuskan diri
pada sesuatu yang sangat mengganggu di masa lalumu. Lalu mengapa kamu terus
menonton kembali film-film bencana yang pernah menimpamu?
Dan
jika kamu ingin merasakan sensasi kegembiraan yang meluap (ecstasy)
sekarang juga, apakah kamu bisa melakukannya? Ya, kamu bisa melakukannya dengan
kemudahan yang sama, cukup dengan berfokus atau mengingat kembali suatu waktu
di saat kamu benar-benar merasakan kegembiraan yang mutlak.
Apa
pun yang kita fokuskan akan menjadi gagasan kita tentang realitas.
Pikirkanlah
kekuatan fokus kita laksana sebuah lensa kamera; ia hanya menampilkan gambar
dan sudut dari objek yang kamu fokuskan saja. Oleh karena itu, foto-foto yang
kamu ambil bisa jadi mendistorsi realitas, karena ia hanya memberikan satu
bagian kecil dari gambaran keseluruhan. Sangat penting untuk diingat bahwa cara
kita merepresentasikan berbagai hal di dalam benak kita adalah hal yang
menentukan kualitas perasaan kita.
Kita
semua tahu bahwa kamera dapat mendistorsi realitas, dan gambar yang diperbesar
bisa menampilkan objek dalam ukuran yang lebih besar daripada ukuran aslinya
yang sebenarnya.
Makna
Tersirat Sering Kali Bersumber dari Titik Fokus:
Jika
kamu memiliki janji temu namun orang tersebut tidak kunjung datang, bagaimana
perasaanmu? Hal ini bergantung pada apa yang kamu fokuskan di dalam benakmu.
Benakmulah yang akan memutuskan apakah kamu memandang realitasmu sebagai
sesuatu yang buruk atau baik, dan apakah kamu akan merasa sedih atau bahagia.
(Apakah karena ia tidak memedulikanmu, ataukah karena kemacetan lalu lintas di
jalan yang menjadi penyebabnya, atau barangkali ia sengaja terlambat agar bisa
memberikan penawaran kesepakatan yang lebih baik untukmu?).
Ketika
kamu sedang mengendarai mobil balap, kamu tidak boleh membiarkan fokusmu
beralih barang sedetik pun dari hasil yang ingin kamu capai. Kamu tidak boleh
membatasi perhatianmu pada posisi tempat kamu berada saat ini, atau pada masa
lalu, atau mematoknya pada titik yang jauh di masa depan. Sebab, di samping
kesadaran penuhmu terhadap posisi tempat kamu berada saat ini, kamu juga harus
mengantisipasi apa yang akan terjadi dalam waktu dekat.
Fokuslah
pada tempat yang ingin kamu tuju, bukan pada apa yang kamu takuti. Jika mobil
balapmu tergelincir ke arah dinding pembatas, jangan fokus pada dinding
tersebut! Jika tidak, maka dinding itulah yang tepat akan kamu tabrak. Akan
tetapi, fokuslah pada tempat yang ingin kamu tuju di jalanan yang jauh dari
dinding, maka pergerakanmu akan menuntunmu ke arah tersebut jika kamu mampu
melawan rasa takut dan memiliki kepercayaan diri. Kamu tidak akan memiliki
kesempatan sama sekali jika kamu berfokus pada rasa takutmu. Berfokus pada
solusi selalu mendatangkan keuntungan bagimu.
Kisah
Adi bin Hatim Al-Tha'i:
Adi
bin Hatim Al-Tha'i berkata ketika ia hendak menemui Rasulullah ﷺ: Aku berkata: "Demi
Allah, jika aku mendatangi laki-laki ini, jika ia seorang pendusta maka ia
tidak merugikanku, dan jika ia seorang yang jujur maka aku akan
mengetahuinya."
Ia
berkata: "Maka aku berangkat lalu mendatanginya. Ketika aku datang,
orang-orang berseru: 'Adi bin Hatim! Adi bin Hatim!'."
Ia
berkata: "Maka aku masuk menemui Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda
kepadaku: 'Wahai Adi bin Hatim, masuk Islamlah niscaya kamu selamat'—beliau
mengucapkannya tiga kali—. Aku berkata: 'Sesungguhnya aku telah memeluk suatu
agama'. Beliau bersabda: 'Aku lebih mengetahui tentang agamamu daripada dirimu
sendiri'. Aku berkata: 'Engkau lebih mengetahui tentang agamaku daripada
aku?!'. Beliau bersabda: 'Ya, bukankah kamu termasuk penganut Rakusiyyah (satu
sekte antara Kristen dan Sabi'in) dan kamu memakan seperempat dari harta
rampasan kaummu?'. Aku menjawab: 'Benar'. Beliau bersabda: 'Sesungguhnya hal
ini tidak halal bagimu di dalam agamamu'."
Adi
berkata: "Beliau tidak mengulanginya lagi setelah mengatakannya, maka
aku pun merasa tunduk karena ucapan itu."
Lalu
beliau bersabda: "Adapun sesungguhnya aku mengetahui apa yang
menghalangimu dari memeluk Islam. Kamu pasti mengatakan: 'Orang-orang yang
mengikutinya hanyalah orang-orang yang lemah di antara manusia dan orang-orang
yang tidak memiliki kekuatan, serta mereka telah dimusuhi oleh bangsa Arab'.
Apakah kamu tahu kota Al-Hirah?". Aku menjawab: "Aku belum
pernah melihatnya, namun aku pernah mendengarnya." Beliau bersabda: "Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan
(agama) ini hingga seorang wanita yang mengendarai sekedup keluar dari Al-Hirah
hingga ia melakukan tawaf di Baitullah tanpa merasa takut kepada perlindungan
siapa pun. Dan sungguh akan dibuka perbendaharaan harta Kisra bin Hurmuz."
Adi berkata: Aku bertanya: "Kisra bin Hurmuz?". Beliau
bersabda: "Ya, Kisra bin Hurmuz. Dan sungguh harta akan melimpah ruah
hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya."
Adi
bin Hatim berkata: "Maka wanita yang mengendarai sekedup ini
benar-benar datang dari Al-Hirah lalu melakukan tawaf di Baitullah tanpa ada
perlindungan (dari siapa pun karena aman). Dan sungguh aku termasuk di antara
orang-orang yang membuka perbendaharaan harta Kisra. Dan demi Dzat yang jiwaku
berada di tangan-Nya, sungguh perkara yang ketiga pasti akan terjadi, karena
Rasulullah ﷺ
telah menyabdakannya." Demikianlah yang termaktub di dalam Al-Bidayah
(5/66) dan dikeluarkan juga oleh Al-Baghawi di dalam kitab Mu'jam-nya
dengan makna yang serupa, sebagaimana terdapat di dalam kitab Al-Ishabah
(2/468).
Cara
paling kuat untuk mengendalikan fokus adalah dengan cara mengajukan pertanyaan.
Pertanyaan merupakan alat yang sangat kuat untuk menciptakan perubahan di dalam
hidupmu, dan ia bertindak sebagai kunci yang membuka kekuatan-kekuatan laten di
dalam diri kita yang tidak memiliki batas.
Pengalaman
kita di dunia ini terbentuk melalui informasi yang kita terima dengan
menggunakan panca indra kita. Meskipun demikian, masing-masing dari kita
cenderung mengembangkan gaya tertentu dalam berfokus. Sebagian orang misalnya,
lebih terpengaruh oleh apa yang mereka lihat karena sistem visual mereka yang
lebih dominan. Bagi yang lain, suara adalah hal yang memicu pengalaman terbesar
dalam hidup mereka, sementara bagi yang lainnya lagi, perasaan/sensasi fisik (kinestetik)
adalah dasarnya.
Perasaan-perasaan
ini dapat diubah untuk meningkatkan atau mengurangi intensitas pengalaman kita.
Komponen-komponen dasar ini disebut dengan "Sub-Modalitas".
Anda misalnya dapat membayangkan sebuah gambar di dalam benak Anda, kemudian
mengambil satu sisi dari gambar ini (yaitu sebuah sub-modalitas) lalu
mengubahnya demi mengubah perasaan Anda terhadap gambar tersebut. Hal ini
dikenal dengan istilah perubahan sub-modalitas, yang mana mengubah makna dari
perasaan-perasaan ini bagi Anda, dan sebagai konsekuensinya, mengubah apa yang
dapat Anda lakukan terhadap perasaan tersebut.
Jika
Anda cenderung fokus pada modalitas visual misalnya, maka tingkat kesenangan
yang Anda dapatkan dari memori tertentu akan bergantung pada ukuran, warna,
kecerahan, dan tingkat gerakan yang diwujudkan oleh gambaran visual yang telah
Anda bentuk. Dan jika Anda cenderung fokus pada modalitas auditori
(pendengaran), maka tingkat kesenangan akan bergantung pada seberapa keras
suara, intonasi, dan nadanya.
Sebagai
contoh, jika beberapa orang ingin mencapai motivasi yang diinginkan, maka
mereka harus fokus pada saluran tertentu terlebih dahulu (misalnya
elemen-elemen visual dari suatu situasi tertentu akan memberi mereka kekuatan
emosional yang lebih besar terhadap situasi tersebut). Sesungguhnya kemampuan
kita untuk mengubah arah perasaan kita bergantung pada kemampuan kita untuk
mengubah sub-modalitas kita.
Pernahkah
Anda mendapati diri Anda berkata pada suatu hari bahwa Anda perlu menjaga jarak
antara diri Anda dengan masalah? Pikirkanlah suatu situasi yang mewakili
tantangan bagi Anda saat ini. Gambarlah potret situasi tersebut di dalam benak
Anda, lalu bayangkan bahwa Anda menjauhkan gambar ini sehingga ia menjadi
semakin jauh dan menjauh dari Anda. Berdirilah di atas gambar ini dan lihatlah
ia dari atas dengan perspektif yang baru. Apa yang terjadi pada intensitas
emosional yang Anda rasakan? Intensitas ini akan menyusut bagi sebagian besar
orang. Demikian pula jika gambar tersebut menjadi kurang jelas atau menjadi
lebih kecil. Dan sekarang, ambillah gambar masalah tersebut, dekatkanlah, dan
buatlah ia menjadi lebih terang; hal ini akan membuat emosi menjadi lebih
intens.
Anda
misalnya dapat memikirkan sesuatu yang terjadi kemarin. Bayangkan pengalaman
ini sesaat. Ambillah gambar ingatan ini, tinggalkan ia di belakang Anda, lalu
doronglah ia secara bertahap hingga ia berada bermil-mil jauhnya dari Anda,
sampai ia menjadi sebuah titik gelap yang sangat kecil yang menghilang di
tengah kegelapan. Apakah ia tampak bagi Anda seperti baru terjadi kemarin atau
sudah lama sekali berlalu? Jika ingatan ini luar biasa indah, maka panggillah
ia kembali. Jika tidak, maka biarkanlah ia menjauh di sana.
Pikirkanlah
sekarang sebuah pengalaman yang terjadi waktu lampau. Ingatlah gambarnya,
panggil kembali, dan letakkan di hadapan Anda. Perbesarlah gambar tersebut,
buatlah ia menjadi terang, berwarna, dan tiga dimensi (3D). Masuklah ke dalam
tubuh Anda sebagaimana kondisi Anda saat itu, dan rasakanlah pengalaman
tersebut sekarang seolah-olah Anda sedang menjalaninya sebagaimana yang terjadi
pada waktu itu. Apakah Anda merasakan sensasi yang sama dengan apa yang Anda
rasakan waktu lampau? Dan apakah ia sesuatu yang Anda nikmati sekarang?
Sesungguhnya pengalaman Anda yang berkaitan dengan waktu telah berubah dengan
mengubah sub-modalitas khususnya.
Ciptakan
Ciri Khas Anda Sendiri:
Menemukan
sub-modalitas Anda adalah proses yang menyenangkan, terlebih jika Anda
melakukannya bersama dengan orang lain.
Mulailah
dengan mengevaluasi setiap pertanyaan yang ada di dalam daftar periksa (checklist)
dengan membandingkannya dengan pengalaman Anda. Ketika Anda mengingat
pengalaman Anda misalnya, fokuslah pada sub-modalitas visual, kemudian
perhatikan sub-modalitas mana yang paling mengubah intensitas emosional Anda
dibandingkan yang lain. Setelah itu, fokuslah pada sub-modalitas auditori; apa
arti dari menaikkan volume suara terhadap tingkat kesenangan yang Anda rasakan?
Dan sebagai penutup, fokuslah pada sub-modalitas perasaan kinestetik (gerakan).
Bagaimana tubuh Anda rasakan saat Anda melakukan semua perubahan ini? Catatlah
setiap perubahan tersebut. Dan ketika Anda selesai mencoba semua yang tercakup
dalam daftar periksa sub-modalitas, kembalilah dan sesuaikan gambar tersebut
sampai gambar yang paling menyenangkan bagi Anda muncul kembali. Wujudkan
gambar ini sedemikian rupa hingga Anda membayangkannya seolah-olah Anda sedang
memeluknya.
Dengan
mengenali sub-modalitas yang mewakili pemicu khusus bagi diri Anda, dengan
begitu Anda akan mengenali emosi-emosi positif dan memperkuatnya, sementara
Anda dapat mengurangi emosi-emosi negatif.
Jika
Anda Mengubah Kondisi Anda, Maka Hidup Anda Akan Berubah:
Jika
ada perkara-perkara yang ingin Anda selesaikan namun Anda tidak menemukan
motivasi untuk itu, maka Anda harus menyadari bahwa Anda sedang tidak berada
dalam kondisi (state) yang tepat. Namun ini bukanlah alasan. Ini adalah
sebuah perintah untuk melakukan segala hal yang diperlukan guna mengubah
kondisi Anda menuju kondisi yang kreatif dalam kondisi yang penuh gairah. Dan
Anda harus berada dalam kondisi ketetapan hati (tekad) yang kuat agar bisa
sukses. Individu-individu yang diasumsikan memiliki kemampuan terbatas akan
mendapati bahwa bakat mereka melonjak tinggi hingga ke langit-langit jika
mereka berpindah ke kondisi yang baru.
Para
konsultan dalam pengembangan diri mampu dalam waktu 30 menit atau bahkan kurang
dari itu dalam banyak kesempatan, untuk membantu para peserta pelatihan
mengatasi ketakutan mereka dan mempelajari cara mendobrak penghalang apa pun
yang menghalangi jalannya kehidupan mereka.
- Keahlian pertama
yang wajib Anda kuasai adalah kemampuan untuk mengubah kondisi Anda "seketika
itu juga" apa pun lingkungan yang mengelilingi Anda, atau
seberapa pun besarnya rasa takut atau frustrasi yang Anda rasakan.
Orang-orang yang menyadari bahwa mereka tidak bisa melakukan sesuatu harus
melakukan sesuatu agar mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya bisa
melakukan hal tersebut.
- Keahlian kedua
adalah Anda harus mampu mengubah kondisi ini secara konsisten
(terus-menerus).
- Keahlian ketiga
adalah menanamkan akar-akar dari pola kebiasaan yang memungkinkan Anda
untuk menggunakan kekuatan fisiologis dan fokus Anda.
- Keahlian/Tujuan keempat
adalah memampukan orang lain untuk mengubah kondisi mereka seketika itu
juga.
Definisi
saya tentang kesuksesan adalah menjalani hidup Anda dengan gaya yang
memungkinkan Anda merasakan bahwa Anda memiliki berton-ton kesenangan dan
sedikit rasa sakit. Dan dikarenakan pola hidup Anda ini, Anda membuat
orang-orang di sekitar Anda merasakan kesenangan yang lebih besar daripada rasa
sakit yang mereka rasakan.
Obat-obatan
terlarang sangat mungkin untuk dihilangkan melalui zat-zat kimiawi yang Anda
ciptakan sendiri di dalam tubuh Anda dengan cara menyesuaikan fokus Anda dan
dengan metode yang Anda gunakan dalam mengaktifkan potensi fisiologis Anda.
Pelajaran
yang Kita Petik dari Rasulullah ﷺ:
Hari
perang Uhud adalah hari ujian, musibah, dan pembersihan (tamhish). Allah
menguji orang-orang mukmin melaluinya, dan membersihkan orang-orang munafik
dari kalangan mereka yang menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka.
Orang-orang mukmin tampak menonjol dengan sikap mengharap pahala dari Allah (ihtisab)
serta kejantanan mereka yang tidak takut terhadap celaan orang yang mencela di
jalan Allah. Dan menjadi jelas bahwa orang-orang musyrik ketika mereka kembali
dari Uhud, mereka bertekad untuk menumpas orang-orang Islam sampai ke
akar-akarnya. Mari kita lihat sabda beliau ﷺ ketika mengetahui hal tersebut.
Rasulullah
ﷺ bersama kaum muslimin
kembali ke Madinah setelah peristiwa Uhud. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari
penduduk Makkah yang baru saja datang ke Madinah pada waktu itu juga. Maka
Rasulullah ﷺ
bertanya kepadanya tentang Abu Sufyan dan para sahabatnya. Laki-laki itu
menjawab: "Aku telah singgah bersama mereka dan aku mendengar mereka
saling menyalahkan satu sama lain, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang
lain: 'Kalian tidak menghasilkan apa-apa. Kalian hanya memukul kekuatan utama
mereka saja lalu kalian meninggalkan mereka begitu saja tanpa menumpas mereka
sampai habis, padahal masih tersisa para pemimpin dari mereka yang akan
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian kembali'." [Al-Sirah
al-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir (3/97)]
Ketika
Rasulullah ﷺ
mengetahui hal tersebut, beliau memerintahkan kaum muslimin yang ikut serta
dalam perang Uhud untuk bersiap-siap memerangi orang-orang musyrik dan berjalan
di bawah kepemimpinan beliau ﷺ
untuk menghadapi Quraish dan memeranginya.
Kaum
muslimin pun berjalan dalam kondisi luka-luka mereka masih mengalirkan darah,
borok-borok mereka masih bernanah, rasa lelah telah membuat mereka payah,
kepayahan telah melemahkan mereka, dan rasa sakit telah membuat mereka terjaga
di malam hari. Namun, Rasulullah ﷺ enggan untuk membiarkan orang selain mereka berbagi kehormatan
dan kemuliaan ini, sehingga beliau tidak mengizinkan sahabat lain yang tidak
ikut serta dalam perang Uhud kecuali untuk satu orang saja, yaitu Jabir bin
Abdullah.
Adapun
Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong orang-orang munafik, ia ingin keluar
bersama Rasulullah ﷺ
namun beliau menolaknya. [Al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir
(3/97)]
Sungguh
telah tampak jelas sikap sabar dan kepatuhan terhadap perintah Rasulullah ﷺ di dalam peperangan
ini dari semuanya, sehingga tidak ada seorang pun yang tertinggal dari
orang-orang yang terkena luka-luka tersebut.
Ibnu
Ishaq rahimahullah meriwayatkan tentang gambaran dari bentuk-bentuk
kepatuhan ini dengan sanadnya dari seorang laki-laki dari Bani Abdul Ashhal, ia
berkata: (Aku mengikuti perang Uhud, aku dan saudara laki-lakiku, lalu kami
berdua kembali dalam keadaan terluka. Ketika penyeru Rasulullah ﷺ mengizinkan untuk
keluar dalam rangka mengejar musuh, aku berkata kepada saudaraku dan ia pun
berkata kepadaku: "Apakah kita akan melewatkan sebuah peperangan bersama
Rasulullah ﷺ?
Demi Allah, kita tidak memiliki hewan tunggangan untuk kita kendarai, dan tidak
ada di antara kita melainkan dalam keadaan luka parah". Namun kami tetap
keluar bersama Rasulullah ﷺ, dan aku adalah orang yang lukanya lebih ringan daripada dia.
Maka apabila ia telah kepayahan, aku menggendongnya pada satu kesempatan dan ia
berjalan pada kesempatan yang lain (bergantian), hingga kami sampai pada batas
tempat berhentinya kaum muslimin). [Al-Sirah al-Nabawiyyah karya
Ibnu Hisyam (2/101)]
Dan
Allah menurunkan ayat berkenaan dengan mereka yang mematuhi perintah Rasulullah
ﷺ ini:
اَلَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ
مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۖ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا
اَجْرٌ عَظِيْمٌۚ ١٧٢
(Yaitu)
orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka
(dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara
mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. [Surah Ali 'Imran: Ayat 172]
Pasukan
Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan hingga sampai ke
suatu tempat yang disebut Hamra al-Asad. Beliau menetap di sana selama
tiga hari untuk menantang orang-orang musyrik, namun tidak ada seorang pun yang
berani untuk menemui dan melawannya. Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum muslimin untuk
menyalakan api, sehingga mereka menyalakan lima ratus titik api dalam waktu
yang bersamaan. [Al-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa'd (2/43)]
Manfaat
Sekutu Politik:
Suku
Khuza'ah, baik yang muslim maupun yang kafir di antara mereka, adalah tempat
rahasia Rasulullah ﷺ.
Mereka telah mengikat janji setia dengan beliau untuk tidak menyembunyikan
sesuatu pun dari beliau yang terjadi di wilayah Tihamah.
Ma'bad
bin Abi Ma'bad adalah salah satu pemimpin mereka pada hari itu yang masih
berada dalam kesyirikannya. Ia melintas bertemu Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang
menetap di Hamra al-Asad. Ia pun menghibur beliau, dan menampakkan simpatinya
kepada kaum muslimin serta rasa sedihnya atas apa yang menimpa mereka di Uhud
berupa pembunuhan dan luka-luka.
Ma'bad
kembali dari sisi Rasulullah ﷺ
dari Hamra al-Asad hingga ia berpapasan dengan Abu Sufyan bin Harb dan
orang-orang yang bersamanya dari kalangan musyrik di Ar-Rauha'. Mereka telah
sepakat untuk kembali memerangi kaum muslimin. Maka Abu Sufyan bertanya kepada
Ma'bad: "Apa berita di belakangmu, wahai Ma'bad?"
Ia
menjawab: "Muhammad telah keluar bersama para sahabatnya mencari kalian
dalam jumlah pasukan yang belum pernah aku lihat seumpamanya sama sekali.
Mereka sangat membara untuk menyerang kalian. Telah bergabung bersamanya
orang-orang yang tadinya tertinggal darimu pada harimu itu, dan mereka
menyesali apa yang telah mereka perbuat. Di dalam diri mereka terdapat
kemarahan yang meluap kepada kalian yang belum pernah aku lihat seumpamanya
sama sekali."
Abu
Sufyan berkata: "Celaka kamu, apa yang kamu katakan?!"
Ma'bad
berkata: "Demi Allah, aku tidak melihatmu akan berangkat meninggalkan
tempat ini hingga kamu melihat ubun-ubun kuda pasukan mereka."
Abu
Sufyan berkata: "Sebab demi Allah, kami telah sepakat untuk menyerang
balik mereka, guna menumpas sisa-sisa kekuatan mereka."
Ma'bad
berkata: "Maka sesungguhnya aku melarangmu dari hal tersebut. Dan demi
Allah, apa yang aku lihat telah mendorongku untuk menggubah beberapa bait syair
tentangnya."
Abu
Sufyan bertanya: "Dan apa yang kamu katakan?"
Ma'bad
menjawab: "Aku katakan:
Hampir saja tungganganku roboh karena suara-suara gemuruh,
Ketika bumi mengalirkan kuda-kuda jantan yang
berbondong-bondong. [Al-Jurd: Leher-leher kuda (kuda yang pendek
bulunya/tangkas). Al-Ababil: Kelompok-kelompok/berbondong-bondong. Tardi:
Berlari cepat. Tuhadd: Jatuh/roboh]
Ia berlari kencang membawa singa-singa yang mulia, bukan
orang-orang cebol (lemah),
Ketika pertempuran tiba, mereka tidak condong dan tidak
pula tak bersenjata. [Al-Tanabilah: Orang-orang yang pendek. Al-Mil:
Bentuk jamak dari Amial, yaitu orang yang tidak membawa tombak atau
perisai, dikatakan juga orang yang tidak kokoh di atas pelana. Al-Ma'azil:
Orang-orang yang tidak membawa senjata]
Maka aku terus berlari kencang karena mengira bumi sedang
miring,
Ketika mereka meninggikan pemimpin yang tidak akan
ditelantarkan.
Maka aku katakan: "Celakalah putra Harb (Abu Sufyan)
dari pertemuan dengan kalian,"
Apabila lembah Al-Batha' bergolak dipenuhi oleh generasi
pasukan. [Taghathmathat: Bergetar/bergolak. Al-Jail:
Angkatan/barisan manusia]
Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi penduduk
Al-Basl (Quraish) secara terang-terangan,
Bagi setiap orang yang memiliki kecerdasan dan akal di
antara mereka. [Ahlu al-Basl: Suku Quraish, karena mereka penduduk
Makkah. Al-Dhahiyah: Yang tampak menantang matahari. Al-Irbah:
Akal]
Dari pasukan Ahmad yang bukan orang-orang keji dan bukan
pula orang-orang cebol,
Dan
tidaklah disifatkan orang yang aku peringatkan itu dengan kelemahan. [Al-Wakhsy:
Yang buruk/rendah. Tanabilah: Orang-orang pendek]
Maka
bait-bait syair tersebut memalingkan tekad Abu Sufyan dan orang-orang yang
bersamanya (sehingga mereka ketakutan dan mengurungkan niat). [Al-Sirah
al-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir (3/99 - 100), dan Al-Sirah al-Nabawiyyah
karya Ibnu Hisyam (2/102 - 103)]
Abu
Sufyan ingin menutupi mundurnya pasukan ini dengan cara melancarkan perang urat
syaraf (psychological warfare) terhadap kaum muslimin, dengan harapan
dapat menakut-nakuti mereka.
Ibnu
Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam kitab Al-Sirah
bahwasanya rombongan pengendara dari Abdul Qais melintas bertemu Abu Sufyan,
lalu ia bertanya kepada mereka: "Ke mana kalian hendak pergi?"
Mereka
menjawab: "Madinah."
Ia
bertanya: "Untuk apa?"
Mereka
menjawab: "Kami menginginkan bahan makanan."
Ia
berkata: "Maukah kalian menyampaikan sebuah pesan dariku kepada
Muhammad yang aku utus kalian dengannya kepadanya, dan aku akan muati unta-unta
kalian ini besok dengan kismis di pasar Ukaz apabila kalian telah
memenuhinya?"
Mereka
menjawab: "Ya."
Ia
berkata: "Jika kalian telah sampai kepadanya, maka kabarkanlah
kepadanya bahwasanya kami telah sepakat untuk berjalan menuju kepadanya dan
kepada para sahabatnya untuk menumpas sisa-sisa mereka."
Maka
rombongan pengendara itu melintas bertemu Rasulullah ﷺ sewaktu beliau berada di Hamra al-Asad,
lalu mereka mengabarkan kepada beliau tentang apa yang dikatakan oleh Abu
Sufyan. Maka beliau bersabda: "Hasbunallah wa ni'mal wakil (Cukuplah
Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung)."
[Al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir (3/100)]
Dan
Rasulullah ﷺ
menawan dua orang laki-laki dari kalangan musyrik di dalam peperangan ini: Abu
'Azzah sang penyair, dan Mu'awiyah bin Al-Mughirah bin Abi Al-'Ash. Adapun yang
pertama, Rasulullah ﷺ
memerintahkan untuk membunuhnya seketika itu juga. Sedangkan yang kedua, beliau
ﷺ memerintahkan untuk
membunuhnya setelah berlalu tiga hari.
Pelajaran
dan Hukum-Hukum dari Hamra al-Asad:
Dapat
dipetik dari perang Hamra al-Asad beberapa pelajaran dan hukum, di antaranya:
- Kewaspadaan Nabi ﷺ
yang abadi, dan kehati-hatian beliau yang terus-menerus: Rasulullah ﷺ
selalu memantau pergerakan Quraish dengan cara menanyakan berita tentang
mereka dan pergerakan mereka, serta mengambil keputusan-keputusan yang
diperlukan berdasarkan berita yang beliau miliki. Di dalam peperangan ini,
beliau berhasil mengetahui apa yang diinginkan oleh Quraish setelah perang
Uhud, maka beliau mengambil keputusannya dengan cepat.
- Kekuatan
mental/semangat juang yang dinikmati oleh sang Panglima, yaitu
Rasulullah ﷺ,
dan begitu pula semangat juang yang tinggi yang dinikmati oleh para
sahabat di dalam peperangan ini, yang mana tidak ada seorang pun yang
tertinggal dari peperangan ini meskipun mereka dirundung luka-luka dan
rasa sakit.
- Telah terbersit di dalam
jiwaku—dan Allah Subhanahu wa Ta'ala Mahatahu—bahwasanya kepatuhan yang
total dan seketika ini merupakan aplikasi dari pelajaran tentang
"ketaatan" yang sempat mereka lupakan atau kurang mereka acuhkan
di Uhud, sehingga terjadilah apa yang terjadi berupa hukuman bagi mereka
dengan diharamkannya mereka dari nikmat kemenangan atas musuh mereka.
- Kami mengira—dan Allah
Mahatahu—bahwasanya Nabi ﷺ
menginginkan dengan keluarnya pasukan ini untuk mewujudkan beberapa
tujuan:
- Tujuan Pertama:
Memperkuat semangat juang di kalangan kaum muslimin meskipun ia sudah
kuat, dan memberanikan mereka untuk memerangi orang-orang musyrik.
- Tujuan Kedua:
Mengembalikan reputasi kaum muslimin di mata orang lain, khususnya
kabilah-kabilah di Jazirah Arab. Sebab kabilah-kabilah tersebut akan
mendengar tentang keluarnya Rasulullah ﷺ dan para
sahabatnya, serta ketidakberanian Quraish untuk menghadapi dan
memeranginya.
- Tujuan Ketiga:
Memberi pelajaran kepada orang-orang munafik dan Yahudi di Madinah, serta
menakut-nakuti mereka dengan cara menakut-nakuti orang-orang musyrik.
Karena musuh domestik (dalam negeri) apabila merasakan kekuatan kaum
muslimin, mereka akan merasa gentar, terdiam, menghentikan fitnah, dan
tidak akan berani berpikir untuk menyakiti kaum muslimin. Sebaliknya,
jika mereka merasakan kelemahan front internal dan ketidakmampuannya
menghadapi musuh dari luar, mereka akan melampaui batas, sewenang-wenang,
dan berbuat kerusakan di muka bumi.
- Mengambil keputusan
yang cepat, tegas, dan krusial dalam menghadapi Quraish beserta
bahayanya yang mengancam kaum muslimin, serta menghadapi kekuatan dengan
kekuatan. Hal itu dikarenakan kekuatan adalah jalan paling terjamin untuk
menegakkan kebenaran, dan ia merupakan penjaga yang aman lagi kuat yang memelihara
kelangsungan hak bagi pemiliknya. Demikianlah seharusnyanya kaum
muslimin—baik rakyat maupun pemerintah—belajar dan menerapkan hal
tersebut.
- Etos kerja/semangat
yang tinggi yang membawa pemiliknya untuk melupakan rasa sakit, dan
tujuan tertinggi yang membuat pemiliknya rela menanggung kesulitan dan
bahaya, sehingga ia tidak takut mendaki gunung-gunung agar tidak terus
hidup di dalam lubang-lubang.
- Dan inilah apa yang kita
petik dari sikap dua orang laki-laki yang terluka dari Bani Abdul Ashhal.
Apakah
Anda tahu bagaimana cara membawa diri Anda agar merasakan perasaan yang baik?
Tidak diragukan lagi bahwa Anda memiliki beberapa sarana, namun saya berharap
Anda memperluas daftar ini. Duduklah pada momen ini juga dan tulislah sebuah
daftar berisi hal-hal yang Anda lakukan sekarang untuk mengubah perasaan Anda,
dan tambahkan ke dalamnya hal-hal lain yang belum pernah Anda coba sebelumnya
yang mana barangkali bisa juga mengubah kondisi Anda. Jangan berhenti sampai
Anda memiliki setidaknya 15 cara... Jadikan ia 25 cara... Teruskan sampai
terkumpul pada diri Anda ratusan cara.
Misalnya
bagi saya pribadi: Olahraga adalah sesuatu yang bisa saya gunakan untuk
mengubah kondisi saya dengan cepat... Membaca... Mengubah gerakan-gerakan tubuh
saya... Mendengarkan kaset rekaman... Mengambil mandi air hangat... Saling
bertukar cerita dengan orang lain... Memeluk anak-anak saya... Pergi bersama
istri saya untuk bertamasya... Memperbaiki apa pun... Menciptakan ide baru...
Bercanda bersama teman-teman saya... Membantu orang lain... Memoles
ingatan-ingatan saya sedemikian rupa sehingga saya mengingat kembali pengalaman
yang luar biasa indah...
Ciptakanlah
sebuah daftar sarana yang sangat besar sekira Anda tidak perlu lagi menengok
kepada sarana-sarana lain yang bersifat merusak. Hubungkanlah rasa sakit dengan
kebiasaan-kebiasaan yang merusak, dan hubungkanlah semakin banyak kesenangan
dengan sarana-sarana baru ini yang memberikan Anda kekuatan. Jadikan daftar ini
sebagai realitas yang tegak berdiri. Kembangkanlah sebuah rencana kesenangan
untuk setiap hari dari hari-hari yang ada.
Aktivasi
Praktis dari Fakta-Fakta Tema dan Nilai-Nilainya Melalui Aktivitas-Aktivitas
Berikut:
Pertama:
Aktivitas Pendamping (Asosiatif):
- Berbicara di hadapan
teman-teman sejawatnya tentang dampak dari perubahan akidah dan pemikiran.
- Setiap peserta didik
mengisi lembar kuesioner yang terdapat pada halaman 144 dan kuesioner
halaman 147.
- Berbicara tentang peran
Islam dalam mengubah keyakinan-keyakinan Jahiliyah dan menanamkan
keyakinan-keyakinan Islami.
- Mencatat sejumlah nama dari
orang-orang yang mampu mengubah keyakinan mereka serta sikap-sikap yang
dapat dipetik dari kehidupan mereka.
- Mendiskusikan bersama
teman-teman sejawatnya tentang pengaruh rasa sakit dan kesenangan dalam
mewujudkan tujuan.
- Memberikan contoh-contoh
dari keyakinan yang telah berubah pada dirinya sendiri dan bagaimana hal
itu bisa terjadi padanya.
Kedua:
Aktivitas Pendukung:
- Memimpin sebuah seminar
seputar metode-metode menanamkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip.
- Berlatih bersama
saudara-saudaranya tentang langkah-langkah mengambil keputusan yang benar
dan menghindari hambatan-hambatannya.
- Menulis sebuah artikel yang
menjelaskan di dalamnya tentang bahaya akibat tidak adanya perencanaan
bagi kehidupan kita.
- Menyebutkan contoh-contoh
di dalam buku mengenai peran keyakinan para pemimpin dalam mengubah
individu-individu di sekitar mereka.
- Menyampaikan sebuah kuliah
tentang bagaimana cara mengubah diri sendiri dan langkah-langkah yang
wajib diambil untuk hal tersebut.
- Berlatih bersama
saudara-saudaranya tentang metode-metode mengembangkan bakat-bakat
personal.
- Menulis sebuah penelitian
tentang keyakinan-keyakinan Jahiliyah dan bagaimana Islam mengubahnya
serta menggantinya dengan keyakinan-keyakinan Islami.
- Menulis sebuah artikel
seputar pentingnya dialog musyawarah dalam mempertemukan
keyakinan-keyakinan, saling mengembangkannya, serta mengubah apa yang
tidak baik dari keyakinan tersebut.
- Mengadakan seminar-seminar
seputar tema: (Kekuatan Membentuk Manusia).
- Mempersiapkan sebuah
lokakarya (workshop) seputar manajemen diri dan mengubah keyakinan.
- Membuat sebuah kursus
pelatihan seputar: (Mewujudkan Kehendak-Kehendak).
- Menulis sebuah penelitian
tentang rekayasa perubahan individu dan sosial di dalam Islam.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri:
Pertama:
Pertanyaan Esai:
- Apa yang diakibatkan dari
perubahan akidah dan pemikiran pada diri seorang muslim?
- Apakah nilai terbesar di
dalam kehidupan manusia?
- Jelaskan metode-metode
menanamkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip di dalam jiwa manusia!
- Bagaimana cara melepaskan
kekuatan tersembunyi yang Anda miliki? Dan apakah tiga prinsip perubahan
yang pertama?
- Hitunglah bidang-bidang
yang seharusnya dikuasai di dalam kehidupan Anda!
- Jelaskan dengan disertai
contoh langkah-langkah mengambil keputusan yang benar, dengan menerangkan
bagaimana cara menghindari hambatan-hambatan!
- Bagaimana rasa sakit dan
kesenangan membentuk sikap-sikap dan perilaku Anda?
- Apa saja risiko yang
diakibatkan dari mengabaikan perencanaan bagi kehidupan Anda?
- Apa langkah-langkah yang
wajib diambil untuk mewujudkan cita-cita yang mana Anda harus mengambil
keputusan-keputusan terkait dengannya?
- Apa peran
keyakinan-keyakinan dalam menentukan jalan Anda? Sebutkan dengan disertai
contoh!
- Sebutkan dengan contoh
bagaimana cara Anda mengembangkan bakat-bakat personal Anda!
- Dan bagaimana cara Anda
memfokuskan fokus yang kuat? Sebutkan langkah-langkahnya!
- Bagaimana cara membawa diri
Anda agar merasakan perasaan yang baik... jelaskan dengan contoh!
Kedua:
Pertanyaan Objektif:
- Mulailah terlebih dahulu
dengan jawaban objektif atas kuesioner dan pertanyaan-pertanyaan yang
menjelaskan bidang-bidang berikut:
- Visi Diri: hlm. 145 -
hlm. 146.
- Hati Nurani: hlm. 146.
- Kehendak Independen: hlm.
147.
- Imajinasi Kreatif: hlm.
147.
- Lengkapilah titik-titik
di bawah ini:
- (Ambang Emosional)
adalah Anda melampaui kadar yang cukup dari...
- (Ketidakberdayaan yang
Dipelajari / Learned Helplessness) maksudnya adalah...
- (Koneksi Saraf /
Neuro-Association) maksudnya adalah...
- Di antara tiga keyakinan
ketidakberdayaan yang dipelajari adalah sifat permanen,
................., dan .................
- Keyakinan dapat dibagi
menjadi tiga pola, yaitu pendapat-pendapat, ................., dan
.................
- Setiap kebenaran melewati
tiga tahapan; pertama terdiri dari menjadi bahan ejekan, kedua
................., dan ketiga .................
- Berilah tanda (V) atau
tanda (X) di depan pernyataan yang sesuai di bawah ini:
- Seekor burung di tangan
lebih baik daripada sepuluh ekor di atas pohon.
- Sesuatu yang kamu ketahui
lebih baik daripada sesuatu yang tidak kamu ketahui.
- Jika kamu tidak memiliki
perencanaan bagi kehidupanmu sebagaimana yang kamu inginkan, maka orang
lain yang akan membuatkan rencana untukmu sesuai dengan apa yang ia
inginkan.
- Tampaknya mengubah
keyakinan pada diri orang lain adalah perkara yang mustahil.
Comments
Post a Comment