Akhlak Terpuji
SISTEM AKHLAK DALAM ISLAM
Definisi
Akhlak
Akhlak
secara bahasa berarti tabiat dan perangai. Sedangkan dalam istilah
para ulama—sebagaimana yang didefinisikan oleh Al-Ghazali—akhlak adalah
sebuah kondisi (sifat) yang tertanam kuat di dalam jiwa, yang darinya lahir
perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan terlebih dahulu[1.
Kita
juga dapat mendefinisikan akhlak sebagai kumpulan makna (nilai) dan sifat yang
menetap di dalam jiwa, yang mana berdasarkan cahaya dan timbangannya suatu
perbuatan dinilai baik atau buruk dalam pandangan manusia, sehingga kemudian ia
melakukan atau menahan diri dari perbuatan tersebut.
Pentingnya
Akhlak
Akhlak
memiliki urgensi yang sangat besar karena pengaruhnya yang kuat terhadap
perilaku manusia dan apa yang lahir darinya. Bahkan kita dapat mengatakan:
sesungguhnya perilaku manusia itu selaras dengan makna dan sifat yang telah
menetap di dalam jiwanya. Alangkah benarnya perkataan Imam Al-Ghazali ketika
beliau menyebutkan dalam kitab Ihya-nya:
"Sebab,
setiap sifat yang tampak di dalam hati, niscaya akan tampak pengaruhnya pada
anggota tubuh, hingga anggota tubuh tersebut tidak akan bergerak melainkan
pasti sesuai dengan sifat (hati) tersebut."
Oleh
karena itu, perbuatan manusia selalu terhubung dengan makna dan sifat yang ada
di dalam jiwanya, bagaikan hubungan antara cabang-cabang pohon dengan
akar-akarnya yang tersembunyi di dalam tanah.
Makna
dari hal tersebut adalah bahwa baiknya perbuatan manusia itu tergantung pada
baiknya akhlaknya, karena cabang itu mengikuti akarnya; jika akarnya baik maka
cabangnya pun baik, dan jika akarnya rusak maka cabangnya pun rusak.
“Dan
tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya; dan
tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh hanya merana.” [QS.
Al-A'raf: 58].
Oleh
sebab itu, metode yang tepat dalam memperbaiki manusia, meluruskan perilaku
mereka, dan memudahkan jalan kehidupan yang baik bagi mereka adalah hendaknya
para reformator (mushlih) memulai dengan memperbaiki jiwa, menyucikannya, serta
menanamkan makna akhlak yang baik di dalamnya. Karena alasan inilah Islam
sangat menekankan perbaikan jiwa dan menjelaskan bahwa perubahan keadaan
manusia—mulai dari kebahagiaan dan kesengsaraan, kemudahan dan kesulitan,
kelaparan dan kemakmuran, ketenteraman dan kecemasan, serta kemuliaan dan
kehinaan—semua itu dan yang sejenisnya mengikuti perubahan makna dan sifat yang
ada dalam jiwa mereka sendiri. Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra'd: 11].
Pentingnya
akhlak juga tampak dari sisi lain, yaitu bahwa manusia sebelum melakukan atau
meninggalkan sesuatu, ia akan melakukan proses penimbangan dan penilaian
terhadap tindakan meninggalkan atau melakukan tersebut di bawah cahaya
makna-makna akhlak yang menetap di dalam jiwanya. Jika perbuatan atau tindakan
meninggalkan itu tampak memuaskan dan dapat diterima, maka bangkitlah keinginan
dan kecenderungan di dalam jiwa menuju hal tersebut, kemudian ia melangkah
melakukannya. Namun jika kondisinya sebaliknya, jiwa akan menyusut (enggan)
darinya, membencinya, dan menahan diri darinya, baik itu berupa perbuatan
maupun tindakan meninggalkan.
Proses
penimbangan ini terkadang berlangsung sangat cepat dan tidak dirasakan, sampai
pada tingkat di mana manusia terkadang melakukan atau meninggalkan sesuatu
tanpa pertimbangan atau pemikiran. Di waktu yang lain, proses penimbangan dan
penilaian ini tidak selesai kecuali setelah perenungan dan berlalunya waktu
yang lama, bahkan terkadang proses ini tidak selesai sehingga manusia
terombang-ambing dalam keraguan antara melakukan atau meninggalkan. Namun,
dalam semua keadaan, proses penimbangan dan penilaian ini pasti terjadi pada
setiap perbuatan atau tindakan meninggalkan tanpa terkecuali.
Proses
penimbangan perbuatan dan tindakan meninggalkan dengan timbangan akhlak ini,
serta benar atau rusaknya timbangan tersebut, beserta sejauh mana komitmen
manusia terhadap konsekuensinya dan pelaksanaannya, semua itu bergantung pada
jenis makna akhlak yang diembannya dari segi baik atau buruknya, sejauh mana
kemantapan makna tersebut di dalam jiwanya, bagaimana ia terwarnai olehnya,
antusiasmenya terhadapnya, kecemburuannya atasnya, serta perasaannya akan
kebutuhan mendesak dirinya terhadap akhlak tersebut.
Sebab,
tidaklah cukup bagi munculnya pengaruh akhlak dalam perbuatan dan tindakan
meninggalkan manusia hanya dengan mengetahui mana akhlak yang baik dan yang
buruk, lalu menyimpan pengetahuan ini di dalam kepalanya dan membicarakannya
pada momen-momen tertentu saja. Melainkan, mutlak diperlukan adanya
internalisasi (pewarnaan) eksistensi dirinya dengan akhlak tersebut dan
kemantapannya di lubuk jiwanya yang paling dalam, sehingga akhlak tersebut
menjadi bagaikan warna hitam atau putih bagi kulit yang hitam atau putih. Serta
akhlak tersebut harus senantiasa hadir dalam benaknya, mengendalikan
perilakunya, ia antusias terhadapnya, dan cemburu atasnya hingga mencapai
tingkat keimanan bahwa kehidupan ini tidak dapat menjadi pengganti yang sepadan
bagi kelalaian terhadap satu saja dari makna akhlak mulia islami yang
diembannya...
Oleh
karena inilah Islam menegaskan makna-makna akhlak yang dituntut, menumbuhkan
kerinduan kepadanya, mendorong jiwa untuk memilikinya, serta mengulang-ulangnya
agar seorang muslim senantiasa mengingatnya dan terwarnai dengannya, sehingga
pengaruhnya terlihat jelas dalam perilakunya.
Kedudukan
Akhlak dalam Islam
Akhlak
dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat agung, yang tampak dari banyak sisi,
di antaranya kami sebutkan hal-hal berikut:
·
Pertama: Alasan
diutusnya risalah adalah untuk meluruskan akhlak dan menyebarkan akhlak yang
mulia. Disebutkan dalam hadis syarif dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sesungguhnya
aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."
·
Kedua: Pendefinisian
agama dengan akhlak yang baik. Sungguh telah disebutkan dalam sebuah hadis
mursal bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
lalu berkata: "Wahai Rasulullah, apakah agama itu?" Maka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akhlak yang
baik."
Ini berarti bahwa akhlak yang baik adalah rukun Islam yang
agung, yang mana agama tidak dapat tegak tanpanya, sebagaimana wukuf di Arafah
bagi ibadah haji. Di mana telah disebutkan dalam hadis syarif: "Haji
itu adalah Arafah," artinya rukun haji yang agung yang haji tidak sah
tanpanya adalah wukuf di Arafah.
·
Ketiga: Di antara
hal yang paling banyak memperberat timbangan kebaikan pada hari perhitungan
(hisab) adalah akhlak yang baik. Disebutkan dalam hadis syarif dari Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam: "Perkara yang paling berat diletakkan
dalam timbangan (mizan) pada hari kiamat adalah takwa kepada Allah dan akhlak
yang baik."
·
Keempat: Orang-orang
mukmin itu bertingkat-tingkat dalam keimanan mereka, dan yang paling utama
keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Disebutkan dalam hadis:
Dikatakan, "Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama
keimanannya?" Beliau bersabda: "Yang paling baik akhlaknya di
antara mereka."
·
Kelima: Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu berbeda-beda dalam meraih kecintaan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam dan kedekatan posisi dengan beliau pada hari
kiamat. Dan orang muslim yang paling beruntung mendapatkan kecintaan Rasulullah
serta kedekatan dengan beliau adalah orang-orang mukmin yang baik akhlaknya
hingga mereka menjadi lebih baik daripada yang lain dalam hal tersebut.
Disebutkan dalam hadis syarif dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sesungguhnya
orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat
duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara
kalian."
·
Keenam: Sesungguhnya
akhlak yang baik merupakan perkara yang wajib dan syarat yang harus ada demi
keselamatan dari api neraka dan keberuntungan meraih surga. Kelalaian terhadap
syarat ini tidak dapat ditutupi bahkan oleh shalat dan puasa sekalipun.
Disebutkan dalam hadis bahwa sebagian muslim berkata kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa si fulanah rajin berpuasa di siang hari dan
mendirikan shalat di malam hari, namun ia buruk akhlaknya, ia menyakiti
tetangganya dengan lisannya. Beliau bersabda: "Tidak ada kebaikan
padanya, dia termasuk penduduk neraka."
·
Ketujuh:
Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa berdoa kepada
Tuhannya agar memperbaiki akhlaknya—padahal beliau adalah pemilik akhlak yang
sangat baik—dan agar menunjukinya kepada akhlak yang paling baik. Beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam terbiasa mengucapkan dalam doanya: "Ya
Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaan (fisik)ku, maka
perbaguslah akhlakku."
Dan beliau mengucapkan: "Ya Allah, tunjukilah aku
kepada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang dapat menunjuki kepada
akhlak yang paling baik melainkan Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang
buruk, karena tidak ada yang dapat memalingkan dariku akhlak yang buruk
melainkan Engkau."
Dan telah diketahui bersama bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam tidak berdoa melainkan dengan apa yang dicintai oleh Allah
dan yang mendekatkan diri kepada-Nya.
·
Kedelapan: Allah
Ta'ala memuji Rasul-Nya yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam dengan akhlak
yang baik, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an al-Karim: “Dan
sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [QS. Al-Qalam:
4].
Dan Allah Ta'ala tidak memuji Rasul-Nya melainkan dengan
sesuatu yang agung, yang mana hal ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan
akhlak dalam Islam.
·
Kesembilan:
Banyaknya ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema akhlak; baik berupa
perintah terhadap akhlak yang baik, pujian bagi orang-orang yang bersifat
dengannya yang disertai dengan pahala, maupun larangan dari akhlak yang buruk
serta celaan bagi orang yang bersifat dengannya yang disertai dengan siksaan.
Tidak diragukan lagi bahwa banyaknya ayat dalam tema akhlak menunjukkan
urgensinya. Dan di antara hal yang menambah urgensi ini adalah bahwa ayat-ayat
ini ada yang turun di Mekah sebelum hijrah (Makkiyah), dan ada pula yang turun
di Madinah setelah hijrah (Madaniyah). Hal ini menunjukkan bahwa akhlak adalah
perkara yang sangat penting yang tidak dapat dilepaskan dari seorang muslim,
dan bahwa menjaga akhlak mengikat seorang muslim dalam segala keadaan. Dengan
demikian, akhlak menyerupai perkara akidah dari sisi perhatian Al-Qur'an
terhadapnya, baik dalam surah-surah Makkiyah maupun Madaniyah secara seimbang.
Karakteristik
Sistem Akhlak dalam Islam
Sistem
akhlak dalam Islam dibedakan oleh sekumpulan karakteristik, di antaranya:
perincian akhlak, universalitas (cakupan yang luas), keharusannya baik dalam
wasilah (sarana) maupun ghayah (tujuan), keterkaitannya dengan makna iman dan
takwa, serta adanya balasan (pahala/siksa) di dalamnya. Berikut ini kami
jelaskan karakteristik-karakteristik tersebut secara ringkas:
Generalisasi
(Keumuman) dan Perincian dalam Akhlak
Islam
menyeru kepada akhlak yang mulia dengan seruan yang bersifat umum. Di antara
contohnya adalah apa yang tercantum dalam Al-Qur'an al-Karim:
“Dan
katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
lebih baik (benar)’. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di
antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
[QS. Al-Isra: 53].
Dan
perkataan yang lebih baik merupakan seruan umum untuk ucapan yang baik yang
dituntut dalam segala jenisnya pada pembicaraan dan dialog mereka. Dan dalam
firman Allah Ta'ala:
“...dan
Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [QS. An-Nahl:
90].
Ini
adalah seruan umum untuk menjauhi kehinaan-kehinaan akhlak. Di dalam Sunah
Nabawiyah pun terdapat banyak sekali seruan umum menuju akhlak ini, di
antaranya:
"Bertakwalah
kepada Allah di mana pun kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan
perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, serta pergauhilah manusia dengan
akhlak yang baik."
Dan
akhlak yang baik mengumpulkan segala jenis akhlak yang terpuji. Serta dalam
hadis:
"Sesungguhnya
seorang hamba benar-benar mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat
malam karena kebaikan akhlaknya."
Islam
tidak hanya merasa cukup dengan seruan yang bersifat umum untuk menghiasi diri
dengan akhlak yang baik dan membersihkan diri dari akhlak yang buruk, melainkan
Islam memperinci penjelasan pada kedua golongan tersebut, lalu
menerangkan jenis-jenis dari setiap golongan. Hikmah di balik penjelasan yang
rinci ini adalah untuk memperjelas makna-makna akhlak serta batas-batasnya,
agar manusia tidak berselisih di dalamnya dan agar hawa nafsu tidak ikut campur
dalam menentukan apa yang dimaksud darinya. Di antara bentuk kasih sayang Allah
kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia menjelaskan kepada mereka apa yang harus
mereka takuti, apa yang harus mereka ambil, dan apa yang harus mereka
tinggalkan. Berikut ini kami sebutkan contoh-contoh perincian akhlak di dalam
Al-Qur'an dan Sunah Nabawiyah yang suci.
Contoh-Contoh
dari Al-Qur'an tentang Perincian Akhlak
·
a) Memenuhi Janji:
“...dan
penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.”
[QS. Al-Isra: 34].
·
b) Larangan Berbicara
Tanpa Ilmu:
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.” [QS. Al-Isra: 36].
·
c) Larangan Berjalan
dengan Angkuh dan berlenggak-lenggok sebagaimana yang dilakukan oleh
orang-orang sombong:
“Dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya
kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan
sampai setinggi gunung.” [QS. Al-Isra: 37].
·
d) Larangan
Berlebih-lebihan (Israf), Mubazir, Kikir, dan Pelit:
“Dan
berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin
dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan
(hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
[QS. Al-Isra: 26-27].
“Dan
janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu
terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” [QS.
Al-Isra: 29].
·
e) Perintah untuk
Berlaku Adil dalam Segala Keadaan dan terhadap semua orang, bahkan kepada
orang-orang kafir sekalipun:
“Dan
apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah
kerabat(mu)...” [QS. Al-An'am: 152].
“...dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
[QS. Al-Ma'idah: 8].
·
f) Saling Menolong dalam
Kebajikan dan Takwa serta hal-hal yang bermanfaat bagi manusia, dan
larangan saling menolong dalam kezaliman dan permusuhan:
“...Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al-Ma'idah: 2].
·
g) Kezaliman adalah
Kegelapan pada Hari Kiamat, dan akibatnya sangat fatal. Kezaliman itu
bermacam-macam, yang paling buruk adalah mengada-adakan kedustaan terhadap
Allah dan melanggar batas-batas Allah. Orang yang zalim terputus hubungannya
dengan Allah, sehingga ia terhina dan tidak ditolong. Karena alasan inilah
Islam melarang kezaliman:
“...Dan
orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan
kembali.” [QS. Asy-Syu'ara: 227].
“Dan
siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah
atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak
mendapat keberuntungan.” [QS. Al-An'am: 21].
“...Itulah
batas-batas hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang
melanggar batas-batas hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.”
[QS. Al-Baqarah: 229].
“...Dan
tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.” [QS.
Al-Baqarah: 270].
·
h) Sabar dalam Keimanan
Berkedudukan seperti Kepala bagi Tubuh. Maka mutlak bagi seorang mukmin
untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah dan bersabar menghadapi takdir
Allah, dan dengan demikian ia menjadi bagian dari orang-orang yang berbuat baik
(muhsinin), sedangkan rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat
baik. Oleh karena itu, Islam memerintahkan untuk bersabar:
“Hai
orang-orang yang baimiman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah,
supaya kamu beruntung.” [QS. Ali 'Imran: 200].
“Dan
bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang
yang berbuat kebaikan.” [QS. Hud: 115].
“Maka
bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali
janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu
menggelisahkan kamu.” [QS. Ar-Rum: 60].
·
i) Jujur (Shidiq)
Termasuk Tanda-Tanda Keimanan dan Buahnya. Oleh karena itu, Islam
memerintahkannya:
“Hai
orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar.” [QS. At-Tawbah: 119].
“Dan
katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan
keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari
sisi-Mu kekuasaan yang menolong’.” [QS. Al-Isra: 80].
·
j) Dusta Merupakan Suatu
Kehinaan yang pelakunya tidak akan mendapatkan petunjuk Allah, serta
membuahkan kemunafikan di dalam hati. Oleh karena itu, Islam melarang dan
memperingatkan darinya:
“...Sesungguhnya
Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” [QS.
Ghafir: 28].
“Maka
Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada hari mereka
menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah
mereka janjikan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” [QS.
At-Tawbah: 77].
·
k) Sombong, Ujub (Bangga
Diri), Kikir, Membanggakan Diri, dan Riya merupakan kehinaan-kehinaan dan
penyakit-penyakit yang menjangkiti hati, sehingga membutakannya, menghapus
cahayanya, dan menjauhkan pelakunya dari Allah Ta'ala. Oleh karena itu, datang
larangan darinya:
“Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah
kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Luqman: 18].
“...Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri, (yaitu)
orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan
menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami
telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. Dan (juga)
orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian.
Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu
adalah teman yang seburuk-buruknya.” [QS. An-Nisa: 36-38].
·
l) Bersikap
Adil/Pertengahan dalam Berjalan antara lambat dan cepat dituntut dari
seorang muslim, begitu pula merendahkan suara dan tidak meninggikannya tanpa
keperluan juga dituntut dari seorang muslim:
“Dan
sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” [QS. Luqman: 19].
·
m) Teguh di atas
Kebenaran (Thabat) serta Kontinu (Istikamah) dalam ketaatan dan ibadah
merupakan perkara-perkara yang dituntut, karena segala urusan itu dinilai dari
akhirnya. Tanpa adanya istikamah, kontinuitas, dan keteguhan di atas kebenaran,
maka buahnya akan hilang, seorang muslim tidak akan mencapai tujuan, dan ia
akan terputus dari rombongan orang-orang saleh. Karena alasan inilah, wajib
bagi seorang muslim untuk memiliki keteguhan yang besar terhadap makna-makna
keimanan dan istikamah di atasnya agar meraih keberuntungan dan keridaan:
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka (istikamah), maka malaikat akan turun kepada mereka
dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan
gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’...”
[QS. Fussilat: 30].
·
n) Surga adalah Negeri
bagi Orang-Orang yang Baik, yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang
yang bertakwa, yang mana di antara akhlak baik mereka adalah berinfak dalam
segala keadaan, baik dalam kemudahan maupun kesulitan. Mereka berinfak sesuai
dengan kadar harta yang mereka miliki dan tidak kikir untuk berinfak meskipun
jumlahnya sedikit. Dan di antara akhlak mereka adalah mereka tidak menuntut
seluruh hak mereka dari manusia, melainkan meninggalkan sebagian hak tersebut
untuk mereka sebagai bentuk perbuatan baik (ihsan) kepada mereka:
“Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [QS. Ali 'Imran: 133-134].
·
s) Larangan dari Rasa
Dendam (Ghil) dan Dengki:
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:
‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman
lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati
kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang’.” [QS. Al-Hasyr: 10].
·
c) Obat bagi Orang yang
Bodoh (Jahil) adalah Berpaling Darinya, meninggikannya, dan membiarkannya
dengan urusannya. Dengan hal inilah Islam memerintahkan:
“Jadilah
engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah
daripada orang-orang yang bodoh.” [QS. Al-A'raf: 199].
·
f) Di Antara
Wasiat-Wasiat Islam yang Mencakup Segalanya bagi hamba-hamba-Nya yang
beriman dalam bab akhlak adalah firman Allah Ta'ala:
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan
kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.
Dan janganlah pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh
jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah suka mencela
dirimu sendiri dan janganlah memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah iman dan
barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena
sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang
dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang
suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat
lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Hujurat: 11-12][2].
·
sh) Di Antara Ayat-Ayat
yang Mengumpulkan Banyak dari Akhlak Orang-Orang Mukmin, dan menjadikan
akhlak-akhlak ini sebagai tanda atas keimanan mereka adalah firman Allah
Ta'ala:
“Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam
sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan
perkataan) yang tiada berguna[3], dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan
orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka
atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada
tercela. Barangsiapa mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang
melampaui batas[4]. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang
dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka
itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yaitu) yang akan mewarisi surga
Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Mu'minun: 1-11][5].
Begitu
pula firman Allah Ta'ala:
“Dan
hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati[6] dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan[7]. Dan orang yang
melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan
orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami,
sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal’[8], sesungguhnya
jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang
yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula)
kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian[9].
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang
benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya
dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)[10], (yakni) akan dilipat gandakan azab
untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan
terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh;
maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertobat dan mengerjakan
amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang
sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu[11],
dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan
yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan
dirinya[12]. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat
Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan
buta[13]. Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada
kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’[14]. Mereka itulah orang
yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka
dan mereka disambut dengan penghormatan dan salam di dalamnya, mereka kekal di
dalamnya. Surga itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” [QS.
Al-Furqan: 63-76][15].
Contoh-Contoh
dari Sunah Nabawiyah tentang Perincian Akhlak
·
a) Tentang Larangan
Marah: Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda:
"Janganlah
kamu marah."
·
b) Tentang Rasa Malu:
Telah diriwayatkan banyak hadis, di antaranya:
"Rasa
malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan."
"Rasa
malu itu kebaikan seluruhnya."
"Sesungguhnya
setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu."
"Jika
kamu tidak malu, maka perbuatlah apa yang kamu kehendaki."
·
c) Tentang Saling
Menolong:
"Dan
Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut mau menolong
saudaranya."
·
d) Tentang Hak-Hak
Sesama Muslim dan Larangan dari Sebagian Akhlak Buruk:
"Janganlah
kalian saling mendengki, janganlah saling melakukan najas (menawar barang untuk
menipu), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi (memutus
hubungan), dan janganlah sebagian dari kalian menjual di atas jualan sebagian
yang lain. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim
adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh ia menzaliminya, tidak boleh
menelantarkannya (tidak menolongnya), tidak boleh membohonginya, dan tidak
boleh menghinanya. Takwa itu ada di sini—beliau mengisyaratkan ke dada
syarifnya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seorang muslim dikatakan melakukan
keburukan jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim
yang lain adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya."
·
e) Larangan dari Akhlak
Orang-Orang Munafik:
"Tanda
orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia
mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat."
"Ada
empat perkara yang barangsiapa memilikinya maka ia menjadi munafik murni, dan
barangsiapa yang memiliki satu perangai dari empat perkara tersebut, maka di
dalam dirinya terdapat satu perangai kemunafikan sampai ia meninggalkannya:
apabila dipercaya ia berkhianat, apabila berbicara ia berdusta, apabila
berjanji ia berkhianat (ingkar), dan apabila berselisih ia berbuat fujur
(melampaui batas)."
·
f) Tentang Sifat Santun
(Hilm) dan Tidak Tergesa-gesa (Anah): Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda kepada Al-Asyaj bin Abdul Qais:
"Sesungguhnya
pada dirimu terdapat dua perangai yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu
sifat santun dan tidak tergesa-gesa."
·
g) Tentang Kelembutan
(Rifq):
"Sesungguhnya
Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan."
·
h) Tentang Riya, Sum'ah,
dan Ikhlas: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang
seorang laki-laki yang berperang karena keberanian, berperang karena fanatisme
golongan (hamiyyah), dan berperang karena riya; manakah di antara semua itu
yang berada di jalan Allah? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
"Barangsiapa
yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang
berada di jalan Allah."
"Sesungguhnya
setiap amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya
akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada
Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa
yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin
dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia berhijrah
kepadanya."
·
i) Tentang Larangan
Debat Kusir (Mira') dan Membangkang:
"Barangsiapa
yang meninggalkan debat kusir padahal ia berada di atas kebenaran, maka akan
dibangunkan baginya sebuah rumah di tengah surga. Dan barangsiapa yang
meninggalkan debat kusir padahal ia berada di atas kebatilan, maka akan
dibangunkan baginya sebuah rumah di pinggiran surga."
"Tidaklah
suatu kaum menjadi sesat setelah sebelumnya Allah memberi petunjuk kepada
mereka, melainkan karena mereka diberikan (gemar melakukan) perdebatan."
·
j) Tentang Lisan yang
Kotor/Kasar:
"Bukanlah
seorang mukmin itu orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berbuat keji,
dan bukan pula orang yang berkata kotor."
·
k) Tentang Ujub dan
Sifat Pelit (Syuhh):
"Tiga
perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti,
dan rasa ujub (bangga diri) seseorang terhadap pendapatnya sendiri."
·
l) Meninggalkan
Perkataan yang Tidak Bermanfaat bagimu:
"Di
antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang tidak
bermanfaat baginya."
·
m) Meninggalkan
Perkataan yang Berlebihan:
"Beruntunglah
bagi orang yang menahan kelebihan (ucapan) dari lisannya, dan menginfakkan
kelebihan dari hartanya."
·
n) Menimbang Perkataan
dengan Timbangan Islam Sebelum Mengucapkannya:
"Sesungguhnya
ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu kalimat yang termasuk keridaan
Allah, yang ia tidak mengira kalimat itu akan mencapai apa yang dicapainya,
lalu Allah menuliskan keridaan-Nya bagi orang tersebut karena kalimat itu
sampai hari Kiamat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan
suatu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, yang ia tidak mengira kalimat itu
akan mencapai apa yang dicapainya, lalu Allah menuliskan kemurkaan-Nya atas
orang tersebut karena kalimat itu sampai hari Kiamat."
·
s) Tentang Amanah dan
Memenuhi Janji:
"Tidak
ada keimanah bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama
bagi orang yang tidak menepati janji."
Dan
seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kapan
terjadinya hari Kiamat?" Beliau bersabda kepadanya: "Apabila
amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat." Laki-laki itu
bertanya: "Bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?" Beliau
bersabda: "Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya,
maka tunggulah hari Kiamat."
·
c) Tentang Jujur dan
Dusta:
"Hendaklah
kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menunjuki kepada kebaikan, dan
kebaikan itu menunjuki kepada surga. Dan senantiasa seseorang berlaku jujur dan
berusaha untuk jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur
(shiddiq). Dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta, karena dusta itu menunjuki
kepada kejahatan (fujur), dan kejahatan itu menunjuki kepada neraka. Dan
senantiasa seorang hamba berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga ia dicatat
di sisi Allah sebagai seorang pendusta."
·
f) Tentang Kekuatan dan
Keteguhan Tekad:
"Mukmin
yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang
lemah, dan pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah
terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan
janganlah merasa lemah. Jika kamu ditimpa oleh sesuatu, maka janganlah kamu
berkata: 'Seandainya aku melakukan begini niscaya akan menjadi begitu', akan
tetapi katakanlah: 'Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti
Dia perbuat', karena sesungguhnya kata 'seandainya' itu membuka pintu amalan
syaitan."
·
sh) Mengikuti dalam
Kebaikan, Bukan dalam Keburukan:
"Janganlah
salah seorang di antara kalian menjadi imma'ah (ikut-ikutan tanpa prinsip),
dengan berkata: 'Aku bersama manusia, jika manusia berbuat baik maka aku
berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk maka aku pun berbuat buruk.' Akan
tetapi mantapkanlah diri kalian; jika manusia berbuat baik hendaklah kalian
berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk hendaklah kalian menjauhi keburukan
mereka."
·
sy) Ketegasan dan
Kewaspadaan:
"Tidak
selayaknya seorang mukmin tersengat (disengat serangga) dari lubang yang sama
sebanyak dua kali."
·
dh) Larangan dari
Menghinakan Diri sendiri:
"Tidak
sepatutnya bagi seorang mukmin untuk menghinakan dirinya sendiri..."
·
th) Tentang Saling
Mencintai, Saling Menyayangi, dan Saling Mengasihi:
"Perumpamaan
orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling
mengasihi adalah bagaikan satu tubuh; apabila ada salah satu anggota tubuh yang
sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain ikut merasakan tidak bisa tidur dan
demam."
[2]
s.d [15] Merupakan penanda nomor catatan kaki/catatan penjelasan lafaz yang ada
pada teks asli.
Kedua
– Universalitas (Cakupan yang Luas) Akhlak
Di
antara karakteristik sistem akhlak dalam Islam adalah syumul
(universal/mencakup segala hal). Yang kami maksud dengannya adalah bahwa
lingkaran akhlak islami itu sangat luas sekali, karena ia mencakup seluruh
perbuatan manusia yang khusus bagi dirinya sendiri maupun yang berkaitan dengan
orang lain, baik orang lain itu berupa individu, kelompok, ataupun negara. Maka
tidak ada satu pun yang keluar dari lingkaran akhlak dan keharusan menjaga
makna-makna akhlak ini, suatu hal yang tidak akan kita temukan tandingannya
dalam syariat samawi (agama langit) terdahulu mana pun, dan tidak juga dalam
hukum buatan manusia mana pun.
Kami
sebutkan di sini sebagai contoh saja, sejauh mana perhatian terhadap akhlak
dalam hubungan Negara Islam dengan negara-negara lainnya, agar menjadi jelas
bagi kita betapa besarnya komitmen Islam untuk berpegang teguh pada makna-makna
akhlak. Alasan mengapa kami memilih hubungan (internasional) ini adalah karena
adanya anggapan yang tersebar di tengah manusia—dan didukung oleh
realitas—bahwa hubungan antarnegara tidak tegak di atas dasar pertimbangan
akhlak, bahkan sampai ada salah seorang dari mereka yang mengatakan: "Tidak
ada tempat bagi akhlak dalam hubungan internasional." Oleh karena itu,
tipu daya, penyesatan, pengkhianatan, dan dusta dianggap sebagai bagian dari
kecerdikan dalam berpolitik.
Islam
menolak pandangan yang sakit ini. Islam menganggap apa yang buruk dalam
hubungan antar-individu, juga buruk dalam hubungan antarnegara. Dan Islam
menganggap apa yang dituntut dan indah dalam hubungan antar-individu, juga
dituntut dan indah dalam hubungan antarnegara. Oleh karena itu, telah menjadi
ketetapan dalam syariat Islam bahwa Negara Islam wajib berkomitmen pada
makna-makna akhlak. Ketetapan ini ada di dalam Al-Qur'an al-Karim, Sunah
Nabawiyah yang suci, dan di dalam perkataan para ahli fikih (fuqaha), di
antaranya:
- Pertama: Allah Ta'ala
berfirman:
“Dan
jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka
kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” [QS. Al-Anfal: 58].
Artinya,
jika tampak pengkhianatan dari orang-orang yang mengikat janji denganmu dan
telah terbukti bukti-buktinya, maka umumkanlah kepada mereka tentang pembatalan
perjanjian mereka secara terbuka agar kalian dan mereka sama-sama mengetahui
(bahwa perjanjian telah berakhir). Karena Allah Ta'ala tidak menyukai
orang-orang yang berkhianat, meskipun pengkhianatan itu dilakukan terhadap kaum
kafir dan merekalah yang memulai pembatalan janji tersebut.
- Kedua: Di antara
syarat-syarat Perjanjian Hudaybiyah antara Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam dengan kaum musyrik Quraisy adalah bahwa barangsiapa dari kaum
Quraisy yang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
keadaan muslim, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam harus
mengembalikannya (kepada mereka) dan tidak boleh melindunginya. Setelah
selesai penulisan perjanjian tersebut, datanglah Abu Jandal dari kaum
Quraisy dalam keadaan muslim dan menampakkan keislamannya, sambil
berteriak meminta tolong kepada kaum muslimin agar mereka melindunginya
dan menjaganya dari kaum Quraisy. Maka Rasul yang mulia shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
"Sesungguhnya
kita telah membuat kesepakatan perdamaian antara kita dan kaum tersebut, dan
kita telah memberikan janji kepada mereka atas hal itu begitu pula mereka telah
memberikan janji kepada kita, dan sesungguhnya kita tidak akan mengkhianati mereka."[16]
- Ketiga: Para ahli
fikih berkata: Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengkhianati penduduk
Darul Harb (wilayah kafir yang memerangi Islam) apabila ia memasuki negeri
mereka dengan jaminan keamanan dari mereka, karena pengkhianatan terhadap
mereka adalah bentuk ingkar janji (gadr), sedangkan perbuatan ingkar janji
tidak dibenarkan sama sekali dalam agama Islam[17].
- Keempat: Para ahli
fikih mazhab Hambali berkata: "Apabila orang-orang kafir
melepaskan tawanan muslim dan mereka menyumpahinya agar ia mengirimkan
tebusan kepada mereka atau ia harus kembali kepada mereka, maka wajib
baginya untuk memenuhinya." Allah Ta'ala berfirman:
“Dan
tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji...” [QS. An-Nahl:
91].
Dan
karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Sesungguhnya
tidak dibenarkan perbuatan ingkar janji dalam agama kita."[18]
- Kelima: Apabila Darul
Harb memungut pajak atas harta yang dibawa oleh rakyat Darul Islam yang
memasuki wilayah mereka dengan jumlah yang dapat menghabiskan harta
tersebut, atau mereka mengambil pajak yang besar dari harta yang sedikit
yang tidak sebanding dengan harta tersebut, maka Darul Islam tidak akan
membalas mereka dengan tindakan serupa (membalas setimpal dalam hal
buruk). Para ahli fikih memberikan alasan atas pendapat mereka ini bahwa
perbuatan penduduk Darul Harb tersebut adalah bentuk ingkar janji dan kezaliman,
maka kita tidak membalas mereka dengan ingkar janji dan kezaliman, karena
kita telah dilarang untuk berakhlak dengan akhlak seperti itu meskipun
mereka mempraktikkannya[19].
Ketiga
– Keharusan Akhlak dalam Sarana (Wasilah) dan Tujuan (Ghayah)
12-
Karakteristik ketiga dari sistem akhlak dalam Islam adalah bahwa komitmen
terhadap konsekuensi akhlak dituntut baik dalam sarana maupun tujuan. Maka
tidak diperbolehkan mencapai tujuan yang mulia dengan menggunakan sarana yang
keji (buruk). Oleh karena itu, tidak ada tempat dalam konsep akhlak islami bagi
prinsip yang khabis (busuk) yaitu: "Tujuan menghalalkan cara
(sarana)," yang mana itu adalah prinsip yang merosot kepada kita dari
negeri-negeri kafir.
Hal
yang menunjukkan hal tersebut—yakni tentang keharusan legalitas sarana dan
penjagaan makna-makna akhlak di dalamnya—adalah firman Allah Ta'ala:
“...Jika
mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu
wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian
antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
[QS. Al-Anfal: 72].
Ayat
yang mulia ini mewajibkan kaum muslimin untuk menolong saudara-saudara mereka
yang dizalimi demi menunaikan hak persaudaraan dalam agama. Akan tetapi,
apabila pertolongan kepada mereka itu menuntut pembatalan (secara sepihak)
terhadap perjanjian yang ada dengan kaum kafir yang zalim tersebut, maka
pertolongan itu tidak diperbolehkan; karena sarana untuk menolongnya adalah
pengkhianatan dan pembatalan janji, sedangkan Islam sangat membenci
pengkhianatan dan membenci orang-orang yang berkhianat.
Keempat
– Hubungan Akhlak dengan Iman dan Takwa kepada Allah
13-
Akhlak dalam Islam terhubung erat dengan keimanan dan takwa kepada Allah. Allah
Ta'ala berfirman:
“...maka
terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” [QS. At-Tawbah: 4].
Maka
memenuhi janji adalah bagian dari takwa kepada Allah dan bagian dari kecintaan
kepada Allah, dan termasuk bagian dari iman adalah bersegera menuju apa yang
dicintai oleh Allah Ta'ala.
Di
dalam hadis disebutkan:
"Tidak
ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama
bagi orang yang tidak menepati janji."
Maka
iman itu pastilah melahirkan akhlak yang baik, yang mana puncaknya adalah sifat
amanah dan menjaga janji. Barangsiapa yang kehilangan sifat amanah dan
menyia-nyiakan janji, maka hal itu menjadi tanda atas kosongnya dirinya dari
makna-makna keimanan yang dituntut darinya serta kelalaiannya terhadap takwa
kepada Allah.
Di
dalam hadis yang lain disebutkan:
"Demi
Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!"
Ditanyakan: "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Yaitu
orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya (keburukannya)."
Maka
hadis yang syarif ini menunjukkan bahwa akhlak yang buruk itu menafikan
keimanan dan bertolak belakang dengannya, serta tidak akan berkumpul bersama
antara keimanan dengan akhlak yang buruk.
Kelima
– Balasan (Sanksi dan Pahala)
14-
Di antara karakteristik sistem akhlak dalam Islam adalah adanya جزاء
(balasan/sanksi/pahala), karena Islam membawa akhlak dalam bentuk perintah dan
larangan. Tindakan mendurhakai perintah syariat atau melakukan apa yang
dilarang darinya merupakan sebab datangnya siksaan. Allah Ta'ala berfirman:
“Kecelakaanlah
bagi setiap pengumpat lagi pencela.” [QS. Al-Humazah: 1].
Sebagaimana
berkomitmen pada batasan-batasan syariat dan menaatinya merupakan sebab
mendapatkan pahala yang baik.
Balasan
bagi orang yang menyelisihi batasan-batasan syariat dalam hal akhlak adakalanya
terjadi di dunia. Maka saksi palsu, orang yang kotor lisannya, pengkhianat, dan
yang sejenisnya akan dihukum oleh hakim muslim dengan hukuman takzir. Serta
tindakan melanggar sumpah—yaitu tidak memenuhi janji yang telah dikuatkan
dengan nama Allah—akan berkonsekuensi wajibnya membayar kafarat sumpah, dan di
dalam kafarat tersebut terkandung makna hukuman (sanksi) sebagaimana yang
dikatakan oleh para ahli fikih.
Adakalanya
juga balasan di dunia itu berupa kebinasaan bagi suatu kelompok masyarakat yang
di dalamnya telah tersebar luas akhlak yang buruk. Balasan ini telah
diisyaratkan oleh hadis syarif:
"Sesungguhnya
yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka dahulu apabila
orang yang terhormat di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya (tidak
dihukum), dan apabila orang yang lemah mencuri, mereka menegakkan hukuman had
atasnya..."
Contoh
lainnya adalah menyebarnya sifat pengecut di tengah umat, dan membiarkan
orang-orang zalim bertindak semena-mena terhadap hak-hak manusia tanpa ada
pengingkaran terhadap mereka karena rasa takut kepada mereka, sifat pengecut,
dan lebih memilih kehinaan serta kehidupan yang merendahkan. Maka akhlak-akhlak
tercela ini menjadi sebab bagi kebinasaan umat atau ditimpakannya keburukan
yang besar atau bahaya fatal yang akan menimpa baik orang yang berdosa maupun
orang yang tidak berdosa. Allah Ta'ala berfirman:
“Dan
peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zalim saja di antara kamu...” [QS. Al-Anfal: 25].
Apakah
Akhlak Bisa Diperoleh (Diusahakan) dan Diperbaiki?
15-
Sekarang, setelah kami menjelaskan kedudukan akhlak dalam Islam, sejauh mana
pengaruhnya dalam amal perbuatan, serta apa yang diakibatkannya berupa pahala
dan siksaan, kita bertanya: Apakah mungkin memperbaiki akhlak, memperoleh
akhlak yang baik, dan melepaskan diri dari akhlak yang buruk? Ataukah akhlak
itu merupakan sifat-sifat pasti yang diciptakan di dalam diri manusia dan ia
tercetak di atasnya sehingga ia tidak mungkin mengubahnya, menggantinya, maupun
memodifikasinya, sebagaimana ia tidak mungkin mengubah sifat-sifat fisiknya
berupa tinggi, pendek, dan warna kulit?
Jawaban
atas pertanyaan ini, sebagaimana yang tampak bagi kami, diringkas dalam hal-hal
berikut:
·
Pertama:
Sesungguhnya akhlak secara garis besar dapat diperbaiki dan dimodifikasi,
sebagaimana mungkin juga memperoleh akhlak yang baik dan melepaskan diri dari
akhlak yang buruk, begitu pula sebaliknya. Dalil kami atas hal tersebut adalah
bahwa syariat memerintahkan untuk berakhlak dengan akhlak yang baik dan
melarang berakhlak dengan akhlak yang buruk. Seandainya hal itu tidak mungkin
dan berada di luar kemampuan manusia, niscaya syariat tidak akan membawanya.
Islam tidak pernah memerintahkan hal yang mustahil. Di antara kaidah usul fikih
dalam fikih Islam berbunyi: "Tidak ada pembebanan hukum (taklif)
kecuali pada hal yang mampu dilakukan," atau "Tidak ada
pembebanan hukum pada hal yang mustahil."
Atas
dasar ini, setiap manusia memiliki kecakapan dan kemampuan untuk menghiasi diri
dengan akhlak yang baik dan melepaskan diri dari lawan-lawannya, sebagaimana ia
juga memiliki kecakapan dan kemampuan untuk melakukan kebalikannya. Hal ini
dapat dikuatkan dengan firman Allah Ta'ala:
“Dan
jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa
itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
[QS. Asy-Syams: 7-10].
Akan
tetapi, meskipun demikian, manusia memang bertingkat-tingkat dalam kadar
kecakapan, kemampuan, dan kesiapan mereka untuk memperoleh akhlak atau
memodifikasinya, sebagaimana mereka juga berbeda dalam kadar kecakapan,
kemampuan, dan kesiapan mereka untuk menerima berbagai macam ilmu atau memahami
fakta-fakta yang rumit, dikarenakan perbedaan akal dan tingkat kecerdasan
mereka.
·
Kedua: Sesungguhnya
sebagian manusia terkadang diberi watak asli (jabal) atas sebagian akhlak,
sehingga akhlak-akhlak ini menonjol pada diri mereka dan terlihat jelas dalam
perilaku mereka. Dalil kami atas hal ini adalah hadis Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, yang di dalamnya disebutkan
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Al-Asyaj bin
Abdul Qais:
"Sesungguhnya
pada dirimu terdapat dua perangai yang dicintai oleh Allah Ta'ala dan
Rasul-Nya, yaitu sifat santun (hilm) dan tidak tergesa-gesa (anah)."
Ia bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah aku yang mengusahakan keduanya
ataukah Allah Ta'ala yang telah membentuk watakku di atas keduanya?"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Melainkan Allah
yang telah membentuk watakmu di atas keduanya." Maka ia berkata: "Segala
puji bagi Allah yang telah membentuk watakku di atas dua perangai yang dicintai
oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya."[20]
Tidak
diragukan lagi bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam hal akhlak yang menjadi
watak asli mereka, sebagaimana mereka bertingkat-tingkat dalam kekuatan
pemahaman dan kecerdasan yang menjadi watak asli mereka. Konsekuensi dari hal
tersebut adalah bahwa barangsiapa yang diberi watak asli berupa jenis akhlak
tertentu, maka akan mudah baginya untuk memantapkan jenis akhlak ini di dalam
jiwanya dan terus berada di atasnya, karena ia mendapatkan bantuan dalam hal
itu dari watak asli yang ada pada dirinya.
Bagaimana
Cara Mewujudkan Perbaikan Akhlak atau Memperolehnya?
Sesungguhnya
perbaikan akhlak atau perolehannya dapat terjadi dalam salah satu bentuk
berikut ini:
·
Pertama: Dengan
meminimalkan dampak-dampaknya dan tidak terus maju dalam melaksanakan
konsekuensi serta apa yang diserukannya. Ini berlaku bagi akhlak yang
dianggap sebagai bagian dari insting (naluri) pada setiap manusia, di antaranya
adalah marah. Hal ini ditunjukkan oleh apa yang ada di dalam hadis syarif yang
diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa
ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Berilah
aku wasiat." Maka shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah
kamu marah." Laki-laki itu mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali,
dan Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam tetap bersabda kepadanya: "Janganlah
kamu marah."
Para
ulama berkata dalam penjelasan hadis tersebut: Bahwa larangan dari marah itu
diarahkan kepada larangan beramal mengikuti konsekuensi kemarahan, artinya
dengan keharusan menolak dampak-dampak amarah, dan larangan tersebut bukan
kembali kepada esensi marah itu sendiri, karena marah termasuk tabiat manusia
yang tidak mungkin ditolak atau dicabut sampai ke akarnya[21]... Maka yang
dituntut dalam memperbaiki akhlak marah bukanlah mencabutnya sama sekali karena
hal itu tidak mungkin, melainkan yang mungkin adalah mengendalikannya,
menahannya, dan tidak melaksanakan konsekuensinya.
Hal
ini didukung oleh apa yang ada di dalam Al-Qur'an al-Karim: “...dan
orang-orang yang menahan amarahnya...” [QS. Ali 'Imran: 134], maka Allah
memuji mereka atas tindakan meredam amarah mereka dan mengendalikannya, bukan
atas tindakan mencabutnya. Dan di dalam Al-Qur'an juga disebutkan: “...dan
apabila mereka marah mereka memberi maaf.” [QS. Asy-Syu'ara: 37], maka
Allah memuji mereka karena tidak melaksanakan konsekuensi kemarahan mereka. Dan
di dalam hadis syarif disebutkan: "Orang yang kuat itu bukanlah orang
yang jago gulat, melainkan orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan
dirinya ketika marah."
·
Kedua: Dengan
membersihkan, mendidik, menghilangkan kekeruhan dari asal akhlak tersebut,
serta mengarahkannya ke arah yang diridai dalam syariat Islam. Contohnya
seperti akhlak syaja'ah (keberanian); yang mana pemiliknya terkadang
menggunakannya untuk berbuat zalim dan membunuh orang-orang yang tidak
bersalah, atau untuk mencari reputasi (sum'ah) dan kedudukan. Dan seperti sifat
dermawan; yang mana pemiliknya terkadang menggunakannya untuk bermegah-megahan
dan riya. Akhlak-akhlak ini pada asalnya adalah terpuji, dan ia hanyalah dicela
karena melenceng dari tujuan yang benar dan arah yang diridai dalam syariat.
Maka
perbaikannya adalah dengan menghilangkan tujuan-tujuan yang keji ini darinya
dan dengan mengarahkannya ke arah yang benar; yaitu dengan menjadikan
keberanian itu untuk menolong orang yang lemah, membantu orang yang dizalimi,
menundukkan orang yang zalim, meninggikan kalimat Allah, dan menghancurkan
kekafiran serta kebatilan demi mengharap keridaan Allah semata, bukan untuk
mencari reputasi, riya, kedudukan, maupun pujian. Begitu pula sifat dermawan
diarahkan ke arah yang diridai di sisi Allah dengan menjadikannya di jalan-Nya
dan untuk mencari keridaan-Nya; yaitu dengan cara seorang muslim menginfakkan
hartanya dalam pintu-pintu kebajikan seperti memuliakan tamu, tetangga,
menyantuni anak yatim, membantu orang yang membutuhkan atau memberinya pinjaman,
mengurus janda dan orang miskin, serta yang sejenisnya.
Hal
yang menunjukkan apa yang kami katakan ini adalah hadis-hadis syarif yang
banyak, di antaranya: Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang
berperang karena keberanian, berperang karena fanatisme golongan, dan berperang
karena riya, manakah di antara semua itu yang berada di jalan Allah? Maka
beliau bersabda: "Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi
yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah."[22] Dan
di dalam Al-Qur'an al-Karim disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya
karena riya kepada manusia...” [QS. Al-Baqarah: 264].
Dan
di dalam hadis syarif disebutkan: "Manusia itu bagaikan barang tambang,
orang-orang yang terbaik di antara mereka pada masa Jahiliah adalah orang-orang
yang terbaik di antara mereka pada masa Islam apabila mereka paham (fih)."
Karena dengan pemahaman ini, mereka menggunakan sifat-sifat dan akhlak mereka
yang pada asalnya baik dengan penggunaan yang benar, dan mereka mengarahkannya
ke arah yang benar, sehingga mereka menjadi manusia-manusia terbaik.
·
Ketiga: Mengganti akhlak
yang tercela dengan akhlak yang baik. Seperti mengganti dusta dengan
kejujuran, pengkhianatan dengan pemenuhan janji, serta kezaliman dan permusuhan
dengan keadilan dan sifat insaf (objektif). Penggantian ini sangat mungkin
terjadi pada banyak akhlak, di mana akhlak yang tercela akan hilang dan
digantikan kedudukannya oleh akhlak yang indah, sebagaimana yang kita saksikan
hal itu pada diri seseorang yang bertobat dengan tobat yang nasuha
(jujur/tulus).
[16]
s.d [22] Merupakan penanda nomor catatan kaki/catatan penjelasan lafaz yang ada
pada teks asli.
Berikut
adalah terjemahan lengkap dan setia (tidak diringkas) dari bagian teks bahasa
Arab tersebut ke dalam bahasa Indonesia, disesuaikan dengan susunan paragraf
asli beserta nomor penanda, teks ayat/hadis, dan seluruh catatan kaki yang ada:
Sarana-Sarana
Perbaikan Akhlak
Terdapat
banyak sarana untuk memperbaiki akhlak, memperoleh akhlak yang baik, serta
melepaskan diri dari akhlak yang buruk. Barangkali sarana yang paling penting
di antaranya adalah sebagai berikut:
1-
Ilmu, dan yang kami maksud dengannya di sini adalah mengetahui
jenis-jenis akhlak mulia yang diperintahkan oleh Islam, serta jenis-jenis
akhlak tercela yang dilarang oleh Islam. Sesungguhnya ilmu ini sangat darurat
(penting), karena tanpanya seorang muslim tidak akan mengerti dengan akhlak apa
ia harus menghiasi diri, dan dari akhlak apa ia harus membersihkan diri. Islam
telah mencukupkan bagi seorang muslim beban pencarian dan penggalian (istimbat)
tersebut, karena Islam telah memperinci akhlak dalam kedua jenisnya. Tugas
seorang muslim hanyalah menghadapkan dirinya pada kedua jenis akhlak tersebut
untuk mengetahui di mana posisinya, kemudian berjuang keras agar akhlaknya
benar-benar menjadi akhlak islami yang sejati.
2-
Tidaklah cukup sekadar mengetahui jenis-jenis akhlak secara pengetahuan abstrak
semata. Melainkan, seorang muslim wajib mengetahui betapa besarnya kebutuhan
dirinya terhadap akhlak yang baik; karena hal itu terhubung dengan keimanan
dan takwa kepada Allah, serta menjadi sebab untuk meraih keridaan Allah dan
memasuki surga. Sebagaimana ia juga wajib mengetahui betapa besarnya bahaya
akhlak yang buruk atas dirinya; karena hal itu termasuk tanda-tanda
kemunafikan, indikasi lemahnya iman, serta sebab datangnya kemurkaan Allah dan
masuk neraka. Sesungguhnya pengetahuan ini akan mendorongnya untuk berakhlak
dengan akhlak yang baik karena rindu pada keridaan Allah Ta'ala, sebagaimana ia
juga akan mendorongnya untuk membebaskan diri dari akhlak yang buruk karena
takut pada kemurkaan Allah. Sebab, barangsiapa yang merindukan sesuatu, ia akan
berusaha menuju kepadanya, dan barangsiapa yang takut pada sesuatu, ia akan
lari darinya.
3-
Tidaklah cukup bagi seorang muslim sekadar mengetahui jenis-jenis akhlak yang
buruk beserta akibat-akibatnya. Melainkan, ia wajib senantiasa menghadirkan
pengetahuan ini dalam benaknya agar tidak lupa; karena bencana ilmu adalah
lupa, dan lupa akan menyebabkan kelalaian terhadap makna-makna akhlak.
Akibatnya, pengaruh akhlak tersebut melemah di dalam jiwa, lalu lahirlah
perbuatan-perbuatan yang tidak selayaknya. Karena alasan inilah Al-Qur'an
al-Karim mengulang-ulang makna akhlak, dan menjelaskan kepada kita bahwa apa
yang terjadi pada ayah kita, Adam 'alaihis salam, di antara sebabnya adalah
lupa. Allah Ta'ala berfirman:
“Dan
sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa, dan tidak
Kami dapati padanya keteguhan hati.” [QS. Thaha: 115].
Dan
ketika Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhu marah karena ada seorang laki-laki
yang berkata kepadanya, "Sesungguhnya engkau tidak memutuskan dengan
adil dan tidak menetapkan dengan benar," maka sebagian orang yang
hadir berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Ta'ala
berfirman: 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf,
serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.' dan orang ini termasuk
orang yang bodoh." Maka Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Engkau
benar," lalu kemarahan itu pun pergi darinya.
Maka,
senantiasa mengingat makna-makna akhlak secara kontinu serta mengingat asas
yang melandasinya—yaitu iman kepada Allah Ta'ala, dan bahwa berkomitmen pada
konsekuensi akhlak merupakan bagian dari buah keimanan dan makna
keislaman—semua hal ini akan membuat perilaku seorang muslim tetap berada dalam
batasan akhlak islami.
4-
Memberikan perhatian penuh untuk memperkuat makna-makna akidah islamiah di
dalam jiwa. Di puncak makna-makna ini adalah iman kepada Allah, hari akhir,
dan risalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta merasakan
keterasingan di dunia ini dan menyadari bahwa seorang muslim dalam waktu dekat
akan beranjak pergi darinya, dan bahwa ia akan dibalas atas amal
perbuatannya—di mana akhlak termasuk dari amalnya—. Serta menyadari bahwa Allah
Ta'ala telah menjanjikan janji yang benar berupa pahala bagi orang-orang yang
berakhlak dengan akhlak Islam, dan menjanjikan siksaan bagi orang yang menolak
akhlak Islam.
Sesungguhnya
memperkuat makna akidah islamiah di dalam jiwa akan menyebabkan terbukanya jiwa
dan kesiapannya untuk menerima makna-makna akhlak islami. Karena akhlak ini
terhubung erat dengan iman dan makna takwa sebagaimana yang telah kami
sampaikan. Hubungan ini akan semakin kuat manakala iman semakin kuat di dalam
jiwa dan akidah semakin kokoh tertanam di dalamnya. Hal ini menjadikan akhlak
baik seorang muslim bersifat konstan, kokoh, tidak lenyap, dan tidak melemah;
karena ia terhubung dengan Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, dan ia menemukan
materi kelangsungan, kontinuitas, serta kebaikannya dari limpahan yang tidak
akan pernah kering ini, yaitu: iman kepada Allah dan konsekuensi-konsekuensi
iman tersebut.
Seorang
muslim, sebagai contoh, tidak mungkin menjadi orang yang hina selamanya; karena
ia terhubung dengan Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa yang memiliki seluruh
kemuliaan: “Katakanlah: ‘Milik Allah-lah kemuliaan itu semuanya’.” Dan
orang-orang mukmin yang terhubung dengan-Nya memiliki bagian dari kemuliaan
tersebut: “Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan
bagi orang-orang mukmin.” Orang mukmin juga tidak takut kepada makhluk dan
tidak gentar kepadanya, sehingga oleh karena itu ia tidak akan menjilatnya,
tidak menghinakan diri di hadapannya, dan tidak bermuka dua (munafik) di
sisinya; karena segala urusan berada di tangan Allah, termasuk di antaranya
manfaat, mudarat, rezeki, hidup, dan mati: “Jika Allah menimpakan sesuatu
kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghapuskannya melainkan Dia
sendiri. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat
menolak kurnia-Nya.”
Namun,
kemuliaan (izzah) seorang mukmin tidak dibersamai oleh sekecil apa pun zarah
kesombongan, kesewenang-wenangan, keangkuhan, kecongkakan, ataupun ujub (bangga
diri). Karena kemuliaan seorang mukmin tegak di atas iman kepada Allah,
sedangkan keagungan dan keperkasaan itu hanyalah milik Allah semata. Segala
sesuatu selain-Nya adalah fakir, diatur (marbub), dan ditundukkan. Maka
bagaimana mungkin seorang yang fakir lagi ditundukkan dapat bersikap sombong
atau sewenang-wenang kepada orang lain?
Oleh
karena inilah, seorang muslim tidak lain pasti bersikap tawadu (rendah hati);
karena ia telah mengetahui kadar dirinya setelah ia mengenal Tuhannya, dan
barangsiapa yang mengetahui kadar dirinya tidak akan pernah bersikap sombong
selamanya. Bersamaan dengan kemuliaan dan ketawaduan itu, terdapat kesabaran
yang indah (sabar jamil), kepercayaan yang penuh (tsiqah), harapan yang tidak
dicampuri oleh keputusasaan, serta ketenteraman yang tidak dimasuki oleh
kecemasan. Karena iman itu membuahkan akhlak mulia ini. Allah Ta'ala berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” Dan
karena apa yang telah ditakdirkan pasti terjadi, maka tidak ada alasan untuk
cemas dan bergejolak: “Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami
melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami’.” Dan karena
barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dialah yang mencukupinya.
Sifat
berani (syaja'ah), kelantangan, ketegasan melangkah (iqdam), serta teguh di
atas kebenaran, dan yang sejenisnya merupakan akhlak yang kokoh di dalam diri
seorang muslim selama hatinya makmur dengan makna-makna keimanan. Karena
keimanannya mengajarkannya bahwa kehidupan ini tidaklah layak membuat seorang
muslim menjadi lemah, pengecut, atau menahan diri pada posisi yang mengharuskan
dirinya maju melangkah. Sebab, ajal-ajal telah selesai ditetapkan, dan kematian
pasti akan menemui setiap yang bernyawa. Allah Ta'ala berfirman: “Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati.” “Sesuatu yang bernyawa tidak akan
mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan
waktunya.”
Sifat
qanaah (merasa cukup), menjaga kehormatan diri ('iffah), serta tidak bergantung
(merasa kaya) dari makhluk dan dari apa yang ada di tangan mereka, merupakan
buah-buah yang baik lagi suci dari buah-buah keimanan. Karena seorang muslim
beriman kepada firman Allah Ta'ala: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya karunia itu
di tangan Allah, Allah memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan
Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui’.” Dan bahwa rezeki itu
berada di tangan Allah: “Allah meluaskan rezeki bagi siapa yang
dikehendaki-Nya dan menyempitkannya...”
Demikianlah
sisa akhlak lainnya, ia akan kokoh, awet, dan terus berlanjut selama ia tegak
di atas keimanannya yang mendalam yang menembus lubuk hati dan mewarnai jiwa.
Maka, memperdalam keimanan di dalam jiwa serta memperkuat makna akidah
merupakan sarana yang sangat penting sekali untuk berakhlak dengan akhlak yang
baik dan untuk melepaskan diri dari akhlak yang buruk.
5-
Mengerjakan secara langsung amal-amal baik yang membantu atau mengarah pada
perbaikan akhlak, atau memudahkan jiwa untuk menerima akhlak yang suci
serta mengusir akhlak yang busuk. Sebab, ilmu saja tanpa amal tidaklah cukup.
Allah Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu.” Dan Tuhan kita yang Mahasuci lagi Mahatinggi tidak berfirman: "Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mempelajari cara menyucikannya." Maka, mutlak
diperlukan adanya penyucian secara aktual (faktual), yaitu dengan mengerjakan
secara langsung amal-amal yang mewujudkan kesucian jiwa dan membebaskannya dari
penyakit-penyakit akhlak yang tercela. Sesungguhnya seorang pasien yang
diresepkan obat untuknya atau bahkan telah disodorkan obat secara nyata
kepadanya, namun ia tidak meminumnya, niscaya ia tidak akan mendapatkan manfaat
darinya, meskipun ia terus-menerus memandangi obat itu dan mengulang-ulang
perkataan tentang komposisi serta cara pembuatannya.
6-
Di antara jenis amal-amal baik yang bermanfaat untuk memperbaiki akhlak adalah mendirikan
berbagai macam ibadah dan ketaatan yang diwajibkan maupun yang disunahkan
(mandub). Karena ibadah-ibadah tersebut menyucikan jiwa, memudahkannya
untuk memperoleh akhlak yang baik, serta mengusir akhlak yang busuk. Ibadah
bagi jiwa berfungsi sebagai pembersih, penyuci, kekuatan, dan penjagaan.
Al-Qur'an telah mengisyaratkan makna-makna ini. Allah Ta'ala berfirman tentang
shalat: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji
dan mungkar.” Dan Dia berfirman tentang zakat: “Ambillah zakat dari
sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan
mereka.” Yaitu membersihkan mereka dari sifat kikir dan pelit, serta
menjernihkan jiwa mereka dari kekeruhan dan akhlak yang buruk.
Puasa
mendidik manusia untuk memiliki keutamaan sabar, kekuatan tekad, kemauan,
akhlak, serta pembebasan diri dari riya. Haji merupakan pendidikan praktis bagi
ruhani, olahraga yang berpengaruh bagi jiwa, serta sarana yang efektif untuk
memperoleh banyak akhlak sekaligus melepaskan diri dari banyak sifat tercela.
Di dalam haji terdapat pendidikan atas kesabaran, keikhlasan, meninggikan diri
di atas syahwat jasad, menginfakkan harta pada hal yang dicintai oleh Allah,
serta membebaskan diri dari kesombongan, ujub, dan kepalsuan, serta menjadikan
manusia melampaui ego kadar dirinya sendiri, dan hal-hal lain yang telah maklum
dan disebutkan pada tempatnya di dalam buku-buku fikih.
Demikianlah
sisa ibadah lainnya, dengan kontinuitasnya maka jiwa akan suci, sehingga makna
iman dan takwa senantiasa awet di dalamnya, termasuk di antaranya akhlak yang
diridai. Karena akhlak ini tidak akan tumbuh melainkan di dalam jiwa yang suci,
dan tidak ada sesuatu yang menyamai ibadah dengan berbagai jenisnya yang
berbeda-beda dalam menyucikan jiwa dan menyiapkannya untuk memperoleh akhlak
yang baik serta membuang akhlak yang buruk. Di dalam kitabullah terdapat
isyarat menuju makna-makna ini. Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa
kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap setia
menunaikan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian
tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai
apa-apa (yang tidak mau meminta).” [QS. Al-Ma'arij: 19-25].
7-
Melakukan amal-amal yang kontradiktif (berlawanan) dengan akhlak yang ingin
dibuang, atau berlawanan dengan konsekuensinya. Kita dapat menamakan metode
ini dengan metode kontradiksi (tadhaddud) atau perlawanan terhadap setan
(muraghamah). Karena setan itu merasa gembira dengan setiap akhlak yang
buruk, bekerja untuk melestarikannya di dalam jiwa, serta memperindahnya di
mata pemiliknya melalui argumen-argumen batil yang ia bisikkan. Maka apabila
manusia melakukan suatu amalan yang mengontradiksi akhlak buruk ini dan tidak
sejalan dengan apa yang dikonsekuensikannya, tindakan itu tidak diragukan lagi
merupakan bentuk membuat setan jengkel dan melawannya. Hal ini akan mendorong
setan untuk berhenti dari memperindah akhlak buruk tersebut serta berhenti dari
mengembuskan argumen-argumen batil untuknya.
Apabila
setan telah mundur (khonasa), maka amalan ini akan mampu mengguncang eksistensi
akhlak buruk tersebut atau memusnahkannya, sebagaimana obat yang efektif
memusnahkan penyakit. Hal yang menunjukkan kebaikan metode ini serta
pengaruhnya dalam memperbaiki akhlak adalah apa yang tercantum dalam hadis
bahwa seorang laki-laki mengadukan (kekerasan) hatinya kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah bersabda kepadanya:
"Usaplah
kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin."
Di
antara contoh amal kontradiksi dan perlawanan (muraghamah) adalah mengobati
sifat hasad (dengki); yaitu dengan cara orang yang hasad segera bergegas
memohon ampunan (istigfar) serta mendoakan kebaikan bagi orang yang dihasadnya,
karena ia akan merasakan hilangnya rasa hasad itu dari hatinya. Dan di antara
obat bagi kesombongan adalah duduknya orang yang sombong bersama orang-orang
fakir, miskin, dan rakyat jelata, serta duduk di bagian paling belakang dalam
suatu majelis, serta melakukan amal-amal yang dianggap remeh oleh manusia yang
tidak pantas bagi orang-orang sombong seperti memikul kayu bakar dan yang
sejenisnya.
Dan
di antara hal yang dapat dikategorikan sebagai amalan dari sarana ini adalah
apa yang disebutkan dalam hadis syarif:
"Apabila
salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia
duduk. Jika kemarahan itu telah pergi darinya (maka cukup), namun jika belum
maka hendaklah ia berbaring."[23]
Dan
dalam hadis yang lain:
"Apabila
salah seorang di antara kalian marah maka hendaklah ia berwudu dengan air,
karena sesungguhnya marah itu dari api, dan sesungguhnya api itu hanyalah
dipadamkan dengan air."
8-
Metode pembiasaan yang dipaksakan (takaalluf). Yaitu manusia memaksakan
dirinya untuk melakukan akhlak yang ingin ia miliki. Contohnya seperti jika ia
ingin menjadi orang yang penyantun (halim), maka ia mendatangkan sifat santun
itu secara dipaksakan berulang-ulang hingga jiwa menjadi akrab dengannya,
terbiasa dengannya, dan akhlak itu berubah menjadi bagaikan tabiat dan perangai
aslinya. Kebaikan metode ini didukung oleh apa yang tercantum dalam
hadis—meskipun diriwayatkan dengan sanad yang lemah—:
"Sesungguhnya
ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar, dan sifat santun itu hanya diperoleh
dengan usaha menyantunkan diri (berlaku santun secara dipaksakan)."
Metode
ini membutuhkan pengulangan dan kontinuitas hingga membuahkan hasilnya. Dan
kontinuitas ini menuntut adanya kesabaran. Maka wajib bagi manusia yang ingin
berakhlak dengan suatu jenis akhlak yang diridai melalui jalan takaalluf
ini untuk menghiasi diri dengan kesabaran; karena sabar sangat darurat baginya,
sebagaimana daruratnya obat yang pahit bagi seorang pasien yang meminumnya.
Apabila ia bersabar dan kontinu, jiwa akan patuh dan akrab dengan perbuatan
tersebut, kemudian perbuatan itu akan berubah menjadi terasa lezat baginya. Hal
ini bagaikan orang yang ingin memperbagus tulisan tangannya; sesungguhnya
dengan pengulangan menulis dan menggores khat, tulisan tangannya akan menjadi
bagus, kemudian menulis khat tersebut akan menjadi sesuatu yang mudah lagi
lezat bagi dirinya.
9-
Bergaul (mencampur diri) dengan orang-orang mukmin yang memiliki akhlak yang
baik, duduk bersama mereka, serta mendengarkan dari mereka. Karena melihat
orang saleh yang memiliki akhlak baik, duduk bersamanya, dan mendengarkan
darinya akan memberikan pengaruh pada orang yang duduk bersamanya, sehingga
mendorongnya untuk mengadopsi (menyerap) sebagian akhlaknya. Sejak dahulu telah
dikatakan: "Tabiat itu menyerap dari tabiat." Sungguh telah
tercantum dalam hadis syarif yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Sa'id
bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Janganlah
kamu bersahabat kecuali dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu
kecuali orang yang bertakwa."
Karena
seseorang itu akan meneladani orang yang iagauli, ia jadikan sahabat, dan ia
ajak duduk bersama, sehingga ia menyerap sifat-sifat darinya. Oleh karena
inilah, para salaf saleh dahulu senantiasa berwasiat atau memerintahkan untuk
memboikot (meninggalkan) para pelaku bidah, pelaku maksiat, dan orang-orang
yang memiliki akhlak tercela.
10-
Mengambil teladan yang baik (uswatun hasanah). Dan sebaik-baik teladan
secara mutlak adalah Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Ta'ala
berfirman:
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzab: 21].
Maka
jika seorang muslim saat ini telah kehilangan kesempatan untuk melihat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mata kepalanya, ia tidak akan
kehilangan kesempatan untuk melihat beliau dengan mata batinnya, yaitu dengan
cara menghadirkan perjalanan hidupnya (sirah) yang harum, sifat-sifatnya
(syama'il) yang mulia, serta akhlaknya yang agung. Oleh karena itu, kami
mewasiatkan kepada setiap muslim untuk membaca sirah beliau berulang-ulang,
menghadirkan sosok beliau yang mulia di dalam benaknya, serta membayangkan
dirinya sedang berada di dalam majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam.
Termasuk
bagian dari teladan yang baik juga adalah menghadirkan sirah para sahabatnya
yang mulia yang penuh dengan kebaikan, keagungan amal, serta kemuliaan akhlak;
khususnya sirah Khulafaur Rasyidin, sepuluh orang yang diberi kabar gembira
masuk surga, para ahli Badar, para peserta Baiat Ridwan, serta seluruh kaum
Muhajirin dan Ansar.
11-
Meninggalkan lingkungan yang rusak dan lari darinya sebagaimana
seseorang lari dari tempat yang terjangkit wabah, serta berpindah menuju
lingkungan yang saleh yang merangkul kelompok yang saleh dari kalangan
orang-orang mukmin yang baik. Karena lingkungan yang saleh ini akan memperkuat
makna-makna akhlak mulia di dalam diri seorang mukmin dan menjaganya dari
akhlak yang buruk. Tidak diperbolehkan baginya membiarkan dirinya terpapar pada
lingkungan yang rusak yang berisi orang-orang yang rusak dengan dalih bahwa
dirinya memiliki akhlak yang kokoh sehingga tidak dikhawatirkan terpengaruh
oleh mereka atau oleh lingkungan tersebut. Karena hal ini merupakan bentuk
kepalsuan (tertipu daya) dan ilusi. Contohnya adalah bagaikan contoh orang yang
memaparkan dirinya pada tempat yang terjangkit wabah penyakit TBC dan yang
sejenisnya dengan dalih bahwa dirinya memiliki fisik yang kuat.
Kita
dapat menguatkan apa yang kami katakan ini dengan hadis syarif yang di dalamnya
disebutkan bahwa ada seorang laki-laki telah membunuh seratus jiwa, kemudian ia
bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi, lalu ia ditunjukkan
kepada seorang alim maka ia mendatanginya. Laki-laki itu berkata: "Bahwa
ia telah membunuh seratus jiwa, apakah masih ada tobat baginya?" Orang
alim itu menjawab: "Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi antara
dirimu dengan tobat? Pergilah kamu ke negeri ini dan itu, karena sesungguhnya
di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah, maka sembahlah Allah bersama
mereka, dan janganlah kamu kembali ke negerimu karena negerimu adalah negeri
yang buruk...dst."[24]
Maka
hadis ini menunjukkan atas daruratnya (wajibnya) berpindah dari masyarakat yang
rusak menuju masyarakat yang baik, atau menuju kelompok yang baik, beriman,
lagi ahli ibadah. Karena hidup bersama mereka dan tinggal bersama mereka lebih
dapat mengantarkan pada keistiqamahan seseorang serta menjauhkannya dari
keburukan.
Lingkungan
yang rusak adalah segala hal yang memaparkanmu pada maksiat dan buruknya
akhlak. Sedangkan lingkungan yang saleh adalah segala hal yang membantumu untuk
menaati Allah dan bertakwa kepada-Nya, yang mana di antaranya adalah indahnya
akhlak.
12-
Sangat antusias terhadap suatu sifat yang indah dan menganggapnya bagaikan
permata berharga yang wajib dipelihara, dijaga, tidak boleh dilalaikan,
serta tidak meremehkan setiap sifat yang buruk meskipun tampak sederhana dan
kecil urusannya. Karena seorang muslim tidak akan pernah menganggap kecil
sedikit pun akhlak yang baik, dan tidak meremehkan sedikit pun akhlak yang
buruk. Sebab, bisa jadi satu sifat yang baik akan mengangkatnya ke
derajat-derajat yang tinggi, dan bisa jadi satu sifat yang buruk akan
memasukkannya ke dalam neraka. Allah Ta'ala telah memuji Rasul-Nya, Ismail
'alaihis salam, dengan sifat jujur dalam berjanji. Allah Ta'ala berfirman: “Dan
ceritakanlah (kisah) Ismail di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya ia adalah seorang
yang benar janjinya...” [QS. Maryam: 54]. Dan di dalam hadis disebutkan: "Jagalah
diri kalian dari api neraka meskipun hanya dengan sebiji kurma."
Sebagaimana
satu sifat, jika dijaga dan dijalankan secara kontinu, akan menyebabkan sifat
tersebut tertanam kokoh di dalam dirinya. Jika sifat itu berupa kebaikan maka
hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika sifat itu berupa keburukan maka hal
itu menjadi keburukan baginya; dan kebaikan akan mengantarkan pada kebaikan,
sedangkan keburukan akan mengantarkan pada keburukan. Telah tercantum dalam
hadis syarif dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
"Hendaklah
kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menunjuki kepada kebaikan, dan
kebaikan itu menunjuki kepada surga. Dan senantiasa seseorang berlaku jujur dan
berusaha untuk jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur
(shiddiq). Dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta, karena dusta itu menunjuki
kepada kejahatan (fujur), dan kejahatan itu menunjuki kepada neraka. Dan
senantiasa seorang hamba berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga ia dicatat
di sisi Allah sebagai seorang pendusta."
13-
Wajib bagi seorang muslim untuk melatih dirinya agar menerima nasihat dari
orang yang taat beragama, cerdas (kays), warak, lagi jujur. Karena seorang
mukmin itu dapat melihat aib-aib saudaranya yang mana saudaranya itu tidak
dapat melihat aib-aib dirinya sendiri. Dari sinilah, bersahabat dengan
orang-orang pilihan (baik) menjadi sesuatu yang indah. Umar radhiyallahu 'anhu
dahulu pernah berkata: "Semoga Allah merahmati seseorang yang telah
menghadiahkan aib-aibku kepadaku." Sesungguhnya pemberi nasihat yang
jujur yang menunjukkan kepadamu tentang aib-aibmu serta buruknya sebagian
akhlakmu, sangat berhak mendapatkan ucapan terima kasih dan penghargaan darimu.
Sesungguhnya
engkau pasti akan berterima kasih kepada orang yang menunjukkan kepadamu
tentang adanya kalajengking yang sedang merayap di tubuhmu atau bersembunyi di
balik pakaianmu, dan engkau akan bersegera melemparnya jauh-jauh darimu. Maka
demikian pulalah yang wajib engkau lakukan terhadap orang yang menasihatimu dan
menunjukkan kepadamu tentang aib-aib akhlakmu. Karena akhlak yang tercela
adalah kalajengking-kalajengking, akan tetapi mereka menyakiti hati dan
mengalirkan racun-racunnya di dalamnya..
Ini
adalah sebagian sarana penting dalam memperbaiki akhlak serta memperoleh jenis
akhlak yang baik. Dan masih ada sarana-sarana penting lainnya dalam tema ini,
namun kami cukupkan dengan apa yang telah kami sebutkan..
Teks
Catatan Kaki (Al-Hawamis) dari Teks Asli
[1]
Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, Jilid 3, Halaman 46.
[2]
As-Sukhriyyah bin naas: menghina mereka dan mengolok-olok mereka. Al-Lamz:
mencela mereka dengan perkataan. Al-Hamz: mencela mereka dengan
perbuatan. Dan orang yang suka mengumpat lagi mencela (al-hammaz al-lammaz)
adalah orang yang dicela lagi dilaknat. Allah Ta'ala berfirman: “Kecelakaanlah
bagi setiap pengumpat lagi pencela.” At-Tanabuz bil alqab: engkau
memanggil orang lain dengan julukan yang ia benci mendengarnya. Azh-Zhann
(Prasangka) sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya:
Tuduhan dan pengkhianatan terhadap istri, kerabat, dan manusia pada tempat yang
bukan semestinya, karena sebagian prasangka itu adalah dosa, maka wajib
menjauhi kebanyakan darinya sebagai bentuk kehati-hatian. Dan dari Umar bin
Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu ia berkata: "Janganlah engkau
berprasangka buruk terhadap satu kalimat yang keluar dari lisan saudaramu yang
mukmin melainkan prasangka yang baik, selama engkau masih mendapati adanya
celah kebaikan padanya." Al-Ghibah (Menggunjing): sebutanmu
terhadap saudaramu mengenai apa yang ia benci, jika apa yang engkau sebutkan
itu memang ada pada dirinya, maka engkau telah menggunjingnya (gibah).
[3]
Al-Laghu: adalah segala hal yang tidak terpuji baik berupa perkataan
maupun perbuatan.
[4]
Al-'Aadun: mereka adalah orang-orang yang melampaui batas halal menuju
batas haram.
[5]
Al-Firdaus: tingkatan jannah (surga) yang paling tinggi.
[6]
Haunan: artinya dengan ketenangan, kewibawaan, dan ketawaduan.
[7]
Artinya mereka mengucapkan perkataan yang lurus (sadid), dan mereka
tidak masuk ke dalam perdebatan serta pertikaian bersama orang-orang jahil.
[8]
Gharaman: artinya azab yang pasti lagi berkepanjangan.
[9]
Qawaman: artinya adil/pertengahan tanpa bersikap berlebihan (israf)
dan tidak pula kikir (taqtir).
[10]
Atsaman: artinya siksaan dan balasan.
[11]
Wala yasyhaduuna az-zuur: artinya mereka tidak menghadiri
majelis-majelis keburukan, dusta, kekafiran, kefasikan, dan kebatilan.
[12]
Marruu kiraaman: artinya mereka memuliakan diri mereka sendiri dengan
cara berpaling dari tempat-tempat maksiat/kebatilan (az-zuur).
[13]
Artinya keadaan mereka tidaklah seperti keadaan orang-orang kafir yang mana
mereka mendengar kalamullah namun tidak terpengaruh dengannya dan tidak
memahami apa yang ada di dalamnya seolah-olah mereka tuli lagi buta. Melainkan,
keadaan orang-orang mukmin ketika mendengar kalamullah adalah memahami maknanya
dan mengambil manfaat darinya.
[14]
Imaaman: artinya jadikanlah kami para pemimpin yang diteladani dalam
kebaikan. Atau para pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk yang menyeru kepada
kebaikan.
[15]
Hasanat mustaqarran wa muqaamaa: artinya tempat memandang yang indah
serta tempat istirahat dan tempat tinggal yang baik.
[16]
Sirah Ibnu Hisyam pada tema Perjanjian Hudaybiyah.
[17]
Al-Mughni karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Al-Hambali, Jilid 8, Halaman
458.
[18]
Al-Mughni, Jilid 8, Halaman 483.
[19]
Al-Mabsut, Jilid 12, Halaman 200, dan Hasyiyah Ibnu Abidin, Jilid
2, Halaman 56.
[20]
Taysirul Wushul karya Ibnu Ad-Daiba' Asy-Syaibani, Jilid 4, Halaman 304.
[21]
Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyyah karya Imam An-Nawawi, Halaman 49, dan Fathul
Mubin li Syarhil Arba'in karya Al-Faqih Ibnu Hajar Al-Haytami, Halaman 140.
[22]
Taysirul Wushul, Jilid 1, Halaman 231, dan ia berkata di dalamnya:
Diriwayatkan oleh Imam yang Lima (Al-Khamsah).
[23]
Karena orang yang berdiri itu berada dalam posisi siap untuk membalas dendam,
sedangkan orang yang duduk itu berada di bawah posisinya, dan orang yang
berbaring berada di bawah posisi keduanya.
[24]
Taysirul Wushul, Jilid 1, Halaman 212.
Comments
Post a Comment