Akhlak Terpuji

SISTEM AKHLAK DALAM ISLAM

Definisi Akhlak

Akhlak secara bahasa berarti tabiat dan perangai. Sedangkan dalam istilah para ulama—sebagaimana yang didefinisikan oleh Al-Ghazali—akhlak adalah sebuah kondisi (sifat) yang tertanam kuat di dalam jiwa, yang darinya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu[1.

Kita juga dapat mendefinisikan akhlak sebagai kumpulan makna (nilai) dan sifat yang menetap di dalam jiwa, yang mana berdasarkan cahaya dan timbangannya suatu perbuatan dinilai baik atau buruk dalam pandangan manusia, sehingga kemudian ia melakukan atau menahan diri dari perbuatan tersebut.

Pentingnya Akhlak

Akhlak memiliki urgensi yang sangat besar karena pengaruhnya yang kuat terhadap perilaku manusia dan apa yang lahir darinya. Bahkan kita dapat mengatakan: sesungguhnya perilaku manusia itu selaras dengan makna dan sifat yang telah menetap di dalam jiwanya. Alangkah benarnya perkataan Imam Al-Ghazali ketika beliau menyebutkan dalam kitab Ihya-nya:

"Sebab, setiap sifat yang tampak di dalam hati, niscaya akan tampak pengaruhnya pada anggota tubuh, hingga anggota tubuh tersebut tidak akan bergerak melainkan pasti sesuai dengan sifat (hati) tersebut."

Oleh karena itu, perbuatan manusia selalu terhubung dengan makna dan sifat yang ada di dalam jiwanya, bagaikan hubungan antara cabang-cabang pohon dengan akar-akarnya yang tersembunyi di dalam tanah.

Makna dari hal tersebut adalah bahwa baiknya perbuatan manusia itu tergantung pada baiknya akhlaknya, karena cabang itu mengikuti akarnya; jika akarnya baik maka cabangnya pun baik, dan jika akarnya rusak maka cabangnya pun rusak.

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh hanya merana.” [QS. Al-A'raf: 58].

Oleh sebab itu, metode yang tepat dalam memperbaiki manusia, meluruskan perilaku mereka, dan memudahkan jalan kehidupan yang baik bagi mereka adalah hendaknya para reformator (mushlih) memulai dengan memperbaiki jiwa, menyucikannya, serta menanamkan makna akhlak yang baik di dalamnya. Karena alasan inilah Islam sangat menekankan perbaikan jiwa dan menjelaskan bahwa perubahan keadaan manusia—mulai dari kebahagiaan dan kesengsaraan, kemudahan dan kesulitan, kelaparan dan kemakmuran, ketenteraman dan kecemasan, serta kemuliaan dan kehinaan—semua itu dan yang sejenisnya mengikuti perubahan makna dan sifat yang ada dalam jiwa mereka sendiri. Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra'd: 11].

Pentingnya akhlak juga tampak dari sisi lain, yaitu bahwa manusia sebelum melakukan atau meninggalkan sesuatu, ia akan melakukan proses penimbangan dan penilaian terhadap tindakan meninggalkan atau melakukan tersebut di bawah cahaya makna-makna akhlak yang menetap di dalam jiwanya. Jika perbuatan atau tindakan meninggalkan itu tampak memuaskan dan dapat diterima, maka bangkitlah keinginan dan kecenderungan di dalam jiwa menuju hal tersebut, kemudian ia melangkah melakukannya. Namun jika kondisinya sebaliknya, jiwa akan menyusut (enggan) darinya, membencinya, dan menahan diri darinya, baik itu berupa perbuatan maupun tindakan meninggalkan.

Proses penimbangan ini terkadang berlangsung sangat cepat dan tidak dirasakan, sampai pada tingkat di mana manusia terkadang melakukan atau meninggalkan sesuatu tanpa pertimbangan atau pemikiran. Di waktu yang lain, proses penimbangan dan penilaian ini tidak selesai kecuali setelah perenungan dan berlalunya waktu yang lama, bahkan terkadang proses ini tidak selesai sehingga manusia terombang-ambing dalam keraguan antara melakukan atau meninggalkan. Namun, dalam semua keadaan, proses penimbangan dan penilaian ini pasti terjadi pada setiap perbuatan atau tindakan meninggalkan tanpa terkecuali.

Proses penimbangan perbuatan dan tindakan meninggalkan dengan timbangan akhlak ini, serta benar atau rusaknya timbangan tersebut, beserta sejauh mana komitmen manusia terhadap konsekuensinya dan pelaksanaannya, semua itu bergantung pada jenis makna akhlak yang diembannya dari segi baik atau buruknya, sejauh mana kemantapan makna tersebut di dalam jiwanya, bagaimana ia terwarnai olehnya, antusiasmenya terhadapnya, kecemburuannya atasnya, serta perasaannya akan kebutuhan mendesak dirinya terhadap akhlak tersebut.

Sebab, tidaklah cukup bagi munculnya pengaruh akhlak dalam perbuatan dan tindakan meninggalkan manusia hanya dengan mengetahui mana akhlak yang baik dan yang buruk, lalu menyimpan pengetahuan ini di dalam kepalanya dan membicarakannya pada momen-momen tertentu saja. Melainkan, mutlak diperlukan adanya internalisasi (pewarnaan) eksistensi dirinya dengan akhlak tersebut dan kemantapannya di lubuk jiwanya yang paling dalam, sehingga akhlak tersebut menjadi bagaikan warna hitam atau putih bagi kulit yang hitam atau putih. Serta akhlak tersebut harus senantiasa hadir dalam benaknya, mengendalikan perilakunya, ia antusias terhadapnya, dan cemburu atasnya hingga mencapai tingkat keimanan bahwa kehidupan ini tidak dapat menjadi pengganti yang sepadan bagi kelalaian terhadap satu saja dari makna akhlak mulia islami yang diembannya...

Oleh karena inilah Islam menegaskan makna-makna akhlak yang dituntut, menumbuhkan kerinduan kepadanya, mendorong jiwa untuk memilikinya, serta mengulang-ulangnya agar seorang muslim senantiasa mengingatnya dan terwarnai dengannya, sehingga pengaruhnya terlihat jelas dalam perilakunya.

Kedudukan Akhlak dalam Islam

Akhlak dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat agung, yang tampak dari banyak sisi, di antaranya kami sebutkan hal-hal berikut:

·        Pertama: Alasan diutusnya risalah adalah untuk meluruskan akhlak dan menyebarkan akhlak yang mulia. Disebutkan dalam hadis syarif dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."

·        Kedua: Pendefinisian agama dengan akhlak yang baik. Sungguh telah disebutkan dalam sebuah hadis mursal bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah, apakah agama itu?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akhlak yang baik."

Ini berarti bahwa akhlak yang baik adalah rukun Islam yang agung, yang mana agama tidak dapat tegak tanpanya, sebagaimana wukuf di Arafah bagi ibadah haji. Di mana telah disebutkan dalam hadis syarif: "Haji itu adalah Arafah," artinya rukun haji yang agung yang haji tidak sah tanpanya adalah wukuf di Arafah.

·        Ketiga: Di antara hal yang paling banyak memperberat timbangan kebaikan pada hari perhitungan (hisab) adalah akhlak yang baik. Disebutkan dalam hadis syarif dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Perkara yang paling berat diletakkan dalam timbangan (mizan) pada hari kiamat adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik."

·        Keempat: Orang-orang mukmin itu bertingkat-tingkat dalam keimanan mereka, dan yang paling utama keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Disebutkan dalam hadis: Dikatakan, "Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama keimanannya?" Beliau bersabda: "Yang paling baik akhlaknya di antara mereka."

·        Kelima: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu berbeda-beda dalam meraih kecintaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kedekatan posisi dengan beliau pada hari kiamat. Dan orang muslim yang paling beruntung mendapatkan kecintaan Rasulullah serta kedekatan dengan beliau adalah orang-orang mukmin yang baik akhlaknya hingga mereka menjadi lebih baik daripada yang lain dalam hal tersebut. Disebutkan dalam hadis syarif dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian."

·        Keenam: Sesungguhnya akhlak yang baik merupakan perkara yang wajib dan syarat yang harus ada demi keselamatan dari api neraka dan keberuntungan meraih surga. Kelalaian terhadap syarat ini tidak dapat ditutupi bahkan oleh shalat dan puasa sekalipun. Disebutkan dalam hadis bahwa sebagian muslim berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa si fulanah rajin berpuasa di siang hari dan mendirikan shalat di malam hari, namun ia buruk akhlaknya, ia menyakiti tetangganya dengan lisannya. Beliau bersabda: "Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penduduk neraka."

·        Ketujuh: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa berdoa kepada Tuhannya agar memperbaiki akhlaknya—padahal beliau adalah pemilik akhlak yang sangat baik—dan agar menunjukinya kepada akhlak yang paling baik. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam terbiasa mengucapkan dalam doanya: "Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaan (fisik)ku, maka perbaguslah akhlakku."

Dan beliau mengucapkan: "Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik melainkan Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat memalingkan dariku akhlak yang buruk melainkan Engkau."

Dan telah diketahui bersama bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berdoa melainkan dengan apa yang dicintai oleh Allah dan yang mendekatkan diri kepada-Nya.

·        Kedelapan: Allah Ta'ala memuji Rasul-Nya yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam dengan akhlak yang baik, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an al-Karim: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [QS. Al-Qalam: 4].

Dan Allah Ta'ala tidak memuji Rasul-Nya melainkan dengan sesuatu yang agung, yang mana hal ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan akhlak dalam Islam.

·        Kesembilan: Banyaknya ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema akhlak; baik berupa perintah terhadap akhlak yang baik, pujian bagi orang-orang yang bersifat dengannya yang disertai dengan pahala, maupun larangan dari akhlak yang buruk serta celaan bagi orang yang bersifat dengannya yang disertai dengan siksaan. Tidak diragukan lagi bahwa banyaknya ayat dalam tema akhlak menunjukkan urgensinya. Dan di antara hal yang menambah urgensi ini adalah bahwa ayat-ayat ini ada yang turun di Mekah sebelum hijrah (Makkiyah), dan ada pula yang turun di Madinah setelah hijrah (Madaniyah). Hal ini menunjukkan bahwa akhlak adalah perkara yang sangat penting yang tidak dapat dilepaskan dari seorang muslim, dan bahwa menjaga akhlak mengikat seorang muslim dalam segala keadaan. Dengan demikian, akhlak menyerupai perkara akidah dari sisi perhatian Al-Qur'an terhadapnya, baik dalam surah-surah Makkiyah maupun Madaniyah secara seimbang.

Karakteristik Sistem Akhlak dalam Islam

Sistem akhlak dalam Islam dibedakan oleh sekumpulan karakteristik, di antaranya: perincian akhlak, universalitas (cakupan yang luas), keharusannya baik dalam wasilah (sarana) maupun ghayah (tujuan), keterkaitannya dengan makna iman dan takwa, serta adanya balasan (pahala/siksa) di dalamnya. Berikut ini kami jelaskan karakteristik-karakteristik tersebut secara ringkas:

Generalisasi (Keumuman) dan Perincian dalam Akhlak

Islam menyeru kepada akhlak yang mulia dengan seruan yang bersifat umum. Di antara contohnya adalah apa yang tercantum dalam Al-Qur'an al-Karim:

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)’. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” [QS. Al-Isra: 53].

Dan perkataan yang lebih baik merupakan seruan umum untuk ucapan yang baik yang dituntut dalam segala jenisnya pada pembicaraan dan dialog mereka. Dan dalam firman Allah Ta'ala:

“...dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [QS. An-Nahl: 90].

Ini adalah seruan umum untuk menjauhi kehinaan-kehinaan akhlak. Di dalam Sunah Nabawiyah pun terdapat banyak sekali seruan umum menuju akhlak ini, di antaranya:

"Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, serta pergauhilah manusia dengan akhlak yang baik."

Dan akhlak yang baik mengumpulkan segala jenis akhlak yang terpuji. Serta dalam hadis:

"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat malam karena kebaikan akhlaknya."

Islam tidak hanya merasa cukup dengan seruan yang bersifat umum untuk menghiasi diri dengan akhlak yang baik dan membersihkan diri dari akhlak yang buruk, melainkan Islam memperinci penjelasan pada kedua golongan tersebut, lalu menerangkan jenis-jenis dari setiap golongan. Hikmah di balik penjelasan yang rinci ini adalah untuk memperjelas makna-makna akhlak serta batas-batasnya, agar manusia tidak berselisih di dalamnya dan agar hawa nafsu tidak ikut campur dalam menentukan apa yang dimaksud darinya. Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka takuti, apa yang harus mereka ambil, dan apa yang harus mereka tinggalkan. Berikut ini kami sebutkan contoh-contoh perincian akhlak di dalam Al-Qur'an dan Sunah Nabawiyah yang suci.

Contoh-Contoh dari Al-Qur'an tentang Perincian Akhlak

·        a) Memenuhi Janji:

“...dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” [QS. Al-Isra: 34].

·        b) Larangan Berbicara Tanpa Ilmu:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [QS. Al-Isra: 36].

·        c) Larangan Berjalan dengan Angkuh dan berlenggak-lenggok sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sombong:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [QS. Al-Isra: 37].

·        d) Larangan Berlebih-lebihan (Israf), Mubazir, Kikir, dan Pelit:

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [QS. Al-Isra: 26-27].

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” [QS. Al-Isra: 29].

·        e) Perintah untuk Berlaku Adil dalam Segala Keadaan dan terhadap semua orang, bahkan kepada orang-orang kafir sekalipun:

“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu)...” [QS. Al-An'am: 152].

“...dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” [QS. Al-Ma'idah: 8].

·        f) Saling Menolong dalam Kebajikan dan Takwa serta hal-hal yang bermanfaat bagi manusia, dan larangan saling menolong dalam kezaliman dan permusuhan:

“...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al-Ma'idah: 2].

·        g) Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat, dan akibatnya sangat fatal. Kezaliman itu bermacam-macam, yang paling buruk adalah mengada-adakan kedustaan terhadap Allah dan melanggar batas-batas Allah. Orang yang zalim terputus hubungannya dengan Allah, sehingga ia terhina dan tidak ditolong. Karena alasan inilah Islam melarang kezaliman:

“...Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” [QS. Asy-Syu'ara: 227].

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan.” [QS. Al-An'am: 21].

“...Itulah batas-batas hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar batas-batas hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” [QS. Al-Baqarah: 229].

“...Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.” [QS. Al-Baqarah: 270].

·        h) Sabar dalam Keimanan Berkedudukan seperti Kepala bagi Tubuh. Maka mutlak bagi seorang mukmin untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah dan bersabar menghadapi takdir Allah, dan dengan demikian ia menjadi bagian dari orang-orang yang berbuat baik (muhsinin), sedangkan rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. Oleh karena itu, Islam memerintahkan untuk bersabar:

“Hai orang-orang yang baimiman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” [QS. Ali 'Imran: 200].

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” [QS. Hud: 115].

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” [QS. Ar-Rum: 60].

·        i) Jujur (Shidiq) Termasuk Tanda-Tanda Keimanan dan Buahnya. Oleh karena itu, Islam memerintahkannya:

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [QS. At-Tawbah: 119].

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong’.” [QS. Al-Isra: 80].

·        j) Dusta Merupakan Suatu Kehinaan yang pelakunya tidak akan mendapatkan petunjuk Allah, serta membuahkan kemunafikan di dalam hati. Oleh karena itu, Islam melarang dan memperingatkan darinya:

“...Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” [QS. Ghafir: 28].

“Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada hari mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka janjikan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” [QS. At-Tawbah: 77].

·        k) Sombong, Ujub (Bangga Diri), Kikir, Membanggakan Diri, dan Riya merupakan kehinaan-kehinaan dan penyakit-penyakit yang menjangkiti hati, sehingga membutakannya, menghapus cahayanya, dan menjauhkan pelakunya dari Allah Ta'ala. Oleh karena itu, datang larangan darinya:

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Luqman: 18].

“...Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” [QS. An-Nisa: 36-38].

·        l) Bersikap Adil/Pertengahan dalam Berjalan antara lambat dan cepat dituntut dari seorang muslim, begitu pula merendahkan suara dan tidak meninggikannya tanpa keperluan juga dituntut dari seorang muslim:

“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” [QS. Luqman: 19].

·        m) Teguh di atas Kebenaran (Thabat) serta Kontinu (Istikamah) dalam ketaatan dan ibadah merupakan perkara-perkara yang dituntut, karena segala urusan itu dinilai dari akhirnya. Tanpa adanya istikamah, kontinuitas, dan keteguhan di atas kebenaran, maka buahnya akan hilang, seorang muslim tidak akan mencapai tujuan, dan ia akan terputus dari rombongan orang-orang saleh. Karena alasan inilah, wajib bagi seorang muslim untuk memiliki keteguhan yang besar terhadap makna-makna keimanan dan istikamah di atasnya agar meraih keberuntungan dan keridaan:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istikamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’...” [QS. Fussilat: 30].

·        n) Surga adalah Negeri bagi Orang-Orang yang Baik, yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang bertakwa, yang mana di antara akhlak baik mereka adalah berinfak dalam segala keadaan, baik dalam kemudahan maupun kesulitan. Mereka berinfak sesuai dengan kadar harta yang mereka miliki dan tidak kikir untuk berinfak meskipun jumlahnya sedikit. Dan di antara akhlak mereka adalah mereka tidak menuntut seluruh hak mereka dari manusia, melainkan meninggalkan sebagian hak tersebut untuk mereka sebagai bentuk perbuatan baik (ihsan) kepada mereka:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [QS. Ali 'Imran: 133-134].

·        s) Larangan dari Rasa Dendam (Ghil) dan Dengki:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” [QS. Al-Hasyr: 10].

·        c) Obat bagi Orang yang Bodoh (Jahil) adalah Berpaling Darinya, meninggikannya, dan membiarkannya dengan urusannya. Dengan hal inilah Islam memerintahkan:

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” [QS. Al-A'raf: 199].

·        f) Di Antara Wasiat-Wasiat Islam yang Mencakup Segalanya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dalam bab akhlak adalah firman Allah Ta'ala:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan janganlah memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Hujurat: 11-12][2].

·        sh) Di Antara Ayat-Ayat yang Mengumpulkan Banyak dari Akhlak Orang-Orang Mukmin, dan menjadikan akhlak-akhlak ini sebagai tanda atas keimanan mereka adalah firman Allah Ta'ala:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna[3], dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas[4]. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yaitu) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Mu'minun: 1-11][5].

Begitu pula firman Allah Ta'ala:

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati[6] dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan[7]. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal’[8], sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian[9]. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)[10], (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu[11], dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya[12]. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta[13]. Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’[14]. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan salam di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” [QS. Al-Furqan: 63-76][15].

Contoh-Contoh dari Sunah Nabawiyah tentang Perincian Akhlak

·        a) Tentang Larangan Marah: Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda:

"Janganlah kamu marah."

·        b) Tentang Rasa Malu: Telah diriwayatkan banyak hadis, di antaranya:

"Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan."

"Rasa malu itu kebaikan seluruhnya."

"Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu."

"Jika kamu tidak malu, maka perbuatlah apa yang kamu kehendaki."

·        c) Tentang Saling Menolong:

"Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya."

·        d) Tentang Hak-Hak Sesama Muslim dan Larangan dari Sebagian Akhlak Buruk:

"Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling melakukan najas (menawar barang untuk menipu), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi (memutus hubungan), dan janganlah sebagian dari kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh ia menzaliminya, tidak boleh menelantarkannya (tidak menolongnya), tidak boleh membohonginya, dan tidak boleh menghinanya. Takwa itu ada di sini—beliau mengisyaratkan ke dada syarifnya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seorang muslim dikatakan melakukan keburukan jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya."

·        e) Larangan dari Akhlak Orang-Orang Munafik:

"Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat."

"Ada empat perkara yang barangsiapa memilikinya maka ia menjadi munafik murni, dan barangsiapa yang memiliki satu perangai dari empat perkara tersebut, maka di dalam dirinya terdapat satu perangai kemunafikan sampai ia meninggalkannya: apabila dipercaya ia berkhianat, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia berkhianat (ingkar), dan apabila berselisih ia berbuat fujur (melampaui batas)."

·        f) Tentang Sifat Santun (Hilm) dan Tidak Tergesa-gesa (Anah): Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Al-Asyaj bin Abdul Qais:

"Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perangai yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu sifat santun dan tidak tergesa-gesa."

·        g) Tentang Kelembutan (Rifq):

"Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan."

·        h) Tentang Riya, Sum'ah, dan Ikhlas: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberanian, berperang karena fanatisme golongan (hamiyyah), dan berperang karena riya; manakah di antara semua itu yang berada di jalan Allah? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah."

"Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia berhijrah kepadanya."

·        i) Tentang Larangan Debat Kusir (Mira') dan Membangkang:

"Barangsiapa yang meninggalkan debat kusir padahal ia berada di atas kebenaran, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di tengah surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan debat kusir padahal ia berada di atas kebatilan, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di pinggiran surga."

"Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah sebelumnya Allah memberi petunjuk kepada mereka, melainkan karena mereka diberikan (gemar melakukan) perdebatan."

·        j) Tentang Lisan yang Kotor/Kasar:

"Bukanlah seorang mukmin itu orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berbuat keji, dan bukan pula orang yang berkata kotor."

·        k) Tentang Ujub dan Sifat Pelit (Syuhh):

"Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa ujub (bangga diri) seseorang terhadap pendapatnya sendiri."

·        l) Meninggalkan Perkataan yang Tidak Bermanfaat bagimu:

"Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya."

·        m) Meninggalkan Perkataan yang Berlebihan:

"Beruntunglah bagi orang yang menahan kelebihan (ucapan) dari lisannya, dan menginfakkan kelebihan dari hartanya."

·        n) Menimbang Perkataan dengan Timbangan Islam Sebelum Mengucapkannya:

"Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu kalimat yang termasuk keridaan Allah, yang ia tidak mengira kalimat itu akan mencapai apa yang dicapainya, lalu Allah menuliskan keridaan-Nya bagi orang tersebut karena kalimat itu sampai hari Kiamat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, yang ia tidak mengira kalimat itu akan mencapai apa yang dicapainya, lalu Allah menuliskan kemurkaan-Nya atas orang tersebut karena kalimat itu sampai hari Kiamat."

·        s) Tentang Amanah dan Memenuhi Janji:

"Tidak ada keimanah bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji."

Dan seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kapan terjadinya hari Kiamat?" Beliau bersabda kepadanya: "Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat." Laki-laki itu bertanya: "Bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?" Beliau bersabda: "Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat."

·        c) Tentang Jujur dan Dusta:

"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menunjuki kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjuki kepada surga. Dan senantiasa seseorang berlaku jujur dan berusaha untuk jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur (shiddiq). Dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta, karena dusta itu menunjuki kepada kejahatan (fujur), dan kejahatan itu menunjuki kepada neraka. Dan senantiasa seorang hamba berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta."

·        f) Tentang Kekuatan dan Keteguhan Tekad:

"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah. Jika kamu ditimpa oleh sesuatu, maka janganlah kamu berkata: 'Seandainya aku melakukan begini niscaya akan menjadi begitu', akan tetapi katakanlah: 'Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia perbuat', karena sesungguhnya kata 'seandainya' itu membuka pintu amalan syaitan."

·        sh) Mengikuti dalam Kebaikan, Bukan dalam Keburukan:

"Janganlah salah seorang di antara kalian menjadi imma'ah (ikut-ikutan tanpa prinsip), dengan berkata: 'Aku bersama manusia, jika manusia berbuat baik maka aku berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk maka aku pun berbuat buruk.' Akan tetapi mantapkanlah diri kalian; jika manusia berbuat baik hendaklah kalian berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk hendaklah kalian menjauhi keburukan mereka."

·        sy) Ketegasan dan Kewaspadaan:

"Tidak selayaknya seorang mukmin tersengat (disengat serangga) dari lubang yang sama sebanyak dua kali."

·        dh) Larangan dari Menghinakan Diri sendiri:

"Tidak sepatutnya bagi seorang mukmin untuk menghinakan dirinya sendiri..."

·        th) Tentang Saling Mencintai, Saling Menyayangi, dan Saling Mengasihi:

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah bagaikan satu tubuh; apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain ikut merasakan tidak bisa tidur dan demam."

[2] s.d [15] Merupakan penanda nomor catatan kaki/catatan penjelasan lafaz yang ada pada teks asli.

Kedua – Universalitas (Cakupan yang Luas) Akhlak

Di antara karakteristik sistem akhlak dalam Islam adalah syumul (universal/mencakup segala hal). Yang kami maksud dengannya adalah bahwa lingkaran akhlak islami itu sangat luas sekali, karena ia mencakup seluruh perbuatan manusia yang khusus bagi dirinya sendiri maupun yang berkaitan dengan orang lain, baik orang lain itu berupa individu, kelompok, ataupun negara. Maka tidak ada satu pun yang keluar dari lingkaran akhlak dan keharusan menjaga makna-makna akhlak ini, suatu hal yang tidak akan kita temukan tandingannya dalam syariat samawi (agama langit) terdahulu mana pun, dan tidak juga dalam hukum buatan manusia mana pun.

Kami sebutkan di sini sebagai contoh saja, sejauh mana perhatian terhadap akhlak dalam hubungan Negara Islam dengan negara-negara lainnya, agar menjadi jelas bagi kita betapa besarnya komitmen Islam untuk berpegang teguh pada makna-makna akhlak. Alasan mengapa kami memilih hubungan (internasional) ini adalah karena adanya anggapan yang tersebar di tengah manusia—dan didukung oleh realitas—bahwa hubungan antarnegara tidak tegak di atas dasar pertimbangan akhlak, bahkan sampai ada salah seorang dari mereka yang mengatakan: "Tidak ada tempat bagi akhlak dalam hubungan internasional." Oleh karena itu, tipu daya, penyesatan, pengkhianatan, dan dusta dianggap sebagai bagian dari kecerdikan dalam berpolitik.

Islam menolak pandangan yang sakit ini. Islam menganggap apa yang buruk dalam hubungan antar-individu, juga buruk dalam hubungan antarnegara. Dan Islam menganggap apa yang dituntut dan indah dalam hubungan antar-individu, juga dituntut dan indah dalam hubungan antarnegara. Oleh karena itu, telah menjadi ketetapan dalam syariat Islam bahwa Negara Islam wajib berkomitmen pada makna-makna akhlak. Ketetapan ini ada di dalam Al-Qur'an al-Karim, Sunah Nabawiyah yang suci, dan di dalam perkataan para ahli fikih (fuqaha), di antaranya:

  • Pertama: Allah Ta'ala berfirman:

“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” [QS. Al-Anfal: 58].

Artinya, jika tampak pengkhianatan dari orang-orang yang mengikat janji denganmu dan telah terbukti bukti-buktinya, maka umumkanlah kepada mereka tentang pembatalan perjanjian mereka secara terbuka agar kalian dan mereka sama-sama mengetahui (bahwa perjanjian telah berakhir). Karena Allah Ta'ala tidak menyukai orang-orang yang berkhianat, meskipun pengkhianatan itu dilakukan terhadap kaum kafir dan merekalah yang memulai pembatalan janji tersebut.

  • Kedua: Di antara syarat-syarat Perjanjian Hudaybiyah antara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kaum musyrik Quraisy adalah bahwa barangsiapa dari kaum Quraisy yang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan muslim, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam harus mengembalikannya (kepada mereka) dan tidak boleh melindunginya. Setelah selesai penulisan perjanjian tersebut, datanglah Abu Jandal dari kaum Quraisy dalam keadaan muslim dan menampakkan keislamannya, sambil berteriak meminta tolong kepada kaum muslimin agar mereka melindunginya dan menjaganya dari kaum Quraisy. Maka Rasul yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

"Sesungguhnya kita telah membuat kesepakatan perdamaian antara kita dan kaum tersebut, dan kita telah memberikan janji kepada mereka atas hal itu begitu pula mereka telah memberikan janji kepada kita, dan sesungguhnya kita tidak akan mengkhianati mereka."[16]

  • Ketiga: Para ahli fikih berkata: Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengkhianati penduduk Darul Harb (wilayah kafir yang memerangi Islam) apabila ia memasuki negeri mereka dengan jaminan keamanan dari mereka, karena pengkhianatan terhadap mereka adalah bentuk ingkar janji (gadr), sedangkan perbuatan ingkar janji tidak dibenarkan sama sekali dalam agama Islam[17].
  • Keempat: Para ahli fikih mazhab Hambali berkata: "Apabila orang-orang kafir melepaskan tawanan muslim dan mereka menyumpahinya agar ia mengirimkan tebusan kepada mereka atau ia harus kembali kepada mereka, maka wajib baginya untuk memenuhinya." Allah Ta'ala berfirman:

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji...” [QS. An-Nahl: 91].

Dan karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Sesungguhnya tidak dibenarkan perbuatan ingkar janji dalam agama kita."[18]

  • Kelima: Apabila Darul Harb memungut pajak atas harta yang dibawa oleh rakyat Darul Islam yang memasuki wilayah mereka dengan jumlah yang dapat menghabiskan harta tersebut, atau mereka mengambil pajak yang besar dari harta yang sedikit yang tidak sebanding dengan harta tersebut, maka Darul Islam tidak akan membalas mereka dengan tindakan serupa (membalas setimpal dalam hal buruk). Para ahli fikih memberikan alasan atas pendapat mereka ini bahwa perbuatan penduduk Darul Harb tersebut adalah bentuk ingkar janji dan kezaliman, maka kita tidak membalas mereka dengan ingkar janji dan kezaliman, karena kita telah dilarang untuk berakhlak dengan akhlak seperti itu meskipun mereka mempraktikkannya[19].

Ketiga – Keharusan Akhlak dalam Sarana (Wasilah) dan Tujuan (Ghayah)

12- Karakteristik ketiga dari sistem akhlak dalam Islam adalah bahwa komitmen terhadap konsekuensi akhlak dituntut baik dalam sarana maupun tujuan. Maka tidak diperbolehkan mencapai tujuan yang mulia dengan menggunakan sarana yang keji (buruk). Oleh karena itu, tidak ada tempat dalam konsep akhlak islami bagi prinsip yang khabis (busuk) yaitu: "Tujuan menghalalkan cara (sarana)," yang mana itu adalah prinsip yang merosot kepada kita dari negeri-negeri kafir.

Hal yang menunjukkan hal tersebut—yakni tentang keharusan legalitas sarana dan penjagaan makna-makna akhlak di dalamnya—adalah firman Allah Ta'ala:

“...Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al-Anfal: 72].

Ayat yang mulia ini mewajibkan kaum muslimin untuk menolong saudara-saudara mereka yang dizalimi demi menunaikan hak persaudaraan dalam agama. Akan tetapi, apabila pertolongan kepada mereka itu menuntut pembatalan (secara sepihak) terhadap perjanjian yang ada dengan kaum kafir yang zalim tersebut, maka pertolongan itu tidak diperbolehkan; karena sarana untuk menolongnya adalah pengkhianatan dan pembatalan janji, sedangkan Islam sangat membenci pengkhianatan dan membenci orang-orang yang berkhianat.

Keempat – Hubungan Akhlak dengan Iman dan Takwa kepada Allah

13- Akhlak dalam Islam terhubung erat dengan keimanan dan takwa kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman:

“...maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” [QS. At-Tawbah: 4].

Maka memenuhi janji adalah bagian dari takwa kepada Allah dan bagian dari kecintaan kepada Allah, dan termasuk bagian dari iman adalah bersegera menuju apa yang dicintai oleh Allah Ta'ala.

Di dalam hadis disebutkan:

"Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji."

Maka iman itu pastilah melahirkan akhlak yang baik, yang mana puncaknya adalah sifat amanah dan menjaga janji. Barangsiapa yang kehilangan sifat amanah dan menyia-nyiakan janji, maka hal itu menjadi tanda atas kosongnya dirinya dari makna-makna keimanan yang dituntut darinya serta kelalaiannya terhadap takwa kepada Allah.

Di dalam hadis yang lain disebutkan:

"Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!" Ditanyakan: "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya (keburukannya)."

Maka hadis yang syarif ini menunjukkan bahwa akhlak yang buruk itu menafikan keimanan dan bertolak belakang dengannya, serta tidak akan berkumpul bersama antara keimanan dengan akhlak yang buruk.

Kelima – Balasan (Sanksi dan Pahala)

14- Di antara karakteristik sistem akhlak dalam Islam adalah adanya جزاء (balasan/sanksi/pahala), karena Islam membawa akhlak dalam bentuk perintah dan larangan. Tindakan mendurhakai perintah syariat atau melakukan apa yang dilarang darinya merupakan sebab datangnya siksaan. Allah Ta'ala berfirman:

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” [QS. Al-Humazah: 1].

Sebagaimana berkomitmen pada batasan-batasan syariat dan menaatinya merupakan sebab mendapatkan pahala yang baik.

Balasan bagi orang yang menyelisihi batasan-batasan syariat dalam hal akhlak adakalanya terjadi di dunia. Maka saksi palsu, orang yang kotor lisannya, pengkhianat, dan yang sejenisnya akan dihukum oleh hakim muslim dengan hukuman takzir. Serta tindakan melanggar sumpah—yaitu tidak memenuhi janji yang telah dikuatkan dengan nama Allah—akan berkonsekuensi wajibnya membayar kafarat sumpah, dan di dalam kafarat tersebut terkandung makna hukuman (sanksi) sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli fikih.

Adakalanya juga balasan di dunia itu berupa kebinasaan bagi suatu kelompok masyarakat yang di dalamnya telah tersebar luas akhlak yang buruk. Balasan ini telah diisyaratkan oleh hadis syarif:

"Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka dahulu apabila orang yang terhormat di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya (tidak dihukum), dan apabila orang yang lemah mencuri, mereka menegakkan hukuman had atasnya..."

Contoh lainnya adalah menyebarnya sifat pengecut di tengah umat, dan membiarkan orang-orang zalim bertindak semena-mena terhadap hak-hak manusia tanpa ada pengingkaran terhadap mereka karena rasa takut kepada mereka, sifat pengecut, dan lebih memilih kehinaan serta kehidupan yang merendahkan. Maka akhlak-akhlak tercela ini menjadi sebab bagi kebinasaan umat atau ditimpakannya keburukan yang besar atau bahaya fatal yang akan menimpa baik orang yang berdosa maupun orang yang tidak berdosa. Allah Ta'ala berfirman:

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu...” [QS. Al-Anfal: 25].

Apakah Akhlak Bisa Diperoleh (Diusahakan) dan Diperbaiki?

15- Sekarang, setelah kami menjelaskan kedudukan akhlak dalam Islam, sejauh mana pengaruhnya dalam amal perbuatan, serta apa yang diakibatkannya berupa pahala dan siksaan, kita bertanya: Apakah mungkin memperbaiki akhlak, memperoleh akhlak yang baik, dan melepaskan diri dari akhlak yang buruk? Ataukah akhlak itu merupakan sifat-sifat pasti yang diciptakan di dalam diri manusia dan ia tercetak di atasnya sehingga ia tidak mungkin mengubahnya, menggantinya, maupun memodifikasinya, sebagaimana ia tidak mungkin mengubah sifat-sifat fisiknya berupa tinggi, pendek, dan warna kulit?

Jawaban atas pertanyaan ini, sebagaimana yang tampak bagi kami, diringkas dalam hal-hal berikut:

·        Pertama: Sesungguhnya akhlak secara garis besar dapat diperbaiki dan dimodifikasi, sebagaimana mungkin juga memperoleh akhlak yang baik dan melepaskan diri dari akhlak yang buruk, begitu pula sebaliknya. Dalil kami atas hal tersebut adalah bahwa syariat memerintahkan untuk berakhlak dengan akhlak yang baik dan melarang berakhlak dengan akhlak yang buruk. Seandainya hal itu tidak mungkin dan berada di luar kemampuan manusia, niscaya syariat tidak akan membawanya. Islam tidak pernah memerintahkan hal yang mustahil. Di antara kaidah usul fikih dalam fikih Islam berbunyi: "Tidak ada pembebanan hukum (taklif) kecuali pada hal yang mampu dilakukan," atau "Tidak ada pembebanan hukum pada hal yang mustahil."

Atas dasar ini, setiap manusia memiliki kecakapan dan kemampuan untuk menghiasi diri dengan akhlak yang baik dan melepaskan diri dari lawan-lawannya, sebagaimana ia juga memiliki kecakapan dan kemampuan untuk melakukan kebalikannya. Hal ini dapat dikuatkan dengan firman Allah Ta'ala:

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” [QS. Asy-Syams: 7-10].

Akan tetapi, meskipun demikian, manusia memang bertingkat-tingkat dalam kadar kecakapan, kemampuan, dan kesiapan mereka untuk memperoleh akhlak atau memodifikasinya, sebagaimana mereka juga berbeda dalam kadar kecakapan, kemampuan, dan kesiapan mereka untuk menerima berbagai macam ilmu atau memahami fakta-fakta yang rumit, dikarenakan perbedaan akal dan tingkat kecerdasan mereka.

·        Kedua: Sesungguhnya sebagian manusia terkadang diberi watak asli (jabal) atas sebagian akhlak, sehingga akhlak-akhlak ini menonjol pada diri mereka dan terlihat jelas dalam perilaku mereka. Dalil kami atas hal ini adalah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, yang di dalamnya disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Al-Asyaj bin Abdul Qais:

"Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perangai yang dicintai oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, yaitu sifat santun (hilm) dan tidak tergesa-gesa (anah)." Ia bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah aku yang mengusahakan keduanya ataukah Allah Ta'ala yang telah membentuk watakku di atas keduanya?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Melainkan Allah yang telah membentuk watakmu di atas keduanya." Maka ia berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah membentuk watakku di atas dua perangai yang dicintai oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya."[20]

Tidak diragukan lagi bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam hal akhlak yang menjadi watak asli mereka, sebagaimana mereka bertingkat-tingkat dalam kekuatan pemahaman dan kecerdasan yang menjadi watak asli mereka. Konsekuensi dari hal tersebut adalah bahwa barangsiapa yang diberi watak asli berupa jenis akhlak tertentu, maka akan mudah baginya untuk memantapkan jenis akhlak ini di dalam jiwanya dan terus berada di atasnya, karena ia mendapatkan bantuan dalam hal itu dari watak asli yang ada pada dirinya.

Bagaimana Cara Mewujudkan Perbaikan Akhlak atau Memperolehnya?

Sesungguhnya perbaikan akhlak atau perolehannya dapat terjadi dalam salah satu bentuk berikut ini:

·        Pertama: Dengan meminimalkan dampak-dampaknya dan tidak terus maju dalam melaksanakan konsekuensi serta apa yang diserukannya. Ini berlaku bagi akhlak yang dianggap sebagai bagian dari insting (naluri) pada setiap manusia, di antaranya adalah marah. Hal ini ditunjukkan oleh apa yang ada di dalam hadis syarif yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Berilah aku wasiat." Maka shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kamu marah." Laki-laki itu mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali, dan Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam tetap bersabda kepadanya: "Janganlah kamu marah."

Para ulama berkata dalam penjelasan hadis tersebut: Bahwa larangan dari marah itu diarahkan kepada larangan beramal mengikuti konsekuensi kemarahan, artinya dengan keharusan menolak dampak-dampak amarah, dan larangan tersebut bukan kembali kepada esensi marah itu sendiri, karena marah termasuk tabiat manusia yang tidak mungkin ditolak atau dicabut sampai ke akarnya[21]... Maka yang dituntut dalam memperbaiki akhlak marah bukanlah mencabutnya sama sekali karena hal itu tidak mungkin, melainkan yang mungkin adalah mengendalikannya, menahannya, dan tidak melaksanakan konsekuensinya.

Hal ini didukung oleh apa yang ada di dalam Al-Qur'an al-Karim: “...dan orang-orang yang menahan amarahnya...” [QS. Ali 'Imran: 134], maka Allah memuji mereka atas tindakan meredam amarah mereka dan mengendalikannya, bukan atas tindakan mencabutnya. Dan di dalam Al-Qur'an juga disebutkan: “...dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” [QS. Asy-Syu'ara: 37], maka Allah memuji mereka karena tidak melaksanakan konsekuensi kemarahan mereka. Dan di dalam hadis syarif disebutkan: "Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago gulat, melainkan orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah."

·        Kedua: Dengan membersihkan, mendidik, menghilangkan kekeruhan dari asal akhlak tersebut, serta mengarahkannya ke arah yang diridai dalam syariat Islam. Contohnya seperti akhlak syaja'ah (keberanian); yang mana pemiliknya terkadang menggunakannya untuk berbuat zalim dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, atau untuk mencari reputasi (sum'ah) dan kedudukan. Dan seperti sifat dermawan; yang mana pemiliknya terkadang menggunakannya untuk bermegah-megahan dan riya. Akhlak-akhlak ini pada asalnya adalah terpuji, dan ia hanyalah dicela karena melenceng dari tujuan yang benar dan arah yang diridai dalam syariat.

Maka perbaikannya adalah dengan menghilangkan tujuan-tujuan yang keji ini darinya dan dengan mengarahkannya ke arah yang benar; yaitu dengan menjadikan keberanian itu untuk menolong orang yang lemah, membantu orang yang dizalimi, menundukkan orang yang zalim, meninggikan kalimat Allah, dan menghancurkan kekafiran serta kebatilan demi mengharap keridaan Allah semata, bukan untuk mencari reputasi, riya, kedudukan, maupun pujian. Begitu pula sifat dermawan diarahkan ke arah yang diridai di sisi Allah dengan menjadikannya di jalan-Nya dan untuk mencari keridaan-Nya; yaitu dengan cara seorang muslim menginfakkan hartanya dalam pintu-pintu kebajikan seperti memuliakan tamu, tetangga, menyantuni anak yatim, membantu orang yang membutuhkan atau memberinya pinjaman, mengurus janda dan orang miskin, serta yang sejenisnya.

Hal yang menunjukkan apa yang kami katakan ini adalah hadis-hadis syarif yang banyak, di antaranya: Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberanian, berperang karena fanatisme golongan, dan berperang karena riya, manakah di antara semua itu yang berada di jalan Allah? Maka beliau bersabda: "Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah."[22] Dan di dalam Al-Qur'an al-Karim disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia...” [QS. Al-Baqarah: 264].

Dan di dalam hadis syarif disebutkan: "Manusia itu bagaikan barang tambang, orang-orang yang terbaik di antara mereka pada masa Jahiliah adalah orang-orang yang terbaik di antara mereka pada masa Islam apabila mereka paham (fih)." Karena dengan pemahaman ini, mereka menggunakan sifat-sifat dan akhlak mereka yang pada asalnya baik dengan penggunaan yang benar, dan mereka mengarahkannya ke arah yang benar, sehingga mereka menjadi manusia-manusia terbaik.

·        Ketiga: Mengganti akhlak yang tercela dengan akhlak yang baik. Seperti mengganti dusta dengan kejujuran, pengkhianatan dengan pemenuhan janji, serta kezaliman dan permusuhan dengan keadilan dan sifat insaf (objektif). Penggantian ini sangat mungkin terjadi pada banyak akhlak, di mana akhlak yang tercela akan hilang dan digantikan kedudukannya oleh akhlak yang indah, sebagaimana yang kita saksikan hal itu pada diri seseorang yang bertobat dengan tobat yang nasuha (jujur/tulus).

[16] s.d [22] Merupakan penanda nomor catatan kaki/catatan penjelasan lafaz yang ada pada teks asli.

Berikut adalah terjemahan lengkap dan setia (tidak diringkas) dari bagian teks bahasa Arab tersebut ke dalam bahasa Indonesia, disesuaikan dengan susunan paragraf asli beserta nomor penanda, teks ayat/hadis, dan seluruh catatan kaki yang ada:

Sarana-Sarana Perbaikan Akhlak

Terdapat banyak sarana untuk memperbaiki akhlak, memperoleh akhlak yang baik, serta melepaskan diri dari akhlak yang buruk. Barangkali sarana yang paling penting di antaranya adalah sebagai berikut:

1- Ilmu, dan yang kami maksud dengannya di sini adalah mengetahui jenis-jenis akhlak mulia yang diperintahkan oleh Islam, serta jenis-jenis akhlak tercela yang dilarang oleh Islam. Sesungguhnya ilmu ini sangat darurat (penting), karena tanpanya seorang muslim tidak akan mengerti dengan akhlak apa ia harus menghiasi diri, dan dari akhlak apa ia harus membersihkan diri. Islam telah mencukupkan bagi seorang muslim beban pencarian dan penggalian (istimbat) tersebut, karena Islam telah memperinci akhlak dalam kedua jenisnya. Tugas seorang muslim hanyalah menghadapkan dirinya pada kedua jenis akhlak tersebut untuk mengetahui di mana posisinya, kemudian berjuang keras agar akhlaknya benar-benar menjadi akhlak islami yang sejati.

2- Tidaklah cukup sekadar mengetahui jenis-jenis akhlak secara pengetahuan abstrak semata. Melainkan, seorang muslim wajib mengetahui betapa besarnya kebutuhan dirinya terhadap akhlak yang baik; karena hal itu terhubung dengan keimanan dan takwa kepada Allah, serta menjadi sebab untuk meraih keridaan Allah dan memasuki surga. Sebagaimana ia juga wajib mengetahui betapa besarnya bahaya akhlak yang buruk atas dirinya; karena hal itu termasuk tanda-tanda kemunafikan, indikasi lemahnya iman, serta sebab datangnya kemurkaan Allah dan masuk neraka. Sesungguhnya pengetahuan ini akan mendorongnya untuk berakhlak dengan akhlak yang baik karena rindu pada keridaan Allah Ta'ala, sebagaimana ia juga akan mendorongnya untuk membebaskan diri dari akhlak yang buruk karena takut pada kemurkaan Allah. Sebab, barangsiapa yang merindukan sesuatu, ia akan berusaha menuju kepadanya, dan barangsiapa yang takut pada sesuatu, ia akan lari darinya.

3- Tidaklah cukup bagi seorang muslim sekadar mengetahui jenis-jenis akhlak yang buruk beserta akibat-akibatnya. Melainkan, ia wajib senantiasa menghadirkan pengetahuan ini dalam benaknya agar tidak lupa; karena bencana ilmu adalah lupa, dan lupa akan menyebabkan kelalaian terhadap makna-makna akhlak. Akibatnya, pengaruh akhlak tersebut melemah di dalam jiwa, lalu lahirlah perbuatan-perbuatan yang tidak selayaknya. Karena alasan inilah Al-Qur'an al-Karim mengulang-ulang makna akhlak, dan menjelaskan kepada kita bahwa apa yang terjadi pada ayah kita, Adam 'alaihis salam, di antara sebabnya adalah lupa. Allah Ta'ala berfirman:

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa, dan tidak Kami dapati padanya keteguhan hati.” [QS. Thaha: 115].

Dan ketika Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhu marah karena ada seorang laki-laki yang berkata kepadanya, "Sesungguhnya engkau tidak memutuskan dengan adil dan tidak menetapkan dengan benar," maka sebagian orang yang hadir berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman: 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.' dan orang ini termasuk orang yang bodoh." Maka Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Engkau benar," lalu kemarahan itu pun pergi darinya.

Maka, senantiasa mengingat makna-makna akhlak secara kontinu serta mengingat asas yang melandasinya—yaitu iman kepada Allah Ta'ala, dan bahwa berkomitmen pada konsekuensi akhlak merupakan bagian dari buah keimanan dan makna keislaman—semua hal ini akan membuat perilaku seorang muslim tetap berada dalam batasan akhlak islami.

4- Memberikan perhatian penuh untuk memperkuat makna-makna akidah islamiah di dalam jiwa. Di puncak makna-makna ini adalah iman kepada Allah, hari akhir, dan risalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta merasakan keterasingan di dunia ini dan menyadari bahwa seorang muslim dalam waktu dekat akan beranjak pergi darinya, dan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya—di mana akhlak termasuk dari amalnya—. Serta menyadari bahwa Allah Ta'ala telah menjanjikan janji yang benar berupa pahala bagi orang-orang yang berakhlak dengan akhlak Islam, dan menjanjikan siksaan bagi orang yang menolak akhlak Islam.

Sesungguhnya memperkuat makna akidah islamiah di dalam jiwa akan menyebabkan terbukanya jiwa dan kesiapannya untuk menerima makna-makna akhlak islami. Karena akhlak ini terhubung erat dengan iman dan makna takwa sebagaimana yang telah kami sampaikan. Hubungan ini akan semakin kuat manakala iman semakin kuat di dalam jiwa dan akidah semakin kokoh tertanam di dalamnya. Hal ini menjadikan akhlak baik seorang muslim bersifat konstan, kokoh, tidak lenyap, dan tidak melemah; karena ia terhubung dengan Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, dan ia menemukan materi kelangsungan, kontinuitas, serta kebaikannya dari limpahan yang tidak akan pernah kering ini, yaitu: iman kepada Allah dan konsekuensi-konsekuensi iman tersebut.

Seorang muslim, sebagai contoh, tidak mungkin menjadi orang yang hina selamanya; karena ia terhubung dengan Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa yang memiliki seluruh kemuliaan: “Katakanlah: ‘Milik Allah-lah kemuliaan itu semuanya’.” Dan orang-orang mukmin yang terhubung dengan-Nya memiliki bagian dari kemuliaan tersebut: “Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.” Orang mukmin juga tidak takut kepada makhluk dan tidak gentar kepadanya, sehingga oleh karena itu ia tidak akan menjilatnya, tidak menghinakan diri di hadapannya, dan tidak bermuka dua (munafik) di sisinya; karena segala urusan berada di tangan Allah, termasuk di antaranya manfaat, mudarat, rezeki, hidup, dan mati: “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghapuskannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya.”

Namun, kemuliaan (izzah) seorang mukmin tidak dibersamai oleh sekecil apa pun zarah kesombongan, kesewenang-wenangan, keangkuhan, kecongkakan, ataupun ujub (bangga diri). Karena kemuliaan seorang mukmin tegak di atas iman kepada Allah, sedangkan keagungan dan keperkasaan itu hanyalah milik Allah semata. Segala sesuatu selain-Nya adalah fakir, diatur (marbub), dan ditundukkan. Maka bagaimana mungkin seorang yang fakir lagi ditundukkan dapat bersikap sombong atau sewenang-wenang kepada orang lain?

Oleh karena inilah, seorang muslim tidak lain pasti bersikap tawadu (rendah hati); karena ia telah mengetahui kadar dirinya setelah ia mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengetahui kadar dirinya tidak akan pernah bersikap sombong selamanya. Bersamaan dengan kemuliaan dan ketawaduan itu, terdapat kesabaran yang indah (sabar jamil), kepercayaan yang penuh (tsiqah), harapan yang tidak dicampuri oleh keputusasaan, serta ketenteraman yang tidak dimasuki oleh kecemasan. Karena iman itu membuahkan akhlak mulia ini. Allah Ta'ala berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” Dan karena apa yang telah ditakdirkan pasti terjadi, maka tidak ada alasan untuk cemas dan bergejolak: “Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami’.” Dan karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dialah yang mencukupinya.

Sifat berani (syaja'ah), kelantangan, ketegasan melangkah (iqdam), serta teguh di atas kebenaran, dan yang sejenisnya merupakan akhlak yang kokoh di dalam diri seorang muslim selama hatinya makmur dengan makna-makna keimanan. Karena keimanannya mengajarkannya bahwa kehidupan ini tidaklah layak membuat seorang muslim menjadi lemah, pengecut, atau menahan diri pada posisi yang mengharuskan dirinya maju melangkah. Sebab, ajal-ajal telah selesai ditetapkan, dan kematian pasti akan menemui setiap yang bernyawa. Allah Ta'ala berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.”

Sifat qanaah (merasa cukup), menjaga kehormatan diri ('iffah), serta tidak bergantung (merasa kaya) dari makhluk dan dari apa yang ada di tangan mereka, merupakan buah-buah yang baik lagi suci dari buah-buah keimanan. Karena seorang muslim beriman kepada firman Allah Ta'ala: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui’.” Dan bahwa rezeki itu berada di tangan Allah: “Allah meluaskan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya...”

Demikianlah sisa akhlak lainnya, ia akan kokoh, awet, dan terus berlanjut selama ia tegak di atas keimanannya yang mendalam yang menembus lubuk hati dan mewarnai jiwa. Maka, memperdalam keimanan di dalam jiwa serta memperkuat makna akidah merupakan sarana yang sangat penting sekali untuk berakhlak dengan akhlak yang baik dan untuk melepaskan diri dari akhlak yang buruk.

5- Mengerjakan secara langsung amal-amal baik yang membantu atau mengarah pada perbaikan akhlak, atau memudahkan jiwa untuk menerima akhlak yang suci serta mengusir akhlak yang busuk. Sebab, ilmu saja tanpa amal tidaklah cukup. Allah Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” Dan Tuhan kita yang Mahasuci lagi Mahatinggi tidak berfirman: "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mempelajari cara menyucikannya." Maka, mutlak diperlukan adanya penyucian secara aktual (faktual), yaitu dengan mengerjakan secara langsung amal-amal yang mewujudkan kesucian jiwa dan membebaskannya dari penyakit-penyakit akhlak yang tercela. Sesungguhnya seorang pasien yang diresepkan obat untuknya atau bahkan telah disodorkan obat secara nyata kepadanya, namun ia tidak meminumnya, niscaya ia tidak akan mendapatkan manfaat darinya, meskipun ia terus-menerus memandangi obat itu dan mengulang-ulang perkataan tentang komposisi serta cara pembuatannya.

6- Di antara jenis amal-amal baik yang bermanfaat untuk memperbaiki akhlak adalah mendirikan berbagai macam ibadah dan ketaatan yang diwajibkan maupun yang disunahkan (mandub). Karena ibadah-ibadah tersebut menyucikan jiwa, memudahkannya untuk memperoleh akhlak yang baik, serta mengusir akhlak yang busuk. Ibadah bagi jiwa berfungsi sebagai pembersih, penyuci, kekuatan, dan penjagaan. Al-Qur'an telah mengisyaratkan makna-makna ini. Allah Ta'ala berfirman tentang shalat: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” Dan Dia berfirman tentang zakat: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” Yaitu membersihkan mereka dari sifat kikir dan pelit, serta menjernihkan jiwa mereka dari kekeruhan dan akhlak yang buruk.

Puasa mendidik manusia untuk memiliki keutamaan sabar, kekuatan tekad, kemauan, akhlak, serta pembebasan diri dari riya. Haji merupakan pendidikan praktis bagi ruhani, olahraga yang berpengaruh bagi jiwa, serta sarana yang efektif untuk memperoleh banyak akhlak sekaligus melepaskan diri dari banyak sifat tercela. Di dalam haji terdapat pendidikan atas kesabaran, keikhlasan, meninggikan diri di atas syahwat jasad, menginfakkan harta pada hal yang dicintai oleh Allah, serta membebaskan diri dari kesombongan, ujub, dan kepalsuan, serta menjadikan manusia melampaui ego kadar dirinya sendiri, dan hal-hal lain yang telah maklum dan disebutkan pada tempatnya di dalam buku-buku fikih.

Demikianlah sisa ibadah lainnya, dengan kontinuitasnya maka jiwa akan suci, sehingga makna iman dan takwa senantiasa awet di dalamnya, termasuk di antaranya akhlak yang diridai. Karena akhlak ini tidak akan tumbuh melainkan di dalam jiwa yang suci, dan tidak ada sesuatu yang menyamai ibadah dengan berbagai jenisnya yang berbeda-beda dalam menyucikan jiwa dan menyiapkannya untuk memperoleh akhlak yang baik serta membuang akhlak yang buruk. Di dalam kitabullah terdapat isyarat menuju makna-makna ini. Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap setia menunaikan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” [QS. Al-Ma'arij: 19-25].

7- Melakukan amal-amal yang kontradiktif (berlawanan) dengan akhlak yang ingin dibuang, atau berlawanan dengan konsekuensinya. Kita dapat menamakan metode ini dengan metode kontradiksi (tadhaddud) atau perlawanan terhadap setan (muraghamah). Karena setan itu merasa gembira dengan setiap akhlak yang buruk, bekerja untuk melestarikannya di dalam jiwa, serta memperindahnya di mata pemiliknya melalui argumen-argumen batil yang ia bisikkan. Maka apabila manusia melakukan suatu amalan yang mengontradiksi akhlak buruk ini dan tidak sejalan dengan apa yang dikonsekuensikannya, tindakan itu tidak diragukan lagi merupakan bentuk membuat setan jengkel dan melawannya. Hal ini akan mendorong setan untuk berhenti dari memperindah akhlak buruk tersebut serta berhenti dari mengembuskan argumen-argumen batil untuknya.

Apabila setan telah mundur (khonasa), maka amalan ini akan mampu mengguncang eksistensi akhlak buruk tersebut atau memusnahkannya, sebagaimana obat yang efektif memusnahkan penyakit. Hal yang menunjukkan kebaikan metode ini serta pengaruhnya dalam memperbaiki akhlak adalah apa yang tercantum dalam hadis bahwa seorang laki-laki mengadukan (kekerasan) hatinya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah bersabda kepadanya:

"Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin."

Di antara contoh amal kontradiksi dan perlawanan (muraghamah) adalah mengobati sifat hasad (dengki); yaitu dengan cara orang yang hasad segera bergegas memohon ampunan (istigfar) serta mendoakan kebaikan bagi orang yang dihasadnya, karena ia akan merasakan hilangnya rasa hasad itu dari hatinya. Dan di antara obat bagi kesombongan adalah duduknya orang yang sombong bersama orang-orang fakir, miskin, dan rakyat jelata, serta duduk di bagian paling belakang dalam suatu majelis, serta melakukan amal-amal yang dianggap remeh oleh manusia yang tidak pantas bagi orang-orang sombong seperti memikul kayu bakar dan yang sejenisnya.

Dan di antara hal yang dapat dikategorikan sebagai amalan dari sarana ini adalah apa yang disebutkan dalam hadis syarif:

"Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika kemarahan itu telah pergi darinya (maka cukup), namun jika belum maka hendaklah ia berbaring."[23]

Dan dalam hadis yang lain:

"Apabila salah seorang di antara kalian marah maka hendaklah ia berwudu dengan air, karena sesungguhnya marah itu dari api, dan sesungguhnya api itu hanyalah dipadamkan dengan air."

8- Metode pembiasaan yang dipaksakan (takaalluf). Yaitu manusia memaksakan dirinya untuk melakukan akhlak yang ingin ia miliki. Contohnya seperti jika ia ingin menjadi orang yang penyantun (halim), maka ia mendatangkan sifat santun itu secara dipaksakan berulang-ulang hingga jiwa menjadi akrab dengannya, terbiasa dengannya, dan akhlak itu berubah menjadi bagaikan tabiat dan perangai aslinya. Kebaikan metode ini didukung oleh apa yang tercantum dalam hadis—meskipun diriwayatkan dengan sanad yang lemah—:

"Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar, dan sifat santun itu hanya diperoleh dengan usaha menyantunkan diri (berlaku santun secara dipaksakan)."

Metode ini membutuhkan pengulangan dan kontinuitas hingga membuahkan hasilnya. Dan kontinuitas ini menuntut adanya kesabaran. Maka wajib bagi manusia yang ingin berakhlak dengan suatu jenis akhlak yang diridai melalui jalan takaalluf ini untuk menghiasi diri dengan kesabaran; karena sabar sangat darurat baginya, sebagaimana daruratnya obat yang pahit bagi seorang pasien yang meminumnya. Apabila ia bersabar dan kontinu, jiwa akan patuh dan akrab dengan perbuatan tersebut, kemudian perbuatan itu akan berubah menjadi terasa lezat baginya. Hal ini bagaikan orang yang ingin memperbagus tulisan tangannya; sesungguhnya dengan pengulangan menulis dan menggores khat, tulisan tangannya akan menjadi bagus, kemudian menulis khat tersebut akan menjadi sesuatu yang mudah lagi lezat bagi dirinya.

9- Bergaul (mencampur diri) dengan orang-orang mukmin yang memiliki akhlak yang baik, duduk bersama mereka, serta mendengarkan dari mereka. Karena melihat orang saleh yang memiliki akhlak baik, duduk bersamanya, dan mendengarkan darinya akan memberikan pengaruh pada orang yang duduk bersamanya, sehingga mendorongnya untuk mengadopsi (menyerap) sebagian akhlaknya. Sejak dahulu telah dikatakan: "Tabiat itu menyerap dari tabiat." Sungguh telah tercantum dalam hadis syarif yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Sa'id bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa."

Karena seseorang itu akan meneladani orang yang iagauli, ia jadikan sahabat, dan ia ajak duduk bersama, sehingga ia menyerap sifat-sifat darinya. Oleh karena inilah, para salaf saleh dahulu senantiasa berwasiat atau memerintahkan untuk memboikot (meninggalkan) para pelaku bidah, pelaku maksiat, dan orang-orang yang memiliki akhlak tercela.

10- Mengambil teladan yang baik (uswatun hasanah). Dan sebaik-baik teladan secara mutlak adalah Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzab: 21].

Maka jika seorang muslim saat ini telah kehilangan kesempatan untuk melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mata kepalanya, ia tidak akan kehilangan kesempatan untuk melihat beliau dengan mata batinnya, yaitu dengan cara menghadirkan perjalanan hidupnya (sirah) yang harum, sifat-sifatnya (syama'il) yang mulia, serta akhlaknya yang agung. Oleh karena itu, kami mewasiatkan kepada setiap muslim untuk membaca sirah beliau berulang-ulang, menghadirkan sosok beliau yang mulia di dalam benaknya, serta membayangkan dirinya sedang berada di dalam majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Termasuk bagian dari teladan yang baik juga adalah menghadirkan sirah para sahabatnya yang mulia yang penuh dengan kebaikan, keagungan amal, serta kemuliaan akhlak; khususnya sirah Khulafaur Rasyidin, sepuluh orang yang diberi kabar gembira masuk surga, para ahli Badar, para peserta Baiat Ridwan, serta seluruh kaum Muhajirin dan Ansar.

11- Meninggalkan lingkungan yang rusak dan lari darinya sebagaimana seseorang lari dari tempat yang terjangkit wabah, serta berpindah menuju lingkungan yang saleh yang merangkul kelompok yang saleh dari kalangan orang-orang mukmin yang baik. Karena lingkungan yang saleh ini akan memperkuat makna-makna akhlak mulia di dalam diri seorang mukmin dan menjaganya dari akhlak yang buruk. Tidak diperbolehkan baginya membiarkan dirinya terpapar pada lingkungan yang rusak yang berisi orang-orang yang rusak dengan dalih bahwa dirinya memiliki akhlak yang kokoh sehingga tidak dikhawatirkan terpengaruh oleh mereka atau oleh lingkungan tersebut. Karena hal ini merupakan bentuk kepalsuan (tertipu daya) dan ilusi. Contohnya adalah bagaikan contoh orang yang memaparkan dirinya pada tempat yang terjangkit wabah penyakit TBC dan yang sejenisnya dengan dalih bahwa dirinya memiliki fisik yang kuat.

Kita dapat menguatkan apa yang kami katakan ini dengan hadis syarif yang di dalamnya disebutkan bahwa ada seorang laki-laki telah membunuh seratus jiwa, kemudian ia bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang alim maka ia mendatanginya. Laki-laki itu berkata: "Bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, apakah masih ada tobat baginya?" Orang alim itu menjawab: "Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi antara dirimu dengan tobat? Pergilah kamu ke negeri ini dan itu, karena sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah, maka sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah kamu kembali ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang buruk...dst."[24]

Maka hadis ini menunjukkan atas daruratnya (wajibnya) berpindah dari masyarakat yang rusak menuju masyarakat yang baik, atau menuju kelompok yang baik, beriman, lagi ahli ibadah. Karena hidup bersama mereka dan tinggal bersama mereka lebih dapat mengantarkan pada keistiqamahan seseorang serta menjauhkannya dari keburukan.

Lingkungan yang rusak adalah segala hal yang memaparkanmu pada maksiat dan buruknya akhlak. Sedangkan lingkungan yang saleh adalah segala hal yang membantumu untuk menaati Allah dan bertakwa kepada-Nya, yang mana di antaranya adalah indahnya akhlak.

12- Sangat antusias terhadap suatu sifat yang indah dan menganggapnya bagaikan permata berharga yang wajib dipelihara, dijaga, tidak boleh dilalaikan, serta tidak meremehkan setiap sifat yang buruk meskipun tampak sederhana dan kecil urusannya. Karena seorang muslim tidak akan pernah menganggap kecil sedikit pun akhlak yang baik, dan tidak meremehkan sedikit pun akhlak yang buruk. Sebab, bisa jadi satu sifat yang baik akan mengangkatnya ke derajat-derajat yang tinggi, dan bisa jadi satu sifat yang buruk akan memasukkannya ke dalam neraka. Allah Ta'ala telah memuji Rasul-Nya, Ismail 'alaihis salam, dengan sifat jujur dalam berjanji. Allah Ta'ala berfirman: “Dan ceritakanlah (kisah) Ismail di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya...” [QS. Maryam: 54]. Dan di dalam hadis disebutkan: "Jagalah diri kalian dari api neraka meskipun hanya dengan sebiji kurma."

Sebagaimana satu sifat, jika dijaga dan dijalankan secara kontinu, akan menyebabkan sifat tersebut tertanam kokoh di dalam dirinya. Jika sifat itu berupa kebaikan maka hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika sifat itu berupa keburukan maka hal itu menjadi keburukan baginya; dan kebaikan akan mengantarkan pada kebaikan, sedangkan keburukan akan mengantarkan pada keburukan. Telah tercantum dalam hadis syarif dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menunjuki kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjuki kepada surga. Dan senantiasa seseorang berlaku jujur dan berusaha untuk jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur (shiddiq). Dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta, karena dusta itu menunjuki kepada kejahatan (fujur), dan kejahatan itu menunjuki kepada neraka. Dan senantiasa seorang hamba berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta."

13- Wajib bagi seorang muslim untuk melatih dirinya agar menerima nasihat dari orang yang taat beragama, cerdas (kays), warak, lagi jujur. Karena seorang mukmin itu dapat melihat aib-aib saudaranya yang mana saudaranya itu tidak dapat melihat aib-aib dirinya sendiri. Dari sinilah, bersahabat dengan orang-orang pilihan (baik) menjadi sesuatu yang indah. Umar radhiyallahu 'anhu dahulu pernah berkata: "Semoga Allah merahmati seseorang yang telah menghadiahkan aib-aibku kepadaku." Sesungguhnya pemberi nasihat yang jujur yang menunjukkan kepadamu tentang aib-aibmu serta buruknya sebagian akhlakmu, sangat berhak mendapatkan ucapan terima kasih dan penghargaan darimu.

Sesungguhnya engkau pasti akan berterima kasih kepada orang yang menunjukkan kepadamu tentang adanya kalajengking yang sedang merayap di tubuhmu atau bersembunyi di balik pakaianmu, dan engkau akan bersegera melemparnya jauh-jauh darimu. Maka demikian pulalah yang wajib engkau lakukan terhadap orang yang menasihatimu dan menunjukkan kepadamu tentang aib-aib akhlakmu. Karena akhlak yang tercela adalah kalajengking-kalajengking, akan tetapi mereka menyakiti hati dan mengalirkan racun-racunnya di dalamnya..

Ini adalah sebagian sarana penting dalam memperbaiki akhlak serta memperoleh jenis akhlak yang baik. Dan masih ada sarana-sarana penting lainnya dalam tema ini, namun kami cukupkan dengan apa yang telah kami sebutkan..

Teks Catatan Kaki (Al-Hawamis) dari Teks Asli

[1] Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, Jilid 3, Halaman 46.

[2] As-Sukhriyyah bin naas: menghina mereka dan mengolok-olok mereka. Al-Lamz: mencela mereka dengan perkataan. Al-Hamz: mencela mereka dengan perbuatan. Dan orang yang suka mengumpat lagi mencela (al-hammaz al-lammaz) adalah orang yang dicela lagi dilaknat. Allah Ta'ala berfirman: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” At-Tanabuz bil alqab: engkau memanggil orang lain dengan julukan yang ia benci mendengarnya. Azh-Zhann (Prasangka) sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya: Tuduhan dan pengkhianatan terhadap istri, kerabat, dan manusia pada tempat yang bukan semestinya, karena sebagian prasangka itu adalah dosa, maka wajib menjauhi kebanyakan darinya sebagai bentuk kehati-hatian. Dan dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu ia berkata: "Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap satu kalimat yang keluar dari lisan saudaramu yang mukmin melainkan prasangka yang baik, selama engkau masih mendapati adanya celah kebaikan padanya." Al-Ghibah (Menggunjing): sebutanmu terhadap saudaramu mengenai apa yang ia benci, jika apa yang engkau sebutkan itu memang ada pada dirinya, maka engkau telah menggunjingnya (gibah).

[3] Al-Laghu: adalah segala hal yang tidak terpuji baik berupa perkataan maupun perbuatan.

[4] Al-'Aadun: mereka adalah orang-orang yang melampaui batas halal menuju batas haram.

[5] Al-Firdaus: tingkatan jannah (surga) yang paling tinggi.

[6] Haunan: artinya dengan ketenangan, kewibawaan, dan ketawaduan.

[7] Artinya mereka mengucapkan perkataan yang lurus (sadid), dan mereka tidak masuk ke dalam perdebatan serta pertikaian bersama orang-orang jahil.

[8] Gharaman: artinya azab yang pasti lagi berkepanjangan.

[9] Qawaman: artinya adil/pertengahan tanpa bersikap berlebihan (israf) dan tidak pula kikir (taqtir).

[10] Atsaman: artinya siksaan dan balasan.

[11] Wala yasyhaduuna az-zuur: artinya mereka tidak menghadiri majelis-majelis keburukan, dusta, kekafiran, kefasikan, dan kebatilan.

[12] Marruu kiraaman: artinya mereka memuliakan diri mereka sendiri dengan cara berpaling dari tempat-tempat maksiat/kebatilan (az-zuur).

[13] Artinya keadaan mereka tidaklah seperti keadaan orang-orang kafir yang mana mereka mendengar kalamullah namun tidak terpengaruh dengannya dan tidak memahami apa yang ada di dalamnya seolah-olah mereka tuli lagi buta. Melainkan, keadaan orang-orang mukmin ketika mendengar kalamullah adalah memahami maknanya dan mengambil manfaat darinya.

[14] Imaaman: artinya jadikanlah kami para pemimpin yang diteladani dalam kebaikan. Atau para pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk yang menyeru kepada kebaikan.

[15] Hasanat mustaqarran wa muqaamaa: artinya tempat memandang yang indah serta tempat istirahat dan tempat tinggal yang baik.

[16] Sirah Ibnu Hisyam pada tema Perjanjian Hudaybiyah.

[17] Al-Mughni karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Al-Hambali, Jilid 8, Halaman 458.

[18] Al-Mughni, Jilid 8, Halaman 483.

[19] Al-Mabsut, Jilid 12, Halaman 200, dan Hasyiyah Ibnu Abidin, Jilid 2, Halaman 56.

[20] Taysirul Wushul karya Ibnu Ad-Daiba' Asy-Syaibani, Jilid 4, Halaman 304.

[21] Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyyah karya Imam An-Nawawi, Halaman 49, dan Fathul Mubin li Syarhil Arba'in karya Al-Faqih Ibnu Hajar Al-Haytami, Halaman 140.

[22] Taysirul Wushul, Jilid 1, Halaman 231, dan ia berkata di dalamnya: Diriwayatkan oleh Imam yang Lima (Al-Khamsah).

[23] Karena orang yang berdiri itu berada dalam posisi siap untuk membalas dendam, sedangkan orang yang duduk itu berada di bawah posisinya, dan orang yang berbaring berada di bawah posisi keduanya.

[24] Taysirul Wushul, Jilid 1, Halaman 212.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat