Pasal 4: Hukum Perilaku Anda

BAB KEEMPAT: HUKUM-HUKUM PERILAKUMU

Tujuan Umum:

  1. Memahami faktor-faktor penentu perilaku yang terorganisasi dan bertujuan bersama diri sendiri.
  2. Membentuk sikap positif terhadap hukum-hukum perilaku islami yang terorganisasi.
  3. Melakukan pelatihan melalui aktivitas, praktik, evaluasi, serta introspeksi (akuntabilitas) mandiri untuk menguasai hukum-hukum perilaku.

Tujuan Perilaku Instruksional (Instruksional Khusus) untuk Tema Ini:

Dengan berakhirnya proses pembelajaran pada tema ini, diharapkan peserta didik mampu untuk melakukan hal-hal berikut:

Pertama: Tujuan Kognitif (Pengetahuan):

  1. Mengenali keharusan bahwa filosofi hidupnya harus bersumber dari dalam dirinya sendiri.
  2. Memberikan dalil/bukti atas pentingnya kaidah emas perilaku: Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu suka mereka memperlakukanmu.
  3. Menentukan filosofi pribadinya dalam menyikapi berbagai urusan dengan cara yang positif.
  4. Menganalisis ide-ide dan persoalan-persoalan yang menyibukkan pikirannya bersama para ahli pikir dan orang yang berpengalaman hingga ia mencapai keputusan yang tepat.
  5. Menjelaskan pentingnya mengorganisasi waktu dan tenaga, serta meraih rasa percaya diri dan penghormatan dari orang lain.
  6. Mengklasifikasikan kriteria-kriteria yang membantunya untuk meraih kesuksesan dan mewujudkan keseimbangan bagi dirinya.
  7. Memaparkan bagaimana cara mengubah suatu ide menjadi sebuah keyakinan yang kokoh.
  8. Mengenali cara mengorganisasi urusan-urusan pribadinya.
  9. Menjelaskan metode untuk memahami orang lain.
  10. Memaparkan pentingnya mewujudkan keseimbangan demi menggapai kebahagiaan.
  11. Menentukan jalan terbaik untuk memperoleh indra ketajaman batin ( تبصّر / wawasan mendalam).
  12. Membedakan antara opini (pendapat), keyakinan (asumsi awal), dan kepuasan hati (konvingsi/keyakinan setelah pembuktian).

Kedua: Tujuan Afektif (Sikap/Nilai):

  1. Berprasangka baik (husnuzan) kepada orang lain.
  2. Mengutamakan keteraturan dan kedisiplinan dalam seluruh urusan kehidupannya.
  3. Berkomitmen pada pembaruan (inovasi) dalam hidupnya serta menjauhkan diri dari rasa jenuh dan rutinitas yang monoton demi mewujudkan keseimbangan.
  4. Menampilkan tujuannya seraya menyuarakannya dengan penuh rasa percaya diri.
  5. Menjauhkan diri dari keyakinan-keyakinan negatif yang menghambat kesuksesannya.
  6. Melawan kegagalan dengan tekad yang pasti, karena tidak ada lagi hal yang mustahil mulai hari ini.
  7. Mengaitkan makna-makna yang baik serta perasaan-perasaan positif pada peristiwa-peristiwa yang dilaluinya guna melipatgandakan kekuatannya.
  8. Cenderung pada prasangka baik dan menerima permohonan maaf dari orang yang berbuat salah.
  9. Konsisten dalam memfungsikan potensi-potensinya serta memanfaatkannya dengan pemanfaatan yang paling optimal.
  10. Menghindari keputusasaan dan sifat manja/ketergantungan, serta memberikan ruang bagi imajinasinya untuk mengarungi tujuan-tujuan yang besar.
  11. Mengutamakan sikap optimis saat memecahkan masalah apa pun.
  12. Menganggap kegagalan sebagai tambahan bagi pengalaman pembelajarannya.
  13. Menetapkan kedisiplinan dan keteraturan secara terus-menerus.

Ketiga: Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):

  1. Menerapkan dengan baik prinsip: Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu suka mereka memperlakukanmu.
  2. Merencanakan dengan keterampilan yang sangat tinggi untuk membentuk suatu filosofi khusus bagi dirinya yang dapat membuahkan kesuksesan.
  3. Menciptakan metode-metode baru yang membantu untuk memperoleh pemahaman terhadap orang lain.
  4. Melatih diri pada kedisiplinan dan keteraturan dalam seluruh urusan pribadinya.
  5. Mencatat manfaat-manfaat paling utama dari kedisiplinan dan keteraturan.
  6. Mengeksplorasi potensi-potensi serta pencapaian-pencapaiannya yang dapat mewujudkan rasa percaya diri.
  7. Menguji coba suatu program yang ketat yang membiasakan dirinya pada kedisiplinan dan keteraturan.
  8. Membuat sesuatu walaupun sederhana yang selaras dengan minatnya guna mengaktualisasikan dirinya.
  9. Menggunakan seluruh kemampuan dan potensinya dengan penggunaan yang paling optimal untuk mewujudkan tujuan-tujuannya.
  10. Mempraktikkan imajinasi mental sebagai dorongan (stimulus) untuk mewujudkan tujuan-tujuannya.
  11. Berinovasi dalam menemukan metode-metode baru yang membantunya untuk menggunakan indra ketajaman batin secara benar.
  12. Mengusulkan suatu sistem khusus yang membantunya dalam mengorganisasi seluruh urusannya.
  13. Menggunakan usulan-usulan yang telah diletakkan di dalam pelajaran agar dapat meraih kesuksesan dan keunggulan.
  14. Menguji coba penggunaan imajinasi dan eksperimen untuk sampai pada hakikat-hakikat yang sebelumnya sulit ia wujudkan.

Materi Ilmiah:

Sebagaimana yang telah ditemukan oleh Paula Blanchard, bahwasanya filosofinya dalam kehidupan haruslah bersumber dari dalam dirinya sendiri. Maka dari itu, hendaknya filosofimu bersumber dari dalam dirimu sendiri. Setiap dari kita berbeda satu sama lain dalam hal latar belakang sosial dan regionalnya, serta dalam pengalaman pribadi, pola asuh, dan nilai-nilai moral. Kepribadian seseorang harus selaras dengan hakikat jati dirinya, serta selaras dengan cita-citanya.

Prinsip-prinsip terbaik dari perilaku moral dapat diringkas dalam satu kalimat: Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu suka mereka memperlakukanmu. Jika kaidah emas ini diikuti secara umum, maka kita akan menjamin bahwa setiap orang akan diperlakukan dengan kelembutan dan rasa hormat, pada tingkat yang mendorong kita semua untuk meraih tingkat kesuksesan tertinggi yang dimungkinkan. Sebagaimana penerapan kaidah emas ini juga akan melahirkan suatu kekuatan yang menarik orang lain yang memiliki keyakinan sama; sesungguhnya itu adalah kekuatan yang sangat positif.

Tanpa memandang cara orang lain memperlakukanmu, sesungguhnya kaidah emas ini tetap menjadi titik awal yang penting untuk merumuskan filosofi pribadi apa pun. Jika kamu membiasakan diri untuk tidak melakukan sesuatu pun yang merugikan orang lain, dan kamu berusaha untuk membantu mereka secara praktis dan logis, maka kamu akan mengambil manfaat dari kebiasaan ini lebih banyak daripada orang lain. Kamu akan menjadi manusia yang penuh belas kasih, penyayang, dan perhatian terhadap perasaan orang lain.

Dan menjadi suatu hal yang darurat bagimu untuk memahami tabiat standar perilakumu, yaitu standar yang tidak akan kamu biarkan dirimu sendiri turun di bawahnya. Sesungguhnya seluruh agama samawi, undang-undang, kaidah moral, dan kebijakan perusahaan memuat arahan-arahan yang berkaitan dengan perilaku individu.

Kaidah-kaidah umum tentang perilaku biasanya merepresentasikan standar perilaku terendah yang dapat diterima, baik ketika kaidah tersebut menyepakati sebagian praktik tertentu, maupun ketika berbeda pada sebagian praktik lainnya. Agar kamu benar-benar merasakan kepuasan terhadap dirimu sendiri, kamu harus berusaha untuk mencapai perilaku yang naik meninggi di atas kebiasaan-kebiasaan perilaku terendah yang dapat diterima tersebut.

Sesungguhnya merumuskan filosofi pribadimu yang kamu gunakan untuk hidup memiliki urgensi yang sangat besar di saat-saat sulit atau ketika kamu harus mengambil keputusan-keputusan penting. Filosofi ini menjauhkanmu dari kesulitan untuk berhenti sejenak dan berpikir tentang apa yang legal secara hukum positif, moral, ataupun syariat; hal itu karena filosofi tersebut secara fitrah mengetahui metode yang benar untuk menyikapi urusan apa pun dari urusan-urusan kehidupan.

Raihlah Pemahaman Terhadap Orang Lain:

Dr. Frank Fleming menceritakan di dalam bukunya "Being Better Than You've Ever Been" tentang dialognya bersama seorang penulis asal Jepang bernama Fukujiro Sono mengenai kata "Kan" dalam bahasa Jepang, yang menunjukkan atas upaya yang terus-menerus demi mengambil keputusan yang tepat; keputusan yang adil bagi semua pihak yang terlibat, dan bukan keputusan yang dibangun di atas kemaslahatan individu semata. Ini merupakan perpaduan antara filosofi ketimuran dan metode manajemen yang memainkan peran penting dalam transisi industri Jepang dari fase peniruan (imitasi) menuju fase inovasi (kreasi), kemudian menuju fase kepemimpinan yang dinikmati oleh Jepang saat ini.

Pengambilan keputusan yang tepat—sebagaimana yang diyakini oleh Fukujiro—bergantung pada perolehanmu terhadap informasi dan data-data yang diperlukan. Namun ia mengatakan: "Masih ada banyak hal lain mengenai pembuatan keputusan. Di dalam bahasa Jepang, terdapat tiga kata yang diucapkan sebagai kata 'Kan'.

  • Yang pertama berarti perasaan dan sensitivitas.
  • Yang kedua berarti intuisi yang diperoleh melalui pengalaman.
  • Sedangkan yang ketiga, berarti persepsi, yaitu melihat segala sesuatu secara mendalam sehingga dapat menembus kepada tabiatnya yang sesungguhnya.

Aku meyakini bahwa seorang pembuat keputusan harus berkomitmen pada makna yang ketiga ini, yaitu indra ketajaman batin (wawasan mendalam). Dan tanpa mengerahkan upaya untuk memperoleh tiga konotasi dari kata 'Kan' ini—yaitu intuisi yang didapat dari pengalaman, persepsi yang menembus ke dalam inti segala sesuatu, dan indra ketajaman batin—maka tidak akan mungkin muncul inovasi baru apa pun."

Fukujiro menentukan bahwa jalan terbaik untuk memperoleh indra ketajaman batin adalah dengan cara kamu bekerja keras secara sungguh-sungguh untuk merealisasikan idemu, mengimani apa yang kamu lakukan, dan belajar secara terus-menerus. Ia juga merekomendasikan untuk membaca buku-buku sejarah, filosofi, dan agama guna memperluas visi serta memperdalam pandangan batinmu.

Untuk mengetahui apa yang harus kamu lakukan demi mewujudkan tujuan-tujuan karier dan bisnismu, pastikanlah bahwa kamu meluangkan waktu yang singkat setiap hari untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang lebih besar dari ruang lingkup yang kamu selami sendiri, atau pekerjaanmu, atau lingkaran teman-teman dan keluargamu. Renungkanlah ide-ide dan pandangan-pandangan yang akan mendukung fondasi jaringan keyakinanmu, yaitu hal-hal yang memungkinkan dirimu untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana dan penuh ketajaman batin.

Bagaimana Menjadi Orang yang Terorganisasi:

Hampir tidak ada hal yang tidak dapat diorganisasi, tidak ada satu pun. Dan tidak ada sesuatu yang dapat menyokong rasa percaya diri seperti halnya memahami apa yang harus kamu lakukan, lalu mengorganisasikannya dengan cara yang logis dan tepat. Sebagaimana alam semesta ini berjalan sesuai dengan sistem yang tidak pernah rusak, maka kita sebagai manusia sudah seharusnya hidup secara terorganisasi.

Sebagian orang menggunakan daftar tugas (to-do list), sementara yang lain menggunakan alat perencanaan harian seperti kalender/agenda kecil yang disimpan di dalam sakunya, perangkat komputer pribadi, atau sarana apa pun yang tersedia yang dirancang untuk membantumu mengorganisasi kehidupanmu. Ada berbagai macam sarana di hadapanmu, dan yang perlu kamu miliki hanyalah keinginan dan kedisiplinan.

Biasakanlah dirimu untuk berhenti sejenak dan memikirkan secara mendalam tugas yang sedang kamu kerjakan sebelum kamu beralih ke tugas yang lain. Jika kamu meluangkan waktu yang diperlukan untuk memikirkan tugas tersebut sejak awal, maka kamu akan menyelesaikannya dengan lebih efektif, daripada kamu harus mencoba satu hal lalu mencoba hal lainnya sampai akhirnya kamu menemukan sesuatu yang cocok untuk diterapkan. Sesungguhnya pengorganisasian itu menghemat banyak waktu, serta membuatmu fokus pada persoalan-persoalan yang lebih penting daripada menghamburkan tenaga untuk menyelesaikan tugas-tugas rutin yang monoton.

Jika kamu menjadikan pengorganisasian sebagai elemen dasar dalam filosofi kesuksesanmu, maka kamu akan meraih penghormatan dari semua orang di sekitarmu karena kamu adalah orang yang terorganisasi. Kamu akan menjadi lebih percaya diri, dan segala kondisi akan membantumu untuk mencapai lebih banyak hal. Selain itu, pengorganisasian juga dapat meredakan tekanan psikologis (stres). Jika kamu mencatat tujuan-tujuanmu dan mempersiapkan rencana untuk mewujudkannya, kamu tidak perlu merasa cemas atau takut lupa akan tujuan tersebut. Dan yang paling penting dari semua perkara ini adalah kamu akan meraih penghormatan yang sangat besar terhadap dirimu sendiri; karena kamu tahu betul bahwa hidupmu berada di bawah kendali—di bawah kendalimu sendiri.

"Aku harus hidup berdampingan dengan diriku sendiri, oleh karena itu aku harus menyadari hakikatnya. Seiring berjalannya hari, aku ingin selalu bisa menatap mataku sendiri secara langsung. Aku tidak ingin berdiri saat matahari terbenam dalam keadaan membenci diriku sendiri atas apa yang telah kuperbuat." (Edgar Guest)

Jadilah Orang yang Disiplin Secara Terus-Menerus:

Kedisiplinan dianggap sebagai kekuatan yang menggerakkan pengorganisasian. Kedisiplinan itu terepresentasi dalam kekuatan tekad, determinasi, dan kekuatan kepribadian, serta hal-hal yang memaksamu untuk terus bekerja hingga kamu menyelesaikannya. Dan yang lebih penting dari itu adalah bahwa kedisiplinan merupakan karakter kepribadian yang membantumu memegang kendali kehidupanmu. Jika kamu adalah orang yang disiplin, maka kamu tahu betul bahwa kamu mampu menyikapi situasi yang paling negatif sekalipun dengan cara yang positif, dan kamu mampu menghadapi apa saja yang menghalangi jalanmu.

Tidak ada jalan yang mudah untuk memperoleh karakter kedisiplinan. Kedisiplinan itu datang ketika kamu memaksa dirimu sendiri untuk melakukan hal yang benar dan melangkah untuk menuntaskan suatu perkara, di saat kamu justru cenderung ingin melakukan perkara yang lain. Karakter kedisiplinan ini diperoleh secara bertahap hingga menjadi bagian dari kebiasaanmu untuk mendengarkan hati nuranimu yang memberitahumu agar terus berjalan dan mengambil tindakan positif, daripada menunda-nunda apa yang harus kamu kerjakan hari ini hingga hari esok.

Kedisiplinan diperoleh dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi karena biasanya ia tidak memberikan hasil atau timbal balik secara instan. Faktanya, respons yang kamu temukan dari orang lain mungkin saja negatif ketika mereka mencoba meyakinkanmu untuk menjauhkan pikiran dari pekerjaan dan melakukan sesuatu yang menyenangkan. Namun, jika kamu berkomitmen pada kedisiplinan ini, kamu akan memetik buahnya pada akhirnya. Mereka yang mendisiplinkan diri mereka sendiri untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dan melakukan hal-hal yang harus dituntaskan—tanpa memedulikan apa yang dikatakan orang-orang—adalah mereka yang meraih penghormatan dari orang lain, mendapatkan promosi (kenaikan jabatan) yang biasa diberikan kepada orang-orang yang memiliki pencapaian luar biasa, dan mereka jugalah yang akan menjadi para pemimpin.

Kedisiplinan membuatmu mengabaikan kritikan orang lain, serta membuatmu berhenti menyalahkan masa lalumu, lingkunganmu, atau keberuntungan buruk di sekitarmu atas kondisimu saat ini. Kedisiplinan juga membuatmu menyadari bahwa kamu memiliki masalah (seperti halnya seluruh manusia), akan tetapi kamu mampu mengatasinya, bahkan kamu pasti akan mengatasinya. Kamulah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kesuksesan, kegagalan, dan kebahagiaanmu sendiri.

Standar-Standarmu:

Jika ada satu sifat yang menyatukan orang-orang sukses, sifat itu adalah mereka tahu betul ke mana mereka akan pergi. Jika kamu tidak mengetahui apa pun tentang arah tujuanmu, maka semua jalan akan terlihat sama saja di hadapanmu. Namun, jalan-jalan tersebut semuanya akan berujung pada tempat yang sama (kekosongan). Jika kamu tidak memiliki tujuan yang jelas dan rencana spesifik untuk mewujudkannya, kemungkinan besar kamu tidak akan mencapai sesuatu yang bernilai, dan kamu tidak akan menyadari apa pun dari apa yang sebenarnya mampu kamu capai.

Pastikan bahwa filosofi pribadimu mencakup penetapan tujuan. Kamu membutuhkan tujuan dalam kariermu, keluargamu, teman-temanmu, pendidikanmu, kesehatanmu, kebugaran fisikmu, serta dalam setiap bidang dari bidang-bidang kehidupanmu. Tanpa adanya tujuan, mustahil bagimu untuk mengukur sejauh mana kemajuanmu, dan kamu tidak akan tahu di mana kamu berdiri di atas jalan pertumbuhan.

Mewujudkan Keseimbangan:

Beberapa penelitian menemukan bahwa jika kamu membiarkan hidupmu menjauh terlalu jauh dari keseimbangan dan ketegasan, maka kamu harus mengambil tindakan yang tegas—dan terkadang radikal (ekstrem)—untuk memperbaiki situasi tersebut. Kehidupan terkadang menyerupai pendulum jam dinding; ketika ia bergerak dari satu arah ke arah yang lain, kita berhenti dalam waktu yang terbatas di titik tengah—yaitu titik keseimbangan—namun kita tidak bertahan lama di sana. Jika kita tidak berusaha untuk mewujudkan keseimbangan, boleh jadi kita tidak akan pernah bisa mewujudkannya kecuali ketika rasa lelah yang amat sangat memaksa kita untuk berhenti bergerak sama sekali.

Ketika kamu mengembangkan filosofi hidupmu, pastikanlah bahwa kamu memperhatikan gagasan tentang keseimbangan. Putuskanlah untuk dirimu sendiri seberapa banyak dari waktu, tenaga, dan emosimu yang harus diinvestasikan dalam kariermu, hubunganmu, keluargamu, serta teman-temanmu. Alokasikanlah waktu untuk melakukan proses pembaruan total (refreshing), waktu di mana kamu bisa melakukan hal-hal yang kamu sukai, hal-hal yang dapat menenangkan sarafmu dan memperbarui energimu kembali.

Sesungguhnya semua orang—dengan segala perbedaan agama, budaya, dan bahasa mereka—meyakini bahwa perjalananmu di dunia ini digantungkan pada pilihanmu sendiri. Oleh karena itu, kamu bisa menjadi orang yang bahagia dan sukses, atau menjadi orang yang sengsara dan gagal. Pilihan itu adalah pilihanmu, pilihanmu sendiri.

"Aku hanya akan melewati dunia ini satu kali saja. Oleh karena itu, kebajikan apa pun yang dapat kuperbuat, atau kebaikan apa pun yang dapat kutunjukkan kepada manusia mana pun atau kepada hewan yang bisu sekalipun, maka aku harus melakukannya sekarang. Jangan biarkan aku menahannya atau menundanya, karena aku tidak akan hidup di dunia ini untuk kedua kalinya." (John Galsworthy)

Kata-Kata untuk Menjalani Hidup:

Orang-orang yang fokusnya sangat kuat pada tujuan, seiring berjalannya waktu mereka akan mempersiapkan kalimat-kalimat penegasan (afirmasi) dan faktor motivasi diri agar mereka dapat mengingatnya kembali ketika membutuhkan sedikit dorongan untuk melanjutkan perjuangan. Faktor-faktor ini mungkin berupa kutipan favorit, kalimat-kalimat baligh (puitis/mendalam), atau slogan-slogan yang melekat di dalam benak karena mengandung pesan yang jelas dan penting. Kami telah menyebutkan banyak dari hal tersebut di dalam buku ini.

Pilihlah kalimat-kalimat yang kamu rasa bermanfaat dan cocok untukmu. Ucapkanlah kalimat itu dengan suara keras setiap hari hingga menjadi bagian dari dirimu. Pergilah ke tempat yang privat (supaya orang lain tidak mengira bahwa kamu telah hilang akal), lalu tataplah dirimu di cermin dan ucapkan salah satu kalimat afirmasi atau motivasi diri tersebut dengan penuh keyakinan dan antusiasme dari pihakmu; lakukan sebanyak dua puluh kali di pagi hari dan dua puluh kali di malam hari selama satu minggu. Maka setelah itu, faktor motivasi ini pasti akan tertanam kuat, dan kamu dapat mengingatnya kapan pun kamu membutuhkannya.

Kamu harus memulai dengan sepuluh saran berikut ini:

  1. Jangan menunda-nunda, melainkan bertindaklah sekarang!
  2. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
  3. Sesungguhnya aku adalah orang yang baik.
  4. Sesungguhnya aku layak untuk menjadi orang yang bahagia dan sukses.
  5. Aku bisa mendapatkan apa pun yang kuinginkan jika aku bekerja keras dan cukup terampil untuk mendapatkannya.
  6. Kerugian (kebimbangan) adalah milik orang yang ragu-ragu.
  7. Sesungguhnya aku adalah manusia!
  8. Aku adalah sebagaimana apa yang kuyakini tentang diriku.
  9. Aku adalah manusia yang unik, dan tidak ada bandingannya dalam menuntaskan pekerjaan.
  10. Segala perkara adalah mungkin jika kamu meyakini bahwa hal itu memang demikian.

Merasakan Pentingnya Harga Diri (Self-Esteem):

Penghargaan terhadap diri sendiri (harga diri) tidak lain adalah kemampuan untuk mencintai dirimu sendiri. Di permukaan akan tampak bahwa menyadari penghargaan diri pada salah seorang individu dan mengobati masalah ini termasuk ke dalam perkara-perkara yang sederhana.

Tentu saja, citra dirimu telah berkembang melalui serangkaian pengalaman—baik yang negatif maupun yang positif—sebagai buah dari pengalaman-pengalaman tersebut. Sebuah keputusan atau satu peristiwa saja tidak akan bisa menghapus dampak akumulatif dari pengalaman-pengalaman ini.

Meskipun demikian, boleh jadi hal itu akan berubah. Kamu telah melihat perubahan-perubahan positif dalam kehidupan orang lain, dan boleh jadi kamu juga telah melewati sebagian di antaranya dalam kehidupan pribadimu sendiri. Jika kamu benar-benar telah menjalaninya, maka kamu tahu betul bahwa perubahan positif membutuhkan waktu yang cukup lama dan kebersikerasan yang kuat. Buku ini telah memberikanmu alat-alat yang kamu butuhkan untuk mengubah hal-hal yang kamu benci dari dirimu sendiri, serta untuk menyikapi secara lebih efektif situasi-situasi yang tidak dapat kamu kendalikan secara jelas atau tidak dapat kamu kendalikan sama sekali. Buku ini telah memberikanmu segala hal yang kamu butuhkan, dan kamu tinggal melaksanakannya.

Sesungguhnya kamu mampu melakukan hal-hal yang lebih banyak daripada apa yang kamu kira. Akan tetapi, kamu belum menguji dirimu sendiri secara cukup untuk menemukan keagungan yang ada di dalam dirimu. Tidak ada yang bisa mencapai tingkat kesuksesan tertinggi yang dimungkinkan melainkan hanya segelintir orang saja di antara kita; hal itu karena kita lebih memilih untuk merasa nyaman di tingkat rata-rata (menengah). Kita melepaskan keunggulan karena kita tidak mau membayar harga dari sebuah kesuksesan.

Jika kita melihat ke sekeliling kita, kita akan menemukan bahwa mayoritas dari kita dihadapkan pada kondisi yang sama, dalam tingkat yang lebih besar atau lebih kecil. Kita menyadari bahwa kesuksesan itu bukanlah sebuah keumuman (aturan baku), melainkan sebuah pengecualian. Akan tetapi, kita menemukan penghibur kita dalam kenyataan bahwa kita tidak sendirian dalam mencapai tingkat yang lebih rendah dari potensi asli kita. Kita meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita ridha/puas menjadi orang yang rata-rata karena mayoritas besar manusia berada pada level ini.

Jangan menyerah pada godaan ini! Lawanlah kemalasan, kelalaian, dan ketundukan ini dengan seluruh kekuatan yang diberikan kepadamu. Sesungguhnya harga diri dan kesuksesan yang diraihnya tidak akan diwujudkan oleh orang lain untukmu, dan itu bukanlah produk alami dari lingkungan. Ia adalah barang langka yang tidak akan datang kecuali dari dalam dirimu sendiri. Ketika kamu melihat ke dalam dirimu sendiri saja, kamu dapat menemukan kekuatan yang selalu membuatmu berada dalam kemajuan yang positif. Kamu adalah orang yang lebih baik daripada apa yang kamu kira.

Sesungguhnya kamu memiliki kekuatan penghargaan terhadap diri sendiri. Kamu dapat menghadapi dengan sukses seluruh tantangan besar yang menantimu, hanya dengan melepaskan belenggu dari kekuatan ini.

Langkah-Langkah yang Harus Dipahami:

Apakah kekuatan yang menyebabkan kegagalan atau kesuksesan dalam mendapatkan apa yang kita inginkan dalam hidup kita? Tidak diragukan lagi, kekuatan itu adalah keyakinan-keyakinan yang tertanam di dalam alam bawah sadar kita mengenai kemampuan-kemampuan kita; tentang apa yang mungkin atau mustahil, dan mengekspresikan gambaran diri kita sendiri.. Singkatnya, hal itu mencerminkan siapa diri kita sebenarnya.

Orang-orang di lingkungan masyarakat Tahiti meyakini bahwa kekuatan mematikan milik seorang penyihir yang tersimpan di dalam tulang yang ia lambai-lambaikan, secara pasti dapat menyebabkan kematian. Dan tidak diragukan lagi bahwa rasa keyakinan yang pasti (urgensi mental) dan kepercayaan terhadap kekuatan inilah yang menyebabkan kematian tersebut, bukan si penyihir itu sendiri.

Apakah keyakinan-keyakinan negatif dan tidak konstruktif (merusak) yang kamu bawa dalam dirimu secara pribadi? Bagaimana keyakinan-keyakinan tersebut telah memengaruhi kehidupan pribadimu? Apakah keyakinan-keyakinan positif yang telah memberimu banyak kekuatan dalam perjalanan hidup? Dan apakah ekspektasi-ekspektasi positif baru yang dapat kamu tetapkan untuk dirimu sendiri dan untuk orang lain?

Selama ribuan tahun, orang-orang meyakini bahwa dari sudut pandang fisiologis, seorang manusia tidak akan mampu menempuh jarak satu mil dengan berlari karena hal tersebut mustahil dilakukan. Akan tetapi, pelari Roger Bannister telah mematahkan keyakinan ini sepenuhnya ketika ia mampu menempuh jarak satu mil dengan berlari dalam waktu hanya tiga menit lima puluh sembilan detik.

Bagaimana ia bisa melakukannya? Pelari yang terampil ini mengimajinasikan kemenangannya dengan angka tersebut secara intens (mendalam), yang membuatnya sangat yakin akan kemungkinan untuk mewujudkannya. Keyakinan yang pasti ini pada gilirannya memberikan sinyal yang kuat ke sistem saraf, sehingga membuatnya mampu menghasilkan performa otot yang selaras sepenuhnya dengan gambaran kemenangan yang telah ia lukis di dalam benaknya. Hanya dalam kurun waktu satu tahun saja, pelari-pelari lain mampu mewujudkan apa yang telah dicapai oleh Bannister dengan cara mengikuti model yang telah ia tetapkan untuk dirinya sendiri serta adanya keimanan (keyakinan) bahwa mereka juga bisa meraih apa yang telah ia capai.

Apakah penghalang psikologis yang harus kamu seberangi dan kamu lewati hari ini?

Apakah sesuatu yang kamu duga mustahil untuk diwujudkan, padahal ia bisa diwujudkan jika kamu memercayainya, dan jika ia terwujud maka ia akan mengubah kehidupanmu serta kehidupan orang-orang lain di sekitarmu?

Seorang mukmin yang tidak mengenal kata mustahil, semangatnya (himmah) hari ini telah membutuhkan sebuah lompatan besar, karena ia memikirkan hal tersebut dengan pemikiran yang praktis.

Sering kali orang-orang menyalahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka atas kondisi yang mereka capai saat ini. Padahal pada kenyataannya, makna-makna yang kita sematkan pada peristiwa-peristiwa tersebut dan interpretasi (penafsiran) yang kita tetapkan untuknya, itulah yang benar-benar membentuk kehidupan kita.

Ada orang yang keluar dari penjara dan tempat penahanan dalam kondisi lemah tekad, menarik diri dari pergaulan (minder), disibukkan oleh perkara-perkara yang sepele karena putus asa atas apa yang telah menimpanya. Namun, ada pula orang yang keluar dalam kondisi kokoh, kuat tekad, melanjutkan jalannya dengan ketetapan hati yang teguh, serta mampu mewujudkan hasil-hasil bagi dakwahnya yang tidak pernah terlintas di dalam benaknya pada suatu hari pun.

Apakah kamu membiarkan peristiwa-peristiwa di masa lalu mengeruhkan kejernihan hidupmu hari ini?

Apakah makna-makna lain yang bisa dibawa oleh peristiwa-peristiwa ini? Apakah peristiwa-peristiwa tersebut telah menjadikanmu lebih kuat daripada kondisimu sebelum hal itu terjadi? Ataukah membuatmu lebih bijaksana? Ataukah membuatmu lebih mampu untuk memberikan nasihat kepada orang lain yang mungkin menghadapi tantangan yang sama?

Sungguh, para Al-Ikhwan telah keluar dari penjara setelah mendekam selama 25 tahun—berkat keimanan mereka—dalam keadaan yang lebih kuat dan lebih mulia daripada saat mereka masuk, serta lebih gigih dan lebih kokoh daripada awal masa pemenjaraan mereka. Mereka mampu mewariskan dakwah ini kepada orang-orang setelah mereka, dan mereka menjadi para pemimpin (teladan), sementara pihak agresor (penzalim) hancur dan binasa.

Mengapa orang-orang bertindak dengan cara yang mereka lakukan? Sesungguhnya perkara ini seluruhnya terletak pada keyakinan-keyakinan yang mereka bawa. Mungkin akan tampak asing bagi kita ketika mengetahui bahwa jika orang-orang meyakini bahwa melubangi tengkorak otak mereka dapat menyembuhkan sebagian penyakit, maka mereka pasti akan melakukannya; dan yang lebih asing lagi adalah bahwa sebagian manusia benar-benar telah melakukan hal tersebut, terlepas dari apakah keyakinan ini dibangun di atas dasar yang benar atau tidak. Dan dengan logika yang sama, jika orang-orang meyakini bahwa kebahagiaan pribadi mereka tegak di atas tindakan menolong dan melayani orang lain, maka mereka tanpa ragu akan bergerak cepat untuk membahagiakan orang-orang di sekitar mereka.

Sesungguhnya keyakinan-keyakinan adalah penyebab bagi perbedaan besar antara kehidupan yang dipenuhi kesengsaraan dengan kehidupan lain yang dipenuhi dengan pemberian yang menggembirakan. Keyakinan-keyakinanlah yang membedakan antara Mozart sang pemilik karya-karya musik yang luar biasa, dengan Manson orang yang bertanggung jawab atas pembantaian terkenal. Keyakinan-keyakinanlah yang menyebabkan sebagian orang menjadi para pahlawan, dan ia pula yang menyebabkan sebagian orang lainnya (hanya bisa) bertanya-tanya: akan menjadi seperti apakah mereka dahulu sekiranya mau mencoba?

Apakah keyakinan-keyakinan yang dibawa oleh orang-orang di sekitarmu? Apakah keyakinan-keyakinan yang kamu bagi bersama rekan-rekan kerjamu? Anak-anakmu? Kedua orang tuamu? Dan apakah keyakinan-keyakinan yang berbeda di antara mereka?

Apakah keyakinan yang telah mengubah bangsa Arab menjadi para pemimpin dan umat terbaik, serta melalui mereka terbukalah wilayah-wilayah timur bumi dan baratnya?

Dan apakah keyakinan yang telah menjadikan mereka sebelum itu menjadi para penyembah berhala?

Ketika kamu melewati peristiwa apa pun, sesungguhnya akalmu akan menanyakan dua pertanyaan: Apakah peristiwa tersebut menyebabkan rasa sakit bagiku ataukah mendatangkan kesenangan? Apa yang bisa kuperbuat agar aku terhindar dari rasa sakit dan meraih kesenangan?

Jawabannya bergantung pada generalisasi-generalisasi yang telah kamu tetapkan untuk dirimu sendiri, dan dengan kata lain: keyakinan-keyakinan yang telah kamu bentuk tentang hal-hal yang menuntun pada perasaan senangkmu dan hal-hal yang menuntun pada perasaan sakitmu. Keyakinan-keyakinan ini boleh jadi memberikan kita kelincahan bergerak dan pencapaian dalam hidup, atau ia bisa menghambat perjalanan hidup kita secara efektif.

Sebagai contoh, sebagian orang menyematkan sifat pada diri mereka sendiri—secara umum—bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak kompeten, disebabkan oleh kegagalan mereka yang terus-menerus dalam mempertahankan ketekunan. Sayangnya, memercayai generalisasi semacam ini pada akhirnya akan membuatnya menjadi sebuah kenyataan. Pikirkanlah tentang sifat-sifat negatif yang kamu gunakan untuk menyifati dirimu sendiri atau orang lain. Apakah kamu benar-benar memiliki alasan-alasan yang kuat untuk sifat-sifat tersebut? Apakah ekspektasi-ekspektasi yang ditunjukkan oleh sifat-sifat ini? Bukankah bisa jadi generalisasimu terhadap sifat-sifat yang kamu gunakan untuk menyifati dirimu sendiri ini sama sekali tidak realistis?

Allah Ta'ala berfirman:

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." [QS. Ali 'Imran: Ayat 139]

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk." [QS. Al-Bayyinah: Ayat 7]

"Padahal kekuatan/kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin." [QS. Al-Munafiqun: Ayat 8]

Tidak ada sesuatu pun dalam kehidupan ini yang memiliki makna, kecuali makna yang kamu berikan kepadanya. Sesungguhnya salah satu karakter yang menakjubkan di dalam jiwa manusia adalah kemampuan kita untuk mengangkat derajat peristiwa apa pun dalam hidup kita atau merendahkan perkaranya jika kita menghendakinya.

Sebagian orang berkata setelah mereka mengarungi pengalaman pernikahan yang gagal: "Aku tidak akan pernah menikah lagi untuk selamanya." Akan tetapi, mereka yang berpikir dengan cara yang lebih positif akan memandang pengalaman-pengalaman sulit tersebut sebagai sebuah titik balik menuju hal yang lebih baik dalam kehidupan mereka, dan menyematkan makna yang lebih kuat padanya, seperti perkataan sebagian mereka: "Karena aku dahulu berhadapan dengan seseorang yang memperlakukanku dengan buruk, maka aku secara pasti akan menjadi orang yang lebih sensitif dalam menjaga perasaan orang lain di masa depan." Atau: "Karena aku telah kehilangan anakku dalam sebuah kecelakaan, maka aku akan berusaha mendirikan unit-unit ambulans di daerah-daerah terpencil untuk menyelamatkan para korban luka di jalan-jalan raya."

Dan terlepas dari perkara lainnya, kita semua memiliki kemampuan untuk menciptakan dan menyematkan makna-makna yang baik pada peristiwa-peristiwa yang kita lalui, dengan gambaran yang melipatgandakan kekuatan kita untuk menghadapi kehidupan kita.

Mengapa kamu tidak memberontak saja terhadap cara berpikirmu dan menetapkan makna-makna baru bagi pengalaman-pengalaman masa lalu yang telah kamu lalui?

Sesungguhnya keyakinan-keyakinan memiliki kekuatan untuk mencipta (kreatif), sebagaimana ia juga memiliki kekuatan untuk menghancurkan (destruktif). Mengingat pengaruhnya yang menakjubkan atas kehidupan kita, maka menjadi suatu hal yang darurat untuk memahami tiga tantangan berikut ini:

  1. Bahwasanya mayoritas dari kita tidak memilih secara sadar sudut pandang-sudut pandang yang akan dianutnya.
  2. Sering kali sudut pandang kita tegak di atas kesalahpahaman terhadap masa lalu.
  3. Begitu kita mengadopsi sudut pandang tertentu, kita cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral dan kita lupa bahwa hal itu hanyalah sebuah opini semata.

Apakah kamu memiliki sudut pandang dalam suatu perkara yang kamu yakini kebenarannya? Apakah sudut pandang yang bertolak belakang dengannya yang (boleh jadi) juga benar? Bagaimana kehidupanmu bisa berbeda jika kamu mengimani kebenaran dari keyakinan-keyakinan yang kamu percayai sekarang?

Dan Mahabenar Allah dengan firman-Nya:

"Katakanlah: 'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu merenungkan...'" [QS. Saba': Ayat 46]

Suatu keyakinan tidak lain hanyalah sebuah perasaan pasti terhadap makna yang kamu gunakan untuk menafsirkan sesuatu. Sebagai contoh, jika kamu meyakini bahwa kamu adalah orang yang cerdas, maka keyakinan tersebut menjadi lebih dari sekadar ide, karena kamu merasakan kepastian bahwa kamu memang cerdas. Akan tetapi, dari manakah datangnya keyakinan yang pasti ini?

Bayangkanlah sebuah permukaan meja, tidak ada sesuatu pun yang menyangganya kecuali kaki-kakinya. Demikian pula dengan keyakinan. Agar ia menjadi sebuah keyakinan yang kokoh, ia harus bersandar pada dasar-dasar tertentu, dan dasar-dasar tersebut sering kali merupakan pengalaman-pengalaman masa lalu kita yang selalu kita jadikan rujukan saat menghakimi berbagai perkara. Maka ketika kamu meyakini bahwa kamu cerdas, pasti salah seorang gurumu pernah memberi tahu hal tersebut kepadamu, atau hasil-hasil akademismu menegaskan kecerdasan tersebut.

Bagaimanapun, kita tidak hanya merujuk pada masa lalu sebagai sumber untuk menegaskan apa yang kita yakini, melainkan kita bisa beralih kepada imajinasi—sebagaimana yang dilakukan oleh pelari Roger Bannister—untuk menciptakan dasar-dasar yang kamu gunakan dalam menegaskan apa yang kita yakini.

Makna dari hal ini adalah bahwa imajinasi yang diikuti oleh tekad kuat untuk mewujudkannya akan menciptakan mukjizat (hal luar biasa). Jika seorang manusia—walaupun ia adalah orang yang malas di masa lalu—mampu memotivasi dirinya sendiri, niscaya ia akan meraih apa yang ia cita-citakan. Sebaliknya, jika ia adalah orang yang cerdas di masa lalu namun kemudian dihinggapi oleh kemalasan, maka ia akan kehilangan segala sesuatu.

Kita dapat mengubah ide apa pun menjadi sebuah keyakinan yang kokoh melalui cara merujuk pada pengalaman-pengalaman yang mendukung kebenarannya.

Dan sekarang, bagaimana pendapatmu tentang kebenaran dari dua pernyataan berikut ini:

  1. Manusia pada hakikatnya adalah orang-orang yang jujur dan sopan.
  2. Manusia pada kenyataannya adalah orang-orang yang tidak jujur dan hanya mencari kemaslahatan pribadi mereka sendiri.

Tidak diragukan lagi bahwa kamu akan menemukan di dalam pengalaman-pengalaman pribadimu hal yang cukup untuk menegaskan kebenaran pernyataan kedua yang menunjukkan atas rusaknya manusia. Dan jika kamu memfokuskan perhatian pada pengalaman-pengalaman yang lain, kamu juga akan menemukan dengan kemudahan yang sama dari pengalaman-pengalaman tersebut hal yang mendukung pernyataan pertama yang menunjukkan bahwa manusia itu jujur.

Manakah di antara kedua keyakinan ini yang lebih benar? Keyakinan mana pun yang mampu kamu bangun di atas dasar-dasar yang cukup, maka itulah yang akan menjadi benar bagimu.

Sudah sepatutnya seorang manusia berprasangka baik (husnuzan) kepada manusia lainnya, dan hal ini tidak berarti ia tidak waspada. Sebagaimana sudah sepatutnya seorang individu memperlakukan orang lain dengan cara yang baik, merangkul orang yang berbuat salah untuk mengangkatnya dari keterpurukannya, serta menjadi teladan bagi orang-orang jujur dan selain mereka agar mereka menjadi seperti dirinya.

Meskipun sudut pandang yang kokoh tentang sesuatu perkara dapat mendorongmu untuk menuntaskan perkara-perkara yang agung, namun pada saat yang sama, ia juga dapat menghalangi pandangan batarmu (batinmu) dari informasi-informasi yang boleh jadi bisa mengubah kehidupanmu secara total untuk selama-lamanya.

Apakah kamu pernah berteman dalam hidupmu dengan seseorang yang tidak mau mendengarkan ide-ide baru apa pun, hanya semata-mata karena ia ingin tetap berpegang teguh pada apa yang telah ia yakini secara pasti?

Jika kamu melihat sudut pandang-sudut pandang yang kamu imani melalui mata orang lain, maka apa yang akan kamu lihat?

Islam mendorong untuk mengambil manfaat dari segala sesuatu dan meneliti dalam setiap perkara. Allah Ta'ala berfirman:

"Katakanlah: 'Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.'" [QS. Yunus: Ayat 101]

"Hikmah (ilmu/kebijaksanaan) itu adalah barang hilang milik orang mukmin; di mana pun ia menemukannya, maka ia adalah orang yang paling berhak atasnya." [Al-Hadis]

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan." [Al-Hadis]

"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." [QS. Al-Mujadilah: Ayat 11]

Tidak diragukan lagi bahwa keyakinan-keyakinan adalah penggerak bagi perilaku kita. Dan sementara sebagian keyakinan memengaruhi sebagian sisi kehidupan kita, sebagian keyakinan yang lain justru merembes masuk lebih dalam ke dalam kehidupan kita.

Sebagai contoh, keyakinan bahwa "Thariq adalah orang yang tidak jujur" tanpa diragukan lagi akan memengaruhi interaksi kita dengan Thariq saja. Akan tetapi, keyakinan bahwa "Manusia itu tidak jujur", akan memiliki gema (dampak) yang jauh lebih luas pada interaksi kita dengan orang lain daripada keyakinan yang pertama tadi.

Sesungguhnya keyakinan-keyakinan yang menyeluruh (global)—seperti contoh yang terakhir ini—bersandar secara mendasar pada beberapa generalisasi yang dicapai oleh manusia sejak kurun waktu yang lama di bawah kondisi-kondisi yang tidak biasa. Kita mungkin melupakan sama sekali peristiwa-peristiwa ini, namun kita membiarkannya memengaruhi keputusan-keputusan kita tanpa kita menyadari hal tersebut.

Sesungguhnya keyakinan-keyakinan ini dapat mendatangkan pengaruh yang besar dalam kehidupan kita, akan tetapi tidak mutlak bahwa pengaruh-pengaruh ini harus bersifat negatif.

Cobalah untuk mengubah satu saja keyakinan yang memiliki sifat generalisasi—seperti dalam contoh yang dijelaskan tadi—maka kamu akan mengubah setiap sisi dalam kehidupanmu sebagai dampak dari perubahan tersebut.

Apakah benar bahwa kekuatan yang tersimpan di balik sebagian keyakinan itu bertindak lebih kuat daripada kekuatan yang tersimpan di balik sebagian keyakinan lainnya? Ya, tentu saja.

Maka ada tiga tingkatan keyakinan yang berbeda: Opini (Pendapat) — Keyakinan (Kepercayaan) — Keyakinan Kuat (Prinsip/Penaatan).

Terkait dengan opini, hal itu dapat berubah dengan mudah karena ia hanya bersandar pada persepsi situasional yang bersifat sementara. Sementara itu, keyakinan sifatnya lebih kokoh karena ia terbentuk berdasarkan beberapa pengalaman, atau berdasarkan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan banyak perasaan dan emosi; di mana pada tingkat ini, masih memungkinkan munculnya keraguan terhadap tingkat kepastiannya melalui cara memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru di sekitarnya. Di sisi lain, keyakinan kuat (pendirian/prinsip) ditopang oleh sekumpulan emosi yang bergelora, sedemikian rupa sehingga orang yang memegang prinsip ini tidak hanya sekadar merasa pasti dengannya, melainkan ia akan bangkit marah jika prinsip tersebut diragukan. Selain itu, prinsip ini juga akan menghalanginya dari menerima diskusi apa pun di sekitarnya.

Oleh karena itu, prinsip-prinsip pribadi boleh jadi bisa menjadi pengaruh yang sangat baik hingga batas yang sangat jauh, sebagaimana ia juga bisa menjadi penghancur dengan gambaran yang tidak dapat dibayangkan apabila prinsip tersebut keliru dan berjalan di atas ketidakbenaran.

Manakah di antara keyakinan-keyakinanmu yang kamu anggap hanya sekadar opini? Dan opini-opini manakah yang kamu rasakan memiliki keberpihakan emosional yang lebih besar terhadapnya? Apakah ada salah satu di antaranya yang mencapai tingkat prinsip yang utuh? Dan apakah kamu telah meneliti hal tersebut serta menggunakan akal sehatmu, ataukah perkara ini dilakukan oleh orang lain untukmu sementara matamu dalam keadaan tertutup (tutup mata), sehingga akibatnya kamu menjadi orang yang digiring menuju jurang kehancuran?

Apakah tujuan dari keyakinan-keyakinan itu? Keyakinan-keyakinan tersebut tanpa diragukan lagi mengarahkan kita saat mengambil keputusan-keputusan khusus mengenai bagaimana cara menghindari rasa sakit dan penderitaan, serta bagaimana mewujudkan kebahagiaan dengan cara yang lebih cepat. Disebabkan oleh keyakinan-keyakinan ini, kita tidak harus memulai dari titik nol saat membuat keputusan-keputusan tersebut.

Ketika kita melewati momen-momen ketakutan yang hebat, penderitaan, atau berada dalam kondisi emosional yang bergelora, maka kita akan mencari jalan keluar dengan cara mencari suatu keyakinan. Pernahkah kamu bertemu, misalnya, dengan seseorang yang sangat menderita dalam hubungannya dengan istrinya, lalu ia mengubah rasa sakit yang ia rasakan itu menjadi sebuah keyakinan yang kokoh bahwa ia tidak akan pernah menemukan istri yang salehah untuk selamanya?

Maka di sana ada sebagian orang yang membawa prinsip yang kokoh tentang sesuatu hal, dan mereka menolak informasi apa pun yang dapat mengarahkan mereka pada penghancuran prinsip tersebut. Demi mempertahankan hal itu, mereka mungkin lebih memilih keterpencilan, kesendirian, frustrasi, bahkan hingga kematian daripada harus melepaskan prinsip tersebut.

Apakah kamu memiliki prinsip-prinsip pribadi? Manakah prinsip-prinsip yang menganugerahkan kekuatan kepadamu, dan manakah prinsip-prinsip yang merampas kekokohanmu?

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." [QS. Al-Insyirah: Ayat 5-6]

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." [QS. Ar-Ra'd: Ayat 11]

"Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." [QS. Muhammad: Ayat 7]

"Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik." [QS. Al-Kahfi: Ayat 30]

Prinsip-prinsip pribadi kita mendorong kita untuk bergerak disebabkan oleh adanya rasa cinta mendalam dan gairah (pasion) yang dinyalakannya di dalam diri kita terhadap apa yang kita yakini. Orang yang mendukung dakwah itu disebut sebagai orang yang meyakininya (berkeyakinan), adapun orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam dakwah dengan penuh gairah dan perhatian yang besar, maka tidak diragukan lagi ia adalah pemilik prinsip dan keimanan yang utuh terhadap urgensi dakwah.

Apakah kamu membawa suatu prinsip yang utuh dalam salah satu bidang di hidupmu yang dapat memberimu kekuatan dorong, yang membuatmu mampu melintasi segala macam kesulitan dan hambatan?

Sebagai contoh, apakah kamu melihat bahwa prinsip tentang pentingnya menjaga agar berat badanmu tidak bertambah akan memaksamu untuk berkomitmen pada aturan-aturan makan yang sehat secara terus-menerus? Bukankah kamu melihat bahwa prinsip bahwasanya kamu mampu mengubah arah perputaran peristiwa akan membimbingmu untuk memikirkan perkara-perkara kehidupanmu dan mengarahkannya ke arah yang kamu inginkan? Maka sebagai contoh, mereka yang memperhatikan kemaslahatan kaum muslimin dan kejayaan mereka, memiliki perhatian-perhatian yang pastinya akan mengarahkan kehidupan serta tekad-tekad mereka menuju arah yang serius lagi berat, di mana mereka harus mampu berada pada level standar tersebut.

Renungkanlah hasil-hasil jangka panjang yang sebenarnya bisa kamu capai, hanya sekiranya kamu memiliki perasaan yang lebih kuat terhadap kepastian dari keyakinan-keyakinan positifmu.

Gunakanlah latihan berikut ini untuk menaikkan tingkat komitmenmu terhadap keyakinan-keyakinanmu:

  1. Pilihlah salah satu keyakinan yang ingin kamu naikkan tingkatannya menuju derajat prinsip yang kokoh.
  2. Tambahkanlah pada keyakinan ini segala hal yang mendukungnya. Sebagai contoh, jika kamu ingin menjadi orang yang pemberani, maka sudah sepatutnya kamu duduk berkumpul bersama orang-orang pemberani serta mengenali mereka, baik secara karakter maupun pemikiran.
  3. Carilah salah satu situasi yang dapat meledakkan perasaan-perasaan yang kuat dan emosi yang berpengaruh di dalam dirimu. Sebagai contoh, jika kamu ingin berhenti merokok, maka pergilah berkunjung ke ruang perawatan intensif (ICU) di salah satu rumah sakit untuk mengamati para pasien pengidap emfisema (pembengkakan paru-paru).
  4. Tanpa memedulikan apakah langkah-langkahmu itu besar atau kecil dalam urusan ini, sesungguhnya yang paling penting adalah mulai bergerak berdasarkan prinsip utuhmu tersebut.

Sebab banyak orang yang memiliki prinsip (setuju) terhadap Islam dan bekerja untuk kejayaan kaum muslimin, namun sayangnya mereka tidak bergerak dan tidak berbuat sesuatu apa pun. Banyak pula orang yang melihat kezaliman namun ia tidak bergerak dan tidak melakukan sesuatu apa pun; maka apakah hal ini akan mengubah keadaan atau akan menuntun pada sebuah kemajuan?

Kekuatan yang tersimpan di balik keyakinan-keyakinan dapat ditunjukkan melalui cara mempelajari kasus-kasus para pasien yang menderita penyakit kepribadian ganda (GPD). Disebabkan oleh kekuatan keyakinan mereka dan kepastian mutlak terhadap keyakinan-keyakinan tersebut, hanya dengan hal itu saja mereka bisa berubah menjadi orang lain; di mana akal mereka mengubah kondisi fisik mereka secara nyata dan aneh. Warna mata mereka bisa berubah, tanda-tanda yang ada pada tubuh mereka bisa muncul dan menghilang. Tidak hanya itu saja, bahkan penyakit-penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi) juga bisa muncul dan menghilang. Semua ini bergantung pada keyakinan si pasien dan prinsip mutlaknya terhadap kepribadian yang tampak padanya.

Dan dengan logika yang sama—dan analogi (qiyas) di sini tentu saja disertai dengan adanya perbedaan kondisi—perubahan-perubahan apakah yang telah terjadi padamu dalam hidupmu ketika kamu melakukan perubahan pada keyakinan-keyakinanmu dan sudut pandangmu terhadap beberapa perkara?

Apakah rahasia kesuksesan itu? Sering kali kita berasumsi bahwa rahasia itu adalah kejeniusan. Akan tetapi, aku meyakini bahwa kejeniusan yang sejati adalah kemampuan untuk mendayagunakan sumber daya dan potensi terbaik yang kita miliki, yang mana hal itu dilakukan hanya melalui cara memegang prinsip mutlak terhadap apa yang kita inginkan.

Sesungguhnya masa depan sang miliarder Bill Gates mulai melesat ke angkasa ketika ia masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Harvard; di mana ia berjanji untuk menyerahkan kepada salah seorang klien sebuah program komputer yang belum ia tulis sama sekali, untuk sebuah sistem komputer yang belum pernah ia lihat sebelumnya! Disebabkan oleh keyakinannya yang pasti bahwa ia akan menyelesaikannya (meskipun keyakinan yang pasti ini pada saat itu belum tegak di atas dasar yang nyata), ia mampu beralih kepada setiap sumber daya yang tersedia baginya dan menggunakannya untuk menyempurnakan desain program tersebut. Dan dari sinilah ia mulai membangun kekayaannya yang luar biasa.

Maka sudah jelas bahwa kita mampu meraih kesuksesan di bidang apa pun jika kita mempersembahkan diri kita untuk mencapai hasil-hasil yang kita inginkan, dan di atas semua itu tentu saja dengan adanya prinsip yang utuh bahwasanya kita mampu melakukan hal tersebut.

Berapa kali kamu mencoba melatih dirimu untuk merasakan perasaan yang menghanyutkan ini, yang mampu mendorongmu serta menganugerahkan kekuatan kepadamu untuk membuat pencapaian?

Kamu membulatkan tekad untuk melakukan sesuatu, lalu mengumpulkan pengalaman-pengalaman di sekitarnya, meminta nasihat kepada orang lain, dan terus-menerus mengetuk pintu jalan tersebut sampai kamu mewujudkan apa yang dimaksud, serta mewujudkan harapan luas yang telah kamu imajinasikan itu.

Boleh jadi Einstein telah memperbagus ungkapannya ketika ia berkata: "Imajinasi itu lebih kuat daripada ilmu pengetahuan." Karena telah terbukti bagi kita berkali-kali bahwasanya otak tidak dapat membedakan antara sesuatu yang kita imajinasikan dengan jelas, dengan sesuatu lain yang dianggap sebagai kenyataan dan fakta yang berwujud.

Sesungguhnya sekadar mengetahui fakta ini saja dapat mengubah kehidupanmu. Sebagai contoh, banyak orang yang merasa takut untuk mencoba hal baru apa pun yang belum pernah mereka coba sebelumnya. Akan tetapi, fondasi yang menjadi tegaknya kesuksesan para pemimpin adalah bahwasanya mereka mengimajinasikan secara berulang-ulang bahwa mereka benar-benar mendapatkan hasil-hasil yang mereka inginkan, terlepas dari pengalaman-pengalaman yang telah mereka lalui yang menunjukkan sulitnya hal tersebut. Dengan cara ini, mereka merekayasa perasaan yakin yang akan mengarahkan mereka untuk mengetuk pintu-pintu masa depan mereka yang sejati.

Apakah kamu memiliki sebuah tujuan yang membangkitkan perhatianmu dan kamu berkeinginan untuk mencapainya, akan tetapi ia menuntut dilakukannya sesuatu yang belum pernah kamu lakukan sama sekali sebelumnya? Kapankah tiba waktu yang tepat bagimu untuk mengimajinasikan dirimu telah sukses dalam mewujudkannya?

Maka bekerjalah untuk tujuan-tujuan yang besar, janganlah kamu letih dan janganlah berputus asa hingga tiba waktu panen; dan waktu panen itu tidak akan pernah tiba tanpa adanya amal (kerja nyata).

Mayoritas orang yang berkata: "Kamu harus bersikap realistis," sebenarnya hidup dalam kondisi ketakutan. Sering kali penyebabnya adalah kekecewaan yang menimpa mereka di masa lalu. Disebabkan oleh kesadaran mereka terhadap kegagalan yang pernah mereka lalui sebelumnya, mereka merasa takut untuk mencobanya sekali lagi.

Oleh karena itu, keyakinan-keyakinan yang mereka anut untuk melindungi diri mereka sendiri justru menyebabkan mereka ragu-ragu, menghindari risiko serta menjauh darinya, dan menghindari pencurahan jerih payah serta jiwa yang lebih banyak; sehingga akibatnya, mereka hanya mendapatkan hasil-hasil yang terbatas.

Akan tetapi, para pemimpin besar jarang sekali bersikap realistis menurut standar-standar yang berlaku umum. Namun bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas dan presisi (akurat). Mahatma Gandhi, sebagai contoh, meyakini bahwa kemerdekaan India dapat diperoleh dengan cara menentang Britania Raya (Inggris) melalui jalan damai yang jauh dari kekerasan, suatu hal yang belum pernah dilakukan sama sekali sebelumnya. Dalam hal itu ia tidak bersikap realistis, namun ia membuktikan tanpa keraguan bahwa ia sangat presisi dalam kalkulasinya.

Apakah "keyakinan-keyakinan realistis" yang harus kamu hindari? Dan apakah "keyakinan-keyakinan tidak realistis" serta menggairahkan, yang sebenarnya dapat diwujudkan jika saja kamu memercayainya?

Ini adalah sebuah ajakan menuju wilayah akal dalam perkara tersebut, kemudian dilanjutkan dengan amal (tindakan) yang menuntun pada kemenangan.

Jika kamu akan melakukan kesalahan dalam mengevaluasi kemampuan-kemampuanmu, maka adalah lebih baik jika hal itu dilakukan dengan cara mengevaluasinya secara lebih tinggi daripada kondisi aslinya yang sebenarnya. Mengapa? Karena kesuksesanmu bergantung pada kemampuan-kemampuan ini.

Ambillah contoh mengenai perbedaan yang mencolok antara seorang optimis dan seorang pesimis ketika masing-masing dari keduanya melakukan evaluasi terhadap performanya setelah mencoba mempelajari suatu keterampilan baru.. Orang yang pesimis akan mengevaluasi performanya dengan gambaran yang sangat akurat, sementara orang yang optimis melihat bahwa perilaku dan performanya berada dalam kondisi yang lebih baik daripada apa yang sebenarnya terjadi.

Sebagai hasilnya, orang yang pesimis sering kali dihinggapi rasa putus asa, lalu meninggalkan proses belajar keterampilan tersebut karena ia tidak melihat adanya alasan yang kuat untuk melanjutkan jerih payah yang tidak akan membuahkan hasil. Akan tetapi, persepsi positif yang digunakan oleh orang optimis dalam melihat performanya, memberikan dukungan moril yang diperlukan untuk mendorongnya agar bersikap persisten (teguh) dalam belajar, yang mana hal itu pada akhirnya akan menuntunnya pada penguasaan keterampilan tersebut. Artinya, evaluasi yang tidak realistis terhadap kemampuan-kemampuannya pada akhirnya justru berdampak pada penguasaan keterampilan yang nyata.

Ingatlah selalu bahwa masa lalu bukanlah cerminan bagi masa depan. Oleh karena itu, apakah langkah kecil pertama yang dapat kamu langkahkan menuju impian yang pada suatu hari pernah kamu duga sebagai hal yang mustahil?

Orang yang pesimis hanya melihat pada apa yang harus dikerjakan dan tidak melihat pada jerih payahnya yang telah ia lakukan sebelumnya. Adapun orang yang optimis, ia melihat pada bagaimana kondisi di masa lalu dalam keadaan ia tidak rida (tidak puas), lalu melihat pada bagaimana kondisi tersebut telah berubah saat ini di mana ia telah menempuh satu fase kemajuan; dan hal tersebut memberinya dorongan untuk bekerja. Demikianlah, sebagian orang justru mencambuk diri mereka sendiri dan dakwah mereka dari sudut pandang ini, sehingga mereka hampir-hampir membuat manusia berputus asa dari amal dan keberlanjutan.

Sesungguhnya cara yang kita gunakan dalam menghadapi musibah atau masalah apa pun, memberikan pengaruh pada kehidupan kita dengan gambaran yang lebih besar daripada perkara lainnya. Mereka yang menghasilkan banyak pencapaian dalam hidup mereka biasanya melihat masalah sebagai sebuah fase transisi dan bersifat sementara. Adapun mereka yang gagal dalam hidup mereka, mereka melihat masalah-masalah kecil sebagai masalah yang abadi (selamanya).

Terjatuh ke dalam persepsi mental seperti ini adalah langkah pertama menuju jebakan yang digambarkan oleh Dr. Martin Seligman, yang ia sebut dengan istilah "Ketidakberdayaan yang Dipelajari" (Learned Helplessness), yang mana hal tersebut disebabkan oleh tiga persepsi berikut ini:

  1. Persepsi bahwa masalah tersebut bersifat permanen (bukan sementara).
  2. Persepsi bahwa masalah tersebut bersifat merembet/luas (tidak hanya memengaruhi satu bidang saja dalam kehidupan).
  3. Persepsi bahwa masalah tersebut bersifat personal yang menyentuh zat dirimu, yang mana hal itu menunjukkan adanya suatu kecacatan di dalam jiwamu (bukan menganggapnya sebagai sebuah peluang untuk belajar dan mengambil manfaat).

Maka dari sini, kita akan memfokuskan pembahasan berikut ini pada penyebutan penangkal-penangkal (antidot) yang diperlukan untuk meruntuhkan keyakinan-keyakinan yang rapuh ini.

Jika kamu terus-menerus melakukan perlawanan (bertahan), maka kamu pasti akan menemukan jalan keluar tanpa diragukan lagi.

Penangkal-penangkal ini terepresentasi dalam sabda Nabi :

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, maka janganlah kamu berkata: 'Seandainya aku melakukan begini, niscaya akan begini dan begitu', karena sesungguhnya kata 'seandainya' itu membuka pintu perbuatan setan. Akan tetapi katakanlah: 'Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan'."

Sesungguhnya kemampuan untuk menempatkan masalah pada ukuran aslinya yang sebenarnya dapat membuat orang-orang yang sukses dalam hidupnya terhindar dari jatuh menjadi korban (mangsa) bagi persepsi yang mengatakan bahwa masalah itu bersifat merembet dan memiliki banyak cabang. Atas dasar itu, orang yang sukses dalam mengatasi masalah obesitas (kegemukan) akan berkata: "Sesungguhnya aku sedang menghadapi sedikit tantangan untuk mengatasi kebiasaan makanku." Bukannya membuat dirinya frustrasi dengan berkata: "Sesungguhnya seluruh hidupku telah hancur berantakan disebabkan oleh makan yang berlebihan." Oleh karena itu, ia bekerja dengan fokus pada perbaikan perilakunya. Sebaliknya, mereka yang meyakini bahwa masalah-masalah mereka bersifat merembet dan mengendalikan takdir mereka, sering kali membayangkan bahwa kegagalan mereka di satu bidang berarti kegagalan seluruh hidup mereka; sebuah generalisasi yang pada akhirnya meninggalkan mereka dalam kondisi yang sangat tidak berdaya.

Untuk mengatasi keyakinan keliru bahwasanya masalah telah merembet sepenuhnya ke dalam hidupmu, kamu harus segera mulai mengambil kendali atas masalah tersebut, atau setidaknya mengendalikan sebagian kecil darinya. Tidak penting apakah bagian itu merupakan hal terkecil di dalamnya, namun yang benar-benar penting adalah kamu mulai melakukan sesuatu sekarang juga menuju jalan solusinya.

Masalah tidak akan terpecahkan kecuali dengan tindakan yang kuat, pemikiran yang cerdas, kesabaran, dan ketekunan. Kamu lebih besar daripada masalah apa pun, dan kamu hanya perlu bertawakal kepada Allah lalu memulainya.

Orang-orang optimis memandang kegagalan dalam hidup mereka sebagai pengalaman pembelajaran, atau sekadar tantangan untuk menyesuaikan metode (manajemen) mereka dalam kehidupan. Adapun orang-orang pesimis, mereka memandang kegagalan dengan pandangan personal (subjektif), dan menafsirkannya sebagai bukti atas adanya kekurangan yang mendalam dan kecacatan dalam kepribadian. Mengingat mereka mengaitkan antara identitas diri mereka dengan masalah itu sendiri, mereka sering kali merasa bahwa masalah tersebut mengurung mereka sepenuhnya, dan mereka pun kebingungan bagaimana cara mengubah hidup mereka dalam satu kali hantaman?

Oleh karena itu, dan bagaimanapun keadaannya, berusahalah dengan segala cara yang memungkinkan untuk menghindari keyakinan keliru bahwasanya masalah itu bersifat personal dan disebabkan oleh sifat-sifat pribadi yang ada padamu. Mulailah memandang masalah sebagai informasi yang bermanfaat tentang performamu yang dapat membantumu untuk mengarahkan diri dengan cara yang lebih baik dan lebih tepat sasaran menuju target yang membentuk takdirmu, dan pada saat itu kamu harus merasakan nilai dari bakat ini serta mengapresiasinya.

Kenyataannya adalah bahwa aib atau kekurangan itu apabila telah tampak, maka akan mudah untuk mengobatinya. Dan jerih payah atas tampaknya kekurangan tersebut boleh jadi telah ditanggung oleh orang lain, maka manfaatkanlah kesempatan ini. Sungguh, Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu telah berkata: "Semoga Allah merahmati seseorang yang telah menghadiahkan kekurangan-kekuranganku kepadaku."

Sesungguhnya kemajuan pribadi apa pun yang terjadi secara tiba-tiba (kejutan) pasti bermula dari adanya perubahan pada keyakinan-keyakinan.

Bagaimanakah cara mengubah keyakinan-keyakinan negatif yang menghalangi kemajuan kita? Jalan terbaik untuk hal tersebut adalah dengan menggoyahkan rasa percaya terhadap keyakinan-keyakinan ini melalui cara meragukan kebenarannya, memeriksa ulang, serta meneliti apa yang ada di baliknya. (Ini adalah mazhab keraguan (skeptisisme metodis) yang menuntun menuju keyakinan (kebenaran pasti) sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali)

Ingatlah selalu bahwa akalmu terus-menerus berusaha menghindarkanmu dari rasa sakit. Oleh karena itu, berusahalah untuk memanggil kembali ingatan tentang seluruh dampak negatif yang telah disebabkan oleh keyakinan yang ingin kamu ubah tersebut kepada dirimu. Tanyakanlah pada dirimu sendiri:

  1. Ketika aku memikirkan keyakinan ini, hal apakah yang tampak konyol dan tidak masuk akal di dalamnya?
  2. Apakah yang telah dihabiskan oleh keyakinan ini dari diriku di masa lalu? Dan bagaimana ia telah melemahkan kemampuanku untuk melesat maju?
  3. Apakah yang akan dihabiskan oleh keyakinan negatif ini dari diriku di masa depan, jika aku tidak mengubahnya sekarang juga?

Sesungguhnya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan membantumu untuk menghubungkan antara perasaan sakit yang disebabkan oleh keyakinan tersebut kepadamu, dan kemudian memberikanmu kesempatan untuk menggantinya dengan keyakinan-keyakinan yang lebih positif.

Sebagai contoh, ada seseorang yang meyakini bahwa pelayanannya (sikap asal bapak senang) kepada atasannyalah yang membuatnya bertahan dalam pekerjaan, dan bukan karena kemampuannya untuk bekerja secara profesional (itqan) dan maju; maka alangkah banyaknya kehinaan dan perendahan martabat yang ia dapatkan.

Sekiranya ia mengingat hal tersebut, lalu berusaha mengembangkan dirinya, dan menjadikan kehinaan ini sebagai pendorong baginya untuk melakukan pengembangan diri, niscaya ia akan menjadi orang yang mendapat taufik (sukses).

Agar manusia dapat hidup bahagia, maka merupakan suatu hal yang darurat baginya untuk merasakan perkembangannya secara terus-menerus. Dan agar lembaga-lembaga modern mampu meraih kesuksesan di dunia bisnis, mereka harus berkembang ke arah yang lebih baik secara terus-menerus. Maka sudah jelas bahwa kita harus mengimani pentingnya perkembangan menuju hal yang lebih baik dan menjadikannya sebagai jalan hidup sehari-hari, bukan hanya sebagai sebuah target yang kita usahakan dari waktu ke waktu saja.

Di Jepang, mereka menyebut hal ini dengan istilah: Kaizen (改善), sebuah kata yang berarti memfokuskan perhatian pada pengembangan dan perbaikan kualitas produk serta layanan secara permanen dan berkelanjutan. Oleh karena itu, aku menyarankan agar kita semua mempersembahkan diri kita untuk proses perbaikan dan pengembangan ini dalam bentuk yang permanen dan tanpa akhir. Jika proses perkembangan menuju hal yang lebih baik telah menjadi kebiasaan yang permanen, ia bahkan akan menuntun pada pengembangan hal-hal yang sebenarnya sudah dianggap luar biasa. Maka, apakah kamu bisa melihat apa yang dapat dilakukan oleh roh pengembangan ini di dalam lembaga-lembaga kita, keluarga-keluarga kita, dan lingkungan masyarakat perkotaan kita? Bagaimanakah kamu bisa segera mulai menerapkan filosofi ini di dalam kehidupanmu?

Bagaimanakah kamu berusaha untuk mengembangkan metode-metode dakwahmu serta wawasan pemikiran dan profesionalismu, dan berusaha mengembangkan rencana-rencana kerja hingga kamu bisa memenangkan pemikiran dan dakwahmu?

Sesungguhnya rasa aman yang sejati yang dapat kamu rasakan dalam hidupmu datang dari pengetahuan bahwasanya kamu mengembangkan dirimu setiap hari dalam satu bentuk atau bentuk lainnya, dan bahwasanya kamu selalu melangkah maju ke depan.

Oleh karena itu, aku tidak menderita kecemasan apa pun demi mempertahankan kualitas hidupku, karena aku bekerja secara terus-menerus untuk mengembangkannya ke arah yang lebih baik.

Salah satu rahasia di balik kesuksesan pelatih olahraga legendaris, Pat Riley, adalah komitmennya yang jujur terhadap pengembangan dan perbaikan secara bertahap dalam bentuk yang konsisten. Pada tahun 1986, pelatih ini menghadapi tantangan besar yang terepresentasi dalam kekalahan timnya pada kejuaraan olahraga bola basket (catatan: dalam teks Arab tertulis al-baisabul/bisbol, namun sejarah Pat Riley adalah pelatih basket) di tahun sebelumnya, meskipun mereka mengira bahwa mereka telah mempersembahkan kemampuan terbaik mereka.

Agar dapat menginspirasi mereka untuk berkembang ke arah yang lebih baik, ia berhasil meyakinkan para anggota tim bahwa jika masing-masing dari mereka memperbaiki performanya sebesar 1% saja di lima bidang yang berbeda, maka hal itu akan menghasilkan perbedaan yang sangat besar dalam level teknis mereka. Hal yang jenius dalam rencana ini adalah bahwa setiap individu di dalam tim merasa pasti bahwa ia sanggup mewujudkan target tersebut, karena setiap pemain hanya harus mendedikasikan dirinya untuk menaikkan kualitas performanya sebesar 5% saja. Namun jika kita melihat pada hasil akhir (akumulasi), hal itu akan menghasilkan peningkatan sebesar 60% (5% × 12 jumlah anggota tim) pada level performa tim. Dan tentu saja, para anggota tim berhasil mencapai tingkat performa mereka yang paling mengagumkan sepanjang sejarah pada musim berikutnya.

Dan kamu, apakah yang dapat kamu wujudkan jika kamu menerapkan pemikiran yang sama dan mewujudkan sebuah kemajuan yang kecil, namun terjadi secara terus-menerus?

Apakah keyakinan-keyakinan dan prinsip-prinsip pribadi yang mengarahkan pemikiran, keputusan, dan tindakanmu setiap hari? Cobalah untuk mengikuti langkah-langkah latihan berikut ini agar kamu mengetahui sejauh mana kuatnya pengaruh keyakinan-keyakinanmu:

  1. Tulislah di bagian atas salah satu halaman: "Keyakinan-keyakinan yang memberiku kekuatan", dan tulislah di bagian atas halaman yang lain: "Keyakinan-keyakinan yang melemahkanku".
  2. Tulislah—dalam waktu sepuluh menit—daftar keyakinanmu pada kedua halaman ini (tulislah segala hal yang terlintas di dalam benakmu).
  3. Sambil kamu memeras otakmu, tulislah seluruh keyakinan yang menyeluruh yang bersifat generalisasi, dan keyakinan-keyakinan yang lebih khusus serta spesifik; dan pastikan untuk menulis keyakinan-keyakinan yang memiliki konsekuensi hasil, seperti perkataanmu: "Jika aku melakukan begini maka akan terjadi begitu", contohnya: "Jika aku mencurahkan segala kemampuanku maka aku akan sukses".

Dan mintalah pertolongan dalam urusan tersebut dengan merujuk kepada Al-Qur'an Al-Karim dan As-Sunnah Al-Mutahharah (yang disucikan).

Termasuk cara yang paling efektif dalam rangka mengembangkan kehidupanmu menuju arah yang lebih baik adalah dengan mengenali keyakinan-keyakinan pribadimu yang akan menuntunmu pada perwujudan impian-impianmu, lalu berusaha untuk menegaskan dan mengokohkannya.

  1. Periksalah kembali daftar yang telah kamu tulis tentang keyakinan-keyakinanmu yang memberimu kekuatan, dan daftar yang telah kamu selesaikan tentang keyakinan-keyakinan yang melemahkanku, kemudian buatlah lingkaran di sekitar keyakinan yang paling kuat di antara hal tersebut.
  2. Tetapkanlah bagaimana keyakinan-keyakinan ini dapat menuntun pada pemberian lebih banyak kekuatan kepadamu dalam menggerakkan roda kehidupanmu? Dengan jalan apa keyakinan-keyakinan ini memperbaiki sifat-sifat pribadimu dan kualitas hidupmu? Kemudian bayangkanlah jika seandainya keyakinan-keyakinan ini menjadi lebih kuat daripada kondisi sebelumnya, maka bagaimanakah hal itu akan memberimu kekuatan yang lebih banyak dan menyebabkan pengaruh yang lebih besar dalam hidupmu?
  3. Sekarang, kamu harus mencapai prinsip-prinsip yang kokoh tentang setiap keyakinan dari keyakinan-keyakinan positif tersebut, dan kamu harus menciptakan di dalam benakmu rasa keyakinan yang pasti dan permanen yang akan mengarahkan perilakumu menuju arah yang kamu inginkan dalam hidupmu, kemudian mulailah bertindak selaras dengan prinsip-prinsip baru tersebut.

Dan sekarang telah tiba waktunya untuk menyingkirkan keyakinan-keyakinan negatif yang menghambatmu:

  1. Pilihlah dua keyakinan negatif yang kamu duga paling melemahkan kemampuanmu untuk berkembang.
  2. Runtuhkanlah dasar-dasar yang menjadi tegaknya rasa kepastian dan keyakinanmu terhadap kedua keyakinan ini, yaitu dengan cara memunculkan pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana bisa hal ini terasa konyol dan tidak masuk akal? Apakah orang yang menjadi penyebab aku menganut keyakinan ini merupakan sosok teladan terbaik yang bisa dicontoh? Jika aku tidak menyingkirkannya, apakah yang harus dikorbankan (dihabiskan) dariku secara emosional? Secara finansial (keuangan)? Secara fisik? Dan dalam hubungan-hubunganku? Serta apakah yang harus dikorbankan oleh keluargaku dan orang-orang yang kucintai?

Bayangkanlah hasil-hasil yang tidak baik yang didatangkan oleh keyakinan-keyakinan ini, dan putuskanlah secara final bahwasanya kamu tidak mau membayar harga yang dihabiskan oleh keyakinan-keyakinan ini sekali lagi.

Kokohkanlah keyakinan-keyakinan positif tersebut dengan cara mengimajinasikan dan mengekspektasikan manfaat-manfaat tanpa akhir yang akan kembali kepadamu darinya.

Banyak studi telah membuktikan bahwa ada kekuatan yang agung di balik ekspektasi (harapan) yang kita bawa, yang mana hal itu bekerja untuk memperbaiki performa kita secara umum. Kekuatan yang tersimpan di balik ekspektasi ini disebut dengan istilah: (Efek Pygmalion).

Dalam salah satu penelitian, seorang peneliti memberi tahu para guru bahwa di dalam kelas mereka terdapat murid-murid yang berbakat dan harus terus didorong agar mereka menjadi unggul. Tentu saja, para guru merespons ekspektasi tersebut sehingga murid-murid ini pun berada di puncak daftar keunggulan. Dan sungguh menjadi kejutan yang mutlak bagi para guru ketika mengetahui bahwa murid-murid ini sebenarnya hanyalah murid-murid yang biasa saja dan tidak menunjukkan kejeniusan luar biasa apa pun sebelum dilakukannya penelitian; bahkan sebagian dari murid-murid ini sebelumnya telah dikategorikan sebagai murid yang tingkat kemampuannya lemah.

Apakah yang menyebabkan hasil ini? Tidak diragukan lagi bahwa yang menyebabkan hal itu adalah kekuatan agung yang tersimpan di balik keyakinan para murid tersebut bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak biasa, serta adanya ekspektasi keunggulan bagi mereka; sebuah ekspektasi yang berpindah kepada mereka melalui cara meyakininya para guru mereka terhadap hal tersebut. Apakah sekarang kamu sudah melihat pentingnya keyakinan-keyakinanmu tentang dirimu sendiri dan tentang orang lain?

Kira-kira apakah yang dapat kamu wujudkan jika kamu memiliki keimanan (keyakinan) bahwasanya kamu mampu mengetuk pintu-pintu masa depan yang berada dalam puncak kemakmuran?

Pengaktifan Secara Praktis Terhadap Fakta-Fakta Tema dan Nilai-Nilainya Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut Ini:

Pertama: Aktivitas-Aktivitas Pendamping (Ko-kurikuler):

  1. Setiap peserta didik berbicara tentang metode baru yang ia gunakan dalam berdakwah di jalan Allah.
  2. Pelatihan atas kedisiplinan dalam menyajikan segmen-segmen kebudayaan selama jam pelajaran.
  3. Melakukan evaluasi (perhitungan) terhadap orang yang terlambat dari pelajaran dan memberikan sanksi edukatif (ta'zir) kepadanya hingga kedisiplinan dapat terwujud.
  4. Membuat program praktis untuk kedisiplinan dalam ketepatan waktu dan hal lainnya, dengan menetapkan sarana pemberian penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) di dalamnya.

Kedua: Aktivitas-Aktivitas Pendukung:

  1. Berinovasi dalam membuat program pelatihan praktis untuk kedisiplinan dan komitmen.
  2. Mencatat sejumlah tujuan-tujuan tertinggi dalam hidupnya di atas kertas dengan tulisan yang besar, agar selalu berada di hadapannya setiap waktu.
  3. Menuliskan alternatif-alternatif yang dapat membantunya untuk mewujudkan tujuan-tujuannya.
  4. Membangun sebuah filosofi khusus bagi dirinya dalam cara ia memandang berbagai perkara.
  5. Memunculkan cara-cara baru yang membantu dalam meraih pemahaman orang lain dan kecintaan mereka.
  6. Melaksanakan latihan-latihan praktis yang ada di dalam buku.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Pertama: Pertanyaan-Pertanyaan Esai:

  1. Diskusikanlah ungkapan berikut ini: (Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu suka mereka memperlakukanmu).
  2. "Menetapkan filosofi khusus bagi seseorang yang bersumber dari dalam dirinya memiliki urgensi yang sangat besar di masa-masa sulit" — Berikanlah dalil (bukti) atas hal tersebut.
  3. Bagaimanakah cara kamu meraih pemahaman orang lain dan penghormatan mereka?
  4. Sebutkanlah manfaat-manfaat paling penting dari sistem (keteraturan) dan kedisiplinan dalam hidupmu.
  5. Apakah pentingnya menetapkan tujuan-tujuan di dalam kehidupan kita?
  6. Apakah kekuatan yang menyebabkan kegagalan atau kesuksesan dalam mewujudkan tujuan-tujuan?
  7. Apakah peristiwa-peristiwa di masa lalu memiliki pengaruh atas kehidupanmu? Dan apakah pengaruhnya bersifat positif ataukah negatif?
  8. Apakah penilaianmu terhadap sikap-sikap berikut ini:
    • Seseorang yang tidak memiliki tujuan dalam hidup.
    • Seseorang yang memiliki tujuan namun ia lemah untuk mewujudkannya.
    • Seseorang yang memiliki ambisi besar namun ia bersikap pasrah (tawakal keliru) dan bermalas-malasan.
    • Seseorang yang memiliki filosofi khusus yang justru menghambatnya dari mewujudkan tujuan-tujuannya.
    • Seseorang yang tidak percaya pada kemampuan-kemampuannya dan sering menggunakan kata "mustahil".
    • Seseorang yang sombong (angkuh) yang berbicara tentang tujuan-tujuan yang agung namun ia lemah untuk mewujudkannya.
  9. Manusia pada hakikatnya adalah orang-orang yang jujur dan sopanManusia pada kenyataannya adalah orang-orang yang tidak jujur dan hanya mencari kemaslahatan pribadi mereka sendiri. Manakah di antara kedua keyakinan ini yang lebih benar? Mengapa? Dan bagaimanakah kamu menjadikannya sebagai fondasi yang penting di dalam hidupmu?
  10. (Kedisiplinan adalah sebuah keniscayaan bagi kesuksesan) Buatlah sebuah bagan rencana yang dengannya kamu bisa mewujudkan kedisiplinan bagi dirimu dan bagi orang-orang yang bersamamu.
  11. Apakah jalan terbaik untuk memperoleh indra batin (wawasan kepemimpinan/tabashshur)?
  12. Apakah indra batin (tabashshur) itu penting? Dan mengapa?

Kedua: Pertanyaan-Pertanyaan Objektif:

  1. Berilah tanda V atau tanda X di depan kalimat yang sesuai dengannya berikut ini:
    • Kedisiplinan itu mengekang kebebasan dan manfaatnya sedikit. o
    • Rahasia kebahagiaan terletak pada perwujudan keseimbangan antara tuntutan ruh (jiwa) dan badan (fisik). o
    • Setiap manusia memiliki filosofi pribadinya yang menentukan persepsi-persepsinya. o
    • Pembuatan keputusan yang selamat (benar) digantungkan pada indra batin (tabashshur). o
    • Tidak mungkin ada perubahan sama sekali dari kondisi ketidakberdayaan yang dipelajari. o

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat