Pasal 4: Hukum Perilaku Anda
BAB KEEMPAT: HUKUM-HUKUM PERILAKUMU
Tujuan
Umum:
- Memahami faktor-faktor
penentu perilaku yang terorganisasi dan bertujuan bersama diri sendiri.
- Membentuk sikap positif
terhadap hukum-hukum perilaku islami yang terorganisasi.
- Melakukan pelatihan melalui
aktivitas, praktik, evaluasi, serta introspeksi (akuntabilitas) mandiri
untuk menguasai hukum-hukum perilaku.
Tujuan
Perilaku Instruksional (Instruksional Khusus) untuk Tema Ini:
Dengan
berakhirnya proses pembelajaran pada tema ini, diharapkan peserta didik mampu
untuk melakukan hal-hal berikut:
Pertama:
Tujuan Kognitif (Pengetahuan):
- Mengenali keharusan bahwa
filosofi hidupnya harus bersumber dari dalam dirinya sendiri.
- Memberikan dalil/bukti atas
pentingnya kaidah emas perilaku: Perlakukanlah orang lain sebagaimana
kamu suka mereka memperlakukanmu.
- Menentukan filosofi
pribadinya dalam menyikapi berbagai urusan dengan cara yang positif.
- Menganalisis ide-ide dan
persoalan-persoalan yang menyibukkan pikirannya bersama para ahli pikir
dan orang yang berpengalaman hingga ia mencapai keputusan yang tepat.
- Menjelaskan pentingnya
mengorganisasi waktu dan tenaga, serta meraih rasa percaya diri dan
penghormatan dari orang lain.
- Mengklasifikasikan
kriteria-kriteria yang membantunya untuk meraih kesuksesan dan mewujudkan
keseimbangan bagi dirinya.
- Memaparkan bagaimana cara
mengubah suatu ide menjadi sebuah keyakinan yang kokoh.
- Mengenali cara mengorganisasi
urusan-urusan pribadinya.
- Menjelaskan metode untuk
memahami orang lain.
- Memaparkan pentingnya
mewujudkan keseimbangan demi menggapai kebahagiaan.
- Menentukan jalan terbaik
untuk memperoleh indra ketajaman batin ( تبصّر / wawasan
mendalam).
- Membedakan antara opini
(pendapat), keyakinan (asumsi awal), dan kepuasan hati
(konvingsi/keyakinan setelah pembuktian).
Kedua:
Tujuan Afektif (Sikap/Nilai):
- Berprasangka baik (husnuzan)
kepada orang lain.
- Mengutamakan keteraturan dan
kedisiplinan dalam seluruh urusan kehidupannya.
- Berkomitmen pada pembaruan
(inovasi) dalam hidupnya serta menjauhkan diri dari rasa jenuh dan
rutinitas yang monoton demi mewujudkan keseimbangan.
- Menampilkan tujuannya seraya
menyuarakannya dengan penuh rasa percaya diri.
- Menjauhkan diri dari
keyakinan-keyakinan negatif yang menghambat kesuksesannya.
- Melawan kegagalan dengan
tekad yang pasti, karena tidak ada lagi hal yang mustahil mulai hari ini.
- Mengaitkan makna-makna yang
baik serta perasaan-perasaan positif pada peristiwa-peristiwa yang
dilaluinya guna melipatgandakan kekuatannya.
- Cenderung pada prasangka
baik dan menerima permohonan maaf dari orang yang berbuat salah.
- Konsisten dalam memfungsikan
potensi-potensinya serta memanfaatkannya dengan pemanfaatan yang paling
optimal.
- Menghindari keputusasaan dan
sifat manja/ketergantungan, serta memberikan ruang bagi imajinasinya untuk
mengarungi tujuan-tujuan yang besar.
- Mengutamakan sikap optimis
saat memecahkan masalah apa pun.
- Menganggap kegagalan sebagai
tambahan bagi pengalaman pembelajarannya.
- Menetapkan kedisiplinan dan
keteraturan secara terus-menerus.
Ketiga:
Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):
- Menerapkan dengan baik
prinsip: Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu suka mereka
memperlakukanmu.
- Merencanakan dengan
keterampilan yang sangat tinggi untuk membentuk suatu filosofi khusus bagi
dirinya yang dapat membuahkan kesuksesan.
- Menciptakan metode-metode
baru yang membantu untuk memperoleh pemahaman terhadap orang lain.
- Melatih diri pada
kedisiplinan dan keteraturan dalam seluruh urusan pribadinya.
- Mencatat manfaat-manfaat
paling utama dari kedisiplinan dan keteraturan.
- Mengeksplorasi
potensi-potensi serta pencapaian-pencapaiannya yang dapat mewujudkan rasa
percaya diri.
- Menguji coba suatu program
yang ketat yang membiasakan dirinya pada kedisiplinan dan keteraturan.
- Membuat sesuatu walaupun
sederhana yang selaras dengan minatnya guna mengaktualisasikan dirinya.
- Menggunakan seluruh kemampuan
dan potensinya dengan penggunaan yang paling optimal untuk mewujudkan
tujuan-tujuannya.
- Mempraktikkan imajinasi
mental sebagai dorongan (stimulus) untuk mewujudkan tujuan-tujuannya.
- Berinovasi dalam menemukan
metode-metode baru yang membantunya untuk menggunakan indra ketajaman
batin secara benar.
- Mengusulkan suatu sistem
khusus yang membantunya dalam mengorganisasi seluruh urusannya.
- Menggunakan usulan-usulan
yang telah diletakkan di dalam pelajaran agar dapat meraih kesuksesan dan
keunggulan.
- Menguji coba penggunaan
imajinasi dan eksperimen untuk sampai pada hakikat-hakikat yang sebelumnya
sulit ia wujudkan.
Materi
Ilmiah:
Sebagaimana
yang telah ditemukan oleh Paula Blanchard, bahwasanya filosofinya dalam
kehidupan haruslah bersumber dari dalam dirinya sendiri. Maka dari itu,
hendaknya filosofimu bersumber dari dalam dirimu sendiri. Setiap dari kita
berbeda satu sama lain dalam hal latar belakang sosial dan regionalnya, serta
dalam pengalaman pribadi, pola asuh, dan nilai-nilai moral. Kepribadian
seseorang harus selaras dengan hakikat jati dirinya, serta selaras dengan
cita-citanya.
Prinsip-prinsip
terbaik dari perilaku moral dapat diringkas dalam satu kalimat: Perlakukanlah
orang lain sebagaimana kamu suka mereka memperlakukanmu. Jika kaidah emas
ini diikuti secara umum, maka kita akan menjamin bahwa setiap orang akan
diperlakukan dengan kelembutan dan rasa hormat, pada tingkat yang mendorong
kita semua untuk meraih tingkat kesuksesan tertinggi yang dimungkinkan.
Sebagaimana penerapan kaidah emas ini juga akan melahirkan suatu kekuatan yang
menarik orang lain yang memiliki keyakinan sama; sesungguhnya itu adalah
kekuatan yang sangat positif.
Tanpa
memandang cara orang lain memperlakukanmu, sesungguhnya kaidah emas ini tetap
menjadi titik awal yang penting untuk merumuskan filosofi pribadi apa pun. Jika
kamu membiasakan diri untuk tidak melakukan sesuatu pun yang merugikan orang
lain, dan kamu berusaha untuk membantu mereka secara praktis dan logis, maka
kamu akan mengambil manfaat dari kebiasaan ini lebih banyak daripada orang
lain. Kamu akan menjadi manusia yang penuh belas kasih, penyayang, dan
perhatian terhadap perasaan orang lain.
Dan
menjadi suatu hal yang darurat bagimu untuk memahami tabiat standar perilakumu,
yaitu standar yang tidak akan kamu biarkan dirimu sendiri turun di bawahnya.
Sesungguhnya seluruh agama samawi, undang-undang, kaidah moral, dan kebijakan
perusahaan memuat arahan-arahan yang berkaitan dengan perilaku individu.
Kaidah-kaidah
umum tentang perilaku biasanya merepresentasikan standar perilaku terendah yang
dapat diterima, baik ketika kaidah tersebut menyepakati sebagian praktik
tertentu, maupun ketika berbeda pada sebagian praktik lainnya. Agar kamu
benar-benar merasakan kepuasan terhadap dirimu sendiri, kamu harus berusaha
untuk mencapai perilaku yang naik meninggi di atas kebiasaan-kebiasaan perilaku
terendah yang dapat diterima tersebut.
Sesungguhnya
merumuskan filosofi pribadimu yang kamu gunakan untuk hidup memiliki urgensi
yang sangat besar di saat-saat sulit atau ketika kamu harus mengambil
keputusan-keputusan penting. Filosofi ini menjauhkanmu dari kesulitan untuk
berhenti sejenak dan berpikir tentang apa yang legal secara hukum positif,
moral, ataupun syariat; hal itu karena filosofi tersebut secara fitrah
mengetahui metode yang benar untuk menyikapi urusan apa pun dari urusan-urusan
kehidupan.
Raihlah
Pemahaman Terhadap Orang Lain:
Dr.
Frank Fleming menceritakan di dalam bukunya "Being Better Than You've
Ever Been" tentang dialognya bersama seorang penulis asal Jepang
bernama Fukujiro Sono mengenai kata "Kan" dalam bahasa Jepang,
yang menunjukkan atas upaya yang terus-menerus demi mengambil keputusan yang
tepat; keputusan yang adil bagi semua pihak yang terlibat, dan bukan keputusan
yang dibangun di atas kemaslahatan individu semata. Ini merupakan perpaduan antara
filosofi ketimuran dan metode manajemen yang memainkan peran penting dalam
transisi industri Jepang dari fase peniruan (imitasi) menuju fase inovasi
(kreasi), kemudian menuju fase kepemimpinan yang dinikmati oleh Jepang saat
ini.
Pengambilan
keputusan yang tepat—sebagaimana yang diyakini oleh Fukujiro—bergantung pada
perolehanmu terhadap informasi dan data-data yang diperlukan. Namun ia
mengatakan: "Masih ada banyak hal lain mengenai pembuatan keputusan. Di
dalam bahasa Jepang, terdapat tiga kata yang diucapkan sebagai kata 'Kan'.
- Yang pertama berarti
perasaan dan sensitivitas.
- Yang kedua berarti intuisi
yang diperoleh melalui pengalaman.
- Sedangkan yang ketiga,
berarti persepsi, yaitu melihat segala sesuatu secara mendalam sehingga
dapat menembus kepada tabiatnya yang sesungguhnya.
Aku
meyakini bahwa seorang pembuat keputusan harus berkomitmen pada makna yang
ketiga ini, yaitu indra ketajaman batin (wawasan mendalam). Dan tanpa
mengerahkan upaya untuk memperoleh tiga konotasi dari kata 'Kan'
ini—yaitu intuisi yang didapat dari pengalaman, persepsi yang menembus ke dalam
inti segala sesuatu, dan indra ketajaman batin—maka tidak akan mungkin muncul
inovasi baru apa pun."
Fukujiro
menentukan bahwa jalan terbaik untuk memperoleh indra ketajaman batin adalah
dengan cara kamu bekerja keras secara sungguh-sungguh untuk merealisasikan
idemu, mengimani apa yang kamu lakukan, dan belajar secara terus-menerus. Ia
juga merekomendasikan untuk membaca buku-buku sejarah, filosofi, dan agama guna
memperluas visi serta memperdalam pandangan batinmu.
Untuk
mengetahui apa yang harus kamu lakukan demi mewujudkan tujuan-tujuan karier dan
bisnismu, pastikanlah bahwa kamu meluangkan waktu yang singkat setiap hari
untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang lebih besar dari ruang lingkup
yang kamu selami sendiri, atau pekerjaanmu, atau lingkaran teman-teman dan
keluargamu. Renungkanlah ide-ide dan pandangan-pandangan yang akan mendukung
fondasi jaringan keyakinanmu, yaitu hal-hal yang memungkinkan dirimu untuk
menjadi manusia yang lebih bijaksana dan penuh ketajaman batin.
Bagaimana
Menjadi Orang yang Terorganisasi:
Hampir
tidak ada hal yang tidak dapat diorganisasi, tidak ada satu pun. Dan tidak ada
sesuatu yang dapat menyokong rasa percaya diri seperti halnya memahami apa yang
harus kamu lakukan, lalu mengorganisasikannya dengan cara yang logis dan tepat.
Sebagaimana alam semesta ini berjalan sesuai dengan sistem yang tidak pernah
rusak, maka kita sebagai manusia sudah seharusnya hidup secara terorganisasi.
Sebagian
orang menggunakan daftar tugas (to-do list), sementara yang lain menggunakan
alat perencanaan harian seperti kalender/agenda kecil yang disimpan di dalam
sakunya, perangkat komputer pribadi, atau sarana apa pun yang tersedia yang
dirancang untuk membantumu mengorganisasi kehidupanmu. Ada berbagai macam
sarana di hadapanmu, dan yang perlu kamu miliki hanyalah keinginan dan
kedisiplinan.
Biasakanlah
dirimu untuk berhenti sejenak dan memikirkan secara mendalam tugas yang sedang
kamu kerjakan sebelum kamu beralih ke tugas yang lain. Jika kamu meluangkan
waktu yang diperlukan untuk memikirkan tugas tersebut sejak awal, maka kamu
akan menyelesaikannya dengan lebih efektif, daripada kamu harus mencoba satu
hal lalu mencoba hal lainnya sampai akhirnya kamu menemukan sesuatu yang cocok
untuk diterapkan. Sesungguhnya pengorganisasian itu menghemat banyak waktu,
serta membuatmu fokus pada persoalan-persoalan yang lebih penting daripada
menghamburkan tenaga untuk menyelesaikan tugas-tugas rutin yang monoton.
Jika
kamu menjadikan pengorganisasian sebagai elemen dasar dalam filosofi
kesuksesanmu, maka kamu akan meraih penghormatan dari semua orang di sekitarmu
karena kamu adalah orang yang terorganisasi. Kamu akan menjadi lebih percaya
diri, dan segala kondisi akan membantumu untuk mencapai lebih banyak hal.
Selain itu, pengorganisasian juga dapat meredakan tekanan psikologis (stres).
Jika kamu mencatat tujuan-tujuanmu dan mempersiapkan rencana untuk
mewujudkannya, kamu tidak perlu merasa cemas atau takut lupa akan tujuan
tersebut. Dan yang paling penting dari semua perkara ini adalah kamu akan
meraih penghormatan yang sangat besar terhadap dirimu sendiri; karena kamu tahu
betul bahwa hidupmu berada di bawah kendali—di bawah kendalimu sendiri.
"Aku
harus hidup berdampingan dengan diriku sendiri, oleh karena itu aku harus
menyadari hakikatnya. Seiring berjalannya hari, aku ingin selalu bisa menatap
mataku sendiri secara langsung. Aku tidak ingin berdiri saat matahari terbenam
dalam keadaan membenci diriku sendiri atas apa yang telah kuperbuat." (Edgar
Guest)
Jadilah
Orang yang Disiplin Secara Terus-Menerus:
Kedisiplinan
dianggap sebagai kekuatan yang menggerakkan pengorganisasian. Kedisiplinan itu
terepresentasi dalam kekuatan tekad, determinasi, dan kekuatan kepribadian,
serta hal-hal yang memaksamu untuk terus bekerja hingga kamu menyelesaikannya.
Dan yang lebih penting dari itu adalah bahwa kedisiplinan merupakan karakter
kepribadian yang membantumu memegang kendali kehidupanmu. Jika kamu adalah
orang yang disiplin, maka kamu tahu betul bahwa kamu mampu menyikapi situasi
yang paling negatif sekalipun dengan cara yang positif, dan kamu mampu
menghadapi apa saja yang menghalangi jalanmu.
Tidak
ada jalan yang mudah untuk memperoleh karakter kedisiplinan. Kedisiplinan itu
datang ketika kamu memaksa dirimu sendiri untuk melakukan hal yang benar dan
melangkah untuk menuntaskan suatu perkara, di saat kamu justru cenderung ingin
melakukan perkara yang lain. Karakter kedisiplinan ini diperoleh secara
bertahap hingga menjadi bagian dari kebiasaanmu untuk mendengarkan hati
nuranimu yang memberitahumu agar terus berjalan dan mengambil tindakan positif,
daripada menunda-nunda apa yang harus kamu kerjakan hari ini hingga hari esok.
Kedisiplinan
diperoleh dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi karena biasanya ia tidak
memberikan hasil atau timbal balik secara instan. Faktanya, respons yang kamu
temukan dari orang lain mungkin saja negatif ketika mereka mencoba meyakinkanmu
untuk menjauhkan pikiran dari pekerjaan dan melakukan sesuatu yang
menyenangkan. Namun, jika kamu berkomitmen pada kedisiplinan ini, kamu akan
memetik buahnya pada akhirnya. Mereka yang mendisiplinkan diri mereka sendiri
untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dan melakukan hal-hal yang harus
dituntaskan—tanpa memedulikan apa yang dikatakan orang-orang—adalah mereka yang
meraih penghormatan dari orang lain, mendapatkan promosi (kenaikan jabatan)
yang biasa diberikan kepada orang-orang yang memiliki pencapaian luar biasa,
dan mereka jugalah yang akan menjadi para pemimpin.
Kedisiplinan
membuatmu mengabaikan kritikan orang lain, serta membuatmu berhenti menyalahkan
masa lalumu, lingkunganmu, atau keberuntungan buruk di sekitarmu atas kondisimu
saat ini. Kedisiplinan juga membuatmu menyadari bahwa kamu memiliki masalah
(seperti halnya seluruh manusia), akan tetapi kamu mampu mengatasinya, bahkan
kamu pasti akan mengatasinya. Kamulah satu-satunya orang yang bertanggung jawab
atas kesuksesan, kegagalan, dan kebahagiaanmu sendiri.
Standar-Standarmu:
Jika
ada satu sifat yang menyatukan orang-orang sukses, sifat itu adalah mereka tahu
betul ke mana mereka akan pergi. Jika kamu tidak mengetahui apa pun tentang
arah tujuanmu, maka semua jalan akan terlihat sama saja di hadapanmu. Namun,
jalan-jalan tersebut semuanya akan berujung pada tempat yang sama (kekosongan).
Jika kamu tidak memiliki tujuan yang jelas dan rencana spesifik untuk
mewujudkannya, kemungkinan besar kamu tidak akan mencapai sesuatu yang
bernilai, dan kamu tidak akan menyadari apa pun dari apa yang sebenarnya mampu
kamu capai.
Pastikan
bahwa filosofi pribadimu mencakup penetapan tujuan. Kamu membutuhkan tujuan
dalam kariermu, keluargamu, teman-temanmu, pendidikanmu, kesehatanmu, kebugaran
fisikmu, serta dalam setiap bidang dari bidang-bidang kehidupanmu. Tanpa adanya
tujuan, mustahil bagimu untuk mengukur sejauh mana kemajuanmu, dan kamu tidak
akan tahu di mana kamu berdiri di atas jalan pertumbuhan.
Mewujudkan
Keseimbangan:
Beberapa
penelitian menemukan bahwa jika kamu membiarkan hidupmu menjauh terlalu jauh
dari keseimbangan dan ketegasan, maka kamu harus mengambil tindakan yang
tegas—dan terkadang radikal (ekstrem)—untuk memperbaiki situasi tersebut.
Kehidupan terkadang menyerupai pendulum jam dinding; ketika ia bergerak dari
satu arah ke arah yang lain, kita berhenti dalam waktu yang terbatas di titik
tengah—yaitu titik keseimbangan—namun kita tidak bertahan lama di sana. Jika
kita tidak berusaha untuk mewujudkan keseimbangan, boleh jadi kita tidak akan
pernah bisa mewujudkannya kecuali ketika rasa lelah yang amat sangat memaksa
kita untuk berhenti bergerak sama sekali.
Ketika
kamu mengembangkan filosofi hidupmu, pastikanlah bahwa kamu memperhatikan
gagasan tentang keseimbangan. Putuskanlah untuk dirimu sendiri seberapa banyak
dari waktu, tenaga, dan emosimu yang harus diinvestasikan dalam kariermu,
hubunganmu, keluargamu, serta teman-temanmu. Alokasikanlah waktu untuk
melakukan proses pembaruan total (refreshing), waktu di mana kamu bisa
melakukan hal-hal yang kamu sukai, hal-hal yang dapat menenangkan sarafmu dan
memperbarui energimu kembali.
Sesungguhnya
semua orang—dengan segala perbedaan agama, budaya, dan bahasa mereka—meyakini
bahwa perjalananmu di dunia ini digantungkan pada pilihanmu sendiri. Oleh
karena itu, kamu bisa menjadi orang yang bahagia dan sukses, atau menjadi orang
yang sengsara dan gagal. Pilihan itu adalah pilihanmu, pilihanmu sendiri.
"Aku
hanya akan melewati dunia ini satu kali saja. Oleh karena itu, kebajikan apa
pun yang dapat kuperbuat, atau kebaikan apa pun yang dapat kutunjukkan kepada
manusia mana pun atau kepada hewan yang bisu sekalipun, maka aku harus
melakukannya sekarang. Jangan biarkan aku menahannya atau menundanya, karena
aku tidak akan hidup di dunia ini untuk kedua kalinya." (John
Galsworthy)
Kata-Kata
untuk Menjalani Hidup:
Orang-orang
yang fokusnya sangat kuat pada tujuan, seiring berjalannya waktu mereka akan
mempersiapkan kalimat-kalimat penegasan (afirmasi) dan faktor motivasi diri
agar mereka dapat mengingatnya kembali ketika membutuhkan sedikit dorongan
untuk melanjutkan perjuangan. Faktor-faktor ini mungkin berupa kutipan favorit,
kalimat-kalimat baligh (puitis/mendalam), atau slogan-slogan yang melekat di
dalam benak karena mengandung pesan yang jelas dan penting. Kami telah
menyebutkan banyak dari hal tersebut di dalam buku ini.
Pilihlah
kalimat-kalimat yang kamu rasa bermanfaat dan cocok untukmu. Ucapkanlah kalimat
itu dengan suara keras setiap hari hingga menjadi bagian dari dirimu. Pergilah
ke tempat yang privat (supaya orang lain tidak mengira bahwa kamu telah hilang
akal), lalu tataplah dirimu di cermin dan ucapkan salah satu kalimat afirmasi
atau motivasi diri tersebut dengan penuh keyakinan dan antusiasme dari pihakmu;
lakukan sebanyak dua puluh kali di pagi hari dan dua puluh kali di malam hari
selama satu minggu. Maka setelah itu, faktor motivasi ini pasti akan tertanam
kuat, dan kamu dapat mengingatnya kapan pun kamu membutuhkannya.
Kamu
harus memulai dengan sepuluh saran berikut ini:
- Jangan menunda-nunda,
melainkan bertindaklah sekarang!
- Sesungguhnya bersama
kesulitan ada kemudahan.
- Sesungguhnya aku adalah
orang yang baik.
- Sesungguhnya aku layak untuk
menjadi orang yang bahagia dan sukses.
- Aku bisa mendapatkan apa pun
yang kuinginkan jika aku bekerja keras dan cukup terampil untuk
mendapatkannya.
- Kerugian (kebimbangan)
adalah milik orang yang ragu-ragu.
- Sesungguhnya aku adalah
manusia!
- Aku adalah sebagaimana apa
yang kuyakini tentang diriku.
- Aku adalah manusia yang
unik, dan tidak ada bandingannya dalam menuntaskan pekerjaan.
- Segala perkara adalah
mungkin jika kamu meyakini bahwa hal itu memang demikian.
Merasakan
Pentingnya Harga Diri (Self-Esteem):
Penghargaan
terhadap diri sendiri (harga diri) tidak lain adalah kemampuan untuk mencintai
dirimu sendiri. Di permukaan akan tampak bahwa menyadari penghargaan diri pada
salah seorang individu dan mengobati masalah ini termasuk ke dalam
perkara-perkara yang sederhana.
Tentu
saja, citra dirimu telah berkembang melalui serangkaian pengalaman—baik yang
negatif maupun yang positif—sebagai buah dari pengalaman-pengalaman tersebut.
Sebuah keputusan atau satu peristiwa saja tidak akan bisa menghapus dampak
akumulatif dari pengalaman-pengalaman ini.
Meskipun
demikian, boleh jadi hal itu akan berubah. Kamu telah melihat
perubahan-perubahan positif dalam kehidupan orang lain, dan boleh jadi kamu
juga telah melewati sebagian di antaranya dalam kehidupan pribadimu sendiri.
Jika kamu benar-benar telah menjalaninya, maka kamu tahu betul bahwa perubahan
positif membutuhkan waktu yang cukup lama dan kebersikerasan yang kuat. Buku
ini telah memberikanmu alat-alat yang kamu butuhkan untuk mengubah hal-hal yang
kamu benci dari dirimu sendiri, serta untuk menyikapi secara lebih efektif
situasi-situasi yang tidak dapat kamu kendalikan secara jelas atau tidak dapat
kamu kendalikan sama sekali. Buku ini telah memberikanmu segala hal yang kamu
butuhkan, dan kamu tinggal melaksanakannya.
Sesungguhnya
kamu mampu melakukan hal-hal yang lebih banyak daripada apa yang kamu kira.
Akan tetapi, kamu belum menguji dirimu sendiri secara cukup untuk menemukan
keagungan yang ada di dalam dirimu. Tidak ada yang bisa mencapai tingkat
kesuksesan tertinggi yang dimungkinkan melainkan hanya segelintir orang saja di
antara kita; hal itu karena kita lebih memilih untuk merasa nyaman di tingkat
rata-rata (menengah). Kita melepaskan keunggulan karena kita tidak mau membayar
harga dari sebuah kesuksesan.
Jika
kita melihat ke sekeliling kita, kita akan menemukan bahwa mayoritas dari kita
dihadapkan pada kondisi yang sama, dalam tingkat yang lebih besar atau lebih
kecil. Kita menyadari bahwa kesuksesan itu bukanlah sebuah keumuman (aturan
baku), melainkan sebuah pengecualian. Akan tetapi, kita menemukan penghibur
kita dalam kenyataan bahwa kita tidak sendirian dalam mencapai tingkat yang
lebih rendah dari potensi asli kita. Kita meyakinkan diri kita sendiri bahwa
kita ridha/puas menjadi orang yang rata-rata karena mayoritas besar manusia
berada pada level ini.
Jangan
menyerah pada godaan ini! Lawanlah kemalasan, kelalaian, dan ketundukan ini
dengan seluruh kekuatan yang diberikan kepadamu. Sesungguhnya harga diri dan
kesuksesan yang diraihnya tidak akan diwujudkan oleh orang lain untukmu, dan
itu bukanlah produk alami dari lingkungan. Ia adalah barang langka yang tidak
akan datang kecuali dari dalam dirimu sendiri. Ketika kamu melihat ke dalam
dirimu sendiri saja, kamu dapat menemukan kekuatan yang selalu membuatmu berada
dalam kemajuan yang positif. Kamu adalah orang yang lebih baik daripada apa
yang kamu kira.
Sesungguhnya
kamu memiliki kekuatan penghargaan terhadap diri sendiri. Kamu dapat menghadapi
dengan sukses seluruh tantangan besar yang menantimu, hanya dengan melepaskan
belenggu dari kekuatan ini.
Langkah-Langkah
yang Harus Dipahami:
Apakah
kekuatan yang menyebabkan kegagalan atau kesuksesan dalam mendapatkan apa yang
kita inginkan dalam hidup kita? Tidak diragukan lagi, kekuatan itu adalah
keyakinan-keyakinan yang tertanam di dalam alam bawah sadar kita mengenai
kemampuan-kemampuan kita; tentang apa yang mungkin atau mustahil, dan
mengekspresikan gambaran diri kita sendiri.. Singkatnya, hal itu mencerminkan
siapa diri kita sebenarnya.
Orang-orang
di lingkungan masyarakat Tahiti meyakini bahwa kekuatan mematikan milik seorang
penyihir yang tersimpan di dalam tulang yang ia lambai-lambaikan, secara pasti
dapat menyebabkan kematian. Dan tidak diragukan lagi bahwa rasa keyakinan yang
pasti (urgensi mental) dan kepercayaan terhadap kekuatan inilah yang
menyebabkan kematian tersebut, bukan si penyihir itu sendiri.
Apakah
keyakinan-keyakinan negatif dan tidak konstruktif (merusak) yang kamu bawa
dalam dirimu secara pribadi? Bagaimana keyakinan-keyakinan tersebut telah
memengaruhi kehidupan pribadimu? Apakah keyakinan-keyakinan positif yang telah
memberimu banyak kekuatan dalam perjalanan hidup? Dan apakah
ekspektasi-ekspektasi positif baru yang dapat kamu tetapkan untuk dirimu
sendiri dan untuk orang lain?
Selama
ribuan tahun, orang-orang meyakini bahwa dari sudut pandang fisiologis, seorang
manusia tidak akan mampu menempuh jarak satu mil dengan berlari karena hal
tersebut mustahil dilakukan. Akan tetapi, pelari Roger Bannister telah
mematahkan keyakinan ini sepenuhnya ketika ia mampu menempuh jarak satu mil
dengan berlari dalam waktu hanya tiga menit lima puluh sembilan detik.
Bagaimana
ia bisa melakukannya? Pelari yang terampil ini mengimajinasikan kemenangannya
dengan angka tersebut secara intens (mendalam), yang membuatnya sangat yakin
akan kemungkinan untuk mewujudkannya. Keyakinan yang pasti ini pada gilirannya
memberikan sinyal yang kuat ke sistem saraf, sehingga membuatnya mampu
menghasilkan performa otot yang selaras sepenuhnya dengan gambaran kemenangan
yang telah ia lukis di dalam benaknya. Hanya dalam kurun waktu satu tahun saja,
pelari-pelari lain mampu mewujudkan apa yang telah dicapai oleh Bannister
dengan cara mengikuti model yang telah ia tetapkan untuk dirinya sendiri serta
adanya keimanan (keyakinan) bahwa mereka juga bisa meraih apa yang telah ia
capai.
Apakah
penghalang psikologis yang harus kamu seberangi dan kamu lewati hari ini?
Apakah
sesuatu yang kamu duga mustahil untuk diwujudkan, padahal ia bisa diwujudkan
jika kamu memercayainya, dan jika ia terwujud maka ia akan mengubah kehidupanmu
serta kehidupan orang-orang lain di sekitarmu?
Seorang
mukmin yang tidak mengenal kata mustahil, semangatnya (himmah) hari ini telah
membutuhkan sebuah lompatan besar, karena ia memikirkan hal tersebut dengan
pemikiran yang praktis.
Sering
kali orang-orang menyalahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan
mereka atas kondisi yang mereka capai saat ini. Padahal pada kenyataannya,
makna-makna yang kita sematkan pada peristiwa-peristiwa tersebut dan
interpretasi (penafsiran) yang kita tetapkan untuknya, itulah yang benar-benar
membentuk kehidupan kita.
Ada
orang yang keluar dari penjara dan tempat penahanan dalam kondisi lemah tekad,
menarik diri dari pergaulan (minder), disibukkan oleh perkara-perkara yang
sepele karena putus asa atas apa yang telah menimpanya. Namun, ada pula orang
yang keluar dalam kondisi kokoh, kuat tekad, melanjutkan jalannya dengan
ketetapan hati yang teguh, serta mampu mewujudkan hasil-hasil bagi dakwahnya
yang tidak pernah terlintas di dalam benaknya pada suatu hari pun.
Apakah
kamu membiarkan peristiwa-peristiwa di masa lalu mengeruhkan kejernihan hidupmu
hari ini?
Apakah
makna-makna lain yang bisa dibawa oleh peristiwa-peristiwa ini? Apakah
peristiwa-peristiwa tersebut telah menjadikanmu lebih kuat daripada kondisimu
sebelum hal itu terjadi? Ataukah membuatmu lebih bijaksana? Ataukah membuatmu
lebih mampu untuk memberikan nasihat kepada orang lain yang mungkin menghadapi
tantangan yang sama?
Sungguh,
para Al-Ikhwan telah keluar dari penjara setelah mendekam selama 25
tahun—berkat keimanan mereka—dalam keadaan yang lebih kuat dan lebih mulia
daripada saat mereka masuk, serta lebih gigih dan lebih kokoh daripada awal
masa pemenjaraan mereka. Mereka mampu mewariskan dakwah ini kepada orang-orang
setelah mereka, dan mereka menjadi para pemimpin (teladan), sementara pihak
agresor (penzalim) hancur dan binasa.
Mengapa
orang-orang bertindak dengan cara yang mereka lakukan? Sesungguhnya perkara ini
seluruhnya terletak pada keyakinan-keyakinan yang mereka bawa. Mungkin akan
tampak asing bagi kita ketika mengetahui bahwa jika orang-orang meyakini bahwa
melubangi tengkorak otak mereka dapat menyembuhkan sebagian penyakit, maka
mereka pasti akan melakukannya; dan yang lebih asing lagi adalah bahwa sebagian
manusia benar-benar telah melakukan hal tersebut, terlepas dari apakah
keyakinan ini dibangun di atas dasar yang benar atau tidak. Dan dengan logika
yang sama, jika orang-orang meyakini bahwa kebahagiaan pribadi mereka tegak di
atas tindakan menolong dan melayani orang lain, maka mereka tanpa ragu akan
bergerak cepat untuk membahagiakan orang-orang di sekitar mereka.
Sesungguhnya
keyakinan-keyakinan adalah penyebab bagi perbedaan besar antara kehidupan yang
dipenuhi kesengsaraan dengan kehidupan lain yang dipenuhi dengan pemberian yang
menggembirakan. Keyakinan-keyakinanlah yang membedakan antara Mozart sang
pemilik karya-karya musik yang luar biasa, dengan Manson orang yang bertanggung
jawab atas pembantaian terkenal. Keyakinan-keyakinanlah yang menyebabkan
sebagian orang menjadi para pahlawan, dan ia pula yang menyebabkan sebagian
orang lainnya (hanya bisa) bertanya-tanya: akan menjadi seperti apakah mereka
dahulu sekiranya mau mencoba?
Apakah
keyakinan-keyakinan yang dibawa oleh orang-orang di sekitarmu? Apakah
keyakinan-keyakinan yang kamu bagi bersama rekan-rekan kerjamu? Anak-anakmu?
Kedua orang tuamu? Dan apakah keyakinan-keyakinan yang berbeda di antara
mereka?
Apakah
keyakinan yang telah mengubah bangsa Arab menjadi para pemimpin dan umat
terbaik, serta melalui mereka terbukalah wilayah-wilayah timur bumi dan
baratnya?
Dan
apakah keyakinan yang telah menjadikan mereka sebelum itu menjadi para
penyembah berhala?
Ketika
kamu melewati peristiwa apa pun, sesungguhnya akalmu akan menanyakan dua
pertanyaan: Apakah peristiwa tersebut menyebabkan rasa sakit bagiku ataukah
mendatangkan kesenangan? Apa yang bisa kuperbuat agar aku terhindar dari rasa
sakit dan meraih kesenangan?
Jawabannya
bergantung pada generalisasi-generalisasi yang telah kamu tetapkan untuk dirimu
sendiri, dan dengan kata lain: keyakinan-keyakinan yang telah kamu bentuk
tentang hal-hal yang menuntun pada perasaan senangkmu dan hal-hal yang menuntun
pada perasaan sakitmu. Keyakinan-keyakinan ini boleh jadi memberikan kita
kelincahan bergerak dan pencapaian dalam hidup, atau ia bisa menghambat
perjalanan hidup kita secara efektif.
Sebagai
contoh, sebagian orang menyematkan sifat pada diri mereka sendiri—secara
umum—bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak kompeten, disebabkan oleh
kegagalan mereka yang terus-menerus dalam mempertahankan ketekunan. Sayangnya,
memercayai generalisasi semacam ini pada akhirnya akan membuatnya menjadi
sebuah kenyataan. Pikirkanlah tentang sifat-sifat negatif yang kamu gunakan
untuk menyifati dirimu sendiri atau orang lain. Apakah kamu benar-benar
memiliki alasan-alasan yang kuat untuk sifat-sifat tersebut? Apakah
ekspektasi-ekspektasi yang ditunjukkan oleh sifat-sifat ini? Bukankah bisa jadi
generalisasimu terhadap sifat-sifat yang kamu gunakan untuk menyifati dirimu
sendiri ini sama sekali tidak realistis?
Allah
Ta'ala berfirman:
"Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman." [QS. Ali 'Imran: Ayat 139]
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itulah sebaik-baik
makhluk." [QS. Al-Bayyinah: Ayat 7]
"Padahal
kekuatan/kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang
mukmin." [QS. Al-Munafiqun: Ayat 8]
Tidak
ada sesuatu pun dalam kehidupan ini yang memiliki makna, kecuali makna yang
kamu berikan kepadanya. Sesungguhnya salah satu karakter yang menakjubkan di
dalam jiwa manusia adalah kemampuan kita untuk mengangkat derajat peristiwa apa
pun dalam hidup kita atau merendahkan perkaranya jika kita menghendakinya.
Sebagian
orang berkata setelah mereka mengarungi pengalaman pernikahan yang gagal:
"Aku tidak akan pernah menikah lagi untuk selamanya." Akan tetapi,
mereka yang berpikir dengan cara yang lebih positif akan memandang
pengalaman-pengalaman sulit tersebut sebagai sebuah titik balik menuju hal yang
lebih baik dalam kehidupan mereka, dan menyematkan makna yang lebih kuat
padanya, seperti perkataan sebagian mereka: "Karena aku dahulu berhadapan
dengan seseorang yang memperlakukanku dengan buruk, maka aku secara pasti akan
menjadi orang yang lebih sensitif dalam menjaga perasaan orang lain di masa
depan." Atau: "Karena aku telah kehilangan anakku dalam sebuah
kecelakaan, maka aku akan berusaha mendirikan unit-unit ambulans di
daerah-daerah terpencil untuk menyelamatkan para korban luka di jalan-jalan
raya."
Dan
terlepas dari perkara lainnya, kita semua memiliki kemampuan untuk menciptakan
dan menyematkan makna-makna yang baik pada peristiwa-peristiwa yang kita lalui,
dengan gambaran yang melipatgandakan kekuatan kita untuk menghadapi kehidupan
kita.
Mengapa
kamu tidak memberontak saja terhadap cara berpikirmu dan menetapkan makna-makna
baru bagi pengalaman-pengalaman masa lalu yang telah kamu lalui?
Sesungguhnya
keyakinan-keyakinan memiliki kekuatan untuk mencipta (kreatif), sebagaimana ia
juga memiliki kekuatan untuk menghancurkan (destruktif). Mengingat pengaruhnya
yang menakjubkan atas kehidupan kita, maka menjadi suatu hal yang darurat untuk
memahami tiga tantangan berikut ini:
- Bahwasanya mayoritas dari
kita tidak memilih secara sadar sudut pandang-sudut pandang yang akan
dianutnya.
- Sering kali sudut pandang
kita tegak di atas kesalahpahaman terhadap masa lalu.
- Begitu kita mengadopsi sudut
pandang tertentu, kita cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral
dan kita lupa bahwa hal itu hanyalah sebuah opini semata.
Apakah
kamu memiliki sudut pandang dalam suatu perkara yang kamu yakini kebenarannya?
Apakah sudut pandang yang bertolak belakang dengannya yang (boleh jadi) juga
benar? Bagaimana kehidupanmu bisa berbeda jika kamu mengimani kebenaran dari
keyakinan-keyakinan yang kamu percayai sekarang?
Dan
Mahabenar Allah dengan firman-Nya:
"Katakanlah:
'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu agar
kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian
kamu merenungkan...'" [QS. Saba': Ayat 46]
Suatu
keyakinan tidak lain hanyalah sebuah perasaan pasti terhadap makna yang kamu
gunakan untuk menafsirkan sesuatu. Sebagai contoh, jika kamu meyakini bahwa
kamu adalah orang yang cerdas, maka keyakinan tersebut menjadi lebih dari
sekadar ide, karena kamu merasakan kepastian bahwa kamu memang cerdas. Akan
tetapi, dari manakah datangnya keyakinan yang pasti ini?
Bayangkanlah
sebuah permukaan meja, tidak ada sesuatu pun yang menyangganya kecuali
kaki-kakinya. Demikian pula dengan keyakinan. Agar ia menjadi sebuah keyakinan
yang kokoh, ia harus bersandar pada dasar-dasar tertentu, dan dasar-dasar
tersebut sering kali merupakan pengalaman-pengalaman masa lalu kita yang selalu
kita jadikan rujukan saat menghakimi berbagai perkara. Maka ketika kamu
meyakini bahwa kamu cerdas, pasti salah seorang gurumu pernah memberi tahu hal
tersebut kepadamu, atau hasil-hasil akademismu menegaskan kecerdasan tersebut.
Bagaimanapun,
kita tidak hanya merujuk pada masa lalu sebagai sumber untuk menegaskan apa
yang kita yakini, melainkan kita bisa beralih kepada imajinasi—sebagaimana yang
dilakukan oleh pelari Roger Bannister—untuk menciptakan dasar-dasar yang kamu
gunakan dalam menegaskan apa yang kita yakini.
Makna
dari hal ini adalah bahwa imajinasi yang diikuti oleh tekad kuat untuk
mewujudkannya akan menciptakan mukjizat (hal luar biasa). Jika seorang
manusia—walaupun ia adalah orang yang malas di masa lalu—mampu memotivasi
dirinya sendiri, niscaya ia akan meraih apa yang ia cita-citakan. Sebaliknya,
jika ia adalah orang yang cerdas di masa lalu namun kemudian dihinggapi oleh
kemalasan, maka ia akan kehilangan segala sesuatu.
Kita
dapat mengubah ide apa pun menjadi sebuah keyakinan yang kokoh melalui cara
merujuk pada pengalaman-pengalaman yang mendukung kebenarannya.
Dan
sekarang, bagaimana pendapatmu tentang kebenaran dari dua pernyataan berikut
ini:
- Manusia pada hakikatnya
adalah orang-orang yang jujur dan sopan.
- Manusia pada kenyataannya
adalah orang-orang yang tidak jujur dan hanya mencari kemaslahatan pribadi
mereka sendiri.
Tidak
diragukan lagi bahwa kamu akan menemukan di dalam pengalaman-pengalaman
pribadimu hal yang cukup untuk menegaskan kebenaran pernyataan kedua yang
menunjukkan atas rusaknya manusia. Dan jika kamu memfokuskan perhatian pada
pengalaman-pengalaman yang lain, kamu juga akan menemukan dengan kemudahan yang
sama dari pengalaman-pengalaman tersebut hal yang mendukung pernyataan pertama
yang menunjukkan bahwa manusia itu jujur.
Manakah
di antara kedua keyakinan ini yang lebih benar? Keyakinan mana pun yang mampu
kamu bangun di atas dasar-dasar yang cukup, maka itulah yang akan menjadi benar
bagimu.
Sudah
sepatutnya seorang manusia berprasangka baik (husnuzan) kepada manusia lainnya,
dan hal ini tidak berarti ia tidak waspada. Sebagaimana sudah sepatutnya
seorang individu memperlakukan orang lain dengan cara yang baik, merangkul
orang yang berbuat salah untuk mengangkatnya dari keterpurukannya, serta
menjadi teladan bagi orang-orang jujur dan selain mereka agar mereka menjadi
seperti dirinya.
Meskipun
sudut pandang yang kokoh tentang sesuatu perkara dapat mendorongmu untuk
menuntaskan perkara-perkara yang agung, namun pada saat yang sama, ia juga
dapat menghalangi pandangan batarmu (batinmu) dari informasi-informasi yang
boleh jadi bisa mengubah kehidupanmu secara total untuk selama-lamanya.
Apakah
kamu pernah berteman dalam hidupmu dengan seseorang yang tidak mau mendengarkan
ide-ide baru apa pun, hanya semata-mata karena ia ingin tetap berpegang teguh
pada apa yang telah ia yakini secara pasti?
Jika
kamu melihat sudut pandang-sudut pandang yang kamu imani melalui mata orang
lain, maka apa yang akan kamu lihat?
Islam
mendorong untuk mengambil manfaat dari segala sesuatu dan meneliti dalam setiap
perkara. Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah:
'Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat
tanda-tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi
orang-orang yang tidak beriman.'" [QS. Yunus: Ayat 101]
"Hikmah
(ilmu/kebijaksanaan) itu adalah barang hilang milik orang mukmin; di mana pun
ia menemukannya, maka ia adalah orang yang paling berhak atasnya."
[Al-Hadis]
"Menuntut
ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan."
[Al-Hadis]
"Niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." [QS. Al-Mujadilah: Ayat
11]
Tidak
diragukan lagi bahwa keyakinan-keyakinan adalah penggerak bagi perilaku kita.
Dan sementara sebagian keyakinan memengaruhi sebagian sisi kehidupan kita,
sebagian keyakinan yang lain justru merembes masuk lebih dalam ke dalam
kehidupan kita.
Sebagai
contoh, keyakinan bahwa "Thariq adalah orang yang tidak jujur"
tanpa diragukan lagi akan memengaruhi interaksi kita dengan Thariq saja. Akan
tetapi, keyakinan bahwa "Manusia itu tidak jujur", akan
memiliki gema (dampak) yang jauh lebih luas pada interaksi kita dengan orang
lain daripada keyakinan yang pertama tadi.
Sesungguhnya
keyakinan-keyakinan yang menyeluruh (global)—seperti contoh yang terakhir
ini—bersandar secara mendasar pada beberapa generalisasi yang dicapai oleh
manusia sejak kurun waktu yang lama di bawah kondisi-kondisi yang tidak biasa.
Kita mungkin melupakan sama sekali peristiwa-peristiwa ini, namun kita
membiarkannya memengaruhi keputusan-keputusan kita tanpa kita menyadari hal
tersebut.
Sesungguhnya
keyakinan-keyakinan ini dapat mendatangkan pengaruh yang besar dalam kehidupan
kita, akan tetapi tidak mutlak bahwa pengaruh-pengaruh ini harus bersifat
negatif.
Cobalah
untuk mengubah satu saja keyakinan yang memiliki sifat generalisasi—seperti
dalam contoh yang dijelaskan tadi—maka kamu akan mengubah setiap sisi dalam
kehidupanmu sebagai dampak dari perubahan tersebut.
Apakah
benar bahwa kekuatan yang tersimpan di balik sebagian keyakinan itu bertindak
lebih kuat daripada kekuatan yang tersimpan di balik sebagian keyakinan
lainnya? Ya, tentu saja.
Maka
ada tiga tingkatan keyakinan yang berbeda: Opini (Pendapat) — Keyakinan
(Kepercayaan) — Keyakinan Kuat (Prinsip/Penaatan).
Terkait
dengan opini, hal itu dapat berubah dengan mudah karena ia hanya
bersandar pada persepsi situasional yang bersifat sementara. Sementara itu, keyakinan
sifatnya lebih kokoh karena ia terbentuk berdasarkan beberapa pengalaman, atau
berdasarkan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan banyak perasaan dan
emosi; di mana pada tingkat ini, masih memungkinkan munculnya keraguan terhadap
tingkat kepastiannya melalui cara memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru di
sekitarnya. Di sisi lain, keyakinan kuat (pendirian/prinsip) ditopang
oleh sekumpulan emosi yang bergelora, sedemikian rupa sehingga orang yang
memegang prinsip ini tidak hanya sekadar merasa pasti dengannya, melainkan ia
akan bangkit marah jika prinsip tersebut diragukan. Selain itu, prinsip ini
juga akan menghalanginya dari menerima diskusi apa pun di sekitarnya.
Oleh
karena itu, prinsip-prinsip pribadi boleh jadi bisa menjadi pengaruh yang
sangat baik hingga batas yang sangat jauh, sebagaimana ia juga bisa menjadi
penghancur dengan gambaran yang tidak dapat dibayangkan apabila prinsip
tersebut keliru dan berjalan di atas ketidakbenaran.
Manakah
di antara keyakinan-keyakinanmu yang kamu anggap hanya sekadar opini? Dan
opini-opini manakah yang kamu rasakan memiliki keberpihakan emosional yang
lebih besar terhadapnya? Apakah ada salah satu di antaranya yang mencapai
tingkat prinsip yang utuh? Dan apakah kamu telah meneliti hal tersebut serta
menggunakan akal sehatmu, ataukah perkara ini dilakukan oleh orang lain untukmu
sementara matamu dalam keadaan tertutup (tutup mata), sehingga akibatnya kamu
menjadi orang yang digiring menuju jurang kehancuran?
Apakah
tujuan dari keyakinan-keyakinan itu? Keyakinan-keyakinan tersebut tanpa
diragukan lagi mengarahkan kita saat mengambil keputusan-keputusan khusus
mengenai bagaimana cara menghindari rasa sakit dan penderitaan, serta bagaimana
mewujudkan kebahagiaan dengan cara yang lebih cepat. Disebabkan oleh
keyakinan-keyakinan ini, kita tidak harus memulai dari titik nol saat membuat
keputusan-keputusan tersebut.
Ketika
kita melewati momen-momen ketakutan yang hebat, penderitaan, atau berada dalam
kondisi emosional yang bergelora, maka kita akan mencari jalan keluar dengan
cara mencari suatu keyakinan. Pernahkah kamu bertemu, misalnya, dengan
seseorang yang sangat menderita dalam hubungannya dengan istrinya, lalu ia
mengubah rasa sakit yang ia rasakan itu menjadi sebuah keyakinan yang kokoh
bahwa ia tidak akan pernah menemukan istri yang salehah untuk selamanya?
Maka
di sana ada sebagian orang yang membawa prinsip yang kokoh tentang sesuatu hal,
dan mereka menolak informasi apa pun yang dapat mengarahkan mereka pada
penghancuran prinsip tersebut. Demi mempertahankan hal itu, mereka mungkin
lebih memilih keterpencilan, kesendirian, frustrasi, bahkan hingga kematian
daripada harus melepaskan prinsip tersebut.
Apakah
kamu memiliki prinsip-prinsip pribadi? Manakah prinsip-prinsip yang
menganugerahkan kekuatan kepadamu, dan manakah prinsip-prinsip yang merampas
kekokohanmu?
"Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan." [QS. Al-Insyirah: Ayat 5-6]
"Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri." [QS. Ar-Ra'd: Ayat 11]
"Jika
kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." [QS. Muhammad: Ayat 7]
"Sesungguhnya
Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya)
dengan baik." [QS. Al-Kahfi: Ayat 30]
Prinsip-prinsip
pribadi kita mendorong kita untuk bergerak disebabkan oleh adanya rasa cinta
mendalam dan gairah (pasion) yang dinyalakannya di dalam diri kita terhadap apa
yang kita yakini. Orang yang mendukung dakwah itu disebut sebagai orang yang
meyakininya (berkeyakinan), adapun orang yang menghabiskan sebagian besar
waktunya dalam dakwah dengan penuh gairah dan perhatian yang besar, maka tidak
diragukan lagi ia adalah pemilik prinsip dan keimanan yang utuh terhadap
urgensi dakwah.
Apakah
kamu membawa suatu prinsip yang utuh dalam salah satu bidang di hidupmu yang
dapat memberimu kekuatan dorong, yang membuatmu mampu melintasi segala macam
kesulitan dan hambatan?
Sebagai
contoh, apakah kamu melihat bahwa prinsip tentang pentingnya menjaga agar berat
badanmu tidak bertambah akan memaksamu untuk berkomitmen pada aturan-aturan
makan yang sehat secara terus-menerus? Bukankah kamu melihat bahwa prinsip
bahwasanya kamu mampu mengubah arah perputaran peristiwa akan membimbingmu
untuk memikirkan perkara-perkara kehidupanmu dan mengarahkannya ke arah yang
kamu inginkan? Maka sebagai contoh, mereka yang memperhatikan kemaslahatan kaum
muslimin dan kejayaan mereka, memiliki perhatian-perhatian yang pastinya akan
mengarahkan kehidupan serta tekad-tekad mereka menuju arah yang serius lagi
berat, di mana mereka harus mampu berada pada level standar tersebut.
Renungkanlah
hasil-hasil jangka panjang yang sebenarnya bisa kamu capai, hanya sekiranya
kamu memiliki perasaan yang lebih kuat terhadap kepastian dari
keyakinan-keyakinan positifmu.
Gunakanlah
latihan berikut ini untuk menaikkan tingkat komitmenmu terhadap
keyakinan-keyakinanmu:
- Pilihlah salah satu keyakinan
yang ingin kamu naikkan tingkatannya menuju derajat prinsip yang kokoh.
- Tambahkanlah pada keyakinan
ini segala hal yang mendukungnya. Sebagai contoh, jika kamu ingin menjadi
orang yang pemberani, maka sudah sepatutnya kamu duduk berkumpul bersama
orang-orang pemberani serta mengenali mereka, baik secara karakter maupun
pemikiran.
- Carilah salah satu situasi
yang dapat meledakkan perasaan-perasaan yang kuat dan emosi yang
berpengaruh di dalam dirimu. Sebagai contoh, jika kamu ingin berhenti
merokok, maka pergilah berkunjung ke ruang perawatan intensif (ICU) di
salah satu rumah sakit untuk mengamati para pasien pengidap emfisema
(pembengkakan paru-paru).
- Tanpa memedulikan apakah
langkah-langkahmu itu besar atau kecil dalam urusan ini, sesungguhnya yang
paling penting adalah mulai bergerak berdasarkan prinsip utuhmu tersebut.
Sebab
banyak orang yang memiliki prinsip (setuju) terhadap Islam dan bekerja untuk
kejayaan kaum muslimin, namun sayangnya mereka tidak bergerak dan tidak berbuat
sesuatu apa pun. Banyak pula orang yang melihat kezaliman namun ia tidak
bergerak dan tidak melakukan sesuatu apa pun; maka apakah hal ini akan mengubah
keadaan atau akan menuntun pada sebuah kemajuan?
Kekuatan
yang tersimpan di balik keyakinan-keyakinan dapat ditunjukkan melalui cara
mempelajari kasus-kasus para pasien yang menderita penyakit kepribadian ganda
(GPD). Disebabkan oleh kekuatan keyakinan mereka dan kepastian mutlak terhadap
keyakinan-keyakinan tersebut, hanya dengan hal itu saja mereka bisa berubah
menjadi orang lain; di mana akal mereka mengubah kondisi fisik mereka secara
nyata dan aneh. Warna mata mereka bisa berubah, tanda-tanda yang ada pada tubuh
mereka bisa muncul dan menghilang. Tidak hanya itu saja, bahkan
penyakit-penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi)
juga bisa muncul dan menghilang. Semua ini bergantung pada keyakinan si pasien
dan prinsip mutlaknya terhadap kepribadian yang tampak padanya.
Dan
dengan logika yang sama—dan analogi (qiyas) di sini tentu saja disertai dengan
adanya perbedaan kondisi—perubahan-perubahan apakah yang telah terjadi padamu
dalam hidupmu ketika kamu melakukan perubahan pada keyakinan-keyakinanmu dan
sudut pandangmu terhadap beberapa perkara?
Apakah
rahasia kesuksesan itu? Sering kali kita berasumsi bahwa rahasia itu adalah
kejeniusan. Akan tetapi, aku meyakini bahwa kejeniusan yang sejati adalah
kemampuan untuk mendayagunakan sumber daya dan potensi terbaik yang kita
miliki, yang mana hal itu dilakukan hanya melalui cara memegang prinsip mutlak
terhadap apa yang kita inginkan.
Sesungguhnya
masa depan sang miliarder Bill Gates mulai melesat ke angkasa ketika ia
masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Harvard; di mana ia berjanji
untuk menyerahkan kepada salah seorang klien sebuah program komputer yang belum
ia tulis sama sekali, untuk sebuah sistem komputer yang belum pernah ia lihat
sebelumnya! Disebabkan oleh keyakinannya yang pasti bahwa ia akan
menyelesaikannya (meskipun keyakinan yang pasti ini pada saat itu belum tegak
di atas dasar yang nyata), ia mampu beralih kepada setiap sumber daya yang
tersedia baginya dan menggunakannya untuk menyempurnakan desain program
tersebut. Dan dari sinilah ia mulai membangun kekayaannya yang luar biasa.
Maka
sudah jelas bahwa kita mampu meraih kesuksesan di bidang apa pun jika kita
mempersembahkan diri kita untuk mencapai hasil-hasil yang kita inginkan, dan di
atas semua itu tentu saja dengan adanya prinsip yang utuh bahwasanya kita mampu
melakukan hal tersebut.
Berapa
kali kamu mencoba melatih dirimu untuk merasakan perasaan yang menghanyutkan
ini, yang mampu mendorongmu serta menganugerahkan kekuatan kepadamu untuk
membuat pencapaian?
Kamu
membulatkan tekad untuk melakukan sesuatu, lalu mengumpulkan
pengalaman-pengalaman di sekitarnya, meminta nasihat kepada orang lain, dan
terus-menerus mengetuk pintu jalan tersebut sampai kamu mewujudkan apa yang
dimaksud, serta mewujudkan harapan luas yang telah kamu imajinasikan itu.
Boleh
jadi Einstein telah memperbagus ungkapannya ketika ia berkata: "Imajinasi
itu lebih kuat daripada ilmu pengetahuan." Karena telah terbukti bagi
kita berkali-kali bahwasanya otak tidak dapat membedakan antara sesuatu yang
kita imajinasikan dengan jelas, dengan sesuatu lain yang dianggap sebagai
kenyataan dan fakta yang berwujud.
Sesungguhnya
sekadar mengetahui fakta ini saja dapat mengubah kehidupanmu. Sebagai contoh,
banyak orang yang merasa takut untuk mencoba hal baru apa pun yang belum pernah
mereka coba sebelumnya. Akan tetapi, fondasi yang menjadi tegaknya kesuksesan
para pemimpin adalah bahwasanya mereka mengimajinasikan secara berulang-ulang
bahwa mereka benar-benar mendapatkan hasil-hasil yang mereka inginkan, terlepas
dari pengalaman-pengalaman yang telah mereka lalui yang menunjukkan sulitnya
hal tersebut. Dengan cara ini, mereka merekayasa perasaan yakin yang akan
mengarahkan mereka untuk mengetuk pintu-pintu masa depan mereka yang sejati.
Apakah
kamu memiliki sebuah tujuan yang membangkitkan perhatianmu dan kamu
berkeinginan untuk mencapainya, akan tetapi ia menuntut dilakukannya sesuatu
yang belum pernah kamu lakukan sama sekali sebelumnya? Kapankah tiba waktu yang
tepat bagimu untuk mengimajinasikan dirimu telah sukses dalam mewujudkannya?
Maka
bekerjalah untuk tujuan-tujuan yang besar, janganlah kamu letih dan janganlah
berputus asa hingga tiba waktu panen; dan waktu panen itu tidak akan pernah
tiba tanpa adanya amal (kerja nyata).
Mayoritas
orang yang berkata: "Kamu harus bersikap realistis,"
sebenarnya hidup dalam kondisi ketakutan. Sering kali penyebabnya adalah
kekecewaan yang menimpa mereka di masa lalu. Disebabkan oleh kesadaran mereka
terhadap kegagalan yang pernah mereka lalui sebelumnya, mereka merasa takut
untuk mencobanya sekali lagi.
Oleh
karena itu, keyakinan-keyakinan yang mereka anut untuk melindungi diri mereka
sendiri justru menyebabkan mereka ragu-ragu, menghindari risiko serta menjauh
darinya, dan menghindari pencurahan jerih payah serta jiwa yang lebih banyak;
sehingga akibatnya, mereka hanya mendapatkan hasil-hasil yang terbatas.
Akan
tetapi, para pemimpin besar jarang sekali bersikap realistis menurut
standar-standar yang berlaku umum. Namun bagaimanapun juga, mereka adalah
orang-orang yang sangat cerdas dan presisi (akurat). Mahatma Gandhi,
sebagai contoh, meyakini bahwa kemerdekaan India dapat diperoleh dengan cara
menentang Britania Raya (Inggris) melalui jalan damai yang jauh dari kekerasan,
suatu hal yang belum pernah dilakukan sama sekali sebelumnya. Dalam hal itu ia
tidak bersikap realistis, namun ia membuktikan tanpa keraguan bahwa ia sangat
presisi dalam kalkulasinya.
Apakah
"keyakinan-keyakinan realistis" yang harus kamu hindari? Dan apakah
"keyakinan-keyakinan tidak realistis" serta menggairahkan, yang
sebenarnya dapat diwujudkan jika saja kamu memercayainya?
Ini
adalah sebuah ajakan menuju wilayah akal dalam perkara tersebut, kemudian
dilanjutkan dengan amal (tindakan) yang menuntun pada kemenangan.
Jika
kamu akan melakukan kesalahan dalam mengevaluasi kemampuan-kemampuanmu, maka
adalah lebih baik jika hal itu dilakukan dengan cara mengevaluasinya secara
lebih tinggi daripada kondisi aslinya yang sebenarnya. Mengapa? Karena
kesuksesanmu bergantung pada kemampuan-kemampuan ini.
Ambillah
contoh mengenai perbedaan yang mencolok antara seorang optimis dan seorang
pesimis ketika masing-masing dari keduanya melakukan evaluasi terhadap
performanya setelah mencoba mempelajari suatu keterampilan baru.. Orang yang
pesimis akan mengevaluasi performanya dengan gambaran yang sangat akurat,
sementara orang yang optimis melihat bahwa perilaku dan performanya berada
dalam kondisi yang lebih baik daripada apa yang sebenarnya terjadi.
Sebagai
hasilnya, orang yang pesimis sering kali dihinggapi rasa putus asa, lalu
meninggalkan proses belajar keterampilan tersebut karena ia tidak melihat
adanya alasan yang kuat untuk melanjutkan jerih payah yang tidak akan
membuahkan hasil. Akan tetapi, persepsi positif yang digunakan oleh orang
optimis dalam melihat performanya, memberikan dukungan moril yang diperlukan
untuk mendorongnya agar bersikap persisten (teguh) dalam belajar, yang mana hal
itu pada akhirnya akan menuntunnya pada penguasaan keterampilan tersebut.
Artinya, evaluasi yang tidak realistis terhadap kemampuan-kemampuannya pada
akhirnya justru berdampak pada penguasaan keterampilan yang nyata.
Ingatlah
selalu bahwa masa lalu bukanlah cerminan bagi masa depan. Oleh karena itu,
apakah langkah kecil pertama yang dapat kamu langkahkan menuju impian yang pada
suatu hari pernah kamu duga sebagai hal yang mustahil?
Orang
yang pesimis hanya melihat pada apa yang harus dikerjakan dan tidak melihat
pada jerih payahnya yang telah ia lakukan sebelumnya. Adapun orang yang
optimis, ia melihat pada bagaimana kondisi di masa lalu dalam keadaan ia tidak
rida (tidak puas), lalu melihat pada bagaimana kondisi tersebut telah berubah
saat ini di mana ia telah menempuh satu fase kemajuan; dan hal tersebut
memberinya dorongan untuk bekerja. Demikianlah, sebagian orang justru mencambuk
diri mereka sendiri dan dakwah mereka dari sudut pandang ini, sehingga mereka
hampir-hampir membuat manusia berputus asa dari amal dan keberlanjutan.
Sesungguhnya
cara yang kita gunakan dalam menghadapi musibah atau masalah apa pun,
memberikan pengaruh pada kehidupan kita dengan gambaran yang lebih besar
daripada perkara lainnya. Mereka yang menghasilkan banyak pencapaian dalam
hidup mereka biasanya melihat masalah sebagai sebuah fase transisi dan bersifat
sementara. Adapun mereka yang gagal dalam hidup mereka, mereka melihat
masalah-masalah kecil sebagai masalah yang abadi (selamanya).
Terjatuh
ke dalam persepsi mental seperti ini adalah langkah pertama menuju jebakan yang
digambarkan oleh Dr. Martin Seligman, yang ia sebut dengan istilah "Ketidakberdayaan
yang Dipelajari" (Learned Helplessness), yang mana hal tersebut
disebabkan oleh tiga persepsi berikut ini:
- Persepsi bahwa masalah
tersebut bersifat permanen (bukan sementara).
- Persepsi bahwa masalah
tersebut bersifat merembet/luas (tidak hanya memengaruhi satu bidang saja
dalam kehidupan).
- Persepsi bahwa masalah
tersebut bersifat personal yang menyentuh zat dirimu, yang mana hal itu
menunjukkan adanya suatu kecacatan di dalam jiwamu (bukan menganggapnya
sebagai sebuah peluang untuk belajar dan mengambil manfaat).
Maka
dari sini, kita akan memfokuskan pembahasan berikut ini pada penyebutan
penangkal-penangkal (antidot) yang diperlukan untuk meruntuhkan
keyakinan-keyakinan yang rapuh ini.
Jika
kamu terus-menerus melakukan perlawanan (bertahan), maka kamu pasti akan
menemukan jalan keluar tanpa diragukan lagi.
Penangkal-penangkal
ini terepresentasi dalam sabda Nabi ﷺ:
"Mukmin
yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah,
dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah atas apa yang
bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa
lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, maka janganlah kamu berkata: 'Seandainya aku
melakukan begini, niscaya akan begini dan begitu', karena sesungguhnya kata
'seandainya' itu membuka pintu perbuatan setan. Akan tetapi katakanlah: 'Ini
adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan'."
Sesungguhnya
kemampuan untuk menempatkan masalah pada ukuran aslinya yang sebenarnya dapat
membuat orang-orang yang sukses dalam hidupnya terhindar dari jatuh menjadi
korban (mangsa) bagi persepsi yang mengatakan bahwa masalah itu bersifat
merembet dan memiliki banyak cabang. Atas dasar itu, orang yang sukses dalam
mengatasi masalah obesitas (kegemukan) akan berkata: "Sesungguhnya aku
sedang menghadapi sedikit tantangan untuk mengatasi kebiasaan makanku."
Bukannya membuat dirinya frustrasi dengan berkata: "Sesungguhnya seluruh
hidupku telah hancur berantakan disebabkan oleh makan yang berlebihan."
Oleh karena itu, ia bekerja dengan fokus pada perbaikan perilakunya.
Sebaliknya, mereka yang meyakini bahwa masalah-masalah mereka bersifat merembet
dan mengendalikan takdir mereka, sering kali membayangkan bahwa kegagalan
mereka di satu bidang berarti kegagalan seluruh hidup mereka; sebuah
generalisasi yang pada akhirnya meninggalkan mereka dalam kondisi yang sangat
tidak berdaya.
Untuk
mengatasi keyakinan keliru bahwasanya masalah telah merembet sepenuhnya ke
dalam hidupmu, kamu harus segera mulai mengambil kendali atas masalah tersebut,
atau setidaknya mengendalikan sebagian kecil darinya. Tidak penting apakah
bagian itu merupakan hal terkecil di dalamnya, namun yang benar-benar penting
adalah kamu mulai melakukan sesuatu sekarang juga menuju jalan solusinya.
Masalah
tidak akan terpecahkan kecuali dengan tindakan yang kuat, pemikiran yang
cerdas, kesabaran, dan ketekunan. Kamu lebih besar daripada masalah apa pun,
dan kamu hanya perlu bertawakal kepada Allah lalu memulainya.
Orang-orang
optimis memandang kegagalan dalam hidup mereka sebagai pengalaman pembelajaran,
atau sekadar tantangan untuk menyesuaikan metode (manajemen) mereka dalam
kehidupan. Adapun orang-orang pesimis, mereka memandang kegagalan dengan
pandangan personal (subjektif), dan menafsirkannya sebagai bukti atas adanya
kekurangan yang mendalam dan kecacatan dalam kepribadian. Mengingat mereka
mengaitkan antara identitas diri mereka dengan masalah itu sendiri, mereka
sering kali merasa bahwa masalah tersebut mengurung mereka sepenuhnya, dan
mereka pun kebingungan bagaimana cara mengubah hidup mereka dalam satu kali
hantaman?
Oleh
karena itu, dan bagaimanapun keadaannya, berusahalah dengan segala cara yang
memungkinkan untuk menghindari keyakinan keliru bahwasanya masalah itu bersifat
personal dan disebabkan oleh sifat-sifat pribadi yang ada padamu. Mulailah
memandang masalah sebagai informasi yang bermanfaat tentang performamu yang
dapat membantumu untuk mengarahkan diri dengan cara yang lebih baik dan lebih
tepat sasaran menuju target yang membentuk takdirmu, dan pada saat itu kamu
harus merasakan nilai dari bakat ini serta mengapresiasinya.
Kenyataannya
adalah bahwa aib atau kekurangan itu apabila telah tampak, maka akan mudah
untuk mengobatinya. Dan jerih payah atas tampaknya kekurangan tersebut boleh
jadi telah ditanggung oleh orang lain, maka manfaatkanlah kesempatan ini.
Sungguh, Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu telah berkata:
"Semoga Allah merahmati seseorang yang telah menghadiahkan
kekurangan-kekuranganku kepadaku."
Sesungguhnya
kemajuan pribadi apa pun yang terjadi secara tiba-tiba (kejutan) pasti bermula
dari adanya perubahan pada keyakinan-keyakinan.
Bagaimanakah
cara mengubah keyakinan-keyakinan negatif yang menghalangi kemajuan kita? Jalan
terbaik untuk hal tersebut adalah dengan menggoyahkan rasa percaya terhadap
keyakinan-keyakinan ini melalui cara meragukan kebenarannya, memeriksa ulang,
serta meneliti apa yang ada di baliknya. (Ini adalah mazhab keraguan
(skeptisisme metodis) yang menuntun menuju keyakinan (kebenaran pasti)
sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali)
Ingatlah
selalu bahwa akalmu terus-menerus berusaha menghindarkanmu dari rasa sakit.
Oleh karena itu, berusahalah untuk memanggil kembali ingatan tentang seluruh
dampak negatif yang telah disebabkan oleh keyakinan yang ingin kamu ubah
tersebut kepada dirimu. Tanyakanlah pada dirimu sendiri:
- Ketika aku memikirkan
keyakinan ini, hal apakah yang tampak konyol dan tidak masuk akal di
dalamnya?
- Apakah yang telah
dihabiskan oleh keyakinan ini dari diriku di masa lalu? Dan bagaimana ia
telah melemahkan kemampuanku untuk melesat maju?
- Apakah yang akan dihabiskan
oleh keyakinan negatif ini dari diriku di masa depan, jika aku tidak
mengubahnya sekarang juga?
Sesungguhnya
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan membantumu untuk
menghubungkan antara perasaan sakit yang disebabkan oleh keyakinan tersebut
kepadamu, dan kemudian memberikanmu kesempatan untuk menggantinya dengan
keyakinan-keyakinan yang lebih positif.
Sebagai
contoh, ada seseorang yang meyakini bahwa pelayanannya (sikap asal bapak
senang) kepada atasannyalah yang membuatnya bertahan dalam pekerjaan, dan bukan
karena kemampuannya untuk bekerja secara profesional (itqan) dan maju; maka
alangkah banyaknya kehinaan dan perendahan martabat yang ia dapatkan.
Sekiranya
ia mengingat hal tersebut, lalu berusaha mengembangkan dirinya, dan menjadikan
kehinaan ini sebagai pendorong baginya untuk melakukan pengembangan diri,
niscaya ia akan menjadi orang yang mendapat taufik (sukses).
Agar
manusia dapat hidup bahagia, maka merupakan suatu hal yang darurat baginya
untuk merasakan perkembangannya secara terus-menerus. Dan agar lembaga-lembaga
modern mampu meraih kesuksesan di dunia bisnis, mereka harus berkembang ke arah
yang lebih baik secara terus-menerus. Maka sudah jelas bahwa kita harus
mengimani pentingnya perkembangan menuju hal yang lebih baik dan menjadikannya
sebagai jalan hidup sehari-hari, bukan hanya sebagai sebuah target yang kita
usahakan dari waktu ke waktu saja.
Di
Jepang, mereka menyebut hal ini dengan istilah: Kaizen (改善),
sebuah kata yang berarti memfokuskan perhatian pada pengembangan dan perbaikan
kualitas produk serta layanan secara permanen dan berkelanjutan. Oleh karena
itu, aku menyarankan agar kita semua mempersembahkan diri kita untuk proses
perbaikan dan pengembangan ini dalam bentuk yang permanen dan tanpa akhir. Jika
proses perkembangan menuju hal yang lebih baik telah menjadi kebiasaan yang
permanen, ia bahkan akan menuntun pada pengembangan hal-hal yang sebenarnya
sudah dianggap luar biasa. Maka, apakah kamu bisa melihat apa yang dapat
dilakukan oleh roh pengembangan ini di dalam lembaga-lembaga kita,
keluarga-keluarga kita, dan lingkungan masyarakat perkotaan kita? Bagaimanakah
kamu bisa segera mulai menerapkan filosofi ini di dalam kehidupanmu?
Bagaimanakah
kamu berusaha untuk mengembangkan metode-metode dakwahmu serta wawasan
pemikiran dan profesionalismu, dan berusaha mengembangkan rencana-rencana kerja
hingga kamu bisa memenangkan pemikiran dan dakwahmu?
Sesungguhnya
rasa aman yang sejati yang dapat kamu rasakan dalam hidupmu datang dari
pengetahuan bahwasanya kamu mengembangkan dirimu setiap hari dalam satu bentuk
atau bentuk lainnya, dan bahwasanya kamu selalu melangkah maju ke depan.
Oleh
karena itu, aku tidak menderita kecemasan apa pun demi mempertahankan kualitas
hidupku, karena aku bekerja secara terus-menerus untuk mengembangkannya ke arah
yang lebih baik.
Salah
satu rahasia di balik kesuksesan pelatih olahraga legendaris, Pat Riley,
adalah komitmennya yang jujur terhadap pengembangan dan perbaikan secara
bertahap dalam bentuk yang konsisten. Pada tahun 1986, pelatih ini menghadapi
tantangan besar yang terepresentasi dalam kekalahan timnya pada kejuaraan
olahraga bola basket (catatan: dalam teks Arab tertulis al-baisabul/bisbol,
namun sejarah Pat Riley adalah pelatih basket) di tahun sebelumnya,
meskipun mereka mengira bahwa mereka telah mempersembahkan kemampuan terbaik
mereka.
Agar
dapat menginspirasi mereka untuk berkembang ke arah yang lebih baik, ia
berhasil meyakinkan para anggota tim bahwa jika masing-masing dari mereka
memperbaiki performanya sebesar 1% saja di lima bidang yang berbeda, maka hal
itu akan menghasilkan perbedaan yang sangat besar dalam level teknis mereka.
Hal yang jenius dalam rencana ini adalah bahwa setiap individu di dalam tim
merasa pasti bahwa ia sanggup mewujudkan target tersebut, karena setiap pemain
hanya harus mendedikasikan dirinya untuk menaikkan kualitas performanya sebesar
5% saja. Namun jika kita melihat pada hasil akhir (akumulasi), hal itu akan
menghasilkan peningkatan sebesar 60% (5% × 12 jumlah anggota tim) pada level
performa tim. Dan tentu saja, para anggota tim berhasil mencapai tingkat
performa mereka yang paling mengagumkan sepanjang sejarah pada musim
berikutnya.
Dan
kamu, apakah yang dapat kamu wujudkan jika kamu menerapkan pemikiran yang sama
dan mewujudkan sebuah kemajuan yang kecil, namun terjadi secara terus-menerus?
Apakah
keyakinan-keyakinan dan prinsip-prinsip pribadi yang mengarahkan pemikiran,
keputusan, dan tindakanmu setiap hari? Cobalah untuk mengikuti langkah-langkah
latihan berikut ini agar kamu mengetahui sejauh mana kuatnya pengaruh
keyakinan-keyakinanmu:
- Tulislah di bagian atas
salah satu halaman: "Keyakinan-keyakinan yang memberiku
kekuatan", dan tulislah di bagian atas halaman yang lain: "Keyakinan-keyakinan
yang melemahkanku".
- Tulislah—dalam waktu
sepuluh menit—daftar keyakinanmu pada kedua halaman ini (tulislah segala
hal yang terlintas di dalam benakmu).
- Sambil kamu memeras otakmu,
tulislah seluruh keyakinan yang menyeluruh yang bersifat generalisasi, dan
keyakinan-keyakinan yang lebih khusus serta spesifik; dan pastikan untuk
menulis keyakinan-keyakinan yang memiliki konsekuensi hasil, seperti
perkataanmu: "Jika aku melakukan begini maka akan terjadi
begitu", contohnya: "Jika aku mencurahkan segala
kemampuanku maka aku akan sukses".
Dan
mintalah pertolongan dalam urusan tersebut dengan merujuk kepada Al-Qur'an
Al-Karim dan As-Sunnah Al-Mutahharah (yang disucikan).
Termasuk
cara yang paling efektif dalam rangka mengembangkan kehidupanmu menuju arah
yang lebih baik adalah dengan mengenali keyakinan-keyakinan pribadimu yang akan
menuntunmu pada perwujudan impian-impianmu, lalu berusaha untuk menegaskan dan
mengokohkannya.
- Periksalah kembali daftar
yang telah kamu tulis tentang keyakinan-keyakinanmu yang memberimu
kekuatan, dan daftar yang telah kamu selesaikan tentang
keyakinan-keyakinan yang melemahkanku, kemudian buatlah lingkaran di
sekitar keyakinan yang paling kuat di antara hal tersebut.
- Tetapkanlah bagaimana
keyakinan-keyakinan ini dapat menuntun pada pemberian lebih banyak
kekuatan kepadamu dalam menggerakkan roda kehidupanmu? Dengan jalan apa
keyakinan-keyakinan ini memperbaiki sifat-sifat pribadimu dan kualitas
hidupmu? Kemudian bayangkanlah jika seandainya keyakinan-keyakinan ini
menjadi lebih kuat daripada kondisi sebelumnya, maka bagaimanakah hal itu
akan memberimu kekuatan yang lebih banyak dan menyebabkan pengaruh yang
lebih besar dalam hidupmu?
- Sekarang, kamu harus
mencapai prinsip-prinsip yang kokoh tentang setiap keyakinan dari
keyakinan-keyakinan positif tersebut, dan kamu harus menciptakan di dalam
benakmu rasa keyakinan yang pasti dan permanen yang akan mengarahkan
perilakumu menuju arah yang kamu inginkan dalam hidupmu, kemudian mulailah
bertindak selaras dengan prinsip-prinsip baru tersebut.
Dan
sekarang telah tiba waktunya untuk menyingkirkan keyakinan-keyakinan negatif
yang menghambatmu:
- Pilihlah dua keyakinan
negatif yang kamu duga paling melemahkan kemampuanmu untuk berkembang.
- Runtuhkanlah dasar-dasar
yang menjadi tegaknya rasa kepastian dan keyakinanmu terhadap kedua
keyakinan ini, yaitu dengan cara memunculkan pertanyaan-pertanyaan
berikut: Bagaimana bisa hal ini terasa konyol dan tidak masuk akal? Apakah
orang yang menjadi penyebab aku menganut keyakinan ini merupakan sosok
teladan terbaik yang bisa dicontoh? Jika aku tidak menyingkirkannya,
apakah yang harus dikorbankan (dihabiskan) dariku secara emosional? Secara
finansial (keuangan)? Secara fisik? Dan dalam hubungan-hubunganku? Serta
apakah yang harus dikorbankan oleh keluargaku dan orang-orang yang
kucintai?
Bayangkanlah
hasil-hasil yang tidak baik yang didatangkan oleh keyakinan-keyakinan ini, dan
putuskanlah secara final bahwasanya kamu tidak mau membayar harga yang
dihabiskan oleh keyakinan-keyakinan ini sekali lagi.
Kokohkanlah
keyakinan-keyakinan positif tersebut dengan cara mengimajinasikan dan
mengekspektasikan manfaat-manfaat tanpa akhir yang akan kembali kepadamu
darinya.
Banyak
studi telah membuktikan bahwa ada kekuatan yang agung di balik ekspektasi
(harapan) yang kita bawa, yang mana hal itu bekerja untuk memperbaiki performa
kita secara umum. Kekuatan yang tersimpan di balik ekspektasi ini disebut
dengan istilah: (Efek Pygmalion).
Dalam
salah satu penelitian, seorang peneliti memberi tahu para guru bahwa di dalam
kelas mereka terdapat murid-murid yang berbakat dan harus terus didorong agar
mereka menjadi unggul. Tentu saja, para guru merespons ekspektasi tersebut
sehingga murid-murid ini pun berada di puncak daftar keunggulan. Dan sungguh
menjadi kejutan yang mutlak bagi para guru ketika mengetahui bahwa murid-murid
ini sebenarnya hanyalah murid-murid yang biasa saja dan tidak menunjukkan
kejeniusan luar biasa apa pun sebelum dilakukannya penelitian; bahkan sebagian
dari murid-murid ini sebelumnya telah dikategorikan sebagai murid yang tingkat
kemampuannya lemah.
Apakah
yang menyebabkan hasil ini? Tidak diragukan lagi bahwa yang menyebabkan hal itu
adalah kekuatan agung yang tersimpan di balik keyakinan para murid tersebut
bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak biasa, serta adanya ekspektasi
keunggulan bagi mereka; sebuah ekspektasi yang berpindah kepada mereka melalui
cara meyakininya para guru mereka terhadap hal tersebut. Apakah sekarang kamu
sudah melihat pentingnya keyakinan-keyakinanmu tentang dirimu sendiri dan
tentang orang lain?
Kira-kira
apakah yang dapat kamu wujudkan jika kamu memiliki keimanan (keyakinan)
bahwasanya kamu mampu mengetuk pintu-pintu masa depan yang berada dalam puncak
kemakmuran?
Pengaktifan
Secara Praktis Terhadap Fakta-Fakta Tema dan Nilai-Nilainya Melalui
Aktivitas-Aktivitas Berikut Ini:
Pertama:
Aktivitas-Aktivitas Pendamping (Ko-kurikuler):
- Setiap peserta didik
berbicara tentang metode baru yang ia gunakan dalam berdakwah di jalan
Allah.
- Pelatihan atas kedisiplinan
dalam menyajikan segmen-segmen kebudayaan selama jam pelajaran.
- Melakukan evaluasi
(perhitungan) terhadap orang yang terlambat dari pelajaran dan memberikan
sanksi edukatif (ta'zir) kepadanya hingga kedisiplinan dapat terwujud.
- Membuat program praktis
untuk kedisiplinan dalam ketepatan waktu dan hal lainnya, dengan
menetapkan sarana pemberian penghargaan (reward) dan hukuman (punishment)
di dalamnya.
Kedua:
Aktivitas-Aktivitas Pendukung:
- Berinovasi dalam membuat
program pelatihan praktis untuk kedisiplinan dan komitmen.
- Mencatat sejumlah
tujuan-tujuan tertinggi dalam hidupnya di atas kertas dengan tulisan yang
besar, agar selalu berada di hadapannya setiap waktu.
- Menuliskan
alternatif-alternatif yang dapat membantunya untuk mewujudkan
tujuan-tujuannya.
- Membangun sebuah filosofi
khusus bagi dirinya dalam cara ia memandang berbagai perkara.
- Memunculkan cara-cara baru
yang membantu dalam meraih pemahaman orang lain dan kecintaan mereka.
- Melaksanakan
latihan-latihan praktis yang ada di dalam buku.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri:
Pertama:
Pertanyaan-Pertanyaan Esai:
- Diskusikanlah ungkapan
berikut ini: (Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu suka mereka
memperlakukanmu).
- "Menetapkan filosofi
khusus bagi seseorang yang bersumber dari dalam dirinya memiliki urgensi
yang sangat besar di masa-masa sulit" — Berikanlah dalil (bukti) atas
hal tersebut.
- Bagaimanakah cara kamu
meraih pemahaman orang lain dan penghormatan mereka?
- Sebutkanlah manfaat-manfaat
paling penting dari sistem (keteraturan) dan kedisiplinan dalam hidupmu.
- Apakah pentingnya menetapkan
tujuan-tujuan di dalam kehidupan kita?
- Apakah kekuatan yang
menyebabkan kegagalan atau kesuksesan dalam mewujudkan tujuan-tujuan?
- Apakah peristiwa-peristiwa
di masa lalu memiliki pengaruh atas kehidupanmu? Dan apakah pengaruhnya
bersifat positif ataukah negatif?
- Apakah penilaianmu terhadap
sikap-sikap berikut ini:
- Seseorang yang tidak
memiliki tujuan dalam hidup.
- Seseorang yang memiliki
tujuan namun ia lemah untuk mewujudkannya.
- Seseorang yang memiliki
ambisi besar namun ia bersikap pasrah (tawakal keliru) dan
bermalas-malasan.
- Seseorang yang memiliki
filosofi khusus yang justru menghambatnya dari mewujudkan
tujuan-tujuannya.
- Seseorang yang tidak
percaya pada kemampuan-kemampuannya dan sering menggunakan kata
"mustahil".
- Seseorang yang sombong
(angkuh) yang berbicara tentang tujuan-tujuan yang agung namun ia lemah
untuk mewujudkannya.
- Manusia pada hakikatnya
adalah orang-orang yang jujur dan sopan — Manusia pada kenyataannya
adalah orang-orang yang tidak jujur dan hanya mencari kemaslahatan pribadi
mereka sendiri. Manakah di antara kedua keyakinan ini yang lebih
benar? Mengapa? Dan bagaimanakah kamu menjadikannya sebagai fondasi yang
penting di dalam hidupmu?
- (Kedisiplinan adalah
sebuah keniscayaan bagi kesuksesan) Buatlah sebuah bagan rencana yang
dengannya kamu bisa mewujudkan kedisiplinan bagi dirimu dan bagi
orang-orang yang bersamamu.
- Apakah jalan terbaik untuk
memperoleh indra batin (wawasan kepemimpinan/tabashshur)?
- Apakah indra batin
(tabashshur) itu penting? Dan mengapa?
Kedua:
Pertanyaan-Pertanyaan Objektif:
- Berilah tanda V atau
tanda X di depan kalimat yang sesuai dengannya berikut ini:
- Kedisiplinan itu
mengekang kebebasan dan manfaatnya sedikit. o
- Rahasia kebahagiaan
terletak pada perwujudan keseimbangan antara tuntutan ruh (jiwa) dan
badan (fisik). o
- Setiap manusia memiliki
filosofi pribadinya yang menentukan persepsi-persepsinya. o
- Pembuatan keputusan yang
selamat (benar) digantungkan pada indra batin (tabashshur). o
- Tidak mungkin ada
perubahan sama sekali dari kondisi ketidakberdayaan yang dipelajari. o
Comments
Post a Comment