Pasal 10: Langkah Untuk Meningkatkan Kemampuan Emosi Anda
BAB SEPULUH: ENAM LANGKAH MENUJU KEUNGGULAN EMOSIONAL
Tujuan
Umum:
- Mengenali emosi,
memahaminya, mengetahui pentingnya, serta sarana-sarana untuk
menginvestasikannya.
- Memahami bukti-bukti
keunggulan emosional dalam kisah para nabi, rasul, dan hamba-hamba Allah
yang saleh.
- Memperoleh keterampilan
dalam menyikapi enam langkah menuju keunggulan emosional.
Tujuan
Perilaku Instruksional Tema:
Setelah
selesainya proses pembelajaran tema ini, peserta didik diharapkan mampu untuk
melakukan hal-hal berikut:
Pertama:
Tujuan Kognitif:
- Mengenali emosinya,
mengetahui tingkat kepentingannya, dan menginvestasikannya dalam
mematahkan pola-pola negatif yang ada pada dirinya.
- Menyimpulkan pentingnya
mengambil manfaat dari peningkatan emosi dalam pembentukan pola baru bagi
dirinya.
- Menyebutkan langkah-langkah
menuju keunggulan emosional.
- Menjelaskan apa yang
dimaksud dengan Sepuluh Sinyal Tindakan.
- Menerangkan konsep tiga
sinyal dari Sinyal Tindakan beserta pemberian contoh untuk masing-masing
sinyal tersebut.
- Menggali contoh-contoh dari
kehidupan Rasulullah untuk mengatasi sifat malas dan lemah/tidak berdaya.
- Memastikan kemampuannya
dalam mendayagunakan perilaku dan emosinya untuk hal-hal yang mendukung
tujuan dan dakwahnya.
- Menyebutkan dua ayat dan
dua hadis yang masing-masing memuji sikap sabar, berhati-hati (at-ta'anni),
dan kemurahan hati/menahan diri (al-hilm).
- Mengamati sikap-sikap
Rasulullah serta cara beliau dalam menyikapi kesombongan/kebebalan kaum
jahiliyah, lalu mengambil manfaat dari hal tersebut di dalam dakwahnya.
- Membedakan antara dua jenis
kebodohan/kejahilan (kejahilan yang merupakan lawan dari ilmu, dan
kejahilan yang merupakan lawan dari sifat hilm/menahan diri, serta
metode-metode penanganannya).
- Merangkum bab ini dengan
rangkuman yang memadai serta tetap menjaga kandungan materi dan ide-ide
pokoknya.
- Membuktikan pentingnya
persaudaraan (ukhuwah) serta dampaknya bagi individu dan
masyarakat.
- Menghitung hadis-hadis dan
ayat-ayat yang memotivasi untuk menjaga persaudaraan beserta hak-haknya.
- Menghubungkan antara emosi
dan perasaannya dengan tujuan-tujuannya.
Kedua:
Tujuan Afektif (Sikap):
- Fokus pada
perasaan-perasaan positifnya dan mengambil manfaat darinya.
- Berkomitmen untuk
menginvestasikan emosinya dengan investasi yang paling optimal.
- Mengendalikan perasaan dan
emosinya untuk menghadapi tantangan apa pun.
- Percaya pada kemampuan
dirinya untuk menyikapi emosi apa pun dengan sukses.
- Berlatih membentuk pola
barunya serta mengulangnya berulang kali.
- Mengarahkan emosinya sejak
awal kemunculan perasaan tersebut.
- Menghindari emosi dan
perasaan negatif seperti rasa takut, sesak dada (stres), dan rasa bosan.
- Mengutamakan sifat hilm
(menahan diri/sabar) dan at-ta'anni (berhati-hati/tidak
tergesa-gesa) dalam berinteraksi dengan orang lain.
- Meneladani dan mengikuti
contoh Rasulullah ﷺ
dalam hal kesabaran dan sifat hilm-nya.
- Menunjukkan kecenderungan
sikap yang positif terhadap kejahilan ilmu maupun kejahilan sifat hilm.
- Menolak akhlak dan
pelampiasan nafsu jahiliyah seperti rasa ujub (bangga diri), teperdaya
(gurur), sombong (kibar), dan lain sebagainya.
- Antusias untuk bersahabat
dengan orang-orang saleh dan duduk di majelis mereka. (Catatan: Pada
teks asli terjadi salah penomoran dari 11 langsung ke 13)
- Menjadi sukarelawan untuk
amal-amal kebaikan dan melayani saudara-saudaranya.
- Mengurutkan Sepuluh Sinyal
Tindakan berdasarkan tingkat kepentingannya, sesuai dengan kegunaannya di
dalam kehidupannya.
Ketiga:
Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):
- Berlatih menggunakan pola
baru yang telah ia siapkan untuk dirinya sendiri dan sering mengulangnya.
- Mempraktikkan enam langkah
menuju keunggulan emosional dengan praktik yang benar.
- Menggunakan Sepuluh Sinyal
Tindakan agar memampukannya mendorong diri sendiri untuk mengambil
tindakan tertentu.
- Mengulang setiap tindakan
yang ia lakukan hingga tindakan tersebut menjelma menjadi keterampilan
yang ia gunakan untuk mengubah kondisinya.
- Menerapkan apa yang telah
ia pelajari berupa tindakan nyata ke dalam kehidupannya dan seluruh
urusannya.
- Berbicara mengenai
pentingnya mengambil manfaat dari emosi dan perasaan demi mewujudkan
kemajuan di segala bidang.
- Menulis sebuah laporan yang
mencakup sikap-sikap dan potret dari kehidupan Rasulullah beserta para
sahabat dalam hal ketenangan, kehati-hatian, dan pengendalian diri.
- Mencatat dampak buruk yang
timbul akibat dari perbuatan melaknat, mencaci-maki, dan marah, serta
pengaruh hal tersebut bagi individu dan masyarakat.
- Merangkum seluruh nilai,
sikap perilaku, dan nilai Islami yang terdapat di dalam tema ini agar
bermanfaat bagi dirinya, orang bersamanya, dan orang-orang yang
didakwahinya.
Materi
Ilmiah:
Dan
untuk mematahkan pola-pola yang membatasi kemampuan-kemampuanku, untuk
mengenali manfaat-manfaat dari emosi tersebut, serta agar aku menempatkan
diriku pada level tertentu yang memungkinkanku di masa depan untuk memetik
pelajaran dari emosi-emosi yang aku rasakan dan melenyapkan rasa sakit dengan
kecepatan yang lebih tinggi, (maka lakukanlah hal berikut):
- Tentukan apa yang
benar-benar Anda rasakan secara tepat. Mulailah menaruh emosi Anda ke
dalam posisi dipertanyakan, karena dengan begitu Anda mungkin akan mampu
meredakan intensitasnya.. Dan ingatlah selalu kekuatan dari Kamus
Transformasional.
- Kenali emosi Anda dan
pahamilah ia sembari Anda menyadari bahwa emosi tersebut adalah
penopang/pendukung bagi Anda. Investasikan perasaan berupa pemahaman
terhadap seluruh emosi Anda, maka akan tampak jelas bagi Anda bahwa emosi
tersebut akan langsung mereda seketika itu juga, layaknya seorang anak
kecil yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.
- Sikapilah pesan yang
dihadirkan oleh emosi tersebut kepada Anda dengan rasa ingin tahu
(penasaran/curious). Sebab di dalam rasa ingin tahu tersebut terdapat
penonaktifan seketika terhadap pola emosi apa pun. Rasa ingin tahu ini
juga membantu Anda dalam mengendalikannya, menghadapi tantangan, dan
mencegah masalah itu sendiri terjadi lagi di masa depan. Sebagai contoh,
jika Anda merasa kesepian, maka tanyalah kepada diri Anda sendiri: "Jika
aku menunjukkan kepada mereka bahwa aku ingin mengunjungi mereka, bukankah
mereka juga akan berkeinginan untuk mengunjungiku?"
- Persenjatai diri Anda
dengan rasa percaya diri bahwa Anda bisa menyikapi emosi ini seketika itu
juga. Misalnya dengan mengingat bahwa emosi yang sama persis pernah
melewati Anda sebelumnya, dan Anda terbukti mampu melewati serta
menyikapinya dengan sukses.
- Pastikan bahwa Anda
mampu mengatasinya, tidak hanya untuk saat ini saja melainkan untuk masa
depan juga.
- Cobalah untuk bergerak
maju dan melakukan tindakan yang diperlukan. Berlatihlah menggunakan
pola baru Anda dan ulangilah berulang kali.. Dan ingatlah bahwa waktu
terbaik untuk mengatasi suatu emosi adalah di saat awal mula Anda
merasakannya.. Bunuhlah monster itu selagi masih di dalam buaian.
Sepuluh
Sinyal Tindakan:
Anda
dapat mengubah sebagian besar emosi dengan cara bersandar pada enam langkah
sebelumnya. Akan tetapi, untuk menjaga diri Anda agar tidak perlu sampai
menggunakan enam langkah tersebut, Anda mungkin akan mendapati bahwa memiliki
pemahaman yang sadar terhadap pesan positif yang coba disampaikan oleh
emosi-emosi utama Anda (atau Sinyal Tindakan Anda) adalah hal yang sangat
bermanfaat.
Berikut
adalah sepuluh emosi utama yang coba dihindari oleh sebagian besar manusia,
padahal Anda justru bisa menggunakannya agar memampukan Anda mendorong diri
Anda sendiri untuk mengambil suatu tindakan:
|
Perasaan
(Emosi) |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
Solusi |
|
1.
Rasa Terusik (Rasa bosan / habis kesabaran / sesak dada / duka /
canggung) |
Ada
sesuatu yang tidak sepenuhnya beres; mungkin cara Anda memandang berbagai hal
atau tindakan-tindakan yang Anda lakukan. |
1.
Gunakan keterampilan terdahulu untuk mengubah kondisi Anda. 2.
Jelaskan apa yang Anda inginkan. 3.
Perbaiki apa yang Anda lakukan, cobalah pendekatan yang berbeda, atau ubahlah
kualitas hasil yang Anda capai. |
|
Perasaan
(Emosi) |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
Solusi |
|
2.
Rasa Takut |
Ekspektasi
akan terjadinya sesuatu dalam waktu dekat yang mengharuskan adanya persiapan
untuk menghadapinya. |
1.
Tinjau kembali penyebab rasa takut (sebagian besar ketakutan yang menghadang
kita di dalam kehidupan sering kali tidak menjadi kenyataan.. namun jika
terjadi, Anda akan menjalani pengalaman tersebut). 2.
Evaluasi apa yang harus Anda lakukan untuk mempersiapkan diri Anda secara
mental. 3.
Gunakan obat penawar rasa takut, yaitu mengambil keputusan untuk memiliki
rasa percaya diri dan keyakinan. |
Dahulu
Rasulullah ﷺ
senantiasa memohon perlindungan dengan mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بكَ مِنَ
الهَمِّ والحَزَنِ، وأَعُوذُ بكَ مِنَ العَجْزِ والكَسَلِ، وأَعُوذُ بكَ مِنَ
الجُبْنِ والبُخْلِ، وأَعُوذُ بكَ مِن غَلَبَةِ الدَّيْنِ وقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih,
aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu
dari sifat penakut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang
serta kesewenang-wenangan manusia.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Bab
Shalat mengenai Memohon Perlindungan].
Allah
Ta'ala berfirman:
وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ
قَلْبَهُ
“Dan
barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada
hatinya.” [Surah At-Taghabun: 11].
Rasulullah
ﷺ bersabda:
لَا يَكُنْ أَحَدُكُمْ إِمَّعَةً،
يَقُولُ: أَنَا مَعَ النَّاسِ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنْتُ، وَإِنْ
أَسَاءُوا أَسَأْتُ، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ
أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا أَنْ تَجْتَنِبُوا إِسَاءَتَهُمْ
“Janganlah
salah seorang di antara kalian menjadi imma'ah (ikut-ikutan tanpa prinsip),
dengan mengatakan: 'Aku bersama orang banyak, jika orang-orang berbuat baik
maka aku pun berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk maka aku pun berbuat
buruk.' Akan tetapi, mantapkanlah diri kalian; jika orang-orang berbuat baik
hendaklah kalian berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk hendaklah kalian
menjauhi keburukan mereka.” [HR. At-Tirmidzi].
وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ
عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا ۚ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا
آذَيْتُمُونَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
“Mengapa
kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan
kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu
lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang bertawakal
berserah diri.” [Surah Ibrahim: 12].
Dan
telah datang di dalam hadis: “Barangsiapa yang ingin menjadi manusia paling
kuat, hendaklah ia bertawakal kepada Allah.”
|
Perasaan
(Emosi) |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
Solusi |
|
3.
Perasaan Terluka / Tersakiti (Pada dasarnya bersumber dari rasa
kehilangan) |
Ada
ekspektasi-ekspektasi kita yang tidak terpenuhi. |
1.
Sadarilah bahwa pada kenyataannya Anda tidak kehilangan apa pun (mungkin ini
hanyalah perasaan semu/palsu), sebab bisa jadi orang tersebut tidak menyadari
seberapa besar dampak tindakan-tindakannya terhadap kehidupan Anda. 2.
Berhentilah sejenak untuk mengevaluasi kembali situasi tersebut: Apakah
memang ada kerugian, ataukah aku yang terburu-buru menghakimi situasi
tersebut atau menghakiminya dengan kejam? |
قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ
ۖ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَادَىٰ ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا
“Katakanlah:
'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya
kamu berdiri karena Allah (menyengaja kebenaran) berdua-dua atau
sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan...'” [Surah Saba': 46].
“Hisablah
diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal perbuatan kalian
sebelum ia ditimbang atas kalian.”
|
Perasaan
(Emosi) |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
Solusi |
|
4.
Marah |
Ada
aturan penting atau tolok ukur yang Anda pegang teguh di dalam prinsip hidup
Anda yang telah dilanggar oleh seseorang atau oleh Anda sendiri. |
Anda
dapat mengubah emosi ini dalam waktu satu menit: 1.
Anda harus menyadari bahwa Anda mungkin saja telah salah memahami situasi
tersebut secara total, sebab bisa jadi orang ini tidak tahu apa hal paling
penting bagi Anda, meskipun Anda mengira bahwa ia mengetahuinya. 2.
Aturan-aturan yang Anda tetapkan sendiri tidak menjadi syarat bahwa itu
adalah aturan yang benar. 3.
Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang memberi Anda kekuatan pada diri sendiri. (Apakah
benar orang ini sungguh memedulikanku dalam jangka panjang?)..
Nonaktifkan perasaan marah Anda dengan bertanya: Apa yang bisa aku
pelajari dari hal ini? |
Jika
Anda marah, maka Anda wajib melakukan:
Di
antara jawaban para rasul kepada orang-orang kafir adalah apa yang dikisahkan
oleh Al-Qur'an al-Karim. Pemuka-pemuka kaumnya berkata:
{إِنَّا لَنَرَاكَ فِي
سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ . قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي
سَفَاهَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ . أُبَلِّغُكُمْ
رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ
“'Sesungguhnya
kami benar-benar melihatmu dalam kebodohan dan sesungguhnya kami benar-benar
menganggapmu termasuk orang-orang pendusta.' Hud berkata: 'Hai kaumku, tidak
ada kebodohan padaku, tetapi aku adalah seorang rasul dari Tuhan semesta alam.
Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi
nasehat yang terpercaya bagimu.'” [Surah Al-A'raf: 66-68] [^1].
Cacian
orang-orang jahil tersebut tidak sampai menghilangkan sifat hilm
(menahan diri/kesabaran) Nabi Hud, karena jaraknya teramat jauh antara seorang
laki-laki yang telah dipilih Allah sebagai rasul—sehingga ia berada di puncak
kebaikan dan kebajikan—dengan kaum yang membodohi diri mereka sendiri dan
bersepakat untuk menyembah batu-batu yang mereka kira—karena ketololan
mereka—dapat mendatangkan mudarat dan manfaat! Bagaimana mungkin seorang guru
besar akan merasa sesak dada akibat racauan kawanan ternak seperti itu?
Rasulullah
Muhammad ﷺ
juga ingin mengajarkan pelajaran tentang kehati-hatian (at-ta'anni) dan
pengendalian diri ini kepada para sahabatnya. Diriwayatkan bahwa seorang Arab
Badui datang menemui beliau untuk meminta sesuatu, lalu beliau memberinya dan
bersabda: "Apakah aku telah berbuat baik kepadamu?". Orang
Badui itu menjawab: "Tidak, kamu belum berbuat baik dan belum
memperbagus pemberian!". Kaum muslimin pun marah dan langsung berdiri
hendak mendatangi orang itu, namun beliau memberikan isyarat kepada mereka: "Tahanlah
diri kalian...".
Kemudian
beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, lalu beliau mengutus orang untuk
memanggil Badui tersebut dan menambahkan sesuatu pada pemberiannya. Beliau
bertanya lagi: "Apakah aku telah berbuat baik kepadamu?".
Orang Badui itu menjawab: "Ya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan
sebagai anggota keluarga dan kerabat."
Maka
Nabi bersabda kepadanya: "Sesungguhnya kamu telah mengucapkan apa yang
kamu ucapkan tadi, dan di dalam diri para sahabatku terdapat ganjalan karena
hal tersebut. Jika kamu mau, ucapkanlah di hadapan mereka apa yang kamu ucapkan
di hadapanku sekarang, agar apa yang ada di dalam dada mereka terhadapmu dapat
sirna." Ia menjawab: "Baik."
Ketika
keesokan harinya tiba, orang itu datang, lalu Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Arab Badui
ini telah mengucapkan apa yang ia ucapkan, kemudian kami menambah pemberian
kepadanya, lalu ia mengaku telah rida, apakah benar demikian?". Ia
menjawab: "Ya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebagai anggota
keluarga dan kerabat."
Rasulullah
ﷺ kemudian bersabda: "Perumpamaanku
dan perumpamaan orang ini adalah seperti seorang laki-laki yang memiliki seekor
unta yang lari lepas darinya, lalu orang-orang mengejarnya dari belakang
[[^2]], namun mereka tidak menambah unta tersebut melainkan semakin liar
berpaling. Maka pemiliknya berseru kepada mereka: 'Biarkanlah antara aku dan
untaku, karena aku lebih lembut kepadanya daripada kalian dan lebih mengetahui
perilakunya.' Pemiliknya kemudian menuju ke arah depan unta tersebut lalu
mengambil rumput/kotoran kering dari tanah, kemudian ia mengembalikannya hingga
unta itu datang dan menderem. Lalu ia memasang pelana di atasnya dan duduk
tegak di atasnya. Dan sesungguhnya aku, seandainya aku membiarkan kalian saat
laki-laki ini mengucapkan apa yang ia ucapkan, lalu kalian membunuhnya, niscaya
ia masuk neraka."
Rasul
yang penuh sifat hilm ini tidak diambil oleh rasa heran atas kekufuran
nikmat sang Badui pada awal urusan. Beliau mengenali adanya karakter tipe
manusia tertentu di dalam dirinya yang terbiasa bersikap kasar dalam
berekspresi dan cepat dalam berbuat keburukan. Orang-orang semacam ini,
seandainya disegerakan hukumannya, niscaya hukuman itu akan membinasakan
mereka, dan hukuman itu bukanlah suatu kezaliman.
Akan
tetapi, para tokoh reformator yang agung tidak mengakhiri nasib masyarakat awam
dengan akhir yang pilu seperti ini. Mereka mencurahkan sifat kehati-hatian dan
kesabaran mereka kepada orang-orang yang temperamental hingga memaksa mereka
menuju kebaikan dengan sebenar-benarnya, dan membuat lidah-lidah mereka
meluncur fasih dengan pujian.
Dan
harga untuk hal itu tidak akan dipending oleh orang kaya yang cerdas, sekalipun
berupa pemberian yang sangat berlimpah. Apalah arti membelanjakan harta jika
disandingkan dengan menguasai jiwa manusia?
Arab
Badui yang telah dibeli keridaannya dengan apa yang Anda ketahui tadi, tidak
mustahil akan Anda lihat beberapa hari kemudian ditugaskan untuk melakukan
sebuah pekerjaan yang krusial, di mana ia akan menyerahkan lehernya (berkorban
nyawa) dengan senang hati!! Harta di tangan para reformator besar tidak lain
hanyalah kebutuhan bagi para pencari pemberian [[^3]] dari kalangan pendatang
yang penuh ambisi, atau ia laksana rumput kering di tanah yang digunakan untuk
menderemkan unta-unta tunggangan yang liar, agar ia dapat memotong jarak padang
pasir yang luas dengannya.
Nabi
ﷺ terkadang dibuat
marah, akan tetapi kemarahan beliau tidak pernah melewati batas-batas kemuliaan
dan sikap memaafkan/mengabaikan.
Hal
yang terjaga dari sirah kehidupan beliau adalah bahwa beliau tidak pernah
membalas dendam untuk dirinya sendiri sama sekali, kecuali jika kehormatan
Allah dilecehkan, maka beliau akan membalas dendam karena Allah dengan sebab
pelecehan tersebut.
Ketika
seorang Arab Badui yang kasar berkata kepada beliau saat beliau sedang
membagikan harta rampasan perang (ganimah): "Berlakulah adil, karena
sesungguhnya pembagian ini adalah pembagian yang tidak diharapkan wajah Allah
dengannya!", beliau tidak menambah dalam jawabannya melainkan sekadar
menjelaskan apa yang tidak diketahui oleh orang tersebut, serta menasihati
dirinya sendiri dan mengingatkannya dengan apa yang dikatakan kepadanya, beliau
bersabda: "Celaka kamu, lantas siapa yang akan berlaku adil jika aku
saja tidak berlaku adil? Benar-benar merugi dan celaka aku jika aku tidak
berlaku adil." Dan beliau melarang para sahabatnya untuk membunuhnya
ketika sebagian dari mereka telah bertekad untuk melakukannya.
Nabi
ﷺ pernah berkhotbah di
hadapan manusia pada waktu asar di suatu hari, di antara apa yang beliau
katakan kepada mereka adalah:
أَلَا إِنَّ بَنِي آدَمَ خُلِقُوا
عَلَى طَبَقَاتٍ شَتَّى
“Ketahuilah,
sesungguhnya bani Adam diciptakan dalam tingkatan yang bermacam-macam: Ketahuilah,
di antara mereka ada yang lambat marah dan cepat reda kemarahannya, ada yang
cepat marah dan cepat reda kemarahannya, dan ada yang lambat marah dan lambat
reda kemarahannya, maka itu impas dengan itu. Ketahuilah, di antara mereka ada
yang lambat reda kemarahannya dan cepat marah. Ketahuilah, yang terbaik di
antara mereka adalah yang lambat marah dan cepat reda kemarahannya, dan yang
terburuk di antara mereka adalah yang cepat marah dan lambat reda kemarahannya.
Ketahuilah, di antara mereka ada yang baik dalam membayar utang dan baik dalam
menuntut utang, di antara mereka ada yang buruk dalam membayar utang dan baik
dalam menuntut utang, dan di antara mereka ada yang buruk dalam menuntut utang
dan baik dalam membayar utang, maka itu impas dengan itu. Ketahuilah, di antara
mereka ada yang buruk dalam membayar utang dan buruk dalam menuntut utang.
Ketahuilah, yang terbaik di antara mereka adalah yang baik dalam membayar utang
dan baik dalam menuntut utang, dan yang terburuk di antara mereka adalah yang
buruk dalam membayar utang dan buruk dalam menuntut utang.” “Ketahuilah,
sesungguhnya marah itu adalah bara api di dalam hati anak Adam. Tidakkah kalian
melihat kepada merah matanya dan urat-urat lehernya yang menegang? Maka
barangsiapa yang merasakan sesuatu dari hal tersebut, hendaklah ia menempel
dengan tanah.” [[^4]] Yakni hendaklah ia tetap di tempatnya dan duduk.
Karena
jika ia dibiarkan terbang di balik kobaran api amarah, ia akan merusak segala
urusan di saat hilangnya kesadaran dirinya dan mendominasinya emosi miliknya,
sehingga tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk perbaikan.
Hadis
yang mulia ini telah menjelaskan ragam karakter manusia dan tingkatan mereka
dalam keutamaan, dan seorang mukmin menempatkan dirinya di tempat yang
semestinya.
Seseorang
yang pemarah sering kali amarahnya membawanya ke arah tindakan-tindakan yang
bodoh; ia bisa saja mencaci-maki pintu jika pintu itu sulit dibuka olehnya, ia
bisa saja memecahkan alat yang tidak stabil di tangannya, dan ia bisa saja
melaknat hewan tunggangan yang mogok bersamanya.
Dan
pernah terjadi seorang laki-laki yang pakaiannya ditiup oleh angin lalu ia
melaknat angin tersebut, maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kamu
melaknatnya, karena sesungguhnya ia diperintah dan ditundukkan. Dan
sesungguhnya barangsiapa yang melaknat sesuatu yang tidak layak menerima laknat
tersebut, maka laknat itu akan kembali kepada dirinya sendiri."
[[^5]].
Keburukan-keburukan
amarah itu teramat banyak dan hasil dampaknya yang merusak jauh lebih banyak
lagi, oleh karena itu pengendalian diri saat gejolak amarahnya memuncak
merupakan bukti dari kemampuan yang terpuji dan ketahanan diri yang mulia.
Dari
Ibnu Mas'ud: Rasulullah ﷺ
bersabda: "Siapakah yang kalian sebut sebagai orang yang jago gulat
(shura'ah) di antara kalian?". Para sahabat menjawab: "Yaitu
orang yang tidak bisa dijatuhkan oleh orang-orang laki-laki." Beliau
bersabda: "Akan tetapi, ia adalah orang yang mampu menguasai dirinya
ketika marah." [[^6]].
Seseorang
berkata kepada Nabi ﷺ:
"Berilah aku wasiat, dan janganlah Engkau perbanyak wasiat itu atasku
agar aku tidak melupakannya!". Beliau bersabda: "Jangan
marah!" [[^7]]. Dan jawaban yang ringkas ini adalah sebaik-baik
jawaban untuk menanggapi pertanyaan yang diformulasikan dalam redaksi kalimat
seperti ini!.
Beliau
ﷺ senantiasa menasihati
orang-orang yang datang menemui beliau untuk meminta petunjuk dengan apa yang
selaras dengan tabiat mereka dan cocok dengan lingkungan mereka, beliau
terkadang meringkas atau memperpanjang nasihat sesuai dengan apa yang dituntut
oleh keadaan.
Kejahilan
(masa jahiliyah) yang ditangani oleh Rasulullah ﷺ untuk dihapuskan dahulu tegak di atas dua
jenis kejahilan; kejahilan yang merupakan lawan dari ilmu (kebodohan), dan
kejahilan yang merupakan lawan dari sifat hilm (temperamental/kejam).
Adapun
kejahilan yang pertama, maka pemutusan kegelapannya dilakukan dengan
jenis-jenis makrifat dan seni-seni bimbingan. Sedangkan kejahilan yang kedua,
maka penahanan kezalimannya bersandar pada pengekangan hawa nafsu dan
pencegahan kerusakan. Orang-orang Arab terdahulu bangga bahwa mereka membalas
kejahilan dengan kejahilan yang lebih parah:
Ingatlah, jangan sampai ada seorang pun yang berlaku jahil
(kasar) kepada kami..
Sebab
kami akan membalas dengan kejahilan yang melampaui kejahilan orang-orang jahil.
Maka
datanglah Islam untuk membendung pelampiasan nafsu ini, dan menegakkan
pilar-pilar masyarakat di atas keutamaan, jika hal itu tidak memungkinkan maka
di atas keadilan. Dan tujuan ini tidak akan pernah terwujud kecuali jika akal
yang terbimbing mampu mendominasi atas naluri amarah.
Banyak
dari nasihat yang dicurahkan oleh Rasulullah kepada orang Arab mengarah ke
tujuan ini. Sampai-sampai manifestasi dari ketidaksabaran dan pelanggaran batas
dianggap sebagai bentuk lepasnya ikatan dari Islam, dan terlepas dari
ikatan-ikatan yang mengikat jemaah agar masyarakat tidak goyah dan berguncang:
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ
وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencaci-maki
seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” [[^8]].
Abdullah
bin Mas'ud berkata: “Tidaklah ada dua orang muslim melainkan di antara
keduanya terdapat tabir perlindungan dari Allah 'Azza wa Jalla, maka jika salah
satu dari keduanya mengucapkan perkataan yang keji kepada saudaranya, sungguh
ia telah merobek tabir perlindungan Allah.” [[^9]].
Seorang
Arab Badui datang menemui Rasulullah ﷺ ingin mempelajari Islam, dan ia tidak memiliki pengetahuan
terdahulu tentang Nabi ﷺ
maupun tentang apa yang beliau serukan. Arab Badui itu—yang bernama Jabir bin
Sulaim—berkata: “Aku melihat seorang laki-laki yang orang-orang mengeluarkan
pendapat berdasarkan opininya, ia tidak mengatakan sesuatu melainkan mereka
bersumber darinya. Aku bertanya: 'Siapa orang ini?' Mereka menjawab:
'Rasulullah!' Aku berkata: 'Alaikas salam (atasmu keselamatan), wahai
Rasulullah!' Beliau bersabda: 'Jangan katakan alaikas salam, karena ucapan
(alaikas salam) adalah penghormatan untuk orang mati. Katakanlah: Assalamu
'alaika (keselamatan atasmu)!!'”
Ia
berkata: Aku bertanya: “Apakah Engkau Rasulullah?”. Beliau bersabda: “Aku
adalah Rasulullah yang apabila kemudaratan menimpamu lalu kamu berdoa
kepada-Nya niscaya Dia menyingkapnya darimu, dan jika tahun paceklik (جدب) menimpamu lalu kamu
berdoa kepada-Nya niscaya Dia menumbuhkan tanaman untukmu, dan jika kamu berada
di tanah yang tandus lalu tungganganmu hilang kemudian kamu berdoa kepada-Nya
niscaya Dia mengembalikannya kepadamu...”
Ia
berkata: Aku berkata: “Berilah aku perjanjian/wasiat.” Beliau bersabda: “Jangan
sekali-kali kamu mencaci-maki seorang pun” —maka setelah itu aku tidak
pernah mencaci seorang merdeka, tidak pula hamba sahaya, tidak pula unta, dan
tidak pula kambing— Beliau bersabda: “Dan janganlah kamu meremehkan sedikit
pun dari kebaikan, dan hendaklah kamu berbicara kepada saudaramu dalam keadaan
wajahmu berseri-seri kepadanya, karena sesungguhnya hal itu termasuk bagian
dari kebaikan...” Kemudian beliau bersabda: “Dan jika ada seseorang yang
mencelamu dan mencacimu dengan apa yang ia ketahui ada pada dirimu, maka
janganlah kamu mencacinya dengan apa yang kamu ketahui ada pada dirinya, karena
sesungguhnya dampak buruk dari hal itu akan kembali kepada dirinya sendiri.”
[[^10]].
Di
antara manusia ada yang tidak bisa diam ketika marah, ia berada di dalam
pergolakan yang abadi, dan kemarahan itu tercetak jelas pada wajahnya yang
cemberut. Jika ada seseorang yang menyentuhnya, ia akan gemetar layaknya orang
yang demam, dan ia mulai meracau dan berbuih mulutnya, serta melaknat dan
mencerca. Islam berlepas diri dari perangai-perangai yang keruh ini.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِطَعَّانٍ وَلَا
لَعَّانٍ وَلَا فَاحِشٍ وَلَا بَذِيءٍ
“Bukanlah
seorang mukmin itu orang yang suka mencela, bukan orang yang suka melaknat,
bukan orang yang suka berbuat keji, dan bukan orang yang suka berkata kotor.”
[[^11]].
Catatan
Kaki Teks Asli:
[^1]:
Surah Al-A'raf: Ayat 66 - 68.
[^2]:
Yakni berlari mengejar di belakangnya.
[^3]:
Para pencari pemberian / orang-orang yang meminta harta.
[^4]:
HR. At-Tirmidzi.
[^5]:
HR. At-Tirmidzi.
[^6]:
HR. Muslim.
[^7]:
HR. Malik.
[^8]:
HR. Al-Bukhari.
[^9]:
HR. Al-Baihaqi.
[^10]:
HR. Abu Dawud.
[^11]:
HR. At-Tirmidzi.
Dan
melaknat termasuk dari perangai orang-orang rendahan (as-siflah).
Orang-orang yang menurunkan laknat kepada selain mereka untuk alasan yang
paling sepele sekalipun, sesungguhnya sedang memaparkan diri mereka pada
bencana yang amat besar. Sebaliknya, seseorang itu wajib menjaga kesucian
dirinya dari melaknat orang lain, meskipun ia telah ditimpa gangguan yang
sangat berat dari orang tersebut.
Setiap
kali iman bertumbuh di dalam hati, maka akan tumbuh pula bersamanya kelapangan
dada dan bertambah pula sifat hilm (menahan diri/kesabaran), serta
seseorang akan menjauh dari menuntut pelampiasan nafsu dan amarah kepada
orang-orang yang bersalah terhadap hak dirinya.
Pernah
dikatakan kepada Rasulullah ﷺ:
"Doakanlah kecelakaan atas orang-orang musyrik dan laknatlah
mereka!". Beliau bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً ، وَلَمْ
أُبْعَثْ لَعَّانًا
“Sesungguhnya
aku diutus hanyalah sebagai rahmat, dan aku tidak diutus sebagai seorang
pelaknat.” [HR. Muslim] [^1].
Dan
sesuai dengan kadar kemampuan seorang muslim dalam mengendalikan dirinya,
menahan amarahnya, menjaga tutur katanya, memaafkan kekhilafan, serta berbelas
kasih terhadap kesalahan-kesalahan orang lain, maka seperti itulah kedudukannya
di sisi Allah.
Oleh
karena itulah, Rasulullah ﷺ
menyangkal perbuatan Abu Bakar ketika ia melaknat sebagian budak sahaya
miliknya, beliau bersabda:
لَا يَنْبَغِي لِصِدِّيقٍ أَنْ
يَكُونَ لَعَّانًا
“Tidak
selayaknya bagi seorang shiddiq (orang yang jujur imannya) menjadi seorang
pelaknat.” [HR. Muslim] [^2].
Dan
di dalam sebuah riwayat disebutkan:
لَا يَجْتَمِعُ أَنْ تَكُونُوا
لَعَّانِينَ وَصِدِّيقِينَ
“Tidak
akan bisa bersatu keadaan kalian sebagai para pelaknat sekaligus sebagai para
shiddiq.” [HR. Al-Hakim] [^3].
Maka
Abu Bakar pun langsung memerdekakan budak-budak sahaya tersebut sebagai kafarat
(penebus dosa) atas apa yang telah terlanjur keluar dari dirinya kepada mereka.
Kemudian ia datang menemui Nabi ﷺ seraya berkata kepada beliau: "Aku tidak akan
mengulanginya lagi."
Hal
itu karena melaknat merupakan sebuah proyektil (peluru) yang sasarannya
serampangan lagi berbahaya, yang mana amarah yang buta mendorong kepadanya jauh
lebih besar daripada dorongan kelayakan untuk menerima hukuman. Sikap
meremehkan manusia terhadap doa-doa yang keras ini merupakan hal yang tidak
patut, karena tidak akan ada seorang pun yang bisa luput dari dampak buruknya.
Sebab
Rasulullah ﷺ
telah bersabda:
إِنَّ العَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا
صَعِدَتِ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ ، فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ
دُونَهَا ، ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا ، ثُمَّ
تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالاً ، فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى
الَّذِي لُعِنَ ، فَإِنْ كَانَ أَهْلاً لِذَلِكَ ، وَإِلاَّ رَجَعَتْ إِلَى
قَائِلِهَا
“Sesungguhnya
seorang hamba apabila melaknat sesuatu, maka laknat tersebut akan naik ke
langit, lalu pintu-pintu langit ditutup untuk menghalanginya. Kemudian ia turun
ke bumi, maka pintu-pintu bumi pun ditutup untuk menghalanginya. Kemudian ia
mengambil jalur ke kanan dan ke kiri, dan jika ia tidak menemukan jalan tembus,
ia akan kembali kepada pihak yang dilaknat jika memang ia layak menerimanya..
namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang
mengucapkannya.” [HR. Abu Dawud] [^4].
Dan
Islam telah mengharamkan aksi saling menjatuhkan yang bodoh serta tindakan
saling bertukar caci maki di antara orang-orang yang sedang bertikai.
Betapa
banyak pertikaian yang di dalamnya kehormatan diri dihinakan, dan cacian yang
diharamkan melanggar batas-batas kemuliaan yang berharga. Tidak ada illat
(penyebab) bagi dosa-dosa yang tebal ini melainkan karena dominasi amarah dan
hilangnya adab (etika).
Dosa-dosa
dari pertikaian yang rendah ini akan kembali kepada orang yang pertama kali
menyalakan baranya. Sebagaimana yang datang di dalam hadis:
الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى
الْبَادِئِ مِنْهُمَا حَتَّى يَعْتَدِيَ الْمَظْلُومُ
“Dua
orang yang saling mencaci-maki, maka dosa dari apa yang keduanya ucapkan
ditanggung oleh orang yang memulai di antara keduanya, sampai pihak yang
dizalimi melampaui batas (dalam membalas).” [HR. Muslim] [^5].
Dan
kunci keselamatan dari pertikaian yang tajam ini adalah dengan memenangkan
sifat hilm (menahan diri) di atas amarah, serta memenangkan sikap
memaafkan. Tidak diragukan lagi bahwa manusia akan merasa sedih atas serangan
apa pun yang mengarah pada person dirinya atau pada orang yang dicintainya. Dan
apabila sarana untuk membalas dendam itu datang kepadanya, ia akan bergegas
membalas keburukan dengan keburukan yang serupa. Ketetapan hatinya tidak akan
merasa tenang kecuali jika ia berhasil memasukkan rasa sesak dada kepada
musuhnya setara dengan kadar rasa sakit yang dirasakan oleh dirinya sendiri,
dan ini merupakan sebuah kesalahan.
|
Perasaan
(Emosi) |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
|
[Sambungan
dari poin sebelumnya] |
a-
Ubahlah persepsi Anda: Karena bisa jadi orang tersebut tidak mengetahui
aturan-aturan Anda. b-
Ubahlah tindakan Anda: Karena bisa jadi Anda belum menyampaikan aturan-aturan
Anda kepadanya dengan baik. c-
Ubahlah perilaku Anda dan katakan kepada orang tersebut misalnya: "Sesungguhnya
perkara ini adalah privasi bagiku, maka aku berharap Anda tidak
menyebarkannya." |
|
Perasaan
(Emosi) |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
Solusi |
|
5.
Frustrasi / Kecewa (Anda mencurahkan upaya secara terus-menerus tanpa
menerima buah apa pun) |
Akal
pikiran Anda meyakini bahwa Anda sebenarnya mampu mewujudkan hasil-hasil yang
lebih baik. (Keputusasaan:
Adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang ingin Anda wujudkan namun Anda tidak
akan pernah bisa mencapainya). Adapun
frustrasi, jika dibandingkan, merupakan hubungan yang sangat positif; karena
ia bermakna bahwa masalah Anda masih berada di dalam ruang lingkup yang
memungkinkan. Itu adalah sinyal positif agar Anda menjadi lebih fleksibel. |
1.
Sadarilah bahwa rasa frustrasi adalah sahabat Anda, oleh karena itu
pikirkanlah cara-cara baru yang lebih fleksibel untuk mewujudkan hasil-hasil
Anda. 2.
Carilah informasi tentang bagaimana cara menyikapi situasi tersebut, carilah
sosok teladan (role model), dan mintalah kepadanya cara untuk mencapai hasil
tersebut. 3.
Di antaranya: Beralih dari lingkungan yang melemahkan semangat
(demotivasi): Sesungguhnya
lingkungan yang mengitari manusia memiliki pengaruh yang teramat besar yang
tidak tersembunyi lagi. Maka apabila lingkungan tersebut merupakan lingkungan
yang melemahkan semangat, mengajak kepada kemalasan, kefasifan, dan
kerendahan, maka wajib bagi seseorang untuk berhijrah darinya menuju tempat
di mana cita-citanya bisa meninggi, agar ia terbebas dari otoritas pengaruh
lingkungan lama tersebut, dan menikmati kesempatan untuk menanjak menuju
tuntutan-tuntutan yang mulia [^6]. |
Putri
As-Sa'di berkata saat ia mencelaku:
Apakah tidak ada bagimu tempat beranjak meninggalkan negeri
yang hina ini?
Sebab sesungguhnya penderitaan orang yang berserah diri
menerima gangguan,
Di tempat di mana orang-orang mulia dihinakan, akan
berlangsung lama.
Padahal di sisimu ada kuda tunggangan yang kokoh
punggungnya lagi kuat,
Dan
di dalam genggaman tanganmu ada pedang tajam ujungnya lagi berkilau mengkilap
[^7].
Dan
manusia yang paling butuh untuk memperbarui lingkungan di sekitarnya serta
mengaktifkan kembali energinya adalah orang yang baru saja bertobat. Sebab,
beralih dari lingkungan maksiat menuju lingkungan ketaatan akan membuatnya lupa
terhadap hal-hal yang menariknya kepada teman yang buruk dan tempat-tempat yang
buruk. Dengan demikian, hatinya akan menyatu, urusannya akan teratur,
cita-citanya akan menjadi satu dan mengarah dengan kejujuran serta tekad bulat
menuju gaya hidup yang baru.
Dan
hal ini merupakan poin yang persis diisyaratkan oleh seorang "Alim"
(Ulama) yang sadar kepada sang pembunuh seratus nyawa, ketika ia memperkuat
perkataannya: "Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi antara dirinya
dengan tobat?" dengan perkataannya: "Pergilah kamu ke bumi ini
dan itu, karena sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah
Ta'ala, maka sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah kamu kembali ke
bumimu (yang dulu) karena sesungguhnya itu adalah bumi yang buruk."
Dan
tatkala kematian menjemputnya, lalu malaikat rahmat dan malaikat azab saling
berselisih tentangnya, keberadaan posisinya yang lebih dekat ke desa yang saleh
tersebut dibandingkan dengan negeri yang buruk menjadi sebab malaikat rahmat
yang mencabut nyawanya. Dalam sebagian riwayat disebutkan: "Maka ia
lebih dekat ke desa yang saleh tersebut sejauh satu jengkal, sehingga ia
dijadikan termasuk dari penduduknya." Dan dalam riwayat lain: "Maka
Allah Ta'ala mewahyukan kepada bumi ini (yang buruk) untuk menjauh, dan kepada
bumi ini (yang saleh) untuk mendekat, dan Dia berfirman: 'Ukurlah jarak di
antara keduanya', maka mereka mendapatinya lebih dekat ke desa ini (yang saleh)
sejauh satu jengkal, lalu ia pun diampuni." Dan dalam riwayat lain: "Maka
ia menjauhkan dadanya (berusaha condong melompat) ke arah desa tersebut."
Dan
barangkali makna ini tersembunyi pula di dalam pensyariatan hukuman pengasingan
bagi pelaku zina yang belum menikah (ghairu muhshan) dan pembuangannya
selama satu tahun jauh dari tanah airnya; agar berkumpul atasnya hukuman fisik
berupa jilid (cambuk) dan hukuman batin berupa pengasingan. Pada saat yang
sama, ia dijauhkan dari panggung tempat terjadinya kejahatan agar ia melupakan
memorinya, dan tidak tinggal di tempat di mana ia akan diperlakukan dengan
penuh kehinaan dan pelecehan serta terpapar pada berbagai intimidasi, sekaligus
memberinya kesempatan yang cukup untuk memulai kembali tobat yang nasuha
(jujur) dan kehidupan yang mulia.
4-
Dan di antara sebab paling penting untuk meningkatkan azam (cita-cita) adalah:
Bersahabat dengan orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi, serta menelaah
kisah-kisah perjalanan hidup mereka.
Sebab
burung-burung akan hinggap bersama yang sejenisnya, dan setiap rekan akan
meneladani rekan kelompoknya. Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar
menyerap teladan dari pandangan mata orang-orang saleh sebelum serapan dari
ucapan kata mereka, karena melihat mereka akan mengingatkannya kepada Allah
'Azza wa Jalla. Dari Anas rishi Allahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنَ النَّاسِ نَاسًا
مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ
“Sesungguhnya
di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan
gembok-gembok penutup keburukan.” [HR. Ibnu Majah, dan Ibnu Abi 'Asim di
dalam "As-Sunnah", dan dinilai hasan oleh Al-Albani melalui
jalur-jalurnya sebagaimana di dalam "As-Silsilah As-Shahihah" nomor
1332] [^8].
Dan
dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ mengenai firman Allah Ta'ala: “Ketahuilah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Surah Yunus: 62], beliau bersabda:
هُمُ الَّذِينَ يُذْكَرُ اللَّهُ
لِرُؤْيَتِهِمْ
“Mereka
adalah orang-orang yang apabila dilihat, maka Allah akan diingat.”
[Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam "Akhbar Ashbahan", Al-Wahidi,
dan Ad-Dailami, sebagaimana di dalam "As-Silsilah As-Shahihah" nomor
1646] [^9].
Dan
di antaranya adalah: Nasihat dari orang-orang yang tulus. Sebab beliau ﷺ telah bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ : لِلَّهِ ،
وَلِكِتَابِهِ ، وَلِرَسُولِهِ ، وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Agama
itu adalah nasihat: bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi para
pemimpin kaum muslimin, dan bagi orang-orang awam di antara mereka.” [HR.
Muslim dan selainnya] [^10].
Dan
adakalanya pemberi nasihat yang terpercaya ini adalah seorang ayah yang penuh
kasih sayang:
Sufyan
bin 'Uyainah berkata: (Ayahku berkata kepadaku—saat aku telah menginjak usia
lima belas tahun—: "Sesungguhnya telah terputus darimu syariat masa
kanak-kanak, maka ikutilah kebaikan niscaya kamu akan menjadi bagian dari
penganutnya." Maka aku pun menjadikan wasiat ayahku sebagai kiblat arah
yang aku condong kepadanya, dan aku tidak berpaling darinya).
Dan
adakalanya berupa seorang ibu yang penuh rahmah:
Dan
Amirul Mukminin Umar radhiyallahu 'anhu berkata: “Tidaklah seorang hamba
diberi suatu karunia setelah Islam yang lebih baik daripada seorang saudara
yang saleh. Maka apabila salah seorang di antara kalian melihat adanya rasa
cinta dari saudaranya, hendaklah ia memegangnya erat-erat.”
Dan
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Saudara-saudara (seiman) kami lebih kami cintai
daripada keluarga dan anak-anak kami. Karena keluarga kami mengingatkan kami
kepada dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami kepada akhirat.”
Profesor
Dr. Khaldun Al-Ahdab—semoga Allah menjaganya—mengatakan:
(Dan
apabila kita melihat kepada orang-orang yang telah mengambil manfaat dari
momen-momen umur mereka, yang mana dari hasil karya dan rekam jejak mereka
memunculkan sesuatu yang mengagumkan atau menakjubkan, kita dapati mereka tidak
bersahabat melainkan hanya dengan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam
beramal, serta orang-orang yang cerdas lagi jeli, yang mana mereka sangat
menjaga waktu-waktu mereka layaknya penjagaan mereka terhadap kehidupan mereka
sendiri, karena waktu itu adalah kehidupan.
Dan
bersahabat dengan orang-orang mulia yang bersungguh-sungguh lagi terjaga mata
hatinya terhadap hitungan menit dan detik ini, memiliki pengaruh yang teramat
agung dalam memicu cita-cita tokoh selevel Imam Ibnu Jarir At-Thabari, Ibnu
'Aqil Al-Hanbali, Ibnu 'Asakir Ad-Dimasqi, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, Ibnu
an-Nafis, Al-Mizzi, Ad-Dzahabi, Ibnu Hajar, dan orang-orang yang sepadan dengan
mereka dalam hal melimpahnya karya-karya mereka dan kebaruannya.
Imam
Ibnu 'Aqil Al-Hanbali, penulis kitab "Al-Funun", mengatakan:
"Dan Allah telah menjagaku dari gejolak masa muda dengan berbagai jenis
penjagaan, dan Dia membatasi rasa cintaku hanya pada ilmu dan ahli ilmu. Maka
aku tidak pernah membaur dengan orang yang suka bermain-main sama sekali, dan
aku tidak pernah bergaul erat melainkan hanya dengan orang-orang yang semisal
denganku dari kalangan para penuntut ilmu."
Maka
orang yang sangat menjaga waktunya lagi diberi taufik, yang mana ia mendambakan
kedudukan-kedudukan yang tinggi, tidak akan kamu lihat dirinya melainkan selalu
bersama ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya, serta orang-orang yang memiliki
keutamaan, ahli kesungguhan (mujahadah), hikmah, dan mata hati, agar menular
kepadanya apa yang ada pada mereka atau sebagian darinya, sehingga ia menjadi
seperti mereka atau dekat dengan mereka).
|
Perasaan
(Emosi) |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
Solusi |
|
6.
Kekecewaan (Anda merasa sedih dan kalah sebagai akibat dari ekspektasi
untuk mewujudkan hasil yang lebih banyak daripada apa yang telah berhasil
diwujudkan). Ini
adalah emosi yang merusak jika Anda tidak mengatasinya dengan cepat. |
Perkara
yang Anda cita-citakan untuk diwujudkan mungkin tidak terwujud, oleh karena
itu sesungguhnya waktu telah tiba untuk mengubah cita-cita serta ekspektasi
Anda, dan untuk mengambil sebuah target baru. |
1.
Visualisasikan sesuatu yang telah Anda pelajari dari situasi ini yang mana
hal tersebut dapat membantu Anda di masa depan demi mewujudkan apa yang
dahulu Anda perjuangkan. 2.
Tentukan sebuah target yang lebih menginspirasi dan yang mana memungkinkan
untuk mencapai progres instan ke arah target tersebut. 3.
Anda mungkin saja sedang mengeluarkan penilaian yang terburu-buru, padahal
itu hanyalah tantangan-tantangan yang bersifat sementara.. atau mungkin
ekspektasi Anda yang tidak realistis. 4.
Sadarilah bahwa situasi ini belum mencapai titik akhirnya.. maka berhiaslah
dengan tambahan kesabaran, evaluasi kembali apa yang Anda inginkan, dan
kembangkan sebuah rencana yang lebih efektif. 5.
Obat penawar yang paling kuat adalah menumbuhkan sikap ekspektasi positif
terhadap apa yang akan terjadi di masa depan, tanpa memedulikan apa yang
telah terjadi di masa lalu. |
|
Perasaan
[Emosi] |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
Solusi |
|
7.
Perasaan Bersalah (Sangat menyakitkan, namun ia menjalankan fungsi
yang berharga; karena ia membuat Anda merasakan kepedihan dalam kadar yang
besar sehingga setelah itu Anda berkomitmen pada standar-standar yang lebih
tinggi). |
Bahwa
Anda telah melanggar salah satu standar tertinggi Anda, dan bahwa Anda wajib
melakukan suatu upaya untuk menjamin agar Anda tidak melakukan pelanggaran
ini terhadap standar-standar Anda di masa depan. Perasaan ini merupakan daya
dorong final bagi banyak orang agar mereka mengubah perilaku mereka. Akan
tetapi, sebagian orang mencoba mengabaikan dan menekan perasaan ini, dan hal
tersebut tidaklah berguna karena ia tidak akan lenyap melainkan akan kembali
dengan kekuatan yang lebih besar.. Dan sebagian lagi tunduk pada perasaan ini
lalu tenggelam di dalamnya dan merasa bahwa tidak ada lagi daya upaya bagi
mereka setelahnya, sehingga mereka merasakan inferioritas (perasaan serba
kurang) di sepanjang hidup mereka. |
Anda
harus mengakui pelanggaran Anda terhadap standar-standar Anda, serta
berkomitmen dengan komitmen yang jujur/tulus bahwa perkara ini tidak akan
terulang lagi dari diri Anda. |
Dan
perasaan bersalah ini akan hilang pengaruh dampaknya dengan jalan tobat, yang
mana tobat akan mengembalikan manusia kepada aktivitas berpikir dan beramal,
serta memberinya kekuatan yang dengannya ia akan pulih dari setiap dosa. Allah
Ta'ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ
أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ
يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah:
'Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.'” [Surah Az-Zumar: 53].
Maka
mereka itulah orang-orang yang Allah ganti keburukan-keburukan mereka dengan
berbagai kebaikan.
Dari
Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya ada seorang
laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami
berbuat dosa.' Beliau bersabda: 'Akan dicatat atasnya.' Orang itu berkata:
'Kemudian ia memohon ampun dari dosa tersebut dan bertobat.' Beliau bersabda:
'Akan diampuni baginya dan diterima tobatnya.' Orang itu berkata: 'Namun ia
kembali lagi berbuat dosa.' Beliau bersabda: 'Maka akan dicatat atasnya, dan
Allah tidak akan pernah bosan (memberi ampunan) sampai kalian sendiri yang
bosan (bertobat).'” [Diriwayatkan oleh At-Thabrani dengan isnad yang hasan,
Majma' az-Zawaid 10/200] [^11].
Catatan
Kaki Teks Asli:
[^1]:
HR. Muslim.
[^2]:
HR. Muslim.
[^3]:
HR. Al-Hakim.
[^4]:
HR. Abu Dawud.
[^5]:
HR. Muslim.
[^6]:
Dan hijrah (migrasi fisik) itu hukumnya menjadi fardhu yang wajib apabila
dilakukan dari negeri kafir menuju negeri Islam jika manusia tersebut
mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan anaknya.
[^7]:
Farasun mahbuk: kuda yang kuat lagi kokoh; Saratal faras: bagian
atas punggung kuda; Al-muthahham: kuda yang sempurna yang mencapai
puncak dalam hal keindahan; Al-mathrur: yang memiliki pemandangan, rupa,
dan postur yang baik; As-syabah: ketajaman ujung pedang; As-saqil:
pedang yang mengkilap/diasah berkilau.
[^8]:
Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, dan Ibnu Abi 'Asim di dalam "As-Sunnah",
dan dinilai hasan oleh Al-Albani berdasarkan jalur-jalurnya sebagaimana di
dalam "As-Silsilah As-Shahihah" nomor 1332.
[^9]:
Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam "Akhbar Ashbahan", Al-Wahidi,
dan Ad-Dailami, sebagaimana di dalam "As-Silsilah As-Shahihah" nomor
1646.
[^10]:
Diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya.
[^11]:
Diriwayatkan oleh At-Thabrani dengan isnad yang hasan, Majma' az-Zawaid 10/200.
Dari
Abdullah bin Mas'ud رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ
الْعَبْدِ مِنْ رَجُلٍ نَزَلَ مَنْزِلاً وَبِهِ مَهْلَكَةٌ ، وَمَعَهُ رَاحِلَتُهُ
عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ ، فَوَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ نَوْمَةً ،
فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ رَاحِلَتُهُ ، حَتَّى اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْحَرُّ
وَالْعَطَشُ ، أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ ، قَالَ : أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِي ،
فَرَجَعَ فَنَامَ نَوْمَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَإِذَا رَاحِلَتُهُ عِنْدَهُ
“Sungguh,
Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya daripada seorang lelaki yang singgah
di suatu tempat yang berbahaya (padang tandus yang membinasakan), dan
bersamanya hewan tunggangannya yang membawa makanan dan minumannya. Lalu ia
meletakkan kepalanya dan tertidur sejenak. Saat terbangun, ternyata hewan
tunggangannya telah hilang, hingga ia ditimpa rasa panas dan dahaga yang sangat
hebat, atau apa yang dikehendaki Allah. Orang itu berkata: 'Aku akan kembali ke
tempatku semula.' Maka ia kembali lalu tertidur sejenak, kemudian ia mengangkat
kepalanya, dan tiba-tiba hewan tunggangannya sudah berada di sisinya.” [HR.
Al-Bukhari di dalam Al-Fath 11/(6308) dan lafaz ini miliknya, serta Muslim
(3744)] [^1].
Dari
Abu Hurairah رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ
خَطَايَاكُمُ السَّمَاءَ ، ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ عَلَيْكُمْ
“Jika
kalian berbuat dosa hingga kesalahan kalian mencapai langit, kemudian kalian
bertobat, niscaya Allah akan menerima tobat kalian.” [HR. Ibnu Majah
(4348), dan di dalam Az-Zawaid disebutkan: Isnad ini hasan. Guru Ibnu Majah
diperselisihkan, sedangkan para perawi lainnya tsiqat. Al-Iraqi berkata dalam
Takhrij al-Ihya (4/13): Isnadnya hasan. Dan disebutkan dalam At-Targhib wa
At-Tarhib (4/90) dengan mengatakan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad
yang jayyid] [^2].
Dari
Anas رضي الله عنه, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ
ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنَّ لَهُ وَادِيًا آخَرَ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ
التُّرَابُ ، وَاللَّهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya
anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia ingin memiliki lembah yang
lain. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah, dan Allah
menerima tobat orang yang bertobat.” [HR. Al-Bukhari – Al-Fath 11 (6439),
Muslim (1048)] [^3].
Dari
Ibnu Mas'ud رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
لِلْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ،
سَبْعَةٌ مُغْلَقَةٌ وَبَابٌ مَفْتُوحٌ لِلتَّوْبَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ
مِنْ مَغْرِبِهَا
“Surga
memiliki delapan pintu, tujuh di antaranya tertutup dan satu pintu terbuka
untuk tobat sampai matahari terbit dari arah baratnya.” [Disebutkan dalam
At-Targhib wa At-Tarhib (4/89) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan
At-Thabrani dengan isnad yang jayyid] [^4].
Dari
Abu Hurairah رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ
الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barang
siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari arah baratnya, niscaya Allah
akan menerima tobatnya.” [HR. Muslim (2703)] [^5].
Dari
Umar bin al-Khattab Retrieval رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ
الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، اللَّهُمَّ
اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ . فُتِحَتْ
لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا [شَاءَ]
“Barang
siapa yang berwudu lalu membaguskan wudunya, kemudian ia mengucapkan: 'Aku
bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak
ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan
jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri.' Maka akan dibukakan
untuknya delapan pintu surga, yang mana ia dapat masuk dari pintu mana saja
[yang ia kehendaki].”
|
Perasaan
(Emosi) |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
Solusi |
|
8.
Perasaan Kurang (Inferioritas) dan Tiadanya Keberhargaan. |
Bahwa
Anda pada saat sekarang ini tidak memiliki tingkat keterampilan yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang diminta, oleh karena itu Anda
membutuhkan lebih banyak informasi, pemahaman, strategi, sarana, atau rasa
percaya diri. |
1.
Tanyakan pada diri Anda sendiri dengan sederhana: Apakah emosi ini
benar-benar tepat? Apakah saya memang tidak memiliki kecukupan, ataukah saya
yang harus mengubah pemahaman saya terhadap berbagai perkara? 2.
Sambutlah dorongan semangat yang Anda terima untuk meningkatkan kinerja Anda,
dan berkomitmenlah pada kebijakan perbaikan yang berkelanjutan (continuous
improvement). 3.
Carilah sosok teladan (role model) dan dapatkan pelatihan yang
diperlukan. (Sesungguhnya
pengambilan keputusan Anda di sisi ini akan mengubah Anda dari seorang
manusia yang merasa kurang menjadi manusia yang belajar, sebagai ganti dari
perasaan Anda bahwa Anda tidak memiliki daya upaya). |
Perasaan
Kurang: Diperkuat oleh Ketetapan (Keteguhan Hati) (At-Thabat)
Yaitu
tidak menoleransi adanya kekurangan atau kelenyapan akibat keragu-raguan yang
diembuskan oleh orang yang membuat ragu. Keteguhan hati merupakan wujud yang
harus tetap kokoh terpatri di dalam jiwa bagaimanapun kondisinya.
Oleh
karena itulah, seorang muslim wajib mengendalikan diri sekokoh mungkin
bagaimanapun arah angin berembus dan bagaimanapun badai menerpa. Al-Qur'an
telah meminta kita untuk teguh dan tidak merasa kurang di bawah tekanan apa
pun, serta memohon keteguhan kepada Allah dalam perkara-perkara besar maupun
kecil.
Dari
Ibnu Abbas رضي الله
عنهما, bahwasanya ia berkata: Rasulullah ﷺ kerap berdoa:
رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ
، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ ،
وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ هُدَايَ إِلَيَّ ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ ،
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكُ شَاكِرًا ، لَكَ ذَاكِرًا ، لَكَ رَاهِبًا ، لَكَ
مِطْوَاعًا ، إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوْ مُنِيبًا ، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي ،
وَاغْسِلْ حَوْبَتِي ، وَأَجِبْ دَعْوَتِي ، وَثَبِّتْ حُجَّتِي ، وَاهْدِ قَلْبِي
، وَسَدِّدْ لِسَانِي ، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي
“Wahai
Tuhanku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong (musuh) atas diriku,
menangkanlah aku dan jangan Engkau menangkan (musuh) atas diriku, buatlah tipu
daya (yang menyelamatkan) untukku dan jangan Engkau buat tipu daya atas diriku,
berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk-Mu kepadaku, dan menangkanlah aku
atas orang yang berbuat zalim kepadaku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang
banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, takut kepada-Mu, taat
kepada-Mu, tunduk khusyuk kepada-Mu, atau banyak kembali bertobat kepada-Mu.
Wahai Tuhanku, terimalah tobatku, cucilah dosa-dosaku, kabulkanlah doaku,
teguhkanlah hujahku, berilah petunjuk pada hatiku, luruskanlah lisanku, dan
cabutlah kedengkian dari hatiku.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, hasan
shahih] [^6].
Dari
Hani, bekas budak Utsman bin Affan رضي الله عنه, bahwasanya ia berkata: Nabi ﷺ apabila telah selesai
dari menguburkan mayat, beliau berdiri di atasnya lalu bersabda:
اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا
لَهُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ
“Mohonkanlah
ampunan untuk saudara kalian dan mintalah keteguhan untuknya, karena
sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud,
Kitab al-Janaiz, Bab Istighfar di Sisi Kuburan].
Dari
Syaddad bin Aus رضي الله
عنه, bahwasanya ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan
dalam salatnya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ
نِعْمَتِكَ ، وَحُسْنُ عِبَادَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا
صَادِقًا ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ
مَا تَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ
“Ya
Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala urusan, dan
tekad yang kuat di atas kebenaran. Aku memohon kepada-Mu agar dapat mensyukuri
nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik. Aku memohon kepada-Mu hati yang
bersih (selamat) dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa
yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang Engkau
ketahui, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang Engkau ketahui.” [HR.
An-Nasa'i, Kitab as-Sahwu, Bab Macam Doa yang Lain].
Dari
Ali bin Abi Thalib رضي الله
عنه, bahwasanya ia berkata: Rasulullah ﷺ mengutusku ke Yaman, maka aku berkata: "Wahai
Rasulullah, sesungguhnya Engkau mengutusku kepada kaum yang usianya lebih tua
dariku untuk memutuskan perkara di antara mereka." Beliau bersabda:
اذْهَبْ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى
سَيُثَبِّتُ لِسَانَكَ وَيَهْدِي قَلْبَكَ
“Pergilah,
karena sesungguhnya Allah Ta'ala akan meneguhkan lisanmu dan memberi petunjuk
pada hatimu.” [HR. Abu Dawud (3582) dan Ahmad 1/88, shahih] [^7].
Dari
An-Nawwas bin Sam'an al-Kilabi, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا بَيْنَ
إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ ، إِنْ شَاءَ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ
أَزَاغَهُ
“Tidak
ada satu hati pun melainkan ia berada di antara dua jari dari jari-jemari
Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Jika Dia menghendaki, Dia akan meluruskannya,
dan jika Dia menghendaki, Dia akan memalingkannya.”
Dan
Rasulullah ﷺ
kerap mengucapkan:
يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ
قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
“Wahai
Dzat yang meneguhkan hati, teguhkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu.”
Beliau bersabda: “Dan timbangan berada di tangan Ar-Rahman, Dia meninggikan
beberapa kaum dan merendahkan yang lain sampai Hari Kiamat.” [HR. Ibnu
Majah, isnadnya shahih] [^8].
Dari
Al-Bara bin 'Azib رضي الله
عنهما, bahwasanya ia berkata: Nabi ﷺ bersabda mengenai firman Allah Ta'ala: “Allah
meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat.” [Surah Ibrahim: 27], beliau bersabda:
نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ ،
يُقَالُ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ : رَبِّيَ اللَّهُ وَدِينِي دِينُ
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Ayat
ini turun mengenai azab kubur. Dikatakan kepadanya (si mayat): 'Siapa Tuhanmu?'
Maka ia menjawab: 'Tuhanku adalah Allah dan agamaku adalah agama Muhammad ﷺ.' Maka itulah
firman-Nya: 'Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan
yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.'” [HR. An-Nasa'i 3/101,
Ibnu Majah 4269] [^9].
Dari
Abdullah bin Abi Aufa رضي الله
عنهما, bahwasanya ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pada salah satu hari
di saat beliau berhadapan dengan musuh, beliau menunggu hingga ketika matahari
telah condong (tergelincir), beliau berdiri di tengah-tengah mereka lalu
bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا
تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ ، فَإِذَا
لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ
السُّيُوفِ
“Wahai
manusia, janganlah kalian mengharapkan pertemuan dengan musuh dan mintalah
keselamatan (afiyah) kepada Allah. Namun, apabila kalian berhadapan dengan
mereka, maka bersabarlah (teguhlah) dan ketahuilah bahwa surga itu berada di
bawah naungan pedang.” Kemudian Nabi ﷺ berdiri dan berdoa:
اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ
وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا
عَلَيْهِمْ
“Ya
Allah, Dzat yang menurunkan Al-Kitab, yang menjalankan awan, dan yang
mencerai-beraikan pasukan sekutu, kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami atas
mereka.” [HR. Al-Bukhari di dalam Al-Fath dan Muslim] [^10].
Dan
lafaz di sisi Ad-Darimi dari hadis Ibnu Amr berbunyi: “Janganlah kalian
mengharapkan pertemuan dengan musuh dan mintalah keselamatan kepada Allah.
Namun, apabila kalian berhadapan dengan mereka, maka teguhlah dan perbanyaklah
mengingat Allah. Jika mereka mendesak dan berteriak riuh, maka wajib bagi
kalian untuk diam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim] [^11].
|
Perasaan
(Emosi) |
Pesan
yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini |
Solusi |
|
9.
Perasaan Terbebani Berat atau Tenggelam (perasaan duka, depresi,
ketidakberdayaan, serta menganggap bahwa masalah bersifat menyeluruh,
permanen, dan personal, dan apa yang mereka hadapi lebih besar dari kemampuan
mereka untuk menghadapinya). |
Bahwa
Anda perlu mengevaluasi kembali apa yang paling penting bagi Anda. Penyebab
perasaan ini adalah karena Anda mencoba menangani terlalu banyak perkara
dalam waktu yang sama dan saat itu juga, serta ingin mengubah segala sesuatu
dalam waktu semalam.. Perasaan ini mengoyak kehidupan banyak orang. |
1.
Putuskan perkara paling penting yang harus Anda fokuskan sekarang.. Catatlah
perkara-perkara tersebut dan klasifikasikan berdasarkan prioritasnya, yang
mana hal itu memungkinkan Anda merasakan semacam kendali atas apa yang Anda
hadapi. 2.
Mulailah menangani prioritas Anda yang ada di dalam daftar.. Begitu Anda
berhasil, Anda akan mengembangkan momentum (daya dorong) dan pikiran Anda
akan mulai menyadari bahwa Anda mengendalikan situasi, masalah tersebut tidak
permanen, dan Anda mampu menyelesaikannya. 3.
Ketika Anda ingin melepaskan diri dari kesedihan, mulailah berfokus pada apa
yang mampu Anda kendalikan dan selesaikan selangkah demi selangkah, yang mana
hal itu akan membuat Anda merasakan rasa hormat terhadap diri Anda sendiri. |
|
10.
Perasaan Kesepian, Terisolasi, dan Terputus dari Orang Lain. |
Bahwa
Anda perlu membangun ikatan (terhubung) dengan manusia. |
1.
Sadarilah bahwa Anda sebenarnya bisa mengulurkan tangan untuk membangun
hubungan saat ini juga dan mengakhiri perasaan ini, karena di sana dan di
setiap tempat terdapat orang-orang yang menunjukkan rasa simpati dan kasih
sayang. 2.
Tentukan jenis ikatan yang perlu Anda bangun: Apakah Anda menginginkan ikatan
yang erat atau sekadar hubungan pertemanan biasa.. Tentukan kebutuhan riil
Anda. 3.
Eksplorasilah jenis hubungan yang perlu Anda bangun dengan seseorang pada
waktu yang khusus ini, dan segeralah beramal untuk mewujudkannya. 4.
Kemudian ambillah keputusan yang diperlukan saat itu juga untuk
mengeksekusinya. |
Sebab
Manusia itu Hidup Bersama Saudara dan Teman-temannya:
Tidak
ada alasan yang rasional yang mendorong manusia untuk hidup bercerai-berai
saling tidak mengenal. Sebaliknya, alasan-alasan yang tegak di atas logika yang
benar dan emosi yang sehat justru mengarahkan manusia untuk saling mengasihi
satu sama lain, serta merintis bagi mereka sebuah masyarakat yang saling
menanggung (takaful) yang diliputi oleh rasa cinta, dan keamanan pun
membentang luas di atas muka bumi. Allah عز وجل mengembalikan garis
keturunan manusia dan ras mereka kepada dua orang tua (Adam dan Hawa), demi
menjadikan hubungan rahim yang sangat mendesak ini sebagai titik temu di mana
jalinan hubungan saling bertautan dan menguat.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا
خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ
لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Surah Al-Hujurat: 13] [^12].
Maka
saling mengenal (ta'aruf)—bukan saling menjauh (tanafur)—adalah
fondasi hubungan antarmanusia. Terkadang muncul hambatan-hambatan yang
menghalangi jalinan kenal-mengenal yang wajib ini untuk berjalan di alirannya,
serta menghalangi pasokan pengaruh-pengaruh baiknya bagi kehidupan. Di tengah
hiruk-pikuk manusia dalam memperebutkan sumber-sumber rezeki, serta di dalam
perbedaan mereka dalam memahami kebenaran dan menentukan kebaikan, terkadang
tersulut suatu pertikaian dan terjadi benturan. Namun, peristiwa-peristiwa
buruk ini tidak sepatutnya membuat kita melupakan hikmah yang dicari dari
penciptaan manusia dan pemakmuran bumi melalui upaya-upaya mereka yang
harmonis.
Setiap
ikatan yang memperkokoh jalinan saling mengenal ini, serta menyingkirkan
hambatan dari jalannya, merupakan ikatan yang wajib didukung dan dimanfaatkan
karakteristiknya. Islam bukanlah sekadar ikatan yang menghimpun jumlah manusia
yang sedikit atau banyak saja, melainkan ia adalah totalitas hakikat-hakikat
yang menetapkan tatanan yang benar antara manusia dengan Tuhan mereka, kemudian
antara manusia sekalian seluruhnya.
Oleh
karena itu, para pemeluk Islam dan pembawa risalahnya wajib merasakan keagungan
akidah yang dengannya Allah telah melapangkan dada-dada mereka, dan menyatukan
urusan mereka di atasnya, serta memberikan perhatian dan pemuliaan yang layak
terhadap jalinan saling mengenal di atas akidah tersebut. Sesungguhnya itu
adalah jalinan kenal-mengenal yang memperbarui apa yang telah usang dari
kekerabatan bersama di antara makhluk, serta menegaskan hubungan kebapakan
materi yang berujung pada Adam dengan hubungan kebapakan spiritual yang merujuk
pada ajaran-ajaran agama yang terangkum dalam risalah Islam. Dengan demikian,
agama yang murni ini menjadi fondasi bagi persaudaraan yang ikatannya teramat
kokoh, yang menyatukan para pengikutnya di timur bumi dan baratnya, serta
menjadikan mereka—terlepas dari perbedaan tempat dan zaman—sebagai satu
kesatuan yang fondasinya kukuh dan bangunannya menjulang tinggi, tidak dapat
digoyahkan oleh badai yang mengamuk.
Persaudaraan
ini adalah roh dari iman yang hidup, dan inti dari perasaan lembut yang
dipendam oleh seorang muslim untuk saudara-saudaranya, hingga seolah-olah ia
hidup bersama mereka dan hidup untuk mereka. Mereka seakan-akan merupakan
dahan-dahan yang tumbuh dari satu pohon besar yang rimbun, atau satu roh yang
bersemayam di dalam tubuh yang banyak.
Sesungguhnya
sifat egois (al-atsarah) yang mendominasi adalah penyakit bagi manusia
dan monster bagi keutamaan-keutamaannya. Jika kecenderungannya telah menguasai
seseorang, ia akan melenyapkan kebaikannya dan menumbuhkan keburukannya, serta
mengurungnya dalam ruang lingkup yang sempit lagi rendah, di mana ia tidak
mengenali kecuali person dirinya sendiri; ia tidak tergerak oleh kegembiraan
atau kesedihan melainkan hanya karena kebaikan atau keburukan yang menyentuh
dirinya. Adapun dunia yang luas, dan ribuan manusia yang berhimpun, ia tidak
mengenali mereka kecuali dalam batas apa yang sampai kepadanya melalui
perantara mereka demi mewujudkan cita-citanya atau memicu kekhawatirannya.
Islam
telah memerangi sifat egois yang zalim ini dengan persaudaraan yang adil, dan
memberikan pemahaman kepada manusia bahwa kehidupan ini bukan miliknya seorang
diri, dan kehidupan tidak akan menjadi baik dengan dirinya sendirian saja.
Hendaklah ia mengetahui bahwa di sana ada orang-orang yang sepertinya; jika ia
mengingat haknya atas mereka dan kemaslahatannya yang ada pada mereka, maka
hendaklah ia mengingat hak-hak mereka atas dirinya dan kemaslahatan mereka yang
ada pada dirinya. Mengingat hal itu akan mencabut seseorang dari egois
kecilnya, dan mendorongnya untuk merasakan kondisi orang lain di saat ia
merasakan kondisi dirinya sendiri, sehingga ia tidak berbuat berlebihan dan
tidak merampas hak orang lain.
Termasuk
hak saudaramu atas dirimu adalah kamu membenci kemudaratan menimpanya, dan kamu
bersegera untuk menolaknya. Jika ia ditimpa oleh sesuatu yang menyakitinya,
kamu pun turut berserikat merasakan kepedihan tersebut dan merasakan kesedihan
bersamanya. Adapun jika kamu menjadi orang yang mati rasa emosinya lagi sedikit
kepeduliannya—karena musibah tersebut terjadi jauh darimu sehingga perkara itu
tidak merisaukanmu—maka ini merupakan tindakan yang culas. Tindakan ini
terputus sama sekali dari perasaan persaudaraan yang melimpah, yang membaur di
antara jiwa-jiwa kaum muslimin sehingga membuat seorang lelaki merintih
kesakitan atas kepedihan yang menimpa saudaranya. Hal ini membenarkan sabda
Rasulullah ﷺ:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي
تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى
مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan
kaum mukminin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling
mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh; apabila ada salah satu
anggota tubuh yang mengaduh sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain akan
ikut berjaga tidak tidur dan merasakan demam.” [HR. Al-Bukhari] [^13].
Dan
rasa sakit yang sebenarnya adalah rasa sakit yang mendorongmu dengan kuat untuk
menyingkap kesempitan saudara-saudaramu, sehingga kamu tidak akan tenang sampai
kedukaannya lenyap dan kegelapannya diusir pergi. Jika kamu berhasil dalam hal
itu, niscaya wajahmu akan bersinar terang dan hati nuranimu akan merasa tenang.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا
يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ
فِي حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ
بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا
سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Seorang
muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzaliminya dan tidak
menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa yang menolong kebutuhan saudaranya,
maka Allah akan menolong kebutuhannya. Barang siapa yang melapangkan satu
kesusahan dari seorang muslim, maka Allah akan melapangkan darinya satu
kesusahan dari kesusahan-kesusahan di Hari Kiamat. Dan barang siapa yang
menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) di Hari
Kiamat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim] [^14].
Termasuk
dari tanda-tanda persaudaraan yang mulia adalah kamu menyukai kemanfaatan bagi
saudaramu, dan kamu merasa gembira atas sampainya manfaat itu kepadanya
sebagaimana kamu bersuka cita atas manfaat yang sampai kepada dirimu sendiri.
Jika kamu bersungguh-sungguh dalam mewujudkan kemanfaatan ini, maka
sesungguhnya kamu telah mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan yang
paling suci dan paling berlimpah pahalanya.
Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas bahwasanya ia sedang beriktikaf di masjid Rasulullah, lalu
seorang lelaki mendatangi dan mengucapkan salam kepadanya kemudian duduk. Ibnu
Abbas berkata kepadanya: "Wahai Fulan, aku melihatmu tampak lesu lagi
sedih." Ia menjawab: "Benar, wahai putra paman Rasulullah. Si
Fulan memiliki hak klaim (utang) atas diriku, dan demi kehormatan penghuni
kuburan ini (Rasulullah), aku tidak mampu membayarnya!"
Ibnu
Abbas berkata: "Apakah mau aku bicarakan dengannya mengenai
dirimu?" Ia menjawab: "Jika Anda berkenan." Maka Ibnu
Abbas pun memakai alas kakinya lalu keluar dari masjid. Lelaki itu berkata
kepadanya: "Apakah Anda lupa dengan ibadah (iktikaf) yang sedang Anda
lakukan?" Ibnu Abbas menjawab: "Tidak, akan tetapi aku pernah
mendengar penghuni kuburan ini, dan masanya belum lama berlalu—kedua matanya
pun berlinang air mata—beliau bersabda: 'Barang siapa yang berjalan untuk
menolong kebutuhan saudaranya, dan ia berhasil menuntaskannya, maka hal itu
lebih baik baginya daripada iktikaf selama sepuluh tahun. Dan barang siapa yang
beriktikaf satu hari demi mengharap rida Allah Ta'ala, niscaya Allah akan
menjadikan antara dirinya dengan api neraka tiga parit yang jaraknya lebih jauh
daripada jarak antara timur dan barat (cakrawala).'" [HR. Al-Baihaqi]
[^15]. Dan di dalam sebuah riwayat disebutkan: "Setiap parit jaraknya
lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat."
Hadis
ini menggambarkan bagaimana Islam memuliakan jalinan persaudaraan yang indah,
serta apresiasinya yang tinggi terhadap berbagai macam khidmat masyarakat
(pelayanan publik) yang dibutuhkan oleh komunitas demi memancangkan
pilar-pilarnya dan menjaga bangunannya.
Ibnu
Abbas lebih memilih untuk meninggalkan iktikafnya. Padahal iktikaf adalah
ibadah murni yang kedudukannya sangat tinggi di sisi Allah karena ia merupakan
penenggelaman diri dalam salat, puasa, dan zikir, terlebih lagi itu dilakukan
di masjid Rasulullah ﷺ,
di mana pahala dilipatgandakan seribu kali lipat di atas masjid-masjid lainnya.
Meskipun
demikian, pemahaman fikih Ibnu Abbas di dalam Islam membuatnya meninggalkan hal
itu demi mempersembahkan pelayanan kepada seorang muslim yang meminta
pertolongan; demikianlah yang ia pelajari dari Rasulullah ﷺ.
Sesungguhnya
beban dunia ini amatlah besar, dan kemalangan turun menimpa manusia layaknya
hujan yang lebat, sehingga menggenangi tanah yang subur maupun tanah yang
tandus. Dan manusia sendirian terlalu lemah untuk dapat berdiri lama menghadapi
cobaan-cobaan berat ini. Kalaupun ia mampu berdiri, ia pasti telah mencurahkan
upaya yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan seandainya saudara-saudaranya
bergegas menolongnya dan menyokongnya dalam menyukseskan tujuannya. Ada sebuah
pepatah mengatakan: "Seseorang itu bernilai sedikit jika sendirian,
namun menjadi bernilai banyak bersama saudara-saudaranya."
Dan
termasuk hak persaudaraan adalah seorang muslim merasakan bahwa
saudara-saudaranya adalah penyokong baginya di waktu lapang maupun sempit, dan
kekuatannya tidak bergerak di dalam kehidupan ini sendirian. Melainkan,
kekuatan kaum mukminin akan saling mendukung dan memperkuat tekadnya.
Dan
Rasulullah ﷺ
bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ
كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang
mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan, satu sama lain
saling menguatkan.” [HR. Al-Bukhari] [^16].
Oleh
karena itulah, persaudaraan yang tulus merupakan nikmat yang berlipat ganda;
bukan sekadar nikmat keselarasan spiritual saja, melainkan nikmat kerja sama
yang bersifat materi pula.
Allah
عز وجل telah mengulang-ulang
penyebutan nikmat ini berkali-kali dalam satu ayat:
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ
عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم
بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-mewuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” [Surah Ali 'Imran: 103] [^17].
Dan
persaudaraan agama mewajibkan adanya aksi saling menolong (tanashur) di
antara kaum muslimin; bukan tolong-menolong atas dasar fanatisme buta (ashabiyah),
melainkan tolong-menolong kaum mukminin yang melakukan perbaikan demi
menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, mencegah orang yang berbuat
zalim, serta melindungi orang yang dirampas haknya. Maka tidak boleh membiarkan
seorang muslim berjuang sendirian di medan pertempuran, melainkan harus berdiri
di sampingnya dalam kondisi apa pun; untuk membimbingnya jika ia sesat,
mencegahnya jika ia melampaui batas, membelanya jika ia diserang, dan bertempur
bersamanya jika kehormatannya dihalalkan.. Dan itulah makna saling menolong
yang diwajibkan oleh Islam.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ
مَظْلُومًا . قَالَ : أَنْصُرُهُ مَظْلُومًا ، فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ ظَالِمًا ؟
قَالَ : تَحْجُزُهُ عَنْ ظُلْمِهِ فَذَلِكَ نَصْرُهُ
“Tolonglah
saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi.” Seseorang bertanya: “Aku
menolongnya jika ia dizalimi, lalu bagaimana cara menolongnya jika ia berbuat
zalim?” Beliau bersabda: “Kamu mencegahnya dari kezalimannya, maka itulah cara
menolongnya.” [HR. Al-Bukhari] [^18].
Sesungguhnya
menelantarkan (khidzlan) seorang muslim adalah perkara yang sangat
besar, dan ia—jika sampai terjadi—menjadi pintu pembuka bagi penelantaran
seluruh kaum muslimin. Sebab, hal itu akan melenyapkan karakter harga diri dan
kepahlawanan di antara mereka, dan orang yang dizalimi akan tunduk, baik suka
maupun terpaksa, terhadap ketertindasan yang menimpanya.. Kemudian ia akan
menyendiri menjauh, dan terputuslah tali persaudaraan antara dirinya dengan
orang-orang yang telah menelantarkannya.
Kaum
muslimin telah menjadi hina secara individu, dan menjadi hina secara umat pada
hari ketika ikatan persaudaraan di antara mereka melemah, dan salah seorang di
antara mereka memandang yang lain dengan pandangan asing dan pengingkaran.
Seorang saudara dilecehkan di hadapan saudaranya sendiri, lalu saudaranya itu
hanya mengedikkan bahu dan berlalu pergi mengurus urusannya sendiri,
seolah-olah perkara itu tidak merisaukan dirinya!
Sesungguhnya
sikap saling menelantarkan ini menyeret kaum muslimin ke dalam kehinaan dan
aib, dan Islam telah memeranginya dengan peperangan yang sengit serta melaknat
orang-orang yang mendekam di bawah naungannya yang gelap lagi nista.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
لَا يَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ مَوْقِفًا
يُضْرَبُ فِيهِ رَجُلٌ ظُلْمًا ، فَإِنَّ اللَّعْنَةَ تَنْزِلُ عَلَى مَنْ
حَضَرَهُ حِينَ لَمْ يَدْفَعُوا عَنْهُ
“Janganlah
sekali-kali salah seorang di antara kalian berdiri di suatu tempat yang di
dalamnya ada seorang lelaki dipukuli secara zalim, karena sesungguhnya laknat
akan turun kepada orang yang menghadirinya ketika mereka tidak membelanya.”
[HR. At-Thabrani] [^19].
Maka
apabila kamu melihat suatu perlakuan buruk menimpa saudaramu atau suatu
penghinaan terjadi atasnya, maka perlihatkanlah dari dirimu kesiapan untuk
menyokongnya, dan berjalanlah bersamanya hingga kebenaran dapat diraih
bersamamu dan kezaliman dapat ditolak.
Diriwayatkan
dari Nabi ﷺ:
مَنْ مَشَى مَعَ مَظْلُومٍ حَتَّى
يُثْبِتَ لَهُ حَقَّهُ ثَبَّتَ اللَّهُ قَدَمَيْهِ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ
تَزِلُّ الْأَقْدَامُ
“Barang
siapa yang berjalan bersama orang yang dizalimi hingga ia berhasil menegakkan
haknya, niscaya Allah akan meneguhkan kedua kakinya di atas jembatan (shirat)
pada hari di mana kaki-kaki terpeleset.” [HR. Al-Asbahani] [^20].
Catatan
Kaki Teks Asli:
[^1]:
Al-Bukhari – Al-Fath 11/(6308) dan lafaz ini miliknya, dan Muslim (3744).
[^2]:
Ibnu Majah (4348) dan di dalam Az-Zawaid: Isnad ini hasan, guru Ibnu Majah
diperselisihkan sedangkan perawi lainnya tsiqat. Al-Iraqi berkata dalam Takhrij
al-Ihya (4/13): Isnadnya hasan. Dan menyebutkannya dalam At-Targhib wa
At-Tarhib (4/90) dengan mengatakan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad
yang jayyid.
[^3]:
Al-Bukhari – Al-Fath 11 (6439), Muslim (1048).
[^4]:
Disebutkan dalam At-Targhib wa At-Tarhib (4/89) dan ia berkata: Diriwayatkan
oleh Abu Ya'la dan At-Thabrani dengan isnad yang jayyid.
[^5]:
Muslim (2703).
[^6]:
Abu Dawud dan At-Tirmidzi, hasan shahih.
[^7]:
Abu Dawud (3582) dan Ahmad 1/88, shahih.
[^8]:
Ibnu Majah, isnadnya shahih.
[^9]:
An-Nasa'i 3/101, Ibnu Majah 4269.
[^10]:
Al-Bukhari di dalam Al-Fath dan Muslim.
[^11]:
Al-Bukhari dan Muslim.
[^12]:
Surah Al-Hujurat: Ayat 13. (Catatan teks asli tertulis ayat 11, namun yang
benar ayat 13).
[^13]:
Al-Bukhari.
[^14]:
Al-Bukhari dan Muslim.
[^15]:
Al-Baihaqi.
[^16]:
Al-Bukhari.
[^17]:
Surah Ali 'Imran: 103.
[^18]:
Al-Bukhari.
[^19]:
At-Thabrani.
[^20]:
Al-Asbahani.
Penerapan
Praktis dari Tujuan dan Nilai Materi Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut:
Pertama:
Aktivitas Pendamping (Utama):
- Berbicara di depan
rekan-rekannya tentang pentingnya "Enam Langkah Menuju Keunggulan
Emosional" secara gamblang dan terperinci.
- Merangkum nilai-nilai serta
informasi yang ia serap dari materi tersebut, lalu mencatatnya di selembar
kertas.
- Berdiskusi bersama
rekan-rekannya mengenai apa yang dimaksud dengan "Sepuluh Sinyal
Tindakan".
- Memberikan contoh-contoh
yang relevan dari kehidupan Rasulullah ﷺ, para rasul عليهم
السلام, dan para sahabat yang mulia.
Kedua:
Aktivitas Pendukung:
- Meminta bantuan para pakar
psikologi dan pendidikan untuk menyusun rangkaian pertanyaan berupa
kuesioner atau sejenisnya, guna menyingkap hakikat diri dan
kecenderungannya.
- Mengelola sebuah seminar
mengenai cara manusia menyikapi emosi serta menjelaskan metode terbaiknya.
- Menyusun sebuah dialog
(skenario wawancara/diskusi) tentang pengaruh kata-kata dalam mengubah
jiwa seseorang, dengan menyebutkan contoh-contoh dari sejarah maupun
realitas saat ini.
- Mengadakan diskusi yang
terarah dengan orang-orang yang diundangnya mengenai pentingnya
memanfaatkan emosi dan perasaan demi meraih keunggulan emosional.
- Menyampaikan sebuah ceramah
(kultum/kuliah umum) mengenai sifat santun (al-hilm) dan tidak
tergesa-gesa (al-anah).
- Menulis sebuah cerita
pendek yang menggambarkan tentang bahaya/penyakit lisan dan bahaya marah.
- Menyusun daftar pertanyaan
dan dialog seputar topik-topik yang ada di dalam buku.
- Mengamati sejauh mana
perilaku seseorang selaras dengan apa yang telah ia serap dari proses
mempelajari konten materi.
- Memantau tingkat
partisipasi individu dalam aktivitas-aktivitas pendamping.
- Mengadakan tes sumatif (uji
capaian) seputar konten ilmiah materi.
- Melakukan wawancara pribadi
untuk mengukur tingkat pemahaman para peserta didik.
- Menyebarkan kuesioner untuk
mengetahui capaian yang telah diperoleh.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri:
Pertama:
Pertanyaan Esai (Uraian):
- Sebutkan manfaat-manfaat
yang dihasilkan dari penggunaan optimal langkah-langkah keunggulan
emosional!
- Bagaimana cara Anda
menginvestasikan emosi Anda dan memanfaatkannya?
- Kapan waktu yang paling
tepat dan terbaik untuk menangani jenis emosi apa pun?
- Apa hubungan antara
"Enam Langkah Menuju Keunggulan Emosional" dan "Sepuluh
Sinyal Tindakan"?
- Mengapa banyak orang
menghindari emosi-emosi utama atau "Sepuluh Sinyal Tindakan"?
- Tentukan pesan
neurologis-emosional yang terpancar dari masing-masing perasaan berikut:
Keresahan (Ketidaknyamanan) – Ketakutan – Kemarahan!
- Sebutkan model-model dan
situasi yang menunjukkan kesabaran Rasulullah ﷺ serta
pengendalian diri beliau!
- Apa solusi yang diusulkan
untuk emosi berupa rasa optimisme dan pemanfaatan nilai?
- Pilihlah tiga jenis emosi
dan perasaan berikut ini, lalu tulislah pesan yang terpancar darinya:
- Perasaan: ...........
Pesan yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
- Frustrasi: ...........
Pesan yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
- Marah: ........... Pesan
yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
- Keresahan (Terganggu):
........... Pesan yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
- Ketakutan: ...........
Pesan yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
- Kemarahan adalah suatu
penyakit yang memiliki banyak bahaya. Apakah hakikat dari bahaya-bahaya
ini serta dampaknya terhadap individu dan masyarakat?
Kedua:
Pertanyaan Objektif:
- Bacalah paragraf berikut ini
dan lengkapilah berdasarkan pemahaman Anda terhadap materi:
- "Masa Jahiliyah yang
diobati dan dihapuskan oleh Rasulullah ﷺ tegak di atas
dua jenis kebodohan (جهالة)."
- "Kebodohan yang
menjadi lawan dari ilmu, dan kebodohan yang menjadi lawan dari sifat
santun (al-hilm). Jenis yang pertama kita hapuskan kegelapannya
dengan [.....], sedangkan jenis yang kedua kita tahan kezalimannya
dengan [.....]."
- Rasulullah ﷺ membagi manusia
dalam hal kemarahan menjadi empat golongan, yaitu:
- Orang yang lambat marah
namun cepat mereda.
- Orang yang cepat marah
namun cepat mereda.
- Orang yang lambat marah
namun cepat mereda [.....] dan mereka adalah yang terbaik.
- Orang yang cepat marah
namun cepat mereda [.....] dan mereka adalah yang terburuk.
- Persaudaraan (al-ukhuwwah)
adalah solusi terbaik untuk mengatasi perasaan [.....]. Dan di
antara manfaat pentingnya adalah:
- [.....]
- [.....]
Catatan-Catatan
Penting:
- Pertanyaan evaluasi dan
pengukuran mandiri di atas—baik jenis esai maupun objektif—berfungsi untuk
mengukur dan mengevaluasi tujuan perilaku prosedural pada ranah
kognitif beserta tingkatan-tingkatannya. Hal ini dikenal sebagai
evaluasi dan pengukuran capaian belajar atau tes prestasi belajar.
- Evaluasi dan pengukuran tujuan
afektif (sikap) dilakukan melalui pengamatan guru terhadap
ketertarikan, respons, keseriusan, kesungguhan, antusiasme, serta
pengejawantahan para peserta didik terhadap apa yang telah mereka
pelajari, sekaligus sejauh mana mereka telah mencapai tahapan proses
interaktif tersebut.
- Evaluasi dan pengukuran tujuan
psikomotorik (keterampilan) dilakukan dengan mengamati tingkat kinerja
peserta didik dalam keterampilan yang menjadi target melalui keterampilan
berbicara, menulis, dan praktik langsung.
- Evaluasi dan pengukuran
aktivitas dilakukan melalui observasi terhadap interaksi dan kinerja
peserta didik dalam aktivitas pendamping selama sesi berlangsung.
Aktivitas tersebut bersifat sebagai penyokong, penguat, dan pemantap, di
mana setiap peserta didik memilih aktivitas yang sesuai untuk mereka
lakukan selama hari-hari dalam seminggu.
- Pengukuran dan evaluasi
yang menggunakan metode observasi dan pemantauan agar dapat mencapai
tujuannya secara efektif, harus dilakukan melalui Lembar Observasi dan
Pemantauan. Lembar ini mencantumkan daftar hal-hal yang ingin diukur
dan dievaluasi, di mana pada setiap target disediakan kolom penilaian
berjenjang dari skala (0) sampai (5). Skala (0 dan 1) berarti Kurang, (2)
berarti Cukup, (3) berarti Baik, (4) berarti Baik Sekali, dan (5) berarti
Istimewa (Sangat Baik). Formatnya adalah seperti lembar berikut ini:
Lembar
Evaluasi Interaksi dan Kinerja (Observasi dan Pemantauan)
|
No |
Hal-Hal
yang Ingin Dievaluasi dari Peserta Didik |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
Kurang |
Kurang |
Cukup |
Baik |
Baik
Sekali |
Istimewa |
||
|
1 |
Perhatian
dan ketertarikannya: secara kepedulian, keseriusan, dan antusiasme |
||||||
|
2 |
Respons
dan ketaatannya |
||||||
|
3 |
Penerapan
nilai-nilai pada dirinya |
||||||
|
4 |
Kinerjanya
dalam aktivitas pendamping (utama) |
||||||
|
5 |
Kinerjanya
dalam aktivitas pendukung |
||||||
|
6 |
Kinerjanya
di dalam kelompok/bagiannya |
||||||
|
7 |
Kehadirannya
dalam pertemuan-pertemuan |
||||||
|
8 |
Persiapan
mental/pikirannya |
||||||
|
9 |
Penyampaian
materi/sesinya |
||||||
|
10 |
Pembayaran
iuran untuk koperasi karyawan |
||||||
|
11 |
Sifat
kedermawanan dan pengorbanan (al-badzl wa at-tadhhiyah) |
Referensi
Belajar Mandiri:
- The Power of Self-Esteem
(Kekuatan Harga Diri) – Samuel A. Cypert
- The Power of Your
Subconscious Mind (Kekuatan Pikiran Bawah Sadar Anda) – Joseph Murphy
- Shaid al-Khatir
(Buruan Pikiran) – Ibnu al-Jauzi
- Al-Jawab al-Kafi
(Jawaban yang Memadai) – Ibnu al-Qayyim
- 'Uyun al-Akhbar
(Mata Air Berita) – Ibnu Qutaibah
- Al-Iman wa al-Hayah
(Iman dan Kehidupan) – Al-Qaradhawi
- Siyar A'lam an-Nubala
(Biografi Tokoh-Tokoh Mulia) – Adz-Dzahabi
- Shina'at an-Najah
(Industri Kesuksesan)
- Unlimited Power
(Kemampuan Tanpa Batas) – Anthony Robbins
- Madarij as-Salikin
(Tahapan-Tahapan Para Salik) – Ibnu al-Qayyim
- Sawanih wa Ta'ammulat fi
Qimat al-Waqt (Lintasan Pikiran dan Renungan tentang Nilai Waktu)
- The Art of Time
Management (Seni Manajemen Waktu) – Diterjemahkan oleh Bait al-Afkar
- An-Najah Rihlah
(Sukses adalah Sebuah Perjalanan) – Khalil Saqr
- First Things First /
Priority Management (Manajemen Prioritas) – Stephen Covey
(Diterjemahkan oleh Dr. El-Sayed Metwalli Hassan, Penerbit Jarir)
Comments
Post a Comment