Pasal 10: Langkah Untuk Meningkatkan Kemampuan Emosi Anda

BAB SEPULUH: ENAM LANGKAH MENUJU KEUNGGULAN EMOSIONAL

Tujuan Umum:

  1. Mengenali emosi, memahaminya, mengetahui pentingnya, serta sarana-sarana untuk menginvestasikannya.
  2. Memahami bukti-bukti keunggulan emosional dalam kisah para nabi, rasul, dan hamba-hamba Allah yang saleh.
  3. Memperoleh keterampilan dalam menyikapi enam langkah menuju keunggulan emosional.

Tujuan Perilaku Instruksional Tema:

Setelah selesainya proses pembelajaran tema ini, peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan hal-hal berikut:

Pertama: Tujuan Kognitif:

  1. Mengenali emosinya, mengetahui tingkat kepentingannya, dan menginvestasikannya dalam mematahkan pola-pola negatif yang ada pada dirinya.
  2. Menyimpulkan pentingnya mengambil manfaat dari peningkatan emosi dalam pembentukan pola baru bagi dirinya.
  3. Menyebutkan langkah-langkah menuju keunggulan emosional.
  4. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Sepuluh Sinyal Tindakan.
  5. Menerangkan konsep tiga sinyal dari Sinyal Tindakan beserta pemberian contoh untuk masing-masing sinyal tersebut.
  6. Menggali contoh-contoh dari kehidupan Rasulullah untuk mengatasi sifat malas dan lemah/tidak berdaya.
  7. Memastikan kemampuannya dalam mendayagunakan perilaku dan emosinya untuk hal-hal yang mendukung tujuan dan dakwahnya.
  8. Menyebutkan dua ayat dan dua hadis yang masing-masing memuji sikap sabar, berhati-hati (at-ta'anni), dan kemurahan hati/menahan diri (al-hilm).
  9. Mengamati sikap-sikap Rasulullah serta cara beliau dalam menyikapi kesombongan/kebebalan kaum jahiliyah, lalu mengambil manfaat dari hal tersebut di dalam dakwahnya.
  10. Membedakan antara dua jenis kebodohan/kejahilan (kejahilan yang merupakan lawan dari ilmu, dan kejahilan yang merupakan lawan dari sifat hilm/menahan diri, serta metode-metode penanganannya).
  11. Merangkum bab ini dengan rangkuman yang memadai serta tetap menjaga kandungan materi dan ide-ide pokoknya.
  12. Membuktikan pentingnya persaudaraan (ukhuwah) serta dampaknya bagi individu dan masyarakat.
  13. Menghitung hadis-hadis dan ayat-ayat yang memotivasi untuk menjaga persaudaraan beserta hak-haknya.
  14. Menghubungkan antara emosi dan perasaannya dengan tujuan-tujuannya.

Kedua: Tujuan Afektif (Sikap):

  1. Fokus pada perasaan-perasaan positifnya dan mengambil manfaat darinya.
  2. Berkomitmen untuk menginvestasikan emosinya dengan investasi yang paling optimal.
  3. Mengendalikan perasaan dan emosinya untuk menghadapi tantangan apa pun.
  4. Percaya pada kemampuan dirinya untuk menyikapi emosi apa pun dengan sukses.
  5. Berlatih membentuk pola barunya serta mengulangnya berulang kali.
  6. Mengarahkan emosinya sejak awal kemunculan perasaan tersebut.
  7. Menghindari emosi dan perasaan negatif seperti rasa takut, sesak dada (stres), dan rasa bosan.
  8. Mengutamakan sifat hilm (menahan diri/sabar) dan at-ta'anni (berhati-hati/tidak tergesa-gesa) dalam berinteraksi dengan orang lain.
  9. Meneladani dan mengikuti contoh Rasulullah dalam hal kesabaran dan sifat hilm-nya.
  10. Menunjukkan kecenderungan sikap yang positif terhadap kejahilan ilmu maupun kejahilan sifat hilm.
  11. Menolak akhlak dan pelampiasan nafsu jahiliyah seperti rasa ujub (bangga diri), teperdaya (gurur), sombong (kibar), dan lain sebagainya.
  12. Antusias untuk bersahabat dengan orang-orang saleh dan duduk di majelis mereka. (Catatan: Pada teks asli terjadi salah penomoran dari 11 langsung ke 13)
  13. Menjadi sukarelawan untuk amal-amal kebaikan dan melayani saudara-saudaranya.
  14. Mengurutkan Sepuluh Sinyal Tindakan berdasarkan tingkat kepentingannya, sesuai dengan kegunaannya di dalam kehidupannya.

Ketiga: Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):

  1. Berlatih menggunakan pola baru yang telah ia siapkan untuk dirinya sendiri dan sering mengulangnya.
  2. Mempraktikkan enam langkah menuju keunggulan emosional dengan praktik yang benar.
  3. Menggunakan Sepuluh Sinyal Tindakan agar memampukannya mendorong diri sendiri untuk mengambil tindakan tertentu.
  4. Mengulang setiap tindakan yang ia lakukan hingga tindakan tersebut menjelma menjadi keterampilan yang ia gunakan untuk mengubah kondisinya.
  5. Menerapkan apa yang telah ia pelajari berupa tindakan nyata ke dalam kehidupannya dan seluruh urusannya.
  6. Berbicara mengenai pentingnya mengambil manfaat dari emosi dan perasaan demi mewujudkan kemajuan di segala bidang.
  7. Menulis sebuah laporan yang mencakup sikap-sikap dan potret dari kehidupan Rasulullah beserta para sahabat dalam hal ketenangan, kehati-hatian, dan pengendalian diri.
  8. Mencatat dampak buruk yang timbul akibat dari perbuatan melaknat, mencaci-maki, dan marah, serta pengaruh hal tersebut bagi individu dan masyarakat.
  9. Merangkum seluruh nilai, sikap perilaku, dan nilai Islami yang terdapat di dalam tema ini agar bermanfaat bagi dirinya, orang bersamanya, dan orang-orang yang didakwahinya.

Materi Ilmiah:

Dan untuk mematahkan pola-pola yang membatasi kemampuan-kemampuanku, untuk mengenali manfaat-manfaat dari emosi tersebut, serta agar aku menempatkan diriku pada level tertentu yang memungkinkanku di masa depan untuk memetik pelajaran dari emosi-emosi yang aku rasakan dan melenyapkan rasa sakit dengan kecepatan yang lebih tinggi, (maka lakukanlah hal berikut):

  1. Tentukan apa yang benar-benar Anda rasakan secara tepat. Mulailah menaruh emosi Anda ke dalam posisi dipertanyakan, karena dengan begitu Anda mungkin akan mampu meredakan intensitasnya.. Dan ingatlah selalu kekuatan dari Kamus Transformasional.
  2. Kenali emosi Anda dan pahamilah ia sembari Anda menyadari bahwa emosi tersebut adalah penopang/pendukung bagi Anda. Investasikan perasaan berupa pemahaman terhadap seluruh emosi Anda, maka akan tampak jelas bagi Anda bahwa emosi tersebut akan langsung mereda seketika itu juga, layaknya seorang anak kecil yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.
  3. Sikapilah pesan yang dihadirkan oleh emosi tersebut kepada Anda dengan rasa ingin tahu (penasaran/curious). Sebab di dalam rasa ingin tahu tersebut terdapat penonaktifan seketika terhadap pola emosi apa pun. Rasa ingin tahu ini juga membantu Anda dalam mengendalikannya, menghadapi tantangan, dan mencegah masalah itu sendiri terjadi lagi di masa depan. Sebagai contoh, jika Anda merasa kesepian, maka tanyalah kepada diri Anda sendiri: "Jika aku menunjukkan kepada mereka bahwa aku ingin mengunjungi mereka, bukankah mereka juga akan berkeinginan untuk mengunjungiku?"
  4. Persenjatai diri Anda dengan rasa percaya diri bahwa Anda bisa menyikapi emosi ini seketika itu juga. Misalnya dengan mengingat bahwa emosi yang sama persis pernah melewati Anda sebelumnya, dan Anda terbukti mampu melewati serta menyikapinya dengan sukses.
  5. Pastikan bahwa Anda mampu mengatasinya, tidak hanya untuk saat ini saja melainkan untuk masa depan juga.
  6. Cobalah untuk bergerak maju dan melakukan tindakan yang diperlukan. Berlatihlah menggunakan pola baru Anda dan ulangilah berulang kali.. Dan ingatlah bahwa waktu terbaik untuk mengatasi suatu emosi adalah di saat awal mula Anda merasakannya.. Bunuhlah monster itu selagi masih di dalam buaian.

Sepuluh Sinyal Tindakan:

Anda dapat mengubah sebagian besar emosi dengan cara bersandar pada enam langkah sebelumnya. Akan tetapi, untuk menjaga diri Anda agar tidak perlu sampai menggunakan enam langkah tersebut, Anda mungkin akan mendapati bahwa memiliki pemahaman yang sadar terhadap pesan positif yang coba disampaikan oleh emosi-emosi utama Anda (atau Sinyal Tindakan Anda) adalah hal yang sangat bermanfaat.

Berikut adalah sepuluh emosi utama yang coba dihindari oleh sebagian besar manusia, padahal Anda justru bisa menggunakannya agar memampukan Anda mendorong diri Anda sendiri untuk mengambil suatu tindakan:

Perasaan (Emosi)

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

Solusi

1. Rasa Terusik (Rasa bosan / habis kesabaran / sesak dada / duka / canggung)

Ada sesuatu yang tidak sepenuhnya beres; mungkin cara Anda memandang berbagai hal atau tindakan-tindakan yang Anda lakukan.

1. Gunakan keterampilan terdahulu untuk mengubah kondisi Anda.

2. Jelaskan apa yang Anda inginkan.

3. Perbaiki apa yang Anda lakukan, cobalah pendekatan yang berbeda, atau ubahlah kualitas hasil yang Anda capai.

 

Perasaan (Emosi)

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

Solusi

2. Rasa Takut

Ekspektasi akan terjadinya sesuatu dalam waktu dekat yang mengharuskan adanya persiapan untuk menghadapinya.

1. Tinjau kembali penyebab rasa takut (sebagian besar ketakutan yang menghadang kita di dalam kehidupan sering kali tidak menjadi kenyataan.. namun jika terjadi, Anda akan menjalani pengalaman tersebut).

2. Evaluasi apa yang harus Anda lakukan untuk mempersiapkan diri Anda secara mental.

3. Gunakan obat penawar rasa takut, yaitu mengambil keputusan untuk memiliki rasa percaya diri dan keyakinan.

 

Dahulu Rasulullah senantiasa memohon perlindungan dengan mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بكَ مِنَ الهَمِّ والحَزَنِ، وأَعُوذُ بكَ مِنَ العَجْزِ والكَسَلِ، وأَعُوذُ بكَ مِنَ الجُبْنِ والبُخْلِ، وأَعُوذُ بكَ مِن غَلَبَةِ الدَّيْنِ وقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang serta kesewenang-wenangan manusia.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Bab Shalat mengenai Memohon Perlindungan].

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” [Surah At-Taghabun: 11].

Rasulullah bersabda:

لَا يَكُنْ أَحَدُكُمْ إِمَّعَةً، يَقُولُ: أَنَا مَعَ النَّاسِ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنْتُ، وَإِنْ أَسَاءُوا أَسَأْتُ، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا أَنْ تَجْتَنِبُوا إِسَاءَتَهُمْ

“Janganlah salah seorang di antara kalian menjadi imma'ah (ikut-ikutan tanpa prinsip), dengan mengatakan: 'Aku bersama orang banyak, jika orang-orang berbuat baik maka aku pun berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk maka aku pun berbuat buruk.' Akan tetapi, mantapkanlah diri kalian; jika orang-orang berbuat baik hendaklah kalian berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk hendaklah kalian menjauhi keburukan mereka.” [HR. At-Tirmidzi].

وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا ۚ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang bertawakal berserah diri.” [Surah Ibrahim: 12].

Dan telah datang di dalam hadis: “Barangsiapa yang ingin menjadi manusia paling kuat, hendaklah ia bertawakal kepada Allah.”

Perasaan (Emosi)

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

Solusi

3. Perasaan Terluka / Tersakiti (Pada dasarnya bersumber dari rasa kehilangan)

Ada ekspektasi-ekspektasi kita yang tidak terpenuhi.

1. Sadarilah bahwa pada kenyataannya Anda tidak kehilangan apa pun (mungkin ini hanyalah perasaan semu/palsu), sebab bisa jadi orang tersebut tidak menyadari seberapa besar dampak tindakan-tindakannya terhadap kehidupan Anda.

2. Berhentilah sejenak untuk mengevaluasi kembali situasi tersebut: Apakah memang ada kerugian, ataukah aku yang terburu-buru menghakimi situasi tersebut atau menghakiminya dengan kejam?

 

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ ۖ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَادَىٰ ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا

“Katakanlah: 'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu berdiri karena Allah (menyengaja kebenaran) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan...'” [Surah Saba': 46].

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal perbuatan kalian sebelum ia ditimbang atas kalian.”

Perasaan (Emosi)

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

Solusi

4. Marah

Ada aturan penting atau tolok ukur yang Anda pegang teguh di dalam prinsip hidup Anda yang telah dilanggar oleh seseorang atau oleh Anda sendiri.

Anda dapat mengubah emosi ini dalam waktu satu menit:

1. Anda harus menyadari bahwa Anda mungkin saja telah salah memahami situasi tersebut secara total, sebab bisa jadi orang ini tidak tahu apa hal paling penting bagi Anda, meskipun Anda mengira bahwa ia mengetahuinya.

2. Aturan-aturan yang Anda tetapkan sendiri tidak menjadi syarat bahwa itu adalah aturan yang benar.

3. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang memberi Anda kekuatan pada diri sendiri. (Apakah benar orang ini sungguh memedulikanku dalam jangka panjang?).. Nonaktifkan perasaan marah Anda dengan bertanya: Apa yang bisa aku pelajari dari hal ini?

 

Jika Anda marah, maka Anda wajib melakukan:

Di antara jawaban para rasul kepada orang-orang kafir adalah apa yang dikisahkan oleh Al-Qur'an al-Karim. Pemuka-pemuka kaumnya berkata:

{إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ . قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ . أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

“'Sesungguhnya kami benar-benar melihatmu dalam kebodohan dan sesungguhnya kami benar-benar menganggapmu termasuk orang-orang pendusta.' Hud berkata: 'Hai kaumku, tidak ada kebodohan padaku, tetapi aku adalah seorang rasul dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.'” [Surah Al-A'raf: 66-68] [^1].

Cacian orang-orang jahil tersebut tidak sampai menghilangkan sifat hilm (menahan diri/kesabaran) Nabi Hud, karena jaraknya teramat jauh antara seorang laki-laki yang telah dipilih Allah sebagai rasul—sehingga ia berada di puncak kebaikan dan kebajikan—dengan kaum yang membodohi diri mereka sendiri dan bersepakat untuk menyembah batu-batu yang mereka kira—karena ketololan mereka—dapat mendatangkan mudarat dan manfaat! Bagaimana mungkin seorang guru besar akan merasa sesak dada akibat racauan kawanan ternak seperti itu?

Rasulullah Muhammad juga ingin mengajarkan pelajaran tentang kehati-hatian (at-ta'anni) dan pengendalian diri ini kepada para sahabatnya. Diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui datang menemui beliau untuk meminta sesuatu, lalu beliau memberinya dan bersabda: "Apakah aku telah berbuat baik kepadamu?". Orang Badui itu menjawab: "Tidak, kamu belum berbuat baik dan belum memperbagus pemberian!". Kaum muslimin pun marah dan langsung berdiri hendak mendatangi orang itu, namun beliau memberikan isyarat kepada mereka: "Tahanlah diri kalian...".

Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, lalu beliau mengutus orang untuk memanggil Badui tersebut dan menambahkan sesuatu pada pemberiannya. Beliau bertanya lagi: "Apakah aku telah berbuat baik kepadamu?". Orang Badui itu menjawab: "Ya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebagai anggota keluarga dan kerabat."

Maka Nabi bersabda kepadanya: "Sesungguhnya kamu telah mengucapkan apa yang kamu ucapkan tadi, dan di dalam diri para sahabatku terdapat ganjalan karena hal tersebut. Jika kamu mau, ucapkanlah di hadapan mereka apa yang kamu ucapkan di hadapanku sekarang, agar apa yang ada di dalam dada mereka terhadapmu dapat sirna." Ia menjawab: "Baik."

Ketika keesokan harinya tiba, orang itu datang, lalu Nabi bersabda: "Sesungguhnya Arab Badui ini telah mengucapkan apa yang ia ucapkan, kemudian kami menambah pemberian kepadanya, lalu ia mengaku telah rida, apakah benar demikian?". Ia menjawab: "Ya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebagai anggota keluarga dan kerabat."

Rasulullah kemudian bersabda: "Perumpamaanku dan perumpamaan orang ini adalah seperti seorang laki-laki yang memiliki seekor unta yang lari lepas darinya, lalu orang-orang mengejarnya dari belakang [[^2]], namun mereka tidak menambah unta tersebut melainkan semakin liar berpaling. Maka pemiliknya berseru kepada mereka: 'Biarkanlah antara aku dan untaku, karena aku lebih lembut kepadanya daripada kalian dan lebih mengetahui perilakunya.' Pemiliknya kemudian menuju ke arah depan unta tersebut lalu mengambil rumput/kotoran kering dari tanah, kemudian ia mengembalikannya hingga unta itu datang dan menderem. Lalu ia memasang pelana di atasnya dan duduk tegak di atasnya. Dan sesungguhnya aku, seandainya aku membiarkan kalian saat laki-laki ini mengucapkan apa yang ia ucapkan, lalu kalian membunuhnya, niscaya ia masuk neraka."

Rasul yang penuh sifat hilm ini tidak diambil oleh rasa heran atas kekufuran nikmat sang Badui pada awal urusan. Beliau mengenali adanya karakter tipe manusia tertentu di dalam dirinya yang terbiasa bersikap kasar dalam berekspresi dan cepat dalam berbuat keburukan. Orang-orang semacam ini, seandainya disegerakan hukumannya, niscaya hukuman itu akan membinasakan mereka, dan hukuman itu bukanlah suatu kezaliman.

Akan tetapi, para tokoh reformator yang agung tidak mengakhiri nasib masyarakat awam dengan akhir yang pilu seperti ini. Mereka mencurahkan sifat kehati-hatian dan kesabaran mereka kepada orang-orang yang temperamental hingga memaksa mereka menuju kebaikan dengan sebenar-benarnya, dan membuat lidah-lidah mereka meluncur fasih dengan pujian.

Dan harga untuk hal itu tidak akan dipending oleh orang kaya yang cerdas, sekalipun berupa pemberian yang sangat berlimpah. Apalah arti membelanjakan harta jika disandingkan dengan menguasai jiwa manusia?

Arab Badui yang telah dibeli keridaannya dengan apa yang Anda ketahui tadi, tidak mustahil akan Anda lihat beberapa hari kemudian ditugaskan untuk melakukan sebuah pekerjaan yang krusial, di mana ia akan menyerahkan lehernya (berkorban nyawa) dengan senang hati!! Harta di tangan para reformator besar tidak lain hanyalah kebutuhan bagi para pencari pemberian [[^3]] dari kalangan pendatang yang penuh ambisi, atau ia laksana rumput kering di tanah yang digunakan untuk menderemkan unta-unta tunggangan yang liar, agar ia dapat memotong jarak padang pasir yang luas dengannya.

Nabi terkadang dibuat marah, akan tetapi kemarahan beliau tidak pernah melewati batas-batas kemuliaan dan sikap memaafkan/mengabaikan.

Hal yang terjaga dari sirah kehidupan beliau adalah bahwa beliau tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri sama sekali, kecuali jika kehormatan Allah dilecehkan, maka beliau akan membalas dendam karena Allah dengan sebab pelecehan tersebut.

Ketika seorang Arab Badui yang kasar berkata kepada beliau saat beliau sedang membagikan harta rampasan perang (ganimah): "Berlakulah adil, karena sesungguhnya pembagian ini adalah pembagian yang tidak diharapkan wajah Allah dengannya!", beliau tidak menambah dalam jawabannya melainkan sekadar menjelaskan apa yang tidak diketahui oleh orang tersebut, serta menasihati dirinya sendiri dan mengingatkannya dengan apa yang dikatakan kepadanya, beliau bersabda: "Celaka kamu, lantas siapa yang akan berlaku adil jika aku saja tidak berlaku adil? Benar-benar merugi dan celaka aku jika aku tidak berlaku adil." Dan beliau melarang para sahabatnya untuk membunuhnya ketika sebagian dari mereka telah bertekad untuk melakukannya.

Nabi pernah berkhotbah di hadapan manusia pada waktu asar di suatu hari, di antara apa yang beliau katakan kepada mereka adalah:

أَلَا إِنَّ بَنِي آدَمَ خُلِقُوا عَلَى طَبَقَاتٍ شَتَّى

“Ketahuilah, sesungguhnya bani Adam diciptakan dalam tingkatan yang bermacam-macam: Ketahuilah, di antara mereka ada yang lambat marah dan cepat reda kemarahannya, ada yang cepat marah dan cepat reda kemarahannya, dan ada yang lambat marah dan lambat reda kemarahannya, maka itu impas dengan itu. Ketahuilah, di antara mereka ada yang lambat reda kemarahannya dan cepat marah. Ketahuilah, yang terbaik di antara mereka adalah yang lambat marah dan cepat reda kemarahannya, dan yang terburuk di antara mereka adalah yang cepat marah dan lambat reda kemarahannya. Ketahuilah, di antara mereka ada yang baik dalam membayar utang dan baik dalam menuntut utang, di antara mereka ada yang buruk dalam membayar utang dan baik dalam menuntut utang, dan di antara mereka ada yang buruk dalam menuntut utang dan baik dalam membayar utang, maka itu impas dengan itu. Ketahuilah, di antara mereka ada yang buruk dalam membayar utang dan buruk dalam menuntut utang. Ketahuilah, yang terbaik di antara mereka adalah yang baik dalam membayar utang dan baik dalam menuntut utang, dan yang terburuk di antara mereka adalah yang buruk dalam membayar utang dan buruk dalam menuntut utang.” “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu adalah bara api di dalam hati anak Adam. Tidakkah kalian melihat kepada merah matanya dan urat-urat lehernya yang menegang? Maka barangsiapa yang merasakan sesuatu dari hal tersebut, hendaklah ia menempel dengan tanah.” [[^4]] Yakni hendaklah ia tetap di tempatnya dan duduk.

Karena jika ia dibiarkan terbang di balik kobaran api amarah, ia akan merusak segala urusan di saat hilangnya kesadaran dirinya dan mendominasinya emosi miliknya, sehingga tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk perbaikan.

Hadis yang mulia ini telah menjelaskan ragam karakter manusia dan tingkatan mereka dalam keutamaan, dan seorang mukmin menempatkan dirinya di tempat yang semestinya.

Seseorang yang pemarah sering kali amarahnya membawanya ke arah tindakan-tindakan yang bodoh; ia bisa saja mencaci-maki pintu jika pintu itu sulit dibuka olehnya, ia bisa saja memecahkan alat yang tidak stabil di tangannya, dan ia bisa saja melaknat hewan tunggangan yang mogok bersamanya.

Dan pernah terjadi seorang laki-laki yang pakaiannya ditiup oleh angin lalu ia melaknat angin tersebut, maka Rasulullah bersabda: "Janganlah kamu melaknatnya, karena sesungguhnya ia diperintah dan ditundukkan. Dan sesungguhnya barangsiapa yang melaknat sesuatu yang tidak layak menerima laknat tersebut, maka laknat itu akan kembali kepada dirinya sendiri." [[^5]].

Keburukan-keburukan amarah itu teramat banyak dan hasil dampaknya yang merusak jauh lebih banyak lagi, oleh karena itu pengendalian diri saat gejolak amarahnya memuncak merupakan bukti dari kemampuan yang terpuji dan ketahanan diri yang mulia.

Dari Ibnu Mas'ud: Rasulullah bersabda: "Siapakah yang kalian sebut sebagai orang yang jago gulat (shura'ah) di antara kalian?". Para sahabat menjawab: "Yaitu orang yang tidak bisa dijatuhkan oleh orang-orang laki-laki." Beliau bersabda: "Akan tetapi, ia adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah." [[^6]].

Seseorang berkata kepada Nabi : "Berilah aku wasiat, dan janganlah Engkau perbanyak wasiat itu atasku agar aku tidak melupakannya!". Beliau bersabda: "Jangan marah!" [[^7]]. Dan jawaban yang ringkas ini adalah sebaik-baik jawaban untuk menanggapi pertanyaan yang diformulasikan dalam redaksi kalimat seperti ini!.

Beliau senantiasa menasihati orang-orang yang datang menemui beliau untuk meminta petunjuk dengan apa yang selaras dengan tabiat mereka dan cocok dengan lingkungan mereka, beliau terkadang meringkas atau memperpanjang nasihat sesuai dengan apa yang dituntut oleh keadaan.

Kejahilan (masa jahiliyah) yang ditangani oleh Rasulullah untuk dihapuskan dahulu tegak di atas dua jenis kejahilan; kejahilan yang merupakan lawan dari ilmu (kebodohan), dan kejahilan yang merupakan lawan dari sifat hilm (temperamental/kejam).

Adapun kejahilan yang pertama, maka pemutusan kegelapannya dilakukan dengan jenis-jenis makrifat dan seni-seni bimbingan. Sedangkan kejahilan yang kedua, maka penahanan kezalimannya bersandar pada pengekangan hawa nafsu dan pencegahan kerusakan. Orang-orang Arab terdahulu bangga bahwa mereka membalas kejahilan dengan kejahilan yang lebih parah:

Ingatlah, jangan sampai ada seorang pun yang berlaku jahil (kasar) kepada kami..

Sebab kami akan membalas dengan kejahilan yang melampaui kejahilan orang-orang jahil.

Maka datanglah Islam untuk membendung pelampiasan nafsu ini, dan menegakkan pilar-pilar masyarakat di atas keutamaan, jika hal itu tidak memungkinkan maka di atas keadilan. Dan tujuan ini tidak akan pernah terwujud kecuali jika akal yang terbimbing mampu mendominasi atas naluri amarah.

Banyak dari nasihat yang dicurahkan oleh Rasulullah kepada orang Arab mengarah ke tujuan ini. Sampai-sampai manifestasi dari ketidaksabaran dan pelanggaran batas dianggap sebagai bentuk lepasnya ikatan dari Islam, dan terlepas dari ikatan-ikatan yang mengikat jemaah agar masyarakat tidak goyah dan berguncang:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci-maki seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” [[^8]].

Abdullah bin Mas'ud berkata: “Tidaklah ada dua orang muslim melainkan di antara keduanya terdapat tabir perlindungan dari Allah 'Azza wa Jalla, maka jika salah satu dari keduanya mengucapkan perkataan yang keji kepada saudaranya, sungguh ia telah merobek tabir perlindungan Allah.” [[^9]].

Seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah ingin mempelajari Islam, dan ia tidak memiliki pengetahuan terdahulu tentang Nabi maupun tentang apa yang beliau serukan. Arab Badui itu—yang bernama Jabir bin Sulaim—berkata: “Aku melihat seorang laki-laki yang orang-orang mengeluarkan pendapat berdasarkan opininya, ia tidak mengatakan sesuatu melainkan mereka bersumber darinya. Aku bertanya: 'Siapa orang ini?' Mereka menjawab: 'Rasulullah!' Aku berkata: 'Alaikas salam (atasmu keselamatan), wahai Rasulullah!' Beliau bersabda: 'Jangan katakan alaikas salam, karena ucapan (alaikas salam) adalah penghormatan untuk orang mati. Katakanlah: Assalamu 'alaika (keselamatan atasmu)!!'”

Ia berkata: Aku bertanya: “Apakah Engkau Rasulullah?”. Beliau bersabda: “Aku adalah Rasulullah yang apabila kemudaratan menimpamu lalu kamu berdoa kepada-Nya niscaya Dia menyingkapnya darimu, dan jika tahun paceklik (جدب) menimpamu lalu kamu berdoa kepada-Nya niscaya Dia menumbuhkan tanaman untukmu, dan jika kamu berada di tanah yang tandus lalu tungganganmu hilang kemudian kamu berdoa kepada-Nya niscaya Dia mengembalikannya kepadamu...”

Ia berkata: Aku berkata: “Berilah aku perjanjian/wasiat.” Beliau bersabda: “Jangan sekali-kali kamu mencaci-maki seorang pun” —maka setelah itu aku tidak pernah mencaci seorang merdeka, tidak pula hamba sahaya, tidak pula unta, dan tidak pula kambing— Beliau bersabda: “Dan janganlah kamu meremehkan sedikit pun dari kebaikan, dan hendaklah kamu berbicara kepada saudaramu dalam keadaan wajahmu berseri-seri kepadanya, karena sesungguhnya hal itu termasuk bagian dari kebaikan...” Kemudian beliau bersabda: “Dan jika ada seseorang yang mencelamu dan mencacimu dengan apa yang ia ketahui ada pada dirimu, maka janganlah kamu mencacinya dengan apa yang kamu ketahui ada pada dirinya, karena sesungguhnya dampak buruk dari hal itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [[^10]].

Di antara manusia ada yang tidak bisa diam ketika marah, ia berada di dalam pergolakan yang abadi, dan kemarahan itu tercetak jelas pada wajahnya yang cemberut. Jika ada seseorang yang menyentuhnya, ia akan gemetar layaknya orang yang demam, dan ia mulai meracau dan berbuih mulutnya, serta melaknat dan mencerca. Islam berlepas diri dari perangai-perangai yang keruh ini.

Rasulullah bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِطَعَّانٍ وَلَا لَعَّانٍ وَلَا فَاحِشٍ وَلَا بَذِيءٍ

“Bukanlah seorang mukmin itu orang yang suka mencela, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang suka berbuat keji, dan bukan orang yang suka berkata kotor.” [[^11]].

Catatan Kaki Teks Asli:

[^1]: Surah Al-A'raf: Ayat 66 - 68.

[^2]: Yakni berlari mengejar di belakangnya.

[^3]: Para pencari pemberian / orang-orang yang meminta harta.

[^4]: HR. At-Tirmidzi.

[^5]: HR. At-Tirmidzi.

[^6]: HR. Muslim.

[^7]: HR. Malik.

[^8]: HR. Al-Bukhari.

[^9]: HR. Al-Baihaqi.

[^10]: HR. Abu Dawud.

[^11]: HR. At-Tirmidzi.

 

Dan melaknat termasuk dari perangai orang-orang rendahan (as-siflah). Orang-orang yang menurunkan laknat kepada selain mereka untuk alasan yang paling sepele sekalipun, sesungguhnya sedang memaparkan diri mereka pada bencana yang amat besar. Sebaliknya, seseorang itu wajib menjaga kesucian dirinya dari melaknat orang lain, meskipun ia telah ditimpa gangguan yang sangat berat dari orang tersebut.

Setiap kali iman bertumbuh di dalam hati, maka akan tumbuh pula bersamanya kelapangan dada dan bertambah pula sifat hilm (menahan diri/kesabaran), serta seseorang akan menjauh dari menuntut pelampiasan nafsu dan amarah kepada orang-orang yang bersalah terhadap hak dirinya.

Pernah dikatakan kepada Rasulullah : "Doakanlah kecelakaan atas orang-orang musyrik dan laknatlah mereka!". Beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً ، وَلَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai rahmat, dan aku tidak diutus sebagai seorang pelaknat.” [HR. Muslim] [^1].

Dan sesuai dengan kadar kemampuan seorang muslim dalam mengendalikan dirinya, menahan amarahnya, menjaga tutur katanya, memaafkan kekhilafan, serta berbelas kasih terhadap kesalahan-kesalahan orang lain, maka seperti itulah kedudukannya di sisi Allah.

Oleh karena itulah, Rasulullah menyangkal perbuatan Abu Bakar ketika ia melaknat sebagian budak sahaya miliknya, beliau bersabda:

لَا يَنْبَغِي لِصِدِّيقٍ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak selayaknya bagi seorang shiddiq (orang yang jujur imannya) menjadi seorang pelaknat.” [HR. Muslim] [^2].

Dan di dalam sebuah riwayat disebutkan:

لَا يَجْتَمِعُ أَنْ تَكُونُوا لَعَّانِينَ وَصِدِّيقِينَ

“Tidak akan bisa bersatu keadaan kalian sebagai para pelaknat sekaligus sebagai para shiddiq.” [HR. Al-Hakim] [^3].

Maka Abu Bakar pun langsung memerdekakan budak-budak sahaya tersebut sebagai kafarat (penebus dosa) atas apa yang telah terlanjur keluar dari dirinya kepada mereka. Kemudian ia datang menemui Nabi seraya berkata kepada beliau: "Aku tidak akan mengulanginya lagi."

Hal itu karena melaknat merupakan sebuah proyektil (peluru) yang sasarannya serampangan lagi berbahaya, yang mana amarah yang buta mendorong kepadanya jauh lebih besar daripada dorongan kelayakan untuk menerima hukuman. Sikap meremehkan manusia terhadap doa-doa yang keras ini merupakan hal yang tidak patut, karena tidak akan ada seorang pun yang bisa luput dari dampak buruknya.

Sebab Rasulullah telah bersabda:

إِنَّ العَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتِ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ ، فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ، ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا ، ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالاً ، فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ ، فَإِنْ كَانَ أَهْلاً لِذَلِكَ ، وَإِلاَّ رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا

“Sesungguhnya seorang hamba apabila melaknat sesuatu, maka laknat tersebut akan naik ke langit, lalu pintu-pintu langit ditutup untuk menghalanginya. Kemudian ia turun ke bumi, maka pintu-pintu bumi pun ditutup untuk menghalanginya. Kemudian ia mengambil jalur ke kanan dan ke kiri, dan jika ia tidak menemukan jalan tembus, ia akan kembali kepada pihak yang dilaknat jika memang ia layak menerimanya.. namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.” [HR. Abu Dawud] [^4].

Dan Islam telah mengharamkan aksi saling menjatuhkan yang bodoh serta tindakan saling bertukar caci maki di antara orang-orang yang sedang bertikai.

Betapa banyak pertikaian yang di dalamnya kehormatan diri dihinakan, dan cacian yang diharamkan melanggar batas-batas kemuliaan yang berharga. Tidak ada illat (penyebab) bagi dosa-dosa yang tebal ini melainkan karena dominasi amarah dan hilangnya adab (etika).

Dosa-dosa dari pertikaian yang rendah ini akan kembali kepada orang yang pertama kali menyalakan baranya. Sebagaimana yang datang di dalam hadis:

الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ مِنْهُمَا حَتَّى يَعْتَدِيَ الْمَظْلُومُ

“Dua orang yang saling mencaci-maki, maka dosa dari apa yang keduanya ucapkan ditanggung oleh orang yang memulai di antara keduanya, sampai pihak yang dizalimi melampaui batas (dalam membalas).” [HR. Muslim] [^5].

Dan kunci keselamatan dari pertikaian yang tajam ini adalah dengan memenangkan sifat hilm (menahan diri) di atas amarah, serta memenangkan sikap memaafkan. Tidak diragukan lagi bahwa manusia akan merasa sedih atas serangan apa pun yang mengarah pada person dirinya atau pada orang yang dicintainya. Dan apabila sarana untuk membalas dendam itu datang kepadanya, ia akan bergegas membalas keburukan dengan keburukan yang serupa. Ketetapan hatinya tidak akan merasa tenang kecuali jika ia berhasil memasukkan rasa sesak dada kepada musuhnya setara dengan kadar rasa sakit yang dirasakan oleh dirinya sendiri, dan ini merupakan sebuah kesalahan.

Perasaan (Emosi)

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

[Sambungan dari poin sebelumnya]

a- Ubahlah persepsi Anda: Karena bisa jadi orang tersebut tidak mengetahui aturan-aturan Anda.

b- Ubahlah tindakan Anda: Karena bisa jadi Anda belum menyampaikan aturan-aturan Anda kepadanya dengan baik.

c- Ubahlah perilaku Anda dan katakan kepada orang tersebut misalnya: "Sesungguhnya perkara ini adalah privasi bagiku, maka aku berharap Anda tidak menyebarkannya."

 

Perasaan (Emosi)

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

Solusi

5. Frustrasi / Kecewa (Anda mencurahkan upaya secara terus-menerus tanpa menerima buah apa pun)

Akal pikiran Anda meyakini bahwa Anda sebenarnya mampu mewujudkan hasil-hasil yang lebih baik.

(Keputusasaan: Adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang ingin Anda wujudkan namun Anda tidak akan pernah bisa mencapainya).

Adapun frustrasi, jika dibandingkan, merupakan hubungan yang sangat positif; karena ia bermakna bahwa masalah Anda masih berada di dalam ruang lingkup yang memungkinkan. Itu adalah sinyal positif agar Anda menjadi lebih fleksibel.

1. Sadarilah bahwa rasa frustrasi adalah sahabat Anda, oleh karena itu pikirkanlah cara-cara baru yang lebih fleksibel untuk mewujudkan hasil-hasil Anda.

2. Carilah informasi tentang bagaimana cara menyikapi situasi tersebut, carilah sosok teladan (role model), dan mintalah kepadanya cara untuk mencapai hasil tersebut.

3. Di antaranya: Beralih dari lingkungan yang melemahkan semangat (demotivasi):

Sesungguhnya lingkungan yang mengitari manusia memiliki pengaruh yang teramat besar yang tidak tersembunyi lagi. Maka apabila lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang melemahkan semangat, mengajak kepada kemalasan, kefasifan, dan kerendahan, maka wajib bagi seseorang untuk berhijrah darinya menuju tempat di mana cita-citanya bisa meninggi, agar ia terbebas dari otoritas pengaruh lingkungan lama tersebut, dan menikmati kesempatan untuk menanjak menuju tuntutan-tuntutan yang mulia [^6].

 

Putri As-Sa'di berkata saat ia mencelaku:

Apakah tidak ada bagimu tempat beranjak meninggalkan negeri yang hina ini?

Sebab sesungguhnya penderitaan orang yang berserah diri menerima gangguan,

Di tempat di mana orang-orang mulia dihinakan, akan berlangsung lama.

Padahal di sisimu ada kuda tunggangan yang kokoh punggungnya lagi kuat,

Dan di dalam genggaman tanganmu ada pedang tajam ujungnya lagi berkilau mengkilap [^7].

Dan manusia yang paling butuh untuk memperbarui lingkungan di sekitarnya serta mengaktifkan kembali energinya adalah orang yang baru saja bertobat. Sebab, beralih dari lingkungan maksiat menuju lingkungan ketaatan akan membuatnya lupa terhadap hal-hal yang menariknya kepada teman yang buruk dan tempat-tempat yang buruk. Dengan demikian, hatinya akan menyatu, urusannya akan teratur, cita-citanya akan menjadi satu dan mengarah dengan kejujuran serta tekad bulat menuju gaya hidup yang baru.

Dan hal ini merupakan poin yang persis diisyaratkan oleh seorang "Alim" (Ulama) yang sadar kepada sang pembunuh seratus nyawa, ketika ia memperkuat perkataannya: "Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi antara dirinya dengan tobat?" dengan perkataannya: "Pergilah kamu ke bumi ini dan itu, karena sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah Ta'ala, maka sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah kamu kembali ke bumimu (yang dulu) karena sesungguhnya itu adalah bumi yang buruk."

Dan tatkala kematian menjemputnya, lalu malaikat rahmat dan malaikat azab saling berselisih tentangnya, keberadaan posisinya yang lebih dekat ke desa yang saleh tersebut dibandingkan dengan negeri yang buruk menjadi sebab malaikat rahmat yang mencabut nyawanya. Dalam sebagian riwayat disebutkan: "Maka ia lebih dekat ke desa yang saleh tersebut sejauh satu jengkal, sehingga ia dijadikan termasuk dari penduduknya." Dan dalam riwayat lain: "Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada bumi ini (yang buruk) untuk menjauh, dan kepada bumi ini (yang saleh) untuk mendekat, dan Dia berfirman: 'Ukurlah jarak di antara keduanya', maka mereka mendapatinya lebih dekat ke desa ini (yang saleh) sejauh satu jengkal, lalu ia pun diampuni." Dan dalam riwayat lain: "Maka ia menjauhkan dadanya (berusaha condong melompat) ke arah desa tersebut."

Dan barangkali makna ini tersembunyi pula di dalam pensyariatan hukuman pengasingan bagi pelaku zina yang belum menikah (ghairu muhshan) dan pembuangannya selama satu tahun jauh dari tanah airnya; agar berkumpul atasnya hukuman fisik berupa jilid (cambuk) dan hukuman batin berupa pengasingan. Pada saat yang sama, ia dijauhkan dari panggung tempat terjadinya kejahatan agar ia melupakan memorinya, dan tidak tinggal di tempat di mana ia akan diperlakukan dengan penuh kehinaan dan pelecehan serta terpapar pada berbagai intimidasi, sekaligus memberinya kesempatan yang cukup untuk memulai kembali tobat yang nasuha (jujur) dan kehidupan yang mulia.

4- Dan di antara sebab paling penting untuk meningkatkan azam (cita-cita) adalah: Bersahabat dengan orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi, serta menelaah kisah-kisah perjalanan hidup mereka.

Sebab burung-burung akan hinggap bersama yang sejenisnya, dan setiap rekan akan meneladani rekan kelompoknya. Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar menyerap teladan dari pandangan mata orang-orang saleh sebelum serapan dari ucapan kata mereka, karena melihat mereka akan mengingatkannya kepada Allah 'Azza wa Jalla. Dari Anas rishi Allahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ مِنَ النَّاسِ نَاسًا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ

“Sesungguhnya di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan gembok-gembok penutup keburukan.” [HR. Ibnu Majah, dan Ibnu Abi 'Asim di dalam "As-Sunnah", dan dinilai hasan oleh Al-Albani melalui jalur-jalurnya sebagaimana di dalam "As-Silsilah As-Shahihah" nomor 1332] [^8].

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi mengenai firman Allah Ta'ala: “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Surah Yunus: 62], beliau bersabda:

هُمُ الَّذِينَ يُذْكَرُ اللَّهُ لِرُؤْيَتِهِمْ

“Mereka adalah orang-orang yang apabila dilihat, maka Allah akan diingat.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam "Akhbar Ashbahan", Al-Wahidi, dan Ad-Dailami, sebagaimana di dalam "As-Silsilah As-Shahihah" nomor 1646] [^9].

Dan di antaranya adalah: Nasihat dari orang-orang yang tulus. Sebab beliau telah bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ : لِلَّهِ ، وَلِكِتَابِهِ ، وَلِرَسُولِهِ ، وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu adalah nasihat: bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslimin, dan bagi orang-orang awam di antara mereka.” [HR. Muslim dan selainnya] [^10].

Dan adakalanya pemberi nasihat yang terpercaya ini adalah seorang ayah yang penuh kasih sayang:

Sufyan bin 'Uyainah berkata: (Ayahku berkata kepadaku—saat aku telah menginjak usia lima belas tahun—: "Sesungguhnya telah terputus darimu syariat masa kanak-kanak, maka ikutilah kebaikan niscaya kamu akan menjadi bagian dari penganutnya." Maka aku pun menjadikan wasiat ayahku sebagai kiblat arah yang aku condong kepadanya, dan aku tidak berpaling darinya).

Dan adakalanya berupa seorang ibu yang penuh rahmah:

Dan Amirul Mukminin Umar radhiyallahu 'anhu berkata: “Tidaklah seorang hamba diberi suatu karunia setelah Islam yang lebih baik daripada seorang saudara yang saleh. Maka apabila salah seorang di antara kalian melihat adanya rasa cinta dari saudaranya, hendaklah ia memegangnya erat-erat.”

Dan Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Saudara-saudara (seiman) kami lebih kami cintai daripada keluarga dan anak-anak kami. Karena keluarga kami mengingatkan kami kepada dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami kepada akhirat.”

Profesor Dr. Khaldun Al-Ahdab—semoga Allah menjaganya—mengatakan:

(Dan apabila kita melihat kepada orang-orang yang telah mengambil manfaat dari momen-momen umur mereka, yang mana dari hasil karya dan rekam jejak mereka memunculkan sesuatu yang mengagumkan atau menakjubkan, kita dapati mereka tidak bersahabat melainkan hanya dengan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam beramal, serta orang-orang yang cerdas lagi jeli, yang mana mereka sangat menjaga waktu-waktu mereka layaknya penjagaan mereka terhadap kehidupan mereka sendiri, karena waktu itu adalah kehidupan.

Dan bersahabat dengan orang-orang mulia yang bersungguh-sungguh lagi terjaga mata hatinya terhadap hitungan menit dan detik ini, memiliki pengaruh yang teramat agung dalam memicu cita-cita tokoh selevel Imam Ibnu Jarir At-Thabari, Ibnu 'Aqil Al-Hanbali, Ibnu 'Asakir Ad-Dimasqi, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, Ibnu an-Nafis, Al-Mizzi, Ad-Dzahabi, Ibnu Hajar, dan orang-orang yang sepadan dengan mereka dalam hal melimpahnya karya-karya mereka dan kebaruannya.

Imam Ibnu 'Aqil Al-Hanbali, penulis kitab "Al-Funun", mengatakan: "Dan Allah telah menjagaku dari gejolak masa muda dengan berbagai jenis penjagaan, dan Dia membatasi rasa cintaku hanya pada ilmu dan ahli ilmu. Maka aku tidak pernah membaur dengan orang yang suka bermain-main sama sekali, dan aku tidak pernah bergaul erat melainkan hanya dengan orang-orang yang semisal denganku dari kalangan para penuntut ilmu."

Maka orang yang sangat menjaga waktunya lagi diberi taufik, yang mana ia mendambakan kedudukan-kedudukan yang tinggi, tidak akan kamu lihat dirinya melainkan selalu bersama ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya, serta orang-orang yang memiliki keutamaan, ahli kesungguhan (mujahadah), hikmah, dan mata hati, agar menular kepadanya apa yang ada pada mereka atau sebagian darinya, sehingga ia menjadi seperti mereka atau dekat dengan mereka).

Perasaan (Emosi)

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

Solusi

6. Kekecewaan (Anda merasa sedih dan kalah sebagai akibat dari ekspektasi untuk mewujudkan hasil yang lebih banyak daripada apa yang telah berhasil diwujudkan).

Ini adalah emosi yang merusak jika Anda tidak mengatasinya dengan cepat.

Perkara yang Anda cita-citakan untuk diwujudkan mungkin tidak terwujud, oleh karena itu sesungguhnya waktu telah tiba untuk mengubah cita-cita serta ekspektasi Anda, dan untuk mengambil sebuah target baru.

1. Visualisasikan sesuatu yang telah Anda pelajari dari situasi ini yang mana hal tersebut dapat membantu Anda di masa depan demi mewujudkan apa yang dahulu Anda perjuangkan.

2. Tentukan sebuah target yang lebih menginspirasi dan yang mana memungkinkan untuk mencapai progres instan ke arah target tersebut.

3. Anda mungkin saja sedang mengeluarkan penilaian yang terburu-buru, padahal itu hanyalah tantangan-tantangan yang bersifat sementara.. atau mungkin ekspektasi Anda yang tidak realistis.

4. Sadarilah bahwa situasi ini belum mencapai titik akhirnya.. maka berhiaslah dengan tambahan kesabaran, evaluasi kembali apa yang Anda inginkan, dan kembangkan sebuah rencana yang lebih efektif.

5. Obat penawar yang paling kuat adalah menumbuhkan sikap ekspektasi positif terhadap apa yang akan terjadi di masa depan, tanpa memedulikan apa yang telah terjadi di masa lalu.

 

Perasaan [Emosi]

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

Solusi

7. Perasaan Bersalah (Sangat menyakitkan, namun ia menjalankan fungsi yang berharga; karena ia membuat Anda merasakan kepedihan dalam kadar yang besar sehingga setelah itu Anda berkomitmen pada standar-standar yang lebih tinggi).

Bahwa Anda telah melanggar salah satu standar tertinggi Anda, dan bahwa Anda wajib melakukan suatu upaya untuk menjamin agar Anda tidak melakukan pelanggaran ini terhadap standar-standar Anda di masa depan. Perasaan ini merupakan daya dorong final bagi banyak orang agar mereka mengubah perilaku mereka.

Akan tetapi, sebagian orang mencoba mengabaikan dan menekan perasaan ini, dan hal tersebut tidaklah berguna karena ia tidak akan lenyap melainkan akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar.. Dan sebagian lagi tunduk pada perasaan ini lalu tenggelam di dalamnya dan merasa bahwa tidak ada lagi daya upaya bagi mereka setelahnya, sehingga mereka merasakan inferioritas (perasaan serba kurang) di sepanjang hidup mereka.

Anda harus mengakui pelanggaran Anda terhadap standar-standar Anda, serta berkomitmen dengan komitmen yang jujur/tulus bahwa perkara ini tidak akan terulang lagi dari diri Anda.

 

Dan perasaan bersalah ini akan hilang pengaruh dampaknya dengan jalan tobat, yang mana tobat akan mengembalikan manusia kepada aktivitas berpikir dan beramal, serta memberinya kekuatan yang dengannya ia akan pulih dari setiap dosa. Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” [Surah Az-Zumar: 53].

Maka mereka itulah orang-orang yang Allah ganti keburukan-keburukan mereka dengan berbagai kebaikan.

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang menemui Nabi lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami berbuat dosa.' Beliau bersabda: 'Akan dicatat atasnya.' Orang itu berkata: 'Kemudian ia memohon ampun dari dosa tersebut dan bertobat.' Beliau bersabda: 'Akan diampuni baginya dan diterima tobatnya.' Orang itu berkata: 'Namun ia kembali lagi berbuat dosa.' Beliau bersabda: 'Maka akan dicatat atasnya, dan Allah tidak akan pernah bosan (memberi ampunan) sampai kalian sendiri yang bosan (bertobat).'” [Diriwayatkan oleh At-Thabrani dengan isnad yang hasan, Majma' az-Zawaid 10/200] [^11].

Catatan Kaki Teks Asli:

[^1]: HR. Muslim.

[^2]: HR. Muslim.

[^3]: HR. Al-Hakim.

[^4]: HR. Abu Dawud.

[^5]: HR. Muslim.

[^6]: Dan hijrah (migrasi fisik) itu hukumnya menjadi fardhu yang wajib apabila dilakukan dari negeri kafir menuju negeri Islam jika manusia tersebut mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan anaknya.

[^7]: Farasun mahbuk: kuda yang kuat lagi kokoh; Saratal faras: bagian atas punggung kuda; Al-muthahham: kuda yang sempurna yang mencapai puncak dalam hal keindahan; Al-mathrur: yang memiliki pemandangan, rupa, dan postur yang baik; As-syabah: ketajaman ujung pedang; As-saqil: pedang yang mengkilap/diasah berkilau.

[^8]: Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, dan Ibnu Abi 'Asim di dalam "As-Sunnah", dan dinilai hasan oleh Al-Albani berdasarkan jalur-jalurnya sebagaimana di dalam "As-Silsilah As-Shahihah" nomor 1332.

[^9]: Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam "Akhbar Ashbahan", Al-Wahidi, dan Ad-Dailami, sebagaimana di dalam "As-Silsilah As-Shahihah" nomor 1646.

[^10]: Diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya.

[^11]: Diriwayatkan oleh At-Thabrani dengan isnad yang hasan, Majma' az-Zawaid 10/200.

Dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:

لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ الْعَبْدِ مِنْ رَجُلٍ نَزَلَ مَنْزِلاً وَبِهِ مَهْلَكَةٌ ، وَمَعَهُ رَاحِلَتُهُ عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ ، فَوَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ نَوْمَةً ، فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ رَاحِلَتُهُ ، حَتَّى اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْحَرُّ وَالْعَطَشُ ، أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ ، قَالَ : أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِي ، فَرَجَعَ فَنَامَ نَوْمَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَإِذَا رَاحِلَتُهُ عِنْدَهُ

“Sungguh, Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya daripada seorang lelaki yang singgah di suatu tempat yang berbahaya (padang tandus yang membinasakan), dan bersamanya hewan tunggangannya yang membawa makanan dan minumannya. Lalu ia meletakkan kepalanya dan tertidur sejenak. Saat terbangun, ternyata hewan tunggangannya telah hilang, hingga ia ditimpa rasa panas dan dahaga yang sangat hebat, atau apa yang dikehendaki Allah. Orang itu berkata: 'Aku akan kembali ke tempatku semula.' Maka ia kembali lalu tertidur sejenak, kemudian ia mengangkat kepalanya, dan tiba-tiba hewan tunggangannya sudah berada di sisinya.” [HR. Al-Bukhari di dalam Al-Fath 11/(6308) dan lafaz ini miliknya, serta Muslim (3744)] [^1].

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:

لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمُ السَّمَاءَ ، ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ عَلَيْكُمْ

“Jika kalian berbuat dosa hingga kesalahan kalian mencapai langit, kemudian kalian bertobat, niscaya Allah akan menerima tobat kalian.” [HR. Ibnu Majah (4348), dan di dalam Az-Zawaid disebutkan: Isnad ini hasan. Guru Ibnu Majah diperselisihkan, sedangkan para perawi lainnya tsiqat. Al-Iraqi berkata dalam Takhrij al-Ihya (4/13): Isnadnya hasan. Dan disebutkan dalam At-Targhib wa At-Tarhib (4/90) dengan mengatakan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad yang jayyid] [^2].

Dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنَّ لَهُ وَادِيًا آخَرَ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَاللَّهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia ingin memiliki lembah yang lain. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah, dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” [HR. Al-Bukhari – Al-Fath 11 (6439), Muslim (1048)] [^3].

Dari Ibnu Mas'ud رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:

لِلْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، سَبْعَةٌ مُغْلَقَةٌ وَبَابٌ مَفْتُوحٌ لِلتَّوْبَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Surga memiliki delapan pintu, tujuh di antaranya tertutup dan satu pintu terbuka untuk tobat sampai matahari terbit dari arah baratnya.” [Disebutkan dalam At-Targhib wa At-Tarhib (4/89) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan At-Thabrani dengan isnad yang jayyid] [^4].

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari arah baratnya, niscaya Allah akan menerima tobatnya.” [HR. Muslim (2703)] [^5].

Dari Umar bin al-Khattab Retrieval رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ . فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا [شَاءَ]

“Barang siapa yang berwudu lalu membaguskan wudunya, kemudian ia mengucapkan: 'Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri.' Maka akan dibukakan untuknya delapan pintu surga, yang mana ia dapat masuk dari pintu mana saja [yang ia kehendaki].”

Perasaan (Emosi)

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

Solusi

8. Perasaan Kurang (Inferioritas) dan Tiadanya Keberhargaan.

Bahwa Anda pada saat sekarang ini tidak memiliki tingkat keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang diminta, oleh karena itu Anda membutuhkan lebih banyak informasi, pemahaman, strategi, sarana, atau rasa percaya diri.

1. Tanyakan pada diri Anda sendiri dengan sederhana: Apakah emosi ini benar-benar tepat? Apakah saya memang tidak memiliki kecukupan, ataukah saya yang harus mengubah pemahaman saya terhadap berbagai perkara?

2. Sambutlah dorongan semangat yang Anda terima untuk meningkatkan kinerja Anda, dan berkomitmenlah pada kebijakan perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement).

3. Carilah sosok teladan (role model) dan dapatkan pelatihan yang diperlukan.

(Sesungguhnya pengambilan keputusan Anda di sisi ini akan mengubah Anda dari seorang manusia yang merasa kurang menjadi manusia yang belajar, sebagai ganti dari perasaan Anda bahwa Anda tidak memiliki daya upaya).

 

Perasaan Kurang: Diperkuat oleh Ketetapan (Keteguhan Hati) (At-Thabat)

Yaitu tidak menoleransi adanya kekurangan atau kelenyapan akibat keragu-raguan yang diembuskan oleh orang yang membuat ragu. Keteguhan hati merupakan wujud yang harus tetap kokoh terpatri di dalam jiwa bagaimanapun kondisinya.

Oleh karena itulah, seorang muslim wajib mengendalikan diri sekokoh mungkin bagaimanapun arah angin berembus dan bagaimanapun badai menerpa. Al-Qur'an telah meminta kita untuk teguh dan tidak merasa kurang di bawah tekanan apa pun, serta memohon keteguhan kepada Allah dalam perkara-perkara besar maupun kecil.

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, bahwasanya ia berkata: Rasulullah kerap berdoa:

رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ هُدَايَ إِلَيَّ ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكُ شَاكِرًا ، لَكَ ذَاكِرًا ، لَكَ رَاهِبًا ، لَكَ مِطْوَاعًا ، إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوْ مُنِيبًا ، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي ، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي ، وَأَجِبْ دَعْوَتِي ، وَثَبِّتْ حُجَّتِي ، وَاهْدِ قَلْبِي ، وَسَدِّدْ لِسَانِي ، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي

“Wahai Tuhanku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong (musuh) atas diriku, menangkanlah aku dan jangan Engkau menangkan (musuh) atas diriku, buatlah tipu daya (yang menyelamatkan) untukku dan jangan Engkau buat tipu daya atas diriku, berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk-Mu kepadaku, dan menangkanlah aku atas orang yang berbuat zalim kepadaku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, takut kepada-Mu, taat kepada-Mu, tunduk khusyuk kepada-Mu, atau banyak kembali bertobat kepada-Mu. Wahai Tuhanku, terimalah tobatku, cucilah dosa-dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujahku, berilah petunjuk pada hatiku, luruskanlah lisanku, dan cabutlah kedengkian dari hatiku.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, hasan shahih] [^6].

Dari Hani, bekas budak Utsman bin Affan رضي الله عنه, bahwasanya ia berkata: Nabi apabila telah selesai dari menguburkan mayat, beliau berdiri di atasnya lalu bersabda:

اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

“Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian dan mintalah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Kitab al-Janaiz, Bab Istighfar di Sisi Kuburan].

Dari Syaddad bin Aus رضي الله عنه, bahwasanya ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah biasa mengucapkan dalam salatnya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ ، وَحُسْنُ عِبَادَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala urusan, dan tekad yang kuat di atas kebenaran. Aku memohon kepada-Mu agar dapat mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik. Aku memohon kepada-Mu hati yang bersih (selamat) dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang Engkau ketahui.” [HR. An-Nasa'i, Kitab as-Sahwu, Bab Macam Doa yang Lain].

Dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, bahwasanya ia berkata: Rasulullah mengutusku ke Yaman, maka aku berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Engkau mengutusku kepada kaum yang usianya lebih tua dariku untuk memutuskan perkara di antara mereka." Beliau bersabda:

اذْهَبْ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى سَيُثَبِّتُ لِسَانَكَ وَيَهْدِي قَلْبَكَ

“Pergilah, karena sesungguhnya Allah Ta'ala akan meneguhkan lisanmu dan memberi petunjuk pada hatimu.” [HR. Abu Dawud (3582) dan Ahmad 1/88, shahih] [^7].

Dari An-Nawwas bin Sam'an al-Kilabi, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ ، إِنْ شَاءَ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَزَاغَهُ

“Tidak ada satu hati pun melainkan ia berada di antara dua jari dari jari-jemari Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Jika Dia menghendaki, Dia akan meluruskannya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan memalingkannya.”

Dan Rasulullah kerap mengucapkan:

يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang meneguhkan hati, teguhkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu.” Beliau bersabda: “Dan timbangan berada di tangan Ar-Rahman, Dia meninggikan beberapa kaum dan merendahkan yang lain sampai Hari Kiamat.” [HR. Ibnu Majah, isnadnya shahih] [^8].

Dari Al-Bara bin 'Azib رضي الله عنهما, bahwasanya ia berkata: Nabi bersabda mengenai firman Allah Ta'ala: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” [Surah Ibrahim: 27], beliau bersabda:

نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ ، يُقَالُ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ : رَبِّيَ اللَّهُ وَدِينِي دِينُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ  يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Ayat ini turun mengenai azab kubur. Dikatakan kepadanya (si mayat): 'Siapa Tuhanmu?' Maka ia menjawab: 'Tuhanku adalah Allah dan agamaku adalah agama Muhammad .' Maka itulah firman-Nya: 'Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.'” [HR. An-Nasa'i 3/101, Ibnu Majah 4269] [^9].

Dari Abdullah bin Abi Aufa رضي الله عنهما, bahwasanya ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah pada salah satu hari di saat beliau berhadapan dengan musuh, beliau menunggu hingga ketika matahari telah condong (tergelincir), beliau berdiri di tengah-tengah mereka lalu bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

“Wahai manusia, janganlah kalian mengharapkan pertemuan dengan musuh dan mintalah keselamatan (afiyah) kepada Allah. Namun, apabila kalian berhadapan dengan mereka, maka bersabarlah (teguhlah) dan ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah naungan pedang.” Kemudian Nabi berdiri dan berdoa:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

“Ya Allah, Dzat yang menurunkan Al-Kitab, yang menjalankan awan, dan yang mencerai-beraikan pasukan sekutu, kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami atas mereka.” [HR. Al-Bukhari di dalam Al-Fath dan Muslim] [^10].

Dan lafaz di sisi Ad-Darimi dari hadis Ibnu Amr berbunyi: “Janganlah kalian mengharapkan pertemuan dengan musuh dan mintalah keselamatan kepada Allah. Namun, apabila kalian berhadapan dengan mereka, maka teguhlah dan perbanyaklah mengingat Allah. Jika mereka mendesak dan berteriak riuh, maka wajib bagi kalian untuk diam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim] [^11].

Perasaan (Emosi)

Pesan yang Dikirimkan oleh Perasaan Ini

Solusi

9. Perasaan Terbebani Berat atau Tenggelam (perasaan duka, depresi, ketidakberdayaan, serta menganggap bahwa masalah bersifat menyeluruh, permanen, dan personal, dan apa yang mereka hadapi lebih besar dari kemampuan mereka untuk menghadapinya).

Bahwa Anda perlu mengevaluasi kembali apa yang paling penting bagi Anda. Penyebab perasaan ini adalah karena Anda mencoba menangani terlalu banyak perkara dalam waktu yang sama dan saat itu juga, serta ingin mengubah segala sesuatu dalam waktu semalam.. Perasaan ini mengoyak kehidupan banyak orang.

1. Putuskan perkara paling penting yang harus Anda fokuskan sekarang.. Catatlah perkara-perkara tersebut dan klasifikasikan berdasarkan prioritasnya, yang mana hal itu memungkinkan Anda merasakan semacam kendali atas apa yang Anda hadapi.

2. Mulailah menangani prioritas Anda yang ada di dalam daftar.. Begitu Anda berhasil, Anda akan mengembangkan momentum (daya dorong) dan pikiran Anda akan mulai menyadari bahwa Anda mengendalikan situasi, masalah tersebut tidak permanen, dan Anda mampu menyelesaikannya.

3. Ketika Anda ingin melepaskan diri dari kesedihan, mulailah berfokus pada apa yang mampu Anda kendalikan dan selesaikan selangkah demi selangkah, yang mana hal itu akan membuat Anda merasakan rasa hormat terhadap diri Anda sendiri.

10. Perasaan Kesepian, Terisolasi, dan Terputus dari Orang Lain.

Bahwa Anda perlu membangun ikatan (terhubung) dengan manusia.

1. Sadarilah bahwa Anda sebenarnya bisa mengulurkan tangan untuk membangun hubungan saat ini juga dan mengakhiri perasaan ini, karena di sana dan di setiap tempat terdapat orang-orang yang menunjukkan rasa simpati dan kasih sayang.

2. Tentukan jenis ikatan yang perlu Anda bangun: Apakah Anda menginginkan ikatan yang erat atau sekadar hubungan pertemanan biasa.. Tentukan kebutuhan riil Anda.

3. Eksplorasilah jenis hubungan yang perlu Anda bangun dengan seseorang pada waktu yang khusus ini, dan segeralah beramal untuk mewujudkannya.

4. Kemudian ambillah keputusan yang diperlukan saat itu juga untuk mengeksekusinya.

Sebab Manusia itu Hidup Bersama Saudara dan Teman-temannya:

Tidak ada alasan yang rasional yang mendorong manusia untuk hidup bercerai-berai saling tidak mengenal. Sebaliknya, alasan-alasan yang tegak di atas logika yang benar dan emosi yang sehat justru mengarahkan manusia untuk saling mengasihi satu sama lain, serta merintis bagi mereka sebuah masyarakat yang saling menanggung (takaful) yang diliputi oleh rasa cinta, dan keamanan pun membentang luas di atas muka bumi. Allah عز وجل mengembalikan garis keturunan manusia dan ras mereka kepada dua orang tua (Adam dan Hawa), demi menjadikan hubungan rahim yang sangat mendesak ini sebagai titik temu di mana jalinan hubungan saling bertautan dan menguat.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Surah Al-Hujurat: 13] [^12].

Maka saling mengenal (ta'aruf)—bukan saling menjauh (tanafur)—adalah fondasi hubungan antarmanusia. Terkadang muncul hambatan-hambatan yang menghalangi jalinan kenal-mengenal yang wajib ini untuk berjalan di alirannya, serta menghalangi pasokan pengaruh-pengaruh baiknya bagi kehidupan. Di tengah hiruk-pikuk manusia dalam memperebutkan sumber-sumber rezeki, serta di dalam perbedaan mereka dalam memahami kebenaran dan menentukan kebaikan, terkadang tersulut suatu pertikaian dan terjadi benturan. Namun, peristiwa-peristiwa buruk ini tidak sepatutnya membuat kita melupakan hikmah yang dicari dari penciptaan manusia dan pemakmuran bumi melalui upaya-upaya mereka yang harmonis.

Setiap ikatan yang memperkokoh jalinan saling mengenal ini, serta menyingkirkan hambatan dari jalannya, merupakan ikatan yang wajib didukung dan dimanfaatkan karakteristiknya. Islam bukanlah sekadar ikatan yang menghimpun jumlah manusia yang sedikit atau banyak saja, melainkan ia adalah totalitas hakikat-hakikat yang menetapkan tatanan yang benar antara manusia dengan Tuhan mereka, kemudian antara manusia sekalian seluruhnya.

Oleh karena itu, para pemeluk Islam dan pembawa risalahnya wajib merasakan keagungan akidah yang dengannya Allah telah melapangkan dada-dada mereka, dan menyatukan urusan mereka di atasnya, serta memberikan perhatian dan pemuliaan yang layak terhadap jalinan saling mengenal di atas akidah tersebut. Sesungguhnya itu adalah jalinan kenal-mengenal yang memperbarui apa yang telah usang dari kekerabatan bersama di antara makhluk, serta menegaskan hubungan kebapakan materi yang berujung pada Adam dengan hubungan kebapakan spiritual yang merujuk pada ajaran-ajaran agama yang terangkum dalam risalah Islam. Dengan demikian, agama yang murni ini menjadi fondasi bagi persaudaraan yang ikatannya teramat kokoh, yang menyatukan para pengikutnya di timur bumi dan baratnya, serta menjadikan mereka—terlepas dari perbedaan tempat dan zaman—sebagai satu kesatuan yang fondasinya kukuh dan bangunannya menjulang tinggi, tidak dapat digoyahkan oleh badai yang mengamuk.

Persaudaraan ini adalah roh dari iman yang hidup, dan inti dari perasaan lembut yang dipendam oleh seorang muslim untuk saudara-saudaranya, hingga seolah-olah ia hidup bersama mereka dan hidup untuk mereka. Mereka seakan-akan merupakan dahan-dahan yang tumbuh dari satu pohon besar yang rimbun, atau satu roh yang bersemayam di dalam tubuh yang banyak.

Sesungguhnya sifat egois (al-atsarah) yang mendominasi adalah penyakit bagi manusia dan monster bagi keutamaan-keutamaannya. Jika kecenderungannya telah menguasai seseorang, ia akan melenyapkan kebaikannya dan menumbuhkan keburukannya, serta mengurungnya dalam ruang lingkup yang sempit lagi rendah, di mana ia tidak mengenali kecuali person dirinya sendiri; ia tidak tergerak oleh kegembiraan atau kesedihan melainkan hanya karena kebaikan atau keburukan yang menyentuh dirinya. Adapun dunia yang luas, dan ribuan manusia yang berhimpun, ia tidak mengenali mereka kecuali dalam batas apa yang sampai kepadanya melalui perantara mereka demi mewujudkan cita-citanya atau memicu kekhawatirannya.

Islam telah memerangi sifat egois yang zalim ini dengan persaudaraan yang adil, dan memberikan pemahaman kepada manusia bahwa kehidupan ini bukan miliknya seorang diri, dan kehidupan tidak akan menjadi baik dengan dirinya sendirian saja. Hendaklah ia mengetahui bahwa di sana ada orang-orang yang sepertinya; jika ia mengingat haknya atas mereka dan kemaslahatannya yang ada pada mereka, maka hendaklah ia mengingat hak-hak mereka atas dirinya dan kemaslahatan mereka yang ada pada dirinya. Mengingat hal itu akan mencabut seseorang dari egois kecilnya, dan mendorongnya untuk merasakan kondisi orang lain di saat ia merasakan kondisi dirinya sendiri, sehingga ia tidak berbuat berlebihan dan tidak merampas hak orang lain.

Termasuk hak saudaramu atas dirimu adalah kamu membenci kemudaratan menimpanya, dan kamu bersegera untuk menolaknya. Jika ia ditimpa oleh sesuatu yang menyakitinya, kamu pun turut berserikat merasakan kepedihan tersebut dan merasakan kesedihan bersamanya. Adapun jika kamu menjadi orang yang mati rasa emosinya lagi sedikit kepeduliannya—karena musibah tersebut terjadi jauh darimu sehingga perkara itu tidak merisaukanmu—maka ini merupakan tindakan yang culas. Tindakan ini terputus sama sekali dari perasaan persaudaraan yang melimpah, yang membaur di antara jiwa-jiwa kaum muslimin sehingga membuat seorang lelaki merintih kesakitan atas kepedihan yang menimpa saudaranya. Hal ini membenarkan sabda Rasulullah :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh; apabila ada salah satu anggota tubuh yang mengaduh sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain akan ikut berjaga tidak tidur dan merasakan demam.” [HR. Al-Bukhari] [^13].

Dan rasa sakit yang sebenarnya adalah rasa sakit yang mendorongmu dengan kuat untuk menyingkap kesempitan saudara-saudaramu, sehingga kamu tidak akan tenang sampai kedukaannya lenyap dan kegelapannya diusir pergi. Jika kamu berhasil dalam hal itu, niscaya wajahmu akan bersinar terang dan hati nuranimu akan merasa tenang.

Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa yang menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menolong kebutuhannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan dari seorang muslim, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di Hari Kiamat. Dan barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) di Hari Kiamat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim] [^14].

Termasuk dari tanda-tanda persaudaraan yang mulia adalah kamu menyukai kemanfaatan bagi saudaramu, dan kamu merasa gembira atas sampainya manfaat itu kepadanya sebagaimana kamu bersuka cita atas manfaat yang sampai kepada dirimu sendiri. Jika kamu bersungguh-sungguh dalam mewujudkan kemanfaatan ini, maka sesungguhnya kamu telah mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan yang paling suci dan paling berlimpah pahalanya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ia sedang beriktikaf di masjid Rasulullah, lalu seorang lelaki mendatangi dan mengucapkan salam kepadanya kemudian duduk. Ibnu Abbas berkata kepadanya: "Wahai Fulan, aku melihatmu tampak lesu lagi sedih." Ia menjawab: "Benar, wahai putra paman Rasulullah. Si Fulan memiliki hak klaim (utang) atas diriku, dan demi kehormatan penghuni kuburan ini (Rasulullah), aku tidak mampu membayarnya!"

Ibnu Abbas berkata: "Apakah mau aku bicarakan dengannya mengenai dirimu?" Ia menjawab: "Jika Anda berkenan." Maka Ibnu Abbas pun memakai alas kakinya lalu keluar dari masjid. Lelaki itu berkata kepadanya: "Apakah Anda lupa dengan ibadah (iktikaf) yang sedang Anda lakukan?" Ibnu Abbas menjawab: "Tidak, akan tetapi aku pernah mendengar penghuni kuburan ini, dan masanya belum lama berlalu—kedua matanya pun berlinang air mata—beliau bersabda: 'Barang siapa yang berjalan untuk menolong kebutuhan saudaranya, dan ia berhasil menuntaskannya, maka hal itu lebih baik baginya daripada iktikaf selama sepuluh tahun. Dan barang siapa yang beriktikaf satu hari demi mengharap rida Allah Ta'ala, niscaya Allah akan menjadikan antara dirinya dengan api neraka tiga parit yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat (cakrawala).'" [HR. Al-Baihaqi] [^15]. Dan di dalam sebuah riwayat disebutkan: "Setiap parit jaraknya lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat."

Hadis ini menggambarkan bagaimana Islam memuliakan jalinan persaudaraan yang indah, serta apresiasinya yang tinggi terhadap berbagai macam khidmat masyarakat (pelayanan publik) yang dibutuhkan oleh komunitas demi memancangkan pilar-pilarnya dan menjaga bangunannya.

Ibnu Abbas lebih memilih untuk meninggalkan iktikafnya. Padahal iktikaf adalah ibadah murni yang kedudukannya sangat tinggi di sisi Allah karena ia merupakan penenggelaman diri dalam salat, puasa, dan zikir, terlebih lagi itu dilakukan di masjid Rasulullah , di mana pahala dilipatgandakan seribu kali lipat di atas masjid-masjid lainnya.

Meskipun demikian, pemahaman fikih Ibnu Abbas di dalam Islam membuatnya meninggalkan hal itu demi mempersembahkan pelayanan kepada seorang muslim yang meminta pertolongan; demikianlah yang ia pelajari dari Rasulullah .

Sesungguhnya beban dunia ini amatlah besar, dan kemalangan turun menimpa manusia layaknya hujan yang lebat, sehingga menggenangi tanah yang subur maupun tanah yang tandus. Dan manusia sendirian terlalu lemah untuk dapat berdiri lama menghadapi cobaan-cobaan berat ini. Kalaupun ia mampu berdiri, ia pasti telah mencurahkan upaya yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan seandainya saudara-saudaranya bergegas menolongnya dan menyokongnya dalam menyukseskan tujuannya. Ada sebuah pepatah mengatakan: "Seseorang itu bernilai sedikit jika sendirian, namun menjadi bernilai banyak bersama saudara-saudaranya."

Dan termasuk hak persaudaraan adalah seorang muslim merasakan bahwa saudara-saudaranya adalah penyokong baginya di waktu lapang maupun sempit, dan kekuatannya tidak bergerak di dalam kehidupan ini sendirian. Melainkan, kekuatan kaum mukminin akan saling mendukung dan memperkuat tekadnya.

Dan Rasulullah bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” [HR. Al-Bukhari] [^16].

Oleh karena itulah, persaudaraan yang tulus merupakan nikmat yang berlipat ganda; bukan sekadar nikmat keselarasan spiritual saja, melainkan nikmat kerja sama yang bersifat materi pula.

Allah عز وجل telah mengulang-ulang penyebutan nikmat ini berkali-kali dalam satu ayat:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-mewuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” [Surah Ali 'Imran: 103] [^17].

Dan persaudaraan agama mewajibkan adanya aksi saling menolong (tanashur) di antara kaum muslimin; bukan tolong-menolong atas dasar fanatisme buta (ashabiyah), melainkan tolong-menolong kaum mukminin yang melakukan perbaikan demi menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, mencegah orang yang berbuat zalim, serta melindungi orang yang dirampas haknya. Maka tidak boleh membiarkan seorang muslim berjuang sendirian di medan pertempuran, melainkan harus berdiri di sampingnya dalam kondisi apa pun; untuk membimbingnya jika ia sesat, mencegahnya jika ia melampaui batas, membelanya jika ia diserang, dan bertempur bersamanya jika kehormatannya dihalalkan.. Dan itulah makna saling menolong yang diwajibkan oleh Islam.

Rasulullah bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا . قَالَ : أَنْصُرُهُ مَظْلُومًا ، فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ ظَالِمًا ؟ قَالَ : تَحْجُزُهُ عَنْ ظُلْمِهِ فَذَلِكَ نَصْرُهُ

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi.” Seseorang bertanya: “Aku menolongnya jika ia dizalimi, lalu bagaimana cara menolongnya jika ia berbuat zalim?” Beliau bersabda: “Kamu mencegahnya dari kezalimannya, maka itulah cara menolongnya.” [HR. Al-Bukhari] [^18].

Sesungguhnya menelantarkan (khidzlan) seorang muslim adalah perkara yang sangat besar, dan ia—jika sampai terjadi—menjadi pintu pembuka bagi penelantaran seluruh kaum muslimin. Sebab, hal itu akan melenyapkan karakter harga diri dan kepahlawanan di antara mereka, dan orang yang dizalimi akan tunduk, baik suka maupun terpaksa, terhadap ketertindasan yang menimpanya.. Kemudian ia akan menyendiri menjauh, dan terputuslah tali persaudaraan antara dirinya dengan orang-orang yang telah menelantarkannya.

Kaum muslimin telah menjadi hina secara individu, dan menjadi hina secara umat pada hari ketika ikatan persaudaraan di antara mereka melemah, dan salah seorang di antara mereka memandang yang lain dengan pandangan asing dan pengingkaran. Seorang saudara dilecehkan di hadapan saudaranya sendiri, lalu saudaranya itu hanya mengedikkan bahu dan berlalu pergi mengurus urusannya sendiri, seolah-olah perkara itu tidak merisaukan dirinya!

Sesungguhnya sikap saling menelantarkan ini menyeret kaum muslimin ke dalam kehinaan dan aib, dan Islam telah memeranginya dengan peperangan yang sengit serta melaknat orang-orang yang mendekam di bawah naungannya yang gelap lagi nista.

Rasulullah bersabda:

لَا يَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ مَوْقِفًا يُضْرَبُ فِيهِ رَجُلٌ ظُلْمًا ، فَإِنَّ اللَّعْنَةَ تَنْزِلُ عَلَى مَنْ حَضَرَهُ حِينَ لَمْ يَدْفَعُوا عَنْهُ

“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian berdiri di suatu tempat yang di dalamnya ada seorang lelaki dipukuli secara zalim, karena sesungguhnya laknat akan turun kepada orang yang menghadirinya ketika mereka tidak membelanya.” [HR. At-Thabrani] [^19].

Maka apabila kamu melihat suatu perlakuan buruk menimpa saudaramu atau suatu penghinaan terjadi atasnya, maka perlihatkanlah dari dirimu kesiapan untuk menyokongnya, dan berjalanlah bersamanya hingga kebenaran dapat diraih bersamamu dan kezaliman dapat ditolak.

Diriwayatkan dari Nabi :

مَنْ مَشَى مَعَ مَظْلُومٍ حَتَّى يُثْبِتَ لَهُ حَقَّهُ ثَبَّتَ اللَّهُ قَدَمَيْهِ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ الْأَقْدَامُ

“Barang siapa yang berjalan bersama orang yang dizalimi hingga ia berhasil menegakkan haknya, niscaya Allah akan meneguhkan kedua kakinya di atas jembatan (shirat) pada hari di mana kaki-kaki terpeleset.” [HR. Al-Asbahani] [^20].

Catatan Kaki Teks Asli:

[^1]: Al-Bukhari – Al-Fath 11/(6308) dan lafaz ini miliknya, dan Muslim (3744).

[^2]: Ibnu Majah (4348) dan di dalam Az-Zawaid: Isnad ini hasan, guru Ibnu Majah diperselisihkan sedangkan perawi lainnya tsiqat. Al-Iraqi berkata dalam Takhrij al-Ihya (4/13): Isnadnya hasan. Dan menyebutkannya dalam At-Targhib wa At-Tarhib (4/90) dengan mengatakan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad yang jayyid.

[^3]: Al-Bukhari – Al-Fath 11 (6439), Muslim (1048).

[^4]: Disebutkan dalam At-Targhib wa At-Tarhib (4/89) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan At-Thabrani dengan isnad yang jayyid.

[^5]: Muslim (2703).

[^6]: Abu Dawud dan At-Tirmidzi, hasan shahih.

[^7]: Abu Dawud (3582) dan Ahmad 1/88, shahih.

[^8]: Ibnu Majah, isnadnya shahih.

[^9]: An-Nasa'i 3/101, Ibnu Majah 4269.

[^10]: Al-Bukhari di dalam Al-Fath dan Muslim.

[^11]: Al-Bukhari dan Muslim.

[^12]: Surah Al-Hujurat: Ayat 13. (Catatan teks asli tertulis ayat 11, namun yang benar ayat 13).

[^13]: Al-Bukhari.

[^14]: Al-Bukhari dan Muslim.

[^15]: Al-Baihaqi.

[^16]: Al-Bukhari.

[^17]: Surah Ali 'Imran: 103.

[^18]: Al-Bukhari.

[^19]: At-Thabrani.

[^20]: Al-Asbahani.

Penerapan Praktis dari Tujuan dan Nilai Materi Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut:

Pertama: Aktivitas Pendamping (Utama):

  1. Berbicara di depan rekan-rekannya tentang pentingnya "Enam Langkah Menuju Keunggulan Emosional" secara gamblang dan terperinci.
  2. Merangkum nilai-nilai serta informasi yang ia serap dari materi tersebut, lalu mencatatnya di selembar kertas.
  3. Berdiskusi bersama rekan-rekannya mengenai apa yang dimaksud dengan "Sepuluh Sinyal Tindakan".
  4. Memberikan contoh-contoh yang relevan dari kehidupan Rasulullah , para rasul عليهم السلام, dan para sahabat yang mulia.

Kedua: Aktivitas Pendukung:

  1. Meminta bantuan para pakar psikologi dan pendidikan untuk menyusun rangkaian pertanyaan berupa kuesioner atau sejenisnya, guna menyingkap hakikat diri dan kecenderungannya.
  2. Mengelola sebuah seminar mengenai cara manusia menyikapi emosi serta menjelaskan metode terbaiknya.
  3. Menyusun sebuah dialog (skenario wawancara/diskusi) tentang pengaruh kata-kata dalam mengubah jiwa seseorang, dengan menyebutkan contoh-contoh dari sejarah maupun realitas saat ini.
  4. Mengadakan diskusi yang terarah dengan orang-orang yang diundangnya mengenai pentingnya memanfaatkan emosi dan perasaan demi meraih keunggulan emosional.
  5. Menyampaikan sebuah ceramah (kultum/kuliah umum) mengenai sifat santun (al-hilm) dan tidak tergesa-gesa (al-anah).
  6. Menulis sebuah cerita pendek yang menggambarkan tentang bahaya/penyakit lisan dan bahaya marah.
  7. Menyusun daftar pertanyaan dan dialog seputar topik-topik yang ada di dalam buku.
  8. Mengamati sejauh mana perilaku seseorang selaras dengan apa yang telah ia serap dari proses mempelajari konten materi.
  9. Memantau tingkat partisipasi individu dalam aktivitas-aktivitas pendamping.
  10. Mengadakan tes sumatif (uji capaian) seputar konten ilmiah materi.
  11. Melakukan wawancara pribadi untuk mengukur tingkat pemahaman para peserta didik.
  12. Menyebarkan kuesioner untuk mengetahui capaian yang telah diperoleh.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Pertama: Pertanyaan Esai (Uraian):

  1. Sebutkan manfaat-manfaat yang dihasilkan dari penggunaan optimal langkah-langkah keunggulan emosional!
  2. Bagaimana cara Anda menginvestasikan emosi Anda dan memanfaatkannya?
  3. Kapan waktu yang paling tepat dan terbaik untuk menangani jenis emosi apa pun?
  4. Apa hubungan antara "Enam Langkah Menuju Keunggulan Emosional" dan "Sepuluh Sinyal Tindakan"?
  5. Mengapa banyak orang menghindari emosi-emosi utama atau "Sepuluh Sinyal Tindakan"?
  6. Tentukan pesan neurologis-emosional yang terpancar dari masing-masing perasaan berikut: Keresahan (Ketidaknyamanan) – Ketakutan – Kemarahan!
  7. Sebutkan model-model dan situasi yang menunjukkan kesabaran Rasulullah serta pengendalian diri beliau!
  8. Apa solusi yang diusulkan untuk emosi berupa rasa optimisme dan pemanfaatan nilai?
  9. Pilihlah tiga jenis emosi dan perasaan berikut ini, lalu tulislah pesan yang terpancar darinya:
    • Perasaan: ........... Pesan yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
    • Frustrasi: ........... Pesan yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
    • Marah: ........... Pesan yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
    • Keresahan (Terganggu): ........... Pesan yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
    • Ketakutan: ........... Pesan yang dikirimkan oleh perasaan ini: ...........
  10. Kemarahan adalah suatu penyakit yang memiliki banyak bahaya. Apakah hakikat dari bahaya-bahaya ini serta dampaknya terhadap individu dan masyarakat?

Kedua: Pertanyaan Objektif:

  1. Bacalah paragraf berikut ini dan lengkapilah berdasarkan pemahaman Anda terhadap materi:
    • "Masa Jahiliyah yang diobati dan dihapuskan oleh Rasulullah tegak di atas dua jenis kebodohan (جهالة)."
    • "Kebodohan yang menjadi lawan dari ilmu, dan kebodohan yang menjadi lawan dari sifat santun (al-hilm). Jenis yang pertama kita hapuskan kegelapannya dengan [.....], sedangkan jenis yang kedua kita tahan kezalimannya dengan [.....]."
  2. Rasulullah membagi manusia dalam hal kemarahan menjadi empat golongan, yaitu:
    • Orang yang lambat marah namun cepat mereda.
    • Orang yang cepat marah namun cepat mereda.
    • Orang yang lambat marah namun cepat mereda [.....] dan mereka adalah yang terbaik.
    • Orang yang cepat marah namun cepat mereda [.....] dan mereka adalah yang terburuk.
  3. Persaudaraan (al-ukhuwwah) adalah solusi terbaik untuk mengatasi perasaan [.....]. Dan di antara manfaat pentingnya adalah:
    1. [.....]
    2. [.....]

Catatan-Catatan Penting:

  1. Pertanyaan evaluasi dan pengukuran mandiri di atas—baik jenis esai maupun objektif—berfungsi untuk mengukur dan mengevaluasi tujuan perilaku prosedural pada ranah kognitif beserta tingkatan-tingkatannya. Hal ini dikenal sebagai evaluasi dan pengukuran capaian belajar atau tes prestasi belajar.
  2. Evaluasi dan pengukuran tujuan afektif (sikap) dilakukan melalui pengamatan guru terhadap ketertarikan, respons, keseriusan, kesungguhan, antusiasme, serta pengejawantahan para peserta didik terhadap apa yang telah mereka pelajari, sekaligus sejauh mana mereka telah mencapai tahapan proses interaktif tersebut.
  3. Evaluasi dan pengukuran tujuan psikomotorik (keterampilan) dilakukan dengan mengamati tingkat kinerja peserta didik dalam keterampilan yang menjadi target melalui keterampilan berbicara, menulis, dan praktik langsung.
  4. Evaluasi dan pengukuran aktivitas dilakukan melalui observasi terhadap interaksi dan kinerja peserta didik dalam aktivitas pendamping selama sesi berlangsung. Aktivitas tersebut bersifat sebagai penyokong, penguat, dan pemantap, di mana setiap peserta didik memilih aktivitas yang sesuai untuk mereka lakukan selama hari-hari dalam seminggu.
  5. Pengukuran dan evaluasi yang menggunakan metode observasi dan pemantauan agar dapat mencapai tujuannya secara efektif, harus dilakukan melalui Lembar Observasi dan Pemantauan. Lembar ini mencantumkan daftar hal-hal yang ingin diukur dan dievaluasi, di mana pada setiap target disediakan kolom penilaian berjenjang dari skala (0) sampai (5). Skala (0 dan 1) berarti Kurang, (2) berarti Cukup, (3) berarti Baik, (4) berarti Baik Sekali, dan (5) berarti Istimewa (Sangat Baik). Formatnya adalah seperti lembar berikut ini:

Lembar Evaluasi Interaksi dan Kinerja (Observasi dan Pemantauan)

No

Hal-Hal yang Ingin Dievaluasi dari Peserta Didik

0

1

2

3

4

5

Kurang

Kurang

Cukup

Baik

Baik Sekali

Istimewa

1

Perhatian dan ketertarikannya: secara kepedulian, keseriusan, dan antusiasme

2

Respons dan ketaatannya

3

Penerapan nilai-nilai pada dirinya

4

Kinerjanya dalam aktivitas pendamping (utama)

5

Kinerjanya dalam aktivitas pendukung

6

Kinerjanya di dalam kelompok/bagiannya

7

Kehadirannya dalam pertemuan-pertemuan

8

Persiapan mental/pikirannya

9

Penyampaian materi/sesinya

10

Pembayaran iuran untuk koperasi karyawan

11

Sifat kedermawanan dan pengorbanan (al-badzl wa at-tadhhiyah)

Referensi Belajar Mandiri:

  1. The Power of Self-Esteem (Kekuatan Harga Diri) – Samuel A. Cypert
  2. The Power of Your Subconscious Mind (Kekuatan Pikiran Bawah Sadar Anda) – Joseph Murphy
  3. Shaid al-Khatir (Buruan Pikiran) – Ibnu al-Jauzi
  4. Al-Jawab al-Kafi (Jawaban yang Memadai) – Ibnu al-Qayyim
  5. 'Uyun al-Akhbar (Mata Air Berita) – Ibnu Qutaibah
  6. Al-Iman wa al-Hayah (Iman dan Kehidupan) – Al-Qaradhawi
  7. Siyar A'lam an-Nubala (Biografi Tokoh-Tokoh Mulia) – Adz-Dzahabi
  8. Shina'at an-Najah (Industri Kesuksesan)
  9. Unlimited Power (Kemampuan Tanpa Batas) – Anthony Robbins
  10. Madarij as-Salikin (Tahapan-Tahapan Para Salik) – Ibnu al-Qayyim
  11. Sawanih wa Ta'ammulat fi Qimat al-Waqt (Lintasan Pikiran dan Renungan tentang Nilai Waktu)
  12. The Art of Time Management (Seni Manajemen Waktu) – Diterjemahkan oleh Bait al-Afkar
  13. An-Najah Rihlah (Sukses adalah Sebuah Perjalanan) – Khalil Saqr
  14. First Things First / Priority Management (Manajemen Prioritas) – Stephen Covey (Diterjemahkan oleh Dr. El-Sayed Metwalli Hassan, Penerbit Jarir)

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat