Bab I: Arti Dakwah (Buku Ad-Da'wah ilallah Dr. Taufiq Al-Wa'i)
PENDAHULUAN
Segala
puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami kepada (Islam) ini, dan kami tidak
akan mendapat petunjuk jikalau Allah tidak menunjukkan kami. Selawat dan salam
semoga tercurah kepada makhluk terbaik-Nya, penutup para nabi dan rasul-Nya. Wa
ba'du;
Maka
tidak ada perkataan yang lebih utama dan lebih baik daripada dakwah ke jalan
Allah, berdasarkan firman Allah Ta'ala:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ
دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang
muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fussilat: 33).
Dan
tidak ada yang lebih agung daripada para lelaki yang mengemban risalah-risalah
Allah untuk menyampaikannya kepada manusia. Benarlah Allah (yang berfirman
tentang) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah dan mereka takut
kepada-Nya serta tidak merasa takut kepada seorang pun selain Allah, dan
cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan. Mereka adalah para lelaki yang
dipilih di antara manusia dan dilebihkan di atas seluruh alam. Dan Allah
memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia. Dan sesungguhnya
Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga 'Imran di atas
seluruh alam. Kemudian Kami wariskan Kitab itu kepada orang-orang yang Kami
pilih di antara hamba-hamba Kami. Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim,
Ishaq, dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu
yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan)
akhlak yang bersih, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan
yang paling baik. Dan ingatlah Ismail, Alyasa', dan Zulkifli. Semuanya termasuk
orang-orang yang paling baik.
Kemuliaan
perkataan ini muncul karena kemuliaan apa yang dikatakan, dan pembicaraan ini
dikhususkan dengan kebaikan karena mengemban dakwah yang paling utama, serta
karena penyampaiannya merupakan petunjuk yang paling baik. Sebuah dakwah yang
memperoleh kehormatan karena dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan
petunjuk yang murni dari kesalahan, kotoran, serta penyimpangan. Benarlah Allah
(dalam firman-Nya):
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي
هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
“...Maka
jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti
petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Taha: 123).
Pemilihan
dan penyaringan para dai didasarkan pada sifat kerabbaniatannya, kekuatan,
pandangan, serta kemampuan mereka dalam mengemban amanah, sekaligus kesabaran
mereka dalam menyampaikan risalah. Benarlah Allah (dalam firman-Nya):
رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا
اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ
وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di
antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara
mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah
(janjinya),” (QS. Al-Ahzab: 23).
Allah
telah memilih Muhammad untuk mengemban dakwah yang paling agung, petunjuk yang
paling murni, risalah yang paling komprehensif, wahyu yang paling abadi, dan
syariat yang paling kekal.
Dia
juga memilih umatnya untuk menyampaikan Kitab yang paling suci, menjelaskan
jalan yang paling lurus, serta mengajarkan tujuan yang paling mulia dan sasaran
yang paling tinggi. Benarlah Allah (dalam firman-Nya):
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى
اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا
أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah
(Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk
orang-orang musyrik’.” (QS. Yusuf: 108).
Oleh
karena itu, wajib bagi umat Islam hari ini untuk bersegera mengemban amanah ini
dan menyampaikan risalah tersebut, serta bangkit menuju tingkatannya, mendaki
ke ufuknya, dan memunculkan matahari kebenaran agar malam kebatilan dan
kegelapan kesesatan sirna. Dengan demikian, lenyaplah kesia-siaan setan beserta
golongannya, serta kesesatan kebohongan dan kedustaannya. Sebab, umat manusia
hari ini, dan kaum muslimin sebelum yang lainnya, sangat membutuhkan cahaya
kebenaran, pancaran iman, dan kesejukan keyakinan agar mereka dapat bangkit,
mulia, bahagia, dan merasa aman. Benarlah Allah (dalam firman-Nya):
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي
لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ
الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya
Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi
kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi
mereka ada pahala yang besar,” (QS. Al-Isra': 9).
Buku
kami hari ini merupakan sebuah langkah di jalan dakwah, yang memberikan
secercah cahaya atas tanggung jawab dan kemuliaan ini, yang telah Allah
khususkan bagi umat Muhammad alaihis salam. Buku ini juga menerangkan dan
menjelaskan sebagian dari rintangan jalan serta konsekuensi penyampaian
risalah, sekaligus menyoroti metode-metode dakwah yang wajib diikuti dan
dijalani agar dai senantiasa ingat, memiliki wawasan, pemahaman, dan hikmah.
Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memberikan taufik kepada
para aktivis dai yang ikhlas menuju kebaikan yang diwajibkan dan diridai-Nya.
Amin.
Dr.
Taufik Al-Wa'i
BAB
PERTAMA
DEFINISI
DAKWAH, SERTA MAKNA ISLAM, DIN, DAN AQIDAH, BESERTA MACAM-MACAM DAKWAH
Dan
bab ini memuat:
- Pasal Pertama:
Definisi Dakwah dan Ilmu Dakwah
- Pasal Kedua: Makna
Islam, Din, dan Aqidah
- Pasal Ketiga:
Macam-macam Dakwah
PASAL
PERTAMA
DEFINISI
DAKWAH DAN ILMU DAKWAH
Pendahuluan:
Dakwah
Islamiah objek kajiannya adalah risalah pamungkas yang diturunkan dari sisi
Allah melalui jalan wahyu kepada Muhammad ﷺ dalam sebuah Kitab yang tidak mendatangkan
kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya.
Allah
menjamin penjagaannya dengan menjaga Kitab-Nya, dan Dia mengutus Muhammad
melaluinya kepada seluruh manusia guna mengeluarkan mereka dari kegelapan
menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka menuju jalan (Allah) Yang Mahaperkasa
lagi Maha Terpuji.
Maka
ia adalah risalah Allah di bumi dan din-Nya bagi seluruh manusia hingga hari di
saat Allah mewarisi bumi beserta apa yang ada di atasnya. Ia adalah metode yang
paling ideal dan manhaj yang paling sempurna yang dipilih Allah bagi
makhluk-Nya demi meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia adalah penutup
dari risalah-risalah sebelumnya dan penghimpun wasiat para nabi serta rasul
sejak zaman Adam hingga Muhammad ﷺ.
Pembahasan
Pertama: Definisi Dakwah secara Etimologi (Bahasa) dan Terminologi (Istilah)
Di
antara makna dakwah secara etimologi (lughatan) adalah:
- Panggilan (An-Nida').
Dikatakan 'da'a fulanun fulanan' apabila ia memanggilnya, dan 'da'autu
ar-rajula' apabila aku meneriakinya dan memanggilnya agar datang.
- Seruan kepada sesuatu,
dalam artian mendorong untuk menuju kepadanya.
- Seruan kepada suatu
perkara yang ingin dibuktikan atau dibela, baik perkara itu berupa
kebenaran (haq) maupun kebatilan (batil). Contoh yang batil
adalah kisah Al-Qur'an tentang Yusuf alaihis salam dalam firman-Nya:
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ
إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ
“Yusuf
berkata, ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka
serukan kepadaku...’” (QS. Yusuf: 33), yaitu berupa ketaatan kepada para
wanita itu dan jatuh ke dalam dosa. Hal ini juga sebagaimana terdapat dalam
sabda Rasulullah ﷺ
kepada kaum Aus dan Khazraj ketika mereka berbaris untuk berperang:
أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا
بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟
“Apakah
dengan seruan jahiliah (kalian saling memanggil), padahal aku berada di
tengah-tengah kalian?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedangkan
contoh dari kebenaran adalah firman Allah Ta'ala: “Hanya bagi-Nyalah dakwah
(seruan) yang hak,” dan firman-Nya:
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ
السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Allah
menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang
yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam).” (QS. Yunus: 25). Serta
dalam surat beliau ﷺ
kepada Heraklius: “Aku menyerumu dengan seruan Islam,” yaitu dengan
dakwahnya, yang berupa kalimat syahadat dan mengikuti manhaj Allah.
- Upaya lisan maupun
perbuatan dan praktis untuk memalingkan manusia ke suatu mazhab atau
aliran.
- Doa dan permohonan (Al-Ibtihal
wa as-sual). Disebutkan dalam Al-Mishbah al-Munir: 'Da'autullah
ad'uhu, wa ad'uhu du'aan', artinya aku memohon kepada-Nya dengan
mengajukan permintaan, dan aku berharap kebaikan di sisi-Nya.
Definisi
Dai (Ad-Du'at):
Definisi
dai terbentuk selaras dengan definisi-definisi yang beragam ini. Mereka juga
dijuluki sebagai kaum yang menyeru kepada suatu baiat, atau dakwah petunjuk,
maupun kesesatan. Dikatakan: 'rajulun da'iyah' (seorang dai) apabila ia
menyeru kepada suatu bid'ah, mazhab, atau agama. Dan Rasulullah ﷺ adalah dai pertama
dalam Islam menuju tauhid kepada Allah, menaati-Nya, dan mengikuti syariat-Nya.
Allah Ta'ala berfirman mengabarkan tentang jin yang mendengarkan Al-Qur'an lalu
kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan seraya berkata:
يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ
اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ
عَذَابٍ أَلِيمٍ * وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي
الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي
ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Wahai
kaum kami, penuhilah (seruan) dai yang menyeru kepada Allah (Muhammad) dan
berimanlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan
melepaskanmu dari azab yang pedih. Siapa yang tidak memenuhi (seruan) dai yang
menyeru kepada Allah tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan
tidak ada baginya pelindung selain-Nya. Mereka itu berada dalam kesesatan yang
nyata.” (QS. Al-Ahqaf: 31-32).
Dan
firman-Nya Ta'ala:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا
أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا * وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ
بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
“Wahai
Nabi (Muhammad), sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa
kabar gembira, dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada (agama)
Allah dengan izin-Nya serta menjadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab:
45-46).
Definisi
Terminologi (Al-Istilah) dari Dakwah:
Dari
apa yang telah lalu, kita melihat bahwa kata dakwah dalam definisinya, di
antara maknanya adalah upaya lisan dan praktis untuk memanggil manusia dan
memalingkan mereka kepada dai, atau kepada apa yang ia tuju berupa perkataan
atau perbuatan.
Makna
istilah dari kata dakwah tidak jauh berbeda dari makna bahasanya, di mana poros
definisi istilah bagi dakwah berkisar pada upaya menyeru manusia dengan
perkataan dan perbuatan menuju Islam, menerapkan manhajnya, memeluk aqidahnya,
serta menjalankan syariatnya.
Pembahasan
Kedua: Definisi Dakwah ilallah (Dakwah ke Jalan Allah)
Jika
kita melihat definisi dakwah ilallah dalam makna istilah, kita akan menemukan
bahwa di sana terdapat beberapa definisi dari para ulama yang semuanya dihimpun
oleh satu ikatan, yaitu: menyeru kepada din Allah, serta mendorong untuk
mengikutinya dan menerapkan syariat-Nya. Oleh karena itu, definisi-definisi
mereka hadir dengan membawa makna ini. Di antara definisi-definisi tersebut:
- Dakwah Islamiah adalah
ketundukan kepada Allah dan kepatuhan kepada ajaran-ajaran-Nya tanpa
ikatan dan syarat. Definisi ini didukung oleh firman-Nya Ta'ala:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي
وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ
وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ
“Katakanlah
(Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang
diperintahkan kepadaku...’” (QS. Al-An'am: 162-163). Dan firman-Nya:
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ
وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا
“Apakah
mereka mencari din selain din Allah, padahal apa yang ada di langit dan di bumi
berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka rela maupun terpaksa...” (QS.
Ali 'Imran: 83). Serta firman-Nya:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ
أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ
“Siapakah
yang lebih baik dinnya daripada orang yang berserah diri kepada Allah, sedang
dia muksin (orang yang berbuat kebaikan)...” (QS. An-Nisa': 125). Serta
firman-Nya Ta'ala:
قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ
الْهُدَىٰ ۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“...Katakanlah
(Muhammad), ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya); dan
kita diperintahkan agar berserah diri kepada Tuhan semesta alam’.” (QS.
Al-An'am: 71).
- Dakwah Islamiah adalah din
yang diridai Allah untuk semesta alam, dan Dia menurunkan ajaran-ajarannya
sebagai wahyu kepada Rasulullah ﷺ, menjaganya
dalam Al-Qur'anul Karim, dan menjelaskannya dalam Sunah. Definisi ini
diambil dari firman-Nya Ta'ala:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ
دِينًا
“...Pada
hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku
bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu...” (QS. Al-Ma'idah: 3).
Dan firman-Nya:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ
دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa
mencari din selain Islam, dia tidak akan sekali-kali diterima darinya dan di
akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali 'Imran: 85). Dan dari
firman-Nya:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا
وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ
إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا
فِيهِ
“Dia
(Allah) telah mensyariatkan kepadamu bagian dari din apa yang telah
Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad)
dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu
tegakkanlah din dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya...” (QS.
Asy-Syura: 13).
- Dakwah Islamiah adalah
sistem umum (an-nizam al-'am) dan undang-undang yang komprehensif
bagi urusan kehidupan serta manhaj perilaku manusia, yang dibawa oleh
Muhammad ﷺ
dari Tuhannya dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia.
Definisi ini diambil dari firman-Nya Ta'ala:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ
حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي
أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka
demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad)
sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
mendapati rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa': 65). Dan
firman-Nya Ta'ala:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ
يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ
قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ
يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Tidakkah
engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah
beriman pada apa yang diturunkan kepadamu dan pada apa yang diturunkan
sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada tagut, padahal mereka telah
diperintahkan untuk mengingkarinya. Setan bermaksud menyesatkan mereka dengan
kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa': 60). Serta dari firman-Nya
Ta'ala:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمُ بِمَا أَنْزَلَ
اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“...Barangsiapa
tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah
orang-orang kafir.” (QS. Al-Ma'idah: 44).
Pada
hakikatnya, Dakwah Islamiah mencakup seluruh definisi ini. Ia adalah penyerahan
diri kepada perintah Allah dan ketundukan kepada-Nya; ia adalah pelaksanaan
ajaran Al-Qur'an dan Sunah; dan ia adalah sistem yang komprehensif bagi
kehidupan manusia.
Semuanya
dihimpun oleh satu definisi yang kami ridai dan kami condong kepadanya, yaitu:
Menyeru kepada tauhid kepada Allah, mengikrarkan dua kalimat syahadat, serta
menerapkan manhaj Allah di bumi baik secara perkataan maupun perbuatan,
sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'anul Karim dan Sunah yang
disucikan—Sunah Rasulullah Muhammad ﷺ—agar din itu seluruhnya milik Allah. Oleh karena itu, ia
merupakan dakwah bagi non-muslim menuju Islam, dan dakwah bagi kaum muslimin
untuk menerapkan Islam serta beramal demi menegakkan syariat dan manhaj-Nya di
bumi. Ia adalah amru bil ma'ruf (menyuruh berbuat kebaikan) dan nahyu
'anil munkar (mencegah kemungkaran) agar manusia meraih kebahagiaan di
dunia saat ini maupun di masa depan kelak.
Pembahasan
Ketiga: Ilmu Dakwah
Telah
maklum bahwa dakwah dalam artian penyebaran, penyampaian, pengonstruksian
keyakinan, dan propaganda, kini telah menjadi sebuah disiplin ilmu yang mandiri
dengan sendirinya seperti ilmu-ilmu lainnya, yang memiliki objek kajian,
karakteristik, serta tujuannya sendiri. Ia telah berjalan beriringan dan
mengimbangi ilmu-ilmu Islam lainnya. Bahkan, ia telah menjadi salah satu ilmu
Islam paling penting untuk menjaga aqidah umat dan eksistensinya di masa kini
serta masa depannya, sekaligus untuk memproteksinya dari mazhab-mazhab batil
yang menyusup ke dalam umat Islam, dan dari angin beracun yang berembus dari
musuh-musuhnya siang dan malam, serta dari invasi pemikiran (al-ghazwul
fikri) dan imperialisme budaya yang menguji bangsa-bangsa di zaman yang
keruh ini.
Maka
Ilmu Dakwah atas dasar ini adalah: Ilmu yang dengannya diketahui metode-metode
pengonstruksian keyakinan beserta jalan-jalannya, dengan mengambil dari
firman-Nya Ta'ala:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ
بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ
أَحْسَنُ
“Serulah
(manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta
debatlah mereka dengan cara yang lebih baik...” (QS. An-Nahl: 125). Baik
metode tersebut bersifat lisan seperti khotbah, pelajaran, dan selainnya;
maupun metode praktis seperti teladan yang baik (al-qudwah al-hasanah),
amal yang bermanfaat, rekam jejak yang baik, serta metode-metode bijaksana
lainnya.
Imam
Al-'Aini berkata: “Hikmah menunjukkan kepada ilmu yang jeli lagi kukuh;
mengajarkannya adalah kesempurnaan ilmiah, sedangkan memutuskan perkara
dengannya adalah kesempurnaan amaliah.”
Dan
sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-'Aini: Hikmah membutuhkan ilmu yang
jeli tentang rahasia-rahasia kehidupan, tabiat-tabiat jiwa, dan kondisi-kondisi
masyarakat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kita untuk
mempelajari hikmah karena Rasul ﷺ telah datang kepada kita dengan membawa hikmah, dan benarlah
Allah (dalam firman-Nya):
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي
الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dialah
yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari jenis mereka
sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah...” (QS. Al-Jumu'ah: 2).
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو
عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Sungguh,
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Allah) mengutus
di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunah), meskipun
sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali 'Imran:
164).
Menyeru
manusia itu membutuhkan hikmah. Maka tidak ada seorang rasul atau nabi pun yang
datang kepada manusia membawa petunjuk atau diperintahkan untuk menyampaikan
risalah, melainkan ia dianugerahi hikmah bersama risalah dan petunjuk tersebut.
Allah Yang Mahabenar berfirman tentang keluarga Ibrahim:
فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا
“...karena
sesungguhnya Kami telah menganugerahkan Kitab dan Hikmah kepada keluarga
Ibrahim, dan Kami telah menganugerahkan kerajaan yang besar kepada mereka.”
(QS. An-Nisa': 54). Dan Dia berfirman kepada Isa alaihis salam: “...dan
(ingatlah) ketika Aku mengajarkan menulis, hikmah, Taurat, dan Injil
kepadamu...” Dan Dia berfirman tentang Daud: “...Daud membunuh Jalut dan
Allah memberinya (Daud) kerajaan dan hikmah serta mengajarkan kepadanya apa
yang Dia kehendaki.”
Dan
Dia berfirman tentang Luqman:
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ
الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ
“Sungguh,
Kami telah menganugerahkan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada
Allah!’...” (QS. Luqman: 12).
Maka
dari itu, dakwah mutlak harus dibersamai oleh hikmah, dan para dai mutlak
membutuhkannya apabila mereka ingin membuka gembok-gembok hati dan akal
pikiran, serta apabila mereka ingin mencapai apa yang mereka harapkan berupa
penyampaian risalah.
Jalan-jalan
jiwa itu amat banyak dan rahasia-rahasianya sangat dalam, yang membutuhkan
seorang dai yang cerdik dengan kata-kata yang memikat pada waktu yang disukai,
sentuhan yang lihai pada momentum yang dipilih, serta argumentasi yang kuat
pada tempat yang bermanfaat. “...Dan (juga karena) Allah telah menurunkan
Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunah) kepadamu (Muhammad) dan telah mengajarkan
kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dicurahkan kepadamu
sangat besar.”
Dan
Ilmu Dakwah di kalangan kaum muslimin bersumber dari aliran-aliran yang
melimpah dan sungai-sungai yang lebat, baik metode, manhaj, maupun
jalan-jalannya. Maka sirah Rasul ﷺ, sirah Salafus Shalih, dan Al-Qur'anul Karim yang darinya
mereka mereguk ilmu dan berguru, itu semua merupakan bekal yang tidak akan
pernah habis dan persediaan yang tidak akan pernah berkurang bagi para dai dari
umat ini. Sungguh umat Islam telah terbentuk, manusia masuk ke dalam din Allah
secara berbondong-bondong, serta Islam menyebar ke timur dan barat di seluruh
penjuru dunia berkat dakwah yang bijaksana dan nasihat yang baik. Para dai kala
itu adalah senjata yang efektif dalam menggeser kebatilan, melenyapkan
kemungkaran, serta mengusir setan-setan. Benarlah Allah (dalam firman-Nya):
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ
الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Katakanlah,
‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil
itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra': 81).
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى
الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ
“Sebenarnya
Kami melemparkan yang benar kepada yang batil, lalu yang benar itu
menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap...” (QS.
Al-Anbiya': 18).
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي
بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ
“Ingatlah
apa yang dibacakan di rumah-rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah...”
(QS. Al-Ahzab: 34).
PASAL
KEDUA
MAKNA
ISLAM, DIN, DAN AQIDAH
Pembahasan
Pertama: Makna Islam
Telah
muncul dari perkataan para ulama berbagai definisi bagi Islam, yang mana
menurut hemat saya, semuanya menyentuh salah satu dari aspek-aspeknya,
karakteristiknya, atau dampak-dampaknya.
Maka
salah satu dari definisi ini adalah mendefinisikan berdasarkan fondasi-fondasi
yang di atasnya Islam berdiri: Yaitu apa yang tercantum dalam hadis Jibril
alaihis salam kepada Rasulullah ﷺ ketika ia bertanya kepada beliau tentang Islam, lalu beliau
bersabda:
«أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ،
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِسْلَامُ أَنْ
تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ،
وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا»
“Kabarkan
kepadaku tentang Islam! Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Islam adalah engkau bersaksi
bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad
adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan
berhaji ke Baitullah jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana’.”
(HR. Muslim). Tidak diragukan lagi bahwa apa yang ada di dalam hadis ini
merupakan fondasi yang di atasnya Islam dibangun, berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ: “Islam dibangun
di atas lima perkara.” Lima perkara yang disebutkan ini adalah fondasi yang
kokoh bagi bangunan megah Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya; ia
bukanlah Islam secara keseluruhan, melainkan tiang penyangga, penyokong, dan
fondasi tempat ia didirikan.
Di
antara ulama ada yang mendefinisikan Islam secara etimologi (bahasa) dan
mengira bahwa ini adalah definisi yang mencakup bagi Islam yang disyariatkan
Allah Tabaraka wa Ta'ala, lalu ia berkata: “Islam adalah ketundukan dan
kepatuhan kepada Allah, Tuhan semesta alam.” Tidak diragukan lagi bahwa
ketundukan, kepatuhan, dan penyerahan diri adalah definisi Islam secara bahasa,
namun di samping itu ia bukanlah definisi yang komprehensif (jami'),
karena ketundukan kepada Allah haruslah dengan syariat tertentu dan ajaran
khusus, dan barangsiapa mencari din selain Islam maka tidak akan pernah
diterima darinya.
Di
antara ulama ada yang mendefinisikan Islam berdasarkan sifat-sifatnya dan
dampak-dampaknya, lalu ia berkata: “Islam adalah ruh yang sejati bagi
manusia, cahaya yang membimbingnya di jalan-jalan kehidupan, obat yang memadai
lagi memuaskan bagi penyakit-penyakit umat manusia, serta jalan lurus yang
tidak akan tersesat orang yang menempuhnya dan berjalan di atasnya.”
Yang
lain berkata: “Islam adalah jawaban-jawaban yang benar lagi hak atas
pertanyaan-pertanyaan yang menyibukkan manusia baik di masa lalu maupun masa
kini.”
Yang
lain lagi berkata: “Islam adalah sistem umum (an-nizam al-'am) dan
undang-undang yang komprehensif bagi urusan kehidupan serta manhaj perilaku
manusia, yang dibawa oleh Muhammad dari Tuhannya.”
Definisi
Islam mencakup seluruh definisi ini dan selainnya, karena Islam menghimpun
seluruh sifat kebaikan berdasarkan firman-Nya Ta'ala: “...Tidak ada sesuatu
pun yang Kami luputkan di dalam Kitab...” (QS. Al-An'am: 38).
Kami
melihat setelah memaparkan definisi-definisi tersebut, bahwa definisi yang
paling menghimpun dan paling komprehensif bagi Islam adalah: Bersaksi bahwa
tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah
utusan Allah, disertai keyakinan, keimanan, dan pengamalan terhadap Kitab Allah
serta Sunah Rasul-Nya, serta tunduk kepada keduanya secara sukarela dan atas
pilihan sendiri.
Inilah
Islam yang dahulu Rasul ﷺ
terima dan atasnya beliau membaiat manusia. Maka mereka bersaksi bahwa tidak
ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan
Allah, lalu mereka bergabung ke dalam barisan mukmin yang beramal dengan Kitab
Allah dan Sunah Rasul-Nya, serta mengikuti dan meneladani Rasulullah ﷺ, berdasarkan
firman-Nya Ta'ala:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ
وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“...Apa
yang diberikan Rasul kepadamu muliakanlah (terimalah) dan apa yang dilarangnya
bagimu tinggalkanlah...” (QS. Al-Hasyr: 7). Dan firman-Nya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ
اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ
“Sungguh,
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat...” (QS.
Al-Ahzab: 21).
Pembahasan
Kedua: Makna Din
Din
merupakan sebuah lafal yang membawa ketundukan di dalam kandungannya, sebab
secara bahasa dikatakan 'dana lahu', artinya ia menaatinya dan tunduk
kepadanya. Dan apabila dikatakan 'dana bisy-syai', maka maknanya adalah
ia menjadikannya sebagai din dan mazhab, yaitu ia meyakininya dan menjadikannya
sebagai jalan tempat ia berjalan baik secara teori maupun praktik. Kata din di
sisi orang Arab menunjukkan hubungan antara dua pihak, yang mana salah satunya
mengagungkan yang lain dan tunduk kepadanya. Apabila pihak pertama yang
disifati dengannya, maka ia berupa ketundukan dan kepatuhan; dan apabila pihak
kedua yang disifati dengannya, maka ia berupa perintah, kekuasaan, hukum, dan
keharusan. Dan apabila kita melihat kepada ikatan yang menghimpun di antara kedua
pihak tersebut, maka ia adalah konstitusi yang mengatur hubungan tersebut atau
manifestasi yang mengekspresikan ikatan ini.
Atas
dasar ini, maka din secara istilah di sisi kita adalah:
Ketundukan
kepada Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya, serta beramal dengan syariat-Nya dan
komitmen terhadap jalan-Nya yang lurus. Artinya, din dalam konsep kita adalah
ketundukan, kepatuhan, penyerahan diri, pengamalan terhadap Islam, dan
melaksanakan perintah-perintah-Nya Subhanahu. Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ
دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa
mencari din selain Islam, dia tidak akan sekali-kali diterima darinya dan di
akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali 'Imran: 85).
Definisi
din ini telah tunduk kepada keyakinan para pemiliknya, pandangan mereka,
kecenderungan mereka, serta perbedaan aliran mereka. Kami akan memaparkan
sebagian dari definisi tersebut kepada mereka agar kita melihat bagaimana din
dan pandangan itu beraneka warna.
- Spencer berkata dalam
bukunya tentang undang-undang: “Din adalah ikatan yang menghubungkan
manusia dengan Allah.”
- Kant berkata dalam
bukunya Religion within the Boundaries of Mere Reason: “Din
adalah kesadaran akan kewajiban-kewajiban kita dari segi keberadaannya
yang bersandar pada perintah-perintah ilahi.”
- Schleiermacher berkata
dalam artikel tentang religi: “Esensi hakikat din adalah perasaan kita
akan kebutuhan dan ketergantungan yang mutlak.”
- Pastor Chatel berkata
dalam bukunya Code de l'Humanité: “Din adalah kumpulan kewajiban
makhluk terhadap Pencipta: kewajiban manusia terhadap Allah, kewajibannya
terhadap komunitas, dan kewajibannya terhadap dirinya sendiri.”
- Robert Spencer berkata
di akhir bukunya First Principles: “Iman kepada kekuatan yang
tidak dapat dibayangkan batas spasial maupun temporalnya, merupakan elemen
utama dalam din.”
- Tylor berkata dalam
bukunya Primitive Culture: “Din adalah iman kepada
makhluk-makhluk spiritual.”
- Max Müller berkata
dalam bukunya The Origin and Growth of Religion: “Din adalah
upaya untuk membayangkan apa yang tidak dapat dibayangkan, dan
mengekspresikan apa yang tidak dapat diekspresikan; ia adalah kerinduan
kepada yang tak terbatas, ia adalah cinta kepada Allah.”
- Émile Burnouf berkata
dalam Science des Religions: “Din adalah ibadah, dan ibadah
adalah aktivitas ganda: ia adalah aktivitas akal yang dengannya manusia
mengakui kekuatan yang luhur, dan aktivitas hati atau kecondongan cinta,
yang dengannya ia menghadapkan diri kepada rahmat kekuatan tersebut.”
- Réville berkata dalam
pengantar Histoire des Religions: “Din adalah pengarahan manusia
terhadap perilakunya selaras dengan perasaannya akan adanya hubungan
antara ruhnya dengan ruh yang tersembunyi, yang ia akui memiliki kekuasaan
atas dirinya dan atas seluruh alam, dan ia merasa senang merasakan
hubungannya dengannya.”
- Guyau berkata dalam
buku L'Irreligion de l'Avenir: “Religi adalah visualisasi dari
makrokosmos global dalam bentuk komunitas manusia; dan perasaan religius
adalah perasaan ketergantungan kita pada kehendak-kehendak lain yang
dipusatkan oleh manusia primitif di alam semesta.”
- Sylvain Périssé
berkata dalam bukunya La Science et les Religions: “Din adalah
aspek ideal dalam kehidupan manusia.”
- Salomon Reinach
berkata dalam Orpheus: Histoire Générale des Religions: “Din
adalah kumpulan rasa sungkan (skrupel) yang berdiri sebagai penghalang
bagi kebebasan mutlak tindakan kita.”
- Émile Durkheim berkata
dalam Les Formes Élémentaires de la Vie Religieuse: “Din adalah
sistem yang terpadu dari kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang
berkaitan dengan hal-hal yang sakral (artinya yang diisolasi dan
dilarang), kepercayaan dan praktik yang menyatukan para penganutnya ke
dalam satu komunitas moral yang disebut umat.”
Maka
kita melihat setelah seluruh definisi ini bahwa din adalah ketundukan setiap
orang kepada apa yang ia yakini dan ia sukai. Maka din orang jahiliah adalah
kejahiliahannya, din orang materialis adalah materialismenya, din ahli kitab
adalah apa yang tercantum dalam kitabnya dan apa yang ia yakini dari
ajaran-ajarannya, sedangkan din seorang muslim adalah syariatnya dan kitabnya
sebagaimana telah kami sampaikan.
Akan
tetapi, din yang diridai Allah bagi umat manusia, yang karenanya Dia menurunkan
Kitab-Nya dan mengutus para rasul-Nya, adalah Islam yang dibawa oleh penutup
para nabi dan rasul, Muhammad selawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah
kepadanya. Hal itu demi membenarkan firman-Nya Ta'ala: “Barangsiapa mencari
din selain Islam, dia tidak akan sekali-kali diterima darinya dan di akhirat
dia termasuk orang-orang yang rugi.” Dan firman-Nya Ta'ala: “...Pada
hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku
bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu...” Din yang berupa
ketundukan kepada Allah yang selaras dengan ketundukan umum bagi alam semesta
secara keseluruhan: “Apakah mereka mencari din selain din Allah, padahal apa
yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka
rela maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.” Dan din
Islam bukanlah ketundukan kepada makna-makna atau ide abstrak semata, melainkan
ia adalah ketundukan kepada Zat ilahi yang gaib yang ditangkap oleh akal dan
sanubari, yang memiliki nama-nama yang indah (al-Asma'ul Husna) dan
dikhususkan dengan sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan kesucian, ada
secara mutlak, maha mengawasi, maha kuasa, yang mengatur segala sesuatu, dan
kepada-Nyalah dikembalikan segala urusan. Sebagaimana din Islam tidak akan
berupa pengucapan dua kalimat syahadat saja, tanpa diikuti oleh makna dan
hakikat dari persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, yaitu tauhid
uluhiyah dan tauhid ketetapan hukum (qawamah), kemudian tauhid ubudiyah
dan tauhid orientasi arah; serta tanpa diikuti oleh persaksian bahwa tidak ada
tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah berupa keterikatan
pada manhaj yang diformulasikan oleh Al-Qur'anul Karim, yang dijelaskan
rambu-rambunya oleh Muhammad ﷺ
dan di atasnya beliau mendidik umat Islam dan Al-Qur'an.
Dan
tidaklah Islam itu sekadar syiar-syiar atau pembenaran terhadap hakikat
uluhiyah dan perkara gaib semata, tanpa pembenaran ini meluas kepada kandungan
praktisnya, dan hakikat realitasnya dalam kehidupan individu serta komunitas.
Dan semua ini akan tetap mandek dan kehilangan pengaruhnya sampai ia menjadi
sebuah sistem sosial, ekonomi, militer, dan moral yang dijalani dalam realitas
seorang muslim, yang menguasai kehidupannya, yang dengannya ia hidup dan
untuknya ia hidup.
Pembahasan
Ketiga: Makna Aqidah
Aqidah
adalah apa yang dianut oleh manusia dan menjadi pegangannya, yang tidak
menerima keraguan dalam pandangan orang yang meyakininya; atau ia adalah
pemelukan suatu ide dan penyerahan diri atas kebenarannya, yang tegak di atas
pertimbangan sosial, sanubari, atau akal. Ia memiliki beberapa tingkatan, yang
paling kuat adalah yang menghunjam lagi pasti—yaitu keyakinan (al-yaqin).
Definisi Islam bagi aqidah berkisar di seputar makna-makna terdahulu ini, di
mana para ulama mendefinisikan aqidah dengan perkataan mereka: “Ia adalah
perkara-perkara yang wajib dibenarkan oleh hatimu, ditenangkan oleh jiwamu, dan
menjadi keyakinan di sisimu, yang tidak dicampuri oleh kebimbangan dan tidak
disusupi oleh keraguan.”
Manusia
dalam hal kekuatan dan kelemahan aqidahnya terbagi menjadi banyak bagian dan
beberapa tingkatan sesuai dengan menghunjamnya aqidah tersebut dalam jiwa
mereka, jelasnya dalil-dalil di sisi mereka, serta kepuasan hati dan
ketenangannya kepadanya.
Salah
seorang imam besar telah membuat permisalan untuk hal tersebut, lalu ia
berkata: “Seandainya seorang lelaki mendengar keberadaan suatu negeri yang
belum pernah ia lihat, seperti Yaman misalnya, dari lelaki lain yang tidak
dikenal sebagai pembohong, maka sesungguhnya ia membenarkan keberadaan negeri
ini dan meyakininya. Apabila ia mendengar berita ini dari beberapa lelaki, maka
bertambahlah kepercayaannya dengannya, meskipun hal itu tidak mencegahnya dari
ragu dalam keyakinannya apabila syubhat menerpanya. Apabila ia melihat foto
dokumentasinya, maka bertambahlah keyakinannya akan keberadaannya, dan keraguan
menjadi sulit baginya di hadapan kekuatan dalil ini. Apabila ia melakukan
perjalanan dan tampak baginya tanda-tanda serta kabar gembiranya, maka bertambahlah
keyakinannya dan sirnalah keraguannya. Apabila ia memasukinya dan melihatnya
dengan mata kepala sendiri, maka tidak ada lagi ruang bagi kebimbangan, dan
aqidah ini menghunjam dalam jiwanya dengan penghunjaman yang kuat hingga
menjadi mustahil baginya untuk kembali darinya seandainya manusia bersepakat
untuk menyelisihinya.”
Dan
aqidah seorang muslim memancarkan dalil baginya dari fitrah manusia, dari
akalnya, dan sanubarinya, serta dari tabiat keduanya, dan dari mukjizat yaitu
Kitab yang mukjizat, dan dari Rasul yang maksum, dan dari realitas yang
disaksikan serta kehidupan yang dijalani, bahkan dari alam semesta dan
dunia-dunia di sekitarnya.
Maka
aqidah ini adalah fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia di atasnya,
sehingga ia tidak membentur satu bakat pun dari bakat-bakat manusia, tidak pula
satu kemampuan dari kemampuan-kemampuannya, serta tidak menyerang akal dan
pemikirannya, melainkan menyalakan, mengobarkan, memberikan visi, dan
membebaskannya.
Wahyu
membawanya kepada kita dalam Al-Qur'anul Karim yang tidak datang kepadanya
kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, diturunkan dari Tuhan Yang
Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Dunia-dunia mengisyaratkan kepadanya,
berbicara dengannya, dan bertasbih, dengan apa yang menunjukkan atas kuasa Yang
Maha Kuasa, dan hikmah Yang Mahabijaksana. “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa
yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga
matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, hewan-hewan melata, dan banyak di
antara manusia? Banyak pula (manusia) yang pantas terkena azab. Siapa yang
dihinakan Allah, tidak ada seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah
melakukan apa saja yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18).
Hubungan
antara Islam, Aqidah, dan Din
Telah
kami sampaikan:
- Islam adalah
pengucapan dua kalimat syahadat, pembenaran terhadap Kitab dan Sunah,
serta pengamalan terhadap keduanya sebagaimana telah dipaparkan.
- Aqidah adalah kepuasan
dan pembenaran yang tidak dicampuri oleh keraguan dalam Islam ini.
- Din adalah ketundukan
kepada aqidah tersebut, pelaksanaan perintah-perintahnya, dan kepatuhan
kepadanya.
Maka
Islam atas dasar ini adalah aqidah seorang mukmin, dinnya, dan manhaj
kehidupannya yang ia tidak akan berpaling darinya, dan ia tidak meragukan
kebenaran serta kegunaannya bagi kehidupan manusia; ia membelanya, hidup
untuknya, berjihad di jalannya, dan menemui Allah di atasnya. “Katakanlah
(Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang
diperintahkan kepadaku...’”
PASAL
KETIGA
MACAM-MACAM
DAKWAH
Penulis
kitab Hidayatul Mursyidin berkata, dakwah itu ada tiga macam:
Pembahasan
Pertama: Dakwah kepada Manusia secara Keseluruhan
Macam
Pertama: Dakwah Umat Muhammad kepada seluruh umat menuju Islam agar din itu
seluruhnya milik Allah. Dan ini merupakan kewajiban umat ini berdasarkan
konsekuensi dijadikannya ia sebagai umat terbaik yang dikeluarkan bagi manusia,
dengan diikat oleh keberadaannya menyuruh berbuat kebaikan (ta'muru bil
ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (tanha 'anil munkar), serta
berdasarkan hukum sifat orang-orang mukmin yang diizinkan bagi mereka untuk
berperang dalam firman-Nya Ta'ala:
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي
الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ
وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ
“(yaitu)
orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang
munkar...” (QS. Al-Hajj: 41). Maka yang wajib adalah menyeru manusia kepada
Islam; apabila mereka memenuhi seruan, maka yang wajib adalah menyuruh mereka
berbuat yang makruf dan mencegah mereka dari yang munkar.
Pembahasan
Kedua: Dakwah Sesama Kaum Muslimin Satu Sama Lain
Macam
Kedua: Dakwah sesama kaum muslimin satu sama lain menuju kebaikan, dan
saling menyuruh di antara mereka dengan yang makruf serta saling mencegah dari
yang munkar. Macam ini dilaksanakan, seperti halnya macam yang sebelumnya, oleh
kalangan khusus dari umat ini yang mengetahui urusan din dan rahasia-rahasia
tasyrik [penetapan hukum syariat]. Mereka itulah yang diisyaratkan oleh
firman-Nya Ta'ala:
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ
فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا
قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“...Mengapa
sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk mendalami
pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila
mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?” (QS. At-Taubah:
122).
Pembahasan
Ketiga: Apa yang Terjadi di Antara Individu Satu Sama Lain
Macam
Ketiga: Apa yang terjadi di antara individu satu sama lain, yang mana dalam
hal ini sama saja antara kalangan khusus (al-khassah) maupun kalangan
awam (al-'ammah), berupa penunjukan kepada kebaikan dan pemberian
motivasi padanya, serta pencegahan dari keburukan dan peringatan darinya,
masing-masing sesuai dengan apa yang diketahuinya. Apabila salah seorang muslim
melihat saudaranya melakukan suatu kemungkaran yang ia ketahui, maka ia
menghadapinya dengan nasihat, bimbingan, dan penjelasan mengenai apa yang
diperintahkan oleh din yang lurus ini serta apa yang dilarangnya dalam
peristiwa ini. Semua itu dilakukan dengan lemah lembut dan santun, karena hal
itu termasuk saling menasihati dalam kebenaran (at-tawashi bil haq) dan
saling menasihati dalam kesabaran (at-tawashi bish-shabr) yang dijadikan
oleh Allah sebagai tanda keimanannya yang sahih dan sebab bagi keselamatan dari
kerugian yang nyata dalam firman-Nya Ta'ala:
وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ
لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi
masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati
untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-'Asr: 1-3).
Selesai nukilan.
Dan
demi mengamalkan firman-Nya Ta'ala: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu
dengan hikmah dan pengajaran yang baik...”
Bukanlah
yang dimaksudkan adalah membatasi dakwah pada tiga macam ini saja, melainkan
yang dimaksud adalah bahwa di sana terdapat perkara-perkara yang meniscayakan
kesungguhan, ilmu, luasnya wawasan, serta argumentasi, seperti dakwah kepada
non-muslim atau para pemilik mazhab yang menyimpang serta aliran yang batil
dari kalangan kaum muslimin maupun selain mereka, atau sebagian orang yang
terfitnah dan terinvasi oleh budaya yang sesat atau selain mereka. Mereka semua
itu membutuhkan kesungguhan, pengonstruksian keyakinan, dan argumentasi yang
tidak tersedia melainkan di sisi para pengkaji Islam dan di sisi para spesialis
dakwah serta pemilik wawasan.
Dan
di sana terdapat orang-orang lain yang dikalahkan oleh syahwat dan hawa nafsu
mereka sehingga jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan tertentu. Mereka ini
dikembalikan kepada kebenaran dengan pengembalian yang indah, dan cukuplah bagi
mereka nasihat dan bimbingan dengan sedikit kesungguhan, ilmu, serta
argumentasi yang tersedia di sisi semua orang.
Sebab,
manusia seluruhnya mengetahui bahwa mencuri itu haram; maka barangsiapa melihat
seorang pencuri, ia menasihatinya dan menjelaskannya kepadanya. Dan semua orang
mengetahui bahwa khamar itu haram; maka barangsiapa melihat peminum khamar, ia
menasihatinya, memalingkannya kepada kebaikan, dan menunjukkannya kepada jalan
yang lurus. Dan seluruh perkara yang jelas ini tidak membutuhkan argumentasi
yang besar karena kejelasannya dan tidak tersembunyinya hal itu bagi seorang
pun.
Comments
Post a Comment