Memberi Pelajaran (Mauizhah) (4 hadits)
Bab 91: Memberikan Nasihat dan Bersikap Pertengahan (Tidak Berlebihan) di Dalamnya
٩١
- بَابُ
الوَعْظِ وَالاقْتِصَادِ فِيْهِ
AYAT AL-QUR'AN
قَالَ اللهُ تَعَالَى: {ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ} [النحل: ١٢٥]
Artinya Allah Ta'ala berfirman: "Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik."
(QS. An-Nahl: 125)
لُغَةُ
الْآيَةِ (Kosakata Ayat):
- سَبِيْلِ
رَبِّكَ: دِيْنِهِ.
(Sabîli Rabbika artinya: Agama-Nya).
- بِالْحِكْمَةِ:
بِالْقُرْآنِ،
وَالْقَوْلِ السَّدِيْدِ.
(Bil-hikmah artinya: Dengan Al-Qur'an dan perkataan
yang tepat/tegas).
- وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ: مَوَاعِظِ
الْقُرْآنِ، وَقَوْلِ الْكَلَامِ اللَّيِّنِ فِي التَّخْوِيْفِ
وَالتَّعْنِيْفِ.
(Wal-mau'izhatil hasanah artinya: Nasihat-nasihat
Al-Qur'an, dan mengucapkan perkataan yang lembut ketika memberikan peringatan
maupun teguran).
HADITS PERTAMA (No. 699)
وَعَنْ أَبِي وَائِلٍ شَقِيْقِ بْنِ سَلَمَةَ قَالَ: كَانَ ابْنُ
مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُذَكِّرُنَا فِي كُلِّ خَمِيسٍ، فَقَالَ لَهُ
رَجُلٌ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ
يَوْمٍ؟ فَقَالَ: أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ
أُمِلَّكُمْ، وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ
ﷺ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
«يَتَخَوَّلُنَا»:
يَتَعَهَّدُنَا.
الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الْكِتَابِ الْعِلْمِ (بَابُ
مَنْ جَعَلَ لِأَهْلِ الْعِلْمِ أَيَّامًا مَعْلُومَةً) وَمُسْلِمٌ فِي
الْمُنَافِقِينَ (بَابُ الِاقْتِصَادِ فِي الْوَعْظِ).
Terjemahan Hadits:
Dari Abu Wa'il, Syaqiq bin Salamah, ia berkata: "Ibnu
Mas'ud radhiyallahu 'anhu biasa memberikan nasihat (pelajaran) kepada
kami setiap hari Kamis. Lalu ada seorang laki-laki berkata kepadanya: 'Wahai
Abu Abdurrahman, sungguh aku menginginkan andai engkau menasihati kami setiap
hari.' Ibnu Mas'ud menjawab: 'Adapun hal yang menghalangiku untuk melakukan itu
adalah karena aku tidak suka membuat kalian bosan. Sesungguhnya aku mengatur
waktu dengan baik dalam memberi nasihat kepada kalian, sebagaimana Rasulullah ﷺ dahulu mengatur waktu
dalam memberi nasihat kepada kami karena khawatir timbulnya rasa bosan pada
kami'." (Muttafaq 'alaih).
Makna kata 'Yatawakhwalunâ': Beliau menjaga dan mengatur
waktu kami.
Keterangan takhrij: Hadits ini diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam Kitab Al-'Ilm (Bab: Orang yang menetapkan hari-hari tertentu
bagi penuntut ilmu) dan Muslim dalam Kitab Al-Munafiqin (Bab: Bersikap
pertengahan dalam memberi nasihat).
لُغَةُ
الْهَدِيثِ (Kosakata Hadits):
- يَمْنَعُنِي:
يَصْرِفُنِي
عَنْهُ.
(Yamna'unî artinya: Memalingkan/mencegahku dari hal
itu).
- أَنْ
أُمِلَّكُمْ: أَيْ
لِئَلَّا أَدْخُلَ عَلَيْكُمُ الْمَلَالَ وَالضَّجَرَ.
(An umillakum artinya: Agar aku tidak mendatangkan
rasa jenuh dan bosan kepada kalian).
- السَّآمَةِ:
الْمَلَالِ
وَحُدُوثِ الضَّجَرِ.
(As-Sa'âmah artinya: Kebosanan dan timbulnya rasa
jenuh).
فِقْهُ
الْحَدِيثِ وَمَا يُرْشِدُ إِلَيْهِ (Kandungan Hukum Hadits &
Pelajarannya):
- الْإِقْتِصَادُ
فِي الْوَعْظِ وَالْإِرْشَادِ، لِأَنَّ مَنْ طَبِيْعَةِ النُّفُوسِ
الْمَلَالَ إِذَا يَدُومُ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ خَيْرًا. فَمِنْ
مُسْتَحَبَّاتِ أَوْقَاتِ النَّشَاطِ لِلتَّعْلِيْمِ وَالْمَوْعِظَةِ
بِحِرْصٍ عَلَى مُتَابَعَةِ سِيْرَةِ الرَّسُولِ ﷺ فِي أَقْوَالِهِ
وَأَفْعَالِهِ.
Bersikap pertengahan dalam memberikan nasihat dan bimbingan,
karena watak dasar jiwa manusia adalah bosan jika terus-menerus diberikan
beban, meskipun hal itu adalah kebaikan. Di antara hal yang disunnahkan adalah
memanfaatkan waktu-waktu luang yang penuh semangat untuk mengajar dan memberi
nasihat, dengan menjaga komitmen dalam mengikuti sirah (rekam jejak) Rasulullah
ﷺ baik dalam ucapan
maupun perbuatannya.
HADITS KEDUA (No. 700)
وَعَنْ أَبِي الْيَقْظَانِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ طُولَ صَلَاةِ
الرَّجُلِ، وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ، مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا
الصَّلَاةَ، وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
«مَئِنَّةٌ»:
بِهَمْزَةٍ مَفْتُوحَةٍ ثُمَّ نُونٍ مَكْسُورَةٍ ثُمَّ نُونٍ مُشَدَّدَةٍ؛ أَيْ:
عَلَامَةٌ دَالَّةٌ عَلَى فِقْهِهِ.
الْحَدِيثُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي كِتَابِ الْجُمُعَةِ (بَابُ
تَخْفِيفِ الصَّلَاةِ وَالْخُطْبَةِ).
Terjemahan Hadits:
Dari Abu Al-Yaqzhan, Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhuma,
ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya lamanya shalat
seseorang dan singkatnya khutbahnya merupakan tanda dari kepahamannya (dalam
agama). Maka lamakanlah shalat dan singkatkanlah khutbah'." (HR. Muslim).
Makna kata 'Ma-innah': Dengan hamzah berharakat fathah,
kemudian nun berharakat kasrah, lalu nun bertasydid; artinya adalah tanda yang
menunjukkan kepahamannya.
Keterangan takhrij: Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim
dalam Kitab Al-Jumu'ah (Bab: Meringankan shalat dan khutbah).
لُغَةُ
الْهَدِيثِ (Kosakata Hadits):
- طُولَ
صَلَاةِ الرَّجُلِ: أَيْ طُولَهَا بِالنِّسْبَةِ
إِلَى الْخُطْبَةِ فَقَطْ، وَلَا تَعَارُضَ بَيْنَ هَذَا الْحَدِيثِ
وَحَدِيثِ: [مَنْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَالْخَفِيْفُ...]
(Thûla shalâtir-rajul artinya: Panjangnya shalat jika
dibandingkan dengan khutbahnya saja. Tidak ada pertentangan antara hadits ini
dengan hadits lain yang berbunyi: "Barangsiapa yang mengimami manusia,
maka hendaklah ia meringankannya...", karena ringannya shalat di sini
diukur secara proporsional).
فِقْهُ
الْحَدِيثِ وَمَا يُرْشِدُ إِلَيْهِ (Kandungan Hukum Hadits &
Pelajarannya):
- اسْتِحْبَابُ
تَقْصِيْرِ الْخُطَبِ، خَاصَّةً خُطْبَةَ الْجُمُعَةِ؛ لِأَنَّ خَيْرَ
الْكَلَامِ مَا قَلَّ وَدَلَّ.
Disunnahkan memendekkan khutbah, khususnya khutbah Juma'at;
karena sebaik-baik perkataan adalah yang sedikit (singkat) namun padat makna
dan jelas petunjuknya.
- الصَّلَاةُ
فِي الْجُمُعَةِ مَقْصُودَةٌ بِذَاتِهَا، وَفِيْهَا إِظْهَارُ
الْعُبُودِيَّةِ لِلَّهِ، وَالْخُطْبَةُ تَوْطِئَةٌ لَهَا وَتَذْكِيْرٌ،
وَلِذَلِكَ يُصْرَفُ الِاهْتِمَامُ وَالْعِنَايَةُ بِالصَّلَاةِ أَكْثَرُ.
Shalat Jum'at adalah ibadah yang menjadi tujuan utama secara
mandiri, yang di dalamnya terdapat perwujudan penghambaan diri kepada Allah.
Sedangkan khutbah berfungsi sebagai pengantar dan pengingat untuk shalat
tersebut. Oleh karena itu, perhatian dan kepedulian dialokasikan lebih besar
kepada shalatnya.
HADITS KETIGA (No. 701)
وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
قَالَ: بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ
الْقَوْمِ، فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ،
فَقُلْتُ: وَاثُكْلَ أُمِّيَاهْ، مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ؟ فَجَعَلُوا
يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ
يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ - فَبِأَبِي
هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ
تَعْلِيْمًا مِنْهُ، فَوَاللهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي -
قَالَ: «إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ
النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ»،
أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي حَدِيثُ
عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ، وَقَدْ جَاءَ اللهُ بِالْإِسْلَامِ، وَإِنَّ مِنَّا
رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ؟ قَالَ: «فَلَا تَأْتِهِمْ». قُلْتُ: وَمِنَّا
رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ؟ قَالَ: «ذَلِكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ،
فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
الْحَدِيثُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الْمَسَاجِدِ (بَابُ تَحْرِيمِ
الْكَلَامِ فِي الصَّلَاةِ وَنَسْخِ مَا كَانَ مِنْ إِبَاحَتِهِ).
Terjemahan Hadits:
Dari Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu,
ia berkata: "Ketika aku sedang shalat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada
seorang laki-laki dari suatu kaum bersin, maka aku mengucapkan: 'Yarhamukallah'
(Semoga Allah merahmatimu). Orang-orang lalu melemparkan pandangan tajam mereka
kepadaku. Aku pun berkata: 'Aduhai celakanya ibuku (kehilangan diriku)! Mengapa
kalian memandangiku seperti itu?' Mereka lalu memukulkan tangan-tangan mereka
pada paha-paha mereka. Ketika aku melihat mereka berusaha mendiamkanku, aku pun
akhirnya diam.
Setelah Rasulullah ﷺ selesai melaksanakan shalat—demi bapak dan
ibuku sebagai tebusannya, aku tidak pernah melihat seorang pendidik sebelum
maupun sesudahnya yang lebih baik cara mendidiknya daripada beliau. Demi Allah,
beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula mencaciku—beliau
bersabda: 'Sesungguhnya shalat ini tidak boleh ada di dalamnya suatu apa pun
dari perkataan manusia biasa. Shalat itu hanyalah tasbih, takbir, dan membaca
Al-Qur'an,' atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ.
Aku lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini
baru saja meninggalkan masa Jahiliyah, dan Allah telah mendatangkan Islam. Di
antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun?' Beliau bersabda:
'Janganlah kamu mendatangi mereka.' Aku berkata lagi: 'Dan di antara kami ada
orang-orang yang merasa sial karena tanda-tanda alam (tathayyur)?'
Beliau bersabda: 'Itu adalah sesuatu yang mereka rasakan di dalam dada-dada
mereka, maka jangan sampai hal itu menghalangi mereka (dari aktivitas
mereka)'." (HR. Muslim).
Makna kata 'Al-Kâhin': Dengan fathah pada huruf ha';
artinya dukun/peramal yang mengabarkan urusan masa depan.
Makna kata 'Wâ thukla ummiyâh': Dengan huruf tsa'
bertitik tiga yang didhommah; 'At-thuklu' bermakna kehilangan, dan seorang ibu
yang 'tsakla' adalah ibu yang kehilangan anaknya.
Makna kata 'Yushammhitûnanî': Artinya mereka memintaku
untuk diam.
Makna kata 'Mâ kaharanî': Artinya beliau tidak
membentakku.
Keterangan takhrij: Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim
dalam Kitab Al-Masajid (Bab: Diharamkannya berbicara dalam shalat dan
penghapusan hukum kebolehannya yang dulu).
لُغَةُ
الْهَدِيثِ (Kosakata Hadits):
- فَلَا
تَأْتِهِمْ: لِأَنَّهُمْ يَقُولُونَ
بِغَيْرِ عِلْمٍ، أَوْ هُمْ مُفْتَرُونَ.
(Falâ ta'tihim artinya: Jangan mendatangi mereka,
karena mereka berbicara tanpa dasar ilmu atau mereka adalah para pembohong).
- فَلَا
يَصُدَّنَّهُمْ: أَيْ لَا يَمْنَعْهُمْ ذَلِكَ
عَنْ وَجْهِهِمْ، لِأَنَّ الطِّيَرَةَ لَا تَأْثِيْرَ لَهَا بِشَيْءٍ.
(Falâ yashuddannahum artinya: Jangan sampai anggapan
sial tersebut menahan mereka dari tujuan perjalanan/aktivitas mereka, karena
thiyarah tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap apa pun).
فِقْهُ
الْهَدِيثِ وَمَا يُرْشِدُ إِلَيْهِ (Kandungan Hukum Hadits &
Pelajarannya):
- بُطْلَانُ
الصَّلَاةِ بِالْكَلَامِ بِكَلَامِ غَيْرِ مَأْذُونٍ مِنَ الْقُرْآنِ، أَوِ
الْأَذْكَارِ الْوَارِدَةِ فِي الصَّلَاةِ، وَبَيَانُ صِفَةِ الصَّلَاةِ
وَمَا فِيهَا مِنْ قُرْآنٍ وَتَسْبِيحٍ وَتَكْبِيرٍ.
Batalnya shalat disebabkan berbicara dengan perkataan
manusia yang tidak diizinkan (yang bukan bagian dari Al-Qur'an atau
dzikir-dzikir warid dalam shalat), serta penjelasan tentang sifat shalat dan
apa saja kandungannya yang berupa Al-Qur'an, tasbih, dan takbir.
- بَيَانُ
أُسْلُوبِ النَّبِيِّ ﷺ وَسَمَاحَتِهِ الْعَظِيْمَةِ فِي بَيَانِ
الْأَحْكَامِ وَالتَّشْرِيْعَاتِ، وَلِذَا جُبِلَ النَّاسُ لِأَنْ يَكُونُوا
يَلْتَمِسُونَ عَلَى قِيَادِهِ فِي الصِّرَاطِ، وَرَأَوْا تَكْرَارًا فِي
مَجَالاتٍ قَدْ جُعِلَتْ بَعْضُهَا مَعْلُومَةً مِمَّا فُتِحَ قَلْبُ
النَّاسِ بِهِمْ فِي النَّفْيِ وَالتَّطْهِيْرِ، وَالنَّفْيُ الْعَمَلِيُّ
لِأَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ الَّتِي فِي النَّفْسِ مَعَ الثَّبَاتِ
وَالْيَقِيْنِ.
Penjelasan mengenai metode Nabi ﷺ serta keluhuran budi pekerti beliau yang
agung dalam menerangkan hukum-hukum dan syariat. Oleh sebab itulah watak
manusia tergerak untuk mencari bimbingan di bawah kepemimpinan beliau menuju
jalan yang lurus. Mereka juga melihat pengulangan nasihat di berbagai bidang
yang sebagiannya telah menjadi pengetahuan umum demi membuka hati manusia agar
menolak hal buruk dan mensucikan diri, serta meniadakan secara praktis
perkara-perkara Jahiliyah yang masih tersisa di dalam jiwa, bersamaan dengan
menanamkan keteguhan hati dan keyakinan.
HADITS KEEMPAT (No. 702)
وَعَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ
مِنْهَا الْعُيُونُ... وَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ، وَقَدْ سَبَقَ بِكَمَالِهِ
فِي بَابِ الْأَمْرِ بِالْمُحَافَظَةِ عَلَى السُّنَّةِ، وَذَكَرْنَا أَنَّ
التِّرْمِذِيَّ قَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.
الْحَدِيثُ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ فِي الْعِلْمِ (بَابُ مَا جَاءَ
فِي الْأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ الْبِدَعِ) رَقْمُ /٢٦٧٨/.
Terjemahan Hadits:
Dari Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: "Rasulullah ﷺ
memberikan nasihat kepada kami dengan suatu nasihat yang menggetarkan hati dan
membuat air mata bercucuran..." (Beliau menyebutkan hadits ini secara
panjang lebar, dan hadits ini telah disebutkan secara lengkap sebelumnya pada Bab
Perintah untuk Menjaga dan Memelihara Sunnah, serta telah kami sebutkan
bahwa Imam At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih).
Keterangan takhrij: Hadits ini diriwayatkan oleh
At-Tirmidzi dalam Kitab Al-'Ilm (Bab: Apa yang diriwayatkan tentang berpegang
teguh pada sunnah dan menjauhi bid'ah) nomor: 2678.
Makna umum hadits: Sesungguhnya sebaik-baik nasihat
adalah nasihat yang membekas di dalam hati, mencakup banyak kebaikan,
disampaikan dengan fasih, serta memberikan manfaat nyata.
Comments
Post a Comment