Pasal 5: Manajemen Pribadi Adalah Bukti Kekuatan Anda

BAB KELIMA: Manajemen Diri adalah Bukti Kekuatan: Menanamkan Akidah, Pemikiran, dan Nilai-Nilai Luhur

Tujuan Umum:

  1. Memperoleh bekal pengetahuan yang membantu dalam mewujudkan kekuatan melalui manajemen diri yang baik.
  2. Mengenali metode-metode untuk menanamkan pemikiran dan mengubahnya menjadi keyakinan kuat serta akidah.
  3. Membentuk kecenderungan positif menuju penguasaan keterampilan dari metode-metode ini.
  4. Melatih individu-individu untuk mengambil manfaat dari keterampilan ini dalam mewujudkan ketahanan (proteksi diri).

Tujuan Perilaku Instruksional untuk Tema Ini:

Dengan berakhirnya proses pembelajaran pada tema ini, diharapkan peserta didik mampu melakukan hal-hal berikut:

Pertama: Tujuan Kognitif (Pengetahuan):

  1. Menyebutkan dampak yang ditimbulkan dari perubahan akidah dan pemikiran.
  2. Menyebutkan nilai tertinggi dalam kehidupan manusia beserta pengaruhnya terhadap mereka.
  3. Menjelaskan secara analisis metode-metode penanaman nilai dan prinsip.
  4. Menyebutkan bagaimana cara melepaskan kekuatan yang ada di dalam dirinya.
  5. Menganalisis tiga prinsip pertama dari perubahan.
  6. Merangkum bagaimana cara mengambil keputusan yang benar dan menghindari hambatan-hambatannya.
  7. Menghitung enam kunci yang membuatnya mampu mengambil keputusan yang benar.
  8. Menjelaskan tabiat kekuatan yang membentuk kehidupannya serta pentingnya rasa sakit dan kesenangan dalam menentukan perilaku dan sikapnya.
  9. Menjelaskan secara analisis risiko-risiko yang timbul akibat tidak merencanakan kehidupannya.
  10. Membuat tabel harapan-harapan yang harus ia ambil keputusannya terkait hal tersebut.
  11. Menghitung langkah-langkah untuk mewujudkan harapan-harapan ini.
  12. Menjelaskan dengan contoh-contoh tentang pentingnya keyakinan kuat (konvingsi) dalam menentukan jalannya.
  13. Menerangkan bagaimana suatu pemikiran berubah menjadi keyakinan kuat (konvingsi).
  14. Menjelaskan sebab-sebab munculnya rasa tidak berdaya dan bagaimana cara menyingkirkannya.
  15. Mengklasifikasikan pembagian keyakinan kuat (konvingsi) beserta sarana-sarana untuk mengubahnya.
  16. Menafsirkan bagaimana cara mengokohkan akidah yang benar.
  17. Membuktikan bahwasanya perasaan percaya diri merupakan kunci kesuksesan.
  18. Memberikan contoh-contoh tentang peran para pemimpin dalam mengubah keyakinan kuat atau mengokohkannya.
  19. Merangkai kaidah-kaidah dan langkah-langkah perubahan.
  20. Menghitung disertai penjelasan mengenai langkah-langkah modifikasi perilaku.
  21. Menerangkan sumber penghambat diri dan bagaimana cara menyingkirkannya.
  22. Mempraktikkan secara nyata bagaimana cara mengembangkan potensi-potensi pribadinya.
  23. Menerangkan apa yang dimaksud dengan manajemen diri.
  24. Menghitung sarana-sarana yang membantu dalam mengatur waktu.
  25. Mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam mengatur waktu yang terdapat di dalam tema ini.
  26. Membuat tabel tujuan-tujuannya berdasarkan skala prioritas dan kemungkinan perwujudannya.
  27. Membuktikan bahwasanya manajemen diri merupakan bukti kekuatan.
  28. Menyimpulkan hasil-hasil yang timbul dari perubahan akidah dan pemikiran.
  29. Menentukan nilai tertinggi yang harus diupayakan penanamannya dari sekumpulan nilai yang ada.
  30. Menentukan fase paling penting dalam usia manusia untuk menanamkan akidah, nilai, dan pemikiran.
  31. Menjelaskan secara analisis formula empat dimensi (kuartet) penanaman nilai.

Kedua: Tujuan Afektif (Sikap/Nilai):

  1. Bersungguh-sungguh menjaga keseimbangan di dalam hidupnya antara kewajiban, keinginan, dan tujuan.
  2. Berinisiatif melakukan perencanaan bagi kehidupan dan masa depannya dengan cara menetapkan tujuan dan mengatur waktu.
  3. Menghindari rasa takut akan kegagalan dalam mewujudkan tujuan.
  4. Melawan rasa malas, menunda-nunda, sifat lupa, dan seluruh hambatan kesuksesan.
  5. Memilih bersikap fleksibel dalam mewujudkan tujuan-tujuan.
  6. Memutuskan untuk memberikan waktu istirahat bagi dirinya dan hiburan yang mubah guna memperbarui energinya.
  7. Memperhatikan perubahan keyakinan dan kebiasaannya menuju arah yang lebih baik.
  8. Berpegang teguh pada akidah yang benar dan pemikiran yang paling baik.
  9. Berpartisipasi dalam menanamkan akidah, prinsip, dan akhlak di dalam jiwa keluarganya dan orang-orang di sekitarnya.
  10. Menunjukkan kesiapan dan penerimaan untuk mengubah keyakinan-keyakinan negatif atau yang tidak benar.
  11. Mengadopsi pemikiran: Kebenaran itu tidak dikenali berdasarkan orangnya, melainkan orang-orang itulah yang dikenali berdasarkan kebenaran.
  12. Menjaga nilai-nilai dan prinsip-prinsipnya di hadapan dirinya sendiri maupun di hadapan manusia.
  13. Memilih menanamkan nilai-nilai pada perilaku anak-anaknya dan orang-orang yang didakwahinya dengan kelembutan, bukan dengan kekerasan dan paksaan.
  14. Menyusun prioritas-prioritas yang membantunya untuk sukses berdasarkan tingkat kepentingannya.

Ketiga: Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):

  1. Mahir menghubungkan antara manajemen diri dan kekuatan.
  2. Merencanakan dengan keterampilan yang sangat tinggi untuk mengatur kehidupannya.
  3. Merancang bagan rencana yang memadukan antara tujuan-tujuannya dengan durasi waktu yang diperlukan untuk setiap tujuan.
  4. Membaca rencana kerjanya di waktu pagi dan sore hari agar rencana tersebut tampak jelas di hadapannya.
  5. Mengoordinasikan prioritas-prioritas dengan koordinasi yang baik.
  6. Merapikan mobilnya, mejanya, dan kamarnya agar waktunya tidak terbuang sia-sia.
  7. Menyesuaikan rencana kerjanya untuk mewujudkan tujuan apabila situasi menuntut demikian.
  8. Menggunakan buku catatan kecil bersamanya untuk menuliskan ide-ide dan catatan-catatannya.
  9. Mahir mengambil manfaat dari teknologi modern guna menangkap peluang dan mengatur waktu, seperti internet dan lainnya.
  10. Berinovasi menciptakan cara-cara baru untuk menanamkan akidah, pemikiran, dan nilai-nilai luhur.
  11. Meneladani Nabi dalam hal menanamkan nilai, prinsip, dan akhlak.
  12. Menerapkan apa yang telah ia pelajari dari tema ini dalam menanamkan nilai-nilai yang benar pada dirinya sendiri, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya.
  13. Berlatih untuk menggunakan secara optimal empat metode penanaman nilai dan prinsip.
  14. Merencanakan untuk mewujudkan tujuan-tujuannya dan mengatur waktunya.
  15. Mahir memanfaatkan waktunya dengan pemanfaatan yang paling optimal dalam mewujudkan tujuan-tujuannya.
  16. Membiasakan diri untuk mengatur waktunya.

Materi Ilmiah:

"Saranamu untuk mengelola harimu dan memimpin kehidupanmu menuju kesuksesan"

Apakah yang Kita Maksud dengan Manajemen Diri?

Manajemen diri adalah metode-metode dan sarana-sarana yang membantu seseorang untuk mengambil manfaat yang maksimal dari waktunya guna mewujudkan tujuan-tujuannya, serta menciptakan keseimbangan di dalam hidupnya antara kewajiban, keinginan, dan tujuan.

Pemanfaatan waktu inilah yang menentukan perbedaan antara orang-orang yang sukses dan orang-orang yang gagal dalam kehidupan ini. Sebab, karakteristik yang dimiliki bersama oleh seluruh orang sukses adalah kemampuan mereka untuk menyeimbangkan antara tujuan yang ingin mereka wujudkan dengan kewajiban yang harus mereka tunaikan terhadap beberapa bentuk hubungan. Keseimbangan ini datang melalui manajemen mereka terhadap diri mereka sendiri.

Manajemen diri ini, sebelum melangkah pada hal lainnya, membutuhkan adanya tujuan-tujuan dan misi hidup yang berjalan di atas petunjuknya. Karena, tidak ada gunanya mengatur waktu atau mengelola diri tanpa adanya tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh seseorang bagi kehidupannya. Jika tanpa tujuan, kehidupannya akan berjalan ke segala arah, yang mana hal itu menjadikan kehidupan manusia menjadi kehidupan yang tersebar tak berarah (rancu), tidak mewujudkan sesuatu apa pun. Dan kalaupun menghasilkan sesuatu, maka pencapaian tersebut akan dinilai lemah; hal itu merupakan akibat dari tidak adanya fokus pada tujuan-tujuan tertentu.

Oleh karena itu, yang dituntut darimu sebelum mulai menerapkan berkas panduan ini adalah menetapkan tujuan-tujuan bagi kehidupanmu. Apakah yang ingin kamu wujudkan dalam kehidupan ini? Apakah yang ingin kamu capai agar tersisa sebagai jejak-jejak yang menonjol bagi kehidupannya setelah kamu pergi meninggalkan dunia ini? Apakah bidang spesialisasi yang akan kamu tekuni? Tidak masuk akal di zaman sekarang ini kamu memecah pikiranmu ke lebih dari satu arah. Oleh karena itu, kamu harus memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini dan menemukan jawaban-jawabannya, lalu melakukan perencanaan bagi kehidupanmu, dan setelah itu barulah datang urusan mengatur waktu.

Hal-Hal yang Membantumu untuk Mengatur Waktumu:

Poin-poin yang akan disebutkan di bawah ini adalah perkara-perkara atau tindakan-tindakan yang membantumu untuk mengatur waktumu, maka cobalah untuk menerapkannya sebelum kamu memulai proses pengaturan waktumu:

  • Adanya rencana: Ketika kamu merencanakan kehidupanmu terlebih dahulu dan menetapkan tujuan-tujuan yang jelas untuknya, maka pengaturan waktu akan menjadi hal yang mudah dan lancar. Sebaliknya, jika kamu tidak merencanakan kehidupanmu, maka tugasmu dalam mengatur waktu akan menjadi sulit.
  • Wajib menuliskan ide-ide, rencana, dan tujuanmu di atas kertas: Mengabaikan hal itu akan membuat hal-hal tersebut dianggap sekadar ide-ide yang melintas sekilas yang akan kamu lupakan dengan cepat, kecuali jika kamu adalah pemilik memori yang luar biasa. Selain itu, penulisan ini akan membantumu untuk memasukkan penyesuaian, penambahan, dan penghapusan beberapa perkara dari rencanamu.
  • Setelah selesai membuat rencana, prediksikanlah bahwa kamu akan butuh untuk memasukkan banyak penyesuaian padanya: Jangan cemas dan jangan membuang rencana tersebut, karena hal itu merupakan sesuatu yang sangat normal.
  • Kegagalan atau ketidakberhasilan adalah sesuatu yang wajar di dalam kehidupan kita: Jangan berputus asa, dan sebagaimana yang dikatakan: "Aku belajar dari kesalahan-kesalahanku lebih banyak daripada apa yang aku pelajari dari kesuksesanku."
  • Kamu harus membiasakan dirimu untuk membandingkan di antara skala prioritas: Karena peluang-peluang dan kewajiban-kewajiban boleh jadi mendatangimu pada waktu yang bersamaan, maka manakah yang akan kamu pilih? Singkatnya, pilihlah apa yang kamu pandang bermanfaat bagimu di masa depanmu, dan pada saat yang sama tidak merugikan orang lain.
  • Bacalah rencana dan tujuan-tujuanmu pada setiap kesempatan dari harimu.
  • Manfaatkanlah teknologi modern untuk menangkap peluang dan meraih kesuksesan, serta untuk mengatur waktumu, seperti internet, komputer, dan lainnya.
  • Pengaturanmu terhadap mejamu, kamarmu, mobilmu, dan segala hal yang berkaitan denganmu akan lebih membantumu untuk tidak membuang-buang waktu, serta menampilkanmu dengan penampilan yang indah. Maka bersungguh-sungguhlah untuk mengatur segala sesuatu di sekitarmu.
  • Rencana-rencana dan tabel-tabel bukanlah hal utama yang membuat kita menjadi orang yang teratur atau sukses, maka bersikaplah fleksibel selama pelaksanaan rencana-rencana tersebut.
  • Fokuslah dan jangan memecah pikiranmu ke lebih dari satu arah: Nasihat ini jika diterapkan, kamu akan menemukan banyak waktu untuk mengerjakan perkara-perkara lain yang lebih penting dan mendesak.
  • Ketahuilah bahwa kesuksesan itu bukan diukur dengan banyaknya pekerjaan yang kamu selesaikan, melainkan diukur dengan sejauh mana pengaruh pekerjaan-pekerjaan tersebut secara positif terhadap orang-orang di sekitarmu.

Hambatan-Hambatan Mengatur Waktu:

Hambatan-hambatan untuk mengatur waktu itu sangat banyak, oleh karena itu kamu wajib menjauhinya sebisamu. Dan di antara hambatan yang paling penting adalah sebagai berikut:

  • Tidak adanya tujuan-tujuan atau rencana-rencana.
  • Bermalas-malasan dan menunda-nunda pekerjaan; ini adalah hambatan mengatur waktu yang paling berat, maka jauhilah ia.
  • Sifat lupa; hal ini terjadi karena seseorang tidak menuliskan apa yang ingin ia selesaikan, sehingga berakibat hilangnya banyak kewajiban karena hal itu.
  • Gangguan (interupsi) orang lain dan kesibukan-kesibukan mereka, yang mana hal itu bisa jadi tidak penting atau tidak mendesak. Sampaikanlah permohonan maaf kepada mereka dengan penuh tata krama, oleh karena itu kamu harus belajar mengucapkan kata "tidak" untuk beberapa perkara.
  • Tidak menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas, atau tidak berkelanjutan dalam pengaturan akibat dari rasa malas atau berpikiran negatif terhadap sistem pengaturan itu sendiri.
  • Salah paham terhadap orang lain, yang mana hal itu dapat menuntun pada masalah-masalah yang melahap waktumu.

Langkah-Langkah Mengatur Waktu:

Langkah-langkah ini bisa saja kamu ubah atau tidak kamu terapkan sama sekali, karena setiap orang memiliki caranya tersendiri yang hebat dalam mengatur waktu; yang terpenting adalah kamu mengikuti asas-asas umum dalam mengatur waktu. Akan tetapi, langkah-langkah ini tetap menjadi gambaran umum bagi metode pengaturan waktu mana pun:

  • Pikirkanlah tujuan-tujuanmu, dan lihatlah kembali misi hidupmu di dalam kehidupan ini.
  • Lihatlah peran-peranmu di dalam kehidupan ini; kamu mungkin seorang ayah atau ibu, kamu mungkin seorang saudara, kamu mungkin seorang anak, dan kamu mungkin seorang pegawai, pekerja, atau manajer. Maka setiap peran membutuhkan sekumpulan pekerjaan terkait peran tersebut. Keluarga membutuhkan perhatian dan butuh agar kamu duduk bersama mereka dalam ruang keluarga, dan jika kamu seorang manajer lembaga, maka lembaga membutuhkan kemajuan, perencanaan, pengambilan keputusan, dan kerja produktif darimu.
  • Tetapkanlah tujuan-tujuan untuk setiap peran. Tidak bersifat wajib bagimu untuk meletakkan tujuan tertentu bagi setiap peran; karena sebagian peran boleh jadi tidak kamu jalankan selama beberapa waktu, seperti peran sebagai manajer jika kamu sedang dalam masa cuti.
  • Aturlah; dan yang dimaksud pengaturan di sini adalah kamu membuat jadwal mingguan dan memasukkan tujuan-tujuan yang darurat (penting) terlebih dahulu di dalamnya. Seperti tujuan pengembangan diri melalui pelatihan atau membaca, atau tujuan keluarga seperti pergi bertamasya atau duduk dalam perkumpulan keluarga untuk berdiskusi dan mengobrol, atau tujuan kerja seperti membuat rencana-rencana pemasaran sebagai contoh, atau tujuan-tujuan bagi hubunganmu dengan teman-teman.
  • Laksanakanlah; dan di sini cobalah untuk berkomitmen pada apa yang telah kamu tetapkan dari tujuan-tujuan dalam pekanmu. Bersikaplah fleksibel selama pelaksanaan; karena kamu mungkin akan menemukan peluang-peluang yang tidak terlintas di dalam benakmu saat perencanaan, maka manfaatkanlah peluang itu dan jangan takut jika jadwalmu tidak terlaksana secara penuh.
  • Di akhir pekan, evaluasilah dirimu sendiri, dan lihatlah pada sisi-sisi kekurangan lalu perbaikilah hal tersebut.

Catatan: Pengaturan mingguan adalah lebih baik daripada pengaturan harian, karena ia memberikanmu peluang untuk menghadapi kondisi darurat dan berinteraksi dengannya tanpa kamu kehilangan waktu untuk melaksanakan tujuan-tujuan dan pekerjaan-pekerjaanmu.

Bagaimanakah Kamu Mengeksploitasi Waktumu Secara Efektif?

Di sini kamu akan menemukan banyak catatan untuk meningkatkan efektivitasmu dalam mendayagunakan waktumu, maka cobalah untuk melaksanakannya:

  • Cobalah untuk menikmati setiap pekerjaan yang kamu lakukan.
  • Bersikaplah optimis dan jadilah orang yang positif.
  • Jangan membuang waktumu dengan meratapi (menyesali) kegagalanmu.
  • Cobalah menemukan cara-cara baru untuk menghemat waktumu setiap hari.
  • Amatilah kebiasaan-kebiasaan lamamu, dan tinggalkanlah apa saja yang bersifat membuang-buang waktumu.
  • Letakkanlah selalu buku catatan kecil dan pena di dalam sakumu untuk menuliskan ide-ide serta catatan-catatan.
  • Rencanakanlah harimu sejak malam yang mendahuluinya atau sejak pagi-pagi sekali, lalu tetapkanlah skala prioritas berdasarkan tingkat kepentingannya dan mulailah dengan hal yang paling penting.
  • Fokuslah pada pekerjaanmu dan selesaikanlah ia, serta jangan memecah pikiranmu ke lebih dari satu pekerjaan.
  • Berhentilah dari aktivitas apa pun yang tidak produktif.
  • Simaklah dengan baik setiap diskusi sampai kamu memahami apa yang diucapkan, agar tidak terjadi salah paham yang dapat menuntun pada terlahapnya waktumu.
  • Rapikanlah dirimu dan segala sesuatu di sekitarmu, baik itu kamar, rumah, mobil, maupun mejamu.
  • Kurangilah gangguan (interupsi) orang lain terhadapmu saat kamu sedang melaksanakan pekerjaanmu.
  • Tanyakanlah selalu kepada dirimu sendiri: "Apakah yang dapat aku lakukan untuk mendayagunakan waktuku sekarang juga?"
  • Bawalah buku-buku kecil (buku saku) bersamamu di dalam mobilmu atau ketika kamu pergi ke suatu tempat, dan di waktu-waktu menunggu kamu dapat membaca bukumu tersebut, seperti waktu menunggu antrean rumah sakit, atau waktu menyelesaikan urusan administrasi.
  • Teleponlah untuk memastikan setiap janji temu sebelum tibanya waktu perjanjian dengan menyisakan waktu yang cukup.
  • Berinteraksilah dengan kertas-kertas secara tegas, maka jangan biarkan ia menumpuk di mejamu atau di rumahmu. Singkirkan setiap kertas yang sekiranya tidak kamu butuhkan lagi dalam waktu seminggu, atau simpanlah ia di tempat yang jelas lagi teratur.
  • Bacalah tujuan-tujuan dan rencana-rencanamu pada setiap kesempatan setiap hari.
  • Jangan cemas jika kamu belum mampu melaksanakan rencana-rencanamu secara sempurna.
  • Jangan jadikan tabel-tabel jadwal sebagai belenggu yang mengikatmu, melainkan jadikanlah ia berada dalam pelayananmu.
  • Pada beberapa waktu, kamu harus meninggalkan sistem pengaturan sedikit saja untuk mengambil porsi istirahat, dan hal ini adalah sesuatu yang lebih disukai saat melakukan perjalanan rekreasi dan hari libur.
  • Fokuslah pada tindakan-tindakan yang memiliki imbal balik (dampak balik) yang tinggi di masa depan, seperti:

Kamu!

Keluarga

Pekerjaan

* Membaca buku dan majalah yang bermanfaat.

* Mendengarkan kaset rekaman yang bermanfaat.

* Duduk menyendiri bersama jiwa untuk mengevaluasi apa yang telah kamu lakukan sepanjang harimu.

* Melakukan olahraga ringan demi menjaga kesehatanmu.

* Mengambil porsi istirahat, melalui hari libur atau waktu jeda yang singkat di sela harimu.

* Duduk bersama keluarga dalam perkumpulan keluarga.

* Pergi bertamasya (rekreasi) yang mana melaluinya kamu dapat mendistribusikan tanggung jawab kepada para anggota keluarga, sehingga mereka belajar tentang tanggung jawab dan ikatan hubungan di antara kalian semakin meningkat.

* Merencanakan masa depan selalu.

* Menyingkirkan setiap pekerjaan yang tidak bermanfaat.

* Berusaha memprediksi peluang-peluang dan mendayaguhakannya secara efektif.

* Berdialog dengan para pegawai sejawat, para penanggung jawab, para klien, atau masyarakat yang mengurus administrasi demi meningkatkan efisiensi lembaga.

Menanamkan Akidah, Pemikiran, dan Nilai-Nilai Luhur

Maka dari itu, berdasarkan titik tolak modifikasi yang sejati bagi kepribadian kita, sudut pandang manusia terhadap kehidupan dibentuk, serta nilai-nilai dan prinsip-prinsip pun ikut dibentuk.

Jika akidah manusia berubah, jika keyakinan kuat (konvingsi) manusia berubah, maka kebiasaan-kebiasaannya pun akan berubah. Hal itu merupakan kekuatan yang sejati untuk mengubah seluruh perilaku keliru yang telah bertakhta sejak kecil di dalam kepribadian kita menuju perilaku-perilaku yang benar. Amatilah kepribadian Umar bin Al-Khattab yang dahulu gemar menumpahkan darah dan meminum khamar di zaman jahiliah; dengan adanya kehendak, keinginan, serta pemikiran yang bersumber dari bagian awal Surah Thaha, ia masuk Islam dan berubah menjadi sosok kepribadian yang unik, radhiyallahu 'anhu.

Perilaku kita dibangun di atas perasaan kita, perasaan kita bersumber dari pemikiran kita, dan pemikiran kita bersumber dari prinsip-prinsip kita. Jika akidah telah tertanam dan pemikiran yang orisinal telah terbentuk, maka pada saat itulah manusia mengetahui ke mana ia harus melangkah.

Amatilah metode Nabi , sesungguhnya beliau tidak bekerja untuk memodifikasi informasi-informasi belaka, dan tidak ada hukum-hukum syariat (fikih praktis) di Mekah; melainkan beliau menanamkan nilai-nilai, prinsip-prinsip, akhlak, dan akidah. Ketika hukum-hukum syariat itu turun, jiwa-jiwa manusia pun menerimanya dengan penuh ketundukan.

Maka ia merupakan revolusi besar lagi menyeluruh yang diciptakan oleh Islam di dalam hati manusia, dan ia adalah bagian vital yang aktif di dalam hati nurani manusia; yang mana tanpanya, kata-katanya hanya akan menjadi susunan lafal yang hampa dari ruh dan kehidupan.

Membangun Nilai-Nilai dan Prinsip-Prinsip yang Benar:

"Pikiran yang kecil mendiskusikan orang (personal), pikiran yang sedang mendiskusikan peristiwa (benda/perkara), sedangkan pikiran yang besar mendiskusikan prinsip." [Pepatah Tiongkok]

Artinya, di sana ada sebagian orang dari pemilik pikiran kecil yang menghukumi segala sesuatu berdasarkan perilaku orang per orang, seperti orang yang menghukumi Islam melalui perilaku seorang individu muslim. Dan yang lebih baik kondisinya dari mereka adalah para pemilik pikiran sedang yang menghukumi segala sesuatu berdasarkan apa yang terjadi dari peristiwa-peristiwa yang memiliki hubungan dengan kaum muslimin. Adapun pemilik pikiran besar, mereka adalah orang-orang yang mendiskusikan prinsip, karena prinsip adalah kebenaran itu sendiri. Sejak dahulu mereka telah mengatakan: "Kebenaran itu tidak dikenali berdasarkan orangnya, melainkan orang-orang itulah yang dikenali berdasarkan kebenaran."

Pada saat itulah kamu akan mengenali tentang:

  • Nilai tertinggi.
  • Fase pembangunan nilai.
  • Formula empat dimensi (kuartet) pembangunan nilai dan prinsip.

Prinsip-prinsip dan nilai-nilai adalah matahari yang terbit menyinari seluruh sisi jiwa, lalu sinarnya menembus dengan membawa cahaya, kehangatan, dan kehidupan. Ia adalah nilai yang agung bagi orang-orang besar, di mana mereka membangun nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang benar di dalam diri mereka sendiri terlebih dahulu, kemudian barulah hal itu bergerak menuju orang lain.

Nilai Terbesar:

Sesungguhnya keimanan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang benar hingga mencapai derajat akidah dapat membuatmu menyala karena kehangatan, sehingga kamu pun menyalakan keyakinan terhadapnya pada diri orang lain. Jika tidak demikian, maka ia akan tetap menjadi sekadar susunan kalimat yang hampa dari ruh dan kehidupan.

Sesungguhnya nilai terbesar yang kamu persembahkan untuk dirimu sendiri dan orang lain adalah menyuarakan pembangunan nilai-nilai dan prinsip-prinsip di dalam jiwa. Itulah prinsip-prinsip kebenaran yang disuarakan oleh Junjungan kita Muhammad saat beliau berada di Mekah di lereng-lereng gunung, dan prinsip-prinsip yang beliau suarakan di Thaif di atas gunung-gunung yang tinggi, begitu pula di Madinah, dengan kekuatan, kejelasan, serta ketawaduan yang sama. Ketika diutus seorang laki-laki kepadanya untuk menawar prinsip-prinsipnya, beliau berseru dengan lantang:

"Demi Allah, sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq di dalam As-Sirah (1/170) dan didhaifkan oleh Al-Albani rahimahullah, dan disebutkan bagi asal kisah ini lafal yang lain yang dikeluarkan oleh At-Thabarani di dalam Fiqh us-Sirah karya Al-Ghazali hlm. 110.]

Maka prinsip-prinsip bukanlah kata-kata yang kita gunakan untuk mempercantik diri di hadapan manusia namun kita menyelisihinya saat kita berada dalam kesendirian. Prinsip-prinsip adalah hal yang membuat umat-umat hidup atau mati bersamanya. Dialah yang membangun manusia dan menjadikannya memiliki nilai di dalam kehidupan. Suatu umat ketika melepaskan prinsip-prinsip dan nilai-nilainya sedikit demi sedikit, ia akan hancur berantakan dalam jangka panjang. Dan ketika kita hidup untuk sebuah prinsip, kehidupan akan tampak panjang dan memiliki makna.

Fase yang Penting:

Marilah kita merenungkan anak-anak kecil; tanah paling agung yang melaluinya kamu dapat menaburkan benih nilai-nilai adalah fase-fase masa kanak-kanak pada usia lima dan tujuh tahun. Fase-fase yang telah kita lupakan dan kita sia-siakan; fase yang kita anggap sebagai fase bermain dan bersenang-senang, padahal ia adalah fase yang paling agung.

Hendaklah kita menjauhkan diri dari sekadar menjejali benak dengan informasi-informasi parsial (sebagian-sebagian) yang sekiranya menyentuh akal pun tidak akan ada pengaruh bagi informasi serta bukti-bukti tersebut di dalam realitas kenyataan. Akibatnya, seluruh hal-hal parsial tersebut akan sirna karena benturannya dengan realitas kenyataan yang berbeda.

Empat Jalan untuk Membangun Nilai dan Prinsip:

Sebagian orang mungkin meyakini bahwa sumber kekuatan adalah paksaan, kekerasan, meninggikan suara, ancaman, dan yang selain itu dari sumber-sumber kekuasaan. Padahal itu semua adalah sumber-sumber yang bersifat formalitas yang tidak akan bertahan lama, serta bersifat menghancurkan hubungan. Karena, prinsip-prinsip itu tidak dipaksakan melainkan dibangun.

Di sana ada formula empat dimensi (kuartet) pembangunan nilai dan prinsip:

  • Membangunnya di dalam dirimu sendiri: Ia adalah sebuah negara yang jika belum tegak di atas tanahmu sendiri, ia tidak akan pernah tegak di atas tanah orang lain. Sesungguhnya prinsip-prinsip yang "menyewa" tidak akan terbangun pada diri orang lain, serta roh dan pendorongnya dinilai lemah lagi tidak bertahan lama.
  • Bertahap (Gradual): Mayoritas manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan tanpa adanya keyakinan kuat terhadap pekerjaan tersebut; maka tidak ada prinsip yang mengarahkannya dan tidak ada keteguhan yang mendorongnya, ia berjalan dalam kerancuan. Sesungguhnya nilai-nilai keliru yang dimiliki manusia serta kehidupan mereka tidaklah terbangun dalam waktu satu hari satu malam, melainkan sejak kecil hal itu ditanamkan secara keliru. Maka apakah masuk akal jika hal itu dihilangkan hanya dalam waktu satu hari satu malam?

Amatilah kisah pengharaman khamar; khamar telah tertanam sejak zaman jahiliah hingga permulaan Islam. Metode bertahap adalah metode yang digunakan oleh Islam dalam mengobati perkara khamar. Maka ketika sang penyeru mengumumkan tentang pengharaman, terjadilah hal yang sangat menakjubkan di mana jalan-jalan dan gang-gang dipenuhi oleh aliran khamar. Maka apakah umat manusia pernah melihat kemenangan atas jiwa dan kecepatan merespons yang seperti ini? Proses bertahap memunculkan keyakinan kuat di dalam jiwa, dan pada saat itulah datang kehendak untuk melakukan perubahan.

  • Kisah (Cerita): Kisah membawa di dalam lipatannya sebuah prinsip yang kamu tanamkan di dalam jiwa. Ia memiliki kemampuan yang agung dalam menarik jiwa dan menggerakkan indra. Setiap kali kisah tersebut menyentuh bagian dalam jiwa dan identitas manusia, maka perubahan yang dihasilkan akan menjadi lebih mendalam dan lebih cepat, serta ia akan tetap menggantung di dalam benak. Kisah mendatangkan sensasi ketertarikan dan rasa penasaran, serta di dalamnya terdapat makna-makna yang agung dengan syarat adanya kejelasan mengenai letak-letak pelajaran (ibrah) darinya.
  • Keadilan: Unsur yang hilang di tengah-tengah lingkungan umat manusia; keadilan di seluruh level dan tingkatan. Ia adalah kata yang dicari-cari oleh banyak orang, dan ia adalah hati nurani yang hidup yang membuat Qadhi (Hakim) Syuraih menjatuhkan keputusan hukum kepemilikan baju besi untuk seorang Nasrani. Dan siapakah lawannya? Ia adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Ketika orang Nasrani itu melangkah beberapa langkah, prinsip-prinsipnya berbalik dari Kekristenan menuju Islam dan ia berkata: "Adapun aku, maka aku bersaksi bahwa ini adalah hukum-hukum para nabi; Amirul Mukminin mendekatkanku kepada hakimnya, lalu hakimnya menetapkan keputusan hukum yang memenangkan diriku atasnya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya." [Al-Iman wal Hayat hlm. 201]

Ia adalah keadilan yang bersumber dari hati nurani yang hidup dan dari kedalaman kemanusiaan yang besar.

Maka agar kita dapat bertindak dengan cara yang benar, harus ada metode yang selamat dalam berpikir. Dan agar pemikiranmu menjadi benar, harus ada prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang benar.

Ia adalah tiga tiket untuk naik ke atas pesawat; tiket-tiket persiapan yang istimewa. Pada saat itulah sebuah gerbang akan dibuka, dan nomornya adalah dua puluh satu (21), gerbang abad ini, untuk menaiki perjalanan industri kesuksesan di bawah slogan Imam Asy-Syafi'i:

Tidak ada tempat menetap bagi orang yang berakal dan beradab

Untuk beristirahat, maka tinggalkanlah tanah air dan merantaulah

Bepergianlah, niscaya kamu akan menemukan pengganti bagi orang yang kamu tinggalkan

Dan berlelah-lelahlah, karena manisnya hidup itu ada dalam kelelahan

Sesungguhnya aku melihat diamnya air itu merusaknya

Jika ia mengalir ia akan jernih, dan jika tidak mengalir ia tidak akan jernih

Dan singa itu sekiranya tidak meninggalkan hutan niscaya ia tidak akan menerkam

Dan anak panah sekiranya tidak meninggalkan busur niscaya ia tidak akan mengenai sasaran

Dan matahari sekiranya berhenti di falak (orbitnya) secara permanen

Niscaya manusia akan bosan dengannya, baik orang asing maupun orang Arab

Emas murni itu seperti tanah l some tempat dibuang di tempat-tempatnya

Dan kayu gaharu di tanahnya hanyalah salah satu jenis kayu bakar

Maka jika emas ini merantau (diambil dari tanah) akan mulialah pencariannya

Dan jika kayu itu merantau ia akan menjadi mulia seperti emas

Panggilan Terakhir

Di hadapan khalayak ramai dari manusia, aku berpikir dengan penuh keraguan, lalu aku memutuskan untuk mencari seorang manusia yang memiliki kriteria-kriteria tinggi, dan semangat yang tinggi, yang langka keberadaannya; dan aku memutuskan untuk mencarinya.

Di dalam kegelapan kehidupan dan meningkatnya pergolakan antara kebenaran dan kebatilan, keputusasaan mulai merayap di dalam hati manusia tanpa mereka sadari. Maka aku memutuskan untuk mencari seorang manusia yang dapat mengembalikan kehidupan ke dalam hatiku dan memancarkan benih-benih harapan di dalam jiwaku. Ia bukanlah orang asing bagi kalian, dan kalian pun bukanlah orang asing baginya; ia adalah seorang raksasa di antara orang-orang kerdil, sebuah hakikat di antara ilusi-ilusi, dan sebuah planet yang bersinar di antara lilin-lilin dan lampu-lampu. Sesungguhnya perjalananku bukanlah kesia-siaan, melainkan ia adalah perjalanan pencarian logam yang murni, pemilik hati yang terbakar (penuh kepedulian).

Dan sekarang: Di hadapan kriteria-kriteria ini, dan di tengah padatnya masyarakat, serta samudra kehidupan; berikanlah kepadaku manusia ini dan ambillah seluruh hartaku, ambillah seluruh apa yang aku miliki, berikanlah kepadaku manusia ini! Aku mengira bahwa aku tidak sedang berbicara tentang khayalan dan ilusi. Wahai orang yang sukses di tengah samudra yang dahsyat ini! Di manakah kamu? Dan di atas bumi manakah aku bisa menemukanmu?

Dan bagaimanakah jalan menuju dirimu? Sesungguhnya aku berada dalam puncak kerinduan untuk melihatmu, dan untuk berjumpa denganmu. Keselamatan atasmu dan atas setiap orang sukses yang jujur pada hari ia dilahirkan, pada hari ia kembali kepada Tuhannya, dan pada hari ia dibangkitkan dalam keadaan cahayanya memancar di hadapannya. [Lihat dalam urusan tersebut: Shina'at un-Najah hlm. 86 dan setelahnya]

Aktivasi Praktis terhadap Hakikat dan Nilai-Nilai Tema

Melalui aktivitas-aktivitas berikut ini:

Pertama: Aktivitas Pendamping (Ko-kurikuler):

  1. Membagi waktu pertemuan dan mengaturnya secara akurat untuk setiap topik serta berkomitmen terhadap hal tersebut.
  2. Setiap anggota dalam pertemuan menentukan topik yang akan dipresentasikannya, membaginya ke dalam elemen-elemen, dan memberikan alokasi waktu yang dikhususkan untuk setiap elemen, sehingga tidak ada satu elemen yang mendominasi elemen lainnya.
  3. Memberikan sanksi (teguran) langsung bagi siapa saja yang datang terlambat sehingga menyebabkan terhambatnya dan kacaunya pertemuan.
  4. Menggunakan komputer dalam mempresentasikan materi untuk menarik perhatian dan menjauhkan dari rasa bosan.
  5. Menggunakan buku catatan kecil (agenda) bagi setiap orang untuk mencatat janji temunya serta menuliskan ide-ide dan catatan-catatannya.
  6. Berkomitmen untuk tidak memotong pembicaraan orang lain agar waktu tidak terbuang sia-sia dan ide-ide pokok tidak hilang.
  7. Menyimak dengan baik apa yang diucapkan agar tidak terjadi salah paham terhadap apa yang dikatakan.
  8. Membagikan selembar kertas kepada setiap orang dan meminta para hadirin untuk menuliskan cara-cara terbaik dalam menanamkan suatu prinsip atau mengubah suatu perilaku.

Kedua: Aktivitas Pendukung (Penunjang):

  1. Mengadakan kelas pelatihan untuk manajemen waktu.
  2. Mengadakan kelas pelatihan seputar penanaman akidah, pemikiran, dan nilai-nilai.
  3. Menyusun tabel-tabel dan program-program yang membantu dalam penguasaan manajemen waktu.
  4. Menyampaikan kultum (renungan singkat) tentang pentingnya waktu.
  5. Menyiapkan materi kuliah/ceramah tentang: Waktu-Waktu yang Terbuang dalam Kehidupan Individu sebagai Sebab Keterbelakangan Umat.
  6. Menyusun penelitian (makalah) tentang penanaman akidah dan nilai-nilai.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Pertama: Pertanyaan Esai (Uraian):

  1. Buktikanlah bahwasanya manajemen diri merupakan bukti kekuatan!
  2. Apakah hal yang membantumu untuk mengatur waktumu?
  3. Apa sajakah hambatan-hambatan dalam mengatur waktu? Dan bagaimana kamu mengatasinya?
  4. Jelaskanlah bagaimana cara mengeksploitasi waktumu secara efektif!
  5. Jelaskanlah metode-metode penanaman nilai-nilai dan prinsip-prinsip!
  6. Sebutkan tiga prinsip pertama dari perubahan!
  7. Untuk mengambil keputusan yang benar terdapat enam kunci....... maka apakah kunci-kunci tersebut?
  8. Apa sajakah risiko-risiko yang timbul akibat tidak merencanakan dan tidak menentukan tujuan dalam kehidupanmu?
  9. Bagaimana kamu mengubah sebuah pemikiran menjadi sebuah keyakinan kuat (konvingsi)?
  10. Para pemimpin memiliki peran penting dalam mengubah keyakinan kuat di tengah bangsa-bangsa atau mengokohkannya. Sebutkan contoh-contoh dalam hal tersebut!
  11. Buatlah sebuah konsep/gambaran untuk mengelola suatu pertemuan yang berdurasi (dua jam)!
  12. Buatlah konsep/gambaran lain untuk suatu pertemuan yang kamu kelola sendiri bersama sebuah kelompok yang berdurasi satu jam saja!
  13. Buatlah rencana sederhana untuk membiasakan anak-anak melakukan keteraturan dalam kehidupan mereka!

Kedua: Pertanyaan Objektif (Pilihan Ganda & Isian):

1. Pilihlah jawaban yang benar di antara tanda kurung:

  • Perilaku kita dibangun di atas ............. (pemikiran kita – perasaan kita – prinsip-prinsip kita).
  • Perasaan kita bersumber dari ............ (prinsip-prinsip kita – ide-ide kita – keyakinan-keyakinan kita).
  • Pemikiran kita bersumber dari ............... (perasaan kita – perilaku kita – prinsip-prinsip kita).

2. Lengkapilah titik-titik berikut ini berdasarkan pemahamanmu terhadap tema:

Untuk menanamkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip terdapat empat jalan. Yang pertama adalah menanamkannya di dalam dirimu sendiri. Yang kedua ...................., yang kedua (ketiga) ............, yang ketiga (keempat) ............, dan yang keempat adalah keadilan.

Catatan-Catatan Penting:

  1. Pertanyaan-pertanyaan evaluasi dan pengukuran mandiri yang telah lalu—baik yang berjenis esai maupun objektif—berfungsi untuk mengukur dan mengevaluasi tujuan-tujuan perilaku instruksional pada ranah kognitif beserta tingkatan-tingkatannya. Hal ini dikenal dengan istilah evaluasi dan pengukuran pencapaian belajar atau tes prestasi belajar.
  2. Evaluasi dan pengukuran tujuan ranah afektif dilakukan melalui metode observasi oleh guru terhadap ketertarikan para peserta didik dan respons mereka yang ditunjukkan melalui perhatian, kesungguhan, antusiasme, serta internalisasi terhadap apa yang telah mereka pelajari, beserta sejauh mana tingkat pencapaian yang telah mereka raih dari proses interaktif ini.
  3. Evaluasi dan pengukuran tujuan ranah moforik (psikomotorik) dilakukan dengan mengamati tingkat performa peserta didik terhadap keterampilan-keterampilan yang menjadi target melalui penyampaian lisan, tulisan, dan praktik nyata.
  4. Evaluasi dan pengukuran aktivitas dilakukan dengan observasi terhadap interaksi dan performa peserta didik pada aktivitas-aktivitas pendamping selama sesi berlangsung, serta aktivitas pendukung yang bersifat menguatkan dan memperkokoh. Hal ini dilakukan dengan cara setiap peserta didik memilih aktivitas yang sesuai bagi dirinya untuk dilaksanakan selama hari-hari dalam sepekan.
  5. Pengukuran dan evaluasi yang menggunakan observasi dan pemantauan sebagai sarananya, agar dapat mencapai tujuan-tujuannya, wajib dilakukan melalui kartu observasi dan pemantauan. Di dalamnya dicatat daftar hal-hal yang ingin diukur dan dievaluasi, dan di depan setiap target disediakan kotak-kotak skala penilaian dari (nol) sampai (5). Angka (nol dan 1) berarti Kurang, (2) berarti Cukup, (3) berarti Baik, (4) berarti Sangat Baik, dan (5) berarti Istimewa. Contohnya adalah seperti kartu berikut ini:

Kartu Evaluasi Interaksi dan Performa (Observasi dan Pemantauan)

No

Hal-hal yang Ingin Dievaluasi pada Diri Peserta Didik

0

1

2

3

4

5

Kurang

Kurang

Cukup

Baik

Sangat Baik

Istimewa

1

Perhatian dan ketertarikannya: secara kepedulian, kesungguhan, dan antusiasme

2

Respons dan kepatuhannya

3

Karakterisasinya terhadap nilai-nilai

4

Performanya dalam aktivitas pendamping

5

Performanya dalam aktivitas pendukung

6

Performanya di dalam bagiannya (tugasnya)

7

Kehadirannya dalam pertemuan-pertemuan

8

Persiapan mentalnya

9

Penyampaian materi pada sesinya

10

Pembayaran iurannya untuk koperasi karyawan

11

Kontribusi dan pengorbanan

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat