Pasal 2: Mulailah Sepuluh Hari Dengan Mempertajam Fikiran
BAB KEDUA: Mulai Sepuluh Hari Tantangan Mental
Tujuan
Umum:
- Penguasaan kognitif
(pengetahuan) tentang pikiran-pikiran negatif dan dampaknya terhadap
kehidupan seorang individu muslim.
- Memampukan individu muslim
untuk membebaskan diri dari pikiran-pikiran negatif melalui
aktivitas-aktivitas pendamping dan pendukung.
- Membentuk kehendak (tekad)
tantangan mental dan emosional terhadap faktor-faktor penyebab frustrasi.
Tujuan
Perilaku Prosedural untuk Tema Ini:
Dengan
berakhirnya proses pembelajaran tema ini, diharapkan peserta didik mampu untuk
melakukan hal-hal berikut:
Pertama:
Tujuan Kognitif (Pengetahuan):
- Menjelaskan kaidah-kaidah
yang melaluinya ia mampu membebaskan diri dari pola pikir negatif.
- Menerangkan dampak yang akan
dihasilkan dari sepuluh hari tantangan mental.
- Menyebutkan beberapa sarana
yang membantunya untuk mewujudkan tantangan ini.
- Menjelaskan cara
mengendalikan dan menguasai emosi serta kondisi mentalnya secara cepat.
- Menyebutkan lima keyakinan
yang membatasi kemampuan-kemampuannya dan lima keyakinan yang membantunya
mewujudkan tujuan-tujuannya.
- Membuktikan kemungkinan untuk
mengubah keyakinan-keyakinan yang tidak benar.
- Menjelaskan
tingkatan-tingkatan keyakinan pada manusia dan apa yang mungkin diubah
terlebih dahulu.
- Menerangkan peran keteladanan
(role model) dan pentingnya dalam mengubah keyakinan.
- Menyebutkan tiga sarana bantu
dalam mengubah keyakinan.
- Menjelaskan bagaimana cara
mengendalikan risiko-risiko.
- Menguraikan langkah-langkah
yang harus dipahami untuk mendapatkan kesuksesan dan keunggulan.
- Menyebutkan langkah-langkah
yang dapat diambil secara praktis untuk membebaskan diri dari beberapa
keyakinannya yang salah.
- Menguraikan rahasia
kesuksesan sebagaimana yang dijelaskan oleh penulis.
- Membuktikan bahwa manajemen
diri (pengelolaan diri) merupakan bukti dari kekuatan.
- Menguraikan cara mengelola
dirinya sendiri dengan metode yang produktif lagi menghasilkan buah.
- Menyebutkan beberapa perkara
yang membantunya dalam mengatur waktu.
- Menyebutkan hambatan-hambatan
dalam mengatur waktu.
- Menjelaskan bagaimana cara
memanfaatkan waktunya secara efektif.
- Membuktikan bahwa setiap kali
kita membebaskan kemampuan-kemampuan terpendam kita, maka kita akan
mendapatkan hasil-hasil yang memukau.
Kedua:
Tujuan Afektif (Sikap):
- Melawan pemikiran negatif
dan segala hal yang mematahkan semangatnya.
- Menempuh jalan-jalan terbaik
yang membantunya melakukan tantangan mental selama sepuluh hari.
- Memunculkan poin-poin baru
yang memampukannya untuk mengendalikan emosi dan kondisi mentalnya.
- Mengadopsi ide untuk
mengubah pandangan-pandangan (keyakinan) yang salah.
- Menghormati orang-orang yang
telah mengubah keyakinan salah mereka, di mana hal itu menjadi sebab
kesuksesan mereka.
- Berlatih untuk memanfaatkan
alam bawah sadarnya dengan pemanfaatan yang paling optimal.
- Memperhatikan transfer
pengalaman dan keyakinannya melalui alam bawah sadar.
- Menjauhkan diri dari segala
hal yang menyebabkan frustrasi baginya.
- Menolak secara total untuk
menyerah pada perasaan apa pun yang tidak baik.
- Menegaskan pentingnya
latihan yang berkesinambungan (kontinu) dalam membebaskan diri dari
kebiasaan-kebiasaan buruk yang lama.
- Menekuni aktivitas-aktivitas
yang membantu mewujudkan tantangan akal selama sepuluh hari.
- Meneladani orang-orang yang
memiliki tekad kuat dan semangat yang tinggi.
- Menyusun berdasarkan tingkat
kepentingannya: tingkatan-tingkatan keyakinan pada manusia dan apa yang
dapat memberikan manfaat terlebih dahulu.
- Memilih metode terbaik untuk
membebaskan diri dari keyakinan-keyakinan tampak yang membatasi
kemampuan-kemampuannya.
- Mengerahkan upaya dalam
memanfaatkan waktunya secara efektif.
Ketiga:
Tujuan Psikomotorik (Motorik / Keterampilan):
- Menemukan hal-hal negatif
yang membatasi kemampuan-kemampuannya.
- Memetakan (mencatat) lima
keyakinan utama yang membantunya mewujudkan tujuan-tujuannya.
- Menciptakan metode-metode
baru yang membantunya dalam mengubah keyakinan-keyakinannya yang tidak
benar.
- Meniru orang-orang yang
memiliki tekad kuat dan tokoh-tokoh besar, dengan menjadikan orientasi
utamanya hanya untuk mencari rida Allah Ta'ala.
- Mendayagunakan ujian-ujian
yang menghadangnya untuk menambah kekuatannya.
- Berbicara dengan lancar
mengenai perubahan-perubahan yang telah ia selesaikan selama sepuluh hari
tersebut.
Materi
Ilmiah:
Ringkasan
Ide-Ide yang Layak Diingat:
- Harta karun itu ada di dalam
dirimu. Carilah di dalam batinmu jawaban atas keinginan hatimu.
- Rahasia besar yang dimiliki
oleh orang-orang besar di setiap fase usia adalah kemampuan mereka untuk
berkomunikasi dengan kekuatan alam bawah sadar dan membebaskannya. Kamu
pun bisa melakukan seperti mereka.
- Alam bawah sadarmu memiliki
solusi untuk segala permasalahan. Jika kamu menyarankan kepada alam bawah
sadarmu sebelum tidur: "Aku ingin bangun jam 3.30 pagi,"
maka ia akan membangunkanmu tepat pada waktu tersebut.
- Alam bawah sadarmu
bertanggung jawab atas organ-organ tubuhmu, dan ia mampu menyembuhkanmu.
Tenangkan dirimu setiap malam menjelang tidur melalui ide tentang
kesehatan yang sempurna, dan karena alam bawah sadarmu adalah pelayanmu
yang setia, maka ia akan menatimu (mematuhimu).
- Setiap pikiran pada
hakikatnya adalah sebab, dan setiap kondisi adalah akibat atau hasil.
- Jika kamu ingin menulis
buku, naskah drama, atau ingin menyampaikan pidato yang baik di hadapan
audiensmu, kamu harus mentransfer ide tersebut dengan penuh rasa cinta dan
perasaan ke dalam alam bawah sadarmu, dan ia akan merespons sesuai dengan
hal itu.
- Kamu bagaikan seorang
nakhoda yang melayarkan kapal, di mana ia wajib memberikan instruksi dan
perintah yang benar. Kamu pun wajib memberikan perintah yang benar: "Pikiran-pikiran
dan visualisasi" kepada alam bawah sadarmu yang mengendalikan dan
menghukumi semua pengalamanmu.
- Jangan pernah menggunakan
istilah-istilah seperti: "Aku tidak mampu membeli ini,"
atau "Aku tidak bisa melakukan itu," karena alam bawah
sadarmu akan memegang ucapanmu, dan memahaminya bahwa kamu tidak memiliki
uang atau kemampuan untuk melakukan apa yang kamu inginkan. Katakan pada
dirimu sendiri: "Aku mampu melakukan segala hal melalui kekuatan
alam bawah sadarku."
- Undang-undang kehidupan
adalah undang-undang keyakinan. Dan keyakinan adalah sebuah pikiran di
dalam akalmu. Jangan meyakini hal-hal yang menyebabkan bahaya atau
gangguan bagimu. Yakini otoritasnya. Kekuatan alam bawah sadarmu itu nyata
dalam hal ia menginspirasi dan memperkuat kondisimu, sesuai dengan
keyakinanmu yang telah terbentuk di dalam dirimu.
- Ubahlah pikiran-pikiranmu,
niscaya kamu mengubah takdir (jalan hidup) mu. (Lihat—The Power of Your
Subconscious Mind (Kekuatan Alam Bawah Sadar Anda) hal. 13).
Setelah
kamu memvisualisasikan apa yang telah lalu dan mengingat ide-ide ini, mulailah
masuk ke dalam tantangan mental dan kerja nyata yang bermanfaat.
Selamat
datang di sepuluh hari yang belum pernah kamu lalui hal yang serupa dengannya
sebelum ini. Dan berikut adalah aturan permainannya:
- Selama sepuluh hari ke
depan, tolaklah secara total untuk menyerah pada pikiran atau perasaan apa
pun yang tidak baik. Tolaklah untuk hanyut dalam pertanyaan-pertanyaan
yang merampas kekuatan dan tekadmu, dan tolaklah penggunaan istilah atau
slogan apa pun yang merampas vitalitas dan aktivitasmu.
- Ketika kamu mendapati dirimu
tenggelam dalam hal negatif apa pun, gunakan sarana apa saja yang telah
kamu pelajari sebelumnya untuk mengalihkan kembali fokusmu ke arah yang
lain, dan mulailah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk
memecahkan masalah sebagai lini pertama serangan terhadap pikiran-pikiran
tersebut.
- Persiapkan dirimu untuk
meraih kesuksesan di setiap pagi selama sepuluh hari ke depan, yaitu
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pagi yang memberimu kekuatan dan
tekad.
- Selama sepuluh hari ke
depan, jadikan fokusmu pada solusi, bukan pada masalah. Ketika kamu
menyadari bahwa ada situasi yang menantangmu, segeralah fokus pada solusi.
- Jika kamu mendapati dirimu
menyerah pada pemikiran atau perasaan negatif, jangan menyiksa dirimu
sendiri, selama kamu langsung mengubah kondisimu saat itu juga. Namun,
jika kamu menyerah pada perasaan dan pikiran yang tidak baik tersebut
dalam waktu kapan pun meskipun singkat, maka kamu wajib menunggu sampai
pagi hari berikutnya, kemudian mulailah menghitung sepuluh hari itu
dari awal lagi, tanpa melihat berapa jumlah hari yang sebenarnya telah
kamu selesaikan.
Apa
yang Akan Diwujudkan oleh Sepuluh Hari Tantangan Mental Ini Bagi Anda?
- Ia akan membuatmu sadar
secara jelas tentang kebiasaan-kebiasaan mental yang membatasi kemajuanmu
dan menghambatnya.
- Ia akan memaksamu untuk
mencari alternatif-alternatif yang meniupkan kekuatan dan tekad dalam
dirimu.
- Ia akan membekalimu dengan
dosis rasa percaya diri yang sangat besar setiap kali kamu berhasil
mengendalikan cara berpikirmu dan sukses mengubah situasi yang kamu hadapi
demi keuntunganmu.
- Dan yang lebih penting dari
itu, ia akan membantumu menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru,
standar-standar baru, dan ekspektasi-ekspektasi baru yang menjadi sebab
kehidupanmu menjadi lebih kaya dan makmur.
Sesungguhnya
kesuksesan tidak lain adalah kumpulan dari langkah-langkah prosedural, ia
dihasilkan dari serangkaian disiplin pribadi. Latihan yang berkesinambungan
untuk membebaskan diri dari kebiasaan buruk yang lama dan mengisi energimu
dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang diperoleh yang membantumu untuk melesat
maju, akan memberimu kekuatan dorong yang belum pernah terjadi sebelumnya,
persis seperti kereta api yang sedang mengumpulkan kecepatannya di awal
jalannya.
Apakah
kamu benar-benar siap untuk mengikuti metode baru dalam hidupmu? Jangan memulai
sepuluh hari tantangan mental ini kecuali jika kamu benar-benar yakin bahwa
kamu akan hidup dengannya selamanya setelah itu. Sebab, tantangan ini bukan
tema untuk orang-orang yang lemah hati. Ia hanya cocok bagi mereka yang
benar-benar bersikeras untuk mengondisikan sistem saraf mereka agar menerima
model-model emosional baru yang mampu mengantarkan mereka menuju tingkat
kesuksesan yang lebih tinggi. Ia juga cocok bagi mereka yang ingin dan bekerja
untuk mengaplikasikan segala sesuatu yang telah mereka pelajari
sebelumnya—seperti pertanyaan, istilah-istilah transformasional, slogan-slogan
positif, mengubah titik fokus, dan kondisi fisik—di dalam kehidupan sehari-hari
mereka.
Bagaimana
Cara Mendapatkan Keuntungan Tambahan untuk Memastikan Bahwa Kamu Bisa Menekuni
Sepuluh Hari Tantangan Mental Ini?
Umumkan
di antara teman-temanmu dan anggota keluargamu tentang apa yang akan kamu
lakukan, dan mintalah bantuan mereka untuk menolongmu agar berkomitmen terhadap
apa yang diminta. Dan yang lebih baik dari itu adalah kamu menemukan seorang
teman yang ia sendiri juga ingin mengaplikasikan sepuluh hari tantangan mental
ini bersamamu.
Di
antara ide yang bagus dalam urusan ini adalah kamu menulis buku harianmu
(jurnal) dalam menghadapi tantangan akal tersebut. Sesungguhnya menulis buku
harian tentang bagaimana kamu sukses mengendalikan kebiasaan-kebiasaan buruk
yang kamu lakukan akan berkedudukan sebagai penulisan buku panduan yang akan
kamu tuju di kemudian hari ketika kamu menghadapi salah satu tikungan di jalan
kehidupanmu.
Teladanilah
orang-orang yang memiliki tekad kuat (ulul 'aza’im) dan dengarkanlah perkataan
mereka:
Orang
yang bersemangat tinggi secara mutlak (Adz-Dzari'ah oleh Al-Ashfahani
hal. 190) adalah orang yang tidak rida dengan semangat hewani sebatas
kemampuannya, sehingga ia tidak menjadi budak dari pelayan bagi perut dan
kemaluannya. Sebaliknya, ia bersungguh-sungguh untuk mengkhususkan diri dengan
kemuliaan-kemuliaan syariat, sehingga ia menjadi bagian dari wali-wali Allah
dan khalifah-khalifah-Nya di dunia, serta menjadi orang-orang yang bertetangga
dengan-Nya di akhirat. Sementara orang yang bersemangat rendah adalah orang
yang berada pada kondisi sebaliknya dari hal tersebut.
Orang
yang bersemangat tinggi, dunia akan menjadi kecil di matanya. Ia keluar dari
kekuasaan perutnya, sehingga ia tidak menginginkan apa yang tidak ia temukan,
dan tidak berlebih-lebihan ketika ia menemukannya. Ia juga keluar dari
kekuasaan kemaluannya, sehingga tidak ada pandangan/pemikiran maupun fisik yang
hancur karenanya.
Ketika
pendahulu kita yang saleh (salafus saleh) memahami perintah Allah, merenungkan
hakikat dunia, dan tempat kembali mereka ke akhirat, mereka merasa asing dengan
gemerlap dunia, hati mereka menjauh dari perhiasannya, semangat mereka meninggi
di atas perkara-perkara yang rendah, dan mereka menjadikan segala kegundahan
menjadi satu kegundahan saja, yaitu rida Allah—Azza wa Jalla—sebagai cita-cita
mereka yang paling agung:
Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas
Mereka menceraikan dunia dan takut akan fitnah
Mereka memandangnya, maka ketika mereka mengetahui
Bahwa dunia itu bukanlah tanah air bagi orang yang hidup
Semata mereka menjadikannya bagai lautan yang dalam, dan
mereka mengambil
Amal-amal
saleh di dalamnya sebagai bahtera (kapal)
Mereka
sangat bertekad untuk menyingkirkan segala hal yang dapat menghambat mereka
untuk berjalan terus maju menuju tujuan mereka, termasuk di dalamnya adalah
perkara-perkara mubah yang berlebihan.
Abdul
Qadir al-Jailani berkata kepada muridnya: "Wahai anak muda! Janganlah
cita-cita (fokus) utamamu hanya pada apa yang kamu makan, apa yang kamu minum,
apa yang kamu pakai, apa yang kamu nikahi, apa yang kamu tinggali, dan apa yang
kamu kumpulkan. Semua ini adalah keinginan nafsu dan tabiat fisik. Lalu di
manakah keinginan hati?! Keinginanmu adalah apa yang menyibukkanmu, maka
jadikanlah keinginan utamamu adalah Tuhanmu—Azza wa Jalla—dan apa yang ada di
sisi-Nya."
Ketika
imam yang mulia, Al-Laits bin Sa'ad, berkeinginan untuk melakukan suatu
perbuatan yang kurang utama (mafdhul) yang menyelisihi tekad yang kuat, imam
kota Madinah, Yahya bin Said al-Anshari berkata kepadanya: "Jangan lakukan
itu, karena sesungguhnya kamu adalah seorang imam (pemimpin) yang menjadi
panutan/diperhatikan orang."
Ibnu
al-Qayyim—rahimahullah Ta'ala—berkata: "Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah—qaddasallahu ruhahu—pernah berkata kepadaku pada suatu hari mengenai
sesuatu dari perkara mubah: 'Hal ini menyelisihi derajat-derajat yang tinggi,
meskipun meninggalkannya bukan merupakan syarat untuk keselamatan,' atau
perkataan yang serupa dengan ini" (Madarij as-Salikin (2/26))
Al-Hafizh
Abu al-Hasan Ali bin Ahmad az-Zaidi berkata: "Jadikanlah ibadah-ibadah
sunah seperti ibadah wajib, maksiat-maksiat seperti kekufuran, syahwat seperti
racun, berbaur dengan manusia (yang membawa keburukan) seperti api, dan makanan
seperti obat."
Yahya
bin Yahya pernah pergi menemui Imam Malik ketika ia masih kecil, ia mendengar
(hadis) darinya dan memperdalam ilmu agama. Malik kagum dengan sikap dan
akalnya. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari ia berada di sisi Malik di antara
murid-muridnya; tiba-tiba seseorang berkata: "Gajah telah datang, gajah
telah datang!" Maka keluarlah murid-murid Malik untuk melihatnya kecuali
dia, (yakni: Yahya tetap berada di tempatnya). Maka Malik berkata kepadanya:
"Mengapa kamu tidak keluar dan melihat gajah, karena gajah tidak ada di
Andalusia?" Maka Yahya berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku datang
dari negeriku hanya untuk melihat dirimu, dan belajar dari petunjukmu serta
ilmumu, dan aku tidak datang untuk melihat gajah." Maka Malik takjub
kepadanya, dan menjulukinya "Orang paling berakal dari penduduk
Andalusia".
Menonton
hewan yang asing memang termasuk perkara mubah... Akan tetapi, waktu seorang
dai yang menjadi teladan itu terlalu sempit untuk menyibukkan sebagian darinya
dalam perkara mubah, yang tidak menghasilkan apa-apa di balik itu bagi
urusan/ideologinya yang telah menyibukkannya siang dan malam.
Ketika
Abdurrahman ad-Dakhil melarikan diri dari kejaran orang-orang Abbasiah dan
menuju ke arah Andalusia, dihadiahkan kepadanya seorang budak wanita yang
cantik. Beliau memandangnya lalu berkata: "Sesungguhnya wanita ini
memiliki tempat yang istimewa di hati dan mata. Jika aku tersibukkan darinya
karena semangatku pada apa yang aku cari (kejayaan), maka aku telah
menzaliminya. Namun jika aku tersibukkan dengannya dari apa yang aku cari, maka
aku telah menzalimi semangatku. Dan aku tidak memiliki keperluan dengannya saat
ini." Lalu beliau mengembalikannya kepada pemiliknya (Nafh ath-Thib
(4/43)).
Sesungguhnya
warisan Islam kita dipenuhi dengan sikap-sikap yang luar biasa dari tingginya
semangat pendahulu kita yang saleh. Sikap tersebut mengumumkan pandangan mereka
yang mendalam terhadap hakikat segala sesuatu, keagungan mereka di atas
formalitas yang hampa, keluhuran mereka dari perkara-perkara rendah berupa
"pamer/bersolek" yang dusta, serta kebanggaan mereka atas keterikatan
mereka kepada agama yang lurus ini, agama keagungan dan kemuliaan.
Di
antara hal itu adalah apa yang sahih dari Ibnu Syihab, ia berkata: "Umar
bin Khattab pergi ke Syam, dan bersama kami ada Abu Ubaidah bin al-Jarrah.
Kemudian mereka sampai di sebuah tempat penyeberangan air (sungai
dangkal/berlumpur), sedangkan Umar berada di atas untanya. Beliau lalu turun
dari unta tersebut, melepaskan kedua alas kakinya (khuff), lalu meletakkannya
di atas pundaknya, dan memegang tali kekang untanya, kemudian menyeberangi
tempat air tersebut bersamanya.
Maka
Abu Ubaidah berkata: 'Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau melakukan ini?
Engkau melepaskan kedua alas kakimu, meletakkannya di atas pundakmu, memegang
tali kekang untamu, dan menyeberangi air bersamanya? Aku tidak suka jika
penduduk negeri ini melihatmu dalam keadaan seperti ini!'
Maka
Umar berkata: 'Aduh! Kalau saja yang mengatakan ini orang lain selain engkau
wahai Abu Ubaidah, niscaya aku akan menjadikannya sebagai pelajaran bagi umat
Muhammad saw. Sesungguhnya kita dahulu adalah kaum yang paling hina, lalu Allah
memuliakan kita dengan Islam. Maka kapan saja kita mencari kemuliaan dengan
selain apa yang Allah telah muliakan kita dengannya, niscaya Allah akan
menghinakan kita'."
Dalam
riwayat lain disebutkan: 'Wahai Amirul Mukminin, engkau akan ditemui oleh bala
tentara dan para panglima Syam sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini?'
Maka Umar berkata: 'Sesungguhnya kita adalah kaum yang telah Allah muliakan
dengan Islam, maka kita tidak akan sekali-kali mencari kemuliaan dengan
selainnya'.
Seorang
Arab badui yang penampilannya kusut dan jubahnya usang masuk menemui Amirul
Mukminin Muawiyah—radhiyallahu 'anhu—. Mata Muawiyah memandangnya dengan
pandangan meremehkan, dan orang Arab badui itu mengetahui hal tersebut dari
wajah Muawiyah—radhiyallahu 'anhu—. Maka ia berkata: "Wahai Amirul
Mukminin, sesungguhnya jubah ini tidak bisa berbicara kepadamu, akan tetapi
yang berbicara kepadamu adalah orang yang ada di dalamnya."
Maka
Muawiyah mendekatkannya, dan ternyata ia adalah seorang midrah (Al-Midrah:
Pemimpin yang mulia, dan orang yang dikedepankan ketika terjadi perselisihan
dan peperangan) (pemimpin yang mahir) dalam kefasihan ucapan dan retorika, lalu
Muawiyah menjadikannya sebagai orang dekatnya (orang khususnya).
Contoh-contoh
atas apa yang kami sebutkan sangatlah banyak yang memenuhi biografi para ulama
yang mengamalkan ilmunya. Di antara contoh hal tersebut adalah Imam Syaikhul
Islam An-Nawawi—rahimahullah—. Jika ada orang yang melihatnya, ia akan mengira
beliau adalah seorang syaikh dari kalangan penduduk desa yang miskin, sehingga
orang tidak memedulikannya, dan tidak terbayang dalam benaknya bahwa beliau
adalah seseorang yang patut diperhitungkan. Namun, apabila orang itu
mendengarnya mengajar, menetapkan hukum, atau menyampaikan hadis, maka ia akan
mengenalnya, dan matanya akan terbelalak takjub dari pakaian-pakaian usang ini
ternyata menyingkap sebuah permata yang berharga, serta kejeniusan yang langka
dalam ilmu, zuhud, dan takwa.
Hal
itu tidaklah mengherankan, karena tanah adalah tempat tersembunyinya emas. Akan
tetapi, manusia di setiap waktu dan tempat sering kali teperdaya oleh bagusnya
penampilan dan keindahan pakaian. Jika mereka melihat orang dengan sifat
seperti ini, mereka akan menghormati dan mengagungkannya sebelum mereka
mengetahui apa yang ada di balik pakaian bagus tersebut. Padahal terkadang di
dalamnya terdapat sumsum yang kering, pemikiran yang mandek, dan hati yang
bingung:
Kalian melihat pencapaian kemuliaan itu bahwa pakaian
kalian
Tampak padanya keindahan dan kilauannya
Padahal keluhuran itu bukanlah pada baju kurung (jubah
luar) dan selendangnya
Bukan
pula pada jubah yang bersulam emas dan kemejanya
Al-Mutanabbi
berkata:
Jangan sekali-kali orang yang tertindas kagum dengan
keindahan pakaiannya
Apakah
kain kafan yang berkualitas bagus akan memikat orang yang dikubur?
Yang
lain berkata:
Sesungguhnya keindahan itu adalah keutamaan dan kebaikan
yang mewariskan kemuliaan
Bukanlah
keindahan itu dengan sarung, ketahuilah, meskipun kamu berselendangkan kain
mantel
Sumber
Kelima: Keyakinan adalah melalui mewujudkan pengalaman yang kamu
inginkan di masa depan di dalam akalmu seolah-olah hal itu adalah sebuah
kenyataan yang terjadi. Sebagaimana pengalaman masa lalu dapat mengubah
kemungkinan terjadinya sesuatu, begitu pula halnya dengan pengalaman yang kamu
imajinasikan di dalam benakmu untuk apa yang kamu inginkan terjadi di masa
depan.
Inilah
yang aku sebut dengan mewujudkan hasil di masa depan. Ketika hasil-hasil di
sekitarmu tidak mendukungmu untuk berada dalam kondisi psikologis yang
menikmati kekuatan dan efektivitas, maka kamu memiliki kemampuan untuk
menciptakan dunia dalam bentuk yang kamu inginkan, dan masuk ke dalam
pengalaman ini. Dari sana, kamu dapat mengubah keyakinan-keyakinanmu, kondisi
psikologismu, dan tindakan-tindakan dirimu.
Bagaimanapun
juga, jika kamu adalah seorang tenaga penjual (salesman), apakah lebih mudah
menghasilkan seratus pound atau seribu pound? Pada kenyataannya, menghasilkan
seribu pound adalah hal yang mudah. Dan izinkan aku sekarang memberi tahu
kalian rahasia di balik hal itu. Ketika targetmu adalah menghasilkan seribu
pound, maka hal ini nyaris hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarmu saja.
Jika itu adalah targetmu dan apa yang digambarkan dalam akalmu tentang apa yang
kamu usahakan dengan keras, apakah kamu mengira kamu akan berada dalam kondisi
di mana kamu merasakan energi, kekuatan, dan banyak akal (kreatif) saat kamu
bekerja? Apakah kamu merasakan kegembiraan atau energi yang meluap-luap dan
berkata pada dirimu sendiri: "Aku harus pergi bekerja demi memenuhi
kebutuhan dasar sialanku ini?"
Aku
tidak tahu bagaimana keadaanmu, akan tetapi hal itu tidak akan cukup untuk
menggerakkanmu barang satu inci pun menuju pekerjaan tersebut. Maka bagaimana
halnya jika targetmu adalah mengagungkan sebuah akidah, membela suatu agama,
atau kejayaan suatu umat? Sesungguhnya hal itu akan menjadi dorongan yang
sangat besar sekali, jika kamu jujur.
Belajarlah
bagaimana kamu dapat memegang kendali atas emosimu dan kondisi mentalmu secara
cepat? Kamu sekarang berada di ambang penemuan sebuah strategi luar biasa dari
hal terbaik yang bisa dicapai, yaitu strategi yang berdiri di atas kombinasi
yang menyatukan antara realitas dan optimisme secara bersamaan.
Di
masa lalu, aku tidak menempatkan pemikiran positif dalam daftar prioritas
solusi untuk situasi-situasi yang aku hadapi. Aku dahulu mengira bahwa termasuk
kecerdasan adalah tidak melihat perkara-perkara lebih baik daripada
kenyataannya. Pada hakikatnya, kehidupan adalah sebuah bentuk keseimbangan.
Jika kita menolak untuk melihat akar-akar rumput liar tumbuh di kebun kita,
maka ilusi bahwa segala sesuatu baik-baik saja akan menghancurkan kita. Hal itu
di sisi lain sama saja dengan ilusi bahwa kebun tersebut berada dalam kondisi
yang paling baik. Keseimbangan antara optimisme dan realitas pada hakikatnya
adalah jalannya orang-orang yang sukses.
- Lihatlah situasi tersebut
sebagaimana adanya tanpa ditambah atau dikurangi (dan jangan melihatnya
dalam bentuk yang lebih buruk daripada kenyataannya).
- Lihatlah situasi tersebut
dalam bentuk yang lebih baik daripada kenyataannya.
- Berusahalah untuk
"menjadikan" situasi tersebut sesuai dengan bentuk yang kamu
lihat (yaitu lebih baik daripada kenyataannya).
Dan
semua perkara ini adalah cara untuk mengerahkan keyakinanmu. Kebanyakan dari
kita membentuk keyakinan-keyakinannya secara acak. Kita menyerap
perkara-perkara—baik yang baik maupun yang buruk—dari dunia di sekitar kita.
Akan tetapi, "Termasuk dari ide-ide mendasar adalah menyadari bahwa
kamu bukanlah sehelai bulu diembus angin. Kamu bisa mengendalikan
kebiasaan-kebiasaanmu, cara-caramu meniru orang lain, dan mengarahkan
kehidupanmu secara sadar." Karena sesungguhnya kamu memiliki kemampuan
untuk berubah. Jika ada satu kata kunci atau kata yang penting dalam buku ini,
maka itu adalah kata "Perubahan".
Dan
izinkan aku bertanya kepadamu sebuah pertanyaan yang sangat mendasar: Sebutkan
beberapa keyakinanmu tentang siapa dirimu, dan apa yang kamu mampu lakukan?
Tolong, ambil waktu jeda lima menit, dan sebutkan di dalamnya lima keyakinan
utama yang menjadi faktor di balik pembatasan kemampuanmu di masa lalu:
- ............................................................
- ............................................................
- ............................................................
- ............................................................
- ............................................................
Dan
sekarang sebutkan lima keyakinan utama yang dapat membantumu mewujudkan
tujuan-tujuanmu:
- ............................................................
- ............................................................
- ............................................................
- ............................................................
- ............................................................
Penting
bagi kita untuk menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan itu dapat diubah, sama
persis seperti panjang rambutmu, kesukaanmu pada jenis makanan tertentu, dan
keluwesan hubunganmu dengan orang tertentu. Jika kamu memiliki mobil Honda dan
kamu ingin menggantinya dengan mobil Chrysler, Cadillac, atau Mercedes, maka
hal itu adalah perkara yang berada dalam ruang lingkup kemampuanmu untuk
berubah.
Gambaran
internal dan keyakinan-keyakinanmu pun bekerja dengan cara yang sama. Jika kamu
tidak memiliki keinginan pada keduanya, maka kamu mampu mengubahnya. Kita semua
memiliki urutan atau tangga keyakinan. Kita memiliki keyakinan-keyakinan inti,
yaitu perkara-perkara yang sangat mendasar bahkan kita bisa mati demi
membelanya. Perkara-perkara ini seperti ide-ide kita tentang nasionalisme,
keluarga, dan rasa cinta kepada Islam. Akan tetapi, kehidupan kita—pada
sebagian besarnya—dikendalikan oleh keyakinan-keyakinan di sekitar hal yang
mungkin, kesuksesan, atau kebahagiaan yang kita peroleh dari tahun ke tahun.
Dan inti masalahnya di sini adalah melihat apakah keyakinan-keyakinan ini
bekerja demi keuntungan kita, yaitu bahwa keyakinan tersebut efektif dan membawa
kekuatan.
Kita
telah berbicara tentang pentingnya peniruan (modeling), dan meniru keunggulan
itu dimulai dengan meniru keyakinan dalam kebiasaan-kebiasaan. Beberapa perkara
membutuhkan waktu untuk ditiru, akan tetapi, jika kamu memiliki kemampuan untuk
berpikir, membaca, dan mendengar, maka kamu pada saat itu memiliki kemampuan
untuk meniru keyakinan orang-orang paling sukses di atas muka bumi.
Ketika
orang besar mana pun memulai kehidupannya, ia memutuskan untuk menemukan
keyakinan orang-orang paling sukses, kemudian meniru mereka setelah itu.
Sesungguhnya kamu memiliki kemampuan untuk meniru dia dan kebanyakan pemimpin
besar melalui membaca biografi mereka. Perpustakaan-perpustakaan dipenuhi
dengan pertanyaan dan jawaban tentang bagaimana mewujudkan hasil apa pun yang
kamu inginkan. Oleh karena itu, Al-Qur'an menceritakan kepada kita kisah-kisah
hamba-hamba Allah yang saleh serta kisah-kisah para nabi dan rasul agar kita
meneladani mereka.
Allah
Ta'ala berfirman:
"Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah
petunjuk mereka" [Al-An'am: 90].
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang
dengannya Kami teguhkan hatimu" [Hud: 120].
"Maka
ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir" [Al-A'raf: 176].
Apakah
sumber keyakinan pribadimu? Apakah sumbernya dari orang biasa di jalanan?
Apakah sumbernya dari televisi atau radio? Apakah sumbernya dari perkataan
orang-orang yang bicaranya paling lama dan suaranya paling keras? Jika kamu
ingin sukses, maka termasuk kebijaksanaan adalah memilih keyakinan-keyakinanmu
dengan cermat, alih-alih berjalan ke sana kemari bagaikan selembar kertas yang
diombang-ambingkan oleh angin, dan memercayai keyakinan apa pun yang kebetulan
kamu temui.
Penting
untuk menyadari bahwa setiap kali kita membebaskan kemampuan terpendam kita,
maka kita akan mendapatkan hasil, yang mana itu semua adalah bagian dari proses
aktif yang dimulai dengan keyakinan. Aku melihat proses ini melalui contoh
berikut:
Mari
kita katakan bahwa seseorang memercayai ketidakefektifan dirinya dalam
melakukan sesuatu. Dan mari kita asumsikan ia berkata kepada dirinya sendiri
bahwa ia adalah seorang murid yang gagal. Jika ia memperkirakan kegagalan, maka
seberapa besar kemampuan yang akan ia kerahkan? Tidak banyak, karena ia sudah
mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak tahu. Ia sebenarnya telah
mengirimkan pesan ke otaknya untuk memperkirakan kegagalan.
Dengan
memulainya menggunakan perkiraan-perkiraan seperti ini, maka tindakan apa yang
mungkin ia lakukan? Apakah itu tindakan yang dicirikan dengan energi,
keselarasan, dan rasa percaya diri? Apakah tindakan itu akan mencerminkan
kemampuannya yang sesungguhnya? Hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Jika
kamu yakin akan kegagalanmu, lalu mengapa kamu harus bersusah payah demi
kesuksesan?
Dari
sinilah, kamu telah memulai dengan keyakinan yang menegaskan ketidakmampuanmu,
yaitu keyakinan yang—kemudian—mengirimkan sinyal ke sistem sarafmu untuk
merespons dengan cara tertentu. Kamu telah mengerahkan jumlah yang terbatas
dari kemampuanmu, dan kamu telah melakukan tindakan-tindakan yang lemah lagi
kurang percaya diri. Maka hasil apa yang lahir dari hal tersebut? Besar
kemungkinannya hasil itu akan menjadi sangat lemah.
Apa
yang akan disebabkan oleh hasil yang lemah ini bagi tindakan-tindakanmu
selanjutnya? Besar kemungkinannya hal itu akan memperkuat keyakinan-keyakinan
negatif tersebut.
Kegagalan
melahirkan kegagalan. Orang-orang yang menjalani kehidupan yang penuh dengan
kesengsaraan dan keterpurukan adalah orang-orang yang diharamkan dalam waktu
lama dari hasil-hasil yang mereka inginkan, sampai-sampai mereka tidak lagi
memercayai kemampuan mereka untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan. Mereka
juga tidak melakukan kecuali sedikit saja atau bahkan tidak melakukan apa pun
sama sekali sejak awalnya. Mereka mulai mencoba mencari tahu bagaimana
kehidupan mereka bisa sampai pada titik di mana mereka tidak melakukan kecuali
sedikit saja dari tindakan-tindakan ini. Apa hasil yang mereka capai? Tentu
saja, itu akan menjadi hasil-hasil buruk yang menghancurkan keyakinan mereka
dalam bentuk yang lebih besar lagi, jika hal itu memungkinkan.
Bangsa-bangsa
yang hidup sekarang dalam keadaan frustrasi ini, sementara otoritas (penguasa)
mereka bekerja agar mereka tetap berada dalam kondisi demikian, tidak akan
pernah bisa mengangkat kepala mereka. Hal itu karena mereka belum belajar
menyuarakan kebenaran atau menghentikan kemungkaran, dan mereka tidak mengambil
manfaat sedikit pun dari jerih payah mereka, melainkan mereka dirampok.
Akibatnya, kepekaan mereka menjadi tumpul dan mereka menjadi terbiasa lari dari
segala sesuatu yang membawa kepada kemajuan. Oleh karena itu, musuh-musuh
mereka bekerja agar mereka tetap berada dalam kondisi demikian untuk waktu yang
lama, sampai kondisi itu menetap pada diri mereka.
"Seseorang
tidak menjadi kuat dengan mudah, maka setiap kali ujiannya bertambah, bertambah
pula kekuatannya." Akan tetapi, ia harus bangkit.
Berikut
ini adalah skema J. Willard Marriott, tentang hubungan tindakan, kemampuan,
keyakinan, dan hasil. Tindakan à
Kemampuan à
Keyakinan à
Hasil à
Tindakan.
Mari
kita lihat perkara ini dari sudut pandang yang lain. Mari kita asumsikan bahwa
kamu memulai dengan perkiraan-perkiraan yang besar, atau bahkan lebih dari
sekadar perkiraan, di mana kamu memercayai dengan seluruh jiwamu bahwa kamu
akan sukses. Berangkat dari komunikasi yang langsung dan jelas tentang apa yang
kamu yakini kebenarannya ini, seberapa banyak kemampuanmu yang akan kamu
gunakan? Kemungkinan besar kamu akan menggunakan jumlah yang besar darinya.
Tindakan
jenis apa yang kamu lakukan kali ini? Apakah kamu akan membebani dirimu sendiri
lalu melakukan tindakan yang lemah? Sama sekali tidak, hal itu karena kamu
merasakan kegembiraan, energi, dan perkiraan yang besar akan kesuksesan. Oleh
karena itu, kamu akan melangkah dengan langkah yang lebar menuju perwujudannya.
Jika kamu mengerahkan usaha seperti ini, hasil apa yang akan kamu dapatkan?
Besar kemungkinannya hasil itu akan menjadi sangat agung sekali. Dan apa
pengaruh hal itu terhadap keyakinanmu pada kemampuanmu untuk mewujudkan
hasil-hasil yang besar di masa depan? Hal itu adalah kebalikan dari lingkaran
setan tadi. Dalam kondisi ini, kesuksesan melahirkan kesuksesan, dan tambahan
kesuksesan, serta setiap kesuksesan membuahkan tambahan keyakinan untuk
mewujudkan kesuksesan yang lebih besar lagi.
Apakah
orang-orang yang memiliki banyak akal (kreatif) itu akan sukses? Tentu saja.
Apakah keyakinan-keyakinan yang kokoh membawa kepada kesuksesan di setiap
waktu? Sama sekali tidak. Jika seseorang berkata kepadamu bahwa ia memiliki
resep yang terjamin untuk mewujudkan kesuksesan abadi yang tidak ada celanya,
maka kamu pasti tidak akan mendengarkan apa yang ia katakan.
Akan
tetapi, sejarah telah membuktikan berulang kali bahwa orang-orang yang
berpegang teguh pada keyakinan-keyakinan yang membekali mereka dengan kekuatan,
maka mereka akan terus melakukan tindakan-tindakan, dan mereka memiliki
kreativitas yang cukup untuk meraih kesuksesan pada akhirnya.
Kelompok
Ikhwan telah dipukul pada tahun '48, '54, '65 dengan pukulan-pukulan yang
membuat manusia mengira bahwa Ikhwan telah dihapuskan dari Mesir secara total. Tetapi,
mereka terus berada di atas keyakinan akan kemampuan mereka untuk sukses dalam
jangka panjang, dan mereka menolak kegagalan itu membuat mereka menjadi lemah
atau takut. Mereka telah meyakini kesuksesan dakwah mereka, dan inilah mereka
sekarang menjadi kekuatan besar di dunia Islam, yang di atas pundak mereka
digantungkan harapan-harapan untuk mengubah jalannya sejarah menuju arah yang
lebih baik.
Pada
beberapa waktu, tidak menjadi suatu keharusan bagi seseorang untuk memiliki
keyakinan atau sikap yang besar tentang sesuatu agar kesuksesan dituliskan
baginya. Karena terkadang sebagian orang mewujudkan pencapaian yang besar hanya
karena mereka tidak mengetahui adanya hal yang sulit atau mustahil. Pada waktu
yang lain, cukup dengan tidak adanya keyakinan yang membatasi kemampuan
individu tersebut.
Sebagai
contoh, ada sebuah kisah tentang seorang pemuda yang tertidur selama jam
pelajaran matematika. Ia terbangun oleh suara bel tanda berakhirnya pelajaran,
lalu ia melihat ke papan tulis dan menulis dua soal yang ada di atasnya. Ia
berasumsi bahwa kedua soal tersebut adalah tugas sekolah untuk hari itu. Maka
ia pulang ke rumah dan mulai belajar dengan giat sepanjang siang dan malam
untuk menyelesaikannya.
Pemuda
tersebut tidak mampu menyelesaikan satu pun dari kedua soal itu, akan tetapi ia
terus mencoba sepanjang sisa minggu tersebut. Pada akhirnya, ia mampu
menyelesaikan salah satu dari keduanya dan membawanya ke kelas. Ketika guru
melihatnya, sang guru terkejut luar biasa. Ternyata, soal yang berhasil ia
selesaikan itu adalah soal yang diasumsikan tidak memiliki solusi (tidak bisa
dipecahkan).
Seandainya
murid tersebut mengetahui hal itu sejak awal, maka besar kemungkinan ia tidak
akan mampu menyelesaikannya. Akan tetapi, karena ia tidak memberi tahu dirinya
sendiri tentang ketidakmungkinan menyelesaikannya, bahkan pada kenyataannya,
dan kebalikan dari hal itu, ia meyakini bahwa ia wajib menyelesaikannya, maka
ia berhasil sampai pada metode untuk menyelesaikannya.
Di
antara cara-cara lain untuk mengubah keyakinanmu adalah dengan terjadinya
sebuah pengalaman yang bertentangan dengan keyakinan tersebut bagi dirimu.
Inilah alasan lain di balik pelaksanaan latihan berjalan di atas api yang kami
lakukan. Bagiku tidak penting jika manusia mampu melakukan apa yang mustahil,
akan tetapi yang penting bagiku adalah mereka melakukan sesuatu yang sebelumnya
mereka yakini bahwa hal itu mustahil. Jika kamu melakukan satu hal saja—yang
sebelumnya kamu yakini mustahil—maka hal ini akan membuatmu mengubah
keyakinan-keyakinanmu.
Sesungguhnya
kehidupan ini lebih kompleks dan mendalam daripada apa yang dikira oleh
kebanyakan dari kita. Oleh karena itu, jika kamu belum mengubah
keyakinan-keyakinanmu secara nyata, lakukan peninjauan kembali atasnya sekarang
juga, dan putuskan mana yang bisa kamu ubah, dan sampai sejauh mana kamu bisa
mengubah keyakinan-keyakinan ini?
Dan
pertanyaan yang aku ajukan sekarang adalah: Apakah bentuk berikut ini cekung
atau cembung? Sungguh pertanyaan yang menggelikan, dan jawabannya adalah: Bahwa
hal itu bergantung pada sudut pandangmu ketika melihatnya (Bacalah mengenai hal
itu dalam buku Unlimited Power (Capabilities Without Limits) hal. 80 dan
setelahnya).
Aplikasi
Praktis dari Hakikat dan Nilai-Nilai Tema Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut:
Pertama:
Aktivitas Pendamping (Intrakurikuler)
- Mencatat lima keyakinan
utama yang menjadi penyebab pembatasan kemampuan-kemampuannya di masa
lalu.
- Menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepadanya dengan penuh antusiasme dan
kehadiran pikiran (fokus).
- Melakukan lokakarya
(workshop) singkat; di mana setiap peserta didik mencatat satu target
ambisius yang ingin ia selesaikan, namun terdapat hambatan di jalannya. Ia
juga menuliskan hambatan tersebut, kemudian memulai dialog tentang
sarana-sarana untuk menyingkirkan hambatan ini dan mengubah
pandangan-pandangan negatif yang direpresentasikannya.
Kedua:
Aktivitas Pendukung (Ekstrakurikuler)
- Mempraktikkan sepuluh hari
tantangan mental dengan meminta bantuan program tema ini secara benar dan
akurat.
- Berlatih untuk bekerja
menggunakan kaidah-kaidah yang diusulkan untuk melaksanakan sepuluh hari
tantangan mental.
- Menyusun rencana kerja
harian yang diatur berdasarkan kondisi peserta didik, dengan memperhatikan
hal-hal berikut di dalamnya:
- Membebaskan diri dari ide
negatif yang sudah ada sebelumnya.
- Mewujudkan target utama
yang ia usahakan, di mana hal itu membantunya untuk meraih kesuksesan dan
mengaktualisasikan dirinya.
- Mengatur waktu dengan
akurat, sehingga dapat mewujudkan seluruh tuntutan harian dan dakwahnya,
serta mewujudkan target baru yang belum terbiasa ia lakukan sebelum ini.
- Menetapkan target-target
tinggi lagi ambisius yang memiliki beberapa peluang kesuksesan.
- Menghubungkan peserta
didik selama sepuluh hari dengan tokoh terkemuka yang memiliki semangat
tinggi, serta berkomunikasi dan mengunjunginya, sehingga ia dapat saling
mempelajari capaian-capaian yang telah ia selesaikan bersamanya, dan
tokoh tersebut membantunya dalam menambah target-targetnya serta
menjauhkannya dari rasa takut akan kegagalan dalam rencananya.
- Membaca setiap hari
tentang tokoh penting dari kalangan orang-orang yang mampu mengubah
keyakinan tidak benar mereka dan mengubah jalan hidup mereka menuju arah
yang lebih baik.
- Berusaha untuk membebaskan
diri secara bertahap dari suatu kebiasaan, meskipun kebiasaan itu bukan
hal yang buruk.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri
Kesatu:
Pertanyaan Esai (Uraian)
- Bagaimana kamu melawan
pemikiran negatif dan segala hal yang mematahkan semangatmu?
- Apa metode-metode terbaik
yang membantumu melakukan tantangan mental selama sepuluh hari pertama?
- Potensi apa saja yang kamu
miliki yang dengannya kamu mampu mengendalikan emosi dan kondisi mentalmu?
- Apa dalil atas kemungkinan
untuk mengubah keyakinan-keyakinan yang salah?
- Apa tingkatan-tingkatan
keyakinan pada manusia? Dan mana yang mungkin diubah terlebih dahulu dari
tingkatan tersebut?
- Sebutkan lima pandangan
(keyakinan) utama yang membatasi kemampuan-kemampuanmu!
- Apa sarana-sarana yang
membantu dalam mengubah pandangan-pandangan (keyakinan)?
- Apa yang kamu ketahui dari
contoh orang-orang yang mengubah keyakinan salah mereka lalu sukses dalam
kehidupan mereka?
- Bagaimana cara
mengendalikan risiko-risiko?
- Apa langkah-langkah yang
wajib dipahami untuk mewujudkan kesuksesan dan keunggulan?
Kedua:
Pertanyaan Objektif
1.
Lengkapilah titik-titik di bawah ini:
- Al-Jailani berkata: "Keinginanmu
adalah apa yang ........... maka jadikanlah keinginanmu ........... dan
apa yang ..........."
- Al-Hafizh Abu al-Hasan
az-Zaidi berkata: "Jadikanlah ibadah-ibadah sunah seperti
..........., maksiat-maksiat seperti ..........., syahwat seperti
..........., berbaur dengan manusia seperti ..........., dan makanan
seperti ..........."
2.
Berilah garis bawah di bawah pilihan yang benar untuk pernyataan-pernyataan
berikut dari opsi yang ada di bawahnya:
A.
Metode terbaik untuk mengubah pandangan (keyakinan) yang salah adalah...
- Dengan berusaha
melupakannya.
- Dengan menjauh dari
lingkungan yang memperkuatnya.
- Dengan mendiskusikan sejauh
mana kebermanfaatannya secara praktis untuk diganti dengan pandangan yang
benar.
B.
Orang-orang yang memiliki semangat tinggi, kesenangan-kesenangan inderawi
(fisik/duniawi) berada pada derajat...
- Pertama.
- Kedua.
- Mereka tidak
memedulikannya.
Comments
Post a Comment