Pasal 2: Mulailah Sepuluh Hari Dengan Mempertajam Fikiran

BAB KEDUA: Mulai Sepuluh Hari Tantangan Mental

Tujuan Umum:

  1. Penguasaan kognitif (pengetahuan) tentang pikiran-pikiran negatif dan dampaknya terhadap kehidupan seorang individu muslim.
  2. Memampukan individu muslim untuk membebaskan diri dari pikiran-pikiran negatif melalui aktivitas-aktivitas pendamping dan pendukung.
  3. Membentuk kehendak (tekad) tantangan mental dan emosional terhadap faktor-faktor penyebab frustrasi.

Tujuan Perilaku Prosedural untuk Tema Ini:

Dengan berakhirnya proses pembelajaran tema ini, diharapkan peserta didik mampu untuk melakukan hal-hal berikut:

Pertama: Tujuan Kognitif (Pengetahuan):

  1. Menjelaskan kaidah-kaidah yang melaluinya ia mampu membebaskan diri dari pola pikir negatif.
  2. Menerangkan dampak yang akan dihasilkan dari sepuluh hari tantangan mental.
  3. Menyebutkan beberapa sarana yang membantunya untuk mewujudkan tantangan ini.
  4. Menjelaskan cara mengendalikan dan menguasai emosi serta kondisi mentalnya secara cepat.
  5. Menyebutkan lima keyakinan yang membatasi kemampuan-kemampuannya dan lima keyakinan yang membantunya mewujudkan tujuan-tujuannya.
  6. Membuktikan kemungkinan untuk mengubah keyakinan-keyakinan yang tidak benar.
  7. Menjelaskan tingkatan-tingkatan keyakinan pada manusia dan apa yang mungkin diubah terlebih dahulu.
  8. Menerangkan peran keteladanan (role model) dan pentingnya dalam mengubah keyakinan.
  9. Menyebutkan tiga sarana bantu dalam mengubah keyakinan.
  10. Menjelaskan bagaimana cara mengendalikan risiko-risiko.
  11. Menguraikan langkah-langkah yang harus dipahami untuk mendapatkan kesuksesan dan keunggulan.
  12. Menyebutkan langkah-langkah yang dapat diambil secara praktis untuk membebaskan diri dari beberapa keyakinannya yang salah.
  13. Menguraikan rahasia kesuksesan sebagaimana yang dijelaskan oleh penulis.
  14. Membuktikan bahwa manajemen diri (pengelolaan diri) merupakan bukti dari kekuatan.
  15. Menguraikan cara mengelola dirinya sendiri dengan metode yang produktif lagi menghasilkan buah.
  16. Menyebutkan beberapa perkara yang membantunya dalam mengatur waktu.
  17. Menyebutkan hambatan-hambatan dalam mengatur waktu.
  18. Menjelaskan bagaimana cara memanfaatkan waktunya secara efektif.
  19. Membuktikan bahwa setiap kali kita membebaskan kemampuan-kemampuan terpendam kita, maka kita akan mendapatkan hasil-hasil yang memukau.

Kedua: Tujuan Afektif  (Sikap):

  1. Melawan pemikiran negatif dan segala hal yang mematahkan semangatnya.
  2. Menempuh jalan-jalan terbaik yang membantunya melakukan tantangan mental selama sepuluh hari.
  3. Memunculkan poin-poin baru yang memampukannya untuk mengendalikan emosi dan kondisi mentalnya.
  4. Mengadopsi ide untuk mengubah pandangan-pandangan (keyakinan) yang salah.
  5. Menghormati orang-orang yang telah mengubah keyakinan salah mereka, di mana hal itu menjadi sebab kesuksesan mereka.
  6. Berlatih untuk memanfaatkan alam bawah sadarnya dengan pemanfaatan yang paling optimal.
  7. Memperhatikan transfer pengalaman dan keyakinannya melalui alam bawah sadar.
  8. Menjauhkan diri dari segala hal yang menyebabkan frustrasi baginya.
  9. Menolak secara total untuk menyerah pada perasaan apa pun yang tidak baik.
  10. Menegaskan pentingnya latihan yang berkesinambungan (kontinu) dalam membebaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang lama.
  11. Menekuni aktivitas-aktivitas yang membantu mewujudkan tantangan akal selama sepuluh hari.
  12. Meneladani orang-orang yang memiliki tekad kuat dan semangat yang tinggi.
  13. Menyusun berdasarkan tingkat kepentingannya: tingkatan-tingkatan keyakinan pada manusia dan apa yang dapat memberikan manfaat terlebih dahulu.
  14. Memilih metode terbaik untuk membebaskan diri dari keyakinan-keyakinan tampak yang membatasi kemampuan-kemampuannya.
  15. Mengerahkan upaya dalam memanfaatkan waktunya secara efektif.

Ketiga: Tujuan Psikomotorik (Motorik / Keterampilan):

  1. Menemukan hal-hal negatif yang membatasi kemampuan-kemampuannya.
  2. Memetakan (mencatat) lima keyakinan utama yang membantunya mewujudkan tujuan-tujuannya.
  3. Menciptakan metode-metode baru yang membantunya dalam mengubah keyakinan-keyakinannya yang tidak benar.
  4. Meniru orang-orang yang memiliki tekad kuat dan tokoh-tokoh besar, dengan menjadikan orientasi utamanya hanya untuk mencari rida Allah Ta'ala.
  5. Mendayagunakan ujian-ujian yang menghadangnya untuk menambah kekuatannya.
  6. Berbicara dengan lancar mengenai perubahan-perubahan yang telah ia selesaikan selama sepuluh hari tersebut.

Materi Ilmiah:

Ringkasan Ide-Ide yang Layak Diingat:

  1. Harta karun itu ada di dalam dirimu. Carilah di dalam batinmu jawaban atas keinginan hatimu.
  2. Rahasia besar yang dimiliki oleh orang-orang besar di setiap fase usia adalah kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan kekuatan alam bawah sadar dan membebaskannya. Kamu pun bisa melakukan seperti mereka.
  3. Alam bawah sadarmu memiliki solusi untuk segala permasalahan. Jika kamu menyarankan kepada alam bawah sadarmu sebelum tidur: "Aku ingin bangun jam 3.30 pagi," maka ia akan membangunkanmu tepat pada waktu tersebut.
  4. Alam bawah sadarmu bertanggung jawab atas organ-organ tubuhmu, dan ia mampu menyembuhkanmu. Tenangkan dirimu setiap malam menjelang tidur melalui ide tentang kesehatan yang sempurna, dan karena alam bawah sadarmu adalah pelayanmu yang setia, maka ia akan menatimu (mematuhimu).
  5. Setiap pikiran pada hakikatnya adalah sebab, dan setiap kondisi adalah akibat atau hasil.
  6. Jika kamu ingin menulis buku, naskah drama, atau ingin menyampaikan pidato yang baik di hadapan audiensmu, kamu harus mentransfer ide tersebut dengan penuh rasa cinta dan perasaan ke dalam alam bawah sadarmu, dan ia akan merespons sesuai dengan hal itu.
  7. Kamu bagaikan seorang nakhoda yang melayarkan kapal, di mana ia wajib memberikan instruksi dan perintah yang benar. Kamu pun wajib memberikan perintah yang benar: "Pikiran-pikiran dan visualisasi" kepada alam bawah sadarmu yang mengendalikan dan menghukumi semua pengalamanmu.
  8. Jangan pernah menggunakan istilah-istilah seperti: "Aku tidak mampu membeli ini," atau "Aku tidak bisa melakukan itu," karena alam bawah sadarmu akan memegang ucapanmu, dan memahaminya bahwa kamu tidak memiliki uang atau kemampuan untuk melakukan apa yang kamu inginkan. Katakan pada dirimu sendiri: "Aku mampu melakukan segala hal melalui kekuatan alam bawah sadarku."
  9. Undang-undang kehidupan adalah undang-undang keyakinan. Dan keyakinan adalah sebuah pikiran di dalam akalmu. Jangan meyakini hal-hal yang menyebabkan bahaya atau gangguan bagimu. Yakini otoritasnya. Kekuatan alam bawah sadarmu itu nyata dalam hal ia menginspirasi dan memperkuat kondisimu, sesuai dengan keyakinanmu yang telah terbentuk di dalam dirimu.
  10. Ubahlah pikiran-pikiranmu, niscaya kamu mengubah takdir (jalan hidup) mu. (Lihat—The Power of Your Subconscious Mind (Kekuatan Alam Bawah Sadar Anda) hal. 13).

Setelah kamu memvisualisasikan apa yang telah lalu dan mengingat ide-ide ini, mulailah masuk ke dalam tantangan mental dan kerja nyata yang bermanfaat.

Selamat datang di sepuluh hari yang belum pernah kamu lalui hal yang serupa dengannya sebelum ini. Dan berikut adalah aturan permainannya:

  1. Selama sepuluh hari ke depan, tolaklah secara total untuk menyerah pada pikiran atau perasaan apa pun yang tidak baik. Tolaklah untuk hanyut dalam pertanyaan-pertanyaan yang merampas kekuatan dan tekadmu, dan tolaklah penggunaan istilah atau slogan apa pun yang merampas vitalitas dan aktivitasmu.
  2. Ketika kamu mendapati dirimu tenggelam dalam hal negatif apa pun, gunakan sarana apa saja yang telah kamu pelajari sebelumnya untuk mengalihkan kembali fokusmu ke arah yang lain, dan mulailah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memecahkan masalah sebagai lini pertama serangan terhadap pikiran-pikiran tersebut.
  3. Persiapkan dirimu untuk meraih kesuksesan di setiap pagi selama sepuluh hari ke depan, yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pagi yang memberimu kekuatan dan tekad.
  4. Selama sepuluh hari ke depan, jadikan fokusmu pada solusi, bukan pada masalah. Ketika kamu menyadari bahwa ada situasi yang menantangmu, segeralah fokus pada solusi.
  5. Jika kamu mendapati dirimu menyerah pada pemikiran atau perasaan negatif, jangan menyiksa dirimu sendiri, selama kamu langsung mengubah kondisimu saat itu juga. Namun, jika kamu menyerah pada perasaan dan pikiran yang tidak baik tersebut dalam waktu kapan pun meskipun singkat, maka kamu wajib menunggu sampai pagi hari berikutnya, kemudian mulailah menghitung sepuluh hari itu dari awal lagi, tanpa melihat berapa jumlah hari yang sebenarnya telah kamu selesaikan.

Apa yang Akan Diwujudkan oleh Sepuluh Hari Tantangan Mental Ini Bagi Anda?

  1. Ia akan membuatmu sadar secara jelas tentang kebiasaan-kebiasaan mental yang membatasi kemajuanmu dan menghambatnya.
  2. Ia akan memaksamu untuk mencari alternatif-alternatif yang meniupkan kekuatan dan tekad dalam dirimu.
  3. Ia akan membekalimu dengan dosis rasa percaya diri yang sangat besar setiap kali kamu berhasil mengendalikan cara berpikirmu dan sukses mengubah situasi yang kamu hadapi demi keuntunganmu.
  4. Dan yang lebih penting dari itu, ia akan membantumu menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru, standar-standar baru, dan ekspektasi-ekspektasi baru yang menjadi sebab kehidupanmu menjadi lebih kaya dan makmur.

Sesungguhnya kesuksesan tidak lain adalah kumpulan dari langkah-langkah prosedural, ia dihasilkan dari serangkaian disiplin pribadi. Latihan yang berkesinambungan untuk membebaskan diri dari kebiasaan buruk yang lama dan mengisi energimu dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang diperoleh yang membantumu untuk melesat maju, akan memberimu kekuatan dorong yang belum pernah terjadi sebelumnya, persis seperti kereta api yang sedang mengumpulkan kecepatannya di awal jalannya.

Apakah kamu benar-benar siap untuk mengikuti metode baru dalam hidupmu? Jangan memulai sepuluh hari tantangan mental ini kecuali jika kamu benar-benar yakin bahwa kamu akan hidup dengannya selamanya setelah itu. Sebab, tantangan ini bukan tema untuk orang-orang yang lemah hati. Ia hanya cocok bagi mereka yang benar-benar bersikeras untuk mengondisikan sistem saraf mereka agar menerima model-model emosional baru yang mampu mengantarkan mereka menuju tingkat kesuksesan yang lebih tinggi. Ia juga cocok bagi mereka yang ingin dan bekerja untuk mengaplikasikan segala sesuatu yang telah mereka pelajari sebelumnya—seperti pertanyaan, istilah-istilah transformasional, slogan-slogan positif, mengubah titik fokus, dan kondisi fisik—di dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Bagaimana Cara Mendapatkan Keuntungan Tambahan untuk Memastikan Bahwa Kamu Bisa Menekuni Sepuluh Hari Tantangan Mental Ini?

Umumkan di antara teman-temanmu dan anggota keluargamu tentang apa yang akan kamu lakukan, dan mintalah bantuan mereka untuk menolongmu agar berkomitmen terhadap apa yang diminta. Dan yang lebih baik dari itu adalah kamu menemukan seorang teman yang ia sendiri juga ingin mengaplikasikan sepuluh hari tantangan mental ini bersamamu.

Di antara ide yang bagus dalam urusan ini adalah kamu menulis buku harianmu (jurnal) dalam menghadapi tantangan akal tersebut. Sesungguhnya menulis buku harian tentang bagaimana kamu sukses mengendalikan kebiasaan-kebiasaan buruk yang kamu lakukan akan berkedudukan sebagai penulisan buku panduan yang akan kamu tuju di kemudian hari ketika kamu menghadapi salah satu tikungan di jalan kehidupanmu.

Teladanilah orang-orang yang memiliki tekad kuat (ulul 'aza’im) dan dengarkanlah perkataan mereka:

Orang yang bersemangat tinggi secara mutlak (Adz-Dzari'ah oleh Al-Ashfahani hal. 190) adalah orang yang tidak rida dengan semangat hewani sebatas kemampuannya, sehingga ia tidak menjadi budak dari pelayan bagi perut dan kemaluannya. Sebaliknya, ia bersungguh-sungguh untuk mengkhususkan diri dengan kemuliaan-kemuliaan syariat, sehingga ia menjadi bagian dari wali-wali Allah dan khalifah-khalifah-Nya di dunia, serta menjadi orang-orang yang bertetangga dengan-Nya di akhirat. Sementara orang yang bersemangat rendah adalah orang yang berada pada kondisi sebaliknya dari hal tersebut.

Orang yang bersemangat tinggi, dunia akan menjadi kecil di matanya. Ia keluar dari kekuasaan perutnya, sehingga ia tidak menginginkan apa yang tidak ia temukan, dan tidak berlebih-lebihan ketika ia menemukannya. Ia juga keluar dari kekuasaan kemaluannya, sehingga tidak ada pandangan/pemikiran maupun fisik yang hancur karenanya.

Ketika pendahulu kita yang saleh (salafus saleh) memahami perintah Allah, merenungkan hakikat dunia, dan tempat kembali mereka ke akhirat, mereka merasa asing dengan gemerlap dunia, hati mereka menjauh dari perhiasannya, semangat mereka meninggi di atas perkara-perkara yang rendah, dan mereka menjadikan segala kegundahan menjadi satu kegundahan saja, yaitu rida Allah—Azza wa Jalla—sebagai cita-cita mereka yang paling agung:

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas

Mereka menceraikan dunia dan takut akan fitnah

Mereka memandangnya, maka ketika mereka mengetahui

Bahwa dunia itu bukanlah tanah air bagi orang yang hidup

Semata mereka menjadikannya bagai lautan yang dalam, dan mereka mengambil

Amal-amal saleh di dalamnya sebagai bahtera (kapal)

Mereka sangat bertekad untuk menyingkirkan segala hal yang dapat menghambat mereka untuk berjalan terus maju menuju tujuan mereka, termasuk di dalamnya adalah perkara-perkara mubah yang berlebihan.

Abdul Qadir al-Jailani berkata kepada muridnya: "Wahai anak muda! Janganlah cita-cita (fokus) utamamu hanya pada apa yang kamu makan, apa yang kamu minum, apa yang kamu pakai, apa yang kamu nikahi, apa yang kamu tinggali, dan apa yang kamu kumpulkan. Semua ini adalah keinginan nafsu dan tabiat fisik. Lalu di manakah keinginan hati?! Keinginanmu adalah apa yang menyibukkanmu, maka jadikanlah keinginan utamamu adalah Tuhanmu—Azza wa Jalla—dan apa yang ada di sisi-Nya."

Ketika imam yang mulia, Al-Laits bin Sa'ad, berkeinginan untuk melakukan suatu perbuatan yang kurang utama (mafdhul) yang menyelisihi tekad yang kuat, imam kota Madinah, Yahya bin Said al-Anshari berkata kepadanya: "Jangan lakukan itu, karena sesungguhnya kamu adalah seorang imam (pemimpin) yang menjadi panutan/diperhatikan orang."

Ibnu al-Qayyim—rahimahullah Ta'ala—berkata: "Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—qaddasallahu ruhahu—pernah berkata kepadaku pada suatu hari mengenai sesuatu dari perkara mubah: 'Hal ini menyelisihi derajat-derajat yang tinggi, meskipun meninggalkannya bukan merupakan syarat untuk keselamatan,' atau perkataan yang serupa dengan ini" (Madarij as-Salikin (2/26))

Al-Hafizh Abu al-Hasan Ali bin Ahmad az-Zaidi berkata: "Jadikanlah ibadah-ibadah sunah seperti ibadah wajib, maksiat-maksiat seperti kekufuran, syahwat seperti racun, berbaur dengan manusia (yang membawa keburukan) seperti api, dan makanan seperti obat."

Yahya bin Yahya pernah pergi menemui Imam Malik ketika ia masih kecil, ia mendengar (hadis) darinya dan memperdalam ilmu agama. Malik kagum dengan sikap dan akalnya. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari ia berada di sisi Malik di antara murid-muridnya; tiba-tiba seseorang berkata: "Gajah telah datang, gajah telah datang!" Maka keluarlah murid-murid Malik untuk melihatnya kecuali dia, (yakni: Yahya tetap berada di tempatnya). Maka Malik berkata kepadanya: "Mengapa kamu tidak keluar dan melihat gajah, karena gajah tidak ada di Andalusia?" Maka Yahya berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku datang dari negeriku hanya untuk melihat dirimu, dan belajar dari petunjukmu serta ilmumu, dan aku tidak datang untuk melihat gajah." Maka Malik takjub kepadanya, dan menjulukinya "Orang paling berakal dari penduduk Andalusia".

Menonton hewan yang asing memang termasuk perkara mubah... Akan tetapi, waktu seorang dai yang menjadi teladan itu terlalu sempit untuk menyibukkan sebagian darinya dalam perkara mubah, yang tidak menghasilkan apa-apa di balik itu bagi urusan/ideologinya yang telah menyibukkannya siang dan malam.

Ketika Abdurrahman ad-Dakhil melarikan diri dari kejaran orang-orang Abbasiah dan menuju ke arah Andalusia, dihadiahkan kepadanya seorang budak wanita yang cantik. Beliau memandangnya lalu berkata: "Sesungguhnya wanita ini memiliki tempat yang istimewa di hati dan mata. Jika aku tersibukkan darinya karena semangatku pada apa yang aku cari (kejayaan), maka aku telah menzaliminya. Namun jika aku tersibukkan dengannya dari apa yang aku cari, maka aku telah menzalimi semangatku. Dan aku tidak memiliki keperluan dengannya saat ini." Lalu beliau mengembalikannya kepada pemiliknya (Nafh ath-Thib (4/43)).

Sesungguhnya warisan Islam kita dipenuhi dengan sikap-sikap yang luar biasa dari tingginya semangat pendahulu kita yang saleh. Sikap tersebut mengumumkan pandangan mereka yang mendalam terhadap hakikat segala sesuatu, keagungan mereka di atas formalitas yang hampa, keluhuran mereka dari perkara-perkara rendah berupa "pamer/bersolek" yang dusta, serta kebanggaan mereka atas keterikatan mereka kepada agama yang lurus ini, agama keagungan dan kemuliaan.

Di antara hal itu adalah apa yang sahih dari Ibnu Syihab, ia berkata: "Umar bin Khattab pergi ke Syam, dan bersama kami ada Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Kemudian mereka sampai di sebuah tempat penyeberangan air (sungai dangkal/berlumpur), sedangkan Umar berada di atas untanya. Beliau lalu turun dari unta tersebut, melepaskan kedua alas kakinya (khuff), lalu meletakkannya di atas pundaknya, dan memegang tali kekang untanya, kemudian menyeberangi tempat air tersebut bersamanya.

Maka Abu Ubaidah berkata: 'Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau melakukan ini? Engkau melepaskan kedua alas kakimu, meletakkannya di atas pundakmu, memegang tali kekang untamu, dan menyeberangi air bersamanya? Aku tidak suka jika penduduk negeri ini melihatmu dalam keadaan seperti ini!'

Maka Umar berkata: 'Aduh! Kalau saja yang mengatakan ini orang lain selain engkau wahai Abu Ubaidah, niscaya aku akan menjadikannya sebagai pelajaran bagi umat Muhammad saw. Sesungguhnya kita dahulu adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Maka kapan saja kita mencari kemuliaan dengan selain apa yang Allah telah muliakan kita dengannya, niscaya Allah akan menghinakan kita'."

Dalam riwayat lain disebutkan: 'Wahai Amirul Mukminin, engkau akan ditemui oleh bala tentara dan para panglima Syam sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini?' Maka Umar berkata: 'Sesungguhnya kita adalah kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam, maka kita tidak akan sekali-kali mencari kemuliaan dengan selainnya'.

Seorang Arab badui yang penampilannya kusut dan jubahnya usang masuk menemui Amirul Mukminin Muawiyah—radhiyallahu 'anhu—. Mata Muawiyah memandangnya dengan pandangan meremehkan, dan orang Arab badui itu mengetahui hal tersebut dari wajah Muawiyah—radhiyallahu 'anhu—. Maka ia berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya jubah ini tidak bisa berbicara kepadamu, akan tetapi yang berbicara kepadamu adalah orang yang ada di dalamnya."

Maka Muawiyah mendekatkannya, dan ternyata ia adalah seorang midrah (Al-Midrah: Pemimpin yang mulia, dan orang yang dikedepankan ketika terjadi perselisihan dan peperangan) (pemimpin yang mahir) dalam kefasihan ucapan dan retorika, lalu Muawiyah menjadikannya sebagai orang dekatnya (orang khususnya).

Contoh-contoh atas apa yang kami sebutkan sangatlah banyak yang memenuhi biografi para ulama yang mengamalkan ilmunya. Di antara contoh hal tersebut adalah Imam Syaikhul Islam An-Nawawi—rahimahullah—. Jika ada orang yang melihatnya, ia akan mengira beliau adalah seorang syaikh dari kalangan penduduk desa yang miskin, sehingga orang tidak memedulikannya, dan tidak terbayang dalam benaknya bahwa beliau adalah seseorang yang patut diperhitungkan. Namun, apabila orang itu mendengarnya mengajar, menetapkan hukum, atau menyampaikan hadis, maka ia akan mengenalnya, dan matanya akan terbelalak takjub dari pakaian-pakaian usang ini ternyata menyingkap sebuah permata yang berharga, serta kejeniusan yang langka dalam ilmu, zuhud, dan takwa.

Hal itu tidaklah mengherankan, karena tanah adalah tempat tersembunyinya emas. Akan tetapi, manusia di setiap waktu dan tempat sering kali teperdaya oleh bagusnya penampilan dan keindahan pakaian. Jika mereka melihat orang dengan sifat seperti ini, mereka akan menghormati dan mengagungkannya sebelum mereka mengetahui apa yang ada di balik pakaian bagus tersebut. Padahal terkadang di dalamnya terdapat sumsum yang kering, pemikiran yang mandek, dan hati yang bingung:

Kalian melihat pencapaian kemuliaan itu bahwa pakaian kalian

Tampak padanya keindahan dan kilauannya

Padahal keluhuran itu bukanlah pada baju kurung (jubah luar) dan selendangnya

Bukan pula pada jubah yang bersulam emas dan kemejanya

Al-Mutanabbi berkata:

Jangan sekali-kali orang yang tertindas kagum dengan keindahan pakaiannya

Apakah kain kafan yang berkualitas bagus akan memikat orang yang dikubur?

Yang lain berkata:

Sesungguhnya keindahan itu adalah keutamaan dan kebaikan yang mewariskan kemuliaan

Bukanlah keindahan itu dengan sarung, ketahuilah, meskipun kamu berselendangkan kain mantel

Sumber Kelima: Keyakinan adalah melalui mewujudkan pengalaman yang kamu inginkan di masa depan di dalam akalmu seolah-olah hal itu adalah sebuah kenyataan yang terjadi. Sebagaimana pengalaman masa lalu dapat mengubah kemungkinan terjadinya sesuatu, begitu pula halnya dengan pengalaman yang kamu imajinasikan di dalam benakmu untuk apa yang kamu inginkan terjadi di masa depan.

Inilah yang aku sebut dengan mewujudkan hasil di masa depan. Ketika hasil-hasil di sekitarmu tidak mendukungmu untuk berada dalam kondisi psikologis yang menikmati kekuatan dan efektivitas, maka kamu memiliki kemampuan untuk menciptakan dunia dalam bentuk yang kamu inginkan, dan masuk ke dalam pengalaman ini. Dari sana, kamu dapat mengubah keyakinan-keyakinanmu, kondisi psikologismu, dan tindakan-tindakan dirimu.

Bagaimanapun juga, jika kamu adalah seorang tenaga penjual (salesman), apakah lebih mudah menghasilkan seratus pound atau seribu pound? Pada kenyataannya, menghasilkan seribu pound adalah hal yang mudah. Dan izinkan aku sekarang memberi tahu kalian rahasia di balik hal itu. Ketika targetmu adalah menghasilkan seribu pound, maka hal ini nyaris hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarmu saja. Jika itu adalah targetmu dan apa yang digambarkan dalam akalmu tentang apa yang kamu usahakan dengan keras, apakah kamu mengira kamu akan berada dalam kondisi di mana kamu merasakan energi, kekuatan, dan banyak akal (kreatif) saat kamu bekerja? Apakah kamu merasakan kegembiraan atau energi yang meluap-luap dan berkata pada dirimu sendiri: "Aku harus pergi bekerja demi memenuhi kebutuhan dasar sialanku ini?"

Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu, akan tetapi hal itu tidak akan cukup untuk menggerakkanmu barang satu inci pun menuju pekerjaan tersebut. Maka bagaimana halnya jika targetmu adalah mengagungkan sebuah akidah, membela suatu agama, atau kejayaan suatu umat? Sesungguhnya hal itu akan menjadi dorongan yang sangat besar sekali, jika kamu jujur.

Belajarlah bagaimana kamu dapat memegang kendali atas emosimu dan kondisi mentalmu secara cepat? Kamu sekarang berada di ambang penemuan sebuah strategi luar biasa dari hal terbaik yang bisa dicapai, yaitu strategi yang berdiri di atas kombinasi yang menyatukan antara realitas dan optimisme secara bersamaan.

Di masa lalu, aku tidak menempatkan pemikiran positif dalam daftar prioritas solusi untuk situasi-situasi yang aku hadapi. Aku dahulu mengira bahwa termasuk kecerdasan adalah tidak melihat perkara-perkara lebih baik daripada kenyataannya. Pada hakikatnya, kehidupan adalah sebuah bentuk keseimbangan. Jika kita menolak untuk melihat akar-akar rumput liar tumbuh di kebun kita, maka ilusi bahwa segala sesuatu baik-baik saja akan menghancurkan kita. Hal itu di sisi lain sama saja dengan ilusi bahwa kebun tersebut berada dalam kondisi yang paling baik. Keseimbangan antara optimisme dan realitas pada hakikatnya adalah jalannya orang-orang yang sukses.

  1. Lihatlah situasi tersebut sebagaimana adanya tanpa ditambah atau dikurangi (dan jangan melihatnya dalam bentuk yang lebih buruk daripada kenyataannya).
  2. Lihatlah situasi tersebut dalam bentuk yang lebih baik daripada kenyataannya.
  3. Berusahalah untuk "menjadikan" situasi tersebut sesuai dengan bentuk yang kamu lihat (yaitu lebih baik daripada kenyataannya).

Dan semua perkara ini adalah cara untuk mengerahkan keyakinanmu. Kebanyakan dari kita membentuk keyakinan-keyakinannya secara acak. Kita menyerap perkara-perkara—baik yang baik maupun yang buruk—dari dunia di sekitar kita. Akan tetapi, "Termasuk dari ide-ide mendasar adalah menyadari bahwa kamu bukanlah sehelai bulu diembus angin. Kamu bisa mengendalikan kebiasaan-kebiasaanmu, cara-caramu meniru orang lain, dan mengarahkan kehidupanmu secara sadar." Karena sesungguhnya kamu memiliki kemampuan untuk berubah. Jika ada satu kata kunci atau kata yang penting dalam buku ini, maka itu adalah kata "Perubahan".

Dan izinkan aku bertanya kepadamu sebuah pertanyaan yang sangat mendasar: Sebutkan beberapa keyakinanmu tentang siapa dirimu, dan apa yang kamu mampu lakukan? Tolong, ambil waktu jeda lima menit, dan sebutkan di dalamnya lima keyakinan utama yang menjadi faktor di balik pembatasan kemampuanmu di masa lalu:

  1. ............................................................
  2. ............................................................
  3. ............................................................
  4. ............................................................
  5. ............................................................

Dan sekarang sebutkan lima keyakinan utama yang dapat membantumu mewujudkan tujuan-tujuanmu:

  1. ............................................................
  2. ............................................................
  3. ............................................................
  4. ............................................................
  5. ............................................................

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan itu dapat diubah, sama persis seperti panjang rambutmu, kesukaanmu pada jenis makanan tertentu, dan keluwesan hubunganmu dengan orang tertentu. Jika kamu memiliki mobil Honda dan kamu ingin menggantinya dengan mobil Chrysler, Cadillac, atau Mercedes, maka hal itu adalah perkara yang berada dalam ruang lingkup kemampuanmu untuk berubah.

Gambaran internal dan keyakinan-keyakinanmu pun bekerja dengan cara yang sama. Jika kamu tidak memiliki keinginan pada keduanya, maka kamu mampu mengubahnya. Kita semua memiliki urutan atau tangga keyakinan. Kita memiliki keyakinan-keyakinan inti, yaitu perkara-perkara yang sangat mendasar bahkan kita bisa mati demi membelanya. Perkara-perkara ini seperti ide-ide kita tentang nasionalisme, keluarga, dan rasa cinta kepada Islam. Akan tetapi, kehidupan kita—pada sebagian besarnya—dikendalikan oleh keyakinan-keyakinan di sekitar hal yang mungkin, kesuksesan, atau kebahagiaan yang kita peroleh dari tahun ke tahun. Dan inti masalahnya di sini adalah melihat apakah keyakinan-keyakinan ini bekerja demi keuntungan kita, yaitu bahwa keyakinan tersebut efektif dan membawa kekuatan.

Kita telah berbicara tentang pentingnya peniruan (modeling), dan meniru keunggulan itu dimulai dengan meniru keyakinan dalam kebiasaan-kebiasaan. Beberapa perkara membutuhkan waktu untuk ditiru, akan tetapi, jika kamu memiliki kemampuan untuk berpikir, membaca, dan mendengar, maka kamu pada saat itu memiliki kemampuan untuk meniru keyakinan orang-orang paling sukses di atas muka bumi.

Ketika orang besar mana pun memulai kehidupannya, ia memutuskan untuk menemukan keyakinan orang-orang paling sukses, kemudian meniru mereka setelah itu. Sesungguhnya kamu memiliki kemampuan untuk meniru dia dan kebanyakan pemimpin besar melalui membaca biografi mereka. Perpustakaan-perpustakaan dipenuhi dengan pertanyaan dan jawaban tentang bagaimana mewujudkan hasil apa pun yang kamu inginkan. Oleh karena itu, Al-Qur'an menceritakan kepada kita kisah-kisah hamba-hamba Allah yang saleh serta kisah-kisah para nabi dan rasul agar kita meneladani mereka.

Allah Ta'ala berfirman:

"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka" [Al-An'am: 90].

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu" [Hud: 120].

"Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir" [Al-A'raf: 176].

Apakah sumber keyakinan pribadimu? Apakah sumbernya dari orang biasa di jalanan? Apakah sumbernya dari televisi atau radio? Apakah sumbernya dari perkataan orang-orang yang bicaranya paling lama dan suaranya paling keras? Jika kamu ingin sukses, maka termasuk kebijaksanaan adalah memilih keyakinan-keyakinanmu dengan cermat, alih-alih berjalan ke sana kemari bagaikan selembar kertas yang diombang-ambingkan oleh angin, dan memercayai keyakinan apa pun yang kebetulan kamu temui.

Penting untuk menyadari bahwa setiap kali kita membebaskan kemampuan terpendam kita, maka kita akan mendapatkan hasil, yang mana itu semua adalah bagian dari proses aktif yang dimulai dengan keyakinan. Aku melihat proses ini melalui contoh berikut:

Mari kita katakan bahwa seseorang memercayai ketidakefektifan dirinya dalam melakukan sesuatu. Dan mari kita asumsikan ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia adalah seorang murid yang gagal. Jika ia memperkirakan kegagalan, maka seberapa besar kemampuan yang akan ia kerahkan? Tidak banyak, karena ia sudah mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak tahu. Ia sebenarnya telah mengirimkan pesan ke otaknya untuk memperkirakan kegagalan.

Dengan memulainya menggunakan perkiraan-perkiraan seperti ini, maka tindakan apa yang mungkin ia lakukan? Apakah itu tindakan yang dicirikan dengan energi, keselarasan, dan rasa percaya diri? Apakah tindakan itu akan mencerminkan kemampuannya yang sesungguhnya? Hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Jika kamu yakin akan kegagalanmu, lalu mengapa kamu harus bersusah payah demi kesuksesan?

Dari sinilah, kamu telah memulai dengan keyakinan yang menegaskan ketidakmampuanmu, yaitu keyakinan yang—kemudian—mengirimkan sinyal ke sistem sarafmu untuk merespons dengan cara tertentu. Kamu telah mengerahkan jumlah yang terbatas dari kemampuanmu, dan kamu telah melakukan tindakan-tindakan yang lemah lagi kurang percaya diri. Maka hasil apa yang lahir dari hal tersebut? Besar kemungkinannya hasil itu akan menjadi sangat lemah.

Apa yang akan disebabkan oleh hasil yang lemah ini bagi tindakan-tindakanmu selanjutnya? Besar kemungkinannya hal itu akan memperkuat keyakinan-keyakinan negatif tersebut.

Kegagalan melahirkan kegagalan. Orang-orang yang menjalani kehidupan yang penuh dengan kesengsaraan dan keterpurukan adalah orang-orang yang diharamkan dalam waktu lama dari hasil-hasil yang mereka inginkan, sampai-sampai mereka tidak lagi memercayai kemampuan mereka untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan. Mereka juga tidak melakukan kecuali sedikit saja atau bahkan tidak melakukan apa pun sama sekali sejak awalnya. Mereka mulai mencoba mencari tahu bagaimana kehidupan mereka bisa sampai pada titik di mana mereka tidak melakukan kecuali sedikit saja dari tindakan-tindakan ini. Apa hasil yang mereka capai? Tentu saja, itu akan menjadi hasil-hasil buruk yang menghancurkan keyakinan mereka dalam bentuk yang lebih besar lagi, jika hal itu memungkinkan.

Bangsa-bangsa yang hidup sekarang dalam keadaan frustrasi ini, sementara otoritas (penguasa) mereka bekerja agar mereka tetap berada dalam kondisi demikian, tidak akan pernah bisa mengangkat kepala mereka. Hal itu karena mereka belum belajar menyuarakan kebenaran atau menghentikan kemungkaran, dan mereka tidak mengambil manfaat sedikit pun dari jerih payah mereka, melainkan mereka dirampok. Akibatnya, kepekaan mereka menjadi tumpul dan mereka menjadi terbiasa lari dari segala sesuatu yang membawa kepada kemajuan. Oleh karena itu, musuh-musuh mereka bekerja agar mereka tetap berada dalam kondisi demikian untuk waktu yang lama, sampai kondisi itu menetap pada diri mereka.

"Seseorang tidak menjadi kuat dengan mudah, maka setiap kali ujiannya bertambah, bertambah pula kekuatannya." Akan tetapi, ia harus bangkit.

Berikut ini adalah skema J. Willard Marriott, tentang hubungan tindakan, kemampuan, keyakinan, dan hasil. Tindakan à Kemampuan à Keyakinan à Hasil à Tindakan.

Mari kita lihat perkara ini dari sudut pandang yang lain. Mari kita asumsikan bahwa kamu memulai dengan perkiraan-perkiraan yang besar, atau bahkan lebih dari sekadar perkiraan, di mana kamu memercayai dengan seluruh jiwamu bahwa kamu akan sukses. Berangkat dari komunikasi yang langsung dan jelas tentang apa yang kamu yakini kebenarannya ini, seberapa banyak kemampuanmu yang akan kamu gunakan? Kemungkinan besar kamu akan menggunakan jumlah yang besar darinya.

Tindakan jenis apa yang kamu lakukan kali ini? Apakah kamu akan membebani dirimu sendiri lalu melakukan tindakan yang lemah? Sama sekali tidak, hal itu karena kamu merasakan kegembiraan, energi, dan perkiraan yang besar akan kesuksesan. Oleh karena itu, kamu akan melangkah dengan langkah yang lebar menuju perwujudannya. Jika kamu mengerahkan usaha seperti ini, hasil apa yang akan kamu dapatkan? Besar kemungkinannya hasil itu akan menjadi sangat agung sekali. Dan apa pengaruh hal itu terhadap keyakinanmu pada kemampuanmu untuk mewujudkan hasil-hasil yang besar di masa depan? Hal itu adalah kebalikan dari lingkaran setan tadi. Dalam kondisi ini, kesuksesan melahirkan kesuksesan, dan tambahan kesuksesan, serta setiap kesuksesan membuahkan tambahan keyakinan untuk mewujudkan kesuksesan yang lebih besar lagi.

Apakah orang-orang yang memiliki banyak akal (kreatif) itu akan sukses? Tentu saja. Apakah keyakinan-keyakinan yang kokoh membawa kepada kesuksesan di setiap waktu? Sama sekali tidak. Jika seseorang berkata kepadamu bahwa ia memiliki resep yang terjamin untuk mewujudkan kesuksesan abadi yang tidak ada celanya, maka kamu pasti tidak akan mendengarkan apa yang ia katakan.

Akan tetapi, sejarah telah membuktikan berulang kali bahwa orang-orang yang berpegang teguh pada keyakinan-keyakinan yang membekali mereka dengan kekuatan, maka mereka akan terus melakukan tindakan-tindakan, dan mereka memiliki kreativitas yang cukup untuk meraih kesuksesan pada akhirnya.

Kelompok Ikhwan telah dipukul pada tahun '48, '54, '65 dengan pukulan-pukulan yang membuat manusia mengira bahwa Ikhwan telah dihapuskan dari Mesir secara total. Tetapi, mereka terus berada di atas keyakinan akan kemampuan mereka untuk sukses dalam jangka panjang, dan mereka menolak kegagalan itu membuat mereka menjadi lemah atau takut. Mereka telah meyakini kesuksesan dakwah mereka, dan inilah mereka sekarang menjadi kekuatan besar di dunia Islam, yang di atas pundak mereka digantungkan harapan-harapan untuk mengubah jalannya sejarah menuju arah yang lebih baik.

Pada beberapa waktu, tidak menjadi suatu keharusan bagi seseorang untuk memiliki keyakinan atau sikap yang besar tentang sesuatu agar kesuksesan dituliskan baginya. Karena terkadang sebagian orang mewujudkan pencapaian yang besar hanya karena mereka tidak mengetahui adanya hal yang sulit atau mustahil. Pada waktu yang lain, cukup dengan tidak adanya keyakinan yang membatasi kemampuan individu tersebut.

Sebagai contoh, ada sebuah kisah tentang seorang pemuda yang tertidur selama jam pelajaran matematika. Ia terbangun oleh suara bel tanda berakhirnya pelajaran, lalu ia melihat ke papan tulis dan menulis dua soal yang ada di atasnya. Ia berasumsi bahwa kedua soal tersebut adalah tugas sekolah untuk hari itu. Maka ia pulang ke rumah dan mulai belajar dengan giat sepanjang siang dan malam untuk menyelesaikannya.

Pemuda tersebut tidak mampu menyelesaikan satu pun dari kedua soal itu, akan tetapi ia terus mencoba sepanjang sisa minggu tersebut. Pada akhirnya, ia mampu menyelesaikan salah satu dari keduanya dan membawanya ke kelas. Ketika guru melihatnya, sang guru terkejut luar biasa. Ternyata, soal yang berhasil ia selesaikan itu adalah soal yang diasumsikan tidak memiliki solusi (tidak bisa dipecahkan).

Seandainya murid tersebut mengetahui hal itu sejak awal, maka besar kemungkinan ia tidak akan mampu menyelesaikannya. Akan tetapi, karena ia tidak memberi tahu dirinya sendiri tentang ketidakmungkinan menyelesaikannya, bahkan pada kenyataannya, dan kebalikan dari hal itu, ia meyakini bahwa ia wajib menyelesaikannya, maka ia berhasil sampai pada metode untuk menyelesaikannya.

Di antara cara-cara lain untuk mengubah keyakinanmu adalah dengan terjadinya sebuah pengalaman yang bertentangan dengan keyakinan tersebut bagi dirimu. Inilah alasan lain di balik pelaksanaan latihan berjalan di atas api yang kami lakukan. Bagiku tidak penting jika manusia mampu melakukan apa yang mustahil, akan tetapi yang penting bagiku adalah mereka melakukan sesuatu yang sebelumnya mereka yakini bahwa hal itu mustahil. Jika kamu melakukan satu hal saja—yang sebelumnya kamu yakini mustahil—maka hal ini akan membuatmu mengubah keyakinan-keyakinanmu.

Sesungguhnya kehidupan ini lebih kompleks dan mendalam daripada apa yang dikira oleh kebanyakan dari kita. Oleh karena itu, jika kamu belum mengubah keyakinan-keyakinanmu secara nyata, lakukan peninjauan kembali atasnya sekarang juga, dan putuskan mana yang bisa kamu ubah, dan sampai sejauh mana kamu bisa mengubah keyakinan-keyakinan ini?

Dan pertanyaan yang aku ajukan sekarang adalah: Apakah bentuk berikut ini cekung atau cembung? Sungguh pertanyaan yang menggelikan, dan jawabannya adalah: Bahwa hal itu bergantung pada sudut pandangmu ketika melihatnya (Bacalah mengenai hal itu dalam buku Unlimited Power (Capabilities Without Limits) hal. 80 dan setelahnya).

Aplikasi Praktis dari Hakikat dan Nilai-Nilai Tema Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut:

Pertama: Aktivitas Pendamping (Intrakurikuler)

  1. Mencatat lima keyakinan utama yang menjadi penyebab pembatasan kemampuan-kemampuannya di masa lalu.
  2. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepadanya dengan penuh antusiasme dan kehadiran pikiran (fokus).
  3. Melakukan lokakarya (workshop) singkat; di mana setiap peserta didik mencatat satu target ambisius yang ingin ia selesaikan, namun terdapat hambatan di jalannya. Ia juga menuliskan hambatan tersebut, kemudian memulai dialog tentang sarana-sarana untuk menyingkirkan hambatan ini dan mengubah pandangan-pandangan negatif yang direpresentasikannya.

Kedua: Aktivitas Pendukung (Ekstrakurikuler)

  1. Mempraktikkan sepuluh hari tantangan mental dengan meminta bantuan program tema ini secara benar dan akurat.
  2. Berlatih untuk bekerja menggunakan kaidah-kaidah yang diusulkan untuk melaksanakan sepuluh hari tantangan mental.
  3. Menyusun rencana kerja harian yang diatur berdasarkan kondisi peserta didik, dengan memperhatikan hal-hal berikut di dalamnya:
    • Membebaskan diri dari ide negatif yang sudah ada sebelumnya.
    • Mewujudkan target utama yang ia usahakan, di mana hal itu membantunya untuk meraih kesuksesan dan mengaktualisasikan dirinya.
    • Mengatur waktu dengan akurat, sehingga dapat mewujudkan seluruh tuntutan harian dan dakwahnya, serta mewujudkan target baru yang belum terbiasa ia lakukan sebelum ini.
    • Menetapkan target-target tinggi lagi ambisius yang memiliki beberapa peluang kesuksesan.
    • Menghubungkan peserta didik selama sepuluh hari dengan tokoh terkemuka yang memiliki semangat tinggi, serta berkomunikasi dan mengunjunginya, sehingga ia dapat saling mempelajari capaian-capaian yang telah ia selesaikan bersamanya, dan tokoh tersebut membantunya dalam menambah target-targetnya serta menjauhkannya dari rasa takut akan kegagalan dalam rencananya.
    • Membaca setiap hari tentang tokoh penting dari kalangan orang-orang yang mampu mengubah keyakinan tidak benar mereka dan mengubah jalan hidup mereka menuju arah yang lebih baik.
    • Berusaha untuk membebaskan diri secara bertahap dari suatu kebiasaan, meskipun kebiasaan itu bukan hal yang buruk.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri

Kesatu: Pertanyaan Esai (Uraian)

  1. Bagaimana kamu melawan pemikiran negatif dan segala hal yang mematahkan semangatmu?
  2. Apa metode-metode terbaik yang membantumu melakukan tantangan mental selama sepuluh hari pertama?
  3. Potensi apa saja yang kamu miliki yang dengannya kamu mampu mengendalikan emosi dan kondisi mentalmu?
  4. Apa dalil atas kemungkinan untuk mengubah keyakinan-keyakinan yang salah?
  5. Apa tingkatan-tingkatan keyakinan pada manusia? Dan mana yang mungkin diubah terlebih dahulu dari tingkatan tersebut?
  6. Sebutkan lima pandangan (keyakinan) utama yang membatasi kemampuan-kemampuanmu!
  7. Apa sarana-sarana yang membantu dalam mengubah pandangan-pandangan (keyakinan)?
  8. Apa yang kamu ketahui dari contoh orang-orang yang mengubah keyakinan salah mereka lalu sukses dalam kehidupan mereka?
  9. Bagaimana cara mengendalikan risiko-risiko?
  10. Apa langkah-langkah yang wajib dipahami untuk mewujudkan kesuksesan dan keunggulan?

Kedua: Pertanyaan Objektif

1. Lengkapilah titik-titik di bawah ini:

  • Al-Jailani berkata: "Keinginanmu adalah apa yang ........... maka jadikanlah keinginanmu ........... dan apa yang ..........."
  • Al-Hafizh Abu al-Hasan az-Zaidi berkata: "Jadikanlah ibadah-ibadah sunah seperti ..........., maksiat-maksiat seperti ..........., syahwat seperti ..........., berbaur dengan manusia seperti ..........., dan makanan seperti ..........."

2. Berilah garis bawah di bawah pilihan yang benar untuk pernyataan-pernyataan berikut dari opsi yang ada di bawahnya:

A. Metode terbaik untuk mengubah pandangan (keyakinan) yang salah adalah...

  • Dengan berusaha melupakannya.
  • Dengan menjauh dari lingkungan yang memperkuatnya.
  • Dengan mendiskusikan sejauh mana kebermanfaatannya secara praktis untuk diganti dengan pandangan yang benar.

B. Orang-orang yang memiliki semangat tinggi, kesenangan-kesenangan inderawi (fisik/duniawi) berada pada derajat...

  • Pertama.
  • Kedua.
  • Mereka tidak memedulikannya.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat