Pasal 1: Iman dan Ledakan Potensi (Al-Iman wal Iqazh al-quwa al-khafiyyah Dr Taufiq Wa'iy)
Keimanan dan Membangkitkan Kekuatan yang Tersembunyi
Dr.
Taufiq Yusuf Al-Wa’iy
Bab
Pertama: Iman dan Peledakan Energi (Potensi)
Tujuan
Umum:
- Mengenali rahasia-rahasia
yang tersembunyi di dalam kekuatan keimanan.
- Membentuk sikap positif
terhadap rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalam iman.
- Memanfaatkan rahasia-rahasia
iman untuk mengubah jalan kehidupan materialistis menuju kehidupan yang
murni karena Allah (Rabbaniyyah).
Tujuan
Perilaku Instruksional (Operasional) untuk Tema Ini:
Di
akhir proses pembelajaran tema ini, diharapkan pembelajar mampu melakukan
hal-hal berikut:
Pertama:
Tujuan Kognitif (Pengetahuan):
- Menjelaskan kelahiran manusia
yang sesungguhnya.
- Menyebutkan sebab-sebab
kelahiran ini.
- Menganalisis
elemen-elemennya.
- Menentukan kunci-kuncinya.
- Menjelaskan orbit (orbit)
yang menjadi landasan iman manusia.
- Menyebutkan penggolongan
manusia berdasarkan orbit yang menjadi landasan iman tersebut.
- Menentukan letak kekuatan
pada diri manusia.
- Menjelaskan sebab-sebab yang
mendasari kehidupan (hidupnya) hati.
- Menjelaskan pengaruh Islam
dalam membekali orang mukmin dengan kekuatan psikologis.
- Menjelaskan dampak yang
timbul dari tingginya cita-cita (semangat) seorang mukmin.
- Menyebutkan hal-hal yang
menunjukkan keagungan iman seorang mukmin.
- Menyebutkan sumber-sumber
keyakinan yang dianut manusia dalam hidupnya.
- Menganalisis sumber-sumber
tersebut beserta dampaknya terhadap kehidupan manusia.
- Mengevaluasi dirinya sendiri
berdasarkan elemen-elemen kekuatan yang telah dipelajarinya.
- Membandingkan antara ulama
umat yang mengamalkan ilmunya (berjuang) dengan ulama yang
enggan/membangkang dalam membela kebenaran.
Kedua:
Tujuan Afektif (Sikap/Perasaan):
- Menunjukkan keinginan kuat
untuk memberikan pengaruh kepada orang-orang di sekitarnya melalui
perilaku dan perbuatannya.
- Memuji orang-orang yang
memiliki tekad kuat dan prinsip yang memberikan dampak nyata dalam
perbaikan (ishlah).
- Meyakini pentingnya iman
dalam kelahiran manusia yang sesungguhnya serta pemanfaatan yang optimal
terhadap potensi keimanannya.
- Berpegang teguh pada
kebenaran dengan bersabar atas gangguan di jalannya.
- Percaya pada pertolongan
Allah bagi kebenaran dan para pembelanya, dengan tetap wajib mengambil
sebab-sebab (berikhtiar).
- Mendukung kebenaran dan para
tokohnya dalam bentuk pembelaan dan pertolongan, berapapun harganya.
- Menunjukkan antusiasme untuk
menyebarkan kebenaran dan menanamkan kebajikan.
- Menolak prinsip perubahan
dengan kekerasan sebelum sempurnanya elemen-elemen perubahan tersebut dan
terpenuhinya sebab-sebabnya.
- Menghindari
pemikiran-pemikiran yang tidak moderat (ekstrem).
- Menempuh setiap jalan yang
dapat meningkatkan semangatnya dan mewujudkan derajat takwa tertinggi
dalam dirinya.
- Memberikan perhatian yang
sangat besar terhadap kesehatan hatinya dan kebaikannya.
- Meyakini bahwa hati adalah
tempatnya takwa dan tidak ada kekuasaan atas hati kecuali milik Allah.
- Mengurutkan berdasarkan
tingkat kepentingannya perkara-perkara yang dapat meningkatkan tingginya
cita-cita (semangat) dan memperkuat tekad.
- Melawan kelemahan, kemalasan,
dan segala hal yang menghambatnya di jalan dakwah.
- Mencari tujuan akhir dalam
makrifatullah (mengenal Allah) dan tidak meninggalkan satu pun kebajikan
yang mungkin diraih melainkan ia akan menghitungnya (mengamalkannya).
- Menunjukkan kesiapan untuk
berlomba-lomba dalam segala bidang kebaikan dengan semangat dan tekad yang
kuat.
- Mewujudkan
kebajikan-kebajikan dalam dirinya yang mungkin untuk ia raih.
- Bersikeras untuk mewujudkan
tujuan-tujuannya dan mencapai target tertinggi, tidak pernah puas kecuali
dengan keunggulan (menjadi yang terbaik) selamanya.
Ketiga:
Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):
- Menciptakan beberapa metode
untuk menyampaikan materi ilmiah dalam bentuk yang paling sempurna dan
terbaik.
- Mengusulkan metode-metode
terbaik untuk mengubah keyakinan-keyakinan khusus.
- Menciptakan cara-cara baru
yang kontemporer untuk menyebarkan kebajikan dan membangkitkan kekuatan
iman di dalam hati masyarakat awam.
- Mentransfer pengalaman yang
diperolehnya dari tema ini kepada saudara-saudaranya.
- Mengumpulkan amal perbuatan
yang dapat meningkatkan semangat dan mewujudkan takwa ke dalam satu
selebaran (buletin).
- Menyajikan dengan baik
contoh-contoh tokoh yang terlahir kembali pada hari ketika Islam dan
komitmen terhadapnya mengubah jalan hidup mereka.
- Berbicara dengan penuh
percaya diri dan ketenangan di hadapan kumpulan orang-orang yang didakwahi
tentang pengaruh Islam terhadap kekuatan psikologis dan peningkatan
semangat.
- Bekerja dengan baik untuk
menerapkan semua yang telah dipelajarinya dari tema ini pada dirinya
sendiri, rumah tangganya, dan semua orang di sekitarnya.
- Merancang sarana bantu bantu
untuk mendekatkan konsep-konsep ke dalam pikiran dan menjelaskan
pelajaran.
- Melatih diri pada
aktivitas-aktivitas yang membantunya meningkatkan cita-cita (semangat)
yang tinggi.
Materi
Ilmiah:
Manusia
dilahirkan sebagai jasad dari seorang ayah dan ibu, lalu merangkak/berjalan di
atas punggung bumi, hidup dalam lintasan waktu, dan menempati suatu tempat. Ini
adalah perkara yang dialami bersama oleh setiap hewan, manusia, dan makhluk
lainnya.
Akan
tetapi, kelahiran manusia yang sesungguhnya adalah ketika tampak dampak yang
ditimbulkannya di atas punggung bumi dan di kedalaman kehidupan yang dijalani.
Dampak ini tidak akan menjadi kuat dan berpengaruh kecuali jika manusia
tersebut memiliki jiwa yang kuat, akal yang cemerlang, tekad yang kokoh, serta
kehendak yang meluap-luap; saat itulah manusia menjadi agung, genius, dan
efektif dalam kehidupan.
Kelahiran
yang sesungguhnya bagi manusia tersebut memiliki sebab-sebab, elemen-elemen,
dan kunci-kunci, di antaranya:
Kekuatan
Iman.
Termasuk
di dalamnya adalah kekuatan keteguhan di atas kebenaran, membelanya, dan
berpegang teguh dengannya.
Allah
Ta'ala berfirman:
"Maka
berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.
Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus." (QS. Az-Zukhruf:
43)
Iman
adalah kekuatan yang mewariskan kesabaran dalam menghadapi krisis hingga
datangnya pertolongan.
"Wahai
orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah,
agar kamu beruntung." [Ali 'Imran: 200]
"Dan
ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka
berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah
Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka
kecuali keimanan dan ketundukan." [Al-Ahzab: 22]
"Maka
mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah,
dan tidak patah semangat dan tidak pula menyerah." [Ali 'Imran: 146]
Dan
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Abbas:
"Dan
ketahuilah bahwa sekiranya umat manusia bersatu untuk memberikan suatu
kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan kemanfaatan kepadamu
kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu." (Diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits Hasan Shahih, serta dikeluarkan pula
oleh Ahmad.)
"Berapa
banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak
dengan izin Allah." [Al-Baqarah: 249]
Hakikat
ini: Telah didukung oleh kenyataan (realitas) dan ditegaskan oleh sejarah
kemanusiaan yang panjang. Sebagian orang saat ini pun menemukannya di tengah
pencarian pada tumpukan tahun-tahun, lipatan sejarah, dan jalannya
peristiwa-peristiwa. Sungguh, bangsa Arab pun telah terlahir kembali dengan
kelahiran yang baru berkat keimanan.
Orbit
Manusia dalam Keimanan
Orbit
(tolok ukur) manusia dalam keimanan bertumpu pada beberapa hal.
Ibnu
al-Qayyim berkata: "Kesempurnaan manusia dan orbitnya bertumpu pada dua
landasan utama: mengenali kebenaran dari kebatilan serta mengutamakan kebenaran
di atas kebatilan, dan tekad kuat untuk menegakkan kebenaran serta melenyapkan
kebatilan." Kemudian disusul dengan beramal dengan segala potensinya demi
kepemimpinan dan menebar kebaikan. Dan benarlah firman Allah: "Sungguh,
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik
makhluk (khairul bariyyah)." [QS. Al-Bayyinah: 6].
Telah
disebutkan pula dalam atsar (doa): "Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku
bahwa yang benar itu benar dan berilah aku rezeki untuk mengikutinya, dan
tunjukkanlah kepadaku bahwa yang batil itu batil dan berilah aku rezeki untuk
menjauhinya."
Mereka
inilah orang-orang yang dianugerahi ilmu, dan dibantu dengan kekuatan tekad
untuk beramal. Merekalah yang disifati di dalam Al-Qur'anul Karim melalui
firman Allah Ta'ala: "Orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebajikan." Serta melalui firman-Nya Yang Mahasuci: "Dan
apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang
membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang
berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?" [QS. Al-An'am:
122].
Maka,
dengan kehidupan yang penuh iman dan cahaya-cahaya ketuhanan, tekad kuat akan
diraih; dan dengan cahaya pulalah ilmu akan diperoleh. Pemimpin dari kelompok
ini adalah para Rasul Ulul 'Azmi (yang memiliki tekad kuat).
Kemudian
beliau (Ibnu al-Qayyim) juga mengatakan:
"Tidaklah
berbeda tingkatan kedudukan makhluk di sisi Allah Ta'ala di dunia dan di
akhirat, melainkan seukuran dengan perbedaan tingkatan mereka dalam dua perkara
ini (ilmu dan amal). Dua perkara inilah yang dipuji oleh Allah Yang Mahasuci
atas para nabi-Nya—'alaihimush shalatu was salam—dalam firman-Nya Ta'ala:
“Dan
ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub yang mempunyai (Al-Aydi)
karya-karya besar (kekuatan) dan pandangan (bashirah/mata hati).” [QS. Shad:
45].
Arti
'tangan' (al-aidi) di sini adalah: kekuatan dalam melaksanakan kebenaran.
Sedangkan 'pandangan' (al-abshar) adalah: mata hati (bashirah) dalam urusan
agama. Maka Allah menyifati mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran
sekaligus kesempurnaan dalam melaksanakannya.
Berdasarkan
kedudukan ini, manusia terbagi menjadi empat golongan:
Golong
Pertama: Golongan Pertama ini adalah golongan yang memiliki bashirah dan
kekuatan sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa mereka adalah para Nabi yang
merupakan makhluk yang paling mulia dan paling terhormat di sisi Allah Ta'ala.
Golongan
Kedua: Kebalikan dari golongan pertama, yaitu orang yang tidak memiliki
mata hati (bashirah) dalam keimanan, dan tidak memiliki kekuatan untuk
melaksanakan kebenaran. Mereka adalah mayoritas dari makhluk ini. Mereka adalah
orang-orang yang jika dipandang hanya mengotori mata, menjadi demam bagi ruh,
dan penyakit bagi hati; mereka menyempitkan rumah-rumah, membuat harga-harga
melambung tinggi, dan tidak ada manfaat yang bisa diambil dari berteman dengan
mereka kecuali aib dan kehinaan.
Golongan
Ketiga: Orang yang memiliki mata hati (bashirah) dalam petunjuk dan
mengetahuinya, akan tetapi ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk
melaksanakannya maupun mendakwahkannya. Ini adalah kondisi seorang mukmin yang
lemah. Sementara mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah
daripada dirinya.
Golongan
Keempat:Orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, akan tetapi
lemah mata hatinya (bashirah) dalam keimanan. Ia hampir tidak bisa membedakan
antara kekasih-kekasih Allah (Auliya ar-Rahman) dengan kekasih-kekasih setan
(Auliya asy-Syaitan). Sebaliknya, ia mengira setiap yang hitam itu adalah
kurma, setiap yang putih itu adalah gajih (lemak). Ia mengira bengkak penyakit
sebagai lemak tubuh, dan mengira obat yang bermanfaat sebagai racun.
Tidak
ada satu pun di antara golongan-golongan ini yang layak untuk memegang
kepemimpinan dalam agama, dan bukan pula tempatnya, kecuali Golongan Pertama.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat
Kami." [QS. As-Sajdah: 24].
Dalam
ayat ini Allah Yang Mahasuci mengabarkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan
terhadap ayat-ayat Allah, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Sedangkan
kepemimpinan itu sendiri adalah kekuatan dan tekad. Mereka inilah orang-orang
yang dikecualikan oleh Allah Yang Mahasuci dari kelompok orang-orang yang
merugi. Allah bersumpah demi masa (Al-'Asr) - yang merupakan waktu bagi
usahanya orang-orang yang merugi maupun orang-orang yang beruntung - bahwa
siapa saja selain mereka yang beriman dan beramal saleh pastilah termasuk
orang-orang yang merugi. Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al-‘Ashr: "Demi
masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling
menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3). (Al-Jawab al-Kafi
Liman Sa'ala 'an ad-Dawa' asy-Syafi, hal. 82)
Beliau—rahimahullah—juga
berkata: "Di antara manusia ada yang memiliki kekuatan ilmiah
(teoretis) yang mampu menyingkap jalan, tingkatan-tingkatannya,
tanda-tandanya, rintangan-rintangannya, serta tempat-tempat tergelincirnya.
Kekuatan ini menjadi yang paling dominan di antara kedua kekuatan yang ada pada
dirinya. Namun, ia lemah dalam kekuatan amaliah (praktis); ia mampu
melihat hakikat kebenaran, tetapi tidak mengamalkan konsekuensinya. Ia melihat
tempat-tempat kebinasaan, hal-hal yang menakutkan, dan bahaya, namun ia tidak
berhati-hati dan tidak menjauhinya (Dalam permisalan seperti ini, benarlah
ucapan penyair: Kekafiran itu tidak akan bergeser oleh sebuah pemikiran yang
lurus...Apabila ia tidak dibersamai dengan lemparan (aksi) yang tepat
sasaran...). Ia menjadi seorang ahli fiqih (paham agama) selama amal belum
dihadapi. Namun apabila amal telah tiba, ia bersama-sama dengan orang-orang
bodoh dalam hal tertinggal (tidak mengamalkan), dan berbeda dengan mereka dalam
hal ilmu saja. Kondisi inilah yang mendominasi sebagian besar jiwa manusia yang
sibuk dengan ilmu. Adapun orang yang maksum (terjaga) adalah orang yang dijaga
oleh Allah, didorong untuk beramal, dan dibukakan mata hatinya sehingga ia
mengetahui kesudahan dari segala perkara.
Dan
di antara manusia ada pula yang memiliki kekuatan amaliah kehendak (praktis),
dan kekuatan ini menjadi yang paling dominan di antara kedua kekuatan pada
dirinya. Kekuatan ini menuntutnya untuk berjalan, menempuh rute spiritual,
zuhud di dunia, cinta kepada akhirat, serta bersungguh-sungguh dan
menyingsingkan lengan baju dalam beramal. Namun, ia buta mata hatinya ketika
datang syubhat (kerancuan) dalam akidah, serta penyimpangan-penyimpangan dalam
amal, ucapan, dan kedudukan spiritual. Sebagaimana golongan pertama tadi yang
lemah akalnya saat datang syahwat. Maka, penyakit orang ini bersumber dari
kebodohannya, sedangkan penyakit orang pertama bersumber dari rusaknya kehendak
dan lemahnya akal. Ini adalah kondisi mayoritas kaum fakir spiritual dan ahli tasawuf
yang menempuh jalan bukan di atas jalur ilmu, melainkan di atas jalur perasaan
(dzauq), emosi (wajd), dan kebiasaan semata. Engkau akan melihat salah satu
dari mereka buta terhadap apa yang dicarinya; ia tidak tahu siapa yang ia
sembah? Dan dengan apa ia menyembah-Nya? Kadang ia menyembah-Nya berdasarkan
perasaan dan emosinya, kadang ia menyembah-Nya berdasarkan kebiasaan kaum dan
teman-temannya berupa pakaian tertentu, membiarkan kepala terbuka, mencukur
jenggot, dan sejenisnya. Kadang pula ia menyembah-Nya dengan apa yang disukai
dan diinginkan oleh nafsunya, apa pun bentuknya. Di sinilah terdapat
jalan-jalan bercabang dan labirin-labirin penyesatan yang tidak ada yang mampu
menghitungnya kecuali Tuhan semesta alam.
Mereka
semua ini buta terhadap Tuhan mereka, syariat-Nya, dan agama-Nya. Mereka tidak
mengenal syariat dan agama-Nya yang dengannya Dia mengutus para rasul-Nya dan
menurunkan kitab-kitab-Nya, di mana Dia tidak akan menerima agama dari siapa
pun selain agama tersebut. Sebagaimana mereka juga tidak mengenal sifat-sifat
Tuhan mereka yang telah Dia perkenalkan kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan
para rasul-Nya, serta mengajak mereka untuk makrifat (mengenal) dan
mencintai-Nya melalui jalur tersebut. Maka, orang seperti ini tidak memiliki
makrifat terhadap Tuhan dan tidak pula memiliki ibadah yang benar kepada-Nya.
Dan
barangsiapa yang memiliki kedua kekuatan ini sekaligus (ilmu dan amal);
maka kokohlah perjalanannya menuju Allah, diharapkan ia dapat menembus target,
serta menjadi kuat untuk menolak segala pemutus jalan dan penghalang dengan
daya dan kekuatan Allah. Karena sesungguhnya pemutus jalan itu sangat banyak,
urusannya sangat berat, dan tidak ada yang selamat dari jerat-jeratnya kecuali
satu demi satu orang saja. Seandainya bukan karena adanya pemutus jalan dan
penyakit-penyakit spiritual tersebut, niscaya jalan ini akan penuh sesak oleh
orang-orang yang menempuhnya. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan
melenyapkan dan menghilangkannya. Akan tetapi Allah melakukan apa yang Dia
kehendaki.
Dan
'waktu'—sebagaimana dikatakan—'adalah pedang, jika engkau tidak memotongnya,
maka ia yang akan memotongmu.' Maka, apabila perjalanannya lemah, semangatnya
lemah, ilmu tentang jalannya lemah, sedangkan pemutus jalan dari luar maupun
dalam sangat banyak lagi kuat; maka itulah puncak ujian, kesengsaraan yang
didapati, dan kegembiraan bagi para musuh. Kecuali jika Allah menyelamatkannya
dengan rahmat dari-Nya dari arah yang tidak ia sangka-sangka, lalu Allah
menggandeng tangannya dan membebaskannya dari cengkeraman para pemutus jalan, dan
Allah-lah sebaik-baik pelindung serta pemberi taufik bagi hamba-Nya.
Kekuatan
Itu Tempatnya di Hati
Kekuatan
adalah amalan hati, dan hati tidak memiliki penguasa atasnya setelah Allah
melainkan pemiliknya sendiri. Sebagaimana burung terbang dengan kedua sayapnya,
demikian pula manusia terbang dengan semangat dan tekadnya, sehingga semangat
itu menerbangkannya ke ufuk tertinggi, bebas dari belenggu-belenggu yang
mengikat jasad.
Jika kaum musuh merampas kerajaanku...
Dan seluruh khalayak ramai menyerahkanku...
Maka hati ini tetap berada di antara tulang-tulang
rusukku...
Hati
ini tidak ikut menyerah bersama tulang rusuk yang menyerah...
Ibnu
Qutaibah menukil dari sebagian kitab hikmah: "Orang yang memiliki semangat
tinggi, jika ia dijatuhkan ke bawah, jiwanya menolak kecuali untuk tetap naik
ke atas. Ia bagaikan kobaran api yang dibalikkan ke bawah oleh pemiliknya,
namun ia tetap menolak kecuali bergerak naik ke atas." ('Uyun al-Akhbar,
3/231).
Imam
Al-Muhaqqiq "Ibnu al-Qayyim" —rahimahullah— berkata: "Ketahuilah
bahwa seorang hamba hanyalah menempuh tahapan-tahapan perjalanan menuju Allah
dengan hati dan semangatnya, bukan dengan badannya. Dan takwa pada
hakikatnya adalah takwanya hati, bukan takwanya anggota badan. Allah Ta'ala
berfirman: 'Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan
syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.' (QS.
Al-Hajj: 32) Dan Dia berfirman: 'Daging-daging unta dan darahnya itu
sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah
yang dapat mencapainya.' (QS. Al-Hajj:37) Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: 'Takwa itu ada di sini,' sambil beliau memberi isyarat
ke dadanya.
Maka
orang yang cerdas (al-kayyis) dapat menempuh jarak perjalanan spiritual dengan
benarnya tekad, tingginya semangat, murninya tujuan, dan benarnya niat—disertai
amal yang sedikit—berlipat-lipat lebih jauh daripada apa yang ditempuh oleh
orang yang kosong dari hal itu meskipun dengan keletihan yang banyak dan safar
yang melelahkan. Karena sesungguhnya tekad kuat dan rasa cinta akan melenyapkan
keletihan serta memperindah perjalanan. Kelanjutan ke depan dan mendahului
(dalam perlombaan) menuju Allah Yang Mahasuci itu hanyalah dicapai dengan
semangat; benarnya keinginan, dan tekad kuat. Sehingga pemilik semangat
tinggi—meskipun raganya tampak tenang—dapat mendahului orang yang banyak
amalnya dengan jarak beberapa tahapan. Jika orang lain menyamainya dalam hal
semangat, maka ia akan mendahuluinya dengan amalnya.
Ini
adalah pembahasan yang membutuhkan rincian di mana Islam bersesuaian dengan
Ihsan. Maka petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rasulullah saw.
Beliau menunaikan hak masing-masing dari keduanya secara penuh. Beliau,
bersamaan dengan kesempurnaan kehendak dan kondisi spiritualnya bersama Allah,
beliau tetap shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak, beliau berpuasa
hingga dikatakan beliau tidak pernah berbuka, beliau berjihad di jalan Allah,
berbaur dengan para sahabatnya, tidak menutup diri dari mereka, dan tidak
meninggalkan satu pun dari amalan sunnah maupun wirid harian demi menghadapi
limpahan kondisi spiritual (waridat) yang mana kekuatan manusia biasa akan
lemah untuk memikulnya." (Al-Jawabul Kaafi, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)
Hidupnya
Hati dengan Ilmu dan Tekad Kuat
Sesungguhnya
lemahnya kehendak dan pencarian itu bersumber dari lemahnya kehidupan hati.
Setiap kali hati itu memiliki kehidupan yang lebih sempurna, maka semangatnya
akan lebih tinggi, serta kehendak dan cintanya akan lebih kuat. Karena kehendak
dan cinta itu mengikuti kesadaran terhadap apa yang diinginkan dan dicintai,
serta keselamatan hati dari penyakit yang menghalangi antara hati dengan apa
yang dicari dan diinginkannya.
Maka,
lemahnya pencarian dan lesunya semangat itu bisa jadi disebabkan oleh kurangnya
kesadaran dan perasaan, atau bisa jadi karena adanya penyakit yang melemahkan
kehidupan hati. Kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak merupakan bukti atas
kuatnya kehidupan, sedangkan kelemahan keduanya adalah bukti atas lemahnya
kehidupan. Sebagaimana tingginya semangat, benarnya kehendak, dan pencarian
merupakan bagian dari kesempurnaan hidup, ia juga menjadi sebab untuk
memperoleh kehidupan yang paling sempurna dan paling baik. Karena kehidupan
yang baik (al-hayat ath-thayyibah) hanya akan diperoleh dengan semangat yang
tinggi, cinta yang jujur, dan kehendak yang murni. Maka seukuran itulah
kehidupan yang baik akan diperoleh.
Manusia
yang paling hina kehidupannya adalah yang paling rendah semangatnya, serta yang
paling lemah cinta dan pencariannya. Bahkan kehidupan binatang ternak lebih
baik daripada kehidupannya, sebagaimana dikatakan (dalam syair):
Siang harimu, wahai orang yang tertipu, penuh kelalaian dan
kelengahan...
Sedangkan malam harimu adalah tidur, sementara kebinasaan
selalu mengintaimu...
Kamu bersusah payah pada perkara yang kelak kamu akan
sesali akibat buruknya...
Seperti itulah binatang ternak hidup di dunia...
Kamu merasa senang dengan apa yang fana, dan gembira dengan
angan-angan...
Bagaikan
orang yang bermimpi, tertipu oleh kelezatan-kelezatan di dalam tidurnya...
Islam
Membiasakan Orang Mukmin pada Kekuatan Psikologis:
Rasulullah
saw bersabda: "Barangsiapa yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu
ia tidak (sempat) mengamalkannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai
satu kebaikan yang sempurna..." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari
Ibnu Abbas—radhiyallahu 'anhuma—dari Nabi saw dalam apa yang beliau riwayatkan
dari Tuhannya 'Azza wa Jalla)
Nabi
saw bersabda: "Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan
jujur (dari dalam hatinya), maka Allah akan menyampaikannya ke tingkatan para
syuhada, meskipun ia mati di atas ranjangnya." (Diriwayatkan oleh
Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)
Beliau
saw bersabda mengenai orang yang telah bersiap-siap untuk berjihad, kemudian
kematian menjemputnya: "Sungguh Allah telah menetapkan pahalanya
seukuran dengan niatnya." (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa'i,
Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dan sanadnya Shahih).
Beliau
saw bersabda berkenaan dengan orang-orang yang tertinggal dari perang Tabuk
padahal mereka sangat ingin keluar bersama beliau: "Sesungguhnya di
Madinah ada beberapa orang, tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan dan tidak
pula melewati suatu lembah, melainkan mereka selalu bersama kalian; mereka
tertahan oleh udzur (halangan)." (Muttafaqun 'Alaih)
Beliau
saw bersabda: "Tidaklah seorang manusia yang memiliki kebiasaan shalat
di malam hari, kemudian ia dikalahkan oleh tidurnya (tertidur), melainkan
dicatat baginya pahala shalatnya, dan tidurnya itu menjadi sedekah
baginya." (Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Abu Dawud)
Maka
urusannya bukanlah pada siapa yang sekadar berdiri shalat malam, melainkan
urusannya adalah pada orang yang tidur di atas ranjangnya, kemudian ketika
subuh tiba, ia telah mendahului rombongan dengan tingginya semangat, kesucian
hatinya, kekuatan keyakinannya, dan kuatnya keikhlasannya. Mengenai hal itu
dikatakan dalam syair:
Siapa yang bisa memberiku perumpamaan seperti perjalananmu
yang anggun...
Kamu
berjalan pelan-pelan namun kamu tiba di urutan pertama...
Alangkah
indahnya ucapan penyair saat menyapa para jemaah haji yang telah berangkat
melaksanakan haji:
Wahai orang-orang yang berangkat menuju Rumah Allah Al-‘Atiq
(Ka'bah)...
Kalian berjalan dengan jasad-jasad kalian, sedangkan kami
berjalan dengan ruh-ruh kami...
Sesungguhnya kami menetap karena adanya udzur dan takdir...
Dan
barangsiapa yang menetap karena adanya udzur, maka sesungguhnya ia pun telah
berangkat (meraih pahala)...
Seorang
mukmin terkadang bisa mengungguli yang lain dengan semangatnya yang tinggi,
sebagaimana dijelaskan oleh as-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi
dibenarkan perkataannya) saw dalam sabdanya: "Satu dirham dapat
mengungguli seratus ribu dirham." Mereka bertanya: "Wahai
Rasulullah! Bagaimana bisa satu dirham mengungguli seratus ribu dirham?"
Beliau menjawab: "Ada seorang lelaki yang hanya memiliki dua dirham,
lalu ia mengambil salah satunya dan menyedekahkannya. Sementara ada lelaki lain
yang memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil dari pinggiran
hartanya itu sebesar seratus ribu dirham (untuk disedekahkan)." (Diriwayatkan
oleh Ahmad, An-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dan sanadnya
Hasan.).
Orang
Mukmin yang Memiliki Tekad Kuat Tidak Pernah Puas dengan Kerendahan dan Tidak
Ridha Kecuali dengan Perkara-Perkara yang Tinggi
Seorang
mukmin yang memiliki semangat tinggi tidak akan memberikan kehinaan, tidak
pernah puas dengan hal-hal yang remeh (sia-sia), dan tidak ridha kecuali dengan
perkara-perkara yang tinggi lagi mulia:
Aku berkata kepada burung elang saat ia terbang tinggi di
angkasa...
Turunlah ke bumi, karena udara di atas sana kering dan
gersang...
Burung elang itu menjawabku: Di dalam sayap dan tekadku...
Puncak
langit adalah tempat penggembalaan yang subur...
Tempat
penggembalaan ini tak diragukan lagi tidak diketahui oleh para penghuni bumi,
di mana terdapat beratnya tanah (sifat materialistis) dan ambisi-ambisi
duniawi.
Jika kamu berada dalam suatu urusan yang dicita-citakan...
Maka janganlah kamu puas dengan apa yang berada di bawah
bintang-bintang...
Sebab, rasa kematian pada perkara yang remeh...
Sama
seperti rasa kematian pada perkara yang agung...
Shafiyuddin
al-Halyi berkata:
Kelemahan tidak akan tampak dari kami sebelum tercapainya
cita-cita...
Meskipun
kami melihat kematian ada di dalam angan-angan kami...
Al-Barudi
berkata:
Maka bangkitlah menuju punggung-punggung kemuliaan dengan
mendaki tinggi...
Sebab burung pemangsa (al-baz) tidak pernah tinggal kecuali
di puncak-puncak gunung yang tinggi...
Dan tinggalkanlah perkara yang paling rendah demi mengejar
yang paling jauh...
Karena di dalam lubuk lautan terdapat hal yang mencukupi
daripada sekadar air sisa di ceruk batu...
Bisa jadi orang yang berani lagi pantang menyerah (Al-Fatik
al-Alwi: Orang yang sangat berani lagi keras/tegas) berhasil mendapatkan
hajatnya...
Sementara
kelemahan membuat orang yang penakut lagi pasrah hanya terduduk lesu...
Sesungguhnya
orang yang bersemangat tinggi mengetahui bahwa jika dirinya tidak menambah
sesuatu (manfaat) di dunia ini, maka ia akan menjadi beban yang berlebih di
atasnya. Oleh karena itu, ia tidak ridha untuk menempati pinggiran kehidupan,
melainkan ia harus berada di dalam inti dan esensinya sebagai anggota yang
memberikan pengaruh:
Dan tidak ada kebaikan bagi seseorang dalam kehidupan...
Apabila
ia dihitung sebagai barang rongsokan yang terbuang...
Ali
bin Muhammad, seorang penulis berkata:
Jika suatu hari berlalu dan aku tidak menanam sebuah
kebaikan...
Serta
tidak memetik suatu ilmu, maka hari itu bukanlah bagian dari umurku...
Sesungguhnya
orang yang bersemangat besar adalah jenis manusia yang semangatnya—dengan daya
dan kekuatan Allah—mampu menantang apa yang dianggap mustahil oleh orang lain.
Ia mampu menuntaskan—dengan taufik dari Allah—apa yang dirasa berat oleh
sekelompok orang yang memiliki kekuatan. Ia pun menerobos—dengan bertawakal
kepada Allah—segala kesulitan dan kengerian, tanpa menoleh kepada apa pun:
Ia memiliki semangat-semangat yang tidak ada ujung bagi
perkara besarnya...
Sedangkan
semangatnya yang paling kecil pun lebih agung daripada masa (waktu)...
Oleh
karena itu dikatakan: "Pada hakikatnya tidak ada istilah berlebihan
dalam hal tingginya semangat," karena semangat-semangat yang tinggi
itu selalu mendambakan kemajuan, selalu meloncat, konsisten untuk mendaki dan
naik, serta tidak mengenal kenyamanan dan keheningan.
Maka jadilah seorang lelaki yang kakinya berada di atas
tanah...
Namun
puncak semangatnya berada di bintang Tsurayya (bintang di langit tertinggi)...
Bahkan,
semangatnya melampaui bintang Tsurayya, dan tidak pernah puas dengan yang
berada di bawah derajat surga yang tertinggi.
Umar
bin Abdul Aziz—rahimahullah Ta'ala—berkata kepada Dakkin ketika ia datang
kepadanya: "Wahai Dakkin, sesungguhnya aku memiliki jiwa yang selalu
mendamba. Jiwaku terus mendambakan kepemimpinan, dan ketika aku telah
meraihnya, ia mendambakan surga."
Di
antara hal ini adalah firman Nabi Yusuf 'alaihis salam: "Ya Tuhanku,
sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah
mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan
bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan
muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS.
Yusuf: 101)
Imam
Ibnu al-Jauzi —rahimahullah— berkata: "Barangsiapa yang menjalankan
pemikiran jernihnya, maka pemikiran itu akan menunjukkan kepadanya untuk
mencari kedudukan yang paling mulia, dan melarangnya dari bersikap ridha
terhadap kekurangan dalam setiap kondisi.”
Abu
ath-Thayyib al-Mutanabbi telah berkata:
'Dan aku tidak melihat suatu cacat pada celaan manusia...'
'Seperti
kurangnya orang-orang yang sebenarnya mampu untuk mencapai kesempurnaan...'
Maka
seyogianya bagi orang yang berakal untuk sampai pada batas akhir dari apa yang
dimungkinkannya:
Seandainya
pendakian ke langit itu bisa digambarkan bagi anak cucu Adam, niscaya kamu akan
melihat bahwa keridhaannya terhadap bumi termasuk kekurangan yang paling buruk.
Seandainya kenabian itu bisa diraih dengan ijtihad (usaha keras), niscaya kamu
akan melihat orang yang teledor dalam meraihnya berada di tempat yang paling
bawah.
Hanya
saja, karena hal itu tidaklah mungkin, maka seyogianya ia mencari hal yang
mungkin dilakukan. Rekam jejak yang indah di mata para ahli hikmah adalah:
keluarnya jiwa menuju batas akhir kesempurnaan yang mungkin baginya, maka ia
akan berada dalam lautan ilmu dan amal.
Dan
aku akan menjelaskan sebagian dari hal itu, di mana hal yang disebutkan dapat
menunjukkan kepada hal yang terlewatkan:
Adapun
dalam urusan badan: Maka rupa fisik tidaklah masuk ke dalam wilayah usaha
manusia; melainkan yang masuk ke dalam usahanya adalah memperbagus dan
menghiasinya. Maka sangat buruk bagi orang yang berakal jika menelantarkan
dirinya sendiri. Syariat pun telah memberikan peringatan atas keseluruhan
urusan melalui sebagian contohnya: Syariat memerintahkan untuk memotong kuku,
mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, serta melarang memakan bawang
putih dan bawang merah mentah karena aromanya. Maka seyogianya ia
mengomparasikan perkara lainnya dengan hal tersebut, lalu mencari batas akhir
kebersihan dan puncak hiasan diri. Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dapat diketahui kedatangan beliau dari aroma minyak wanginya, maka beliau
adalah batas akhir dalam hal kebersihan dan kesucian diri.
Dan
aku tidak memerintahkan untuk berlebihan dalam penolakan keduniawian
(asketisme) yang digunakan oleh orang yang mengidap penyakit waswas, melainkan
sikap pertengahan itulah yang terpuji... "
Hingga
beliau—rahimahullah—berkata:
"...Dan
seyogianya ia bersungguh-sungguh dalam berniaga dan mencari nafkah agar ia
memiliki kelebihan di atas orang lain, dan bukan orang lain yang memiliki
kelebihan di atas dirinya, supaya ia mencapai batas akhir dari hal itu yang
tidak menghalanginya dari menuntut ilmu. Kemudian seyogianya ia mencari batas
akhir dalam ilmu.
Di
antara kekurangan yang paling buruk adalah taklid (ikut-ikutan tanpa
dalil). Jika semangatnya kuat, maka semangat itu akan menaikkannya hingga ia
memilih satu mazhab untuk dirinya sendiri, dan tidak bersikap fanatik buta pada
mazhab seseorang, karena orang yang bertaklid adalah orang buta yang dituntun
oleh orang yang diikutinya. Kemudian seyogianya ia mencari batas akhir dalam
makrifatullah (mengenal Allah Ta'ala) dan bermuamalah dengan-Nya.
Kesimpulannya, janganlah ia meninggalkan satu kebajikan pun yang mungkin diraih
melainkan ia mesti meraihnya, karena sifat qana'ah (merasa cukup dalam hal
prestasi spiritual/kebaikan, berpuas diri) adalah kondisinya orang-orang yang
hina:
Maka jadilah seorang lelaki yang kakinya berada di atas
tanah...
Namun
puncak semangatnya berada di bintang Tsurayya...
Seandainya
kamu mampu melampaui setiap orang dari kalangan ulama dan ahli zuhud, maka
lakukanlah! Karena mereka dahulu adalah laki-laki (manusia) dan kamu pun
seorang laki-laki (manusia). Tidaklah orang yang terduduk itu tertinggal
melainkan karena rendahnya semangat dan kenistaannya.
Dan
ketahuilah bahwa kamu berada di medan perlombaan, sementara waktu terus
dirampas, maka janganlah kamu bersandar pada kemalasan. Tidaklah orang yang
tertinggal itu luput melainkan karena kemalasan, dan tidaklah orang yang meraih
keberhasilan itu mendapatkannya melainkan dengan kesungguhan dan tekad yang
kuat.
Sesungguhnya semangat itu benar-benar mendidih di dalam hati
bagaikan mendidihnya apa yang ada di dalam periuk. Sebagian ulama salaf telah
berkata:
'Aku
tidak memiliki harta selain serangan balik (semangatku) yang berulang...'
'Maka dengannya aku hidup dari ketiadaan...'
'Jiwaku merasa cukup dengan apa yang direzekikan...'
'Namun
semangat-semangatku meregang maju menuju tempat yang tinggi...' " (Sayd
al-Khatir: hal. 189 - 192)
Dan
di antara bentuk bergejolaknya semangat di dalam dada adalah berlarinya sang
pemilik semangat menuju kemuliaan dengan penuh ketakutan (bergegas):
Jika kemuliaan itu disebut, niscaya kamu akan
mendapatinya...
Ia
menjadikan kemuliaan sebagai sarung kemudian menjadikannya sebagai selendang...
Kuatnya
Tekad dan Semangat Menunjukkan Keagungan Iman
Orang-orang
yang memiliki semangat keimanan yang besar akan saling berlomba menuju
kemuliaan, mereka tidak pernah letih, tidak pernah bosan, dan tidak pernah
berputus asa:
"Dan tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya,
melainkan orang-orang yang sesat."
Rasa putus asa telah menemukan jalannya kepada para
lelaki...
Namun kepadamu, rasa putus asa tidak akan menemukan
jalan...
Bisa jadi ada seorang individu, karena keluhuran
perbuatannya...
Dan
tingginya akhlaknya, nilainya sebanding dengan satu generasi...
Mereka
di tengah-tengah manusia bagaikan mata uang yang langka, atau bagaikan belerang
merah (barang yang sangat langka/berharga). Tepat bagi mereka sabda Rasulullah saw:
"Kalian akan dapati manusia itu bagaikan seratus ekor unta, di mana
seseorang hampir tidak mendapati satu pun unta tunggangan (rahilah) di
antaranya." (Diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya. Al-Rahilah:
Unta pilihan yang mulia dari jenis unta untuk tunggangan dan selainnya, ia
memiliki sifat-sifat yang sempurna.). Mereka di antara manusia adalah
segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan sedikit dari orang-orang yang
kemudian:
Dahulu
mereka ketika pergi jumlahnya sedikit...
Namun
kini mereka telah menjadi lebih langka daripada yang sedikit...
Satu
orang di antara mereka senilai dengan satu umat, dan seorang individu dari
mereka senilai dengan seribu orang:
Ia dihitung senilai seribu orang dari lelaki di zamannya...
Akan tetapi dalam hal kecemerlangan, ia adalah
satu-satunya...
Dan aku tidak melihat permisalan manusia yang begitu jauh
perbedaannya...
Menuju
kemuliaan, hingga seribu orang dihitung senilai satu orang saja...
Oleh
karena itu, bencana menjadi sangat besar dengan hilangnya mereka, dan musibah
menjadi merata dengan kematian mereka:
Ketahuilah bahwa musibah itu bukanlah hilangnya harta...
Bukan pula matinya seekor kambing ataupun unta...
Akan tetapi musibah yang sebenarnya adalah hilangnya orang
yang merdeka...
Yang
mana dengan kematiannya, ikut mati pula manusia yang banyak...
Penyair
lain berkata:
Matinya Qais bukanlah kematian satu orang saja...
Akan
tetapi ia adalah runtuhnya bangunan suatu kaum...
Sebagian
ulama salaf berkata: "Meninggalnya seorang ulama adalah sebuah retakan
di dalam Islam, yang tidak dapat ditutupi oleh apa pun."
Di
antara apa yang dikatakan dalam bait ratih (ratapan) atas wafatnya Umar bin
Abdul Aziz—rahimahullah:
Kebaikan-kebaikannya merata, maka kematitannya pun membawa
duka yang merata...
Maka manusia di dalam menghadapinya, semuanya mendapatkan
pahala...
Tempat perkabungan manusia atasnya adalah satu...
Di setiap rumah terdengar suara isak tangis dan rintihan
kesedihan...
Lisan orang yang tidak pernah engkau beri kebaikan pun ikut
memujimu...
Karena engkau memang sangat layak untuk mendapatkan
pujian...
Kebaikan-kebaikannya telah mengembalikan kehidupannya
kepadanya...
Maka
ia seolah-olah dibangkitkan karena penyebaran kebaikannya...
Abu
Bakar Radhiyallahu 'Anhu berkata: "Suara Al-Qa'qa'—yakni bin Amru
At-Taimi—di dalam pasukan, lebih baik daripada seribu orang lelaki."
Dan
ketika Amru bin Al-Ash—Radhiyallahu 'Anhu—meminta bantuan pasukan tambahan
kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab—Radhiyallahu 'Anhu—dalam pembebasan
Mesir, Umar menulis surat kepadanya: "Amma ba'du: Sesungguhnya aku telah
membantumu dengan empat ribu orang lelaki, di mana setiap seribu orang dipimpin
oleh seorang lelaki yang kedudukannya sebanding dengan seribu orang: Al-Zubair
bin Al-Awwam, Al-Miqdad bin Amru, Ubadah bin Al-Samit, dan Maslamah bin
Khalid."
Amirul
Mukminin Umar bin Khattab—Radhiyallahu 'Anhu—pada suatu hari berkata kepada
para sahabatnya: "Berangan-anganlah kalian!" Maka seorang
lelaki berkata: "Aku berangan-angan jika rumah ini dipenuhi oleh emas,
lalu aku menginfakannya di jalan Allah 'Azza wa Jalla." Umar berkata
lagi: "Berangan-anganlah kalian!" Maka lelaki lain berkata: "Aku
berangan-angan jika rumah ini dipenuhi oleh mutiara, perhiasan, dan permata,
lalu aku menginfakannya di jalan Allah—'Azza wa Jalla—dan aku bersedekah
dengannya." Kemudian Umar berkata lagi: "Berangan-anganlah
kalian!" Mereka menjawab: "Kami tidak tahu lagi apa yang harus
kami katakan, wahai Amirul Mukminin?" Umar berkata: "Akan
tetapi aku berangan-angan jika rumah ini dipenuhi oleh lelaki-lelaki seperti
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah." (Dikeluarkan oleh penulis kitab Al-Safwah,
dan dikeluarkan oleh Al-Fadha'ili dengan tambahan: "Maka seorang lelaki
berkata: 'Kamu tidak meminta sesuatu yang kurang bagi Islam,' Umar menjawab:
'Itulah yang aku inginkan.' ").
Abu
Ja'far Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali Al-Baqir berkata: "Setiap
kaum memiliki manusia pilihannya, dan sesungguhnya manusia pilihan dari Bani
Umayyah adalah Umar bin Abdul Aziz, sesungguhnya ia akan dibangkitkan sebagai
satu umat seorang diri."
Al-Asma'i
berkata: Ketika Qutaibah bin Muslim mengatur barisan pasukan menghadapi bangsa
Turki, dan urusan mereka mencemaskannya, ia bertanya tentang Muhammad bin
Wasi'. Maka dikatakan: "Dia ada di sana, di sayap kanan pasukan, sedang
memegang busurnya, sambil menggerak-gerakkan jarinya menunjuk ke arah
langit." Qutaibah berkata: "Satu jari itu lebih aku cintai
daripada seratus ribu pedang yang terhunus dan pemuda yang tampan lagi
gagah."
Terkadang,
orang yang memiliki semangat tinggi dikaitkan dengan keajaiban-keajaiban,
bahkan melampauinya:
Yahya
bin Ma'in, imam para ahli hadis, berkata: "Aku melihat di Mesir ada tiga
keajaiban: Sungai Nil, Piramida, dan Said bin Ufair." Dia adalah seorang
Imam, Hafiz, العلامة
(sangat alim), ahli sejarah yang terpercaya, Abu Usman al-Mishri. Beliau
termasuk lautan ilmu, dan cukuplah bagimu bukti kehebatannya ketika Yahya bin
Ma'in sampai terkesima olehnya!
Ibnu
al-Mubarak ditanya tentang siapakah Al-Jama'ah? Beliau menjawab: "Abu
Bakar dan Umar." Dikatakan kepadanya: "Abu Bakar dan Umar
telah wafat." Beliau berkata: "Fulan dan fulan."
Dikatakan: "Fulan dan fulan telah wafat?" Ibnu al-Mubarak
berkata: "Abu Hamzah al-Sukkari adalah sebuah Jama'ah." (Beliau
adalah Muhammad bin Maimun al-Marwazi, seorang yang terpercaya (tsiqah),
memiliki keutamaan, dari thabaqat (generasi) ketujuh. Para ulama hadis jama'ah
meriwayatkan darinya. Beliau tidak pernah menjual gula (sukkar),
melainkan dinamakan Al-Sukkari karena manisnya ucapan beliau. Lihat Siyar
A'lam al-Nubala' (7/386), dan lihat Syarh al-Sunnah (1/216)).
Sudut
Pandang Kontemporer Tentang Pengaruh Iman
Umat-umat
terdahulu telah menyadari pengaruh iman dalam benarnya tekad dan kekuatannya,
sehingga mereka mulai memperdalam keimanan pada hal-hal tertentu untuk
memberikan kekuatan kepada individu dalam perjalanan hidupnya. Hal itu setelah
mereka memperhatikan bahwa manusia yang tidak beriman kepada suatu tujuan akan
tersesat dalam kehidupan, bahkan ia bisa menghancurkan kehidupan tersebut dan
menghancurkan dirinya sendiri bersamanya. Oleh karena itu, (Anton Chekhov)
berkata: "Manusia itu sesuai dengan apa yang ia imani."
Anthony
Robbins berkata: "Kita—biasanya—berpikir tentang iman sebagai sebuah
akidah atau ajaran, dan begitulah kondisi kebanyakan keyakinan. Sesungguhnya
iman adalah ungkapan tentang prinsip, keyakinan, atau emosi pembimbing apa pun
yang dapat membekali seseorang dengan makna kehidupan dan membimbingnya di
dalam kehidupan tersebut. Maka keyakinan-keyakinan adalah penyaring yang telah
disiapkan sebelumnya dan diatur untuk pandangan kita terhadap dunia. Ia mirip
dengan komandan bagi otak. Ketika kita mempercayai dengan bentuk yang selaras
tentang kebenaran sesuatu, maka hal itu kedudukannya sebagai isyarat bagi otak
yang mengabarkan kepadanya tentang bagaimana menggambarkan apa yang sedang
terjadi. Dahulu Casals beriman kepada musik dan seni, dan hal inilah yang
memberikan keindahan, keteraturan, dan kemuliaan pada kehidupannya. Ini adalah
sumber yang dapat terus membekalinya dengan mukjizat-mukjizat di setiap hari.
Hal itu dikarenakan keimanannya pada kekuatan yang perkasa dari seninya, yang
memberinya kekuatan dengan bentuk yang hampir tidak bisa dipercaya;
keyakinan-keyakinannya telah mengubahnya setiap hari dari seorang lelaki tua
yang lelah menjadi seorang genius yang penuh dengan vitalitas."
John
Stuart Mill pernah menulis dengan mengatakan: "Sesungguhnya satu orang
yang menikmati keimanan memiliki kekuatan yang sebanding dengan sembilan puluh
sembilan orang yang tidak beriman. Hal itu secara spesifik merupakan rahasia di
balik dibukanya pintu keunggulan oleh iman. Sebab, iman mengirimkan perintah
langsung ke sistem sarafmu. Ketika kamu beriman bahwa sesuatu itu benar adanya,
maka kamu menjadi berada dalam suatu kondisi di mana sesuatu ini benar-benar
menjadi nyata. Seandainya kamu berinteraksi dengan iman secara efektif, maka
sangat mungkin saat itu iman menjadi kekuatan paling kokoh untuk menciptakan
kebaikan dalam hidupmu. Di sisi lain, keyakinan-keyakinan yang membatasi
kemampuan-kemampuanmu bisa menjadi penghancur dengan kekuatan yang sama seperti
keyakinan-keyakinan yang membangkitkan kekuatan. Agama-agama di sepanjang
sejarah telah meniupkan kekuatan pada diri jutaan manusia, dan memberi mereka
kemampuan untuk melakukan hal-hal yang mereka sendiri tidak mengira memiliki
kemampuan untuk mendatangkannya. Iman membantu kita untuk mengeluarkan
kemampuan-kemampuan laten yang paling kokoh di kedalaman diri kita, serta
menciptakan dan mengarahkan kemampuan-kemampuan ini untuk mendukung hasil-hasil
yang kita harapkan.
Iman
adalah peta dan kompas yang membimbing kita menuju tujuan-tujuan kita, dan
dialah yang memberikan kita rasa percaya diri atas sampainya kita ke tujuan
tersebut. Tanpa adanya kemampuan untuk menghadirkannya, maka individu-individu
akan menjadi lemah sama sekali, dan mereka menjadi seperti perahu uap yang
tidak memiliki mesin atau kemudi di dalamnya. Dengan adanya keyakinan-keyakinan
kuat yang membimbing, kamu akan memiliki kemampuan untuk bertindak dan
menciptakan dunia yang kamu inginkan untuk hidup di dalamnya. Sebagaimana iman
juga membantumu untuk melihat apa yang kamu inginkan, dan memberimu aktivitas
(energi) untuk mendapatkannya.
Pada
kenyataannya, tidak ada kekuatan yang lebih kuat daripada iman untuk
mengarahkan manusia. Pada asalnya, sesungguhnya sejarah manusia adalah sejarah
keimanan pada diri manusia. Mereka yang telah mengubah jalannya sejarah adalah
mereka sendiri yang telah mengubah keyakinan-keyakinan dan perilaku kita. Oleh
karena itu, kita pertama-tama harus memulai dengan mengubah keyakinan-keyakinan
kita; agar kita bisa meniru keunggulan, kemudian kita harus meniru keyakinan
orang-orang yang telah mewujudkan kesuksesan." (Dan sejarah Islam kita
sangat kaya dengan contoh-contoh luar biasa dalam hal ini).
Setiap
kali bertambah apa yang kita ketahui tentang perilaku manusia, maka bertambah
pula pengetahuan kita tentang pengaruh luar biasa dari iman terhadap kehidupan
kita. Dalam banyak kondisi, pengaruh ini menantang model-model logis yang
dipercayai oleh kebanyakan kita di dalamnya. Akan tetapi, sudah sangat jelas
bahwa bahkan pada level fisiologis, keyakinan-keyakinan (representasi internal
yang harmonis) menguasai kenyataan. Belum lama berselang, telah dilakukan
sebuah studi luar biasa tentang skizofrenia (kebelah kepribadian). Salah satu
kasus studi adalah seorang wanita yang menderita skizofrenia. Biasanya, kadar
gula dalam darahnya benar-benar normal. Akan tetapi, ketika ia meyakini
(beriman) bahwa dirinya mengidap penyakit diabetes, maka kondisi fisiologisnya
berubah total untuk berubah menjadi kondisi fisiologis seorang pasien penderita
diabetes. Oleh karena itu, keyakinan-keyakinannya telah menjadi suatu kenyataan
yang terjadi.
Atas
pola yang sama seperti itu, ada banyak studi di mana seorang yang dihipnotis
disentuh dengan sepotong es dengan doktrin bahwa es itu adalah sepotong logam
yang panas. Pada semua kasus, sebuah luka lepuh muncul di tempat sentuhan
tersebut. Maka pengaruh di sini adalah bagi apa yang diyakini oleh orang
tersebut, bukan bagi kenyataan yang ada—yaitu komunikasi langsung yang
memutuskan dari sistem saraf—karena otak secara sederhana melakukan apa yang
diperintahkan kepadanya.
Kebanyakan
dari kita telah mendengar tentang efek plasebo (obat kosong). Mereka yang
diresepkan sebuah obat dengan doktrin bahwa obat itu memiliki pengaruh
tertentu, mereka benar-benar merasakan pengaruh ini padahal mereka hanyalah
meminum sebuah pil kosong dari obat ini yang tidak memiliki khasiat aktif apa
pun. Norman Kyizinz yang mempelajari dengan dirinya sendiri tentang apa yang
dimiliki oleh iman berupa kekuatan dalam menyingkirkan penyakitnya berkata: "Obat-obatan
tidaklah menjadi perkara yang darurat pada setiap waktu, adapun iman, maka ia
darurat (wajib) pada setiap waktu."
Di
antara studi yang mengagumkan tentang efek plasebo adalah studi yang dilakukan
pada sekelompok pasien yang mengidap penyakit maag (luka lambung). Mereka telah
dibagi menjadi dua kelompok: Kelompok pertama diberikan obat yang dikabarkan
kepada mereka bahwa obat itu akan menyembuhkan mereka secara total dari
penyakit mereka. Kelompok kedua diberikan obat yang dikabarkan kepada mereka
bahwa obat itu adalah obat uji coba dan hanya diketahui sedikit tentang
pengaruhnya. Tujuh puluh persen dari kelompok pertama sembuh dengan bentuk yang
besar dari penyakit maag tersebut. Sementara tidak ada yang mewujudkan hasil
serupa dari kelompok kedua kecuali hanya 25% saja. Pada kedua kondisi tersebut,
para pasien diberikan obat yang tidak memiliki khasiat pengobatan sama sekali.
Perbedaan satu-satunya adalah sistem keyakinan (iman) yang mereka adopsi. Dan
di sana ada studi-studi lain yang lebih mengagumkan dari hal itu, yaitu
studi-studi yang banyak di mana para pasien diberikan obat yang telah diketahui
bahwa obat itu memiliki pengaruh yang membahayakan, namun bersamaan dengan itu
mereka dikabarkan bahwa mereka akan mendapatkan pengaruh yang positif; maka
saat itu mereka tidak terkena pengaruh berbahaya sama sekali.
Studi-studi
yang dilakukan oleh Dr. Andrew Weil telah menunjukkan bahwa para pecandu
narkoba mendapatkan pengaruh yang cocok dengan ekspektasi mereka secara total.
Ia mendapati bahwa ia bisa menenangkan dan menenteramkan seseorang dengan
memberinya obat amfetamin (yang aslinya stimulan), dan ia bisa membuat orang
lain merasa gembira (aktif) ketika memberinya obat barbiturat (yang aslinya
penenang). Dr. Weil mengakhiri dengan mengatakan: "Sesungguhnya sihir
narkoba itu terletak di dalam akal penggunanya, bukan di dalam obat itu
sendiri," yaitu pesan-pesan yang selaras dan harmonis yang dikirimkan
ke otak dan sistem saraf.
Dalam
semua kasus ini, iman (keyakinan) adalah satu-satunya elemen konstan
(tetap) yang memiliki pengaruh terbesar terhadap hasil-hasil yang dicapai.
Meskipun iman memiliki kekuatan yang begitu besar, tidak ada kekuatan misterius
yang gaib dalam proses ini. Sebab, iman tidak lain adalah sebuah kondisi
psikologis, atau representasi internal yang mengendalikan perilaku.
Iman
bisa menjadi keyakinan yang membangkitkan kekuatan mengenai apa yang mungkin
terjadi, atau keyakinan bahwa kita akan sukses dalam sesuatu atau mewujudkan
sesuatu yang lain. Sebaliknya, iman juga bisa menjadi keyakinan yang membawa
pada kelemahan, kegagalan, dan tidak tercapainya kesuksesan; yaitu (anggapan)
bahwa sisi-sisi kekurangan kita sudah sangat jelas, tidak mungkin dikalahkan,
dan teramat besar.
Jika
kamu meyakini kesuksesan, maka kamu akan memiliki kemampuan untuk
mewujudkannya. Dan jika kamu memercayai kegagalan, maka pesan-pesan ini akan
cenderung membawamu kepada kegagalan. Kedua keyakinan tersebut sama-sama
memiliki kekuatan yang mahabesar. Adapun pertanyaan yang wajib kita ajukan
adalah: Mana yang lebih baik bagi kita, dan bagaimana cara kita memperolehnya?
Pilihan
dalam Keyakinan
Lahirnya
keunggulan dimulai dengan kesadaran bahwa kita memiliki pilihan terhadap
apa yang kita yakini. Biasanya kita tidak melihat perkara ini dari sudut
pandang tersebut, padahal iman (keyakinan) bisa menjadi sebuah pilihan yang
kita ambil secara sadar. Kamu bisa memilih keyakinan-keyakinan yang mendukungmu
dalam keunggulan, atau keyakinan-keyakinan yang membatasi
kemampuan-kemampuanmu. Yang terpenting adalah kamu memilih keyakinan-keyakinan
yang memotivasi kesuksesan, hasil-hasil yang kamu harapkan, serta menyingkirkan
keyakinan-keyakinan yang menghambatmu.
Kesalahpahaman
terbesar di antara manusia mengenai iman adalah anggapan mereka bahwa iman itu
merupakan konsep pemikiran yang kaku (statis), atau terisolasi dari amal,
perbuatan, dan hasil. Konsep ini adalah konsep yang paling jauh dari hakikat
kebenaran Islam. Sebab, iman adalah pintu yang mengantarkan menuju keunggulan,
karena iman sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekakuan (statis).
Iman
kita menentukan seberapa besar kemampuan kita yang dapat kita hadirkan atau
kita gunakan, dan dialah yang mengizinkan aliran ide-ide mengalir atau
menghentikannya.
Bayangkan
jika kamu mengalami situasi ini: Seseorang berkata kepadamu: "Tolong
ambilkan garam." Di tengah jalanmu menuju ruangan sebelah, kamu
berkata pada dirimu sendiri: "Tetapi aku tidak tahu di mana garam itu
berada." Setelah kamu menghabiskan beberapa menit untuk mencarinya,
kamu berteriak seraya berkata: "Aku tidak bisa menemukan garam
itu!" Saat itulah, orang tadi datang dan mengambil garam dari atas rak
yang berada tepat di hadapan matamu, lalu ia berkata: "Lihatlah wahai
orang bodoh, garam ini ada di depan matamu, dalam kondisi ini seolah-olah
seekor ular telah menggigitmu."
Ketika
kamu mengatakan bahwa kamu tidak bisa menemukan garam, maka kamu telah
memberikan isyarat kepada otakmu bahwa kamu tidak melihatnya (dalam ilmu
psikologi hal ini disebut dengan skotoma / titik buta). Dan ingatlah
bahwa setiap pengalaman manusia, segala sesuatu yang kamu dengar, kamu ucapkan,
kamu rasakan, kamu cium aromanya, dan kamu cicipi rasanya, semuanya tersimpan
di dalam otakmu. Oleh karena itu, ketika kamu mengatakan bahwa kamu tidak bisa
mengingat, maka kamu benar-benar tepat dalam hal itu. Sebaliknya, ketika kamu
mengatakan bahwa kamu bisa mengingat, maka dengan itu kamu memberikan perintah
kepada sistem sarafmu untuk membuka pintu-pintu gerbang yang mengarah ke bagian
otak yang dapat membekalimu dengan jawaban-jawaban yang kamu inginkan.
"Mereka
yang mewujudkan sesuatu, melakukan hal itu karena keimanan mereka terhadap
kemampuan untuk mewujudkannya." (Virr Gill)
Sekali
lagi, apakah keyakinan-keyakinan itu? Ia adalah orientasi dari konsep-konsep
yang ada dan diatur sebelumnya, yang menyaring komunikasi kita dengan diri kita
sendiri secara kontinu (terus-menerus).
Dari
mana datangnya keyakinan-keyakinan tersebut? Mengapa sebagian orang memiliki
keyakinan yang mendorong mereka menuju kesuksesan, sementara yang lain memiliki
keyakinan yang menggiring mereka pada kegagalan? Jika kita ingin meniru
keyakinan-keyakinan yang membawa kepada kesuksesan, maka hal pertama yang perlu
kita ketahui adalah sumber dari keyakinan-keyakinan tersebut.
"Yang
paling tinggi dari keyakinan-keyakinan ini adalah Risalah Robbaniyyah (Wahyu
Ilahi) yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari
belakangnya, dan ia adalah undang-undang kebahagiaan yang hakiki."
Setelah
itu, barulah datang keyakinan-keyakinan dan sumber-sumber lainnya, di
antaranya:
Sumber-Sumber
Lain untuk Kesuksesan atau Kegagalan:
Sumber
Pertama: Lingkungan (Environment)
Lingkungan
adalah tempat atau komunitas sosial di mana siklus kegagalan melahirkan
kegagalan, dan kesuksesan melahirkan kesuksesan terjadi dalam bentuk yang tidak
pernah berakhir. Sesungguhnya frustrasi dan kemiskinan (kehilangan) bukanlah
sumber keburukan yang hakiki dari kehidupan di lingkungan kumuh (miskin),
karena manusia bisa mengalahkan keduanya. Akan tetapi, mimpi buruk yang
sebenarnya terletak pada pengaruh lingkungan terhadap impian-impian dan
keyakinan-keyakinan. Jika semua yang kamu lihat adalah kegagalan dan frustrasi,
maka akan sulit bagimu untuk memiliki representasi internal yang membawa kepada
kesuksesan.
Sebab,
peniruan (imitation) adalah perkara yang kita semua lakukan sepanjang
waktu. Jika kamu tumbuh besar di lingkungan yang didominasi oleh kekayaan dan
kesuksesan, maka akan mudah bagimu untuk meniru kekayaan dan kesuksesan
tersebut. Adapun jika kamu tumbuh besar di lingkungan yang didominasi oleh
kemiskinan, maka di sinilah kamu akan membentuk model khusus dirimu tentang apa
yang mungkin untuk dilakukan.
Albert
Einstein berkata: "Sedikit sekali orang yang memiliki kemampuan untuk
mengekspresikan pandangan-pandangan objektif yang berbeda dari
penilaian-penilaian awal (prasangka) lingkungan sosial mereka."
Dalam
pelatihan-pelatihan yang aku adakan mengenai peniruan tingkat lanjut (advanced
modeling), aku melakukan sebuah eksperimen, di mana kami menemukan
orang-orang dari kalangan yang hidup di jalanan kota-kota besar, kemudian kami
bekerja untuk mengevaluasi sistem keyakinan dan strategi mental mereka. Kami
menyajikan makanan dan limpahan rasa cinta kepada mereka, kemudian kami meminta
mereka untuk menceritakan kepada kelompok tentang kehidupan mereka; apa yang
mereka rasakan terhadap kondisi mereka saat ini? Dan apa alasan—dalam pandangan
mereka—di balik berjalannya urusan-urusan seperti kondisi mereka sekarang?
Kemudian
kami mengadakan komparasi (perbandingan) antara mereka dengan orang-orang yang
mengubah kehidupan mereka secara total, meskipun mereka menghadapi masalah
emosional dan kesehatan yang sangat berat. Dalam salah satu sesi yang diadakan
baru-baru ini, ada seorang pemuda yang berusia dua puluh delapan tahun, dia
kuat, cerdas, sehat secara fisik, dan tampan. Apa rahasia di balik
kesengsaraannya dan hidupnya di jalanan, sementara W. Mitchell—yang tidak
memiliki banyak kemampuan fisik untuk mengubah hidupnya—justru menikmati
kebahagiaan yang meluap-luap?
Mitchell
tumbuh besar di lingkungan yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk
dijadikan teladan, contoh-contoh dari orang-orang yang mengalahkan
kesulitan-kesulitan besar demi mencapai kehidupan yang penuh dengan
kebahagiaan. Hal itu menciptakan rasa percaya diri pada dirinya: "Dan
hal itu mungkin pula terjadi pada kondisiku."
Sebaliknya,
pemuda ini—mari kita sebut saja namanya "John"—tumbuh besar di
lingkungan yang tidak ada satu pun keteladanan di dalamnya. Ibunya memiliki
reputasi yang buruk, ayahnya dipenjara atas tuduhan pembunuhan, dan ketika ia
berusia delapan tahun, ayahnya menyuntiknya dengan suntikan heroin. Secara
pasti, lingkungan ini memainkan peran dalam keyakinannya tentang apa yang bisa
dilakukan—yang tidak lain hanyalah sekadar bertahan hidup—dan bagaimana cara
mewujudkan hal itu melalui hidup di jalanan, mencuri, dan menyingkirkan rasa
sakit dengan mengonsumsi narkoba. Ia meyakini bahwa orang lain selalu mencoba
memanfaatkannya selama ia tidak berhati-hati terhadap mereka, tidak ada seorang
pun yang mencintai orang lain, dan seterusnya.
Pada
malam itu, kami bekerja bersama lelaki ini, dan kami mengubah
keyakinan-keyakinannya. Sebagai hasilnya, ia tidak lagi kembali hidup di
jalanan, sebagaimana ia juga berhenti dari narkoba. Ia sekarang bekerja,
memiliki teman-teman, dan hidup di lingkungan yang baru dengan
keyakinan-keyakinan yang baru, serta mewujudkan hasil-hasil yang baru. Dan
inilah tepatnya yang dilakukan oleh Islam di dalam masyarakat Jahiliyah, di
mana Islam memberikan mereka kekuatan keimanan psikologis, serta memberikan
mereka ajaran-ajaran yang benar dan metode-metode yang baik yang mengubah
pola-pola kehidupan mereka.
Dr.
Benjamin Bloom dari Universitas Chicago mempelajari seratus kasus sukses dari
kalangan atlet muda, musisi, dan pelajar. Ia merasa takjub ketika menemukan
bahwa mayoritas dari orang-orang genius yang masih muda ini tidak memulai
kehidupan mereka dengan menunjukkan keunggulan yang memukau. Sebaliknya,
kebanyakan dari mereka menerima bimbingan, dukungan, dan perhatian, kemudian
setelah itu mereka mulai berkembang. Keyakinan akan kemungkinan bahwa mereka
bisa mewujudkan keunggulan telah muncul, khususnya sebelum tampak tanda-tanda
bahwa mereka memiliki bakat yang nyata.
Sesungguhnya
lingkungan bisa menjadi pembangkit laten yang paling kuat bagi
keyakinan-keyakinan melalui interaksi pergaulan [dan ia disebut sebagai
keyakinan yang diperbolehkan]. Akan tetapi, lingkungan bukanlah satu-satunya
pembangkit. Jikalau urusannya hanya seperti itu, niscaya kita akan hidup di
dunia yang statis tidak berubah; di mana orang-orang kaya tidak mengenal
kecuali kekayaan, dan orang-orang miskin tidak akan pernah keluar dari
kemiskinan mereka.
"Maka
di sana ada lingkungan-lingkungan yang membuat frustrasi atau rusak seperti
lingkungan Jahiliyah atau lingkungan yang penuh syahwat, dan di sana ada
lingkungan-lingkungan yang agung dan menjadi pelopor seperti lingkungan Islam
yang benar."
Dan
dalam beberapa kesempatan, ada pengalaman-pengalaman dan metode-metode lain
untuk belajar, yang mana hal itu bisa pula menjadi pembangkit bagi keyakinan.
Sumber
Kedua: Peristiwa-Peristiwa (Events)
Peristiwa-peristiwa—baik
kecil maupun besar—bisa membangkitkan iman (keyakinan) terhadap berbagai hal.
Di sana ada peristiwa-peristiwa dalam kehidupan seseorang yang tidak akan
pernah bisa dilupakan bagi bangsa Amerika, misalnya peristiwa penyerangan World
Trade Center (WTC) dan kematian Presiden Kennedy. Bagi banyak orang, peristiwa
ini adalah perkara yang mengubah sudut pandang mereka terhadap dunia.
Atas
pola yang sama, bagi kebanyakan kita ada pengalaman-pengalaman yang tidak akan
pernah terlupakan sepanjang masa, pengalaman yang memiliki dampak yang sangat
kuat pada diri kita sampai-sampai ia tercetak di dalam memori kita untuk
selamanya. Pengalaman-pengalaman inilah yang membentuk keyakinan yang bisa
mengubah kehidupan kita.
Gerakan
Islam, misalnya, telah menghadapi situasi-situasi dan kezaliman-kezaliman yang
tidak bisa dilupakan pada hari dieksekusinya Profesor Abdul Qadir Audah dan
rekan-rekannya, dieksekusinya Sayyid Quthb dan rekan-rekannya, serta
pengadilan-pengadilan militer dan penangkapan yang berulang-ulang. Tidak
diragukan lagi bahwa peristiwa-peristiwa ini membuka mata terhadap ngerinya
bencana yang menimpa umat, yang mana hal itu harus diperhitungkan. Sebagaimana
ia juga membuka mata terhadap kekuatan-kekuatan global yang siap untuk
mendukung sistem apa pun yang membantu mengacaukan umat dan menyingkirkan
orang-orang yang ikhlas di dalamnya serta mereka yang bekerja untuk
kepemimpinan dan kebangkitan umat.
Sumber
Ketiga: Pengetahuan (Knowledge)
Pengalaman
langsung dianggap sebagai salah satu bentuk pengetahuan. Menonton film,
membaca, dan menyaksikan dunia sebagaimana yang digambarkan oleh orang lain
adalah metode-metode lain untuk meraih pengetahuan. Dan pengetahuan termasuk
metode yang luar biasa untuk menghancurkan belenggu-belenggu lingkungan yang
membatasi kemampuan individu. Bagaimanapun suramnya dunia di sekitarmu, maka
dengan membaca pencapaian-pencapaian orang lain, kamu bisa menciptakan
keyakinan-keyakinan yang mengizinkanmu untuk meraih kesuksesan.
"Oleh
karena itu, Islam mendorong kita untuk menuntut ilmu dan menjadikannya sebagai
kewajiban atas setiap muslim laki-laki dan muslimah perempuan, serta
menjadikannya sebagai jalan menuju surga. Rasulullah saw bersabda: 'Barangsiapa
yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya
jalan menuju surga.'" (Kutipan dari Al-Fatawa al-Kubra karya
Ibnu Taimiyyah—Juz 1 hal. 100).
Maka
kapan saja Allah mengajarkannya ilmu yang bermanfaat, akan berpasangan pula
ketakwaan bersamanya seukuran dengan hal tersebut, dan kapan saja ia bertakwa
kepada-Nya, Allah akan menambah ilmunya, dan begitulah seterusnya.
Cobalah
bagaimana kamu bersikeras atas pengetahuan:
Sejak
bertahun-tahun yang lalu, aku terikat dengan kebiasaan membaca selama tiga
puluh menit setiap hari, yang mana di kemudian hari tampak jelas bahwa
kebiasaan itu adalah hal paling berharga yang aku pelajari dalam hidupku. Pada
suatu hari, salah seorang guruku berkata kepadaku:
"Sesungguhnya
membaca sesuatu yang memiliki manfaat dan nilai akan menambahkan sesuatu yang
baru kepadamu; maka membaca pada hakikatnya lebih penting daripada makanan.
Guruku juga berkata: Kamu boleh melewatkan waktu makan, tetapi jangan pernah
biarkan membaca terlewatkan darimu."
Oleh
karena itu, cobalah untuk memberi makan dirimu dengan membaca di kala kamu
mengarungi usahamu dalam tantangan mental. Bacalah materi yang memberimu
manfaat dalam memperoleh strategi-strategi baru yang membawamu untuk mewujudkan
pola baru yang telah kamu pilih bagi kehidupanmu. Dan ingatlah bahwa para
pemimpin yang hebat adalah mereka yang juga pembaca yang hebat.
Imam
Abu al-Faraj bin al-Jauzi—rahimahullah Ta'ala—berkata: "Aku merenungkan
sebuah keajaiban, yaitu bahwa segala sesuatu yang bernilai tinggi lagi penting
itu panjang jalannya, dan banyak keletihan dalam meraihnya.
Sesungguhnya
ilmu, karena ia merupakan sesuatu yang paling mulia, tidak akan diperoleh
kecuali dengan keletihan, begadang, pengulangan, serta meninggalkan kelezatan
dan kenyamanan. Sampai-sampai sebagian ahli fiqih berkata: 'Aku melewatkan
waktu bertahun-tahun dalam kondisi sangat menginginkan bubur harisah namun aku
tidak mampu membelinya, karena waktu penjualannya bertepatan dengan waktu
mendengarkan pelajaran (majelis ilmu)'...".
Oleh
karena itu, Ibnu al-Qayyim—rahimahullah Ta'ala—berkata: "Adapun
kebahagiaan ilmu, maka ia tidak akan diwariskan kepadamu kecuali dengan
pengerahan kemampuanmu, benarnya pencarian, dan kesahihan niat."
Dan
alangkah baiknya orang yang berkata dalam hal itu (melalui syair):
Maka katakanlah kepada orang yang mengharapkan
perkara-perkara yang tinggi...
Tanpa
adanya ijtihad (usaha keras): Kamu telah mengharapkan hal yang mustahil...
Penyair
lain berkata:
Seandainya bukan karena adanya kesulitan, niscaya seluruh
manusia telah menjadi pemimpin...
Sifat
dermawan itu mendatangkan kefakiran, dan keberanian menerobos musuh itu
mematikan...
Dan
barangsiapa yang semangatnya mendambakan perkara-perkara yang tinggi; maka
wajib atasnya untuk mengikatkan diri pada kecintaan terhadap jalan-jalan agama,
dan ia adalah kebahagiaan. Walaupun pada permulaannya jalan itu tidak terlepas
dari bentuk kesulitan, rasa benci (berat bagi nafsu), dan gangguan. Dan bahwa
nafsu itu kapan saja dipaksa atasnya, lalu digiring baik dalam keadaan taat
maupun terpaksa kepadanya, serta bersabar atas kesusahan dan kekerasannya,
niscaya jalan itu akan mengantarkannya menuju taman-taman yang indah, tempat
kedudukan yang benar, dan kedudukan yang mulia.
Ia
akan mendapati setiap kelezatan yang berada di bawah derajatnya bagaikan
permainan seorang anak kecil dengan burung pipit jika dibandingkan dengan
kelezatan para raja. Maka pada saat itulah kondisi pemiliknya sebagaimana yang
dikatakan (dalam syair):
Dan dahulu aku melihat bahwa hasratku telah berakhir
bersamaku...
Menuju batas akhir yang tidak ada lagi setelahnya jalur
bagiku...
Namun ketika kita bertemu dan aku menyaksikan
keindahannya...
Aku
menjadi yakin bahwa sesungguhnya aku dulunya hanyalah bermain-main saja...
Muslim
meriwayatkan dalam Shahih-nya, Yahya bin Abi Katsir berkata: "Ilmu
tidak akan diperoleh dengan kenyamanan badan." Dan telah dikatakan
pula: "Barangsiapa yang mencari kenyamanan, maka ia akan meninggalkan
kenyamanan."
Wahai orang yang ingin sampai kepada sang kekasih, apakah
menuju kepadanya...
Tanpa
adanya kesulitan ada sebuah jalan untuk selamanya?!
Seandainya
bukan karena kebodohan mayoritas manusia terhadap manisnya kelezatan ini dan
agungnya kedudukannya, niscaya mereka akan saling menebas dengan pedang demi
memperebutkannya. Akan tetapi, kelezatan ini dikelilingi oleh tirai dari
hal-hal yang dibenci, dan mereka terhalang darinya oleh tirai kebodohan, agar
Allah mengkhususkan kelezatan itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari
kalangan hamba-hamba-Nya, dan Allah adalah pemilik karunia yang mahabesar.
Imam
Asy-Syafi'i—rahimahullah Ta'ala—berkata: "Wajib atas para penuntut ilmu
untuk mengerahkan batas akhir kemampuan mereka dalam memperbanyak ilmunya,
bersabar atas setiap hambatan di kala mencarinya, mengikhlaskan niat karena
Allah Ta'ala dalam memahami ilmunya baik secara tekstual (nas) maupun
kontekstual (istinbath), serta berharap kepada Allah Ta'ala dalam meminta
pertolongan atasnya."
Janganlah kamu mengira kemuliaan itu adalah kurma yang kamu
tinggal memakannya...
Kamu
tidak akan mencapai kemuliaan sampai kamu menjilat empedu kesabaran...
Dahulu
para ahli ilmu—rahimahumullah Ta'ala—selalu menemui berbagai kesulitan dan
kekerasan dalam perolehan ilmu mereka. Imam Ibnu Hisyam An-Nahwi, penulis kitab
Al-Qathr dan Al-Mughni serta kitab lainnya, memberikan nasihat
kepada para penuntut ilmu agar bersabar atas kesulitan-kesulitan ilmu dan
perolehannya, karena hal itu merupakan syarat dalam meraih target yang mulia
lagi berharga. Beliau berkata (dalam syair):
Dan barangsiapa yang bersabar demi ilmu maka ia akan
beruntung meraihnya...
Dan barangsiapa yang meminang wanita cantik, ia harus
bersabar atas pengorbanan maharnya...
Dan barangsiapa yang tidak menghinakan nafsunya dalam
mencari kedudukan yang tinggi...
Meskipun
sebentar, niscaya ia akan hidup di sepanjang masanya sebagai saudara
kehinaan...
Sumber
Keempat: Pengalaman atau Keahlian (Experiences)
Pengalaman
merupakan sarana yang melaluinya hasil-hasil di masa depan bisa diwujudkan. Di
antara metode yang paling terjamin untuk menciptakan keyakinan terhadap
kemampuan-kemampuanmu dalam melakukan sesuatu adalah dengan melakukan sesuatu
ini satu kali saja. Jika kamu sudah bisa sukses satu kali, maka akan
menjadi jauh lebih mudah bagimu untuk menciptakan keyakinan akan kemampuanmu
untuk mewujudkannya sekali lagi.
Aku
mengenal seorang lelaki yang diminta untuk menyelesaikan tesis magisternya
dalam waktu yang sangat singkat. Maka tidak ada pilihan lain baginya melainkan
ia menyelesaikannya dalam waktu yang pendek tersebut. Kemudian ia membawanya
dengan penuh kegembiraan kepada dosen pembimbing untuk dibaca, diberikan
catatan, dan kemudian diujikan.
Namun,
ia dikejutkan oleh dosen pembimbing yang menolaknya dan bersikap tidak adil
kepadanya. Setelah argumen yang panjang, mahasiswa tersebut meminta kepada
dosen pembimbing untuk memberikan pandangannya pada setiap bab dari bab-bab
tesis tersebut dan menuliskan catatan-catatannya yang harus dikerjakan.
Mahasiswa itu berkata: "Aku akan merevisi dan menulisnya kembali."
Tiba-tiba
dosen pembimbing melakukan hal itu dan membalikkan bab tersebut dari atas ke
bawah. Dosen pembimbing mengira bahwa pekerjaan itu membutuhkan waktu kira-kira
satu bulan. Maka mahasiswa tersebut mengambil bab tersebut, pergi ke
perpustakaan, dan duduk di salah satunya sepanjang hari penuh. Di sana ia
menulis draf bab tersebut, kemudian ia begadang di malam hari untuk menyalin
bersih dan merapikannya.
Tiba-tiba
saja ia pergi menemui dosen pembimbing pada pagi hari di hari kedua dalam
kondisi telah menyempurnakan tugas perubahan sebagaimana yang diinginkan oleh
dosen pembimbing! Maka dosen pembimbing terkesima, dan ia melakukan hal yang
sama pada bab-bab berikutnya sebagaimana yang ia lakukan pada bab pertama,
semuanya di bawah keterkesimaan dosen pembimbing dan keheranannya, karena
mahasiswa tersebut bersikeras untuk membuktikan eksistensi dirinya.
Ia
pun meraih gelar magister, kemudian meraih gelar doktor, kemudian menulis
riset-riset kenaikan pangkat untuk gelar-gelar akademik ketika hal itu diminta
darinya dalam waktu-waktu dan periode yang tidak bisa dipercaya! Dan sebab di
balik hal itu adalah kerasnya tekad yang pertama serta kesuksesan yang
diwujudkan dengan kecepatan yang luar biasa saat menempuh magister.
Dan
alangkah benarnya ucapan orang yang berkata (dalam syair):
Obatmu ada pada dirimu namun kamu tidak melihatnya...
Dan penyakitmu berasal dari dirimu namun kamu tidak
menyadarinya...
Kamu mengira bahwa kamu hanyalah sebuah jasad yang kecil...
Padahal
di dalam dirimu, terlipat alam semesta yang paling besar...
Aplikasi
Praktis dari Hakikat dan Nilai-Nilai Tema Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut:
Pertama:
Aktivitas Pendamping (Intrakurikuler)
- Menyelenggarakan lokakarya
(workshop) di dalam kelas untuk menyusun elemen-elemen kekuatan dan cara
memperolehnya.
- Berbicara di depan
saudara-saudaranya mengenai pentingnya iman dalam membangkitkan kekuatan
manusia yang terpendam dan luar biasa.
Kedua:
Aktivitas Pendukung (Ekstrakurikuler)
- Melakukan introspeksi diri
(muhasabah) untuk melihat sejauh mana elemen-elemen kekuatan yang telah
disebutkan sebelumnya ada pada dirinya sendiri.
- Memotivasi saudara-saudara
dan rekan-rekannya untuk berkomitmen terhadap apa yang telah disebutkan
sebelumnya.
- Memimpin lokakarya (workshop)
untuk mendiskusikan sarana-sarana yang dapat membantu dirinya dan
rekan-rekannya agar memiliki elemen-elemen kekuatan tersebut.
- Berbicara di depan kumpulan
saudaranya mengenai pentingnya iman dalam membangkitkan kekuatan manusia
yang luar biasa.
- Mengumpulkan contoh
tokoh-tokoh yang diubah oleh iman menjadi pribadi yang bersemangat tinggi
(bercita-cita mulia), lalu membukukannya untuk dibagikan.
- Menyampaikan ceramah tentang
sumber-sumber keyakinan [yang benar maupun yang batil] pada manusia, cara
seorang mukmin membebaskan diri dari keyakinan yang salah, serta
syarat-syarat untuk mengambil manfaat dari keyakinan yang benar.
- Mengumpulkan contoh
tokoh-tokoh yang diubah oleh iman dan berhasil memancarkan potensi-potensi
mereka.
- Menyampaikan ceramah tentang
pentingnya dan mendesaknya mengubah pandangan (keyakinan) salah yang
negatif, serta menggantinya dengan pandangan yang benar lagi positif.
- Mengumpulkan kata-kata bijak
serta peribahasa dalam bentuk puisi maupun prosa yang berkaitan dengan
tema ini ke dalam sebuah pamflet (brosur) untuk dibagikan.
- Merencanakan sebuah daurah
(pelatihan/training) terkait tema ini.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri
Kesatu:
Pertanyaan Esai (Uraian)
- Apa kelahiran yang hakiki
bagi manusia? Sebutkan sebab-sebabnya dan elemen-elemen kuncinya!
- Jelaskan orbit yang menjadi
landasan iman seorang mukmin!
- Sebutkan jenis-jenis manusia
berdasarkan orbit tersebut!
- Di manakah letak kekuatan
yang sesungguhnya pada diri manusia?
- Sebutkan disertai penjelasan
mengenai sebab-sebab yang menjadi landasan hidupnya hati!
- Terangkan pengaruh Islam
dalam membiasakan seorang mukmin untuk memiliki kekuatan jiwa yang besar!
- Apa dampak yang dihasilkan
dari tingginya semangat (cita-cita) seorang mukmin?
- Apa dalil atas keagungan
seorang mukmin karena imannya? Dan apa pengaruh iman ini terhadap jiwa
seorang mukmin?
- Sebutkan sumber-sumber
keyakinan manusia, baik yang benar maupun yang tidak benar!
- Bagaimana lingkungan bisa
menjadi salah satu sumber keyakinan pada manusia?
- Apakah lingkungan dapat
dimanfaatkan dalam membangun keyakinan-keyakinan yang benar pada manusia?
Mengapa?
- Jelaskan pengaruh target
(tujuan) dalam membentuk keyakinan dan konsep berpikir pada manusia!
- Bagaimana cara meluruskan
pemahaman-pemahaman salah yang telah menetap di dalam akal manusia akibat
beberapa peristiwa tertentu?
- Kapan pengetahuan dapat
menjadi sumber dari keyakinan yang lurus?
- Bagaimana cara memperoleh
pengetahuan? Sebutkan syarat-syarat yang wajib dipenuhi untuk hal
tersebut!
- Setelah beberapa lama, kamu
menemukan bahwa sumber pengetahuan yang kamu miliki ternyata tidak benar.
Bagaimana kamu menyikapinya? Dan bagaimana kamu membantu orang lain agar
terbebas dari sumber pengetahuan yang tidak benar tersebut?
- Jelaskan peran pengalaman
umum dan khusus dalam membangun keyakinan manusia!
- Apa saja bahaya yang
ditimbulkan akibat menetapnya keyakinan-keyakinan yang salah karena suatu
pengalaman?
- Apakah kamu melihat dirimu
sebagai orang yang memiliki semangat tinggi? Mengapa?
- Apa sebab-sebab yang
membuatmu menarik diri dan enggan berinteraksi dengan berbagai peristiwa
sebagaimana mestinya?
- Metode apa yang kamu pandang
cocok untuk membangkitkan dirimu dari keterpurukannya?
- Inovasikan sebuah rencana
yang kamu persiapkan untuk dirimu sendiri guna mengatasi kebiasaan atau
keyakinan salah yang sudah lama ada pada dirimu!
- Apa nasihatmu bagi orang yang
mengetahui kebenaran namun tidak bergerak untuk membelanya?
Kedua:
Pertanyaan Objektif
- Tuliskan kata (Dapat
Diterima), (Tidak Dapat Diterima), (Baik), atau (Istimewa)
di depan pernyataan yang sesuai di bawah ini:
- Seorang lelaki yang
memiliki mata hati (bashirah), ilmu, dan pengetahuan tentang kebenaran,
tetapi karena kelemahan fisiknya, ia menganggap dirinya tidak mampu untuk
membela kebenaran. (. . . . . . . .)
- Seorang ulama yang setelah
sekian lama sibuk dalam dunia dakwah, lebih memilih untuk menarik diri
(uzlah) dari manusia karena merasa tidak ada lagi manfaat yang bisa
diharapkan dari mereka. (. . . . . . . .)
- Seorang pekerja biasa
berkata: "Sesungguhnya perbaikan keadaan itu dimulai dari perbaikan
hati dan jiwa." (. . . . . . . .)
- Seorang guru berpandangan
bahwa manusia tidak akan bisa diatur melainkan hanya dengan logika
kekerasan (hukuman fisik). (. . . . . . . .)
- Seorang lelaki yang
prinsipnya dalam melakukan perbaikan adalah: Perbaiki dirimu sendiri,
serulah orang lain, dan bantulah ia untuk memperbaiki dirinya sendiri. (.
. . . . . . .)
- Seorang lelaki yang
mencintai orang-orang yang berjuang demi kebenaran, dan berdoa kepada
Allah agar menolong serta mengukuhkan kedudukan mereka, tetapi ia takut
jika terlihat bersama mereka. (. . . . . . . .)
Catatan-Catatan
Penting:
- Pertanyaan-pertanyaan
evaluasi dan pengukuran mandiri di atas, baik yang berbentuk esai maupun
objektif, berfungsi untuk mengukur dan mengevaluasi tujuan perilaku
prosedural pada ranah kognitif beserta tingkatannya. Hal ini
dikenal sebagai evaluasi dan pengukuran prestasi belajar atau tes prestasi
belajar.
- Evaluasi dan pengukuran
tujuan ranah afektif (sikap) dilakukan melalui pengamatan guru
terhadap ketertarikan dan respons para peserta didik, yang dinilai dari
sisi perhatian, kesungguhan, antusiasme, serta penerapan apa yang telah
mereka pelajari, sekaligus sejauh mana mereka mencapai proses interaktif
ini.
- Evaluasi dan pengukuran
tujuan ranah psikomotorik (keterampilan) dilakukan dengan mengamati
tingkat performa peserta didik terhadap keterampilan yang menjadi target
melalui cara berbicara, menulis, dan praktik langsung.
- Evaluasi dan pengukuran aktivitas
dilakukan melalui pengamatan terhadap interaksi dan performa peserta didik
pada aktivitas pendamping selama sesi berlangsung, serta aktivitas
pendukung yang bersifat menguatkan dan memperkokoh. Setiap peserta didik
diperkenankan memilih aktivitas yang sesuai bagi dirinya untuk
dilaksanakan selama hari-hari dalam seminggu.
- Pengukuran dan evaluasi yang
menggunakan metode pengamatan (observasi) dan pemantauan agar dapat
mencapai tujuannya, harus dilakukan melalui lembar pengamatan dan
pemantauan. Di dalamnya dicatat daftar hal-hal yang ingin diukur dan
dievaluasi, di mana pada setiap target disediakan kotak skala penilaian
dari (0) sampai (5).
- Skala (0 dan 1) berarti:
Kurang
- Skala (2) berarti: Dapat
Diterima
- Skala (3) berarti: Baik
- Skala (4) means: Baik
Sekali
- Skala (5) berarti: Istimewa
Contohnya
adalah seperti lembar penilaian berikut:
Lembar
Evaluasi Interaksi dan Performa (Pengamatan dan Pemantauan)
|
No |
Hal-Hal
yang Ingin Dievaluasi dari Peserta Didik |
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
Kurang |
Kurang |
Dapat
Diterima |
Baik |
Baik
Sekali |
Istimewa |
||
|
1 |
Perhatian
dan ketertarikannya: dari sisi kepedulian, kesungguhan, dan antusiasme |
||||||
|
2 |
Respons
dan kepatuhannya |
||||||
|
3 |
Penerapan
nilai-nilai pada dirinya |
||||||
|
4 |
Performanya
dalam aktivitas pendamping (intrakurikuler) |
||||||
|
5 |
Performanya
dalam aktivitas pendukung (ekstrakurikuler) |
||||||
|
6 |
Performanya
di dalam kelompoknya (bagiannya) |
||||||
|
7 |
Kehadirannya
dalam pertemuan-pertemuan |
||||||
|
8 |
Persiapan
mentalnya |
||||||
|
9 |
Penyampaian
materi/sesinya |
||||||
|
10 |
Pembayaran
iuran koperasi karyawan |
||||||
|
11 |
Kontribusi
(kedermawanan) dan pengorbanan |
Comments
Post a Comment