Pasal 1: Iman dan Ledakan Potensi (Al-Iman wal Iqazh al-quwa al-khafiyyah Dr Taufiq Wa'iy)

Keimanan dan Membangkitkan Kekuatan yang Tersembunyi

Dr. Taufiq Yusuf Al-Wa’iy

Bab Pertama: Iman dan Peledakan Energi (Potensi)

Tujuan Umum:

  1. Mengenali rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalam kekuatan keimanan.
  2. Membentuk sikap positif terhadap rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalam iman.
  3. Memanfaatkan rahasia-rahasia iman untuk mengubah jalan kehidupan materialistis menuju kehidupan yang murni karena Allah (Rabbaniyyah).

Tujuan Perilaku Instruksional (Operasional) untuk Tema Ini:

Di akhir proses pembelajaran tema ini, diharapkan pembelajar mampu melakukan hal-hal berikut:

Pertama: Tujuan Kognitif (Pengetahuan):

  1. Menjelaskan kelahiran manusia yang sesungguhnya.
  2. Menyebutkan sebab-sebab kelahiran ini.
  3. Menganalisis elemen-elemennya.
  4. Menentukan kunci-kuncinya.
  5. Menjelaskan orbit (orbit) yang menjadi landasan iman manusia.
  6. Menyebutkan penggolongan manusia berdasarkan orbit yang menjadi landasan iman tersebut.
  7. Menentukan letak kekuatan pada diri manusia.
  8. Menjelaskan sebab-sebab yang mendasari kehidupan (hidupnya) hati.
  9. Menjelaskan pengaruh Islam dalam membekali orang mukmin dengan kekuatan psikologis.
  10. Menjelaskan dampak yang timbul dari tingginya cita-cita (semangat) seorang mukmin.
  11. Menyebutkan hal-hal yang menunjukkan keagungan iman seorang mukmin.
  12. Menyebutkan sumber-sumber keyakinan yang dianut manusia dalam hidupnya.
  13. Menganalisis sumber-sumber tersebut beserta dampaknya terhadap kehidupan manusia.
  14. Mengevaluasi dirinya sendiri berdasarkan elemen-elemen kekuatan yang telah dipelajarinya.
  15. Membandingkan antara ulama umat yang mengamalkan ilmunya (berjuang) dengan ulama yang enggan/membangkang dalam membela kebenaran.

Kedua: Tujuan Afektif (Sikap/Perasaan):

  1. Menunjukkan keinginan kuat untuk memberikan pengaruh kepada orang-orang di sekitarnya melalui perilaku dan perbuatannya.
  2. Memuji orang-orang yang memiliki tekad kuat dan prinsip yang memberikan dampak nyata dalam perbaikan (ishlah).
  3. Meyakini pentingnya iman dalam kelahiran manusia yang sesungguhnya serta pemanfaatan yang optimal terhadap potensi keimanannya.
  4. Berpegang teguh pada kebenaran dengan bersabar atas gangguan di jalannya.
  5. Percaya pada pertolongan Allah bagi kebenaran dan para pembelanya, dengan tetap wajib mengambil sebab-sebab (berikhtiar).
  6. Mendukung kebenaran dan para tokohnya dalam bentuk pembelaan dan pertolongan, berapapun harganya.
  7. Menunjukkan antusiasme untuk menyebarkan kebenaran dan menanamkan kebajikan.
  8. Menolak prinsip perubahan dengan kekerasan sebelum sempurnanya elemen-elemen perubahan tersebut dan terpenuhinya sebab-sebabnya.
  9. Menghindari pemikiran-pemikiran yang tidak moderat (ekstrem).
  10. Menempuh setiap jalan yang dapat meningkatkan semangatnya dan mewujudkan derajat takwa tertinggi dalam dirinya.
  11. Memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kesehatan hatinya dan kebaikannya.
  12. Meyakini bahwa hati adalah tempatnya takwa dan tidak ada kekuasaan atas hati kecuali milik Allah.
  13. Mengurutkan berdasarkan tingkat kepentingannya perkara-perkara yang dapat meningkatkan tingginya cita-cita (semangat) dan memperkuat tekad.
  14. Melawan kelemahan, kemalasan, dan segala hal yang menghambatnya di jalan dakwah.
  15. Mencari tujuan akhir dalam makrifatullah (mengenal Allah) dan tidak meninggalkan satu pun kebajikan yang mungkin diraih melainkan ia akan menghitungnya (mengamalkannya).
  16. Menunjukkan kesiapan untuk berlomba-lomba dalam segala bidang kebaikan dengan semangat dan tekad yang kuat.
  17. Mewujudkan kebajikan-kebajikan dalam dirinya yang mungkin untuk ia raih.
  18. Bersikeras untuk mewujudkan tujuan-tujuannya dan mencapai target tertinggi, tidak pernah puas kecuali dengan keunggulan (menjadi yang terbaik) selamanya.

Ketiga: Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):

  1. Menciptakan beberapa metode untuk menyampaikan materi ilmiah dalam bentuk yang paling sempurna dan terbaik.
  2. Mengusulkan metode-metode terbaik untuk mengubah keyakinan-keyakinan khusus.
  3. Menciptakan cara-cara baru yang kontemporer untuk menyebarkan kebajikan dan membangkitkan kekuatan iman di dalam hati masyarakat awam.
  4. Mentransfer pengalaman yang diperolehnya dari tema ini kepada saudara-saudaranya.
  5. Mengumpulkan amal perbuatan yang dapat meningkatkan semangat dan mewujudkan takwa ke dalam satu selebaran (buletin).
  6. Menyajikan dengan baik contoh-contoh tokoh yang terlahir kembali pada hari ketika Islam dan komitmen terhadapnya mengubah jalan hidup mereka.
  7. Berbicara dengan penuh percaya diri dan ketenangan di hadapan kumpulan orang-orang yang didakwahi tentang pengaruh Islam terhadap kekuatan psikologis dan peningkatan semangat.
  8. Bekerja dengan baik untuk menerapkan semua yang telah dipelajarinya dari tema ini pada dirinya sendiri, rumah tangganya, dan semua orang di sekitarnya.
  9. Merancang sarana bantu bantu untuk mendekatkan konsep-konsep ke dalam pikiran dan menjelaskan pelajaran.
  10. Melatih diri pada aktivitas-aktivitas yang membantunya meningkatkan cita-cita (semangat) yang tinggi.

Materi Ilmiah:

Manusia dilahirkan sebagai jasad dari seorang ayah dan ibu, lalu merangkak/berjalan di atas punggung bumi, hidup dalam lintasan waktu, dan menempati suatu tempat. Ini adalah perkara yang dialami bersama oleh setiap hewan, manusia, dan makhluk lainnya.

Akan tetapi, kelahiran manusia yang sesungguhnya adalah ketika tampak dampak yang ditimbulkannya di atas punggung bumi dan di kedalaman kehidupan yang dijalani. Dampak ini tidak akan menjadi kuat dan berpengaruh kecuali jika manusia tersebut memiliki jiwa yang kuat, akal yang cemerlang, tekad yang kokoh, serta kehendak yang meluap-luap; saat itulah manusia menjadi agung, genius, dan efektif dalam kehidupan.

Kelahiran yang sesungguhnya bagi manusia tersebut memiliki sebab-sebab, elemen-elemen, dan kunci-kunci, di antaranya:

Kekuatan Iman.

Termasuk di dalamnya adalah kekuatan keteguhan di atas kebenaran, membelanya, dan berpegang teguh dengannya.

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus." (QS. Az-Zukhruf: 43)

Iman adalah kekuatan yang mewariskan kesabaran dalam menghadapi krisis hingga datangnya pertolongan.

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu beruntung." [Ali 'Imran: 200]

"Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan." [Al-Ahzab: 22]

"Maka mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak patah semangat dan tidak pula menyerah." [Ali 'Imran: 146]

Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Abbas:

"Dan ketahuilah bahwa sekiranya umat manusia bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan kemanfaatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits Hasan Shahih, serta dikeluarkan pula oleh Ahmad.)

"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah." [Al-Baqarah: 249]

Hakikat ini: Telah didukung oleh kenyataan (realitas) dan ditegaskan oleh sejarah kemanusiaan yang panjang. Sebagian orang saat ini pun menemukannya di tengah pencarian pada tumpukan tahun-tahun, lipatan sejarah, dan jalannya peristiwa-peristiwa. Sungguh, bangsa Arab pun telah terlahir kembali dengan kelahiran yang baru berkat keimanan.

Orbit Manusia dalam Keimanan

Orbit (tolok ukur) manusia dalam keimanan bertumpu pada beberapa hal.

Ibnu al-Qayyim berkata: "Kesempurnaan manusia dan orbitnya bertumpu pada dua landasan utama: mengenali kebenaran dari kebatilan serta mengutamakan kebenaran di atas kebatilan, dan tekad kuat untuk menegakkan kebenaran serta melenyapkan kebatilan." Kemudian disusul dengan beramal dengan segala potensinya demi kepemimpinan dan menebar kebaikan. Dan benarlah firman Allah: "Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk (khairul bariyyah)." [QS. Al-Bayyinah: 6].

Telah disebutkan pula dalam atsar (doa): "Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku bahwa yang benar itu benar dan berilah aku rezeki untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepadaku bahwa yang batil itu batil dan berilah aku rezeki untuk menjauhinya."

Mereka inilah orang-orang yang dianugerahi ilmu, dan dibantu dengan kekuatan tekad untuk beramal. Merekalah yang disifati di dalam Al-Qur'anul Karim melalui firman Allah Ta'ala: "Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan." Serta melalui firman-Nya Yang Mahasuci: "Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?" [QS. Al-An'am: 122].

Maka, dengan kehidupan yang penuh iman dan cahaya-cahaya ketuhanan, tekad kuat akan diraih; dan dengan cahaya pulalah ilmu akan diperoleh. Pemimpin dari kelompok ini adalah para Rasul Ulul 'Azmi (yang memiliki tekad kuat).

Kemudian beliau (Ibnu al-Qayyim) juga mengatakan:

"Tidaklah berbeda tingkatan kedudukan makhluk di sisi Allah Ta'ala di dunia dan di akhirat, melainkan seukuran dengan perbedaan tingkatan mereka dalam dua perkara ini (ilmu dan amal). Dua perkara inilah yang dipuji oleh Allah Yang Mahasuci atas para nabi-Nya—'alaihimush shalatu was salam—dalam firman-Nya Ta'ala:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub yang mempunyai (Al-Aydi) karya-karya besar (kekuatan) dan pandangan (bashirah/mata hati).” [QS. Shad: 45].

Arti 'tangan' (al-aidi) di sini adalah: kekuatan dalam melaksanakan kebenaran. Sedangkan 'pandangan' (al-abshar) adalah: mata hati (bashirah) dalam urusan agama. Maka Allah menyifati mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran sekaligus kesempurnaan dalam melaksanakannya.

Berdasarkan kedudukan ini, manusia terbagi menjadi empat golongan:

Golong Pertama: Golongan Pertama ini adalah golongan yang memiliki bashirah dan kekuatan sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa mereka adalah para Nabi yang merupakan makhluk yang paling mulia dan paling terhormat di sisi Allah Ta'ala.

Golongan Kedua: Kebalikan dari golongan pertama, yaitu orang yang tidak memiliki mata hati (bashirah) dalam keimanan, dan tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakan kebenaran. Mereka adalah mayoritas dari makhluk ini. Mereka adalah orang-orang yang jika dipandang hanya mengotori mata, menjadi demam bagi ruh, dan penyakit bagi hati; mereka menyempitkan rumah-rumah, membuat harga-harga melambung tinggi, dan tidak ada manfaat yang bisa diambil dari berteman dengan mereka kecuali aib dan kehinaan.

Golongan Ketiga: Orang yang memiliki mata hati (bashirah) dalam petunjuk dan mengetahuinya, akan tetapi ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakannya maupun mendakwahkannya. Ini adalah kondisi seorang mukmin yang lemah. Sementara mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada dirinya.

Golongan Keempat:Orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, akan tetapi lemah mata hatinya (bashirah) dalam keimanan. Ia hampir tidak bisa membedakan antara kekasih-kekasih Allah (Auliya ar-Rahman) dengan kekasih-kekasih setan (Auliya asy-Syaitan). Sebaliknya, ia mengira setiap yang hitam itu adalah kurma, setiap yang putih itu adalah gajih (lemak). Ia mengira bengkak penyakit sebagai lemak tubuh, dan mengira obat yang bermanfaat sebagai racun.

Tidak ada satu pun di antara golongan-golongan ini yang layak untuk memegang kepemimpinan dalam agama, dan bukan pula tempatnya, kecuali Golongan Pertama. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." [QS. As-Sajdah: 24].

Dalam ayat ini Allah Yang Mahasuci mengabarkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan terhadap ayat-ayat Allah, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Sedangkan kepemimpinan itu sendiri adalah kekuatan dan tekad. Mereka inilah orang-orang yang dikecualikan oleh Allah Yang Mahasuci dari kelompok orang-orang yang merugi. Allah bersumpah demi masa (Al-'Asr) - yang merupakan waktu bagi usahanya orang-orang yang merugi maupun orang-orang yang beruntung - bahwa siapa saja selain mereka yang beriman dan beramal saleh pastilah termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al-‘Ashr: "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3). (Al-Jawab al-Kafi Liman Sa'ala 'an ad-Dawa' asy-Syafi, hal. 82)

Beliau—rahimahullah—juga berkata: "Di antara manusia ada yang memiliki kekuatan ilmiah (teoretis) yang mampu menyingkap jalan, tingkatan-tingkatannya, tanda-tandanya, rintangan-rintangannya, serta tempat-tempat tergelincirnya. Kekuatan ini menjadi yang paling dominan di antara kedua kekuatan yang ada pada dirinya. Namun, ia lemah dalam kekuatan amaliah (praktis); ia mampu melihat hakikat kebenaran, tetapi tidak mengamalkan konsekuensinya. Ia melihat tempat-tempat kebinasaan, hal-hal yang menakutkan, dan bahaya, namun ia tidak berhati-hati dan tidak menjauhinya (Dalam permisalan seperti ini, benarlah ucapan penyair: Kekafiran itu tidak akan bergeser oleh sebuah pemikiran yang lurus...Apabila ia tidak dibersamai dengan lemparan (aksi) yang tepat sasaran...). Ia menjadi seorang ahli fiqih (paham agama) selama amal belum dihadapi. Namun apabila amal telah tiba, ia bersama-sama dengan orang-orang bodoh dalam hal tertinggal (tidak mengamalkan), dan berbeda dengan mereka dalam hal ilmu saja. Kondisi inilah yang mendominasi sebagian besar jiwa manusia yang sibuk dengan ilmu. Adapun orang yang maksum (terjaga) adalah orang yang dijaga oleh Allah, didorong untuk beramal, dan dibukakan mata hatinya sehingga ia mengetahui kesudahan dari segala perkara.

Dan di antara manusia ada pula yang memiliki kekuatan amaliah kehendak (praktis), dan kekuatan ini menjadi yang paling dominan di antara kedua kekuatan pada dirinya. Kekuatan ini menuntutnya untuk berjalan, menempuh rute spiritual, zuhud di dunia, cinta kepada akhirat, serta bersungguh-sungguh dan menyingsingkan lengan baju dalam beramal. Namun, ia buta mata hatinya ketika datang syubhat (kerancuan) dalam akidah, serta penyimpangan-penyimpangan dalam amal, ucapan, dan kedudukan spiritual. Sebagaimana golongan pertama tadi yang lemah akalnya saat datang syahwat. Maka, penyakit orang ini bersumber dari kebodohannya, sedangkan penyakit orang pertama bersumber dari rusaknya kehendak dan lemahnya akal. Ini adalah kondisi mayoritas kaum fakir spiritual dan ahli tasawuf yang menempuh jalan bukan di atas jalur ilmu, melainkan di atas jalur perasaan (dzauq), emosi (wajd), dan kebiasaan semata. Engkau akan melihat salah satu dari mereka buta terhadap apa yang dicarinya; ia tidak tahu siapa yang ia sembah? Dan dengan apa ia menyembah-Nya? Kadang ia menyembah-Nya berdasarkan perasaan dan emosinya, kadang ia menyembah-Nya berdasarkan kebiasaan kaum dan teman-temannya berupa pakaian tertentu, membiarkan kepala terbuka, mencukur jenggot, dan sejenisnya. Kadang pula ia menyembah-Nya dengan apa yang disukai dan diinginkan oleh nafsunya, apa pun bentuknya. Di sinilah terdapat jalan-jalan bercabang dan labirin-labirin penyesatan yang tidak ada yang mampu menghitungnya kecuali Tuhan semesta alam.

Mereka semua ini buta terhadap Tuhan mereka, syariat-Nya, dan agama-Nya. Mereka tidak mengenal syariat dan agama-Nya yang dengannya Dia mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya, di mana Dia tidak akan menerima agama dari siapa pun selain agama tersebut. Sebagaimana mereka juga tidak mengenal sifat-sifat Tuhan mereka yang telah Dia perkenalkan kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan para rasul-Nya, serta mengajak mereka untuk makrifat (mengenal) dan mencintai-Nya melalui jalur tersebut. Maka, orang seperti ini tidak memiliki makrifat terhadap Tuhan dan tidak pula memiliki ibadah yang benar kepada-Nya.

Dan barangsiapa yang memiliki kedua kekuatan ini sekaligus (ilmu dan amal); maka kokohlah perjalanannya menuju Allah, diharapkan ia dapat menembus target, serta menjadi kuat untuk menolak segala pemutus jalan dan penghalang dengan daya dan kekuatan Allah. Karena sesungguhnya pemutus jalan itu sangat banyak, urusannya sangat berat, dan tidak ada yang selamat dari jerat-jeratnya kecuali satu demi satu orang saja. Seandainya bukan karena adanya pemutus jalan dan penyakit-penyakit spiritual tersebut, niscaya jalan ini akan penuh sesak oleh orang-orang yang menempuhnya. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan melenyapkan dan menghilangkannya. Akan tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.

Dan 'waktu'—sebagaimana dikatakan—'adalah pedang, jika engkau tidak memotongnya, maka ia yang akan memotongmu.' Maka, apabila perjalanannya lemah, semangatnya lemah, ilmu tentang jalannya lemah, sedangkan pemutus jalan dari luar maupun dalam sangat banyak lagi kuat; maka itulah puncak ujian, kesengsaraan yang didapati, dan kegembiraan bagi para musuh. Kecuali jika Allah menyelamatkannya dengan rahmat dari-Nya dari arah yang tidak ia sangka-sangka, lalu Allah menggandeng tangannya dan membebaskannya dari cengkeraman para pemutus jalan, dan Allah-lah sebaik-baik pelindung serta pemberi taufik bagi hamba-Nya.

Kekuatan Itu Tempatnya di Hati

Kekuatan adalah amalan hati, dan hati tidak memiliki penguasa atasnya setelah Allah melainkan pemiliknya sendiri. Sebagaimana burung terbang dengan kedua sayapnya, demikian pula manusia terbang dengan semangat dan tekadnya, sehingga semangat itu menerbangkannya ke ufuk tertinggi, bebas dari belenggu-belenggu yang mengikat jasad.

Jika kaum musuh merampas kerajaanku...

Dan seluruh khalayak ramai menyerahkanku...

Maka hati ini tetap berada di antara tulang-tulang rusukku...

Hati ini tidak ikut menyerah bersama tulang rusuk yang menyerah...

Ibnu Qutaibah menukil dari sebagian kitab hikmah: "Orang yang memiliki semangat tinggi, jika ia dijatuhkan ke bawah, jiwanya menolak kecuali untuk tetap naik ke atas. Ia bagaikan kobaran api yang dibalikkan ke bawah oleh pemiliknya, namun ia tetap menolak kecuali bergerak naik ke atas." ('Uyun al-Akhbar, 3/231).

Imam Al-Muhaqqiq "Ibnu al-Qayyim" —rahimahullah— berkata: "Ketahuilah bahwa seorang hamba hanyalah menempuh tahapan-tahapan perjalanan menuju Allah dengan hati dan semangatnya, bukan dengan badannya. Dan takwa pada hakikatnya adalah takwanya hati, bukan takwanya anggota badan. Allah Ta'ala berfirman: 'Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.' (QS. Al-Hajj: 32) Dan Dia berfirman: 'Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.' (QS. Al-Hajj:37) Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Takwa itu ada di sini,' sambil beliau memberi isyarat ke dadanya.

Maka orang yang cerdas (al-kayyis) dapat menempuh jarak perjalanan spiritual dengan benarnya tekad, tingginya semangat, murninya tujuan, dan benarnya niat—disertai amal yang sedikit—berlipat-lipat lebih jauh daripada apa yang ditempuh oleh orang yang kosong dari hal itu meskipun dengan keletihan yang banyak dan safar yang melelahkan. Karena sesungguhnya tekad kuat dan rasa cinta akan melenyapkan keletihan serta memperindah perjalanan. Kelanjutan ke depan dan mendahului (dalam perlombaan) menuju Allah Yang Mahasuci itu hanyalah dicapai dengan semangat; benarnya keinginan, dan tekad kuat. Sehingga pemilik semangat tinggi—meskipun raganya tampak tenang—dapat mendahului orang yang banyak amalnya dengan jarak beberapa tahapan. Jika orang lain menyamainya dalam hal semangat, maka ia akan mendahuluinya dengan amalnya.

Ini adalah pembahasan yang membutuhkan rincian di mana Islam bersesuaian dengan Ihsan. Maka petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rasulullah saw. Beliau menunaikan hak masing-masing dari keduanya secara penuh. Beliau, bersamaan dengan kesempurnaan kehendak dan kondisi spiritualnya bersama Allah, beliau tetap shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak, beliau berpuasa hingga dikatakan beliau tidak pernah berbuka, beliau berjihad di jalan Allah, berbaur dengan para sahabatnya, tidak menutup diri dari mereka, dan tidak meninggalkan satu pun dari amalan sunnah maupun wirid harian demi menghadapi limpahan kondisi spiritual (waridat) yang mana kekuatan manusia biasa akan lemah untuk memikulnya." (Al-Jawabul Kaafi, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

Hidupnya Hati dengan Ilmu dan Tekad Kuat

Sesungguhnya lemahnya kehendak dan pencarian itu bersumber dari lemahnya kehidupan hati. Setiap kali hati itu memiliki kehidupan yang lebih sempurna, maka semangatnya akan lebih tinggi, serta kehendak dan cintanya akan lebih kuat. Karena kehendak dan cinta itu mengikuti kesadaran terhadap apa yang diinginkan dan dicintai, serta keselamatan hati dari penyakit yang menghalangi antara hati dengan apa yang dicari dan diinginkannya.

Maka, lemahnya pencarian dan lesunya semangat itu bisa jadi disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan perasaan, atau bisa jadi karena adanya penyakit yang melemahkan kehidupan hati. Kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak merupakan bukti atas kuatnya kehidupan, sedangkan kelemahan keduanya adalah bukti atas lemahnya kehidupan. Sebagaimana tingginya semangat, benarnya kehendak, dan pencarian merupakan bagian dari kesempurnaan hidup, ia juga menjadi sebab untuk memperoleh kehidupan yang paling sempurna dan paling baik. Karena kehidupan yang baik (al-hayat ath-thayyibah) hanya akan diperoleh dengan semangat yang tinggi, cinta yang jujur, dan kehendak yang murni. Maka seukuran itulah kehidupan yang baik akan diperoleh.

Manusia yang paling hina kehidupannya adalah yang paling rendah semangatnya, serta yang paling lemah cinta dan pencariannya. Bahkan kehidupan binatang ternak lebih baik daripada kehidupannya, sebagaimana dikatakan (dalam syair):

Siang harimu, wahai orang yang tertipu, penuh kelalaian dan kelengahan...

Sedangkan malam harimu adalah tidur, sementara kebinasaan selalu mengintaimu...

Kamu bersusah payah pada perkara yang kelak kamu akan sesali akibat buruknya...

Seperti itulah binatang ternak hidup di dunia...

Kamu merasa senang dengan apa yang fana, dan gembira dengan angan-angan...

Bagaikan orang yang bermimpi, tertipu oleh kelezatan-kelezatan di dalam tidurnya...

Islam Membiasakan Orang Mukmin pada Kekuatan Psikologis:

Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu ia tidak (sempat) mengamalkannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna..." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas—radhiyallahu 'anhuma—dari Nabi saw dalam apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya 'Azza wa Jalla)

Nabi saw bersabda: "Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan jujur (dari dalam hatinya), maka Allah akan menyampaikannya ke tingkatan para syuhada, meskipun ia mati di atas ranjangnya." (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)

Beliau saw bersabda mengenai orang yang telah bersiap-siap untuk berjihad, kemudian kematian menjemputnya: "Sungguh Allah telah menetapkan pahalanya seukuran dengan niatnya." (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa'i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dan sanadnya Shahih).

Beliau saw bersabda berkenaan dengan orang-orang yang tertinggal dari perang Tabuk padahal mereka sangat ingin keluar bersama beliau: "Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang, tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan dan tidak pula melewati suatu lembah, melainkan mereka selalu bersama kalian; mereka tertahan oleh udzur (halangan)." (Muttafaqun 'Alaih)

Beliau saw bersabda: "Tidaklah seorang manusia yang memiliki kebiasaan shalat di malam hari, kemudian ia dikalahkan oleh tidurnya (tertidur), melainkan dicatat baginya pahala shalatnya, dan tidurnya itu menjadi sedekah baginya." (Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Abu Dawud)

Maka urusannya bukanlah pada siapa yang sekadar berdiri shalat malam, melainkan urusannya adalah pada orang yang tidur di atas ranjangnya, kemudian ketika subuh tiba, ia telah mendahului rombongan dengan tingginya semangat, kesucian hatinya, kekuatan keyakinannya, dan kuatnya keikhlasannya. Mengenai hal itu dikatakan dalam syair:

Siapa yang bisa memberiku perumpamaan seperti perjalananmu yang anggun...

Kamu berjalan pelan-pelan namun kamu tiba di urutan pertama...

Alangkah indahnya ucapan penyair saat menyapa para jemaah haji yang telah berangkat melaksanakan haji:

Wahai orang-orang yang berangkat menuju Rumah Allah Al-‘Atiq (Ka'bah)...

Kalian berjalan dengan jasad-jasad kalian, sedangkan kami berjalan dengan ruh-ruh kami...

Sesungguhnya kami menetap karena adanya udzur dan takdir...

Dan barangsiapa yang menetap karena adanya udzur, maka sesungguhnya ia pun telah berangkat (meraih pahala)...

Seorang mukmin terkadang bisa mengungguli yang lain dengan semangatnya yang tinggi, sebagaimana dijelaskan oleh as-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan perkataannya) saw dalam sabdanya: "Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah! Bagaimana bisa satu dirham mengungguli seratus ribu dirham?" Beliau menjawab: "Ada seorang lelaki yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia mengambil salah satunya dan menyedekahkannya. Sementara ada lelaki lain yang memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil dari pinggiran hartanya itu sebesar seratus ribu dirham (untuk disedekahkan)." (Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dan sanadnya Hasan.).

Orang Mukmin yang Memiliki Tekad Kuat Tidak Pernah Puas dengan Kerendahan dan Tidak Ridha Kecuali dengan Perkara-Perkara yang Tinggi

Seorang mukmin yang memiliki semangat tinggi tidak akan memberikan kehinaan, tidak pernah puas dengan hal-hal yang remeh (sia-sia), dan tidak ridha kecuali dengan perkara-perkara yang tinggi lagi mulia:

Aku berkata kepada burung elang saat ia terbang tinggi di angkasa...

Turunlah ke bumi, karena udara di atas sana kering dan gersang...

Burung elang itu menjawabku: Di dalam sayap dan tekadku...

Puncak langit adalah tempat penggembalaan yang subur...

Tempat penggembalaan ini tak diragukan lagi tidak diketahui oleh para penghuni bumi, di mana terdapat beratnya tanah (sifat materialistis) dan ambisi-ambisi duniawi.

Jika kamu berada dalam suatu urusan yang dicita-citakan...

Maka janganlah kamu puas dengan apa yang berada di bawah bintang-bintang...

Sebab, rasa kematian pada perkara yang remeh...

Sama seperti rasa kematian pada perkara yang agung...

Shafiyuddin al-Halyi berkata:

Kelemahan tidak akan tampak dari kami sebelum tercapainya cita-cita...

Meskipun kami melihat kematian ada di dalam angan-angan kami...

Al-Barudi berkata:

Maka bangkitlah menuju punggung-punggung kemuliaan dengan mendaki tinggi...

Sebab burung pemangsa (al-baz) tidak pernah tinggal kecuali di puncak-puncak gunung yang tinggi...

Dan tinggalkanlah perkara yang paling rendah demi mengejar yang paling jauh...

Karena di dalam lubuk lautan terdapat hal yang mencukupi daripada sekadar air sisa di ceruk batu...

Bisa jadi orang yang berani lagi pantang menyerah (Al-Fatik al-Alwi: Orang yang sangat berani lagi keras/tegas) berhasil mendapatkan hajatnya...

Sementara kelemahan membuat orang yang penakut lagi pasrah hanya terduduk lesu...

Sesungguhnya orang yang bersemangat tinggi mengetahui bahwa jika dirinya tidak menambah sesuatu (manfaat) di dunia ini, maka ia akan menjadi beban yang berlebih di atasnya. Oleh karena itu, ia tidak ridha untuk menempati pinggiran kehidupan, melainkan ia harus berada di dalam inti dan esensinya sebagai anggota yang memberikan pengaruh:

Dan tidak ada kebaikan bagi seseorang dalam kehidupan...

Apabila ia dihitung sebagai barang rongsokan yang terbuang...

Ali bin Muhammad, seorang penulis berkata:

Jika suatu hari berlalu dan aku tidak menanam sebuah kebaikan...

Serta tidak memetik suatu ilmu, maka hari itu bukanlah bagian dari umurku...

Sesungguhnya orang yang bersemangat besar adalah jenis manusia yang semangatnya—dengan daya dan kekuatan Allah—mampu menantang apa yang dianggap mustahil oleh orang lain. Ia mampu menuntaskan—dengan taufik dari Allah—apa yang dirasa berat oleh sekelompok orang yang memiliki kekuatan. Ia pun menerobos—dengan bertawakal kepada Allah—segala kesulitan dan kengerian, tanpa menoleh kepada apa pun:

Ia memiliki semangat-semangat yang tidak ada ujung bagi perkara besarnya...

Sedangkan semangatnya yang paling kecil pun lebih agung daripada masa (waktu)...

Oleh karena itu dikatakan: "Pada hakikatnya tidak ada istilah berlebihan dalam hal tingginya semangat," karena semangat-semangat yang tinggi itu selalu mendambakan kemajuan, selalu meloncat, konsisten untuk mendaki dan naik, serta tidak mengenal kenyamanan dan keheningan.

Maka jadilah seorang lelaki yang kakinya berada di atas tanah...

Namun puncak semangatnya berada di bintang Tsurayya (bintang di langit tertinggi)...

Bahkan, semangatnya melampaui bintang Tsurayya, dan tidak pernah puas dengan yang berada di bawah derajat surga yang tertinggi.

Umar bin Abdul Aziz—rahimahullah Ta'ala—berkata kepada Dakkin ketika ia datang kepadanya: "Wahai Dakkin, sesungguhnya aku memiliki jiwa yang selalu mendamba. Jiwaku terus mendambakan kepemimpinan, dan ketika aku telah meraihnya, ia mendambakan surga."

Di antara hal ini adalah firman Nabi Yusuf 'alaihis salam: "Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS. Yusuf: 101)

Imam Ibnu al-Jauzi —rahimahullah— berkata: "Barangsiapa yang menjalankan pemikiran jernihnya, maka pemikiran itu akan menunjukkan kepadanya untuk mencari kedudukan yang paling mulia, dan melarangnya dari bersikap ridha terhadap kekurangan dalam setiap kondisi.”

Abu ath-Thayyib al-Mutanabbi telah berkata:

'Dan aku tidak melihat suatu cacat pada celaan manusia...'

'Seperti kurangnya orang-orang yang sebenarnya mampu untuk mencapai kesempurnaan...'

Maka seyogianya bagi orang yang berakal untuk sampai pada batas akhir dari apa yang dimungkinkannya:

Seandainya pendakian ke langit itu bisa digambarkan bagi anak cucu Adam, niscaya kamu akan melihat bahwa keridhaannya terhadap bumi termasuk kekurangan yang paling buruk. Seandainya kenabian itu bisa diraih dengan ijtihad (usaha keras), niscaya kamu akan melihat orang yang teledor dalam meraihnya berada di tempat yang paling bawah.

Hanya saja, karena hal itu tidaklah mungkin, maka seyogianya ia mencari hal yang mungkin dilakukan. Rekam jejak yang indah di mata para ahli hikmah adalah: keluarnya jiwa menuju batas akhir kesempurnaan yang mungkin baginya, maka ia akan berada dalam lautan ilmu dan amal.

Dan aku akan menjelaskan sebagian dari hal itu, di mana hal yang disebutkan dapat menunjukkan kepada hal yang terlewatkan:

Adapun dalam urusan badan: Maka rupa fisik tidaklah masuk ke dalam wilayah usaha manusia; melainkan yang masuk ke dalam usahanya adalah memperbagus dan menghiasinya. Maka sangat buruk bagi orang yang berakal jika menelantarkan dirinya sendiri. Syariat pun telah memberikan peringatan atas keseluruhan urusan melalui sebagian contohnya: Syariat memerintahkan untuk memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, serta melarang memakan bawang putih dan bawang merah mentah karena aromanya. Maka seyogianya ia mengomparasikan perkara lainnya dengan hal tersebut, lalu mencari batas akhir kebersihan dan puncak hiasan diri. Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dapat diketahui kedatangan beliau dari aroma minyak wanginya, maka beliau adalah batas akhir dalam hal kebersihan dan kesucian diri.

Dan aku tidak memerintahkan untuk berlebihan dalam penolakan keduniawian (asketisme) yang digunakan oleh orang yang mengidap penyakit waswas, melainkan sikap pertengahan itulah yang terpuji... "

Hingga beliau—rahimahullah—berkata:

"...Dan seyogianya ia bersungguh-sungguh dalam berniaga dan mencari nafkah agar ia memiliki kelebihan di atas orang lain, dan bukan orang lain yang memiliki kelebihan di atas dirinya, supaya ia mencapai batas akhir dari hal itu yang tidak menghalanginya dari menuntut ilmu. Kemudian seyogianya ia mencari batas akhir dalam ilmu.

Di antara kekurangan yang paling buruk adalah taklid (ikut-ikutan tanpa dalil). Jika semangatnya kuat, maka semangat itu akan menaikkannya hingga ia memilih satu mazhab untuk dirinya sendiri, dan tidak bersikap fanatik buta pada mazhab seseorang, karena orang yang bertaklid adalah orang buta yang dituntun oleh orang yang diikutinya. Kemudian seyogianya ia mencari batas akhir dalam makrifatullah (mengenal Allah Ta'ala) dan bermuamalah dengan-Nya. Kesimpulannya, janganlah ia meninggalkan satu kebajikan pun yang mungkin diraih melainkan ia mesti meraihnya, karena sifat qana'ah (merasa cukup dalam hal prestasi spiritual/kebaikan, berpuas diri) adalah kondisinya orang-orang yang hina:

Maka jadilah seorang lelaki yang kakinya berada di atas tanah...

Namun puncak semangatnya berada di bintang Tsurayya...

Seandainya kamu mampu melampaui setiap orang dari kalangan ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah! Karena mereka dahulu adalah laki-laki (manusia) dan kamu pun seorang laki-laki (manusia). Tidaklah orang yang terduduk itu tertinggal melainkan karena rendahnya semangat dan kenistaannya.

Dan ketahuilah bahwa kamu berada di medan perlombaan, sementara waktu terus dirampas, maka janganlah kamu bersandar pada kemalasan. Tidaklah orang yang tertinggal itu luput melainkan karena kemalasan, dan tidaklah orang yang meraih keberhasilan itu mendapatkannya melainkan dengan kesungguhan dan tekad yang kuat.

Sesungguhnya semangat itu benar-benar mendidih di dalam hati bagaikan mendidihnya apa yang ada di dalam periuk. Sebagian ulama salaf telah berkata:

'Aku tidak memiliki harta selain serangan balik (semangatku) yang berulang...'

'Maka dengannya aku hidup dari ketiadaan...'

'Jiwaku merasa cukup dengan apa yang direzekikan...'

'Namun semangat-semangatku meregang maju menuju tempat yang tinggi...' " (Sayd al-Khatir: hal. 189 - 192)

Dan di antara bentuk bergejolaknya semangat di dalam dada adalah berlarinya sang pemilik semangat menuju kemuliaan dengan penuh ketakutan (bergegas):

Jika kemuliaan itu disebut, niscaya kamu akan mendapatinya...

Ia menjadikan kemuliaan sebagai sarung kemudian menjadikannya sebagai selendang...

Kuatnya Tekad dan Semangat Menunjukkan Keagungan Iman

Orang-orang yang memiliki semangat keimanan yang besar akan saling berlomba menuju kemuliaan, mereka tidak pernah letih, tidak pernah bosan, dan tidak pernah berputus asa:

"Dan tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, melainkan orang-orang yang sesat."

Rasa putus asa telah menemukan jalannya kepada para lelaki...

Namun kepadamu, rasa putus asa tidak akan menemukan jalan...

Bisa jadi ada seorang individu, karena keluhuran perbuatannya...

Dan tingginya akhlaknya, nilainya sebanding dengan satu generasi...

Mereka di tengah-tengah manusia bagaikan mata uang yang langka, atau bagaikan belerang merah (barang yang sangat langka/berharga). Tepat bagi mereka sabda Rasulullah saw: "Kalian akan dapati manusia itu bagaikan seratus ekor unta, di mana seseorang hampir tidak mendapati satu pun unta tunggangan (rahilah) di antaranya." (Diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya. Al-Rahilah: Unta pilihan yang mulia dari jenis unta untuk tunggangan dan selainnya, ia memiliki sifat-sifat yang sempurna.). Mereka di antara manusia adalah segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan sedikit dari orang-orang yang kemudian:

Dahulu mereka ketika pergi jumlahnya sedikit...

Namun kini mereka telah menjadi lebih langka daripada yang sedikit...

Satu orang di antara mereka senilai dengan satu umat, dan seorang individu dari mereka senilai dengan seribu orang:

Ia dihitung senilai seribu orang dari lelaki di zamannya...

Akan tetapi dalam hal kecemerlangan, ia adalah satu-satunya...

Dan aku tidak melihat permisalan manusia yang begitu jauh perbedaannya...

Menuju kemuliaan, hingga seribu orang dihitung senilai satu orang saja...

Oleh karena itu, bencana menjadi sangat besar dengan hilangnya mereka, dan musibah menjadi merata dengan kematian mereka:

Ketahuilah bahwa musibah itu bukanlah hilangnya harta...

Bukan pula matinya seekor kambing ataupun unta...

Akan tetapi musibah yang sebenarnya adalah hilangnya orang yang merdeka...

Yang mana dengan kematiannya, ikut mati pula manusia yang banyak...

Penyair lain berkata:

Matinya Qais bukanlah kematian satu orang saja...

Akan tetapi ia adalah runtuhnya bangunan suatu kaum...

Sebagian ulama salaf berkata: "Meninggalnya seorang ulama adalah sebuah retakan di dalam Islam, yang tidak dapat ditutupi oleh apa pun."

Di antara apa yang dikatakan dalam bait ratih (ratapan) atas wafatnya Umar bin Abdul Aziz—rahimahullah:

Kebaikan-kebaikannya merata, maka kematitannya pun membawa duka yang merata...

Maka manusia di dalam menghadapinya, semuanya mendapatkan pahala...

Tempat perkabungan manusia atasnya adalah satu...

Di setiap rumah terdengar suara isak tangis dan rintihan kesedihan...

Lisan orang yang tidak pernah engkau beri kebaikan pun ikut memujimu...

Karena engkau memang sangat layak untuk mendapatkan pujian...

Kebaikan-kebaikannya telah mengembalikan kehidupannya kepadanya...

Maka ia seolah-olah dibangkitkan karena penyebaran kebaikannya...

Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu berkata: "Suara Al-Qa'qa'—yakni bin Amru At-Taimi—di dalam pasukan, lebih baik daripada seribu orang lelaki."

Dan ketika Amru bin Al-Ash—Radhiyallahu 'Anhu—meminta bantuan pasukan tambahan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab—Radhiyallahu 'Anhu—dalam pembebasan Mesir, Umar menulis surat kepadanya: "Amma ba'du: Sesungguhnya aku telah membantumu dengan empat ribu orang lelaki, di mana setiap seribu orang dipimpin oleh seorang lelaki yang kedudukannya sebanding dengan seribu orang: Al-Zubair bin Al-Awwam, Al-Miqdad bin Amru, Ubadah bin Al-Samit, dan Maslamah bin Khalid."

Amirul Mukminin Umar bin Khattab—Radhiyallahu 'Anhu—pada suatu hari berkata kepada para sahabatnya: "Berangan-anganlah kalian!" Maka seorang lelaki berkata: "Aku berangan-angan jika rumah ini dipenuhi oleh emas, lalu aku menginfakannya di jalan Allah 'Azza wa Jalla." Umar berkata lagi: "Berangan-anganlah kalian!" Maka lelaki lain berkata: "Aku berangan-angan jika rumah ini dipenuhi oleh mutiara, perhiasan, dan permata, lalu aku menginfakannya di jalan Allah—'Azza wa Jalla—dan aku bersedekah dengannya." Kemudian Umar berkata lagi: "Berangan-anganlah kalian!" Mereka menjawab: "Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan, wahai Amirul Mukminin?" Umar berkata: "Akan tetapi aku berangan-angan jika rumah ini dipenuhi oleh lelaki-lelaki seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah." (Dikeluarkan oleh penulis kitab Al-Safwah, dan dikeluarkan oleh Al-Fadha'ili dengan tambahan: "Maka seorang lelaki berkata: 'Kamu tidak meminta sesuatu yang kurang bagi Islam,' Umar menjawab: 'Itulah yang aku inginkan.' ").

Abu Ja'far Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali Al-Baqir berkata: "Setiap kaum memiliki manusia pilihannya, dan sesungguhnya manusia pilihan dari Bani Umayyah adalah Umar bin Abdul Aziz, sesungguhnya ia akan dibangkitkan sebagai satu umat seorang diri."

Al-Asma'i berkata: Ketika Qutaibah bin Muslim mengatur barisan pasukan menghadapi bangsa Turki, dan urusan mereka mencemaskannya, ia bertanya tentang Muhammad bin Wasi'. Maka dikatakan: "Dia ada di sana, di sayap kanan pasukan, sedang memegang busurnya, sambil menggerak-gerakkan jarinya menunjuk ke arah langit." Qutaibah berkata: "Satu jari itu lebih aku cintai daripada seratus ribu pedang yang terhunus dan pemuda yang tampan lagi gagah."

Terkadang, orang yang memiliki semangat tinggi dikaitkan dengan keajaiban-keajaiban, bahkan melampauinya:

Yahya bin Ma'in, imam para ahli hadis, berkata: "Aku melihat di Mesir ada tiga keajaiban: Sungai Nil, Piramida, dan Said bin Ufair." Dia adalah seorang Imam, Hafiz, العلامة (sangat alim), ahli sejarah yang terpercaya, Abu Usman al-Mishri. Beliau termasuk lautan ilmu, dan cukuplah bagimu bukti kehebatannya ketika Yahya bin Ma'in sampai terkesima olehnya!

Ibnu al-Mubarak ditanya tentang siapakah Al-Jama'ah? Beliau menjawab: "Abu Bakar dan Umar." Dikatakan kepadanya: "Abu Bakar dan Umar telah wafat." Beliau berkata: "Fulan dan fulan." Dikatakan: "Fulan dan fulan telah wafat?" Ibnu al-Mubarak berkata: "Abu Hamzah al-Sukkari adalah sebuah Jama'ah." (Beliau adalah Muhammad bin Maimun al-Marwazi, seorang yang terpercaya (tsiqah), memiliki keutamaan, dari thabaqat (generasi) ketujuh. Para ulama hadis jama'ah meriwayatkan darinya. Beliau tidak pernah menjual gula (sukkar), melainkan dinamakan Al-Sukkari karena manisnya ucapan beliau. Lihat Siyar A'lam al-Nubala' (7/386), dan lihat Syarh al-Sunnah (1/216)).

Sudut Pandang Kontemporer Tentang Pengaruh Iman

Umat-umat terdahulu telah menyadari pengaruh iman dalam benarnya tekad dan kekuatannya, sehingga mereka mulai memperdalam keimanan pada hal-hal tertentu untuk memberikan kekuatan kepada individu dalam perjalanan hidupnya. Hal itu setelah mereka memperhatikan bahwa manusia yang tidak beriman kepada suatu tujuan akan tersesat dalam kehidupan, bahkan ia bisa menghancurkan kehidupan tersebut dan menghancurkan dirinya sendiri bersamanya. Oleh karena itu, (Anton Chekhov) berkata: "Manusia itu sesuai dengan apa yang ia imani."

Anthony Robbins berkata: "Kita—biasanya—berpikir tentang iman sebagai sebuah akidah atau ajaran, dan begitulah kondisi kebanyakan keyakinan. Sesungguhnya iman adalah ungkapan tentang prinsip, keyakinan, atau emosi pembimbing apa pun yang dapat membekali seseorang dengan makna kehidupan dan membimbingnya di dalam kehidupan tersebut. Maka keyakinan-keyakinan adalah penyaring yang telah disiapkan sebelumnya dan diatur untuk pandangan kita terhadap dunia. Ia mirip dengan komandan bagi otak. Ketika kita mempercayai dengan bentuk yang selaras tentang kebenaran sesuatu, maka hal itu kedudukannya sebagai isyarat bagi otak yang mengabarkan kepadanya tentang bagaimana menggambarkan apa yang sedang terjadi. Dahulu Casals beriman kepada musik dan seni, dan hal inilah yang memberikan keindahan, keteraturan, dan kemuliaan pada kehidupannya. Ini adalah sumber yang dapat terus membekalinya dengan mukjizat-mukjizat di setiap hari. Hal itu dikarenakan keimanannya pada kekuatan yang perkasa dari seninya, yang memberinya kekuatan dengan bentuk yang hampir tidak bisa dipercaya; keyakinan-keyakinannya telah mengubahnya setiap hari dari seorang lelaki tua yang lelah menjadi seorang genius yang penuh dengan vitalitas."

John Stuart Mill pernah menulis dengan mengatakan: "Sesungguhnya satu orang yang menikmati keimanan memiliki kekuatan yang sebanding dengan sembilan puluh sembilan orang yang tidak beriman. Hal itu secara spesifik merupakan rahasia di balik dibukanya pintu keunggulan oleh iman. Sebab, iman mengirimkan perintah langsung ke sistem sarafmu. Ketika kamu beriman bahwa sesuatu itu benar adanya, maka kamu menjadi berada dalam suatu kondisi di mana sesuatu ini benar-benar menjadi nyata. Seandainya kamu berinteraksi dengan iman secara efektif, maka sangat mungkin saat itu iman menjadi kekuatan paling kokoh untuk menciptakan kebaikan dalam hidupmu. Di sisi lain, keyakinan-keyakinan yang membatasi kemampuan-kemampuanmu bisa menjadi penghancur dengan kekuatan yang sama seperti keyakinan-keyakinan yang membangkitkan kekuatan. Agama-agama di sepanjang sejarah telah meniupkan kekuatan pada diri jutaan manusia, dan memberi mereka kemampuan untuk melakukan hal-hal yang mereka sendiri tidak mengira memiliki kemampuan untuk mendatangkannya. Iman membantu kita untuk mengeluarkan kemampuan-kemampuan laten yang paling kokoh di kedalaman diri kita, serta menciptakan dan mengarahkan kemampuan-kemampuan ini untuk mendukung hasil-hasil yang kita harapkan.

Iman adalah peta dan kompas yang membimbing kita menuju tujuan-tujuan kita, dan dialah yang memberikan kita rasa percaya diri atas sampainya kita ke tujuan tersebut. Tanpa adanya kemampuan untuk menghadirkannya, maka individu-individu akan menjadi lemah sama sekali, dan mereka menjadi seperti perahu uap yang tidak memiliki mesin atau kemudi di dalamnya. Dengan adanya keyakinan-keyakinan kuat yang membimbing, kamu akan memiliki kemampuan untuk bertindak dan menciptakan dunia yang kamu inginkan untuk hidup di dalamnya. Sebagaimana iman juga membantumu untuk melihat apa yang kamu inginkan, dan memberimu aktivitas (energi) untuk mendapatkannya.

Pada kenyataannya, tidak ada kekuatan yang lebih kuat daripada iman untuk mengarahkan manusia. Pada asalnya, sesungguhnya sejarah manusia adalah sejarah keimanan pada diri manusia. Mereka yang telah mengubah jalannya sejarah adalah mereka sendiri yang telah mengubah keyakinan-keyakinan dan perilaku kita. Oleh karena itu, kita pertama-tama harus memulai dengan mengubah keyakinan-keyakinan kita; agar kita bisa meniru keunggulan, kemudian kita harus meniru keyakinan orang-orang yang telah mewujudkan kesuksesan." (Dan sejarah Islam kita sangat kaya dengan contoh-contoh luar biasa dalam hal ini).

Setiap kali bertambah apa yang kita ketahui tentang perilaku manusia, maka bertambah pula pengetahuan kita tentang pengaruh luar biasa dari iman terhadap kehidupan kita. Dalam banyak kondisi, pengaruh ini menantang model-model logis yang dipercayai oleh kebanyakan kita di dalamnya. Akan tetapi, sudah sangat jelas bahwa bahkan pada level fisiologis, keyakinan-keyakinan (representasi internal yang harmonis) menguasai kenyataan. Belum lama berselang, telah dilakukan sebuah studi luar biasa tentang skizofrenia (kebelah kepribadian). Salah satu kasus studi adalah seorang wanita yang menderita skizofrenia. Biasanya, kadar gula dalam darahnya benar-benar normal. Akan tetapi, ketika ia meyakini (beriman) bahwa dirinya mengidap penyakit diabetes, maka kondisi fisiologisnya berubah total untuk berubah menjadi kondisi fisiologis seorang pasien penderita diabetes. Oleh karena itu, keyakinan-keyakinannya telah menjadi suatu kenyataan yang terjadi.

Atas pola yang sama seperti itu, ada banyak studi di mana seorang yang dihipnotis disentuh dengan sepotong es dengan doktrin bahwa es itu adalah sepotong logam yang panas. Pada semua kasus, sebuah luka lepuh muncul di tempat sentuhan tersebut. Maka pengaruh di sini adalah bagi apa yang diyakini oleh orang tersebut, bukan bagi kenyataan yang ada—yaitu komunikasi langsung yang memutuskan dari sistem saraf—karena otak secara sederhana melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.

Kebanyakan dari kita telah mendengar tentang efek plasebo (obat kosong). Mereka yang diresepkan sebuah obat dengan doktrin bahwa obat itu memiliki pengaruh tertentu, mereka benar-benar merasakan pengaruh ini padahal mereka hanyalah meminum sebuah pil kosong dari obat ini yang tidak memiliki khasiat aktif apa pun. Norman Kyizinz yang mempelajari dengan dirinya sendiri tentang apa yang dimiliki oleh iman berupa kekuatan dalam menyingkirkan penyakitnya berkata: "Obat-obatan tidaklah menjadi perkara yang darurat pada setiap waktu, adapun iman, maka ia darurat (wajib) pada setiap waktu."

Di antara studi yang mengagumkan tentang efek plasebo adalah studi yang dilakukan pada sekelompok pasien yang mengidap penyakit maag (luka lambung). Mereka telah dibagi menjadi dua kelompok: Kelompok pertama diberikan obat yang dikabarkan kepada mereka bahwa obat itu akan menyembuhkan mereka secara total dari penyakit mereka. Kelompok kedua diberikan obat yang dikabarkan kepada mereka bahwa obat itu adalah obat uji coba dan hanya diketahui sedikit tentang pengaruhnya. Tujuh puluh persen dari kelompok pertama sembuh dengan bentuk yang besar dari penyakit maag tersebut. Sementara tidak ada yang mewujudkan hasil serupa dari kelompok kedua kecuali hanya 25% saja. Pada kedua kondisi tersebut, para pasien diberikan obat yang tidak memiliki khasiat pengobatan sama sekali. Perbedaan satu-satunya adalah sistem keyakinan (iman) yang mereka adopsi. Dan di sana ada studi-studi lain yang lebih mengagumkan dari hal itu, yaitu studi-studi yang banyak di mana para pasien diberikan obat yang telah diketahui bahwa obat itu memiliki pengaruh yang membahayakan, namun bersamaan dengan itu mereka dikabarkan bahwa mereka akan mendapatkan pengaruh yang positif; maka saat itu mereka tidak terkena pengaruh berbahaya sama sekali.

Studi-studi yang dilakukan oleh Dr. Andrew Weil telah menunjukkan bahwa para pecandu narkoba mendapatkan pengaruh yang cocok dengan ekspektasi mereka secara total. Ia mendapati bahwa ia bisa menenangkan dan menenteramkan seseorang dengan memberinya obat amfetamin (yang aslinya stimulan), dan ia bisa membuat orang lain merasa gembira (aktif) ketika memberinya obat barbiturat (yang aslinya penenang). Dr. Weil mengakhiri dengan mengatakan: "Sesungguhnya sihir narkoba itu terletak di dalam akal penggunanya, bukan di dalam obat itu sendiri," yaitu pesan-pesan yang selaras dan harmonis yang dikirimkan ke otak dan sistem saraf.

Dalam semua kasus ini, iman (keyakinan) adalah satu-satunya elemen konstan (tetap) yang memiliki pengaruh terbesar terhadap hasil-hasil yang dicapai. Meskipun iman memiliki kekuatan yang begitu besar, tidak ada kekuatan misterius yang gaib dalam proses ini. Sebab, iman tidak lain adalah sebuah kondisi psikologis, atau representasi internal yang mengendalikan perilaku.

Iman bisa menjadi keyakinan yang membangkitkan kekuatan mengenai apa yang mungkin terjadi, atau keyakinan bahwa kita akan sukses dalam sesuatu atau mewujudkan sesuatu yang lain. Sebaliknya, iman juga bisa menjadi keyakinan yang membawa pada kelemahan, kegagalan, dan tidak tercapainya kesuksesan; yaitu (anggapan) bahwa sisi-sisi kekurangan kita sudah sangat jelas, tidak mungkin dikalahkan, dan teramat besar.

Jika kamu meyakini kesuksesan, maka kamu akan memiliki kemampuan untuk mewujudkannya. Dan jika kamu memercayai kegagalan, maka pesan-pesan ini akan cenderung membawamu kepada kegagalan. Kedua keyakinan tersebut sama-sama memiliki kekuatan yang mahabesar. Adapun pertanyaan yang wajib kita ajukan adalah: Mana yang lebih baik bagi kita, dan bagaimana cara kita memperolehnya?

Pilihan dalam Keyakinan

Lahirnya keunggulan dimulai dengan kesadaran bahwa kita memiliki pilihan terhadap apa yang kita yakini. Biasanya kita tidak melihat perkara ini dari sudut pandang tersebut, padahal iman (keyakinan) bisa menjadi sebuah pilihan yang kita ambil secara sadar. Kamu bisa memilih keyakinan-keyakinan yang mendukungmu dalam keunggulan, atau keyakinan-keyakinan yang membatasi kemampuan-kemampuanmu. Yang terpenting adalah kamu memilih keyakinan-keyakinan yang memotivasi kesuksesan, hasil-hasil yang kamu harapkan, serta menyingkirkan keyakinan-keyakinan yang menghambatmu.

Kesalahpahaman terbesar di antara manusia mengenai iman adalah anggapan mereka bahwa iman itu merupakan konsep pemikiran yang kaku (statis), atau terisolasi dari amal, perbuatan, dan hasil. Konsep ini adalah konsep yang paling jauh dari hakikat kebenaran Islam. Sebab, iman adalah pintu yang mengantarkan menuju keunggulan, karena iman sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekakuan (statis).

Iman kita menentukan seberapa besar kemampuan kita yang dapat kita hadirkan atau kita gunakan, dan dialah yang mengizinkan aliran ide-ide mengalir atau menghentikannya.

Bayangkan jika kamu mengalami situasi ini: Seseorang berkata kepadamu: "Tolong ambilkan garam." Di tengah jalanmu menuju ruangan sebelah, kamu berkata pada dirimu sendiri: "Tetapi aku tidak tahu di mana garam itu berada." Setelah kamu menghabiskan beberapa menit untuk mencarinya, kamu berteriak seraya berkata: "Aku tidak bisa menemukan garam itu!" Saat itulah, orang tadi datang dan mengambil garam dari atas rak yang berada tepat di hadapan matamu, lalu ia berkata: "Lihatlah wahai orang bodoh, garam ini ada di depan matamu, dalam kondisi ini seolah-olah seekor ular telah menggigitmu."

Ketika kamu mengatakan bahwa kamu tidak bisa menemukan garam, maka kamu telah memberikan isyarat kepada otakmu bahwa kamu tidak melihatnya (dalam ilmu psikologi hal ini disebut dengan skotoma / titik buta). Dan ingatlah bahwa setiap pengalaman manusia, segala sesuatu yang kamu dengar, kamu ucapkan, kamu rasakan, kamu cium aromanya, dan kamu cicipi rasanya, semuanya tersimpan di dalam otakmu. Oleh karena itu, ketika kamu mengatakan bahwa kamu tidak bisa mengingat, maka kamu benar-benar tepat dalam hal itu. Sebaliknya, ketika kamu mengatakan bahwa kamu bisa mengingat, maka dengan itu kamu memberikan perintah kepada sistem sarafmu untuk membuka pintu-pintu gerbang yang mengarah ke bagian otak yang dapat membekalimu dengan jawaban-jawaban yang kamu inginkan.

"Mereka yang mewujudkan sesuatu, melakukan hal itu karena keimanan mereka terhadap kemampuan untuk mewujudkannya." (Virr Gill)

Sekali lagi, apakah keyakinan-keyakinan itu? Ia adalah orientasi dari konsep-konsep yang ada dan diatur sebelumnya, yang menyaring komunikasi kita dengan diri kita sendiri secara kontinu (terus-menerus).

Dari mana datangnya keyakinan-keyakinan tersebut? Mengapa sebagian orang memiliki keyakinan yang mendorong mereka menuju kesuksesan, sementara yang lain memiliki keyakinan yang menggiring mereka pada kegagalan? Jika kita ingin meniru keyakinan-keyakinan yang membawa kepada kesuksesan, maka hal pertama yang perlu kita ketahui adalah sumber dari keyakinan-keyakinan tersebut.

"Yang paling tinggi dari keyakinan-keyakinan ini adalah Risalah Robbaniyyah (Wahyu Ilahi) yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, dan ia adalah undang-undang kebahagiaan yang hakiki."

Setelah itu, barulah datang keyakinan-keyakinan dan sumber-sumber lainnya, di antaranya:

Sumber-Sumber Lain untuk Kesuksesan atau Kegagalan:

Sumber Pertama: Lingkungan (Environment)

Lingkungan adalah tempat atau komunitas sosial di mana siklus kegagalan melahirkan kegagalan, dan kesuksesan melahirkan kesuksesan terjadi dalam bentuk yang tidak pernah berakhir. Sesungguhnya frustrasi dan kemiskinan (kehilangan) bukanlah sumber keburukan yang hakiki dari kehidupan di lingkungan kumuh (miskin), karena manusia bisa mengalahkan keduanya. Akan tetapi, mimpi buruk yang sebenarnya terletak pada pengaruh lingkungan terhadap impian-impian dan keyakinan-keyakinan. Jika semua yang kamu lihat adalah kegagalan dan frustrasi, maka akan sulit bagimu untuk memiliki representasi internal yang membawa kepada kesuksesan.

Sebab, peniruan (imitation) adalah perkara yang kita semua lakukan sepanjang waktu. Jika kamu tumbuh besar di lingkungan yang didominasi oleh kekayaan dan kesuksesan, maka akan mudah bagimu untuk meniru kekayaan dan kesuksesan tersebut. Adapun jika kamu tumbuh besar di lingkungan yang didominasi oleh kemiskinan, maka di sinilah kamu akan membentuk model khusus dirimu tentang apa yang mungkin untuk dilakukan.

Albert Einstein berkata: "Sedikit sekali orang yang memiliki kemampuan untuk mengekspresikan pandangan-pandangan objektif yang berbeda dari penilaian-penilaian awal (prasangka) lingkungan sosial mereka."

Dalam pelatihan-pelatihan yang aku adakan mengenai peniruan tingkat lanjut (advanced modeling), aku melakukan sebuah eksperimen, di mana kami menemukan orang-orang dari kalangan yang hidup di jalanan kota-kota besar, kemudian kami bekerja untuk mengevaluasi sistem keyakinan dan strategi mental mereka. Kami menyajikan makanan dan limpahan rasa cinta kepada mereka, kemudian kami meminta mereka untuk menceritakan kepada kelompok tentang kehidupan mereka; apa yang mereka rasakan terhadap kondisi mereka saat ini? Dan apa alasan—dalam pandangan mereka—di balik berjalannya urusan-urusan seperti kondisi mereka sekarang?

Kemudian kami mengadakan komparasi (perbandingan) antara mereka dengan orang-orang yang mengubah kehidupan mereka secara total, meskipun mereka menghadapi masalah emosional dan kesehatan yang sangat berat. Dalam salah satu sesi yang diadakan baru-baru ini, ada seorang pemuda yang berusia dua puluh delapan tahun, dia kuat, cerdas, sehat secara fisik, dan tampan. Apa rahasia di balik kesengsaraannya dan hidupnya di jalanan, sementara W. Mitchell—yang tidak memiliki banyak kemampuan fisik untuk mengubah hidupnya—justru menikmati kebahagiaan yang meluap-luap?

Mitchell tumbuh besar di lingkungan yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk dijadikan teladan, contoh-contoh dari orang-orang yang mengalahkan kesulitan-kesulitan besar demi mencapai kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Hal itu menciptakan rasa percaya diri pada dirinya: "Dan hal itu mungkin pula terjadi pada kondisiku."

Sebaliknya, pemuda ini—mari kita sebut saja namanya "John"—tumbuh besar di lingkungan yang tidak ada satu pun keteladanan di dalamnya. Ibunya memiliki reputasi yang buruk, ayahnya dipenjara atas tuduhan pembunuhan, dan ketika ia berusia delapan tahun, ayahnya menyuntiknya dengan suntikan heroin. Secara pasti, lingkungan ini memainkan peran dalam keyakinannya tentang apa yang bisa dilakukan—yang tidak lain hanyalah sekadar bertahan hidup—dan bagaimana cara mewujudkan hal itu melalui hidup di jalanan, mencuri, dan menyingkirkan rasa sakit dengan mengonsumsi narkoba. Ia meyakini bahwa orang lain selalu mencoba memanfaatkannya selama ia tidak berhati-hati terhadap mereka, tidak ada seorang pun yang mencintai orang lain, dan seterusnya.

Pada malam itu, kami bekerja bersama lelaki ini, dan kami mengubah keyakinan-keyakinannya. Sebagai hasilnya, ia tidak lagi kembali hidup di jalanan, sebagaimana ia juga berhenti dari narkoba. Ia sekarang bekerja, memiliki teman-teman, dan hidup di lingkungan yang baru dengan keyakinan-keyakinan yang baru, serta mewujudkan hasil-hasil yang baru. Dan inilah tepatnya yang dilakukan oleh Islam di dalam masyarakat Jahiliyah, di mana Islam memberikan mereka kekuatan keimanan psikologis, serta memberikan mereka ajaran-ajaran yang benar dan metode-metode yang baik yang mengubah pola-pola kehidupan mereka.

Dr. Benjamin Bloom dari Universitas Chicago mempelajari seratus kasus sukses dari kalangan atlet muda, musisi, dan pelajar. Ia merasa takjub ketika menemukan bahwa mayoritas dari orang-orang genius yang masih muda ini tidak memulai kehidupan mereka dengan menunjukkan keunggulan yang memukau. Sebaliknya, kebanyakan dari mereka menerima bimbingan, dukungan, dan perhatian, kemudian setelah itu mereka mulai berkembang. Keyakinan akan kemungkinan bahwa mereka bisa mewujudkan keunggulan telah muncul, khususnya sebelum tampak tanda-tanda bahwa mereka memiliki bakat yang nyata.

Sesungguhnya lingkungan bisa menjadi pembangkit laten yang paling kuat bagi keyakinan-keyakinan melalui interaksi pergaulan [dan ia disebut sebagai keyakinan yang diperbolehkan]. Akan tetapi, lingkungan bukanlah satu-satunya pembangkit. Jikalau urusannya hanya seperti itu, niscaya kita akan hidup di dunia yang statis tidak berubah; di mana orang-orang kaya tidak mengenal kecuali kekayaan, dan orang-orang miskin tidak akan pernah keluar dari kemiskinan mereka.

"Maka di sana ada lingkungan-lingkungan yang membuat frustrasi atau rusak seperti lingkungan Jahiliyah atau lingkungan yang penuh syahwat, dan di sana ada lingkungan-lingkungan yang agung dan menjadi pelopor seperti lingkungan Islam yang benar."

Dan dalam beberapa kesempatan, ada pengalaman-pengalaman dan metode-metode lain untuk belajar, yang mana hal itu bisa pula menjadi pembangkit bagi keyakinan.

Sumber Kedua: Peristiwa-Peristiwa (Events)

Peristiwa-peristiwa—baik kecil maupun besar—bisa membangkitkan iman (keyakinan) terhadap berbagai hal. Di sana ada peristiwa-peristiwa dalam kehidupan seseorang yang tidak akan pernah bisa dilupakan bagi bangsa Amerika, misalnya peristiwa penyerangan World Trade Center (WTC) dan kematian Presiden Kennedy. Bagi banyak orang, peristiwa ini adalah perkara yang mengubah sudut pandang mereka terhadap dunia.

Atas pola yang sama, bagi kebanyakan kita ada pengalaman-pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang masa, pengalaman yang memiliki dampak yang sangat kuat pada diri kita sampai-sampai ia tercetak di dalam memori kita untuk selamanya. Pengalaman-pengalaman inilah yang membentuk keyakinan yang bisa mengubah kehidupan kita.

Gerakan Islam, misalnya, telah menghadapi situasi-situasi dan kezaliman-kezaliman yang tidak bisa dilupakan pada hari dieksekusinya Profesor Abdul Qadir Audah dan rekan-rekannya, dieksekusinya Sayyid Quthb dan rekan-rekannya, serta pengadilan-pengadilan militer dan penangkapan yang berulang-ulang. Tidak diragukan lagi bahwa peristiwa-peristiwa ini membuka mata terhadap ngerinya bencana yang menimpa umat, yang mana hal itu harus diperhitungkan. Sebagaimana ia juga membuka mata terhadap kekuatan-kekuatan global yang siap untuk mendukung sistem apa pun yang membantu mengacaukan umat dan menyingkirkan orang-orang yang ikhlas di dalamnya serta mereka yang bekerja untuk kepemimpinan dan kebangkitan umat.

Sumber Ketiga: Pengetahuan (Knowledge)

Pengalaman langsung dianggap sebagai salah satu bentuk pengetahuan. Menonton film, membaca, dan menyaksikan dunia sebagaimana yang digambarkan oleh orang lain adalah metode-metode lain untuk meraih pengetahuan. Dan pengetahuan termasuk metode yang luar biasa untuk menghancurkan belenggu-belenggu lingkungan yang membatasi kemampuan individu. Bagaimanapun suramnya dunia di sekitarmu, maka dengan membaca pencapaian-pencapaian orang lain, kamu bisa menciptakan keyakinan-keyakinan yang mengizinkanmu untuk meraih kesuksesan.

"Oleh karena itu, Islam mendorong kita untuk menuntut ilmu dan menjadikannya sebagai kewajiban atas setiap muslim laki-laki dan muslimah perempuan, serta menjadikannya sebagai jalan menuju surga. Rasulullah saw bersabda: 'Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.'" (Kutipan dari Al-Fatawa al-Kubra karya Ibnu Taimiyyah—Juz 1 hal. 100).

Maka kapan saja Allah mengajarkannya ilmu yang bermanfaat, akan berpasangan pula ketakwaan bersamanya seukuran dengan hal tersebut, dan kapan saja ia bertakwa kepada-Nya, Allah akan menambah ilmunya, dan begitulah seterusnya.

Cobalah bagaimana kamu bersikeras atas pengetahuan:

Sejak bertahun-tahun yang lalu, aku terikat dengan kebiasaan membaca selama tiga puluh menit setiap hari, yang mana di kemudian hari tampak jelas bahwa kebiasaan itu adalah hal paling berharga yang aku pelajari dalam hidupku. Pada suatu hari, salah seorang guruku berkata kepadaku:

"Sesungguhnya membaca sesuatu yang memiliki manfaat dan nilai akan menambahkan sesuatu yang baru kepadamu; maka membaca pada hakikatnya lebih penting daripada makanan. Guruku juga berkata: Kamu boleh melewatkan waktu makan, tetapi jangan pernah biarkan membaca terlewatkan darimu."

Oleh karena itu, cobalah untuk memberi makan dirimu dengan membaca di kala kamu mengarungi usahamu dalam tantangan mental. Bacalah materi yang memberimu manfaat dalam memperoleh strategi-strategi baru yang membawamu untuk mewujudkan pola baru yang telah kamu pilih bagi kehidupanmu. Dan ingatlah bahwa para pemimpin yang hebat adalah mereka yang juga pembaca yang hebat.

Imam Abu al-Faraj bin al-Jauzi—rahimahullah Ta'ala—berkata: "Aku merenungkan sebuah keajaiban, yaitu bahwa segala sesuatu yang bernilai tinggi lagi penting itu panjang jalannya, dan banyak keletihan dalam meraihnya.

Sesungguhnya ilmu, karena ia merupakan sesuatu yang paling mulia, tidak akan diperoleh kecuali dengan keletihan, begadang, pengulangan, serta meninggalkan kelezatan dan kenyamanan. Sampai-sampai sebagian ahli fiqih berkata: 'Aku melewatkan waktu bertahun-tahun dalam kondisi sangat menginginkan bubur harisah namun aku tidak mampu membelinya, karena waktu penjualannya bertepatan dengan waktu mendengarkan pelajaran (majelis ilmu)'...".

Oleh karena itu, Ibnu al-Qayyim—rahimahullah Ta'ala—berkata: "Adapun kebahagiaan ilmu, maka ia tidak akan diwariskan kepadamu kecuali dengan pengerahan kemampuanmu, benarnya pencarian, dan kesahihan niat."

Dan alangkah baiknya orang yang berkata dalam hal itu (melalui syair):

Maka katakanlah kepada orang yang mengharapkan perkara-perkara yang tinggi...

Tanpa adanya ijtihad (usaha keras): Kamu telah mengharapkan hal yang mustahil...

Penyair lain berkata:

Seandainya bukan karena adanya kesulitan, niscaya seluruh manusia telah menjadi pemimpin...

Sifat dermawan itu mendatangkan kefakiran, dan keberanian menerobos musuh itu mematikan...

Dan barangsiapa yang semangatnya mendambakan perkara-perkara yang tinggi; maka wajib atasnya untuk mengikatkan diri pada kecintaan terhadap jalan-jalan agama, dan ia adalah kebahagiaan. Walaupun pada permulaannya jalan itu tidak terlepas dari bentuk kesulitan, rasa benci (berat bagi nafsu), dan gangguan. Dan bahwa nafsu itu kapan saja dipaksa atasnya, lalu digiring baik dalam keadaan taat maupun terpaksa kepadanya, serta bersabar atas kesusahan dan kekerasannya, niscaya jalan itu akan mengantarkannya menuju taman-taman yang indah, tempat kedudukan yang benar, dan kedudukan yang mulia.

Ia akan mendapati setiap kelezatan yang berada di bawah derajatnya bagaikan permainan seorang anak kecil dengan burung pipit jika dibandingkan dengan kelezatan para raja. Maka pada saat itulah kondisi pemiliknya sebagaimana yang dikatakan (dalam syair):

Dan dahulu aku melihat bahwa hasratku telah berakhir bersamaku...

Menuju batas akhir yang tidak ada lagi setelahnya jalur bagiku...

Namun ketika kita bertemu dan aku menyaksikan keindahannya...

Aku menjadi yakin bahwa sesungguhnya aku dulunya hanyalah bermain-main saja...

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, Yahya bin Abi Katsir berkata: "Ilmu tidak akan diperoleh dengan kenyamanan badan." Dan telah dikatakan pula: "Barangsiapa yang mencari kenyamanan, maka ia akan meninggalkan kenyamanan."

Wahai orang yang ingin sampai kepada sang kekasih, apakah menuju kepadanya...

Tanpa adanya kesulitan ada sebuah jalan untuk selamanya?!

Seandainya bukan karena kebodohan mayoritas manusia terhadap manisnya kelezatan ini dan agungnya kedudukannya, niscaya mereka akan saling menebas dengan pedang demi memperebutkannya. Akan tetapi, kelezatan ini dikelilingi oleh tirai dari hal-hal yang dibenci, dan mereka terhalang darinya oleh tirai kebodohan, agar Allah mengkhususkan kelezatan itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari kalangan hamba-hamba-Nya, dan Allah adalah pemilik karunia yang mahabesar.

Imam Asy-Syafi'i—rahimahullah Ta'ala—berkata: "Wajib atas para penuntut ilmu untuk mengerahkan batas akhir kemampuan mereka dalam memperbanyak ilmunya, bersabar atas setiap hambatan di kala mencarinya, mengikhlaskan niat karena Allah Ta'ala dalam memahami ilmunya baik secara tekstual (nas) maupun kontekstual (istinbath), serta berharap kepada Allah Ta'ala dalam meminta pertolongan atasnya."

Janganlah kamu mengira kemuliaan itu adalah kurma yang kamu tinggal memakannya...

Kamu tidak akan mencapai kemuliaan sampai kamu menjilat empedu kesabaran...

Dahulu para ahli ilmu—rahimahumullah Ta'ala—selalu menemui berbagai kesulitan dan kekerasan dalam perolehan ilmu mereka. Imam Ibnu Hisyam An-Nahwi, penulis kitab Al-Qathr dan Al-Mughni serta kitab lainnya, memberikan nasihat kepada para penuntut ilmu agar bersabar atas kesulitan-kesulitan ilmu dan perolehannya, karena hal itu merupakan syarat dalam meraih target yang mulia lagi berharga. Beliau berkata (dalam syair):

Dan barangsiapa yang bersabar demi ilmu maka ia akan beruntung meraihnya...

Dan barangsiapa yang meminang wanita cantik, ia harus bersabar atas pengorbanan maharnya...

Dan barangsiapa yang tidak menghinakan nafsunya dalam mencari kedudukan yang tinggi...

Meskipun sebentar, niscaya ia akan hidup di sepanjang masanya sebagai saudara kehinaan...

Sumber Keempat: Pengalaman atau Keahlian (Experiences)

Pengalaman merupakan sarana yang melaluinya hasil-hasil di masa depan bisa diwujudkan. Di antara metode yang paling terjamin untuk menciptakan keyakinan terhadap kemampuan-kemampuanmu dalam melakukan sesuatu adalah dengan melakukan sesuatu ini satu kali saja. Jika kamu sudah bisa sukses satu kali, maka akan menjadi jauh lebih mudah bagimu untuk menciptakan keyakinan akan kemampuanmu untuk mewujudkannya sekali lagi.

Aku mengenal seorang lelaki yang diminta untuk menyelesaikan tesis magisternya dalam waktu yang sangat singkat. Maka tidak ada pilihan lain baginya melainkan ia menyelesaikannya dalam waktu yang pendek tersebut. Kemudian ia membawanya dengan penuh kegembiraan kepada dosen pembimbing untuk dibaca, diberikan catatan, dan kemudian diujikan.

Namun, ia dikejutkan oleh dosen pembimbing yang menolaknya dan bersikap tidak adil kepadanya. Setelah argumen yang panjang, mahasiswa tersebut meminta kepada dosen pembimbing untuk memberikan pandangannya pada setiap bab dari bab-bab tesis tersebut dan menuliskan catatan-catatannya yang harus dikerjakan. Mahasiswa itu berkata: "Aku akan merevisi dan menulisnya kembali."

Tiba-tiba dosen pembimbing melakukan hal itu dan membalikkan bab tersebut dari atas ke bawah. Dosen pembimbing mengira bahwa pekerjaan itu membutuhkan waktu kira-kira satu bulan. Maka mahasiswa tersebut mengambil bab tersebut, pergi ke perpustakaan, dan duduk di salah satunya sepanjang hari penuh. Di sana ia menulis draf bab tersebut, kemudian ia begadang di malam hari untuk menyalin bersih dan merapikannya.

Tiba-tiba saja ia pergi menemui dosen pembimbing pada pagi hari di hari kedua dalam kondisi telah menyempurnakan tugas perubahan sebagaimana yang diinginkan oleh dosen pembimbing! Maka dosen pembimbing terkesima, dan ia melakukan hal yang sama pada bab-bab berikutnya sebagaimana yang ia lakukan pada bab pertama, semuanya di bawah keterkesimaan dosen pembimbing dan keheranannya, karena mahasiswa tersebut bersikeras untuk membuktikan eksistensi dirinya.

Ia pun meraih gelar magister, kemudian meraih gelar doktor, kemudian menulis riset-riset kenaikan pangkat untuk gelar-gelar akademik ketika hal itu diminta darinya dalam waktu-waktu dan periode yang tidak bisa dipercaya! Dan sebab di balik hal itu adalah kerasnya tekad yang pertama serta kesuksesan yang diwujudkan dengan kecepatan yang luar biasa saat menempuh magister.

Dan alangkah benarnya ucapan orang yang berkata (dalam syair):

Obatmu ada pada dirimu namun kamu tidak melihatnya...

Dan penyakitmu berasal dari dirimu namun kamu tidak menyadarinya...

Kamu mengira bahwa kamu hanyalah sebuah jasad yang kecil...

Padahal di dalam dirimu, terlipat alam semesta yang paling besar...

Aplikasi Praktis dari Hakikat dan Nilai-Nilai Tema Melalui Aktivitas-Aktivitas Berikut:

Pertama: Aktivitas Pendamping (Intrakurikuler)

  1. Menyelenggarakan lokakarya (workshop) di dalam kelas untuk menyusun elemen-elemen kekuatan dan cara memperolehnya.
  2. Berbicara di depan saudara-saudaranya mengenai pentingnya iman dalam membangkitkan kekuatan manusia yang terpendam dan luar biasa.

Kedua: Aktivitas Pendukung (Ekstrakurikuler)

  1. Melakukan introspeksi diri (muhasabah) untuk melihat sejauh mana elemen-elemen kekuatan yang telah disebutkan sebelumnya ada pada dirinya sendiri.
  2. Memotivasi saudara-saudara dan rekan-rekannya untuk berkomitmen terhadap apa yang telah disebutkan sebelumnya.
  3. Memimpin lokakarya (workshop) untuk mendiskusikan sarana-sarana yang dapat membantu dirinya dan rekan-rekannya agar memiliki elemen-elemen kekuatan tersebut.
  4. Berbicara di depan kumpulan saudaranya mengenai pentingnya iman dalam membangkitkan kekuatan manusia yang luar biasa.
  5. Mengumpulkan contoh tokoh-tokoh yang diubah oleh iman menjadi pribadi yang bersemangat tinggi (bercita-cita mulia), lalu membukukannya untuk dibagikan.
  6. Menyampaikan ceramah tentang sumber-sumber keyakinan [yang benar maupun yang batil] pada manusia, cara seorang mukmin membebaskan diri dari keyakinan yang salah, serta syarat-syarat untuk mengambil manfaat dari keyakinan yang benar.
  7. Mengumpulkan contoh tokoh-tokoh yang diubah oleh iman dan berhasil memancarkan potensi-potensi mereka.
  8. Menyampaikan ceramah tentang pentingnya dan mendesaknya mengubah pandangan (keyakinan) salah yang negatif, serta menggantinya dengan pandangan yang benar lagi positif.
  9. Mengumpulkan kata-kata bijak serta peribahasa dalam bentuk puisi maupun prosa yang berkaitan dengan tema ini ke dalam sebuah pamflet (brosur) untuk dibagikan.
  10. Merencanakan sebuah daurah (pelatihan/training) terkait tema ini.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri

Kesatu: Pertanyaan Esai (Uraian)

  1. Apa kelahiran yang hakiki bagi manusia? Sebutkan sebab-sebabnya dan elemen-elemen kuncinya!
  2. Jelaskan orbit yang menjadi landasan iman seorang mukmin!
  3. Sebutkan jenis-jenis manusia berdasarkan orbit tersebut!
  4. Di manakah letak kekuatan yang sesungguhnya pada diri manusia?
  5. Sebutkan disertai penjelasan mengenai sebab-sebab yang menjadi landasan hidupnya hati!
  6. Terangkan pengaruh Islam dalam membiasakan seorang mukmin untuk memiliki kekuatan jiwa yang besar!
  7. Apa dampak yang dihasilkan dari tingginya semangat (cita-cita) seorang mukmin?
  8. Apa dalil atas keagungan seorang mukmin karena imannya? Dan apa pengaruh iman ini terhadap jiwa seorang mukmin?
  9. Sebutkan sumber-sumber keyakinan manusia, baik yang benar maupun yang tidak benar!
  10. Bagaimana lingkungan bisa menjadi salah satu sumber keyakinan pada manusia?
  11. Apakah lingkungan dapat dimanfaatkan dalam membangun keyakinan-keyakinan yang benar pada manusia? Mengapa?
  12. Jelaskan pengaruh target (tujuan) dalam membentuk keyakinan dan konsep berpikir pada manusia!
  13. Bagaimana cara meluruskan pemahaman-pemahaman salah yang telah menetap di dalam akal manusia akibat beberapa peristiwa tertentu?
  14. Kapan pengetahuan dapat menjadi sumber dari keyakinan yang lurus?
  15. Bagaimana cara memperoleh pengetahuan? Sebutkan syarat-syarat yang wajib dipenuhi untuk hal tersebut!
  16. Setelah beberapa lama, kamu menemukan bahwa sumber pengetahuan yang kamu miliki ternyata tidak benar. Bagaimana kamu menyikapinya? Dan bagaimana kamu membantu orang lain agar terbebas dari sumber pengetahuan yang tidak benar tersebut?
  17. Jelaskan peran pengalaman umum dan khusus dalam membangun keyakinan manusia!
  18. Apa saja bahaya yang ditimbulkan akibat menetapnya keyakinan-keyakinan yang salah karena suatu pengalaman?
  19. Apakah kamu melihat dirimu sebagai orang yang memiliki semangat tinggi? Mengapa?
  20. Apa sebab-sebab yang membuatmu menarik diri dan enggan berinteraksi dengan berbagai peristiwa sebagaimana mestinya?
  21. Metode apa yang kamu pandang cocok untuk membangkitkan dirimu dari keterpurukannya?
  22. Inovasikan sebuah rencana yang kamu persiapkan untuk dirimu sendiri guna mengatasi kebiasaan atau keyakinan salah yang sudah lama ada pada dirimu!
  23. Apa nasihatmu bagi orang yang mengetahui kebenaran namun tidak bergerak untuk membelanya?

Kedua: Pertanyaan Objektif

  1. Tuliskan kata (Dapat Diterima), (Tidak Dapat Diterima), (Baik), atau (Istimewa) di depan pernyataan yang sesuai di bawah ini:
    • Seorang lelaki yang memiliki mata hati (bashirah), ilmu, dan pengetahuan tentang kebenaran, tetapi karena kelemahan fisiknya, ia menganggap dirinya tidak mampu untuk membela kebenaran. (. . . . . . . .)
    • Seorang ulama yang setelah sekian lama sibuk dalam dunia dakwah, lebih memilih untuk menarik diri (uzlah) dari manusia karena merasa tidak ada lagi manfaat yang bisa diharapkan dari mereka. (. . . . . . . .)
    • Seorang pekerja biasa berkata: "Sesungguhnya perbaikan keadaan itu dimulai dari perbaikan hati dan jiwa." (. . . . . . . .)
    • Seorang guru berpandangan bahwa manusia tidak akan bisa diatur melainkan hanya dengan logika kekerasan (hukuman fisik). (. . . . . . . .)
    • Seorang lelaki yang prinsipnya dalam melakukan perbaikan adalah: Perbaiki dirimu sendiri, serulah orang lain, dan bantulah ia untuk memperbaiki dirinya sendiri. (. . . . . . . .)
    • Seorang lelaki yang mencintai orang-orang yang berjuang demi kebenaran, dan berdoa kepada Allah agar menolong serta mengukuhkan kedudukan mereka, tetapi ia takut jika terlihat bersama mereka. (. . . . . . . .)

Catatan-Catatan Penting:

  1. Pertanyaan-pertanyaan evaluasi dan pengukuran mandiri di atas, baik yang berbentuk esai maupun objektif, berfungsi untuk mengukur dan mengevaluasi tujuan perilaku prosedural pada ranah kognitif beserta tingkatannya. Hal ini dikenal sebagai evaluasi dan pengukuran prestasi belajar atau tes prestasi belajar.
  2. Evaluasi dan pengukuran tujuan ranah afektif (sikap) dilakukan melalui pengamatan guru terhadap ketertarikan dan respons para peserta didik, yang dinilai dari sisi perhatian, kesungguhan, antusiasme, serta penerapan apa yang telah mereka pelajari, sekaligus sejauh mana mereka mencapai proses interaktif ini.
  3. Evaluasi dan pengukuran tujuan ranah psikomotorik (keterampilan) dilakukan dengan mengamati tingkat performa peserta didik terhadap keterampilan yang menjadi target melalui cara berbicara, menulis, dan praktik langsung.
  4. Evaluasi dan pengukuran aktivitas dilakukan melalui pengamatan terhadap interaksi dan performa peserta didik pada aktivitas pendamping selama sesi berlangsung, serta aktivitas pendukung yang bersifat menguatkan dan memperkokoh. Setiap peserta didik diperkenankan memilih aktivitas yang sesuai bagi dirinya untuk dilaksanakan selama hari-hari dalam seminggu.
  5. Pengukuran dan evaluasi yang menggunakan metode pengamatan (observasi) dan pemantauan agar dapat mencapai tujuannya, harus dilakukan melalui lembar pengamatan dan pemantauan. Di dalamnya dicatat daftar hal-hal yang ingin diukur dan dievaluasi, di mana pada setiap target disediakan kotak skala penilaian dari (0) sampai (5).
    • Skala (0 dan 1) berarti: Kurang
    • Skala (2) berarti: Dapat Diterima
    • Skala (3) berarti: Baik
    • Skala (4) means: Baik Sekali
    • Skala (5) berarti: Istimewa

Contohnya adalah seperti lembar penilaian berikut:

Lembar Evaluasi Interaksi dan Performa (Pengamatan dan Pemantauan)

No

Hal-Hal yang Ingin Dievaluasi dari Peserta Didik

0

1

2

3

4

5

Kurang

Kurang

Dapat Diterima

Baik

Baik Sekali

Istimewa

1

Perhatian dan ketertarikannya: dari sisi kepedulian, kesungguhan, dan antusiasme

2

Respons dan kepatuhannya

3

Penerapan nilai-nilai pada dirinya

4

Performanya dalam aktivitas pendamping (intrakurikuler)

5

Performanya dalam aktivitas pendukung (ekstrakurikuler)

6

Performanya di dalam kelompoknya (bagiannya)

7

Kehadirannya dalam pertemuan-pertemuan

8

Persiapan mentalnya

9

Penyampaian materi/sesinya

10

Pembayaran iuran koperasi karyawan

11

Kontribusi (kedermawanan) dan pengorbanan

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat