Al Wa'yul Amni Was Siyasi
AL WA’YU
(Kepekaan Terhadap Ancaman Dakwah)
1. Mukadimah
Alhamdulillah,
segala puji milik Allah, Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta. Shalawat
dan salam semoga tercurah untuk Rasulullah saw beserta keluarga para sahabat
dan pengikut setia di jalan dakwahnya sampai hari kiamat.
Da’wah
ilallah adalah masyru’ rabbani (proyek dari Allah) sepanjang zaman dan setiap
ruang, dan para dai adalah para pelaksana proyek yang sangat besar itu. Dan
telah menjadi sunnatullah bahwa dalam pelaksanaan proyek besar ini akan
berhadapan dengan tantangan-tantangan besar, terutama dari kekuatan yang telah
mapan dan hendak dirubah oleh gerakan dakwah ini. Tantangan dan ujian itu
demikian berat dan besar namun ia tidak boleh menyebabkan berhenti dan
tumbangnya dakwah, untuk dapat terus menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan
melintasi rentang waktu yang tidak berbatas. Tantangan-tantangan dakwah
seharusnya dirubah menjadi sarana efektif bagi proses pematangan kader-kader dakwah
agar berkualitas unggul dan berdaya tahan prima.
Pertarungan dahsyat di medan dakwah
antar haq dan bathil, mengharuskan kader-kader dakwah memiliki strategi yang
baik dalam mempertahankan aset-aset dakwah yang sangat mahal dari segala bentuk
ancaman yang akan membahayakan masa depan perjalanan dakwah. Ditinjau dari
obyek ancaman dakwah, maka ancaman itu dapat dikelompokkan pada:
a. Ancaman terhadap
risalah (esensi) dakwah
- Ancaman
terhadap dai (aktivis/pemimpin) dakwah
- Ancaman
terhadap mad’u (pendukung/pengikut) dakwah
- Ancaman terhadap wasa’il (sarana dan fasilitas) dakwah
Ditinjau dari sumber ancaman, dapat
dibedakan menjadi dua jenis ancaman yaitu:
- Ancaman Eksternal, seperti dari orang-orang kafir
dan musyrik
- Ancaman Internal, seperti yang ditimbulkan oleh kaum
munafik dan sejenisnya.
Kepekaan
kader dakwah dalam melindungi kelangsungan dakwah agar terus berkembang hingga
akhir zaman inilah yang dikenal dengan al
wa’yu al amni atau al hiss al amni.
2. Landasan Syar’iy
- Firman Allah swt.
“Maka
tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani
“Hai orang-orang yang beriman,
bersiap-siaplah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok,
atau majulah bersama-sama! (Qs. An Nisa: 71)
“Maka suruhlah salah seorang
di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia
lihat makanan-makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu
untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali
menceritakan halmu kepada seorang pun.” (Qs. Al Kahfi: 19)
- Hadits Nabi Muhammad SAW
Perintah
Nabi Muhammad kepada kaum muslimin Makkah untuk berhijrah ke Habsyi, karena
tekanan Quraisy Makkah yang semakin memberatkan kaum muslimin. Pergilah kalian
ke Habsyi karena di
Jabir
bin Abdillah ra berkata: Rasulullah SAW berkata kepada para hujjaj di mauqif
(tempat mereka beristirahat): “Adakah
seseorang yang membawa kami ke kaumnya, karena orang-orang Quraisy melarangku
menyampaikan firman Tuhanku” (HR. At Titmidzi)
- Qaidah Fiqhiyyah
“Dar’ul mafasid muqaddamun ala
jalbil-mashalih” Artinya:
Menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mendapatkan keuntungan.
3. Taujih Rabbani dalam menghadapi ancaman
Ketika tekanan terhadap aktivitas dakwah
semakin kuat, dan semakin membahayakan dakwah Nabi Muhammad pada sekitar tahun
kelima kenabian, Allah swt memberikan taujih kepada kaum muslimin dengan
menurunkan surah Al Kahfi, yang memuat tiga buah kisah mendalam tentang
perlunya menyelamatkan dakwah Islam dari fitnah kaum kafir. Tiga kisah itu
adalah:
a. Kisah Ashabul kahfi
Kisah
ini adalah kisah anak-anak muda yang menyelamatkan agamanya dari dominasi kufr,
ketika mereka merasakan ancaman besar terhadap aqidahnya yang bertentangan
dengan aqidah raja yang zhalim. Gua menjadi pilihan mereka ketika tidak ada tempat lain
yang bisa menyelamatkan agamanya. Inilah hijrah penyelamatan agama, seperti
halnya hijrah kaum muslimin ke Habsyi.
Firman Allah: “(Ingatlah)
tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa:
“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi
kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini. (Qs. Al Kahfi: 10)
Tiga ratus tahun setelah mereka berada di dalam gua itu,
pelajaran tentang kepekaan mendeteksi bahaya yang mengancam aqidah, mereka
tunjukkan pada saat mereka mencari makanan dengan uang yang mereka bawa. Pesan
itu adalah: Wal Yatalaththaf, berlemah lembutlah, berhati hatilah, dan
jangan sampai ada orang yang merasakan keanehan pada diri mereka.
Status waspada terhadap keadaan yang belum dipahami
dengan baik tetap mereka pegang, agar dapat menyelamatkan keyakinan mereka.
b.
Kisah Musa dan Khidhr
Pelajaran
penting dalam kisah ini adalah bahwa faktor-faktor perubah untuk suatu masalah
tidak selalu terukur secara kuantitatif seperti yang ada dalam faktor zahir
semata, masih ada faktor X yang masih tersembunyi yang dapat membalikkan
kesimpulan, dari faktor yang terlihat itu. Kasus perahu yang dirusak; secara
zahir akan merugikan pemilik perahu itu, namun ada faktor tersembunyi yang
membuktikan bahwa dengan cara dirusak itulah perahu itu dapat terselamatkan
dari raja zalim yang merampas perahu-perahu nelayan yang bagus.
Kisah
anak belia yang dibunuh, secara zahir adalah kejahatan terhadap hak hidup
manusia, namun dalam kisah itu ada faktor tersembunyi yang dengan pembunuhan
itu, terselamatkanlah anak dan orang tuanya sekaligus dari perbuatan durhaka di
kemudian hari. Sebuah tembok miring yang berada di sebuah kampung yang pelit,
ternyata di bawahnya tersimpan kekayaan yang berlimpah untuk anak yatim, agar terjaga
sampai mereka dewasa.
Kisah-kisah
ini mengajak kita untuk tidak hanya berpikir realistis, kuantitatif semata, ada
kenyataan di balik realita yang harus dicermati dengan seksama dan penuh
waspada. Wallahu a’lam.
c.
Kisah Dzul-Qarnain dan Ya’juj dan Ma’juj
Kisah ini memberikan beberapa pelajaran berharga, yaitu:
1. Tumbuhnya kesadaran masyarakat akan adanya ancaman bahaya Ya’juj dan
Ma’juj, sehingga mereka merasakan perlunya tembok penyekat yang aman. Dan untuk
kebutuhan ini mereka siap mengeluarkan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan
tembok raksasa. Sebab tanpa kesadaran mereka akan adanya bahaya, maka mereka
tidak akan pernah berpikir tentang tembok raksasa, apalagi sampai mengeluarkan
dana. QS. 18/Al Kahfi: 94
2.
Melibatkan dengan aktif anggota masyarakat untuk bersama-sama
membangun tembok itu dalam membentengi diri mereka dari kejahatan Ya’juj dan
Ma’juj, sehingga mereka menjadi berdaya, dan merasa memiliki tembok raksasa
itu. QS. 18/Al Kahfi: 95
3.
Pembuatan tembok baja yang kuat yang mampu menyekat dan
mengurung pembuat kerusakan sehingga tidak dapat melakukan kejahatannya,
sehingga bumi ini dapat betul-betul dinikmati oleh orang-orang yang beriman dan
beramal shalih. Peristiwa ini mengingatkan kita akan perlunya perlindungan
fisik/material yang mampu melindungi keshalihan masyarakat dari ancaman
kejahatan eksternal. QS. 18/Al Kahfi: 96
4.
Tembok raksasa itu
bukanlah segala-galanya, karena ia hanya menangkal serangan eksternal. Kewaspadaan tetap harus ditumbuhkan untuk
mengantisipasi penyimpangan internal.
4. Taujih Nabawi dalam menghadapi ancaman
Rasulullah saw sangat hati-hati dalam
menjaga kelangsungan dakwah ini agar dapat terus bertahan dan berkembang sampai
akhir zaman. Salah satu contoh al wa’yul-amni yang sangat jelas adalah dalam
peristiwa hijrah ke Madinah. Hijrah Nabi ke Madinah adalah perintah Allah, yang pasti
mendapat lindungan Allah. Tetapi dalam peristiwa itu Rasulullah saw melakukan
perencanaan dan proses perjalanan yang penuh perhitungan.
Tengah hari
Rasulullah menemui Abu Bakar agar menyertainya hijrah ke Madinah setelah turun
izin dari Allah untuk berhijrah, pada saat yang sama terjadi kebulatan tekad
orang Quraisy untuk membunuh Nabi. Malam itu rumah Nabi sudah di kepung kafir
Quraisy. Rasulullah keluar rumah tanpa mereka ketahui, menuju ke rumah Abu
Bakar yang sudah menyiapkan kendaraan dan perlengkapan jalan termasuk mencarter
Abdullah bin Uraiqith Ad Dailiy untuk menunjukkan jalan pintas ke Madinah.
Nabi dan Abu
Bakar berangkat hijrah, dengan menelusuri jalan Madinah-Yaman, rute yang tidak
lazim dilalui orang, sehingga mereka tiba di gua Tsur, dan menyuruh penunjuk
jalan segera kembali ke Makkah untuk menyampaikan pesan rahasia Abu Bakar
kepada Abdullah, putranya. Tiga malam Nabi dan Abu Bakar bermalam di gua itu,
ditemani oleh Abdullah yang menjadi pengamat suasana Makkah pada siang harinya,
untuk diinformasikan kepada Nabi pada malamnya.
Kafir Quraisy
Makkah kelimpungan karena gagal membunuh Nabi, dan Nabi sudah tidak ada di
Makkah, mereka mengejar ke arah Makkah-Madinah, tetapi tidak menemukan apa-apa,
kemudian ke arah Makkah-Yaman, hingga mereka sampai di mulut gua Tsur. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali
sarang laba-laba yang memenuhi gua itu, tetapi yang di dalam gua melihat
mereka.
Ketika dirasa
sudah aman Nabi dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan ke Madinah. Rasulullah
mengajarkan al wa’yul-amni untuk standar dakwah Islam bagi umatnya. Berbeda
dengan apa yang dilakukan Umar bin Khathab ra yang menantang kafir Quraisy Mekah
ketika ia berangkat hijrah ke Madinah.
5. Taujih Salafushshalih dalam menghadapi ancaman
Umar
bin Khaththab ra berkata: “Janganlah kamu
membicarakan sesuatu yang tidak kamu butuhkan, dan kenalilah musuhmu,
waspadailah sahabat-sahabatmu kecuali al amin (yang dapat dipercaya), dan tidak
akan bisa dipercaya kecuali orang yang takut kepada Allah, dan janganlah kamu
berjalan bersama orang fajir (durhaka) karena kamu nanti akan belajar
kecurangannya, jangan sekali-kali kau buka rahasiamu kepadanya, dan janganlah
kamu memusyawarahkan perasaanmu kecuali dengan orang-orang yang takut kepada
Allah swt. (diriwayatkan oleh Abu Nuaim, dalam Hilyah. I. 55 ) Wallahu
a’lam
Comments
Post a Comment