Bekal Dakwah (Musthafa Masyhur)

Mukadimah: Dan di Atas Jalan Dakwah... Kita Membutuhkan Bekal

Setiap musafir (orang yang melakukan perjalanan) di jalan mana pun pasti harus membawa bekal berupa segala hal yang ia butuhkan dalam perjalanannya. Bekal tersebut berfungsi untuk mempersiapkan faktor-faktor penunjang agar ia dapat melanjutkan perjalanan dan mewujudkan tujuan yang menjadi target dari perjalanannya. Selain itu, ia juga harus memperhitungkan hal-hal yang mungkin akan dihadapi di tengah jalan, yang boleh jadi bisa menyebabkan perjalanannya terputus sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan, menjauhkannya dari tujuan, atau paling tidak menghambat langkahnya.

Dan jalan dakwah adalah segala sesuatu dalam kehidupan seorang dai (penyeru) kepada Allah. Jalan ini adalah jalan yang paling utama untuk mendapatkan perhatian terkait bekal yang diperlukan, demi melindungi diri dari menyimpang dari jalan, terputus dan berhenti, atau terhambat dan tersandung. Hal ini karena dampak yang ditimbulkan dari perkara tersebut adalah kerugian yang nyata, serta hilangnya kebaikan yang besar dan kemenangan yang agung.

Bekal ini pertama-tama tercermin dalam iman yang kuat dan takwa kepada Allah—dan takwa adalah sebaik-baik bekal. Kemudian disusul oleh faktor-faktor pendukung lainnya, seperti teman yang saleh, serta para penunjuk jalan yang mengarahkan, memberikan pengalaman, ujian, dan hal-hal lain yang dapat memperbarui energi dan tekad, serta menghindarkan diri dari penyimpangan dan kesalahan.

Sebagai dalil atas keharusan dan pentingnya bekal ini, kita katakan bahwa jika sebuah mobil milik musafir kehabisan bahan bakar di tengah jalan dan tidak diisi ulang, maka mobil itu akan menjadi seolah-olah seperti sebongkah besi yang tidak dapat membantunya bergerak satu langkah pun. Demikian pula orang yang menapaki jalan dakwah; jika bekalnya berkurang atau habis tanpa ada pembaruan dan peningkatan, maka pemiliknya akan menjadi seolah-olah seperti jasad yang mati lagi sakit, yang tidak mampu bergerak.

Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

"Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?" (QS. Al-An'am: 122).

Serta firman-Nya yang Mahatinggi:

"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya." (QS. Al-Anfal: 24).

Sesungguhnya bekal yang berupa iman dan takwa kepada Allah ini akan memancarkan mata air kebaikan dari dalam jiwa, membangkitkan potensi, serta mengasah semangat dan tekad. Dengan demikian, pergerakan menjadi mudah, tarikan gravitasi bumi (keterikatan duniawi) menjadi ringan, rintangan-rintangan dapat dilewati, tikungan-tikungan tajam dapat dihindari, rambu-rambu jalan menjadi jelas, serta lahirlah kejujuran, keikhlasan, tekad kuat, dan keteguhan. Pada akhirnya, pencapaian-pencapaian yang menyerupai mukjizat pun akan terwujud di atas jalan ini.

Sesungguhnya di atas jalan dakwah ini, hal pertama yang paling kita butuhkan adalah merasakan ma'iyyatullah (kebersamaan Allah) dalam setiap langkah, setiap gerak dan diam, bahkan dalam setiap kedipan mata. Barangsiapa yang Allah bersamanya, maka ia tidak kehilangan sesuatu pun. Dan barangsiapa yang ditinggalkan oleh Allah, maka ia tidak akan mendapati kecuali kesia-siaan dan kesesatan. Kebersamaan ini telah Allah karuniakan kepada orang-orang mukmin yang bertakwa dan berbuat ihsan, sebagaimana firman-Nya yang Mahatinggi:

"Dan bersabarlah (wahai Muhammad) dan kesabaranmu itu tidak lain melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl: 127-128).

Dan dalam ayat yang lain:

"Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anfal: 19).

Betapa butuhnya kita di atas jalan dakwah ini terhadap cahaya Allah yang menerangi jalan bagi kita, sehingga kita dapat berjalan di atas bashirah (ilmu/petunjuk yang nyata) tanpa tergelincir ke dalam tikungan-tikungan yang menjauhkan kita, atau tersandung oleh rintangan yang membuat kita terduduk lumpuh. Hal ini, dengan izin Allah, dapat terwujud melalui bekal takwa dan iman, sebagai pembenaran atas firman Allah Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan serta Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Hadid: 28).

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi lakon setan, mereka segera ingat (kepada Allah), maka seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)." (QS. Al-A'raf: 201).

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'am: 153).

Dan di atas jalan dakwah, agar kita mampu memberi pengaruh dan mengubah realitas kebatilan untuk menegakkan kebenaran, kita harus merasakan makna-makna kemuliaan ('izzah), kekuatan, dan tingginya kedudukan, serta membuang jauh-jauh segala bentuk kelemahan, kerapuhan, dan kehinaan. Hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan bekal keimanan:

"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 139).

"Padahal kemuliaan itu bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui." (QS. Al-Munafiqun: 8).

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110).

Betapa butuhnya kita di atas jalan dakwah ini untuk menundukkan jiwa kita agar siap berjihad dan berkorban dengan segala apa yang kita miliki; baik jiwa, harta, tenaga, pemikiran, maupun waktu tanpa ada keraguan sedikit pun. Tidak akan ada yang mampu melakukan hal itu kecuali orang yang telah berbekal keimanan yang membuatnya lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah, dan menganggap murah segala hal yang berharga demi jalan Allah:

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut." (QS. An-Nisa: 76).

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh." (QS. At-Tawbah: 111).

Di atas jalan dakwah, kita pasti akan menghadapi gangguan (al-idza') dan ujian (al-ibtila')—karena hal tersebut merupakan ketetapan (sunnatullah) dalam jalan dakwah. Tidak ada yang dapat membantu untuk menanggung dan bersabar atas hal tersebut kecuali bekal iman dan takwa:

"Kamu pasti akan diuji sehubungan dengan hartamu dan dirimu. Dan kamu pasti akan mendengar banyak hal yang menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (QS. Ali 'Imran: 186).

Dan ini pulalah logika para utusan Allah ketika menghadapi gangguan orang-orang kafir:

"Dan mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami? Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang bertawakal berserah diri." (QS. Ibrahim: 12).

Ini juga merupakan logika para penyihir Firaun setelah mereka beriman dan diancam oleh Firaun:

"Mereka berkata: 'Kami tidak akan memilih engkau daripada bukti-bukti nyata yang telah datang kepada kami dan daripada (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah adalah sebaik-baik (pemberi pahala) dan Yang paling kekal'." (QS. Taha: 72-73).

Betapa butuhnya kita di atas jalan dakwah ini agar Allah meneguhkan hati kita, sehingga tidak ada keraguan, tidak ada kebimbangan, tidak ada sikap menjauh, dan tidak ada tindakan meninggalkan amal serta kewajiban-kewajiban, seberat atau sebanyak apa pun itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan hal tersebut kepada orang-orang yang beriman:

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27).

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (hati) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir." (QS. Al-Anfal: 12).

Ya Allah, teguhkanlah kaki-kaki kami di atas jalan-Mu.

Para dai yang menyeru kepada Allah di atas jalan dakwah kerap menghadapi intimidasi, ancaman, dan ketakutan dari musuh-musuh Allah, yang mana hal ini mendorong sebagian orang dilingkupi rasa takut, menjauh, dan terduduk diam. Tidak ada yang selamat dari hal tersebut kecuali orang yang bersenjatakan iman dan berbekal takwa:

"Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia dari Allah, dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan bertakwa menyediakan pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang mengatakan kepadanya: 'Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' maka perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.' Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana pun dan mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 171-175).

Betapa butuhnya kita ketika berada di atas jalan dakwah ini untuk memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwwah) dan cinta karena Allah (al-hubb fillah), agar kerja sama dan kesepahaman dalam tugas-tugas dakwah dapat berjalan dengan mudah, serta terwujud kedekatan yang erat karena adanya cinta dan persaudaraan ini. Hal tersebut tidak akan terwujud dalam bentuk yang jujur dan abadi kecuali di antara orang-orang mukmin:

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (QS. At-Tawbah: 71).

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damai-kanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mensyaratkan kesempurnaan iman dengan mewujudkan cinta ini:

"Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (Hadis).

Seorang dai kepada Allah, ketika berada di atas jalan dakwah, terkadang menghadapi masa-masa futur (lemah semangat) dan kemalasan. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan menyebabkan sikap santai-santai dan terduduk diam dari beramal. Namun, orang-orang mukmin—dengan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an—dapat menghindari hal tersebut. Yaitu melalui peringatan yang bermanfaat bagi orang-orang mukmin, serta saling menasihati yang bersifat wajib di antara orang-orang mukmin; di mana ia mengingatkan saudaranya jika lupa, membantunya jika ia ingat, memperlihatkan kekurangan-kekurangannya, serta membantunya untuk melepaskan diri dari kekurangan tersebut.

Dan betapa seringnya para penyeru kepada Allah menghadapi peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi yang mungkin membuat mereka berada dalam kesempitan, kesulitan, atau kebingungan. Mereka membutuhkan ketetapan sikap yang didiktekan oleh Islam kepada mereka dalam menghadapi situasi atau peristiwa tersebut, serta membutuhkan penilaian yang benar terhadapnya melalui sudut pandang Islam, sekaligus keberanian untuk menyuarakan kebenaran meskipun di balik itu ada kepayahan dan gangguan. Tidak ada yang berguna dan membantu dalam menghadapi semua itu kecuali bekal iman dan takwa kepada Allah:

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Talaq: 2-3).

"Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya." (QS. At-Taghabun: 11).

"Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya." (QS. At-Talaq: 4).

"Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (QS. Al-Kahf: 10).

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzab: 70).

Dan di dalam hadis disebutkan:

"Di antara jihad yang paling utama di sisi Allah adalah kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."

Di atas jalan dakwah, setiap individu mutlak harus meneliti syariat Allah dalam setiap ucapan dan perbuatan, serta tidak menyelisihi perintah Allah maupun perintah Rasul-Nya dalam segala kondisinya. Ia juga harus menjaga persatuan barisan (wahdatul shaff) dan tidak keluar darinya. Tidak ada yang bisa membantu mewujudkan hal itu kecuali keimanan yang jujur, yang melindungi pemiliknya dari kelalaian, pelanggaran, atau ketidakkomitmenan:

"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka." (QS. Al-Ahzab: 36).

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali 'Imran: 103).

"Sesungguhnya yang dinamakan orang-orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka berada bersama-sama dengan Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak pergi sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." (QS. An-Nur: 62).

Di atas jalan dakwah, kita membutuhkan ilmu yang bermanfaat yang diperlukan bagi siapa saja yang menyeru kepada Allah di atas bashirah. Membaca dan memperbanyak bacaan saja tidaklah cukup dalam hal ini, melainkan harus disertai dengan takwa kepada Allah serta keikhlasan niat, agar Allah melimpahkan ilmu, cahaya, dan taufik dari sisi-Nya. Dan Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

"Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memberikan pengajaran kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 282).

"Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku'." (QS. Taha: 114).

Ketika kita berada di atas jalan dakwah, kita merasakan kebutuhan yang mendesak akan dukungan Allah dan pertolongan-Nya untuk kita, terutama ketika kita menghadapi berbagai bentuk tipu daya musuh-musuh Allah dan peperangan mereka:

"...dan diguncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah: 214).

Dan pertolongan Allah serta kejayaan bagi agama-Nya tidak akan terwujud kecuali bagi orang-orang mukmin yang bermujahadah (berjuang sungguh-sungguh). Maka, bekal iman yang kuat merupakan sebab utama dan syarat yang mutlak diperlukan untuk mewujudkan pertolongan Allah dan kejayaan tersebut:

"Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman." (QS. Ar-Rum: 47).

"Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi (hari kiamat)." (QS. Ghafir: 51).

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun." (QS. An-Nur: 55).

Akhirnya, kita harus senantiasa setia pada janji, tidak melanggar, tidak mengganti, dan tidak mengubahnya, sampai kita berjumpa dengan Allah di atas jalan dakwah ini dalam keadaan demikian. Iman dan takwa kepada Allah adalah sebaik-baik bekal yang membantu kita untuk mewujudkan hal tersebut:

"Bukan demikian, barangsiapa menepati janjinya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali 'Imran: 76).

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23).

Demikianlah kita telah melihat sejauh mana kebutuhan kita akan bekal di atas jalan ini, dan bagaimana kita tidak akan mampu melangkah satu langkah pun, mewujudkan satu kebaikan, atau menyelesaikan suatu amal tanpa adanya bekal yang berupa iman dan takwa ini.

Maka dari itu, marilah kita membekali diri dengannya, selalu memperbaruinya di sepanjang jalan, dan jangan membiarkannya berkurang atau terancam habis. Sebaliknya, mari kita berusaha agar bekal tersebut terus bertambah dan bertambah. Mengenai pengenalan terhadap sumber-sumber bekal tersebut serta bagaimana kita berupaya untuk menambah dan memperbaruinya, hal itulah yang akan menjadi tema-tema pembahasan selanjutnya, dengan izin Allah. Kita memohon pertolongan dan taufik kepada Allah.

Maka Marilah Kita Mengambil Bekal... dari Al-Qur'an

Aku mendapati diriku merasa lemah/tidak berdaya saat menulis tentang tema bekal di atas jalan ini. Khususnya mengenai bagaimana cara mengambil bekal, serta bagaimana cara kita mereguk dari bekal keimanan, ketakwaan, petunjuk, dan cahaya.

Sebab, perkara ini bukanlah sekadar masalah keahlian, pengalaman, dan pengetahuan semata, melainkan pertama-tama kembali kepada kemurahan sang Pemberi karunia, yaitu Allah Yang Maha Pemberi (Al-Wahhab) Subhanahu wa Ta'ala:

"Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS. Ali 'Imran: 74).

Dialah yang menganugerahkan petunjuk dan keimanan kepada kita, serta melimpahkan cahaya dan rahmat-Nya tanpa batas, maka tidak ada batasan bagi karunia Allah:

"Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: 'Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar'." (QS. Al-Hujurat: 17).

"Apa saja yang Allah bukakan kepada manusia berupa suatu rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Fatir: 2).

Allah adalah Sumber Segala Kebaikan

Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah sumber segala kebaikan. Akan tetapi, sebagai bentuk kemurahan dan rahmat-Nya kepada kita, Dia telah menunjukkan sarana-sarana dan sebab-sebab yang harus kita ambil agar kita dapat meraih bekal tersebut dari-Nya Subhanahu wa Ta'ala.

Jika kita teliti, niscaya kita temukan bahwa perkara ini pada tingkat pertama kembali kepada keadaan seorang hamba yang berdiri di depan pintu Tuhannya seraya memohon agar diberi. Lalu Tuhannya melihat dari dalam diri hamba tersebut adanya ketundukan, kekhusyukan, kehinaan, ketergantungan, rasa takut, ketakutan yang disertai pengagungan (khasyyah), harapan, serta ketamakan akan rahmat-Nya. Inilah fondasi utamanya, baru setelah itu datanglah sarana dan sebab-sebab. Sejauh mana kejujuran sang hamba dalam kondisi-kondisi tersebut, sejauh itulah pemberian dan karunia dari Allah Yang Maha Pemberi (Al-Wahhab) akan terwujud.

Dari sinilah aku mendapati diriku merasa iba/kasihan pada diriku sendiri, bahkan rasa iba itu bisa sampai pada tingkat ketakutan ketika aku mendapati diriku harus mengarahkan orang lain dalam perkara ini, padahal boleh jadi aku bukanlah orang yang ahli/layak untuk itu. Namun, di hadapan perasaanku akan adanya kebutuhan yang mendesak dan keniscayaan yang kuat terhadap bekal ini bagi setiap orang yang menapaki jalan dakwah, maka aku memohon pertolongan kepada Allah dan menuliskan sekilas catatan sebagai panduan.

Mengingat bekal ini—sama halnya seperti bekal-bekal lainnya—bisa bertambah dan berkurang, bahkan dapat terancam habis, maka wajib bagi setiap dari kita untuk bertekad memperbarui, menambah, serta menjaganya dari pengurangan dan kehabisan. Sebagaimana yang akan kita lihat, kita dapati bahwa Allah telah memudahkan sebab-sebabnya bagi kita di setiap waktu tanpa ada penghalang.

Al-Qur'an

Di antara sarana yang paling utama, paling mudah, paling melimpah, dan paling banyak curahan kebaikannya adalah Kitab Allah yang Mulia (Kitabullah al-'Aziz). Ia merupakan mata air bekal yang tidak akan pernah kering. Bahkan, di dalamnya kita juga menemukan arahan menuju sarana-sarana lain untuk mengambil bekal. Di dalam Al-Qur'an, kita menemukan cahaya, petunjuk, rahmat, dan peringatan.

Al-Qur'an membimbing kita bahwa membacanya merupakan salah satu sarana terbaik untuk membekali diri dengan iman dan takwa kepada Allah. Ia membimbing kita menuju tauhid kepada Allah yang dapat mewujudkan kedamaian dan ketenteraman di dalam jiwa. Ia mengarahkan kita untuk beribadah kepada Allah yang akan memberikan pemiliknya bekal takwa kepada Allah yang selalu diperbarui. Ia juga mengajak kita untuk memikirkan ciptaan Allah, sehingga melaluinya kita dapat mengenal sifat-sifat Allah, yang kemudian melahirkan pengagungan, pemuliaan, dan penyucian kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; dan di dalam hal itu terdapat sebaik-baik bekal iman kepada Allah dan takwa kepada-Nya.

Di dalam Al-Qur'an, kita menemukan nasihat (izhzhah) dan pelajaran ('ibrah) dari kisah-kisah para rasul terdahulu beserta kaum mereka, yang mana hal itu membekali kita dengan pengalaman dan hikmah saat kita menyeru kepada Allah.

Al-Qur'an menuntut kita untuk menaati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan meneladani beliau, yang mana di dalam hal itu terdapat sebaik-baik pertolongan dan bimbingan di atas jalan ini. Di dalam Al-Qur'an terdapat arahan untuk berbuat kebaikan, dorongan untuk melakukannya, serta peringatan dari keburukan dan perintah untuk menjauhinya. Di dalamnya terdapat pengingat tentang Hari Akhir, hari kebangkitan, hisab (perhitungan amal), dan balasan. Di dalamnya terdapat motivasi (targhib) tentang surga beserta kabar gembira mengenainya, serta peringatan (tarhib) dari neraka untuk menjauhinya.

Secara garis besar, kita temukan di dalam Al-Qur'an segala kebaikan yang dibutuhkan oleh manusia agar kebahagiaan di dunia dan akhirat dapat terwujud baginya, serta menjaganya dan menyelamatkannya dari kepayahan dan kesengsaraan di dunia serta dari azab akhirat. Di samping itu, di dalamnya terdapat semua elemen pendidikan yang membentuk para pejuang akidah dan memancarkan potensi-potensi kebaikan di dalam diri mereka:

"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." (QS. Al-Isra': 9).

"Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini." (QS. Al-Jasiyah: 20).

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra': 82).

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus: 57).

"Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan. Dengan Kitab itulah Allah menunjukkan orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus." (QS. Al-Ma'idah: 15-16).

Dari Jahiliah Menuju Islam

Jika kita bertanya-tanya, apa perkara baru yang hadir di Jazirah Arab dan mengubah umat tersebut; dari masa Jahiliah yang mereka jalani dengan segala macam kerusakan dan kesesatannya, menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia? Serta membentuk dari mereka tokoh-tokoh, bahkan teladan-teladan unik yang mengukir permisalan paling mengagumkan di setiap medan kebaikan?

Jika kita perhatikan, niscaya kita temukan bahwa perkara baru yang hadir di Jazirah Arab tersebut adalah turunnya Al-Qur'an ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Malaikat tepercaya Jibril turun membawanya kepada Muhammad yang tepercaya shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau menyampaikannya dengan amanah kepada manusia. Kemudian, orang-orang muslim yang beriman dididik di madrasah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas hidangan Al-Qur'an. Maka, Al-Qur'an mengubah mereka dan membentuk mereka menjadi sosok-sosok teladan yang di atas pundak merekalah tegak Daulah Islamiah, dan melalui tangan merekalah tercapai pembebasan-pembebasan Islam (al-futuhat al-islamiyyah), sehingga cahaya tersebar luas dan kegelapan sirna.

Kita telah melihat orang-orang yang akidah Islamiahnya menguasai diri mereka, sehingga mereka menanggung berbagai macam siksaan tanpa pernah meninggalkannya. Mereka menganggap murah jiwa dan harta mereka demi keteguhan di atas akidah mereka. Keluarga Yasir, Sumayyah, Bilal, Suhaib, dan selain mereka radhiyallahu 'anhum jami'an adalah contoh-contoh luar biasa yang akan terus menjadi permisalan sepanjang generasi.

Kita telah melihat tokoh-tokoh yang memberikan teladan dalam bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujahadatun nafs), mengangkat jiwa darinya dari segala hal yang buruk, serta menghiasinya dengan setiap akhlak yang mulia. Mereka memberikan teladan dalam kejujuran, kesetiaan, amanah, kelembutan hati (al-hilm), kezuhudan, cinta, mendahulukan orang lain (al-itsar), jihad, memerangi musuh, kedermawanan, menegakkan keadilan, serta rasa tanggung jawab. Bahkan dari kalangan pemuda, lahir mereka yang layak untuk memimpin pasukan, seperti Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma.

Al-Qur'an di Antara Tangan Kita

Inilah Al-Qur'an berada di antara tangan kita tanpa ada perubahan, karena Allah telah menjamin penjagaannya:

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9).

Dan inilah madrasah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tegak nyata di hadapan kita dalam sirah dan sunah beliau. Maka, apakah mungkin madrasah ini dapat mengubah dan melahirkan dari kalangan kita sosok-sosok teladan yang serupa dengan generasi terdahulu itu?

Aku katakan: Ya, jika kita berinteraksi dengan Kitab Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana kaum muslimin generasi pertama berinteraksi dengannya.

Kaum muslimin generasi pertama mengagungkan Al-Qur'an ketika mereka mendengarnya atau membacanya, karena ia adalah kalam (firman) Allah Yang Maha Agung, Maha Besar, lagi Maha Tinggi. Mereka mengapresiasi karunia Allah dan kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna kalam-Nya ke dalam pemahaman makhluk-Nya melalui jalinan huruf dan suara yang merupakan sarana manusia. Mereka mendengarkannya dengan hati yang hadir, dengan tadabur dan pemahaman, serta melepaskan diri dari segala penghalang pemahaman. Setiap orang dari mereka mendengarnya seolah-olah Allah mengkhususkan dirinya dalam setiap perintah atau larangan di dalamnya. Mereka terpengaruh oleh segala nasihat, pelajaran, peringatan, dan kabar gembira yang ada di dalamnya.

Setiap kali mereka mendengar seruan:

"Wahai orang-orang yang beriman!"

Mereka memasang telinga mereka dengan penuh perhatian dan minat yang besar terhadap arahan, perintah, atau larangan yang akan datang setelah seruan tersebut, agar mereka dapat tunduk kepadanya dan melaksanakannya dengan penuh ketelitian, kepasrahan mutlak, serta keridaan yang sempurna tanpa ada keraguan atau penundaan. Sebab, itu bukanlah seruan dari salah seorang manusia, melainkan seruan dari Allah Pencipta manusia, Pemilik kerajaan dan kekuasaan tertinggi.

Demikianlah keadaan mereka bersama Kitab Allah dan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam segala hal yang beliau serukan, beliau perintahkan, atau beliau larang kepada mereka. Karena mereka telah yakin sepenuhnya bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berucap dari hawa nafsu, melainkan berdasarkan wahyu dan bimbingan dari Allah:

"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, mereka berkata: 'Kami mendengar, dan kami taat.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nur: 51).

"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka." (QS. Al-Ahzab: 36).

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, sehingga kemudian tidak mendapati rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa': 65).

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7).

"Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah." (QS. An-Nisa': 80).

Dengan demikian, mereka menjadi Al-Qur'an yang hidup yang berjalan di atas bumi, dan mereka menggunakan amal nyata sebagai sarana untuk menghafal, bukan sekadar menghafal sebagai pengganti beramal.

Adapun kaum muslimin hari ini, mereka mewarisi Islam tanpa adanya jerih payah atau penderitaan. Mereka mewarisinya secara terpotong-potong, penuh dengan bidah dan khurafat. Mereka mewarisinya dalam keadaan esensi dan kehidupannya telah dirampas. Mereka mewarisinya dalam kondisi lesu, lemah, dan pasif. Mereka tidak menghargai kedudukan mereka dengan agama yang hak (benar) ini. Mereka tidak merasakan keagungan Al-Qur'an ini sebagai kalam Rabb semesta alam. Mereka meninggalkannya (hijrah) dan berpaling darinya. Dan jika mereka mendengarkannya, mereka tidak mentadaburinya, tidak terpengaruh dengannya, atau tidak tunduk pada perintah dan larangannya.

Sebaliknya, mereka justru disibukkan oleh keindahan nada dan lagu sang pembaca (qari'), seolah-olah mereka sedang mendengarkan seorang penyanyi. Terdengar dari mereka suara riuh dan kegaduhan sebagai ungkapan kekaguman mereka terhadap suara sang pembaca. Padahal, sekiranya mereka mentadaburi dan terpengaruh, niscaya mereka akan diam menyimak dengan khusyuk sebagaimana perintah Allah Ta'ala:

"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-A'raf: 204).

Dan alangkah buruknya para pembaca Al-Qur'an yang merasa kagum/senang dengan kegaduhan ini. Sekiranya mereka menghormati Al-Qur'an, niscaya mereka akan meminta para pendengar untuk diam menyimak; jika para pendengar menolak, maka mereka akan berhenti membaca.

Sesungguhnya banyak dari kaum muslimin hari ini yang telah dilalaikan oleh kehidupan dunia. Dunia telah memenuhi hati dan akal mereka, serta menjadi dinding penghalang yang mencegah cahaya Al-Qur'an untuk memancar di dalam hati mereka guna meneranginya dengan cahaya iman:

"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Mutaffifin: 14).

Sosok-Sosok Teladan yang Bisa Berulang

Meskipun demikian, kehendak Allah telah menetapkan bahwa kebaikan akan tetap ada pada umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sampai hari kiamat. Ketika Allah hendak memperbarui urusan agama umat ini melalui tangan Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah, di mana beliau mengetahui rahasia Al-Qur'an dan pengaruhnya di dalam jiwa, maka beliau mengumpulkan Al-Ikhwan di atas Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya. Beliau mengarahkan dan mendidik mereka di atas apa yang dijalani oleh Salafus Saleh dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an, beradab dengan adab-adabnya, serta mematuhi semua arahannya.

Seiring dengan pengkajian sirah dan dimunculkannya sosok-sosok pelopor yang lulus dari madrasah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba kita mendapati gambaran dari sosok-sosok teladan ini berulang kembali. Mereka muncul di berbagai medan dalam jihad, pengorbanan, dan kesyahidan di Palestina serta Terusan Suez. Mereka juga muncul di tengah-tengah manusia sebagai contoh yang luar biasa dalam mematuhi ajaran Islam, sehingga mereka menjadi tempat kepercayaan karena kejujuran, kesetiaan, amanah, dan keluhuran akhlak mereka.

Mereka juga muncul pada orang-orang yang menanggung gangguan, penyiksaan, dan ujian dari musuh-musuh Allah, namun mereka tetap teguh dan tidak menyerah, serta Allah mengambil sebagian dari mereka sebagai para syuhada. Panji itu pun tetap berkibar tinggi agar mereka dapat menyerahkannya kepada generasi setelah mereka dalam keadaan tinggi, tanpa ada kelalaian, kelemahan, atau sikap meremehkan, serta tanpa ada pergantian maupun pengubahan:

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23).

"Dan mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah. Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran: 146).

Mari Kita Perbaiki Interaksi Kita dengan Al-Qur'an

Setelah menjadi jelas bagi kita mengenai pengaruh Al-Qur'an dan bagaimana ia mengubah jiwa, menerangi jalan baginya, serta membimbingnya ke jalan yang lurus; dan bahwa membacanya dapat menambah keimanan seorang mukmin kepada Allah serta ketawakan kepada-Nya, sebagaimana yang Allah tetapkan dalam firman-Nya yang Mahatinggi:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah (kuat) iman mereka dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal: 2).

Maka sekiranya sang pembaca menghargai Tuhannya dengan penghargaan yang sebenar-benarnya dan takut kepada Allah, niscaya ia akan terpengaruh oleh Al-Qur'an dan merindinglah kulitnya ketika membaca atau mendengarkannya. Allah Ta'ala berfirman:

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya." (QS. Az-Zumar: 23).

"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir." (QS. Al-Hasyr: 21).

Sekiranya kita memperbaiki hubungan kita dengan satu ayat saja dari Kitab Allah, niscaya pengaruhnya akan mengalir, menggetarkan perasaan, dan menerangi hati laksana arus listrik. Ketika hubungan/kontak terjadi, aliran listrik akan mengalir, menerangi, dan membangkitkan energi. Adapun jika terdapat isolator (penghalang), arus tidak akan mengalir dan tidak akan memberikan pengaruh apa pun.

  • Al-Qur'an mengobati persoalan iman dari segala sisinya dan memberikan dalil akannya di banyak tempat, yang mana hal itu memudahkan keimanan bagi orang yang belum beriman, dan menambah keimanan bagi orang yang sudah beriman setiap kali ia membaca Al-Qur'an atau mendengarkannya.
  • Al-Qur'an menentukan misi kita dalam kehidupan dunia ini agar kita menunaikannya dan tidak menyimpang darinya, yaitu dalam firman Allah Ta'ala:

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56).

  • Al-Qur'an mengasuh dan membimbing kita bagaimana seharusnya kondisi dan sikap seorang mukmin dalam menghadapi berbagai situasi, agar kita meniti jalan orang-orang mukmin dalam ucapan dan perbuatan kita. Kita bersandar kepada Allah saat kefakiran, sakit, kesempitan, kesulitan, dan saat bertemu musuh, demikian pula bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya kepada kita, dan seterusnya. Ayat-ayat berikut menjelaskan hal tersebut:

"Maka dia berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku'." (QS. Al-Qashash: 24).

"Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang'." (QS. Al-Anbiya': 83).

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, 'Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.' Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anbiya': 87-88).

"Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir'." (QS. Al-Baqarah: 250).

"...sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun dia berdoa, 'Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'." (QS. Al-Ahqaf: 15).

  • Kita dapati Al-Qur'an memperingatkan dan melindungi kita dari jatuh ke dalam lingkaran keputusasaan dan hilangnya harapan dari rahmat Allah, serta menumbuhkan di dalam diri kita segala makna ketenteraman, kenyamanan psikologis, harapan, dan keinginan yang kuat akan rahmat Allah:

"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang'." (QS. Az-Zumar: 53).

  • Seorang dai (penyeru) kepada Allah akan menemukan di dalam Al-Qur'an sebaik-baik pertolongan dan bekal baginya di atas jalan dakwah, di mana ia dapat mengenal metode dakwah yang benar melalui lisan para rasul Allah shalawatullah wa salamuhu 'alaihim ajma'in; bagaimana mereka bersabar atas gangguan kaumnya, memotivasi mereka untuk beriman, dan menjauhkan mereka dari kekafiran serta kemaksiatan.
  • Di dalam membaca dan menghafal Al-Qur'an terdapat bekal terbaik bagi dai kepada Allah yang membantunya untuk berhujjah dengan ayat-ayat Al-Qur'an ketika berbicara mengenai makna apa pun, yang mana hal itu membuat bicaranya menjadi lebih berpengaruh di dalam jiwa.

Mengikuti dan Menerapkan

Marilah kita mentadaburi Al-Qur'an ketika kita membacanya. Jika kita tidak mampu mentadaburinya kecuali dengan mengulang-ulang sebagian ayat, maka ulang-ulangilah. Sungguh telah diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan salat malam dengan mengulang-ulang satu ayat, yaitu firman Allah Ta'ala:

"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Al-Ma'idah: 118).

Hendaknya tujuan utama kita dalam membaca adalah untuk mengikuti dan menerapkan:

"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." (QS. Az-Zumar: 55).

Dan marilah kita mengikuti arahan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam bacaan Al-Qur'an kita, di mana beliau bersabda dalam hadis yang disepakati kesahihannya (muttafaqun 'alaihi):

"Bacalah Al-Qur'an selama hati kalian bersatu di atasnya dan kulit kalian menjadi lembut karenanya. Apabila kalian berselisih, maka kalian tidak sedang membacanya (dalam riwayat lain: maka berdirilah/tinggalkanlah ia)."

Dan hendaklah kita berhati-hati agar kesibukan kita pada makhraj-makhraj huruf dan hukum-hukum tilawah tidak melalaikan kita dari tadabur dan pemahaman, sehingga seluruh perhatian tersedot ke sana tanpa memedulikan makna dan keterpengaruhan olehnya.

Marilah kita merutinkan diri (dawam) dalam membaca Al-Qur'an dan jangan meninggalkannya, agar bekal kita selalu diperbarui, dan agar hubungan kita dengan Allah terus terjalin melalui pembacaan kalam-Nya. Marilah kita menghafal semampu kita, karena sesungguhnya hafalan itu akan membantu dalam salat, qiyamul lail, dan berdalil dengan Al-Qur'an pada apa yang kita serukan. Boleh jadi Anda akan menghadapi kondisi-kondisi di mana Anda terhalang dari Kitab Allah yang tertulis (mushaf), maka Anda akan kembali kepada modal hafalan yang telah Anda simpan di dalam dada:

"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar: 17).

Memikirkan (Tafakur) tentang Ciptaan Allah... dan Ayat-Ayat-Nya

"Sesungguhnya seorang petugas trem yang bertugas memindahkan rel dan mengubah arah jalannya trem tidaklah memanggul trem tersebut lalu mengarahkannya ke mana ia suka. Akan tetapi, hanya dengan sebilah tongkat sederhana—yaitu tongkat pengubah jalur—dan dengan satu sentuhan/geseran ringan, ia mengubah jalur rel, maka trem itu pun berpindah jalur atau mengarah ke arahnya yang baru tanpa jerih payah.

Maka hati manusia dan makrifat (pengenalan) kepada Allah Ta'ala adalah seperti itu. Makrifat yang hakiki kepada Allah adalah tongkat pengubah jalur itu; apabila ia menyentuh hati manusia, maka hati itu akan berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Jika hati itu telah berubah, maka bergeraklah manusia itu seluruhnya. Dan jika individu telah berubah, maka berubahlah umat tersebut. Oleh karena itu, jika Anda menginginkan perbaikan (islah), maka perbaikilah hati manusia dengan cara mengenalkannya kepada Allah dengan pengenalan yang sebenar-benarnya."

(Kutipan dari perkataan Imam Asy-Syahid [Hasan Al-Banna] dalam salah satu Ceramah Hari Selasa).

Betapa butuhnya kita kepada makrifat yang hakiki tentang Allah Tarakata wa Ta'ala ini, agar hati kita menjadi baik dan keadaan kita berubah, sehingga keadaan seluruh umat pun ikut berubah. Dan hal yang dapat membekali kita dengan makrifat ini adalah dengan memikirkan (tafakkur) ciptaan Allah dan ayat-ayat-Nya di alam semesta ini, serta mentadaburi nama-nama dan sifat-sifat-Nya Subhanahu wa Ta'ala.

Al-Qur'anul Karim di dalam banyak ayatnya mendorong kita untuk memikirkan hal tersebut:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka'." (QS. Ali 'Imran: 190-191).

"Katakanlah, 'Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!'" (QS. Yunus: 101).

"Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?" (QS. Al-Ghasyiyah: 17).

"Dan sesungguhnya pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagimu." (QS. An-Nahl: 66).

"Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Az-Zariyat: 21).

Sebagaimana Al-Qur'an juga mencela orang-orang yang tidak memfungsikan akal dan penglihatan mereka terhadap ayat-ayat yang ada di sekitar mereka:

"Dan banyak sekali tanda-tanda (kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka berpaling darinya." (QS. Yusuf: 105).

"Dan sungguh, Kami isi ke dalam neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah." (QS. Al-A'raf: 179).

Dan ruang lingkup untuk memikirkan ciptaan Allah dan ayat-ayat-Nya di alam semesta ini sangatlah banyak, tidak terhitung, serta mencakup segala sesuatu.

Di Dalam Segala Sesuatu Terdapat Tanda Kebesaran-Nya

Sebab sesungguhnya, bagi Allah di dalam segala sesuatu terdapat tanda kebesaran yang menunjukkan bahwa Dia adalah Yang Maha Esa... Dan karena kita tidak akan mampu meliput semuanya, maka kita cukupkan dengan memberikan contoh-contoh dalam ringkasan yang padat, seraya menyerahkan kepada Anda sekalian untuk mencari tambahannya dari apa yang tersaji di dalam Kitab Allah yang terbaca (Al-Qur'an) dan dari keagungan Allah serta kemampuan-Nya dalam mencipta di dalam Kitab Allah yang terhampar nyata, yaitu alam semesta yang luas ini. Telah terbit pula buku-buku yang membahas sebagian rincian yang disingkap oleh sains modern mengenai rahasia alam semesta ini, yang menunjukkan dengan petunjuk yang sangat kuat akan keberadaan Allah, keesaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang dipenuhi segala sifat kesempurnaan.

  • Di dalam alam semesta yang luas ini, jika kita melihat ke bola bumi, kita mendapatinya sebagai sesuatu yang sangat besar bagi setiap kita. Akan tetapi, jika kita melampauinya dan melihat ke ruang angkasa ini beserta bintang-bintang dan planet-planet di dalamnya, serta mengetahui informasi yang ditemukan oleh sains modern seputar jumlahnya yang sangat masif, ukuran, berat, jarak, dan kecepatannya, niscaya akal kita akan lumpuh untuk membayangkan informasi tersebut. Matahari itu ukurannya adalah 1.250.000 (satu juta dua ratus lima puluh ribu) kali lipat dari ukuran bumi. Dan di sana ada bintang-bintang yang ukurannya sama dengan ukuran matahari jutaan kali lipat.
  • Dan masing-masing beredar pada garis edarnya tanpa ada tabrakan atau kerusakan. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
  • Satuan pengukur jarak bintang-bintang adalah tahun cahaya, yaitu jarak yang ditempuh oleh cahaya selama satu tahun penuh, dengan catatan bahwa kecepatan cahaya adalah 300.000 (tiga ratus ribu) kilometer per detik. Para ilmuwan astronomi mengatakan bahwa di sana ada bintang-bintang yang jaraknya dari kita mencapai ratusan juta tahun cahaya. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

"Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui." (QS. Al-Waqi'ah: 75-76).

Hari ini, setelah empat belas abad dari turunnya ayat-ayat ini, kita baru mulai memahami sedikit hal tentang tempat-tempat beredarnya bintang-bintang beserta keagungannya. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu telah Kami hamparkan; maka (Kami)-lah sebaik-baik yang menghamparkan." (QS. Az-Zariyat: 47-48).

  • Jika kita melihat pada ketelitian yang luar biasa dalam hukum-hukum alam (sunnatullah) yang telah Allah tetapkan bagi matahari, bumi, dan bulan; baik dari segi jarak, kecepatan, berat, kemiringan poros bumi, kecepatan rotasi bumi pada porosnya sendiri, serta revolusinya mengelilingi matahari, yang mana semua itu memudahkan kehidupan di atas bumi dalam atmosfer yang sesuai, serta agar kita mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Mahasuci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu lalu menetapkannya dengan ukuran yang serapi-rapinya.
  • Dari alam semesta yang luas, kita beralih ke dunia molekul dan atom serta strukturnya, juga perbedaan unsur-unsur dan zat-zat dalam karakteristiknya disebabkan oleh perbedaan komponen dari setiap atom berdasarkan teori-teori yang diasumsikan oleh para ilmuwan sebagai penjelasan atas fenomena yang mereka indera. Aku membaca dalam bidang ini sebuah perkataan yang indah, yaitu bahwa manusia—seberapa keras pun mereka memeras kemampuan diri mereka untuk mengetahui hakikat materi—mereka tidak akan pernah mencapainya, karena ini merupakan rahasia pembuatan (sirrul shan'ah), dan rahasia pembuatan itu hanya ada di sisi Allah semata.

Dunia Tumbuhan dan Serangga

Di dalam dunia tumbuhan, keagungan Allah dan kekuasaan-Nya tampak dengan sangat jelas. Setiap butir biji dari tumbuhan membawa karakteristik jenisnya yang membedakannya dari yang lain; baik pada batang, daun, bunga, buah, warna, rasa, maupun aromanya. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

"Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan sebagiannya dari sebagian yang lain dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti." (QS. Ar-Ra'd: 4).

"Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?" (QS. Al-Waqi'ah: 63-64).

Perbedaan di antara tumbuhan ini dalam hal waktu tumbuh, periode pertumbuhan, atmosfer yang sesuai, dan masih banyak lagi hal lain yang telah ditemukan maupun yang masih tersembunyi; para ilmuwan—seberapa banyak pun ilmu yang diberikan kepada mereka—tidak akan pernah mampu membuat satu butir biji tumbuhan yang sekiranya jika diletakkan di dalam tanah dan disiram dengan air, ia dapat mengeluarkan tanaman. Karena rahasia menumbuhkan tanaman di dalam biji yang asli adalah hak khusus Allah semata, dan tidak ada manusia yang mampu menitipkannya pada biji buatan.

Di dalam dunia serangga, kita menemukan keajaiban yang luar biasa. Serangga apa pun, sekecil apa pun ia, memiliki organ-organ, indera-indera, dan sistem khususnya sendiri dalam kehidupannya sebagaimana yang telah Allah ciptakan atas fitrahnya. Para ilmuwan telah menyingkap—dan masih terus menemukan—hal-hal yang mencengangkan akal tentang apa yang terjadi di dalam komunitas setiap jenis serangga ini; mulai dari kerja keras yang tiada henti, sistem yang sangat teliti, tidak adanya tumpang tindih dalam spesialisasi tugas, serta ketelitian yang mengagumkan dalam membangun sarang-sarang mereka dan mengondisikannya agar terlindung dari perubahan cuaca.

Kita melihat contohnya pada sarang lebah; pembagian kerja dan spesialisasi setiap jenisnya, serta sarang-sarang lilin berbentuk segi enam (heksagonal) yang sangat presisi. Sungguh, itu adalah fitrah yang telah Allah tetapkan pada ciptaan ini. Maha Benar Allah dengan firman-Nya:

"Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahanmu selain-Nya." (QS. Luqman: 11).

"(Musa) berkata: 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada setiap sesuatu bentuk ciptaannya, kemudian memberinya petunjuk'." (QS. Taha: 50).

Para ilmuwan serangga mengatakan bahwa setiap tahunnya ditemukan rata-rata 10.000 (sepuluh ribu) jenis serangga baru. Dan jenis kumbang/kepik misalnya, terdapat 30.000 (tiga puluh ribu) jenis darinya—di luar "kumbang-kumbang manusia" yang muncul baru-baru ini!! Sebagaimana tidak ada seorang manusia pun yang mampu menciptakan serangga, karena rahasia kehidupan adalah hak khusus Allah semata:

"Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan, maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk membuatnya. Dan jika lalat itu merebut sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa." (QS. Al-Hajj: 73-74).

Horizon demi Horizon (Ufuk-Ufuk yang Luas)

Di dalam dunia burung; banyaknya jenis mereka, perbedaan bentuk, ukuran, warna, suara, usia, rasio perkembangbiakan mereka, proses mengerami telur, serta perawatan mereka terhadap anak-anak burung dan pemberian makanan yang sesuai dengan tahapan pertumbuhan mereka. Demikian pula perjalanan migrasi yang jauh pada musim-musim tertentu dan ke tempat-tempat khusus, lalu kembalinya mereka ke tanah air mereka tanpa menggunakan peta ataupun kompas. Kita juga menyentuh dalam dunia burung adanya rasa cemburu sang jantan terhadap betinanya, suatu hal yang tidak kita lihat pada banyak manusia hari ini.

Sekiranya kita mengikuti perkembangan janin di dalam telur hingga pertumbuhannya sempurna, dan bagaimana ia keluar dalam keadaan siap untuk menghadapi kehidupan, niscaya akan tampak jelas bagi kita kekuasaan Allah dan rahmat-Nya, dengan sesuatu yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun bagi orang yang bimbang untuk beriman kepada Allah, menyucikan-Nya, dan mengagungkan-Nya.

Di dalam dunia hewan, terdapat ufuk-ufuk yang luas juga. Di antaranya ada yang jinak dan ada yang liar. Demikian pula perbedaan jenis, bentuk, ukuran, warna, watak, usia, jenis makanan mereka, struktur internal mereka, fungsi setiap organ tubuh, pembentukan janin dan perkembangan pertumbuhannya serta periode pertumbuhannya. Dan air susu ini, keluar dari antara kotoran dan darah dalam keadaan sesuai untuk makanan bayi yang menyusu. Para ilmuwan hewan masih terus menemukan hal baru setiap harinya yang menegaskan keindahan ciptaan Allah dan hikmah-Nya yang sangat mendalam bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.

Dunia lautan; keluasannya dan banyaknya keajaiban di dalamnya, meskipun baru sedikit yang berhasil ditemukan karena keterlambatan dalam penemuan sarana-sarana modern untuk menyelam di bawah air dengan aman. Dikatakan bahwa apa yang ada di dalam lautan itu lebih banyak daripada apa yang ada di atas daratan dari segi jenis maupun jumlahnya. Demikian pula jika kita merenungkan dari sudut pandang apa yang diperankan oleh lautan ini berupa penyejukan udara melalui penguapan air yang darinya terbentuk gumpalan awan, kemudian turunlah hujan di berbagai penjuru yang terpisah; dan sekiranya bukan karena gunung-gunung, niscaya tidak akan ada sungai-sungai.

Atmosfer yang mengelilingi bumi ini; apa yang telah Allah titipkan di dalamnya berupa gas-gas yang berbeda dengan kadar persentase tertentu yang dapat mempersiapkan udara yang sesuai bagi kehidupan di bumi, serta fungsi yang dijalankan oleh setiap gas.... Sekiranya persentase tersebut berubah, niscaya akan rusaklah kehidupan di bumi bagi makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan. Perubahan-perubahan cuaca ini, bagaimana ia terjadi, pengaruh panas matahari, perbedaan tekanan udara, bergeraknya angin, bertumpuknya awan, dan turunnya hujan; para ilmuwan meteorologi masih terus menemukan banyak hal seputar perkara-perkara yang berada dalam puncak ketelitian dan keindahan ini.

"Tidakkah engkau melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara bagian-bagiannya, kemudian menjadikannya bertumpuk-tumpuk, maka tampaklah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari gumpalan-gumpalan awan seperti gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dipalingkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Allah membalikkan malam dan siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan." (QS. An-Nur: 43-44).

"Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?" (QS. Al-Waqi'ah: 68-70).

"Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Az-Zariyat: 21).

Sekiranya kita merenungkan diri kita sendiri dan struktur tubuh kita, serta organ-organ yang berbeda ini; mulai dari sistem pencernaan, peredaran darah, pernapasan, saraf, ekskresi urin, dan selain itu, niscaya kita tidak akan mampu meliput kekuasaan Allah dan keagungan-Nya dalam keindahan dan kesempurnaan ciptaan ini:

"Buatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu." (QS. An-Naml: 88).

Rahmat Allah dan kekuasaan-Nya tampak jelas dalam perkembangan janin dan pertumbuhannya, serta penjagaan Allah dan pemeliharaan-Nya terhadapnya. Akal ini, bagaimana ia bekerja dan bagaimana ia berpikir. Memori ini, bagaimana ia menampung informasi dan bagaimana kita mengeluarkannya kembali dari sana. Faktanya, ruang lingkup ini bukanlah untuk meliput seluruhnya, melainkan hanya menyebutkan contoh-contoh saja.

Dan ini hanyalah sedikit dari yang banyak... Secara umum, segala hal yang ada di dalam ilmu pengetahuan eksperimental (sains) maupun ilmu teori, di dalamnya tampak jelas sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan apa yang telah ditemukan oleh manusia berupa rahasia-rahasia alam semesta ini tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan apa yang tidak mereka ketahui:

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85).

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Al-An'am: 59).

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar." (QS. Fussilat: 53).

Betapa butuhnya kita untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dengan Sang Pencipta:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1).

Maka ilmu pengetahuan itu mengajak kepada keimanan... Demikianlah, dengan memikirkan ayat-ayat Allah dan ciptaan Allah, akan terwujudlah makrifatullah (pengenalan kepada Allah) serta bertambahlah keimanan kepada Allah, pengagungan-Nya, dan penyucian-Nya. Dan sejauh mana kedudukan Allah di dalam hati kita, sejauh itulah—insya Allah—kedudukan kita di sisi Allah. Dan ketahuilah bahwa kita tidak akan pernah mampu mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya.

Dan benarlah, Mahasuci Dzat yang tidak ada yang mengetahui kadar keagungan-Nya selain diri-Nya sendiri, dan tidak akan pernah orang-orang yang menyifati mampu mencapai hakikat sifat-Nya.

Memikirkan (Tafakur) tentang Nikmat-Nikmat Allah

Anda akan mendapati manusia saling memuji satu sama lain ketika salah seorang dari mereka memberikan bantuan kepada saudaranya, meskipun bantuan itu kecil. Namun, Anda tidak akan mendapati banyak dari mereka yang memuji dan bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, padahal nikmat tersebut sangat agung dan banyak. Seolah-olah nikmat-nikmat ini adalah hak yang pasti diperoleh, bukan karena kemurahan Allah atas mereka. Bahkan, sering kali mereka menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya. Sungguh, ini adalah sebuah kelalaian, pengingkaran, dan kekufuran terhadap nikmat.

Mereka tidak akan menghargai nilai nikmat-nikmat ini kecuali jika mereka telah diharamkan (dihilangkan) darinya atau ditimpa musibah padanya. Baru setelah itu mereka menjerit kepada Allah dengan berdoa. Bahkan di antara mereka ada yang merasa sesak dengan kehidupan hingga memilih jalan bunuh diri:

"Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan dengan menjerit. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kesengsaraan itu darimu, tiba-tiba sebagian antaramu mempersekutukan Tuhannya (dengan yang lain), sehingga mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu, kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)." (QS. An-Nahl: 53-55).

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS. Ibrahim: 34).

Oleh karena itu, kita dapati Al-Qur'anul Karim mengajak kita untuk memikirkan dan mengenali nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung, agar kita menghargainya dengan penghargaan yang semestinya, merasakan kemurahan Allah atas kita, serta menunaikan kewajiban memuji dan bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah Dia nikmatkan. Maka alangkah runtuhnya kita jika tidak berhenti sejenak pada ayat-ayat ini untuk mentadaburi dan mengapresiasi nikmat-nikmat ini, agar semakin bertambah perasaan kita akan kemurahan Allah, kedermawanan-Nya, rahmat-Nya, dan ihsan-Nya, serta sejauh mana kefakiran dan kebutuhan kita kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala dalam setiap saat, setiap gerak, dan diam. Begitu pula, agar kita menyadari sejauh mana kelalaian kita dalam kewajiban bersyukur, serta pentingnya menggunakan nikmat-nikmat ini dalam ketaatan kepada-Nya dan menjauhkannya dari kemaksiatan kepada-Nya.

Nikmat yang Paling Agung: Islam

Mari kita mulai dengan nikmat yang terbesar dan paling agung, yaitu nikmat Islam:

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam itu menjadi agamamu." (QS. Al-Ma'idah: 3).

"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam." (QS. Ali 'Imran: 19).

"Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali 'Imran: 85).

Dengan agama inilah akan terwujud kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenteraman di dunia, serta kemenangan, kenikmatan, dan keselamatan di akhirat. Tanpa agama ini, yang ada hanyalah kesengsaraan, kesia-siaan, dan keterpecahan di dunia, serta kerugian, siksaan, dan keharaman dari rida Allah serta dari kenikmatan di akhirat.

Sesungguhnya banyak dari kaum muslimin yang tidak menghargai nikmat yang sedang mereka berada di dalamnya berupa penisbatan diri mereka kepada agama yang agung ini. Boleh jadi karena mereka mewarisinya tanpa ada jerih payah dari mereka, dan mereka tidak mencoba untuk mengenali apa yang diwujudkan oleh Islam bagi mereka berupa kebaikan di dunia dan akhirat mereka.

Sesungguhnya nikmat Islam adalah segala sesuatu, dan apa yang selainnya bukanlah apa-apa. Jika salah seorang dari kita ditimpa musibah pada hartanya, anaknya, pendengarannya, penglihatannya, atau apa pun dari kesenangan dunia, itu jauh lebih ringan baginya daripada musibah itu menimpa agamanya. Dan inilah Rasul kita yang tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam membimbing kita menuju hal tersebut dalam doa beliau:

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami serta batas tertinggi dari ilmu kami." (Hadis).

Betapa butuhnya kita untuk senantiasa mengulang-ulang pujian kita kepada Allah atas nikmat ini:

"Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami." (QS. Al-A'raf: 43).

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajak kita untuk menjaga nikmat ini sampai kita berjumpa dengan Allah dalam keadaan menetapinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali 'Imran: 102).

Karena sesungguhnya setiap perkara itu dinilai dari akhir penutupnya (khawatim). Dan inilah Nabi kita Yusuf 'alaihis salam, setelah Allah memberikan kekuasaan kepadanya, beliau berdoa kepada Allah agar mematukannya dalam keadaan muslim:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh." (QS. Yusuf: 101).

Dan agar nikmat ini menjadi sempurna atas kita, kita harus menjadi orang-orang muslim yang sejati.

Nikmat Persaudaraan (Ukhuwah)

Dan nikmat persaudaraan karena Allah serta cinta karena Allah—ikatan yang kuat yang murni demi wajah Allah—alangkah agungnya apa yang dilimpahkannya kepada para pemiliknya berupa kebahagiaan dan kenyamanan psikologis yang tidak dapat dinilai kecuali oleh orang yang telah menjalaninya. Barangsiapa yang telah mereguknya, ia pasti mengetahui, melalui kerja sama dalam kebajikan, saling menasihati, saling mengingatkan dalam kebaikan, solidaritas (takaful), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita akan nikmat ini melalui firman-Nya:

"Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal: 63).

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara." (QS. Ali 'Imran: 103).

Sungguh, kehidupan di tengah-tengah kaum yang hatinya dipenuhi oleh rasa dengki, dendam, kekikiran, dan kebencian adalah kehidupan yang tidak akan tertahankan, semuanya adalah kesedihan, kesengsaraan, dan kesempitan, wal 'iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah).

Merenungkan Nikmat-Nikmat Fisik

Setelah nikmat-nikmat yang besar ini, kita beralih ke nikmat-nikmat yang berada di bawahnya, lalu kita memikirkannya agar kita mengetahui nilainya.

Aku meminta Anda untuk menyendiri dengan diri Anda sendiri, lalu bayangkanlah bahwa Anda ditimpa musibah pada penglihatan Anda hingga Anda kehilangannya, dan para dokter angkat tangan serta gagal untuk mengembalikannya kepada Anda. Pikirkanlah perubahan yang akan terjadi pada kehidupan Anda dengan sedikit lebih rinci: dalam pekerjaan Anda, ilmu Anda, pergerakan Anda, dan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan Anda, serta sejauh mana batasan, hambatan, kesempitan yang akan Anda hadapi. Sejauh mana kedalaman tafakur Anda tersebut, sejauh itulah apresiasi Anda terhadap nikmat ini, sehingga sekiranya Anda disuruh memilih antara penglihatan ini dengan harta yang melimpah, Anda pasti akan memilih penglihatan daripada harta.

Pada saat itu, Anda akan berada dalam kesiapan penuh untuk memberikan janji-janji setia kepada Allah bahwa jika penglihatan Anda dikembalikan, Anda benar-benar akan menundukkannya untuk ketaatan kepada Allah dan tidak akan menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah. Maka, tidakkah sebaiknya kita mengikat diri kita dengan hal itu sekarang, ataukah kita harus menunggu sampai kita ditimpa musibah baru kemudian kita memberikan janji-janji setia?

Bayangkanlah wahai saudaraku setelah itu, karena satu dan lain hal, Anda juga kehilangan pendengaran bersamaan dengan hilangnya penglihatan. Bagaimana keadaan saat itu? Anda akan mendapati diri Anda berada di dalam penjara yang gelap gulita; tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar orang-orang di sekitar Anda. Akan semakin bertambah hambatan, kepayahan, kesempitan, atau belenggu dalam pergerakan dan segala urusan kehidupan. Pada saat itulah Anda akan mengetahui nilai dari nikmat-nikmat ini, kemurahan Allah atas Anda, keagungan rahmat dan ihsan-Nya, serta kefakiran dan kebutuhan Anda kepada-Nya. Dan sesungguhnya sekiranya Anda berpuasa di sepanjang siang, mendirikan salat di sepanjang malam, dan menghabiskan seluruh usia Anda dalam ketaatan kepada Allah, Anda belum tentu dapat memenuhi hak syukur atas kedua nikmat ini saja.

Janganlah bosan wahai saudaraku, teruslah bersamaku dan bayangkanlah jika bersamaan dengan hilangnya pendengaran dan penglihatan, Anda juga kehilangan kemampuan berbicara (lisan). Bayangkan kondisi Anda saat itu; penjara akan semakin gelap gulita, belenggu akan semakin bertambah, dan semakin sulit berinteraksi dengan kehidupan. Jika Anda menginginkan sesuatu, atau ada seseorang yang menginginkan sesuatu dari Anda, maka akan sangat sulit untuk mengenali keinginan-keinginan tersebut. Tanyalah pada diri Anda sendiri tentang sejauh mana kesabaran dan keridaan Anda dengan keadaan ini? Selama Anda tidak dianugerahi nikmat iman, Anda tidak akan kuat menanggung kehidupan seperti ini. Maka, tidakkah sebaiknya kita mewajibkan diri kita untuk menggunakan nikmat-nikmat ini dalam ketaatan kepada Allah, sehingga kita tidak melihat kecuali kepada yang halal, tidak mendengar kecuali kepada yang halal, dan tidak berbicara kecuali kebaikan?

Dan nikmat akal, alangkah agungnya dan alangkah indahnya nikmat dari Allah ini. Sekiranya ketiga indera Anda yang sebelumnya dikembalikan kepada Anda, namun tiba-tiba terjadi gangguan atau kekacauan pada akal Anda—ini sekadar bayangan saja, karena Anda—walhamdulillah—saat ini bersama akal Anda, sebab jika tidak, Anda tidak akan mungkin mengikuti apa yang aku tulis ini dan aku pasti sudah mengistirahatkan diriku—bagaimana kira-kira keadaannya? Tidak ada kedisiplinan, tidak ada kesadaran, tidak ada pemahaman terhadap bahaya apa pun, tidak ada komunikasi, dan tidak ada rasa aman dari terjadinya tindakan apa pun di waktu kapan pun. Kemudian, muaranya adalah dikurung bersama orang-orang yang sepertinya sampai kematian menjemputnya. Maka, tidakkah kita merasakan nilai dari nikmat akal ini dan menggunakannya untuk mengenali Allah, serta apa yang bermanfaat bagi kita dan bermanfaat bagi agama kita, dan tidak menundukkannya pada apa yang dimurkai Allah?

Demikian pula jika kita memikirkan nikmat-nikmat lainnya yang dikandung oleh tubuh kita; seperti tangan beserta jari-jemarinya, kaki beserta telapaknya, dan semua sistem tubuh serta semua organ internalnya. Jika seseorang ditimpa kerusakan pada sesuatu dari hal tersebut, niscaya akan melumpuhkan pergerakannya dan boleh jadi menjadikannya tawanan di atas tempat tidur sepanjang sebagian besar kehidupannya.

Gambaran-gambaran seperti ini nyata ada dan tegak di hadapan kita. Sebagai contoh, sebuah penyumbatan (stroke) sederhana pada salah satu pembuluh darah halus di otak dapat menyebabkan kelumpuhan, hilangnya kemampuan bicara, dan selain itu. Maka, apakah kita sudah memuji Allah atas nikmat kesehatan/afiat dan membaca firman Allah Ta'ala dengan tadabur dan khusyuk:

"Wahai manusia! Apakah yang telah mendurhakakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu." (QS. Al-Infitar: 6-8).

Nikmat-Nikmat di Luar Tubuh

Dan nikmat-nikmat yang banyak ini, yang dibutuhkan oleh tubuh berupa makanan, air, udara, dan kehangatan; hewan-hewan ini, tumbuh-tumbuhan, burung-burung, dan semua nikmat ini yang sekiranya kita diharamkan darinya, niscaya kita akan menghadapi kematian dan kebinasaan.

Air ini, yang mana Allah telah menjadikan darinya segala sesuatu yang hidup. Apakah Anda pernah memikirkan bagaimana ia sampai kepada Anda dalam keadaan dimudahkan? Siklus yang dijalankannya; mulai dari penguapan air dari samudra-samudra, lalu angin membawanya hingga menjadi gumpalan awan yang diarak oleh angin, kemudian jatuh sebagai hujan, dan disebabkan adanya gunung-gunung serta dataran tinggi, air itu mengalir di sungai-sungai hingga sampai kepada Anda.

Udara ini, beserta gas-gas di dalamnya yang mutlak diperlukan bagi kehidupan. Demikianlah jika kita membayangkan Anda diharamkan dari air, udara, makanan, atau kehangatan, niscaya Anda tidak akan tahan menjalani hidup dan akan menghadapi kebinasaan. Dan alangkah indahnya sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang senantiasa mengingatkan kita akan kemurahan Allah dan pemberian nikmat-Nya kepada kita setiap kali kita menikmati sesuatu dari nikmat-nikmat ini.

Dan apakah kita melupakan nikmat istri yang salehah dan keturunan yang saleh?

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74).

Bayangkan kehidupan Anda bersama istri yang tidak salehah; apa yang disebabkannya untuk Anda berupa gangguan, keletihan, bahkan fitnah. Atau kehidupan Anda tanpa seorang istri. Begitu pula keturunan, jika mereka tidak saleh, maka mereka menjadi sumber kesedihan dan kesengsaraan. Dan lihatlah juga kepada mereka yang belum dikaruniai keturunan, betapa besarnya kerinduan mereka kepadanya. Maka marilah kita memuji Allah atas nikmat-nikmat ini, bertakwa kepada Allah di dalamnya, dan menunaikan kewajiban-kewajiban kita terhadapnya. Dan Maha Benar Allah Yang Maha Agung:

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Ar-Rum: 21).

"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan perintah-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu. Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam garis edarnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu. Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS. Ibrahim: 32-34).

Benarlah Engkau ya Tuhan kami, kami tidak akan pernah mampu menghitungnya, dan kami tidak akan sanggup menunaikan apa yang menjadi hak pujian atas-Mu; Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.

Apakah Anda pernah memikirkan wahai saudaraku, tentang nikmat malam dan siang? Apakah Anda pernah memikirkan tentang nikmat tidur, dan bagaimana kiranya keadaan Anda jika Anda diharamkan dari nikmat ini? Alangkah indahnya firman Allah Ta'ala ketika mengingatkan kita akan hal itu dengan firman-Nya:

"Katakanlah (Muhammad), 'Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Apakah kamu tidak mendengar?' Katakanlah (Muhammad), 'Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu sebagai waktu untuk kamu beristirahat padanya? Apakah kamu tidak memperhatikan?' Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur'." (QS. Al-Qashash: 71-73).

Kesimpulan

Sesungguhnya kita tidak akan pernah mampu untuk terus menyebutkan satu per satu nikmat Allah atas kita. Akan tetapi wahai saudaraku, rasakanlah nikmat Allah atas Anda dalam segala sesuatu; ketika Anda bergerak, berbicara, makan, minum, berpakaian, tidur, bangun, melihat, mendengar, mencium, mengecap, atau menjalankan urusan apa pun dari urusan kehidupan Anda, dan bahwasanya sekiranya bukan karena kemurahan Allah dan rahmat-Nya, niscaya Anda tidak akan mampu melakukan sesuatu pun dari hal tersebut. Maka, merasa diawasilah oleh Allah (muraqabatullah) Subhanahu wa Ta'ala, dan jadikanlah segala yang keluar dari Anda adalah untuk Allah, dengan nama Allah, dan sesuai dengan syariat Allah.

Banyak manusia yang salah dalam memandang, di mana mereka membatasi pandangan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka hanya pada pendapatan bulanan atau tahunan mereka berupa uang (dirham) atau yang sejenisnya. Mereka melupakan sisa nikmat lainnya yang telah kita sebutkan sebagian tadi, yang mana nikmat-nikmat tersebut tidak akan tertandingi oleh jutaan bahkan miliaran harta. Dan Maha Benar Allah Yang Maha Agung:

"Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku.' Namun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinakanku'." (QS. Al-Fajr: 15-16).

Betapa butuhnya kita untuk meluruskan pandangan seperti ini, dan mengetahui bahwa kita di dalam kehidupan ini berada di dalam medan ujian, dan kita diuji dengan kebaikan sebagaimana kita juga diuji dengan keburukan:

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." (QS. Al-Anbiya': 35).

Setelah putaran tafakur tentang nikmat-nikmat Allah seperti ini, aku mengira bahwa kita keluar dengan membawa bekal berupa makrifat (pengenalan) akan kemurahan Allah atas kita, keindahan ihsan-Nya, serta sejauh mana kefakiran kita kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala.

Bekal ini mendorong kita untuk mengagungkan Allah, memuliakan-Nya, menaati-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan memperbaiki ibadah kepada-Nya, serta menjaga kita dari kelancangan menggunakan nikmat-nikmat-Nya atas kita untuk bermaksiat kepada-Nya. Karena sekiranya Allah menahan rahmat-Nya dari seorang manusia, niscaya nikmat-nikmat ini akan berubah menjadi petaka (niqam) yang membuatnya sengsara dan menjadikannya berdosa disebabkan oleh nikmat tersebut.

Memikirkan (Tafakur) tentang Perkara Gaib... yang Menanti Mereka

Banyak manusia tidak memikirkan tentang perkara gaib yang menanti mereka dan tempat kembali (tujuan akhir) yang sedang mereka tuju. Mereka hanya hidup untuk hari ini dan dunia mereka saja, seolah-olah perkara gaib ini tidak layak untuk diperhatikan. Padahal, dialah yang paling berhak atas segala perhatian, karena dialah masa depan atau kehidupan yang sesungguhnya lagi abadi.

Apakah mereka ragu akan terjadinya hal itu karena ia merupakan perkara gaib yang tidak dapat mereka sentuh dengan indera mereka? Ataukah dunia telah melalaikan dan menyibukkan mereka darinya? Jika yang pertama (ragu), maka hendaklah mereka memeriksa kembali keimanan mereka. Dan jika yang kedua (terlenang dunia), maka hendaklah mereka sadar sebelum terlambat. Sesungguhnya beriman kepada yang gaib dan kepada hari akhir merupakan syarat yang mutlak bagi terwujudnya keimanan. Dan bagaimana mungkin kita tidak beriman dengan keimanan yang yakin, sementara Allah 'Azza wa Jalla bersumpah dengan firman-Nya:

"Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti perkataan yang kamu ucapkan." (QS. Az-Zariyat: 23).

Sungguh, ini adalah kelalaian dan kesibukan dengan kesenangan dunia serta perhiasannya, sehingga tidak ada lagi waktu maupun ruang bagi manusia untuk memikirkan urusan akhirat.

Alangkah runtuhnya kita jika tidak membebaskan diri dari segala dampak kelalaian ini, lalu memikirkan perkara gaib ini seolah-olah kita sedang melaluinya dan hidup di dalamnya seakan-akan ia adalah kenyataan nyata sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka, tafakur ini akan menghasilkan sebuah apresiasi dan penilaian yang nyata terhadap perkara gaib ini, yang kemudian mendorong kita untuk beramal dan bersiap-siap menghadapi perkara gaib serta tempat kembali ini, yang di dalamnya terdapat kebahagiaan kita.

Dan perkara gaib itu dimulai dari detak waktu (momen) berikutnya. Jika kita mencoba membaginya menjadi beberapa tahapan, maka kita mulai dengan tahapan dari momen berikutnya hingga datangnya kematian, kemudian kematian, kemudian kubur dan kehidupan barzakh, kemudian kebangkitan (ba'ats), kemudian pemaparan amal (aradh), perhitungan (hisab), jembatan (shirat), lalu kemudian surga atau neraka.

Sisa Waktu dari Umur (Ajal)

Sisa waktu dari ajal (umur) ini, kita tidak tahu apakah ia masih panjang atau sudah pendek. Dan apakah kita akan diberi taufik di dalamnya untuk melakukan kebaikan dan amal saleh, ataukah kita akan dihadapkan pada fitnah-fitnah, penyimpangan, atau kesesatan; terutama di zaman ini yang fitnahnya sangat banyak dan beraneka ragam. Perasaan takut (khauf) dan waspada yang disertai dengan perasaan sangat berharap (thama') dan bersandar (raja') pada rahmat Allah, harus senantiasa menyertai setiap orang dari kita. Hal ini harus ada dalam bentuk yang melahirkan dorongan kuat dalam diri kita untuk memanfaatkan waktu demi mempersembahkan kebaikan yang bermanfaat bagi kita:

"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai kebaikan dan pahala yang paling besar." (QS. Al-Muzzammil: 20).

Dan berdasarkan metode berpikir kita (yang telah dibahas sebelumnya), duduklah wahai saudaraku, dan menyendirilah dengan dirimu sendiri. Bayangkanlah bahwa Anda—atau orang lain, jika hal ini membuat Anda tidak nyaman—telah divonis oleh para dokter bahwa ia menderita suatu penyakit yang menyebabkannya akan berjumpa dengan Allah dalam waktu yang tidak lebih dari enam bulan lagi misalnya. Ia pun telah mengetahui hal tersebut, sehingga masa hidupnya tampak begitu terbatas dan hitungan mundur (countdown) telah dimulai.

Bayangkan bersamaku bagaimana keadaannya—dengan asumsi bahwa ia adalah seorang mukmin—tidak diragukan lagi bahwa ia akan bersegera melakukan berbagai kebaikan dengan segala kemampuan yang ia miliki, memanfaatkan seluruh waktunya tanpa menyia-nyiakan satu momen pun untuk hal yang tidak bermanfaat baginya di akhirat. Kita akan mendapatinya mempersembahkan harta, tenaga, pikiran, jiwa, dan segala yang ia miliki di jalan Allah tanpa ada keraguan maupun kekikiran. Dan aku mengira ia tidak akan berani mendekati kemaksiatan, bahkan kemaksiatan itu tidak akan pernah terlintas di dalam benaknya. Bagaimana mungkin, sedangkan ia sedang bersiap-siap untuk berjumpa dengan Allah, menghadapi perhitungan, dan balasan? Inilah yang aku bayangkan.

Maka, wahai saudaraku, apakah ada salah seorang dari kita yang menjamin bahwa ajalnya akan terus berlanjut hingga enam bulan, atau beberapa hari, atau beberapa jam, atau beberapa menit, atau bahkan enam detik saja? Maka, tidakkah sebaiknya kita mencoba untuk berada dekat dengan keadaan seperti ini, sehingga kita senantiasa menanti perjumpaan dengan Allah dan bersiap-siap untuknya? Karena sesungguhnya ia datang secara tiba-tiba:

"Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati." (QS. Luqman: 34).

Setiap kali datang kepadamu kesempatan untuk beramal baik, maka janganlah menundanya, dan manfaatkanlah ia, karena boleh jadi akan ada penghalang antara dirimu dengan kesempatan tersebut. Bahkan, janganlah menunggu kesempatan baik itu datang kepadamu, melainkan usahakanlah ia dan carilah ia, agar Anda termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka:

"Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61).

Sesungguhnya kita melihat orang-orang yang bepergian jauh, terjaga di waktu malam, dan melelahkan diri mereka demi meraih keuntungan materi duniawi yang remeh. Bahkan mereka kerap melupakan diri mereka sendiri tanpa makan atau tidur dalam waktu yang lama disebabkan oleh keinginan yang kuat terhadap keuntungan materi tersebut. Maka, tidakkah sebaiknya kita mengambil pelajaran, lalu bangkit dan melelahkan diri kita dalam perniagaan kita dengan Allah? Dan alangkah jauhnya perbedaan antara kedua perniagaan tersebut serta di antara kedua keuntungan tersebut.

Bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku, dan beramallah sekuat kemampuanmu untuk Allah dengan penuh keikhlasan, komitmen terhadap syariat Allah, dan istikamah di atas perintah Allah. Berusahalah agar kematian tidak mendatangi Anda dalam keadaan Anda masih memiliki utang kepada seseorang, dan utang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan. Dan berusahalah untuk berjumpa dengan Allah dalam keadaan hati Anda bersih (salimush shadr) terhadap saudara-saudara muslim Anda. Ketahuilah bahwa derajat persaudaraan karena Allah yang paling rendah adalah kebersihan hati, dan yang paling tinggi adalah mengutamakan orang lain (itsar). Maka janganlah Anda melewati satu malam pun kecuali berada dalam keadaan seperti ini.

Dan bersegeralah wahai saudaraku untuk bertobat dan memohon ampunan sebelum kematian datang menjemput, karena sesungguhnya tobat tidak lagi diterima ketika kematian telah hadir di hadapan mata:

"Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanya bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena kebodohan, kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa': 17).

"Dan tidaklah tobat itu diterima dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang kematian kepada seseorang di antara mereka, dia berkata: 'Sesungguhnya saya bertobat sekarang.' Dan tidak pula (diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih." (QS. An-Nisa': 18).

Tahapan Kematian

Kemudian kita beralih ke tahapan kematian sebagai batas pemisah yang sangat penting di antara dua tahapan dalam perkara gaib yang menanti kita ini. Tidak ada seorang pun dari kita yang ragu bahwa ia akan mati, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran: 185).

Dan kita belum pernah melihat seorang pun yang dapat lari dari kematian. Namun, meskipun demikian, kita melihat banyak manusia yang melupakan kematian, seolah-olah kematian itu telah ditetapkan bagi orang selain mereka, disebabkan oleh kesibukan mereka dengan dunia.

Wajib bagi kita untuk senantiasa mengingat kematian dan berada dalam puncak kesiapan untuk berjumpa dengan Allah. Jika setan membisiki manusia untuk melakukan suatu kemaksiatan, lalu ia mengingat kematian dan bahwa boleh jadi kematian akan mengejutkannya saat ia sedang melakukan kemaksiatan tersebut tanpa ia mampu menolaknya, serta bagaimana hidupnya akan ditutup dengan akhir penutup (khatimah) seperti ini, dan perjumpaan seperti apa yang akan ia lakukan dengan Tuhannya dalam keadaan memikul dosa; tidak diragukan lagi bahwa mengingat kematian itu cukup untuk memalingkan bisikan ini darinya, menghardiknya, dan membantunya mengalahkan setannya.

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menunjukkan kepada kita untuk terus-menerus mengingat kematian, sebagaimana yang terdapat dalam doa sebelum tidur dan doa bangun tidur.

Berusahalah wahai saudaraku agar kematian mendatangi Anda dalam keadaan Anda berada di atas kebaikan dan dalam ketaatan. Istikamahtlah di atas perintah Allah dan jadilah bagian dari orang-orang yang bertakwa:

"(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): 'Salamun 'alaikum (keselamatan sejahtera bagimu), masuklah ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan'." (QS. An-Nahl: 32).

Sungguh, Anda telah menangis wahai saudaraku ketika Anda dilahirkan, sementara keluarga di sekitar Anda tertawa gembira. Maka berusahalah pada hari kematian Anda, di saat mereka menangis di sekitar Anda, Anda menjadi orang yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Cintailah perjumpaan dengan Allah, niscaya Allah akan mencintai perjumpaan dengan Anda.

Jadikanlah kematian ini di jalan Allah, bahkan jadikanlah ia sebagai cita-cita tertinggi Anda. Berusahalah untuk mengubah kematian Anda menjadi sebuah kehidupan dengan cara berjumpa dengan Allah sebagai seorang syahid:

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka bergembira dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka." (QS. Ali 'Imran: 169-170).

Adakanlah transaksi yang menguntungkan dengan Allah wahai saudaraku, jika Anda belum mengadakannya sebelum ini. Juallah jiwa dan harta Anda kepada-Nya untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Maka apabila ajal datang setelah transaksi itu diadakan—meskipun hanya berselang satu momen—Anda telah menang dan mendapatkan bayarannya. Dan jika ajal itu ditangguhkan (diperpanjang), maka jadilah orang yang senantiasa menepati janji dan transaksi Anda, serta janganlah ragu-ragu atau kikir:

"Dan barangsiapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang fakir; dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu." (QS. Muhammad: 38).

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Tawbah: 111).

Kubur dan Kehidupan Barzakh

Mari wahai saudaraku, setelah itu kita beralih ke kubur untuk mengunjunginya dalam keadaan kita masih hidup sebelum kita mengunjunginya kelak ketika mati, dan jangan sampai bermegah-megahan melalaikan kita. Mari kita mengunjunginya untuk mengenali kubur tersebut serta hakikat kehidupan di dalamnya, lalu kita mempersiapkannya dan membenahinya untuk menyambut kedatangan kita; bukan dengan semen, marmer, ataupun pasir yang halus, karena semua itu tidak memiliki bekas maupun pengaruh bagi orang-orang yang dikubur. Akan tetapi, mari kita mengambil pelajaran yang memotivasi kita untuk beramal saleh. Sebab, amallah yang akan menemani kita di dalam kubur, dan amallah yang menjadikannya baik itu sebagai taman di antara taman-taman surga atau sebuah lubang di antara lubang-lubang neraka.

Dan kehidupan di dalam kubur adalah masa yang terbatas, ia laksana sebuah kunjungan singkat yang setelahnya akan ada kebangkitan, pengumpulan, perhitungan, dan balasan. Dan Maha Benar Allah Yang Maha Agung:

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu mengunjungi kubur." (QS. At-Takatsur: 1-2).

Bukanlah dalam kemampuan kita untuk mengetahui secara mendetail tentang hakikat kehidupan pada masa ini, karena ia tidak diragukan lagi berbeda dengan kehidupan kita sekarang. Ruh terpisah dari jasad yang fana. Dan apa yang sahih di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah telah memberikan kita gambaran umum seputar kehidupan ini; para syuhada itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, dan Allah-lah yang lebih mengetahui tentang hakikat kehidupan yang mereka jalani di sisi Tuhan mereka. Dan di sana ada pula pemeriksaan kubur (pertanyaan malaikat) serta fitnah kubur, yang mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah membimbing kita untuk memohon perlindungan kepada Allah darinya.

Dan Al-Qur'an menyebutkan kepada kita mengenai urusan Firaun dan pengikut Firaun, dengan firman-Nya:

"Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat): 'Masukkanlah Firaun dan pengikut-pengikutnya ke dalam azab yang sangat keras'." (QS. Ghafir: 46).

Dan mengenai azab kubur, ia diisyaratkan oleh hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:

"Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan keduanya tidak diazab karena perkara yang besar (artinya: perkara yang sebenarnya berat dan sulit bagi mereka untuk meninggalkannya). Adapun salah satunya, dia dahulu tidak membersihkan diri dari bekas kencingnya. Sedangkan yang satunya lagi, dia dahulu suka berjalan melakukan namimah (adu domba)..." (Diriwayatkan oleh Al-Jama'ah).

Mari kita senantiasa mengingat kubur dan kehidupannya, karena sesungguhnya ia tidaklah jauh dari kita. Boleh jadi salah seorang dari kita berpagi hari di rumahnya dan di tengah-tengah keluarganya, namun sore harinya ia sudah berada seorang diri di dalam kuburnya.

Dan tidak lupa dalam kesempatan ini, aku ingin menyebutkan sebuah lintasan pikiran (khathirah) dari salah seorang saudara—semoga Allah memuliakannya—ketika ia ditangkap di kegelapan malam. Tentara penguasa yang zalim mengambilnya dari tengah-tengah keluarganya lalu melemparkannya ke dalam sel penjara yang gelap gulita lagi kosong dari segala sesuatu, kemudian mereka mengunci pintu di belakang mereka. Seketika itu, ia tidak dapat melihat sesuatu pun karena saking gelapnya. Maka muncullah lintasan pikiran tersebut: ia membayangkan bahwa ia telah keluar dari dunia dan telah berada di dalam kubur, dan bahwa ia sedang menghadapi perhitungan serta balasan, sedangkan amalnya tidak dapat menjamin keselamatan dirinya dari azab.

Ia pun merasa panik dan takut, lalu berangan-angan sekiranya Allah Ta'ala mengembalikannya ke dunia agar ia dapat memperbaiki urusannya dan membenahi keadaannya. Dan seolah-olah Allah benar-benar mengabulkan angan-angannya itu; di mana sekarang ia berada di dunia dan telah diperbarui baginya kesempatan untuk beramal serta membenahi urusannya.

Maka, lintasan pikiran ini memberikan pengaruh yang sangat efektif dalam jiwanya; ia menjadikannya rida dengan keadaan yang sedang ia jalani meskipun ia berada di dalam sel yang gelap gulita setelah beberapa saat sebelumnya berada di tengah keluarganya. Tidak ada keputusasaan, tidak ada kesedihan, dan tidak ada kesengsaraan, karena hal ini jauh lebih ringan daripada dihadapkan pada azab Allah. Sebagaimana lintasan pikiran ini juga memperkuat dorongan kebaikan dalam jiwanya serta tekad untuk bersegera menuju setiap amal saleh yang dengannya ia dapat meraih rida Allah dan yang menyelamatkannya dari azab Allah.

Inilah putaran tafakur tentang sebagian tahapan perkara gaib yang menanti kita. Mari kita membacanya berulang kali dan mari kita senantiasa mengingatnya, agar kita dapat membekali diri dengan bekal yang menjaga kita dan membantu kita di atas jalan ini. Dan hanya kepada Allah-lah tempat memohon pertolongan, dan dengan Allah-lah taufik itu diraih.

Memikirkan (Tafakur) tentang Hari Akhir

Tidaklah aku berlebihan jika aku mengatakan bahwa Hari Akhir tidak mendapatkan bagian dari pemikiran dan perhatian banyak kaum muslimin sebagaimana yang didapatkan oleh satu hari saja dari hari-hari dunia. Bahkan, boleh jadi telah berlalu masa yang panjang bagi sebagian orang tanpa pernah terlintas di dalam benak mereka tentang hari yang agung itu; hari ketika manusia bangkit menghadap Tuhan semesta alam. Tidakkah engkau melihat manusia bersiap-siap dan menyingsingkan lengan baju untuk menghadapi panasnya musim panas dan dinginnya musim dingin, namun mereka meremehkan dan tidak bersiap-siap untuk berlindung dari panasnya Jahanam dan dinginnya yang membekukan (zamharir)?

Meskipun ungkapan "beriman kepada Allah dan Hari Akhir" berulang kali disebutkan di dalam Al-Qur'an, kita melihat banyak orang yang tidak mengingat hari tersebut dan menganggapnya masih jauh. Bagi mereka, yang lebih utama untuk diperhatikan adalah sesuatu yang dekat, yaitu dunia.

Sesungguhnya sekadar mendengar nama-nama Hari Akhir itu saja, beserta gema bunyinya, sudah semestinya mampu menggetarkan perasaan dan membangunkan hati yang lalai: Al-Qari'ah (Hari Kiamat yang mengetuk hati), Al-Haqqah (Hari Kiamat yang pasti terjadi), Ash-Sha'iqah (Petir yang mengguntur), Al-Waqi'ah (Peristiwa Kiamat yang pasti jatuh), Ash-Shakhah (Suara tiupan sangkakala yang memekakkan), At-Thammatul Kubra (Malapetaka yang sangat besar), Al-Ghasyiyah (Peristiwa Kiamat yang menyelubungi), Ar-Rajfah (Goncangan yang dahsyat), hingga akhir dari nama-nama dan sifat-sifat ini.

Sekiranya kita mentadaburi apa yang tercantum di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah berupa penggambaran tentang hari ini beserta apa yang akan terjadi di dalamnya, lalu kita benar-benar menghidupkan penggambaran tersebut (dalam jiwa kita), niscaya mata kita tidak akan pernah terpejam untuk tidur, bibir kita tidak akan pernah tersenyum, hati kita tidak akan pernah merasa tenang, dan air mata kita tidak akan pernah kering.

Siapakah orangnya yang membaca atau mendengar ayat-ayat ini, lalu ia tidak terpengaruh dan tidak terbangun dari kelalaiannya:

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya goncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari kamu melihat goncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat pedih." (QS. Al-Hajj: 1-2).

Maka marilah wahai saudaraku, kita memikirkan bersama-sama tentang Hari Akhir beserta peristiwa-peristiwa dan pemandangan di dalamnya yang dapat membuat anak-anak beruban. Kita memikirkan tentang peniupan sangkakala (nafkhu fish-shur), kebangkitan (ba'ats), pengumpulan (nusyur), pemaparan amal di hadapan Dzat Yang Mahaperkasa (Al-Jabbar) untuk hisab, pertanggungjawaban atas perkara yang sedikit maupun yang banyak, penegakan timbangan (mizan) untuk mengetahui kadar amal dan menentukan tempat kembali, serta penyeberangan di atas jembatan (shirat) menuju kebahagiaan abadi di surga atau kesengsaraan abadi di neraka.

Sesungguhnya kita tidak akan mampu membahas seluruh pemandangan ini secara terperinci dalam satu atau beberapa artikel, akan tetapi kita akan menyebutkan sebagian gambaran umumnya dan mengambil pelajaran sebagai contoh dan manhaj (metode) untuk bertafakur dan mentadaburi, yang dapat menambah keimanan serta perhatian kita terhadap Hari Akhir.

Peniupan Sangkakala (Al-Nafkhu fish-Shur)

Pemandangan hari yang agung itu dimulai dengan tiupan pertama pada sangkakala, maka matilah (pingsanlah) siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Hal itu disertai dengan perkara-perkara yang sekadar membayangkannya saja terasa sulit bagi kita; seperti terbelahnya langit, bertebarannya bintang-bintang, dihancurkannya gunung-gunung, dinyalakannya lautan, digoncangkannya bumi, dan dibongkarnya kuburan-kuburan. Kemudian bumi diganti dengan bumi yang lain, demikian pula langit.

Lalu setelah itu datanglah tiupan yang lain (kedua), maka terjadilah kebangkitan dan pengumpulan, dan manusia pun berada dalam keadaan seperti laron yang beterbangan; dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dada, dan belum dikhitan. Mari kita membaca sebagian ayat dan hadis yang menggambarkan pemandangan ini:

"Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan masing-masing)." (QS. Az-Zumar: 68).

"Pada hari (ketika) tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada hari itu sangat ketakutan, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata: 'Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula di dalam kubur?'" (QS. An-Nazi'at: 6-10).

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan bulan pun telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: 'Ke mana tempat berlari?'" (QS. Al-Qiyamah: 7-10).

"Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." (QS. 'Abasa: 34-42).

Demikianlah keadaan kepanikan, ketakutan, hawa panas, keringat yang bercucuran, dan kebingungan. Di dalam hadis Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Hari ketika manusia bangkit menghadap Tuhan semesta alam, hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai mencapai setengah daun telinganya." (Muttafaq 'Alaih).

Maka, wajib bagi kita untuk bersungguh-sungguh hari ini (di dunia) agar kita menjadi bagian dari pemilik wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa, lagi gembira ria pada hari itu kelak.

Pemaparan Amal (Aradh), Perhitungan (Hisab), dan Timbangan (Mizan)

Bayangkanlah dirimu wahai saudaraku, sedang berdiri di hadapan Allah 'Azza wa Jalla; ditanya tentang setiap perbuatan atau perkataan yang keluar dari dirimu sekecil apa pun itu. Jika sebagian orang di sini, di dunia, persendian mereka gemetar ketika atasan mereka bertanya tentang suatu kesalahan yang mereka perbuat, maka bagaimana gerangan keadaan kita saat dipaparkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)." (QS. Al-Haqqah: 18).

"Pada hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rasul, ingin sekiranya mereka diratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan suatu kejadian pun dari Allah." (QS. An-Nisa': 42).

Tidak ada pengingkaran, tidak ada alasan, dan tidak ada tempat melarikan diri:

"Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (QS. Al-Qiyamah: 14-15).

Dan saksinya adalah sebagian anggota tubuh sendiri:

"Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. An-Nur: 24).

Di dalam situasi ini, segala kezaliman akan dikembalikan dan setiap pemilik kezaliman (korban) akan dipenuhi haknya dari orang yang menzaliminya. Di sini, sangat tepat jika kita menyebutkan hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?" Kami menjawab: "Orang yang bangkrut di antara kami, wahai Rasulullah, adalah orang yang tidak memiliki dirham, dinar, maupun harta benda." Beliau bersabda: "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat; namun ia datang dalam keadaan dahulu telah mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si ini. Maka diberikanlah kepada si ini dari kebaikan-kebaikannya (pahalanya) dan kepada si ini dari kebaikan-kebaikannya. Maka jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, diambilkanlah dari dosa-dosa mereka (korban) lalu dilemparkan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka." (Hadis).

Pada situasi ini, tampak jelas penyesalan, kehinaan, kerugian, ketakutan, dan kepanikan. Anda akan mendapati orang yang berkata:

"Aduhai, kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia." (QS. Al-Furqan: 27-29).

Sebagaimana di sana ada orang-orang lain yang berada dalam keamanan, kegembiraan, dan suka cita; kita memohon kepada Allah agar kita termasuk ke dalam golongan mereka.

Jembatan (Shirat)

Setelah pemaparan amal dan perhitungan ini, datanglah giliran untuk menyeberangi jembatan (shirat) yang dibentangkan di atas neraka Jahanam. Sekiranya Anda membayangkan pemandangan ini sebagai kenyataan di hadapan Anda, niscaya hati Anda akan bergidik ketakutan dari sekadar memikirkan untuk menyeberanginya. Tadaburilah bersamaku hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Manusia akan melewati jembatan Jahanam, sedangkan di jembatan itu terdapat duri-duri besi, kait-kait, dan cakar-cakar besi yang menyambar manusia ke kanan dan ke kiri. Dan di kedua sisinya terdapat para malaikat yang berdoa: 'Ya Allah, selamatkanlah, ya Allah, selamatkanlah.' Maka di antara manusia ada yang lewat laksana kilat, ada yang lewat laksana angin, ada yang lewat laksana penunggang kuda yang cepat, ada yang berlari cepat, ada yang berjalan biasa, ada yang merangkak, dan ada yang merayap. Adapun penduduk neraka yang merupakan penghuni aslinya, mereka tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup. Sedangkan sekelompok manusia (kaum mukmin yang berdosa) ditangkap karena dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka, lalu mereka terbakar hingga menjadi arang, kemudian barulah diizinkan untuk memberikan syafaat." (Muttafaq 'Alaih, dari Abu Sa'id Al-Khudri).

Syafaat

Sebagian dari orang-orang mukmin yang telah ditetapkan untuk masuk ke dalam neraka, Allah memberikan karunia-Nya atas mereka dengan menerima syafaat dari orang-orang yang Dia ridai; baik dari kalangan para nabi, para syuhada, maupun orang-orang saleh. Dan Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam telah dianugerahi syafaat tersebut, sebagaimana dalam hadis beliau:

"Aku dianugerahi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku... dan syafaat adalah salah satunya." (Hadis).

Dan dalam hadis yang lain:

"Setiap nabi memiliki doa yang mustajab (pasti dikabulkan), maka aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat." (Muttafaq 'Alaih).

Ini merupakan karunia dan pemuliaan dari Allah untuk umat Islam dan Nabinya shallallahu 'alaihi wa sallam.

Telaga (Al-Haudh)

Telaga (Al-Haudh) merupakan kekhususan lainnya bagi Rasul kita 'alaihish shalatu was salam dan bagi umatnya. Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Anas, ia berkata:

"Ketika diturunkan surat Al-Kautsar kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bertanya kepada para sahabat: 'Tahukah kalian apakah Al-Kautsar itu?' Mereka menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya ia adalah sebuah sungai yang dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku 'Azza wa Jalla, di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak. Di atasnya terdapat telaga yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat, yang mana wadah-wadahnya sejumlah bintang di langit'." (Hadis).

Neraka Jahanam

Agar memikirkan Hari Akhir ini memiliki pengaruh yang efektif di dalam jiwa, kita mesti memikirkan tentang surga dan tentang neraka, lalu kita membayangkan kehidupan di dalam masing-masing dari keduanya dengan menghadirkan pemandangan dan penggambaran yang tercantum di dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis. Dengan demikian, akan lahirlah rasa takut dan ngeri terhadap neraka sehingga kita berlari menjauh darinya dengan cara menjauhi kemaksiatan, serta kita menjadi rindu kepada surga sehingga kita bersegera menuju kepadanya. Kita cukupkan dengan menyebutkan sebagian darinya sebagai contoh; padahal sekiranya satu ayat saja dari ayat-ayat tersebut menyentuh hati orang yang beriman tanpa ada penghalang, niscaya ia akan menggoncang pemiliknya dengan segoncang-goncangnya dan membuat kulitnya merinding.

Bacalah bersamaku, setelah Anda mengosongkan hati dan pikiran Anda dari segala kesibukan dan pengalih perhatian:

"Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar tentang Tuhan mereka. Maka orang-orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, mereka dikembalikan ke dalamnya. (Dikatakan kepada mereka): 'Rasakanlah azab yang membakar ini'." (QS. Al-Hajj: 19-22).

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka sirna, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa': 56).

"Dan mereka memohon keputusan (kepada Allah) dan merugilah semua orang yang gagah perkasa lagi penentang, di hadapannya ada Jahanam dan dia diberi minum dengan air nanah, diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak mati, dan di hadapannya masih ada azab yang berat." (QS. Ibrahim: 15-17).

"Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai cairan tembaga yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas. 'Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya azab (dari) air yang sangat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia'." (QS. Ad-Dukhan: 43-49).

Di sini, di dunia, jika sebuah kebakaran melanda sebuah tempat tinggal yang tinggi dan penghuninya tidak mampu melarikan diri melalui tangga, mereka akan melemparkan diri mereka sendiri dari balkon karena takut akan api; meskipun mereka mengetahui bahwa dengan tindakan itu mereka menghadapkan diri pada risiko cedera dan boleh jadi kematian. Maka, tidakkah mereka takut kepada neraka Jahanam sebagaimana takutnya mereka kepada api dunia? Padahal, neraka Jahanam jauh lebih berhak untuk ditakuti.

Dan jangan lupa kita sebutkan sikap Iblis di hadapan para pengikutnya ketika ia berlepas diri dan mengembalikan cercaan kepada mereka sendiri:

"Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku; oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku telah mengingkari kemusyrikanmu yang telah kamu sekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.' Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat azab yang pedih." (QS. Ibrahim: 22).

Surga dan Kenikmatannya

Berembuslah wahai angin surga, alangkah harumnya aroma dirimu dan alangkah rindunya kami kepadamu. Sesungguhnya apa yang disebutkan di dalam Kitab Allah dan hadis-hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang surga dan penggambaran kenikmatannya adalah dalam bentuk penyerupaan (analogi) dengan apa yang ada di dunia kita berupa kenikmatan, akan tetapi hakikatnya jauh melampaui apa yang ada di dunia kita dengan bentuk yang tidak pernah terlintas di dalam benak kita.

Kembalilah wahai saudaraku kepada Kitab Allah, bacalah dengan perlahan, dan tadaburilah ayat-ayat yang di dalamnya terdapat penyebutan tentang surga beserta kenikmatannya. Pejamkanlah matamu dan bayangkanlah dirimu berada di tengah-tengah kenikmatan ini, serta rasakanlah rasa rindu dan damba terhadap tempat kembali ini. Di sanalah tempat keamanan, kebahagiaan, dan segala jenis kenikmatan; tidak ada kepanikan, tidak ada ketakutan, tidak ada keletihan, tidak ada kesusahan, dan tidak ada kehinaan. Tidak ada dendam, tidak ada kebencian, melainkan mereka menjadi saudara-saudara yang saling berhadapan di atas dipan-dipan.

Dan jika istana-istana, kebun-kebun, bidadari-bidadari yang bermata jeli, serta beraneka macam makanan, minuman, buah-buahan, dan pakaian adalah segala hal yang dirindukan oleh jiwa; namun hal yang melampaui itu semua adalah rida Allah dan melihat kepada wajah-Nya Yang Mahamulia:

"Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS. At-Tawbah: 72).

Demikian pula kebersamaan dengan para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh; dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Maka, marilah kita mencurahkan seluruh kesungguhan di jalan Allah dan demi menolong agama-Nya. Dan mari kita tanggung segala apa yang kita jumpai di jalan dakwah ini demi mendambakan keridaan Allah. Dan aku tidak lupa sebuah makna yang indah yang pernah diingatkan oleh salah seorang saudara kepada kami di dalam penjara pada kali pertama tahun 1948, di mana ia berkata:

"Nabi Musa 'alaihis salam menghabiskan waktu delapan atau sepuluh tahun sebagai pekerja kasar (pemberian mahar) untuk pengantinnya di dunia. Maka lihatlah kepada para bidadari surga, berapakah kira-kira mahar mereka?"

Penutup dan Sebuah Kisah Pelajaran

Di akhir putaran tafakur tentang perkara gaib yang menanti kita ini, aku akan menceritakan sebuah kisah yang pernah aku baca. Kisah tentang salah seorang muslim yang dahulu sering bermaksiat kepada Allah lalu bertobat, namun ia kembali lagi melakukan maksiat, dan hal itu berulang kali terjadi padanya. Maka ia mengadukan keadaannya kepada salah seorang yang saleh. Orang saleh itu berkata kepadanya:

"Jika kamu sanggup memenuhi lima perkara, maka janganlah kamu pusingkan dirimu dari sisi kemaksiatan (silakan bermaksiat sesukamu)."

Lelaki itu bertanya: "Apakah lima perkara itu?"

Orang saleh menjawab: "Pertama, jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah kamu tinggal di dalam kerajaan-Nya (bumi dan langit-Nya)."

Lelaki itu berkata: "Aku tidak akan sanggup melakukan itu."

Orang saleh berkata: "Yang kedua, jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan rezeki-Nya."

Lelaki itu berkata: "Jika begitu, aku akan mati kelaparan."

Orang saleh berkata: "Kamu tinggal di dalam kerajaan-Nya, memakan rezeki-Nya, lalu kamu bermaksiat kepada-Nya secara terang-terangan? Ini adalah puncak dari pengingkaran!"

Lelaki itu bertanya: "Apakah yang ketiga?"

Orang saleh berkata: "Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, bermaksiatlah di tempat yang tidak ada seorang pun dapat melihatmu di sana."

Lelaki itu berkata: "Tidak ada satu pun urusan yang tersembunyi bagi-Nya."

Lelaki itu bertanya: "Apakah yang keempat?"

Orang saleh berkata: "Ketika malaikat maut mendatangimu, mintalah kepadanya agar ia meninggalkanmu (menunda kematianmu) sampai kamu bertobat dengan tobat yang nasuha."

Lelaki itu berkata: "Ia tidak akan mengabulkan permintaanku."

Orang saleh berkata: "Jika demikian, mengapa kamu tidak bersegera melakukan tobat yang nasuha sekarang?"

Lelaki itu bertanya: "Apakah yang kelima?"

Orang saleh berkata: "Ketika kamu digiring menuju neraka Jahanam, janganlah kamu ikut pergi bersama mereka."

Lelaki itu berkata: "Ini adalah hal yang mustahil."

Kemudian lelaki itu bertobat pada kali ini, dan itu adalah tobat yang nasuha yang ia tidak pernah kembali lagi setelahnya pada kemaksiatan.

Dan hal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa makna-makna keimanan kepada Allah dan Hari Akhir dahulunya sempat padam di dalam jiwanya, lalu orang saleh itu membangunkannya kembali di dalam jiwanya dengan metode (pendekatan) ini, sehingga memberikan pengaruh yang mendalam, lalu melahirkan tobat yang nasuha.

Dan kita berharap agar tafakur yang telah kita sampaikan ini memberikan pengaruh yang serupa seperti ini dalam diri kita. Dan hanya kepada Allah-lah tempat memohon pertolongan, dan dengan Allah-lah taufik itu diraih.

Dan di dalam Sirah yang Harum... Terdapat Bekal

Sesungguhnya para dai yang menyeru kepada Allah pada hari ini dan orang-orang yang meniti jalan dakwah, mereka akan mendapati di dalam sirah (sejarah perjalanan hidup) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebaik-baik bekal di perjalanan. Hal tersebut dikarenakan banyak sebab, di antaranya:

Bahwa jalan dakwah yang sedang kita lalui ini adalah jalan yang sama dengan jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya terdahulu. Dan karena kita sedang hidup dalam fase yang sangat mirip dengan fase pertama dakwah... di mana Islam telah kembali menjadi asing, dan jahiliah telah kembali mengancam masyarakat kita. Para dai yang menyeru kepada Allah dipersempit ruang geraknya, ditindas, serta disiksa, sementara musuh-musuh Allah terus membuat tipu daya dan mengintai. Hal ini menegaskan betapa pentingnya kita membekali diri dari sirah dengan segala sikap dan peristiwa yang ada di dalamnya; terlebih lagi karena sang pelopor dan pemimpinnya adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau adalah sebaik-baik teladan bagi kita sebagaimana yang telah Allah 'Azza wa Jalla tetapkan:

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).

Demikian pula orang-orang yang berjalan bersama beliau di atas jalan dakwah ini adalah para sahabat radhiyallahu 'anhum, yang di atas pundak-pundak merekalah tegak negara Islam yang pertama. Mereka laksana lampu-lampu penerang, dengan siapa pun di antara mereka kita meneladani, niscaya kita akan mendapat petunjuk.

Oleh karena itu, sirah merepresentasikan sebuah periode yang gemilang dan penuh sesak dengan segala makna kebaikan. Ia adalah periode turunnya limpahan karunia, rahmat, dan cahaya Allah bagi seluruh umat manusia melalui turunnya wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan di samping semua itu, sirah merupakan wujud penerapan pertama yang benar bagi Islam di dalam kehidupan manusia.

Semua hal tersebut mengharuskan kita untuk mempelajari sirah dengan metode studi amal dan peneladanan (ijtihad), serta mengenali secara mendalam setiap sikap dan peristiwa yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya; juga bagaimana perilaku dan tindakan mereka dalam menghadapinya agar kita dapat mengambil keteladanan, pelajaran, serta bekal.

Dan tidak perlu dijelaskan lagi bahwa keteladanan yang nyata secara praktik memiliki pengaruh yang jauh lebih efektif di dalam jiwa dibandingkan dengan sekadar nasihat lisan belaka, dan di dalam hal ini terdapat sebaik-baik bekal di perjalanan.

Kita tidak akan mampu merangkum seluruh nasihat, pelajaran, dan hikmah yang ada di dalam sirah, akan tetapi kita akan memaparkan sebagian darinya sebagai contoh, serta kami tegaskan kembali tentang pentingnya "mempelajari" sirah, dan kami tidak mengatakan sekadar "membaca" sirah.

Persiapan Jiwa dan Ruhani

Sesungguhnya perkara pertama dan terpenting yang dapat dijadikan bekal dari sirah—dan sangat kita butuhkan di atas jalan dakwah—adalah persiapan jiwa (mental) dan bekal ruhani. Sebab, hal itu merupakan penolong terbaik untuk menunaikan tuntutan-tuntutan dakwah, mengatasi berbagai rintangan dan kesulitan, serta menjaga diri dari tikungan-tikungan tajam maupun penyimpangan.

Kita dapat melihat hal tersebut pada petunjuk yang Allah ilhamkan kepada Rasul-Nya sebelum masa kenabian, yaitu dengan melakukan tahannuts (menyendiri untuk beribadah) di dalam Gua Hira selama berhari-hari dan bermalam-malam yang panjang. Hal ini juga tecermin dalam arahan Allah kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menegakkan salat malam (tahajud):

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang dari itu sedikit, atau lebih dari (separuh) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu." (QS. Al-Muzzammil: 1-5).

Maka, mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki hubungan dengan-Nya merupakan sebaik-baik bekal di perjalanan.

Keteguhan dalam Menghadapi Gangguan

Setiap kali kita membaca berbagai macam gangguan yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, serta kesabaran dan keteguhan beliau yang disertai dengan semangat yang menggebu untuk memberi petunjuk kepada kaumnya, niscaya kita akan mendapatkan bekal dan kekuatan untuk terus berjalan membawa dakwah ini serta menanggung setiap gangguan.

Sebagaimana peristiwa syahidnya Yasir dan Sumayyah di bawah siksaan yang keji, serta keteguhan Bilal, kesemuanya menjadi bekal dan bahan bakar bagi generasi demi generasi di sepanjang masa dan zaman, sekaligus menjadi penguat bagi mereka di atas kebenaran.

Mengesampingkan Kesenangan Dunia demi Akidah

Lihatlah wahai saudaraku, pada pengaruh mendalam yang ditimbulkan di dalam jiwa kita oleh sikap agung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan perkataan abadi beliau ketika ditawarkan kepadanya kerajaan, kemegahan, dan kekuasaan, lalu beliau bersabda:

"Demi Allah wahai paman, sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa di jalannya."

Di dalam perkataan tersebut terdapat tantangan nyata terhadap kebatilan dan sikap meremehkan segala kesenangan dunia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah dituduh sebagai pendusta, tukang sihir, dan orang gila, namun beliau bersabar dan tidak marah karena hal tersebut. Kenyataan di lapangan secara praktik justru membuktikan kepalsuan tuduhan-tuduhan ini. Dahulu kala, Nabi Musa 'alaihis salam juga dituduh sebagai perusak, sementara Firaun mengklaim bahwa dialah yang menunjuki ke jalan yang benar.

Dan para dai yang menyeru kepada Allah pada hari-hari ini pun dituduh dengan tuduhan terorisme, bersembunyi di balik tameng agama, dan tuduhan lainnya; padahal tuduhan-tuduhan semacam ini telah terbukti sebelumnya secara pasti akan kepalsuan dan kebatilannya. Maka hendaklah mereka bersabar, tidak melemah, dan tidak menyerah.

Lihatlah wahai saudaraku, pada ketahanan kaum muslimin generasi pertama dalam menanggung rasa lapar dan boikot di Syi'ib Abi Thalib selama tiga tahun penuh, hingga mereka memakan dedaunan pohon, namun mereka tidak pernah melepaskan akidah mereka dan mereka lebih mengutamakan dakwah Allah di atas segala kesenangan dunia.

Mengharap Hidayah bagi Orang yang Memusuhi

Setiap dai yang menyeru kepada Allah akan mendapati bekal yang sangat luar biasa dalam kisah perginya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke Kota Thaif, menempuh jarak perjalanan yang sangat jauh demi menyampaikan dakwah, serta apa yang beliau jumpai di sana berupa penolakan dan gangguan yang menyakitkan. Namun setelah semua itu, beliau justru berdoa:

"Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

Dan doa ini, yang di dalamnya beliau mengadukan kepada Allah tentang lemahnya kekuatan beliau, sedikitnya cerdik-cendikia beliau, serta hinanya beliau di hadapan manusia; doa ini mengandung makna-makna yang sangat besar dan mendalam tentang kepasrahan total kepada Allah, keluar dari daya dan kekuatan diri sendiri menuju daya dan kekuatan Allah, serta bahwasanya beliau tidak takut terhadap apa pun kecuali murka Allah atas dirinya:

"Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli (dengan apa yang aku hadapi)..." hingga akhir dari makna-makna ini yang mendorong kepada kebaikan dan keberlanjutan dalam menyampaikan dakwah meskipun di tengah kepungan gangguan.

Peran Keluarga dan Peristiwa-Peristiwa Bersejarah

Di dalam sikap Sayyidah Khadijah Ummul Mu'minin radhiyallahu 'anha bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, terdapat sebaik-baik bekal dan keteladanan bagi setiap saudari muslimah agar ia dapat menjadi penolong bagi suaminya di atas jalan dakwah; menguatkannya dan menentramkannya, bukan melemahkan semangatnya atau menelantarkannya.

Dan barangsiapa yang membaca hadis-hadis tentang Israk dan Mikraj di dalam sirah, niscaya ia akan keluar darinya dengan membawa bekal, pelajaran, dan hikmah yang sangat banyak yang dapat menambah keimanan orang-orang yang beriman. Dan alangkah butuhnya kaum muslimin hari ini untuk merasakan kedudukan Masjidil Aqsa dan wilayah di sekitarnya, serta apa yang wajib atas kita untuk membebaskan tempat-tempat suci ini dari tangan-tangan zionis perampas.

Dan peristiwa hijrah secara keseluruhan adalah rangkaian pelajaran, hikmah, dan bekal yang tidak mampu kita batasi di sini. Setiap individu yang terlibat atau mengambil peran di dalamnya memiliki sikap dan contoh teladan yang mengagumkan bagi satu sisi atau lebih dari sisi-sisi kebaikan yang patut diteladani oleh para dai. Seperti ketenangan Rasulullah dan keyakinan beliau kepada Tuhannya, perhatian besar Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kepahlawanan pengorbanan Ali, keteguhan hati Abdullah bin Abi Bakar dan Asma serta keberhasilan mereka dalam memainkan peran di tengah atmosfer yang penuh ketegangan itu sembari merahasiakan urusan tersebut.

Juga janji Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Suraqah berupa gelang milik Kisra, yang di dalamnya terdapat keyakinan penuh akan pertolongan Allah. Kemudian cinta yang membuncah serta kerinduan yang sangat besar dari penduduk Madinah yang tampak jelas dari penantian mereka akan kedatangan beliau dan penyambutan mereka yang meriah terhadapnya, serta makna-makna lain yang memiliki pengaruh psikologis yang sangat besar; semua itu sangat dibutuhkan oleh seorang dai ketika ia sedang berada di atas jalan dakwah.

Fungsi Masjid dan Kewaspadaan terhadap Pengkhianatan

Ambillah pelajaran wahai saudaraku, dari perhatian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap pembangunan masjid di setiap tempat yang beliau singgahi, agar kita mengetahui pentingnya risalah (misi) masjid dan perannya dalam membangun negara Islam; sehingga kita bekerja untuk mengembalikan peran penting masjid ini dan tidak membatasinya hanya untuk mendirikan salat di dalamnya saja.

Terdapat pula pelajaran yang sangat kita butuhkan hari ini, yaitu sikap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap kaum Yahudi dan sikap mereka terhadap beliau serta dakwah beliau. Pada awal menetapnya beliau di Madinah, beliau sangat bertekad untuk membangun hubungan damai di antara beliau dengan mereka, menjamin keamanan agama mereka dan harta benda mereka, serta beliau menulis sebuah perjanjian tertulis untuk mereka. Akan tetapi, mereka adalah kaum pengkhianat. Tidak berselang lama, mereka langsung bersekongkol untuk membunuh beliau, yang mana hal itu menjadi sebab terjadinya Perang Bani Nadhir.

Kemudian mereka melanggar perjanjian beliau di saat situasi sedang berada dalam puncak genting, yaitu pada hari Perang Ahzab (Khandaq), yang mana hal itu menjadi sebab terjadinya Perang Bani Quraizhah. Kemudian mereka berkumpul dari segala penjuru, mempersiapkan senjata, dan merancang makar tersembunyi untuk menyerang Kota Madinah dan orang-orang mukmin dengan cara yang khianat lagi nista, yang mana hal itu menjadi sebab terjadinya Perang Khaibar. Mereka adalah kaum yang tidak pernah membenarkan janji dan tidak pernah istikamah di atas perjanjian, maka marilah kita mengambil pelajaran ini dan jangan sampai kita terpedaya oleh hal selain itu.

Pengorbanan yang Tulus dan Persaudaraan Islam

Ambillah bekal wahai saudaraku dari Perang Tabuk, dan lihatlah apa yang diperbuat oleh keimanan yang jujur di dalam jiwa orang-orang mukmin berupa membakar semangat mereka untuk berperang, ringannya tangan mereka dalam menginfakkan harta, serta kesediaan mereka untuk menganggap manis rasa pahit, penderitaan, dan keletihan yang sangat berat di jalan Allah dan demi meraih keridaan-Nya.

Ambillah bekal dari sikap sekelompok orang yang datang untuk berjihad, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menolak mereka karena beliau tidak mendapati kendaraan yang dapat membawa mereka. Mereka pun berpaling pulang sementara mata mereka mencucurkan air mata karena sedih atas terhalangnya mereka dari kemuliaan berjihad dan kesempatan untuk meraih syahid di jalan Allah Ta'ala. Padahal, tabiat manusia pada umumnya adalah merasa gembira karena selamat dari bahaya dan jauh dari peperangan. Akan tetapi, keimanan yang jujurlah yang meluruskan kembali timbangan nilai; ia menjadikan setiap kematian di jalan Allah sebagai mati syahid, setiap gangguan dalam dakwah kebenaran sebagai kemuliaan, dan setiap ujian karena melakukan perbaikan sebagai keabadian.

Alangkah butuhnya orang yang meniti jalan dakwah terhadap bekal yang ia dapatkan ketika ia membaca di dalam sirah tentang peristiwa dipersaudarakannya oleh Rasulullah antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar, serta apa yang menyertainya berupa potret cinta dan sifat mementingkan orang lain (itsar) yang digambarkan oleh Al-Qur'anul Karim dalam firman-Nya:

"Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9).

Pelajaran dari Berbagai Peperangan

Di dalam peperangan terdapat bekal. Kita melihat potret keberanian, jihad, infak, dan meraih syahid di jalan Allah... Kita melihat di dalam Perang Badar bagaimana Allah menolong kelompok mukmin yang sedikit atas kelompok kafir pemberontak yang banyak. Kita melihat di dalam Perang Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekah) bagaimana tawadunya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika meraih kemenangan, tanpa ada rasa silau, sombong, atau tinggi diri.

Di dalam Perang Uhud dan Perang Hunain terdapat banyak pelajaran dan hikmah seputar sebab-sebab kekalahan serta mutlaknya komitmen mematuhi perintah dan instruksi pemimpin. Dan di dalam Perang Tabuk terdapat banyak pelajaran dan hikmah; yaitu berangkat berjihad meskipun di tengah cuaca panas dan keletihan yang sangat, serta tidak menggubris upaya pelemahan semangat dari kaum munafik yang berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Kemudian di dalam kisah tiga orang yang ditangguhkan penerimaan tobatnya (tsalatsatulladzina khullifu), terdapat banyak pelajaran dan hikmah bagi para pemilik dakwah.

Di dalam sirah, kita juga mendapati cinta yang sangat mendalam dari kaum muslimin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan semangat yang menggebu untuk meneladani beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dalam setiap urusan kecil maupun besar. Kita melihat indahnya kepatuhan orang-orang mukmin terhadap setiap perintah atau larangan yang ada di dalam Al-Qur'an maupun dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa ada keraguan sedikit pun; sebagaimana yang terjadi ketika diharamkannya khamar dan ketika turunnya ayat hijab bagi para wanita.

Keteladanan bagi Wanita dan Pemuda

Bagi saudari muslimah, terdapat bekal yang sangat besar melalui sirah. Sebagai contoh, sikap Nusaibah (Ummu 'Umarah) Al-Anshariyyah radhiyallahu 'anha di dalam Perang Uhud ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terluka dan terjatuh, lalu orang-orang musyrik berkerumun mengepung beliau dengan maksud untuk membunuh beliau. Maka bertumpu teguhlah beliau, dan teguh pula bersamanya sekelompok orang dari kaum mukmin; di antaranya adalah Abu Dujanah radhiyallahu 'anhu yang menjadikan dirinya sebagai tameng hidup bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melindungi beliau dari anak panah orang-orang musyrik, hingga anak-anak panah itu menancap di punggungnya.

Di antara mereka ada pula Nusaibah (Ummu 'Umarah) yang meninggalkan tugas memberi minum orang-orang yang terluka, lalu ikut menghunus pedang dan melempar anak panah demi mempertahankan keselamatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan Rasulullah telah bersabda mengenai dirinya:

"Tidaklah aku menoleh ke kanan maupun ke kiri pada hari Perang Uhud melainkan aku melihatnya sedang berperang membelaku, dan ia terluka pada hari itu sebanyak dua belas luka."

Dan bagi pemuda muslim, hendaknya ia mengambil bekal dan rasa percaya diri ketika membaca tentang pengutusan pasukan Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu; bagaimana Islam membuka ruang selebar-lebarnya bagi kompetensi dan kejeniusan para pemuda, serta memberikan mereka wewenang untuk memimpin urusan ketika mereka memang telah layak untuk itu. Di dalam pengangkatan Usamah sebagai pemimpin atas orang-orang seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum, terdapat pelajaran, bekal, serta bukti atas sejauh mana tingkat penempaan jiwa dan akhlak yang berhasil mereka capai berkat petunjuk Allah serta tarbiah (pendidikan) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan bimbingan beliau kepada mereka.

Penutup: Menghidupkan Sirah dalam Dakwah Hari Ini

Agar Anda dapat mengambil manfaat yang sangat besar dari bacaan sirah Anda wahai saudaraku, bacalah ia seolah-olah Anda sedang hidup mengalami peristiwa-peristiwanya bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Dan sebagai timbal balik dari hal tersebut, di saat Anda sedang berada di atas jalan dakwah pada hari-hari ini, wajib bagi Anda untuk menghadapi segala peristiwa dan situasi dengan mengambil sikap yang sekiranya akan diambil oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya sekiranya mereka berada di tengah-tengah kita hari ini untuk memimpin kita di atas jalan ini.

Dan di dalam Ibadah Terdapat Bekal (Salat)

Ibadah-ibadah itu membekali pemiliknya dengan ketakwaan kepada Allah, dan takwa adalah sebaik-baik bekal...

"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 21).

"Wahai orang-orang yang berimen! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153).

"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS. Al-Baqarah: 45).

"Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut: 45).

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka." (QS. At-Tawbah: 103).

"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah: 197).

Demikianlah kita mendapati bahwa ibadah-ibadah ini merupakan sumber-sumber utama, abadi, dan senantiasa terbarui bagi sebuah bekal yang menyucikan jiwa dan mengangkat derajatnya tinggi-tinggi dari daya tarik bumi (syahwat dunia), serta membantu untuk melewati berbagai rintangan dan menghindari tikungan-tikungan tajam.

Dan setiap ibadah dari ibadah-ibadah ini memiliki bekal serta pengaruhnya tersendiri, yang berbeda dari bekal dan pengaruh ibadah lainnya dari beberapa aspek, sehingga satu sama lain saling menyempurnakan. Sebagaimana ibadah-ibadah ini mencakup berbagai sisi kepribadian seorang muslim, ia juga mencakup hari-hari dalam kehidupannya. Maka kita dapati di antaranya ada yang berulang setiap hari seperti salat lima waktu dalam sehari, ada yang berulang sebulan setiap tahun seperti puasa, dan ada pula yang ditunaikan berdasarkan kondisi-kondisi tertentu seperti zakat dan haji sesuai dengan kemampuan dan kelapangan.

Di sana terdapat pula ruang untuk ibadah-ibadah sunah dan sukarela (tathawwu') pada masing-masing ibadah tersebut setelah penunaian ibadah fardu, yaitu bagi setiap orang yang mendambakan tambahan bekal, ketakwaan, dan kedekatan di sisi Allah... Dan sungguh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mencontohkan sunah-sunah ini kepada kita berangkat dari rasa cinta beliau terhadap kebaikan bagi kita.

Salat

Dan kita akan mencoba untuk menyingkap beberapa potret bekal yang terkandung di dalam ibadah-ibadah ini, mudah-mudahan di dalamnya terdapat sesuatu yang dapat membantu dan memudahkan pengumpulan bekal bagi setiap orang yang mendambakannya. Dan marilah kita mulai dengan ibadah salat, dan Allah-lah Dzat Yang Memberi Taufik serta Yang Maha Penolong.

Salat adalah hubungan (shilah) dengan Allah Ta'ala. Hubungan antara tiupan yang ada di dalam diri kita—yang berasal dari ruh ciptaan Allah—dengan sumber asalnya, agar ia dapat menyerap kehidupan dan pertumbuhan darinya... Salat adalah kedekatan dengan Allah dan keintiman berseri bersama Allah. Kita melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Dan dijadikan penyejuk hatiku berada di dalam salat."

Dan kita dapati beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menegakkan salat malam dan sangat tenggelam di dalam salatnya hingga kedua kaki beliau bengkak tanpa beliau merasakan rasa sakit. Maka, barangsiapa yang jiwa dan perasaannya telah membubung tinggi, niscaya segala keletihan jasad dan rasa sakitnya akan mengecil (tidak terasa) di sisinya.

Salat adalah sumber energi spiritual dan bekal yang senantiasa terbarui. Waktu-waktu pelaksanaannya sengaja didistribusikan di waktu malam dan siang hari guna keberlanjutan pengumpulan bekal serta memperbarui saldo dari bekal tersebut. Dan sungguh, Allah telah memudahkan penunaiannya agar kita tidak terhalang dari bekal ini dalam segala kondisi dan waktu; baik dalam keadaan damai maupun perang, dalam perjalanan (safar) maupun menetap (iqamah), serta dalam keadaan sehat maupun sakit. Dan ini merupakan bagian dari karunia Allah atas kita dan rahmat-Nya kepada kita.

Di dalam salat terdapat peristirahatan dan kebebasan dari segala kesibukan hidup serta keletihannya, agar kita dapat berdiri di hadapan Allah dalam kekhusyukan, ketundukan, rukuk, dan sujud; kita membaca dan mendengar firman Allah, serta bertasbih mengagungkan-Nya... kita berdoa kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya... Seolah-olah salat itu merupakan mikraj (tangga naik) bagi ruh-ruh kita yang membubung menuju Allah, menjauh dari daya tarik bumi dan fitnah-fitnah kehidupan; terlebih lagi karena salat itu diwajibkan pada malam Israk dan Mikraj.

Barangsiapa yang menghadap salat dengan hati yang suci dan niat yang ikhlas, niscaya Allah akan melimpahkan kepadanya sebagian dari cahaya-Nya, petunjuk-Nya, ketenangan-Nya, serta rahmat-Nya; sesuatu yang membantu orang yang salat tersebut untuk menghadapi kehidupan dengan penuh ketenteraman dan stabilitas jiwa; tidak ada kepanikan, tidak ada kecemasan, tidak ada ketakutan, dan tidak ada kelemahan. Ia pun menjadi terbentengi dari fitnah, perbuatan keji, kemungkaran, serta bisikan-bisikan setan, sehingga ia berada di dalam penjagaan Allah dan pemeliharaan Allah; merasakan kebersamaan (ma'iyyah) Allah di mana pun ia berjalan dan di mana pun ia singgah, merasa tenteram di sisi Allah, berserah diri kepada-Nya, mewakilkan urusannya kepada-Nya, serta mempercayai-Nya dengan segenap kepercayaan dalam bentuk ketaatan, kepasrahan, dan komitmen penuh terhadap setiap perintah atau larangan tanpa ada keraguan. Demikianlah ia menjalani penghambaan yang sejati, kebahagiaan yang sempurna, dan keridaan yang utuh. Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Orang yang salat akan merasakan bahwa belum lama berselang ia berada di hadapan Allah, dan sesaat lagi ia akan berdiri kembali di hadapan Allah sekali lagi. Maka, tidaklah pantas baginya untuk lalai dari-Nya atau melupakan-Nya di antara dua waktu salat tersebut. Demikianlah orang yang senantiasa menjaga salatnya tepat pada waktunya akan terus berada di dalam ruang lingkup pengaruh ketuhanan dari salat tersebut dan hampir-hampir tidak pernah menjauh darinya. Dengan demikian, setan tidak akan mampu menyendiri bersamanya untuk menyimpangkannya dari jalan yang lurus:

"Sesungguhnya salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa': 103).

Dahulu, kekasih kita Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila ditimpa oleh suatu urusan yang berat, beliau akan bersegera menuju salat, lalu beliau mendapati kenyamanan, keamanan, taufik, serta ketenteraman di dalamnya. Dan beliau senantiasa berkata kepada Bilal radhiyallahu 'anhu:

"Istirahatkanlah kami dengan salat, wahai Bilal!"

Maka salat bagi seorang mukmin laksana sebuah oase yang rimbun di tengah-tengah gersangnya padang pasir kehidupan dan sengatan panasnya.

Ketundukan kepada Allah dan rukuk di hadapan Allah di dalam salat ini akan menyuplai pemiliknya dengan segala makna kemuliaan ('izzah). Orang yang salat tidak akan rukuk dan tidak akan membungkuk kecuali hanya kepada Allah dalam rangka mengagungkan dan memuliakan-Nya. Ia tidak akan membungkuk kepada manusia dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah:

"(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang pun selain kepada Allah." (QS. Al-Ahzab: 39).

Dan setiap kali kita mengagungkan Allah dan mengapresiasi-Nya dengan apresiasi yang sebenar-benarnya, niscaya kita akan semakin bertambah semangat untuk menaati-Nya, bersandar kepada-Nya, dan merasa tenteram di sisi-Nya, serta kita akan semakin bertambah lari menjauh dari maksiat kepada Allah dan menyalahi perintah-Nya; dan di dalam hal ini terdapat bekal.

Sujud kepada Allah di dalam salat ini termasuk ke dalam kedudukan (maqam) yang paling tinggi. Di dalamnya terdapat penghambaan yang sejati dan perendahan diri yang murni kepada Allah. Di dalamnya terdapat kedekatan dan keintiman berseri. Dan lihatlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau telah menghidupkan hakikat sujud kepada Allah dan mereguk kelezatannya serta apa yang ada di dalamnya berupa kedekatan dengan Allah dan kebahagiaan spiritual. Beliau dahulu biasa memanjangkan sujudnya dalam tahajudnya di waktu malam, hingga Aisyah Ummul Mu'minin radhiyallahu 'anha sempat mengira bahwa beliau telah wafat (dicabut nyawanya)...

Dan sungguh, Rasul kita yang mulia telah mengingatkan kita kepada kebaikan ini, serta memotivasi kita di dalamnya, di mana beliau bersabda yang maknanya: "Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud..." Orang yang salat akan meresapi makna ini ketika ia sedang bersujud, dan ia merasakan kedekatan ini, serta menyadari bahwa ini adalah posisi paling terhormat dan paling tinggi baginya di dunia ini; karena pada saat itulah ia berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya, dan pada saat itulah kebahagiaan serta bekal itu diraih.

Dan duduk tasyahud beserta apa yang dikandungnya berupa makna-makna dan perasaan emosional yang tinggi; kita mendekatkan diri kepada Allah dengan ucapan penghormatan yang penuh berkah (at-tahiyyatul mubarakat) serta salat yang penuh kebaikan (as-shalawatut thayyibat). Kita juga menghadapkan ucapan salam Islam kepada Rasul kekasih kita: "Assalamu 'alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh" (Keselamatan sejahtera atasmu wahai Nabi, serta rahmat Allah dan berkah-Nya). Kemudian kita kembali membawa keselamatan itu untuk diri kita dan untuk hamba-hamba Allah yang saleh. Lalu kita mengikrarkan dua kalimat syahadat, serta bersalawat dan bersalam kepada Rasul kekasih kita.

Alangkah mengagumkannya duduk tersebut ketika kita menghidupkannya di hadapan Allah Ta'ala bersama Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara di sekeliling kita terdapat hamba-hamba Allah yang saleh dari umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Allah Ta'ala melihat kepada kita serta menampakkan diri-Nya kepada kita dari ketinggian-Nya dengan pandangan rida dan penerimaan. Kemudian kita keluar dari salat setelah duduk yang penuh kenikmatan ini untuk menghadapi kehidupan dengan jiwa-jiwa yang rida lagi bahagia.

Gerakan-gerakan salat juga memberikan dampak berupa manfaat kesehatan bagi tubuh orang yang salat.

Sesungguhnya komitmen kita terhadap gerakan-gerakan salat sebagaimana yang telah diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam—di mana dalam satu rakaat terdapat satu rukuk dan dua sujud, bukan dua rukuk dan satu sujud—komitmen ini di dalamnya mengandung makna penghambaan yang mutlak kepada Allah dan kepasrahan yang mutlak terhadap perintah-perintah Allah, meskipun hikmahnya belum tampak jelas bagi kita. Sebab, tidaklah Iblis diusir dari rahmat Allah hanya karena sekadar mendurhakai perintah Allah untuk bersujud kepada ayah kita Adam bersama para malaikat, akan tetapi karena ia menentang konsekuensi dari perintah tersebut serta menentang hikmah Allah di dalamnya. Demikianlah kita belajar dari salat tentang makna yang tinggi dari penghambaan kepada Allah ini.

Pelajaran Edukatif dari Sisi Teknis Salat

Sesungguhnya persiapan untuk salat dengan cara membersihkan badan, pakaian, dan tempat, serta berwudu; ia mendidik seorang muslim di atas kebersihan, kesucian, dan selera yang sehat yang menjauh dari kotoran maupun kenajisan baik secara indrawi (fisik) maupun maknawi (non-fisik). Dan ketika bersatunya antara kesucian indrawi dengan kesucian hati dari segala apa yang membuat Allah murka—karena hati merupakan tempat yang dilihat oleh Allah di dalam salat—maka tidak ada lagi rasa dendam, tidak ada rasa hasad, tidak ada rasa benci, dan tidak ada rasa permusuhan di antara dirinya dengan saudara-saudara muslimnya. Dan ini merupakan bekal yang sangat penting dan darurat bagi seorang muslim secara umum, dan bagi orang yang meniti jalan dakwah secara khusus.

Sesungguhnya syarat sahnya salat dengan masuknya waktu serta semangat untuk menunaikannya sebelum habis waktunya; ia membiasakan orang yang salat untuk bersikap tepat waktu dalam janji-janji serta menepatinya. Ia juga membiasakannya untuk menghargai waktu, sehingga tidak ada satu urusan pun yang melalaikannya dan menyita waktunya tanpa ia sadari. Karena sesungguhnya waktu-waktu salat itu senantiasa mengingatkannya dan membangunkan dirinya dari kelalaian. Dengan demikian, ia tidak mengizinkan satu pun kesenangan dari kesenangan dunia untuk menyesaki waktunya dan pikirannya dari mengingat Allah, menegakkan salat, serta beramal dan berjihad di jalan Allah. Sifat-sifat ini mutlak diperlukan dan penting bagi setiap orang yang meniti jalan dakwah serta terikat dengan berbagai aktivitas, janji, dan pertemuan.

Mencari arah kiblat dan menghadapkan diri kepadanya; ia membiasakan seorang muslim untuk mengetahui arah mata angin dan geografi suatu tempat nisbi terhadap Kakbah, Rumah Suci Allah (Baitullah al-Haram). Dan di dalam perasaan bahwa kaum muslimin di berbagai belahan dunia semuanya menghadap ke satu kiblat yang sama; ia memberikan seorang muslim perasaan persatuan dengan saudara-saudara muslimnya serta keterikatannya dengan mereka. Ini merupakan makna edukatif yang sangat penting yang mesti diwujudkan di antara kaum muslimin agar mereka mampu menghadapi musuh-musuh Islam. Sebagaimana menghadapkan diri ke kiblat juga mengharuskan adanya penghadapan hati kepada Allah dengan keikhlasan niat dan membersihkannya dari bekas-bekas riya maupun kesyirikan; dan keikhlasan arah tujuan merupakan perkara paling penting yang dibutuhkan oleh seorang dai di dalam jalan dakwah.

Memenuhi panggilan untuk salat (azan) seketika ketika mendengarnya, serta membebaskan diri dari segala kesibukan dunia; di dalamnya terdapat unsur mujahadah (perjuangan jiwa) dan penguatan terhadap kehendak serta tekad, sekaligus kemenangan atas hawa nafsu dan ambisi-ambisinya. Dan di dalam hal itu terdapat bekal dan pendidikan yang memiliki pengaruh nyata secara praktik dalam kehidupan seorang dai yang menyeru kepada Allah, serta dalam hal penyusunan skala prioritas pada tugas-tugas dan urusan-urusan.

Keteraturan saf-saf di dalam salat, meluruskannya, komitmen mengikuti imam dan tidak mendahuluinya, serta membukakan bacaan untuknya (al-fathu 'alaih) jika ia lupa atau salah; semua itu memiliki pengaruh edukatifnya tersendiri di dalam jiwa seorang muslim. Maka, sikap ketaatan militer (jundiyah), keteraturan sistem, dan kepatuhan kepada pemimpin yang disertai dengan pemberian nasihat serta pengingatan terhadap kesalahan; kesemuanya merupakan perkara yang mutlak diperlukan bagi para pekerja di ladang dakwah Islam serta para mujahid di jalan Allah.

Perasaan kesetaraan dalam satu saf di hadapan Allah; tidak ada perbedaan dalam hal berdiri antara orang kaya dengan orang miskin, tidak ada sikap tinggi diri, dan tidak ada kesombongan, karena semuanya adalah sama di hadapan Allah. Bahkan, boleh jadi seorang yang kaya meletakkan dahinya bersujud kepada Allah tepat berada di dekat kedua kaki seorang yang miskin pada saf yang berada di depannya tanpa ada rasa keberatan maupun rasa jijik. Dan di dalam hal ini terdapat ruang edukatif yang sangat penting serta bekal yang darurat demi penyatuan hati kaum muslimin, kedekatan mereka, dan penguatan hubungan di antara mereka.

Berkumpulnya kaum muslimin untuk salat di masjid pada waktu yang lima, pada salat Jumat, dan pada dua hari raya; ia akan membuka kesempatan di antara kaum muslimin di satu lingkungan yang sama atau satu negeri yang sama untuk saling mengenal, saling mengasihi, bersatu, dan bekerja sama. Maka mereka akan memberi kepada yang membutuhkan, menjenguk yang sakit, dan saling berbagi satu sama lain dalam kegembiraan maupun kesedihan mereka, serta mereka saling berkasih sayang dan saling merahmati di antara sesama mereka.

Semangat kaum muslimin untuk salat di masjid akan mengikat mereka dengan masjid, serta mengembalikan kepada masjid risalah pentingnya yang dahulu pernah dimilikinya pada masa awal dakwah. Karena masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu merupakan tempat di mana urusan kaum muslimin diatur, pasukan militer dimobilisasi darinya, strategi-strategi dirancang, dan segala apa yang penting bagi kaum muslimin dipelajari bersama di dalamnya. Dan alangkah butuhnya kaum muslimin hari ini untuk mengembalikan masjid kepada risalah pertamanya itu.

Penutup

Demikianlah kita mendapati bahwa salat secara keseluruhan adalah bekal di perjalanan, dan segala apa yang berkaitan dengannya akan menyuplai orang yang salat dengan suatu jenis bekal yang mutlak diperlukan dan darurat baginya.

Dan aku tidak mengklaim bahwa aku telah merangkum seluruh apa yang ada di dalam salat berupa sumber-sumber dan mata air kebaikan serta bekal, akan tetapi ini hanyalah usaha dari seseorang yang sedikit ilmunya, dan kita memohon penerimaan serta keikhlasan kepada-Nya.

Dan di dalam Ibadah Terdapat Bekal....... (Puasa)

Kita telah menyebutkan bahwa ibadah-ibadah—mulai dari salat, puasa, zakat, hingga haji—dianggap sebagai sumber-sumber penting dan senantiasa terbarui bagi bekal di perjalanan. Kita pun telah mencoba menjelaskan hal tersebut pada ibadah salat, dan berikut ini kita akan mencobanya pada ibadah puasa dengan pertolongan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).

Maka, puasa itu memakaikan pakaian takwa kepada pemiliknya. Ia adalah perisai (junnah) dan benteng pertahanan bagi orang yang berpuasa dari segala keburukan dan fitnah. Puasa memiliki keistimewaan di antara seluruh ibadah lainnya dengan adanya kekhususan penyandaran langsung kepada Allah Ta'ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.' Dan puasa itu adalah perisai. Apabila hari puasa salah seorang dari kalian, maka janganlah ia berbuat rafats (berkata-kata kotor/porno) dan janganlah ia berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia berkata: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa.' Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang ia rasakan: apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya, dan apabila ia berjumpa dengan Tuhannya ia gembira karena puasanya." (Muttafaq 'Alaih).

Ibadah fardu puasa ini telah dikaitkan dengan bulan Ramadan. Jika Ramadan disebut, maka seolah-olah Anda sedang mengingat sebuah kebun yang luas dan rindang, yang dilewati oleh seorang muslim saat ia sedang berjalan di tengah gersangnya padang pasir kehidupan, sengatan panasnya, serta fitnah-fitnahnya.

Jika puasa itu sendiri secara keseluruhan sudah merupakan bekal dan kebaikan, maka keberadaannya di dalam bulan Ramadan akan melipatgandakan bekal tersebut dan menambah kebaikan di dalam puasa itu. Sungguh, Allah telah mengkhususkan bulan Ramadan dengan kebaikan yang sangat banyak, yang sekiranya kita mengetahui kebaikan tersebut, niscaya kita akan berharap agar sepanjang tahun seluruhnya menjadi bulan Ramadan.

Sebab, di dalam bulan Ramadanlah Al-Qur'an diturunkan:

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185).

Dan di dalamnya terdapat Lailatulkadar; dan tahukah kamu apakah Lailatulkadar itu? Lailatulkadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, pahala dilipatgandakan, serta di dalamnya terdapat iktikaf dan salat malam (qiyam).

Demikianlah seorang muslim yang jujur menyambut bulan Ramadan dengan rasa gembira dan suka cita; kegembiraan orang-orang mukmin atas karunia Allah dan rahmat-Nya. Di dalamnya ia beristirahat dari keletihan hidup, mengumpulkan bekal, serta memperbarui semangatnya agar dapat melanjutkan perjalanan di atas jalan dakwah. Dan tidak ada yang dapat menikmati kebaikan tersebut serta memperoleh bekal itu melainkan orang yang benar-benar menghidupkan Ramadan dan menunaikan puasa sebagaimana yang telah diarahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ragam Potret Bekal di Bulan Ramadan

Di dalam bulan Ramadan, semangat kita untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an semakin meningkat; baik dalam hal tilawah (membaca), mengamalkan, maupun menghafalnya. Kita juga menegakkan salat malam dengannya, sehingga dengan demikian kita mereguk cahaya, hikmah, petunjuk, nasihat, serta penawar bagi apa yang ada di dalam dada dari sebuah mata air yang tidak akan pernah kering. Dan di dalam hal itu terdapat bekal, dan alangkah besarnya bekal tersebut!

Di dalam bulan salat malam (syahrul qiyam), orang-orang yang berpuasa menegakkan salat malam setiap malam selama satu bulan penuh. Di dalam hal itu terdapat bekal yang intensif serta penjinakan bagi jiwa untuk beribadah, bersabar di atasnya, meresapi kelezatannya, serta melanggengkan hubungan, kedekatan, ketundukan, dan kekhusyukan kepada Allah.

Di dalam bulan Ramadan pula disunahkan iktikaf. Iktikaf memiliki pengaruh-pengaruh dan kesan-kesan tersendiri bagi orang yang beriktikaf (mu'takif). Ia hidup selama beberapa waktu dalam jamuan Allah di dalam rumah Allah, di mana ia telah terbebas dari segala kesibukan hidup dan mengosongkan diri fokus untuk menaati Allah; mendekatkan diri kepada Allah dengan zikir, salat, doa, bermunajat, membaca Al-Qur'an, beristigfar, bertobat, serta menangis karena takut kepada Allah.

Demikianlah Allah memuliakan para tamu-Nya, lalu melimpahkan kepada mereka sebagian dari cahaya-Nya dan petunjuk-Nya, sehingga mereka keluar dengan membawa bekal takwa, iman, dan bimbingan (rasyad). Dan di tengah-tengah ayat tentang puasa, Anda akan mendapati firman Allah Ta'ala:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186).

Nilai-Nilai Edukatif dan Karakteristik Puasa

  • Menanamkan Sifat Ikhlas dan Muraqabah:

Puasa memberikan sifat ikhlas kepada Allah dan baiknya rasa pengawasan diri (muraqabah) kepada-Nya, karena puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Keikhlasan kepada Allah adalah bagian dari bekal terbesar dan paling mutlak diperlukan bagi setiap muslim di atas jalan dakwah. Sebab, tidak ada kebaikan sama sekali dari suatu amal atau usaha jika ia kosong dari keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; Allah Maha Kaya dari adanya sekutu, dan Dia tidak menerima kecuali amal yang murni demi mengharap wajah-Nya.

  • Melatih Mujahadah (Perjuangan Jiwa):

Di dalam puasa terdapat perjuangan melawan keinginan-keinginan jiwa dan jasad. Di dalam hal itu terdapat penguatan bagi kehendak dan tekad seorang muslim, yang mana ini merupakan bekal yang mutlak diperlukan bagi seorang dai yang menyeru kepada Allah dan mujahid di jalan Allah. Orang yang berpuasa mengekang gejolak jiwanya dan syahwatnya dari perkara yang halal selama beberapa waktu di siang hari sepanjang bulan demi menunaikan ibadah puasa; dan di dalam hal itu terdapat penolong baginya untuk menahan diri dari perkara yang haram di waktu-waktu lainnya.

  • Menumbuhkan Nilai Kesabaran:

Puasa memberikan keutamaan sabar bagi orang yang berpuasa. Sabar adalah termasuk sifat yang paling mutlak diperlukan bagi para dai yang menyeru kepada Allah. Kesabaran itu akan membantu mereka untuk melewati berbagai rintangan dan melanjutkan perjalanan di atas jalan dakwah tanpa ada rasa lesu, kelemahan, atau menyerah kepada keadaan:

"Maka mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran: 146).

Sehingga, ancaman, intimidasi, gangguan, maupun pengusiran tidak akan mampu memalingkan mereka.

  • Mendidik dan Menertibkan Anggota Badan (Jawaarih):

Puasa mendidik dan menertibkan anggota-anggota badan selama satu bulan penuh hingga mereka terbiasa dengannya. Puasa tidak hanya terbatas pada menahan syahwat perut dan kemaluan saja, akan tetapi puasa yang benar adalah berpuasanya seluruh anggota badan dari segala apa yang diharamkan oleh Allah. Maka mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki juga ikut berpuasa di samping mulut dan kemaluan. Ini merupakan sisi edukatif yang sangat penting dalam kepribadian seorang muslim.

  • Menumbuhkan Sifat Santun (Hilm):

Puasa memberikan keutamaan sifat santun menghadapi orang-orang yang bodoh (jahilin). Jika ada seseorang yang memusuhinya, mencelanya, atau memancing emosinya, ia meredam amarahnya, bersikap santun, lalu berkata: "Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa." Alangkah butuhnya para dai yang menyeru kepada Allah terhadap akhlak pengendalian diri, kelapangan dada, serta tidak marah karena membela ego diri sendiri semacam ini. Di dalam hal ini terdapat keuntungan besar bagi kemaslahatan dakwah:

"Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran: 159).

Di dalam hal ini juga terdapat penghematan waktu dan tenaga demi kemaslahatan dakwah dan produktivitas, alih-alih membuang waktu dan tenaga akibat amarah dalam perdebatan, perselisihan, investigasi, maupun proses rekonsiliasi, yang mana korbannya adalah dakwah, produktivitas, dan amal untuknya. Dan Maha Benar Allah yang Agung dalam firman-Nya:

"Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik..." (QS. Fussilat: 34).

  • Menumbuhkan Rasa Empati Sosial:

Puasa mendidik hati orang yang berpuasa untuk menaruh rasa belas kasih kepada orang fakir dan miskin ketika ia merasakan sendiri perihnya rasa lapar, sehingga ia bersegera mengulurkan tangan bantuan kepadanya. Dan ibadah zakat fitrah datang untuk menegaskan makna ini serta mengingatkannya; ini adalah sisi edukatif penting yang wajib mendominasi di antara sesama kaum muslimin.

  • Penyucian Ruhani dan Ketenangan Jiwa:

Di saat berpuasa, kosongnya lambung dan ringannya ia dari makanan akan membuat ruh membubung tinggi, hati menjadi jernih, serta sirnalah segala tabir penghalang dan daya tarik bumi (syahwat dunia). Maka terjadilah kejernihan dan pancaran spiritual, serta memancarlah cahaya kebenaran di dalam hati yang meneranginya. Jiwa pun menjadi siap untuk disucikan (tazkiyah) dengan zikir, tilawah Al-Qur'an, istigfar, tobat, dan doa. Di sanalah kebahagiaan sejati, kenikmatan spiritual, serta perasaan dekat dengan Allah diraih. Makna ini ditegaskan oleh sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Sesungguhnya setan itu berjalan di dalam diri anak Adam melalui aliran darah, maka persempitlah jalan-jalannya dengan rasa lapar." (Muttafaq 'Alaih).

  • Persiapan Menghadapi Medan Perjuangan:

Puasa—terutama pada hari-hari yang sangat panas terik—mempersiapkan seorang muslim untuk bersabar dan bertahan di medan-medan jihad, pertempuran, dan menghadapi musuh, atau menghadapi kondisi-kondisi sulit yang mungkin dilewatinya di ladang-ladang dakwah beserta medannya. Dengan demikian, daya tarik bumi dan tuntutan-tuntutan jasad tidak akan menjadi penghambat baginya atau mendudukkannya (membuatnya malas) dari melanjutkan perjalanan.

  • Meluruskan Hakikat Kebahagiaan:

Puasa mengajarkan kepada orang yang berpuasa tentang apa yang seharusnya membuat seorang mukmin merasa gembira, yaitu atas taufik dari Allah dan bantuan-Nya untuk menunaikan ibadah serta keikhlasan kepada-Nya. Hal ini adalah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita bahwa bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: apabila ia berbuka ia gembira, dan apabila ia berjumpa dengan Tuhannya ia gembira karena puasanya:

"Katakanlah: 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan'." (QS. Yunus: 58).

Di dalam hal ini terdapat pelurusan terhadap konsepsi-konsepsi yang keliru pada diri kebanyakan orang ketika mereka justru bergembira atas kesenangan-kesenangan dunia saat dunia itu datang menghampiri mereka, dan mereka berduka cita ketika kehilangan dunia tersebut.

  • Menguatkan Rasa Kebersamaan Berjamaah:

Puasa menguatkan makna kebersamaan berjamaah di dalam jiwa orang yang berpuasa. Kaum muslimin di berbagai belahan dunia berpuasa di dalam bulan yang sama dan merasakan bahwa apa yang ada di dalamnya berupa kebaikan adalah disebabkan oleh puasa. Bulan Ramadan ini diikuti bersama oleh saudara-saudara mereka di seluruh penjuru dunia dengan segala perbedaan suku bangsa dan warna kulit mereka. Perasaan akan persatuan kaum muslimin merupakan perkara yang sangat penting dan mutlak diperlukan, khususnya bagi para pemilik dakwah.

Sunah-Sunah Puasa dan Fleksibilitas Syariat

Karena adanya kebaikan yang besar di dalam puasa, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mensunahkan bagi kita puasa pada hari-hari selain ibadah fardu di sepanjang tahun. Beliau memotivasi kita di dalamnya berangkat dari landasan perhatian besar beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan rasa cinta beliau terhadap kebaikan bagi kita.

Dan jika termasuk bagian dari rahmat Allah kepada kita dan rasa cinta-Nya terhadap kebaikan bagi kita adalah Dia memudahkan salat bagi kita dalam safar, sakit, dan perang, namun Dia tetap meringankannya sedikit atas kita agar kita tidak terhalang dari kebaikan dan bekalnya; maka Allah Subhanahu wa Ta'ala—berangkat dari landasan rahmat-Nya kepada kita dan agar tidak memberatkan kita—telah memberikan keringanan (rukhshah) bagi kita dalam hal puasa dengan cara menggantinya di hari lain (qadha) atau membayar denda (fidyah) ketika berada dalam safar atau sakit.

Puasa mengikat seorang muslim dengan alam semesta ini beserta apa yang ada di dalamnya berupa bulan dan bintang-bintang; yaitu ketika ia memantau awal bulan dan mencari hilal di awal Ramadan dan awal Syawal, memantau tempat-tempat terbitnya, serta mengenali sisi ini dari makhluk ciptaan Allah beserta apa yang ada di dalamnya berupa dalil atas keagungan Allah dan kekuasaan-Nya.

Manajemen Waktu dan Manfaat Medis

Puasa membiasakan seorang muslim untuk memperhatikan waktu dan bersikap tepat waktu dalam janji-janji. Setiap orang yang berpuasa akan memantau waktu imsak dan waktu berbuka, serta bersikap sangat teliti dalam hal itu agar puasanya tidak batal disebabkan oleh kelalaian atau ketidaktelitian. Pengulangan hal tersebut setiap hari selama satu bulan penuh akan memberikan karakteristik ini kepada pemiliknya. Dan alangkah butuhnya para dai yang menyeru kepada Allah terhadap sifat ini dalam kehidupan dakwah mereka, pertemuan-pertemuan mereka, dan aktivitas mereka; dengan cara yang tidak menjadi sebab terhambatnya suatu urusan yang penting atau terbuangnya waktu orang lain tanpa membawa faedah.

Di samping semua itu, puasa memiliki pengaruh-pengaruh kesehatan yang penuh berkah bagi jasad. Dunia kedokteran modern akhirnya berhasil menyingkap hakikat ini baru-baru ini, dan sebagian sanatorium (rumah sakit pemulihan) telah menjadikan puasa sebagai sarana yang efektif dalam mengobati banyak penyakit.

Fenomena Penyimpangan di Bulan Ramadan

Semua bekal ini dan pengaruh-pengaruh edukatif di dalam puasa serta bulan Ramadan ini sangat mudah diraih bagi orang yang jujur niatnya dan berpuasa sebagaimana yang Allah inginkan bagi kita untuk berpuasa, serta sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam.

Adapun apa yang kita lihat hari ini pada kebanyakan kaum muslimin; di mana bulan puasa telah berubah menjadi bulan kekenyangan (overeating) dan memperbanyak aneka ragam jenis makanan alih-alih merasakan lapar dan menyedikitkan makanan; dan berubahnya bulan ibadah, salat malam, dan Al-Qur'an menjadi bulan begadang malam (untuk urusan sia-sia) dan senda gurau; serta bahwasanya ia menjadi kesempatan bagi para artis pria dan wanita untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan kerusakan mereka dan upaya mereka merusak orang lain, serta tumpukan kemungkaran ini; aku katakan bahwa ini semua adalah distorsi (pencemaran) terhadap hakikat Ramadan dan merupakan suatu kondisi yang tidak diridai oleh Allah maupun Rasul-Nya, serta wajib diupayakan untuk memperbaikinya.

Penutup

Akhirnya, aku memohon kepada Allah agar memberikan manfaat kepada kita dengan kebaikan Ramadan dan bekal puasa. Dan apa yang telah aku sebutkan ini belumlah merangkum seluruh tema ini, melainkan barulah sebagian dari sisi-sisinya saja; mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepada kita dengannya.

Dan di dalam Ibadah Terdapat Bekal....... (Zakat)

Zakat, sebagaimana yang telah jelas dari namanya, merupakan penyucian (tazkiyah) bagi jiwa dan pengangkatan derajatnya tinggi-tinggi dari daya tarik bumi (syahwat dunia), serta pembersihan dari noda dosa dan beban-beban kesalahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan hal tersebut dalam firman-Nya:

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka." (QS. At-Tawbah: 103).

Dan penyucian jiwa serta pembersihannya adalah sebuah bekal yang agung dan keberuntungan yang besar:

"Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9-10).

Maka zakat, sedekah, dan berinfak di jalan Allah secara umum adalah wujud penghambaan diri dan pendekatan diri kepada Allah, yang mana pada saat yang sama ia menjadi bekal spiritual dan edukatif yang sangat penting.

Manusia di dalam fitrahnya memiliki rasa cinta terhadap harta dan cinta untuk memiliki. Al-Qur'an menetapkan hal tersebut:

"Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan." (QS. Al-Fajr: 20).

Dan di dalam hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terdapat sabda yang maknanya: "Sekiranya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia akan mendambakan untuk memiliki lembah yang kedua, dan tidak ada yang dapat memenuhi mata anak Adam melainkan tanah (kematian)."

Di dalam fitrah manusia juga terdapat sifat kikir (syuhh):

"Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila dia mendapat kebaikan dia menjadi kikir." (QS. Al-Ma'arij: 19-21).

"Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9).

Oleh karena itu, kita melihat adanya fenomena manusia yang saling memperebutkan kesenangan dunia ini dan saling berperang demi mendapatkannya. Muncul pula sifat egois serta konflik antara sesama manusia, yang melahirkan rasa dendam, kebencian, hasad, dan keegoisan hingga mencapai level hewani, apabila masyarakat tersebut kosong dari makna-makna keimanan.

Akan tetapi, Islam kita yang agung menertibkan itu semua, mengangkat jiwa kaum muslimin menjadi mulia, serta mengobati keterikatan mereka terhadap harta dan kesenangan dunia. Islam mengajarkan kepada seorang muslim bahwa harta yang ada di tangannya adalah harta milik Allah, dan bahwasanya harta itu adalah kesenangan yang akan sirna, yang digunakan sebagai sarana pembantu untuk menunaikan misinya di dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah.

Islam juga mengajarkan bahwa Allah membagi-bagikan rezeki dengan hikmah-Nya dan ilmu-Nya, dan bahwasanya Islam mengatur pendistribusian harta di antara manusia serta jaminan sosial (takaful) mereka dengan suatu metode yang tidak ada bandingannya dan tidak ada tandingannya; demi mewujudkan kehidupan yang baik, mulia, lagi bersih dari rasa permusuhan, kebencian, hasad, dan rasa dengki. Sebaliknya, kehidupan itu akan dipenuhi oleh rasa cinta, sifat mementingkan orang lain (itsar), rasa qanaah (merasa cukup), keridaan, kasih sayang, dan rasa iba. Di samping itu, Islam juga menetapkan hukuman yang membuat jera bagi siapa saja yang jiwanya tergoda setelah itu untuk mengabaikan atau mengintervensi hak-hak orang lain. Islam pun telah menggariskan jalan dalam hal mencari nafkah (k کسب) maupun membelanjakannya (infak).

Butir-Butir Bekal yang Bermanfaat dari Zakat dan Infak

Berikut ini kami paparkan sebagian bekal bermanfaat yang berkaitan dengan zakat dan infak dalam bentuk poin-poin, dan hanya kepada Allah-lah kita memohon taufik:

  • Menjinakkan Jiwa dan Melatih Kepedulian:

Di dalam mengeluarkan zakat dan berinfak di jalan Allah terdapat unsur penjinakan bagi jiwa dan pelatihan baginya untuk mengalahkan rasa cinta terhadap harta dan keterikatan kepadanya. Di dalamnya juga terdapat dorongan untuk menaruh rasa belas kasih kepada orang-orang fakir dan miskin, serta tumbuhnya perasaan ikut berpartisipasi dalam urusan-urusan umat Islam, negara Islam, dan jihad di jalan Allah. Semua hal itu memiliki pengaruh yang besar dalam membangun kepribadian seorang muslim sejati yang integral lagi bermanfaat. Dan alangkah butuhnya para pemilik dakwah terhadap makna-makna ini.

  • Menyadari Status Harta sebagai Titipan:

Barangsiapa yang mematuhi perintah Allah dengan mengeluarkan zakat, sedekah, dan berinfak di jalan Allah, ia akan merasakan bahwa harta tersebut adalah harta milik Allah, dan bahwasanya ia hanya bertindak mengelolanya sesuai dengan perintah-perintah dan ajaran-ajaran Pemiliknya (Allah) Subhanahu wa Ta'ala. Ia juga menyadari bahwa tidak halal baginya untuk menyalahi ajaran-ajaran ini, baik dalam hal cara mengumpulkannya maupun cara membelanjakannya.

  • Menempatkan Harta di Tangan, Bukan di Hati:

Seorang muslim memandang harta sebagai sarana yang membantunya untuk menaati Allah, dan bahwa mengumpulkannya bukanlah sebuah tujuan akhir. Dengan prinsip ini, harta akan tetap berada di tangan kita untuk kita gunakan dan kita mintai bantuan darinya, serta harta itu tidak akan masuk ke dalam hati kita lalu menguasainya, memperbudak kita demi harta tersebut, atau memperalat kita hanya untuk mengumpulkan, menjaga, dan mengembangkannya hingga menjadi kesibukan utama kita:

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takathur: 1-2).

"Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah." (QS. Al-Humazah: 1-4).

  • Memahami Hikmah Perbedaan Rezeki:

Zakat mengajarkan kepada seorang muslim bahwa adanya perbedaan tingkat rezeki ini adalah bagian dari ciptaan Allah dan ketentuan-Nya berdasarkan hikmah-Nya... Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya, dan agar roda kehidupan di antara manusia dapat berjalan dalam bentuk kerja sama dan saling melayani satu sama lain:

"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan membatasi (bagi siapa yang dikehendaki-Nya)." (QS. Ar-Ra'd: 26).

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat menjadikan sebagian yang lain sebagai pekerja. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Az-Zukhruf: 32).

  • Menepis Sifat Sombong ala Qarun:

Seorang mukmin yang jujur meyakini bahwa apa yang berhasil ia peroleh berupa harta, sesungguhnya itu hanyalah berasal dari karunia Allah, bukan karena kemampuan pribadinya atau ilmunya semata, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Qarun: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku."

  • Menumbuhkan Sifat Qanaah:

Seorang mukmin akan rida dengan apa yang telah Allah bagikan untuknya berupa rezeki, karena Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya:

"Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan apa yang Dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya." (QS. Asy-Syura: 27).

  • Membangun Kepercayaan Mutlak kepada Allah:

Zakat mendidik di dalam jiwa orang yang berzakat rasa kepercayaan yang mutlak kepada Allah, dan kepercayaan terhadap apa yang ada di sisi Allah jauh lebih besar daripada kepercayaan terhadap apa yang ada di tangannya sendiri. Secara lahiriah, perkara zakat itu seolah-olah mengambil sebagian dari harta atau menguranginya, akan tetapi orang yang berzakat meyakini hal yang sebaliknya... Sebagaimana halnya riba, secara lahiriah ia tampak seperti penambahan pada harta, namun pada hakikatnya ia adalah pemusnah harta, penghancur, dan pembinasa. Hal ini membenarkan firman Allah Ta'ala:

"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka ia tidak bertambah di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridaan Allah, maka merekalah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)." (QS. Ar-Rum: 39).

Demikian pula adanya peringatan berupa maklumat perang dari Allah dan Rasul-Nya bagi siapa saja yang tidak mau meninggalkan riba.

  • Mendorong Investasi yang Produktif dan Mandiri:

Zakat mendorong kaum muslimin untuk menginvestasikan harta-harta mereka pada sektor-sektor yang membawa manfaat bagi kaum muslimin, alih-alih membekukannya (menganggurkannya). Di dalam hal itu terdapat pertumbuhan ekonomi dan kekuatan bagi Islam serta kaum muslimin, sekaligus menjadi dorongan bagi mereka untuk memakmurkan bumi, mengambil manfaat dari nikmat-nikmat Allah, serta agar pihak luar tidak mengendalikan roda perekonomian mereka.

  • Meluruskan Standar Nilai Manusia:

Orang-orang yang tidak beriman memiliki standar nilai berupa harta. Mereka menilai dan menghormati manusia berdasarkan kadar harta yang mereka miliki, meskipun orang-orang kaya tersebut adalah orang-orang yang sesat lagi berbuat kerusakan. Akan tetapi, orang-orang yang beriman memiliki standar nilai yang bersifat ketuhanan (rabbani):

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujurat: 13).

Mereka menempatkan harta pada kadar posisinya yang sesuai, yaitu sebagai kesenangan yang akan sirna dan bukan termasuk ke dalam pilar pembentuk kepribadian.

  • Menjaga Stabilitas Mental dalam Menghadapi Pasang Surut Dunia:

Orang-orang yang tidak beriman akan merasa sangat gembira yang berlebihan ketika harta dan kesenangan dunia datang menghampiri mereka—padahal boleh jadi kedatangan dunia ini justru menjadi titik kebinasaan dan penyelewengan mereka—dan mereka akan sangat berputus asa lagi berkeluh kesah yang mendalam ketika dunia dan harta itu berpaling pergi menjauh dari mereka. Bahkan, rasa putus asa ini tidak jarang mendorong sebagian dari mereka untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Adapun seorang mukmin, kondisinya cenderung stabil lagi tenang, baik ketika dunia itu datang menghampiri maupun ketika ia berpaling pergi. Ia tidak akan bersikap jemawa (gembira berlebihan) atas apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak pula berputus asa atau berduka cita yang mendalam atas apa yang luput darinya. Ia merasa tenteram bahwa ini semua adalah takdir Allah, dan takdir Allah baginya pastilah baik... Kegembiraan seorang mukmin adalah atas karunia Allah, rahmat-Nya, taufik-Nya, serta petunjuk-Nya:

"Katakanlah: 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan'." (QS. Yunus: 58).

  • Menjadikan Harta sebagai Sarana Kebaikan:

Harta dapat menjadi sarana untuk mendatangkan kebaikan dan pahala yang agung apabila ia dikumpulkan dari jalan yang halal, diinfakkan di jalan Allah, serta ditunaikan hak Allah di dalamnya. Sebaliknya, ia juga dapat menjadi sarana keburukan dan penarik murka Allah serta azab-Nya di akhirat kelak, apabila pemiliknya tidak menempuh cara-cara yang halal dalam mengumpulkannya dan tidak menunaikan hak Allah di dalamnya.

Orang-orang yang terobsesi pada harta, menyibukkan diri hanya untuk mengumpulkannya dan menimbunnya, sesungguhnya mereka telah salah jalan. Sebab, penjagaan harta yang sejati sesungguhnya adalah dengan cara menginfakkannya di jalan Allah, dan pengembangan harta yang sesungguhnya juga diraih melalui cara tersebut... Allah Ta'ala berfirman:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang meninfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261).

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidaklah ada bagimu wahai anak Adam dari hartamu kecuali apa yang telah kamu makan lalu kamu habiskan, atau apa yang kamu pakai lalu kamu lusuhkan, atau apa yang kamu sedekahkan lalu kamu kekalkan (pahalanya di akhirat)."

  • Menghilangkan Sifat Sombong dalam Berderma:

Orang yang mengeluarkan zakat akan merasakan bahwa apa yang ia berikan kepada orang fakir yang kekurangan bukanlah sebuah bentuk kemurahan hati atau budi baik dari dirinya, melainkan itu adalah hak yang sudah pasti, yang telah Allah bagikan untuk orang fakir tersebut, yang mana Allah menjadikannya mengalir melalui kedua tangannya. Dan sangat memungkinkan sekiranya posisi itu dibalik; di mana dialah yang menjadi orang yang diberi sedekah (penerima), sedangkan orang fakir tersebut yang menjadi orang yang berzakat (pemberi).

  • Menjaga Kemurnian Pahala Sedekah:

Al-Qur'an memotivasi kita untuk tidak membatalkan pahala sedekah-sedekah kita dengan cara menyebut-nyebutnya (al-mann), menyakiti perasaan si penerima (al-adza), dan riya. Di dalam hal ini terdapat sisi edukatif yang sangat penting yang menumbuhkan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, menahan diri dari menyakiti manusia, serta mendorong terciptanya rasa kasih sayang dan rahmat:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang meninfakkan hartanya karena riya kepada manusia..." (QS. Al-Baqarah: 264).

Melainkan, ia harus melakukannya hanya demi mengharap wajah Allah semata.

  • Membiasakan Diri Berinfak dengan Sesuatu yang Terbaik:

Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Al-Qur'an memotivasi kita untuk berinfak dari harta yang baik-baik, yang kita sukai, dan jangan sengaja memilih harta yang buruk/kualitas rendah untuk diberikan. Ini merupakan sisi edukatif penting yang di dalamnya terdapat unsur perlawanan terhadap keegoisan dan cinta diri yang berlebihan:

"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk-buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Al-Baqarah: 267).

"Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali 'Imran: 92).

  • Menghidupkan Sisi Kebutuhan Spiritual Pemberi Sedekah:

Alangkah indahnya ketika perasaan orang yang bersedekah itu membubung tinggi, sehingga ia merasakan bahwa kebutuhan dirinya kepada orang fakir (agar ia dapat bersedekah kepadanya) sesungguhnya jauh lebih besar daripada kebutuhan orang fakir tersebut kepada dirinya. Hal itu dikarenakan dia jauh lebih membutuhkan amal-amal kebaikan dan pahala Allah di hari kiamat kelak, daripada kebutuhan orang fakir tersebut terhadap uang di dunia... Ia membutuhkan pahala Allah untuk menyelamatkannya dari azab dan memasukkannya ke dalam surga Allah. Oleh karena itu, dialah yang seharusnya berjalan mendatangi orang fakir, tidak menunggu ucapan terima kasih dari orang fakir tersebut, melainkan dialah yang seharusnya berterima kasih kepada orang fakir yang telah memberikan kesempatan baginya untuk mendapatkan bekal yang akan mendatangkan manfaat di akhirat kelak.

  • Meluruskan Perspektif tentang Nikmat:

Banyak orang yang keliru ketika mereka mengukur nikmat-nikmat Allah hanya berdasarkan apa yang masuk ke dalam kantong-kantong mereka berupa gaji bulanan atau pendapatan materi semata. Mereka melupakan nikmat-nikmat Allah atas mereka yang berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran, kemampuan berbicara, dan selain itu; seolah-olah semua itu adalah hak yang mutlak didapatkan secara otomatis tanpa ada andil karunia Allah atas mereka. Maka, alangkah pantasnya bagi kita untuk meluruskan cara pandang ini, serta merasakan karunia Allah dan nikmat-nikmat-Nya atas kita; dan bahwasanya jika kita disuruh memilih antara salah satu dari nikmat-nikmat ini dengan ber-qintar-qintar emas, niscaya kita tidak akan pernah rela menjadikannya sebagai pengganti.

  • Menyadari Transaksi Langsung dengan Allah:

Orang yang berzakat atau bersedekah mutlak harus merasakan bahwa ketika ia memberi kepada orang fakir, sesungguhnya ia sedang mempersembahkan pemberian tersebut kepada Allah:

"Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima sedekah-sedekah?" (QS. At-Tawbah: 104).

Dan sungguh, Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha telah meresapi makna ini dari ayat ini, di mana beliau dahulu biasa membersihkan dan mengilapkan uang dirham yang akan disedekahkannya.

  • Meresapi Metafora "Pinjaman kepada Allah":

Sesungguhnya seorang mukmin sejati pastilah akan merasa malu kepada Allah sang Maha Pemberi Nikmat lagi Maha Pemurah, ketika Dia menyeru kaum muslimin untuk berinfak di jalan Allah dalam bentuk kalimat permohonan pinjaman:

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (meninfakkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak." (QS. Al-Baqarah: 245).

Maka, barangsiapa yang meresapi ayat ini dengan peresapan yang sebenar-benarnya, ia tidak akan memiliki pilihan lain kecuali bersegera menyambutnya; mempersembahkan segala apa yang ia miliki dalam rasa malu dan kekhusyukan.

  • Meneladani Kedermawanan Rasulullah dan Para Sahabat:

Alangkah pantasnya bagi kita untuk meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam hal kedermawanan dan berinfak. Sungguh, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan melebihi angin yang berembus lepas, dan beliau berada dalam kondisi paling dermawan adalah di bulan Ramadan. Banyak dari kalangan sahabat yang keluar menyerahkan seluruh harta-harta mereka di jalan Allah dan demi mendukung pasukan militer kaum muslimin. Diriwayatkan bahwa salah seorang sahabat dahulu biasa berinfak dengan sangat royal, lalu sebagian kerabat dekatnya mengingatkan dan menegurnya dalam hal itu, maka ia berkata kepada mereka: "Aku telah membiasakan makhluk Allah dengan suatu kebiasaan, dan Allah pun telah membiasakan aku dengan suatu kebiasaan, yaitu kedermawanan. Maka aku khawatir jika aku mengubah kebiasaanku terhadap makhluk-Nya, Dia akan mengubah kebiasaan-Nya terhadap diriku."

  • Menanamkan Sifat Bersegera dalam Kebaikan:

Metode Al-Qur'an senantiasa mendorong untuk bersegera dalam berinfak sebelum datangnya momentum yang terlambat disebabkan oleh kematian. Ini merupakan sisi edukatif penting yang menumbuhkan sifat bersegera menuju kebaikan-kebaikan:

"Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61).

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Munafiqun: 10-11).

  • Makna Keadilan Sosial yang Inklusif:

Sesungguhnya cakupan kewajiban zakat yang meliputi banyak jenis dari buah-buahan, hasil panen, hewan ternak, dan selainnya; di dalamnya mengandung makna keikutsertaan orang fakir untuk ikut merasakan semua jenis komoditas ini dan tidak terhalang dari sesuatu pun darinya hanya disebabkan oleh kefakirannya.

Penutup

Demikianlah kita mendapati bahwa zakat dan infak seluruhnya adalah untaian pelajaran dan bekal bagi siapa saja yang menghendaki untuk mengumpulkan bekal di perjalanan.

Dan aku tidak mengklaim bahwa aku telah merangkum tema ini secara sempurna, dan bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan silakan menambahnya....... dan hanya kepada Allah-lah kita memohon taufik.

Dan di dalam Ibadah Terdapat Bekal....... (Haji)

Allah Ta'ala berfirman:

"Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata-kata kotor/porno), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 197).

Bekal haji adalah bekal yang intensif lagi berlimpah, yang Allah anugerahkan untuk memuliakan para tamu rumah suci-Nya (Baitullah Al-Haram). Limpahan karunia ketuhanan (al-fuyudhat ar-rabbaniyyah) selama masa haji, di tempat-tempat suci, dan saat menunaikan syiar-syiar ini, merupakan limpahan yang meliputi segalanya berupa cahaya, petunjuk, takwa, rahmat, dan ketenangan. Terutama, jika alat penerimanya—yaitu hati sang jemaah haji—berada dalam kondisi selamat, murni, bersih, lagi ikhlas menghadapkan wajah kepada Allah.

Betapa agung perasaan mendalam yang menguasai diri jemaah haji sebelum keberangkatannya; berupa keinginan yang kuat dan kerinduan yang besar untuk menunaikan fardu haji serta mengunjungi Baitullah Al-Haram dan makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mana perasaan ini semakin bertambah selama perjalanan. Kemudian, momen-momen ketika pandangan mata pertama kali jatuh pada Ka'bah yang mulia; alangkah agung dan indahnya momen-momen tersebut, seolah-olah sebuah muatan spiritual mengalir deras ke dalam hati jemaah haji, lalu memenuhinya dengan rasa takut dan khusyuk kepada Allah, serta pengagungan dan kewibawaan terhadap Baitullah Al-Haram.

Begitu pula saat menyentuh/mencium Hajar Aswad (yang diibaratkan sebagai tangan kanan Allah di bumi), dan saat berdiri di ambang pintu Ka'bah di Multazam, di mana air mata mengalir dan tetesan air mata ketakutan, ketundukan, tobat, serta penyesalan dicurahkan. Di sana juga, di padang Arafah milik Allah dan di atas Jabal Rahmah, terdapat limpahan karunia yang luas; semua orang berada di satu hamparan tanah yang sama, menggelegarkan doa kepada Allah, dan mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. Dan "Haji adalah Arafah," sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka di sanalah bentuk pemuliaan Allah kepada para tamu rumah-Nya, di mana Dia tidak menolak mereka dalam keadaan hampa. Dia menerima tobat orang-orang yang bertobat, ampunan orang-orang yang beristigfar, dan doa orang-orang yang berdoa. Ketenangan pun turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, dan hati mereka dipenuhi oleh cahaya Allah serta takwa kepada-Nya. Maka bertemulah mereka dengan kebahagiaan sejati yang mengingatkan pada kebahagiaan penduduk surga.

Bekal salat, puasa, dan zakat senantiasa diperbarui dan berulang karena ibadah-ibadah ini berulang seiring berjalannya hari, bulan, dan tahun. Akan tetapi, karena fardu haji adalah kewajiban seumur hidup yang gugur dengan sekali penunaian, maka seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta'ala—sebagai bentuk kemurahan dan karunia dari-Nya—telah mengkhususkan haji dengan limpahan yang luas dan bekal yang berlimpah ini, yang memberikan manfaat kepada pemiliknya di sisa hidupnya, serta menjadikannya kembali suci bersih seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya, seakan-akan ia telah meletakkan beban-beban dan dosa-dosa yang berat dari pundaknya.

Nilai-Nilai Edukatif dan Karakteristik Ibadah Haji

  • Penyucian Total dan Pengorbanan:

Jemaah haji, sejak waktu keluarnya dari rumahnya untuk menunaikan fardu haji, hidup dalam suatu fase yang murni untuk Allah, bersih dari segala kesibukan dunia. Ia menjalaninya dengan segenap rasa, emosi, eksistensi, hati, akal, jasad, anggota badan, indra, jiwa, dan bisikan hatinya. Di dalamnya ia mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan segala apa yang ia miliki. Dengan demikian, ia menundukkan semua nikmat ini untuk Allah dan untuk menaati Allah, jauh dari kemaksiatan kepada-Nya. Di dalam penundukan ini terdapat bekal yang besar, pendidikan, dan penertiban diri yang pengaruhnya membekas dalam kehidupannya setelah itu.

  • Menjaga Kesadaran akan Batas Usia dan Kemampuan:

Ketergantungan kewajiban fardu haji pada syarat-syarat ketersediaan kemampuan (istitha'ah), memiliki pengaruh tidak langsung bagi seorang muslim yang jujur untuk menjadikannya senantiasa memantau kondisinya dan merasa diawasi oleh Allah dalam menentukan waktu terpenuhinya syarat ini. Sehingga, ia tidak menunda-nunda dan tidak ragu-ragu dalam berusaha menunaikan fardu haji begitu kemampuan itu tersedia, karena ia tidak menjamin kelanjutan umurnya. Jika tidak (segera menunaikannya), ia berisiko terkena azab Allah, dan perumpamaannya seperti orang yang meninggalkan salat karena menunda-nunda, atau bulan Ramadan menjumpainya namun ia tidak berpuasa, atau zakat telah wajib atasnya namun ia tidak menunaikannya.

  • Mendidik Jiwa Berpenghasilan Halal:

Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Maka, barangsiapa yang berniat menunaikan fardu haji, ia mutlak harus meneliti aspek kehalalan dan kebaikan dalam usahanya, jauh dari perkara yang haram atau apa yang di dalamnya terdapat syubhat. Di dalam hal ini juga terdapat sisi edukatif yang penting dalam kehidupan seorang muslim.

  • Mengingat Hakikat Kematian dan Pertemuan dengan Allah:

Alangkah miripnya seorang jemaah haji yang keluar dari rumahnya dalam keadaan telah mandi dan mengenakan pakaian ihram, serta keluar dari kesibukan dunia demi memurnikan hatinya untuk Allah dengan meninggalkan keluarga, harta, dan anak di belakangnya; alangkah miripnya ia dengan orang yang keluar dari dunia saat menemui Allah. Tindakan mandi haji disepadankan dengan dimandikannya jenazah, pakaian ihram disepadankan dengan kain kafan, dan keluar dari kesibukan dunia disepadankan dengan keluarnya jasad secara fisik dari dunia. Sementara itu, berpamitan dengan keluarga serta meninggalkan harta dan anak adalah perkara yang sama pada kedua kondisi tersebut.

Maka alangkah indahnya jika jemaah haji mengingat makna ini, mengambil pelajaran serta nasihat, dan bersiap untuk menemui Allah di atas kesucian dan kemurnian. Ia mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi (mazhalim), melunasi utang-utang, meminta maaf kepada orang yang pernah ia berbuat buruk kepadanya, dan bertobat kepada Allah; karena boleh jadi ia akan menemui Allah dalam perjalanannya ini. Dengan demikian, ia memulai perjalanannya dengan permulaan yang baik lagi mulia.

  • Meresapi Doa Safar yang Edukatif:

Semoga selawat Allah tercurah kepadamu, wahai junjunganku, wahai Rasulullah. Engkau telah mengajarkan kepada kami sebuah doa yang kami ucapkan ketika bepergian (safar), yang sekiranya kita menghidupkan makna-makna yang terkandung di dalamnya dengan sebenar-benarnya, niscaya kita akan keluar dengan membawa bekal edukatif yang besar:

"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan dan takwa, serta amal yang Engkau ridai."

Adanya pengarahan niat dan tujuan kepada kebaikan, takwa, amal saleh, dan bahwa tujuannya adalah keridaan Allah, serta memohon hal tersebut kepada Allah; di dalamnya terdapat perasaan dan pengakuan bahwa hal ini tidak akan terwujud melainkan dengan taufik Allah dan kehendak-Nya. Kemudian potongan berikutnya dari doa tersebut:

"Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti (yang menjaga) keluarga, harta, dan anak."

Alangkah agungnya pengaruh doa ini di dalam jiwa seorang mukmin. Ia merasakan pertemanan Allah dan kebersamaan-Nya dalam perjalanan, sehingga ia berada dalam penjagaan Allah, pemeliharaan Allah, dan jaminan Allah. Kemudian muncul ketenteraman bahwa Allah-lah pengganti yang menjaga keluarga, harta, dan anak, sehingga tidak ada rasa cemas maupun kesibukan pikiran atas sesuatu pun dari hal tersebut. Dengan demikian, terwujudlah penyerahan urusan kepada Allah (tafwith) dan indahnya tawakal kepada-Nya secara aplikatif dan nyata.

Kemudian potongan berikutnya:

"Ya Allah, mudahkanlah atas kami perjalanan kami ini dan dekatkanlah bagi kami jaraknya yang jauh."

Ini adalah wujud bersandar kepada Allah dalam memudahkan perjalanan dan meringankan kesulitannya. Sebab, segala urusan seluruhnya adalah milik Allah, dan jangan ada seorang pun yang mengira bahwa kemudahan ini semata-mata tersimpan pada sebab-sebab kebendaan yang diambilnya seperti pesawat atau mobil. Tidak ada kemudahan kecuali apa yang telah Allah jadikan mudah. Sungguh, mobil dapat menjadi sebab kesulitan dan bukan sebab kenyamanan jika Allah menahan rahmat-Nya dan menyerahkan urusan kita kepada diri kita sendiri.

Kemudian potongan berikutnya:

"Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kelelahan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang buruk pada keluarga dan harta."

Ini adalah perasaan akan kelemahan diri, serta tindakan bersandar kepada Allah dan memohon perlindungan kepada-Nya dari apa yang terkadang dialami oleh para musafir berupa keletihan dan bahaya dalam perjalanan, atau musibah pada keluarga dan harta mereka saat mereka kembali pulang kepadanya.

  • Membangun Etika Bertamu di Sisi Yang Maha Pengasih:

Hendaknya jemaah haji merasakan di saat memulai perjalanan bahwa ia sedang memulai sebuah perjalanan dalam jamuan Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman), dan bahwasanya orang-orang yang bersamanya dalam rombongan semuanya adalah tamu-tamu Yang Maha Pengasih dan para pengunjung rumah suci-Nya. Maka ia menjadi tenteram bahwa ia berada dalam penjagaan Allah dan pemeliharaan-Nya, serta berinteraksi dengan para tamu Yang Maha Pengasih dengan penuh kelembutan, kelunakan, toleransi, cinta, dan kerja sama. Ia membantu orang yang lemah dan yang sakit, serta memenuhi kebutuhan orang yang memerlukan: "maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji." Melatih jiwa untuk menerapkan hal itu sepanjang perjalanan merupakan bekal edukatif yang darurat bagi seorang muslim dalam kehidupannya, dan mutlak diperlukan bagi para dai yang menyeru kepada Allah secara khusus.

  • Meresapi Doa Pelepasan dan Pamitan:

Doa yang saling diucapkan ketika melepas keluarga dan sahabat saat bepergian yang telah ditunjukkan oleh Rasul kita yang mulia, di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan makna-makna edukatif yang penting. Orang yang menetap (mukim) berkata kepada musafir:

"Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan akhir penutupan amalmu."

Ia juga berkata: "Semoga Allah membekalimu dengan takwa." Dan ia juga berkata: "Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam doamu." Kalimat ini dahulu pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu saat beliau hendak bepergian... Sementara itu, sang musafir berkata kepada orang-orang yang menetap: "Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak pernah menyia-nyiakan titipan-Nya." Sebuah momentum yang seluruhnya berisi zikir kepada Allah, perpisahan di atas jalan Allah, dan di dalamnya terdapat saling berwasiat dalam kebenaran, keteguhan di atas perkara agama, serta antusiasme terhadap husnul-khatimah; sebuah emosi dan rasa cinta kepada kebaikan yang saling berbalas, yang tidak kita temukan melainkan di antara sesama kaum muslimin.

  • Pentingnya Manajemen dan Kepemimpinan Komunal:

Tindakan memilih seorang pemimpin (amir) bagi rombongan di dalamnya terdapat kepatuhan terhadap perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, serta perwujudan dari makna persatuan, ketertiban, kesatuan kata, dan penjagaan dari setan berkat berkah jamaah (kebersamaan). Ini merupakan sisi edukatif yang penting, khususnya bagi para pemilik dakwah yang berjalan di atas jalan dakwah.

  • Mengingat Karunia Transportasi dan Teknologi:

Doa ini diucapkan ketika menaiki kendaraan atau sarana perjalanan; di mana ia menyebut nama Allah di awal (bismillah), dan ketika telah naik ia mengucapkan Alhamdulillah dan bertakbir tiga kali (Allahu Akbar), dan apabila telah posisi tegak sempurna ia mengucapkan:

"Mahasuci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami." (QS. Az-Zukhruf: 13-14).

Di dalam hal itu terdapat peringatan akan karunia Allah dalam menundukkan sarana ini, dan tidak mengembalikan karunia tersebut kepada para pembuat pesawat atau mobil semata; karena karunia itu pertama dan terakhir adalah milik Allah, Dialah yang menundukkan bahan-bahan bagi mereka untuk membuatnya dan menganugerahkan mereka akal yang mereka gunakan untuk berpikir.

  • Ikrar Tauhid Melalui Kalimat Talbiyah:

Kalimat talbiyah beserta makna-makna yang dikandung oleh lafaz-lafaznya berupa pemenuhan panggilan terhadap Zat yang menyeru kepada Allah, dan apa yang ada di dalamnya berupa penyucian dari kesyirikan, serta bahwasanya segala pujian hanya milik-Nya semata, begitu pula nikmat dan kerajaan hanya milik-Nya semata. Kemudian, pengulangannya oleh lisan dan kesibukan hati dengannya menjadi penegas dan pemantap bagi makna-makna keiman, tauhid, serta perasaan akan karunia Allah dan kefakiran kita kepada-Nya:

"Labaikallahumma labaik... labaika laa syarika laka labaik... innal hamda wan ni'mata laka wal mulk... laa syarika lak." (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu... aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu... sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu... tidak ada sekutu bagi-Mu).

Dan penggantian kalimat talbiyah ini sebagai pengganti ucapan salam ketika bertemunya para jemaah haji satu sama lain, di dalamnya terdapat pengingat dan penegas atas berkumpulnya mereka di atas akidah tauhid serta perasaan ikut berpartisipasi dalam ibadah komunal ini.

  • Spiritualitas yang Mengalahkan Keletihan Fisik:

Setiap kali para jemaah haji mengangkat derajat ruhani mereka tinggi-tinggi... maka berkuranglah perasaan mereka terhadap keletihan jasmani. Bahkan, mereka merasakan rasa lelah ini dengan cita rasa yang lain yang berbeda dari rasa lelah biasa, karena ia menjadi sumber bagi pahala Allah dan rahmat-Nya.

  • Daya Tarik Magnetis Baitullah:

Setiap kali para jemaah haji mendekat ke Baitullah Al-Haram... bertambahlah kerinduan mereka dan keterikatan mereka kepadanya, layaknya pengaruh magnet yang semakin kuat daya tariknya saat semakin dekat dengannya. Ini adalah suatu urusan yang Allah titipkan di dalam hati hamba-hamba-Nya yang mukhlis. Di dalam hal itu terdapat dalil atas kecintaan Allah kepada hamba-hamba ini, yang mana Dia telah menjadikan mereka mencintai kunjungan ke rumah suci-Nya, insya Allah.

  • Momen Pertama Memandang Ka'bah:

Ketika pandangan mata jemaah haji pertama kali jatuh pada Ka'bah yang mulia, ia dikuasai oleh perasaan wibawa, pengagungan, dan keindahan pemandangan, serta suatu kondisi yang penuh pengaruh dan rasa takjub yang bercampur dengan kegembiraan dan sukacita. Deskripsi di sini tidaklah cukup, akan tetapi "barangsiapa yang merasakan maka ia akan mengetahui"... Kemudian doa murni yang diriwayatkan ini beserta apa yang ada di dalamnya berupa kebaikan:

"Ya Allah, tambahkanlah rumah ini kemuliaan, pengagungan, kehormatan, dan kewibawaan. Dan tambahkanlah bagi orang yang memuliakannya dan menghormatinya dari kalangan orang yang berhaji atau berumrah berupa kemuliaan, kehormatan, pengagungan, dan kebaikan."

"Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (keselamatan/kedamaian) dan dari-Mu bersumber keselamatan, maka hidupkanlah kami, wahai Tuhan kami, dengan keselamatan."

  • Haji sebagai Perjalanan Rabbani dan Nurani:

Perjalanan haji tidaklah seperti perjalanan-perjalanan lainnya. Ia bukanlah sekadar perjalanan jasad menuju Makkah di mana Ka'bah dan Gunung Arafah berada. Sesungguhnya ia adalah perjalanan rabbani (ketuhanan), perjalanan nurani (penuh cahaya), perjalanan hati dan ruh yang berjalan menuju Penciptanya. Maka ia tersambung dengan asalnya, serta menyerap kekuatan, kehidupan, kebahagiaan, dan mengambil bekal takwa sebagai sebaik-baik bekal.

Sesungguhnya Baitullah Al-Haram ini tidaklah seperti rumah-rumah lainnya, meskipun ia terbuat dari batu-batu yang serupa; ia adalah rumah suci Allah. Dan gunung ini tidaklah seperti gunung-gunung lainnya, meskipun ia terbentuk dari komponen gunung yang sama; Allah telah mengkhususkan keduanya dengan rahasia-rahasia, limpahan karunia, pengaruh, dan tajali (penampakan keagungan), sebagaimana Dia Yang Mahasuci telah mengkhususkan Al-Qur'an—kalam-Nya yang agung—dengan rahasia-rahasia, mukjizat, dan pengaruh, meskipun ia terbentuk dari lafaz dan huruf seperti yang kita gunakan untuk berbicara.

Ini merupakan karunia dari-Nya, rahmat bagi kita, dan kemudahan; karena sesungguhnya kita tidak akan kuat untuk memikul kalam Allah di atas hakikatnya yang asli secara langsung:

"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah." (QS. Al-Hasyr: 21).

Sebagaimana kita juga tidak mampu memikul tajali Allah:

"Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan." (QS. Al-A'raf: 143).

Maka Allah memudahkan bagi kita untuk mengunjungi-Nya, dekat dengan-Nya, bermunajat kepada-Nya, dan memperoleh limpahan karunia-Nya dengan cara mengunjungi Baitullah Al-Haram-Nya yang Dia bertajali di atasnya dan mengkhususkannya dengan limpahan karunia serta cahaya yang memantul kepada kita sesuai dengan kadar kemampuan yang dapat kita pikul.

Dan sesuai dengan kadar kesiapan hati yang takut kepada Tuhannya, sesuai pula kadar penerimaannya terhadap cahaya-cahaya dan limpahan ketuhanan ini, sebagaimana halnya dengan Kitabullah:

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah." (QS. Az-Zumar: 23).

Maka wahai saudaraku, hiduplah dalam perjalanan haji melalui sudut pandang rabbani ini sebagai sebuah perjalanan hidup bagi hati dan ruh, jangan melaluinya dari sudut pandang jasad yang bersifat indrawi semata. Sehingga, hati menjadi sibuk dengan Allah, dan hati bermaksud mengambil bekal dari karunia-Nya, kebaikan-Nya, dan rahmat-Nya. Dengan demikian, akan terwujud bagimu haji yang mabrur, bekal yang berlimpah, dosa yang diampuni, dan kamu kembali dalam keadaan suci bersih seperti pada hari kamu dilahirkan oleh ibumu. Melalui sudut pandang inilah, kamu akan mengetahui rahasia dari perasaan-perasaan dan emosi yang meluap-luap itu, yang merupakan campuran dari perasaan takut, wibawa, kegembiraan, dan kebahagiaan saat pandangan matamu jatuh pada Ka'bah yang mulia untuk pertama kalinya.

  • Makna Filosofis Tawaf dan Komitmen Janji:

Tawaf di Ka'bah—yang merupakan penghormatan bagi masjid ini (tahiyyatul masjid)—dimulai dengan menyentuh/mencium Hajar Aswad jika hal itu mudah bagimu, dengan meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal menyentuh dan mencium ini, seraya menyertai niat janji ('ahd) dengan Allah untuk berkomitmen di atas jalan-Nya yang lurus dan menegakkan kewajiban-kewajiban Islam berupa jihad dan pengorbanan, serta menolong agama-Nya dalam tekad yang jujur untuk menepati janji dan menuntaskan baiat. Ia juga merasakan betapa bahayanya merusak janji dan apa yang diakibatkannya berupa murka Allah dan azab-Nya. Di dalam penuntasan janji dengan bentuk seperti ini terdapat bekal di atas jalan dakwah.

Tawaf di sekeliling Baitullah adalah salat dalam bentuk langkah kaki, putaran, dan doa-doa. Maka tunaikanlah ia sebagaimana kamu menunaikan salat dalam kekhusyukan, kehadiran hati, adab, dan kelembutan kepada saudara-saudaramu selama tawaf. Rasakanlah pengawasan Allah atasmu saat kamu menunaikan ibadah ini di sekeliling Baitullah Al-Haram-Nya. Ketahuilah bahwa hatimu adalah tempat pandangan Allah kepadamu, maka kosongkanlah ia dari segala sesuatu kecuali Allah dan cinta kepada Allah. Keikhlasan kepada Allah pada saat itu akan mengangkat ruh tinggi-tinggi seolah-olah ruh itulah yang bertawaf mengelilingi Baitullah, dan bukan langkah kaki. Dan perbanyaklah zikir kepada Allah serta doa untukmu, untuk saudara-saudaramu, dan untuk dakwahmu.

  • Kedekatan Spiritual di Multazam:

Di Multazam setelah tawaf, rasakanlah kelekatan dirimu dengan Baitullah; sebuah keinginan yang kuat untuk dekat dengan Allah dan dengan keterikatanmu pada kelambu Ka'bah. Rasakanlah kefakiran dan kebutuhan kepada Allah, kepada ampunan-Nya, dan keriduan-Nya. Dengan berdirimu di ambang pintu Ka'bah, rasakanlah berdirinya seorang hamba yang fakir di depan pintu Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemurah. Hendaklah Allah melihat darimu adanya kejujuran dalam menghadap kepada-Nya, keikhlasan bagi-Nya, rasa takut kepada-Nya, harapan pada-Nya, penyesalan, serta tobat yang nasuha, disertai perasaan bahwa tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat menyelamatkan diri dari Allah melainkan menuju kepada-Nya, bersamaan dengan perasaan cinta, ketundukan, serta kelezatan dekat dan taat. Di dalam hal ini terdapat campuran dari perasaan yang baik lagi mulia; perbanyaklah doa, cucurkanlah air mata, dan perbaruilah tekad serta janji dengan Allah, seolah-olah kamu tidak ingin meninggalkan ambang pintu-Nya melainkan demi memberikan kesempatan bagi selainmu dari kalangan tamu-tamu Yang Maha Pengasih.

  • Menyambung Sanad Spiritual di Maqam Ibrahim:

Di depan Maqam Ibrahim, kamu mengerjakan salat dua rakaat dan mengingat hubungan spiritual yang membentang melintasi generasi antara kita dengan junjungan kita Nabi Ibrahim 'alaihis salam, serta pengabulan Allah terhadap doa-doanya dengan diutusnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di tengah-tengah kita sebagai rahmat bagi semesta alam.

  • Edukasi Ketahanan Melalui Air Zamzam:

Air Zamzam tidaklah seperti air lainnya, karena Allah telah mengkhususkannya pula dengan kebaikan yang banyak. Hendaklah kita ingat ketika meminumnya tentang Sayyidah Hajar ibu dari Nabi Ismail, dan betapa beliau menderita karena kehausan sebelum munculnya Zamzam. Maka, hendaklah kita melatih diri kita untuk memikul kesulitan di jalan Allah di medan-medan jihad.

  • Ibadah Fisik Melalui Sa'i:

Sa'i antara Shafa dan Marwah juga termasuk bagian dari syiar-syiar haji dan umrah. Ia adalah ibadah dan bukan sekadar berjalan melewati putaran-putaran ini. Jika ia disertai perasaan lelah dan kesulitan, mari kita ingat Sayyidah Hajar dan usaha beliau berjalan cepat antara Shafa dan Marwah demi mencari air untuk bayinya yang hampir binasa. Maka, alangkah pantasnya bagi kita untuk memikul kesulitan perjalanan dan jihad di jalan Allah sebagai wujud penghambaan dan pendekatan diri kepada Allah, sebagai zakat bagi kesehatan kita, dan penyibukan bagi jasad kita dengan ketaatan kepada Allah.

  • Optimalisasi Ibadah di Makkah:

Di hari-hari masa tinggalmu di Makkah dan di bawah naungan Baitullah Al-Haram, alangkah indahnya dan bagusnya jika kamu memanfaatkan kesempatan ini dan menunaikan semua salat dalam keadaan Ka'bah yang mulia berada tepat di depan kedua matamu.

Di dalam keheningan malam, menyepilah di salah satu sudut di bawah naungan Ka'bah, lalu tegakkanlah salat tahajud untuk Allah, bermunajatlah kepada-Nya, tunduklah kepada-Nya, khusyuklah, dan ketuklah pintu Dzat Yang Maha Pemurah dengan rakaat-rakaat, sujud-sujud, doa-doa, dan tetesan air mata karena takut kepada-Nya. Di dalam atmosfer rabbani ini, jangan lupa untuk memohon kepada Allah agar memuliakan tentara-Nya, menangkan agama-Nya, dan mengalahkan musuh-musuh Islam di setiap tempat.

Di Makkah, ketika kamu berjalan di celah-celah bukitnya dan di antara sudut-sudutnya serta mengunjungi Gua Hira dan Gua Tsur; hiduplah dalam memori hari-hari dakwah pertama dan apa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang Islam pertama berupa penindasan, penyiksaan, dan gangguan karena akidah tauhid. Ingatlah kesabaran mereka, keteguhan mereka, dan kegigihan mereka untuk menyampaikan dakwah. Ingatlah Darul Arqam bin Abil Arqam, tempat di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendidik para pahlawan ini, yang mana di tangan mereka hancurlah segala kesesatan beserta benteng-bentengnya; mulai dari para penyembah berhala, penyembah api, Romawi, hingga Yahudi. Rasakanlah bahwa kamu sedang berjalan di atas tanah yang pernah dilewati oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

  • Membangun Jaringan Solidaritas Global:

Sesungguhnya dalam berkumpulnya para jemaah haji dari seluruh penjuru dunia terdapat kesempatan yang sangat baik untuk memperkuat ikatan di antara kaum muslimin, saling mengenal di antara mereka, mengetahui kondisi satu sama lain, serta saling bertukar perasaan, harapan, dan kepedihan; agar mereka benar-benar menjadi seperti jasad yang satu dan seperti bangunan yang kokoh yang saling menguatkan satu sama lain. Di sana mereka juga dapat mempelajari isu-isu terpenting yang sedang dialami oleh dunia Islam dan minoritas muslim, tipu daya musuh, serta segala apa yang menjadi kepentingan kaum muslimin. Dan alangkah baiknya jika mereka saling bertukar surat-menyurat setelah haji agar hubungan tetap langgeng dan kondisi tetap diketahui, serta agar para jemaah haji dapat mengimplementasikan semboyan kesatuan umat Islam:

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku." (QS. Al-Mu'minun: 52).

  • Puncak Haji di Padang Arafah:

Di padang Arafah milik Allah ini—gunung yang telah Allah khususkan di antara gunung-gunung lainnya dengan kebaikan ini, karunia ini, serta limpahan rahmat ini—rahmat turun kepada para tamu Yang Maha Pengasih dalam keadaan mereka telah berkumpul semuanya di atas gunung ini, dalam pakaian ihram yang sederhana, seraya menggelegarkan doa kepada Allah dengan suatu bentuk yang mengingatkan mereka pada hari kebangkitan (Padang Mahsyar). Sungguh, ia adalah pemandangan yang agung dan hari yang agung.

Diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya dari Aisyah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak ada hari yang di dalamnya Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka melebihi hari Arafah, dan sesungguhnya Dia 'Azza wa Jalla mendekat kemudian membanggakan mereka di hadapan para malaikat, lalu berfirman: 'Apa yang diinginkan oleh mereka ini?'"

Dan di antara kebaikan yang Allah limpahkan pada hari ini adalah Dia menjadikan puasanya bagi selain jemaah haji dapat menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Arafah, maka beliau bersabda: "Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang tersisa." (HR. Muslim).

Dan ketika bertolak (ifadhah) meninggalkan Arafah, perasaan bergejolak saat berpamitan dengan gunung yang dicintai ini, hari yang penuh berkah ini, dan momentum yang agung ini, serta hati bergantung penuh pada harapan diterimanya amal.

  • Filosofi Melontar Jumrah:

Di dalam melontar jumrah terkandung makna kepatuhan terhadap perintah dan perwujudan ibadah dengan cara patuh, meskipun akal pikiran tidak memiliki porsi (tidak memahami alasan logis) dalam perbuatan ini. Hendaklah di sana diingat momentum ketika Iblis mendatangi junjungan kita Nabi Ibrahim 'alaihis salam untuk memalingkannya dari menaati perintah Allah, namun sang Khalil (kekasih Allah) tidak merespons waswas tersebut. Maka, alangkah pantasnya bagimu, wahai jemaah haji, untuk memvisualisasikan di depanmu betapa bahayanya godaan-godaan setan dan waswasnya, serta kewajiban untuk melawannya di saat kamu melontar jumrah sebagai bentuk pengusiran terhadap setan yang terkutuk ini.

  • Makna Kurban dan Kepedulian Sosial:

Di dalam menyembelih hewan hadyu (kurban) dan membagikannya kepada kaum muslimin yang membutuhkan terdapat unsur pendekatan diri kepada Allah, sarana meraih keridaan-Nya, dan harapan agar Allah membebaskanmu dari api neraka. Di dalam hal itu juga terdapat perwujudan makna belas kasih kepada orang-orang fakir dan memberi mereka makan dari hewan hadyu yang terbaik:

"Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar-syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah sewaktu kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur." (QS. Al-Hajj: 36).

  • Tawaf Wada' (Perpisahan):

Di dalam Tawaf Wada' terdapat perasaan berpisah dengan tempat yang paling mulia dan paling dicintai oleh hatimu, dan seluruh dirimu dipenuhi harapan akan penerimaan Allah terhadap ibadah haji ini serta harapan untuk dapat kembali lagi di masa umur yang akan datang.

  • Ziarah ke Madinah dan Napak Tilas Hijrah:

Dalam perjalanan menuju Madinah, ingatlah peristiwa hijrah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan jarak-jarak yang beliau tempuh dalam keadaan beliau dikejar-kejar, serta sambutan penduduk Madinah (Anshar) dan dimulainya pembangunan masjid oleh beliau. Hiduplah dalam memori yang harum ini, beserta apa yang ada di dalamnya berupa pencapaian-pencapaian besar di tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya; berupa peperangan, penaklukan, dan pembersihan Jazirah Arab dari kesyirikan dan berhala-berhala, serta dari kaum Yahudi setelah mereka merusak perjanjian sebagaimana itu menjadi kebiasaan mereka yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an.

  • Meresapi Keberadaan di Raudhah Syarifah:

Di dalam masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ingatlah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari: "Antara rumahku dan mimbarku adalah bagian dari taman-taman surga (Raudhah), dan mimbarku berada di atas telagaku." Maka hiduplah dalam kebahagiaan spiritual ini yang paling dekat dengan kebahagiaan penduduk surga berkat keridaan Allah.

Rasakanlah hubungan spiritual antara dirimu dengan Rasul yang tercinta, dan bahwasanya beliau sangat menginginkan kebaikan bagi kita, serta amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin, terasa berat olehnya penderitaan kita. Sampaikanlah salam kepadanya, berselawatlah atasnya, dan berdoalah kepada Allah agar membalas beliau demi kita dengan sebaik-baik balasan yang pernah diberikan kepada seorang nabi demi umatnya. Demikian pula kepada khalifah pertama Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, dan Umar bin Khattab Amirul Mukminin; dan berdoalah kepada Allah agar mengumpulkan kita bersama golongan orang-orang yang mulia ini.

Kunjungilah tempat-tempat bersejarah di Madinah dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di atasnya yang telah mengubah wajah sejarah. Kunjungilah Pemakaman Baqi' yang merangkum para pahlawan yang suci, dan kunjungilah Gunung Uhud; gunung yang di dekatnya terjadi Perang Uhud, dan ingatlah apa yang ada di dalamnya berupa pelajaran dan nasihat.

Penutup

Demikianlah, hiduplah di fase tersebut dari sirah yang harum dengan memori-memorinya yang baik, yang menganugerahimu bekal, nasihat, dan pelajaran yang mana kamu berada dalam kondisi paling membutuhkan kepadanya di saat kamu sedang berjalan di atas jalan dakwah.

Dan di dalam Qiyamulail Terdapat Bekal

Allah Ta'ala berfirman:

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 16-17).

Salat adalah bekal, akan tetapi pelaksanaannya di dalam atmosfer malam dan di keheningan sepertiga malam yang akhir akan semakin menambah kedekatan, bekal, dan anugerah. Orang-orang yang memendam cinta (kepada Allah) selalu merindukan datangnya malam, dan orang-orang yang menegakkan salat tahajud memiliki kerinduan yang jauh lebih besar terhadapnya; karena orang-orang yang beriman itu sangat besar cintanya kepada Allah. Di dalam lipatan malam terdapat aktivitas berdiri, rukuk, sujud, zikir, tasbih, membaca Al-Qur'an, tobat, istigfar, munajat, doa, serta tangisan karena takut kepada Allah. Dan di dalam setiap hal tersebut terkandung bekal:

"Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian malam yang panjang." (QS. Al-Insan: 26).

Urgensi dan Pengaruh Edukatif Qiyamulail

  • Kebutuhan Utama bagi Para Pejuang Dakwah:

Orang-orang yang menempuh jalan dakwah adalah manusia yang paling membutuhkan ibadah qiyamulail karena bekal yang diberikannya. Sungguh, Allah telah mengarahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari-hari pertama dakwah untuk menegakkan salat malam, demi mempersiapkan beliau memikul amanah-amanah dakwah yang berat. Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan." (QS. Al-Muzzammil: 1-6).

  • Melatih Mujahadah dan Menguatkan Tekad:

Di dalam qiyamulail terdapat unsur perjuangan jiwa (mujahadah), penguatan bagi kehendak serta tekad, penundukan setan, dan penjinakan jiwa untuk tunduk kepada Allah. Barangsiapa yang rela meninggalkan tidur, kenyamanan, kasur, dan kehangatan, serta mampu melawan keinginan-keinginan jasadnya lalu bangkit bersuci—yang mana adakalanya cuaca sedang sangat dingin—kemudian ia lebih memilih untuk beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya; maka tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut merupakan bekal, persiapan diri, sekaligus penolong yang besar di atas jalan dakwah.

  • Memurnikan Keikhlasan Hati:

Menegakkan salat di malam hari di saat manusia sedang tertidur lelap di dalamnya mengandung unsur pemurnian diri, ketulusan, keikhlasan kepada Allah, serta pengosongan hati dari segala bentuk pengaruh riya... Padahal, keikhlasan adalah termasuk sifat yang paling mutlak diperlukan bagi seorang dai yang menyeru kepada Allah, yang mana tanpa keikhlasan tersebut seluruh amal perbuatan akan gugur sia-sia.

  • Pujian Allah dalam Al-Qur'an bagi Penegak Salat Malam:

Di dalam Kitabullah terdapat banyak sekali ayat yang memotivasi untuk menegakkan qiyamulail dan menjelaskan kebaikan yang dikhususkan bagi orang-orang yang menegakkan salat di malam hari. Allah berfirman:

"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, 'Salam,' dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri." (QS. Al-Furqan: 63-64).

"Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam." (QS. Al-Furqan: 75).

  • Kondisi Ruhani yang Diliputi Rasa Takut dan Harap:

Bagi orang-orang yang menegakkan salat di malam hari, mereka memiliki kondisi-kondisi ruhani yang di dalamnya mereka berbolak-balik; Al-Qur'an telah menyebutkan sebagian darinya berupa aktivitas berdiri, sujud, zikir, tasbih, istigfar, dan doa. Hal ini tertuang dalam firman Allah Ta'ala:

"Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sebenarnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9).

Ayat ini menyebutkan tentang orang yang dibuat terjaga malam karena pemikirannya yang mendalam tentang akhirat beserta apa yang ada di dalamnya berupa hisab, balasan, kenikmatan, dan azab; sehingga ia menjalani hidupnya dalam rasa takut (khauf) dan penuh harapan (raja') di dalam sujud dan berdirinya. Di dalam hal ini terdapat bekal yang membantunya untuk beramal dan bersiap menghadapi tempat kembali tersebut.

  • Nutrisi Spiritual bagi Ruh dan Hati:

Berzikir kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya di waktu malam adalah nutrisi bagi ruh dan hati, di mana barangsiapa yang telah merasakan kelezatannya, ia akan sangat menjaga agar tidak terhalang darinya. Di dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang memotivasi hal tersebut:

"Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian malam yang panjang." (QS. Al-Insan: 25-26).

"Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri, dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya dan (demikian pula) pada waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar)." (QS. At-Tur: 48-49).

  • Mengetuk Pintu Ampunan di Waktu Sahur:

Kita semua adalah orang-orang yang berdosa lagi penuh kekurangan, maka alangkah pantasnya bagi kita untuk mengetuk pintu Allah di waktu sahur (waktu sahar) dan memohon ampunan serta rahmat kepada-Nya; karena waktu tersebut adalah waktu dikabulkannya doa. Allah telah memuji orang-orang yang beristigfar di waktu sahur, di mana Allah Ta'ala berfirman:

"Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta keridaan dari Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.' (Juga) orang-orang yang sabar, yang benar, yang taat, yang menginfakkan hartanya, dan yang memohon ampunan pada waktu sahur." (QS. Ali 'Imran: 15-17).

Dan firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air, mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)." (QS. Adz-Dzariyat: 15-18).

  • Keutamaan Doa di Keheningan Malam:

Doa di waktu malam adalah termasuk ibadah yang paling melegakan jiwa dan paling utama. Di dalam kepekatan kegelapan, seorang hamba merendahkan diri di hadapan Tuannya Yang Maha Pemurah, memohon kepada-Nya agar Dia memberinya:

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik, berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'raf: 55-56).

Dari Abu Umamah, ia berkata: "Ditanyakan kepada Rasulullah: 'Doa apakah yang paling didengar?' Beliau bersabda: 'Di tengah malam yang akhir dan di setiap akhir salat-salat wajib'." (HR. Tirmidzi).

Dan dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim bertepatan dengannya dalam memohon kebaikan dari urusan dunia dan akhirat kepada Allah Ta'ala, melainkan Allah akan memberikan hal itu kepadanya, dan yang demikian itu ada pada setiap malam'." (HR. Muslim).

  • Mustajabnya Doa di Kala Sujud:

Berdoa di saat sujud sangat dianjurkan; karena ini adalah momen-momen terdekat dengan Allah di mana seorang muslim semestinya memohon dengan sangat dalam doanya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kondisi paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah di saat ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa'i).

  • Senjata Spiritual Menghadapi Makar Musuh:

Alangkah pantasnya bagi para pemilik dakwah yang kerap dihadapkan pada gangguan musuh dan tipu daya mereka, untuk memohon bantuan melawan mereka dengan menggunakan anak panah takdir (sihamul qadar) dan doa di waktu sahur. Bangkitlah wahai saudaraku di waktu sahur, berdoalah kepada Allah dan ucapkanlah: "Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan Engkau di leher-leher musuh dan orang-orang yang berbuat sewenang-wenang, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan-keburukan mereka." Dan ucapkanlah: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang yang kafir." Dan ucapkanlah: "Ya Allah, kalahkanlah musuh-musuh-Mu musuh-musuh agama, dan menangkanlah kami atas mereka dengan kemenangan yang mulia yang menyembuhkan dada-dada kami dan menghilangkan kemarahan hati kami." Serta apa saja doa yang Allah bukakan jalan bagimu untuk mengucapkannya.

  • Motivasi Kehadiran Tuhan di Sepertiga Malam Terakhir:

Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Malik, Muslim, dan selain mereka dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang akhir, lalu Dia berfirman: 'Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuknya, barangsiapa yang memohon kepada-Ku niscaya Aku beri kepadanya, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni untuknya'."

Maka apakah setelah adanya stimulasi dan pembangkit kerinduan yang besar ini kita masih akan menunda-nunda dan bermalas-malasan? Sekiranya dikatakan kepada manusia pada waktu malam seperti ini: "Barangsiapa yang hadir di suatu tempat, ia akan mendapatkan harta, daging, atau kesenangan dunia," niscaya mereka akan saling berebut dan berbondong-bondong datang. Padahal Rasul kita yang tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan peringatan kepada kita dalam hadisnya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda: "Tidak ada salat yang paling berat bagi orang-orang munafik melainkan salat Subuh dan Isya, dan sekiranya mereka mengetahui apa yang ada di dalam keduanya (berupa kebaikan), niscaya mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan merangkak." (Muttafaq 'Alaih).

  • Keberkahan Rumah yang Dihidupkan dengan Salat Malam:

Sesungguhnya rumah yang menghidupkan malam dengan qiyamulail adalah rumah yang dikelilingi oleh para malaikat, dituruni oleh rahmat, serta diliputi oleh kebahagiaan yang sejati. Alangkah indahnya jika suami dan istri saling bekerja sama dalam mewujudkan kebaikan ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di waktu malam lalu ia salat dan membangunkan istrinya, jika istrinya enggan maka ia memercikkan air ke wajahnya... Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu ia salat dan membangunkan suaminya, jika suaminya enggan maka ia memercikkan air ke wajahnya." (HR. Abu Dawud dengan sanad sahih).

  • Kiat-Kiat Penolong untuk Istikamah Qiyamulail:

Mendekatlah kepada Allah wahai saudaraku semampumu dengan ibadah-ibadah sunah (nawafil), dan di antara yang paling utama adalah qiyamulail, hal ini membenarkan hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Seutama-utama salat setelah salat wajib adalah salat malam." (HR. Muslim).

Dan di antara perkara yang dapat membantumu untuk bisa menegakkan salat malam adalah: mengikhlaskan niat, menghadirkan tekad yang kuat, memperbarui tobat, menjauhi perbuatan maksiat di siang hari, bersegera tidur di awal malam, melakukan tidur siang sejenak (qailulah) jika memungkinkan, serta memohon pertolongan kepada Allah.

  • Konsistensi dalam Beribadah:

Wajib bagi seorang muslim untuk merutinkan diri (dawam) dalam menegakkan qiyamulail dan mereguk sepuasnya dari bekal ini. Sungguh telah diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Aas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai Abdullah, janganlah kamu menjadi seperti si fulan; dahulu ia biasa menegakkan salat malam namun kemudian ia meninggalkan salat malam." (Muttafaq 'Alaih).

  • Jumlah Rakaat Salat Malam Rasulullah:

Adapun mengenai jumlah rakaatnya, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Salat malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sepuluh rakaat, beliau melakukan witir dengan satu sujud (satu rakaat), dan beliau mengerjakan salat dua rakaat fajar (qabliyah Subuh), maka jumlah totalnya adalah tiga belas rakaat." (HR. Enam Imam Hadis, dan ini adalah lafaz Imam Muslim).

  • Kandungan Makna Doa Tahajud Rasulullah:

Alangkah banyaknya bekal yang ada di dalam doa yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika bangun di waktu malam untuk bertahajud. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila bangun di waktu malam untuk bertahajud, beliau membaca:

"Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, Engkau Penguasa langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Pemilik langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Maha Benar, janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, firman-Mu adalah benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, para nabi adalah benar, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah benar, dan hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku menghadapi musuh, dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah aku atas dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, serta apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkau Yang Maha Mendahulukan dan Engkau Yang Maha Mengakhirkan, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau." (HR. Enam Imam Hadis, dan ini adalah lafaz Al-Bukhari & Muslim).

  • Nasihat Imam Syahid Hasan Al-Banna Mengenai Munajat:

Di dalam Risalatul Munajat karya Imam Syahid Hasan Al-Banna, beliau memotivasi para ikhwan untuk menegakkan salat malam dengan perkataan beliau:

"Wahai saudaraku, boleh jadi waktu bermunajat yang paling indah adalah di saat kamu menyendiri bersama Tuhanmu sementara manusia sedang tertidur lelap, orang-orang yang kosong pikirannya sedang terbuai dalam lelapnya tidur, dan alam semesta seluruhnya telah sunyi senyap. Malam telah melabuhkan tirainya dan bintang-bintangnya telah tenggelam. Di saat itulah kamu menghadirkan hatimu, mengingat Tuhanmu, memvisualisasikan kelemahan dirimu dan keagungan Tuanmu. Maka kamu akan merasa nyaman di hadirat-Nya, hatimu menjadi tenteram dengan berzikir kepada-Nya, kamu bergembira atas karunia-Nya dan rahmat-Nya, menangis karena takut kepada-Nya, merasakan pengawasan-Nya, memohon dengan sangat dalam doa, bersungguh-sungguh dalam beristigfar, serta mengadukan segala hajat kebutuhanmu kepada Dzat yang tidak dilemahkan oleh sesuatu pun dan tidak disibukkan oleh sesuatu dari sesuatu yang lain. Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka jadilah ia. Dan kamu memohon kepada-Nya untuk urusan duniamu, akhiratmu, jihadmu, dakwahmu, cita-citamu, harapan-harapanmu, tanah airmu, karib kerabatmu, dirimu sendiri, serta saudara-saudaramu; 'Dan tidak ada kemenangan itu melainkan dari sisi Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana'."

  • Keindahan Spiritual yang Mengalahkan Keletihan Fisik:

Sesungguhnya di dalam qiyamulail dan munajat terdapat rasa nyaman dan ketenteraman psikologis yang membuat pelakunya tidak merasakan payahnya jasad dan lelahnya kaki. Lihatlah sang kekasih tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau menegakkan salat malam dan memperlama berdirinya hingga kedua kaki beliau bengkak-bengkak, namun beliau tidak merasakan rasa sakit karena tenggelamnya beliau dalam kedekatan dengan Allah dan kenyamanan bersama-Nya. Sebagian orang saleh telah berkata: "Tidak ada di dunia ini suatu waktu yang menyerupai kenikmatan akhirat melainkan apa yang dirasakan oleh para penegak salat malam di dalam hati mereka berupa manisnya bermunajat." Maka, marilah kita mencoba untuk mencicipi manisnya rasa ini.

Penutup dan Untaian Hikmah

Akhirnya, aku katakan kepadamu wahai saudaraku: bangunlah di waktu malam seperti bangunnya seorang hamba yang fakir lagi hina, yang menyelinap di dalam kepekatan kegelapan malam demi mengetuk pintu Tuannya Yang Maha Pemurah. Ia berdiri di ambang pintu-Nya dalam keadaan tunduk, pasrah, merasakan penuh kekurangan, mengakui dosa-dosa, serta merasakan adanya kebutuhan yang mendesak terhadap maaf dari Tuannya dan keridaan-Nya atas dirinya, disertai harapan yang mendalam akan rahmat-Nya, keridaan-Nya, dan surga-surga-Nya.

Ketuklah wahai saudaraku pintu maulamu di kegelapan malam dengan rakaat-rakaat yang khusyuk, sujud-sujud yang panjang, doa-doa yang murni, tasbih-tasbih, dan tetesan air mata karena takut kepada-Nya. Jadilah orang yang yakin akan dikabulkannya doa-doamu oleh Tuhanmu. Dan jangan pernah melupakan dakwahmu di tengah luapan kebaikan ini, sehingga kamu memohon kepada Allah kemenangan dan kejayaan bagi agama-Nya, serta mendoakan saudara-saudaramu tanpa sepengetahuan mereka (bilsyahril ghaib).

Bait-Bait Syair Penutup

Bertasbihlah wahai jiwaku dan tegakkanlah salat

Di saat terjadinya serangan dari orang-orang yang melampaui batas

Maka apabila hati ini terguncang hebat

Disebabkan oleh kepedihan dan ujian hidup yang menyengat

Cucurkanlah jiwamu menjadi tetesan air mata

Dan tumpahkanlah ia seluruhnya di dalam salat

Karena sesungguhnya Tuhan semesta alam senantiasa mendengar

Kepada jiwa-jiwa yang menangis penuh harap

Dan di dalam Zikir dan Doa..... Terdapat Bekal

Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah (dengan berzikir) sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab: 41-42).

Allah adalah tujuan kita, Dialah Pencipta kita dan Pemberi rezeki kita, maka akankah kita lalai dari mengingat-Nya? Dan adakah zat lain yang membuat kita bahagia dengan mengingatnya melebihi kebahagiaan bersama-Nya Subhahahu wa Ta'ala? Sesungguhnya ia adalah kebahagiaan yang tidak ada kebahagiaan lain yang lebih tinggi darinya; ia adalah kedekatan dengan Allah, kenyamanan bersama-Nya, ketenteraman di sisi-Nya, kelapangan dada oleh cahaya-Nya, rasa aman, keselamatan, serta penyerahan dan kepasrahan segala urusan kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada rasa takut, tidak ada kecemasan, tidak ada kesempitan, tidak ada kesengsaraan, dan tidak ada kegelisahan:

" (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Setiap kali kamu mengingat Allah, maka kamu sedang bersama Allah dan Allah bersamamu. Kamu sedang bersama Dzat Yang Maha Kaya, Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi rezeki, yang di tangan-Nya segala urusan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka, kamu tidak akan merasakan butuh kepada sesuatu pun. Lalu, apa yang kehilangan bagi orang yang telah menemukan Allah? Tidak ada sesuatu pun... Dan apa yang menemukan bagi orang yang kehilangan Allah? Tidak ada sesuatu pun.

Setiap kali kamu mengingat Allah dengan salah satu nama dari nama-nama-Nya atau sifat dari sifat-sifat-Nya, hal itu akan meninggalkan bekas dan kesan khusus di dalam jiwa dan hati, serta menjadi bekal bagi ruh yang akan mengangkat derajat pemiliknya tinggi-tinggi, dan ia akan semakin terangkat seiring bertambahnya zikirnya kepada Allah, serta semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah. Adapun orang yang lalai dari mengingat Allah, maka ia akan menjadi sasaran waswas setan yang selalu mengingatkannya pada kemaksiatan, syahwat, dosa, dan keburukan amal. Setan akan terus menjatuhkannya dan membawanya turun ke tempat yang paling rendah (asfala safilin), sehingga benarlah firman Allah Ta'ala mengenai mereka:

"Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf: 179).

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152).

Adakah kedudukan yang lebih tinggi daripada orang yang diingat oleh Allah Ta'ala, sehingga ia berada dalam penjagaan-Nya, pemeliharaan-Nya, rahmat-Nya, dan karunia-Nya? Dan ini adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Allah Ta'ala berfirman: 'Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di suatu perkumpulan, Aku akan mengingatnya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka'." (Muttafaq 'Alaih).

Sesungguhnya dengan mengingat Allah, kita menyelamatkan diri kita dari atmosfer yang busuk ini serta fitnah-fitnah yang saling berdesakan, kita menyucikan hati kita, dan kita berlari menuju Allah serta memurnikan ketaatan kepada-Nya:

"Maka berlarilah kamu kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya untukmu." (QS. Az-Zariyat: 50).

And setiap kali kita mengingat Allah, setan akan bersembunyi ketakutan (khanasa) beserta waswasnya lalu pergi meninggalkan kita, dan kita pun suci dari najisnya.

Ketika kita hidup dengan hati kita dalam meresapi setiap sifat atau nama dari nama-nama-Nya yang kita gunakan untuk mengingat-Nya, maka akan bertambahlah keimanan kita kepada-Nya dan pengagungan kita kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala, dan di dalam hal ini terkandung sebaik-baik bekal bagi kita di atas jalan (dakwah).

Dan rahmat yang meliputi kita serta ketenangan (sakinah) yang turun kepada kita ketika kita duduk untuk mengingat Allah, seluruhnya adalah kebaikan dan bekal yang besar. Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan:

"Tidaklah suatu kaum duduk mengingat Allah 'Azza wa Jalla, melainkan para malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat akan meliputi mereka, ketenangan akan turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya."

Bahkan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala membanggakan majelis-majelis zikir ini di hadapan para malaikat-Nya.

Dan di dalam zikir kita kepada Allah Ta'ala, terdapat hal yang mendorong kita untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat yang diperbolehkan bagi kita untuk bersifat dengannya, bukan sifat-sifat yang tidak boleh kita menyaingi-Nya dalam sifat tersebut (seperti kesombongan). Maka setiap kali kita mengingat Allah Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman), Yang Maha Melimpahkan Kebaikan (Al-Barr), Yang Maha Penyayang (Ar-Rahim), Yang Maha Penyantun (Al-Halim), Yang Maha Pemurah (Al-Karim), Yang Maha Penyabar (As-Shabur), Yang Maha Mensyukuri (As-Syakur), Yang Maha Pemaaf (Al-'Afuw), Yang Maha Pengampun (Al-Ghafur); kita mendapati diri kita mau tidak mau, agar bisa meraih rahmat Allah, harus menyayangi siapa saja yang ada di bumi. Dan agar kita mendapatkan kemurahan dan kedermawanan Allah, maka wajib bagi kita untuk berbuat demikian pula kepada makhluk Allah yang membutuhkan. Dan agar kita tercakup oleh pemaafan Allah, kita harus memaafkan orang yang berbuat buruk kepada kita, dan demikian seterusnya. Di dalam hal itu terdapat bekal yang sangat besar.

Dan karena adanya kebaikan di dalam zikir, Allah menyeru kita untuk mengingat-Nya dalam segala kondisi dan waktu kita agar kita tidak terhalang dari kebaikan ini dan kebersamaan ini. Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah (dengan berzikir) sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzab: 41-43).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

" (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka'." (QS. Ali 'Imran: 191).

Kemurahan dan karunia macam apa lagi dari Allah, di mana Dia mengizinkan kita untuk mengingat-Nya dalam setiap kondisi kita, bahkan saat kita sedang berbaring di atas lambung kita? Mahasuci Engkau wahai Tuhanku, betapa Maha Pemurahnya Engkau.

Kiat dan Hakikat Zikir yang Benar

  • Menjaga Lisan agar Tetap Basah Berzikir:

Berusahalah dengan sungguh-sungguh wahai saudaraku agar lisanmu senantiasa basah dengan mengingat Allah. Maka ingatlah Allah di kala makanmu, minummu, pakaianmu, tidurmu, terjagamu, di tengah jalanmu menuju tempat kerja, di dalam pekerjaanmu, dan dalam setiap kondisimu. Jangan biarkan momentum kelalaian (sahwu), kesia-siaan (lahwu), atau ucapan tak berguna (laghwu) lewat begitu saja dalam hidupmu. Selama kamu tidak sedang disibukkan oleh suatu pekerjaan atau ibadah, maka sibukkanlah dirimu dengan berzikir kepada Allah; dengan begitu kamu akan memperbanyak simpanan kebaikan, meraih ketenteraman serta kebersamaan dengan Allah, dan Allah akan menghapuskan dosa-dosa darimu sekehendak-Nya.

  • Zikir Hati sebagai Motor Penggerak Anggota Badan:

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa zikir yang dimaksud (paling utama) adalah zikirnya hati sebelum lisan. Apabila seorang hamba telah mengingat Tuhannya dengan hatinya, hal itu akan tepercik dan terpantul pada anggota badannya; seketika itu juga lisan akan mengingat Allah sehingga ia tidak mengucapkan kecuali kebaikan, mata mengingat Allah sehingga ia tidak melihat kepada yang haram, telinga mengingat Allah sehingga ia tidak mendengar kepada apa yang memicu kemurkaan Allah, tangan mengingat Allah sehingga ia tidak bergerak menuju keburukan atau dosa, begitu pula dengan kaki, bahkan akal pun tidak akan memikirkan sesuatu yang haram, dan hati tidak akan terlintas di dalamnya kecuali segala bentuk kebaikan.

  • Konsep Zikir dalam Makna yang Luas:

Demikianlah, melalui pemahaman zikir yang komprehensif, kita melihat bahwa setiap perkara yang di dalamnya kamu merasa diawasi oleh Tuhanmu (muraqabah), kamu ingat akan pandangan-Nya kepadamu dan pengawasan-Nya atasmu, maka itu adalah zikir. Dengan demikian, tobat adalah zikir, bertafakur adalah termasuk jenis zikir yang paling tinggi, menuntut ilmu adalah zikir, dan mencari rezeki jika kamu membaguskan niat di dalamnya adalah juga termasuk zikir, dan begitu seterusnya.

  • Keutamaan Zikir dalam Kesunyian (Khalwat):

Di samping zikir kita kepada Allah dalam setiap kondisi dan urusan kita, sesungguhnya mengingat Allah di kala menyendiri (khalwat) memiliki pengaruh tersendiri, memiliki kelezatan tersendiri, kemanisan di dalam hati, cahaya, dan kelapangan dada, terlebih lagi jika hal itu dibarengi dengan meluapnya air mata dari pelupuk mata karena takut kepada Allah. Di antara tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan melainkan naungan-Nya adalah:

"... seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam kesunyian lalu kedua matanya mencucurkan air mata...."

  • Zikir sebagai Solusi Kebahagiaan Sejati:

Manusia sering kali sengsara dalam hidup mereka, mereka lelah dan mencari-cari kebahagiaan serta ketenteraman, mereka bersedia menggelontorkan harta demi mendapatkan hal tersebut dengan harapan mereka bisa menemukannya pada sarana-sarana kebendaan/materi mereka, namun mereka tidak menemukannya. Sementara itu, kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenteraman ini tersedia dengan sangat mudah bagi siapa saja yang mengingat Allah dan berdoa kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.

  • Perbedaan Karakter Kaum Mukmin vs Orang Lalai/Ateis:

Orang-orang yang lalai dan orang-orang ateis tidak mengingat Allah. Namun, apabila mereka ditimpa kesusahan yang berat atau ditimpa suatu musibah, mereka seketika mengingat Allah dan tiba-tiba saja mereka menjerit memohon kepada-Nya dengan doa agar Dia menyelamatkan mereka dan membebaskan mereka dari kesempitan atau musibah ini. Tetapi, begitu Allah menyingkap musibah itu dari mereka, seketika itu pula mereka kembali pada kelalaian dan keateisan mereka. Adapun orang-orang yang beriman, mereka senantiasa mengingat Allah di waktu lapang maupun sempit, dan dalam setiap kondisi mereka, mereka mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya.

Sesungguhnya seorang mukmin apabila mengingat Allah di waktu sehatnya dan melimpahnya harta di sisinya, ia bersyukur kepada Allah dan mengingat karunia Allah atas dirinya dalam hal tersebut, sehingga ia tidak melampaui batas (thagha) dan tidak terfitnah oleh dunia. Dan manakala ia mengingat Allah di waktu sempit dan kesusahan, Allah akan melenyapkan kesempitan itu darinya dan menggantikannya dengan ketenangan, ketenteraman, kenyamanan, serta kedamaian pikiran.

Kisah Inspiratif Ketenteraman di Balik Jeruji Besi

Berkaitan dengan tema ini, aku teringat bahwa salah seorang saudara (ikhwah) pernah dipenjara di dalam sel tahanan yang sangat sempit secara soliter (sel isolasi)—artinya ia berada seorang diri dan pintunya dikunci rapat hampir sepanjang waktu. Akan tetapi, disebabkan aktivitas zikirnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, ia senantiasa merasakan kenyamanan dan ketenteraman psikologis yang luar biasa. Ia sama sekali tidak merasakan bahwa sel tersebut memiliki dinding-dinding pembatas dan pintu yang terkunci rapat; ia merasa seolah-olah sedang berada di alam semesta yang luas.

Sementara itu, penjaga yang berada di luar pintu merasa iba dan mengira bahwa saudara tersebut berada dalam kesempitan karena pintu yang dikunci rapat atasnya. Maka, penjaga itu kerap mencuri-curi kesempatan dari pengawasan perwira untuk membuka pintu sel dengan bukaan kecil selama beberapa waktu demi meringankan beban saudara tersebut. Namun, saudara itu justru bercerita dan mengatakan bahwa ketika pintu itu dibuka, ia justru merasakan adanya kegelisahan (wuhsyah) dan berkuranglah rasa kenyamanan spiritual yang tadinya ia rasakan secara mendalam bersama aktivitas zikirnya kepada Allah Ta'ala.

Keutamaan Zikir dan Doa dalam Hadis

  • Pahala yang Mengalahkan Permohonan Para Peminta:

Di antara keindahan karunia Allah atas kita dan baiknya balasan-Nya bagi orang-orang yang berzikir adalah apa yang tercantum di dalam hadis syarif ini, di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Barangsiapa yang disibukkan oleh aktivitas zikir kepada-Ku dari memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta'." (HR. Muslim).

  • Investasi Pahala Lewat Kalimat Thayyibah:

Sesungguhnya bacaan tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (allahu akbar), tasbih (subhanallah), istigfar, pujian, sanjungan, serta selawat dan salam atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; seluruh hal tersebut memiliki keutamaan yang besar dan pahala yang agung. Sungguh telah ada banyak ayat dan hadis mengenai hal itu, dan hal itu telah mencakup beberapa formula (shiyagh) doa mabrur yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka alangkah butuhnya kita untuk meraup kebaikan-kebaikan dan menggugurkan keburukan-keburukan dengan zikir ini.

  • Hakikat Doa sebagai Inti Penghambaan:

Adapun mengenai doa, ia adalah sumber bekal yang sangat penting. Doa pada hakikatnya bermakna adanya perasaan seorang hamba akan kefakirannya kepada Allah, perasaannya akan kemahakuasaan Allah, dan bahwasanya segala urusan seluruhnya berada di tangan-Nya. Inilah inti dari penghambaan ('ubudiyyah), kepasrahan kepada Allah, dan keimanan kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Ia adalah perasaan hancur di hadapan Allah, bertadaru (merendah diri), dan menghinakan diri di hadapan-Nya Subhanahu wa Ta'ala, serta perasaan akan karunia-Nya, kedermawanan-Nya, kebaikan-Nya, dan bahwasanya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Hidupnya hati dengan makna-makna ini pada dirinya sendiri sudah merupakan bekal yang sangat agung.

  • Doa adalah Ibadah, Menolaknya adalah Kesombongan:

Doa adalah ibadah, sedangkan berpaling darinya adalah wujud kesombongan dan pengingkaran. Termasuk bentuk kemurahan Allah atas kita adalah Dia menyeru kita untuk berdoa kepada-Nya dan menjanjikan kita dengan pengabulan. Dari Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Doa adalah ibadah, kemudian beliau membaca: 'Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." (HR. Abu Dawud).

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya." (HR. Tirmidzi).

  • Keindahan Saling Mendoakan Tanpa Sepengetahuan (Saling Mendoakan di Balik Ghaib):

Alangkah indahnya jika sesama saudara saling bertukar kebaikan yang terkandung di dalam doa, dengan cara masing-masing mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya (zhahril ghaib). Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada seorang hamba muslim pun yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata: 'Dan bagimu pun mendapatkan yang semisalnya'." (HR. Muslim).

Termasuk perkataan salah seorang salaf yang saleh: "Berdoalah dengan lisan yang tidak kamu gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya." Ditanyakan: "Bagaimana caranya?" Ia menjawab: "Kamu meminta saudaramu untuk mendoakan Allah demi dirimu." Di dalam hal itu terdapat penguatan bagi tali-tali cinta dan persaudaraan karena Allah (ukhuwah fillah).

  • Waktu-Waktu Mustajab Dikabulkannya Doa:

Bagi doa, terdapat waktu-waktu yang sangat diharapkan di dalamnya pengabulan yang telah disebutkan di dalam hadis-hadis nabi yang dapat dirujuk kembali. Di antara waktu-waktu ini adalah: Malam Lailatul Qadar, di antara azan dan iqamah, di kala sujud, di dalam perjalanan (safar), di bawah guyuran hujan, di waktu sahur, ketika seruan azan berkumandang, di dalam barisan perang (shaff), dan ketika mengalami kezaliman (mazhlum).

Terdapat pula doa-doa di dalam Al-Qur'an dan doa-doa yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, demikian pula doa-doa dari sebagian orang saleh yang dapat dirujuk kembali, karena di dalam hal tersebut terkandung kebaikan.

Adab-Adab dalam Berzikir dan Berdoa

Terdapat adab-adab dalam zikir dan doa yang wajib kita komit dengannya dengan harapan dikabulkan dan dipetik manfaatnya. Di antara adab-adab ini adalah:

  1. Kehadiran Hati dan Kekhusyukan: Menghadirkan hati (hudhurul qalb), adanya rasa takut, ketenangan, serta etika yang baik (husnul adab) di hadapan Dzat Yang Maha Benar (Al-Haq) Tabaraka wa Ta'ala.
  2. Sistematika Doa yang Benar: Membuka doa dengan pujian kepada Allah (tahmid) dan menyanjung-Nya, serta membaca selawat dan salam atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian menutup doa dengannya pula.
  3. Ketenangan Suara: Menjaga ketenangan dan tidak meninggikan suara secara berlebihan di kala berdoa atau berzikir.
  4. Memilih Kalimat yang Padat Makna (Jawami'ul Kalim): Yaitu doa-doa yang mengumpulkan segala bentuk kebaikan, serta mengulang-ulangi doa tersebut sebanyak tiga kali.
  5. Optimisme dan Tidak Tergesa-gesa: Memiliki keyakinan yang penuh akan dikabulkannya doa (muqinun bil ijabah) dan tidak terburu-buru menuntut hasilnya.
  6. Menghindari Doa Buruk: Tidak mendoakan keburukan atas dirinya sendiri, tidak pula atas anaknya, dan tidak pula atas hartanya.
  7. Memulai dari Diri Sendiri: Hendaknya ia memulai dari dirinya sendiri apabila ia mendoakan orang lain, seperti dengan mengucapkan: "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami dan kepadamu."

Barangsiapa yang menjaga adab-adab ini di dalam zikir dan doa, ia akan mendapati—dengan izin Allah—pengaruh dari hal tersebut berupa kemanisan di dalam hatinya, cahaya bagi ruhnya, kelapangan di dalam dadanya, serta limpahan karunia dari Allah Ta'ala.

Dan wajib bagi seorang muslim untuk bubar meninggalkan majelis zikir dan doa dalam keadaan khusyuk dan beradab, serta menjauhkan diri dari kegaduhan/ucapan sia-sia (laghath) dan kesia-siaan (lahwu) yang dapat melenyapkan faedah dari zikir dan doa beserta pengaruhnya.

Dan di dalam Mengikuti Sunah.... Terdapat Bekal

Sunah yang suci (As-Sunnah Al-Muthahharah) memiliki kedudukan yang sangat agung di dalam hati kaum muslimin. Ia merupakan aplikasi pertama dan paling benar bagi Islam di tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia adalah manhaj (jalan/metode) yang lurus bagi kehidupan sebagaimana yang Allah kehendaki bagi hamba-hamba-Nya. Ia adalah penjelas yang menerangkan Kitabullah yang mulia, serta merupakan sumber hukum (tasyri') kedua. Tidak diterima keislaman orang yang mengingkari dan menentangnya. Sebagaimana Al-Qur'anul Karim merupakan sumber bekal yang melimpah, maka demikian pula sunah merupakan sumber bekal yang sangat banyak.

Kita mutlak memerlukan sebuah jeda perenungan mengenai urgensi sunah dan kedudukannya sebelum berbicara tentang bekal yang akan kita peroleh dengan mengikuti sunah tersebut, agar lahir dorongan yang kuat untuk mengikutinya tanpa ada sikap meremehkan (tafrith) atau menunda-nunda (tarakhi). Terlebih lagi, akhir-akhir ini kita mendengar dan membaca adanya suara-suara sumbang (nashizah) yang mencoba mengecilkan urgensi sunah atau meragukan keabsahannya.

Sesungguhnya sikap kita terhadap sunah adalah hal yang menentukan sikap kita terhadap Islam itu sendiri. Jika kita menerima ajaran Islam sebagaimana yang dihamparkan oleh Al-Qur'anul Karim dan sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka wajib bagi kita untuk menerimanya secara sempurna tanpa dikurangi sedikit pun.

Apakah pantas bagi kita untuk ragu-ragu dalam mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengambil petunjuk dari bimbingan serta sunahnya, setelah adanya perintah Allah kepada kita di dalam Al-Qur'an-Nya yang mulia:

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7).

Dan firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar, dan kami patuh.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nur: 51).

Dan firman Allah Ta'ala:

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa: 65).

Dan firman Allah Ta'ala:

"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, 'Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir'." (QS. Ali 'Imran: 31-32).

Setelah adanya kejelasan yang sangat benderang dalam ayat mulia ini—yang mengikat antara kecintaan kita kepada Allah dan kecintaan Allah kepada kita dengan aktivitas mengikuti sunah Rasul-Nya yang tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam—apakah boleh bagi seorang muslim yang jujur untuk ragu-ragu dalam bersegera mengikuti sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam? Justru ia akan mendapati dirinya terdorong untuk meneliti sunah-sunah ini dalam setiap urusan dan kondisinya agar meraih kecintaan Allah dan kecintaan Rasul-Nya, serta memenangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jika kita meyakini bahwa Al-Qur'anul Karim adalah kalam Allah, dan bahwasanya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan Allah.... maka kita menjadi terikat/wajib untuk mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa ada keraguan maupun penundaan.

Sesungguhnya ajaran-ajaran yang ada di dalam Al-Qur'an dan Sunah yang suci adalah perkara yang paling mutlak diperlukan oleh manusia, dan tidak akan terwujud sebuah kebaikan (shalah) maupun kejayaan (falah) kecuali dengan berkomitmen pada keduanya. Allah Ta'ala berfirman:

"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 123-124).

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadisnya yang mulia:

"Aku tinggalkan bersama kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat setelahku selama-lamanya: Kitabullah dan Sunahku."

Sesungguhnya orang-orang yang hidup membersamai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (para sahabat), mereka semua melihat urgensi yang paling besar pada setiap ucapan dan perbuatan beliau. Hal itu bukan hanya karena kepribadian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memengaruhi mereka sehingga menawan akal pikiran mereka saja, melainkan karena mereka juga berada di atas keyakinan yang pasti bahwa hal tersebut merupakan perintah dari Allah Ta'ala untuk mengatur kehidupan mereka hingga pada detail yang paling kecil sekalipun. Oleh karena itu, mereka sangat antusias agar tidak ada satu pun yang terlewat dari ucapan maupun perbuatan beliau.

Sesungguhnya misi kita di dalam kehidupan ini adalah beribadah kepada Allah Ta'ala, dan dengannya kita meraih keridaan Allah, memenangkan surga, serta selamat dari api neraka. Konsep ibadah tidaklah terbatas pada ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat, dan haji saja, melainkan mencakup seluruh kehidupan kita. Maka aktivitas makan kita adalah ibadah, minum kita adalah ibadah, tidur kita, pekerjaan kita, ilmu kita, pernikahan kita, dan seluruh urusan kehidupan kita adalah ibadah. Sebagaimana kita meneliti hukum-hukum keabsahan di dalam salat dan puasa kita agar ia diterima serta berkomitmen dengan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalamnya, maka demikian pula wajib bagi kita untuk meneladani Rasul kita dalam setiap perkara dari perkara-perkara ini dan selainnya agar ia menjadi ibadah yang diterima.

Anda dapat melihat para pemilik pabrik sangat patuh pada instruksi/manual yang menyertai mesin-mesin, yang mana instruksi tersebut dibuat oleh para perancang mesin tersebut demi menjamin keselamatan jalannya mesin dan agar tidak rusak. Maka, selama kita meyakini secara pasti bahwa Allah adalah Pencipta kita dan Dia Maha Mengetahui segala hal yang berkaitan dengan kita; apa yang bermanfaat bagi kita dan apa yang membahayakan kita, apa yang merusak kita dan apa yang memperbaiki kita, serta Dia telah menetapkan ajaran-ajaran untuk kita di dalam Kitab-Nya dan Sunah Nabi-Nya; lalu bagaimana mungkin kita menyelisihinya dan justru berlari mengejar perundang-undangan buatan manusia, serta adat istiadat dan tradisi dalam kehidupan kita yang menyelisihi petunjuk Rasulullah dan sunahnya? Akibat yang pasti dari hal ini adalah kita akan dihadapkan pada kesengsaraan, kebingungan, dan kesesatan, serta terhalang dari kehidupan yang baik, tenteram, damai, aman, dan bahagia di dunia maupun akhirat.

Dimensi Spiritual, Sosial, dan Psikologis dari Mengikuti Sunah

  • Penyadaran Internal dan Kontrol Diri:

Sunah adalah contoh nyata yang ditegakkan oleh Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam melalui ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Kehidupan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan representasi hidup dan tafsir bagi apa yang diturunkan di dalam Al-Qur'anul Karim. Kita tidak akan bisa memperlakukan Al-Qur'anul Karim dengan seadil-adilnya melebihi tindakan mengikuti sosok yang kepadanya wahyu itu diturunkan dan yang menyampaikannya.

Sesungguhnya tindakan kita mengikuti sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam seluruh urusan kehidupan menjadikan kita senantiasa hidup dalam kondisi kesadaran internal (internal awareness), kewaspadaan yang tinggi, serta kontrol diri (self-control). Dengan begitu, setiap hal yang kita lakukan atau kita ucapkan menjadi terukur oleh kehendak kita dan tunduk di bawah pengawasan spiritual kita; kita mengisbat/menghisab diri kita sendiri atasnya sebelum kita dihisab pada hari kiamat kelak. Di dalam hal ini terdapat bekal yang sangat besar.

  • Integrasi Sosial dan Harmonisasi Komunitas:

Mengikuti sunah juga memiliki manfaat sosial. Perbedaan karakter, selera, dan kecenderungan pada setiap individu sering kali mendorong manusia pada kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Melalui pembiasaan yang terus-menerus, kebiasaan-kebiasaan ini dapat berubah menjadi ego/sentimen di antara individu dan memicu perselisihan serta pertikaian. Namun, Islam yang lurus ini mengarahkan para anggota lingkungan sosial dengan cara yang teratur agar kebiasaan serta tabiat mereka menjadi serasi dan setara, bagaimanapun heterogennya kondisi sosial dan ekonomi mereka. Alhasil, setiap muslim menjadi seolah-olah seperti batu bata yang dicetak dalam satu cetakan khusus yang saling merekat dan selaras dengan saudara-saudaranya, seakan-akan mereka adalah bangunan yang kokoh (bunyanun marshush); tidak ada kebengkokan dan tidak ada ketimpangan.

  • Kemandirian Identitas dan Menepis Mentalitas Inferior (Syur bin Naqs):

Tindakan kaum muslimin mengikuti sunah Nabi mereka shallallahu 'alaihi wa sallam akan membuat mereka tidak butuh untuk mengekor/meniru Barat dalam urusan kehidupan mereka. Hal ini memberikan mereka perasaan akan keistimewaan dan independensi kepribadian mereka, serta bahwasanya mereka mampu berkembang menuju masa depan yang hidup dengan penuh rasa percaya diri; tanpa ada perasaan mengekor (tawabi'iyyah) kepada Timur maupun Barat, melainkan murni mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kasus peniruan terhadap modernisasi asing (al-tamaddun al-ajanbi) di dalam kehidupan kaum muslimin merupakan sebuah problematika yang memiliki dampak-dampak yang sangat mendalam lagi berbahaya. Ia lahir dari buah rasa rendah diri (mentalitas inferior/shu'ur bin naqs) dan hasil dari sebuah imajinasi keliru bahwasanya kaum muslimin tidak akan mampu menyamai kemajuan yang ada di sebagian negara Barat selama mereka tidak menerima kaidah-kaidah sosial dan ekonomi yang telah diterima oleh Barat... Padahal, tidak mungkin meniru suatu peradaban dalam aspek-aspek lahiriahnya tanpa terpengaruh pada saat yang sama oleh ruh/jiwa dari peradaban tersebut.

Peradaban bukanlah sebuah casing yang kosong, melainkan sebuah aktivitas yang hidup. Jika kita menerima bentuk luarnya, maka arus-arus dasarnya dan pengaruh-pengaruh efektifnya akan mengalir bekerja di dalam diri kita, kemudian ia akan menanggalkan dan merubah arah orientasi kita pada bentuk tertentu secara perlahan tanpa kita sadari. Hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menetapkan makna ini:

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (HR. Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud).

  • Meluruskan Persepsi Mengenai Kemajuan dan Nilai Estetika:

Sebagian orang membayangkan bahwa adat istiadat dan tradisi Barat dalam kehidupan mereka adalah sesuatu yang mulia dan mendekati kesempurnaan, sedangkan adat istiadat dan tradisi kita kaum muslimin adalah sesuatu yang rendah lagi terbelakang. Padahal hakikatnya, kaum muslimin sendirilah yang menjauh di dalam kehidupan mereka dari sunah Nabi mereka dan ajaran Islam mereka; yang mana ajaran tersebut merupakan gaya hidup terbaik dan level cita rasa (estetika) tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Karena Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah berbicara dari hawa nafsu, melainkan beliau mereguk dari sumber ketuhanan yang bersifat maha sempurna Subhanahu wa Ta'ala; "Apakah (pantas) Dzat yang menciptakan itu tidak mengetahui? Padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui."

Bantahan terhadap Syubhat dan Keraguan

  • Jawaban atas Tuduhan Pengekangan Kebebasan:

Sebagian kritikus dari kalangan orang-orang yang tidak loyal kepada Islam biasanya melontarkan keberatan dan mengatakan: "Bukankah adanya pemaksaan untuk meniru kehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam seluruh sisi kehidupannya merupakan bentuk perampasan terhadap kebebasan individu dalam kepribadian manusia?" Ini adalah keberatan yang batil. Kebebasan yang sejati justru terletak pada komitmen terhadap manhaj kehidupan yang telah digariskan untuk kita oleh Allah yang telah menciptakan kita, yang mana Rasulullah telah menerapkannya pada dirinya sendiri, dan Allah memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di mana Dia berfirman:

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).

  • Menolak Pemisahan Sunah Ritual dan Sunah Sosial/Harian:

Perintah-perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ada yang berkaitan dengan urusan ibadah ritual spiritual murni, dan ada pula yang berkaitan dengan problematika masyarakat serta urusan kehidupan kita sehari-hari. Anggapan yang menyatakan bahwa kita wajib mengikuti perintah yang berkaitan dengan jenis pertama (ritual) namun kita tidak wajib mengikuti perintah yang berkaitan dengan jenis kedua (sosial/harian), sesungguhnya hanyalah sebuah cara pandang yang dangkal dan pengurangan yang sangat fatal terhadap kadar cahaya kenabian (an-nur an-nabawi). Maka, adakah model yang lebih baik daripada model ketuhanan (al-namudzaj ar-rabbani) ini untuk kita ikuti dalam seluruh urusan kehidupan?

  • Kepastian Otentisitas dan Kodifikasi Sunah:

Mereka yang meragukan sunah dan keabsahan sumber-sumbernya adalah orang-orang yang remeh lagi berhalusinasi. Sesungguhnya janji Allah untuk menjaga Kitab-Nya yang mulia juga membentang dan mencakup penjagaan terhadap sunah Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, karena sunah adalah penafsir dan penjelas bagi Al-Qur'an tersebut:

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9).

Sungguh Allah telah mendatangkan para imam yang utama untuk mengumpulkan hadis-hadis, menyaringnya, dan mengodifikasikannya; seperti dua Imam yaitu Al-Bukhari dan Muslim serta selain keduanya. Mereka telah mengerahkan segala apa yang ada dalam batas kemampuan manusia ketika menyodorkan setiap hadis pada kaidah-kaidah ilmu hadis (qawa'id al-tahdits) dengan pengujian yang jauh lebih ketat daripada pengujian yang biasanya digunakan oleh para sejarawan Eropa ketika meneliti sumber-sumber sejarah kuno...

Mereka telah membuatkan biografi (tarajum) bagi para periwayat, baik laki-laki maupun perempuan, yang mana biografi tersebut tunduk pada penelitian mendalam yang tegak di atas kaidah-kaidah yang berada pada puncak akurasi. Maka, apabila tidak ada hujah yang masuk akal—artinya hujah ilmiah—untuk meragukan sumber itu sendiri atau salah satu periwayatnya yang belakangan, dan apabila di sana tidak ada riwayat lain yang mengonfirmasikan kontradiksi dengannya, maka menjadi sebuah kemestian bagi kita saat itu untuk menerima hadis tersebut sebagai hadis yang sahih. Sama sekali tidak ada pembenaran dari sisi ilmiah bagi siapa pun untuk mencacat keabsahan suatu sumber sejarah tertentu selama ia tidak mampu membuktikan secara ilmiah bahwa sumber tersebut cacat/kurang.

Kesimpulan

Setelah semua penjelasan yang telah lalu, wajib bagi setiap muslim untuk merasa bangga dengan agamanya dan dengan sunah Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Janganlah ia berdiri pada posisi orang yang sekadar defensif membela diri menepis tuduhan dari agamanya dan sunah Nabi-Nya, melainkan berdirilah pada posisi orang yang penuh percaya diri bahwasanya ia berada di atas agama yang hak, dan bahwasanya sunah Rasul kita adalah sebaik-baik manhaj bagi kehidupan.

Dan di dalam Jihad di Jalan Allah.... Terdapat Bekal

Jihad adalah kewajiban yang terus berlaku sampai hari kiamat. Allah Ta'ala telah berfirman:

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu." (QS. Al-Baqarah: 216).

Sebagaimana Dia Ta'ala juga berfirman:

"Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).

Jihad merupakan puncak tertinggi dari urusan agama (Islam). Sebab, kebenaran mutlak membutuhkan kekuatan yang melindunginya. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

"Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah (yahudi), dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Hajj: 40).

Dan ayat-ayat serta hadis-hadis yang khusus membahas tentang jihad sangatlah banyak.

Seorang mujahid membutuhkan bekal iman dan takwa kepada Allah yang dapat membantunya dalam setiap tahapan jihad. Sebuah bekal yang mendorongnya untuk bersegera dalam menyambut penyeru jihad tanpa keraguan, sehingga ia tidak merasa berat lalu condong ke dunia (its-tsaqala ilal ardhi). Sebuah bekal yang membantunya untuk teguh dan maju menerjang saat bertemunya pasukan serta saat menebas musuh tanpa ada pikiran untuk memalingkan punggungnya (melarikan diri) dari mereka. Serta sebuah bekal yang memurnikan niatnya dari segala noda atau tendensi duniawi, agar ia dapat meraih kesyahidan yang jujur, di mana niatnya murni agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi.

Meskipun demikian, jihad di jalan Allah itu sendiri juga merupakan sumber dari bekal. Seorang muslim, manakala ia hidup dalam atmosfer jihad, bersiap-siap, dan melakukan persiapan untuknya, dirinya akan terangkat dan meninggi dari kerendahan bumi, tuntutan jasad, syahwat, serta godaan dunia. Ruh dan jiwanya akan meninggi, lehernya akan mendongak untuk menghirup embusan angin surga beserta kenikmatan yang ada di dalamnya. Di dalam ketinggian, peningkatan, dan keterbebasan dari daya tarik bumi ini, terkandung bekal yang sekaya-kayanya bekal.

Seorang mujahid maju ke medan jihad untuk mewujudkan kemenangan dan kejayaan bagi agama Allah, agar seluruh umat manusia dapat berbahagia dengan segala sebab kebaikan yang diwujudkan oleh agama ini bagi mereka, dan agar manusia terhindar dari keburukan syirik serta kesesatan... Kepedulian-kepedulian yang besar ini menjadikan pemiliknya sebagai sosok kepribadian yang memiliki nilai penting dan peran agung, jika dibandingkan dengan orang-orang yang hanya menyibukkan diri mereka dengan tuntutan jasad mereka dan tidak memikirkan kecuali hal-hal yang remeh (safasif al-umur). Di dalam hal itu terdapat peningkatan dan pembentukan kepribadian seorang muslim.

Orang yang maju ke medan jihad sangat mendambakan keridaan Allah serta pencapaian kemenangan atau kesyahidan. Sangat tidak masuk akal bagi orang yang kondisinya demikian jika di dalam hatinya masih tersisa kebencian atau kedengkian terhadap saudara-saudaranya sesama muslim. Ia juga tidak akan berpikir untuk melakukan suatu dosa, menyakiti siapa pun, merampas hak orang lain, atau melakukan apa saja yang memicu kemurkaan Allah Ta'ala. Bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan ia sedang berada dalam janji temu di medan pertempuran dan kesyahidan di jalan Allah? Di dalam penyucian diri (tathahhur) dan perjuangan jiwa (mujahadah) ini terdapat bekal yang bermanfaat dan mengangkat derajatnya, meskipun ia belum meraih kesyahidan dalam waktu dekat di urusannya.

Orang yang maju untuk berjihad di jalan Allah senantiasa melawan bisikan-bisikan setan yang ingin membuatnya duduk berpangku tangan dan melemahkan tekadnya. Setan akan menghiasi di matanya indahnya istirahat, bersantai-santai, kenyamanan bersama istri dan anak-anak, serta bayangan kesulitan yang mungkin akan menimpa mereka, atau siapa yang akan mengurus mereka sepeninggalnya nanti, dan waswas setan lainnya. Di dalam perlawanan dan perjuangan melawan bisikan setan ini, terdapat penguatan bagi kehendak (kemauan) serta menjadi sebuah perisai/benteng. Maka, mendahulukan apa yang ada di sisi Allah di atas segala tendensi duniawi ini, serta bertawakal kepada Allah dan bersandar kepada-Nya—bahwa Dialah sebaik-baik Teman dalam perjalanan dan Pengganti yang mengurus keluarga, harta, serta anak—seluruh hal tersebut merupakan bentuk latihan bagi jiwa (tarwidhun nafs), penguatan kehendak, dan pembangunan kepribadian muslim di atas asas ketakwaan. Di dalam hal itu terdapat bekal yang sangat besar.

Seorang mujahid mutlak harus mengambil sebab-sebab kekuatan:

"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu." (QS. Al-Anfal: 60).

Kekuatan di sini tidak terbatas pada kekuatan senjata dan amunisi saja, melainkan mencakup juga kekuatan akidah, keimanan, kekuatan persatuan dan ikatan, kekuatan ilmu, harta, serta segala sebab kekuatan. Di dalam pencapaian hal tersebut terkandung bekal bagi seorang mukmin. Sebagaimana ia mengambil sebab-sebab kekuatan, ia juga wajib melepaskan diri dari segala sebab kelemahan atau perasaan lemah; seperti lemahnya kehendak akibat kegundahan (hamm) dan kesedihan (huzn), lemahnya produktivitas akibat kelemahan fisik ('ajz) dan kemalasan (kasal), lemahnya hati dan harta akibat sifat penakut (jubn) dan kekikiran (bukhl), serta lemahnya harga diri dan kehormatan akibat lilitan utang (dayn) dan penindasan (qahr). Rasulullah yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan petunjuk kepada kita melalui doa yang komprehensif ini untuk membebaskan diri dari sebab-sebab tersebut:

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kekikiran, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan orang-orang." (HR. Bukhari).

Dan di dalam pembebasan diri dari sebab-sebab kelemahan ini terdapat bekal.

Ayat-Ayat Al-Qur'an sebagai Bekal Psikologis dan Panduan Operasional

Alangkah layaknya bagi setiap saudara muslim yang telah membulatkan niat untuk berjihad untuk menyendiri bersama Kitabullah Ta'ala, membacanya, dan merenungkan ayat-ayat yang berkaitan dengan jihad, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sesungguhnya kesiapan psikologis untuk berjihad akan membuatnya merasakan ayat-ayat ini dengan rasa yang baru dan mendalam. Ia akan keluar dari bacaan tersebut dengan membawa bekal yang besar, ibrah (pelajaran), serta pelajaran dari untaian kalimat yang menjadi petunjuk baginya di semua tahapan jihad. Kami akan menyebutkan sebagian dari ayat-ayat ini sebagai contoh, untuk melihat bagaimana Al-Qur'an menangani berbagai perkara dengan sangat presisi dan jelas:

"Karena itu hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan) akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang tertindas baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu!'. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: 'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat!' Tatkala diwajibkan atas mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: 'Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?' Katakanlah: 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun'." (QS. An-Nisa: 74-77).

Kemudian perhatikanlah ayat-ayat ini, yang membahas tentang momen-momen paling krusial yang dihadapi oleh seorang mukmin, ketika kondisinya ditentukan di antara dua pilihan sikap; salah satunya akan mengantarkannya meraih pahala dan ganjaran yang besar, sedangkan sikap yang lain akan menjatuhkannya pada azab dan kemurkaan Allah:

"Wahai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepadamu: 'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At-Taubah: 38-39).

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali belok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya." (QS. Al-Anfal: 15-16).

Dan di dalam kisah Thalut beserta pemuka-pemuka dari Bani Israil di dalam Surah Al-Baqarah, serta tahapan-tahapan yang mereka lalui dan seleksi-seleksi (eliminasi) yang mereka hadapi, hingga menyisakan kelompok yang bersabar, teguh, dan bersandar kepada Allah seraya memohon keteguhan serta kemenangan kepada-Nya, sehingga terwujudlah kemenangan bagi mereka dengan izin Allah:

"Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan siapa yang tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu, orang-orang (yang telah minum) berkata: 'Tak ada kesanggupan kami hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala mereka tampak maju untuk melawan Jalut dan tentaranya, mereka pun berdoa: 'Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam perkampungan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (kenabian) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti hancurlah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam." (QS. Al-Baqarah: 249-251).

Keteguhan Mental dan Faktor Kemenangan

Bagaimana gejolak psikologis yang merasuki seorang mujahid ketika ia melihat kebatilan yang tampak jumawa, tinggi, dan membentengi diri dengan sebab-sebab kekuatan bumi, serta unggul dalam jumlah personel maupun persenjataan, ditambah lagi ancaman dan gertakan mereka terhadap ahli kebenaran yang acap kali menciutkan nyali manusia?

Adapun orang-orang mukmin, yang mengetahui bahwa kemenangan itu hanya dari sisi Allah dan bahwasanya kekuatan itu seluruhnya milik Allah, maka gertakan musuh ini justru menambah keimanan mereka, sebagai pembenaran bagi firman Allah Ta'ala:

" (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka', maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.' Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa bencana apa-apa dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 173-175).

Demikianlah, di dalam atmosfer jihad keimanan akan semakin bertambah, berbeda dengan masa-masa santai/aman. Al-Qur'an mengajarkan kepada kita bahwa di antara sebab-sebab terpenting datangnya kemenangan adalah berzikir mengingat Allah, bersabar, tidak bersikap lemah, tidak menyerah/lesu, menjauhkan diri dari kemaksiatan, memohon ampunan dari dosa, serta keteguhan yang Allah anugerahkan kepada para mujahidin:

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." (QS. Al-Anfal: 45).

"Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: 'Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.' Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 146-148).

Dengan demikian, para mujahidin memahami bahwa kemaksiatan mereka kepada Allah jauh lebih berbahaya bagi diri mereka ketimbang musuh mereka sendiri. Maka, mereka membentengi diri dari kemaksiatan lebih ketat daripada kewaspadaan mereka terhadap musuh mereka, dan di dalam hal itu terdapat bekal yang sangat besar.

Transaksi Transendental dan Karakteristik Transaksi

Seorang mujahid, manakala ia berniat untuk berjihad, pada hakikatnya ia sedang mengikat transaksi jual-beli dengan Allah dan menetapkan suatu kontrak atas kesepakatan dagang yang ditawarkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin; sebuah transaksi dagang yang pasti beruntung lagi terjamin:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah: 111).

Dan hendaknya orang yang berniat untuk berjihad mengetahui bahwa transaksi ini memiliki syarat-syarat dan spesifikasi yang wajib dipenuhi agar transaksi tersebut sah. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin..." dan Dia tidak mengatakan "dari orang-orang muslim". Bagi orang-orang mukmin, terdapat sifat-sifat yang disebutkan di dalam Kitabullah dan hadis-hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kiranya ayat yang berada tepat setelah ayat di atas menegaskan makna ini, yaitu firman-Nya:

"Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat (dalam urusan agama), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembiralah orang-orang mukmin itu." (QS. At-Taubah: 112).

Maka, bagi setiap orang yang makna-makna keimanan telah terbangun di dalam jiwanya dan mendorongnya untuk sukarela berjihad di jalan Allah, hendaknya ia mengoreksi dirinya sendiri untuk memastikan kesesuaian dirinya dengan sifat-sifat orang mukmin yang tercantum di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah; agar transaksi jual-beli itu sah dilakukan dan ia meraih ganjaran yang teramat mahal, yaitu surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang di dalamnya terdapat apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati manusia. Dengan cara ini, jihad menjadi pendorong yang kuat bagi seorang mukmin untuk mendisiplinkan dirinya dengan sifat-sifat orang mukmin, dan di dalam hal ini terkandung bekal yang sangat besar.

Termasuk makna yang paling melekat bagi seorang mujahid adalah ia harus mengetahui bahwa Allah Maha Kaya (tidak butuh) terhadap dirinya maupun jihadnya, dan bahwasanya dialah yang fakir serta butuh kepada Allah. Maka, janganlah ia bakhil (pelit) dengan sesuatu pun di jalan Allah atau merasa telah berjasa kepada Allah atas apa yang ia korbankan di jalan-Nya:

"Apabila Allah menghendaki niscaya Allah membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka." (QS. Muhammad: 4-6).

"Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Al-Ankabut: 6).

"Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap diri sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (fakir); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini." (QS. Muhammad: 38).

Manakala makna-makna ini telah menguasai jiwa seorang mujahid, akan terwujudlah baginya kebaikan yang besar dan bekal yang agung.

"Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga bersamamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS. At-Taubah: 24).

Solidaritas Saf, Penyingkapan Munafik, dan Etika Perang

Jihad di jalan Allah mengharuskan para mujahidin untuk saling mencintai, bersaudara, dan saling terikat erat. Bagaimana mungkin bisa dibayangkan di dalam hati mereka terdapat sesuatu yang mengotori cinta ini atau melemahkan hubungan yang kuat serta ikatan yang kokoh ini, padahal masing-masing dari mereka berpeluang untuk menemui Allah sebagai seorang syahid? Dan tindakan abai apa pun dari dirinya terhadap saudaranya dapat menyerahkan dirinya sendiri serta saudaranya ke tangan musuh. Oleh karena itu, mutlak harus ada cinta, rasa percaya, dan penyatuan yang sangat kuat:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. As-Saff: 4).

Dengan demikian, kita melihat bahwa jihad memperkuat ikatan di antara kaum muslimin dan mengukuhkan makna persaudaraan karena Allah (ukhuwah fillah), yang mana derajat paling rendahnya adalah kelapangan dada (bersihnya hati dari dendam) dan derajat tertingginya adalah tingkat itsar (mendahulukan kepentingan saudara di atas kepentingan diri sendiri). Sejarah yang harum telah menceritakan kepada kita potret-potret yang mengagumkan dari cinta dan sifat itsar ini di antara para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Jihad juga menyingkap orang-orang munafik beserta metode-metode mereka dalam melemahkan semangat orang-orang mukmin, serta bagaimana seorang mukmin membentengi diri dari mereka dan dari tindakan mereka yang ingin menggembosi barisan (tohehan as-shaff). Alangkah indahnya Surah At-Taubah dalam membongkar mereka beserta metode-metode mereka, oleh karena itu surah tersebut dinamakan Al-Kasyifah (Yang Menyingkap) atau Al-Fadhihah (Yang Membongkar Aib). Hal ini mengharuskan seorang mujahid untuk mengulangi membaca surah ini dengan bacaan studi yang saksama agar dapat mengambil pelajaran serta benteng perlindungan, dan di dalam hal itu terdapat bekal yang banyak. Sebagai contoh, adalah ayat-ayat yang mulia berikut ini:

"Dan mereka berkata: 'Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.' Katakanlah: 'Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya)', jika mereka mengetahui." (QS. At-Taubah: 81).

"Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak menambah kamu melainkan kekacauan, dan benar-benar mereka akan bergegas maju di celah-celah barisanmu, dengan maksud menimbulkan kekacauan di antaramu; sedang di antaramu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui tentang orang-orang yang zalim." (QS. At-Taubah: 47).

Sesungguhnya musuh-musuh kaum muslimin saling menyeru untuk mengerumuni kita sebagaimana orang-orang yang kelaparan mengerumuni piring hidangannya, sebagaimana yang telah diceritakan oleh Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam. Hidangan makanan tersebut tidak akan pernah menolak orang-orang yang hendak memakannya selama hidangan itu terasa lezat, empuk, dan mudah ditelan. Akan tetapi, mereka pasti akan menolaknya manakala hidangan tersebut berubah menjadi sesuatu yang pahit getir yang tidak tertelan, atau menjadi duri yang menyangkut di tenggorokan mereka sehingga mereka takut untuk mendekatinya. Dan hal itu tidak akan pernah terjadi kecuali jika kita telah membebaskan diri dari segala makna buih (kuantitas tanpa kualitas/al-ghutsaiyyah), kelemahan (al-wahn), serta kerapuhan, lalu kita mendahulukan apa yang ada di sisi Allah dan menjadikan kesyahidan di jalan Allah sebagai cita-cita tertinggi di dalam hidup kita; di saat itulah Allah akan mencampakkan rasa takut dan rasa segan kepada kita di dalam hati musuh-musuh kita.

Seorang mujahid dapat memetik banyak pelajaran dari perang dan pertempuran, seperti kedisiplinan militer (keperwiraan), sikap mendengar, dan taat, serta keluar dari daya dan kekuatannya sendiri menuju daya dan kekuatan Allah. Bahwasanya tipu daya setan itu lemah, dan betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, serta makna-makna lainnya yang memosisikan diri sebagai kekuatan dan bekal bagi pemiliknya di atas jalan perjuangan.

Selain itu, pertempuran di dalam Islam memiliki adab-adab dan batasan-batasan yang diselimuti oleh kasih sayang meskipun situasinya sangat keras. Di sana tidak boleh ada tindakan mutilasi (mutslah), tidak boleh ada pencurian/penggelapan harta rampasan perang, tidak boleh ada perampasan harta benda secara zalim, dan tidak boleh ada pelanggaran terhadap kehormatan. Di dalam hadis Buraidah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat seorang amir (komandan) atas suatu pasukan atau ekspedisi militer, beliau memberikan wasiat khusus kepadanya untuk bertakwa kepada Allah Ta'ala dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, kemudian beliau bersabda: 'Berperanglah kalian dengan nama Allah di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah kalian dan janganlah kalian menggelapkan harta rampasan perang, janganlah kalian berkhianat, janganlah kalian melakukan mutilasi, dan janganlah kalian membunuh anak-anak'." (HR. Muslim).

Penutup

Alangkah indahnya ungkapan dari Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam bidang ini, yang dengannya kita menutup pembahasan kita kali ini:

"Sesungguhnya zaman akan melahirkan berbagai peristiwa yang dahsyat, dan kesempatan-kesempatan akan terbuka lebar untuk amal-amal yang besar. Dunia sedang menantikan dakwah kalian—dakwah petunjuk, kejayaan, dan kedamaian—untuk membebaskannya dari penderitaan yang sedang dialaminya. Sekarang giliran kalian untuk memimpin umat dan mengomandoi bangsa-bangsa, 'Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.' Kalian mengharapkan dari Allah apa yang tidak mereka harapkan, maka bersiap-siaplah dan beramallah, karena boleh jadi kalian akan kehilangan kemampuan untuk beramal di hari esok."

Dan di dalam Mengikuti Sunah ...... Terdapat Bekal

Sunah Nabawi seluruhnya adalah bekal. Ia menghidupkan hati para pengikutnya dan mengangkat mereka ke derajat yang tinggi dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Ia membekali seorang muslim dengan segala kebaikan, menjauhkannya dari segala keburukan, serta membangun kepribadian muslim secara akidah, ibadah, akhlak, fisik, pemikiran, dan sosial dengan bentuk yang kuat lagi mulia.

Sesungguhnya sunah senantiasa mengawal seorang muslim dengan segala penjagaan dan perhatian di setiap tahapan fase kehidupannya, bahkan sejak sebelum kelahirannya hingga setelah kematiannya. Di kala terjaga maupun tidurnya, di kala bergerak maupun diamnya, di kala menetap (domisili) maupun dalam perjalanannya (safar). Di dalam rumah, di dalam masjid, di jalanan, di tempat perniagaan (pasar), dan di setiap tempat ia berada serta di segala waktunya. Seolah-olah sunah bagi seorang muslim laksana buaian (tempat asuhan) yang dilengkapi dengan segala hal yang bermanfaat dan menguatkannya, serta dengan apa saja yang dapat melindungi dirinya dari segala hal yang melemahkan dan menyakitinya. Dengan demikian, ia dapat membekali diri dengan segala elemen kehidupan di atas asas akidah Islam yang telah diridai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Dan kehidupan yang aku maksudkan di sini, bukanlah sekadar kehidupan jasmani yang mana hewan-hewan pun berserikat (sama-sama hidup) dengan kita. Akan tetapi, yang aku maksudkan secara derajat yang pertama adalah kehidupan hati (hayatul qulub) dengan makrifat (mengenal) Allah dan beriman kepada-Nya, sebagai pembenaran bagi firman Allah Ta'ala:

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keberadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (QS. Al-An'am: 122).

Dan firman-Nya Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu." (QS. Al-Anfal: 24).

Maka, tindakan mengikuti sunah merupakan wujud pemenuhan terhadap seruan ini, dan dengannya akan terwujud kehidupan hati, yang mana di dalam hal tersebut terkandung bekal yang sangat besar. Di samping itu, sunah juga tidak mengabaikan hal-hal yang di dalamnya terdapat kehidupan bagi badan dan keselamatan bagi jasmani.

Sesungguhnya Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mencintai kita, menginginkan kebaikan bagi kita, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kita, terasa berat olehnya penderitaan kita, serta amat belas kasihan lagi penyayang kepada kita. Demikianlah Allah Ta'ala menyifati beliau dalam firman-Nya:

"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, kamu sangat diinginkannya (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 128).

Maka, bagaimana mungkin kita tidak bersegera untuk mengikuti sunahnya, sementara kita semua dipenuhi rasa ketenteraman bahwa sunah beliau adalah mata air yang murni lagi melimpah dengan bekal dan kebaikan? Terlebih lagi, kita semua mengetahui bahwa di dalam ucapan-ucapan beliau, perbuatan-perbuatan beliau, perintah beliau, maupun larangan beliau, seluruhnya bersumber dari arahan ketuhanan (at-taujih ar-rabbani) dari Allah, Pencipta manusia, Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui atas hamba-hamba-Nya, serta mengetahui apa yang bermanfaat bagi mereka dan apa yang membahayakan mereka: "Apakah (pantas) Dzat yang menciptakan itu tidak mengetahui? Padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." Maka petunjuk Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bagian dari petunjuk Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Model yang Sempurna

Seolah-olah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merepresentasikan teladan yang sempurna (al-namudzaj al-kamil) bagi kehidupan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala kehendaki untuk dijalani oleh hamba-hamba-Nya, yang mana Dia telah menyeru kita untuk meneladani Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam hal tersebut melalui firman-Nya:

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).

Dan di dalam firman-Nya Ta'ala:

"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran: 31).

Maka Allah mengikat antara kecintaan kita kepada-Nya, kecintaan-Nya kepada kita, serta pengampunan-Nya atas dosa-dosa kita dengan tindakan kita mengikuti Rasul-Nya yang mulia.

Sesungguhnya Rasul kita yang tercinta merupakan puncak yang menjulang tinggi dalam hal keimanan dan ketakwaan. Maka kesungguhan kita dalam meneladani beliau dan mengikuti sunahnya merupakan ikhtiar dari kita untuk mendaki derajat-derajat keimanan dan menambah bekal ketakwaan. Manakala kita mengetahui bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu mendirikan salat malam hingga kedua kaki beliau bengkak tanpa merasakan keletihan, hal itu mendorong kita untuk meneladani beliau dengan mendirikan sebagian malam dalam bentuk salat, doa, dan munajat (mengadu kepada Allah), dan hal tersebut adalah sebaik-baik bekal.

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sosok yang hatinya senantiasa tertambat erat dengan Tuhannya, tidak pernah lalai barang sekejap pun. Oleh karena itu, beliau senantiasa mengingat-Nya, mengingat nikmat-nikmat-Nya, serta karunia-Nya atas dirinya dalam setiap kondisinya, dalam setiap ucapan dan perbuatannya, pada apa saja kebaikan atau kemudaratan yang mendatangi beliau, pada apa saja tanda-tanda kekuasaan Allah yang tertangkap oleh pandangan matanya, serta pada apa saja fenomena-fenomena alam yang terjadi. Demikianlah, beliau melihat (kekuasaan) Allah pada segala sesuatu. Maka, ketika kita meneladani beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, hal itu akan membantu kita untuk senantiasa menyambungkan hati kita dengan Allah, dan di dalam hal ini terkandung bekal yang besar, yang terus bersambung lagi senantiasa terbarui.

Tindakan mengikuti sunah di kala makan kita, minum kita, berpakaian kita, menanggalkan pakaian kita, tidur kita, terjaga kita, menunaikan hajat (ke belakang) kita, bermuamalah kita dengan orang lain, dan dalam seluruh aktivitas kita, menjadikan kita mempraktikkan hal-hal tersebut dalam keadaan sadar penuh dan berzikir mengingat Allah serta mengingat karunia-Nya atas kita. Alhasil, kita akan meneliti di dalam setiap hal tersebut mana yang mendatangkan rida Allah dan kita menjauh dari apa yang diharamkan-Nya, dan ini adalah sebaik-baik bekal.

Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mengikuti sunah dalam perkara-perkara ini, ia akan berada dalam kelalaian dan menjadi menyerupai hewan, di mana ia menjalani kehidupannya begitu saja tanpa mengingat Allah dan karunia-Nya atas dirinya. Jika kita menyebutkan satu contoh saja, seperti doa mabrur setelah menunaikan hajat (keluar dari kamar mandi), yang di dalamnya terdapat pujian kepada Allah karena telah menghilangkan penyakit/kotoran. Coba kita bayangkan bagaimana jadinya andai air seni atau tinja itu tertahan di dalam tubuh? Tidak diragukan lagi, hal itu akan memicu rasa sakit yang teramat sangat yang bahkan bisa berujung pada kematian.

Sesungguhnya untuk mencakup seluruh sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan apa saja kebaikan serta bekal yang ada di dalamnya di dalam ruang ini adalah suatu hal yang tidak mungkin. Mutlak harus merujuk langsung ke kitab-kitab sunah (hadis) yang telah dikumpulkan dan dikodifikasikan melalui jerih payah para imam yang mulia. Akan tetapi, di sini kami akan mencoba untuk mengetengahkan beberapa contoh saja secara ringkas, sekaligus sebagai wujud pengakuan atas keterbatasan kami dalam menyingkap keindahan-keindahan sunah yang memesona beserta gudang harta karun yang ada di dalamnya.

Di Antara Keindahan Sunah yang Memesona

  • Pengawalan Sejak Sebelum Lahir hingga Masa Kanak-Kanak:

Kita dapat melihat bahwa Sunah Nabawi mengawal seorang muslim bahkan sejak sebelum ia berwujud menjadi janin di dalam rahim ibunya. Hal itu dilakukan dengan cara memberikan dorongan kuat untuk membangun keluarga muslim di atas asas ketakwaan sejak hari pertama, yaitu melalui aspek memilih istri yang memiliki pemahaman agama yang baik (dzatad diin). Dengan begitu, akan tercipta atmosfer islami yang bersih tempat si buah hati akan tumbuh dan dididik. Kemudian, kita dapati sunah mengingatkan untuk membaca doa perlindungan dari setan ketika hendak melakukan hubungan suami istri, agar Allah menjauhkan setan dari keturunan yang akan dianugerahkan kepada mereka. Sunah juga memberikan wasiat mengenai apa saja yang dapat melindungi janin dan ibunya dari segala mara bahaya. Dan manakala ia telah lahir, dikumandangkan azan salat di telinga kanannya dan ditegakkan iqamah salat di telinga kirinya. Sunah pun memberikan wasiat untuk membaguskan pemilihan nama bagi anak-anak. Demikianlah sunah berturut-turut melanjutkan pengawalannya bagi seorang muslim di setiap fase kehidupannya, dengan bentuk yang tidak akan bisa ditandingi oleh hasil studi dan eksperimen apa pun yang dicapai oleh akal pikiran manusia dalam bidang ini.

  • Pendidikan Kontemporer dan Multiperan:

Kita dapati di dalam sunah ada sosok pendidik, guru, dokter, pelatih militer, serta pionir pengarah di setiap lini dari lini-lini kehidupan. Sunah memberikan wasiat untuk menuntut ilmu, menjaga preventif kesehatan (preventif medis), berlatih berenang, memanah, dan berkuda. Sunah juga mewasiatkan para pemuda untuk menikah dan memperingatkan dari segala hal yang dapat meruntuhkan institusi keluarga dan masyarakat.

  • Perhatian di Saat Wafat dan Setelahnya:

Sebagaimana sunah mengawal seorang muslim sebelum kelahirannya, sesungguhnya sunah juga tetap mengawalnya di saat wafatnya dan setelah kematiannya. Sunah mewasiatkan untuk menuntun (talqin) orang yang hendak wafat dengan kalimat "La ilaha illallah Muhammad Rasulullah". Setelah kematiannya, sunah mewasiatkan untuk memandikannya, kemudian memuliakannya dengan menyegerakan penguburannya, melarang tindakan membongkar kuburan, serta mewasiatkan untuk mendoakannya dan melarang tindakan meratapinya (niyahah).

  • Manifestasi Rahmat bagi Semesta Alam:

Rasul kita yang tercinta diutus sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin), dan manifestasi rahmat ini tampak jelas di dalam wasiat beliau shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap kaum wanita, anak-anak, pelayan, tawanan perang, kaum fakir, kaum miskin, orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, orang-orang yang memiliki hajat kebutuhan, bahkan sampai kepada hewan-hewan sekalipun. Alangkah agungnya bekal tersebut manakala kita berhasil mengakuisisi sifat kasih sayang ini melalui tindakan kita mengikuti sunah.

  • Penjagaan Cita Rasa Sosial dan Perasaan Manusia:

Sunah Nabawi menjaga perasaan manusia dengan level akurasi yang sangat tinggi. Kita dapati beliau shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berbicara dengan seseorang, beliau tampak sangat penuh perhatian, menyimak dengan saksama, menghadapkan wajahnya secara penuh kepada lawan bicaranya, serta memperjelas untaian kata dan lafalnya. Kita dapati pula beliau apabila hendak mengingatkan suatu perbuatan yang salah, beliau akan bersabda: "Mengapa ada orang-orang yang mengatakan begini atau melakukan begitu..." tanpa menyebutkan nama person tertentu secara spesifik. Sunah juga mewasiatkan agar tidak boleh dua orang berbisik-bisik berdua saja tanpa menyertakan orang ketiga, dikarenakan tindakan tersebut dapat membuatnya sedih, dan masih banyak lagi contoh lainnya yang serupa.

  • Penguatan Struktur Sosial dan Tali Silaturahmi:

Sunah menyeru untuk memperkuat ikatan di antara para ayah, ibu, anak-anak, kerabat karib, dan para tetangga. Sunah mendorong untuk saling mencintai karena Allah, saling mengunjungi (tizawar), saling memberi hadiah (tehadi), menyebarkan salam, saling berjabat tangan, menampakkan senyuman di wajah saudaramu, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, mendoakan orang yang bersin (tasmyt al-'athis), mengantarkan jenazah, dan segala hal yang dapat memperkuat ikatan persaudaraan ini. Dan ikatan (solidaritas) ini merupakan bekal yang mutlak diperlukan bagi seorang muslim, terkhusus di atas jalan dakwah.

Sunah dan Pembentukan Kepribadian

Alangkah agungnya bekal dari sunah untuk membangun kepribadian muslim yang kuat dalam keimanannya, kuat dalam tekadnya, kuat dalam kehendaknya, kuat dalam fisiknya, kuat dalam akhlaknya, dan dalam segala potret kekuatan serta harga diri. Serta mengosongkan jiwa muslim dari segala potret kelemahan; baik berupa sifat penakut, kekikiran, kelemahan fisik, kemalasan, keragu-raguan, bisikan waswas, merasa sial karena burung (thiyarah), atau pesimisme. Serta agar seorang muslim tidak menjadi imma'ah (bebek/ikut-ikutan saja) yang disetir dan tidak menyetir, yang sekadar terpengaruh dan tidak memberi pengaruh.

Sunah menyeru seorang muslim untuk meringankan diri dari daya tarik bumi (materi) dan agar tidak tersibukkan oleh kesenangan dunia, melainkan menjadikan orientasi utamanya adalah akhirat dan keridaan Allah. Alangkah butuhnya kita akan makna ini di hari-hari ini, di mana kita melihat manusia berada dalam pusaran roda ambisi untuk meraup harta dan memenuhi tuntutan hajat hidup. Mereka berada dalam perlombaan yang pahit di antara lonjakan harga-harga kebutuhan dan upaya meraup harta yang diperlukan untuk membelinya. Hal itu dibarengi pula dengan maraknya penemuan sarana-sarana dan benda-benda modern yang menggoda manusia untuk membelinya, yang di dalamnya terdapat unsur bermewah-mewah (taraf) dan kecondongan yang kuat ke bumi, seolah-olah dunia ini adalah negeri tempat kenikmatan abadi. Maka, Sunah Nabawi membentengi kita dari hal tersebut, dan di dalam hal ini terkandung bekal.

Lihatlah betapa sunah yang penuh kasih sayang ini mengawal seorang muslim bahkan di kala tidurnya! Sunah mewasiatkan untuk tidur dalam keadaan berwudu, tidur di atas lambung sebelah kanan, dan membaca doa mabrur ketika hendak tidur yang di dalamnya terdapat unsur pengingat akan kematian. Kemudian adanya doa-doa di kala mengalami insomnia (susah tidur), doa ketika melihat mimpi buruk yang tidak disukainya lagi menggelisahkannya, lalu doa di kala terjaga/bangun tidur. Seolah-olah sunah menjelma laksana seorang ibu yang teramat penyayang, yang mengasuh anak tunggalnya, menimang-nimangnya jika ia terperanjat kaget, menenangkan kepanikannya, dan melindunginya dari segala hal yang menyakitinya. Semoga selawat Allah senantiasa tercurah kepadamu wahai junjunganku, wahai Rasulullah, dan semoga Allah membalasmu demi kami dengan sebaik-baik balasan.

Demikianlah, kita dapati bekal yang melimpah dan kebaikan yang universal di dalam setiap sunah yang disunahkan untuk kita oleh Rasul kita yang mulia. Di samping itu semua, sunah mewujudkan karakter kepribadian muslim yang memiliki keistimewaan lagi independen; bukan karakter kepribadian tambal-sulam yang sekadar membebek dan memungut adat istiadat dari sana-sini.

Kaidah Penerapan Sunah di Tengah Masyarakat

Ada satu perkara teramat penting yang ingin kami palingkan perhatian kepadanya, yaitu: jangan sampai perhatian kita terhadap perkara sunah justru mengurangi perhatian kita terhadap perkara yang fardu (wajib). Dan jangan sampai kita menjadikan perkara-perkara sunah sebagai komoditas isu-isu parsial yang membuat kita saling berselisih, saling membelakangi, dan saling memboikot satu sama lain disebabkan karena sikap ketat dalam memegangnya atau karena adanya sikap tidak berkomitmen dengannya. Hendaknya masing-masing dari kita dapat membedakan antara porsi mewajibkan dirinya sendiri untuk mengamalkan sunah dengan porsi menuntut orang lain untuk berkomitmen dengannya.

Maka, wajib bagi kita untuk saling berwasiat dalam mengambil sunah ini, dan menyeru manusia dengan hikmah serta nasihat yang baik (mau'izhah hasanah) untuk berpegang teguh dengannya tanpa ada tindakan mencaci, memfasiqkan, atau tindakan menjauh dan mencerai-beraikan barisan.

Aku teringat dalam bidang ini, bahwasanya Imam Hasan Al-Banna rahimahullah dalam salah satu perjalanan ekspedisi dakwahnya kepada Allah, beliau mendapati penduduk suatu desa sedang berselisih dan terpecah menjadi dua kubu yang hampir saja saling bunuh-membunuh disebabkan adanya perselisihan seputar teknis cara mengumandangkan azan salat, serta adanya sebagian kelompok yang menyertakan bacaan selawat dan salam kepada Rasulullah dengan metode cara tertentu setelah azan. Maka beliau rahimahullah berkata kepada mereka: "Janganlah kalian mengumandangkan azan, dan salatlah kalian tanpa azan!"

Maka kaum tersebut menjadi heran dan terperangah seraya berkata: "Kami tidak rida jika suara azan untuk salat tidak dikumandangkan tinggi-tinggi di desa ini." Maka beliau berkata kepada mereka:

"Sesungguhnya azan itu hukumnya sunah, sedangkan persatuan kalian dan kesatuan kata kalian hukumnya adalah fardu dan wajib. Maka kita tinggalkan perkara sunah apabila perkara sunah tersebut menjadi sebab batal/hancurnya perkara yang wajib."

Seketika itu juga seluruhnya tersadar akan kekeliruan mereka di dalam perselisihan ini, lalu mereka pun menghentikannya.

Maka, marilah kita mengambil pelajaran-pelajaran yang bermanfaat serta bekal yang berfaedah dari sunah, dan jadilah kita sebagai orang-orang yang mengikuti (muttabi'in) dan janganlah kita menjadi orang-orang yang mengada-ada (mubtadi'in). Dan Allah adalah Dzat Yang Memberi Taufik lagi Maha Penolong.

Dan di dalam Dakwah di Jalan Allah ....... Terdapat Bekal

Dakwah di jalan Allah adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslimah perempuan untuk mewujudkan fungsi kesaksian kita atas umat manusia, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta'ala:

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umatan wasathan (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah: 143).

Dakwah merupakan tugas para rasul—sholawatullah wa salamuhu 'alaihim—sehingga ia merupakan sebuah kehormatan yang agung, kedudukan yang mulia, dan pahalanya di sisi Allah teramat besar. Di saat yang sama, dakwah juga menjadi sumber yang melimpah bagi bekal takwa dan keimanan.

Perasaan terhadap kehormatan dan kedudukan tinggi ini—yang terepresentasi dalam firman Allah Ta'ala:

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan serta berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)'?" (QS. Fussilat: 33).

Perasaan ini mendorong sang dai untuk melayakkan dirinya agar pantas menyandang kehormatan dan kedudukan tersebut. Alhasil, tidak akan tampak dari ucapan maupun perbuatannya hal-hal yang tidak selaras dengan keagungan tugas ini. Di dalam penyertaan makna ini pada dirinya, terdapat bekal yang kontinu dan pengawas yang senantiasa terjaga.

Isu fundamental di dalam dakwah di jalan Allah adalah isu keimanan; yaitu mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya. Tatkala seorang dai di jalan Allah bergerak untuk menyampaikan makna ini kepada manusia, menghidupkan hati mereka dengan makrifat (mengenal) Allah, serta mendorong mereka untuk taat kepada-Nya, hal itu justru membuat keimanannya sendiri senantiasa terbarui dan bertumbuh, serta membuat hatinya selalu tertambat dengan Allah. Dan di dalam hal ini terkandung bekal yang sangat besar.

Seorang dai di jalan Allah menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bersenang-senang di taman-taman surga. Sebab, pertemuan-pertemuan yang menghimpun dirinya bersama orang-orang yang didakwahinya di jalan Allah merupakan majelis-majelis zikir mengingat Allah, yang mana para malaikat akan menaungi mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, ketenteraman (sakinah) akan turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Hal ini, di dalam substansinya sendiri, merupakan kebaikan yang melimpah dan bekal yang agung.

Seorang dai di jalan Allah menyeru manusia dan mengingatkan mereka akan seluruh makna kebaikan, fadhilah (keutamaan) amal, serta segala hal yang berpotensi mengangkat derajat mereka, memperbaiki kondisi mereka, dan menjauhkan mereka dari ketergelinciran serta keburukan. Di dalam aktivitas ini terdapat unsur pengingat secara langsung bagi dirinya sendiri. Maka, ia memetik manfaat sebagaimana ia memberi manfaat kepada orang lain. Berbeda halnya dengan orang yang tidak menegakkan kewajiban dakwah di jalan Allah, ia berpotensi lalai dari banyak makna ini dan berada dalam kondisi butuh kepada orang lain yang mengingatkannya.

Siapa saja yang melibatkan diri dalam dakwah di jalan Allah akan sangat antusias untuk menjadi suri teladan yang baik (qudwah hasanah) bagi orang-orang yang didakwahinya dalam setiap kebaikan yang ia serukan kepada mereka—bukan malah menyelisihinya. Ia juga tidak akan melarang mereka dari suatu kemungkaran lalu ia sendiri malah melakukannya, karena ia menginternalisasi rasa takut akan kemurkaan Allah dan siksaan-Nya, seraya meletakkan ayat-ayat mulia berikut tepat di hadapan matanya:

"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-Baqarah: 44).

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 2-3).

Seorang dai di jalan Allah akan memilah makna-makna yang urgen dan fundamental yang berkaitan dengan dakwah Allah dan agama-Nya. Ia juga menyertakan hujah dalam untaian bicaranya dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis nabawi yang mulia. Sudah mafhum diketahui bagaimana besarnya pengaruh baik yang dimiliki oleh kalamullah (firman Allah) dan hadis-hadis Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam dalam memperbarui keimanan dan meningkatkannya, terlebih lagi jika hati sang dai berinteraksi penuh dengan apa yang mengalir di atas lisannya. Hal ini merupakan perkara mutlak bagi dai agar ia dapat memberi pengaruh kepada orang yang didakwahinya. Sebab, apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati, sedangkan apa yang hanya keluar dari lisan tidak akan melampaui batas telinga. Dengan begitu, ia membekali dirinya sendiri sebagaimana ia memberikan bekal kepada orang lain.

Seorang dai di jalan Allah menundukkan waktu, jerih payah, harta, dan fisiknya melalui perjalanan-perjalanan (asfar) yang berulang kali di jalan dakwah kepada Allah. Di dalam aktivitas ini terdapat bentuk latihan bagi jiwa (tarwidhun nafs) serta pembersihan diri dari segala makna kemalasan, kekikiran, kelemahan (wahn), dan sifat penakut. Ia akan meninggikan suaranya untuk menyuarakan kalimat kebenaran meskipun itu pahit, tanpa ada rasa gentar... Di dalam latihan dan penundukan jiwa ini terdapat kebaikan yang banyak dalam membangun kepribadian dai di jalan Allah, serta merupakan bekal yang dituntut di atas jalan dakwah.

Di dalam diri seorang dai di jalan Allah akan terlahir antusiasme yang tinggi untuk terus menambah ilmu, mencerna, meneliti, menelusuri, dan mengkaji ilmu secara mendalam (madarasah). Tujuannya agar ia memiliki tabungan (kapasitas) yang baik yang dapat membantunya untuk memberi dan menyuguhkan kebaikan kepada manusia, serta agar ia mampu menjawab berbagai pertanyaan yang diarahkan kepadanya. Di dalam ikhtiar untuk menumbuhkan tabungan ilmu ini terdapat bekal yang dituntut di atas jalan perjuangan.

Praktik berdakwah di jalan Allah akan menganugerahkan sifat tabayun (klarifikasi) bagi pelakunya serta ketelitian tingkat tinggi terhadap validitas apa yang ia bicarakan kepada manusia. Alhasil, jangan sampai di dalam untaian bicaranya terdapat kesalahan, penyimpangan, atau apa saja yang menyelisihilah Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya, mengingat besarnya dosa yang diakibatkan oleh tersebarnya kesalahan tersebut lalu diamalkan oleh orang banyak, serta betapa sulitnya melokalisasi kesalahan itu kemudian hari dan memperbaiki dampak yang ditimbulkannya. Di dalam pembiasaan ketelitian dalam berucap dan meneliti kebenaran ini terdapat kebaikan yang melimpah dalam membentuk kepribadian seorang tokoh dakwah.

Sebagaimana seorang dai di jalan Allah menginternalisasi tanggung jawabnya di hadapan Allah atas kualitas pengarahan kepada orang yang didakwahinya, wajib pula baginya untuk merasakan tanggung jawab atas waktu-waktu mereka. Maka, ia berkomitmen untuk hadir tepat waktu dan tidak menyia-nyiakan waktu mereka dalam menunggu, atau berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang minim faedah. Di dalam pembiasaan dan komitmen terhadap hal tersebut, terdapat keuntungan besar bagi dai dalam hal pemaknaan antusiasme terhadap waktu dan pemanfaatan waktu secara optimal. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri, sedangkan kewajiban-kewajiban yang ada jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia.

Seorang dai di jalan Allah bekerja murni karena Allah dan demi menggapai keridaan Allah. Maka, ia tidak akan menundukkan profesi yang mulia ini demi keuntungan duniawi atau demi kepentingan agenda siapa pun, seberapa pun besarnya kekuasaan yang dimiliki orang tersebut. Sebab, andai ia melakukan hal itu, niscaya akan gugurlah amalnya dan ia akan mengundang kemurkaan Allah karena telah menggunakan dakwah di jalan Allah untuk menyesatkan manusia. Alhasil, ia akan menjelma menjadi termasuk golongan orang yang paling rugi, yaitu orang-orang yang menjual akhirat mereka demi kehidupan dunia orang lain.

Seorang dai di jalan Allah diwajibkan untuk mengikuti instruksi-instruksi Allah di dalam dakwahnya kepada-Nya, yang mana sifat-sifat tersebut telah melekat pada diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam dakwah beliau kepada manusia; mulai dari sifat lemah lembut (linul janib), kasih sayang, hikmah, nasihat yang baik (mau'izhah hasanah), berdiskusi dengan cara yang terbaik, hingga bersabar atas gangguan dari orang-orang yang didakwahinya, dan sifat-sifat mulia lainnya. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka..." (QS. Ali 'Imran: 159).

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125).

"Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka." (QS. Al-An'am: 34).

Serta perasaan yang dipenuhi rasa iba/kasihan kepada manusia di kala mereka berpaling dari dakwah Allah:

"Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an)." (QS. Al-Kahf: 6).

Demikianlah sifat-sifat ini akan terlahir di dalam jiwa dai di jalan Allah selama ia mempraktikkan dakwah, dan di dalam hal ini terkandung keuntungan yang besar dan bekal yang agung.

Seorang dai di jalan Allah tidak boleh terhambat dalam menunaikan tugasnya oleh rasa lelah, kepayahan, rasa sakit, perjalanan jauh, begadang malam, pengorbanan harta, maupun pengorbanan jiwa. Sebab, itu semua merupakan bagian dari bekal yang telah terjamin faedah dan manfaatnya di dalam perjalanannya yang teramat jauh menuju akhirat. Bahkan, ia akan menemukan rasa istirahat di dalam rasa lelahnya, menemukan kelezatan di dalam rasa sakitnya, menemukan keuntungan di dalam pengorbanan hartanya, serta menemukan ganti yang terjamin di dalam pengorbanan jiwanya.

Seorang dai di jalan Allah melatih jiwanya agar jangan sampai tersusupi oleh rasa ujub/kemalingan (bangga diri) apabila ia menjumpai antusiasme yang kian melonjak dari para pendengarnya terhadap dirinya dan petuah-petuahnya. Sebagaimana jiwanya juga tidak boleh tersusupi oleh rasa putus asa atau kefuturan (lesu) apabila ia menjumpai kondisi yang sebaliknya. Seburuk apa pun kondisi orang-orang yang didakwahinya, terkadang dari kelompok yang sedikit bisa keluar kebaikan yang jauh lebih banyak ketimbang kelompok yang mayoritas.... Dan hendaknya ia mengetahui bahwa kewajibannya hanyalah berdakwah (menyampaikan) dan bukanlah kewajibannya untuk membuat manusia menyambutnya, karena petunjuk itu hanyalah petunjuk Allah: "Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas." serta: "Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki." Di dalam pengosongan jiwa dari rasa ujub dan dari rasa putus asa ini terkandung bekal yang besar.

Wajib bagi dai di jalan Allah untuk terus melanjutkan dakwahnya kepada Allah bagaimanapun ia mendapatkan gangguan/intimidasi disebabkan aktivitas tersebut. Demikianlah dahulu Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi gangguan kaum musyrikin, yaitu dengan mendoakan kebaikan bagi mereka: (Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui) dan beliau tetap konsisten dalam dakwahnya terlepas dari gangguan tersebut. Dahulu Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan kepada al-Ikhwan mengenai makna ini:

"Jadilah kalian bersama manusia laksana pohon; mereka melemparinya dengan batu, namun pohon itu membalas melempar mereka dengan buah."

Di dalam penjinakan jiwa untuk membalas keburukan dengan kebaikan terdapat bekal yang sangat besar. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Fussilat: 34-35).

Seorang dai di jalan Allah, sebanding dengan kadar kesuksesannya dalam tugasnya, sebesar itu pula ia akan memanen cinta dari orang-orang yang didakwahinya—sebuah cinta yang murni karena Allah. Hal ini, di dalam substansinya sendiri, merupakan kebaikan dan nikmat dari Allah yang diharamkan (tidak didapatkan) oleh banyak manusia. Cukuplah bagi dai untuk mendapatkan seuntai doa yang saleh dari orang-orang yang mencintainya di belakang punggungnya (tanpa sepengetahuannya), atau sekilas pandangan cinta karena Allah yang mana Allah mengampuni dirinya dan diri mereka disebabkan pandangan tersebut.

Seorang dai di jalan Allah akan memenangkan pahala yang teramat besar dari Allah apabila Allah memberikan taufik kepadanya dan menjadikan untaian bicaranya sebagai sebab bagi hidayah banyak orang serta berbaliknya mereka dari kesesatan menuju hidayah. Di dalam hadis yang sahih dari Rasul kita yang tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: (Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan hidayah kepada satu orang saja lewat perantaramu, itu jauh lebih baik bagimu daripada unta-unta yang merah). Di dalam pahala yang besar ini terdapat bekal, dan adakah bekal yang lebih hebat dari itu?

Dan wajib bagi dai di jalan Allah yang jujur untuk mengetahui bahwa apa saja makna-makna baik lagi menyentuh yang ia dapatkan dalam pembicaraannya dengan orang lain, hal itu murni merupakan bagian dari apa yang Allah bukakan (futuh) atasnya, dan bukanlah karena kehebatan orasi atau kapabilitas pribadinya. Maka, janganlah ia merasa tinggi, melainkan hendaknya ia bertawadulah (rendah hati) karena Allah, bertakwa kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, serta membaguskan tempat bersandarnya kepada-Nya, niscaya Allah akan menambahkan limpahan hidayah dan keterbukaan baginya: "Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu." serta: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu."

Seorang dai di jalan Allah, dengan aktivitas penjelajahan dan perjalanan-perjalanannya ke berbagai negeri yang berbeda-beda, akan kian bertambah pengkajian dan makrifatnya (pengetahuannya) terhadap kondisi bangsa-bangsa islami, kondisi lokal mereka, serta isu-isu kontemporer dunia Islam. Di dalam hal ini terdapat bekal bagi tokoh dakwah di atas jalan dakwah. Sebagaimana ia juga akan kian bertambah kemahiran dan pengalamannya dalam mengkhitabi (berbicara dengan) berbagai level masyarakat yang heterogen; mulai dari kalangan intelektual, kalangan buta aksara, kalangan buruh, hingga kalangan petani. Demikian pula ia akan berinteraksi dengan kaum-kaum yang hidupnya hanya berkutat pada perkara-perkara parsial (juz'iyyat) tanpa menyentuh perkara fundamental (kulliyyat), berinteraksi dengan kelompok lain yang mewarisi penyimpangan, bidah, dan khurafat, berinteraksi dengan orang-orang yang hidup dengan sudut pandang yang superfisial (dangkal) tanpa adanya kedalaman, serta berinteraksi dengan orang-orang yang hidup dengan sudut pandang sesaat (lahzhiyyah) tanpa adanya sudut pandang jangka panjang dan kalkulasi terhadap dampak dari segala urusan. Demikianlah, di dalam interaksi dengan mereka, pelurusan terhadap pemahaman dan sudut pandang mereka, serta apa saja yang dibutuhkannya berupa hikmah, pengalaman, dan kesabaran... seluruhnya merupakan bekal dan keuntungan bagi dai di jalan Allah, yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh orang yang tidak mempraktikkan dakwah di jalan Allah seperti dirinya.

Seorang dai di jalan Allah yang ikhlas akan bertakwa kepada Allah serta menimbang setiap peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi saat ini beserta bagaimana posisi agama terhadapnya menggunakan timbangan islam yang valid (al-mizan al-islami al-shahih), tanpa adanya sikap nifak (kemunafikan), pencitraan (mujamalah), ataupun rasa takut kepada siapa pun, seberapa pun besarnya kekuasaan yang dimiliki orang tersebut. Alhasil, ia tidak akan mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan di dalam benak manusia, dan Allah membedakan lewat perantara dirinya mana yang buruk (khabits) dari yang baik (thayib), serta manusia dapat mempelajari darinya timbangan-timbangan ketuhanan (al-mawazin ar-rabbaniyyah). Dan di dalam hal ini terkandung kebaikan yang teramat melimpah bagi dakwah Allah.

Dan di dalam Persahabatan yang Saleh ..... Terdapat Bekal

Persaudaraan karena Allah (ukhuwah fillah) merupakan nikmat yang teramat besar serta bekal yang melimpah dan senantiasa terbarui di atas jalan perjuangan. Allah telah menganugerahkan nikmat ini kepada orang-orang mukmin, di mana Dia menyeru mereka untuk bersatu dan tidak bercerai-berai melalui firman-Nya Ta'ala:

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran: 103).

Dan ia merupakan nikmat yang tidak dapat dibeli dengan harta kekayaan ataupun kemewahan-kemewahan duniawi, melainkan terwujud semata-mata karena karunia Allah dan kuasa-Nya:

"Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal: 63).

Sesungguhnya ikatan akidah Islam adalah ikatan yang paling kuat secara mutlak.

Sesungguhnya orang-orang yang hidup di bawah naungan cinta dan persaudaraan karena Allah akan merasakan kebahagiaan serta ketenteraman jiwa yang tidak akan pernah didapatkan oleh orang-orang yang berkumpul hanya demi mengejar kesenangan duniawi; baik dalam urusan perniagaan, hiburan, maupun fasilitas duniawi lainnya. Dan al-Ikhwan benar-benar telah mengecap manisnya kebahagiaan ini... Oleh karena itu, kita dapati seorang saudara (al-akh) akan merasa kesepian/asing jika ia absen dari saudara-saudaranya atau jika kondisi memaksanya untuk berada jauh dari mereka. Sebagian dari mereka membuat sebuah perumpamaan: "Sesungguhnya atmosfer persaudaraan (iklim ikhwan) bagi seorang saudara itu laksana air bagi ikan."

Dikarenakan urgennya nilai persaudaraan karena Allah di atas jalan dakwah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar, di mana mereka kemudian berhasil mencontohkan potret keteladanan tertinggi dalam hal cinta dan sifat itsar (mendahulukan kepentingan orang lain).

Sesungguhnya tugas besar yang mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempersiapkan kaum muslimin untuk mengembangnya—yaitu menegakkan eksistensi (tamkin) bagi akidah tauhid serta mendirikan negara Islam—sangat menuntut adanya kekuatan soliditas (talahum) dan keterikatan yang erat di antara individu-individu jemaah ini; yaitu jemaah yang telah menjual dirinya kepada Allah dan saling berjanji setia untuk menolong syariat-Nya, agar mereka dapat menjadi satu barisan yang solid laksana bangunan yang tersusun kokoh (ka al-bunyan al-marshush).

Setelah kita menjelaskan keutamaan persahabatan yang saleh beserta urgensinya... di bawah ini kami akan mencoba untuk memaparkan bagaimana persahabatan tersebut memosisikan diri sebagai penolong dan bekal di atas jalan perjuangan:

  • Petunjuk di Tengah Jalan yang Terjal:

Individu muslim tidaklah berjalan di atas jalan yang aman, melainkan ia berjalan di atas jalan yang dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (makarih), tempat-tempat yang menggelincirkan, rintangan-rintangan, fitnah-fitnah, serta setan-setan dari kalangan manusia dan jin yang senantiasa mengintai. Maka di atas jalan semacam ini, ia teramat butuh kepada sosok yang menggandeng tangannya, membimbingnya, membuka matanya, mengingatkannya jika ia lupa, serta membantunya jika ia ingat. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3).

  • Benteng dari Kelalaian dan Serigala Setan:

Terkadang datang kepada individu muslim suatu fase kefuturan (lesu), kelalaian, kelupaan, atau momen di mana ia memenuhi bisikan waswas setan. Andai ia seorang diri, niscaya ia akan hanyut, menganggap nyaman kondisi tersebut, dan pada akhirnya terseret pada kesia-siaan serta kebinasaan: (Sesungguhnya serigala itu hanya akan memangsa domba yang memisahkan diri dari kawannya). Namun, apabila ia memiliki persahabatan yang saleh, mereka tidak akan membiarkannya bersendirian bersama jiwanya dan setannya. Jika mereka merasa kehilangan dirinya di medan-medan amal saleh, mereka akan segera mencarinya untuk mengajaknya, mengingatkannya, serta membantunya dalam melawan hawa nafsunya dan setannya. Di dalam hal itu terdapat pertolongan dan bekal di atas jalan perjuangan.

  • Pengingat Kebajikan vs Pengingat Maksiat:

Sesungguhnya sahabat yang saleh itu, sekadar dengan kamu memandang dirinya saja, ia sudah mengingatkanmu kepada Allah dan kepada ketaatan kepada Allah. Adapun teman yang buruk, memandang dirinya justru mengingatkan kepada kemaksiatan, dosa-dosa, dan perbuatan mungkar. Maka alangkah jauhnya perbedaan di antara kedua kelompok tersebut! Dan benarlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:

"(Permisalan teman yang saleh dan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi). Mengenai penjual minyak wangi, baik kamu membelinya atau tidak, kamu tetap mendapatkan bau wanginya. Sedangkan pandai besi, jika percikan apinya tidak membakar bajumu, kamu tetap mendapatkan bau asapnya yang busuk." (HR. Abu Dawud).

  • Kekuatan dalam Jemaah:

Seseorang itu menjadi banyak (kuat) disebabkan karena saudara-saudaranya... Ia merasa bahwa jika ia seorang diri, ia adalah sesuatu yang tidak bernilai, tetapi ia menjadi sosok yang memiliki posisi penting karena keterikatannya dengan saudara-saudaranya. Jika orang-orang pelaku keburukan yang gemar mengorbankan harta manusia dan melanggar kehormatan mereka saja bisa berkumpul untuk saling mendukung satu sama lain, bahkan sering kali mereka mengangkat seorang pemimpin atas mereka dan berkomitmen untuk menaatinya; maka tentu para ahli kebenaran (ahlul haqq) dan para pekerja yang berjuang untuk menolong agama Allah jauh lebih layak untuk saling terikat dan bersatu. Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang saling menguatkan satu sama lain, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul kita yang tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tidak mungkin ada suatu jemaah yang mampu menuntaskan program-program kerja serta merealisasikan target-target sasaran jika di antara individu-individunya tidak ada ikatan cinta dan persaudaraan.

  • Fungsi Cermin dan Perbaikan Diri:

Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya... Tidak ada satu individu pun melainkan di dalam dirinya pasti terdapat aib dan kekurangan, yang mana acap kali ia lalai darinya dan tidak menyadarinya. Maka, ia berada dalam kondisi yang sangat butuh kepada sosok yang membuka matanya dan membantunya untuk memperbaiki aib tersebut serta membersihkan diri darinya. Dan tidak ada yang mampu melakukan hal itu kecuali seorang saudara yang mencintai dengan ikhlas, yang kontinu hubungannya, yang lembut perlakuannya, serta bijaksana dalam memberikan nasihat dan membuka matanya. Dan ini adalah sebaik-baik penolong dan bekal di atas jalan perjuangan.

  • Etika dan Karakteristik Nasihat:

Di dalam koridor pemberian nasihat, sangat elok bagi kita untuk mengisyaratkan bagian dari adab-adabnya; yaitu bagaimana nasihat itu ditunaikan dengan hikmah, pelajaran yang baik, serta berdiskusi dengan cara yang terbaik demi mengamalkan firman-Nya Ta'ala: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." Begitu pula perkataan sebagian salafus saleh: (Tunaikanlah nasihat dengan bentuk yang paling sempurna, dan terimalah ia dalam bentuk bagaimanapun. Dan barangsiapa yang menasihati saudaranya secara rahasia/menyendiri maka ia telah menasihatinya dan menghiasinya, dan barangsiapa yang menasihati saudaranya secara terang-terangan/di depan umum maka ia telah membongkar aibnya dan menjelekkannya).

  • Multiplikasi Potensi dan Energi:

Persahabatan yang saleh melipatgandakan kapabilitas seorang individu dan energi-energinya. Di kala ia sedang memikirkan suatu perkara, maka seolah-olah ia sedang berpikir dengan menggunakan isi kepala seluruh saudara-saudaranya, karena ia meminta arahan dari pandangan-pandangan mereka. Dan di kala ia mengeksekusi suatu program kerja, maka mereka seluruhnya memosisikan diri sebagai penolong baginya dengan mengerahkan energi-energi mereka dan mentransfer pengalaman-pengalaman mereka kepadanya.

  • Pembagian Beban dan Solidaritas Sosial:

Persahabatan yang saleh melipatgandakan kebahagiaan individu dengan cara ikut berserikat dalam momen-momen kegembiraannya, serta meringankan beban-beban kepayahan dan rasa sakitnya apabila ia ditimpa oleh suatu kemudaratan atau musibah. Mereka akan menolongnya dengan harta dan jerih payah mereka, mengingatkannya kepada Allah dan sikap sabar atas ujian, serta melarangnya dari sikap menyerah pada kesedihan atau menarik diri dari pergaulan (inthiwa').... Dan di dalam hal itu terdapat pertolongan yang banyak.

  • Sinergi Bekal Spiritual:

Seolah-olah aku melihat seorang saudara muslim di atas jalan dakwah tidak bergerak hanya dengan mengandalkan bekal hatinya seorang diri, melainkan bergerak dengan membawa bekal hati seluruh saudara-saudaranya. Sebab, setiap saudara tidak akan pernah bakhil (pelit) kepada saudara-saudaranya terhadap apa saja bekal spiritual (zadun ruhi) yang telah Allah bukakan atas dirinya, yang mana bekal itu dapat membantu untuk mengenali jalan, membantu dalam ketaatan, keteguhan, serta melewati rintangan-rintangan. Di dalam hal ini, bentuknya bukan sekadar bekal biasa, melainkan bekal yang berlipat ganda.

  • Kolaborasi dalam Kebajikan Kolektif:

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyeru kita untuk saling bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan, di mana Dia berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." Dan ini merupakan arahan yang ditujukan kepada format kolektif (jemaah) dan bukan individu-individu yang terpisah. Maka persahabatan yang saleh hukumnya menjadi wajib dan mutlak diperlukan demi merealisasikan hal tersebut. Alangkah indahnya persaudaraan di dalam satu lingkungan pemukiman yang sama atau satu desa yang sama ketika mereka saling bekerja sama dalam ranah kebaikan dan ketaatan; khususnya pada bentuk-bentuk ketaatan yang telah dilalaikan dan diabaikan oleh banyak kaum muslimin, seperti salat malam (qiyamul lail), salat berjemaah di masjid—terkhusus salat Subuh dan Isya—menghadiri majelis tadarus Al-Qur'an, majelis ilmu, majelis zikir, rombongan kafilah dakwah di jalan Allah, serta menyantuni kaum fakir dan orang-orang yang memiliki hajat kebutuhan.

  • Dinding Pelindung di Kala Mihnah (Ujian):

Alangkah agungnya manfaat persahabatan yang saleh di waktu terjadinya situasi-situasi kritis dan mihnah (ujian/persekusi); yaitu ketika individu muslim dihadapkan pada tekanan-tekanan yang sangat keras yang bertujuan untuk memalingkannya dari beramal melawan musuh Allah, atau untuk membelokkannya dari jalan yang benar lagi lurus yang sejalan dengan perintah Allah. Di sinilah tampak urgensi sahabat yang saleh, yang mana mereka akan menjaganya dan bergerak untuk melindunginya dari fenomena lolos/lepas (tafallut), duduk berpangku tangan (qu'ud), penyimpangan (inhiraf), atau terpengaruh oleh iming-iming janji maupun ancaman dari musuh-musuh Allah beserta propaganda-propaganda setan mereka yang bertujuan agar para pekerja Islam meninggalkan pos-pos mereka di dalam barisan. Dan kita benar-benar telah menyentuh dampak hal tersebut secara nyata selama masa mihnah (ujian-ujian sejarah) yang dilewati oleh al-Ikhwan. Dan ini adalah bagian dari kebaikan dan berkah jemaah serta persaudaraan yang jujur karena Allah.

  • Untaian Doa di Belakang Punggung:

Alangkah agungnya bekal yang berhasil diraih oleh individu di dalam persahabatan yang saleh ketika saudara-saudaranya mendoakan kebaikan untuknya di belakang punggungnya (tanpa sepengetahuannya) dengan untaian doa-doa yang saleh, yang mana doa-doa tersebut statusnya adalah makbul (dikabulkan) sebagaimana yang dikabarkan kepada kita oleh kekasih kita shallallahu 'alaihi wa sallam.

  • Meraih Naungan dan Cinta Ilahi:

Alangkah agungnya bekal yang dipetik oleh individu di dalam persahabatan yang saleh yang saling mencintai karena Allah, di mana ia memenangkan kecintaan Allah, pengampunan-Nya, serta balasan pahala-Nya yang baik disebabkan karena apa yang terjadi antara dirinya dengan saudara-saudaranya berupa pandangan cinta karena Allah yang saling mereka pertukarkan, jabat tangan, senyuman di wajah sebagian mereka kepada sebagian yang lain, aktivitas saling mengunjungi, duduk berkumpul di antara mereka, serta sikap saling berwasiat dan saling mengingatkan kepada kebenaran di antara mereka.

Hadis-hadis dalam bab ini sangatlah banyak, di antaranya adalah hadis mengenai tujuh golongan yang akan Allah naungi di dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, di mana salah satunya adalah: "...dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul atas dasar itu dan berpisah juga atas dasar itu." Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Bahwasanya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus malaikat untuk mengintai di jalurnya. Tatkala malaikat itu sampai kepadanya, ia bertanya, 'Ke mana kamu hendak pergi?' Ia menjawab, 'Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.' Malaikat bertanya, 'Apakah kamu memiliki suatu nikmat (utang budi) yang ingin kamu perbaiki padanya?' Ia menjawab, 'Tidak... hanya saja aku mencintainya karena Allah.' Malaikat itu berkata, 'Maka sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah benar-benar telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya'." (HR. Muslim). Tarubbuha bermakna: kamu merawatnya/menjaganya.

Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab ad-Dzikr bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui sebuah halakah (lingkaran majelis) dari sahabat beliau, lalu beliau bertanya: "Apa yang membuat kalian duduk berkumpul?" Mereka menjawab: "Kami duduk untuk mengingat Allah dan memuji-Nya atas apa yang telah Dia tunjukkan kepada kita berupa Islam dan apa yang Dia anugerahkan kepada kita." Beliau bertanya: "Demi Allah, tidakkah ada yang membuat kalian duduk melainkan hanya karena itu?" Mereka menjawab: "Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk melainkan hanya karena itu." Beliau bersabda: "Adapun aku, sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian (berbohong), melainkan karena Jibril telah mendatangiku lalu mengabarkan kepadaku bahwasanya Allah benar-benar sedang membanggakan kalian di hadapan para malaikat."

Proteksi Syariat terhadap Ikatan Persaudaraan

Dikarenakan teramat urgennya nilai persahabatan yang saleh beserta apa saja dampak kebaikan yang ditimbulkannya bagi Islam dan kaum muslimin, kita dapati Islam dan syariat Islam sangat menjaga ikatan tersebut serta merawatnya dari segala hal yang dapat mencederai persatuan dan keharmonisannya. Syariat mengharamkan apa saja yang berpotensi mencederainya dan memicu timbulnya rasa dongkol (syahna') serta kebencian (baghda') di antara kaum muslimin; seperti tindakan menipu (ghisg), khianat, jual beli gharar (ketidakpastian), riba, khamar (miras), judi, dan perkara lainnya seperti saling mendengki (tahasud), saling membenci (tabaghud), olok-olok (sukharriyah), buruk sangka (su'udzan), memata-matai (tajasus), memutuskan silaturahmi (taqathu'), dan saling membelakangi (tadabur). Dan inilah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu 'anhu:

"Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, janganlah kalian saling membelakangi, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (mendiamkan) saudaranya lebih dari tiga hari." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan kepada kita di dalam Surah Al-Hujurat—di samping perkara yang telah lalu—mengenai bagaimana cara melenyapkan perselisihan di antara orang-orang mukmin jika hal itu terjadi melalui jalur yang paling cepat, serta kewajiban orang-orang mukmin untuk melakukan intervensi demi mendamaikan (ishlah) di antara pihak-pihak yang bertikai dari kalangan orang-orang mukmin:

"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya..." (QS. Al-Hujurat: 9).

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).

Dan sebanding dengan apa yang mampu direalisasikan oleh persaudaraan dan persahabatan yang saleh berupa persatuan, kekuatan, dan kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, sebesar itu pula dampak yang ditimbulkan oleh perpecahan dan perselisihan berupa kegagalan, kelemahan, serta kerugian. Dan Allah Ta'ala berfirman:

"...dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46).

Syetan dan musuh-musuh Allah sangat dibuat naik pitam oleh adanya persatuan kaum muslimin dan kerja sama mereka, sehingga mereka mengerahkan segala jerih payah untuk menciptakan perpecahan. Maka alangkah butuhnya kita untuk menyadari hal tersebut dan tidak memberikan celah sedikit pun bagi terealisasinya agenda mereka. Janganlah kita marah demi ego diri kita sendiri, dan janganlah kita mengucapkan kata-kata yang menyinggung/menyakiti saudara-saudara kita demi memenuhi seruan persatuan yang telah Allah gariskan bagi kita:

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia'." (QS. Al-Isra: 53).

Penutup

Alangkah bahagianya kita dengan nikmat Islam dan dengan nikmat persaudaraan karena Allah, dan alangkah layaknya kita untuk menjaga nikmat-nikmat ini dengan segenap kemampuan kita dan dengan segala sarana yang kita miliki.

Maka, wajib bagimu wahai saudaraku untuk melekatkan diri pada persahabatan yang saleh, karena ia adalah penolong dan bekal bagimu di atas jalan perjuangan.

Dan di dalam Amal Saleh .... Terdapat Bekal

Iman dan amal saleh adalah dua hal yang saling terikat erat (mutalaziman). Amal saleh adalah pembukti (pembenar) bagi keimanan, sedangkan keimanan merupakan syarat mutlak demi diterimanya amal saleh.

Penyebaran kedua istilah ini telah berulang kali disebutkan secara berdampingan di dalam banyak ayat Al-Qur'an al-Karim. Dengan demikian, kita dapati bahwa keimanan itu mendorong pada amal saleh, dan amal saleh itu menegaskan keimanan, menopangnya, serta memperkuatnya. Amal saleh juga merupakan sumber untuk membekali diri dengan ketakwaan dan keimanan di atas jalan perjuangan; ia menjadi medan praktik, aplikasi, pelatihan jiwa (tarwidhun nafs), mujahadah (perjuangan batin), serta penundukan jiwa agar senantiasa berada di atas keridaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan di dalam hal ini terkandung pertolongan dan bekal di atas jalan perjuangan.

  • Dampak dan Balasan Agung dari Iman dan Amal Saleh:

Sesungguhnya realisasi iman dan amal saleh, serta pengejawantahannya di dalam diri individu maupun jemaah, akan membuahkan kebaikan yang sangat besar dan kemenangan yang agung, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Kitabullah, yaitu:

    • Keselamatan dari kerugian, sesuai dengan firman-Nya Ta'ala:

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3).

    • Ampunan dan pahala yang besar:

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fath: 29).

    • Diterimanya tobat dan digantinya keburukan dengan kebaikan:

"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan: 70).

    • Pencapaian keberuntungan (falah):

"Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung." (QS. Al-Qasas: 67).

    • Masuk ke dalam surga:

"Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia seorang mukmin, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak didzolimi sedikit pun." (QS. An-Nisa: 124).

    • Kemuliaan (tamkin) dan kepemimpinan (istikhlaf) di muka bumi:

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai..." (QS. An-Nur: 55).

  • Jembatan dari Teori Menuju Realitas Nyata:

Amal saleh merupakan medan aplikasi bagi ilmu yang kita baca dan kita dengar, sehingga dengan beramal, ilmu tersebut akan menjadi hujah (pembela) bagi kita, bukan hujah yang memberatkan kita. Di dalam beramal terdapat unsur pengokohan bagi ilmu, serta sarana keluar dari zona teori dan khayalan menuju realitas kehidupan serta medan mujahadah dan jihad. Di dalam hal ini terdapat proses kenaikan derajat jiwa, pembentukan kepribadian, penguatan tekad, serta penambahan pengalaman dan eksperimen. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Banna rahimahullah:

"Sesungguhnya medan perkataan itu berbeda dengan medan khayalan, medan amal berbeda dengan medan perkataan, medan jihad berbeda dengan medan amal, dan medan jihad yang benar berbeda dengan medan jihad yang salah."

Sesungguhnya kita melihat banyak manusia yang begitu mudah bagi mereka untuk membaca dan mencari ilmu, akan tetapi mengubah ilmu tersebut menjadi amal nyata terasa sangat berat bagi kebanyakan orang.

Pergulatan Sifat Baik dan Buruk dalam Diri

Dorongan kebaikan (nawazi'ul khair) dan dorongan keburukan (nawazi'us syar) di dalam diri setiap manusia senantiasa saling bertolak-tolakan. Di dalam praktik mengamalkan amal saleh terdapat bukti atas kemenangan dorongan kebaikan, serta menjadi faktor penguat baginya sekaligus pelemah bagi dorongan keburukan. Hal ini, di dalam substansinya sendiri, adalah bekal dan kebaikan. Beberapa contoh mengenai hal ini antara lain:

  • Dalam Urusan Infak:

Kita membaca tentang keutamaan berinfak di jalan Allah, lalu jiwa kita sangat mendambakan untuk berinfak. Namun, di kala praktik nyata hendak dilakukan, terkadang muncul dorongan sifat kikir (bukhli), pelit (syuhhi), dan cinta harta yang mencoba menghalangi aktivitas infak tersebut. Maka apabila kita tetap mempraktikkan infak, kita berarti telah menundukkan hawa nafsu kita dan melatihnya untuk loyal dalam memberi dan mendonasikan harta. Dan ini adalah sebuah kebaikan.

  • Dalam Urusan Jihad:

Kita membaca tentang keutamaan berjihad di jalan Allah, dan perkara itu bisa jadi akan tetap berstatus sebagai teori belaka sampai terjadinya praktik amaliyah dari jihad itu sendiri. Maka kita pun berangkat di jalan Allah dengan cara memenangkan diri atas daya tarik bumi (gemerlap dunia), tuntutan jasad, kesenangan duniawi, rasa takut mati, dan hal-hal lain yang kerap membuat pemiliknya merasa berat untuk bergerak lalu cenderung terpaku ke bumi (itsaqala ilal ardhi). Di dalam kemenangan atas daya tarik dunia ini terdapat keunggulan atas hawa nafsu dan bekal yang sangat besar.

  • Dalam Urusan Kesabaran dan Keteguhan:

Kita membaca tentang kesabaran, ketahanan, dan keteguhan di atas jalan dakwah, lalu kita merasa takjub dengan apa yang kita baca berupa sikap-sikap para pejuang dakwah di atas jalan dakwah. Namun, ketika kita dihadapkan pada hal tersebut secara nyata, di situlah terjadi proses pelatihan (tarwidh), penempaan (shaql), dan peningkatan keimanan:

"(Yaitu) mereka yang mendapati orang-orang mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' maka perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung'." (QS. Ali 'Imran: 173).

"Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir." (QS. Ali 'Imran: 141).

Karakteristik dan Ruang Lingkup Amal Saleh

  • Dakwah Tegak di Atas Tekad yang Kuat:

Dakwah-dakwah itu tegak di atas tekad-tekad yang kuat ('azaim) dan orang-orang yang memiliki kemauan keras (ulu al-'azmi), dan tidak akan pernah tegak di atas dispensasi-dispensasi (rukhash) maupun orang-orang yang hobi mencari kemudahan. Al-Qur'an al-Karim mendorong kita untuk bersikap demikian: "Wahai Yahya! Ambillah Kitab itu dengan kekuatan (sungguh-sungguh)." serta: "Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." Maka, wajib bagi seorang saudara muslim untuk membawa dirinya pada prinsip ini dalam kehidupannya, serta bersungguh-sungguh dalam amal saleh dengan mengerahkan seluruh energinya, karena di dalam hal tersebut terkandung bekal.

  • Ruang Lingkup yang Luas dan Periodik:

Medan amal saleh itu teramat luas dan tidak dibatasi, yang mana hal ini memberikan peluang yang sangat besar bagi seorang saudara muslim untuk membekali diri di setiap medan. Terlebih lagi, amal saleh itu terdistribusi berdasarkan waktu; ada amal saleh yang dituntut di dalam skala harian (siang dan malam), ada yang skalanya mingguan, bulanan, hingga tahunan. Di dalam pengemasan waktu tersebut terdapat unsur pembaruan dan kontinuitas bagi bekal di atas jalan perjuangan.

  • Momentum Bulan Ramadan:

Jangan sampai luput bagi kita untuk mengingatkan tentang momentum emas amal saleh di dalam bulan Ramadan yang penuh berkah; di mana pahala dilipatgandakan dan bekal menjadi melimpah ruah di dalam bulan yang mulia ini, sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

  • Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs):

Amal saleh merupakan sarana penyucian bagi jiwa, pengangkatan derajatnya, pembersihan dirinya dari hal-hal yang rendah (danaya) serta dosa-dosa (khathaya), sekaligus penghias bagi jiwa dengan keutamaan akhlak dan sifat-sifat mulia. Dan ini adalah bekal.

  • Hierarki Motivasi Beramal:

Sesungguhnya seorang saudara muslim bergerak melakukan amal saleh demi menunaikan kewajiban terlebih dahulu (ada'ul wajib), kemudian demi menggapai pahala akhirat pada urutan kedua, lalu demi memberikan asas kemanfaatan pada urutan ketiga. Apabila ia telah beramal, maka ia berarti telah menggugurkan kewajibannya dan memenangkan pahala dari Allah sekiranya syarat-syaratnya telah terpenuhi. Sedangkan urusan efektivitas kemanfaatan amalnya, perkaranya dikembalikan kepada Allah; karena bisa jadi datang suatu peluang yang di luar kalkulasinya yang membuat amalnya membuahkan hasil-hasil yang paling berkah.

Adapun orang yang duduk berpangku tangan dari amal saleh, maka ia mutlak akan terkena dosa kelalaian (itsmut taqshir), kehilangan pahala jihad, serta diharamkan dari mendapatkan kemanfaatan secara pasti. Maka, manakah di antara kedua golongan ini yang lebih baik kedudukannya dan lebih indah tempat pertemuannya?

  • Menggapai Perkara-Perkara yang Tinggi:

Sesungguhnya Allah menyukai perkara-perkara yang tinggi/mulia (ma'aliyul umur) dan membenci perkara-perkara yang rendah/remeh (safasifah). Melalui praktik amal saleh, kita akan senantiasa hidup membersamai perkara-perkara yang mulia dan meninggi di atas perkara-perkara yang remeh. Di dalam hal ini terdapat bekal dan keluhuran jiwa.

  • Keteladanan Nyata (Qudwah 'Amaliyah):

Amal saleh menjadikan pelakunya sebagai suri teladan yang baik bagi orang lain. Di dalam hal tersebut terdapat kontribusi nyata dalam menyebarkan nilai kebajikan di tengah masyarakat melalui keteladanan praktis, yang mana ia memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat ketimbang sekadar untaian kata-kata ataupun goresan tulisan.

  • Metode Edukasi Praktis:

Amal saleh mampu menyampaikan pesan pengarahan kepada orang-orang yang tidak menempuh pendidikan formal melalui format praktis ('amaliyah) bukan teoritis (qauliyah), sebagaimana ia juga mampu menyampaikan pesan tersebut kepada orang-orang yang tidak membaca dikarenakan ketiadaan waktu pada diri mereka untuk menelaah literatur.

  • Syarat Mutlak Penerimaan Amal:

Agar amal saleh berstatus makbul (diterima), mutlak diperlukan adanya keterpaduan antara sifat ikhlas dan komitmen terhadap sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (ittiba'). Terpenuhinya kedua syarat ini di dalam praktik amal saleh merupakan bekal yang teramat besar bagi pemiliknya.

  • Optimalisasi Potensi untuk Kebahagiaan Kemanusiaan:

Amal-amal saleh merupakan medan eksekusi terhadap perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala sekaligus penjauhan diri dari larangan-larangan-Nya. Tidaklah Allah memerintahkan kita melainkan demi segala kebaikan bagi diri kita dan orang lain, dan tidaklah Dia melarang kita melainkan dari segala keburukan bagi diri kita dan orang lain. Setiap dari kita memiliki energi dan potensi; mulai dari waktu, jerih payah, kesehatan, pemikiran, harta, hingga jiwa. Apabila kita mengerahkan potensi tersebut di medan amal saleh, niscaya akan terealisasilah hikmah Allah di balik perintah-perintah ini, dan kita pun menjelma menjadi sumber kebahagiaan bagi diri kita sendiri serta bagi umat manusia; dan ini adalah kedudukan yang tinggi.

Namun, apabila energi-energi ini dikerahkan pada selain amal saleh, maka yang lahir adalah kerusakan dan aksi destruktif (ifsad) di muka bumi—dan kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut... Ini adalah konsekuensi di dunia. Adapun di akhirat, kemenangan dan kenikmatan adalah bagian dari kelompok pertama, sedangkan kerugian dan azab adalah bagian dari kelompok kedua. Demikianlah kita melihat keutamaan amal saleh.

Urgensi Amal Saleh dalam Konteks Kekinian

  • Menjawab Tantangan Zaman:

Kondisi-kondisi yang sedang dilewati oleh dakwah Islam dan kaum muslimin hari ini sangat mengharuskan kita untuk bangkit dari keterpurukan (kabwah) ini, serta menuntut kerja yang berkesinambungan untuk mengonfrontasi ahli kebatilan dan musuh-musuh Islam yang sedang mengerahkan seluruh daya upaya mereka demi melenyapkan Islam dan kaum muslimin... Realitas ini semakin mengagungkan nilai, urgensi, kebaikan, serta dampak dari amal saleh di medan dakwah.

  • Membangun Kekuatan Spiritual Umat:

Sesungguhnya kebangkitan umat Islam menuntut adanya kekuatan spiritual dan psikologis yang sangat dahsyat dari anak-anak kandungnya. Kekuatan tersebut—sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Banna—terefleksikan dalam beberapa perkara, yaitu:

"Tekad yang kuat yang tidak tersusupi oleh kelemahan, kesetiaan yang kokoh yang tidak dinodai oleh perubahan sikap maupun pengkhianatan, pengorbanan yang berharga yang tidak terhalangi oleh sifat tamak maupun kikir, serta makrifat (pengetahuan) terhadap prinsip beserta keimanan dan penghargaan kepadanya, yang mana hal itu akan membentenginya dari kesalahan di dalamnya, penyimpangan darinya, tawar-menawar atasnya, serta penipuan dengan prinsip selainnya."

Dan realisasi dari sifat-sifat ini tidak akan pernah mewujud kecuali melalui amal dan kerja yang bersungguh-sungguh (al-'amal al-jad).

  • Kunci Perubahan Sosial:

Amal saleh merealisasikan perubahan yang dituntut di dalam jiwa, dan ia merupakan kunci kebaikan bagi umat ini, sesuai dengan firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." Maka, apabila kita telah berhasil mengungguli hawa nafsu kita dan mengikatnya dengan ajaran-ajaran Islam, kita akan mampu memberikan pengaruh kepada orang lain hingga kita dapat menegakkan masyarakat muslim dan negara Islam; sebab jika tidak demikian, orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan pernah bisa memberi (faqidus syai' la yu'thih).

  • Manajemen Waktu yang Efektif:

Seorang saudara muslim yang sangat antusias terhadap amal-amal saleh di dalam kehidupan dan waktu-waktunya akan menangkap satu karakter yang sangat urgen, yaitu sifat pelit (sangat menghargai) terhadap waktu. Alhasil, ia tidak akan menyia-nyiakan satu fragmen pun dari waktunya kecuali pada amal yang bermanfaat lagi membuahkan faedah. Hal itu mendorongnya untuk me-manajemeni waktunya dan agenda-agenda kerjanya serta menyusunnya berdasarkan skala prioritas urgenitasnya, seraya menginternalisasi perasaan bahwa waktu adalah kehidupan itu sendiri, dan bahwasanya kewajiban-kewajiban yang ada jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Di dalam kualitas pemanfaatan waktu yang baik ini terdapat bekal dan kebaikan yang besar.

  • Tabungan Pahala Akhirat:

Amal saleh merupakan medan yang sangat baik untuk mendulang pahala akhirat. Sebanding dengan apa yang disuguhkan oleh seorang muslim berupa amal saleh, sebesar itu pula tabungan kebaikan-kebaikannya (hasanat) akan bertambah: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." Dan alangkah butuhnya setiap dari kita pada hari kiamat kelak terhadap hal-hal yang dapat memperberat timbangan kebaikan-kebaikannya.

  • Meninggalkan Rekam Jejak yang Harum:

Amal saleh dan aktivitas berbuat kebaikan yang ditegakkan oleh seorang saudara muslim di tempat mana pun, ia akan tetap tinggal sebagai rekam jejak memori yang harum (dzikra thayyibah) bagi dirinya dan bagi jemaahnya di tempat tersebut, bahkan setelah ia meninggalkan tempat itu atau setelah wafatnya.

Tipologi Manusia dalam Menyambut Amal Saleh

Kaum muslimin bertingkat-tingkat posisinya di dalam menyambut amal saleh dan aktivitas berbuat kebaikan:

  1. Di antara mereka ada orang yang dibukakan baginya peluang berbuat kebaikan, namun ia membiarkan peluang itu berlalu begitu saja tanpa ia mengamalkan kebaikan tersebut.
  2. Di antara mereka ada orang yang mengamalkan kebaikan, namun dengan sikap merasa berat (mutsaqilan).
  3. Di antara mereka ada orang yang menunaikannya dengan penuh energi dan perhatian yang besar.
  4. Dan golongan yang paling utama dari mereka semua adalah orang-orang yang tidak pasif menunggu datangnya peluang amal kebaikan sampai menghampiri mereka, melainkan merekalah yang aktif memeriksa, mencari, dan memburu peluang tersebut:

"Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61).

Dan pada posisi (golongan keempat) inilah wajib bagimu berada, wahai saudaraku muslim, jika kita memang jujur di dalam klaim dakwah kita serta terhadap tugas-tugas dan harapan-harapan besar yang sedang kita emban saat ini.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat