Bekal Dakwah (Musthafa Masyhur)
Mukadimah: Dan di Atas Jalan Dakwah... Kita Membutuhkan Bekal
Setiap
musafir (orang yang melakukan perjalanan) di jalan mana pun pasti harus membawa
bekal berupa segala hal yang ia butuhkan dalam perjalanannya. Bekal tersebut
berfungsi untuk mempersiapkan faktor-faktor penunjang agar ia dapat melanjutkan
perjalanan dan mewujudkan tujuan yang menjadi target dari perjalanannya. Selain
itu, ia juga harus memperhitungkan hal-hal yang mungkin akan dihadapi di tengah
jalan, yang boleh jadi bisa menyebabkan perjalanannya terputus sehingga tidak
dapat melanjutkan perjalanan, menjauhkannya dari tujuan, atau paling tidak
menghambat langkahnya.
Dan
jalan dakwah adalah segala sesuatu dalam kehidupan seorang dai (penyeru) kepada
Allah. Jalan ini adalah jalan yang paling utama untuk mendapatkan perhatian
terkait bekal yang diperlukan, demi melindungi diri dari menyimpang dari jalan,
terputus dan berhenti, atau terhambat dan tersandung. Hal ini karena dampak
yang ditimbulkan dari perkara tersebut adalah kerugian yang nyata, serta
hilangnya kebaikan yang besar dan kemenangan yang agung.
Bekal
ini pertama-tama tercermin dalam iman yang kuat dan takwa kepada Allah—dan
takwa adalah sebaik-baik bekal. Kemudian disusul oleh faktor-faktor pendukung
lainnya, seperti teman yang saleh, serta para penunjuk jalan yang mengarahkan,
memberikan pengalaman, ujian, dan hal-hal lain yang dapat memperbarui energi
dan tekad, serta menghindarkan diri dari penyimpangan dan kesalahan.
Sebagai
dalil atas keharusan dan pentingnya bekal ini, kita katakan bahwa jika sebuah
mobil milik musafir kehabisan bahan bakar di tengah jalan dan tidak diisi
ulang, maka mobil itu akan menjadi seolah-olah seperti sebongkah besi yang
tidak dapat membantunya bergerak satu langkah pun. Demikian pula orang yang
menapaki jalan dakwah; jika bekalnya berkurang atau habis tanpa ada pembaruan
dan peningkatan, maka pemiliknya akan menjadi seolah-olah seperti jasad yang
mati lagi sakit, yang tidak mampu bergerak.
Maha
Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:
"Dan
apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang
membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang
berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?" (QS. Al-An'am:
122).
Serta
firman-Nya yang Mahatinggi:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia
menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya." (QS.
Al-Anfal: 24).
Sesungguhnya
bekal yang berupa iman dan takwa kepada Allah ini akan memancarkan mata air
kebaikan dari dalam jiwa, membangkitkan potensi, serta mengasah semangat dan
tekad. Dengan demikian, pergerakan menjadi mudah, tarikan gravitasi bumi
(keterikatan duniawi) menjadi ringan, rintangan-rintangan dapat dilewati,
tikungan-tikungan tajam dapat dihindari, rambu-rambu jalan menjadi jelas, serta
lahirlah kejujuran, keikhlasan, tekad kuat, dan keteguhan. Pada akhirnya,
pencapaian-pencapaian yang menyerupai mukjizat pun akan terwujud di atas jalan
ini.
Sesungguhnya
di atas jalan dakwah ini, hal pertama yang paling kita butuhkan adalah
merasakan ma'iyyatullah (kebersamaan Allah) dalam setiap langkah, setiap
gerak dan diam, bahkan dalam setiap kedipan mata. Barangsiapa yang Allah
bersamanya, maka ia tidak kehilangan sesuatu pun. Dan barangsiapa yang
ditinggalkan oleh Allah, maka ia tidak akan mendapati kecuali kesia-siaan dan
kesesatan. Kebersamaan ini telah Allah karuniakan kepada orang-orang mukmin
yang bertakwa dan berbuat ihsan, sebagaimana firman-Nya yang Mahatinggi:
"Dan
bersabarlah (wahai Muhammad) dan kesabaranmu itu tidak lain melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran)
mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka
rencanakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan
orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl: 127-128).
Dan
dalam ayat yang lain:
"Dan
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anfal:
19).
Betapa
butuhnya kita di atas jalan dakwah ini terhadap cahaya Allah yang menerangi
jalan bagi kita, sehingga kita dapat berjalan di atas bashirah
(ilmu/petunjuk yang nyata) tanpa tergelincir ke dalam tikungan-tikungan yang
menjauhkan kita, atau tersandung oleh rintangan yang membuat kita terduduk
lumpuh. Hal ini, dengan izin Allah, dapat terwujud melalui bekal takwa dan
iman, sebagai pembenaran atas firman Allah Ta'ala:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada
Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan
menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan serta Dia
mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS.
Al-Hadid: 28).
Allah
Ta'ala juga berfirman:
"Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi lakon setan, mereka
segera ingat (kepada Allah), maka seketika itu juga mereka melihat
(kesalahan-kesalahannya)." (QS. Al-A'raf: 201).
"Dan
bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan
itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan
Allah agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'am: 153).
Dan
di atas jalan dakwah, agar kita mampu memberi pengaruh dan mengubah realitas
kebatilan untuk menegakkan kebenaran, kita harus merasakan makna-makna
kemuliaan ('izzah), kekuatan, dan tingginya kedudukan, serta membuang
jauh-jauh segala bentuk kelemahan, kerapuhan, dan kehinaan. Hal itu tidak akan
terwujud kecuali dengan bekal keimanan:
"Dan
janganlah kamu (merasa) lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, sebab
kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
(QS. Ali 'Imran: 139).
"Padahal
kemuliaan itu bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi
orang-orang munafik itu tidak mengetahui." (QS. Al-Munafiqun: 8).
"Kamu
(umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu)
menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman
kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110).
Betapa
butuhnya kita di atas jalan dakwah ini untuk menundukkan jiwa kita agar siap
berjihad dan berkorban dengan segala apa yang kita miliki; baik jiwa, harta,
tenaga, pemikiran, maupun waktu tanpa ada keraguan sedikit pun. Tidak akan ada
yang mampu melakukan hal itu kecuali orang yang telah berbekal keimanan yang
membuatnya lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah, dan menganggap murah
segala hal yang berharga demi jalan Allah:
"Orang-orang
yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di
jalan thaghut." (QS. An-Nisa: 76).
"Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh." (QS. At-Tawbah: 111).
Di
atas jalan dakwah, kita pasti akan menghadapi gangguan (al-idza') dan
ujian (al-ibtila')—karena hal tersebut merupakan ketetapan (sunnatullah)
dalam jalan dakwah. Tidak ada yang dapat membantu untuk menanggung dan bersabar
atas hal tersebut kecuali bekal iman dan takwa:
"Kamu
pasti akan diuji sehubungan dengan hartamu dan dirimu. Dan kamu pasti akan
mendengar banyak hal yang menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi
Al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan
bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut
diutamakan." (QS. Ali 'Imran: 186).
Dan
ini pulalah logika para utusan Allah ketika menghadapi gangguan orang-orang
kafir:
"Dan
mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan
kepada kami? Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu
lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang
bertawakal berserah diri." (QS. Ibrahim: 12).
Ini
juga merupakan logika para penyihir Firaun setelah mereka beriman dan diancam
oleh Firaun:
"Mereka
berkata: 'Kami tidak akan memilih engkau daripada bukti-bukti nyata yang telah
datang kepada kami dan daripada (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka
putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat
memutuskan pada kehidupan dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman
kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang
telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah adalah sebaik-baik (pemberi
pahala) dan Yang paling kekal'." (QS. Taha: 72-73).
Betapa
butuhnya kita di atas jalan dakwah ini agar Allah meneguhkan hati kita,
sehingga tidak ada keraguan, tidak ada kebimbangan, tidak ada sikap menjauh,
dan tidak ada tindakan meninggalkan amal serta kewajiban-kewajiban, seberat
atau sebanyak apa pun itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan hal
tersebut kepada orang-orang yang beriman:
"Allah
meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27).
"(Ingatlah)
ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku bersama kamu,
maka teguhkanlah (hati) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku
jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir." (QS.
Al-Anfal: 12).
Ya
Allah, teguhkanlah kaki-kaki kami di atas jalan-Mu.
Para
dai yang menyeru kepada Allah di atas jalan dakwah kerap menghadapi intimidasi,
ancaman, dan ketakutan dari musuh-musuh Allah, yang mana hal ini mendorong
sebagian orang dilingkupi rasa takut, menjauh, dan terduduk diam. Tidak ada
yang selamat dari hal tersebut kecuali orang yang bersenjatakan iman dan
berbekal takwa:
"Mereka
bergembira dengan nikmat dan karunia dari Allah, dan sungguh, Allah tidak
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang
menaati perintah Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang
Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan bertakwa
menyediakan pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan
Rasul) yang ketika ada orang-orang yang mengatakan kepadanya: 'Sesungguhnya
orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena
itu takutlah kepada mereka,' maka perkataan itu malah menambah keimanan mereka
dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia
adalah sebaik-baik pelindung.' Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari
Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana pun dan mereka mengikuti keridaan
Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu hanyalah
setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu
janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu
orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 171-175).
Betapa
butuhnya kita ketika berada di atas jalan dakwah ini untuk memperkuat ikatan
persaudaraan (ukhuwwah) dan cinta karena Allah (al-hubb fillah),
agar kerja sama dan kesepahaman dalam tugas-tugas dakwah dapat berjalan dengan
mudah, serta terwujud kedekatan yang erat karena adanya cinta dan persaudaraan
ini. Hal tersebut tidak akan terwujud dalam bentuk yang jujur dan abadi kecuali
di antara orang-orang mukmin:
"Dan
orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain." (QS. At-Tawbah: 71).
"Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damai-kanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
(QS. Al-Hujurat: 10).
Dan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mensyaratkan kesempurnaan iman dengan
mewujudkan cinta ini:
"Tidaklah
beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa
yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (Hadis).
Seorang
dai kepada Allah, ketika berada di atas jalan dakwah, terkadang menghadapi
masa-masa futur (lemah semangat) dan kemalasan. Jika kondisi ini terus
berlanjut, dikhawatirkan akan menyebabkan sikap santai-santai dan terduduk diam
dari beramal. Namun, orang-orang mukmin—dengan saling menasihati dalam
kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran sebagaimana yang diisyaratkan
oleh Al-Qur'an—dapat menghindari hal tersebut. Yaitu melalui peringatan yang
bermanfaat bagi orang-orang mukmin, serta saling menasihati yang bersifat wajib
di antara orang-orang mukmin; di mana ia mengingatkan saudaranya jika lupa,
membantunya jika ia ingat, memperlihatkan kekurangan-kekurangannya, serta
membantunya untuk melepaskan diri dari kekurangan tersebut.
Dan
betapa seringnya para penyeru kepada Allah menghadapi peristiwa-peristiwa dan
situasi-situasi yang mungkin membuat mereka berada dalam kesempitan, kesulitan,
atau kebingungan. Mereka membutuhkan ketetapan sikap yang didiktekan oleh Islam
kepada mereka dalam menghadapi situasi atau peristiwa tersebut, serta
membutuhkan penilaian yang benar terhadapnya melalui sudut pandang Islam,
sekaligus keberanian untuk menyuarakan kebenaran meskipun di balik itu ada
kepayahan dan gangguan. Tidak ada yang berguna dan membantu dalam menghadapi
semua itu kecuali bekal iman dan takwa kepada Allah:
"Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia
memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa
bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya."
(QS. At-Talaq: 2-3).
"Dan
barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada
hatinya." (QS. At-Taghabun: 11).
"Dan
barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya
dalam urusannya." (QS. At-Talaq: 4).
"Wahai
Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah
petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (QS. Al-Kahf: 10).
"Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah
perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzab: 70).
Dan
di dalam hadis disebutkan:
"Di
antara jihad yang paling utama di sisi Allah adalah kalimat kebenaran di
hadapan penguasa yang zalim."
Di
atas jalan dakwah, setiap individu mutlak harus meneliti syariat Allah dalam
setiap ucapan dan perbuatan, serta tidak menyelisihi perintah Allah maupun
perintah Rasul-Nya dalam segala kondisinya. Ia juga harus menjaga persatuan
barisan (wahdatul shaff) dan tidak keluar darinya. Tidak ada yang bisa
membantu mewujudkan hal itu kecuali keimanan yang jujur, yang melindungi
pemiliknya dari kelalaian, pelanggaran, atau ketidakkomitmenan:
"Dan
tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang
lain) bagi mereka tentang urusan mereka." (QS. Al-Ahzab: 36).
"Dan
berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai-berai." (QS. Ali 'Imran: 103).
"Sesungguhnya
yang dinamakan orang-orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka berada bersama-sama dengan Rasulullah
dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak pergi sebelum
meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu
(Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya." (QS. An-Nur: 62).
Di
atas jalan dakwah, kita membutuhkan ilmu yang bermanfaat yang diperlukan bagi
siapa saja yang menyeru kepada Allah di atas bashirah. Membaca dan
memperbanyak bacaan saja tidaklah cukup dalam hal ini, melainkan harus disertai
dengan takwa kepada Allah serta keikhlasan niat, agar Allah melimpahkan ilmu,
cahaya, dan taufik dari sisi-Nya. Dan Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan
firman-Nya:
"Dan
bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memberikan pengajaran kepadamu."
(QS. Al-Baqarah: 282).
"Dan
katakanlah: 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku'." (QS. Taha:
114).
Ketika
kita berada di atas jalan dakwah, kita merasakan kebutuhan yang mendesak akan
dukungan Allah dan pertolongan-Nya untuk kita, terutama ketika kita menghadapi
berbagai bentuk tipu daya musuh-musuh Allah dan peperangan mereka:
"...dan
diguncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang
yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah: 214).
Dan
pertolongan Allah serta kejayaan bagi agama-Nya tidak akan terwujud kecuali
bagi orang-orang mukmin yang bermujahadah (berjuang sungguh-sungguh). Maka,
bekal iman yang kuat merupakan sebab utama dan syarat yang mutlak diperlukan
untuk mewujudkan pertolongan Allah dan kejayaan tersebut:
"Dan
merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman." (QS.
Ar-Rum: 47).
"Sesungguhnya
Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi (hari kiamat)."
(QS. Ghafir: 51).
"Allah
telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di
bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai untuk
mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada
dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun." (QS. An-Nur: 55).
Akhirnya,
kita harus senantiasa setia pada janji, tidak melanggar, tidak mengganti, dan
tidak mengubahnya, sampai kita berjumpa dengan Allah di atas jalan dakwah ini
dalam keadaan demikian. Iman dan takwa kepada Allah adalah sebaik-baik bekal
yang membantu kita untuk mewujudkan hal tersebut:
"Bukan
demikian, barangsiapa menepati janjinya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali 'Imran: 76).
"Di
antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di
antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak
mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23).
Demikianlah
kita telah melihat sejauh mana kebutuhan kita akan bekal di atas jalan ini, dan
bagaimana kita tidak akan mampu melangkah satu langkah pun, mewujudkan satu
kebaikan, atau menyelesaikan suatu amal tanpa adanya bekal yang berupa iman dan
takwa ini.
Maka
dari itu, marilah kita membekali diri dengannya, selalu memperbaruinya di
sepanjang jalan, dan jangan membiarkannya berkurang atau terancam habis.
Sebaliknya, mari kita berusaha agar bekal tersebut terus bertambah dan
bertambah. Mengenai pengenalan terhadap sumber-sumber bekal tersebut serta
bagaimana kita berupaya untuk menambah dan memperbaruinya, hal itulah yang akan
menjadi tema-tema pembahasan selanjutnya, dengan izin Allah. Kita memohon
pertolongan dan taufik kepada Allah.
Maka
Marilah Kita Mengambil Bekal... dari Al-Qur'an
Aku
mendapati diriku merasa lemah/tidak berdaya saat menulis tentang tema bekal di
atas jalan ini. Khususnya mengenai bagaimana cara mengambil bekal, serta
bagaimana cara kita mereguk dari bekal keimanan, ketakwaan, petunjuk, dan
cahaya.
Sebab,
perkara ini bukanlah sekadar masalah keahlian, pengalaman, dan pengetahuan
semata, melainkan pertama-tama kembali kepada kemurahan sang Pemberi karunia,
yaitu Allah Yang Maha Pemberi (Al-Wahhab) Subhanahu wa Ta'ala:
"Dia
menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS. Ali
'Imran: 74).
Dialah
yang menganugerahkan petunjuk dan keimanan kepada kita, serta melimpahkan
cahaya dan rahmat-Nya tanpa batas, maka tidak ada batasan bagi karunia Allah:
"Mereka
merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: 'Janganlah kamu
merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan
nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang
benar'." (QS. Al-Hujurat: 17).
"Apa
saja yang Allah bukakan kepada manusia berupa suatu rahmat, maka tidak ada
seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada
seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Fatir: 2).
Allah
adalah Sumber Segala Kebaikan
Allah
Subhanahu wa Ta'ala adalah sumber segala kebaikan. Akan tetapi, sebagai bentuk
kemurahan dan rahmat-Nya kepada kita, Dia telah menunjukkan sarana-sarana dan
sebab-sebab yang harus kita ambil agar kita dapat meraih bekal tersebut
dari-Nya Subhanahu wa Ta'ala.
Jika
kita teliti, niscaya kita temukan bahwa perkara ini pada tingkat pertama
kembali kepada keadaan seorang hamba yang berdiri di depan pintu Tuhannya
seraya memohon agar diberi. Lalu Tuhannya melihat dari dalam diri hamba
tersebut adanya ketundukan, kekhusyukan, kehinaan, ketergantungan, rasa takut,
ketakutan yang disertai pengagungan (khasyyah), harapan, serta ketamakan
akan rahmat-Nya. Inilah fondasi utamanya, baru setelah itu datanglah sarana dan
sebab-sebab. Sejauh mana kejujuran sang hamba dalam kondisi-kondisi tersebut,
sejauh itulah pemberian dan karunia dari Allah Yang Maha Pemberi (Al-Wahhab)
akan terwujud.
Dari
sinilah aku mendapati diriku merasa iba/kasihan pada diriku sendiri, bahkan
rasa iba itu bisa sampai pada tingkat ketakutan ketika aku mendapati diriku
harus mengarahkan orang lain dalam perkara ini, padahal boleh jadi aku bukanlah
orang yang ahli/layak untuk itu. Namun, di hadapan perasaanku akan adanya
kebutuhan yang mendesak dan keniscayaan yang kuat terhadap bekal ini bagi
setiap orang yang menapaki jalan dakwah, maka aku memohon pertolongan kepada
Allah dan menuliskan sekilas catatan sebagai panduan.
Mengingat
bekal ini—sama halnya seperti bekal-bekal lainnya—bisa bertambah dan berkurang,
bahkan dapat terancam habis, maka wajib bagi setiap dari kita untuk bertekad
memperbarui, menambah, serta menjaganya dari pengurangan dan kehabisan.
Sebagaimana yang akan kita lihat, kita dapati bahwa Allah telah memudahkan
sebab-sebabnya bagi kita di setiap waktu tanpa ada penghalang.
Al-Qur'an
Di
antara sarana yang paling utama, paling mudah, paling melimpah, dan paling
banyak curahan kebaikannya adalah Kitab Allah yang Mulia (Kitabullah
al-'Aziz). Ia merupakan mata air bekal yang tidak akan pernah kering.
Bahkan, di dalamnya kita juga menemukan arahan menuju sarana-sarana lain untuk
mengambil bekal. Di dalam Al-Qur'an, kita menemukan cahaya, petunjuk, rahmat,
dan peringatan.
Al-Qur'an
membimbing kita bahwa membacanya merupakan salah satu sarana terbaik untuk
membekali diri dengan iman dan takwa kepada Allah. Ia membimbing kita menuju
tauhid kepada Allah yang dapat mewujudkan kedamaian dan ketenteraman di dalam
jiwa. Ia mengarahkan kita untuk beribadah kepada Allah yang akan memberikan
pemiliknya bekal takwa kepada Allah yang selalu diperbarui. Ia juga mengajak
kita untuk memikirkan ciptaan Allah, sehingga melaluinya kita dapat mengenal
sifat-sifat Allah, yang kemudian melahirkan pengagungan, pemuliaan, dan
penyucian kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; dan di dalam hal itu terdapat
sebaik-baik bekal iman kepada Allah dan takwa kepada-Nya.
Di
dalam Al-Qur'an, kita menemukan nasihat (izhzhah) dan pelajaran ('ibrah)
dari kisah-kisah para rasul terdahulu beserta kaum mereka, yang mana hal itu
membekali kita dengan pengalaman dan hikmah saat kita menyeru kepada Allah.
Al-Qur'an
menuntut kita untuk menaati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
meneladani beliau, yang mana di dalam hal itu terdapat sebaik-baik pertolongan
dan bimbingan di atas jalan ini. Di dalam Al-Qur'an terdapat arahan untuk
berbuat kebaikan, dorongan untuk melakukannya, serta peringatan dari keburukan
dan perintah untuk menjauhinya. Di dalamnya terdapat pengingat tentang Hari
Akhir, hari kebangkitan, hisab (perhitungan amal), dan balasan. Di dalamnya
terdapat motivasi (targhib) tentang surga beserta kabar gembira
mengenainya, serta peringatan (tarhib) dari neraka untuk menjauhinya.
Secara
garis besar, kita temukan di dalam Al-Qur'an segala kebaikan yang dibutuhkan
oleh manusia agar kebahagiaan di dunia dan akhirat dapat terwujud baginya,
serta menjaganya dan menyelamatkannya dari kepayahan dan kesengsaraan di dunia
serta dari azab akhirat. Di samping itu, di dalamnya terdapat semua elemen
pendidikan yang membentuk para pejuang akidah dan memancarkan potensi-potensi
kebaikan di dalam diri mereka:
"Sesungguhnya
Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus."
(QS. Al-Isra': 9).
"Al-Qur'an
ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
meyakini." (QS. Al-Jasiyah: 20).
"Dan
Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra': 82).
"Wahai
manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu,
penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman." (QS. Yunus: 57).
"Sungguh,
telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan. Dengan
Kitab itulah Allah menunjukkan orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap
gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang
lurus." (QS. Al-Ma'idah: 15-16).
Dari
Jahiliah Menuju Islam
Jika
kita bertanya-tanya, apa perkara baru yang hadir di Jazirah Arab dan mengubah
umat tersebut; dari masa Jahiliah yang mereka jalani dengan segala macam
kerusakan dan kesesatannya, menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia?
Serta membentuk dari mereka tokoh-tokoh, bahkan teladan-teladan unik yang
mengukir permisalan paling mengagumkan di setiap medan kebaikan?
Jika
kita perhatikan, niscaya kita temukan bahwa perkara baru yang hadir di Jazirah
Arab tersebut adalah turunnya Al-Qur'an ini kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam. Malaikat tepercaya Jibril turun membawanya kepada Muhammad
yang tepercaya shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau menyampaikannya
dengan amanah kepada manusia. Kemudian, orang-orang muslim yang beriman dididik
di madrasah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas hidangan
Al-Qur'an. Maka, Al-Qur'an mengubah mereka dan membentuk mereka menjadi
sosok-sosok teladan yang di atas pundak merekalah tegak Daulah Islamiah, dan
melalui tangan merekalah tercapai pembebasan-pembebasan Islam (al-futuhat
al-islamiyyah), sehingga cahaya tersebar luas dan kegelapan sirna.
Kita
telah melihat orang-orang yang akidah Islamiahnya menguasai diri mereka,
sehingga mereka menanggung berbagai macam siksaan tanpa pernah meninggalkannya.
Mereka menganggap murah jiwa dan harta mereka demi keteguhan di atas akidah
mereka. Keluarga Yasir, Sumayyah, Bilal, Suhaib, dan selain mereka radhiyallahu
'anhum jami'an adalah contoh-contoh luar biasa yang akan terus menjadi
permisalan sepanjang generasi.
Kita
telah melihat tokoh-tokoh yang memberikan teladan dalam bersungguh-sungguh
melawan hawa nafsu (mujahadatun nafs), mengangkat jiwa darinya dari
segala hal yang buruk, serta menghiasinya dengan setiap akhlak yang mulia.
Mereka memberikan teladan dalam kejujuran, kesetiaan, amanah, kelembutan hati (al-hilm),
kezuhudan, cinta, mendahulukan orang lain (al-itsar), jihad, memerangi
musuh, kedermawanan, menegakkan keadilan, serta rasa tanggung jawab. Bahkan
dari kalangan pemuda, lahir mereka yang layak untuk memimpin pasukan, seperti
Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma.
Al-Qur'an
di Antara Tangan Kita
Inilah
Al-Qur'an berada di antara tangan kita tanpa ada perubahan, karena Allah telah
menjamin penjagaannya:
"Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang
memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9).
Dan
inilah madrasah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tegak nyata di hadapan
kita dalam sirah dan sunah beliau. Maka, apakah mungkin madrasah ini dapat
mengubah dan melahirkan dari kalangan kita sosok-sosok teladan yang serupa
dengan generasi terdahulu itu?
Aku
katakan: Ya, jika kita berinteraksi dengan Kitab Allah dan sunah
Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana kaum muslimin generasi
pertama berinteraksi dengannya.
Kaum
muslimin generasi pertama mengagungkan Al-Qur'an ketika mereka mendengarnya
atau membacanya, karena ia adalah kalam (firman) Allah Yang Maha Agung, Maha
Besar, lagi Maha Tinggi. Mereka mengapresiasi karunia Allah dan kelembutan-Nya
kepada makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna kalam-Nya ke dalam pemahaman
makhluk-Nya melalui jalinan huruf dan suara yang merupakan sarana manusia.
Mereka mendengarkannya dengan hati yang hadir, dengan tadabur dan pemahaman,
serta melepaskan diri dari segala penghalang pemahaman. Setiap orang dari
mereka mendengarnya seolah-olah Allah mengkhususkan dirinya dalam setiap
perintah atau larangan di dalamnya. Mereka terpengaruh oleh segala nasihat,
pelajaran, peringatan, dan kabar gembira yang ada di dalamnya.
Setiap
kali mereka mendengar seruan:
"Wahai
orang-orang yang beriman!"
Mereka
memasang telinga mereka dengan penuh perhatian dan minat yang besar terhadap
arahan, perintah, atau larangan yang akan datang setelah seruan tersebut, agar
mereka dapat tunduk kepadanya dan melaksanakannya dengan penuh ketelitian,
kepasrahan mutlak, serta keridaan yang sempurna tanpa ada keraguan atau
penundaan. Sebab, itu bukanlah seruan dari salah seorang manusia, melainkan
seruan dari Allah Pencipta manusia, Pemilik kerajaan dan kekuasaan tertinggi.
Demikianlah
keadaan mereka bersama Kitab Allah dan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam dalam segala hal yang beliau serukan, beliau perintahkan, atau beliau
larang kepada mereka. Karena mereka telah yakin sepenuhnya bahwa beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berucap dari hawa nafsu, melainkan
berdasarkan wahyu dan bimbingan dari Allah:
"Hanya
ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan
Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, mereka berkata: 'Kami
mendengar, dan kami taat.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. An-Nur: 51).
"Dan
tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang
lain) bagi mereka tentang urusan mereka." (QS. Al-Ahzab: 36).
"Maka
demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad)
sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, sehingga kemudian tidak
mendapati rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa': 65).
"Apa
yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu
maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7).
"Barangsiapa
menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah."
(QS. An-Nisa': 80).
Dengan
demikian, mereka menjadi Al-Qur'an yang hidup yang berjalan di atas bumi, dan
mereka menggunakan amal nyata sebagai sarana untuk menghafal, bukan sekadar
menghafal sebagai pengganti beramal.
Adapun
kaum muslimin hari ini, mereka mewarisi Islam tanpa adanya jerih payah atau
penderitaan. Mereka mewarisinya secara terpotong-potong, penuh dengan bidah dan
khurafat. Mereka mewarisinya dalam keadaan esensi dan kehidupannya telah
dirampas. Mereka mewarisinya dalam kondisi lesu, lemah, dan pasif. Mereka tidak
menghargai kedudukan mereka dengan agama yang hak (benar) ini. Mereka tidak
merasakan keagungan Al-Qur'an ini sebagai kalam Rabb semesta alam. Mereka
meninggalkannya (hijrah) dan berpaling darinya. Dan jika mereka
mendengarkannya, mereka tidak mentadaburinya, tidak terpengaruh dengannya, atau
tidak tunduk pada perintah dan larangannya.
Sebaliknya,
mereka justru disibukkan oleh keindahan nada dan lagu sang pembaca (qari'),
seolah-olah mereka sedang mendengarkan seorang penyanyi. Terdengar dari mereka
suara riuh dan kegaduhan sebagai ungkapan kekaguman mereka terhadap suara sang
pembaca. Padahal, sekiranya mereka mentadaburi dan terpengaruh, niscaya mereka
akan diam menyimak dengan khusyuk sebagaimana perintah Allah Ta'ala:
"Dan
apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat
rahmat." (QS. Al-A'raf: 204).
Dan
alangkah buruknya para pembaca Al-Qur'an yang merasa kagum/senang dengan
kegaduhan ini. Sekiranya mereka menghormati Al-Qur'an, niscaya mereka akan
meminta para pendengar untuk diam menyimak; jika para pendengar menolak, maka
mereka akan berhenti membaca.
Sesungguhnya
banyak dari kaum muslimin hari ini yang telah dilalaikan oleh kehidupan dunia.
Dunia telah memenuhi hati dan akal mereka, serta menjadi dinding penghalang
yang mencegah cahaya Al-Qur'an untuk memancar di dalam hati mereka guna
meneranginya dengan cahaya iman:
"Sekali-kali
tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka."
(QS. Al-Mutaffifin: 14).
Sosok-Sosok
Teladan yang Bisa Berulang
Meskipun
demikian, kehendak Allah telah menetapkan bahwa kebaikan akan tetap ada pada
umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sampai hari kiamat. Ketika Allah
hendak memperbarui urusan agama umat ini melalui tangan Imam Asy-Syahid Hasan
Al-Banna rahimahullah, di mana beliau mengetahui rahasia Al-Qur'an dan
pengaruhnya di dalam jiwa, maka beliau mengumpulkan Al-Ikhwan di atas Kitab
Allah dan sunah Nabi-Nya. Beliau mengarahkan dan mendidik mereka di atas apa
yang dijalani oleh Salafus Saleh dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an, beradab
dengan adab-adabnya, serta mematuhi semua arahannya.
Seiring
dengan pengkajian sirah dan dimunculkannya sosok-sosok pelopor yang lulus dari
madrasah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba kita mendapati
gambaran dari sosok-sosok teladan ini berulang kembali. Mereka muncul di
berbagai medan dalam jihad, pengorbanan, dan kesyahidan di Palestina serta
Terusan Suez. Mereka juga muncul di tengah-tengah manusia sebagai contoh yang
luar biasa dalam mematuhi ajaran Islam, sehingga mereka menjadi tempat
kepercayaan karena kejujuran, kesetiaan, amanah, dan keluhuran akhlak mereka.
Mereka
juga muncul pada orang-orang yang menanggung gangguan, penyiksaan, dan ujian
dari musuh-musuh Allah, namun mereka tetap teguh dan tidak menyerah, serta
Allah mengambil sebagian dari mereka sebagai para syuhada. Panji itu pun tetap
berkibar tinggi agar mereka dapat menyerahkannya kepada generasi setelah mereka
dalam keadaan tinggi, tanpa ada kelalaian, kelemahan, atau sikap meremehkan,
serta tanpa ada pergantian maupun pengubahan:
"Di
antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di
antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak
mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23).
"Dan
mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah,
dan tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah. Dan Allah menyukai
orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran: 146).
Mari
Kita Perbaiki Interaksi Kita dengan Al-Qur'an
Setelah
menjadi jelas bagi kita mengenai pengaruh Al-Qur'an dan bagaimana ia mengubah
jiwa, menerangi jalan baginya, serta membimbingnya ke jalan yang lurus; dan
bahwa membacanya dapat menambah keimanan seorang mukmin kepada Allah serta
ketawakan kepada-Nya, sebagaimana yang Allah tetapkan dalam firman-Nya yang
Mahatinggi:
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
bertambahlah (kuat) iman mereka dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka
bertawakal." (QS. Al-Anfal: 2).
Maka
sekiranya sang pembaca menghargai Tuhannya dengan penghargaan yang
sebenar-benarnya dan takut kepada Allah, niscaya ia akan terpengaruh oleh
Al-Qur'an dan merindinglah kulitnya ketika membaca atau mendengarkannya. Allah
Ta'ala berfirman:
"Allah
telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa
(ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk
kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya." (QS.
Az-Zumar: 23).
"Sekiranya
Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya
tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan
perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir."
(QS. Al-Hasyr: 21).
Sekiranya
kita memperbaiki hubungan kita dengan satu ayat saja dari Kitab Allah,
niscaya pengaruhnya akan mengalir, menggetarkan perasaan, dan menerangi hati
laksana arus listrik. Ketika hubungan/kontak terjadi, aliran listrik akan
mengalir, menerangi, dan membangkitkan energi. Adapun jika terdapat isolator
(penghalang), arus tidak akan mengalir dan tidak akan memberikan pengaruh apa
pun.
- Al-Qur'an mengobati
persoalan iman dari segala sisinya dan memberikan dalil akannya di
banyak tempat, yang mana hal itu memudahkan keimanan bagi orang yang belum
beriman, dan menambah keimanan bagi orang yang sudah beriman setiap kali
ia membaca Al-Qur'an atau mendengarkannya.
- Al-Qur'an menentukan misi
kita dalam kehidupan dunia ini agar kita menunaikannya dan tidak
menyimpang darinya, yaitu dalam firman Allah Ta'ala:
"Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah
kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56).
- Al-Qur'an mengasuh dan
membimbing kita bagaimana seharusnya kondisi dan sikap seorang mukmin
dalam menghadapi berbagai situasi, agar kita meniti jalan orang-orang
mukmin dalam ucapan dan perbuatan kita. Kita bersandar kepada Allah saat
kefakiran, sakit, kesempitan, kesulitan, dan saat bertemu musuh, demikian
pula bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya kepada kita, dan seterusnya.
Ayat-ayat berikut menjelaskan hal tersebut:
"Maka
dia berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan
(makanan) yang Engkau turunkan kepadaku'." (QS. Al-Qashash: 24).
"Dan
(ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, '(Ya Tuhanku),
sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau adalah Tuhan Yang Maha
Penyayang dari semua yang penyayang'." (QS. Al-Anbiya': 83).
"Dan
(ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu
dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam
keadaan yang sangat gelap, 'Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau.
Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.' Maka Kami kabulkan (doa)nya
dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan
orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anbiya': 87-88).
"Dan
ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami,
limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami
menghadapi orang-orang kafir'." (QS. Al-Baqarah: 250).
"...sehingga
apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun dia berdoa, 'Ya
Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat
berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan
mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'." (QS.
Al-Ahqaf: 15).
- Kita dapati Al-Qur'an
memperingatkan dan melindungi kita dari jatuh ke dalam lingkaran
keputusasaan dan hilangnya harapan dari rahmat Allah, serta menumbuhkan di
dalam diri kita segala makna ketenteraman, kenyamanan psikologis, harapan,
dan keinginan yang kuat akan rahmat Allah:
"Katakanlah,
'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri!
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang'."
(QS. Az-Zumar: 53).
- Seorang dai (penyeru) kepada
Allah akan menemukan di dalam Al-Qur'an sebaik-baik pertolongan dan
bekal baginya di atas jalan dakwah, di mana ia dapat mengenal metode
dakwah yang benar melalui lisan para rasul Allah shalawatullah wa salamuhu
'alaihim ajma'in; bagaimana mereka bersabar atas gangguan kaumnya,
memotivasi mereka untuk beriman, dan menjauhkan mereka dari kekafiran
serta kemaksiatan.
- Di dalam membaca dan
menghafal Al-Qur'an terdapat bekal terbaik bagi dai kepada Allah
yang membantunya untuk berhujjah dengan ayat-ayat Al-Qur'an ketika
berbicara mengenai makna apa pun, yang mana hal itu membuat bicaranya
menjadi lebih berpengaruh di dalam jiwa.
Mengikuti
dan Menerapkan
Marilah
kita mentadaburi Al-Qur'an ketika kita membacanya. Jika kita tidak mampu
mentadaburinya kecuali dengan mengulang-ulang sebagian ayat, maka
ulang-ulangilah. Sungguh telah diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan salat malam dengan
mengulang-ulang satu ayat, yaitu firman Allah Ta'ala:
"Jika
Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan
jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha
Bijaksana." (QS. Al-Ma'idah: 118).
Hendaknya
tujuan utama kita dalam membaca adalah untuk mengikuti dan menerapkan:
"Dan
ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu."
(QS. Az-Zumar: 55).
Dan
marilah kita mengikuti arahan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
bacaan Al-Qur'an kita, di mana beliau bersabda dalam hadis yang disepakati
kesahihannya (muttafaqun 'alaihi):
"Bacalah
Al-Qur'an selama hati kalian bersatu di atasnya dan kulit kalian menjadi lembut
karenanya. Apabila kalian berselisih, maka kalian tidak sedang membacanya
(dalam riwayat lain: maka berdirilah/tinggalkanlah ia)."
Dan
hendaklah kita berhati-hati agar kesibukan kita pada makhraj-makhraj huruf dan
hukum-hukum tilawah tidak melalaikan kita dari tadabur dan pemahaman, sehingga
seluruh perhatian tersedot ke sana tanpa memedulikan makna dan keterpengaruhan
olehnya.
Marilah
kita merutinkan diri (dawam) dalam membaca Al-Qur'an dan jangan
meninggalkannya, agar bekal kita selalu diperbarui, dan agar hubungan kita
dengan Allah terus terjalin melalui pembacaan kalam-Nya. Marilah kita menghafal
semampu kita, karena sesungguhnya hafalan itu akan membantu dalam salat,
qiyamul lail, dan berdalil dengan Al-Qur'an pada apa yang kita serukan. Boleh
jadi Anda akan menghadapi kondisi-kondisi di mana Anda terhalang dari Kitab
Allah yang tertulis (mushaf), maka Anda akan kembali kepada modal hafalan yang
telah Anda simpan di dalam dada:
"Dan
sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang
mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar: 17).
Memikirkan
(Tafakur) tentang Ciptaan Allah... dan Ayat-Ayat-Nya
"Sesungguhnya
seorang petugas trem yang bertugas memindahkan rel dan mengubah arah jalannya
trem tidaklah memanggul trem tersebut lalu mengarahkannya ke mana ia suka. Akan
tetapi, hanya dengan sebilah tongkat sederhana—yaitu tongkat pengubah jalur—dan
dengan satu sentuhan/geseran ringan, ia mengubah jalur rel, maka trem itu pun
berpindah jalur atau mengarah ke arahnya yang baru tanpa jerih payah.
Maka
hati manusia dan makrifat (pengenalan) kepada Allah Ta'ala adalah seperti itu.
Makrifat yang hakiki kepada Allah adalah tongkat pengubah jalur itu; apabila ia
menyentuh hati manusia, maka hati itu akan berubah dari satu keadaan ke keadaan
yang lain. Jika hati itu telah berubah, maka bergeraklah manusia itu
seluruhnya. Dan jika individu telah berubah, maka berubahlah umat tersebut.
Oleh karena itu, jika Anda menginginkan perbaikan (islah), maka perbaikilah
hati manusia dengan cara mengenalkannya kepada Allah dengan pengenalan yang
sebenar-benarnya."
(Kutipan
dari perkataan Imam Asy-Syahid [Hasan Al-Banna] dalam salah satu Ceramah Hari
Selasa).
Betapa
butuhnya kita kepada makrifat yang hakiki tentang Allah Tarakata wa Ta'ala ini,
agar hati kita menjadi baik dan keadaan kita berubah, sehingga keadaan seluruh
umat pun ikut berubah. Dan hal yang dapat membekali kita dengan makrifat ini
adalah dengan memikirkan (tafakkur) ciptaan Allah dan ayat-ayat-Nya di
alam semesta ini, serta mentadaburi nama-nama dan sifat-sifat-Nya Subhanahu wa
Ta'ala.
Al-Qur'anul
Karim di dalam banyak ayatnya mendorong kita untuk memikirkan hal tersebut:
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami,
tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, maka
lindungilah kami dari azab neraka'." (QS. Ali 'Imran: 190-191).
"Katakanlah,
'Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!'" (QS. Yunus: 101).
"Maka
tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?" (QS.
Al-Ghasyiyah: 17).
"Dan
sesungguhnya pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagimu."
(QS. An-Nahl: 66).
"Dan
(juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
(QS. Az-Zariyat: 21).
Sebagaimana
Al-Qur'an juga mencela orang-orang yang tidak memfungsikan akal dan penglihatan
mereka terhadap ayat-ayat yang ada di sekitar mereka:
"Dan
banyak sekali tanda-tanda (kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka
lalui, namun mereka berpaling darinya." (QS. Yusuf: 105).
"Dan
sungguh, Kami isi ke dalam neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia.
Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat
Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak,
bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."
(QS. Al-A'raf: 179).
Dan
ruang lingkup untuk memikirkan ciptaan Allah dan ayat-ayat-Nya di alam semesta
ini sangatlah banyak, tidak terhitung, serta mencakup segala sesuatu.
Di
Dalam Segala Sesuatu Terdapat Tanda Kebesaran-Nya
Sebab
sesungguhnya, bagi Allah di dalam segala sesuatu terdapat tanda kebesaran yang
menunjukkan bahwa Dia adalah Yang Maha Esa... Dan karena kita tidak akan mampu
meliput semuanya, maka kita cukupkan dengan memberikan contoh-contoh dalam
ringkasan yang padat, seraya menyerahkan kepada Anda sekalian untuk mencari
tambahannya dari apa yang tersaji di dalam Kitab Allah yang terbaca (Al-Qur'an)
dan dari keagungan Allah serta kemampuan-Nya dalam mencipta di dalam Kitab
Allah yang terhampar nyata, yaitu alam semesta yang luas ini. Telah terbit pula
buku-buku yang membahas sebagian rincian yang disingkap oleh sains modern
mengenai rahasia alam semesta ini, yang menunjukkan dengan petunjuk yang sangat
kuat akan keberadaan Allah, keesaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang dipenuhi
segala sifat kesempurnaan.
- Di dalam alam semesta yang
luas ini, jika kita melihat ke bola bumi, kita mendapatinya sebagai
sesuatu yang sangat besar bagi setiap kita. Akan tetapi, jika kita
melampauinya dan melihat ke ruang angkasa ini beserta bintang-bintang dan
planet-planet di dalamnya, serta mengetahui informasi yang ditemukan oleh
sains modern seputar jumlahnya yang sangat masif, ukuran, berat, jarak,
dan kecepatannya, niscaya akal kita akan lumpuh untuk membayangkan
informasi tersebut. Matahari itu ukurannya adalah 1.250.000 (satu juta dua
ratus lima puluh ribu) kali lipat dari ukuran bumi. Dan di sana ada
bintang-bintang yang ukurannya sama dengan ukuran matahari jutaan kali
lipat.
- Dan masing-masing beredar
pada garis edarnya tanpa ada tabrakan atau kerusakan. Demikianlah
ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
- Satuan pengukur jarak
bintang-bintang adalah tahun cahaya, yaitu jarak yang ditempuh oleh cahaya
selama satu tahun penuh, dengan catatan bahwa kecepatan cahaya adalah
300.000 (tiga ratus ribu) kilometer per detik. Para ilmuwan astronomi
mengatakan bahwa di sana ada bintang-bintang yang jaraknya dari kita
mencapai ratusan juta tahun cahaya. Maha Benar Allah Yang Maha Agung
dengan firman-Nya:
"Lalu
Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu
benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui." (QS.
Al-Waqi'ah: 75-76).
Hari
ini, setelah empat belas abad dari turunnya ayat-ayat ini, kita baru mulai
memahami sedikit hal tentang tempat-tempat beredarnya bintang-bintang beserta
keagungannya. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami
benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu telah Kami hamparkan; maka (Kami)-lah
sebaik-baik yang menghamparkan." (QS. Az-Zariyat: 47-48).
- Jika kita melihat pada
ketelitian yang luar biasa dalam hukum-hukum alam (sunnatullah)
yang telah Allah tetapkan bagi matahari, bumi, dan bulan; baik dari segi
jarak, kecepatan, berat, kemiringan poros bumi, kecepatan rotasi bumi pada
porosnya sendiri, serta revolusinya mengelilingi matahari, yang mana semua
itu memudahkan kehidupan di atas bumi dalam atmosfer yang sesuai, serta
agar kita mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Mahasuci Allah yang
telah menciptakan segala sesuatu lalu menetapkannya dengan ukuran yang
serapi-rapinya.
- Dari alam semesta yang luas,
kita beralih ke dunia molekul dan atom serta strukturnya, juga perbedaan
unsur-unsur dan zat-zat dalam karakteristiknya disebabkan oleh perbedaan
komponen dari setiap atom berdasarkan teori-teori yang diasumsikan oleh
para ilmuwan sebagai penjelasan atas fenomena yang mereka indera. Aku
membaca dalam bidang ini sebuah perkataan yang indah, yaitu bahwa
manusia—seberapa keras pun mereka memeras kemampuan diri mereka untuk
mengetahui hakikat materi—mereka tidak akan pernah mencapainya, karena ini
merupakan rahasia pembuatan (sirrul shan'ah), dan rahasia pembuatan
itu hanya ada di sisi Allah semata.
Dunia
Tumbuhan dan Serangga
Di
dalam dunia tumbuhan, keagungan Allah dan kekuasaan-Nya tampak dengan sangat
jelas. Setiap butir biji dari tumbuhan membawa karakteristik jenisnya yang
membedakannya dari yang lain; baik pada batang, daun, bunga, buah, warna, rasa,
maupun aromanya. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:
"Dan
di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur,
tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang,
disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan sebagiannya dari sebagian
yang lain dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti." (QS.
Ar-Ra'd: 4).
"Pernahkah
kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami
yang menumbuhkan?" (QS. Al-Waqi'ah: 63-64).
Perbedaan
di antara tumbuhan ini dalam hal waktu tumbuh, periode pertumbuhan, atmosfer
yang sesuai, dan masih banyak lagi hal lain yang telah ditemukan maupun yang
masih tersembunyi; para ilmuwan—seberapa banyak pun ilmu yang diberikan kepada
mereka—tidak akan pernah mampu membuat satu butir biji tumbuhan yang sekiranya
jika diletakkan di dalam tanah dan disiram dengan air, ia dapat mengeluarkan
tanaman. Karena rahasia menumbuhkan tanaman di dalam biji yang asli adalah hak
khusus Allah semata, dan tidak ada manusia yang mampu menitipkannya pada biji
buatan.
Di
dalam dunia serangga, kita menemukan keajaiban yang luar biasa. Serangga apa
pun, sekecil apa pun ia, memiliki organ-organ, indera-indera, dan sistem
khususnya sendiri dalam kehidupannya sebagaimana yang telah Allah ciptakan atas
fitrahnya. Para ilmuwan telah menyingkap—dan masih terus menemukan—hal-hal yang
mencengangkan akal tentang apa yang terjadi di dalam komunitas setiap jenis
serangga ini; mulai dari kerja keras yang tiada henti, sistem yang sangat
teliti, tidak adanya tumpang tindih dalam spesialisasi tugas, serta ketelitian
yang mengagumkan dalam membangun sarang-sarang mereka dan mengondisikannya agar
terlindung dari perubahan cuaca.
Kita
melihat contohnya pada sarang lebah; pembagian kerja dan spesialisasi setiap
jenisnya, serta sarang-sarang lilin berbentuk segi enam (heksagonal)
yang sangat presisi. Sungguh, itu adalah fitrah yang telah Allah tetapkan pada
ciptaan ini. Maha Benar Allah dengan firman-Nya:
"Inilah
ciptaan Allah, maka perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh
sembahan-sembahanmu selain-Nya." (QS. Luqman: 11).
"(Musa)
berkata: 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada setiap sesuatu
bentuk ciptaannya, kemudian memberinya petunjuk'." (QS. Taha: 50).
Para
ilmuwan serangga mengatakan bahwa setiap tahunnya ditemukan rata-rata 10.000
(sepuluh ribu) jenis serangga baru. Dan jenis kumbang/kepik misalnya, terdapat
30.000 (tiga puluh ribu) jenis darinya—di luar "kumbang-kumbang
manusia" yang muncul baru-baru ini!! Sebagaimana tidak ada seorang manusia
pun yang mampu menciptakan serangga, karena rahasia kehidupan adalah hak khusus
Allah semata:
"Wahai
manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan, maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala
yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun
mereka bersatu untuk membuatnya. Dan jika lalat itu merebut sesuatu dari
mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya
yang menyembah dan yang disembah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan
pengagungan yang semestinya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa."
(QS. Al-Hajj: 73-74).
Horizon
demi Horizon (Ufuk-Ufuk yang Luas)
Di
dalam dunia burung; banyaknya jenis mereka, perbedaan bentuk, ukuran, warna,
suara, usia, rasio perkembangbiakan mereka, proses mengerami telur, serta
perawatan mereka terhadap anak-anak burung dan pemberian makanan yang sesuai
dengan tahapan pertumbuhan mereka. Demikian pula perjalanan migrasi yang jauh
pada musim-musim tertentu dan ke tempat-tempat khusus, lalu kembalinya mereka
ke tanah air mereka tanpa menggunakan peta ataupun kompas. Kita juga menyentuh
dalam dunia burung adanya rasa cemburu sang jantan terhadap betinanya, suatu
hal yang tidak kita lihat pada banyak manusia hari ini.
Sekiranya
kita mengikuti perkembangan janin di dalam telur hingga pertumbuhannya
sempurna, dan bagaimana ia keluar dalam keadaan siap untuk menghadapi
kehidupan, niscaya akan tampak jelas bagi kita kekuasaan Allah dan rahmat-Nya,
dengan sesuatu yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun bagi orang yang
bimbang untuk beriman kepada Allah, menyucikan-Nya, dan mengagungkan-Nya.
Di
dalam dunia hewan, terdapat ufuk-ufuk yang luas juga. Di antaranya ada yang
jinak dan ada yang liar. Demikian pula perbedaan jenis, bentuk, ukuran, warna,
watak, usia, jenis makanan mereka, struktur internal mereka, fungsi setiap
organ tubuh, pembentukan janin dan perkembangan pertumbuhannya serta periode
pertumbuhannya. Dan air susu ini, keluar dari antara kotoran dan darah dalam
keadaan sesuai untuk makanan bayi yang menyusu. Para ilmuwan hewan masih terus
menemukan hal baru setiap harinya yang menegaskan keindahan ciptaan Allah dan
hikmah-Nya yang sangat mendalam bagi orang yang mempunyai hati atau yang
menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.
Dunia
lautan; keluasannya dan banyaknya keajaiban di dalamnya, meskipun baru sedikit
yang berhasil ditemukan karena keterlambatan dalam penemuan sarana-sarana
modern untuk menyelam di bawah air dengan aman. Dikatakan bahwa apa yang ada di
dalam lautan itu lebih banyak daripada apa yang ada di atas daratan dari segi
jenis maupun jumlahnya. Demikian pula jika kita merenungkan dari sudut pandang
apa yang diperankan oleh lautan ini berupa penyejukan udara melalui penguapan
air yang darinya terbentuk gumpalan awan, kemudian turunlah hujan di berbagai
penjuru yang terpisah; dan sekiranya bukan karena gunung-gunung, niscaya tidak
akan ada sungai-sungai.
Atmosfer
yang mengelilingi bumi ini; apa yang telah Allah titipkan di dalamnya berupa
gas-gas yang berbeda dengan kadar persentase tertentu yang dapat mempersiapkan
udara yang sesuai bagi kehidupan di bumi, serta fungsi yang dijalankan oleh
setiap gas.... Sekiranya persentase tersebut berubah, niscaya akan rusaklah
kehidupan di bumi bagi makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan. Perubahan-perubahan
cuaca ini, bagaimana ia terjadi, pengaruh panas matahari, perbedaan tekanan
udara, bergeraknya angin, bertumpuknya awan, dan turunnya hujan; para ilmuwan
meteorologi masih terus menemukan banyak hal seputar perkara-perkara yang
berada dalam puncak ketelitian dan keindahan ini.
"Tidakkah
engkau melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara
bagian-bagiannya, kemudian menjadikannya bertumpuk-tumpuk, maka tampaklah
olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan
(butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari gumpalan-gumpalan awan seperti
gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang
Dia kehendaki dan dipalingkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilat
awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Allah membalikkan malam dan
siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang
mempunyai penglihatan." (QS. An-Nur: 43-44).
"Pernahkah
kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan
ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami
menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?" (QS. Al-Waqi'ah:
68-70).
"Dan
(juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
(QS. Az-Zariyat: 21).
Sekiranya
kita merenungkan diri kita sendiri dan struktur tubuh kita, serta organ-organ
yang berbeda ini; mulai dari sistem pencernaan, peredaran darah, pernapasan,
saraf, ekskresi urin, dan selain itu, niscaya kita tidak akan mampu meliput
kekuasaan Allah dan keagungan-Nya dalam keindahan dan kesempurnaan ciptaan ini:
"Buatan
Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu." (QS. An-Naml: 88).
Rahmat
Allah dan kekuasaan-Nya tampak jelas dalam perkembangan janin dan
pertumbuhannya, serta penjagaan Allah dan pemeliharaan-Nya terhadapnya. Akal
ini, bagaimana ia bekerja dan bagaimana ia berpikir. Memori ini, bagaimana ia
menampung informasi dan bagaimana kita mengeluarkannya kembali dari sana.
Faktanya, ruang lingkup ini bukanlah untuk meliput seluruhnya, melainkan hanya
menyebutkan contoh-contoh saja.
Dan
ini hanyalah sedikit dari yang banyak... Secara umum, segala hal yang ada di
dalam ilmu pengetahuan eksperimental (sains) maupun ilmu teori, di
dalamnya tampak jelas sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dan apa yang telah ditemukan oleh manusia berupa rahasia-rahasia alam semesta
ini tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan apa yang tidak mereka ketahui:
"Dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra':
85).
"Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan
tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak
jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau
yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."
(QS. Al-An'am: 59).
"Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk
dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu
adalah benar." (QS. Fussilat: 53).
Betapa
butuhnya kita untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dengan Sang Pencipta:
"Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1).
Maka
ilmu pengetahuan itu mengajak kepada keimanan... Demikianlah, dengan memikirkan
ayat-ayat Allah dan ciptaan Allah, akan terwujudlah makrifatullah (pengenalan
kepada Allah) serta bertambahlah keimanan kepada Allah, pengagungan-Nya, dan
penyucian-Nya. Dan sejauh mana kedudukan Allah di dalam hati kita, sejauh
itulah—insya Allah—kedudukan kita di sisi Allah. Dan ketahuilah bahwa kita
tidak akan pernah mampu mengagungkan Allah dengan pengagungan yang
sebenar-benarnya.
Dan
benarlah, Mahasuci Dzat yang tidak ada yang mengetahui kadar keagungan-Nya
selain diri-Nya sendiri, dan tidak akan pernah orang-orang yang menyifati mampu
mencapai hakikat sifat-Nya.
Memikirkan
(Tafakur) tentang Nikmat-Nikmat Allah
Anda
akan mendapati manusia saling memuji satu sama lain ketika salah seorang dari
mereka memberikan bantuan kepada saudaranya, meskipun bantuan itu kecil. Namun,
Anda tidak akan mendapati banyak dari mereka yang memuji dan bersyukur kepada
Allah atas nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, padahal nikmat tersebut sangat
agung dan banyak. Seolah-olah nikmat-nikmat ini adalah hak yang pasti
diperoleh, bukan karena kemurahan Allah atas mereka. Bahkan, sering kali mereka
menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya. Sungguh, ini
adalah sebuah kelalaian, pengingkaran, dan kekufuran terhadap nikmat.
Mereka
tidak akan menghargai nilai nikmat-nikmat ini kecuali jika mereka telah
diharamkan (dihilangkan) darinya atau ditimpa musibah padanya. Baru setelah itu
mereka menjerit kepada Allah dengan berdoa. Bahkan di antara mereka ada yang
merasa sesak dengan kehidupan hingga memilih jalan bunuh diri:
"Dan
segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya, kemudian apabila
kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan dengan
menjerit. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kesengsaraan itu darimu,
tiba-tiba sebagian antaramu mempersekutukan Tuhannya (dengan yang lain),
sehingga mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka
bersenang-senanglah kamu, kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)."
(QS. An-Nahl: 53-55).
"Dan
jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.
Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat
Allah)." (QS. Ibrahim: 34).
Oleh
karena itu, kita dapati Al-Qur'anul Karim mengajak kita untuk memikirkan dan
mengenali nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung, agar kita menghargainya
dengan penghargaan yang semestinya, merasakan kemurahan Allah atas kita, serta
menunaikan kewajiban memuji dan bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah Dia
nikmatkan. Maka alangkah runtuhnya kita jika tidak berhenti sejenak pada
ayat-ayat ini untuk mentadaburi dan mengapresiasi nikmat-nikmat ini, agar
semakin bertambah perasaan kita akan kemurahan Allah, kedermawanan-Nya,
rahmat-Nya, dan ihsan-Nya, serta sejauh mana kefakiran dan kebutuhan kita
kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala dalam setiap saat, setiap gerak, dan diam.
Begitu pula, agar kita menyadari sejauh mana kelalaian kita dalam kewajiban
bersyukur, serta pentingnya menggunakan nikmat-nikmat ini dalam ketaatan
kepada-Nya dan menjauhkannya dari kemaksiatan kepada-Nya.
Nikmat
yang Paling Agung: Islam
Mari
kita mulai dengan nikmat yang terbesar dan paling agung, yaitu nikmat Islam:
"Pada
hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan
nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam itu menjadi agamamu."
(QS. Al-Ma'idah: 3).
"Sesungguhnya
agama di sisi Allah ialah Islam." (QS. Ali 'Imran: 19).
"Dan
barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di
akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali 'Imran: 85).
Dengan
agama inilah akan terwujud kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenteraman di dunia,
serta kemenangan, kenikmatan, dan keselamatan di akhirat. Tanpa agama ini, yang
ada hanyalah kesengsaraan, kesia-siaan, dan keterpecahan di dunia, serta
kerugian, siksaan, dan keharaman dari rida Allah serta dari kenikmatan di
akhirat.
Sesungguhnya
banyak dari kaum muslimin yang tidak menghargai nikmat yang sedang mereka
berada di dalamnya berupa penisbatan diri mereka kepada agama yang agung ini.
Boleh jadi karena mereka mewarisinya tanpa ada jerih payah dari mereka, dan
mereka tidak mencoba untuk mengenali apa yang diwujudkan oleh Islam bagi mereka
berupa kebaikan di dunia dan akhirat mereka.
Sesungguhnya
nikmat Islam adalah segala sesuatu, dan apa yang selainnya bukanlah apa-apa.
Jika salah seorang dari kita ditimpa musibah pada hartanya, anaknya,
pendengarannya, penglihatannya, atau apa pun dari kesenangan dunia, itu jauh
lebih ringan baginya daripada musibah itu menimpa agamanya. Dan inilah Rasul
kita yang tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam membimbing kita menuju hal
tersebut dalam doa beliau:
"Ya
Allah, janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami, dan janganlah
Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami serta batas tertinggi dari
ilmu kami." (Hadis).
Betapa
butuhnya kita untuk senantiasa mengulang-ulang pujian kita kepada Allah atas
nikmat ini:
"Segala
puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan
mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami." (QS.
Al-A'raf: 43).
Dan
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajak kita untuk menjaga nikmat ini sampai kita
berjumpa dengan Allah dalam keadaan menetapinya:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa
kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS.
Ali 'Imran: 102).
Karena
sesungguhnya setiap perkara itu dinilai dari akhir penutupnya (khawatim).
Dan inilah Nabi kita Yusuf 'alaihis salam, setelah Allah memberikan kekuasaan
kepadanya, beliau berdoa kepada Allah agar mematukannya dalam keadaan muslim:
"Ya
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan
dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta
langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku
dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh."
(QS. Yusuf: 101).
Dan
agar nikmat ini menjadi sempurna atas kita, kita harus menjadi orang-orang
muslim yang sejati.
Nikmat
Persaudaraan (Ukhuwah)
Dan nikmat
persaudaraan karena Allah serta cinta karena Allah—ikatan yang kuat
yang murni demi wajah Allah—alangkah agungnya apa yang dilimpahkannya kepada
para pemiliknya berupa kebahagiaan dan kenyamanan psikologis yang tidak dapat
dinilai kecuali oleh orang yang telah menjalaninya. Barangsiapa yang telah
mereguknya, ia pasti mengetahui, melalui kerja sama dalam kebajikan, saling
menasihati, saling mengingatkan dalam kebaikan, solidaritas (takaful),
kasih sayang (mawaddah), dan rahmat. Allah Subhanahu wa Ta'ala
mengingatkan kita akan nikmat ini melalui firman-Nya:
"Dan
Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun
kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak
dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal:
63).
"Dan
berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa
Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan
nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara." (QS. Ali 'Imran: 103).
Sungguh,
kehidupan di tengah-tengah kaum yang hatinya dipenuhi oleh rasa dengki, dendam,
kekikiran, dan kebencian adalah kehidupan yang tidak akan tertahankan, semuanya
adalah kesedihan, kesengsaraan, dan kesempitan, wal 'iyadzu billah (kita
berlindung kepada Allah).
Merenungkan
Nikmat-Nikmat Fisik
Setelah
nikmat-nikmat yang besar ini, kita beralih ke nikmat-nikmat yang berada di
bawahnya, lalu kita memikirkannya agar kita mengetahui nilainya.
Aku
meminta Anda untuk menyendiri dengan diri Anda sendiri, lalu bayangkanlah bahwa
Anda ditimpa musibah pada penglihatan Anda hingga Anda kehilangannya,
dan para dokter angkat tangan serta gagal untuk mengembalikannya kepada Anda.
Pikirkanlah perubahan yang akan terjadi pada kehidupan Anda dengan sedikit
lebih rinci: dalam pekerjaan Anda, ilmu Anda, pergerakan Anda, dan segala hal
yang berkaitan dengan kehidupan Anda, serta sejauh mana batasan, hambatan,
kesempitan yang akan Anda hadapi. Sejauh mana kedalaman tafakur Anda tersebut,
sejauh itulah apresiasi Anda terhadap nikmat ini, sehingga sekiranya Anda
disuruh memilih antara penglihatan ini dengan harta yang melimpah, Anda pasti
akan memilih penglihatan daripada harta.
Pada
saat itu, Anda akan berada dalam kesiapan penuh untuk memberikan janji-janji
setia kepada Allah bahwa jika penglihatan Anda dikembalikan, Anda benar-benar
akan menundukkannya untuk ketaatan kepada Allah dan tidak akan menggunakannya
untuk bermaksiat kepada Allah. Maka, tidakkah sebaiknya kita mengikat diri kita
dengan hal itu sekarang, ataukah kita harus menunggu sampai kita ditimpa
musibah baru kemudian kita memberikan janji-janji setia?
Bayangkanlah
wahai saudaraku setelah itu, karena satu dan lain hal, Anda juga kehilangan pendengaran
bersamaan dengan hilangnya penglihatan. Bagaimana keadaan saat itu? Anda akan
mendapati diri Anda berada di dalam penjara yang gelap gulita; tidak dapat
melihat dan tidak dapat mendengar orang-orang di sekitar Anda. Akan semakin
bertambah hambatan, kepayahan, kesempitan, atau belenggu dalam pergerakan dan
segala urusan kehidupan. Pada saat itulah Anda akan mengetahui nilai dari
nikmat-nikmat ini, kemurahan Allah atas Anda, keagungan rahmat dan ihsan-Nya,
serta kefakiran dan kebutuhan Anda kepada-Nya. Dan sesungguhnya sekiranya Anda
berpuasa di sepanjang siang, mendirikan salat di sepanjang malam, dan
menghabiskan seluruh usia Anda dalam ketaatan kepada Allah, Anda belum tentu
dapat memenuhi hak syukur atas kedua nikmat ini saja.
Janganlah
bosan wahai saudaraku, teruslah bersamaku dan bayangkanlah jika bersamaan
dengan hilangnya pendengaran dan penglihatan, Anda juga kehilangan kemampuan
berbicara (lisan). Bayangkan kondisi Anda saat itu; penjara akan semakin
gelap gulita, belenggu akan semakin bertambah, dan semakin sulit berinteraksi
dengan kehidupan. Jika Anda menginginkan sesuatu, atau ada seseorang yang
menginginkan sesuatu dari Anda, maka akan sangat sulit untuk mengenali
keinginan-keinginan tersebut. Tanyalah pada diri Anda sendiri tentang sejauh
mana kesabaran dan keridaan Anda dengan keadaan ini? Selama Anda tidak
dianugerahi nikmat iman, Anda tidak akan kuat menanggung kehidupan seperti ini.
Maka, tidakkah sebaiknya kita mewajibkan diri kita untuk menggunakan
nikmat-nikmat ini dalam ketaatan kepada Allah, sehingga kita tidak melihat
kecuali kepada yang halal, tidak mendengar kecuali kepada yang halal, dan tidak
berbicara kecuali kebaikan?
Dan nikmat
akal, alangkah agungnya dan alangkah indahnya nikmat dari Allah ini.
Sekiranya ketiga indera Anda yang sebelumnya dikembalikan kepada Anda, namun
tiba-tiba terjadi gangguan atau kekacauan pada akal Anda—ini sekadar bayangan
saja, karena Anda—walhamdulillah—saat ini bersama akal Anda, sebab jika tidak,
Anda tidak akan mungkin mengikuti apa yang aku tulis ini dan aku pasti sudah
mengistirahatkan diriku—bagaimana kira-kira keadaannya? Tidak ada kedisiplinan,
tidak ada kesadaran, tidak ada pemahaman terhadap bahaya apa pun, tidak ada
komunikasi, dan tidak ada rasa aman dari terjadinya tindakan apa pun di waktu
kapan pun. Kemudian, muaranya adalah dikurung bersama orang-orang yang
sepertinya sampai kematian menjemputnya. Maka, tidakkah kita merasakan nilai
dari nikmat akal ini dan menggunakannya untuk mengenali Allah, serta apa yang
bermanfaat bagi kita dan bermanfaat bagi agama kita, dan tidak menundukkannya
pada apa yang dimurkai Allah?
Demikian
pula jika kita memikirkan nikmat-nikmat lainnya yang dikandung oleh tubuh kita;
seperti tangan beserta jari-jemarinya, kaki beserta telapaknya, dan semua
sistem tubuh serta semua organ internalnya. Jika seseorang ditimpa kerusakan
pada sesuatu dari hal tersebut, niscaya akan melumpuhkan pergerakannya dan
boleh jadi menjadikannya tawanan di atas tempat tidur sepanjang sebagian besar
kehidupannya.
Gambaran-gambaran
seperti ini nyata ada dan tegak di hadapan kita. Sebagai contoh, sebuah
penyumbatan (stroke) sederhana pada salah satu pembuluh darah halus di
otak dapat menyebabkan kelumpuhan, hilangnya kemampuan bicara, dan selain itu.
Maka, apakah kita sudah memuji Allah atas nikmat kesehatan/afiat dan membaca
firman Allah Ta'ala dengan tadabur dan khusyuk:
"Wahai
manusia! Apakah yang telah mendurhakakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha
Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan
menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia
kehendaki, Dia menyusun tubuhmu." (QS. Al-Infitar: 6-8).
Nikmat-Nikmat
di Luar Tubuh
Dan
nikmat-nikmat yang banyak ini, yang dibutuhkan oleh tubuh berupa makanan, air,
udara, dan kehangatan; hewan-hewan ini, tumbuh-tumbuhan, burung-burung, dan
semua nikmat ini yang sekiranya kita diharamkan darinya, niscaya kita akan
menghadapi kematian dan kebinasaan.
Air
ini, yang mana Allah telah menjadikan darinya segala sesuatu yang hidup. Apakah
Anda pernah memikirkan bagaimana ia sampai kepada Anda dalam keadaan
dimudahkan? Siklus yang dijalankannya; mulai dari penguapan air dari
samudra-samudra, lalu angin membawanya hingga menjadi gumpalan awan yang diarak
oleh angin, kemudian jatuh sebagai hujan, dan disebabkan adanya gunung-gunung
serta dataran tinggi, air itu mengalir di sungai-sungai hingga sampai kepada
Anda.
Udara
ini, beserta gas-gas di dalamnya yang mutlak diperlukan bagi kehidupan.
Demikianlah jika kita membayangkan Anda diharamkan dari air, udara, makanan,
atau kehangatan, niscaya Anda tidak akan tahan menjalani hidup dan akan
menghadapi kebinasaan. Dan alangkah indahnya sunah Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam yang senantiasa mengingatkan kita akan kemurahan Allah dan
pemberian nikmat-Nya kepada kita setiap kali kita menikmati sesuatu dari
nikmat-nikmat ini.
Dan
apakah kita melupakan nikmat istri yang salehah dan keturunan yang
saleh?
"Ya
Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74).
Bayangkan
kehidupan Anda bersama istri yang tidak salehah; apa yang disebabkannya untuk
Anda berupa gangguan, keletihan, bahkan fitnah. Atau kehidupan Anda tanpa
seorang istri. Begitu pula keturunan, jika mereka tidak saleh, maka mereka
menjadi sumber kesedihan dan kesengsaraan. Dan lihatlah juga kepada mereka yang
belum dikaruniai keturunan, betapa besarnya kerinduan mereka kepadanya. Maka
marilah kita memuji Allah atas nikmat-nikmat ini, bertakwa kepada Allah di
dalamnya, dan menunaikan kewajiban-kewajiban kita terhadapnya. Dan Maha Benar
Allah Yang Maha Agung:
"Dan
di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan
untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang memikirkan." (QS. Ar-Rum: 21).
"Allah-lah
yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit,
kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai
rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan
dengan perintah-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu. Dan Dia
telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam
garis edarnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu. Dan Dia telah
memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.
Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat
Allah)." (QS. Ibrahim: 32-34).
Benarlah
Engkau ya Tuhan kami, kami tidak akan pernah mampu menghitungnya, dan kami
tidak akan sanggup menunaikan apa yang menjadi hak pujian atas-Mu; Engkau
adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.
Apakah
Anda pernah memikirkan wahai saudaraku, tentang nikmat malam dan siang?
Apakah Anda pernah memikirkan tentang nikmat tidur, dan bagaimana
kiranya keadaan Anda jika Anda diharamkan dari nikmat ini? Alangkah indahnya
firman Allah Ta'ala ketika mengingatkan kita akan hal itu dengan firman-Nya:
"Katakanlah
(Muhammad), 'Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu
terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Allah yang akan
mendatangkan sinar terang kepadamu? Apakah kamu tidak mendengar?' Katakanlah
(Muhammad), 'Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu
terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Allah yang akan
mendatangkan malam kepadamu sebagai waktu untuk kamu beristirahat padanya?
Apakah kamu tidak memperhatikan?' Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu
malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari
sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur'." (QS.
Al-Qashash: 71-73).
Kesimpulan
Sesungguhnya
kita tidak akan pernah mampu untuk terus menyebutkan satu per satu nikmat Allah
atas kita. Akan tetapi wahai saudaraku, rasakanlah nikmat Allah atas Anda dalam
segala sesuatu; ketika Anda bergerak, berbicara, makan, minum, berpakaian,
tidur, bangun, melihat, mendengar, mencium, mengecap, atau menjalankan urusan
apa pun dari urusan kehidupan Anda, dan bahwasanya sekiranya bukan karena
kemurahan Allah dan rahmat-Nya, niscaya Anda tidak akan mampu melakukan sesuatu
pun dari hal tersebut. Maka, merasa diawasilah oleh Allah (muraqabatullah)
Subhanahu wa Ta'ala, dan jadikanlah segala yang keluar dari Anda adalah untuk
Allah, dengan nama Allah, dan sesuai dengan syariat Allah.
Banyak
manusia yang salah dalam memandang, di mana mereka membatasi pandangan mereka
terhadap nikmat Allah kepada mereka hanya pada pendapatan bulanan atau tahunan
mereka berupa uang (dirham) atau yang sejenisnya. Mereka melupakan sisa
nikmat lainnya yang telah kita sebutkan sebagian tadi, yang mana nikmat-nikmat
tersebut tidak akan tertandingi oleh jutaan bahkan miliaran harta. Dan Maha
Benar Allah Yang Maha Agung:
"Maka
adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya
kesenangan, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku.' Namun apabila
Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah
menghinakanku'." (QS. Al-Fajr: 15-16).
Betapa
butuhnya kita untuk meluruskan pandangan seperti ini, dan mengetahui bahwa kita
di dalam kehidupan ini berada di dalam medan ujian, dan kita diuji dengan
kebaikan sebagaimana kita juga diuji dengan keburukan:
"Setiap
yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."
(QS. Al-Anbiya': 35).
Setelah
putaran tafakur tentang nikmat-nikmat Allah seperti ini, aku mengira bahwa kita
keluar dengan membawa bekal berupa makrifat (pengenalan) akan kemurahan Allah
atas kita, keindahan ihsan-Nya, serta sejauh mana kefakiran kita kepada-Nya
Subhanahu wa Ta'ala.
Bekal
ini mendorong kita untuk mengagungkan Allah, memuliakan-Nya, menaati-Nya,
bersyukur kepada-Nya, dan memperbaiki ibadah kepada-Nya, serta menjaga kita
dari kelancangan menggunakan nikmat-nikmat-Nya atas kita untuk bermaksiat
kepada-Nya. Karena sekiranya Allah menahan rahmat-Nya dari seorang manusia,
niscaya nikmat-nikmat ini akan berubah menjadi petaka (niqam) yang
membuatnya sengsara dan menjadikannya berdosa disebabkan oleh nikmat tersebut.
Memikirkan
(Tafakur) tentang Perkara Gaib... yang Menanti Mereka
Banyak
manusia tidak memikirkan tentang perkara gaib yang menanti mereka dan tempat
kembali (tujuan akhir) yang sedang mereka tuju. Mereka hanya hidup untuk hari
ini dan dunia mereka saja, seolah-olah perkara gaib ini tidak layak untuk
diperhatikan. Padahal, dialah yang paling berhak atas segala perhatian, karena
dialah masa depan atau kehidupan yang sesungguhnya lagi abadi.
Apakah
mereka ragu akan terjadinya hal itu karena ia merupakan perkara gaib yang tidak
dapat mereka sentuh dengan indera mereka? Ataukah dunia telah melalaikan dan
menyibukkan mereka darinya? Jika yang pertama (ragu), maka hendaklah mereka
memeriksa kembali keimanan mereka. Dan jika yang kedua (terlenang dunia), maka
hendaklah mereka sadar sebelum terlambat. Sesungguhnya beriman kepada yang gaib
dan kepada hari akhir merupakan syarat yang mutlak bagi terwujudnya keimanan.
Dan bagaimana mungkin kita tidak beriman dengan keimanan yang yakin, sementara
Allah 'Azza wa Jalla bersumpah dengan firman-Nya:
"Maka
demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu pasti terjadi
seperti perkataan yang kamu ucapkan." (QS. Az-Zariyat: 23).
Sungguh,
ini adalah kelalaian dan kesibukan dengan kesenangan dunia serta perhiasannya,
sehingga tidak ada lagi waktu maupun ruang bagi manusia untuk memikirkan urusan
akhirat.
Alangkah
runtuhnya kita jika tidak membebaskan diri dari segala dampak kelalaian ini,
lalu memikirkan perkara gaib ini seolah-olah kita sedang melaluinya dan hidup
di dalamnya seakan-akan ia adalah kenyataan nyata sebagaimana yang digambarkan
oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka, tafakur ini akan menghasilkan sebuah
apresiasi dan penilaian yang nyata terhadap perkara gaib ini, yang kemudian
mendorong kita untuk beramal dan bersiap-siap menghadapi perkara gaib serta
tempat kembali ini, yang di dalamnya terdapat kebahagiaan kita.
Dan
perkara gaib itu dimulai dari detak waktu (momen) berikutnya. Jika kita mencoba
membaginya menjadi beberapa tahapan, maka kita mulai dengan tahapan dari momen
berikutnya hingga datangnya kematian, kemudian kematian, kemudian kubur dan
kehidupan barzakh, kemudian kebangkitan (ba'ats), kemudian pemaparan amal
(aradh), perhitungan (hisab), jembatan (shirat), lalu kemudian surga atau
neraka.
Sisa
Waktu dari Umur (Ajal)
Sisa
waktu dari ajal (umur) ini, kita tidak tahu apakah ia masih panjang atau sudah
pendek. Dan apakah kita akan diberi taufik di dalamnya untuk melakukan kebaikan
dan amal saleh, ataukah kita akan dihadapkan pada fitnah-fitnah, penyimpangan,
atau kesesatan; terutama di zaman ini yang fitnahnya sangat banyak dan beraneka
ragam. Perasaan takut (khauf) dan waspada yang disertai dengan perasaan
sangat berharap (thama') dan bersandar (raja') pada rahmat Allah,
harus senantiasa menyertai setiap orang dari kita. Hal ini harus ada dalam
bentuk yang melahirkan dorongan kuat dalam diri kita untuk memanfaatkan waktu
demi mempersembahkan kebaikan yang bermanfaat bagi kita:
"Dan
kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh
(balasan)nya di sisi Allah sebagai kebaikan dan pahala yang paling besar."
(QS. Al-Muzzammil: 20).
Dan
berdasarkan metode berpikir kita (yang telah dibahas sebelumnya), duduklah
wahai saudaraku, dan menyendirilah dengan dirimu sendiri. Bayangkanlah bahwa
Anda—atau orang lain, jika hal ini membuat Anda tidak nyaman—telah divonis oleh
para dokter bahwa ia menderita suatu penyakit yang menyebabkannya akan berjumpa
dengan Allah dalam waktu yang tidak lebih dari enam bulan lagi misalnya. Ia pun
telah mengetahui hal tersebut, sehingga masa hidupnya tampak begitu terbatas
dan hitungan mundur (countdown) telah dimulai.
Bayangkan
bersamaku bagaimana keadaannya—dengan asumsi bahwa ia adalah seorang
mukmin—tidak diragukan lagi bahwa ia akan bersegera melakukan berbagai kebaikan
dengan segala kemampuan yang ia miliki, memanfaatkan seluruh waktunya tanpa
menyia-nyiakan satu momen pun untuk hal yang tidak bermanfaat baginya di
akhirat. Kita akan mendapatinya mempersembahkan harta, tenaga, pikiran, jiwa,
dan segala yang ia miliki di jalan Allah tanpa ada keraguan maupun kekikiran.
Dan aku mengira ia tidak akan berani mendekati kemaksiatan, bahkan kemaksiatan
itu tidak akan pernah terlintas di dalam benaknya. Bagaimana mungkin, sedangkan
ia sedang bersiap-siap untuk berjumpa dengan Allah, menghadapi perhitungan, dan
balasan? Inilah yang aku bayangkan.
Maka,
wahai saudaraku, apakah ada salah seorang dari kita yang menjamin bahwa ajalnya
akan terus berlanjut hingga enam bulan, atau beberapa hari, atau beberapa jam,
atau beberapa menit, atau bahkan enam detik saja? Maka, tidakkah sebaiknya kita
mencoba untuk berada dekat dengan keadaan seperti ini, sehingga kita senantiasa
menanti perjumpaan dengan Allah dan bersiap-siap untuknya? Karena sesungguhnya
ia datang secara tiba-tiba:
"Dan
tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi
mana dia akan mati." (QS. Luqman: 34).
Setiap
kali datang kepadamu kesempatan untuk beramal baik, maka janganlah menundanya,
dan manfaatkanlah ia, karena boleh jadi akan ada penghalang antara dirimu
dengan kesempatan tersebut. Bahkan, janganlah menunggu kesempatan baik itu
datang kepadamu, melainkan usahakanlah ia dan carilah ia, agar Anda termasuk ke
dalam golongan orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka:
"Mereka
itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih
dahulu memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61).
Sesungguhnya
kita melihat orang-orang yang bepergian jauh, terjaga di waktu malam, dan
melelahkan diri mereka demi meraih keuntungan materi duniawi yang remeh. Bahkan
mereka kerap melupakan diri mereka sendiri tanpa makan atau tidur dalam waktu
yang lama disebabkan oleh keinginan yang kuat terhadap keuntungan materi
tersebut. Maka, tidakkah sebaiknya kita mengambil pelajaran, lalu bangkit dan
melelahkan diri kita dalam perniagaan kita dengan Allah? Dan alangkah jauhnya
perbedaan antara kedua perniagaan tersebut serta di antara kedua keuntungan
tersebut.
Bersungguh-sungguhlah
wahai saudaraku, dan beramallah sekuat kemampuanmu untuk Allah dengan penuh
keikhlasan, komitmen terhadap syariat Allah, dan istikamah di atas perintah
Allah. Berusahalah agar kematian tidak mendatangi Anda dalam keadaan Anda masih
memiliki utang kepada seseorang, dan utang kepada Allah lebih berhak untuk
ditunaikan. Dan berusahalah untuk berjumpa dengan Allah dalam keadaan hati Anda
bersih (salimush shadr) terhadap saudara-saudara muslim Anda. Ketahuilah
bahwa derajat persaudaraan karena Allah yang paling rendah adalah kebersihan
hati, dan yang paling tinggi adalah mengutamakan orang lain (itsar).
Maka janganlah Anda melewati satu malam pun kecuali berada dalam keadaan
seperti ini.
Dan
bersegeralah wahai saudaraku untuk bertobat dan memohon ampunan sebelum
kematian datang menjemput, karena sesungguhnya tobat tidak lagi diterima ketika
kematian telah hadir di hadapan mata:
"Sesungguhnya
tobat di sisi Allah hanya bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena
kebodohan, kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang
diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(QS. An-Nisa': 17).
"Dan
tidaklah tobat itu diterima dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga
apabila datang kematian kepada seseorang di antara mereka, dia berkata:
'Sesungguhnya saya bertobat sekarang.' Dan tidak pula (diterima tobat)
orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu
telah Kami sediakan azab yang pedih." (QS. An-Nisa': 18).
Tahapan
Kematian
Kemudian
kita beralih ke tahapan kematian sebagai batas pemisah yang sangat penting di
antara dua tahapan dalam perkara gaib yang menanti kita ini. Tidak ada seorang
pun dari kita yang ragu bahwa ia akan mati, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
"Tiap-tiap
yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran: 185).
Dan
kita belum pernah melihat seorang pun yang dapat lari dari kematian. Namun,
meskipun demikian, kita melihat banyak manusia yang melupakan kematian,
seolah-olah kematian itu telah ditetapkan bagi orang selain mereka, disebabkan
oleh kesibukan mereka dengan dunia.
Wajib
bagi kita untuk senantiasa mengingat kematian dan berada dalam puncak kesiapan
untuk berjumpa dengan Allah. Jika setan membisiki manusia untuk melakukan suatu
kemaksiatan, lalu ia mengingat kematian dan bahwa boleh jadi kematian akan
mengejutkannya saat ia sedang melakukan kemaksiatan tersebut tanpa ia mampu
menolaknya, serta bagaimana hidupnya akan ditutup dengan akhir penutup (khatimah)
seperti ini, dan perjumpaan seperti apa yang akan ia lakukan dengan Tuhannya
dalam keadaan memikul dosa; tidak diragukan lagi bahwa mengingat kematian itu
cukup untuk memalingkan bisikan ini darinya, menghardiknya, dan membantunya
mengalahkan setannya.
Dan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menunjukkan kepada kita untuk
terus-menerus mengingat kematian, sebagaimana yang terdapat dalam doa sebelum
tidur dan doa bangun tidur.
Berusahalah
wahai saudaraku agar kematian mendatangi Anda dalam keadaan Anda berada di atas
kebaikan dan dalam ketaatan. Istikamahtlah di atas perintah Allah dan jadilah
bagian dari orang-orang yang bertakwa:
"(Yaitu)
orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan
mengatakan (kepada mereka): 'Salamun 'alaikum (keselamatan sejahtera bagimu),
masuklah ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan'."
(QS. An-Nahl: 32).
Sungguh,
Anda telah menangis wahai saudaraku ketika Anda dilahirkan, sementara keluarga
di sekitar Anda tertawa gembira. Maka berusahalah pada hari kematian Anda, di
saat mereka menangis di sekitar Anda, Anda menjadi orang yang penuh dengan
kegembiraan dan kebahagiaan. Cintailah perjumpaan dengan Allah, niscaya Allah
akan mencintai perjumpaan dengan Anda.
Jadikanlah
kematian ini di jalan Allah, bahkan jadikanlah ia sebagai cita-cita tertinggi
Anda. Berusahalah untuk mengubah kematian Anda menjadi sebuah kehidupan dengan
cara berjumpa dengan Allah sebagai seorang syahid:
"Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan
mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka bergembira
dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka." (QS. Ali 'Imran:
169-170).
Adakanlah
transaksi yang menguntungkan dengan Allah wahai saudaraku, jika Anda belum
mengadakannya sebelum ini. Juallah jiwa dan harta Anda kepada-Nya untuk
mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Maka apabila ajal datang
setelah transaksi itu diadakan—meskipun hanya berselang satu momen—Anda telah
menang dan mendapatkan bayarannya. Dan jika ajal itu ditangguhkan
(diperpanjang), maka jadilah orang yang senantiasa menepati janji dan transaksi
Anda, serta janganlah ragu-ragu atau kikir:
"Dan
barangsiapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan
Allah-lah Yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang fakir; dan jika kamu
berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka
tidak akan seperti kamu." (QS. Muhammad: 38).
"Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Tawbah: 111).
Kubur
dan Kehidupan Barzakh
Mari
wahai saudaraku, setelah itu kita beralih ke kubur untuk mengunjunginya dalam
keadaan kita masih hidup sebelum kita mengunjunginya kelak ketika mati, dan
jangan sampai bermegah-megahan melalaikan kita. Mari kita mengunjunginya untuk
mengenali kubur tersebut serta hakikat kehidupan di dalamnya, lalu kita
mempersiapkannya dan membenahinya untuk menyambut kedatangan kita; bukan dengan
semen, marmer, ataupun pasir yang halus, karena semua itu tidak memiliki bekas
maupun pengaruh bagi orang-orang yang dikubur. Akan tetapi, mari kita mengambil
pelajaran yang memotivasi kita untuk beramal saleh. Sebab, amallah yang akan
menemani kita di dalam kubur, dan amallah yang menjadikannya baik itu sebagai
taman di antara taman-taman surga atau sebuah lubang di antara lubang-lubang
neraka.
Dan
kehidupan di dalam kubur adalah masa yang terbatas, ia laksana sebuah kunjungan
singkat yang setelahnya akan ada kebangkitan, pengumpulan, perhitungan, dan
balasan. Dan Maha Benar Allah Yang Maha Agung:
"Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu, sampai kamu mengunjungi kubur." (QS.
At-Takatsur: 1-2).
Bukanlah
dalam kemampuan kita untuk mengetahui secara mendetail tentang hakikat
kehidupan pada masa ini, karena ia tidak diragukan lagi berbeda dengan
kehidupan kita sekarang. Ruh terpisah dari jasad yang fana. Dan apa yang sahih
di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah telah memberikan kita gambaran umum seputar
kehidupan ini; para syuhada itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki,
dan Allah-lah yang lebih mengetahui tentang hakikat kehidupan yang mereka
jalani di sisi Tuhan mereka. Dan di sana ada pula pemeriksaan kubur (pertanyaan
malaikat) serta fitnah kubur, yang mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam telah membimbing kita untuk memohon perlindungan kepada Allah darinya.
Dan
Al-Qur'an menyebutkan kepada kita mengenai urusan Firaun dan pengikut Firaun,
dengan firman-Nya:
"Kepada
mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat
(dikatakan kepada malaikat): 'Masukkanlah Firaun dan pengikut-pengikutnya ke
dalam azab yang sangat keras'." (QS. Ghafir: 46).
Dan
mengenai azab kubur, ia diisyaratkan oleh hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
"Sesungguhnya
keduanya sedang diazab, dan keduanya tidak diazab karena perkara yang besar
(artinya: perkara yang sebenarnya berat dan sulit bagi mereka untuk
meninggalkannya). Adapun salah satunya, dia dahulu tidak membersihkan diri dari
bekas kencingnya. Sedangkan yang satunya lagi, dia dahulu suka berjalan
melakukan namimah (adu domba)..." (Diriwayatkan oleh Al-Jama'ah).
Mari
kita senantiasa mengingat kubur dan kehidupannya, karena sesungguhnya ia
tidaklah jauh dari kita. Boleh jadi salah seorang dari kita berpagi hari di
rumahnya dan di tengah-tengah keluarganya, namun sore harinya ia sudah berada
seorang diri di dalam kuburnya.
Dan
tidak lupa dalam kesempatan ini, aku ingin menyebutkan sebuah lintasan pikiran
(khathirah) dari salah seorang saudara—semoga Allah memuliakannya—ketika
ia ditangkap di kegelapan malam. Tentara penguasa yang zalim mengambilnya dari
tengah-tengah keluarganya lalu melemparkannya ke dalam sel penjara yang gelap
gulita lagi kosong dari segala sesuatu, kemudian mereka mengunci pintu di
belakang mereka. Seketika itu, ia tidak dapat melihat sesuatu pun karena saking
gelapnya. Maka muncullah lintasan pikiran tersebut: ia membayangkan bahwa ia
telah keluar dari dunia dan telah berada di dalam kubur, dan bahwa ia sedang
menghadapi perhitungan serta balasan, sedangkan amalnya tidak dapat menjamin
keselamatan dirinya dari azab.
Ia
pun merasa panik dan takut, lalu berangan-angan sekiranya Allah Ta'ala
mengembalikannya ke dunia agar ia dapat memperbaiki urusannya dan membenahi
keadaannya. Dan seolah-olah Allah benar-benar mengabulkan angan-angannya itu;
di mana sekarang ia berada di dunia dan telah diperbarui baginya kesempatan
untuk beramal serta membenahi urusannya.
Maka,
lintasan pikiran ini memberikan pengaruh yang sangat efektif dalam jiwanya; ia
menjadikannya rida dengan keadaan yang sedang ia jalani meskipun ia berada di
dalam sel yang gelap gulita setelah beberapa saat sebelumnya berada di tengah
keluarganya. Tidak ada keputusasaan, tidak ada kesedihan, dan tidak ada
kesengsaraan, karena hal ini jauh lebih ringan daripada dihadapkan pada azab
Allah. Sebagaimana lintasan pikiran ini juga memperkuat dorongan kebaikan dalam
jiwanya serta tekad untuk bersegera menuju setiap amal saleh yang dengannya ia
dapat meraih rida Allah dan yang menyelamatkannya dari azab Allah.
Inilah
putaran tafakur tentang sebagian tahapan perkara gaib yang menanti kita. Mari
kita membacanya berulang kali dan mari kita senantiasa mengingatnya, agar kita
dapat membekali diri dengan bekal yang menjaga kita dan membantu kita di atas
jalan ini. Dan hanya kepada Allah-lah tempat memohon pertolongan, dan dengan
Allah-lah taufik itu diraih.
Memikirkan
(Tafakur) tentang Hari Akhir
Tidaklah
aku berlebihan jika aku mengatakan bahwa Hari Akhir tidak mendapatkan bagian
dari pemikiran dan perhatian banyak kaum muslimin sebagaimana yang didapatkan
oleh satu hari saja dari hari-hari dunia. Bahkan, boleh jadi telah berlalu masa
yang panjang bagi sebagian orang tanpa pernah terlintas di dalam benak mereka
tentang hari yang agung itu; hari ketika manusia bangkit menghadap Tuhan
semesta alam. Tidakkah engkau melihat manusia bersiap-siap dan menyingsingkan
lengan baju untuk menghadapi panasnya musim panas dan dinginnya musim dingin,
namun mereka meremehkan dan tidak bersiap-siap untuk berlindung dari panasnya
Jahanam dan dinginnya yang membekukan (zamharir)?
Meskipun
ungkapan "beriman kepada Allah dan Hari Akhir" berulang kali
disebutkan di dalam Al-Qur'an, kita melihat banyak orang yang tidak mengingat
hari tersebut dan menganggapnya masih jauh. Bagi mereka, yang lebih utama untuk
diperhatikan adalah sesuatu yang dekat, yaitu dunia.
Sesungguhnya
sekadar mendengar nama-nama Hari Akhir itu saja, beserta gema bunyinya, sudah
semestinya mampu menggetarkan perasaan dan membangunkan hati yang lalai: Al-Qari'ah
(Hari Kiamat yang mengetuk hati), Al-Haqqah (Hari Kiamat yang pasti
terjadi), Ash-Sha'iqah (Petir yang mengguntur), Al-Waqi'ah
(Peristiwa Kiamat yang pasti jatuh), Ash-Shakhah (Suara tiupan
sangkakala yang memekakkan), At-Thammatul Kubra (Malapetaka yang sangat
besar), Al-Ghasyiyah (Peristiwa Kiamat yang menyelubungi), Ar-Rajfah
(Goncangan yang dahsyat), hingga akhir dari nama-nama dan sifat-sifat ini.
Sekiranya
kita mentadaburi apa yang tercantum di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah berupa
penggambaran tentang hari ini beserta apa yang akan terjadi di dalamnya, lalu
kita benar-benar menghidupkan penggambaran tersebut (dalam jiwa kita), niscaya
mata kita tidak akan pernah terpejam untuk tidur, bibir kita tidak akan pernah
tersenyum, hati kita tidak akan pernah merasa tenang, dan air mata kita tidak
akan pernah kering.
Siapakah
orangnya yang membaca atau mendengar ayat-ayat ini, lalu ia tidak terpengaruh
dan tidak terbangun dari kelalaiannya:
"Wahai
manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya goncangan hari kiamat itu
adalah suatu kejadian yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari kamu melihat
goncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui dari anak yang disusuinya
dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam
keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah
itu sangat pedih." (QS. Al-Hajj: 1-2).
Maka
marilah wahai saudaraku, kita memikirkan bersama-sama tentang Hari Akhir
beserta peristiwa-peristiwa dan pemandangan di dalamnya yang dapat membuat
anak-anak beruban. Kita memikirkan tentang peniupan sangkakala (nafkhu
fish-shur), kebangkitan (ba'ats), pengumpulan (nusyur),
pemaparan amal di hadapan Dzat Yang Mahaperkasa (Al-Jabbar) untuk hisab,
pertanggungjawaban atas perkara yang sedikit maupun yang banyak, penegakan
timbangan (mizan) untuk mengetahui kadar amal dan menentukan tempat
kembali, serta penyeberangan di atas jembatan (shirat) menuju
kebahagiaan abadi di surga atau kesengsaraan abadi di neraka.
Sesungguhnya
kita tidak akan mampu membahas seluruh pemandangan ini secara terperinci dalam
satu atau beberapa artikel, akan tetapi kita akan menyebutkan sebagian gambaran
umumnya dan mengambil pelajaran sebagai contoh dan manhaj (metode) untuk
bertafakur dan mentadaburi, yang dapat menambah keimanan serta perhatian kita
terhadap Hari Akhir.
Peniupan
Sangkakala (Al-Nafkhu fish-Shur)
Pemandangan
hari yang agung itu dimulai dengan tiupan pertama pada sangkakala, maka matilah
(pingsanlah) siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang
dikehendaki Allah. Hal itu disertai dengan perkara-perkara yang sekadar
membayangkannya saja terasa sulit bagi kita; seperti terbelahnya langit,
bertebarannya bintang-bintang, dihancurkannya gunung-gunung, dinyalakannya
lautan, digoncangkannya bumi, dan dibongkarnya kuburan-kuburan. Kemudian bumi
diganti dengan bumi yang lain, demikian pula langit.
Lalu
setelah itu datanglah tiupan yang lain (kedua), maka terjadilah kebangkitan dan
pengumpulan, dan manusia pun berada dalam keadaan seperti laron yang
beterbangan; dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dada, dan belum
dikhitan. Mari kita membaca sebagian ayat dan hadis yang menggambarkan
pemandangan ini:
"Dan
ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali
siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka
tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan masing-masing)." (QS.
Az-Zumar: 68).
"Pada
hari (ketika) tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi
oleh tiupan kedua. Hati manusia pada hari itu sangat ketakutan, pandangannya
tunduk. (Orang-orang kafir) berkata: 'Apakah sesungguhnya kami benar-benar
dikembalikan kepada kehidupan yang semula di dalam kubur?'" (QS.
An-Nazi'at: 6-10).
"Maka
apabila mata terbelalak (ketakutan), dan bulan pun telah hilang cahayanya, dan
matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: 'Ke mana tempat
berlari?'" (QS. Al-Qiyamah: 7-10).
"Pada
hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan
anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang
menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira
ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh
kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." (QS. 'Abasa:
34-42).
Demikianlah
keadaan kepanikan, ketakutan, hawa panas, keringat yang bercucuran, dan
kebingungan. Di dalam hadis Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
"Hari
ketika manusia bangkit menghadap Tuhan semesta alam, hingga salah seorang dari
mereka tenggelam dalam keringatnya sampai mencapai setengah daun
telinganya." (Muttafaq 'Alaih).
Maka,
wajib bagi kita untuk bersungguh-sungguh hari ini (di dunia) agar kita menjadi
bagian dari pemilik wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa, lagi gembira ria
pada hari itu kelak.
Pemaparan
Amal (Aradh), Perhitungan (Hisab), dan Timbangan (Mizan)
Bayangkanlah
dirimu wahai saudaraku, sedang berdiri di hadapan Allah 'Azza wa Jalla; ditanya
tentang setiap perbuatan atau perkataan yang keluar dari dirimu sekecil apa pun
itu. Jika sebagian orang di sini, di dunia, persendian mereka gemetar ketika
atasan mereka bertanya tentang suatu kesalahan yang mereka perbuat, maka
bagaimana gerangan keadaan kita saat dipaparkan di hadapan Allah Subhanahu wa
Ta'ala:
"Pada
hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu
yang tersembunyi (bagi Allah)." (QS. Al-Haqqah: 18).
"Pada
hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rasul, ingin
sekiranya mereka diratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan
suatu kejadian pun dari Allah." (QS. An-Nisa': 42).
Tidak
ada pengingkaran, tidak ada alasan, dan tidak ada tempat melarikan diri:
"Bahkan
manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan
alasan-alasannya." (QS. Al-Qiyamah: 14-15).
Dan
saksinya adalah sebagian anggota tubuh sendiri:
"Pada
hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap
apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. An-Nur: 24).
Di
dalam situasi ini, segala kezaliman akan dikembalikan dan setiap pemilik
kezaliman (korban) akan dipenuhi haknya dari orang yang menzaliminya. Di sini,
sangat tepat jika kita menyebutkan hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam:
"Tahukah
kalian siapakah orang yang bangkrut itu?" Kami menjawab: "Orang yang
bangkrut di antara kami, wahai Rasulullah, adalah orang yang tidak memiliki
dirham, dinar, maupun harta benda." Beliau bersabda: "Sesungguhnya
orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat
membawa pahala salat, puasa, dan zakat; namun ia datang dalam keadaan dahulu
telah mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah
si ini, dan memukul si ini. Maka diberikanlah kepada si ini dari
kebaikan-kebaikannya (pahalanya) dan kepada si ini dari kebaikan-kebaikannya.
Maka jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya,
diambilkanlah dari dosa-dosa mereka (korban) lalu dilemparkan kepadanya,
kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka." (Hadis).
Pada
situasi ini, tampak jelas penyesalan, kehinaan, kerugian, ketakutan, dan
kepanikan. Anda akan mendapati orang yang berkata:
"Aduhai,
kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah
bagiku; kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu
telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia."
(QS. Al-Furqan: 27-29).
Sebagaimana
di sana ada orang-orang lain yang berada dalam keamanan, kegembiraan, dan suka
cita; kita memohon kepada Allah agar kita termasuk ke dalam golongan mereka.
Jembatan
(Shirat)
Setelah
pemaparan amal dan perhitungan ini, datanglah giliran untuk menyeberangi
jembatan (shirat) yang dibentangkan di atas neraka Jahanam. Sekiranya
Anda membayangkan pemandangan ini sebagai kenyataan di hadapan Anda, niscaya
hati Anda akan bergidik ketakutan dari sekadar memikirkan untuk
menyeberanginya. Tadaburilah bersamaku hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam:
"Manusia
akan melewati jembatan Jahanam, sedangkan di jembatan itu terdapat duri-duri
besi, kait-kait, dan cakar-cakar besi yang menyambar manusia ke kanan dan ke
kiri. Dan di kedua sisinya terdapat para malaikat yang berdoa: 'Ya Allah,
selamatkanlah, ya Allah, selamatkanlah.' Maka di antara manusia ada yang lewat
laksana kilat, ada yang lewat laksana angin, ada yang lewat laksana penunggang
kuda yang cepat, ada yang berlari cepat, ada yang berjalan biasa, ada yang
merangkak, dan ada yang merayap. Adapun penduduk neraka yang merupakan penghuni
aslinya, mereka tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup. Sedangkan
sekelompok manusia (kaum mukmin yang berdosa) ditangkap karena dosa-dosa dan
kesalahan-kesalahan mereka, lalu mereka terbakar hingga menjadi arang, kemudian
barulah diizinkan untuk memberikan syafaat." (Muttafaq 'Alaih, dari
Abu Sa'id Al-Khudri).
Syafaat
Sebagian
dari orang-orang mukmin yang telah ditetapkan untuk masuk ke dalam neraka,
Allah memberikan karunia-Nya atas mereka dengan menerima syafaat dari
orang-orang yang Dia ridai; baik dari kalangan para nabi, para syuhada, maupun
orang-orang saleh. Dan Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam telah
dianugerahi syafaat tersebut, sebagaimana dalam hadis beliau:
"Aku
dianugerahi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun
sebelumku... dan syafaat adalah salah satunya." (Hadis).
Dan
dalam hadis yang lain:
"Setiap
nabi memiliki doa yang mustajab (pasti dikabulkan), maka aku ingin menyimpan
doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat." (Muttafaq
'Alaih).
Ini
merupakan karunia dan pemuliaan dari Allah untuk umat Islam dan Nabinya
shallallahu 'alaihi wa sallam.
Telaga
(Al-Haudh)
Telaga
(Al-Haudh) merupakan kekhususan lainnya bagi Rasul kita 'alaihish
shalatu was salam dan bagi umatnya. Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh
Muslim dari Anas, ia berkata:
"Ketika
diturunkan surat Al-Kautsar kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
beliau bertanya kepada para sahabat: 'Tahukah kalian apakah Al-Kautsar itu?'
Mereka menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.' Beliau bersabda:
'Sesungguhnya ia adalah sebuah sungai yang dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku
'Azza wa Jalla, di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak. Di atasnya terdapat
telaga yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat, yang mana
wadah-wadahnya sejumlah bintang di langit'." (Hadis).
Neraka
Jahanam
Agar
memikirkan Hari Akhir ini memiliki pengaruh yang efektif di dalam jiwa, kita
mesti memikirkan tentang surga dan tentang neraka, lalu kita membayangkan
kehidupan di dalam masing-masing dari keduanya dengan menghadirkan pemandangan
dan penggambaran yang tercantum di dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis. Dengan
demikian, akan lahirlah rasa takut dan ngeri terhadap neraka sehingga kita
berlari menjauh darinya dengan cara menjauhi kemaksiatan, serta kita menjadi
rindu kepada surga sehingga kita bersegera menuju kepadanya. Kita cukupkan
dengan menyebutkan sebagian darinya sebagai contoh; padahal sekiranya satu ayat
saja dari ayat-ayat tersebut menyentuh hati orang yang beriman tanpa ada
penghalang, niscaya ia akan menggoncang pemiliknya dengan segoncang-goncangnya
dan membuat kulitnya merinding.
Bacalah
bersamaku, setelah Anda mengosongkan hati dan pikiran Anda dari segala
kesibukan dan pengalih perhatian:
"Inilah
dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka
bertengkar tentang Tuhan mereka. Maka orang-orang kafir akan dibuatkan untuk
mereka pakaian-pakaian dari neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas
kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut mereka
dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali
mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, mereka
dikembalikan ke dalamnya. (Dikatakan kepada mereka): 'Rasakanlah azab yang
membakar ini'." (QS. Al-Hajj: 19-22).
"Sesungguhnya
orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka
ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka sirna, Kami ganti kulit mereka dengan
kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa': 56).
"Dan
mereka memohon keputusan (kepada Allah) dan merugilah semua orang yang gagah
perkasa lagi penentang, di hadapannya ada Jahanam dan dia diberi minum dengan
air nanah, diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan
datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak mati,
dan di hadapannya masih ada azab yang berat." (QS. Ibrahim: 15-17).
"Sesungguhnya
pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai cairan
tembaga yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat
panas. 'Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka. Kemudian
tuangkanlah di atas kepalanya azab (dari) air yang sangat panas. Rasakanlah,
sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia'." (QS. Ad-Dukhan:
43-49).
Di
sini, di dunia, jika sebuah kebakaran melanda sebuah tempat tinggal yang tinggi
dan penghuninya tidak mampu melarikan diri melalui tangga, mereka akan
melemparkan diri mereka sendiri dari balkon karena takut akan api; meskipun
mereka mengetahui bahwa dengan tindakan itu mereka menghadapkan diri pada
risiko cedera dan boleh jadi kematian. Maka, tidakkah mereka takut kepada
neraka Jahanam sebagaimana takutnya mereka kepada api dunia? Padahal, neraka
Jahanam jauh lebih berhak untuk ditakuti.
Dan
jangan lupa kita sebutkan sikap Iblis di hadapan para pengikutnya ketika ia
berlepas diri dan mengembalikan cercaan kepada mereka sendiri:
"Dan
berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: 'Sesungguhnya
Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah
menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan
bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi
seruanku; oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah
dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali
tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku telah mengingkari kemusyrikanmu yang
telah kamu sekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.' Sesungguhnya orang-orang
yang zalim itu mendapat azab yang pedih." (QS. Ibrahim: 22).
Surga
dan Kenikmatannya
Berembuslah
wahai angin surga, alangkah harumnya aroma dirimu dan alangkah rindunya kami
kepadamu. Sesungguhnya apa yang disebutkan di dalam Kitab Allah dan hadis-hadis
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang surga dan penggambaran
kenikmatannya adalah dalam bentuk penyerupaan (analogi) dengan apa yang ada di
dunia kita berupa kenikmatan, akan tetapi hakikatnya jauh melampaui apa yang
ada di dunia kita dengan bentuk yang tidak pernah terlintas di dalam benak
kita.
Kembalilah
wahai saudaraku kepada Kitab Allah, bacalah dengan perlahan, dan tadaburilah
ayat-ayat yang di dalamnya terdapat penyebutan tentang surga beserta
kenikmatannya. Pejamkanlah matamu dan bayangkanlah dirimu berada di
tengah-tengah kenikmatan ini, serta rasakanlah rasa rindu dan damba terhadap
tempat kembali ini. Di sanalah tempat keamanan, kebahagiaan, dan segala jenis
kenikmatan; tidak ada kepanikan, tidak ada ketakutan, tidak ada keletihan,
tidak ada kesusahan, dan tidak ada kehinaan. Tidak ada dendam, tidak ada
kebencian, melainkan mereka menjadi saudara-saudara yang saling berhadapan di
atas dipan-dipan.
Dan
jika istana-istana, kebun-kebun, bidadari-bidadari yang bermata jeli, serta
beraneka macam makanan, minuman, buah-buahan, dan pakaian adalah segala hal
yang dirindukan oleh jiwa; namun hal yang melampaui itu semua adalah rida
Allah dan melihat kepada wajah-Nya Yang Mahamulia:
"Dan
keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar."
(QS. At-Tawbah: 72).
Demikian
pula kebersamaan dengan para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan
orang-orang saleh; dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
Maka,
marilah kita mencurahkan seluruh kesungguhan di jalan Allah dan demi menolong
agama-Nya. Dan mari kita tanggung segala apa yang kita jumpai di jalan dakwah
ini demi mendambakan keridaan Allah. Dan aku tidak lupa sebuah makna yang indah
yang pernah diingatkan oleh salah seorang saudara kepada kami di dalam penjara
pada kali pertama tahun 1948, di mana ia berkata:
"Nabi
Musa 'alaihis salam menghabiskan waktu delapan atau sepuluh tahun sebagai
pekerja kasar (pemberian mahar) untuk pengantinnya di dunia. Maka lihatlah
kepada para bidadari surga, berapakah kira-kira mahar mereka?"
Penutup
dan Sebuah Kisah Pelajaran
Di
akhir putaran tafakur tentang perkara gaib yang menanti kita ini, aku akan
menceritakan sebuah kisah yang pernah aku baca. Kisah tentang salah seorang
muslim yang dahulu sering bermaksiat kepada Allah lalu bertobat, namun ia
kembali lagi melakukan maksiat, dan hal itu berulang kali terjadi padanya. Maka
ia mengadukan keadaannya kepada salah seorang yang saleh. Orang saleh itu
berkata kepadanya:
"Jika
kamu sanggup memenuhi lima perkara, maka janganlah kamu pusingkan dirimu dari
sisi kemaksiatan (silakan bermaksiat sesukamu)."
Lelaki
itu bertanya: "Apakah lima perkara itu?"
Orang
saleh menjawab: "Pertama, jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah,
janganlah kamu tinggal di dalam kerajaan-Nya (bumi dan langit-Nya)."
Lelaki
itu berkata: "Aku tidak akan sanggup melakukan itu."
Orang
saleh berkata: "Yang kedua, jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah,
janganlah kamu memakan rezeki-Nya."
Lelaki
itu berkata: "Jika begitu, aku akan mati kelaparan."
Orang
saleh berkata: "Kamu tinggal di dalam kerajaan-Nya, memakan rezeki-Nya,
lalu kamu bermaksiat kepada-Nya secara terang-terangan? Ini adalah puncak dari
pengingkaran!"
Lelaki
itu bertanya: "Apakah yang ketiga?"
Orang
saleh berkata: "Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, bermaksiatlah
di tempat yang tidak ada seorang pun dapat melihatmu di sana."
Lelaki
itu berkata: "Tidak ada satu pun urusan yang tersembunyi
bagi-Nya."
Lelaki
itu bertanya: "Apakah yang keempat?"
Orang
saleh berkata: "Ketika malaikat maut mendatangimu, mintalah kepadanya
agar ia meninggalkanmu (menunda kematianmu) sampai kamu bertobat dengan tobat
yang nasuha."
Lelaki
itu berkata: "Ia tidak akan mengabulkan permintaanku."
Orang
saleh berkata: "Jika demikian, mengapa kamu tidak bersegera melakukan
tobat yang nasuha sekarang?"
Lelaki
itu bertanya: "Apakah yang kelima?"
Orang
saleh berkata: "Ketika kamu digiring menuju neraka Jahanam, janganlah
kamu ikut pergi bersama mereka."
Lelaki
itu berkata: "Ini adalah hal yang mustahil."
Kemudian
lelaki itu bertobat pada kali ini, dan itu adalah tobat yang nasuha yang ia
tidak pernah kembali lagi setelahnya pada kemaksiatan.
Dan
hal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa makna-makna keimanan kepada Allah dan
Hari Akhir dahulunya sempat padam di dalam jiwanya, lalu orang saleh itu
membangunkannya kembali di dalam jiwanya dengan metode (pendekatan) ini,
sehingga memberikan pengaruh yang mendalam, lalu melahirkan tobat yang nasuha.
Dan
kita berharap agar tafakur yang telah kita sampaikan ini memberikan pengaruh
yang serupa seperti ini dalam diri kita. Dan hanya kepada Allah-lah tempat
memohon pertolongan, dan dengan Allah-lah taufik itu diraih.
Dan
di dalam Sirah yang Harum... Terdapat Bekal
Sesungguhnya
para dai yang menyeru kepada Allah pada hari ini dan orang-orang yang meniti
jalan dakwah, mereka akan mendapati di dalam sirah (sejarah perjalanan hidup)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebaik-baik bekal di perjalanan. Hal
tersebut dikarenakan banyak sebab, di antaranya:
Bahwa
jalan dakwah yang sedang kita lalui ini adalah jalan yang sama dengan jalan
yang telah dilalui oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para
sahabatnya terdahulu. Dan karena kita sedang hidup dalam fase yang sangat mirip
dengan fase pertama dakwah... di mana Islam telah kembali menjadi asing, dan
jahiliah telah kembali mengancam masyarakat kita. Para dai yang menyeru kepada
Allah dipersempit ruang geraknya, ditindas, serta disiksa, sementara
musuh-musuh Allah terus membuat tipu daya dan mengintai. Hal ini menegaskan
betapa pentingnya kita membekali diri dari sirah dengan segala sikap dan
peristiwa yang ada di dalamnya; terlebih lagi karena sang pelopor dan
pemimpinnya adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau adalah
sebaik-baik teladan bagi kita sebagaimana yang telah Allah 'Azza wa Jalla
tetapkan:
"Sungguh,
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang
banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).
Demikian
pula orang-orang yang berjalan bersama beliau di atas jalan dakwah ini adalah
para sahabat radhiyallahu 'anhum, yang di atas pundak-pundak merekalah tegak
negara Islam yang pertama. Mereka laksana lampu-lampu penerang, dengan siapa
pun di antara mereka kita meneladani, niscaya kita akan mendapat petunjuk.
Oleh
karena itu, sirah merepresentasikan sebuah periode yang gemilang dan penuh
sesak dengan segala makna kebaikan. Ia adalah periode turunnya limpahan
karunia, rahmat, dan cahaya Allah bagi seluruh umat manusia melalui turunnya
wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan di samping semua
itu, sirah merupakan wujud penerapan pertama yang benar bagi Islam di dalam
kehidupan manusia.
Semua
hal tersebut mengharuskan kita untuk mempelajari sirah dengan metode studi amal
dan peneladanan (ijtihad), serta mengenali secara mendalam setiap sikap
dan peristiwa yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
para sahabatnya; juga bagaimana perilaku dan tindakan mereka dalam
menghadapinya agar kita dapat mengambil keteladanan, pelajaran, serta bekal.
Dan
tidak perlu dijelaskan lagi bahwa keteladanan yang nyata secara praktik
memiliki pengaruh yang jauh lebih efektif di dalam jiwa dibandingkan dengan
sekadar nasihat lisan belaka, dan di dalam hal ini terdapat sebaik-baik bekal
di perjalanan.
Kita
tidak akan mampu merangkum seluruh nasihat, pelajaran, dan hikmah yang ada di
dalam sirah, akan tetapi kita akan memaparkan sebagian darinya sebagai contoh,
serta kami tegaskan kembali tentang pentingnya "mempelajari" sirah,
dan kami tidak mengatakan sekadar "membaca" sirah.
Persiapan
Jiwa dan Ruhani
Sesungguhnya
perkara pertama dan terpenting yang dapat dijadikan bekal dari sirah—dan sangat
kita butuhkan di atas jalan dakwah—adalah persiapan jiwa (mental) dan
bekal ruhani. Sebab, hal itu merupakan penolong terbaik untuk menunaikan
tuntutan-tuntutan dakwah, mengatasi berbagai rintangan dan kesulitan, serta
menjaga diri dari tikungan-tikungan tajam maupun penyimpangan.
Kita
dapat melihat hal tersebut pada petunjuk yang Allah ilhamkan kepada Rasul-Nya
sebelum masa kenabian, yaitu dengan melakukan tahannuts (menyendiri
untuk beribadah) di dalam Gua Hira selama berhari-hari dan bermalam-malam yang
panjang. Hal ini juga tecermin dalam arahan Allah kepada Rasul-Nya shallallahu
'alaihi wa sallam untuk menegakkan salat malam (tahajud):
"Wahai
orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari,
kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang dari itu sedikit, atau
lebih dari (separuh) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.
Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu." (QS.
Al-Muzzammil: 1-5).
Maka,
mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki hubungan dengan-Nya merupakan
sebaik-baik bekal di perjalanan.
Keteguhan
dalam Menghadapi Gangguan
Setiap
kali kita membaca berbagai macam gangguan yang dihadapi oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, serta kesabaran dan keteguhan beliau yang
disertai dengan semangat yang menggebu untuk memberi petunjuk kepada kaumnya,
niscaya kita akan mendapatkan bekal dan kekuatan untuk terus berjalan membawa
dakwah ini serta menanggung setiap gangguan.
Sebagaimana
peristiwa syahidnya Yasir dan Sumayyah di bawah siksaan yang keji, serta
keteguhan Bilal, kesemuanya menjadi bekal dan bahan bakar bagi generasi demi
generasi di sepanjang masa dan zaman, sekaligus menjadi penguat bagi mereka di
atas kebenaran.
Mengesampingkan
Kesenangan Dunia demi Akidah
Lihatlah
wahai saudaraku, pada pengaruh mendalam yang ditimbulkan di dalam jiwa kita
oleh sikap agung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan perkataan abadi
beliau ketika ditawarkan kepadanya kerajaan, kemegahan, dan kekuasaan, lalu
beliau bersabda:
"Demi
Allah wahai paman, sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan
bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, sekali-kali
aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa di
jalannya."
Di
dalam perkataan tersebut terdapat tantangan nyata terhadap kebatilan dan sikap
meremehkan segala kesenangan dunia.
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam pernah dituduh sebagai pendusta, tukang sihir,
dan orang gila, namun beliau bersabar dan tidak marah karena hal tersebut.
Kenyataan di lapangan secara praktik justru membuktikan kepalsuan
tuduhan-tuduhan ini. Dahulu kala, Nabi Musa 'alaihis salam juga dituduh sebagai
perusak, sementara Firaun mengklaim bahwa dialah yang menunjuki ke jalan yang
benar.
Dan
para dai yang menyeru kepada Allah pada hari-hari ini pun dituduh dengan
tuduhan terorisme, bersembunyi di balik tameng agama, dan tuduhan lainnya;
padahal tuduhan-tuduhan semacam ini telah terbukti sebelumnya secara pasti akan
kepalsuan dan kebatilannya. Maka hendaklah mereka bersabar, tidak melemah, dan
tidak menyerah.
Lihatlah
wahai saudaraku, pada ketahanan kaum muslimin generasi pertama dalam menanggung
rasa lapar dan boikot di Syi'ib Abi Thalib selama tiga tahun penuh, hingga
mereka memakan dedaunan pohon, namun mereka tidak pernah melepaskan akidah
mereka dan mereka lebih mengutamakan dakwah Allah di atas segala kesenangan
dunia.
Mengharap
Hidayah bagi Orang yang Memusuhi
Setiap
dai yang menyeru kepada Allah akan mendapati bekal yang sangat luar biasa dalam
kisah perginya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke Kota Thaif, menempuh
jarak perjalanan yang sangat jauh demi menyampaikan dakwah, serta apa yang
beliau jumpai di sana berupa penolakan dan gangguan yang menyakitkan. Namun
setelah semua itu, beliau justru berdoa:
"Ya
Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak
mengetahui."
Dan
doa ini, yang di dalamnya beliau mengadukan kepada Allah tentang lemahnya
kekuatan beliau, sedikitnya cerdik-cendikia beliau, serta hinanya beliau di
hadapan manusia; doa ini mengandung makna-makna yang sangat besar dan mendalam
tentang kepasrahan total kepada Allah, keluar dari daya dan kekuatan diri
sendiri menuju daya dan kekuatan Allah, serta bahwasanya beliau tidak takut
terhadap apa pun kecuali murka Allah atas dirinya:
"Asalkan
Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli (dengan apa yang aku
hadapi)..." hingga akhir dari makna-makna ini yang mendorong kepada
kebaikan dan keberlanjutan dalam menyampaikan dakwah meskipun di tengah
kepungan gangguan.
Peran
Keluarga dan Peristiwa-Peristiwa Bersejarah
Di
dalam sikap Sayyidah Khadijah Ummul Mu'minin radhiyallahu 'anha bersama
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, terdapat sebaik-baik bekal dan
keteladanan bagi setiap saudari muslimah agar ia dapat menjadi penolong bagi
suaminya di atas jalan dakwah; menguatkannya dan menentramkannya, bukan
melemahkan semangatnya atau menelantarkannya.
Dan
barangsiapa yang membaca hadis-hadis tentang Israk dan Mikraj di dalam sirah,
niscaya ia akan keluar darinya dengan membawa bekal, pelajaran, dan hikmah yang
sangat banyak yang dapat menambah keimanan orang-orang yang beriman. Dan
alangkah butuhnya kaum muslimin hari ini untuk merasakan kedudukan Masjidil
Aqsa dan wilayah di sekitarnya, serta apa yang wajib atas kita untuk
membebaskan tempat-tempat suci ini dari tangan-tangan zionis perampas.
Dan
peristiwa hijrah secara keseluruhan adalah rangkaian pelajaran, hikmah, dan
bekal yang tidak mampu kita batasi di sini. Setiap individu yang terlibat atau
mengambil peran di dalamnya memiliki sikap dan contoh teladan yang mengagumkan
bagi satu sisi atau lebih dari sisi-sisi kebaikan yang patut diteladani oleh
para dai. Seperti ketenangan Rasulullah dan keyakinan beliau kepada Tuhannya,
perhatian besar Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam, kepahlawanan pengorbanan Ali, keteguhan hati Abdullah bin Abi Bakar
dan Asma serta keberhasilan mereka dalam memainkan peran di tengah atmosfer
yang penuh ketegangan itu sembari merahasiakan urusan tersebut.
Juga
janji Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Suraqah berupa gelang
milik Kisra, yang di dalamnya terdapat keyakinan penuh akan pertolongan Allah.
Kemudian cinta yang membuncah serta kerinduan yang sangat besar dari penduduk
Madinah yang tampak jelas dari penantian mereka akan kedatangan beliau dan
penyambutan mereka yang meriah terhadapnya, serta makna-makna lain yang
memiliki pengaruh psikologis yang sangat besar; semua itu sangat dibutuhkan
oleh seorang dai ketika ia sedang berada di atas jalan dakwah.
Fungsi
Masjid dan Kewaspadaan terhadap Pengkhianatan
Ambillah
pelajaran wahai saudaraku, dari perhatian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam terhadap pembangunan masjid di setiap tempat yang beliau singgahi, agar
kita mengetahui pentingnya risalah (misi) masjid dan perannya dalam membangun
negara Islam; sehingga kita bekerja untuk mengembalikan peran penting masjid
ini dan tidak membatasinya hanya untuk mendirikan salat di dalamnya saja.
Terdapat
pula pelajaran yang sangat kita butuhkan hari ini, yaitu sikap Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap kaum Yahudi dan sikap mereka terhadap
beliau serta dakwah beliau. Pada awal menetapnya beliau di Madinah, beliau
sangat bertekad untuk membangun hubungan damai di antara beliau dengan mereka,
menjamin keamanan agama mereka dan harta benda mereka, serta beliau menulis
sebuah perjanjian tertulis untuk mereka. Akan tetapi, mereka adalah kaum
pengkhianat. Tidak berselang lama, mereka langsung bersekongkol untuk membunuh
beliau, yang mana hal itu menjadi sebab terjadinya Perang Bani Nadhir.
Kemudian
mereka melanggar perjanjian beliau di saat situasi sedang berada dalam puncak
genting, yaitu pada hari Perang Ahzab (Khandaq), yang mana hal itu menjadi
sebab terjadinya Perang Bani Quraizhah. Kemudian mereka berkumpul dari segala
penjuru, mempersiapkan senjata, dan merancang makar tersembunyi untuk menyerang
Kota Madinah dan orang-orang mukmin dengan cara yang khianat lagi nista, yang
mana hal itu menjadi sebab terjadinya Perang Khaibar. Mereka adalah kaum yang
tidak pernah membenarkan janji dan tidak pernah istikamah di atas perjanjian,
maka marilah kita mengambil pelajaran ini dan jangan sampai kita terpedaya oleh
hal selain itu.
Pengorbanan
yang Tulus dan Persaudaraan Islam
Ambillah
bekal wahai saudaraku dari Perang Tabuk, dan lihatlah apa yang diperbuat oleh
keimanan yang jujur di dalam jiwa orang-orang mukmin berupa membakar semangat
mereka untuk berperang, ringannya tangan mereka dalam menginfakkan harta, serta
kesediaan mereka untuk menganggap manis rasa pahit, penderitaan, dan keletihan
yang sangat berat di jalan Allah dan demi meraih keridaan-Nya.
Ambillah
bekal dari sikap sekelompok orang yang datang untuk berjihad, lalu Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam menolak mereka karena beliau tidak mendapati
kendaraan yang dapat membawa mereka. Mereka pun berpaling pulang sementara mata
mereka mencucurkan air mata karena sedih atas terhalangnya mereka dari
kemuliaan berjihad dan kesempatan untuk meraih syahid di jalan Allah Ta'ala.
Padahal, tabiat manusia pada umumnya adalah merasa gembira karena selamat dari
bahaya dan jauh dari peperangan. Akan tetapi, keimanan yang jujurlah yang
meluruskan kembali timbangan nilai; ia menjadikan setiap kematian di jalan
Allah sebagai mati syahid, setiap gangguan dalam dakwah kebenaran sebagai
kemuliaan, dan setiap ujian karena melakukan perbaikan sebagai keabadian.
Alangkah
butuhnya orang yang meniti jalan dakwah terhadap bekal yang ia dapatkan ketika
ia membaca di dalam sirah tentang peristiwa dipersaudarakannya oleh Rasulullah
antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar, serta apa yang menyertainya berupa potret
cinta dan sifat mementingkan orang lain (itsar) yang digambarkan oleh
Al-Qur'anul Karim dalam firman-Nya:
"Dan
orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke
tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap
apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan
siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang
beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9).
Pelajaran
dari Berbagai Peperangan
Di
dalam peperangan terdapat bekal. Kita melihat potret keberanian, jihad, infak,
dan meraih syahid di jalan Allah... Kita melihat di dalam Perang Badar
bagaimana Allah menolong kelompok mukmin yang sedikit atas kelompok kafir
pemberontak yang banyak. Kita melihat di dalam Perang Fathu Makkah (Pembebasan
Kota Mekah) bagaimana tawadunya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika
meraih kemenangan, tanpa ada rasa silau, sombong, atau tinggi diri.
Di
dalam Perang Uhud dan Perang Hunain terdapat banyak pelajaran dan hikmah
seputar sebab-sebab kekalahan serta mutlaknya komitmen mematuhi perintah dan
instruksi pemimpin. Dan di dalam Perang Tabuk terdapat banyak pelajaran dan
hikmah; yaitu berangkat berjihad meskipun di tengah cuaca panas dan keletihan
yang sangat, serta tidak menggubris upaya pelemahan semangat dari kaum munafik
yang berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas
terik ini." Kemudian di dalam kisah tiga orang yang ditangguhkan
penerimaan tobatnya (tsalatsatulladzina khullifu), terdapat banyak
pelajaran dan hikmah bagi para pemilik dakwah.
Di
dalam sirah, kita juga mendapati cinta yang sangat mendalam dari kaum muslimin
kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan semangat yang menggebu
untuk meneladani beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dalam setiap urusan kecil
maupun besar. Kita melihat indahnya kepatuhan orang-orang mukmin terhadap
setiap perintah atau larangan yang ada di dalam Al-Qur'an maupun dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa ada keraguan sedikit pun;
sebagaimana yang terjadi ketika diharamkannya khamar dan ketika turunnya ayat
hijab bagi para wanita.
Keteladanan
bagi Wanita dan Pemuda
Bagi
saudari muslimah, terdapat bekal yang sangat besar melalui sirah. Sebagai
contoh, sikap Nusaibah (Ummu 'Umarah) Al-Anshariyyah radhiyallahu 'anha di
dalam Perang Uhud ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terluka dan
terjatuh, lalu orang-orang musyrik berkerumun mengepung beliau dengan maksud
untuk membunuh beliau. Maka bertumpu teguhlah beliau, dan teguh pula bersamanya
sekelompok orang dari kaum mukmin; di antaranya adalah Abu Dujanah radhiyallahu
'anhu yang menjadikan dirinya sebagai tameng hidup bagi Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam untuk melindungi beliau dari anak panah orang-orang musyrik,
hingga anak-anak panah itu menancap di punggungnya.
Di
antara mereka ada pula Nusaibah (Ummu 'Umarah) yang meninggalkan tugas memberi
minum orang-orang yang terluka, lalu ikut menghunus pedang dan melempar anak
panah demi mempertahankan keselamatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dan Rasulullah telah bersabda mengenai dirinya:
"Tidaklah
aku menoleh ke kanan maupun ke kiri pada hari Perang Uhud melainkan aku
melihatnya sedang berperang membelaku, dan ia terluka pada hari itu sebanyak
dua belas luka."
Dan
bagi pemuda muslim, hendaknya ia mengambil bekal dan rasa percaya diri ketika
membaca tentang pengutusan pasukan Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu;
bagaimana Islam membuka ruang selebar-lebarnya bagi kompetensi dan kejeniusan
para pemuda, serta memberikan mereka wewenang untuk memimpin urusan ketika
mereka memang telah layak untuk itu. Di dalam pengangkatan Usamah sebagai
pemimpin atas orang-orang seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu
'anhum, terdapat pelajaran, bekal, serta bukti atas sejauh mana tingkat
penempaan jiwa dan akhlak yang berhasil mereka capai berkat petunjuk Allah
serta tarbiah (pendidikan) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
bimbingan beliau kepada mereka.
Penutup:
Menghidupkan Sirah dalam Dakwah Hari Ini
Agar
Anda dapat mengambil manfaat yang sangat besar dari bacaan sirah Anda wahai
saudaraku, bacalah ia seolah-olah Anda sedang hidup mengalami
peristiwa-peristiwanya bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
para sahabatnya.
Dan
sebagai timbal balik dari hal tersebut, di saat Anda sedang berada di atas
jalan dakwah pada hari-hari ini, wajib bagi Anda untuk menghadapi segala
peristiwa dan situasi dengan mengambil sikap yang sekiranya akan diambil oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya sekiranya mereka
berada di tengah-tengah kita hari ini untuk memimpin kita di atas jalan ini.
Dan
di dalam Ibadah Terdapat Bekal (Salat)
Ibadah-ibadah
itu membekali pemiliknya dengan ketakwaan kepada Allah, dan takwa adalah
sebaik-baik bekal...
"Wahai
manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang
sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 21).
"Wahai
orang-orang yang berimen! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS.
Al-Baqarah: 153).
"Dan
mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS.
Al-Baqarah: 45).
"Sesungguhnya
salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar." (QS.
Al-Ankabut: 45).
"Wahai
orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah:
183).
"Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka." (QS. At-Tawbah: 103).
"(Musim)
haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya
dalam bulan-bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat
fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu
kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan
sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai
orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah: 197).
Demikianlah
kita mendapati bahwa ibadah-ibadah ini merupakan sumber-sumber utama, abadi,
dan senantiasa terbarui bagi sebuah bekal yang menyucikan jiwa dan mengangkat
derajatnya tinggi-tinggi dari daya tarik bumi (syahwat dunia), serta membantu
untuk melewati berbagai rintangan dan menghindari tikungan-tikungan tajam.
Dan
setiap ibadah dari ibadah-ibadah ini memiliki bekal serta pengaruhnya
tersendiri, yang berbeda dari bekal dan pengaruh ibadah lainnya dari beberapa
aspek, sehingga satu sama lain saling menyempurnakan. Sebagaimana ibadah-ibadah
ini mencakup berbagai sisi kepribadian seorang muslim, ia juga mencakup
hari-hari dalam kehidupannya. Maka kita dapati di antaranya ada yang berulang
setiap hari seperti salat lima waktu dalam sehari, ada yang berulang sebulan
setiap tahun seperti puasa, dan ada pula yang ditunaikan berdasarkan
kondisi-kondisi tertentu seperti zakat dan haji sesuai dengan kemampuan dan
kelapangan.
Di
sana terdapat pula ruang untuk ibadah-ibadah sunah dan sukarela (tathawwu')
pada masing-masing ibadah tersebut setelah penunaian ibadah fardu, yaitu bagi
setiap orang yang mendambakan tambahan bekal, ketakwaan, dan kedekatan di sisi
Allah... Dan sungguh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah
mencontohkan sunah-sunah ini kepada kita berangkat dari rasa cinta beliau
terhadap kebaikan bagi kita.
Salat
Dan
kita akan mencoba untuk menyingkap beberapa potret bekal yang terkandung di
dalam ibadah-ibadah ini, mudah-mudahan di dalamnya terdapat sesuatu yang dapat
membantu dan memudahkan pengumpulan bekal bagi setiap orang yang
mendambakannya. Dan marilah kita mulai dengan ibadah salat, dan Allah-lah Dzat
Yang Memberi Taufik serta Yang Maha Penolong.
Salat
adalah hubungan (shilah) dengan Allah Ta'ala. Hubungan antara tiupan
yang ada di dalam diri kita—yang berasal dari ruh ciptaan Allah—dengan sumber
asalnya, agar ia dapat menyerap kehidupan dan pertumbuhan darinya... Salat
adalah kedekatan dengan Allah dan keintiman berseri bersama Allah. Kita melihat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Dan
dijadikan penyejuk hatiku berada di dalam salat."
Dan
kita dapati beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menegakkan salat malam dan
sangat tenggelam di dalam salatnya hingga kedua kaki beliau bengkak tanpa
beliau merasakan rasa sakit. Maka, barangsiapa yang jiwa dan perasaannya telah
membubung tinggi, niscaya segala keletihan jasad dan rasa sakitnya akan
mengecil (tidak terasa) di sisinya.
Salat
adalah sumber energi spiritual dan bekal yang senantiasa terbarui. Waktu-waktu
pelaksanaannya sengaja didistribusikan di waktu malam dan siang hari guna
keberlanjutan pengumpulan bekal serta memperbarui saldo dari bekal tersebut.
Dan sungguh, Allah telah memudahkan penunaiannya agar kita tidak terhalang dari
bekal ini dalam segala kondisi dan waktu; baik dalam keadaan damai maupun
perang, dalam perjalanan (safar) maupun menetap (iqamah), serta
dalam keadaan sehat maupun sakit. Dan ini merupakan bagian dari karunia Allah
atas kita dan rahmat-Nya kepada kita.
Di
dalam salat terdapat peristirahatan dan kebebasan dari segala kesibukan hidup
serta keletihannya, agar kita dapat berdiri di hadapan Allah dalam kekhusyukan,
ketundukan, rukuk, dan sujud; kita membaca dan mendengar firman Allah, serta
bertasbih mengagungkan-Nya... kita berdoa kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya...
Seolah-olah salat itu merupakan mikraj (tangga naik) bagi ruh-ruh kita yang
membubung menuju Allah, menjauh dari daya tarik bumi dan fitnah-fitnah
kehidupan; terlebih lagi karena salat itu diwajibkan pada malam Israk dan
Mikraj.
Barangsiapa
yang menghadap salat dengan hati yang suci dan niat yang ikhlas, niscaya Allah
akan melimpahkan kepadanya sebagian dari cahaya-Nya, petunjuk-Nya,
ketenangan-Nya, serta rahmat-Nya; sesuatu yang membantu orang yang salat
tersebut untuk menghadapi kehidupan dengan penuh ketenteraman dan stabilitas
jiwa; tidak ada kepanikan, tidak ada kecemasan, tidak ada ketakutan, dan tidak
ada kelemahan. Ia pun menjadi terbentengi dari fitnah, perbuatan keji,
kemungkaran, serta bisikan-bisikan setan, sehingga ia berada di dalam penjagaan
Allah dan pemeliharaan Allah; merasakan kebersamaan (ma'iyyah) Allah di
mana pun ia berjalan dan di mana pun ia singgah, merasa tenteram di sisi Allah,
berserah diri kepada-Nya, mewakilkan urusannya kepada-Nya, serta
mempercayai-Nya dengan segenap kepercayaan dalam bentuk ketaatan, kepasrahan,
dan komitmen penuh terhadap setiap perintah atau larangan tanpa ada keraguan.
Demikianlah ia menjalani penghambaan yang sejati, kebahagiaan yang sempurna,
dan keridaan yang utuh. Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada
Tuhannya.
Orang
yang salat akan merasakan bahwa belum lama berselang ia berada di hadapan
Allah, dan sesaat lagi ia akan berdiri kembali di hadapan Allah sekali lagi.
Maka, tidaklah pantas baginya untuk lalai dari-Nya atau melupakan-Nya di antara
dua waktu salat tersebut. Demikianlah orang yang senantiasa menjaga salatnya
tepat pada waktunya akan terus berada di dalam ruang lingkup pengaruh ketuhanan
dari salat tersebut dan hampir-hampir tidak pernah menjauh darinya. Dengan
demikian, setan tidak akan mampu menyendiri bersamanya untuk menyimpangkannya
dari jalan yang lurus:
"Sesungguhnya
salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
beriman." (QS. An-Nisa': 103).
Dahulu,
kekasih kita Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila ditimpa oleh
suatu urusan yang berat, beliau akan bersegera menuju salat, lalu beliau
mendapati kenyamanan, keamanan, taufik, serta ketenteraman di dalamnya. Dan
beliau senantiasa berkata kepada Bilal radhiyallahu 'anhu:
"Istirahatkanlah
kami dengan salat, wahai Bilal!"
Maka
salat bagi seorang mukmin laksana sebuah oase yang rimbun di tengah-tengah
gersangnya padang pasir kehidupan dan sengatan panasnya.
Ketundukan
kepada Allah dan rukuk di hadapan Allah di dalam salat ini akan menyuplai
pemiliknya dengan segala makna kemuliaan ('izzah). Orang yang salat
tidak akan rukuk dan tidak akan membungkuk kecuali hanya kepada Allah dalam
rangka mengagungkan dan memuliakan-Nya. Ia tidak akan membungkuk kepada manusia
dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah:
"(Yaitu)
orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya
dan mereka tiada merasa takut kepada seorang pun selain kepada Allah."
(QS. Al-Ahzab: 39).
Dan
setiap kali kita mengagungkan Allah dan mengapresiasi-Nya dengan apresiasi yang
sebenar-benarnya, niscaya kita akan semakin bertambah semangat untuk
menaati-Nya, bersandar kepada-Nya, dan merasa tenteram di sisi-Nya, serta kita
akan semakin bertambah lari menjauh dari maksiat kepada Allah dan menyalahi
perintah-Nya; dan di dalam hal ini terdapat bekal.
Sujud
kepada Allah di dalam salat ini termasuk ke dalam kedudukan (maqam) yang
paling tinggi. Di dalamnya terdapat penghambaan yang sejati dan perendahan diri
yang murni kepada Allah. Di dalamnya terdapat kedekatan dan keintiman berseri.
Dan lihatlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau telah
menghidupkan hakikat sujud kepada Allah dan mereguk kelezatannya serta apa yang
ada di dalamnya berupa kedekatan dengan Allah dan kebahagiaan spiritual. Beliau
dahulu biasa memanjangkan sujudnya dalam tahajudnya di waktu malam, hingga
Aisyah Ummul Mu'minin radhiyallahu 'anha sempat mengira bahwa beliau telah
wafat (dicabut nyawanya)...
Dan
sungguh, Rasul kita yang mulia telah mengingatkan kita kepada kebaikan ini,
serta memotivasi kita di dalamnya, di mana beliau bersabda yang maknanya: "Keadaan
paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang
bersujud..." Orang yang salat akan meresapi makna ini ketika ia sedang
bersujud, dan ia merasakan kedekatan ini, serta menyadari bahwa ini adalah
posisi paling terhormat dan paling tinggi baginya di dunia ini; karena pada
saat itulah ia berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya, dan pada saat
itulah kebahagiaan serta bekal itu diraih.
Dan
duduk tasyahud beserta apa yang dikandungnya berupa makna-makna dan perasaan
emosional yang tinggi; kita mendekatkan diri kepada Allah dengan ucapan
penghormatan yang penuh berkah (at-tahiyyatul mubarakat) serta salat
yang penuh kebaikan (as-shalawatut thayyibat). Kita juga menghadapkan
ucapan salam Islam kepada Rasul kekasih kita: "Assalamu 'alaika ayyuhan
nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh" (Keselamatan sejahtera atasmu
wahai Nabi, serta rahmat Allah dan berkah-Nya). Kemudian kita kembali membawa
keselamatan itu untuk diri kita dan untuk hamba-hamba Allah yang saleh. Lalu
kita mengikrarkan dua kalimat syahadat, serta bersalawat dan bersalam kepada
Rasul kekasih kita.
Alangkah
mengagumkannya duduk tersebut ketika kita menghidupkannya di hadapan Allah
Ta'ala bersama Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara di sekeliling
kita terdapat hamba-hamba Allah yang saleh dari umat Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam, dan Allah Ta'ala melihat kepada kita serta menampakkan
diri-Nya kepada kita dari ketinggian-Nya dengan pandangan rida dan penerimaan.
Kemudian kita keluar dari salat setelah duduk yang penuh kenikmatan ini untuk
menghadapi kehidupan dengan jiwa-jiwa yang rida lagi bahagia.
Gerakan-gerakan
salat juga memberikan dampak berupa manfaat kesehatan bagi tubuh orang yang
salat.
Sesungguhnya
komitmen kita terhadap gerakan-gerakan salat sebagaimana yang telah diajarkan
kepada kita oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam—di mana dalam satu
rakaat terdapat satu rukuk dan dua sujud, bukan dua rukuk dan satu
sujud—komitmen ini di dalamnya mengandung makna penghambaan yang mutlak kepada
Allah dan kepasrahan yang mutlak terhadap perintah-perintah Allah, meskipun
hikmahnya belum tampak jelas bagi kita. Sebab, tidaklah Iblis diusir dari
rahmat Allah hanya karena sekadar mendurhakai perintah Allah untuk bersujud
kepada ayah kita Adam bersama para malaikat, akan tetapi karena ia menentang
konsekuensi dari perintah tersebut serta menentang hikmah Allah di dalamnya.
Demikianlah kita belajar dari salat tentang makna yang tinggi dari penghambaan
kepada Allah ini.
Pelajaran
Edukatif dari Sisi Teknis Salat
Sesungguhnya
persiapan untuk salat dengan cara membersihkan badan, pakaian, dan tempat,
serta berwudu; ia mendidik seorang muslim di atas kebersihan, kesucian, dan
selera yang sehat yang menjauh dari kotoran maupun kenajisan baik secara
indrawi (fisik) maupun maknawi (non-fisik). Dan ketika bersatunya
antara kesucian indrawi dengan kesucian hati dari segala apa yang membuat Allah
murka—karena hati merupakan tempat yang dilihat oleh Allah di dalam salat—maka
tidak ada lagi rasa dendam, tidak ada rasa hasad, tidak ada rasa benci, dan
tidak ada rasa permusuhan di antara dirinya dengan saudara-saudara muslimnya.
Dan ini merupakan bekal yang sangat penting dan darurat bagi seorang muslim
secara umum, dan bagi orang yang meniti jalan dakwah secara khusus.
Sesungguhnya
syarat sahnya salat dengan masuknya waktu serta semangat untuk menunaikannya
sebelum habis waktunya; ia membiasakan orang yang salat untuk bersikap tepat
waktu dalam janji-janji serta menepatinya. Ia juga membiasakannya untuk
menghargai waktu, sehingga tidak ada satu urusan pun yang melalaikannya dan
menyita waktunya tanpa ia sadari. Karena sesungguhnya waktu-waktu salat itu
senantiasa mengingatkannya dan membangunkan dirinya dari kelalaian. Dengan
demikian, ia tidak mengizinkan satu pun kesenangan dari kesenangan dunia untuk
menyesaki waktunya dan pikirannya dari mengingat Allah, menegakkan salat, serta
beramal dan berjihad di jalan Allah. Sifat-sifat ini mutlak diperlukan dan
penting bagi setiap orang yang meniti jalan dakwah serta terikat dengan
berbagai aktivitas, janji, dan pertemuan.
Mencari
arah kiblat dan menghadapkan diri kepadanya; ia membiasakan seorang muslim
untuk mengetahui arah mata angin dan geografi suatu tempat nisbi terhadap
Kakbah, Rumah Suci Allah (Baitullah al-Haram). Dan di dalam perasaan
bahwa kaum muslimin di berbagai belahan dunia semuanya menghadap ke satu kiblat
yang sama; ia memberikan seorang muslim perasaan persatuan dengan
saudara-saudara muslimnya serta keterikatannya dengan mereka. Ini merupakan
makna edukatif yang sangat penting yang mesti diwujudkan di antara kaum
muslimin agar mereka mampu menghadapi musuh-musuh Islam. Sebagaimana
menghadapkan diri ke kiblat juga mengharuskan adanya penghadapan hati kepada
Allah dengan keikhlasan niat dan membersihkannya dari bekas-bekas riya maupun
kesyirikan; dan keikhlasan arah tujuan merupakan perkara paling penting yang
dibutuhkan oleh seorang dai di dalam jalan dakwah.
Memenuhi
panggilan untuk salat (azan) seketika ketika mendengarnya, serta membebaskan
diri dari segala kesibukan dunia; di dalamnya terdapat unsur mujahadah
(perjuangan jiwa) dan penguatan terhadap kehendak serta tekad, sekaligus
kemenangan atas hawa nafsu dan ambisi-ambisinya. Dan di dalam hal itu terdapat
bekal dan pendidikan yang memiliki pengaruh nyata secara praktik dalam
kehidupan seorang dai yang menyeru kepada Allah, serta dalam hal penyusunan
skala prioritas pada tugas-tugas dan urusan-urusan.
Keteraturan
saf-saf di dalam salat, meluruskannya, komitmen mengikuti imam dan tidak
mendahuluinya, serta membukakan bacaan untuknya (al-fathu 'alaih) jika
ia lupa atau salah; semua itu memiliki pengaruh edukatifnya tersendiri di dalam
jiwa seorang muslim. Maka, sikap ketaatan militer (jundiyah),
keteraturan sistem, dan kepatuhan kepada pemimpin yang disertai dengan
pemberian nasihat serta pengingatan terhadap kesalahan; kesemuanya merupakan
perkara yang mutlak diperlukan bagi para pekerja di ladang dakwah Islam serta
para mujahid di jalan Allah.
Perasaan
kesetaraan dalam satu saf di hadapan Allah; tidak ada perbedaan dalam hal
berdiri antara orang kaya dengan orang miskin, tidak ada sikap tinggi diri, dan
tidak ada kesombongan, karena semuanya adalah sama di hadapan Allah. Bahkan,
boleh jadi seorang yang kaya meletakkan dahinya bersujud kepada Allah tepat
berada di dekat kedua kaki seorang yang miskin pada saf yang berada di depannya
tanpa ada rasa keberatan maupun rasa jijik. Dan di dalam hal ini terdapat ruang
edukatif yang sangat penting serta bekal yang darurat demi penyatuan hati kaum
muslimin, kedekatan mereka, dan penguatan hubungan di antara mereka.
Berkumpulnya
kaum muslimin untuk salat di masjid pada waktu yang lima, pada salat Jumat, dan
pada dua hari raya; ia akan membuka kesempatan di antara kaum muslimin di satu
lingkungan yang sama atau satu negeri yang sama untuk saling mengenal, saling
mengasihi, bersatu, dan bekerja sama. Maka mereka akan memberi kepada yang
membutuhkan, menjenguk yang sakit, dan saling berbagi satu sama lain dalam
kegembiraan maupun kesedihan mereka, serta mereka saling berkasih sayang dan
saling merahmati di antara sesama mereka.
Semangat
kaum muslimin untuk salat di masjid akan mengikat mereka dengan masjid, serta
mengembalikan kepada masjid risalah pentingnya yang dahulu pernah dimilikinya
pada masa awal dakwah. Karena masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dahulu merupakan tempat di mana urusan kaum muslimin diatur, pasukan militer
dimobilisasi darinya, strategi-strategi dirancang, dan segala apa yang penting
bagi kaum muslimin dipelajari bersama di dalamnya. Dan alangkah butuhnya kaum
muslimin hari ini untuk mengembalikan masjid kepada risalah pertamanya itu.
Penutup
Demikianlah
kita mendapati bahwa salat secara keseluruhan adalah bekal di perjalanan, dan
segala apa yang berkaitan dengannya akan menyuplai orang yang salat dengan
suatu jenis bekal yang mutlak diperlukan dan darurat baginya.
Dan
aku tidak mengklaim bahwa aku telah merangkum seluruh apa yang ada di dalam
salat berupa sumber-sumber dan mata air kebaikan serta bekal, akan tetapi ini
hanyalah usaha dari seseorang yang sedikit ilmunya, dan kita memohon penerimaan
serta keikhlasan kepada-Nya.
Dan
di dalam Ibadah Terdapat Bekal....... (Puasa)
Kita
telah menyebutkan bahwa ibadah-ibadah—mulai dari salat, puasa, zakat, hingga
haji—dianggap sebagai sumber-sumber penting dan senantiasa terbarui bagi bekal
di perjalanan. Kita pun telah mencoba menjelaskan hal tersebut pada ibadah
salat, dan berikut ini kita akan mencobanya pada ibadah puasa dengan
pertolongan Allah.
Allah
Ta'ala berfirman:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah:
183).
Maka,
puasa itu memakaikan pakaian takwa kepada pemiliknya. Ia adalah perisai (junnah)
dan benteng pertahanan bagi orang yang berpuasa dari segala keburukan dan
fitnah. Puasa memiliki keistimewaan di antara seluruh ibadah lainnya dengan
adanya kekhususan penyandaran langsung kepada Allah Ta'ala.
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
"Allah
'Azza wa Jalla berfirman: 'Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa,
karena sesungguhnya puasa itu adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan
membalasnya.' Dan puasa itu adalah perisai. Apabila hari puasa salah seorang
dari kalian, maka janganlah ia berbuat rafats (berkata-kata kotor/porno) dan
janganlah ia berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencelanya atau
mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia berkata: 'Sesungguhnya aku sedang
berpuasa.' Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut
orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak
kesturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang ia rasakan: apabila
ia berbuka ia gembira dengan bukanya, dan apabila ia berjumpa dengan Tuhannya
ia gembira karena puasanya." (Muttafaq 'Alaih).
Ibadah
fardu puasa ini telah dikaitkan dengan bulan Ramadan. Jika Ramadan disebut,
maka seolah-olah Anda sedang mengingat sebuah kebun yang luas dan rindang, yang
dilewati oleh seorang muslim saat ia sedang berjalan di tengah gersangnya
padang pasir kehidupan, sengatan panasnya, serta fitnah-fitnahnya.
Jika
puasa itu sendiri secara keseluruhan sudah merupakan bekal dan kebaikan, maka
keberadaannya di dalam bulan Ramadan akan melipatgandakan bekal tersebut dan
menambah kebaikan di dalam puasa itu. Sungguh, Allah telah mengkhususkan bulan
Ramadan dengan kebaikan yang sangat banyak, yang sekiranya kita mengetahui
kebaikan tersebut, niscaya kita akan berharap agar sepanjang tahun seluruhnya
menjadi bulan Ramadan.
Sebab,
di dalam bulan Ramadanlah Al-Qur'an diturunkan:
"Bulan
Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang benar dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185).
Dan
di dalamnya terdapat Lailatulkadar; dan tahukah kamu apakah Lailatulkadar itu?
Lailatulkadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Di dalamnya pintu-pintu
surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, pahala
dilipatgandakan, serta di dalamnya terdapat iktikaf dan salat malam (qiyam).
Demikianlah
seorang muslim yang jujur menyambut bulan Ramadan dengan rasa gembira dan suka
cita; kegembiraan orang-orang mukmin atas karunia Allah dan rahmat-Nya. Di
dalamnya ia beristirahat dari keletihan hidup, mengumpulkan bekal, serta
memperbarui semangatnya agar dapat melanjutkan perjalanan di atas jalan dakwah.
Dan tidak ada yang dapat menikmati kebaikan tersebut serta memperoleh bekal itu
melainkan orang yang benar-benar menghidupkan Ramadan dan menunaikan puasa
sebagaimana yang telah diarahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ragam
Potret Bekal di Bulan Ramadan
Di
dalam bulan Ramadan, semangat kita untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an semakin
meningkat; baik dalam hal tilawah (membaca), mengamalkan, maupun menghafalnya.
Kita juga menegakkan salat malam dengannya, sehingga dengan demikian kita
mereguk cahaya, hikmah, petunjuk, nasihat, serta penawar bagi apa yang ada di
dalam dada dari sebuah mata air yang tidak akan pernah kering. Dan di dalam hal
itu terdapat bekal, dan alangkah besarnya bekal tersebut!
Di
dalam bulan salat malam (syahrul qiyam), orang-orang yang berpuasa
menegakkan salat malam setiap malam selama satu bulan penuh. Di dalam hal itu
terdapat bekal yang intensif serta penjinakan bagi jiwa untuk beribadah,
bersabar di atasnya, meresapi kelezatannya, serta melanggengkan hubungan, kedekatan,
ketundukan, dan kekhusyukan kepada Allah.
Di
dalam bulan Ramadan pula disunahkan iktikaf. Iktikaf memiliki pengaruh-pengaruh
dan kesan-kesan tersendiri bagi orang yang beriktikaf (mu'takif). Ia
hidup selama beberapa waktu dalam jamuan Allah di dalam rumah Allah, di mana ia
telah terbebas dari segala kesibukan hidup dan mengosongkan diri fokus untuk
menaati Allah; mendekatkan diri kepada Allah dengan zikir, salat, doa,
bermunajat, membaca Al-Qur'an, beristigfar, bertobat, serta menangis karena
takut kepada Allah.
Demikianlah
Allah memuliakan para tamu-Nya, lalu melimpahkan kepada mereka sebagian dari
cahaya-Nya dan petunjuk-Nya, sehingga mereka keluar dengan membawa bekal takwa,
iman, dan bimbingan (rasyad). Dan di tengah-tengah ayat tentang puasa,
Anda akan mendapati firman Allah Ta'ala:
"Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka
sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila
dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman
kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186).
Nilai-Nilai
Edukatif dan Karakteristik Puasa
- Menanamkan Sifat Ikhlas
dan Muraqabah:
Puasa
memberikan sifat ikhlas kepada Allah dan baiknya rasa pengawasan diri (muraqabah)
kepada-Nya, karena puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dengan
Tuhannya. Keikhlasan kepada Allah adalah bagian dari bekal terbesar dan paling
mutlak diperlukan bagi setiap muslim di atas jalan dakwah. Sebab, tidak ada
kebaikan sama sekali dari suatu amal atau usaha jika ia kosong dari keikhlasan
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; Allah Maha Kaya dari adanya sekutu, dan Dia
tidak menerima kecuali amal yang murni demi mengharap wajah-Nya.
- Melatih Mujahadah
(Perjuangan Jiwa):
Di
dalam puasa terdapat perjuangan melawan keinginan-keinginan jiwa dan jasad. Di
dalam hal itu terdapat penguatan bagi kehendak dan tekad seorang muslim, yang
mana ini merupakan bekal yang mutlak diperlukan bagi seorang dai yang menyeru
kepada Allah dan mujahid di jalan Allah. Orang yang berpuasa mengekang gejolak
jiwanya dan syahwatnya dari perkara yang halal selama beberapa waktu di siang
hari sepanjang bulan demi menunaikan ibadah puasa; dan di dalam hal itu
terdapat penolong baginya untuk menahan diri dari perkara yang haram di
waktu-waktu lainnya.
- Menumbuhkan Nilai
Kesabaran:
Puasa
memberikan keutamaan sabar bagi orang yang berpuasa. Sabar adalah termasuk
sifat yang paling mutlak diperlukan bagi para dai yang menyeru kepada Allah.
Kesabaran itu akan membantu mereka untuk melewati berbagai rintangan dan
melanjutkan perjalanan di atas jalan dakwah tanpa ada rasa lesu, kelemahan,
atau menyerah kepada keadaan:
"Maka
mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah,
dan tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah
mencintai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran: 146).
Sehingga,
ancaman, intimidasi, gangguan, maupun pengusiran tidak akan mampu memalingkan
mereka.
- Mendidik dan Menertibkan
Anggota Badan (Jawaarih):
Puasa
mendidik dan menertibkan anggota-anggota badan selama satu bulan penuh hingga
mereka terbiasa dengannya. Puasa tidak hanya terbatas pada menahan syahwat
perut dan kemaluan saja, akan tetapi puasa yang benar adalah berpuasanya
seluruh anggota badan dari segala apa yang diharamkan oleh Allah. Maka mata,
telinga, lisan, tangan, dan kaki juga ikut berpuasa di samping mulut dan
kemaluan. Ini merupakan sisi edukatif yang sangat penting dalam kepribadian
seorang muslim.
- Menumbuhkan Sifat Santun (Hilm):
Puasa
memberikan keutamaan sifat santun menghadapi orang-orang yang bodoh (jahilin).
Jika ada seseorang yang memusuhinya, mencelanya, atau memancing emosinya, ia
meredam amarahnya, bersikap santun, lalu berkata: "Sesungguhnya aku
sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa." Alangkah butuhnya
para dai yang menyeru kepada Allah terhadap akhlak pengendalian diri,
kelapangan dada, serta tidak marah karena membela ego diri sendiri semacam ini.
Di dalam hal ini terdapat keuntungan besar bagi kemaslahatan dakwah:
"Sekiranya
kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran: 159).
Di
dalam hal ini juga terdapat penghematan waktu dan tenaga demi kemaslahatan
dakwah dan produktivitas, alih-alih membuang waktu dan tenaga akibat amarah
dalam perdebatan, perselisihan, investigasi, maupun proses rekonsiliasi, yang
mana korbannya adalah dakwah, produktivitas, dan amal untuknya. Dan Maha Benar
Allah yang Agung dalam firman-Nya:
"Dan
tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara
yang lebih baik..." (QS. Fussilat: 34).
- Menumbuhkan Rasa Empati
Sosial:
Puasa
mendidik hati orang yang berpuasa untuk menaruh rasa belas kasih kepada orang
fakir dan miskin ketika ia merasakan sendiri perihnya rasa lapar, sehingga ia
bersegera mengulurkan tangan bantuan kepadanya. Dan ibadah zakat fitrah datang
untuk menegaskan makna ini serta mengingatkannya; ini adalah sisi edukatif
penting yang wajib mendominasi di antara sesama kaum muslimin.
- Penyucian Ruhani dan
Ketenangan Jiwa:
Di
saat berpuasa, kosongnya lambung dan ringannya ia dari makanan akan membuat ruh
membubung tinggi, hati menjadi jernih, serta sirnalah segala tabir penghalang
dan daya tarik bumi (syahwat dunia). Maka terjadilah kejernihan dan pancaran
spiritual, serta memancarlah cahaya kebenaran di dalam hati yang meneranginya.
Jiwa pun menjadi siap untuk disucikan (tazkiyah) dengan zikir, tilawah
Al-Qur'an, istigfar, tobat, dan doa. Di sanalah kebahagiaan sejati, kenikmatan
spiritual, serta perasaan dekat dengan Allah diraih. Makna ini ditegaskan oleh
sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sesungguhnya
setan itu berjalan di dalam diri anak Adam melalui aliran darah, maka
persempitlah jalan-jalannya dengan rasa lapar." (Muttafaq 'Alaih).
- Persiapan Menghadapi Medan
Perjuangan:
Puasa—terutama
pada hari-hari yang sangat panas terik—mempersiapkan seorang muslim untuk
bersabar dan bertahan di medan-medan jihad, pertempuran, dan menghadapi musuh,
atau menghadapi kondisi-kondisi sulit yang mungkin dilewatinya di ladang-ladang
dakwah beserta medannya. Dengan demikian, daya tarik bumi dan tuntutan-tuntutan
jasad tidak akan menjadi penghambat baginya atau mendudukkannya (membuatnya
malas) dari melanjutkan perjalanan.
- Meluruskan Hakikat
Kebahagiaan:
Puasa
mengajarkan kepada orang yang berpuasa tentang apa yang seharusnya membuat
seorang mukmin merasa gembira, yaitu atas taufik dari Allah dan bantuan-Nya
untuk menunaikan ibadah serta keikhlasan kepada-Nya. Hal ini adalah ketika
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita bahwa bagi orang
yang berpuasa ada dua kegembiraan: apabila ia berbuka ia gembira, dan apabila
ia berjumpa dengan Tuhannya ia gembira karena puasanya:
"Katakanlah:
'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.
Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan'." (QS. Yunus: 58).
Di
dalam hal ini terdapat pelurusan terhadap konsepsi-konsepsi yang keliru pada
diri kebanyakan orang ketika mereka justru bergembira atas
kesenangan-kesenangan dunia saat dunia itu datang menghampiri mereka, dan
mereka berduka cita ketika kehilangan dunia tersebut.
- Menguatkan Rasa
Kebersamaan Berjamaah:
Puasa
menguatkan makna kebersamaan berjamaah di dalam jiwa orang yang berpuasa. Kaum
muslimin di berbagai belahan dunia berpuasa di dalam bulan yang sama dan
merasakan bahwa apa yang ada di dalamnya berupa kebaikan adalah disebabkan oleh
puasa. Bulan Ramadan ini diikuti bersama oleh saudara-saudara mereka di seluruh
penjuru dunia dengan segala perbedaan suku bangsa dan warna kulit mereka.
Perasaan akan persatuan kaum muslimin merupakan perkara yang sangat penting dan
mutlak diperlukan, khususnya bagi para pemilik dakwah.
Sunah-Sunah
Puasa dan Fleksibilitas Syariat
Karena
adanya kebaikan yang besar di dalam puasa, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam mensunahkan bagi kita puasa pada hari-hari selain ibadah fardu di
sepanjang tahun. Beliau memotivasi kita di dalamnya berangkat dari landasan
perhatian besar beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan rasa cinta beliau
terhadap kebaikan bagi kita.
Dan
jika termasuk bagian dari rahmat Allah kepada kita dan rasa cinta-Nya terhadap
kebaikan bagi kita adalah Dia memudahkan salat bagi kita dalam safar, sakit,
dan perang, namun Dia tetap meringankannya sedikit atas kita agar kita tidak
terhalang dari kebaikan dan bekalnya; maka Allah Subhanahu wa Ta'ala—berangkat
dari landasan rahmat-Nya kepada kita dan agar tidak memberatkan kita—telah
memberikan keringanan (rukhshah) bagi kita dalam hal puasa dengan cara
menggantinya di hari lain (qadha) atau membayar denda (fidyah)
ketika berada dalam safar atau sakit.
Puasa
mengikat seorang muslim dengan alam semesta ini beserta apa yang ada di
dalamnya berupa bulan dan bintang-bintang; yaitu ketika ia memantau awal bulan
dan mencari hilal di awal Ramadan dan awal Syawal, memantau tempat-tempat
terbitnya, serta mengenali sisi ini dari makhluk ciptaan Allah beserta apa yang
ada di dalamnya berupa dalil atas keagungan Allah dan kekuasaan-Nya.
Manajemen
Waktu dan Manfaat Medis
Puasa
membiasakan seorang muslim untuk memperhatikan waktu dan bersikap tepat waktu
dalam janji-janji. Setiap orang yang berpuasa akan memantau waktu imsak dan
waktu berbuka, serta bersikap sangat teliti dalam hal itu agar puasanya tidak
batal disebabkan oleh kelalaian atau ketidaktelitian. Pengulangan hal tersebut
setiap hari selama satu bulan penuh akan memberikan karakteristik ini kepada
pemiliknya. Dan alangkah butuhnya para dai yang menyeru kepada Allah terhadap
sifat ini dalam kehidupan dakwah mereka, pertemuan-pertemuan mereka, dan
aktivitas mereka; dengan cara yang tidak menjadi sebab terhambatnya suatu
urusan yang penting atau terbuangnya waktu orang lain tanpa membawa faedah.
Di
samping semua itu, puasa memiliki pengaruh-pengaruh kesehatan yang penuh berkah
bagi jasad. Dunia kedokteran modern akhirnya berhasil menyingkap hakikat ini
baru-baru ini, dan sebagian sanatorium (rumah sakit pemulihan) telah menjadikan
puasa sebagai sarana yang efektif dalam mengobati banyak penyakit.
Fenomena
Penyimpangan di Bulan Ramadan
Semua
bekal ini dan pengaruh-pengaruh edukatif di dalam puasa serta bulan Ramadan ini
sangat mudah diraih bagi orang yang jujur niatnya dan berpuasa sebagaimana yang
Allah inginkan bagi kita untuk berpuasa, serta sebagaimana yang telah diajarkan
oleh Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam.
Adapun
apa yang kita lihat hari ini pada kebanyakan kaum muslimin; di mana bulan puasa
telah berubah menjadi bulan kekenyangan (overeating) dan memperbanyak
aneka ragam jenis makanan alih-alih merasakan lapar dan menyedikitkan makanan;
dan berubahnya bulan ibadah, salat malam, dan Al-Qur'an menjadi bulan begadang
malam (untuk urusan sia-sia) dan senda gurau; serta bahwasanya ia menjadi kesempatan
bagi para artis pria dan wanita untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan
kerusakan mereka dan upaya mereka merusak orang lain, serta tumpukan
kemungkaran ini; aku katakan bahwa ini semua adalah distorsi (pencemaran)
terhadap hakikat Ramadan dan merupakan suatu kondisi yang tidak diridai oleh
Allah maupun Rasul-Nya, serta wajib diupayakan untuk memperbaikinya.
Penutup
Akhirnya,
aku memohon kepada Allah agar memberikan manfaat kepada kita dengan kebaikan
Ramadan dan bekal puasa. Dan apa yang telah aku sebutkan ini belumlah merangkum
seluruh tema ini, melainkan barulah sebagian dari sisi-sisinya saja;
mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepada kita dengannya.
Dan
di dalam Ibadah Terdapat Bekal....... (Zakat)
Zakat,
sebagaimana yang telah jelas dari namanya, merupakan penyucian (tazkiyah)
bagi jiwa dan pengangkatan derajatnya tinggi-tinggi dari daya tarik bumi
(syahwat dunia), serta pembersihan dari noda dosa dan beban-beban kesalahan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan hal tersebut dalam firman-Nya:
"Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
menyucikan mereka." (QS. At-Tawbah: 103).
Dan
penyucian jiwa serta pembersihannya adalah sebuah bekal yang agung dan
keberuntungan yang besar:
"Sungguh
beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang
mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9-10).
Maka
zakat, sedekah, dan berinfak di jalan Allah secara umum adalah wujud
penghambaan diri dan pendekatan diri kepada Allah, yang mana pada saat yang
sama ia menjadi bekal spiritual dan edukatif yang sangat penting.
Manusia
di dalam fitrahnya memiliki rasa cinta terhadap harta dan cinta untuk memiliki.
Al-Qur'an menetapkan hal tersebut:
"Dan
kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan." (QS. Al-Fajr:
20).
Dan
di dalam hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terdapat sabda yang
maknanya: "Sekiranya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya
ia akan mendambakan untuk memiliki lembah yang kedua, dan tidak ada yang dapat
memenuhi mata anak Adam melainkan tanah (kematian)."
Di
dalam fitrah manusia juga terdapat sifat kikir (syuhh):
"Sungguh,
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa
kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila dia mendapat kebaikan dia menjadi
kikir." (QS. Al-Ma'arij: 19-21).
"Dan
siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9).
Oleh
karena itu, kita melihat adanya fenomena manusia yang saling memperebutkan
kesenangan dunia ini dan saling berperang demi mendapatkannya. Muncul pula
sifat egois serta konflik antara sesama manusia, yang melahirkan rasa dendam,
kebencian, hasad, dan keegoisan hingga mencapai level hewani, apabila
masyarakat tersebut kosong dari makna-makna keimanan.
Akan
tetapi, Islam kita yang agung menertibkan itu semua, mengangkat jiwa kaum
muslimin menjadi mulia, serta mengobati keterikatan mereka terhadap harta dan
kesenangan dunia. Islam mengajarkan kepada seorang muslim bahwa harta yang ada
di tangannya adalah harta milik Allah, dan bahwasanya harta itu adalah
kesenangan yang akan sirna, yang digunakan sebagai sarana pembantu untuk
menunaikan misinya di dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah.
Islam
juga mengajarkan bahwa Allah membagi-bagikan rezeki dengan hikmah-Nya dan
ilmu-Nya, dan bahwasanya Islam mengatur pendistribusian harta di antara manusia
serta jaminan sosial (takaful) mereka dengan suatu metode yang tidak ada
bandingannya dan tidak ada tandingannya; demi mewujudkan kehidupan yang baik,
mulia, lagi bersih dari rasa permusuhan, kebencian, hasad, dan rasa dengki.
Sebaliknya, kehidupan itu akan dipenuhi oleh rasa cinta, sifat mementingkan
orang lain (itsar), rasa qanaah (merasa cukup), keridaan, kasih sayang,
dan rasa iba. Di samping itu, Islam juga menetapkan hukuman yang membuat jera
bagi siapa saja yang jiwanya tergoda setelah itu untuk mengabaikan atau
mengintervensi hak-hak orang lain. Islam pun telah menggariskan jalan dalam hal
mencari nafkah (k کسب)
maupun membelanjakannya (infak).
Butir-Butir
Bekal yang Bermanfaat dari Zakat dan Infak
Berikut
ini kami paparkan sebagian bekal bermanfaat yang berkaitan dengan zakat dan
infak dalam bentuk poin-poin, dan hanya kepada Allah-lah kita memohon taufik:
- Menjinakkan Jiwa dan
Melatih Kepedulian:
Di
dalam mengeluarkan zakat dan berinfak di jalan Allah terdapat unsur penjinakan
bagi jiwa dan pelatihan baginya untuk mengalahkan rasa cinta terhadap harta dan
keterikatan kepadanya. Di dalamnya juga terdapat dorongan untuk menaruh rasa
belas kasih kepada orang-orang fakir dan miskin, serta tumbuhnya perasaan ikut
berpartisipasi dalam urusan-urusan umat Islam, negara Islam, dan jihad di jalan
Allah. Semua hal itu memiliki pengaruh yang besar dalam membangun kepribadian
seorang muslim sejati yang integral lagi bermanfaat. Dan alangkah butuhnya para
pemilik dakwah terhadap makna-makna ini.
- Menyadari Status Harta
sebagai Titipan:
Barangsiapa
yang mematuhi perintah Allah dengan mengeluarkan zakat, sedekah, dan berinfak
di jalan Allah, ia akan merasakan bahwa harta tersebut adalah harta milik
Allah, dan bahwasanya ia hanya bertindak mengelolanya sesuai dengan
perintah-perintah dan ajaran-ajaran Pemiliknya (Allah) Subhanahu wa Ta'ala. Ia
juga menyadari bahwa tidak halal baginya untuk menyalahi ajaran-ajaran ini,
baik dalam hal cara mengumpulkannya maupun cara membelanjakannya.
- Menempatkan Harta di
Tangan, Bukan di Hati:
Seorang
muslim memandang harta sebagai sarana yang membantunya untuk menaati Allah, dan
bahwa mengumpulkannya bukanlah sebuah tujuan akhir. Dengan prinsip ini, harta
akan tetap berada di tangan kita untuk kita gunakan dan kita mintai bantuan
darinya, serta harta itu tidak akan masuk ke dalam hati kita lalu menguasainya,
memperbudak kita demi harta tersebut, atau memperalat kita hanya untuk
mengumpulkan, menjaga, dan mengembangkannya hingga menjadi kesibukan utama
kita:
"Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS.
At-Takathur: 1-2).
"Celakalah
bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan
menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam
Hutamah." (QS. Al-Humazah: 1-4).
- Memahami Hikmah Perbedaan
Rezeki:
Zakat
mengajarkan kepada seorang muslim bahwa adanya perbedaan tingkat rezeki ini
adalah bagian dari ciptaan Allah dan ketentuan-Nya berdasarkan hikmah-Nya...
Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya, dan
agar roda kehidupan di antara manusia dapat berjalan dalam bentuk kerja sama
dan saling melayani satu sama lain:
"Allah
melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan membatasi (bagi siapa
yang dikehendaki-Nya)." (QS. Ar-Ra'd: 26).
"Apakah
mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat menjadikan
sebagian yang lain sebagai pekerja. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan." (QS. Az-Zukhruf: 32).
- Menepis Sifat Sombong ala
Qarun:
Seorang
mukmin yang jujur meyakini bahwa apa yang berhasil ia peroleh berupa harta,
sesungguhnya itu hanyalah berasal dari karunia Allah, bukan karena kemampuan
pribadinya atau ilmunya semata, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Qarun: "Sesungguhnya
aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku."
- Menumbuhkan Sifat Qanaah:
Seorang
mukmin akan rida dengan apa yang telah Allah bagikan untuknya berupa rezeki,
karena Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya:
"Dan
sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan
berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan apa yang Dikehendaki-Nya
dengan ukuran. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat terhadap
hamba-hamba-Nya." (QS. Asy-Syura: 27).
- Membangun Kepercayaan
Mutlak kepada Allah:
Zakat
mendidik di dalam jiwa orang yang berzakat rasa kepercayaan yang mutlak kepada
Allah, dan kepercayaan terhadap apa yang ada di sisi Allah jauh lebih besar
daripada kepercayaan terhadap apa yang ada di tangannya sendiri. Secara
lahiriah, perkara zakat itu seolah-olah mengambil sebagian dari harta atau
menguranginya, akan tetapi orang yang berzakat meyakini hal yang sebaliknya...
Sebagaimana halnya riba, secara lahiriah ia tampak seperti penambahan pada
harta, namun pada hakikatnya ia adalah pemusnah harta, penghancur, dan
pembinasa. Hal ini membenarkan firman Allah Ta'ala:
"Dan
sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka ia
tidak bertambah di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu
maksudkan untuk memperoleh keridaan Allah, maka merekalah orang-orang yang
melipatgandakan (pahalanya)." (QS. Ar-Rum: 39).
Demikian
pula adanya peringatan berupa maklumat perang dari Allah dan Rasul-Nya bagi
siapa saja yang tidak mau meninggalkan riba.
- Mendorong Investasi yang
Produktif dan Mandiri:
Zakat
mendorong kaum muslimin untuk menginvestasikan harta-harta mereka pada
sektor-sektor yang membawa manfaat bagi kaum muslimin, alih-alih membekukannya
(menganggurkannya). Di dalam hal itu terdapat pertumbuhan ekonomi dan
kekuatan bagi Islam serta kaum muslimin, sekaligus menjadi dorongan bagi mereka
untuk memakmurkan bumi, mengambil manfaat dari nikmat-nikmat Allah, serta agar
pihak luar tidak mengendalikan roda perekonomian mereka.
- Meluruskan Standar Nilai
Manusia:
Orang-orang
yang tidak beriman memiliki standar nilai berupa harta. Mereka menilai dan
menghormati manusia berdasarkan kadar harta yang mereka miliki, meskipun
orang-orang kaya tersebut adalah orang-orang yang sesat lagi berbuat kerusakan.
Akan tetapi, orang-orang yang beriman memiliki standar nilai yang bersifat
ketuhanan (rabbani):
"Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujurat: 13).
Mereka
menempatkan harta pada kadar posisinya yang sesuai, yaitu sebagai kesenangan
yang akan sirna dan bukan termasuk ke dalam pilar pembentuk kepribadian.
- Menjaga Stabilitas Mental
dalam Menghadapi Pasang Surut Dunia:
Orang-orang
yang tidak beriman akan merasa sangat gembira yang berlebihan ketika harta dan
kesenangan dunia datang menghampiri mereka—padahal boleh jadi kedatangan dunia
ini justru menjadi titik kebinasaan dan penyelewengan mereka—dan mereka akan
sangat berputus asa lagi berkeluh kesah yang mendalam ketika dunia dan harta
itu berpaling pergi menjauh dari mereka. Bahkan, rasa putus asa ini tidak
jarang mendorong sebagian dari mereka untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Adapun
seorang mukmin, kondisinya cenderung stabil lagi tenang, baik ketika dunia itu
datang menghampiri maupun ketika ia berpaling pergi. Ia tidak akan bersikap
jemawa (gembira berlebihan) atas apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak
pula berputus asa atau berduka cita yang mendalam atas apa yang luput darinya.
Ia merasa tenteram bahwa ini semua adalah takdir Allah, dan takdir Allah
baginya pastilah baik... Kegembiraan seorang mukmin adalah atas karunia Allah,
rahmat-Nya, taufik-Nya, serta petunjuk-Nya:
"Katakanlah:
'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.
Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan'." (QS. Yunus: 58).
- Menjadikan Harta sebagai
Sarana Kebaikan:
Harta
dapat menjadi sarana untuk mendatangkan kebaikan dan pahala yang agung apabila
ia dikumpulkan dari jalan yang halal, diinfakkan di jalan Allah, serta
ditunaikan hak Allah di dalamnya. Sebaliknya, ia juga dapat menjadi sarana
keburukan dan penarik murka Allah serta azab-Nya di akhirat kelak, apabila
pemiliknya tidak menempuh cara-cara yang halal dalam mengumpulkannya dan tidak
menunaikan hak Allah di dalamnya.
Orang-orang
yang terobsesi pada harta, menyibukkan diri hanya untuk mengumpulkannya dan
menimbunnya, sesungguhnya mereka telah salah jalan. Sebab, penjagaan harta yang
sejati sesungguhnya adalah dengan cara menginfakkannya di jalan Allah, dan
pengembangan harta yang sesungguhnya juga diraih melalui cara tersebut... Allah
Ta'ala berfirman:
"Perumpamaan
(nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang meninfakkan hartanya di jalan
Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada
tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang
Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 261).
Dan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah
ada bagimu wahai anak Adam dari hartamu kecuali apa yang telah kamu makan lalu
kamu habiskan, atau apa yang kamu pakai lalu kamu lusuhkan, atau apa yang kamu
sedekahkan lalu kamu kekalkan (pahalanya di akhirat)."
- Menghilangkan Sifat
Sombong dalam Berderma:
Orang
yang mengeluarkan zakat akan merasakan bahwa apa yang ia berikan kepada orang
fakir yang kekurangan bukanlah sebuah bentuk kemurahan hati atau budi baik dari
dirinya, melainkan itu adalah hak yang sudah pasti, yang telah Allah bagikan
untuk orang fakir tersebut, yang mana Allah menjadikannya mengalir melalui
kedua tangannya. Dan sangat memungkinkan sekiranya posisi itu dibalik; di mana
dialah yang menjadi orang yang diberi sedekah (penerima), sedangkan
orang fakir tersebut yang menjadi orang yang berzakat (pemberi).
- Menjaga Kemurnian Pahala
Sedekah:
Al-Qur'an
memotivasi kita untuk tidak membatalkan pahala sedekah-sedekah kita dengan cara
menyebut-nyebutnya (al-mann), menyakiti perasaan si penerima (al-adza),
dan riya. Di dalam hal ini terdapat sisi edukatif yang sangat penting yang
menumbuhkan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, menahan diri dari
menyakiti manusia, serta mendorong terciptanya rasa kasih sayang dan rahmat:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang
meninfakkan hartanya karena riya kepada manusia..." (QS. Al-Baqarah:
264).
Melainkan,
ia harus melakukannya hanya demi mengharap wajah Allah semata.
- Membiasakan Diri Berinfak
dengan Sesuatu yang Terbaik:
Allah
itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Al-Qur'an memotivasi kita
untuk berinfak dari harta yang baik-baik, yang kita sukai, dan jangan sengaja
memilih harta yang buruk/kualitas rendah untuk diberikan. Ini merupakan sisi
edukatif penting yang di dalamnya terdapat unsur perlawanan terhadap keegoisan
dan cinta diri yang berlebihan:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu.
Janganlah kamu memilih yang buruk-buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu
sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya.
Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS.
Al-Baqarah: 267).
"Kamu
sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali 'Imran: 92).
- Menghidupkan Sisi
Kebutuhan Spiritual Pemberi Sedekah:
Alangkah
indahnya ketika perasaan orang yang bersedekah itu membubung tinggi, sehingga
ia merasakan bahwa kebutuhan dirinya kepada orang fakir (agar ia dapat
bersedekah kepadanya) sesungguhnya jauh lebih besar daripada kebutuhan orang
fakir tersebut kepada dirinya. Hal itu dikarenakan dia jauh lebih membutuhkan
amal-amal kebaikan dan pahala Allah di hari kiamat kelak, daripada kebutuhan
orang fakir tersebut terhadap uang di dunia... Ia membutuhkan pahala Allah
untuk menyelamatkannya dari azab dan memasukkannya ke dalam surga Allah. Oleh
karena itu, dialah yang seharusnya berjalan mendatangi orang fakir, tidak
menunggu ucapan terima kasih dari orang fakir tersebut, melainkan dialah yang
seharusnya berterima kasih kepada orang fakir yang telah memberikan kesempatan
baginya untuk mendapatkan bekal yang akan mendatangkan manfaat di akhirat
kelak.
- Meluruskan Perspektif
tentang Nikmat:
Banyak
orang yang keliru ketika mereka mengukur nikmat-nikmat Allah hanya berdasarkan
apa yang masuk ke dalam kantong-kantong mereka berupa gaji bulanan atau
pendapatan materi semata. Mereka melupakan nikmat-nikmat Allah atas mereka yang
berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran, kemampuan berbicara, dan selain
itu; seolah-olah semua itu adalah hak yang mutlak didapatkan secara otomatis
tanpa ada andil karunia Allah atas mereka. Maka, alangkah pantasnya bagi kita
untuk meluruskan cara pandang ini, serta merasakan karunia Allah dan
nikmat-nikmat-Nya atas kita; dan bahwasanya jika kita disuruh memilih antara
salah satu dari nikmat-nikmat ini dengan ber-qintar-qintar emas, niscaya kita
tidak akan pernah rela menjadikannya sebagai pengganti.
- Menyadari Transaksi
Langsung dengan Allah:
Orang
yang berzakat atau bersedekah mutlak harus merasakan bahwa ketika ia memberi
kepada orang fakir, sesungguhnya ia sedang mempersembahkan pemberian tersebut
kepada Allah:
"Tidakkah
mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima
sedekah-sedekah?" (QS. At-Tawbah: 104).
Dan
sungguh, Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha telah meresapi makna ini dari ayat
ini, di mana beliau dahulu biasa membersihkan dan mengilapkan uang dirham yang
akan disedekahkannya.
- Meresapi Metafora
"Pinjaman kepada Allah":
Sesungguhnya
seorang mukmin sejati pastilah akan merasa malu kepada Allah sang Maha Pemberi
Nikmat lagi Maha Pemurah, ketika Dia menyeru kaum muslimin untuk berinfak di
jalan Allah dalam bentuk kalimat permohonan pinjaman:
"Siapakah
yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (meninfakkan
hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya
dengan lipat ganda yang banyak." (QS. Al-Baqarah: 245).
Maka,
barangsiapa yang meresapi ayat ini dengan peresapan yang sebenar-benarnya, ia
tidak akan memiliki pilihan lain kecuali bersegera menyambutnya;
mempersembahkan segala apa yang ia miliki dalam rasa malu dan kekhusyukan.
- Meneladani Kedermawanan
Rasulullah dan Para Sahabat:
Alangkah
pantasnya bagi kita untuk meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan para sahabatnya dalam hal kedermawanan dan berinfak. Sungguh, beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan melebihi angin
yang berembus lepas, dan beliau berada dalam kondisi paling dermawan adalah di
bulan Ramadan. Banyak dari kalangan sahabat yang keluar menyerahkan seluruh
harta-harta mereka di jalan Allah dan demi mendukung pasukan militer kaum
muslimin. Diriwayatkan bahwa salah seorang sahabat dahulu biasa berinfak dengan
sangat royal, lalu sebagian kerabat dekatnya mengingatkan dan menegurnya dalam
hal itu, maka ia berkata kepada mereka: "Aku telah membiasakan makhluk
Allah dengan suatu kebiasaan, dan Allah pun telah membiasakan aku dengan suatu
kebiasaan, yaitu kedermawanan. Maka aku khawatir jika aku mengubah kebiasaanku
terhadap makhluk-Nya, Dia akan mengubah kebiasaan-Nya terhadap diriku."
- Menanamkan Sifat
Bersegera dalam Kebaikan:
Metode
Al-Qur'an senantiasa mendorong untuk bersegera dalam berinfak sebelum datangnya
momentum yang terlambat disebabkan oleh kematian. Ini merupakan sisi edukatif
penting yang menumbuhkan sifat bersegera menuju kebaikan-kebaikan:
"Mereka
itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang
segera memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61).
"Dan
infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang
kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Tuhanku,
mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat,
sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?' Dan
Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah
datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan." (QS. Al-Munafiqun: 10-11).
- Makna Keadilan Sosial
yang Inklusif:
Sesungguhnya
cakupan kewajiban zakat yang meliputi banyak jenis dari buah-buahan, hasil
panen, hewan ternak, dan selainnya; di dalamnya mengandung makna keikutsertaan
orang fakir untuk ikut merasakan semua jenis komoditas ini dan tidak terhalang
dari sesuatu pun darinya hanya disebabkan oleh kefakirannya.
Penutup
Demikianlah
kita mendapati bahwa zakat dan infak seluruhnya adalah untaian pelajaran dan
bekal bagi siapa saja yang menghendaki untuk mengumpulkan bekal di perjalanan.
Dan
aku tidak mengklaim bahwa aku telah merangkum tema ini secara sempurna, dan
bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan silakan menambahnya....... dan
hanya kepada Allah-lah kita memohon taufik.
Dan
di dalam Ibadah Terdapat Bekal....... (Haji)
Allah
Ta'ala berfirman:
"Haji
adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam
bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata-kata
kotor/porno), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan
haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah
mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 197).
Bekal
haji adalah bekal yang intensif lagi berlimpah, yang Allah anugerahkan untuk
memuliakan para tamu rumah suci-Nya (Baitullah Al-Haram). Limpahan karunia
ketuhanan (al-fuyudhat ar-rabbaniyyah) selama masa haji, di
tempat-tempat suci, dan saat menunaikan syiar-syiar ini, merupakan limpahan
yang meliputi segalanya berupa cahaya, petunjuk, takwa, rahmat, dan ketenangan.
Terutama, jika alat penerimanya—yaitu hati sang jemaah haji—berada dalam kondisi
selamat, murni, bersih, lagi ikhlas menghadapkan wajah kepada Allah.
Betapa
agung perasaan mendalam yang menguasai diri jemaah haji sebelum
keberangkatannya; berupa keinginan yang kuat dan kerinduan yang besar untuk
menunaikan fardu haji serta mengunjungi Baitullah Al-Haram dan makam Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mana perasaan ini semakin bertambah selama
perjalanan. Kemudian, momen-momen ketika pandangan mata pertama kali jatuh pada
Ka'bah yang mulia; alangkah agung dan indahnya momen-momen tersebut,
seolah-olah sebuah muatan spiritual mengalir deras ke dalam hati jemaah haji,
lalu memenuhinya dengan rasa takut dan khusyuk kepada Allah, serta pengagungan
dan kewibawaan terhadap Baitullah Al-Haram.
Begitu
pula saat menyentuh/mencium Hajar Aswad (yang diibaratkan sebagai tangan kanan
Allah di bumi), dan saat berdiri di ambang pintu Ka'bah di Multazam, di mana
air mata mengalir dan tetesan air mata ketakutan, ketundukan, tobat, serta
penyesalan dicurahkan. Di sana juga, di padang Arafah milik Allah dan di atas
Jabal Rahmah, terdapat limpahan karunia yang luas; semua orang berada di satu
hamparan tanah yang sama, menggelegarkan doa kepada Allah, dan mereka datang
dari segenap penjuru yang jauh. Dan "Haji adalah Arafah,"
sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka
di sanalah bentuk pemuliaan Allah kepada para tamu rumah-Nya, di mana Dia tidak
menolak mereka dalam keadaan hampa. Dia menerima tobat orang-orang yang
bertobat, ampunan orang-orang yang beristigfar, dan doa orang-orang yang
berdoa. Ketenangan pun turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, dan hati
mereka dipenuhi oleh cahaya Allah serta takwa kepada-Nya. Maka bertemulah
mereka dengan kebahagiaan sejati yang mengingatkan pada kebahagiaan penduduk
surga.
Bekal
salat, puasa, dan zakat senantiasa diperbarui dan berulang karena ibadah-ibadah
ini berulang seiring berjalannya hari, bulan, dan tahun. Akan tetapi, karena
fardu haji adalah kewajiban seumur hidup yang gugur dengan sekali penunaian,
maka seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta'ala—sebagai bentuk kemurahan dan karunia
dari-Nya—telah mengkhususkan haji dengan limpahan yang luas dan bekal yang
berlimpah ini, yang memberikan manfaat kepada pemiliknya di sisa hidupnya,
serta menjadikannya kembali suci bersih seperti pada hari ia dilahirkan oleh
ibunya, seakan-akan ia telah meletakkan beban-beban dan dosa-dosa yang berat
dari pundaknya.
Nilai-Nilai
Edukatif dan Karakteristik Ibadah Haji
- Penyucian Total dan
Pengorbanan:
Jemaah
haji, sejak waktu keluarnya dari rumahnya untuk menunaikan fardu haji, hidup
dalam suatu fase yang murni untuk Allah, bersih dari segala kesibukan dunia. Ia
menjalaninya dengan segenap rasa, emosi, eksistensi, hati, akal, jasad, anggota
badan, indra, jiwa, dan bisikan hatinya. Di dalamnya ia mengorbankan waktu,
tenaga, harta, dan segala apa yang ia miliki. Dengan demikian, ia menundukkan
semua nikmat ini untuk Allah dan untuk menaati Allah, jauh dari kemaksiatan
kepada-Nya. Di dalam penundukan ini terdapat bekal yang besar, pendidikan, dan
penertiban diri yang pengaruhnya membekas dalam kehidupannya setelah itu.
- Menjaga Kesadaran akan
Batas Usia dan Kemampuan:
Ketergantungan
kewajiban fardu haji pada syarat-syarat ketersediaan kemampuan (istitha'ah),
memiliki pengaruh tidak langsung bagi seorang muslim yang jujur untuk
menjadikannya senantiasa memantau kondisinya dan merasa diawasi oleh Allah
dalam menentukan waktu terpenuhinya syarat ini. Sehingga, ia tidak
menunda-nunda dan tidak ragu-ragu dalam berusaha menunaikan fardu haji begitu
kemampuan itu tersedia, karena ia tidak menjamin kelanjutan umurnya. Jika tidak
(segera menunaikannya), ia berisiko terkena azab Allah, dan perumpamaannya
seperti orang yang meninggalkan salat karena menunda-nunda, atau bulan Ramadan
menjumpainya namun ia tidak berpuasa, atau zakat telah wajib atasnya namun ia
tidak menunaikannya.
- Mendidik Jiwa
Berpenghasilan Halal:
Sesungguhnya
Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Maka, barangsiapa
yang berniat menunaikan fardu haji, ia mutlak harus meneliti aspek kehalalan
dan kebaikan dalam usahanya, jauh dari perkara yang haram atau apa yang di
dalamnya terdapat syubhat. Di dalam hal ini juga terdapat sisi edukatif yang
penting dalam kehidupan seorang muslim.
- Mengingat Hakikat
Kematian dan Pertemuan dengan Allah:
Alangkah
miripnya seorang jemaah haji yang keluar dari rumahnya dalam keadaan telah
mandi dan mengenakan pakaian ihram, serta keluar dari kesibukan dunia demi
memurnikan hatinya untuk Allah dengan meninggalkan keluarga, harta, dan anak di
belakangnya; alangkah miripnya ia dengan orang yang keluar dari dunia saat
menemui Allah. Tindakan mandi haji disepadankan dengan dimandikannya jenazah,
pakaian ihram disepadankan dengan kain kafan, dan keluar dari kesibukan dunia
disepadankan dengan keluarnya jasad secara fisik dari dunia. Sementara itu,
berpamitan dengan keluarga serta meninggalkan harta dan anak adalah perkara
yang sama pada kedua kondisi tersebut.
Maka
alangkah indahnya jika jemaah haji mengingat makna ini, mengambil pelajaran
serta nasihat, dan bersiap untuk menemui Allah di atas kesucian dan kemurnian.
Ia mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi (mazhalim), melunasi
utang-utang, meminta maaf kepada orang yang pernah ia berbuat buruk kepadanya,
dan bertobat kepada Allah; karena boleh jadi ia akan menemui Allah dalam
perjalanannya ini. Dengan demikian, ia memulai perjalanannya dengan permulaan
yang baik lagi mulia.
- Meresapi Doa Safar yang
Edukatif:
Semoga
selawat Allah tercurah kepadamu, wahai junjunganku, wahai Rasulullah. Engkau
telah mengajarkan kepada kami sebuah doa yang kami ucapkan ketika bepergian (safar),
yang sekiranya kita menghidupkan makna-makna yang terkandung di dalamnya dengan
sebenar-benarnya, niscaya kita akan keluar dengan membawa bekal edukatif yang
besar:
"Ya
Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan
dan takwa, serta amal yang Engkau ridai."
Adanya
pengarahan niat dan tujuan kepada kebaikan, takwa, amal saleh, dan bahwa
tujuannya adalah keridaan Allah, serta memohon hal tersebut kepada Allah; di
dalamnya terdapat perasaan dan pengakuan bahwa hal ini tidak akan terwujud
melainkan dengan taufik Allah dan kehendak-Nya. Kemudian potongan berikutnya
dari doa tersebut:
"Ya
Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti (yang menjaga)
keluarga, harta, dan anak."
Alangkah
agungnya pengaruh doa ini di dalam jiwa seorang mukmin. Ia merasakan pertemanan
Allah dan kebersamaan-Nya dalam perjalanan, sehingga ia berada dalam penjagaan
Allah, pemeliharaan Allah, dan jaminan Allah. Kemudian muncul ketenteraman
bahwa Allah-lah pengganti yang menjaga keluarga, harta, dan anak, sehingga
tidak ada rasa cemas maupun kesibukan pikiran atas sesuatu pun dari hal
tersebut. Dengan demikian, terwujudlah penyerahan urusan kepada Allah (tafwith)
dan indahnya tawakal kepada-Nya secara aplikatif dan nyata.
Kemudian
potongan berikutnya:
"Ya
Allah, mudahkanlah atas kami perjalanan kami ini dan dekatkanlah bagi kami
jaraknya yang jauh."
Ini
adalah wujud bersandar kepada Allah dalam memudahkan perjalanan dan meringankan
kesulitannya. Sebab, segala urusan seluruhnya adalah milik Allah, dan jangan
ada seorang pun yang mengira bahwa kemudahan ini semata-mata tersimpan pada
sebab-sebab kebendaan yang diambilnya seperti pesawat atau mobil. Tidak ada
kemudahan kecuali apa yang telah Allah jadikan mudah. Sungguh, mobil dapat
menjadi sebab kesulitan dan bukan sebab kenyamanan jika Allah menahan
rahmat-Nya dan menyerahkan urusan kita kepada diri kita sendiri.
Kemudian
potongan berikutnya:
"Ya
Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kelelahan perjalanan,
pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang buruk pada keluarga dan
harta."
Ini
adalah perasaan akan kelemahan diri, serta tindakan bersandar kepada Allah dan
memohon perlindungan kepada-Nya dari apa yang terkadang dialami oleh para
musafir berupa keletihan dan bahaya dalam perjalanan, atau musibah pada
keluarga dan harta mereka saat mereka kembali pulang kepadanya.
- Membangun Etika Bertamu
di Sisi Yang Maha Pengasih:
Hendaknya
jemaah haji merasakan di saat memulai perjalanan bahwa ia sedang memulai sebuah
perjalanan dalam jamuan Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman), dan bahwasanya
orang-orang yang bersamanya dalam rombongan semuanya adalah tamu-tamu Yang Maha
Pengasih dan para pengunjung rumah suci-Nya. Maka ia menjadi tenteram bahwa ia
berada dalam penjagaan Allah dan pemeliharaan-Nya, serta berinteraksi dengan para
tamu Yang Maha Pengasih dengan penuh kelembutan, kelunakan, toleransi, cinta,
dan kerja sama. Ia membantu orang yang lemah dan yang sakit, serta memenuhi
kebutuhan orang yang memerlukan: "maka tidak boleh rafats, berbuat
fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji." Melatih
jiwa untuk menerapkan hal itu sepanjang perjalanan merupakan bekal edukatif
yang darurat bagi seorang muslim dalam kehidupannya, dan mutlak diperlukan bagi
para dai yang menyeru kepada Allah secara khusus.
- Meresapi Doa Pelepasan
dan Pamitan:
Doa
yang saling diucapkan ketika melepas keluarga dan sahabat saat bepergian yang
telah ditunjukkan oleh Rasul kita yang mulia, di dalamnya terdapat kebaikan
yang besar dan makna-makna edukatif yang penting. Orang yang menetap (mukim)
berkata kepada musafir:
"Aku
menitipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan akhir penutupan amalmu."
Ia
juga berkata: "Semoga Allah membekalimu dengan takwa." Dan ia
juga berkata: "Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam doamu."
Kalimat ini dahulu pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam kepada Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu saat beliau hendak
bepergian... Sementara itu, sang musafir berkata kepada orang-orang yang
menetap: "Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak pernah
menyia-nyiakan titipan-Nya." Sebuah momentum yang seluruhnya berisi
zikir kepada Allah, perpisahan di atas jalan Allah, dan di dalamnya terdapat
saling berwasiat dalam kebenaran, keteguhan di atas perkara agama, serta
antusiasme terhadap husnul-khatimah; sebuah emosi dan rasa cinta kepada
kebaikan yang saling berbalas, yang tidak kita temukan melainkan di antara
sesama kaum muslimin.
- Pentingnya Manajemen dan
Kepemimpinan Komunal:
Tindakan
memilih seorang pemimpin (amir) bagi rombongan di dalamnya terdapat
kepatuhan terhadap perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, serta
perwujudan dari makna persatuan, ketertiban, kesatuan kata, dan penjagaan dari
setan berkat berkah jamaah (kebersamaan). Ini merupakan sisi edukatif yang
penting, khususnya bagi para pemilik dakwah yang berjalan di atas jalan dakwah.
- Mengingat Karunia
Transportasi dan Teknologi:
Doa
ini diucapkan ketika menaiki kendaraan atau sarana perjalanan; di mana ia
menyebut nama Allah di awal (bismillah), dan ketika telah naik ia
mengucapkan Alhamdulillah dan bertakbir tiga kali (Allahu Akbar),
dan apabila telah posisi tegak sempurna ia mengucapkan:
"Mahasuci
Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak
mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada Tuhan
kami." (QS. Az-Zukhruf: 13-14).
Di
dalam hal itu terdapat peringatan akan karunia Allah dalam menundukkan sarana
ini, dan tidak mengembalikan karunia tersebut kepada para pembuat pesawat atau
mobil semata; karena karunia itu pertama dan terakhir adalah milik Allah,
Dialah yang menundukkan bahan-bahan bagi mereka untuk membuatnya dan
menganugerahkan mereka akal yang mereka gunakan untuk berpikir.
- Ikrar Tauhid Melalui
Kalimat Talbiyah:
Kalimat
talbiyah beserta makna-makna yang dikandung oleh lafaz-lafaznya berupa
pemenuhan panggilan terhadap Zat yang menyeru kepada Allah, dan apa yang ada di
dalamnya berupa penyucian dari kesyirikan, serta bahwasanya segala pujian hanya
milik-Nya semata, begitu pula nikmat dan kerajaan hanya milik-Nya semata.
Kemudian, pengulangannya oleh lisan dan kesibukan hati dengannya menjadi
penegas dan pemantap bagi makna-makna keiman, tauhid, serta perasaan akan
karunia Allah dan kefakiran kita kepada-Nya:
"Labaikallahumma
labaik... labaika laa syarika laka labaik... innal hamda wan ni'mata laka wal
mulk... laa syarika lak." (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi
panggilan-Mu... aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi
panggilan-Mu... sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah
milik-Mu... tidak ada sekutu bagi-Mu).
Dan
penggantian kalimat talbiyah ini sebagai pengganti ucapan salam ketika
bertemunya para jemaah haji satu sama lain, di dalamnya terdapat pengingat dan
penegas atas berkumpulnya mereka di atas akidah tauhid serta perasaan ikut
berpartisipasi dalam ibadah komunal ini.
- Spiritualitas yang
Mengalahkan Keletihan Fisik:
Setiap
kali para jemaah haji mengangkat derajat ruhani mereka tinggi-tinggi... maka
berkuranglah perasaan mereka terhadap keletihan jasmani. Bahkan, mereka
merasakan rasa lelah ini dengan cita rasa yang lain yang berbeda dari rasa
lelah biasa, karena ia menjadi sumber bagi pahala Allah dan rahmat-Nya.
- Daya Tarik Magnetis
Baitullah:
Setiap
kali para jemaah haji mendekat ke Baitullah Al-Haram... bertambahlah kerinduan
mereka dan keterikatan mereka kepadanya, layaknya pengaruh magnet yang semakin
kuat daya tariknya saat semakin dekat dengannya. Ini adalah suatu urusan yang
Allah titipkan di dalam hati hamba-hamba-Nya yang mukhlis. Di dalam hal itu
terdapat dalil atas kecintaan Allah kepada hamba-hamba ini, yang mana Dia telah
menjadikan mereka mencintai kunjungan ke rumah suci-Nya, insya Allah.
- Momen Pertama Memandang
Ka'bah:
Ketika
pandangan mata jemaah haji pertama kali jatuh pada Ka'bah yang mulia, ia
dikuasai oleh perasaan wibawa, pengagungan, dan keindahan pemandangan, serta
suatu kondisi yang penuh pengaruh dan rasa takjub yang bercampur dengan
kegembiraan dan sukacita. Deskripsi di sini tidaklah cukup, akan tetapi "barangsiapa
yang merasakan maka ia akan mengetahui"... Kemudian doa murni yang
diriwayatkan ini beserta apa yang ada di dalamnya berupa kebaikan:
"Ya
Allah, tambahkanlah rumah ini kemuliaan, pengagungan, kehormatan, dan
kewibawaan. Dan tambahkanlah bagi orang yang memuliakannya dan menghormatinya
dari kalangan orang yang berhaji atau berumrah berupa kemuliaan, kehormatan,
pengagungan, dan kebaikan."
"Ya
Allah, Engkau adalah As-Salam (keselamatan/kedamaian) dan dari-Mu bersumber
keselamatan, maka hidupkanlah kami, wahai Tuhan kami, dengan keselamatan."
- Haji sebagai Perjalanan
Rabbani dan Nurani:
Perjalanan
haji tidaklah seperti perjalanan-perjalanan lainnya. Ia bukanlah sekadar
perjalanan jasad menuju Makkah di mana Ka'bah dan Gunung Arafah berada.
Sesungguhnya ia adalah perjalanan rabbani (ketuhanan), perjalanan nurani (penuh
cahaya), perjalanan hati dan ruh yang berjalan menuju Penciptanya. Maka ia
tersambung dengan asalnya, serta menyerap kekuatan, kehidupan, kebahagiaan, dan
mengambil bekal takwa sebagai sebaik-baik bekal.
Sesungguhnya
Baitullah Al-Haram ini tidaklah seperti rumah-rumah lainnya, meskipun ia
terbuat dari batu-batu yang serupa; ia adalah rumah suci Allah. Dan gunung ini
tidaklah seperti gunung-gunung lainnya, meskipun ia terbentuk dari komponen
gunung yang sama; Allah telah mengkhususkan keduanya dengan rahasia-rahasia,
limpahan karunia, pengaruh, dan tajali (penampakan keagungan), sebagaimana Dia
Yang Mahasuci telah mengkhususkan Al-Qur'an—kalam-Nya yang agung—dengan
rahasia-rahasia, mukjizat, dan pengaruh, meskipun ia terbentuk dari lafaz dan
huruf seperti yang kita gunakan untuk berbicara.
Ini
merupakan karunia dari-Nya, rahmat bagi kita, dan kemudahan; karena
sesungguhnya kita tidak akan kuat untuk memikul kalam Allah di atas hakikatnya
yang asli secara langsung:
"Sekiranya
Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya
tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah." (QS. Al-Hasyr:
21).
Sebagaimana
kita juga tidak mampu memikul tajali Allah:
"Tatkala
Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur
luluh dan Musa pun jatuh pingsan." (QS. Al-A'raf: 143).
Maka
Allah memudahkan bagi kita untuk mengunjungi-Nya, dekat dengan-Nya, bermunajat
kepada-Nya, dan memperoleh limpahan karunia-Nya dengan cara mengunjungi
Baitullah Al-Haram-Nya yang Dia bertajali di atasnya dan mengkhususkannya
dengan limpahan karunia serta cahaya yang memantul kepada kita sesuai dengan
kadar kemampuan yang dapat kita pikul.
Dan
sesuai dengan kadar kesiapan hati yang takut kepada Tuhannya, sesuai pula kadar
penerimaannya terhadap cahaya-cahaya dan limpahan ketuhanan ini, sebagaimana
halnya dengan Kitabullah:
"Allah
telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah." (QS. Az-Zumar: 23).
Maka
wahai saudaraku, hiduplah dalam perjalanan haji melalui sudut pandang rabbani
ini sebagai sebuah perjalanan hidup bagi hati dan ruh, jangan melaluinya dari
sudut pandang jasad yang bersifat indrawi semata. Sehingga, hati menjadi sibuk
dengan Allah, dan hati bermaksud mengambil bekal dari karunia-Nya,
kebaikan-Nya, dan rahmat-Nya. Dengan demikian, akan terwujud bagimu haji yang
mabrur, bekal yang berlimpah, dosa yang diampuni, dan kamu kembali dalam
keadaan suci bersih seperti pada hari kamu dilahirkan oleh ibumu. Melalui sudut
pandang inilah, kamu akan mengetahui rahasia dari perasaan-perasaan dan emosi
yang meluap-luap itu, yang merupakan campuran dari perasaan takut, wibawa,
kegembiraan, dan kebahagiaan saat pandangan matamu jatuh pada Ka'bah yang mulia
untuk pertama kalinya.
- Makna Filosofis Tawaf dan
Komitmen Janji:
Tawaf
di Ka'bah—yang merupakan penghormatan bagi masjid ini (tahiyyatul masjid)—dimulai
dengan menyentuh/mencium Hajar Aswad jika hal itu mudah bagimu, dengan
meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal menyentuh dan
mencium ini, seraya menyertai niat janji ('ahd) dengan Allah untuk
berkomitmen di atas jalan-Nya yang lurus dan menegakkan kewajiban-kewajiban
Islam berupa jihad dan pengorbanan, serta menolong agama-Nya dalam tekad yang
jujur untuk menepati janji dan menuntaskan baiat. Ia juga merasakan betapa bahayanya
merusak janji dan apa yang diakibatkannya berupa murka Allah dan azab-Nya. Di
dalam penuntasan janji dengan bentuk seperti ini terdapat bekal di atas jalan
dakwah.
Tawaf
di sekeliling Baitullah adalah salat dalam bentuk langkah kaki, putaran, dan
doa-doa. Maka tunaikanlah ia sebagaimana kamu menunaikan salat dalam
kekhusyukan, kehadiran hati, adab, dan kelembutan kepada saudara-saudaramu
selama tawaf. Rasakanlah pengawasan Allah atasmu saat kamu menunaikan ibadah
ini di sekeliling Baitullah Al-Haram-Nya. Ketahuilah bahwa hatimu adalah tempat
pandangan Allah kepadamu, maka kosongkanlah ia dari segala sesuatu kecuali
Allah dan cinta kepada Allah. Keikhlasan kepada Allah pada saat itu akan
mengangkat ruh tinggi-tinggi seolah-olah ruh itulah yang bertawaf mengelilingi
Baitullah, dan bukan langkah kaki. Dan perbanyaklah zikir kepada Allah serta
doa untukmu, untuk saudara-saudaramu, dan untuk dakwahmu.
- Kedekatan Spiritual di
Multazam:
Di
Multazam setelah tawaf, rasakanlah kelekatan dirimu dengan Baitullah; sebuah
keinginan yang kuat untuk dekat dengan Allah dan dengan keterikatanmu pada
kelambu Ka'bah. Rasakanlah kefakiran dan kebutuhan kepada Allah, kepada
ampunan-Nya, dan keriduan-Nya. Dengan berdirimu di ambang pintu Ka'bah,
rasakanlah berdirinya seorang hamba yang fakir di depan pintu Dzat Yang Maha
Kaya lagi Maha Pemurah. Hendaklah Allah melihat darimu adanya kejujuran dalam
menghadap kepada-Nya, keikhlasan bagi-Nya, rasa takut kepada-Nya, harapan
pada-Nya, penyesalan, serta tobat yang nasuha, disertai perasaan bahwa tidak
ada tempat berlindung dan tidak ada tempat menyelamatkan diri dari Allah
melainkan menuju kepada-Nya, bersamaan dengan perasaan cinta, ketundukan, serta
kelezatan dekat dan taat. Di dalam hal ini terdapat campuran dari perasaan yang
baik lagi mulia; perbanyaklah doa, cucurkanlah air mata, dan perbaruilah tekad
serta janji dengan Allah, seolah-olah kamu tidak ingin meninggalkan ambang
pintu-Nya melainkan demi memberikan kesempatan bagi selainmu dari kalangan
tamu-tamu Yang Maha Pengasih.
- Menyambung Sanad
Spiritual di Maqam Ibrahim:
Di
depan Maqam Ibrahim, kamu mengerjakan salat dua rakaat dan mengingat hubungan
spiritual yang membentang melintasi generasi antara kita dengan junjungan kita
Nabi Ibrahim 'alaihis salam, serta pengabulan Allah terhadap doa-doanya dengan
diutusnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di tengah-tengah kita sebagai
rahmat bagi semesta alam.
- Edukasi Ketahanan Melalui
Air Zamzam:
Air
Zamzam tidaklah seperti air lainnya, karena Allah telah mengkhususkannya pula
dengan kebaikan yang banyak. Hendaklah kita ingat ketika meminumnya tentang
Sayyidah Hajar ibu dari Nabi Ismail, dan betapa beliau menderita karena
kehausan sebelum munculnya Zamzam. Maka, hendaklah kita melatih diri kita untuk
memikul kesulitan di jalan Allah di medan-medan jihad.
- Ibadah Fisik Melalui
Sa'i:
Sa'i
antara Shafa dan Marwah juga termasuk bagian dari syiar-syiar haji dan umrah.
Ia adalah ibadah dan bukan sekadar berjalan melewati putaran-putaran ini. Jika
ia disertai perasaan lelah dan kesulitan, mari kita ingat Sayyidah Hajar dan
usaha beliau berjalan cepat antara Shafa dan Marwah demi mencari air untuk
bayinya yang hampir binasa. Maka, alangkah pantasnya bagi kita untuk memikul
kesulitan perjalanan dan jihad di jalan Allah sebagai wujud penghambaan dan
pendekatan diri kepada Allah, sebagai zakat bagi kesehatan kita, dan penyibukan
bagi jasad kita dengan ketaatan kepada Allah.
- Optimalisasi Ibadah di
Makkah:
Di
hari-hari masa tinggalmu di Makkah dan di bawah naungan Baitullah Al-Haram,
alangkah indahnya dan bagusnya jika kamu memanfaatkan kesempatan ini dan
menunaikan semua salat dalam keadaan Ka'bah yang mulia berada tepat di depan
kedua matamu.
Di
dalam keheningan malam, menyepilah di salah satu sudut di bawah naungan Ka'bah,
lalu tegakkanlah salat tahajud untuk Allah, bermunajatlah kepada-Nya, tunduklah
kepada-Nya, khusyuklah, dan ketuklah pintu Dzat Yang Maha Pemurah dengan
rakaat-rakaat, sujud-sujud, doa-doa, dan tetesan air mata karena takut
kepada-Nya. Di dalam atmosfer rabbani ini, jangan lupa untuk memohon kepada
Allah agar memuliakan tentara-Nya, menangkan agama-Nya, dan mengalahkan
musuh-musuh Islam di setiap tempat.
Di
Makkah, ketika kamu berjalan di celah-celah bukitnya dan di antara
sudut-sudutnya serta mengunjungi Gua Hira dan Gua Tsur; hiduplah dalam memori
hari-hari dakwah pertama dan apa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan orang-orang Islam pertama berupa penindasan, penyiksaan,
dan gangguan karena akidah tauhid. Ingatlah kesabaran mereka, keteguhan mereka,
dan kegigihan mereka untuk menyampaikan dakwah. Ingatlah Darul Arqam bin Abil
Arqam, tempat di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendidik para
pahlawan ini, yang mana di tangan mereka hancurlah segala kesesatan beserta
benteng-bentengnya; mulai dari para penyembah berhala, penyembah api, Romawi,
hingga Yahudi. Rasakanlah bahwa kamu sedang berjalan di atas tanah yang pernah
dilewati oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
- Membangun Jaringan
Solidaritas Global:
Sesungguhnya
dalam berkumpulnya para jemaah haji dari seluruh penjuru dunia terdapat
kesempatan yang sangat baik untuk memperkuat ikatan di antara kaum muslimin,
saling mengenal di antara mereka, mengetahui kondisi satu sama lain, serta
saling bertukar perasaan, harapan, dan kepedihan; agar mereka benar-benar
menjadi seperti jasad yang satu dan seperti bangunan yang kokoh yang saling
menguatkan satu sama lain. Di sana mereka juga dapat mempelajari isu-isu
terpenting yang sedang dialami oleh dunia Islam dan minoritas muslim, tipu daya
musuh, serta segala apa yang menjadi kepentingan kaum muslimin. Dan alangkah
baiknya jika mereka saling bertukar surat-menyurat setelah haji agar hubungan
tetap langgeng dan kondisi tetap diketahui, serta agar para jemaah haji dapat
mengimplementasikan semboyan kesatuan umat Islam:
"Sesungguhnya
(agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah
Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku." (QS. Al-Mu'minun: 52).
- Puncak Haji di Padang
Arafah:
Di
padang Arafah milik Allah ini—gunung yang telah Allah khususkan di antara
gunung-gunung lainnya dengan kebaikan ini, karunia ini, serta limpahan rahmat
ini—rahmat turun kepada para tamu Yang Maha Pengasih dalam keadaan mereka telah
berkumpul semuanya di atas gunung ini, dalam pakaian ihram yang sederhana,
seraya menggelegarkan doa kepada Allah dengan suatu bentuk yang mengingatkan
mereka pada hari kebangkitan (Padang Mahsyar). Sungguh, ia adalah pemandangan
yang agung dan hari yang agung.
Diriwayatkan
oleh Muslim dan selainnya dari Aisyah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak
ada hari yang di dalamnya Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka
melebihi hari Arafah, dan sesungguhnya Dia 'Azza wa Jalla mendekat kemudian
membanggakan mereka di hadapan para malaikat, lalu berfirman: 'Apa yang
diinginkan oleh mereka ini?'"
Dan
di antara kebaikan yang Allah limpahkan pada hari ini adalah Dia menjadikan
puasanya bagi selain jemaah haji dapat menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan
setahun setelahnya. Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Arafah,
maka beliau bersabda: "Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan
setahun yang tersisa." (HR. Muslim).
Dan
ketika bertolak (ifadhah) meninggalkan Arafah, perasaan bergejolak saat
berpamitan dengan gunung yang dicintai ini, hari yang penuh berkah ini, dan
momentum yang agung ini, serta hati bergantung penuh pada harapan diterimanya
amal.
- Filosofi Melontar Jumrah:
Di
dalam melontar jumrah terkandung makna kepatuhan terhadap perintah dan
perwujudan ibadah dengan cara patuh, meskipun akal pikiran tidak memiliki porsi
(tidak memahami alasan logis) dalam perbuatan ini. Hendaklah di sana diingat
momentum ketika Iblis mendatangi junjungan kita Nabi Ibrahim 'alaihis salam
untuk memalingkannya dari menaati perintah Allah, namun sang Khalil (kekasih
Allah) tidak merespons waswas tersebut. Maka, alangkah pantasnya bagimu, wahai
jemaah haji, untuk memvisualisasikan di depanmu betapa bahayanya godaan-godaan
setan dan waswasnya, serta kewajiban untuk melawannya di saat kamu melontar
jumrah sebagai bentuk pengusiran terhadap setan yang terkutuk ini.
- Makna Kurban dan
Kepedulian Sosial:
Di
dalam menyembelih hewan hadyu (kurban) dan membagikannya kepada kaum muslimin
yang membutuhkan terdapat unsur pendekatan diri kepada Allah, sarana meraih
keridaan-Nya, dan harapan agar Allah membebaskanmu dari api neraka. Di dalam
hal itu juga terdapat perwujudan makna belas kasih kepada orang-orang fakir dan
memberi mereka makan dari hewan hadyu yang terbaik:
"Dan
telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar-syiar Allah,
kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah
sewaktu kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian
apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang
yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang
meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu,
mudah-mudahan kamu bersyukur." (QS. Al-Hajj: 36).
- Tawaf Wada' (Perpisahan):
Di
dalam Tawaf Wada' terdapat perasaan berpisah dengan tempat yang paling mulia
dan paling dicintai oleh hatimu, dan seluruh dirimu dipenuhi harapan akan
penerimaan Allah terhadap ibadah haji ini serta harapan untuk dapat kembali
lagi di masa umur yang akan datang.
- Ziarah ke Madinah dan
Napak Tilas Hijrah:
Dalam
perjalanan menuju Madinah, ingatlah peristiwa hijrah Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan jarak-jarak yang beliau tempuh dalam keadaan beliau
dikejar-kejar, serta sambutan penduduk Madinah (Anshar) dan dimulainya
pembangunan masjid oleh beliau. Hiduplah dalam memori yang harum ini, beserta
apa yang ada di dalamnya berupa pencapaian-pencapaian besar di tangan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya; berupa
peperangan, penaklukan, dan pembersihan Jazirah Arab dari kesyirikan dan
berhala-berhala, serta dari kaum Yahudi setelah mereka merusak perjanjian
sebagaimana itu menjadi kebiasaan mereka yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an.
- Meresapi Keberadaan di
Raudhah Syarifah:
Di
dalam masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ingatlah hadis
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari: "Antara
rumahku dan mimbarku adalah bagian dari taman-taman surga (Raudhah), dan
mimbarku berada di atas telagaku." Maka hiduplah dalam kebahagiaan
spiritual ini yang paling dekat dengan kebahagiaan penduduk surga berkat
keridaan Allah.
Rasakanlah
hubungan spiritual antara dirimu dengan Rasul yang tercinta, dan bahwasanya
beliau sangat menginginkan kebaikan bagi kita, serta amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang mukmin, terasa berat olehnya penderitaan kita.
Sampaikanlah salam kepadanya, berselawatlah atasnya, dan berdoalah kepada Allah
agar membalas beliau demi kita dengan sebaik-baik balasan yang pernah diberikan
kepada seorang nabi demi umatnya. Demikian pula kepada khalifah pertama Abu
Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, dan Umar bin Khattab Amirul Mukminin; dan
berdoalah kepada Allah agar mengumpulkan kita bersama golongan orang-orang yang
mulia ini.
Kunjungilah
tempat-tempat bersejarah di Madinah dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di
atasnya yang telah mengubah wajah sejarah. Kunjungilah Pemakaman Baqi' yang
merangkum para pahlawan yang suci, dan kunjungilah Gunung Uhud; gunung yang di
dekatnya terjadi Perang Uhud, dan ingatlah apa yang ada di dalamnya berupa
pelajaran dan nasihat.
Penutup
Demikianlah,
hiduplah di fase tersebut dari sirah yang harum dengan memori-memorinya yang
baik, yang menganugerahimu bekal, nasihat, dan pelajaran yang mana kamu berada
dalam kondisi paling membutuhkan kepadanya di saat kamu sedang berjalan di atas
jalan dakwah.
Dan
di dalam Qiyamulail Terdapat Bekal
Allah
Ta'ala berfirman:
"Lambung
mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa
takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami
berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan
untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai
balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah:
16-17).
Salat
adalah bekal, akan tetapi pelaksanaannya di dalam atmosfer malam dan di
keheningan sepertiga malam yang akhir akan semakin menambah kedekatan, bekal,
dan anugerah. Orang-orang yang memendam cinta (kepada Allah) selalu merindukan
datangnya malam, dan orang-orang yang menegakkan salat tahajud memiliki
kerinduan yang jauh lebih besar terhadapnya; karena orang-orang yang beriman
itu sangat besar cintanya kepada Allah. Di dalam lipatan malam terdapat
aktivitas berdiri, rukuk, sujud, zikir, tasbih, membaca Al-Qur'an, tobat,
istigfar, munajat, doa, serta tangisan karena takut kepada Allah. Dan di dalam
setiap hal tersebut terkandung bekal:
"Dan
pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah
kepada-Nya pada bagian malam yang panjang." (QS. Al-Insan: 26).
Urgensi
dan Pengaruh Edukatif Qiyamulail
- Kebutuhan Utama bagi Para
Pejuang Dakwah:
Orang-orang
yang menempuh jalan dakwah adalah manusia yang paling membutuhkan ibadah
qiyamulail karena bekal yang diberikannya. Sungguh, Allah telah mengarahkan
Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari-hari pertama dakwah untuk
menegakkan salat malam, demi mempersiapkan beliau memikul amanah-amanah dakwah
yang berat. Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai
orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari,
kecuali sedikit (darinya), (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu,
atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan
perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat
kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan bacaan pada
waktu itu lebih berkesan." (QS. Al-Muzzammil: 1-6).
- Melatih Mujahadah dan
Menguatkan Tekad:
Di
dalam qiyamulail terdapat unsur perjuangan jiwa (mujahadah), penguatan
bagi kehendak serta tekad, penundukan setan, dan penjinakan jiwa untuk tunduk
kepada Allah. Barangsiapa yang rela meninggalkan tidur, kenyamanan, kasur, dan
kehangatan, serta mampu melawan keinginan-keinginan jasadnya lalu bangkit
bersuci—yang mana adakalanya cuaca sedang sangat dingin—kemudian ia lebih
memilih untuk beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya; maka
tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut merupakan bekal, persiapan diri,
sekaligus penolong yang besar di atas jalan dakwah.
- Memurnikan Keikhlasan
Hati:
Menegakkan
salat di malam hari di saat manusia sedang tertidur lelap di dalamnya
mengandung unsur pemurnian diri, ketulusan, keikhlasan kepada Allah, serta
pengosongan hati dari segala bentuk pengaruh riya... Padahal, keikhlasan adalah
termasuk sifat yang paling mutlak diperlukan bagi seorang dai yang menyeru
kepada Allah, yang mana tanpa keikhlasan tersebut seluruh amal perbuatan akan
gugur sia-sia.
- Pujian Allah dalam
Al-Qur'an bagi Penegak Salat Malam:
Di
dalam Kitabullah terdapat banyak sekali ayat yang memotivasi untuk menegakkan
qiyamulail dan menjelaskan kebaikan yang dikhususkan bagi orang-orang yang
menegakkan salat di malam hari. Allah berfirman:
"Adapun
hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di
bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan
kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, 'Salam,' dan orang-orang yang
menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud
dan berdiri." (QS. Al-Furqan: 63-64).
"Mereka
itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran
mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam."
(QS. Al-Furqan: 75).
- Kondisi Ruhani yang
Diliputi Rasa Takut dan Harap:
Bagi
orang-orang yang menegakkan salat di malam hari, mereka memiliki
kondisi-kondisi ruhani yang di dalamnya mereka berbolak-balik; Al-Qur'an telah
menyebutkan sebagian darinya berupa aktivitas berdiri, sujud, zikir, tasbih,
istigfar, dan doa. Hal ini tertuang dalam firman Allah Ta'ala:
"Apakah
kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada
waktu malam dalam keadaan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat
dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sebenarnya hanya
orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS.
Az-Zumar: 9).
Ayat
ini menyebutkan tentang orang yang dibuat terjaga malam karena pemikirannya
yang mendalam tentang akhirat beserta apa yang ada di dalamnya berupa hisab,
balasan, kenikmatan, dan azab; sehingga ia menjalani hidupnya dalam rasa takut
(khauf) dan penuh harapan (raja') di dalam sujud dan berdirinya.
Di dalam hal ini terdapat bekal yang membantunya untuk beramal dan bersiap
menghadapi tempat kembali tersebut.
- Nutrisi Spiritual bagi Ruh
dan Hati:
Berzikir
kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya di waktu malam adalah nutrisi bagi ruh
dan hati, di mana barangsiapa yang telah merasakan kelezatannya, ia akan sangat
menjaga agar tidak terhalang darinya. Di dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat
yang memotivasi hal tersebut:
"Dan
sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam,
maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian malam yang
panjang." (QS. Al-Insan: 25-26).
"Dan
bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam
pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun
berdiri, dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya dan (demikian pula)
pada waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar)." (QS. At-Tur:
48-49).
- Mengetuk Pintu Ampunan di
Waktu Sahur:
Kita
semua adalah orang-orang yang berdosa lagi penuh kekurangan, maka alangkah
pantasnya bagi kita untuk mengetuk pintu Allah di waktu sahur (waktu sahar)
dan memohon ampunan serta rahmat kepada-Nya; karena waktu tersebut adalah waktu
dikabulkannya doa. Allah telah memuji orang-orang yang beristigfar di waktu
sahur, di mana Allah Ta'ala berfirman:
"Bagi
orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan
pasangan-pasangan yang suci, serta keridaan dari Allah. Dan Allah Maha Melihat
hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, kami
benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari
azab neraka.' (Juga) orang-orang yang sabar, yang benar, yang taat, yang
menginfakkan hartanya, dan yang memohon ampunan pada waktu sahur."
(QS. Ali 'Imran: 15-17).
Dan
firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air,
mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka
sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit
sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan
(kepada Allah)." (QS. Adz-Dzariyat: 15-18).
- Keutamaan Doa di
Keheningan Malam:
Doa
di waktu malam adalah termasuk ibadah yang paling melegakan jiwa dan paling
utama. Di dalam kepekatan kegelapan, seorang hamba merendahkan diri di hadapan
Tuannya Yang Maha Pemurah, memohon kepada-Nya agar Dia memberinya:
"Berdoalah
kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan
di bumi setelah (diciptakan) dengan baik, berdoalah kepada-Nya dengan rasa
takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada
orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'raf: 55-56).
Dari
Abu Umamah, ia berkata: "Ditanyakan kepada Rasulullah: 'Doa apakah yang
paling didengar?' Beliau bersabda: 'Di tengah malam yang akhir dan di setiap
akhir salat-salat wajib'." (HR. Tirmidzi).
Dan
dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya di malam hari terdapat
suatu waktu yang tidaklah seorang muslim bertepatan dengannya dalam memohon
kebaikan dari urusan dunia dan akhirat kepada Allah Ta'ala, melainkan Allah
akan memberikan hal itu kepadanya, dan yang demikian itu ada pada setiap
malam'." (HR. Muslim).
- Mustajabnya Doa di Kala
Sujud:
Berdoa
di saat sujud sangat dianjurkan; karena ini adalah momen-momen terdekat dengan
Allah di mana seorang muslim semestinya memohon dengan sangat dalam doanya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Kondisi paling dekat antara seorang hamba dengan
Tuhannya adalah di saat ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa." (HR.
Muslim, Abu Dawud, dan Nasa'i).
- Senjata Spiritual
Menghadapi Makar Musuh:
Alangkah
pantasnya bagi para pemilik dakwah yang kerap dihadapkan pada gangguan musuh
dan tipu daya mereka, untuk memohon bantuan melawan mereka dengan menggunakan
anak panah takdir (sihamul qadar) dan doa di waktu sahur. Bangkitlah
wahai saudaraku di waktu sahur, berdoalah kepada Allah dan ucapkanlah: "Ya
Allah, sesungguhnya kami menjadikan Engkau di leher-leher musuh dan orang-orang
yang berbuat sewenang-wenang, dan kami berlindung kepada-Mu dari
keburukan-keburukan mereka." Dan ucapkanlah: "Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan
selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang yang kafir." Dan
ucapkanlah: "Ya Allah, kalahkanlah musuh-musuh-Mu musuh-musuh agama,
dan menangkanlah kami atas mereka dengan kemenangan yang mulia yang
menyembuhkan dada-dada kami dan menghilangkan kemarahan hati kami."
Serta apa saja doa yang Allah bukakan jalan bagimu untuk mengucapkannya.
- Motivasi Kehadiran Tuhan
di Sepertiga Malam Terakhir:
Di
dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Malik, Muslim, dan selain mereka
dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia ketika
tersisa sepertiga malam yang akhir, lalu Dia berfirman: 'Barangsiapa yang
berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuknya, barangsiapa yang memohon
kepada-Ku niscaya Aku beri kepadanya, dan barangsiapa yang memohon ampunan
kepada-Ku niscaya Aku ampuni untuknya'."
Maka
apakah setelah adanya stimulasi dan pembangkit kerinduan yang besar ini kita
masih akan menunda-nunda dan bermalas-malasan? Sekiranya dikatakan kepada
manusia pada waktu malam seperti ini: "Barangsiapa yang hadir di suatu
tempat, ia akan mendapatkan harta, daging, atau kesenangan dunia,"
niscaya mereka akan saling berebut dan berbondong-bondong datang. Padahal Rasul
kita yang tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan peringatan
kepada kita dalam hadisnya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau
bersabda: "Tidak ada salat yang paling berat bagi orang-orang munafik
melainkan salat Subuh dan Isya, dan sekiranya mereka mengetahui apa yang ada di
dalam keduanya (berupa kebaikan), niscaya mereka akan mendatanginya walau dalam
keadaan merangkak." (Muttafaq 'Alaih).
- Keberkahan Rumah yang
Dihidupkan dengan Salat Malam:
Sesungguhnya
rumah yang menghidupkan malam dengan qiyamulail adalah rumah yang dikelilingi
oleh para malaikat, dituruni oleh rahmat, serta diliputi oleh kebahagiaan yang
sejati. Alangkah indahnya jika suami dan istri saling bekerja sama dalam
mewujudkan kebaikan ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Semoga Allah
merahmati seorang laki-laki yang bangun di waktu malam lalu ia salat dan
membangunkan istrinya, jika istrinya enggan maka ia memercikkan air ke
wajahnya... Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam
lalu ia salat dan membangunkan suaminya, jika suaminya enggan maka ia
memercikkan air ke wajahnya." (HR. Abu Dawud dengan sanad sahih).
- Kiat-Kiat Penolong untuk
Istikamah Qiyamulail:
Mendekatlah
kepada Allah wahai saudaraku semampumu dengan ibadah-ibadah sunah (nawafil),
dan di antara yang paling utama adalah qiyamulail, hal ini membenarkan hadis
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Seutama-utama salat setelah
salat wajib adalah salat malam." (HR. Muslim).
Dan
di antara perkara yang dapat membantumu untuk bisa menegakkan salat malam
adalah: mengikhlaskan niat, menghadirkan tekad yang kuat, memperbarui tobat,
menjauhi perbuatan maksiat di siang hari, bersegera tidur di awal malam,
melakukan tidur siang sejenak (qailulah) jika memungkinkan, serta
memohon pertolongan kepada Allah.
- Konsistensi dalam
Beribadah:
Wajib
bagi seorang muslim untuk merutinkan diri (dawam) dalam menegakkan
qiyamulail dan mereguk sepuasnya dari bekal ini. Sungguh telah diriwayatkan
dari Abdullah bin Amr bin Al-Aas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai Abdullah,
janganlah kamu menjadi seperti si fulan; dahulu ia biasa menegakkan salat malam
namun kemudian ia meninggalkan salat malam." (Muttafaq 'Alaih).
- Jumlah Rakaat Salat Malam
Rasulullah:
Adapun
mengenai jumlah rakaatnya, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Salat
malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sepuluh rakaat, beliau
melakukan witir dengan satu sujud (satu rakaat), dan beliau mengerjakan salat
dua rakaat fajar (qabliyah Subuh), maka jumlah totalnya adalah tiga belas
rakaat." (HR. Enam Imam Hadis, dan ini adalah lafaz Imam Muslim).
- Kandungan Makna Doa
Tahajud Rasulullah:
Alangkah
banyaknya bekal yang ada di dalam doa yang diriwayatkan dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam ketika bangun di waktu malam untuk bertahajud.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam apabila bangun di waktu malam untuk bertahajud, beliau
membaca:
"Ya
Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, Engkau Penguasa langit dan bumi serta
apa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi
serta apa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Pemilik langit dan
bumi serta apa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Maha Benar,
janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, firman-Mu adalah
benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, para nabi adalah benar,
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah benar, dan hari kiamat adalah
benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu
aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku menghadapi musuh, dan
kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah aku atas dosa yang telah aku lakukan dan
yang belum aku lakukan, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, serta apa
yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkau Yang Maha Mendahulukan dan
Engkau Yang Maha Mengakhirkan, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain
Engkau." (HR. Enam Imam Hadis, dan ini adalah lafaz Al-Bukhari &
Muslim).
- Nasihat Imam Syahid Hasan
Al-Banna Mengenai Munajat:
Di
dalam Risalatul Munajat karya Imam Syahid Hasan Al-Banna, beliau
memotivasi para ikhwan untuk menegakkan salat malam dengan perkataan beliau:
"Wahai
saudaraku, boleh jadi waktu bermunajat yang paling indah adalah di saat kamu
menyendiri bersama Tuhanmu sementara manusia sedang tertidur lelap, orang-orang
yang kosong pikirannya sedang terbuai dalam lelapnya tidur, dan alam semesta
seluruhnya telah sunyi senyap. Malam telah melabuhkan tirainya dan
bintang-bintangnya telah tenggelam. Di saat itulah kamu menghadirkan hatimu,
mengingat Tuhanmu, memvisualisasikan kelemahan dirimu dan keagungan Tuanmu.
Maka kamu akan merasa nyaman di hadirat-Nya, hatimu menjadi tenteram dengan
berzikir kepada-Nya, kamu bergembira atas karunia-Nya dan rahmat-Nya, menangis
karena takut kepada-Nya, merasakan pengawasan-Nya, memohon dengan sangat dalam
doa, bersungguh-sungguh dalam beristigfar, serta mengadukan segala hajat
kebutuhanmu kepada Dzat yang tidak dilemahkan oleh sesuatu pun dan tidak
disibukkan oleh sesuatu dari sesuatu yang lain. Sesungguhnya urusan-Nya apabila
Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka jadilah ia.
Dan kamu memohon kepada-Nya untuk urusan duniamu, akhiratmu, jihadmu, dakwahmu,
cita-citamu, harapan-harapanmu, tanah airmu, karib kerabatmu, dirimu sendiri,
serta saudara-saudaramu; 'Dan tidak ada kemenangan itu melainkan dari sisi
Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana'."
- Keindahan Spiritual yang
Mengalahkan Keletihan Fisik:
Sesungguhnya
di dalam qiyamulail dan munajat terdapat rasa nyaman dan ketenteraman
psikologis yang membuat pelakunya tidak merasakan payahnya jasad dan lelahnya
kaki. Lihatlah sang kekasih tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
menegakkan salat malam dan memperlama berdirinya hingga kedua kaki beliau
bengkak-bengkak, namun beliau tidak merasakan rasa sakit karena tenggelamnya
beliau dalam kedekatan dengan Allah dan kenyamanan bersama-Nya. Sebagian orang
saleh telah berkata: "Tidak ada di dunia ini suatu waktu yang
menyerupai kenikmatan akhirat melainkan apa yang dirasakan oleh para penegak
salat malam di dalam hati mereka berupa manisnya bermunajat." Maka,
marilah kita mencoba untuk mencicipi manisnya rasa ini.
Penutup
dan Untaian Hikmah
Akhirnya,
aku katakan kepadamu wahai saudaraku: bangunlah di waktu malam seperti
bangunnya seorang hamba yang fakir lagi hina, yang menyelinap di dalam
kepekatan kegelapan malam demi mengetuk pintu Tuannya Yang Maha Pemurah. Ia
berdiri di ambang pintu-Nya dalam keadaan tunduk, pasrah, merasakan penuh
kekurangan, mengakui dosa-dosa, serta merasakan adanya kebutuhan yang mendesak
terhadap maaf dari Tuannya dan keridaan-Nya atas dirinya, disertai harapan yang
mendalam akan rahmat-Nya, keridaan-Nya, dan surga-surga-Nya.
Ketuklah
wahai saudaraku pintu maulamu di kegelapan malam dengan rakaat-rakaat yang
khusyuk, sujud-sujud yang panjang, doa-doa yang murni, tasbih-tasbih, dan
tetesan air mata karena takut kepada-Nya. Jadilah orang yang yakin akan
dikabulkannya doa-doamu oleh Tuhanmu. Dan jangan pernah melupakan dakwahmu di
tengah luapan kebaikan ini, sehingga kamu memohon kepada Allah kemenangan dan
kejayaan bagi agama-Nya, serta mendoakan saudara-saudaramu tanpa sepengetahuan
mereka (bilsyahril ghaib).
Bait-Bait
Syair Penutup
Bertasbihlah
wahai jiwaku dan tegakkanlah salat
Di
saat terjadinya serangan dari orang-orang yang melampaui batas
Maka
apabila hati ini terguncang hebat
Disebabkan
oleh kepedihan dan ujian hidup yang menyengat
Cucurkanlah
jiwamu menjadi tetesan air mata
Dan
tumpahkanlah ia seluruhnya di dalam salat
Karena
sesungguhnya Tuhan semesta alam senantiasa mendengar
Kepada
jiwa-jiwa yang menangis penuh harap
Dan
di dalam Zikir dan Doa..... Terdapat Bekal
Allah
Ta'ala berfirman:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah (dengan berzikir) sebanyak-banyaknya.
Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS.
Al-Ahzab: 41-42).
Allah
adalah tujuan kita, Dialah Pencipta kita dan Pemberi rezeki kita, maka akankah
kita lalai dari mengingat-Nya? Dan adakah zat lain yang membuat kita bahagia
dengan mengingatnya melebihi kebahagiaan bersama-Nya Subhahahu wa Ta'ala?
Sesungguhnya ia adalah kebahagiaan yang tidak ada kebahagiaan lain yang lebih
tinggi darinya; ia adalah kedekatan dengan Allah, kenyamanan bersama-Nya,
ketenteraman di sisi-Nya, kelapangan dada oleh cahaya-Nya, rasa aman,
keselamatan, serta penyerahan dan kepasrahan segala urusan kepada-Nya Subhanahu
wa Ta'ala. Tidak ada rasa takut, tidak ada kecemasan, tidak ada kesempitan,
tidak ada kesengsaraan, dan tidak ada kegelisahan:
"
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi
tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).
Setiap
kali kamu mengingat Allah, maka kamu sedang bersama Allah dan Allah bersamamu.
Kamu sedang bersama Dzat Yang Maha Kaya, Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha
Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi rezeki, yang di tangan-Nya segala urusan
dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka, kamu tidak akan merasakan butuh
kepada sesuatu pun. Lalu, apa yang kehilangan bagi orang yang telah menemukan
Allah? Tidak ada sesuatu pun... Dan apa yang menemukan bagi orang yang
kehilangan Allah? Tidak ada sesuatu pun.
Setiap
kali kamu mengingat Allah dengan salah satu nama dari nama-nama-Nya atau sifat
dari sifat-sifat-Nya, hal itu akan meninggalkan bekas dan kesan khusus di dalam
jiwa dan hati, serta menjadi bekal bagi ruh yang akan mengangkat derajat
pemiliknya tinggi-tinggi, dan ia akan semakin terangkat seiring bertambahnya
zikirnya kepada Allah, serta semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah.
Adapun orang yang lalai dari mengingat Allah, maka ia akan menjadi sasaran
waswas setan yang selalu mengingatkannya pada kemaksiatan, syahwat, dosa, dan
keburukan amal. Setan akan terus menjatuhkannya dan membawanya turun ke tempat
yang paling rendah (asfala safilin), sehingga benarlah firman Allah
Ta'ala mengenai mereka:
"Mereka
itu seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf: 179).
Allah
Ta'ala berfirman:
"Maka
ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku,
dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152).
Adakah
kedudukan yang lebih tinggi daripada orang yang diingat oleh Allah Ta'ala,
sehingga ia berada dalam penjagaan-Nya, pemeliharaan-Nya, rahmat-Nya, dan
karunia-Nya? Dan ini adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Allah
Ta'ala berfirman: 'Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku
bersamanya apabila ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku
akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di suatu perkumpulan,
Aku akan mengingatnya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka'."
(Muttafaq 'Alaih).
Sesungguhnya
dengan mengingat Allah, kita menyelamatkan diri kita dari atmosfer yang busuk
ini serta fitnah-fitnah yang saling berdesakan, kita menyucikan hati kita, dan
kita berlari menuju Allah serta memurnikan ketaatan kepada-Nya:
"Maka
berlarilah kamu kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang
nyata dari-Nya untukmu." (QS. Az-Zariyat: 50).
And
setiap kali kita mengingat Allah, setan akan bersembunyi ketakutan (khanasa)
beserta waswasnya lalu pergi meninggalkan kita, dan kita pun suci dari
najisnya.
Ketika
kita hidup dengan hati kita dalam meresapi setiap sifat atau nama dari
nama-nama-Nya yang kita gunakan untuk mengingat-Nya, maka akan bertambahlah
keimanan kita kepada-Nya dan pengagungan kita kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala,
dan di dalam hal ini terkandung sebaik-baik bekal bagi kita di atas jalan
(dakwah).
Dan
rahmat yang meliputi kita serta ketenangan (sakinah) yang turun kepada
kita ketika kita duduk untuk mengingat Allah, seluruhnya adalah kebaikan dan
bekal yang besar. Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan:
"Tidaklah
suatu kaum duduk mengingat Allah 'Azza wa Jalla, melainkan para malaikat akan
mengelilingi mereka, rahmat akan meliputi mereka, ketenangan akan turun kepada
mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di
sisi-Nya."
Bahkan
sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala membanggakan majelis-majelis zikir ini
di hadapan para malaikat-Nya.
Dan
di dalam zikir kita kepada Allah Ta'ala, terdapat hal yang mendorong kita untuk
menghiasi diri dengan sifat-sifat yang diperbolehkan bagi kita untuk bersifat
dengannya, bukan sifat-sifat yang tidak boleh kita menyaingi-Nya dalam sifat
tersebut (seperti kesombongan). Maka setiap kali kita mengingat Allah Yang Maha
Pengasih (Ar-Rahman), Yang Maha Melimpahkan Kebaikan (Al-Barr),
Yang Maha Penyayang (Ar-Rahim), Yang Maha Penyantun (Al-Halim),
Yang Maha Pemurah (Al-Karim), Yang Maha Penyabar (As-Shabur),
Yang Maha Mensyukuri (As-Syakur), Yang Maha Pemaaf (Al-'Afuw),
Yang Maha Pengampun (Al-Ghafur); kita mendapati diri kita mau tidak mau,
agar bisa meraih rahmat Allah, harus menyayangi siapa saja yang ada di bumi.
Dan agar kita mendapatkan kemurahan dan kedermawanan Allah, maka wajib bagi
kita untuk berbuat demikian pula kepada makhluk Allah yang membutuhkan. Dan
agar kita tercakup oleh pemaafan Allah, kita harus memaafkan orang yang berbuat
buruk kepada kita, dan demikian seterusnya. Di dalam hal itu terdapat bekal
yang sangat besar.
Dan
karena adanya kebaikan di dalam zikir, Allah menyeru kita untuk mengingat-Nya
dalam segala kondisi dan waktu kita agar kita tidak terhalang dari kebaikan ini
dan kebersamaan ini. Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah (dengan berzikir) sebanyak-banyaknya.
Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi
rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada
orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzab: 41-43).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam
keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini
sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka'." (QS.
Ali 'Imran: 191).
Kemurahan
dan karunia macam apa lagi dari Allah, di mana Dia mengizinkan kita untuk
mengingat-Nya dalam setiap kondisi kita, bahkan saat kita sedang berbaring di
atas lambung kita? Mahasuci Engkau wahai Tuhanku, betapa Maha Pemurahnya
Engkau.
Kiat
dan Hakikat Zikir yang Benar
- Menjaga Lisan agar Tetap
Basah Berzikir:
Berusahalah
dengan sungguh-sungguh wahai saudaraku agar lisanmu senantiasa basah dengan
mengingat Allah. Maka ingatlah Allah di kala makanmu, minummu, pakaianmu,
tidurmu, terjagamu, di tengah jalanmu menuju tempat kerja, di dalam
pekerjaanmu, dan dalam setiap kondisimu. Jangan biarkan momentum kelalaian (sahwu),
kesia-siaan (lahwu), atau ucapan tak berguna (laghwu) lewat
begitu saja dalam hidupmu. Selama kamu tidak sedang disibukkan oleh suatu
pekerjaan atau ibadah, maka sibukkanlah dirimu dengan berzikir kepada Allah;
dengan begitu kamu akan memperbanyak simpanan kebaikan, meraih ketenteraman
serta kebersamaan dengan Allah, dan Allah akan menghapuskan dosa-dosa darimu
sekehendak-Nya.
- Zikir Hati sebagai Motor
Penggerak Anggota Badan:
Ketahuilah
wahai saudaraku, bahwa zikir yang dimaksud (paling utama) adalah zikirnya hati
sebelum lisan. Apabila seorang hamba telah mengingat Tuhannya dengan hatinya,
hal itu akan tepercik dan terpantul pada anggota badannya; seketika itu juga
lisan akan mengingat Allah sehingga ia tidak mengucapkan kecuali kebaikan, mata
mengingat Allah sehingga ia tidak melihat kepada yang haram, telinga mengingat
Allah sehingga ia tidak mendengar kepada apa yang memicu kemurkaan Allah,
tangan mengingat Allah sehingga ia tidak bergerak menuju keburukan atau dosa,
begitu pula dengan kaki, bahkan akal pun tidak akan memikirkan sesuatu yang
haram, dan hati tidak akan terlintas di dalamnya kecuali segala bentuk
kebaikan.
- Konsep Zikir dalam Makna
yang Luas:
Demikianlah,
melalui pemahaman zikir yang komprehensif, kita melihat bahwa setiap perkara
yang di dalamnya kamu merasa diawasi oleh Tuhanmu (muraqabah), kamu
ingat akan pandangan-Nya kepadamu dan pengawasan-Nya atasmu, maka itu adalah
zikir. Dengan demikian, tobat adalah zikir, bertafakur adalah termasuk jenis
zikir yang paling tinggi, menuntut ilmu adalah zikir, dan mencari rezeki jika
kamu membaguskan niat di dalamnya adalah juga termasuk zikir, dan begitu
seterusnya.
- Keutamaan Zikir dalam
Kesunyian (Khalwat):
Di
samping zikir kita kepada Allah dalam setiap kondisi dan urusan kita,
sesungguhnya mengingat Allah di kala menyendiri (khalwat) memiliki
pengaruh tersendiri, memiliki kelezatan tersendiri, kemanisan di dalam hati,
cahaya, dan kelapangan dada, terlebih lagi jika hal itu dibarengi dengan
meluapnya air mata dari pelupuk mata karena takut kepada Allah. Di antara tujuh
golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang
tidak ada naungan melainkan naungan-Nya adalah:
"...
seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam kesunyian lalu kedua matanya
mencucurkan air mata...."
- Zikir sebagai Solusi
Kebahagiaan Sejati:
Manusia
sering kali sengsara dalam hidup mereka, mereka lelah dan mencari-cari
kebahagiaan serta ketenteraman, mereka bersedia menggelontorkan harta demi
mendapatkan hal tersebut dengan harapan mereka bisa menemukannya pada
sarana-sarana kebendaan/materi mereka, namun mereka tidak menemukannya.
Sementara itu, kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenteraman ini tersedia dengan
sangat mudah bagi siapa saja yang mengingat Allah dan berdoa kepada-Nya dengan
penuh keikhlasan.
- Perbedaan Karakter Kaum
Mukmin vs Orang Lalai/Ateis:
Orang-orang
yang lalai dan orang-orang ateis tidak mengingat Allah. Namun, apabila mereka
ditimpa kesusahan yang berat atau ditimpa suatu musibah, mereka seketika
mengingat Allah dan tiba-tiba saja mereka menjerit memohon kepada-Nya dengan
doa agar Dia menyelamatkan mereka dan membebaskan mereka dari kesempitan atau
musibah ini. Tetapi, begitu Allah menyingkap musibah itu dari mereka, seketika
itu pula mereka kembali pada kelalaian dan keateisan mereka. Adapun orang-orang
yang beriman, mereka senantiasa mengingat Allah di waktu lapang maupun sempit,
dan dalam setiap kondisi mereka, mereka mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya.
Sesungguhnya
seorang mukmin apabila mengingat Allah di waktu sehatnya dan melimpahnya harta
di sisinya, ia bersyukur kepada Allah dan mengingat karunia Allah atas dirinya
dalam hal tersebut, sehingga ia tidak melampaui batas (thagha) dan tidak
terfitnah oleh dunia. Dan manakala ia mengingat Allah di waktu sempit dan
kesusahan, Allah akan melenyapkan kesempitan itu darinya dan menggantikannya
dengan ketenangan, ketenteraman, kenyamanan, serta kedamaian pikiran.
Kisah
Inspiratif Ketenteraman di Balik Jeruji Besi
Berkaitan
dengan tema ini, aku teringat bahwa salah seorang saudara (ikhwah)
pernah dipenjara di dalam sel tahanan yang sangat sempit secara soliter (sel
isolasi)—artinya ia berada seorang diri dan pintunya dikunci rapat hampir
sepanjang waktu. Akan tetapi, disebabkan aktivitas zikirnya kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala, ia senantiasa merasakan kenyamanan dan ketenteraman
psikologis yang luar biasa. Ia sama sekali tidak merasakan bahwa sel tersebut
memiliki dinding-dinding pembatas dan pintu yang terkunci rapat; ia merasa
seolah-olah sedang berada di alam semesta yang luas.
Sementara
itu, penjaga yang berada di luar pintu merasa iba dan mengira bahwa saudara
tersebut berada dalam kesempitan karena pintu yang dikunci rapat atasnya. Maka,
penjaga itu kerap mencuri-curi kesempatan dari pengawasan perwira untuk membuka
pintu sel dengan bukaan kecil selama beberapa waktu demi meringankan beban
saudara tersebut. Namun, saudara itu justru bercerita dan mengatakan bahwa
ketika pintu itu dibuka, ia justru merasakan adanya kegelisahan (wuhsyah)
dan berkuranglah rasa kenyamanan spiritual yang tadinya ia rasakan secara
mendalam bersama aktivitas zikirnya kepada Allah Ta'ala.
Keutamaan
Zikir dan Doa dalam Hadis
- Pahala yang Mengalahkan
Permohonan Para Peminta:
Di
antara keindahan karunia Allah atas kita dan baiknya balasan-Nya bagi
orang-orang yang berzikir adalah apa yang tercantum di dalam hadis syarif ini,
di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Allah
'Azza wa Jalla berfirman: 'Barangsiapa yang disibukkan oleh aktivitas zikir
kepada-Ku dari memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya sesuatu yang
lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang
meminta'." (HR. Muslim).
- Investasi Pahala Lewat
Kalimat Thayyibah:
Sesungguhnya
bacaan tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah),
takbir (allahu akbar), tasbih (subhanallah), istigfar, pujian,
sanjungan, serta selawat dan salam atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam; seluruh hal tersebut memiliki keutamaan yang besar dan pahala yang
agung. Sungguh telah ada banyak ayat dan hadis mengenai hal itu, dan hal itu
telah mencakup beberapa formula (shiyagh) doa mabrur yang diriwayatkan
dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka alangkah butuhnya kita
untuk meraup kebaikan-kebaikan dan menggugurkan keburukan-keburukan dengan
zikir ini.
- Hakikat Doa sebagai Inti
Penghambaan:
Adapun
mengenai doa, ia adalah sumber bekal yang sangat penting. Doa pada hakikatnya
bermakna adanya perasaan seorang hamba akan kefakirannya kepada Allah,
perasaannya akan kemahakuasaan Allah, dan bahwasanya segala urusan seluruhnya
berada di tangan-Nya. Inilah inti dari penghambaan ('ubudiyyah),
kepasrahan kepada Allah, dan keimanan kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Ia adalah
perasaan hancur di hadapan Allah, bertadaru (merendah diri), dan menghinakan
diri di hadapan-Nya Subhanahu wa Ta'ala, serta perasaan akan karunia-Nya,
kedermawanan-Nya, kebaikan-Nya, dan bahwasanya Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Hidupnya hati dengan makna-makna ini pada dirinya sendiri sudah
merupakan bekal yang sangat agung.
- Doa adalah Ibadah,
Menolaknya adalah Kesombongan:
Doa
adalah ibadah, sedangkan berpaling darinya adalah wujud kesombongan dan
pengingkaran. Termasuk bentuk kemurahan Allah atas kita adalah Dia menyeru kita
untuk berdoa kepada-Nya dan menjanjikan kita dengan pengabulan. Dari Nu'man bin
Basyir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
"Doa
adalah ibadah, kemudian beliau membaca: 'Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan
hina dina'." (HR. Abu Dawud).
Dan
dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang tidak meminta kepada
Allah, maka Allah murka kepadanya." (HR. Tirmidzi).
- Keindahan Saling
Mendoakan Tanpa Sepengetahuan (Saling Mendoakan di Balik Ghaib):
Alangkah
indahnya jika sesama saudara saling bertukar kebaikan yang terkandung di dalam
doa, dengan cara masing-masing mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya (zhahril
ghaib). Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada seorang hamba muslim
pun yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan
berkata: 'Dan bagimu pun mendapatkan yang semisalnya'." (HR. Muslim).
Termasuk
perkataan salah seorang salaf yang saleh: "Berdoalah dengan lisan yang
tidak kamu gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya." Ditanyakan: "Bagaimana
caranya?" Ia menjawab: "Kamu meminta saudaramu untuk mendoakan
Allah demi dirimu." Di dalam hal itu terdapat penguatan bagi tali-tali
cinta dan persaudaraan karena Allah (ukhuwah fillah).
- Waktu-Waktu Mustajab
Dikabulkannya Doa:
Bagi
doa, terdapat waktu-waktu yang sangat diharapkan di dalamnya pengabulan yang
telah disebutkan di dalam hadis-hadis nabi yang dapat dirujuk kembali. Di
antara waktu-waktu ini adalah: Malam Lailatul Qadar, di antara azan dan iqamah,
di kala sujud, di dalam perjalanan (safar), di bawah guyuran hujan, di
waktu sahur, ketika seruan azan berkumandang, di dalam barisan perang (shaff),
dan ketika mengalami kezaliman (mazhlum).
Terdapat
pula doa-doa di dalam Al-Qur'an dan doa-doa yang diriwayatkan dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, demikian pula doa-doa dari sebagian orang saleh
yang dapat dirujuk kembali, karena di dalam hal tersebut terkandung kebaikan.
Adab-Adab
dalam Berzikir dan Berdoa
Terdapat
adab-adab dalam zikir dan doa yang wajib kita komit dengannya dengan harapan
dikabulkan dan dipetik manfaatnya. Di antara adab-adab ini adalah:
- Kehadiran Hati dan
Kekhusyukan: Menghadirkan hati (hudhurul qalb), adanya rasa
takut, ketenangan, serta etika yang baik (husnul adab) di hadapan
Dzat Yang Maha Benar (Al-Haq) Tabaraka wa Ta'ala.
- Sistematika Doa yang
Benar: Membuka doa dengan pujian kepada Allah (tahmid) dan
menyanjung-Nya, serta membaca selawat dan salam atas Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian menutup doa dengannya pula.
- Ketenangan Suara: Menjaga
ketenangan dan tidak meninggikan suara secara berlebihan di kala berdoa
atau berzikir.
- Memilih Kalimat yang Padat
Makna (Jawami'ul Kalim): Yaitu doa-doa yang mengumpulkan segala
bentuk kebaikan, serta mengulang-ulangi doa tersebut sebanyak tiga kali.
- Optimisme dan Tidak
Tergesa-gesa: Memiliki keyakinan yang penuh akan dikabulkannya doa (muqinun
bil ijabah) dan tidak terburu-buru menuntut hasilnya.
- Menghindari Doa Buruk:
Tidak mendoakan keburukan atas dirinya sendiri, tidak pula atas anaknya,
dan tidak pula atas hartanya.
- Memulai dari Diri Sendiri:
Hendaknya ia memulai dari dirinya sendiri apabila ia mendoakan orang lain,
seperti dengan mengucapkan: "Ya Allah, berilah petunjuk kepada
kami dan kepadamu."
Barangsiapa
yang menjaga adab-adab ini di dalam zikir dan doa, ia akan mendapati—dengan
izin Allah—pengaruh dari hal tersebut berupa kemanisan di dalam hatinya, cahaya
bagi ruhnya, kelapangan di dalam dadanya, serta limpahan karunia dari Allah
Ta'ala.
Dan
wajib bagi seorang muslim untuk bubar meninggalkan majelis zikir dan doa dalam
keadaan khusyuk dan beradab, serta menjauhkan diri dari kegaduhan/ucapan
sia-sia (laghath) dan kesia-siaan (lahwu) yang dapat melenyapkan
faedah dari zikir dan doa beserta pengaruhnya.
Dan
di dalam Mengikuti Sunah.... Terdapat Bekal
Sunah
yang suci (As-Sunnah Al-Muthahharah) memiliki kedudukan yang sangat
agung di dalam hati kaum muslimin. Ia merupakan aplikasi pertama dan paling
benar bagi Islam di tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia adalah
manhaj (jalan/metode) yang lurus bagi kehidupan sebagaimana yang Allah
kehendaki bagi hamba-hamba-Nya. Ia adalah penjelas yang menerangkan Kitabullah
yang mulia, serta merupakan sumber hukum (tasyri') kedua. Tidak diterima
keislaman orang yang mengingkari dan menentangnya. Sebagaimana Al-Qur'anul
Karim merupakan sumber bekal yang melimpah, maka demikian pula sunah merupakan
sumber bekal yang sangat banyak.
Kita
mutlak memerlukan sebuah jeda perenungan mengenai urgensi sunah dan
kedudukannya sebelum berbicara tentang bekal yang akan kita peroleh dengan
mengikuti sunah tersebut, agar lahir dorongan yang kuat untuk mengikutinya
tanpa ada sikap meremehkan (tafrith) atau menunda-nunda (tarakhi).
Terlebih lagi, akhir-akhir ini kita mendengar dan membaca adanya suara-suara
sumbang (nashizah) yang mencoba mengecilkan urgensi sunah atau meragukan
keabsahannya.
Sesungguhnya
sikap kita terhadap sunah adalah hal yang menentukan sikap kita terhadap Islam
itu sendiri. Jika kita menerima ajaran Islam sebagaimana yang dihamparkan oleh
Al-Qur'anul Karim dan sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, maka wajib bagi kita untuk menerimanya secara sempurna tanpa
dikurangi sedikit pun.
Apakah
pantas bagi kita untuk ragu-ragu dalam mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam dan mengambil petunjuk dari bimbingan serta sunahnya, setelah adanya
perintah Allah kepada kita di dalam Al-Qur'an-Nya yang mulia:
"Apa
yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7).
Dan
firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya
jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya
agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, 'Kami
mendengar, dan kami patuh.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. An-Nur: 51).
Dan
firman Allah Ta'ala:
"Maka
demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa: 65).
Dan
firman Allah Ta'ala:
"Katakanlah,
'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
kamu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Katakanlah, 'Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir'." (QS. Ali
'Imran: 31-32).
Setelah
adanya kejelasan yang sangat benderang dalam ayat mulia ini—yang mengikat
antara kecintaan kita kepada Allah dan kecintaan Allah kepada kita dengan
aktivitas mengikuti sunah Rasul-Nya yang tercinta shallallahu 'alaihi wa
sallam—apakah boleh bagi seorang muslim yang jujur untuk ragu-ragu dalam
bersegera mengikuti sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam? Justru ia
akan mendapati dirinya terdorong untuk meneliti sunah-sunah ini dalam setiap
urusan dan kondisinya agar meraih kecintaan Allah dan kecintaan Rasul-Nya,
serta memenangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Jika
kita meyakini bahwa Al-Qur'anul Karim adalah kalam Allah, dan bahwasanya
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan Allah.... maka kita
menjadi terikat/wajib untuk mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam tanpa ada keraguan maupun penundaan.
Sesungguhnya
ajaran-ajaran yang ada di dalam Al-Qur'an dan Sunah yang suci adalah perkara
yang paling mutlak diperlukan oleh manusia, dan tidak akan terwujud sebuah
kebaikan (shalah) maupun kejayaan (falah) kecuali dengan
berkomitmen pada keduanya. Allah Ta'ala berfirman:
"Maka
jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut
petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa
berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang
sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan
buta." (QS. Thaha: 123-124).
Dan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadisnya yang mulia:
"Aku
tinggalkan bersama kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepada
keduanya, kalian tidak akan tersesat setelahku selama-lamanya: Kitabullah dan
Sunahku."
Sesungguhnya
orang-orang yang hidup membersamai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
(para sahabat), mereka semua melihat urgensi yang paling besar pada setiap
ucapan dan perbuatan beliau. Hal itu bukan hanya karena kepribadian Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam memengaruhi mereka sehingga menawan akal pikiran
mereka saja, melainkan karena mereka juga berada di atas keyakinan yang pasti
bahwa hal tersebut merupakan perintah dari Allah Ta'ala untuk mengatur
kehidupan mereka hingga pada detail yang paling kecil sekalipun. Oleh karena
itu, mereka sangat antusias agar tidak ada satu pun yang terlewat dari ucapan
maupun perbuatan beliau.
Sesungguhnya
misi kita di dalam kehidupan ini adalah beribadah kepada Allah Ta'ala, dan
dengannya kita meraih keridaan Allah, memenangkan surga, serta selamat dari api
neraka. Konsep ibadah tidaklah terbatas pada ibadah ritual seperti salat,
puasa, zakat, dan haji saja, melainkan mencakup seluruh kehidupan kita. Maka
aktivitas makan kita adalah ibadah, minum kita adalah ibadah, tidur kita,
pekerjaan kita, ilmu kita, pernikahan kita, dan seluruh urusan kehidupan kita
adalah ibadah. Sebagaimana kita meneliti hukum-hukum keabsahan di dalam salat
dan puasa kita agar ia diterima serta berkomitmen dengan petunjuk Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam di dalamnya, maka demikian pula wajib bagi kita
untuk meneladani Rasul kita dalam setiap perkara dari perkara-perkara ini dan
selainnya agar ia menjadi ibadah yang diterima.
Anda
dapat melihat para pemilik pabrik sangat patuh pada instruksi/manual yang
menyertai mesin-mesin, yang mana instruksi tersebut dibuat oleh para perancang
mesin tersebut demi menjamin keselamatan jalannya mesin dan agar tidak rusak.
Maka, selama kita meyakini secara pasti bahwa Allah adalah Pencipta kita dan
Dia Maha Mengetahui segala hal yang berkaitan dengan kita; apa yang bermanfaat
bagi kita dan apa yang membahayakan kita, apa yang merusak kita dan apa yang
memperbaiki kita, serta Dia telah menetapkan ajaran-ajaran untuk kita di dalam
Kitab-Nya dan Sunah Nabi-Nya; lalu bagaimana mungkin kita menyelisihinya dan
justru berlari mengejar perundang-undangan buatan manusia, serta adat istiadat
dan tradisi dalam kehidupan kita yang menyelisihi petunjuk Rasulullah dan
sunahnya? Akibat yang pasti dari hal ini adalah kita akan dihadapkan pada
kesengsaraan, kebingungan, dan kesesatan, serta terhalang dari kehidupan yang
baik, tenteram, damai, aman, dan bahagia di dunia maupun akhirat.
Dimensi
Spiritual, Sosial, dan Psikologis dari Mengikuti Sunah
- Penyadaran Internal dan
Kontrol Diri:
Sunah
adalah contoh nyata yang ditegakkan oleh Rasul kita yang mulia shallallahu
'alaihi wa sallam melalui ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Kehidupan
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan representasi hidup dan tafsir
bagi apa yang diturunkan di dalam Al-Qur'anul Karim. Kita tidak akan bisa
memperlakukan Al-Qur'anul Karim dengan seadil-adilnya melebihi tindakan
mengikuti sosok yang kepadanya wahyu itu diturunkan dan yang menyampaikannya.
Sesungguhnya
tindakan kita mengikuti sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
seluruh urusan kehidupan menjadikan kita senantiasa hidup dalam kondisi
kesadaran internal (internal awareness), kewaspadaan yang tinggi, serta
kontrol diri (self-control). Dengan begitu, setiap hal yang kita lakukan
atau kita ucapkan menjadi terukur oleh kehendak kita dan tunduk di bawah
pengawasan spiritual kita; kita mengisbat/menghisab diri kita sendiri atasnya
sebelum kita dihisab pada hari kiamat kelak. Di dalam hal ini terdapat bekal
yang sangat besar.
- Integrasi Sosial dan
Harmonisasi Komunitas:
Mengikuti
sunah juga memiliki manfaat sosial. Perbedaan karakter, selera, dan
kecenderungan pada setiap individu sering kali mendorong manusia pada
kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Melalui pembiasaan yang terus-menerus,
kebiasaan-kebiasaan ini dapat berubah menjadi ego/sentimen di antara individu
dan memicu perselisihan serta pertikaian. Namun, Islam yang lurus ini
mengarahkan para anggota lingkungan sosial dengan cara yang teratur agar
kebiasaan serta tabiat mereka menjadi serasi dan setara, bagaimanapun heterogennya
kondisi sosial dan ekonomi mereka. Alhasil, setiap muslim menjadi seolah-olah
seperti batu bata yang dicetak dalam satu cetakan khusus yang saling merekat
dan selaras dengan saudara-saudaranya, seakan-akan mereka adalah bangunan yang
kokoh (bunyanun marshush); tidak ada kebengkokan dan tidak ada
ketimpangan.
- Kemandirian Identitas dan
Menepis Mentalitas Inferior (Syur bin Naqs):
Tindakan
kaum muslimin mengikuti sunah Nabi mereka shallallahu 'alaihi wa sallam akan
membuat mereka tidak butuh untuk mengekor/meniru Barat dalam urusan kehidupan
mereka. Hal ini memberikan mereka perasaan akan keistimewaan dan independensi
kepribadian mereka, serta bahwasanya mereka mampu berkembang menuju masa depan
yang hidup dengan penuh rasa percaya diri; tanpa ada perasaan mengekor (tawabi'iyyah)
kepada Timur maupun Barat, melainkan murni mengikuti Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam.
Kasus
peniruan terhadap modernisasi asing (al-tamaddun al-ajanbi) di dalam
kehidupan kaum muslimin merupakan sebuah problematika yang memiliki
dampak-dampak yang sangat mendalam lagi berbahaya. Ia lahir dari buah rasa
rendah diri (mentalitas inferior/shu'ur bin naqs) dan hasil dari sebuah
imajinasi keliru bahwasanya kaum muslimin tidak akan mampu menyamai kemajuan
yang ada di sebagian negara Barat selama mereka tidak menerima kaidah-kaidah
sosial dan ekonomi yang telah diterima oleh Barat... Padahal, tidak mungkin meniru
suatu peradaban dalam aspek-aspek lahiriahnya tanpa terpengaruh pada saat yang
sama oleh ruh/jiwa dari peradaban tersebut.
Peradaban
bukanlah sebuah casing yang kosong, melainkan sebuah aktivitas yang hidup. Jika
kita menerima bentuk luarnya, maka arus-arus dasarnya dan pengaruh-pengaruh
efektifnya akan mengalir bekerja di dalam diri kita, kemudian ia akan
menanggalkan dan merubah arah orientasi kita pada bentuk tertentu secara
perlahan tanpa kita sadari. Hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menetapkan makna ini:
"Barangsiapa
yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (HR.
Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud).
- Meluruskan Persepsi
Mengenai Kemajuan dan Nilai Estetika:
Sebagian
orang membayangkan bahwa adat istiadat dan tradisi Barat dalam kehidupan mereka
adalah sesuatu yang mulia dan mendekati kesempurnaan, sedangkan adat istiadat
dan tradisi kita kaum muslimin adalah sesuatu yang rendah lagi terbelakang.
Padahal hakikatnya, kaum muslimin sendirilah yang menjauh di dalam kehidupan
mereka dari sunah Nabi mereka dan ajaran Islam mereka; yang mana ajaran
tersebut merupakan gaya hidup terbaik dan level cita rasa (estetika) tertinggi
dalam kehidupan umat manusia. Karena Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam
tidaklah berbicara dari hawa nafsu, melainkan beliau mereguk dari sumber
ketuhanan yang bersifat maha sempurna Subhanahu wa Ta'ala; "Apakah
(pantas) Dzat yang menciptakan itu tidak mengetahui? Padahal Dia Maha Halus
lagi Maha Mengetahui."
Bantahan
terhadap Syubhat dan Keraguan
- Jawaban atas Tuduhan
Pengekangan Kebebasan:
Sebagian
kritikus dari kalangan orang-orang yang tidak loyal kepada Islam biasanya
melontarkan keberatan dan mengatakan: "Bukankah adanya pemaksaan untuk
meniru kehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam seluruh sisi
kehidupannya merupakan bentuk perampasan terhadap kebebasan individu dalam
kepribadian manusia?" Ini adalah keberatan yang batil. Kebebasan yang
sejati justru terletak pada komitmen terhadap manhaj kehidupan yang telah
digariskan untuk kita oleh Allah yang telah menciptakan kita, yang mana
Rasulullah telah menerapkannya pada dirinya sendiri, dan Allah memerintahkan
kita untuk meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di mana Dia
berfirman:
"Sungguh,
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang
banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).
- Menolak Pemisahan Sunah
Ritual dan Sunah Sosial/Harian:
Perintah-perintah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ada yang berkaitan dengan urusan
ibadah ritual spiritual murni, dan ada pula yang berkaitan dengan problematika
masyarakat serta urusan kehidupan kita sehari-hari. Anggapan yang menyatakan
bahwa kita wajib mengikuti perintah yang berkaitan dengan jenis pertama
(ritual) namun kita tidak wajib mengikuti perintah yang berkaitan dengan jenis
kedua (sosial/harian), sesungguhnya hanyalah sebuah cara pandang yang dangkal
dan pengurangan yang sangat fatal terhadap kadar cahaya kenabian (an-nur
an-nabawi). Maka, adakah model yang lebih baik daripada model ketuhanan (al-namudzaj
ar-rabbani) ini untuk kita ikuti dalam seluruh urusan kehidupan?
- Kepastian Otentisitas
dan Kodifikasi Sunah:
Mereka
yang meragukan sunah dan keabsahan sumber-sumbernya adalah orang-orang yang
remeh lagi berhalusinasi. Sesungguhnya janji Allah untuk menjaga Kitab-Nya yang
mulia juga membentang dan mencakup penjagaan terhadap sunah Nabi-Nya
shallallahu 'alaihi wa sallam, karena sunah adalah penafsir dan penjelas bagi
Al-Qur'an tersebut:
"Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang
memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9).
Sungguh
Allah telah mendatangkan para imam yang utama untuk mengumpulkan hadis-hadis,
menyaringnya, dan mengodifikasikannya; seperti dua Imam yaitu Al-Bukhari dan
Muslim serta selain keduanya. Mereka telah mengerahkan segala apa yang ada
dalam batas kemampuan manusia ketika menyodorkan setiap hadis pada
kaidah-kaidah ilmu hadis (qawa'id al-tahdits) dengan pengujian yang jauh
lebih ketat daripada pengujian yang biasanya digunakan oleh para sejarawan
Eropa ketika meneliti sumber-sumber sejarah kuno...
Mereka
telah membuatkan biografi (tarajum) bagi para periwayat, baik laki-laki
maupun perempuan, yang mana biografi tersebut tunduk pada penelitian mendalam
yang tegak di atas kaidah-kaidah yang berada pada puncak akurasi. Maka, apabila
tidak ada hujah yang masuk akal—artinya hujah ilmiah—untuk meragukan sumber itu
sendiri atau salah satu periwayatnya yang belakangan, dan apabila di sana tidak
ada riwayat lain yang mengonfirmasikan kontradiksi dengannya, maka menjadi
sebuah kemestian bagi kita saat itu untuk menerima hadis tersebut sebagai hadis
yang sahih. Sama sekali tidak ada pembenaran dari sisi ilmiah bagi siapa pun
untuk mencacat keabsahan suatu sumber sejarah tertentu selama ia tidak mampu
membuktikan secara ilmiah bahwa sumber tersebut cacat/kurang.
Kesimpulan
Setelah
semua penjelasan yang telah lalu, wajib bagi setiap muslim untuk merasa bangga
dengan agamanya dan dengan sunah Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
Janganlah ia berdiri pada posisi orang yang sekadar defensif membela diri
menepis tuduhan dari agamanya dan sunah Nabi-Nya, melainkan berdirilah pada
posisi orang yang penuh percaya diri bahwasanya ia berada di atas agama yang
hak, dan bahwasanya sunah Rasul kita adalah sebaik-baik manhaj bagi kehidupan.
Dan
di dalam Jihad di Jalan Allah.... Terdapat Bekal
Jihad
adalah kewajiban yang terus berlaku sampai hari kiamat. Allah Ta'ala telah
berfirman:
"Diwajibkan
atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu." (QS.
Al-Baqarah: 216).
Sebagaimana
Dia Ta'ala juga berfirman:
"Diwajibkan
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).
Jihad
merupakan puncak tertinggi dari urusan agama (Islam). Sebab, kebenaran mutlak
membutuhkan kekuatan yang melindunginya. Maha Benar Allah Yang Maha Agung
dengan firman-Nya:
"Dan
sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang
lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah
(yahudi), dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah
pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Hajj: 40).
Dan
ayat-ayat serta hadis-hadis yang khusus membahas tentang jihad sangatlah
banyak.
Seorang
mujahid membutuhkan bekal iman dan takwa kepada Allah yang dapat membantunya
dalam setiap tahapan jihad. Sebuah bekal yang mendorongnya untuk bersegera
dalam menyambut penyeru jihad tanpa keraguan, sehingga ia tidak merasa berat
lalu condong ke dunia (its-tsaqala ilal ardhi). Sebuah bekal yang
membantunya untuk teguh dan maju menerjang saat bertemunya pasukan serta saat
menebas musuh tanpa ada pikiran untuk memalingkan punggungnya (melarikan diri)
dari mereka. Serta sebuah bekal yang memurnikan niatnya dari segala noda atau
tendensi duniawi, agar ia dapat meraih kesyahidan yang jujur, di mana niatnya
murni agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi.
Meskipun
demikian, jihad di jalan Allah itu sendiri juga merupakan sumber dari bekal.
Seorang muslim, manakala ia hidup dalam atmosfer jihad, bersiap-siap, dan
melakukan persiapan untuknya, dirinya akan terangkat dan meninggi dari
kerendahan bumi, tuntutan jasad, syahwat, serta godaan dunia. Ruh dan jiwanya
akan meninggi, lehernya akan mendongak untuk menghirup embusan angin surga
beserta kenikmatan yang ada di dalamnya. Di dalam ketinggian, peningkatan, dan
keterbebasan dari daya tarik bumi ini, terkandung bekal yang sekaya-kayanya
bekal.
Seorang
mujahid maju ke medan jihad untuk mewujudkan kemenangan dan kejayaan bagi agama
Allah, agar seluruh umat manusia dapat berbahagia dengan segala sebab kebaikan
yang diwujudkan oleh agama ini bagi mereka, dan agar manusia terhindar dari
keburukan syirik serta kesesatan... Kepedulian-kepedulian yang besar ini
menjadikan pemiliknya sebagai sosok kepribadian yang memiliki nilai penting dan
peran agung, jika dibandingkan dengan orang-orang yang hanya menyibukkan diri
mereka dengan tuntutan jasad mereka dan tidak memikirkan kecuali hal-hal yang
remeh (safasif al-umur). Di dalam hal itu terdapat peningkatan dan
pembentukan kepribadian seorang muslim.
Orang
yang maju ke medan jihad sangat mendambakan keridaan Allah serta pencapaian
kemenangan atau kesyahidan. Sangat tidak masuk akal bagi orang yang kondisinya
demikian jika di dalam hatinya masih tersisa kebencian atau kedengkian terhadap
saudara-saudaranya sesama muslim. Ia juga tidak akan berpikir untuk melakukan
suatu dosa, menyakiti siapa pun, merampas hak orang lain, atau melakukan apa
saja yang memicu kemurkaan Allah Ta'ala. Bagaimana mungkin hal itu terjadi,
sedangkan ia sedang berada dalam janji temu di medan pertempuran dan kesyahidan
di jalan Allah? Di dalam penyucian diri (tathahhur) dan perjuangan jiwa
(mujahadah) ini terdapat bekal yang bermanfaat dan mengangkat
derajatnya, meskipun ia belum meraih kesyahidan dalam waktu dekat di urusannya.
Orang
yang maju untuk berjihad di jalan Allah senantiasa melawan bisikan-bisikan
setan yang ingin membuatnya duduk berpangku tangan dan melemahkan tekadnya.
Setan akan menghiasi di matanya indahnya istirahat, bersantai-santai,
kenyamanan bersama istri dan anak-anak, serta bayangan kesulitan yang mungkin
akan menimpa mereka, atau siapa yang akan mengurus mereka sepeninggalnya nanti,
dan waswas setan lainnya. Di dalam perlawanan dan perjuangan melawan bisikan
setan ini, terdapat penguatan bagi kehendak (kemauan) serta menjadi sebuah
perisai/benteng. Maka, mendahulukan apa yang ada di sisi Allah di atas segala
tendensi duniawi ini, serta bertawakal kepada Allah dan bersandar
kepada-Nya—bahwa Dialah sebaik-baik Teman dalam perjalanan dan Pengganti yang
mengurus keluarga, harta, serta anak—seluruh hal tersebut merupakan bentuk
latihan bagi jiwa (tarwidhun nafs), penguatan kehendak, dan pembangunan
kepribadian muslim di atas asas ketakwaan. Di dalam hal itu terdapat bekal yang
sangat besar.
Seorang
mujahid mutlak harus mengambil sebab-sebab kekuatan:
"Dan
persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan
yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah,
musuhmu." (QS. Al-Anfal: 60).
Kekuatan
di sini tidak terbatas pada kekuatan senjata dan amunisi saja, melainkan
mencakup juga kekuatan akidah, keimanan, kekuatan persatuan dan ikatan,
kekuatan ilmu, harta, serta segala sebab kekuatan. Di dalam pencapaian hal
tersebut terkandung bekal bagi seorang mukmin. Sebagaimana ia mengambil
sebab-sebab kekuatan, ia juga wajib melepaskan diri dari segala sebab kelemahan
atau perasaan lemah; seperti lemahnya kehendak akibat kegundahan (hamm)
dan kesedihan (huzn), lemahnya produktivitas akibat kelemahan fisik ('ajz)
dan kemalasan (kasal), lemahnya hati dan harta akibat sifat penakut (jubn)
dan kekikiran (bukhl), serta lemahnya harga diri dan kehormatan akibat
lilitan utang (dayn) dan penindasan (qahr). Rasulullah yang mulia
shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan petunjuk kepada kita melalui doa yang
komprehensif ini untuk membebaskan diri dari sebab-sebab tersebut:
"Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, aku
berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu
dari sifat penakut dan kekikiran, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan
utang dan penindasan orang-orang." (HR. Bukhari).
Dan
di dalam pembebasan diri dari sebab-sebab kelemahan ini terdapat bekal.
Ayat-Ayat
Al-Qur'an sebagai Bekal Psikologis dan Panduan Operasional
Alangkah
layaknya bagi setiap saudara muslim yang telah membulatkan niat untuk berjihad
untuk menyendiri bersama Kitabullah Ta'ala, membacanya, dan merenungkan
ayat-ayat yang berkaitan dengan jihad, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Sesungguhnya kesiapan psikologis untuk berjihad akan membuatnya
merasakan ayat-ayat ini dengan rasa yang baru dan mendalam. Ia akan keluar dari
bacaan tersebut dengan membawa bekal yang besar, ibrah (pelajaran), serta
pelajaran dari untaian kalimat yang menjadi petunjuk baginya di semua tahapan
jihad. Kami akan menyebutkan sebagian dari ayat-ayat ini sebagai contoh, untuk
melihat bagaimana Al-Qur'an menangani berbagai perkara dengan sangat presisi
dan jelas:
"Karena
itu hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan)
akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah
lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya
pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan
(membela) orang-orang yang tertindas baik laki-laki, wanita-wanita maupun
anak-anak yang semuanya berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri
ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan
berilah kami penolong dari sisi-Mu!'. Orang-orang yang beriman berperang di
jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu
perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah
lemah. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:
'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat!'
Tatkala diwajibkan atas mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka
(golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah,
bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: 'Ya Tuhan kami, mengapa
Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan
(kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?' Katakanlah: 'Kesenangan
di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang
bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun'." (QS. An-Nisa:
74-77).
Kemudian
perhatikanlah ayat-ayat ini, yang membahas tentang momen-momen paling krusial
yang dihadapi oleh seorang mukmin, ketika kondisinya ditentukan di antara dua
pilihan sikap; salah satunya akan mengantarkannya meraih pahala dan ganjaran
yang besar, sedangkan sikap yang lain akan menjatuhkannya pada azab dan
kemurkaan Allah:
"Wahai
orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepadamu:
'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin
tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti
kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan
dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk
berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya
(kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan
kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS.
At-Taubah: 38-39).
"Wahai
orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir
yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).
Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali belok untuk
(siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka
sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan
tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya."
(QS. Al-Anfal: 15-16).
Dan
di dalam kisah Thalut beserta pemuka-pemuka dari Bani Israil di dalam Surah
Al-Baqarah, serta tahapan-tahapan yang mereka lalui dan seleksi-seleksi
(eliminasi) yang mereka hadapi, hingga menyisakan kelompok yang bersabar,
teguh, dan bersandar kepada Allah seraya memohon keteguhan serta kemenangan
kepada-Nya, sehingga terwujudlah kemenangan bagi mereka dengan izin Allah:
"Maka
tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: 'Sesungguhnya Allah akan
menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum
airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan siapa yang tidak meminumnya, kecuali
menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya
kecuali sebagian kecil di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang
yang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu, orang-orang (yang telah
minum) berkata: 'Tak ada kesanggupan kami hari ini untuk melawan Jalut dan
tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata:
'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang
banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala
mereka tampak maju untuk melawan Jalut dan tentaranya, mereka pun berdoa: 'Ya
Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian
kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.' Mereka (tentara Thalut)
mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam perkampungan itu) Dawud
membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan
hikmah (kenabian) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.
Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan
sebagian yang lain, pasti hancurlah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia
(yang dicurahkan) atas semesta alam." (QS. Al-Baqarah: 249-251).
Keteguhan
Mental dan Faktor Kemenangan
Bagaimana
gejolak psikologis yang merasuki seorang mujahid ketika ia melihat kebatilan
yang tampak jumawa, tinggi, dan membentengi diri dengan sebab-sebab kekuatan
bumi, serta unggul dalam jumlah personel maupun persenjataan, ditambah lagi
ancaman dan gertakan mereka terhadap ahli kebenaran yang acap kali menciutkan
nyali manusia?
Adapun
orang-orang mukmin, yang mengetahui bahwa kemenangan itu hanya dari sisi Allah
dan bahwasanya kekuatan itu seluruhnya milik Allah, maka gertakan musuh ini
justru menambah keimanan mereka, sebagai pembenaran bagi firman Allah Ta'ala:
"
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada
orang-orang yang mengatakan: 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan
untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka', maka perkataan itu
menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah menjadi Penolong
kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.' Maka mereka kembali dengan nikmat
dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa bencana apa-apa dan mereka
mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya
mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan
kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut
kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang
beriman." (QS. Ali 'Imran: 173-175).
Demikianlah,
di dalam atmosfer jihad keimanan akan semakin bertambah, berbeda dengan
masa-masa santai/aman. Al-Qur'an mengajarkan kepada kita bahwa di antara
sebab-sebab terpenting datangnya kemenangan adalah berzikir mengingat Allah,
bersabar, tidak bersikap lemah, tidak menyerah/lesu, menjauhkan diri dari
kemaksiatan, memohon ampunan dari dosa, serta keteguhan yang Allah anugerahkan
kepada para mujahidin:
"Wahai
orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh
hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu
beruntung." (QS. Al-Anfal: 45).
"Dan
berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari
pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang
menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah
menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: 'Ya Tuhan
kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan
dalam urusan kami dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap
kaum yang kafir.' Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan
pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 146-148).
Dengan
demikian, para mujahidin memahami bahwa kemaksiatan mereka kepada Allah jauh
lebih berbahaya bagi diri mereka ketimbang musuh mereka sendiri. Maka, mereka
membentengi diri dari kemaksiatan lebih ketat daripada kewaspadaan mereka
terhadap musuh mereka, dan di dalam hal itu terdapat bekal yang sangat besar.
Transaksi
Transendental dan Karakteristik Transaksi
Seorang
mujahid, manakala ia berniat untuk berjihad, pada hakikatnya ia sedang mengikat
transaksi jual-beli dengan Allah dan menetapkan suatu kontrak atas kesepakatan
dagang yang ditawarkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin; sebuah
transaksi dagang yang pasti beruntung lagi terjamin:
"Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu
lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah: 111).
Dan
hendaknya orang yang berniat untuk berjihad mengetahui bahwa transaksi ini
memiliki syarat-syarat dan spesifikasi yang wajib dipenuhi agar transaksi
tersebut sah. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah telah membeli
dari orang-orang mukmin..." dan Dia tidak mengatakan "dari
orang-orang muslim". Bagi orang-orang mukmin, terdapat sifat-sifat
yang disebutkan di dalam Kitabullah dan hadis-hadis Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam. Kiranya ayat yang berada tepat setelah ayat di atas
menegaskan makna ini, yaitu firman-Nya:
"Mereka
itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang
melawat (dalam urusan agama), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat
makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan
gembiralah orang-orang mukmin itu." (QS. At-Taubah: 112).
Maka,
bagi setiap orang yang makna-makna keimanan telah terbangun di dalam jiwanya
dan mendorongnya untuk sukarela berjihad di jalan Allah, hendaknya ia
mengoreksi dirinya sendiri untuk memastikan kesesuaian dirinya dengan
sifat-sifat orang mukmin yang tercantum di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah; agar
transaksi jual-beli itu sah dilakukan dan ia meraih ganjaran yang teramat
mahal, yaitu surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang di dalamnya
terdapat apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh
telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati manusia. Dengan cara ini,
jihad menjadi pendorong yang kuat bagi seorang mukmin untuk mendisiplinkan
dirinya dengan sifat-sifat orang mukmin, dan di dalam hal ini terkandung bekal
yang sangat besar.
Termasuk
makna yang paling melekat bagi seorang mujahid adalah ia harus mengetahui bahwa
Allah Maha Kaya (tidak butuh) terhadap dirinya maupun jihadnya, dan bahwasanya
dialah yang fakir serta butuh kepada Allah. Maka, janganlah ia bakhil (pelit)
dengan sesuatu pun di jalan Allah atau merasa telah berjasa kepada Allah atas
apa yang ia korbankan di jalan-Nya:
"Apabila
Allah menghendaki niscaya Allah membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji
sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan
Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi petunjuk
kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam
surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka." (QS. Muhammad:
4-6).
"Dan
barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya
sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu)
dari semesta alam." (QS. Al-Ankabut: 6).
"Ingatlah,
kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah.
Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia
hanyalah kikir terhadap diri sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan
kamulah orang-orang yang berkehendak (fakir); dan jika kamu berpaling niscaya
Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti
kamu ini." (QS. Muhammad: 38).
Manakala
makna-makna ini telah menguasai jiwa seorang mujahid, akan terwujudlah baginya
kebaikan yang besar dan bekal yang agung.
"Katakanlah:
'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga
bersamamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik." (QS. At-Taubah: 24).
Solidaritas
Saf, Penyingkapan Munafik, dan Etika Perang
Jihad
di jalan Allah mengharuskan para mujahidin untuk saling mencintai, bersaudara,
dan saling terikat erat. Bagaimana mungkin bisa dibayangkan di dalam hati
mereka terdapat sesuatu yang mengotori cinta ini atau melemahkan hubungan yang
kuat serta ikatan yang kokoh ini, padahal masing-masing dari mereka berpeluang
untuk menemui Allah sebagai seorang syahid? Dan tindakan abai apa pun dari
dirinya terhadap saudaranya dapat menyerahkan dirinya sendiri serta saudaranya
ke tangan musuh. Oleh karena itu, mutlak harus ada cinta, rasa percaya, dan
penyatuan yang sangat kuat:
"Sesungguhnya
Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur
seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS.
As-Saff: 4).
Dengan
demikian, kita melihat bahwa jihad memperkuat ikatan di antara kaum muslimin
dan mengukuhkan makna persaudaraan karena Allah (ukhuwah fillah), yang
mana derajat paling rendahnya adalah kelapangan dada (bersihnya hati dari
dendam) dan derajat tertingginya adalah tingkat itsar (mendahulukan
kepentingan saudara di atas kepentingan diri sendiri). Sejarah yang harum telah
menceritakan kepada kita potret-potret yang mengagumkan dari cinta dan sifat itsar
ini di antara para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Jihad
juga menyingkap orang-orang munafik beserta metode-metode mereka dalam
melemahkan semangat orang-orang mukmin, serta bagaimana seorang mukmin
membentengi diri dari mereka dan dari tindakan mereka yang ingin menggembosi
barisan (tohehan as-shaff). Alangkah indahnya Surah At-Taubah dalam
membongkar mereka beserta metode-metode mereka, oleh karena itu surah tersebut
dinamakan Al-Kasyifah (Yang Menyingkap) atau Al-Fadhihah (Yang
Membongkar Aib). Hal ini mengharuskan seorang mujahid untuk mengulangi membaca
surah ini dengan bacaan studi yang saksama agar dapat mengambil pelajaran serta
benteng perlindungan, dan di dalam hal itu terdapat bekal yang banyak. Sebagai
contoh, adalah ayat-ayat yang mulia berikut ini:
"Dan
mereka berkata: 'Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik
ini.' Katakanlah: 'Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya)', jika mereka
mengetahui." (QS. At-Taubah: 81).
"Jika
mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak menambah kamu melainkan
kekacauan, dan benar-benar mereka akan bergegas maju di celah-celah barisanmu,
dengan maksud menimbulkan kekacauan di antaramu; sedang di antaramu ada
orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah Maha
Mengetahui tentang orang-orang yang zalim." (QS. At-Taubah: 47).
Sesungguhnya
musuh-musuh kaum muslimin saling menyeru untuk mengerumuni kita sebagaimana
orang-orang yang kelaparan mengerumuni piring hidangannya, sebagaimana yang
telah diceritakan oleh Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam.
Hidangan makanan tersebut tidak akan pernah menolak orang-orang yang hendak
memakannya selama hidangan itu terasa lezat, empuk, dan mudah ditelan. Akan
tetapi, mereka pasti akan menolaknya manakala hidangan tersebut berubah menjadi
sesuatu yang pahit getir yang tidak tertelan, atau menjadi duri yang menyangkut
di tenggorokan mereka sehingga mereka takut untuk mendekatinya. Dan hal itu
tidak akan pernah terjadi kecuali jika kita telah membebaskan diri dari segala
makna buih (kuantitas tanpa kualitas/al-ghutsaiyyah), kelemahan (al-wahn),
serta kerapuhan, lalu kita mendahulukan apa yang ada di sisi Allah dan
menjadikan kesyahidan di jalan Allah sebagai cita-cita tertinggi di dalam hidup
kita; di saat itulah Allah akan mencampakkan rasa takut dan rasa segan kepada
kita di dalam hati musuh-musuh kita.
Seorang
mujahid dapat memetik banyak pelajaran dari perang dan pertempuran, seperti
kedisiplinan militer (keperwiraan), sikap mendengar, dan taat, serta keluar
dari daya dan kekuatannya sendiri menuju daya dan kekuatan Allah. Bahwasanya
tipu daya setan itu lemah, dan betapa banyak golongan yang sedikit dapat
mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, serta makna-makna lainnya
yang memosisikan diri sebagai kekuatan dan bekal bagi pemiliknya di atas jalan
perjuangan.
Selain
itu, pertempuran di dalam Islam memiliki adab-adab dan batasan-batasan yang
diselimuti oleh kasih sayang meskipun situasinya sangat keras. Di sana tidak
boleh ada tindakan mutilasi (mutslah), tidak boleh ada
pencurian/penggelapan harta rampasan perang, tidak boleh ada perampasan harta
benda secara zalim, dan tidak boleh ada pelanggaran terhadap kehormatan. Di
dalam hadis Buraidah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat seorang amir (komandan) atas
suatu pasukan atau ekspedisi militer, beliau memberikan wasiat khusus kepadanya
untuk bertakwa kepada Allah Ta'ala dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang bersamanya,
kemudian beliau bersabda: 'Berperanglah kalian dengan nama Allah di jalan
Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah kalian dan
janganlah kalian menggelapkan harta rampasan perang, janganlah kalian
berkhianat, janganlah kalian melakukan mutilasi, dan janganlah kalian membunuh
anak-anak'." (HR. Muslim).
Penutup
Alangkah
indahnya ungkapan dari Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam bidang ini, yang
dengannya kita menutup pembahasan kita kali ini:
"Sesungguhnya
zaman akan melahirkan berbagai peristiwa yang dahsyat, dan
kesempatan-kesempatan akan terbuka lebar untuk amal-amal yang besar. Dunia
sedang menantikan dakwah kalian—dakwah petunjuk, kejayaan, dan kedamaian—untuk
membebaskannya dari penderitaan yang sedang dialaminya. Sekarang giliran kalian
untuk memimpin umat dan mengomandoi bangsa-bangsa, 'Dan masa (kejayaan dan
kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.' Kalian mengharapkan dari
Allah apa yang tidak mereka harapkan, maka bersiap-siaplah dan beramallah,
karena boleh jadi kalian akan kehilangan kemampuan untuk beramal di hari
esok."
Dan
di dalam Mengikuti Sunah ...... Terdapat Bekal
Sunah
Nabawi seluruhnya adalah bekal. Ia menghidupkan hati para pengikutnya dan
mengangkat mereka ke derajat yang tinggi dalam keimanan dan ketakwaan kepada
Allah. Ia membekali seorang muslim dengan segala kebaikan, menjauhkannya dari
segala keburukan, serta membangun kepribadian muslim secara akidah, ibadah,
akhlak, fisik, pemikiran, dan sosial dengan bentuk yang kuat lagi mulia.
Sesungguhnya
sunah senantiasa mengawal seorang muslim dengan segala penjagaan dan perhatian
di setiap tahapan fase kehidupannya, bahkan sejak sebelum kelahirannya hingga
setelah kematiannya. Di kala terjaga maupun tidurnya, di kala bergerak maupun
diamnya, di kala menetap (domisili) maupun dalam perjalanannya (safar).
Di dalam rumah, di dalam masjid, di jalanan, di tempat perniagaan (pasar), dan
di setiap tempat ia berada serta di segala waktunya. Seolah-olah sunah bagi
seorang muslim laksana buaian (tempat asuhan) yang dilengkapi dengan segala hal
yang bermanfaat dan menguatkannya, serta dengan apa saja yang dapat melindungi
dirinya dari segala hal yang melemahkan dan menyakitinya. Dengan demikian, ia
dapat membekali diri dengan segala elemen kehidupan di atas asas akidah Islam
yang telah diridai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya.
Dan
kehidupan yang aku maksudkan di sini, bukanlah sekadar kehidupan jasmani yang
mana hewan-hewan pun berserikat (sama-sama hidup) dengan kita. Akan tetapi,
yang aku maksudkan secara derajat yang pertama adalah kehidupan hati (hayatul
qulub) dengan makrifat (mengenal) Allah dan beriman kepada-Nya, sebagai
pembenaran bagi firman Allah Ta'ala:
"Dan
apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya
cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah
masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keberadaannya berada dalam gelap
gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (QS. Al-An'am:
122).
Dan
firman-Nya Ta'ala:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru
kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu." (QS. Al-Anfal:
24).
Maka,
tindakan mengikuti sunah merupakan wujud pemenuhan terhadap seruan ini, dan
dengannya akan terwujud kehidupan hati, yang mana di dalam hal tersebut
terkandung bekal yang sangat besar. Di samping itu, sunah juga tidak
mengabaikan hal-hal yang di dalamnya terdapat kehidupan bagi badan dan
keselamatan bagi jasmani.
Sesungguhnya
Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mencintai kita, menginginkan
kebaikan bagi kita, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kita,
terasa berat olehnya penderitaan kita, serta amat belas kasihan lagi penyayang
kepada kita. Demikianlah Allah Ta'ala menyifati beliau dalam firman-Nya:
"Sungguh,
telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, kamu sangat diinginkannya (keimanan dan keselamatan) bagimu,
amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS.
At-Taubah: 128).
Maka,
bagaimana mungkin kita tidak bersegera untuk mengikuti sunahnya, sementara kita
semua dipenuhi rasa ketenteraman bahwa sunah beliau adalah mata air yang murni
lagi melimpah dengan bekal dan kebaikan? Terlebih lagi, kita semua mengetahui
bahwa di dalam ucapan-ucapan beliau, perbuatan-perbuatan beliau, perintah
beliau, maupun larangan beliau, seluruhnya bersumber dari arahan ketuhanan (at-taujih
ar-rabbani) dari Allah, Pencipta manusia, Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui atas hamba-hamba-Nya, serta mengetahui apa yang bermanfaat bagi
mereka dan apa yang membahayakan mereka: "Apakah (pantas) Dzat yang
menciptakan itu tidak mengetahui? Padahal Dia Maha Halus lagi Maha
Mengetahui." Maka petunjuk Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam
adalah bagian dari petunjuk Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Model
yang Sempurna
Seolah-olah
aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merepresentasikan teladan
yang sempurna (al-namudzaj al-kamil) bagi kehidupan yang Allah Subhanahu
wa Ta'ala kehendaki untuk dijalani oleh hamba-hamba-Nya, yang mana Dia telah
menyeru kita untuk meneladani Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam hal
tersebut melalui firman-Nya:
"Sungguh,
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang
banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).
Dan
di dalam firman-Nya Ta'ala:
"Katakanlah
(Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu
dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Ali 'Imran: 31).
Maka
Allah mengikat antara kecintaan kita kepada-Nya, kecintaan-Nya kepada kita,
serta pengampunan-Nya atas dosa-dosa kita dengan tindakan kita mengikuti
Rasul-Nya yang mulia.
Sesungguhnya
Rasul kita yang tercinta merupakan puncak yang menjulang tinggi dalam hal
keimanan dan ketakwaan. Maka kesungguhan kita dalam meneladani beliau dan
mengikuti sunahnya merupakan ikhtiar dari kita untuk mendaki derajat-derajat
keimanan dan menambah bekal ketakwaan. Manakala kita mengetahui bahwasanya
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu mendirikan salat malam hingga kedua
kaki beliau bengkak tanpa merasakan keletihan, hal itu mendorong kita untuk
meneladani beliau dengan mendirikan sebagian malam dalam bentuk salat, doa, dan
munajat (mengadu kepada Allah), dan hal tersebut adalah sebaik-baik bekal.
Beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sosok yang hatinya senantiasa tertambat
erat dengan Tuhannya, tidak pernah lalai barang sekejap pun. Oleh karena itu,
beliau senantiasa mengingat-Nya, mengingat nikmat-nikmat-Nya, serta karunia-Nya
atas dirinya dalam setiap kondisinya, dalam setiap ucapan dan perbuatannya,
pada apa saja kebaikan atau kemudaratan yang mendatangi beliau, pada apa saja
tanda-tanda kekuasaan Allah yang tertangkap oleh pandangan matanya, serta pada
apa saja fenomena-fenomena alam yang terjadi. Demikianlah, beliau melihat
(kekuasaan) Allah pada segala sesuatu. Maka, ketika kita meneladani beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam, hal itu akan membantu kita untuk senantiasa
menyambungkan hati kita dengan Allah, dan di dalam hal ini terkandung bekal
yang besar, yang terus bersambung lagi senantiasa terbarui.
Tindakan
mengikuti sunah di kala makan kita, minum kita, berpakaian kita, menanggalkan
pakaian kita, tidur kita, terjaga kita, menunaikan hajat (ke belakang) kita,
bermuamalah kita dengan orang lain, dan dalam seluruh aktivitas kita,
menjadikan kita mempraktikkan hal-hal tersebut dalam keadaan sadar penuh dan
berzikir mengingat Allah serta mengingat karunia-Nya atas kita. Alhasil, kita
akan meneliti di dalam setiap hal tersebut mana yang mendatangkan rida Allah
dan kita menjauh dari apa yang diharamkan-Nya, dan ini adalah sebaik-baik
bekal.
Sebaliknya,
barangsiapa yang tidak mengikuti sunah dalam perkara-perkara ini, ia akan
berada dalam kelalaian dan menjadi menyerupai hewan, di mana ia menjalani
kehidupannya begitu saja tanpa mengingat Allah dan karunia-Nya atas dirinya.
Jika kita menyebutkan satu contoh saja, seperti doa mabrur setelah menunaikan
hajat (keluar dari kamar mandi), yang di dalamnya terdapat pujian kepada Allah
karena telah menghilangkan penyakit/kotoran. Coba kita bayangkan bagaimana
jadinya andai air seni atau tinja itu tertahan di dalam tubuh? Tidak diragukan
lagi, hal itu akan memicu rasa sakit yang teramat sangat yang bahkan bisa
berujung pada kematian.
Sesungguhnya
untuk mencakup seluruh sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan apa
saja kebaikan serta bekal yang ada di dalamnya di dalam ruang ini adalah suatu
hal yang tidak mungkin. Mutlak harus merujuk langsung ke kitab-kitab sunah
(hadis) yang telah dikumpulkan dan dikodifikasikan melalui jerih payah para
imam yang mulia. Akan tetapi, di sini kami akan mencoba untuk mengetengahkan
beberapa contoh saja secara ringkas, sekaligus sebagai wujud pengakuan atas
keterbatasan kami dalam menyingkap keindahan-keindahan sunah yang memesona
beserta gudang harta karun yang ada di dalamnya.
Di
Antara Keindahan Sunah yang Memesona
- Pengawalan Sejak Sebelum
Lahir hingga Masa Kanak-Kanak:
Kita
dapat melihat bahwa Sunah Nabawi mengawal seorang muslim bahkan sejak sebelum
ia berwujud menjadi janin di dalam rahim ibunya. Hal itu dilakukan dengan cara
memberikan dorongan kuat untuk membangun keluarga muslim di atas asas ketakwaan
sejak hari pertama, yaitu melalui aspek memilih istri yang memiliki pemahaman
agama yang baik (dzatad diin). Dengan begitu, akan tercipta atmosfer
islami yang bersih tempat si buah hati akan tumbuh dan dididik. Kemudian, kita
dapati sunah mengingatkan untuk membaca doa perlindungan dari setan ketika
hendak melakukan hubungan suami istri, agar Allah menjauhkan setan dari
keturunan yang akan dianugerahkan kepada mereka. Sunah juga memberikan wasiat
mengenai apa saja yang dapat melindungi janin dan ibunya dari segala mara
bahaya. Dan manakala ia telah lahir, dikumandangkan azan salat di telinga
kanannya dan ditegakkan iqamah salat di telinga kirinya. Sunah pun memberikan
wasiat untuk membaguskan pemilihan nama bagi anak-anak. Demikianlah sunah
berturut-turut melanjutkan pengawalannya bagi seorang muslim di setiap fase
kehidupannya, dengan bentuk yang tidak akan bisa ditandingi oleh hasil studi
dan eksperimen apa pun yang dicapai oleh akal pikiran manusia dalam bidang ini.
- Pendidikan Kontemporer
dan Multiperan:
Kita
dapati di dalam sunah ada sosok pendidik, guru, dokter, pelatih militer, serta
pionir pengarah di setiap lini dari lini-lini kehidupan. Sunah memberikan
wasiat untuk menuntut ilmu, menjaga preventif kesehatan (preventif medis),
berlatih berenang, memanah, dan berkuda. Sunah juga mewasiatkan para pemuda
untuk menikah dan memperingatkan dari segala hal yang dapat meruntuhkan
institusi keluarga dan masyarakat.
- Perhatian di Saat Wafat
dan Setelahnya:
Sebagaimana
sunah mengawal seorang muslim sebelum kelahirannya, sesungguhnya sunah juga
tetap mengawalnya di saat wafatnya dan setelah kematiannya. Sunah mewasiatkan
untuk menuntun (talqin) orang yang hendak wafat dengan kalimat "La
ilaha illallah Muhammad Rasulullah". Setelah kematiannya, sunah
mewasiatkan untuk memandikannya, kemudian memuliakannya dengan menyegerakan
penguburannya, melarang tindakan membongkar kuburan, serta mewasiatkan untuk
mendoakannya dan melarang tindakan meratapinya (niyahah).
- Manifestasi Rahmat bagi
Semesta Alam:
Rasul
kita yang tercinta diutus sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil
'alamin), dan manifestasi rahmat ini tampak jelas di dalam wasiat beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap kaum wanita, anak-anak, pelayan, tawanan
perang, kaum fakir, kaum miskin, orang-orang yang lemah, orang-orang yang
sakit, orang-orang yang memiliki hajat kebutuhan, bahkan sampai kepada
hewan-hewan sekalipun. Alangkah agungnya bekal tersebut manakala kita berhasil
mengakuisisi sifat kasih sayang ini melalui tindakan kita mengikuti sunah.
- Penjagaan Cita Rasa
Sosial dan Perasaan Manusia:
Sunah
Nabawi menjaga perasaan manusia dengan level akurasi yang sangat tinggi. Kita
dapati beliau shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berbicara dengan seseorang,
beliau tampak sangat penuh perhatian, menyimak dengan saksama, menghadapkan
wajahnya secara penuh kepada lawan bicaranya, serta memperjelas untaian kata
dan lafalnya. Kita dapati pula beliau apabila hendak mengingatkan suatu
perbuatan yang salah, beliau akan bersabda: "Mengapa ada orang-orang
yang mengatakan begini atau melakukan begitu..." tanpa menyebutkan
nama person tertentu secara spesifik. Sunah juga mewasiatkan agar tidak boleh
dua orang berbisik-bisik berdua saja tanpa menyertakan orang ketiga,
dikarenakan tindakan tersebut dapat membuatnya sedih, dan masih banyak lagi
contoh lainnya yang serupa.
- Penguatan Struktur
Sosial dan Tali Silaturahmi:
Sunah
menyeru untuk memperkuat ikatan di antara para ayah, ibu, anak-anak, kerabat
karib, dan para tetangga. Sunah mendorong untuk saling mencintai karena Allah,
saling mengunjungi (tizawar), saling memberi hadiah (tehadi),
menyebarkan salam, saling berjabat tangan, menampakkan senyuman di wajah
saudaramu, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, mendoakan orang yang
bersin (tasmyt al-'athis), mengantarkan jenazah, dan segala hal yang
dapat memperkuat ikatan persaudaraan ini. Dan ikatan (solidaritas) ini
merupakan bekal yang mutlak diperlukan bagi seorang muslim, terkhusus di atas
jalan dakwah.
Sunah
dan Pembentukan Kepribadian
Alangkah
agungnya bekal dari sunah untuk membangun kepribadian muslim yang kuat dalam
keimanannya, kuat dalam tekadnya, kuat dalam kehendaknya, kuat dalam fisiknya,
kuat dalam akhlaknya, dan dalam segala potret kekuatan serta harga diri. Serta
mengosongkan jiwa muslim dari segala potret kelemahan; baik berupa sifat
penakut, kekikiran, kelemahan fisik, kemalasan, keragu-raguan, bisikan waswas,
merasa sial karena burung (thiyarah), atau pesimisme. Serta agar seorang
muslim tidak menjadi imma'ah (bebek/ikut-ikutan saja) yang disetir dan
tidak menyetir, yang sekadar terpengaruh dan tidak memberi pengaruh.
Sunah
menyeru seorang muslim untuk meringankan diri dari daya tarik bumi (materi) dan
agar tidak tersibukkan oleh kesenangan dunia, melainkan menjadikan orientasi
utamanya adalah akhirat dan keridaan Allah. Alangkah butuhnya kita akan makna
ini di hari-hari ini, di mana kita melihat manusia berada dalam pusaran roda
ambisi untuk meraup harta dan memenuhi tuntutan hajat hidup. Mereka berada
dalam perlombaan yang pahit di antara lonjakan harga-harga kebutuhan dan upaya
meraup harta yang diperlukan untuk membelinya. Hal itu dibarengi pula dengan
maraknya penemuan sarana-sarana dan benda-benda modern yang menggoda manusia
untuk membelinya, yang di dalamnya terdapat unsur bermewah-mewah (taraf)
dan kecondongan yang kuat ke bumi, seolah-olah dunia ini adalah negeri tempat
kenikmatan abadi. Maka, Sunah Nabawi membentengi kita dari hal tersebut, dan di
dalam hal ini terkandung bekal.
Lihatlah
betapa sunah yang penuh kasih sayang ini mengawal seorang muslim bahkan di kala
tidurnya! Sunah mewasiatkan untuk tidur dalam keadaan berwudu, tidur di atas
lambung sebelah kanan, dan membaca doa mabrur ketika hendak tidur yang di
dalamnya terdapat unsur pengingat akan kematian. Kemudian adanya doa-doa di
kala mengalami insomnia (susah tidur), doa ketika melihat mimpi buruk yang
tidak disukainya lagi menggelisahkannya, lalu doa di kala terjaga/bangun tidur.
Seolah-olah sunah menjelma laksana seorang ibu yang teramat penyayang, yang
mengasuh anak tunggalnya, menimang-nimangnya jika ia terperanjat kaget,
menenangkan kepanikannya, dan melindunginya dari segala hal yang menyakitinya.
Semoga selawat Allah senantiasa tercurah kepadamu wahai junjunganku, wahai
Rasulullah, dan semoga Allah membalasmu demi kami dengan sebaik-baik balasan.
Demikianlah,
kita dapati bekal yang melimpah dan kebaikan yang universal di dalam setiap
sunah yang disunahkan untuk kita oleh Rasul kita yang mulia. Di samping itu
semua, sunah mewujudkan karakter kepribadian muslim yang memiliki keistimewaan
lagi independen; bukan karakter kepribadian tambal-sulam yang sekadar membebek
dan memungut adat istiadat dari sana-sini.
Kaidah
Penerapan Sunah di Tengah Masyarakat
Ada
satu perkara teramat penting yang ingin kami palingkan perhatian kepadanya,
yaitu: jangan sampai perhatian kita terhadap perkara sunah justru mengurangi
perhatian kita terhadap perkara yang fardu (wajib). Dan jangan sampai kita
menjadikan perkara-perkara sunah sebagai komoditas isu-isu parsial yang membuat
kita saling berselisih, saling membelakangi, dan saling memboikot satu sama
lain disebabkan karena sikap ketat dalam memegangnya atau karena adanya sikap
tidak berkomitmen dengannya. Hendaknya masing-masing dari kita dapat membedakan
antara porsi mewajibkan dirinya sendiri untuk mengamalkan sunah dengan porsi
menuntut orang lain untuk berkomitmen dengannya.
Maka,
wajib bagi kita untuk saling berwasiat dalam mengambil sunah ini, dan menyeru
manusia dengan hikmah serta nasihat yang baik (mau'izhah hasanah) untuk
berpegang teguh dengannya tanpa ada tindakan mencaci, memfasiqkan, atau
tindakan menjauh dan mencerai-beraikan barisan.
Aku
teringat dalam bidang ini, bahwasanya Imam Hasan Al-Banna rahimahullah dalam
salah satu perjalanan ekspedisi dakwahnya kepada Allah, beliau mendapati
penduduk suatu desa sedang berselisih dan terpecah menjadi dua kubu yang hampir
saja saling bunuh-membunuh disebabkan adanya perselisihan seputar teknis cara
mengumandangkan azan salat, serta adanya sebagian kelompok yang menyertakan
bacaan selawat dan salam kepada Rasulullah dengan metode cara tertentu setelah
azan. Maka beliau rahimahullah berkata kepada mereka: "Janganlah kalian
mengumandangkan azan, dan salatlah kalian tanpa azan!"
Maka
kaum tersebut menjadi heran dan terperangah seraya berkata: "Kami tidak
rida jika suara azan untuk salat tidak dikumandangkan tinggi-tinggi di desa
ini." Maka beliau berkata kepada mereka:
"Sesungguhnya
azan itu hukumnya sunah, sedangkan persatuan kalian dan kesatuan kata kalian
hukumnya adalah fardu dan wajib. Maka kita tinggalkan perkara sunah apabila
perkara sunah tersebut menjadi sebab batal/hancurnya perkara yang wajib."
Seketika
itu juga seluruhnya tersadar akan kekeliruan mereka di dalam perselisihan ini,
lalu mereka pun menghentikannya.
Maka,
marilah kita mengambil pelajaran-pelajaran yang bermanfaat serta bekal yang
berfaedah dari sunah, dan jadilah kita sebagai orang-orang yang mengikuti (muttabi'in)
dan janganlah kita menjadi orang-orang yang mengada-ada (mubtadi'in).
Dan Allah adalah Dzat Yang Memberi Taufik lagi Maha Penolong.
Dan
di dalam Dakwah di Jalan Allah ....... Terdapat Bekal
Dakwah
di jalan Allah adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslimah
perempuan untuk mewujudkan fungsi kesaksian kita atas umat manusia, sebagaimana
yang difirmankan oleh Allah Ta'ala:
"Dan
demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umatan wasathan (umat
yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan
agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS.
Al-Baqarah: 143).
Dakwah
merupakan tugas para rasul—sholawatullah wa salamuhu 'alaihim—sehingga ia
merupakan sebuah kehormatan yang agung, kedudukan yang mulia, dan pahalanya di
sisi Allah teramat besar. Di saat yang sama, dakwah juga menjadi sumber yang
melimpah bagi bekal takwa dan keimanan.
Perasaan
terhadap kehormatan dan kedudukan tinggi ini—yang terepresentasi dalam firman
Allah Ta'ala:
"Dan
siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah
dan mengerjakan kebajikan serta berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang berserah diri (muslim)'?" (QS. Fussilat: 33).
Perasaan
ini mendorong sang dai untuk melayakkan dirinya agar pantas menyandang
kehormatan dan kedudukan tersebut. Alhasil, tidak akan tampak dari ucapan
maupun perbuatannya hal-hal yang tidak selaras dengan keagungan tugas ini. Di
dalam penyertaan makna ini pada dirinya, terdapat bekal yang kontinu dan
pengawas yang senantiasa terjaga.
Isu
fundamental di dalam dakwah di jalan Allah adalah isu keimanan; yaitu
mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya. Tatkala seorang dai di jalan Allah
bergerak untuk menyampaikan makna ini kepada manusia, menghidupkan hati mereka
dengan makrifat (mengenal) Allah, serta mendorong mereka untuk taat kepada-Nya,
hal itu justru membuat keimanannya sendiri senantiasa terbarui dan bertumbuh,
serta membuat hatinya selalu tertambat dengan Allah. Dan di dalam hal ini
terkandung bekal yang sangat besar.
Seorang
dai di jalan Allah menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bersenang-senang
di taman-taman surga. Sebab, pertemuan-pertemuan yang menghimpun dirinya
bersama orang-orang yang didakwahinya di jalan Allah merupakan majelis-majelis
zikir mengingat Allah, yang mana para malaikat akan menaungi mereka, rahmat
akan menyelimuti mereka, ketenteraman (sakinah) akan turun kepada
mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di
sisi-Nya. Hal ini, di dalam substansinya sendiri, merupakan kebaikan yang
melimpah dan bekal yang agung.
Seorang
dai di jalan Allah menyeru manusia dan mengingatkan mereka akan seluruh makna
kebaikan, fadhilah (keutamaan) amal, serta segala hal yang berpotensi
mengangkat derajat mereka, memperbaiki kondisi mereka, dan menjauhkan mereka
dari ketergelinciran serta keburukan. Di dalam aktivitas ini terdapat unsur
pengingat secara langsung bagi dirinya sendiri. Maka, ia memetik manfaat
sebagaimana ia memberi manfaat kepada orang lain. Berbeda halnya dengan orang
yang tidak menegakkan kewajiban dakwah di jalan Allah, ia berpotensi lalai dari
banyak makna ini dan berada dalam kondisi butuh kepada orang lain yang
mengingatkannya.
Siapa
saja yang melibatkan diri dalam dakwah di jalan Allah akan sangat antusias
untuk menjadi suri teladan yang baik (qudwah hasanah) bagi orang-orang
yang didakwahinya dalam setiap kebaikan yang ia serukan kepada mereka—bukan
malah menyelisihinya. Ia juga tidak akan melarang mereka dari suatu kemungkaran
lalu ia sendiri malah melakukannya, karena ia menginternalisasi rasa takut akan
kemurkaan Allah dan siksaan-Nya, seraya meletakkan ayat-ayat mulia berikut
tepat di hadapan matanya:
"Mengapa
kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan
dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu
mengerti?" (QS. Al-Baqarah: 44).
"Wahai
orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?
(Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu
kerjakan." (QS. As-Saff: 2-3).
Seorang
dai di jalan Allah akan memilah makna-makna yang urgen dan fundamental yang
berkaitan dengan dakwah Allah dan agama-Nya. Ia juga menyertakan hujah dalam
untaian bicaranya dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis nabawi yang mulia.
Sudah mafhum diketahui bagaimana besarnya pengaruh baik yang dimiliki oleh
kalamullah (firman Allah) dan hadis-hadis Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa
sallam dalam memperbarui keimanan dan meningkatkannya, terlebih lagi jika hati
sang dai berinteraksi penuh dengan apa yang mengalir di atas lisannya. Hal ini
merupakan perkara mutlak bagi dai agar ia dapat memberi pengaruh kepada orang
yang didakwahinya. Sebab, apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati,
sedangkan apa yang hanya keluar dari lisan tidak akan melampaui batas telinga.
Dengan begitu, ia membekali dirinya sendiri sebagaimana ia memberikan bekal
kepada orang lain.
Seorang
dai di jalan Allah menundukkan waktu, jerih payah, harta, dan fisiknya melalui
perjalanan-perjalanan (asfar) yang berulang kali di jalan dakwah kepada
Allah. Di dalam aktivitas ini terdapat bentuk latihan bagi jiwa (tarwidhun
nafs) serta pembersihan diri dari segala makna kemalasan, kekikiran,
kelemahan (wahn), dan sifat penakut. Ia akan meninggikan suaranya untuk
menyuarakan kalimat kebenaran meskipun itu pahit, tanpa ada rasa gentar... Di
dalam latihan dan penundukan jiwa ini terdapat kebaikan yang banyak dalam
membangun kepribadian dai di jalan Allah, serta merupakan bekal yang dituntut
di atas jalan dakwah.
Di
dalam diri seorang dai di jalan Allah akan terlahir antusiasme yang tinggi
untuk terus menambah ilmu, mencerna, meneliti, menelusuri, dan mengkaji ilmu
secara mendalam (madarasah). Tujuannya agar ia memiliki tabungan
(kapasitas) yang baik yang dapat membantunya untuk memberi dan menyuguhkan
kebaikan kepada manusia, serta agar ia mampu menjawab berbagai pertanyaan yang
diarahkan kepadanya. Di dalam ikhtiar untuk menumbuhkan tabungan ilmu ini
terdapat bekal yang dituntut di atas jalan perjuangan.
Praktik
berdakwah di jalan Allah akan menganugerahkan sifat tabayun
(klarifikasi) bagi pelakunya serta ketelitian tingkat tinggi terhadap validitas
apa yang ia bicarakan kepada manusia. Alhasil, jangan sampai di dalam untaian
bicaranya terdapat kesalahan, penyimpangan, atau apa saja yang menyelisihilah
Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya, mengingat besarnya dosa yang diakibatkan oleh
tersebarnya kesalahan tersebut lalu diamalkan oleh orang banyak, serta betapa
sulitnya melokalisasi kesalahan itu kemudian hari dan memperbaiki dampak yang
ditimbulkannya. Di dalam pembiasaan ketelitian dalam berucap dan meneliti
kebenaran ini terdapat kebaikan yang melimpah dalam membentuk kepribadian
seorang tokoh dakwah.
Sebagaimana
seorang dai di jalan Allah menginternalisasi tanggung jawabnya di hadapan Allah
atas kualitas pengarahan kepada orang yang didakwahinya, wajib pula baginya
untuk merasakan tanggung jawab atas waktu-waktu mereka. Maka, ia berkomitmen
untuk hadir tepat waktu dan tidak menyia-nyiakan waktu mereka dalam menunggu,
atau berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang minim faedah. Di dalam
pembiasaan dan komitmen terhadap hal tersebut, terdapat keuntungan besar bagi
dai dalam hal pemaknaan antusiasme terhadap waktu dan pemanfaatan waktu secara
optimal. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri, sedangkan
kewajiban-kewajiban yang ada jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia.
Seorang
dai di jalan Allah bekerja murni karena Allah dan demi menggapai keridaan
Allah. Maka, ia tidak akan menundukkan profesi yang mulia ini demi keuntungan
duniawi atau demi kepentingan agenda siapa pun, seberapa pun besarnya kekuasaan
yang dimiliki orang tersebut. Sebab, andai ia melakukan hal itu, niscaya akan
gugurlah amalnya dan ia akan mengundang kemurkaan Allah karena telah
menggunakan dakwah di jalan Allah untuk menyesatkan manusia. Alhasil, ia akan
menjelma menjadi termasuk golongan orang yang paling rugi, yaitu orang-orang
yang menjual akhirat mereka demi kehidupan dunia orang lain.
Seorang
dai di jalan Allah diwajibkan untuk mengikuti instruksi-instruksi Allah di
dalam dakwahnya kepada-Nya, yang mana sifat-sifat tersebut telah melekat pada
diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam dakwah beliau kepada
manusia; mulai dari sifat lemah lembut (linul janib), kasih sayang,
hikmah, nasihat yang baik (mau'izhah hasanah), berdiskusi dengan cara
yang terbaik, hingga bersabar atas gangguan dari orang-orang yang didakwahinya,
dan sifat-sifat mulia lainnya. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan
firman-Nya:
"Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka..." (QS. Ali
'Imran: 159).
"Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125).
"Dan
sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka
sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka,
sampai datang pertolongan Kami kepada mereka." (QS. Al-An'am: 34).
Serta
perasaan yang dipenuhi rasa iba/kasihan kepada manusia di kala mereka berpaling
dari dakwah Allah:
"Maka
barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati
setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini
(Al-Qur'an)." (QS. Al-Kahf: 6).
Demikianlah
sifat-sifat ini akan terlahir di dalam jiwa dai di jalan Allah selama ia
mempraktikkan dakwah, dan di dalam hal ini terkandung keuntungan yang besar dan
bekal yang agung.
Seorang
dai di jalan Allah tidak boleh terhambat dalam menunaikan tugasnya oleh rasa
lelah, kepayahan, rasa sakit, perjalanan jauh, begadang malam, pengorbanan
harta, maupun pengorbanan jiwa. Sebab, itu semua merupakan bagian dari bekal
yang telah terjamin faedah dan manfaatnya di dalam perjalanannya yang teramat
jauh menuju akhirat. Bahkan, ia akan menemukan rasa istirahat di dalam rasa
lelahnya, menemukan kelezatan di dalam rasa sakitnya, menemukan keuntungan di
dalam pengorbanan hartanya, serta menemukan ganti yang terjamin di dalam
pengorbanan jiwanya.
Seorang
dai di jalan Allah melatih jiwanya agar jangan sampai tersusupi oleh rasa
ujub/kemalingan (bangga diri) apabila ia menjumpai antusiasme yang kian
melonjak dari para pendengarnya terhadap dirinya dan petuah-petuahnya.
Sebagaimana jiwanya juga tidak boleh tersusupi oleh rasa putus asa atau
kefuturan (lesu) apabila ia menjumpai kondisi yang sebaliknya. Seburuk apa pun
kondisi orang-orang yang didakwahinya, terkadang dari kelompok yang sedikit
bisa keluar kebaikan yang jauh lebih banyak ketimbang kelompok yang
mayoritas.... Dan hendaknya ia mengetahui bahwa kewajibannya hanyalah berdakwah
(menyampaikan) dan bukanlah kewajibannya untuk membuat manusia menyambutnya,
karena petunjuk itu hanyalah petunjuk Allah: "Dan kewajiban Rasul itu
tidak lain hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas." serta: "Sungguh,
engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi,
tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki." Di
dalam pengosongan jiwa dari rasa ujub dan dari rasa putus asa ini terkandung
bekal yang besar.
Wajib
bagi dai di jalan Allah untuk terus melanjutkan dakwahnya kepada Allah
bagaimanapun ia mendapatkan gangguan/intimidasi disebabkan aktivitas tersebut.
Demikianlah dahulu Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam
menghadapi gangguan kaum musyrikin, yaitu dengan mendoakan kebaikan bagi
mereka: (Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya
mereka tidak mengetahui) dan beliau tetap konsisten dalam dakwahnya
terlepas dari gangguan tersebut. Dahulu Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan
kepada al-Ikhwan mengenai makna ini:
"Jadilah
kalian bersama manusia laksana pohon; mereka melemparinya dengan batu, namun
pohon itu membalas melempar mereka dengan buah."
Di
dalam penjinakan jiwa untuk membalas keburukan dengan kebaikan terdapat bekal
yang sangat besar. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:
"Dan
tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang
lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan
seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu
tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang
besar." (QS. Fussilat: 34-35).
Seorang
dai di jalan Allah, sebanding dengan kadar kesuksesannya dalam tugasnya,
sebesar itu pula ia akan memanen cinta dari orang-orang yang
didakwahinya—sebuah cinta yang murni karena Allah. Hal ini, di dalam
substansinya sendiri, merupakan kebaikan dan nikmat dari Allah yang diharamkan
(tidak didapatkan) oleh banyak manusia. Cukuplah bagi dai untuk mendapatkan
seuntai doa yang saleh dari orang-orang yang mencintainya di belakang
punggungnya (tanpa sepengetahuannya), atau sekilas pandangan cinta karena Allah
yang mana Allah mengampuni dirinya dan diri mereka disebabkan pandangan
tersebut.
Seorang
dai di jalan Allah akan memenangkan pahala yang teramat besar dari Allah
apabila Allah memberikan taufik kepadanya dan menjadikan untaian bicaranya
sebagai sebab bagi hidayah banyak orang serta berbaliknya mereka dari kesesatan
menuju hidayah. Di dalam hadis yang sahih dari Rasul kita yang tercinta
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: (Demi Allah, sungguh jika Allah
memberikan hidayah kepada satu orang saja lewat perantaramu, itu jauh lebih
baik bagimu daripada unta-unta yang merah). Di dalam pahala yang besar ini
terdapat bekal, dan adakah bekal yang lebih hebat dari itu?
Dan
wajib bagi dai di jalan Allah yang jujur untuk mengetahui bahwa apa saja
makna-makna baik lagi menyentuh yang ia dapatkan dalam pembicaraannya dengan
orang lain, hal itu murni merupakan bagian dari apa yang Allah bukakan (futuh)
atasnya, dan bukanlah karena kehebatan orasi atau kapabilitas pribadinya. Maka,
janganlah ia merasa tinggi, melainkan hendaknya ia bertawadulah (rendah hati)
karena Allah, bertakwa kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, serta membaguskan
tempat bersandarnya kepada-Nya, niscaya Allah akan menambahkan limpahan hidayah
dan keterbukaan baginya: "Dan bertakwalah kepada Allah, Allah
memberikan pengajaran kepadamu." serta: "Sesungguhnya jika
kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu."
Seorang
dai di jalan Allah, dengan aktivitas penjelajahan dan perjalanan-perjalanannya
ke berbagai negeri yang berbeda-beda, akan kian bertambah pengkajian dan
makrifatnya (pengetahuannya) terhadap kondisi bangsa-bangsa islami, kondisi
lokal mereka, serta isu-isu kontemporer dunia Islam. Di dalam hal ini terdapat
bekal bagi tokoh dakwah di atas jalan dakwah. Sebagaimana ia juga akan kian
bertambah kemahiran dan pengalamannya dalam mengkhitabi (berbicara dengan)
berbagai level masyarakat yang heterogen; mulai dari kalangan intelektual,
kalangan buta aksara, kalangan buruh, hingga kalangan petani. Demikian pula ia
akan berinteraksi dengan kaum-kaum yang hidupnya hanya berkutat pada
perkara-perkara parsial (juz'iyyat) tanpa menyentuh perkara fundamental
(kulliyyat), berinteraksi dengan kelompok lain yang mewarisi
penyimpangan, bidah, dan khurafat, berinteraksi dengan orang-orang yang hidup
dengan sudut pandang yang superfisial (dangkal) tanpa adanya kedalaman, serta
berinteraksi dengan orang-orang yang hidup dengan sudut pandang sesaat (lahzhiyyah)
tanpa adanya sudut pandang jangka panjang dan kalkulasi terhadap dampak dari
segala urusan. Demikianlah, di dalam interaksi dengan mereka, pelurusan
terhadap pemahaman dan sudut pandang mereka, serta apa saja yang dibutuhkannya
berupa hikmah, pengalaman, dan kesabaran... seluruhnya merupakan bekal dan
keuntungan bagi dai di jalan Allah, yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh
orang yang tidak mempraktikkan dakwah di jalan Allah seperti dirinya.
Seorang
dai di jalan Allah yang ikhlas akan bertakwa kepada Allah serta menimbang
setiap peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi saat ini beserta bagaimana
posisi agama terhadapnya menggunakan timbangan islam yang valid (al-mizan
al-islami al-shahih), tanpa adanya sikap nifak (kemunafikan), pencitraan (mujamalah),
ataupun rasa takut kepada siapa pun, seberapa pun besarnya kekuasaan yang
dimiliki orang tersebut. Alhasil, ia tidak akan mencampuradukkan antara
kebenaran dengan kebatilan di dalam benak manusia, dan Allah membedakan lewat
perantara dirinya mana yang buruk (khabits) dari yang baik (thayib),
serta manusia dapat mempelajari darinya timbangan-timbangan ketuhanan (al-mawazin
ar-rabbaniyyah). Dan di dalam hal ini terkandung kebaikan yang teramat
melimpah bagi dakwah Allah.
Dan
di dalam Persahabatan yang Saleh ..... Terdapat Bekal
Persaudaraan
karena Allah (ukhuwah fillah) merupakan nikmat yang teramat besar serta
bekal yang melimpah dan senantiasa terbarui di atas jalan perjuangan. Allah
telah menganugerahkan nikmat ini kepada orang-orang mukmin, di mana Dia menyeru
mereka untuk bersatu dan tidak bercerai-berai melalui firman-Nya Ta'ala:
"Dan
berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa
Jahiliah) bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya
kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran:
103).
Dan
ia merupakan nikmat yang tidak dapat dibeli dengan harta kekayaan ataupun
kemewahan-kemewahan duniawi, melainkan terwujud semata-mata karena karunia
Allah dan kuasa-Nya:
"Dan
Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun
kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak
dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sungguh, Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal: 63).
Sesungguhnya
ikatan akidah Islam adalah ikatan yang paling kuat secara mutlak.
Sesungguhnya
orang-orang yang hidup di bawah naungan cinta dan persaudaraan karena Allah
akan merasakan kebahagiaan serta ketenteraman jiwa yang tidak akan pernah
didapatkan oleh orang-orang yang berkumpul hanya demi mengejar kesenangan
duniawi; baik dalam urusan perniagaan, hiburan, maupun fasilitas duniawi
lainnya. Dan al-Ikhwan benar-benar telah mengecap manisnya kebahagiaan ini...
Oleh karena itu, kita dapati seorang saudara (al-akh) akan merasa
kesepian/asing jika ia absen dari saudara-saudaranya atau jika kondisi
memaksanya untuk berada jauh dari mereka. Sebagian dari mereka membuat sebuah
perumpamaan: "Sesungguhnya atmosfer persaudaraan (iklim ikhwan) bagi
seorang saudara itu laksana air bagi ikan."
Dikarenakan
urgennya nilai persaudaraan karena Allah di atas jalan dakwah, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum
Ansar, di mana mereka kemudian berhasil mencontohkan potret keteladanan
tertinggi dalam hal cinta dan sifat itsar (mendahulukan kepentingan
orang lain).
Sesungguhnya
tugas besar yang mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempersiapkan
kaum muslimin untuk mengembangnya—yaitu menegakkan eksistensi (tamkin)
bagi akidah tauhid serta mendirikan negara Islam—sangat menuntut adanya
kekuatan soliditas (talahum) dan keterikatan yang erat di antara
individu-individu jemaah ini; yaitu jemaah yang telah menjual dirinya kepada
Allah dan saling berjanji setia untuk menolong syariat-Nya, agar mereka dapat
menjadi satu barisan yang solid laksana bangunan yang tersusun kokoh (ka
al-bunyan al-marshush).
Setelah
kita menjelaskan keutamaan persahabatan yang saleh beserta urgensinya... di
bawah ini kami akan mencoba untuk memaparkan bagaimana persahabatan tersebut
memosisikan diri sebagai penolong dan bekal di atas jalan perjuangan:
- Petunjuk di Tengah Jalan
yang Terjal:
Individu
muslim tidaklah berjalan di atas jalan yang aman, melainkan ia berjalan di atas
jalan yang dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (makarih),
tempat-tempat yang menggelincirkan, rintangan-rintangan, fitnah-fitnah, serta
setan-setan dari kalangan manusia dan jin yang senantiasa mengintai. Maka di
atas jalan semacam ini, ia teramat butuh kepada sosok yang menggandeng
tangannya, membimbingnya, membuka matanya, mengingatkannya jika ia lupa, serta
membantunya jika ia ingat. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:
"Demi
masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling
menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3).
- Benteng dari Kelalaian
dan Serigala Setan:
Terkadang
datang kepada individu muslim suatu fase kefuturan (lesu), kelalaian, kelupaan,
atau momen di mana ia memenuhi bisikan waswas setan. Andai ia seorang diri,
niscaya ia akan hanyut, menganggap nyaman kondisi tersebut, dan pada akhirnya
terseret pada kesia-siaan serta kebinasaan: (Sesungguhnya serigala itu hanya
akan memangsa domba yang memisahkan diri dari kawannya). Namun, apabila ia
memiliki persahabatan yang saleh, mereka tidak akan membiarkannya bersendirian
bersama jiwanya dan setannya. Jika mereka merasa kehilangan dirinya di
medan-medan amal saleh, mereka akan segera mencarinya untuk mengajaknya,
mengingatkannya, serta membantunya dalam melawan hawa nafsunya dan setannya. Di
dalam hal itu terdapat pertolongan dan bekal di atas jalan perjuangan.
- Pengingat Kebajikan vs
Pengingat Maksiat:
Sesungguhnya
sahabat yang saleh itu, sekadar dengan kamu memandang dirinya saja, ia sudah
mengingatkanmu kepada Allah dan kepada ketaatan kepada Allah. Adapun teman yang
buruk, memandang dirinya justru mengingatkan kepada kemaksiatan, dosa-dosa, dan
perbuatan mungkar. Maka alangkah jauhnya perbedaan di antara kedua kelompok
tersebut! Dan benarlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:
"(Permisalan
teman yang saleh dan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai
besi). Mengenai penjual minyak wangi, baik kamu membelinya atau tidak, kamu
tetap mendapatkan bau wanginya. Sedangkan pandai besi, jika percikan apinya
tidak membakar bajumu, kamu tetap mendapatkan bau asapnya yang busuk."
(HR. Abu Dawud).
- Kekuatan dalam Jemaah:
Seseorang
itu menjadi banyak (kuat) disebabkan karena saudara-saudaranya... Ia merasa
bahwa jika ia seorang diri, ia adalah sesuatu yang tidak bernilai, tetapi ia
menjadi sosok yang memiliki posisi penting karena keterikatannya dengan
saudara-saudaranya. Jika orang-orang pelaku keburukan yang gemar mengorbankan
harta manusia dan melanggar kehormatan mereka saja bisa berkumpul untuk saling
mendukung satu sama lain, bahkan sering kali mereka mengangkat seorang pemimpin
atas mereka dan berkomitmen untuk menaatinya; maka tentu para ahli kebenaran (ahlul
haqq) dan para pekerja yang berjuang untuk menolong agama Allah jauh lebih
layak untuk saling terikat dan bersatu. Seorang mukmin bagi mukmin lainnya
adalah laksana bangunan yang saling menguatkan satu sama lain, sebagaimana yang
disabdakan oleh Rasul kita yang tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan
tidak mungkin ada suatu jemaah yang mampu menuntaskan program-program kerja
serta merealisasikan target-target sasaran jika di antara individu-individunya
tidak ada ikatan cinta dan persaudaraan.
- Fungsi Cermin dan
Perbaikan Diri:
Seorang
mukmin adalah cermin bagi saudaranya... Tidak ada satu individu pun melainkan
di dalam dirinya pasti terdapat aib dan kekurangan, yang mana acap kali ia
lalai darinya dan tidak menyadarinya. Maka, ia berada dalam kondisi yang sangat
butuh kepada sosok yang membuka matanya dan membantunya untuk memperbaiki aib
tersebut serta membersihkan diri darinya. Dan tidak ada yang mampu melakukan
hal itu kecuali seorang saudara yang mencintai dengan ikhlas, yang kontinu
hubungannya, yang lembut perlakuannya, serta bijaksana dalam memberikan nasihat
dan membuka matanya. Dan ini adalah sebaik-baik penolong dan bekal di atas
jalan perjuangan.
- Etika dan Karakteristik
Nasihat:
Di
dalam koridor pemberian nasihat, sangat elok bagi kita untuk mengisyaratkan
bagian dari adab-adabnya; yaitu bagaimana nasihat itu ditunaikan dengan hikmah,
pelajaran yang baik, serta berdiskusi dengan cara yang terbaik demi mengamalkan
firman-Nya Ta'ala: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik." Begitu pula perkataan sebagian salafus saleh: (Tunaikanlah
nasihat dengan bentuk yang paling sempurna, dan terimalah ia dalam bentuk
bagaimanapun. Dan barangsiapa yang menasihati saudaranya secara
rahasia/menyendiri maka ia telah menasihatinya dan menghiasinya, dan
barangsiapa yang menasihati saudaranya secara terang-terangan/di depan umum
maka ia telah membongkar aibnya dan menjelekkannya).
- Multiplikasi Potensi dan
Energi:
Persahabatan
yang saleh melipatgandakan kapabilitas seorang individu dan energi-energinya.
Di kala ia sedang memikirkan suatu perkara, maka seolah-olah ia sedang berpikir
dengan menggunakan isi kepala seluruh saudara-saudaranya, karena ia meminta
arahan dari pandangan-pandangan mereka. Dan di kala ia mengeksekusi suatu
program kerja, maka mereka seluruhnya memosisikan diri sebagai penolong baginya
dengan mengerahkan energi-energi mereka dan mentransfer pengalaman-pengalaman
mereka kepadanya.
- Pembagian Beban dan
Solidaritas Sosial:
Persahabatan
yang saleh melipatgandakan kebahagiaan individu dengan cara ikut berserikat
dalam momen-momen kegembiraannya, serta meringankan beban-beban kepayahan dan
rasa sakitnya apabila ia ditimpa oleh suatu kemudaratan atau musibah. Mereka
akan menolongnya dengan harta dan jerih payah mereka, mengingatkannya kepada
Allah dan sikap sabar atas ujian, serta melarangnya dari sikap menyerah pada
kesedihan atau menarik diri dari pergaulan (inthiwa').... Dan di dalam
hal itu terdapat pertolongan yang banyak.
- Sinergi Bekal Spiritual:
Seolah-olah
aku melihat seorang saudara muslim di atas jalan dakwah tidak bergerak hanya
dengan mengandalkan bekal hatinya seorang diri, melainkan bergerak dengan
membawa bekal hati seluruh saudara-saudaranya. Sebab, setiap saudara tidak akan
pernah bakhil (pelit) kepada saudara-saudaranya terhadap apa saja bekal
spiritual (zadun ruhi) yang telah Allah bukakan atas dirinya, yang mana
bekal itu dapat membantu untuk mengenali jalan, membantu dalam ketaatan,
keteguhan, serta melewati rintangan-rintangan. Di dalam hal ini, bentuknya
bukan sekadar bekal biasa, melainkan bekal yang berlipat ganda.
- Kolaborasi dalam
Kebajikan Kolektif:
Allah
Subhanahu wa Ta'ala menyeru kita untuk saling bekerja sama dalam kebajikan dan
ketakwaan, di mana Dia berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat
dosa dan permusuhan." Dan ini merupakan arahan yang ditujukan kepada
format kolektif (jemaah) dan bukan individu-individu yang terpisah. Maka
persahabatan yang saleh hukumnya menjadi wajib dan mutlak diperlukan demi
merealisasikan hal tersebut. Alangkah indahnya persaudaraan di dalam satu
lingkungan pemukiman yang sama atau satu desa yang sama ketika mereka saling
bekerja sama dalam ranah kebaikan dan ketaatan; khususnya pada bentuk-bentuk
ketaatan yang telah dilalaikan dan diabaikan oleh banyak kaum muslimin, seperti
salat malam (qiyamul lail), salat berjemaah di masjid—terkhusus salat
Subuh dan Isya—menghadiri majelis tadarus Al-Qur'an, majelis ilmu, majelis
zikir, rombongan kafilah dakwah di jalan Allah, serta menyantuni kaum fakir dan
orang-orang yang memiliki hajat kebutuhan.
- Dinding Pelindung di Kala
Mihnah (Ujian):
Alangkah
agungnya manfaat persahabatan yang saleh di waktu terjadinya situasi-situasi
kritis dan mihnah (ujian/persekusi); yaitu ketika individu muslim dihadapkan
pada tekanan-tekanan yang sangat keras yang bertujuan untuk memalingkannya dari
beramal melawan musuh Allah, atau untuk membelokkannya dari jalan yang benar
lagi lurus yang sejalan dengan perintah Allah. Di sinilah tampak urgensi
sahabat yang saleh, yang mana mereka akan menjaganya dan bergerak untuk
melindunginya dari fenomena lolos/lepas (tafallut), duduk berpangku
tangan (qu'ud), penyimpangan (inhiraf), atau terpengaruh oleh
iming-iming janji maupun ancaman dari musuh-musuh Allah beserta
propaganda-propaganda setan mereka yang bertujuan agar para pekerja Islam
meninggalkan pos-pos mereka di dalam barisan. Dan kita benar-benar telah
menyentuh dampak hal tersebut secara nyata selama masa mihnah (ujian-ujian
sejarah) yang dilewati oleh al-Ikhwan. Dan ini adalah bagian dari kebaikan dan
berkah jemaah serta persaudaraan yang jujur karena Allah.
- Untaian Doa di Belakang
Punggung:
Alangkah
agungnya bekal yang berhasil diraih oleh individu di dalam persahabatan yang
saleh ketika saudara-saudaranya mendoakan kebaikan untuknya di belakang
punggungnya (tanpa sepengetahuannya) dengan untaian doa-doa yang saleh, yang
mana doa-doa tersebut statusnya adalah makbul (dikabulkan) sebagaimana yang
dikabarkan kepada kita oleh kekasih kita shallallahu 'alaihi wa sallam.
- Meraih Naungan dan Cinta
Ilahi:
Alangkah
agungnya bekal yang dipetik oleh individu di dalam persahabatan yang saleh yang
saling mencintai karena Allah, di mana ia memenangkan kecintaan Allah,
pengampunan-Nya, serta balasan pahala-Nya yang baik disebabkan karena apa yang
terjadi antara dirinya dengan saudara-saudaranya berupa pandangan cinta karena
Allah yang saling mereka pertukarkan, jabat tangan, senyuman di wajah sebagian
mereka kepada sebagian yang lain, aktivitas saling mengunjungi, duduk berkumpul
di antara mereka, serta sikap saling berwasiat dan saling mengingatkan kepada
kebenaran di antara mereka.
Hadis-hadis
dalam bab ini sangatlah banyak, di antaranya adalah hadis mengenai tujuh
golongan yang akan Allah naungi di dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada
naungan kecuali naungan-Nya, di mana salah satunya adalah: "...dua
orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul atas dasar itu dan
berpisah juga atas dasar itu." Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Bahwasanya
ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus
malaikat untuk mengintai di jalurnya. Tatkala malaikat itu sampai kepadanya, ia
bertanya, 'Ke mana kamu hendak pergi?' Ia menjawab, 'Aku ingin mengunjungi
saudaraku di desa ini.' Malaikat bertanya, 'Apakah kamu memiliki suatu nikmat
(utang budi) yang ingin kamu perbaiki padanya?' Ia menjawab, 'Tidak... hanya
saja aku mencintainya karena Allah.' Malaikat itu berkata, 'Maka sesungguhnya
aku adalah utusan Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah benar-benar
telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya'."
(HR. Muslim). Tarubbuha bermakna: kamu merawatnya/menjaganya.
Dan
diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab ad-Dzikr bahwasanya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui sebuah halakah (lingkaran majelis)
dari sahabat beliau, lalu beliau bertanya: "Apa yang membuat kalian
duduk berkumpul?" Mereka menjawab: "Kami duduk untuk mengingat
Allah dan memuji-Nya atas apa yang telah Dia tunjukkan kepada kita berupa Islam
dan apa yang Dia anugerahkan kepada kita." Beliau bertanya: "Demi
Allah, tidakkah ada yang membuat kalian duduk melainkan hanya karena itu?"
Mereka menjawab: "Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk
melainkan hanya karena itu." Beliau bersabda: "Adapun aku,
sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian
(berbohong), melainkan karena Jibril telah mendatangiku lalu mengabarkan
kepadaku bahwasanya Allah benar-benar sedang membanggakan kalian di hadapan
para malaikat."
Proteksi
Syariat terhadap Ikatan Persaudaraan
Dikarenakan
teramat urgennya nilai persahabatan yang saleh beserta apa saja dampak kebaikan
yang ditimbulkannya bagi Islam dan kaum muslimin, kita dapati Islam dan syariat
Islam sangat menjaga ikatan tersebut serta merawatnya dari segala hal yang
dapat mencederai persatuan dan keharmonisannya. Syariat mengharamkan apa saja
yang berpotensi mencederainya dan memicu timbulnya rasa dongkol (syahna')
serta kebencian (baghda') di antara kaum muslimin; seperti tindakan
menipu (ghisg), khianat, jual beli gharar (ketidakpastian), riba, khamar
(miras), judi, dan perkara lainnya seperti saling mendengki (tahasud),
saling membenci (tabaghud), olok-olok (sukharriyah), buruk sangka
(su'udzan), memata-matai (tajasus), memutuskan silaturahmi (taqathu'),
dan saling membelakangi (tadabur). Dan inilah hadis Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu 'anhu:
"Janganlah
kalian saling memutuskan hubungan, janganlah kalian saling membelakangi,
janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, dan
jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang
muslim untuk memboikot (mendiamkan) saudaranya lebih dari tiga hari."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dan
Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan kepada kita di dalam Surah
Al-Hujurat—di samping perkara yang telah lalu—mengenai bagaimana cara
melenyapkan perselisihan di antara orang-orang mukmin jika hal itu terjadi
melalui jalur yang paling cepat, serta kewajiban orang-orang mukmin untuk
melakukan intervensi demi mendamaikan (ishlah) di antara pihak-pihak
yang bertikai dari kalangan orang-orang mukmin:
"Dan
kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu
damaikan antara keduanya..." (QS. Al-Hujurat: 9).
"Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
(QS. Al-Hujurat: 10).
Dan
sebanding dengan apa yang mampu direalisasikan oleh persaudaraan dan
persahabatan yang saleh berupa persatuan, kekuatan, dan kebaikan bagi Islam dan
kaum muslimin, sebesar itu pula dampak yang ditimbulkan oleh perpecahan dan
perselisihan berupa kegagalan, kelemahan, serta kerugian. Dan Allah Ta'ala
berfirman:
"...dan
janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan
hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar." (QS. Al-Anfal: 46).
Syetan
dan musuh-musuh Allah sangat dibuat naik pitam oleh adanya persatuan kaum
muslimin dan kerja sama mereka, sehingga mereka mengerahkan segala jerih payah
untuk menciptakan perpecahan. Maka alangkah butuhnya kita untuk menyadari hal
tersebut dan tidak memberikan celah sedikit pun bagi terealisasinya agenda
mereka. Janganlah kita marah demi ego diri kita sendiri, dan janganlah kita
mengucapkan kata-kata yang menyinggung/menyakiti saudara-saudara kita demi
memenuhi seruan persatuan yang telah Allah gariskan bagi kita:
"Dan
katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di
antara mereka. Sungguh, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia'."
(QS. Al-Isra: 53).
Penutup
Alangkah
bahagianya kita dengan nikmat Islam dan dengan nikmat persaudaraan karena
Allah, dan alangkah layaknya kita untuk menjaga nikmat-nikmat ini dengan
segenap kemampuan kita dan dengan segala sarana yang kita miliki.
Maka,
wajib bagimu wahai saudaraku untuk melekatkan diri pada persahabatan yang
saleh, karena ia adalah penolong dan bekal bagimu di atas jalan perjuangan.
Dan
di dalam Amal Saleh .... Terdapat Bekal
Iman
dan amal saleh adalah dua hal yang saling terikat erat (mutalaziman).
Amal saleh adalah pembukti (pembenar) bagi keimanan, sedangkan keimanan
merupakan syarat mutlak demi diterimanya amal saleh.
Penyebaran
kedua istilah ini telah berulang kali disebutkan secara berdampingan di dalam
banyak ayat Al-Qur'an al-Karim. Dengan demikian, kita dapati bahwa keimanan itu
mendorong pada amal saleh, dan amal saleh itu menegaskan keimanan, menopangnya,
serta memperkuatnya. Amal saleh juga merupakan sumber untuk membekali diri
dengan ketakwaan dan keimanan di atas jalan perjuangan; ia menjadi medan
praktik, aplikasi, pelatihan jiwa (tarwidhun nafs), mujahadah
(perjuangan batin), serta penundukan jiwa agar senantiasa berada di atas
keridaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan di dalam hal ini terkandung pertolongan
dan bekal di atas jalan perjuangan.
- Dampak dan Balasan Agung
dari Iman dan Amal Saleh:
Sesungguhnya
realisasi iman dan amal saleh, serta pengejawantahannya di dalam diri individu
maupun jemaah, akan membuahkan kebaikan yang sangat besar dan kemenangan yang
agung, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Kitabullah, yaitu:
- Keselamatan dari
kerugian, sesuai dengan firman-Nya Ta'ala:
"Demi
masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling
menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3).
- Ampunan dan pahala yang
besar:
"Allah
telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di
antara mereka, ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fath: 29).
- Diterimanya tobat dan
digantinya keburukan dengan kebaikan:
"Kecuali
orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan
mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS. Al-Furqan: 70).
- Pencapaian
keberuntungan (falah):
"Maka
adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka
mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung." (QS. Al-Qasas: 67).
- Masuk ke dalam surga:
"Dan
barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang
dia seorang mukmin, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak
didzolimi sedikit pun." (QS. An-Nisa: 124).
- Kemuliaan (tamkin)
dan kepemimpinan (istikhlaf) di muka bumi:
"Allah
telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di
bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia
ridai..." (QS. An-Nur: 55).
- Jembatan dari Teori
Menuju Realitas Nyata:
Amal
saleh merupakan medan aplikasi bagi ilmu yang kita baca dan kita dengar,
sehingga dengan beramal, ilmu tersebut akan menjadi hujah (pembela) bagi kita,
bukan hujah yang memberatkan kita. Di dalam beramal terdapat unsur pengokohan
bagi ilmu, serta sarana keluar dari zona teori dan khayalan menuju realitas
kehidupan serta medan mujahadah dan jihad. Di dalam hal ini terdapat proses
kenaikan derajat jiwa, pembentukan kepribadian, penguatan tekad, serta
penambahan pengalaman dan eksperimen. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam
Al-Banna rahimahullah:
"Sesungguhnya
medan perkataan itu berbeda dengan medan khayalan, medan amal berbeda dengan
medan perkataan, medan jihad berbeda dengan medan amal, dan medan jihad yang
benar berbeda dengan medan jihad yang salah."
Sesungguhnya
kita melihat banyak manusia yang begitu mudah bagi mereka untuk membaca dan
mencari ilmu, akan tetapi mengubah ilmu tersebut menjadi amal nyata terasa
sangat berat bagi kebanyakan orang.
Pergulatan
Sifat Baik dan Buruk dalam Diri
Dorongan
kebaikan (nawazi'ul khair) dan dorongan keburukan (nawazi'us syar)
di dalam diri setiap manusia senantiasa saling bertolak-tolakan. Di dalam
praktik mengamalkan amal saleh terdapat bukti atas kemenangan dorongan
kebaikan, serta menjadi faktor penguat baginya sekaligus pelemah bagi dorongan
keburukan. Hal ini, di dalam substansinya sendiri, adalah bekal dan kebaikan.
Beberapa contoh mengenai hal ini antara lain:
- Dalam Urusan Infak:
Kita
membaca tentang keutamaan berinfak di jalan Allah, lalu jiwa kita sangat
mendambakan untuk berinfak. Namun, di kala praktik nyata hendak dilakukan,
terkadang muncul dorongan sifat kikir (bukhli), pelit (syuhhi),
dan cinta harta yang mencoba menghalangi aktivitas infak tersebut. Maka apabila
kita tetap mempraktikkan infak, kita berarti telah menundukkan hawa nafsu kita
dan melatihnya untuk loyal dalam memberi dan mendonasikan harta. Dan ini adalah
sebuah kebaikan.
- Dalam Urusan Jihad:
Kita
membaca tentang keutamaan berjihad di jalan Allah, dan perkara itu bisa jadi
akan tetap berstatus sebagai teori belaka sampai terjadinya praktik amaliyah
dari jihad itu sendiri. Maka kita pun berangkat di jalan Allah dengan cara
memenangkan diri atas daya tarik bumi (gemerlap dunia), tuntutan jasad,
kesenangan duniawi, rasa takut mati, dan hal-hal lain yang kerap membuat
pemiliknya merasa berat untuk bergerak lalu cenderung terpaku ke bumi (itsaqala
ilal ardhi). Di dalam kemenangan atas daya tarik dunia ini terdapat
keunggulan atas hawa nafsu dan bekal yang sangat besar.
- Dalam Urusan Kesabaran
dan Keteguhan:
Kita
membaca tentang kesabaran, ketahanan, dan keteguhan di atas jalan dakwah, lalu
kita merasa takjub dengan apa yang kita baca berupa sikap-sikap para pejuang
dakwah di atas jalan dakwah. Namun, ketika kita dihadapkan pada hal tersebut
secara nyata, di situlah terjadi proses pelatihan (tarwidh), penempaan (shaql),
dan peningkatan keimanan:
"(Yaitu)
mereka yang mendapati orang-orang mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya
manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah
kepada mereka,' maka perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka
menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik
pelindung'." (QS. Ali 'Imran: 173).
"Dan
agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan
membinasakan orang-orang yang kafir." (QS. Ali 'Imran: 141).
Karakteristik
dan Ruang Lingkup Amal Saleh
- Dakwah Tegak di Atas
Tekad yang Kuat:
Dakwah-dakwah
itu tegak di atas tekad-tekad yang kuat ('azaim) dan orang-orang yang
memiliki kemauan keras (ulu al-'azmi), dan tidak akan pernah tegak di
atas dispensasi-dispensasi (rukhash) maupun orang-orang yang hobi
mencari kemudahan. Al-Qur'an al-Karim mendorong kita untuk bersikap demikian: "Wahai
Yahya! Ambillah Kitab itu dengan kekuatan (sungguh-sungguh)." serta: "Dan
ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu."
Maka, wajib bagi seorang saudara muslim untuk membawa dirinya pada prinsip ini
dalam kehidupannya, serta bersungguh-sungguh dalam amal saleh dengan
mengerahkan seluruh energinya, karena di dalam hal tersebut terkandung bekal.
- Ruang Lingkup yang Luas
dan Periodik:
Medan
amal saleh itu teramat luas dan tidak dibatasi, yang mana hal ini memberikan
peluang yang sangat besar bagi seorang saudara muslim untuk membekali diri di
setiap medan. Terlebih lagi, amal saleh itu terdistribusi berdasarkan waktu;
ada amal saleh yang dituntut di dalam skala harian (siang dan malam), ada yang
skalanya mingguan, bulanan, hingga tahunan. Di dalam pengemasan waktu tersebut
terdapat unsur pembaruan dan kontinuitas bagi bekal di atas jalan perjuangan.
- Momentum Bulan Ramadan:
Jangan
sampai luput bagi kita untuk mengingatkan tentang momentum emas amal saleh di
dalam bulan Ramadan yang penuh berkah; di mana pahala dilipatgandakan dan bekal
menjadi melimpah ruah di dalam bulan yang mulia ini, sebagaimana yang telah
diisyaratkan oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
- Penyucian Jiwa (Tazkiyatun
Nafs):
Amal
saleh merupakan sarana penyucian bagi jiwa, pengangkatan derajatnya,
pembersihan dirinya dari hal-hal yang rendah (danaya) serta dosa-dosa (khathaya),
sekaligus penghias bagi jiwa dengan keutamaan akhlak dan sifat-sifat mulia. Dan
ini adalah bekal.
- Hierarki Motivasi
Beramal:
Sesungguhnya
seorang saudara muslim bergerak melakukan amal saleh demi menunaikan kewajiban
terlebih dahulu (ada'ul wajib), kemudian demi menggapai pahala akhirat
pada urutan kedua, lalu demi memberikan asas kemanfaatan pada urutan ketiga.
Apabila ia telah beramal, maka ia berarti telah menggugurkan kewajibannya dan
memenangkan pahala dari Allah sekiranya syarat-syaratnya telah terpenuhi.
Sedangkan urusan efektivitas kemanfaatan amalnya, perkaranya dikembalikan
kepada Allah; karena bisa jadi datang suatu peluang yang di luar kalkulasinya
yang membuat amalnya membuahkan hasil-hasil yang paling berkah.
Adapun
orang yang duduk berpangku tangan dari amal saleh, maka ia mutlak akan terkena
dosa kelalaian (itsmut taqshir), kehilangan pahala jihad, serta
diharamkan dari mendapatkan kemanfaatan secara pasti. Maka, manakah di antara
kedua golongan ini yang lebih baik kedudukannya dan lebih indah tempat
pertemuannya?
- Menggapai Perkara-Perkara
yang Tinggi:
Sesungguhnya
Allah menyukai perkara-perkara yang tinggi/mulia (ma'aliyul umur) dan
membenci perkara-perkara yang rendah/remeh (safasifah). Melalui praktik
amal saleh, kita akan senantiasa hidup membersamai perkara-perkara yang mulia
dan meninggi di atas perkara-perkara yang remeh. Di dalam hal ini terdapat
bekal dan keluhuran jiwa.
- Keteladanan Nyata (Qudwah
'Amaliyah):
Amal
saleh menjadikan pelakunya sebagai suri teladan yang baik bagi orang lain. Di
dalam hal tersebut terdapat kontribusi nyata dalam menyebarkan nilai kebajikan
di tengah masyarakat melalui keteladanan praktis, yang mana ia memiliki
pengaruh yang jauh lebih kuat ketimbang sekadar untaian kata-kata ataupun
goresan tulisan.
- Metode Edukasi Praktis:
Amal
saleh mampu menyampaikan pesan pengarahan kepada orang-orang yang tidak
menempuh pendidikan formal melalui format praktis ('amaliyah) bukan
teoritis (qauliyah), sebagaimana ia juga mampu menyampaikan pesan
tersebut kepada orang-orang yang tidak membaca dikarenakan ketiadaan waktu pada
diri mereka untuk menelaah literatur.
- Syarat Mutlak Penerimaan
Amal:
Agar
amal saleh berstatus makbul (diterima), mutlak diperlukan adanya keterpaduan
antara sifat ikhlas dan komitmen terhadap sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam (ittiba'). Terpenuhinya kedua syarat ini di dalam praktik amal
saleh merupakan bekal yang teramat besar bagi pemiliknya.
- Optimalisasi Potensi
untuk Kebahagiaan Kemanusiaan:
Amal-amal
saleh merupakan medan eksekusi terhadap perintah-perintah Allah Subhanahu wa
Ta'ala sekaligus penjauhan diri dari larangan-larangan-Nya. Tidaklah Allah
memerintahkan kita melainkan demi segala kebaikan bagi diri kita dan orang
lain, dan tidaklah Dia melarang kita melainkan dari segala keburukan bagi diri
kita dan orang lain. Setiap dari kita memiliki energi dan potensi; mulai dari
waktu, jerih payah, kesehatan, pemikiran, harta, hingga jiwa. Apabila kita
mengerahkan potensi tersebut di medan amal saleh, niscaya akan terealisasilah
hikmah Allah di balik perintah-perintah ini, dan kita pun menjelma menjadi
sumber kebahagiaan bagi diri kita sendiri serta bagi umat manusia; dan ini
adalah kedudukan yang tinggi.
Namun,
apabila energi-energi ini dikerahkan pada selain amal saleh, maka yang lahir
adalah kerusakan dan aksi destruktif (ifsad) di muka bumi—dan kita
berlindung kepada Allah dari hal tersebut... Ini adalah konsekuensi di dunia.
Adapun di akhirat, kemenangan dan kenikmatan adalah bagian dari kelompok
pertama, sedangkan kerugian dan azab adalah bagian dari kelompok kedua. Demikianlah
kita melihat keutamaan amal saleh.
Urgensi
Amal Saleh dalam Konteks Kekinian
- Menjawab Tantangan
Zaman:
Kondisi-kondisi
yang sedang dilewati oleh dakwah Islam dan kaum muslimin hari ini sangat
mengharuskan kita untuk bangkit dari keterpurukan (kabwah) ini, serta
menuntut kerja yang berkesinambungan untuk mengonfrontasi ahli kebatilan dan
musuh-musuh Islam yang sedang mengerahkan seluruh daya upaya mereka demi
melenyapkan Islam dan kaum muslimin... Realitas ini semakin mengagungkan nilai,
urgensi, kebaikan, serta dampak dari amal saleh di medan dakwah.
- Membangun Kekuatan
Spiritual Umat:
Sesungguhnya
kebangkitan umat Islam menuntut adanya kekuatan spiritual dan psikologis yang
sangat dahsyat dari anak-anak kandungnya. Kekuatan tersebut—sebagaimana yang
dikatakan oleh Imam Al-Banna—terefleksikan dalam beberapa perkara, yaitu:
"Tekad
yang kuat yang tidak tersusupi oleh kelemahan, kesetiaan yang kokoh yang tidak
dinodai oleh perubahan sikap maupun pengkhianatan, pengorbanan yang berharga
yang tidak terhalangi oleh sifat tamak maupun kikir, serta makrifat
(pengetahuan) terhadap prinsip beserta keimanan dan penghargaan kepadanya, yang
mana hal itu akan membentenginya dari kesalahan di dalamnya, penyimpangan
darinya, tawar-menawar atasnya, serta penipuan dengan prinsip selainnya."
Dan
realisasi dari sifat-sifat ini tidak akan pernah mewujud kecuali melalui amal
dan kerja yang bersungguh-sungguh (al-'amal al-jad).
- Kunci Perubahan Sosial:
Amal
saleh merealisasikan perubahan yang dituntut di dalam jiwa, dan ia merupakan
kunci kebaikan bagi umat ini, sesuai dengan firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri." Maka, apabila kita telah berhasil
mengungguli hawa nafsu kita dan mengikatnya dengan ajaran-ajaran Islam, kita
akan mampu memberikan pengaruh kepada orang lain hingga kita dapat menegakkan
masyarakat muslim dan negara Islam; sebab jika tidak demikian, orang yang tidak
memiliki sesuatu tidak akan pernah bisa memberi (faqidus syai' la yu'thih).
- Manajemen Waktu yang
Efektif:
Seorang
saudara muslim yang sangat antusias terhadap amal-amal saleh di dalam kehidupan
dan waktu-waktunya akan menangkap satu karakter yang sangat urgen, yaitu sifat
pelit (sangat menghargai) terhadap waktu. Alhasil, ia tidak akan menyia-nyiakan
satu fragmen pun dari waktunya kecuali pada amal yang bermanfaat lagi
membuahkan faedah. Hal itu mendorongnya untuk me-manajemeni waktunya dan
agenda-agenda kerjanya serta menyusunnya berdasarkan skala prioritas
urgenitasnya, seraya menginternalisasi perasaan bahwa waktu adalah kehidupan
itu sendiri, dan bahwasanya kewajiban-kewajiban yang ada jauh lebih banyak
daripada waktu yang tersedia. Di dalam kualitas pemanfaatan waktu yang baik ini
terdapat bekal dan kebaikan yang besar.
- Tabungan Pahala Akhirat:
Amal
saleh merupakan medan yang sangat baik untuk mendulang pahala akhirat.
Sebanding dengan apa yang disuguhkan oleh seorang muslim berupa amal saleh,
sebesar itu pula tabungan kebaikan-kebaikannya (hasanat) akan bertambah:
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia
akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar
dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." Dan alangkah
butuhnya setiap dari kita pada hari kiamat kelak terhadap hal-hal yang dapat
memperberat timbangan kebaikan-kebaikannya.
- Meninggalkan Rekam Jejak
yang Harum:
Amal
saleh dan aktivitas berbuat kebaikan yang ditegakkan oleh seorang saudara
muslim di tempat mana pun, ia akan tetap tinggal sebagai rekam jejak memori
yang harum (dzikra thayyibah) bagi dirinya dan bagi jemaahnya di tempat
tersebut, bahkan setelah ia meninggalkan tempat itu atau setelah wafatnya.
Tipologi
Manusia dalam Menyambut Amal Saleh
Kaum
muslimin bertingkat-tingkat posisinya di dalam menyambut amal saleh dan
aktivitas berbuat kebaikan:
- Di antara mereka ada orang
yang dibukakan baginya peluang berbuat kebaikan, namun ia membiarkan
peluang itu berlalu begitu saja tanpa ia mengamalkan kebaikan tersebut.
- Di antara mereka ada orang
yang mengamalkan kebaikan, namun dengan sikap merasa berat (mutsaqilan).
- Di antara mereka ada orang
yang menunaikannya dengan penuh energi dan perhatian yang besar.
- Dan golongan yang paling
utama dari mereka semua adalah orang-orang yang tidak pasif menunggu
datangnya peluang amal kebaikan sampai menghampiri mereka, melainkan
merekalah yang aktif memeriksa, mencari, dan memburu peluang tersebut:
"Mereka
itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang
segera memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61).
Dan
pada posisi (golongan keempat) inilah wajib bagimu berada, wahai saudaraku
muslim, jika kita memang jujur di dalam klaim dakwah kita serta terhadap
tugas-tugas dan harapan-harapan besar yang sedang kita emban saat ini.
Comments
Post a Comment