Tawakal
[Tawakal]
Ayat-ayat:
53 | Hadis-hadis: 27 | Atsar-atsar: 12
[Tawakal
secara Bahasa (Etimologi):]
Al-Tawakkul
(التوكل) merupakan bentuk masdar
(kata benda abstrak) dari kata kerja tawakkala – yatawakkalu (توكل - يتوكل). Kata ini diambil
dari akar kata (waw - kaf - lam / و ك ل) yang menunjukkan arti
bersandar/bergantung kepada pihak lain dalam suatu urusan. Di antaranya adalah
kata al-tawakkul, yaitu menampakkan kelemahan/ketidakmampuan dalam suatu
urusan dan bersandar kepada pihak lain.
Dikatakan
wākala fulānun (واكل
فلان) apabila seseorang menyia-nyiakan urusannya karena
bersandar/menyerahkannya kepada orang lain. Kata al-wikāl (الوكال) pada binatang
ternak/tumpangan bermakna berjalan hanya dengan mengikuti jalannya binatang
lain.
Al-Raghib
al-Ashfahani berkata: Al-Tawkīl (التوكيل) artinya engkau
bersandar kepada selainmu dan menjadikannya sebagai wakil/pengganti dirimu.
Dikatakan tawākala al-qawmu (تواكل القوم) apabila setiap orang dalam kelompok
tersebut saling bersandar (melempar tanggung jawab) satu sama lain. Bentuk nama
(ism) dari al-tawkīl adalah al-wikālah atau al-wakālah
(با لفتح والكسر [bisa dibaca dengan
fathah maupun kasrah pada huruf waw]). Adapun bentuk nama lainnya adalah al-tuklān
(التكلان).
Engkau
mengatakan: Ittakaltu 'alā fulānin fī amrī (اتكلت على فلان في أمري) [Aku bersandar
kepada si Fulan dalam urusanku] apabila engkau mengandalkannya. Dikatakan pula:
Fulānun wukalatun aw tukalatun (فلان وكلة أو تكلة), artinya orang yang
lemah/tidak berdaya yang menyerahkan urusannya kepada orang lain. Sebagaimana
dikatakan: Farasun wākilun (فرس واكل), yaitu kuda yang bersandar/mengandalkan
penunggangnya dalam berlari sehingga membutuhkan pukulan (cemeti agar mau
berlari).
Adapun
al-mutawakkil 'alallāh (orang yang bertawakal kepada Allah) adalah orang
yang mengetahui bahwa Allah adalah Penjamin rezeki dan urusannya, sehingga ia
hanya bersandar kepada-Nya semata dan tidak bertawakal kepada selain-Nya.
Ibn
Sidah berkata: Dikatakan wakala billāhi, tawakkala 'alaihi, dan ittakala
(وكل بالله وتوكل عليه واتكل)
memiliki makna yang sama, yaitu berserah diri kepada-Nya. Dikatakan tawakkala
bil-amri apabila seseorang menjamin untuk melaksanakannya. (Kalimat) Wakkaltu
amrī ilā fulānin bermakna aku menyandarkan urusanku kepadanya dan
mengandalkannya dalam urusan tersebut. Dikatakan wakkala fulānan apabila
ia menyerahkan urusannya kepadanya karena percaya akan kecukupannya
(kemampuannya), atau karena ia merasa lemah/tidak mampu mengurus urusannya
sendiri. Dan wakala ilaihi al-amra bermakna menyerahkan urusan
kepadanya, sedangkan wakala-hū ilā ra'yihī waklan wa wukūlan artinya
meninggalkannya/menyerahkannya kepada pendapatnya sendiri. [Maqāyīs
al-Lughah (6/136) (dengan sedikit penyesuaian), Al-Mufradāt karya
Al-Raghib (hal. 531), Al-Shihāh (5/1845), dan Lisān al-'Arab
(8/4909)]
[Al-Wakīl
di Antara Asmaulhusna (Nama-Nama Allah Yang Mahaindah):]
Ibn
al-Atsir berkata: Mengenai nama-nama Allah Ta'ala, Al-Wakīl (الوكيل) adalah
Pengurus/Pengelola Yang Menjamin rezeki para hamba. Hakikatnya adalah bahwa Dia
berdiri sendiri secara mandiri dalam mengurus urusan pihak yang
diwakilkan/diserahkan kepada-Nya. [Al-Nihāyah (5/221)]
Al-Ghazali
berkata: Al-Wakīl adalah Dzat yang kepadanya segala urusan diserahkan (al-mūkalu
ilaihi al-umūr). Namun, pihak yang diserahi urusan (al-mūkalu ilaihi)
terbagi menjadi dua kelompok:
- Pihak yang hanya diserahi
sebagian urusan saja, dan ini bersifat kekurangan (nāqish).
- Pihak yang diserahi seluruh
urusan secara mutlak, dan hal ini tidak ada selain Allah Subhanahu wa
Ta'ala.
Pihak
yang diserahi urusan juga terbagi menjadi:
- Pihak yang berhak diserahi
urusan bukan karena zatnya sendiri, melainkan karena adanya pelimpahan
wewenang (tafwīdh) dan penunjukan (tawkīl). Ini pun bersifat
kekurangan (nāqish), karena ia butuh kepada pelimpahan wewenang dan
penunjukan tersebut.
- Pihak yang berhak secara
zat-Nya sendiri untuk diserahi segala urusan dan menjadi tempat bertawakal
bagi seluruh hati, tanpa memerlukan penunjukan maupun pelimpahan wewenang
dari pihak lain. Dzat itulah Al-Wakīl al-Muthlaq (Wakil yang
Mutlak).
Selain
itu, al-wakīl (wakil/pengurus) terbagi pula menjadi:
- Pihak yang menunaikan apa
yang diwakilkan kepadanya secara sempurna tanpa ada kekurangan sedikit
pun.
- Pihak yang tidak mampu
menunaikan semuanya.
Maka
Al-Wakīl al-Muthlaq adalah Dzat yang segala urusan diserahkan
kepada-Nya, Maha Mampu/Kaya untuk melaksanakannya, dan Maha Sempurna dalam
menuntaskannya. Dan Dzat tersebut hanyalah Allah Ta'ala semata [Al-Maqshad
al-Asnā hal. 129].
Lafal
Al-Wakīl telah disebutkan di dalam Al-Qur'an al-Karim berkali-kali [Lihat
bukti-bukti/dalil-dalil Al-Qur'an nomor 10, 11, 14, 15, 16, 17, 19, 21, dan 24,
yad], dan para ahli tafsir menyebutkan beberapa penafsiran mengenainya, di
antaranya bermakna: Hafīzhā (Maha Pemelihara/Maha Pelindung) bagi kalian
[Lihat Tafsīr al-Thabarī jilid 8 juz 15 hal. 15], Penjamin urusan-urusan
kalian, dan Saksi/Syarik (dari Mujahid), serta dikatakan pula selain demikian.
[Lihat Tafsīr al-Qurthubī (10/213)]
Al-Syanqithi
berkata dalam kitab tafsirnya (Adhwā' al-Bayān): "Makna-makna
tersebut seluruhnya berdekatan, dan muaranya bermakna satu hal, yaitu bahwa Al-Wakīl
adalah Dzat yang dijadikan tempat bertawakal, lalu segala urusan diserahkan
kepada-Nya agar Dia mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan. Hal ini
tidaklah sah kecuali hanya bagi Allah semata Jalla wa 'Alā. Oleh karena
itu, Dia memperingatkan agar tidak mengambil wakil selain diri-Nya, karena
tidak ada yang mampu memberi manfaat, tidak ada yang mampu memberi mudarat, dan
tidak ada yang mampu mencukupi kecuali hanya Dia semata Jalla wa 'Alā.
Hanya kepada-Nya kami bertawakal, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung serta
Penolong kami." [Adhwā' al-Bayān (3/367)]
Di
antara nama-nama Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam adalah Al-Mutawakkil
(orang yang bertawakal). Sebagaimana yang terdapat dalam hadis:
وَسَمَّيْتُكَ
الْمُتَوَكِّلَ
"...dan
Aku menagismu (memberimu nama) Al-Mutawakkil."
Dinamakan
demikian bagi beliau shallallāhu 'alaihi wa sallam tidak lain adalah
karena sifat qanā'ah-nya (merasa cukup) terhadap hal yang sedikit serta
kesabarannya atas apa yang tidak beliau sukai. [Fath al-Bārī (8/450)]
[Secara
Istilah (Terminologi):]
Sandaran
hati yang jujur/benar kepada Allah Azza wa Jalla dalam mendatangkan
kemaslahatan-kemaslahatan dan menolak kemudharatan-kemudharatan, baik dalam
urusan dunia maupun akhirat, serta menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya,
disertai penyempurnaan iman bahwa tidak ada yang dapat memberi, tidak ada yang
dapat menghalangi, tidak ada yang dapat memudaratkan, dan tidak ada yang dapat
memberi manfaat selain Dzat-Nya. [Jāmi' al-'Ulūm wa al-Hikam karya Ibn
Rajab (hal. 409)]
Al-Jurjani
berkata: "Tawakal adalah percaya penuh terhadap apa yang ada di sisi Allah
dan putus asa (tidak berharap) dari apa yang ada di tangan manusia." [Al-Ta'rīfāt
(hal. 74)]
[Mengambil
Sebab (Ikhtiar) Tidak Menafikan Tawakal:]
Ibn
Qayyim al-Jauziyyah berkata: "Tawakal termasuk sebab paling agung untuk
meraih apa yang dicari dan menolak apa yang dibenci. Maka barang siapa yang
mengingkari sebab-sebab (ikhtiar), tidak akan lurus tawakalnya. Namun, di
antara kesempurnaan tawakal adalah: tidak bersandar kepada sebab-sebab tersebut
dan memutuskan keterikatan hati dengannya. Sehingga keadaan hatinya berdiri
bersama Allah (bukan bersama sebab), sedangkan keadaan fisiknya berdiri
menjalankan sebab-sebab tersebut. Maka sebab-sebab itu merupakan tempat
berlakunya hikmah Allah, perintah-Nya, dan larangan-Nya. Sedangkan tawakal
berkaitan dengan Rububiyah-Nya, qadha, dan takdir-Nya. Oleh karena itu, penghambaan
melalui sebab tidak akan berdiri kecuali di atas kaki tawakal, dan kaki tawakal
tidak akan berdiri kecuali di atas fondasi penghambaan ('ubūdiyyah)."
[Madārij al-Sālikīn (2/125)]
Antara
Tawakal dan Ittikāl (Sikap Pasrah Tanpa Usaha):
Sesungguhnya
mengambil/menjalankan sebab-sebab (ikhtiar) disertai penyerahan urusan
keberhasilan kepada Allah Ta'ala serta keyakinan bahwa Dia Azza wa Jalla
tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan, merupakan bagian
dari tawakal yang diperintahkan. Adapun berdiam diri dari menjalankan
sebab-sebab dan tidak mau berusaha, bukanlah bagian dari tawakal sedikit pun,
melainkan itu adalah ittikāl (bersikap pasrah secara pasif) atau tawākul
(pura-pura bertawakal) yang Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
telah memperingatkan kita darinya dan melarang sebab-sebab yang menghantarkan
kepadanya.
Pembersenjataan/pembuktian
atas hal tersebut adalah apa yang terdapat dalam hadis Mu'adz radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
يَا مُعَاذُ، تَدْرِي
مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟
"Wahai
Mu'adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba dan apa hak para hamba
atas Allah?"
Ia
(Mu'adz) berkata: Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau
bersabda:
فَإِنَّ حَقَّ اللهِ
عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ
الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَلَّا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ
شَيْئًا
"Sesungguhnya
hak Allah atas para hamba adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba atas Allah
'Azza wa Jalla adalah Dia tidak akan mengazab orang yang tidak
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."
Ia
(Mu'adz) berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya aku
menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang? Beliau bersabda:
لَا تُبَشِّرْهُمْ
فَيَتَّكِلُوا
"Janganlah
engkau menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka bersikap
pasrah (menyia-nyiakan amal sebab terlalu mengandalkan kemurahan Allah)."
[HR. Muslim]
Dan
di sini Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam meletakkan kaidah yang
agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang membawa kepada ditinggalkannya amal
(usaha), atau segala sesuatu yang berpotensi menjadi sangkaan/sebab terjadinya
sikap pasrah (ittikāl) maupun berpura-pura bertawakal (tawākul),
tidaklah termasuk bagian dari tawakal sedikit pun.
Telah
datang dalam hadis Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu apa yang menegaskan
hakikat ini. Dalam dialog yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Al-Musthafa shallallāhu
'alaihi wa sallam dan Umar bin al-Khattab radhiyallāhu 'anhu—dialog
ini sebagaimana terdapat dalam riwayat Muslim: Umar berkata: "Wahai
Rasulullah, demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, apakah engkau mengutus Abu
Hurairah dengan membawa kedua sandalmu ini, (dengan perintah) barang siapa yang
ia temui bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dengan meyakininya dalam
hatinya, agar ia memberinya kabar gembira dengan surga?" Beliau bersabda: "Ya."
(Umar) berkata: "Janganlah engkau lakukan, karena aku khawatir manusia
akan bersikap pasrah (bergantung pada persaksian itu lalu meninggalkan amal).
Maka biarkanlah mereka beramal." Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa
sallam bersabda:
فَخَلِّهِمْ
يَعْمَلُونَ
"Maka
biarkanlah mereka beramal." [Lihat hadis selengkapnya dalam Shahīh
Muslim jilid 1 hal. 60, 61. Kami tidak mencantumkannya di antara
hadis-hadis dalam bab ini (Hadīts al-Sifah) karena hadis ini membahas
tentang ittikāl (tawākul / sikap pasrah tanpa usaha), dan
alangkah jauh perbedaannya antara keduanya]
Dapat
dipahami dari hadis ini dan hadis sebelumnya bahwa ittikāl (sikap
pasrah) berarti meninggalkan amal dan tidak mengambil sebab-sebab (ikhtiar),
dan bahwasanya hal tersebut bukanlah bagian dari tawakal sedikit pun.
[Antara
Tawakal dan Tafwīdh (Penyerahan Urusan):]
Antara
tawakal kepada Allah dan tafwīdh (menyerahkan urusan) kepada-Nya
terdapat hubungan umum dan khusus ('umūm wa khushūsh), di mana tafwīdh
memiliki makna yang lebih luas daripada tawakal, sedangkan tawakal lebih khusus
daripada tafwīdh.
Penulis
kitab Al-Manāzil berkata: "Dan tafwīdh memiliki isyarat yang
lebih halus serta makna yang lebih luas daripada tawakal. Tawakal terjadi
setelah berlakunya sebab (ikhtiar), sedangkan tafwīdh terjadi sebelum
berlakunya sebab dan setelahnya. Tafwīdh adalah inti dari penyerahan
diri (al-istislām), sedangkan tawakal adalah salah satu cabangnya."
[Madārij al-Sālikīn (2/143)]
Ibn
al-Qayyim berkata: "Yang dimaksud oleh beliau dengan hal itu adalah bahwa
orang yang menyerahkan urusannya (mufawwidh) kepada Allah, ia berlepas
diri dari daya dan upaya, serta menyerahkan urusan kepada Pemilik urusan tanpa
menjadikan pihak yang diserahi urusan (al-mufawwadh ilaihi) bertindak
menggantikan kedudukan dirinya dalam kemaslahatan-kemaslahatannya. Berbeda
dengan tawakal, karena akad perwakilan (al-wakālah) menuntut wakil untuk
bertindak menggantikan kedudukan pihak yang mewakilkan (al-muwakkil)."
Beliau
rahimahullāhu Ta'ālā juga berkata: "Seandainya ada seseorang yang
mengatakan: 'Tawakal itu berada di atas tafwīdh, lebih agung, dan lebih
tinggi,' niscaya ia benar. Oleh karena itu, Al-Qur'an al-Karim penuh dengan
penyebutan tawakal, baik berupa perintah maupun pemberitaan tentang hamba-hamba
pilihan Allah, para kekasih-Nya, dan insan-insan mukmin pilihan. Allah pun
memerintahkannya kepada Rasul-Nya di berbagai tempat dalam Kitab-Nya [Lihat
ayat-ayat yang terdapat dalam pembahasan tawakal nomor 1, 2, 4, 6, 7, 8, 9, 10,
14. Ibn al-Qayyim menyebutkan bahwa perintah tawakal kepada Rasulullah shallallāhu
'alaihi wa sallam datang di empat tempat, namun sejatinya ada di sembilan
tempat. Boleh jadi empat tempat inilah yang terlintas dalam ingatan Syaikh dan
beliau tidak bermaksud mencakup keseluruhannya (al-istiqshā')], serta
menamai beliau sebagai Al-Mutawakkil."
Adapun
tafwīdh, tidaklah disebutkan dalam Al-Qur'an al-Karim kecuali dalam apa
yang dihikayatkan oleh Allah Azza wa Jalla tentang mukmin dari keluarga
Fir'aun, yaitu firman-Nya Azza wa Jalla:
"Dan
aku menyerahkan urusanku kepada Allah." (QS. Ghafir [40]: 44)
Kemudian
beliau menyimpulkan perkataan: "Bahwa menjadikan Allah Azza wa Jalla
sebagai Wakīl (Pelindung/Pengurus) adalah murni penghambaan (mahzh
al-'ubūdiyyah) dan tauhid yang murni apabila dilaksanakan oleh pelakunya
secara hakiki. Dengan demikian, tawakal lebih luas daripada tafwīdh,
serta lebih tinggi dan lebih agung." [Madārij al-Sālikīn (2/145)]
Antara
Tawakal dan Keyakinan/Kepercayaan (Al-Thiqah) kepada Allah Azza wa
Jalla:
Ibn
al-Qayyim mengutip dari penulis kitab Al-Manāzil perkataannya: "Al-Thiqah
(kepercayaan penuh) adalah pupil mata dari tawakal, dan titik pusat dari
lingkaran tafwīdh." Beliau menyebutkan di antara contoh-contoh
mengenai hal tersebut adalah apa yang terdapat dalam Al-Qur'an al-Karim tentang
ibu Nabi Musa 'alaihissalām:
"Maka
apabila kamu khawatir terhadapnya, jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan
janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati." (QS.
Al-Qashash [28]: 7)
Beliau
(Ibn al-Qayyim) berkata: "Perbuatan (ibu Nabi Musa) ini merupakan inti
dari kepercayaannya (thiqah) kepada Allah Ta'ala. Sebab, seandainya
bukan karena kesempurnaan kepercayaannya kepada Rabbnya, niscaya ia tidak akan
melemparkan putranya ke dalam aliran air." Ibn al-Qayyim berkata:
"Dan yang dimaksud adalah bahwa thiqah merupakan sari pati serta
inti dari tawakal, sebagaimana pupil mata merupakan bagian paling mulia
darinya. Adapun hubungan antara thiqah dan tafwīdh berakar pada
kenyataan bahwa thiqah adalah poros berputarnya tafwīdh."
Beliau berkata: "Banyak orang yang menafsirkan tawakal dengan thiqah
[Lihat misalnya definisi Al-Jurjani tentang tawakal yang telah kami sebutkan
sebelumnya]. Di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan tafwīdh,
dan ada pula yang menafsirkannya dengan taslīm (pasrah diri). Padahal
kedudukan (maqām) tawakal mencakup itu semua." [Rujukan yang sama (Madārij
al-Sālikīn), hal. 149, 150]
Aku
(penulis) katakan: Di antara hal yang menunjukkan kebenaran apa yang dikatakan
oleh Ibn al-Qayyim tentang cakupan makna tawakal terhadap tafwīdh maupun
thiqah adalah apa yang disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam definisi
tawakal, di mana beliau berkata: "Tawakal diwakilkan dari kata al-wikālah.
Dikatakan: Wakkala amrahū ilā fulān [ia menyerahkan urusannya kepada si
Fulan], artinya ia menyerahkan urusannya (fawwadhahū) kepadanya dan
bersandar kepadanya dalam urusan tersebut. Pihak yang diserahi urusan (al-mufawwadh
ilaihi) dinamakan muttakalan 'alaihi dan mutawakkalan 'alaihi
apabila jiwanya merasa tenang kepadanya, percaya penuh padanya, tidak
menuduhnya melakukan kelalaian, dan tidak menganggapnya memiliki kelemahan atau
kekurangan. Maka ia (tawakal) merupakan ungkapan tentang sandaran hati kepada
Sang Wakīl semata." [Ihyā' 'Ulūm al-Dīn (2/259)]
[Tempat-Tempat
/ Kondisi Disyariatkannya Tawakal:]
Sesungguhnya
bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla dituntut dalam seluruh urusan
kehidupan. Meski demikian, terdapat banyak tempat/kondisi di mana terdapat
dorongan serta perintah untuk bertawakal bagi Al-Musthafa shallallāhu
'alaihi wa sallam dan orang-orang mukmin. Al-Fairuzabadi telah menyebutkan
di antaranya:
- Jika kalian memohon
pertolongan dan kelapangan (jalan keluar), maka bertawakallah kepada-Nya:
"Jika
Allah menolong kamu, maka tak ada yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah
membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat
menolong kamu (selain dari Allah) sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada
Allah saja orang-orang beriman bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 160)
- Jika engkau berpaling
dari musuh-musuhmu, maka jadikanlah tawakal sebagai pendampingmu:
"Maka
berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi
Pelindung." (QS. An-Nisa' [4]: 81)
- Jika makhluk berpaling
darimu, maka bersandarlah pada tawakal:
"Jika
mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku;
tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal'." (QS.
At-Taubah [9]: 129)
- Jika Al-Qur'an dibacakan
kepadamu atau engkau membacanya, maka bersandarlah pada tawakal:
"Dan
apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya
kepada Rabbnyalah mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal [8]: 2)
- Jika engkau menghendaki
perdamaian dan perbaikan di antara suatu kaum, janganlah engkau bertawasul
menuju hal tersebut melainkan dengan tawakal:
"Dan
jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka cenderunglah kepadanya dan
bertawakallah kepada Allah." (QS. Al-Anfal [8]: 61)
- Jika kafilah
takdir/ketetapan Allah telah tiba, maka sambutlah ia dengan tawakal:
"Katakanlah:
'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.
Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaklah orang-orang yang
beriman bertawakal'." (QS. At-Taubah [9]: 51)
- Jika musuh-musuh memasang
jaring-jaring tipu daya, maka masuklah engkau ke dalam bumi/benteng
tawakal:
"Dan
bacakanlah kepada mereka berita tentang Nuh di waktu ia berkata kepada kaumnya:
'Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku dengan
ayat-ayat Allah, maka kepada Allahlah aku bertawakal." (QS. Yunus [10]:
71)
- Jika engkau mengetahui
bahwa tempat kembali segala sesuatu adalah kepada Allah dan penetapan
segala sesuatu di dalamnya adalah milik Allah, maka tempatkanlah dirimu di
atas hamparan tawakal:
"Maka
sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya." (QS. Hud [11]: 123)
- Jika engkau mengetahui
bahwa Allah Dialah yang Maha Esa secara hakiki, maka janganlah bersandarmu
kecuali hanya kepada-Nya:
"Katakanlah:
'Dia adalah Rabbku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal
dan hanya kepada-Nya aku kembali'." (QS. Ar-Ra'd [13]: 30)
- Jika petunjuk itu
datangnya dari Allah, maka sambutlah ia dengan rasa syukur dan tawakal:
"Mengapa
kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan
kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu
lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal
menyerahkan diri." (QS. Ibrahim [14]: 12)
- Jika engkau takut akan
kejahatan musuh-musuh Allah, setan, dan orang yang pengkhianat, maka
janganlah berlindung kecuali ke pintu Allah:
"Sungguh,
setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal
kepada Rabbnya." (QS. An-Nahl [16]: 99)
- Jika engkau menghendaki
agar Allah menjadi Pelindung/Pengurusmu dalam setiap keadaan, maka
berpegang teguhlah dengan tawakal dalam setiap keadaan:
"Dan
bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung." (QS.
An-Nisa' [4]: 81)
- Jika engkau menghendaki
Surga Firdaus yang tertinggi menjadi tempat tinggalmu, maka singgahlah di
kedudukan (maqām) tawakal:
"(yaitu)
orang-orang yang sabar dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal." (QS.
An-Nahl [16]: 42)
- Jika engkau ingin meraih
kecintaan Allah, maka singgahlah terlebih dahulu di kedudukan (maqām)
tawakal:
"Maka
bertawakallah kepada Allah, sungguh Allah menyukai orang-orang yang
bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 159)
- Jika engkau menghendaki
agar Allah menjadi milikmu (penolongmu) dan engkau menjadi hamba yang
tulus bagi Allah, maka wajib bagimu untuk bertawakal:
"Dan
barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya." (QS. At-Talaq [65]: 3)
"Sebab
itu bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang
nyata." (QS. An-Naml [27]: 79) [Bashā'ir Dzawī al-Tamyīz fī Lathā'if
al-Kitāb al-'Azīz, karya Al-Fairuzabadi (2/313–315)]
[Untuk
Pendalaman Lebih Lanjut, Lihat Sifat-Sifat Berikut:]
Istia'nah
(Memohon Pertolongan), Taqwa (Ketaqwaan), Tha'ah (Ketaatan), Qunut
(Tunduk Khusyuk), Husnuzhan (Berprasangka Baik), Thuma'ninah
(Ketenangan Jiwa), Sabr wa Mushabahrah (Kesabaran dan Penguatan
Kesabaran), Yaqin (Keyakinan Mantap).
[Dan
pada Lawan dari Sifat-Sifat Tersebut, Lihat Sifat-Sifat Berikut:]
Ghurur
(Pedaya Diri/Tergoda Dunia), Kibr wa 'Ujub (Kesombongan dan Bangga
Diri), Qalaq (Kecemasan/Kegelisahan), Syakk (Keraguan), Su'uzhan
(Berprasangka Buruk).
[Ayat-Ayat
yang Terkandung Mengenai "Tawakal"]
Perintah
Allah 'Azza wa Jalla untuk Bertawakal kepada-Nya:
- "Maka, berkat rahmat
dari Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Seandainya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauh dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan
untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal." (QS.
Ali 'Imran [3]: 159) [Madaniyah]
- "Minta taat."
Apabila telah keluar dari sisimu (Nabi Muhammad), sebagian dari mereka
mengatur siasat pada malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah
mereka katakan kepadamu. Padahal, Allah mencatat siasat yang mereka atur
pada malam hari itu. Maka, berpalinglah dari mereka dan bertawakallah
kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung. (81) Tidakkah mereka
menghayati Al-Qur'an? Sekiranya (Al-Qur'an) itu tidak datang dari sisi
Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya. (82)
Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan,
mereka menyebarluaskannya. Padahal, sekiranya mereka menyerahkannya kepada
Rasul dan ulilamri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin
mengetahui kebenarannya (dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan
ulilamri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu,
tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja. (83) (QS.
An-Nisa' [4]: 81–83) [Madaniyah]
- "Wahai orang-orang yang
beriman, ingatlah nikmat Allah (yang dianugerahkan) kepadamu ketika suatu
kaum bermaksud membentangkan tangannya kepadamu (untuk membunuhmu), lalu
Dia menahan tangan mereka darimu. Bertakwalah kepada Allah dan hanya
kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin itu bertawakal." (QS.
Al-Ma'idah [5]: 11) [Madaniyah]
- "Jika mereka cenderung
pada perdamaian, hendaklah engkau (Nabi Muhammad) cenderung padanya dan
bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal [8]: 61) [Madaniyah]
- "Katakanlah (Nabi
Muhammad), 'Tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan
Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya
orang-orang mukmin bertawakal'." (QS. At-Taubah [9]: 51) [Madaniyah]
- "Milik Allahlah apa
yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan segala
urusan. Maka, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Tuhanmu tidak
lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud [11]: 123) [Makkiyah]
- "Kami tidak mengutus
engkau (Nabi Muhammad), melainkan sebagai pembawa berita gembira dan
pemberi peringatan. (56) Katakanlah, 'Aku tidak meminta imbalan apa pun
darimu atasnya (dakwahku), kecuali dari orang yang mau mengambil jalan
kepada Tuhannya.' (57) Bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahahidup yang
tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha
Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya. (58) (Dialah) yang menciptakan langit dan
bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia
bersemayam di atas 'Arasy. (Dialah) Yang Maha Pengasih. Maka, tanyakanlah
tentang-Nya kepada yang mahamengetahui (Allah).' (59)" (QS. Al-Furqan
[25]: 56–59) [Makkiyah]
- "Berilah peringatan
kepada kerabat-kerabatmu (Nabi Muhammad) yang terdekat! (214) Rendahkanlah
dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang
beriman! (215) Jika mereka mendurhakaimu, katakanlah, 'Sesungguhnya aku
berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.' (216), Bertawakallah kepada
(Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, (217) yang melihatmu ketika
engkau berdiri (untuk shalat) (218) dan (melihat) perubahan gerakan
tubuhmu di antara orang-orang yang sujud. (219) Sesungguhnya Dialah Yang
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (220) (QS. Asy-Syu'ara' [26]:
217–220) [Makkiyah]
- "Sesungguhnya Al-Qur'an
ini menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar dari (perkara-perkara)
yang mereka perselisihkan. (76) Sesungguhnya ia (Al-Qur'an) benar-benar
menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang mukmin. (77) Sesungguhnya
Tuhanmu akan menyelesaikan (perkara) di antara mereka dengan hukum-Nya.
Dia Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (78) Maka, bertawakallah kepada
Allah! Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) berada di atas kebenaran yang
nyata." (79) (QS. An-Naml [27]: 76–79) [Makkiyah]
- "Wahai Nabi, bertakwalah
kepada Allah dan janganlah menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan
orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Mahabijaksana. (1) Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu.
Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (2)
Bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pemelihara." (3)
(QS. Al-Ahzab [33]: 1–3) [Madaniyah]
- "Wahai Nabi,
sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa berita gembira,
dan pemberi peringatan, (45) serta menjadi penyeru kepada (agama) Allah
dengan izin-Nya dan sebagai pelita yang menerangi. (46) Sampaikanlah
berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya mereka akan
mendapat karunia yang besar dari Allah. (47) Janganlah engkau menuruti
orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, abaikanlah gangguan mereka,
dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pemelihara."
(48) (QS. Al-Ahzab [33]: 45–48) [Madaniyah]
- "Sesungguhnya
pembicaraan rahasia itu hanya dari setan agar orang-orang yang beriman itu
bersedih hati, padahal (pembicaraan) itu tidaklah memberi bahaya sedikit
pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Hanya kepada Allah hendaknya
orang-orang mukmin bertawakal." (QS. Al-Mujadilah [58]: 10) [Madaniyah]
- "Taatlah kepada Allah
dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling, sesungguhnya kewajiban
Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (12)
(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada Allah hendaknya
orang-orang mukmin bertawakal." (13) (QS. At-Taghabun [64]: 12–13) [Madaniyah]
- "Sebutlah nama Tuhanmu
dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (8) (Dialah) Tuhan
timur dan barat. Tidak ada tuhan selain Dia. Maka, jadikanlah Dia sebagai
pelindung." (9) (QS. Al-Muzzammil [73]: 8–9) [Makkiyah]
Sebaik-baik
Pelindung/Pengurus (Nik'mal Wakīl) adalah Allah 'Azza wa Jalla:
- "Mereka bergirang hati
dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan dengan (ketetapan)
bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (171)
(Yaitu) orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka
menderita luka (dalam Perang Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan
di antara mereka dan bertakwa ada pahala yang sangat besar. (172) (Yaitu)
orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang
mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada
mereka,' ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka
menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia adalah
sebaik-baik pelindung'." (173) (QS. Ali 'Imran [3]: 171–173) [Madaniyah]
- "Milik Allahlah apa
yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai
pemelihara." (QS. An-Nisa' [4]: 132) [Madaniyah]
- "Wahai Ahli Kitab,
janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan
terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam
itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang
disampaikannya kepada Maryam serta (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka,
berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu
mengatakan, '(Tuhan itu) tiga.' Berhentilah (dari ucapan itu). Itu lebih
baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. Mahasuci Dia dari
(anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa
yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pemelihara." (QS. An-Nisa'
[4]: 171) [Madaniyah]
- "(Ingatlah) ketika
orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya
berkata, 'Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya.' (Allah
berfirman,) 'Barang siapa bertawakal kepada Allah, sesungguhnya Allah
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (QS. Al-Anfal [8]: 49) [Madaniyah]
- "Sesungguhnya
hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka. Cukuplah Tuhanmu
sebagai pemelihara." (QS. Al-Isra' [17]: 65) [Makkiyah]
- "Apabila mereka telah
mendekati akhir idahnya, rujuklah dengan mereka secara patut atau
lepaskanlah mereka secara patut pula. Persaksikanlah dengan dua orang
saksi yang adil di antara kamu dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.
Demikianlah diberi pengajaran dengannya orang yang beriman kepada Allah
dan hari Akhir. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
membukakan jalan keluar baginya (2) dan menganugerahkan rezeki darimana
pun yang tidak disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah,
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang
menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap
sesuatu." (3) (QS. At-Talaq [65]: 2–3) [Madaniyah]
Allah
'Azza wa Jalla Maha Pelindung/Pengurus (Wakīl) atas Segala Sesuatu:
- "Mereka (orang-orang
musyrik) menjadikan jin-jin sebagai sekutu-sekutu Allah, padahal Dialah
yang menciptakannya. Mereka juga memfitnah (mengatakan bahwa) Dia
mempunyai anak-anak laki-laki dan perempuan tanpa (dasar) pengetahuan. Mahasuci
dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sifatkan. (100) (Dialah) Pencipta
langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Bagaimana mungkin Dia mempunyai
anak, padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu
dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (101) Itulah Allah, Tuhanmu; tidak
ada tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu. Maka, sembahlah Dia. Dialah
Pemelihara segala sesuatu. (102) Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan
mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dialah Yang
Mahalembut lagi Mahateliti." (103) (QS. Al-An'am [6]: 100–103) [Makkiyah]
- "Maka, boleh jadi
engkau (Nabi Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang
diwahyukan kepadamu dan dadamu merasa sempit karenanya, karena mereka akan
mengatakan, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya harta simpanan atau datang
bersamanya malaikat?' Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi
peringatan dan Allah Maha Pemelihara segala sesuatu." (QS. Hud [11]:
12) [Makkiyah]
- "Dia (Musa) berkata,
'Itulah (perjanjian) antara aku dan engkau. Yang mana saja dari kedua
waktu yang ditentukan itu yang aku selesaikan, tidak ada tuntutan
(tambahan) atas diriku (lagi). Allah adalah saksi atas apa yang kita
ucapkan'." (QS. Al-Qashash [28]: 28) [Makkiyah]
- "Allah adalah Pencipta
segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. (62)
Milik-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Orang-orang
yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang
rugi." (63) (QS. Az-Zumar [39]: 62–63) [Makkiyah]
Penafian
Kedudukan Wakīl (Pengurus/Pelindung) dari Selain Allah 'Azza wa Jalla:
- "Katakanlah (Nabi
Muhammad), 'Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atasmu
atau dari bawah kakimu, atau menyandingkan kamu dalam kelompok-kelompok
(yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu kejahatan
sebagian yang lain.' Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan
berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(-nya).
(65) Kaummu mendustakannya (Al-Qur'an), padahal (Al-Qur'an) itu hak
(benar). Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Aku bukanlah penanggung jawab atas
kamu.' (66) Setiap berita (yang dibawa oleh nabi) ada waktu terjadinya dan
kelak kamu akan mengetahui." (67) (QS. Al-An'am [6]: 65–67) [Makkiyah]
- "Ikutilah apa yang
telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada tuhan selain Dia dan
berpalinglah dari orang-orang musyrik. (106) Seandainya Allah menghendaki,
niscaya mereka tidak mempersekutukan(-Nya). Kami tidak menjadikan engkau
pemelihara mereka dan engkau bukan pula penanggung jawab atas
mereka." (107) (QS. Al-An'am [6]: 106–107) [Makkiyah]
- "Katakanlah (Nabi
Muhammad), 'Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu kebenaran dari
Tuhanmu. Maka, siapa yang mendapat petunjuk, sesungguhnya (petunjuk) itu
untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang sesat, sesungguhnya
kesesatannya itu untuk (kerugian) dirinya sendiri. Aku bukanlah penanggung
jawab atas dirimu.' (108) Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dan
bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang
terbaik." (109) (QS. Yunus [10]: 108–109) [Makkiyah]
- "Mahasuci (Allah) yang
telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari
Masjidilharam ke Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar
Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (1) Kami telah
menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa dan menjadikannya sebagai
petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), 'Janganlah kamu mengambil
pelindung selain Aku.' (2) (Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama
Nuh, sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur." (3)
(QS. Al-Isra' [17]: 1–3) [Makkiyah]
- "Apakah kamu merasa
aman bahwa Dia tidak akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu atau
Dia tidak akan meniupkan angin keras yang membawa batu-batu kecil kepadamu
sehingga kamu tidak akan mendapat seorang pelindung pun bagimu?" (QS.
Al-Isra' [17]: 68) [Makkiyah]
- "Sesungguhnya Kami
menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) untuk manusia dengan membawa
kebenaran. Maka, siapa yang mendapat petunjuk, (manfaatnya) untuk dirinya
sendiri dan siapa yang sesat, sesungguhnya kesesatannya itu untuk
(kerugian) dirinya sendiri. Engkau (Nabi Muhammad) bukanlah penanggung
jawab atas mereka." (QS. Az-Zumar [39]: 41) [Makkiyah]
- "Orang-orang yang
mengambil pelindung selain Dia, Allah Maha Mengawasi (perbuatan) mereka,
sedangkan engkau (Nabi Muhammad) bukanlah penanggung jawab atas
mereka." (QS. Asy-Syura [42]: 6) [Makkiyah]
Tawakal
Termasuk Sifat Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam dan Orang-Orang
Mukmin:
- "(Ingatlah) ketika
engkau (Nabi Muhammad) berangkat pada pagi hari dari keluarga mu untuk
menempatkan orang-orang mukmin pada pos-pos pertempuran. Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. (121) (Ingatlah) ketika dua kelompok
darimu merasa ragu-ragu (untuk berperang), padahal Allah adalah penolong
mereka. Hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal."
(122) (QS. Ali 'Imran [3]: 121–122) [Madaniyah]
- "Jika Allah menolong
kamu, tidak ada yang dapat mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan
kamu (tidak memberi pertolongan), siapakah yang dapat menolong kamu
setelah itu? Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang
mukmin bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 160) [Madaniyah]
- "Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar
hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah
imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal," (QS. Al-Anfal [8]:
2) [Madaniyah]
- "Sungguh, benar-benar
telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa
olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, dan bersikap penyantun lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin. (128) Jika mereka berpaling, katakanlah (Nabi
Muhammad), 'Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya
kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik 'Arasy yang
agung'." (129) (QS. At-Taubah [9]: 128–129) [Madaniyah]
- "Demikianlah, Kami
telah mengutus engkau (Nabi Muhammad) kepada suatu umat yang sungguh telah
berlalu beberapa umat sebelumnya agar engkau bacakan kepada mereka
(Al-Qur'an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka ingkar kepada
Tuhan Yang Maha Pengasih. Katakanlah, 'Dialah Tuhanku, tidak ada tuhan
selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku
bertobat'." (QS. Ar-Ra'd [13]: 30) [Madaniyah]
- "Orang-orang yang
berhijrah karena Allah setelah mereka terzalimi, sungguh Kami akan
memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Sungguh, pahala di
akhirat itu lebih besar sekiranya mereka mengetahui, (41) (yaitu)
orang-orang yang bersabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal."
(42) (QS. An-Nahl [16]: 41–42) [Makkiyah]
- "Apabila engkau hendak
membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang
terkutuk. (98) Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas
orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. (99) Sesungguhnya
kekuasaannya hanya atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan
orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah." (100) (QS. An-Nahl
[16]: 98–100) [Makkiyah]
- "Setiap yang bernyawa
akan merasakan mati. Kemudian, hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.
(57) Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sungguh akan Kami
tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah
sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal, (58) (yaitu)
orang-orang yang bersabar dan hanya kepada Tuhan mereka
[bertawakal]." (59) (QS. Al-'Ankabut [29]: 57–59) [Makkiyah]
- "Sungguh, jika engkau
bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?'
Niscaya mereka menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Kalau begitu, tahukah kamu
tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak menimpakan
bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu? Atau,
jika Allah hendak memberikan rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menahan
rahmat-Nya?' Katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya
orang-orang yang bertawakal menyerahkan diri'." (QS. Az-Zumar [39]:
38) [Makkiyah]
- "Apakah mereka
mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Padahal, Allahlah Pelindung
(yang sebenarnya). Dia menghidupkan orang-orang yang mati dan Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu. (9) Apa pun yang kamu perselisihkan tentang
suatu perkara, hukumnya (terserah) kepada Allah. (Katakanlah,) 'Yang
(memiliki sifat-sifat) demikian itu ialah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku
bertawakal dan kepada-Nyalah aku bertobat'." (10) (QS. Asy-Syura
[42]: 9–10) [Makkiyah]
- "Kenikmatan apa pun
yang diberikan kepadamu, itu adalah kesenangan hidup di dunia. Adapun apa
yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang
beriman dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal," (QS. Asy-Syura
[42]: 36) [Makkiyah]
- "Sungguh, telah ada
teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama
dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya kami
berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami
mengingkari (kepengikutan) kamu dan telah nyata antara kami dan kamu
permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada
Allah saja,' kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya. 'Sungguh, aku akan
memohonkan ampunan bagimu, tetapi aku tidak memiliki kuasa sedikit pun
untuk menolak (siksaan) Allah terhadapmu.' (Mereka berdoa,) 'Ya Tuhan
kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami
bertobat, dan hanya kepada Engkaulah tempat kembali. (4) Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir.
Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana.' (5) Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan pengikutnya)
benar-benar terdapat teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang
mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari Akhir. Siapa yang
berpaling, sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha
Terpuji." (6) (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4–6) [Madaniyah]
- "Katakanlah (Nabi
Muhammad), 'Tahukah kamu jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang
bersamaku atau memberi rahmat kepada kami, lalu siapa yang dapat
melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?' (28) Katakanlah (Nabi
Muhammad), 'Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan
kepada-Nya kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang berada
dalam kesesatan yang nyata.' (29) Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Tahukah
kamu jika airmu (sumber airmu) menjadi surut (meresap ke dalam tanah), siapakah
yang akan memberimu air yang mengalir?'" (30) (QS. Al-Mulk [67]:
28–30) [Makkiyah]
Perintah
untuk Bertawakal dalam Seluruh Syariat, dan Ia Merupakan Sifat Seluruh Para
Nabi —shalawātullāhi wa salāmuhū 'alaihim—:
- "Berkatalah dua orang
laki-laki di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang telah
diberi nikmat oleh Allah kepada keduanya, 'Serbulah mereka melalui pintu
gerbang (kota) itu. Jika kamu memasukinya, sesungguhnya kamu akan menang.
Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu orang-orang
mukmin'." (QS. Al-Ma'idah [5]: 23) [Madaniyah]
- "Pemuka-pemuka yang
menyombongkan diri dari kaumnya berkata, 'Wahai Syuaib, sungguh kami akan
mengusirmu beserta orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami,
atau engkau kembali kepada agama kami.' Dia (Syuaib) berkata, 'Apakah
(kami akan kembali) meskipun kami membencinya? (88) Sungguh, kami telah
mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah jika kami kembali pada
agamamu setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Tidak ada hak bagi kami
untuk kembali padanya, kecuali jika Allah Tuhan kami menghendaki.
Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami
bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami
dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik'." (89) (QS.
Al-A'raf [7]: 88–89) [Makkiyah]
- "Bacakanlah kepada
mereka berita tentang Nuh ketika dia berkata kepada kaumnya, 'Wahai
kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku
dengan ayat-ayat Allah, hanya kepada Allah aku bertawakal. Maka,
bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu. Kemudian,
janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Selanjutnya, bertindaklah terhadap
diriku dan janganlah kamu menunda-nundanya'." (QS. Yunus [10]: 71) [Makkiyah]
- "Musa berkata, 'Wahai
kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, bertawakallah kepada-Nya saja jika
kamu benar-benar orang-orang berserah diri.' (84) Lalu, mereka berkata,
'Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
jadikan kami fitnah (sasaran kezaliman) bagi kaum yang zalim, (85) dan
selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari kaum yang kafir'." (86) (QS.
Yunus [10]: 84–86) [Makkiyah]
- "Mereka berkata,
'Wahai Hud, engkau tidak mendatangkan suatu bukti yang nyata kepada kami,
kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena ucapanmu, dan kami
tidak akan mempercayaimu. (53) Kami hanya mengatakan bahwa sebagian tuhan
kami telah menimpakan kejahatan kepadamu.' Dia (Hud) berkata,
'Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu bahwa aku
berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (54) selain Dia. Maka,
jalankanlah tipu dayamu terhadapku semuanya dan jangan kamu tunda-tunda
(lagi). (55) Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu.
Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) melainkan Dialah yang
memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan
yang lurus'." (56) (QS. Hud [11]: 53–56) [Makkiyah]
- "Mereka berkata, 'Wahai
Syuaib, apakah salatmu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang
disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut
apa yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang
penyantun lagi berakal.' (87) Dia (Syuaib) berkata, 'Wahai kaumku,
bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan
Dia menganugerahkan rezeki yang baik kepadaku dari-Nya (kemudian aku
menyembunyikan bukti itu darimu)? Aku tidak bermaksud menyelisihimu dengan
(melakukan) apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud
(mendatangkan) perbaikan selama aku sanggup. Petunjuk (bagiku untuk
berbuat kebaikan) hanya dari Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan
hanya kepada-Nya aku bertobat'." (88) (QS. Hud [11]: 87–88) [Makkiyah]
- "Dia (Yakub) berkata,
'Aku tidak akan melepasnya (pergi) bersamamu sebelum kamu mengucapkan
janji setia kepadaku atas nama Allah bahwa kamu pasti akan membawanya
kembali kepadaku, kecuali jika kamu dikepung (musuh).' Setelah mereka
mengucapkan janji setia kepadanya, dia (Yakub) berkata, 'Allah adalah
saksi atas apa yang kita ucapkan.' (66) Dia (Yakub) berkata, 'Wahai
anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang (yang sama),
tetapi masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda. Aku tidak dapat
mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan (takdir)
itu hanya bagi Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya
kepada-Nyalah hendaknya orang-orang yang bertawakal berserah diri'."
(67) (QS. Yusuf [12]: 66–67) [Makkiyah]
- "Rasul-rasul mereka
berkata, 'Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?
Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan
(siksaan)-mu sampai waktu yang ditentukan.' Mereka berkata, 'Kamu tidak
lain hanyalah manusia seperti kami. Kamu bermaksud menghalangi kami dari
apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami. Karena itu, datangkanlah
kepada kami bukti yang nyata.' (10) Rasul-rasul mereka berkata kepada
mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah
memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.
Tidak berhak bagi kami mendatangkan bukti kepadamu kecuali dengan izin
Allah. Hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. (11)
Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah
menunjukkan jalan-jalan kami? Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap
gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Hanya kepada Allah hendaknya
orang-orang yang bertawakal berserah diri'." (12) (QS. Ibrahim [14]:
10–12) [Makkiyah]
[Di
antara Ayat-Ayat yang Mengandung Makna "Tawakal":]
- "'Kelak kamu akan ingat
kepada apa yang kukatakan kepadamu. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.' (44) Maka, Allah
memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka dan keluarga Fir'aun
dikepung oleh azab yang sangat buruk." (45) (QS. Ghafir [40]: 44–45)
[Makkiyah]
[Hadis-Hadis
yang Diriwayatkan Mengenai (Tawakal)]
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ
مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا
قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ،
فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ
بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟
"Apabila
seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: 'Bismillāh, tawakkaltu
'alallāh, lā haula wa lā quwwata illā billāh' (Dengan nama Allah, aku
bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan
Allah), maka dikatakan kepadanya pada saat itu: 'Engkau telah diberi petunjuk,
dicukupi, dan dilindungi.' Maka setan-setan pun menjauh (tetanahhā [Tatanahhā
(تتنحى): Menjauh / mundur ke
belakang]) darinya, lalu setan yang lain berkata kepadanya: 'Bagaimana
mungkin engkau dapat menyesatkan seorang laki-laki yang sungguh telah diberi
petunjuk, dicukupi, dan dilindungi?'" [HR. Abu Daud (5095) dan lafal
ini miliknya; HR. Al-Tirmidzi (2426) dan ia berkata: "Hadis ini hasan
shahih gharib"; Muhaqqiq Jāmi' al-Ushūl (4/274) berkata: "Hadis
ini shahih."]
- Dari Hasyim bin 'Amir radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ رَأْسَ
الدَّجَّالِ مِنْ وَرَائِهِ حُبُكٌ حُبُكٌ، فَمَنْ قَالَ: أَنْتَ رَبِّي
افْتُتِنَ، وَمَنْ قَالَ: كَذَبْتَ، رَبِّيَ اللهُ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ فَلَا
يَضُرُّهُ - أَوْ قَالَ: فَلَا فِتْنَةَ عَلَيْهِ
-
"Sesungguhnya
bagian belakang kepala Dajjal itu bergelombang keriting (hubukun hubuk [Hubuk
(حبك): Rambut kepalanya
keriting bergulung-gulung karena sangat kriting]). Maka barang siapa yang
berkata (kepada Dajjal): 'Engkau adalah Tuhanku,' niscaya ia terfitnah
(terjatuh dalam kesesatan). Dan barang siapa yang berkata: 'Engkau berdusta!
Tuhanku adalah Allah, hanya kepada-Nya aku bertawakal,' maka Dajjal tidak akan dapat
memudaratkannya —atau beliau bersabda: maka tidak ada fitnah/bahaya
atasnya—." [Al-Haitsami berkata dalam Majma' al-Zawā'id (7/342,
343): "Diriwayatkan oleh Ahmad dan perawinya adalah perawi riwayat
Shahih, dan diriwayatkan pula oleh Al-Thabarani." Hadis ini terdapat
dalam Al-Musnad (4/20).]
- Dari 'Abdullah bin 'Amr bin
al-'Ash radhiyallāhu 'anhumā, bahwasanya ia berkata:
"Sesungguhnya ayat yang ada di dalam Al-Qur'an ini:
'Wahai
Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira,
dan pemberi peringatan,' (QS. Al-Ahzab [33]: 45) [Madaniyah]
terdapat
di dalam Taurat (dengan redaksi): 'Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu
sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan benteng
perlindungan (hirzan [Hirzan (حرزا): Benteng perlindungan / pemeliharaan])
bagi ummiyyin (al-ummiyyīn [Al-Ummiyyīn (الأميين): Bangsa Arab (kaum
yang belum membaca kitab)]). Engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku, Aku menamaimu
Al-Mutawakkil (orang yang bertawakal). Engkau bukan orang yang bersikap
kasar, bukan orang yang berhati keras, bukan orang yang suka berteriak-teriak (sakhkhāb
[Sakhkhāb dan Sakhāb (سخاب / صخاب): Diambil dari kata al-shakhab,
yaitu teriakan, suara yang keras, dan gaduh]) di pasar-pasar, dan tidak
membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dimaafkan dan diampuni. Dan
Allah tidak akan mencabut nyawanya sampai Dia menegakkan dengannya agama yang
bengkok agar mereka mengucapkan: Lā ilāha illallāh (Tidak ada tuhan
selain Allah), sehingga dengannya terbuka mata yang buta, telinga yang tuli,
dan hati yang tertutup.'" [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 8 (4838)]
- Dari Abu Musa radhiyallāhu
'anhu: Bahwasanya ia pernah bersama Nabi shallallāhu 'alaihi wa
sallam di sebuah kebun yang jauh, dan di tangan Nabi shallallāhu
'alaihi wa sallam terdapat sebatang kayu yang beliau pukulkan di
antara air dan tanah. Lalu datang seorang laki-laki meminta dibukakan
pintu, maka beliau bersabda: "Bukakanlah pintu untuknya dan
sampaikan kabar gembira kepadanya berupa surga." Ternyata orang
itu adalah Abu Bakar radhiyallāhu 'anhu. Abu Musa berkata: Maka aku
bukakan pintu baginya dan aku sampaikan kabar gembira berupa surga
kepadanya.
Kemudian
datang laki-laki lain meminta dibukakan pintu, maka beliau bersabda: "Bukakanlah
pintu untuknya dan sampaikan kabar gembira kepadanya berupa surga."
Ternyata orang itu adalah Umar bin al-Khattab radhiyallāhu 'anhu. Maka
aku bukakan pintu baginya dan aku sampaikan kabar gembira berupa surga
kepadanya.
Kemudian
datang laki-laki lain meminta dibukakan pintu, maka beliau bersabda: "Bukakanlah
pintu untuknya dan sampaikan kabar gembira kepadanya berupa surga atas
ujian/bencana yang akan menimpanya —atau ujian yang akan terjadi—."
Abu Musa berkata: Ternyata orang itu adalah Utsman radhiyallāhu 'anhu.
Maka aku bukakan pintu baginya dan aku sampaikan kabar gembira berupa surga
kepadanya serta aku beritahukan hal itu, lalu Utsman berkata:
«اللهُ
الْمُسْتَعَانُ، اللَّهُمَّ صَبْرًا، وَعَلَيْهِ التُّكْلَانُ»
"Allah-lah
tempat memohon pertolongan. Ya Allah, berikanlah kesabaran, dan hanya
kepada-Nya bersandar (al-tuklān)." [HR. Ahmad (4/407); Hadis ini juga
terdapat dalam HR. Bukhari – Fath al-Bārī 7 (3674) tanpa mencantumkan
ucapan Utsman radhiyallāhu 'anhu; Dan terdapat dalam HR. Muslim (2402)
yang mencantumkan sebagian ucapan Utsman radhiyallāhu 'anhu: "Allāhumma
shabran" atau "Allāhul-musta'ān".]
- Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: ...
..."'Cukuplah
Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung.' Kalimat tersebut diucapkan
oleh Ibrahim 'alaihissalām ketika beliau dilemparkan ke dalam api. Dan
diucapkan pula oleh Muhammad shallallāhu 'alaihi wa sallam ketika
orang-orang berkata (kepada mereka): 'Sesungguhnya manusia (kaum Quraisy) telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,'
ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah
Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung' (QS. Ali 'Imran [3]:
173)." [Madaniyah] [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 8 (4563)]
- Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ،
وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
"Thiyarah
(anggapan sial/kesialan) [Al-Thiyarah (الطيرة): Anggapan sial
berdasarkan fenomena alam/hewan. Kalimat (wa mā minnā illā) bermakna:
tidak ada seorang pun di antara kita melainkan pasti akan terbersit sedikit
rasa tersebut pada awalnya sebelum ia merenungkannya] adalah syirik. Dan
tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (pasti terbersit hal tersebut
dalam hatinya), namun Allah menghilangkannya dengan tawakal." [HR.
Al-Tirmidzi (1614) dan ia berkata: "Hadis ini hasan shahih";
HR. Ibn Majah (3538) dan lafal ini miliknya; HR. Ahmad (1/389), Syaikh Ahmad
Syakir berkata: "Sanadnya shahih" (5/253, hadis 2687).
Sebagian ulama menyatakan bahwa kalimat (wa mā minnā walākinnal-lāha
yudzhibuhū bit-tawakkul) merupakan ucapan dari Ibn Mas'ud radhiyallāhu
'anhu]
- Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam biasa
berdoa di malam hari:
«اللَّهُمَّ
لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ
قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، قَوْلُكَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ
حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ
لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِك آَمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ،
وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا
أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ إِلهِي لَا إِلهَ لِي
غَيْرُكَ»
"Ya
Allah, bagi-Mu segala puji, Engkaulah Rabb penguasa langit dan bumi. Bagi-Mu
segala puji, Engkaulah Pengatur langit dan bumi beserta siapa saja yang ada di
dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Cahaya langit dan bumi. Perkataan-Mu
benar, janji-Mu benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, surga itu benar,
neraka itu benar, dan hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah
diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali
(bertobat), dengan (hujah)-Mu aku berdebat, dan kepada-Mu aku menyerahkan
hukum. Maka ampunilah aku atas dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku
lakukan, yang aku sembunyikan dan yang aku nyatakan. Engkau adalah Tuhanku,
tidak ada tuhan bagiku selain Engkau." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī
13 (7385) dan lafal ini miliknya; HR. Muslim (769)]
- Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
كَيْفَ أَنْعَمُ
وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ، وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى
يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ
"Bagaimana
aku bisa merasa tenang bersenang-senang sedangkan peniup sangkakala (Malaikat
Israfil) [Al-Qarn (القرن):
Sangkakala (al-shūr).] telah mengulum sangkakalanya, serta mengasah
pendengarannya menunggu izin kapan diperintahkan untuk meniup lalu ia akan
meniupnya?"
Maka
hal tersebut terasa amat berat bagi para sahabat Nabi shallallāhu 'alaihi wa
sallam, lalu beliau bersabda kepada mereka: "Ucapkanlah:
حَسْبُنَا اللهُ
وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا
'Hasbunallāhu
wa ni'mal-wakīl, 'alallāhi tawakkalnā' (Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah
sebaik-baik Pelindung, hanya kepada Allah kami bertawakal)." [HR.
Al-Tirmidzi (2431). Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bārī 1 (376)
menyatakan bahwa Al-Tirmidzi menghasankannya, serta menyebutkan bahwa
Al-Thabarani meriwayatkannya dari hadis Zaid bin Arqam, Ibn Mardawaih dari
hadis Abu Hurairah, serta diriwayatkan pula oleh Ahmad dan Al-Baihaqi]
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Seseorang bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah
aku tambatkan (untaku) lalu aku bertawakal, ataukah aku lepaskan lalu aku
bertawakal?" Beliau bersabda:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
"Tambatkanlah
unta itu, kemudian bertawakallah!" [HR. Al-Tirmidzi (2517) dan ini
adalah lafalnya, ia berkata: "Hadis ini gharib dari hadis Anas."
HR. Al-Hakim (3/623), Al-Dzahabi berkata dalam Al-Talkhīsh: "Sanadnya
baik (jayyid)." HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Īmān (3/1414)
dari hadis 'Amr bin Umayyah al-Dhamri. Al-Hafizh Al-'Iraqi dalam Takhrīj
al-Ihyā' setelah menisbahkannya kepada Al-Tirmidzi berkata: "Diriwayatkan
oleh Ibn Khuzaimah dalam Kitāb al-Tawakkul dan Al-Thabarani dari hadis 'Amr bin
Umayyah al-Dhamri, dan ia berkata: sanadnya baik." Syaikh Al-Albani
mencantumkannya dalam Shahīh al-Jāmi' (4809) dan berkata: "Hasan."]
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي
الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ، وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ، وَكَانَ
جُرَيْجٌ رَجُلًا عَابِدًا، فَاتَّخَذَ صَوْمَعَةً فَكَانَ فِيهَا، فَأَتَتْهُ
أُمُّهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ! فَقَالَ: يَا رَبِّ! أُمِّي وَصَلَاتِي،
فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ، فَانْصَرَفَتْ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَتْهُ
وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ! فَقَالَ: يَا رَبِّ! أُمِّي
وَصَلَاتِي، فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَانْصَرَفَتْ...
"Tidak
ada bayi yang dapat berbicara sewaktu masih dalam buaian kecuali tiga orang:
'Isa putra Maryam, dan bayi yang bersama Juraij. Juraij adalah seorang ahli
ibadah; ia membuat sebuah tempat ibadah (biara) lalu tinggal di dalamnya.
Kemudian ibunya datang menemuinya ketika ia sedang salat, lalu ibunya
memanggil: 'Wahai Juraij!' Maka Juraij berkata (dalam hatinya): 'Ya Rabb! Ibuku
atau salatku?' Lalu ia melanjutkan salatnya, sehingga ibunya pergi. Esok
harinya, ibunya datang lagi menemuinya sewaktu ia sedang salat, lalu memanggil:
'Wahai Juraij!' Maka Juraij berkata (dalam hatinya): 'Ya Rabb! Ibuku atau
salatku?' Lalu ia melanjutkan salatnya, sehingga ibunya pergi esok harinya
lagi, ibunya datang menemuinya sewaktu ia sedang salat, lalu memanggil: 'Wahai
Juraij!' Maka Juraij berkata (dalam hatinya): 'Ya Rabb! Ibuku atau salatku?'
Lalu ia melanjutkan salatnya. Maka ibunya berdoa: 'Ya Allah, janganlah Engkau
matikan dia sebelum ia melihat wajah wanita-wanita pezina (al-mūmisāt [Al-Mūmisāt
(المومسات): Bentuk jamak dari mūmisah,
yaitu wanita pezina yang terang-terangan melakukan perbuatan tersebut]).'
Kemudian
Bani Israil saling membicarakan tentang Juraij dan ibadahnya. Di sana ada
seorang wanita pezina yang kecantikannya sering dijadikan perumpamaan (yutamtsalu
bi husnihā [Yutamtsalu bi husnihā (يتمثل بحسنها): Kecantikannya
dijadikan perumpamaan (sangat terkenal keindahannya)]). Wanita itu berkata:
'Jika kalian mau, aku sungguh bisa memfitnahnya untuk kalian.' (Nabi) bersabda:
Maka wanita itu merayu Juraij, namun Juraij tidak menoleh kepadanya sedikit
pun. Lalu wanita itu mendatangi seorang penggembala yang biasa berteduh di
biara Juraij, menyerahkan dirinya kepadanya, lalu penggembala itu menggaulinya
hingga ia hamil.
Ketika
melahirkan, wanita itu berkata: 'Anak ini adalah hasil hubungan dengan Juraij.'
Maka orang-orang mendatangi Juraij, menyuruhnya turun, merubuhkan biaranya, dan
memukulinya. Juraij bertanya: 'Ada apa dengan kalian?' Mereka menjawab: 'Engkau
telah berzina dengan wanita pezina ini hingga ia melahirkan anakmu.' Juraij
berkata: 'Di mana bayi itu?' Maka mereka membawanya. Juraij berkata: 'Biarkan
aku salat terlebih dahulu.' Lalu ia salat.
Setelah
selesai salat, ia mendatangi bayi tersebut lalu menekan/menusuk perutnya dan
bertanya: 'Wahai bayi, siapakah ayahmu?' Bayi itu menjawab: 'Si Fulan sang
penggembala.' (Nabi) bersabda: Maka orang-orang mendatangi Juraij, menciuminya,
dan mengusap-usap tubuhnya (memohon berkah). Mereka berkata: 'Kami akan
membangun kembali biaramu dari emas.' Juraij berkata: 'Tidak, kembalikanlah
dari tanah sebagaimana semula.' Maka mereka pun melakukannya.
Ketika
seorang bayi sedang menyusu pada ibunya, lewatlah seorang laki-laki penunggang
hewan tumpangan yang gagah/tangkas (fārihah [Al-Fārihah (الفارهة): Hewan tumpangan
yang lincah, kuat, dan tangkas]) dengan penampilan yang sangat bagus (syārah
hasanah [Syārah hasanah (شارة حسنة): Penampilan/pakaian yang sangat bagus dan
indah]). Maka ibunya berdoa: 'Ya Allah, jadikanlah anakku seperti orang ini.'
Maka bayi itu menghentikan isapannya pada puting susu, lalu menoleh dan
memandang laki-laki itu seraya berdoa: 'Ya Allah, jangan jadikan aku seperti
dia.' Kemudian ia kembali mengisap puting susu ibunya dan melanjutkan
menyusu."
(Abu
Hurairah) berkata: "Seolah-olah aku sedang melihat Rasulullah shallallāhu
'alaihi wa sallam menirukan cara bayi itu menyusu dengan memasukkan jari
telunjuknya ke dalam mulut beliau lalu mengisapnya."
(Nabi)
bersabda: "Lalu mereka melewati seorang budak perempuan yang sedang mereka
pukuli seraya berkata: 'Engkau telah berzina! Engkau telah mencuri!' Sedangkan
budak perempuan itu hanya mengucapkan: 'Hasbunallāhu wa ni'mal-wakīl'
(Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung). Maka ibu bayi itu
berdoa: 'Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia.' Maka bayi itu
menghentikan susuannya, memandang budak perempuan itu, lalu berdoa: 'Ya Allah,
jadikanlah aku seperti dia.' Maka di situlah mereka berdua saling berbicara (tarāja'ā
al-hadīts [Tarāja'ā al-hadīts (تراجعا الحديث): Sang ibu mulai
mengajak bayinya berbicara, yang mana sebelumnya sang ibu tidak menganggap bayi
itu sanggup untuk diajak berbicara]).
Ibunya
berkata: 'Celaka kamu! (Halqā [Halqā (حلقى): Semoga Allah menimpakan rasa sakit pada
tenggorokanmu. Kalimat ungkapan khas Arab yang tidak bermaksud sebagai doa
keburukan secara harfiah]), lewat seorang laki-laki yang sangat tampan rupanya
lalu aku berdoa: Ya Allah jadikanlah anakku seperti dia, tetapi engkau malah
berdoa: Ya Allah jangan jadikan aku seperti dia. Lalu mereka melewati budak
perempuan ini seraya memukulinya dan berkata engkau telah berzina, engkau telah
mencuri, lalu aku berdoa: Ya Allah jangan jadikan anakku seperti dia, tetapi
engkau justru berdoa: Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.'
Bayi
itu menjawab: 'Laki-laki (yang lewat) itu adalah seorang penguasa yang
kejam/sombong (jabbār), maka aku berdoa: Ya Allah jangan jadikan aku
seperti dia. Sedangkan budak perempuan ini, mereka dituduh berzina padahal ia
tidak berzina, dan dituduh mencuri padahal ia tidak mencuri, maka aku berdoa:
Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.'" [HR. Bukhari – Fath al-Bārī
6 (3436); HR. Muslim (2550) dan lafal ini miliknya]
- Dari Umar bin al-Khattab radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ
تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ
الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
"Seandainya
kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya
Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki
kepada burung; ia pergi di pagi hari (taghdū [Taghdū (تغدو): Pergi di awal siang
(pagi hari)]) dalam keadaan perut kosong/lapar (khimāshan), dan pulang di
sore hari (tarūhu [Tarūhu (تروح): Pulang di akhir siang (sore hari)]) dalam keadaan perut
kenyang (biṭhānan)."
[HR. Al-Tirmidzi (2324) dan ia berkata: "Hadis ini hasan shahih";
HR. Ibn Majah (4164) dan ini adalah lafalnya; HR. Ahmad (1/30), Ahmad Syakir
berkata (1/343): "Sanadnya shahih"; HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab
al-Īmān (3/378)]
- Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat...Maka aku
melihat seorang nabi yang bersama kelompok kecil (al-ruhaith [Al-Ruhaith
(الرهيط):
Bentuk tasghir (pengecilan) dari kata rahth, yaitu sekelompok orang
yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang]), seorang nabi yang bersama satu
dan dua orang saja, serta seorang nabi yang tidak bersama seorang pun.
Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku kumpulan orang (sawād) yang sangat
besar, maka aku mengira bahwa mereka adalah umatku. Lalu dikatakan
kepadaku: 'Ini adalah Musa shallallāhu 'alaihi wa sallam beserta
kaumnya. Akan tetapi, lihatlah ke ufuk!' Maka aku melihat, dan ternyata
terdapat kumpulan orang yang sangat besar. Lalu dikatakan kepadaku:
'Lihatlah ke ufuk yang lain!' Ternyata di sana terdapat kumpulan orang
yang sangat besar pula. Dikatakan kepadaku: 'Ini adalah umatmu, dan
bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa
hisab dan tanpa azab.'
Kemudian
beliau bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang pun saling berbincang
(berdebat) tentang siapakah mereka yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa
azab tersebut. Sebagian mereka berkata: 'Mungkin mereka adalah orang-orang yang
bersahabat (menjadi sahabat) Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam.'
Sebagian lagi berkata: 'Mungkin mereka adalah orang-orang yang lahir dalam
Islam dan tidak pernah mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun,' serta mereka
menyebutkan beberapa hal lainnya.
Maka
Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam keluar menemui mereka lalu
bersabda: "Apa yang sedang kalian perbincangkan?" Lalu mereka
memberitahukan kepada beliau. Beliau bersabda:
هُمُ الَّذِينَ لَا
يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرِقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ
"Mereka
adalah orang-orang yang tidak meruqyah (orang lain) dan tidak meminta diruqyah
(Lā yastarqun (لا
يسترقون): Tidak meminta/memohon kepada seorang pun untuk meruqyah
mereka), tidak menganggap sial sesuatu (Lā yatathayyarūn (لا يتطيرون): Tidak menganggap
sial (tidak merasa sial karena pertanda alam/hewan)), dan hanya kepada Rabb
mereka bertawakal."
Maka
'Ukasyah bin Mihshan bangkit seraya berkata: "Berdoalah kepada Allah agar
menjadikan aku termasuk bagian dari mereka!" Beliau bersabda: "Engkau
termasuk bagian dari mereka." Kemudian bangkit laki-laki lain seraya
berkata: "Berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk bagian dari
mereka!" Beliau bersabda: "Engkau telah didahului oleh
'Ukasyah." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī (6541, 5705); HR. Muslim
(220) dan lafal ini miliknya]
[Hadis-Hadis
yang Diriwayatkan Mengenai Makna (Tawakal)]
- Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallāhu
'anhumā, bahwasanya ia berkata: Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
إِذَا أَتَيْتَ
مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ
الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ
أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ،
لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آَمَنْتُ
بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. فَإِنْ مُتَّ
مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا
تَتَكَلَّمُ بِهِ
"Apabila
engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk
salat. Kemudian berbaringlah di atas lambung kananmu, lalu ucapkanlah: 'Ya
Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku
sandarkan punggungku kepada-Mu karena rasa harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada
tempat berlindung dan tempat selamat dari (azab)-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Ya
Allah, aku beriman kepada Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada
Nabi-Mu yang telah Engkau utus.' Jika engkau meninggal pada malammu itu, maka
engkau meninggal di atas fitrah. Dan jadikanlah kalimat-kalimat tersebut
sebagai ucapan terakhir yang engkau katakan."
(Al-Bara')
berkata: Maka aku mengulangi bacaan tersebut di hadapan Nabi shallallāhu
'alaihi wa sallam. Ketika aku sampai pada kalimat: "Allāhumma
āmantu bikitābikal-ladzī anzalta" [Ya Allah, aku beriman kepada
Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan], aku mengucapkan: "wa
rasūlika" [dan Rasul-Mu]. Beliau bersabda: "Tidak (bukan
rasulmu), melainkan: 'wa nabiyyikal-ladzī arsalta' [dan Nabi-Mu yang telah
Engkau utus]." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 1 (247) dan lafal
ini miliknya; HR. Muslim (2710)]
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: "Dahulu ada dua orang bersaudara pada zaman
Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam. Salah seorang dari keduanya
selalu mendatangi Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam (untuk
menuntut ilmu), sedangkan yang lainnya bekerja mencari nafkah. Lalu
saudaranya yang bekerja itu mengadukan saudaranya (yang tidak bekerja)
kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda:
لَعَلَّكَ تُرْزَقُ
بِهِ
"Boleh
jadi engkau diberi rezeki justru disebabkan oleh keberadaan saudaramu
itu." [HR. Al-Tirmidzi (2345) dan ia berkata: "Hasan
shahih."]
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى صَلَاةً
لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ - ثَلَاثًا - غَيْرُ
تَمَامٍ
"Barang
siapa yang melaksanakan suatu salat lalu tidak membaca Ummul Qur'an (Surah
Al-Fatihah) di dalamnya, maka salatnya itu kurang (Khidāj (خداج): Yaitu
berkurang/cacat. Dikatakan khadajat al-nāqatu apabila unta betina
melahirkan anaknya sebelum waktunya, dan akhdajahā apabila ia melahirkan
anaknya dalam keadaan cacat/tidak sempurna) —beliau mengucapkannya tiga
kali— tidak sempurna."
Maka
ditanyakan kepada Abu Hurairah: "Sesungguhnya kami berada di belakang
imam?" Lalu Abu Hurairah menjawab: "Bacalah Al-Fatihah itu dalam
hatimu (secara lisan yang hanya didengar diri sendiri), karena aku pernah
mendengar Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah
Ta'ala berfirman:
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ
بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِلْعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ
الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى:
حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ، قَالَ اللهُ
تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} ،
قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي - وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي - فَإِذَا
قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي
وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِلْعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} ، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِلْعَبْدِي مَا
سَأَلَ
'Aku
membagi salat (bacaan Al-Fatihah) [Yang dimaksud dengan al-shalāh di
sini adalah Surah Al-Fatihah, dinamakan demikian karena salat tidak sah kecuali
dengannya] antara Diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua separuh, dan bagi
hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba itu mengucapkan: Segala puji bagi
Allah, Rabb seluruh alam [QS. Al-Fatihah: 2], Allah Ta'ala berfirman: Hamba-Ku
telah memuji-Ku. Dan apabila ia mengucapkan: Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang [QS. Al-Fatihah: 3], Allah Ta'ala berfirman: Hamba-Ku telah disanjung
oleh-Ku. Dan apabila ia mengucapkan: Pemilik hari pembalasan [QS. Al-Fatihah:
4], Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku —dan sesekali beliau
bersabda: Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya (tafwīdh) kepada-Ku—. Dan
apabila ia mengucapkan: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada
Engkaulah kami memohon pertolongan [QS. Al-Fatihah: 5], Allah berfirman: Ini
adalah antara Diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Dan
apabila ia mengucapkan: Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang
dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat [QS. Al-Fatihah: 6-7], Allah
berfirman: Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.'"
[HR. Muslim (395)]
- Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
مَنْ نَزَلَتْ بِهِ
فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ نَزَلَتْ بِهِ
فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِاللهِ فَيُوشِكُ اللهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ
"Barang
siapa yang ditimpa oleh suatu kemelaratan/kesulitan hidup lalu ia mengadukannya
(menggantungkan solusinya) kepada manusia, niscaya tidak akan terpenuhi
kemelaratannya itu. Namun barang siapa yang ditimpa oleh suatu kemelaratan lalu
ia mengadukannya kepada Allah, maka hampir pasti Allah akan memberikan rezeki
baginya dengan segera atau lambat (di kemudian hari)." [HR.
Al-Tirmidzi (2326) dan ini adalah lafalnya, ia berkata: "Hasan shahih
gharib"; HR. Abu Daud (1645); HR. Ahmad dengan takhrij Ahmad Syakir
(5/257), ia berkata: "Shahih", hadis nomor (3696).]
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا
طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ: الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ، الْكَلِمَةُ
الطَّيِّبَةُ
"Tidak
ada penularan penyakit (dengan sendirinya tanpa takdir Allah) dan tidak ada
thiyarah (anggapan sial karena sesuatu), dan hal yang menakjubkanku adalah fa'l
(harapan baik), yaitu kata-kata yang baik, kata-kata yang indah." [HR.
Bukhari – Fath al-Bārī 10 (5756); HR. Muslim (2224) dan lafal ini
miliknya]
- Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, bahwasanya ia berkata: Suatu hari aku pernah berada di
belakang Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam (di atas hewan
tumpangan), lalu beliau bersabda:
يَا غُلَامُ إِنِّي
أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ
تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ
بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ
بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوْ
اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ
كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
"Wahai
anak muda, sesungguhnya aku hendak mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan
mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau memohon, maka mohonlah kepada Allah;
dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah bahwasanya seandainya seluruh umat bersatu untuk memberikan suatu
manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu melainkan
dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu. Dan seandainya mereka
bersatu untuk memudaratkanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu
memudaratkanmu melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu.
Pena-pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah
mengering." [HR. Al-Tirmidzi (2516) dan lafal ini miliknya, ia
berkata: "Hadis ini hasan shahih"; HR. Ahmad (1/293, 303),
Syaikh Ahmad Syakir berkata: "Shahih" (4/293) nomor (2763).]
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ
"Akan
masuk surga kaum-kaum yang hati mereka seperti hati burung (dalam hal tawakal
dan kepasrahan kepada Allah)." [HR. Muslim (2840). Maknanya adalah
bahwasanya hati mereka seperti hati burung dalam hal ketawakalan (bersandar
sepenuhnya kepada Allah).]
[Contoh
Praktis/Aplikatif dari Kehidupan Nabi Shallallāhu 'Alaihi wa Sallam
dalam Hal (Tawakal)]
- Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Abu Bakar radhiyallāhu 'anhu membeli
sebuah pelana (rahl) dari 'Azib seharga tiga belas dirham. Lalu Abu
Bakar berkata kepada 'Azib: "Suruhlah Al-Bara' agar ia membawakan
pelanaku ini ke rumahku." 'Azib menjawab: "Tidak, sampai engkau
menceritakan kepada kami bagaimana yang kalian perbuat—engkau dan
Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam—ketika kalian berdua
keluar meninggalkan Makkah sedangkan kaum musyrikin mengejar kalian."
Abu
Bakar berkata: Kami berangkat dari Makkah, lalu kami berjalan sepanjang malam
dan siang hari (أحيينا
أو سرينا) hingga sampai pada waktu tengah hari (zuhur) dan matahari
terasa amat terik (أظهرنا
وقام قائم الظهيرة). Maka aku melayangkan pandanganku,
melihat apakah ada tempat berteduh agar kami bisa bernaung di sana. Tiba-tiba
aku melihat sebuah batu besar, lalu aku mendatangi batu tersebut dan melihat
sisa bayangan darinya. Aku pun merapikan tempat itu dan membentangkan alas
tidur untuk Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam di sana.
Kemudian
aku berkata kepada beliau: "Berbaringlah wahai Nabi Allah!" Maka Nabi
shallallāhu 'alaihi wa sallam berbaring, lalu aku pergi memperhatikan
sekelilingku: apakah aku melihat ada seseorang dari kejaran musuh (al-thalab)?
Tiba-tiba aku bertemu seorang penggembala kambing yang sedang menggiring
kambing-kambingnya menuju batu besar tersebut dengan maksud mencari tempat
berteduh seperti yang kami inginkan.
Maka
aku bertanya kepadanya: "Milik siapakah engkau wahai anak muda?"
Penggembala itu menjawab: "Milik seorang laki-laki dari suku Quraisy"
—ia menyebutkan namanya lalu aku mengenalnya—. Aku bertanya lagi: "Apakah
pada kambingmu ada susu?" Ia menjawab: "Ya." Aku bertanya:
"Maukah engkau memerah susu untuk kami?" Ia menjawab: "Ya."
Maka aku menyuruhnya, lalu ia memegang salah satu kaki belakang seekor kambing
dari kawannya.
Kemudian
aku menyuruhnya untuk membersihkan puting susunya dari debu, lalu aku
menyuruhnya menepuk kedua telapak tangannya. (Al-Bara') berkata: Beginilah
beliau mencontohkannya —menepukkan salah satu telapak tangan ke telapak tangan
lainnya—. Lalu penggembala itu memerah sedikit susu untukku.
Sebelumnya
aku telah menyiapkan sebuah wadah air (idāwah) untuk Rasulullah shallallāhu
'alaihi wa sallam yang muaranya dilapisi kain. Lalu aku menuangkan air ke
susu tersebut hingga bagian bawahnya dingin. Kemudian aku pergi membawanya
kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam dan aku mendapati beliau telah
terbangun. Aku berkata: "Minumlah wahai Rasulullah!" Maka beliau
minum hingga aku merasa puas/senang.
Kemudian
aku berkata: "Telah tiba waktunya melanjutkan perjalanan wahai
Rasulullah." Beliau bersabda: "Tentu." Maka kami pun
melanjutkan perjalanan sedangkan orang-orang (kaum musyrikin) tetap mengejar
kami. Dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berhasil menyusul kami selain
Suraqah bin Malik bin Ju'tsum di atas kudanya.
Maka
aku berkata: "Pengejar itu telah menyusul kita wahai Rasulullah!"
Lalu beliau bersabda:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ
اللهَ مَعَنَا
"Janganlah
engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." [HR. Bukhari – Fath
al-Bārī 7 (3652) dan lafal ini miliknya; HR. Muslim (2009) sebagian darinya]
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
apabila hendak berperang selalu berdoa:
«اللَّهُمَّ
أَنْتَ عَضُدِي وَنَصِيرِي، بِكَ أَحُولُ، وَبِكَ أَجُولُ، وَبِكَ أَصُولُ، وَبِكَ
أُقَاتِلُ»
"Ya
Allah, Engkaulah pelindungku ('adhudī* / penolongku) dan penolongku. Dengan
bantuan-Mu aku bergerak/berdaya, dengan bantuan-Mu aku melangkah, dengan
bantuan-Mu aku menyerang, dan dengan bantuan-Mu aku berperang."* [HR.
Al-Tirmidzi (3584) dan ia berkata: "Hasan gharib", serta ia
menjelaskan: " 'Adhudī ' maknanya penolongku ('awnī)";
HR. Abu Daud (2632) dan ini adalah lafalnya. Al-Mizzi menisbahkannya dalam Al-Tuhfah
(1/342) kepada Sunan Al-Nasā'ī al-Kubrā dan kitab 'Amal al-Yawm wa
al-Laylah karya Al-Nasa'i pula]
- Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa
sallam biasa mengucapkan (dalam doanya):
«اللَّهُمَّ
لَك أَسْلَمْتُ، وَبِك آَمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ،
وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ
أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ
يَمُوتُونَ»
"Ya
Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku
bertawakal, kepada-Mu aku kembali (bertobat), dan dengan (hujah)-Mu aku
berdebat. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keagungan-Mu, tidak ada
tuhan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkanku. Engkaulah Dzat Yang
Mahahidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia semuanya akan
mati." [HR. Muslim (2717).]
- Dari Buraidah al-Aslami radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam
tidak pernah menganggap sial (thiyarah) terhadap sesuatu pun. Dan
apabila beliau mengutus seorang petugas ('āmil), beliau menanyakan
namanya; jika beliau menyukai nama tersebut, beliau merasa gembira dan
berseri-seri tampak kegembiraan itu pada wajah beliau. Namun jika beliau
membenci namanya, tampak kebencian akan hal itu pada wajah beliau. Dan
apabila beliau memasuki suatu negeri/desa, beliau menanyakan namanya; jika
beliau menyukai nama tersebut, beliau merasa gembira dan berseri-seri
tampak kegembiraan itu pada wajah beliau. Namun jika beliau membenci
namanya, tampak kebencian akan hal itu pada wajah beliau." [HR. Abu
Daud (3920) dan ini adalah lafalnya. Pentahkik kitab Jāmi' al-Ushūl
(7/628) berkata: "Sanadnya shahih"; HR. Al-Tirmidzi
(1818) dan ia berkata: "Hadis ini gharib, dan Syu'bah menghentikan
sanadnya (mauquf) pada Ibn 'Umar, dan itu lebih kuat menurutku serta lebih
shahih."]
- Dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa
sallam memegang tangan seorang laki-laki yang menderita penyakit kusta
(Majdzūm (مجذوم):
Orang yang tertimpa/terjangkit penyakit kusta (lepra).), lalu beliau
memasukkan tangan laki-laki tersebut bersama tangan beliau ke dalam
piring/nampan makanan, kemudian beliau bersabda:
كُلْ ثِقَةً بِاللهِ
وَتَوَكُّلًا عَلَيْهِ
"Makanlah
dengan penuh rasa percaya (thiqah) kepada Allah dan bertawakal
kepada-Nya." [HR. Abu Daud (3925); HR. Ibn Majah (3542) dan ini adalah
lafalnya]
- Dari Jabir bin 'Abdullah
al-Anshari radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Kami berperang bersama
Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam dalam suatu peperangan ke
arah Najd. Lalu kami mendapati Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
berada di sebuah lembah yang memiliki banyak pohon berduri (Al-'Idhāh
(العضاه):
Setiap pohon yang memiliki duri). Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi
wa sallam singgah di bawah sebuah pohon, lalu menggantungkan pedangnya
pada salah satu dahan pohon tersebut.
(Jabir)
berkata: Orang-orang pun menyebar di lembah tersebut untuk berteduh di bawah
pohon-pohon. (Jabir) berkata: Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
«إِنَّ
رَجُلًا أَتَانِي وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ
قَائِمٌ عَلَى رَأْسِي فَلَمْ أَشْعُرْ إِلَّا وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِي يَدِهِ
فَقَالَ لِي: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟»
"Sesungguhnya
ada seorang laki-laki mendatangiku sewaktu aku sedang tidur, lalu ia mengambil
pedangku. Aku pun terbangun sedangkan ia sudah berdiri di atas kepalaku. Aku
tidak menyadari melainkan pedang itu telah terhunus (Shaltan (صلتا): Terhunus (pedang
yang keluar dari sarungnya)) di tangannya, lalu ia berkata kepadaku:
'Siapakah yang bisa mencegahku (menyelamatkanmu) dariku?'"
Beliau
bersabda: Aku menjawab: "Allah."
Kemudian
ia bertanya untuk kedua kalinya: "Siapakah yang bisa mencegahku
dariku?" Beliau bersabda: Aku menjawab: "Allah."
Beliau
bersabda: "Maka ia sarungkan kembali pedang tersebut (Fa syāma al-sayfa
(فشام السيف): Maka ia
mengembalikan/memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya), dan nah ini
dia orangnya sedang duduk." Kemudian Rasulullah shallallāhu 'alaihi
wa sallam tidak menghukum/mengusik orang tersebut. [HR. Bukhari – Fath
al-Bārī 6 (2910); HR. Muslim (843) dalam Kitab Al-Fadhā'il, dan
lafal ini miliknya]
- Dari Abu Bakar radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Aku berkata kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa
sallam ketika aku berada di dalam gua (Tsur): "Seandainya salah
seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat
kita." Maka beliau bersabda:
مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا
بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا
"Bagaimana
dugaanmu wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang mana Allah adalah pihak
ketiganya?" [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 7 (3653) dan lafal ini
miliknya; HR. Muslim (2381).]
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Dahulu Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam
adalah manusia yang paling baik dan paling pemberani. Pada suatu malam,
penduduk Madinah terkejut/kaget (karena mendengar suara gemuruh), lalu
mereka keluar berjalan ke arah sumber suara tersebut. Lantas Nabi shallallāhu
'alaihi wa sallam menyambut mereka kembali (dari arah suara) sementara
beliau telah memastikan kebenaran berita tersebut (Istabra'a al-khabar
(استبرأ
الخبر): Memastikan dan meneliti hakikat/kebenaran dari berita
tersebut secara langsung). Beliau menunggangi kuda milik Abu Thalhah tanpa
pelana ('uryan) sedang di leher beliau terlingkar pedang, seraya
beliau bersabda:
لَمْ تُرَاعُوا، لَمْ
تُرَاعُوا
"Jangan
takut! Tidak ada yang perlu ditakutkan!" [Lam turā'ū (لم تراعوا): Rasa takut yang
tidak berdasar/menetap, atau tidak ada ketakutan yang perlu menakutkan kalian]
Kemudian
beliau bersabda:
وَجَدْنَاهُ بَحْرًا» –
أَوْ قَالَ: «إِنَّهُ لَبَحْرٌ
"Kami
mendapatinya (kuda ini) sangat cepat lari bagaikan lautan (Wajadnāhu bahran
(وجدناه بحرا): Kami mendapati lari
kuda ini sangat luas, kencang, dan tidak terputus bagaikan lautan)"
—atau beliau bersabda: "Sesungguhnya kuda ini benar-benar bagaikan
lautan." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 6 (2908) dan lafal ini
miliknya; HR. Muslim (2307).]
[Di
Antara Atsar, Perkataan Para Ulama, dan Mufasir Mengenai (Tawakal)]
- Nabi Musa 'alaihis salam
dahulu pernah berdoa: "Ya Allah, milik-Mu lah segala pujian, hanya
kepada-Mu tempat mengadu, Engkaulah tempat memohon pertolongan, kepada-Mu
lah dimohonkan bantuan, kepada-Mu lah tempat bersandar (al-tuklān), dan
tidak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan pertolongan-Mu."
[Majmū' al-Fatāwā (1/112).]
Dari
Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: "Dahulu penduduk
Yaman melakukan ibadah haji tanpa membawa bekal (perbekalan makanan/biaya),
seraya mereka berkata: 'Kami adalah orang-orang yang bertawakal.' Namun apabila
mereka telah sampai di Makkah, mereka meminta-minta kepada orang-orang. Maka
Allah Ta'ala menurunkan ayat: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ
التَّقْوَى} 'Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah
takwa' [QS. Al-Baqarah: 197]." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 3
(1523).]
- Az-Zubair bin al-'Awwam radhiyallāhu
'anhu berkata: *"Orang yang pertama kali menjahrkan (mengeraskan
bacaan) Al-Qur'an di Makkah setelah Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa
sallam adalah 'Abdullah bin Mas'ud. Suatu hari para sahabat Rasulullah
shallallāhu 'alaihi wa sallam berkumpul lalu berkata: 'Demi Allah, kaum
Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur'an ini dibacakan secara keras kepada
mereka sama sekali. Maka siapakah laki-laki yang sanggup
memperdengarkannya kepada mereka?' 'Abdullah bin Mas'ud berkata: 'Aku.'
Mereka berkata: 'Kami mengkhawatirkan keselamatanmu dari tindakan mereka.
Kami hanya menginginkan seorang laki-laki yang memiliki kerabat/kabilah
kuat yang dapat melindunginya dari kaum tersebut jika mereka berniat jahat
kepadanya.'
Ia
menjawab: 'Biarkanlah aku, karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla akan
melindungiku.'
Maka
besok harinya pada waktu dhuha, Ibn Mas'ud pergi hingga sampai di Maqam Ibrahim
sementara kaum Quraisy sedang berada di tempat-tempat perkumpulan mereka. Lalu
ia berdiri di dekat Maqam Ibrahim kemudian membaca dengan meninggikan suaranya:
'Bismillāhir-rahmānir-rahīm. Ar-Rahmān, 'allamal-qur'ān...' [Yaitu ia membaca
Surah Ar-Rahman] Ia terus menghadap ke arah mereka seraya membacanya.
Orang-orang
Quraisy pun memperhatikannya lalu mereka berkata: 'Apa yang diucapkan oleh anak
Ibn Umm 'Abd ini?' Kemudian mereka menyadari: 'Sesungguhnya ia sedang membaca
sebagian dari apa yang dibawa oleh Muhammad!' Maka mereka mendatangi Ibn Mas'ud
lalu memukuli wajahnya, namun ia tetap terus membaca hingga mencapai bacaan
yang dikehendaki Allah.
Kemudian
ia kembali kepada para sahabatnya dalam keadaan wajahnya telah terluka/berbekas
bekas pukulan. Para sahabat berkata: 'Inilah yang kami khawatirkan atas
dirimu.' Ia menjawab: 'Musuh-musuh Allah itu tidak pernah terasa lebih ringan
bagiku daripada saat ini! Jika kalian mau, besok pagi aku akan mendatangi
mereka lagi dengan melakukan hal yang sama.' Mereka berkata: 'Cukuplah bagimu,
sungguh engkau telah memperdengarkan kepada mereka apa yang sangat mereka
benci'."* [Fadhā'il al-Shahābah karya Imam Ahmad (2/837–838); Sirah
Ibn Hisyām (1/314); serta disebutkan oleh Ibn al-Atsir dalam Usd
al-Ghābah (3/56).]
- Dari 'Aun bin 'Abdullah, ia
berkata: Ketika seorang laki-laki sedang berada di sebuah kebun di Mesir
pada masa fitnah Ibn al-Zubair [Fitnah Ibn al-Zubair: Yaitu peristiwa
peperangan/perselisihan antara pihak Ibn al-Zubair dan Al-Hajjaj] dalam
keadaan duka/prihatin sambil menggores-gores tanah dengan sesuatu di
tangannya, tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan tampak (Sanaha lahu
(فسنح
له): Tampak / muncul di hadapannya) di hadapannya seorang
pemilik cangkul (Mashāh (مسحاة): Alat penggali/pengeduk tanah dari
besi (sejenis cangkul atau sekop)).
Orang
tersebut berkata kepadanya: "Wahai Fulan, mengapa aku melihatmu
bermuram durja dan bersedih hati?" Laki-laki itu seolah-olah
memandangnya sebelah mata (Azdarāhu (ازدراه): Memandangnya rendah
/ menganggap remeh kedudukannya) lalu menjawab: "Tidak ada
apa-apa."
Pemilik
cangkul itu berkata: "Apakah karena urusan dunia? Sesungguhnya dunia
itu adalah perhiasan sementara yang dimakan oleh orang baik maupun orang jahat.
Sedangkan akhirat adalah janji yang benar yang diputuskan padanya oleh Raja
Yang Mahakuasa untuk memisahkan antara yang hak dan yang batil."
Ketika
ia mendengar ucapan tersebut darinya, hal itu membuatnya kagum, lalu ia
berkata: "Aku bersedih karena kondisi yang sedang menimpa kaum
muslimin."
Pemilik
cangkul itu berkata: "Sesungguhnya Allah akan menyelamatkanmu
disebabkan oleh rasa kepedulianmu terhadap kaum muslimin. Dan memohonlah! Maka
siapakah orang yang memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla lalu Allah tidak
memberinya, atau berdoa kepada-Nya lalu tidak dikabulkan-Nya, atau bertawakal
kepada-Nya lalu tidak dicukupkan-Nya, atau percaya penuh kepada-Nya lalu tidak
diselamatkan-Nya?"
(Aun)
berkata: Maka terikatlah dengan doa tersebut (Fal'aliqtu lid-du'ā' (فعلقت لدعاء): Maka aku
memegang/menerapkan doa tersebut dan menganggapnya sebagai kesempatan emas): "Ya
Allah, selamatkanlah aku dan selamatkanlah (orang lain) dari kejahatanku."
Maka fitnah/ujian tersebut pun sirna (Fatamahhalat (فتمحلت): Maka tersingkap dan
sirnalah fitnah/bahaya tersebut) dan ia tidak tertimpa masalah sedikit pun di
antara mereka." [Al-Tawakkul karya Ibn Abi al-Dunya (52), dan
pentakhrijnya berkata: "Sanadnya shahih."]
- Said bin Jubair rahimahullāh
berkata:
"Tawakal
kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah pokok/simpul dari seluruh keimanan."
[Al-Zuhd karya Hannad bin al-Sari (1/304).]
- 'Iyadh al-Asy'ari rahimahullāh
Ta'ala berkata:
"Aku
menghadiri Perang Yarmuk dan saat itu kami dipimpin oleh lima orang panglima:
Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, Ibn Hasanah, Khalid bin
al-Walid, dan 'Iyadh. 'Umar radhiyallāhu 'anhu telah berpesan: 'Jika
terjadi kecamuk perang, maka pemimpin kalian adalah Abu 'Ubaidah.'
(Iyadh)
berkata: Maka kami menulis surat kepada Abu 'Ubaidah bahwasanya kematian telah
mengepung kami dan kami memohon bantuan pasukan darinya. Lalu ia membalas surat
kepada kami: 'Sungguh telah sampai kepadaku surat kalian yang meminta
bantuan pasukan kepadaku. Ketahuilah, aku akan menunjukkan kalian kepada Dzat
yang bantuan pertolongan-Nya jauh lebih perkasa dan pasukan-Nya jauh lebih siap
hadir, yaitu Allah 'Azza wa Jalla. Maka mohonlah pertolongan kepada-Nya, karena
sesungguhnya Muhammad shallallāhu 'alaihi wa sallam telah diberi kemenangan
pada Perang Badar dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit daripada jumlah
kalian saat ini. Maka apabila suratku ini telah sampai kepada kalian,
perangilah mereka dan jangan lagi mengirim surat kepadaku.'
Lalu
kami pun memerangi mereka dan berhasil mengalahkan mereka serta membunuh mereka
hingga jarak empat farsakh (jauhnya), dan kami mendapatkan harta
rampasan perang." [HR. Ahmad (1/49).]
- Syaqiq bin Salamah (Abu
Wa'il) berkata:
"Kami
keluar pada suatu malam yang mencekam, lalu kami melewati sebuah hutan lebat (Al-Ajamah
(الأجمة): Pohon-pohon yang
sangat banyak, lebat, dan saling melilit/kerung) yang di dalamnya terdapat
seorang laki-laki sedang tertidur, sedangkan kuda tunggangannya dalam keadaan
terikat sedang merumput di dekat kepalanya. Maka kami pun membangunkannya dan
berkata kepadanya: 'Apakah engkau tidur di tempat seperti ini?'
(Syaqiq)
berkata: Lalu laki-laki itu mengangkat kepalanya dan berkata: 'Sesungguhnya
aku malu kepada Pemilik 'Arasy jika Dia mengetahui bahwa aku takut kepada
sesuatu selain-Nya.' Kemudian ia meletakkan kembali kepalanya lalu
tertidur." [Al-Zuhd karya Hannad bin al-Sari (1/306), pentahkiknya
berkata: "Sanadnya shahih."]
- Imam Ahmad rahimahullāh
Ta'ala berkata:
"Sepatutnya
bagi seluruh manusia untuk bertawakal kepada Allah 'Azza wa Jalla, namun mereka
juga harus membiasakan diri mereka untuk bekerja/mencari nafkah (ikhtiar).
Barang siapa yang berpendapat menyelisihi perkataan ini, maka itu adalah
perkataan orang yang dhalal/bodoh (ahmaq)." [Al-Ādāb al-Syar'iyyah
karya Ibn Muflih (3/270).]
- Beliau (Imam Ahmad) juga
berkata:
"Tidak
bergantung kepada manusia dengan cara bekerja mencari rezeki adalah hal yang
lebih kami sukai daripada duduk berdiam diri menunggu apa yang ada di tangan
manusia." [Sumber yang sama (Al-Ādāb al-Syar'iyyah), pada
halaman yang sama]
- Beliau (Imam Ahmad) juga
berkata:
"Hakekat
jujurnya orang yang bertawakal kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah ia bertawakal
kepada Allah tanpa ada sedikit pun di dalam hatinya rasa berharap kepada
seorang manusia untuk membawakannya sesuatu. Apabila kondisinya sudah demikian,
niscaya Allah akan memberi rezeki kepadanya dan ia benar-benar menjadi seorang
yang bertawakal." [Sumber yang sama (Al-Ādāb al-Syar'iyyah),
pada halaman yang sama]
- Ibn al-Qayyim rahimahullāh
Ta'ala berkata:
"Tawakal
merupakan salah satu sebab terkuat yang dengannya seorang hamba dapat menolak
gangguan, kezaliman, dan permusuhan makhluk yang tidak sanggup ia
tanggung." [Al-Tafsīr al-Qayyim karya Ibn al-Qayyim (hal. 587).]
- Ibn al-Qayyim dan
Al-Fairuzabadi rahimahumallāh Ta'ala berkata:
"Tawakal
adalah separuh dari agama, dan separuh keduanya adalah al-inābah
(kembali/bertobat kepada Allah). Karena sesungguhnya agama itu terdiri dari
al-isti'ānah (memohon pertolongan) dan al-'ibādah (beribadah). Maka tawakal itu
adalah al-isti'ānah, sedangkan al-inābah adalah al-'ibādah." [Madārij
al-Sālikīn karya Ibn al-Qayyim (2/118), dan Bashā'ir Dzawī al-Tamyīz
karya Al-Fairuzabadi (2/315).]
[Di
Antara Manfaat (Tawakal)]
- Merupakan bagian dari
kesempurnaan iman dan kebaikan keislaman seseorang.
- Mendatangkan kecintaan Allah
Ta'ala, pertolongan-Nya, kemenangan dari-Nya, serta dukungan-Nya.
- Senantiasa memohon
pertolongan dari Allah Sang Maha Raja, karena keyakinan orang yang
bertawakal akan ketidakmampuan (kelemahan total) dirinya untuk
meraih apa yang ia inginkan, serta kesempurnaan kekuasaan Allah untuk
mewujudkan segala yang Dia kehendaki dan bahkan di atas apa yang
diinginkan hamba-Nya.
- Mendapatkan perlindungan dan
benteng dari setan yang terkutuk serta dari kejahatan manusia yang
tercela.
- Menjaga diri agar tetap
berada di batas-batas syariat dan tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang
diharamkan.
- Meninggalkan sikap saling
berdesakan/berebut (harta/kedudukan) dengan manusia, karena orang yang
bertawakal tidak takut kehilangan apa pun yang telah ditakdirkan untuknya.
- Memutus rasa tamak/kerakusan
terhadap apa yang ada di tangan manusia karena bertawakal dan percaya
penuh pada apa yang ada di sisi Allah.
- Melahirkan ketenangan jiwa
dan kestabilan keadaan hidup.
- Tidak menghalangi seseorang
untuk mengambil sebab-sebab (ikhtiar) yang disyariatkan dan
dibolehkan, seraya tetap terbebas dari belenggu ketergantungan pada
sebab-sebab tersebut.
- Mewujudkan ketaatan kepada
Allah dan Rasul-Nya shallallāhu 'alaihi wa sallam.
- Meraih keridaan Allah,
sehingga Allah memberikan jalan keluar baginya dan menghapuskan
kesalahan-kesalahannya.
- Menyiapkan pelakunya untuk
meraih keberuntungan menemani para nabi di dalam surga yang penuh
kenikmatan.
- Termasuk salah satu sebab
terbukanya kelapangan rezeki.
- Dengannya diperoleh
pertolongan yang sempurna dari Allah 'Azza wa Jalla, sehingga menolak dari
orang yang bertawakal kejahatan orang-orang jahat, baik dari kalangan
setan maupun dari setiap pihak yang berbuat tipu daya kepadanya.
Sumber:
Ibn
Humayd, Ṣāliḥ ibn
‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Naḍrat
an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li
an-Nashr wa at-Tawzī‘
Comments
Post a Comment