Tawakal

[Tawakal]

Ayat-ayat: 53 | Hadis-hadis: 27 | Atsar-atsar: 12

[Tawakal secara Bahasa (Etimologi):]

Al-Tawakkul (التوكل) merupakan bentuk masdar (kata benda abstrak) dari kata kerja tawakkala – yatawakkalu (توكل - يتوكل). Kata ini diambil dari akar kata (waw - kaf - lam / و ك ل) yang menunjukkan arti bersandar/bergantung kepada pihak lain dalam suatu urusan. Di antaranya adalah kata al-tawakkul, yaitu menampakkan kelemahan/ketidakmampuan dalam suatu urusan dan bersandar kepada pihak lain.

Dikatakan wākala fulānun (واكل فلان) apabila seseorang menyia-nyiakan urusannya karena bersandar/menyerahkannya kepada orang lain. Kata al-wikāl (الوكال) pada binatang ternak/tumpangan bermakna berjalan hanya dengan mengikuti jalannya binatang lain.

Al-Raghib al-Ashfahani berkata: Al-Tawkīl (التوكيل) artinya engkau bersandar kepada selainmu dan menjadikannya sebagai wakil/pengganti dirimu. Dikatakan tawākala al-qawmu (تواكل القوم) apabila setiap orang dalam kelompok tersebut saling bersandar (melempar tanggung jawab) satu sama lain. Bentuk nama (ism) dari al-tawkīl adalah al-wikālah atau al-wakālah (با لفتح والكسر [bisa dibaca dengan fathah maupun kasrah pada huruf waw]). Adapun bentuk nama lainnya adalah al-tuklān (التكلان).

Engkau mengatakan: Ittakaltu 'alā fulānin fī amrī (اتكلت على فلان في أمري) [Aku bersandar kepada si Fulan dalam urusanku] apabila engkau mengandalkannya. Dikatakan pula: Fulānun wukalatun aw tukalatun (فلان وكلة أو تكلة), artinya orang yang lemah/tidak berdaya yang menyerahkan urusannya kepada orang lain. Sebagaimana dikatakan: Farasun wākilun (فرس واكل), yaitu kuda yang bersandar/mengandalkan penunggangnya dalam berlari sehingga membutuhkan pukulan (cemeti agar mau berlari).

Adapun al-mutawakkil 'alallāh (orang yang bertawakal kepada Allah) adalah orang yang mengetahui bahwa Allah adalah Penjamin rezeki dan urusannya, sehingga ia hanya bersandar kepada-Nya semata dan tidak bertawakal kepada selain-Nya.

Ibn Sidah berkata: Dikatakan wakala billāhi, tawakkala 'alaihi, dan ittakala (وكل بالله وتوكل عليه واتكل) memiliki makna yang sama, yaitu berserah diri kepada-Nya. Dikatakan tawakkala bil-amri apabila seseorang menjamin untuk melaksanakannya. (Kalimat) Wakkaltu amrī ilā fulānin bermakna aku menyandarkan urusanku kepadanya dan mengandalkannya dalam urusan tersebut. Dikatakan wakkala fulānan apabila ia menyerahkan urusannya kepadanya karena percaya akan kecukupannya (kemampuannya), atau karena ia merasa lemah/tidak mampu mengurus urusannya sendiri. Dan wakala ilaihi al-amra bermakna menyerahkan urusan kepadanya, sedangkan wakala-hū ilā ra'yihī waklan wa wukūlan artinya meninggalkannya/menyerahkannya kepada pendapatnya sendiri. [Maqāyīs al-Lughah (6/136) (dengan sedikit penyesuaian), Al-Mufradāt karya Al-Raghib (hal. 531), Al-Shihāh (5/1845), dan Lisān al-'Arab (8/4909)]

[Al-Wakīl di Antara Asmaulhusna (Nama-Nama Allah Yang Mahaindah):]

Ibn al-Atsir berkata: Mengenai nama-nama Allah Ta'ala, Al-Wakīl (الوكيل) adalah Pengurus/Pengelola Yang Menjamin rezeki para hamba. Hakikatnya adalah bahwa Dia berdiri sendiri secara mandiri dalam mengurus urusan pihak yang diwakilkan/diserahkan kepada-Nya. [Al-Nihāyah (5/221)]

Al-Ghazali berkata: Al-Wakīl adalah Dzat yang kepadanya segala urusan diserahkan (al-mūkalu ilaihi al-umūr). Namun, pihak yang diserahi urusan (al-mūkalu ilaihi) terbagi menjadi dua kelompok:

  1. Pihak yang hanya diserahi sebagian urusan saja, dan ini bersifat kekurangan (nāqish).
  2. Pihak yang diserahi seluruh urusan secara mutlak, dan hal ini tidak ada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pihak yang diserahi urusan juga terbagi menjadi:

  1. Pihak yang berhak diserahi urusan bukan karena zatnya sendiri, melainkan karena adanya pelimpahan wewenang (tafwīdh) dan penunjukan (tawkīl). Ini pun bersifat kekurangan (nāqish), karena ia butuh kepada pelimpahan wewenang dan penunjukan tersebut.
  2. Pihak yang berhak secara zat-Nya sendiri untuk diserahi segala urusan dan menjadi tempat bertawakal bagi seluruh hati, tanpa memerlukan penunjukan maupun pelimpahan wewenang dari pihak lain. Dzat itulah Al-Wakīl al-Muthlaq (Wakil yang Mutlak).

Selain itu, al-wakīl (wakil/pengurus) terbagi pula menjadi:

  1. Pihak yang menunaikan apa yang diwakilkan kepadanya secara sempurna tanpa ada kekurangan sedikit pun.
  2. Pihak yang tidak mampu menunaikan semuanya.

Maka Al-Wakīl al-Muthlaq adalah Dzat yang segala urusan diserahkan kepada-Nya, Maha Mampu/Kaya untuk melaksanakannya, dan Maha Sempurna dalam menuntaskannya. Dan Dzat tersebut hanyalah Allah Ta'ala semata [Al-Maqshad al-Asnā hal. 129].

Lafal Al-Wakīl telah disebutkan di dalam Al-Qur'an al-Karim berkali-kali [Lihat bukti-bukti/dalil-dalil Al-Qur'an nomor 10, 11, 14, 15, 16, 17, 19, 21, dan 24, yad], dan para ahli tafsir menyebutkan beberapa penafsiran mengenainya, di antaranya bermakna: Hafīzhā (Maha Pemelihara/Maha Pelindung) bagi kalian [Lihat Tafsīr al-Thabarī jilid 8 juz 15 hal. 15], Penjamin urusan-urusan kalian, dan Saksi/Syarik (dari Mujahid), serta dikatakan pula selain demikian. [Lihat Tafsīr al-Qurthubī (10/213)]

Al-Syanqithi berkata dalam kitab tafsirnya (Adhwā' al-Bayān): "Makna-makna tersebut seluruhnya berdekatan, dan muaranya bermakna satu hal, yaitu bahwa Al-Wakīl adalah Dzat yang dijadikan tempat bertawakal, lalu segala urusan diserahkan kepada-Nya agar Dia mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan. Hal ini tidaklah sah kecuali hanya bagi Allah semata Jalla wa 'Alā. Oleh karena itu, Dia memperingatkan agar tidak mengambil wakil selain diri-Nya, karena tidak ada yang mampu memberi manfaat, tidak ada yang mampu memberi mudarat, dan tidak ada yang mampu mencukupi kecuali hanya Dia semata Jalla wa 'Alā. Hanya kepada-Nya kami bertawakal, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung serta Penolong kami." [Adhwā' al-Bayān (3/367)]

Di antara nama-nama Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam adalah Al-Mutawakkil (orang yang bertawakal). Sebagaimana yang terdapat dalam hadis:

وَسَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ

"...dan Aku menagismu (memberimu nama) Al-Mutawakkil."

Dinamakan demikian bagi beliau shallallāhu 'alaihi wa sallam tidak lain adalah karena sifat qanā'ah-nya (merasa cukup) terhadap hal yang sedikit serta kesabarannya atas apa yang tidak beliau sukai. [Fath al-Bārī (8/450)]

[Secara Istilah (Terminologi):]

Sandaran hati yang jujur/benar kepada Allah Azza wa Jalla dalam mendatangkan kemaslahatan-kemaslahatan dan menolak kemudharatan-kemudharatan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat, serta menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya, disertai penyempurnaan iman bahwa tidak ada yang dapat memberi, tidak ada yang dapat menghalangi, tidak ada yang dapat memudaratkan, dan tidak ada yang dapat memberi manfaat selain Dzat-Nya. [Jāmi' al-'Ulūm wa al-Hikam karya Ibn Rajab (hal. 409)]

Al-Jurjani berkata: "Tawakal adalah percaya penuh terhadap apa yang ada di sisi Allah dan putus asa (tidak berharap) dari apa yang ada di tangan manusia." [Al-Ta'rīfāt (hal. 74)]

[Mengambil Sebab (Ikhtiar) Tidak Menafikan Tawakal:]

Ibn Qayyim al-Jauziyyah berkata: "Tawakal termasuk sebab paling agung untuk meraih apa yang dicari dan menolak apa yang dibenci. Maka barang siapa yang mengingkari sebab-sebab (ikhtiar), tidak akan lurus tawakalnya. Namun, di antara kesempurnaan tawakal adalah: tidak bersandar kepada sebab-sebab tersebut dan memutuskan keterikatan hati dengannya. Sehingga keadaan hatinya berdiri bersama Allah (bukan bersama sebab), sedangkan keadaan fisiknya berdiri menjalankan sebab-sebab tersebut. Maka sebab-sebab itu merupakan tempat berlakunya hikmah Allah, perintah-Nya, dan larangan-Nya. Sedangkan tawakal berkaitan dengan Rububiyah-Nya, qadha, dan takdir-Nya. Oleh karena itu, penghambaan melalui sebab tidak akan berdiri kecuali di atas kaki tawakal, dan kaki tawakal tidak akan berdiri kecuali di atas fondasi penghambaan ('ubūdiyyah)." [Madārij al-Sālikīn (2/125)]

Antara Tawakal dan Ittikāl (Sikap Pasrah Tanpa Usaha):

Sesungguhnya mengambil/menjalankan sebab-sebab (ikhtiar) disertai penyerahan urusan keberhasilan kepada Allah Ta'ala serta keyakinan bahwa Dia Azza wa Jalla tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan, merupakan bagian dari tawakal yang diperintahkan. Adapun berdiam diri dari menjalankan sebab-sebab dan tidak mau berusaha, bukanlah bagian dari tawakal sedikit pun, melainkan itu adalah ittikāl (bersikap pasrah secara pasif) atau tawākul (pura-pura bertawakal) yang Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan kita darinya dan melarang sebab-sebab yang menghantarkan kepadanya.

Pembersenjataan/pembuktian atas hal tersebut adalah apa yang terdapat dalam hadis Mu'adz radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟

"Wahai Mu'adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba dan apa hak para hamba atas Allah?"

Ia (Mu'adz) berkata: Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda:

فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَلَّا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

"Sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba atas Allah 'Azza wa Jalla adalah Dia tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."

Ia (Mu'adz) berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang? Beliau bersabda:

لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا

"Janganlah engkau menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka bersikap pasrah (menyia-nyiakan amal sebab terlalu mengandalkan kemurahan Allah)." [HR. Muslim]

Dan di sini Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam meletakkan kaidah yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang membawa kepada ditinggalkannya amal (usaha), atau segala sesuatu yang berpotensi menjadi sangkaan/sebab terjadinya sikap pasrah (ittikāl) maupun berpura-pura bertawakal (tawākul), tidaklah termasuk bagian dari tawakal sedikit pun.

Telah datang dalam hadis Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu apa yang menegaskan hakikat ini. Dalam dialog yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Al-Musthafa shallallāhu 'alaihi wa sallam dan Umar bin al-Khattab radhiyallāhu 'anhu—dialog ini sebagaimana terdapat dalam riwayat Muslim: Umar berkata: "Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, apakah engkau mengutus Abu Hurairah dengan membawa kedua sandalmu ini, (dengan perintah) barang siapa yang ia temui bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dengan meyakininya dalam hatinya, agar ia memberinya kabar gembira dengan surga?" Beliau bersabda: "Ya." (Umar) berkata: "Janganlah engkau lakukan, karena aku khawatir manusia akan bersikap pasrah (bergantung pada persaksian itu lalu meninggalkan amal). Maka biarkanlah mereka beramal." Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَخَلِّهِمْ يَعْمَلُونَ

"Maka biarkanlah mereka beramal." [Lihat hadis selengkapnya dalam Shahīh Muslim jilid 1 hal. 60, 61. Kami tidak mencantumkannya di antara hadis-hadis dalam bab ini (Hadīts al-Sifah) karena hadis ini membahas tentang ittikāl (tawākul / sikap pasrah tanpa usaha), dan alangkah jauh perbedaannya antara keduanya]

Dapat dipahami dari hadis ini dan hadis sebelumnya bahwa ittikāl (sikap pasrah) berarti meninggalkan amal dan tidak mengambil sebab-sebab (ikhtiar), dan bahwasanya hal tersebut bukanlah bagian dari tawakal sedikit pun.

[Antara Tawakal dan Tafwīdh (Penyerahan Urusan):]

Antara tawakal kepada Allah dan tafwīdh (menyerahkan urusan) kepada-Nya terdapat hubungan umum dan khusus ('umūm wa khushūsh), di mana tafwīdh memiliki makna yang lebih luas daripada tawakal, sedangkan tawakal lebih khusus daripada tafwīdh.

Penulis kitab Al-Manāzil berkata: "Dan tafwīdh memiliki isyarat yang lebih halus serta makna yang lebih luas daripada tawakal. Tawakal terjadi setelah berlakunya sebab (ikhtiar), sedangkan tafwīdh terjadi sebelum berlakunya sebab dan setelahnya. Tafwīdh adalah inti dari penyerahan diri (al-istislām), sedangkan tawakal adalah salah satu cabangnya." [Madārij al-Sālikīn (2/143)]

Ibn al-Qayyim berkata: "Yang dimaksud oleh beliau dengan hal itu adalah bahwa orang yang menyerahkan urusannya (mufawwidh) kepada Allah, ia berlepas diri dari daya dan upaya, serta menyerahkan urusan kepada Pemilik urusan tanpa menjadikan pihak yang diserahi urusan (al-mufawwadh ilaihi) bertindak menggantikan kedudukan dirinya dalam kemaslahatan-kemaslahatannya. Berbeda dengan tawakal, karena akad perwakilan (al-wakālah) menuntut wakil untuk bertindak menggantikan kedudukan pihak yang mewakilkan (al-muwakkil)."

Beliau rahimahullāhu Ta'ālā juga berkata: "Seandainya ada seseorang yang mengatakan: 'Tawakal itu berada di atas tafwīdh, lebih agung, dan lebih tinggi,' niscaya ia benar. Oleh karena itu, Al-Qur'an al-Karim penuh dengan penyebutan tawakal, baik berupa perintah maupun pemberitaan tentang hamba-hamba pilihan Allah, para kekasih-Nya, dan insan-insan mukmin pilihan. Allah pun memerintahkannya kepada Rasul-Nya di berbagai tempat dalam Kitab-Nya [Lihat ayat-ayat yang terdapat dalam pembahasan tawakal nomor 1, 2, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 14. Ibn al-Qayyim menyebutkan bahwa perintah tawakal kepada Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam datang di empat tempat, namun sejatinya ada di sembilan tempat. Boleh jadi empat tempat inilah yang terlintas dalam ingatan Syaikh dan beliau tidak bermaksud mencakup keseluruhannya (al-istiqshā')], serta menamai beliau sebagai Al-Mutawakkil."

Adapun tafwīdh, tidaklah disebutkan dalam Al-Qur'an al-Karim kecuali dalam apa yang dihikayatkan oleh Allah Azza wa Jalla tentang mukmin dari keluarga Fir'aun, yaitu firman-Nya Azza wa Jalla:

"Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." (QS. Ghafir [40]: 44)

Kemudian beliau menyimpulkan perkataan: "Bahwa menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai Wakīl (Pelindung/Pengurus) adalah murni penghambaan (mahzh al-'ubūdiyyah) dan tauhid yang murni apabila dilaksanakan oleh pelakunya secara hakiki. Dengan demikian, tawakal lebih luas daripada tafwīdh, serta lebih tinggi dan lebih agung." [Madārij al-Sālikīn (2/145)]

Antara Tawakal dan Keyakinan/Kepercayaan (Al-Thiqah) kepada Allah Azza wa Jalla:

Ibn al-Qayyim mengutip dari penulis kitab Al-Manāzil perkataannya: "Al-Thiqah (kepercayaan penuh) adalah pupil mata dari tawakal, dan titik pusat dari lingkaran tafwīdh." Beliau menyebutkan di antara contoh-contoh mengenai hal tersebut adalah apa yang terdapat dalam Al-Qur'an al-Karim tentang ibu Nabi Musa 'alaihissalām:

"Maka apabila kamu khawatir terhadapnya, jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati." (QS. Al-Qashash [28]: 7)

Beliau (Ibn al-Qayyim) berkata: "Perbuatan (ibu Nabi Musa) ini merupakan inti dari kepercayaannya (thiqah) kepada Allah Ta'ala. Sebab, seandainya bukan karena kesempurnaan kepercayaannya kepada Rabbnya, niscaya ia tidak akan melemparkan putranya ke dalam aliran air." Ibn al-Qayyim berkata: "Dan yang dimaksud adalah bahwa thiqah merupakan sari pati serta inti dari tawakal, sebagaimana pupil mata merupakan bagian paling mulia darinya. Adapun hubungan antara thiqah dan tafwīdh berakar pada kenyataan bahwa thiqah adalah poros berputarnya tafwīdh." Beliau berkata: "Banyak orang yang menafsirkan tawakal dengan thiqah [Lihat misalnya definisi Al-Jurjani tentang tawakal yang telah kami sebutkan sebelumnya]. Di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan tafwīdh, dan ada pula yang menafsirkannya dengan taslīm (pasrah diri). Padahal kedudukan (maqām) tawakal mencakup itu semua." [Rujukan yang sama (Madārij al-Sālikīn), hal. 149, 150]

Aku (penulis) katakan: Di antara hal yang menunjukkan kebenaran apa yang dikatakan oleh Ibn al-Qayyim tentang cakupan makna tawakal terhadap tafwīdh maupun thiqah adalah apa yang disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam definisi tawakal, di mana beliau berkata: "Tawakal diwakilkan dari kata al-wikālah. Dikatakan: Wakkala amrahū ilā fulān [ia menyerahkan urusannya kepada si Fulan], artinya ia menyerahkan urusannya (fawwadhahū) kepadanya dan bersandar kepadanya dalam urusan tersebut. Pihak yang diserahi urusan (al-mufawwadh ilaihi) dinamakan muttakalan 'alaihi dan mutawakkalan 'alaihi apabila jiwanya merasa tenang kepadanya, percaya penuh padanya, tidak menuduhnya melakukan kelalaian, dan tidak menganggapnya memiliki kelemahan atau kekurangan. Maka ia (tawakal) merupakan ungkapan tentang sandaran hati kepada Sang Wakīl semata." [Ihyā' 'Ulūm al-Dīn (2/259)]

[Tempat-Tempat / Kondisi Disyariatkannya Tawakal:]

Sesungguhnya bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla dituntut dalam seluruh urusan kehidupan. Meski demikian, terdapat banyak tempat/kondisi di mana terdapat dorongan serta perintah untuk bertawakal bagi Al-Musthafa shallallāhu 'alaihi wa sallam dan orang-orang mukmin. Al-Fairuzabadi telah menyebutkan di antaranya:

  1. Jika kalian memohon pertolongan dan kelapangan (jalan keluar), maka bertawakallah kepada-Nya:

"Jika Allah menolong kamu, maka tak ada yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain dari Allah) sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang beriman bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 160)

  1. Jika engkau berpaling dari musuh-musuhmu, maka jadikanlah tawakal sebagai pendampingmu:

"Maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung." (QS. An-Nisa' [4]: 81)

  1. Jika makhluk berpaling darimu, maka bersandarlah pada tawakal:

"Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal'." (QS. At-Taubah [9]: 129)

  1. Jika Al-Qur'an dibacakan kepadamu atau engkau membacanya, maka bersandarlah pada tawakal:

"Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabbnyalah mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal [8]: 2)

  1. Jika engkau menghendaki perdamaian dan perbaikan di antara suatu kaum, janganlah engkau bertawasul menuju hal tersebut melainkan dengan tawakal:

"Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka cenderunglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah." (QS. Al-Anfal [8]: 61)

  1. Jika kafilah takdir/ketetapan Allah telah tiba, maka sambutlah ia dengan tawakal:

"Katakanlah: 'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal'." (QS. At-Taubah [9]: 51)

  1. Jika musuh-musuh memasang jaring-jaring tipu daya, maka masuklah engkau ke dalam bumi/benteng tawakal:

"Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang Nuh di waktu ia berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allahlah aku bertawakal." (QS. Yunus [10]: 71)

  1. Jika engkau mengetahui bahwa tempat kembali segala sesuatu adalah kepada Allah dan penetapan segala sesuatu di dalamnya adalah milik Allah, maka tempatkanlah dirimu di atas hamparan tawakal:

"Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya." (QS. Hud [11]: 123)

  1. Jika engkau mengetahui bahwa Allah Dialah yang Maha Esa secara hakiki, maka janganlah bersandarmu kecuali hanya kepada-Nya:

"Katakanlah: 'Dia adalah Rabbku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali'." (QS. Ar-Ra'd [13]: 30)

  1. Jika petunjuk itu datangnya dari Allah, maka sambutlah ia dengan rasa syukur dan tawakal:

"Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal menyerahkan diri." (QS. Ibrahim [14]: 12)

  1. Jika engkau takut akan kejahatan musuh-musuh Allah, setan, dan orang yang pengkhianat, maka janganlah berlindung kecuali ke pintu Allah:

"Sungguh, setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabbnya." (QS. An-Nahl [16]: 99)

  1. Jika engkau menghendaki agar Allah menjadi Pelindung/Pengurusmu dalam setiap keadaan, maka berpegang teguhlah dengan tawakal dalam setiap keadaan:

"Dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung." (QS. An-Nisa' [4]: 81)

  1. Jika engkau menghendaki Surga Firdaus yang tertinggi menjadi tempat tinggalmu, maka singgahlah di kedudukan (maqām) tawakal:

"(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal." (QS. An-Nahl [16]: 42)

  1. Jika engkau ingin meraih kecintaan Allah, maka singgahlah terlebih dahulu di kedudukan (maqām) tawakal:

"Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 159)

  1. Jika engkau menghendaki agar Allah menjadi milikmu (penolongmu) dan engkau menjadi hamba yang tulus bagi Allah, maka wajib bagimu untuk bertawakal:

"Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Talaq [65]: 3)

"Sebab itu bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata." (QS. An-Naml [27]: 79) [Bashā'ir Dzawī al-Tamyīz fī Lathā'if al-Kitāb al-'Azīz, karya Al-Fairuzabadi (2/313–315)]

[Untuk Pendalaman Lebih Lanjut, Lihat Sifat-Sifat Berikut:]

Istia'nah (Memohon Pertolongan), Taqwa (Ketaqwaan), Tha'ah (Ketaatan), Qunut (Tunduk Khusyuk), Husnuzhan (Berprasangka Baik), Thuma'ninah (Ketenangan Jiwa), Sabr wa Mushabahrah (Kesabaran dan Penguatan Kesabaran), Yaqin (Keyakinan Mantap).

[Dan pada Lawan dari Sifat-Sifat Tersebut, Lihat Sifat-Sifat Berikut:]

Ghurur (Pedaya Diri/Tergoda Dunia), Kibr wa 'Ujub (Kesombongan dan Bangga Diri), Qalaq (Kecemasan/Kegelisahan), Syakk (Keraguan), Su'uzhan (Berprasangka Buruk).

[Ayat-Ayat yang Terkandung Mengenai "Tawakal"]

Perintah Allah 'Azza wa Jalla untuk Bertawakal kepada-Nya:

  1. "Maka, berkat rahmat dari Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 159) [Madaniyah]
  2. "Minta taat." Apabila telah keluar dari sisimu (Nabi Muhammad), sebagian dari mereka mengatur siasat pada malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan kepadamu. Padahal, Allah mencatat siasat yang mereka atur pada malam hari itu. Maka, berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung. (81) Tidakkah mereka menghayati Al-Qur'an? Sekiranya (Al-Qur'an) itu tidak datang dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya. (82) Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka menyebarluaskannya. Padahal, sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulilamri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulilamri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja. (83) (QS. An-Nisa' [4]: 81–83) [Madaniyah]
  3. "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang dianugerahkan) kepadamu ketika suatu kaum bermaksud membentangkan tangannya kepadamu (untuk membunuhmu), lalu Dia menahan tangan mereka darimu. Bertakwalah kepada Allah dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin itu bertawakal." (QS. Al-Ma'idah [5]: 11) [Madaniyah]
  4. "Jika mereka cenderung pada perdamaian, hendaklah engkau (Nabi Muhammad) cenderung padanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal [8]: 61) [Madaniyah]
  5. "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal'." (QS. At-Taubah [9]: 51) [Madaniyah]
  6. "Milik Allahlah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan segala urusan. Maka, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud [11]: 123) [Makkiyah]
  7. "Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (56) Katakanlah, 'Aku tidak meminta imbalan apa pun darimu atasnya (dakwahku), kecuali dari orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.' (57) Bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahahidup yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya. (58) (Dialah) yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy. (Dialah) Yang Maha Pengasih. Maka, tanyakanlah tentang-Nya kepada yang mahamengetahui (Allah).' (59)" (QS. Al-Furqan [25]: 56–59) [Makkiyah]
  8. "Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Nabi Muhammad) yang terdekat! (214) Rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman! (215) Jika mereka mendurhakaimu, katakanlah, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.' (216), Bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, (217) yang melihatmu ketika engkau berdiri (untuk shalat) (218) dan (melihat) perubahan gerakan tubuhmu di antara orang-orang yang sujud. (219) Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (220) (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 217–220) [Makkiyah]
  1. "Sesungguhnya Al-Qur'an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka perselisihkan. (76) Sesungguhnya ia (Al-Qur'an) benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang mukmin. (77) Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan (perkara) di antara mereka dengan hukum-Nya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (78) Maka, bertawakallah kepada Allah! Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) berada di atas kebenaran yang nyata." (79) (QS. An-Naml [27]: 76–79) [Makkiyah]
  2. "Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (1) Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (2) Bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pemelihara." (3) (QS. Al-Ahzab [33]: 1–3) [Madaniyah]
  3. "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, (45) serta menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai pelita yang menerangi. (46) Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya mereka akan mendapat karunia yang besar dari Allah. (47) Janganlah engkau menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, abaikanlah gangguan mereka, dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pemelihara." (48) (QS. Al-Ahzab [33]: 45–48) [Madaniyah]
  4. "Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanya dari setan agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, padahal (pembicaraan) itu tidaklah memberi bahaya sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal." (QS. Al-Mujadilah [58]: 10) [Madaniyah]
  5. "Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling, sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (12) (Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal." (13) (QS. At-Taghabun [64]: 12–13) [Madaniyah]
  6. "Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (8) (Dialah) Tuhan timur dan barat. Tidak ada tuhan selain Dia. Maka, jadikanlah Dia sebagai pelindung." (9) (QS. Al-Muzzammil [73]: 8–9) [Makkiyah]

Sebaik-baik Pelindung/Pengurus (Nik'mal Wakīl) adalah Allah 'Azza wa Jalla:

  1. "Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan dengan (ketetapan) bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (171) (Yaitu) orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka menderita luka (dalam Perang Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan bertakwa ada pahala yang sangat besar. (172) (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung'." (173) (QS. Ali 'Imran [3]: 171–173) [Madaniyah]
  2. "Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pemelihara." (QS. An-Nisa' [4]: 132) [Madaniyah]
  1. "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikannya kepada Maryam serta (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan, '(Tuhan itu) tiga.' Berhentilah (dari ucapan itu). Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. Mahasuci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pemelihara." (QS. An-Nisa' [4]: 171) [Madaniyah]
  2. "(Ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, 'Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya.' (Allah berfirman,) 'Barang siapa bertawakal kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (QS. Al-Anfal [8]: 49) [Madaniyah]
  3. "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka. Cukuplah Tuhanmu sebagai pemelihara." (QS. Al-Isra' [17]: 65) [Makkiyah]
  4. "Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, rujuklah dengan mereka secara patut atau lepaskanlah mereka secara patut pula. Persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengannya orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya (2) dan menganugerahkan rezeki darimana pun yang tidak disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu." (3) (QS. At-Talaq [65]: 2–3) [Madaniyah]

Allah 'Azza wa Jalla Maha Pelindung/Pengurus (Wakīl) atas Segala Sesuatu:

  1. "Mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin-jin sebagai sekutu-sekutu Allah, padahal Dialah yang menciptakannya. Mereka juga memfitnah (mengatakan bahwa) Dia mempunyai anak-anak laki-laki dan perempuan tanpa (dasar) pengetahuan. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sifatkan. (100) (Dialah) Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Bagaimana mungkin Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (101) Itulah Allah, Tuhanmu; tidak ada tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu. Maka, sembahlah Dia. Dialah Pemelihara segala sesuatu. (102) Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dialah Yang Mahalembut lagi Mahateliti." (103) (QS. Al-An'am [6]: 100–103) [Makkiyah]
  2. "Maka, boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu merasa sempit karenanya, karena mereka akan mengatakan, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya harta simpanan atau datang bersamanya malaikat?' Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Maha Pemelihara segala sesuatu." (QS. Hud [11]: 12) [Makkiyah]
  3. "Dia (Musa) berkata, 'Itulah (perjanjian) antara aku dan engkau. Yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku selesaikan, tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi). Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan'." (QS. Al-Qashash [28]: 28) [Makkiyah]
  4. "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. (62) Milik-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang rugi." (63) (QS. Az-Zumar [39]: 62–63) [Makkiyah]

Penafian Kedudukan Wakīl (Pengurus/Pelindung) dari Selain Allah 'Azza wa Jalla:

  1. "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atasmu atau dari bawah kakimu, atau menyandingkan kamu dalam kelompok-kelompok (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu kejahatan sebagian yang lain.' Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(-nya). (65) Kaummu mendustakannya (Al-Qur'an), padahal (Al-Qur'an) itu hak (benar). Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Aku bukanlah penanggung jawab atas kamu.' (66) Setiap berita (yang dibawa oleh nabi) ada waktu terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui." (67) (QS. Al-An'am [6]: 65–67) [Makkiyah]
  2. "Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada tuhan selain Dia dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (106) Seandainya Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(-Nya). Kami tidak menjadikan engkau pemelihara mereka dan engkau bukan pula penanggung jawab atas mereka." (107) (QS. Al-An'am [6]: 106–107) [Makkiyah]
  3. "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu kebenaran dari Tuhanmu. Maka, siapa yang mendapat petunjuk, sesungguhnya (petunjuk) itu untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang sesat, sesungguhnya kesesatannya itu untuk (kerugian) dirinya sendiri. Aku bukanlah penanggung jawab atas dirimu.' (108) Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik." (109) (QS. Yunus [10]: 108–109) [Makkiyah]
  4. "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (1) Kami telah menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa dan menjadikannya sebagai petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), 'Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku.' (2) (Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh, sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur." (3) (QS. Al-Isra' [17]: 1–3) [Makkiyah]
  5. "Apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia tidak akan meniupkan angin keras yang membawa batu-batu kecil kepadamu sehingga kamu tidak akan mendapat seorang pelindung pun bagimu?" (QS. Al-Isra' [17]: 68) [Makkiyah]
  6. "Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. Maka, siapa yang mendapat petunjuk, (manfaatnya) untuk dirinya sendiri dan siapa yang sesat, sesungguhnya kesesatannya itu untuk (kerugian) dirinya sendiri. Engkau (Nabi Muhammad) bukanlah penanggung jawab atas mereka." (QS. Az-Zumar [39]: 41) [Makkiyah]
  7. "Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia, Allah Maha Mengawasi (perbuatan) mereka, sedangkan engkau (Nabi Muhammad) bukanlah penanggung jawab atas mereka." (QS. Asy-Syura [42]: 6) [Makkiyah]

Tawakal Termasuk Sifat Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam dan Orang-Orang Mukmin:

  1. "(Ingatlah) ketika engkau (Nabi Muhammad) berangkat pada pagi hari dari keluarga mu untuk menempatkan orang-orang mukmin pada pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (121) (Ingatlah) ketika dua kelompok darimu merasa ragu-ragu (untuk berperang), padahal Allah adalah penolong mereka. Hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal." (122) (QS. Ali 'Imran [3]: 121–122) [Madaniyah]
  2. "Jika Allah menolong kamu, tidak ada yang dapat mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), siapakah yang dapat menolong kamu setelah itu? Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 160) [Madaniyah]
  1. "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal," (QS. Al-Anfal [8]: 2) [Madaniyah]
  2. "Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan bersikap penyantun lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (128) Jika mereka berpaling, katakanlah (Nabi Muhammad), 'Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik 'Arasy yang agung'." (129) (QS. At-Taubah [9]: 128–129) [Madaniyah]
  3. "Demikianlah, Kami telah mengutus engkau (Nabi Muhammad) kepada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya agar engkau bacakan kepada mereka (Al-Qur'an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Katakanlah, 'Dialah Tuhanku, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat'." (QS. Ar-Ra'd [13]: 30) [Madaniyah]
  4. "Orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka terzalimi, sungguh Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Sungguh, pahala di akhirat itu lebih besar sekiranya mereka mengetahui, (41) (yaitu) orang-orang yang bersabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." (42) (QS. An-Nahl [16]: 41–42) [Makkiyah]
  5. "Apabila engkau hendak membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (98) Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. (99) Sesungguhnya kekuasaannya hanya atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah." (100) (QS. An-Nahl [16]: 98–100) [Makkiyah]
  6. "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian, hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (57) Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sungguh akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal, (58) (yaitu) orang-orang yang bersabar dan hanya kepada Tuhan mereka [bertawakal]." (59) (QS. Al-'Ankabut [29]: 57–59) [Makkiyah]
  7. "Sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Niscaya mereka menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Kalau begitu, tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak menimpakan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu? Atau, jika Allah hendak memberikan rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya?' Katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal menyerahkan diri'." (QS. Az-Zumar [39]: 38) [Makkiyah]
  8. "Apakah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Padahal, Allahlah Pelindung (yang sebenarnya). Dia menghidupkan orang-orang yang mati dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (9) Apa pun yang kamu perselisihkan tentang suatu perkara, hukumnya (terserah) kepada Allah. (Katakanlah,) 'Yang (memiliki sifat-sifat) demikian itu ialah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakal dan kepada-Nyalah aku bertobat'." (10) (QS. Asy-Syura [42]: 9–10) [Makkiyah]
  9. "Kenikmatan apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kesenangan hidup di dunia. Adapun apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal," (QS. Asy-Syura [42]: 36) [Makkiyah]
  10. "Sungguh, telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kepengikutan) kamu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,' kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya. 'Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, tetapi aku tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk menolak (siksaan) Allah terhadapmu.' (Mereka berdoa,) 'Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah tempat kembali. (4) Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.' (5) Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan pengikutnya) benar-benar terdapat teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari Akhir. Siapa yang berpaling, sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." (6) (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4–6) [Madaniyah]
  1. "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Tahukah kamu jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku atau memberi rahmat kepada kami, lalu siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?' (28) Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.' (29) Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Tahukah kamu jika airmu (sumber airmu) menjadi surut (meresap ke dalam tanah), siapakah yang akan memberimu air yang mengalir?'" (30) (QS. Al-Mulk [67]: 28–30) [Makkiyah]

Perintah untuk Bertawakal dalam Seluruh Syariat, dan Ia Merupakan Sifat Seluruh Para Nabi —shalawātullāhi wa salāmuhū 'alaihim—:

  1. "Berkatalah dua orang laki-laki di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang telah diberi nikmat oleh Allah kepada keduanya, 'Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota) itu. Jika kamu memasukinya, sesungguhnya kamu akan menang. Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu orang-orang mukmin'." (QS. Al-Ma'idah [5]: 23) [Madaniyah]
  2. "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaumnya berkata, 'Wahai Syuaib, sungguh kami akan mengusirmu beserta orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, atau engkau kembali kepada agama kami.' Dia (Syuaib) berkata, 'Apakah (kami akan kembali) meskipun kami membencinya? (88) Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah jika kami kembali pada agamamu setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Tidak ada hak bagi kami untuk kembali padanya, kecuali jika Allah Tuhan kami menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik'." (89) (QS. Al-A'raf [7]: 88–89) [Makkiyah]
  3. "Bacakanlah kepada mereka berita tentang Nuh ketika dia berkata kepada kaumnya, 'Wahai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, hanya kepada Allah aku bertawakal. Maka, bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu. Kemudian, janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Selanjutnya, bertindaklah terhadap diriku dan janganlah kamu menunda-nundanya'." (QS. Yunus [10]: 71) [Makkiyah]
  4. "Musa berkata, 'Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, bertawakallah kepada-Nya saja jika kamu benar-benar orang-orang berserah diri.' (84) Lalu, mereka berkata, 'Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami fitnah (sasaran kezaliman) bagi kaum yang zalim, (85) dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari kaum yang kafir'." (86) (QS. Yunus [10]: 84–86) [Makkiyah]
  5. "Mereka berkata, 'Wahai Hud, engkau tidak mendatangkan suatu bukti yang nyata kepada kami, kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena ucapanmu, dan kami tidak akan mempercayaimu. (53) Kami hanya mengatakan bahwa sebagian tuhan kami telah menimpakan kejahatan kepadamu.' Dia (Hud) berkata, 'Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (54) selain Dia. Maka, jalankanlah tipu dayamu terhadapku semuanya dan jangan kamu tunda-tunda (lagi). (55) Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus'." (56) (QS. Hud [11]: 53–56) [Makkiyah]
  1. "Mereka berkata, 'Wahai Syuaib, apakah salatmu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut apa yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang penyantun lagi berakal.' (87) Dia (Syuaib) berkata, 'Wahai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia menganugerahkan rezeki yang baik kepadaku dari-Nya (kemudian aku menyembunyikan bukti itu darimu)? Aku tidak bermaksud menyelisihimu dengan (melakukan) apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku sanggup. Petunjuk (bagiku untuk berbuat kebaikan) hanya dari Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat'." (88) (QS. Hud [11]: 87–88) [Makkiyah]
  2. "Dia (Yakub) berkata, 'Aku tidak akan melepasnya (pergi) bersamamu sebelum kamu mengucapkan janji setia kepadaku atas nama Allah bahwa kamu pasti akan membawanya kembali kepadaku, kecuali jika kamu dikepung (musuh).' Setelah mereka mengucapkan janji setia kepadanya, dia (Yakub) berkata, 'Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.' (66) Dia (Yakub) berkata, 'Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang (yang sama), tetapi masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda. Aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan (takdir) itu hanya bagi Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nyalah hendaknya orang-orang yang bertawakal berserah diri'." (67) (QS. Yusuf [12]: 66–67) [Makkiyah]
  3. "Rasul-rasul mereka berkata, 'Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)-mu sampai waktu yang ditentukan.' Mereka berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. Kamu bermaksud menghalangi kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami. Karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.' (10) Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Tidak berhak bagi kami mendatangkan bukti kepadamu kecuali dengan izin Allah. Hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. (11) Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan-jalan kami? Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang bertawakal berserah diri'." (12) (QS. Ibrahim [14]: 10–12) [Makkiyah]

[Di antara Ayat-Ayat yang Mengandung Makna "Tawakal":]

  1. "'Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.' (44) Maka, Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka dan keluarga Fir'aun dikepung oleh azab yang sangat buruk." (45) (QS. Ghafir [40]: 44–45) [Makkiyah]

[Hadis-Hadis yang Diriwayatkan Mengenai (Tawakal)]

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

"Apabila seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: 'Bismillāh, tawakkaltu 'alallāh, lā haula wa lā quwwata illā billāh' (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), maka dikatakan kepadanya pada saat itu: 'Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.' Maka setan-setan pun menjauh (tetanahhā [Tatanahhā (تتنحى): Menjauh / mundur ke belakang]) darinya, lalu setan yang lain berkata kepadanya: 'Bagaimana mungkin engkau dapat menyesatkan seorang laki-laki yang sungguh telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi?'" [HR. Abu Daud (5095) dan lafal ini miliknya; HR. Al-Tirmidzi (2426) dan ia berkata: "Hadis ini hasan shahih gharib"; Muhaqqiq Jāmi' al-Ushūl (4/274) berkata: "Hadis ini shahih."]

  1. Dari Hasyim bin 'Amir radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رَأْسَ الدَّجَّالِ مِنْ وَرَائِهِ حُبُكٌ حُبُكٌ، فَمَنْ قَالَ: أَنْتَ رَبِّي افْتُتِنَ، وَمَنْ قَالَ: كَذَبْتَ، رَبِّيَ اللهُ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ فَلَا يَضُرُّهُ - أَوْ قَالَ: فَلَا فِتْنَةَ عَلَيْهِ -

"Sesungguhnya bagian belakang kepala Dajjal itu bergelombang keriting (hubukun hubuk [Hubuk (حبك): Rambut kepalanya keriting bergulung-gulung karena sangat kriting]). Maka barang siapa yang berkata (kepada Dajjal): 'Engkau adalah Tuhanku,' niscaya ia terfitnah (terjatuh dalam kesesatan). Dan barang siapa yang berkata: 'Engkau berdusta! Tuhanku adalah Allah, hanya kepada-Nya aku bertawakal,' maka Dajjal tidak akan dapat memudaratkannya —atau beliau bersabda: maka tidak ada fitnah/bahaya atasnya—." [Al-Haitsami berkata dalam Majma' al-Zawā'id (7/342, 343): "Diriwayatkan oleh Ahmad dan perawinya adalah perawi riwayat Shahih, dan diriwayatkan pula oleh Al-Thabarani." Hadis ini terdapat dalam Al-Musnad (4/20).]

  1. Dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallāhu 'anhumā, bahwasanya ia berkata: "Sesungguhnya ayat yang ada di dalam Al-Qur'an ini:

'Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan,' (QS. Al-Ahzab [33]: 45) [Madaniyah]

terdapat di dalam Taurat (dengan redaksi): 'Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan benteng perlindungan (hirzan [Hirzan (حرزا): Benteng perlindungan / pemeliharaan]) bagi ummiyyin (al-ummiyyīn [Al-Ummiyyīn (الأميين): Bangsa Arab (kaum yang belum membaca kitab)]). Engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku, Aku menamaimu Al-Mutawakkil (orang yang bertawakal). Engkau bukan orang yang bersikap kasar, bukan orang yang berhati keras, bukan orang yang suka berteriak-teriak (sakhkhāb [Sakhkhāb dan Sakhāb (سخاب / صخاب): Diambil dari kata al-shakhab, yaitu teriakan, suara yang keras, dan gaduh]) di pasar-pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dimaafkan dan diampuni. Dan Allah tidak akan mencabut nyawanya sampai Dia menegakkan dengannya agama yang bengkok agar mereka mengucapkan: Lā ilāha illallāh (Tidak ada tuhan selain Allah), sehingga dengannya terbuka mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang tertutup.'" [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 8 (4838)]

  1. Dari Abu Musa radhiyallāhu 'anhu: Bahwasanya ia pernah bersama Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam di sebuah kebun yang jauh, dan di tangan Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam terdapat sebatang kayu yang beliau pukulkan di antara air dan tanah. Lalu datang seorang laki-laki meminta dibukakan pintu, maka beliau bersabda: "Bukakanlah pintu untuknya dan sampaikan kabar gembira kepadanya berupa surga." Ternyata orang itu adalah Abu Bakar radhiyallāhu 'anhu. Abu Musa berkata: Maka aku bukakan pintu baginya dan aku sampaikan kabar gembira berupa surga kepadanya.

Kemudian datang laki-laki lain meminta dibukakan pintu, maka beliau bersabda: "Bukakanlah pintu untuknya dan sampaikan kabar gembira kepadanya berupa surga." Ternyata orang itu adalah Umar bin al-Khattab radhiyallāhu 'anhu. Maka aku bukakan pintu baginya dan aku sampaikan kabar gembira berupa surga kepadanya.

Kemudian datang laki-laki lain meminta dibukakan pintu, maka beliau bersabda: "Bukakanlah pintu untuknya dan sampaikan kabar gembira kepadanya berupa surga atas ujian/bencana yang akan menimpanya —atau ujian yang akan terjadi—." Abu Musa berkata: Ternyata orang itu adalah Utsman radhiyallāhu 'anhu. Maka aku bukakan pintu baginya dan aku sampaikan kabar gembira berupa surga kepadanya serta aku beritahukan hal itu, lalu Utsman berkata:

«اللهُ الْمُسْتَعَانُ، اللَّهُمَّ صَبْرًا، وَعَلَيْهِ التُّكْلَانُ»

"Allah-lah tempat memohon pertolongan. Ya Allah, berikanlah kesabaran, dan hanya kepada-Nya bersandar (al-tuklān)." [HR. Ahmad (4/407); Hadis ini juga terdapat dalam HR. Bukhari – Fath al-Bārī 7 (3674) tanpa mencantumkan ucapan Utsman radhiyallāhu 'anhu; Dan terdapat dalam HR. Muslim (2402) yang mencantumkan sebagian ucapan Utsman radhiyallāhu 'anhu: "Allāhumma shabran" atau "Allāhul-musta'ān".]

  1. Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: ...

..."'Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung.' Kalimat tersebut diucapkan oleh Ibrahim 'alaihissalām ketika beliau dilemparkan ke dalam api. Dan diucapkan pula oleh Muhammad shallallāhu 'alaihi wa sallam ketika orang-orang berkata (kepada mereka): 'Sesungguhnya manusia (kaum Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung' (QS. Ali 'Imran [3]: 173)." [Madaniyah] [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 8 (4563)]

  1. Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

"Thiyarah (anggapan sial/kesialan) [Al-Thiyarah (الطيرة): Anggapan sial berdasarkan fenomena alam/hewan. Kalimat (wa mā minnā illā) bermakna: tidak ada seorang pun di antara kita melainkan pasti akan terbersit sedikit rasa tersebut pada awalnya sebelum ia merenungkannya] adalah syirik. Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (pasti terbersit hal tersebut dalam hatinya), namun Allah menghilangkannya dengan tawakal." [HR. Al-Tirmidzi (1614) dan ia berkata: "Hadis ini hasan shahih"; HR. Ibn Majah (3538) dan lafal ini miliknya; HR. Ahmad (1/389), Syaikh Ahmad Syakir berkata: "Sanadnya shahih" (5/253, hadis 2687). Sebagian ulama menyatakan bahwa kalimat (wa mā minnā walākinnal-lāha yudzhibuhū bit-tawakkul) merupakan ucapan dari Ibn Mas'ud radhiyallāhu 'anhu]

  1. Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam biasa berdoa di malam hari:

«اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، قَوْلُكَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِك آَمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ إِلهِي لَا إِلهَ لِي غَيْرُكَ»

"Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkaulah Rabb penguasa langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Pengatur langit dan bumi beserta siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Cahaya langit dan bumi. Perkataan-Mu benar, janji-Mu benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, surga itu benar, neraka itu benar, dan hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali (bertobat), dengan (hujah)-Mu aku berdebat, dan kepada-Mu aku menyerahkan hukum. Maka ampunilah aku atas dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, yang aku sembunyikan dan yang aku nyatakan. Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan bagiku selain Engkau." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 13 (7385) dan lafal ini miliknya; HR. Muslim (769)]

  1. Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ، وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ

"Bagaimana aku bisa merasa tenang bersenang-senang sedangkan peniup sangkakala (Malaikat Israfil) [Al-Qarn (القرن): Sangkakala (al-shūr).] telah mengulum sangkakalanya, serta mengasah pendengarannya menunggu izin kapan diperintahkan untuk meniup lalu ia akan meniupnya?"

Maka hal tersebut terasa amat berat bagi para sahabat Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda kepada mereka: "Ucapkanlah:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا

'Hasbunallāhu wa ni'mal-wakīl, 'alallāhi tawakkalnā' (Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung, hanya kepada Allah kami bertawakal)." [HR. Al-Tirmidzi (2431). Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bārī 1 (376) menyatakan bahwa Al-Tirmidzi menghasankannya, serta menyebutkan bahwa Al-Thabarani meriwayatkannya dari hadis Zaid bin Arqam, Ibn Mardawaih dari hadis Abu Hurairah, serta diriwayatkan pula oleh Ahmad dan Al-Baihaqi]

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Seseorang bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah aku tambatkan (untaku) lalu aku bertawakal, ataukah aku lepaskan lalu aku bertawakal?" Beliau bersabda:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

"Tambatkanlah unta itu, kemudian bertawakallah!" [HR. Al-Tirmidzi (2517) dan ini adalah lafalnya, ia berkata: "Hadis ini gharib dari hadis Anas." HR. Al-Hakim (3/623), Al-Dzahabi berkata dalam Al-Talkhīsh: "Sanadnya baik (jayyid)." HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Īmān (3/1414) dari hadis 'Amr bin Umayyah al-Dhamri. Al-Hafizh Al-'Iraqi dalam Takhrīj al-Ihyā' setelah menisbahkannya kepada Al-Tirmidzi berkata: "Diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam Kitāb al-Tawakkul dan Al-Thabarani dari hadis 'Amr bin Umayyah al-Dhamri, dan ia berkata: sanadnya baik." Syaikh Al-Albani mencantumkannya dalam Shahīh al-Jāmi' (4809) dan berkata: "Hasan."]

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ، وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ، وَكَانَ جُرَيْجٌ رَجُلًا عَابِدًا، فَاتَّخَذَ صَوْمَعَةً فَكَانَ فِيهَا، فَأَتَتْهُ أُمُّهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ! فَقَالَ: يَا رَبِّ! أُمِّي وَصَلَاتِي، فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ، فَانْصَرَفَتْ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ! فَقَالَ: يَا رَبِّ! أُمِّي وَصَلَاتِي، فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَانْصَرَفَتْ...

"Tidak ada bayi yang dapat berbicara sewaktu masih dalam buaian kecuali tiga orang: 'Isa putra Maryam, dan bayi yang bersama Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah; ia membuat sebuah tempat ibadah (biara) lalu tinggal di dalamnya. Kemudian ibunya datang menemuinya ketika ia sedang salat, lalu ibunya memanggil: 'Wahai Juraij!' Maka Juraij berkata (dalam hatinya): 'Ya Rabb! Ibuku atau salatku?' Lalu ia melanjutkan salatnya, sehingga ibunya pergi. Esok harinya, ibunya datang lagi menemuinya sewaktu ia sedang salat, lalu memanggil: 'Wahai Juraij!' Maka Juraij berkata (dalam hatinya): 'Ya Rabb! Ibuku atau salatku?' Lalu ia melanjutkan salatnya, sehingga ibunya pergi esok harinya lagi, ibunya datang menemuinya sewaktu ia sedang salat, lalu memanggil: 'Wahai Juraij!' Maka Juraij berkata (dalam hatinya): 'Ya Rabb! Ibuku atau salatku?' Lalu ia melanjutkan salatnya. Maka ibunya berdoa: 'Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia sebelum ia melihat wajah wanita-wanita pezina (al-mūmisāt [Al-Mūmisāt (المومسات): Bentuk jamak dari mūmisah, yaitu wanita pezina yang terang-terangan melakukan perbuatan tersebut]).'

Kemudian Bani Israil saling membicarakan tentang Juraij dan ibadahnya. Di sana ada seorang wanita pezina yang kecantikannya sering dijadikan perumpamaan (yutamtsalu bi husnihā [Yutamtsalu bi husnihā (يتمثل بحسنها): Kecantikannya dijadikan perumpamaan (sangat terkenal keindahannya)]). Wanita itu berkata: 'Jika kalian mau, aku sungguh bisa memfitnahnya untuk kalian.' (Nabi) bersabda: Maka wanita itu merayu Juraij, namun Juraij tidak menoleh kepadanya sedikit pun. Lalu wanita itu mendatangi seorang penggembala yang biasa berteduh di biara Juraij, menyerahkan dirinya kepadanya, lalu penggembala itu menggaulinya hingga ia hamil.

Ketika melahirkan, wanita itu berkata: 'Anak ini adalah hasil hubungan dengan Juraij.' Maka orang-orang mendatangi Juraij, menyuruhnya turun, merubuhkan biaranya, dan memukulinya. Juraij bertanya: 'Ada apa dengan kalian?' Mereka menjawab: 'Engkau telah berzina dengan wanita pezina ini hingga ia melahirkan anakmu.' Juraij berkata: 'Di mana bayi itu?' Maka mereka membawanya. Juraij berkata: 'Biarkan aku salat terlebih dahulu.' Lalu ia salat.

Setelah selesai salat, ia mendatangi bayi tersebut lalu menekan/menusuk perutnya dan bertanya: 'Wahai bayi, siapakah ayahmu?' Bayi itu menjawab: 'Si Fulan sang penggembala.' (Nabi) bersabda: Maka orang-orang mendatangi Juraij, menciuminya, dan mengusap-usap tubuhnya (memohon berkah). Mereka berkata: 'Kami akan membangun kembali biaramu dari emas.' Juraij berkata: 'Tidak, kembalikanlah dari tanah sebagaimana semula.' Maka mereka pun melakukannya.

Ketika seorang bayi sedang menyusu pada ibunya, lewatlah seorang laki-laki penunggang hewan tumpangan yang gagah/tangkas (fārihah [Al-Fārihah (الفارهة): Hewan tumpangan yang lincah, kuat, dan tangkas]) dengan penampilan yang sangat bagus (syārah hasanah [Syārah hasanah (شارة حسنة): Penampilan/pakaian yang sangat bagus dan indah]). Maka ibunya berdoa: 'Ya Allah, jadikanlah anakku seperti orang ini.' Maka bayi itu menghentikan isapannya pada puting susu, lalu menoleh dan memandang laki-laki itu seraya berdoa: 'Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.' Kemudian ia kembali mengisap puting susu ibunya dan melanjutkan menyusu."

(Abu Hurairah) berkata: "Seolah-olah aku sedang melihat Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam menirukan cara bayi itu menyusu dengan memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut beliau lalu mengisapnya."

(Nabi) bersabda: "Lalu mereka melewati seorang budak perempuan yang sedang mereka pukuli seraya berkata: 'Engkau telah berzina! Engkau telah mencuri!' Sedangkan budak perempuan itu hanya mengucapkan: 'Hasbunallāhu wa ni'mal-wakīl' (Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung). Maka ibu bayi itu berdoa: 'Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia.' Maka bayi itu menghentikan susuannya, memandang budak perempuan itu, lalu berdoa: 'Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia.' Maka di situlah mereka berdua saling berbicara (tarāja'ā al-hadīts [Tarāja'ā al-hadīts (تراجعا الحديث): Sang ibu mulai mengajak bayinya berbicara, yang mana sebelumnya sang ibu tidak menganggap bayi itu sanggup untuk diajak berbicara]).

Ibunya berkata: 'Celaka kamu! (Halqā [Halqā (حلقى): Semoga Allah menimpakan rasa sakit pada tenggorokanmu. Kalimat ungkapan khas Arab yang tidak bermaksud sebagai doa keburukan secara harfiah]), lewat seorang laki-laki yang sangat tampan rupanya lalu aku berdoa: Ya Allah jadikanlah anakku seperti dia, tetapi engkau malah berdoa: Ya Allah jangan jadikan aku seperti dia. Lalu mereka melewati budak perempuan ini seraya memukulinya dan berkata engkau telah berzina, engkau telah mencuri, lalu aku berdoa: Ya Allah jangan jadikan anakku seperti dia, tetapi engkau justru berdoa: Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.'

Bayi itu menjawab: 'Laki-laki (yang lewat) itu adalah seorang penguasa yang kejam/sombong (jabbār), maka aku berdoa: Ya Allah jangan jadikan aku seperti dia. Sedangkan budak perempuan ini, mereka dituduh berzina padahal ia tidak berzina, dan dituduh mencuri padahal ia tidak mencuri, maka aku berdoa: Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.'" [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 6 (3436); HR. Muslim (2550) dan lafal ini miliknya]

  1. Dari Umar bin al-Khattab radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung; ia pergi di pagi hari (taghdū [Taghdū (تغدو): Pergi di awal siang (pagi hari)]) dalam keadaan perut kosong/lapar (khimāshan), dan pulang di sore hari (tarūhu [Tarūhu (تروح): Pulang di akhir siang (sore hari)]) dalam keadaan perut kenyang (bihānan)." [HR. Al-Tirmidzi (2324) dan ia berkata: "Hadis ini hasan shahih"; HR. Ibn Majah (4164) dan ini adalah lafalnya; HR. Ahmad (1/30), Ahmad Syakir berkata (1/343): "Sanadnya shahih"; HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Īmān (3/378)]

  1. Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat...Maka aku melihat seorang nabi yang bersama kelompok kecil (al-ruhaith [Al-Ruhaith (الرهيط): Bentuk tasghir (pengecilan) dari kata rahth, yaitu sekelompok orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang]), seorang nabi yang bersama satu dan dua orang saja, serta seorang nabi yang tidak bersama seorang pun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku kumpulan orang (sawād) yang sangat besar, maka aku mengira bahwa mereka adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku: 'Ini adalah Musa shallallāhu 'alaihi wa sallam beserta kaumnya. Akan tetapi, lihatlah ke ufuk!' Maka aku melihat, dan ternyata terdapat kumpulan orang yang sangat besar. Lalu dikatakan kepadaku: 'Lihatlah ke ufuk yang lain!' Ternyata di sana terdapat kumpulan orang yang sangat besar pula. Dikatakan kepadaku: 'Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.'

Kemudian beliau bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang pun saling berbincang (berdebat) tentang siapakah mereka yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab tersebut. Sebagian mereka berkata: 'Mungkin mereka adalah orang-orang yang bersahabat (menjadi sahabat) Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam.' Sebagian lagi berkata: 'Mungkin mereka adalah orang-orang yang lahir dalam Islam dan tidak pernah mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun,' serta mereka menyebutkan beberapa hal lainnya.

Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam keluar menemui mereka lalu bersabda: "Apa yang sedang kalian perbincangkan?" Lalu mereka memberitahukan kepada beliau. Beliau bersabda:

هُمُ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرِقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah (orang lain) dan tidak meminta diruqyah (Lā yastarqun (لا يسترقون): Tidak meminta/memohon kepada seorang pun untuk meruqyah mereka), tidak menganggap sial sesuatu (Lā yatathayyarūn (لا يتطيرون): Tidak menganggap sial (tidak merasa sial karena pertanda alam/hewan)), dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal."

Maka 'Ukasyah bin Mihshan bangkit seraya berkata: "Berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk bagian dari mereka!" Beliau bersabda: "Engkau termasuk bagian dari mereka." Kemudian bangkit laki-laki lain seraya berkata: "Berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk bagian dari mereka!" Beliau bersabda: "Engkau telah didahului oleh 'Ukasyah." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī (6541, 5705); HR. Muslim (220) dan lafal ini miliknya]

[Hadis-Hadis yang Diriwayatkan Mengenai Makna (Tawakal)]

  1. Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallāhu 'anhumā, bahwasanya ia berkata: Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آَمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ

"Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk salat. Kemudian berbaringlah di atas lambung kananmu, lalu ucapkanlah: 'Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu karena rasa harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat selamat dari (azab)-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.' Jika engkau meninggal pada malammu itu, maka engkau meninggal di atas fitrah. Dan jadikanlah kalimat-kalimat tersebut sebagai ucapan terakhir yang engkau katakan."

(Al-Bara') berkata: Maka aku mengulangi bacaan tersebut di hadapan Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam. Ketika aku sampai pada kalimat: "Allāhumma āmantu bikitābikal-ladzī anzalta" [Ya Allah, aku beriman kepada Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan], aku mengucapkan: "wa rasūlika" [dan Rasul-Mu]. Beliau bersabda: "Tidak (bukan rasulmu), melainkan: 'wa nabiyyikal-ladzī arsalta' [dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus]." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 1 (247) dan lafal ini miliknya; HR. Muslim (2710)]

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Dahulu ada dua orang bersaudara pada zaman Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam. Salah seorang dari keduanya selalu mendatangi Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam (untuk menuntut ilmu), sedangkan yang lainnya bekerja mencari nafkah. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadukan saudaranya (yang tidak bekerja) kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda:

لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ

"Boleh jadi engkau diberi rezeki justru disebabkan oleh keberadaan saudaramu itu." [HR. Al-Tirmidzi (2345) dan ia berkata: "Hasan shahih."]

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ - ثَلَاثًا - غَيْرُ تَمَامٍ

"Barang siapa yang melaksanakan suatu salat lalu tidak membaca Ummul Qur'an (Surah Al-Fatihah) di dalamnya, maka salatnya itu kurang (Khidāj (خداج): Yaitu berkurang/cacat. Dikatakan khadajat al-nāqatu apabila unta betina melahirkan anaknya sebelum waktunya, dan akhdajahā apabila ia melahirkan anaknya dalam keadaan cacat/tidak sempurna) —beliau mengucapkannya tiga kali— tidak sempurna."

Maka ditanyakan kepada Abu Hurairah: "Sesungguhnya kami berada di belakang imam?" Lalu Abu Hurairah menjawab: "Bacalah Al-Fatihah itu dalam hatimu (secara lisan yang hanya didengar diri sendiri), karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah Ta'ala berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِلْعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي - وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي - فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِلْعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} ، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِلْعَبْدِي مَا سَأَلَ

'Aku membagi salat (bacaan Al-Fatihah) [Yang dimaksud dengan al-shalāh di sini adalah Surah Al-Fatihah, dinamakan demikian karena salat tidak sah kecuali dengannya] antara Diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua separuh, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba itu mengucapkan: Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam [QS. Al-Fatihah: 2], Allah Ta'ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Dan apabila ia mengucapkan: Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang [QS. Al-Fatihah: 3], Allah Ta'ala berfirman: Hamba-Ku telah disanjung oleh-Ku. Dan apabila ia mengucapkan: Pemilik hari pembalasan [QS. Al-Fatihah: 4], Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku —dan sesekali beliau bersabda: Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya (tafwīdh) kepada-Ku—. Dan apabila ia mengucapkan: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan [QS. Al-Fatihah: 5], Allah berfirman: Ini adalah antara Diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Dan apabila ia mengucapkan: Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat [QS. Al-Fatihah: 6-7], Allah berfirman: Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.'" [HR. Muslim (395)]

  1. Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِاللهِ فَيُوشِكُ اللهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

"Barang siapa yang ditimpa oleh suatu kemelaratan/kesulitan hidup lalu ia mengadukannya (menggantungkan solusinya) kepada manusia, niscaya tidak akan terpenuhi kemelaratannya itu. Namun barang siapa yang ditimpa oleh suatu kemelaratan lalu ia mengadukannya kepada Allah, maka hampir pasti Allah akan memberikan rezeki baginya dengan segera atau lambat (di kemudian hari)." [HR. Al-Tirmidzi (2326) dan ini adalah lafalnya, ia berkata: "Hasan shahih gharib"; HR. Abu Daud (1645); HR. Ahmad dengan takhrij Ahmad Syakir (5/257), ia berkata: "Shahih", hadis nomor (3696).]

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ: الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ، الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ

"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya tanpa takdir Allah) dan tidak ada thiyarah (anggapan sial karena sesuatu), dan hal yang menakjubkanku adalah fa'l (harapan baik), yaitu kata-kata yang baik, kata-kata yang indah." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 10 (5756); HR. Muslim (2224) dan lafal ini miliknya]

  1. Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, bahwasanya ia berkata: Suatu hari aku pernah berada di belakang Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam (di atas hewan tumpangan), lalu beliau bersabda:

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

"Wahai anak muda, sesungguhnya aku hendak mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau memohon, maka mohonlah kepada Allah; dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwasanya seandainya seluruh umat bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu. Dan seandainya mereka bersatu untuk memudaratkanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu memudaratkanmu melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah mengering." [HR. Al-Tirmidzi (2516) dan lafal ini miliknya, ia berkata: "Hadis ini hasan shahih"; HR. Ahmad (1/293, 303), Syaikh Ahmad Syakir berkata: "Shahih" (4/293) nomor (2763).]

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

"Akan masuk surga kaum-kaum yang hati mereka seperti hati burung (dalam hal tawakal dan kepasrahan kepada Allah)." [HR. Muslim (2840). Maknanya adalah bahwasanya hati mereka seperti hati burung dalam hal ketawakalan (bersandar sepenuhnya kepada Allah).]

[Contoh Praktis/Aplikatif dari Kehidupan Nabi Shallallāhu 'Alaihi wa Sallam dalam Hal (Tawakal)]

  1. Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Abu Bakar radhiyallāhu 'anhu membeli sebuah pelana (rahl) dari 'Azib seharga tiga belas dirham. Lalu Abu Bakar berkata kepada 'Azib: "Suruhlah Al-Bara' agar ia membawakan pelanaku ini ke rumahku." 'Azib menjawab: "Tidak, sampai engkau menceritakan kepada kami bagaimana yang kalian perbuat—engkau dan Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam—ketika kalian berdua keluar meninggalkan Makkah sedangkan kaum musyrikin mengejar kalian."

Abu Bakar berkata: Kami berangkat dari Makkah, lalu kami berjalan sepanjang malam dan siang hari (أحيينا أو سرينا) hingga sampai pada waktu tengah hari (zuhur) dan matahari terasa amat terik (أظهرنا وقام قائم الظهيرة). Maka aku melayangkan pandanganku, melihat apakah ada tempat berteduh agar kami bisa bernaung di sana. Tiba-tiba aku melihat sebuah batu besar, lalu aku mendatangi batu tersebut dan melihat sisa bayangan darinya. Aku pun merapikan tempat itu dan membentangkan alas tidur untuk Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam di sana.

Kemudian aku berkata kepada beliau: "Berbaringlah wahai Nabi Allah!" Maka Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam berbaring, lalu aku pergi memperhatikan sekelilingku: apakah aku melihat ada seseorang dari kejaran musuh (al-thalab)? Tiba-tiba aku bertemu seorang penggembala kambing yang sedang menggiring kambing-kambingnya menuju batu besar tersebut dengan maksud mencari tempat berteduh seperti yang kami inginkan.

Maka aku bertanya kepadanya: "Milik siapakah engkau wahai anak muda?" Penggembala itu menjawab: "Milik seorang laki-laki dari suku Quraisy" —ia menyebutkan namanya lalu aku mengenalnya—. Aku bertanya lagi: "Apakah pada kambingmu ada susu?" Ia menjawab: "Ya." Aku bertanya: "Maukah engkau memerah susu untuk kami?" Ia menjawab: "Ya." Maka aku menyuruhnya, lalu ia memegang salah satu kaki belakang seekor kambing dari kawannya.

Kemudian aku menyuruhnya untuk membersihkan puting susunya dari debu, lalu aku menyuruhnya menepuk kedua telapak tangannya. (Al-Bara') berkata: Beginilah beliau mencontohkannya —menepukkan salah satu telapak tangan ke telapak tangan lainnya—. Lalu penggembala itu memerah sedikit susu untukku.

Sebelumnya aku telah menyiapkan sebuah wadah air (idāwah) untuk Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam yang muaranya dilapisi kain. Lalu aku menuangkan air ke susu tersebut hingga bagian bawahnya dingin. Kemudian aku pergi membawanya kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam dan aku mendapati beliau telah terbangun. Aku berkata: "Minumlah wahai Rasulullah!" Maka beliau minum hingga aku merasa puas/senang.

Kemudian aku berkata: "Telah tiba waktunya melanjutkan perjalanan wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Tentu." Maka kami pun melanjutkan perjalanan sedangkan orang-orang (kaum musyrikin) tetap mengejar kami. Dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berhasil menyusul kami selain Suraqah bin Malik bin Ju'tsum di atas kudanya.

Maka aku berkata: "Pengejar itu telah menyusul kita wahai Rasulullah!" Lalu beliau bersabda:

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا

"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 7 (3652) dan lafal ini miliknya; HR. Muslim (2009) sebagian darinya]

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam apabila hendak berperang selalu berdoa:

«اللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِي وَنَصِيرِي، بِكَ أَحُولُ، وَبِكَ أَجُولُ، وَبِكَ أَصُولُ، وَبِكَ أُقَاتِلُ»

"Ya Allah, Engkaulah pelindungku ('adhudī* / penolongku) dan penolongku. Dengan bantuan-Mu aku bergerak/berdaya, dengan bantuan-Mu aku melangkah, dengan bantuan-Mu aku menyerang, dan dengan bantuan-Mu aku berperang."* [HR. Al-Tirmidzi (3584) dan ia berkata: "Hasan gharib", serta ia menjelaskan: " 'Adhudī ' maknanya penolongku ('awnī)"; HR. Abu Daud (2632) dan ini adalah lafalnya. Al-Mizzi menisbahkannya dalam Al-Tuhfah (1/342) kepada Sunan Al-Nasā'ī al-Kubrā dan kitab 'Amal al-Yawm wa al-Laylah karya Al-Nasa'i pula]

  1. Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam biasa mengucapkan (dalam doanya):

«اللَّهُمَّ لَك أَسْلَمْتُ، وَبِك آَمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ»

"Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali (bertobat), dan dengan (hujah)-Mu aku berdebat. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keagungan-Mu, tidak ada tuhan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkanku. Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia semuanya akan mati." [HR. Muslim (2717).]

  1. Dari Buraidah al-Aslami radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam tidak pernah menganggap sial (thiyarah) terhadap sesuatu pun. Dan apabila beliau mengutus seorang petugas ('āmil), beliau menanyakan namanya; jika beliau menyukai nama tersebut, beliau merasa gembira dan berseri-seri tampak kegembiraan itu pada wajah beliau. Namun jika beliau membenci namanya, tampak kebencian akan hal itu pada wajah beliau. Dan apabila beliau memasuki suatu negeri/desa, beliau menanyakan namanya; jika beliau menyukai nama tersebut, beliau merasa gembira dan berseri-seri tampak kegembiraan itu pada wajah beliau. Namun jika beliau membenci namanya, tampak kebencian akan hal itu pada wajah beliau." [HR. Abu Daud (3920) dan ini adalah lafalnya. Pentahkik kitab Jāmi' al-Ushūl (7/628) berkata: "Sanadnya shahih"; HR. Al-Tirmidzi (1818) dan ia berkata: "Hadis ini gharib, dan Syu'bah menghentikan sanadnya (mauquf) pada Ibn 'Umar, dan itu lebih kuat menurutku serta lebih shahih."]
  1. Dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam memegang tangan seorang laki-laki yang menderita penyakit kusta (Majdzūm (مجذوم): Orang yang tertimpa/terjangkit penyakit kusta (lepra).), lalu beliau memasukkan tangan laki-laki tersebut bersama tangan beliau ke dalam piring/nampan makanan, kemudian beliau bersabda:

كُلْ ثِقَةً بِاللهِ وَتَوَكُّلًا عَلَيْهِ

"Makanlah dengan penuh rasa percaya (thiqah) kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya." [HR. Abu Daud (3925); HR. Ibn Majah (3542) dan ini adalah lafalnya]

  1. Dari Jabir bin 'Abdullah al-Anshari radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Kami berperang bersama Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam dalam suatu peperangan ke arah Najd. Lalu kami mendapati Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam berada di sebuah lembah yang memiliki banyak pohon berduri (Al-'Idhāh (العضاه): Setiap pohon yang memiliki duri). Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam singgah di bawah sebuah pohon, lalu menggantungkan pedangnya pada salah satu dahan pohon tersebut.

(Jabir) berkata: Orang-orang pun menyebar di lembah tersebut untuk berteduh di bawah pohon-pohon. (Jabir) berkata: Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ رَجُلًا أَتَانِي وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِي فَلَمْ أَشْعُرْ إِلَّا وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِي يَدِهِ فَقَالَ لِي: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟»

"Sesungguhnya ada seorang laki-laki mendatangiku sewaktu aku sedang tidur, lalu ia mengambil pedangku. Aku pun terbangun sedangkan ia sudah berdiri di atas kepalaku. Aku tidak menyadari melainkan pedang itu telah terhunus (Shaltan (صلتا): Terhunus (pedang yang keluar dari sarungnya)) di tangannya, lalu ia berkata kepadaku: 'Siapakah yang bisa mencegahku (menyelamatkanmu) dariku?'"

Beliau bersabda: Aku menjawab: "Allah."

Kemudian ia bertanya untuk kedua kalinya: "Siapakah yang bisa mencegahku dariku?" Beliau bersabda: Aku menjawab: "Allah."

Beliau bersabda: "Maka ia sarungkan kembali pedang tersebut (Fa syāma al-sayfa (فشام السيف): Maka ia mengembalikan/memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya), dan nah ini dia orangnya sedang duduk." Kemudian Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam tidak menghukum/mengusik orang tersebut. [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 6 (2910); HR. Muslim (843) dalam Kitab Al-Fadhā'il, dan lafal ini miliknya]

  1. Dari Abu Bakar radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Aku berkata kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam ketika aku berada di dalam gua (Tsur): "Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita." Maka beliau bersabda:

مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا

"Bagaimana dugaanmu wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang mana Allah adalah pihak ketiganya?" [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 7 (3653) dan lafal ini miliknya; HR. Muslim (2381).]

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Dahulu Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik dan paling pemberani. Pada suatu malam, penduduk Madinah terkejut/kaget (karena mendengar suara gemuruh), lalu mereka keluar berjalan ke arah sumber suara tersebut. Lantas Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam menyambut mereka kembali (dari arah suara) sementara beliau telah memastikan kebenaran berita tersebut (Istabra'a al-khabar (استبرأ الخبر): Memastikan dan meneliti hakikat/kebenaran dari berita tersebut secara langsung). Beliau menunggangi kuda milik Abu Thalhah tanpa pelana ('uryan) sedang di leher beliau terlingkar pedang, seraya beliau bersabda:

لَمْ تُرَاعُوا، لَمْ تُرَاعُوا

"Jangan takut! Tidak ada yang perlu ditakutkan!" [Lam turā'ū (لم تراعوا): Rasa takut yang tidak berdasar/menetap, atau tidak ada ketakutan yang perlu menakutkan kalian]

Kemudian beliau bersabda:

وَجَدْنَاهُ بَحْرًا» – أَوْ قَالَ: «إِنَّهُ لَبَحْرٌ

"Kami mendapatinya (kuda ini) sangat cepat lari bagaikan lautan (Wajadnāhu bahran (وجدناه بحرا): Kami mendapati lari kuda ini sangat luas, kencang, dan tidak terputus bagaikan lautan)" —atau beliau bersabda: "Sesungguhnya kuda ini benar-benar bagaikan lautan." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 6 (2908) dan lafal ini miliknya; HR. Muslim (2307).]

[Di Antara Atsar, Perkataan Para Ulama, dan Mufasir Mengenai (Tawakal)]

  1. Nabi Musa 'alaihis salam dahulu pernah berdoa: "Ya Allah, milik-Mu lah segala pujian, hanya kepada-Mu tempat mengadu, Engkaulah tempat memohon pertolongan, kepada-Mu lah dimohonkan bantuan, kepada-Mu lah tempat bersandar (al-tuklān), dan tidak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan pertolongan-Mu." [Majmū' al-Fatāwā (1/112).]

Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: "Dahulu penduduk Yaman melakukan ibadah haji tanpa membawa bekal (perbekalan makanan/biaya), seraya mereka berkata: 'Kami adalah orang-orang yang bertawakal.' Namun apabila mereka telah sampai di Makkah, mereka meminta-minta kepada orang-orang. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى} 'Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa' [QS. Al-Baqarah: 197]." [HR. Bukhari – Fath al-Bārī 3 (1523).]

  1. Az-Zubair bin al-'Awwam radhiyallāhu 'anhu berkata: *"Orang yang pertama kali menjahrkan (mengeraskan bacaan) Al-Qur'an di Makkah setelah Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam adalah 'Abdullah bin Mas'ud. Suatu hari para sahabat Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam berkumpul lalu berkata: 'Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur'an ini dibacakan secara keras kepada mereka sama sekali. Maka siapakah laki-laki yang sanggup memperdengarkannya kepada mereka?' 'Abdullah bin Mas'ud berkata: 'Aku.' Mereka berkata: 'Kami mengkhawatirkan keselamatanmu dari tindakan mereka. Kami hanya menginginkan seorang laki-laki yang memiliki kerabat/kabilah kuat yang dapat melindunginya dari kaum tersebut jika mereka berniat jahat kepadanya.'

Ia menjawab: 'Biarkanlah aku, karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla akan melindungiku.'

Maka besok harinya pada waktu dhuha, Ibn Mas'ud pergi hingga sampai di Maqam Ibrahim sementara kaum Quraisy sedang berada di tempat-tempat perkumpulan mereka. Lalu ia berdiri di dekat Maqam Ibrahim kemudian membaca dengan meninggikan suaranya: 'Bismillāhir-rahmānir-rahīm. Ar-Rahmān, 'allamal-qur'ān...' [Yaitu ia membaca Surah Ar-Rahman] Ia terus menghadap ke arah mereka seraya membacanya.

Orang-orang Quraisy pun memperhatikannya lalu mereka berkata: 'Apa yang diucapkan oleh anak Ibn Umm 'Abd ini?' Kemudian mereka menyadari: 'Sesungguhnya ia sedang membaca sebagian dari apa yang dibawa oleh Muhammad!' Maka mereka mendatangi Ibn Mas'ud lalu memukuli wajahnya, namun ia tetap terus membaca hingga mencapai bacaan yang dikehendaki Allah.

Kemudian ia kembali kepada para sahabatnya dalam keadaan wajahnya telah terluka/berbekas bekas pukulan. Para sahabat berkata: 'Inilah yang kami khawatirkan atas dirimu.' Ia menjawab: 'Musuh-musuh Allah itu tidak pernah terasa lebih ringan bagiku daripada saat ini! Jika kalian mau, besok pagi aku akan mendatangi mereka lagi dengan melakukan hal yang sama.' Mereka berkata: 'Cukuplah bagimu, sungguh engkau telah memperdengarkan kepada mereka apa yang sangat mereka benci'."* [Fadhā'il al-Shahābah karya Imam Ahmad (2/837–838); Sirah Ibn Hisyām (1/314); serta disebutkan oleh Ibn al-Atsir dalam Usd al-Ghābah (3/56).]

  1. Dari 'Aun bin 'Abdullah, ia berkata: Ketika seorang laki-laki sedang berada di sebuah kebun di Mesir pada masa fitnah Ibn al-Zubair [Fitnah Ibn al-Zubair: Yaitu peristiwa peperangan/perselisihan antara pihak Ibn al-Zubair dan Al-Hajjaj] dalam keadaan duka/prihatin sambil menggores-gores tanah dengan sesuatu di tangannya, tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan tampak (Sanaha lahu (فسنح له): Tampak / muncul di hadapannya) di hadapannya seorang pemilik cangkul (Mashāh (مسحاة): Alat penggali/pengeduk tanah dari besi (sejenis cangkul atau sekop)).

Orang tersebut berkata kepadanya: "Wahai Fulan, mengapa aku melihatmu bermuram durja dan bersedih hati?" Laki-laki itu seolah-olah memandangnya sebelah mata (Azdarāhu (ازدراه): Memandangnya rendah / menganggap remeh kedudukannya) lalu menjawab: "Tidak ada apa-apa."

Pemilik cangkul itu berkata: "Apakah karena urusan dunia? Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan sementara yang dimakan oleh orang baik maupun orang jahat. Sedangkan akhirat adalah janji yang benar yang diputuskan padanya oleh Raja Yang Mahakuasa untuk memisahkan antara yang hak dan yang batil."

Ketika ia mendengar ucapan tersebut darinya, hal itu membuatnya kagum, lalu ia berkata: "Aku bersedih karena kondisi yang sedang menimpa kaum muslimin."

Pemilik cangkul itu berkata: "Sesungguhnya Allah akan menyelamatkanmu disebabkan oleh rasa kepedulianmu terhadap kaum muslimin. Dan memohonlah! Maka siapakah orang yang memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla lalu Allah tidak memberinya, atau berdoa kepada-Nya lalu tidak dikabulkan-Nya, atau bertawakal kepada-Nya lalu tidak dicukupkan-Nya, atau percaya penuh kepada-Nya lalu tidak diselamatkan-Nya?"

(Aun) berkata: Maka terikatlah dengan doa tersebut (Fal'aliqtu lid-du'ā' (فعلقت لدعاء): Maka aku memegang/menerapkan doa tersebut dan menganggapnya sebagai kesempatan emas): "Ya Allah, selamatkanlah aku dan selamatkanlah (orang lain) dari kejahatanku." Maka fitnah/ujian tersebut pun sirna (Fatamahhalat (فتمحلت): Maka tersingkap dan sirnalah fitnah/bahaya tersebut) dan ia tidak tertimpa masalah sedikit pun di antara mereka." [Al-Tawakkul karya Ibn Abi al-Dunya (52), dan pentakhrijnya berkata: "Sanadnya shahih."]

  1. Said bin Jubair rahimahullāh berkata:

"Tawakal kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah pokok/simpul dari seluruh keimanan." [Al-Zuhd karya Hannad bin al-Sari (1/304).]

  1. 'Iyadh al-Asy'ari rahimahullāh Ta'ala berkata:

"Aku menghadiri Perang Yarmuk dan saat itu kami dipimpin oleh lima orang panglima: Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, Ibn Hasanah, Khalid bin al-Walid, dan 'Iyadh. 'Umar radhiyallāhu 'anhu telah berpesan: 'Jika terjadi kecamuk perang, maka pemimpin kalian adalah Abu 'Ubaidah.'

(Iyadh) berkata: Maka kami menulis surat kepada Abu 'Ubaidah bahwasanya kematian telah mengepung kami dan kami memohon bantuan pasukan darinya. Lalu ia membalas surat kepada kami: 'Sungguh telah sampai kepadaku surat kalian yang meminta bantuan pasukan kepadaku. Ketahuilah, aku akan menunjukkan kalian kepada Dzat yang bantuan pertolongan-Nya jauh lebih perkasa dan pasukan-Nya jauh lebih siap hadir, yaitu Allah 'Azza wa Jalla. Maka mohonlah pertolongan kepada-Nya, karena sesungguhnya Muhammad shallallāhu 'alaihi wa sallam telah diberi kemenangan pada Perang Badar dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit daripada jumlah kalian saat ini. Maka apabila suratku ini telah sampai kepada kalian, perangilah mereka dan jangan lagi mengirim surat kepadaku.'

Lalu kami pun memerangi mereka dan berhasil mengalahkan mereka serta membunuh mereka hingga jarak empat farsakh (jauhnya), dan kami mendapatkan harta rampasan perang." [HR. Ahmad (1/49).]

  1. Syaqiq bin Salamah (Abu Wa'il) berkata:

"Kami keluar pada suatu malam yang mencekam, lalu kami melewati sebuah hutan lebat (Al-Ajamah (الأجمة): Pohon-pohon yang sangat banyak, lebat, dan saling melilit/kerung) yang di dalamnya terdapat seorang laki-laki sedang tertidur, sedangkan kuda tunggangannya dalam keadaan terikat sedang merumput di dekat kepalanya. Maka kami pun membangunkannya dan berkata kepadanya: 'Apakah engkau tidur di tempat seperti ini?'

(Syaqiq) berkata: Lalu laki-laki itu mengangkat kepalanya dan berkata: 'Sesungguhnya aku malu kepada Pemilik 'Arasy jika Dia mengetahui bahwa aku takut kepada sesuatu selain-Nya.' Kemudian ia meletakkan kembali kepalanya lalu tertidur." [Al-Zuhd karya Hannad bin al-Sari (1/306), pentahkiknya berkata: "Sanadnya shahih."]

  1. Imam Ahmad rahimahullāh Ta'ala berkata:

"Sepatutnya bagi seluruh manusia untuk bertawakal kepada Allah 'Azza wa Jalla, namun mereka juga harus membiasakan diri mereka untuk bekerja/mencari nafkah (ikhtiar). Barang siapa yang berpendapat menyelisihi perkataan ini, maka itu adalah perkataan orang yang dhalal/bodoh (ahmaq)." [Al-Ādāb al-Syar'iyyah karya Ibn Muflih (3/270).]

  1. Beliau (Imam Ahmad) juga berkata:

"Tidak bergantung kepada manusia dengan cara bekerja mencari rezeki adalah hal yang lebih kami sukai daripada duduk berdiam diri menunggu apa yang ada di tangan manusia." [Sumber yang sama (Al-Ādāb al-Syar'iyyah), pada halaman yang sama]

  1. Beliau (Imam Ahmad) juga berkata:

"Hakekat jujurnya orang yang bertawakal kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah ia bertawakal kepada Allah tanpa ada sedikit pun di dalam hatinya rasa berharap kepada seorang manusia untuk membawakannya sesuatu. Apabila kondisinya sudah demikian, niscaya Allah akan memberi rezeki kepadanya dan ia benar-benar menjadi seorang yang bertawakal." [Sumber yang sama (Al-Ādāb al-Syar'iyyah), pada halaman yang sama]

  1. Ibn al-Qayyim rahimahullāh Ta'ala berkata:

"Tawakal merupakan salah satu sebab terkuat yang dengannya seorang hamba dapat menolak gangguan, kezaliman, dan permusuhan makhluk yang tidak sanggup ia tanggung." [Al-Tafsīr al-Qayyim karya Ibn al-Qayyim (hal. 587).]

  1. Ibn al-Qayyim dan Al-Fairuzabadi rahimahumallāh Ta'ala berkata:

"Tawakal adalah separuh dari agama, dan separuh keduanya adalah al-inābah (kembali/bertobat kepada Allah). Karena sesungguhnya agama itu terdiri dari al-isti'ānah (memohon pertolongan) dan al-'ibādah (beribadah). Maka tawakal itu adalah al-isti'ānah, sedangkan al-inābah adalah al-'ibādah." [Madārij al-Sālikīn karya Ibn al-Qayyim (2/118), dan Bashā'ir Dzawī al-Tamyīz karya Al-Fairuzabadi (2/315).]

[Di Antara Manfaat (Tawakal)]

  1. Merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan kebaikan keislaman seseorang.
  2. Mendatangkan kecintaan Allah Ta'ala, pertolongan-Nya, kemenangan dari-Nya, serta dukungan-Nya.
  3. Senantiasa memohon pertolongan dari Allah Sang Maha Raja, karena keyakinan orang yang bertawakal akan ketidakmampuan (kelemahan total) dirinya untuk meraih apa yang ia inginkan, serta kesempurnaan kekuasaan Allah untuk mewujudkan segala yang Dia kehendaki dan bahkan di atas apa yang diinginkan hamba-Nya.
  4. Mendapatkan perlindungan dan benteng dari setan yang terkutuk serta dari kejahatan manusia yang tercela.
  5. Menjaga diri agar tetap berada di batas-batas syariat dan tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan.
  6. Meninggalkan sikap saling berdesakan/berebut (harta/kedudukan) dengan manusia, karena orang yang bertawakal tidak takut kehilangan apa pun yang telah ditakdirkan untuknya.
  7. Memutus rasa tamak/kerakusan terhadap apa yang ada di tangan manusia karena bertawakal dan percaya penuh pada apa yang ada di sisi Allah.
  8. Melahirkan ketenangan jiwa dan kestabilan keadaan hidup.
  9. Tidak menghalangi seseorang untuk mengambil sebab-sebab (ikhtiar) yang disyariatkan dan dibolehkan, seraya tetap terbebas dari belenggu ketergantungan pada sebab-sebab tersebut.
  10. Mewujudkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallāhu 'alaihi wa sallam.
  11. Meraih keridaan Allah, sehingga Allah memberikan jalan keluar baginya dan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.
  12. Menyiapkan pelakunya untuk meraih keberuntungan menemani para nabi di dalam surga yang penuh kenikmatan.
  13. Termasuk salah satu sebab terbukanya kelapangan rezeki.
  14. Dengannya diperoleh pertolongan yang sempurna dari Allah 'Azza wa Jalla, sehingga menolak dari orang yang bertawakal kejahatan orang-orang jahat, baik dari kalangan setan maupun dari setiap pihak yang berbuat tipu daya kepadanya.

 

Sumber:

Ibn Humayd, Ṣāli ibn ‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Narat an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li an-Nashr wa at-Tawzī‘

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat