Mudzakirat Da'wah Wa Da'iyah (Memoar Al-Banna) (1)

PENGANTAR

(Saya menyarankan kepada orang-orang yang melibatkan diri dalam urusan publik dan merasa diri mereka rentan bersinggungan dengan pemerintah agar tidak terlalu berambisi untuk menulis)

Aku tidak tahu mengapa aku menemukan keinginan yang sangat kuat dalam diriku untuk menulis memoar ini, setelah sebelumnya aku benar-benar berpaling dan enggan melakukannya. Hal itu terjadi setelah pihak kejaksaan menemukan catatan-catatan pribadiku pada tahun 1943. Kala itu, aku mendapati sikap interogator yang begitu keras dan melelahkan tanpa ada faedah, hasil, maupun urgensi, selain hanya membebani kata-kata dengan makna yang tidak semestinya mereka tanggung. Serta menyimpulkan hasil-hasil yang tidak sesuai dengan premis-premisnya, dengan alasan bahwa inilah tugas kejaksaan agung sebagai otoritas pendakwa.

Barangkali hilangnya sebagian besar catatan memoar tersebut setelah peristiwa itu menjadi sebab langsung yang membuatku tunduk pada keinginan (menulis kembali) ini. Sebab, tampaknya terasa berat bagi seseorang ketika kenangan-kenangan berharga itu hilang begitu saja dari tangannya, atau ia khawatir kenangan tersebut akan lenyap dan terlupakan, padahal ia adalah lembaran-lembaran kehidupannya. Ia dapat menghibur dirinya dengan membaca dan mengenangnya kembali, serta meninggalkannya untuk orang lain setelahnya. Meskipun ada bagian yang hilang, aku masih mengingat peristiwa-peristiwa ini seolah-olah baru saja terjadi.

Mungkin ini menjadi sebab lain bagi keinginanku untuk menulis, agar ingatan ini tidak tergerus oleh perjalanan waktu. Sungguh, pergantian siang dan malam itu melalaikan!

Bagaimanapun kondisinya, aku berkeinginan untuk menulis, dan aku akan menulis demi menuruti keinginan ini. Jika bisikan hati ini datangnya dari Allah Yang Maha Pengasih (rahmaniyah), maka segala puji bagi Allah. Namun jika tidak demikian, maka aku memohon ampunan kepada Allah. Keyakinanku adalah bahwa tulisan ini jika tidak mendatangkan manfaat, maka tidak akan mendatangkan mudarat. Kebaikanlah yang kukehendaki, dan Allah-lah pemilik taufik.

Meskipun aku menyarankan kepada orang-orang yang melibatkan diri dalam urusan publik dan merasa diri mereka rentan bersinggungan dengan pemerintah agar tidak terlalu berambisi untuk menulis, karena hal itu lebih menenangkan bagi jiwa mereka dan bagi orang lain, serta lebih jauh dari rusaknya argumen dan buruknya interpretasi. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia-lah yang menunjukkan jalan yang lurus!

MADRASAH AGAMA AR-RASYAD

Semoga Allah merahmati guru kami, Syekh Muhammad Zahran, pemilik Madrasah Agama (Madrasah Diniyah) Ar-Rasyad. Beliau adalah seorang pria yang cerdas, jenius, alim yang bertakwa, cerdik, cepat tanggap, lagi berwawasan luas. Di tengah-tengah manusia, beliau bagaikan pelita yang terang benderang dengan cahaya ilmu dan kemuliaan yang menyinari setiap tempat. Meskipun studi formalnya tidak sampai mengantarkannya pada tingkatan ulama resmi, namun kecerdasan, bakat, adab, dan perjuangannya telah membuatnya jauh melampaui sesamanya dalam ilmu pengetahuan dan kontribusi publik.

Beliau mengajar masyarakat awam di masjid dan memberikan pemahaman agama (tafaqquh) kepada para wanita di rumah-rumah. Di samping itu, beliau mendirikan Madrasah Agama Ar-Rasyad pada tahun 1915 M hampir menyerupai bentuk Maktab [lembaga pendidikan dasar tradisional Al-Qur'an] swadaya masyarakat yang tersebar pada masa itu di desa-desa dan daerah pedalaman. Akan tetapi, madrasah ini dikelola dengan metode lembaga-lembaga modern terkemuka yang layak dianggap sebagai rumah ilmu!

Sistem pendidikannya sama-sama istimewa, baik dalam materi maupun metodenya. Materi pelajarannya mencakup—sebagai tambahan dari materi-materi yang lazim dikenal di madrasah sejenis kala itu—hafalan dan pemahaman hadis-hadis Nabi. Para murid diwajibkan untuk mempelajari satu hadis baru pada setiap akhir jam pelajaran di hari Kamis. Guru akan menjelaskan hadis tersebut kepada mereka hingga mereka memahaminya, lalu mereka mengulang-ulangnya hingga menghafalnya. Setelah itu, sang guru menguji kembali apa yang telah mereka pelajari sebelumnya. Dengan demikian, tahun ajaran tidak akan berakhir melainkan mereka telah memperoleh kekayaan hafalan yang lumayan dari hadis Rasulullah . Aku ingat bahwa sebagian besar hadis yang aku hafal sesuai redaksi aslinya adalah apa yang melekat di benakku sejak masa itu. Pelajaran di sana juga mencakup insya' [seni mengarang/menulis], kaidah-kaidah bahasa, penerapan praktis (tathbiq), sebagian unsur sastra dalam membaca atau imla' [dikte], serta hafalan-hafalan pilihan dari bait puisi maupun prosa yang bermutu baik. Tidak ada satu pun dari materi-materi ini yang dikenal di Maktab-Maktab sejenis lainnya.

Beliau memiliki metode mengajar dan mendidik yang berpengaruh lagi produktif, meskipun beliau tidak pernah mempelajari ilmu-ilmu pendidikan maupun dasar-dasar psikologi. Beliau lebih banyak bersandar pada ikatan emosional (empati) antara dirinya dan para muridnya. Beliau mengevaluasi tindakan-tindakan mereka dengan evaluasi yang sangat detail, yang dibumbui dengan pemberian rasa percaya kepada mereka dan kemandirian, serta memberi mereka ganjaran atas kebaikan atau sanksi atas keburukan berupa sanksi moral. Sanksi tersebut memicu rasa puas dan bahagia di dalam jiwa saat berbuat baik, sebagaimana ia juga dapat memberikan rasa perih dan sedih saat berbuat buruk. Sering kali hal itu disampaikan dalam bentuk sindiran jenaka yang tajam, doa yang baik, atau sebait puisi—mengingat guru kami juga sesekali menggubah puisi.

Aku masih ingat sebait puisi yang menjadi hadiah atas jawaban dalam materi tathbiq [penerapan kaidah] yang membuat beliau kagum, lalu beliau memerintahkan pemilik buku tulis tersebut untuk menuliskan di bawah nilai tugasnya:

Hasan telah menjawab dan dalam jawabannya ia berbuat jitu (ajada) Maka semoga Allah menganugerahinya keridaan dan petunjuk (rasyada)

Sebagaimana aku juga mengingat bait lain yang beliau hadiahkan kepada salah seorang rekan atas jawaban yang tidak berkenan di hati beliau, lalu beliau memerintahkannya untuk menuliskan di bawah nilainya:

Wahai Penolong dari Allah, paculah kendaraan dengan cepat Untuk membawa pemuda ini, wahai Penolong dari Allah

Bait itu pun akhirnya menjadi ungkapan yang populer, dan disematkan kepada rekan tersebut sebagai nama julukan. Kami sering kali memanggilnya, jika kami ingin membuatnya jengkel, dengan sebutan: "Wahai Penolong dari Allah" (Ya Gharatallah).

Guru kami menyuruh pemilik buku tulis untuk menuliskan sendiri apa yang didiktekannya karena beliau—semoga Allah merahmatinya—adalah seorang tunanetra. Akan tetapi, di dalam mata batinnya terdapat banyak cahaya yang melebihi orang-orang yang dapat melihat.

"Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46)

Barangkali aku telah menyadari sejak momen tersebut—walaupun aku tidak merasakannya secara sadar saat itu—mengenai pengaruh keselarasan ruhani dan ikatan emosional antara murid dan guru. Sungguh, kami dahulu sangat mencintai guru kami dengan kecintaan yang besar, meskipun beliau membebani kami dengan tugas-tugas yang melelahkan.

Mungkin dari beliaulah—semoga Allah merahmatinya—di samping ikatan ruhani tersebut, aku memetik manfaat berupa kecintaan untuk mencari tahu dan banyak membaca. Sebab, beliau sering kali mengajakku ke perpustakaannya yang berisi banyak kitab yang bermanfaat, agar aku mencarikan rujukan untuknya dan membacakan kepadanya masalah-masalah yang beliau butuhkan. Sering kali bersamanya beberapa teman duduknya dari kalangan ahli ilmu, lalu mereka membahas, mencermati, dan mendiskusikan tema tersebut, sementara aku mendengarkannya.

Demikianlah, hubungan langsung antara guru dan murid ini membuahkan pengaruh-pengaruh yang paling indah. Alangkah baiknya jika para pengajar dan pendidik menyadari hal itu, lalu bersandar serta mencurahkan perhatian kepadanya, karena di dalamnya—insya Allah—terdapat kebaikan yang banyak.

Di madrasah yang penuh berkah inilah, terlewati satu fase dari fase-fase umurku, yaitu antara usia delapan hingga dua belas tahun.

MENUJU MADRASAH I’DADIYAH (MENENGAH)

Setelah itu, guru kami disibukkan dari mengurus madrasahnya. Beliau menyerahkan pengelolaannya kepada para asisten ('urafa') yang tidak memiliki ruhnya yang terang, ilmunya yang luas, adabnya yang tinggi, serta akhlaknya yang memikat. Maka jiwa remaja ini, yang telah mencicipi manisnya karakter-karakter tersebut, tidak betah untuk bersabar mendampingi mereka. Meskipun saat itu ia belum menyempurnakan hafalan Al-Qur'annya, dan belum mewujudkan keinginan kuat ayahnya yang sangat ingin melihatnya menjadi seorang hafiz kitab Allah. Hafalannya saat itu belum melewati Surah Al-Isra' jika dimulai dari Surah Al-Baqarah—yaitu sekitar setengah dari seluruh isi Al-Qur'an. Secara tiba-tiba, ia berterus terang kepada ayahnya dengan tekad yang bulat dan mengherankan, bahwa ia tidak sanggup lagi untuk terus bertahan di Maktab-Maktab ini, dan ia harus pergi ke Madrasah I'dadiyah.

Madrasah I'dadiyah pada masa itu setingkat dengan Madrasah Ibtidaiyah (Dasar) pada hari ini, namun tanpa pelajaran bahasa asing, dan dengan menambahkan beberapa materi hukum agraria dan keuangan, serta sebagian ilmu perkebunan, di samping perluasan dalam mempelajari ilmu-ilmu bahasa nasional (bahasa Arab) dan agama.

Ayah, yang sangat menginginkan anaknya menghafal kitab Allah, sempat menentang keinginan ini. Namun, beliau akhirnya menyetujuinya setelah sang anak berkomitmen kepadanya bahwa ia "akan menyempurnakan hafalan Al-Qur'an al-Karim dari rumahnya".

Belum tiba awal pekan, anak tersebut telah resmi menjadi murid di Madrasah I'dadiyah. Ia membagi waktunya antara belajar di siang hari, dan mempelajari keterampilan menyervis jam—yang sangat ia gemari—setelah pulang madrasah hingga waktu salat Isya. Ia mengulang pelajaran-pelajaran madrasahnya setelah itu hingga waktu tidur, dan menghafal bagian setoran Al-Qur'annya setelah salat Subuh sampai ia berangkat ke madrasah.

PERKUMPULAN AKHLAK ADABIYAH

Di antara guru-guru di madrasah ini adalah Muhammad Efendi Abdul Khaliq—semoga Allah merahmatinya. Beliau adalah guru hitung dan matematika, namun beliau adalah seorang yang memiliki akhlak dan keutamaan. Beliau mengusulkan kepada para murid kelas tiga untuk mendirikan sebuah perkumpulan madrasah di antara mereka yang dinamakan "Perkumpulan Akhlak Adabiyah" (Jam'iyyat al-Akhlaq al-Adabiyah). Beliau sendiri yang menyusun anggaran dasarnya, menempatkan dirinya sebagai pembina perkumpulan, serta mengarahkan para murid untuk memilih dewan pengurusnya.

Anggaran rumah tangganya secara ringkas menetapkan bahwa: barang siapa yang mencaci saudaranya [temannya] dikenakan denda satu milim (mata uang terkecil mesir). Barang siapa yang mencaci ayah dikenakan denda dua milim. Barang siapa yang mencaci ibu dikenakan denda satu qirsy (sen mesir). Barang siapa yang mencaci agama dikenakan denda dua qirsy. Dan barang siapa yang bertengkar dengan orang lain dikenakan denda yang serupa.

Hukuman denda ini dilipatgandakan bagi para anggota dewan pengurus dan ketuanya. Barang siapa yang enggan mengeksekusi hukuman, maka rekan-rekannya akan mengucilkannya sampai ia melaksanakannya. Uang yang terkumpul dari denda-denda ini akan dinafkahkan untuk berbagai bentuk kebajikan dan kebaikan. Seluruh anggota wajib untuk saling berwasiat di antara mereka dalam memegang teguh agama, mendirikan salat pada waktunya, serta menjaga ketaatan kepada Allah, kedua orang tua, dan orang-orang yang lebih tua usia maupun kedudukannya.

Kekayaan [ilmu dan mental] yang didapat dari Madrasah Agama Ar-Rasyad menjadi sebab bagi remaja ini untuk tampil lebih maju daripada rekan-rekan sesamanya, dan pandangan mereka pun tertuju kepadanya. Hingga ketika tiba saatnya untuk memilih dewan pengurus Perkumpulan Akhlak Adabiyah, pilihan mereka jatuh kepadanya untuk menjadi ketua dewan pengurus ini.

Perkumpulan tersebut pun menjalankan tugasnya, menyidang banyak orang atas pelanggaran yang mereka lakukan, dan berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang lumayan dari denda-denda tersebut. Sebagian uang itu digunakan untuk memberikan penghormatan kepada rekan sesama murid, Labib Iskandar, saudara dari dokter kesehatan yang dipindahtugaskan ke kota lain sehingga saudaranya pun ikut pindah bersamanya. Sedangkan sebagian lainnya digunakan untuk mengurus jenazah seorang asing yang tenggelam, yang dihanyutkan oleh Sungai Nil hingga ke dekat pagar madrasah. Perkumpulan pun melakukan pengurusan jenazah tersebut menggunakan dana kas ini.

Tidak diragukan lagi bahwa perkumpulan semacam ini memberikan hasil dalam hal pembentukan akhlak yang lebih banyak daripada apa yang dihasilkan oleh dua puluh pelajaran teori. Sudah semestinya madrasah-madrasah dan lembaga pendidikan mencurahkan perhatian yang sebesar-besarnya terhadap perkumpulan-perkumpulan seperti ini.

DI TEPI SUNGAI NIL

Aku ingat bahwa di antara dampak perkumpulan ini di dalam jiwa para anggotanya yang masih belia adalah ketika pada suatu hari aku berjalan di tepi Sungai Nil, di mana terdapat banyak pekerja yang sibuk membangun kapal-kapal layar. Industri ini memang berkembang pesat di Mahmudiyah, Provinsi Al-Buhairah. Aku memperhatikan salah seorang pemilik kapal yang sedang dibangun itu telah menggantungkan sebuah patung kayu telanjang pada tiang layarnya dengan bentuk yang bertentangan dengan kesopanan. Terlebih lagi karena bagian tepi sungai ini sering dilewati oleh para wanita dan gadis-gadis untuk mengambil air.

Maka apa yang kulihat itu membuatku terguncang. Aku segera pergi menemui perwira pos polisi setempat—saat itu Mahmudiyah belum menjadi pusat administrasi resmi—dan menceritakan kepadanya kisah tersebut seraya mengingkari pemandangan itu.

Perwira tersebut sangat menghargai sikap cemburu terhadap agama (ghirah) ini. Ia segera bangkit bersamaku menuju lokasi, di mana ia mengancam pemilik kapal dan memerintahkannya untuk menurunkan patung tersebut seketika itu juga, dan hal itu pun terlaksana. Tidak cukup sampai di situ, ia bahkan datang ke madrasah keesokan harinya dan mengabarkan berita tersebut kepada kepala madrasah dengan penuh kekaguman dan kegembiraan.

Kepala madrasah saat itu adalah seorang pendidik yang mulia, Ustaz Mahmud Rusydi—yang kini termasuk salah satu pejabat senior di Kementerian Pendidikan. Beliau pun turut gembira dan mengumumkan peristiwa tersebut kepada seluruh murid dalam apel pagi, seraya memotivasi mereka untuk memberikan nasihat kepada manusia dan berupaya mengingkari kemungkaran di mana pun berada.

Tampaknya perhatian terhadap urusan-urusan semacam ini kini telah memudar—sangat disayangkan—baik di kalangan para kepala madrasah maupun para perwira polisi secara bersamaan.

DI MASJID KECIL

Banyak murid madrasah ini yang membiasakan diri untuk mendirikan salat di "Masjid Kecil", yaitu sebuah masjid yang bersebelahan dengan madrasah, khususnya salat Zuhur saat mereka memiliki waktu luang setelah makan siang.

Di antara kisah unik yang kuingat adalah bahwa imam masjid swadaya masyarakat (masjid ahli) ini, yaitu Syekh Muhammad Said—semoga Allah merahmatinya—pada suatu hari melintas dan melihat seorang muazin sedang mengumandangkan azan, jemaah sedang didirikan, seorang imam maju ke depan, dan sejumlah besar murid—mencapai tiga atau empat saf—sedang melaksanakan salat. Beliau merasa khawatir akan terjadinya pemborosan air dan cepat rusaknya tikar masjid. Beliau menunggu sampai para jemaah menyelesaikan salat mereka, lalu beliau bertindak membubarkan mereka dengan paksa sembari mengancam, memperingatkan, dan menakut-nakuti. Di antara para murid ada yang patuh lalu kabur, namun ada pula yang bertahan dan teguh.

Bisikan kekanak-kanakan mengilhamiku bahwa aku harus membalas perbuatannya. Maka aku menulis sebuah surat kepadanya yang tidak berisi apa pun selain ayat ini:

"Janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, sedangkan mereka mengharapkan keridaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun atas hitungan (amal) mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun atas hitungan (amalmu). Jika kamu mengusir mereka, kamu termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-An'am: 52)

Hanya itu, tidak ada yang lain. Aku mengirimkannya kepadanya melalui pos dengan sistem bayar di tempat (mughram). Aku menganggap bahwa denda satu qirsy saqh sudah cukup sebagai bentuk pembalasan ini.

Beliau—semoga Allah merahmatinya—mengetahui dari siapa hantaman ini berasal. Beliau menemui ayahku untuk mengadu dan menyampaikan keberatan. Ayah pun menasihatinya agar memperlakukan para murid dengan baik. Setelah peristiwa itu, beliau memiliki sikap-sikap yang baik bersama kami dan memperlakukan kami dengan perlakuan yang santun. Beliau memberikan syarat kepada kami agar kami memenuhi bak penampungan air masjid sebelum kami pulang, serta membantunya mengumpulkan sumbangan untuk membeli tikar jika tikar yang ada telah rusak, dan kami pun memenuhi apa yang beliau syaratkan.

PERKUMPULAN PENCEGAHAN HAL-HAL YANG HARAM

Seolah-olah aktivitas internal madrasah ini belum memuaskan hasrat para remaja tersebut untuk bekerja melakukan perbaikan umum. Maka berkumpullah beberapa orang dari mereka.

Di antara mereka adalah Ustaz Muhammad Ali Budair (yang kini menjadi pengajar di Kementerian Pendidikan), Ustaz Abdul Rahman As-Sa'ati (yang kini menjadi pegawai kereta api), dan Ustaz Said Budair (yang kini menjadi seorang insinyur).

Mereka memutuskan untuk membentuk sebuah perkumpulan Islam dengan nama "Perkumpulan Pencegahan Hal-Hal yang Haram" (Jam'iyyat Man' al-Muharramat). Iuran anggota di dalamnya berkisar antara lima hingga sepuluh milim setiap pekannya, dan tugas-tugas organisasi didistribusikan kepada para anggotanya.

Sebagian anggota bertugas menyiapkan teks-teks dan draf surat. Anggota lainnya bertugas menyalin surat-surat ini dengan tinta tebal (al-hibr az-zafar). Anggota ketiga bertugas mencetaknya, sedangkan sisanya bertugas mendistribusikannya kepada para penerimanya.

Penerimanya adalah orang-orang yang kabarnya sampai ke perkumpulan bahwa mereka telah melakukan sebagian dosa atau tidak mendirikan ibadah dengan semestinya, terutama ibadah salat. Barang siapa yang kedapatan berbuka di bulan Ramadan dan dilihat oleh salah seorang anggota, maka dilaporkanlah ia, lalu dikirimkan kepadanya sebuah surat yang berisi larangan keras atas kemungkaran ini. Barang siapa yang lalai dalam salatnya, tidak khusyuk, dan tidak tumakninah di dalamnya, maka surat serupa akan sampai kepadanya. Barang siapa yang berhias dengan emas, akan sampai kepadanya surat larangan yang menjelaskan hukum berhias dengan emas menurut syariat. Wanita mana saja yang disaksikan oleh salah seorang anggota sedang menampar-nampar wajahnya dalam suatu perkabungan [meratap/niyahah] atau menyeru dengan seruan jahiliah, maka suami atau walinya akan menerima surat. Demikianlah, tidak ada seorang pun, baik kecil maupun besar, yang diketahui melakukan suatu perbuatan dosa melainkan akan sampai kepadanya surat dari perkumpulan yang melarangnya dengan keras dari apa yang dilakukannya.

Sangat mudah bagi para anggota—karena usia mereka yang masih belia, tidak menarik perhatian orang, tidak dicurigai, maupun diwaspadai—untuk mengetahui segala sesuatu.

Masyarakat sempat mengira bahwa ini adalah tindakan guru kami, Syekh Zahran—semoga Allah merahmatinya. Mereka menemuinya dan mencelanya dengan celaan yang keras, serta memintanya agar berbicara langsung kepada mereka mengenai apa yang beliau inginkan, alih-alih menggunakan tulisan seperti ini. Sang syekh pun berlepas diri dari tuduhan itu dan membela dirinya, namun mereka hampir tidak mempercayainya.

Hingga pada suatu hari, sampailah surat dari perkumpulan kepada beliau yang menarik perhatiannya bahwa: beliau telah melaksanakan salat fardu Zuhur di antara tiang-tiang masjid—dan perbuatan itu makruh hukumnya—padahal beliau adalah ulama di kota ini. Maka wajib baginya untuk menjauhi perkara-perkara yang makruh agar orang awam menjauhi perkara-perkara yang haram.

Aku ingat bahwa Syekh—semoga Allah merahmatinya—memanggilku saat itu. Hubunganku dengan beliau memang terus berlanjut dalam pelajaran-pelajaran umum, meskipun aku telah meninggalkan madrasah maupun perpustakaannya. Beliau mengajakku untuk meneliti bersama hukum masalah ini di dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Aku masih mengingat peristiwa itu seolah baru terjadi hari ini. Aku membacakannya untuk beliau sambil tersenyum, sementara beliau bertanya-tanya tentang siapakah orang-orang yang menulis surat untuknya ini. Beliau pun mendapati bahwa kebenaran berada di pihak mereka [para murid]. Hal itu kemudian kusampaikan kepada para anggota perkumpulan, dan rasa gembira mereka pun sangat besar karenanya.

Perkumpulan ini terus menjalankan tugasnya selama lebih dari enam bulan, dan menjadi pemicu rasa heran serta ketakjuban masyarakat.

Hingga akhirnya urusan perkumpulan ini terbongkar di tangan seorang pemilik kedai kopi yang mengundang seorang penari wanita, lalu ia menerima surat dari perkumpulan. Surat-surat tersebut memang tidak dikirimkan melalui pos demi menghemat biaya nafkah, melainkan dibawa oleh salah seorang anggota dan diletakkan di tempat yang dapat menarik perhatian pemiliknya, sehingga ia mengambilnya tanpa melihat siapa yang membawanya.

Akan tetapi, sang pemilik kedai (al-mu'allim) rupanya waspada. Ia merasakan pergerakan sang pembawa surat, lalu menangkapnya beserta surat yang dibawanya, kemudian mencelanya dengan celaan yang keras di hadapan orang-orang yang ada di kedai kopi tersebut.

Melalui jalan inilah perkumpulan akhirnya diketahui. Para anggotanya berpendapat untuk mengurangi aktivitas mereka dan bekerja dengan metode lain dalam mencegah hal-hal yang haram.

MENUJU MADRASAH GURU TINGKAT DASAR DI DAMANHUR

Murid ini [Hasan Al-Banna] telah menepati janjinya. Ia terus melanjutkan hafalan Al-QUR'AN yang dahulunya ia bawa dari Madrasah Ar-Rasyad, dan menambahkan seperempat bagian lagi hingga sampai ke Surah Yasin.

Kemudian Dewan Daerah Al-Buhairah memutuskan untuk menghapus sistem Madrasah I'dadiyah dan mengubahnya menjadi Madrasah Ibtidaiyah. Maka tidak ada pilihan lagi bagi sang murid melainkan memilih antara mendaftar ke Lembaga Agama (Al-Ma'had ad-Dini) di Aleksandria untuk menjadi seorang Azhari [santri Al-Azhar], atau ke Madrasah Guru Tingkat Dasar (Madrasat al-Mu'allimin al-Awwaliyah) di Damanhur untuk menempuh jalan pintas agar dapat menjadi guru setelah tiga tahun.

Pada akhirnya, pilihan kedua inilah yang lebih kuat. Ketika tiba waktu pengajuan berkas, ia pun mendaftarkan dirinya. Akan tetapi, ia dihadapkan pada dua kendala: kendala usia, sebab ia masih berada di pertengahan usia empat belas tahun, sedangkan usia minimal penerimaan adalah empat belas tahun penuh. Kendala kedua adalah penyempurnaan hafalan Al-Qur'an al-Karim, karena hal itu merupakan syarat diterimanya seseorang dan harus menempuh ujian lisan dalam hafalan Al-Qur'an.

Kepala madrasah saat itu adalah Ustaz Basyir Ad-Dasuqi Musa—yang kini telah pensiun. Beliau adalah seorang yang mulia lagi ramah. Beliau bersikap lemah lembut kepada sang murid dan melonggarkan syarat usia, serta menerima surat pernyataan komitmen dari sang murid untuk menghafal sisa seperempat Al-Qur'an yang belum dihafalnya. Beliau mengizinkannya untuk menempuh ujian tertulis maupun lisan, dan ia berhasil melaluinya dengan sukses. Sejak saat itulah, ia resmi menjadi murid di Madrasah Guru Tingkat Dasar di Damanhur.

TAREKAT HASAFIYAH

Di "Masjid Kecil", aku melihat "Ikhwan Hasafiyah" [para pengikut Tarekat Hasafiyah] berzikir kepada Allah Ta'ala setiap malam setelah salat Isya. Aku sendiri adalah seorang yang tekun menghadiri pelajaran Syekh Zahran—semoga Allah merahmatinya—di antara waktu Magrib dan Isya.

Maka halaqah zikir itu menarik hatiku dengan suara-suaranya yang teratur, lantunan nasyidnya yang indah, ruhaninya yang melimpah, serta kelapangan dada para ahli zikir tersebut yang terdiri dari para syekh yang utama dan pemuda-pemuda yang saleh. Serta sikap tawaduk mereka kepada anak-anak kecil seperti kami yang menyusup ke dalam majelis mereka demi ikut serta berzikir kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Maka aku pun mendisiplinkan diri untuk menghadirinya juga.

Hubungan antara diriku dan para pemuda Ikhwan Hasafiyah ini semakin kuat. Di antara mereka ada tiga orang pemuka: Syekh Shalabi Ar-Rijal, Syekh Muhammad Abu Syusyah, dan Syekh Sayyid Utsman. Serta para pemuda saleh yang usianya paling dekat dengan usia kami: Muhammad Efendi Ad-Dimyathi, Sawi Efendi As-Sawi, Abdul Muta'al Efendi Sunkal, dan yang sepadan dengan mereka.

Di gelanggang yang penuh berkah inilah, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Ustaz Ahmad As-Sukkari—yang kelak menjadi Wakil Ikhwanul Muslimin. Pertemuan ini memiliki pengaruh yang sangat mendalam dalam kehidupan masing-masing dari kami.

Sejak saat itu, nama Syekh Al-Hasafi mulai sering terdengar di telinga, hingga memberikan kesan yang paling agung di lubuk hati. Rasa rindu dan hasrat untuk melihat sang Syekh, duduk bersamanya, serta mengambil ilmu darinya terus diperbarui dari waktu ke waktu. Aku mulai merutinkan membaca wazhifah [wirid/bacaan zikir rutin] ruhani pada pagi dan sore hari.

Kekagumanku terhadap wirid ini semakin bertambah karena ayahku telah memberikan ulasan (ta'liq) yang bagus atasnya, yang di dalamnya beliau menyertakan dalil-dalil yang seluruhnya bersumber dari hadis-hadis sahih. Beliau menamakan risalah tersebut: "Tanwir al-Af'idah az-Zakiyah bi Adillat Adzkar ar-Ruzuqiyah". Wirid ini tidak lebih dari ayat-ayat Al-Qur'an al-Karim dan hadis-hadis berupa doa pagi dan sore yang terdapat dalam kitab-kitab sunnah. Di dalamnya tidak ada satu pun lafal asing ('ajamiyah), susunan filosofis, maupun ungkapan-ungkapan yang lebih dekat pada syathahat [ucapan ganjil/esoteris kaum sufi yang melantur] daripada sebuah doa.

Di tengah masa-masa ini, jatuhlah ke tanganku sebuah kitab berjudul "Al-Manhal As-Safi fi Manaqib Hasanain Al-Hasafi". Beliau adalah syekh tarekat yang pertama—dan merupakan ayah dari syekh tarekat yang sekarang, seorang tuan yang mulia, Syekh Abdul Wahab Al-Hasafi, semoga Allah memperpanjang usianya dan memberikan manfaat dengannya. Beliau [Syekh Hasanain] telah wafat dan aku belum sempat melihatnya, di mana wafatnya terjadi pada hari Kamis, 17 Jumadil Akhir 1328 Hijriah. Saat itu aku masih berusia empat tahun, sehingga aku tidak sempat berkumpul dengannya meskipun beliau sering berkunjung ke kota kami.

Aku membaca kitab tersebut dengan penuh antusias. Dari sana aku mengetahui bagaimana Tuan Hasanain—semoga Allah merahmatinya—dahulunya adalah seorang ulama Azhari [lulusan Al-Azhar] yang mendalami fikih berdasarkan mazhab Imam Syafi'i, mempelajari ilmu-ilmu agama dengan keluasan yang mendalam, serta menguasainya dengan matang. Setelah itu, beliau mengambil thariqah [tasawuf] dari banyak syekh pada zamannya. Beliau bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam ibadah, zikir, serta merutinkan ketaatan, hingga beliau menunaikan ibadah haji lebih dari sekali dan melakukan umrah berkali-kali pada setiap hajinya.

Rekan-rekan dan sahabat-sahabatnya sering kali mengatakan: "Kami tidak pernah melihat orang yang lebih kuat dalam menaati Allah, menunaikan perkara fardu, serta menjaga sunnah dan nawafil [ibadah sunnah] melebihi beliau—semoga Allah merahmatinya—bahkan di hari-hari terakhir kehidupannya ketika usianya telah tua dan melewati enam puluh tahun."

Kemudian beliau mulai berdakwah di jalan Allah dengan metode para ahli thariqah, namun dalam bentuk yang penuh pencerahan dan cahaya, serta di atas kaidah-kaidah yang selamat lagi lurus. Dakwah beliau dibangun di atas fondasi ilmu dan pengajaran, fikih, ibadah, ketaatan, dan zikir. Serta memerangi bid'ah maupun khurafat yang tersebar di kalangan para pengikut tarekat-tarekat ini, membela Al-Kitab dan As-Sunnah dalam kondisi bagaimanapun, membentengi diri dari takwil-takwil yang rusak serta syathahat yang membahayakan, serta beramar makruf nahi munkar dan memberikan nasihat dalam setiap keadaan. Hingga beliau mengubah banyak kondisi yang beliau yakini menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, yang dahulunya sempat dipraktikkan oleh guru-gurunya sendiri.

Dan di antara hal yang paling memikat hati dan menguasai akal pikiranku dari perjalanan hidup beliau—semoga Allah meridainya—adalah ketegasannya dalam menjalankan amar makruf nahi munkar. Beliau sama sekali tidak pernah takut terhadap celaan orang yang mencela dalam urusan tersebut, dan tidak pernah meninggalkan perintah maupun nasihat, bagaimanapun kondisinya, bahkan di hadapan orang terpandang atau pembesar sekalipun.

Di antara contoh mengenai hal itu adalah ketika beliau mengunjungi Riad Pasha saat menjabat sebagai Perdana Menteri. Kala itu, masuklah seorang ulama yang kemudian mengucapkan salam kepada Pasha seraya membungkukkan badan hingga hampir mendekati posisi rukuk. Sontak Syekh bangkit dalam kondisi marah, lalu menampar kedua pipi ulama tersebut dengan telapak tangannya dan menghardiknya dengan keras seraya berkata: "Tegakkan badanmu, wahai lelaki! Sesungguhnya rukuk itu tidak diperbolehkan kecuali hanya kepada Allah. Janganlah kalian menghinakan agama dan ilmu, karena jika demikian, Allah akan menghinakan kalian!".

Baik ulama tersebut maupun sang Pasha tidak mampu menuntut atau menghukum beliau atas tindakan itu sedikit pun.

Pada kesempatan lain, masuklah salah seorang Pasha dari kalangan sahabat Riad Pasha, sedangkan di jarinya melingkar sebuah cincin emas dan di tangannya terdapat tongkat yang bagian pegangannya juga terbuat dari emas. Syekh segera menoleh ke arahnya dan berkata: "Wahai Tuan, sesungguhnya penggunaan emas sebagai perhiasan seperti ini diharamkan bagi laki-laki dan dihalalkan bagi wanita. Maka berikanlah kedua benda ini kepada sebagian wanitamu, dan janganlah engkau menyelisihi perintah Rasulullah !". Lelaki itu hendak menyanggah, namun Riad Pasha segera menengahi dan memperkenalkan mereka satu sama lain, sementara Syekh tetap bersikeras bahwa pegangan tongkat dan cincin tersebut harus dilepas secara bersamaan agar kemungkaran ini dapat lenyap.

Beliau juga pernah menemui Khedive Taufiq Pasha bersama para ulama dalam suatu pertemuan resmi. Beliau mengucapkan salam kepada Khedive dengan suara yang terdengar jelas, namun Khedive hanya membalasnya dengan isyarat tangan. Maka dengan penuh ketegasan dan ketetapan hati, beliau berkata kepada Khedive: "Membalas salam itu harus dengan yang sepadan atau yang lebih baik darinya. Maka katakanlah: 'Wa 'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh', karena menjawab salam dengan isyarat saja tidak diperbolehkan.". Khedive pun tidak memiliki pilihan lain kecuali membalasnya dengan ucapan lisan, lalu memuji sikap serta keteguhan beliau dalam memegang teguh agamanya.

Pernah juga beliau mengunjungi salah seorang muridnya yang bekerja sebagai pegawai di sebuah kantor dinas agraria. Beliau melihat beberapa patung dari gips di atas meja kerjanya, lalu bertanya: "Apa ini, wahai Fulan?". Pegawai itu menjawab: "Ini adalah patung-patung yang kami butuhkan dalam pekerjaan kami.". Beliau menegaskan: "Sesungguhnya hal itu haram!". Beliau langsung memegang patung tersebut dan mematahkan bagian lehernya. Tepat pada saat itu, seorang inspektur berkebangsaan Inggris masuk dan menyaksikan pemandangan tersebut, lalu mendebat Syekh atas apa yang telah dilakukannya.

Syekh memberikan jawaban yang sangat baik kepada inspektur tersebut dan memahamkannya bahwa Islam datang demi menegakkan tauhid yang murni, serta guna mengikis habis setiap bentuk perwujudan paganisme dalam rupa apa pun. Oleh karena itu, Islam mengharamkan patung agar keberadaannya tidak menjadi wasilah (sarana) menuju penyembahan terhadapnya. Beliau menjabarkan makna ini dengan sangat luas sehingga membuat kagum sang inspektur yang awalnya mengira bahwa di dalam Islam terdapat sisa-sisa noda paganisme. Inspektur itu pun akhirnya menerima argumen Syekh dan melontarkan pujian kepada beliau.

Beliau juga pernah mengunjungi Masjid Sayyidina Al-Husain —semoga Allah meridainya— bersama sebagian muridnya, lalu berdiri di dekat makam seraya memanjatkan doa yang ma'tsur [doa yang bersumber dari dalil agama]:

السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: "Kesejahteraan semoga tercurah atas para penghuni kubur dari kalangan orang-orang mukmin." (HR. Muslim) [Redaksi lengkap doa ziarah kubur ini bersumber dari hadis sahih riwayat Imam Muslim (No. 974) dari jalur Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Istilah ma'tsur merujuk pada doa-doa yang teks dan lafalnya valid berasal dari Al-Qur'an atau As-Sunnah, sehingga terjaga dari unsur penyimpangan makna. Kaum sufi yang lurus seperti Syekh Hasanain Al-Hasafi sangat menekankan penggunaan doa ma'tsur ini untuk mengikis tradisi doa bid'ah di sekitar area pekuburan.].

Tiba-tiba salah seorang murid berkata kepada beliau: "Wahai Guru kami, mintalah kepada Sayyidina Al-Husain agar ia rida kepadaku.". Beliau menoleh kepadanya dengan wajah marah lalu berseru: "Yang rida kepada kita, kepadamu, dan kepadanya adalah Allah!". Setelah menyelesaikan ziarah tersebut, beliau menerangkan kepada murid-muridnya tentang hukum-hukum ziarah kubur, serta memperjelas perbedaan antara ziarah yang bersifat bid'ah dengan ziarah yang disyariatkan.

Ayahku bercerita kepadaku bahwa beliau pernah berkumpul bersama Syekh —semoga Allah merahmatinya— di rumah seorang tokoh terpandang di Mahmudiyah bernama Hasan Bek Abu Sayyid Hasan —semoga Allah merahmatinya— beserta beberapa jemaah. Tiba-tiba masuklah seorang pelayan wanita yang sudah menginjak usia dewasa untuk menyuguhkan kopi, sedangkan kedua lengan dan kepalanya dalam kondisi terbuka. Syekh memandang pelayan tersebut dengan marah, lalu memerintahkannya dengan nada tegas agar pergi menutup diri. Beliau enggan meminum kopi tersebut dan memberikan pelajaran yang menyentuh hati kepada pemilik rumah mengenai kewajiban menjaga kesopanan serta kesantunan para wanita meskipun status mereka adalah pelayan, serta larangan menampakkan aurat mereka di hadapan laki-laki asing yang bukan mahram.

Sikap beliau —semoga Allah merahmatinya— dalam urusan semacam ini sangatlah banyak dan mendalam, dan begitulah karakter beliau yang selalu konsisten.

Sisi kehidupan inilah yang telah memicu rasa kagum dan penghormatan yang paling besar di dalam jiwaku. Padahal, para jemaah tarekat lainnya lebih sering menceritakan tentang karamah-karamah fisik yang dimiliki Syekh. Namun, aku tidak mendapati karamah fisik tersebut memiliki pengaruh yang besar di hatiku jika dibandingkan dengan pengaruh dari sisi praktis operasional ini. Aku meyakini bahwa karamah paling agung yang dianugerahkan Allah kepada beliau adalah taufik untuk menyebarkan dakwah Islam di atas fondasi yang selamat, serta langkah nyata dalam menjaga batasan-batasan Allah Tabaraka wa Ta'ala, beserta penegakan amar makruf nahi munkar.

Semua peristiwa itu terjadi sedangkan usiaku belum melewati dua belas tahun.

Rasa keterikatanku kepada Syekh yang mulia ini —semoga Allah merahmatinya— semakin bertambah kuat karena pada masa-masa itu, tepat setelah aku mengulang-ulang membaca kitab Al-Manhal, aku melihat di dalam tidurku (bermimpi) seolah-olah aku pergi ke pemakaman kota. Di sana aku melihat sebuah kuburan besar yang berguncang dan bergerak. Guncangan dan gejolaknya semakin menghebat hingga kuburan tersebut terbelah, lalu keluarlah kobaran api yang membubung tinggi hingga ke pelataran langit. Kobaran api itu mewujud menjadi seorang lelaki dengan tinggi badan dan rupa yang sangat mengerikan.

Manusia pun berkerumun mengelilinginya dari segala tempat. Lelaki itu berteriak di hadapan mereka dengan suara yang jelas lagi lantang seraya berkata kepada mereka: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghalalkan bagi kalian apa yang sebelumnya diharamkan atas kalian, maka perbuatlah sesuka hati kalian!".

Maka aku langsung tampil dari tengah-tengah kerumunan massa tersebut, lalu berteriak tepat di hadapan wajahnya: "Engkau berdusta!". Aku menoleh kepada khalayak ramai dan berseru kepada mereka: "Wahai manusia, ini adalah Iblis yang terlaknat! Ia datang untuk memfitnah kalian agar keluar dari agama kalian dan membisikkan waswas kepada kalian, maka janganlah kalian mendengarkan ucapannya dan janganlah menyimak perkataannya!". Makhluk itu marah lalu berkata: "Kita harus beradu lari di hadapan manusia ini. Jika engkau berhasil mendahuluiku dan kembali kepada mereka tanpa aku bisa menangkapmu, berarti engkau adalah orang yang benar.".

Aku menerima syaratnya, lalu aku berlari di depannya dengan segenap kecepatanku. Namun, apalah arti langkah kecilku jika dibandingkan dengan langkah raksasanya? Tepat sebelum ia berhasil menangkapku, tiba-tiba Syekh —semoga Allah merahmatinya— muncul dari jalan yang memotong, lalu menyambutku di dadanya, mendekapku dengan tangan kirinya, dan mengangkat tangan kanannya seraya menunjuk ke arah hantu tersebut sambil menghardik tepat di wajahnya: "Enyahlah engkau, wahai makhluk terlaknat!". Makhluk itu pun langsung berbalik melarikan diri hingga lenyap seketika. Setelah itu, Syekh pergi, dan aku kembali menemui manusia lalu berkata kepada mereka: "Apakah kalian telah melihat bagaimana makhluk terlaknat ini menyesatkan kalian dari perintah-perintah Allah?".

Aku pun terbangun dari tidur dalam kondisi dipenuhi rasa rindu, penghormatan, serta penantian atas kedatangan Sayyid Abdul Wahab Al-Hasafi, putra dari sang Syekh —semoga Allah merahmatinya— agar aku dapat melihatnya dan mengambil tarekat darinya. Akan tetapi, beliau belum kunjung datang pada masa tersebut.

Pembahasan tentang pemakaman ini mengingatkanku pada jasa dari saudara kita fillah, Syekh Muhammad Abu Syusyah, seorang pedagang di Mahmudiyah, dalam memberikan pendidikan ruhani kepada kami. Beliau dahulu sering mengumpulkan kami yang berjumlah sekitar sepuluh orang atau mendekatinya, lalu mengajak kami pergi ke pemakaman untuk berziarah kubur. Kami duduk di Masjid Syekh An-Nujaili untuk membaca wazhifah (wirid rutin). Setelah itu, beliau menceritakan kepada kami kisah-kisah orang saleh beserta perihal kehidupan mereka yang dapat melembutkan hati dan mengalirkan air mata.

Selanjutnya beliau memperlihatkan kepada kami liang-liang kubur yang terbuka, seraya mengingatkan kami tentang tempat kembali kami ke sana, tentang kegelapan kubur beserta kehangkerannya. Beliau menangis dan kami pun ikut menangis bersamanya. Di sanalah kami memperbarui tobat dalam kondisi khusyuk, penuh keharuan, kehadiran hati yang luar biasa, penyesalan, serta tekad yang kuat.

Sering kali setelah itu, beliau mengikatkan seutas gelang dari benang tali yang tebal (al-dubarah) di sekeliling pergelangan tangan masing-masing dari kami sebagai pengingat tobat. Beliau berwasiat kepada kami bahwa apabila salah seorang dari kami dibisiki oleh jiwanya untuk melakukan maksiat atau dikalahkan oleh setan, maka hendaklah ia memegang gelang benang ini , lalu mengingat bahwa ia telah bertobat kepada Allah dan telah berjanji kepada-Nya untuk senantiasa menaati-Nya serta meninggalkan maksiat kepada-Nya. Kami pun memetik manfaat yang sangat banyak dari nasihat ini, semoga Allah membalas kebaikan beliau atas kami.

MEMASUKI TAREKAT SECARA RESMI

Hati ini terus terpikat kepada Syekh —semoga Allah merahmatinya— hingga akhirnya aku mendaftarkan diri di Madrasah Guru Tingkat Dasar di Damanhur. Di kota itulah terdapat tempat pemakaman Syekh, kuburannya, serta fondasi masjidnya yang belum sempurna pada masa itu, namun baru disempurnakan setelahnya. Aku rutin menghadiri majelis hadhrah (zikir berjemaah) di Masjid At-Taubah pada setiap malam.

Aku mencari tahu tentang siapa muqaddam (pemimpin/perwakilan) para jemaah di sana, lalu aku mengetahui bahwa beliau adalah seorang lelaki yang saleh lagi bertakwa bernama Syekh Bayumi Al-Abdi, seorang pedagang. Aku memohon kepadanya agar mengizinkanku mengambil janji (عهد / 'ahd) tarekat melaluinya, dan beliau pun mengizinkannya. Beliau berjanji kepadaku bahwa beliau akan mengenalkanku kepada Sayyid Abdul Wahab ketika beliau datang. Sampai pada masa tersebut, aku belum pernah membaiat seorang pun dalam tarekat secara resmi, melainkan statusku barulah sebatas pencinta (muhibb) berdasarkan istilah konseptual yang berlaku di kalangan mereka.

Kemudian Sayyid Abdul Wahab —semoga Allah memberikan manfaat dengannya— datang ke Damanhur, dan para jemaah mengabarkan berita tersebut kepadaku. Aku merasa sangat gembira mendengar kabar ini. Aku segera menemui orang tua kami, Syekh Bayumi, dan memohon kepadanya agar menghadapkanku kepada Syekh, lalu beliau pun melaksanakannya. Peristiwa itu terjadi tepat setelah pelaksanaan salat Asar pada tanggal 4 Ramadan tahun 1341 Hijriah. Jika ingatanku tidak keliru, hari itu bertepatan dengan hari Ahad, di mana aku menerima Tarekat Hasafiyah Syadziliyah langsung dari beliau, dan beliau mendidikku dengan tahapan-tahapan (adwar) beserta wirid-wirid rutinnya (wazha'if).

Semoga Allah membalas Sayyid Abdul Wahab dengan balasan yang terbaik atas kami, karena persahabatan bersamanya telah memberikan manfaat yang paling agung kepadaku. Sepanjang pengetahuanku, tidak ada yang kuketahui dari urusan agama maupun tarekatnya melainkan seluruhnya adalah kebaikan. Karakter personal, metode irsyad (bimbingan), serta perilaku beliau istimewa dengan banyak sifat mulia, di antaranya: sikap iffah (menjaga kehormatan diri) yang sempurna dari mengharapkan apa yang ada di tangan manusia, keseriusan dalam segala urusan, serta kebersihan diri dari menghabiskan waktu pada perkara yang bukan ilmu, belajar, zikir, ketaatan, atau ibadah, baik saat beliau sedang sendiri maupun ketika bersama para jemaah dan muridnya. Beliau juga memiliki cara yang sangat baik dalam memberikan pengarahan kepada para jemaah ini, serta mengarahkan mereka secara praktis menuju nilai persaudaraan (ukhuwah), pemahaman agama (fikih), dan ketaatan kepada Allah.

Di antara metode bijak beliau dalam mendidik adalah beliau sama sekali tidak mengizinkan para jemaah yang berstatus pelajar/terpelajar untuk memperbanyak debat dalam urusan-urusan khilafiyah (perbedaan pendapat) atau perkara-perkara yang bersifat syubhat (samar). Beliau juga melarang mereka mengulang-ulang ucapan orang-orang ateis, zindik, atau para misionaris di hadapan masyarakat awam dari kalangan jemaah tarekat. Beliau kerap berkata kepada mereka: "Jadikanlah pembahasan ini di dalam majelis khusus kalian saja, agar kalian dapat saling mempelajarinya di antara sesama kalian.".

"Adapun di hadapan mereka (orang awam), maka berbicaralah dengan menggunakan makna-makna praktis yang menyentuh hati yang dapat mengarahkan mereka menuju ketaatan kepada Allah. Sebab, bisa jadi sebuah syubhat melekat di dalam jiwa salah seorang dari mereka sedangkan ia tidak memahami jawabannya, sehingga rusakkah akidahnya tanpa sebab, dan kalianlah yang menjadi penyebab atas hal tersebut.".

Aku teringat di antara untaian kalimatnya yang masih kuhafal hingga hari ini, yang beliau arahkan kepadaku dan kepada sahabatku, Ustaz Ahmad As-Sukkari, dalam sebagian majelis tersebut, yang maknanya adalah: "Sesungguhnya aku mengamati bahwa Allah kelak akan menyatukan hati-hati manusia kepada kalian berdua, dan akan mengumpulkan banyak orang kepada kalian. Maka ketahuilah, bahwa Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban dari kalian mengenai waktu-waktu orang yang berkumpul kepada kalian tersebut. Apakah kalian memberikan manfaat kepada mereka di dalamnya sehingga mereka mendapatkan pahala dan kalian pun mendapatkan pahala yang semisal dengannya, ataukah waktu itu menguap sia-sia tanpa guna sehingga mereka dimintai pertanggungjawaban dan kalian pun ikut dimintai pertanggungjawaban?".

Demikianlah seluruh arahan beliau mengarah kepada kebaikan, dan tidak ada yang kami ketahui tentangnya melainkan kebaikan semata.

Terjemahan resmi Kemenag RI (QS. Yusuf: 81):

"...dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan kami tidak dapat menjaga urusan yang gaib."

Pada masa-masa inilah, terbersit di dalam benak kami untuk mendirikan sebuah perkumpulan perbaikan di Mahmudiyah, yang kami namakan "Perkumpulan Kebajikan Hasafiyah" (Jam'iyyah al-Hasafiyyah al-Khairiyyah). Terpilihlah Ahmad Efendi As-Sukkari, seorang pedagang di Mahmudiyah, sebagai ketuanya, dan aku dipilih sebagai sekretarisnya.

Perkumpulan tersebut menjalankan aktivitasnya dalam dua ranah penting:

  1. Ranah Pertama: Menyebarkan dakwah menuju akhlak yang mulia, serta memerangi kemungkaran dan hal-hal haram yang merebak di masyarakat, seperti khamr (minuman keras), judi, serta bid'ah-bid'ah dalam tradisi perkabungan.
  2. Ranah Kedua: Membendung gerakan misionaris (penginjilan) Inggris yang datang ke kota dan menetap di sana. Gerakan tersebut digawangi oleh tiga orang gadis yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Miss White. Ia mulai menyebarkan agama Kristen berkedok pelayanan medis, pengajaran seni bordir, serta penampungan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Perkumpulan telah berjuang di jalan risalahnya ini dengan perjuangan yang layak diapresiasi, yang kelak perjuangan ini diteruskan oleh perkumpulan Ikhwanul Muslimin setelah masa itu.

Hubungan kami tetap terjalin dalam kondisi yang paling baik bersama syekh kami, Sayyid Abdul Wahab, hingga akhirnya perkumpulan-perkumpulan Ikhwanul Muslimin didirikan dan meluas. Beliau memiliki pandangan tersendiri dalam urusan ini dan kami pun memiliki pandangan tersendiri, lalu masing-masing condong kepada pandangannya. Walakin, kami tetap menjaga untuk Sayyid —semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas kami— penghormatan paling agung yang selayaknya dijaga oleh seorang murid yang mencintai lagi ikhlas kepada syekh yang alim, mengamalkan ilmunya, bertakwa, serta tulus dalam memberikan nasihat dan indah dalam memberikan bimbingan.

PANDANGAN TENTANG TASAWUF

Barangkali termasuk hal yang mendatangkan manfaat jika aku mencatat di dalam memoar ini beberapa lintasan pikiran mengenai tasawuf dan tarekat-tarekat di dalam sejarah dakwah Islam. Catatan ini akan mengulas seputar sejarah kemunculan tasawuf, pengaruhnya, realitas yang terjadi padanya saat ini, serta bagaimana metode agar tarekat-tarekat ini dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat Islam.

Aku tidak akan mencoba melakukan kajian ilmiah yang mendalam (istikhra' 'ilmi) atau menyelami makna-makna istilah konseptual yang rumit. Sebab, tulisan ini hanyalah memoar yang ditulis secara spontan berdasarkan apa yang terlintas di dalam pikiran serta apa yang menggerakkan perasaan. Jika tulisan ini benar maka itu datangnya dari Allah dan bagi-Nya segala puji, namun jika tidak demikian maka kebaikanlah yang kukehendaki, dan segala urusan dikembalikan kepada Allah, baik sebelum maupun sesudahnya.

Ketika wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah meluas pada awal abad pertama Hijriah, ekspansi penaklukannya (futuhat) bertambah banyak, dan dunia mulai mendatangi kaum muslimin dari segala penjuru tempat hingga hasil bumi dari segala sesuatu dikumpulkan kepada mereka. Sampai-sampai khalifah mereka setelah masa itu dapat berkata kepada gumpalan awan di pelataran langit: "Mengalirlah ke arah timur atau ke barat, karena di mana pun airmu jatuh, maka hasil upeti pajak bumi (kharaj)-mu akan tetap sampai kepadanya.".

Maka menjadi suatu hal yang tabiatnya lumrah terjadi ketika manusia mulai cenderung pada dunia ini, menikmati kemewahannya, serta mencicipi manisnya kesenangan dan kebaikannya, baik dalam koridor berhemat pada suatu waktu maupun dalam bentuk berlebih-lebihan pada waktu yang lain. Di hadapan perubahan sosial ini —yaitu perpindahan dari masa kenabian yang penuh kesahajaan dan kegemilangan menuju fase kehidupan yang serbalunak lagi megah setelahnya — merupakan hal yang wajar jika dari kalangan orang-orang saleh, bertakwa, ulama, dan tokoh utama bangkit menjadi para dai berpengaruh. Mereka mengajak manusia untuk zuhud terhadap kesenangan kehidupan dunia yang fana ini, serta mengingatkan mereka pada apa yang kerap mereka lupakan berupa kenikmatan akhirat yang kekal abadi.

"...Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang hakiki, sekiranya mereka mengetahui." (QS. Al-'Ankabut: 64)

Di antara orang pertama yang dikenal dengan dakwah semacam ini adalah seorang Imam sekaligus penasihat yang agung, Al-Hasan Al-Bashri. Langkahnya kemudian diikuti oleh banyak dai saleh yang sepadan dengannya. Maka terbentuklah satu kelompok di tengah masyarakat yang dikenal dengan dakwah menuju zikir kepada Allah, mengingat hari akhir , zuhud terhadap dunia, serta mendidik jiwa di atas ketaatan dan takwa kepada-Nya.

Seiring berjalannya waktu, hakikat-hakikat ini mengalami dinamika sebagaimana yang terjadi pada cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya. Ia mulai mewujud dalam bentuk disiplin ilmu yang mengatur perilaku (suluk) manusia dan menggariskan sebuah manhaj (jalan) hidup yang khusus bagi dirinya, yang tahapan-tahapannya diisi dengan zikir, ibadah, serta makrifatullah (mengenal Allah), sedangkan tujuan akhirnya adalah menggapai surga dan keridaan Allah.

Bagian dari disiplin ilmu tasawuf ini, yang dinamakan dengan "Ilmu Tarbiyah wa As-Suluk" (Ilmu Pendidikan dan Perilaku) , tidak diragukan lagi merupakan bagian dari inti sari dan lubuk agama Islam. Kaum sufi di bidang ini telah mencapai suatu tingkatan dalam hal mengobati jiwa, memberikan penawar, memberikan terapi, serta meningkatkan derajat ruhani manusia yang belum pernah dicapai oleh para pendidik selain mereka. Tidak diragukan pula bahwa mereka telah membawa manusia melalui metode ini menuju suatu tatanan praktis dalam hal menunaikan perkara-perkara fardu dari Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya, serta ketulusan dalam menghadap kepada-Nya.

Meskipun dalam penerapannya tidak sepi dari sikap berlebih-lebihan (mubalaghah) di berbagai waktu akibat pengaruh dari corak zaman tempat dakwah ini hidup. Contohnya seperti sikap berlebihan dalam diam (as-shamt), melaparkan diri (al-ju'), tidak tidur malam (as-sahar), serta mengisolasi diri (al-'uzlah). Padahal, semua perkara tersebut sejatinya memiliki landasan asal di dalam agama tempat ia dikembalikan:

  • Sikap diam asalnya adalah berpaling dari perkataan yang sia-sia (al-laghwu).
  • Melaparkan diri asalnya adalah ibadah sukarela berupa puasa (as-shaum).
  • Tidak tidur malam asalnya adalah ibadah salat malam (qiyamullail).
  • Mengisolasi diri asalnya adalah menahan diri dari menyakiti orang lain serta kewajiban menjaga jiwa.

Sekiranya penerapan praktisnya berhenti pada batasan-batasan yang telah digariskan oleh Sang Pembuat Syariat (Allah dan Rasul-Nya), tentulah di dalamnya terdapat kebaikan yang utuh.

Akan tetapi, pemikiran dakwah sufi ini tidak berhenti pada batasan perilaku dan pendidikan saja. Sekiranya ia berhenti pada batasan itu, tentulah hal itu menjadi kebaikan bagi dirinya sendiri dan bagi manusia. Walakin, ia melampaui batas tersebut setelah lewatnya generasi-generasi awal menuju ranah analisis rasa (al-adzwaq) dan gejolak spiritual (al-mawajid). Serta mencampuradukkan hal itu dengan ilmu-ilmu filsafat, logika, beserta warisan-warisan pemikiran umat masa lalu. Akibatnya, mereka mencampurkan agama dengan perkara yang bukan bagian darinya.

Hal ini membuka celah yang sangat luas bagi setiap orang zindik, ateis, atau orang yang rusak pandangan serta akidahnya untuk menyusup masuk melalui pintu ini dengan mengatasnamakan tasawuf, dakwah zuhud, kesahajaan, serta ambisi untuk mendapatkan hasil-hasil ruhani yang memikat tersebut. Maka segala hal yang ditulis atau diucapkan dalam ranah ini wajib menjadi objek penelitian yang saksama dari para pengkaji agama Allah yang senantiasa menjaga kesucian serta kemurniannya.

Setelah itu terjadilah fase pelembagaan praktis dari pemikiran ini, maka bermunculanlah kelompok-kelompok (firqah) sufi beserta tarekat-tarekat mereka, masing-masing berdasarkan metode pendidikannya.

Berikutnya, unsur politik mulai ikut campur tangan untuk menjadikan struktur organisasi ini sebagai sandaran ketika dibutuhkan. Sebagian tarekat diorganisasikan menyerupai sistem militer, sedangkan sebagian lainnya dibentuk menyerupai perkumpulan khusus. Hingga akhirnya ia berujung pada rupa warisan sejarah masa lalu yang menghimpun sisa-sisa corak dari perjalanan sejarah yang panjang ini, yang representasinya pada hari ini di Mesir diwakili oleh Dewan Tinggi Tarekat Sufi (Masyayikh ath-Thuruq as-Shufiyyah), para tokoh, beserta para pengikutnya.

Sungguh, tasawuf dan tarekat-tarekat termasuk faktor terbesar dalam menyebarkan Islam di banyak negara, serta menyampaikannya ke wilayah-wilayah terpencil yang tidak akan mungkin bisa dicapai melainkan melalui tangan para dai ini. Sebagaimana yang telah terjadi dan sedang terjadi di negara-negara Afrika, kawasan sahara, wilayah tengahnya, serta di berbagai kawasan Asia.

Mengambil kaidah-kaidah tasawuf dari sisi pendidikan dan perilaku memiliki pengaruh yang sangat kuat di dalam jiwa dan sanubari. Untaian kalimat kaum sufi dalam bab ini memiliki kekuatan penembus jiwa yang tidak dimiliki oleh ucapan manusia lainnya. Akan tetapi, percampuran [dengan filsafat dan bid'ah] ini telah merusak banyak manfaat tersebut dan mematikan potensinya.

Merupakan kewajiban para reformis (al-mushlihun) untuk memperpanjang pemikiran mereka dalam membenahi kelompok-kelompok manusia ini. Pembenahan mereka sejatinya merupakan perkara yang mudah lagi ringan dijalankan, sebab mereka memiliki kesiapan yang utuh untuk menerimanya. Bahkan boleh jadi mereka adalah manusia yang paling dekat dengannya sekiranya diarahkan dengan pengarahan yang benar. Hal itu tidak membutuhkan perkara yang rumit, melainkan cukup dengan meluangkan waktu dari sekelompok ulama saleh yang mengamalkan ilmunya, serta para penasihat yang jujur lagi ikhlas, untuk mempelajari komunitas-komunitas ini. Serta memetik manfaat dari kekayaan khazanah keilmuan ini, membersihkannya dari perkara asing yang menempel padanya, lalu memimpin massa ini dengan kepemimpinan yang saleh.

Aku teringat bahwa Sayyid Taufiq Al-Bakri —semoga Allah merahmatinya— pernah memikirkan hal itu. Beliau bahkan telah membuat kajian ilmiah praktis untuk para syekh tarekat dan telah menyusun sebuah kitab khusus dalam bab ini. Walakin, proyek tersebut tidak berjalan sempurna dan tidak mendapatkan perhatian dari para syekh setelahnya.

Aku juga teringat bahwa Syekh Abdullah Afifi —semoga Allah merahmatinya— menaruh perhatian pada sisi ini dan sering memperpanjang diskusi mengenainya bersama para syekh Al-Azhar dan ulama agama. Akan tetapi, hal itu barulah sebatas pemikiran teoretis tanpa ada dampak nyata dalam pergerakan amal nyata.

Sekiranya Allah menghendaki, lalu bertemulah kekuatan ilmiah Al-Azhar dengan kekuatan ruhani tarekat-tarekat sufi, serta berpadu dengan kekuatan amal nyata dari jemaah-jemaah Islam , tentulah mereka akan menjelma menjadi sebuah umat yang tidak ada tandingannya; umat yang mengarahkan dan tidak diarahkan, memimpin dan tidak dipimpin, memberikan pengaruh pada selainnya dan tidak ada sesuatu pun yang dapat merusak mereka , serta senantiasa membimbing masyarakat yang tersesat ini menuju jalan yang lurus.

HARI-HARI DI DAMANHUR

Hari-hari yang kulewati di Damanhur serta di Madrasah Guru merupakan masa-masa pencerahan dalam emosi tasawuf dan ibadah. Orang-orang mengatakan bahwa kehidupan manusia terbagi menjadi beberapa fase, di antaranya adalah fase ini yang bertepatan dengan tahun-tahun yang meletus tepat setelah Revolusi Mesir, yaitu dari tahun 1920 hingga 1923 M.

Usiaku kala itu berkisar antara empat belas tahun kurang beberapa bulan hingga tujuh belas tahun kurang beberapa bulan juga. Fase tersebut merupakan masa-masa tenggelam di dalam ibadah dan tasawuf , namun tidak sepi dari keikutsertaan secara nyata dalam menunaikan kewajiban-kewajiban nasional yang diletakkan di atas pundak para pelajar.

Aku menginjakkan kaki di Damanhur dalam kondisi dipenuhi oleh pemikiran Hasafiyah. Damanhur sendiri merupakan tempat beradanya makam serta kuburan Syekh Sayyid Hasanain Al-Hasafi, syekh tarekat yang pertama, dan di sana terdapat sekelompok pengikut senior Syekh yang saleh. Maka menjadi hal yang lumrah jika aku melebur ke dalam lingkungan ini, dan tenggelam ke dalam arah pergerakan tersebut.

Sikap tenggelam ini semakin berlipat ganda karena guru kami, Al-Haj Hilmi Sulaiman —yang sampai hari ini masih aktif menjadi pengajar di Damanhur— merupakan rupa teladan dalam hal ibadah, kesalehan, takwa, serta penerapan adab tarekat. Di antara diriku dan beliau terjalin ikatan ruhani yang khusus karena sebab tersebut.

Ditambah lagi sahabat karib beliau, Ustaz Syekh Hasan Khazbak —semoga Allah merahmatinya, yang kala itu juga menjadi pengajar di Damanhur— sering kali menggelar pertemuan-pertemuan keilmuan dan nasihat di rumahnya. Beliau juga mengajarkan kitab Ihya' 'Ulumuddin sebelum waktu fajar di bulan Ramadan di Masjid Al-Jaisyi. Al-Haj Hilmi selalu mengajakku bersamanya menghadiri pertemuan-pertemuan tersebut. Aku mendapati diriku yang masih berstatus sebagai pelajar kecil berada di tengah-tengah para tokoh besar; di antara mereka terdapat para ustaz yang mengajariku di madrasah, serta para ulama dan tokoh utama lainnya. Mereka semua memberikan motivasi kepadaku beserta para pemuda yang sepadan denganku untuk meniti jalan ini, yaitu jalan ketaatan kepada Allah. Maka ini semua menjadi faktor pendorong bagi keteguhan di atas manhaj ibadah dan tasawuf ini.

Aku tidak pernah melupakan diskusi panjangku bersama guru kami, Syekh Abdul Fattah Abu Allam, guru syariat, tafsir, dan hadis di madrasah. Diskusi tersebut berkisar seputar berbagai sanggahan yang diarahkan kepada tarekat, para wali, dan kaum sufi. Lelaki itu pada akhirnya selalu tersenyum, lalu memotivasiku untuk senantiasa menaati Allah serta berwasiat kepadaku agar melakukan studi yang mendalam, memperpanjang telaah pada rahasia-rahasia tasyri' (hukum Islam), sejarahnya, sejarah mazhab-mazhab, kelompok, serta sekte-sekte, agar hakikat kebenaran tersingkap di hadapanku sebagai buah dari hasil penelitian.

Meskipun kami sering kali berbeda pendapat dalam pandangan, aku selalu merasakan curahan kasih sayang seorang guru mengalir kepadaku, beserta keinginannya yang tulus untuk memberikan pengarahan yang baik bagiku. Aku sangat mencintai dan menghormati beliau, dan kritik yang bergulir tidak pernah melampaui batas penyampaian argumen serta keinginan untuk mengetahui kebenaran.

MALAM-MALAM DI MASJID AL-JAISYI

Aku tidak akan pernah melupakan malam-malam yang kulewati di Damanhur di Masjid Al-Jaisyi, atau tempat salat Al-Khathathibah di dekat Jembatan Iflaqah. Kehadiran kami dalam pelajaran Ustaz Syekh Hasan Khazbak sebelum fajar di bulan Ramadan berkembang menjadi aktivitas iktikaf sepanjang malam suntuk bersama sekelompok orang saleh dari Ikhwan Hasafiyah di dalam masjid ini. Kami melaksanakan salat Isya, lalu menyantap sedikit makanan dengan dihadiri oleh Syekh Muhammad Amir atau Ustaz Husain Fauzi Efendi yang kini menetap di Kairo. Selanjutnya kami berzikir kepada Allah dalam beberapa waktu, tidur sejenak, lalu bangkit di pertengahan malam untuk melaksanakan salat tahajud hingga datangnya waktu fajar. Setelah itu kami membaca wazhifah beserta wirid-wirid, lalu beranjak menuju madrasah, memberikan nasihat kepada para pelajar, atau beramal untuk kemaslahatan orang lain.

Sering kali kami terbangun saat berada di rumah-rumah kami jauh sebelum waktu fajar, di mana pintu-pintu masjid belum dibuka. Maka kami berangkat menuju tempat salat yang berada di tepi kanal Al-Khathabah di dekat Jembatan Iflaqah. Kami mendirikan salat di sana hingga mendekati waktu fajar, lalu kami bergegas menuju masjid agar dapat mengejar salat jemaah.

ZIARAH DAN JALINAN HUBUNGAN

Pada hari-hari Jumat yang kebetulan kami habiskan di Damanhur, kami sering kali mengusulkan sebuah perjalanan untuk berziarah kepada salah seorang wali yang posisinya paling dekat dari Damanhur. Terkadang kami mengunjungi Dasuq, di mana kami menempuhnya dengan berjalan kaki langsung setelah salat Subuh. Kami tiba di sana sekitar jam delapan pagi, mengarungi jarak tempuh dalam waktu tiga jam dengan jarak sekitar dua puluh kilometer. Kami berziarah, mendirikan salat Jumat, beristirahat setelah makan siang, melaksanakan salat Asar, lalu melangkah kembali pulang menuju Damanhur hingga kami tiba di sana sekitar waktu Magrib.

Di lain waktu, kami mengunjungi Izbah An-Nawam, di mana di area pemakamannya dimakamkan Syekh Sayyid Sanjar, salah seorang tokoh khusus dari kalangan jemaah Tarekat Hasafiyah yang dikenal dengan kesalehan serta ketakwaan mereka. Kami menghabiskan waktu seharian penuh di sana, kemudian kami bertolak pulang.

HARI-HARI DIAM DAN ISOLASI DIRI

Kami memiliki hari-hari di mana kami bernazar untuk diam [menahan diri dari berbicara] dan menjauh dari manusia. Maka, salah seorang dari kami tidak akan berbicara kecuali dengan zikir atau membaca Al-Qur'an. Para pelajar, sebagaimana kebiasaan mereka, memanfaatkan kesempatan ini untuk mengganggu. Mereka mengadu kepada kepala madrasah (nazhir) atau para guru dengan melaporkan bahwa lidah pelajar Fulan sedang terkena penyakit. Maka datanglah guru tersebut untuk memastikan keadaan yang sebenarnya, lalu kami menjawabnya dengan menggunakan potongan ayat Al-Qur'an, hingga akhirnya ia pergi berlalu.

Aku mengingat dengan segala kebaikan guru kami, Syekh Farahat Salim —semoga Allah merahmatinya— yang senantiasa menghormati kondisi kami ini. Beliau menghardik para pelajar yang mengganggu, serta berwasiat kepada guru-guru yang lain agar tidak menyulitkan kami dengan pertanyaan-pertanyaan selama masa diam kami. Mereka benar-benar mengetahui bahwa sikap tersebut sama sekali bukan bentuk pelarian diri dari menjawab pelajaran atau upaya meloloskan diri dari ujian, karena kami selalu menjadi murid yang paling unggul dalam pelajaran serta menguasainya dengan penguasaan yang sangat sempurna.

Kala itu, kami belum mengetahui bagaimana hukum syariat mengenai amalan [nazar diam] ini. Akan tetapi, kami mempraktikkan sikap diam ini dalam rangka melatih jiwa (ta'diban lin-nafs), menjauhkan diri dari perkataan yang sia-sia (al-laghwu), serta memperkuat tekad (kehendak) agar manusia dapat mengendalikan dirinya sendiri dan bukan dirinya yang dikendalikan oleh hawa nafsunya.

Kondisi ini terkadang berkembang di beberapa waktu hingga mencapai tahapan kejenuhan (keengganan) terhadap manusia yang mendorong pada isolasi diri ('uzlah) serta pemutusan tali hubungan. Sampai-sampai aku teringat bahwa surat-surat dari sebagian sahabat datang kepadaku di madrasah, namun aku tidak mencoba untuk membaca atau membukanya. Aku membiarkannya begitu saja sebagaimana adanya agar di dalam diriku tidak timbul keterikatan pada sesuatu yang baru. Seorang sufi adalah orang yang hidup bersahaja (meringankan beban dunia) yang wajib memutus keterikatan jiwanya dari segala sesuatu selain Allah, serta bermujahadah di jalan ini dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.

SYI'AR DI MADRASAH

Meskipun kondisi [diam dan isolasi] ini sering kali mendominasi, kecenderungan untuk berdakwah justru lebih sering menangang di banyak kesempatan. Aku mengumandangkan azan Zuhur dan Asar di tempat salat (mushalla) madrasah. Aku kerap meminta izin kepada guru pengajar —karena waktu Asar kebetulan bertepatan dengan salah satu jam pelajaran— untuk mengumandangkan azan. Aku selalu merasa heran mengapa sistem pengaturan jam pelajaran tidak disesuaikan dengan waktu-waktu salat, padahal kita berada di madrasah-madrasah Islam.

Sebagian guru memberikan izin dengan perasaan senang, sedangkan sebagian lainnya ingin tetap menjaga ketertiban kelas. Maka aku berkata kepadanya: "Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khalik (Pencipta).". Aku mendebatnya dengan perdebatan yang sengit hingga ia tidak melihat ada pilihan lain kecuali memberikan izin, agar ia dapat terbebas dari perdebatan itu dan terbebas dari diriku.

Aku tidak pernah pulang ke rumah pada waktu istirahat Zuhur, melainkan tempat tinggalku selama waktu tersebut adalah mushalla dan halaman madrasah demi mengajak teman-teman sejawat untuk mendirikan salat. Apabila azan untuk salat fardu telah berkumandang, aku duduk bersama saudara yang mulia, Ustaz Muhammad Syarif —yang saat ini menjadi guru di Kementerian Pendidikan— untuk membaca Al-Qur'an bersama-sama. Terkadang ia yang membaca dan aku yang menyimak, atau aku yang membaca dan ia yang menyimak, hingga tibalah waktu masuk kelas kembali.

MASALAH SEPUTAR PAKAIAN

Aku teringat pada suatu hari, ketika aku memasuki ruangan kepala madrasah guru tingkat dasar untuk menyerahkan lembar absen —karena akulah yang diserahi tugas tersebut di kelas— aku melihat Direktur Pendidikan berada di sisinya. Beliau adalah Ustaz Sayyid Raghib, yang pada awal tahun ini menjabat sebagai asisten pengawas di Kementerian Pendidikan. Penampilan pakaianku menarik perhatian Direktur Pendidikan tersebut, sebab kala itu aku mengenakan sorban yang memiliki ujung yang menjuntai ('imamah dzatu 'adzbah), alas kaki seperti alas kaki ihram saat haji, serta jubah luar berwarna putih di atas galabiyya.

Beliau bertanya kepadaku mengapa aku mengenakan pakaian seperti ini?. Aku menjawab: "Karena ini adalah sunah.". Beliau menimpali: "Apakah engkau sudah mengamalkan seluruh sunah hingga tidak ada yang tersisa selain sunah dalam berpakaian?".

Aku menjawab: "Tidak, bahkan kami adalah orang-orang yang sangat teledor (kurang). Akan tetapi, apa yang mampu kami lakukan, maka kami akan lakukan.". Beliau berkata: "Dengan penampilan seperti ini, engkau telah keluar dari ketertiban madrasah.".

Maka aku berkata kepadanya: "Mengapa demikian, wahai Tuanku?. Sesungguhnya ketertiban madrasah itu diukur dari kedisiplinan, dan aku tidak pernah absen dari pelajaran sama sekali. Diukur pula dari perilaku dan akhlak, dan para guruku rida terhadapku, walhamdulillah. Juga diukur dari ilmu dan studi, sedangkan aku adalah peringkat pertama di kelasku. Maka di bagian mana letak keluarnya aku dari ketertiban madrasah?".

Beliau menjawab: "Akan tetapi jika engkau lulus dan tetap bersikeras dengan pakaian seperti ini, maka dewan direksi wilayah tidak akan mengizinkan pengangkatanmu sebagai guru, agar para murid tidak merasa asing dengan penampilan ini.".

Aku menjawab: "Bagaimanapun juga, perkara itu belum tiba waktunya sekarang. Ketika waktunya telah tiba, dewan memiliki kebebasan dan aku pun memiliki kebebasan yang sama. Sesungguhnya rezeki itu berada di tangan Allah, bukan di tangan dewan maupun kementerian.".

Mendengar hal itu Direktur pun terdiam, lalu Kepala Madrasah ikut menengahi perkara tersebut. Beliau mengenalkanku kepada Direktur dengan untaian kalimat yang baik, kemudian menyuruhku keluar, maka aku pun keluar dan masalah tersebut berakhir dengan damai.

GERAKAN NASIONAL

Revolusi Mesir meletus pada tahun 1919 M. Kala itu aku adalah seorang murid di madrasah persiapan (al-i'dadiyyah) di Mahmudiyah dalam usia tiga belas tahun. Hingga kini, masih terbayang di depan mataku pemandangan demonstrasi-demonstrasi massa yang masif serta aksi mogok massal yang mengoordinasikan seluruh kota dari ujung ke ujung. Begitu pula pemandangan para tokoh terpandang dan pemuka kota saat mereka memimpin barisan demonstrasi, membawa bendera-benderanya, dan saling berkompetisi dalam hal tersebut.

Aku pun masih menghafal bait-bait nasyid yang indah lagi merdu, yang senantiasa dikumandangkan oleh para demonstran dengan penuh kekuatan dan semangat membara:

Cinta tanah air adalah bagian dari iman...

dan Ruhullah [Malaikat Jibril/seruan suci] senantiasa memanggil kita...

Jika kemerdekaan tidak mengumpulkan kita di dunia...

maka di Surga Firdaus kita akan saling berjumpa...

Aku juga masih mengingat pemandangan sebagian tentara Inggris ketika mereka turun ke desa dan mendirikan tenda militer di berbagai penjuru wilayahnya. Sebagian dari mereka bersinggungan dengan sebagian penduduk setempat, lalu tentara itu mulai mengejarnya dengan menggunakan ikat pinggang kulitnya. Hingga ketika warga pribumi tersebut berhasil menyendiri bersama sang tentara Inggris, ia membalasnya dengan pukulan yang bertubi-tubi dan membuatnya mundur kembali ke belakang dalam kondisi terhina lagi payah.

Aku pun masih mengingat barisan penjaga sipil (al-haras al-ahli) yang dibentuk oleh penduduk desa dari kalangan mereka sendiri. Mereka bergiliran melakukan ronda malam selama berhari-hari agar tentara Inggris tidak menyerbu rumah-rumah dan menodai kehormatan masyarakat.

Andil kami sebagai para pelajar dari semua peristiwa ini adalah ikut melakukan aksi mogok di beberapa kesempatan, ikut serta dalam demonstrasi-demonstrasi ini, serta menyimak perbincangan orang-orang di sekitar mengenai isu tanah air, kondisi, serta perkembangannya.

KENANGAN DAN PUISI

Aku masih teringat hari di mana guru kami, Syekh Muhammad Khalaf Nuh —yang saat ini menjadi guru pada Kementerian Pendidikan di Iskandariyah— masuk menemui kami dalam kondisi air mata yang berlinang di kedua matanya. Kami bertanya kepadaku tentang berita apa yang terjadi, lalu beliau menjawab: "Hari ini Farid Bek telah wafat.".

Beliau mulai menceritakan kepada kami tentang perjalanan hidupnya, perjuangannya, serta jihadnya di jalan tanah air hingga membuat kami semua menangis. Kenangan ini mengilhamiku untuk menulis beberapa bait puisi yang sampai saat ini masih kuhafal bagian awal beserta potongan bait lainnya:

Wahai Farid, tidurlah dengan aman dan iman...

Wahai Farid, janganlah engkau mencemaskan tanah air ini...

Wahai Farid, seluruh negeri akan menebusmu...

Aku juga masih mengingat perbincangan orang-orang di sekitar mengenai Komite Milner serta kesepakatan bulat umat untuk memboikotnya. Bagaimana perasaan tersebut mengalir begitu dahsyatnya hingga mendorong seorang murid yang masih berusia tiga belas tahun untuk menggubah sebuah qasidah yang panjang, yang tidak kuingat darinya kecuali dua bait ini:

Wahai Milner, kembalilah lalu tanyakan...

kepada delegasi yang menetap di Paris...

Kembalilah kepada kaummu dan katakan kepada mereka...

Janganlah kalian menipu mereka, wahai orang-orang yang culas...

Sungguh, aku telah mengumpulkan dari hasil karya-karya awal nasionalisme yang masih mentah ini sebuah diwan (buku kumpulan puisi) yang besar. Namun, nasib akhir dari buku tersebut adalah dibakar habis secara total pada masa fase tasawuf yang menyertai masa-masa di Madrasah Guru.

Sebagaimana nasib pengabaian (hilang) juga menimpa karya-karya tulis di bidang fikih berdasarkan empat mazhab, serta bidang sastra yang polanya mengikuti gaya kisah pelayan wanita bernama Tawaddud. Karya tersebut aku tulis bersama saudara, Ustaz Muhammad Ali Budair, di loteng (shandarah) Masjid Kecil. Kemudian karya itu lenyap termakan oleh masa-masa kesibukan beramal, di mana pada masa itu aku memandang bahwa menyibukkan diri dengan ilmu yang terlalu banyak dapat melalaikan dari amal yang bermanfaat dan mengabaikan waktu untuk beribadah kepada Allah. Cukuplah bagi manusia untuk agamanya mengetahui apa yang dapat menyahihkan hukum-hukum amalnya, dan cukuplah bagi manusia untuk dunianya mengetahui apa yang dapat menghasilkan rezekinya, kemudian setelah itu ia harus mencurahkan seluruh diri, kesungguhan, serta waktunya untuk beribadah, berzikir, dan beramal nyata.

AKSI MOGOK DAN DEMONSTRASI

Setelah berpindah ke Madrasah Guru, gerakan revolusi telah sedikit mereda, namun kenangan-kenangan tersebut terus diperbarui. Maka bersamanya, diperbarui pulalah aksi-aksi mogok, demonstrasi, serta bentrokan dengan pihak kepolisian.

Demikian pulalah kondisi kami di Damanhur. Konsekuensi (tanggung jawab) pertama kali jatuh kepada para pelajar yang menonjol dan yang berada di barisan depan. Meskipun aku sibuk dengan aktivitas tasawuf dan ibadah, aku tetap meyakini bahwa khidmah wathaniyah (bela negara/pelayanan nasional) merupakan bagian dari jihad yang diwajibkan yang tidak ada jalan untuk lari darinya.

Maka berdasarkan akidah ini, serta berdasarkan posisiku di antara para pelajar —karena aku termasuk murid yang terpandang di antara mereka— aku berkewajiban untuk mengambil peran yang menonjol dalam gerakan-gerakan ini, dan begitulah yang terjadi.

Aku tidak pernah melupakan guru kami, Syekh Ad-Dasuqi Musa, kepala madrasah kami, yang sangat mengkhawatirkan konsekuensi dari gerakan-gerakan ini. Beliau membawa kami menghadap Direktur Wilayah Al-Buhairah kala itu —Mahmud Pasha Abdul Raziq— dan melemparkan tanggung jawab atas aksi mogok pelajar lainnya kepada kami. Beliau berkata: "Sesungguhnya mereka inilah yang mampu meyakinkan para pelajar untuk membatalkan aksi mogok mereka.".

Mahmud Pasha mencoba dengan segala cara untuk meyakinkan kami, baik dengan janji manis, ancaman, maupun nasihat. Kemudian beliau menyuruh kami pergi agar kami dapat memikirkan perkara tersebut.

Maka taktik yang kami jalankan adalah kami menginstruksikan kepada seluruh pelajar untuk memencarkan diri di ladang-ladang yang berada di sekitar madrasah sepanjang hari. Hari itu adalah tanggal 18 Desember, yang merupakan hari peringatan Proklamasi Protektorat Inggris atas Mesir. Sedangkan kami sendiri pergi menuju madrasah dan menyerahkan diri kami kepada pihak manajemen. Pihak madrasah menunggu, dan kami pun menunggu siapa yang akan datang, namun tidak ada seorang pun yang hadir memenuhi panggilan kelas. Maka kami pun pulang setelah beberapa saat, dan aksi mogok terlaksana dengan sukses serta hari itu berakhir dengan damai.

Aku juga tidak pernah melupakan hari di mana para pelajar melakukan aksi mogok pada salah satu hari yang bergejolak. Komite berkumpul di tempat tinggal kami, yaitu di rumah Ibu Khadrah Sya'irah di Damanhur. Tiba-tiba pihak kepolisian melakukan penggerebekan terhadap para peserta rapat dan menerobos masuk ke dalam rumah seraya menanyakan keberadaan mereka. Maka jawaban dari sang pemilik rumah adalah: "Bahwa mereka telah pergi sejak pagi-pagi sekali dan belum kembali, dan ia sendiri sedang sibuk menyiangi tanaman sayuran sebagaimana yang disaksikan sendiri olehnya.".

Akan tetapi, jawaban yang tidak jujur ini sama sekali tidak membuatku nyaman. Maka aku langsung keluar menemui perwira yang bertanya tersebut dan berterus terang kepadanya mengenai perkara yang sebenarnya. Padahal situasi yang dihadapi oleh Ibu Khadrah saat itu sudah sangat kritis. Aku mendebat perwira itu dengan penuh semangat dan berkata kepadanya: "Sesungguhnya kewajiban nasionalmu mengharuskanmu untuk berada di pihak kami, dan bukan menghalangi gerakan kami serta menangkap kami!". Aku tidak tahu bagaimana prosesnya, namun hasil akhirnya adalah perwira tersebut benar-benar menerima perkataan ini. Ia keluar dan memerintahkan pasukannya untuk membubarkan diri serta pergi bersama mereka setelah memberikan rasa aman kepada kami.

Maka aku kembali menemui teman-teman yang sedang bersembunyi seraya berkata kepada mereka: "Ini adalah berkah dari sebuah kejujuran. Kita wajib menjadi orang-orang yang jujur dan berani menanggung konsekuensi dari perbuatan kita, dan sama sekali tidak ada keperluan untuk berbohong bagaimanapun kondisinya.".

ANTARA MAHMUDIYAH DAN DAMANHUR

Aku menghabiskan hari-hari pekan madrasah di Damanhur, lalu kembali pada waktu Zuhur di hari Kamis ke Mahmudiyah. Di sana aku menghabiskan malam Jumat dan malam Sabtu, kemudian kembali lagi pada pagi hari Sabtu menuju madrasah sehingga aku dapat mengejar jam pelajaran pertama tepat pada waktunya.

Aku memiliki banyak keperluan yang harus ditunaikan di Mahmudiyah selama periode singkat ini, selain dari berziarah menemui keluarga dan menghabiskan waktu bersama mereka. Tali persahabatan di antara diriku dengan saudaraku, Ahmad Efendi As-Sukkari, telah terikat sedemikian kuatnya hingga salah seorang dari kami tidak akan mampu bersabar jika harus berpisah dari yang lain selama satu pekan penuh tanpa adanya pertemuan.

Ditambah lagi, agenda malam Jumat di rumah Syekh Shalabi Ar-Rijal setelah pelaksanaan hadhrah [zikir berjemaah] diisi dengan aktivitas saling mempelajari (tadaruss) kitab-kitab tasawuf seperti kitab Ihya' 'Ulumuddin, menyimak kisah-kisah keteladanan para wali, kitab Al-Yaqut wa Al-Jawahir, serta kitab-kitab lainnya. Kami berzikir mengingat Allah hingga datangnya waktu subuh, dan agenda ini termasuk di antara manhaj kehidupan kami yang paling sakral.

Kala itu, aku juga telah mahir dalam profesi memperbaiki jam dinding/tangan serta keahlian menjilid buku. Aku menghabiskan waktu siang hari di toko sebagai seorang perajin, sedangkan waktu malam hari aku habiskan bersama jemaah Ikhwan Hasafiyah sebagai seorang yang berzikir. Karena seluruh keperluan inilah, aku tidak akan mungkin bisa absen untuk hadir di Mahmudiyah pada hari Kamis kecuali jika ada halangan yang sangat memaksa.

Aku turun dari kereta api Delta langsung menuju toko, lalu menjalankan pekerjaanku dalam memperbaiki jam hingga mendekati waktu Magrib. Setelah itu aku pulang ke rumah untuk berbuka puasa, karena di antara kebiasaan rutin kami adalah menjalankan puasa sunah pada hari Kamis dan Senin. Selanjutnya aku beranjak menuju Masjid Kecil setelah Magrib untuk mengikuti pelajaran agama dan hadhrah, kemudian bertolak menuju rumah Syekh Shalabi Ar-Rijal atau rumah Ahmad Efendi As-Sukkari untuk bermudarasah dan berzikir. Setelah itu kami menuju masjid untuk menunaikan salat Subuh, yang kemudian diikuti dengan istirahat sejenak. Agenda berikutnya adalah pergi ke toko, melaksanakan salat Jumat, menyantap makan siang, lalu kembali berada di toko hingga waktu Magrib. Setelah Magrib berada di masjid, kemudian pulang ke rumah, dan pada pagi harinya bertolak kembali menuju madrasah.

Begitulah rutinitas tersebut berjalan terus-menerus dalam tatanan terjadwal yang tidak kuingat pernah terlewatkan satu pekan pun kecuali karena adanya urusan mendesak yang datang tiba-tiba.

DI MASA LIBURAN MUSIM PANAS

Masa liburan musim panas menjadi momentum yang sangat serasi untuk menerapkan manhaj aktivitas ini secara harian. Bahkan ke dalamnya dimasukkan satu agenda baru, yaitu belajar (mudzakarah) pada setiap pagi hari, dimulai dari terbitnya matahari hingga waktu dhuha yang utama (al-dhahwah al-kubra). Aktivitas ini kami laksanakan bersama guru kami, Syekh Muhammad Khalaf Nuh di rumahnya. Kami memulainya dengan menghafal kitab Alfiyah Ibnu Malik serta membaca kitab penjelasnya, yaitu Syarah Ibnu 'Aqil. Kami juga mempelajari kitab-kitab lainnya di bidang fikih, ushul fikih, dan hadis. Hal inilah yang memiliki pengaruh paling besar dalam mempersiapkan diriku untuk memasuki jenjang Darul Ulum, padahal aku sama sekali belum berpikir untuk memasukinya pada masa tersebut. Kami dahulu kerap berkata bahwa kami menuntut ilmu murni hanya demi ilmu itu sendiri.

PANGGILAN PAGI

Di antara amalan kami di Mahmudiyah selama masa liburan musim panas atau pada pagi hari Jumat adalah membagi-bagi wilayah desa. Kami yang berjumlah tiga orang atau terkadang lebih —di antaranya adalah saudara Muhammad Efendi Ad-Dimyathi dan saudara Abdul Muta'al Sinkil— bertugas untuk membangunkan manusia agar mendirikan salat Subuh, beberapa saat sebelum fajar berkumandang, terkhusus kepada para jemaah Ikhwan.

Aku merasakan kebahagiaan yang teramat besar serta ketenteraman yang asing di dalam jiwa saat aku membangunkan para muazin agar mengumandangkan azan Subuh. Setelah itu, aku berdiri di momen waktu sahur yang penuh dengan nuansa puitis ini di tepi sungai Nil, lalu menyimak lantunan azan yang meluncur dari tenggorokan-tenggorokan mereka secara serentak pada satu waktu bersamaan. Hal itu karena posisi masjid-masjid di desa tersebut saling berdekatan jaraknya.

Terlintas di dalam benak pikiranku bahwa aku akan menjadi sebab bagi terbangunnya sejumlah jemaah salat ini, dan aku akan mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala mereka. Ini merupakan pembenaran dari sabda Rasulullah :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Artinya: "Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka." (HR. Muslim) [Hadis ini diriwayatkan secara sahih oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (No. 2674) dari jalur sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Penggunaan teks arab berharakat secara lengkap bertujuan menjaga akurasi periwayatan lafal kenabian (lafzh al-wurud), sedangkan makna konseptual "menyeru kepada petunjuk" mencakup segala bentuk wasilah dakwah, termasuk aktivitas fisik membangunkan jemaah untuk salat Subuh].

Kebahagiaan ini semakin berlipat ganda ketika aku melangkah menuju masjid setelah itu, lalu aku melihat diriku menjadi orang yang paling kecil usianya di antara para jemaah yang duduk di dalamnya. Maka aku memuji Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa melanggengkan taufik ini.

PERSIAPAN MEMASUKI DARUL ULUM

Hari-hari di Madrasah Guru sepanjang tiga tahun masa studinya merupakan masa-masa tenggelam di dalam emosi tasawuf dan ibadah. Walakin, masa tersebut tidak sepi dari aktivitas menghadap pelajaran serta menggali ilmu pengetahuan di luar batas kurikulum madrasah.

Sebab dari hal itu menurut persangkaanku kembali kepada dua faktor utama:

  • Faktor Pertama: Keberadaan perpustakaan ayahku. Beliau senantiasa memberikan motivasi kepadaku untuk membaca dan belajar, serta menghadiahi beberapa kitab yang sebagian darinya masih kusimpan hingga hari ini. Di antara kitab yang pengaruhnya paling mendalam di jiwaku adalah kitab Al-Anwar al-Muhammadiyah karya An-Nabhani, kitab Mukhtashar al-Mawahib al-Ladunniyah karya Al-Qasthalani, serta kitab Nur al-Yaqin fi Sirati Sayyid al-Mursalin karya Syekh Al-Khudhari. Berdasarkan bimbingan ini, serta apa yang lahir darinya berupa rasa cinta yang mendalam terhadap aktivitas membaca, terbentuklah sebuah perpustakaan pribadi milikku yang di dalamnya menghimpun majalah-majalah lama serta buku yang beraneka ragam. Ketika aku berada di Mahmudiyah di madrasah persiapan, aku selalu menanti kedatangan Syekh Hasan Al-Kutubi pada hari pasar dengan penuh ketidaksabaran, demi menyewa buku-buku secara mingguan dengan bayaran beberapa milim yang sangat murah, lalu mengembalikannya kembali kepadanya untuk mengambil buku yang lain, begitu seterusnya. Di antara buku yang paling membekas kuat dan mendalam pengaruhnya di jiwaku pada fase ini adalah kisah Putri Dzatul Himmah.

Apabila aku mengingat apa yang dahulu kami baca dari kisah-kisah yang seluruh isinya dipenuhi oleh semangat kepahlawanan, keberanian, pembelaan terhadap tanah air, berpegang teguh pada agama, berjihad di jalan Allah, serta berjuang demi menggapai derajat yang tinggi dan kemuliaan. Kemudian aku membandingkannya dengan apa yang dibaca oleh generasi muda dan remaja hari ini berupa novel-novel yang seluruh isinya dipenuhi kemayuan, kelembekan, kelemahan, dan sikap manja. Maka aku menyadari betapa jauhnya loncatan perkembangan yang asing antara kultur budaya umum pada masa lalu dengan kultur budaya umum pada hari ini. Aku meyakini bahwa kita berada dalam kondisi yang sangat butuh untuk menyaring makanan budaya yang disuguhkan kepada generasi baru ini, baik dalam wujud buku, novel, surat kabar, maupun majalah.

  • Faktor Kedua: Bahwa Madrasah Guru pada masa itu telah menghimpun deretan guru pilihan dari kalangan ustaz yang mulia. Seperti guru kami, Ustaz Abdul Aziz Athiyah —kepala madrasah guru di Iskandariyah saat ini sekaligus pimpinan Ikhwan di sana—, guru kami Syekh Farahat Salim —semoga Allah merahmatinya—, guru kami Syekh Abdul Fattah Abu Allam, guru kami Al-Haj Ali Sulaiman, serta guru kami Syekh Al-Basyuni —semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan—. Mereka istimewa dengan kesalehan, kebaikan, serta ketulusan dalam memotivasi para muridnya untuk melakukan riset dan belajar. Di antara diriku dengan majelis mereka terjalin ikatan ruhani yang di dalamnya aku mendapati banyak bentuk motivasi.

Aku masih mengingat bahwa Ustaz Abdul Aziz Athiyah, ketika beliau mengajari kami mata pelajaran praktik mengajar (al-tarbiyah al-'amaliyyah), beliau mengadakan ujian bulanan lalu jawaban tulisanku membuat beliau kagum. Beliau menuliskan catatan di atas lembar jawabanku: "Engkau telah berbuat baik dengan sangat baik, dan sekiranya ada nilai tambahan di atas nilai batas maksimal, tentulah aku akan memberikannya kepadamu.". Beliau menahan lembar kertas tersebut di tangannya saat pembagian kertas ujian, lalu beliau memanggilku dan menyerahkannya langsung kepadaku. Beliau membekaliku dengan banyak untaian kalimat nasihat, motivasi, serta dorongan untuk terus membaca, belajar, dan menelaah. Beliau juga mengkhususkan diriku untuk membantu mengoreksi beberapa draf cetak (proove sheet) buku karya beliau yang berjudul Kitab al-Mu'allim di bidang pendidikan, yang saat itu sedang dicetak pada percetakan Al-Mustaqbal di Damanhur.

Faktor-faktor ini memiliki pengaruh yang besar di dalam jiwaku. Maka pada tahapan pendidikan ini, di luar batas kurikulum madrasah, aku telah menghafal banyak kitab matan [teks ringkas pedoman keilmuan] dalam berbagai cabang disiplin ilmu. Aku menghafal matan Mulhat al-I'rab karya Al-Hariri, kemudian Alfiyah karya Ibnu Malik, matan Al-Yaqutiyah di bidang musthalah hadis, matan Al-Jawharah di bidang tauhid, matan Ar-Rajabiyah di bidang waris (faraidh), sebagian matan As-Sullam di bidang logika (mantiq), banyak bagian dari matan Al-Quduri di bidang fikih mazhab Abu Hanifah, serta matan Al-Ghayah wa At-Taqrib karya Abu Syuja' di bidang fikih mazhab Syafii , serta sebagian Manzhumah Ibnu 'Amir dalam mazhab Maliki.

Aku sama sekali tidak pernah melupakan arahan ayahku kepadaku dengan menggunakan ungkapan yang masyhur:

"Barang siapa yang menghafal matan, maka ia akan menguasai berbagai cabang seni keilmuan."

Pengaruh kalimat tersebut sangat mendalam di dalam jiwaku, hingga pada tingkat aku mencoba menghafal matan As-Syathibiyah di bidang ilmu qira'at, padahal aku masih bodoh secara total mengenai istilah-istilah konseptual yang berlaku di dalamnya. Aku benar-benar telah menghafal bagian mukadimahnya, dan aku masih menghafal sebagian darinya hingga hari ini.

Di antara kisah yang unik adalah sebagian pengawas madrasah (inspector) mengunjungi kami pada jam pelajaran bahasa Arab di tahun ketiga madrasah persiapan. Kala itu, aku belum menghafal [matan nahwu] kecuali matan Mulhat al-I'rab karya Al-Hariri. Pengawas itu bertanya mengenai tanda isim (kata benda) dan tanda fi'il (kata kerja) dalam kaidah tata bahasa, kemudian ia bertanya mengenai tanda huruf. Maka guru pengajar —yaitu Ustaz Syekh Muhammad Ali An-Najjar kala itu— menunjuk diriku untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jawaban yang kulontarkan adalah satu bait puisi yang berasal dari matan Mulhah, yaitu perkataan Al-Hariri:

Dan huruf itu adalah apa yang tidak memiliki tanda...

maka qiyaskanlah (analogikanlah) atas perkataanku ini, niscaya engkau akan menjadi orang yang jangkauan ilmunya luas (tanda).

Mendengar hal itu sang pengawas tersenyum lalu berkata: "Baiklah, wahai Tuanku, aku akan mengiyaskan atas perkataanmu agar aku bisa menjadi orang yang luas ilmunya.". Ia melontarkan ucapan terima kasih kepada guru kelas lalu pergi berlalu.

Kekayaan khazanah keilmuan ini mengarahkan pandangan sebagian dari saudara-saudara kami yang sedang mempersiapkan diri mereka untuk mendaftarkan diri ke Darul Ulum Tingkat Tinggi (Dar al-'Ulum al-'Ulya) pada masa tersebut. Mereka berasal dari kalangan guru madrasah dasar awal yang berstatus melekat pada Madrasah Guru. Mereka menawarkan kepadaku agar kami dapat belajar bersama sehingga kami dapat mendaftar bersama-sama pula. Di barisan terdepan dari mereka adalah saudara yang mulia, Syekh Ali Naufal kala itu, yang saat ini menjadi Ustaz Ali Naufal.

Ia sangat menginginkan agar kami dapat belajar bersama dan mendaftar bersama menuju Darul Ulum Tingkat Tinggi. Darul Ulum kala itu terbagi menjadi dua bagian:

  1. Bagian Pertama: Kelas Persiapan (Al-Qism al-Tajhizi), di mana kelas ini terbuka bagi siapa saja yang menghendakinya dari kalangan pelajar Al-Azhar maupun madrasah guru.
  2. Bagian Kedua: Kelas Tinggi Sementara (Al-Qism al-'Ali al-Muwaqqat), di mana kelas ini juga terbuka bagi siapa saja dari kalangan para pelajar tersebut, yang pada umumnya mereka telah mendapatkan ijazah tsanawiyah Al-Azhar. Kelas Tinggi Sementara ini tidak tersisa lagi waktu untuk mendaftar kepadanya kecuali hanya pada tahun ini saja, yaitu tahun pelajaran 1923-1924 M.

Setelah tahun tersebut, bagian ini akan dihapus untuk digantikan posisinya oleh Kelas Tinggi yang sumber mahasiswanya disuplai dari Kelas Persiapan. Sebagian saudara kami dari kalangan pelajar madrasah guru ingin mendaftar ke Kelas Persiapan ini, namun minat yang membanjir justru mengarah pada Kelas Tinggi Sementara karena menganggap bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan yang tersisa bagi siapa saja yang ingin menyusul masuk ke dalamnya.

Ustaz Syekh Ali Naufal menginginkan agar kami belajar bersama, sedangkan posisiku saat itu berada di tahun ketiga, yaitu tahun di mana aku akan menunaikan ujian sertifikasi kompetensi untuk mengajar di madrasah dasar awal (syahadah al-kفاءة lil-ta'lim al-awwali). Sementara ia sendiri telah berstatus sebagai guru di madrasah dasar yang melekat pada Madrasah Guru tersebut.

Maka aku mengajukan permohonan maaf untuk tidak bisa belajar bersama dengannya. Akan tetapi, ia masuk menemui jiwaku melalui pintu hak-hak persaudaraan (huquq al-ukhuwah) serta kewajiban saling membantu di antara sesama ikhwan dan mendengarkan pandangan mereka, hingga akhirnya aku tidak melihat ada pilihan lain kecuali menyimak perkataannya.

PANDANGAN TENTANG ILMU DAN IJAZAH

Aku memiliki pandangan tersendiri pada hari-hari tersebut mengenai ilmu, metode menuntutnya, ijazah, serta proses mendapatkannya. Pandangan ini merupakan salah satu dari sekian jejak pengaruh hasil pembacaanku terhadap kitab Ihya' 'Ulumuddin. Sungguh, aku adalah seorang yang mencintai ilmu dengan kecintaan yang teramat besar, memiliki kecenderungan yang sangat kuat terhadap aktivitas membaca serta menambah bekal ilmu. Aku juga mengimani besarnya faedah ilmu bagi individu maupun kolektif masyarakat, serta kewajiban menyebarkannya di tengah manusia. Sampai-sampai aku teringat bahwa aku sempat bertekad kuat untuk menerbitkan sebuah majalah bulanan yang kunamakan "As-Syams" (Matahari). Aku bahkan telah menulis untuk edisi pertama dan keduanya, sebagai bentuk meniru guru kami, Syekh Muhammad Zahran, yang menerbitkan majalah bulanan Al-Is'ad, serta menyerupai majalah Al-Manar yang sangat sering kutelaah lembar demi lembarnya.

Akan tetapi, metode Imam Al-Ghazali beserta uslubnya dalam menyusun tingkatan ilmu, makrifat, dan tujuan menuntut ilmu telah menghujamkan pengaruh yang sangat kuat di dalam jiwaku. Maka aku berada di dalam gejolak pertarungan batin yang sangat sengit. Sisi rasa cinta yang mendesak ini mengajakku untuk terus menambah porsi dalam menuntut ilmu. Di sisi lain, arahan-arahan Imam Al-Ghazali beserta definisinya mengenai ilmu yang wajib —yaitu ilmu yang dibutuhkan oleh seorang hamba dalam menunaikan perkara fardu serta dalam menghasilkan nafkah kehidupan, yang kemudian setelah itu ia harus beranjak menuju amal nyata— mengajakku untuk mengambil porsi yang bersifat darurat saja dan meninggalkan perkara yang selainnya serta tidak membuang-buang waktu di dalamnya.

Ketika muncul ide untuk mendaftarkan diri ke Darul Ulum, yang di dalamnya terdapat konsekuensi berupa pengiriman tugas belajar ke luar negeri (ba'tsah ila al-kharij) bagi para lulusan terbaik yang meraih diploma, maka gejolak pertarungan batin ini semakin menghebat dan menguat.

Aku selalu berkata jujur kepada diriku sendiri: "Untuk apa engkau ingin memasuki Darul Ulum?. Apakah demi menggapai kedudukan (جاه / jah) agar manusia mengatakan bahwa engkau adalah seorang guru tingkat tinggi dan bukan guru tingkat dasar awal? —padahal mencari kedudukan serta ambisi atasnya merupakan penyakit di antara penyakit-penyakit jiwa dan bagian dari syahwatnya yang wajib diperangi—. Ataukah engkau menginginkannya demi harta, agar gaji lipat upahmu bertambah banyak, sehingga engkau dapat mengumpulkan harta benda, mengenakan pakaian yang mewah, menikmati makanan yang lezat, serta mengendarai kendaraan yang megah?. Dan perkara ini adalah seburuk-buruknya apa yang dilakukan oleh seseorang, dan "Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak pakaian tebal (beludru), celaka dan tersungkurlah ia, dan jika ia terkena duri semoga tidak dapat dicabut." Dan Mahabenar Allah Yang Maha Agung:

"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. Katakanlah, "Maukah aku kabarkan kepadamu yang lebih baik dari yang demikian itu?" Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya..." (QS. Ali 'Imran: 14-15)

Atau apakah engkau menginginkannya demi memperbanyak harta dengan ilmu dan makrifat guna menyaingi para ulama, mendebat orang-orang bodoh, atau merasa tinggi di hadapan manusia?. Padahal orang yang pertama kali dinyalakan api neraka dengannya pada hari kiamat adalah orang yang menuntut ilmu bukan karena Allah dan tidak mengamalkan ilmunya. Dan manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah seorang alim yang Allah tidak memberikan manfaat pada dirinya melalui ilmunya.

Terkadang dirimu membisikkan kepadamu bahwa engkau menuntut ilmu agar menjadi seorang alim yang memberi manfaat kepada manusia, dan sesungguhnya Allah beserta para malaikat-Nya bersalawat atas para pengajar kebaikan kepada manusia, dan sesungguhnya Rasulullah diutus melainkan sebagai seorang pengajar. Maka katakanlah kepada dirimu itu: "Jika engkau jujur bahwa engkau menginginkan ilmu untuk memberi manfaat kepada manusia demi mengharap rida Allah, lalu mengapa engkau begitu berambisi ingin masuk ke Darul Ulum, padahal ilmu itu ada di dalam buku-buku, serta berada di sisi para syekh dan ulama?".

"Dan ijazah itu adalah fitnah [ujian/godaan], ia adalah kendaraan menuju dunia, kehidupan, dan harta, yang mana keduanya adalah racun yang mematikan, menghapuskan amal, serta merusak hati dan anggota badan."

"Maka belajarlah dari buku-buku dan janganlah engkau menggantungkan diri pada ijazah-ijazah madrasah ataupun diploma-diploma resmi."

Filsafat ini hampir saja menguasai jiwaku, bahkan ia telah benar-benar menguasainya secara nyata. Oleh karena itu, aku tidak mau belajar bersama saudara Ustaz Ali Naufal karena mengabaikannya.

Akan tetapi, guru kami Syekh Farahat Salim —semoga Allah merahmatinya— yang mana beliau sangat mencintaiku dengan kecintaan yang teramat besar dan selalu menampakkan kasih sayangnya kepadaku di setiap kesempatan, serta menempati kedudukan yang mulia di dalam jiwaku, berhasil dengan keluwesan dan kelembutannya untuk mendorongku agar belajar dengan sungguh-sungguh, dan benar-benar mendaftarkan diri ke Darul Ulum.

Di antara perkataannya adalah: "Engkau sekarang berada di ambang pintu ujian sertifikasi kompetensi (al-kafa'ah), dan ilmu itu tidak membahayakan. Keikutsertaanmu dalam ujian Darul Ulum adalah pengalaman untuk menghadapi ujian-ujian besar, dan ini adalah kesempatan yang tidak akan terulang. Maka mendaftarlah demi menjaga hak dirimu, dan aku yakin engkau akan lulus insya Allah. Kemudian setelah itu, di hadapan kita ada ruang untuk berpikir sesukamu, dan engkau memiliki hak untuk menolak atau masuk."

Demikianlah, dengan pengaruhnya yang kuat, beliau mampu mendorongku dengan dorongan yang kuat untuk mengajukan permohonanku bersama orang-orang yang mendaftar. Maka aku pun mendaftar, dan ujian tersebut dilaksanakan beberapa saat sebelum ujian sertifikasi kompetensi.

DUA METODE

Aku ingin mencatat di sini dua kenangan, yang satu bersifat praktis dan yang lain bersifat teoritis, yang mana aku mengagumi keduanya dan sempat menarik perhatian pemikiranku dalam beberapa waktu.

Adapun yang pertama adalah kenangan tentang seorang yang mulia lagi berilmu luas, Syekh Ahmad As-Syarqawi Al-Huraini —semoga Allah merahmatinya— yang tidak pernah kulihat kecuali hanya sekali, yaitu ketika beliau berziarah menemui anak-anak, para murid, pengikut, dan orang-orang yang mencintainya di Damanhur. Beliau memeriksa keadaan mereka di tempat tinggal dan rumah-rumah mereka, serta menghabiskan satu malam bersama kami tanpa keluar dari watak kebiasaannya yang sudah maklum.

Aku mengetahui tentang kepribadian laki-laki ini apa yang menjadikannya agung di mataku dan senantiasa kuingat hingga kini. Aku mengetahui darinya bahwa beliau mencintai ilmu dan pengajaran dengan segenap hatinya. Maka penduduk desanya berbondong-bondong menuju ilmu karena dorongannya. Beliau pun sering kali membantu orang yang tidak mampu menanggung biaya pendidikan dengan menggunakan harta pribadinya sendiri hingga pendidikannya selesai. Kemudian setelah murid tersebut lulus, ia akan bekerja untuk membiayai pelajar lain dari kalangan yang tidak mampu, sampai ia dapat melunasi utangnya —bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan dalam bentuk sumbangsih ilmu dan makrifat—. Melalui metode ini, tidak ada satu pun orang di desa Hurain yang tidak mampu mengenyam pendidikan betapapun miskinnya keluarga mereka. Sungguh, solidaritas keilmuan ini telah mencukupi mereka semua, di samping adanya ikatan ruhani yang menyatukan para penuntut ilmu ini seluruhnya.

Satu-satunya hiburan bagi laki-laki tersebut adalah ketika mereka berkumpul di sekelilingnya pada masa liburan musim panas. Beliau dapat melihat dua puluh pelajar Al-Azhar duduk berdampingan dengan dua puluh pelajar Darul Ulum —sebagaimana para mahasiswa Darul Ulum biasa disebut— serta berdampingan pula dengan lima puluh pelajar dari Madrasah Guru Tingkat Dasar... hingga sejumlah besar pelajar dari berbagai macam madrasah yang berbeda-beda jenisnya. Beliau mengajak mereka belajar bersama, mengobrol, memberikan teka-teki (al-alghaz) serta sanggahan-sanggahan (al-i'tiradhat), serta menerima pertanyaan dan jawaban dari mereka. Beliau mengasah pikiran dan semangat mereka menuju pelajaran, ilmu, dan makrifat dengan cara tersebut. Oleh karena inilah, para pelajar Madrasah Guru Tingkat Dasar di Damanhur yang berasal dari desa Hurain berjumlah sangat besar. Beliau pernah mengunjungi mereka dalam kunjungan motivasi yang dihabiskan dengan candaan ilmiah dan diskusi ini. Aku pun tidak luput dari pertanyaan, sanggahan, teka-teki, dan koreksinya —semoga Allah merahmatinya dan meluangkan tempat baginya di surga-Nya—.

Sementara kenangan kedua adalah kenangan tentang Syekh Sawi Diraz —semoga Allah merahmatinya—. Beliau adalah seorang pemuda petani yang pada waktu itu usianya belum melewati dua puluh lima tahun, dan setelah itu beliau wafat menuju rahmat Allah. Akan tetapi, beliau memiliki kecerdasan yang langka, ketajaman pemahaman, serta kemampuan yang luar biasa dalam menggambarkan berbagai perkara. Kami mulai berbincang-bincang mengenai para wali dan ilmu, lalu perbincangan kami mengalir hingga sampai pada bahasan mengenai Tuanku Ibrahim Ad-Dasuqi yang letak desanya bertetangga dengan desa mereka, kemudian beralih pada bahasan mengenai Tuanku Ahmad Al-Badawi di Tanta.

Beliau bertanya: "Apakah engkau tahu apa kisah sebenarnya dari Tuanku Ahmad Al-Badawi?".

Aku menjawab: "Beliau adalah seorang wali yang mulia, bertakwa, saleh, dan seorang alim yang utama.".

Beliau bertanya lagi: "Apakah hanya itu saja?".

Aku menjawab: "Itulah yang kami ketahui.".

Maka beliau berkata: "Dengarkanlah, aku akan menceritakannya kepadamu."

"Sandi Ahmad Al-Badawi datang ke Mesir dari tempat hijrahnya di Makkah, sedangkan keluarganya berasal dari Maroko. Ketika beliau menginjakkan kaki di Mesir, negeri ini sedang dikuasai oleh kaum Maimalik [para budak yang terbebaskan]. Padahal, kekuasaan (wilayah) mereka secara syariat tidak sah karena mereka bukan orang-orang merdeka (ahrar). Sementara beliau adalah seorang Sayyid keturunan Alawi [keturunan Ali bin Abi Thalib] yang terhimpun pada dirinya kemuliaan nasab, ilmu, dan kewalian. Ahlulbait memandang bahwa kekhalifahan adalah hak bagi mereka, sedangkan Kekhalifahan Abbasiyah telah runtuh dan urusannya telah berakhir di Bagdad. Umat Islam terpecah-belah menjadi negara-negara kecil yang dikuasai oleh para amir yang merebutnya dengan kekuatan, dan di antara mereka adalah kaum Mamluk ini. Maka ada dua perkara yang wajib diperjuangkan oleh sang Sayyid melalui jihad: mengembalikan kekhalifahan dan merebut kembali kekuasaan dari tangan kaum Mamluk yang tidak sah pemerintahannya."

"Bagaimana beliau melakukan hal ini?. Tentu harus ada pengaturan khusus. Maka beliau mengumpulkan sebagian orang dekat dan penasihatnya, di antaranya adalah Tuanku Mujahid, Tuanku Abdul Al, dan yang sepermisalan dengan keduanya. Mereka sepakat untuk menyebarkan dakwah dan mengumpulkan manusia di atas zikir serta tilawah. Mereka menjadikan simbol-simbol zikir ini berupa pedang kayu atau tongkat yang tebal untuk menempati posisi pedang, tabuh gendang (at-thabl) sebagai sarana mengumpulkan massa, serta panji/bendera (al-bayraq) untuk menjadi tanda bagi mereka, serta perisai (ad-daraqah) —dan ini semua adalah syiar-syiar jemaah Ahmadiyah—. Apabila manusia telah berkumpul di atas zikir kepada Allah dan mempelajari hukum-hukum agama, mereka setelah itu akan mampu merasakan dan menyadari apa yang menimpa masyarakat mereka berupa kerusakan dalam pemerintahan dan hilangnya kekhalifahan. Maka semangat pembelaan agama (an-nakhwah ad-diniyyah) serta akidah kewajiban amar makruf nahi mungkar akan mendorong mereka untuk berjihad di jalan memperbaiki kondisi-kondisi ini. Para pengikut tersebut berkumpul setiap tahun."

"Sang Sayyid memilih kota Tanta sebagai pusat gerakannya —karena letaknya yang berada di tengah-tengah kota-kota yang ramai di Mesir dan karena jaraknya yang jauh dari pusat pemerintahan—. Apabila para pengikut berkumpul setiap tahun dalam bentuk perayaan "Maulid", beliau dapat mengetahui sampai sejauh mana manusia terpengaruh oleh dakwah tersebut. Akan tetapi, beliau tidak menampakkan dirinya kepada mereka, melainkan mengasingkan diri di atas loteng rumah (fawqa as-sath) dan memakai penutup muka (al-litsam) yang berlapis-lapis agar penampilannya terasa lebih berwibawa di dalam jiwa mereka. Begitulah kebiasaan yang berlaku pada zaman itu, hingga para pengikutnya menyebarkan anggapan bahwa memandang wajah beliau dapat mendatangkan kematian, maka barang siapa yang ingin melihat sang Quthb [wali tertinggi], ia harus rela mengorbankan nyawanya demi pandangan tersebut."

"Demikianlah dakwah ini tersebar luas hingga diikuti oleh orang yang sangat banyak. Akan tetapi, situasi dan kondisi tidak mendukung keberhasilan gerakan ini, sebab Mesir kemudian dipimpin oleh Az-Zhahir Baibars Al-Bunduqdari. Beliau berhasil menang atas kaum Salib berkali-kali, serta menang atas bangsa Tatar bersama Al-Muzaffar Quthuz. Namanya menjadi harum, bintangnya bersinar tinggi, dan ia dicintai oleh masyarakat umum. Tidak cukup sampai di situ, ia bahkan mendatangkan salah seorang putra keturunan Abbasiyah lalu membaiatnya sebagai khalifah secara nyata. Maka tindakan ini menghancurkan rencana gerakan tersebut dari akar fondasinya. Tidak berhenti di situ saja, Baibars juga menjalankan politik yang sangat baik terhadap sang Sayyid, menjalin hubungan dengannya, mengangkat kedudukannya, serta memberikan tugas kepadanya untuk menjadi penanggung jawab dalam mendistribusikan para tawanan perang kepada keluarga mereka saat pembebasan dari negeri musuh, karena di dalam tugas tersebut mengandung unsur penghormatan dan pemuliaan. Ini semua terjadi sebelum proyek gerakan yang berbahaya ini sempurna dijalankan. Maka kerajaan dan pemerintahan secara aktual tetap berada di tangan kaum Mamluk, sedangkan nama khalifah secara formalitas ini bertahan untuk beberapa waktu lamanya."

Aku mendengarkan analisis dan jalinan kronologi dalam sejarah Sayyid Al-Badawi ini seraya merasa takjub terhadap pola pikir pemuda petani ini, yang tidak mengenyam pendidikan melainkan sebatas pendidikan tingkat dasar di desanya. Betapa banyak di Mesir ini kecerdasan yang terkubur dan akal yang melimpah sekiranya ada orang yang mau berusaha untuk mengeluarkannya dari ranah potensi menuju ranah aktual nyata??.. Untaian kalimat Syekh Sawi Diraz —semoga Allah merahmatinya— masih terus terbayang di hadapanku seolah-olah aku sedang mendengarnya sekarang. Di dalamnya terdapat pelajaran dan hal yang unik, sedangkan segala urusan berada di tangan Allah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah, diwariskan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

MENUJU KAIRO

Aku kembali bercerita bahwa aku mendaftarkan diri ke Darul Ulum, dan setelah itu aku diberitahu mengenai jadwal pemeriksaan medis (tes kesehatan) dan ujian. Aku harus memenuhi panggilan tersebut dan melakukan perjalanan menuju Kairo demi menunaikan keduanya.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadan. Ayahku ingin mendampingiku, namun aku memandang tidak ada keperluan yang mendesak untuk itu. Aku merasa cukup dengan bekal untaian doa-doa yang baik dari beliau. Beliau menjabarkan rute perjalanan kepadaku, serta memberiku selembar surat yang ditujukan kepada salah seorang sahabatnya dari kalangan pedagang buku besar yang berkecukupan di Kairo. Ayahku telah lama memberikan banyak bantuan jasa yang agung kepadanya karena meyakini kesalehan, kesetiaan, dan kebaikan pada diri orang tersebut.

Aku tiba di Kairo untuk pertama kalinya dalam hidupku, sedangkan usiaku saat itu telah melewati enam belas tahun beberapa bulan. Aku turun di stasiun Bab al-Hadid bertepatan pada waktu Asar, lalu menaiki trem menuju Al-Atabah, kemudian naik angkutan Suwaris menuju masjid Tuanku Al-Husain. Di sana aku turun dan berjalan menuju toko pedagang buku tersebut. Aku menyerahkan surat kepadanya, namun ia sama sekali tidak acuh dan tidak memedulikan apa yang tertera di dalamnya. Satu-satunya hal yang ia lakukan adalah menyuruh salah seorang pekerja di tokonya untuk mengawasiku.

Pekerja tersebut adalah seorang laki-laki yang saleh lagi mulia, dan ayahku memiliki kenalan dengannya sejak masa lalu. Ia menyambutku dengan sangat hangat, memuliakanku, lalu membawaku ke rumahnya untuk berbuka puasa bersama. Kami keluar menghabiskan waktu beberapa saat, kemudian kembali ke rumah untuk menyantap sahur. Aku tidur setelah menunaikan salat Subuh, lalu bangun pagi-pagi sekali seraya meminta kepada sahabatku ini agar menunjukkan letak madrasah Darul Ulum. Sebab, sahabat karibku dan saudara yang mulia, Ustaz Muhammad Syaraf Hajjaj —yang saat ini menjadi guru pada Kementerian Pendidikan— telah mendahuluiku masuk ke sana satu tahun sebelumnya, sehingga aku bisa menemuinya demi memperjelas tata cara pemeriksaan medis dan ujian.

Pekerja yang baik itu menunjukkan cara untuk sampai ke Darul Ulum. Maka aku menaiki Suwaris menuju Al-Atabah, kemudian naik trem menuju Jalan Qashr al-Aini yang berada di depan Darul Ulum. Aku menunggu para mahasiswa keluar kelas, hingga akhirnya aku bertemu dengan sahabatku. Kami saling berpelukan, lalu ia menggandeng tanganku menuju rumah tempat tinggalnya yang berada di Gang Abdul Baqi di wilayah Birkat al-Fil lantai dua, di mana ia tinggal di sana bersama satu rombongan mahasiswa lainnya.

Agenda kegiatanku pada hari kedua sejak pagi hari adalah menuju toko pedagang buku tersebut —setelah sahabatku berangkat menuju madrasahnya— agar ia bersedia menunjukkanku kepada seorang perajin kacamata guna membuat kacamata medis sebagai persiapan menghadapi pemeriksaan kesehatan. Akan tetapi, ia kembali berpaling dari diriku sebagaimana kebiasaannya, maka aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Aku langsung melangkah saat itu juga menuju Masjid Al-Azhar dan memasukinya untuk pertama kali dalam hidupku. Luasnya bangunan serta kesederhanaannya membuatku takjub, demikian pula dengan lingkaran-lingkaran (halaqah) para pelajar di dalamnya yang sedang belajar dan bermuzakarah.

Aku berdiri menyimak halakah demi halakah satu per satu, hingga aku melihat sebuah halakah yang pesertanya sedang berbincang mengenai pendaftaran masuk Darul Ulum. Aku memahami bahwa mereka adalah orang-orang yang mendaftar untuk ujian masuk yang akan diadakan sekitar sepuluh hari lagi, dan untuk pemeriksaan medis yang akan dilaksanakan dalam waktu sekitar tiga hari lagi. Maka aku membaurkan diri ke dalam barisan mereka, lalu berbincang menceritakan keinginanku serta keperluanku terhadap orang yang dapat membimbingku menuju dokter yang mahir untuk membuatkan kacamata medis. Salah seorang dari mereka mengajukan diri secara sukarela, dan beranjak saat itu juga bersamaku menuju klinik seorang dokter wanita berkebangsaan Yunani —menurut persangkaanku— namun ia telah berasimilasi menjadi orang Mesir (mutamashshirah). Ia menyifati dokter tersebut dengan keahlian dan kemahiran, serta menceritakan bahwa dokter itu pernah membuatkan kacamata yang cocok untuknya dengan harga yang bersahabat.

Ketika kami sampai di hadapannya, dokter wanita itu mulai menjalankan tugasnya dan mengambil upah pemeriksaan sebesar lima puluh piaster. Ia menunjukkan kami menuju toko kacamata, yang kemudian toko tersebut mengambil upah pembuatan kacamata sebesar seratus lima puluh piaster dan langsung menyelesaikannya saat itu juga. Dengan demikian, tidak ada lagi perkara di hadapanku melainkan menunggu jadwal pemeriksaan medis dua hari kemudian.

PEMERIKSAAN MEDIS

Aku tidak berlebihan ketika mengatakan bahwa taufik dan keberuntungan mendampingiku dalam pemeriksaan medis ini dengan keberuntungan yang sangat menakjubkan, di saat aku melihat sebagian orang yang kukenal justru dikhianati oleh keberuntungan mereka. Mahasuci Zat yang membagi-bagikan keberuntungan, maka tidak ada ruang untuk mencela maupun menyalahkan.

Jumlah dokter pemeriksa saat itu ada tiga orang, dan namaku berada di urutan paling akhir dalam daftar pemeriksaan dokter pertama, yang mana ia adalah dokter yang paling baik dan paling mudah pemeriksaannya. Sementara saudara Ustaz Ali Naufal menjadi bagian dari dokter ketiga, yang merupakan dokter yang paling keras hati dan paling ketat pemeriksaannya.

Seberapapun tingginya persentase kelulusan di sisi dokterku, maka persentase kegagalan (tidak lulus) di sisi dokter yang lain tersebut jauh lebih tinggi lagi. Maka aku pun dinyatakan lulus meskipun aku berada di dalam keraguan yang penuh mengenai kelulusan ini. Sebaliknya, ia dinyatakan gagal padahal ia sangat yakin akan keselamatan mata dan badannya, serta telah memiliki persiapan yang sangat sempurna untuk kelulusan ini.

Dokter tersebut menyarankannya untuk membuat kacamata baru agar ia dapat mengulang pemeriksaan medis kembali, lalu ia pun melakukannya. Akan tetapi, ketatnya sifat dokter ini menghalanginya dari kelulusan untuk kedua kalinya, sehingga kesempatan tersebut hilang darinya. Walakin, setelah peristiwa itu ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa eksternal (intisab) pada Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Arab, dan ia tekun menjalani sistem ini hingga berhasil meraih gelar Licentiate (S1) darinya. Sungguh, pemilik tekad yang tinggi tidak akan pernah dilemahkan oleh sesuatu apa pun.

SATU PEKAN DI AL-AZHAR

Hasil pemeriksaan medis pun diumumkan, dan sungguh keberadaanku di antara orang-orang yang lulus merupakan sebuah kejutan bagiku. Oleh karena itulah, aku menghadapi tugas ujian ini dengan kesungguhan yang tidak ada main-main di dalamnya, tidak ada melainkan keseriusan belaka. Mengingat waktu yang tersisa hanya tinggal satu pekan saja, maka tidak ada jalan yang bermanfaat kecuali mencurahkan seluruh waktu untuk fokus beribadah dan belajar (al-tabattul), dan begitulah yang terjadi.

Aku membawa barang-barang beserta buku-buku milikku, lalu mengarahkan langkah menuju Masjid Al-Azhar yang makmur. Di sana, tepatnya di bagian kiblat lama (al-qiblah al-qadimah), aku meletakkan barang bawaanku. Aku berkenalan dengan beberapa rekan sesama pendaftar Darul Ulum, lalu kami berniat untuk melakukan iktikaf sepanjang pekan ini demi ilmu sekaligus demi mengharap berkah bersama-sama. Kami bergiliran keluar untuk membeli makanan berbuka puasa dan sahur, serta bergiliran melakukan penjagaan di waktu tidur sehingga kami tidak tidur melainkan hanya sebentar saja (ghiraran).

Semoga Allah memperbaiki urusan ilmu Arudh [ilmu timbangan syair bahasa Arab]!, karena aku hampir tidak memahami sedikit pun mengenai perubahan bunyi (zihaj), cacat syair ('ilal), ragam bentuk (dhurub), maupun rima-rimanya (qawafi). Ilmu itu benar-benar merupakan hal yang baru bagiku dalam setiap makna katanya. Akan tetapi, aku mulai menghafalnya begitu saja demi keselamatan ujian. Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan ilmu-ilmu matematika maupun ilmu-ilmu umum, namun aku justru mengkhawatirkan ilmu Nahwu dan Sharaf. Hal itu karena aku membayangkan bahwa aku tidak akan mampu mengejar debu yang ditinggalkan oleh para pelajar pendaftar yang berasal dari Al-Azhar, di mana di antara mereka ada yang telah melewati jenjang sertifikasi internal (al-ahliyyah) serta telah belajar di kelas-kelas tingkat tinggi.

Memang benar bahwa aku menghafal kitab Alfiyah, serta telah membaca sendiri kitab Syarah Ibnu 'Aqil yang menjelaskannya, dan ayahku pun ikut membantuku dalam beberapa urusan ini. Akan tetapi, aktivitas tersebut bukanlah bentuk studi yang terstruktur rapi yang dengannya jiwa bisa merasa tenang dan hati bisa merasa tenteram.

Hari-hari ujian pun tiba dan berlalu dengan selamat. Aku masih mengingat bait syair Arudh yang diujikan kepada kami, di mana kami diminta untuk memotong-motong ketukannya (taqthi'), menyebutkan cacat ('ilal) dan perubahan (zihaj) yang ada di dalamnya, serta menentukan dari bahar [pola timbangan] apa bait tersebut berasal:

Sekiranya engkau tercipta dari sesuatu selain manusia... > tentulah engkau akan menjadi pemberi cahaya di malam bulan purnama...

MIMPI YANG SALEH

Sesungguhnya di antara karunia Allah tabaaraka wa ta'ala adalah Dia senantiasa menenteramkan dan menenangkan jiwa hamba-hamba-Nya, dan apabila Dia menghendaki suatu perkara maka Dia akan menyiapkan sebab-sebab kemudahannya. Aku masih teringat bahwa pada malam ujian mata pelajaran Nahwu dan Sharaf —dan bukan pelajaran Al-Jabar sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian perkataan orang— aku melihat di dalam tidurku seolah-olah aku sedang menaiki sebuah perahu kecil yang indah bersama beberapa ulama yang utama lagi mulia. Perahu tersebut berjalan mengalir dengan perlahan dalam embusan angin yang sepoi-sepoi di atas permukaan sungai Nil yang indah.

Tiba-tiba salah seorang dari ulama yang utama tersebut maju mendekat, dan ia mengenakan pakaian khas ulama Mesir Hulu (ulama al-sha'id). Ia berkata kepadaku: "Di mana kitab Syarah Alfiyah karya Ibnu 'Aqil?".

Aku menjawab: "Ini dia.".

Ia berkata: "Kemarilah, kita ulangi bersama beberapa pembahasan di dalamnya. Bukalah halaman sekian, dan halaman sekian," untuk halaman-halaman yang ia tentukan secara spesifik.

Aku pun mulai mengulang pembahasan-pembahasannya hingga akhirnya aku terbangun dari tidur dalam kondisi hati yang lapang lagi gembira.

Pada pagi harinya, mayoritas pertanyaan ujian datang berkisar di seputar pembahasan-pembahasan tersebut. Maka hal itu merupakan bentuk kemudahan dari Allah tabaaraka wa ta'ala, dan mimpi yang saleh merupakan kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin, walhamdulillah rabbil 'alamin.

MADRASAH KHARBATA DI BUHAIRAH

Aku kembali dari Kairo setelah menunaikan ujian. Tidak lama setelah itu, aku menunaikan ujian sertifikasi kompetensi mengajar madrasah dasar awal. Ketika hasilnya diumumkan, aku menjadi peringkat pertama di madrasahku, dan peringkat kelima di seluruh penjuru negeri (Mesir). Kemudian hasil ujian Darul Ulum pun diumumkan, dan aku termasuk di antara orang-orang yang dinyatakan lulus. Kelulusan ini pun menjadi sebuah kejutan bagiku.

Sebab, aku mengingat pada momen ujian lisan, aku berhadapan dengan guru kami Ahmad Budair. Beliau adalah orang yang banyak bercanda namun dengan gaya candaan yang menyerupai kekasaran bagi siapa saja yang belum mengenalnya. Aku duduk di hadapannya, lalu beliau bertanya: "Engkau mendaftar untuk Kelas Tinggi?".

Aku menjawab: "Benar, wahai Tuanku.".

Beliau melihatku dengan pandangan sinis (syazran) kemudian berkata: "Darul Ulum akan mengecil kalau begitu, berapa usiamu?".

Aku menjawab: "Enam belas tahun setengah.".

Beliau bertanya lagi: "Mengapa engkau tidak menunggu saja sampai engkau besar?".

Aku menjawab: "Khawatir kesempatannya akan terlewat.".

Maka beliau berkata: "Kalau begitu, bacalah bab Jamak Taksir!, bukankah engkau menghafal Alfiyah?, maka bacalah!".

Teman sejawat beliau dalam menguji saat itu adalah Ustaz Abdul Fattah Asy-Asyur. Aku sendiri belum terbiasa dengan model candaan seperti ini dari orang yang belum kukenal. Apalagi usiaku saat itu memang menarik perhatian rekan-rekan sesama peserta ujian, hingga sebagian dari mereka ada yang berkata kepadaku: "Ujian untuk Kelas Persiapan berada di arah yang berlawanan.". Maka aku menjawabnya: "Bahwa aku mendaftar untuk Kelas Tinggi," lalu ia melihatku seraya pergi berlalu.

Aku sempat terpengaruh oleh candaan Ustaz Budair tersebut dan hampir saja berhenti menjawab, sekiranya Ustaz Asy-Asyur tidak menengahi perkara dengan membalas zarkah Ustaz Budair dalam bentuk candaan pula, lalu beliau mulai menyimak bacaanku dengan baik. Kemudian tibalah giliran ujian membaca (al-muthala'ah), hafalan, serta diskusi lisan, yang mana pada akhir sesi Ustaz Budair justru mendoakan kebaikan untukku dan memberikan motivasi, lalu aku pun keluar. Adapun ujian Al-Qur'an al-Karim dilaksanakan di hadapan Ustaz Ahmad Bek Zanati —semoga Allah merahmatinya— dan beliau adalah orang yang jenaka lagi lemah lembut.

Akan tetapi, terlepas dari semua proses ini, aku sama sekali tidak merasa yakin akan lulus, sehingga munculnya hasil kelulusan tersebut benar-benar menjadi kejutan.

Kejutan yang ketiga adalah bahwa Dewan Direksi Wilayah Al-Buhairah secara faktual langsung mengangkatku sebagai guru di Madrasah Dasar Awal Kharbata, dan aku diminta untuk hadir menyerahkan diri guna memulai pekerjaan tepat setelah berakhirnya liburan musim panas.

Berdasarkan kondisi ini, aku harus memilih antara mengambil pekerjaan fungsional tersebut atau kembali ke jalur menuntut ilmu di Darul Ulum. Namun pada akhirnya, aku lebih memilih untuk terus berjalan dalam silsilah menuntut ilmu, serta mengencangkan tali tunggangan menuju Kairo tempat di mana Darul Ulum berada, dan tempat di mana pemukiman resmi bagi syekh kami, Sayyid Abdul Wahab Al-Hasafi berada.

Tidak ada hal yang menggelisahkanku selain perasaan akan lamanya masa berpisah dari Mahmudiyah, yang di dalamnya terdapat sahabat karib serta saudara yang dicintai, Ahmad Efendi As-Sukkari. Akan tetapi, kami berdua sepakat untuk melaksanakan tekad bulat ini, selama pilihan ini merupakan apa yang terbaik. Kemudian kami bisa saling mengunjungi setelah itu atau saling berkirim surat. Ilmu adalah salah satu jenis dari jihad, dan kami wajib memberikan pengorbanan di jalannya betapapun besarnya pengorbanan tersebut terasa berharga lagi mahal.

TAHUN PERTAMA DI DARUL ULUM

Liburan musim panas telah berakhir. Aku bertolak menuju Kairo dan tinggal bersama beberapa saudara yang mulia di rumah Nomor 18 Jalan Marasina di wilayah Sayyidah Zainab —semoga Allah meridainya—, dan ini merupakan rumah pertama yang kami tinggali.

Aku berangkat pada hari pertama pembukaan gerbang studi menuju Darul Ulum, sedangkan seluruh diriku dipenuhi oleh rasa rindu terhadap ilmu. Allah telah mengarahkan diriku menuju pelajaran dengan pengarahan yang terpuji. Aku tidak pernah melupakan jam pelajaran pertama. Saat itu kami belum menerima buku-buku pelajaran maupun alat tulis. Guru kami, sang penyair Badui, Syekh Muhammad Abdul Muttalib —semoga Allah mencurahkan awan rahmat dan keridaan-Nya yang lebat atasnya— berdiri di depan papan tulis di atas mimbar podium dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Beliau menyapa para mahasiswa baru, serta mendoakan kesuksesan dan taufik bagi mereka. Kemudian beliau menuliskan di atas papan tulis perkataan Ubaid bin Al-Abras:

Dan kita memiliki rumah yang kemuliaannya telah kita warisi sejak dahulu kala... > yaitu kemuliaan kuno yang kokoh, dari jalur paman kandung maupun paman seibu... > Tempat tinggal yang darinya bapak-bapak kita... > wariskan kepada kita tempat sujud di awal malam-malam...

Kemudian beliau memegang bagian atas kerah jubahnya (jubbah) sebagaimana kebiasaan rutinnya —semoga Allah merahmatinya— lalu membaca kedua bait tersebut dengan nada suara yang mengandung makna kebanggaan dan kemuliaan. Selanjutnya beliau meminta kami untuk menguraikan kedudukan sintaksisnya (i'rab). Maka aku berkata di dalam hatiku: "Kita telah memulai keseriusan sejak hari pertama," dan aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri: "Apa makna kata al-Qadamus [kuno/agung] ini?". Dan mengapa beliau memilih kata "minhu" [darinya] padahal di dalam kelonggaran syair beliau bisa saja memilih kata "assasahu" [mendirikannya]?.

Kami terus-menerus memeras otak dalam menguraikan i'rab kedua bait tersebut hingga diskusi membawa kami berpindah pada pembicaraan mengenai Ubaid bin Al-Abras, kehidupan bangsa Arab beserta apa yang ada di dalamnya berupa kekasaran dan kelembutan, hari-hari besar bangsa Arab (ayyam al-'Arab) serta kisah-kisah uniknya (awabid), hingga alat-alat yang digunakan dalam peperangan dan perdamaian mereka. Diskusi juga meluas pada macam-macam tombak, pedang, dan anak panah, hingga pembedaan antara anak panah yang memiliki bulu (al-sahm al-marisy) dengan anak panah yang tidak memiliki bulu. Guru kelas membawakan syahid puisi berupa bait yang sudah masyhur:

Ia memanahku dengan anak panah yang bulunya berasal dari celak mata yang tidak melukai... > bagian luar kulitku, walakin ia mencabik-cabik bagian dalam jantung hati...

Beliau mulai menggambar berbagai macam jenis anak panah tersebut di atas papan tulis, sedangkan aku terpesona dengan model perluasan bahasan dan kedalaman riset seperti ini. Aku mengikutinya dengan penuh ketertarikan dan kerinduan. Gaya pengajaran tersebut semakin menambah rasa cintaku terhadap ilmu, serta menambah rasa hormat, pengagungan, dan takjubku terhadap Darul Ulum beserta para gurunya.

KISAH UNIK

Sembari menyebut perihal guru kami, Syekh Abdul Muttalib —semoga Allah merahmatinya— aku teringat bahwa saudara pekerja toko buku yang baik, yang dahulu aku singgah di tempatnya untuk pertama kali, menyebutkan kepadaku bahwa ia memiliki jalur hubungan dengan para guru Darul Ulum, di antaranya adalah Ustaz Syekh Abdul Muttalib dan Ustaz Syekh Allam Salamah —semoga Allah merahmatinya—. Ia menceritakan bahwa dalam kemampuannya untuk berbicara kepada keduanya mengenai urusanku agar mereka berdua bersedia memberikan bantuan perantara (syafa'ah/wasilah) bagiku dalam tahapan pemeriksaan medis atau dalam ujian walaupun ujian lisan. Ia menambahkan bahwa ia akan mengunjungi Syekh Abdul Muttalib malam ini di rumahnya untuk menyerahkan beberapa buku, dan tidak ada halangan sekiranya aku ingin mendampinginya ke sana —beliau saat itu tinggal di Jalan Sanjar Al-Khazin di wilayah Al-Hilmiyah, dan ini adalah kali pertama aku mendengar nama Sanjar Al-Khazin hingga aku bertanya-tanya siapakah Sanjar Al-Khazin ini?, apakah ia berasal dari kalangan kaum Mamluk ataukah dari kalangan orang Turki?—. Akan tetapi, aku tidak mendapati adanya kecenderungan di dalam jiwaku menuju jalur perantara ini, maka aku menyampaikan rasa terima kasihku kepada laki-laki tersebut dan merasa cukup dengan kondisi yang ada.

Namun, perkataannya tersebut mengingatkanku pada guru kami Syekh Musa Abu Qamar —semoga Allah merahmatinya— yang merupakan kerabat dekat sekaligus pengajar di Darul Ulum juga. Aku bertanya kepadanya mengenai letak rumah beliau, lalu ia menyebutkannya kepadaku —yang saat itu berada di Jalan Al-Khalij Al-Mishri—. Aku memanfaatkan kesempatan pada waktu dua hari yang kosong sebelum pelaksanaan pemeriksaan medis untuk pergi menuju rumahnya. Aku berdiri di depan pintu rumahnya lalu mengetuknya sekali...

Akan tetapi pada detik gerakan tersebut, terlintas sebuah lintasan pikiran di dalam benak batin yang langsung menguasai seluruh jiwaku dan mendorongku untuk segera pergi berlalu saat itu juga tanpa perlu menunggu jawaban dari dalam rumah. Lintasan pikiran tersebut adalah: "Bahwa tindakan ini merupakan bentuk bersandar kepada selain Allah, bergantung pada selain-Nya, serta bernaung kepada manusia!". Maka aku memantapkan tekad untuk memohon pertolongan hanya kepada Allah semata, dan menetapkan bahwa kunjunganku kepada sang Syekh —semoga Allah merahmatinya— baru akan terlaksana setelah selesainya seluruh rangkaian proses ujian bersama-sama. Dan hal itu benar-benar terjadi, dan aku mengunjunginya setelah itu, lalu ia mencelaku karena tidak menumpang di rumahnya —dan beliau, semoga Allah merahmatinya, adalah seorang yang mulia lagi dermawan yang rumahnya hampir tidak pernah sepi dari para tamu dan orang-orang yang memiliki keperluan—. Maka aku menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi, lalu ia tertawa dan memotivasiku atas prinsip ini, serta memperkuatnya di dalam jiwaku; semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan meluangkan tempat baginya di surga-Nya.

TEMPAT TINGGAL BARU

Dan aku tidak pernah lupa pembicaraan tentang pencarian tempat tinggal baru. Sebab, keluarga Akif, pemilik rumah yang kami tinggali, telah menjual rumah mereka kepada Ibrahim Bek Lam'i, seorang pedagang kertas, tinta, dan alat-alat tulis, yang terpaksa mengeluarkan para penghuni rumah untuk menggunakan rumah tersebut demi kepentingannya sendiri. Maka ia memperingatkan kami dan meminta kami untuk segera keluar dalam waktu tiga hari atau kurang. Betapa besarnya kebingungan kami dalam mencari tempat tinggal hingga akhirnya kami dipandu menuju sebuah rumah di Jalan Ad-Dahdirah di Qal'at al-Kabsy, di mana kami menghabiskan sisa tahun tersebut di sana.

KEHIDUPAN SATU TAHUN

Aku merasa bahagia dengan kehidupan di Kairo pada tahun ini. Peringkatku tampak unggul dalam ujian, dan madrasah memberiku imbalan materi yang telah ditetapkan, yaitu satu pound per bulan, yang aku khususkan untuk membeli buku-buku di luar buku pelajaran madrasah. Hingga saat ini, masih banyak buku di perpustakaanku yang merupakan hasil dari satu pound ini, yang senantiasa menemaniku sepanjang kehidupan madrasahku.

Sebagaimana aku juga menemukan kenikmatan yang sangat besar dalam menghadiri acara Hadrah [halakah zikir] setelah salat Jumat setiap pekan di rumah Syekh Al-Hasafi, kemudian pada banyak malam di hari-hari biasa di rumah khalifah pertama Syekh Al-Hasafi, yaitu Ali Efendi Ghalib, atau "Sayyiduna Al-Efendi" sebagaimana kami selalu memanggilnya, semoga Allah menguatkannya dan membalasnya dengan kebaikan dari kami.

Dan aku saling berkirim surat dengan saudara Ahmad Efendi As-Sukkari hampir setiap hari, dan aku mengunjungi desa pada masa liburan lalu menghabiskannya bersama beliau dan bersama saudara-saudara Al-Hasafiyah di Mahmudiyah, dan dalam hal itu terdapat kecukupan.

Demikianlah kehidupan ilmiah, praktis, dan ruhaniyahku berjalan dengan stabil tanpa ada sesuatu pun yang mengeruhkannya, walhamdulillah.

SEBUAH PERISTIWA ATAU MUSIBAH

Di akhir tahun, di tengah-tengah ujian akhir, dan setelah berlalu sekitar dua hari darinya, terjadi sebuah peristiwa padaku yang hampir saja menjadi musibah, akan tetapi Allah tabaaraka wa ta'ala menjadikannya sebagai kebaikan, berkah, dan sebab kepindahan seluruh anggota keluarga dari Mahmudiyah ke Kairo.

Hal itu bermula ketika salah seorang rekan sekelas kami, yang juga tinggal bersama kami di rumah tersebut, dan sama-sama berstatus perantau dari kampung halaman yang sama, merasa berat hati atas keunggulanku mengunggulinya dalam ujian, padahal ia berusia lebih tua dan telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di lembaga-lembaga pendidikan, serta memandang dirinya lebih berhak untuk menjadi yang utama dan terdepan. Maka bagaimana mungkin ia membiarkan anak muda yang baru tumbuh ini mengunggulinya?

Pikiran ini menguasai dirinya, lalu ia memikirkan sebuah tipu daya untuk menghambatku dari ujian. Ia tidak menemukan cara lain kecuali memanfaatkan kesempatan ketika kami semua sedang tidur, lalu menuangkan sebotol cairan yodium pekat ke wajah dan leherku saat aku sedang tidur. Setelah itu, aku terbangun dalam keadaan terkejut, sedangkan ia berpura-pura tidur, dan aku tidak dapat mengenalinya di dalam kegelapan. Akan tetapi, aku segera beranjak saat itu juga menuju toilet, lalu membasuh wajahku dari air yang membakar ini. Aku mendengar azan Subuh berkumandang dari Masjid Suroghotmisy di Ash-Sholiybah, maka aku segera turun dengan cepat untuk menunaikan salat.

Aku kembali lalu tidur sebentar karena rasa lelah yang teramat sangat akibat belajar, kemudian aku bangun di pagi hari dan melihat bekas-bekas penganiayaan ini. Sementara ia telah keluar lebih awal, lalu salah seorang rekan berkata: "Sesungguhnya ia benar-benar melihat botol cairan yodium bersamanya."

Ketika diinterogasi, ia mengaku dan menyebutkan alasan yang telah dikemukakan sebelumnya. Maka rekan-rekan satu kontrakan kami langsung bangkit mengeroyoknya dengan pukulan yang menyakitkan, lalu melemparkan barang-barang bawaannya ke jalanan, dan mengusirnya dari rumah.

Sebagian dari mereka bersikeras untuk melaporkannya ke pihak kejaksaan atau administrasi madrasah, dan aku pun benar-benar berniat untuk melakukan hal itu, sekiranya tidak terlintas dalam pikiranku bahwa aku telah selamat, dan ini adalah nikmat serta karunia dari Allah yang wajib disikapi dengan rasa syukur, sedangkan wujud rasa syukur itu tidak lain adalah memaafkan dan berlapang dada:

"...Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya ditanggung oleh Allah..." (QS. Asy-Syura: 40)

Maka aku menyerahkan urusan tersebut kepada Allah tabaaraka wa ta'ala dan tidak menggerakkan tindakan apa pun dalam perkara ini.

Akan tetapi, berita tersebut telah sampai ke kampung halaman, dan ujian pun telah berakhir, lalu kami pulang. Hasil ujian pun diumumkan dan aku termasuk di antara orang-orang yang unggul, walhamdulillah, di mana aku menduduki peringkat ketiga di angkatanku. Akan tetapi, Ibu menolak dengan keras kecuali memilih salah satu dari dua perkara: aku berhenti menuntut ilmu dan kembali bekerja, atau beliau ikut pindah bersamaku ke Kairo.

PINDAH KE KAIRO

Pada waktu itu, saudaraku Abdurrahman telah menyelesaikan pendidikan madrasah dasar, dan ia harus melanjutkan ke madrasah menengah. Sementara saudaraku Muhammad telah menyelesaikan pendidikan dasar awal, dan Ayah berpandangan untuk memasukkannya ke Al-Azhar. Saudara-saudara lainnya pun harus mengenyam pendidikan, sedangkan lembaga-lembaga pendidikan ini tidak tersedia di Mahmudiyah. Oleh karena itu, kepindahan ke Kairo adalah suatu keharusan meskipun perjalanannya jauh, dan begitulah yang terjadi.

Ayah datang ke Kairo menjelang berakhirnya masa liburan untuk mencari tempat tinggal dan pekerjaan. Beliau berhasil dalam urusan tersebut lalu kembali, maka kami semua pun pindah dari Mahmudiyah; di mana Abdurrahman masuk ke Madrasah Perdagangan, Muhammad mendaftar di Al-Azhar (Institut Kairo), dan saudara-saudara yang tersisa masuk ke madrasah-madrasah yang sesuai.

IKATAN EMOSIONAL

Tidak ada yang kurang dari bersatunya kembali keluarga dalam bentuk seperti ini melainkan adanya sebuah ikatan emosional yang kuat lagi bergejolak, yaitu ikatan persaudaraan, kecintaan, dan persahabatan karena Allah antara diriku dengan saudara Ahmad Efendi As-Sukkari. Kami dahulu biasa menghibur diri dari perpisahan ini dengan hari-hari liburan, dan dengan keyakinan bahwa tempat kembali kami pada akhirnya adalah ke satu kota yang sama.

Adapun sekarang, ketika kami menghadapi situasi yang baru ini, di mana keadaannya bisa jadi membuatku tidak akan kembali lagi ke Mahmudiyah kecuali jika Allah menghendaki, maka perkara tersebut memiliki kedudukan yang krusial di dalam jiwa kami yang menuntut kami untuk memperpanjang pemikiran di dalamnya, serta berupaya mengatasinya dengan segala cara.

Kami mengadakan pertemuan-pertemuan, malam-malam, pembicaraan, dan majelis-majelis yang panjang di seputar makna ini: "Sesungguhnya Ahmad adalah seorang pedagang, dan seorang pedagang tidak memiliki satu tanah air yang mengikatnya, lalu mengapa ia tidak ikut pindah saja ke Kairo? Akan tetapi, apa yang harus diperbuat dengan keluarganya? Mereka tidak ingin pindah dan kondisi mereka tidak mengizinkannya, lalu apa solusinya?"

Kami berpikir lama, hingga akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan tahun ini sebagai masa uji coba, yang mana setelah itu kami akan melihat apa yang akan terjadi.

Kami pun benar-benar pindah, dan tahun ajaran baru dimulai. Ahmad Efendi menghabiskan waktu bersamaku di Kairo selama hampir satu bulan di awal tahun, kemudian beliau kembali ke Mahmudiyah. Kami terus saling berkirim surat sepanjang periode ini hingga tahun tersebut berakhir sebagaimana tahun sebelumnya, dan liburan musim panas pun dimulai.

TOKO JAM

Liburan musim panas yang kedua pun tiba, dan aku harus menghabiskannya di Mahmudiyah, sehingga harus ada alasan kuat untuk tinggal di sana sepanjang masa liburan.

Maka aku menawarkan kepada Ayah agar aku pergi untuk membuka sebuah toko jam milik kami di sana, di mana aku sendiri yang akan bekerja di dalamnya sebagai tukang reparasi jam yang mandiri, guna melatih diri secara praktis dan mandiri dalam keahlian tersebut.

Ayah mengetahui alasan yang sebenarnya, akan tetapi beliau sering kali meluluskan apa yang aku inginkan, dan selalu menunjukkan kepercayaannya terhadap tindakan-tindakanku, sebuah hal yang membiasakanku untuk percaya pada diri sendiri. Oleh karena itulah, beliau mengizinkanku untuk pergi dan berpesan kebaikan kepadaku.

Aku pun berangkat lalu membuka toko tersebut, dan benar-benar bekerja mereparasi jam. Aku menemukan dua kebahagiaan dalam kehidupan ini: kebahagiaan bersandar pada diri sendiri dan menghasilkan nafkah dari hasil kerja tangan sendiri, serta kebahagiaan berkumpul dengan saudara Ahmad Efendi dan menghabiskan waktu bersama beliau serta bersama jemaah Al-Hasafiyah. Kami menghabiskan malam-malam liburan ini bersama mereka seraya berzikir kepada Allah dan saling mengulang ilmu; terkadang di masjid, terkadang di rumah-rumah, dan terkadang di tempat-tempat yang sunyi di luar pinggiran kota. Terkadang kami juga mandi di sungai Nil pada siang hari. Aku dan saudara Ahmad Efendi memiliki pertemuan-pertemuan khusus yang sering kali menghabiskan waktu sepanjang malam suntuk.

Aku menumpang tinggal di rumah beliau sepanjang masa liburan tersebut, sehingga kami tidak pernah berpisah baik di waktu malam maupun siang.

Meskipun kami disibukkan secara penuh dengan ibadah, zikir, dan tenggelam dalam jalan tarekat beserta wirid-wiridnya, amalan rutinnya, serta perayaan-perayaannya, akan tetapi kami senantiasa sangat mencintai ilmu dan membaca. Kami menjauhkan diri dari segala hal yang bertentangan dengan lahiriah agama beserta hukum-hukumnya, dan kami mengingkari banyak orang yang menisbatkan diri pada tarekat-tarekat atas keluarnya mereka dari ajaran-ajaran Islam.

Maka kami adalah para murid tarekat yang merdeka dalam pemikiran kami, walaupun kami tulus dengan setulus-tulusnya dalam pengagungan kami terhadap ibadah, zikir, dan adab-adab suluk [perilaku spiritual].

TELADAN YANG BAIK

Aku ingat bahwa sudah menjadi kebiasaan kami untuk keluar dalam peringatan maulid Rasulullah dengan berparade/pawai [al-maukib] setelah acara Hadrah, pada setiap malam dari awal bulan Rabiul Awal hingga malam kedua belas darinya, yang dimulai dari rumah salah seorang saudara. Kebetulan pada salah satu malam, giliran tersebut jatuh pada saudara kami, Syekh Syalabi Ar-Rijal. Maka kami pergi sebagaimana kebiasaan setelah salat Isya, lalu kami mendapati rumah dalam keadaan terang benderang, bersih, dan dipersiapkan dengan baik. Minuman sirup, kopi, dan kayu manis dibagikan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.

Kami pun keluar melakukan pawai seraya mendendangkan qasidah-qasidah yang biasa dibawakan dalam suasana kegembiraan yang sempurna dan kebahagiaan yang penuh.

Setelah kembali, kami duduk bersama Syekh Syalabi sebentar. Ketika kami hendak berpamitan untuk pulang, tiba-tiba beliau berkata dengan senyuman yang lembut lagi manis: "Insya Allah besok kalian datang menemuiku pagi-pagi sekali agar kita dapat memakamkan Ruhiyah." Ruhiyah ini adalah anak perempuan tunggalnya, yang mana beliau dikaruniai anak tersebut setelah sekitar sebelas tahun dari pernikahannya. Beliau sangat mencintai dan menyayanginya, hingga ia tidak pernah berpisah darinya bahkan dalam pekerjaannya sekalipun.

Ia telah tumbuh dan beranjak remaja, dan beliau menamainya "Ruhiyah" karena ia menempati kedudukan belahan jiwa di dalam dirinya. Maka kami merasa heran lalu bertanya kepadanya: "Kapan ia wafat?"

Beliau menjawab: "Hari ini menjelang waktu Magrib." Kami berkata: "Mengapa engkau tidak memberi tahu kami sehingga kami bisa keluar mengadakan pawai dari rumah yang lain?"

Maka beliau berkata: "Apa yang terjadi? Sungguh kesedihan kami telah diringankan dan tempat duka telah berubah menjadi kebahagiaan, maka apakah kalian menginginkan nikmat dari Allah yang lebih besar daripada nikmat ini?"

Pembicaraan pun berubah menjadi sebuah pelajaran tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Syalabi, di mana beliau mengaitkan wafatnya putri mulianya tersebut dengan sifat cemburu Allah atas hatinya. Sebab sesungguhnya Allah cemburu terhadap hati hamba-hamba-Nya yang saleh jika hati tersebut terpaut kepada selain-Nya, atau berpaling kepada yang lain.

Beliau membawakan hujah dengan kisah Nabi Ibrahim alaihis salam ketika hatinya terpaut kepada Ismail, maka Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya; dan Nabi Ya'qub alaihis salam ketika hatinya terpaut kepada Yusuf, maka Allah melenyapkannya dari sisinya selama beberapa tahun. Oleh karena itu, hati seorang hamba tidak boleh terpaut kepada selain Allah tabaaraka wa ta'ala, jika tidak demikian maka ia menjadi seorang pendusta dalam pengakuan cintanya. Beliau lalu membawakan kisah Fudhail bin Iyadh ketika ia memegang tangan putri kecilnya lalu menciumnya, maka putri kecilnya berkata kepadanya: "Wahai ayahku, apakah engkau mencintaiku?"

Beliau menjawab: "Ya, wahai putriku." Putri kecil itu berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah menyangka bahwa engkau adalah seorang pendusta sebelum hari ini." Beliau bertanya: "Bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan kapan aku berdusta?"

Putri kecil itu berkata: "Aku mengira bahwa dengan keadaanmu yang seperti ini bersama Allah, engkau tidak akan mencintai seorang pun bersama-Nya."

Maka laki-laki itu menangis dan berkata: "Wahai Tuanku, sampai-slam anak kecil pun telah menyingkap riya hamba-Mu, Fudhail!"

Demikianlah di antara pembicaraan-pembicaraan yang diupayakan oleh Syekh Syalabi untuk menghibur diri kami dan menghilangkan rasa sakit yang menimpa kami akibat musibahnya, serta rasa malu kami karena tidak menghabiskan malam ini di sisinya. Kami pun berpamitan lalu kembali menemuinya di pagi hari, di mana kami memakamkan Ruhiyah tanpa mendengar suara wanita yang meratap [na'ihah], tidak ada tenggorokan yang meninggikan suara dengan kalimat yang tidak pantas, dan kami tidak melihat melainkan manifestasi kesabaran dan ketundukan pasrah kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.

Dan sungguh telah wafat salah seorang putri dari guru kami, Syekh Muhammad Zahran —semoga Allah merahmatinya— namun tindakan yang beliau lakukan tidak lain adalah memanfaatkan momen kedukaan tersebut sebagai kesempatan untuk memberikan nasihat dan pengajaran sepanjang tiga malam masa duka, serta menjadi teladan yang baik lagi saleh dalam memerangi kemungkaran-kemungkaran tempat duka, dan melenyapkan apa yang dilakukan oleh manusia di dalamnya berupa bid'ah dan adat kebiasaan yang tidak memiliki dasar fondasi sama sekali .. Di dalam atmosfer yang mulia inilah kami hidup.

KEMBALI KE KAIRO DAN PERKUMPULAN-PERKUMPULAN ISLAM DI DALAMNYA

Aku telah kembali ke Kairo, sedangkan perkumpulan-perkumpulan [jam'iyah] Islam belum tersebar luas di dalamnya sebagaimana kondisi yang ada sekarang. Pada waktu itu, tidak ada melainkan Jam'iyah Makariem al-Akhlaq al-Islamiyah yang dipimpin oleh Ustaz Syekh Mahmud Mahmud. Perkumpulan ini mengadakan ceramah-ceramah Islam di markasnya yang bertempat di Darus Sadat di Birkat al-Fil setiap pekan. Tempat tersebut dipenuhi oleh para pengunjungnya meskipun bangunannya luas. Ceramah-ceramah tersebut membahas banyak tema yang bermanfaat lagi berfaedah. Adalah Syekh Abbas —pembaca Al-Qur'an Jam'iyah Makariem— menarik hati manusia dengan suaranya yang menyentuh. Maka aku senantiasa menjaga dengan sangat disiplin untuk menghadiri pertemuan Jam'iyah Makariem ini dan ikut bergabung di dalamnya sebagai anggota aktif selama keberadaanku di Kairo.

GAGASAN MEMBENTUK PARA DA'I ISLAM

Aku mendapati di dalam jiwaku —sebagai dampak dari apa yang kusaksikan di Kairo berupa manifestasi dekadensi moral dan jauhnya masyarakat dari akhlak Islam di banyak tempat yang tidak pernah kami jumpai di pedesaan Mesir yang aman, dan sebagai dampak dari apa yang dipublikasikan di sebagian surat kabar berupa perkara-perkara yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam serta adanya kebodohan di kalangan masyarakat awam terhadap hukum-hukum agama— bahwa masjid-masjid saja tidak cukup untuk menyampaikan ajaran Islam kepada manusia.

Pada masa tersebut, telah ada beberapa ulama utama yang secara sukarela memberikan ceramah/nasihat di masjid-masjid, yang mana mereka memiliki pengaruh yang sangat indah di dalam jiwa masyarakat, di antaranya adalah Ustaz Abdul Aziz al-Khuli —semoga Allah merahmatinya—, Ustaz Syekh Muhammad Mahfuz —semoga Allah merahmatinya—, dan Syekh Muhammad al-Alawi, mantan inspektur jenderal dakwah dan bimbingan masyarakat umum. Maka aku berpikir untuk mengajak membentuk sekelompok mahasiswa Al-Azhar dan mahasiswa Darul Ulum untuk dilatih melakukan ceramah dan bimbingan di masjid-masjid, kemudian di kedai-kedai kopi [al-qahawi] dan tempat-tempat perkumpulan umum, yang mana setelah itu dari mereka akan dibentuk sebuah jemaah yang tersebar di desa-desa, pedalaman, dan kota-kota penting untuk menyebarkan dakwah Islam.

Aku menyertakan ucapan dengan tindakan nyata, maka aku mengajak sekelompok sahabat untuk berpartisipasi dalam proyek yang agung ini. Di antara mereka adalah saudara Ustaz Muhammad Madkur, seorang lulusan Al-Azhar yang pada saat itu statusnya masih menjadi pelajar mukim [mujawir], saudara Ustaz Syekh Hamid Askariyah —semoga Allah merahmatinya—, saudara Ustaz Ahmad Abdul Hamid yang saat ini menjadi anggota Dewan Konstituante [al-Hai'ah al-Ta'sisiyah] Ikhwanul Muslimin, serta rekan-rekan lainnya .. Kami biasa berkumpul di tempat tinggal para mahasiswa di Masjid Syaikhun di Ash-Sholiybah, lalu kami saling mengingatkan akan keagungan tugas ini beserta apa yang dibutuhkannya berupa persiapan ilmiah dan praktis.

Aku mengkhususkan sebagian dari buku-buku milikku, seperti kitab Ihya 'Ulumiddin karya Al-Ghazali, Al-Anwar al-Muhammadiyah karya An-Nabhani, Tanwir al-Qulub fi Mu'amalati 'Allamil Ghuyub karya Syekh Al-Kurdi, serta beberapa buku manaqib [biografi keluhuran] dan sirah [sejarah perjalanan hidup], untuk dijadikan sebagai perpustakaan berkala berkilir khusus bagi saudara-saudara ini, di mana mereka dapat meminjam bagian-bagiannya, serta mempersiapkan materi khotbah dan ceramah darinya.

DAKWAH DI KEDAI-KEDAI KOPI

Kemudian tibalah tahapan praktis setelah adanya persiapan ilmiah ini, maka aku menawarkan kepada mereka untuk keluar memberikan ceramah di kedai-kedai kopi. Mereka merasa asing dengan hal tersebut dan merasa heran seraya berkata: "Sesungguhnya para pemilik kedai kopi tidak akan mengizinkan hal itu dan akan menentangnya karena tindakan tersebut mengganggu bisnis mereka. Lagipula mayoritas orang yang duduk di kedai-kedai kopi tersebut adalah orang-orang yang sibuk dengan apa yang sedang mereka lakukan, dan tidak ada hal yang lebih berat bagi mereka daripada mendengarkan ceramah agama, maka bagaimana mungkin kita berbicara mengenai agama dan akhlak kepada orang-orang yang tidak memikirkan melainkan hiburan tempat mereka berpaling tersebut??"

Namun aku menyelisihi mereka dalam pandangan ini, dan aku meyakini bahwa masyarakat pengunjung kedai kopi ini justru lebih memiliki kesiapan untuk mendengarkan nasihat daripada masyarakat lainnya, bahkan melebihi kesiapan masyarakat pengunjung masjid itu sendiri. Karena perkara ini merupakan sesuatu yang unik dan baru bagi mereka, sedangkan tolok ukurnya terletak pada ketepatan dalam memilih topik bahasan sehingga kita tidak menyinggung hal yang melukai perasaan mereka, serta terletak pada metode penyampaian yang dibawakan dengan gaya yang menarik lagi memikat, serta ketepatan waktu sehingga kita tidak memperpanjang pembicaraan bagi mereka.

Ketika perdebatan di antara kami berlangsung lama mengenai topik ini, aku berkata kepada mereka: "Mengapa kita tidak menjadikan eksperimen/uji coba sebagai pembatas yang memutus perkara ini?"

Maka mereka menerima hal itu dan kami pun keluar, lalu kami memulai dari kedai-kedai kopi yang terletak di Alun-Alun Shalahuddin, dan bagian awal wilayah Sayyidah Aisyah, yang kemudian berlanjut menuju kedai-kedai kopi yang tersebar di distrik Thulun hingga kami sampai melalui jalur gunung menuju Jalan Salamah, dan wilayah Sayyidah Zainab. Aku mengira bahwa pada malam tersebut aku telah menyampaikan lebih dari dua puluh kali khotbah/ceramah, yang mana satu ceramahnya berdurasi antara lima hingga sepuluh menit.

Sungguh respons para pendengar sangat menakjubkan; mereka menyimak dengan khidmat dan mendengarkan dengan penuh kerinduan. Para pemilik kedai kopi pada awal pembicaraan melihat dengan pandangan heran, namun setelah itu mereka justru meminta tambahan ceramah lagi. Seusai ceramah, orang-orang tersebut bersumpah bahwa kami harus meminum sesuatu atau memesan pesanan, namun kami menyampaikan permohonan maaf kepada mereka karena sempitnya waktu, dan karena kami telah meniatkan waktu ini semata-mata karena Allah sehingga kami tidak ingin menyia-nyiakannya dalam urusan yang lain.

Makna ini memberikan pengaruh yang sangat besar di dalam jiwa mereka, dan hal itu tidaklah mengherankan, karena Allah tidak mengutus seorang nabi pun dan tidak pula seorang rasul melainkan syiar utamanya yang pertama adalah:

"...Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas hal itu..." (QS. Al-An'am: 90)

Hal ini dikarenakan adanya dampak yang indah dari sikap menjaga kehormatan diri [iffah] ini di dalam jiwa orang-orang yang diseru [mad'u].

Eksperimen tersebut berhasil seratus persen, dan kami kembali ke markas kami di Syaikhun dalam keadaan bahagia dengan keberhasilan ini, lalu kami memantapkan tekad untuk melanjutkan perjuangan di lini ini. Kami sering kali berkomitmen menjaga masyarakat dengan memberikan nasihat praktis melalui metode ini.

Aku menemukan di dalam aktivitas ini sebagian pelipur lara dari hilangnya kebersamaan dengan Perkumpulan Al-Hasafiyah yang telah bubar secara formalitas di Mahmudiyah, meskipun para anggotanya tetap menjadi saudara yang saling bekerja sama satu sama lain demi Islam, dan mereka disatukan oleh Tarekat Al-Hasafiyah di atas ibadah, zikir, serta amar makruf nahi mungkar. Di samping itu, semangat pembelaan agama mereka dari waktu ke waktu dipicu oleh aktivitas Misi/Utusan Inggris [al-Irsaliyah al-Injiiziyah] yang telah meletakkan tongkatnya dan menetap di negeri yang aman ini, yang mana negeri ini belum pernah ditimpa oleh malapetaka yang mengepung seperti ini sebelumnya. Padahal, sudah seharusnya misi-misi seperti ini ditujukan menuju negeri-negeri kaum penyembah berhala [al-watsaniyyin], bukan justru mendirikan markas di negeri kaum muslimin, padahal mereka adalah orang-orang yang paling jujur keimanannya, paling benar tauhidnya kepada Allah, paling bersih hatinya, dan paling selamat dadanya, dan Allah memiliki segala urusan pada makhluk-Nya.

DI DALAM RUANG KELAS

Studi di Darul Ulum pada masa itu bukanlah studi yang kaku/beku, melainkan usia para mahasiswa dan guru serta tahapan keilmuan yang mereka lalui memiliki pengaruh hukumnya tersendiri. Kami sering kali membahas di antara ruang-ruang kelas mengenai banyak urusan umum dalam bidang politik dan sosial, bahkan hingga rincian masalah-masalah khusus yang berkaitan dengan mahasiswa dan para guru.

Gejolak politik sedang mendominasi di Mesir pada waktu itu, di mana terjadi perpecahan antara kubu Wafd [Al-Wafdiyyin] dengan kubu Liberal Konstitusional [Al-Ahrar Ad-Dusturiyyin], serta peristiwa-peristiwa koalisi, perselisihan, dan mediasi di antara pihak-pihak yang berselisih setelah itu, serta apa yang dihasilkannya berupa kelulusan sebagian mahasiswa pada suatu waktu dan kegagalan pada waktu yang lain. Makna-makna ini seluruhnya menjadi topik pembicaraan dan komentar para mahasiswa dan dosen, dan para dosen tidak bersikap pelit kepada para mahasiswa untuk menjelaskan pandangan-pandangan mereka secara jelas. Di sana terdapat pula pandangan-pandangan keagamaan yang diperselisihkan oleh mahasiswa dengan para dosen, sehingga menjadi topik pembicaraan, diskusi, dan perdebatan dalam suasana kebebasan dan adab yang sempurna.

Aku masih ingat bagaimana kami menghormati para dosen yang utama tersebut dan memuliakan mereka sampai pada tingkat di mana kami menghindari berjalan di depan ruang rapat mereka padahal ruangan tersebut berada di jalur jalan kami menuju kelas-kelas. Hal ini terwujud di samping adanya kebebasan yang sempurna, perlakuan yang baik, serta ikatan spiritual yang kuat yang terjalin antara kami dengan mereka.

Terkadang kami menggoda sebagian dari mereka di dalam pelajaran, sehingga memicu humor yang unik atau jawaban yang membungkam .. Aku ingat bahwa salah seorang rekan bertanya kepada salah seorang dosen: "Apakah beliau sudah menikah?"

Dosen tersebut menjawab: "Belum." Rekan tersebut bertanya lagi: "Mengapa engkau belum menikah, wahai Tuanku? Usiamu sudah tua."

Beliau menjawab: "Sampai gaji bertambah dan mencukupi biaya pernikahan serta keluarga sehingga anak-anak dapat dididik dengan pendidikan yang saleh." Maka saudara mahasiswa tersebut berkata: "Akan tetapi jika engkau menunda sampai waktu ini, engkau tidak menjamin akan hidup untuk mengawasi pendidikan mereka, sedangkan rezeki dan ajal berada di tangan Allah, wahai Tuanku." Maka dosen tersebut merasa terpojok lalu bertanya balik: "Apakah engkau sendiri sudah menikah?"

Ia menjawab: "Ya, dan anak laki-lakiku datang bersamaku setiap hari ke Madrasah Dasar Laki-Laki; aku masuk ke madrasahku dan ia masuk ke madrasahnya." Maka perdebatan tersebut berakhir dengan gelak tawa dari rekan-rekan mahasiswa.

PERUBAHAN PAKAIAN

Pada tahun keempat di Darul Ulum —yaitu tahun terakhir— gerakan keinginan untuk mengubah pakaian semakin menguat, dan jiwa seluruh mahasiswa telah siap menghadapinya. Hal itu dibantu oleh pelaksanaan langkah ini secara aktual oleh banyak lulusan senior Darul Ulum. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah pandanganku dan bukan pula pandangan kelompok minoritas dari kalangan mahasiswa.

Darul Ulum selama beberapa bulan tampak dimasuki oleh sejumlah orang yang berpakaian sipil modern [Al-Afandiyah] dan sejumlah orang yang berpakaian jubah ulama [Al-Syuyukh]. Setiap hari jumlah orang yang memakai tarbus [al-mutharbisyun] semakin bertambah dan jumlah orang yang memakai sorban [al-mu'ammamun] semakin berkurang, hingga tidak tersisa melainkan dua orang mahasiswa saja, yaitu Syekh Ibrahim Al-Wara', yang saat ini menjadi guru pada Kementerian Pendidikan, dan aku bersamanya.

Kemudian tibalah giliran praktik mengajar [al-tamrin al-'amali]. Kepala madrasah pada saat itu adalah seorang laki-laki yang utama, yaitu Ustaz Muhammad Bek As-Sayyid —semoga Allah merahmatinya—. Beliau memanggil kami berdua lalu berbicara kepada kami bahwa alangkah baiknya jika kami pergi menuju madrasah-madrasah tempat kami berpraktik dengan mengenakan pakaian yang baru, agar kami tidak tampak di hadapan para murid dengan penampilan yang terpecah; satu kelompok bersorban dan satu kelompok bertarbus. Meskipun ucapan baik beliau tidak mengandung makna paksaan, akan tetapi kuatnya pengaruh beliau dan penghormatan kami terhadap pandangannya membuat kami menjanjikan hal itu kepadanya. Kami pun menunaikan janji kami, lalu kami mengenakan setelan jas dan tarbus sebagai pengganti jubah dan sorban, dan peristiwa itu terjadi sesaat sebelum kami lulus.

GELOMBANG ATEISME DAN PERMISIVISME DI MESIR

Menyusul berakhirnya Perang Dunia yang lalu (1914–1918) dan sepanjang periode yang aku habiskan di Kairo ini, arus gelombang dekadensi semakin menguat di dalam jiwa, pandangan, dan pemikiran dengan mengatasnamakan kebebasan berpikir [al-taharrur al-'aqli], yang kemudian merembet pada perilaku, akhlak, dan perbuatan dengan mengatasnamakan kebebasan pribadi [al-taharrur al-syakhshi]. Maka terjadilah gelombang ateisme [ilhad] dan permisivisme [ibahiyah] yang kuat, deras, lagi dominan, yang mana tidak ada sesuatu pun yang mampu tegak berdiri di hadapannya, dengan dibantu oleh berbagai peristiwa dan situasi kondisi.

Sungguh Turki telah melakukan revolusi Kemalisnya, dan Mustafa Kemal Pasha mengumumkan penghapusan kekhalifahan serta pemisahan negara dari agama pada suatu bangsa yang hingga beberapa tahun sebelumnya dalam pengetahuan dunia seluruhnya merupakan tempat kedudukan Amirul Mukminin. Pemerintahan Turki melaju dengan deras di jalan ini dalam segala manifestasi kehidupan.

Universitas Mesir telah beralih dari sebuah lembaga swasta menjadi universitas negeri yang dikelola oleh negara dan mencakup sejumlah fakultas reguler. Pada masa itu, penelitian dan kehidupan kampus di dalam benak banyak orang memiliki gambaran yang aneh, yang intinya adalah bahwa universitas tidak akan menjadi universitas sekuler kecuali jika ia memberontak terhadap agama, memerangi tradisi-tradisi sosial yang bersumber darinya, serta hanyut di belakang pemikiran materialistis yang diadopsi dari Barat secara total, serta dosen dan mahasiswanya dikenal dengan dekadensi dan kebebasan dari segala keterikatan.

Sungguh telah diletakkan benih "Partai Demokrat" yang mati sebelum dilahirkan, dan partai tersebut tidak memiliki platform selain menyerukan kebebasan dan demokrasi dengan makna yang dikenal pada masa itu, yaitu makna dekadensi dan kebebasan tanpa batas.

Di Jalan Al-Manakh didirikan apa yang disebut sebagai "Forum Intelektual" (Al-Majma' al-Fikri), yang diawasi oleh sebuah badan dari kalangan Teosofi. Di tempat tersebut disampaikan khotbah-khotbah dan ceramah-ceramah yang menyerang agama-agama terdahulu dan menyebarkan kabar gembira tentang wahyu yang baru. Para pembicaranya merupakan campuran dari kalangan muslim, Yahudi, dan Kristen, yang mana mereka semua membahas pemikiran baru ini dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Maka muncullah buku-buku, surat kabar, dan majalah-majalah yang isinya secara keseluruhan memancarkan pemikiran ini, yang tidak memiliki tujuan selain melemahkan pengaruh agama apa pun atau melenyapkannya di dalam jiwa rakyat, agar mereka dapat menikmati kebebasan yang hakiki secara pemikiran dan praktis, menurut klaim para penulis dan pengarang tersebut.

Disiapkan pula "salon-salon" di banyak rumah besar pribadi di Kairo, di mana para pengunjungnya saling melontarkan pemikiran-pemikiran seperti ini, dan setelah itu mereka bekerja untuk menyebarkannya di kalangan pemuda dan di berbagai lingkaran masyarakat.

REAKSI

Gelombang ini memicu reaksi yang kuat di lingkaran-lingkaran khusus yang menaruh perhatian terhadap urusan-urusan ini, seperti Al-Azhar dan beberapa kalangan Islam. Akan tetapi, mayoritas masyarakat pada masa itu terbagi menjadi dua: kalangan pemuda terpelajar yang kagum dengan apa yang mereka dengar dari corak-corak baru ini, atau kalangan masyarakat awam yang berpaling dari memikirkan urusan-urusan ini karena sedikitnya orang yang memberikan peringatan dan arahan. Aku merasa sangat terpukul dan pedih karena hal ini. Sebab, di sinilah aku melihat bahwa kehidupan sosial bangsa Mesir yang tercinta terombang-ambing antara Islamnya yang mahal lagi berharga—yang diwarisi, dilindungi, diakrabinya, dan menjadi tempat hidup serta kebanggaannya selama empat belas abad penuh—dengan invasi Barat yang sengit, bersenjata, dan dilengkapi dengan segala senjata yang tajam lagi mematikan, berupa harta, kedudukan, penampilan, kesenangan, kekuatan, serta sarana-sarana propaganda.

Perasaanku sedikit terhibur dengan menyampaikan keluh kesah ini kepada banyak sahabat karib dari rekan-rekan sesama mahasiswa di Darul Ulum, Al-Azhar, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Ada Syekh Hamid Askariyah rahimahullah, Syekh Hasan Abdul Hamid, Hasan Efendi Fadhilah, Ahmad Efendi Amin, Syekh Muhammad Bisyr, Muhammad Salim Athiyah, kemudian Kamal Efendi Al-Labban rahimahullah yang saat itu berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, Yusuf Efendi Al-Labban, Abdul Fattah Kirsyah, Ibrahim Efendi Madkur, Sayyid Efendi Nassar Hijazi, saudara Muhammad Efendi Asy-Syarbiny, serta saudara-saudara terpelajar dari jemaah Al-Hasafiyah di Kairo. Mereka semua senantiasa memperbincangkan tema-tema ini, dan membahas tentang kewajiban untuk melakukan sebuah gerakan Islam tandingan. Kami menemukan di dalam diskusi tersebut sebuah pelipur lara dan penghibur dari keresahan ini!

Perasaanku juga terhibur dengan sering berkunjung ke Perpustakaan Salafiyah yang pada saat itu berada di dekat Mahkamah Banding. Di sana kami menjumpai seorang tokoh yang beriman, mujahid, aktif, kuat, alim, utama, sekaligus jurnalis Islam yang kapabel, yaitu Tuan Muhibbuddin Al-Khathib. Kami juga bertemu dengan mayoritas tokoh-tokoh terkemuka yang dikenal dengan kecemburuan pembelaan Islam dan semangat keagamaan mereka, seperti Yang Mulia Ustaz Besar Tuan Muhammad Al-Khidhr Husain, Ustaz Muhammad Ahmad Al-Ghamrawi, dan Ahmad Pasya Taimur rahimahullah. Ada pula Abdul Aziz Pasya Muhammad rahimahullah, yang pada saat itu menjabat sebagai penasihat di Mahkamah Banding. Kami mendengar dari mereka sebagian hal yang melapangkan dada.

Sebagaimana kami juga sering berkunjung, di luar jam kuliah Darul Ulum, menghadiri sebagian majelis Ustaz Sayyid Rasyid Ridha rahimahullah. Di sana kami juga bertemu dengan banyak tokoh terkemuka dan mulia, seperti Syekh Abdul Aziz Al-Khuli rahimahullah dan Yang Mulia Syekh Muhammad Al-Adawi. Kami saling mengulang pembahasan seputar urusan-urusan ini pula. Tuan Rasyid Ridha rahimahullah memiliki sepak terjang yang kuat lagi berhasil dalam menangkis tipu daya yang menyerang Islam ini.

LANGKAH NYATA

Akan tetapi, kadar ini saja tidaklah cukup dan tidak menyembuhkan, terlebih lagi karena arus gelombang tersebut benar-benar telah menguat. Aku mulai mengamati kedua kubu ini, lalu aku dapati kubu permisivisme dan dekadensi berada dalam kekuatan dan kemudaannya, sedangkan kubu Islam yang mulia berada dalam pengurangan dan penyusutan. Kegelisahanku semakin memuncak hingga aku ingat bahwa aku menghabiskan sekitar setengah bulan Ramadan pada tahun ini dalam kondisi insomnia yang parah; tidur tidak menemukan jalan ke kelopak mataku karena besarnya kegelisahan dan pemikiran mengenai kondisi ini. Maka aku memantapkan tekad pada suatu langkah nyata, dan aku berkata di dalam diriku: "Mengapa aku tidak membebankan tanggung jawab ini kepada para pemimpin kaum muslimin tersebut, dan mengajak mereka dengan kuat agar saling bahu-membahu menahan arus gelombang ini?"

Jika mereka menyambut baik, maka itulah yang diharapkan, dan jika tidak, maka kami akan memiliki langkah yang lain. Tekad pun telah bulat atas hal ini, dan aku mulai melaksanakannya.

BERSAMA YANG MULIA SYEKH AD-DAJWI

Aku sering membaca tulisan-tulisan Syekh Yusuf Ad-Dajwi rahimahullah. Beliau adalah seorang laki-laki yang berakhlak toleran, manis tutur katanya, dan bersih ruhaninya. Berdasarkan latar belakang tumbuh kembangku di dunia tasawuf, terjalin ikatan spiritual dan keilmuan antara diriku dengan beliau rahimahullah yang mendorongku untuk mengunjungi beliau dari waktu ke waktu di rumahnya di Qasrul Syauq atau di Atfatud Duwaidari di distrik Al-Azhar. Aku mengetahui bahwa beliau memiliki hubungan dengan banyak tokoh di kubu Islam, baik dari kalangan ulama maupun tokoh masyarakat, dan aku tahu bahwa mereka mencintai serta menghormatinya. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengunjungi beliau, mengungkapkan apa yang ada di dalam jiwaku secara terbuka, serta meminta bantuan beliau untuk mewujudkan gagasan ini dan mencapai tujuan tersebut.

Aku mengunjungi beliau setelah berbuka puasa, dan di sekeliling beliau terdapat sekelompok ulama serta beberapa tokoh masyarakat. Di antara mereka ada seorang pria mulia yang masih kuingat namanya adalah "Ahmad Bek Kamil," meskipun aku tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah kesempatan kali ini.

Aku berbicara kepada Syekh mengenai urusan tersebut, lalu beliau menunjukkan rasa sakit dan penyesalan. Beliau mulai menyebutkan satu per satu manifestasi penyakit dan dampak buruk yang timbul akibat menyebarnya fenomena ini di tengah umat. Beliau menyimpulkan dari hal tersebut mengenai lemahnya kubu Islam di hadapan orang-orang yang bersekongkol melawannya ini, dan bagaimana Al-Azhar telah mencoba berkali-kali untuk menahan arus ini namun tidak mampu. Pembicaraan pun merembet pada "Perkumpulan Kebangkitan Islam" (Jam'iyah Nahdhatil Islam) yang didirikan oleh Syekh bersama sekelompok ulama, namun hal itu tidak menghasilkan sesuatu apa pun. Beliau juga menyinggung perjuangan Al-Azhar melawan para misionaris dan ateis, serta tentang Konferensi Agama-Agama di Jepang, serta risalah-risalah Islam yang ditulis oleh Yang Mulia Syekh lalu dikirimkan ke sana. Semua itu berakhir pada kesimpulan beliau bahwa tidak ada gunanya segala upaya, dan cukuplah bagi seseorang untuk beramal bagi dirinya sendiri serta menyelamatkan dirinya dari musibah ini.

Aku ingat beliau berhujah dengan bait syعر [puisi] ini, yang sering kali beliau bawakan, dan yang pernah beliau tuliskan untukku di sebagian kartu pesannya pada beberapa kesempatan:

Aku tidak peduli, apabila jiwaku telah menuruti jalanku menuju keselamatan,

tentang siapa saja yang telah mati atau binasa.

Beliau menasihatiku agar beramal sesuai batas kemampuan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286). Tentu saja ucapan ini tidak membuatku puas, dan gelora antusiasme langsung menguasai diriku, sementara bayangan kegagalan yang mengerikan terlintas di hadapanku jika jawaban ini ternyata menjadi jawaban dari setiap pemimpin yang aku temui dari kalangan mereka.

Maka aku berkata kepada beliau dengan kuat: "Sesungguhnya aku menyelisihi Anda, wahai Tuanku, dengan segenap perselisihan dalam apa yang Anda katakan. Aku meyakini bahwa perkara ini tidak lain hanyalah sebuah kelemahan saja, berdiam diri dari amal, dan pelarian dari tanggung jawab. Dari apa yang kalian takutkan? Apakah dari pemerintah atau dari Al-Azhar? Cukuplah bagi kalian gaji pensiun kalian, lalu duduklah di rumah kalian dan beramallah untuk Islam! Sebab, rakyat sebenarnya bersama kalian jika kalian menghadapi mereka secara langsung, karena mereka adalah rakyat yang muslim. Aku telah mengenal mereka di kedai-kedai kopi, di masjid-masjid, dan di jalanan, lalu aku melihat rakyat itu meluap dengan keimanan. Akan tetapi, mereka adalah kekuatan yang ditelantarkan oleh orang-orang ateis dan permisif ini. Surat kabar dan majalah-majalah mereka tidak akan memiliki eksistensi melainkan karena kelalaian kalian, dan sekiranya kalian tersadar, niscaya mereka akan masuk ke dalam liang-liang persembunyian mereka.

Wahai Profesor! Jika kalian tidak mau beramal karena Allah, maka beramallah demi dunia dan demi sesuap roti yang kalian makan! Karena sesungguhnya jika Islam lenyap di tengah umat ini, niscaya Al-Azhar akan lenyap, dan para ulama pun lenyap, sehingga kalian tidak akan menemukan apa yang kalian makan dan apa yang kalian nafkahkan. Maka belalah eksistensi kalian jika kalian tidak mau membela eksistensi Islam! Dan beramallah demi dunia jika kalian tidak mau beramal demi akhirat, jika tidak demikian maka dunia dan akhirat kalian telah lenyap secara bersamaan!"

Aku berbicara dengan penuh antusias, kepedihan, dan ketegasan, dari hati yang terbakar lagi terluka. Tiba-tiba salah seorang ulama yang sedang duduk langsung bangkit menyergahku dengan kekerasan yang serupa, dan menuduhku bahwa aku telah berbuat buruk kepada Syekh, berbicara kepada beliau dengan cara yang tidak layak, serta berbuat buruk kepada para ulama dan Al-Azhar. Ia juga menyebut bahwa aku telah berbuat buruk kepada Islam yang kuat lagi mulia, dan bahwa Islam tidak akan pernah melemah selamanya karena Allah telah menjamin pertolongan-Nya.

Sebelum aku sempat membalasnya, Ahmad Bek Kamil ini langsung menyergah dan berkata: "Tidak, wahai Profesor, mohon maaf, pemuda ini tidak menginginkan dari kalian melainkan perkumpulan untuk menolong Islam. Dan jika kalian menginginkan tempat untuk berkumpul, maka rumahku ini berada di bawah dispensasi kalian, lakukanlah di dalamnya apa yang kalian inginkan. Jika kalian menginginkan harta, maka kita tidak akan kekurangan orang-orang muslim yang berbuat baik. Akan tetapi, kalian adalah para pemimpin, maka berjalanlah dan kami berada di belakang kalian. Adapun hujah-hujah semacam ini, maka ia tidak lagi berguna untuk apa pun." Di sini aku bertanya kepada orang yang duduk di sebelahku mengenai pria yang beriman ini: "Siapakah dia?"

Maka ia menyebutkan namanya kepadaku—dan nama itu masih tetap melekat di dalam benakku meskipun aku tidak pernah melihatnya lagi setelah itu—dan majelis pun terbelah menjadi dua kubu: kubu yang mendukung pandangan Ustaz Al-Alim, dan kubu yang mendukung pandangan Ahmad Bek Kamil, sedangkan Syekh rahimahullah hanya terdiam.

Kemudian terlintas di benak beliau untuk mengakhiri perkara ini, lalu beliau berkata: "Bagaimanapun, kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kita untuk beramal dengan apa yang diridai-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa maksud tujuan semuanya mengarah pada amal, dan segala urusan berada di tangan Allah. Aku mengira sekarang kita memiliki janji temu dengan Syekh Muhammad Sa'ad, maka marilah kita pergi mengunjungi beliau."

Kami semua pun berpindah menuju rumah Syekh Muhammad Sa'ad—yang mana letaknya dekat dari rumah Syekh Ad-Dajwi rahimahullah—dan aku berupaya keras agar tempat dudukku berada tepat di sebelah Syekh Ad-Dajwi agar aku dapat berbicara mengenai apa yang kuinginkan.

Syekh Muhammad Sa'ad menyuguhkan hidangan manis khas Ramadan, lalu hidangan tersebut disajikan dan Syekh maju untuk memakannya, maka aku pun mendekat kepada beliau. Ketika beliau merasakan keberadaanku di sisinya, beliau bertanya: "Siapa ini?"

Maka aku menjawab: "Fulan." Beliau berkata: "Engkau ikut datang bersama kami juga?" Aku menjawab: "Ya, wahai Tuanku, dan aku tidak akan berpisah dari kalian kecuali jika kita telah mencapai suatu keputusan."

Maka beliau mengambil dengan tangannya segenggam camilan kacang/manisan lalu menyerahkannya kepadaku seraya berkata: "Ambillah, dan insya Allah kita akan berpikir." Maka aku berkata: "Ya Subhanallah, wahai Tuanku! Sesungguhnya perkara ini tidak menerima pemikiran lagi, akan tetapi menuntut sebuah tindakan nyata. Sekiranya keinginanku adalah camilan ini dan yang seumpamanya, niscaya aku mampu membelinya dengan satu qirsy [koin kecil] lalu tetap tinggal di rumahku tanpa harus membebani diri dengan kepayahan mengunjungi kalian.

Wahai Tuanku! Sesungguhnya Islam sedang diperangi dengan peperangan yang sengit lagi kejam ini, sementara tokoh-tokohnya, para pelindungnnya, dan para pemimpin kaum muslimin justru menghabiskan waktu dengan tenggelam di dalam kenikmatan ini. Apakah kalian mengira bahwa Allah tidak akan menghisab kalian atas apa yang kalian perbuat ini? Jika kalian mengetahui adanya para pemimpin selain kalian dan para pelindung selain kalian bagi Islam, maka tunjukkanlah mereka kepadaku agar aku pergi menemui mereka, barangkali aku mendapati di sisi mereka apa yang tidak ada di sisi kalian!!"

Maka seketika itu juga suasana diliputi oleh momen keheningan yang ajaib. Air mata Syekh rahimahullah meleleh dengan deras hingga membasahi jenggotnya, dan menangislah sebagian orang yang hadir.

Syekh rahimahullah memutus keheningan ini dengan berkata dalam kesedihan yang mendalam dan pengaruh yang besar: "Lalu apa yang harus aku perbuat, wahai Fulan?"

Maka aku berkata: "Wahai Tuanku, perkaranya mudah, dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Aku tidak menginginkan selain mengumpulkan nama-nama orang yang kita lihat memiliki kecemburuan pembelaan terhadap agama, dari kalangan ulama, tokoh masyarakat, dan orang yang memiliki kedudukan, agar mereka memikirkan apa yang wajib mereka lakukan: setidaknya mereka menerbitkan sebuah majalah mingguan untuk menghadapi surat kabar ateisme dan permisivisme, serta mereka menulis buku-buku dan bantahan-bantahan terhadap buku-buku tersebut. Mereka juga membentuk perkumpulan-perkumpulan tempat para pemuda bernaung, serta mengaktifkan gerakan ceramah dan bimbingan.. dan demikianlah dari amal-amal semacam ini." Maka beliau berkata: "Bagus."

Beliau pun memerintahkan untuk mengangkat nampan hidangan beserta apa yang ada di atasnya, serta meminta didatangkan kertas dan pena. Beliau berkata: "Tulislah!" Kami mulai saling mengingat nama-nama, lalu kami menuliskan sekelompok besar dari kalangan ulama-ulama yang mulia. Di antara mereka yang kuingat: Syekh sendiri rahimahullah, Yang Mulia Ustaz Syekh Muhammad Al-Khidhr Husain, Syekh Abdul Aziz Jawisy, Syekh Abdul Wahhab An-Najjar, Syekh Muhammad Al-Khudhari, Syekh Muhammad Ahmad Ibrahim, dan Syekh Abdul Aziz Al-Khuli rahimahumullah.

Ketika sampai pada nama Tuan Rasyid Ridha rahimahullah, Syekh berkata: "Tuliskan dia! Tuliskan dia! Karena sesungguhnya perkara ini bukanlah perkara cabang yang kita perselisihkan di dalamnya, akan tetapi ini adalah perkara Islam dan kekufuran. Dan Syekh Rasyid adalah orang terbaik yang melakukan pembelaan dengan pena, ilmu, dan majalahnya." Ini merupakan sebuah kesaksian yang baik dari Syekh untuk Tuan Rasyid Ridha rahimahumallah, di samping adanya perselisihan pandangan di antara keduanya seputar sebagian urusan.

Sedangkan dari kalangan tokoh masyarakat yang ditulis: Ahmad Pasya Taimur, Nasim Pasya, Abu Bakar Yahya Pasya, Metwally Bek Ghuneim, Abdul Aziz Bek Muhammad—yaitu Abdul Aziz Pasya Muhammad sekarang—dan Abdul Hamid Bek Sa'id rahimahumullah jamian, serta banyak lagi orang lainnya selain mereka.

Kemudian Syekh berkata: "Kalau begitu, engkau harus mendatangi orang yang engkau kenal, dan aku akan mendatangi orang yang aku kenal, lalu kita bertemu setelah satu pekan, insya Allah."

Kami bertemu beberapa kali, dan terbentuklah benih yang baik dari para tokoh mulia ini, yang mana perkumpulan tersebut melanjutkan pertemuannya setelah Hari Raya Idulfitri. Menyusul setelah itu, terbitlah majalah "Al-Fath" Islami yang kuat, yang dipimpin redaksinya oleh Syekh Abdul Baqi Surur Na'im rahimahullah, dan manajernya adalah Tuan Muhibbuddin Al-Khathib. Kemudian kepemimpinan redaksi dan manajemennya beralih sepenuhnya kepada beliau, maka beliau mengelolanya dengan sebaik-baik pengelolaan. Majalah tersebut menjadi obor hidayah dan cahaya bagi generasi muda Islam yang terpelajar lagi memiliki gairah pembelaan agama.

Kelompok pilihan yang diberkahi dari para tokoh mulia ini terus bekerja bahkan setelah aku meninggalkan Darul Ulum. Gerakan tersebut senantiasa digerakkan oleh segelintir pemuda yang ikhlas ini hingga gerakan-gerakan tersebut bertransformasi menjadi "Perkumpulan Pemuda Muslim" (Jam'iyah asy-Syubban al-Muslimin) di kemudian hari.

TEMA INSYA (MENGARANG)

Adalah dosen kami, Syekh Ahmad Yusuf Najati—semoga Allah membalasnya dengan kebaikan—seorang yang sangat menggemari tema-tema yang berbobot dalam bidang Insya [mengarang]. Beliau memiliki guyonan dan komentar-komentar yang unik lagi jenaka bersama kami dalam makna-makna ini.

Di antara perkataannya yang masyhur, ketika beliau mulai bosan mengoreksi tulisan-tulisan yang panjang ini, adalah beliau berkata sambil memegang buku-buku tulis di tangannya yang terasa berat untuk dibawa sebagaimana malam panjangnya telah terasa berat untuk mengoreksinya: "Ambillah wahai para syekh, bagikan apa yang kalian klaim sebagai karangan [insya] ini kepada kalian! Hendaklah kalian bersikap proporsional, wahai kaum, karena sesungguhnya balaghah [retorika] itu adalah keringkasan. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengukur karangan ini dengan jengkal dan tidak pula mengukurnya dengan hasta!" Maka kami pun tertawa dan membagikan buku-buku tulis tersebut.

Di antara tema yang beliau hadiahkan kepada kami dalam rangka akhir tahun ajaran—yang mana bagi diriku dan angkatanku merupakan tahun terakhir, yaitu tahun 1927 Masehi—adalah tema ini: "Jelaskan cita-cita terbesar kalian setelah menyelesaikan studi kalian, dan terangkan sarana-sarana yang kalian persiapkan untuk mewujudkannya!"

Aku menjawab pertanyaan tersebut dengan tulisan ini:

"Aku meyakini bahwa sebaik-baik jiwa adalah jiwa yang baik yang melihat kebahagiaannya terletak pada membahagiakan manusia dan membimbing mereka. Jiwa tersebut merengkuh kegembiraannya dari memasukkan kegembiraan kepada mereka, menepis hal yang dibenci dari mereka, serta menganggap pengorbanan di jalan perbaikan umum sebagai sebuah keuntungan dan ghanimah. Ia menganggap jihad dalam kebenaran dan hidayah—di atas keterjalan jalannya beserta apa yang ada di dalamnya berupa kesulitan dan kepayahan—sebagai sebuah istirahat dan kelezatan. Ia merasuk hingga ke lubuk hati manusia lalu mendeteksi penyakit-penyakitnya, dan menyusup ke dalam manifestasi masyarakat lalu mengenali apa yang mengeruhkan kejernihan hidup manusia dan kegembiraan hidup mereka, serta apa yang menambah kejernihan ini dan melipatgandakan kegembiraan tersebut. Tidak ada yang mendorongnya melakukan hal itu melainkan perasaan rahmat kasih sayang terhadap anak manusia, kelembutan atas mereka, serta keinginan yang mulia demi kebaikan mereka. Maka ia mencoba untuk menyembuhkan hati yang sakit ini, melapangkan dada yang sempit tersebut, dan membahagiakan jiwa-jiwa yang tertekan ini. Ia tidak menganggap adanya waktu yang lebih bahagia daripada waktu yang di dalamnya ia menyelamatkan seorang makhluk dari jurang kesengsaraan abadi atau materialistik, serta membimbingnya menuju jalan istikamah dan kebahagiaan!

Aku meyakini bahwa amal yang manfaatnya tidak melampaui pemiliknya, dan faedahnya tidak melewati pelakunya, adalah amal yang terbatas lagi kerdil. Sebaik-baik amal dan seagung-agungnya adalah amal yang hasilnya dapat dinikmati oleh si pelaku dan orang lain, baik dari keluarganya, umatnya, maupun sesama jenisnya. Sesuai kadar cakupan manfaat ini, begitulah keagungan dan tingkat kepentingannya. Atas dasar akidah inilah aku menempuh jalan para guru, karena aku melihat mereka bagaikan cahaya yang terang benderang yang menjadi sumber penerangan bagi kumpulan orang yang banyak, dan mengalir di tengah khalayak yang besar ini, meskipun ia laksana cahaya lilin yang menerangi manusia dengan cara membakar dirinya sendiri. Aku meyakini bahwa seagung-agungnya tujuan yang harus dibidik oleh manusia, dan sebesar-besarnya keuntungan yang diraihnya adalah ia memperoleh rida Allah atas dirinya, sehingga Dia memasukkannya ke dalam pelataran kesucian-Nya, mengenakan kepadanya pakaian-pakaian kelembutan-Nya, serta menjauhkannya dari neraka azab-Nya dan azab kemurkaan-Nya.

Orang yang bermaksud menuju tujuan ini akan dihadang oleh persimpangan dua jalan, yang masing-masing memiliki karakteristik dan keistimewaannya sendiri, ia boleh menempuh yang mana saja yang ia kehendaki:

Pertama: Jalan tasawuf yang jujur, yang terangkum dalam keikhlasan, amal, serta memalingkan hati dari kesibukan terhadap makhluk, baik yang baik maupun yang buruk dari mereka. Jalan ini lebih dekat dan lebih selamat.

Kedua: Jalan pengajaran dan bimbingan, yang mempertemukannya dengan jalan pertama dalam hal keikhlasan dan amal, namun membedakannya dalam hal berinteraksi dengan manusia, mempelajari kondisi mereka, mendatangi tempat perkumpulan mereka, serta meresepkan obat yang manjur bagi penyakit-penyakit mereka. Jalan ini lebih mulia di sisi Allah dan lebih agung, yang dianjurkan oleh Al-Qur'an Al-Azhim, dan diserukan keutamaannya oleh Rasul yang mulia.

Aku telah mengunggulkan jalan yang kedua—setelah sebelumnya aku menempuh jalan yang pertama—karena berbilangnya manfaat yang ada di dalamnya, besarnya keutamaannya, dan karena jalan tersebut merupakan yang paling wajib dari kedua jalan bagi orang yang berilmu, serta yang paling pantas bagi orang yang memahami sesuatu : "...dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka dapat menjaga dirinya." (QS. At-Tawbah: 122).

Aku meyakini bahwa kaumku—berdasarkan fase-fase politik yang telah mereka lalui, pengaruh-pengaruh sosial yang melintas pada mereka, serta dengan pengaruh peradaban Barat, syubhat Eropa, filsafat materialistis, dan peniruan gaya asing—telah menjauh dari maksud-maksud agama mereka, sasaran-sasaran kitab mereka, serta melupakan kemuliaan bapak-bapak mereka dan jejak-jejak pendahulu mereka. Agama yang sahih ini menjadi rancu bagi mereka akibat apa yang dinisbatkan kepadanya secara zalim dan bodoh. Hakikatnya yang jernih lagi putih bersih, serta ajaran-ajarannya yang sejati lagi toleran telah tertutup dari mereka oleh hijab-hijab ilusi yang membuat pandangan menjadi letih dan pemikiran menjadi terhenti di hadapannya. Maka kaum awam terperosok ke dalam kegelapan kebodohan, sedangkan para pemuda dan kalangan terpelajar tersesat di padang belantara kebingungan dan keraguan, yang mana keduanya mewariskan kerusakan pada akidah, dan mengubah keimanan menjadi ateisme...!

Aku meyakini pula bahwa jiwa manusia pada tabiatnya adalah pencinta, dan harus ada suatu arah yang kepadanya dialirkan rasa cintanya. Maka aku tidak melihat seorang pun yang lebih berhak menerima aliran rasa cintaku daripada seorang sahabat yang ruhnya telah menyatu dengan ruhku, sehingga aku memberikan kecintaanku kepadanya, dan mengutamakannya dengan persahabatanku.

Semua itu aku yakini sebagai sebuah akidah yang telah berakar baranya di dalam jiwaku, telah panjang cabang-cabangnya, dan telah menghijau daun-daunnya, dan tidak ada yang tersisa melainkan ia berbuah. Maka cita-cita terbesarku setelah menyelesaikan kehidupan studiku ada dua cita-cita:

(Khusus): Yaitu membahagiakan keluarga dan kerabatku, serta menunaikan kesetiaan kepada sahabat yang dicintai itu sepanjang aku menemukan jalan untuk hal tersebut, dan sampai batas terbesar yang dimungkinkan oleh kondisiku, serta apa yang Allah mampukan aku atasnya.

(Umum): Yaitu aku menjadi seorang pembimbing lagi pengajar. Jika aku telah menghabiskan siang hari dalam mengajar anak-anak, dan sebagian besar waktu dalam setahun, maka aku akan menghabiskan malam hariku dalam mengajarkan para ayah tentang tujuan agama mereka, sumber-sumber kebahagiaan mereka, dan kegembiraan hidup mereka; terkadang dengan ceramah dan dialog, di waktu lain dengan meramu karya dan menulis, dan di waktu ketiga dengan menjelajah dan melakukan perjalanan.

Aku telah mempersiapkan untuk mewujudkan cita-cita yang pertama: pengenalan terhadap budi baik, dan apresiasi terhadap kebaikan, dan bukankah balasan kebaikan itu melainkan kebaikan pula? Sedangkan untuk mewujudkan cita-cita yang kedua, aku mempersiapkan dari sarana-sarana moral: 'Keteguhan' (tsabat) dan 'Pengorbanan' (tadhiyah), yang mana keduanya lebih melekat bagi seorang reformis daripada bayangannya sendiri, dan merupakan rahasia keberhasilan totalnya. Tidak ada seorang reformis pun yang berakhlak dengan keduanya lalu ia mengalami kegagalan yang merendahkannya atau mencorengnya. Adapun dari sarana-sarana praktis: sebuah studi yang panjang—yang akan aku upayakan agar dokumen-dokumen resmi menjadi saksi bagiku atas hal itu—serta pengenalan terhadap orang-orang yang menganut prinsip ini dan bersimpati kepada para pengikutnya. Ditambah lagi dengan tubuh yang telah terbiasa dengan kekerasan atas kekurusannya, akrab dengan kepayahan atas kerempengnya, serta jiwa yang telah aku jual kepada Allah sebagai sebuah transaksi yang beruntung, dan perniagaan yang dengan kehendak-Nya menyelamatkan. Seraya berharap dari-Nya penerimaan atasnya, dan memohon kepada-Nya penyempurnaannya, dan bagi kedua cita-cita tersebut terdapat pengenalan terhadap kewajiban dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang aku baca di dalam firman-Nya: "Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7).

Itulah janji antara diriku dengan Tuhanku yang aku catat atas diriku sendiri, dan aku persaksikan dosenku atasnya, dalam kesendirian yang tidak ada yang memengaruhinya melainkan hati nurani, dan malam yang tidak ada yang melihatnya melainkan Zat Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.

Ustaz Ahmad Yusuf telah menggoreskan penanya pada karangan ini dengan beberapa perbaikan, dan aku ingat beliau memberiku nilai yang tidaklah buruk di dalamnya, yaitu tujuh setengah dari sepuluh.

Dan sahabat yang aku isyaratkan di dalam tema ini adalah Ustaz Ahmad As-Sukkari, yang mana beliau saling bertukar perasaan ini denganku sampai pada tingkat di mana beliau melikuidasi toko dan perdagangannya, lalu mendaftarkan diri pada pekerjaan-pekerjaan pemerintah di majelis wilayah Beheira agar memungkinkan bagiku untuk berada di majelis tersebut sehingga kami dapat berkumpul bagaimanapun keadaannya. Allah benar-benar mewujudkan cita-cita ini setelah beberapa waktu, di mana aku diangkat sebagai pegawai di Kementerian Pendidikan dan beliau pun berpindah ke sana, lalu Kairo menyatukan kami kembali setelah penantian yang panjang.

KENANGAN DARUL ULUM

Setelah itu, aku mencurahkan perhatian untuk bersiap menghadapi ujian diploma, karena ini adalah tahun terakhir. Setiap kali aku ingat bahwa aku akan berpisah dengan lembaga yang diberkahi ini, aku mendapati adanya rasa rindu yang mendalam kepadanya...

...asing dan rasa rindu yang sangat mendalam kepada saudara-saudara ini di ruang kelas. Aku tidak pernah melupakan beberapa momen berdiri di antara Masjid Al-Munirah dan Darul Ulum, atau di sudut ruang kelas seraya memandangi Darul Ulum beserta orang-orang di dalamnya dengan luapan emosi kerinduan dan nostalgia yang kuat. Sungguh benar Rasulullah ketika bersabda:

«أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ»

"Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, karena sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya."

Aku juga tidak pernah melupakan candaan-candaan jenaka di dalam ruang kelas antara diriku dengan Ustaz Budair Bek rahimahullah. Beliau memiliki sikap yang tidak akan pernah terlupakan bersama kami ketika pengelolaan madrasah diserahkan kepada beliau, sedangkan kami saat itu berada di tahun ketiga, untuk mengajarkan sastra Arab, materi hafalan, dan insya [mengarang]. Maka beliau masuk menemui kami dalam keadaan muram seraya berkata: "Apakah kalian tidak mengetahui bahwa Allah telah menimpakan musibah kepada kalian yang tiada tandingannya?"

Maka kami bertanya: "Apakah itu?"

Beliau menjawab: "Sesungguhnya Budair telah diserahi tugas untuk mengajarkan sastra bahasa untuk tahun ketiga, padahal masa Dinasti Abbasiyah ini secara khusus, aku tidak mengetahui sesuatu apa pun di dalamnya. Maukah aku tunjukkan kepada kalian pakar di bidangnya dan ahli di ranahnya? Dialah Ustaz An-Najati, maka kalian harus bersamanya, dan mintalah kepada pihak administrasi madrasah untuk menyingkirkanku lalu menunjuknya sebagai pengganti. Percayalah bahwa aku sedang menunjukkan kebaikan kepada kalian, dan kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti."

Maka kami pun mulai menyanjung beliau dengan ungkapan-ungkapan para siswa kepada guru mereka, namun jawaban beliau adalah: "Janganlah kalian menipuku tentang diriku sendiri, karena sesungguhnya aku lebih mengetahui tentang diriku daripada kalian, dan aku lebih tahu tentang kemaslahatan kalian, dan tidaklah aku menghendaki melainkan kebaikan."

Dan hal itu benar-benar terjadi, kami pun menemui kepala madrasah (nazhir) lalu menyampaikan usulan ini kepadanya, dan beliau menerimanya. Kami pun mendapatkan banyak faedah dari Ustaz An-Najati, dan kami sangat berterima kasih kepada Ustaz Budair atas sikap yang mulia serta akhlak yang utama lagi indah ini, rahimahullah.

Aku juga tidak pernah melupakan rumah Ustaz Farid Bek Wajdi di Kairo. Aku termasuk salah seorang pembaca majalah Al-Hayat dan buku-buku beliau yang banyak mengenai Islam dan peradabannya, serta termasuk pencinta Dairatul Ma'arif [ensiklopedia]. Begitu aku tinggal di Kairo, aku langsung menuju rumah beliau yang saat itu berada di Al-Khalij Al-Mishri. Beliau memiliki hubungan persahabatan yang dekat dengan ayahku, dan rumah beliau menjadi tempat berkumpulnya orang-orang utama, di mana mereka saling mempelajari berbagai macam ilmu sejak setelah waktu asar, kemudian mereka keluar untuk rekreasi. Aku sering mendatangi rumah ini karena keinginan untuk mengambil manfaat.

Aku masih tetap mengingat perselisihan yang terjadi antara diriku dengan Ustaz Farid Bek, yang mana sahabat beliau yaitu Ahmad Bek Abu Stait ikut bergabung bersamanya untuk menentangku, seputar kepribadian ruh-ruh. Farid Bek berpandangan bahwa ruh-ruh yang dihadirkan [dalam praktik pemanggilan ruh] adalah ruh-ruh orang mati itu sendiri, sedangkan aku berpandangan lain. Pembahasan kami pun bercabang di bidang ini, dan kami menyelesaikannya dalam kondisi masing-masing tetap memegang sudut pandangnya. Sungguh aku telah mengambil banyak manfaat dari majelis-majelis tersebut pada masa itu.

Begitulah kehidupanku di Kairo, sebuah campuran yang menakjubkan; mulai dari menghadiri hadhrah [majelis zikir] di rumah Syekh atau di rumah Ali Efendi Ghalib, pergi ke Perpustakaan Salafiyah di mana Tuan Muhibbuddin berada, ke Darul Manar bersama Tuan Rasyid Ridha, ke rumah Syekh Ad-Dajwi, kemudian ke rumah Farid Bek Wajdi, terkadang ke Darul Kutub [perpustakaan nasional], dan di waktu lain ke Masjid Syaikhun.

DIPLOMA

Waktu ujian pun tiba, dan hasilnya telah diumumkan, lalu aku berhasil mendapatkan ijazah diploma pada bulan Juni tahun 1927.

Aku tidak akan melupakan ujian lisan ketika aku maju menghadap komite penguji—yang saat itu terdiri dari Ustaz Abul Fath Al-Fiqi rahimahullah dan Ustaz Najati—dengan membawa hafalan sebanyak 18.000 bait puisi dan jumlah yang sama dari teks prosa, yang di antaranya termasuk Mu'allaqah Tharafah. Namun, aku tidak ditanya melainkan hanya tentang satu bait dari Mu'allaqah tersebut, empat bait dari qasidah Syauqi mengenai Napoleon, serta sebuah diskusi seputar Umar Khayyam, lalu selesailah urusan tersebut. Aku tidak menyesali jerih payah ini, karena sejak hari pertama aku mencurahkannya demi ilmu, bukan demi ujian.

ANTARA BEASISWA DAN PEKERJAAN

Aku mendapati adanya pemikiran di kalangan sebagian rekan tercinta untuk mengajukan permohonan nominasi beasiswa ke luar negeri (بعثة), mengingat hal tersebut selalu menjadi hak bagi lulusan peringkat pertama dalam diploma.

Akan tetapi, aku merasa ragu-ragu dalam urusan tersebut karena dorongan dua faktor sebelumnya: faktor cinta untuk terus menambah ilmu walau dari Eropa atau Cina, karena hikmah itu adalah barang hilang milik orang mukmin, di mana pun ia menemukannya maka ia adalah orang yang paling berhak atasnya; serta faktor ketidaktertarikan terhadap penampilan-penampilan formal ini dan keinginan untuk segera beramal nyata demi mewujudkan pemikiran yang telah menguasai jiwaku. Pemikiran tersebut adalah gagasan dakwah untuk kembali kepada ajaran-ajaran Islam, serta menumbuhkan antipati terhadap peniruan Barat secara buta ini, dan dari kerusakan-kerusakan kulit luar peradaban Barat.

Pihak Darul Ulum tidak mengajukan nominasi seorang pun untuk tahun ini, sehingga hal itu membuatku terbebas dari keragu-raguan, dan tidak ada pilihan tersisa selain pekerjaan dinas. Tadinya aku mengira bahwa pekerjaan tersebut tidak akan keluar dari madrasah-madrasah di Kairo, akan tetapi banyaknya jumlah lulusan pada tahun ini dan sedikitnya jumlah yang diminta oleh Kementerian Pendidikan—di mana kementerian tidak meminta lebih dari delapan orang dan menyerahkan sisanya kepada dewan-dewan wilayah—membuat tidak ada seorang pun yang mendapatkan bagian di Kairo. Keputusan penempatan pun dikeluarkan hanya untuk dua orang, yaitu peringkat pertama dan kedua. Bagianku adalah penempatan di Ismailia, sedangkan bagian Ustaz Ibrahim Madkur saat itu—yang sekarang menjadi Dr. Ibrahim Madkur—adalah di Iskandariyah, kemudian beliau diombang-ambingkan oleh situasi politik ke Edfu, sehingga beliau mengundurkan diri dan melakukan perjalanan ke Eropa untuk menyelesaikan studinya atas biaya sendiri, lalu setelah itu beliau dimasukkan ke dalam jajaran beasiswa pemerintah. Sementara bagian keenam saudara kami lainnya adalah di wilayah hulu (Mesir Selatan).

Aku terkejut dengan keputusan penempatan ini, sedangkan aku tidak mengetahui di mana letak Ismailia secara tepat. Aku pun pergi ke kantor Kementerian Pendidikan untuk mengajukan keberatan, lalu aku menjumpai guru kami, Abdul Hamid Bek Husni. Dengan candaannya yang halus dan jiwanya yang periang, beliau berhasil meredakan kemarahanku, serta meminta bantuan dari guru kami yang mulia, Syekh Abdul Hamid Al-Khuli rahimahullah—yang kebetulan sedang mengunjungi beliau saat itu. Kemudian masuklah menemui kami Ustaz Ali Hasaballah, seorang putra Ismailia yang berbakti, lalu keduanya meminta kesaksian darinya bahwa Ismailia termasuk negeri Allah yang terbaik, dan bahwa aku akan menemukan kebaikan serta kenyamanan di sana, karena ia adalah kota yang tenang, memiliki keindahan alam, dan hasil bumi yang melimpah.

Aku pun pulang lalu meminta saran dari ayahku, maka beliau berkata: "Atas berkah Allah, dan kebaikan adalah apa yang Dia pilihkan."

Maka dadaku pun menjadi lapang karena hal itu, dan aku mulai mempersiapkan bekal untuk perjalanan ini, yang mana hikmah Allah di dalamnya tampak begitu nyata dan jelas di kemudian hari. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya. Aku pun berangkat dengan bersandar pada berkah Allah, sementara pikiranku disibukkan dengan metode yang akan aku tempuh untuk berdakwah, dengan keyakinan bahwa aku kini telah memikul amanah ini di Ismailia, sedangkan saudara Ahmad Efendi As-Sukkari memikulnya di Mahmudiyah. Kami meninggalkan dua saudara yang mulia, yaitu Syekh Ahmad Askariyah rahimahullah dan Syekh Ahmad Abdul Hamid di Kairo, hingga yang pertama diangkat menjadi penceramah (wa'izh) di Zagazig setelah meraih gelar Al-Alimiyah, sedangkan yang kedua memilih—setlah meraih gelar Al-Alimiyah pula dan menghabiskan beberapa waktu dalam spesialisasi—untuk menekuni bidang pertanian bebas di Kafrud Dawwar dan memikul beban dakwah di sana. Kami pun menjadi seperti apa yang dikatakan oleh seorang penyair:

Di Syam keluargaku, dan di Bagdad tempat cintaku berlabuh,

sementara aku berada di Raqmatain, dan di Fusthath tetangga-tetanggaku.

Masing-masing dari kami pun pergi bekerja sesuai dengan metode yang telah Allah berikan taufik kepadanya. Setelah sekitar satu tahun dari perjalanan ini, dan di dalam ketenangan Ismailia yang indah, serta dari putra-putranya yang diberkahi lagi berbakti, terbentuklah benih pertama bagi struktur organisasi Ikhwanul Muslimin beserta cabang-cabangnya.

DI JALAN MENUJU ISMAILIA

Pada hari Senin, tanggal 16 September tahun 1927—dan sangat aku sayangkan karena aku tidak mengingat tanggal Hijriah untuk hari ini—para sahabat berkumpul untuk melepas sahabat mereka yang akan bepergian ke Ismailia, guna menerima tugas barunya yang diserahkan kepadanya, yaitu mengajar di Madrasah Dasar Pemerintah Ismailia.

Sahabat ini tidak mengetahui sesuatu pun tentang Ismailia sebelumnya, melainkan bahwa ia adalah sebuah kota yang jauh di ujung timur delta, yang dipisahkan dari Kairo oleh hamparan luas pasir Gurun Timur, serta terletak di Danau Timsah yang terhubung dengan Terusan Suez. Sahabat tersebut mulai menemui para sahabatnya untuk saling mengucapkan selamat tinggal. Para sahabat pun mulai saling berbincang-bincang, dan di antara mereka ada Muhammad Efendi Asy-Syarunubi, seorang pria yang memiliki ketakwaan dan kesalehan, di antara apa yang beliau katakan adalah: "Sesungguhnya orang yang saleh akan meninggalkan jejak yang saleh di setiap tempat yang ia singgahi , kami berharap sahabat kita ini meninggalkan jejak yang saleh di kota yang baru baginya ini." Kata-kata ini menempati kedudukannya tersendiri di dalam jiwa sahabat yang hendak bepergian tersebut, lalu perkumpulan pun bubar, dan pengembara itu menaiki kereta waktu dhuha untuk sampai di Ismailia pada waktu zuhur, di mana ia menghadapi kehidupan praktisnya secara langsung untuk pertama kalinya.

Kereta pun berjalan, dan pengembara itu bertemu dengan rekan-rekan sejawatnya yang baru saja ditempatkan di madrasah yang sama tempat ia ditempatkan. Di antara mereka, seingatnya, adalah Muhammad Bahauddin Sanad Efendi, Ahmad Hafizh Efendi, Abdul Majid Izzat Efendi, dan Mahmud Abdul Nabi Efendi.

Pengembara tersebut juga bertemu dengan seorang rekan guru di Madrasah Dasar Suez, yang berafiliasi ke dalam Thariqah Al-Hamidiyah Asy-Syadziliyah. Pengembara itu mengungkapkan kepadanya tentang cita-citanya dalam perbaikan Islami dan dakwah menuju Islam, kemudian ia menuliskan tentang pria tersebut di dalam catatan hariannya ungkapan ini: "Kesempatan yang singkat ini tidaklah cukup untuk menghakimi kondisi kejiwaan dan ruhani pria tersebut, meskipun tampak bagiku bahwa ia adalah manusia yang hidup sekadar untuk menjaga kelangsungan hidupnya dengan pekerjaannya ; ia merasa bahagia dengan akidahnya terhadap Tuhannya, agamanya, dan syekhnya, serta merasa senang dengan apa yang ia lihat di sekelilingnya berupa manifestasi penghormatan dari para ikhwan kepadanya."

Jika demikian, maka pengembara ini tidak pernah berpikir untuk hidup sekadar menjaga kelangsungan hidupnya dengan pekerjaannya saja. Jika demikian, maka akidah pengembara ini tidak rela jika hanya terbatas pada dirinya sendiri saja. Dan jika demikian, maka fokus perhatian pengembara ini adalah sesuatu yang lain, bukan apa yang ia lihat berupa manifestasi penghormatan dari para ikhwan kepadanya.

Kereta pun tiba di Ismailia, dan para penumpang berpencar menuju tujuannya masing-masing. Tokoh kita pun memandangi kota yang indah ini, di mana orang-orangnya tampak begitu mengagumkan jika dipandang oleh musafir dari atas jembatan rel kereta api. Pemandangan-pemandangan ini menawan hati pendatang baru tersebut dan memikat pikirannya, sehingga ia berdiri sejenak dan menyelami sesaat alam khayalan atau munajat. Ia mencoba membaca di dalam lauhulgaib tentang apa yang telah digariskan untuknya di kota yang baik ini, dan memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala dengan kehangatan dan ketulusan munajat agar menakdirkan baginya apa yang di dalamnya terdapat kebaikan, serta menjauhkannya dari keburukan dan dosa-dosa. Sebab, ia merasakan dari lubuk hatinya bahwa ia harus memiliki urusan di kota ini, yang berbeda dari urusan orang-orang yang pergi dan pulang dari kalangan penduduk maupun pengunjungnya.

DI HOTEL

Pengembara itu pun tiba di hotel lalu menitipkan tasnya di sana, dan ia tidak membawa selain satu tas itu saja. Ia mengunjungi madrasah tempat ia akan bekerja, lalu menemui kepala madrasah dan para guru. Semua orang saling berbincang-bincang, dan tamu ini mengenali seorang sahabat lamanya, yaitu Ustaz Ibrahim Al-Banhawi Efendi, seorang guru lama di madrasah tersebut. Ia berkeinginan untuk menemaninya di tempat tinggalnya, namun ternyata sahabat ini lebih memilih untuk tinggal di sebuah losmen (pension), dan tokoh kita selaku tamu tidak melihat adanya masalah untuk menyetujui apa yang dipandangnya baik. Kedua sahabat itu pun menempati satu kamar yang sama di rumah seorang wanita Inggris bernama "Ummu Jimmy," kemudian di rumah seorang wanita Italia bernama "Madama Bebina."

DI ANTARA MASJID DAN MADRASAH

Guru baru ini menghabiskan waktunya di antara masjid, madrasah, dan rumah. Ia tidak mencoba untuk berbaur dengan siapa pun dan tidak mengenali orang di luar lingkungan khususnya dari kalangan rekan sejawatnya pada waktu kerja. Adapun waktu luangnya, ia curahkan sepenuhnya untuk berolahraga, atau mempelajari tanah air baru ini dari sisi penduduknya, pemandangan-pemandangannya, dan karakteristik-karakteristiknya, atau membaca, atau tilawah, tanpa menambah apa pun di atas hal itu selama empat puluh hari penuh. Dan tidak pernah hilang dari benaknya barang sekejap pun kata-kata dari sahabat yang melepasnya: "Sesungguhnya orang yang saleh akan meninggalkan jejak yang saleh di setiap tempat yang ia singgahi, dan kami berharap sahabat kita ini meninggalkan jejak yang saleh di kota yang baru baginya ini."

PERSELISIHAN KEAGAMAAN

Di dalam masjid, penghuni baru ini berhasil mengetahui banyak kabar keagamaan dan kondisi sosial Ismailia. Ia mengetahui di antara hal-hal yang ia ketahui bahwa kota ini didominasi oleh corak Eropa, mengingat pangkalan-pangkalan militer Inggris mengelilinginya dari arah barat, dan kawasan pemukiman administrasi Perusahaan Terusan Suez menutupinya dari arah timur, sedangkan kota tersebut terkurung di antara hal itu. Mayoritas penduduknya bekerja di kedua sektor ini, berinteraksi dengan kehidupan Eropa dari dekat, dan wajah-wajah kehidupan Eropa pun menyapa mereka di setiap tempat. Meskipun demikian, kota ini memiliki perasaan Islami yang kuat, keterikatan di sekitar para ulama, serta penghargaan terhadap apa yang mereka katakan.

Penghuni baru ini juga mengetahui di antara hal yang ia ketahui bahwa seorang guru Islam telah mendahuluinya di kota ini, lalu ia muncul di hadapan penduduknya dengan membawa pandangan-pandangan dalam pemikiran Islam yang tampak asing bagi mayoritas mereka. Sebagian ulama mereka pun bergerak aktif untuk menentangnya, sehingga menghasilkan perpecahan di antara manusia, serta keterpihakan pada opini-opini dan pemikiran-pemikiran yang tidak dapat menyatukan hati, dan tidak dapat membangun persatuan yang diharapkan, yang mana tujuan tidak akan tercapai tanpanya.

KE KEDAI-KEDAI KOPI UNTUK KEDUA KALINYA

Ia pun mulai berpikir tentang apa yang harus ia lakukan dan bagaimana menghadapi perpecahan ini. Ia melihat bahwa setiap orang yang berbicara tentang Islam akan dihadapi oleh masing-masing kelompok dengan pemikirannya, di mana mereka ingin menariknya ke pihak mereka atau setidaknya ingin mengetahui apakah ia termasuk golongan mereka atau termasuk musuh-musuh mereka. Padahal ia ingin berbicara kepada semua orang, berinteraksi dengan semua orang, dan mengumpulkan kembali semua yang bercerai-berai.

Ia berpikir panjang tentang hal itu, kemudian ia memutuskan untuk menarik diri dari seluruh kelompok ini, dan menjauh sejauh mungkin dari berbicara kepada manusia di dalam masjid-masjid. Sebab, masjid dan para jamaah masjid adalah orang-orang yang senantiasa mengingat tema-tema perselisihan tersebut, dan menyuarakannya kembali pada setiap kesempatan. Jika demikian, hendaklah penghuni baru ini meninggalkan masjid beserta orang-orang di dalamnya, dan memikirkan jalan lain untuk berinteraksi dengan manusia. Mengapa ia tidak berbicara kepada khalayak ramai di kedai kopi?

Pemikiran ini sempat menggelayuti dirinya beberapa saat, kemudian matang di dalam kepalanya, dan ia mulai melaksanakannya secara nyata. Ia memilih tiga kedai kopi besar untuk tujuan tersebut yang mengumpulkan ribuan orang, lalu menjadwalkan di setiap kedai kopi tersebut dua kali pelajaran dalam sepekan, dan ia pun mulai menjalankan pelajaran ini secara teratur di tempat-tempat tersebut.

Corak metode ceramah dan pelajaran agama seperti ini pada awalnya tampak asing dalam pandangan manusia, namun tidak lama kemudian mereka menjadi terbiasa dan menyambutnya dengan antusias.

Sang guru sangat teliti dalam metode uniknya yang baru ini; ia benar-benar memilih tema yang akan ia bicarakan dengan baik, sehingga temanya tidak keluar dari koridor nasihat umum: mengingatkan kepada Allah dan Hari Akhir, serta targhib [memberi kabar gembira] dan tarhib [memberi peringatan]. Ia tidak memaparkan celaan atau sindiran, tidak pula menyinggung kemungkaran dan dosa yang sedang ditekuni oleh orang-orang yang duduk di sana dengan cercaan atau kekerasan, melainkan ia merasa cukup dengan menanamkan sedikit pengaruh di dalam jiwa-jiwa ini, dan itu sudah memadai.

Ia juga sangat memperhatikan gaya bahasanya, sehingga ia menjadikannya mudah, menarik, memikat, dan terkadang dicampur dengan bahasa awam. Ia memadukannya dengan hal-hal yang dapat diindrawi, perumpamaan, serta kisah-kisah, dan berupaya menjadikannya bersifat retorik yang menyentuh hati pada banyak kesempatan. Dengan demikian, ia selalu menyiasati untuk memikat jiwa-jiwa ini seraya membangkitkan ketertarikan dan kerinduan terhadap apa yang ia katakan. Di samping itu semua, ia tidak memperpanjang bahasannya agar mereka tidak bosan; ia tidak menambah durasi pelajaran lebih dari sepuluh menit, dan jika ia memperpanjangnya maka menjadi seperempat jam saja. Ia berkomitmen penuh untuk menunaikan satu makna khusus dalam durasi waktu ini, yang ia tuju dan ia tinggalkan dalam kondisi terpenuhi lagi jelas di dalam jiwa para pendengar. Ketika ia memaparkan—di antara hal-hal yang ia paparkan—sebuah ayat atau hadis, ia memilihnya dengan pilihan yang sesuai, kemudian membacanya dengan bacaan yang khusyuk, serta menghindari tafsir-tafsir akademis dan komentar-komentar teknis, melainkan cukup dengan makna global yang ia jelaskan beserta kutipan yang dimaksud yang ia terangkan.

Sikap ini memiliki pengaruhnya tersendiri pada khalayak masyarakat Ismailia. Orang-orang mulai berbincang dan bertanya-tanya, mereka pun mendatangi kedai-kedai kopi ini seraya menunggu. Ceramah ini menjalankan fungsinya di dalam jiwa para pendengar, khususnya mereka yang konsisten menghadirinya, sehingga mereka mulai tersadar dan berpikir. Dari hal tersebut, mereka kemudian beralih mengajukan pertanyaan kepadanya mengenai apa yang wajib mereka lakukan agar dapat menunaikan hak Allah atas mereka, menunaikan kewajiban mereka terhadap agama dan umat mereka, serta guna menjamin keselamatan dari azab dan meraih kenikmatan. Ia pun mulai menjawab mereka dengan jawaban-jawaban yang tidak langsung memutus, dalam rangka menarik perhatian mereka, memikat hati mereka, menunggu kesempatan yang tepat, serta mempersiapkan jiwa-jiwa yang menggebu-gebu tersebut.

PEMBELAJARAN PRAKTIS

Pertanyaan-pertanyaan senantiasa mengalir kepada sang guru dari hati-hati yang beriman lagi baik ini, sementara jawaban yang ringkas tersebut belum menyembuhkan dahaga mereka. Sekelompok orang dari para ikhwan mendesak tentang wajibnya merumuskan jalan yang harus mereka tempuh agar mereka menjadi orang-orang muslim yang deskripsi Islam benar-benar sesuai bagi mereka secara hakiki. Mereka ingin mempelajari hukum-hukum Islam setelah perasaan mereka digerakkan oleh kesadaran sebagai pemeluk Islam. Maka sang guru mengarahkan mereka untuk memilih tempat khusus sebagai wadah berkumpul setelah pelajaran kedai kopi atau sebelum pelajaran tersebut untuk saling mempelajari hukum-hukum ini. Pilihan mereka pun jatuh pada sebuah sudut [زاوية / mushala kecil] yang terpencil yang membutuhkan sedikit renovasi dan perbaikan untuk tempat berkumpul dan menegakkan syiar ibadah.

Duhai Allah.. alangkah baiknya hati rakyat ini, dan alangkah agungnya kesegeraan mereka menuju kebaikan ketika mereka menjumpai seorang dai yang ikhlas lagi bersih. Para ikhwan ini—yang di antara mereka terdapat para ahli dari berbagai profesi bangunan—segera bergegas menuju sudut tersebut untuk merenovasinya, melengkapi peralatan-peralatannya, serta menyiapkannya bagi apa yang mereka inginkan. Hanya dalam dua malam saja, mereka mampu menunaikan tugas tersebut dengan bentuk yang paling sempurna, dan pertemuan pertama pun diselenggarakan di sudut itu.

Para hadirin yang berkumpul adalah orang-orang yang baru saja memulai komitmen ibadah, atau dengan ungkapan yang lebih tepat, mayoritas mereka adalah demikian. Maka sang guru menempuh bersama mereka sebuah metode yang bersifat praktis murni. Ia sama sekali tidak menggunakan ungkapan-ungkapan yang sekadar dilontarkan atau hukum-hukum abstrak yang diulang-ulang. Akan tetapi, ia langsung membawa mereka menuju tempat keran air, membariskan mereka dengan satu barisan, dan ia berdiri di tengah-tengah mereka memosisikan diri sebagai seorang pembimbing bagi amalan demi amalan secara nyata, hingga mereka menyempurnakan wudu mereka. Kemudian ia memanggil kelompok lainnya, lalu kelompok lainnya lagi, dan demikianlah hingga semua orang menjadi mahir melakukan wudu secara praktik. Setelah itu, ia menjabarkan bersama mereka mengenai keutamaan-keutamaan wudu secara ruhani, fisik, dan keduniawian, serta menumbuhkan kerinduan mereka terhadap apa yang disebutkan tentang pahalanya di dalam hadis-hadis dari Nabi , seperti sabda beliau:

«مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ»

"Barangsiapa yang berwudu lalu membaguskan wudunya, niscaya keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya."

Dan sabda beliau :

«مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ، وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، يُقْبِلُ بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ»

"Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudu lalu membaguskan wudunya, kemudian menegakkan shalat dua rakaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya pada kedua rakaat tersebut, melainkan wajib baginya surga."

Ia membangkitkan kerinduan mereka dengan hal tersebut, dan menumbuhkan minat mereka pada apa yang telah Allah anjurkan kepada mereka.

Kemudian ia berpindah bersama mereka setelah itu menuju shalat seraya menjelaskan amalan-amalannya, menuntut mereka untuk mempraktikkannya secara nyata di hadapannya, menyebutkan apa yang ada di dalam keutamaannya, serta memberikan peringatan dari meninggalkannya. Di sela-sela semua itu, ia menyuruh mereka menghafal surah Al-Fatihah, satu per satu, dan membenarkan bagi mereka apa yang mereka hafal dari surah-surah pendek, surah demi surah. Ia membatasi pembicaraannya kepada mereka pada tata cara yang dipadukan dengan kabar gembira dan peringatan. Ia tidak mencoba mencabangkan masalah-masalah atau beralih pada istilah-istilah yang rumit, hingga hati mereka menjadi lembut menerima hukum-hukum tersebut, dan menjadi jelas di dalam benak mereka, serta sisi fikih murni ini tidak lagi tampak kaku lagi kering.

AKIDAH FITRAH

Kemudian di sela-sela semua itu, dan di dalam setiap majelis dari majelis-majelisnya, ia mengetuk pintu akidah yang sahih, lalu menumbuhkannya, memperkuatnya, serta memantapkannya dengan apa yang ia kutip dari ayat-ayat Al-Kitab yang bijaksana, hadis-hadis Rasul yang agung, sirah orang-orang saleh, serta jalan hidup orang-orang yang beriman lagi memiliki keyakinan. Ia sama sekali tidak beralih pada teori-teori filsafat atau analogi-analogi logika [أقيسة منطقية]. Melainkan ia mengalihkan pandangan perhatian pada keagungan Sang Pencipta di alam semesta-Nya, dan pada keagungan sifat-sifat-Nya dengan cara memandang makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Ia mengingatkan tentang akhirat dengan gaya bahasa nasihat yang menggugah, yang tidak keluar dari keagungan Al-Qur'an Al-Karim dalam seluruh makna ini. Kemudian ia tidak mencoba meruntuhkan suatu akidah yang rusak melainkan setelah membangun akidah yang saleh. Betapa mudahnya meruntuhkan setelah membangun, dan betapa sulitnya hal itu dilakukan sebelum membangun; dan ini merupakan sebuah pandangan yang saksama, yang betapa sering luput dari pemahaman para juru perbaikan dan pemberi nasihat.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat