Mudzakirat Da'wah Wa Da'iyah (Memoar Al-Banna) (1)
PENGANTAR
(Saya
menyarankan kepada orang-orang yang melibatkan diri dalam urusan publik dan
merasa diri mereka rentan bersinggungan dengan pemerintah agar tidak terlalu
berambisi untuk menulis)
Aku
tidak tahu mengapa aku menemukan keinginan yang sangat kuat dalam diriku untuk
menulis memoar ini, setelah sebelumnya aku benar-benar berpaling dan enggan
melakukannya. Hal itu terjadi setelah pihak kejaksaan menemukan catatan-catatan
pribadiku pada tahun 1943. Kala itu, aku mendapati sikap interogator yang
begitu keras dan melelahkan tanpa ada faedah, hasil, maupun urgensi, selain
hanya membebani kata-kata dengan makna yang tidak semestinya mereka tanggung.
Serta menyimpulkan hasil-hasil yang tidak sesuai dengan premis-premisnya,
dengan alasan bahwa inilah tugas kejaksaan agung sebagai otoritas pendakwa.
Barangkali
hilangnya sebagian besar catatan memoar tersebut setelah peristiwa itu menjadi
sebab langsung yang membuatku tunduk pada keinginan (menulis kembali) ini.
Sebab, tampaknya terasa berat bagi seseorang ketika kenangan-kenangan berharga
itu hilang begitu saja dari tangannya, atau ia khawatir kenangan tersebut akan
lenyap dan terlupakan, padahal ia adalah lembaran-lembaran kehidupannya. Ia
dapat menghibur dirinya dengan membaca dan mengenangnya kembali, serta
meninggalkannya untuk orang lain setelahnya. Meskipun ada bagian yang hilang,
aku masih mengingat peristiwa-peristiwa ini seolah-olah baru saja terjadi.
Mungkin
ini menjadi sebab lain bagi keinginanku untuk menulis, agar ingatan ini tidak
tergerus oleh perjalanan waktu. Sungguh, pergantian siang dan malam itu
melalaikan!
Bagaimanapun
kondisinya, aku berkeinginan untuk menulis, dan aku akan menulis demi menuruti
keinginan ini. Jika bisikan hati ini datangnya dari Allah Yang Maha Pengasih (rahmaniyah),
maka segala puji bagi Allah. Namun jika tidak demikian, maka aku memohon
ampunan kepada Allah. Keyakinanku adalah bahwa tulisan ini jika tidak
mendatangkan manfaat, maka tidak akan mendatangkan mudarat. Kebaikanlah yang
kukehendaki, dan Allah-lah pemilik taufik.
Meskipun
aku menyarankan kepada orang-orang yang melibatkan diri dalam urusan publik dan
merasa diri mereka rentan bersinggungan dengan pemerintah agar tidak terlalu
berambisi untuk menulis, karena hal itu lebih menenangkan bagi jiwa mereka dan
bagi orang lain, serta lebih jauh dari rusaknya argumen dan buruknya
interpretasi. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia-lah yang menunjukkan
jalan yang lurus!
MADRASAH
AGAMA AR-RASYAD
Semoga
Allah merahmati guru kami, Syekh Muhammad Zahran, pemilik Madrasah Agama
(Madrasah Diniyah) Ar-Rasyad. Beliau adalah seorang pria yang cerdas, jenius,
alim yang bertakwa, cerdik, cepat tanggap, lagi berwawasan luas. Di
tengah-tengah manusia, beliau bagaikan pelita yang terang benderang dengan
cahaya ilmu dan kemuliaan yang menyinari setiap tempat. Meskipun studi
formalnya tidak sampai mengantarkannya pada tingkatan ulama resmi, namun
kecerdasan, bakat, adab, dan perjuangannya telah membuatnya jauh melampaui
sesamanya dalam ilmu pengetahuan dan kontribusi publik.
Beliau
mengajar masyarakat awam di masjid dan memberikan pemahaman agama (tafaqquh)
kepada para wanita di rumah-rumah. Di samping itu, beliau mendirikan Madrasah
Agama Ar-Rasyad pada tahun 1915 M hampir menyerupai bentuk Maktab [lembaga
pendidikan dasar tradisional Al-Qur'an] swadaya masyarakat yang tersebar pada
masa itu di desa-desa dan daerah pedalaman. Akan tetapi, madrasah ini dikelola
dengan metode lembaga-lembaga modern terkemuka yang layak dianggap sebagai
rumah ilmu!
Sistem
pendidikannya sama-sama istimewa, baik dalam materi maupun metodenya. Materi
pelajarannya mencakup—sebagai tambahan dari materi-materi yang lazim dikenal di
madrasah sejenis kala itu—hafalan dan pemahaman hadis-hadis Nabi. Para murid
diwajibkan untuk mempelajari satu hadis baru pada setiap akhir jam pelajaran di
hari Kamis. Guru akan menjelaskan hadis tersebut kepada mereka hingga mereka
memahaminya, lalu mereka mengulang-ulangnya hingga menghafalnya. Setelah itu,
sang guru menguji kembali apa yang telah mereka pelajari sebelumnya. Dengan
demikian, tahun ajaran tidak akan berakhir melainkan mereka telah memperoleh
kekayaan hafalan yang lumayan dari hadis Rasulullah ﷺ. Aku ingat bahwa sebagian besar hadis yang
aku hafal sesuai redaksi aslinya adalah apa yang melekat di benakku sejak masa
itu. Pelajaran di sana juga mencakup insya' [seni mengarang/menulis],
kaidah-kaidah bahasa, penerapan praktis (tathbiq), sebagian unsur sastra
dalam membaca atau imla' [dikte], serta hafalan-hafalan pilihan dari bait puisi
maupun prosa yang bermutu baik. Tidak ada satu pun dari materi-materi ini yang
dikenal di Maktab-Maktab sejenis lainnya.
Beliau
memiliki metode mengajar dan mendidik yang berpengaruh lagi produktif, meskipun
beliau tidak pernah mempelajari ilmu-ilmu pendidikan maupun dasar-dasar
psikologi. Beliau lebih banyak bersandar pada ikatan emosional (empati) antara
dirinya dan para muridnya. Beliau mengevaluasi tindakan-tindakan mereka dengan
evaluasi yang sangat detail, yang dibumbui dengan pemberian rasa percaya kepada
mereka dan kemandirian, serta memberi mereka ganjaran atas kebaikan atau sanksi
atas keburukan berupa sanksi moral. Sanksi tersebut memicu rasa puas dan
bahagia di dalam jiwa saat berbuat baik, sebagaimana ia juga dapat memberikan
rasa perih dan sedih saat berbuat buruk. Sering kali hal itu disampaikan dalam
bentuk sindiran jenaka yang tajam, doa yang baik, atau sebait puisi—mengingat
guru kami juga sesekali menggubah puisi.
Aku
masih ingat sebait puisi yang menjadi hadiah atas jawaban dalam materi tathbiq
[penerapan kaidah] yang membuat beliau kagum, lalu beliau memerintahkan pemilik
buku tulis tersebut untuk menuliskan di bawah nilai tugasnya:
Hasan
telah menjawab dan dalam jawabannya ia berbuat jitu (ajada) Maka semoga
Allah menganugerahinya keridaan dan petunjuk (rasyada)
Sebagaimana
aku juga mengingat bait lain yang beliau hadiahkan kepada salah seorang rekan
atas jawaban yang tidak berkenan di hati beliau, lalu beliau memerintahkannya
untuk menuliskan di bawah nilainya:
Wahai
Penolong dari Allah, paculah kendaraan dengan cepat Untuk membawa pemuda
ini, wahai Penolong dari Allah
Bait
itu pun akhirnya menjadi ungkapan yang populer, dan disematkan kepada rekan
tersebut sebagai nama julukan. Kami sering kali memanggilnya, jika kami ingin
membuatnya jengkel, dengan sebutan: "Wahai Penolong dari Allah" (Ya
Gharatallah).
Guru
kami menyuruh pemilik buku tulis untuk menuliskan sendiri apa yang didiktekannya
karena beliau—semoga Allah merahmatinya—adalah seorang tunanetra. Akan tetapi,
di dalam mata batinnya terdapat banyak cahaya yang melebihi orang-orang yang
dapat melihat.
"Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di
dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46)
Barangkali
aku telah menyadari sejak momen tersebut—walaupun aku tidak merasakannya secara
sadar saat itu—mengenai pengaruh keselarasan ruhani dan ikatan emosional antara
murid dan guru. Sungguh, kami dahulu sangat mencintai guru kami dengan
kecintaan yang besar, meskipun beliau membebani kami dengan tugas-tugas yang
melelahkan.
Mungkin
dari beliaulah—semoga Allah merahmatinya—di samping ikatan ruhani tersebut, aku
memetik manfaat berupa kecintaan untuk mencari tahu dan banyak membaca. Sebab,
beliau sering kali mengajakku ke perpustakaannya yang berisi banyak kitab yang
bermanfaat, agar aku mencarikan rujukan untuknya dan membacakan kepadanya
masalah-masalah yang beliau butuhkan. Sering kali bersamanya beberapa teman
duduknya dari kalangan ahli ilmu, lalu mereka membahas, mencermati, dan
mendiskusikan tema tersebut, sementara aku mendengarkannya.
Demikianlah,
hubungan langsung antara guru dan murid ini membuahkan pengaruh-pengaruh yang
paling indah. Alangkah baiknya jika para pengajar dan pendidik menyadari hal
itu, lalu bersandar serta mencurahkan perhatian kepadanya, karena di
dalamnya—insya Allah—terdapat kebaikan yang banyak.
Di madrasah
yang penuh berkah inilah, terlewati satu fase dari fase-fase umurku, yaitu
antara usia delapan hingga dua belas tahun.
MENUJU
MADRASAH I’DADIYAH (MENENGAH)
Setelah
itu, guru kami disibukkan dari mengurus madrasahnya. Beliau menyerahkan
pengelolaannya kepada para asisten ('urafa') yang tidak memiliki ruhnya
yang terang, ilmunya yang luas, adabnya yang tinggi, serta akhlaknya yang
memikat. Maka jiwa remaja ini, yang telah mencicipi manisnya karakter-karakter
tersebut, tidak betah untuk bersabar mendampingi mereka. Meskipun saat itu ia
belum menyempurnakan hafalan Al-Qur'annya, dan belum mewujudkan keinginan kuat
ayahnya yang sangat ingin melihatnya menjadi seorang hafiz kitab Allah.
Hafalannya saat itu belum melewati Surah Al-Isra' jika dimulai dari Surah
Al-Baqarah—yaitu sekitar setengah dari seluruh isi Al-Qur'an. Secara tiba-tiba,
ia berterus terang kepada ayahnya dengan tekad yang bulat dan mengherankan,
bahwa ia tidak sanggup lagi untuk terus bertahan di Maktab-Maktab ini, dan ia
harus pergi ke Madrasah I'dadiyah.
Madrasah
I'dadiyah pada masa itu setingkat dengan Madrasah Ibtidaiyah (Dasar) pada hari
ini, namun tanpa pelajaran bahasa asing, dan dengan menambahkan beberapa materi
hukum agraria dan keuangan, serta sebagian ilmu perkebunan, di samping
perluasan dalam mempelajari ilmu-ilmu bahasa nasional (bahasa Arab) dan agama.
Ayah,
yang sangat menginginkan anaknya menghafal kitab Allah, sempat menentang
keinginan ini. Namun, beliau akhirnya menyetujuinya setelah sang anak
berkomitmen kepadanya bahwa ia "akan menyempurnakan hafalan Al-Qur'an
al-Karim dari rumahnya".
Belum
tiba awal pekan, anak tersebut telah resmi menjadi murid di Madrasah I'dadiyah.
Ia membagi waktunya antara belajar di siang hari, dan mempelajari keterampilan
menyervis jam—yang sangat ia gemari—setelah pulang madrasah hingga waktu salat
Isya. Ia mengulang pelajaran-pelajaran madrasahnya setelah itu hingga waktu
tidur, dan menghafal bagian setoran Al-Qur'annya setelah salat Subuh sampai ia
berangkat ke madrasah.
PERKUMPULAN
AKHLAK ADABIYAH
Di
antara guru-guru di madrasah ini adalah Muhammad Efendi Abdul Khaliq—semoga
Allah merahmatinya. Beliau adalah guru hitung dan matematika, namun beliau
adalah seorang yang memiliki akhlak dan keutamaan. Beliau mengusulkan kepada
para murid kelas tiga untuk mendirikan sebuah perkumpulan madrasah di antara
mereka yang dinamakan "Perkumpulan Akhlak Adabiyah" (Jam'iyyat
al-Akhlaq al-Adabiyah). Beliau sendiri yang menyusun anggaran dasarnya,
menempatkan dirinya sebagai pembina perkumpulan, serta mengarahkan para murid
untuk memilih dewan pengurusnya.
Anggaran
rumah tangganya secara ringkas menetapkan bahwa: barang siapa yang mencaci
saudaranya [temannya] dikenakan denda satu milim (mata uang terkecil mesir).
Barang siapa yang mencaci ayah dikenakan denda dua milim. Barang siapa yang
mencaci ibu dikenakan denda satu qirsy (sen mesir). Barang siapa yang mencaci
agama dikenakan denda dua qirsy. Dan barang siapa yang bertengkar dengan orang
lain dikenakan denda yang serupa.
Hukuman
denda ini dilipatgandakan bagi para anggota dewan pengurus dan ketuanya. Barang
siapa yang enggan mengeksekusi hukuman, maka rekan-rekannya akan mengucilkannya
sampai ia melaksanakannya. Uang yang terkumpul dari denda-denda ini akan
dinafkahkan untuk berbagai bentuk kebajikan dan kebaikan. Seluruh anggota wajib
untuk saling berwasiat di antara mereka dalam memegang teguh agama, mendirikan
salat pada waktunya, serta menjaga ketaatan kepada Allah, kedua orang tua, dan
orang-orang yang lebih tua usia maupun kedudukannya.
Kekayaan
[ilmu dan mental] yang didapat dari Madrasah Agama Ar-Rasyad menjadi sebab bagi
remaja ini untuk tampil lebih maju daripada rekan-rekan sesamanya, dan
pandangan mereka pun tertuju kepadanya. Hingga ketika tiba saatnya untuk
memilih dewan pengurus Perkumpulan Akhlak Adabiyah, pilihan mereka jatuh kepadanya
untuk menjadi ketua dewan pengurus ini.
Perkumpulan
tersebut pun menjalankan tugasnya, menyidang banyak orang atas pelanggaran yang
mereka lakukan, dan berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang lumayan dari
denda-denda tersebut. Sebagian uang itu digunakan untuk memberikan penghormatan
kepada rekan sesama murid, Labib Iskandar, saudara dari dokter kesehatan yang
dipindahtugaskan ke kota lain sehingga saudaranya pun ikut pindah bersamanya.
Sedangkan sebagian lainnya digunakan untuk mengurus jenazah seorang asing yang
tenggelam, yang dihanyutkan oleh Sungai Nil hingga ke dekat pagar madrasah.
Perkumpulan pun melakukan pengurusan jenazah tersebut menggunakan dana kas ini.
Tidak
diragukan lagi bahwa perkumpulan semacam ini memberikan hasil dalam hal
pembentukan akhlak yang lebih banyak daripada apa yang dihasilkan oleh dua
puluh pelajaran teori. Sudah semestinya madrasah-madrasah dan lembaga
pendidikan mencurahkan perhatian yang sebesar-besarnya terhadap
perkumpulan-perkumpulan seperti ini.
DI
TEPI SUNGAI NIL
Aku
ingat bahwa di antara dampak perkumpulan ini di dalam jiwa para anggotanya yang
masih belia adalah ketika pada suatu hari aku berjalan di tepi Sungai Nil, di
mana terdapat banyak pekerja yang sibuk membangun kapal-kapal layar. Industri
ini memang berkembang pesat di Mahmudiyah, Provinsi Al-Buhairah. Aku
memperhatikan salah seorang pemilik kapal yang sedang dibangun itu telah
menggantungkan sebuah patung kayu telanjang pada tiang layarnya dengan bentuk
yang bertentangan dengan kesopanan. Terlebih lagi karena bagian tepi sungai ini
sering dilewati oleh para wanita dan gadis-gadis untuk mengambil air.
Maka
apa yang kulihat itu membuatku terguncang. Aku segera pergi menemui perwira pos
polisi setempat—saat itu Mahmudiyah belum menjadi pusat administrasi resmi—dan
menceritakan kepadanya kisah tersebut seraya mengingkari pemandangan itu.
Perwira
tersebut sangat menghargai sikap cemburu terhadap agama (ghirah) ini. Ia
segera bangkit bersamaku menuju lokasi, di mana ia mengancam pemilik kapal dan
memerintahkannya untuk menurunkan patung tersebut seketika itu juga, dan hal
itu pun terlaksana. Tidak cukup sampai di situ, ia bahkan datang ke madrasah
keesokan harinya dan mengabarkan berita tersebut kepada kepala madrasah dengan
penuh kekaguman dan kegembiraan.
Kepala
madrasah saat itu adalah seorang pendidik yang mulia, Ustaz Mahmud Rusydi—yang
kini termasuk salah satu pejabat senior di Kementerian Pendidikan. Beliau pun
turut gembira dan mengumumkan peristiwa tersebut kepada seluruh murid dalam
apel pagi, seraya memotivasi mereka untuk memberikan nasihat kepada manusia dan
berupaya mengingkari kemungkaran di mana pun berada.
Tampaknya
perhatian terhadap urusan-urusan semacam ini kini telah memudar—sangat
disayangkan—baik di kalangan para kepala madrasah maupun para perwira polisi
secara bersamaan.
DI
MASJID KECIL
Banyak
murid madrasah ini yang membiasakan diri untuk mendirikan salat di "Masjid
Kecil", yaitu sebuah masjid yang bersebelahan dengan madrasah, khususnya
salat Zuhur saat mereka memiliki waktu luang setelah makan siang.
Di
antara kisah unik yang kuingat adalah bahwa imam masjid swadaya masyarakat (masjid
ahli) ini, yaitu Syekh Muhammad Said—semoga Allah merahmatinya—pada suatu
hari melintas dan melihat seorang muazin sedang mengumandangkan azan, jemaah
sedang didirikan, seorang imam maju ke depan, dan sejumlah besar murid—mencapai
tiga atau empat saf—sedang melaksanakan salat. Beliau merasa khawatir akan
terjadinya pemborosan air dan cepat rusaknya tikar masjid. Beliau menunggu
sampai para jemaah menyelesaikan salat mereka, lalu beliau bertindak
membubarkan mereka dengan paksa sembari mengancam, memperingatkan, dan
menakut-nakuti. Di antara para murid ada yang patuh lalu kabur, namun ada pula
yang bertahan dan teguh.
Bisikan
kekanak-kanakan mengilhamiku bahwa aku harus membalas perbuatannya. Maka aku
menulis sebuah surat kepadanya yang tidak berisi apa pun selain ayat ini:
"Janganlah
kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari,
sedangkan mereka mengharapkan keridaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab
sedikit pun atas hitungan (amal) mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung
jawab sedikit pun atas hitungan (amalmu). Jika kamu mengusir mereka, kamu
termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-An'am: 52)
Hanya
itu, tidak ada yang lain. Aku mengirimkannya kepadanya melalui pos dengan
sistem bayar di tempat (mughram). Aku menganggap bahwa denda satu qirsy
saqh sudah cukup sebagai bentuk pembalasan ini.
Beliau—semoga
Allah merahmatinya—mengetahui dari siapa hantaman ini berasal. Beliau menemui
ayahku untuk mengadu dan menyampaikan keberatan. Ayah pun menasihatinya agar
memperlakukan para murid dengan baik. Setelah peristiwa itu, beliau memiliki
sikap-sikap yang baik bersama kami dan memperlakukan kami dengan perlakuan yang
santun. Beliau memberikan syarat kepada kami agar kami memenuhi bak penampungan
air masjid sebelum kami pulang, serta membantunya mengumpulkan sumbangan untuk
membeli tikar jika tikar yang ada telah rusak, dan kami pun memenuhi apa yang
beliau syaratkan.
PERKUMPULAN
PENCEGAHAN HAL-HAL YANG HARAM
Seolah-olah
aktivitas internal madrasah ini belum memuaskan hasrat para remaja tersebut
untuk bekerja melakukan perbaikan umum. Maka berkumpullah beberapa orang dari
mereka.
Di
antara mereka adalah Ustaz Muhammad Ali Budair (yang kini menjadi pengajar di
Kementerian Pendidikan), Ustaz Abdul Rahman As-Sa'ati (yang kini menjadi
pegawai kereta api), dan Ustaz Said Budair (yang kini menjadi seorang
insinyur).
Mereka
memutuskan untuk membentuk sebuah perkumpulan Islam dengan nama "Perkumpulan
Pencegahan Hal-Hal yang Haram" (Jam'iyyat Man' al-Muharramat).
Iuran anggota di dalamnya berkisar antara lima hingga sepuluh milim setiap
pekannya, dan tugas-tugas organisasi didistribusikan kepada para anggotanya.
Sebagian
anggota bertugas menyiapkan teks-teks dan draf surat. Anggota lainnya bertugas
menyalin surat-surat ini dengan tinta tebal (al-hibr az-zafar). Anggota
ketiga bertugas mencetaknya, sedangkan sisanya bertugas mendistribusikannya
kepada para penerimanya.
Penerimanya
adalah orang-orang yang kabarnya sampai ke perkumpulan bahwa mereka telah
melakukan sebagian dosa atau tidak mendirikan ibadah dengan semestinya,
terutama ibadah salat. Barang siapa yang kedapatan berbuka di bulan Ramadan dan
dilihat oleh salah seorang anggota, maka dilaporkanlah ia, lalu dikirimkan
kepadanya sebuah surat yang berisi larangan keras atas kemungkaran ini. Barang
siapa yang lalai dalam salatnya, tidak khusyuk, dan tidak tumakninah di
dalamnya, maka surat serupa akan sampai kepadanya. Barang siapa yang berhias
dengan emas, akan sampai kepadanya surat larangan yang menjelaskan hukum
berhias dengan emas menurut syariat. Wanita mana saja yang disaksikan oleh
salah seorang anggota sedang menampar-nampar wajahnya dalam suatu perkabungan
[meratap/niyahah] atau menyeru dengan seruan jahiliah, maka suami atau walinya
akan menerima surat. Demikianlah, tidak ada seorang pun, baik kecil maupun
besar, yang diketahui melakukan suatu perbuatan dosa melainkan akan sampai
kepadanya surat dari perkumpulan yang melarangnya dengan keras dari apa yang
dilakukannya.
Sangat
mudah bagi para anggota—karena usia mereka yang masih belia, tidak menarik
perhatian orang, tidak dicurigai, maupun diwaspadai—untuk mengetahui segala
sesuatu.
Masyarakat
sempat mengira bahwa ini adalah tindakan guru kami, Syekh Zahran—semoga Allah
merahmatinya. Mereka menemuinya dan mencelanya dengan celaan yang keras, serta
memintanya agar berbicara langsung kepada mereka mengenai apa yang beliau
inginkan, alih-alih menggunakan tulisan seperti ini. Sang syekh pun berlepas
diri dari tuduhan itu dan membela dirinya, namun mereka hampir tidak
mempercayainya.
Hingga
pada suatu hari, sampailah surat dari perkumpulan kepada beliau yang menarik
perhatiannya bahwa: beliau telah melaksanakan salat fardu Zuhur di antara
tiang-tiang masjid—dan perbuatan itu makruh hukumnya—padahal beliau adalah
ulama di kota ini. Maka wajib baginya untuk menjauhi perkara-perkara yang
makruh agar orang awam menjauhi perkara-perkara yang haram.
Aku
ingat bahwa Syekh—semoga Allah merahmatinya—memanggilku saat itu. Hubunganku
dengan beliau memang terus berlanjut dalam pelajaran-pelajaran umum, meskipun
aku telah meninggalkan madrasah maupun perpustakaannya. Beliau mengajakku untuk
meneliti bersama hukum masalah ini di dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih
al-Bukhari. Aku masih mengingat peristiwa itu seolah baru terjadi hari ini.
Aku membacakannya untuk beliau sambil tersenyum, sementara beliau
bertanya-tanya tentang siapakah orang-orang yang menulis surat untuknya ini.
Beliau pun mendapati bahwa kebenaran berada di pihak mereka [para murid]. Hal
itu kemudian kusampaikan kepada para anggota perkumpulan, dan rasa gembira
mereka pun sangat besar karenanya.
Perkumpulan
ini terus menjalankan tugasnya selama lebih dari enam bulan, dan menjadi pemicu
rasa heran serta ketakjuban masyarakat.
Hingga
akhirnya urusan perkumpulan ini terbongkar di tangan seorang pemilik kedai kopi
yang mengundang seorang penari wanita, lalu ia menerima surat dari perkumpulan.
Surat-surat tersebut memang tidak dikirimkan melalui pos demi menghemat biaya
nafkah, melainkan dibawa oleh salah seorang anggota dan diletakkan di tempat
yang dapat menarik perhatian pemiliknya, sehingga ia mengambilnya tanpa melihat
siapa yang membawanya.
Akan
tetapi, sang pemilik kedai (al-mu'allim) rupanya waspada. Ia merasakan
pergerakan sang pembawa surat, lalu menangkapnya beserta surat yang dibawanya,
kemudian mencelanya dengan celaan yang keras di hadapan orang-orang yang ada di
kedai kopi tersebut.
Melalui
jalan inilah perkumpulan akhirnya diketahui. Para anggotanya berpendapat untuk
mengurangi aktivitas mereka dan bekerja dengan metode lain dalam mencegah
hal-hal yang haram.
MENUJU
MADRASAH GURU TINGKAT DASAR DI DAMANHUR
Murid
ini [Hasan Al-Banna] telah menepati janjinya. Ia terus melanjutkan hafalan
Al-QUR'AN yang dahulunya ia bawa dari Madrasah Ar-Rasyad, dan menambahkan
seperempat bagian lagi hingga sampai ke Surah Yasin.
Kemudian
Dewan Daerah Al-Buhairah memutuskan untuk menghapus sistem Madrasah I'dadiyah
dan mengubahnya menjadi Madrasah Ibtidaiyah. Maka tidak ada pilihan lagi bagi
sang murid melainkan memilih antara mendaftar ke Lembaga Agama (Al-Ma'had
ad-Dini) di Aleksandria untuk menjadi seorang Azhari [santri Al-Azhar],
atau ke Madrasah Guru Tingkat Dasar (Madrasat al-Mu'allimin al-Awwaliyah)
di Damanhur untuk menempuh jalan pintas agar dapat menjadi guru setelah tiga
tahun.
Pada
akhirnya, pilihan kedua inilah yang lebih kuat. Ketika tiba waktu pengajuan
berkas, ia pun mendaftarkan dirinya. Akan tetapi, ia dihadapkan pada dua
kendala: kendala usia, sebab ia masih berada di pertengahan usia empat belas
tahun, sedangkan usia minimal penerimaan adalah empat belas tahun penuh.
Kendala kedua adalah penyempurnaan hafalan Al-Qur'an al-Karim, karena hal itu
merupakan syarat diterimanya seseorang dan harus menempuh ujian lisan dalam
hafalan Al-Qur'an.
Kepala
madrasah saat itu adalah Ustaz Basyir Ad-Dasuqi Musa—yang kini telah pensiun.
Beliau adalah seorang yang mulia lagi ramah. Beliau bersikap lemah lembut
kepada sang murid dan melonggarkan syarat usia, serta menerima surat pernyataan
komitmen dari sang murid untuk menghafal sisa seperempat Al-Qur'an yang belum
dihafalnya. Beliau mengizinkannya untuk menempuh ujian tertulis maupun lisan,
dan ia berhasil melaluinya dengan sukses. Sejak saat itulah, ia resmi menjadi
murid di Madrasah Guru Tingkat Dasar di Damanhur.
TAREKAT
HASAFIYAH
Di
"Masjid Kecil", aku melihat "Ikhwan Hasafiyah" [para
pengikut Tarekat Hasafiyah] berzikir kepada Allah Ta'ala setiap malam setelah
salat Isya. Aku sendiri adalah seorang yang tekun menghadiri pelajaran Syekh
Zahran—semoga Allah merahmatinya—di antara waktu Magrib dan Isya.
Maka
halaqah zikir itu menarik hatiku dengan suara-suaranya yang teratur, lantunan
nasyidnya yang indah, ruhaninya yang melimpah, serta kelapangan dada para ahli
zikir tersebut yang terdiri dari para syekh yang utama dan pemuda-pemuda yang
saleh. Serta sikap tawaduk mereka kepada anak-anak kecil seperti kami yang
menyusup ke dalam majelis mereka demi ikut serta berzikir kepada Allah Tabaraka
wa Ta'ala. Maka aku pun mendisiplinkan diri untuk menghadirinya juga.
Hubungan
antara diriku dan para pemuda Ikhwan Hasafiyah ini semakin kuat. Di antara
mereka ada tiga orang pemuka: Syekh Shalabi Ar-Rijal, Syekh Muhammad Abu
Syusyah, dan Syekh Sayyid Utsman. Serta para pemuda saleh yang usianya paling
dekat dengan usia kami: Muhammad Efendi Ad-Dimyathi, Sawi Efendi As-Sawi, Abdul
Muta'al Efendi Sunkal, dan yang sepadan dengan mereka.
Di
gelanggang yang penuh berkah inilah, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan
Ustaz Ahmad As-Sukkari—yang kelak menjadi Wakil Ikhwanul Muslimin. Pertemuan
ini memiliki pengaruh yang sangat mendalam dalam kehidupan masing-masing dari
kami.
Sejak
saat itu, nama Syekh Al-Hasafi mulai sering terdengar di telinga, hingga
memberikan kesan yang paling agung di lubuk hati. Rasa rindu dan hasrat untuk
melihat sang Syekh, duduk bersamanya, serta mengambil ilmu darinya terus
diperbarui dari waktu ke waktu. Aku mulai merutinkan membaca wazhifah
[wirid/bacaan zikir rutin] ruhani pada pagi dan sore hari.
Kekagumanku
terhadap wirid ini semakin bertambah karena ayahku telah memberikan ulasan (ta'liq)
yang bagus atasnya, yang di dalamnya beliau menyertakan dalil-dalil yang
seluruhnya bersumber dari hadis-hadis sahih. Beliau menamakan risalah tersebut:
"Tanwir al-Af'idah az-Zakiyah bi Adillat Adzkar ar-Ruzuqiyah".
Wirid ini tidak lebih dari ayat-ayat Al-Qur'an al-Karim dan hadis-hadis berupa
doa pagi dan sore yang terdapat dalam kitab-kitab sunnah. Di dalamnya tidak ada
satu pun lafal asing ('ajamiyah), susunan filosofis, maupun
ungkapan-ungkapan yang lebih dekat pada syathahat [ucapan ganjil/esoteris kaum
sufi yang melantur] daripada sebuah doa.
Di
tengah masa-masa ini, jatuhlah ke tanganku sebuah kitab berjudul "Al-Manhal
As-Safi fi Manaqib Hasanain Al-Hasafi". Beliau adalah syekh tarekat
yang pertama—dan merupakan ayah dari syekh tarekat yang sekarang, seorang tuan
yang mulia, Syekh Abdul Wahab Al-Hasafi, semoga Allah memperpanjang usianya dan
memberikan manfaat dengannya. Beliau [Syekh Hasanain] telah wafat dan aku belum
sempat melihatnya, di mana wafatnya terjadi pada hari Kamis, 17 Jumadil Akhir
1328 Hijriah. Saat itu aku masih berusia empat tahun, sehingga aku tidak sempat
berkumpul dengannya meskipun beliau sering berkunjung ke kota kami.
Aku
membaca kitab tersebut dengan penuh antusias. Dari sana aku mengetahui
bagaimana Tuan Hasanain—semoga Allah merahmatinya—dahulunya adalah seorang
ulama Azhari [lulusan Al-Azhar] yang mendalami fikih berdasarkan mazhab Imam
Syafi'i, mempelajari ilmu-ilmu agama dengan keluasan yang mendalam, serta
menguasainya dengan matang. Setelah itu, beliau mengambil thariqah [tasawuf]
dari banyak syekh pada zamannya. Beliau bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam
ibadah, zikir, serta merutinkan ketaatan, hingga beliau menunaikan ibadah haji
lebih dari sekali dan melakukan umrah berkali-kali pada setiap hajinya.
Rekan-rekan
dan sahabat-sahabatnya sering kali mengatakan: "Kami tidak pernah
melihat orang yang lebih kuat dalam menaati Allah, menunaikan perkara fardu,
serta menjaga sunnah dan nawafil [ibadah sunnah] melebihi beliau—semoga Allah
merahmatinya—bahkan di hari-hari terakhir kehidupannya ketika usianya telah tua
dan melewati enam puluh tahun."
Kemudian
beliau mulai berdakwah di jalan Allah dengan metode para ahli thariqah, namun
dalam bentuk yang penuh pencerahan dan cahaya, serta di atas kaidah-kaidah yang
selamat lagi lurus. Dakwah beliau dibangun di atas fondasi ilmu dan pengajaran,
fikih, ibadah, ketaatan, dan zikir. Serta memerangi bid'ah maupun khurafat yang
tersebar di kalangan para pengikut tarekat-tarekat ini, membela Al-Kitab dan
As-Sunnah dalam kondisi bagaimanapun, membentengi diri dari takwil-takwil yang
rusak serta syathahat yang membahayakan, serta beramar makruf nahi munkar dan
memberikan nasihat dalam setiap keadaan. Hingga beliau mengubah banyak kondisi
yang beliau yakini menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, yang dahulunya sempat
dipraktikkan oleh guru-gurunya sendiri.
Dan
di antara hal yang paling memikat hati dan menguasai akal pikiranku dari
perjalanan hidup beliau—semoga Allah meridainya—adalah ketegasannya dalam
menjalankan amar makruf nahi munkar. Beliau sama sekali tidak pernah takut
terhadap celaan orang yang mencela dalam urusan tersebut, dan tidak pernah
meninggalkan perintah maupun nasihat, bagaimanapun kondisinya, bahkan di
hadapan orang terpandang atau pembesar sekalipun.
Di
antara contoh mengenai hal itu adalah ketika beliau mengunjungi Riad Pasha saat
menjabat sebagai Perdana Menteri. Kala itu, masuklah seorang ulama yang
kemudian mengucapkan salam kepada Pasha seraya membungkukkan badan hingga
hampir mendekati posisi rukuk. Sontak Syekh bangkit dalam kondisi marah, lalu
menampar kedua pipi ulama tersebut dengan telapak tangannya dan menghardiknya
dengan keras seraya berkata: "Tegakkan badanmu, wahai lelaki! Sesungguhnya
rukuk itu tidak diperbolehkan kecuali hanya kepada Allah. Janganlah kalian
menghinakan agama dan ilmu, karena jika demikian, Allah akan menghinakan
kalian!".
Baik
ulama tersebut maupun sang Pasha tidak mampu menuntut atau menghukum beliau
atas tindakan itu sedikit pun.
Pada
kesempatan lain, masuklah salah seorang Pasha dari kalangan sahabat Riad Pasha,
sedangkan di jarinya melingkar sebuah cincin emas dan di tangannya terdapat
tongkat yang bagian pegangannya juga terbuat dari emas. Syekh segera menoleh ke
arahnya dan berkata: "Wahai Tuan, sesungguhnya penggunaan emas sebagai
perhiasan seperti ini diharamkan bagi laki-laki dan dihalalkan bagi wanita.
Maka berikanlah kedua benda ini kepada sebagian wanitamu, dan janganlah engkau
menyelisihi perintah Rasulullah ﷺ!". Lelaki itu hendak menyanggah, namun Riad Pasha segera
menengahi dan memperkenalkan mereka satu sama lain, sementara Syekh tetap
bersikeras bahwa pegangan tongkat dan cincin tersebut harus dilepas secara
bersamaan agar kemungkaran ini dapat lenyap.
Beliau
juga pernah menemui Khedive Taufiq Pasha bersama para ulama dalam suatu
pertemuan resmi. Beliau mengucapkan salam kepada Khedive dengan suara yang
terdengar jelas, namun Khedive hanya membalasnya dengan isyarat tangan. Maka
dengan penuh ketegasan dan ketetapan hati, beliau berkata kepada Khedive:
"Membalas salam itu harus dengan yang sepadan atau yang lebih baik
darinya. Maka katakanlah: 'Wa 'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh',
karena menjawab salam dengan isyarat saja tidak diperbolehkan.". Khedive
pun tidak memiliki pilihan lain kecuali membalasnya dengan ucapan lisan, lalu
memuji sikap serta keteguhan beliau dalam memegang teguh agamanya.
Pernah
juga beliau mengunjungi salah seorang muridnya yang bekerja sebagai pegawai di
sebuah kantor dinas agraria. Beliau melihat beberapa patung dari gips di atas
meja kerjanya, lalu bertanya: "Apa ini, wahai Fulan?". Pegawai itu
menjawab: "Ini adalah patung-patung yang kami butuhkan dalam pekerjaan
kami.". Beliau menegaskan: "Sesungguhnya hal itu haram!". Beliau
langsung memegang patung tersebut dan mematahkan bagian lehernya. Tepat pada
saat itu, seorang inspektur berkebangsaan Inggris masuk dan menyaksikan
pemandangan tersebut, lalu mendebat Syekh atas apa yang telah dilakukannya.
Syekh
memberikan jawaban yang sangat baik kepada inspektur tersebut dan memahamkannya
bahwa Islam datang demi menegakkan tauhid yang murni, serta guna mengikis habis
setiap bentuk perwujudan paganisme dalam rupa apa pun. Oleh karena itu, Islam
mengharamkan patung agar keberadaannya tidak menjadi wasilah (sarana) menuju
penyembahan terhadapnya. Beliau menjabarkan makna ini dengan sangat luas
sehingga membuat kagum sang inspektur yang awalnya mengira bahwa di dalam Islam
terdapat sisa-sisa noda paganisme. Inspektur itu pun akhirnya menerima argumen
Syekh dan melontarkan pujian kepada beliau.
Beliau
juga pernah mengunjungi Masjid Sayyidina Al-Husain —semoga Allah meridainya—
bersama sebagian muridnya, lalu berdiri di dekat makam seraya memanjatkan doa
yang ma'tsur [doa yang bersumber dari dalil agama]:
السَّلَامُ عَلَى
أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
"Kesejahteraan semoga tercurah atas para penghuni kubur dari kalangan
orang-orang mukmin." (HR. Muslim) [Redaksi lengkap doa ziarah kubur
ini bersumber dari hadis sahih riwayat Imam Muslim (No. 974) dari jalur
Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Istilah ma'tsur merujuk pada
doa-doa yang teks dan lafalnya valid berasal dari Al-Qur'an atau As-Sunnah,
sehingga terjaga dari unsur penyimpangan makna. Kaum sufi yang lurus seperti
Syekh Hasanain Al-Hasafi sangat menekankan penggunaan doa ma'tsur ini
untuk mengikis tradisi doa bid'ah di sekitar area pekuburan.].
Tiba-tiba
salah seorang murid berkata kepada beliau: "Wahai Guru kami, mintalah
kepada Sayyidina Al-Husain agar ia rida kepadaku.". Beliau menoleh
kepadanya dengan wajah marah lalu berseru: "Yang rida kepada kita,
kepadamu, dan kepadanya adalah Allah!". Setelah menyelesaikan ziarah
tersebut, beliau menerangkan kepada murid-muridnya tentang hukum-hukum ziarah
kubur, serta memperjelas perbedaan antara ziarah yang bersifat bid'ah dengan
ziarah yang disyariatkan.
Ayahku
bercerita kepadaku bahwa beliau pernah berkumpul bersama Syekh —semoga Allah
merahmatinya— di rumah seorang tokoh terpandang di Mahmudiyah bernama Hasan Bek
Abu Sayyid Hasan —semoga Allah merahmatinya— beserta beberapa jemaah. Tiba-tiba
masuklah seorang pelayan wanita yang sudah menginjak usia dewasa untuk
menyuguhkan kopi, sedangkan kedua lengan dan kepalanya dalam kondisi terbuka.
Syekh memandang pelayan tersebut dengan marah, lalu memerintahkannya dengan
nada tegas agar pergi menutup diri. Beliau enggan meminum kopi tersebut dan
memberikan pelajaran yang menyentuh hati kepada pemilik rumah mengenai
kewajiban menjaga kesopanan serta kesantunan para wanita meskipun status mereka
adalah pelayan, serta larangan menampakkan aurat mereka di hadapan laki-laki
asing yang bukan mahram.
Sikap
beliau —semoga Allah merahmatinya— dalam urusan semacam ini sangatlah banyak
dan mendalam, dan begitulah karakter beliau yang selalu konsisten.
Sisi
kehidupan inilah yang telah memicu rasa kagum dan penghormatan yang paling
besar di dalam jiwaku. Padahal, para jemaah tarekat lainnya lebih sering
menceritakan tentang karamah-karamah fisik yang dimiliki Syekh. Namun, aku
tidak mendapati karamah fisik tersebut memiliki pengaruh yang besar di hatiku
jika dibandingkan dengan pengaruh dari sisi praktis operasional ini. Aku
meyakini bahwa karamah paling agung yang dianugerahkan Allah kepada beliau
adalah taufik untuk menyebarkan dakwah Islam di atas fondasi yang selamat,
serta langkah nyata dalam menjaga batasan-batasan Allah Tabaraka wa Ta'ala,
beserta penegakan amar makruf nahi munkar.
Semua
peristiwa itu terjadi sedangkan usiaku belum melewati dua belas tahun.
Rasa
keterikatanku kepada Syekh yang mulia ini —semoga Allah merahmatinya— semakin
bertambah kuat karena pada masa-masa itu, tepat setelah aku mengulang-ulang
membaca kitab Al-Manhal, aku melihat di dalam tidurku (bermimpi)
seolah-olah aku pergi ke pemakaman kota. Di sana aku melihat sebuah kuburan
besar yang berguncang dan bergerak. Guncangan dan gejolaknya semakin menghebat
hingga kuburan tersebut terbelah, lalu keluarlah kobaran api yang membubung
tinggi hingga ke pelataran langit. Kobaran api itu mewujud menjadi seorang
lelaki dengan tinggi badan dan rupa yang sangat mengerikan.
Manusia
pun berkerumun mengelilinginya dari segala tempat. Lelaki itu berteriak di
hadapan mereka dengan suara yang jelas lagi lantang seraya berkata kepada
mereka: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghalalkan
bagi kalian apa yang sebelumnya diharamkan atas kalian, maka perbuatlah sesuka
hati kalian!".
Maka
aku langsung tampil dari tengah-tengah kerumunan massa tersebut, lalu berteriak
tepat di hadapan wajahnya: "Engkau berdusta!". Aku menoleh kepada
khalayak ramai dan berseru kepada mereka: "Wahai manusia, ini adalah Iblis
yang terlaknat! Ia datang untuk memfitnah kalian agar keluar dari agama kalian
dan membisikkan waswas kepada kalian, maka janganlah kalian mendengarkan
ucapannya dan janganlah menyimak perkataannya!". Makhluk itu marah lalu
berkata: "Kita harus beradu lari di hadapan manusia ini. Jika engkau
berhasil mendahuluiku dan kembali kepada mereka tanpa aku bisa menangkapmu,
berarti engkau adalah orang yang benar.".
Aku
menerima syaratnya, lalu aku berlari di depannya dengan segenap kecepatanku.
Namun, apalah arti langkah kecilku jika dibandingkan dengan langkah raksasanya?
Tepat sebelum ia berhasil menangkapku, tiba-tiba Syekh —semoga Allah
merahmatinya— muncul dari jalan yang memotong, lalu menyambutku di dadanya,
mendekapku dengan tangan kirinya, dan mengangkat tangan kanannya seraya
menunjuk ke arah hantu tersebut sambil menghardik tepat di wajahnya:
"Enyahlah engkau, wahai makhluk terlaknat!". Makhluk itu pun langsung
berbalik melarikan diri hingga lenyap seketika. Setelah itu, Syekh pergi, dan
aku kembali menemui manusia lalu berkata kepada mereka: "Apakah kalian
telah melihat bagaimana makhluk terlaknat ini menyesatkan kalian dari perintah-perintah
Allah?".
Aku
pun terbangun dari tidur dalam kondisi dipenuhi rasa rindu, penghormatan, serta
penantian atas kedatangan Sayyid Abdul Wahab Al-Hasafi, putra dari sang Syekh
—semoga Allah merahmatinya— agar aku dapat melihatnya dan mengambil tarekat
darinya. Akan tetapi, beliau belum kunjung datang pada masa tersebut.
Pembahasan
tentang pemakaman ini mengingatkanku pada jasa dari saudara kita fillah, Syekh
Muhammad Abu Syusyah, seorang pedagang di Mahmudiyah, dalam memberikan
pendidikan ruhani kepada kami. Beliau dahulu sering mengumpulkan kami yang
berjumlah sekitar sepuluh orang atau mendekatinya, lalu mengajak kami pergi ke
pemakaman untuk berziarah kubur. Kami duduk di Masjid Syekh An-Nujaili untuk
membaca wazhifah (wirid rutin). Setelah itu, beliau menceritakan kepada
kami kisah-kisah orang saleh beserta perihal kehidupan mereka yang dapat
melembutkan hati dan mengalirkan air mata.
Selanjutnya
beliau memperlihatkan kepada kami liang-liang kubur yang terbuka, seraya
mengingatkan kami tentang tempat kembali kami ke sana, tentang kegelapan kubur
beserta kehangkerannya. Beliau menangis dan kami pun ikut menangis bersamanya.
Di sanalah kami memperbarui tobat dalam kondisi khusyuk, penuh keharuan,
kehadiran hati yang luar biasa, penyesalan, serta tekad yang kuat.
Sering
kali setelah itu, beliau mengikatkan seutas gelang dari benang tali yang tebal
(al-dubarah) di sekeliling pergelangan tangan masing-masing dari kami
sebagai pengingat tobat. Beliau berwasiat kepada kami bahwa apabila salah
seorang dari kami dibisiki oleh jiwanya untuk melakukan maksiat atau dikalahkan
oleh setan, maka hendaklah ia memegang gelang benang ini , lalu mengingat bahwa
ia telah bertobat kepada Allah dan telah berjanji kepada-Nya untuk senantiasa
menaati-Nya serta meninggalkan maksiat kepada-Nya. Kami pun memetik manfaat
yang sangat banyak dari nasihat ini, semoga Allah membalas kebaikan beliau atas
kami.
MEMASUKI
TAREKAT SECARA RESMI
Hati
ini terus terpikat kepada Syekh —semoga Allah merahmatinya— hingga akhirnya aku
mendaftarkan diri di Madrasah Guru Tingkat Dasar di Damanhur. Di kota itulah
terdapat tempat pemakaman Syekh, kuburannya, serta fondasi masjidnya yang belum
sempurna pada masa itu, namun baru disempurnakan setelahnya. Aku rutin
menghadiri majelis hadhrah (zikir berjemaah) di Masjid At-Taubah pada
setiap malam.
Aku
mencari tahu tentang siapa muqaddam (pemimpin/perwakilan) para jemaah di sana,
lalu aku mengetahui bahwa beliau adalah seorang lelaki yang saleh lagi bertakwa
bernama Syekh Bayumi Al-Abdi, seorang pedagang. Aku memohon kepadanya agar
mengizinkanku mengambil janji (عهد / 'ahd) tarekat melaluinya, dan beliau pun mengizinkannya.
Beliau berjanji kepadaku bahwa beliau akan mengenalkanku kepada Sayyid Abdul
Wahab ketika beliau datang. Sampai pada masa tersebut, aku belum pernah
membaiat seorang pun dalam tarekat secara resmi, melainkan statusku barulah
sebatas pencinta (muhibb) berdasarkan istilah konseptual yang berlaku di
kalangan mereka.
Kemudian
Sayyid Abdul Wahab —semoga Allah memberikan manfaat dengannya— datang ke
Damanhur, dan para jemaah mengabarkan berita tersebut kepadaku. Aku merasa
sangat gembira mendengar kabar ini. Aku segera menemui orang tua kami, Syekh
Bayumi, dan memohon kepadanya agar menghadapkanku kepada Syekh, lalu beliau pun
melaksanakannya. Peristiwa itu terjadi tepat setelah pelaksanaan salat Asar
pada tanggal 4 Ramadan tahun 1341 Hijriah. Jika ingatanku tidak keliru, hari
itu bertepatan dengan hari Ahad, di mana aku menerima Tarekat Hasafiyah
Syadziliyah langsung dari beliau, dan beliau mendidikku dengan tahapan-tahapan
(adwar) beserta wirid-wirid rutinnya (wazha'if).
Semoga
Allah membalas Sayyid Abdul Wahab dengan balasan yang terbaik atas kami, karena
persahabatan bersamanya telah memberikan manfaat yang paling agung kepadaku.
Sepanjang pengetahuanku, tidak ada yang kuketahui dari urusan agama maupun
tarekatnya melainkan seluruhnya adalah kebaikan. Karakter personal, metode
irsyad (bimbingan), serta perilaku beliau istimewa dengan banyak sifat mulia,
di antaranya: sikap iffah (menjaga kehormatan diri) yang sempurna dari
mengharapkan apa yang ada di tangan manusia, keseriusan dalam segala urusan,
serta kebersihan diri dari menghabiskan waktu pada perkara yang bukan ilmu,
belajar, zikir, ketaatan, atau ibadah, baik saat beliau sedang sendiri maupun
ketika bersama para jemaah dan muridnya. Beliau juga memiliki cara yang sangat
baik dalam memberikan pengarahan kepada para jemaah ini, serta mengarahkan
mereka secara praktis menuju nilai persaudaraan (ukhuwah), pemahaman
agama (fikih), dan ketaatan kepada Allah.
Di
antara metode bijak beliau dalam mendidik adalah beliau sama sekali tidak
mengizinkan para jemaah yang berstatus pelajar/terpelajar untuk memperbanyak
debat dalam urusan-urusan khilafiyah (perbedaan pendapat) atau perkara-perkara
yang bersifat syubhat (samar). Beliau juga melarang mereka mengulang-ulang
ucapan orang-orang ateis, zindik, atau para misionaris di hadapan masyarakat
awam dari kalangan jemaah tarekat. Beliau kerap berkata kepada mereka:
"Jadikanlah pembahasan ini di dalam majelis khusus kalian saja, agar
kalian dapat saling mempelajarinya di antara sesama kalian.".
"Adapun
di hadapan mereka (orang awam), maka berbicaralah dengan menggunakan
makna-makna praktis yang menyentuh hati yang dapat mengarahkan mereka menuju
ketaatan kepada Allah. Sebab, bisa jadi sebuah syubhat melekat di dalam jiwa
salah seorang dari mereka sedangkan ia tidak memahami jawabannya, sehingga
rusakkah akidahnya tanpa sebab, dan kalianlah yang menjadi penyebab atas hal
tersebut.".
Aku
teringat di antara untaian kalimatnya yang masih kuhafal hingga hari ini, yang
beliau arahkan kepadaku dan kepada sahabatku, Ustaz Ahmad As-Sukkari, dalam
sebagian majelis tersebut, yang maknanya adalah: "Sesungguhnya aku
mengamati bahwa Allah kelak akan menyatukan hati-hati manusia kepada kalian
berdua, dan akan mengumpulkan banyak orang kepada kalian. Maka ketahuilah,
bahwa Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban dari kalian mengenai
waktu-waktu orang yang berkumpul kepada kalian tersebut. Apakah kalian
memberikan manfaat kepada mereka di dalamnya sehingga mereka mendapatkan pahala
dan kalian pun mendapatkan pahala yang semisal dengannya, ataukah waktu itu
menguap sia-sia tanpa guna sehingga mereka dimintai pertanggungjawaban dan
kalian pun ikut dimintai pertanggungjawaban?".
Demikianlah
seluruh arahan beliau mengarah kepada kebaikan, dan tidak ada yang kami ketahui
tentangnya melainkan kebaikan semata.
Terjemahan
resmi Kemenag RI (QS. Yusuf: 81):
"...dan
kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan kami tidak dapat menjaga
urusan yang gaib."
Pada
masa-masa inilah, terbersit di dalam benak kami untuk mendirikan sebuah
perkumpulan perbaikan di Mahmudiyah, yang kami namakan "Perkumpulan
Kebajikan Hasafiyah" (Jam'iyyah al-Hasafiyyah al-Khairiyyah).
Terpilihlah Ahmad Efendi As-Sukkari, seorang pedagang di Mahmudiyah, sebagai
ketuanya, dan aku dipilih sebagai sekretarisnya.
Perkumpulan
tersebut menjalankan aktivitasnya dalam dua ranah penting:
- Ranah Pertama:
Menyebarkan dakwah menuju akhlak yang mulia, serta memerangi kemungkaran
dan hal-hal haram yang merebak di masyarakat, seperti khamr (minuman
keras), judi, serta bid'ah-bid'ah dalam tradisi perkabungan.
- Ranah Kedua:
Membendung gerakan misionaris (penginjilan) Inggris yang datang ke kota
dan menetap di sana. Gerakan tersebut digawangi oleh tiga orang gadis yang
dipimpin oleh seorang wanita bernama Miss White. Ia mulai menyebarkan
agama Kristen berkedok pelayanan medis, pengajaran seni bordir, serta
penampungan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Perkumpulan telah
berjuang di jalan risalahnya ini dengan perjuangan yang layak diapresiasi,
yang kelak perjuangan ini diteruskan oleh perkumpulan Ikhwanul Muslimin
setelah masa itu.
Hubungan
kami tetap terjalin dalam kondisi yang paling baik bersama syekh kami, Sayyid
Abdul Wahab, hingga akhirnya perkumpulan-perkumpulan Ikhwanul Muslimin
didirikan dan meluas. Beliau memiliki pandangan tersendiri dalam urusan ini dan
kami pun memiliki pandangan tersendiri, lalu masing-masing condong kepada
pandangannya. Walakin, kami tetap menjaga untuk Sayyid —semoga Allah
membalasnya dengan kebaikan atas kami— penghormatan paling agung yang
selayaknya dijaga oleh seorang murid yang mencintai lagi ikhlas kepada syekh
yang alim, mengamalkan ilmunya, bertakwa, serta tulus dalam memberikan nasihat
dan indah dalam memberikan bimbingan.
PANDANGAN
TENTANG TASAWUF
Barangkali
termasuk hal yang mendatangkan manfaat jika aku mencatat di dalam memoar ini
beberapa lintasan pikiran mengenai tasawuf dan tarekat-tarekat di dalam sejarah
dakwah Islam. Catatan ini akan mengulas seputar sejarah kemunculan tasawuf,
pengaruhnya, realitas yang terjadi padanya saat ini, serta bagaimana metode
agar tarekat-tarekat ini dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat Islam.
Aku
tidak akan mencoba melakukan kajian ilmiah yang mendalam (istikhra' 'ilmi)
atau menyelami makna-makna istilah konseptual yang rumit. Sebab, tulisan ini
hanyalah memoar yang ditulis secara spontan berdasarkan apa yang terlintas di
dalam pikiran serta apa yang menggerakkan perasaan. Jika tulisan ini benar maka
itu datangnya dari Allah dan bagi-Nya segala puji, namun jika tidak demikian
maka kebaikanlah yang kukehendaki, dan segala urusan dikembalikan kepada Allah,
baik sebelum maupun sesudahnya.
Ketika
wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah meluas pada awal abad pertama Hijriah,
ekspansi penaklukannya (futuhat) bertambah banyak, dan dunia mulai
mendatangi kaum muslimin dari segala penjuru tempat hingga hasil bumi dari
segala sesuatu dikumpulkan kepada mereka. Sampai-sampai khalifah mereka setelah
masa itu dapat berkata kepada gumpalan awan di pelataran langit:
"Mengalirlah ke arah timur atau ke barat, karena di mana pun airmu jatuh,
maka hasil upeti pajak bumi (kharaj)-mu akan tetap sampai
kepadanya.".
Maka
menjadi suatu hal yang tabiatnya lumrah terjadi ketika manusia mulai cenderung
pada dunia ini, menikmati kemewahannya, serta mencicipi manisnya kesenangan dan
kebaikannya, baik dalam koridor berhemat pada suatu waktu maupun dalam bentuk
berlebih-lebihan pada waktu yang lain. Di hadapan perubahan sosial ini —yaitu
perpindahan dari masa kenabian yang penuh kesahajaan dan kegemilangan menuju
fase kehidupan yang serbalunak lagi megah setelahnya — merupakan hal yang wajar
jika dari kalangan orang-orang saleh, bertakwa, ulama, dan tokoh utama bangkit
menjadi para dai berpengaruh. Mereka mengajak manusia untuk zuhud terhadap
kesenangan kehidupan dunia yang fana ini, serta mengingatkan mereka pada apa
yang kerap mereka lupakan berupa kenikmatan akhirat yang kekal abadi.
"...Sesungguhnya
negeri akhirat itulah kehidupan yang hakiki, sekiranya mereka mengetahui."
(QS. Al-'Ankabut: 64)
Di
antara orang pertama yang dikenal dengan dakwah semacam ini adalah seorang Imam
sekaligus penasihat yang agung, Al-Hasan Al-Bashri. Langkahnya kemudian diikuti
oleh banyak dai saleh yang sepadan dengannya. Maka terbentuklah satu kelompok
di tengah masyarakat yang dikenal dengan dakwah menuju zikir kepada Allah,
mengingat hari akhir , zuhud terhadap dunia, serta mendidik jiwa di atas
ketaatan dan takwa kepada-Nya.
Seiring
berjalannya waktu, hakikat-hakikat ini mengalami dinamika sebagaimana yang
terjadi pada cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya. Ia mulai mewujud dalam
bentuk disiplin ilmu yang mengatur perilaku (suluk) manusia dan
menggariskan sebuah manhaj (jalan) hidup yang khusus bagi dirinya, yang
tahapan-tahapannya diisi dengan zikir, ibadah, serta makrifatullah (mengenal
Allah), sedangkan tujuan akhirnya adalah menggapai surga dan keridaan Allah.
Bagian
dari disiplin ilmu tasawuf ini, yang dinamakan dengan "Ilmu Tarbiyah wa
As-Suluk" (Ilmu Pendidikan dan Perilaku) , tidak diragukan lagi
merupakan bagian dari inti sari dan lubuk agama Islam. Kaum sufi di bidang ini
telah mencapai suatu tingkatan dalam hal mengobati jiwa, memberikan penawar,
memberikan terapi, serta meningkatkan derajat ruhani manusia yang belum pernah
dicapai oleh para pendidik selain mereka. Tidak diragukan pula bahwa mereka
telah membawa manusia melalui metode ini menuju suatu tatanan praktis dalam hal
menunaikan perkara-perkara fardu dari Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya,
serta ketulusan dalam menghadap kepada-Nya.
Meskipun
dalam penerapannya tidak sepi dari sikap berlebih-lebihan (mubalaghah)
di berbagai waktu akibat pengaruh dari corak zaman tempat dakwah ini hidup.
Contohnya seperti sikap berlebihan dalam diam (as-shamt), melaparkan
diri (al-ju'), tidak tidur malam (as-sahar), serta mengisolasi
diri (al-'uzlah). Padahal, semua perkara tersebut sejatinya memiliki
landasan asal di dalam agama tempat ia dikembalikan:
- Sikap diam asalnya adalah
berpaling dari perkataan yang sia-sia (al-laghwu).
- Melaparkan diri asalnya
adalah ibadah sukarela berupa puasa (as-shaum).
- Tidak tidur malam asalnya
adalah ibadah salat malam (qiyamullail).
- Mengisolasi diri asalnya
adalah menahan diri dari menyakiti orang lain serta kewajiban menjaga
jiwa.
Sekiranya
penerapan praktisnya berhenti pada batasan-batasan yang telah digariskan oleh
Sang Pembuat Syariat (Allah dan Rasul-Nya), tentulah di dalamnya terdapat
kebaikan yang utuh.
Akan
tetapi, pemikiran dakwah sufi ini tidak berhenti pada batasan perilaku dan
pendidikan saja. Sekiranya ia berhenti pada batasan itu, tentulah hal itu
menjadi kebaikan bagi dirinya sendiri dan bagi manusia. Walakin, ia melampaui
batas tersebut setelah lewatnya generasi-generasi awal menuju ranah analisis
rasa (al-adzwaq) dan gejolak spiritual (al-mawajid). Serta
mencampuradukkan hal itu dengan ilmu-ilmu filsafat, logika, beserta
warisan-warisan pemikiran umat masa lalu. Akibatnya, mereka mencampurkan agama
dengan perkara yang bukan bagian darinya.
Hal
ini membuka celah yang sangat luas bagi setiap orang zindik, ateis, atau orang
yang rusak pandangan serta akidahnya untuk menyusup masuk melalui pintu ini
dengan mengatasnamakan tasawuf, dakwah zuhud, kesahajaan, serta ambisi untuk
mendapatkan hasil-hasil ruhani yang memikat tersebut. Maka segala hal yang
ditulis atau diucapkan dalam ranah ini wajib menjadi objek penelitian yang
saksama dari para pengkaji agama Allah yang senantiasa menjaga kesucian serta
kemurniannya.
Setelah
itu terjadilah fase pelembagaan praktis dari pemikiran ini, maka bermunculanlah
kelompok-kelompok (firqah) sufi beserta tarekat-tarekat mereka,
masing-masing berdasarkan metode pendidikannya.
Berikutnya,
unsur politik mulai ikut campur tangan untuk menjadikan struktur organisasi ini
sebagai sandaran ketika dibutuhkan. Sebagian tarekat diorganisasikan menyerupai
sistem militer, sedangkan sebagian lainnya dibentuk menyerupai perkumpulan
khusus. Hingga akhirnya ia berujung pada rupa warisan sejarah masa lalu yang
menghimpun sisa-sisa corak dari perjalanan sejarah yang panjang ini, yang
representasinya pada hari ini di Mesir diwakili oleh Dewan Tinggi Tarekat Sufi
(Masyayikh ath-Thuruq as-Shufiyyah), para tokoh, beserta para
pengikutnya.
Sungguh,
tasawuf dan tarekat-tarekat termasuk faktor terbesar dalam menyebarkan Islam di
banyak negara, serta menyampaikannya ke wilayah-wilayah terpencil yang tidak
akan mungkin bisa dicapai melainkan melalui tangan para dai ini. Sebagaimana
yang telah terjadi dan sedang terjadi di negara-negara Afrika, kawasan sahara,
wilayah tengahnya, serta di berbagai kawasan Asia.
Mengambil
kaidah-kaidah tasawuf dari sisi pendidikan dan perilaku memiliki pengaruh yang
sangat kuat di dalam jiwa dan sanubari. Untaian kalimat kaum sufi dalam bab ini
memiliki kekuatan penembus jiwa yang tidak dimiliki oleh ucapan manusia
lainnya. Akan tetapi, percampuran [dengan filsafat dan bid'ah] ini telah
merusak banyak manfaat tersebut dan mematikan potensinya.
Merupakan
kewajiban para reformis (al-mushlihun) untuk memperpanjang pemikiran
mereka dalam membenahi kelompok-kelompok manusia ini. Pembenahan mereka
sejatinya merupakan perkara yang mudah lagi ringan dijalankan, sebab mereka
memiliki kesiapan yang utuh untuk menerimanya. Bahkan boleh jadi mereka adalah
manusia yang paling dekat dengannya sekiranya diarahkan dengan pengarahan yang
benar. Hal itu tidak membutuhkan perkara yang rumit, melainkan cukup dengan
meluangkan waktu dari sekelompok ulama saleh yang mengamalkan ilmunya, serta
para penasihat yang jujur lagi ikhlas, untuk mempelajari komunitas-komunitas
ini. Serta memetik manfaat dari kekayaan khazanah keilmuan ini, membersihkannya
dari perkara asing yang menempel padanya, lalu memimpin massa ini dengan
kepemimpinan yang saleh.
Aku
teringat bahwa Sayyid Taufiq Al-Bakri —semoga Allah merahmatinya— pernah
memikirkan hal itu. Beliau bahkan telah membuat kajian ilmiah praktis untuk
para syekh tarekat dan telah menyusun sebuah kitab khusus dalam bab ini.
Walakin, proyek tersebut tidak berjalan sempurna dan tidak mendapatkan
perhatian dari para syekh setelahnya.
Aku
juga teringat bahwa Syekh Abdullah Afifi —semoga Allah merahmatinya— menaruh
perhatian pada sisi ini dan sering memperpanjang diskusi mengenainya bersama
para syekh Al-Azhar dan ulama agama. Akan tetapi, hal itu barulah sebatas
pemikiran teoretis tanpa ada dampak nyata dalam pergerakan amal nyata.
Sekiranya
Allah menghendaki, lalu bertemulah kekuatan ilmiah Al-Azhar dengan kekuatan
ruhani tarekat-tarekat sufi, serta berpadu dengan kekuatan amal nyata dari
jemaah-jemaah Islam , tentulah mereka akan menjelma menjadi sebuah umat yang
tidak ada tandingannya; umat yang mengarahkan dan tidak diarahkan, memimpin dan
tidak dipimpin, memberikan pengaruh pada selainnya dan tidak ada sesuatu pun
yang dapat merusak mereka , serta senantiasa membimbing masyarakat yang
tersesat ini menuju jalan yang lurus.
HARI-HARI
DI DAMANHUR
Hari-hari
yang kulewati di Damanhur serta di Madrasah Guru merupakan masa-masa pencerahan
dalam emosi tasawuf dan ibadah. Orang-orang mengatakan bahwa kehidupan manusia
terbagi menjadi beberapa fase, di antaranya adalah fase ini yang bertepatan
dengan tahun-tahun yang meletus tepat setelah Revolusi Mesir, yaitu dari tahun
1920 hingga 1923 M.
Usiaku
kala itu berkisar antara empat belas tahun kurang beberapa bulan hingga tujuh
belas tahun kurang beberapa bulan juga. Fase tersebut merupakan masa-masa
tenggelam di dalam ibadah dan tasawuf , namun tidak sepi dari keikutsertaan
secara nyata dalam menunaikan kewajiban-kewajiban nasional yang diletakkan di
atas pundak para pelajar.
Aku
menginjakkan kaki di Damanhur dalam kondisi dipenuhi oleh pemikiran Hasafiyah.
Damanhur sendiri merupakan tempat beradanya makam serta kuburan Syekh Sayyid
Hasanain Al-Hasafi, syekh tarekat yang pertama, dan di sana terdapat sekelompok
pengikut senior Syekh yang saleh. Maka menjadi hal yang lumrah jika aku melebur
ke dalam lingkungan ini, dan tenggelam ke dalam arah pergerakan tersebut.
Sikap
tenggelam ini semakin berlipat ganda karena guru kami, Al-Haj Hilmi Sulaiman
—yang sampai hari ini masih aktif menjadi pengajar di Damanhur— merupakan rupa
teladan dalam hal ibadah, kesalehan, takwa, serta penerapan adab tarekat. Di
antara diriku dan beliau terjalin ikatan ruhani yang khusus karena sebab
tersebut.
Ditambah
lagi sahabat karib beliau, Ustaz Syekh Hasan Khazbak —semoga Allah
merahmatinya, yang kala itu juga menjadi pengajar di Damanhur— sering kali
menggelar pertemuan-pertemuan keilmuan dan nasihat di rumahnya. Beliau juga
mengajarkan kitab Ihya' 'Ulumuddin sebelum waktu fajar di bulan Ramadan
di Masjid Al-Jaisyi. Al-Haj Hilmi selalu mengajakku bersamanya menghadiri
pertemuan-pertemuan tersebut. Aku mendapati diriku yang masih berstatus sebagai
pelajar kecil berada di tengah-tengah para tokoh besar; di antara mereka
terdapat para ustaz yang mengajariku di madrasah, serta para ulama dan tokoh
utama lainnya. Mereka semua memberikan motivasi kepadaku beserta para pemuda
yang sepadan denganku untuk meniti jalan ini, yaitu jalan ketaatan kepada
Allah. Maka ini semua menjadi faktor pendorong bagi keteguhan di atas manhaj
ibadah dan tasawuf ini.
Aku
tidak pernah melupakan diskusi panjangku bersama guru kami, Syekh Abdul Fattah
Abu Allam, guru syariat, tafsir, dan hadis di madrasah. Diskusi tersebut
berkisar seputar berbagai sanggahan yang diarahkan kepada tarekat, para wali,
dan kaum sufi. Lelaki itu pada akhirnya selalu tersenyum, lalu memotivasiku
untuk senantiasa menaati Allah serta berwasiat kepadaku agar melakukan studi
yang mendalam, memperpanjang telaah pada rahasia-rahasia tasyri' (hukum Islam),
sejarahnya, sejarah mazhab-mazhab, kelompok, serta sekte-sekte, agar hakikat
kebenaran tersingkap di hadapanku sebagai buah dari hasil penelitian.
Meskipun
kami sering kali berbeda pendapat dalam pandangan, aku selalu merasakan curahan
kasih sayang seorang guru mengalir kepadaku, beserta keinginannya yang tulus
untuk memberikan pengarahan yang baik bagiku. Aku sangat mencintai dan
menghormati beliau, dan kritik yang bergulir tidak pernah melampaui batas
penyampaian argumen serta keinginan untuk mengetahui kebenaran.
MALAM-MALAM
DI MASJID AL-JAISYI
Aku
tidak akan pernah melupakan malam-malam yang kulewati di Damanhur di Masjid
Al-Jaisyi, atau tempat salat Al-Khathathibah di dekat Jembatan Iflaqah.
Kehadiran kami dalam pelajaran Ustaz Syekh Hasan Khazbak sebelum fajar di bulan
Ramadan berkembang menjadi aktivitas iktikaf sepanjang malam suntuk bersama
sekelompok orang saleh dari Ikhwan Hasafiyah di dalam masjid ini. Kami
melaksanakan salat Isya, lalu menyantap sedikit makanan dengan dihadiri oleh
Syekh Muhammad Amir atau Ustaz Husain Fauzi Efendi yang kini menetap di Kairo.
Selanjutnya kami berzikir kepada Allah dalam beberapa waktu, tidur sejenak,
lalu bangkit di pertengahan malam untuk melaksanakan salat tahajud hingga
datangnya waktu fajar. Setelah itu kami membaca wazhifah beserta
wirid-wirid, lalu beranjak menuju madrasah, memberikan nasihat kepada para
pelajar, atau beramal untuk kemaslahatan orang lain.
Sering
kali kami terbangun saat berada di rumah-rumah kami jauh sebelum waktu fajar,
di mana pintu-pintu masjid belum dibuka. Maka kami berangkat menuju tempat
salat yang berada di tepi kanal Al-Khathabah di dekat Jembatan Iflaqah. Kami
mendirikan salat di sana hingga mendekati waktu fajar, lalu kami bergegas
menuju masjid agar dapat mengejar salat jemaah.
ZIARAH
DAN JALINAN HUBUNGAN
Pada
hari-hari Jumat yang kebetulan kami habiskan di Damanhur, kami sering kali
mengusulkan sebuah perjalanan untuk berziarah kepada salah seorang wali yang
posisinya paling dekat dari Damanhur. Terkadang kami mengunjungi Dasuq, di mana
kami menempuhnya dengan berjalan kaki langsung setelah salat Subuh. Kami tiba
di sana sekitar jam delapan pagi, mengarungi jarak tempuh dalam waktu tiga jam
dengan jarak sekitar dua puluh kilometer. Kami berziarah, mendirikan salat
Jumat, beristirahat setelah makan siang, melaksanakan salat Asar, lalu
melangkah kembali pulang menuju Damanhur hingga kami tiba di sana sekitar waktu
Magrib.
Di
lain waktu, kami mengunjungi Izbah An-Nawam, di mana di area pemakamannya
dimakamkan Syekh Sayyid Sanjar, salah seorang tokoh khusus dari kalangan jemaah
Tarekat Hasafiyah yang dikenal dengan kesalehan serta ketakwaan mereka. Kami
menghabiskan waktu seharian penuh di sana, kemudian kami bertolak pulang.
HARI-HARI
DIAM DAN ISOLASI DIRI
Kami
memiliki hari-hari di mana kami bernazar untuk diam [menahan diri dari
berbicara] dan menjauh dari manusia. Maka, salah seorang dari kami tidak akan
berbicara kecuali dengan zikir atau membaca Al-Qur'an. Para pelajar,
sebagaimana kebiasaan mereka, memanfaatkan kesempatan ini untuk mengganggu.
Mereka mengadu kepada kepala madrasah (nazhir) atau para guru dengan
melaporkan bahwa lidah pelajar Fulan sedang terkena penyakit. Maka datanglah
guru tersebut untuk memastikan keadaan yang sebenarnya, lalu kami menjawabnya
dengan menggunakan potongan ayat Al-Qur'an, hingga akhirnya ia pergi berlalu.
Aku
mengingat dengan segala kebaikan guru kami, Syekh Farahat Salim —semoga Allah
merahmatinya— yang senantiasa menghormati kondisi kami ini. Beliau menghardik
para pelajar yang mengganggu, serta berwasiat kepada guru-guru yang lain agar
tidak menyulitkan kami dengan pertanyaan-pertanyaan selama masa diam kami.
Mereka benar-benar mengetahui bahwa sikap tersebut sama sekali bukan bentuk
pelarian diri dari menjawab pelajaran atau upaya meloloskan diri dari ujian,
karena kami selalu menjadi murid yang paling unggul dalam pelajaran serta
menguasainya dengan penguasaan yang sangat sempurna.
Kala
itu, kami belum mengetahui bagaimana hukum syariat mengenai amalan [nazar diam]
ini. Akan tetapi, kami mempraktikkan sikap diam ini dalam rangka melatih jiwa (ta'diban
lin-nafs), menjauhkan diri dari perkataan yang sia-sia (al-laghwu),
serta memperkuat tekad (kehendak) agar manusia dapat mengendalikan dirinya
sendiri dan bukan dirinya yang dikendalikan oleh hawa nafsunya.
Kondisi
ini terkadang berkembang di beberapa waktu hingga mencapai tahapan kejenuhan
(keengganan) terhadap manusia yang mendorong pada isolasi diri ('uzlah)
serta pemutusan tali hubungan. Sampai-sampai aku teringat bahwa surat-surat
dari sebagian sahabat datang kepadaku di madrasah, namun aku tidak mencoba
untuk membaca atau membukanya. Aku membiarkannya begitu saja sebagaimana adanya
agar di dalam diriku tidak timbul keterikatan pada sesuatu yang baru. Seorang
sufi adalah orang yang hidup bersahaja (meringankan beban dunia) yang wajib
memutus keterikatan jiwanya dari segala sesuatu selain Allah, serta
bermujahadah di jalan ini dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.
SYI'AR
DI MADRASAH
Meskipun
kondisi [diam dan isolasi] ini sering kali mendominasi, kecenderungan untuk
berdakwah justru lebih sering menangang di banyak kesempatan. Aku
mengumandangkan azan Zuhur dan Asar di tempat salat (mushalla) madrasah.
Aku kerap meminta izin kepada guru pengajar —karena waktu Asar kebetulan
bertepatan dengan salah satu jam pelajaran— untuk mengumandangkan azan. Aku
selalu merasa heran mengapa sistem pengaturan jam pelajaran tidak disesuaikan
dengan waktu-waktu salat, padahal kita berada di madrasah-madrasah Islam.
Sebagian
guru memberikan izin dengan perasaan senang, sedangkan sebagian lainnya ingin
tetap menjaga ketertiban kelas. Maka aku berkata kepadanya: "Tidak ada
ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khalik (Pencipta).". Aku
mendebatnya dengan perdebatan yang sengit hingga ia tidak melihat ada pilihan
lain kecuali memberikan izin, agar ia dapat terbebas dari perdebatan itu dan
terbebas dari diriku.
Aku
tidak pernah pulang ke rumah pada waktu istirahat Zuhur, melainkan tempat
tinggalku selama waktu tersebut adalah mushalla dan halaman madrasah demi
mengajak teman-teman sejawat untuk mendirikan salat. Apabila azan untuk salat
fardu telah berkumandang, aku duduk bersama saudara yang mulia, Ustaz Muhammad
Syarif —yang saat ini menjadi guru di Kementerian Pendidikan— untuk membaca
Al-Qur'an bersama-sama. Terkadang ia yang membaca dan aku yang menyimak, atau
aku yang membaca dan ia yang menyimak, hingga tibalah waktu masuk kelas
kembali.
MASALAH
SEPUTAR PAKAIAN
Aku
teringat pada suatu hari, ketika aku memasuki ruangan kepala madrasah guru
tingkat dasar untuk menyerahkan lembar absen —karena akulah yang diserahi tugas
tersebut di kelas— aku melihat Direktur Pendidikan berada di sisinya. Beliau
adalah Ustaz Sayyid Raghib, yang pada awal tahun ini menjabat sebagai asisten
pengawas di Kementerian Pendidikan. Penampilan pakaianku menarik perhatian
Direktur Pendidikan tersebut, sebab kala itu aku mengenakan sorban yang
memiliki ujung yang menjuntai ('imamah dzatu 'adzbah), alas kaki seperti
alas kaki ihram saat haji, serta jubah luar berwarna putih di atas galabiyya.
Beliau
bertanya kepadaku mengapa aku mengenakan pakaian seperti ini?. Aku menjawab:
"Karena ini adalah sunah.". Beliau menimpali: "Apakah engkau
sudah mengamalkan seluruh sunah hingga tidak ada yang tersisa selain sunah
dalam berpakaian?".
Aku
menjawab: "Tidak, bahkan kami adalah orang-orang yang sangat teledor
(kurang). Akan tetapi, apa yang mampu kami lakukan, maka kami akan
lakukan.". Beliau berkata: "Dengan penampilan seperti ini, engkau
telah keluar dari ketertiban madrasah.".
Maka
aku berkata kepadanya: "Mengapa demikian, wahai Tuanku?. Sesungguhnya
ketertiban madrasah itu diukur dari kedisiplinan, dan aku tidak pernah absen
dari pelajaran sama sekali. Diukur pula dari perilaku dan akhlak, dan para
guruku rida terhadapku, walhamdulillah. Juga diukur dari ilmu dan studi,
sedangkan aku adalah peringkat pertama di kelasku. Maka di bagian mana letak
keluarnya aku dari ketertiban madrasah?".
Beliau
menjawab: "Akan tetapi jika engkau lulus dan tetap bersikeras dengan
pakaian seperti ini, maka dewan direksi wilayah tidak akan mengizinkan
pengangkatanmu sebagai guru, agar para murid tidak merasa asing dengan
penampilan ini.".
Aku
menjawab: "Bagaimanapun juga, perkara itu belum tiba waktunya sekarang.
Ketika waktunya telah tiba, dewan memiliki kebebasan dan aku pun memiliki
kebebasan yang sama. Sesungguhnya rezeki itu berada di tangan Allah, bukan di
tangan dewan maupun kementerian.".
Mendengar
hal itu Direktur pun terdiam, lalu Kepala Madrasah ikut menengahi perkara
tersebut. Beliau mengenalkanku kepada Direktur dengan untaian kalimat yang
baik, kemudian menyuruhku keluar, maka aku pun keluar dan masalah tersebut
berakhir dengan damai.
GERAKAN
NASIONAL
Revolusi
Mesir meletus pada tahun 1919 M. Kala itu aku adalah seorang murid di madrasah
persiapan (al-i'dadiyyah) di Mahmudiyah dalam usia tiga belas tahun.
Hingga kini, masih terbayang di depan mataku pemandangan
demonstrasi-demonstrasi massa yang masif serta aksi mogok massal yang
mengoordinasikan seluruh kota dari ujung ke ujung. Begitu pula pemandangan para
tokoh terpandang dan pemuka kota saat mereka memimpin barisan demonstrasi,
membawa bendera-benderanya, dan saling berkompetisi dalam hal tersebut.
Aku
pun masih menghafal bait-bait nasyid yang indah lagi merdu, yang senantiasa
dikumandangkan oleh para demonstran dengan penuh kekuatan dan semangat membara:
Cinta tanah air adalah bagian dari iman...
dan Ruhullah [Malaikat Jibril/seruan suci] senantiasa
memanggil kita...
Jika kemerdekaan tidak mengumpulkan kita di dunia...
maka
di Surga Firdaus kita akan saling berjumpa...
Aku
juga masih mengingat pemandangan sebagian tentara Inggris ketika mereka turun
ke desa dan mendirikan tenda militer di berbagai penjuru wilayahnya. Sebagian
dari mereka bersinggungan dengan sebagian penduduk setempat, lalu tentara itu
mulai mengejarnya dengan menggunakan ikat pinggang kulitnya. Hingga ketika
warga pribumi tersebut berhasil menyendiri bersama sang tentara Inggris, ia
membalasnya dengan pukulan yang bertubi-tubi dan membuatnya mundur kembali ke
belakang dalam kondisi terhina lagi payah.
Aku
pun masih mengingat barisan penjaga sipil (al-haras al-ahli) yang
dibentuk oleh penduduk desa dari kalangan mereka sendiri. Mereka bergiliran
melakukan ronda malam selama berhari-hari agar tentara Inggris tidak menyerbu
rumah-rumah dan menodai kehormatan masyarakat.
Andil
kami sebagai para pelajar dari semua peristiwa ini adalah ikut melakukan aksi
mogok di beberapa kesempatan, ikut serta dalam demonstrasi-demonstrasi ini,
serta menyimak perbincangan orang-orang di sekitar mengenai isu tanah air,
kondisi, serta perkembangannya.
KENANGAN
DAN PUISI
Aku
masih teringat hari di mana guru kami, Syekh Muhammad Khalaf Nuh —yang saat ini
menjadi guru pada Kementerian Pendidikan di Iskandariyah— masuk menemui kami
dalam kondisi air mata yang berlinang di kedua matanya. Kami bertanya kepadaku
tentang berita apa yang terjadi, lalu beliau menjawab: "Hari ini Farid Bek
telah wafat.".
Beliau
mulai menceritakan kepada kami tentang perjalanan hidupnya, perjuangannya,
serta jihadnya di jalan tanah air hingga membuat kami semua menangis. Kenangan
ini mengilhamiku untuk menulis beberapa bait puisi yang sampai saat ini masih
kuhafal bagian awal beserta potongan bait lainnya:
Wahai Farid, tidurlah dengan aman dan iman...
Wahai Farid, janganlah engkau mencemaskan tanah air ini...
Wahai
Farid, seluruh negeri akan menebusmu...
Aku
juga masih mengingat perbincangan orang-orang di sekitar mengenai Komite Milner
serta kesepakatan bulat umat untuk memboikotnya. Bagaimana perasaan tersebut
mengalir begitu dahsyatnya hingga mendorong seorang murid yang masih berusia
tiga belas tahun untuk menggubah sebuah qasidah yang panjang, yang tidak
kuingat darinya kecuali dua bait ini:
Wahai Milner, kembalilah lalu tanyakan...
kepada delegasi yang menetap di Paris...
Kembalilah kepada kaummu dan katakan kepada mereka...
Janganlah
kalian menipu mereka, wahai orang-orang yang culas...
Sungguh,
aku telah mengumpulkan dari hasil karya-karya awal nasionalisme yang masih
mentah ini sebuah diwan (buku kumpulan puisi) yang besar. Namun, nasib akhir
dari buku tersebut adalah dibakar habis secara total pada masa fase tasawuf
yang menyertai masa-masa di Madrasah Guru.
Sebagaimana
nasib pengabaian (hilang) juga menimpa karya-karya tulis di bidang fikih
berdasarkan empat mazhab, serta bidang sastra yang polanya mengikuti gaya kisah
pelayan wanita bernama Tawaddud. Karya tersebut aku tulis bersama saudara,
Ustaz Muhammad Ali Budair, di loteng (shandarah) Masjid Kecil. Kemudian
karya itu lenyap termakan oleh masa-masa kesibukan beramal, di mana pada masa
itu aku memandang bahwa menyibukkan diri dengan ilmu yang terlalu banyak dapat
melalaikan dari amal yang bermanfaat dan mengabaikan waktu untuk beribadah
kepada Allah. Cukuplah bagi manusia untuk agamanya mengetahui apa yang dapat
menyahihkan hukum-hukum amalnya, dan cukuplah bagi manusia untuk dunianya
mengetahui apa yang dapat menghasilkan rezekinya, kemudian setelah itu ia harus
mencurahkan seluruh diri, kesungguhan, serta waktunya untuk beribadah,
berzikir, dan beramal nyata.
AKSI
MOGOK DAN DEMONSTRASI
Setelah
berpindah ke Madrasah Guru, gerakan revolusi telah sedikit mereda, namun
kenangan-kenangan tersebut terus diperbarui. Maka bersamanya, diperbarui
pulalah aksi-aksi mogok, demonstrasi, serta bentrokan dengan pihak kepolisian.
Demikian
pulalah kondisi kami di Damanhur. Konsekuensi (tanggung jawab) pertama kali
jatuh kepada para pelajar yang menonjol dan yang berada di barisan depan.
Meskipun aku sibuk dengan aktivitas tasawuf dan ibadah, aku tetap meyakini
bahwa khidmah wathaniyah (bela negara/pelayanan nasional) merupakan bagian dari
jihad yang diwajibkan yang tidak ada jalan untuk lari darinya.
Maka
berdasarkan akidah ini, serta berdasarkan posisiku di antara para pelajar
—karena aku termasuk murid yang terpandang di antara mereka— aku berkewajiban
untuk mengambil peran yang menonjol dalam gerakan-gerakan ini, dan begitulah
yang terjadi.
Aku
tidak pernah melupakan guru kami, Syekh Ad-Dasuqi Musa, kepala madrasah kami,
yang sangat mengkhawatirkan konsekuensi dari gerakan-gerakan ini. Beliau
membawa kami menghadap Direktur Wilayah Al-Buhairah kala itu —Mahmud Pasha
Abdul Raziq— dan melemparkan tanggung jawab atas aksi mogok pelajar lainnya
kepada kami. Beliau berkata: "Sesungguhnya mereka inilah yang mampu
meyakinkan para pelajar untuk membatalkan aksi mogok mereka.".
Mahmud
Pasha mencoba dengan segala cara untuk meyakinkan kami, baik dengan janji
manis, ancaman, maupun nasihat. Kemudian beliau menyuruh kami pergi agar kami
dapat memikirkan perkara tersebut.
Maka
taktik yang kami jalankan adalah kami menginstruksikan kepada seluruh pelajar
untuk memencarkan diri di ladang-ladang yang berada di sekitar madrasah
sepanjang hari. Hari itu adalah tanggal 18 Desember, yang merupakan hari
peringatan Proklamasi Protektorat Inggris atas Mesir. Sedangkan kami sendiri
pergi menuju madrasah dan menyerahkan diri kami kepada pihak manajemen. Pihak madrasah
menunggu, dan kami pun menunggu siapa yang akan datang, namun tidak ada seorang
pun yang hadir memenuhi panggilan kelas. Maka kami pun pulang setelah beberapa
saat, dan aksi mogok terlaksana dengan sukses serta hari itu berakhir dengan
damai.
Aku
juga tidak pernah melupakan hari di mana para pelajar melakukan aksi mogok pada
salah satu hari yang bergejolak. Komite berkumpul di tempat tinggal kami, yaitu
di rumah Ibu Khadrah Sya'irah di Damanhur. Tiba-tiba pihak kepolisian melakukan
penggerebekan terhadap para peserta rapat dan menerobos masuk ke dalam rumah
seraya menanyakan keberadaan mereka. Maka jawaban dari sang pemilik rumah
adalah: "Bahwa mereka telah pergi sejak pagi-pagi sekali dan belum
kembali, dan ia sendiri sedang sibuk menyiangi tanaman sayuran sebagaimana yang
disaksikan sendiri olehnya.".
Akan
tetapi, jawaban yang tidak jujur ini sama sekali tidak membuatku nyaman. Maka
aku langsung keluar menemui perwira yang bertanya tersebut dan berterus terang
kepadanya mengenai perkara yang sebenarnya. Padahal situasi yang dihadapi oleh
Ibu Khadrah saat itu sudah sangat kritis. Aku mendebat perwira itu dengan penuh
semangat dan berkata kepadanya: "Sesungguhnya kewajiban nasionalmu
mengharuskanmu untuk berada di pihak kami, dan bukan menghalangi gerakan kami
serta menangkap kami!". Aku tidak tahu bagaimana prosesnya, namun hasil
akhirnya adalah perwira tersebut benar-benar menerima perkataan ini. Ia keluar
dan memerintahkan pasukannya untuk membubarkan diri serta pergi bersama mereka
setelah memberikan rasa aman kepada kami.
Maka
aku kembali menemui teman-teman yang sedang bersembunyi seraya berkata kepada
mereka: "Ini adalah berkah dari sebuah kejujuran. Kita wajib menjadi
orang-orang yang jujur dan berani menanggung konsekuensi dari perbuatan kita,
dan sama sekali tidak ada keperluan untuk berbohong bagaimanapun
kondisinya.".
ANTARA
MAHMUDIYAH DAN DAMANHUR
Aku
menghabiskan hari-hari pekan madrasah di Damanhur, lalu kembali pada waktu
Zuhur di hari Kamis ke Mahmudiyah. Di sana aku menghabiskan malam Jumat dan
malam Sabtu, kemudian kembali lagi pada pagi hari Sabtu menuju madrasah
sehingga aku dapat mengejar jam pelajaran pertama tepat pada waktunya.
Aku
memiliki banyak keperluan yang harus ditunaikan di Mahmudiyah selama periode
singkat ini, selain dari berziarah menemui keluarga dan menghabiskan waktu
bersama mereka. Tali persahabatan di antara diriku dengan saudaraku, Ahmad
Efendi As-Sukkari, telah terikat sedemikian kuatnya hingga salah seorang dari
kami tidak akan mampu bersabar jika harus berpisah dari yang lain selama satu
pekan penuh tanpa adanya pertemuan.
Ditambah
lagi, agenda malam Jumat di rumah Syekh Shalabi Ar-Rijal setelah pelaksanaan hadhrah
[zikir berjemaah] diisi dengan aktivitas saling mempelajari (tadaruss)
kitab-kitab tasawuf seperti kitab Ihya' 'Ulumuddin, menyimak kisah-kisah
keteladanan para wali, kitab Al-Yaqut wa Al-Jawahir, serta kitab-kitab
lainnya. Kami berzikir mengingat Allah hingga datangnya waktu subuh, dan agenda
ini termasuk di antara manhaj kehidupan kami yang paling sakral.
Kala
itu, aku juga telah mahir dalam profesi memperbaiki jam dinding/tangan serta
keahlian menjilid buku. Aku menghabiskan waktu siang hari di toko sebagai
seorang perajin, sedangkan waktu malam hari aku habiskan bersama jemaah Ikhwan
Hasafiyah sebagai seorang yang berzikir. Karena seluruh keperluan inilah, aku
tidak akan mungkin bisa absen untuk hadir di Mahmudiyah pada hari Kamis kecuali
jika ada halangan yang sangat memaksa.
Aku
turun dari kereta api Delta langsung menuju toko, lalu menjalankan pekerjaanku
dalam memperbaiki jam hingga mendekati waktu Magrib. Setelah itu aku pulang ke
rumah untuk berbuka puasa, karena di antara kebiasaan rutin kami adalah
menjalankan puasa sunah pada hari Kamis dan Senin. Selanjutnya aku beranjak
menuju Masjid Kecil setelah Magrib untuk mengikuti pelajaran agama dan hadhrah,
kemudian bertolak menuju rumah Syekh Shalabi Ar-Rijal atau rumah Ahmad Efendi
As-Sukkari untuk bermudarasah dan berzikir. Setelah itu kami menuju masjid
untuk menunaikan salat Subuh, yang kemudian diikuti dengan istirahat sejenak.
Agenda berikutnya adalah pergi ke toko, melaksanakan salat Jumat, menyantap
makan siang, lalu kembali berada di toko hingga waktu Magrib. Setelah Magrib
berada di masjid, kemudian pulang ke rumah, dan pada pagi harinya bertolak
kembali menuju madrasah.
Begitulah
rutinitas tersebut berjalan terus-menerus dalam tatanan terjadwal yang tidak
kuingat pernah terlewatkan satu pekan pun kecuali karena adanya urusan mendesak
yang datang tiba-tiba.
DI
MASA LIBURAN MUSIM PANAS
Masa
liburan musim panas menjadi momentum yang sangat serasi untuk menerapkan manhaj
aktivitas ini secara harian. Bahkan ke dalamnya dimasukkan satu agenda baru,
yaitu belajar (mudzakarah) pada setiap pagi hari, dimulai dari terbitnya
matahari hingga waktu dhuha yang utama (al-dhahwah al-kubra). Aktivitas
ini kami laksanakan bersama guru kami, Syekh Muhammad Khalaf Nuh di rumahnya.
Kami memulainya dengan menghafal kitab Alfiyah Ibnu Malik serta membaca
kitab penjelasnya, yaitu Syarah Ibnu 'Aqil. Kami juga mempelajari
kitab-kitab lainnya di bidang fikih, ushul fikih, dan hadis. Hal inilah yang
memiliki pengaruh paling besar dalam mempersiapkan diriku untuk memasuki
jenjang Darul Ulum, padahal aku sama sekali belum berpikir untuk memasukinya
pada masa tersebut. Kami dahulu kerap berkata bahwa kami menuntut ilmu murni
hanya demi ilmu itu sendiri.
PANGGILAN
PAGI
Di
antara amalan kami di Mahmudiyah selama masa liburan musim panas atau pada pagi
hari Jumat adalah membagi-bagi wilayah desa. Kami yang berjumlah tiga orang
atau terkadang lebih —di antaranya adalah saudara Muhammad Efendi Ad-Dimyathi
dan saudara Abdul Muta'al Sinkil— bertugas untuk membangunkan manusia agar
mendirikan salat Subuh, beberapa saat sebelum fajar berkumandang, terkhusus
kepada para jemaah Ikhwan.
Aku
merasakan kebahagiaan yang teramat besar serta ketenteraman yang asing di dalam
jiwa saat aku membangunkan para muazin agar mengumandangkan azan Subuh. Setelah
itu, aku berdiri di momen waktu sahur yang penuh dengan nuansa puitis ini di
tepi sungai Nil, lalu menyimak lantunan azan yang meluncur dari
tenggorokan-tenggorokan mereka secara serentak pada satu waktu bersamaan. Hal
itu karena posisi masjid-masjid di desa tersebut saling berdekatan jaraknya.
Terlintas
di dalam benak pikiranku bahwa aku akan menjadi sebab bagi terbangunnya
sejumlah jemaah salat ini, dan aku akan mendapatkan pahala yang semisal dengan
pahala mereka. Ini merupakan pembenaran dari sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى
كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ
أُجُورِهِمْ شَيْئًا
Artinya:
"Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti
pahala orang-orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi sedikit pun dari
pahala-pahala mereka." (HR. Muslim) [Hadis ini diriwayatkan secara
sahih oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (No. 2674) dari jalur
sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Penggunaan teks arab berharakat
secara lengkap bertujuan menjaga akurasi periwayatan lafal kenabian (lafzh
al-wurud), sedangkan makna konseptual "menyeru kepada petunjuk"
mencakup segala bentuk wasilah dakwah, termasuk aktivitas fisik membangunkan
jemaah untuk salat Subuh].
Kebahagiaan
ini semakin berlipat ganda ketika aku melangkah menuju masjid setelah itu, lalu
aku melihat diriku menjadi orang yang paling kecil usianya di antara para
jemaah yang duduk di dalamnya. Maka aku memuji Allah dan memohon kepada-Nya
agar senantiasa melanggengkan taufik ini.
PERSIAPAN
MEMASUKI DARUL ULUM
Hari-hari
di Madrasah Guru sepanjang tiga tahun masa studinya merupakan masa-masa
tenggelam di dalam emosi tasawuf dan ibadah. Walakin, masa tersebut tidak sepi
dari aktivitas menghadap pelajaran serta menggali ilmu pengetahuan di luar
batas kurikulum madrasah.
Sebab
dari hal itu menurut persangkaanku kembali kepada dua faktor utama:
- Faktor Pertama:
Keberadaan perpustakaan ayahku. Beliau senantiasa memberikan motivasi
kepadaku untuk membaca dan belajar, serta menghadiahi beberapa kitab yang
sebagian darinya masih kusimpan hingga hari ini. Di antara kitab yang
pengaruhnya paling mendalam di jiwaku adalah kitab Al-Anwar
al-Muhammadiyah karya An-Nabhani, kitab Mukhtashar al-Mawahib
al-Ladunniyah karya Al-Qasthalani, serta kitab Nur al-Yaqin fi
Sirati Sayyid al-Mursalin karya Syekh Al-Khudhari. Berdasarkan
bimbingan ini, serta apa yang lahir darinya berupa rasa cinta yang
mendalam terhadap aktivitas membaca, terbentuklah sebuah perpustakaan
pribadi milikku yang di dalamnya menghimpun majalah-majalah lama serta
buku yang beraneka ragam. Ketika aku berada di Mahmudiyah di madrasah
persiapan, aku selalu menanti kedatangan Syekh Hasan Al-Kutubi pada hari
pasar dengan penuh ketidaksabaran, demi menyewa buku-buku secara mingguan
dengan bayaran beberapa milim yang sangat murah, lalu mengembalikannya
kembali kepadanya untuk mengambil buku yang lain, begitu seterusnya. Di
antara buku yang paling membekas kuat dan mendalam pengaruhnya di jiwaku
pada fase ini adalah kisah Putri Dzatul Himmah.
Apabila
aku mengingat apa yang dahulu kami baca dari kisah-kisah yang seluruh isinya
dipenuhi oleh semangat kepahlawanan, keberanian, pembelaan terhadap tanah air,
berpegang teguh pada agama, berjihad di jalan Allah, serta berjuang demi
menggapai derajat yang tinggi dan kemuliaan. Kemudian aku membandingkannya
dengan apa yang dibaca oleh generasi muda dan remaja hari ini berupa
novel-novel yang seluruh isinya dipenuhi kemayuan, kelembekan, kelemahan, dan
sikap manja. Maka aku menyadari betapa jauhnya loncatan perkembangan yang asing
antara kultur budaya umum pada masa lalu dengan kultur budaya umum pada hari
ini. Aku meyakini bahwa kita berada dalam kondisi yang sangat butuh untuk
menyaring makanan budaya yang disuguhkan kepada generasi baru ini, baik dalam
wujud buku, novel, surat kabar, maupun majalah.
- Faktor Kedua: Bahwa Madrasah
Guru pada masa itu telah menghimpun deretan guru pilihan dari kalangan
ustaz yang mulia. Seperti guru kami, Ustaz Abdul Aziz Athiyah —kepala madrasah
guru di Iskandariyah saat ini sekaligus pimpinan Ikhwan di sana—, guru
kami Syekh Farahat Salim —semoga Allah merahmatinya—, guru kami Syekh
Abdul Fattah Abu Allam, guru kami Al-Haj Ali Sulaiman, serta guru kami
Syekh Al-Basyuni —semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan—. Mereka
istimewa dengan kesalehan, kebaikan, serta ketulusan dalam memotivasi para
muridnya untuk melakukan riset dan belajar. Di antara diriku dengan
majelis mereka terjalin ikatan ruhani yang di dalamnya aku mendapati
banyak bentuk motivasi.
Aku
masih mengingat bahwa Ustaz Abdul Aziz Athiyah, ketika beliau mengajari kami
mata pelajaran praktik mengajar (al-tarbiyah al-'amaliyyah), beliau
mengadakan ujian bulanan lalu jawaban tulisanku membuat beliau kagum. Beliau
menuliskan catatan di atas lembar jawabanku: "Engkau telah berbuat baik
dengan sangat baik, dan sekiranya ada nilai tambahan di atas nilai batas
maksimal, tentulah aku akan memberikannya kepadamu.". Beliau menahan
lembar kertas tersebut di tangannya saat pembagian kertas ujian, lalu beliau
memanggilku dan menyerahkannya langsung kepadaku. Beliau membekaliku dengan
banyak untaian kalimat nasihat, motivasi, serta dorongan untuk terus membaca,
belajar, dan menelaah. Beliau juga mengkhususkan diriku untuk membantu
mengoreksi beberapa draf cetak (proove sheet) buku karya beliau yang
berjudul Kitab al-Mu'allim di bidang pendidikan, yang saat itu sedang
dicetak pada percetakan Al-Mustaqbal di Damanhur.
Faktor-faktor
ini memiliki pengaruh yang besar di dalam jiwaku. Maka pada tahapan pendidikan
ini, di luar batas kurikulum madrasah, aku telah menghafal banyak kitab matan
[teks ringkas pedoman keilmuan] dalam berbagai cabang disiplin ilmu. Aku
menghafal matan Mulhat al-I'rab karya Al-Hariri, kemudian Alfiyah
karya Ibnu Malik, matan Al-Yaqutiyah di bidang musthalah hadis, matan Al-Jawharah
di bidang tauhid, matan Ar-Rajabiyah di bidang waris (faraidh), sebagian
matan As-Sullam di bidang logika (mantiq), banyak bagian dari matan Al-Quduri
di bidang fikih mazhab Abu Hanifah, serta matan Al-Ghayah wa At-Taqrib
karya Abu Syuja' di bidang fikih mazhab Syafii , serta sebagian Manzhumah
Ibnu 'Amir dalam mazhab Maliki.
Aku
sama sekali tidak pernah melupakan arahan ayahku kepadaku dengan menggunakan
ungkapan yang masyhur:
"Barang
siapa yang menghafal matan, maka ia akan menguasai berbagai cabang seni
keilmuan."
Pengaruh
kalimat tersebut sangat mendalam di dalam jiwaku, hingga pada tingkat aku
mencoba menghafal matan As-Syathibiyah di bidang ilmu qira'at, padahal
aku masih bodoh secara total mengenai istilah-istilah konseptual yang berlaku
di dalamnya. Aku benar-benar telah menghafal bagian mukadimahnya, dan aku masih
menghafal sebagian darinya hingga hari ini.
Di
antara kisah yang unik adalah sebagian pengawas madrasah (inspector)
mengunjungi kami pada jam pelajaran bahasa Arab di tahun ketiga madrasah
persiapan. Kala itu, aku belum menghafal [matan nahwu] kecuali matan Mulhat
al-I'rab karya Al-Hariri. Pengawas itu bertanya mengenai tanda isim (kata
benda) dan tanda fi'il (kata kerja) dalam kaidah tata bahasa, kemudian ia
bertanya mengenai tanda huruf. Maka guru pengajar —yaitu Ustaz Syekh Muhammad
Ali An-Najjar kala itu— menunjuk diriku untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Jawaban yang kulontarkan adalah satu bait puisi yang berasal dari matan Mulhah,
yaitu perkataan Al-Hariri:
Dan
huruf itu adalah apa yang tidak memiliki tanda...
maka
qiyaskanlah (analogikanlah) atas perkataanku ini, niscaya engkau akan menjadi
orang yang jangkauan ilmunya luas (tanda).
Mendengar
hal itu sang pengawas tersenyum lalu berkata: "Baiklah, wahai Tuanku, aku
akan mengiyaskan atas perkataanmu agar aku bisa menjadi orang yang luas
ilmunya.". Ia melontarkan ucapan terima kasih kepada guru kelas lalu pergi
berlalu.
Kekayaan
khazanah keilmuan ini mengarahkan pandangan sebagian dari saudara-saudara kami
yang sedang mempersiapkan diri mereka untuk mendaftarkan diri ke Darul Ulum
Tingkat Tinggi (Dar al-'Ulum al-'Ulya) pada masa tersebut. Mereka
berasal dari kalangan guru madrasah dasar awal yang berstatus melekat pada Madrasah
Guru. Mereka menawarkan kepadaku agar kami dapat belajar bersama sehingga kami
dapat mendaftar bersama-sama pula. Di barisan terdepan dari mereka adalah
saudara yang mulia, Syekh Ali Naufal kala itu, yang saat ini menjadi Ustaz Ali
Naufal.
Ia
sangat menginginkan agar kami dapat belajar bersama dan mendaftar bersama
menuju Darul Ulum Tingkat Tinggi. Darul Ulum kala itu terbagi menjadi dua
bagian:
- Bagian Pertama: Kelas
Persiapan (Al-Qism al-Tajhizi), di mana kelas ini terbuka bagi
siapa saja yang menghendakinya dari kalangan pelajar Al-Azhar maupun madrasah
guru.
- Bagian Kedua: Kelas
Tinggi Sementara (Al-Qism al-'Ali al-Muwaqqat), di mana kelas ini
juga terbuka bagi siapa saja dari kalangan para pelajar tersebut, yang
pada umumnya mereka telah mendapatkan ijazah tsanawiyah Al-Azhar. Kelas
Tinggi Sementara ini tidak tersisa lagi waktu untuk mendaftar kepadanya
kecuali hanya pada tahun ini saja, yaitu tahun pelajaran 1923-1924 M.
Setelah
tahun tersebut, bagian ini akan dihapus untuk digantikan posisinya oleh Kelas
Tinggi yang sumber mahasiswanya disuplai dari Kelas Persiapan. Sebagian saudara
kami dari kalangan pelajar madrasah guru ingin mendaftar ke Kelas Persiapan
ini, namun minat yang membanjir justru mengarah pada Kelas Tinggi Sementara
karena menganggap bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan yang tersisa bagi
siapa saja yang ingin menyusul masuk ke dalamnya.
Ustaz
Syekh Ali Naufal menginginkan agar kami belajar bersama, sedangkan posisiku
saat itu berada di tahun ketiga, yaitu tahun di mana aku akan menunaikan ujian
sertifikasi kompetensi untuk mengajar di madrasah dasar awal (syahadah al-kفاءة lil-ta'lim al-awwali).
Sementara ia sendiri telah berstatus sebagai guru di madrasah dasar yang
melekat pada Madrasah Guru tersebut.
Maka
aku mengajukan permohonan maaf untuk tidak bisa belajar bersama dengannya. Akan
tetapi, ia masuk menemui jiwaku melalui pintu hak-hak persaudaraan (huquq
al-ukhuwah) serta kewajiban saling membantu di antara sesama ikhwan dan
mendengarkan pandangan mereka, hingga akhirnya aku tidak melihat ada pilihan
lain kecuali menyimak perkataannya.
PANDANGAN
TENTANG ILMU DAN IJAZAH
Aku
memiliki pandangan tersendiri pada hari-hari tersebut mengenai ilmu, metode
menuntutnya, ijazah, serta proses mendapatkannya. Pandangan ini merupakan salah
satu dari sekian jejak pengaruh hasil pembacaanku terhadap kitab Ihya'
'Ulumuddin. Sungguh, aku adalah seorang yang mencintai ilmu dengan
kecintaan yang teramat besar, memiliki kecenderungan yang sangat kuat terhadap
aktivitas membaca serta menambah bekal ilmu. Aku juga mengimani besarnya faedah
ilmu bagi individu maupun kolektif masyarakat, serta kewajiban menyebarkannya
di tengah manusia. Sampai-sampai aku teringat bahwa aku sempat bertekad kuat
untuk menerbitkan sebuah majalah bulanan yang kunamakan "As-Syams"
(Matahari). Aku bahkan telah menulis untuk edisi pertama dan keduanya, sebagai
bentuk meniru guru kami, Syekh Muhammad Zahran, yang menerbitkan majalah
bulanan Al-Is'ad, serta menyerupai majalah Al-Manar yang sangat
sering kutelaah lembar demi lembarnya.
Akan
tetapi, metode Imam Al-Ghazali beserta uslubnya dalam menyusun tingkatan ilmu,
makrifat, dan tujuan menuntut ilmu telah menghujamkan pengaruh yang sangat kuat
di dalam jiwaku. Maka aku berada di dalam gejolak pertarungan batin yang sangat
sengit. Sisi rasa cinta yang mendesak ini mengajakku untuk terus menambah porsi
dalam menuntut ilmu. Di sisi lain, arahan-arahan Imam Al-Ghazali beserta
definisinya mengenai ilmu yang wajib —yaitu ilmu yang dibutuhkan oleh seorang
hamba dalam menunaikan perkara fardu serta dalam menghasilkan nafkah kehidupan,
yang kemudian setelah itu ia harus beranjak menuju amal nyata— mengajakku untuk
mengambil porsi yang bersifat darurat saja dan meninggalkan perkara yang
selainnya serta tidak membuang-buang waktu di dalamnya.
Ketika
muncul ide untuk mendaftarkan diri ke Darul Ulum, yang di dalamnya terdapat
konsekuensi berupa pengiriman tugas belajar ke luar negeri (ba'tsah ila
al-kharij) bagi para lulusan terbaik yang meraih diploma, maka gejolak
pertarungan batin ini semakin menghebat dan menguat.
Aku
selalu berkata jujur kepada diriku sendiri: "Untuk apa engkau ingin
memasuki Darul Ulum?. Apakah demi menggapai kedudukan (جاه / jah) agar
manusia mengatakan bahwa engkau adalah seorang guru tingkat tinggi dan bukan
guru tingkat dasar awal? —padahal mencari kedudukan serta ambisi atasnya
merupakan penyakit di antara penyakit-penyakit jiwa dan bagian dari syahwatnya
yang wajib diperangi—. Ataukah engkau menginginkannya demi harta, agar gaji
lipat upahmu bertambah banyak, sehingga engkau dapat mengumpulkan harta benda,
mengenakan pakaian yang mewah, menikmati makanan yang lezat, serta mengendarai
kendaraan yang megah?. Dan perkara ini adalah seburuk-buruknya apa yang
dilakukan oleh seseorang, dan "Celakalah budak dinar, celakalah budak
dirham, celakalah budak pakaian tebal (beludru), celaka dan tersungkurlah ia,
dan jika ia terkena duri semoga tidak dapat dicabut." Dan Mahabenar
Allah Yang Maha Agung:
"Dijadikan
terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa
perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak,
kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. Katakanlah, "Maukah aku
kabarkan kepadamu yang lebih baik dari yang demikian itu?" Bagi
orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya..." (QS.
Ali 'Imran: 14-15)
Atau
apakah engkau menginginkannya demi memperbanyak harta dengan ilmu dan makrifat
guna menyaingi para ulama, mendebat orang-orang bodoh, atau merasa tinggi di
hadapan manusia?. Padahal orang yang pertama kali dinyalakan api neraka
dengannya pada hari kiamat adalah orang yang menuntut ilmu bukan karena Allah
dan tidak mengamalkan ilmunya. Dan manusia yang paling keras siksaannya pada
hari kiamat adalah seorang alim yang Allah tidak memberikan manfaat pada
dirinya melalui ilmunya.
Terkadang
dirimu membisikkan kepadamu bahwa engkau menuntut ilmu agar menjadi seorang
alim yang memberi manfaat kepada manusia, dan sesungguhnya Allah beserta para
malaikat-Nya bersalawat atas para pengajar kebaikan kepada manusia, dan
sesungguhnya Rasulullah diutus melainkan sebagai seorang pengajar. Maka
katakanlah kepada dirimu itu: "Jika engkau jujur bahwa engkau menginginkan
ilmu untuk memberi manfaat kepada manusia demi mengharap rida Allah, lalu
mengapa engkau begitu berambisi ingin masuk ke Darul Ulum, padahal ilmu itu ada
di dalam buku-buku, serta berada di sisi para syekh dan ulama?".
"Dan
ijazah itu adalah fitnah [ujian/godaan], ia adalah kendaraan menuju dunia,
kehidupan, dan harta, yang mana keduanya adalah racun yang mematikan,
menghapuskan amal, serta merusak hati dan anggota badan."
"Maka
belajarlah dari buku-buku dan janganlah engkau menggantungkan diri pada
ijazah-ijazah madrasah ataupun diploma-diploma resmi."
Filsafat
ini hampir saja menguasai jiwaku, bahkan ia telah benar-benar menguasainya
secara nyata. Oleh karena itu, aku tidak mau belajar bersama saudara Ustaz Ali
Naufal karena mengabaikannya.
Akan
tetapi, guru kami Syekh Farahat Salim —semoga Allah merahmatinya— yang mana
beliau sangat mencintaiku dengan kecintaan yang teramat besar dan selalu
menampakkan kasih sayangnya kepadaku di setiap kesempatan, serta menempati
kedudukan yang mulia di dalam jiwaku, berhasil dengan keluwesan dan
kelembutannya untuk mendorongku agar belajar dengan sungguh-sungguh, dan
benar-benar mendaftarkan diri ke Darul Ulum.
Di
antara perkataannya adalah: "Engkau sekarang berada di ambang pintu ujian
sertifikasi kompetensi (al-kafa'ah), dan ilmu itu tidak membahayakan.
Keikutsertaanmu dalam ujian Darul Ulum adalah pengalaman untuk menghadapi
ujian-ujian besar, dan ini adalah kesempatan yang tidak akan terulang. Maka
mendaftarlah demi menjaga hak dirimu, dan aku yakin engkau akan lulus insya
Allah. Kemudian setelah itu, di hadapan kita ada ruang untuk berpikir sesukamu,
dan engkau memiliki hak untuk menolak atau masuk."
Demikianlah,
dengan pengaruhnya yang kuat, beliau mampu mendorongku dengan dorongan yang
kuat untuk mengajukan permohonanku bersama orang-orang yang mendaftar. Maka aku
pun mendaftar, dan ujian tersebut dilaksanakan beberapa saat sebelum ujian
sertifikasi kompetensi.
DUA
METODE
Aku
ingin mencatat di sini dua kenangan, yang satu bersifat praktis dan yang lain
bersifat teoritis, yang mana aku mengagumi keduanya dan sempat menarik
perhatian pemikiranku dalam beberapa waktu.
Adapun
yang pertama adalah kenangan tentang seorang yang mulia lagi berilmu luas,
Syekh Ahmad As-Syarqawi Al-Huraini —semoga Allah merahmatinya— yang tidak
pernah kulihat kecuali hanya sekali, yaitu ketika beliau berziarah menemui
anak-anak, para murid, pengikut, dan orang-orang yang mencintainya di Damanhur.
Beliau memeriksa keadaan mereka di tempat tinggal dan rumah-rumah mereka, serta
menghabiskan satu malam bersama kami tanpa keluar dari watak kebiasaannya yang
sudah maklum.
Aku
mengetahui tentang kepribadian laki-laki ini apa yang menjadikannya agung di
mataku dan senantiasa kuingat hingga kini. Aku mengetahui darinya bahwa beliau
mencintai ilmu dan pengajaran dengan segenap hatinya. Maka penduduk desanya
berbondong-bondong menuju ilmu karena dorongannya. Beliau pun sering kali
membantu orang yang tidak mampu menanggung biaya pendidikan dengan menggunakan
harta pribadinya sendiri hingga pendidikannya selesai. Kemudian setelah murid
tersebut lulus, ia akan bekerja untuk membiayai pelajar lain dari kalangan yang
tidak mampu, sampai ia dapat melunasi utangnya —bukan dalam bentuk uang tunai,
melainkan dalam bentuk sumbangsih ilmu dan makrifat—. Melalui metode ini, tidak
ada satu pun orang di desa Hurain yang tidak mampu mengenyam pendidikan
betapapun miskinnya keluarga mereka. Sungguh, solidaritas keilmuan ini telah
mencukupi mereka semua, di samping adanya ikatan ruhani yang menyatukan para
penuntut ilmu ini seluruhnya.
Satu-satunya
hiburan bagi laki-laki tersebut adalah ketika mereka berkumpul di sekelilingnya
pada masa liburan musim panas. Beliau dapat melihat dua puluh pelajar Al-Azhar
duduk berdampingan dengan dua puluh pelajar Darul Ulum —sebagaimana para
mahasiswa Darul Ulum biasa disebut— serta berdampingan pula dengan lima puluh
pelajar dari Madrasah Guru Tingkat Dasar... hingga sejumlah besar pelajar dari
berbagai macam madrasah yang berbeda-beda jenisnya. Beliau mengajak mereka
belajar bersama, mengobrol, memberikan teka-teki (al-alghaz) serta
sanggahan-sanggahan (al-i'tiradhat), serta menerima pertanyaan dan
jawaban dari mereka. Beliau mengasah pikiran dan semangat mereka menuju
pelajaran, ilmu, dan makrifat dengan cara tersebut. Oleh karena inilah, para
pelajar Madrasah Guru Tingkat Dasar di Damanhur yang berasal dari desa Hurain
berjumlah sangat besar. Beliau pernah mengunjungi mereka dalam kunjungan
motivasi yang dihabiskan dengan candaan ilmiah dan diskusi ini. Aku pun tidak
luput dari pertanyaan, sanggahan, teka-teki, dan koreksinya —semoga Allah
merahmatinya dan meluangkan tempat baginya di surga-Nya—.
Sementara
kenangan kedua adalah kenangan tentang Syekh Sawi Diraz —semoga Allah
merahmatinya—. Beliau adalah seorang pemuda petani yang pada waktu itu usianya
belum melewati dua puluh lima tahun, dan setelah itu beliau wafat menuju rahmat
Allah. Akan tetapi, beliau memiliki kecerdasan yang langka, ketajaman
pemahaman, serta kemampuan yang luar biasa dalam menggambarkan berbagai
perkara. Kami mulai berbincang-bincang mengenai para wali dan ilmu, lalu
perbincangan kami mengalir hingga sampai pada bahasan mengenai Tuanku Ibrahim
Ad-Dasuqi yang letak desanya bertetangga dengan desa mereka, kemudian beralih
pada bahasan mengenai Tuanku Ahmad Al-Badawi di Tanta.
Beliau
bertanya: "Apakah engkau tahu apa kisah sebenarnya dari Tuanku Ahmad
Al-Badawi?".
Aku
menjawab: "Beliau adalah seorang wali yang mulia, bertakwa, saleh, dan
seorang alim yang utama.".
Beliau
bertanya lagi: "Apakah hanya itu saja?".
Aku
menjawab: "Itulah yang kami ketahui.".
Maka
beliau berkata: "Dengarkanlah, aku akan menceritakannya kepadamu."
"Sandi
Ahmad Al-Badawi datang ke Mesir dari tempat hijrahnya di Makkah, sedangkan
keluarganya berasal dari Maroko. Ketika beliau menginjakkan kaki di Mesir,
negeri ini sedang dikuasai oleh kaum Maimalik [para budak yang terbebaskan].
Padahal, kekuasaan (wilayah) mereka secara syariat tidak sah karena
mereka bukan orang-orang merdeka (ahrar). Sementara beliau adalah
seorang Sayyid keturunan Alawi [keturunan Ali bin Abi Thalib] yang terhimpun
pada dirinya kemuliaan nasab, ilmu, dan kewalian. Ahlulbait memandang bahwa
kekhalifahan adalah hak bagi mereka, sedangkan Kekhalifahan Abbasiyah telah
runtuh dan urusannya telah berakhir di Bagdad. Umat Islam terpecah-belah
menjadi negara-negara kecil yang dikuasai oleh para amir yang merebutnya dengan
kekuatan, dan di antara mereka adalah kaum Mamluk ini. Maka ada dua perkara
yang wajib diperjuangkan oleh sang Sayyid melalui jihad: mengembalikan
kekhalifahan dan merebut kembali kekuasaan dari tangan kaum Mamluk yang tidak
sah pemerintahannya."
"Bagaimana
beliau melakukan hal ini?. Tentu harus ada pengaturan khusus. Maka beliau
mengumpulkan sebagian orang dekat dan penasihatnya, di antaranya adalah Tuanku
Mujahid, Tuanku Abdul Al, dan yang sepermisalan dengan keduanya. Mereka sepakat
untuk menyebarkan dakwah dan mengumpulkan manusia di atas zikir serta tilawah.
Mereka menjadikan simbol-simbol zikir ini berupa pedang kayu atau tongkat yang
tebal untuk menempati posisi pedang, tabuh gendang (at-thabl) sebagai
sarana mengumpulkan massa, serta panji/bendera (al-bayraq) untuk menjadi
tanda bagi mereka, serta perisai (ad-daraqah) —dan ini semua adalah
syiar-syiar jemaah Ahmadiyah—. Apabila manusia telah berkumpul di atas zikir
kepada Allah dan mempelajari hukum-hukum agama, mereka setelah itu akan mampu
merasakan dan menyadari apa yang menimpa masyarakat mereka berupa kerusakan
dalam pemerintahan dan hilangnya kekhalifahan. Maka semangat pembelaan agama (an-nakhwah
ad-diniyyah) serta akidah kewajiban amar makruf nahi mungkar akan mendorong
mereka untuk berjihad di jalan memperbaiki kondisi-kondisi ini. Para pengikut
tersebut berkumpul setiap tahun."
"Sang
Sayyid memilih kota Tanta sebagai pusat gerakannya —karena letaknya yang berada
di tengah-tengah kota-kota yang ramai di Mesir dan karena jaraknya yang jauh
dari pusat pemerintahan—. Apabila para pengikut berkumpul setiap tahun dalam
bentuk perayaan "Maulid", beliau dapat mengetahui sampai sejauh mana
manusia terpengaruh oleh dakwah tersebut. Akan tetapi, beliau tidak menampakkan
dirinya kepada mereka, melainkan mengasingkan diri di atas loteng rumah (fawqa
as-sath) dan memakai penutup muka (al-litsam) yang berlapis-lapis
agar penampilannya terasa lebih berwibawa di dalam jiwa mereka. Begitulah
kebiasaan yang berlaku pada zaman itu, hingga para pengikutnya menyebarkan
anggapan bahwa memandang wajah beliau dapat mendatangkan kematian, maka barang
siapa yang ingin melihat sang Quthb [wali tertinggi], ia harus rela
mengorbankan nyawanya demi pandangan tersebut."
"Demikianlah
dakwah ini tersebar luas hingga diikuti oleh orang yang sangat banyak. Akan
tetapi, situasi dan kondisi tidak mendukung keberhasilan gerakan ini, sebab
Mesir kemudian dipimpin oleh Az-Zhahir Baibars Al-Bunduqdari. Beliau berhasil
menang atas kaum Salib berkali-kali, serta menang atas bangsa Tatar bersama
Al-Muzaffar Quthuz. Namanya menjadi harum, bintangnya bersinar tinggi, dan ia
dicintai oleh masyarakat umum. Tidak cukup sampai di situ, ia bahkan
mendatangkan salah seorang putra keturunan Abbasiyah lalu membaiatnya sebagai
khalifah secara nyata. Maka tindakan ini menghancurkan rencana gerakan tersebut
dari akar fondasinya. Tidak berhenti di situ saja, Baibars juga menjalankan
politik yang sangat baik terhadap sang Sayyid, menjalin hubungan dengannya,
mengangkat kedudukannya, serta memberikan tugas kepadanya untuk menjadi
penanggung jawab dalam mendistribusikan para tawanan perang kepada keluarga
mereka saat pembebasan dari negeri musuh, karena di dalam tugas tersebut
mengandung unsur penghormatan dan pemuliaan. Ini semua terjadi sebelum proyek
gerakan yang berbahaya ini sempurna dijalankan. Maka kerajaan dan pemerintahan
secara aktual tetap berada di tangan kaum Mamluk, sedangkan nama khalifah
secara formalitas ini bertahan untuk beberapa waktu lamanya."
Aku
mendengarkan analisis dan jalinan kronologi dalam sejarah Sayyid Al-Badawi ini
seraya merasa takjub terhadap pola pikir pemuda petani ini, yang tidak
mengenyam pendidikan melainkan sebatas pendidikan tingkat dasar di desanya.
Betapa banyak di Mesir ini kecerdasan yang terkubur dan akal yang melimpah
sekiranya ada orang yang mau berusaha untuk mengeluarkannya dari ranah potensi
menuju ranah aktual nyata??.. Untaian kalimat Syekh Sawi Diraz —semoga Allah
merahmatinya— masih terus terbayang di hadapanku seolah-olah aku sedang
mendengarnya sekarang. Di dalamnya terdapat pelajaran dan hal yang unik,
sedangkan segala urusan berada di tangan Allah. Sesungguhnya bumi ini milik
Allah, diwariskan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari
hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
MENUJU
KAIRO
Aku
kembali bercerita bahwa aku mendaftarkan diri ke Darul Ulum, dan setelah itu
aku diberitahu mengenai jadwal pemeriksaan medis (tes kesehatan) dan ujian. Aku
harus memenuhi panggilan tersebut dan melakukan perjalanan menuju Kairo demi
menunaikan keduanya.
Peristiwa
itu terjadi pada bulan Ramadan. Ayahku ingin mendampingiku, namun aku memandang
tidak ada keperluan yang mendesak untuk itu. Aku merasa cukup dengan bekal
untaian doa-doa yang baik dari beliau. Beliau menjabarkan rute perjalanan
kepadaku, serta memberiku selembar surat yang ditujukan kepada salah seorang
sahabatnya dari kalangan pedagang buku besar yang berkecukupan di Kairo. Ayahku
telah lama memberikan banyak bantuan jasa yang agung kepadanya karena meyakini
kesalehan, kesetiaan, dan kebaikan pada diri orang tersebut.
Aku
tiba di Kairo untuk pertama kalinya dalam hidupku, sedangkan usiaku saat itu
telah melewati enam belas tahun beberapa bulan. Aku turun di stasiun Bab
al-Hadid bertepatan pada waktu Asar, lalu menaiki trem menuju Al-Atabah,
kemudian naik angkutan Suwaris menuju masjid Tuanku Al-Husain. Di sana aku
turun dan berjalan menuju toko pedagang buku tersebut. Aku menyerahkan surat
kepadanya, namun ia sama sekali tidak acuh dan tidak memedulikan apa yang
tertera di dalamnya. Satu-satunya hal yang ia lakukan adalah menyuruh salah
seorang pekerja di tokonya untuk mengawasiku.
Pekerja
tersebut adalah seorang laki-laki yang saleh lagi mulia, dan ayahku memiliki
kenalan dengannya sejak masa lalu. Ia menyambutku dengan sangat hangat,
memuliakanku, lalu membawaku ke rumahnya untuk berbuka puasa bersama. Kami
keluar menghabiskan waktu beberapa saat, kemudian kembali ke rumah untuk
menyantap sahur. Aku tidur setelah menunaikan salat Subuh, lalu bangun
pagi-pagi sekali seraya meminta kepada sahabatku ini agar menunjukkan letak madrasah
Darul Ulum. Sebab, sahabat karibku dan saudara yang mulia, Ustaz Muhammad
Syaraf Hajjaj —yang saat ini menjadi guru pada Kementerian Pendidikan— telah
mendahuluiku masuk ke sana satu tahun sebelumnya, sehingga aku bisa menemuinya
demi memperjelas tata cara pemeriksaan medis dan ujian.
Pekerja
yang baik itu menunjukkan cara untuk sampai ke Darul Ulum. Maka aku menaiki
Suwaris menuju Al-Atabah, kemudian naik trem menuju Jalan Qashr al-Aini yang
berada di depan Darul Ulum. Aku menunggu para mahasiswa keluar kelas, hingga
akhirnya aku bertemu dengan sahabatku. Kami saling berpelukan, lalu ia
menggandeng tanganku menuju rumah tempat tinggalnya yang berada di Gang Abdul
Baqi di wilayah Birkat al-Fil lantai dua, di mana ia tinggal di sana bersama
satu rombongan mahasiswa lainnya.
Agenda
kegiatanku pada hari kedua sejak pagi hari adalah menuju toko pedagang buku
tersebut —setelah sahabatku berangkat menuju madrasahnya— agar ia bersedia
menunjukkanku kepada seorang perajin kacamata guna membuat kacamata medis
sebagai persiapan menghadapi pemeriksaan kesehatan. Akan tetapi, ia kembali
berpaling dari diriku sebagaimana kebiasaannya, maka aku tidak ingin
membuang-buang waktu lagi. Aku langsung melangkah saat itu juga menuju Masjid
Al-Azhar dan memasukinya untuk pertama kali dalam hidupku. Luasnya bangunan
serta kesederhanaannya membuatku takjub, demikian pula dengan
lingkaran-lingkaran (halaqah) para pelajar di dalamnya yang sedang
belajar dan bermuzakarah.
Aku
berdiri menyimak halakah demi halakah satu per satu, hingga aku melihat sebuah
halakah yang pesertanya sedang berbincang mengenai pendaftaran masuk Darul
Ulum. Aku memahami bahwa mereka adalah orang-orang yang mendaftar untuk ujian
masuk yang akan diadakan sekitar sepuluh hari lagi, dan untuk pemeriksaan medis
yang akan dilaksanakan dalam waktu sekitar tiga hari lagi. Maka aku membaurkan
diri ke dalam barisan mereka, lalu berbincang menceritakan keinginanku serta
keperluanku terhadap orang yang dapat membimbingku menuju dokter yang mahir
untuk membuatkan kacamata medis. Salah seorang dari mereka mengajukan diri
secara sukarela, dan beranjak saat itu juga bersamaku menuju klinik seorang
dokter wanita berkebangsaan Yunani —menurut persangkaanku— namun ia telah
berasimilasi menjadi orang Mesir (mutamashshirah). Ia menyifati dokter
tersebut dengan keahlian dan kemahiran, serta menceritakan bahwa dokter itu
pernah membuatkan kacamata yang cocok untuknya dengan harga yang bersahabat.
Ketika
kami sampai di hadapannya, dokter wanita itu mulai menjalankan tugasnya dan
mengambil upah pemeriksaan sebesar lima puluh piaster. Ia menunjukkan kami
menuju toko kacamata, yang kemudian toko tersebut mengambil upah pembuatan
kacamata sebesar seratus lima puluh piaster dan langsung menyelesaikannya saat
itu juga. Dengan demikian, tidak ada lagi perkara di hadapanku melainkan
menunggu jadwal pemeriksaan medis dua hari kemudian.
PEMERIKSAAN
MEDIS
Aku
tidak berlebihan ketika mengatakan bahwa taufik dan keberuntungan mendampingiku
dalam pemeriksaan medis ini dengan keberuntungan yang sangat menakjubkan, di
saat aku melihat sebagian orang yang kukenal justru dikhianati oleh
keberuntungan mereka. Mahasuci Zat yang membagi-bagikan keberuntungan, maka
tidak ada ruang untuk mencela maupun menyalahkan.
Jumlah
dokter pemeriksa saat itu ada tiga orang, dan namaku berada di urutan paling
akhir dalam daftar pemeriksaan dokter pertama, yang mana ia adalah dokter yang
paling baik dan paling mudah pemeriksaannya. Sementara saudara Ustaz Ali Naufal
menjadi bagian dari dokter ketiga, yang merupakan dokter yang paling keras hati
dan paling ketat pemeriksaannya.
Seberapapun
tingginya persentase kelulusan di sisi dokterku, maka persentase kegagalan
(tidak lulus) di sisi dokter yang lain tersebut jauh lebih tinggi lagi. Maka
aku pun dinyatakan lulus meskipun aku berada di dalam keraguan yang penuh
mengenai kelulusan ini. Sebaliknya, ia dinyatakan gagal padahal ia sangat yakin
akan keselamatan mata dan badannya, serta telah memiliki persiapan yang sangat
sempurna untuk kelulusan ini.
Dokter
tersebut menyarankannya untuk membuat kacamata baru agar ia dapat mengulang
pemeriksaan medis kembali, lalu ia pun melakukannya. Akan tetapi, ketatnya
sifat dokter ini menghalanginya dari kelulusan untuk kedua kalinya, sehingga
kesempatan tersebut hilang darinya. Walakin, setelah peristiwa itu ia
mendaftarkan diri sebagai mahasiswa eksternal (intisab) pada Fakultas
Sastra Jurusan Bahasa Arab, dan ia tekun menjalani sistem ini hingga berhasil
meraih gelar Licentiate (S1) darinya. Sungguh, pemilik tekad yang tinggi tidak
akan pernah dilemahkan oleh sesuatu apa pun.
SATU
PEKAN DI AL-AZHAR
Hasil
pemeriksaan medis pun diumumkan, dan sungguh keberadaanku di antara orang-orang
yang lulus merupakan sebuah kejutan bagiku. Oleh karena itulah, aku menghadapi
tugas ujian ini dengan kesungguhan yang tidak ada main-main di dalamnya, tidak
ada melainkan keseriusan belaka. Mengingat waktu yang tersisa hanya tinggal
satu pekan saja, maka tidak ada jalan yang bermanfaat kecuali mencurahkan
seluruh waktu untuk fokus beribadah dan belajar (al-tabattul), dan
begitulah yang terjadi.
Aku
membawa barang-barang beserta buku-buku milikku, lalu mengarahkan langkah
menuju Masjid Al-Azhar yang makmur. Di sana, tepatnya di bagian kiblat lama (al-qiblah
al-qadimah), aku meletakkan barang bawaanku. Aku berkenalan dengan beberapa
rekan sesama pendaftar Darul Ulum, lalu kami berniat untuk melakukan iktikaf
sepanjang pekan ini demi ilmu sekaligus demi mengharap berkah bersama-sama.
Kami bergiliran keluar untuk membeli makanan berbuka puasa dan sahur, serta
bergiliran melakukan penjagaan di waktu tidur sehingga kami tidak tidur
melainkan hanya sebentar saja (ghiraran).
Semoga
Allah memperbaiki urusan ilmu Arudh [ilmu timbangan syair bahasa Arab]!, karena
aku hampir tidak memahami sedikit pun mengenai perubahan bunyi (zihaj),
cacat syair ('ilal), ragam bentuk (dhurub), maupun rima-rimanya (qawafi).
Ilmu itu benar-benar merupakan hal yang baru bagiku dalam setiap makna katanya.
Akan tetapi, aku mulai menghafalnya begitu saja demi keselamatan ujian. Aku
sama sekali tidak mengkhawatirkan ilmu-ilmu matematika maupun ilmu-ilmu umum,
namun aku justru mengkhawatirkan ilmu Nahwu dan Sharaf. Hal itu karena aku
membayangkan bahwa aku tidak akan mampu mengejar debu yang ditinggalkan oleh
para pelajar pendaftar yang berasal dari Al-Azhar, di mana di antara mereka ada
yang telah melewati jenjang sertifikasi internal (al-ahliyyah) serta
telah belajar di kelas-kelas tingkat tinggi.
Memang
benar bahwa aku menghafal kitab Alfiyah, serta telah membaca sendiri
kitab Syarah Ibnu 'Aqil yang menjelaskannya, dan ayahku pun ikut
membantuku dalam beberapa urusan ini. Akan tetapi, aktivitas tersebut bukanlah
bentuk studi yang terstruktur rapi yang dengannya jiwa bisa merasa tenang dan
hati bisa merasa tenteram.
Hari-hari
ujian pun tiba dan berlalu dengan selamat. Aku masih mengingat bait syair Arudh
yang diujikan kepada kami, di mana kami diminta untuk memotong-motong
ketukannya (taqthi'), menyebutkan cacat ('ilal) dan perubahan (zihaj)
yang ada di dalamnya, serta menentukan dari bahar [pola timbangan] apa bait
tersebut berasal:
Sekiranya
engkau tercipta dari sesuatu selain manusia... > tentulah engkau akan
menjadi pemberi cahaya di malam bulan purnama...
MIMPI
YANG SALEH
Sesungguhnya
di antara karunia Allah tabaaraka wa ta'ala adalah Dia senantiasa menenteramkan
dan menenangkan jiwa hamba-hamba-Nya, dan apabila Dia menghendaki suatu perkara
maka Dia akan menyiapkan sebab-sebab kemudahannya. Aku masih teringat bahwa
pada malam ujian mata pelajaran Nahwu dan Sharaf —dan bukan pelajaran Al-Jabar
sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian perkataan orang— aku melihat di
dalam tidurku seolah-olah aku sedang menaiki sebuah perahu kecil yang indah
bersama beberapa ulama yang utama lagi mulia. Perahu tersebut berjalan mengalir
dengan perlahan dalam embusan angin yang sepoi-sepoi di atas permukaan sungai
Nil yang indah.
Tiba-tiba
salah seorang dari ulama yang utama tersebut maju mendekat, dan ia mengenakan
pakaian khas ulama Mesir Hulu (ulama al-sha'id). Ia berkata kepadaku:
"Di mana kitab Syarah Alfiyah karya Ibnu 'Aqil?".
Aku
menjawab: "Ini dia.".
Ia
berkata: "Kemarilah, kita ulangi bersama beberapa pembahasan di dalamnya.
Bukalah halaman sekian, dan halaman sekian," untuk halaman-halaman yang ia
tentukan secara spesifik.
Aku
pun mulai mengulang pembahasan-pembahasannya hingga akhirnya aku terbangun dari
tidur dalam kondisi hati yang lapang lagi gembira.
Pada
pagi harinya, mayoritas pertanyaan ujian datang berkisar di seputar
pembahasan-pembahasan tersebut. Maka hal itu merupakan bentuk kemudahan dari
Allah tabaaraka wa ta'ala, dan mimpi yang saleh merupakan kabar gembira yang
disegerakan bagi seorang mukmin, walhamdulillah rabbil 'alamin.
MADRASAH
KHARBATA DI BUHAIRAH
Aku
kembali dari Kairo setelah menunaikan ujian. Tidak lama setelah itu, aku
menunaikan ujian sertifikasi kompetensi mengajar madrasah dasar awal. Ketika
hasilnya diumumkan, aku menjadi peringkat pertama di madrasahku, dan peringkat
kelima di seluruh penjuru negeri (Mesir). Kemudian hasil ujian Darul Ulum pun
diumumkan, dan aku termasuk di antara orang-orang yang dinyatakan lulus.
Kelulusan ini pun menjadi sebuah kejutan bagiku.
Sebab,
aku mengingat pada momen ujian lisan, aku berhadapan dengan guru kami Ahmad
Budair. Beliau adalah orang yang banyak bercanda namun dengan gaya candaan yang
menyerupai kekasaran bagi siapa saja yang belum mengenalnya. Aku duduk di
hadapannya, lalu beliau bertanya: "Engkau mendaftar untuk Kelas
Tinggi?".
Aku
menjawab: "Benar, wahai Tuanku.".
Beliau
melihatku dengan pandangan sinis (syazran) kemudian berkata: "Darul
Ulum akan mengecil kalau begitu, berapa usiamu?".
Aku
menjawab: "Enam belas tahun setengah.".
Beliau
bertanya lagi: "Mengapa engkau tidak menunggu saja sampai engkau
besar?".
Aku
menjawab: "Khawatir kesempatannya akan terlewat.".
Maka
beliau berkata: "Kalau begitu, bacalah bab Jamak Taksir!, bukankah engkau
menghafal Alfiyah?, maka bacalah!".
Teman
sejawat beliau dalam menguji saat itu adalah Ustaz Abdul Fattah Asy-Asyur. Aku
sendiri belum terbiasa dengan model candaan seperti ini dari orang yang belum
kukenal. Apalagi usiaku saat itu memang menarik perhatian rekan-rekan sesama
peserta ujian, hingga sebagian dari mereka ada yang berkata kepadaku:
"Ujian untuk Kelas Persiapan berada di arah yang berlawanan.". Maka
aku menjawabnya: "Bahwa aku mendaftar untuk Kelas Tinggi," lalu ia
melihatku seraya pergi berlalu.
Aku
sempat terpengaruh oleh candaan Ustaz Budair tersebut dan hampir saja berhenti
menjawab, sekiranya Ustaz Asy-Asyur tidak menengahi perkara dengan membalas
zarkah Ustaz Budair dalam bentuk candaan pula, lalu beliau mulai menyimak
bacaanku dengan baik. Kemudian tibalah giliran ujian membaca (al-muthala'ah),
hafalan, serta diskusi lisan, yang mana pada akhir sesi Ustaz Budair justru
mendoakan kebaikan untukku dan memberikan motivasi, lalu aku pun keluar. Adapun
ujian Al-Qur'an al-Karim dilaksanakan di hadapan Ustaz Ahmad Bek Zanati —semoga
Allah merahmatinya— dan beliau adalah orang yang jenaka lagi lemah lembut.
Akan
tetapi, terlepas dari semua proses ini, aku sama sekali tidak merasa yakin akan
lulus, sehingga munculnya hasil kelulusan tersebut benar-benar menjadi kejutan.
Kejutan
yang ketiga adalah bahwa Dewan Direksi Wilayah Al-Buhairah secara faktual
langsung mengangkatku sebagai guru di Madrasah Dasar Awal Kharbata, dan aku
diminta untuk hadir menyerahkan diri guna memulai pekerjaan tepat setelah
berakhirnya liburan musim panas.
Berdasarkan
kondisi ini, aku harus memilih antara mengambil pekerjaan fungsional tersebut
atau kembali ke jalur menuntut ilmu di Darul Ulum. Namun pada akhirnya, aku
lebih memilih untuk terus berjalan dalam silsilah menuntut ilmu, serta
mengencangkan tali tunggangan menuju Kairo tempat di mana Darul Ulum berada,
dan tempat di mana pemukiman resmi bagi syekh kami, Sayyid Abdul Wahab
Al-Hasafi berada.
Tidak
ada hal yang menggelisahkanku selain perasaan akan lamanya masa berpisah dari
Mahmudiyah, yang di dalamnya terdapat sahabat karib serta saudara yang
dicintai, Ahmad Efendi As-Sukkari. Akan tetapi, kami berdua sepakat untuk
melaksanakan tekad bulat ini, selama pilihan ini merupakan apa yang terbaik.
Kemudian kami bisa saling mengunjungi setelah itu atau saling berkirim surat.
Ilmu adalah salah satu jenis dari jihad, dan kami wajib memberikan pengorbanan
di jalannya betapapun besarnya pengorbanan tersebut terasa berharga lagi mahal.
TAHUN
PERTAMA DI DARUL ULUM
Liburan
musim panas telah berakhir. Aku bertolak menuju Kairo dan tinggal bersama
beberapa saudara yang mulia di rumah Nomor 18 Jalan Marasina di wilayah
Sayyidah Zainab —semoga Allah meridainya—, dan ini merupakan rumah pertama yang
kami tinggali.
Aku
berangkat pada hari pertama pembukaan gerbang studi menuju Darul Ulum,
sedangkan seluruh diriku dipenuhi oleh rasa rindu terhadap ilmu. Allah telah
mengarahkan diriku menuju pelajaran dengan pengarahan yang terpuji. Aku tidak
pernah melupakan jam pelajaran pertama. Saat itu kami belum menerima buku-buku
pelajaran maupun alat tulis. Guru kami, sang penyair Badui, Syekh Muhammad
Abdul Muttalib —semoga Allah mencurahkan awan rahmat dan keridaan-Nya yang
lebat atasnya— berdiri di depan papan tulis di atas mimbar podium dengan postur
tubuhnya yang tinggi tegap. Beliau menyapa para mahasiswa baru, serta mendoakan
kesuksesan dan taufik bagi mereka. Kemudian beliau menuliskan di atas papan
tulis perkataan Ubaid bin Al-Abras:
Dan
kita memiliki rumah yang kemuliaannya telah kita warisi sejak dahulu kala...
> yaitu kemuliaan kuno yang kokoh, dari jalur paman kandung maupun paman
seibu... > Tempat tinggal yang darinya bapak-bapak kita... > wariskan
kepada kita tempat sujud di awal malam-malam...
Kemudian
beliau memegang bagian atas kerah jubahnya (jubbah) sebagaimana
kebiasaan rutinnya —semoga Allah merahmatinya— lalu membaca kedua bait tersebut
dengan nada suara yang mengandung makna kebanggaan dan kemuliaan. Selanjutnya
beliau meminta kami untuk menguraikan kedudukan sintaksisnya (i'rab).
Maka aku berkata di dalam hatiku: "Kita telah memulai keseriusan sejak
hari pertama," dan aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri: "Apa
makna kata al-Qadamus [kuno/agung] ini?". Dan mengapa beliau
memilih kata "minhu" [darinya] padahal di dalam kelonggaran
syair beliau bisa saja memilih kata "assasahu"
[mendirikannya]?.
Kami
terus-menerus memeras otak dalam menguraikan i'rab kedua bait tersebut hingga
diskusi membawa kami berpindah pada pembicaraan mengenai Ubaid bin Al-Abras,
kehidupan bangsa Arab beserta apa yang ada di dalamnya berupa kekasaran dan
kelembutan, hari-hari besar bangsa Arab (ayyam al-'Arab) serta
kisah-kisah uniknya (awabid), hingga alat-alat yang digunakan dalam
peperangan dan perdamaian mereka. Diskusi juga meluas pada macam-macam tombak,
pedang, dan anak panah, hingga pembedaan antara anak panah yang memiliki bulu (al-sahm
al-marisy) dengan anak panah yang tidak memiliki bulu. Guru kelas
membawakan syahid puisi berupa bait yang sudah masyhur:
Ia
memanahku dengan anak panah yang bulunya berasal dari celak mata yang tidak
melukai... > bagian luar kulitku, walakin ia mencabik-cabik bagian
dalam jantung hati...
Beliau
mulai menggambar berbagai macam jenis anak panah tersebut di atas papan tulis,
sedangkan aku terpesona dengan model perluasan bahasan dan kedalaman riset
seperti ini. Aku mengikutinya dengan penuh ketertarikan dan kerinduan. Gaya
pengajaran tersebut semakin menambah rasa cintaku terhadap ilmu, serta menambah
rasa hormat, pengagungan, dan takjubku terhadap Darul Ulum beserta para
gurunya.
KISAH
UNIK
Sembari
menyebut perihal guru kami, Syekh Abdul Muttalib —semoga Allah merahmatinya—
aku teringat bahwa saudara pekerja toko buku yang baik, yang dahulu aku singgah
di tempatnya untuk pertama kali, menyebutkan kepadaku bahwa ia memiliki jalur
hubungan dengan para guru Darul Ulum, di antaranya adalah Ustaz Syekh Abdul
Muttalib dan Ustaz Syekh Allam Salamah —semoga Allah merahmatinya—. Ia
menceritakan bahwa dalam kemampuannya untuk berbicara kepada keduanya mengenai
urusanku agar mereka berdua bersedia memberikan bantuan perantara (syafa'ah/wasilah)
bagiku dalam tahapan pemeriksaan medis atau dalam ujian walaupun ujian lisan.
Ia menambahkan bahwa ia akan mengunjungi Syekh Abdul Muttalib malam ini di
rumahnya untuk menyerahkan beberapa buku, dan tidak ada halangan sekiranya aku
ingin mendampinginya ke sana —beliau saat itu tinggal di Jalan Sanjar Al-Khazin
di wilayah Al-Hilmiyah, dan ini adalah kali pertama aku mendengar nama Sanjar
Al-Khazin hingga aku bertanya-tanya siapakah Sanjar Al-Khazin ini?, apakah ia
berasal dari kalangan kaum Mamluk ataukah dari kalangan orang Turki?—. Akan
tetapi, aku tidak mendapati adanya kecenderungan di dalam jiwaku menuju jalur
perantara ini, maka aku menyampaikan rasa terima kasihku kepada laki-laki
tersebut dan merasa cukup dengan kondisi yang ada.
Namun,
perkataannya tersebut mengingatkanku pada guru kami Syekh Musa Abu Qamar
—semoga Allah merahmatinya— yang merupakan kerabat dekat sekaligus pengajar di
Darul Ulum juga. Aku bertanya kepadanya mengenai letak rumah beliau, lalu ia
menyebutkannya kepadaku —yang saat itu berada di Jalan Al-Khalij Al-Mishri—.
Aku memanfaatkan kesempatan pada waktu dua hari yang kosong sebelum pelaksanaan
pemeriksaan medis untuk pergi menuju rumahnya. Aku berdiri di depan pintu
rumahnya lalu mengetuknya sekali...
Akan
tetapi pada detik gerakan tersebut, terlintas sebuah lintasan pikiran di dalam
benak batin yang langsung menguasai seluruh jiwaku dan mendorongku untuk segera
pergi berlalu saat itu juga tanpa perlu menunggu jawaban dari dalam rumah.
Lintasan pikiran tersebut adalah: "Bahwa tindakan ini merupakan bentuk
bersandar kepada selain Allah, bergantung pada selain-Nya, serta bernaung
kepada manusia!". Maka aku memantapkan tekad untuk memohon pertolongan
hanya kepada Allah semata, dan menetapkan bahwa kunjunganku kepada sang Syekh
—semoga Allah merahmatinya— baru akan terlaksana setelah selesainya seluruh
rangkaian proses ujian bersama-sama. Dan hal itu benar-benar terjadi, dan aku
mengunjunginya setelah itu, lalu ia mencelaku karena tidak menumpang di
rumahnya —dan beliau, semoga Allah merahmatinya, adalah seorang yang mulia lagi
dermawan yang rumahnya hampir tidak pernah sepi dari para tamu dan orang-orang
yang memiliki keperluan—. Maka aku menceritakan kepadanya apa yang telah
terjadi, lalu ia tertawa dan memotivasiku atas prinsip ini, serta memperkuatnya
di dalam jiwaku; semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan meluangkan tempat
baginya di surga-Nya.
TEMPAT
TINGGAL BARU
Dan
aku tidak pernah lupa pembicaraan tentang pencarian tempat tinggal baru. Sebab,
keluarga Akif, pemilik rumah yang kami tinggali, telah menjual rumah mereka
kepada Ibrahim Bek Lam'i, seorang pedagang kertas, tinta, dan alat-alat tulis,
yang terpaksa mengeluarkan para penghuni rumah untuk menggunakan rumah tersebut
demi kepentingannya sendiri. Maka ia memperingatkan kami dan meminta kami untuk
segera keluar dalam waktu tiga hari atau kurang. Betapa besarnya kebingungan
kami dalam mencari tempat tinggal hingga akhirnya kami dipandu menuju sebuah
rumah di Jalan Ad-Dahdirah di Qal'at al-Kabsy, di mana kami menghabiskan sisa
tahun tersebut di sana.
KEHIDUPAN
SATU TAHUN
Aku
merasa bahagia dengan kehidupan di Kairo pada tahun ini. Peringkatku tampak
unggul dalam ujian, dan madrasah memberiku imbalan materi yang telah
ditetapkan, yaitu satu pound per bulan, yang aku khususkan untuk membeli
buku-buku di luar buku pelajaran madrasah. Hingga saat ini, masih banyak buku
di perpustakaanku yang merupakan hasil dari satu pound ini, yang
senantiasa menemaniku sepanjang kehidupan madrasahku.
Sebagaimana
aku juga menemukan kenikmatan yang sangat besar dalam menghadiri acara Hadrah
[halakah zikir] setelah salat Jumat setiap pekan di rumah Syekh Al-Hasafi,
kemudian pada banyak malam di hari-hari biasa di rumah khalifah pertama Syekh
Al-Hasafi, yaitu Ali Efendi Ghalib, atau "Sayyiduna Al-Efendi"
sebagaimana kami selalu memanggilnya, semoga Allah menguatkannya dan
membalasnya dengan kebaikan dari kami.
Dan
aku saling berkirim surat dengan saudara Ahmad Efendi As-Sukkari hampir setiap
hari, dan aku mengunjungi desa pada masa liburan lalu menghabiskannya bersama
beliau dan bersama saudara-saudara Al-Hasafiyah di Mahmudiyah, dan dalam hal
itu terdapat kecukupan.
Demikianlah
kehidupan ilmiah, praktis, dan ruhaniyahku berjalan dengan stabil tanpa ada
sesuatu pun yang mengeruhkannya, walhamdulillah.
SEBUAH
PERISTIWA ATAU MUSIBAH
Di
akhir tahun, di tengah-tengah ujian akhir, dan setelah berlalu sekitar dua hari
darinya, terjadi sebuah peristiwa padaku yang hampir saja menjadi musibah, akan
tetapi Allah tabaaraka wa ta'ala menjadikannya sebagai kebaikan, berkah, dan
sebab kepindahan seluruh anggota keluarga dari Mahmudiyah ke Kairo.
Hal
itu bermula ketika salah seorang rekan sekelas kami, yang juga tinggal bersama
kami di rumah tersebut, dan sama-sama berstatus perantau dari kampung halaman
yang sama, merasa berat hati atas keunggulanku mengunggulinya dalam ujian,
padahal ia berusia lebih tua dan telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di
lembaga-lembaga pendidikan, serta memandang dirinya lebih berhak untuk menjadi
yang utama dan terdepan. Maka bagaimana mungkin ia membiarkan anak muda yang
baru tumbuh ini mengunggulinya?
Pikiran
ini menguasai dirinya, lalu ia memikirkan sebuah tipu daya untuk menghambatku
dari ujian. Ia tidak menemukan cara lain kecuali memanfaatkan kesempatan ketika
kami semua sedang tidur, lalu menuangkan sebotol cairan yodium pekat ke wajah
dan leherku saat aku sedang tidur. Setelah itu, aku terbangun dalam keadaan
terkejut, sedangkan ia berpura-pura tidur, dan aku tidak dapat mengenalinya di
dalam kegelapan. Akan tetapi, aku segera beranjak saat itu juga menuju toilet,
lalu membasuh wajahku dari air yang membakar ini. Aku mendengar azan Subuh
berkumandang dari Masjid Suroghotmisy di Ash-Sholiybah, maka aku segera turun
dengan cepat untuk menunaikan salat.
Aku
kembali lalu tidur sebentar karena rasa lelah yang teramat sangat akibat
belajar, kemudian aku bangun di pagi hari dan melihat bekas-bekas penganiayaan
ini. Sementara ia telah keluar lebih awal, lalu salah seorang rekan berkata:
"Sesungguhnya ia benar-benar melihat botol cairan yodium bersamanya."
Ketika
diinterogasi, ia mengaku dan menyebutkan alasan yang telah dikemukakan
sebelumnya. Maka rekan-rekan satu kontrakan kami langsung bangkit mengeroyoknya
dengan pukulan yang menyakitkan, lalu melemparkan barang-barang bawaannya ke
jalanan, dan mengusirnya dari rumah.
Sebagian
dari mereka bersikeras untuk melaporkannya ke pihak kejaksaan atau administrasi
madrasah, dan aku pun benar-benar berniat untuk melakukan hal itu, sekiranya
tidak terlintas dalam pikiranku bahwa aku telah selamat, dan ini adalah nikmat
serta karunia dari Allah yang wajib disikapi dengan rasa syukur, sedangkan
wujud rasa syukur itu tidak lain adalah memaafkan dan berlapang dada:
"...Maka
barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya ditanggung oleh
Allah..." (QS. Asy-Syura: 40)
Maka
aku menyerahkan urusan tersebut kepada Allah tabaaraka wa ta'ala dan tidak
menggerakkan tindakan apa pun dalam perkara ini.
Akan
tetapi, berita tersebut telah sampai ke kampung halaman, dan ujian pun telah
berakhir, lalu kami pulang. Hasil ujian pun diumumkan dan aku termasuk di
antara orang-orang yang unggul, walhamdulillah, di mana aku menduduki peringkat
ketiga di angkatanku. Akan tetapi, Ibu menolak dengan keras kecuali memilih
salah satu dari dua perkara: aku berhenti menuntut ilmu dan kembali bekerja,
atau beliau ikut pindah bersamaku ke Kairo.
PINDAH
KE KAIRO
Pada
waktu itu, saudaraku Abdurrahman telah menyelesaikan pendidikan madrasah dasar,
dan ia harus melanjutkan ke madrasah menengah. Sementara saudaraku Muhammad
telah menyelesaikan pendidikan dasar awal, dan Ayah berpandangan untuk
memasukkannya ke Al-Azhar. Saudara-saudara lainnya pun harus mengenyam
pendidikan, sedangkan lembaga-lembaga pendidikan ini tidak tersedia di Mahmudiyah.
Oleh karena itu, kepindahan ke Kairo adalah suatu keharusan meskipun
perjalanannya jauh, dan begitulah yang terjadi.
Ayah
datang ke Kairo menjelang berakhirnya masa liburan untuk mencari tempat tinggal
dan pekerjaan. Beliau berhasil dalam urusan tersebut lalu kembali, maka kami
semua pun pindah dari Mahmudiyah; di mana Abdurrahman masuk ke Madrasah
Perdagangan, Muhammad mendaftar di Al-Azhar (Institut Kairo), dan
saudara-saudara yang tersisa masuk ke madrasah-madrasah yang sesuai.
IKATAN
EMOSIONAL
Tidak
ada yang kurang dari bersatunya kembali keluarga dalam bentuk seperti ini
melainkan adanya sebuah ikatan emosional yang kuat lagi bergejolak, yaitu
ikatan persaudaraan, kecintaan, dan persahabatan karena Allah antara diriku
dengan saudara Ahmad Efendi As-Sukkari. Kami dahulu biasa menghibur diri dari
perpisahan ini dengan hari-hari liburan, dan dengan keyakinan bahwa tempat
kembali kami pada akhirnya adalah ke satu kota yang sama.
Adapun
sekarang, ketika kami menghadapi situasi yang baru ini, di mana keadaannya bisa
jadi membuatku tidak akan kembali lagi ke Mahmudiyah kecuali jika Allah
menghendaki, maka perkara tersebut memiliki kedudukan yang krusial di dalam
jiwa kami yang menuntut kami untuk memperpanjang pemikiran di dalamnya, serta
berupaya mengatasinya dengan segala cara.
Kami
mengadakan pertemuan-pertemuan, malam-malam, pembicaraan, dan majelis-majelis
yang panjang di seputar makna ini: "Sesungguhnya Ahmad adalah seorang
pedagang, dan seorang pedagang tidak memiliki satu tanah air yang mengikatnya,
lalu mengapa ia tidak ikut pindah saja ke Kairo? Akan tetapi, apa yang harus
diperbuat dengan keluarganya? Mereka tidak ingin pindah dan kondisi mereka
tidak mengizinkannya, lalu apa solusinya?"
Kami
berpikir lama, hingga akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan tahun ini
sebagai masa uji coba, yang mana setelah itu kami akan melihat apa yang akan
terjadi.
Kami
pun benar-benar pindah, dan tahun ajaran baru dimulai. Ahmad Efendi
menghabiskan waktu bersamaku di Kairo selama hampir satu bulan di awal tahun,
kemudian beliau kembali ke Mahmudiyah. Kami terus saling berkirim surat
sepanjang periode ini hingga tahun tersebut berakhir sebagaimana tahun
sebelumnya, dan liburan musim panas pun dimulai.
TOKO
JAM
Liburan
musim panas yang kedua pun tiba, dan aku harus menghabiskannya di Mahmudiyah,
sehingga harus ada alasan kuat untuk tinggal di sana sepanjang masa liburan.
Maka
aku menawarkan kepada Ayah agar aku pergi untuk membuka sebuah toko jam milik
kami di sana, di mana aku sendiri yang akan bekerja di dalamnya sebagai tukang
reparasi jam yang mandiri, guna melatih diri secara praktis dan mandiri dalam
keahlian tersebut.
Ayah
mengetahui alasan yang sebenarnya, akan tetapi beliau sering kali meluluskan
apa yang aku inginkan, dan selalu menunjukkan kepercayaannya terhadap
tindakan-tindakanku, sebuah hal yang membiasakanku untuk percaya pada diri
sendiri. Oleh karena itulah, beliau mengizinkanku untuk pergi dan berpesan
kebaikan kepadaku.
Aku
pun berangkat lalu membuka toko tersebut, dan benar-benar bekerja mereparasi
jam. Aku menemukan dua kebahagiaan dalam kehidupan ini: kebahagiaan bersandar
pada diri sendiri dan menghasilkan nafkah dari hasil kerja tangan sendiri,
serta kebahagiaan berkumpul dengan saudara Ahmad Efendi dan menghabiskan waktu
bersama beliau serta bersama jemaah Al-Hasafiyah. Kami menghabiskan malam-malam
liburan ini bersama mereka seraya berzikir kepada Allah dan saling mengulang
ilmu; terkadang di masjid, terkadang di rumah-rumah, dan terkadang di
tempat-tempat yang sunyi di luar pinggiran kota. Terkadang kami juga mandi di
sungai Nil pada siang hari. Aku dan saudara Ahmad Efendi memiliki
pertemuan-pertemuan khusus yang sering kali menghabiskan waktu sepanjang malam
suntuk.
Aku
menumpang tinggal di rumah beliau sepanjang masa liburan tersebut, sehingga
kami tidak pernah berpisah baik di waktu malam maupun siang.
Meskipun
kami disibukkan secara penuh dengan ibadah, zikir, dan tenggelam dalam jalan
tarekat beserta wirid-wiridnya, amalan rutinnya, serta perayaan-perayaannya,
akan tetapi kami senantiasa sangat mencintai ilmu dan membaca. Kami menjauhkan
diri dari segala hal yang bertentangan dengan lahiriah agama beserta
hukum-hukumnya, dan kami mengingkari banyak orang yang menisbatkan diri pada
tarekat-tarekat atas keluarnya mereka dari ajaran-ajaran Islam.
Maka
kami adalah para murid tarekat yang merdeka dalam pemikiran kami, walaupun kami
tulus dengan setulus-tulusnya dalam pengagungan kami terhadap ibadah, zikir,
dan adab-adab suluk [perilaku spiritual].
TELADAN
YANG BAIK
Aku
ingat bahwa sudah menjadi kebiasaan kami untuk keluar dalam peringatan maulid
Rasulullah ﷺ
dengan berparade/pawai [al-maukib] setelah acara Hadrah, pada
setiap malam dari awal bulan Rabiul Awal hingga malam kedua belas darinya, yang
dimulai dari rumah salah seorang saudara. Kebetulan pada salah satu malam,
giliran tersebut jatuh pada saudara kami, Syekh Syalabi Ar-Rijal. Maka kami
pergi sebagaimana kebiasaan setelah salat Isya, lalu kami mendapati rumah dalam
keadaan terang benderang, bersih, dan dipersiapkan dengan baik. Minuman sirup,
kopi, dan kayu manis dibagikan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.
Kami
pun keluar melakukan pawai seraya mendendangkan qasidah-qasidah yang biasa
dibawakan dalam suasana kegembiraan yang sempurna dan kebahagiaan yang penuh.
Setelah
kembali, kami duduk bersama Syekh Syalabi sebentar. Ketika kami hendak
berpamitan untuk pulang, tiba-tiba beliau berkata dengan senyuman yang lembut
lagi manis: "Insya Allah besok kalian datang menemuiku pagi-pagi sekali
agar kita dapat memakamkan Ruhiyah." Ruhiyah ini adalah anak perempuan
tunggalnya, yang mana beliau dikaruniai anak tersebut setelah sekitar sebelas
tahun dari pernikahannya. Beliau sangat mencintai dan menyayanginya, hingga ia
tidak pernah berpisah darinya bahkan dalam pekerjaannya sekalipun.
Ia
telah tumbuh dan beranjak remaja, dan beliau menamainya "Ruhiyah"
karena ia menempati kedudukan belahan jiwa di dalam dirinya. Maka kami merasa
heran lalu bertanya kepadanya: "Kapan ia wafat?"
Beliau
menjawab: "Hari ini menjelang waktu Magrib." Kami berkata:
"Mengapa engkau tidak memberi tahu kami sehingga kami bisa keluar
mengadakan pawai dari rumah yang lain?"
Maka
beliau berkata: "Apa yang terjadi? Sungguh kesedihan kami telah
diringankan dan tempat duka telah berubah menjadi kebahagiaan, maka apakah
kalian menginginkan nikmat dari Allah yang lebih besar daripada nikmat
ini?"
Pembicaraan
pun berubah menjadi sebuah pelajaran tasawuf yang disampaikan oleh Syekh
Syalabi, di mana beliau mengaitkan wafatnya putri mulianya tersebut dengan
sifat cemburu Allah atas hatinya. Sebab sesungguhnya Allah cemburu terhadap
hati hamba-hamba-Nya yang saleh jika hati tersebut terpaut kepada selain-Nya,
atau berpaling kepada yang lain.
Beliau
membawakan hujah dengan kisah Nabi Ibrahim alaihis salam ketika hatinya terpaut
kepada Ismail, maka Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya; dan Nabi
Ya'qub alaihis salam ketika hatinya terpaut kepada Yusuf, maka Allah
melenyapkannya dari sisinya selama beberapa tahun. Oleh karena itu, hati
seorang hamba tidak boleh terpaut kepada selain Allah tabaaraka wa ta'ala, jika
tidak demikian maka ia menjadi seorang pendusta dalam pengakuan cintanya.
Beliau lalu membawakan kisah Fudhail bin Iyadh ketika ia memegang tangan putri
kecilnya lalu menciumnya, maka putri kecilnya berkata kepadanya: "Wahai
ayahku, apakah engkau mencintaiku?"
Beliau
menjawab: "Ya, wahai putriku." Putri kecil itu berkata: "Demi
Allah, aku tidak pernah menyangka bahwa engkau adalah seorang pendusta sebelum
hari ini." Beliau bertanya: "Bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan
kapan aku berdusta?"
Putri
kecil itu berkata: "Aku mengira bahwa dengan keadaanmu yang seperti ini
bersama Allah, engkau tidak akan mencintai seorang pun bersama-Nya."
Maka
laki-laki itu menangis dan berkata: "Wahai Tuanku, sampai-slam anak kecil
pun telah menyingkap riya hamba-Mu, Fudhail!"
Demikianlah
di antara pembicaraan-pembicaraan yang diupayakan oleh Syekh Syalabi untuk
menghibur diri kami dan menghilangkan rasa sakit yang menimpa kami akibat
musibahnya, serta rasa malu kami karena tidak menghabiskan malam ini di
sisinya. Kami pun berpamitan lalu kembali menemuinya di pagi hari, di mana kami
memakamkan Ruhiyah tanpa mendengar suara wanita yang meratap [na'ihah],
tidak ada tenggorokan yang meninggikan suara dengan kalimat yang tidak pantas,
dan kami tidak melihat melainkan manifestasi kesabaran dan ketundukan pasrah
kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.
Dan
sungguh telah wafat salah seorang putri dari guru kami, Syekh Muhammad Zahran
—semoga Allah merahmatinya— namun tindakan yang beliau lakukan tidak lain
adalah memanfaatkan momen kedukaan tersebut sebagai kesempatan untuk memberikan
nasihat dan pengajaran sepanjang tiga malam masa duka, serta menjadi teladan
yang baik lagi saleh dalam memerangi kemungkaran-kemungkaran tempat duka, dan
melenyapkan apa yang dilakukan oleh manusia di dalamnya berupa bid'ah dan adat
kebiasaan yang tidak memiliki dasar fondasi sama sekali .. Di dalam atmosfer
yang mulia inilah kami hidup.
KEMBALI
KE KAIRO DAN PERKUMPULAN-PERKUMPULAN ISLAM DI DALAMNYA
Aku
telah kembali ke Kairo, sedangkan perkumpulan-perkumpulan [jam'iyah] Islam
belum tersebar luas di dalamnya sebagaimana kondisi yang ada sekarang. Pada
waktu itu, tidak ada melainkan Jam'iyah Makariem al-Akhlaq al-Islamiyah yang
dipimpin oleh Ustaz Syekh Mahmud Mahmud. Perkumpulan ini mengadakan
ceramah-ceramah Islam di markasnya yang bertempat di Darus Sadat di Birkat
al-Fil setiap pekan. Tempat tersebut dipenuhi oleh para pengunjungnya meskipun
bangunannya luas. Ceramah-ceramah tersebut membahas banyak tema yang bermanfaat
lagi berfaedah. Adalah Syekh Abbas —pembaca Al-Qur'an Jam'iyah Makariem—
menarik hati manusia dengan suaranya yang menyentuh. Maka aku senantiasa
menjaga dengan sangat disiplin untuk menghadiri pertemuan Jam'iyah Makariem ini
dan ikut bergabung di dalamnya sebagai anggota aktif selama keberadaanku di
Kairo.
GAGASAN
MEMBENTUK PARA DA'I ISLAM
Aku
mendapati di dalam jiwaku —sebagai dampak dari apa yang kusaksikan di Kairo
berupa manifestasi dekadensi moral dan jauhnya masyarakat dari akhlak Islam di
banyak tempat yang tidak pernah kami jumpai di pedesaan Mesir yang aman, dan
sebagai dampak dari apa yang dipublikasikan di sebagian surat kabar berupa
perkara-perkara yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam serta adanya
kebodohan di kalangan masyarakat awam terhadap hukum-hukum agama— bahwa
masjid-masjid saja tidak cukup untuk menyampaikan ajaran Islam kepada manusia.
Pada
masa tersebut, telah ada beberapa ulama utama yang secara sukarela memberikan
ceramah/nasihat di masjid-masjid, yang mana mereka memiliki pengaruh yang
sangat indah di dalam jiwa masyarakat, di antaranya adalah Ustaz Abdul Aziz
al-Khuli —semoga Allah merahmatinya—, Ustaz Syekh Muhammad Mahfuz —semoga Allah
merahmatinya—, dan Syekh Muhammad al-Alawi, mantan inspektur jenderal dakwah
dan bimbingan masyarakat umum. Maka aku berpikir untuk mengajak membentuk
sekelompok mahasiswa Al-Azhar dan mahasiswa Darul Ulum untuk dilatih melakukan
ceramah dan bimbingan di masjid-masjid, kemudian di kedai-kedai kopi [al-qahawi]
dan tempat-tempat perkumpulan umum, yang mana setelah itu dari mereka akan
dibentuk sebuah jemaah yang tersebar di desa-desa, pedalaman, dan kota-kota
penting untuk menyebarkan dakwah Islam.
Aku
menyertakan ucapan dengan tindakan nyata, maka aku mengajak sekelompok sahabat
untuk berpartisipasi dalam proyek yang agung ini. Di antara mereka adalah
saudara Ustaz Muhammad Madkur, seorang lulusan Al-Azhar yang pada saat itu
statusnya masih menjadi pelajar mukim [mujawir], saudara Ustaz Syekh
Hamid Askariyah —semoga Allah merahmatinya—, saudara Ustaz Ahmad Abdul Hamid
yang saat ini menjadi anggota Dewan Konstituante [al-Hai'ah al-Ta'sisiyah]
Ikhwanul Muslimin, serta rekan-rekan lainnya .. Kami biasa berkumpul di tempat
tinggal para mahasiswa di Masjid Syaikhun di Ash-Sholiybah, lalu kami saling
mengingatkan akan keagungan tugas ini beserta apa yang dibutuhkannya berupa
persiapan ilmiah dan praktis.
Aku
mengkhususkan sebagian dari buku-buku milikku, seperti kitab Ihya 'Ulumiddin
karya Al-Ghazali, Al-Anwar al-Muhammadiyah karya An-Nabhani, Tanwir
al-Qulub fi Mu'amalati 'Allamil Ghuyub karya Syekh Al-Kurdi, serta beberapa
buku manaqib [biografi keluhuran] dan sirah [sejarah perjalanan hidup], untuk
dijadikan sebagai perpustakaan berkala berkilir khusus bagi saudara-saudara
ini, di mana mereka dapat meminjam bagian-bagiannya, serta mempersiapkan materi
khotbah dan ceramah darinya.
DAKWAH
DI KEDAI-KEDAI KOPI
Kemudian
tibalah tahapan praktis setelah adanya persiapan ilmiah ini, maka aku
menawarkan kepada mereka untuk keluar memberikan ceramah di kedai-kedai kopi.
Mereka merasa asing dengan hal tersebut dan merasa heran seraya berkata:
"Sesungguhnya para pemilik kedai kopi tidak akan mengizinkan hal itu dan
akan menentangnya karena tindakan tersebut mengganggu bisnis mereka. Lagipula
mayoritas orang yang duduk di kedai-kedai kopi tersebut adalah orang-orang yang
sibuk dengan apa yang sedang mereka lakukan, dan tidak ada hal yang lebih berat
bagi mereka daripada mendengarkan ceramah agama, maka bagaimana mungkin kita
berbicara mengenai agama dan akhlak kepada orang-orang yang tidak memikirkan
melainkan hiburan tempat mereka berpaling tersebut??"
Namun
aku menyelisihi mereka dalam pandangan ini, dan aku meyakini bahwa masyarakat
pengunjung kedai kopi ini justru lebih memiliki kesiapan untuk mendengarkan
nasihat daripada masyarakat lainnya, bahkan melebihi kesiapan masyarakat
pengunjung masjid itu sendiri. Karena perkara ini merupakan sesuatu yang unik
dan baru bagi mereka, sedangkan tolok ukurnya terletak pada ketepatan dalam
memilih topik bahasan sehingga kita tidak menyinggung hal yang melukai perasaan
mereka, serta terletak pada metode penyampaian yang dibawakan dengan gaya yang
menarik lagi memikat, serta ketepatan waktu sehingga kita tidak memperpanjang
pembicaraan bagi mereka.
Ketika
perdebatan di antara kami berlangsung lama mengenai topik ini, aku berkata
kepada mereka: "Mengapa kita tidak menjadikan eksperimen/uji coba sebagai
pembatas yang memutus perkara ini?"
Maka
mereka menerima hal itu dan kami pun keluar, lalu kami memulai dari kedai-kedai
kopi yang terletak di Alun-Alun Shalahuddin, dan bagian awal wilayah Sayyidah
Aisyah, yang kemudian berlanjut menuju kedai-kedai kopi yang tersebar di
distrik Thulun hingga kami sampai melalui jalur gunung menuju Jalan Salamah,
dan wilayah Sayyidah Zainab. Aku mengira bahwa pada malam tersebut aku telah
menyampaikan lebih dari dua puluh kali khotbah/ceramah, yang mana satu
ceramahnya berdurasi antara lima hingga sepuluh menit.
Sungguh
respons para pendengar sangat menakjubkan; mereka menyimak dengan khidmat dan
mendengarkan dengan penuh kerinduan. Para pemilik kedai kopi pada awal
pembicaraan melihat dengan pandangan heran, namun setelah itu mereka justru
meminta tambahan ceramah lagi. Seusai ceramah, orang-orang tersebut bersumpah
bahwa kami harus meminum sesuatu atau memesan pesanan, namun kami menyampaikan
permohonan maaf kepada mereka karena sempitnya waktu, dan karena kami telah
meniatkan waktu ini semata-mata karena Allah sehingga kami tidak ingin
menyia-nyiakannya dalam urusan yang lain.
Makna
ini memberikan pengaruh yang sangat besar di dalam jiwa mereka, dan hal itu
tidaklah mengherankan, karena Allah tidak mengutus seorang nabi pun dan tidak
pula seorang rasul melainkan syiar utamanya yang pertama adalah:
"...Katakanlah
(Muhammad), "Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas hal itu..."
(QS. Al-An'am: 90)
Hal
ini dikarenakan adanya dampak yang indah dari sikap menjaga kehormatan diri [iffah]
ini di dalam jiwa orang-orang yang diseru [mad'u].
Eksperimen
tersebut berhasil seratus persen, dan kami kembali ke markas kami di Syaikhun
dalam keadaan bahagia dengan keberhasilan ini, lalu kami memantapkan tekad
untuk melanjutkan perjuangan di lini ini. Kami sering kali berkomitmen menjaga
masyarakat dengan memberikan nasihat praktis melalui metode ini.
Aku
menemukan di dalam aktivitas ini sebagian pelipur lara dari hilangnya
kebersamaan dengan Perkumpulan Al-Hasafiyah yang telah bubar secara formalitas
di Mahmudiyah, meskipun para anggotanya tetap menjadi saudara yang saling
bekerja sama satu sama lain demi Islam, dan mereka disatukan oleh Tarekat
Al-Hasafiyah di atas ibadah, zikir, serta amar makruf nahi mungkar. Di samping
itu, semangat pembelaan agama mereka dari waktu ke waktu dipicu oleh aktivitas
Misi/Utusan Inggris [al-Irsaliyah al-Injiiziyah] yang telah meletakkan
tongkatnya dan menetap di negeri yang aman ini, yang mana negeri ini belum
pernah ditimpa oleh malapetaka yang mengepung seperti ini sebelumnya. Padahal,
sudah seharusnya misi-misi seperti ini ditujukan menuju negeri-negeri kaum penyembah
berhala [al-watsaniyyin], bukan justru mendirikan markas di negeri kaum
muslimin, padahal mereka adalah orang-orang yang paling jujur keimanannya,
paling benar tauhidnya kepada Allah, paling bersih hatinya, dan paling selamat
dadanya, dan Allah memiliki segala urusan pada makhluk-Nya.
DI
DALAM RUANG KELAS
Studi
di Darul Ulum pada masa itu bukanlah studi yang kaku/beku, melainkan usia para
mahasiswa dan guru serta tahapan keilmuan yang mereka lalui memiliki pengaruh hukumnya
tersendiri. Kami sering kali membahas di antara ruang-ruang kelas mengenai
banyak urusan umum dalam bidang politik dan sosial, bahkan hingga rincian
masalah-masalah khusus yang berkaitan dengan mahasiswa dan para guru.
Gejolak
politik sedang mendominasi di Mesir pada waktu itu, di mana terjadi perpecahan
antara kubu Wafd [Al-Wafdiyyin] dengan kubu Liberal Konstitusional [Al-Ahrar
Ad-Dusturiyyin], serta peristiwa-peristiwa koalisi, perselisihan, dan
mediasi di antara pihak-pihak yang berselisih setelah itu, serta apa yang
dihasilkannya berupa kelulusan sebagian mahasiswa pada suatu waktu dan
kegagalan pada waktu yang lain. Makna-makna ini seluruhnya menjadi topik
pembicaraan dan komentar para mahasiswa dan dosen, dan para dosen tidak
bersikap pelit kepada para mahasiswa untuk menjelaskan pandangan-pandangan
mereka secara jelas. Di sana terdapat pula pandangan-pandangan keagamaan yang
diperselisihkan oleh mahasiswa dengan para dosen, sehingga menjadi topik
pembicaraan, diskusi, dan perdebatan dalam suasana kebebasan dan adab yang
sempurna.
Aku
masih ingat bagaimana kami menghormati para dosen yang utama tersebut dan
memuliakan mereka sampai pada tingkat di mana kami menghindari berjalan di
depan ruang rapat mereka padahal ruangan tersebut berada di jalur jalan kami
menuju kelas-kelas. Hal ini terwujud di samping adanya kebebasan yang sempurna,
perlakuan yang baik, serta ikatan spiritual yang kuat yang terjalin antara kami
dengan mereka.
Terkadang
kami menggoda sebagian dari mereka di dalam pelajaran, sehingga memicu humor
yang unik atau jawaban yang membungkam .. Aku ingat bahwa salah seorang rekan
bertanya kepada salah seorang dosen: "Apakah beliau sudah menikah?"
Dosen
tersebut menjawab: "Belum." Rekan tersebut bertanya lagi:
"Mengapa engkau belum menikah, wahai Tuanku? Usiamu sudah tua."
Beliau
menjawab: "Sampai gaji bertambah dan mencukupi biaya pernikahan serta
keluarga sehingga anak-anak dapat dididik dengan pendidikan yang saleh."
Maka saudara mahasiswa tersebut berkata: "Akan tetapi jika engkau menunda
sampai waktu ini, engkau tidak menjamin akan hidup untuk mengawasi pendidikan
mereka, sedangkan rezeki dan ajal berada di tangan Allah, wahai Tuanku."
Maka dosen tersebut merasa terpojok lalu bertanya balik: "Apakah engkau
sendiri sudah menikah?"
Ia
menjawab: "Ya, dan anak laki-lakiku datang bersamaku setiap hari ke Madrasah
Dasar Laki-Laki; aku masuk ke madrasahku dan ia masuk ke madrasahnya."
Maka perdebatan tersebut berakhir dengan gelak tawa dari rekan-rekan mahasiswa.
PERUBAHAN
PAKAIAN
Pada
tahun keempat di Darul Ulum —yaitu tahun terakhir— gerakan keinginan untuk
mengubah pakaian semakin menguat, dan jiwa seluruh mahasiswa telah siap
menghadapinya. Hal itu dibantu oleh pelaksanaan langkah ini secara aktual oleh
banyak lulusan senior Darul Ulum. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah
pandanganku dan bukan pula pandangan kelompok minoritas dari kalangan
mahasiswa.
Darul
Ulum selama beberapa bulan tampak dimasuki oleh sejumlah orang yang berpakaian
sipil modern [Al-Afandiyah] dan sejumlah orang yang berpakaian jubah
ulama [Al-Syuyukh]. Setiap hari jumlah orang yang memakai tarbus [al-mutharbisyun]
semakin bertambah dan jumlah orang yang memakai sorban [al-mu'ammamun]
semakin berkurang, hingga tidak tersisa melainkan dua orang mahasiswa saja,
yaitu Syekh Ibrahim Al-Wara', yang saat ini menjadi guru pada Kementerian
Pendidikan, dan aku bersamanya.
Kemudian
tibalah giliran praktik mengajar [al-tamrin al-'amali]. Kepala madrasah
pada saat itu adalah seorang laki-laki yang utama, yaitu Ustaz Muhammad Bek
As-Sayyid —semoga Allah merahmatinya—. Beliau memanggil kami berdua lalu
berbicara kepada kami bahwa alangkah baiknya jika kami pergi menuju madrasah-madrasah
tempat kami berpraktik dengan mengenakan pakaian yang baru, agar kami tidak
tampak di hadapan para murid dengan penampilan yang terpecah; satu kelompok
bersorban dan satu kelompok bertarbus. Meskipun ucapan baik beliau tidak
mengandung makna paksaan, akan tetapi kuatnya pengaruh beliau dan penghormatan
kami terhadap pandangannya membuat kami menjanjikan hal itu kepadanya. Kami pun
menunaikan janji kami, lalu kami mengenakan setelan jas dan tarbus sebagai
pengganti jubah dan sorban, dan peristiwa itu terjadi sesaat sebelum kami
lulus.
GELOMBANG
ATEISME DAN PERMISIVISME DI MESIR
Menyusul
berakhirnya Perang Dunia yang lalu (1914–1918) dan sepanjang periode yang aku
habiskan di Kairo ini, arus gelombang dekadensi semakin menguat di dalam jiwa,
pandangan, dan pemikiran dengan mengatasnamakan kebebasan berpikir [al-taharrur
al-'aqli], yang kemudian merembet pada perilaku, akhlak, dan perbuatan
dengan mengatasnamakan kebebasan pribadi [al-taharrur al-syakhshi]. Maka
terjadilah gelombang ateisme [ilhad] dan permisivisme [ibahiyah]
yang kuat, deras, lagi dominan, yang mana tidak ada sesuatu pun yang mampu
tegak berdiri di hadapannya, dengan dibantu oleh berbagai peristiwa dan situasi
kondisi.
Sungguh
Turki telah melakukan revolusi Kemalisnya, dan Mustafa Kemal Pasha mengumumkan
penghapusan kekhalifahan serta pemisahan negara dari agama pada suatu bangsa
yang hingga beberapa tahun sebelumnya dalam pengetahuan dunia seluruhnya merupakan
tempat kedudukan Amirul Mukminin. Pemerintahan Turki melaju dengan deras di
jalan ini dalam segala manifestasi kehidupan.
Universitas
Mesir telah beralih dari sebuah lembaga swasta menjadi universitas negeri yang
dikelola oleh negara dan mencakup sejumlah fakultas reguler. Pada masa itu,
penelitian dan kehidupan kampus di dalam benak banyak orang memiliki gambaran
yang aneh, yang intinya adalah bahwa universitas tidak akan menjadi universitas
sekuler kecuali jika ia memberontak terhadap agama, memerangi tradisi-tradisi
sosial yang bersumber darinya, serta hanyut di belakang pemikiran materialistis
yang diadopsi dari Barat secara total, serta dosen dan mahasiswanya dikenal
dengan dekadensi dan kebebasan dari segala keterikatan.
Sungguh
telah diletakkan benih "Partai Demokrat" yang mati sebelum
dilahirkan, dan partai tersebut tidak memiliki platform selain menyerukan
kebebasan dan demokrasi dengan makna yang dikenal pada masa itu, yaitu makna
dekadensi dan kebebasan tanpa batas.
Di
Jalan Al-Manakh didirikan apa yang disebut sebagai "Forum
Intelektual" (Al-Majma' al-Fikri), yang diawasi oleh sebuah badan
dari kalangan Teosofi. Di tempat tersebut disampaikan khotbah-khotbah dan
ceramah-ceramah yang menyerang agama-agama terdahulu dan menyebarkan kabar
gembira tentang wahyu yang baru. Para pembicaranya merupakan campuran dari
kalangan muslim, Yahudi, dan Kristen, yang mana mereka semua membahas pemikiran
baru ini dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
Maka
muncullah buku-buku, surat kabar, dan majalah-majalah yang isinya secara
keseluruhan memancarkan pemikiran ini, yang tidak memiliki tujuan selain
melemahkan pengaruh agama apa pun atau melenyapkannya di dalam jiwa rakyat,
agar mereka dapat menikmati kebebasan yang hakiki secara pemikiran dan praktis,
menurut klaim para penulis dan pengarang tersebut.
Disiapkan
pula "salon-salon" di banyak rumah besar pribadi di Kairo, di mana
para pengunjungnya saling melontarkan pemikiran-pemikiran seperti ini, dan
setelah itu mereka bekerja untuk menyebarkannya di kalangan pemuda dan di
berbagai lingkaran masyarakat.
REAKSI
Gelombang
ini memicu reaksi yang kuat di lingkaran-lingkaran khusus yang menaruh
perhatian terhadap urusan-urusan ini, seperti Al-Azhar dan beberapa kalangan
Islam. Akan tetapi, mayoritas masyarakat pada masa itu terbagi menjadi dua:
kalangan pemuda terpelajar yang kagum dengan apa yang mereka dengar dari
corak-corak baru ini, atau kalangan masyarakat awam yang berpaling dari
memikirkan urusan-urusan ini karena sedikitnya orang yang memberikan peringatan
dan arahan. Aku merasa sangat terpukul dan pedih karena hal ini. Sebab, di
sinilah aku melihat bahwa kehidupan sosial bangsa Mesir yang tercinta
terombang-ambing antara Islamnya yang mahal lagi berharga—yang diwarisi, dilindungi,
diakrabinya, dan menjadi tempat hidup serta kebanggaannya selama empat belas
abad penuh—dengan invasi Barat yang sengit, bersenjata, dan dilengkapi dengan
segala senjata yang tajam lagi mematikan, berupa harta, kedudukan, penampilan,
kesenangan, kekuatan, serta sarana-sarana propaganda.
Perasaanku
sedikit terhibur dengan menyampaikan keluh kesah ini kepada banyak sahabat
karib dari rekan-rekan sesama mahasiswa di Darul Ulum, Al-Azhar, dan
lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Ada Syekh Hamid Askariyah rahimahullah,
Syekh Hasan Abdul Hamid, Hasan Efendi Fadhilah, Ahmad Efendi Amin, Syekh
Muhammad Bisyr, Muhammad Salim Athiyah, kemudian Kamal Efendi Al-Labban rahimahullah
yang saat itu berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, Yusuf Efendi
Al-Labban, Abdul Fattah Kirsyah, Ibrahim Efendi Madkur, Sayyid Efendi Nassar
Hijazi, saudara Muhammad Efendi Asy-Syarbiny, serta saudara-saudara terpelajar
dari jemaah Al-Hasafiyah di Kairo. Mereka semua senantiasa memperbincangkan
tema-tema ini, dan membahas tentang kewajiban untuk melakukan sebuah gerakan
Islam tandingan. Kami menemukan di dalam diskusi tersebut sebuah pelipur lara
dan penghibur dari keresahan ini!
Perasaanku
juga terhibur dengan sering berkunjung ke Perpustakaan Salafiyah yang pada saat
itu berada di dekat Mahkamah Banding. Di sana kami menjumpai seorang tokoh yang
beriman, mujahid, aktif, kuat, alim, utama, sekaligus jurnalis Islam yang
kapabel, yaitu Tuan Muhibbuddin Al-Khathib. Kami juga bertemu dengan mayoritas
tokoh-tokoh terkemuka yang dikenal dengan kecemburuan pembelaan Islam dan
semangat keagamaan mereka, seperti Yang Mulia Ustaz Besar Tuan Muhammad
Al-Khidhr Husain, Ustaz Muhammad Ahmad Al-Ghamrawi, dan Ahmad Pasya Taimur rahimahullah.
Ada pula Abdul Aziz Pasya Muhammad rahimahullah, yang pada saat itu
menjabat sebagai penasihat di Mahkamah Banding. Kami mendengar dari mereka
sebagian hal yang melapangkan dada.
Sebagaimana
kami juga sering berkunjung, di luar jam kuliah Darul Ulum, menghadiri sebagian
majelis Ustaz Sayyid Rasyid Ridha rahimahullah. Di sana kami juga
bertemu dengan banyak tokoh terkemuka dan mulia, seperti Syekh Abdul Aziz
Al-Khuli rahimahullah dan Yang Mulia Syekh Muhammad Al-Adawi. Kami
saling mengulang pembahasan seputar urusan-urusan ini pula. Tuan Rasyid Ridha rahimahullah
memiliki sepak terjang yang kuat lagi berhasil dalam menangkis tipu daya yang
menyerang Islam ini.
LANGKAH
NYATA
Akan
tetapi, kadar ini saja tidaklah cukup dan tidak menyembuhkan, terlebih lagi
karena arus gelombang tersebut benar-benar telah menguat. Aku mulai mengamati
kedua kubu ini, lalu aku dapati kubu permisivisme dan dekadensi berada dalam
kekuatan dan kemudaannya, sedangkan kubu Islam yang mulia berada dalam
pengurangan dan penyusutan. Kegelisahanku semakin memuncak hingga aku ingat
bahwa aku menghabiskan sekitar setengah bulan Ramadan pada tahun ini dalam
kondisi insomnia yang parah; tidur tidak menemukan jalan ke kelopak mataku
karena besarnya kegelisahan dan pemikiran mengenai kondisi ini. Maka aku
memantapkan tekad pada suatu langkah nyata, dan aku berkata di dalam diriku:
"Mengapa aku tidak membebankan tanggung jawab ini kepada para pemimpin
kaum muslimin tersebut, dan mengajak mereka dengan kuat agar saling bahu-membahu
menahan arus gelombang ini?"
Jika
mereka menyambut baik, maka itulah yang diharapkan, dan jika tidak, maka kami
akan memiliki langkah yang lain. Tekad pun telah bulat atas hal ini, dan aku
mulai melaksanakannya.
BERSAMA
YANG MULIA SYEKH AD-DAJWI
Aku
sering membaca tulisan-tulisan Syekh Yusuf Ad-Dajwi rahimahullah. Beliau
adalah seorang laki-laki yang berakhlak toleran, manis tutur katanya, dan
bersih ruhaninya. Berdasarkan latar belakang tumbuh kembangku di dunia tasawuf,
terjalin ikatan spiritual dan keilmuan antara diriku dengan beliau rahimahullah
yang mendorongku untuk mengunjungi beliau dari waktu ke waktu di rumahnya di
Qasrul Syauq atau di Atfatud Duwaidari di distrik Al-Azhar. Aku mengetahui
bahwa beliau memiliki hubungan dengan banyak tokoh di kubu Islam, baik dari
kalangan ulama maupun tokoh masyarakat, dan aku tahu bahwa mereka mencintai
serta menghormatinya. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengunjungi beliau,
mengungkapkan apa yang ada di dalam jiwaku secara terbuka, serta meminta
bantuan beliau untuk mewujudkan gagasan ini dan mencapai tujuan tersebut.
Aku
mengunjungi beliau setelah berbuka puasa, dan di sekeliling beliau terdapat
sekelompok ulama serta beberapa tokoh masyarakat. Di antara mereka ada seorang
pria mulia yang masih kuingat namanya adalah "Ahmad Bek Kamil,"
meskipun aku tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah kesempatan kali ini.
Aku
berbicara kepada Syekh mengenai urusan tersebut, lalu beliau menunjukkan rasa
sakit dan penyesalan. Beliau mulai menyebutkan satu per satu manifestasi
penyakit dan dampak buruk yang timbul akibat menyebarnya fenomena ini di tengah
umat. Beliau menyimpulkan dari hal tersebut mengenai lemahnya kubu Islam di
hadapan orang-orang yang bersekongkol melawannya ini, dan bagaimana Al-Azhar
telah mencoba berkali-kali untuk menahan arus ini namun tidak mampu.
Pembicaraan pun merembet pada "Perkumpulan Kebangkitan Islam" (Jam'iyah
Nahdhatil Islam) yang didirikan oleh Syekh bersama sekelompok ulama, namun
hal itu tidak menghasilkan sesuatu apa pun. Beliau juga menyinggung perjuangan
Al-Azhar melawan para misionaris dan ateis, serta tentang Konferensi
Agama-Agama di Jepang, serta risalah-risalah Islam yang ditulis oleh Yang Mulia
Syekh lalu dikirimkan ke sana. Semua itu berakhir pada kesimpulan beliau bahwa
tidak ada gunanya segala upaya, dan cukuplah bagi seseorang untuk beramal bagi
dirinya sendiri serta menyelamatkan dirinya dari musibah ini.
Aku
ingat beliau berhujah dengan bait syعر [puisi] ini, yang sering kali beliau bawakan, dan yang pernah
beliau tuliskan untukku di sebagian kartu pesannya pada beberapa kesempatan:
Aku
tidak peduli, apabila jiwaku telah menuruti jalanku menuju keselamatan,
tentang
siapa saja yang telah mati atau binasa.
Beliau
menasihatiku agar beramal sesuai batas kemampuan, dan menyerahkan hasil
akhirnya kepada Allah: "Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286). Tentu saja
ucapan ini tidak membuatku puas, dan gelora antusiasme langsung menguasai
diriku, sementara bayangan kegagalan yang mengerikan terlintas di hadapanku
jika jawaban ini ternyata menjadi jawaban dari setiap pemimpin yang aku temui
dari kalangan mereka.
Maka
aku berkata kepada beliau dengan kuat: "Sesungguhnya aku menyelisihi Anda,
wahai Tuanku, dengan segenap perselisihan dalam apa yang Anda katakan. Aku
meyakini bahwa perkara ini tidak lain hanyalah sebuah kelemahan saja, berdiam
diri dari amal, dan pelarian dari tanggung jawab. Dari apa yang kalian
takutkan? Apakah dari pemerintah atau dari Al-Azhar? Cukuplah bagi kalian gaji
pensiun kalian, lalu duduklah di rumah kalian dan beramallah untuk Islam!
Sebab, rakyat sebenarnya bersama kalian jika kalian menghadapi mereka secara
langsung, karena mereka adalah rakyat yang muslim. Aku telah mengenal mereka di
kedai-kedai kopi, di masjid-masjid, dan di jalanan, lalu aku melihat rakyat itu
meluap dengan keimanan. Akan tetapi, mereka adalah kekuatan yang ditelantarkan
oleh orang-orang ateis dan permisif ini. Surat kabar dan majalah-majalah mereka
tidak akan memiliki eksistensi melainkan karena kelalaian kalian, dan sekiranya
kalian tersadar, niscaya mereka akan masuk ke dalam liang-liang persembunyian
mereka.
Wahai
Profesor! Jika kalian tidak mau beramal karena Allah, maka beramallah demi
dunia dan demi sesuap roti yang kalian makan! Karena sesungguhnya jika Islam
lenyap di tengah umat ini, niscaya Al-Azhar akan lenyap, dan para ulama pun
lenyap, sehingga kalian tidak akan menemukan apa yang kalian makan dan apa yang
kalian nafkahkan. Maka belalah eksistensi kalian jika kalian tidak mau membela
eksistensi Islam! Dan beramallah demi dunia jika kalian tidak mau beramal demi
akhirat, jika tidak demikian maka dunia dan akhirat kalian telah lenyap secara
bersamaan!"
Aku
berbicara dengan penuh antusias, kepedihan, dan ketegasan, dari hati yang
terbakar lagi terluka. Tiba-tiba salah seorang ulama yang sedang duduk langsung
bangkit menyergahku dengan kekerasan yang serupa, dan menuduhku bahwa aku telah
berbuat buruk kepada Syekh, berbicara kepada beliau dengan cara yang tidak
layak, serta berbuat buruk kepada para ulama dan Al-Azhar. Ia juga menyebut
bahwa aku telah berbuat buruk kepada Islam yang kuat lagi mulia, dan bahwa
Islam tidak akan pernah melemah selamanya karena Allah telah menjamin
pertolongan-Nya.
Sebelum
aku sempat membalasnya, Ahmad Bek Kamil ini langsung menyergah dan berkata:
"Tidak, wahai Profesor, mohon maaf, pemuda ini tidak menginginkan dari
kalian melainkan perkumpulan untuk menolong Islam. Dan jika kalian menginginkan
tempat untuk berkumpul, maka rumahku ini berada di bawah dispensasi kalian,
lakukanlah di dalamnya apa yang kalian inginkan. Jika kalian menginginkan
harta, maka kita tidak akan kekurangan orang-orang muslim yang berbuat baik.
Akan tetapi, kalian adalah para pemimpin, maka berjalanlah dan kami berada di
belakang kalian. Adapun hujah-hujah semacam ini, maka ia tidak lagi berguna
untuk apa pun." Di sini aku bertanya kepada orang yang duduk di sebelahku
mengenai pria yang beriman ini: "Siapakah dia?"
Maka
ia menyebutkan namanya kepadaku—dan nama itu masih tetap melekat di dalam
benakku meskipun aku tidak pernah melihatnya lagi setelah itu—dan majelis pun
terbelah menjadi dua kubu: kubu yang mendukung pandangan Ustaz Al-Alim, dan
kubu yang mendukung pandangan Ahmad Bek Kamil, sedangkan Syekh rahimahullah
hanya terdiam.
Kemudian
terlintas di benak beliau untuk mengakhiri perkara ini, lalu beliau berkata:
"Bagaimanapun, kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada
kita untuk beramal dengan apa yang diridai-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa
maksud tujuan semuanya mengarah pada amal, dan segala urusan berada di tangan
Allah. Aku mengira sekarang kita memiliki janji temu dengan Syekh Muhammad
Sa'ad, maka marilah kita pergi mengunjungi beliau."
Kami
semua pun berpindah menuju rumah Syekh Muhammad Sa'ad—yang mana letaknya dekat
dari rumah Syekh Ad-Dajwi rahimahullah—dan aku berupaya keras agar
tempat dudukku berada tepat di sebelah Syekh Ad-Dajwi agar aku dapat berbicara
mengenai apa yang kuinginkan.
Syekh
Muhammad Sa'ad menyuguhkan hidangan manis khas Ramadan, lalu hidangan tersebut
disajikan dan Syekh maju untuk memakannya, maka aku pun mendekat kepada beliau.
Ketika beliau merasakan keberadaanku di sisinya, beliau bertanya: "Siapa
ini?"
Maka
aku menjawab: "Fulan." Beliau berkata: "Engkau ikut datang
bersama kami juga?" Aku menjawab: "Ya, wahai Tuanku, dan aku tidak
akan berpisah dari kalian kecuali jika kita telah mencapai suatu
keputusan."
Maka
beliau mengambil dengan tangannya segenggam camilan kacang/manisan lalu
menyerahkannya kepadaku seraya berkata: "Ambillah, dan insya Allah kita
akan berpikir." Maka aku berkata: "Ya Subhanallah, wahai Tuanku!
Sesungguhnya perkara ini tidak menerima pemikiran lagi, akan tetapi menuntut
sebuah tindakan nyata. Sekiranya keinginanku adalah camilan ini dan yang
seumpamanya, niscaya aku mampu membelinya dengan satu qirsy [koin kecil]
lalu tetap tinggal di rumahku tanpa harus membebani diri dengan kepayahan
mengunjungi kalian.
Wahai
Tuanku! Sesungguhnya Islam sedang diperangi dengan peperangan yang sengit lagi
kejam ini, sementara tokoh-tokohnya, para pelindungnnya, dan para pemimpin kaum
muslimin justru menghabiskan waktu dengan tenggelam di dalam kenikmatan ini.
Apakah kalian mengira bahwa Allah tidak akan menghisab kalian atas apa yang
kalian perbuat ini? Jika kalian mengetahui adanya para pemimpin selain kalian
dan para pelindung selain kalian bagi Islam, maka tunjukkanlah mereka kepadaku
agar aku pergi menemui mereka, barangkali aku mendapati di sisi mereka apa yang
tidak ada di sisi kalian!!"
Maka
seketika itu juga suasana diliputi oleh momen keheningan yang ajaib. Air mata
Syekh rahimahullah meleleh dengan deras hingga membasahi jenggotnya, dan
menangislah sebagian orang yang hadir.
Syekh
rahimahullah memutus keheningan ini dengan berkata dalam kesedihan yang
mendalam dan pengaruh yang besar: "Lalu apa yang harus aku perbuat, wahai
Fulan?"
Maka
aku berkata: "Wahai Tuanku, perkaranya mudah, dan Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Aku tidak menginginkan selain
mengumpulkan nama-nama orang yang kita lihat memiliki kecemburuan pembelaan
terhadap agama, dari kalangan ulama, tokoh masyarakat, dan orang yang memiliki
kedudukan, agar mereka memikirkan apa yang wajib mereka lakukan: setidaknya
mereka menerbitkan sebuah majalah mingguan untuk menghadapi surat kabar ateisme
dan permisivisme, serta mereka menulis buku-buku dan bantahan-bantahan terhadap
buku-buku tersebut. Mereka juga membentuk perkumpulan-perkumpulan tempat para
pemuda bernaung, serta mengaktifkan gerakan ceramah dan bimbingan.. dan
demikianlah dari amal-amal semacam ini." Maka beliau berkata:
"Bagus."
Beliau
pun memerintahkan untuk mengangkat nampan hidangan beserta apa yang ada di
atasnya, serta meminta didatangkan kertas dan pena. Beliau berkata:
"Tulislah!" Kami mulai saling mengingat nama-nama, lalu kami
menuliskan sekelompok besar dari kalangan ulama-ulama yang mulia. Di antara
mereka yang kuingat: Syekh sendiri rahimahullah, Yang Mulia Ustaz Syekh
Muhammad Al-Khidhr Husain, Syekh Abdul Aziz Jawisy, Syekh Abdul Wahhab
An-Najjar, Syekh Muhammad Al-Khudhari, Syekh Muhammad Ahmad Ibrahim, dan Syekh
Abdul Aziz Al-Khuli rahimahumullah.
Ketika
sampai pada nama Tuan Rasyid Ridha rahimahullah, Syekh berkata:
"Tuliskan dia! Tuliskan dia! Karena sesungguhnya perkara ini bukanlah
perkara cabang yang kita perselisihkan di dalamnya, akan tetapi ini adalah
perkara Islam dan kekufuran. Dan Syekh Rasyid adalah orang terbaik yang
melakukan pembelaan dengan pena, ilmu, dan majalahnya." Ini merupakan
sebuah kesaksian yang baik dari Syekh untuk Tuan Rasyid Ridha rahimahumallah,
di samping adanya perselisihan pandangan di antara keduanya seputar sebagian
urusan.
Sedangkan
dari kalangan tokoh masyarakat yang ditulis: Ahmad Pasya Taimur, Nasim Pasya,
Abu Bakar Yahya Pasya, Metwally Bek Ghuneim, Abdul Aziz Bek Muhammad—yaitu
Abdul Aziz Pasya Muhammad sekarang—dan Abdul Hamid Bek Sa'id rahimahumullah
jamian, serta banyak lagi orang lainnya selain mereka.
Kemudian
Syekh berkata: "Kalau begitu, engkau harus mendatangi orang yang engkau
kenal, dan aku akan mendatangi orang yang aku kenal, lalu kita bertemu setelah
satu pekan, insya Allah."
Kami
bertemu beberapa kali, dan terbentuklah benih yang baik dari para tokoh mulia
ini, yang mana perkumpulan tersebut melanjutkan pertemuannya setelah Hari Raya
Idulfitri. Menyusul setelah itu, terbitlah majalah "Al-Fath" Islami
yang kuat, yang dipimpin redaksinya oleh Syekh Abdul Baqi Surur Na'im rahimahullah,
dan manajernya adalah Tuan Muhibbuddin Al-Khathib. Kemudian kepemimpinan
redaksi dan manajemennya beralih sepenuhnya kepada beliau, maka beliau
mengelolanya dengan sebaik-baik pengelolaan. Majalah tersebut menjadi obor
hidayah dan cahaya bagi generasi muda Islam yang terpelajar lagi memiliki
gairah pembelaan agama.
Kelompok
pilihan yang diberkahi dari para tokoh mulia ini terus bekerja bahkan setelah
aku meninggalkan Darul Ulum. Gerakan tersebut senantiasa digerakkan oleh
segelintir pemuda yang ikhlas ini hingga gerakan-gerakan tersebut
bertransformasi menjadi "Perkumpulan Pemuda Muslim" (Jam'iyah
asy-Syubban al-Muslimin) di kemudian hari.
TEMA
INSYA (MENGARANG)
Adalah
dosen kami, Syekh Ahmad Yusuf Najati—semoga Allah membalasnya dengan
kebaikan—seorang yang sangat menggemari tema-tema yang berbobot dalam bidang
Insya [mengarang]. Beliau memiliki guyonan dan komentar-komentar yang unik lagi
jenaka bersama kami dalam makna-makna ini.
Di
antara perkataannya yang masyhur, ketika beliau mulai bosan mengoreksi
tulisan-tulisan yang panjang ini, adalah beliau berkata sambil memegang
buku-buku tulis di tangannya yang terasa berat untuk dibawa sebagaimana malam
panjangnya telah terasa berat untuk mengoreksinya: "Ambillah wahai para
syekh, bagikan apa yang kalian klaim sebagai karangan [insya] ini kepada
kalian! Hendaklah kalian bersikap proporsional, wahai kaum, karena sesungguhnya
balaghah [retorika] itu adalah keringkasan. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak
mengukur karangan ini dengan jengkal dan tidak pula mengukurnya dengan
hasta!" Maka kami pun tertawa dan membagikan buku-buku tulis tersebut.
Di
antara tema yang beliau hadiahkan kepada kami dalam rangka akhir tahun
ajaran—yang mana bagi diriku dan angkatanku merupakan tahun terakhir, yaitu
tahun 1927 Masehi—adalah tema ini: "Jelaskan cita-cita terbesar kalian
setelah menyelesaikan studi kalian, dan terangkan sarana-sarana yang kalian
persiapkan untuk mewujudkannya!"
Aku
menjawab pertanyaan tersebut dengan tulisan ini:
"Aku
meyakini bahwa sebaik-baik jiwa adalah jiwa yang baik yang melihat
kebahagiaannya terletak pada membahagiakan manusia dan membimbing mereka. Jiwa
tersebut merengkuh kegembiraannya dari memasukkan kegembiraan kepada mereka,
menepis hal yang dibenci dari mereka, serta menganggap pengorbanan di jalan
perbaikan umum sebagai sebuah keuntungan dan ghanimah. Ia menganggap jihad
dalam kebenaran dan hidayah—di atas keterjalan jalannya beserta apa yang ada di
dalamnya berupa kesulitan dan kepayahan—sebagai sebuah istirahat dan kelezatan.
Ia merasuk hingga ke lubuk hati manusia lalu mendeteksi penyakit-penyakitnya,
dan menyusup ke dalam manifestasi masyarakat lalu mengenali apa yang
mengeruhkan kejernihan hidup manusia dan kegembiraan hidup mereka, serta apa
yang menambah kejernihan ini dan melipatgandakan kegembiraan tersebut. Tidak
ada yang mendorongnya melakukan hal itu melainkan perasaan rahmat kasih sayang
terhadap anak manusia, kelembutan atas mereka, serta keinginan yang mulia demi
kebaikan mereka. Maka ia mencoba untuk menyembuhkan hati yang sakit ini,
melapangkan dada yang sempit tersebut, dan membahagiakan jiwa-jiwa yang
tertekan ini. Ia tidak menganggap adanya waktu yang lebih bahagia daripada
waktu yang di dalamnya ia menyelamatkan seorang makhluk dari jurang
kesengsaraan abadi atau materialistik, serta membimbingnya menuju jalan
istikamah dan kebahagiaan!
Aku
meyakini bahwa amal yang manfaatnya tidak melampaui pemiliknya, dan faedahnya
tidak melewati pelakunya, adalah amal yang terbatas lagi kerdil. Sebaik-baik
amal dan seagung-agungnya adalah amal yang hasilnya dapat dinikmati oleh si
pelaku dan orang lain, baik dari keluarganya, umatnya, maupun sesama jenisnya.
Sesuai kadar cakupan manfaat ini, begitulah keagungan dan tingkat
kepentingannya. Atas dasar akidah inilah aku menempuh jalan para guru, karena
aku melihat mereka bagaikan cahaya yang terang benderang yang menjadi sumber
penerangan bagi kumpulan orang yang banyak, dan mengalir di tengah khalayak
yang besar ini, meskipun ia laksana cahaya lilin yang menerangi manusia dengan
cara membakar dirinya sendiri. Aku meyakini bahwa seagung-agungnya tujuan yang
harus dibidik oleh manusia, dan sebesar-besarnya keuntungan yang diraihnya
adalah ia memperoleh rida Allah atas dirinya, sehingga Dia memasukkannya ke
dalam pelataran kesucian-Nya, mengenakan kepadanya pakaian-pakaian
kelembutan-Nya, serta menjauhkannya dari neraka azab-Nya dan azab
kemurkaan-Nya.
Orang
yang bermaksud menuju tujuan ini akan dihadang oleh persimpangan dua jalan,
yang masing-masing memiliki karakteristik dan keistimewaannya sendiri, ia boleh
menempuh yang mana saja yang ia kehendaki:
Pertama:
Jalan tasawuf yang jujur, yang terangkum dalam keikhlasan, amal, serta
memalingkan hati dari kesibukan terhadap makhluk, baik yang baik maupun yang
buruk dari mereka. Jalan ini lebih dekat dan lebih selamat.
Kedua:
Jalan pengajaran dan bimbingan, yang mempertemukannya dengan jalan pertama
dalam hal keikhlasan dan amal, namun membedakannya dalam hal berinteraksi
dengan manusia, mempelajari kondisi mereka, mendatangi tempat perkumpulan
mereka, serta meresepkan obat yang manjur bagi penyakit-penyakit mereka. Jalan
ini lebih mulia di sisi Allah dan lebih agung, yang dianjurkan oleh Al-Qur'an
Al-Azhim, dan diserukan keutamaannya oleh Rasul yang mulia.
Aku
telah mengunggulkan jalan yang kedua—setelah sebelumnya aku menempuh jalan yang
pertama—karena berbilangnya manfaat yang ada di dalamnya, besarnya
keutamaannya, dan karena jalan tersebut merupakan yang paling wajib dari kedua
jalan bagi orang yang berilmu, serta yang paling pantas bagi orang yang
memahami sesuatu : "...dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka dapat menjaga
dirinya." (QS. At-Tawbah: 122).
Aku
meyakini bahwa kaumku—berdasarkan fase-fase politik yang telah mereka lalui,
pengaruh-pengaruh sosial yang melintas pada mereka, serta dengan pengaruh
peradaban Barat, syubhat Eropa, filsafat materialistis, dan peniruan gaya
asing—telah menjauh dari maksud-maksud agama mereka, sasaran-sasaran kitab
mereka, serta melupakan kemuliaan bapak-bapak mereka dan jejak-jejak pendahulu
mereka. Agama yang sahih ini menjadi rancu bagi mereka akibat apa yang
dinisbatkan kepadanya secara zalim dan bodoh. Hakikatnya yang jernih lagi putih
bersih, serta ajaran-ajarannya yang sejati lagi toleran telah tertutup dari
mereka oleh hijab-hijab ilusi yang membuat pandangan menjadi letih dan
pemikiran menjadi terhenti di hadapannya. Maka kaum awam terperosok ke dalam
kegelapan kebodohan, sedangkan para pemuda dan kalangan terpelajar tersesat di
padang belantara kebingungan dan keraguan, yang mana keduanya mewariskan
kerusakan pada akidah, dan mengubah keimanan menjadi ateisme...!
Aku
meyakini pula bahwa jiwa manusia pada tabiatnya adalah pencinta, dan harus ada
suatu arah yang kepadanya dialirkan rasa cintanya. Maka aku tidak melihat
seorang pun yang lebih berhak menerima aliran rasa cintaku daripada seorang
sahabat yang ruhnya telah menyatu dengan ruhku, sehingga aku memberikan
kecintaanku kepadanya, dan mengutamakannya dengan persahabatanku.
Semua
itu aku yakini sebagai sebuah akidah yang telah berakar baranya di dalam
jiwaku, telah panjang cabang-cabangnya, dan telah menghijau daun-daunnya, dan
tidak ada yang tersisa melainkan ia berbuah. Maka cita-cita terbesarku setelah
menyelesaikan kehidupan studiku ada dua cita-cita:
(Khusus):
Yaitu membahagiakan keluarga dan kerabatku, serta menunaikan kesetiaan kepada
sahabat yang dicintai itu sepanjang aku menemukan jalan untuk hal tersebut, dan
sampai batas terbesar yang dimungkinkan oleh kondisiku, serta apa yang Allah
mampukan aku atasnya.
(Umum):
Yaitu aku menjadi seorang pembimbing lagi pengajar. Jika aku telah menghabiskan
siang hari dalam mengajar anak-anak, dan sebagian besar waktu dalam setahun,
maka aku akan menghabiskan malam hariku dalam mengajarkan para ayah tentang
tujuan agama mereka, sumber-sumber kebahagiaan mereka, dan kegembiraan hidup
mereka; terkadang dengan ceramah dan dialog, di waktu lain dengan meramu karya
dan menulis, dan di waktu ketiga dengan menjelajah dan melakukan perjalanan.
Aku
telah mempersiapkan untuk mewujudkan cita-cita yang pertama: pengenalan
terhadap budi baik, dan apresiasi terhadap kebaikan, dan bukankah balasan
kebaikan itu melainkan kebaikan pula? Sedangkan untuk mewujudkan cita-cita
yang kedua, aku mempersiapkan dari sarana-sarana moral: 'Keteguhan' (tsabat)
dan 'Pengorbanan' (tadhiyah), yang mana keduanya lebih melekat bagi
seorang reformis daripada bayangannya sendiri, dan merupakan rahasia
keberhasilan totalnya. Tidak ada seorang reformis pun yang berakhlak dengan
keduanya lalu ia mengalami kegagalan yang merendahkannya atau mencorengnya.
Adapun dari sarana-sarana praktis: sebuah studi yang panjang—yang akan aku
upayakan agar dokumen-dokumen resmi menjadi saksi bagiku atas hal itu—serta
pengenalan terhadap orang-orang yang menganut prinsip ini dan bersimpati kepada
para pengikutnya. Ditambah lagi dengan tubuh yang telah terbiasa dengan
kekerasan atas kekurusannya, akrab dengan kepayahan atas kerempengnya, serta
jiwa yang telah aku jual kepada Allah sebagai sebuah transaksi yang beruntung,
dan perniagaan yang dengan kehendak-Nya menyelamatkan. Seraya berharap dari-Nya
penerimaan atasnya, dan memohon kepada-Nya penyempurnaannya, dan bagi kedua
cita-cita tersebut terdapat pengenalan terhadap kewajiban dan pertolongan dari
Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang aku baca di dalam firman-Nya: "Jika
kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7).
Itulah
janji antara diriku dengan Tuhanku yang aku catat atas diriku sendiri, dan aku
persaksikan dosenku atasnya, dalam kesendirian yang tidak ada yang
memengaruhinya melainkan hati nurani, dan malam yang tidak ada yang melihatnya
melainkan Zat Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Dan barangsiapa menepati
janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.
Ustaz
Ahmad Yusuf telah menggoreskan penanya pada karangan ini dengan beberapa
perbaikan, dan aku ingat beliau memberiku nilai yang tidaklah buruk di
dalamnya, yaitu tujuh setengah dari sepuluh.
Dan
sahabat yang aku isyaratkan di dalam tema ini adalah Ustaz Ahmad As-Sukkari,
yang mana beliau saling bertukar perasaan ini denganku sampai pada tingkat di
mana beliau melikuidasi toko dan perdagangannya, lalu mendaftarkan diri pada
pekerjaan-pekerjaan pemerintah di majelis wilayah Beheira agar memungkinkan
bagiku untuk berada di majelis tersebut sehingga kami dapat berkumpul
bagaimanapun keadaannya. Allah benar-benar mewujudkan cita-cita ini setelah
beberapa waktu, di mana aku diangkat sebagai pegawai di Kementerian Pendidikan
dan beliau pun berpindah ke sana, lalu Kairo menyatukan kami kembali setelah
penantian yang panjang.
KENANGAN
DARUL ULUM
Setelah
itu, aku mencurahkan perhatian untuk bersiap menghadapi ujian diploma, karena
ini adalah tahun terakhir. Setiap kali aku ingat bahwa aku akan berpisah dengan
lembaga yang diberkahi ini, aku mendapati adanya rasa rindu yang mendalam
kepadanya...
...asing
dan rasa rindu yang sangat mendalam kepada saudara-saudara ini di ruang kelas.
Aku tidak pernah melupakan beberapa momen berdiri di antara Masjid Al-Munirah
dan Darul Ulum, atau di sudut ruang kelas seraya memandangi Darul Ulum beserta
orang-orang di dalamnya dengan luapan emosi kerinduan dan nostalgia yang kuat.
Sungguh benar Rasulullah ketika bersabda:
«أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ
مُفَارِقُهُ»
"Cintailah
siapa saja yang engkau kehendaki, karena sesungguhnya engkau pasti akan
berpisah dengannya."
Aku
juga tidak pernah melupakan candaan-candaan jenaka di dalam ruang kelas antara
diriku dengan Ustaz Budair Bek rahimahullah. Beliau memiliki sikap yang
tidak akan pernah terlupakan bersama kami ketika pengelolaan madrasah
diserahkan kepada beliau, sedangkan kami saat itu berada di tahun ketiga, untuk
mengajarkan sastra Arab, materi hafalan, dan insya [mengarang]. Maka
beliau masuk menemui kami dalam keadaan muram seraya berkata: "Apakah
kalian tidak mengetahui bahwa Allah telah menimpakan musibah kepada kalian yang
tiada tandingannya?"
Maka
kami bertanya: "Apakah itu?"
Beliau
menjawab: "Sesungguhnya Budair telah diserahi tugas untuk mengajarkan
sastra bahasa untuk tahun ketiga, padahal masa Dinasti Abbasiyah ini secara
khusus, aku tidak mengetahui sesuatu apa pun di dalamnya. Maukah aku tunjukkan
kepada kalian pakar di bidangnya dan ahli di ranahnya? Dialah Ustaz An-Najati,
maka kalian harus bersamanya, dan mintalah kepada pihak administrasi madrasah
untuk menyingkirkanku lalu menunjuknya sebagai pengganti. Percayalah bahwa aku
sedang menunjukkan kebaikan kepada kalian, dan kebenaran itu lebih berhak untuk
diikuti."
Maka
kami pun mulai menyanjung beliau dengan ungkapan-ungkapan para siswa kepada
guru mereka, namun jawaban beliau adalah: "Janganlah kalian menipuku
tentang diriku sendiri, karena sesungguhnya aku lebih mengetahui tentang diriku
daripada kalian, dan aku lebih tahu tentang kemaslahatan kalian, dan tidaklah
aku menghendaki melainkan kebaikan."
Dan
hal itu benar-benar terjadi, kami pun menemui kepala madrasah (nazhir)
lalu menyampaikan usulan ini kepadanya, dan beliau menerimanya. Kami pun
mendapatkan banyak faedah dari Ustaz An-Najati, dan kami sangat berterima kasih
kepada Ustaz Budair atas sikap yang mulia serta akhlak yang utama lagi indah
ini, rahimahullah.
Aku
juga tidak pernah melupakan rumah Ustaz Farid Bek Wajdi di Kairo. Aku termasuk
salah seorang pembaca majalah Al-Hayat dan buku-buku beliau yang banyak
mengenai Islam dan peradabannya, serta termasuk pencinta Dairatul Ma'arif
[ensiklopedia]. Begitu aku tinggal di Kairo, aku langsung menuju rumah beliau
yang saat itu berada di Al-Khalij Al-Mishri. Beliau memiliki hubungan
persahabatan yang dekat dengan ayahku, dan rumah beliau menjadi tempat
berkumpulnya orang-orang utama, di mana mereka saling mempelajari berbagai
macam ilmu sejak setelah waktu asar, kemudian mereka keluar untuk rekreasi. Aku
sering mendatangi rumah ini karena keinginan untuk mengambil manfaat.
Aku
masih tetap mengingat perselisihan yang terjadi antara diriku dengan Ustaz
Farid Bek, yang mana sahabat beliau yaitu Ahmad Bek Abu Stait ikut bergabung
bersamanya untuk menentangku, seputar kepribadian ruh-ruh. Farid Bek
berpandangan bahwa ruh-ruh yang dihadirkan [dalam praktik pemanggilan ruh]
adalah ruh-ruh orang mati itu sendiri, sedangkan aku berpandangan lain.
Pembahasan kami pun bercabang di bidang ini, dan kami menyelesaikannya dalam
kondisi masing-masing tetap memegang sudut pandangnya. Sungguh aku telah
mengambil banyak manfaat dari majelis-majelis tersebut pada masa itu.
Begitulah
kehidupanku di Kairo, sebuah campuran yang menakjubkan; mulai dari menghadiri hadhrah
[majelis zikir] di rumah Syekh atau di rumah Ali Efendi Ghalib, pergi ke
Perpustakaan Salafiyah di mana Tuan Muhibbuddin berada, ke Darul Manar bersama
Tuan Rasyid Ridha, ke rumah Syekh Ad-Dajwi, kemudian ke rumah Farid Bek Wajdi,
terkadang ke Darul Kutub [perpustakaan nasional], dan di waktu lain ke Masjid
Syaikhun.
DIPLOMA
Waktu
ujian pun tiba, dan hasilnya telah diumumkan, lalu aku berhasil mendapatkan
ijazah diploma pada bulan Juni tahun 1927.
Aku
tidak akan melupakan ujian lisan ketika aku maju menghadap komite penguji—yang
saat itu terdiri dari Ustaz Abul Fath Al-Fiqi rahimahullah dan Ustaz
Najati—dengan membawa hafalan sebanyak 18.000 bait puisi dan jumlah yang sama
dari teks prosa, yang di antaranya termasuk Mu'allaqah Tharafah. Namun,
aku tidak ditanya melainkan hanya tentang satu bait dari Mu'allaqah
tersebut, empat bait dari qasidah Syauqi mengenai Napoleon, serta sebuah
diskusi seputar Umar Khayyam, lalu selesailah urusan tersebut. Aku tidak
menyesali jerih payah ini, karena sejak hari pertama aku mencurahkannya demi
ilmu, bukan demi ujian.
ANTARA
BEASISWA DAN PEKERJAAN
Aku
mendapati adanya pemikiran di kalangan sebagian rekan tercinta untuk mengajukan
permohonan nominasi beasiswa ke luar negeri (بعثة), mengingat hal
tersebut selalu menjadi hak bagi lulusan peringkat pertama dalam diploma.
Akan
tetapi, aku merasa ragu-ragu dalam urusan tersebut karena dorongan dua faktor
sebelumnya: faktor cinta untuk terus menambah ilmu walau dari Eropa atau Cina,
karena hikmah itu adalah barang hilang milik orang mukmin, di mana pun ia
menemukannya maka ia adalah orang yang paling berhak atasnya; serta faktor
ketidaktertarikan terhadap penampilan-penampilan formal ini dan keinginan untuk
segera beramal nyata demi mewujudkan pemikiran yang telah menguasai jiwaku.
Pemikiran tersebut adalah gagasan dakwah untuk kembali kepada ajaran-ajaran
Islam, serta menumbuhkan antipati terhadap peniruan Barat secara buta ini, dan
dari kerusakan-kerusakan kulit luar peradaban Barat.
Pihak
Darul Ulum tidak mengajukan nominasi seorang pun untuk tahun ini, sehingga hal
itu membuatku terbebas dari keragu-raguan, dan tidak ada pilihan tersisa selain
pekerjaan dinas. Tadinya aku mengira bahwa pekerjaan tersebut tidak akan keluar
dari madrasah-madrasah di Kairo, akan tetapi banyaknya jumlah lulusan pada
tahun ini dan sedikitnya jumlah yang diminta oleh Kementerian Pendidikan—di
mana kementerian tidak meminta lebih dari delapan orang dan menyerahkan sisanya
kepada dewan-dewan wilayah—membuat tidak ada seorang pun yang mendapatkan
bagian di Kairo. Keputusan penempatan pun dikeluarkan hanya untuk dua orang,
yaitu peringkat pertama dan kedua. Bagianku adalah penempatan di Ismailia,
sedangkan bagian Ustaz Ibrahim Madkur saat itu—yang sekarang menjadi Dr.
Ibrahim Madkur—adalah di Iskandariyah, kemudian beliau diombang-ambingkan oleh
situasi politik ke Edfu, sehingga beliau mengundurkan diri dan melakukan
perjalanan ke Eropa untuk menyelesaikan studinya atas biaya sendiri, lalu
setelah itu beliau dimasukkan ke dalam jajaran beasiswa pemerintah. Sementara
bagian keenam saudara kami lainnya adalah di wilayah hulu (Mesir Selatan).
Aku
terkejut dengan keputusan penempatan ini, sedangkan aku tidak mengetahui di
mana letak Ismailia secara tepat. Aku pun pergi ke kantor Kementerian
Pendidikan untuk mengajukan keberatan, lalu aku menjumpai guru kami, Abdul
Hamid Bek Husni. Dengan candaannya yang halus dan jiwanya yang periang, beliau
berhasil meredakan kemarahanku, serta meminta bantuan dari guru kami yang
mulia, Syekh Abdul Hamid Al-Khuli rahimahullah—yang kebetulan sedang
mengunjungi beliau saat itu. Kemudian masuklah menemui kami Ustaz Ali
Hasaballah, seorang putra Ismailia yang berbakti, lalu keduanya meminta
kesaksian darinya bahwa Ismailia termasuk negeri Allah yang terbaik, dan bahwa
aku akan menemukan kebaikan serta kenyamanan di sana, karena ia adalah kota
yang tenang, memiliki keindahan alam, dan hasil bumi yang melimpah.
Aku
pun pulang lalu meminta saran dari ayahku, maka beliau berkata: "Atas
berkah Allah, dan kebaikan adalah apa yang Dia pilihkan."
Maka
dadaku pun menjadi lapang karena hal itu, dan aku mulai mempersiapkan bekal
untuk perjalanan ini, yang mana hikmah Allah di dalamnya tampak begitu nyata
dan jelas di kemudian hari. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan
risalah-Nya. Aku pun berangkat dengan bersandar pada berkah Allah, sementara
pikiranku disibukkan dengan metode yang akan aku tempuh untuk berdakwah, dengan
keyakinan bahwa aku kini telah memikul amanah ini di Ismailia, sedangkan
saudara Ahmad Efendi As-Sukkari memikulnya di Mahmudiyah. Kami meninggalkan dua
saudara yang mulia, yaitu Syekh Ahmad Askariyah rahimahullah dan Syekh
Ahmad Abdul Hamid di Kairo, hingga yang pertama diangkat menjadi penceramah (wa'izh)
di Zagazig setelah meraih gelar Al-Alimiyah, sedangkan yang kedua
memilih—setlah meraih gelar Al-Alimiyah pula dan menghabiskan beberapa
waktu dalam spesialisasi—untuk menekuni bidang pertanian bebas di Kafrud Dawwar
dan memikul beban dakwah di sana. Kami pun menjadi seperti apa yang dikatakan
oleh seorang penyair:
Di
Syam keluargaku, dan di Bagdad tempat cintaku berlabuh,
sementara
aku berada di Raqmatain, dan di Fusthath tetangga-tetanggaku.
Masing-masing
dari kami pun pergi bekerja sesuai dengan metode yang telah Allah berikan
taufik kepadanya. Setelah sekitar satu tahun dari perjalanan ini, dan di dalam
ketenangan Ismailia yang indah, serta dari putra-putranya yang diberkahi lagi
berbakti, terbentuklah benih pertama bagi struktur organisasi Ikhwanul Muslimin
beserta cabang-cabangnya.
DI
JALAN MENUJU ISMAILIA
Pada
hari Senin, tanggal 16 September tahun 1927—dan sangat aku sayangkan karena aku
tidak mengingat tanggal Hijriah untuk hari ini—para sahabat berkumpul untuk
melepas sahabat mereka yang akan bepergian ke Ismailia, guna menerima tugas
barunya yang diserahkan kepadanya, yaitu mengajar di Madrasah Dasar Pemerintah
Ismailia.
Sahabat
ini tidak mengetahui sesuatu pun tentang Ismailia sebelumnya, melainkan bahwa
ia adalah sebuah kota yang jauh di ujung timur delta, yang dipisahkan dari
Kairo oleh hamparan luas pasir Gurun Timur, serta terletak di Danau Timsah yang
terhubung dengan Terusan Suez. Sahabat tersebut mulai menemui para sahabatnya
untuk saling mengucapkan selamat tinggal. Para sahabat pun mulai saling
berbincang-bincang, dan di antara mereka ada Muhammad Efendi Asy-Syarunubi,
seorang pria yang memiliki ketakwaan dan kesalehan, di antara apa yang beliau
katakan adalah: "Sesungguhnya orang yang saleh akan meninggalkan jejak
yang saleh di setiap tempat yang ia singgahi , kami berharap sahabat kita ini
meninggalkan jejak yang saleh di kota yang baru baginya ini." Kata-kata
ini menempati kedudukannya tersendiri di dalam jiwa sahabat yang hendak
bepergian tersebut, lalu perkumpulan pun bubar, dan pengembara itu menaiki
kereta waktu dhuha untuk sampai di Ismailia pada waktu zuhur, di mana ia
menghadapi kehidupan praktisnya secara langsung untuk pertama kalinya.
Kereta
pun berjalan, dan pengembara itu bertemu dengan rekan-rekan sejawatnya yang
baru saja ditempatkan di madrasah yang sama tempat ia ditempatkan. Di antara
mereka, seingatnya, adalah Muhammad Bahauddin Sanad Efendi, Ahmad Hafizh
Efendi, Abdul Majid Izzat Efendi, dan Mahmud Abdul Nabi Efendi.
Pengembara
tersebut juga bertemu dengan seorang rekan guru di Madrasah Dasar Suez, yang
berafiliasi ke dalam Thariqah Al-Hamidiyah Asy-Syadziliyah. Pengembara itu
mengungkapkan kepadanya tentang cita-citanya dalam perbaikan Islami dan dakwah
menuju Islam, kemudian ia menuliskan tentang pria tersebut di dalam catatan
hariannya ungkapan ini: "Kesempatan yang singkat ini tidaklah cukup untuk
menghakimi kondisi kejiwaan dan ruhani pria tersebut, meskipun tampak bagiku
bahwa ia adalah manusia yang hidup sekadar untuk menjaga kelangsungan hidupnya
dengan pekerjaannya ; ia merasa bahagia dengan akidahnya terhadap Tuhannya,
agamanya, dan syekhnya, serta merasa senang dengan apa yang ia lihat di
sekelilingnya berupa manifestasi penghormatan dari para ikhwan kepadanya."
Jika
demikian, maka pengembara ini tidak pernah berpikir untuk hidup sekadar menjaga
kelangsungan hidupnya dengan pekerjaannya saja. Jika demikian, maka akidah
pengembara ini tidak rela jika hanya terbatas pada dirinya sendiri saja. Dan
jika demikian, maka fokus perhatian pengembara ini adalah sesuatu yang lain,
bukan apa yang ia lihat berupa manifestasi penghormatan dari para ikhwan
kepadanya.
Kereta
pun tiba di Ismailia, dan para penumpang berpencar menuju tujuannya
masing-masing. Tokoh kita pun memandangi kota yang indah ini, di mana
orang-orangnya tampak begitu mengagumkan jika dipandang oleh musafir dari atas
jembatan rel kereta api. Pemandangan-pemandangan ini menawan hati pendatang
baru tersebut dan memikat pikirannya, sehingga ia berdiri sejenak dan menyelami
sesaat alam khayalan atau munajat. Ia mencoba membaca di dalam lauhulgaib
tentang apa yang telah digariskan untuknya di kota yang baik ini, dan memohon
kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala dengan kehangatan dan ketulusan munajat agar
menakdirkan baginya apa yang di dalamnya terdapat kebaikan, serta menjauhkannya
dari keburukan dan dosa-dosa. Sebab, ia merasakan dari lubuk hatinya bahwa ia
harus memiliki urusan di kota ini, yang berbeda dari urusan orang-orang yang
pergi dan pulang dari kalangan penduduk maupun pengunjungnya.
DI
HOTEL
Pengembara
itu pun tiba di hotel lalu menitipkan tasnya di sana, dan ia tidak membawa
selain satu tas itu saja. Ia mengunjungi madrasah tempat ia akan bekerja, lalu
menemui kepala madrasah dan para guru. Semua orang saling berbincang-bincang,
dan tamu ini mengenali seorang sahabat lamanya, yaitu Ustaz Ibrahim Al-Banhawi
Efendi, seorang guru lama di madrasah tersebut. Ia berkeinginan untuk
menemaninya di tempat tinggalnya, namun ternyata sahabat ini lebih memilih
untuk tinggal di sebuah losmen (pension), dan tokoh kita selaku tamu
tidak melihat adanya masalah untuk menyetujui apa yang dipandangnya baik. Kedua
sahabat itu pun menempati satu kamar yang sama di rumah seorang wanita Inggris
bernama "Ummu Jimmy," kemudian di rumah seorang wanita Italia bernama
"Madama Bebina."
DI
ANTARA MASJID DAN MADRASAH
Guru
baru ini menghabiskan waktunya di antara masjid, madrasah, dan rumah. Ia tidak
mencoba untuk berbaur dengan siapa pun dan tidak mengenali orang di luar
lingkungan khususnya dari kalangan rekan sejawatnya pada waktu kerja. Adapun
waktu luangnya, ia curahkan sepenuhnya untuk berolahraga, atau mempelajari
tanah air baru ini dari sisi penduduknya, pemandangan-pemandangannya, dan
karakteristik-karakteristiknya, atau membaca, atau tilawah, tanpa menambah apa
pun di atas hal itu selama empat puluh hari penuh. Dan tidak pernah hilang dari
benaknya barang sekejap pun kata-kata dari sahabat yang melepasnya:
"Sesungguhnya orang yang saleh akan meninggalkan jejak yang saleh di
setiap tempat yang ia singgahi, dan kami berharap sahabat kita ini meninggalkan
jejak yang saleh di kota yang baru baginya ini."
PERSELISIHAN
KEAGAMAAN
Di
dalam masjid, penghuni baru ini berhasil mengetahui banyak kabar keagamaan dan
kondisi sosial Ismailia. Ia mengetahui di antara hal-hal yang ia ketahui bahwa
kota ini didominasi oleh corak Eropa, mengingat pangkalan-pangkalan militer
Inggris mengelilinginya dari arah barat, dan kawasan pemukiman administrasi
Perusahaan Terusan Suez menutupinya dari arah timur, sedangkan kota tersebut
terkurung di antara hal itu. Mayoritas penduduknya bekerja di kedua sektor ini,
berinteraksi dengan kehidupan Eropa dari dekat, dan wajah-wajah kehidupan Eropa
pun menyapa mereka di setiap tempat. Meskipun demikian, kota ini memiliki
perasaan Islami yang kuat, keterikatan di sekitar para ulama, serta penghargaan
terhadap apa yang mereka katakan.
Penghuni
baru ini juga mengetahui di antara hal yang ia ketahui bahwa seorang guru Islam
telah mendahuluinya di kota ini, lalu ia muncul di hadapan penduduknya dengan
membawa pandangan-pandangan dalam pemikiran Islam yang tampak asing bagi
mayoritas mereka. Sebagian ulama mereka pun bergerak aktif untuk menentangnya,
sehingga menghasilkan perpecahan di antara manusia, serta keterpihakan pada
opini-opini dan pemikiran-pemikiran yang tidak dapat menyatukan hati, dan tidak
dapat membangun persatuan yang diharapkan, yang mana tujuan tidak akan tercapai
tanpanya.
KE
KEDAI-KEDAI KOPI UNTUK KEDUA KALINYA
Ia
pun mulai berpikir tentang apa yang harus ia lakukan dan bagaimana menghadapi
perpecahan ini. Ia melihat bahwa setiap orang yang berbicara tentang Islam akan
dihadapi oleh masing-masing kelompok dengan pemikirannya, di mana mereka ingin
menariknya ke pihak mereka atau setidaknya ingin mengetahui apakah ia termasuk
golongan mereka atau termasuk musuh-musuh mereka. Padahal ia ingin berbicara
kepada semua orang, berinteraksi dengan semua orang, dan mengumpulkan kembali
semua yang bercerai-berai.
Ia
berpikir panjang tentang hal itu, kemudian ia memutuskan untuk menarik diri
dari seluruh kelompok ini, dan menjauh sejauh mungkin dari berbicara kepada
manusia di dalam masjid-masjid. Sebab, masjid dan para jamaah masjid adalah
orang-orang yang senantiasa mengingat tema-tema perselisihan tersebut, dan
menyuarakannya kembali pada setiap kesempatan. Jika demikian, hendaklah
penghuni baru ini meninggalkan masjid beserta orang-orang di dalamnya, dan
memikirkan jalan lain untuk berinteraksi dengan manusia. Mengapa ia tidak
berbicara kepada khalayak ramai di kedai kopi?
Pemikiran
ini sempat menggelayuti dirinya beberapa saat, kemudian matang di dalam
kepalanya, dan ia mulai melaksanakannya secara nyata. Ia memilih tiga kedai
kopi besar untuk tujuan tersebut yang mengumpulkan ribuan orang, lalu
menjadwalkan di setiap kedai kopi tersebut dua kali pelajaran dalam sepekan,
dan ia pun mulai menjalankan pelajaran ini secara teratur di tempat-tempat
tersebut.
Corak
metode ceramah dan pelajaran agama seperti ini pada awalnya tampak asing dalam
pandangan manusia, namun tidak lama kemudian mereka menjadi terbiasa dan
menyambutnya dengan antusias.
Sang
guru sangat teliti dalam metode uniknya yang baru ini; ia benar-benar memilih
tema yang akan ia bicarakan dengan baik, sehingga temanya tidak keluar dari
koridor nasihat umum: mengingatkan kepada Allah dan Hari Akhir, serta targhib
[memberi kabar gembira] dan tarhib [memberi peringatan]. Ia tidak
memaparkan celaan atau sindiran, tidak pula menyinggung kemungkaran dan dosa
yang sedang ditekuni oleh orang-orang yang duduk di sana dengan cercaan atau
kekerasan, melainkan ia merasa cukup dengan menanamkan sedikit pengaruh di
dalam jiwa-jiwa ini, dan itu sudah memadai.
Ia
juga sangat memperhatikan gaya bahasanya, sehingga ia menjadikannya mudah,
menarik, memikat, dan terkadang dicampur dengan bahasa awam. Ia memadukannya
dengan hal-hal yang dapat diindrawi, perumpamaan, serta kisah-kisah, dan
berupaya menjadikannya bersifat retorik yang menyentuh hati pada banyak
kesempatan. Dengan demikian, ia selalu menyiasati untuk memikat jiwa-jiwa ini
seraya membangkitkan ketertarikan dan kerinduan terhadap apa yang ia katakan.
Di samping itu semua, ia tidak memperpanjang bahasannya agar mereka tidak
bosan; ia tidak menambah durasi pelajaran lebih dari sepuluh menit, dan jika ia
memperpanjangnya maka menjadi seperempat jam saja. Ia berkomitmen penuh untuk
menunaikan satu makna khusus dalam durasi waktu ini, yang ia tuju dan ia tinggalkan
dalam kondisi terpenuhi lagi jelas di dalam jiwa para pendengar. Ketika ia
memaparkan—di antara hal-hal yang ia paparkan—sebuah ayat atau hadis, ia
memilihnya dengan pilihan yang sesuai, kemudian membacanya dengan bacaan yang
khusyuk, serta menghindari tafsir-tafsir akademis dan komentar-komentar teknis,
melainkan cukup dengan makna global yang ia jelaskan beserta kutipan yang
dimaksud yang ia terangkan.
Sikap
ini memiliki pengaruhnya tersendiri pada khalayak masyarakat Ismailia.
Orang-orang mulai berbincang dan bertanya-tanya, mereka pun mendatangi
kedai-kedai kopi ini seraya menunggu. Ceramah ini menjalankan fungsinya di
dalam jiwa para pendengar, khususnya mereka yang konsisten menghadirinya,
sehingga mereka mulai tersadar dan berpikir. Dari hal tersebut, mereka kemudian
beralih mengajukan pertanyaan kepadanya mengenai apa yang wajib mereka lakukan
agar dapat menunaikan hak Allah atas mereka, menunaikan kewajiban mereka
terhadap agama dan umat mereka, serta guna menjamin keselamatan dari azab dan
meraih kenikmatan. Ia pun mulai menjawab mereka dengan jawaban-jawaban yang
tidak langsung memutus, dalam rangka menarik perhatian mereka, memikat hati
mereka, menunggu kesempatan yang tepat, serta mempersiapkan jiwa-jiwa yang
menggebu-gebu tersebut.
PEMBELAJARAN
PRAKTIS
Pertanyaan-pertanyaan
senantiasa mengalir kepada sang guru dari hati-hati yang beriman lagi baik ini,
sementara jawaban yang ringkas tersebut belum menyembuhkan dahaga mereka.
Sekelompok orang dari para ikhwan mendesak tentang wajibnya merumuskan jalan yang
harus mereka tempuh agar mereka menjadi orang-orang muslim yang deskripsi Islam
benar-benar sesuai bagi mereka secara hakiki. Mereka ingin mempelajari
hukum-hukum Islam setelah perasaan mereka digerakkan oleh kesadaran sebagai
pemeluk Islam. Maka sang guru mengarahkan mereka untuk memilih tempat khusus
sebagai wadah berkumpul setelah pelajaran kedai kopi atau sebelum pelajaran
tersebut untuk saling mempelajari hukum-hukum ini. Pilihan mereka pun jatuh
pada sebuah sudut [زاوية
/ mushala kecil] yang terpencil yang membutuhkan sedikit renovasi dan perbaikan
untuk tempat berkumpul dan menegakkan syiar ibadah.
Duhai
Allah.. alangkah baiknya hati rakyat ini, dan alangkah agungnya kesegeraan
mereka menuju kebaikan ketika mereka menjumpai seorang dai yang ikhlas lagi
bersih. Para ikhwan ini—yang di antara mereka terdapat para ahli dari berbagai
profesi bangunan—segera bergegas menuju sudut tersebut untuk merenovasinya,
melengkapi peralatan-peralatannya, serta menyiapkannya bagi apa yang mereka
inginkan. Hanya dalam dua malam saja, mereka mampu menunaikan tugas tersebut
dengan bentuk yang paling sempurna, dan pertemuan pertama pun diselenggarakan
di sudut itu.
Para
hadirin yang berkumpul adalah orang-orang yang baru saja memulai komitmen
ibadah, atau dengan ungkapan yang lebih tepat, mayoritas mereka adalah
demikian. Maka sang guru menempuh bersama mereka sebuah metode yang bersifat
praktis murni. Ia sama sekali tidak menggunakan ungkapan-ungkapan yang sekadar
dilontarkan atau hukum-hukum abstrak yang diulang-ulang. Akan tetapi, ia
langsung membawa mereka menuju tempat keran air, membariskan mereka dengan satu
barisan, dan ia berdiri di tengah-tengah mereka memosisikan diri sebagai
seorang pembimbing bagi amalan demi amalan secara nyata, hingga mereka
menyempurnakan wudu mereka. Kemudian ia memanggil kelompok lainnya, lalu
kelompok lainnya lagi, dan demikianlah hingga semua orang menjadi mahir
melakukan wudu secara praktik. Setelah itu, ia menjabarkan bersama mereka
mengenai keutamaan-keutamaan wudu secara ruhani, fisik, dan keduniawian, serta
menumbuhkan kerinduan mereka terhadap apa yang disebutkan tentang pahalanya di
dalam hadis-hadis dari Nabi ﷺ,
seperti sabda beliau:
«مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ
الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ
أَظْفَارِهِ»
"Barangsiapa
yang berwudu lalu membaguskan wudunya, niscaya keluarlah dosa-dosanya dari
jasadnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya."
Dan
sabda beliau ﷺ:
«مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ
فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ، وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، يُقْبِلُ بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ
عَلَيْهِمَا إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ»
"Tidaklah
salah seorang di antara kalian berwudu lalu membaguskan wudunya, kemudian
menegakkan shalat dua rakaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya pada kedua
rakaat tersebut, melainkan wajib baginya surga."
Ia
membangkitkan kerinduan mereka dengan hal tersebut, dan menumbuhkan minat
mereka pada apa yang telah Allah anjurkan kepada mereka.
Kemudian
ia berpindah bersama mereka setelah itu menuju shalat seraya menjelaskan
amalan-amalannya, menuntut mereka untuk mempraktikkannya secara nyata di
hadapannya, menyebutkan apa yang ada di dalam keutamaannya, serta memberikan
peringatan dari meninggalkannya. Di sela-sela semua itu, ia menyuruh mereka
menghafal surah Al-Fatihah, satu per satu, dan membenarkan bagi mereka apa yang
mereka hafal dari surah-surah pendek, surah demi surah. Ia membatasi
pembicaraannya kepada mereka pada tata cara yang dipadukan dengan kabar gembira
dan peringatan. Ia tidak mencoba mencabangkan masalah-masalah atau beralih pada
istilah-istilah yang rumit, hingga hati mereka menjadi lembut menerima
hukum-hukum tersebut, dan menjadi jelas di dalam benak mereka, serta sisi fikih
murni ini tidak lagi tampak kaku lagi kering.
AKIDAH
FITRAH
Kemudian
di sela-sela semua itu, dan di dalam setiap majelis dari majelis-majelisnya, ia
mengetuk pintu akidah yang sahih, lalu menumbuhkannya, memperkuatnya, serta
memantapkannya dengan apa yang ia kutip dari ayat-ayat Al-Kitab yang bijaksana,
hadis-hadis Rasul yang agung, sirah orang-orang saleh, serta jalan hidup
orang-orang yang beriman lagi memiliki keyakinan. Ia sama sekali tidak beralih
pada teori-teori filsafat atau analogi-analogi logika [أقيسة منطقية].
Melainkan ia mengalihkan pandangan perhatian pada keagungan Sang Pencipta di
alam semesta-Nya, dan pada keagungan sifat-sifat-Nya dengan cara memandang
makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Ia mengingatkan tentang akhirat dengan gaya bahasa
nasihat yang menggugah, yang tidak keluar dari keagungan Al-Qur'an Al-Karim
dalam seluruh makna ini. Kemudian ia tidak mencoba meruntuhkan suatu akidah
yang rusak melainkan setelah membangun akidah yang saleh. Betapa mudahnya
meruntuhkan setelah membangun, dan betapa sulitnya hal itu dilakukan sebelum
membangun; dan ini merupakan sebuah pandangan yang saksama, yang betapa sering
luput dari pemahaman para juru perbaikan dan pemberi nasihat.
Comments
Post a Comment