Tafsir Surah Al-Hujurat

Pengantar

Surah yang tidak lebih dari 18 ayat ini merupakan surah yang agung dan besar, yang mengandung aneka hakikat akidah dan syariah yang penting; mengandung berbagai hakikat wujud dan kemanusiaan. Hakikat ini membukakan cakrawala yang luas dan jangkauan yang jauh bagi akal dan kalbu. Juga menimbulkan pikiran yang dalam dan konsep yang penting bagi jiwa dan nalar. Hakikat itu meliputi berbagai manhaj penciptaan, penataan, kaidah-kaidah pendidikan dan pembinaan, prinsip prinsip penetapan hukum dan pengarahan. Padahal, kuantitas dan jumlah ayatnya kurang dari ratusan.

Surah ini menyuguhkan dua perkara yang mahapenting untuk direnungkan dan dipikirkan. Hal yang pertama kali muncul tatkala mulai menelaah surah ini ialah bahwa nyaris semua ayatnya menata berbagai dunia yang sempurna. Dunia yang tinggi, mulia, bersih, dan sehat Dunia yang memiliki berbagai kaidah, landasan, prinsip, dan manhaj yang menjadi fondasi bagi dunia itu, yang menjamin tegak dan terpeliharanya dunia tersebut. Itulah dunia yang bersumber dari Allah, mengacu kepada Allah, dan layak untuk dinisbatkan dengan Allah. Itulah dunia yang membuat kalbu menjadi suci, perasaan menjadi bersih, lisan terpelihara, dan akhirnya jiwa menjadi suci. Itulah dunia yang memiliki etika dengan Allah, etika dengan Rasul-Nya, etika dengan diri manusia sendiri, dan etika dengan orang lain. Etika yang ada dalam gejolak hatinya, dan etika dalam dinamika anggota badannya.

Pada saat yang bersamaan, dunia itu memiliki aneka tatanan yang mengatur aneka situasinya; tatanan yang menjamin terpeliharanya dunia tersebut. Tatanan itu berupa syariat dan sistem yang menjadi landasan dan sumber bagi etika yang selaras dengan dunia itu. Sehingga, tercapailah keserasian antara batiniah dunia ini dan Iahiriahnya. Bertautlah antara syariat dan perasaan, seimbangIah antara dorongan dan pengendalian, dan harmonislah antara langkah dan perasaan ketika seseorang melangkah maju kepada Allah.

Karena itu, tegak dan terpeliharanya dunia yang adil, mulia, bersih, dan sehat ini tidak hanya diserahkan kepada etika hati dan kebersihan rasa. Tidak hanya diserahkan kepada penataan dan pengaturan. Tetapi, juga diserahkan kepada kegiatan mempertemukan etika dan aturan secara harmonis dan serasi. Demikian pula dunia ini tidak hanya dipasrahkan kepada sistem pemerintahan dan mekanismenya. Tetapi, juga pada mekanisme pelaksanaan kewajiban dan aktivitas antara rakyat dan pemerintah serta antara pemerintah dan individu dalam kerangka kerja sama dan keserasian.

Itulah dunia yang memiliki etika dengan Allah dan dengan Rasul Allah. Etika ini tercermin dalam pemahaman tentang keterbatasan hamba di depan Tuhannya dan pemahaman tentang Rasul yang menyampaikan wahyu dari Tuhannya,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahuluiAllah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagiMaha Mengetahui.” (al-Hujuraat: 1)

Hamba yang beriman tidak boleh mendahului Tuhannya dalam masalah perintah dan larangan. Jangan memberi-Nya saran tentang hukum dan keputusan. Jangan melampaui apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. Dan, jangan memberikan peluang kepada dirinya (hamba yang beriman) untuk berkehendak dan berpendapat tentang makhIuk-Nya sebagai wujud ketakwaan dan ketakutan terhadap-Nya; wujud rasa malu dan kesopanan kepada-Nya.

Seorang hamba memiliki etika khusus saat berbicara dengan Rasulullah untuk menghormatinya,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagianyang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orangyang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan, kalau mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al-Hujuraat: 2-5)

Itulah dunia  yang memiliki manhaj sendiri dalam meneguhkan tutur kata dan tindakan serta dalam menguatkannya dari sumbernya sebelum memutuskan perkataan dan tindakan. Manhaj ini berlandaskan ketakwaan kepada Allah dan kepatuhan kepada Rasulullah tanpa mendahuluinya serta tidak menyarankannya, jika tidak diminta atau diperintah-

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau beliau menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan. Tetapi, Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al-Hujuraat: 6-8)

Itulah dunia yang memiliki sistem dan mekanisme praktis dalam menghadapi perselisihan, fitnah, gosip, dan gejolak yang terjadi di dunia itu jika dibiarkan tanpa ditangani. Seorang mukmin hendaklah menghadapinya dengan mekanisme praktis yang bersumber dari prinsip persaudaraan di antara kaum mukminin, dari hakikat keadilan dan keselarasan, dan dari ketakwaan kepada Allah serta harapan untuk mendapatkan rahmat dan keridhaan-Nya,

"Jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah di antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (al-Hujuraat: 9-10)

Itulah dunia yang memiliki etika psikologis menyangkut perasaan sebagian orang terhadap yang lain. Itulah dunia yang memiliki etika berperilaku tatkala berinteraksi di antara hamba,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan). Jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan, barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (al-Hujuraat: 11)

Itulah dunia yang membersihkan perasaan, menjamin segala kehormatan, dan memelihara perkara, baik saat pemiliknya ada maupun tidak ada. Dalam dunia ini seseorang tidak diperlakukan berdasarkan dugaan, kerahasiaannya tidak disingkapkan, serta keselamatan, kemuliaan, dan kebebasannya tidak boleh diganggu sedikit pun,

"Hai orang-orangyang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesunguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain danjanganlah sebagian kamu mengunjing  ebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya AllahMaha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. "(al-Hujuraat: 12)

Itulah dunia yang memiliki gagasan sempurna tentang persatuan umat manusia yang berbeda jenis dan berlainan suku. Dunia ini memiliki satu pertimbangan yang berfungsi menata seluruh umat manusia, yaitu pertimbangan Allah yang bersih dari kepentingan hawa nafsu dan dari kekeliruan, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Iagi MahaMengenal. " (al-Hujuraat: 13)

Setelah surah ini menyajikan beberapa kebenaran agung yang melukiskan berbagai tanda dari dunia yang adil, mulia, bersih, dan sehat, maka dikemukakan tanda-tanda keimanan. Dengan identitas keimanan inilah kaum mukminin diseru untuk menegakkan dunia tersebut. Dengan identitas keimanan itulah mereka dibisiki agar merespons seruan Allah yang mengajak mereka supaya melaksanakan berbagai tugas dengan sifat elok yang mendorong untuk merespons dan mematuhinya. Dia menyeru, "Hai orang-orang yang beriman.... " Itulah panggilan kesayangan yang membuat seseorang yang dipanggil merasa malu, jika dia tidak memenuhi panggilan itu. ltulah panggilan yang membuat segala beban menjadi mudah, segala penderitaan menjadi ringan, dan semua hati menjadi rindu, lalu dia menyimak dan menjawab, "Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman”, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk”. Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi serta Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?" (al-Hujuraat: 14-16)

Akhir surah menyingkapkan betapa besarnya anugerah Tuhan yang dimiliki manusia. Yaitu, anugerah keimanan yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya sesuai dengan hak orang itu menurut pengetahuan-Nya,

"Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar. Sesunguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (al-Hujuraat: 17-18)

Persoalan kedua yang hendak ditonjolkan kepada manusia melalui surah ini dan melalui perenungan terhadap aneka peristiwa yang menyertai turunnya ayat ini ialah upaya yang besar, kokoh, dan terus-menerus. Hal ini sebagaimana tercermin dari berbagai pengarahan Al-Qur’anul-Karim dan pendidikan kenabian yang bijaksana, dalam membangun dan membina kelompok muslim seperti yang dilukiskan oleh dunia yang adil, mulia, bersih, dan sehat, yang akan menjadi kenyataan di bumi ini pada suatu hari. Sejak itu tidak ada lagi gagasan ideal dan angan-angan tentang dunia yang bergejolak di dalam pikiran.

Masyarakat ideal yang mencerminkan kebenaran realistis dalam suatu periode sejarah tidaklah tumbuh secara tiba-tiba, tidak terwujud secara kebetulan, dan tidak dapat diciptakan dalarn satu hari atau satu malam. Demikian pula ia tidak lahir sebagai hasil sebuah tiupan yang kemudian mengubah karakter segala hal dalam sekaligus dan sekejap mata. Namun, masyarakat itu tumbuh secara alamiah dan perlahan sebagaimana sebatang pohon yang tumbuh menjulang dengan akar yang menghunjam. Pohon ini memerlukan pertumbuhan dalam waktu yang lama.

Demikian pula terwujudnya masyarakat tersebut memerlukan upaya yang terus-menerus, konsisten, dan berkesinambungan. Masyarakat yang demikian memerlukan perhatian ekstra, kesabaran yang panjang, dan upaya yang cermat dalam membina dan membangun, mengarahkan dan mengendalikan, serta menguatkan dan mengokohkan. Masyarakat demikian menuntut adanya aneka pengalaman praktis yang berulang-ulang serta ujian berat yang tidak sedikit, di samping pengambilan pelajaran dari pengalaman dan ujian tersebut.

Dalam seluruh upaya ini tercermin pemeliharaan Allah terhadap masyarakat terpilih tersebut, berdasarkan pengetahuan-Nya, untuk memikul amanah yang besar ini dan merealisasikan kehendak Allah di bumi melalui masyarakat itu. Semua itu disertai dengan aneka karunia yang terpendam dan kesiapan yang tersimpan pada generasi itu dan yang tersimpan dalam situasi serta kondisi yang tersedia. Dengan semua ini, terbitlah masyarakat yang menakjubkan dalam sejarah umat manusia sebagai sebuah kenyataan yang tampak dari kejauhan. Atau, ia hanyalah sebagai cita-cita yang tumbuh dalam kalbu atau impian yang terbang dalam khayalan.

Adab Berbicara kepada Nabi saw.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ١ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ ٢ اِنَّ الَّذِيْنَ يَغُضُّوْنَ اَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ امْتَحَنَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ لِلتَّقْوٰىۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ ٣ اِنَّ الَّذِيْنَ يُنَادُوْنَكَ مِنْ وَّرَاۤءِ الْحُجُرٰتِ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ ٤ وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٥

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasuI-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orangyang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.Janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (Pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orangyang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orangyang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan danpahala yang besar. Sesunguhnya orang-orang yang mema%il kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan, kalau mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesunguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " (al-Hujuraat: 1-5)

Surah ini dimulai dengan seruan kesayangan dan seruan yang menggetarkan kalbu, "Hai orangorang yang beriman. "

Inilah seruan dari Allah bagi orang-orang yang beriman kepada Allah yang gaib. Seruan yang menggetarkan kalbu mereka sehingga mengikatkannya dengan Allah. Seruan yang memberitahukan bahwa mereka milikAllah; mereka mengusung tanda-tanda-Nya; mereka merupakan hamba dan tentara-Nya di planet ini; mereka berada di sana untuk suatu hal yang telah ditetapkan dan dikehendaki-Nya; serta Dia menjadikan keimanan itu disukai dan dipandang indah oleh hati mereka bagi orang-orang tertentu sebagai karunia dari-Nya.

Sepantasnyalah mereka berdiri di tempat yang dikehendaki-Nya. Berdiri di hadapan Allah dalam sikap sebagai seseorang yang menanti keputusan dan pengarahan-Nya menyangkut dirinya dan orang lain. Lalu, dia melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya, rela terhadap apa yang diberikanNya, dan menerima serta pasrah,

"Hai orang-orangyang beriman, janganlah kamu mendahuluiAllah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. " (al-Hujuraat: 1)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah memberikan saran kepada Allah dan RasuI-Nya, saran menyangkut dirimu sendiri atau menyangkut persoalan kehidupan di lingkunganmu. Janganlah kamu mengatakan tentang sesuatu sebelum Allah mengatakannya melalui rasuI-Nya. Dan, janganlah kamu melakukan sesuatu yang tidak dapat kamu rujukkan kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya.

Qatadah menafsirkan, "Diriwayatkan bahwa sejumlah orang berkata, 'Andaikan diturunkan ayat mengenai anu dan anu... Andaikan demikian.' Allah tidak menyukai hal itu."

Al-Aufi menafsirkan, "Mereka dilarang berbicara di hadapan Allah."

Mujahid menafsirkan, "Janganlah meminta fatwa kepada Rasulullah tentang sesuatu sebelum Allah memutuskan melalui lisan Nabi-Nya."

Adh-Dhahhaak menafsirkan, "Janganlah kamu memutuskan suatu persoalan yang menyangkut syariat agamamu tanpa Allah dan Rasul-Nya."

Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia menafsirkan, "Janganlah kamu berkata dengan menyalahi Kitab Allah dan Sunnah RasulNya."

Itulah etika seorang individu dengan Allah dan RasuI-Nya. Itulah manhaj dalam menerima dan melaksanakan sesuatu. Itulah salah satu pokok syariat dan cara bertindak sepanjang waktu. Etika itu bersumber dari ketakwaan kepada Allah dan merujuk kepadanya. Ketakwaan ini bersumber dari perasaan bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Semua itu disajikan dalam satu ayat yang pendek, tetapi menyentuh dan menggambarkan segala hakikat yang pokok dan penting.

Demikianlah, kaum mukminin menjadi terdidik dalam berhubungan dengan Allah dan RasuI-Nya. Maka, tiada lagi seorang pun di antara mereka yang memberi saran kepada Allah dan rasuI-Nya. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang menawarkan sebuah gagasan yang tidak diminta oleh Rasulullah. Tidak ada lagi seorang pun di antara mereka yang menetapkan atau memutuskan sesuatu dengan pikiran melainkan dia merujukkannya kepada firman Allah dan sabda Rasulullah.

Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan İbnu Majah meriwayatkan dari Mu'adz r.a. bahwa tatkala Nabi saw. mengutusnya ke Yaman, beliau bersabda, "Dengan apakah kamu memutuskan?” Mu'adz menjawab, "Dengan Kitab Allah.” Nabi saw. bersabda, "Jika kamu tidak menemukannya?" Mu'adz menjawab, "Dengan Sunnah Rasulullah." Nabi saw. bersabda, "Jika kamu tidak menemukannya?" Mu'adz r.a. berkata, "Aku akan berijtihad dengan pikiranku." Lalu Nabi saw. menepuk dada Mu'adz seraya bersabda, "Segala puji bagi Allah Yang telah membantu Rasul Allah dengan apa yang diridhai oleh Rasul Allah.”

Bahkan, Rasulullah menanyakan kepada para sahabat tentang hari yang tengah mereka lalui dan tentang tempat di mana mereka berada, sedang mereka benar-benar mengetahui hari atau tempat itu. Namun, mereka merasa segan menjawab kecuali dengan ungkapan, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Mereka khawatir jika jawabannya itü dipandang mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hadits Abi Bakrah Nafi' ibnul-Harits atsTsaqafi ditegaskan bahwa pada haji wada' Nabi saw. bertanya, "Bulan apakah ini?” Maka, dijawab, "Allah dan RasuI-Nya lebih mengetahui. " Beliau diam, sehingga para sahabat mengira bahwa beliau akan menamainya dengan nama lain. Beliau bertanya kembali, "Bukankah sekarang bulan Zulhijjah?” Mereka menjawab, "Benar” Beliau bertanya, "Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau diam, sehingga kami mengira bahwa beliau akan menamainya dengan nama lain. Beliau bertanya kembali, "Bukankah negeri ini adalah Tanah Haram?" Mereka menjawab, "Benar. " Beliau bertanya, "Hari apakah ini?” Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau diam, sehingga kami mengira bahwa beliau akan menamainya dengan nama lain. Beliau bertanya kembali, "Bukankah sekarang merupakan hari Nahar?” Mereka menjawab, "Benar."

Itulah gambaran etika, keseganan, dan ketakwaan sebagai buah yang diraih kaum muslimin setelah mereka mendengar seruan, pengarahan, dan isyarat supaya bertakwa, Yaitu, bertakwa kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kedua ialah etika mereka terhadap Nabi saw. dalam berbicara, berdialog, dan dalam memberikan penghormatan dari dalam hati yang tercermİn darİ volume dan nada suara. Etika yang membedakan sosok Rasulullah dari selainnya dan membedakan majelis beliau dari majelis selainnya. Allah menyerukan hal itu kepada mereka dengan seruan kesayangan dan mewanti-wanti mereka agar tidak menyalahi peringatan tersebut,

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi. Janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagİan yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari." (al-Hujuraat: 2)

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah mereka menghormati Nabi saw. yang menyeru mereka kepada keimanan, supaya amalmu tidak terhapus tanpa kamu sadari. Hendaklah kamu waspada dari kekeliruan yang membuahkan terhapusnya amal, sedang kamu tidak menyadari dan mengetahuinya. Hendaklah kamu hati-hati.

Seruan kesayangan dan wanti-wanti yang ditakuti itü telah menimbulkan pengaruh yang kuat di dalam diri mereka.

Al-Bukhari mengatakan bahwa Basarah bin Shafwan al-Lakhmi menceritakan dari Nafı' bin Umar dari İbnu Abi Malikah bahwa dia berkata, "Dua orang pilihan, yaitu Abu Bakar dan Umar, nyaris binasa. Keduanya berkata keras di dekat Nabi tatkala beliau ditemui oleh rombongan penunggang bani Tamim pada tahun ke-7 Hijriah. Salah seorang dari keduanya (Abu Bakar atau Umar) menunjuk Aqra bin Habis r.a., saudara bani Mujasyi, supaya dia menjadi tetua bani Tamim, sedang yang satu lagi menunjuk orang lain.

Perawi lupa nama orang yang ditunjuk oleh salah seorang sahabat dekat Rasulullah itu. Namun, sebuah riwayat mengatakan bahwa dia bernama al-Qa'qa bin Ma'bad. Maka, berkatalah Abu Bakar kepada Umar, “Kamu selalu ingin menentangku.' Umar menjawab, 'Aku tidak bermaksud menentangmu.' Lalu terjadilah pertengkaran di antara keduanya mengenai masalah itu. Lalu Allah menurunkan ayat,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi. Janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (al-Hujuraat: 2)

Ibnuz Zubair berkata, "Sejak ayat ini turun, tidaklah Umar mendengar sabda Rasulullah melainkan dia berupaya memahaminya. Diriwayatkan pula dari Abu Bakar bahwa tatkala ayat di atas turun, dia berkata, 'Wahai Rasulullah, demi Allah, aku tidak akan berbicara kepadamu kecuali seperti kepada saudara yang memegang rahasia. ' Maksudnya, berbicara dengan berbisik."

 Imam Ahmad mengatakan bahwa Hasyim menceritakan dari Sulaiman ibnuI-Mughirah, dari Tsabit, dari Anas bin Malikr.a., bahwa dia berkata, 'Tatkala ayat di atas (al-Hujuraat ayat 2) diturunkan, sedang Tsabit bin Qais bin asy-Syamas adalah orang yang bersuara lantang, maka dia berkata, 'Akulah orang yang paling tinggi suaranya di dekat Rasulullah. Aku termasuk penghuni neraka. Hapuslah seluruh amalku.' Dia pun termangu sedih di rumahnya.

Rasulullah merasa kehilangan dia, Ialu sekelompok orang menemuinya. Mereka berkata, 'Rasulullah merasa kehilanganmu! Ada apa denganmu?' Dia menjawab, 'Akulah orang yang mengalahkan suara Rasulullah dan yang paling keras saat berbicara di dekat beliau. Sehingga, seluruh amalku terhapus dan aku menjadi penghuni neraka.' Mereka menemui Rasulullah saw. seraya menyampaikan perkataan Tsabit bin Qais. Nabi saw. bersabda, Tidak, justru dia merupakan ahli surga.' Anas berkata, 'Maka, kami dapat melihatnya berjalan di antara kami, sedang kami mengetahui bahwa dia merupakan ahli surga."'

Demikianlah, hati mereka gemetar dan berguncang karena pengaruh seruan kesayangan dan seruan supaya wanti-wanti. Demikianlah, mereka menjadi sopan di dekat Rasulullah karena khawatir amalnya terhapus tanpa mereka sadari. Jika mereka menyadari, niscaya diperbaikilah persoalannya. Namun, kekeliruan yang samar ini sangatlah ditakuti. Maka, mereka takut hingga memelihara diri dari bersuara keras.

Allah mengangkat ketakwaan mereka dan perlahannya suara mereka di dekat Rasulullah melalui ungkapan yang menakjubkan,

"Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Hujuraat: 3)

Ketakwaan merupakan anugerah yang besar. Allah memilih kalbu yang akan menerimanya setelah ia diuji, dicoba, dibersihkan, dan diseleksi. Maka, tidaklah ketakwaan disimpan dalam suatu kalbu melainkan ia sudah siap untuk menerimanya dan telah diputuskan bahwa kalbu itu berhak menerimanya. Orang-orang yang merendahkan suaranya di dekat Rasulullah merupakan orang yang kalbunya telah diuji AIlah dan disiapkan untuk menerima anugerah itu. Yakni, anugerah ketakwaan yang telah diputuskan untuk diberikan kepada kalbu tersebut. Melalui anugerah ini, diraih pula maghfirah 'ampunan' dan pahala yang besar.

Itulah targib yang dalam setelah mereka diwanti-wanti. Melalui ayat itu, Allah membina kalbu hamba-hamba-Nya yang terpilih dan mempersiapkannya untuk menerima perkara penting guna membangkitkan dada agar mengikuti petunjuk melalui pendidikan dan cahaya ini.

Diriwayatkan dari Amirul Mu'minin Umar ibnul Khaththab r.a. bahwa dia mendengar dua Iaki-laki bersuara keras di masjid Nabi saw. Umar menghampirinya dan berkata, 'Tahukah kamu di mana kamu berada?" Lalu Umar bertanya, "Dari mana kamu?" Keduanya menjawab, "Dari "Tha'if." Umar berkata, "Andaikan kamu penduduk Madinah, niscaya kupukul dengan keras."

Para ulama umat ini menegaskan bahwa dimakruhkan mengeraskan suara di dekat pusara Nabi saw. sebagaimana itu dimakruhkan tatkala beliau hidup. Hal ini untuk memuliakannya dalam segala keadaan.

Kemudian Allah mengisyaratkan peristiwa yang dilakukan utusan bani Tamim tatkala mereka datang untuk menemui Rasulullah pada tahun ke-9 Hijriah yang juga disebut Tahun Utusan karena banyaknya utusan masyarakat Badui yang datang dari berbagai tempat setelah jatuhnya kota Mekah. Mereka datang untuk masuk Islam. Mereka adalah orang Badui yang bertabiat kasar. Sehingga, mereka memanggil istri-istri Nabi saw. dari balik kamar-kamar para istri beliau yang menempel dengan masjid Nabi yang mulia. Mereka berseru, "Hai Muharnrnad, temuilah kami!" Nabi saw. tidak menyukai kekasaran dan gangguan ini. Maka, diturunkanlah firman Allah,

Sesunguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan, kalau mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesunguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(al-Hujuraat: 4-5)

Allah menerangkan bahwa mayoritas mereka tidak berakal. Dia tidak menyukai mereka yang memanggil dengan cara yang bertentangan dengan etika dan kesantunan yang sesuai dengan pribadi Nabi saw. dan kehormatan Rasulullah sebagai panglima dan pendidik. Allah menerangkan kepada mereka cara yang lebih baik dan utama, yaitu bersabar dan menunggu hingga beliau menemui mereka. Allah mendorong mereka supaya bertobat dan kembali serta menyukai ampunan dan rahmat.

Kaum muslimin menyadari etika yang tinggi ini. Lalu, etika tersebut mereka terapkan pula kepada guru dan ulama. Mereka tidak mau mengganggu ulama sehingga dia sendiri datang menemui dan tidak mau menjumpainya kecuali ulama itu memanggilnya. Diceritakan dari Abu Ubaid, seorang ulama yang zuhud, bahwa dia berkata, "Aku tidak pernah mengetuk pintu rumah ulama, tetapi aku menunggunya hingga dia keluar pada saatnya."

Menyikapi Kabar Burung

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ٦ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَۙ ٧ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَنِعْمَةً ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ٨

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan. Tetapi, Allah menjadiknn kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus sebagai karunia dan nikmat dari Allah, Dan, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. " (al-Hujuraat: 6-8)

Seruan pertama untuk menegaskan pihak yang memiliki kepemimpinan dan sumber perintah. sedangkan, Seruan kedua untuk menegaskan etika dan kesantunan yang patut diterapkan kepada pemimpin. Kedua seruan ini merupakan fondasi bagi seluruh arahan dan tatanan di dalam surah ini. Maka, sangaflah penting adanya kejelasan sumber yang menjadi rujukan kaum mukminin dan ketegasan tentang kedudukan rujukan itu. Juga kesantunan terhadapnya agar aneka pengarahan menjadi bernilai, berbobot, dan dipatuhi.

Karena itu, muncullah seruan ketiga yang menerangkan kepada kaum mukminin bagaimana sepatutnya mereka menerima berita dan bagaimana memperlakukannya. Seruan ini menegaskan pentingnya perujukan kepada sumber berita,

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. " (al-Hujuraat: 6)

Allah memfokuskan orang fasik sebab dia dicurigai sebagai sumber kebohongan dan agar keraguan tidak menyebar di kalangan kaum muslimin karena berita yang disebarkan oleh setiap individunya, lalu ia menodai informasi. Pada prinsipnya, hendaklah setiap individu kaum muslimin menjadi sumber berita yang terpercaya dan hendaknya berita itu benar serta dapat dijadikan pegangan. Adapun orang fasik, maka dia menjadi sumber keraguan sehingga hal ini menjadi ketetapan.

Dengan cara seperti itu, urusan umat menjadi stabil dan moderat di antara mengambil dan menolak berita yang sampai kepadanya. Kaum muslimin jangan tergesa-gesa bertindak berdasarkan berita dari orang fasik. Pasalnya, ketergesa-gesaan itu bisa membuatnya bertindak zalim kepada suatu kaum sehingga dia menyesal karena melakukan perbuatan yang dimurkai Allah serta tidak mempertahankan kebenaran dan keadilan.

Banyak mufasir yang mengemukakan bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu'ith yang diutus oleh Rasulullah untuk mengumpulkan zakat dari bani al-Musthaliq. Ibnu Katsir mengatakan bahwa Mujahid dan Qatadah berkata, "Rasulullah mengutus al-Walid bin Uqbah kepada bani Musthaliq untuk mengambil zakat mereka. Dia menjumpai mereka telah berkerumun dengan zakatnya. Al-Walid kembali seraya berkata, 'Bani Musthaliq telah berkumpul untuk memerangimu.' (Dalam riwayat Qatadah dikatakan bahwa al-Walid menambah dengan, 'Mereka telah keluar dari agama Islam. ')

Maka, Rasulullah mengutus Khalid ibnuI-WaIid untuk menemui mereka. Beliau menyuruhnya agar berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. Berangkatlah Khalid dan tiba di tempat mereka pada malarn hari. Dia menyebarkan mata-mata. Setelah tiba, mereka melapor kepada Khalid bahwa bani Musthaliq adalah orang-orang yang tetap memegang teguh Islam. Mata-mata masih mendengar azan dan bacaan shalat mereka.

Keesokan harinya, Khalid menemui mereka dan melihat sesuatu yang mengesankannya. Khalid pun kembali kepada Rasulullah seraya menyampaikan berita yang sebenarnya. Lalu Allah menurunkan ayat di atas. (Qatadah berkata,"Saat itu Rasulullah saw. bersabda, 'Kehati-hatian dari AIIah, sedangkan ketergesa-gesaan dari setan’.)

Riwayat di atas tidak hanya dikemukakan oleh seorang ulama salaf. Tetapi, dikemukakan oleh yang lainnya seperti IbnuAbi Laila, Yazid bin Rauman, adh-Dhahhak, Muqatil bin Hayyan, dan ulama lainnya yang menyatakan bahwa ayat itu berkaitan dengan al-Walid bin 'Uqbah. Wallahu a 'lam.

Ayat di atas bermakna umum, yaitu mengandung prinsip selektif dan hati-hati terhadap informasi dari orang fasik. Adapun berita dari orang saleh dapat diambil, sebab dialah pangkal di dalam kelompok mukmin. Sedangkan, berita orang fasik dikecualikan. Mengambil berita orang saleh merupakan bagian dari manhaj kehati-hatian, sebab dia merupakan salah satu sumber berita. Adapun keraguan yang tersebar dalam semua sumber dan semua informasi adalah bertentangan dengan pangkal kepercayaan yang semestinya berada di dalam kelompok mukmin. Keraguan juga dapat menghambat gerak kehidupan dan keteraturannya di kalangan kelompok mukmin.

Islam menghendaki kehidupan itu berjalan pada jalur yang alamiah. Islam hanya memasang pagar dan jaminan demi memelihara kehidupan itu, bukan untuk menelantarkannya. Inilah model kebebasan dalam mengambil berita dari sumbernya, yang disertai dengan pengecualian

Dari riwayat di atas jelaslah bahwa sebagian kaum muslixnin bereaksi atas berita yang disampaikan oleh al-WaIid bin Uqbah begitu mereka mendengarnya serta mereka menyarankan agar Nabi saw. segera menindak mereka. Reaksi demikian sebagai wujud pemeliharaan kelompok ini terhadap agamanya dan wujud kemarahan kepada orang yang menolak zakat. Kemudian ayat berikutnya tampil mengingatkan mereka akan kebenaran yang hakiki dan nikmat yang besar yang ada di tengah-tengah mereka. Tujuannya supaya mereka memahami nilainya dan senantiasa ingat terhadap keberadaan nikmat yang besar itu, "Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. "

Itulah kebenaran yang terlukiskan dengan mudah karena ia benar-benar terjadi dan realistis. Namun, tatkala berita itu direnungkan, tampaklah sesuatu yang mencengangkan dan nyaris tak dapat dilukiskan. Apakah sesuatu hal yang mudah bagi manusia untuk melukiskan pertautan antara langit dan bumi secara berkesinambungan dalam kehidupan nyata?

Langit mengatakan kepada bumi dan menginformasikan kepada penduduknya ihwal keadaan mereka dan perilakunya yang nyata dan yang tersembunyi. Langit meluruskan langkah mereka selangkah demi selangkah. Langit mengarahkan mereka dalam urusan pribadi dan urusan-urusan lainnya. I.alu, salah satu di antara mereka melakukan suatu tindakan dan melontarkan suatu pernyataan serta ada pula yang berjalan dengan waswas. Tiba-tiba langit menatap.

Maka, tiba-tiba Allah Yang Mahaagung memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang apa yang telah terjadi. Kemudian mengarahkannya kepada apa yang semestinya dilakukan dan dikatakan dalam dunia nyata ini. Itulah suatu perkara. Itulah suatu berita yang sangat besar. Itulah hakikat yang mengejutkan sehingga orang yang melihat hakikat itu berada di hadapannya, justru dia tidak mengetahui kebesarannya. Karena itu, diingatkanlah akan keberadaan hakikat tersebut melalui redaksi ini,

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah.. “

Ketahuilah beliau dan hormatilah beliau denganvsungguh-sungguh. Beliau merupakan perkara yang besar.

Salah satu tuntutan dari pengetahuan tentang adanya perkara yang besar ini ialah kaum mukminin tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya. Namun, pengarahan itu semakin menambah kejelasan dan kekuatan bagi mereka. Allah memberitahukan kepada mereka bahwa pengaturan Rasulullah atas mereka itu didasarkan pada wahyu Allah atau ilham-Nya yang mengandung kebaikan, kasih sayang, dan kemudahan bagi mereka. Jika dia menaati sesuatu yang menurut mereka itu penting, niscaya persoalan yang dihadapinya menjadi sulit. Allah lebih mengetahui daripada mereka mengenai apa yang terbaik bagi mereka. Rasul merupakan rahmat bagi mereka melalui apa yang diatur dan dipilihkan untuk mereka.

 " ..Kalau beliau menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan..., "

Ayat di atas memberitahukan bahwa hendaknya mereka menyerahkan persoalannya kepada Allah dan RasuI-Nya. Hendaknya mereka memasuki Islam secara kaffah serta berserah diri kepada takdir Allah dan pengaturan-Nya. Juga menerima apa yang disampaikan-Nya dan tidak menyarankan apa pun kepada-Nya.

Kemudian Allah mengamhkan pandangan meteka pada nikrnat keimanan yang ditunjukkan oleh-Nya, menggerakkan hatinya supaya mencintai keimanan, menyingkapkan keindahan dan keutamaan keimanan kepada mereka, mengaitkan ruhnya dengan keimanan, dan membuatnya benci atas kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Semua ini merupakan rahmat dan karunia-Nya,

"...Tetapi, Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan, Allah Maha Mengetahui Iagi Mahabijaksana," (al-Hujuraat: 7-8)

Allah memilih sekelompok orang di antara hambaNya agar kalbunya terbuka untuk menerima keimanan, menggerakkan hatinya kepada keimanan tersebut, dan menjadikannya indah dalam pendangan mereka. Lalu, ruhnya beterbangan menyambut keimanan serta meraih keindahan dan kebaikannya. Pemilihan ini merupakan lwunia dan nikmat dari Allah. Tidak ada karunia dan nikmat yang lebih besar daripada itu, bahkan jika dibandingkan dengan nikmat keberadaan dan kehidupan sekalipun. Kenikmatan ini lebih sedikit dan lebih rendah daripada nikmat iman.

Kami akan menerangkan firman Allah, “Tetapi, Allah memberikan anugerah kepadamu dengan menunjukkanmu kepada keimanan. "

Insya Allah kami akan menerangkan masalah karunia ini nanti.

Suatu hal yang perlu dicermati di sini ialah peringatan kepada mereka bahwa Allah-lah yang berkehendak atas kebaikan bagi mereka dan Dialah yang membersihkan kalbu mereka dari keburukan: kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Dialah yang menjadikan mereka, dengan cara seperti itu, beroleh petunjuk sebagai karunia dan nikmat dari-Nya. Semua itu didasarkan atas pengetahuan dan hikmah-Nya.

Penegasan hakikat ini mengisyaratkan bahwa mereka mesti pasrah atas pengarahan dan pengaturan Allah. Juga merasa tenteram atas kebaikan dan berkah yang ada di balik pengaturan-Nya, tidak memberikan saran, tidak tergesa-gesa dan bereaksi terhadap apa yang menurut dugaannya sebagai kebaikan, sebelum Allah memberinya pilihan. Karena, Allahlah yang memilihkan kebaikan untuk mereka, sedang Rasulullah pun berada di tengah-tengah mereka. Allah akan menuntun mereka kepada kebaikan ini. Inilah yang dimaksud dengan pengarahan.

Manusia itu suka tergesa-gesa, sedang dia tidak mengetahui apa yang ada di balik langkahnya. Manusia suka memberikan saran kepada dirinya dan orang lain, padahal dia tidak tahu apakah sarannya itu baik atau buruk.

"Dan manusia berdoa untuk keburukan sebagaimana dia berdoa untuk kebaikan. Adalah manusia itu bersifat tergesa-gesa. " (al-lsraa-: 11)

Jika dia berserah diri kepada Allah, masuk ke dalam Islam secara kaffah, rela atas kebaikan yang dipilihkan Allah untuknya, dan merasa tenteram karena pilihan Allah itu lebih baik daripada pilihannya serta karena Dia lebih mencintainya dan lebih banyak memberikan kebaikan, niscaya dia merasa tenang dan nyaman. Dia akan melintasi perjalanan singkat di atas planet ini dalam ketenteraman dan kerelaan. Namun, semua ini pun merupakan karunia dan anugerah dari Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Menyelesaikan Perselisihan di Antara Kaum Mukminin

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ٩ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ ١٠

“Jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang Iain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehinga golongan itu kembali kePada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah AIIah), maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah di antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. " (al-Hujuraat: 9-10)

Inilah kaidah hukum yang praktis untuk memelihara masyarakat mukmin dari permusuhan dan perpecahan di bawah kekuatan dan pertahanan. Kaidah ini disajikan setelah menerangkan berita dari orang fasik dan tidak tergesa-gesa mempercayainya. Juga setelah menerangkan perintah agar berlindung di balik pemeliharaan diri dari semangat tanpa hati-hati dalam meyakini persoalan.

Baik ayat di atas diturunkan karena alasan tertentu seperti dikemukakan Oleh sejumlah riwayat, maupun sebagai tatanan belaka seperti pada kondisi ini, ayat itu mencerminkan kaidah umum yang ditetapkan untuk memelihara kelompok Islam dari perpecahan dan perceraiberaian. Kaidah itu pun bertujuan meneguhkan kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Yang menjadi pilar bagi semua ini ialah ketakwaan kepada Allah dan harapan akan rahmat-Nya dengan menegakkan keadilan dan perdamaian.

Al-Qur'an menghadapi atau mengantisipasi kemungkinan terjadinya perang antara dua kelompok mukmin. Mungkin salah satu kelompok itu berlaku zalim atas kelompok Iain, bahkan mungkin keduanya berlaku zalim dalam salah satu segi. Namun, Allah mewajibkan kaum mukminin Iain, tentu saja bukan dari kalangan yang bertikai, supaya menciptakan perdamaian di antara kedua kelompok yang berperang. Jika salah satunya bertindak melampaui batas dan tidak mau kembali kepada kebenaran, misalnya kedua kelompok itu berlaku zalim dengan menolak untuk berdamai atau menolak untuk menerima hukum Allah dalam menyelesaikan aneka masalah yang diperselisihkan, maka kaum mukrninin hendaknya memerangi kelompok yang zalim tersebut dan terus memeranginya hingga mereka kembali kepada "perkara Allah".

Adapun yang dimaksud dengan "perkara AIIah" ialah menghentikan permusuhan di antara kaum mukminin dan menerima hukum Allah dalam menyelesaikan apa yang mereka perselisihkan. Jika pihak yang zalim telah menerima hukum Allah secara penuh, kaum mukminin hendaknya menyelenggarakan perdamaian yang berlandaskan keadilan yang cermat sebagai wujud kepatuhan kepada Allah dan pencarian keridhaan-Nya.

" Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. " (al-Hujuraat: 9)

Seruan dan hukum di atas diikuti dengan sentuhan atas kalbu orang-orang yang beriman dan tuntutan supaya menghidupkan ikatan yang kuat di antara mereka. Yaitu, ikatan yang menyatukan mereka setelah bercerai-berai, yang menautkan kalbu mereka setelah permusuhan, mengingatkan mereka supaya bertakwa kepada Allah, dan mengisyaratkan perolehan rahmat-Nya yang diraih dengan ketakwaan,

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah di antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. " (al-Hujuraat: 10)

Implikasi dari persaudaraan ini ialah hendaknya rasa cinta, perdamaian, kerja sama, dan persatuan menjadi landasan utama masyarakat muslim. Hendaklah perselisihan atau perang merupakan anomali yang mesti dikembalikan kepada landasan tersebut begitu suatu kasus terjadi. Dibolehkan memerangi kaum mukminin Iain yang bertindak zalim kepada saudaranya agar mereka kembali kepada barisan muslim. Juga agar mereka melenyapkan anomali itu berdasarkan prinsip dan kaidah Islam. Itulah penanganan yang tegas dan tepat.

Di antara tuntutan kaidah di atas ialah tidak bermaksud melukai orang dalam kancah penegakan hukum, tidak membunuh tawanan, tidak menghukum orang yang melarikan diri dari perang dan menjatuhkan senjata, dan tidak mengambil harta pihak yang melampaui batas sebagai ghanimah. Sebab, tujuan memerangi mereka bukanlah untuk menghancurkannya. Tetapi, untuk mengembalikan mereka ke barisan dan merangkulnya di bawah bendera persaudaraan Islam.

Pńnsip utama dalam sistem umat Islam ialah hendaknya kaum muslimin di berbagai belahan dunia memiliki satu kepemimpinan. Sehingga, jika telah berbaiat kepada seorang imam, maka imam yang kedua wajib dibunuh, sebab dia dan para pendukungnya dianggap sebagai kelompok yang memberontak terhadap kelompok lain (bughat). Kaum mukminin hendaknya memerangi kelompok itu di bawah pimpinan imam. Berdasarkan atas prinsip ini, Imam Ali r.a. bangkit untuk memerangi bughat dalam Peristiwa Unta dan Peristiwa Shifin.

Ali memerangi mereka bersama kelompok sahabat Nabi saw. lainnya yang mulia. Namun, sebagian mereka tidak ikut berperang, di antaranya Sa'ad, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, dan Ibnu Umar. Mereka tidak ikut serta mungkin karena bagi mereka belum jelas sisi kebenarannya pada saat itu, sehingga mereka memandangnya sebagai fitnah. Atau, karena mereka beralasan seperti yang dikemukakan Imarn al-Jashshash, “Mungkin karena mereka memandang cukup dengan Imam Ali dan tentaranya, sehingga tidak membutuhkan kesertaan dirinya, lalu mereka memilih berpangku tangan dari masalah itu."

Kemungkinan pertama lebih sahih. Hal ini ditunjukkan oleh sejumlah riwayat tentang pernyataan mereka. Juga ditunjukkan oleh keterangan yang meriwayatkan bahwa Ibnu Umar menyesal karena tidak ikut berperang bersama Imam Ali.

Meskipun prinsip di atas telah ditegakkan, nash Al-Qur'an memungkinkan penerapan prinsip ini dalam berbagai situasi dengan beberapa pengecualian yang memungkinkan adanya dua imam atau lebih di wilayah negara umat Islam yang berlainan dan yang berjauhan. Ini adalah kondisi darurat dan pengecualian dari prinsip di atas. Kewajiban kaum muslimin ialah memerangi kelompok pemberontak, jika kelompok ini memerangi imam yang satu dan jika sekelompok muslim membangkang pemimpin muslim lain, tetapi tidak memeranginya. Kewajiban kaum muslimin ialah memerangi pemberontak, jika mereka unjuk kekuatan kepada salah seorang imam muslim lain tatkala adanya beberapa imam sebagai bentuk kekecualian. Para imam hendaknya bersatu untuk memerangi kelompok itu hingga dia kembali kepada hukumAIIah. Demikianlah perlakuan nash AI-Qur'an dalam segala situasi dan kondisi.

Jelaslah bahwa sistem ini merupakan sistem penegakan hukum dan penyerangan terhadap kelompok pemberontak agar dia kembali kepada hukum Allah. Ia merupakan sistem yang mendahului upaya-upaya manusia lainnya dalam bidang ini. Sistem itu memiliki kesempurnaan dan jauh dari kekurangan dan cela yang justru tampakjelas pada berbagai upaya manusia yang terbatas dan serba kekurangan, yang telah diupayakannya dalam berbagai eksperimen yang lumpuh.

Di samping itu, sistem ini pun bersih, amanah, dan benar-benar adil. Sebab, penetapan keputusan kepada hukum Allah tidaklah terkontaminasi oleh  kepentingan pribadi dan hawa nafsu, dan tidak terkait dengan kekurangan dan keterbatasan. Tetapi, umat manusia yang papa ini malah mencari-cari jalan, terpincang-pincang, tergelincir, dan tersungkur, padahal di depannya ada jalan terang yang telah disiapkan lagi Iurus.

Haram Mengolok-olok, Mencela, dan Memanggil dengan Pangilan yang Buruk

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ١١

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengoIok-oIokkan). JanganpuIa wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan, barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. ” (al-Hujuraat: 11)

Masyarakat unggul yang hendak ditegakkan Islam dengan petunjuk Al-Qur• an ialah masyarakat yang memiliki etika yang luhur. Pada masyarakat itu setiap individu memiliki kehormatan yang tidak boleh disentuh. Ia merupakan kehormatan kolektif.  individu mana pun berarti mengolok-olok pribadi umat. Sebab, seluruh jamaah itu satu dan kehormatannya pun satu.

Melalui ayat ini, Al-Qur'an memberitahukan etika tersebut melalui panggilan kesayangan, "Hai orang-orang yang beriman. " Dia melarang suatu kaum mengolok-olok kaum yang Iain, sebab boleh jadi laki-laki yang diolok-olok itu lebih baik dalam pandangan Allah daripada yang mengolok-olok. Mungkinjuga wanita yang diolok-olok itu Iebih baik dalam pertimbangan Allah daripada yang mengolok-olok.

Ungkapan ayat mengisyaratkan secara halus bahwa nilai-nilai Iahiriah yang dilihat laki-laki dan wanita pada dirinya bukanlah nilai hakiki yang dijadikan pertimbangan oleh manusia. Di sana ada sejumlah nilai Iain yang tidak mereka ketahui dan hanya diketahui Allah serta dijadikan per tirnbangan oleh sebagian hamba. Karena itu, kadang-kadang orang kaya menghina orang miskin, orang kuat menghina orang Iemah, dan orang yang sempurna menghina orang yang cacat. Kadang-kadang orang pandai yang profesional menghina orang lugu yang hanya jadi pelayan. Kadang-kadang orang yang beranak menghina orang yang mandul dan yang hanya dapat mengurus anak yatim. Kadang Wanita cantik menghina wanita buruk, pemudi menghina nenek-nenek, wanita yang sempurna menghina wanita yang cacat, dan wanita kaya menghina yang miskin. Hal-hal di atas dan perkara Iainnya merupakan nilai duniawi yang tidak dapat dijadikan ukuran. Timbangan Allah dapat naik dan turun bukan oleh timbangan duniawi itu.

Al-Qur'an tidak cukup dengan menyampaikan isyarat ini, bahkan menyentuh emosi persaudaraan atas keimanan. Al-Qur'an menceritakan bahwa orang-orang yang beriman itu seperti satu tubuh. Barangsiapa yang mengolok-oloknya, berarti mengolok-olok keseluruhannya, "Janganlah kamu mencela dirimu sendiri. "Al-Iumzu berarti aib. Tetapi, kata itu memiliki gaung dan cakupan yang menegaskan bahwa ia bersifat Iahiriah, bukan aib yang bersifat maknawiah.

Termasuk mengolok-olok dan mencela ialah memanggil dengan panggilan yang tidak disukai pemiliknya serta dia merasa terhina dan ternoda dengan panggilan itu. Di antara hak seorang mukmin yang wajib diberikan mukmin Iain ialah dia tidak memanggilnya dengan sebutan yang tidak disukainya. Di antara kesantunan seorang mukmin ialah dia tidak menyakiti saudaranya dengan hal semacam ini. Rasulullah telah mengubah beberapa nama dan panggilan yang dimiliki orang sejak jahiliah, karena nama atau panggilan itu menyinggung dan mencela perasaannya yang Iembut dan hatinya yang mulia.

Setelah ayat di atas mengisyaratkan nilai-nilai yang hakiki menurut pertimbangan Allah dan setelah menyentuh rasa persaudaraannya, bahkan perasaan bersatu dengan diri yang satu, ayat seIanjutnya mengusik konsep keimanan dan mewanti-wanti kaum mukminin agar jangan sampai kehilangan sifat yang mulia, menodai sifat itu, dan menyalahinya dengan melakukan olok-olok, cacian, pemanggilan yang buruk.

"Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman." Pemanggilan itu bagaikan murtad dari keimanan. Ayat ini mengancam dengan memandangnya sebagai kezaliman, padahal kezaliman itu merupakan kata Iain dari syirik, "Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." Demikianlah, ayat-ayat di atas telah mencanangkan prinsip-prinsip kesantunan diri bagi masyarakat yang unggul dan mulia tersebut.

Haram Berburuk Sangka, Ghibah, dan Mencari-cari Kesalahan Orang Iain

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢

"Hai orang-orangyang beriman,jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesunguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang Iain danjanganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang Iain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. " (al-Hujuraat:12)

Ayat ini pun menegakkan jalinan lain pada masyarakat yang utama lagi mulia ini seputar kemuliaan individu, kehormatannya, dan kebebasannya sambil mendidik manusia dengan ungkapan yang menyentuh dan menakjubkan tentang cara membersihkan perasaan dan kalbunya.

Untaian surah dimulai dengan panggilan kesayangan, ”Hai orang-orangyang beriman. ” Lalu ayat menyuruh mereka menjauhi banyak berprasangka. Sehingga, mereka tidak membiarkan dirinya dirampas oleh setiap dugaan, kesamaran, dan keraguan yang dibisikkan orang lain di sekitarnya. Ayatitu memberikan alasan, ”Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”

Tatkala Iarangan didasarkan atas banyak berprasangka, sedang aturannya menyebutkan bahwa sebagian prasangka itu merupakan dosa, maka pemberitahuan dengan ungkapan ini intinya agar manusia menjauhi buruk sangka apa pun yang akan menjerumuskannya ke dalam dosa. Sebab, dia tidak tahu sangkaannya yang manakah yang menimbulkan dosa.

Dengan cara inilah, Al-Qur'an membersihkan kalbu dari dalam agar tidak terkontaminasi dengan prasangka buruk, sehingga seseorang terjerumus ke dalam dosa. Tetapi, Al-Qur'an membiarkannya tetap bersih dan terbebas dari bisikan dan keraguan sehingga menjadi putih. Dia menyayangi saudaranya tanpa dibarengi prasangka buruk. Hatinya bersih tanpa terkotori keraguan dan kesangsian; dan hatinya tenteram tanpa terkotori kegelisahan dan gundah. Alangkah nyamannya kehidupan dalam masyarakat yang terbebas dari aneka prasangka.

Namun, persoalannya dalam Islam tidak berhenti sampai di sana, pada atmosfer yang mulia dan elok tatkala membina hati dan perasaan. Bahkan, nash di atas menegakkan prinsip berinteraksi dan jalinan seputar hak-hak orang lain yang hidup dalam masyarakatnya yang bersih. Sehingga, mereka tidak memperlakukannya dengan prasangka dan menghukuminya dengan keraguan.

Prasangka tidak menjadi landasan bagi keputusan mereka. Bahkan, ia mesti lenyap dari masyarakat tersebut dari sekitar mereka. Rasulullah bersabda,

Jika kamu berprasangka, ia takkan terwujud. ” (HR Thabrani)

Hadits ini berarti manusia senantiasa bebas dan terpelihara hak-haknya, kebebasannya, dan segala ekspresinya, sebelum nyata benar perbuatan yang berisiko hukum. Sangkaan yang beredar di kalangan mereka tidaklah cukup untuk dijadikan landasan penetapan sanksi

Adakah pemeliharaan kemuliaan manusia. kebebasannya, hak-haknya, dan ungkapannya seperti yang ditegaskan nash ini? Sejauh manakah kekaguman orang terhadap negara yang paling demokratis dan bebas serta paling menjaga hak-hak manusia, jika dibandingkan dengan apa yang diberitahukan oleh Al-Qur’anul-Karim kepada orang-orang beriman yang dijadikan landasan dan diaktualisasikan oleh masyarakat Islam setelah sebelumnya menjadi realitas dalam kalbu?

Kemudian berkaitan dengan penjaminan terciptanya masyarakat tersebut, disajikanlah prinsip lain yang berkaitan dengan menjauhi prasangka, “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” Tajassus kadang-kadang merupakan kegiatan yang mengiringi dugaan dan kadang-kadang sebagai kegiatan awal untuk menyingkap aurat dan mengetahui keburukan. Al-Qur'an memberantas praktik yang hina ini dari segi akhlak guna membersihkan kalbu dari kecenderungan yang buruk itu, yang hendak mengungkap aib dan keburukan orang lain.

Pemberantasan ini sejalan dengan tujuan AlQur'an yang hendak membersihkan akhlak dan kalbu. Namun, persoalan itu memiliki dampak yang lebih jauh daripada hal tersebut. Yaitu, menjadi salah satu prinsip Islam yang utama dalam sistem kemasyarakatan dan dalam penerapan serta aplikasi hukum.

Manusia memiliki kebebasan, kehormatan, dan kemuliaan yang tidak boleh dilanggar dengan cara apa pun dan tidak boleh disentuh dalam kondisi apa pun. Pada masyarakat Islam yang adil dan mulia, hiduplah manusia dengan rasa aman atas dirinya, rasa aman atas rumahnya, rasa aman atas kerahasiaannya, dan rasa aman atas aibnya. Tidak ada satu perkara pun yang menjustifikasi pelanggaran kehormatan (liră, rumah, rahasia, dan aib. Bahkan, jika terjadi pembunuhan yang berimplikasi pada penegakan hukum, maka tidak dibolehkan mencari-cari kesalahan manusia.

Manusia hendaklah dipandang Iahiriahnya. Tidak ada seorang pun yang berhak menghukum atas batiniahnya. Tidak ada seorang pun yang dapat menghukum manusia kecuali berdasarkan penyimpangan dan kesalahan yang tampak. Seseorang tidak boleh menyangka atau mengharapkan, atau bahkan mengetahui bahwa mereka melakukan suatu penyimpangan secara sembunyi-sembunyi, lalu diselidiki untuk memastikannya. Yang boleh dilakukan atas manusia ialah menghukum mereka saat kesalahannya terjadi dan terbukti disertai jaminan lain yang telah ditetapkan oleh nash berkaitan dengan setiap kesalahannya.

Abu Dawud meriwayatkan bahwa Abu Bakar bin Abi Syaibah menceritakan dari Abu Mu'awiyah, dari al-'Amasy, dari Zaid bin Wahab bahwa Ibnu Mas'ud datang. Tiba-tiba dikatakan kepadanya, "Dari janggut orang ini menetes khamar. " Abdullah bin Mas'ud berkata, "Kita dilarang mencari-cari kesalahan orang. Jika jelaslah kepada kita kesalahannya, barulah kita menghukumnya."

Diriwayatkan dari Mujahid bahwa dia berkata, "Janganlah kamu mencarkari kesalahan orang lain. Peganglah apa yang terlihat olehmu dengan jelas dan biarkanlah apa yang disembunyikan Allah."

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Dijin, sekretaris Uqbah, ia berkata kepada Uqbah, "Kami punya tetangga yang suka meminum khamar. Lalu aku meminta bukti untuk dapat menghukum mereka." Uqbah berkata, "Jangan berbuat demikian, tetapi nasihatilah mereka dan berilah ancaman." Dijin melaksanakan sarannya, tetapi mereka tetap melakukannya. Akhirnya, Dijin menemui Uqbah kembali seraya berkata, "Aku telah melarang mereka, namun mereka tidak mau berhenti. Karena itu, aku meminta bukti untuk menghukumnya." 'Uqbah berkata, "Hus, jangan lakukan itu, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Barangsiapayang menutupi aib seorang mukmin, dia bagaikan menggali anak yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya. "'

Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Rasyid bin Sa'ad, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan, bahwa Rasulullah bersabda, "Jika kamu menyelidiki aib manusia, berarti kamu mencelakakan mereka atau kamu nyaris mencelakakan mereka. "Abud Darda berkata, "Itulah ungkapan yang didengar Mu'awiyah dari Rasulullah. Semoga Allah memberi manfaat baginya melalui ungkapan itu."

Demikianlah nash Al-Qur'an mengambil jalannya dalam tatanan praktis bagi masyarakat Islam. Tatanan itu tidak hanya membina hati dan membersihkan kalbu. Namun, menjalin aneka kehormatan manusia, hak-haknya, dan kemerdekaannya. Sehingga, tidak boleh disentuh, baik dari dekat maupun dari jauh, karena suatu kekeliruan atau kesamaran.

Alangkah jauhnya dimensi tatanan itu, alangkah tinggi cakrawalanya, dan alangkah mengagumkannya jika dibandingkan dengan sistem demokrasi dan kebebasan negara manapun dalam memelihara hak-hak manusia setelah 14 abad yang lalu.

Setelah itu, ditampilkanlah larangan ghibah dalam ungkapan yang menakjubkan yang diciptakan Al-Quranul-Karim, "Janganlah sebagian kamu mengunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. "

Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Lalu, tergelarlah pemandangan yang mengusik diri yang paling kebal sekalipun dan mengusik perasaan yang paling kuat sekalipun, Yaitu, pemandangan di mana seorang saudara memakan daging saudaranya yang sudah mati. Kemudian dengan cepatnya menyeruak bahwa mereka tidak menyukai perbuatan yang menjijikkan ini. Dan jika demikian, berarti mereka membenci umpatan.

Kemudian rangkaian larangan berprasangka, mencari-cari kesalahan, dan ghibah diakhiri dengan mengusik perasaan ketakwaan mereka. Juga mengisyaratkan agar barangsiapa yang melakukan sebagian dari perbuatan ini, hendaknya dia segera bertobat dan menjemput rahmat-Nya, "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. "

Nash ini merambat ke dalam kehidupan masyarakat muslim. Lalu, mengikat kemuliaan manusia dan menjadikannya sebagai etika yang merasuk ke dalam jiwa dan kalbu. Kemudian Rasulullah mene gaskan hal ini sejalan dengan uslub Al-Qur' an yang menakjubkan guna menimbulkan kebencian dan rasa jijik terhadap wujud ghibah yang yang tidak disukai itu melalui hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Disebutkan oleh Abu Dawud bahwa al-Qa'nabi menceritakan dari Abdul Aziz bin Muhammad, dari al-'Ula', dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ditanya, "Hai Rasulullah, apakah ghibah itu?" Nabi saw. menjawab, "Kamu menceritakan saudaramu mengenai apa yang tidak disukainya." Beliau ditanya, "Bagaimana menurut engkau jika yang dikemukakan itu ada pada dirinya?" Nabi saw. menjawab,

"Jika yang kamu katakan itu ada pada dirinya, berarti kamu mengumpatnya. Jika tidak ada pada dirinya, berarti kamu telah berdusta tentang dia." (HR Tirmidzi)

Abu Dawud mengatakan bahwa Musaddad dari Yahya, dari Sufyan, Ali ibnul-Aqmar, dari Abu Hudzaifah, dari Aisyah r.abahwa ia berkata kepada Nabi saw., "Cukuplah anu dan anu untuk meninggalkan Shafiyah." (Menurut Musaddad, maksudnya tubuh Shafiyah yang pendek). Makam Nabi saw. bersabda, "Engkau telah melontarkan sebuah pernyataan yang apabila dicampurkan dengan air samudera, niscaya berbaur dengannya." Aisyah berkata, "Aku mengisahkan seseorang kepada beliau." Nabi bersabda, "Aku tidak suka menceritakan seseorang, padahal diriku anu dan anu." Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, 'Tatkala dimikrajkan, aku melihat suatu kaum yang berkuku tembaga. Mereka mencakari wajah dan dadanya. Aku bertanya, 'Jibril, siapakah mereka itu?' Jibril menjawab, 'Mereka adalah orang yang suka memakan daging manusia dan menodai kehormatannya.'"

Tatkala Ma’iz mengakui perzinaannya dengan al-Ghamidiyah, Rasulullah lalu merajam keduanya setelah pengakuan itu guna membersihkan keduanya. Nabi saw. mendengar seseorang yang berkata kepada temannya, "Apakah kamu tidak melihat orang yang telah ditutupi Allah, lalu tidak menyerahkan dirinya untuk dilempari seperti kepada anjing?" Nabi saw. melanjutkan petjalanannya hingga melihat bangkai keledai. Beliau bersabda, "Di mana si Fulan dan si Fulan? Turunlah, dan makanlah bangkai keledai ini!" Keduanya berkata, "Ya Rasulullah, semoga Allah mengampuni engkau. Apakah ini boleh dimakan?" Nabi saw. bersabda,

"Apa yang kamu raih dari saudaramu barusan (maksudnya ghibah, lebih buruk daripada bangkai ini. Demi Zat Yang menguasai Muhammad, sunguh dia (Ma 'iz) sekarang tengah menyelam di salah satu sungai surga." (HR Ibnu Katsir)

Melalui penanganan yang kokoh inilah, Al-Qur'an membersihkan dan meninggikan masyarakat muslim. Sehingga, berbuah dengan kehiliman yang menjalar di muka bumi dan contoh yang mewujud dalam realitas sejarah

Islam dan Iman serta Dampaknya dan Karunia yang Terkandung di Dalamnya

Setelah menyampaikan seruan-seruan yang berulang-ulang kepada orang yang beriman ini; membawa mereka ke cakrawala etika individual serta sosial yang tinggi dan elok; menegakkan tradisi yang kuat seputar jaminan kemulian, kebebasan, dan kehormatan; dan menjamin semua ini dengan perasaan yang ditebarkan ke dalam jiwa mereka melalui pengharapan kepada Allah dan ketakwaan kepada-Nya, maka diserulah seluruh umat manusia dengan segala ras dan warna kulitnya untuk dikembalikan ke pangkal yang satu dan kepada timbangan yang satu. Yaitu, timbangan yang digunakan untuk menilai kelompok terpilih yang naik ke puncak yang tinggi,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciPtakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita serta menjadiknn kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara knmu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Iagi Maha Mengenal. " (al-Hujuraat: 13)

Hai manusia! Hai orang-orang yang berbeda ras dan warna kulitnya, yang berbeda-beda suku dan kabilahnya, sesungguhnya kalian berasal dari pokok yang satu. Maka, janganlah berikhtilaf, janganlah bercerai-berai, janganlah bermusuhan, dan janganlah centang-perenang.

Hai manusia, Zat yang menyerumu dengan seruan ini adalah Zat Yang Telah menciptakan kamu dari jenis Iaki-laki dan wanita. Dialah yang memperlihatkan kepadamu tujuan dari menciptakanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa Tujuannya bukan untuk saling menjegal dan bermusuhan, tetapi supaya harmonis dan saling mengenal. Adapun perbedaan bahasa dan warna kulit, perbedaan watak dan akhlak, serta perbedaan bakat dan potensi merupakan keragaman yang tidak perlu menimbulkan pertentangan dan perselisihan. Namun, justru untuk menimbulkan kerja sama supaya bangkit dalam memikul segala tugas dan memenuhi se gala kebutuhan.

Warna kulit, ras, bahasa, negara, dan lainnya tidak ada dalam pertimbangan Allah. Di sana hanya ada satu ümbangan untuk menguji seluruh nilai dan mengetahuikeutamaan manusia. Yaitu, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." Orang paling mulia yang hakiki ialah yang mulia menurut pandangan Allah. Dialah yang menimbangmu, berdasarkan pengetahuan dan berita dengan aneka nilai dan timbangan. "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui İngi Maha Mengenal. "

Dengan demikian, berguguranlah segala perbedaan, gugurlah segala nilai. Lalu, dinaikkanlah satu timbangan dengan satu penilaian. Timbangan inilah yang digunakan manusia untuk menetapkan hukum. Nilai inilah yang harus dirujuk oleh umat manusia dalam menimbang.

Demikianlah seluruh şebab pertengkaran dan permusuhan telah dilenyapkan di bumi dan seluruh nilaİ dipertahankan manusİa telah dihapuskan. IAIu, tampaklah dengan jelas sarana utama bagi terciptanya kerja sama dan keharmonisan. Yaitu, ketuhanan Allah bagi semua dan terciptanya mereka darİ asal yang satu.

Kemudian naiklah satu panji yang diperebutkan semua orang agar dapat bernaung di bawahnya. Yaitu, panji ketakwaan di bawah naungan Allah. inilah panji yang dikerek İslam untuk menyelamatkan umat manusia dari fanatisme ras, fanatisme rumah. Semua ini merupakan kejahiliahan yang kemudian dikemas dalam berbagai model dan dinamai dengan berbagai istilah. Semuanya merupakan kejahiliahan yang tidak berkaitan dengan İslam.

Islam memerangi fanatisme jahiliah ini serta segala sosok dan bentuknya agar sistem İslam yang manusiawi dan mengglobal ini tegak di bawah satu panji, yaitu panji Allah. Bukan panji negara, bukan panji nasionalisme, bukan panji keluarga, dan bukan panji ras. Semua itü merupakan panji palsu yang tidak dikenal İslam.

Rasulullah bersabda,

"Kamu semua merupakan keturunan Adam dan Adam diciptakan dari tanah. Hendaklah suatu kaum menahan diri dan membanggakan nenek moyangnya, atau jadilah kalian makhluk yang lebih remeh bagİ Allah daripada ju’lan " (HR Abu Bakar al-Ba.zzar)

Nabi saw. bersabda ihwal fanatisme jahiliah, “Tingalkanlah ia karena merupakan bangkai." (HR Muslim)

İnilah prinsip yang menjadi fondasi masyarakat İslam. Yaitu, masyarakat yang manusiawi dan mendunia, yang senantiasa dibayangkan aktualisasinya dalam suatu warna. Tetapi, kemudian ia memudar şebab tidak menempuh satu-satunya jalan yang mengantarkan ke jalan lurus, yaitu jalan menuju Allah. Juga karena masyarakat itü tidak berdiri di bawah satu-satunya panji yang mempersatukan, yaitu panji Allah.

Pada akhir surah disajikanlah penjelasan ihwal hakikat keimanan dan nilainya dalam membantah orang-orang Badui yang berkata, "Kami beriman”, padahal mereka tidak memahami hakikat keimanan. Juga membantah orang-orang yang memberikan harapan kepada Rasulullah bahwa mereka akan maşuk İslam, padahal mereka tidak dapat memberikan harapan itu. Karena, Allahlah yang menganugerahkan keimanan kepada hamba-hamba-Nya,

۞ قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ ١٥ قُلْ اَتُعَلِّمُوْنَ اللّٰهَ بِدِيْنِكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ١٦ يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا ۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْ ۚبَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١٧ اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ࣖ ١٨

"Orang-orang Arab Badui itü berkata, 'Kami telah beriman. ' Katakanlah (kepada meraka), "Kamu belum beriman, tetapı' katakanlah, 'Kami telah tunduk', karena iman itü belum maşuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangİ sedikit pun (pahala) amalanmu. Sesunguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “Sesungguhnya orang-orangyang beriman hanyalah orangorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudİan mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjİhad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. Katakanlah (kepada mereka), 'Apakalı kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langİt dan apa yang ada di bumİ serta Allah Maha Mengetahui seagala sesuatu ?' Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar. ' Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (al-Hujuraat: 14-18)

Ayat itu diturunkan berkenaan dengan orang Badui dali bani Asad. Pada aval mel?ka masuk Islam, mereka berkata, "Kami beriman. " Merekajuga memberikan harapan kepada Rasulullah. Merrka berkata, "Kami telah masuk Islam. Orang-orang Badui memerangimu, padahal kami tidak memerangimu."

Allah hendak memberi tahu mereka akan hakikat perkara yang ada dalam dirinya saat mereka melontarkan pernyataan itu. Allah menjelaskan bahwa mereka masuk Islam karena kalah, dan Islamnya itu belum sampai ke kalbunya hingga mencapai martabat keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa hakikat keimanan belum Iagi mengendap dalam hati mereka dan belum terserap oleh nyawa mereka,

"...Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke datam hatimu.

Meskipun begitu, karunia Allah menghendaki untuk membalas setiap amal saleh yang mereka lakukan tanpa dikurangi sedikit pun. Inilah Islam yang nyata, yang menyatu dengan kalbu, lalu mengendap menjadi keimanan yang kuat dan menenteramkan. Cukup Islam inilah untuk menilai amal saleh mereka. Sehingga, tidak disia-siakan seperti disia-siakannya amal kaum kafr dan pahalanya yang ada di sisi Allah tidak dikurangi sedikitpun selama mereka berada dalam ketaatan dan ke-

"...Danjika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya,  Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu.... "

Hal itu karena Allah lebih dekat dengan ampunan dan rahmat. Maka, diterimalah hamba mulai dari langkah pertama, diridhai pula ketaatan dan kepasrahannya, hingga kalbunya merasakan keimanan dan ketenteraman,

 ..Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "' (al-Hujuraat: 14) 

Kemudian Allah menjelaskan hakikat keimanan kepada mereka.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jitea mercka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. " (alHujuraat: 15)

Iman berarti membenarkannya kalbu terhadap Allah dan RasuI-Nya; membenarkan yang tidak bercampur dengan keraguan dan kebilnbangan; membenarkan yang menenteramkan, kokoh, senipurna, dan tidak menimbulkan kegelisahan; benarkan yang dapat mendorong seseorang berjihad dengan harta dan nyawanya cli jalan Allah. Jika kalbu telah merasakan lezatnya keimanan dan kegandrungan kepadanya serta telah mengakar, niscaya akan mendorong untuk mewujudkan kebenaran itu di luar kalbu. Yakni, dalam aneka praktik persoalan dan dalam realitas kehidupan.

Seseorang takkan sanggup menahan pemisahan antara gambaran keimanan yang ada dalam perasaannya dan gambaran realitas yang ada di sekitarnya. Sebab, pemisahan ini akan menyakitinya dan menohoknya setiap saat. Karena itu, dia pun bergerak untuk berjihad di jalan Allah dengan harta dan nyawa. Itulah gerakan murni yang bersumber dari hati seorang mukmin. Gerakan ini dimaksudkan untuk merealisasikan sosok cemerlang yang ada dalam kalbunya agar tampak terejawantah dalam realitas kehidupan dan di kalangan manusia.

Permusuhan antara kaum mukminin dengan kehidupan jahiliah yang ada di sekitarnya merupakan permusuhan yang esensial yang tumbuh dari ketidakmampuan menciptakan kehidupan yang menyatukan sosok keimanan dan realitas kehidupan nyata. Juga disebabkan ketidakmampuan seseorang untuk menjabarkan sosok keimanan yang sempurna, elok, dan lurus ke dalam dunianya yang nyata, praktis, berkekurangan, tercela, dan menyimpang. Karena itu, dia mesti melakukan perang antara dirinya dan orang jahiliah yang ada di sekitarnya sehingga kejahiliahan ini menyukai sosok keimanan dan kehidupan imani.

"Mereka itulah orang-orang yang benar. " Orang-orang yang benar akidahnya. Orang-orang yang benar tatkala mereka berkata, 'Sesungguhnya mereka itulah orangyang beriman." Jika perasaan-perasaan tersebut belum tertanam dalam kalbu dan dampaknya belum terwujud dalam realitas kehidupan, berarti keimanan itu belum ada. Maka, kebenaran akidah dan pengakuan atasnya belum lagi tercipta.

Kita berhenti sejenak di depan penjagaan yang melintang pada ayat,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu.... ” (al-Hujuraat: 15)

la bukan sekadar ungkapan. Namun, merupakan sentuhan terhadap pengalaman perasaan yang nyata dan penanganan terhadap kondisi yang ada pada diri, bahkan setelah diri itü beriman. "Kemudian mereka tidak ragu-ragu. "

Penjagaan ini mirip dengan penjagaan pada frman Allah, "Sesunguhnya orang-orang yang berkata, 'Rabb kami adalah Allah..., kemudian mereka beristiqamah. "Tidak adanya keraguan dan keteguhan dalam memegang pernyataan, “Rabb kami adalah Allah", mengisyaratkan sesuatu yang kadangkadang menggoyahkan jiwa seorang mukrnin yang berada di bawah pengaruh pengalaman yang keras dan ujian yang sulit, yaitu kegamangan dan kekacauan. Juga diisyaratkan bahwa dalam kehidupan ini orang mukmin dihantam dengan berbagai kesulitan yang dapat menggoyahkan dan peristiwa yang menggundahkannya. Adapun jiwa yang kokoh, percaya dengan penuh tanpa ragu-ragu, dan senantiasa berjalan lurus yang mengantarkan ke tujuan, maka itulah jiwa yang berhak meraih derajat di sisi Allah.

Pengungkapan semacam ini mengingatkan kalbu yang beriman akan licin dan bahayanya perjalanan supaya kalbu itü membulatkan tekadnya, penuh perhitungan, dan konsisten. Juga agar tidak gamang tatkala ditunjukkan oleh uhlk, dibuat gelap oleh atmosfer, dan diguncang dengan angin dan badai.

Kemudian disajikan pemberitahuan kepada orang Badui bahwa Allah lebih mengetahui kalbu mereka dan isinya. Allahlah yang memberitahukan sesuatu ke dalam kalbu mereka, bukanlah Dia yang menerima pemberitahuan dari mereka,

"Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetuhui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumİ serta Allah Maha Mengetahui segah sesuatu. '"(aI-Hujuraat: 16)

Manusia suka mengaku tahu. Padahal, dia tidak mengetahui dirinya, tidak mengetahui aneka perasaannya, tidak memahami hakikat dirinya, dan tidak mengetahui hakikat perasaannya. Akal sendiri tidak mengetahui bagaimana ia bekerja şebab dia tidak memiliki kemampuan untuk memantau dirinya saat akal bekeıja. Tatkala memantau dirinya, dia menghentikan pekerjaannya yang alamiah, sehingga di sana tiada lagi sesuatu yang dipantaunya. Tatkala dia melakukan pekerjaan alamiahnya, dia tidak mampu melakukan pemantauan pada saat yang sama.

Karena itu, akal takkan mampu mengetahui karakteristik dirinya dan cara kerja dirinya, Akal hanyalah instrumen yang digunakan manusia untuk meraih sesuatu. Namun, "Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di lungit dan di bumi. "Allah mengetahui substansinya. Allah tidak hanya mengetahui lahiriah dan jejaknya semata. Tetapi, mengetahui hakikat dan substansinya secara menyeluruh dan komprehensif serta tidak terbatas dan üdak temporer. "Allah Maha Mengetahui segah sesuatu. "Dia mengetahui keseluruhan dari semua itü secara komprehensif dan integral.

Setelah menerangkan hakikat keimanan yang belum diraih dan dicapai oleh kaum Badui, Allah mengarahkan sapaan kepada Rasulullah ihwal nikmat maşuk İslam yang diberikan mereka kepadanya. Nikmat itü sendiri menunjukkan bahwa hakikat keimanan belum mengendap dalam kalbu mereka. Juga menunjukkan bahwa lezatnya keimanan belum dirasakan oleh ruh mereka,

Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepathku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimananjika kamu adalah orang-orangyang benar." (al-Hujuraat: 17)

Mereka telah memberikan nikn-ıat kepada Nabi saw. dengan masuknya merekake dalam İslam dan mereka menduganya sebagai keimanan. Lalu, datanglah bantahan bahwa tidak boleh memberikan nikmat dengan Islarn. Juga datang bantahan bahwa nikmat itü milik Allah yang dianugerahkan kepada mereka, jika pengakuan mereka akan keimanan itü tulus.

Kita berhenti dahulu di depan bantahan yang mengandung kebenaran yang beşar ini, yang dilupakan oleh banyak orang, bahkan dilupakan oleh sebagian mukmin. Yaitu, bahwa keimanan merupakan anugerah terbesaryang diberikanAIIah kepada salah seorang hamba-Nya di bumi. Nikmat keimanan lebih beşar daripada nikmat keberadaan dili yang dianugerahkan pertama kali kepada hamba. Juga lebih besar daripada nikmat rezeki, kesehatan, kehidupan, dan harta benda yang terkait dengan keberadaan diri.

Keimanan merupakan karunia yang membuat wujud manusia ini memiliki hakikat yang istimewa dan yang memberinya peran utama yang besar pada tatanan alam semesta ini.

Hal yang per tama kali dilakukan oleh keimanan di alam manusia ini, tatkala hakikatnya mengendap dalam kalbu, ialah kelapangan alam nyata ini yang dilukiskan kepada si pernilik kalbu karena keterkaitan dia dengan alam ini dan karena perannya di alam ini. Keimanan akan memberikan gambaran yang sahih tentang aneka nilai, perkara, manusia, dan peristiwa yang ada di sekitarnya. Keimanan akan memberinya ketenteraman tatkala perniliknya melakukan pelancongan di planet bumi ini hingga dia bersua dengan Allah. Keimanan membuatnya lupa akan segala yang ada di sekitarnya; membuatnya gandrung akan Allah Yang telah menciptakan dirinya dan Yang menciptakan wujud ini; serta membuat dirinya merasa bernilai dan mulia. Juga memberinya rasa mampu untuk menjalankan peran di bawah naungan keridhaan Allah, dan kemampuan untuk mewujudkan kebaikan di alam nyata ini dengan segala potensi yang tersedia dan manusia yang ada di alam ini.

Melalui gambaran yang lapang ini, seseorang dapat keluar dari wilayah dirinya yang terkungkung oleh waktu dan tempat, alam mikro, dan keterbatasan daya menuju seluruh lautan mrjud dengan segala potensinya yang terpendam dan aneka rahasianya yang tersimpan. Dia keluar tanpa terhambat oleh batas dan ikatan apa pun sepanjang mata memandang.

Jika dikaitkan dengan jenisnya, manusia merupakan bagian dari kemanusiaannya yang berasal dari satu pangkal. Pangkal ini meraih kemanusiaannya untuk pertama kali dari ruh Allah. Yaitu, melalui tiupan adiluhung yang mempertautkan alam tanah ini dengan nur Ilahiah. Maksudnya, cahaya yang bebas merambat, yang tidak terhambat oleh langit dan bumi. Rambatan cahaya ini tidak bermula dan tidak berujung serta tidak terbatas oleh tempat dan waktu.

Unsur yang bebas inilah yang menjadikan makhluk manusia ini sebagai insan. Jika cahaya ini mengendap dalam kalbu insan, dia pun memandang dirinya mulia, merasa terhormat, dan merasakan keelokan dan kebebasan. Kedua kakinya tetap melangkah di bumi, tetapi kalbunya mengepakkan sayap cahaya menuju sumber cahaya utama yang telah menganugerahkan jenis kehidupan ini kepadanya.

Jika dikaitkan dengan kelompoknya, manusia merupakan bagian dari umat mukmin, umat yang satu, umat yang merentang sepanjang zaman, yang berjalan bersama rombongan yang mulia di bawah pimpinan Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan para nabi lainnya. Semoga rahmat Allah dilimpahkan atas mereka. Jika gambaran ini mengendap dalam kalbu manusia, dia merasa bahwa dirinya merupakan cabang dari pohon yang baik, rimbun, menjulang, akarnya menghunjam, dahannya rindang, dan menyentuh langit karena usianya yang panjang.

Jika gambaran ini mengendap dalam kalbunya, niscaya orang itu mengecap kehidupan ini bercitarasa lain. Kehidupan ini dirasakannya dengan cita rasa yang baru. Dia merasakan kehidupan yang berlipatganda yang diraihnya dari ikatan keturunannya.

Kemudian gambarannya semakin meluas dan melebar. Sehingga, manusia itu melampaui dirinya sendiri, umatnya, dan jenisnya yang lain. Manusia itu melihat seluruh mrjud ini sebagai wujud yang bersumber dari Allah, yang berasal dari Dia, dari tiupan ruh-Nya lalu menjadi manusia. Keimanannya memberitahukan bahwa seluruh wujud ini ada dan hidup serta tersusun dari wujud-wujud yang hidup pula; setiap perkara mengandung ruh; dan seluruh alam semesta ini merupakan ruh.

Ruh segala perkara dan ruh alam yang besar ini menuju kepada Penciptanya Yang Agung, demikian pula ruh dirinya, melalui doa dan tasbih yang bertaut dengan pujian dan ketaatan. Inlu, berakhir dalam pengakuan dan kepasrahan.

Tiba-tiba dia berada di alam ini sebagai bagian dari keseluruhannya yang tak dapat dipisahkan, yang bersumber dari Penciptanya, yang menuju kepada-Nya dengan ruhnya, dan yang menjadi pelabuhan terakhir. Tiba-tiba dia menjadi lebih besar daripada dirinya yang terbatas dan lebih besar daripada gambarannya sendiri tentang wujud raksasa yang mengharukan ini. Tibætiba dia menjadi familiar dengan ruh segala benda yang ada di sekitarnya.

Setelah itu semua, dia menjadi familiar dengan ruh Allah yang memeliharanya. Pada saat itulah dia merasa mampu untuk berkomunikasi dengan se luruh wujud ini; merambah ke bidang panjang dan lebarnya alam; membuat banyak hal dan menciptakan aneka peristiwa yang besar; dan mempengaruhi segala sesuatu dari menerima pengaruh darinya. Juga mampu untuk mengambil secara langsung dari kekuatan besar yang telah membebaskannya serta yang telah membebaskan segala daya dan potensi dari seluruh perkara yang ada di alam ini. Yaitu, daya raksasa yang tidak berkurang, melemah, dan sirna.

Dari gambaran yang luas dan lapang ini, diambilIah timbangan-timbangan yang baru lagi benar untuk menimbang segala perkara, aneka peristiwa, individu, nilai, kepentingan, dan tujuan. Dia melihat perannya yang hakiki di alam nyata ini dan tugasnya yang hakiki dalam kehidupan ini sebagai salah satu bagian dari takdir Allah di alam semesta. Allah me ngarahkannya agar dia menjadi sarana bagi terwujudnya kebenaran-Nya dan apa-apa yang dikehendaki-Nya di alam ini. Lahl, dia meneruskan perjalanannya di planet bumi ini dengan langkah yang kokoh, mata terbuka, dan kalbu yang antusias.

Melalui pengetahuan akan hakikat wujud yang ada di sekitarnya, hakikat peran yang diembannya, dan hakikat daya yang disiapkan untuknya agar  dapat melaksanakan peran ini, dia meraih ketenangan, ketenteraman, dan kenyamanan terhadap apa yang terjadi dan berlangsung di sekitarnya. Dia mengetahui dari mana dia datang? Mengapa dia datang? Ke mana dia pergi? Apa yang dia temukan di sana?

Tiba-tiba dia mengetahui bahwa dia berada di sana untuk suatu urusan. Juga mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi memiliki takdir guna menuntaskan urusan itu. Dia mengetahui bahwa dunia itu merupakan ladang akhirat. Dia akan mendapat balasan atas perbuatannya, baik kecil maupun besar. Dia tidak diciptakan untuk main-main, tidak dibiarkannya terlunta-lunta, dan tidak melintas sendirian.

Karena adanya pengetahuan ini, memudarlah  rasa gamang, ragu-ragu, dan bingung yang muncul dari ketidaktahuan akan permulaan dan akhir kejadian, dari ketidakjelasan dalam melihat jalan, dan dari ketidakpercayaan akan hikmah yang tersembunyi di balik kedatangan dan kepergian diri nya serta di balik penelusurannya di jalan itu. Memudarlah aneka perasaan seperti perasaan Umar Khayyam berikut ini.

"Kukenakan busana usia yang tak kuperintah-

Dalam busana itu, aku terombang-ambing dalam aneka pikiran

Busanaku kelak 'kan usang dan terlepas Aku tidak tahu, mengapa aku datang dan kemana aku pulang."

Orang beriman mengetahui bahwa dia mengenakan pakaian usia dengan takdir Allah yang mengatur seluruh wujud melalui pengaturan Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dia (orang beriman tadi) mengetahui bahwa tangan yang memakaikan pakaian kepadanya lebih bijaksana daripada dia dan lebih menyayanginya sehingga tidak perlu meminta pendapatnya. Sebab, tangan tidak dimaksudkan untuk memberikan pendapat sebagaimana yang diberikan Oleh pemilik tangan, yaitu Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Allah mengenakan pakaian kepadanya untuk melaksanakan peran tertentu di alam semesta ini. Sehingga, dia menerima pengaruh dari segala hal yang ada di dalamnya dan memberinya pengaruh kepada semuanya. Peran ini sejalan dengan seluruh peran yang dilaksanakan Oleh setiap perkara dan makhluk hidup sejak awal hingga dikembalikan.

Dengan demikian, orang beriman mengetahui mengapa dia datang sebagaimana dia mengetahui di mana dia menetap. Dia tidak merasa bimbang di antara berbagai gagasan. Tetapi, dia melangkah dengan pasti dan melaksanakan perannya dengan tenang, penuh kepercayaan, dan penuh keyakinan. Kadang-kadang pengetahuan keimanannya itu meningkat. Sehingga, dia dapat menempuh jarak dan melaksanakan peran dengan ceria, bebas, dan penuh suka cita disertai perasaan indahnya anugerah dan agungnya karunia. Yaitu, anugerah usia atau pakaian yang diberikan kepadanya dari tangan Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi karunia, Mahaindah, Mahalembut, Maha Menyayangi, dan Maha Mengasihi. Anugerah peran yang dimainkannya, betapa pun sulitnya peran itu sehingga dengan peran itu dia sampai kepada Rabbnya dalam kerinduan cinta.

Memudarlah aneka rasa yang pernah dialaminya di masa ketercampakan dan kegalauan sebelum Allah memberinya kehidupan di bawah naungan AI-Qursan dan sebelum Allah menuntunnya ke naungan-Nya yang mulia. Perasaan itulah yang telah merenggut jiwaku yang penat dalam menghadapi seluruh semesta ini, lalu aku ungkapkan dengan,

"Semesta terpaku bingung, ke mana dia hendak berlalu? Kalaulah mampu, bagaimana dan mengapa dia berlalu?

Dia adalah permainan yang telantar dan upaya sia-sia

Tempat kembali yang memuaskan tidaklah disukai."

Kini aku tahu, segala puji dan karunia hanya kepunyaan Allah bahwa di sana tidak ada upaya yang sia-sia. Seluruh upaya pasti terbalas. Di sana tidak ada kepenatan yang disepelekan, sebab setiap kepenatan membuahkan hasil. Tempat kembali itu  laksana penyakit, sedang si sakit berada di tangan Yang Mahaadil lagi Maha Penyayang.

Kini aku merasa bahwa alam semesta tidak terhenti dalam satu nestapa untuk selamanya. Nyawa semesta beriman kepada Rabbnya, menuju kepadaNya, dan bertasbih memuji-Nya. Alam semesta berlalu selaras dengan prinsip yang dipilihkan Allah untuknya dalam ketaatan, keridhaan, dan kepasrahan.

Inilah upaya raksasa di dunia rasa dan dunia perenungan. la pun merupakan upaya raksasa di alam raga dan saraf yang melebihi upaya raksasa manapun dalam keindahan kerja, aktivitas, penerimaan pengaruh, dan pemberian pengaruh.

J adi, keimanan merupakan daya pendorong dan kekuatan penyatu. Begitu hakikat keimanan mengendap dalam kalbu, ia pun bergerak untuk berkarya dan merealisasikan esensinya dalam realita agar tercipta keserasian antara sosok keimanan yang tersembunyi dengan sosok keimanan yang nyata. Hakikat keimanan itu pun menatap sumbersumber gerakan di seluruh alam manusia dan mendorongnya agar berjalan.

Itulah rahasia kekuatan akidah di dalam diri dan rahasia kekuatan diri dengan adanya akidah. Rahasia yang Iuar biasa itulah yang telah dilakukan akidah di bumi ini dan yang senantiasa dilakukannya setiap hari. Yaitu, keluarbiasaan yang mengubah wajah kehidupan dari hari ke hari dan mendorong individu serta mendorong jamaah untuk mengorbankan usianya yang fana lagi terbatas itu dalam lapangan kehidupan yang besar dan tidak fana. Rahasia yang luar biasa itu menempatkan individu yang minoritas dan sedikit di depan kekuatan penguasa, kekuatan harta, dan kekuatan besi dan api.

Tiba-tiba seluruh kekuatan tersebut kalah dalam menghadapi akidah yang meletup dalam spirit individu yang betiman. Bukanlah individu yang fana lagi terbatas itu yang mengalahkan seluruh kekuatan tersebut. Namun, kekuatan yang besar dan mencengangkan, yang diambil oleh ruh itu sebagai sumberyang memancar, yang tidak pernah kering, yang tidak pernah berkurang, dan yang tidak pernah melemah... itulah yang mengalahkan individu yang fana tersebut.

Daya Iuar biasa yang dibawa oleh akidah agama dalam kehidupan individu dan kehidupan kelompok itu tidaklah tegak di atas khurafat yang rumit dan tidak bertopang pada ketakutan dan pikiran.  Namun, ia bertopang pada sarana yang nyata dan pondasi yang kokoh. Akidah agama merupakan gagasan universal yang mengikatkan manusia de-

ngan kekuatan alam semesta, baik yang nyata maupun tersembunyi. Gagasan universal yang mengokohkan ruhnya dengan kepercayaan dan ketenangan. Juga yang menganugerahinya kemampuan untuk menghadapi kekuatan palsu dan situasi yang batil dengan kuatnya keyakinan untuk menang dan kuatnya kepercayaan kepada Allah.

Akidah itulah yang menjelaskan kepada individu ihwal hubungannya dengan manusia, peristiwa, dan perkara yang ada di sekitarnya. Juga menjelaskan tujuan, arah, dan jalan manusia; menghimpun kekuatannya dan seluruh kekuatan lainnya; dan mendorong kekuatan itu hingga terarah. Dari sana pun muncul kekuatan akidah yang lain. Yaitu, kekuatan yang menghimpun segala daya dan upaya yang memiliki satu pusat dan mengarahkannya ke arah yang satu. Kemudian kekuatan itu membawanya ke sasaran yang jelas dengan penuh kekuatan, kepercayaan, dan keyakinan.

Kekuatan akidah itu terus bertambah. Kemudian bergerak dengan langkah mantap yang juga dimiliki oleh seluruh alam semesta, baik yang zahir maupun yang samar. Seluruh kekuatan yang tersimpan di seluruh bagian alam ini bergerak dengan keimanan. Lalu, di perjalanan bertemu dengan kekuatan akidah seorang mukmin. Maka, dia bergabung dengan rombongan alam yang menakjubkan agar kebenaran dapat mengalahkan kebatilan, meskipun kebatilan itu memiliki kekuatan nyata dengan mata yang berkilat.

Mahabenar Allah yang berfirman, "Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar. "'

Itulah karunia terbesar yang tidak dapat dimiliki dan diberikan kecuali oleh Allah Yang Maha Pemurah kepada orang yang diketahui-Nya bahwa dia memang berhak menerima anugerah yang besar ini.

Mahabenar Allah Yang Mahaagung. Apa yang dialami Oleh orang yang telah menemukan keakraban dengan aneka hakikat, pemahaman, makna, dan perasaan tersebut, lalu dia hidup dengan dan bersama semua itu serta menempuh perjalanan di planet ini di bawah naungan dan petunjuk hakikat tersebut? Bagaimana dengan orang yang kehilangan hakikat, walaupun dia bergelimang dalam limpahan nikmat, sedang dia bersenang-senang dan bersantap seperti halnya binatang? Sebenarnya binatang itu lebih Iurus. Sebab, dengan fitrahnya, ia mengetahui keimanan dan beroleh petunjuk menuju Penciptanya Yang Maha Pemurah.

"Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (al-Hujuraat: 18)

Zat Yang Mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi, berarti Dia mengetahui apa yang ghaib di dalam diri, yang tersimpan dalam hati, dan mengetahui hakikat perasaan. Dia melihat apa yang diketahui manusia. Pengetahuan-Nya tentang mereka tidak bersumber dari kata-kata yang dilontarkan lidah mereka. Tetapi, dari perasaan yang bergejolak dalam kalbu mereka dan dari aktivitas yang membuktikan apa yang bergejolak dalam kalbu tersebut.

Waba'du. Inilah surah yang agung. Setiap ayat yang berjumlah 18 ini nyaris melukiskan tandatanda ilmuwan yang mulia, bersih, tinggi, dan sehat secara mandiri. Di samping itu, masing-masing ayat pun menyingkapkan aneka hakikat yang besar dan mengokohkan pangkalnya di lubuk kalbu.

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat