Mudzakirat Da'wah Wa Da'iyah (Memoar Al-Banna) (4)

Acara Peringatan Maktab Al-Irsyad Al-'Am

Maktab Al-Irsyad Al-'Am untuk perkumpulan Ikhwanul Muslimin menghidupkan malam Senin tanggal dua puluh tujuh dari bulan Rajab yang agung dengan mengadakan acara peringatan Isra dan Mikraj. Orator dalam acara tersebut adalah Yang Mulia Al-Ustadz Asy-Syekh Hasan Effendi Al-Banna (Al-Mursyid Al-'Am perkumpulan) dan Yang Mulia Al-Ustadz Asy-Syekh Mustafa At-Thair (Wakil Maktab Al-Irsyad Al-'Am). Rahasia di balik penundaan acara dari yang semestinya malam Ahad disebabkan karena adanya undangan kepada Yang Mulia Al-Mursyid dan Wakil untuk menghidupkan acara berkah ini di tempat-tempat yang lain.

Di antara apa yang disusun oleh Maktab bagi Ikhwan adalah merangkum bagi mereka kaidah-kaidah fikrah Islamiah baik secara iktikad [keyakinan] maupun amal dalam beberapa baris kalimat yang dinamakan dengan istilah "Aqidatuna" (Akidah Kami), yang kemudian diterbitkan secara berkala pada sampul majalah Al-Ikhwan, dan berikut adalah teksnya:

  1. Aku berkeyakinan bahwa segala urusan seluruhnya adalah milik Allah, dan bahwa junjungan kita Nabi Muhammad adalah penutup para rasul-Nya untuk seluruh umat manusia, dan bahwa balasan akhirat adalah haq [nyata], dan bahwa Al-Qur'an adalah kitab Allah, dan bahwa Islam adalah undang-undang yang menyeluruh bagi tatanan dunia dan akhirat. Dan aku berjanji untuk menetapkan bagi diriku wirid bagian membaca Al-Qur'an al-Karim, berpegang teguh pada sunah yang suci, serta mempelajari sirah nabawiyah dan sejarah para sahabat yang mulia.
  2. Aku berkeyakinan bahwa istikamah, keutamaan, dan ilmu termasuk di antara rukun-rukun Islam. Dan aku berjanji untuk menjadi orang yang istikamah, menunaikan ibadah-ibadah, menjauhi kemungkaran-kemungkaran, menjadi orang yang memiliki keutamaan, menghiasi diri dengan akhlak yang baik, menanggalkan akhlak yang buruk, memperhatikan ibadah-ibadah islami sedapat mungkin, serta mendahulukan cinta dan kasih sayang daripada saling menggugat dan memperkarakan di pengadilan. Aku tidak akan mengadukan urusan ke pengadilan kecuali dalam keadaan darurat, dan aku akan merasa bangga dengan syiar-syiar Islam serta bahasanya, serta bekerja untuk menyebarluaskan ilmu-ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat di lapisan-lapisan umat.
  3. Aku berkeyakinan bahwa seorang muslim dituntut untuk bekerja dan berusaha mencari nafkah, dan bahwa di dalam harta yang diusahakannya terdapat hak yang diwajibkan bagi peminta-minta dan orang yang tidak berdaya. Dan aku berjanji untuk bekerja mencari penghidupanku dan berhemat untuk masa depanku, menunaikan zakat hartaku, mengkhususkan sebagian dari pemasukanku untuk amal kebajikan dan kebaikan, serta mendukung setiap proyek ekonomi yang bermanfaat, dan aku akan mendahulukan produk-produk negeriku serta saudara seagama dan se-tanah airku, tidak akan bertransaksi dengan riba dalam urusan apa pun dari urusan-urusanku, dan tidak akan menjerumuskan diri dalam barang-barang sekunder/mewah di luar batas kemampuanku.
  1. Aku berkeyakinan bahwa seorang muslim bertanggung jawab atas keluarganya, dan bahwa termasuk kewajibannya adalah menjaga kesehatan, akidah, serta akhlak keluarganya. Dan aku berjanji untuk mengupayakan hal itu segenap kemampuanku, menyebarluaskan ajaran Islam di tengah-tengah anggota keluargaku, tidak memasukkan anak-anakku ke sekolah mana pun yang tidak menjaga akidah dan akhlak mereka, serta memboikot seluruh surat kabar, publikasi, buku, lembaga, kelompok, dan klub yang memusuhi ajaran Islam.
  2. Aku berkeyakinan bahwa termasuk kewajiban seorang muslim adalah menghidupkan kembali kejayaan Islam dengan membangkitkan bangsa-bangsanya dan mengembalikan syariatnya, dan bahwa panji Islam harus menguasai umat manusia. Serta termasuk tugas setiap muslim adalah mendidik dunia di atas kaidah-kaidah Islam. Dan aku berjanji untuk berjihad di jalan penunaian risalah ini sepanjang hayatku, serta mengorbankan di jalannya segala apa yang aku miliki.
  3. Aku berkeyakinan bahwa kaum muslimin seluruhnya adalah umat yang satu, yang diikat oleh akidah Islam, dan bahwa Islam memerintahkan pemeluknya untuk berbuat baik kepada seluruh manusia. Dan aku berjanji untuk mencurahkan kemampuanku dalam memperkuat ikatan persaudaraan di antara sesama kaum muslimin, serta menghilangkan kerenggangan dan perselisihan di antara golongan maupun sekte mereka.
  4. Aku berkeyakinan bahwa rahasia di balik kemunduran kaum muslimin adalah karena jauhnya mereka dari agama mereka, dan bahwa asas perbaikan adalah kembali kepada ajaran-ajaran Islam beserta hukum-hukumnya, dan hal itu sangat mungkin terwujud jika kaum muslimin mengupayakannya, dan bahwa fikrah Ikhwanul Muslimin dapat mewujudkan tujuan ini. Dan aku berjanji untuk teguh di atas prinsip-prinsipnya, ikhlas kepada siapa saja yang bekerja untuknya, dan akan terus menjadi prajurit yang siap berkhidmat di jalannya atau mati di jalan tersebut.

Akidah Kami di Mata Seorang Penulis Eropa Pendahuluan

Termasuk hal yang menarik adalah salah satu nomor dari majalah tersebut jatuh ke tangan Al-Akh Al-Ustadz 'Izzat Rajih, yang saat ini menjabat sebagai pengawas di Kementerian Pendidikan. Pada masa itu, beliau berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Sorbonne, Prancis. Beliau menyodorkan "Akidah Kami" kepada dosennya, Ernest Renan, yang merupakan cucu dari Renan senior, lalu sang dosen menggambarkan akidah tersebut dengan untaian kata yang halus dan mendalam. Dr. 'Izzat kemudian mengirimkan surat mengenai peristiwa tersebut kepada saudaranya, Al-Ustadz As'ad Rajih, anggota Pusat Umum Ikhwanul Muslimin di Kairo, lalu majalah Al-Ikhwan lantas menerbitkannya di dalam sebuah artikel tajuk rencana yang teksnya sebagai berikut:

Akidah Ikhwanul Muslimin Menurut Pandangan Profesor Ernest Renan, Profesor Studi Arab dan Islam di Sorbonne, Paris

Saudaraku tercinta,

Amma ba'du. Suatu hari, ketika saya berada di Masjid Paris, di antara surat kabar dan majalah yang dipajang di sana, saya menemukan surat kabar Al-Ikhwan Al-Muslimun yang sudah sering Anda ceritakan kepada saya beserta para tokohnya sewaktu saya masih di Mesir. Di bawah tajuk "Akidah Kami", saya membaca berbagai poin keyakinan dan ikrar komitmen yang membangkitkan rasa kagum dan apresiasi mendalam di dalam jiwa saya. Setelah melakukan studi umum terhadap prinsip-prinsip ini, saya menilai bahwa prinsip-prinsip ini sangat layak untuk dipresentasikan—setelah diterjemahkan—kepada Profesor Ernest Renan, Profesor Studi Arab dan Islam di Universitas Sorbonne, guna meminta pandangannya. Saya pun melaksanakannya, lalu Profesor mengambilnya dan mengembalikannya beberapa hari kemudian. Beliau menuliskan catatan di atasnya yang terjemahannya sebagai berikut:

"Sesungguhnya kata-kata ini memiliki kajian dan tujuan yang sangat mendalam. Tidak diragukan lagi bahwa kata-kata ini bersumber dari metode yang dirumuskan oleh Muhammad dan berhasil beliau laksanakan, sehingga dengannya beliau mendirikan sebuah umat, negara, dan agama. Metode ini telah ditambahkan dengan hal-hal yang selaras dengan tuntutan zaman, dengan tetap terikat pada spirit Islam. Dalam keyakinan saya, tidak ada kejayaan bagi kaum muslimin hari ini kecuali dengan mengikuti jalan yang sama dengan yang ditempuh oleh Muhammad dan para sahabatnya. Akan tetapi, untuk mewujudkan hal ini pada kondisi kaum muslimin saat ini merupakan hal yang jauh, namun hal ini tidak berarti harus berputus asa dan berpangku tangan dari beramal." Upaya saya hingga hari ini belum membuahkan hasil untuk menentukan topik tesis yang akan saya ajukan dalam ujian doktoral, dan saya tidak menyangkal bahwa akidah ini beserta komentar Profesor terhadapnya memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam mengarahkan pemikiran saya untuk memilih topik tesis, dan saya akan memberi tahu Anda mengenai topiknya apabila telah dipilih nanti. Saudramu, Ahmad 'Izzat Rajih.

Ini adalah bagian khusus mengenai akidah Ikhwanul Muslimin dari surat pribadi yang dikirimkan oleh sahabat kami yang mulia, Al-Ustadz Ahmad 'Izzat, anggota delegasi pendidikan untuk spesialisasi dalam ilmu psikologi dan sosiologi di Paris, kepada saudaranya, Tuan As'ad Rajih Effendi, Sekretaris Kedua Maktab Al-Irsyad Al-'Am di Kairo. Di dalamnya para pembaca dapat melihat bahwa Profesor 'Ernest Renan' mengutarakan pandangannya mengenai 'Akidah Kami' dengan sangat gamblang dan jelas. Beliau bersikap jujur dalam mengutarakan pandangannya, sepadan dengan ketelitiannya di dalam kejujuran tersebut, serta sepadan dengan ketepatan yang diraihnya dalam ketelitian tersebut pula. Anda dapat menyimpulkan beberapa poin dari pandangan teliti yang dilontarkan dari seberang lautan mengenai akidah Ikhwanul Muslimin ini:

Poin pertama: "Akidah Ikhwanul Muslimin bersumber dari metode yang sama yang dirumuskan oleh junjungan kita Muhammad." Ini adalah ungkapan dalam bahasa Prancis yang digunakan oleh seorang profesor yang tidak memiliki hubungan dengan Islam kecuali hubungan ilmiah, untuk mengutarakan pandangannya. Adapun kami, kami mengatakan: "Metode yang sama yang dibawa oleh Muhammad sebagai wahyu dari Allah." Maknanya adalah Profesor 'Ernest Renan' melihat bahwa akidah Ikhwanul Muslimin adalah murni islami, tidak melenceng dari Islam seujung rambut pun. Dan sungguh ia benar, karena tidak ada satu kata pun dalam akidah Ikhwanul Muslimin melainkan dasarnya adalah Kitabullah Yang Maha Berkah dan Mahatinggi, sunah Rasul-Nya, serta spirit Islam yang sahih. Baliklah setiap paragraf dari paragraf-paragrafnya sesuka Anda, niscaya Anda tidak akan melihat di dalamnya kecuali hakikat islami yang diperintahkan oleh Islam, diserukan oleh agama, dianjurkan oleh Al-Qur'an al-Karim, dan ditekankan oleh Rasulullah . Sisi pelajaran berharga dari akidah ini adalah Profesor Ernest Renan, dengan ketelitian risetnya dan kejernihan pemikirannya, mampu menggambarkan Ikhwanul Muslimin, memahami mereka, dan memahami bahwa mereka ada untuk Islam, dan hanya untuk Islam semata, meskipun ada jarak yang membentang jauh dan terputusnya komunikasi antara kami dan beliau. Sementara di sisi lain, sebagian orang menaruh berbagai prasangka buruk terhadap Ikhwanul Muslimin, mempertanyakan hakikat manhaj [metode] mereka, mempertanyakan esensi tujuan mereka, serta meragukan akidah dan jalan mereka.

Wahai putra-putra umat kami yang tercinta dan berharga bagi kami, kami adalah kaum muslimin dan itu sudah cukup. Manhaj kami adalah manhaj Rasulullah dan itu sudah cukup. Akidah kami bersumber dari Kitabullah dan sunah Rasul-Nya dan itu sudah cukup. Jika perkataan kami tidak membuat kalian puas, maka ambillah perkataan orang-orang asing dari luar kami yang tidak memiliki ikatan apa pun dengan kami. Kami tidak melihat adanya alasan bagi orang yang ragu terhadap Ikhwanul Muslimin setelah kejelasan urusan mereka dan kebersihan akidah mereka, kecuali dua hal yang tidak ada pilihan ketiganya:

Bisa jadi orang yang ragu ini belum mempelajari Islam dengan studi yang benar yang memungkinkannya untuk meresapi spiritnya dan memahami target serta tujuannya, sehingga ia melihat tujuan Ikhwan sebagai sesuatu yang keluar dari spirit Islam, karena ia tidak mengenal spirit ini kecuali dalam lingkaran sempit yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. Ataukah orang yang ragu ini adalah orang yang berpenyakit hati, berburuk sangka, dan tidak bersih hatinya. Ia melampaui batas, berbuat zalim, dan mencari-cari aib pada orang yang tak bersalah, di mana kedua hal tersebut merupakan malapetaka bagi pemiliknya dan kehancuran bagi orang yang bersifat dengannya.

Poin kedua: "Metode ini telah berhasil digunakan oleh Muhammad untuk membentuk sebuah agama, umat, dan negara." Demi Allah, ini adalah sebuah kebenaran, ia adalah Islam, agama yang paling utama dan paling sempurna, syariat terbaik dan paling universal. Agama yang memuaskan dahaga spiritual kemanusiaan dan menyediakan baginya ketenteraman hati serta kebahagiaan jiwa yang dicita-citakannya. Ia adalah Islam, ikatan terkuat yang menautkan jalinan cinta di dalam jiwa umat, memperkokoh hubungan keselarasan di antara bangsa-bangsanya, dan membawa dunia melangkah cepat menuju persatuan umum yang menjadi cita-cita tertinggi para reformis dan ahli hikmah serta fondasi kebaikan bagi umat manusia. Ia adalah Islam yang mendirikan negara di atas prinsip-prinsip keadilan, membangun pemerintahan di atas kaidah-kaidah pemenuhan hak-hak, dan memberikan hak kepada setiap pemilik hak dari berbagai lapisan umat, tanpa ada yang dirugikan, dikebiri, atau dizalimi. Maka alangkah agungnya ketika hakikat Islam ini dipahami oleh orang-orang yang belum mendapatkan kehormatan berupa hidayahnya, dan yang lebih agung lagi adalah mereka menyebarluaskan pandangan-pandangan ini secerah rembulan dan seterang pagi hari. Pelajaran berharganya di sini adalah hendaknya pandangan ini didengar oleh para pemimpin bangsa-bangsanya Timur yang ingin atau sedang mencari metode bagi umat mereka yang diambil dari Islam untuk membangun kebangkitan di atasnya, serta menjadikannya sebagai pembentuk agama, umat, dan negara.

Poin ketiga: "Tidak ada kejayaan bagi kaum muslimin hari ini kecuali dengan mengikuti jalan yang sama dengan yang ditempuh oleh Muhammad dan para sahabatnya." Pandangan itu merupakan pandangan filosof 'Renan', yang telah didahului oleh imam besar Islam yang menyatakan sebelumnya bahwa tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya. Pengalaman telah mendukung hal tersebut dan berbagai peristiwa telah menegaskannya. Sejac bangsa-bangsanya Timur meninggalkan ajaran Islam dan mencoba menggantinya dengan yang lain yang mereka sangka membawa kebaikan bagi urusan mereka, mereka justru terombang-ambing di dalam kegelapan kebingungan, merasakan pahitnya eksperimen yang gagal, serta membayar harga penyimpangan ini dengan harga yang mahal berupa harga diri, akhlak, kejayaan, dan fasilitas mereka. Hal yang mengherankan adalah hingga saat ini banyak dari bangsa-bangsanya Timur yang belum menyadari hakikat yang terang benderang ini, sehingga mereka terus terseret ke jalan yang menjauh dari spirit Islam dan ajaran-ajarannya tanpa mau mengambil pelajaran dari berbagai malapetaka yang melanda kepala dunia Timur setiap hari. Sesungguhnya modal dunia Timur adalah akhlak dan iman, jika kehilangan keduanya maka ia kehilangan segala-galanya, dan jika kembali kepada keduanya maka segala-galanya akan kembali kepadanya, dan kekuatan orang-orang zalim akan hancur di hadapan akhlak yang kokoh serta iman dan keyakinan. Oleh karena itu, hendaklah para pemimpin dunia Timur bersungguh-sungguh di dalam memperkuat spiritnya dan mengembalikan akhlaknya yang telah hilang, karena itu adalah satu-satunya jalan menuju kebangkitan yang benar, dan mereka tidak akan menemukan hal itu kecuali jika mereka kembali kepada Islam dan berpegang teguh pada ajaran Islam:

"...Jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), niscaya Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu." (QS. Muhammad: 38)

Poin keempat: Mewujudkan metode ini pada kondisi kaum muslimin saat ini. Profesor 'Renan' melihat bahwa perwujudan hal tersebut merupakan sesuatu yang jauh karena beliau mengetahui jurang pemisah yang sangat dalam yang diciptakan oleh berbagai peristiwa politik dan sosial antara kaum muslimin dan agama mereka. Beliau juga mengetahui berbagai sarana internal yang efektif yang digunakan oleh para musuh Islam untuk menjauhkan kaum muslimin dari Islam di era modern. Beliau pun mengetahui bahwa kaum muslimin sendiri saat ini telah menjadi musuh bagi agama mereka, mematahkan pedang mereka dengan tangan mereka sendiri, menyerahkan pisau kepada orang yang ingin menyembelih mereka atas pilihan mereka sendiri, dan ikut serta meruntuhkan agama mereka padahal ia merupakan simpul sistem mereka dan fondasi kekuatan mereka. Ikhwanul Muslimin meyakini hal ini dan melihatnya sebagaimana Profesor melihatnya. Mereka tidak pernah membayangkan ketika bangkit untuk beramal bahwa mereka akan berjalan di atas jalan yang lunak, melainkan mereka mengetahui apa saja rintangan yang menanti mereka, lalu mereka mempersiapkan diri, harta, iman, dan akidah mereka untuk menghadapinya, serta menanti janji Allah:

"...Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS. Al-Hajj: 40)

Poin kelima: "Namun hal ini tidak berarti harus berpangku tangan dari beramal." Benar, benar sekali... Berbagai rintangan tidak akan menambah bagi kami kecuali semangat, dan berbagai kesulitan tidak akan menambah bagi kami kecuali langkah maju di jalan jihad. Kami membaca firman Allah:

"...Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87)

Maka bangkitlah wahai kaum Ikhwanul Muslimin, karena sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, keselamatan itu bersama keteguhan, dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Sungguh Profesor sangat teliti ketika melihat bahwa akidah Ikhwanul Muslimin memiliki kajian dan tujuan yang mendalam, dan ketika beliau melihat bahwa meskipun metode ini "ditambahkan dengan hal-hal yang selaras dengan tuntutan zaman", ia tetap "terikat pada spirit Islam". Demikianlah Islam, spiritnya menaungi seluruh zaman dan mencakup dunia beserta isinya. Demikian pula Ikhwanul Muslimin, mereka mampu menyerap dari spirit Islam apa yang sesuai dengan tuntutan zaman dan menggambarkan akidah mereka kepada manusia secara sempurna, di mana kedua spirit tersebut tampak sekaligus. Alangkah berharapnya kami agar di kalangan kami ada orang yang melihat kepada akidah kami dengan pandangan jeli tersebut, agar kemudian keluar dengan penilaian yang tepat seperti ini. Amma ba'du, kami menyampaikan terima kasih kepada Profesor besar Ernest Renan atas keadilannya, dan terima kasih kepada sahabat kami Al-Ustadz 'Izzat atas suratnya yang halus serta kesannya yang indah terhadap akidah kami yang murni untuk Islam dan dunia Timur, dan kami memohon kepada Allah taufik dan ketepatan.

Masjid Parlemen

Jamaah pada tanggal tersebut memiliki aktivitas bersama lembaga-lembaga resmi, setiap kali menemukan adanya urgensi untuk menyurati mereka sebagai bentuk pelaksanaan dari kewajiban pengorbanan. Di antaranya adalah surat ini sehubungan dengan Masjid Parlemen, yang ditujukan kepada Yang Mulia Perdana Menteri dan Yang Mulia Menteri Pekerjaan Umum, yang teksnya sebagai berikut:

Yang Mulia Perdana Menteri,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba'du.

Sungguh kegembiraan seluruh umat atas pengangkatan Anda untuk memimpin urusannya bersifat menyeluruh, dan kebahagiaannya sangat besar ketika busur panah telah diambil oleh ahlinya dan urusan telah kembali ke tempat yang semestinya pada pribadi Anda yang mulia. Tidak diragukan lagi bahwa era Anda yang gemilang adalah era perbaikan yang sempurna dan kebaikan yang menyeluruh, insya Allah. Tanda-tanda perbaikan ini telah tampak dengan sangat jelas dalam potret yang paling indah dan penampilan yang paling menawan melalui amal-amal agung yang telah dilakukan oleh kementerian sejak memegang pemerintahan hingga saat ini, serta harapan-harapan tulus yang terwujud di tangannya meskipun dalam waktu yang singkat dan kesibukan yang padat.

Namun sangat menyakitkan bagi kami, wahai Perdana Menteri, di samping jihad yang sukses tersebut, kami melihat adanya keputusan dari Kementerian Pekerjaan Umum yang dipublikasikan oleh surat kabar As-Siyasah, yaitu adanya intensi untuk membatalkan pembangunan Masjid Parlemen yang sebelumnya telah diputuskan untuk didirikan.

Sesungguhnya gedung parlemen adalah manifestasi kehormatan umat, simbol harapan dan cita-citanya, serta potret bagi nasionalisme dan kehidupannya. Keberadaan masjid di dalam parlemen adalah suatu perkara yang mutlak harus ada. Sebab, para anggota dewan perwakilan rakyat—kecuali sebagian kecil—adalah muslim, dan agama resmi negara adalah Islam, sedangkan pertemuan-pertemuan di dalam dewan diadakan pada waktu-waktu yang diselingi, didahului, atau diikuti oleh waktu salat. Maka keberadaan masjid di parlemen merupakan salah satu manifestasi dari perhatian pemerintah di dalam merealisasikan konstitusinya, serta perhatian umat terhadap syiar-syiar agamanya, sekaligus membantu para anggota dewan yang terhormat untuk menunaikan kewajiban ilahi mereka di samping kewajiban nasional mereka, dan alangkah eratnya hubungan antara kedua kewajiban tersebut...

Sesungguhnya keinginan kuat kami agar era Anda yang gemilang tetap putih bersih dan halamannya bersinar terang tanpa ada cacat di wajahnya serta tidak ada hijab yang menghalangi keindahannya, telah mendorong kami untuk datang kepada Anda seraya mendesak dalam pengharapan agar Anda mendukung Kementerian Pekerjaan Umum di dalam keputusan sebelumnya untuk mendirikan Masjid Parlemen dan menyegerakan pelaksanaannya, sehingga kita dapat melihat masjid tersebut dalam waktu dekat sebagai tempat menetapnya rahmat di tempat turunnya hikmah, insya Allah.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Atas nama Jamaah Ikhwanul Muslimin Al-Mursyid Al-'Am - Hasan Al-Banna

Sekretaris Pekerjaan Umum telah membalas surat tersebut sebagaimana yang dipublikasikan oleh majalah Al-Ikhwan di bawah tajuk berikut ini:

Ucapan Terima Kasih yang Wajib

Menyusul surat yang dilayangkan oleh perkumpulan Ikhwanul Muslimin kepada Yang Mulia Perdana Menteri dan Yang Mulia Menteri Pekerjaan Umum, kantor administrasi perkumpulan menerima surat balasan berikut dari Kementerian Pekerjaan Umum:

Kepada Yang Terhormat Ketua Perkumpulan Ikhwanul Muslimin, Lorong Al-Mi'mar Nomor 6, Abdul Lathif Bek, Jalan Suq As-Silah, Mesir.

Merujuk kepada surat Anda tertanggal 17 November 1934 mengenai pembangunan Masjid Parlemen, dengan hormat saya informasikan bahwa kementerian telah memutuskan untuk membangun masjid tersebut dan telah menyerahkan kontrak pemborongannya kepada Tuan Abdul Hamid Muhammad Abdillah selaku kontraktor pada tanggal 30 November 1934.

Mohon terima penghargaan yang setinggi-tingginya.

Tanda tangan: Sekretaris Jenderal Abdul Hamid Ibrahim.

Majalah kemudian memberikan komentar setelah itu dengan kalimat berikut:

Perkumpulan beserta seluruh jajarannya tidak dapat melakukan apa-apa selain menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Mulia Menteri Pekerjaan Umum atas semangat yang patut disyukuri ini. Semoga Allah memberikan taufik kepada semuanya menuju apa yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi negeri dan para hamba.

Sekretaris Perkumpulan Muhammad As'ad Al-Hakim

Penundaan Sidang Dewan Syura Umum Ikhwanul Muslimin - Periode Ketiga

Sudah menjadi kebiasaan bahwa Dewan Syura Umum Ikhwan mengadakan sidangnya pada hari-hari Hari Raya Idulfitri yang mubarak. Akan tetapi, karena adanya kondisi darurat, Maktab Al-Irsyad menilai perlu untuk menunda penyelenggaraannya ke waktu yang lain, dan surat kabar Al-Ikhwan mempublikasikan penundaan ini melalui kalimat berikut:

Sebelumnya telah dijadwalkan bahwa Dewan Syura Umum Ikhwanul Muslimin akan mengadakan sidang ketiganya pada hari kedua Hari Raya Idulfitri tahun 1353 H. Undangan telah dilayangkan oleh rekan-rekan Ikhwan di Al-Bahr Ash-Shaghir dan rekan-rekan Ikhwan di Ismailiyah kepada Maktab dengan harapan agar Maktab mengundang para anggota untuk berkumpul di Ismailiyah atau di salah satu wilayah Al-Bahr Ash-Shaghir, sebagaimana rekan-rekan Ikhwan di Kairo juga telah bersiap untuk menyelenggarakannya di sana pula.

Namun, karena adanya kondisi khusus, Maktab Al-Irsyad Al-'Am menilai perlu untuk menunda penyelenggaraan sidang ke kesempatan lain yang akan diinformasikan kepada para anggota di kemudian hari. Dewan akan mengadakan sidang-sidang pendahuluan untuk membahas urusan-urusan umum jamaah selama liburan Idulfitri di kantor pusatnya di Kairo pada jam delapan hingga jam sebelas malam, pada malam kedua, ketiga, dan keempat dari Idulfitri, yang dihadiri oleh siapa saja dari kalangan Ikhwan yang mengunjungi Kairo. Kepada Allah kami memohon agar mengilhamkan kepada perkumpulan apa yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin. Ini adalah teks undangan dari Ikhwan di Ismailiyah sebagai bukti atas keinginan mereka, disertai dengan ucapan terima kasih dari Maktab dan apresiasinya yang indah atas perasaan mereka.

Sekretaris Muhammad As'ad Al-Hakim

Undangan Pertemuan Sidang Dewan Syura Umum Ikhwanul Muslimin di Ismailiyah

Ketika telah tiba waktu penyelenggaraan Dewan Syura Umum dalam periode ketiganya, rekan-rekan Ikhwan di Ismailiyah melayangkan surat ini kepada Al-Mursyid Al-'Am:

Yang Mulia Al-Mursyid Al-'Am Ikhwanul Muslimin, Al-Ustadz Hasan Al-Banna,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba'du.

Merupakan kehormatan yang sangat besar bagi kami untuk melayangkan undangan pada tahun ini bagi pertemuan Ikhwanul Muslimin di Ismailiyah. Mengingat bahwa Ismailiyah adalah mata air dakwah, fondasi bagi fikrah yang mulia, serta tanaman pertama yang tumbuh dan berbuah. Ismailiyah juga terletak di lokasi yang berada di tengah-tengah di antara cabang-cabang perkumpulan, sehingga dengannya pertemuan ini menjadi pertemuan umum tempat kami saling mengenal dengan saudara-saudara kami yang belum kami rasakan kebahagiaan untuk melihat mereka hingga saat ini, di mana kami berada dalam kerinduan yang sangat besar kepada mereka.

Rekan-rekan Ikhwan di sini menunggu dengan sangat antusias terwujudnya cita-cita ini, dan mereka berada dalam kesiapan penuh untuk menyambut saudara-saudara mereka serta merintis jalan kenyamanan yang sempurna sepanjang masa kunjungan mereka. Alangkah indahnya jika Anda menyetujui undangan ini dan melayangkannya kepada saudara-saudara kami yang mulia, sehingga dengannya kami meraih kebanggaan yang besar dan kehormatan yang agung, dan kami berada dalam penantian.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sekretaris Perkumpulan Abdul Rahman Muhammad Hasaballah

Setelah itu terjadi suatu hal yang menuntut perpindahan kantor administrasi surat kabar dan percetakan ke gedung yang lain, lalu majalah Al-Ikhwan menuliskan sebuah maklumat mengenai hal tersebut di bawah tajuk ini:...

Dari Redaksi/Manajemen

  1. Alamat surat kabar telah berpindah dari kantor administrasi lama ke Hārah Nāfi‘ No. 30, ‘Atfata ‘Abdullah Bey di As-Surūjiyyah, Kairo. Oleh karena itu, diharapkan agar seluruh urusan surat-menyurat dikirimkan ke alamat ini.
  2. Percetakan Al-Ikhwan telah berpindah dari markas lamanya ke ‘Atfat Ar-Rassām No. 7 di Al-Ghūriyyah, di samping Masjid Al-Fakahāni, Kairo.
  3. Perpindahan percetakan dan surat kabar ini menjadi penyebab tidak terbitnya surat kabar selama beberapa waktu ini. Kami memohon maaf kepada para pembaca yang terhormat, dan kami memohon kepada Allah agar membantu kami dalam urusan yang sedang kami jalankan ini, hingga surat kabar ini dapat kembali meniti jalannya dalam mengabdi pada tujuan mulia yang telah ditetapkan untuk dicapainya. Masa tidak terbitnya surat kabar ini sama sekali tidak akan memengaruhi perhitungan para pelanggan yang terhormat, karena pihak manajemen menghitung masa langganan mereka berdasarkan jumlah nomor edisi, bukan berdasarkan bulan.
  4. Pihak manajemen mengharapkan kepada para agen distribusi untuk segera menyetorkan uang tunggakan yang ada pada mereka. Mereka adalah orang yang paling mengetahui kondisi-kondisi yang menuntut percepatan hal tersebut. Semangat kepedulian mereka akan membebaskan kami dari beban desakan dan penagihan, khususnya bagi para agen di luar negeri yang sangat kami jaga hubungan baik serta kelanggengan kasih sayang dengan mereka. Kami tidak ingin menggunakan cara-cara dengan mereka di luar apa yang telah digariskan oleh ukhuwah Islamiyah, yaitu berupa saling mengingatkan dan menaruh harapan kepada mereka.
  5. Pihak manajemen mengharapkan kepada para agen distribusi untuk menyampaikan laporan pesanan yang mereka butuhkan sebelum hari Senin setiap pekannya agar pihak manajemen dapat memenuhi apa yang mereka minta. Kami juga mengharapkan agar penyampaian tersebut disertai dengan laporan sisa nomor edisi lama sebelum nomor edisi baru dikirimkan.
  6. Kami tidak akan memproses permintaan dari para agen distribusi kecuali jika disertai dengan uang jaminan yang nilainya minimal sama dengan nilai jumlah eksemplar mingguan yang diminta, dan pihak manajemen menerima pengembalian (retur) dari sisa eksemplar yang diminta tersebut.
  7. Bagian redaksi masih terus mengingatkan para penulis yang mulia untuk memperhatikan keringkasan tulisan, mentakhrij hadis-hadis, kejelasan tulisan, menulis pada satu sisi halaman kertas saja, serta mengirimkan naskah tulisan lebih awal. Hanya Allah-lah pemilik taufik.

Majelis Syura Ikhwanul Muslimin dalam Sidang Ketiga di Kairo, yang Merupakan Muktamar Ketiga bagi Al-Ikhwan

Maktabul Irsyad (Biro Panduan Pusat) memandang agar pelaksanaan sidang Majelis Syura ini bertempat di Kairo pada masa libur Iduladha, dan telah melayangkan undangan kepada Al-Ikhwan. Pertemuan tersebut merupakan muktamar yang sangat agung dan dihadiri banyak massa, di mana di dalamnya diletakkan beberapa kaidah serta peraturan (regulasi), dan Mursyid Am menyampaikan pidato pembukaannya:

Bismillahir-rahmānir-rahīm (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang):

"Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami kepada (Islam) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami." (QS. Al-A'raf: 43). Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran. Dan semoga selawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, sang pembuka terhadap apa yang terkunci, penutup bagi apa yang terdahulu, penunjuk ke jalan-Mu yang lurus, serta kepada keluarga, sahabatnya, dan orang-orang yang menyeru dengan dakwahnya hingga hari kiamat.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan-Mu, memohon petunjuk-Mu, bertobat kepada-Mu, memohon ampunan-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu, memuji-Mu dengan segala kebaikan, bersyukur kepada-Mu dan tidak mengufuri-Mu, serta kami melepaskan dan meninggalkan orang yang mendurhakai-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, untuk-Mu kami mendirikan salat dan bersujud, kepada-Mu kami menuju dan bergegas, kami mengharapkan rahmat-Mu dan takut akan azab-Mu, sesungguhnya azab-Mu yang keras itu pasti menimpa orang-orang kafir. "Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (QS. Al-Kahfi: 10).

Wahai ikhwan yang mulia: Sungguh ini merupakan nikmat yang sangat besar dan kebahagiaan yang melampaui segala deskripsi dan ungkapan, di mana berkumpul saudara-saudara yang saling mencintai karena Allah Tabaraka wa Ta'ala dari berbagai negeri yang berbeda dan tempat yang berjauhan di satu hamparan. Tidak ada rahim (hubungan darah) yang mengikat mereka, tidak ada kekerabatan yang menghubungkan mereka, tidak disatukan oleh nasab maupun ikatan pernikahan, dan tidak pula barisan mereka dipersatukan oleh kepentingan materi atau tujuan duniawi. Melainkan, perkumpulan ini semata-mata karena cinta karena Allah, berkumpul di atas jalan-Nya, beramal untuk-Nya, dan memenuhi seruan dakwah-Nya.

Maka bergembiralah wahai Al-Ikhwan, karena sesungguhnya aku berharap kita termasuk orang-orang yang memenuhi seruan Allah pada hari ketika penyeru-Nya memanggil:

أَيْن الْمُتَحَابُّونَ فِيَّ؟ أَيْن الْمُتَزَاوِرُونَ فِيَّ؟ أَيْن الْمُتَجَالِسُونَ فِيَّ؟ الْيَوْم أُظِلُّهُمْ بِجَلَالِي يَوْم لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

“Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena Aku? Di manakah orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku? Di manakah orang-orang yang saling duduk bersama karena Aku? Hari ini Aku menaungi mereka dalam naungan keagungan-Ku pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.”

Sungguh kalian telah memenuhi seruan, bersegera menyambutnya, dan mengadakan pertemuan yang luar biasa ini, di saat kita melihat bahwa dakwah-dakwah lain lenyap sia-sia dan pertemuan-pertemuan berulang kali diadakan namun tidak mendatangkan manfaat apa pun karena bercerai-berainya hati dan berbedanya hawa nafsu.

Dengan ini, kalian telah membuktikan kesatuan hati kalian, keharmonisan jiwa kalian, dan kokohnya ikatan kalian—semoga Allah senantiasa menjaganya dan menjadikannya murni karena wajah-Nya serta abadi di jalan-Nya.

Aku sempat berpikir untuk berterima kasih kepada kalian, lalu aku ingat bahwa dakwah ini berasal dari Allah dan untuk-Nya, dan tidaklah aku di dalamnya melainkan seorang prajurit seperti kalian yang diseru lalu memenuhi seruan tersebut. Maka aku pasrahkan ucapan terima kasih kepada kalian dan kebaikan balasan kalian kepada Allah yang telah menurunkan Al-Kitab dengan kebenaran dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

Wahai ikhwan yang mulia, tujuan dari pertemuan kita ini adalah memikirkan sarana-sarana praktis yang efektif yang harus dilakukan oleh para pengemban pemikiran Ikhwanul Muslimin untuk mencapai tujuan suci dan mulia mereka. Dan sesungguhnya aku memiliki harapan yang kuat bahwa pertemuan ini akan memberikan pengaruh yang terpuji, insya Allah Ta'ala, dalam mewujudkan tujuan ini, di mana pertemuan ini menghimpun orang-orang pilihan yang ikhlas dan pemikir dari kalangan tokoh-tokoh perkumpulan Ikhwanul Muslimin.

Ketahuilah wahai para kekasih, bahwa pertemuan kalian ini adalah suatu perkara yang memiliki dampak besar setelahnya, dan ia merupakan fondasi yang agung dalam membangun dakwah kita. Maka aku ingin agar diskusi-diskusi kita bersandar pada dasar-dasar berikut:

  • Pertama: Kita mengikhlaskan niat kita karena Allah dan memohon petunjuk dari Allah dengan hati yang tulus menghadap-Nya, karena segala urusan adalah milik Allah, dan "Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya." (QS. Fatir: 2).
  • Kedua: Kita mengingat etika diskusi dalam hal meminta izin, ketenangan, keringkasan, dan memberikan kebebasan bagi pembicara sampai ia menuntaskan topiknya sehingga tidak dipotong, serta meninggalkan perdebatan dalam masalah cabang (parsial/detail kecil) agar setiap orang dapat menetapkan pandangannya dan memberikan argumen atasnya dengan dalil-dalil yang ia pandang benar, dan hal itu sudah cukup baginya tanpa harus meruntuhkan pandangan saudaranya.
  • Ketiga: Berpikir panjang, berhati-hati (tenang), menimbang perkataan dengan timbangan yang saksama, serta keterbukaan yang sempurna dalam mengemukakan pendapat, karena kita semua mencari kebaikan dan memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepada kita, dan cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.

Dan ketahuilah wahai Al-Ikhwan, bahwa Islam dan tanah air Islam secara umum memanggil kalian untuk menyelamatkannya, kalian wahai orang-orang yang telah menyibukkan diri dengan sarana-sarana penyelamatan global ini sejak tujuh tahun yang lalu secara terus-menerus setiap hari.

Dahulu seluruh manusia tidak memercayai metode (rencana) kalian, namun lihatlah mereka hari ini kembali merujuk kepadanya secara bertahap, kelompok demi kelompok, dan mereka meyakini secara pasti bahwa metode inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan umat.

Wahai ikhwan yang mulia... Waktu saat ini menuntut curahan usaha dan amal dari kalian, dan aku akan beramal insya Allah Ta'ala. Aku telah membulatkan tekad untuk beramal dan berkorban di jalannya. Maka barang siapa di antara kalian yang ingin bersamaku—dan hendaklah ia bersiap menanggung apa saja yang harus ditanggung di jalan ini—maka majulah ke depan.

Dan barang siapa yang mengetahui ada kelemahan pada dirinya untuk menanggung pengorbanan di jalan kewajiban ini, maka hendaklah ia mundur hingga kita mengetahui berapa jumlah kita yang sebenarnya, sehingga kita dapat menentukan kadar usaha kita sesuai dengan kapasitas kita. Dan bagi Allah-lah segala urusan sebelum dan sesudahnya, dan jangan ada seorang pun yang ragu-ragu atau memaksakan diri dalam menjawab, karena Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. "Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin; dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'" (QS. At-Tawbah: 105).

Sidang Pertama

Hari Sabtu, 11 Dzulhijjah tahun 1353 H, dari pukul 09.00 s.d. 11.00 malam.

  • Pembacaan Al-Qur'anul Karim.

Agenda Acara:

  1. Pembukaan oleh yang terhormat Al-Ustadz Mursyid Am.
  2. Sambutan penerimaan oleh yang terhormat Wakil Maktab, Al-Ustadz Asy-Syaikh Hamid Askariyyah.
  3. Laporan Maktabul Irsyad dalam setahun: Sekretaris Maktab, Muhammad As'ad Rajih Effendi.
  4. Puisi penyair Ikhwanul Muslimin: Al-Ustadz Asy-Syaikh Ahmad Hasan Al-Baquri.
  5. Laporan Percetakan Ikhwanul Muslimin: Sekretaris Maktab, Umar Ghanim Effendi.
  6. Laporan Surat Kabar Ikhwanul Muslimin: Sekretaris Maktab, Muhammad As'ad Al-Hakim Effendi.
  7. Dakwah Umum dan Kotak Dana Kerja Sama: Bendahara Maktab, Muhammad Hilmi Nuruddin Effendi.

Sidang Kedua

Hari Ahad, 12 Dzulhijjah, dari pukul 09.00 s.d. 12.00 pagi.

  1. Manhaj Kerja: Ikhwanul Muslimin dan Tujuan Perbaikan (Ishlah) Mereka: Anggota Majelis, Al-Ustadz Muhammad Al-Hadi Athiyyah.
  2. Sikap Ikhwanul Muslimin Terhadap Arus Umum: Wakil Sektor Ketiga, Husain Badr Effendi.
  3. Sikap Ikhwanul Muslimin Terhadap Gerakan Pemikiran Islam: Wakil Ismailiyyah, Al-Ustadz Muhammad Farghali Wafa.
  4. Sampai di Mana Pencapaian Ikhwanul Muslimin dan Apa yang Mereka Butuhkan: Wakil Al-Mahmudiyyah dan Pengawas Majelis, Ahmad Effendi As-Sukkari.
  5. Pembentukan Praktis (Al-Takwīn Al-‘Amalī) Ikhwanul Muslimin: Pengawas Majelis, Abdul Rahman Effendi As-Sa'ati.

Sidang Ketiga

Hari Ahad, 12 Dzulhijjah, dari pukul 09.00 s.d. 11.00 malam.

  1. Pembentukan Administratif (Al-Takwīn Al-Idārī) Ikhwanul Muslimin: Anggota Majelis, Mahmud Effendi Abdul Lathif.
  2. Manifestasi Dakwah: Muhammad Effendi Asy-Syafi'i di Kairo.
  3. Divisi Perjalanan (Rihlah): Muhammad Mukhtar Ismail Effendi, Wakil Zainal Abidin.
  4. Muktamar-Muktamar, Wilayah-Wilayah, dan Proyek Zakat: Muhammad Effendi As-Sayyid Asy-Syafi'i, Sekretaris Majelis.
  5. Markas (Dar) Ikhwanul Muslimin di Kairo: Muhammad Effendi Fathullah Darwisy.

Sidang Keempat

Hari Senin, 13 Dzulhijjah, dari pukul 09.00 s.d. 12.00 pagi.

Agenda Acara:

  1. Pemaparan Peraturan-Peraturan Baru.
  2. Kata Penutup oleh yang terhormat Al-Ustadz Mursyid Am.
  3. Pembacaan Al-Qur'anul Karim: Muhammad As'ad Al-Hakim.

Hadirin dari Maktabul Irsyad:

1.      Yang terhormat Al-Ustadz Mursyid Am.

2.      Al-Ustadz Asy-Syaikh Hamid Askariyyah.

3.      Tuan Abdul Rahman Effendi As-Sa'ati.

4.      Tuan Hilmi Effendi Nuruddin.

5.      Husain Effendi Badr.

6.      Muhammad Effendi As'ad Rajih.

7.      Mahmud Effendi Abdul Lathif.

8.      Tuan Umar Effendi Ghanim.

9.      Tuan Muhammad Effendi Fathullah Darwisy.

10.  Tuan Al-Ustadz Asy-Syaikh Ahmad Hasan Al-Baquri.

11.  Muhammad Effendi Asy-Syahawi.

Delegasi Wilayah Kairo:

12. Al-Ustadz Jad Effendi Lasyin.

13. Yang terhormat Al-Ustadz Asy-Syaikh Abdul Lathif Daraz.

14.  Abdul Qadir Bey Mukhtar

15.  Muhammad Bey Dzihni

16.  Yang terhormat Al-Ustadz Asy-Syaikh Thanthawi Jauhari

17.  Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Harb

18.  Asy-Syaikh Muhammad Al-Banna

19.  Zaki Effendi Hasanain

20.  Muhammad Effendi Abdul Hamid

21.  Muhammad Effendi Said Murad

22.  Muhammad Effendi Shalih Mubarak

23.  Muhammad Effendi Dawud Syahin

24.  Ali Effendi Ibrahim Muhammad

25.  Asy-Syaikh Abdul Lathif Asy-Sya'sya'i

26.  Ahmad Effendi Syarafuddin

27.  Abdul Ghaffar Effendi Rizq

28.  Abdul Muhsin Effendi Hasanain

29.  Ahmad Effendi Jalal

30.  Al-Haj Ahmad Effendi Naja

31.  Muhammad Effendi Asy-Syafi'i

32.  Abdul Hamid Effendi Abdullah

33.  Riyadh Effendi Ibrahim

34.  Muhammad Effendi Mukhtar Ismail

35.  Hasan Effendi Husni

36.  Ali Effendi Hanafi

37.  Mustafa Effendi Thufan

38.  Asy-Syaikh Muhammad Ammar

39.  Muhammad Effendi Abdul Mun'im Nur

40.  Asy-Syaikh Abdul Sami' Juraitah

41.  Yusuf Effendi Thufan

42.  Muhammad Effendi Izzat

43.  Muhammad Effendi Sadiq 'Arnus

44.  Sayyid Effendi Sa'ad

45.  Abdul Wahhab Effendi As-Sayyid

46.  Muhammad Effendi Ali Al-Hafrawi

47.  Al-Ustadz Hamid Al-Miliji Effendi

48.  Abdullah Effendi Al-Muslimi

49.  Muhammad Effendi Abdul Mun'im Salam

50.  Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-Arjawi

51.  Abdul Mun'im Effendi Ad-Daghidi

52.  Al-Ustadz Asy-Syaikh Tsabit Abu Al-Ma'ali

53.  Asy-Syaikh Muhammad Nayil

Delegasi Wilayah Suez:

54. Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-Hadi Athiyyah

55. Muhammad Ath-Thahir Munir Effendi

56. Muhammad Hasan As-Sayyid Effendi

57.  Husain Effendi Husni

58.  Mahmud Effendi Farajallah

Delegasi Wilayah Ismailiyyah:

59. Asy-Syaikh Muhammad Farghali Wafa

60. Asy-Syaikh Muhammad Ali Al-Mishri

61. Ash-Shawi Effendi Ahmad

62. Abdul Rahman Effendi Hasbullah

63. Muhammad Effendi Hasbullah

64. Muhammad Effendi Syakir Al-Gharbawi

65. Muhammad Effendi At-Tirani

66. Fuad Effendi Ibrahim Khalil

67. Yusuf Effendi Abdul Rahman

Delegasi Ismailiyyah dari Divisi Perjalanan (Rihlah):

68. Ali Effendi Abdullah Hamadah

69. Hasanain Effendi Muhammad Hasbullah

70. Sayyid Effendi Ismail

71. Ahmad Effendi Abu Al-Su'ud

72. Abdul Rahman Effendi Muhsin

Delegasi Wilayah Al-Ballah:

73. Jamal Effendi Husain

Delegasi Wilayah Port Said:

74. Al-Ustadz Asy-Syaikh Mahmud Jum'ah Halbah

75.  Ahmad Effendi Al-Mishri

76.  Muhammad Effendi Ahmad Sulaiman

Delegasi Wilayah Port Fouad:

77. Fahmi Effendi Muhammad

Delegasi Wilayah Al-Manzilah:

78. Asy-Syaikh Khatthab Muhammad Khatthab

Delegasi Wilayah Barmabal Al-Qadimah:

79. Asy-Syaikh Muhammad Ad-Dasuqi Abdul Muta'al

80. Muhammad Effendi As-Sayyid Asy-Syafi'i

81. Muhammad Effendi Jad Ali

82. Abdul Fattah Effendi Abdul Ghani

Delegasi Wilayah Al-Kafr Al-Jadid:

83. Muhammad Effendi Al-Hawari

84. Asy-Syaikh Hafizh Muhammad Al-Ja'li

Delegasi Wilayah Barakat Al-Fil:

85. Asy-Syaikh Muhammad Ali Shalih Khamis

Delegasi Wilayah Al-Marj:

86. Muhammad Effendi Taufiq

87. Khamis Effendi ‘Amir

88. Asy-Syaikh Muhammad As-Sayyid Ali Mathar

Delegasi Wilayah Nawa:

89. Al-Ustadz Umar Abdul Fattah At-Tilmisani

90 - Asy-Syaikh Ahmad Abdul Hakim.

Shibīn Al-Qanāthir: 91 - Al-Ustadz Asy-Syaikh Yusuf Al-Khuli. 92 - Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Uzailī. 93 - Muhammad Effendi ‘Izzat Hasan. 94 - Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Arabi. 95 - Al-Haj Mutawalli Sa‘ad. 96 - Al-Haj Abdul Muta‘al Madbuli.

Minyat Shibīn: 97 - Al-Haj Salim Ad-Dibas. 98 - Asy-Syaikh Abbas Salim Khasyab.

Al-Khushūsh: 99 - Asy-Syaikh Ahmad Ali Abdul Rahman.

Tall Banī Tamīm: 100 - Asy-Syaikh Sayyid Muhammad. 101 - Asy-Syaikh Muhammad Abdul Muta‘al Zahrah. 102 - Asy-Syaikh Abdul Aziz Muhammad Suwailim. 103 - Asy-Syaikh Zaki ‘Athiyyah Diyab.

Al-‘Alawiyyah Syarqiyyah: 104 - Asy-Syaikh Mubarak Ghunaim Abduh.

Abū Hammād: 105 - Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Aslauji.

106 - Asy-Syaikh Muhammad ‘Athiyyah Ibrahim. 107 - Asy-Syaikh Khalil Muhammad.

Al-Qathāwiyyah Syarqiyyah: 108 - Asy-Syaikh Muhammad Ahmad Manshur.

Mahallat Diyāy Gharbiyyah: 109 - Asy-Syaikh Muhammad Bisyr.

Kafr Ad-Dawwār: 110 - Al-Ustadz Ahmad Abdul Hamid.

Al-Wāshithā: 111 - Abdul Rahman Effendi Ridha.

Mallawī: 112 - ‘Ali Effendi Sya‘ban.

Orang-orang yang Menyampaikan Uzur Melalui Telegram dan Surat dengan Tetap Mendukung Keputusan-Keputusan Majelis:

  1. Al-Ustadz Asy-Syaikh ‘Afifi ‘Athwah – Wakil Suez.
  2. Al-Ustadz Asy-Syaikh Thaha Al-Hawari – Naqib [Ketua Cabang] Kafr Al-Jadid.
  3. Asy-Syaikh Abdullah Salim Badawi – Wakil Abu Suwair.
  4. Ahmad Effendi As-Sukkari – Wakil Al-Mahmudiyyah.
  5. Asy-Syaikh Muhammad Baghdadi – Naqib [Ketua Cabang] Al-‘Alawiyyah.
  6. Muhammad Effendi Qasim Saqar – Sekretaris Al-Manzilah.
  7. Muhammad Effendi Khalifah – Delegasi An-Nasaīmah.
  8. ‘Ali Effendi Abu Zaid Tuhami – Delegasi Aswan.
  1. As-Sayyid Effendi As‘ad ‘Athiyyah – Abu Hammad.
  2. Asy-Syaikh Muhammad Said Al-Malath – Al-Qathāwiyyah.
  3. Muhammad Effendi Haridi – Port Said.
  4. Hasan Effendi Faraj – Wakil Port Fouad.
  5. Abdul Rahman Effendi Jabr – di Al-Manzilah.
  6. Asy-Syaikh Mustafa Ar-Rifa‘i Al-Labban – Delegasi Asyuth.
  7. Asy-Syaikh Abdul Basith Thawilah – Sekretaris Jadidat Al-Manzilah.
  8. Muhammad Effendi Kamil ‘Ajiz – Wakil Mit Al-Qamish.
  9. Al-Amiralay [Kolonel] Abdul Fattah Bey Rifat – Mit Al-Qamish.
  10. Asy-Syaikh Ali Al-Masari‘ – Al-Jamaliyyah Daqahliyyah.
  11. Muhammad Effendi Al-Mahdi Al-Asymuni – Al-Jamaliyyah Daqahliyyah.
  12. Muhammad Effendi Al-Kilani – Mallawī.
  13. Al-Ustadz Muhammad Effendi Bahiuddin Sa‘ad – Asyuth.
  14. Al-Ustadz Asy-Syaikh Radhwan Muhammad Radhwan – Kairo.
  15. Al-Ustadz Muhammad Effendi As-Siba‘i – Kaum Asyfin.
  16. Asy-Syaikh Ahmad Muhammad Al-Madani – Mit Marja Salsil.
  17. Asy-Syaikh Abdul Mahmud ‘Utsman – Mit Marja Salsil.
  18. Mustafa Abdul Fattah Effendi – Kairo.

Keputusan-Keputusan

Pertama: Maktabul Irsyad Al-‘Am (Biro Panduan Pusat)

  1. Memberhentikan/pembebasan tugas dari para Ikhwan Afandiyah: Ahmad Ibrahim dan Abdul Mun‘im Khilaf.
  2. Mengesahkan Abdul Rahman Effendi As-Sa‘ati sebagai Pengawas (Muraqib) Maktab, dan Husain Effendi Badr sebagai anggotanya.
  3. Mengesahkan pembagian tugas di antara para anggota Maktab berdasarkan ketentuan berikut:
    • a. Abdul Rahman Effendi As-Sa‘ati: Pengawasan Umum (Al-Muraqabah Al-‘Ammah) terhadap Dakwah di Kairo dan Supervisi Redaksi.
    • b. Muhammad Effendi Hilmi Nuruddin: Asisten dalam Pengawasan Umum – Bendahara Maktab – Kotak Dana Dakwah.
    • c. Muhammad Effendi Fathullah Darwisy: Pengawasan Keuangan Maktab.
    • d. Muhammad Effendi As‘ad Al-Hakim: Sekretariat Jenderal dan Manajemen Surat Kabar.
    • e. Muhammad As‘ad Rajih Effendi: Wakil Sektor Pertama secara orisinal [asli] dan Sektor Kedua secara interim [plt/antarbantuan].
    • f. Husain Effendi Badr: Wakil Sektor Ketiga secara orisinal [asli] dan Sektor Keempat secara interim [plt/antarbantuan].
    • g. Mahmud Effendi Abdul Lathif: Manajemen Percetakan.
    • h. Abdul Rahman Effendi As-Sa‘ati: Tugas perbantuan (intidab).

Kedua: Percetakan Ikhwanul Muslimin

  1. Mendorong Al-Ikhwan untuk terus konsisten memberikan kontribusi [saham] dalam menutup kuota perusahaan serta dalam bertransaksi dengan percetakan.
  2. Melimpahkan anggaran belanja [neraca keuangan] yang diajukan oleh direktur percetakan kepada komite khusus di Maktabul Irsyad yang dipilih oleh yang terhormat Al-Ustadz Mursyid Am untuk diperiksa dan disahkan.
  3. Menyetujui format sertifikat saham yang telah disahkan oleh Maktab.

Ketiga: Surat Kabar Ikhwanul Muslimin

  1. Membentuk sebuah komite bernama Komite Surat Kabar di dalam Maktab yang dipilih oleh yang terhormat Al-Ustadz Mursyid Am, yang bertugas meninjau redaksi dan melakukan pengawasan umum terhadap manajemen, distribusi, dan sejenisnya.
  2. Setiap distrik/wilayah (Dairah) Ikhwan berkomitmen untuk mengambil sejumlah eksemplar surat kabar yang nilainya dibayar dari kas wilayah tersebut, dan wilayah itu sendiri yang mengelola distribusinya sesuai kemampuan, sehingga dengan demikian wilayah tersebut telah berkontribusi secara praktis bersama Maktab dalam memajukan surat kabar.
  3. Menggalakkan gerakan berlangganan di wilayah-wilayah Ikhwan dalam rangka menyambut tahun baru.
  4. Menyampaikan terima kasih kepada Wilayah Suez atas kesungguhannya yang besar dalam membantu Maktab secara praktis dalam menyebarluaskan surat kabar.

Keempat: Dakwah Umum

  1. Mendirikan kotak dana mandiri yang terpisah dari kas Maktabul Irsyad Al-‘Am yang dinamakan “Kotak Dana Dakwah” (Shunduq Ad-Da‘wah), di mana iurannya dikumpulkan untuk satu tujuan tunggal, yaitu mendanai penyebaran dakwah Ikhwan dengan mengangkat para dai [mubalig] dan pegawai yang memikul beban tugas tersebut, serta menerbitkan risalah-risalah dan publikasi cetak yang membantu mereka dalam misi ini.
  2. Dana yang sebelumnya dikumpulkan atas nama Kotak Dana Kerja Sama (Shunduq At-Ta‘awun) dialihkan ke kotak dana ini, kecuali jika para penyumbangnya atau sebagian dari mereka merelakan hak mereka untuk diserahkan kepada Maktabul Irsyad, maka dana tersebut dialihkan ke kas Maktab.
  3. Membuat regulasi [lajnah/aturan] khusus untuk proyek ini serta mencetak kuitansi dan dokumen pernyataan yang diperlukan untuk pelaksanaannya dalam jangka waktu tidak lebih dari satu bulan sejak tanggal ditetapkannya, dan pelaksanaan hal tersebut diserahkan kepada Maktabul Irsyad.
  4. Menyetujui usulan yang terhormat Al-Ustadz Asy-Syaikh Ahmad Abdul Hamid untuk memperluas dakwah di luar negeri dengan berbagai sarana, dengan ketentuan bahwa pendanaannya bersumber dari Kotak Dana Dakwah. Dan yang mulia Muhammad Effendi Ath-Thahir Munir telah menyumbangkan dana sebesar sepuluh pound, Ustadz Yusuf Al-Khuli sebesar satu pound untuk Kotak Dana Dakwah, dan Ustadz Jad Effendi Lasyin sebesar satu pound untuk tujuan tersebut.

Kelima: Manhaj Ikhwanul Muslimin

  1. Menjadikan akidah Ikhwan sebagai simbol bagi manhaj ini.
  2. Setiap muslim wajib meyakini bahwa manhaj ini seluruhnya merupakan bagian dari Islam, dan setiap kekurangan darinya adalah pengurangan dari pemikiran Islam yang sahih.
  3. Setiap ikhwan muslim wajib berusaha menyebarluaskan prinsip-prinsip ini di semua lingkungan, memiliki antusiasme yang penuh terhadapnya, serta menerapkannya di dalam rumah tangganya sendiri betapa pun besarnya hal-hal yang tidak disukai yang harus ditanggung di jalan tersebut.
  4. Setiap ikhwan yang tidak memegang teguh prinsip-prinsip ini, maka wakil wilayah berhak menjatuhkan sanksi yang sesuai dengan tingkat pelanggarannya dan mengembalikannya untuk mematuhi batasan-batasan manhaj. Dan para wakil wajib memberikan perhatian besar terhadap hal ini, karena tujuan utamanya adalah pembinaan (tarbiyah) Al-Ikhwan sebelum segala sesuatu.

Keenam: Sikap Ikhwanul Muslimin Terhadap Pihak Lain

  1. Seorang ikhwan muslim wajib memahami tujuannya dengan sangat jelas dan menjadikannya sebagai satu-satunya tolok ukur dalam hubungan antara dirinya dengan organisasi/lembaga lain.
  2. Setiap manhaj yang tidak mendukung Islam dan tidak bersandar pada dasar-dasar umumnya tidak akan membawa pada keberhasilan.
  3. Setiap organisasi yang melalui aktivitasnya merealisasikan salah satu aspek dari manhaj Ikhwanul Muslimin, maka seorang ikhwan muslim akan mendukungnya dalam aspek tersebut.
  4. Ikhwanul Muslimin, apabila mendukung suatu organisasi tertentu, wajib memastikan secara meyakinkan bahwa organisasi tersebut tidak akan mengingkari tujuan mereka di waktu kapan pun.
  5. Organisasi-organisasi yang bermanfaat diarahkan menuju tujuan dengan cara memperkuatnya, bukan memperlemahnya.
  6. Al-Ikhwan menyambut baik setiap pemikiran yang bertujuan menyatukan upaya umat Islam di seluruh penjuru bumi, serta mendukung pemikiran tentang Pan-Islamisme (Al-Jāmi‘ah Al-Islāmiyyah) sebagai salah satu dampak dari kebangkitan Timur.
  1. Ikhwanul Muslimin bersikap tulus kepada seluruh organisasi Islam dan berusaha mendekatkan hubungan di antara mereka dengan segala sarana, serta meyakini bahwa rasa cinta di antara sesama muslim adalah fondasi paling utama untuk kebangkitan mereka. Mereka menentang setiap aliran yang merusak dan mendistorsi makna Islam seperti Bahaiyyah dan Qadiyaniyyah.

Ketujuh: Pembentukan Praktis (Al-Takwīn Al-‘Amalī) Ikhwanul Muslimin

  1. Setiap kantor dan badan kepengurusan utama di wilayah-wilayah Ikhwanul Muslimin wajib memperhatikan pembinaan jiwa (tarbiyah nafsiyyah) yang saleh bagi Al-Ikhwan yang selaras dengan prinsip-prinsip mereka dan menanamkan prinsip-prinsip ini dalam jiwa mereka. Demi mencapai tujuan ini, keanggotaan dalam Ikhwan dibagi menjadi tiga tingkatan:
    • a. Keanggotaan Umum (Al-Inshimām Al-‘Ām): Merupakan hak setiap muslim yang disetujui penerimaannya oleh manajemen wilayah, menyatakan kesiapannya untuk memperbaiki diri, menandatangani formulir perkenalan, serta berkomitmen melunasi iuran keuangan yang disumbangkannya secara sukarela kepada jemaah. Wakil wilayah berhak membebaskan siapa saja yang dipandangnya memiliki uzur dari sebagian kewajiban anggota. Anggota pada tingkatan ini disebut sebagai Akh Musā‘id (Saudara Pembantu).
    • b. Keanggotaan Ukhuwah (Al-Inshimām Al-Akhawī): Merupakan hak bagi setiap muslim yang disetujui penerimaannya oleh manajemen wilayah yang telah memenuhi tingkatan sebelumnya. Kewajibannya—selain kewajiban-kewajiban sebelumnya—adalah “menjaga akidah” dan berkomitmen memegang teguh ketaatan, menahan diri dari hal-hal yang diharamkan, serta menghadiri pertemuan mingguan, tahunan, dan pertemuan lainnya apabila diundang. Anggota pada tingkatan ini disebut sebagai Akh Muntasib (Saudara Afiliasi/Anggota Muda).
    • c. Keanggotaan Praktis (Al-Inshimām Al-‘Amalī): Merupakan hak bagi setiap muslim yang disetujui penerimaannya oleh manajemen wilayah. Kewajiban anggota di dalamnya—selain kewajiban-kewajiban sebelumnya—adalah menyerahkan foto diri, memberikan data yang cukup yang diminta mengenai dirinya, mempelajari penjelasan akidah Ikhwanul Muslimin, berkomitmen mengamalkan wirid Al-Qur'an (wird Qur'anī), menghadiri majelis Al-Qur'an mingguan dan majelis wilayah, berkontribusi dalam kotak dana haji, berkontribusi dalam komite zakat apabila telah mencapai nisab, bergabung ke dalam divisi perjalanan (rihlah) selama usianya memungkinkan, berkomitmen berbicara dengan bahasa Arab fusha sedapat mungkin, menerapkan prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin di dalam rumahnya, serta berusaha mendidik dirinya dalam urusan-urusan sosial kemasyarakatan umum, bersungguh-sungguh dalam menghafal empat puluh hadis nabi, serta menerima keputusan sanksi disiplin [munāshafāt] dari Al-Ikhwan. Anggota pada tingkatan ini disebut sebagai Akh ‘Āmil (Saudara Aktif/Anggota Inti).
    • d. Terdapat tingkatan keempat di antara tingkatan-tingkatan keanggotaan, yaitu Keanggotaan Jihad (Al-Inshimām Al-Jihādī): Tingkatan ini tidak bersifat umum, melainkan merupakan hak bagi Akh ‘Āmil yang terbukti bagi Maktabul Irsyad konsisten dalam menjaga kewajiban-kewajiban sebelumnya. Pemeriksaannya merupakan hak Maktab. Kewajiban anggota pada tingkatan ini—selain hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya—adalah sedapat mungkin meneladani Sunah yang suci dalam perkataan, perbuatan, dan ahwal [keadaan diri], di antaranya adalah menegakkan qiyamulail, menunaikan salat jemaah kecuali karena uzur yang memaksa , bersikap zuhud dan menjauh dari kemewahan dunia yang fana, menjauh dari segala sesuatu yang tidak islami dalam ibadah, muamalah, serta dalam seluruh urusannya, berkontribusi secara finansial kepada Maktabul Irsyad dan Kotak Dana Dakwah, mewasiatkan sebagian harta peninggalannya untuk jemaah Ikhwan, menegakkan amar makruf nahi mungkar selama ia memiliki kelayakan untuk itu, memenuhi seruan Maktab kapan pun ditujukan kepadanya di waktu kapan pun dan di tempat mana pun, membawa mushaf Al-Qur'an untuk mengingatkannya akan kewajibannya terhadap Kitabullah yang mulia, serta bersiap menghabiskan masa pembinaan khusus di Maktabul Irsyad. Anggota pada tingkatan ini disebut sebagai Mujāhid.
  1. Maktabul Irsyad memiliki hak untuk memberikan gelar kehormatan di antaranya Naqib dan Naib pada masing-masing tingkatan keanggotaan ketiga dan keempat.
  2. Guna melaksanakan pembentukan ini, Maktab melakukan langkah-langkah berikut:
    • a. Mencetak formulir keanggotaan untuk berbagai tingkatannya.
    • b. Mencetak surat ketetapan [akreditasi] bagi wilayah-wilayah, para naqib, dan para naib.
    • c. Mencetak buku akidah yang dilengkapi dengan doa-doa maktsur.
    • d. Mencetak buku akidah yang dijelaskan dengan penjelasan yang mudah.
    • e. Mencetak risalah tentang ketaatan serta keutamaannya, dan kemaksiatan serta dampak buruknya.
    • f. Risalah penjelasan tentang empat puluh hadis pilihan.
    • g. Menyusun regulasi haji, regulasi zakat, regulasi divisi perjalanan, regulasi sanksi disiplin, penjelasan sistem majelis Al-Qur'an, dan sistem pembinaan di Maktabul Irsyad.
  1. Para wakil wajib menyampaikan kepada Maktab dalam jangka waktu tidak melampaui bulan Muharam tahun 1354 H berupa daftar terperinci mengenai Al-Ikhwan di wilayah mereka berdasarkan sistem baru ini, dengan melampirkan daftar tersebut bersama formulir keanggotaan serta foto-foto para Akh ‘Āmil yang belum dikirimkan ke Maktab sebelumnya. Para wakil juga wajib sangat saksama dalam mengawasi Al-Ikhwan, mewajibkan mereka menunaikan kewajiban-kewajiban sesuai tingkatan keanggotaan mereka, serta mengambil tindakan tegas terhadap setiap anggota yang meremehkan kewajibannya.
  2. Maktab mendelegasikan dari anggotanya seorang utusan [delegasi] yang mengawasi pelaksanaan sistem ini di wilayah-wilayah Ikhwan.

Kedelapan: Pembentukan Administratif (Al-Takwīn Al-Idārī) Ikhwanul Muslimin

  1. Tujuan Ikhwanul Muslimin adalah tujuan spiritual-praktis sebelum menjadi tujuan administratif-formal. Maka Al-Ikhwan wajib memperhatikan hal tersebut sepenuhnya dan meyakini bahwa sistem administratif ini tidak lain hanyalah sekadar sarana untuk keteraturan belaka.
  2. Badan-badan administratif Ikhwanul Muslimin adalah:
    • a. Yang terhormat Al-Ustadz Mursyid Am.
    • b. Maktabul Irsyad Al-‘Am.
    • c. Majelis Syura Al-‘Am yang terdiri dari para wakil wilayah.
    • d. Para wakil wilayah dan sektor.
    • e. Para wakil cabang.
    • f. Majelis Syura Tingkat Pusat.
    • g. Muktamar Wilayah.
    • h. Para utusan Maktab.
    • i. Divisi Perjalanan (Rihlah).
    • j. Divisi Akhwat [Perempuan].

Para peserta sidang telah menyerahkan kepada yang terhormat Al-Ustadz Mursyid Am otoritas untuk menentukan tugas dari masing-masing badan ini serta menyusun penjelasan yang menerangkan batasan tersebut.

Kesembilan: Manifestasi Dakwah

  1. Dakwah Ikhwan harus memiliki manifestasi spiritual dalam pertemuan-pertemuan, tradisi islami, dan ungkapan-ungkapan maktsur, serta manifestasi praktis yang tidak dilarang oleh agama berupa lambang/atribut dan sejenisnya yang membedakannya dari yang lain.
  2. Maktabul Irsyad wajib menyusun sistem yang merealisasikan tujuan ini.

Kesepuluh: Divisi Perjalanan (Rihlah)

  1. Para peserta sidang menyetujui proyek divisi perjalanan dan mengesahkan regulasi yang disusun oleh Maktab yang telah direvisi oleh komite yang terdiri dari: Al-Ustadz Asy-Syaikh Ahmad Abdul Hamid sebagai ketua, Husain Effendi Husni sebagai sekretaris, serta Muhammad Effendi Mukhtar Ismail, Thahir Effendi Hawari, Husain Effendi As-Sayyid, Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Uzaili, dan Muhammad Effendi Husni As-Sayyid sebagai anggota.

Kesebelas: Muktamar-Muktamar, Wilayah-Wilayah, dan Proyek Zakat serta Haji Pembagian wilayah Ikhwan yang ada saat ini dan yang akan dibentuk kemudian menjadi distrik-distrik [wilayah] sebagai berikut:

  • a. Wilayah Kanal (Al-Qanāl).
  • b. Wilayah As-Syarqiyyah.
  • c. Wilayah Ad-Daqahliyyah yang saat ini diwakili oleh Al-Bahr Ash-Shaghir.
  • d. Wilayah Al-Gharbiyyah.
  • e. Wilayah Al-Buhairah.
  • f. Wilayah Al-Munufiyyah.
  • g. Wilayah Al-Qalyubiyyah.
  • h. Wilayah Iskandariyah [Alexandria].
  • i. Wilayah Kairo.
  • j. Wilayah Nil Bawah [Al-Sha‘īd Al-Adnā], meliputi wilayah: Giza, Faiyum, Bani Suweif.
  • k. Wilayah Nil Tengah [Al-Sha‘īd Al-Awsath]: Minya dan Asyuth.
  • l. Wilayah Nil Atas [Al-Sha‘īd Al-A‘lā]: Jirja, Qena, dan Aswan.

2 - di atas distrik/wilayah (dairah) di setiap kawasan (manthiqah) ini, para ketuanya harus mengadakan pertemuan berkala secara bergantian di pusat salah satu wilayah tersebut dalam jangka waktu berbeda-beda yang disesuaikan dengan kondisi mereka, dengan ketentuan bahwa jarak antara dua pertemuan tidak boleh lebih dari tiga bulan.

3 - Maktabul Irsyad berhak menugaskan seorang wakil untuk setiap kawasan ini, yang akan bertindak sebagai penghubung antara wakil bagian (naib al-qism) dan kawasan tersebut apabila diperlukan.

4 - Para peserta sidang menyetujui Anggaran Rumah Tangga (ART) Zakat yang disusun oleh Maktab, yang telah direvisi oleh sebuah komite yang terdiri dari: Yang Mulia Ustadz Asy-Syaikh Hamid Askariyyah sebagai ketua, Al-Hadir Muhammad Effendi As-Sayyid Asy-Syafi'i sebagai sekretaris, serta Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Khattab, Ustadz Asy-Syaikh Ahmad Abdul Karim, Ustadz Asy-Syaikh Yusuf Al-Khuli, Ustadz Umar Abdul Fattah At-Tilmisani, dan Muhammad Effendi Izzat Hasan sebagai anggota.

5 - Menyetujui ART Haji yang disusun oleh Maktab, yang telah direvisi oleh sebuah komite yang terdiri dari: Yang Mulia Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-Hadi Athiyyah sebagai ketua, Al-Hadir Abdul Rahman Effendi Ridha sebagai sekretaris, serta Yang Mulia Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-Arabi, Asy-Syaikh Sayyid Muhammad Mathar, Asy-Syaikh Mubarak Ghunaim, Asy-Syaikh Ahmad Manshur, Asy-Syaikh Muhammad Ali Shalih Khamis, dan Muhammad Effendi Ath-Thahir Munir sebagai anggota.

Segera setelah itu, Yang Mulia Ustadz Mursyid Am mengumumkan bahwa pada tahun depan, insya Allah, beliau akan termasuk di antara orang-orang yang melaksanakan anggaran rumah tangga ini dan menunaikan ibadah haji.

Kedua Belas: Reformasi Keuangan

1 - Setiap wilayah wajib memperhatikan sistem keuangannya, sehingga sumber pendapatannya selalu lebih besar daripada pengeluarannya melalui sarana-sarana yang disyariatkan, agar tidak terjerumus ke dalam krisis ekonomi yang dapat menghabiskan sebagian dari potensi dan usahanya.

2 - Para wakil wajib bersegera mengirimkan nilai iuran mereka kepada Maktab pada awal bulan secara langsung. Setiap wilayah yang mampu menyokong Maktab dengan persentase tertentu dari pendapatannya harus bersegera melakukannya.

3 - Wilayah-wilayah berkontribusi dalam mendistribusikan kupon sumbangan dengan berbagai nilai nominal yang bertingkat, mulai dari satu Qarsy hingga dua puluh Qarsy, serta dalam mendistribusikan risalah berkala yang dicetak dan diterbitkan oleh Maktab.

4 - Maktabul Irsyad berhak mengumpulkan dari Al-Ikhwan satu Qarsy pada bulan Ramadan dan satu Qarsy pada hari kelahiran (Maulid) Rasul Agung, apabila kondisi darurat menuntut hal tersebut.

5 - Maktab menyusun anggaran dasar kerja sama yang menjamin terciptanya sumber dana tetap yang dapat diandalkan oleh jemaah untuk membantu Al-Ikhwan saat membutuhkan, dengan ketentuan anggaran dasar ini dilaksanakan setelah periode pertama disahkan oleh Majelis Syura Al-Am.

Para peserta sidang telah memutuskan agar Maktabul Irsyad, atas nama mereka, menyampaikan ucapan selamat yang tulus kepada Baginda Raja Abdul Aziz Al Saud atas keselamatan beliau (dari upaya pembunuhan), serta menyatakan kecaman keras atas agresi berdosa tersebut.

Sebagai penutup yang indah (miskul khitam), para hadirin dari kalangan Ikhwan membaiat Yang Mulia Mursyid Am atas dasar kepercayaan penuh, serta untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan lapang maupun sempit (terpaksa), hingga Allah memenangkan dakwah-Nya dan mengembalikan kejayaan Islam.

Anggaran Rumah Tangga (ART) Haji Setelah Revisi

1 - Setiap ikhwan muslim wajib mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji sesuai dengan batas kemampuannya.

2 - Akh Musā‘id (Saudara Pembantu) diperintahkan untuk bersiap-siap. Akh Muntasib (Saudara Afiliasi) diberikan perintah ini pada setiap kesempatan. Sedangkan Akh ‘Āmil (Saudara Aktif) diwajibkan menyisihkan sebagian dari hartanya betapa pun kecilnya dan sesuai dengan kondisi finansialnya; uang yang disisihkannya tersebut disimpan di tabungan pos tanpa bunga atas nama akun pelaksanaan ibadah ini, jika tidak memungkinkan untuk menyimpannya di tempat lain yang aman.

3 - Di setiap wilayah dibentuk sebuah komite cabang yang dinamakan "Komite Propaganda Haji" yang bertugas memeriksa tabungan berkala para Akh ‘Āmil yang dialokasikan untuk ibadah haji, serta memerintahkan dan mengingatkan para Ikhwan yang berada pada dua tingkatan pertama.

4 - Setiap ranting (syu'bah) Ikhwanul Muslimin harus memilih salah satu anggotanya yang memahami agama secara mendalam (mutafaqqih fid-din) untuk mengajarkan manasik haji bagi siapa saja yang berniat menunaikan ibadah ini dari rantingnya. Maktabul Irsyad Al-Am juga wajib mendelegasikan setiap tahun seorang wakil atas biayanya sendiri dari kalangan ahli fikih dan hikmah untuk membimbing Al-Ikhwan dan mengajarkan hukum-hukum manasik kepada mereka berdasarkan prinsip-prinsip yang sahih dari Sunah, jika di antara Al-Ikhwan yang berhaji tidak ada yang mampu memikul beban tugas ini.

Guna mempermudah tujuan ini, Maktabul Irsyad Al-Am menyusun sebuah risalah mengenai adab haji, ziarah, dan hal-hal yang berkaitan dengannya berupa peninggalan-peninggalan di Tanah Suci.

5 - Al-Ikhwan wajib menyatukan rencana perjalanan mereka guna memperkuat taaruf (saling mengenal), menghemat biaya, motivasi belajar, meraih pahala kebersamaan, saling tolong-menonjol dalam kebajikan dan takwa, serta memacu diri dalam ketaatan kepada Allah, kecuali jika kondisi darurat yang sangat mendesak menuntut selain itu.

6 - Akh ‘Āmil yang terbukti melalaikan tabungan haji tanpa adanya uzur syar'i yang memaksa, akan diturunkan ke tingkat keanggotaan sebelumnya dan tidak mendapatkan hak-hak sebagai Akh ‘Āmil. Keputusan mengenai kelalaiannya atau tidak dalam hal ini diserahkan kepada pandangan komite cabang yang tercantum dalam pasal tiga dari anggaran rumah tangga ini, setelah Maktabul Irsyad menyetujui pandangan komite tersebut.

7 - Maktab di masing-masing wilayah melakukan pendataan terhadap seluruh Ikhwan yang berkeinginan menunaikan ibadah haji di wilayah mereka, lalu mengirimkan daftar lengkap nama-nama mereka setelah Idulfitri setiap tahun kepada Maktabul Irsyad Al-Am untuk mempersiapkan segala keperluan delegasi jemaah haji Ikhwanul Muslimin; pengiriman daftar ini tidak boleh terlambat dari tanggal sepuluh Syawal setiap tahunnya.

8 - Maktab melakukan segala upaya yang memungkinkannya untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas material maupun imaterial dari Pemerintah Mesir dan Pemerintah Hijaz bagi para jemaah haji Ikhwan, dengan tujuan untuk memotivasi mereka dan menambah jumlah mereka.

9 - Jika jumlah Ikhwan yang melaksanakan haji sangat banyak, maka Maktab wajib mendelegasikan di antara mereka seorang utusan administratif di samping utusan keagamaan, yang bertugas menyelesaikan urusan-urusan administratif Al-Ikhwan, dan dia menjadi rujukan bagi mereka semua dalam hal tersebut demi menyatukan kerja dan menghemat potensi. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka Maktab wajib mendelegasikan seorang utusan dari pihaknya untuk menjalankan misi ini.

10 - Pelaksanaan anggaran rumah tangga ini dimulai sejak tanggal pengesahannya dan disampaikan kepada para wakil serta ketua-ketua cabang untuk diamalkan.

Dan kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Tuhan Pemilik Arsy Yang Agung, agar memberikan taufik-Nya kepada kami menuju apa yang Dia cintai dan Ridhai. Amin.

Anggaran Rumah Tangga (ART) Zakat dan Sedekah

  • Ketua Komite: Muhammad Al-Hadi Athiyyah
  • Sekretaris Interim: Mubarak Ghunaim Abduh

1 - Setiap ikhwan muslim yang telah mencapai nisab wajib mengeluarkan zakat hartanya.

2 - Akh Muhib (Saudara Simpatisan) diperintahkan; Akh Akhawi (Saudara Ukhuwah) diperintahkan dan diingatkan; sedangkan Akh ‘Āmil (Saudara Aktif) dianggap sebagai anggota di dalam komite zakat umum.

3 - Komite umum untuk zakat masyarakat terbentuk dari seluruh Ikhwan yang wajib mengeluarkan zakat, dan mereka memilih dari kalangan mereka sendiri sebuah badan eksekutif yang diundi setiap tahun, terdiri dari seorang ketua dan dua orang anggota yang dipilih melalui pemungutan suara secara rahasia di antara anggota komite umum.

4 - Majelis Syura Wilayah untuk distrik tersebut atau wakil distrik, masing-masing secara langsung maupun melalui utusan yang ditunjuknya, memiliki hak pengawasan umum atas badan eksekutif. Ia juga berhak mengundang sidang umum para pembayar zakat (muzakki) apabila terjadi perselisihan dengan badan eksekutif ini dalam suatu tindakan penanganan keuangan yang tidak dapat diselesaikan di antara mereka, dengan ketentuan keputusan di dalamnya sah berdasarkan suara mayoritas anggota.

5 - Tugas badan eksekutif ini adalah mengawasi penghimpunan zakat yang wajib dikeluarkan dan menyimpannya hingga didistribusikan, serta membagikannya kepada para mustahik yang sah secara syariat tanpa ada bias, pilih kasih, maupun dikendalikan oleh tendensi atau tujuan-tujuan pribadi, setelah masing-masing dari mereka mengucapkan sumpah untuk menjaga hal tersebut.

6 - Badan eksekutif wajib menjalankan tugasnya pada setiap musim panen di wilayah-wilayah pertanian, dan membagi para pembayar zakat emas-perak (naqdain) serta barang dagangan ('urudh tijarah) ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan waktu-waktu yang disepakati pada masing-masing dari mereka.

7 - Badan eksekutif wajib menyediakan buku kas untuk mendata semua yang telah dihimpun dan memberikan kuitansi yang disertai tanda tangannya, serta mendata lembar daftar mustahik beserta kadar hak yang diterima oleh masing-masing dari mereka. Sebelum pembagian langsung dilaksanakan, hasilnya wajib diajukan terlebih dahulu kepada komite umum untuk disahkan dan disetujui pengeluarannya. Pengeluaran tidak dianggap sah kecuali dengan dokumen-dokumen pemenuhan yang lengkap dari mustahik. Tidak diperbolehkan menunda penyaluran zakat dari waktunya kecuali karena uzur syar'i dan sebelum berakhirnya tahun berjalan, serta hal tersebut harus dicantumkan di dalam laporannya. Laporan ini juga wajib memuat sisa dari zakat yang dihimpun dan penyerahannya kepada pihak yang terpilih setelah mereka, jika tidak dilakukan pemilihan ulang terhadap badan tersebut.

8 - Seluruh kegiatan komite zakat bersifat rahasia, tidak boleh ada yang melihatnya kecuali komite umum, utusan Majelis Syura Wilayah, atau wakil distrik. Sidang umum Ikhwan di wilayah tersebut tidak berhak menuntut untuk mengetahui apa yang telah dikerjakan oleh komite, karena sudah cukup dengan diketahuinya hal tersebut oleh Majelis Syura dan anggota komite umum zakat itu sendiri, dengan tetap memberlakukan sumpah bagi setiap anggota yang memiliki hak melihat untuk menjaga kerahasiaan ini (rujuk Pasal Kelima).

9 - Badan eksekutif berhak menerima apa saja yang diserahkan kepadanya sebagai sedekah, lalu menyalurkannya berdasarkan pengetahuan tindakannya dengan mencatat dana masuk, dana keluar, sumber, dan alokasinya di dalam buku kas khusus. Badan eksekutif juga berhak mengingatkan masyarakat pada berbagai kesempatan untuk bersedekah sebagai bentuk pengorganisasian kebajikan dan penyebaran kebaikan.

10 - Alokasi-alokasi (masharif) tempat disalurkannya zakat adalah alokasi yang telah disebutkan di dalam Al-Qur'anul Karim, dan zakat tidak boleh disalurkan ke selain kondisi ini sama sekali.

11 - Badan eksekutif berhak memilih para asisten dari komite umum untuk membantu mengenali para mustahik, menjalankan pembagian secara langsung, memeriksa lembar daftar, atau tugas-tugas lainnya di bawah pengawasan dan tanggung jawab badan tersebut.

12 - Badan eksekutif ini maupun pihak lainnya tidak berhak menjual, menukar, atau melakukan tindakan pemanfaatan apa pun terhadap barang-barang (a'yan) yang telah dihimpun, melainkan barang tersebut harus dibagikan dalam bentuk yang sama sebagaimana ia dihimpun, kepada sasaran peruntukannya tanpa adanya pengubahan apa pun.

13 - Apa yang telah dihimpun tidak boleh dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya, bagaimanapun mendesak dan pentingnya alasan-alasan yang menuntut hal tersebut, kecuali karena adanya alasan syar'i.

14 - Akh ‘Āmil yang mampu berzakat namun kemudian tidak menunaikannya sama sekali, akan diturunkan dari tingkat keanggotaannya ke tingkat sebelumnya. Apabila ia menunaikannya sendiri (tanpa lewat komite), maka ia wajib memberi tahu komite umum mengenai tanggal penunaiannya agar komite mengetahuinya, dan ia diperingatkan untuk tidak mengulangi tindakan tersebut lagi, jika melanggar ia akan dikembalikan ke tingkat keanggotaan sebelumnya.

15 - Jika kondisi di beberapa wilayah memerlukan adanya pegawai untuk bekerja dalam proyek zakat, maka pengangkatan mereka didasarkan pada pandangan komite umum para pembayar zakat atas permintaan badan eksekutif, dan upah mereka diambil dari dana zakat itu sendiri [sebagai amil]. Kondisi tersebut juga berlaku dalam hal penyediaan gudang-gudang penyimpanan hasil panen jika situasi menuntut demikian.

16 - Maktabul Irsyad Al-Am menyusun sebuah risalah untuk menjelaskan hukum-hukum zakat serta keutamaan sedekah.

17 - Maktab wajib mendelegasikan dari anggotanya seorang pengawas (muraqib) yang tugasnya berkeliling ke ranting-ranting untuk mengetahui sejauh mana perhatian dan kesungguhan badan-badan eksekutif zakat.

18 - Anggaran rumah tangga ini diamalkan setelah disahkan, dan cabang-cabang diberikan salinan isinya untuk dilaksanakan.

Anggaran rumah tangga ini telah direvisi berdasarkan pengetahuan para anggota komite yang namanya tercantum di bawah ini, yang merupakan orang-orang yang dipilih untuk tugas tersebut: Hamid Askariyyah, Yusuf Al-Khuli, Khattab Muhammad Khattab, Muhammad Dasuqi Abdul Muta'al, MuhammadSيd Asy-Syafi'i [MuhammadSيd Asy-Syafi'i], Muhammad Izzat Hasan, Muhammad Abdul Muta'al Mutawalli.

Sampel Kuliah-Kuliah di Daerah Sektor (Provinsi)

Kunjungan-kunjungan ke daerah sering kali berlangsung lama, dan waktu yang ada dimanfaatkan dengan penyampaian kuliah-kuliah serta pelajaran ilmiah yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan dakwah.

Berikut ini adalah sebuah sampel dari kunjungan-kunjungan tersebut ke kota Port Said. Majalah Al-Ikhwan telah mempublikasikan program kunjungan yang berlangsung selama enam hari penuh ini, yang dikutip dari teks undangan yang ditujukan oleh pihak ranting (syu'bah) kepada penduduk setempat:

Sangkaan Kuliah Sila-menyila di Taman-Taman Al-Qur'anul Karim

Mulai hari Selasa 29 Rabiul Akhir tahun 1354 H / 30 Juli tahun 1935 M dan hari-hari berikutnya, kuliah-kuliah ini akan disampaikan oleh Al-Hadir Mursyid Am, Ustadz Hasan Effendi Al-Banna, pendiri jemaah-jemaah Ikhwanul Muslimin di Wilayah Mesir, dalam rangka keberadaan beliau di pelabuhan Port Said, bertempat di gedung jemaah sesuai jadwal berikut:

  • Selasa malam, 29 Rabiul Akhir - 30 Juli: "Dampak" (Ta'tsīr).
  • Rabu malam, 1 Jumadil Ula - 31 Agustus: "Pemisahan/Kontras" (Mufāraqah).
  • Hari Kamis, 2 Jumadil Ula - 1 September: "Komparasi/Perbandingan" (Muwāzanah).
  • Hari Jumat, 3 Jumadil Ula - 2 September: "Reformasi" (Ishlāh).
  • Sabtu malam, 4 Jumadil Ula - 3 September: "Fondasi" (Ashl).
  • Ahad malam, 5 Jumadil Ula - 4 September: "Keutamaan" (Fadhīlah).

Sebagai tambahan pada program ini, seorang pemuda yang terhormat, Yaqut Effendi Hasan Himsh, akan mengajarkan kepada para pengawas sebuah kajian yang agung dengan tema "Agama Orang-Orang Mesir Kuno", yang akan disampaikannya pada Kamis malam tanggal satu Agustus, segera setelah Ustadz Mursyid selesai menyampaikan kuliahnya.

Jemaah memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas undangannya kepada seluruh lapisan masyarakat di kota yang mulia ini, karena kajian-kajian ini penting bagi semua orang, serta mencakup dasar-dasar tujuan yang diserukan oleh agama, dan sifat-sifat paling mulia yang menghiasi jiwa.

Komite Kuliah/Seksi Acara

Dakwah Kami di Negeri-Negeri Saudara (Sekerabat)

Utusan pertama Ikhwanul Muslimin ke negeri-negeri sekerabat—yaitu Palestina, Suriah, dan Lebanon—adalah dua bersaudara yang utama: Ustadz Abdul Rahman As-Sa'ati dan Ustadz Muhammad As'ad Al-Hakim.

Majalah Al-Ikhwan telah mempublikasikan berita kunjungan ini dalam redaksi berikut:

Para pembaca telah mengetahui berita penugasan Al-Hadir dua Ustadz, Abdul Rahman Effendi As-Sa'ati dan Muhammad Effendi As'ad Al-Hakim, untuk mengunjungi negeri sekerabat serta menyebarkan dakwah di wilayah Suriah dan Palestina. Kabar terkini telah datang dari keduanya bahwa mereka telah sampai dengan keselamatan dari Allah Ta'ala di Baitul Maqdis (Yerusalem) pada Ahad pagi tanggal 5 Jumadil Ula, bersama dengan pemimpin Tunisia, Ustadz Ats-Tsa'alibi, yang mendampingi mereka dari Kairo pada Sabtu sore tanggal 4 Jumada. Di sana, keduanya menemui Yang Mulia Sayyid Amin Al-Husaini, Ketua Majelis Islam Tertinggi, dan menyebarluaskan dakwah jemaah. Yang Mulia Sayyid Al-Husaini pun membalas kunjungan mereka ke tempat penginapan yang mereka tinggali. Kemudian, keduanya meninggalkan Baitul Maqdis menuju Damaskus dan sampai di sana pada hari Rabu jam empat. Keduanya menunaikan salat Jumat di Masjid Umawi dan berkhotbah di dalamnya untuk menyerukan dakwah Ikhwanul Muslimin, serta menemui para tokoh pergerakan Islam.

Kami juga telah menerima sebuah artikel dari Ustadz Abdul Rahman Effendi As-Sa'ati untuk majalah ini yang menjelaskan tentang apa yang telah mereka lakukan dan apa yang mereka jumpai di sana, yang akan kami terbitkan pada nomor berikutnya, insya Allah. (Lihat nomor 18, Selasa 14 Jumadil Ula 1354 H - 13 Agustus 1935 M, Tahun Ketiga; dan nomor 19, Selasa 21 Jumadil Ula 1354 H - 20 Agustus 1935 M, Tahun Ketiga)

Semoga Allah memberikan taufik kepada orang-orang yang beramal demi menghidupkan agama mereka serta mengembalikan kejayaan dan kepemimpinan agungnya.

Surat Rekomendasi yang Mulia Sayyid Amin Al-Husaini

Demikian pula, Yang Mulia Mufti Agung dan Ketua Majelis Islam Tertinggi, Sayyid Muhammad Amin Al-Husaini, menyambut kedua saudara tersebut dengan kehangatan dan simpati yang mendalam, serta membekali keduanya dengan surat-surat rekomendasi yang mulia yang ditujukan kepada para ketua lembaga dan jemaah di negara-negara yang akan mereka kunjungi.

Majalah Al-Ikhwan telah mempublikasikan salinan dari salah satu surat tersebut, yang berbunyi:

Bismillahirrahmanirrahim

Kepada Yang Mulia Ketua Jemaah Al-Hidayah Al-Islamiyyah di Damaskus.

Assalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh, wa Ba'du:

Hari ini kami mendapatkan kehormatan atas kunjungan dua ustadz yang berbudi luhur, Abdul Rahman Effendi As-Sa'ati dan Muhammad Effendi As'ad Al-Hakim, utusan jemaah Ikhwanul Muslimin di Wilayah Mesir. Kami sangat mengagumi wawasan keislaman mereka, keteguhan mereka terhadap adab-adab agama yang lurus, serta usaha mereka dalam menyebarluaskan prinsip Islam yang kokoh:

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Kami juga mengetahui keinginan keduanya untuk mengunjungi Suriah guna mengenal saudara-saudara muslim mereka yang berjuang di sana dalam meninggikan kalimat Islam. Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk menjembatani ikatan taaruf di antara Anda sekalian demi mewujudkan maksud dan keinginan mereka.

Tidak ada keraguan bahwa keduanya akan mendapatkan penyambutan dan penghormatan di halaman Anda yang luas serta di kota Damaskus yang subur, yang akan menanamkan kenangan-kenangan terbaik dalam benak mereka tentang kunjungan yang diberkahi ini.

Sebagai penutup, terimalah salam takzim dan penghormatan yang melimpah.

Kantor Kongres Islam Umum, Baitul Maqdis 17 Jumadil Ula 1354 H / 5 Agustus 1935 M.

Ustadz Abdul Rahman As-Sa'ati juga mencatat kunjungan ini dalam sebuah tulisan berharga yang diterbitkan oleh majalah Al-Ikhwan, yang teksnya sebagai berikut:

Ikhwanul Muslimin di Damaskus Bani Umayyah enggan membiarkan segala pujiannya sirna Sepanjang masa, begitu pula yang enggan dilakukan oleh putra-putra Ghassan

[Bagian 1: Dakwah di Syam (Damaskus dan Hauran)]

Maka di antara para pemuka yang mulia di Jallaq [Damaskus] dan di antara para pemuka di tanah Hauran, Mereka enggan menerima kehinaan di dunia, bagi mereka kemuliaan hidup dan kemuliaan mati adalah sama. Mereka tidak bersabar atas kezaliman yang diupayakan oleh penjahat dari kalangan manusia atau diktator dari kalangan jin.

Semoga Allah menjaga wajah-wajah yang berseri-seri ini, yang kami tinggalkan di Jallaq seraya menyerukan prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin dan bekerja untuk tujuan mereka yang terpuji. Dan semoga Allah mencerahkan wajah-wajah yang di atas lembaran cerangnya terlukis harapan-harapan seorang Muslim, yang tubuhnya tidak dikungkung oleh satu tempat saja, dan harapan-harapannya tidak dibatasi oleh luasnya bumi yang terbentang, hingga ia melihat bayangan harapannya menjadi kenyataan yang terlukis di atas hamparan bumi, menjadi kekuatan yang dahsyat di segenap penjuru alam, serta menjadi pelajaran yang mendalam bagi orang-orang yang serakah lagi merampas.

Tidaklah kami berdiri di hadapan mereka melainkan mereka langsung memahami apa yang ingin kami bicarakan kepada mereka. Tidaklah kami memberi isyarat kepada mereka melainkan mereka langsung mengetahui apa yang ingin kami serukan kepada mereka. Dan tidaklah kami memanggil mereka melainkan kami mendengar detak jantung mereka menjawab seruan itu, dan gema lisan mereka mengaminkan doa. Maka mereka adalah Ikhwanul Muslimin meskipun kami belum pernah bertemu mereka sebelum itu, dan mereka adalah para dai untuk prinsip Ikhwanul Muslimin yang menyuarakannya di sana.

Allahu Akbar, ikatan kekeluargaan Islam ini tidak dapat dipisahkan oleh sekat-sekat bangsa, tidak dapat dihentikan oleh rintangan jalan bagi para dainya, dan tidak dapat dijauhkan di antara hati anak-anaknya oleh kepentingan orang-orang yang berbalik arah.

Kami membaiat mereka untuk berjihad di jalan Allah, lalu mereka pun membaiat kami. Kami berjanji setia dengan mereka untuk berdakwah menuju Allah, lalu mereka pun berjanji setia dengan kami. Kami memperkenalkan diri kepada mereka dengan nama Ikhwanul Muslimin, dan mereka tidak mengingkari kami. Bahkan, hati mereka menyambut kami dengan gemuruh yang hangat dan jemaah mereka mendengarkan kami dalam jumlah ribuan. Mimbar Ikhwanul Muslimin berada di tempat yang diberkahi di Masjid Bani Umayyah, dan teriakan mereka dengan kebenaran serta iman, jika membubung tinggi, akan membangkitkan semangat (ghirah) Islam di dalam hati para pendengar.

Dan apakah telah sampai kepadamu berita tentang mereka yang setelah itu datang kepada kami bergelombang-gelombang sebagai delegasi demi delegasi? Dan apakah engkau menilai usaha mereka terpuji, perkumpulan mereka lurus, dan pendapat mereka tepat, seraya mereka saling bertanya, tentang apakah mereka saling bertanya?

Tentang dakwah yang tidaklah ia sampai kepada suatu umat melainkan orang-orang yang ikhlas dari putra-putranya akan membaiatnya; tentang teriakan yang tidaklah ia membubung di atas mimbar melainkan orang-orang mukmin akan mengarahkan mata hati mereka kepadanya; dan tentang Al-Mursyid [Sang Pemandu] yang telah memperkokoh pagar dakwah ini dari kitab keimanan dan pengorbanan, maka dengan nama Allah, dakwah ini berlayar dan berlabuh.

Mereka mendengarkan jawaban tersebut sementara mata mereka mengalirkan air mata, laksana memancarnya mata-mata air di segenap penjuru Jallaq yang luas, dan hati mereka memancar bagai mata air Barada, sehingga menjadikan jalan-jalan sebagai sungai-sungai, masjid-masjid sebagai taman-taman, dan rumah-rumah sebagai kebun-kebun yang rimbun.

Jika ada sesuatu yang bisa aku lupakan, maka aku tidak akan melupakan salah seorang dari mereka yang menyendiri bersamaku, menceritakan kepadaku layaknya penuturan seorang saudara Muslim yang di dalam dadanya terkumpul penderitaan bangsa-bangsa Muslim, sementara di bibirnya terlukis senyuman jiwa yang beriman. Ia mulai mencurahkan isi hatinya kepadaku, dan mulai mengadukan kesedihan serta kesusahannya.

Maka aku berkata: "Maha Suci Allah! Seolah-olah aku sedang berada di Mesir mendengarkan pembicaraan para pengemban dakwah di sana, atau di Ismailia berbicara dengan para aktivis yang berjuang meninggikan kalimat Allah dari kalangan pemuda dan putra-putra pilihannya, atau di Suez sedang berbincang akrab dengan mereka yang mengibarkan bendera ukhuwah Islamiyah di atas kepala para penduduknya, atau negeri-negeri lain yang telah dipenuhi oleh dakwah Ikhwanul Muslimin, yang dahulunya penduduknya saling bermusuhan lalu dengan nikmat Allah mereka menjadi bersaudara." Kemudian aku memandang ke Masjid Umayyah, lalu aku melihat menara-menaranya menjulang tinggi di langit dan kubah-kubahnya berkilauan di bawah kubah angkasa, maka aku pun sadar bahwa aku sedang berada di Damaskus, ibu kota Dinasti Umayyah, dan sesungguhnya di sana terdapat kelompok yang banyak atau jumlah yang melimpah dari Ikhwanul Muslimin.

Maka wahai para delegasi yang datang ke lembaga-lembaga dan jemaah-jemaah, sesungguhnya kami bersama kalian bekerja untuk kemuliaan Arab dan kedaulatan Islam.

Dan wahai para tokoh dan pembesar Damaskus yang mengunjungi kami, sungguh kalian telah mengagungkan dakwah yang haq ini dengan kunjungan kalian kepada kami. Adapun pribadi-pribadi kami, maka kami melupakannya, dan kedirian kami, kami menafikannya. Allah pasti akan membalas dengan pahala bagi siapa saja yang mengagungkan dakwah-Nya, serta meninggikan kedudukan dan sebutan baginya di antara hamba-hamba-Nya.

Dan wahai orang-orang yang menyertai kami dan berjalan bersama kami, cinta kalian ada di dalam hati kami, sebutan tentang kalian ada di atas lidah kami, dan dakwah Ikhwanul Muslimin menghimpun di antara kita, dan Allah akan memberi keputusan di antara kita, dan Dialah Pemberi keputusan yang terbaik.

Dan wahai kaum Muslimin yang ada di sekitar kami, ke mana pun kami menghadap dan ke mana pun kami berjalan, keselamatan atas kalian, beruntunglah kalian, dan semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan, karena sungguh kalian semua telah berbuat baik.

Semoga Allah mengumpulkan kami bersama kalian di atas dakwah yang haq dan memperlihatkan kepada kami wajah-wajah kalian di dalam Surga Na'im. Dan Kami mencabut rasa dendam yang ada di dalam dada mereka; mereka bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (QS. Al-Hijr: 47).

Sesungguhnya jauhnya negeri tidaklah menjauhkan di antara hati yang telah bersatu di atas dakwah yang haq. Sesungguhnya berlalunya hari tidak akan melemahkan kelompok yang telah mengikhlaskan dirinya karena Allah. Sesungguhnya Islam telah menghimpun di antara anak-anaknya di seluruh belahan bumi, sementara keAraban memagari bentengnya dan mendekatkan ikatan-ikatannya. Allah tidak akan menelantarkan kaum Muslimin selama mereka berpegang teguh pada Kitab-Nya dan berpegang erat pada tali-Nya, dan musuh mereka tidak akan dapat menguasai mereka selama mereka membanggakan kekerabatannya, dan Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin. (QS. An-Nisa: 141).

[Bagian 2: Markaz Utama Ikhwanul Muslimin di Kairo]

Kantor Ikhwanul Muslimin di Kairo, Jalan An-Nashiriyyah No. 13, Sayyidah Zainab.

Kantor Markaz Am [Pusat] telah berpindah ke An-Nashiriyyah di distrik Sayyidah Zainab No. 13 di depan Masjid Ka'ab al-Ahbar. Berita perpindahan ini dipublikasikan bersama beberapa instruksi di Majalah Ikhwan sebagai berikut:

  • 1 - Perkumpulan Ikhwanul Muslimin di Kairo telah berpindah ke tempatnya yang baru sejak awal bulan Rajab 1354 H.
  • 2 - Tempat ini adalah Markaz Am [Pusat] bagi persatuan cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di Kairo, dan seluruh cabang ini tunduk kepadanya dalam hal sistem dan administrasi.
  • 3 - [Bagian kosong/nomor tanpa teks asli].
  • 4 - [Bagian kosong/nomor tanpa teks asli]. Seluruh korespondensi, surat, dan dokumen dikirim atas nama "Naib [Wakil] Ikhwanul Muslimin di Kairo" dengan alamat yang disebutkan di atas. Kantor Irsyad Am [Biro Panduan Pusat] berkedudukan di administrasi ini, dan ia merupakan otoritas tertinggi bagi seluruh Ikhwanul Muslimin di segenap penjuru bumi. Perkumpulan di Kairo selalu terhubung dengannya secara permanen, sebagaimana cabang-cabang Ikhwan lainnya juga terhubung dengannya. Ketuanya adalah yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid Al-Am.
  • 5 - [Bagian kosong/nomor tanpa teks asli]. Ceramah mingguan disampaikan setiap hari Jumat setelah salat Magrib. Musim ceramah ini akan dibuka oleh yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid Al-Am dengan ceramah pertamanya yang akan disampaikan—insya Allah—pada hari Jumat, 13 Rajab tahun 1354 H, bertepatan dengan tanggal 11 Oktober tahun 1935 M. Kemudian ceramah-ceramah mingguan tersebut akan dilanjutkan secara beruntung oleh para tokoh besar Islam yang terkemuka.
  • 6 - Yang mulia Al-Mursyid Al-Am menyampaikan pelajaran mingguan di kantor perkumpulan yang jadwalnya dapat diketahui dari anggaran rumah tangga (regulasi internal) klub.
  • 7 - Klub ini—insya Allah—akan menjadi titik penghubung antara Mesir dan gerakan-gerakan Islam di Timur Arab, dengan harapan agar Ikhwan dapat mengetahui seluruh pergerakan kaum Muslimin di segenap penjuru bumi. Klub ini akan berupaya dengan segala sarana untuk membawa manusia kembali kepada perintah Allah dan berhukum dengan wahyu-Nya.

Dan Allah Ta'ala adalah pemilik kebenaran dan taufik.

[Bagian 3: Dakwah di Beirut]

Hubungan komunikasi antara dua Ustadz, yaitu Abdurrahman As-Sa'ati dan As'ad Al-Hakim dalam rihlah [perjalanan] mereka ke negeri-negeri tetangga yang bersaudara serta komunikasi mereka dengan lembaga-lembaga Islam di sana, telah membuahkan hasil. Lembaga Al-Maqashid al-Khairiyyah telah meminta kepada Markaz Am agar mengirimkan salah seorang anggota Ikhwan untuk mengajar ilmu tasyri' [hukum syariat] dan sastra. Maka pilihan jatuh kepada Al-Ustadz Muhammad Al-Hadi Athiyyah, seorang pengacara syari di Suez. Majalah menerbitkan kalimat berikut terkait hal ini:

Al-Ustadz Al-Hadi dalam Perjalanan Menuju Beirut

Sebuah hijrah di jalan Allah dan beramal untuk dakwah-Nya, Allah telah menghendaki agar orang yang paling pertama melangkah dalam amal ini adalah Al-Ustadz Al-Hadi.

Edisi ini terbit ketika yang mulia Al-Ustadz telah menetap di Beirut, di mana beliau bertugas mengajar Syariat Islam, Filsafat, dan Sastra di Sekolah Tinggi Al-Maqashid al-Khairiyyah. Beliau juga bekerja di negeri jiran yang bersaudara tersebut untuk memperkuat tali kasih sayang, ukhuwah, serta menyebarkan dakwah nilai-nilai keutamaan dan akhlak yang mulia.

Beliau meninggalkan Suez pada hari Rabu yang lalu, maka para tokoh Ikhwanul Muslimin di sana melepasnya di stasiun kereta api dengan penuh penghormatan atas keutamaannya, rasa sedih atas perpisahannya, dan keharuan karena jarak yang menjauh. Tidak ada yang meringankan kesedihan mereka melainkan pengetahuan mereka bahwa beliau pergi sebagai seorang mujahid di jalan Allah untuk mempersiapkan medan amal yang mulia bagi dakwah yang luhur ini. Beliau melewati Ismailia, dan di stasiunnya telah bersiap para tokoh Ikhwanul Muslimin yang dipimpin oleh yang mulia wakil mereka, Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Farghali, diikuti oleh regu kepanduan (rihlah). Maka momen itu menjadi sebuah perpisahan, perbincangan akrab, dan dialog yang sepenuhnya berisi cinta yang kokoh serta simpati yang mulia.

Dan di Qantharah, di mana batalion Ikhwan juga bersiap siaga, yang mulia Al-Ustadz membekali mereka dengan nasihat-nasihatnya yang berharga, sebanding dengan apa yang meluap dari hati mereka berupa cinta yang tulus dan penghormatan yang tinggi kepada seorang saudara dari sebaik-baik saudara mereka, serta seorang dai yang mulia dari dai-dai terbaik mereka. Demikianlah Al-Ustadz melihat ada saudara di setiap negeri, dan di setiap stasiun tempat kereta berhenti terdapat tentara dan penolong. Kami meyakini bahwa beliau akan menemui hal yang serupa, bahkan lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia dari para Ikhwan yang terhormat, para tokoh Al-Maqashid al-Khairiyyah di Beirut.

Sesungguhnya Al-Ustadz Al-Hadi adalah kebaikan seutuhnya di mana pun beliau berada. Kami menitipkan kepada Allah agamanya, amanahnya, dan akhir dari amalnya. Kami memohon kepada Allah taufik yang sempurna serta penjagaan yang menyeluruh untuknya, dan agar kami dapat melihatnya dalam kondisi terbaik yang kami harapkan. Kami mengira bahwa beliau tidak membutuhkan orang lain untuk mengingatkannya akan kewajiban sucinya terhadap surat kabar Ikhwanul Muslimin.

[Bagian 4: Lencana Ikhwan]

Ikhwan telah mengusulkan untuk membuat sebuah lencana yang membedakan mereka dari lembaga-lembaga lainnya. Kantor [Biro Pusat] menyetujui usulan ini, dengan ketentuan bahwa lencana Ikhwan berbentuk cincin perak bersisi sepuluh yang menyimbolkan ayat mulia: “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhanmu kepadamu, yaitu jangan mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya...’” Untuk urusan ini, biro mengutus salah seorang Ikhwan—semoga Allah merahmatinya—dan mengumumkan hal tersebut di majalah dengan kalimat berikut:

Demi keinginan untuk mempererat tali perkenalan di antara Ikhwan dan demi menjaga agar mereka selalu ingat pada prinsip yang paling suci secara permanen, Majelis Syura Am telah memutuskan agar ada sebuah lencana umum yang dikenakan oleh seluruh Ikhwan secara permanen. Kantor [Biro Pusat] setelah kajian yang panjang melihat bahwa lencana ini berupa cincin perak yang halus bersisi sepuluh, yang dikenakan di jari kelingking tangan kanan.

Ide ini telah diterapkan di wilayah Kairo dan eksperimen tersebut berhasil dengan kesuksesan yang sempurna, walhamdulillah.

Oleh karena itu, kantor telah menugaskan saudara Mahmud Efendi Hibatullah untuk berkeliling ke cabang-cabang Ikhwan. Beliau akan membawa contoh cincin beserta alat pengukur jari ("pita ukur") untuk mengetahui berbagai ukuran jari para Ikhwan. Harga cincin ini adalah lima qursy yang dibayarkan oleh anggota kepada wakil wilayahnya atau kepada utusan tersebut.

[Bagian 5: Rihlah ke Nil Hulu (Saeed) Akhir Ramadan 1354 H]

Aku telah melakukan salah satu perjalanan ke Saeed (Mesir Hulu) selama bulan Ramadan tahun 1354 Hijriah, dan aku mengira itu adalah perjalanan yang kedua. Aku ditemani oleh saudara Abdurrahman Ridha Kahilah, dan beliau menulis tentang perjalanan ini di Majalah Ikhwan dengan kalimat berikut:

20 Ramadan Tahun 1354 H

Aku termasuk orang yang menikmati kesempatan menemani yang mulia Al-Mursyid Al-Am selama beberapa waktu ketika beliau datang ke Saeed pada akhir Ramadan yang lalu, dan aku menunggu sebagian Ikhwan menulis sesuatu tentang perjalanannya yang bermanfaat ini. Dan inilah penantianku yang telah lama, oleh karena itu aku bertekad menuliskan kalimat ini sebagai kenang-kenangan untuk perjalanan tersebut.

Aku mengetahui bahwa saudara Al-Mursyid akan datang dari Kairo pada hari kedua puluh dari bulan Ramadan setelah Zuhur. Maka aku pergi untuk menyambutnya, dan di sana aku menemukan sekumpulan Ikhwan yang digerakkan oleh rasa rindu untuk bertemu dengannya. Kereta pun tiba, lalu aku bergegas menemuinya, dan tampaklah wajahnya memancarkan kegembiraan serta tanda-tanda semangat yang sempurna terlihat jelas pada dirinya. Kami mengucapkan salam kepadanya, lalu keluar dari stasiun menuju kantor Ustadz Muhammad Khalaf Al-Husaini, seorang pengacara; ia adalah seorang pemuda Muslim yang cemburu [memiliki ghirah] terhadap agamanya lagi bangga dengannya. Saudara Al-Mursyid beristirahat di sana hingga sekitar jam empat, kemudian kami menaiki mobil menuju kota Al-Wasithi, yang termasuk dalam pinggiran kota Asyuth. Di sana kami disambut oleh keluarga Al-Ghadir yang mulia serta banyak dari tokoh kota tersebut. Di sana kami melaksanakan salat Magrib dan menyantap hidangan berbuka puasa kami yang diselingi oleh berbagai obrolan seputar ilmu, sastra, agama, dan akhlak.

Kami melaksanakan salat Isya di masjid kota tersebut, dan kami diimami oleh Ustadz besar Asy-Syaikh Ahmad Syariit, seorang pengajar di Ma'had Asyuth yang terkenal karena simpatinya kepada perkumpulan Islam ini. Masjid dipenuhi oleh ratusan manusia yang mendengarkan wejangan dan bimbingan. Maka saudara Al-Mursyid memberikan wejangan kepada mereka dengan nasihat yang tulus yang menggetarkan hati. Mereka merasakan kebutuhan mereka untuk beramal demi membebaskan diri dari kelemahan, perpecahan, dan ujian yang mereka hadapi. Aku melanjutkannya dengan sepatah kata tentang Ramadan beserta makna puasanya, serta tentang Lailatul Qadar beserta keagungan dan kemuliaannya. Kami meninggalkan masjid menuju sebuah rumah besar yang di dalamnya telah berkumpul jemaah yang agung. Itu adalah malam yang agung di mana saudara Al-Mursyid berbicara, sehingga beliau menghidupkan jiwa-jiwa, membangkitkan harapan, dan menjelaskan kepada manusia bagaimana mereka dapat menyelamatkan diri dari apa yang menimpa mereka akibat kelalaian. Sebagian Ikhwan turut serta bersamanya, maka mereka memetik prinsip-prinsip Islam yang luhur dan menjelaskan bagaimana kaum Muslimin telah mengabaikannya, padahal di dalamnya terdapat kebahagiaan dan ketenteraman mereka.

Aku sangat bahagia dengan malam ini, dan harapanku membubung tinggi, lalu aku berkata: "Seandainya manusia mengamalkan apa yang mereka dengar, niscaya kita akan menyongsong era kebangkitan menyeluruh yang meliputi kita semua, sehingga kita meraih cita-cita dan memenangkan kemuliaan serta kejayaan."

22 Ramadan Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid kembali ke Asyuth setelah beliau memenuhi Al-Wasithi dengan wejangan-wejangan berharganya. Beliau menetap di sana hingga jam satu malam, dan beberapa Ikhwan pergi bersamanya menuju Manfaluth lalu ke Al-Qushiyyah untuk mengunjungi cabangnya serta memeriksa keadaannya.

23 Ramadan Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid kembali ke Asyuth dengan penuh kesuksesan. Pada jam delapan malam, perkumpulan Syubbanul Muslimin [Pemuda Muslim] dipenuhi oleh sejumlah besar kaum terpelajar untuk mendengarkan ceramahnya yang berharga. Beliau menjadikannya sebagai penjelasan bahwa Islam menjamin seluruh prinsip yang menjamin kemajuan umat manusia serta kebahagiaan mereka. Beliau merincinya dengan rincian yang mengagumkan yang sangat menyenangkan para pendengar. Suaranya berirama merdu, penyampaiannya mudah lagi indah, dan kemampuannya dalam menghimpun ayat-ayat Al-Qur'an serta hadis-hadis Nabawi sangat luar biasa. Orang-orang banyak mengelu-elukannya dan mereka bersyukur kepada Allah yang telah memudahkan mereka untuk mendengarnya.

24 Ramadan Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid menunaikan salat Jumat di Masjid Al-Qadhi; ia adalah salah satu masjid terbesar di kota tersebut, yang paling luas, dan paling penuh sesak oleh para jemaah salat. Maka saudara Al-Mursyid bertindak sebagai khatib sekaligus pemberi wejangan, lalu beliau menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya sesuai kehendak Allah. Kami berharap agar hati jemaah dapat memadukan antara kegembiraan bersamanya dengan pengamalan terhadap wejangan dan bimbingannya.

Setelah salat, beliau berangkat dengan berkah Allah menuju Mesir Hulu (Mishr al-Ulya) di mana beliau menyambung silaturahmi dengan saudara-saudaranya di Al-Balyana, Aswan, dan kota-kota lainnya. Semoga Allah memberinya taufik dan meluruskan langkah-langkahnya.

30 Ramadan Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid kembali dari perjalanannya di Saeed Atas (Saeed al-A'la) setelah Magrib. Banyak orang telah menunggunya di depan stasiun Abu Tiij yang beruntung dengan kehadirannya. Mereka berjalan dan mendatangi masjid tempat beliau melaksanakan salat Isya, dan dari sana menuju rumah Abdurrahman Mahmud As-Sulaimani yang telah dipadati oleh banyak orang. Malam itu adalah malam yang berbahagia di mana para qari dan khatib saling unjuk kebolehan, dan di dalamnya saudara Al-Mursyid menyampaikan wejangan yang agung yang diterima oleh hati dengan penuh kerinduan lagi harapan. Aku beruntung dapat menyampaikan sepatah kata setelahnya, kami memohon kepada Allah kemanfaatan dari keduanya.

Saudara Al-Mursyid bermalam di Abu Tiij dengan dikelilingi oleh hati dan jiwa masyarakat.

1 Syawal Tahun 1354 H

Hari Idulfitri yang berkah telah dimulai, dan itu adalah hari yang disaksikan oleh banyak orang. Saudara Al-Mursyid berkhotbah di Masjid Al-Farghali dan beliau mendapatkan penerimaan yang luar biasa serta apresiasi yang luas. Beliau kembali ke Asyuth pada waktu asar (ashil), dan perkumpulan Syubbanul Muslimin beruntung mendapatkannya sekali lagi. Beliau berkhotbah di klubnya, maka beliau melembutkan hati, menarik perhatian pendengaran, and menaburkan mutiara-mutiaranya yang kami harapkan dapat bermanfaat, insya Allah.

Ketika tiba malam penutupan bagi masa mukimnya di Asyuth, malam itu dihadiri oleh banyak dari saudara-saudaranya yang ikhlas. Ustadz Asy-Syaikh Syariit adalah penunggang kudanya [tokoh utamanya], dan rumahnya yang makmur adalah medannya. Maka pembicaraan berkisar seputar Islam dan kaum Muslimin serta sarana-sarana untuk memperkuat mereka dan membangkitkan mereka.

2 Syawal Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid mengemas barang-barangnya untuk singgah ke Manfaluth, dan dari sana menuju Kairo sebagai akhir dari perjalanannya yang bahagia lagi penuh kesiapan. Sesungguhnya hari-hari yang membahagiakan karena bertemu dengannya tidak akan pernah terlupakan selamanya, khususnya karena hari-hari itu adalah karena Allah di jalan Allah, serta sebuah jihad yang disyukuri lagi ikhlas tanpa ada riya dan sum'ah di dalamnya.

[Bagian 6: Ibadah Haji yang Pertama]

Termasuk dari taufik Allah Tabaraka wa Ta'ala bahwa setelah disusunnya regulasi haji, telah mantap di dalam jiwaku untuk menunaikan kewajiban fardu tersebut. Meskipun hal itu sulit pada saat itu, namun Allah menghendaki untuk memudahkan urusan-urusan serta menetapkan bagiku ibadah haji dan ziarah pada tahun 1354 Hijriah bertepatan dengan tahun 1936 Masehi. Majalah mengisyaratkan azam (tekad) ini dengan kalimat berikut:

Yang Mulia Al-Mursyid Al-Am dalam Perjalanan Menuju Tanah Suci

Ustadz Al-Mursyid akan menunaikan kewajiban haji dan ziarah pada tahun ini, insya Allah. Perjalanan beliau beserta para Ikhwan yang menyertainya dalam perjalanan yang berkah ini adalah dengan menggunakan kapal laut yang meninggalkan pelabuhan Suez pada awal bulan Zulhijah 1354 H – 24 Februari 1936 M. Beliau akan berangkat dari Kairo pada hari Minggu dan menghabiskan satu malam di Suez untuk menyampaikan ceramah di gedung klub dengan tema: "Haji sebagai Olahraga Besar bagi Fisik dan Jiwa."

Yang akan menggantikannya di Kantor Irsyad Am selama masa kepergiannya adalah yang mulia Asy-Syaikh Radhwan Muhammad Radhwan, anggota biro tersebut.

[Bagian 7: Urusan Palestina dan Ikhwan... Memorandum 1936]

Pada masa-masa ini, urusan Palestina mulai bergerak, dan rakyat Palestina yang berani lagi perkasa melakukan perlawanan terhadap tindakan-tindakan Inggris yang zalim yang bersekongkol dengan Yahudi dalam segala hal dan mengharamkan Arab dari segala hal.

Lembaga-lembaga politik dan partai-partai saat itu berpaling sepenuhnya dari upaya membela Palestina secara serius, dikarenakan adanya fanatisme nasionalisme khusus yang belum berkembang menjadi perasaan yang meluap-luap demi hak keAraban dan ikatan Islam. Tidak ada yang bergerak untuk Palestina atau yang serupa dengannya dari negeri-negeri jiran melainkan lembaga-lembaga Islam.

Dari sinilah Ikhwanul Muslimin maju untuk membela Palestina yang sedang bergolak lagi berjihad dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Mereka mencurahkan upaya mereka untuk hal itu secara materi maupun maknawi, baik dari segi propaganda, orasi, publikasi, pengumpulan dana, dan lain-lain. Untuk tujuan tersebut, dibentuklah komite-komite dan delegasi-delegasi yang bekerja sekuat kemampuan mereka, dan merekam itu semua di Majalah Ikhwanul Muslimin pada waktunya, yaitu pada tahun keempat penerbitannya.

Kami akan menukil dari majalah tersebut sebagian dari upaya-upaya ini untuk pencatatan dan sejarah:

Komite Pusat Pusat untuk Membantu Palestina

Pemilik kemuliaan yang terhormat, Ustadz Al-Mursyid Al-Am bagi perkumpulan Ikhwanul Muslimin menyampaikan undangan kepada para anggota perkumpulan di Kairo untuk berkumpul pada pertengahan jam sembilan malam pada hari Sabtu yang bertepatan dengan tanggal 25 Shafar al-Khair tahun 1355 H. Pada waktu yang telah ditentukan, undangan tersebut dipenuhi oleh sekumpulan besar Ikhwan dan mereka berkumpul di salah satu aula perkumpulan di bawah pimpinan yang mulia Ustadz Al-Mursyid Al-Am, yang kemudian naik ke atas mimbar dan mulai menjelaskan kepada Ikhwan apa yang menimpa bangsa Arab yang berani dari penduduk Palestina, yang mengikat kita dengan mereka beberapa ikatan agama, bahasa, dan keAraban.

Kemudian beliau menyeru mereka demi kewajiban kemanusiaan dan pertolongan Islam agar mereka mengulurkan tangan bantuan kepada saudara-saudara mereka warga Palestina, serta agar mereka bekerja untuk membentuk sebuah komite di antara mereka guna mengorganisasi bantuan ini, menyebarkan propaganda, dan menggerakkan kedermawanan tangan-tangan untuk mendermakan harta demi tujuan yang agung ini. Kemudian para Ikhwan saling bertukar pikiran dan berdiskusi, serta setiap orang mengusulkan apa yang terlintas di benaknya, hingga urusan tersebut berakhir dengan dibentuknya sebuah komite di antara mereka. Komite tersebut menyetujui pelaksanaan usulan-usulan berikut:

Maka di antara para pemuka yang mulia di Jallaq [Damaskus], dan di antara para pemuka di tanah Hauran.

Mereka enggan menerima kehinaan di dunia, bagi mereka kemuliaan hidup dan kemuliaan mati adalah sama.

Mereka tidak bersabar atas kezaliman yang diupayakan oleh penjahat dari kalangan manusia atau diktator dari kalangan jin.

Semoga Allah menjaga wajah-wajah yang berseri-seri ini, yang kami tinggalkan di Jallaq seraya menyerukan prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin dan bekerja untuk tujuan mereka yang terpuji. Dan semoga Allah mencerahkan wajah-wajah yang di atas lembaran cerangnya terlukis harapan-harapan seorang Muslim, yang tubuhnya tidak dikungkung oleh satu tempat saja, dan harapan-harapannya tidak dibatasi oleh luasnya bumi yang terbentang, hingga ia melihat bayangan harapannya menjadi kenyataan yang terlukis di atas hamparan bumi, menjadi kekuatan yang dahsyat di segenap penjuru alam, serta menjadi pelajaran yang mendalam bagi orang-orang yang serakah lagi merampas.

Tidaklah kami berdiri di hadapan mereka melainkan mereka langsung memahami apa yang ingin kami bicarakan kepada mereka. Tidaklah kami memberi isyarat kepada mereka melainkan mereka langsung mengetahui apa yang ingin kami serukan kepada mereka. Dan tidaklah kami memanggil mereka melainkan kami mendengar detak jantung mereka menjawab seruan itu, dan gema lisan mereka mengaminkan doa. Maka mereka adalah Ikhwanul Muslimin meskipun kami belum pernah bertemu mereka sebelum itu, dan mereka adalah para dai untuk prinsip Ikhwanul Muslimin yang menyuarakannya di sana.

Allahu Akbar, ikatan kekeluargaan Islam ini tidak dapat dipisahkan oleh sekat-sekat bangsa, tidak dapat dihentikan oleh rintangan jalan bagi para dainya, dan tidak dapat dijauhkan di antara hati anak-anaknya oleh kepentingan orang-orang yang berbalik arah.

Kami membaiat mereka untuk berjihad di jalan Allah, lalu mereka pun membaiat kami. Kami berjanji setia dengan mereka untuk berdakwah menuju Allah, lalu mereka pun berjanji setia dengan kami. Kami memperkenalkan diri kepada mereka dengan nama Ikhwanul Muslimin, dan mereka tidak mengingkari kami. Bahkan, hati mereka menyambut kami dengan gemuruh yang hangat dan jemaah mereka mendengarkan kami dalam jumlah ribuan. Mimbar Ikhwanul Muslimin berada di tempat yang diberkahi di Masjid Bani Umayyah, dan teriakan mereka dengan kebenaran serta iman, jika membubung tinggi, akan membangkitkan semangat (ghirah) Islam di dalam hati para pendengar.

Dan apakah telah sampai kepadamu berita tentang mereka yang setelah itu datang kepada kami bergelombang-gelombang sebagai delegasi demi delegasi? Dan apakah engkau menilai usaha mereka terpuji, perkumpulan mereka lurus, dan pendapat mereka tepat, seraya mereka saling bertanya, tentang apakah mereka saling bertanya?

Tentang dakwah yang tidaklah ia sampai kepada suatu umat melainkan orang-orang yang ikhlas dari putra-putranya akan membaiatnya; tentang teriakan yang tidaklah ia membubung di atas mimbar melainkan orang-orang mukmin akan mengarahkan mata hati mereka kepadanya; dan tentang Al-Mursyid [Sang Pemandu] yang telah memperkokoh pagar dakwah ini dari kitab keimanan dan pengorbanan, maka dengan nama Allah, dakwah ini berlayar dan berlabuh.

Mereka mendengarkan jawaban tersebut sementara mata mereka mengalirkan air mata, laksana memancarnya mata-mata air di segenap penjuru Jallaq yang luas, dan hati mereka memancar bagai mata air Barada, sehingga menjadikan jalan-jalan sebagai sungai-sungai, masjid-masjid sebagai taman-taman, dan rumah-rumah sebagai kebun-kebun yang rimbun.

Jika ada sesuatu yang bisa aku lupakan, maka aku tidak akan melupakan salah seorang dari mereka yang menyendiri bersamaku, menceritakan kepadaku layaknya penuturan seorang saudara Muslim yang di dalam dadanya terkumpul penderitaan bangsa-bangsa Muslim, sementara di bibirnya terlukis senyuman jiwa yang beriman. Ia mulai mencurahkan isi hatinya kepadaku, dan mulai mengadukan kesedihan serta kesusahannya.

Maka aku berkata: "Maha Suci Allah! Seolah-olah aku sedang berada di Mesir mendengarkan pembicaraan para pengemban dakwah di sana, atau di Ismailia berbicara dengan para aktivis yang berjuang meninggikan kalimat Allah dari kalangan pemuda dan putra-putra pilihannya, atau di Suez sedang berbincang akrab dengan mereka yang mengibarkan bendera ukhuwah Islamiyah di atas kepala para penduduknya, atau negeri-negeri lain yang telah dipenuhi oleh dakwah Ikhwanul Muslimin, yang dahulunya penduduknya saling bermusuhan lalu dengan nikmat Allah mereka menjadi bersaudara." Kemudian aku memandang ke Masjid Umayyah, lalu aku melihat menara-menaranya menjulang tinggi di langit dan kubah-kubahnya berkilauan di bawah kubah angkasa, maka aku pun sadar bahwa aku sedang berada di Damaskus, ibu kota Dinasti Umayyah, dan sesungguhnya di sana terdapat kelompok yang banyak atau jumlah yang melimpah dari Ikhwanul Muslimin.

Maka wahai para delegasi yang datang ke lembaga-lembaga dan jemaah-jemaah, sesungguhnya kami bersama kalian bekerja untuk kemuliaan Arab dan kedaulatan Islam.

Dan wahai para tokoh dan pembesar Damaskus yang mengunjungi kami, sungguh kalian telah mengagungkan dakwah yang haq ini dengan kunjungan kalian kepada kami. Adapun pribadi-pribadi kami, maka kami melupakannya, dan kedirian kami, kami menafikannya. Allah pasti akan membalas dengan pahala bagi siapa saja yang mengagungkan dakwah-Nya, serta meninggikan kedudukan dan sebutan baginya di antara hamba-hamba-Nya.

Dan wahai orang-orang yang menyertai kami dan berjalan bersama kami, cinta kalian ada di dalam hati kami, sebutan tentang kalian ada di atas lidah kami, dan dakwah Ikhwanul Muslimin menghimpun di antara kita, dan Allah akan memberi keputusan di antara kita, dan Dialah Pemberi keputusan yang terbaik.

Dan wahai kaum Muslimin yang ada di sekitar kami, ke mana pun kami menghadap dan ke mana pun kami berjalan, keselamatan atas kalian, beruntunglah kalian, dan semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan, karena sungguh kalian semua telah berbuat baik.

Semoga Allah mengumpulkan kami bersama kalian di atas dakwah yang haq dan memperlihatkan kepada kami wajah-wajah kalian di dalam Surga Na'im. “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47).

Sesungguhnya jauhnya negeri tidaklah menjauhkan di antara hati yang telah bersatu di atas dakwah yang haq. Sesungguhnya berlalunya hari tidak akan melemahkan kelompok yang telah mengikhlaskan dirinya karena Allah. Sesungguhnya Islam telah menghimpun di antara anak-anaknya di seluruh belahan bumi, sementara keAraban memagari bentengnya dan mendekatkan ikatan-ikatannya. Allah tidak akan menelantarkan kaum Muslimin selama mereka berpegang teguh pada Kitab-Nya dan berpegang erat pada tali-Nya. Mus musuh mereka tidak akan dapat menguasai mereka selama mereka membanggakan kekerabatannya, “...Dan Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa': 141).

Kantor Ikhwanul Muslimin di Kairo

Jalan An-Nashiriyyah No. 13, Sayyidah Zainab

Kantor Markaz Am [Pusat] telah berpindah ke An-Nashiriyyah di distrik Sayyidah Zainab No. 13 di depan Masjid Ka'ab al-Ahbar. Berita perpindahan ini dipublikasikan bersama beberapa instruksi di Majalah Ikhwan sebagai berikut:

1 - Perkumpulan Ikhwanul Muslimin di Kairo telah berpindah ke tempatnya yang baru sejak awal bulan Rajab 1354 H.

2 - Tempat ini adalah Markaz Am [Pusat] bagi persatuan cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di Kairo, dan seluruh cabang ini tunduk kepadanya dalam hal sistem dan administrasi.

3 - [Bagian nomor tanpa teks asli]

4 - [Bagian nomor tanpa teks asli] Seluruh korespondensi, surat, dan dokumen dikirim atas nama "Naib [Wakil] Ikhwanul Muslimin di Kairo" dengan alamat yang disebutkan di atas. Kantor Irsyad Am [Biro Panduan Pusat] berkedudukan di administrasi ini, dan ia merupakan otoritas tertinggi bagi seluruh Ikhwanul Muslimin di segenap penjuru bumi. Perkumpulan di Kairo selalu terhubung dengannya secara permanen, sebagaimana cabang-cabang Ikhwan lainnya juga terhubung dengannya. Ketuanya adalah yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid Al-Am.

5 - [Bagian nomor tanpa teks asli] Ceramah mingguan disampaikan setiap hari Jumat setelah salat Magrib. Musim ceramah ini akan dibuka oleh yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid Al-Am dengan ceramah pertamanya yang akan disampaikan—insya Allah—pada hari Jumat, 13 Rajab tahun 1354 H, bertepatan dengan tanggal 11 Oktober tahun 1935 M. Kemudian ceramah-ceramah mingguan tersebut akan dilanjutkan secara berurutan oleh para tokoh besar Islam yang terkemuka.

6 - Yang mulia Al-Mursyid Al-Am menyampaikan pelajaran mingguan di kantor perkumpulan yang jadwalnya dapat diketahui dari anggaran rumah tangga [regulasi internal] klub.

7 - Klub ini—insya Allah—akan menjadi titik penghubung antara Mesir dan gerakan-gerakan Islam di Timur Arab, dengan harapan agar Ikhwan dapat mengetahui seluruh pergerakan kaum Muslimin di segenap penjuru bumi. Klub ini akan berupaya dengan segala sarana untuk membawa manusia kembali kepada perintah Allah dan berhukum dengan wahyu-Nya.

Dan Allah Ta'ala adalah pemilik kebenaran dan taufik.

Dakwah di Beirut

Hubungan komunikasi antara dua Ustadz, yaitu Abdurrahman As-Sa'ati dan As'ad Al-Hakim dalam rihlah [perjalanan] mereka ke negeri-negeri tetangga yang bersaudara serta komunikasi mereka dengan lembaga-lembaga Islam di sana, telah membuahkan hasil. Lembaga Al-Maqashid al-Khairiyyah telah meminta kepada Markaz Am agar mengirimkan salah seorang anggota Ikhwan untuk mengajar ilmu tasyri' [hukum syariat] dan sastra. Maka pilihan jatuh kepada Al-Ustadz Muhammad Al-Hadi Athiyyah, seorang pengacara syari di Suez. Majalah menerbitkan kalimat berikut terkait hal ini:

Al-Ustadz Al-Hadi dalam Perjalanan Menuju Beirut

Sebuah hijrah di jalan Allah dan beramal untuk dakwah-Nya, Allah telah menghendaki agar orang yang paling pertama melangkah dalam amal ini adalah Al-Ustadz Al-Hadi.

Edisi ini terbit ketika yang mulia Al-Ustadz telah menetap di Beirut, di mana beliau bertugas mengajar Syariat Islam, Filsafat, dan Sastra di Sekolah Tinggi Al-Maqashid al-Khairiyyah. Beliau juga bekerja di negeri jiran yang bersaudara tersebut untuk memperkuat tali kasih sayang, ukhuwah, serta menyebarkan dakwah nilai-nilai keutamaan dan akhlak yang mulia.

Beliau meninggalkan Suez pada hari Rabu yang lalu, maka para tokoh Ikhwanul Muslimin di sana melepasnya di stasiun kereta api dengan penuh penghormatan atas keutamaannya, rasa sedih atas perpisahannya, dan keharuan karena jarak yang menjauh. Tidak ada yang meringankan kesedihan mereka melainkan pengetahuan mereka bahwa beliau pergi sebagai seorang mujahid di jalan Allah untuk mempersiapkan medan amal yang mulia bagi dakwah yang luhur ini. Beliau melewati Ismailia, dan di stasiunnya telah bersiap para tokoh Ikhwanul Muslimin yang dipimpin oleh yang mulia wakil mereka, Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Farghali, diikuti oleh regu kepanduan. Maka momen itu menjadi sebuah perpisahan, perbincangan akrab, dan dialog yang sepenuhnya berisi cinta yang kokoh serta simpati yang mulia. Dan di Qantharah, di mana batalion Ikhwan juga bersiap siaga, yang mulia Al-Ustadz membekali mereka dengan nasihat-nasihatnya yang berharga, sebanding dengan apa yang meluap dari hati mereka berupa cinta yang tulus dan penghormatan yang tinggi kepada seorang saudara dari sebaik-baik saudara mereka, serta seorang dai yang mulia dari dai-dai terbaik mereka. Demikianlah Al-Ustadz melihat ada saudara di setiap negeri, dan di setiap stasiun tempat kereta berhenti terdapat tentara dan penolong. Kami meyakini bahwa beliau akan menemui hal yang serupa, bahkan lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia dari para Ikhwan yang terhormat, para tokoh Al-Maqashid al-Khairiyyah di Beirut.

Sesungguhnya Al-Ustadz Al-Hadi adalah kebaikan seutuhnya di mana pun beliau berada. Kami menitipkan kepada Allah agamanya, amanahnya, dan akhir dari amalnya. Kami memohon kepada Allah taufik yang sempurna serta penjagaan yang menyeluruh untuknya, dan agar kami dapat melihatnya dalam kondisi terbaik yang kami harapkan. Kami mengira bahwa beliau tidak membutuhkan orang lain untuk mengingatkannya akan kewajiban sucinya terhadap surat kabar Ikhwanul Muslimin.

Lencana Ikhwan

Ikhwan telah mengusulkan untuk membuat sebuah lencana yang membedakan mereka dari lembaga-lembaga lainnya. Kantor [Biro Pusat] menyetujui usulan ini, dengan ketentuan bahwa lencana Ikhwan berbentuk cincin perak bersisi sepuluh yang menyimbolkan ayat mulia: “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhanmu kepadamu, yaitu jangan mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya...’” (QS. Al-An'am: 151). Untuk urusan ini, biro mengutus salah seorang Ikhwan—semoga Allah merahmatinya—dan mengumumkan hal tersebut di majalah dengan kalimat berikut:

Demi keinginan untuk mempererat tali perkenalan di antara Ikhwan dan demi menjaga agar mereka selalu ingat pada prinsip yang paling suci secara permanen, Majelis Syura Am telah memutuskan agar ada sebuah lencana umum yang dikenakan oleh seluruh Ikhwan secara permanen. Kantor [Biro Pusat] setelah kajian yang panjang melihat bahwa lencana ini berupa cincin perak yang halus bersisi sepuluh, yang dikenakan di jari kelingking tangan kanan.

Ide ini telah diterapkan di wilayah Kairo dan eksperimen tersebut berhasil dengan kesuksesan yang sempurna, walhamdulillah.

Oleh karena itu, kantor telah menugaskan saudara Mahmud Efendi Hibatullah untuk berkeliling ke cabang-cabang Ikhwan. Beliau akan membawa contoh cincin beserta alat pengukur jari pita ukur" (al-mazuroh) yang digunakan untuk mengetahui ukuran jari para Ikhwan yang berbeda-beda. Harga cincin ini adalah lima qursy yang dibayarkan oleh anggota kepada wakil wilayahnya atau kepada utusan tersebut.

Rihlah ke Saeed (Mesir Hulu) Akhir Ramadan 1354 H

Aku telah melakukan salah satu perjalanan ke Saeed selama bulan Ramadan tahun 1354 Hijriah, dan aku mengira itu adalah perjalanan yang kedua. Aku ditemani oleh saudara Abdurrahman Ridha Kahilah, dan beliau menulis tentang perjalanan ini di Majalah Ikhwan dengan kalimat berikut:

20 Ramadan Tahun 1354 H

Aku termasuk orang yang menikmati kesempatan menemani yang mulia Al-Mursyid Al-Am selama beberapa waktu ketika beliau datang ke Saeed pada akhir Ramadan yang lalu, dan aku menunggu sebagian Ikhwan menulis sesuatu tentang perjalanannya yang bermanfaat ini. Dan inilah penantianku yang telah lama, oleh karena itu aku bertekad menuliskan kalimat ini sebagai kenang-kenangan untuk perjalanan tersebut.

Aku mengetahui bahwa saudara Al-Mursyid akan datang dari Kairo pada hari kedua puluh dari bulan Ramadan setelah Zuhur. Maka aku pergi untuk menyambutnya, dan di sana aku menemukan sekumpulan Ikhwan yang digerakkan oleh rasa rindu untuk bertemu dengannya. Kereta pun tiba, lalu aku bergegas menemuinya, dan tampaklah wajahnya memancarkan kegembiraan serta tanda-tanda semangat yang sempurna terlihat jelas pada dirinya. Kami mengucapkan salam kepadanya, lalu keluar dari stasiun menuju kantor Ustadz Muhammad Khalaf Al-Husaini, seorang pengacara; ia adalah seorang pemuda Muslim yang cemburu (ghirah) terhadap agamanya lagi bangga dengannya. Saudara Al-Mursyid beristirahat di sana hingga sekitar jam empat, kemudian kami menaiki mobil menuju kota Al-Wasithi, yang termasuk dalam pinggiran kota Asyuth. Di sana kami disambut oleh keluarga Al-Ghadir yang mulia serta banyak dari tokoh kota tersebut. Di sana kami melaksanakan salat Magrib dan menyantap hidangan berbuka puasa kami yang diselingi oleh berbagai obrolan seputar ilmu, sastra, agama, dan akhlak.

Kami melaksanakan salat Isya di masjid kota tersebut, dan kami diimami oleh Ustadz besar Asy-Syaikh Ahmad Syariit, seorang pengajar di Ma'had Asyuth yang terkenal karena simpatinya kepada perkumpulan Islam ini. Masjid dipenuhi oleh ratusan manusia yang mendengarkan wejangan dan bimbingan. Maka saudara Al-Mursyid memberikan wejangan kepada mereka dengan nasihat yang tulus yang menggetarkan hati. Mereka merasakan kebutuhan mereka untuk beramal demi membebaskan diri dari kelemahan, perpecahan, dan ujian yang mereka hadapi. Aku melanjutkannya dengan sepatah kata tentang Ramadan beserta makna puasanya, serta tentang Lailatul Qadar beserta keagungan dan kemuliaannya. Kami meninggalkan masjid menuju sebuah rumah besar yang di dalamnya telah berkumpul jemaah yang agung. Itu adalah malam yang agung di mana saudara Al-Mursyid berbicara, sehingga beliau menghidupkan jiwa-jiwa, membangkitkan harapan, dan menjelaskan kepada manusia bagaimana mereka dapat menyelamatkan diri dari apa yang menimpa mereka akibat kelalaian. Sebagian Ikhwan turut serta bersamanya, maka mereka memetik prinsip-prinsip Islam yang luhur dan menjelaskan bagaimana kaum Muslimin telah mengabaikannya, padahal di dalamnya terdapat kebahagiaan dan ketenteraman mereka.

Aku sangat bahagia dengan malam ini, dan harapanku membubung tinggi, lalu aku berkata: "Seandainya manusia mengamalkan apa yang mereka dengar, niscaya kita akan menyongsong era kebangkitan menyeluruh yang meliputi kita semua, sehingga kita meraih cita-cita dan memenangkan kemuliaan serta kejayaan."

22 Ramadan Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid kembali ke Asyuth setelah beliau memenuhi Al-Wasithi dengan wejangan-wejangan berharganya. Beliau menetap di sana hingga jam satu malam, dan beberapa Ikhwan pergi bersamanya menuju Manfaluth lalu ke Al-Qushiyyah untuk mengunjungi cabangnya serta memeriksa keadaannya.

23 Ramadan Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid kembali ke Asyuth dengan penuh kesuksesan. Pada jam delapan malam, perkumpulan Syubbanul Muslimin [Pemuda Muslim] dipenuhi oleh sejumlah besar kaum terpelajar untuk mendengarkan ceramahnya yang berharga. Beliau menjadikannya sebagai penjelasan bahwa Islam menjamin seluruh prinsip yang menjamin kemajuan umat manusia serta kebahagiaan mereka. Beliau merincinya dengan rincian yang mengagumkan yang sangat menyenangkan para pendengar. Suaranya berirama merdu, penyampaiannya mudah lagi indah, dan kemampuannya dalam menghimpun ayat-ayat Al-Qur'an serta hadis-hadis Nabawi sangat luar biasa. Orang-orang banyak mengelu-elukannya dan mereka bersyukur kepada Allah yang telah memudahkan mereka untuk mendengarnya.

24 Ramadan Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid menunaikan salat Jumat di Masjid Al-Qadhi; ia adalah salah satu masjid terbesar di kota tersebut, yang paling luas, dan paling penuh sesak oleh para jemaah salat. Maka saudara Al-Mursyid bertindak sebagai khatib sekaligus pemberi wejangan, lalu beliau menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya sesuai kehendak Allah. Kami berharap agar hati jemaah dapat memadukan antara kegembiraan bersamanya dengan pengamalan terhadap wejangan dan bimbingannya.

Setelah salat, beliau berangkat dengan berkah Allah menuju Mesir Hulu di mana beliau menyambung silaturahmi dengan saudara-saudaranya di Al-Balyana, Aswan, dan kota-kota lainnya. Semoga Allah memberinya taufik dan meluruskan langkah-langkahnya.

30 Ramadan Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid kembali dari perjalanannya di Saeed Atas setelah Magrib. Banyak orang telah menunggunya di depan stasiun Abu Tiij yang beruntung dengan kehadirannya. Mereka berjalan dan mendatangi masjid tempat beliau melaksanakan salat Isya, dan dari sana menuju rumah Abdurrahman Mahmud As-Sulaimani yang telah dipadati oleh banyak orang. Malam itu adalah malam yang berbahagia di mana para qari dan khatib saling unjuk kebolehan, dan di dalamnya saudara Al-Mursyid menyampaikan wejangan yang agung yang diterima oleh hati dengan penuh kerinduan lagi harapan. Aku beruntung dapat menyampaikan sepatah kata setelahnya, kami memohon kepada Allah kemanfaatan dari keduanya.

Saudara Al-Mursyid bermalam di Abu Tiij dengan dikelilingi oleh hati dan jiwa masyarakat.

1 Syawal Tahun 1354 H

Hari Idulfitri yang berkah telah dimulai, dan itu adalah hari yang disaksikan oleh banyak orang. Saudara Al-Mursyid berkhotbah di Masjid Al-Farghali dan beliau mendapatkan penerimaan yang luar biasa serta apresiasi yang luas. Beliau kembali ke Asyuth pada waktu asar (ashil), dan perkumpulan Syubbanul Muslimin beruntung mendapatkannya sekali lagi. Beliau berkhotbah di klubnya, maka beliau melembutkan hati, menarik perhatian pendengaran, dan menaburkan mutiara-mutiaranya yang kami harapkan dapat bermanfaat, insya Allah.

Ketika tiba malam penutupan bagi masa mukimnya di Asyuth, malam itu dihadiri oleh banyak dari saudara-saudaranya yang ikhlas. Ustadz Asy-Syaikh Syariit adalah penunggang kudanya [tokoh utamanya], dan rumahnya yang makmur adalah medannya. Maka pembicaraan berkisar seputar Islam dan kaum Muslimin serta sarana-sarana untuk memperkuat mereka dan membangkitkan mereka.

2 Syawal Tahun 1354 H

Saudara Al-Mursyid mengemas barang-barangnya untuk singgah ke Manfaluth, dan dari sana menuju Kairo sebagai akhir dari perjalanannya yang bahagia lagi penuh kesiapan. Sesungguhnya hari-hari yang membahagiakan karena bertemu dengannya tidak akan pernah terlupakan selamanya, khususnya karena hari-hari itu adalah karena Allah di jalan Allah, serta sebuah jihad yang disyukuri lagi ikhlas tanpa ada riya dan sum'ah di dalamnya.

Ibadah Haji yang Pertama

Termasuk dari taufik Allah Tabaraka wa Ta'ala bahwa setelah disusunnya regulasi haji, telah mantap di dalam jiwaku untuk menunaikan kewajiban fardu tersebut. Meskipun hal itu sulit pada saat itu, namun Allah menghendaki untuk memudahkan urusan-urusan serta menetapkan bagiku ibadah haji dan ziarah pada tahun 1354 Hijriah bertepatan dengan tahun 1936 Masehi. Majalah mengisyaratkan azam [tekad] ini dengan kalimat berikut:

Yang Mulia Al-Mursyid Al-Am dalam Perjalanan Menuju Tanah Suci

Ustadz Al-Mursyid akan menunaikan kewajiban haji dan ziarah pada tahun ini, insya Allah. Perjalanan beliau beserta para Ikhwan yang menyertainya dalam perjalanan yang berkah ini adalah dengan menggunakan kapal laut yang meninggalkan pelabuhan Suez pada awal bulan Zulhijah 1354 H – 24 Februari 1936 M. Beliau akan berangkat dari Kairo pada hari Minggu dan menghabiskan satu malam di Suez untuk menyampaikan ceramah di gedung klub dengan tema: "Haji sebagai Olahraga Besar bagi Fisik dan Jiwa."

Yang akan menggantikannya di Kantor Irsyad Am selama masa kepergiannya adalah yang mulia Asy-Syaikh Radhwan Muhammad Radhwan, anggota biro tersebut.

Urusan Palestina dan Ikhwan... Memorandum 1936

Pada masa-masa ini, urusan Palestina mulai bergerak, dan rakyat Palestina yang berani lagi perkasa melakukan perlawanan terhadap tindakan-tindakan Inggris yang zalim yang bersekongkol dengan Yahudi dalam segala hal dan mengharamkan Arab dari segala hal.

Lembaga-lembaga politik dan partai-partai saat itu berpaling sepenuhnya dari upaya membela Palestina secara serius, dikarenakan adanya fanatisme nasionalisme khusus yang belum berkembang menjadi perasaan yang meluap-luap demi hak keAraban dan ikatan Islam. Tidak ada yang bergerak untuk Palestina atau yang serupa dengannya dari negeri-negeri jiran melainkan lembaga-lembaga Islam.

Dari sinilah Ikhwanul Muslimin maju untuk membela Palestina yang sedang bergolak lagi berjihad dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Mereka mencurahkan upaya mereka untuk hal itu secara materi maupun maknawi, baik dari segi propaganda, orasi, publikasi, pengumpulan dana, dan lain-lain. Untuk tujuan tersebut, dibentuklah komite-komite dan delegasi-delegasi yang bekerja sekuat kemampuan mereka, dan merekam itu semua di Majalah Ikhwanul Muslimin pada waktunya, yaitu pada tahun keempat penerbitannya.

Kami akan menukil dari majalah tersebut sebagian dari upaya-upaya ini untuk pencatatan dan sejarah:

Komite Pusat Pusat untuk Membantu Palestina

Pemilik kemuliaan yang terhormat, Ustadz Al-Mursyid Al-Am bagi perkumpulan Ikhwanul Muslimin menyampaikan undangan kepada para anggota perkumpulan di Kairo untuk berkumpul pada pertengahan jam sembilan malam pada hari Sabtu yang bertepatan dengan tanggal 25 Shafar al-Khair tahun 1355 H. Pada waktu yang telah ditentukan, undangan tersebut dipenuhi oleh sekumpulan besar Ikhwan dan mereka berkumpul di salah satu aula perkumpulan di bawah pimpinan yang mulia Ustadz Al-Mursyid Al-Am, yang kemudian naik ke atas mimbar dan mulai menjelaskan kepada Ikhwan apa yang menimpa bangsa Arab yang berani dari penduduk Palestina, yang mengikat kita dengan mereka beberapa ikatan agama, bahasa, dan keAraban. Kemudian beliau menyeru mereka demi kewajiban kemanusiaan dan pertolongan Islam agar mereka mengulurkan tangan bantuan kepada saudara-saudara mereka warga Palestina, serta agar mereka bekerja untuk membentuk sebuah komite di antara mereka guna mengorganisasi bantuan ini, menyebarkan propaganda, dan menggerakkan kedermawanan tangan-tangan untuk mendermakan harta demi tujuan yang agung ini. Kemudian para Ikhwan saling bertukar pikiran dan berdiskusi, serta setiap orang mengusulkan apa yang terlintas di benaknya, hingga urusan tersebut berakhir dengan dibentuknya sebuah komite di antara mereka.

Komite tersebut menyetujui pelaksanaan usulan-usulan berikut:

Pertama: Menerbitkan proyek pembentukan komite ini di surat kabar.

Kedua: Menerbitkan seruan dari komite kepada bangsa Mesir dan kaum Muslimin pada umumnya.

Ketiga: Mengirimkan telegraf protes kepada Komisioner Tinggi di Mesir dan Palestina serta menerbitkan salinannya di surat kabar, dan mengirimkan telegraf lain kepada yang mulia Mufti selaku ketua Komite Tinggi Arab.

Keempat: Menyiarkan pernyataan dari komite kepada seluruh Ikhwan dan rakyat.

Kepada Pemilik Yang Mulia Omar Toussoun

Komite telah melayangkan surat ini kepada Pangeran yang mulia lagi agung, Pangeran Omar Toussoun:

"Komite Pusat untuk Membantu Palestina yang beraliansi dengan perkumpulan Ikhwanul Muslimin merasa terhormat—sebagaimana kebiasaan bangsa Mesir bahkan dunia Islam untuk mengadukan kepedihan kepada keluhuran simpati Anda dalam situasi-situasi sulit, dan meminta petunjuk dari pandangan Anda yang tegas setiap kali badai ujian melanda—untuk menyampaikan surat ini kepada keluhuran Anda guna mengarahkan perhatian Anda yang tinggi terhadap apa yang dialami oleh para Ikhwan mujahidin, pahlawan Palestina, berupa kepedihan kematian dan kemelaratan yang ditimpakan oleh kekuatan-kekuatan zalim kepada mereka.

Dan sesungguhnya Yang Mulia Pangeran mengerti bersama kami bahwa Palestina adalah tetangga yang mulia, dan di dalamnya terdapat Baitul Maqdis yang disepakati oleh kaum Muslimin dan Kristiani untuk diagungkan, dilindungi, dan dibela kehormatannya, sangat layak jika Yang Mulia Pangeran yang agung Omar Toussoun berada di barisan terdepan kami untuk memberikan kebajikan dan bantuan yang memungkinkan kepada mereka.

Komite Pusat untuk Membantu Palestina dibentuk dari para pemuda perkumpulan Ikhwanul Muslimin yang telah membaiat Allah di atas ketakwaan dan pengorbanan demi kejayaan agama. Telah dibentuk di antara mereka komite-komite untuk berkhotbah di masjid-masjid, mengumpulkan apa yang didermakan oleh kaum Muslimin, dan menyebarkan propaganda yang luas demi kesuksesan tujuan yang agung ini. Kami menghadapkan surat ini kepada keluhuran Anda seraya berharap agar Palestina yang terluka mendapatkan kebajikan dan simpati Anda sebagaimana yang didapatkan oleh Habasyah [Etiopia] berupa penyembuh yang lembut dan balsem yang memulihkan.

Kami memiliki harapan lain, agar Anda berkenan—kapasitas Anda sebagai salah satu dari dua ketua Komite Bantuan Habasyah—untuk mengirimkan sisa dana yang dikumpulkan untuk tujuan membantu orang-orang Habasyah kepada Komite Tinggi Arab di Palestina, dan Allah akan membalas Anda dengan balasan yang paling sempurna.

Silakan terima, wahai Pemilik Yang Mulia, rasa hormat saya yang setinggi-tingginya.

Hasan al-Banna

Ketua Perkumpulan Ikhwanul Muslimin

Kepada Pemilik Kebahagiaan Anba Yoannis

Komite juga melayangkan surat berikut kepada Pemilik Kebahagiaan Anba Yoannis, Patriark Koptik Ortodoks di Mesir:

"Hadirat Pemilik Kebahagiaan Anba Yoannis, Ketua Komite Bantuan Habasyah.

Dengan penuh hormat, Ketua Komite Bantuan Palestina di perkumpulan Ikhwanul Muslimin di Kairo merasa terhormat untuk menyampaikan harapan yang mendalam ini kepada kebahagiaan Anda, didorong oleh apa yang diketahui pada diri kebahagiaan Anda berupa perasaan rahmat yang luhur dan kebajikan bagi kemanusiaan yang tertindas, perasaan yang mendorong Anda untuk menanggung kesulitan demi membantu Habasyah.

Dan Anda mengetahui, wahai Pemilik Kebahagiaan, bahwa Palestina, saudara yang mulia, tempat lahirnya syariat dan para nabi, telah dihantam oleh kekuatan zalim, sehingga darah putra-putranya dari kalangan Muslim dan Kristiani mengalir sama rata, rumah-rumah mereka dihancurkan, kepentingan mereka dihentikan, dan sumber-sumber mata pencaharian mereka dihancurkan, dan sesungguhnya Baitul Maqdis adalah sasaran utama dari agresi yang nyata ini.

Orang-orang Yahudi berusaha dengan tindakan mereka ini untuk menguasainya dan menguasai tempat-tempat suci lainnya yang telah disepakati oleh kaum Muslimin dan Kristiani untuk disucikan, diagungkan, dan dibela Muslimin.

Dan kami di Mesir, dengan rasa sedih yang mendalam, tidak memiliki apa pun kecuali mempersembahkan apa yang didermakan oleh tangan-tangan berupa uang bantuan untuk para pahlawan tersebut yang telah didera kelaparan, bahkan Komite 'Logistik' (at-Tamwin) untuk bantuan di Yerusalem menyalurkan setiap hari seratus empat puluh qanthar tepung untuk memberi makan orang-orang yang lapar, itu belum termasuk apa yang disalurkan oleh komite-komite lain yang banyak.

Oleh karena itu, kami menghadap kepada kebahagiaan Anda seraya berharap agar Anda meliputi para mujahidin pahlawan ini dengan simpati kebapakan Anda, lalu Anda memerintahkan untuk menyokong putra-putra Palestina dengan mengirimkan sisa dana komite bantuan Habasyah kepada Komite Tinggi Arab di Yerusalem. Kami meyakini bahwa para anggota komite yang terhormat akan merasa bahagia untuk mewujudkan harapan ini, sehingga dengan demikian mereka telah melakukan pelayanan bagi dua tetangga yang mulia pada waktu yang sama dalam ujian yang serupa.

Dan jika Anda memandang lebih dari itu untuk berkenan mengajak orang-orang dermawan dari kalangan bangsa Mesir guna menyumbang bagi tujuan yang luhur ini, maka hal itu adalah apa yang biasa dilakukan dan diharapkan dari Anda, dan bagi Anda ucapan terima kasih yang berlipat ganda.

Silakan terima rasa hormat yang setinggi-tingginya.

Yang tulus, Hasan Ahmad al-Banna

Ketua Komite Bantuan Palestina

di Perkumpulan Ikhwanul Muslimin

Dari Tuan Awni Bek Abdul Hadi, Sekretaris Jenderal Komite Tinggi Arab di Yerusalem kepada Ikhwanul Muslimin

Telah diterima surat ini dari Tuan Awni Abdul Hadi:

"Hadirat saudara yang utama dan nasionalis yang cemburu, Tuan Hasan al-Banna—semoga Allah menjaganya—Mursyid Ikhwanul Muslimin – Mesir.

Sesungguhnya Komite Arab di Palestina mengucapkan terima kasih kepada hadirat Anda atas perasaan mulia ini yang terkandung dalam telegraf Anda tertanggal Mei tahun 1936 sebagai ungkapan simpati terhadap urusan Palestina yang sedang berjihad. Percayalah bahwa ruh yang baik yang diembuskan oleh telegraf Anda telah menambah kekuatan bagi jiwa kami dan menambah keteguhan hati kami untuk terus melangkah hingga akhir dalam jihad kami melawan kezaliman dan kesewenang-wenangan. Sungguh telegraf tersebut memiliki dampak terbesar di dalam jiwa rakyat Arab Palestina yang meyakini bahwa saudara-saudaranya di Mesir dan tempat lainnya tidak akan tertinggal untuk membelanya saat dibutuhkan.

Dan sesungguhnya saya berharap agar Anda menerima penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dari Komite Tinggi Arab atas simpati dan perasaan yang mulia ini.

Wassalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Sekretaris Jenderal

Dan Mufti Besar Tuan Amin al-Husseini telah mengirimkan surat ini kepada komite:

Dari Yang Mulia Mufti Besar Tuan Al-Amin al-Husseini kepada Ikhwanul Muslimin.

"Hadirat para Tuan yang utama, Ketua dan para Anggota perkumpulan Ikhwanul Muslimin yang terhormat – Kairo.

Assalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh, amma ba'du:

Telah menulis kepada kami sejumlah sahabat di Kairo mengenai usaha-usaha yang patut disyukuri dan amal-amal kebajikan yang kalian lakukan demi membela negeri Islam Arab yang suci ini 'Palestina', yang sedang melakukan jihadnya demi kebebasan dan kemerdekaannya untuk warisan Islam dan keAraban yang abadi di dalamnya.

Sebagaimana kami juga telah membaca di surat kabar Mesir tentang banyak dari usaha-usaha dan amal-amal berkah tersebut yang kalian lakukan dengan penuh semangat dan aktivitas. Maka sudah sepatutnya bagi kami untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang kalian usahakan dan menghargai perasaan kalian yang meluap-luap serta semangat Islam kalian dengan penghargaan yang semestinya. Kami memberi tahu kalian bahwa opini publik Arab di Palestina telah menerima keputusan-keputusan kalian yang bijaksana serta langkah-langkah kalian yang terpuji dengan ucapan terima kasih yang melimpah dan pujian yang banyak. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar menyelimuti amal-amal kalian yang berkah dengan kesuksesan dan keberhasilan, serta membalas kalian dengan balasan yang paling sempurna atas keutamaan dan kedermawanan kalian.

Dan kami tidak meragukan bahwa usaha kalian yang disyukuri demi membela negeri suci ini serta mengangkat kezaliman darinya akan memiliki dampak yang efektif dan akan membuahkan kebaikan yang banyak dengan izin Allah. Percayalah bahwa dengan tindakan itu kalian sedang mempersembahkan pelayanan terbesar bagi kaum Muslimin dan Arab seluruhnya yang hati mereka rindu kepada Kiblat [Pertama] dan Masjidil Aqsa di negeri yang sabar lagi berjihad ini, yang sedang mengalami penderitaan yang berat dan menanggung berbagai kesulitan demi mempertahankan warisan Islam yang abadi di Palestina.

Maka kami mengulangi ucapan terima kasih kepada hadirat kalian semua, dan kami memohon kepada-Nya Ta'ala agar memberikan taufik kepada kita semua menuju apa yang di dalamnya terdapat kebaikan dan keberuntungan.

Wassalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Muhammad Amin al-Husseini

Ketua Komite Tinggi Arab

Qunut dalam Salat untuk Palestina

Kantor Irsyad telah menyeru umat untuk melakukan qunut demi Palestina dengan formula ini:

Qunut disyariatkan ketika terjadi bencana (nawazil) yang menimpa kaum Muslimin, para imam [ulama mazhab]—semoga Allah meridai mereka—telah membolehkannya, memandangnya baik, dan menganjurkannya, serta telah datang hadis-hadis yang sahih mengenainya. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas—semoga Allah meridai keduanya—:

«قَنَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالعَصْرِ وَالمَغْرِبِ وَالعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فِي الرَّكْعَةِ الأَخِيرَةِ، يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ»

Terjemahan Hadis: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan qunut selama satu bulan berturut-turut dalam salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh di setiap akhir salat apabila beliau mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah' pada rakaat terakhir, beliau mendoakan keburukan bagi kabilah-kabilah dari Bani Sulaim, yaitu Ri'l, Dzakwan, dan 'Ushaiyah [Merupakan bentuk tasghir [pengecilan] dari kata 'Asha, yang menjadi nama bagi sebuah kabilah dari Bani Sulaim], dan orang-orang di belakangnya mengaminkan." HR. Abu Dawud, Imam An-Nawawi mengatakan: dengan sanad yang hasan sahih.

Dan bencana Palestina termasuk di antara bencana yang paling berat yang menimpa kaum Muslimin seluruhnya, yang paling besar dampaknya di dalam hati mereka, dan yang paling sengit dalam menimpa saudara-saudara mereka, tanah air mereka, serta jiwa mereka. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu laksana satu tubuh, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.

Oleh karena itu, Kantor Irsyad Am mengusulkan agar kaum Muslimin berqunut pada rakaat terakhir dari setiap salat setelah ruku', dengan qunut yang di dalamnya mereka berdoa untuk kemenangan penduduk Palestina serta kekalahan musuh-musuh dan para penentang mereka.

Dan hendaklah formula qunut ini seperti bentuk berikut ini sebagai contoh: "Ya Allah, Penolong orang-orang yang meminta pertolongan, Pelindung orang-orang yang mengungsi, Pembela orang-orang yang tertindas, penangkanlah saudara-saudara kami penduduk Palestina...

...Ya Allah, hilangkanlah kesusahan mereka, kokohkanlah urusan mereka, kalahkanlah musuh-musuh mereka, dan timpakanlah azab yang keras kepada orang-orang yang memusuhi mereka, dan jadikanlah azab itu atas mereka berupa tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun paceklik Nabi Yusuf, dan angkatlah kemurkaan serta kemarahan-Mu dari kami, wahai Tuhan semesta alam, dan semoga Allah memberikan salawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad yang ummi, serta kepada keluarga dan para sahabatnya, dan berikanlah keselamatan."

Dan dalam qunut Subuh atau Witir dibacakan doa yang ma'tsur [diriwayatkan] dan ditambahkan kepadanya apa yang sesuai dengan makna yang telah disebutkan di atas, semoga Allah Tabaraka wa Ta'ala mengabulkan doa kita dan menguatkan saudara-saudara kita dengan pertolongan dari sisi-Nya. Kantor [Biro Pusat] beserta orang-orang yang mengikutinya akan mengambil petunjuk ini hingga hilangnya duka dan kembalinya ketenteraman, dan cukuplah Allah bagi kita dan Dialah sebaik-baik Pelindung.

Delegasi-Delegasi Musim Panas

Kantor telah bertekad untuk memanfaatkan divisi mahasiswa yang beraliansi dengannya dan memberikan kemanfaatan bagi mereka juga. Maka kantor menyetujui sebuah proyek untuk mengutus mereka ke wilayah pedesaan guna menyerukan pemikiran Islam di satu waktu, dan menggalang bantuan untuk Palestina di waktu yang lain. Proyek tersebut adalah dengan bentuk sebagai berikut:

Delegasi Musim Panas Ikhwanul Muslimin Kepada Orang-Orang Tercinta di Pedesaan yang Indah

Ikhwanul Muslimin adalah orang-orang yang paling pertama mengimani hak saudara-saudara mereka atas waktu-waktu mereka, perkataan mereka, dan bakat-bakat mereka. Maka mereka memanfaatkan setiap kesempatan dari waktu senggang mereka untuk berhijrah kepada orang-orang tercinta di kota-kota Mesir, ibu kota, dan desa-desanya; mereka duduk bersama mereka, berbagi perasaan dengan mereka, saling menasihati di antara mereka, dan memperkokoh tali persaudaraan antara petani di sawah, pekerja di pabrik, pedagang di toko, serta antara mahasiswa, pegawai, dan dai yang menyeru kepada kebaikan dan bimbingan.

Sungguh, orang yang pertama kali melakukan kewajiban ini adalah Al-Ustadz Al-Mursyid, yang mana beliau—semoga Allah menguatkannya—tidaklah mendapatkan salah satu dari masa liburannya, khususnya liburan musim panas, melainkan beliau akan berpindah dari satu kota ke kota lain dan dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan dakwah dan membangunkan pemikiran-pemikiran.

Dan Kantor Umum Ikhwanul Muslimin pada tahun ini memandang perlu memilih sebuah delegasi dari para tokoh di dua universitas, yaitu Al-Azhar dan Universitas Mesir, untuk membagi wilayah Mesir dan berkeliling di dalamnya guna menunaikan kewajiban dakwah menuju Allah serta menyebarkan kebaikan dan pembinaan di antara warga negara yang mulia dari kalangan Ikhwan kami yang tercinta. Maka dibentuklah sepuluh komite untuk tujuan tersebut yang akan melaksanakan tugasnya berdasarkan pembagian yang tertera setelah ini, insya Allah.

Harapan kami kepada para Ikhwan dan para ketua cabang mereka adalah agar mereka memudahkan tugas saudara-saudara mereka ini, membantu mereka dalam tujuan mereka yang merupakan tujuan bersama bagi semuanya, serta membekali mereka dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan yang dapat membantu kesuksesan tujuan mulia di mana mereka berhijrah karenanya.

Dan ia adalah sebuah hijrah di jalan Allah yang kami harapkan menjadi pahala bagi mereka, menjadi penyebaran bagi dakwah, dan menjadi kebaikan bagi negeri, insya Allah.

(A) Komite-Komite

1 - Komite (A) terdiri dari Tuan Muhammad Abdul Hamid (Fakultas Sastra) dan Tuan Musthafa Abu Rayyah (Fakultas Teknik): Wilayah Mudiriyah [Provinsi] Al-Buhairah beserta distrik-distriknya: Kafr ad-Dawwar, Abu Humush, Damanhur, Rasyid [Rosetta], Al-Mahmoudiyah, Ad-Dilinjat, Shubra Khit, Itay al-Barud, Kaum Hamadah, Abu al-Matamir.

2 - Komite (B) terdiri dari Tuan Ahmed Efendi Rifa'at (Siswa Tingkat Akhir) dan Tuan Ali Efendi Muthawi' (Fakultas Kedokteran): Provinsi Al-Gharbiyah beserta distrik-distriknya: Fuwah, Disuq, Kafr asy-Syaikh, Kafr az-Zayyat, Thantha, Al-Mahallah al-Kubra, Thantha, As-Sanithah, Zifta.

3 - Komite (C) terdiri dari Tuan Thahir Abdul Muhsin (Fakultas Perdagangan) dan Tuan Ibrahim Abu an-Naja (Fakultas Kedokteran): Provinsi Ad-Daqahliyah dan Kegubernuran Dimyath [Damietta], sedangkan distrik-distrik Ad-Daqahliyah adalah: Faraskur, Dikarnis, Al-Manzilah, Al-Manshurah, Aja, Mit Ghamr, As-Sinbillawain.

4 - Komite (D) terdiri dari Tuan Shiddiq Efendi Amin (Siswa Tingkat Akhir) dan Tuan Muhammad Efendi Sulaiman (Fakultas Kedokteran): Provinsi Giza, Al-Fayyum, dan Bani Suwaif beserta distrik-distriknya: Giza, Al-Ayat, Al-Shaff, Al-Fayyum, Itsa, Sinnuris, Ibsyaway, Bani Suwaif, Al-Wasithi.

5 - Komite (E) terdiri dari Tuan Hasan Efendi As-Sayyid (Fakultas Hukum) dan Tuan Abdul Hakim Efendi Abidin (Fakultas Sastra): Al-Minya beserta distrik-distriknya: Al-Fasyn, Maghaghah, Bani Mazar, Samalut, Al-Minya, Abu Qurqas, dan ditambahkan kepadanya wilayah dari Asyuth yaitu: Mallawi, Dairut, dan Manfaluth saja.

6 - Komite (F) terdiri dari Tuan Ahmad Fathi Sulaiman (Fakultas Perdagangan) dan Tuan Abdul Muhsin (Fakultas Sastra): sisa wilayah Asyuth dan Provinsi Jirja, sedangkan distrik-distriknya adalah: Asyuth, Abnub, Abu Tiij, Al-Badari, Thama, Thahta, Suhaj, Akhmim, Jirja, Al-Balyana.

7 - Komite (G) terdiri dari Tuan Syakir Efendi Muhammad Hasan dan Tuan Fahmi Abu Ghadir (Fakultas Hukum): dua Provinsi Qena dan Aswan beserta distrik-distrik keduanya: Nag Hammadi, Disyna, Qena, Qush, Luxor, Esna, Edfu, Aswan.

8 - Komite (H) terdiri dari Tuan Syaikh Hamid Syariit dan Tuan Syaikh Abdul Bari Khatthab (Universitas Al-Azhar): Provinsi Al-Munufiyah dan Al-Qalyubiyah beserta distrik-distrik keduanya: Syibin al-Kaum, Quwaisna, Minuf, Tala, Asymun, Syibin al-Qanathir, Toukh, Banha, Qalyub.

9 - Komite (I) terdiri dari Tuan Syaikh Muhammad al-Banna dan Tuan Syaikh Nuruddin Salim (Universitas Al-Azhar): Provinsi Asy-Syarqiyah dan Terusan Suez beserta distrik-distriknya: Al-Zaqaziq, Minya al-Qamh, Bilbais, Hihya, Kafr Saqr, Faqus, Suez, Ismailia, Port Said.

10 - Komite (J) terdiri dari Tuan Syaikh Muhammad Ahmad Syariit (Universitas Al-Azhar) dan Tuan Najati asy-Syafi'i (Fakultas Sastra): Aleksandria.

(B) Instruksi-Instruksi

1 - Dianggap sebagai anggota delegasi cadangan adalah para Tuan: Syaikh Abdul Lathif asy-Sya'sya'i (Al-Azhar), Abdul Hasib Efendi Syahatah, Ahmad Abdul Aziz Jalal (Fakultas Sastra), Ismail al-Junaidi, Mahmud Abdul Halim (Fakultas Pertanian), Muhammad Muhammadin Efendi dan Haidar al-A'sar Efendi (Fakultas Hukum), serta Salahuddin Utsman Efendi (Fakultas Teknik).

2 - Tujuh komite pertama akan melaksanakan tugasnya mulai hari Kamis, 2 Juli tahun 1936, sedangkan tiga komite terakhir akan melaksanakan tugasnya mulai hari Kamis tanggal 16 Juli. Masa tugas delegasi adalah satu bulan semenjak tanggal tersebut.

3 - Komite menuju distrik-distrik utama yang telah ditentukan di dalam daftar komite, dan komite dibolehkan berinisiatif mengunjungi kota-kota penting jika diundang atau jika terdapat situasi yang mendorong untuk mengunjunginya.

4 - Surat tugas diserahkan kepada para anggota komite pada hari Kamis, 18 Juni tahun 1936 setelah berakhirnya acara akhir tahun.

5 - Latihan mengenai risalah ini dimulai pada hari Kamis, 25 Juni setelah salat Magrib setiap hari di gedung perkumpulan sampai hari Rabu tanggal 1 Juli. Demikian pula untuk tujuh komite pertama dan tiga komite terakhir jika para anggotanya melihat adanya kemampuan pada diri mereka untuk itu, namun jika uzur bagi mereka, maka latihan mereka dimulai pada hari Kamis, 9 Juli tahun 1936.

6 - Jika terjadi uzur mendadak pada salah satu anggota, maka kami berharap agar mengabarkannya kepada kami dalam waktu yang tidak melewati 20 Juni agar kami dapat mengambil tindakan yang diperlukan untuk memberi tahu anggota cadangan guna menyempurnakan komite.

7 - Jika ada sebagian anggota yang memiliki usulan-usulan, maka kami berharap agar menyampaikannya kepada kami paling lambat tanggal 20 Juni juga agar memungkinan untuk mempertimbangkannya dan saling memahami isinya saat latihan.

Catatan: Kami akan menerbitkan di waktu yang akan datang—insya Allah Ta'ala—mengenai program perjalanan direktur tim kepanduan Ikhwanul Muslimin untuk berkeliling ke cabang-cabang jemaah guna memeriksa urusan timnya. Adapun yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid Al-Am, maka sebagian besar waktunya pada musim panas ini akan dihabiskan di Kairo dikarenakan banyaknya pekerjaan yang menuntut keberadaan beliau di sana, dan hal itu akan diselingi oleh kunjungan-kunjungan dari beliau ke cabang-cabang jemaah dan wilayah-wilayahnya.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat