Mudzakirat Da'wah Wa Da'iyah (Memoar Al-Banna) (4)
Acara Peringatan Maktab Al-Irsyad Al-'Am
Maktab
Al-Irsyad Al-'Am untuk perkumpulan Ikhwanul Muslimin menghidupkan malam Senin
tanggal dua puluh tujuh dari bulan Rajab yang agung dengan mengadakan acara
peringatan Isra dan Mikraj. Orator dalam acara tersebut adalah Yang Mulia
Al-Ustadz Asy-Syekh Hasan Effendi Al-Banna (Al-Mursyid Al-'Am perkumpulan) dan
Yang Mulia Al-Ustadz Asy-Syekh Mustafa At-Thair (Wakil Maktab Al-Irsyad
Al-'Am). Rahasia di balik penundaan acara dari yang semestinya malam Ahad
disebabkan karena adanya undangan kepada Yang Mulia Al-Mursyid dan Wakil untuk
menghidupkan acara berkah ini di tempat-tempat yang lain.
Di
antara apa yang disusun oleh Maktab bagi Ikhwan adalah merangkum bagi mereka
kaidah-kaidah fikrah Islamiah baik secara iktikad [keyakinan] maupun amal dalam
beberapa baris kalimat yang dinamakan dengan istilah "Aqidatuna"
(Akidah Kami), yang kemudian diterbitkan secara berkala pada sampul majalah Al-Ikhwan,
dan berikut adalah teksnya:
- Aku berkeyakinan bahwa
segala urusan seluruhnya adalah milik Allah, dan bahwa junjungan kita Nabi
Muhammad ﷺ
adalah penutup para rasul-Nya untuk seluruh umat manusia, dan bahwa
balasan akhirat adalah haq [nyata], dan bahwa Al-Qur'an adalah kitab
Allah, dan bahwa Islam adalah undang-undang yang menyeluruh bagi tatanan
dunia dan akhirat. Dan aku berjanji untuk menetapkan bagi diriku wirid
bagian membaca Al-Qur'an al-Karim, berpegang teguh pada sunah yang suci,
serta mempelajari sirah nabawiyah dan sejarah para sahabat yang mulia.
- Aku berkeyakinan bahwa
istikamah, keutamaan, dan ilmu termasuk di antara rukun-rukun Islam. Dan
aku berjanji untuk menjadi orang yang istikamah, menunaikan ibadah-ibadah,
menjauhi kemungkaran-kemungkaran, menjadi orang yang memiliki keutamaan,
menghiasi diri dengan akhlak yang baik, menanggalkan akhlak yang buruk,
memperhatikan ibadah-ibadah islami sedapat mungkin, serta mendahulukan
cinta dan kasih sayang daripada saling menggugat dan memperkarakan di
pengadilan. Aku tidak akan mengadukan urusan ke pengadilan kecuali dalam
keadaan darurat, dan aku akan merasa bangga dengan syiar-syiar Islam serta
bahasanya, serta bekerja untuk menyebarluaskan ilmu-ilmu dan pengetahuan
yang bermanfaat di lapisan-lapisan umat.
- Aku berkeyakinan bahwa
seorang muslim dituntut untuk bekerja dan berusaha mencari nafkah, dan
bahwa di dalam harta yang diusahakannya terdapat hak yang diwajibkan bagi
peminta-minta dan orang yang tidak berdaya. Dan aku berjanji untuk bekerja
mencari penghidupanku dan berhemat untuk masa depanku, menunaikan zakat
hartaku, mengkhususkan sebagian dari pemasukanku untuk amal kebajikan dan
kebaikan, serta mendukung setiap proyek ekonomi yang bermanfaat, dan aku
akan mendahulukan produk-produk negeriku serta saudara seagama dan
se-tanah airku, tidak akan bertransaksi dengan riba dalam urusan apa pun
dari urusan-urusanku, dan tidak akan menjerumuskan diri dalam barang-barang
sekunder/mewah di luar batas kemampuanku.
- Aku berkeyakinan bahwa
seorang muslim bertanggung jawab atas keluarganya, dan bahwa termasuk
kewajibannya adalah menjaga kesehatan, akidah, serta akhlak keluarganya.
Dan aku berjanji untuk mengupayakan hal itu segenap kemampuanku,
menyebarluaskan ajaran Islam di tengah-tengah anggota keluargaku, tidak
memasukkan anak-anakku ke sekolah mana pun yang tidak menjaga akidah dan
akhlak mereka, serta memboikot seluruh surat kabar, publikasi, buku,
lembaga, kelompok, dan klub yang memusuhi ajaran Islam.
- Aku berkeyakinan bahwa
termasuk kewajiban seorang muslim adalah menghidupkan kembali kejayaan
Islam dengan membangkitkan bangsa-bangsanya dan mengembalikan syariatnya,
dan bahwa panji Islam harus menguasai umat manusia. Serta termasuk tugas
setiap muslim adalah mendidik dunia di atas kaidah-kaidah Islam. Dan aku
berjanji untuk berjihad di jalan penunaian risalah ini sepanjang hayatku,
serta mengorbankan di jalannya segala apa yang aku miliki.
- Aku berkeyakinan bahwa kaum
muslimin seluruhnya adalah umat yang satu, yang diikat oleh akidah Islam,
dan bahwa Islam memerintahkan pemeluknya untuk berbuat baik kepada seluruh
manusia. Dan aku berjanji untuk mencurahkan kemampuanku dalam memperkuat
ikatan persaudaraan di antara sesama kaum muslimin, serta menghilangkan
kerenggangan dan perselisihan di antara golongan maupun sekte mereka.
- Aku berkeyakinan bahwa
rahasia di balik kemunduran kaum muslimin adalah karena jauhnya mereka
dari agama mereka, dan bahwa asas perbaikan adalah kembali kepada
ajaran-ajaran Islam beserta hukum-hukumnya, dan hal itu sangat mungkin
terwujud jika kaum muslimin mengupayakannya, dan bahwa fikrah Ikhwanul
Muslimin dapat mewujudkan tujuan ini. Dan aku berjanji untuk teguh di atas
prinsip-prinsipnya, ikhlas kepada siapa saja yang bekerja untuknya, dan
akan terus menjadi prajurit yang siap berkhidmat di jalannya atau mati di
jalan tersebut.
Akidah
Kami di Mata Seorang Penulis Eropa Pendahuluan
Termasuk
hal yang menarik adalah salah satu nomor dari majalah tersebut jatuh ke tangan
Al-Akh Al-Ustadz 'Izzat Rajih, yang saat ini menjabat sebagai pengawas di
Kementerian Pendidikan. Pada masa itu, beliau berstatus sebagai mahasiswa di
Universitas Sorbonne, Prancis. Beliau menyodorkan "Akidah Kami"
kepada dosennya, Ernest Renan, yang merupakan cucu dari Renan senior, lalu sang
dosen menggambarkan akidah tersebut dengan untaian kata yang halus dan
mendalam. Dr. 'Izzat kemudian mengirimkan surat mengenai peristiwa tersebut
kepada saudaranya, Al-Ustadz As'ad Rajih, anggota Pusat Umum Ikhwanul Muslimin
di Kairo, lalu majalah Al-Ikhwan lantas menerbitkannya di dalam sebuah
artikel tajuk rencana yang teksnya sebagai berikut:
Akidah
Ikhwanul Muslimin Menurut Pandangan Profesor Ernest Renan, Profesor Studi Arab
dan Islam di Sorbonne, Paris
Saudaraku
tercinta,
Amma
ba'du. Suatu hari, ketika saya berada di Masjid Paris, di antara surat kabar
dan majalah yang dipajang di sana, saya menemukan surat kabar Al-Ikhwan
Al-Muslimun yang sudah sering Anda ceritakan kepada saya beserta para
tokohnya sewaktu saya masih di Mesir. Di bawah tajuk "Akidah Kami",
saya membaca berbagai poin keyakinan dan ikrar komitmen yang membangkitkan rasa
kagum dan apresiasi mendalam di dalam jiwa saya. Setelah melakukan studi umum
terhadap prinsip-prinsip ini, saya menilai bahwa prinsip-prinsip ini sangat
layak untuk dipresentasikan—setelah diterjemahkan—kepada Profesor Ernest Renan,
Profesor Studi Arab dan Islam di Universitas Sorbonne, guna meminta pandangannya.
Saya pun melaksanakannya, lalu Profesor mengambilnya dan mengembalikannya
beberapa hari kemudian. Beliau menuliskan catatan di atasnya yang terjemahannya
sebagai berikut:
"Sesungguhnya
kata-kata ini memiliki kajian dan tujuan yang sangat mendalam. Tidak diragukan
lagi bahwa kata-kata ini bersumber dari metode yang dirumuskan oleh Muhammad ﷺ dan berhasil beliau
laksanakan, sehingga dengannya beliau mendirikan sebuah umat, negara, dan
agama. Metode ini telah ditambahkan dengan hal-hal yang selaras dengan tuntutan
zaman, dengan tetap terikat pada spirit Islam. Dalam keyakinan saya, tidak ada kejayaan
bagi kaum muslimin hari ini kecuali dengan mengikuti jalan yang sama dengan
yang ditempuh oleh Muhammad ﷺ
dan para sahabatnya. Akan tetapi, untuk mewujudkan hal ini pada kondisi kaum
muslimin saat ini merupakan hal yang jauh, namun hal ini tidak berarti harus
berputus asa dan berpangku tangan dari beramal." Upaya saya hingga hari
ini belum membuahkan hasil untuk menentukan topik tesis yang akan saya ajukan
dalam ujian doktoral, dan saya tidak menyangkal bahwa akidah ini beserta
komentar Profesor terhadapnya memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam
mengarahkan pemikiran saya untuk memilih topik tesis, dan saya akan memberi
tahu Anda mengenai topiknya apabila telah dipilih nanti. Saudramu, Ahmad 'Izzat
Rajih.
Ini
adalah bagian khusus mengenai akidah Ikhwanul Muslimin dari surat pribadi yang
dikirimkan oleh sahabat kami yang mulia, Al-Ustadz Ahmad 'Izzat, anggota
delegasi pendidikan untuk spesialisasi dalam ilmu psikologi dan sosiologi di
Paris, kepada saudaranya, Tuan As'ad Rajih Effendi, Sekretaris Kedua Maktab
Al-Irsyad Al-'Am di Kairo. Di dalamnya para pembaca dapat melihat bahwa
Profesor 'Ernest Renan' mengutarakan pandangannya mengenai 'Akidah Kami' dengan
sangat gamblang dan jelas. Beliau bersikap jujur dalam mengutarakan
pandangannya, sepadan dengan ketelitiannya di dalam kejujuran tersebut, serta
sepadan dengan ketepatan yang diraihnya dalam ketelitian tersebut pula. Anda
dapat menyimpulkan beberapa poin dari pandangan teliti yang dilontarkan dari
seberang lautan mengenai akidah Ikhwanul Muslimin ini:
Poin
pertama: "Akidah Ikhwanul Muslimin bersumber dari metode yang sama yang
dirumuskan oleh junjungan kita Muhammad." Ini adalah ungkapan dalam bahasa
Prancis yang digunakan oleh seorang profesor yang tidak memiliki hubungan
dengan Islam kecuali hubungan ilmiah, untuk mengutarakan pandangannya. Adapun
kami, kami mengatakan: "Metode yang sama yang dibawa oleh Muhammad sebagai
wahyu dari Allah." Maknanya adalah Profesor 'Ernest Renan' melihat bahwa
akidah Ikhwanul Muslimin adalah murni islami, tidak melenceng dari Islam
seujung rambut pun. Dan sungguh ia benar, karena tidak ada satu kata pun dalam
akidah Ikhwanul Muslimin melainkan dasarnya adalah Kitabullah Yang Maha Berkah
dan Mahatinggi, sunah Rasul-Nya, serta spirit Islam yang sahih. Baliklah setiap
paragraf dari paragraf-paragrafnya sesuka Anda, niscaya Anda tidak akan melihat
di dalamnya kecuali hakikat islami yang diperintahkan oleh Islam, diserukan
oleh agama, dianjurkan oleh Al-Qur'an al-Karim, dan ditekankan oleh Rasulullah ﷺ. Sisi pelajaran
berharga dari akidah ini adalah Profesor Ernest Renan, dengan ketelitian
risetnya dan kejernihan pemikirannya, mampu menggambarkan Ikhwanul Muslimin,
memahami mereka, dan memahami bahwa mereka ada untuk Islam, dan hanya untuk
Islam semata, meskipun ada jarak yang membentang jauh dan terputusnya
komunikasi antara kami dan beliau. Sementara di sisi lain, sebagian orang
menaruh berbagai prasangka buruk terhadap Ikhwanul Muslimin, mempertanyakan
hakikat manhaj [metode] mereka, mempertanyakan esensi tujuan mereka, serta
meragukan akidah dan jalan mereka.
Wahai
putra-putra umat kami yang tercinta dan berharga bagi kami, kami adalah kaum
muslimin dan itu sudah cukup. Manhaj kami adalah manhaj Rasulullah ﷺ dan itu sudah cukup.
Akidah kami bersumber dari Kitabullah dan sunah Rasul-Nya dan itu sudah cukup.
Jika perkataan kami tidak membuat kalian puas, maka ambillah perkataan
orang-orang asing dari luar kami yang tidak memiliki ikatan apa pun dengan
kami. Kami tidak melihat adanya alasan bagi orang yang ragu terhadap Ikhwanul
Muslimin setelah kejelasan urusan mereka dan kebersihan akidah mereka, kecuali
dua hal yang tidak ada pilihan ketiganya:
Bisa jadi orang yang ragu ini belum mempelajari Islam dengan studi yang benar yang memungkinkannya untuk meresapi spiritnya dan memahami target serta tujuannya, sehingga ia melihat tujuan Ikhwan sebagai sesuatu yang keluar dari spirit Islam, karena ia tidak mengenal spirit ini kecuali dalam lingkaran sempit yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. Ataukah orang yang ragu ini adalah orang yang berpenyakit hati, berburuk sangka, dan tidak bersih hatinya. Ia melampaui batas, berbuat zalim, dan mencari-cari aib pada orang yang tak bersalah, di mana kedua hal tersebut merupakan malapetaka bagi pemiliknya dan kehancuran bagi orang yang bersifat dengannya.
Poin
kedua: "Metode ini telah berhasil digunakan oleh Muhammad untuk membentuk
sebuah agama, umat, dan negara." Demi Allah, ini adalah sebuah kebenaran,
ia adalah Islam, agama yang paling utama dan paling sempurna, syariat terbaik
dan paling universal. Agama yang memuaskan dahaga spiritual kemanusiaan dan
menyediakan baginya ketenteraman hati serta kebahagiaan jiwa yang
dicita-citakannya. Ia adalah Islam, ikatan terkuat yang menautkan jalinan cinta
di dalam jiwa umat, memperkokoh hubungan keselarasan di antara
bangsa-bangsanya, dan membawa dunia melangkah cepat menuju persatuan umum yang
menjadi cita-cita tertinggi para reformis dan ahli hikmah serta fondasi
kebaikan bagi umat manusia. Ia adalah Islam yang mendirikan negara di atas
prinsip-prinsip keadilan, membangun pemerintahan di atas kaidah-kaidah
pemenuhan hak-hak, dan memberikan hak kepada setiap pemilik hak dari berbagai
lapisan umat, tanpa ada yang dirugikan, dikebiri, atau dizalimi. Maka alangkah
agungnya ketika hakikat Islam ini dipahami oleh orang-orang yang belum
mendapatkan kehormatan berupa hidayahnya, dan yang lebih agung lagi adalah
mereka menyebarluaskan pandangan-pandangan ini secerah rembulan dan seterang
pagi hari. Pelajaran berharganya di sini adalah hendaknya pandangan ini
didengar oleh para pemimpin bangsa-bangsanya Timur yang ingin atau sedang
mencari metode bagi umat mereka yang diambil dari Islam untuk membangun
kebangkitan di atasnya, serta menjadikannya sebagai pembentuk agama, umat, dan
negara.
Poin
ketiga: "Tidak ada kejayaan bagi kaum muslimin hari ini kecuali dengan
mengikuti jalan yang sama dengan yang ditempuh oleh Muhammad ﷺ dan para
sahabatnya." Pandangan itu merupakan pandangan filosof 'Renan', yang telah
didahului oleh imam besar Islam yang menyatakan sebelumnya bahwa tidak akan
baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik
generasi awalnya. Pengalaman telah mendukung hal tersebut dan berbagai
peristiwa telah menegaskannya. Sejac bangsa-bangsanya Timur meninggalkan ajaran
Islam dan mencoba menggantinya dengan yang lain yang mereka sangka membawa
kebaikan bagi urusan mereka, mereka justru terombang-ambing di dalam kegelapan kebingungan,
merasakan pahitnya eksperimen yang gagal, serta membayar harga penyimpangan ini
dengan harga yang mahal berupa harga diri, akhlak, kejayaan, dan fasilitas
mereka. Hal yang mengherankan adalah hingga saat ini banyak dari
bangsa-bangsanya Timur yang belum menyadari hakikat yang terang benderang ini,
sehingga mereka terus terseret ke jalan yang menjauh dari spirit Islam dan
ajaran-ajarannya tanpa mau mengambil pelajaran dari berbagai malapetaka yang
melanda kepala dunia Timur setiap hari. Sesungguhnya modal dunia Timur adalah
akhlak dan iman, jika kehilangan keduanya maka ia kehilangan segala-galanya,
dan jika kembali kepada keduanya maka segala-galanya akan kembali kepadanya,
dan kekuatan orang-orang zalim akan hancur di hadapan akhlak yang kokoh serta
iman dan keyakinan. Oleh karena itu, hendaklah para pemimpin dunia Timur
bersungguh-sungguh di dalam memperkuat spiritnya dan mengembalikan akhlaknya
yang telah hilang, karena itu adalah satu-satunya jalan menuju kebangkitan yang
benar, dan mereka tidak akan menemukan hal itu kecuali jika mereka kembali
kepada Islam dan berpegang teguh pada ajaran Islam:
"...Jika
kamu berpaling (dari jalan yang benar), niscaya Dia akan menggantikan kamu
dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu." (QS. Muhammad:
38)
Poin
keempat: Mewujudkan metode ini pada kondisi kaum muslimin saat ini. Profesor
'Renan' melihat bahwa perwujudan hal tersebut merupakan sesuatu yang jauh
karena beliau mengetahui jurang pemisah yang sangat dalam yang diciptakan oleh
berbagai peristiwa politik dan sosial antara kaum muslimin dan agama mereka.
Beliau juga mengetahui berbagai sarana internal yang efektif yang digunakan
oleh para musuh Islam untuk menjauhkan kaum muslimin dari Islam di era modern.
Beliau pun mengetahui bahwa kaum muslimin sendiri saat ini telah menjadi musuh
bagi agama mereka, mematahkan pedang mereka dengan tangan mereka sendiri,
menyerahkan pisau kepada orang yang ingin menyembelih mereka atas pilihan
mereka sendiri, dan ikut serta meruntuhkan agama mereka padahal ia merupakan
simpul sistem mereka dan fondasi kekuatan mereka. Ikhwanul Muslimin meyakini
hal ini dan melihatnya sebagaimana Profesor melihatnya. Mereka tidak pernah
membayangkan ketika bangkit untuk beramal bahwa mereka akan berjalan di atas
jalan yang lunak, melainkan mereka mengetahui apa saja rintangan yang menanti
mereka, lalu mereka mempersiapkan diri, harta, iman, dan akidah mereka untuk
menghadapinya, serta menanti janji Allah:
"...Allah
pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat
lagi Mahaperkasa." (QS. Al-Hajj: 40)
Poin
kelima: "Namun hal ini tidak berarti harus berpangku tangan dari
beramal." Benar, benar sekali... Berbagai rintangan tidak akan menambah
bagi kami kecuali semangat, dan berbagai kesulitan tidak akan menambah bagi
kami kecuali langkah maju di jalan jihad. Kami membaca firman Allah:
"...Sesungguhnya
tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir."
(QS. Yusuf: 87)
Maka
bangkitlah wahai kaum Ikhwanul Muslimin, karena sesungguhnya pertolongan itu
bersama kesabaran, keselamatan itu bersama keteguhan, dan akibat yang baik
adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
Sungguh
Profesor sangat teliti ketika melihat bahwa akidah Ikhwanul Muslimin memiliki
kajian dan tujuan yang mendalam, dan ketika beliau melihat bahwa meskipun
metode ini "ditambahkan dengan hal-hal yang selaras dengan tuntutan
zaman", ia tetap "terikat pada spirit Islam". Demikianlah Islam,
spiritnya menaungi seluruh zaman dan mencakup dunia beserta isinya. Demikian
pula Ikhwanul Muslimin, mereka mampu menyerap dari spirit Islam apa yang sesuai
dengan tuntutan zaman dan menggambarkan akidah mereka kepada manusia secara
sempurna, di mana kedua spirit tersebut tampak sekaligus. Alangkah berharapnya
kami agar di kalangan kami ada orang yang melihat kepada akidah kami dengan
pandangan jeli tersebut, agar kemudian keluar dengan penilaian yang tepat
seperti ini. Amma ba'du, kami menyampaikan terima kasih kepada Profesor besar
Ernest Renan atas keadilannya, dan terima kasih kepada sahabat kami Al-Ustadz
'Izzat atas suratnya yang halus serta kesannya yang indah terhadap akidah kami
yang murni untuk Islam dan dunia Timur, dan kami memohon kepada Allah taufik
dan ketepatan.
Masjid
Parlemen
Jamaah
pada tanggal tersebut memiliki aktivitas bersama lembaga-lembaga resmi, setiap
kali menemukan adanya urgensi untuk menyurati mereka sebagai bentuk pelaksanaan
dari kewajiban pengorbanan. Di antaranya adalah surat ini sehubungan dengan
Masjid Parlemen, yang ditujukan kepada Yang Mulia Perdana Menteri dan Yang
Mulia Menteri Pekerjaan Umum, yang teksnya sebagai berikut:
Yang
Mulia Perdana Menteri,
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba'du.
Sungguh
kegembiraan seluruh umat atas pengangkatan Anda untuk memimpin urusannya
bersifat menyeluruh, dan kebahagiaannya sangat besar ketika busur panah telah
diambil oleh ahlinya dan urusan telah kembali ke tempat yang semestinya pada
pribadi Anda yang mulia. Tidak diragukan lagi bahwa era Anda yang gemilang
adalah era perbaikan yang sempurna dan kebaikan yang menyeluruh, insya Allah.
Tanda-tanda perbaikan ini telah tampak dengan sangat jelas dalam potret yang
paling indah dan penampilan yang paling menawan melalui amal-amal agung yang
telah dilakukan oleh kementerian sejak memegang pemerintahan hingga saat ini,
serta harapan-harapan tulus yang terwujud di tangannya meskipun dalam waktu
yang singkat dan kesibukan yang padat.
Namun
sangat menyakitkan bagi kami, wahai Perdana Menteri, di samping jihad yang
sukses tersebut, kami melihat adanya keputusan dari Kementerian Pekerjaan Umum
yang dipublikasikan oleh surat kabar As-Siyasah, yaitu adanya intensi
untuk membatalkan pembangunan Masjid Parlemen yang sebelumnya telah diputuskan
untuk didirikan.
Sesungguhnya
gedung parlemen adalah manifestasi kehormatan umat, simbol harapan dan
cita-citanya, serta potret bagi nasionalisme dan kehidupannya. Keberadaan
masjid di dalam parlemen adalah suatu perkara yang mutlak harus ada. Sebab,
para anggota dewan perwakilan rakyat—kecuali sebagian kecil—adalah muslim, dan
agama resmi negara adalah Islam, sedangkan pertemuan-pertemuan di dalam dewan
diadakan pada waktu-waktu yang diselingi, didahului, atau diikuti oleh waktu
salat. Maka keberadaan masjid di parlemen merupakan salah satu manifestasi dari
perhatian pemerintah di dalam merealisasikan konstitusinya, serta perhatian
umat terhadap syiar-syiar agamanya, sekaligus membantu para anggota dewan yang
terhormat untuk menunaikan kewajiban ilahi mereka di samping kewajiban nasional
mereka, dan alangkah eratnya hubungan antara kedua kewajiban tersebut...
Sesungguhnya
keinginan kuat kami agar era Anda yang gemilang tetap putih bersih dan
halamannya bersinar terang tanpa ada cacat di wajahnya serta tidak ada hijab
yang menghalangi keindahannya, telah mendorong kami untuk datang kepada Anda
seraya mendesak dalam pengharapan agar Anda mendukung Kementerian Pekerjaan
Umum di dalam keputusan sebelumnya untuk mendirikan Masjid Parlemen dan
menyegerakan pelaksanaannya, sehingga kita dapat melihat masjid tersebut dalam
waktu dekat sebagai tempat menetapnya rahmat di tempat turunnya hikmah, insya
Allah.
Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Atas
nama Jamaah Ikhwanul Muslimin Al-Mursyid Al-'Am - Hasan Al-Banna
Sekretaris
Pekerjaan Umum telah membalas surat tersebut sebagaimana yang dipublikasikan
oleh majalah Al-Ikhwan di bawah tajuk berikut ini:
Ucapan
Terima Kasih yang Wajib
Menyusul
surat yang dilayangkan oleh perkumpulan Ikhwanul Muslimin kepada Yang Mulia
Perdana Menteri dan Yang Mulia Menteri Pekerjaan Umum, kantor administrasi
perkumpulan menerima surat balasan berikut dari Kementerian Pekerjaan Umum:
Kepada
Yang Terhormat Ketua Perkumpulan Ikhwanul Muslimin, Lorong Al-Mi'mar Nomor 6,
Abdul Lathif Bek, Jalan Suq As-Silah, Mesir.
Merujuk
kepada surat Anda tertanggal 17 November 1934 mengenai pembangunan Masjid
Parlemen, dengan hormat saya informasikan bahwa kementerian telah memutuskan
untuk membangun masjid tersebut dan telah menyerahkan kontrak pemborongannya
kepada Tuan Abdul Hamid Muhammad Abdillah selaku kontraktor pada tanggal 30
November 1934.
Mohon
terima penghargaan yang setinggi-tingginya.
Tanda
tangan: Sekretaris Jenderal Abdul Hamid Ibrahim.
Majalah
kemudian memberikan komentar setelah itu dengan kalimat berikut:
Perkumpulan
beserta seluruh jajarannya tidak dapat melakukan apa-apa selain menyampaikan
rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Mulia Menteri Pekerjaan
Umum atas semangat yang patut disyukuri ini. Semoga Allah memberikan taufik
kepada semuanya menuju apa yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi negeri dan
para hamba.
Sekretaris
Perkumpulan Muhammad As'ad Al-Hakim
Penundaan
Sidang Dewan Syura Umum Ikhwanul Muslimin - Periode Ketiga
Sudah
menjadi kebiasaan bahwa Dewan Syura Umum Ikhwan mengadakan sidangnya pada
hari-hari Hari Raya Idulfitri yang mubarak. Akan tetapi, karena adanya kondisi
darurat, Maktab Al-Irsyad menilai perlu untuk menunda penyelenggaraannya ke
waktu yang lain, dan surat kabar Al-Ikhwan mempublikasikan penundaan ini
melalui kalimat berikut:
Sebelumnya
telah dijadwalkan bahwa Dewan Syura Umum Ikhwanul Muslimin akan mengadakan
sidang ketiganya pada hari kedua Hari Raya Idulfitri tahun 1353 H. Undangan
telah dilayangkan oleh rekan-rekan Ikhwan di Al-Bahr Ash-Shaghir dan
rekan-rekan Ikhwan di Ismailiyah kepada Maktab dengan harapan agar Maktab
mengundang para anggota untuk berkumpul di Ismailiyah atau di salah satu
wilayah Al-Bahr Ash-Shaghir, sebagaimana rekan-rekan Ikhwan di Kairo juga telah
bersiap untuk menyelenggarakannya di sana pula.
Namun,
karena adanya kondisi khusus, Maktab Al-Irsyad Al-'Am menilai perlu untuk
menunda penyelenggaraan sidang ke kesempatan lain yang akan diinformasikan
kepada para anggota di kemudian hari. Dewan akan mengadakan sidang-sidang
pendahuluan untuk membahas urusan-urusan umum jamaah selama liburan Idulfitri
di kantor pusatnya di Kairo pada jam delapan hingga jam sebelas malam, pada
malam kedua, ketiga, dan keempat dari Idulfitri, yang dihadiri oleh siapa saja
dari kalangan Ikhwan yang mengunjungi Kairo. Kepada Allah kami memohon agar
mengilhamkan kepada perkumpulan apa yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi
Islam dan kaum muslimin. Ini adalah teks undangan dari Ikhwan di Ismailiyah
sebagai bukti atas keinginan mereka, disertai dengan ucapan terima kasih dari
Maktab dan apresiasinya yang indah atas perasaan mereka.
Sekretaris
Muhammad As'ad Al-Hakim
Undangan
Pertemuan Sidang Dewan Syura Umum Ikhwanul Muslimin di Ismailiyah
Ketika
telah tiba waktu penyelenggaraan Dewan Syura Umum dalam periode ketiganya,
rekan-rekan Ikhwan di Ismailiyah melayangkan surat ini kepada Al-Mursyid
Al-'Am:
Yang
Mulia Al-Mursyid Al-'Am Ikhwanul Muslimin, Al-Ustadz Hasan Al-Banna,
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba'du.
Merupakan
kehormatan yang sangat besar bagi kami untuk melayangkan undangan pada tahun
ini bagi pertemuan Ikhwanul Muslimin di Ismailiyah. Mengingat bahwa Ismailiyah
adalah mata air dakwah, fondasi bagi fikrah yang mulia, serta tanaman pertama
yang tumbuh dan berbuah. Ismailiyah juga terletak di lokasi yang berada di
tengah-tengah di antara cabang-cabang perkumpulan, sehingga dengannya pertemuan
ini menjadi pertemuan umum tempat kami saling mengenal dengan saudara-saudara
kami yang belum kami rasakan kebahagiaan untuk melihat mereka hingga saat ini,
di mana kami berada dalam kerinduan yang sangat besar kepada mereka.
Rekan-rekan
Ikhwan di sini menunggu dengan sangat antusias terwujudnya cita-cita ini, dan
mereka berada dalam kesiapan penuh untuk menyambut saudara-saudara mereka serta
merintis jalan kenyamanan yang sempurna sepanjang masa kunjungan mereka.
Alangkah indahnya jika Anda menyetujui undangan ini dan melayangkannya kepada
saudara-saudara kami yang mulia, sehingga dengannya kami meraih kebanggaan yang
besar dan kehormatan yang agung, dan kami berada dalam penantian.
Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Sekretaris
Perkumpulan Abdul Rahman Muhammad Hasaballah
Setelah
itu terjadi suatu hal yang menuntut perpindahan kantor administrasi surat kabar
dan percetakan ke gedung yang lain, lalu majalah Al-Ikhwan menuliskan
sebuah maklumat mengenai hal tersebut di bawah tajuk ini:...
Dari
Redaksi/Manajemen
- Alamat surat kabar telah
berpindah dari kantor administrasi lama ke Hārah Nāfi‘ No. 30, ‘Atfata
‘Abdullah Bey di As-Surūjiyyah, Kairo. Oleh karena itu, diharapkan agar
seluruh urusan surat-menyurat dikirimkan ke alamat ini.
- Percetakan Al-Ikhwan telah
berpindah dari markas lamanya ke ‘Atfat Ar-Rassām No. 7 di Al-Ghūriyyah,
di samping Masjid Al-Fakahāni, Kairo.
- Perpindahan percetakan dan
surat kabar ini menjadi penyebab tidak terbitnya surat kabar selama
beberapa waktu ini. Kami memohon maaf kepada para pembaca yang terhormat,
dan kami memohon kepada Allah agar membantu kami dalam urusan yang sedang
kami jalankan ini, hingga surat kabar ini dapat kembali meniti jalannya
dalam mengabdi pada tujuan mulia yang telah ditetapkan untuk dicapainya.
Masa tidak terbitnya surat kabar ini sama sekali tidak akan memengaruhi
perhitungan para pelanggan yang terhormat, karena pihak manajemen
menghitung masa langganan mereka berdasarkan jumlah nomor edisi, bukan
berdasarkan bulan.
- Pihak manajemen mengharapkan
kepada para agen distribusi untuk segera menyetorkan uang tunggakan yang
ada pada mereka. Mereka adalah orang yang paling mengetahui
kondisi-kondisi yang menuntut percepatan hal tersebut. Semangat kepedulian
mereka akan membebaskan kami dari beban desakan dan penagihan, khususnya
bagi para agen di luar negeri yang sangat kami jaga hubungan baik serta
kelanggengan kasih sayang dengan mereka. Kami tidak ingin menggunakan
cara-cara dengan mereka di luar apa yang telah digariskan oleh ukhuwah
Islamiyah, yaitu berupa saling mengingatkan dan menaruh harapan kepada
mereka.
- Pihak manajemen mengharapkan
kepada para agen distribusi untuk menyampaikan laporan pesanan yang mereka
butuhkan sebelum hari Senin setiap pekannya agar pihak manajemen dapat
memenuhi apa yang mereka minta. Kami juga mengharapkan agar penyampaian
tersebut disertai dengan laporan sisa nomor edisi lama sebelum nomor edisi
baru dikirimkan.
- Kami tidak akan memproses
permintaan dari para agen distribusi kecuali jika disertai dengan uang
jaminan yang nilainya minimal sama dengan nilai jumlah eksemplar mingguan
yang diminta, dan pihak manajemen menerima pengembalian (retur) dari sisa
eksemplar yang diminta tersebut.
- Bagian redaksi masih terus
mengingatkan para penulis yang mulia untuk memperhatikan keringkasan
tulisan, mentakhrij hadis-hadis, kejelasan tulisan, menulis pada satu sisi
halaman kertas saja, serta mengirimkan naskah tulisan lebih awal. Hanya
Allah-lah pemilik taufik.
Majelis
Syura Ikhwanul Muslimin dalam Sidang Ketiga di Kairo, yang Merupakan Muktamar
Ketiga bagi Al-Ikhwan
Maktabul
Irsyad (Biro Panduan Pusat) memandang agar pelaksanaan sidang Majelis Syura ini
bertempat di Kairo pada masa libur Iduladha, dan telah melayangkan undangan
kepada Al-Ikhwan. Pertemuan tersebut merupakan muktamar yang sangat agung dan
dihadiri banyak massa, di mana di dalamnya diletakkan beberapa kaidah serta
peraturan (regulasi), dan Mursyid Am menyampaikan pidato pembukaannya:
Bismillahir-rahmānir-rahīm
(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang):
"Segala
puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami kepada (Islam) ini. Kami tidak akan
mendapat petunjuk kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami." (QS.
Al-A'raf: 43). Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa
kebenaran. Dan semoga selawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan
kita, Nabi Muhammad, sang pembuka terhadap apa yang terkunci, penutup bagi apa
yang terdahulu, penunjuk ke jalan-Mu yang lurus, serta kepada keluarga,
sahabatnya, dan orang-orang yang menyeru dengan dakwahnya hingga hari kiamat.
Ya
Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan-Mu, memohon petunjuk-Mu, bertobat
kepada-Mu, memohon ampunan-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu,
memuji-Mu dengan segala kebaikan, bersyukur kepada-Mu dan tidak mengufuri-Mu,
serta kami melepaskan dan meninggalkan orang yang mendurhakai-Mu. Ya Allah,
hanya kepada-Mu kami menyembah, untuk-Mu kami mendirikan salat dan bersujud,
kepada-Mu kami menuju dan bergegas, kami mengharapkan rahmat-Mu dan takut akan
azab-Mu, sesungguhnya azab-Mu yang keras itu pasti menimpa orang-orang kafir.
"Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan
sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (QS.
Al-Kahfi: 10).
Wahai
ikhwan yang mulia: Sungguh ini merupakan nikmat yang sangat besar dan
kebahagiaan yang melampaui segala deskripsi dan ungkapan, di mana berkumpul
saudara-saudara yang saling mencintai karena Allah Tabaraka wa Ta'ala dari
berbagai negeri yang berbeda dan tempat yang berjauhan di satu hamparan. Tidak
ada rahim (hubungan darah) yang mengikat mereka, tidak ada kekerabatan yang
menghubungkan mereka, tidak disatukan oleh nasab maupun ikatan pernikahan, dan
tidak pula barisan mereka dipersatukan oleh kepentingan materi atau tujuan
duniawi. Melainkan, perkumpulan ini semata-mata karena cinta karena Allah,
berkumpul di atas jalan-Nya, beramal untuk-Nya, dan memenuhi seruan dakwah-Nya.
Maka
bergembiralah wahai Al-Ikhwan, karena sesungguhnya aku berharap kita termasuk
orang-orang yang memenuhi seruan Allah pada hari ketika penyeru-Nya memanggil:
أَيْن الْمُتَحَابُّونَ
فِيَّ؟ أَيْن الْمُتَزَاوِرُونَ فِيَّ؟ أَيْن الْمُتَجَالِسُونَ فِيَّ؟ الْيَوْم
أُظِلُّهُمْ بِجَلَالِي يَوْم لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي
“Di
manakah orang-orang yang saling mencintai karena Aku? Di manakah orang-orang
yang saling mengunjungi karena Aku? Di manakah orang-orang yang saling duduk
bersama karena Aku? Hari ini Aku menaungi mereka dalam naungan keagungan-Ku
pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.”
Sungguh
kalian telah memenuhi seruan, bersegera menyambutnya, dan mengadakan pertemuan
yang luar biasa ini, di saat kita melihat bahwa dakwah-dakwah lain lenyap
sia-sia dan pertemuan-pertemuan berulang kali diadakan namun tidak mendatangkan
manfaat apa pun karena bercerai-berainya hati dan berbedanya hawa nafsu.
Dengan
ini, kalian telah membuktikan kesatuan hati kalian, keharmonisan jiwa kalian,
dan kokohnya ikatan kalian—semoga Allah senantiasa menjaganya dan menjadikannya
murni karena wajah-Nya serta abadi di jalan-Nya.
Aku
sempat berpikir untuk berterima kasih kepada kalian, lalu aku ingat bahwa
dakwah ini berasal dari Allah dan untuk-Nya, dan tidaklah aku di dalamnya
melainkan seorang prajurit seperti kalian yang diseru lalu memenuhi seruan
tersebut. Maka aku pasrahkan ucapan terima kasih kepada kalian dan kebaikan
balasan kalian kepada Allah yang telah menurunkan Al-Kitab dengan kebenaran dan
Dia melindungi orang-orang yang saleh.
Wahai
ikhwan yang mulia, tujuan dari pertemuan kita ini adalah memikirkan
sarana-sarana praktis yang efektif yang harus dilakukan oleh para pengemban
pemikiran Ikhwanul Muslimin untuk mencapai tujuan suci dan mulia mereka. Dan
sesungguhnya aku memiliki harapan yang kuat bahwa pertemuan ini akan memberikan
pengaruh yang terpuji, insya Allah Ta'ala, dalam mewujudkan tujuan ini, di mana
pertemuan ini menghimpun orang-orang pilihan yang ikhlas dan pemikir dari
kalangan tokoh-tokoh perkumpulan Ikhwanul Muslimin.
Ketahuilah
wahai para kekasih, bahwa pertemuan kalian ini adalah suatu perkara yang
memiliki dampak besar setelahnya, dan ia merupakan fondasi yang agung dalam
membangun dakwah kita. Maka aku ingin agar diskusi-diskusi kita bersandar pada
dasar-dasar berikut:
- Pertama: Kita
mengikhlaskan niat kita karena Allah dan memohon petunjuk dari Allah
dengan hati yang tulus menghadap-Nya, karena segala urusan adalah milik
Allah, dan "Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada
manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya." (QS. Fatir: 2).
- Kedua: Kita mengingat
etika diskusi dalam hal meminta izin, ketenangan, keringkasan, dan
memberikan kebebasan bagi pembicara sampai ia menuntaskan topiknya
sehingga tidak dipotong, serta meninggalkan perdebatan dalam masalah
cabang (parsial/detail kecil) agar setiap orang dapat menetapkan
pandangannya dan memberikan argumen atasnya dengan dalil-dalil yang ia
pandang benar, dan hal itu sudah cukup baginya tanpa harus meruntuhkan
pandangan saudaranya.
- Ketiga: Berpikir
panjang, berhati-hati (tenang), menimbang perkataan dengan timbangan yang
saksama, serta keterbukaan yang sempurna dalam mengemukakan pendapat,
karena kita semua mencari kebaikan dan memohon kepada Allah agar
memberikan taufik-Nya kepada kita, dan cukuplah Allah bagi kami dan Dia
adalah sebaik-baik pelindung.
Dan
ketahuilah wahai Al-Ikhwan, bahwa Islam dan tanah air Islam secara umum
memanggil kalian untuk menyelamatkannya, kalian wahai orang-orang yang telah
menyibukkan diri dengan sarana-sarana penyelamatan global ini sejak tujuh tahun
yang lalu secara terus-menerus setiap hari.
Dahulu
seluruh manusia tidak memercayai metode (rencana) kalian, namun lihatlah mereka
hari ini kembali merujuk kepadanya secara bertahap, kelompok demi kelompok, dan
mereka meyakini secara pasti bahwa metode inilah satu-satunya jalan untuk
menyelamatkan umat.
Wahai
ikhwan yang mulia... Waktu saat ini menuntut curahan usaha dan amal dari
kalian, dan aku akan beramal insya Allah Ta'ala. Aku telah membulatkan tekad
untuk beramal dan berkorban di jalannya. Maka barang siapa di antara kalian
yang ingin bersamaku—dan hendaklah ia bersiap menanggung apa saja yang harus
ditanggung di jalan ini—maka majulah ke depan.
Dan
barang siapa yang mengetahui ada kelemahan pada dirinya untuk menanggung
pengorbanan di jalan kewajiban ini, maka hendaklah ia mundur hingga kita
mengetahui berapa jumlah kita yang sebenarnya, sehingga kita dapat menentukan
kadar usaha kita sesuai dengan kapasitas kita. Dan bagi Allah-lah segala urusan
sebelum dan sesudahnya, dan jangan ada seorang pun yang ragu-ragu atau
memaksakan diri dalam menjawab, karena Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya. "Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu,
maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang
mukmin; dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan
yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu
kerjakan.'" (QS. At-Tawbah: 105).
Sidang
Pertama
Hari
Sabtu, 11 Dzulhijjah tahun 1353 H, dari pukul 09.00 s.d. 11.00 malam.
- Pembacaan Al-Qur'anul Karim.
Agenda
Acara:
- Pembukaan oleh yang terhormat
Al-Ustadz Mursyid Am.
- Sambutan penerimaan oleh yang
terhormat Wakil Maktab, Al-Ustadz Asy-Syaikh Hamid Askariyyah.
- Laporan Maktabul Irsyad dalam
setahun: Sekretaris Maktab, Muhammad As'ad Rajih Effendi.
- Puisi penyair Ikhwanul
Muslimin: Al-Ustadz Asy-Syaikh Ahmad Hasan Al-Baquri.
- Laporan Percetakan Ikhwanul
Muslimin: Sekretaris Maktab, Umar Ghanim Effendi.
- Laporan Surat Kabar Ikhwanul
Muslimin: Sekretaris Maktab, Muhammad As'ad Al-Hakim Effendi.
- Dakwah Umum dan Kotak Dana
Kerja Sama: Bendahara Maktab, Muhammad Hilmi Nuruddin Effendi.
Sidang
Kedua
Hari
Ahad, 12 Dzulhijjah, dari pukul 09.00 s.d. 12.00 pagi.
- Manhaj Kerja: Ikhwanul
Muslimin dan Tujuan Perbaikan (Ishlah) Mereka: Anggota Majelis, Al-Ustadz
Muhammad Al-Hadi Athiyyah.
- Sikap Ikhwanul Muslimin
Terhadap Arus Umum: Wakil Sektor Ketiga, Husain Badr Effendi.
- Sikap Ikhwanul Muslimin
Terhadap Gerakan Pemikiran Islam: Wakil Ismailiyyah, Al-Ustadz Muhammad
Farghali Wafa.
- Sampai di Mana Pencapaian
Ikhwanul Muslimin dan Apa yang Mereka Butuhkan: Wakil Al-Mahmudiyyah dan
Pengawas Majelis, Ahmad Effendi As-Sukkari.
- Pembentukan Praktis
(Al-Takwīn Al-‘Amalī) Ikhwanul Muslimin: Pengawas Majelis, Abdul Rahman
Effendi As-Sa'ati.
Sidang
Ketiga
Hari
Ahad, 12 Dzulhijjah, dari pukul 09.00 s.d. 11.00 malam.
- Pembentukan Administratif
(Al-Takwīn Al-Idārī) Ikhwanul Muslimin: Anggota Majelis, Mahmud Effendi
Abdul Lathif.
- Manifestasi Dakwah: Muhammad
Effendi Asy-Syafi'i di Kairo.
- Divisi Perjalanan (Rihlah):
Muhammad Mukhtar Ismail Effendi, Wakil Zainal Abidin.
- Muktamar-Muktamar,
Wilayah-Wilayah, dan Proyek Zakat: Muhammad Effendi As-Sayyid Asy-Syafi'i,
Sekretaris Majelis.
- Markas (Dar) Ikhwanul
Muslimin di Kairo: Muhammad Effendi Fathullah Darwisy.
Sidang
Keempat
Hari
Senin, 13 Dzulhijjah, dari pukul 09.00 s.d. 12.00 pagi.
Agenda
Acara:
- Pemaparan
Peraturan-Peraturan Baru.
- Kata Penutup oleh yang
terhormat Al-Ustadz Mursyid Am.
- Pembacaan Al-Qur'anul Karim:
Muhammad As'ad Al-Hakim.
Hadirin
dari Maktabul Irsyad:
1.
Yang terhormat Al-Ustadz
Mursyid Am.
2.
Al-Ustadz Asy-Syaikh Hamid
Askariyyah.
3.
Tuan Abdul Rahman Effendi
As-Sa'ati.
4.
Tuan Hilmi Effendi
Nuruddin.
5.
Husain Effendi Badr.
6.
Muhammad Effendi As'ad
Rajih.
7.
Mahmud Effendi Abdul
Lathif.
8.
Tuan Umar Effendi Ghanim.
9.
Tuan Muhammad Effendi
Fathullah Darwisy.
10. Tuan Al-Ustadz Asy-Syaikh Ahmad Hasan Al-Baquri.
11. Muhammad Effendi Asy-Syahawi.
Delegasi
Wilayah Kairo:
12.
Al-Ustadz Jad Effendi Lasyin.
13.
Yang terhormat Al-Ustadz Asy-Syaikh Abdul Lathif Daraz.
14. Abdul Qadir Bey Mukhtar
15. Muhammad Bey Dzihni
16. Yang terhormat Al-Ustadz Asy-Syaikh Thanthawi Jauhari
17. Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Harb
18. Asy-Syaikh Muhammad Al-Banna
19. Zaki Effendi Hasanain
20. Muhammad Effendi Abdul Hamid
21. Muhammad Effendi Said Murad
22. Muhammad Effendi Shalih Mubarak
23. Muhammad Effendi Dawud Syahin
24. Ali Effendi Ibrahim Muhammad
25. Asy-Syaikh Abdul Lathif Asy-Sya'sya'i
26. Ahmad Effendi Syarafuddin
27. Abdul Ghaffar Effendi Rizq
28. Abdul Muhsin Effendi Hasanain
29. Ahmad Effendi Jalal
30. Al-Haj Ahmad Effendi Naja
31. Muhammad Effendi Asy-Syafi'i
32. Abdul Hamid Effendi Abdullah
33. Riyadh Effendi Ibrahim
34. Muhammad Effendi Mukhtar Ismail
35. Hasan Effendi Husni
36. Ali Effendi Hanafi
37. Mustafa Effendi Thufan
38. Asy-Syaikh Muhammad Ammar
39. Muhammad Effendi Abdul Mun'im Nur
40. Asy-Syaikh Abdul Sami' Juraitah
41. Yusuf Effendi Thufan
42. Muhammad Effendi Izzat
43. Muhammad Effendi Sadiq 'Arnus
44. Sayyid Effendi Sa'ad
45. Abdul Wahhab Effendi As-Sayyid
46. Muhammad Effendi Ali Al-Hafrawi
47. Al-Ustadz Hamid Al-Miliji Effendi
48. Abdullah Effendi Al-Muslimi
49. Muhammad Effendi Abdul Mun'im Salam
50. Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-Arjawi
51. Abdul Mun'im Effendi Ad-Daghidi
52. Al-Ustadz Asy-Syaikh Tsabit Abu Al-Ma'ali
53. Asy-Syaikh Muhammad Nayil
Delegasi
Wilayah Suez:
54.
Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-Hadi Athiyyah
55.
Muhammad Ath-Thahir Munir Effendi
56.
Muhammad Hasan As-Sayyid Effendi
57. Husain Effendi Husni
58. Mahmud Effendi Farajallah
Delegasi
Wilayah Ismailiyyah:
59.
Asy-Syaikh Muhammad Farghali Wafa
60.
Asy-Syaikh Muhammad Ali Al-Mishri
61.
Ash-Shawi Effendi Ahmad
62.
Abdul Rahman Effendi Hasbullah
63.
Muhammad Effendi Hasbullah
64.
Muhammad Effendi Syakir Al-Gharbawi
65.
Muhammad Effendi At-Tirani
66.
Fuad Effendi Ibrahim Khalil
67.
Yusuf Effendi Abdul Rahman
Delegasi
Ismailiyyah dari Divisi Perjalanan (Rihlah):
68.
Ali Effendi Abdullah Hamadah
69.
Hasanain Effendi Muhammad Hasbullah
70.
Sayyid Effendi Ismail
71.
Ahmad Effendi Abu Al-Su'ud
72.
Abdul Rahman Effendi Muhsin
Delegasi
Wilayah Al-Ballah:
73.
Jamal Effendi Husain
Delegasi
Wilayah Port Said:
74.
Al-Ustadz Asy-Syaikh Mahmud Jum'ah Halbah
75. Ahmad Effendi Al-Mishri
76. Muhammad Effendi Ahmad Sulaiman
Delegasi
Wilayah Port Fouad:
77.
Fahmi Effendi Muhammad
Delegasi
Wilayah Al-Manzilah:
78.
Asy-Syaikh Khatthab Muhammad Khatthab
Delegasi
Wilayah Barmabal Al-Qadimah:
79.
Asy-Syaikh Muhammad Ad-Dasuqi Abdul Muta'al
80.
Muhammad Effendi As-Sayyid Asy-Syafi'i
81.
Muhammad Effendi Jad Ali
82.
Abdul Fattah Effendi Abdul Ghani
Delegasi
Wilayah Al-Kafr Al-Jadid:
83.
Muhammad Effendi Al-Hawari
84.
Asy-Syaikh Hafizh Muhammad Al-Ja'li
Delegasi
Wilayah Barakat Al-Fil:
85.
Asy-Syaikh Muhammad Ali Shalih Khamis
Delegasi
Wilayah Al-Marj:
86.
Muhammad Effendi Taufiq
87.
Khamis Effendi ‘Amir
88.
Asy-Syaikh Muhammad As-Sayyid Ali Mathar
Delegasi
Wilayah Nawa:
89.
Al-Ustadz Umar Abdul Fattah At-Tilmisani
90 -
Asy-Syaikh Ahmad Abdul Hakim.
Shibīn
Al-Qanāthir: 91 - Al-Ustadz Asy-Syaikh Yusuf Al-Khuli. 92 - Al-Ustadz
Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Uzailī. 93 - Muhammad Effendi ‘Izzat Hasan. 94 -
Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Arabi. 95 - Al-Haj Mutawalli Sa‘ad. 96 -
Al-Haj Abdul Muta‘al Madbuli.
Minyat
Shibīn: 97 - Al-Haj Salim Ad-Dibas. 98 - Asy-Syaikh Abbas Salim Khasyab.
Al-Khushūsh:
99 - Asy-Syaikh Ahmad Ali Abdul Rahman.
Tall
Banī Tamīm: 100 - Asy-Syaikh Sayyid Muhammad. 101 - Asy-Syaikh Muhammad
Abdul Muta‘al Zahrah. 102 - Asy-Syaikh Abdul Aziz Muhammad Suwailim. 103 -
Asy-Syaikh Zaki ‘Athiyyah Diyab.
Al-‘Alawiyyah
Syarqiyyah: 104 - Asy-Syaikh Mubarak Ghunaim Abduh.
Abū
Hammād: 105 - Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Aslauji.
106
- Asy-Syaikh Muhammad ‘Athiyyah Ibrahim. 107 - Asy-Syaikh Khalil Muhammad.
Al-Qathāwiyyah
Syarqiyyah: 108 - Asy-Syaikh Muhammad Ahmad Manshur.
Mahallat
Diyāy Gharbiyyah: 109 - Asy-Syaikh Muhammad Bisyr.
Kafr
Ad-Dawwār: 110 - Al-Ustadz Ahmad Abdul Hamid.
Al-Wāshithā:
111 - Abdul Rahman Effendi Ridha.
Mallawī:
112 - ‘Ali Effendi Sya‘ban.
Orang-orang
yang Menyampaikan Uzur Melalui Telegram dan Surat dengan Tetap Mendukung
Keputusan-Keputusan Majelis:
- Al-Ustadz Asy-Syaikh ‘Afifi
‘Athwah – Wakil Suez.
- Al-Ustadz Asy-Syaikh Thaha
Al-Hawari – Naqib [Ketua Cabang] Kafr Al-Jadid.
- Asy-Syaikh Abdullah Salim
Badawi – Wakil Abu Suwair.
- Ahmad Effendi As-Sukkari –
Wakil Al-Mahmudiyyah.
- Asy-Syaikh Muhammad
Baghdadi – Naqib [Ketua Cabang] Al-‘Alawiyyah.
- Muhammad Effendi Qasim
Saqar – Sekretaris Al-Manzilah.
- Muhammad Effendi Khalifah –
Delegasi An-Nasaīmah.
- ‘Ali Effendi Abu Zaid
Tuhami – Delegasi Aswan.
- As-Sayyid Effendi As‘ad
‘Athiyyah – Abu Hammad.
- Asy-Syaikh Muhammad Said
Al-Malath – Al-Qathāwiyyah.
- Muhammad Effendi Haridi –
Port Said.
- Hasan Effendi Faraj – Wakil
Port Fouad.
- Abdul Rahman Effendi Jabr –
di Al-Manzilah.
- Asy-Syaikh Mustafa
Ar-Rifa‘i Al-Labban – Delegasi Asyuth.
- Asy-Syaikh Abdul Basith
Thawilah – Sekretaris Jadidat Al-Manzilah.
- Muhammad Effendi Kamil
‘Ajiz – Wakil Mit Al-Qamish.
- Al-Amiralay [Kolonel] Abdul
Fattah Bey Rifat – Mit Al-Qamish.
- Asy-Syaikh Ali Al-Masari‘ –
Al-Jamaliyyah Daqahliyyah.
- Muhammad Effendi Al-Mahdi
Al-Asymuni – Al-Jamaliyyah Daqahliyyah.
- Muhammad Effendi Al-Kilani
– Mallawī.
- Al-Ustadz Muhammad Effendi
Bahiuddin Sa‘ad – Asyuth.
- Al-Ustadz Asy-Syaikh
Radhwan Muhammad Radhwan – Kairo.
- Al-Ustadz Muhammad Effendi
As-Siba‘i – Kaum Asyfin.
- Asy-Syaikh Ahmad Muhammad
Al-Madani – Mit Marja Salsil.
- Asy-Syaikh Abdul Mahmud
‘Utsman – Mit Marja Salsil.
- Mustafa Abdul Fattah
Effendi – Kairo.
Keputusan-Keputusan
Pertama:
Maktabul Irsyad Al-‘Am (Biro Panduan Pusat)
- Memberhentikan/pembebasan
tugas dari para Ikhwan Afandiyah: Ahmad Ibrahim dan Abdul Mun‘im Khilaf.
- Mengesahkan Abdul Rahman
Effendi As-Sa‘ati sebagai Pengawas (Muraqib) Maktab, dan Husain
Effendi Badr sebagai anggotanya.
- Mengesahkan pembagian tugas
di antara para anggota Maktab berdasarkan ketentuan berikut:
- a. Abdul Rahman
Effendi As-Sa‘ati: Pengawasan Umum (Al-Muraqabah Al-‘Ammah)
terhadap Dakwah di Kairo dan Supervisi Redaksi.
- b. Muhammad
Effendi Hilmi Nuruddin: Asisten dalam Pengawasan Umum – Bendahara Maktab
– Kotak Dana Dakwah.
- c. Muhammad
Effendi Fathullah Darwisy: Pengawasan Keuangan Maktab.
- d. Muhammad
Effendi As‘ad Al-Hakim: Sekretariat Jenderal dan Manajemen Surat Kabar.
- e. Muhammad As‘ad
Rajih Effendi: Wakil Sektor Pertama secara orisinal [asli] dan Sektor
Kedua secara interim [plt/antarbantuan].
- f. Husain Effendi
Badr: Wakil Sektor Ketiga secara orisinal [asli] dan Sektor Keempat
secara interim [plt/antarbantuan].
- g. Mahmud Effendi
Abdul Lathif: Manajemen Percetakan.
- h. Abdul Rahman
Effendi As-Sa‘ati: Tugas perbantuan (intidab).
Kedua:
Percetakan Ikhwanul Muslimin
- Mendorong Al-Ikhwan untuk
terus konsisten memberikan kontribusi [saham] dalam menutup kuota
perusahaan serta dalam bertransaksi dengan percetakan.
- Melimpahkan anggaran
belanja [neraca keuangan] yang diajukan oleh direktur percetakan kepada
komite khusus di Maktabul Irsyad yang dipilih oleh yang terhormat
Al-Ustadz Mursyid Am untuk diperiksa dan disahkan.
- Menyetujui format
sertifikat saham yang telah disahkan oleh Maktab.
Ketiga:
Surat Kabar Ikhwanul Muslimin
- Membentuk sebuah komite
bernama Komite Surat Kabar di dalam Maktab yang dipilih oleh yang
terhormat Al-Ustadz Mursyid Am, yang bertugas meninjau redaksi dan
melakukan pengawasan umum terhadap manajemen, distribusi, dan sejenisnya.
- Setiap distrik/wilayah (Dairah)
Ikhwan berkomitmen untuk mengambil sejumlah eksemplar surat kabar yang
nilainya dibayar dari kas wilayah tersebut, dan wilayah itu sendiri yang
mengelola distribusinya sesuai kemampuan, sehingga dengan demikian wilayah
tersebut telah berkontribusi secara praktis bersama Maktab dalam memajukan
surat kabar.
- Menggalakkan gerakan
berlangganan di wilayah-wilayah Ikhwan dalam rangka menyambut tahun baru.
- Menyampaikan terima kasih
kepada Wilayah Suez atas kesungguhannya yang besar dalam membantu Maktab
secara praktis dalam menyebarluaskan surat kabar.
Keempat:
Dakwah Umum
- Mendirikan kotak dana
mandiri yang terpisah dari kas Maktabul Irsyad Al-‘Am yang dinamakan
“Kotak Dana Dakwah” (Shunduq Ad-Da‘wah), di mana iurannya
dikumpulkan untuk satu tujuan tunggal, yaitu mendanai penyebaran dakwah
Ikhwan dengan mengangkat para dai [mubalig] dan pegawai yang memikul beban
tugas tersebut, serta menerbitkan risalah-risalah dan publikasi cetak yang
membantu mereka dalam misi ini.
- Dana yang sebelumnya
dikumpulkan atas nama Kotak Dana Kerja Sama (Shunduq At-Ta‘awun)
dialihkan ke kotak dana ini, kecuali jika para penyumbangnya atau sebagian
dari mereka merelakan hak mereka untuk diserahkan kepada Maktabul Irsyad,
maka dana tersebut dialihkan ke kas Maktab.
- Membuat regulasi
[lajnah/aturan] khusus untuk proyek ini serta mencetak kuitansi dan
dokumen pernyataan yang diperlukan untuk pelaksanaannya dalam jangka waktu
tidak lebih dari satu bulan sejak tanggal ditetapkannya, dan pelaksanaan
hal tersebut diserahkan kepada Maktabul Irsyad.
- Menyetujui usulan yang
terhormat Al-Ustadz Asy-Syaikh Ahmad Abdul Hamid untuk memperluas dakwah
di luar negeri dengan berbagai sarana, dengan ketentuan bahwa pendanaannya
bersumber dari Kotak Dana Dakwah. Dan yang mulia Muhammad Effendi
Ath-Thahir Munir telah menyumbangkan dana sebesar sepuluh pound, Ustadz
Yusuf Al-Khuli sebesar satu pound untuk Kotak Dana Dakwah, dan Ustadz Jad
Effendi Lasyin sebesar satu pound untuk tujuan tersebut.
Kelima:
Manhaj Ikhwanul Muslimin
- Menjadikan akidah Ikhwan
sebagai simbol bagi manhaj ini.
- Setiap muslim wajib
meyakini bahwa manhaj ini seluruhnya merupakan bagian dari Islam, dan
setiap kekurangan darinya adalah pengurangan dari pemikiran Islam yang
sahih.
- Setiap ikhwan muslim wajib
berusaha menyebarluaskan prinsip-prinsip ini di semua lingkungan, memiliki
antusiasme yang penuh terhadapnya, serta menerapkannya di dalam rumah
tangganya sendiri betapa pun besarnya hal-hal yang tidak disukai yang
harus ditanggung di jalan tersebut.
- Setiap ikhwan yang tidak
memegang teguh prinsip-prinsip ini, maka wakil wilayah berhak menjatuhkan
sanksi yang sesuai dengan tingkat pelanggarannya dan mengembalikannya
untuk mematuhi batasan-batasan manhaj. Dan para wakil wajib memberikan
perhatian besar terhadap hal ini, karena tujuan utamanya adalah pembinaan
(tarbiyah) Al-Ikhwan sebelum segala sesuatu.
Keenam:
Sikap Ikhwanul Muslimin Terhadap Pihak Lain
- Seorang ikhwan muslim wajib
memahami tujuannya dengan sangat jelas dan menjadikannya sebagai
satu-satunya tolok ukur dalam hubungan antara dirinya dengan
organisasi/lembaga lain.
- Setiap manhaj yang tidak
mendukung Islam dan tidak bersandar pada dasar-dasar umumnya tidak akan
membawa pada keberhasilan.
- Setiap organisasi yang
melalui aktivitasnya merealisasikan salah satu aspek dari manhaj Ikhwanul
Muslimin, maka seorang ikhwan muslim akan mendukungnya dalam aspek
tersebut.
- Ikhwanul Muslimin, apabila
mendukung suatu organisasi tertentu, wajib memastikan secara meyakinkan
bahwa organisasi tersebut tidak akan mengingkari tujuan mereka di waktu
kapan pun.
- Organisasi-organisasi yang
bermanfaat diarahkan menuju tujuan dengan cara memperkuatnya, bukan
memperlemahnya.
- Al-Ikhwan menyambut baik
setiap pemikiran yang bertujuan menyatukan upaya umat Islam di seluruh
penjuru bumi, serta mendukung pemikiran tentang Pan-Islamisme (Al-Jāmi‘ah
Al-Islāmiyyah) sebagai salah satu dampak dari kebangkitan Timur.
- Ikhwanul Muslimin bersikap
tulus kepada seluruh organisasi Islam dan berusaha mendekatkan hubungan di
antara mereka dengan segala sarana, serta meyakini bahwa rasa cinta di
antara sesama muslim adalah fondasi paling utama untuk kebangkitan mereka.
Mereka menentang setiap aliran yang merusak dan mendistorsi makna Islam
seperti Bahaiyyah dan Qadiyaniyyah.
Ketujuh:
Pembentukan Praktis (Al-Takwīn Al-‘Amalī) Ikhwanul Muslimin
- Setiap kantor dan badan
kepengurusan utama di wilayah-wilayah Ikhwanul Muslimin wajib
memperhatikan pembinaan jiwa (tarbiyah nafsiyyah) yang saleh bagi
Al-Ikhwan yang selaras dengan prinsip-prinsip mereka dan menanamkan
prinsip-prinsip ini dalam jiwa mereka. Demi mencapai tujuan ini,
keanggotaan dalam Ikhwan dibagi menjadi tiga tingkatan:
- a. Keanggotaan Umum (Al-Inshimām
Al-‘Ām): Merupakan hak setiap muslim yang disetujui penerimaannya
oleh manajemen wilayah, menyatakan kesiapannya untuk memperbaiki diri,
menandatangani formulir perkenalan, serta berkomitmen melunasi iuran
keuangan yang disumbangkannya secara sukarela kepada jemaah. Wakil
wilayah berhak membebaskan siapa saja yang dipandangnya memiliki uzur
dari sebagian kewajiban anggota. Anggota pada tingkatan ini disebut
sebagai Akh Musā‘id (Saudara Pembantu).
- b. Keanggotaan Ukhuwah (Al-Inshimām
Al-Akhawī): Merupakan hak bagi setiap muslim yang disetujui
penerimaannya oleh manajemen wilayah yang telah memenuhi tingkatan
sebelumnya. Kewajibannya—selain kewajiban-kewajiban sebelumnya—adalah
“menjaga akidah” dan berkomitmen memegang teguh ketaatan, menahan diri
dari hal-hal yang diharamkan, serta menghadiri pertemuan mingguan,
tahunan, dan pertemuan lainnya apabila diundang. Anggota pada tingkatan
ini disebut sebagai Akh Muntasib (Saudara Afiliasi/Anggota Muda).
- c. Keanggotaan Praktis (Al-Inshimām
Al-‘Amalī): Merupakan hak bagi setiap muslim yang disetujui
penerimaannya oleh manajemen wilayah. Kewajiban anggota di
dalamnya—selain kewajiban-kewajiban sebelumnya—adalah menyerahkan foto
diri, memberikan data yang cukup yang diminta mengenai dirinya, mempelajari
penjelasan akidah Ikhwanul Muslimin, berkomitmen mengamalkan wirid
Al-Qur'an (wird Qur'anī), menghadiri majelis Al-Qur'an mingguan
dan majelis wilayah, berkontribusi dalam kotak dana haji, berkontribusi
dalam komite zakat apabila telah mencapai nisab, bergabung ke dalam
divisi perjalanan (rihlah) selama usianya memungkinkan,
berkomitmen berbicara dengan bahasa Arab fusha sedapat mungkin,
menerapkan prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin di dalam rumahnya, serta
berusaha mendidik dirinya dalam urusan-urusan sosial kemasyarakatan umum,
bersungguh-sungguh dalam menghafal empat puluh hadis nabi, serta menerima
keputusan sanksi disiplin [munāshafāt] dari Al-Ikhwan. Anggota
pada tingkatan ini disebut sebagai Akh ‘Āmil (Saudara
Aktif/Anggota Inti).
- d. Terdapat
tingkatan keempat di antara tingkatan-tingkatan keanggotaan, yaitu Keanggotaan
Jihad (Al-Inshimām Al-Jihādī): Tingkatan ini tidak bersifat
umum, melainkan merupakan hak bagi Akh ‘Āmil yang terbukti bagi
Maktabul Irsyad konsisten dalam menjaga kewajiban-kewajiban sebelumnya.
Pemeriksaannya merupakan hak Maktab. Kewajiban anggota pada tingkatan
ini—selain hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya—adalah sedapat
mungkin meneladani Sunah yang suci dalam perkataan, perbuatan, dan ahwal
[keadaan diri], di antaranya adalah menegakkan qiyamulail, menunaikan
salat jemaah kecuali karena uzur yang memaksa , bersikap zuhud dan
menjauh dari kemewahan dunia yang fana, menjauh dari segala sesuatu yang tidak
islami dalam ibadah, muamalah, serta dalam seluruh urusannya,
berkontribusi secara finansial kepada Maktabul Irsyad dan Kotak Dana
Dakwah, mewasiatkan sebagian harta peninggalannya untuk jemaah Ikhwan,
menegakkan amar makruf nahi mungkar selama ia memiliki kelayakan untuk
itu, memenuhi seruan Maktab kapan pun ditujukan kepadanya di waktu kapan
pun dan di tempat mana pun, membawa mushaf Al-Qur'an untuk
mengingatkannya akan kewajibannya terhadap Kitabullah yang mulia, serta
bersiap menghabiskan masa pembinaan khusus di Maktabul Irsyad. Anggota
pada tingkatan ini disebut sebagai Mujāhid.
- Maktabul Irsyad memiliki
hak untuk memberikan gelar kehormatan di antaranya Naqib dan Naib
pada masing-masing tingkatan keanggotaan ketiga dan keempat.
- Guna melaksanakan
pembentukan ini, Maktab melakukan langkah-langkah berikut:
- a. Mencetak
formulir keanggotaan untuk berbagai tingkatannya.
- b. Mencetak surat
ketetapan [akreditasi] bagi wilayah-wilayah, para naqib, dan para naib.
- c. Mencetak buku
akidah yang dilengkapi dengan doa-doa maktsur.
- d. Mencetak buku
akidah yang dijelaskan dengan penjelasan yang mudah.
- e. Mencetak
risalah tentang ketaatan serta keutamaannya, dan kemaksiatan serta dampak
buruknya.
- f. Risalah
penjelasan tentang empat puluh hadis pilihan.
- g. Menyusun
regulasi haji, regulasi zakat, regulasi divisi perjalanan, regulasi
sanksi disiplin, penjelasan sistem majelis Al-Qur'an, dan sistem
pembinaan di Maktabul Irsyad.
- Para wakil wajib
menyampaikan kepada Maktab dalam jangka waktu tidak melampaui bulan
Muharam tahun 1354 H berupa daftar terperinci mengenai Al-Ikhwan di
wilayah mereka berdasarkan sistem baru ini, dengan melampirkan daftar
tersebut bersama formulir keanggotaan serta foto-foto para Akh ‘Āmil
yang belum dikirimkan ke Maktab sebelumnya. Para wakil juga wajib sangat
saksama dalam mengawasi Al-Ikhwan, mewajibkan mereka menunaikan
kewajiban-kewajiban sesuai tingkatan keanggotaan mereka, serta mengambil
tindakan tegas terhadap setiap anggota yang meremehkan kewajibannya.
- Maktab mendelegasikan dari
anggotanya seorang utusan [delegasi] yang mengawasi pelaksanaan sistem ini
di wilayah-wilayah Ikhwan.
Kedelapan:
Pembentukan Administratif (Al-Takwīn Al-Idārī) Ikhwanul Muslimin
- Tujuan Ikhwanul Muslimin
adalah tujuan spiritual-praktis sebelum menjadi tujuan
administratif-formal. Maka Al-Ikhwan wajib memperhatikan hal tersebut
sepenuhnya dan meyakini bahwa sistem administratif ini tidak lain hanyalah
sekadar sarana untuk keteraturan belaka.
- Badan-badan administratif
Ikhwanul Muslimin adalah:
- a. Yang terhormat
Al-Ustadz Mursyid Am.
- b. Maktabul Irsyad
Al-‘Am.
- c. Majelis Syura
Al-‘Am yang terdiri dari para wakil wilayah.
- d. Para wakil
wilayah dan sektor.
- e. Para wakil
cabang.
- f. Majelis Syura
Tingkat Pusat.
- g. Muktamar
Wilayah.
- h. Para utusan
Maktab.
- i. Divisi
Perjalanan (Rihlah).
- j. Divisi Akhwat
[Perempuan].
Para
peserta sidang telah menyerahkan kepada yang terhormat Al-Ustadz Mursyid Am
otoritas untuk menentukan tugas dari masing-masing badan ini serta menyusun
penjelasan yang menerangkan batasan tersebut.
Kesembilan:
Manifestasi Dakwah
- Dakwah Ikhwan harus
memiliki manifestasi spiritual dalam pertemuan-pertemuan, tradisi islami,
dan ungkapan-ungkapan maktsur, serta manifestasi praktis yang tidak
dilarang oleh agama berupa lambang/atribut dan sejenisnya yang
membedakannya dari yang lain.
- Maktabul Irsyad wajib
menyusun sistem yang merealisasikan tujuan ini.
Kesepuluh:
Divisi Perjalanan (Rihlah)
- Para peserta sidang
menyetujui proyek divisi perjalanan dan mengesahkan regulasi yang disusun
oleh Maktab yang telah direvisi oleh komite yang terdiri dari: Al-Ustadz
Asy-Syaikh Ahmad Abdul Hamid sebagai ketua, Husain Effendi Husni sebagai
sekretaris, serta Muhammad Effendi Mukhtar Ismail, Thahir Effendi Hawari,
Husain Effendi As-Sayyid, Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Uzaili, dan Muhammad
Effendi Husni As-Sayyid sebagai anggota.
Kesebelas:
Muktamar-Muktamar, Wilayah-Wilayah, dan Proyek Zakat serta Haji Pembagian
wilayah Ikhwan yang ada saat ini dan yang akan dibentuk kemudian menjadi
distrik-distrik [wilayah] sebagai berikut:
- a. Wilayah Kanal (Al-Qanāl).
- b. Wilayah
As-Syarqiyyah.
- c. Wilayah
Ad-Daqahliyyah yang saat ini diwakili oleh Al-Bahr Ash-Shaghir.
- d. Wilayah
Al-Gharbiyyah.
- e. Wilayah
Al-Buhairah.
- f. Wilayah
Al-Munufiyyah.
- g. Wilayah
Al-Qalyubiyyah.
- h. Wilayah
Iskandariyah [Alexandria].
- i. Wilayah Kairo.
- j. Wilayah Nil Bawah
[Al-Sha‘īd Al-Adnā], meliputi wilayah: Giza, Faiyum, Bani Suweif.
- k. Wilayah Nil Tengah
[Al-Sha‘īd Al-Awsath]: Minya dan Asyuth.
- l. Wilayah Nil Atas [Al-Sha‘īd
Al-A‘lā]: Jirja, Qena, dan Aswan.
2 - di
atas distrik/wilayah (dairah) di setiap kawasan (manthiqah) ini,
para ketuanya harus mengadakan pertemuan berkala secara bergantian di pusat
salah satu wilayah tersebut dalam jangka waktu berbeda-beda yang disesuaikan
dengan kondisi mereka, dengan ketentuan bahwa jarak antara dua pertemuan tidak
boleh lebih dari tiga bulan.
3 -
Maktabul Irsyad berhak menugaskan seorang wakil untuk setiap kawasan ini, yang
akan bertindak sebagai penghubung antara wakil bagian (naib al-qism) dan
kawasan tersebut apabila diperlukan.
4 -
Para peserta sidang menyetujui Anggaran Rumah Tangga (ART) Zakat yang disusun
oleh Maktab, yang telah direvisi oleh sebuah komite yang terdiri dari: Yang
Mulia Ustadz Asy-Syaikh Hamid Askariyyah sebagai ketua, Al-Hadir Muhammad
Effendi As-Sayyid Asy-Syafi'i sebagai sekretaris, serta Ustadz Asy-Syaikh
Muhammad Khattab, Ustadz Asy-Syaikh Ahmad Abdul Karim, Ustadz Asy-Syaikh Yusuf
Al-Khuli, Ustadz Umar Abdul Fattah At-Tilmisani, dan Muhammad Effendi Izzat
Hasan sebagai anggota.
5 -
Menyetujui ART Haji yang disusun oleh Maktab, yang telah direvisi oleh sebuah
komite yang terdiri dari: Yang Mulia Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-Hadi
Athiyyah sebagai ketua, Al-Hadir Abdul Rahman Effendi Ridha sebagai sekretaris,
serta Yang Mulia Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Al-Arabi, Asy-Syaikh Sayyid
Muhammad Mathar, Asy-Syaikh Mubarak Ghunaim, Asy-Syaikh Ahmad Manshur,
Asy-Syaikh Muhammad Ali Shalih Khamis, dan Muhammad Effendi Ath-Thahir Munir
sebagai anggota.
Segera
setelah itu, Yang Mulia Ustadz Mursyid Am mengumumkan bahwa pada tahun depan,
insya Allah, beliau akan termasuk di antara orang-orang yang melaksanakan
anggaran rumah tangga ini dan menunaikan ibadah haji.
Kedua
Belas: Reformasi Keuangan
1 -
Setiap wilayah wajib memperhatikan sistem keuangannya, sehingga sumber
pendapatannya selalu lebih besar daripada pengeluarannya melalui sarana-sarana
yang disyariatkan, agar tidak terjerumus ke dalam krisis ekonomi yang dapat
menghabiskan sebagian dari potensi dan usahanya.
2 -
Para wakil wajib bersegera mengirimkan nilai iuran mereka kepada Maktab pada
awal bulan secara langsung. Setiap wilayah yang mampu menyokong Maktab dengan
persentase tertentu dari pendapatannya harus bersegera melakukannya.
3 -
Wilayah-wilayah berkontribusi dalam mendistribusikan kupon sumbangan dengan
berbagai nilai nominal yang bertingkat, mulai dari satu Qarsy hingga dua puluh
Qarsy, serta dalam mendistribusikan risalah berkala yang dicetak dan
diterbitkan oleh Maktab.
4 -
Maktabul Irsyad berhak mengumpulkan dari Al-Ikhwan satu Qarsy pada bulan
Ramadan dan satu Qarsy pada hari kelahiran (Maulid) Rasul Agung, apabila
kondisi darurat menuntut hal tersebut.
5 -
Maktab menyusun anggaran dasar kerja sama yang menjamin terciptanya sumber dana
tetap yang dapat diandalkan oleh jemaah untuk membantu Al-Ikhwan saat
membutuhkan, dengan ketentuan anggaran dasar ini dilaksanakan setelah periode
pertama disahkan oleh Majelis Syura Al-Am.
Para
peserta sidang telah memutuskan agar Maktabul Irsyad, atas nama mereka,
menyampaikan ucapan selamat yang tulus kepada Baginda Raja Abdul Aziz Al Saud
atas keselamatan beliau (dari upaya pembunuhan), serta menyatakan kecaman keras
atas agresi berdosa tersebut.
Sebagai
penutup yang indah (miskul khitam), para hadirin dari kalangan Ikhwan
membaiat Yang Mulia Mursyid Am atas dasar kepercayaan penuh, serta untuk
mendengar dan taat, baik dalam keadaan lapang maupun sempit (terpaksa), hingga
Allah memenangkan dakwah-Nya dan mengembalikan kejayaan Islam.
Anggaran
Rumah Tangga (ART) Haji Setelah Revisi
1 -
Setiap ikhwan muslim wajib mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji
sesuai dengan batas kemampuannya.
2 - Akh
Musā‘id (Saudara Pembantu) diperintahkan untuk bersiap-siap. Akh
Muntasib (Saudara Afiliasi) diberikan perintah ini pada setiap kesempatan.
Sedangkan Akh ‘Āmil (Saudara Aktif) diwajibkan menyisihkan sebagian dari
hartanya betapa pun kecilnya dan sesuai dengan kondisi finansialnya; uang yang
disisihkannya tersebut disimpan di tabungan pos tanpa bunga atas nama akun
pelaksanaan ibadah ini, jika tidak memungkinkan untuk menyimpannya di tempat
lain yang aman.
3 -
Di setiap wilayah dibentuk sebuah komite cabang yang dinamakan "Komite
Propaganda Haji" yang bertugas memeriksa tabungan berkala para Akh
‘Āmil yang dialokasikan untuk ibadah haji, serta memerintahkan dan
mengingatkan para Ikhwan yang berada pada dua tingkatan pertama.
4 -
Setiap ranting (syu'bah) Ikhwanul Muslimin harus memilih salah satu
anggotanya yang memahami agama secara mendalam (mutafaqqih fid-din)
untuk mengajarkan manasik haji bagi siapa saja yang berniat menunaikan ibadah
ini dari rantingnya. Maktabul Irsyad Al-Am juga wajib mendelegasikan setiap
tahun seorang wakil atas biayanya sendiri dari kalangan ahli fikih dan hikmah
untuk membimbing Al-Ikhwan dan mengajarkan hukum-hukum manasik kepada mereka
berdasarkan prinsip-prinsip yang sahih dari Sunah, jika di antara Al-Ikhwan
yang berhaji tidak ada yang mampu memikul beban tugas ini.
Guna
mempermudah tujuan ini, Maktabul Irsyad Al-Am menyusun sebuah risalah mengenai
adab haji, ziarah, dan hal-hal yang berkaitan dengannya berupa
peninggalan-peninggalan di Tanah Suci.
5 -
Al-Ikhwan wajib menyatukan rencana perjalanan mereka guna memperkuat taaruf
(saling mengenal), menghemat biaya, motivasi belajar, meraih pahala
kebersamaan, saling tolong-menonjol dalam kebajikan dan takwa, serta memacu
diri dalam ketaatan kepada Allah, kecuali jika kondisi darurat yang sangat
mendesak menuntut selain itu.
6 - Akh
‘Āmil yang terbukti melalaikan tabungan haji tanpa adanya uzur syar'i yang
memaksa, akan diturunkan ke tingkat keanggotaan sebelumnya dan tidak
mendapatkan hak-hak sebagai Akh ‘Āmil. Keputusan mengenai kelalaiannya
atau tidak dalam hal ini diserahkan kepada pandangan komite cabang yang
tercantum dalam pasal tiga dari anggaran rumah tangga ini, setelah Maktabul
Irsyad menyetujui pandangan komite tersebut.
7 -
Maktab di masing-masing wilayah melakukan pendataan terhadap seluruh Ikhwan
yang berkeinginan menunaikan ibadah haji di wilayah mereka, lalu mengirimkan
daftar lengkap nama-nama mereka setelah Idulfitri setiap tahun kepada Maktabul
Irsyad Al-Am untuk mempersiapkan segala keperluan delegasi jemaah haji Ikhwanul
Muslimin; pengiriman daftar ini tidak boleh terlambat dari tanggal sepuluh
Syawal setiap tahunnya.
8 -
Maktab melakukan segala upaya yang memungkinkannya untuk mendapatkan
fasilitas-fasilitas material maupun imaterial dari Pemerintah Mesir dan
Pemerintah Hijaz bagi para jemaah haji Ikhwan, dengan tujuan untuk memotivasi
mereka dan menambah jumlah mereka.
9 -
Jika jumlah Ikhwan yang melaksanakan haji sangat banyak, maka Maktab wajib
mendelegasikan di antara mereka seorang utusan administratif di samping utusan
keagamaan, yang bertugas menyelesaikan urusan-urusan administratif Al-Ikhwan,
dan dia menjadi rujukan bagi mereka semua dalam hal tersebut demi menyatukan
kerja dan menghemat potensi. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka Maktab
wajib mendelegasikan seorang utusan dari pihaknya untuk menjalankan misi ini.
10 -
Pelaksanaan anggaran rumah tangga ini dimulai sejak tanggal pengesahannya dan
disampaikan kepada para wakil serta ketua-ketua cabang untuk diamalkan.
Dan
kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Tuhan Pemilik Arsy Yang Agung,
agar memberikan taufik-Nya kepada kami menuju apa yang Dia cintai dan Ridhai.
Amin.
Anggaran
Rumah Tangga (ART) Zakat dan Sedekah
- Ketua Komite: Muhammad
Al-Hadi Athiyyah
- Sekretaris Interim: Mubarak
Ghunaim Abduh
1 -
Setiap ikhwan muslim yang telah mencapai nisab wajib mengeluarkan zakat
hartanya.
2 - Akh
Muhib (Saudara Simpatisan) diperintahkan; Akh Akhawi (Saudara
Ukhuwah) diperintahkan dan diingatkan; sedangkan Akh ‘Āmil (Saudara
Aktif) dianggap sebagai anggota di dalam komite zakat umum.
3 -
Komite umum untuk zakat masyarakat terbentuk dari seluruh Ikhwan yang wajib
mengeluarkan zakat, dan mereka memilih dari kalangan mereka sendiri sebuah
badan eksekutif yang diundi setiap tahun, terdiri dari seorang ketua dan dua
orang anggota yang dipilih melalui pemungutan suara secara rahasia di antara
anggota komite umum.
4 -
Majelis Syura Wilayah untuk distrik tersebut atau wakil distrik, masing-masing
secara langsung maupun melalui utusan yang ditunjuknya, memiliki hak pengawasan
umum atas badan eksekutif. Ia juga berhak mengundang sidang umum para pembayar
zakat (muzakki) apabila terjadi perselisihan dengan badan eksekutif ini
dalam suatu tindakan penanganan keuangan yang tidak dapat diselesaikan di
antara mereka, dengan ketentuan keputusan di dalamnya sah berdasarkan suara
mayoritas anggota.
5 -
Tugas badan eksekutif ini adalah mengawasi penghimpunan zakat yang wajib
dikeluarkan dan menyimpannya hingga didistribusikan, serta membagikannya kepada
para mustahik yang sah secara syariat tanpa ada bias, pilih kasih, maupun
dikendalikan oleh tendensi atau tujuan-tujuan pribadi, setelah masing-masing
dari mereka mengucapkan sumpah untuk menjaga hal tersebut.
6 -
Badan eksekutif wajib menjalankan tugasnya pada setiap musim panen di
wilayah-wilayah pertanian, dan membagi para pembayar zakat emas-perak (naqdain)
serta barang dagangan ('urudh tijarah) ke dalam kelompok-kelompok
berdasarkan waktu-waktu yang disepakati pada masing-masing dari mereka.
7 -
Badan eksekutif wajib menyediakan buku kas untuk mendata semua yang telah
dihimpun dan memberikan kuitansi yang disertai tanda tangannya, serta mendata
lembar daftar mustahik beserta kadar hak yang diterima oleh masing-masing dari
mereka. Sebelum pembagian langsung dilaksanakan, hasilnya wajib diajukan
terlebih dahulu kepada komite umum untuk disahkan dan disetujui pengeluarannya.
Pengeluaran tidak dianggap sah kecuali dengan dokumen-dokumen pemenuhan yang
lengkap dari mustahik. Tidak diperbolehkan menunda penyaluran zakat dari
waktunya kecuali karena uzur syar'i dan sebelum berakhirnya tahun berjalan,
serta hal tersebut harus dicantumkan di dalam laporannya. Laporan ini juga
wajib memuat sisa dari zakat yang dihimpun dan penyerahannya kepada pihak yang
terpilih setelah mereka, jika tidak dilakukan pemilihan ulang terhadap badan
tersebut.
8 -
Seluruh kegiatan komite zakat bersifat rahasia, tidak boleh ada yang melihatnya
kecuali komite umum, utusan Majelis Syura Wilayah, atau wakil distrik. Sidang
umum Ikhwan di wilayah tersebut tidak berhak menuntut untuk mengetahui apa yang
telah dikerjakan oleh komite, karena sudah cukup dengan diketahuinya hal
tersebut oleh Majelis Syura dan anggota komite umum zakat itu sendiri, dengan
tetap memberlakukan sumpah bagi setiap anggota yang memiliki hak melihat untuk
menjaga kerahasiaan ini (rujuk Pasal Kelima).
9 -
Badan eksekutif berhak menerima apa saja yang diserahkan kepadanya sebagai
sedekah, lalu menyalurkannya berdasarkan pengetahuan tindakannya dengan
mencatat dana masuk, dana keluar, sumber, dan alokasinya di dalam buku kas
khusus. Badan eksekutif juga berhak mengingatkan masyarakat pada berbagai
kesempatan untuk bersedekah sebagai bentuk pengorganisasian kebajikan dan
penyebaran kebaikan.
10 -
Alokasi-alokasi (masharif) tempat disalurkannya zakat adalah alokasi
yang telah disebutkan di dalam Al-Qur'anul Karim, dan zakat tidak boleh
disalurkan ke selain kondisi ini sama sekali.
11 -
Badan eksekutif berhak memilih para asisten dari komite umum untuk membantu
mengenali para mustahik, menjalankan pembagian secara langsung, memeriksa
lembar daftar, atau tugas-tugas lainnya di bawah pengawasan dan tanggung jawab
badan tersebut.
12 -
Badan eksekutif ini maupun pihak lainnya tidak berhak menjual, menukar, atau
melakukan tindakan pemanfaatan apa pun terhadap barang-barang (a'yan)
yang telah dihimpun, melainkan barang tersebut harus dibagikan dalam bentuk
yang sama sebagaimana ia dihimpun, kepada sasaran peruntukannya tanpa adanya
pengubahan apa pun.
13 -
Apa yang telah dihimpun tidak boleh dipindahkan dari satu tempat ke tempat
lainnya, bagaimanapun mendesak dan pentingnya alasan-alasan yang menuntut hal
tersebut, kecuali karena adanya alasan syar'i.
14 -
Akh ‘Āmil yang mampu berzakat namun kemudian tidak menunaikannya sama
sekali, akan diturunkan dari tingkat keanggotaannya ke tingkat sebelumnya.
Apabila ia menunaikannya sendiri (tanpa lewat komite), maka ia wajib memberi
tahu komite umum mengenai tanggal penunaiannya agar komite mengetahuinya, dan
ia diperingatkan untuk tidak mengulangi tindakan tersebut lagi, jika melanggar
ia akan dikembalikan ke tingkat keanggotaan sebelumnya.
15 -
Jika kondisi di beberapa wilayah memerlukan adanya pegawai untuk bekerja dalam
proyek zakat, maka pengangkatan mereka didasarkan pada pandangan komite umum
para pembayar zakat atas permintaan badan eksekutif, dan upah mereka diambil
dari dana zakat itu sendiri [sebagai amil]. Kondisi tersebut juga
berlaku dalam hal penyediaan gudang-gudang penyimpanan hasil panen jika situasi
menuntut demikian.
16 -
Maktabul Irsyad Al-Am menyusun sebuah risalah untuk menjelaskan hukum-hukum
zakat serta keutamaan sedekah.
17 -
Maktab wajib mendelegasikan dari anggotanya seorang pengawas (muraqib)
yang tugasnya berkeliling ke ranting-ranting untuk mengetahui sejauh mana
perhatian dan kesungguhan badan-badan eksekutif zakat.
18 -
Anggaran rumah tangga ini diamalkan setelah disahkan, dan cabang-cabang
diberikan salinan isinya untuk dilaksanakan.
Anggaran
rumah tangga ini telah direvisi berdasarkan pengetahuan para anggota komite
yang namanya tercantum di bawah ini, yang merupakan orang-orang yang dipilih
untuk tugas tersebut: Hamid Askariyyah, Yusuf Al-Khuli, Khattab Muhammad
Khattab, Muhammad Dasuqi Abdul Muta'al, Muhammad传Sيd Asy-Syafi'i [Muhammad通Sيd Asy-Syafi'i], Muhammad Izzat Hasan,
Muhammad Abdul Muta'al Mutawalli.
Sampel
Kuliah-Kuliah di Daerah Sektor (Provinsi)
Kunjungan-kunjungan
ke daerah sering kali berlangsung lama, dan waktu yang ada dimanfaatkan dengan
penyampaian kuliah-kuliah serta pelajaran ilmiah yang berkaitan langsung maupun
tidak langsung dengan dakwah.
Berikut
ini adalah sebuah sampel dari kunjungan-kunjungan tersebut ke kota Port Said.
Majalah Al-Ikhwan telah mempublikasikan program kunjungan yang
berlangsung selama enam hari penuh ini, yang dikutip dari teks undangan yang
ditujukan oleh pihak ranting (syu'bah) kepada penduduk setempat:
Sangkaan
Kuliah Sila-menyila di Taman-Taman Al-Qur'anul Karim
Mulai
hari Selasa 29 Rabiul Akhir tahun 1354 H / 30 Juli tahun 1935 M dan hari-hari
berikutnya, kuliah-kuliah ini akan disampaikan oleh Al-Hadir Mursyid Am, Ustadz
Hasan Effendi Al-Banna, pendiri jemaah-jemaah Ikhwanul Muslimin di Wilayah
Mesir, dalam rangka keberadaan beliau di pelabuhan Port Said, bertempat di
gedung jemaah sesuai jadwal berikut:
- Selasa malam, 29 Rabiul
Akhir - 30 Juli: "Dampak" (Ta'tsīr).
- Rabu malam, 1 Jumadil Ula
- 31 Agustus: "Pemisahan/Kontras" (Mufāraqah).
- Hari Kamis, 2 Jumadil Ula
- 1 September: "Komparasi/Perbandingan" (Muwāzanah).
- Hari Jumat, 3 Jumadil Ula
- 2 September: "Reformasi" (Ishlāh).
- Sabtu malam, 4 Jumadil
Ula - 3 September: "Fondasi" (Ashl).
- Ahad malam, 5 Jumadil Ula
- 4 September: "Keutamaan" (Fadhīlah).
Sebagai
tambahan pada program ini, seorang pemuda yang terhormat, Yaqut Effendi Hasan
Himsh, akan mengajarkan kepada para pengawas sebuah kajian yang agung dengan
tema "Agama Orang-Orang Mesir Kuno", yang akan disampaikannya pada
Kamis malam tanggal satu Agustus, segera setelah Ustadz Mursyid selesai
menyampaikan kuliahnya.
Jemaah
memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas undangannya kepada seluruh lapisan
masyarakat di kota yang mulia ini, karena kajian-kajian ini penting bagi semua
orang, serta mencakup dasar-dasar tujuan yang diserukan oleh agama, dan
sifat-sifat paling mulia yang menghiasi jiwa.
Komite
Kuliah/Seksi Acara
Dakwah
Kami di Negeri-Negeri Saudara (Sekerabat)
Utusan
pertama Ikhwanul Muslimin ke negeri-negeri sekerabat—yaitu Palestina, Suriah,
dan Lebanon—adalah dua bersaudara yang utama: Ustadz Abdul Rahman As-Sa'ati dan
Ustadz Muhammad As'ad Al-Hakim.
Majalah
Al-Ikhwan telah mempublikasikan berita kunjungan ini dalam redaksi
berikut:
Para
pembaca telah mengetahui berita penugasan Al-Hadir dua Ustadz, Abdul Rahman
Effendi As-Sa'ati dan Muhammad Effendi As'ad Al-Hakim, untuk mengunjungi negeri
sekerabat serta menyebarkan dakwah di wilayah Suriah dan Palestina. Kabar
terkini telah datang dari keduanya bahwa mereka telah sampai dengan keselamatan
dari Allah Ta'ala di Baitul Maqdis (Yerusalem) pada Ahad pagi tanggal 5 Jumadil
Ula, bersama dengan pemimpin Tunisia, Ustadz Ats-Tsa'alibi, yang mendampingi
mereka dari Kairo pada Sabtu sore tanggal 4 Jumada. Di sana, keduanya menemui
Yang Mulia Sayyid Amin Al-Husaini, Ketua Majelis Islam Tertinggi, dan
menyebarluaskan dakwah jemaah. Yang Mulia Sayyid Al-Husaini pun membalas
kunjungan mereka ke tempat penginapan yang mereka tinggali. Kemudian, keduanya
meninggalkan Baitul Maqdis menuju Damaskus dan sampai di sana pada hari Rabu
jam empat. Keduanya menunaikan salat Jumat di Masjid Umawi dan berkhotbah di
dalamnya untuk menyerukan dakwah Ikhwanul Muslimin, serta menemui para tokoh
pergerakan Islam.
Kami
juga telah menerima sebuah artikel dari Ustadz Abdul Rahman Effendi As-Sa'ati
untuk majalah ini yang menjelaskan tentang apa yang telah mereka lakukan dan
apa yang mereka jumpai di sana, yang akan kami terbitkan pada nomor berikutnya,
insya Allah. (Lihat nomor 18, Selasa 14 Jumadil Ula 1354 H - 13 Agustus 1935 M,
Tahun Ketiga; dan nomor 19, Selasa 21 Jumadil Ula 1354 H - 20 Agustus 1935 M,
Tahun Ketiga)
Semoga
Allah memberikan taufik kepada orang-orang yang beramal demi menghidupkan agama
mereka serta mengembalikan kejayaan dan kepemimpinan agungnya.
Surat
Rekomendasi yang Mulia Sayyid Amin Al-Husaini
Demikian
pula, Yang Mulia Mufti Agung dan Ketua Majelis Islam Tertinggi, Sayyid Muhammad
Amin Al-Husaini, menyambut kedua saudara tersebut dengan kehangatan dan simpati
yang mendalam, serta membekali keduanya dengan surat-surat rekomendasi yang
mulia yang ditujukan kepada para ketua lembaga dan jemaah di negara-negara yang
akan mereka kunjungi.
Majalah
Al-Ikhwan telah mempublikasikan salinan dari salah satu surat tersebut,
yang berbunyi:
Bismillahirrahmanirrahim
Kepada
Yang Mulia Ketua Jemaah Al-Hidayah Al-Islamiyyah di Damaskus.
Assalamu'alaikum
wa Rahmatullahi wa Barakatuh, wa Ba'du:
Hari
ini kami mendapatkan kehormatan atas kunjungan dua ustadz yang berbudi luhur,
Abdul Rahman Effendi As-Sa'ati dan Muhammad Effendi As'ad Al-Hakim, utusan
jemaah Ikhwanul Muslimin di Wilayah Mesir. Kami sangat mengagumi wawasan
keislaman mereka, keteguhan mereka terhadap adab-adab agama yang lurus, serta
usaha mereka dalam menyebarluaskan prinsip Islam yang kokoh:
Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Kami
juga mengetahui keinginan keduanya untuk mengunjungi Suriah guna mengenal
saudara-saudara muslim mereka yang berjuang di sana dalam meninggikan kalimat
Islam. Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk menjembatani ikatan taaruf
di antara Anda sekalian demi mewujudkan maksud dan keinginan mereka.
Tidak
ada keraguan bahwa keduanya akan mendapatkan penyambutan dan penghormatan di
halaman Anda yang luas serta di kota Damaskus yang subur, yang akan menanamkan
kenangan-kenangan terbaik dalam benak mereka tentang kunjungan yang diberkahi
ini.
Sebagai
penutup, terimalah salam takzim dan penghormatan yang melimpah.
Kantor
Kongres Islam Umum, Baitul Maqdis 17 Jumadil Ula 1354 H / 5 Agustus 1935 M.
Ustadz
Abdul Rahman As-Sa'ati juga mencatat kunjungan ini dalam sebuah tulisan
berharga yang diterbitkan oleh majalah Al-Ikhwan, yang teksnya sebagai
berikut:
Ikhwanul
Muslimin di Damaskus Bani Umayyah enggan membiarkan segala pujiannya
sirna Sepanjang masa, begitu pula yang enggan dilakukan oleh putra-putra
Ghassan
[Bagian
1: Dakwah di Syam (Damaskus dan Hauran)]
Maka
di antara para pemuka yang mulia di Jallaq [Damaskus] dan di antara para pemuka
di tanah Hauran, Mereka enggan menerima kehinaan di dunia, bagi mereka
kemuliaan hidup dan kemuliaan mati adalah sama. Mereka tidak bersabar atas
kezaliman yang diupayakan oleh penjahat dari kalangan manusia atau diktator
dari kalangan jin.
Semoga
Allah menjaga wajah-wajah yang berseri-seri ini, yang kami tinggalkan di Jallaq
seraya menyerukan prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin dan bekerja untuk tujuan
mereka yang terpuji. Dan semoga Allah mencerahkan wajah-wajah yang di atas
lembaran cerangnya terlukis harapan-harapan seorang Muslim, yang tubuhnya tidak
dikungkung oleh satu tempat saja, dan harapan-harapannya tidak dibatasi oleh
luasnya bumi yang terbentang, hingga ia melihat bayangan harapannya menjadi
kenyataan yang terlukis di atas hamparan bumi, menjadi kekuatan yang dahsyat di
segenap penjuru alam, serta menjadi pelajaran yang mendalam bagi orang-orang
yang serakah lagi merampas.
Tidaklah
kami berdiri di hadapan mereka melainkan mereka langsung memahami apa yang
ingin kami bicarakan kepada mereka. Tidaklah kami memberi isyarat kepada mereka
melainkan mereka langsung mengetahui apa yang ingin kami serukan kepada mereka.
Dan tidaklah kami memanggil mereka melainkan kami mendengar detak jantung
mereka menjawab seruan itu, dan gema lisan mereka mengaminkan doa. Maka mereka
adalah Ikhwanul Muslimin meskipun kami belum pernah bertemu mereka sebelum itu,
dan mereka adalah para dai untuk prinsip Ikhwanul Muslimin yang menyuarakannya
di sana.
Allahu
Akbar, ikatan kekeluargaan Islam ini tidak dapat dipisahkan oleh sekat-sekat
bangsa, tidak dapat dihentikan oleh rintangan jalan bagi para dainya, dan tidak
dapat dijauhkan di antara hati anak-anaknya oleh kepentingan orang-orang yang
berbalik arah.
Kami
membaiat mereka untuk berjihad di jalan Allah, lalu mereka pun membaiat kami.
Kami berjanji setia dengan mereka untuk berdakwah menuju Allah, lalu mereka pun
berjanji setia dengan kami. Kami memperkenalkan diri kepada mereka dengan nama
Ikhwanul Muslimin, dan mereka tidak mengingkari kami. Bahkan, hati mereka
menyambut kami dengan gemuruh yang hangat dan jemaah mereka mendengarkan kami
dalam jumlah ribuan. Mimbar Ikhwanul Muslimin berada di tempat yang diberkahi
di Masjid Bani Umayyah, dan teriakan mereka dengan kebenaran serta iman, jika
membubung tinggi, akan membangkitkan semangat (ghirah) Islam di dalam
hati para pendengar.
Dan
apakah telah sampai kepadamu berita tentang mereka yang setelah itu datang
kepada kami bergelombang-gelombang sebagai delegasi demi delegasi? Dan apakah
engkau menilai usaha mereka terpuji, perkumpulan mereka lurus, dan pendapat
mereka tepat, seraya mereka saling bertanya, tentang apakah mereka saling
bertanya?
Tentang
dakwah yang tidaklah ia sampai kepada suatu umat melainkan orang-orang yang
ikhlas dari putra-putranya akan membaiatnya; tentang teriakan yang tidaklah ia
membubung di atas mimbar melainkan orang-orang mukmin akan mengarahkan mata
hati mereka kepadanya; dan tentang Al-Mursyid [Sang Pemandu] yang telah
memperkokoh pagar dakwah ini dari kitab keimanan dan pengorbanan, maka dengan
nama Allah, dakwah ini berlayar dan berlabuh.
Mereka
mendengarkan jawaban tersebut sementara mata mereka mengalirkan air mata,
laksana memancarnya mata-mata air di segenap penjuru Jallaq yang luas, dan hati
mereka memancar bagai mata air Barada, sehingga menjadikan jalan-jalan sebagai
sungai-sungai, masjid-masjid sebagai taman-taman, dan rumah-rumah sebagai
kebun-kebun yang rimbun.
Jika
ada sesuatu yang bisa aku lupakan, maka aku tidak akan melupakan salah seorang
dari mereka yang menyendiri bersamaku, menceritakan kepadaku layaknya penuturan
seorang saudara Muslim yang di dalam dadanya terkumpul penderitaan
bangsa-bangsa Muslim, sementara di bibirnya terlukis senyuman jiwa yang
beriman. Ia mulai mencurahkan isi hatinya kepadaku, dan mulai mengadukan
kesedihan serta kesusahannya.
Maka
aku berkata: "Maha Suci Allah! Seolah-olah aku sedang berada di Mesir
mendengarkan pembicaraan para pengemban dakwah di sana, atau di Ismailia
berbicara dengan para aktivis yang berjuang meninggikan kalimat Allah dari
kalangan pemuda dan putra-putra pilihannya, atau di Suez sedang berbincang
akrab dengan mereka yang mengibarkan bendera ukhuwah Islamiyah di atas kepala
para penduduknya, atau negeri-negeri lain yang telah dipenuhi oleh dakwah
Ikhwanul Muslimin, yang dahulunya penduduknya saling bermusuhan lalu dengan
nikmat Allah mereka menjadi bersaudara." Kemudian aku memandang ke Masjid
Umayyah, lalu aku melihat menara-menaranya menjulang tinggi di langit dan
kubah-kubahnya berkilauan di bawah kubah angkasa, maka aku pun sadar bahwa aku
sedang berada di Damaskus, ibu kota Dinasti Umayyah, dan sesungguhnya di sana
terdapat kelompok yang banyak atau jumlah yang melimpah dari Ikhwanul Muslimin.
Maka
wahai para delegasi yang datang ke lembaga-lembaga dan jemaah-jemaah,
sesungguhnya kami bersama kalian bekerja untuk kemuliaan Arab dan kedaulatan
Islam.
Dan
wahai para tokoh dan pembesar Damaskus yang mengunjungi kami, sungguh kalian
telah mengagungkan dakwah yang haq ini dengan kunjungan kalian kepada kami.
Adapun pribadi-pribadi kami, maka kami melupakannya, dan kedirian kami, kami
menafikannya. Allah pasti akan membalas dengan pahala bagi siapa saja yang
mengagungkan dakwah-Nya, serta meninggikan kedudukan dan sebutan baginya di
antara hamba-hamba-Nya.
Dan
wahai orang-orang yang menyertai kami dan berjalan bersama kami, cinta kalian
ada di dalam hati kami, sebutan tentang kalian ada di atas lidah kami, dan
dakwah Ikhwanul Muslimin menghimpun di antara kita, dan Allah akan memberi
keputusan di antara kita, dan Dialah Pemberi keputusan yang terbaik.
Dan
wahai kaum Muslimin yang ada di sekitar kami, ke mana pun kami menghadap dan ke
mana pun kami berjalan, keselamatan atas kalian, beruntunglah kalian, dan
semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan, karena sungguh kalian semua telah
berbuat baik.
Semoga
Allah mengumpulkan kami bersama kalian di atas dakwah yang haq dan
memperlihatkan kepada kami wajah-wajah kalian di dalam Surga Na'im. Dan Kami
mencabut rasa dendam yang ada di dalam dada mereka; mereka bersaudara duduk
berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (QS. Al-Hijr: 47).
Sesungguhnya
jauhnya negeri tidaklah menjauhkan di antara hati yang telah bersatu di atas
dakwah yang haq. Sesungguhnya berlalunya hari tidak akan melemahkan kelompok
yang telah mengikhlaskan dirinya karena Allah. Sesungguhnya Islam telah
menghimpun di antara anak-anaknya di seluruh belahan bumi, sementara keAraban
memagari bentengnya dan mendekatkan ikatan-ikatannya. Allah tidak akan
menelantarkan kaum Muslimin selama mereka berpegang teguh pada Kitab-Nya dan
berpegang erat pada tali-Nya, dan musuh mereka tidak akan dapat menguasai
mereka selama mereka membanggakan kekerabatannya, dan Allah tidak akan memberi
jalan bagi orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin. (QS.
An-Nisa: 141).
[Bagian
2: Markaz Utama Ikhwanul Muslimin di Kairo]
Kantor
Ikhwanul Muslimin di Kairo, Jalan An-Nashiriyyah No. 13, Sayyidah Zainab.
Kantor
Markaz Am [Pusat] telah berpindah ke An-Nashiriyyah di distrik Sayyidah Zainab
No. 13 di depan Masjid Ka'ab al-Ahbar. Berita perpindahan ini dipublikasikan
bersama beberapa instruksi di Majalah Ikhwan sebagai berikut:
- 1 - Perkumpulan
Ikhwanul Muslimin di Kairo telah berpindah ke tempatnya yang baru sejak
awal bulan Rajab 1354 H.
- 2 - Tempat ini
adalah Markaz Am [Pusat] bagi persatuan cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di
Kairo, dan seluruh cabang ini tunduk kepadanya dalam hal sistem dan
administrasi.
- 3 - [Bagian
kosong/nomor tanpa teks asli].
- 4 - [Bagian
kosong/nomor tanpa teks asli]. Seluruh korespondensi, surat, dan dokumen
dikirim atas nama "Naib [Wakil] Ikhwanul Muslimin di Kairo"
dengan alamat yang disebutkan di atas. Kantor Irsyad Am [Biro Panduan
Pusat] berkedudukan di administrasi ini, dan ia merupakan otoritas
tertinggi bagi seluruh Ikhwanul Muslimin di segenap penjuru bumi.
Perkumpulan di Kairo selalu terhubung dengannya secara permanen,
sebagaimana cabang-cabang Ikhwan lainnya juga terhubung dengannya.
Ketuanya adalah yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid Al-Am.
- 5 - [Bagian
kosong/nomor tanpa teks asli]. Ceramah mingguan disampaikan setiap hari
Jumat setelah salat Magrib. Musim ceramah ini akan dibuka oleh yang mulia
Al-Ustadz Al-Mursyid Al-Am dengan ceramah pertamanya yang akan
disampaikan—insya Allah—pada hari Jumat, 13 Rajab tahun 1354 H, bertepatan
dengan tanggal 11 Oktober tahun 1935 M. Kemudian ceramah-ceramah mingguan
tersebut akan dilanjutkan secara beruntung oleh para tokoh besar Islam
yang terkemuka.
- 6 - Yang mulia
Al-Mursyid Al-Am menyampaikan pelajaran mingguan di kantor perkumpulan
yang jadwalnya dapat diketahui dari anggaran rumah tangga (regulasi
internal) klub.
- 7 - Klub ini—insya
Allah—akan menjadi titik penghubung antara Mesir dan gerakan-gerakan Islam
di Timur Arab, dengan harapan agar Ikhwan dapat mengetahui seluruh
pergerakan kaum Muslimin di segenap penjuru bumi. Klub ini akan berupaya
dengan segala sarana untuk membawa manusia kembali kepada perintah Allah
dan berhukum dengan wahyu-Nya.
Dan
Allah Ta'ala adalah pemilik kebenaran dan taufik.
[Bagian
3: Dakwah di Beirut]
Hubungan
komunikasi antara dua Ustadz, yaitu Abdurrahman As-Sa'ati dan As'ad Al-Hakim
dalam rihlah [perjalanan] mereka ke negeri-negeri tetangga yang bersaudara
serta komunikasi mereka dengan lembaga-lembaga Islam di sana, telah membuahkan
hasil. Lembaga Al-Maqashid al-Khairiyyah telah meminta kepada Markaz Am agar
mengirimkan salah seorang anggota Ikhwan untuk mengajar ilmu tasyri' [hukum
syariat] dan sastra. Maka pilihan jatuh kepada Al-Ustadz Muhammad Al-Hadi
Athiyyah, seorang pengacara syari di Suez. Majalah menerbitkan kalimat berikut
terkait hal ini:
Al-Ustadz
Al-Hadi dalam Perjalanan Menuju Beirut
Sebuah
hijrah di jalan Allah dan beramal untuk dakwah-Nya, Allah telah menghendaki
agar orang yang paling pertama melangkah dalam amal ini adalah Al-Ustadz
Al-Hadi.
Edisi
ini terbit ketika yang mulia Al-Ustadz telah menetap di Beirut, di mana beliau
bertugas mengajar Syariat Islam, Filsafat, dan Sastra di Sekolah Tinggi
Al-Maqashid al-Khairiyyah. Beliau juga bekerja di negeri jiran yang bersaudara
tersebut untuk memperkuat tali kasih sayang, ukhuwah, serta menyebarkan dakwah
nilai-nilai keutamaan dan akhlak yang mulia.
Beliau
meninggalkan Suez pada hari Rabu yang lalu, maka para tokoh Ikhwanul Muslimin
di sana melepasnya di stasiun kereta api dengan penuh penghormatan atas
keutamaannya, rasa sedih atas perpisahannya, dan keharuan karena jarak yang
menjauh. Tidak ada yang meringankan kesedihan mereka melainkan pengetahuan
mereka bahwa beliau pergi sebagai seorang mujahid di jalan Allah untuk
mempersiapkan medan amal yang mulia bagi dakwah yang luhur ini. Beliau melewati
Ismailia, dan di stasiunnya telah bersiap para tokoh Ikhwanul Muslimin yang
dipimpin oleh yang mulia wakil mereka, Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Farghali,
diikuti oleh regu kepanduan (rihlah). Maka momen itu menjadi sebuah perpisahan,
perbincangan akrab, dan dialog yang sepenuhnya berisi cinta yang kokoh serta
simpati yang mulia.
Dan
di Qantharah, di mana batalion Ikhwan juga bersiap siaga, yang mulia Al-Ustadz
membekali mereka dengan nasihat-nasihatnya yang berharga, sebanding dengan apa
yang meluap dari hati mereka berupa cinta yang tulus dan penghormatan yang
tinggi kepada seorang saudara dari sebaik-baik saudara mereka, serta seorang
dai yang mulia dari dai-dai terbaik mereka. Demikianlah Al-Ustadz melihat ada
saudara di setiap negeri, dan di setiap stasiun tempat kereta berhenti terdapat
tentara dan penolong. Kami meyakini bahwa beliau akan menemui hal yang serupa,
bahkan lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia dari para Ikhwan yang
terhormat, para tokoh Al-Maqashid al-Khairiyyah di Beirut.
Sesungguhnya
Al-Ustadz Al-Hadi adalah kebaikan seutuhnya di mana pun beliau berada. Kami
menitipkan kepada Allah agamanya, amanahnya, dan akhir dari amalnya. Kami
memohon kepada Allah taufik yang sempurna serta penjagaan yang menyeluruh
untuknya, dan agar kami dapat melihatnya dalam kondisi terbaik yang kami
harapkan. Kami mengira bahwa beliau tidak membutuhkan orang lain untuk
mengingatkannya akan kewajiban sucinya terhadap surat kabar Ikhwanul Muslimin.
[Bagian
4: Lencana Ikhwan]
Ikhwan
telah mengusulkan untuk membuat sebuah lencana yang membedakan mereka dari
lembaga-lembaga lainnya. Kantor [Biro Pusat] menyetujui usulan ini, dengan
ketentuan bahwa lencana Ikhwan berbentuk cincin perak bersisi sepuluh yang
menyimbolkan ayat mulia: “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah aku bacakan apa
yang diharamkan Tuhanmu kepadamu, yaitu jangan mempersekutukan sesuatu pun
dengan-Nya...’” Untuk urusan ini, biro mengutus salah seorang Ikhwan—semoga
Allah merahmatinya—dan mengumumkan hal tersebut di majalah dengan kalimat
berikut:
Demi
keinginan untuk mempererat tali perkenalan di antara Ikhwan dan demi menjaga
agar mereka selalu ingat pada prinsip yang paling suci secara permanen, Majelis
Syura Am telah memutuskan agar ada sebuah lencana umum yang dikenakan oleh
seluruh Ikhwan secara permanen. Kantor [Biro Pusat] setelah kajian yang panjang
melihat bahwa lencana ini berupa cincin perak yang halus bersisi sepuluh, yang
dikenakan di jari kelingking tangan kanan.
Ide
ini telah diterapkan di wilayah Kairo dan eksperimen tersebut berhasil dengan
kesuksesan yang sempurna, walhamdulillah.
Oleh
karena itu, kantor telah menugaskan saudara Mahmud Efendi Hibatullah untuk
berkeliling ke cabang-cabang Ikhwan. Beliau akan membawa contoh cincin beserta
alat pengukur jari ("pita ukur") untuk mengetahui berbagai ukuran
jari para Ikhwan. Harga cincin ini adalah lima qursy yang dibayarkan oleh
anggota kepada wakil wilayahnya atau kepada utusan tersebut.
[Bagian
5: Rihlah ke Nil Hulu (Saeed) Akhir Ramadan 1354 H]
Aku
telah melakukan salah satu perjalanan ke Saeed (Mesir Hulu) selama bulan
Ramadan tahun 1354 Hijriah, dan aku mengira itu adalah perjalanan yang kedua.
Aku ditemani oleh saudara Abdurrahman Ridha Kahilah, dan beliau menulis tentang
perjalanan ini di Majalah Ikhwan dengan kalimat berikut:
20
Ramadan Tahun 1354 H
Aku
termasuk orang yang menikmati kesempatan menemani yang mulia Al-Mursyid Al-Am
selama beberapa waktu ketika beliau datang ke Saeed pada akhir Ramadan yang
lalu, dan aku menunggu sebagian Ikhwan menulis sesuatu tentang perjalanannya
yang bermanfaat ini. Dan inilah penantianku yang telah lama, oleh karena itu
aku bertekad menuliskan kalimat ini sebagai kenang-kenangan untuk perjalanan
tersebut.
Aku
mengetahui bahwa saudara Al-Mursyid akan datang dari Kairo pada hari kedua
puluh dari bulan Ramadan setelah Zuhur. Maka aku pergi untuk menyambutnya, dan
di sana aku menemukan sekumpulan Ikhwan yang digerakkan oleh rasa rindu untuk
bertemu dengannya. Kereta pun tiba, lalu aku bergegas menemuinya, dan tampaklah
wajahnya memancarkan kegembiraan serta tanda-tanda semangat yang sempurna
terlihat jelas pada dirinya. Kami mengucapkan salam kepadanya, lalu keluar dari
stasiun menuju kantor Ustadz Muhammad Khalaf Al-Husaini, seorang pengacara; ia
adalah seorang pemuda Muslim yang cemburu [memiliki ghirah] terhadap
agamanya lagi bangga dengannya. Saudara Al-Mursyid beristirahat di sana hingga
sekitar jam empat, kemudian kami menaiki mobil menuju kota Al-Wasithi, yang
termasuk dalam pinggiran kota Asyuth. Di sana kami disambut oleh keluarga
Al-Ghadir yang mulia serta banyak dari tokoh kota tersebut. Di sana kami
melaksanakan salat Magrib dan menyantap hidangan berbuka puasa kami yang
diselingi oleh berbagai obrolan seputar ilmu, sastra, agama, dan akhlak.
Kami
melaksanakan salat Isya di masjid kota tersebut, dan kami diimami oleh Ustadz
besar Asy-Syaikh Ahmad Syariit, seorang pengajar di Ma'had Asyuth yang terkenal
karena simpatinya kepada perkumpulan Islam ini. Masjid dipenuhi oleh ratusan
manusia yang mendengarkan wejangan dan bimbingan. Maka saudara Al-Mursyid
memberikan wejangan kepada mereka dengan nasihat yang tulus yang menggetarkan
hati. Mereka merasakan kebutuhan mereka untuk beramal demi membebaskan diri
dari kelemahan, perpecahan, dan ujian yang mereka hadapi. Aku melanjutkannya
dengan sepatah kata tentang Ramadan beserta makna puasanya, serta tentang
Lailatul Qadar beserta keagungan dan kemuliaannya. Kami meninggalkan masjid
menuju sebuah rumah besar yang di dalamnya telah berkumpul jemaah yang agung.
Itu adalah malam yang agung di mana saudara Al-Mursyid berbicara, sehingga
beliau menghidupkan jiwa-jiwa, membangkitkan harapan, dan menjelaskan kepada
manusia bagaimana mereka dapat menyelamatkan diri dari apa yang menimpa mereka
akibat kelalaian. Sebagian Ikhwan turut serta bersamanya, maka mereka memetik
prinsip-prinsip Islam yang luhur dan menjelaskan bagaimana kaum Muslimin telah
mengabaikannya, padahal di dalamnya terdapat kebahagiaan dan ketenteraman
mereka.
Aku
sangat bahagia dengan malam ini, dan harapanku membubung tinggi, lalu aku
berkata: "Seandainya manusia mengamalkan apa yang mereka dengar, niscaya
kita akan menyongsong era kebangkitan menyeluruh yang meliputi kita semua,
sehingga kita meraih cita-cita dan memenangkan kemuliaan serta kejayaan."
22
Ramadan Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid kembali ke Asyuth setelah beliau memenuhi Al-Wasithi dengan
wejangan-wejangan berharganya. Beliau menetap di sana hingga jam satu malam,
dan beberapa Ikhwan pergi bersamanya menuju Manfaluth lalu ke Al-Qushiyyah
untuk mengunjungi cabangnya serta memeriksa keadaannya.
23
Ramadan Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid kembali ke Asyuth dengan penuh kesuksesan. Pada jam delapan malam,
perkumpulan Syubbanul Muslimin [Pemuda Muslim] dipenuhi oleh sejumlah besar
kaum terpelajar untuk mendengarkan ceramahnya yang berharga. Beliau
menjadikannya sebagai penjelasan bahwa Islam menjamin seluruh prinsip yang
menjamin kemajuan umat manusia serta kebahagiaan mereka. Beliau merincinya
dengan rincian yang mengagumkan yang sangat menyenangkan para pendengar.
Suaranya berirama merdu, penyampaiannya mudah lagi indah, dan kemampuannya
dalam menghimpun ayat-ayat Al-Qur'an serta hadis-hadis Nabawi sangat luar
biasa. Orang-orang banyak mengelu-elukannya dan mereka bersyukur kepada Allah
yang telah memudahkan mereka untuk mendengarnya.
24
Ramadan Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid menunaikan salat Jumat di Masjid Al-Qadhi; ia adalah salah satu
masjid terbesar di kota tersebut, yang paling luas, dan paling penuh sesak oleh
para jemaah salat. Maka saudara Al-Mursyid bertindak sebagai khatib sekaligus
pemberi wejangan, lalu beliau menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya sesuai
kehendak Allah. Kami berharap agar hati jemaah dapat memadukan antara
kegembiraan bersamanya dengan pengamalan terhadap wejangan dan bimbingannya.
Setelah
salat, beliau berangkat dengan berkah Allah menuju Mesir Hulu (Mishr al-Ulya)
di mana beliau menyambung silaturahmi dengan saudara-saudaranya di Al-Balyana,
Aswan, dan kota-kota lainnya. Semoga Allah memberinya taufik dan meluruskan
langkah-langkahnya.
30
Ramadan Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid kembali dari perjalanannya di Saeed Atas (Saeed al-A'la) setelah
Magrib. Banyak orang telah menunggunya di depan stasiun Abu Tiij yang beruntung
dengan kehadirannya. Mereka berjalan dan mendatangi masjid tempat beliau
melaksanakan salat Isya, dan dari sana menuju rumah Abdurrahman Mahmud
As-Sulaimani yang telah dipadati oleh banyak orang. Malam itu adalah malam yang
berbahagia di mana para qari dan khatib saling unjuk kebolehan, dan di dalamnya
saudara Al-Mursyid menyampaikan wejangan yang agung yang diterima oleh hati
dengan penuh kerinduan lagi harapan. Aku beruntung dapat menyampaikan sepatah
kata setelahnya, kami memohon kepada Allah kemanfaatan dari keduanya.
Saudara
Al-Mursyid bermalam di Abu Tiij dengan dikelilingi oleh hati dan jiwa
masyarakat.
1
Syawal Tahun 1354 H
Hari
Idulfitri yang berkah telah dimulai, dan itu adalah hari yang disaksikan oleh
banyak orang. Saudara Al-Mursyid berkhotbah di Masjid Al-Farghali dan beliau
mendapatkan penerimaan yang luar biasa serta apresiasi yang luas. Beliau
kembali ke Asyuth pada waktu asar (ashil), dan perkumpulan Syubbanul Muslimin
beruntung mendapatkannya sekali lagi. Beliau berkhotbah di klubnya, maka beliau
melembutkan hati, menarik perhatian pendengaran, and menaburkan
mutiara-mutiaranya yang kami harapkan dapat bermanfaat, insya Allah.
Ketika
tiba malam penutupan bagi masa mukimnya di Asyuth, malam itu dihadiri oleh
banyak dari saudara-saudaranya yang ikhlas. Ustadz Asy-Syaikh Syariit adalah
penunggang kudanya [tokoh utamanya], dan rumahnya yang makmur adalah medannya.
Maka pembicaraan berkisar seputar Islam dan kaum Muslimin serta sarana-sarana
untuk memperkuat mereka dan membangkitkan mereka.
2
Syawal Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid mengemas barang-barangnya untuk singgah ke Manfaluth, dan dari sana
menuju Kairo sebagai akhir dari perjalanannya yang bahagia lagi penuh kesiapan.
Sesungguhnya hari-hari yang membahagiakan karena bertemu dengannya tidak akan
pernah terlupakan selamanya, khususnya karena hari-hari itu adalah karena Allah
di jalan Allah, serta sebuah jihad yang disyukuri lagi ikhlas tanpa ada riya
dan sum'ah di dalamnya.
[Bagian
6: Ibadah Haji yang Pertama]
Termasuk
dari taufik Allah Tabaraka wa Ta'ala bahwa setelah disusunnya regulasi haji,
telah mantap di dalam jiwaku untuk menunaikan kewajiban fardu tersebut.
Meskipun hal itu sulit pada saat itu, namun Allah menghendaki untuk memudahkan
urusan-urusan serta menetapkan bagiku ibadah haji dan ziarah pada tahun 1354
Hijriah bertepatan dengan tahun 1936 Masehi. Majalah mengisyaratkan azam
(tekad) ini dengan kalimat berikut:
Yang
Mulia Al-Mursyid Al-Am dalam Perjalanan Menuju Tanah Suci
Ustadz
Al-Mursyid akan menunaikan kewajiban haji dan ziarah pada tahun ini, insya
Allah. Perjalanan beliau beserta para Ikhwan yang menyertainya dalam perjalanan
yang berkah ini adalah dengan menggunakan kapal laut yang meninggalkan
pelabuhan Suez pada awal bulan Zulhijah 1354 H – 24 Februari 1936 M. Beliau
akan berangkat dari Kairo pada hari Minggu dan menghabiskan satu malam di Suez
untuk menyampaikan ceramah di gedung klub dengan tema: "Haji sebagai
Olahraga Besar bagi Fisik dan Jiwa."
Yang
akan menggantikannya di Kantor Irsyad Am selama masa kepergiannya adalah yang
mulia Asy-Syaikh Radhwan Muhammad Radhwan, anggota biro tersebut.
[Bagian
7: Urusan Palestina dan Ikhwan... Memorandum 1936]
Pada
masa-masa ini, urusan Palestina mulai bergerak, dan rakyat Palestina yang
berani lagi perkasa melakukan perlawanan terhadap tindakan-tindakan Inggris
yang zalim yang bersekongkol dengan Yahudi dalam segala hal dan mengharamkan
Arab dari segala hal.
Lembaga-lembaga
politik dan partai-partai saat itu berpaling sepenuhnya dari upaya membela
Palestina secara serius, dikarenakan adanya fanatisme nasionalisme khusus yang
belum berkembang menjadi perasaan yang meluap-luap demi hak keAraban dan ikatan
Islam. Tidak ada yang bergerak untuk Palestina atau yang serupa dengannya dari
negeri-negeri jiran melainkan lembaga-lembaga Islam.
Dari
sinilah Ikhwanul Muslimin maju untuk membela Palestina yang sedang bergolak
lagi berjihad dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Mereka mencurahkan
upaya mereka untuk hal itu secara materi maupun maknawi, baik dari segi
propaganda, orasi, publikasi, pengumpulan dana, dan lain-lain. Untuk tujuan
tersebut, dibentuklah komite-komite dan delegasi-delegasi yang bekerja sekuat
kemampuan mereka, dan merekam itu semua di Majalah Ikhwanul Muslimin pada
waktunya, yaitu pada tahun keempat penerbitannya.
Kami
akan menukil dari majalah tersebut sebagian dari upaya-upaya ini untuk
pencatatan dan sejarah:
Komite
Pusat Pusat untuk Membantu Palestina
Pemilik
kemuliaan yang terhormat, Ustadz Al-Mursyid Al-Am bagi perkumpulan Ikhwanul
Muslimin menyampaikan undangan kepada para anggota perkumpulan di Kairo untuk
berkumpul pada pertengahan jam sembilan malam pada hari Sabtu yang bertepatan
dengan tanggal 25 Shafar al-Khair tahun 1355 H. Pada waktu yang telah
ditentukan, undangan tersebut dipenuhi oleh sekumpulan besar Ikhwan dan mereka
berkumpul di salah satu aula perkumpulan di bawah pimpinan yang mulia Ustadz
Al-Mursyid Al-Am, yang kemudian naik ke atas mimbar dan mulai menjelaskan
kepada Ikhwan apa yang menimpa bangsa Arab yang berani dari penduduk Palestina,
yang mengikat kita dengan mereka beberapa ikatan agama, bahasa, dan keAraban.
Kemudian
beliau menyeru mereka demi kewajiban kemanusiaan dan pertolongan Islam agar
mereka mengulurkan tangan bantuan kepada saudara-saudara mereka warga
Palestina, serta agar mereka bekerja untuk membentuk sebuah komite di antara
mereka guna mengorganisasi bantuan ini, menyebarkan propaganda, dan
menggerakkan kedermawanan tangan-tangan untuk mendermakan harta demi tujuan
yang agung ini. Kemudian para Ikhwan saling bertukar pikiran dan berdiskusi,
serta setiap orang mengusulkan apa yang terlintas di benaknya, hingga urusan
tersebut berakhir dengan dibentuknya sebuah komite di antara mereka. Komite
tersebut menyetujui pelaksanaan usulan-usulan berikut:
Maka
di antara para pemuka yang mulia di Jallaq [Damaskus], dan di antara para
pemuka di tanah Hauran.
Mereka
enggan menerima kehinaan di dunia, bagi mereka kemuliaan hidup dan kemuliaan
mati adalah sama.
Mereka
tidak bersabar atas kezaliman yang diupayakan oleh penjahat dari kalangan
manusia atau diktator dari kalangan jin.
Semoga
Allah menjaga wajah-wajah yang berseri-seri ini, yang kami tinggalkan di Jallaq
seraya menyerukan prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin dan bekerja untuk tujuan
mereka yang terpuji. Dan semoga Allah mencerahkan wajah-wajah yang di atas
lembaran cerangnya terlukis harapan-harapan seorang Muslim, yang tubuhnya tidak
dikungkung oleh satu tempat saja, dan harapan-harapannya tidak dibatasi oleh
luasnya bumi yang terbentang, hingga ia melihat bayangan harapannya menjadi
kenyataan yang terlukis di atas hamparan bumi, menjadi kekuatan yang dahsyat di
segenap penjuru alam, serta menjadi pelajaran yang mendalam bagi orang-orang
yang serakah lagi merampas.
Tidaklah
kami berdiri di hadapan mereka melainkan mereka langsung memahami apa yang
ingin kami bicarakan kepada mereka. Tidaklah kami memberi isyarat kepada mereka
melainkan mereka langsung mengetahui apa yang ingin kami serukan kepada mereka.
Dan tidaklah kami memanggil mereka melainkan kami mendengar detak jantung
mereka menjawab seruan itu, dan gema lisan mereka mengaminkan doa. Maka mereka
adalah Ikhwanul Muslimin meskipun kami belum pernah bertemu mereka sebelum itu,
dan mereka adalah para dai untuk prinsip Ikhwanul Muslimin yang menyuarakannya
di sana.
Allahu
Akbar, ikatan kekeluargaan Islam ini tidak dapat dipisahkan oleh sekat-sekat
bangsa, tidak dapat dihentikan oleh rintangan jalan bagi para dainya, dan tidak
dapat dijauhkan di antara hati anak-anaknya oleh kepentingan orang-orang yang
berbalik arah.
Kami
membaiat mereka untuk berjihad di jalan Allah, lalu mereka pun membaiat kami.
Kami berjanji setia dengan mereka untuk berdakwah menuju Allah, lalu mereka pun
berjanji setia dengan kami. Kami memperkenalkan diri kepada mereka dengan nama
Ikhwanul Muslimin, dan mereka tidak mengingkari kami. Bahkan, hati mereka
menyambut kami dengan gemuruh yang hangat dan jemaah mereka mendengarkan kami
dalam jumlah ribuan. Mimbar Ikhwanul Muslimin berada di tempat yang diberkahi
di Masjid Bani Umayyah, dan teriakan mereka dengan kebenaran serta iman, jika
membubung tinggi, akan membangkitkan semangat (ghirah) Islam di dalam
hati para pendengar.
Dan
apakah telah sampai kepadamu berita tentang mereka yang setelah itu datang
kepada kami bergelombang-gelombang sebagai delegasi demi delegasi? Dan apakah
engkau menilai usaha mereka terpuji, perkumpulan mereka lurus, dan pendapat
mereka tepat, seraya mereka saling bertanya, tentang apakah mereka saling
bertanya?
Tentang
dakwah yang tidaklah ia sampai kepada suatu umat melainkan orang-orang yang
ikhlas dari putra-putranya akan membaiatnya; tentang teriakan yang tidaklah ia
membubung di atas mimbar melainkan orang-orang mukmin akan mengarahkan mata
hati mereka kepadanya; dan tentang Al-Mursyid [Sang Pemandu] yang telah
memperkokoh pagar dakwah ini dari kitab keimanan dan pengorbanan, maka dengan
nama Allah, dakwah ini berlayar dan berlabuh.
Mereka
mendengarkan jawaban tersebut sementara mata mereka mengalirkan air mata,
laksana memancarnya mata-mata air di segenap penjuru Jallaq yang luas, dan hati
mereka memancar bagai mata air Barada, sehingga menjadikan jalan-jalan sebagai
sungai-sungai, masjid-masjid sebagai taman-taman, dan rumah-rumah sebagai
kebun-kebun yang rimbun.
Jika
ada sesuatu yang bisa aku lupakan, maka aku tidak akan melupakan salah seorang
dari mereka yang menyendiri bersamaku, menceritakan kepadaku layaknya penuturan
seorang saudara Muslim yang di dalam dadanya terkumpul penderitaan
bangsa-bangsa Muslim, sementara di bibirnya terlukis senyuman jiwa yang
beriman. Ia mulai mencurahkan isi hatinya kepadaku, dan mulai mengadukan
kesedihan serta kesusahannya.
Maka
aku berkata: "Maha Suci Allah! Seolah-olah aku sedang berada di Mesir
mendengarkan pembicaraan para pengemban dakwah di sana, atau di Ismailia
berbicara dengan para aktivis yang berjuang meninggikan kalimat Allah dari
kalangan pemuda dan putra-putra pilihannya, atau di Suez sedang berbincang
akrab dengan mereka yang mengibarkan bendera ukhuwah Islamiyah di atas kepala
para penduduknya, atau negeri-negeri lain yang telah dipenuhi oleh dakwah
Ikhwanul Muslimin, yang dahulunya penduduknya saling bermusuhan lalu dengan
nikmat Allah mereka menjadi bersaudara." Kemudian aku memandang ke Masjid
Umayyah, lalu aku melihat menara-menaranya menjulang tinggi di langit dan
kubah-kubahnya berkilauan di bawah kubah angkasa, maka aku pun sadar bahwa aku
sedang berada di Damaskus, ibu kota Dinasti Umayyah, dan sesungguhnya di sana
terdapat kelompok yang banyak atau jumlah yang melimpah dari Ikhwanul Muslimin.
Maka
wahai para delegasi yang datang ke lembaga-lembaga dan jemaah-jemaah,
sesungguhnya kami bersama kalian bekerja untuk kemuliaan Arab dan kedaulatan
Islam.
Dan
wahai para tokoh dan pembesar Damaskus yang mengunjungi kami, sungguh kalian
telah mengagungkan dakwah yang haq ini dengan kunjungan kalian kepada kami.
Adapun pribadi-pribadi kami, maka kami melupakannya, dan kedirian kami, kami
menafikannya. Allah pasti akan membalas dengan pahala bagi siapa saja yang
mengagungkan dakwah-Nya, serta meninggikan kedudukan dan sebutan baginya di
antara hamba-hamba-Nya.
Dan
wahai orang-orang yang menyertai kami dan berjalan bersama kami, cinta kalian
ada di dalam hati kami, sebutan tentang kalian ada di atas lidah kami, dan
dakwah Ikhwanul Muslimin menghimpun di antara kita, dan Allah akan memberi
keputusan di antara kita, dan Dialah Pemberi keputusan yang terbaik.
Dan
wahai kaum Muslimin yang ada di sekitar kami, ke mana pun kami menghadap dan ke
mana pun kami berjalan, keselamatan atas kalian, beruntunglah kalian, dan
semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan, karena sungguh kalian semua telah
berbuat baik.
Semoga
Allah mengumpulkan kami bersama kalian di atas dakwah yang haq dan
memperlihatkan kepada kami wajah-wajah kalian di dalam Surga Na'im. “Dan
Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa
bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47).
Sesungguhnya
jauhnya negeri tidaklah menjauhkan di antara hati yang telah bersatu di atas
dakwah yang haq. Sesungguhnya berlalunya hari tidak akan melemahkan kelompok
yang telah mengikhlaskan dirinya karena Allah. Sesungguhnya Islam telah
menghimpun di antara anak-anaknya di seluruh belahan bumi, sementara keAraban
memagari bentengnya dan mendekatkan ikatan-ikatannya. Allah tidak akan
menelantarkan kaum Muslimin selama mereka berpegang teguh pada Kitab-Nya dan
berpegang erat pada tali-Nya. Mus musuh mereka tidak akan dapat menguasai
mereka selama mereka membanggakan kekerabatannya, “...Dan Allah tidak akan
memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.”
(QS. An-Nisa': 141).
Kantor
Ikhwanul Muslimin di Kairo
Jalan
An-Nashiriyyah No. 13, Sayyidah Zainab
Kantor
Markaz Am [Pusat] telah berpindah ke An-Nashiriyyah di distrik Sayyidah Zainab
No. 13 di depan Masjid Ka'ab al-Ahbar. Berita perpindahan ini dipublikasikan
bersama beberapa instruksi di Majalah Ikhwan sebagai berikut:
1 -
Perkumpulan Ikhwanul Muslimin di Kairo telah berpindah ke tempatnya yang baru
sejak awal bulan Rajab 1354 H.
2 -
Tempat ini adalah Markaz Am [Pusat] bagi persatuan cabang-cabang Ikhwanul
Muslimin di Kairo, dan seluruh cabang ini tunduk kepadanya dalam hal sistem dan
administrasi.
3 - [Bagian
nomor tanpa teks asli]
4 - [Bagian
nomor tanpa teks asli] Seluruh korespondensi, surat, dan dokumen dikirim
atas nama "Naib [Wakil] Ikhwanul Muslimin di Kairo" dengan alamat
yang disebutkan di atas. Kantor Irsyad Am [Biro Panduan Pusat] berkedudukan di
administrasi ini, dan ia merupakan otoritas tertinggi bagi seluruh Ikhwanul
Muslimin di segenap penjuru bumi. Perkumpulan di Kairo selalu terhubung
dengannya secara permanen, sebagaimana cabang-cabang Ikhwan lainnya juga
terhubung dengannya. Ketuanya adalah yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid Al-Am.
5 - [Bagian
nomor tanpa teks asli] Ceramah mingguan disampaikan setiap hari Jumat
setelah salat Magrib. Musim ceramah ini akan dibuka oleh yang mulia Al-Ustadz
Al-Mursyid Al-Am dengan ceramah pertamanya yang akan disampaikan—insya
Allah—pada hari Jumat, 13 Rajab tahun 1354 H, bertepatan dengan tanggal 11
Oktober tahun 1935 M. Kemudian ceramah-ceramah mingguan tersebut akan
dilanjutkan secara berurutan oleh para tokoh besar Islam yang terkemuka.
6 -
Yang mulia Al-Mursyid Al-Am menyampaikan pelajaran mingguan di kantor
perkumpulan yang jadwalnya dapat diketahui dari anggaran rumah tangga [regulasi
internal] klub.
7 -
Klub ini—insya Allah—akan menjadi titik penghubung antara Mesir dan
gerakan-gerakan Islam di Timur Arab, dengan harapan agar Ikhwan dapat
mengetahui seluruh pergerakan kaum Muslimin di segenap penjuru bumi. Klub ini
akan berupaya dengan segala sarana untuk membawa manusia kembali kepada
perintah Allah dan berhukum dengan wahyu-Nya.
Dan
Allah Ta'ala adalah pemilik kebenaran dan taufik.
Dakwah
di Beirut
Hubungan
komunikasi antara dua Ustadz, yaitu Abdurrahman As-Sa'ati dan As'ad Al-Hakim
dalam rihlah [perjalanan] mereka ke negeri-negeri tetangga yang bersaudara
serta komunikasi mereka dengan lembaga-lembaga Islam di sana, telah membuahkan
hasil. Lembaga Al-Maqashid al-Khairiyyah telah meminta kepada Markaz Am agar
mengirimkan salah seorang anggota Ikhwan untuk mengajar ilmu tasyri' [hukum
syariat] dan sastra. Maka pilihan jatuh kepada Al-Ustadz Muhammad Al-Hadi
Athiyyah, seorang pengacara syari di Suez. Majalah menerbitkan kalimat berikut
terkait hal ini:
Al-Ustadz
Al-Hadi dalam Perjalanan Menuju Beirut
Sebuah
hijrah di jalan Allah dan beramal untuk dakwah-Nya, Allah telah menghendaki
agar orang yang paling pertama melangkah dalam amal ini adalah Al-Ustadz
Al-Hadi.
Edisi
ini terbit ketika yang mulia Al-Ustadz telah menetap di Beirut, di mana beliau
bertugas mengajar Syariat Islam, Filsafat, dan Sastra di Sekolah Tinggi
Al-Maqashid al-Khairiyyah. Beliau juga bekerja di negeri jiran yang bersaudara
tersebut untuk memperkuat tali kasih sayang, ukhuwah, serta menyebarkan dakwah
nilai-nilai keutamaan dan akhlak yang mulia.
Beliau
meninggalkan Suez pada hari Rabu yang lalu, maka para tokoh Ikhwanul Muslimin
di sana melepasnya di stasiun kereta api dengan penuh penghormatan atas
keutamaannya, rasa sedih atas perpisahannya, dan keharuan karena jarak yang
menjauh. Tidak ada yang meringankan kesedihan mereka melainkan pengetahuan
mereka bahwa beliau pergi sebagai seorang mujahid di jalan Allah untuk
mempersiapkan medan amal yang mulia bagi dakwah yang luhur ini. Beliau melewati
Ismailia, dan di stasiunnya telah bersiap para tokoh Ikhwanul Muslimin yang
dipimpin oleh yang mulia wakil mereka, Al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Farghali,
diikuti oleh regu kepanduan. Maka momen itu menjadi sebuah perpisahan,
perbincangan akrab, dan dialog yang sepenuhnya berisi cinta yang kokoh serta
simpati yang mulia. Dan di Qantharah, di mana batalion Ikhwan juga bersiap
siaga, yang mulia Al-Ustadz membekali mereka dengan nasihat-nasihatnya yang
berharga, sebanding dengan apa yang meluap dari hati mereka berupa cinta yang
tulus dan penghormatan yang tinggi kepada seorang saudara dari sebaik-baik
saudara mereka, serta seorang dai yang mulia dari dai-dai terbaik mereka.
Demikianlah Al-Ustadz melihat ada saudara di setiap negeri, dan di setiap
stasiun tempat kereta berhenti terdapat tentara dan penolong. Kami meyakini
bahwa beliau akan menemui hal yang serupa, bahkan lebih besar, lebih agung, dan
lebih mulia dari para Ikhwan yang terhormat, para tokoh Al-Maqashid
al-Khairiyyah di Beirut.
Sesungguhnya
Al-Ustadz Al-Hadi adalah kebaikan seutuhnya di mana pun beliau berada. Kami
menitipkan kepada Allah agamanya, amanahnya, dan akhir dari amalnya. Kami
memohon kepada Allah taufik yang sempurna serta penjagaan yang menyeluruh
untuknya, dan agar kami dapat melihatnya dalam kondisi terbaik yang kami
harapkan. Kami mengira bahwa beliau tidak membutuhkan orang lain untuk
mengingatkannya akan kewajiban sucinya terhadap surat kabar Ikhwanul Muslimin.
Lencana
Ikhwan
Ikhwan
telah mengusulkan untuk membuat sebuah lencana yang membedakan mereka dari
lembaga-lembaga lainnya. Kantor [Biro Pusat] menyetujui usulan ini, dengan
ketentuan bahwa lencana Ikhwan berbentuk cincin perak bersisi sepuluh yang
menyimbolkan ayat mulia: “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah aku bacakan apa
yang diharamkan Tuhanmu kepadamu, yaitu jangan mempersekutukan sesuatu pun
dengan-Nya...’” (QS. Al-An'am: 151). Untuk urusan ini, biro mengutus salah
seorang Ikhwan—semoga Allah merahmatinya—dan mengumumkan hal tersebut di
majalah dengan kalimat berikut:
Demi
keinginan untuk mempererat tali perkenalan di antara Ikhwan dan demi menjaga
agar mereka selalu ingat pada prinsip yang paling suci secara permanen, Majelis
Syura Am telah memutuskan agar ada sebuah lencana umum yang dikenakan oleh
seluruh Ikhwan secara permanen. Kantor [Biro Pusat] setelah kajian yang panjang
melihat bahwa lencana ini berupa cincin perak yang halus bersisi sepuluh, yang
dikenakan di jari kelingking tangan kanan.
Ide
ini telah diterapkan di wilayah Kairo dan eksperimen tersebut berhasil dengan
kesuksesan yang sempurna, walhamdulillah.
Oleh
karena itu, kantor telah menugaskan saudara Mahmud Efendi Hibatullah untuk
berkeliling ke cabang-cabang Ikhwan. Beliau akan membawa contoh cincin beserta
alat pengukur jari pita ukur" (al-mazuroh) yang digunakan untuk
mengetahui ukuran jari para Ikhwan yang berbeda-beda. Harga cincin ini adalah
lima qursy yang dibayarkan oleh anggota kepada wakil wilayahnya atau kepada
utusan tersebut.
Rihlah
ke Saeed (Mesir Hulu) Akhir Ramadan 1354 H
Aku
telah melakukan salah satu perjalanan ke Saeed selama bulan Ramadan tahun 1354
Hijriah, dan aku mengira itu adalah perjalanan yang kedua. Aku ditemani oleh
saudara Abdurrahman Ridha Kahilah, dan beliau menulis tentang perjalanan ini di
Majalah Ikhwan dengan kalimat berikut:
20
Ramadan Tahun 1354 H
Aku
termasuk orang yang menikmati kesempatan menemani yang mulia Al-Mursyid Al-Am
selama beberapa waktu ketika beliau datang ke Saeed pada akhir Ramadan yang
lalu, dan aku menunggu sebagian Ikhwan menulis sesuatu tentang perjalanannya
yang bermanfaat ini. Dan inilah penantianku yang telah lama, oleh karena itu
aku bertekad menuliskan kalimat ini sebagai kenang-kenangan untuk perjalanan
tersebut.
Aku
mengetahui bahwa saudara Al-Mursyid akan datang dari Kairo pada hari kedua
puluh dari bulan Ramadan setelah Zuhur. Maka aku pergi untuk menyambutnya, dan
di sana aku menemukan sekumpulan Ikhwan yang digerakkan oleh rasa rindu untuk
bertemu dengannya. Kereta pun tiba, lalu aku bergegas menemuinya, dan tampaklah
wajahnya memancarkan kegembiraan serta tanda-tanda semangat yang sempurna
terlihat jelas pada dirinya. Kami mengucapkan salam kepadanya, lalu keluar dari
stasiun menuju kantor Ustadz Muhammad Khalaf Al-Husaini, seorang pengacara; ia
adalah seorang pemuda Muslim yang cemburu (ghirah) terhadap agamanya
lagi bangga dengannya. Saudara Al-Mursyid beristirahat di sana hingga sekitar
jam empat, kemudian kami menaiki mobil menuju kota Al-Wasithi, yang termasuk
dalam pinggiran kota Asyuth. Di sana kami disambut oleh keluarga Al-Ghadir yang
mulia serta banyak dari tokoh kota tersebut. Di sana kami melaksanakan salat
Magrib dan menyantap hidangan berbuka puasa kami yang diselingi oleh berbagai
obrolan seputar ilmu, sastra, agama, dan akhlak.
Kami
melaksanakan salat Isya di masjid kota tersebut, dan kami diimami oleh Ustadz
besar Asy-Syaikh Ahmad Syariit, seorang pengajar di Ma'had Asyuth yang terkenal
karena simpatinya kepada perkumpulan Islam ini. Masjid dipenuhi oleh ratusan
manusia yang mendengarkan wejangan dan bimbingan. Maka saudara Al-Mursyid
memberikan wejangan kepada mereka dengan nasihat yang tulus yang menggetarkan
hati. Mereka merasakan kebutuhan mereka untuk beramal demi membebaskan diri
dari kelemahan, perpecahan, dan ujian yang mereka hadapi. Aku melanjutkannya
dengan sepatah kata tentang Ramadan beserta makna puasanya, serta tentang
Lailatul Qadar beserta keagungan dan kemuliaannya. Kami meninggalkan masjid
menuju sebuah rumah besar yang di dalamnya telah berkumpul jemaah yang agung.
Itu adalah malam yang agung di mana saudara Al-Mursyid berbicara, sehingga
beliau menghidupkan jiwa-jiwa, membangkitkan harapan, dan menjelaskan kepada
manusia bagaimana mereka dapat menyelamatkan diri dari apa yang menimpa mereka
akibat kelalaian. Sebagian Ikhwan turut serta bersamanya, maka mereka memetik
prinsip-prinsip Islam yang luhur dan menjelaskan bagaimana kaum Muslimin telah
mengabaikannya, padahal di dalamnya terdapat kebahagiaan dan ketenteraman
mereka.
Aku
sangat bahagia dengan malam ini, dan harapanku membubung tinggi, lalu aku
berkata: "Seandainya manusia mengamalkan apa yang mereka dengar, niscaya
kita akan menyongsong era kebangkitan menyeluruh yang meliputi kita semua,
sehingga kita meraih cita-cita dan memenangkan kemuliaan serta kejayaan."
22
Ramadan Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid kembali ke Asyuth setelah beliau memenuhi Al-Wasithi dengan
wejangan-wejangan berharganya. Beliau menetap di sana hingga jam satu malam,
dan beberapa Ikhwan pergi bersamanya menuju Manfaluth lalu ke Al-Qushiyyah
untuk mengunjungi cabangnya serta memeriksa keadaannya.
23
Ramadan Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid kembali ke Asyuth dengan penuh kesuksesan. Pada jam delapan malam,
perkumpulan Syubbanul Muslimin [Pemuda Muslim] dipenuhi oleh sejumlah besar
kaum terpelajar untuk mendengarkan ceramahnya yang berharga. Beliau
menjadikannya sebagai penjelasan bahwa Islam menjamin seluruh prinsip yang
menjamin kemajuan umat manusia serta kebahagiaan mereka. Beliau merincinya
dengan rincian yang mengagumkan yang sangat menyenangkan para pendengar.
Suaranya berirama merdu, penyampaiannya mudah lagi indah, dan kemampuannya
dalam menghimpun ayat-ayat Al-Qur'an serta hadis-hadis Nabawi sangat luar
biasa. Orang-orang banyak mengelu-elukannya dan mereka bersyukur kepada Allah
yang telah memudahkan mereka untuk mendengarnya.
24
Ramadan Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid menunaikan salat Jumat di Masjid Al-Qadhi; ia adalah salah satu
masjid terbesar di kota tersebut, yang paling luas, dan paling penuh sesak oleh
para jemaah salat. Maka saudara Al-Mursyid bertindak sebagai khatib sekaligus
pemberi wejangan, lalu beliau menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya sesuai
kehendak Allah. Kami berharap agar hati jemaah dapat memadukan antara
kegembiraan bersamanya dengan pengamalan terhadap wejangan dan bimbingannya.
Setelah
salat, beliau berangkat dengan berkah Allah menuju Mesir Hulu di mana beliau
menyambung silaturahmi dengan saudara-saudaranya di Al-Balyana, Aswan, dan
kota-kota lainnya. Semoga Allah memberinya taufik dan meluruskan
langkah-langkahnya.
30
Ramadan Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid kembali dari perjalanannya di Saeed Atas setelah Magrib. Banyak
orang telah menunggunya di depan stasiun Abu Tiij yang beruntung dengan
kehadirannya. Mereka berjalan dan mendatangi masjid tempat beliau melaksanakan
salat Isya, dan dari sana menuju rumah Abdurrahman Mahmud As-Sulaimani yang
telah dipadati oleh banyak orang. Malam itu adalah malam yang berbahagia di
mana para qari dan khatib saling unjuk kebolehan, dan di dalamnya saudara
Al-Mursyid menyampaikan wejangan yang agung yang diterima oleh hati dengan
penuh kerinduan lagi harapan. Aku beruntung dapat menyampaikan sepatah kata
setelahnya, kami memohon kepada Allah kemanfaatan dari keduanya.
Saudara
Al-Mursyid bermalam di Abu Tiij dengan dikelilingi oleh hati dan jiwa
masyarakat.
1
Syawal Tahun 1354 H
Hari
Idulfitri yang berkah telah dimulai, dan itu adalah hari yang disaksikan oleh
banyak orang. Saudara Al-Mursyid berkhotbah di Masjid Al-Farghali dan beliau
mendapatkan penerimaan yang luar biasa serta apresiasi yang luas. Beliau
kembali ke Asyuth pada waktu asar (ashil), dan perkumpulan Syubbanul
Muslimin beruntung mendapatkannya sekali lagi. Beliau berkhotbah di klubnya,
maka beliau melembutkan hati, menarik perhatian pendengaran, dan menaburkan
mutiara-mutiaranya yang kami harapkan dapat bermanfaat, insya Allah.
Ketika
tiba malam penutupan bagi masa mukimnya di Asyuth, malam itu dihadiri oleh
banyak dari saudara-saudaranya yang ikhlas. Ustadz Asy-Syaikh Syariit adalah
penunggang kudanya [tokoh utamanya], dan rumahnya yang makmur adalah medannya.
Maka pembicaraan berkisar seputar Islam dan kaum Muslimin serta sarana-sarana
untuk memperkuat mereka dan membangkitkan mereka.
2
Syawal Tahun 1354 H
Saudara
Al-Mursyid mengemas barang-barangnya untuk singgah ke Manfaluth, dan dari sana
menuju Kairo sebagai akhir dari perjalanannya yang bahagia lagi penuh kesiapan.
Sesungguhnya hari-hari yang membahagiakan karena bertemu dengannya tidak akan
pernah terlupakan selamanya, khususnya karena hari-hari itu adalah karena Allah
di jalan Allah, serta sebuah jihad yang disyukuri lagi ikhlas tanpa ada riya
dan sum'ah di dalamnya.
Ibadah
Haji yang Pertama
Termasuk
dari taufik Allah Tabaraka wa Ta'ala bahwa setelah disusunnya regulasi haji,
telah mantap di dalam jiwaku untuk menunaikan kewajiban fardu tersebut.
Meskipun hal itu sulit pada saat itu, namun Allah menghendaki untuk memudahkan
urusan-urusan serta menetapkan bagiku ibadah haji dan ziarah pada tahun 1354
Hijriah bertepatan dengan tahun 1936 Masehi. Majalah mengisyaratkan azam
[tekad] ini dengan kalimat berikut:
Yang
Mulia Al-Mursyid Al-Am dalam Perjalanan Menuju Tanah Suci
Ustadz
Al-Mursyid akan menunaikan kewajiban haji dan ziarah pada tahun ini, insya
Allah. Perjalanan beliau beserta para Ikhwan yang menyertainya dalam perjalanan
yang berkah ini adalah dengan menggunakan kapal laut yang meninggalkan
pelabuhan Suez pada awal bulan Zulhijah 1354 H – 24 Februari 1936 M. Beliau
akan berangkat dari Kairo pada hari Minggu dan menghabiskan satu malam di Suez
untuk menyampaikan ceramah di gedung klub dengan tema: "Haji sebagai
Olahraga Besar bagi Fisik dan Jiwa."
Yang
akan menggantikannya di Kantor Irsyad Am selama masa kepergiannya adalah yang
mulia Asy-Syaikh Radhwan Muhammad Radhwan, anggota biro tersebut.
Urusan
Palestina dan Ikhwan... Memorandum 1936
Pada
masa-masa ini, urusan Palestina mulai bergerak, dan rakyat Palestina yang
berani lagi perkasa melakukan perlawanan terhadap tindakan-tindakan Inggris
yang zalim yang bersekongkol dengan Yahudi dalam segala hal dan mengharamkan
Arab dari segala hal.
Lembaga-lembaga
politik dan partai-partai saat itu berpaling sepenuhnya dari upaya membela
Palestina secara serius, dikarenakan adanya fanatisme nasionalisme khusus yang
belum berkembang menjadi perasaan yang meluap-luap demi hak keAraban dan ikatan
Islam. Tidak ada yang bergerak untuk Palestina atau yang serupa dengannya dari
negeri-negeri jiran melainkan lembaga-lembaga Islam.
Dari
sinilah Ikhwanul Muslimin maju untuk membela Palestina yang sedang bergolak
lagi berjihad dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Mereka mencurahkan
upaya mereka untuk hal itu secara materi maupun maknawi, baik dari segi
propaganda, orasi, publikasi, pengumpulan dana, dan lain-lain. Untuk tujuan
tersebut, dibentuklah komite-komite dan delegasi-delegasi yang bekerja sekuat
kemampuan mereka, dan merekam itu semua di Majalah Ikhwanul Muslimin pada
waktunya, yaitu pada tahun keempat penerbitannya.
Kami
akan menukil dari majalah tersebut sebagian dari upaya-upaya ini untuk
pencatatan dan sejarah:
Komite
Pusat Pusat untuk Membantu Palestina
Pemilik
kemuliaan yang terhormat, Ustadz Al-Mursyid Al-Am bagi perkumpulan Ikhwanul
Muslimin menyampaikan undangan kepada para anggota perkumpulan di Kairo untuk
berkumpul pada pertengahan jam sembilan malam pada hari Sabtu yang bertepatan
dengan tanggal 25 Shafar al-Khair tahun 1355 H. Pada waktu yang telah
ditentukan, undangan tersebut dipenuhi oleh sekumpulan besar Ikhwan dan mereka
berkumpul di salah satu aula perkumpulan di bawah pimpinan yang mulia Ustadz
Al-Mursyid Al-Am, yang kemudian naik ke atas mimbar dan mulai menjelaskan
kepada Ikhwan apa yang menimpa bangsa Arab yang berani dari penduduk Palestina,
yang mengikat kita dengan mereka beberapa ikatan agama, bahasa, dan keAraban.
Kemudian beliau menyeru mereka demi kewajiban kemanusiaan dan pertolongan Islam
agar mereka mengulurkan tangan bantuan kepada saudara-saudara mereka warga
Palestina, serta agar mereka bekerja untuk membentuk sebuah komite di antara
mereka guna mengorganisasi bantuan ini, menyebarkan propaganda, dan
menggerakkan kedermawanan tangan-tangan untuk mendermakan harta demi tujuan
yang agung ini. Kemudian para Ikhwan saling bertukar pikiran dan berdiskusi,
serta setiap orang mengusulkan apa yang terlintas di benaknya, hingga urusan
tersebut berakhir dengan dibentuknya sebuah komite di antara mereka.
Komite
tersebut menyetujui pelaksanaan usulan-usulan berikut:
Pertama:
Menerbitkan proyek pembentukan komite ini di surat kabar.
Kedua:
Menerbitkan seruan dari komite kepada bangsa Mesir dan kaum Muslimin pada
umumnya.
Ketiga:
Mengirimkan telegraf protes kepada Komisioner Tinggi di Mesir dan Palestina
serta menerbitkan salinannya di surat kabar, dan mengirimkan telegraf lain
kepada yang mulia Mufti selaku ketua Komite Tinggi Arab.
Keempat:
Menyiarkan pernyataan dari komite kepada seluruh Ikhwan dan rakyat.
Kepada
Pemilik Yang Mulia Omar Toussoun
Komite
telah melayangkan surat ini kepada Pangeran yang mulia lagi agung, Pangeran
Omar Toussoun:
"Komite
Pusat untuk Membantu Palestina yang beraliansi dengan perkumpulan Ikhwanul
Muslimin merasa terhormat—sebagaimana kebiasaan bangsa Mesir bahkan dunia Islam
untuk mengadukan kepedihan kepada keluhuran simpati Anda dalam situasi-situasi
sulit, dan meminta petunjuk dari pandangan Anda yang tegas setiap kali badai
ujian melanda—untuk menyampaikan surat ini kepada keluhuran Anda guna
mengarahkan perhatian Anda yang tinggi terhadap apa yang dialami oleh para
Ikhwan mujahidin, pahlawan Palestina, berupa kepedihan kematian dan kemelaratan
yang ditimpakan oleh kekuatan-kekuatan zalim kepada mereka.
Dan
sesungguhnya Yang Mulia Pangeran mengerti bersama kami bahwa Palestina adalah
tetangga yang mulia, dan di dalamnya terdapat Baitul Maqdis yang disepakati
oleh kaum Muslimin dan Kristiani untuk diagungkan, dilindungi, dan dibela
kehormatannya, sangat layak jika Yang Mulia Pangeran yang agung Omar Toussoun
berada di barisan terdepan kami untuk memberikan kebajikan dan bantuan yang
memungkinkan kepada mereka.
Komite
Pusat untuk Membantu Palestina dibentuk dari para pemuda perkumpulan Ikhwanul
Muslimin yang telah membaiat Allah di atas ketakwaan dan pengorbanan demi
kejayaan agama. Telah dibentuk di antara mereka komite-komite untuk berkhotbah
di masjid-masjid, mengumpulkan apa yang didermakan oleh kaum Muslimin, dan
menyebarkan propaganda yang luas demi kesuksesan tujuan yang agung ini. Kami
menghadapkan surat ini kepada keluhuran Anda seraya berharap agar Palestina
yang terluka mendapatkan kebajikan dan simpati Anda sebagaimana yang didapatkan
oleh Habasyah [Etiopia] berupa penyembuh yang lembut dan balsem yang
memulihkan.
Kami
memiliki harapan lain, agar Anda berkenan—kapasitas Anda sebagai salah satu
dari dua ketua Komite Bantuan Habasyah—untuk mengirimkan sisa dana yang
dikumpulkan untuk tujuan membantu orang-orang Habasyah kepada Komite Tinggi
Arab di Palestina, dan Allah akan membalas Anda dengan balasan yang paling
sempurna.
Silakan
terima, wahai Pemilik Yang Mulia, rasa hormat saya yang setinggi-tingginya.
Hasan
al-Banna
Ketua
Perkumpulan Ikhwanul Muslimin
Kepada
Pemilik Kebahagiaan Anba Yoannis
Komite
juga melayangkan surat berikut kepada Pemilik Kebahagiaan Anba Yoannis,
Patriark Koptik Ortodoks di Mesir:
"Hadirat
Pemilik Kebahagiaan Anba Yoannis, Ketua Komite Bantuan Habasyah.
Dengan
penuh hormat, Ketua Komite Bantuan Palestina di perkumpulan Ikhwanul Muslimin
di Kairo merasa terhormat untuk menyampaikan harapan yang mendalam ini kepada
kebahagiaan Anda, didorong oleh apa yang diketahui pada diri kebahagiaan Anda
berupa perasaan rahmat yang luhur dan kebajikan bagi kemanusiaan yang
tertindas, perasaan yang mendorong Anda untuk menanggung kesulitan demi
membantu Habasyah.
Dan
Anda mengetahui, wahai Pemilik Kebahagiaan, bahwa Palestina, saudara yang
mulia, tempat lahirnya syariat dan para nabi, telah dihantam oleh kekuatan
zalim, sehingga darah putra-putranya dari kalangan Muslim dan Kristiani
mengalir sama rata, rumah-rumah mereka dihancurkan, kepentingan mereka
dihentikan, dan sumber-sumber mata pencaharian mereka dihancurkan, dan
sesungguhnya Baitul Maqdis adalah sasaran utama dari agresi yang nyata ini.
Orang-orang
Yahudi berusaha dengan tindakan mereka ini untuk menguasainya dan menguasai
tempat-tempat suci lainnya yang telah disepakati oleh kaum Muslimin dan
Kristiani untuk disucikan, diagungkan, dan dibela Muslimin.
Dan
kami di Mesir, dengan rasa sedih yang mendalam, tidak memiliki apa pun kecuali
mempersembahkan apa yang didermakan oleh tangan-tangan berupa uang bantuan
untuk para pahlawan tersebut yang telah didera kelaparan, bahkan Komite
'Logistik' (at-Tamwin) untuk bantuan di Yerusalem menyalurkan setiap
hari seratus empat puluh qanthar tepung untuk memberi makan orang-orang yang
lapar, itu belum termasuk apa yang disalurkan oleh komite-komite lain yang
banyak.
Oleh
karena itu, kami menghadap kepada kebahagiaan Anda seraya berharap agar Anda
meliputi para mujahidin pahlawan ini dengan simpati kebapakan Anda, lalu Anda
memerintahkan untuk menyokong putra-putra Palestina dengan mengirimkan sisa
dana komite bantuan Habasyah kepada Komite Tinggi Arab di Yerusalem. Kami
meyakini bahwa para anggota komite yang terhormat akan merasa bahagia untuk
mewujudkan harapan ini, sehingga dengan demikian mereka telah melakukan
pelayanan bagi dua tetangga yang mulia pada waktu yang sama dalam ujian yang
serupa.
Dan
jika Anda memandang lebih dari itu untuk berkenan mengajak orang-orang dermawan
dari kalangan bangsa Mesir guna menyumbang bagi tujuan yang luhur ini, maka hal
itu adalah apa yang biasa dilakukan dan diharapkan dari Anda, dan bagi Anda
ucapan terima kasih yang berlipat ganda.
Silakan
terima rasa hormat yang setinggi-tingginya.
Yang
tulus, Hasan Ahmad al-Banna
Ketua
Komite Bantuan Palestina
di
Perkumpulan Ikhwanul Muslimin
Dari
Tuan Awni Bek Abdul Hadi, Sekretaris Jenderal Komite Tinggi Arab di Yerusalem
kepada Ikhwanul Muslimin
Telah
diterima surat ini dari Tuan Awni Abdul Hadi:
"Hadirat
saudara yang utama dan nasionalis yang cemburu, Tuan Hasan al-Banna—semoga
Allah menjaganya—Mursyid Ikhwanul Muslimin – Mesir.
Sesungguhnya
Komite Arab di Palestina mengucapkan terima kasih kepada hadirat Anda atas
perasaan mulia ini yang terkandung dalam telegraf Anda tertanggal Mei tahun
1936 sebagai ungkapan simpati terhadap urusan Palestina yang sedang berjihad.
Percayalah bahwa ruh yang baik yang diembuskan oleh telegraf Anda telah
menambah kekuatan bagi jiwa kami dan menambah keteguhan hati kami untuk terus
melangkah hingga akhir dalam jihad kami melawan kezaliman dan
kesewenang-wenangan. Sungguh telegraf tersebut memiliki dampak terbesar di
dalam jiwa rakyat Arab Palestina yang meyakini bahwa saudara-saudaranya di
Mesir dan tempat lainnya tidak akan tertinggal untuk membelanya saat
dibutuhkan.
Dan
sesungguhnya saya berharap agar Anda menerima penghargaan dan ucapan terima
kasih yang sebesar-besarnya dari Komite Tinggi Arab atas simpati dan perasaan
yang mulia ini.
Wassalamu'alaikum
wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
Sekretaris
Jenderal
Dan
Mufti Besar Tuan Amin al-Husseini telah mengirimkan surat ini kepada komite:
Dari
Yang Mulia Mufti Besar Tuan Al-Amin al-Husseini kepada Ikhwanul Muslimin.
"Hadirat
para Tuan yang utama, Ketua dan para Anggota perkumpulan Ikhwanul Muslimin yang
terhormat – Kairo.
Assalamu'alaikum
wa Rahmatullahi wa Barakatuh, amma ba'du:
Telah
menulis kepada kami sejumlah sahabat di Kairo mengenai usaha-usaha yang patut
disyukuri dan amal-amal kebajikan yang kalian lakukan demi membela negeri Islam
Arab yang suci ini 'Palestina', yang sedang melakukan jihadnya demi kebebasan
dan kemerdekaannya untuk warisan Islam dan keAraban yang abadi di dalamnya.
Sebagaimana
kami juga telah membaca di surat kabar Mesir tentang banyak dari usaha-usaha
dan amal-amal berkah tersebut yang kalian lakukan dengan penuh semangat dan
aktivitas. Maka sudah sepatutnya bagi kami untuk mengucapkan terima kasih atas
apa yang kalian usahakan dan menghargai perasaan kalian yang meluap-luap serta
semangat Islam kalian dengan penghargaan yang semestinya. Kami memberi tahu
kalian bahwa opini publik Arab di Palestina telah menerima keputusan-keputusan
kalian yang bijaksana serta langkah-langkah kalian yang terpuji dengan ucapan
terima kasih yang melimpah dan pujian yang banyak. Kami memohon kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala agar menyelimuti amal-amal kalian yang berkah dengan
kesuksesan dan keberhasilan, serta membalas kalian dengan balasan yang paling
sempurna atas keutamaan dan kedermawanan kalian.
Dan
kami tidak meragukan bahwa usaha kalian yang disyukuri demi membela negeri suci
ini serta mengangkat kezaliman darinya akan memiliki dampak yang efektif dan
akan membuahkan kebaikan yang banyak dengan izin Allah. Percayalah bahwa dengan
tindakan itu kalian sedang mempersembahkan pelayanan terbesar bagi kaum
Muslimin dan Arab seluruhnya yang hati mereka rindu kepada Kiblat [Pertama] dan
Masjidil Aqsa di negeri yang sabar lagi berjihad ini, yang sedang mengalami
penderitaan yang berat dan menanggung berbagai kesulitan demi mempertahankan
warisan Islam yang abadi di Palestina.
Maka
kami mengulangi ucapan terima kasih kepada hadirat kalian semua, dan kami
memohon kepada-Nya Ta'ala agar memberikan taufik kepada kita semua menuju apa
yang di dalamnya terdapat kebaikan dan keberuntungan.
Wassalamu'alaikum
wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
Muhammad
Amin al-Husseini
Ketua
Komite Tinggi Arab
Qunut
dalam Salat untuk Palestina
Kantor
Irsyad telah menyeru umat untuk melakukan qunut demi Palestina dengan formula
ini:
Qunut
disyariatkan ketika terjadi bencana (nawazil) yang menimpa kaum
Muslimin, para imam [ulama mazhab]—semoga Allah meridai mereka—telah
membolehkannya, memandangnya baik, dan menganjurkannya, serta telah datang
hadis-hadis yang sahih mengenainya. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan
oleh Ibnu Abbas—semoga Allah meridai keduanya—:
«قَنَتَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي
الظُّهْرِ وَالعَصْرِ وَالمَغْرِبِ وَالعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ
صَلَاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فِي الرَّكْعَةِ الأَخِيرَةِ،
يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ
وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ»
Terjemahan
Hadis: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan qunut
selama satu bulan berturut-turut dalam salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan
Subuh di setiap akhir salat apabila beliau mengucapkan 'Sami'allahu liman
hamidah' pada rakaat terakhir, beliau mendoakan keburukan bagi kabilah-kabilah
dari Bani Sulaim, yaitu Ri'l, Dzakwan, dan 'Ushaiyah [Merupakan bentuk
tasghir [pengecilan] dari kata 'Asha, yang menjadi nama bagi sebuah kabilah
dari Bani Sulaim], dan orang-orang di belakangnya mengaminkan." HR.
Abu Dawud, Imam An-Nawawi mengatakan: dengan sanad yang hasan sahih.
Dan
bencana Palestina termasuk di antara bencana yang paling berat yang menimpa
kaum Muslimin seluruhnya, yang paling besar dampaknya di dalam hati mereka, dan
yang paling sengit dalam menimpa saudara-saudara mereka, tanah air mereka,
serta jiwa mereka. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu laksana satu tubuh, jika
salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan
demam dan tidak bisa tidur.
Oleh
karena itu, Kantor Irsyad Am mengusulkan agar kaum Muslimin berqunut pada
rakaat terakhir dari setiap salat setelah ruku', dengan qunut yang di dalamnya
mereka berdoa untuk kemenangan penduduk Palestina serta kekalahan musuh-musuh
dan para penentang mereka.
Dan
hendaklah formula qunut ini seperti bentuk berikut ini sebagai contoh: "Ya
Allah, Penolong orang-orang yang meminta pertolongan, Pelindung orang-orang
yang mengungsi, Pembela orang-orang yang tertindas, penangkanlah
saudara-saudara kami penduduk Palestina...
...Ya
Allah, hilangkanlah kesusahan mereka, kokohkanlah urusan mereka, kalahkanlah
musuh-musuh mereka, dan timpakanlah azab yang keras kepada orang-orang yang
memusuhi mereka, dan jadikanlah azab itu atas mereka berupa tahun-tahun
paceklik seperti tahun-tahun paceklik Nabi Yusuf, dan angkatlah kemurkaan serta
kemarahan-Mu dari kami, wahai Tuhan semesta alam, dan semoga Allah memberikan
salawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad yang ummi, serta kepada keluarga
dan para sahabatnya, dan berikanlah keselamatan."
Dan
dalam qunut Subuh atau Witir dibacakan doa yang ma'tsur [diriwayatkan] dan
ditambahkan kepadanya apa yang sesuai dengan makna yang telah disebutkan di
atas, semoga Allah Tabaraka wa Ta'ala mengabulkan doa kita dan menguatkan
saudara-saudara kita dengan pertolongan dari sisi-Nya. Kantor [Biro Pusat]
beserta orang-orang yang mengikutinya akan mengambil petunjuk ini hingga
hilangnya duka dan kembalinya ketenteraman, dan cukuplah Allah bagi kita dan
Dialah sebaik-baik Pelindung.
Delegasi-Delegasi
Musim Panas
Kantor
telah bertekad untuk memanfaatkan divisi mahasiswa yang beraliansi dengannya
dan memberikan kemanfaatan bagi mereka juga. Maka kantor menyetujui sebuah
proyek untuk mengutus mereka ke wilayah pedesaan guna menyerukan pemikiran
Islam di satu waktu, dan menggalang bantuan untuk Palestina di waktu yang lain.
Proyek tersebut adalah dengan bentuk sebagai berikut:
Delegasi
Musim Panas Ikhwanul Muslimin Kepada Orang-Orang Tercinta di Pedesaan yang
Indah
Ikhwanul
Muslimin adalah orang-orang yang paling pertama mengimani hak saudara-saudara
mereka atas waktu-waktu mereka, perkataan mereka, dan bakat-bakat mereka. Maka
mereka memanfaatkan setiap kesempatan dari waktu senggang mereka untuk
berhijrah kepada orang-orang tercinta di kota-kota Mesir, ibu kota, dan
desa-desanya; mereka duduk bersama mereka, berbagi perasaan dengan mereka,
saling menasihati di antara mereka, dan memperkokoh tali persaudaraan antara
petani di sawah, pekerja di pabrik, pedagang di toko, serta antara mahasiswa,
pegawai, dan dai yang menyeru kepada kebaikan dan bimbingan.
Sungguh,
orang yang pertama kali melakukan kewajiban ini adalah Al-Ustadz Al-Mursyid,
yang mana beliau—semoga Allah menguatkannya—tidaklah mendapatkan salah satu
dari masa liburannya, khususnya liburan musim panas, melainkan beliau akan
berpindah dari satu kota ke kota lain dan dari satu tempat ke tempat lain untuk
menyebarkan dakwah dan membangunkan pemikiran-pemikiran.
Dan
Kantor Umum Ikhwanul Muslimin pada tahun ini memandang perlu memilih sebuah
delegasi dari para tokoh di dua universitas, yaitu Al-Azhar dan Universitas
Mesir, untuk membagi wilayah Mesir dan berkeliling di dalamnya guna menunaikan
kewajiban dakwah menuju Allah serta menyebarkan kebaikan dan pembinaan di
antara warga negara yang mulia dari kalangan Ikhwan kami yang tercinta. Maka
dibentuklah sepuluh komite untuk tujuan tersebut yang akan melaksanakan
tugasnya berdasarkan pembagian yang tertera setelah ini, insya Allah.
Harapan
kami kepada para Ikhwan dan para ketua cabang mereka adalah agar mereka
memudahkan tugas saudara-saudara mereka ini, membantu mereka dalam tujuan
mereka yang merupakan tujuan bersama bagi semuanya, serta membekali mereka
dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan yang dapat membantu kesuksesan tujuan
mulia di mana mereka berhijrah karenanya.
Dan
ia adalah sebuah hijrah di jalan Allah yang kami harapkan menjadi pahala bagi
mereka, menjadi penyebaran bagi dakwah, dan menjadi kebaikan bagi negeri, insya
Allah.
(A)
Komite-Komite
1 -
Komite (A) terdiri dari Tuan Muhammad Abdul Hamid (Fakultas Sastra) dan Tuan
Musthafa Abu Rayyah (Fakultas Teknik): Wilayah Mudiriyah [Provinsi] Al-Buhairah
beserta distrik-distriknya: Kafr ad-Dawwar, Abu Humush, Damanhur, Rasyid
[Rosetta], Al-Mahmoudiyah, Ad-Dilinjat, Shubra Khit, Itay al-Barud, Kaum
Hamadah, Abu al-Matamir.
2 -
Komite (B) terdiri dari Tuan Ahmed Efendi Rifa'at (Siswa Tingkat Akhir) dan
Tuan Ali Efendi Muthawi' (Fakultas Kedokteran): Provinsi Al-Gharbiyah beserta
distrik-distriknya: Fuwah, Disuq, Kafr asy-Syaikh, Kafr az-Zayyat, Thantha,
Al-Mahallah al-Kubra, Thantha, As-Sanithah, Zifta.
3 -
Komite (C) terdiri dari Tuan Thahir Abdul Muhsin (Fakultas Perdagangan) dan
Tuan Ibrahim Abu an-Naja (Fakultas Kedokteran): Provinsi Ad-Daqahliyah dan
Kegubernuran Dimyath [Damietta], sedangkan distrik-distrik Ad-Daqahliyah
adalah: Faraskur, Dikarnis, Al-Manzilah, Al-Manshurah, Aja, Mit Ghamr,
As-Sinbillawain.
4 -
Komite (D) terdiri dari Tuan Shiddiq Efendi Amin (Siswa Tingkat Akhir) dan Tuan
Muhammad Efendi Sulaiman (Fakultas Kedokteran): Provinsi Giza, Al-Fayyum, dan
Bani Suwaif beserta distrik-distriknya: Giza, Al-Ayat, Al-Shaff, Al-Fayyum,
Itsa, Sinnuris, Ibsyaway, Bani Suwaif, Al-Wasithi.
5 -
Komite (E) terdiri dari Tuan Hasan Efendi As-Sayyid (Fakultas Hukum) dan Tuan
Abdul Hakim Efendi Abidin (Fakultas Sastra): Al-Minya beserta
distrik-distriknya: Al-Fasyn, Maghaghah, Bani Mazar, Samalut, Al-Minya, Abu
Qurqas, dan ditambahkan kepadanya wilayah dari Asyuth yaitu: Mallawi, Dairut,
dan Manfaluth saja.
6 -
Komite (F) terdiri dari Tuan Ahmad Fathi Sulaiman (Fakultas Perdagangan) dan
Tuan Abdul Muhsin (Fakultas Sastra): sisa wilayah Asyuth dan Provinsi Jirja,
sedangkan distrik-distriknya adalah: Asyuth, Abnub, Abu Tiij, Al-Badari, Thama,
Thahta, Suhaj, Akhmim, Jirja, Al-Balyana.
7 -
Komite (G) terdiri dari Tuan Syakir Efendi Muhammad Hasan dan Tuan Fahmi Abu
Ghadir (Fakultas Hukum): dua Provinsi Qena dan Aswan beserta distrik-distrik
keduanya: Nag Hammadi, Disyna, Qena, Qush, Luxor, Esna, Edfu, Aswan.
8 -
Komite (H) terdiri dari Tuan Syaikh Hamid Syariit dan Tuan Syaikh Abdul Bari
Khatthab (Universitas Al-Azhar): Provinsi Al-Munufiyah dan Al-Qalyubiyah
beserta distrik-distrik keduanya: Syibin al-Kaum, Quwaisna, Minuf, Tala,
Asymun, Syibin al-Qanathir, Toukh, Banha, Qalyub.
9 -
Komite (I) terdiri dari Tuan Syaikh Muhammad al-Banna dan Tuan Syaikh Nuruddin
Salim (Universitas Al-Azhar): Provinsi Asy-Syarqiyah dan Terusan Suez beserta
distrik-distriknya: Al-Zaqaziq, Minya al-Qamh, Bilbais, Hihya, Kafr Saqr,
Faqus, Suez, Ismailia, Port Said.
10 -
Komite (J) terdiri dari Tuan Syaikh Muhammad Ahmad Syariit (Universitas
Al-Azhar) dan Tuan Najati asy-Syafi'i (Fakultas Sastra): Aleksandria.
(B)
Instruksi-Instruksi
1 -
Dianggap sebagai anggota delegasi cadangan adalah para Tuan: Syaikh Abdul
Lathif asy-Sya'sya'i (Al-Azhar), Abdul Hasib Efendi Syahatah, Ahmad Abdul Aziz
Jalal (Fakultas Sastra), Ismail al-Junaidi, Mahmud Abdul Halim (Fakultas
Pertanian), Muhammad Muhammadin Efendi dan Haidar al-A'sar Efendi (Fakultas
Hukum), serta Salahuddin Utsman Efendi (Fakultas Teknik).
2 -
Tujuh komite pertama akan melaksanakan tugasnya mulai hari Kamis, 2 Juli tahun
1936, sedangkan tiga komite terakhir akan melaksanakan tugasnya mulai hari
Kamis tanggal 16 Juli. Masa tugas delegasi adalah satu bulan semenjak tanggal
tersebut.
3 -
Komite menuju distrik-distrik utama yang telah ditentukan di dalam daftar
komite, dan komite dibolehkan berinisiatif mengunjungi kota-kota penting jika
diundang atau jika terdapat situasi yang mendorong untuk mengunjunginya.
4 -
Surat tugas diserahkan kepada para anggota komite pada hari Kamis, 18 Juni
tahun 1936 setelah berakhirnya acara akhir tahun.
5 -
Latihan mengenai risalah ini dimulai pada hari Kamis, 25 Juni setelah salat
Magrib setiap hari di gedung perkumpulan sampai hari Rabu tanggal 1 Juli.
Demikian pula untuk tujuh komite pertama dan tiga komite terakhir jika para
anggotanya melihat adanya kemampuan pada diri mereka untuk itu, namun jika uzur
bagi mereka, maka latihan mereka dimulai pada hari Kamis, 9 Juli tahun 1936.
6 -
Jika terjadi uzur mendadak pada salah satu anggota, maka kami berharap agar
mengabarkannya kepada kami dalam waktu yang tidak melewati 20 Juni agar kami
dapat mengambil tindakan yang diperlukan untuk memberi tahu anggota cadangan
guna menyempurnakan komite.
7 -
Jika ada sebagian anggota yang memiliki usulan-usulan, maka kami berharap agar
menyampaikannya kepada kami paling lambat tanggal 20 Juni juga agar memungkinan
untuk mempertimbangkannya dan saling memahami isinya saat latihan.
Catatan:
Kami akan menerbitkan di waktu yang akan datang—insya Allah Ta'ala—mengenai
program perjalanan direktur tim kepanduan Ikhwanul Muslimin untuk berkeliling
ke cabang-cabang jemaah guna memeriksa urusan timnya. Adapun yang mulia
Al-Ustadz Al-Mursyid Al-Am, maka sebagian besar waktunya pada musim panas ini
akan dihabiskan di Kairo dikarenakan banyaknya pekerjaan yang menuntut
keberadaan beliau di sana, dan hal itu akan diselingi oleh kunjungan-kunjungan
dari beliau ke cabang-cabang jemaah dan wilayah-wilayahnya.
Comments
Post a Comment