Taat Kepada Allah dan Menghindari Murka-Nya

[Ketaatan (Ath-Tha'ah)]

[Ketaatan Secara Bahasa (Lughatan):]

Ath-Tha'ah (الطاعة) adalah bentuk kata benda (ism) dari ucapan mereka: Athā‘ahu - Yutī‘uhu - Tā‘atan (أطاعه يطيعه طاعة), sedangkan bentuk masdarnya adalah Al-Ithā‘ah (الإطاعة). Keduanya diambil dari akar kata (Thā’-Wāw-‘Ayn / ط و ع) yang menunjukkan makna penyertaan (al-ishhāb) dan ketundukan (al-inqiyād). Dikatakan: Thā‘ahu - Yatū‘uhu - Thaw‘an (طاعه يطوعه طوعا), apabila seseorang tunduk bersamanya dan melaksanakan perintahnya. Kata Athā‘ahu (أطاعه) memiliki makna yang sama dengan Thā‘a lahu (طاع له). Dikatakan pula bagi orang yang menyetujui orang lain bahwa ia telah menelitinya/menurutinya (thāwa‘ahu).

Ath-Thaw‘u (الطوع) artinya ketundukan, dan kebalikannya adalah al-kurhu (terpaksa/paksaan). Allah Ta’ala berfirman:

"Padahal hanya kepada-Nya berserah diri siapapun yang ada di langit dan di bumi, baik dengan taat maupun terpaksa" (QS. Āli ‘Imrān: 83).

Ath-Tha'ah (الطاعة) sama maknanya dengan Ath-Thaw‘u, akan tetapi kata ini lebih sering digunakan dalam konteks mematuhi apa yang diperintahkan dan mengikuti apa yang telah digariskan. Dikatakan: Thā‘ahu - Yatū‘uhu (Thaw‘an), dan Thāwa‘ahu - Yuthāwi‘uhu - Muthāwa‘atan. Bentuk kata benda (ism) dari derivasi tersebut adalah ath-thawā‘ah dan ath-thiwā‘ah. Adapun bentuk kata sifatnya (al-washf) adalah: thā’i‘ (طائع), thayyi‘ (طيع), mithwā‘ (مطواع), dan mithwā‘ah (مطواعة). Dikatakan: "Fulan datang dalam keadaan taat tanpa dipaksa (jā'a fulānun thā'i'an ghaira mukrahin)". Bentuk jamak dari thā'i' adalah thaw‘ (طوع), sedangkan jamak dari mithwā‘ adalah mathāwī‘ (مطاويع). Kata rajulun thayyi‘ (رجل طيع) berarti laki-laki yang taat (thā'i').

Ibn Manzhur berkata: Ath-Thawā‘iyyah adalah kata benda yang menjadi masdar bagi thāwa‘ahu, yakni untuk menyatakan kepatuhan (al-muthāwa‘ah). Dikatakan: "Seorang wanita menaati suaminya dengan penuh kepatuhan (thāwa‘ati al-mar'atu zaujahā thawā‘iyyatan)". Ibn As-Sikkit berkata: Thā'a lahu dan Athā‘ahu memiliki makna yang sama [Makna ungkapan Ibn As-Sikkit adalah bahwa fi'il/kata kerja thā‘a (طاع) menjadi transitif (muta'addi) baik dengan huruf hamzah (athā‘a) maupun dengan huruf jar lam (thā‘a lahu)]. Dan tidak digunakan dalam bentuk perintah kecuali kata Athā‘a (أطاع).

Dalam Hadis Syarif:

"Hawa nafsu yang dituruti dan sifat kikir yang ditaati."

Maksudnya adalah pemiliknya menaati sifat kikir tersebut dalam menahan hak-hak harta yang telah Allah wajibkan atas dirinya.

Adapun sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Pencipta)."

Maksudnya adalah ketaatan kepada para pemegang kekuasaan (wulāt al-amr) apabila mereka memerintahkan hal-hal yang mengandung kemaksiatan, seperti pembunuhan, pemotongan anggota tubuh, atau sejenisnya. Dikatakan pula maknanya adalah bahwa suatu ketaatan tidak akan selamat dan tidak akan murni bagi pelakunya jika bercampur dengan kemaksiatan; ketaatan hanya dianggap sah dan murni apabila disertai dengan menjauhi maksiat. Pendapat pertama lebih mendekati makna hadis.

Ungkapan mereka: "Aku berada di bawah kendalimu (anā thaw‘u yadika)", artinya aku tunduk kepadamu. Ungkapan: "Fulan terbiasa dengan kesulitan (fulān thaw‘u al-makārih)", artinya apabila ia sudah terbiasa menghadapinya.

Kata Tathawwa‘a li asy-syai’ dan Tathawwa‘ahu keduanya berarti: berusaha keras untuk mengupayakannya.

Firman Allah Ta’ala:

"Maka dorongan dirinya menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya" (QS. Al-Mā'idah: 30).

Maknanya adalah: jiwanya memberikan kelonggaran dan kemudahan darinya. Diriwayatkan dari Mujahid: Thawwa‘at lahu artinya jiwanya memberanikan dirinya, yaitu membantunya atas hal tersebut dan menuruti kehendaknya. Abu Ubaid berkata: "Aku tidak mengetahui asal katanya melainkan dari al-thawā‘iyyah".

Al-Istithā‘ah (الاستطاعة) adalah bentuk istif‘āl dari kata ath-thā‘ah, yang maknanya adalah kemampuan atas sesuatu.

Kata Tathāwa‘a li al-amr, Tathawwa‘a bihi, dan Tathawwa‘ahu berarti: memaksakan/mengupayakan kemampuannya.

Dalam Al-Tanzil (Al-Qur'an) disebutkan:

"Siapa yang dengan kerelaan hati melakukan kebajikan, itu lebih baik baginya" (QS. Al-Baqarah: 184).

Dikatakan: Tathawwa‘ li hādzā al-amr hattā tastathī‘ah (upayakanlah hal ini sampai engkau mampu melakukannya).

At-Tathawwu‘ (التطوع) adalah apa yang disedekahkan atau dilakukan oleh seseorang secara sukarela atas inisiatif dirinya sendiri dari hal-hal yang tidak diwajibkan atasnya, seolah-olah mereka menjadikan bentuk at-tafa‘‘ul di sini sebagai kata benda (ism).seperti at-tanūth [seseorang yang menggantungkan atau menyematkan sesuatu]. Dan al-muthawwi‘ah (المطوعة) adalah: orang-orang yang merelakan diri (menjadi relawan/bervoluntir) untuk berjihad [Maqāyīs al-Lughah karya Ibn Faris (3/431), Bashā'ir Dzawī at-Tamyīz (3/521), Ash-Shihāh karya Al-Jauhari (3/1255), Lisān al-‘Arab karya Ibn Manzhur entri "Thā’-Wāw-‘Ayn" (hlm. 2720), cetakan Dar al-Ma‘arif].

[Ketaatan Secara Istilah (Ishthilāhan):]

Al-Jurjani berkata: Ath-Tha'ah (ketaatan) adalah menyesuaikan/mematuhi perintah menurut pendapat kami (kalangan Ahlus Sunnah), sedangkan menurut kalangan Mu‘tazilah adalah menyesuaikan/mematuhi kehendak (al-irādah).

Al-Kafawi berkata: Ath-Tha'ah adalah mengerjakan hal-hal yang diperintahkan meskipun bersifat anjuran (nadab/sunnah), dan meninggalkan hal-hal yang dilarang meskipun bersifat makruh. Maka, melunasi utang, memberikan nafkah kepada istri dan kerabat dekat (mahārim), serta sejenisnya merupakan ketaatan kepada Allah, namun bukan tergolong sebagai ibadah [ritual/khusus].

Ibn Al-Munawi berkata—setelah menukil perkataan Al-Jurjani—: Ath-Tha'ah juga didefinisikan sebagai: "Setiap hal yang di dalamnya terdapat keridaan dan bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah Ta’ala" [Al-Kulliyyāt karya Al-Kafawi (hlm. 582), At-Ta‘rīfāt karya Al-Jurjani (hlm. 145), dan At-Tawqīf ‘alā Muhimmāt at-Ta‘ārīf (hlm. 225)].

Ibn ‘Allan berkata: Ath-Tha'ah adalah kepatuhan secara lahiriah dan keridaan secara batiniah terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya, serta terhadap apa yang disampaikan oleh orang yang mengajak kepada hal tersebut [Dalīl al-Fālihīn karya Ibn ‘Allan (1/430)].

[Kondisi Manusia dalam Ketaatan:]

Al-Mawardi rahimahullāh berkata: Keadaan manusia dalam hal apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang bagi mereka—yaitu berupa pelaksanaan ketaatan dan penghindaran dari maksiat—tidak terlepas dari empat kondisi:

  1. Di antara mereka ada orang yang menyambut untuk melakukan ketaatan dan menahan diri dari melakukan kemaksiatan. Ini adalah kondisi paling sempurna dari pemeluk agama dan sifat paling utama dari orang-orang bertakwa. Orang seperti ini berhak mendapatkan balasan para pekerja (amal saleh) dan pahala orang-orang yang taat.
  2. Di antara mereka ada orang yang enggan melakukan ketaatan dan nekat melakukan kemaksiatan. Ini adalah kondisi paling buruk dari para mukalaf [orang yang dibebani syariat] dan sifat paling jahat dari para hamba. Orang seperti ini berhak menerima azab karena kelalaiannya dalam melakukan ketaatan yang diperintahkan kepadanya, serta azab atas keberaniannya melanggar kemaksiatan yang dilakukannya.

Sungguh, Ibn Syubrumah telah berkata:

"Aku heran terhadap orang yang menjaga dirinya dari makanan-makanan lezat karena takut timbul penyakit, mengapa ia tidak menjaga dirinya dari kemaksiatan karena takut api neraka?"

Lalu ucapan tersebut diambil oleh sebagian penyair, seraya berkata:

Tubuhmu telah engkau habiskan dengan berpantang

Sepanjang masa dari yang dingin dan yang panas

Padahal lebih utama bagimu untuk berpantang

Dari kemaksiatan karena takut akan api neraka

  1. Di antara mereka ada orang yang menyambut untuk melakukan ketaatan, namun nekat melakukan kemaksiatan. Orang seperti ini berhak menerima azab karena keberaniannya [melanggar larangan], sebab ia terperosok akibat dominasi hawa nafsu hingga nekat berbuat maksiat, meskipun ia selamat dari kelalaian dalam melaksanakan ketaatan [Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn karya Al-Mawardi (hlm. 103–105) secara ringkas/adaptif (bitasharruf)].

Al-Hafizh Ibn Katsir rahimahullāh berkata ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala:

"Maka, demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan..." (QS. An-Nisā': 65).

Beliau berkata: Allah Ta’ala bersumpah dengan Diri-Nya Yang Mahamulia lagi Mahasuci, bahwasanya seseorang tidak dianggap beriman sampai ia menjadikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai hakim dalam seluruh perkara. Maka, apa saja yang beliau putuskan adalah kebenaran yang wajib ditunduki secara batin maupun lahir. Oleh karena itu, Allah berfirman:

"...kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan pasrah sepenuhnya" (QS. An-Nisā': 65).

Artinya: Apabila mereka menjadikan engkau sebagai hakim, mereka menaatimu dalam batin mereka sehingga tidak mendapati rasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa yang engkau putuskan, dan mereka tunduk kepadanya secara lahir dan batin, lalu mereka berserah diri terhadap hal tersebut secara totalitas tanpa ada penolakan, perlawanan, ataupun penentangan [Tafsīr Ibn Katsīr (1/520)].

[Perbedaan Antara Ketaatan (At-Tha'ah) dan Ibadah (Al-'Ibadah):]

Al-Kafawi berkata: Ketaatan (at-tha'ah) lebih umum daripada ibadah (al-'ibadah), karena ibadah penggunaannya didominasi untuk pengagungan kepada Allah dalam tingkatan pengagungan yang paling puncak, sedangkan ketaatan digunakan untuk mematuhi perintah Allah maupun perintah selain-Nya.

Abu Hilal Al-'Askari berkata: Perbedaan antara ketaatan dan ibadah adalah bahwa ibadah merupakan tingkatan ketundukan yang paling puncak (ghayat al-khudhu'), dan tidak berhak diberikan kecuali atas karunia nimat yang paling puncak (ghayat al-in'am). Oleh karena itu, tidak boleh beribadah kepada selain Allah Ta’ala, dan ibadah tidak akan terwujud kecuali disertai dengan pengenalan (ma'rifah) terhadap Zat yang diibadahi. Sementara itu, ketaatan adalah perbuatan yang terjadi sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pihak yang menghendaki (al-murid), selama pihak yang menghendaki tersebut memiliki kedudukan/tingkatan yang lebih tinggi daripada pelaku perbuatan tersebut. Ketaatan dapat ditujukan kepada Sang Pencipta (Al-Khaliq) maupun kepada makhluk, sedangkan ibadah tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Sang Pencipta. Adapun dalam konteks kiasan bahasa (majaz al-lughah), ketaatan bisa berbentuk tindakan mengikuti ajakan pihak yang mengajak (ad-da'i) menuju apa yang diajaknya, meskipun tanpa disertai niat untuk mengikutinya. Seperti halnya manusia yang menjadi taat kepada setan meskipun ia tidak bermaksud untuk menaatinya, akan tetapi ia mengikuti ajakan dan kehendak setan tersebut [Al-Furuq al-Lughawiyyah karya Abu Hilal Al-'Askari (hlm. 182)].

[Perbedaan Antara Ketaatan (At-Tha'ah) dan Kesesuaian Kehendak (Muwafaqah Al-Iradah):]

Bahwasanya kesesuaian kehendak (muwafaqah al-iradah) terkadang merupakan suatu ketaatan dan terkadang bukan merupakan suatu ketaatan. Hal itu terjadi apabila perbuatan tersebut tidak menempati posisi pendorong/pemanggil (ad-da'i) menuju perbuatan tersebut. Seperti halnya kehendakmu agar Zaid bersedekah dengan satu dirham tanpa Zaid menyadari hal itu, maka Zaid dengan perbuatannya tersebut tidaklah menjadi orang yang taat kepadamu. Namun, jika Zaid mengetahuinya lalu ia melakukannya karena kehendakmu, maka ia telah menjadi orang yang taat kepadamu. Oleh karena itu, jika ia menyadari ajakanmu menuju hal tersebut lalu ia condong/mengikutinya, maka ia telah menjadi orang yang taat kepadamu [Sumber yang sama, halaman yang sama].

[Perbedaan Antara Ketaatan (At-Tha'ah) dan Pelayanan (Al-Khidmah):]

Sesungguhnya pelayan (al-khadim) adalah orang yang mengelilingi/mendampingi seseorang untuk mengurus kebutuhan-kebutuhannya. Oleh sebab itu, tidak boleh dikatakan: "Seorang hamba melayani (yakhdumu) Allah Ta’ala". Asal kata dari istilah ini adalah berkeliling mengitari sesuatu (al-ithafah bi asy-syai'), kemudian penggunaannya meluas hingga aktivitas yang mengurus hal-hal yang membaikkan urusan pihak yang dilayani (al-makhdum) dinamakan sebagai pelayanan (khidmah). Dan hal tersebut sama sekali tidak termasuk dalam ketaatan maupun ibadah. Tidakkah engkau melihat bahwa dikatakan: "Fulan melayani masjid" apabila ia merawatnya dengan membersihkannya dan kegiatan lainnya [Al-Furuq al-Lughawiyyah karya Abu Hilal Al-'Askari (hlm. 182–183) dengan sedikit penyesuaian adaptif (bitasharruf yasir)].

[Untuk Pengayaan/Pendalaman: Lihat Sifat-sifat:]

Al-Islam (الإسلام) - Al-Iman (الإيمان) - Al-Ikhlash (الإخلاص) - At-Taqwa (التقوى) - Al-'Ibadah (العبادة) - Al-Firar ila Allah/Lari kepada Allah (الفرار إلى الله) - Al-Khauf/Rasa Takut (الخوف) - Al-Khusyu'/Kekhusyukan (الخشوع) - Al-Khasyah (الخشية) - Ad-Du'a' (الدعاء) - Al-Inabah/Kembali kepada Allah (الإنابة) - Al-Ittiba'/Mengikuti (الاتباع) - Ash-Shalah (الصلاة) - Az-Zakah (الزكاة) - Al-Hajj wa al-'Umrah (الحج والعمرة) - Ta'zhim al-Hurumat/Mengagungkan Hal-hal yang Suci (تعظيم الحرمات) - Ash-Shaum/Puasa (الصوم).

[Dan pada Lawan dari Sifat-sifat Tersebut: Lihat Sifat-sifat:]

Al-Kufr/Kekafiran (الكفر) - Al-'Isyan/Kemaksiatan (العصيان) - Al-Fujur/Kejahatan (الفجور) - Al-Fusuq/Kefasikan (الفسوق) - Tark ash-Shalah/Meninggalkan Shalat (ترك الصلاة) - Ittiba' al-Hawa/Mengikuti Hawa Nafsu (اتباع الهوى) - Al-I'radh/Bermaling Diri (الإعراض) - At-Tafrith wa al-Ifrath/Sikap Meremehkan dan Berlebihan (التفريط والإفراط) - Adh-Dhalal/Kesesatan (الضلال) - Al-Ghayy wa al-Ighwa'/Penyesatan (الغي والإغواء) - Al-Lahw wa al-La'ib/Sendagurau dan Permainan (اللهو واللعب) - Intihak al-Hurumat/Pelanggaran Hal-hal yang Suci (انتهاك الحرمات) - At-Tahawun/Sikap Meremehkan (التهاون).

[Ayat-Ayat yang Terkandung Mengenai "Ketaatan"]

[Puncak Ketaatan Adalah Taat Kepada Allah dan Para Rasul:]

  1. Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya." Mereka juga berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat kembali." (QS. Al-Baqarah: 285) [Madaniyyah].
  2. Katakanlah (Muhammad), "Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (QS. Āli 'Imrān: 32) [Madaniyyah].
  3. "(Aku datang) untuk membenarkan apa yang datang sebelumku, yaitu Taurat, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian dari yang telah diharamkan bagimu. Aku datang kepadamu membawa bukti (mukjizat) dari Tuhanmu. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." (QS. Āli 'Imrān: 50) [Madaniyyah].
  4. Taatilah Allah dan Rasul (Muhammad) agar kamu diberi rahmat. (QS. Āli 'Imrān: 132) [Madaniyyah].
  5. Di antara orang Yahudi ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, "Kami mendengar, tetapi kami membangkang," "Dengarkanlah," tanpa memedulikan pemanggilnya, dan "Rā‘inā" dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka berkata, "Kami mendengar dan menaatinya," "Dengarkanlah," dan "Unzhurnā," tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah melaknat mereka karena kekufuran mereka. Maka, mereka tidak beriman, kecuali sangat sedikit. (QS. An-Nisā': 46) [Madaniyyah].
  6. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulilamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisā': 59) [Madaniyyah].
  7. Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Seandainya mereka (orang-orang munafik) ketika menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisā': 64) [Madaniyyah].
  8. Ingatlah nikmat Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikatkan-Nya kepadamu ketika kamu mengatakan, "Kami mendengar dan kami taat." Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. Al-Mā'idah: 7) [Madaniyyah].
  9. Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan berhati-hatilah! Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. Al-Mā'idah: 92) [Madaniyyah].
  10. Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, "Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya). Maka, bertakwalah kepada Allah, perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang mukmin." (QS. Al-Anfāl: 1) [Madaniyyah].
  1. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah berpaling dari-Nya, padahal kamu mendengarkan (perintah-perintah-Nya). (QS. Al-Anfāl: 20) [Madaniyyah].
  2. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah nama Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung.

Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi pengecut dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang sabar. (QS. Al-Anfāl: 45–46) [Madaniyyah].

  1. Sungguh, Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya, "Wahai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diuji dengan (patung anak sapi) itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Allah) Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, ikutilah aku dan taatilah perintahku." (QS. āhā: 90) [Makkiyyah].
  2. Dan mereka berkata, "Kami beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami taat." Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu, dan mereka itu bukanlah orang-orang mukmin. (QS. An-Nūr: 47) [Madaniyyah].
  3. Hanyalah ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, mereka berkata, "Kami mendengar, dan kami taat." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah, "Luar biasa jika engkau (Muhammad) perintahkan mereka, niscaya mereka akan keluar (berperang)." Katakanlah, "Janganlah kamu bersumpah, (karena) ketaatan itu sudah diakui (baik). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Katakanlah, "Taatilah Allah dan taatilah Rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang."

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Dia benar-benar akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diseridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS. An-Nūr: 51–56) [Madaniyyah].

  1. Ketika saudara mereka, Nuh, berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?

Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kamu,

maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku.

Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas kedatangan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku." (QS. Asy-Syu'arā': 106–110) [Makkiyyah].

  1. Ketika saudara mereka, Hud, berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kamu,

maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku.

Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Apakah kamu mendirikan di setiap tempat yang tinggi bangunan (kemewahan) untuk bersenang-senang,

dan kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu hidup kekal?

Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan mahakuasa.

Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku." (QS. Asy-Syu'arā': 128–131) [Makkiyyah].

  1. Ketika saudara mereka, Salih, berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,

maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku.

Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Apakah kamu akan dibiarkan tinggal di sini (di dunia ini) dengan aman,

di dalam taman-taman dan mata air,

dan tanam-tanaman serta pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut,

dan kamu memahat sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan sangat mahir?

Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku,

dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Asy-Syu'arā': 142–151) [Makkiyyah].

  1. Ketika saudara mereka, Lut, berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku." (QS. Asy-Syu'arā': 161–163) [Makkiyyah].
  2. Ketika Syuaib berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,

maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku." (QS. Asy-Syu'arā': 177–179) [Makkiyyah].

  1. Wahai istri-istri Nabi, kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu melunakkan suara dalam berbicara sehingga berprasangka buruklah orang yang dalam hatinya ada penyakit dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait, dan membersihkan kamu semurni-murninya. (QS. Al-Azāb: 32–33) [Madaniyyah].
  2. Dan ketika Isa datang membawa bukti-bukti yang nyata, dia berkata, "Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan tentangnya; maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku." (QS. Az-Zukhruf: 63) [Makkiyyah].
  3. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu! (QS. Muammad: 33) [Madaniyyah].
  4. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum melakukan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tidak melakukannya dan Allah menerima tobatmu, laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujādalah: 13) [Madaniyyah].
  5. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan taatilah Allah dan taatilah Rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. At-Taghābun: 11-12) [Madaniyyah].
  1. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghābun: 16) [Madaniyyah].
  2. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan), "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih."

Dia (Nuh) berkata, "Wahai kaumku, sesungguhnya aku ini adalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu,

(yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatilah aku." (QS. Nū: 1–3) [Makkiyyah].

[Seluruh Makhluk Tunduk Beragama Kepada Allah Dengan Ketaatan:]

  1. Maka mengapa mereka mencari agama selain agama Allah, padahal hanya kepada-Nya berserah diri siapapun yang ada di langit dan di bumi, baik dengan taat maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan? (QS. Āli 'Imrān: 83) [Madaniyyah].
  2. Dan hanya kepada Allah-lah bersujud segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, dan (ikut bersujud pula) bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang hari. (QS. Ar-Ra'd: 15) [Madaniyyah].
  3. Katakanlah, "Pantasakah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? Yang demikian itu adalah Tuhan semesta alam."

Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat masa, (penjelasan itu diberikan) cukup bagi orang-orang yang bertanya.

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadamu dan kepada bumi, "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan taat atau terpaksa." Bothnya menjawab, "Kami datang dengan taat." (QS. Fuṣṣilat: 9–11) [Makkiyyah].

  1. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),

yang memiliki kekuatan, di sisi (Allah) yang memiliki 'Arsy, yang tinggi kedudukannya,

yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (QS. At-Takwīr: 19–21) [Makkiyyah].

[Pahala Orang-orang yang Taat dan Siksa Bagi Orang-orang yang Maksiat:]

  1. Itulah ketentuan-ketentuan Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung. (QS. An-Nisā': 13) [Madaniyyah].
  2. Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran (shiddiqin), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisā': 69) [Madaniyyah].
  3. Barang siapa menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan, "(Kewajiban kami adalah) taat." Namun, apabila mereka telah keluar dari sisimu (Muhammad), sebagian dari mereka mengatur siasat pada malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah dikatakannya itu. Padahal, Allah mencatat siasat yang mereka atur pada malam hari itu. Maka, berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung. (QS. An-Nisā': 80-81) [Madaniyyah].
  1. Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. At-Taubah: 71) [Madaniyyah].
  2. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah mendapat kemenangan yang agung. (QS. Al-Azāb: 70–71) [Madaniyyah].
  3. Katakanlah kepada orang-orang Bedawi yang tertinggal (tidak ikut ke Hudaibiyah), "Kamu akan diajak untuk (perang melawan) kaum yang mempunyai keberanian yang luar biasa; kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Jika kamu patuhi (ajakan itu), Allah akan memberimu pahala yang baik; tetapi jika kamu berpaling seperti yang kamu lakukan sebelumnya, Dia akan mengazabmu dengan azab yang pedih. Tidak ada halangan bagi orang yang buta, tidak ada (pula) bagi orang yang pincang, dan tidak ada (pula) bagi orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; tetapi barang siapa berpaling, niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih. (QS. Al-Fat: 16–17) [Madaniyyah].
  4. Orang-orang Bedawi berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah 'Kami telah tunduk (masuk Islam)', karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-ujurāt: 14) [Madaniyyah].

[Ketaatan Membebaskan dari Hukuman:]

  1. Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah MENAFKAHKAN sebagian dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan memelihara diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatiri akan nusyuz (pembangkangan), hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. (QS. An-Nisā': 34) [Madaniyyah].

[Hadis-Hadis yang Terkandung Mengenai (Ketaatan)]

  1. Dari ‘Iyādh bin imār Al-Mujāshi‘ī radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu hari bersabda dalam khotbah beliau: "Ketahuilah, sesungguhnya Tuhanku memerintahkanku untuk mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui dari apa yang Dia ajarkan kepadaku pada hari ini: Setiap harta yang Aku berikan (a‘thaituhu :Aku memberikannya)  kepada seorang hamba adalah halal. Dan sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus (unafā': Yaitu orang-orang muslim, dan dikatakan pula: orang-orang yang suci dari kemaksiatan) semuanya. Namun, setan-setan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka (Ijtālat-hum: Yaitu mereka menganggap remeh/merayu mereka lalu membawa mereka pergi, serta memalingkan mereka dari keadaan mereka semula) dari agama mereka, serta mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan bukti kekuasaan tentangnya. Dan sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi lalu Dia membenci mereka, baik bangsa Arab maupun non-Arab, kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab. Dan Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengutusmu hanyalah untuk mengujimu dan menguji (manusia) denganmu, dan Aku menurunkan kepadamu Kitab yang tidak dapat dibasuh oleh air (Lā yaghsiluhu al-mā': Maksudnya adalah bahwa Al-Qur'an itu terpatri dan dihafalkan di dalam dada (hati)), yang engkau bacakan dalam keadaan tidur maupun bangun.' Dan sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membinasakan (orang-orang kafir) Quraisy, maka aku berkata: 'Wahai Tuhanku, kalau begitu mereka akan memecahkan (Yatslaghū ra'sī: Mereka melempari kepalaku dengan batu hingga memecahkannya) kepalaku hingga membiarkannya seperti roti.' Allah berfirman: 'Keluarkanlah mereka sebagaimana mereka telah mengeluarkanmu, dan perangilah mereka niscaya Kami akan membantumu (Nu‘gizka: Yaitu Kami menolongmu/membantumu), serta berinfaklah maka Kami akan berinfak kepadamu, dan kirimkanlah pasukan tentara niscaya Kami akan mengirimkan lima kali lipat yang semisalnya, serta perangilah dengan orang-orang yang menaatimu terhadap orang-orang yang bermaksiat/menderhakaimu.' Beliau bersabda: 'Dan penghuni surga itu ada tiga golongan: penguasa yang adil, gemar bersedekah, dan mendapat petunjuk/bimbingan (kepada kebaikan); seseorang yang berhati lembut kepada setiap kerabat dan sesama muslim; serta orang yang menjaga kehormatan diri yang memiliki tanggungan keluarga.' Beliau bersabda: 'Dan penghuni neraka ada lima golongan: orang lemah yang tidak memiliki akal/pendirian (Lā zabra lahu: Tidak memiliki akal/pikiran yang mencegahnya (dari keburukan), dan dikatakan pula: yaitu orang yang tidak memiliki harta), yaitu mereka yang berada di antara kalian hanya sebagai pengikut yang tidak mencari keluarga dan tidak pula harta; orang pengkhianat yang tidak terselubung baginya (Lā yakhfā lahu: Yaitu tidak tampak/tidak tersembunyi baginya) suatu ketamakan walaupun kecil melainkan ia pasti mengkhianatinya; seseorang yang tidak memasuki waktu pagi dan sore melainkan ia selalu memperdayamu mengenai keluarga dan hartamu—dan beliau menyebutkan sifat kikir atau dusta—serta orang yang berakhlak buruk lagi keji perkataannya (Asy-Sjinzhīr: Dijelaskan dalam hadis bahwa maknanya adalah al-faḥḥāsy, yaitu orang yang buruk akhlaknya/keji perkataannya).'" (HR. Muslim no. 2865).
  1. Dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus beliau dan Mu‘adz ke Yaman, lalu beliau bersabda: "Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari, serta saling taatlah kalian berdua dan janganlah berselisih!" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 6 no. 3038, dan Muslim no. 1733 dengan lafaz milik Muslim).
  1. Dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila seseorang mendidik budak perempuannya lalu ia membaguskan pendidikannya, dan mengajarkannya lalu membaguskan pengajarannya, kemudian memerdekakannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala. Dan apabila ia beriman kepada 'Isa kemudian beriman kepadaku, maka baginya dua pahala. Dan seorang hamba sahaya apabila ia bertakwa kepada Tuhannya dan menaati tuannya, maka baginya dua pahala." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 6 no. 3446).
  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dengarkanlah dan taatilah, walaupun yang diangkat sebagai pemimpin atas kalian adalah seorang budak Habasyah yang kepalanya seolah-olah seperti kismis." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7142).
  1. Dari Abu Dzarr radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Sesungguhnya kekasihku (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) telah berwasiat kepadaku agar aku mendengar dan taat, walaupun (pemimpin itu) seorang budak yang terpotong anggota tubuhnya (mujadda‘a al-athrāf) [Wa in kāna ‘abdan mujadda‘a al-arāf: Yaitu yang terpotong anggota tubuhnya. Yang dimaksud adalah budak yang paling hina/rendah. Maksudnya: Dengarkanlah dan taatlah kepada pemimpin (amir) meskipun ia rendah keturunannya, bahkan meskipun ia seorang budak hitam yang terpotong anggota tubuhnya, maka menaatinya adalah wajib]." (HR. Muslim no. 1837).
  1. Dari Fatimah binti Qais radhiyallāhu 'anhā, ia berkata: Sesungguhnya suaminya telah menjatuhkan talak tiga kepadanya, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menjadikan hak tempat tinggal dan nafkah baginya. Ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Apabila engkau telah halal (selesai masa idahmu), maka beritahukanlah kepadaku!" Maka aku pun memberitahu beliau (ādzantuhu) [Ādzantuhu: Aku memberitahunya]. Lalu Mu‘awiyah, Abu Jahm, dan Usamah bin Zaid meminangnya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Adapun Mu‘awiyah adalah seorang laki-laki yang sangat miskin dan tidak mempunyai harta (tarib lā māla lahu) [Tarib lā māla lahu: At-Tarib adalah orang miskin. Ditegaskan dengan ucapan "tidak mempunyai harta" karena kata miskin terkadang digunakan untuk orang yang memiliki sedikit harta yang tidak mencukupi kebutuhannya]. Adapun Abu Jahm adalah seorang laki-laki yang suka memukul wanita. Akan tetapi, hendaklah engkau menikah dengan Usamah bin Zaid." Lalu Fatimah mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini: "Usamah, Usamah?!" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: "Ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul-Nya adalah lebih baik bagimu." Fatimah berkata: "Lalu aku menikahinya dan aku pun hidup berbahagia (faghtabatu) [faghtabatu artinya aku merasa gembira dan bersyukur dengan nikmat tersebut]." (HR. Muslim no. 1480).
  1. Dari Al-Harits Al-Asy‘ari radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat agar ia mengamalkannya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya..." (al-hadits), dan di dalamnya beliau bersabda: "Dan aku memerintahkan kalian dengan lima perkara yang Allah telah memerintahkanku dengannya: Mendengar, taat, berjihad, berhijrah, dan komitmen pada jamaah. Barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah walau sejengkal, maka sungguh ia telah mencabut tali pengikat Islam (ribqah al-islām) [Ribqah al-islām: Yaitu pengikat/tali Islam. Ar-Ribqah adalah tali yang memiliki simpul/jerat] dari lehernya kecuali jika ia kembali. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan jahiliah, maka sesungguhnya ia termasuk kelompok orang yang berlutut di neraka Jahanam (jutsā jahannam) [Jutsā jahannam: Bentuk jamak dari juts-wah, yaitu kelompok orang-orang yang divonis/dihukum masuk neraka]." Lalu seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah, walaupun ia salat dan berpuasa?" Beliau menjawab: "Walaupun ia salat dan berpuasa! Maka serulah dengan seruan Allah yang telah menamai kalian sebagai orang-orang muslim, orang-orang mukmin, hamba-hamba Allah." (HR. At-Tirmidzi no. 2863 dan ia berkata: Hadis ini hasan shahih gharib; Ibn Khuzaimah 3/195; Ibn Mandah dalam Al-Iman 1/376–377 no. 212; dan Ahmad dalam Al-Musnad 4/130 dan 202).
  1. Dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan apa yang aku diutus oleh Allah dengannya adalah seperti perumpamaan seorang laki-laki yang mendatangi suatu kaum lalu berkata: 'Wahai kaumku, sesungguhnya aku melihat pasukan musuh dengan kedua mataku sendiri, dan sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang telanjang (yang sangat jelas/mendesak), maka selamatkanlah diri kalian!' Maka sekelompok dari kaumnya menaatinya lalu mereka berangkat pada awal malam (adljū) [Adljū: Yaitu mereka berjalan bersamanya pada malam hari]. Mereka pun pergi secara perlahan-lahan hingga selamat. Namun sekelompok yang lain mendustakannya sehingga mereka tetap berada di tempatnya pada pagi hari, lalu pasukan musuh menyerang mereka di pagi hari serta membinasakan dan memusnahkan mereka seluruhnya (fājtāahum) [Wa ijtāahum: Yaitu memusnahkan/mencabut mereka sampai ke akar-akarnya]. Maka demikian itulah perumpamaan orang yang menaatiku lalu mengikuti apa yang aku bawa, serta perumpamaan orang yang mendurhakaiku dan mendustakan kebenaran yang aku bawa." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7283 dengan lafaz milik Al-Bukhari, dan Muslim no. 2283).
  1. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Sesungguhnya orang-orang dahulu selalu bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan. Maka kaum (yang hadir) memandangnya dengan tajam dengan mata mereka, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian ingkari." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang kebaikan yang telah Allah berikan kepada kami ini, apakah setelahnya akan ada keburukan sebagaimana yang terjadi sebelumnya?" Beliau menjawab: "Ya." Aku bertanya: "Lalu apakah benteng/penyelamat dari hal itu?" Beliau menjawab: "Pedang." Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, lalu apa yang akan terjadi?" Beliau bersabda: "Jika di bumi ada khalifah Allah, lalu ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka taatilah dia! Namun jika tidak ada, maka matilah engkau dalam keadaan menggigit pangkal pohon (jizdl syajarah) [Jizdl syajarah: Al-Jizdl adalah pangkal/akar pohon dan sejenisnya setelah dahan-dahannya hilang/patah]." Aku bertanya: "Kemudian apa lagi?" Beliau bersabda: "Kemudian Dajal akan keluar dengan membawa sungai dan api. Barang siapa yang jatuh ke dalam apinya, maka wajib pahalanya dan gugur dosanya. Dan barang siapa yang jatuh ke dalam sungainya, maka wajib dosanya dan gugur pahalanya." Ia berkata: Aku bertanya: "Kemudian apa lagi?" Beliau bersabda: "Kemudian setelah itu terjadi kiamat." (HR. Abu Dawud no. 4244, dan asal hadis ini terdapat dalam Ash-Shahihain [Bukhari dan Muslim]. Hadis ini dicantumkan dalam Ash-Shahihah karya Al-Albani no. 1791).
  1. Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu‘adz radhiyallāhu 'anhu ke Yaman, lalu beliau bersabda: "Ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaati hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah memfardukan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka menaati hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah memfardukan atas mereka zakat pada harta-harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 3 no. 1395 dengan lafaz milik Al-Bukhari, dan Muslim no. 19).
  1. Dari Jarir radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Aku membaiat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat. Lalu beliau menuntunkanku: 'Sesuai dengan kemampuanmu, serta memberi nasihat kepada setiap muslim.'" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7204 dengan lafaz milik Al-Bukhari, dan Muslim no. 56).
  1. Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Kami membaiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan giat maupun enggan/benci, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, serta agar kami menegakkan—atau mengucapkan—kebenaran di mana pun kami berada, tanpa takut celaan orang yang mencela karena Allah." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7199 dan 7200).
  1. Dari 'Ali radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus suatu pasukan kecil (sariyyah) dan mengangkat seorang laki-laki dari kaum Ansar sebagai pemimpin atas mereka, serta memerintahkan mereka untuk menaatinya. Lalu pemimpin itu marah kepada mereka dan berkata: "Bukankah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kalian untuk menaatiku?" Mereka menjawab: "Benar." Ia berkata: "Aku mewajibkan kalian untuk mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, kemudian kalian masuk ke dalamnya!" Maka mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Ketika mereka hendak masuk ke dalamnya, mereka saling memandang satu sama lain, lalu sebagian mereka berkata: "Sesungguhnya kita mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah karena lari dari api neraka, apakah kita justru akan memasukinya?" Ketika mereka dalam keadaan demikian, api pun padam dan kemarahannya mereda. Kejadian tersebut kemudian diceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: "Seandainya mereka memasukinya, niscaya mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal-hal yang makruf (kebaikan)." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7145 dengan lafaz milik Al-Bukhari, dan Muslim no. 1840).
  1. Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Para malaikat mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau sedang tidur. Sebagian malaikat berkata: "Sesungguhnya ia sedang tidur." Sebagian yang lain berkata: "Sesungguhnya matanya tidur, tetapi hatinya terbangun." Maka mereka berkata: "Sesungguhnya bagi sahabat kalian ini ada suatu perumpamaan, buatlah perumpamaan baginya!" Sebagian mereka berkata: "Sesungguhnya ia sedang tidur." Sebagian yang lain berkata: "Sesungguhnya matanya tidur, tetapi hatinya terbangun." Maka mereka berkata: "Perumpamaannya adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, lalu membuat jamuan makan di dalamnya dan mengutus seorang penyeru. Barang siapa yang memenuhi ajakan penyeru itu, ia akan masuk ke dalam rumah dan memakan jamuan tersebut. Dan barang siapa tidak memenuhi ajakan penyeru itu, ia tidak akan masuk ke dalam rumah dan tidak akan memakan jamuan tersebut.' Maka para malaikat berkata: 'Tafsirkanlah perumpamaan itu kepadanya agar ia memahaminya!' Lalu sebagian mereka berkata: 'Sesungguhnya ia sedang tidur.' Sebagian yang lain berkata: 'Sesungguhnya matanya tidur, tetapi hatinya terbangun.' Maka mereka berkata: "Maka rumah tersebut adalah surga, dan penyerunya adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Barang siapa yang menaati Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sungguh ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang mendurhakai Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Dan Muhammad adalah pemisah/pembeda di antara manusia." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7281).
  1. Dari 'Aisyah radhiyallāhu 'anhā, ia berkata: Sebelas orang wanita duduk berkumpul, lalu mereka saling berjanji dan berikrar untuk tidak menyembunyikan sesuatu pun dari kabar tentang suami-suami mereka... (al-hadits), dan di dalamnya disebutkan: "Putri Abu Zar‘. Siapakah putri Abu Zar‘ itu? Ia sangat taat kepada ayahnya dan sangat taat kepada ibunya, memenuhi pakaiannya (gemuk/sehat), dan membuat cemburu tetangganya. Pelayan perempuan Abu Zar‘, siapakah pelayan perempuan Abu Zar‘ itu? Ia tidak menyebarkan pembicaraan kami (Lā tabutstsu adītsanā tabtsītsā: Yaitu tidak menyebarkan dan membocorkan pembicaraan kami, melainkan ia menyembunyikan rahasia dan seluruh pembicaraan kami), tidak merusak/menghamburkan bahan makanan kami (Wa lā tunnaqitsu mīratanā tanqītsā: Al-Mīrah adalah makanan yang dibawa/disediakan. Maknanya adalah ia tidak merusaknya, tidak membuang-buangnya, dan tidak menghilangkannya. Maksudnya adalah menyifatinya dengan sifat amanah (jujur)), serta tidak membiarkan rumah kami penuh dengan kotoran/sarang..." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 9 no. 5189, dan Muslim no. 2448).
  1. Dari Ummul Hushaīn radhiyallāhu 'anhā, ia berkata: Aku menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada Haji Wada‘ (perpisahan). Lalu aku melihat beliau ketika melempar Jamrah 'Aqabah dan bertolak pulang dalam keadaan menunggangi untanya. Bersama beliau ada Bilal dan Usamah; salah seorang dari keduanya menuntun untanya, sedangkan yang lain mengangkat pakaiannya di atas kepala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melindunginya dari terik matahari. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan banyak sabda, kemudian aku mendengar beliau bersabda: "Jika kalian dipimpin oleh seorang budak yang terpotong anggota tubuhnya (Mujadda‘: Yaitu orang yang terpotong anggota tubuhnya) lagi berkulit hitam, yang memimpin kalian dengan Kitab Allah Ta'ala, maka dengarkanlah ia dan taatilah!" (HR. Muslim no. 1298).
  1. Dari Sulaiman bin 'Amr bin Al-Ahwash, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku bahwasanya ia menyaksikan Haji Wada‘ bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, memberikan peringatan dan nasihat, lalu ia menyebutkan dalam hadis tersebut suatu kisah, dan beliau bersabda: "Ketahuilah, berwasiat baiklah kalian kepada para wanita (istri), karena sesungguhnya mereka bagaikan tawanan (‘Awān ‘indakum: Yaitu tawanan di tangan kalian) di sisi kalian. Kalian tidak memiliki hak sedikit pun atas mereka selain dari itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, maka pisahkanlah tempat tidur dari mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Tetapi jika mereka taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Ketahuilah, sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian memiliki hak atas kalian. Adapun hak kalian atas istri-istri kalian adalah mereka tidak boleh membiarkan orang yang kalian benci menginjak tempat tidur kalian dan tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci masuk ke rumah kalian. Ketahuilah, dan hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka." (HR. At-Tirmidzi no. 1163 dan ia berkata: Ini adalah hadis shahih.. Dan asal hadis ini terdapat dalam Shahih Muslim dari hadis Jabir radhiyallāhu 'anhu no. 1218).
  1. Dari Asma' radhiyallāhu 'anhā, ia berkata: Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu aku masuk menemui 'Aisyah ketika ia sedang salat. Aku bertanya: "Ada apa dengan orang-orang hingga mereka salat?" Maka 'Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke arah langit. Aku bertanya: "Tanda (kebesaran Allah)?" Ia menjawab: "Ya." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperlama berdiri beliau dengan sangat lama, hingga aku merasa hendak pingsan (Tajallānī al-ghasyyi: Dengan makna pingsan/pusing, yaitu aku diliputi rasa sakit yang mendekati pingsan karena lamanya lelah berdiri). Maka aku mengambil qirbah (kantong kulit) berisi air yang ada di sampingku, lalu aku menuangkan air itu ke kepalaku atau ke mukaku. Asma' berkata: Selesai salat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, matahari pun telah terang kembali. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di hadapan manusia. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: "Amma ba'du, tidak ada sesuatu pun yang belum pernah aku lihat melainkan aku telah melihatnya di tempatku ini, hingga surga dan neraka. Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu bahwa kalian akan diuji di dalam kubur secara dekat atau seperti fitnah Masih Ad-Dajal —(aku tidak tahu mana yang dikatakan oleh Asma')— lalu didatangkan salah seorang dari kalian dan ditanyakan: 'Apa pengetahuanmu tentang laki-laki ini?' Adapun orang mukmin atau orang yang yakin —(aku tidak tahu mana yang dikatakan oleh Asma')— maka ia menjawab: 'Dia adalah Muhammad, dia adalah Rasulullah. Dia telah datang kepada kami membawa bukti-bukti yang nyata dan petunjuk, maka kami menyambutnya dan kami menaatinya' (tiga kali). Lalu dikatakan kepadanya: 'Tidurlah! Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau benar-benar beriman kepadanya, maka tidurlah dengan tenteram.' Adapun orang munafik atau orang yang ragu —(aku tidak tahu mana yang dikatakan oleh Asma')— maka ia menjawab: 'Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku pun mengatakannya.'" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 1 no. 86, dan Muslim no. 905 dengan lafaz milik Muslim).
  1. Dari Abu Qatadah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di hadapan kami lalu bersabda: "Sesungguhnya kalian akan berjalan pada sisa sore dan malam kalian ini, dan kalian akan sampai di tempat air, insya Allah, besok hari." Maka orang-orang pun berangkat tanpa menoleh satu sama lain (Lā yalwī ‘alā aad: Yaitu tidak berpaling/menoleh atau tidak memperdulikan satu sama lain) …, dan di dalamnya disebutkan: Kemudian beliau bersabda: "Bagaimana dugaanmu tentang apa yang dilakukan orang-orang?" Ia (Abu Qatadah) berkata: Kemudian beliau bersabda [Mā tarawna an-nāsa shana‘ū tsumma qāla... dsb: An-Nawawi berkata: Makna dari perkataan ini adalah ketika beliau salat Subuh bersama mereka setelah matahari meninggi, sedangkan orang-orang telah mendahului mereka, dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beserta kelompok kecil ini terpisah dari mereka, beliau bersabda: "Apa yang kalian duga dikatakan orang-orang tentang kita?" Orang-orang pun diam, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Adapun Abu Bakar dan 'Umar, mereka berdua berkata kepada orang-orang: 'Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berada di belakang kalian, dan beliau tidak akan merasa senang meninggalkan kalian di belakangnya lalu mendahului kalian, maka sepatutnya kalian menunggu beliau hingga beliau menyusul kalian.' Sedangkan sisa orang-orang berkata: 'Sesungguhnya beliau telah mendahului kalian, maka susullah beliau!' Maka jika mereka menaati Abu Bakar dan 'Umar, niscaya mereka mendapat petunjuk/lurus, karena keduanya berada di atas kebenaran."]: "Orang-orang terbangun di pagi hari lalu mereka kehilangan Nabi mereka. Maka Abu Bakar dan 'Umar berkata: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berada di belakang kalian, tidak mungkin beliau meninggalkan kalian.' Sedangkan orang-orang lain berkata: 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berada di depan kalian.' Maka jika mereka menaati Abu Bakar dan 'Umar, niscaya mereka akan mendapat petunjuk (berada di atas kebenaran)." (HR. Muslim no. 681).
  1. Dari 'Auf bin Malik radhiyallāhu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, serta kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, serta kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian." Dikatakan (oleh para sahabat): "Wahai Rasulullah, apakah kita tidak memerangi/memerangi mereka dengan pedang?" Beliau menjawab: "Tidak, selama mereka mendirikan salat di antara kalian. Dan jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari penguasa kalian, maka bencilah perbuatannya, tetapi janganlah kalian melepas tangan dari ketaatan (kepadanya)." (HR. Muslim no. 1855 dengan lafaz milik Muslim; Ahmad 5/444 dan 6/24; serta Ad-Darimi no. 2797).
  1. Dari 'Abdurrahman bin 'Abd Rabbil Ka'bah, ia berkata: Aku masuk ke dalam masjid, lalu ternyata 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash sedang duduk di bawah naungan Ka'bah dan orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Maka aku mendatangi mereka lalu duduk bersamanya. Ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Lalu kami singgah di suatu tempat persinggahan; sebagian dari kami ada yang memperbaiki kemahnya, sebagian ada yang berlatih memanah (Wa minnā man yantailu: Berasal dari kata al-munāalah, yaitu berlatih memanah dengan anak panah), dan sebagian lagi ada yang menggembalakan ternaknya (Fī jasyrihi: Al-Jasyr adalah sekelompok orang yang keluar membawa hewan ternaknya ke tempat penggembalaan dan bermalam di tempat tersebut (An-Nihāyah 1/273)). Tiba-tiba penyeru Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyerukan: "Ash-Shalātu jāmi‘ah (Mari salat berjamaah)!" Maka kami berkumpul menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui bagi mereka. Dan sesungguhnya umat kalian ini dijadikan keselamatannya pada generasi awalnya, dan akan menimpa generasi akhirnya berbagai cobaan dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Dan akan datang fitnah (kekacauan) yang sebagiannya menjadikan sebagian yang lain tampak ringan (Fayuraqqiqu ba‘uhā ba‘ā: Yaitu sebagiannya menjadi tampak tipis/ringan karena besarnya fitnah setelahnya, dan dikatakan pula maknanya adalah sebagiannya menyerupai sebagian yang lain). Lalu datanglah fitnah, maka orang mukmin berkata: 'Inilah yang akan membinasakanku.' Kemudian fitnah itu tersingkap/selesai. Lalu datang lagi fitnah yang lain, maka orang mukmin berkata: 'Inilah dia, inilah dia!' Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya meninggalkannya dalam keadaan ia beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaknya ia memperlakukan manusia sebagaimana ia suka diperlakukan. Dan barang siapa yang telah membaiat seorang imam (pemimpin) lalu memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaknya ia menaatinya semampunya. Jika datang orang lain yang merebut kekuasaannya, maka tebaslah leher orang lain tersebut!" Lalu aku mendekat kepadanya dan berkata: "Aku memohon kepadamu demi Allah, apakah engkau benar-benar mendengar ini dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Maka ia mengisyaratkan kedua tangan ke kedua telinganya dan hatinya seraya berkata: "Kedua telingaku mendengarnya dan hatiku memahaminya." Lalu aku berkata kepadanya: "Ini sepupumu, Mu‘awiyah, memerintahkan kita untuk memakan harta-harta kita di antara kita dengan cara yang batil dan membunuh diri-diri kita, padahal Allah berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.' (QS. An-Nisā': 29)." Ia berkata: Maka 'Abdullah bin 'Amr diam sejenak, kemudian bersabda: "Taatilah dia dalam ketaatan kepada Allah, dan durhakailah dia dalam kemaksiatan kepada Allah!" (HR. Muslim no. 1844).
  1. Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Mendengar dan taat adalah kewajiban atas seorang muslim dalam apa yang ia sukai dan ia benci, selama ia tidak diperintahkan untuk berbuat maksiat. Apabila ia diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula taat." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7144 dengan lafaz milik Al-Bukhari, dan Muslim no. 1839).
  1. Dari Wa'il bin Hujr radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau seraya berkata: "Bagaimana pendapatmu jika kami dipimpin oleh penguasa-penguasa yang menghalangi hak kami dan menuntut hak mereka dari kami?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dengarkanlah dan taatilah! Sesungguhnya atas mereka apa yang dibebankan kepada mereka, dan atas kalian apa yang dibebankan kepada kalian." (HR. Muslim no. 1846, dan At-Tirmidzi no. 2199 dengan lafaz milik At-Tirmidzi dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan shahih).
  1. Dari Abu Umamah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah pada Haji Wada‘, lalu beliau bersabda: "Bertakwalah kalian kepada Allah Tuhan kalian, laksanakanlah salat lima waktu kalian, berpuasalah pada bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan taatilah penguasa/pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Tuhan kalian." (HR. At-Tirmidzi no. 616 dengan lafaz miliknya dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan shahih; Al-Hakim 1/9 dan 389 dan ia berkata: Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi; serta diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad 5/251).
  1. Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Aku menghadiri salat hari raya (Id) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan salat sebelum khotbah, tanpa azan dan tanpa ikamah. Kemudian beliau berdiri dengan bersandar pada Bilal, lalu beliau memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah, mendorong untuk menaati-Nya, serta memberi nasihat dan peringatan kepada manusia. Kemudian beliau berlalu hingga mendatangi kaum wanita, lalu memberi nasihat dan peringatan kepada mereka seraya bersabda: "Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sebagian besar dari kalian adalah kayu bakar neraka Jahanam.' Maka berdirilah seorang wanita dari pertengahan/terbaik kaum wanita (Min siah an-nisā': Yaitu dari pilihan/terbaik kaum wanita. Kata al-wasa berarti adil dan pilihan) yang kedua pipinya berwarna kehitam-hitaman (Saf‘ā' al-khaddain: As-Suf‘ah adalah warna hitam yang bercampur dengan warna merah) lalu bertanya: 'Mengapa, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Karena kalian banyak mengeluh (Asy-Syakāh: Yaitu keluhan (asy-syakwā)) dan mengingkari kebaikan suami (Takfurna al-‘asyīr: Yaitu mengingkari kebaikan/jasa suami karena lemahnya akal mereka dan sedikitnya pengetahuan mereka).' Ia (Jabir) berkata: Maka mereka pun mulai bersedekah dari perhiasan mereka, mereka melemparkan anting-anting dan cincin-cincin mereka ke kain Bilal." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 2 no. 978, dan Muslim no. 885 dengan lafaz milik Muslim).
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan sulitmu maupun mudahmu [Para ulama berkata maknanya adalah: Wajib menaati para penguasa dalam hal yang berat dan dibenci oleh jiwa serta lainnya, selama bukan dalam hal kemaksiatan. Jika berupa kemaksiatan, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula taat], dalam keadaan giatmu maupun engganmu/bencimu, dan ketika penguasa lebih mementingkan diri sendiri atasmu (Wa atsarah: Yaitu penguasa mementingkan diri sendiri dalam urusan dunia atas kalian. Maksudnya: Dengarkanlah dan taatilah meskipun para penguasa menguasai dunia untuk diri mereka sendiri dan tidak menyampaikan hak kalian yang ada pada mereka)." (HR. Muslim no. 1836).
  1. Dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallāhu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: "Perang (jihad) itu ada dua macam: Adapun orang yang mencari keridaan Allah, menaati pemimpin (imam), menginfakkan harta yang berharga, mempermudah rekan (syerik), serta menjauhi kerusakan, maka tidur dan bangunnya adalah pahala semuanya. Adapun orang yang berperang karena ria, ingin didengar (sum‘ah), menderhakai pemimpin (imam), dan berbuat kerusakan di bumi, maka sesungguhnya ia tidak akan kembali dengan membawa pahala yang cukup." (HR. An-Nasa'i dalam Shahih Sunan An-Nasa'i no. 2987 dengan lafaz miliknya; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2/85 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
  1. Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah, hijrah manakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Engkau meninggalkan apa yang dibenci oleh Tuhanmu." Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Hijrah itu ada dua macam: Hijrah orang kota (ādhir) dan hijrah orang dusun (bādī). Adapun orang dusun, maka ia memenuhi panggilan jika dipanggil, dan taat jika diperintah. Adapun orang kota, maka ia adalah yang paling besar ujiannya dan paling besar pula pahalanya." (HR. An-Nasa'i 7/144; dan pentahqiq Jāmi‘ al-Uṣūl 11/608 berkata: Hadis hasan).
  1. Dari Ibn 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Jarang sekali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dari suatu majelis hingga beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya: "Ya Allah, bagikanlah untuk kami dari rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan dari ketaatan kepada-Mu yang dengannya Engkau menyampaikan kami ke surga-Mu, serta dari keyakinan yang dengannya Engkau meringankan musibah-musibah dunia atas kami. Berilah kami kenikmatan dengan pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami. Jadikanlah pembalasan kami atas orang yang menzalimi kami, tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan batas puncak pengetahuan kami, serta janganlah Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak menyayangi kami." (HR. At-Tirmidzi no. 3502 dengan lafaz miliknya dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan gharib; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/528 dan ia berkata: Shahih sesuai syarat Al-Bukhari meskipun keduanya tidak meriwayatkannya, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
  1. Dari Anas radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Ada seorang anak laki-laki Yahudi yang melayani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu anak itu sakit. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi anak tersebut untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya dan bersabda kepadanya: "Masuk Islamlah!" Maka anak itu melihat ke arah ayahnya yang ada di sisinya, lalu ayahnya berkata kepadanya: "Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam)!" Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar seraya bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 3 no. 1356).
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?" Beliau bersabda: "Barang siapa yang menaatiku maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang menderhakaiku maka sungguh ia telah enggan." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7280).
  1. Dari 'Auf bin Malik Al-Asyja'i radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak sembilan, delapan, atau tujuh orang. Lalu beliau bersabda: "Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?" Padahal kami baru saja membaiat beliau. Maka kami berkata: "Kami telah membaiatmu, wahai Rasulullah." Kemudian beliau bersabda lagi: "Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?" Maka kami berkata: "Kami telah membaiatmu, wahai Rasulullah." Kemudian beliau bersabda lagi: "Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?" Ia berkata: Maka kami mengulurkan tangan-tangan kami dan berkata: "Kami telah membaiatmu, wahai Rasulullah, lalu atas dasar apa kami membaiatmu?" Beliau bersabda: "Atas dasar kalian menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan salat lima waktu, dan menaati (beliau membisikkan satu kata yang samar), serta kalian tidak meminta sesuatu pun kepada manusia." Sungguh aku telah melihat sebagian dari rombongan tersebut, cambuk salah seorang dari mereka jatuh, namun ia tidak meminta seorang pun untuk mengambilkan atau menyerahkannya kepadanya. (HR. Muslim no. 1043).
  1. Dari Ibn 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: "Kami dahulu membaiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, lalu beliau bersabda kepada kami: 'Sesuai dengan kemampuan kalian.'" (HR. At-Tirmidzi no. 1593 dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan shahih).
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Ketika diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ayat: {Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Maka Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.} (QS. Al-Baqarah: 284), ia berkata: Maka hal itu terasa sangat berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berlutut di atas lutut-lutut mereka seraya berkata: "Wahai Rasulullah, kami telah dibebani amalan-amalan yang kami sanggupi, yaitu salat, puasa, jihad, dan sedekah. Dan sungguh telah diturunkan kepadamu ayat ini, sedangkan kami tidak sanggup menanggungnya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apakah kalian hendak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ahli Kitab sebelum kalian: 'Kami mendengar dan kami menderhakai/membangkang'? Akan tetapi katakanlah: 'Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.'" (QS. Al-Baqarah: 285). Ketika kaum tersebut membacanya, lidah-lidah mereka pun tunduk patuh dengannya. Maka Allah menurunkan setelahnya: {Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Merekai berkata,) 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Dan mereka berkata, 'Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.'} (QS. Al-Baqarah: 285). Ketika mereka telah melakukan hal tersebut, Allah Ta'ala menghapusnya (menasakh ketentuannya). Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan: {Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan ia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Merekai berdoa,) 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.'} (Allah berfirman: "Ya, telah Aku kabulkan"). {'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.'} (Allah berfirman: "Ya, telah Aku kabulkan"). {'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.'} (Allah berfirman: "Ya, telah Aku kabulkan"). {'Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.'} (Allah berfirman: "Ya, telah Aku kabulkan"). (QS. Al-Baqarah: 286). (HR. Muslim no. 125) [5].
  1. Dari 'Adi bin Hatim, bahwasanya ada seorang laki-laki berkhotbah di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia berkata: "Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh ia telah mendapat petunjuk, dan barang siapa yang menderhakai keduanya (wa man ya‘ṣihimā) maka sungguh ia telah sesat.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Seburuk-buruk penceramah/khotib adalah engkau. Katakanlah: Waman ya‘ṣillāha wa rasūlahu (Dan barang siapa yang menderhakai Allah dan Rasul-Nya)!'" (HR. Muslim no. 870).
  1. Dari 'Aisyah radhiyallāhu 'anhā, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barang siapa yang bernazar untuk taat kepada Allah maka hendaknya ia menaati-Nya, dan barang siapa yang bernazar untuk menderhakai-Nya (berbuat maksiat) maka janganlah ia menderhakai-Nya." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 11 no. 6696).
  1. Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan (kepada pemimpin/penguasa), maka ia akan menemui Allah pada hari kiamat tanpa memiliki alasan/hujjah. Dan barang siapa yang meninggal dunia sedangkan di lehernya tidak ada ikatan baiat, maka ia meninggal dalam keadaan mati jahiliah." (HR. Muslim no. 1851).
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: "Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah (kaum muslimin), lalu ia meninggal, maka ia meninggal secara mati jahiliah [Mītatan jāhiliyyah: Yaitu dalam keadaan mati seperti keadaan kematian mereka (orang jahiliah), dari sisi mereka dalam keadaan kacau (fawā) tanpa adanya seorang imam/pemimpin]. Dan barang siapa yang berperang di bawah panah buta/kekacauan (‘Immiyyah: Yaitu perkara yang samar/buta yang tidak jelas arah kebenarannya) karena marah demi kesukuan (Al-‘Aṣabah: Kerabat seseorang dari pihak ayah. Maknanya: Marah, berperang, dan menyeru orang lain bukan demi membela agama, melainkan murni karena fanatisme terhadap sukunya dan hawa nafsunya), atau menyeru kepada kesukuan, atau menolong kesukuan, lalu ia terbunuh, maka terbunuhnya adalah terbunuh secara jahiliah. Dan barang siapa yang keluar menyerang umatku, memukul orang baiknya maupun orang jahatnya, tanpa memedulikan/takut [Wa lā yatāāsy: Yaitu tidak takut akan bahaya dan hukumannya, serta tidak peduli terhadap apa yang diperbuatnya pada orang mukmin tersebut] terhadap orang mukminnya, serta tidak memenuhi janji kepada orang yang memiliki perjanjian, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya." (HR. Muslim no. 1848).
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang menaatiku maka sungguh ia telah menaati Allah, dan barang siapa yang menderhakaiku maka sungguh ia telah menderhakai Allah. Dan barang siapa yang menaati pemimpin (amir) maka sungguh ia telah menaatiku, dan barang siapa yang menderhakai pemimpin maka sungguh ia telah menderhakaiku. Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu adalah perisai [Junnah: Yaitu seperti tirai/pelindung; karena ia mencegah musuh dari menyakiti kaum muslimin, dan mencegah manusia satu sama lain (dari tindakan zalim)], perang dilakukan di belakangnya dan perlindungan dicari dengannya. Jika ia memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan berlaku adil, maka ia mendapatkan pahala atas hal itu, dan jika ia berkata/memerintah selain itu, maka ia menanggung akibat darinya." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 6 no. 2957 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 1841).

[Hadis-Hadis yang Terkandung Mengenai (Ketaatan) Secara Makna]

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku kerjakan niscaya aku akan masuk surga." Beliau bersabda: "Engkau menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan salat yang difardukan, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan Ramadan." Orang Arab Badui itu berkata: "Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah atas hal ini sedikit pun selama-lamanya dan tidak pula menguranginya." Ketika orang itu berpaling pergi, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang senang untuk melihat seorang laki-laki dari penghuni surga, maka hendaknya ia melihat laki-laki ini." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 3 no. 1397, dan Muslim no. 14 dengan lafaz milik Muslim).
  1. Dari Thalq bin 'Ali radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila seorang suami memanggil istrinya untuk keperluannya, maka hendaknya sang istri mendatangi suaminya, meskipun ia sedang berada di depan tungku pemanggang roti (at-tannūr) [At-Tannūr: Tempat untuk memanggang roti]." (HR. At-Tirmidzi no. 1160 dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan gharib; serta pentahqiq Jāmi‘ al-Uṣūl 6/496 berkata: Sanadnya hasan).
  1. Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ada tiga golongan yang diberikan pahala mereka dua kali lipat: Seseorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beriman kepada beliau, mengikutinya, serta membenarkannya, maka baginya dua pahala; seorang hamba sahaya ('abd mamlūk) yang menunaikan hak Allah Ta'ala dan hak tuannya, maka baginya dua pahala; dan seseorang yang memiliki budak wanita lalu ia memberinya makan dengan makanan yang baik, mendidiknya dengan pendidikan yang baik, kemudian memerdekakannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 1/97, dan Muslim no. 154 dengan lafaz milik Muslim).
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Biarkanlah aku pada apa yang aku tinggalkan untuk kalian (da‘ūnī mā taraktukum) [Da‘ūnī mā taraktukum: Yaitu biarkanlah aku selama kurun waktu aku membiarkan kalian tanpa memerintahkan sesuatu dan tanpa melarang dari sesuatu], karena sesungguhnya yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Maka apabila aku melarang kalian dari sesuatu, jauhilah ia, dan apabila aku memerintahkan kalian dengan sesuatu, maka kerjakanlah darinya semampu kalian." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7288 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 1337) [5].
  1. Dari Jabir radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Kami berjalan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hingga kami singgah di suatu lembah yang luas (Wādiyan afya: Yaitu lembah yang luas). Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pergi untuk membuang hajatnya, maka aku mengikuti beliau dengan membawa wadah berisi air (idāwah). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat sekeliling namun beliau tidak menemukan sesuatu untuk dijadikan penutup/penghalang. Tiba-tiba ada dua pohon di tepi lembah tersebut, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berjalan menuju salah satu dari kedua pohon itu, kemudian beliau memegang salah satu dahannya seraya bersabda: "Tunduklah kepadaku dengan izin Allah!" Maka pohon itu pun tunduk mengikutinya seperti unta yang ditindik hidungnya (Kal-ba‘īr al-makhsyūsy: Yaitu unta yang dipasang pada hidungnya khasyāsy (kayu kecil yang dipasang pada hidung unta apabila ia liar/sulit diatur, dan diikatkan padanya tali agar ia tunduk dan patuh)) yang menurut kepada penuntunnya, hingga beliau mendatangi pohon yang satu lagi. Beliau memegang salah satu dahannya lalu bersabda: "Tunduklah kepadaku dengan izin Allah!" Maka pohon itu pun tunduk mengikutinya dengan cara yang sama. Hingga ketika berada di pertengahan jarak (Bil-munṣaf: Yaitu setengah dari jarak/perjalanan)  di antara kedua pohon tersebut, beliau mempertemukan keduanya (maksudnya menyatukan keduanya) seraya bersabda: "Menyatulah kalian berdua untuk menutupiku dengan izin Allah!" Maka kedua pohon itu pun menyatu. Jabir berkata: Lalu aku keluar berlari cepat (Aḥḍur: Yaitu berlari dan berusaha jalan cepat dengan sungguh-sungguh) karena khawatir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasakanku berada di dekatnya sehingga beliau menjauh. Lalu aku duduk seraya berbicara kepada diriku sendiri. Tiba-tiba ketika aku menoleh, aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang datang kembali, dan kedua pohon tersebut telah berpisah berdiri masing-masing di atas batangnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhenti sejenak, lalu beliau memberi isyarat dengan kepalanya seperti ini (Abu Isma'il mengisyaratkan kepalanya ke kanan dan ke kiri), kemudian beliau menghadap/datang. Ketika beliau telah sampai, beliau bersabda: "Wahai Jabir, apakah engkau melihat tempat berdiriku?" Aku menjawab: "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Pergilah engkau ke kedua pohon itu, lalu potonglah masing-masing dari keduanya satu dahan, kemudian bawalah keduanya kemari. Hingga jika engkau telah berdiri di tempat berdiriku ini, tancapkanlah satu dahan di sebelah kananmu dan satu dahan di sebelah kirimu." Jabir berkata: Maka aku berdiri lalu mengambil sebuah batu, lalu aku memecahnya dan mengasah tajam ujungnya (asartuhu) [asartuhu: Yaitu aku mempertajamnya dan menyisihkan apa yang menghalangi ketajamannya sehingga menjadi batu yang memungkinkan untuk memotong dahan-dahan dengannya] maka batu itu pun menjadi tajam (Fanżalaqa: Yaitu menjadi tajam) bagiku. Lalu aku mendatangi kedua pohon tersebut, kemudian aku memotong satu dahan dari masing-masing pohon itu. Setelah itu aku datang menyeret keduanya hingga aku berdiri di tempat berdirinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku menancapkan satu dahan di sebelah kananku dan satu dahan di sebelah kiriku, kemudian aku menyusul beliau lalu aku berkata: "Aku telah melakukannya, wahai Rasulullah. Maka untuk apa hal itu dilakukan?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku melewati dua kubur yang sedang diazab, maka aku ingin—dengan syafaatku—agar azab keduanya diringankan (An yuraffaha 'anhumā: Yaitu diringankan (azabnya)) selama kedua dahan ini masih basah." (HR. Muslim no. 3012).
  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Abu Thalhah adalah orang Ansar yang paling banyak hartanya berupa kebun kurma di Madinah. Dan harta yang paling dicintainya adalah Bairuha' [Bairuā': Nama suatu harta/kebun dan tempat di Madinah], yang letaknya menghadap ke masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sering memasukinya dan meminum air yang segar di dalamnya. Anas berkata: Ketika diturunkan ayat ini: {Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai} (QS. Ali 'Imran: 92), Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: {Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai}, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha', dan ia adalah sedekah karena Allah, aku mengharapkan kebajikannya dan simpanannya di sisi Allah. Maka tempatkanlah ia, wahai Rasulullah, sebagaimana yang Allah perlihatkan/petunjukkan kepadamu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wah, itu adalah harta yang beruntung! Itu adalah harta yang beruntung! Sungguh aku telah mendengar apa yang engkau katakan, dan aku berpendapat agar engkau menjadikannya (membagikannya) kepada kerabat-kerabat dekat." Maka Abu Thalhah berkata: "Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah." Lalu Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 3 no. 1461 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 998).
  1. Dari Ibn 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dahulu Al-Kifl dari kalangan Bani Israil tidak menahan diri dari dosa yang dilakukannya. Lalu seorang wanita mendataginya, maka ia memberinya enam puluh dinar agar ia dapat menggaulinya. Ketika ia telah duduk darinya sebagaimana duduknya seorang suami dari istrinya, wanita itu gemetar dan menangis. Maka ia bertanya: 'Apa yang menyebabkabmu menangis? Apakah aku memaksamu?' Wanita itu menjawab: 'Tidak, akan tetapi ini adalah perbuatan yang belum pernah aku lakukan sama sekali, dan tidak ada yang mendorongku melakukannya melainkan kebutuhan/kemiskinan.' Maka ia berkata: 'Engkau melakukan ini (karena terdesak) sedangkan engkau belum pernah melakukannya sebelumnya [Maksudnya: Apakah engkau melakukannya sekarang padahal engkau tidak pernah melakukannya sebelum ini?]? Pergilah, dan uang itu menjadi milikmu.' Kemudian ia berkata: 'Tidak, demi Allah aku tidak akan menderhakai Allah setelah ini selama-lamanya.' Lalu ia meninggal pada malam itu juga, maka pada pagi harinya tertulis di pintunya: Sesungguhnya Allah telah mengampuni Al-Kifl." (HR. At-Tirmidzi no. 2496 dan ia berkata: Hadis hasan; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/254-255 dan ia berkata: Shahih sanadnya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
  1. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Manusia biasa bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir keburukan itu menimpaku. Maka aku berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada dalam kejahiliaan dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?" Beliau menjawab: "Ya." Aku bertanya: "Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan?" Beliau menjawab: "Ya, dan padanya ada kabut/noda (Dakhan: Abu 'Ubaid dan lainnya berkata: Ad-Dakhan asal katanya adalah adanya warna keruh kehitam-hitaman pada binatang. Para ulama berkata: Yang dimaksud di sini adalah hati satu sama lain tidak bersih, keburukannya tidak hilang, dan tidak kembali kepada kesucian sebagaimana semula)." Aku bertanya: "Apakah kabut/nodanya itu?" Beliau bersabda: "Suatu kaum yang mengambil sunnah bukan dari sunnahku, dan mengambil petunjuk bukan dari petunjukku (Hadyī: Al-Hadyu adalah perawakan, perjalanan hidup, dan jalan/metode), engkau mengenali (kebaikan) dari mereka dan engkau mengingkari (keburukan dari mereka)." Aku bertanya: "Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan?" Beliau menjawab: "Ya, para penyeru di pintu-pintu neraka Jahanam [Du‘āt 'alā abwābi jahannam: Para ulama berkata: Mereka adalah para penguasa/pemimpin yang menyeru kepada kesesatan atau kebid'ahan lainnya, seperti Khawarij, Qaramithah, dan orang-orang yang menimbulkan ujian fitnah. Dalam hadis Hudzaifah ini terdapat kewajiban menetapi jamaah kaum muslimin dan imam mereka, serta kewajiban menaatinya meskipun ia fasik dan melakukan kemaksiatan seperti mengambil harta secara zalim dan selainnya; maka tetap wajib menaatinya dalam hal selain maksiat. Di dalamnya juga terdapat mukjizat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu perkara-perkara yang beliau kabarkan ini dan sungguh semuanya telah terjadi.], barang siapa yang menyambut ajakan mereka ke pintu tersebut, niscaya mereka akan melemparkannya ke dalamnya." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, sifatkanlah mereka kepada kami!" Beliau bersabda: "Ya, mereka adalah suatu kaum dari kulit/bangsa kita sendiri dan berbicara dengan bahasa kita." Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati hal tersebut?" Beliau bersabda: "Engkau harus senantiasa menetapi jamaah kaum muslimin dan imam/pemimpin mereka." Aku bertanya: "Jika mereka tidak memiliki jamaah dan tidak pula memiliki imam?" Beliau bersabda: "Maka jauhilah semua kelompok/golongan tersebut, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga kematian menjemputmu sedangkan engkau tetap dalam keadaan demikian." (HR. Al-Bukhari 6 no. 3606, dan Muslim no. 1847 dengan lafaz milik Muslim).
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Bani Israil dahulu diatur dan dipimpin (Tasūsuhum al-anbiyā': Yaitu para nabi mengurus dan mengatur urusan-urusan mereka sebagaimana yang dilakukan oleh para amir dan penguasa kepada rakyatnya) oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, namun akan ada para khalifah yang jumlahnya banyak." Para sahabat bertanya: "Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau bersabda: "Penuhilah baiat khalifah yang pertama lalu yang pertama berikutnya [Fawū bibai'atil-awwali fal-awwal: Yaitu jika dibaiat seorang khalifah setelah khalifah sebelumnya, maka baiat khalifah yang pertama adalah sah dan wajib dipenuhi, sedangkan baiat khalifah kedua adalah batil, haram dipenuhi, dan haram baginya untuk menuntut baiat tersebut]. Dan berikanlah hak mereka kepada mereka, karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas apa yang diamanahkan kepada mereka untuk dipimpin." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 6 no. 3455, dan Muslim no. 1842 dengan lafaz milik Muslim).
  1. Dari 'Abdullah bin 'Umar dari ayahnya radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Dahulu aku memiliki seorang istri yang dibenci oleh 'Umar (ayahku), lalu ia berkata: "Thalaqlah (ceraikanlah) dia!" Namun aku menolak. Maka 'Umar mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (dan menceritakannya), lalu Rasulullah bersabda: "Taatilah ayahmu!" (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 4711 dengan lafaz miliknya dan no. 5011; Abu Dawud no. 1538; dan At-Tirmidzi no. 1201 dan ia berkata: Hadis hasan shahih. Pentahqiq Jāmi‘ al-Uṣūl 1/404 berkata: Sanadnya hasan).
  1. Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Dahulu kami tidak memakan daging hewan kurban (budn) kami melebihi tiga hari di Mina, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan keringanan (rukhsah) kepada kami seraya bersabda: "Makanlah dan jadikanlah bekal!" Maka kami pun memakannya dan menjadikannya bekal. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 3 no. 1719 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 1972).
  1. Dari 'Umar bin Abi Salamah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Aku dahulu adalah seorang anak laki-laki dalam pengasuhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam [ijri Rasūlillāh: Yaitu dalam pemeliharaan dan di bawah pengasuhan beliau], dan tanganku selalu berpindah-pindah/bergerak ke sana kemari di dalam nampan Makanan (Taīṣu fiṣ-ṣafah: Yaitu berpindah-pindah dan bergerak mencong ke berbagai sisi nampan/mangkuk makanan). Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Wahai anak muda, ucapkanlah Bismillah (sebutlah nama Allah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu!" Maka cara makan seperti itulah yang senantiasa menjadi cara makanku (i‘matī (dengan kasrah pada huruf a'): Yaitu tata cara/sifat makanku) setelahnya. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 9 no. 5376 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 2022).
  1. Dari 'Abdullah bin Abi Aufa radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Ketika Mu'adz kembali dari Syam, ia bersujud kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda: "Apa ini, wahai Mu'adz?" Ia menjawab: "Aku mendatangi Syam lalu aku mendapati mereka bersujud kepada uskup-uskup dan panglima-panglima/pemimpin mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku agar kami melakukan hal itu kepadamu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian lakukan! Karena sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya. Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidaklah menunaikan hak Tuhannya sampai ia menunaikan hak suaminya, bahkan seandainya suaminya memintanya (untuk melayaninya) sedangkan ia berada di atas punggung unta ('alā qatabin) [Qatab: Al-Qatab adalah pelana unta (ikāf al-ba‘īr). Ada yang mengatakan: Pelana kecil sesuai ukuran punuk unta. Yang dimaksud adalah dorongan/anjuran mendesak bagi para wanita untuk menaati suami-suami mereka], ia tidak boleh menolaknya." (HR. At-Tirmidzi no. 1159 dan ia berkata: Hadis hasan; Ibn Majah no. 1853 dengan lafaz miliknya dan Al-Albani berkata: Hasan shahih, serta dicantumkan dalam Ash-Shahihah miliknya no. 1203).
  1. Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah membacakan Al-Qur'an secara langsung kepada bangsa jin dan tidak pula melihat mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat bersama sekelompok sahabat beliau menuju Pasar 'Ukazh. Pada saat itu, para setan telah terhalangi dari berita langit dan dilontarkan kepada mereka bintang-bintang/panah api (asy-syuhub). Maka para setan kembali kepada kaumnya, lalu kaumnya bertanya: "Ada apa dengan kalian?" Mereka menjawab: "Kami telah terhalangi dari berita langit dan dilontarkan kepada kami panah-panah api." Kaumnya berkata: "Tidaklah hal itu terjadi melainkan karena ada sesuatu peristiwa besar yang baru saja terjadi. Maka jelajahilah timur dan barat bumi, lalu lihatlah apa yang menghalangi kita dari berita langit ini!" Maka mereka pun pergi menjelajahi timur dan barat bumi. Lalu rombongan jin yang mengambil arah ke Tihamah melewati beliau—saat itu beliau berada di Nakhlah [Bi-Nakhla: Demikian tertulis di teks asli, dan yang benar adalah Bi-Nakhlah menggunakan huruf Ha' (Tā' Marbūah). Itu adalah nama tempat yang dikenal di sana, dan demikianlah yang tercantum dengan benar dalam Shahih Al-Bukhari] sengaja hendak menuju Pasar 'Ukazh, dan beliau sedang memimpin salat Subuh bersama para sahabat beliau. Ketika mereka mendengar Al-Qur'an, mereka mendengarkannya dengan saksama lalu berkata: "Inilah yang menghalangi kita dari berita langit." Maka mereka kembali kepada kaumnya seraya berkata: "Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami pun beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami." Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam: {Katakanlah (Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan..."} (QS. Al-Jinn: 1). (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 8 no. 4921, dan Muslim no. 449 dengan lafaz milik Muslim).
  1. Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada seorang nabi pun yang diutus oleh Allah pada suatu umat sebelumku melainkan ia memiliki pengikut-pengikut setia (awāriyyūn) dan sahabat-sahabat dari umatnya yang mengambil sunnahnya dan meneladani peritahnya. Kemudian sesungguhnya akan lahir (Innahā takhlufu: Kata ganti (amīr) pada kata innahā adalah kata ganti kisah (amīr al-qiṣṣah), dan makna takhlufu adalah muncul/terjadi pengganti) setelah mereka generasi pengganti yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka ia adalah seorang mukmin, barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya maka ia adalah seorang mukmin, dan barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya maka ia adalah seorang mukmin. Dan tidak ada setelah itu iman meskipun sebesar biji sawi." (HR. Muslim no. 50).
  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri di Arafah ketika matahari hampir tenggelam, lalu beliau bersabda: "Wahai Bilal, minta manusia untuk diam dan mendengarkanku!" Maka Bilal berdiri lalu berkata: "Diamlah dan dengarkanlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam!" Maka orang-orang pun diam dan patuh. Lalu beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, Jibril baru saja datang kepadaku lalu menyampaikan salam dari Tuhanku dan berfirman: 'Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengampuni ahli Arafah dan ahli Masy'arilhram serta menanggung dosa-dosa tuntutan (Yaitu Allah menanggung/membebaskan kezaliman-kezaliman (pembayaran hak sesama) yang ada di antara mereka) di antara mereka.'" Maka 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu berdiri lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah ini khusus untuk kami saja?" Beliau menjawab: "Ini untuk kalian dan untuk orang-orang yang datang setelah kalian hingga hari kiamat." Maka 'Umar bin Al-Khaththab berkata: "Alangkah banyaknya kebaikan Allah dan alangkah indahnya!" (Al-Hafiz Ad-Dimyathi berkata dalam Al-Matjar Ar-Rābikh hlm. 236 no. 953: Diriwayatkan oleh Ibn Al-Mubarak dengan sanad yang baik [jayyid] dan para perawinya tsiqah lagi teguh).

[Teladan Praktis dari Kehidupan Nabi dalam (Ketaatan)]

  1. Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu biasa membaca dalam doanya: "Wahai Tuhanku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong (musuh) atas diriku; menangkanlah aku dan jangan Engkau menangkan (musuh) atas diriku; buatlah tipu daya untuk membantuku (Amkur lī: Makrullah (tipu daya Allah) adalah menjatuhkan cobaan/azab-Nya kepada musuh-musuh-Nya tanpa menimpakannya kepada para kekasih-Nya) dan jangan Engkau buat tipu daya yang merugikanku; berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagiku; serta tolonglah aku atas orang yang berbuat zalim kepadaku. Wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, sangat takut kepada-Mu, sangat taat kepada-Mu, tunduk khusyuk kepada-Mu (Mukhbitān: Dari kata al-ikhbāt, yaitu khusyuk dan merendahkan diri), serta sering merendah/berdoa (awwāhan) dan kembali bertobat kepada-Mu (Awwāhan: Orang yang bertadharu' (berdoa/merendah), dan munībān: Dari kata al-inābah, yaitu kembali kepada Allah dengan bertobat). Wahai Tuhanku, terimalah tobatku, basuhlah/hapuslah dosaku (aubatī: Yaitu dosaku), kabulkanlah doaku, berilah petunjuk pada hatiku, luruskanlah lisanku, teguhkanlah argumentasiku, dan cabutlah kedengkian/kejahatan dari hatiku (Aslul sakhīmata qalbī: Yaitu cabutlah kedengkian/kejahatan dari hatinya) ." (HR. Abu Dawud no. 1510; At-Tirmidzi no. 3551 dan ia berkata: Hadis hasan shahih; serta Ibn Majah no. 3830 dengan lafaz miliknya. Pentahqiq Jāmi‘ al-Uṣūl 4/337 berkata: Hadis shahih).
  1. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: 'Ali ketika berada di Yaman mengirimkan sepotong emas kecil yang masih bercampur tanah kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu beliau membagikannya kepada Al-Aqra' bin Habis Al-Hanzhali (dari Bani Mujasyi'), 'Uyaynah bin Badr Al-Fazari, 'Alqamah bin 'Ulatsah Al-'Amiri (dari Bani Kilab), dan Zaid Al-Khail Ath-Tha'i (dari Bani Nabhan). Maka orang-orang Quraisy dan Ansar merasa marah/gusar seraya berkata: "Beliau memberi para pemuka penduduk Najd dan meninggalkan kita?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku melakukan itu hanyalah untuk melunakkan hati mereka." Kemudian datanglah seorang laki-laki yang bermata cekung, dahi menonjol (Nāti' al-jabīn: Yaitu dahinya tampak menonjol ke luar), berjanggut tebal, pipi menonjol (Musyrif al-wajhatain: Yaitu kedua tulang pipinya tebal/menonjol), dan berkepala gundul. Ia berkata: "Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah!" Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Lalu siapakah yang akan menaati Allah jika aku bermaksiat/menderhakai-Nya?! Allah mempercayaiku atas seluruh penduduk bumi, sedangkan kalian tidak mempercayaiku?!" Maka seorang laki-laki dari kaum tersebut meminta izin untuk membunuhnya—aku menduga ia adalah Khalid bin Al-Walid—namun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarangnya. Ketika orang itu berpaling pergi, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya dari keturunan/keturunan orang ini (i'i': Yaitu asal/keturunan) akan lahir suatu kaum yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur lepas dari sasaran bidiknya. Mereka membunuh pemeluk Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Sekiranya aku mendapati mereka, niscaya aku akan membunuh mereka sebagaimana pembunuhan terhadap kaum 'Ad (Qatla 'Ād: Maksudnya adalah pembunuhan secara menyeluruh hingga ke akar-akarnya)." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7432 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 1064).

[Atsar dan Ucapan Ulama/Mufasir Mengenai (Ketaatan)]

  1. 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu berkata: "Janganlah engkau berteman dengan orang-orang jahat (fujjār) hingga engkau mempelajari kejahatan mereka. Jauhilah musuhmu, dan waspadalah terhadap temanmu kecuali yang terpercaya (al-amīn). Dan tidak ada orang yang terpercaya kecuali orang yang takut kepada Allah. Khusyuklah ketika berada di kuburan, merendahkan dirilah ketika berada dalam ketaatan, jagalah diri ketika berhadapan dengan kemaksiatan, serta bermusyawarahlah dengan orang-orang yang takut kepada Allah." (Ad-Durr Al-Manthūr karya As-Suyuthi 7/22).
  1. Dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu dalam wasiatnya mengenai para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam... (hingga akhir hadis, dan di dalamnya ia berkata): "Sesungguhnya aku tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak atas urusan (kekhalifahan) ini melebihi orang-orang (enam sahabat) ini yang mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepada mereka. Maka barang siapa yang mereka angkat sebagai khalifah setelahku, maka dialah khalifah (yang sah); dengarkanlah ia dan taatilah! Lalu beliau menyebutkan nama: 'Utsman, 'Ali, Thalhah, Az-Zubair, 'Abdurrahman bin 'Auf, dan Sa'ad bin Abi Waqqas..." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 3 no. 1392).
  1. 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu 'anhu berkata: "Sesungguhnya Mu'adz bin Jabal radhiyallāhu 'anhu adalah seorang ummah (pemimpin/teladan) yang qānit (patuh/taat) kepada Allah lagi anīf (lurus)." Maka dikatakan kepadanya: "Bukannya Ibrahim yang dinyatakan sebagai ummah yang qānit kepada Allah lagi anīf?" Maka Ibn Mas'ud menjawab: "Aku tidak lupa. Tahukah engkau apa itu ummah dan apa itu qānit?" Aku menjawab: "Allah yang lebih mengetahui." Beliau berkata: "Al-Ummah adalah orang yang mengajarkan kebaikan, sedangkan Al-Qānit adalah orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Mu'adz dahulu mengajarkan kebaikan kepada manusia serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya." (Hilyat al-Auliyā' karya Abu Nu'aim 1/230).
  1. Abu Ad-Darda' radhiyallāhu 'anhu menulis surat kepada Salamah bin Makhlad: "Amma ba'du, sesungguhnya seorang hamba jika beramal dengan ketaatan kepada Allah, maka Allah akan mencintainya. Dan jika Allah mencintainya, Allah akan menjadikannya dicintai oleh makhluk-Nya. Namun jika ia beramal dengan kemaksiatan kepada Allah, maka Allah akan membencinya, dan jika Allah membencinya, Allah akan menjadikannya dibenci oleh makhluk-Nya." (Kitāb Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal hlm. 168).
  1. 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu 'anhu berkata mengenai firman Allah Ta'ala: {Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya} (QS. Ali 'Imran: 102): "Yaitu hendaklah Allah ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan." (Diriwayatkan oleh Al-Hakim 2/294 dan ia berkata: Shahih sesuai syarat Ash-Shaikhain [Al-Bukhari & Muslim], dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
  1. Dari 'Abdullah bin Salamah, ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Mu'adz bin Jabal radhiyallāhu 'anhu: "Ajarilah aku!" Mu'adz bertanya: "Apakah engkau akan menaatiku?" Laki-laki itu menjawab: "Sesungguhnya aku sangat bersungguh-sungguh untuk menaatimu." Mu'adz berkata: "Berpuasalah dan berbukalah, salatlah dan tidurlah, bekerjalah mencari nafkah dan jangan berbuat dosa, janganlah engkau mati melainkan dalam keadaan berserah diri (sebagai muslim), dan takutlah engkau akan doa orang yang terzalimi!" (Hilyat al-Auliyā' karya Abu Nu'aim 1/233).
  1. Dari Ibn 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, bahwasanya apabila beliau membaca ayat ini: {Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk khusyuk hati mereka mengingat Allah?} (QS. Al-Hadid: 16), beliau berkata: "Tentu, wahai Tuhanku! Tentu, wahai Tuhanku!" (sebagai bentuk kepatuhan dan ketundukan). (Ad-Durr Al-Manthūr karya As-Suyuthi 8/59).
  1. Dari Khalid bin Aslam (bekas hamba sahaya 'Umar bin Al-Khaththab), ia berkata: Aku keluar bersama 'Abdullah bin 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, lalu seorang Arab Badui menyusulnya dan berkata kepadanya: "Firman Allah: {Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah...} (QS. At-Taubah: 34)." Ibn 'Umar menjawab: "Barang siapa yang menyimpannya lalu tidak menunaikan zakatnya, maka celakalah ia. Hal ini hanyalah berlaku sebelum diturunkannya zakat. Ketika ayat zakat diturunkan, Allah menjadikannya sebagai pembersih bagi harta benda." Kemudian Ibn 'Umar menoleh seraya berkata: "Aku tidak peduli sekiranya aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud, aku mengetahui jumlahnya lalu aku menunaikan zakatnya, dan aku menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ibn Majah 1/1787).
  1. Dari Sa'id bin Al-Musayyib rahimahullāh, ia berkata: Beberapa saudaraku dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menulis surat kepadaku: "Bawalah (tafsirkanlah) perbuatan saudaramu kepada prasangka yang paling baik selama belum datang kepadamu hal yang pasti mengalahkanmu. Janganlah sekali-kali engkau menyangka buruk terhadap suatu kalimat yang keluar dari seorang muslim, padahal engkau masih menemukan makna kebaikan padanya. Barang siapa yang mempertaruhkan dirinya pada tempat-tempat tuduhan/prasangka, maka janganlah ia mencela melainkan dirinya sendiri. Barang siapa yang menyembunyikan rahasianya, maka pilihan (al-khiyarah) berada di tangannya. Dan tidak ada balasan setimpal yang engkau berikan kepada orang yang bermaksiat kepada Allah Ta'ala atas dirimu yang lebih baik daripada engkau taat kepada Allah Ta'ala atas dirinya." (Syu'ab al-Īmān karya Al-Baihaqi 2/103).
  1. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullāh berkata: "Mereka telah beramal untuk Allah dengan berbagai ketaatan, bersungguh-sungguh di dalamnya, namun mereka tetap takut amalannya ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin menggabungkan antara iman dan rasa takut (khasyyah), sedangkan orang munafik menggabungkan antara perbuatan buruk dan rasa aman (dari azab)." (Baṣā'ir Dzawī at-Tamyīz karya Al-Fairuzabadi 2/545).
  1. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullāh pernah ditanya: "Apakah bentuk berbakti kepada kedua orang tua itu?" Beliau menjawab: "Hendaklah engkau mencurahkan untuk keduanya apa yang engkau miliki, dan hendaklah engkau menaati keduanya dalam apa saja yang mereka perintahkan kepadamu, kecuali jika hal itu berupa kemaksiatan." (Ad-Durr Al-Manthūr karya As-Suyuthi 5/259, dan ia berkata: Dikeluarkan oleh 'Abdurrazzaq dalam Al-Muṣannaf).
  1. Sebagian ulama Salaf bercerita: Ketika Sulaiman bin 'Abdul Malik tiba di Madinah Al-Munawwarah saat hendak menuju Makkah Al-Mukarramah, ia mengutus utusan kepada Abu Hazim (Salamah bin Dinar) lalu memanggilnya. Ketika Abu Hazim masuk menghadapnya, Sulaiman bertanya kepadanya: "Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?" Abu Hazim menjawab: "Karena kalian telah merobohkan akhirat kalian dan memakmurkan dunia kalian, sehingga kalian benci berpindah dari tempat yang makmur menuju tempat yang roboh/hancur." Sulaiman bertanya: "Orang mukmin manakah yang paling cerdas?" Beliau menjawab: "Laki-laki yang beramal dengan ketaatan kepada Allah dan menyeru manusia kepadanya." Sulaiman bertanya: "Orang mukmin manakah yang paling rugi?" Beliau menjawab: "Laki-laki yang tergelincir memenuhi hawa nafsu saudaranya yang zalim, sehingga ia menjual akhiratnya demi dunia orang lain." Sulaiman berkata: "Apa pendapatmu mengenai kedudukan yang sedang kami jalani ini?" Abu Hazim berkata: "Apakah engkau mau memaafkanku (tidak menanyakannya)?" Sulaiman menjawab: "Tidak, tetapi ini adalah nasihat yang harus engkau sampaikan kepadaku." Maka Abu Hazim berkata: "Wahai Amirulmukminin, sesungguhnya nenek moyangmu menaklukkan manusia dengan pedang dan mengambil kekuasaan ini secara paksa tanpa musyawarah dari kaum muslimin dan tanpa keridaan dari mereka, hingga mereka membunuh banyak orang. Sungguh mereka telah berangkat (wafat), sekiranya engkau menyadari apa yang mereka katakan dan apa yang dikatakan kepada mereka!" Maka seorang laki-laki dari teman duduk Sulaiman berkata: "Alangkah buruknya apa yang engkau katakan!" Abu Hazim menjawab: "Sesungguhnya Allah Tabāraka wa Ta'ālā telah mengambil janji atas para ulama agar mereka menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya." Sulaiman bertanya: "Lalu bagaimana cara kita memperbaiki kerusakan ini?" Abu Hazim menjawab: "Hendaklah engkau mengambil harta dari jalan yang halal dan menempatkannya pada haknya yang benar." Sulaiman bertanya: "Siapakah yang sanggup melakukan itu?" Beliau menjawab: "Orang yang mencari surga dan takut akan neraka." Sulaiman berkata: "Doakanlah aku!" Abu Hazim berdoa: "Ya Allah, jika Sulaiman adalah kekasih-Mu, maka mudahkanlah baginya kebaikan dunia dan akhirat; namun jika ia adalah musuh-Mu, maka peganglah ubun-ubunnya menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridai."Sulaiman  berkata: "Berilah aku wasiat!" Abu Hazim berkata: "Agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah Dia dari melihatmu di tempat yang Dia larang, atau kehilanganmu dari tempat yang Dia perintahkan." (Sunan Ad-Darami 1164 no. 647).
  1. Dari Az-Zuhri rahimahullāh, ia berkata: Sesungguhnya 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu membaca ayat ini: {Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istikamah)...} (QS. Fussilat: 30), lalu ia berkata: "Demi Allah, mereka beristikamah kepada Allah dengan ketaatan kepada-Nya, dan mereka tidak berpaling/bermuslihat (Yarūghū: Yaitu menipu / berpaling secara licik) seperti berpalingnya musang/rubah." (Kitāb Az-Zuhd karya Ibn Al-Mubarak hlm. 110).
  1. 'Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullāh berkata dalam bait syairnya: Apakah ada seorang pemuda yang menjamin bagiku untuk meninggalkan kemaksiatan… Maka aku akan menjamin tanggungan keselamatan baginya? Suatu kaum telah taat kepada Allah maka mereka pun merasa tenang... Dan mereka tidak perlu menelan kepahitan kemaksiatan. (Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn karya Al-Mawardi hlm. 104).
  1. Abu Al-Bakhtari rahimahullāh berkata: "Sungguh aku berharap Allah Ta'ala ditaati dan aku hanyalah seorang hamba sahaya (yang tidak memiliki apa-apa)." (Kitāb Az-Zuhd karya Ibn Al-Mubarak hlm. 69).
  1. Dari 'Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullāh, ketika menyebutkan syarat-syarat tobat, ia berkata: "Menyesal, bertekad bulat untuk tidak mengulangi, mengembalikan kezaliman (hak orang lain), menunaikan kewajiban-kewajiban yang sempat disia-siakan, sengaja membakar/mengecilkan tubuh yang dibesarkan dari harta haram (as-sut) dengan rasa cemas dan duka hingga tumbuh daging baru yang baik, serta merasakan pada jiwanya kepahitan ketaatan sebagaimana ia pernah merasakan padanya kelezatan maksiat." (Fat al-Bārī 11/106).
  1. Thalq bin Habib rahimahullāh berkata: "Takwa adalah beramal dengan ketaatan kepada Allah atas dasar cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat Allah. Dan takwa adalah meninggalkan maksiat kepada Allah atas dasar cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa Allah." (Al-Muṣannaf karya Ibn Abi Syaibah 11/23, dan Ad-Durr Al-Manthūr karya As-Suyuthi 1/61).
  1. Imam Malik rahimahullāh berkata: Telah sampai kepadaku bahwasanya 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu berkata: "Sungguh aku berbaring di atas tempat tidurku namun kantuk tak kunjung mendatangi diriku, lalu aku berdiri untuk salat, tetapi bacaanku tidak fokus karena risau memikirkan urusan rakyat." Malik berkata: "Maksud beliau adalah agar Allah ditaati dan Allah tidak didurhakai." (Syar as-Sunnah karya Al-Baghawi 3/257) [4].
  1. Abu Hamzah Asy-Syaibani rahimahullāh pernah ditanya tentang persaudaraan karena Allah 'Azza wa Jalla, lalu ia menjawab: "Yaitu orang-orang yang saling tolong-menolong atas perintah (ketaatan kepada) Allah 'Azza wa Jalla, meskipun tempat tinggal dan tubuh mereka berjauhan." (Kitāb Al-Ikhwān karya Ibn Abi Ad-Dunya hlm. 127) [5].
  1. Seorang laki-laki menulis surat kepada Abu Al-'Atahiyah:

Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya aku...

Sangat percaya akan kecintaanmu padaku.

Maka bantulah aku demi ayahmu, sesungguhnya engkau...

Bisa membimbing aibku menuju petunjukmu.

Maka Abu Al-'Atahiyah menjawabnya dengan bait syair:

Taatilah Allah dengan segenap kemampuannmu...

Baik dalam keadaan berharap atau tanpa segenap kemampuanmu.

Maka taatilah Pelindungmu (Allah) sebanyak ketaatan...

Yang engkau tuntut dari hamba/bawahanmu.

(Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn karya Al-Mawardi hlm. 131).

  1. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullāh berkata mengenai firman Allah Ta'ala: {Sungguh jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu} (QS. Ibrahim: 7): "Yaitu menambah ketaatan kepada-Ku." (Ad-Durr Al-Manthūr karya As-Suyuthi 5/7).
  1. Mahmud Al-Warraq berkata dalam bait syairnya:

Inilah petunjuk bagi siapa yang menginginkan...

Kekayaan yang abadi tanpa membutuhkan harta,

Dan menginginkan kemuliaan yang tak perlu dikokohkan oleh ikatan kabilah dengan peperangan,

Serta kewibawaan tanpa kekuasaan raja, dan kedudukan di hadapan para lelaki,

Hendaklah ia berpegang teguh dengan masuk ke dalam...

Kemuliaan ketaatan kepada Pemilik Keagungan (Allah),

Dan keluar dari kehinaan maksiat kepada-Nya dalam setiap keadaan.

(Al-Ādāb Asy-Syar‘iyyah karya Ibn Muflih 1/153).

  1. Syah Al-Kirmani rahimahullāh berkata: "Tanda benarnya sebuah harapan (rajā') adalah indahnya ketaatan." (Madārij as-Sālikīn karya Ibn Al-Qayyim 2/37).
  1. Abu Al-Walid Sulaiman bin Khalaf bin Sa'ad Al-Andalusi (Ibn Baji) berkata untuk dirinya sendiri:

Jika aku mengetahui dengan keyakinan yang pasti...

Bahwasanya seluruh hidupku ini hanyalah seperti satu jam saja...

Lalu mengapa aku tidak kikir bersikap padanya...

Dan menjadikannya berada dalam kebaikan dan ketaatan?

(Iqtiā' al-‘Ilm al-‘Amal karya Al-Khathib Al-Baghdadi hlm. 107).

  1. Abu Al-'Atahiyah berkata dalam bait syairnya:

Apabila para lelaki saling membanggakan nasab, maka aku tidak melihat...

Suatu nasab yang dapat dibandingkan dengan amal yang saleh.

Apabila engkau mencari orang yang bertakwa, niscaya engkau mendapatinya...

Sebagai sosok yang membenarkan ucapannya dengan perbuatan.

Dan apabila seseorang bertakwa kepada Allah serta menaati-Nya...

Maka kedua tangannya berada di antara kemuliaan dan kedudukan yang tinggi.

(Diwan Abi Al-'Atahiyah) .

  1. Penyair (Mahmud Al-Warraq) berkata dalam bait syairnya:

Engkau menderhakai Tuhan padahal engkau menampakkan cinta kepada-Nya...

Ini adalah hal yang mustahil lagi aneh dalam logika.

Seandainya cintamu itu jujur, niscaya engkau akan menaati-Nya...

Karena sesungguhnya pencinta itu sangat taat kepada yang dicintainya.

(Al-Ādāb Asy-Syar‘iyyah karya Ibn Muflih 1/154).

  1. Ibn Al-Qayyim rahimahullāh berkata: "Di antara hal yang paling mengherankan adalah engkau mengenal-Nya namun engkau tidak mencintai-Nya; engkau mendengar penyeru-Nya namun engkau menunda-nunda untuk menyambutnya; engkau mengetahui besarnya keuntungan dalam bertransaksi dengan-Nya namun engkau bertransaksi dengan selain-Nya; engkau mengetahui besarnya kemurkaan-Nya namun engkau malah menantang-Nya; engkau merasakan pedihnya kesendirian/keterasingan dalam maksiat kepada-Nya namun engkau tidak mencari ketenteraman dalam ketaatan kepada-Nya; engkau merasakan himpitan dada ketika tenggelam dalam pembicaraan selain tentang-Nya dan tentang selain-Nya namun engkau tidak rindu pada kelapangan dada dengan mengingat-Nya dan bermunajat kepada-Nya; serta engkau merasakan siksaan ketika hati terikat pada selain-Nya namun engkau tidak lari dari hal itu menuju kenikmatan menghadap dan bertobat kepada-Nya." (Al-Fawā'id karya Ibn Al-Qayyim hlm. 61).
  1. Beliau (Ibn Al-Qayyim) rahimahullāh juga berkata: "Apabila akar-akar (Syurūsy: Yaitu akar-akar tumbuhan dan asal-usul sesuatu) ma'rifah (pengetahuan tentang Allah) telah tertanam di tanah hati, niscaya akan tumbuh padanya pohon kecintaan (maabbah). Apabila pohon itu telah kokoh dan kuat, maka ia akan membuahkan ketaatan. Pohon itu senantiasa memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya." (Al-Fawā'id karya Ibn Al-Qayyim hlm. 49).
  1. Beliau (Ibn Al-Qayyim) rahimahullāh berkata: "Perumpamaan lahirnya ketaatan, pertumbuhannya, dan pertambahannya adalah seperti biji yang engkau tanam, lalu menjadi pohon, kemudian berbuah dan engkau memakan buahnya, lalu engkau menanam kembali bijinya. Setiap kali pohon itu berbuah, engkau memetik buahnya dan menanam bijinya. Demikian pula halnya dengan saling beruntunnya perbuatan maksiat. Maka hendaklah orang yang berakal merenungkan perumpamaan ini." (Al-Fawā'id karya Ibn Al-Qayyim hlm. 49).
  1. Ibn Al-Qayyim rahimahullāh berkata: "Sebagian besar mufasir berkata tentang firman Allah Ta'ala: {Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya} (QS. Al-A'raf: 56), yaitu: Janganlah kalian merusaknya dengan kemaksiatan dan dengan menyeru kepada selain ketaatan kepada Allah, setelah Allah memperbaikinya dengan mengutus para rasul, menjelaskan syariat, serta menyeru kepada ketaatan kepada Allah. Sesungguhnya penyembahan kepada selain Allah, seruan kepada selain-Nya, dan perbuatan syirik kepada-Nya adalah kerusakan terbesar di muka bumi. Bahkan, kerusakan bumi pada hakikatnya hanyalah terjadi akibat kesyirikan kepada-Nya dan penyelisihan terhadap perintah-Nya. Perbuatan syirik, seruan kepada selain Allah, penegakan sesembahan selain-Nya, serta adanya sosok yang ditaati dan diikuti selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan kerusakan terbesar di muka bumi. Dan tidak ada kebaikan bagi bumi maupun penduduknya melainkan dengan menjadikan Allah semata sebagai satu-satunya Sesembahan yang ditaati dan seruan hanyalah ditujukan untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya, serta ketaatan dan ikhtibar/mengikuti hanyalah untuk Rasul-Nya semata. Adapun selain beliau, ketaatan kepadanya hanyalah wajib apabila ia memerintahkan untuk menaati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Apabila ia memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada beliau dan menyelisih syariatnya, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula taat kepadanya. Barang siapa yang merenungkan keadaan dunia, niscaya ia mendapati bahwa setiap kebaikan/kemaslahatan di bumi sebabnya adalah tauhid kepada Allah, beribadah kepada-Nya, serta menaati Rasul-Nya. Sebaliknya, setiap keburukan di dunia, fitnah, bencana, kemarau panjang, dikuasai oleh musuh, dan selainnya, sebabnya adalah: menyelisih Rasul-Nya dan menyeru kepada selain Allah dan Rasul-Nya." (At-Tafsīr Al-Qayyim karya Ibn Al-Qayyim hlm. 255).
  1. Ibn Dhubarah rahimahullāh berkata: "Sesungguhnya kami telah memperhatikan, lalu kami mendapati bahwa bersabar dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala itu jauh lebih ringan daripada bersabar menanggung azab Allah Ta'ala." (Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn karya Al-Mawardi hlm. 103).
  1. Penyair berkata dalam bait syairnya:

Jika engkau berada dalam suatu kenikmatan, maka jagalah ia...

Karena sesungguhnya dosa-dosa itu dapat melenyapkan kenikmatan.

Dan bentengilah kenikmatan itu dengan ketaatan kepada Tuhan hamba-hamba-Nya...

Sebab Tuhan hamba-hamba-Nya sangat cepat siksaan-Nya.

Dan jauhilah olehmu perbuatan zalim semampumu...

Karena kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya sangat berat akibat buruknya.

Serta berkelalanah dengan hatimu di antara manusia...

Agar engkau dapat menyaksikan bekas-bekas orang yang telah berbuat zalim.

(Al-Jawāb Al-Kāfī karya Ibn Al-Qayyim hlm. 103).

[Di Antara Manfaat (Ketaatan)]

  1. Raih Kemenangan berupa Surga dan Keselamatan dari Neraka.
  2. Sebagai tanda atas kebaikan seorang hamba dan keistikamahannya.
  3. Mewariskan petunjuk (hidayah) di dalam hati.
  4. Membuahkan kecintaan Allah dan keridaan-Nya.
  5. Dengannya dapat menolak malapetaka/siksaan dan mendatangkan nikmat.
  6. Benteng yang kokoh dari bahaya maksiat dan dosa-dosa.
  7. Tanda/indikator khusnul khatimah (akhir kehidupan yang baik).
  8. Katup pengaman dan kemakmuran bagi rumah tangga.
  9. Bukti keyakinan dan tanda pembenaran terhadap agama.
  10. Bentuk peneladanan (ittiba‘) kepada Rasul yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam.

 

Sumber:

Ibn Humayd, Ṣāli ibn ‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Narat an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li an-Nashr wa at-Tawzī‘

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat