Taat Kepada Allah dan Menghindari Murka-Nya
[Ketaatan (Ath-Tha'ah)]
[Ketaatan
Secara Bahasa (Lughatan):]
Ath-Tha'ah
(الطاعة) adalah bentuk kata
benda (ism) dari ucapan mereka: Athā‘ahu - Yutī‘uhu - Tā‘atan (أطاعه يطيعه طاعة),
sedangkan bentuk masdarnya adalah Al-Ithā‘ah (الإطاعة). Keduanya diambil
dari akar kata (Thā’-Wāw-‘Ayn / ط و ع) yang menunjukkan makna penyertaan (al-ishhāb)
dan ketundukan (al-inqiyād). Dikatakan: Thā‘ahu - Yatū‘uhu - Thaw‘an
(طاعه يطوعه طوعا),
apabila seseorang tunduk bersamanya dan melaksanakan perintahnya. Kata Athā‘ahu
(أطاعه) memiliki makna yang
sama dengan Thā‘a lahu (طاع له). Dikatakan pula bagi orang yang
menyetujui orang lain bahwa ia telah menelitinya/menurutinya (thāwa‘ahu).
Ath-Thaw‘u
(الطوع) artinya ketundukan,
dan kebalikannya adalah al-kurhu (terpaksa/paksaan). Allah Ta’ala
berfirman:
"Padahal
hanya kepada-Nya berserah diri siapapun yang ada di langit dan di bumi, baik
dengan taat maupun terpaksa" (QS. Āli ‘Imrān: 83).
Ath-Tha'ah
(الطاعة) sama maknanya dengan
Ath-Thaw‘u, akan tetapi kata ini lebih sering digunakan dalam konteks
mematuhi apa yang diperintahkan dan mengikuti apa yang telah digariskan.
Dikatakan: Thā‘ahu - Yatū‘uhu (Thaw‘an), dan Thāwa‘ahu - Yuthāwi‘uhu
- Muthāwa‘atan. Bentuk kata benda (ism) dari derivasi tersebut
adalah ath-thawā‘ah dan ath-thiwā‘ah. Adapun bentuk kata sifatnya
(al-washf) adalah: thā’i‘ (طائع), thayyi‘ (طيع), mithwā‘ (مطواع), dan mithwā‘ah
(مطواعة). Dikatakan:
"Fulan datang dalam keadaan taat tanpa dipaksa (jā'a fulānun thā'i'an
ghaira mukrahin)". Bentuk jamak dari thā'i' adalah thaw‘
(طوع), sedangkan jamak
dari mithwā‘ adalah mathāwī‘ (مطاويع). Kata rajulun
thayyi‘ (رجل طيع)
berarti laki-laki yang taat (thā'i').
Ibn
Manzhur berkata: Ath-Thawā‘iyyah adalah kata benda yang menjadi masdar
bagi thāwa‘ahu, yakni untuk menyatakan kepatuhan (al-muthāwa‘ah).
Dikatakan: "Seorang wanita menaati suaminya dengan penuh kepatuhan (thāwa‘ati
al-mar'atu zaujahā thawā‘iyyatan)". Ibn As-Sikkit berkata: Thā'a
lahu dan Athā‘ahu memiliki makna yang sama [Makna ungkapan Ibn
As-Sikkit adalah bahwa fi'il/kata kerja thā‘a (طاع) menjadi transitif (muta'addi) baik
dengan huruf hamzah (athā‘a) maupun dengan huruf jar lam (thā‘a
lahu)]. Dan tidak digunakan dalam bentuk perintah kecuali kata Athā‘a
(أطاع).
Dalam
Hadis Syarif:
"Hawa
nafsu yang dituruti dan sifat kikir yang ditaati."
Maksudnya
adalah pemiliknya menaati sifat kikir tersebut dalam menahan hak-hak harta yang
telah Allah wajibkan atas dirinya.
Adapun
sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tidak
ada ketaatan bagi makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Pencipta)."
Maksudnya
adalah ketaatan kepada para pemegang kekuasaan (wulāt al-amr) apabila
mereka memerintahkan hal-hal yang mengandung kemaksiatan, seperti pembunuhan,
pemotongan anggota tubuh, atau sejenisnya. Dikatakan pula maknanya adalah bahwa
suatu ketaatan tidak akan selamat dan tidak akan murni bagi pelakunya jika
bercampur dengan kemaksiatan; ketaatan hanya dianggap sah dan murni apabila
disertai dengan menjauhi maksiat. Pendapat pertama lebih mendekati makna hadis.
Ungkapan
mereka: "Aku berada di bawah kendalimu (anā thaw‘u yadika)",
artinya aku tunduk kepadamu. Ungkapan: "Fulan terbiasa dengan kesulitan (fulān
thaw‘u al-makārih)", artinya apabila ia sudah terbiasa menghadapinya.
Kata
Tathawwa‘a li asy-syai’ dan Tathawwa‘ahu keduanya berarti:
berusaha keras untuk mengupayakannya.
Firman
Allah Ta’ala:
"Maka
dorongan dirinya menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya" (QS.
Al-Mā'idah: 30).
Maknanya
adalah: jiwanya memberikan kelonggaran dan kemudahan darinya. Diriwayatkan dari
Mujahid: Thawwa‘at lahu artinya jiwanya memberanikan dirinya, yaitu
membantunya atas hal tersebut dan menuruti kehendaknya. Abu Ubaid berkata:
"Aku tidak mengetahui asal katanya melainkan dari al-thawā‘iyyah".
Al-Istithā‘ah
(الاستطاعة) adalah bentuk istif‘āl
dari kata ath-thā‘ah, yang maknanya adalah kemampuan atas sesuatu.
Kata
Tathāwa‘a li al-amr, Tathawwa‘a bihi, dan Tathawwa‘ahu
berarti: memaksakan/mengupayakan kemampuannya.
Dalam
Al-Tanzil (Al-Qur'an) disebutkan:
"Siapa
yang dengan kerelaan hati melakukan kebajikan, itu lebih baik baginya"
(QS. Al-Baqarah: 184).
Dikatakan:
Tathawwa‘ li hādzā al-amr hattā tastathī‘ah (upayakanlah hal ini sampai
engkau mampu melakukannya).
At-Tathawwu‘
(التطوع) adalah apa yang
disedekahkan atau dilakukan oleh seseorang secara sukarela atas inisiatif
dirinya sendiri dari hal-hal yang tidak diwajibkan atasnya, seolah-olah mereka
menjadikan bentuk at-tafa‘‘ul di sini sebagai kata benda (ism).seperti
at-tanūth [seseorang yang menggantungkan atau menyematkan sesuatu]. Dan al-muthawwi‘ah
(المطوعة) adalah: orang-orang
yang merelakan diri (menjadi relawan/bervoluntir) untuk berjihad [Maqāyīs
al-Lughah karya Ibn Faris (3/431), Bashā'ir Dzawī at-Tamyīz (3/521),
Ash-Shihāh karya Al-Jauhari (3/1255), Lisān al-‘Arab karya Ibn
Manzhur entri "Thā’-Wāw-‘Ayn" (hlm. 2720), cetakan Dar al-Ma‘arif].
[Ketaatan
Secara Istilah (Ishthilāhan):]
Al-Jurjani
berkata: Ath-Tha'ah (ketaatan) adalah menyesuaikan/mematuhi perintah
menurut pendapat kami (kalangan Ahlus Sunnah), sedangkan menurut kalangan
Mu‘tazilah adalah menyesuaikan/mematuhi kehendak (al-irādah).
Al-Kafawi
berkata: Ath-Tha'ah adalah mengerjakan hal-hal yang diperintahkan
meskipun bersifat anjuran (nadab/sunnah), dan meninggalkan hal-hal yang
dilarang meskipun bersifat makruh. Maka, melunasi utang, memberikan nafkah
kepada istri dan kerabat dekat (mahārim), serta sejenisnya merupakan
ketaatan kepada Allah, namun bukan tergolong sebagai ibadah [ritual/khusus].
Ibn
Al-Munawi berkata—setelah menukil perkataan Al-Jurjani—: Ath-Tha'ah juga
didefinisikan sebagai: "Setiap hal yang di dalamnya terdapat keridaan dan
bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah Ta’ala" [Al-Kulliyyāt
karya Al-Kafawi (hlm. 582), At-Ta‘rīfāt karya Al-Jurjani (hlm. 145), dan
At-Tawqīf ‘alā Muhimmāt at-Ta‘ārīf (hlm. 225)].
Ibn
‘Allan berkata: Ath-Tha'ah adalah kepatuhan secara lahiriah dan keridaan
secara batiniah terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya, serta terhadap apa yang
disampaikan oleh orang yang mengajak kepada hal tersebut [Dalīl al-Fālihīn
karya Ibn ‘Allan (1/430)].
[Kondisi
Manusia dalam Ketaatan:]
Al-Mawardi
rahimahullāh berkata: Keadaan manusia dalam hal apa yang diperintahkan
dan apa yang dilarang bagi mereka—yaitu berupa pelaksanaan ketaatan dan
penghindaran dari maksiat—tidak terlepas dari empat kondisi:
- Di antara mereka ada
orang yang menyambut untuk melakukan ketaatan dan menahan diri dari
melakukan kemaksiatan. Ini adalah kondisi paling sempurna dari pemeluk
agama dan sifat paling utama dari orang-orang bertakwa. Orang seperti ini
berhak mendapatkan balasan para pekerja (amal saleh) dan pahala
orang-orang yang taat.
- Di antara mereka ada
orang yang enggan melakukan ketaatan dan nekat melakukan kemaksiatan.
Ini adalah kondisi paling buruk dari para mukalaf [orang yang dibebani
syariat] dan sifat paling jahat dari para hamba. Orang seperti ini berhak
menerima azab karena kelalaiannya dalam melakukan ketaatan yang
diperintahkan kepadanya, serta azab atas keberaniannya melanggar
kemaksiatan yang dilakukannya.
Sungguh,
Ibn Syubrumah telah berkata:
"Aku
heran terhadap orang yang menjaga dirinya dari makanan-makanan lezat karena
takut timbul penyakit, mengapa ia tidak menjaga dirinya dari kemaksiatan karena
takut api neraka?"
Lalu
ucapan tersebut diambil oleh sebagian penyair, seraya berkata:
Tubuhmu
telah engkau habiskan dengan berpantang
Sepanjang
masa dari yang dingin dan yang panas
Padahal
lebih utama bagimu untuk berpantang
Dari
kemaksiatan karena takut akan api neraka
- Di antara mereka ada
orang yang menyambut untuk melakukan ketaatan, namun nekat melakukan
kemaksiatan. Orang seperti ini berhak menerima azab karena
keberaniannya [melanggar larangan], sebab ia terperosok akibat dominasi
hawa nafsu hingga nekat berbuat maksiat, meskipun ia selamat dari
kelalaian dalam melaksanakan ketaatan [Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn
karya Al-Mawardi (hlm. 103–105) secara ringkas/adaptif (bitasharruf)].
Al-Hafizh
Ibn Katsir rahimahullāh berkata ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala:
"Maka,
demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad)
sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan..." (QS. An-Nisā':
65).
Beliau
berkata: Allah Ta’ala bersumpah dengan Diri-Nya Yang Mahamulia lagi Mahasuci,
bahwasanya seseorang tidak dianggap beriman sampai ia menjadikan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam sebagai hakim dalam seluruh perkara. Maka, apa saja yang
beliau putuskan adalah kebenaran yang wajib ditunduki secara batin maupun
lahir. Oleh karena itu, Allah berfirman:
"...kemudian
tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau
berikan, dan mereka menerima dengan pasrah sepenuhnya" (QS. An-Nisā': 65).
Artinya:
Apabila mereka menjadikan engkau sebagai hakim, mereka menaatimu dalam batin
mereka sehingga tidak mendapati rasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa
yang engkau putuskan, dan mereka tunduk kepadanya secara lahir dan batin, lalu
mereka berserah diri terhadap hal tersebut secara totalitas tanpa ada
penolakan, perlawanan, ataupun penentangan [Tafsīr Ibn Katsīr (1/520)].
[Perbedaan
Antara Ketaatan (At-Tha'ah) dan Ibadah (Al-'Ibadah):]
Al-Kafawi
berkata: Ketaatan (at-tha'ah) lebih umum daripada ibadah (al-'ibadah),
karena ibadah penggunaannya didominasi untuk pengagungan kepada Allah dalam
tingkatan pengagungan yang paling puncak, sedangkan ketaatan digunakan untuk
mematuhi perintah Allah maupun perintah selain-Nya.
Abu
Hilal Al-'Askari berkata: Perbedaan antara ketaatan dan ibadah adalah bahwa
ibadah merupakan tingkatan ketundukan yang paling puncak (ghayat al-khudhu'),
dan tidak berhak diberikan kecuali atas karunia nimat yang paling puncak (ghayat
al-in'am). Oleh karena itu, tidak boleh beribadah kepada selain Allah
Ta’ala, dan ibadah tidak akan terwujud kecuali disertai dengan pengenalan (ma'rifah)
terhadap Zat yang diibadahi. Sementara itu, ketaatan adalah perbuatan yang
terjadi sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pihak yang menghendaki (al-murid),
selama pihak yang menghendaki tersebut memiliki kedudukan/tingkatan yang lebih
tinggi daripada pelaku perbuatan tersebut. Ketaatan dapat ditujukan kepada Sang
Pencipta (Al-Khaliq) maupun kepada makhluk, sedangkan ibadah tidak boleh
ditujukan kecuali hanya kepada Sang Pencipta. Adapun dalam konteks kiasan
bahasa (majaz al-lughah), ketaatan bisa berbentuk tindakan mengikuti
ajakan pihak yang mengajak (ad-da'i) menuju apa yang diajaknya, meskipun
tanpa disertai niat untuk mengikutinya. Seperti halnya manusia yang menjadi
taat kepada setan meskipun ia tidak bermaksud untuk menaatinya, akan tetapi ia
mengikuti ajakan dan kehendak setan tersebut [Al-Furuq al-Lughawiyyah
karya Abu Hilal Al-'Askari (hlm. 182)].
[Perbedaan
Antara Ketaatan (At-Tha'ah) dan Kesesuaian Kehendak (Muwafaqah
Al-Iradah):]
Bahwasanya
kesesuaian kehendak (muwafaqah al-iradah) terkadang merupakan suatu
ketaatan dan terkadang bukan merupakan suatu ketaatan. Hal itu terjadi apabila
perbuatan tersebut tidak menempati posisi pendorong/pemanggil (ad-da'i)
menuju perbuatan tersebut. Seperti halnya kehendakmu agar Zaid bersedekah
dengan satu dirham tanpa Zaid menyadari hal itu, maka Zaid dengan perbuatannya
tersebut tidaklah menjadi orang yang taat kepadamu. Namun, jika Zaid
mengetahuinya lalu ia melakukannya karena kehendakmu, maka ia telah menjadi
orang yang taat kepadamu. Oleh karena itu, jika ia menyadari ajakanmu menuju
hal tersebut lalu ia condong/mengikutinya, maka ia telah menjadi orang yang
taat kepadamu [Sumber yang sama, halaman yang sama].
[Perbedaan
Antara Ketaatan (At-Tha'ah) dan Pelayanan (Al-Khidmah):]
Sesungguhnya
pelayan (al-khadim) adalah orang yang mengelilingi/mendampingi seseorang
untuk mengurus kebutuhan-kebutuhannya. Oleh sebab itu, tidak boleh dikatakan:
"Seorang hamba melayani (yakhdumu) Allah Ta’ala". Asal kata
dari istilah ini adalah berkeliling mengitari sesuatu (al-ithafah bi
asy-syai'), kemudian penggunaannya meluas hingga aktivitas yang mengurus
hal-hal yang membaikkan urusan pihak yang dilayani (al-makhdum)
dinamakan sebagai pelayanan (khidmah). Dan hal tersebut sama sekali
tidak termasuk dalam ketaatan maupun ibadah. Tidakkah engkau melihat bahwa
dikatakan: "Fulan melayani masjid" apabila ia merawatnya dengan
membersihkannya dan kegiatan lainnya [Al-Furuq al-Lughawiyyah karya Abu
Hilal Al-'Askari (hlm. 182–183) dengan sedikit penyesuaian adaptif (bitasharruf
yasir)].
[Untuk
Pengayaan/Pendalaman: Lihat Sifat-sifat:]
Al-Islam
(الإسلام) - Al-Iman (الإيمان) - Al-Ikhlash (الإخلاص) - At-Taqwa (التقوى) - Al-'Ibadah (العبادة) - Al-Firar ila
Allah/Lari kepada Allah (الفرار
إلى الله) - Al-Khauf/Rasa Takut (الخوف) - Al-Khusyu'/Kekhusyukan (الخشوع) - Al-Khasyah (الخشية) - Ad-Du'a' (الدعاء) - Al-Inabah/Kembali
kepada Allah (الإنابة)
- Al-Ittiba'/Mengikuti (الاتباع)
- Ash-Shalah (الصلاة)
- Az-Zakah (الزكاة)
- Al-Hajj wa al-'Umrah (الحج
والعمرة) - Ta'zhim al-Hurumat/Mengagungkan Hal-hal yang Suci (تعظيم الحرمات) - Ash-Shaum/Puasa (الصوم).
[Dan
pada Lawan dari Sifat-sifat Tersebut: Lihat Sifat-sifat:]
Al-Kufr/Kekafiran
(الكفر) -
Al-'Isyan/Kemaksiatan (العصيان)
- Al-Fujur/Kejahatan (الفجور)
- Al-Fusuq/Kefasikan (الفسوق)
- Tark ash-Shalah/Meninggalkan Shalat (ترك الصلاة) - Ittiba'
al-Hawa/Mengikuti Hawa Nafsu (اتباع
الهوى) - Al-I'radh/Bermaling Diri (الإعراض) - At-Tafrith wa
al-Ifrath/Sikap Meremehkan dan Berlebihan (التفريط والإفراط) -
Adh-Dhalal/Kesesatan (الضلال)
- Al-Ghayy wa al-Ighwa'/Penyesatan (الغي والإغواء) - Al-Lahw wa al-La'ib/Sendagurau dan
Permainan (اللهو
واللعب) - Intihak al-Hurumat/Pelanggaran Hal-hal yang Suci (انتهاك الحرمات) - At-Tahawun/Sikap
Meremehkan (التهاون).
[Ayat-Ayat
yang Terkandung Mengenai "Ketaatan"]
[Puncak
Ketaatan Adalah Taat Kepada Allah dan Para Rasul:]
- Rasul (Muhammad) beriman
kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula
orang-orang yang beriman. Masing-masing beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka
berkata,) "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari
rasul-rasul-Nya." Mereka juga berkata, "Kami dengar dan kami
taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat
kembali." (QS. Al-Baqarah: 285) [Madaniyyah].
- Katakanlah (Muhammad),
"Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang kafir." (QS. Āli 'Imrān: 32) [Madaniyyah].
- "(Aku datang) untuk
membenarkan apa yang datang sebelumku, yaitu Taurat, dan untuk
menghalalkan bagimu sebagian dari yang telah diharamkan bagimu. Aku datang
kepadamu membawa bukti (mukjizat) dari Tuhanmu. Oleh karena itu,
bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." (QS. Āli 'Imrān: 50)
[Madaniyyah].
- Taatilah Allah dan Rasul
(Muhammad) agar kamu diberi rahmat. (QS. Āli 'Imrān: 132) [Madaniyyah].
- Di antara orang Yahudi ada
yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, "Kami
mendengar, tetapi kami membangkang," "Dengarkanlah," tanpa
memedulikan pemanggilnya, dan "Rā‘inā" dengan memutar-mutar
lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka berkata, "Kami mendengar
dan menaatinya," "Dengarkanlah," dan "Unzhurnā,"
tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah
melaknat mereka karena kekufuran mereka. Maka, mereka tidak beriman,
kecuali sangat sedikit. (QS. An-Nisā': 46) [Madaniyyah].
- Wahai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulilamri (pemegang
kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang
sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya) jika
kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisā': 59) [Madaniyyah].
- Kami tidak mengutus seorang
rasul pun, melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Seandainya mereka
(orang-orang munafik) ketika menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad),
lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk
mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha
Penyayang. (QS. An-Nisā': 64) [Madaniyyah].
- Ingatlah nikmat Allah
kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikatkan-Nya kepadamu ketika kamu
mengatakan, "Kami mendengar dan kami taat." Bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS.
Al-Mā'idah: 7) [Madaniyyah].
- Taatilah Allah, taatilah
Rasul, dan berhati-hatilah! Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa
kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.
(QS. Al-Mā'idah: 92) [Madaniyyah].
- Mereka bertanya kepadamu
(Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah,
"Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan
Allah dan Rasul-Nya). Maka, bertakwalah kepada Allah, perbaikilah hubungan
di antara sesamamu, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang
mukmin." (QS. Al-Anfāl: 1) [Madaniyyah].
- Wahai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah berpaling dari-Nya,
padahal kamu mendengarkan (perintah-perintah-Nya). (QS. Al-Anfāl: 20) [Madaniyyah].
- Wahai orang-orang yang
beriman, apabila kamu bertemu dengan pasukan (musuh), maka berteguh
hatilah dan sebutlah nama Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar
kamu beruntung.
Dan
taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan
kamu menjadi pengecut dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya
Allah beserta orang-orang sabar. (QS. Al-Anfāl: 45–46) [Madaniyyah].
- Sungguh, Harun telah
berkata kepada mereka sebelumnya, "Wahai kaumku, sesungguhnya kamu
hanya diuji dengan (patung anak sapi) itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah
(Allah) Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, ikutilah aku dan taatilah
perintahku." (QS. Ṭāhā:
90) [Makkiyyah].
- Dan mereka berkata,
"Kami beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami taat." Kemudian
sebagian dari mereka berpaling setelah itu, dan mereka itu bukanlah
orang-orang mukmin. (QS. An-Nūr: 47) [Madaniyyah].
- Hanyalah ucapan orang-orang
mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul
menghukum (mengadili) di antara mereka, mereka berkata, "Kami
mendengar, dan kami taat." Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung.
Dan
barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, dan bertakwa
kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Dan
mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah, "Luar biasa
jika engkau (Muhammad) perintahkan mereka, niscaya mereka akan keluar
(berperang)." Katakanlah, "Janganlah kamu bersumpah, (karena)
ketaatan itu sudah diakui (baik). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan."
Katakanlah,
"Taatilah Allah dan taatilah Rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya
kewajiban Rasul itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu
sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat
kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan kewajiban Rasul tidak lain
hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang."
Dan
Allah telah berjanji kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang
mengerjakan kebajikan, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di
bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
Dia benar-benar akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diseridai-Nya
untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah
berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir
sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
Dan
dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Rasul, supaya kamu diberi
rahmat. (QS. An-Nūr: 51–56) [Madaniyyah].
- Ketika saudara mereka, Nuh,
berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya
aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kamu,
maka
bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku.
Dan
aku tidak meminta imbalan kepadamu atas kedatangan itu; imbalanku hanyalah dari
Tuhan semesta alam.
Maka
bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku." (QS. Asy-Syu'arā': 106–110) [Makkiyyah].
- Ketika saudara mereka, Hud,
berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya
aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kamu,
maka
bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku.
Dan
aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari
Tuhan semesta alam.
Apakah
kamu mendirikan di setiap tempat yang tinggi bangunan (kemewahan) untuk
bersenang-senang,
dan
kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu hidup kekal?
Dan
apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan
mahakuasa.
Maka
bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku." (QS. Asy-Syu'arā': 128–131) [Makkiyyah].
- Ketika saudara mereka,
Salih, berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya
aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka
bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku.
Dan
aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari
Tuhan semesta alam.
Apakah
kamu akan dibiarkan tinggal di sini (di dunia ini) dengan aman,
di
dalam taman-taman dan mata air,
dan
tanam-tanaman serta pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut,
dan
kamu memahat sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan sangat
mahir?
Maka
bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku,
dan
janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas." (QS.
Asy-Syu'arā': 142–151) [Makkiyyah].
- Ketika saudara mereka, Lut,
berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku
adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah
kepada Allah dan taatilah aku." (QS. Asy-Syu'arā': 161–163) [Makkiyyah].
- Ketika Syuaib berkata kepada
mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya
aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka
bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku." (QS. Asy-Syu'arā': 177–179) [Makkiyyah].
- Wahai istri-istri Nabi, kamu
tidak seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka,
janganlah kamu melunakkan suara dalam berbicara sehingga berprasangka
buruklah orang yang dalam hatinya ada penyakit dan ucapkanlah perkataan
yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias
dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan
laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan
Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari
kamu, wahai ahlulbait, dan membersihkan kamu semurni-murninya. (QS. Al-Aḥzāb: 32–33) [Madaniyyah].
- Dan ketika Isa datang
membawa bukti-bukti yang nyata, dia berkata, "Sungguh, aku datang
kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian
dari apa yang kamu perselisihkan tentangnya; maka bertakwalah kepada Allah
dan taatilah aku." (QS. Az-Zukhruf: 63) [Makkiyyah].
- Wahai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan
amal-amalmu! (QS. Muḥammad:
33) [Madaniyyah].
- Apakah kamu takut akan
(menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum melakukan
pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tidak melakukannya dan Allah
menerima tobatmu, laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah
Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Mujādalah: 13) [Madaniyyah].
- Tidak ada suatu musibah pun
yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang
beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.
Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan taatilah Allah dan taatilah
Rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami
hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. At-Taghābun: 11-12)
[Madaniyyah].
- Maka bertakwalah kamu kepada
Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah
harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran
dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghābun:
16) [Madaniyyah].
- Sesungguhnya Kami telah
mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan), "Berilah kaummu
peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih."
Dia
(Nuh) berkata, "Wahai kaumku, sesungguhnya aku ini adalah seorang pemberi
peringatan yang menjelaskan kepadamu,
(yaitu)
sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatilah aku." (QS. Nūḥ: 1–3) [Makkiyyah].
[Seluruh
Makhluk Tunduk Beragama Kepada Allah Dengan Ketaatan:]
- Maka mengapa mereka mencari
agama selain agama Allah, padahal hanya kepada-Nya berserah diri siapapun
yang ada di langit dan di bumi, baik dengan taat maupun terpaksa, dan
hanya kepada-Nya mereka dikembalikan? (QS. Āli 'Imrān: 83) [Madaniyyah].
- Dan hanya kepada Allah-lah
bersujud segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan
sendiri maupun terpaksa, dan (ikut bersujud pula) bayang-bayang mereka
pada waktu pagi dan petang hari. (QS. Ar-Ra'd: 15) [Madaniyyah].
- Katakanlah, "Pantasakah
kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu
adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? Yang demikian itu adalah Tuhan semesta
alam."
Dan
Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia
memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya
dalam empat masa, (penjelasan itu diberikan) cukup bagi orang-orang yang
bertanya.
Kemudian
Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu
Dia berkata kepadamu dan kepada bumi, "Datanglah kamu keduanya menurut
perintah-Ku dengan taat atau terpaksa." Bothnya menjawab, "Kami
datang dengan taat." (QS. Fuṣṣilat: 9–11) [Makkiyyah].
- Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu
benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),
yang
memiliki kekuatan, di sisi (Allah) yang memiliki 'Arsy, yang tinggi
kedudukannya,
yang
ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (QS. At-Takwīr: 19–21) [Makkiyyah].
[Pahala
Orang-orang yang Taat dan Siksa Bagi Orang-orang yang Maksiat:]
- Itulah ketentuan-ketentuan
Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah
memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung.
(QS. An-Nisā': 13) [Madaniyyah].
- Dan barang siapa taat kepada
Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang
yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta
kebenaran (shiddiqin), orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisā':
69) [Madaniyyah].
- Barang siapa menaati Rasul
(Muhammad), maka sungguh dia telah menaati Allah. Dan barang siapa
berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi
mereka. Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan, "(Kewajiban kami
adalah) taat." Namun, apabila mereka telah keluar dari sisimu
(Muhammad), sebagian dari mereka mengatur siasat pada malam hari
(mengambil keputusan) lain dari yang telah dikatakannya itu. Padahal,
Allah mencatat siasat yang mereka atur pada malam hari itu. Maka,
berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah
yang menjadi pelindung. (QS. An-Nisā': 80-81) [Madaniyyah].
- Dan orang-orang yang
beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi
sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah
dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada
Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya
Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. At-Taubah: 71) [Madaniyyah].
- Wahai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang
benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni
bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka
sungguh dia telah mendapat kemenangan yang agung. (QS. Al-Aḥzāb: 70–71) [Madaniyyah].
- Katakanlah kepada
orang-orang Bedawi yang tertinggal (tidak ikut ke Hudaibiyah), "Kamu
akan diajak untuk (perang melawan) kaum yang mempunyai keberanian yang
luar biasa; kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam).
Jika kamu patuhi (ajakan itu), Allah akan memberimu pahala yang baik;
tetapi jika kamu berpaling seperti yang kamu lakukan sebelumnya, Dia akan
mengazabmu dengan azab yang pedih. Tidak ada halangan bagi orang yang
buta, tidak ada (pula) bagi orang yang pincang, dan tidak ada (pula) bagi
orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barang siapa taat
kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; tetapi barang siapa berpaling,
niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih. (QS. Al-Fatḥ: 16–17) [Madaniyyah].
- Orang-orang Bedawi berkata,
"Kami telah beriman." Katakanlah (kepada mereka), "Kamu
belum beriman, tetapi katakanlah 'Kami telah tunduk (masuk Islam)', karena
iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan
Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ḥujurāt: 14) [Madaniyyah].
[Ketaatan
Membebaskan dari Hukuman:]
- Laki-laki (suami) itu
pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian
mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka
(laki-laki) telah MENAFKAHKAN sebagian dari hartanya. Maka
perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan
memelihara diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah memelihara
(mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatiri akan nusyuz
(pembangkangan), hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah
mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka.
Tetapi jika mereka taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan
untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. (QS.
An-Nisā': 34) [Madaniyyah].
[Hadis-Hadis
yang Terkandung Mengenai (Ketaatan)]
- Dari ‘Iyādh bin Ḥimār Al-Mujāshi‘ī radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada
suatu hari bersabda dalam khotbah beliau: "Ketahuilah, sesungguhnya
Tuhanku memerintahkanku untuk mengajarkan kepada kalian apa yang belum
kalian ketahui dari apa yang Dia ajarkan kepadaku pada hari ini: Setiap
harta yang Aku berikan (a‘thaituhu :Aku memberikannya) kepada seorang hamba adalah halal. Dan
sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus (Ḥunafā': Yaitu
orang-orang muslim, dan dikatakan pula: orang-orang yang suci dari
kemaksiatan) semuanya. Namun, setan-setan mendatangi mereka lalu
memalingkan mereka (Ijtālat-hum: Yaitu mereka menganggap
remeh/merayu mereka lalu membawa mereka pergi, serta memalingkan mereka
dari keadaan mereka semula) dari agama mereka, serta mengharamkan atas
mereka apa yang telah Aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka
untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan bukti
kekuasaan tentangnya. Dan sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi
lalu Dia membenci mereka, baik bangsa Arab maupun non-Arab, kecuali
sisa-sisa dari Ahli Kitab. Dan Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku
mengutusmu hanyalah untuk mengujimu dan menguji (manusia) denganmu, dan
Aku menurunkan kepadamu Kitab yang tidak dapat dibasuh oleh air (Lā
yaghsiluhu al-mā': Maksudnya adalah bahwa Al-Qur'an itu terpatri dan
dihafalkan di dalam dada (hati)), yang engkau bacakan dalam keadaan tidur
maupun bangun.' Dan sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membinasakan
(orang-orang kafir) Quraisy, maka aku berkata: 'Wahai Tuhanku, kalau
begitu mereka akan memecahkan (Yatslaghū ra'sī: Mereka melempari
kepalaku dengan batu hingga memecahkannya) kepalaku hingga membiarkannya
seperti roti.' Allah berfirman: 'Keluarkanlah mereka sebagaimana mereka
telah mengeluarkanmu, dan perangilah mereka niscaya Kami akan membantumu (Nu‘gizka:
Yaitu Kami menolongmu/membantumu), serta berinfaklah maka Kami akan
berinfak kepadamu, dan kirimkanlah pasukan tentara niscaya Kami akan
mengirimkan lima kali lipat yang semisalnya, serta perangilah dengan
orang-orang yang menaatimu terhadap orang-orang yang
bermaksiat/menderhakaimu.' Beliau bersabda: 'Dan penghuni surga itu
ada tiga golongan: penguasa yang adil, gemar bersedekah, dan mendapat
petunjuk/bimbingan (kepada kebaikan); seseorang yang berhati lembut kepada
setiap kerabat dan sesama muslim; serta orang yang menjaga kehormatan diri
yang memiliki tanggungan keluarga.' Beliau bersabda: 'Dan penghuni neraka
ada lima golongan: orang lemah yang tidak memiliki akal/pendirian (Lā
zabra lahu: Tidak memiliki akal/pikiran yang mencegahnya (dari
keburukan), dan dikatakan pula: yaitu orang yang tidak memiliki harta),
yaitu mereka yang berada di antara kalian hanya sebagai pengikut yang
tidak mencari keluarga dan tidak pula harta; orang pengkhianat yang tidak
terselubung baginya (Lā yakhfā lahu: Yaitu tidak tampak/tidak
tersembunyi baginya) suatu ketamakan walaupun kecil melainkan ia pasti mengkhianatinya;
seseorang yang tidak memasuki waktu pagi dan sore melainkan ia selalu
memperdayamu mengenai keluarga dan hartamu—dan beliau menyebutkan sifat
kikir atau dusta—serta orang yang berakhlak buruk lagi keji perkataannya (Asy-Sjinzhīr:
Dijelaskan dalam hadis bahwa maknanya adalah al-faḥḥāsy, yaitu orang
yang buruk akhlaknya/keji perkataannya).'" (HR. Muslim no. 2865).
- Dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus
beliau dan Mu‘adz ke Yaman, lalu beliau bersabda: "Permudahlah dan
janganlah kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan janganlah membuat
orang lari, serta saling taatlah kalian berdua dan janganlah
berselisih!" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 6 no. 3038, dan
Muslim no. 1733 dengan lafaz milik Muslim).
- Dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Apabila seseorang mendidik budak perempuannya lalu ia
membaguskan pendidikannya, dan mengajarkannya lalu membaguskan
pengajarannya, kemudian memerdekakannya dan menikahinya, maka baginya dua
pahala. Dan apabila ia beriman kepada 'Isa kemudian beriman kepadaku, maka
baginya dua pahala. Dan seorang hamba sahaya apabila ia bertakwa kepada
Tuhannya dan menaati tuannya, maka baginya dua pahala." (HR.
Al-Bukhari dalam Al-Fath 6 no. 3446).
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Dengarkanlah dan taatilah, walaupun yang diangkat
sebagai pemimpin atas kalian adalah seorang budak Habasyah yang kepalanya
seolah-olah seperti kismis." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no.
7142).
- Dari Abu Dzarr radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: "Sesungguhnya kekasihku (Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam) telah berwasiat kepadaku agar aku mendengar dan
taat, walaupun (pemimpin itu) seorang budak yang terpotong anggota
tubuhnya (mujadda‘a al-athrāf) [Wa in kāna ‘abdan mujadda‘a al-aṭrāf: Yaitu yang
terpotong anggota tubuhnya. Yang dimaksud adalah budak yang paling
hina/rendah. Maksudnya: Dengarkanlah dan taatlah kepada pemimpin (amir)
meskipun ia rendah keturunannya, bahkan meskipun ia seorang budak hitam
yang terpotong anggota tubuhnya, maka menaatinya adalah wajib]." (HR.
Muslim no. 1837).
- Dari Fatimah binti Qais radhiyallāhu
'anhā, ia berkata: Sesungguhnya suaminya telah menjatuhkan talak tiga
kepadanya, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak
menjadikan hak tempat tinggal dan nafkah baginya. Ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Apabila engkau telah
halal (selesai masa idahmu), maka beritahukanlah kepadaku!" Maka
aku pun memberitahu beliau (ādzantuhu) [Ādzantuhu: Aku
memberitahunya]. Lalu Mu‘awiyah, Abu Jahm, dan Usamah bin Zaid
meminangnya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Adapun Mu‘awiyah adalah seorang laki-laki yang sangat
miskin dan tidak mempunyai harta (tarib lā māla lahu) [Tarib lā māla lahu:
At-Tarib adalah orang miskin. Ditegaskan dengan ucapan "tidak
mempunyai harta" karena kata miskin terkadang digunakan untuk orang
yang memiliki sedikit harta yang tidak mencukupi kebutuhannya]. Adapun
Abu Jahm adalah seorang laki-laki yang suka memukul wanita. Akan tetapi,
hendaklah engkau menikah dengan Usamah bin Zaid." Lalu Fatimah
mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini: "Usamah,
Usamah?!" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda kepadanya: "Ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada
Rasul-Nya adalah lebih baik bagimu." Fatimah berkata: "Lalu
aku menikahinya dan aku pun hidup berbahagia (faghtabaṭtu) [faghtabaṭtu artinya aku merasa
gembira dan bersyukur dengan nikmat tersebut]." (HR. Muslim no.
1480).
- Dari Al-Harits Al-Asy‘ari radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya
Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat agar ia
mengamalkannya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya..."
(al-hadits), dan di dalamnya beliau bersabda: "Dan aku memerintahkan
kalian dengan lima perkara yang Allah telah memerintahkanku dengannya: Mendengar,
taat, berjihad, berhijrah, dan komitmen pada jamaah. Barang siapa yang
memisahkan diri dari jamaah walau sejengkal, maka sungguh ia telah
mencabut tali pengikat Islam (ribqah al-islām) [Ribqah al-islām:
Yaitu pengikat/tali Islam. Ar-Ribqah adalah tali yang memiliki
simpul/jerat] dari lehernya kecuali jika ia kembali. Dan barang siapa yang
menyeru dengan seruan jahiliah, maka sesungguhnya ia termasuk kelompok
orang yang berlutut di neraka Jahanam (jutsā jahannam) [Jutsā
jahannam: Bentuk jamak dari juts-wah, yaitu kelompok
orang-orang yang divonis/dihukum masuk neraka]." Lalu seorang
laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah, walaupun ia salat dan
berpuasa?" Beliau menjawab: "Walaupun ia salat dan
berpuasa! Maka serulah dengan seruan Allah yang telah menamai kalian
sebagai orang-orang muslim, orang-orang mukmin, hamba-hamba Allah."
(HR. At-Tirmidzi no. 2863 dan ia berkata: Hadis ini hasan shahih
gharib; Ibn Khuzaimah 3/195; Ibn Mandah dalam Al-Iman 1/376–377 no. 212;
dan Ahmad dalam Al-Musnad 4/130 dan 202).
- Dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu
'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda: "Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan apa yang aku
diutus oleh Allah dengannya adalah seperti perumpamaan seorang laki-laki
yang mendatangi suatu kaum lalu berkata: 'Wahai kaumku, sesungguhnya aku
melihat pasukan musuh dengan kedua mataku sendiri, dan sesungguhnya aku
adalah pemberi peringatan yang telanjang (yang sangat jelas/mendesak),
maka selamatkanlah diri kalian!' Maka sekelompok dari kaumnya
menaatinya lalu mereka berangkat pada awal malam (adljū) [Adljū:
Yaitu mereka berjalan bersamanya pada malam hari]. Mereka pun pergi
secara perlahan-lahan hingga selamat. Namun sekelompok yang lain
mendustakannya sehingga mereka tetap berada di tempatnya pada pagi hari,
lalu pasukan musuh menyerang mereka di pagi hari serta membinasakan dan
memusnahkan mereka seluruhnya (fājtāḥahum) [Wa ijtāḥahum: Yaitu
memusnahkan/mencabut mereka sampai ke akar-akarnya]. Maka demikian
itulah perumpamaan orang yang menaatiku lalu mengikuti apa yang aku bawa,
serta perumpamaan orang yang mendurhakaiku dan mendustakan kebenaran yang
aku bawa." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7283 dengan
lafaz milik Al-Bukhari, dan Muslim no. 2283).
- Dari Hudzaifah bin Al-Yaman
radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Sesungguhnya orang-orang dahulu
selalu bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan.
Maka kaum (yang hadir) memandangnya dengan tajam dengan mata mereka, lalu
beliau bersabda: "Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian
ingkari." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana
pendapatmu tentang kebaikan yang telah Allah berikan kepada kami ini,
apakah setelahnya akan ada keburukan sebagaimana yang terjadi
sebelumnya?" Beliau menjawab: "Ya." Aku
bertanya: "Lalu apakah benteng/penyelamat dari hal itu?"
Beliau menjawab: "Pedang." Aku bertanya: "Wahai
Rasulullah, lalu apa yang akan terjadi?" Beliau bersabda: "Jika
di bumi ada khalifah Allah, lalu ia memukul punggungmu dan mengambil
hartamu, maka taatilah dia! Namun jika tidak ada, maka matilah
engkau dalam keadaan menggigit pangkal pohon (jizdl syajarah) [Jizdl
syajarah: Al-Jizdl adalah pangkal/akar pohon dan sejenisnya
setelah dahan-dahannya hilang/patah]." Aku bertanya: "Kemudian
apa lagi?" Beliau bersabda: "Kemudian Dajal akan keluar
dengan membawa sungai dan api. Barang siapa yang jatuh ke dalam apinya,
maka wajib pahalanya dan gugur dosanya. Dan barang siapa yang jatuh ke
dalam sungainya, maka wajib dosanya dan gugur pahalanya." Ia
berkata: Aku bertanya: "Kemudian apa lagi?" Beliau
bersabda: "Kemudian setelah itu terjadi kiamat." (HR.
Abu Dawud no. 4244, dan asal hadis ini terdapat dalam Ash-Shahihain
[Bukhari dan Muslim]. Hadis ini dicantumkan dalam Ash-Shahihah karya
Al-Albani no. 1791).
- Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam mengutus Mu‘adz radhiyallāhu 'anhu ke Yaman, lalu beliau
bersabda: "Ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan
selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaati hal
itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah memfardukan
atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka menaati
hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah
memfardukan atas mereka zakat pada harta-harta mereka, yang diambil dari
orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang
fakir di antara mereka." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 3 no. 1395
dengan lafaz milik Al-Bukhari, dan Muslim no. 19).
- Dari Jarir radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: "Aku membaiat Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam untuk mendengar dan taat. Lalu beliau menuntunkanku: 'Sesuai
dengan kemampuanmu, serta memberi nasihat kepada setiap muslim.'"
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7204 dengan lafaz milik
Al-Bukhari, dan Muslim no. 56).
- Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit
radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Kami membaiat Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan
giat maupun enggan/benci, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari
pemiliknya, serta agar kami menegakkan—atau mengucapkan—kebenaran di mana
pun kami berada, tanpa takut celaan orang yang mencela karena Allah."
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7199 dan 7200).
- Dari 'Ali radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus
suatu pasukan kecil (sariyyah) dan mengangkat seorang laki-laki
dari kaum Ansar sebagai pemimpin atas mereka, serta memerintahkan mereka
untuk menaatinya. Lalu pemimpin itu marah kepada mereka dan berkata: "Bukankah
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kalian untuk
menaatiku?" Mereka menjawab: "Benar." Ia
berkata: "Aku mewajibkan kalian untuk mengumpulkan kayu bakar dan
menyalakan api, kemudian kalian masuk ke dalamnya!" Maka mereka
pun mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Ketika mereka hendak masuk
ke dalamnya, mereka saling memandang satu sama lain, lalu sebagian mereka
berkata: "Sesungguhnya kita mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam hanyalah karena lari dari api neraka, apakah kita justru akan
memasukinya?" Ketika mereka dalam keadaan demikian, api pun padam
dan kemarahannya mereda. Kejadian tersebut kemudian diceritakan kepada
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: "Seandainya
mereka memasukinya, niscaya mereka tidak akan keluar darinya
selama-lamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal-hal yang
makruf (kebaikan)." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7145
dengan lafaz milik Al-Bukhari, dan Muslim no. 1840).
- Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Para malaikat mendatangi Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam ketika beliau sedang tidur. Sebagian malaikat
berkata: "Sesungguhnya ia sedang tidur." Sebagian yang
lain berkata: "Sesungguhnya matanya tidur, tetapi hatinya
terbangun." Maka mereka berkata: "Sesungguhnya bagi
sahabat kalian ini ada suatu perumpamaan, buatlah perumpamaan
baginya!" Sebagian mereka berkata: "Sesungguhnya ia
sedang tidur." Sebagian yang lain berkata: "Sesungguhnya
matanya tidur, tetapi hatinya terbangun." Maka mereka berkata: "Perumpamaannya
adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, lalu membuat
jamuan makan di dalamnya dan mengutus seorang penyeru. Barang siapa yang
memenuhi ajakan penyeru itu, ia akan masuk ke dalam rumah dan memakan
jamuan tersebut. Dan barang siapa tidak memenuhi ajakan penyeru itu,
ia tidak akan masuk ke dalam rumah dan tidak akan memakan jamuan
tersebut.' Maka para malaikat berkata: 'Tafsirkanlah perumpamaan itu
kepadanya agar ia memahaminya!' Lalu sebagian mereka berkata:
'Sesungguhnya ia sedang tidur.' Sebagian yang lain berkata: 'Sesungguhnya
matanya tidur, tetapi hatinya terbangun.' Maka mereka berkata: "Maka
rumah tersebut adalah surga, dan penyerunya adalah Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam. Barang siapa yang menaati Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam, maka sungguh ia telah menaati Allah. Dan barang
siapa yang mendurhakai Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka
sungguh ia telah mendurhakai Allah. Dan Muhammad adalah
pemisah/pembeda di antara manusia." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath
13 no. 7281).
- Dari 'Aisyah radhiyallāhu
'anhā, ia berkata: Sebelas orang wanita duduk berkumpul, lalu mereka
saling berjanji dan berikrar untuk tidak menyembunyikan sesuatu pun dari
kabar tentang suami-suami mereka... (al-hadits), dan di dalamnya
disebutkan: "Putri Abu Zar‘. Siapakah putri Abu Zar‘ itu? Ia
sangat taat kepada ayahnya dan sangat taat kepada ibunya, memenuhi
pakaiannya (gemuk/sehat), dan membuat cemburu tetangganya. Pelayan
perempuan Abu Zar‘, siapakah pelayan perempuan Abu Zar‘ itu? Ia tidak
menyebarkan pembicaraan kami (Lā tabutstsu ḥadītsanā tabtsītsā: Yaitu tidak
menyebarkan dan membocorkan pembicaraan kami, melainkan ia menyembunyikan
rahasia dan seluruh pembicaraan kami), tidak merusak/menghamburkan
bahan makanan kami (Wa lā tunnaqitsu mīratanā tanqītsā: Al-Mīrah
adalah makanan yang dibawa/disediakan. Maknanya adalah ia tidak
merusaknya, tidak membuang-buangnya, dan tidak menghilangkannya. Maksudnya
adalah menyifatinya dengan sifat amanah (jujur)), serta tidak
membiarkan rumah kami penuh dengan kotoran/sarang..." (HR.
Al-Bukhari dalam Al-Fath 9 no. 5189, dan Muslim no. 2448).
- Dari Ummul Hushaīn radhiyallāhu
'anhā, ia berkata: Aku menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam pada Haji Wada‘ (perpisahan). Lalu aku melihat
beliau ketika melempar Jamrah 'Aqabah dan bertolak pulang dalam keadaan
menunggangi untanya. Bersama beliau ada Bilal dan Usamah; salah seorang
dari keduanya menuntun untanya, sedangkan yang lain mengangkat pakaiannya
di atas kepala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
melindunginya dari terik matahari. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam menyampaikan banyak sabda, kemudian aku mendengar beliau
bersabda: "Jika kalian dipimpin oleh seorang budak yang terpotong
anggota tubuhnya (Mujadda‘: Yaitu orang yang terpotong anggota
tubuhnya) lagi berkulit hitam, yang memimpin kalian dengan Kitab Allah
Ta'ala, maka dengarkanlah ia dan taatilah!" (HR. Muslim no.
1298).
- Dari Sulaiman bin 'Amr bin
Al-Ahwash, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku bahwasanya ia
menyaksikan Haji Wada‘ bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, memberikan peringatan dan nasihat,
lalu ia menyebutkan dalam hadis tersebut suatu kisah, dan beliau bersabda:
"Ketahuilah, berwasiat baiklah kalian kepada para wanita (istri),
karena sesungguhnya mereka bagaikan tawanan (‘Awān ‘indakum: Yaitu
tawanan di tangan kalian) di sisi kalian. Kalian tidak memiliki hak
sedikit pun atas mereka selain dari itu, kecuali jika mereka melakukan
perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, maka pisahkanlah
tempat tidur dari mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak
melukai. Tetapi jika mereka taat kepadamu, maka janganlah kamu
mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Ketahuilah, sesungguhnya
kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian
memiliki hak atas kalian. Adapun hak kalian atas istri-istri kalian adalah
mereka tidak boleh membiarkan orang yang kalian benci menginjak tempat
tidur kalian dan tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci masuk ke
rumah kalian. Ketahuilah, dan hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat
baik kepada mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka." (HR.
At-Tirmidzi no. 1163 dan ia berkata: Ini adalah hadis shahih.. Dan asal
hadis ini terdapat dalam Shahih Muslim dari hadis Jabir radhiyallāhu 'anhu
no. 1218).
- Dari Asma' radhiyallāhu
'anhā, ia berkata: Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam. Lalu aku masuk menemui 'Aisyah ketika ia sedang
salat. Aku bertanya: "Ada apa dengan orang-orang hingga mereka
salat?" Maka 'Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke arah
langit. Aku bertanya: "Tanda (kebesaran Allah)?" Ia
menjawab: "Ya." Kemudian Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam memperlama berdiri beliau dengan sangat lama, hingga
aku merasa hendak pingsan (Tajallānī al-ghasyyi: Dengan makna
pingsan/pusing, yaitu aku diliputi rasa sakit yang mendekati pingsan
karena lamanya lelah berdiri). Maka aku mengambil qirbah (kantong kulit)
berisi air yang ada di sampingku, lalu aku menuangkan air itu ke kepalaku
atau ke mukaku. Asma' berkata: Selesai salat Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, matahari pun telah terang kembali. Lalu Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam berkhotbah di hadapan manusia. Beliau memuji Allah
dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: "Amma ba'du, tidak ada
sesuatu pun yang belum pernah aku lihat melainkan aku telah melihatnya
di tempatku ini, hingga surga dan neraka. Dan sungguh telah diwahyukan
kepadamu bahwa kalian akan diuji di dalam kubur secara dekat atau seperti
fitnah Masih Ad-Dajal —(aku tidak tahu mana yang dikatakan oleh Asma')—
lalu didatangkan salah seorang dari kalian dan ditanyakan: 'Apa
pengetahuanmu tentang laki-laki ini?' Adapun orang mukmin atau orang yang
yakin —(aku tidak tahu mana yang dikatakan oleh Asma')— maka ia menjawab:
'Dia adalah Muhammad, dia adalah Rasulullah. Dia telah datang kepada kami
membawa bukti-bukti yang nyata dan petunjuk, maka kami menyambutnya dan
kami menaatinya' (tiga kali). Lalu dikatakan kepadanya: 'Tidurlah!
Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau benar-benar beriman kepadanya,
maka tidurlah dengan tenteram.' Adapun orang munafik atau orang yang ragu
—(aku tidak tahu mana yang dikatakan oleh Asma')— maka ia menjawab: 'Aku
tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku pun
mengatakannya.'" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 1 no. 86, dan
Muslim no. 905 dengan lafaz milik Muslim).
- Dari Abu Qatadah radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
berkhotbah di hadapan kami lalu bersabda: "Sesungguhnya kalian
akan berjalan pada sisa sore dan malam kalian ini, dan kalian akan sampai
di tempat air, insya Allah, besok hari." Maka orang-orang pun
berangkat tanpa menoleh satu sama lain (Lā yalwī ‘alā aḥad: Yaitu tidak
berpaling/menoleh atau tidak memperdulikan satu sama lain) …, dan di
dalamnya disebutkan: Kemudian beliau bersabda: "Bagaimana dugaanmu
tentang apa yang dilakukan orang-orang?" Ia (Abu Qatadah)
berkata: Kemudian beliau bersabda [Mā tarawna an-nāsa shana‘ū tsumma
qāla... dsb: An-Nawawi berkata: Makna dari perkataan ini adalah ketika
beliau salat Subuh bersama mereka setelah matahari meninggi, sedangkan
orang-orang telah mendahului mereka, dan Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam beserta kelompok kecil ini terpisah dari mereka, beliau
bersabda: "Apa yang kalian duga dikatakan orang-orang tentang
kita?" Orang-orang pun diam, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Adapun Abu Bakar dan 'Umar, mereka berdua
berkata kepada orang-orang: 'Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam berada di belakang kalian, dan beliau tidak akan merasa senang
meninggalkan kalian di belakangnya lalu mendahului kalian, maka sepatutnya
kalian menunggu beliau hingga beliau menyusul kalian.' Sedangkan sisa
orang-orang berkata: 'Sesungguhnya beliau telah mendahului kalian, maka
susullah beliau!' Maka jika mereka menaati Abu Bakar dan 'Umar, niscaya
mereka mendapat petunjuk/lurus, karena keduanya berada di atas kebenaran."]:
"Orang-orang terbangun di pagi hari lalu mereka kehilangan Nabi
mereka. Maka Abu Bakar dan 'Umar berkata: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam berada di belakang kalian, tidak mungkin beliau meninggalkan
kalian.' Sedangkan orang-orang lain berkata: 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam berada di depan kalian.' Maka jika mereka
menaati Abu Bakar dan 'Umar, niscaya mereka akan mendapat petunjuk (berada
di atas kebenaran)." (HR. Muslim no. 681).
- Dari 'Auf bin Malik radhiyallāhu
'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda: "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian
cintai dan mereka pun mencintai kalian, serta kalian mendoakan kebaikan
untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan
seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan
mereka pun membenci kalian, serta kalian melaknat mereka dan mereka pun
melaknat kalian." Dikatakan (oleh para sahabat): "Wahai
Rasulullah, apakah kita tidak memerangi/memerangi mereka dengan
pedang?" Beliau menjawab: "Tidak, selama mereka mendirikan
salat di antara kalian. Dan jika kalian melihat sesuatu yang kalian
benci dari penguasa kalian, maka bencilah perbuatannya, tetapi janganlah
kalian melepas tangan dari ketaatan (kepadanya)." (HR. Muslim
no. 1855 dengan lafaz milik Muslim; Ahmad 5/444 dan 6/24; serta Ad-Darimi
no. 2797).
- Dari 'Abdurrahman bin 'Abd
Rabbil Ka'bah, ia berkata: Aku masuk ke dalam masjid, lalu ternyata
'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash sedang duduk di bawah naungan Ka'bah dan
orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Maka aku mendatangi mereka lalu
duduk bersamanya. Ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Lalu kami singgah di suatu
tempat persinggahan; sebagian dari kami ada yang memperbaiki kemahnya,
sebagian ada yang berlatih memanah (Wa minnā man yantaḍilu: Berasal dari
kata al-munāḍalah,
yaitu berlatih memanah dengan anak panah), dan sebagian lagi ada yang
menggembalakan ternaknya (Fī jasyrihi: Al-Jasyr adalah
sekelompok orang yang keluar membawa hewan ternaknya ke tempat
penggembalaan dan bermalam di tempat tersebut (An-Nihāyah 1/273)).
Tiba-tiba penyeru Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menyerukan: "Ash-Shalātu jāmi‘ah (Mari salat berjamaah)!"
Maka kami berkumpul menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun
sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjukkan umatnya kepada
kebaikan yang ia ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari
keburukan yang ia ketahui bagi mereka. Dan sesungguhnya umat kalian ini dijadikan
keselamatannya pada generasi awalnya, dan akan menimpa generasi akhirnya
berbagai cobaan dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Dan akan
datang fitnah (kekacauan) yang sebagiannya menjadikan sebagian yang lain
tampak ringan (Fayuraqqiqu ba‘ḍuhā
ba‘ḍā:
Yaitu sebagiannya menjadi tampak tipis/ringan karena besarnya fitnah
setelahnya, dan dikatakan pula maknanya adalah sebagiannya menyerupai
sebagian yang lain). Lalu datanglah fitnah, maka orang mukmin berkata:
'Inilah yang akan membinasakanku.' Kemudian fitnah itu tersingkap/selesai.
Lalu datang lagi fitnah yang lain, maka orang mukmin berkata: 'Inilah dia,
inilah dia!' Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan
ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya meninggalkannya dalam keadaan ia
beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaknya ia memperlakukan
manusia sebagaimana ia suka diperlakukan. Dan barang siapa yang telah
membaiat seorang imam (pemimpin) lalu memberikan genggaman tangannya dan
buah hatinya, maka hendaknya ia menaatinya semampunya. Jika datang
orang lain yang merebut kekuasaannya, maka tebaslah leher orang lain
tersebut!" Lalu aku mendekat kepadanya dan berkata: "Aku
memohon kepadamu demi Allah, apakah engkau benar-benar mendengar ini dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Maka ia mengisyaratkan
kedua tangan ke kedua telinganya dan hatinya seraya berkata: "Kedua
telingaku mendengarnya dan hatiku memahaminya." Lalu aku berkata
kepadanya: "Ini sepupumu, Mu‘awiyah, memerintahkan kita untuk
memakan harta-harta kita di antara kita dengan cara yang batil dan
membunuh diri-diri kita, padahal Allah berfirman: 'Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang
berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu
membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.' (QS.
An-Nisā': 29)." Ia berkata: Maka 'Abdullah bin 'Amr diam sejenak,
kemudian bersabda: "Taatilah dia dalam ketaatan kepada Allah, dan
durhakailah dia dalam kemaksiatan kepada Allah!" (HR. Muslim
no. 1844).
- Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallāhu
'anhumā, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda: "Mendengar dan taat adalah kewajiban atas seorang muslim
dalam apa yang ia sukai dan ia benci, selama ia tidak diperintahkan untuk
berbuat maksiat. Apabila ia diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka
tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula taat." (HR.
Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7144 dengan lafaz milik Al-Bukhari, dan
Muslim no. 1839).
- Dari Wa'il bin Hujr radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam ketika ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau seraya
berkata: "Bagaimana pendapatmu jika kami dipimpin oleh
penguasa-penguasa yang menghalangi hak kami dan menuntut hak mereka dari
kami?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Dengarkanlah dan taatilah! Sesungguhnya atas mereka
apa yang dibebankan kepada mereka, dan atas kalian apa yang dibebankan
kepada kalian." (HR. Muslim no. 1846, dan At-Tirmidzi no. 2199
dengan lafaz milik At-Tirmidzi dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan
shahih).
- Dari Abu Umamah radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam berkhotbah pada Haji Wada‘, lalu beliau bersabda: "Bertakwalah
kalian kepada Allah Tuhan kalian, laksanakanlah salat lima waktu kalian,
berpuasalah pada bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan
taatilah penguasa/pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam
surga Tuhan kalian." (HR. At-Tirmidzi no. 616 dengan lafaz
miliknya dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan shahih; Al-Hakim 1/9 dan
389 dan ia berkata: Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim dan disepakati
oleh Adz-Dzahabi; serta diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad 5/251).
- Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Aku menghadiri salat hari raya (Id) bersama
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan
salat sebelum khotbah, tanpa azan dan tanpa ikamah. Kemudian beliau
berdiri dengan bersandar pada Bilal, lalu beliau memerintahkan untuk
bertakwa kepada Allah, mendorong untuk menaati-Nya, serta memberi
nasihat dan peringatan kepada manusia. Kemudian beliau berlalu hingga
mendatangi kaum wanita, lalu memberi nasihat dan peringatan kepada mereka
seraya bersabda: "Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sebagian
besar dari kalian adalah kayu bakar neraka Jahanam.' Maka berdirilah
seorang wanita dari pertengahan/terbaik kaum wanita (Min siṭah an-nisā': Yaitu
dari pilihan/terbaik kaum wanita. Kata al-wasaṭ berarti adil dan
pilihan) yang kedua pipinya berwarna kehitam-hitaman (Saf‘ā'
al-khaddain: As-Suf‘ah adalah warna hitam yang bercampur dengan
warna merah) lalu bertanya: 'Mengapa, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab:
'Karena kalian banyak mengeluh (Asy-Syakāh: Yaitu keluhan (asy-syakwā))
dan mengingkari kebaikan suami (Takfurna al-‘asyīr: Yaitu
mengingkari kebaikan/jasa suami karena lemahnya akal mereka dan sedikitnya
pengetahuan mereka).' Ia (Jabir) berkata: Maka mereka pun mulai bersedekah
dari perhiasan mereka, mereka melemparkan anting-anting dan cincin-cincin
mereka ke kain Bilal." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 2 no. 978,
dan Muslim no. 885 dengan lafaz milik Muslim).
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, baik dalam
keadaan sulitmu maupun mudahmu [Para ulama berkata maknanya adalah:
Wajib menaati para penguasa dalam hal yang berat dan dibenci oleh jiwa
serta lainnya, selama bukan dalam hal kemaksiatan. Jika berupa
kemaksiatan, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula taat],
dalam keadaan giatmu maupun engganmu/bencimu, dan ketika penguasa lebih
mementingkan diri sendiri atasmu (Wa atsarah: Yaitu penguasa
mementingkan diri sendiri dalam urusan dunia atas kalian. Maksudnya:
Dengarkanlah dan taatilah meskipun para penguasa menguasai dunia untuk
diri mereka sendiri dan tidak menyampaikan hak kalian yang ada pada mereka)."
(HR. Muslim no. 1836).
- Dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallāhu
'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
bahwasanya beliau bersabda: "Perang (jihad) itu ada dua macam: Adapun
orang yang mencari keridaan Allah, menaati pemimpin (imam),
menginfakkan harta yang berharga, mempermudah rekan (syerik), serta
menjauhi kerusakan, maka tidur dan bangunnya adalah pahala semuanya.
Adapun orang yang berperang karena ria, ingin didengar (sum‘ah), menderhakai
pemimpin (imam), dan berbuat kerusakan di bumi, maka sesungguhnya ia
tidak akan kembali dengan membawa pahala yang cukup." (HR.
An-Nasa'i dalam Shahih Sunan An-Nasa'i no. 2987 dengan lafaz miliknya;
Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2/85 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
- Dari 'Abdullah bin 'Amr bin
Al-'Ash radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Seorang laki-laki
bertanya: "Wahai Rasulullah, hijrah manakah yang paling
utama?" Beliau menjawab: "Engkau meninggalkan apa yang
dibenci oleh Tuhanmu." Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Hijrah itu ada dua macam: Hijrah orang kota (ḥādhir) dan hijrah
orang dusun (bādī). Adapun orang dusun, maka ia memenuhi panggilan
jika dipanggil, dan taat jika diperintah. Adapun orang kota, maka
ia adalah yang paling besar ujiannya dan paling besar pula
pahalanya." (HR. An-Nasa'i 7/144; dan pentahqiq Jāmi‘ al-Uṣūl
11/608 berkata: Hadis hasan).
- Dari Ibn 'Umar radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Jarang sekali Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam berdiri dari suatu majelis hingga beliau berdoa dengan
doa-doa ini untuk para sahabatnya: "Ya Allah, bagikanlah untuk kami
dari rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan
maksiat kepada-Mu, dan dari ketaatan kepada-Mu yang dengannya Engkau
menyampaikan kami ke surga-Mu, serta dari keyakinan yang dengannya
Engkau meringankan musibah-musibah dunia atas kami. Berilah kami
kenikmatan dengan pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami
selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari
kami. Jadikanlah pembalasan kami atas orang yang menzalimi kami, tolonglah
kami atas orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau jadikan musibah kami
pada agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar
kami dan batas puncak pengetahuan kami, serta janganlah Engkau kuasakan
atas kami orang yang tidak menyayangi kami." (HR. At-Tirmidzi no.
3502 dengan lafaz miliknya dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan gharib;
Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/528 dan ia berkata: Shahih sesuai syarat
Al-Bukhari meskipun keduanya tidak meriwayatkannya, dan disepakati oleh
Adz-Dzahabi).
- Dari Anas radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Ada seorang anak laki-laki Yahudi yang melayani
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu anak itu sakit. Maka Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam mendatangi anak tersebut untuk menjenguknya, lalu
beliau duduk di dekat kepalanya dan bersabda kepadanya: "Masuk
Islamlah!" Maka anak itu melihat ke arah ayahnya yang ada di
sisinya, lalu ayahnya berkata kepadanya: "Taatilah Abul Qasim
(Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam)!" Maka anak
itu pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar
seraya bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah
menyelamatkannya dari neraka." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 3
no. 1356).
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang
enggan." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah
orang yang enggan itu?" Beliau bersabda: "Barang siapa yang
menaatiku maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang menderhakaiku
maka sungguh ia telah enggan." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath
13 no. 7280).
- Dari 'Auf bin Malik
Al-Asyja'i radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Kami pernah berada di
sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak sembilan,
delapan, atau tujuh orang. Lalu beliau bersabda: "Tidakkah kalian
membaiat Rasulullah?" Padahal kami baru saja membaiat beliau.
Maka kami berkata: "Kami telah membaiatmu, wahai Rasulullah."
Kemudian beliau bersabda lagi: "Tidakkah kalian membaiat
Rasulullah?" Maka kami berkata: "Kami telah membaiatmu,
wahai Rasulullah." Kemudian beliau bersabda lagi: "Tidakkah
kalian membaiat Rasulullah?" Ia berkata: Maka kami mengulurkan
tangan-tangan kami dan berkata: "Kami telah membaiatmu, wahai
Rasulullah, lalu atas dasar apa kami membaiatmu?" Beliau bersabda: "Atas
dasar kalian menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
pun, mendirikan salat lima waktu, dan menaati (beliau membisikkan satu
kata yang samar), serta kalian tidak meminta sesuatu pun kepada
manusia." Sungguh aku telah melihat sebagian dari rombongan
tersebut, cambuk salah seorang dari mereka jatuh, namun ia tidak meminta
seorang pun untuk mengambilkan atau menyerahkannya kepadanya. (HR.
Muslim no. 1043).
- Dari Ibn 'Umar radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: "Kami dahulu membaiat Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, lalu beliau
bersabda kepada kami: 'Sesuai dengan kemampuan kalian.'" (HR.
At-Tirmidzi no. 1593 dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan shahih).
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Ketika diturunkan kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam ayat: {Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu
atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Maka
Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia
kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.} (QS. Al-Baqarah:
284), ia berkata: Maka hal itu terasa sangat berat bagi para sahabat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu mereka mendatangi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berlutut di atas
lutut-lutut mereka seraya berkata: "Wahai Rasulullah, kami telah
dibebani amalan-amalan yang kami sanggupi, yaitu salat, puasa, jihad, dan
sedekah. Dan sungguh telah diturunkan kepadamu ayat ini, sedangkan kami
tidak sanggup menanggungnya." Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda: "Apakah kalian hendak mengatakan
sebagaimana yang dikatakan oleh Ahli Kitab sebelum kalian: 'Kami mendengar
dan kami menderhakai/membangkang'? Akan tetapi katakanlah: 'Kami
mendengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami, dan kepada-Mu
tempat kembali.'" (QS. Al-Baqarah: 285). Ketika kaum tersebut
membacanya, lidah-lidah mereka pun tunduk patuh dengannya. Maka Allah
menurunkan setelahnya: {Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang
diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang
beriman. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Merekai berkata,) 'Kami tidak
membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Dan mereka berkata, 'Kami
mendengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami, dan kepada-Mu
tempat kembali.'} (QS. Al-Baqarah: 285). Ketika mereka telah
melakukan hal tersebut, Allah Ta'ala menghapusnya (menasakh ketentuannya).
Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan: {Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat (pahala)
dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan ia mendapat (siksa) dari
(kejahatan) yang diperbuatnya. (Merekai berdoa,) 'Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.'}
(Allah berfirman: "Ya, telah Aku kabulkan"). {'Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.'} (Allah
berfirman: "Ya, telah Aku kabulkan"). {'Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami
memikulnya.'} (Allah berfirman: "Ya, telah Aku kabulkan").
{'Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah
pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.'}
(Allah berfirman: "Ya, telah Aku kabulkan"). (QS.
Al-Baqarah: 286). (HR. Muslim no. 125) [5].
- Dari 'Adi bin Hatim,
bahwasanya ada seorang laki-laki berkhotbah di sisi Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam, lalu ia berkata: "Barang siapa yang taat
kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh ia telah mendapat petunjuk,
dan barang siapa yang menderhakai keduanya (wa man ya‘ṣihimā) maka
sungguh ia telah sesat.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: 'Seburuk-buruk penceramah/khotib adalah engkau. Katakanlah: Waman
ya‘ṣillāha wa rasūlahu (Dan barang siapa yang menderhakai Allah dan
Rasul-Nya)!'" (HR. Muslim no. 870).
- Dari 'Aisyah radhiyallāhu
'anhā, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda: "Barang siapa yang bernazar untuk taat kepada Allah maka
hendaknya ia menaati-Nya, dan barang siapa yang bernazar untuk
menderhakai-Nya (berbuat maksiat) maka janganlah ia menderhakai-Nya."
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 11 no. 6696).
- Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda: "Barang siapa yang melepaskan tangannya
dari ketaatan (kepada pemimpin/penguasa), maka ia akan menemui Allah pada
hari kiamat tanpa memiliki alasan/hujjah. Dan barang siapa yang
meninggal dunia sedangkan di lehernya tidak ada ikatan baiat, maka ia
meninggal dalam keadaan mati jahiliah." (HR. Muslim no. 1851).
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya
beliau bersabda: "Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan
memisahkan diri dari jamaah (kaum muslimin), lalu ia meninggal, maka ia
meninggal secara mati jahiliah [Mītatan jāhiliyyah: Yaitu dalam
keadaan mati seperti keadaan kematian mereka (orang jahiliah), dari sisi
mereka dalam keadaan kacau (fawḍā)
tanpa adanya seorang imam/pemimpin]. Dan barang siapa yang
berperang di bawah panah buta/kekacauan (‘Immiyyah: Yaitu perkara
yang samar/buta yang tidak jelas arah kebenarannya) karena marah demi
kesukuan (Al-‘Aṣabah: Kerabat seseorang dari pihak ayah. Maknanya:
Marah, berperang, dan menyeru orang lain bukan demi membela agama,
melainkan murni karena fanatisme terhadap sukunya dan hawa nafsunya), atau
menyeru kepada kesukuan, atau menolong kesukuan, lalu ia terbunuh, maka
terbunuhnya adalah terbunuh secara jahiliah. Dan barang siapa yang keluar
menyerang umatku, memukul orang baiknya maupun orang jahatnya, tanpa
memedulikan/takut [Wa lā yatāḥāsy:
Yaitu tidak takut akan bahaya dan hukumannya, serta tidak peduli terhadap
apa yang diperbuatnya pada orang mukmin tersebut] terhadap orang
mukminnya, serta tidak memenuhi janji kepada orang yang memiliki
perjanjian, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari
golongannya." (HR. Muslim no. 1848).
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Barang siapa yang menaatiku maka sungguh ia
telah menaati Allah, dan barang siapa yang menderhakaiku maka sungguh ia
telah menderhakai Allah. Dan barang siapa yang menaati pemimpin (amir)
maka sungguh ia telah menaatiku, dan barang siapa yang menderhakai
pemimpin maka sungguh ia telah menderhakaiku. Sesungguhnya seorang
imam (pemimpin) itu adalah perisai [Junnah: Yaitu seperti
tirai/pelindung; karena ia mencegah musuh dari menyakiti kaum muslimin,
dan mencegah manusia satu sama lain (dari tindakan zalim)], perang
dilakukan di belakangnya dan perlindungan dicari dengannya. Jika ia
memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan berlaku adil, maka ia
mendapatkan pahala atas hal itu, dan jika ia berkata/memerintah selain
itu, maka ia menanggung akibat darinya." (HR. Al-Bukhari dalam
Al-Fath 6 no. 2957 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 1841).
[Hadis-Hadis
yang Terkandung Mengenai (Ketaatan) Secara Makna]
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah,
tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku kerjakan niscaya aku akan
masuk surga." Beliau bersabda: "Engkau menyembah Allah
dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan salat yang
difardukan, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan
Ramadan." Orang Arab Badui itu berkata: "Demi Tuhan yang
jiwaku berada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah atas hal ini sedikit
pun selama-lamanya dan tidak pula menguranginya." Ketika orang
itu berpaling pergi, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang
siapa yang senang untuk melihat seorang laki-laki dari penghuni surga,
maka hendaknya ia melihat laki-laki ini." (HR. Al-Bukhari
dalam Al-Fath 3 no. 1397, dan Muslim no. 14 dengan lafaz milik Muslim).
- Dari Thalq bin 'Ali radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Apabila seorang suami memanggil istrinya untuk
keperluannya, maka hendaknya sang istri mendatangi suaminya, meskipun ia
sedang berada di depan tungku pemanggang roti (at-tannūr) [At-Tannūr:
Tempat untuk memanggang roti]." (HR. At-Tirmidzi no. 1160
dan ia berkata: Ini adalah hadis hasan gharib; serta pentahqiq Jāmi‘ al-Uṣūl
6/496 berkata: Sanadnya hasan).
- Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Ada tiga golongan yang diberikan pahala mereka dua kali
lipat: Seseorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beriman kepada beliau,
mengikutinya, serta membenarkannya, maka baginya dua pahala; seorang
hamba sahaya ('abd mamlūk) yang menunaikan hak Allah Ta'ala dan hak
tuannya, maka baginya dua pahala; dan seseorang yang memiliki budak
wanita lalu ia memberinya makan dengan makanan yang baik, mendidiknya
dengan pendidikan yang baik, kemudian memerdekakannya dan menikahinya,
maka baginya dua pahala." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 1/97, dan
Muslim no. 154 dengan lafaz milik Muslim).
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda: "Biarkanlah aku pada apa yang aku tinggalkan untuk
kalian (da‘ūnī mā taraktukum) [Da‘ūnī mā taraktukum:
Yaitu biarkanlah aku selama kurun waktu aku membiarkan kalian tanpa
memerintahkan sesuatu dan tanpa melarang dari sesuatu], karena
sesungguhnya yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah
banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi
mereka. Maka apabila aku melarang kalian dari sesuatu, jauhilah ia, dan
apabila aku memerintahkan kalian dengan sesuatu, maka kerjakanlah darinya
semampu kalian." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 13 no. 7288
dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 1337) [5].
- Dari Jabir radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Kami berjalan bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam hingga kami singgah di suatu lembah yang luas (Wādiyan
afyaḥ:
Yaitu lembah yang luas). Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
pergi untuk membuang hajatnya, maka aku mengikuti beliau dengan membawa
wadah berisi air (idāwah). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam melihat sekeliling namun beliau tidak menemukan sesuatu untuk
dijadikan penutup/penghalang. Tiba-tiba ada dua pohon di tepi lembah
tersebut, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berjalan
menuju salah satu dari kedua pohon itu, kemudian beliau memegang salah
satu dahannya seraya bersabda: "Tunduklah kepadaku dengan izin
Allah!" Maka pohon itu pun tunduk mengikutinya seperti unta
yang ditindik hidungnya (Kal-ba‘īr al-makhsyūsy: Yaitu unta
yang dipasang pada hidungnya khasyāsy (kayu kecil yang dipasang
pada hidung unta apabila ia liar/sulit diatur, dan diikatkan padanya tali
agar ia tunduk dan patuh)) yang menurut kepada penuntunnya, hingga
beliau mendatangi pohon yang satu lagi. Beliau memegang salah satu
dahannya lalu bersabda: "Tunduklah kepadaku dengan izin
Allah!" Maka pohon itu pun tunduk mengikutinya dengan cara
yang sama. Hingga ketika berada di pertengahan jarak (Bil-munṣaf:
Yaitu setengah dari jarak/perjalanan)
di antara kedua pohon tersebut, beliau mempertemukan keduanya
(maksudnya menyatukan keduanya) seraya bersabda: "Menyatulah
kalian berdua untuk menutupiku dengan izin Allah!" Maka kedua
pohon itu pun menyatu. Jabir berkata: Lalu aku keluar berlari cepat (Aḥḍur: Yaitu berlari
dan berusaha jalan cepat dengan sungguh-sungguh) karena khawatir
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasakanku berada di
dekatnya sehingga beliau menjauh. Lalu aku duduk seraya berbicara kepada
diriku sendiri. Tiba-tiba ketika aku menoleh, aku melihat Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam sedang datang kembali, dan kedua pohon tersebut
telah berpisah berdiri masing-masing di atas batangnya. Aku melihat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhenti sejenak, lalu
beliau memberi isyarat dengan kepalanya seperti ini (Abu Isma'il
mengisyaratkan kepalanya ke kanan dan ke kiri), kemudian beliau
menghadap/datang. Ketika beliau telah sampai, beliau bersabda: "Wahai
Jabir, apakah engkau melihat tempat berdiriku?" Aku menjawab: "Ya,
wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Pergilah engkau ke
kedua pohon itu, lalu potonglah masing-masing dari keduanya satu dahan,
kemudian bawalah keduanya kemari. Hingga jika engkau telah berdiri di
tempat berdiriku ini, tancapkanlah satu dahan di sebelah kananmu dan satu
dahan di sebelah kirimu." Jabir berkata: Maka aku berdiri lalu
mengambil sebuah batu, lalu aku memecahnya dan mengasah tajam ujungnya (ḥasartuhu) [Ḥasartuhu: Yaitu aku
mempertajamnya dan menyisihkan apa yang menghalangi ketajamannya sehingga
menjadi batu yang memungkinkan untuk memotong dahan-dahan dengannya] maka
batu itu pun menjadi tajam (Fanżalaqa: Yaitu menjadi tajam) bagiku.
Lalu aku mendatangi kedua pohon tersebut, kemudian aku memotong satu dahan
dari masing-masing pohon itu. Setelah itu aku datang menyeret keduanya
hingga aku berdiri di tempat berdirinya Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam. Aku menancapkan satu dahan di sebelah kananku dan satu
dahan di sebelah kiriku, kemudian aku menyusul beliau lalu aku berkata:
"Aku telah melakukannya, wahai Rasulullah. Maka untuk apa hal itu
dilakukan?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku melewati dua
kubur yang sedang diazab, maka aku ingin—dengan syafaatku—agar azab
keduanya diringankan (An yuraffaha 'anhumā: Yaitu diringankan
(azabnya)) selama kedua dahan ini masih basah." (HR. Muslim
no. 3012).
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Abu Thalhah adalah orang Ansar yang paling banyak
hartanya berupa kebun kurma di Madinah. Dan harta yang paling dicintainya
adalah Bairuha' [Bairuḥā':
Nama suatu harta/kebun dan tempat di Madinah], yang letaknya menghadap ke
masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sering memasukinya
dan meminum air yang segar di dalamnya. Anas berkata: Ketika diturunkan
ayat ini: {Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum
kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai} (QS. Ali 'Imran:
92), Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah
Tabaraka wa Ta'ala berfirman: {Kamu tidak akan memperoleh kebajikan
sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai}, dan
sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha', dan ia adalah
sedekah karena Allah, aku mengharapkan kebajikannya dan simpanannya di
sisi Allah. Maka tempatkanlah ia, wahai Rasulullah, sebagaimana yang Allah
perlihatkan/petunjukkan kepadamu." Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Wah, itu adalah harta yang
beruntung! Itu adalah harta yang beruntung! Sungguh aku telah mendengar
apa yang engkau katakan, dan aku berpendapat agar engkau menjadikannya
(membagikannya) kepada kerabat-kerabat dekat." Maka Abu
Thalhah berkata: "Aku akan melaksanakannya, wahai
Rasulullah." Lalu Abu Thalhah membagikannya kepada
kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya. (HR. Al-Bukhari dalam
Al-Fath 3 no. 1461 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 998).
- Dari Ibn 'Umar radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Dahulu Al-Kifl dari kalangan Bani Israil tidak
menahan diri dari dosa yang dilakukannya. Lalu seorang wanita
mendataginya, maka ia memberinya enam puluh dinar agar ia dapat
menggaulinya. Ketika ia telah duduk darinya sebagaimana duduknya seorang
suami dari istrinya, wanita itu gemetar dan menangis. Maka ia bertanya:
'Apa yang menyebabkabmu menangis? Apakah aku memaksamu?' Wanita itu
menjawab: 'Tidak, akan tetapi ini adalah perbuatan yang belum pernah aku
lakukan sama sekali, dan tidak ada yang mendorongku melakukannya melainkan
kebutuhan/kemiskinan.' Maka ia berkata: 'Engkau melakukan ini (karena
terdesak) sedangkan engkau belum pernah melakukannya sebelumnya [Maksudnya:
Apakah engkau melakukannya sekarang padahal engkau tidak pernah
melakukannya sebelum ini?]? Pergilah, dan uang itu menjadi milikmu.'
Kemudian ia berkata: 'Tidak, demi Allah aku tidak akan menderhakai Allah
setelah ini selama-lamanya.' Lalu ia meninggal pada malam itu juga, maka
pada pagi harinya tertulis di pintunya: Sesungguhnya Allah telah
mengampuni Al-Kifl." (HR. At-Tirmidzi no. 2496 dan ia berkata:
Hadis hasan; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/254-255 dan ia berkata: Shahih
sanadnya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
- Dari Hudzaifah bin
Al-Yaman radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Manusia biasa bertanya
kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan,
sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir
keburukan itu menimpaku. Maka aku berkata: "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya kami dahulu berada dalam kejahiliaan dan keburukan, lalu
Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini
akan ada keburukan?" Beliau menjawab: "Ya." Aku
bertanya: "Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan?"
Beliau menjawab: "Ya, dan padanya ada kabut/noda (Dakhan: Abu
'Ubaid dan lainnya berkata: Ad-Dakhan asal katanya adalah adanya
warna keruh kehitam-hitaman pada binatang. Para ulama berkata: Yang
dimaksud di sini adalah hati satu sama lain tidak bersih, keburukannya
tidak hilang, dan tidak kembali kepada kesucian sebagaimana semula)."
Aku bertanya: "Apakah kabut/nodanya itu?" Beliau bersabda: "Suatu
kaum yang mengambil sunnah bukan dari sunnahku, dan mengambil petunjuk
bukan dari petunjukku (Hadyī: Al-Hadyu adalah perawakan,
perjalanan hidup, dan jalan/metode), engkau mengenali (kebaikan) dari
mereka dan engkau mengingkari (keburukan dari mereka)." Aku
bertanya: "Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan?"
Beliau menjawab: "Ya, para penyeru di pintu-pintu neraka Jahanam [Du‘āt
'alā abwābi jahannam: Para ulama berkata: Mereka adalah para
penguasa/pemimpin yang menyeru kepada kesesatan atau kebid'ahan lainnya,
seperti Khawarij, Qaramithah, dan orang-orang yang menimbulkan ujian
fitnah. Dalam hadis Hudzaifah ini terdapat kewajiban menetapi jamaah kaum
muslimin dan imam mereka, serta kewajiban menaatinya meskipun ia fasik dan
melakukan kemaksiatan seperti mengambil harta secara zalim dan selainnya;
maka tetap wajib menaatinya dalam hal selain maksiat. Di dalamnya juga
terdapat mukjizat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu
perkara-perkara yang beliau kabarkan ini dan sungguh semuanya telah
terjadi.], barang siapa yang menyambut ajakan mereka ke pintu tersebut,
niscaya mereka akan melemparkannya ke dalamnya." Aku berkata:
"Wahai Rasulullah, sifatkanlah mereka kepada kami!" Beliau
bersabda: "Ya, mereka adalah suatu kaum dari kulit/bangsa kita
sendiri dan berbicara dengan bahasa kita." Aku bertanya:
"Wahai Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku
mendapati hal tersebut?" Beliau bersabda: "Engkau harus
senantiasa menetapi jamaah kaum muslimin dan imam/pemimpin mereka."
Aku bertanya: "Jika mereka tidak memiliki jamaah dan tidak pula
memiliki imam?" Beliau bersabda: "Maka jauhilah semua
kelompok/golongan tersebut, walaupun engkau harus menggigit akar pohon
hingga kematian menjemputmu sedangkan engkau tetap dalam keadaan
demikian." (HR. Al-Bukhari 6 no. 3606, dan Muslim no. 1847
dengan lafaz milik Muslim).
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda: "Bani Israil dahulu diatur dan dipimpin (Tasūsuhum
al-anbiyā': Yaitu para nabi mengurus dan mengatur urusan-urusan mereka
sebagaimana yang dilakukan oleh para amir dan penguasa kepada rakyatnya)
oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi
yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, namun akan ada para
khalifah yang jumlahnya banyak." Para sahabat bertanya: "Lalu
apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau bersabda: "Penuhilah
baiat khalifah yang pertama lalu yang pertama berikutnya [Fawū
bibai'atil-awwali fal-awwal: Yaitu jika dibaiat seorang khalifah
setelah khalifah sebelumnya, maka baiat khalifah yang pertama adalah sah
dan wajib dipenuhi, sedangkan baiat khalifah kedua adalah batil, haram
dipenuhi, dan haram baginya untuk menuntut baiat tersebut]. Dan
berikanlah hak mereka kepada mereka, karena sesungguhnya Allah akan
meminta pertanggungjawaban dari mereka atas apa yang diamanahkan kepada
mereka untuk dipimpin." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 6 no.
3455, dan Muslim no. 1842 dengan lafaz milik Muslim).
- Dari 'Abdullah bin 'Umar
dari ayahnya radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Dahulu aku memiliki
seorang istri yang dibenci oleh 'Umar (ayahku), lalu ia berkata: "Thalaqlah
(ceraikanlah) dia!" Namun aku menolak. Maka 'Umar mendatangi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (dan menceritakannya),
lalu Rasulullah bersabda: "Taatilah ayahmu!" (HR.
Ahmad dalam Al-Musnad no. 4711 dengan lafaz miliknya dan no. 5011; Abu
Dawud no. 1538; dan At-Tirmidzi no. 1201 dan ia berkata: Hadis hasan
shahih. Pentahqiq Jāmi‘ al-Uṣūl 1/404 berkata: Sanadnya hasan).
- Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Dahulu kami tidak memakan daging hewan kurban (budn)
kami melebihi tiga hari di Mina, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam memberikan keringanan (rukhsah) kepada kami seraya
bersabda: "Makanlah dan jadikanlah bekal!" Maka kami pun
memakannya dan menjadikannya bekal. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 3
no. 1719 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 1972).
- Dari 'Umar bin Abi Salamah radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Aku dahulu adalah seorang anak laki-laki dalam
pengasuhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam [Fī ḥijri Rasūlillāh:
Yaitu dalam pemeliharaan dan di bawah pengasuhan beliau], dan tanganku
selalu berpindah-pindah/bergerak ke sana kemari di dalam nampan Makanan (Taṭīṣu fiṣ-ṣaḥfah: Yaitu
berpindah-pindah dan bergerak mencong ke berbagai sisi nampan/mangkuk
makanan). Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
kepadaku: "Wahai anak muda, ucapkanlah Bismillah (sebutlah nama
Allah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di
dekatmu!" Maka cara makan seperti itulah yang senantiasa menjadi
cara makanku (Ṭi‘matī
(dengan kasrah pada huruf Ṭa'):
Yaitu tata cara/sifat makanku) setelahnya. (HR. Al-Bukhari dalam
Al-Fath 9 no. 5376 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 2022).
- Dari 'Abdullah bin Abi Aufa
radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Ketika Mu'adz kembali dari Syam,
ia bersujud kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau
bersabda: "Apa ini, wahai Mu'adz?" Ia menjawab: "Aku
mendatangi Syam lalu aku mendapati mereka bersujud kepada uskup-uskup dan
panglima-panglima/pemimpin mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku agar
kami melakukan hal itu kepadamu." Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian lakukan! Karena
sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain
Allah, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada
suaminya. Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang
wanita tidaklah menunaikan hak Tuhannya sampai ia menunaikan hak suaminya,
bahkan seandainya suaminya memintanya (untuk melayaninya) sedangkan ia
berada di atas punggung unta ('alā qatabin) [Qatab: Al-Qatab
adalah pelana unta (ikāf al-ba‘īr). Ada yang mengatakan: Pelana
kecil sesuai ukuran punuk unta. Yang dimaksud adalah dorongan/anjuran
mendesak bagi para wanita untuk menaati suami-suami mereka], ia tidak
boleh menolaknya." (HR. At-Tirmidzi no. 1159 dan ia berkata:
Hadis hasan; Ibn Majah no. 1853 dengan lafaz miliknya dan Al-Albani
berkata: Hasan shahih, serta dicantumkan dalam Ash-Shahihah miliknya no.
1203).
- Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
tidak pernah membacakan Al-Qur'an secara langsung kepada bangsa jin dan
tidak pula melihat mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
berangkat bersama sekelompok sahabat beliau menuju Pasar 'Ukazh. Pada saat
itu, para setan telah terhalangi dari berita langit dan dilontarkan kepada
mereka bintang-bintang/panah api (asy-syuhub). Maka para setan
kembali kepada kaumnya, lalu kaumnya bertanya: "Ada apa dengan
kalian?" Mereka menjawab: "Kami telah terhalangi dari
berita langit dan dilontarkan kepada kami panah-panah api."
Kaumnya berkata: "Tidaklah hal itu terjadi melainkan karena ada
sesuatu peristiwa besar yang baru saja terjadi. Maka jelajahilah timur dan
barat bumi, lalu lihatlah apa yang menghalangi kita dari berita langit
ini!" Maka mereka pun pergi menjelajahi timur dan barat bumi.
Lalu rombongan jin yang mengambil arah ke Tihamah melewati beliau—saat itu
beliau berada di Nakhlah [Bi-Nakhla: Demikian tertulis di teks
asli, dan yang benar adalah Bi-Nakhlah menggunakan huruf Ha' (Tā'
Marbūṭah).
Itu adalah nama tempat yang dikenal di sana, dan demikianlah yang
tercantum dengan benar dalam Shahih Al-Bukhari] sengaja hendak
menuju Pasar 'Ukazh, dan beliau sedang memimpin salat Subuh bersama para
sahabat beliau. Ketika mereka mendengar Al-Qur'an, mereka
mendengarkannya dengan saksama lalu berkata: "Inilah yang
menghalangi kita dari berita langit." Maka mereka kembali
kepada kaumnya seraya berkata: "Wahai kaum kami, sesungguhnya kami
telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk
kepada kebenaran, maka kami pun beriman kepadanya dan kami tidak
akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami." Lalu Allah Azza
wa Jalla menurunkan ayat kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam: {Katakanlah (Muhammad), "Telah diwahyukan
kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan..."} (QS.
Al-Jinn: 1). (HR. Al-Bukhari dalam Al-Fath 8 no. 4921, dan Muslim no.
449 dengan lafaz milik Muslim).
- Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Tidak ada seorang nabi pun yang diutus oleh Allah pada
suatu umat sebelumku melainkan ia memiliki pengikut-pengikut setia (ḥawāriyyūn) dan
sahabat-sahabat dari umatnya yang mengambil sunnahnya dan meneladani
peritahnya. Kemudian sesungguhnya akan lahir (Innahā takhlufu:
Kata ganti (ḍamīr)
pada kata innahā adalah kata ganti kisah (ḍamīr al-qiṣṣah), dan
makna takhlufu adalah muncul/terjadi pengganti) setelah mereka
generasi pengganti yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, dan
mengerjakan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka barang siapa
yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka ia adalah seorang
mukmin, barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya maka ia
adalah seorang mukmin, dan barang siapa yang berjihad melawan mereka
dengan hatinya maka ia adalah seorang mukmin. Dan tidak ada setelah itu
iman meskipun sebesar biji sawi." (HR. Muslim no. 50).
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri
di Arafah ketika matahari hampir tenggelam, lalu beliau bersabda: "Wahai
Bilal, minta manusia untuk diam dan mendengarkanku!" Maka Bilal
berdiri lalu berkata: "Diamlah dan dengarkanlah Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam!" Maka orang-orang pun diam dan patuh. Lalu
beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, Jibril baru saja datang
kepadaku lalu menyampaikan salam dari Tuhanku dan berfirman: 'Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla telah mengampuni ahli Arafah dan ahli Masy'arilhram
serta menanggung dosa-dosa tuntutan (Yaitu Allah
menanggung/membebaskan kezaliman-kezaliman (pembayaran hak sesama) yang
ada di antara mereka) di antara mereka.'" Maka 'Umar bin
Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu berdiri lalu bertanya: "Wahai
Rasulullah, apakah ini khusus untuk kami saja?" Beliau menjawab: "Ini
untuk kalian dan untuk orang-orang yang datang setelah kalian hingga hari
kiamat." Maka 'Umar bin Al-Khaththab berkata: "Alangkah
banyaknya kebaikan Allah dan alangkah indahnya!" (Al-Hafiz
Ad-Dimyathi berkata dalam Al-Matjar Ar-Rābikh hlm. 236 no. 953:
Diriwayatkan oleh Ibn Al-Mubarak dengan sanad yang baik [jayyid] dan para
perawinya tsiqah lagi teguh).
[Teladan
Praktis dari Kehidupan Nabi ﷺ dalam (Ketaatan)]
- Dari Ibn 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu
biasa membaca dalam doanya: "Wahai Tuhanku, tolonglah aku dan jangan
Engkau tolong (musuh) atas diriku; menangkanlah aku dan jangan Engkau
menangkan (musuh) atas diriku; buatlah tipu daya untuk membantuku (Amkur
lī: Makrullah (tipu daya Allah) adalah menjatuhkan
cobaan/azab-Nya kepada musuh-musuh-Nya tanpa menimpakannya kepada para
kekasih-Nya) dan jangan Engkau buat tipu daya yang merugikanku; berilah
aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagiku; serta tolonglah aku atas
orang yang berbuat zalim kepadaku. Wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang
yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, sangat takut
kepada-Mu, sangat taat kepada-Mu, tunduk khusyuk kepada-Mu (Mukhbitān:
Dari kata al-ikhbāt, yaitu khusyuk dan merendahkan diri), serta
sering merendah/berdoa (awwāhan) dan kembali bertobat kepada-Mu (Awwāhan:
Orang yang bertadharu' (berdoa/merendah), dan munībān: Dari kata al-inābah,
yaitu kembali kepada Allah dengan bertobat). Wahai Tuhanku, terimalah
tobatku, basuhlah/hapuslah dosaku (Ḥaubatī:
Yaitu dosaku), kabulkanlah doaku, berilah petunjuk pada hatiku,
luruskanlah lisanku, teguhkanlah argumentasiku, dan cabutlah
kedengkian/kejahatan dari hatiku (Aslul sakhīmata qalbī: Yaitu
cabutlah kedengkian/kejahatan dari hatinya) ." (HR. Abu Dawud no.
1510; At-Tirmidzi no. 3551 dan ia berkata: Hadis hasan shahih; serta Ibn
Majah no. 3830 dengan lafaz miliknya. Pentahqiq Jāmi‘ al-Uṣūl 4/337
berkata: Hadis shahih).
- Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: 'Ali ketika berada di Yaman mengirimkan sepotong
emas kecil yang masih bercampur tanah kepada Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam. Lalu beliau membagikannya kepada Al-Aqra' bin Habis
Al-Hanzhali (dari Bani Mujasyi'), 'Uyaynah bin Badr Al-Fazari, 'Alqamah
bin 'Ulatsah Al-'Amiri (dari Bani Kilab), dan Zaid Al-Khail Ath-Tha'i
(dari Bani Nabhan). Maka orang-orang Quraisy dan Ansar merasa marah/gusar
seraya berkata: "Beliau memberi para pemuka penduduk Najd dan
meninggalkan kita?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku
melakukan itu hanyalah untuk melunakkan hati mereka." Kemudian
datanglah seorang laki-laki yang bermata cekung, dahi menonjol (Nāti'
al-jabīn: Yaitu dahinya tampak menonjol ke luar), berjanggut tebal,
pipi menonjol (Musyrif al-wajhatain: Yaitu kedua tulang pipinya
tebal/menonjol), dan berkepala gundul. Ia berkata: "Wahai
Muhammad, bertakwalah kepada Allah!" Maka Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Lalu siapakah yang akan menaati
Allah jika aku bermaksiat/menderhakai-Nya?! Allah mempercayaiku atas
seluruh penduduk bumi, sedangkan kalian tidak mempercayaiku?!" Maka
seorang laki-laki dari kaum tersebut meminta izin untuk membunuhnya—aku
menduga ia adalah Khalid bin Al-Walid—namun Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam melarangnya. Ketika orang itu berpaling pergi, Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya dari
keturunan/keturunan orang ini (Ḍi'ḍi': Yaitu
asal/keturunan) akan lahir suatu kaum yang membaca Al-Qur'an tetapi
tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama Islam
sebagaimana anak panah meluncur lepas dari sasaran bidiknya. Mereka
membunuh pemeluk Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Sekiranya
aku mendapati mereka, niscaya aku akan membunuh mereka sebagaimana
pembunuhan terhadap kaum 'Ad (Qatla 'Ād: Maksudnya adalah pembunuhan
secara menyeluruh hingga ke akar-akarnya)." (HR. Al-Bukhari
dalam Al-Fath 13 no. 7432 dengan lafaz miliknya, dan Muslim no. 1064).
[Atsar
dan Ucapan Ulama/Mufasir Mengenai (Ketaatan)]
- 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu
'anhu berkata: "Janganlah engkau berteman dengan orang-orang
jahat (fujjār) hingga engkau mempelajari kejahatan mereka. Jauhilah
musuhmu, dan waspadalah terhadap temanmu kecuali yang terpercaya (al-amīn).
Dan tidak ada orang yang terpercaya kecuali orang yang takut kepada Allah.
Khusyuklah ketika berada di kuburan, merendahkan dirilah ketika berada
dalam ketaatan, jagalah diri ketika berhadapan dengan kemaksiatan,
serta bermusyawarahlah dengan orang-orang yang takut kepada Allah." (Ad-Durr
Al-Manthūr karya As-Suyuthi 7/22).
- Dari 'Umar bin Al-Khaththab
radhiyallāhu 'anhu dalam wasiatnya mengenai para sahabat Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam... (hingga akhir hadis, dan di
dalamnya ia berkata): "Sesungguhnya aku tidak mengetahui seorang pun
yang lebih berhak atas urusan (kekhalifahan) ini melebihi orang-orang
(enam sahabat) ini yang mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
wafat dalam keadaan rida kepada mereka. Maka barang siapa yang mereka
angkat sebagai khalifah setelahku, maka dialah khalifah (yang sah); dengarkanlah
ia dan taatilah! Lalu beliau menyebutkan nama: 'Utsman, 'Ali, Thalhah,
Az-Zubair, 'Abdurrahman bin 'Auf, dan Sa'ad bin Abi Waqqas..." (HR.
Al-Bukhari dalam Al-Fath 3 no. 1392).
- 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu
'anhu berkata: "Sesungguhnya Mu'adz bin Jabal radhiyallāhu
'anhu adalah seorang ummah (pemimpin/teladan) yang qānit
(patuh/taat) kepada Allah lagi ḥanīf
(lurus)." Maka dikatakan kepadanya: "Bukannya Ibrahim yang
dinyatakan sebagai ummah yang qānit kepada Allah lagi ḥanīf?" Maka Ibn
Mas'ud menjawab: "Aku tidak lupa. Tahukah engkau apa itu ummah
dan apa itu qānit?" Aku menjawab: "Allah yang lebih
mengetahui." Beliau berkata: "Al-Ummah adalah orang
yang mengajarkan kebaikan, sedangkan Al-Qānit adalah orang yang
taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Mu'adz dahulu mengajarkan
kebaikan kepada manusia serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya." (Hilyat
al-Auliyā' karya Abu Nu'aim 1/230).
- Abu Ad-Darda' radhiyallāhu
'anhu menulis surat kepada Salamah bin Makhlad: "Amma ba'du,
sesungguhnya seorang hamba jika beramal dengan ketaatan kepada Allah,
maka Allah akan mencintainya. Dan jika Allah mencintainya, Allah akan
menjadikannya dicintai oleh makhluk-Nya. Namun jika ia beramal dengan
kemaksiatan kepada Allah, maka Allah akan membencinya, dan jika Allah
membencinya, Allah akan menjadikannya dibenci oleh makhluk-Nya." (Kitāb
Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal hlm. 168).
- 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu
'anhu berkata mengenai firman Allah Ta'ala: {Bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya} (QS. Ali 'Imran: 102): "Yaitu
hendaklah Allah ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak
dilupakan." (Diriwayatkan oleh Al-Hakim 2/294 dan ia berkata:
Shahih sesuai syarat Ash-Shaikhain [Al-Bukhari & Muslim], dan
disepakati oleh Adz-Dzahabi).
- Dari 'Abdullah bin Salamah,
ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Mu'adz bin Jabal radhiyallāhu
'anhu: "Ajarilah aku!" Mu'adz bertanya: "Apakah
engkau akan menaatiku?" Laki-laki itu menjawab:
"Sesungguhnya aku sangat bersungguh-sungguh untuk menaatimu."
Mu'adz berkata: "Berpuasalah dan berbukalah, salatlah dan tidurlah,
bekerjalah mencari nafkah dan jangan berbuat dosa, janganlah engkau mati
melainkan dalam keadaan berserah diri (sebagai muslim), dan takutlah
engkau akan doa orang yang terzalimi!" (Hilyat al-Auliyā' karya
Abu Nu'aim 1/233).
- Dari Ibn 'Umar radhiyallāhu
'anhumā, bahwasanya apabila beliau membaca ayat ini: {Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk khusyuk hati
mereka mengingat Allah?} (QS. Al-Hadid: 16), beliau berkata: "Tentu,
wahai Tuhanku! Tentu, wahai Tuhanku!" (sebagai bentuk
kepatuhan dan ketundukan). (Ad-Durr Al-Manthūr karya As-Suyuthi
8/59).
- Dari Khalid bin Aslam
(bekas hamba sahaya 'Umar bin Al-Khaththab), ia berkata: Aku keluar
bersama 'Abdullah bin 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, lalu seorang Arab
Badui menyusulnya dan berkata kepadanya: "Firman Allah: {Dan
orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di
jalan Allah...} (QS. At-Taubah: 34)." Ibn 'Umar menjawab: "Barang
siapa yang menyimpannya lalu tidak menunaikan zakatnya, maka celakalah ia.
Hal ini hanyalah berlaku sebelum diturunkannya zakat. Ketika ayat zakat
diturunkan, Allah menjadikannya sebagai pembersih bagi harta benda."
Kemudian Ibn 'Umar menoleh seraya berkata: "Aku tidak peduli
sekiranya aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud, aku mengetahui jumlahnya
lalu aku menunaikan zakatnya, dan aku menggunakannya dalam ketaatan
kepada Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ibn Majah 1/1787).
- Dari Sa'id bin Al-Musayyib
rahimahullāh, ia berkata: Beberapa saudaraku dari kalangan sahabat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menulis surat kepadaku: "Bawalah
(tafsirkanlah) perbuatan saudaramu kepada prasangka yang paling baik
selama belum datang kepadamu hal yang pasti mengalahkanmu. Janganlah
sekali-kali engkau menyangka buruk terhadap suatu kalimat yang keluar dari
seorang muslim, padahal engkau masih menemukan makna kebaikan padanya.
Barang siapa yang mempertaruhkan dirinya pada tempat-tempat
tuduhan/prasangka, maka janganlah ia mencela melainkan dirinya sendiri.
Barang siapa yang menyembunyikan rahasianya, maka pilihan (al-khiyarah)
berada di tangannya. Dan tidak ada balasan setimpal yang engkau berikan
kepada orang yang bermaksiat kepada Allah Ta'ala atas dirimu yang lebih
baik daripada engkau taat kepada Allah Ta'ala atas dirinya." (Syu'ab
al-Īmān karya Al-Baihaqi 2/103).
- Al-Hasan Al-Bashri rahimahullāh
berkata: "Mereka telah beramal untuk Allah dengan berbagai
ketaatan, bersungguh-sungguh di dalamnya, namun mereka tetap takut
amalannya ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin menggabungkan antara iman
dan rasa takut (khasyyah), sedangkan orang munafik menggabungkan
antara perbuatan buruk dan rasa aman (dari azab)." (Baṣā'ir Dzawī
at-Tamyīz karya Al-Fairuzabadi 2/545).
- Al-Hasan Al-Bashri rahimahullāh
pernah ditanya: "Apakah bentuk berbakti kepada kedua orang tua
itu?" Beliau menjawab: "Hendaklah engkau mencurahkan untuk
keduanya apa yang engkau miliki, dan hendaklah engkau menaati keduanya
dalam apa saja yang mereka perintahkan kepadamu, kecuali jika hal itu
berupa kemaksiatan." (Ad-Durr Al-Manthūr karya As-Suyuthi 5/259,
dan ia berkata: Dikeluarkan oleh 'Abdurrazzaq dalam Al-Muṣannaf).
- Sebagian ulama Salaf
bercerita: Ketika Sulaiman bin 'Abdul Malik tiba di Madinah Al-Munawwarah
saat hendak menuju Makkah Al-Mukarramah, ia mengutus utusan kepada Abu
Hazim (Salamah bin Dinar) lalu memanggilnya. Ketika Abu Hazim masuk
menghadapnya, Sulaiman bertanya kepadanya: "Wahai Abu Hazim,
mengapa kita membenci kematian?" Abu Hazim menjawab: "Karena
kalian telah merobohkan akhirat kalian dan memakmurkan dunia kalian,
sehingga kalian benci berpindah dari tempat yang makmur menuju tempat yang
roboh/hancur." Sulaiman bertanya: "Orang mukmin manakah
yang paling cerdas?" Beliau menjawab: "Laki-laki yang
beramal dengan ketaatan kepada Allah dan menyeru manusia kepadanya."
Sulaiman bertanya: "Orang mukmin manakah yang paling rugi?"
Beliau menjawab: "Laki-laki yang tergelincir memenuhi hawa nafsu
saudaranya yang zalim, sehingga ia menjual akhiratnya demi dunia orang
lain." Sulaiman berkata: "Apa pendapatmu mengenai
kedudukan yang sedang kami jalani ini?" Abu Hazim berkata: "Apakah
engkau mau memaafkanku (tidak menanyakannya)?" Sulaiman menjawab:
"Tidak, tetapi ini adalah nasihat yang harus engkau sampaikan
kepadaku." Maka Abu Hazim berkata: "Wahai Amirulmukminin,
sesungguhnya nenek moyangmu menaklukkan manusia dengan pedang dan
mengambil kekuasaan ini secara paksa tanpa musyawarah dari kaum muslimin
dan tanpa keridaan dari mereka, hingga mereka membunuh banyak orang.
Sungguh mereka telah berangkat (wafat), sekiranya engkau menyadari apa
yang mereka katakan dan apa yang dikatakan kepada mereka!" Maka
seorang laki-laki dari teman duduk Sulaiman berkata: "Alangkah
buruknya apa yang engkau katakan!" Abu Hazim menjawab: "Sesungguhnya
Allah Tabāraka wa Ta'ālā telah mengambil janji atas para ulama agar mereka
menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya." Sulaiman
bertanya: "Lalu bagaimana cara kita memperbaiki kerusakan
ini?" Abu Hazim menjawab: "Hendaklah engkau mengambil
harta dari jalan yang halal dan menempatkannya pada haknya yang
benar." Sulaiman bertanya: "Siapakah yang sanggup
melakukan itu?" Beliau menjawab: "Orang yang mencari
surga dan takut akan neraka." Sulaiman berkata: "Doakanlah
aku!" Abu Hazim berdoa: "Ya Allah, jika Sulaiman adalah
kekasih-Mu, maka mudahkanlah baginya kebaikan dunia dan akhirat; namun
jika ia adalah musuh-Mu, maka peganglah ubun-ubunnya menuju apa yang
Engkau cintai dan Engkau ridai."Sulaiman berkata: "Berilah aku
wasiat!" Abu Hazim berkata: "Agungkanlah Tuhanmu dan
sucikanlah Dia dari melihatmu di tempat yang Dia larang, atau kehilanganmu
dari tempat yang Dia perintahkan." (Sunan Ad-Darami 1164 no.
647).
- Dari Az-Zuhri rahimahullāh,
ia berkata: Sesungguhnya 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu
membaca ayat ini: {Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan
kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka
(istikamah)...} (QS. Fussilat: 30), lalu ia berkata: "Demi
Allah, mereka beristikamah kepada Allah dengan ketaatan kepada-Nya,
dan mereka tidak berpaling/bermuslihat (Yarūghū: Yaitu menipu /
berpaling secara licik) seperti berpalingnya musang/rubah." (Kitāb
Az-Zuhd karya Ibn Al-Mubarak hlm. 110).
- 'Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullāh
berkata dalam bait syairnya: Apakah ada seorang pemuda yang menjamin
bagiku untuk meninggalkan kemaksiatan… Maka aku akan menjamin tanggungan
keselamatan baginya? Suatu kaum telah taat kepada Allah maka mereka
pun merasa tenang... Dan mereka tidak perlu menelan kepahitan
kemaksiatan. (Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn karya Al-Mawardi hlm. 104).
- Abu Al-Bakhtari rahimahullāh
berkata: "Sungguh aku berharap Allah Ta'ala ditaati dan aku
hanyalah seorang hamba sahaya (yang tidak memiliki apa-apa)." (Kitāb
Az-Zuhd karya Ibn Al-Mubarak hlm. 69).
- Dari 'Abdullah bin
Al-Mubarak rahimahullāh, ketika menyebutkan syarat-syarat tobat, ia
berkata: "Menyesal, bertekad bulat untuk tidak mengulangi,
mengembalikan kezaliman (hak orang lain), menunaikan kewajiban-kewajiban
yang sempat disia-siakan, sengaja membakar/mengecilkan tubuh yang
dibesarkan dari harta haram (as-suḥt)
dengan rasa cemas dan duka hingga tumbuh daging baru yang baik, serta
merasakan pada jiwanya kepahitan ketaatan sebagaimana ia pernah merasakan
padanya kelezatan maksiat." (Fatḥ al-Bārī 11/106).
- Thalq bin Habib rahimahullāh
berkata: "Takwa adalah beramal dengan ketaatan kepada Allah atas
dasar cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat Allah. Dan
takwa adalah meninggalkan maksiat kepada Allah atas dasar cahaya
(petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa Allah." (Al-Muṣannaf
karya Ibn Abi Syaibah 11/23, dan Ad-Durr Al-Manthūr karya As-Suyuthi 1/61).
- Imam Malik rahimahullāh
berkata: Telah sampai kepadaku bahwasanya 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu
'anhu berkata: "Sungguh aku berbaring di atas tempat tidurku
namun kantuk tak kunjung mendatangi diriku, lalu aku berdiri untuk salat,
tetapi bacaanku tidak fokus karena risau memikirkan urusan rakyat." Malik
berkata: "Maksud beliau adalah agar Allah ditaati dan Allah tidak
didurhakai." (Syarḥ
as-Sunnah karya Al-Baghawi 3/257) [4].
- Abu Hamzah Asy-Syaibani rahimahullāh
pernah ditanya tentang persaudaraan karena Allah 'Azza wa Jalla, lalu ia
menjawab: "Yaitu orang-orang yang saling tolong-menolong atas
perintah (ketaatan kepada) Allah 'Azza wa Jalla, meskipun tempat
tinggal dan tubuh mereka berjauhan." (Kitāb Al-Ikhwān karya Ibn
Abi Ad-Dunya hlm. 127) [5].
- Seorang laki-laki menulis
surat kepada Abu Al-'Atahiyah:
Wahai Abu
Ishaq, sesungguhnya aku...
Sangat
percaya akan kecintaanmu padaku.
Maka
bantulah aku demi ayahmu, sesungguhnya engkau...
Bisa
membimbing aibku menuju petunjukmu.
Maka Abu
Al-'Atahiyah menjawabnya dengan bait syair:
Taatilah
Allah dengan segenap kemampuannmu...
Baik dalam
keadaan berharap atau tanpa segenap kemampuanmu.
Maka
taatilah Pelindungmu (Allah) sebanyak ketaatan...
Yang
engkau tuntut dari hamba/bawahanmu.
(Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn karya Al-Mawardi hlm. 131).
- Al-Hasan Al-Bashri rahimahullāh
berkata mengenai firman Allah Ta'ala: {Sungguh jika kamu bersyukur,
niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu} (QS. Ibrahim: 7): "Yaitu
menambah ketaatan kepada-Ku." (Ad-Durr Al-Manthūr karya
As-Suyuthi 5/7).
- Mahmud Al-Warraq berkata
dalam bait syairnya:
Inilah
petunjuk bagi siapa yang menginginkan...
Kekayaan
yang abadi tanpa membutuhkan harta,
Dan
menginginkan kemuliaan yang tak perlu dikokohkan oleh ikatan kabilah dengan
peperangan,
Serta
kewibawaan tanpa kekuasaan raja, dan kedudukan di hadapan para lelaki,
Hendaklah
ia berpegang teguh dengan masuk ke dalam...
Kemuliaan
ketaatan kepada Pemilik Keagungan (Allah),
Dan keluar
dari kehinaan maksiat kepada-Nya dalam setiap keadaan.
(Al-Ādāb Asy-Syar‘iyyah karya Ibn Muflih 1/153).
- Syah Al-Kirmani rahimahullāh
berkata: "Tanda benarnya sebuah harapan (rajā') adalah indahnya
ketaatan." (Madārij as-Sālikīn karya Ibn Al-Qayyim 2/37).
- Abu Al-Walid Sulaiman bin
Khalaf bin Sa'ad Al-Andalusi (Ibn Baji) berkata untuk dirinya
sendiri:
Jika aku
mengetahui dengan keyakinan yang pasti...
Bahwasanya
seluruh hidupku ini hanyalah seperti satu jam saja...
Lalu
mengapa aku tidak kikir bersikap padanya...
Dan
menjadikannya berada dalam kebaikan dan ketaatan?
(Iqtiḍā'
al-‘Ilm al-‘Amal karya Al-Khathib Al-Baghdadi hlm. 107).
- Abu Al-'Atahiyah berkata
dalam bait syairnya:
Apabila
para lelaki saling membanggakan nasab, maka aku tidak melihat...
Suatu
nasab yang dapat dibandingkan dengan amal yang saleh.
Apabila
engkau mencari orang yang bertakwa, niscaya engkau mendapatinya...
Sebagai
sosok yang membenarkan ucapannya dengan perbuatan.
Dan
apabila seseorang bertakwa kepada Allah serta menaati-Nya...
Maka kedua
tangannya berada di antara kemuliaan dan kedudukan yang tinggi.
(Diwan Abi Al-'Atahiyah) .
- Penyair (Mahmud
Al-Warraq) berkata dalam bait syairnya:
Engkau
menderhakai Tuhan padahal engkau menampakkan cinta kepada-Nya...
Ini adalah
hal yang mustahil lagi aneh dalam logika.
Seandainya
cintamu itu jujur, niscaya engkau akan menaati-Nya...
Karena
sesungguhnya pencinta itu sangat taat kepada yang dicintainya.
(Al-Ādāb Asy-Syar‘iyyah karya Ibn Muflih 1/154).
- Ibn Al-Qayyim rahimahullāh
berkata: "Di antara hal yang paling mengherankan adalah engkau
mengenal-Nya namun engkau tidak mencintai-Nya; engkau mendengar
penyeru-Nya namun engkau menunda-nunda untuk menyambutnya; engkau
mengetahui besarnya keuntungan dalam bertransaksi dengan-Nya namun engkau
bertransaksi dengan selain-Nya; engkau mengetahui besarnya kemurkaan-Nya
namun engkau malah menantang-Nya; engkau merasakan pedihnya
kesendirian/keterasingan dalam maksiat kepada-Nya namun engkau tidak
mencari ketenteraman dalam ketaatan kepada-Nya; engkau merasakan
himpitan dada ketika tenggelam dalam pembicaraan selain tentang-Nya dan
tentang selain-Nya namun engkau tidak rindu pada kelapangan dada dengan
mengingat-Nya dan bermunajat kepada-Nya; serta engkau merasakan siksaan
ketika hati terikat pada selain-Nya namun engkau tidak lari dari hal itu
menuju kenikmatan menghadap dan bertobat kepada-Nya." (Al-Fawā'id
karya Ibn Al-Qayyim hlm. 61).
- Beliau (Ibn Al-Qayyim)
rahimahullāh juga berkata: "Apabila akar-akar (Syurūsy:
Yaitu akar-akar tumbuhan dan asal-usul sesuatu) ma'rifah (pengetahuan
tentang Allah) telah tertanam di tanah hati, niscaya akan tumbuh padanya
pohon kecintaan (maḥabbah).
Apabila pohon itu telah kokoh dan kuat, maka ia akan membuahkan
ketaatan. Pohon itu senantiasa memberikan buahnya pada setiap waktu
dengan izin Tuhannya." (Al-Fawā'id karya Ibn Al-Qayyim hlm. 49).
- Beliau (Ibn Al-Qayyim)
rahimahullāh berkata: "Perumpamaan lahirnya ketaatan,
pertumbuhannya, dan pertambahannya adalah seperti biji yang engkau tanam,
lalu menjadi pohon, kemudian berbuah dan engkau memakan buahnya, lalu
engkau menanam kembali bijinya. Setiap kali pohon itu berbuah, engkau
memetik buahnya dan menanam bijinya. Demikian pula halnya dengan saling
beruntunnya perbuatan maksiat. Maka hendaklah orang yang berakal
merenungkan perumpamaan ini." (Al-Fawā'id karya Ibn Al-Qayyim hlm.
49).
- Ibn Al-Qayyim rahimahullāh
berkata: "Sebagian besar mufasir berkata tentang firman Allah Ta'ala:
{Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya} (QS. Al-A'raf: 56), yaitu: Janganlah kalian
merusaknya dengan kemaksiatan dan dengan menyeru kepada selain ketaatan
kepada Allah, setelah Allah memperbaikinya dengan mengutus para rasul,
menjelaskan syariat, serta menyeru kepada ketaatan kepada Allah.
Sesungguhnya penyembahan kepada selain Allah, seruan kepada selain-Nya,
dan perbuatan syirik kepada-Nya adalah kerusakan terbesar di muka bumi.
Bahkan, kerusakan bumi pada hakikatnya hanyalah terjadi akibat kesyirikan
kepada-Nya dan penyelisihan terhadap perintah-Nya. Perbuatan syirik,
seruan kepada selain Allah, penegakan sesembahan selain-Nya, serta adanya
sosok yang ditaati dan diikuti selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam merupakan kerusakan terbesar di muka bumi. Dan tidak ada
kebaikan bagi bumi maupun penduduknya melainkan dengan menjadikan Allah
semata sebagai satu-satunya Sesembahan yang ditaati dan seruan hanyalah
ditujukan untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya, serta ketaatan dan
ikhtibar/mengikuti hanyalah untuk Rasul-Nya semata. Adapun selain
beliau, ketaatan kepadanya hanyalah wajib apabila ia memerintahkan untuk
menaati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Apabila ia
memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada beliau dan menyelisih
syariatnya, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula taat
kepadanya. Barang siapa yang merenungkan keadaan dunia, niscaya ia
mendapati bahwa setiap kebaikan/kemaslahatan di bumi sebabnya adalah
tauhid kepada Allah, beribadah kepada-Nya, serta menaati Rasul-Nya.
Sebaliknya, setiap keburukan di dunia, fitnah, bencana, kemarau panjang,
dikuasai oleh musuh, dan selainnya, sebabnya adalah: menyelisih Rasul-Nya
dan menyeru kepada selain Allah dan Rasul-Nya." (At-Tafsīr
Al-Qayyim karya Ibn Al-Qayyim hlm. 255).
- Ibn Dhubarah rahimahullāh
berkata: "Sesungguhnya kami telah memperhatikan, lalu kami
mendapati bahwa bersabar dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala itu jauh lebih
ringan daripada bersabar menanggung azab Allah Ta'ala." (Adab
ad-Dunyā wa ad-Dīn karya Al-Mawardi hlm. 103).
- Penyair berkata dalam bait
syairnya:
Jika
engkau berada dalam suatu kenikmatan, maka jagalah ia...
Karena
sesungguhnya dosa-dosa itu dapat melenyapkan kenikmatan.
Dan
bentengilah kenikmatan itu dengan ketaatan kepada Tuhan hamba-hamba-Nya...
Sebab
Tuhan hamba-hamba-Nya sangat cepat siksaan-Nya.
Dan
jauhilah olehmu perbuatan zalim semampumu...
Karena
kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya sangat berat akibat buruknya.
Serta
berkelalanah dengan hatimu di antara manusia...
Agar
engkau dapat menyaksikan bekas-bekas orang yang telah berbuat zalim.
(Al-Jawāb Al-Kāfī karya Ibn Al-Qayyim hlm. 103).
[Di
Antara Manfaat (Ketaatan)]
- Raih Kemenangan berupa
Surga dan Keselamatan dari Neraka.
- Sebagai tanda atas
kebaikan seorang hamba dan keistikamahannya.
- Mewariskan petunjuk (hidayah)
di dalam hati.
- Membuahkan kecintaan Allah
dan keridaan-Nya.
- Dengannya dapat menolak
malapetaka/siksaan dan mendatangkan nikmat.
- Benteng yang kokoh dari
bahaya maksiat dan dosa-dosa.
- Tanda/indikator khusnul
khatimah (akhir kehidupan yang baik).
- Katup pengaman dan
kemakmuran bagi rumah tangga.
- Bukti keyakinan dan tanda
pembenaran terhadap agama.
- Bentuk peneladanan (ittiba‘)
kepada Rasul yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sumber:
Ibn
Humayd, Ṣāliḥ ibn
‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Naḍrat
an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li
an-Nashr wa at-Tawzī‘
Comments
Post a Comment