Tafsir Surah Al-Fath

Surah Al-Fath Makkiyyah. Dan ayat-ayatnya berjumlah dua puluh sembilan

Bismillahirrahmanirrahim

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,” (1) “agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, membimbingmu ke jalan yang lurus,” (2) “dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan dan kejayaan yang kuat.” (3) “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan di atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (4) “Agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan Dia menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Hal itu di sisi Allah adalah kemenangan yang agung.” (5) “Dia (juga) mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Bagian merekalah perputaran (keburukan) yang buruk itu. Allah murka terhadap mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (neraka) Jahanam bagi mereka. (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali.” (6) “Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (7) “Sesungguhnya Kami mengutusmu (Nabi Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan,” (8) “agar kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, memuliakan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (9) “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Siapa yang melanggar janji (setia itu), sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahinya pahala yang besar.” (10) “Orang-orang badui yang tertinggal (tidak ikut ke Hudaibiyah) akan berkata kepadamu, 'Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, 'Maka, siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah sedikit pun jika Dia menghendaki bencana bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu?' Sebaliknya, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (11) “Bahkan, kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya. (Prasangka) itu dihiadikan (setan) dalam hatimu. Kamu telah berprasangka dengan prasangka yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (12) “Siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir itu neraka yang menyala-nyala.” (13) “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (14) “Orang-orang yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil harta rampasan (perang), 'Biarkanlah kami mengikutimu.' Mereka hendak mengubah firman Allah. Katakanlah, 'Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah yang telah difirmankan Allah sebelumnya.' Mereka akan berkata, 'Sebenarnya kamu dengki kepada kami.' Sebaliknya, mereka tidak memahami kecuali sedikit sekali.” (15) Katakanlah kepada orang-orang badui yang tertinggal, “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kamu akan memerangi mereka atau mereka berserah diri (masuk Islam). Jika kamu patuh, Allah akan menganugerahimu pahala yang baik. Namun, jika kamu berpaling sebagaimana kamu berpaling sebelumnya, Dia akan mengazabmu dengan azab yang pedih.” (16) “Tidak ada halangan (untuk tidak pergi berperang) bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, dan tidak ada pula halangan bagi orang sakit. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Siapa yang berpaling, Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih.” (17) (QS. Al-Fath: 1-17).

Pengantar

Surah ini tergolong Madaniyyah [turun setelah hijrah], diturunkan pada tahun keenam Hijriah, tak lama setelah peristiwa Perdamaian Hudaibiyah (Shulh al-Hudaibiyah). Surah ini membahas peristiwa besar yang krusial tersebut beserta segala situasi yang melingkupinya, serta menggambarkan kondisi jamaah kaum Muslimin dan keadaan di sekitar mereka pada masa itu. Jeda waktu antara penurunan surah ini dengan penurunan Surah "Muhammad"—yang mendahuluinya dalam urutan mushaf—adalah sekitar tiga tahun. Dalam kurun waktu tersebut, telah terjadi perubahan-perubahan penting dan signifikan dalam peta kondisi jamaah kaum Muslimin di Madinah; baik perubahan pada posisi tawar mereka maupun posisi pihak-pihak yang memusuhi mereka. Namun, perubahan yang paling penting adalah pada kondisi kejiwaan dan karakteristik keimanan mereka, serta kematangan dan kedalaman pemahaman mereka dalam menetapi manhaj keimanan.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai surah ini, atmosfernya, serta petunjuk-petunjuknya, ada baiknya kita menilik kembali gambaran kronologi peristiwa yang menjadi latar belakang penurunannya (asbabun nuzul). Hal ini bertujuan agar kita dapat menghayati atmosfer yang dirasakan kaum Muslimin saat mereka menerima wahyu yang mulia ini:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bermimpi dalam tidurnya bahwa beliau bersama kaum Muslimin memasuki Kakbah dalam keadaan mencukur rambut kepala mereka (muhalliqin) dan sebagian mencukur pendek (muqashshirin). Padahal, kaum musyrik telah menghalangi mereka untuk memasuki Makkah sejak peristiwa Hijrah, bahkan pada bulan-bulan haram (al-asyhur al-hurum) sekalipun—bulan-bulan yang sangat diagungkan oleh seluruh bangsa Arab pada masa Jahiliah. Pada bulan-bulan itu, bangsa Arab biasanya meletakkan senjata, menganggap tabu peperangan, serta mengharamkan tindakan menghalangi orang lain dari Masjidilharam. Bahkan, orang-orang yang memiliki dendam kesumat akibat pertumpahan darah sekalipun akan menahan diri di bawah naungan kehormatan bulan ini; jika seseorang bertemu dengan pembunuh ayah atau saudaranya, ia tidak akan menghunuskan pedang di hadapannya dan tidak akan menghalanginya dari Baitullah yang suci. Namun, kaum Quraisy justru melanggar tradisi kuat mereka sendiri demi kepentingan ini, dan mereka menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama kaum Muslimin selama enam tahun penuh pasca-Hijrah. Hingga akhirnya tibalah tahun keenam, di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendapatkan mimpi tersebut. Beliau pun menceritakan mimpi itu kepada para sahabatnya radhiyallahu 'anhum, sehingga mereka menyambutnya dengan penuh suka cita dan kabar gembira.

Riwayat Ibnu Hisyam mengenai fakta-fakta peristiwa Hudaibiyah merupakan sumber paling lengkap yang dapat kita jadikan sandaran untuk menggambarkan peristiwa tersebut. Secara garis besar, riwayat ini sejalan dengan riwayat Al-Bukhari, riwayat Imam Ahmad, serta ringkasan Ibnu Hazm dalam Jawami' as-Sirah, dan ulama lainnya.

Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menetap di Madinah selama bulan Ramadan dan Syawal (setelah Perang Bani Musthaliq dan peristiwa gempar yang mengiringinya yaitu Haditsul Ifki [berita bohong mengenai Aisyah]). Beliau lalu berangkat pada bulan Dzulqa'dah untuk melaksanakan umrah tanpa ada niat untuk berperang. Beliau juga mengajak bangsa Arab dan penduduk pedalaman (A'rab) di sekitar beliau untuk ikut berangkat bersamanya, karena beliau khawatir pihak Quraisy akan menghadang dengan peperangan atau menghalangi mereka dari Baitullah. Namun, banyak dari kaum badui pedalaman tersebut yang enggan dan memperlambat diri untuk ikut. Maka, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetap berangkat bersama orang-orang yang ada dari kalangan Muhajirin dan Ansar, serta orang-orang Arab pedalaman yang menyusul beliau. Beliau membawa serta hewan kurban (hadyu) dan telah berihram untuk umrah, agar orang-orang merasa aman dari peperangan dengannya, dan agar khalayak mengetahui bahwa beliau keluar murni untuk berziarah ke Baitullah serta mengagungkannya.

Ibnu Ishaq berkata: Dan Jabir bin Abdullah—berdasarkan informasi yang sampai kepadaku—pernah berkata, "Jumlah kami yang ikut dalam peristiwa Hudaibiyah adalah seribu empat ratus orang."

Az-Zuhri berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terus melanjutkan perjalanan hingga sesampainya di 'Usfan, beliau berpapasan dengan Bisyr bin Sufyan Al-Ka'bi. Bisyr berkata, "Wahai Rasulullah! Kaum Quraisy telah mendengar perihal keberangkatan Anda. Mereka telah keluar dengan membawa unta-unta yang baru melahirkan beserta anaknya (al-'uudz al-mathafiil). Mereka telah mengenakan pakaian dari kulit macan tutul dan telah berkemah di Dzi Thuwa, seraya bersumpah demi Allah bahwa Anda tidak akan pernah bisa memasuki kota Makkah demi mengalahkan mereka selama-lamanya. Sementara itu, Khalid bin Walid berada di pasukan berkuda mereka, dan mereka telah menempatkannya di Kura' al-Ghamim." Az-Zuhri melanjutkan: Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«يَا وَيْحَ قُرَيْشٍ! لَقَدْ أَكَلَتْهُمُ الْحَرْبُ. مَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ خَلَّوْا بَيْنِي وَبَيْنَ سَائِرِ الْعَرَبِ؟ فَإِنْ هُمْ أَصَابُونِي كَانَ ذَلِكَ الَّذِي أَرَادُوا، وَإِنْ أَظْهَرَنِي اللهُ عَلَيْهِمْ دَخَلُوا فِي الْإِسْلَامِ وَافِرِينَ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلُوا قَاتَلُوا وَبِهِمْ قُوَّةٌ. فَمَا تَظُنُّ قُرَيْشٌ؟ فَوَاللهِ لَا أَزَالُ أُجَاهِدُ عَلَى الَّذِي بَعَثَنِي اللهُ بِهِ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ، أَوْ تَنْفَرِدَ هَذِهِ السَّالِفَةُ»

Artinya: "Aduhai celakanya Quraisy! Mereka telah binasa dimakan peperangan. Apa ruginya bagi mereka jika mereka membiarkan aku berurusan dengan bangsa Arab lainnya? Jika bangsa Arab itu berhasil membinasakanku, maka itulah yang diinginkan Quraisy. Namun jika Allah memenangkanku atas mereka, maka kaum Quraisy dapat masuk Islam dalam keadaan terhormat dan utuh. Jika mereka enggan masuk Islam, mereka dapat memerangiku dalam keadaan masih memiliki kekuatan. Jadi, apa yang dipikirkan oleh Quraisy? Demi Allah, aku akan terus berjihad di atas jalan agama yang mengutusku ini sampai Allah memenangkannya, atau sampai leher ini terputus." Kemudian beliau bersabda, "Siapakah laki-laki yang mau menuntun kami keluar melalui jalan lain yang tidak dilewati oleh pasukan Quraisy?"

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abi Bakar menceritakan kepadaku, bahwa ada seorang laki-laki dari suku Aslam berkata, "Saya, wahai Rasulullah." Laki-laki itu pun membawa mereka melalui jalan yang terjal, berbatu, dan berliku di antara celah-celah bukit. Ketika mereka berhasil keluar dari jalan tersebut—setelah melalui perjalanan yang sangat berat bagi kaum Muslimin—dan sampai di tanah yang datar di ujung lembah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada orang-orang, "Katakanlah: Kami memohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya." Orang-olah pun mengucapkannya. Beliau lalu bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya ini adalah kalimat Hiththah [permohonan gugur dosa] yang pernah ditawarkan kepada Bani Israil, namun mereka enggan mengucapkannya."

Ibnu Syihab az-Zuhri berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang seraya bersabda, "Ambillah jalan ke arah kanan," di antara vegetasi pohon Al-Hamdh pada jalan menuju bukit Tsaniyyat al-Marar, yaitu jalur turun ke Hudaibiyah dari bagian bawah Makkah. Az-Zuhri berkata: Pasukan pun menempuh jalan tersebut. Ketika pasukan berkuda Quraisy melihat debu yang mengepul dari pasukan Muslimin yang telah memotong jalur dan menyimpang dari jalan utama mereka, mereka segera berkuda kembali menuju Quraisy untuk melapor. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terus berjalan hingga ketika beliau melewati bukit Tsaniyyat al-Marar, unta beliau tiba-tiba menderum dan mogok jalan. Orang-orang pun berseru, "Khala'at an-Naqah" (unta ini telah lelah/mogok tanpa sebab). Namun beliau bersabda:

«مَا خَلَأَتْ. وَمَا هُوَ لَهَا بِخُلُقٍ. وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيلِ عَنْ مَكَّةَ. لَا تَدْعُونِي قُرَيْشٌ الْيَوْمَ إِلَى خُطَّةٍ يَسْأَلُونَنِي فِيهَا صِلَةَ الرَّحِمِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا»

Artinya: "Ia tidak mogok, dan mogok bukanlah perangai tabiatnya. Akan tetapi, ia ditahan oleh Dzat yang dahulu menahan pasukan gajah dari kota Makkah. Tidaklah kaum Quraisy pada hari ini mengajakku pada suatu opsi kesepakatan yang di dalamnya mereka memintaku untuk menyambung tali silaturahmi, melainkan aku pasti akan mengabulkannya kepada mereka." (Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mereka memintaku suatu opsi kesepakatan yang di dalamnya mereka mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah Ta'ala, melainkan aku pasti akan mengabulkannya kepada mereka"). Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang, "Turunlah dan berkemahlah!" Lalu dikatakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah, di lembah ini tidak ada sumber air yang memadai untuk dijadikan tempat singgah." Beliau lalu mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya (kinanah) dan memberikannya kepada salah seorang sahabatnya. Sahabat tersebut turun ke salah satu sumur kering dari sumur-sumur yang ada di sana, lalu menancapkan anak panah itu di dasarnya. Seketika itu juga, air memancar dengan derasnya hingga semua orang dapat minum sepuasnya.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beristirahat dengan tenang, datanglah Budail bin Warqa' al-Khuza'i bersama rombongan dari suku Khuza'ah. Mereka berbicara dengan beliau dan bertanya mengenai maksud kedatangan beliau. Beliau mengabarkan kepada mereka bahwa beliau datang bukan untuk berperang, melainkan sekadar berkunjung ke Baitullah dan mengagungkan kehormatannya. Beliau menyampaikan kepada mereka perkataan yang serupa dengan apa yang beliau sampaikan kepada Bisyr bin Sufyan. Rombongan itu pun kembali kepada kaum Quraisy dan berkata, "Wahai sekalian kaum Quraisy, sesungguhnya kalian terlalu tergesa-gesa menilai Muhammad. Sesungguhnya Muhammad tidak datang untuk berperang, dia hanya datang untuk berziarah ke Baitullah ini." Namun, kaum Quraisy justru menuduh mereka dan menghardik mereka seraya berkata, "Meskipun dia datang bukan untuk berperang, demi Allah, dia tidak boleh memasuki kota ini mengalahkan kita dengan cara paksa ('anwatan) selama-lamanya, dan bangsa Arab tidak boleh memperbincangkan hal itu tentang kita!"

Suku Khuza'ah sendiri merupakan wadah penasihat yang tepercaya bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, baik mereka yang sudah Muslim maupun yang masih musyrik; mereka tidak pernah menyembunyikan rahasia apa pun yang terjadi di Makkah dari beliau. Kemudian, pihak Quraisy mengutus Mikraz bin Hafsh bin al-Akhyaf, saudara dari Bani Amir bin Lu'ay. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihatnya datang, beliau bersabda, "Orang ini adalah seorang pengkhianat." Ketika Mikraz sampai di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berbicara dengan beliau, beliau menyampaikan kepadanya perkataan yang serupa dengan apa yang disampaikan kepada Budail dan rekan-rekannya. Mikraz pun kembali kepada Quraisy dan melaporkan apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepadanya. Selanjutnya, kaum Quraisy mengutus Al-Hulais bin 'Alqamah atau Ibnu Zabban. Pada masa itu, ia merupakan pemimpin pasukan Al-Ahabisy [pasukan aliansi suku-suku Arab], dan ia berasal dari Bani al-Harits bin Abdi Manat bin Kinanah. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihatnya, beliau bersabda, "Sesungguhnya orang ini berasal dari kaum yang gemar ber-tallah—yakni taat beribadah—maka lepaskanlah hewan-hewan kurban di hadapannya agar dia bisa melihatnya langsung." Ketika Al-Hulais melihat hewan-hewan kurban mengalir memenuhi lembah dengan kalung penanda (qala'id) di lehernya, sementara bulu-bulunya telah rontok akibat terlalu lama tertahan dari tempat penyembelihannya, ia segera kembali kepada Quraisy tanpa sempat menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena merasa sangat agung dan takjub dengan apa yang dilihatnya. Ia pun menyampaikan hal itu kepada mereka. Namun kaum Quraisy justru mengejeknya dengan berkata, "Duduklah kamu! Sesungguhnya kamu hanyalah seorang Arab pedalaman yang tidak memiliki pengetahuan!"

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abi Bakar menceritakan kepadaku bahwa Al-Hulais sangat marah mendengar perkataan itu. Ia berkata, "Wahai sekalian kaum Quraisy! Demi Allah, bukan untuk perlakuan seperti ini kita bersekutu, dan bukan untuk hal ini kita mengikat perjanjian! Apakah seseorang yang datang dalam rangka mengagungkan rumah Allah harus dihalangi dari Baitullah? Demi Dzat yang jiwa Hulais berada di tangan-Nya, kalian harus membiarkan Muhammad melakukan apa yang menjadi tujuannya datang ke sini, atau jika tidak, aku akan menarik mundur seluruh pasukan Ahabisy dalam satu gerakan mundur serentak!" Ibnu Ishaq melanjutkan: Pihak Quraisy pun merujuknya seraya berkata, "Tahan dulu, tenangkan dirimu dari kami wahai Hulais, sampai kami mendapatkan kesepakatan bagi diri kami yang kami ridhai."

Az-Zuhri berkata: Kemudian kaum Quraisy mengutus Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Urwah sebelumnya berkata kepada Quraisy, "Wahai sekalian kaum Quraisy, sesungguhnya aku telah melihat perlakuan kasar dan kata-kata buruk yang kalian timpakan kepada utusan-utusan yang kalian kirim kepada Muhammad ketika mereka kembali kepada kalian. Kalian pun telah mengetahui bahwa kalian adalah orang tua dan aku adalah anak (karena nasab ibunya bersambung pada Bani Abdi Syams). Aku telah mendengar kesulitan yang menimpa kalian, maka aku mengumpulkan kaumku yang menaatiku, lalu aku datang kepada kalian untuk ikut menanggung beban bersama kalian." Mereka menjawab, "Kamu benar, kami tidak menuduhmu yang tidak-tidak." Maka Urwah keluar hingga sampai ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu duduk di depan beliau. Ia kemudian berkata, "Wahai Muhammad! Apakah kamu mengumpulkan kumpulan manusia yang bercampur baur (awsyab an-nas), lalu membawa mereka ke tempat asalmu sendiri untuk menghancurkannya bersama mereka? Sesungguhnya kaum Quraisy telah keluar dengan membawa unta-unta yang baru melahirkan beserta anaknya, mereka telah mengenakan pakaian dari kulit macan tutul, seraya bersumpah demi Allah bahwa kamu tidak akan pernah bisa memasuki kota ini mengalahkan mereka dengan cara paksa selama-lamanya. Demi Allah, seolah-olah aku melihat orang-orang di sekelilingmu ini akan lari mencerai-beraikan diri darimu esok hari." Saat itu, Abu Bakar duduk di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia pun menghardik Urwah dengan keras seraya berkata, "Apakah kami akan lari meninggalkan beliau?" Urwah bertanya, "Siapa orang ini, wahai Muhammad?" Beliau menjawab, "Ini adalah Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar)." Urwah berkata, "Ketahuilah, demi Allah, sekiranya bukan karena ada sebuat utang budi yang pernah kamu berikan kepadaku yang belum sempat aku balas, niscaya aku akan membalas kata-katamu ini. Namun utang budi ini menjadikannya impas." Urwah melanjutkan: Kemudian ia mulai memegang janggut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika sedang berbicara dengan beliau. Sementara itu, Al-Mughirah bin Syu'bah berdiri di dekat kepala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengenakan pakaian perang dari besi. Al-Mughirah mulai memukul tangan Urwah dengan gagang pedangnya setiap kali tangan Urwah hendak meraih janggut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seraya menghardik, "Jauhkan tanganmu dari wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum tanganmu itu tidak bisa kembali lagi kepadamu!" Urwah pun mengeluh, "Celaka kamu! Alangkah kasar dan kerasnya perangaimu!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersenyum melihat hal itu, lalu Urwah bertanya kepada beliau, "Siapa orang ini, wahai Muhammad?" Beliau menjawab, "Ini adalah anak saudaramu, Al-Mughirah bin Syu'bah." Urwah menimpali, "Wahai pengkhianat! Bukankah aku baru kemarin membasuh keburukan pengkhianatanmu?"

Ibnu Hisyam berkata: Maksud perkataan Urwah tersebut adalah bahwa sebelum memeluk Islam, Al-Mughirah pernah membunuh tiga belas orang laki-laki dari Bani Malik yang termasuk kabilah Tsaqif. Akibatnya, dua garis keturunan dari suku Tsaqif saling bertikai, yaitu Bani Malik selaku keluarga korban pembunuhan, dan kelompok Al-Ahlaf selaku keluarga Al-Mughirah. Maka Urwah-lah yang membayar tebusan (diyat) bagi ketiga belas korban pembunuhan tersebut sebanyak tiga belas diyat penuh, sehingga perkara pertumpahan darah tersebut dapat didamaikan.

Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara dengan Urwah dengan perkataan yang serupa dengan apa yang beliau sampaikan kepada rekan-rekannya, dan mengabarkan kepadanya bahwa beliau datang bukan untuk berperang. Urwah pun beranjak dari sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam setelah menyaksikan sendiri apa yang dilakukan para sahabat kepada beliau: Tidaklah beliau berwudu melainkan mereka berebut sisa air wudunya, tidaklah beliau meludah melainkan mereka segera menampungnya dengan tangan mereka, dan tidak ada sehelai rambut pun dari rambut beliau yang jatuh melainkan mereka segera mengambilnya. Ketika kembali kepada kaum Quraisy, Urwah berkata, "Wahai sekalian kaum Quraisy! Sesungguhnya aku telah mendatangi Kisra di kerajaannya, Kaisar di kerajaannya, dan Najasyi di kerajaannya. Namun demi Allah, aku belum pernah melihat seorang raja pun di tengah kaumnya yang begitu diagungkan seperti halnya Muhammad di tengah para sahabatnya. Sungguh, aku telah melihat suatu kaum yang tidak akan pernah menyerahkan Muhammad demi apa pun selama-lamanya. Oleh karena itu, tentukanlah pilihan sikap kalian sendiri."

Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku sebagian ahli ilmu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Kharasy bin Umayyah al-Khuza'i untuk diutus kepada kaum Quraisy di Makkah. Beliau menaikkannya di atas seekor unta miliknya yang bernama At-Tsa'lab agar ia menyampaikan maksud kedatangan beliau kepada para pemuka Quraisy. Namun, kaum Quraisy justru menyembelih unta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut dan berniat membunuh Kharasy, tetapi pasukan Ahabisy menghalangi mereka sehingga mereka melepaskan jalannya hingga ia kembali menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku orang yang tidak aku ragukan kejujurannya, dari Ikrimah maula Ibnu Abbas (dari Ibnu Abbas), bahwa kaum Quraisy pernah mengirim empat puluh atau lima puluh orang laki-laki dari kalangan mereka, dan memerintahkan mereka untuk mengitari perkemahan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam guna menyergap salah seorang sahabat beliau. Namun, pasukan Muslimin justru berhasil meringkus mereka seluruhnya dan membawa mereka ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau pun memaafkan mereka dan membebaskan jalan mereka kembali, padahal sebelumnya mereka telah melempari perkemahan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan batu dan anak panah.

Kemudian beliau memanggil Umar bin al-Khattab untuk diutus ke Makkah guna menyampaikan maksud kedatangan beliau kepada para pemuka Quraisy. Umar berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengkhawatirkan keselamatan jiwaku dari kemarahan Quraisy, apalagi di Makkah tidak ada seorang pun dari Bani Adi bin Ka'b yang dapat melindungiku. Kaum Quraisy pun telah mengetahui bagaimana permusuhanku terhadap mereka dan sikap kerasku atas mereka. Akan tetapi, aku dapat menunjukkan kepada Anda seorang laki-laki yang posisinya jauh lebih terhormat di sana daripada diriku, yaitu Utsman bin Affan." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Utsman bin Affan lalu mengutusnya kepada Abu Sufyan dan para pemuka Quraisy untuk mengabarkan bahwa beliau datang bukan untuk berperang, melainkan murni untuk berziarah ke Baitullah ini dan mengagungkan kehormatannya.

Ibnu Ishaq berkata: Maka Utsman berangkat menuju Makkah. Ia bertemu dengan Aban bin Sa'id bin al-Ash ketika baru memasuki Makkah atau sesaat sebelum memasukinya. Aban menaikkan Utsman di atas hewan tunggangannya di depannya, kemudian memberikan jaminan keamanan (jiwar) kepadanya hingga Utsman dapat menyampaikan risalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Utsman pun berjalan menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy untuk menyampaikan pesan yang dititipkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepadanya. Ketika Utsman selesai menyampaikan risalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, pihak Quraisy menahan Utsman di sisi mereka. Akibat penahanan tersebut, beredar kabar yang sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum Muslimin bahwa Utsman bin Affan telah dibunuh.

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abi Bakar menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda—ketika sampai kabar kepadanya bahwa Utsman telah dibunuh—: "Kita tidak akan beranjak meninggalkan tempat ini sampai kita memerangi kaum tersebut." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyeru orang-orang untuk melakukan baiat [janji setia]. Peristiwa itu dinamakan Baiat Ridwan yang berlangsung di bawah sebuah pohon. Orang-orang pada masa itu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaiat mereka di atas kesiapan menyongsong kematian. Namun Jabir bin Abdullah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membaiat kami di atas kesiapan mati, melainkan beliau membaiat kami untuk tidak lari dari medan perang." Maka seluruh orang membaiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang hadir di sana yang absen dari baiat tersebut kecuali Al-Jadd bin Qais, saudara dari Bani Salimah. Jabir bin Abdullah berkata, "Demi Allah, seolah-olah aku melihatnya menempelkan dirinya pada ketiak unta tunggangannya seraya bersembunyi di sana [karena takut] agar terhalang dari pandangan orang-orang." Tidak lama kemudian, datanglah informasi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa kabar pembunuhan Utsman tersebut adalah batil [tidak benar].

Ibnu Hisyam berkata: Telah menceritakan kepadaku orang yang aku percayai, dari orang yang menceritakan kepadanya dengan sanadnya, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan baiat atas nama Utsman [yang sedang tertahan], di mana beliau menepukkan salah satu telapak tangannya ke telapak tangan beliau yang lain.

Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri berkata: Kemudian kaum Quraisy mengutus Suhail bin Amr, saudara dari Bani Amir bin Lu'ay, kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka berpesan kepada Suhail, "Datangilah Muhammad dan adakanlah perdamaian dengannya. Namun, jangan ada klausul dalam perdamaian itu melainkan ia harus pulang meninggalkan kita pada tahun ini. Demi Allah, bangsa Arab tidak boleh memperbincangkan tentang kita bahwa dia berhasil memasuki kota ini mengalahkan kita dengan cara paksa selama-lamanya." Maka Suhail bin Amr datang menemui beliau. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihatnya datang, beliau bersabda, "Kaum tersebut menginginkan perdamaian ketika mereka mengutus laki-laki ini." Ketika Suhail bin Amr sampai di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ia mulai berbicara dan memperpanjang pembicaraannya. Keduanya saling mengajukan usulan, hingga akhirnya tercapailah kesepakatan damai di antara keduanya.

Ketika kesepakatan telah bulat dan tinggal menyisakan proses penulisan naskah perjanjian, Umar bin al-Khattab melompat bangkit lalu mendatangi Abu Bakar. Umar bertanya, "Wahai Abu Bakar, bukankah beliau itu benar-benar utusan Allah?" Abu Bakar menjawab, "Tentu saja benar!" Umar bertanya lagi, "Bukankah kita ini berada di atas jalan Islam?" Abu Bakar menjawab, "Tentu saja benar!" Umar bertanya lagi, "Bukankah mereka itu berada di atas jalan kesyirikan?" Abu Bakar menjawab, "Tentu saja benar!" Umar memprotes, "Lalu mengapa kita memberikan kehinaan pada agama kita [dengan menerima syarat yang merugikan]?" Abu Bakar menasihati, "Wahai Umar, tetaplah ikuti langkah kaki beliau, karena sesungguhnya aku bersaksi bahwa beliau adalah utusan Allah." Umar berkata, "Aku pun bersaksi bahwa beliau adalah utusan Allah." Kemudian Umar mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah Anda benar-benar utusan Allah?" Beliau menjawab, "Tentu saja benar." Umar bertanya lagi, "Bukankah kita ini berada di atas jalan Islam?" Beliau menjawab, "Tentu saja benar." Umar bertanya lagi, "Bukankah mereka itu berada di atas jalan kesyirikan?" Beliau menjawab, "Tentu saja benar." Umar memprotes, "Lalu mengapa kita memberikan kehinaan pada agama kita?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya, aku tidak akan pernah menyelisihi perintah-Nya, dan Dia tidak akan pernah menelantarkanku." Umar di kemudian hari sering berkata, "Aku terus-menerus bersedekah, berpuasa, shalat, dan memerdekakan budak akibat tindakan yang aku perbuat pada hari itu, karena aku merasa takut atas ucapan yang telah aku lontarkan, padahal saat itu aku mengucapkannya dengan harapan demi kebaikan."

Ibnu Ishaq melanjutkan: Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Thalib—radhiyallahu 'anhu—dan bersabda, "Tulislah: Bismillahirrahmanirrahim." Namun Suhail menyela, "Aku tidak mengenal kalimat ini. Akan tetapi, tulislah: Bismika Allahumma [Dengan nama-Mu, ya Allah]." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tulislah: Bismika Allahumma." Ali pun menulisnya. Kemudian beliau bersabda, "Tulislah: Ini adalah apa yang disepakati oleh Muhammad Rasulullah bersama Suhail bin Amr." Suhail menyela lagi, "Sekiranya aku bersaksi bahwa kamu adalah utusan Allah, niscaya aku tidak akan memerangimu. Akan tetapi, tulislah namamu dan nama ayahmu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tulislah: Ini adalah apa yang disepakati oleh Muhammad bin Abdullah bersama Suhail bin Amr. Keduanya bersepakat untuk melakukan gencatan senjata terhadap manusia selama sepuluh tahun, di mana manusia merasa aman di dalamnya dan sebagian menahan diri dari menyerang sebagian yang lain. Dengan syarat: barang siapa dari kalangan Quraisy yang datang menemui Muhammad tanpa izin dari walinya, maka Muhammad harus mengembalikannya kepada mereka. Sebaliknya, barang siapa dari kalangan pengikut Muhammad yang datang menemui Quraisy, maka pihak Quraisy tidak akan mengembalikannya kepadanya. Dan sesungguhnya di antara kita terdapat dada yang tertutup dari permusuhan ('aibah makfufah) [saling menjaga rahasia]. Serta tidak boleh ada aksi pencurian rahasia secara sembunyi-sembunyi (islaal) dan tidak boleh ada pengkhianatan (ighlaal). Dan barang siapa yang suka untuk masuk ke dalam ikatan perjanjian Muhammad dan aliansinya, maka ia boleh masuk ke dalamnya. Dan barang siapa yang suka untuk masuk ke dalam ikatan perjanjian Quraisy dan aliansinya, maka ia boleh masuk ke dalamnya." —Mendengar hal itu, suku Khuza'ah melompat seraya berseru, "Kami masuk ke dalam ikatan perjanjian Muhammad dan aliansinya!" Sedangkan Bani Bakr melompat seraya berseru, "Kami masuk ke dalam ikatan perjanjian Quraisy dan aliansinya!"— "Dan syarat bahwa kamu harus pulang meninggalkan kami pada tahun ini sehingga kamu tidak memasuki Makkah demi mengalahkan kami. Apabila tahun depan telah tiba, kami akan keluar mengosongkan kota untukmu, sehingga kamu dapat memasukinya bersama para sahabatmu dan menetap di sana selama tiga hari. Kamu hanya membawa senjata yang biasa dibawa oleh musafir, yaitu pedang di dalam sarungnya, dan kamu tidak boleh memasukinya dengan membawa senjata selain itu."

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang menulis naskah surat tersebut bersama Suhail bin Amr, tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhail bin Amr dalam keadaan berjalan gontai dengan kaki terbelenggu besi. Ia berhasil meloloskan diri menuju Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal, para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebelumnya berangkat dari Madinah tanpa meragukan sedikit pun bahwa mereka akan meraih kemenangan terbuka, berdasarkan mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika mereka melihat kenyataan perdamaian dan keharusan pulang ini, serta beban syarat yang diterima Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, guncangan yang sangat besar merasuk ke dalam hati orang-orang hingga mereka hampir saja binasa [karena sedih]. Ketika Suhail melihat kedatangan Abu Jandal, ia segera berdiri menghampirinya, memukul wajahnya, dan mencengkeram kerah bajunya seraya berkata, "Wahai Muhammad! Perjanjian di antara aku dan kamu telah sah dan mengikat sebelum anak ini datang kepadamu!" Beliau bersabda, "Kamu benar." Suhail pun mulai menyentak kerah baju Abu Jandal dan menyeretnya untuk dikembalikan kepada Quraisy, sementara Abu Jandal berteriak dengan suara tertingginya, "Wahai sekalian kaum Muslimin! Apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrik agar mereka memfitnahku dalam agamaku?" Hal itu pun semakin menambah kepedihan hati yang ada pada diri orang-orang. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«يَا أَبَا جَنْدَلٍ، اصْبِرْ وَاحْتَسِبْ، فَإِنَّ اللهَ جَاعِلٌ لَكَ وَلِمَنْ مَعَكَ مِنَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فَرَجًا وَمَخْرَجًا، إِنَّا قَدْ عَقَدْنَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ صُلْحًا، وَأَعْطَيْنَاهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَأَعْطَوْنَا عَهْدَ اللهِ. وَإِنَّا لَا نُغَادِرُ بِهِمْ»

Artinya: "Wahai Abu Jandal! Bersabarlah dan haraplah pahala dari Allah, karena sesungguhnya Allah akan memberikan kelaparan dan jalan keluar bagimu serta bagi orang-orang yang bersamamu dari kalangan kaum yang tertindas (mustadh'afin). Sesungguhnya kita telah mengikat kesepakatan damai antara kita dengan kaum tersebut, kita telah memberikan janji kita kepada mereka di atas hal itu dan mereka pun telah memberikan janji Allah kepada kita. Dan sesungguhnya kita tidak akan mengkhianati mereka." Umar bin al-Khattab lalu melompat berjalan di samping Abu Jandal seraya menghibur, "Bersabarlah wahai Abu Jandal, sesungguhnya mereka itu hanyalah kaum musyrik, dan sesungguhnya darah salah seorang dari mereka tidak lebih berharga daripada darah seekor anjing." Umar sambil mendekatkan gagang pedangnya ke arah tangan Abu Jandal. Umar di kemudian hari berkata, "Aku sangat berharap ia mau mengambil pedang itu lalu menebas ayahnya sendiri." Namun, Abu Jandal tetap menyayangi ayahnya, dan keputusan hukum pun tetap dijalankan.

Setelah proses penulisan naskah selesai, beberapa orang dari kalangan Muslimin dan beberapa orang dari kalangan musyrik turut mempersaksikan perdamaian tersebut, yaitu: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin al-Khattab, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin Amr, Sa'ad bin Abi Waqqash, Mahmud bin Maslamah, Mikraz bin Hafsh (yang pada hari itu masih musyrik), dan Ali bin Abi Thalib selaku penulis naskah, karena dialah yang menulis lembaran naskah perjanjian tersebut.

Az-Zuhri berkata: Ketika urusan penulisan naskah perjanjian telah selesai, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, "Bangkitlah [Hal: 3312] dan sembelihlah hewan kurban kalian, kemudian cukurlah rambut kalian!" Az-Zuhri berkata: Demi Allah, tidak ada seorang laki-laki pun dari mereka yang bangkit berdiri, hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengulangi perintahnya tersebut sebanyak tiga kali. Ketika tidak ada seorang pun dari mereka yang bangkit, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemui Ummu Salamah—radhiyallahu 'anha—lalu menceritakan kepadanya perlakuan enggan yang beliau terima dari orang-orang. Ummu Salamah—radhiyallahu 'anha—berkata, "Wahai Nabi Allah, apakah Anda menginginkan hal itu? Keluarlah, kemudian jangan berbicara sepatah kata pun dengan salah seorang dari mereka hingga Anda menyembelih unta kurban Anda sendiri, lalu panggillah tukang cukur Anda agar ia mencukur rambut Anda." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dan tidak berbicara dengan siapa pun dari mereka hingga beliau melakukan hal tersebut; beliau menyembelih kurban dengan tangannya sendiri, lalu memanggil tukang cukurnya untuk mencukur rambut beliau. Ketika orang-orang melihat tindakan beliau tersebut, mereka segera bangkit menyembelih kurban mereka dan sebagian mereka mulai mencukur rambut sebagian yang lain, hingga sebagian mereka hampir saja mencelakai sebagian yang lain karena duka yang sangat mendalam (ghamman).

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abi Najih menceritakan kepadaku, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Beberapa orang laki-laki pada hari Hudaibiyah mencukur habis rambutnya (hallaqu) dan yang lain hanya mencukur pendek (qashsharu). Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur habis rambutnya." Para sahabat bertanya, "Bagaimana dengan orang-orang yang mencukur pendek, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur habis rambutnya." Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana dengan orang-orang yang mencukur pendek, wahai Rasulullah?" Beliau tetap bersabda, "Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur habis rambutnya." Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana dengan orang-orang yang mencukur pendek, wahai Rasulullah?" Baru pada kali keempat beliau bersabda, "Dan juga bagi orang-orang yang mencukur pendek." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa Anda mengkhususkan doa rahmat secara berulang bagi orang-orang yang mencukur habis dibandingkan orang-orang yang mencukur pendek?" Beliau menjawab, "Karena mereka sama sekali tidak ragu [terhadap perintahku]..."

Az-Zuhri berkata dalam hadisnya: Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertolak pulang dari arah tersebut menuju Madinah. Hingga ketika beliau berada di tengah perjalanan antara Makkah dan Madinah, turunlah Surah Al-Fath.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya, dari Mujammi' bin Haritsah al-Anshari—radhiyallahu 'anhu—yang merupakan salah seorang qurra' [ahli membaca dan menghafal] Al-Qur'an. Ia berkata: Kami menghadiri peristiwa Hudaibiyah. Ketika kami bertolak pulang darinya, tiba-tiba orang-orang menghalau unta-unta mereka dengan cepat. Sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain, "Ada apa dengan orang-orang?" Mereka menjawab, "Wahai telah diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Maka kami pun keluar bersama orang-orang dengan memacu tunggangan kami dengan cepat. Tiba-tiba kami mendapati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berada di atas hewan tunggangannya di dekat Kura' al-Ghamim. Orang-orang pun berkumpul mengerumuni beliau, lalu beliau membacakan kepada mereka ayat: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” Mujammi' melanjutkan: Maka seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah peristiwa ini merupakan sebuah kemenangan?" Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Benar, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya peristiwa ini benar-benar sebuah kemenangan."

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya, dari Umar bin al-Khattab—radhiyallahu 'anhu—ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Umar berkata: Lalu aku bertanya kepada beliau tentang sesuatu sebanyak tiga kali, namun beliau tidak menjawab pertanyaanku sedikit pun. Umar berkata: Maka aku membatin dalam hati, "Celakalah ibumu wahai Ibnu al-Khattab! Kamu telah mendesak dan mengulang-ulang pertanyaan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak tiga kali, namun beliau tidak menjawabmu!" Umar berkata: Maka aku segera menaiki hewan tungganganku dan memacu untaku mendahului pasukan, karena aku merasa takut jika ada ayat Al-Qur'an yang turun disebabkan kelakuanku tadi. Umar berkata: Tiba-tiba aku mendengar suara penyeru memanggil, "Wahai Umar!" Umar berkata: Maka aku segera kembali menemui beliau dalam keadaan menyangka bahwa sebuah ayat memang telah turun mengenaku. Umar berkata: Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«نَزَلَ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ سُورَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا: {إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ}»

Artinya: "Telah diturunkan kepadaku tadi malam sebuah surah yang ia jauh lebih aku cintai daripada dunia beserta isinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang." Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i melalui berbagai jalur periwayatan dari Imam Malik rahimahullah.

Inilah atmosfer yang melingkupi penurunan surah ini. Atmosfer di mana jiwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasa tenang dan berserah penuh pada ilham dari Tuhannya, sehingga beliau melepaskan ego dari segala kehendak pribadi melainkan hanya mengikuti apa yang diwahyukan oleh ilham ketuhanan yang jujur ini. Beliau terus melangkah dengan bersandar pada petunjuk wahyu ini dalam setiap langkah dan setiap gerakan; beliau tidak membiarkan dirinya terprovokasi oleh pihak mana pun yang mencoba memprovokasinya, baik dari kalangan kaum musyrik maupun dari kalangan para sahabatnya sendiri yang jiwanya belum merasa tenang pada awal mulanya dalam menerima provokasi kaum musyrik serta fanatisme jahiliah (hamiyyatul jahiliyyah) mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan (as-sakinah) ke dalam hati mereka, sehingga mereka pun kembali merengkuh keridhaan, keyakinan, dan kepatuhan yang tulus lagi mendalam; serupa dengan saudara-saudara mereka yang telah memiliki kondisi kejiwaan seperti ini sejak awal mula, layaknya karakteristik Ash-Shiddiq Abu Bakar yang ruhaninya tidak pernah kehilangan kontak internal secara langsung sedetik pun dengan ruhani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, jiwanya senantiasa berada dalam ketenangan yang abadi dan kedamaiannya tidak pernah goyah sama sekali.

Oleh sebab itu, pembukaan surah ini datang sebagai kabar gembira bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang membuat hati beliau yang agung merasa bahagia dengan kebahagiaan yang sangat mendalam: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, membimbingmu ke jalan yang lurus, dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan dan kejayaan yang kuat.”

Sebagaimana pembukaan ini juga mengandung penganugerahan nikmat berupa ketenangan kepada orang-orang mukmin, pengakuan atas keimanan mereka yang telah lalu, pemberian kabar gembira berupa ampunan dan pahala, serta bantuan dari langit berupa bala tentara Allah: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan di atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan Dia menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Hal itu di sisi Allah adalah kemenangan yang agung.” Hal itu beriringan dengan apa yang telah Allah siapkan bagi musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan berupa kemurkaan dan azab: “Dia (juga) mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Bagian merekalah perputaran (keburukan) yang buruk itu. Allah murka terhadap mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (neraka) Jahanam bagi mereka. (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Kemudian diberikan sanjungan terhadap baiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan penegasan bahwa baiat tersebut pada hakikatnya adalah baiat kepada Allah. Selain itu, hati orang-orang mukmin diikat secara langsung dengan Tuhan mereka melalui jalan ini, dengan ikatan yang tersambung langsung kepada Allah Yang Mahahidup, Yang Maha Kekal, dan tidak akan pernah mati: "agar kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, memuliakan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al-Fath: 9). "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Siapa yang melanggar janji (setia itu), sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahinya pahala yang besar." (QS. Al-Fath: 10).

Berkaitan dengan pembahasan mengenai baiat dan pengingkaran janji setia (nakats), sebelum pembicaraan tentang orang-orang mukmin beserta sikap mereka di Hudaibiyah disempurnakan, perhatian dialihkan sejenak kepada orang-orang Arab badui (A'rab) yang tertinggal tidak ikut berangkat. Konteks ini membongkar kepalsuan alasan-alasan mereka, serta menyingkap prasangka buruk terhadap Allah yang terbersit di dalam benak mereka, juga ekspektasi buruk mereka yang mengira bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang bersamanya akan binasa. Ayat ini juga mengarahkan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai bagaimana seharusnya sikap beliau terhadap mereka di masa depan. Hal tersebut disampaikan dengan gaya bahasa yang mengisyaratkan kekuatan kaum Muslimin dan kelemahan orang-orang yang tertinggal, serta mengisyaratkan bahwa di sana akan ada harta rampasan perang (maghanim) dan kemenangan-kemenangan dalam waktu dekat, yang dapat membangkitkan air liur [keserakahan] orang-orang yang tertinggal dan berlambat-lambat tersebut:

Orang-orang badui yang tertinggal (tidak ikut ke Hudaibiyah) akan berkata kepadamu, 'Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, 'Maka, siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah sedikit pun jika Dia menghendaki bencana bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu?' Sebaliknya, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (11) “Bahkan, kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya. (Prasangka) itu dihiadikan (setan) dalam hatimu. Kamu telah berprasangka dengan prasangka yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (12) “Siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir itu neraka yang menyala-nyala.” (13) “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (14) “Orang-orang yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil harta rampasan (perang), 'Biarkanlah kami mengikutimu.' Mereka hendak mengubah firman Allah. Katakanlah, 'Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah yang telah difirmankan Allah sebelumnya.' Mereka akan berkata, 'Sebenarnya kamu dengki kepada kami.' Sebaliknya, mereka tidak memahami kecuali sedikit sekali.” (15) Katakanlah kepada orang-orang badui yang tertinggal, “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kamu akan memerangi mereka atau mereka berserah diri (masuk Islam). Jika kamu patuh, Allah akan menganugerahimu pahala yang baik. Namun, jika kamu berpaling sebagaimana kamu berpaling sebelumnya, Dia akan mengazabmu dengan azab yang pedih.” (16) (QS. Al-Fath: 11-16).

Dalam kaitan ini, dijelaskan pula tentang orang-orang yang memiliki uzur jika mereka tidak ikut berangkat, serta orang-orang yang dibebaskan dari kewajiban jihad karena ketidakmampuan mereka melaksanakannya, di mana hal tersebut merupakan satu-satunya uzur yang sah: “Tidak ada halangan (untuk tidak pergi berperang) bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, dan tidak ada pula halangan bagi orang sakit. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Siapa yang berpaling, Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Fath: 17).

Setelah selingan ini, alur runtunan (siyāq) surah kembali membicarakan tentang orang-orang mukmin, sikap-sikap mereka, serta gejolak yang ada di dalam jiwa mereka; sebuah pembicaraan yang seluruhnya dipenuhi dengan keridhaan, transparansi ruhani, kejernihan, dan penghormatan. Pembicaraan ini juga sarat akan kabar gembira bagi jiwa-jiwa yang tulus, kuat, berserah diri, dan melepaskan kepentingan duniawi. Sebuah pembicaraan yang di dalamnya Allah Jalla Jalaluhu menampakkan karunia-Nya kepada kelompok manusia pilihan ini. Allah menampakkan karunia kepada mereka dengan keridhaan-Nya, kabar-kabar gembira dari-Nya, curahan nikmat-Nya, serta keteguhan dari-Nya. Allah menyampaikan kepada mereka secara personal dan definitif bahwa Dia ridha kepada mereka, dan bahwa Dia hadir menyaksikan mereka ketika mereka sedang berbaiat di suatu tempat yang spesifik: yaitu di bawah pohon. Allah juga menegaskan bahwa Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, Dia meridhai mereka dan memberikan keridhaan-Nya atas mereka, serta telah menetapkan untuk mereka kemenangan di masa depan, harta rampasan perang, dan penaklukan-penaklukan wilayah. Allah mengaitkan semua ini dengan hukum alam (nāmūs al-wujūd) dan sunatullah yang berlaku di alam semesta. Hal ini merupakan suatu urusan besar yang membuat seluruh alam semesta terpaku menyaksikan, mengawasi, terpengaruh, dan merekam peristiwa agung yang tiada duanya tersebut di dalam lipatan sejarahnya: “Sungguh, Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (penaklukan Khaibar)” (18) “serta harta rampasan perang yang banyak yang dapat mereka ambil. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (19) “Allah menjanjikan kepadamu harta rampasan perang yang banyak yang dapat kamu ambil, lalu Dia menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari kamu (agar kamu tidak diserang) dan agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia membimbingmu ke jalan yang lurus,” (20) “dan (kemenangan-kemenangan) lain yang belum dapat kamu capai yang sungguh Allah telah menentukannya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (21) “Sekiranya orang-orang yang kafir itu memerangimu, niscaya mereka akan berbalik ke belakang (lari karena kalah) dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan tidak pula penolong.” (22) “(Itulah) sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu. Kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu.” (23) (QS. Al-Fath: 18-23).

Allah juga mencurahkan nikmat kepada mereka dengan cara meringkus musuh mereka, yaitu sekelompok orang yang berniat mendatangkan keburukan kepada kaum Muslimin. Allah mengecam musuh-musuh mereka yang telah menghalangi mereka dari Masjidilharam, serta menghalangi hewan kurban (hadyu) untuk sampai ke tempat penyembelihannya. Allah juga memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan, seraya menyingkapkan kepada mereka tentang hikmah-Nya di balik penahanan mereka pada tahun ini agar tidak menyerang musuh, serta karunia-Nya dalam membuat mereka ridha terhadap ketentuan yang terjadi, sekaligus menurunkan ketenangan-Nya ke dalam hati mereka demi suatu urusan yang dilihat-Nya, yang nilainya jauh lebih agung daripada apa yang mereka lihat sendiri. Urusan agung tersebut adalah penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah), yang kemudian disusul dengan dominasi agama Islam ini di atas seluruh agama lainnya berdasarkan perintah dan pengaturan Allah: “Dialah yang menahan tangan mereka dari kamu dan tanganmu dari mereka di tengah kota Makkah setelah Dia memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (24) “Merekalah orang-orang kafir yang menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam dan (menghalangi) hewan kurban yang tertahan untuk sampai ke tempat penyembelihannya. Sekiranya tidak ada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan yang tidak kamu ketahui (bahwa mereka ada di Makkah) sehingga kamu akan melanda mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa kamu ketahui (tentulah Allah tidak menahan kamu). (Allah berbuat demikian) agar Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka terpisah, tentu Kami telah mengazab orang-orang yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.” (25) “Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin dan Dia mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengannya dan patut memilikinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (26) “Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya, (yaitu) bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mencukur pendeknya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka, Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan sebelum itu Dia telah menjadikan kemenangan yang dekat.” (27) “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama. Cukuplah Allah sebagai saksi.” (28) (QS. Al-Fath: 24-28).

Surah ini ditutup dengan penyebutan sifat yang mulia dan indah yang membedakan kelompok manusia pilihan ini, mengkhususkan mereka dengan karakteristiknya yang unik, serta menyanjung mereka di dalam kitab-kitab terdahulu: yaitu Taurat dan Injil. Surah ini juga ditutup dengan janji Allah yang mulia berupa ampunan serta pahala yang besar: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29).

Dengan demikian, teks-teks dalam surah ini menjadi dapat dipahami secara jelas, hidup di dalam atmosfer tempat ditimbulkannya wahyu tersebut, serta menggambarkannya dengan gambaran yang paling kuat melalui gaya bahasa Al-Qur'an yang khas. Gaya bahasa ini tidak memaparkan peristiwa berdasarkan urutan kronologis yang berurutan semata, melainkan mengambil kilasan-kilasan petunjuk berharga dan nilai-nilai edukatif darinya. Gaya bahasa ini juga mengaitkan peristiwa tunggal yang spesifik dengan kaidah yang bersifat universal, serta menghubungkan sikap yang khusus dengan prinsip umum alam semesta. Al-Qur'an menyapa jiwa dan hati manusia dengan metodenya yang luar biasa serta manahajnya yang unik.

Melalui runtunan (siyāq) surah dan atmosfernya, serta dengan membuat komparasi antara surah ini dan isyarat-isyarat yang terdapat dalam Surah Muhammad yang mendahuluinya dalam urutan mushaf, tampak jelas sejauh mana perubahan mendalam yang terjadi pada sikap jamaah kaum Muslimin secara menyeluruh dalam kurun waktu tiga tahun. Kurun waktu tersebut merupakan masa yang kami perkirakan memisahkan antara kedua surah ini dalam garis waktu penurunan wahyu (zaman an-nuzul). Di sini terlihat pula sejauh mana efektivitas Al-Qur'an yang mulia serta pengaruh dari pola pendidikan kenabian (at-tarbiyah an-nabawiyyah) yang terbimbing dengan baik terhadap jamaah ini, yang telah berbahagia karena tumbuh dan berkembang di bawah naungan Al-Qur'an dan dalam asuhan kenabian. Maka, mereka pun menjelma menjadi entitas yang luar biasa dalam lembaran sejarah manusia yang panjang.

Tampak jelas dalam atmosfer Surah Al-Fath beserta isyarat-isyaratnya bahwa kita sedang berhadapan dengan sebuah jamaah yang tingkat pemahaman agamanya telah matang, level keimanannya telah homogen, dan jiwa-jiwa mereka telah merasa tenang dalam menerima beban-beban syariat agama ini. Mereka tidak lagi membutuhkan dorongan motivasi yang menghentak dengan keras agar bersedia memikul beban-beban dakwah ini, baik dengan pengorbanan jiwa maupun harta. Sebaliknya, mereka justru berada dalam kondisi membutuhkan figur yang dapat meredam luapan emosi mereka, menenangkan ketajaman semangat mereka, serta memegang kendali kepemimpinan mereka agar bersedia tunduk pada suasana tenang dan gencatan senjata untuk sementara waktu, selaras dengan hikmah yang digariskan oleh komando tertinggi dakwah.

Jamaah kaum Muslimin pada fase ini tidak lagi dikonfrontasi dengan ayat-ayat seperti firman Allah Ta'ala: "Maka, janganlah kamu menjadi lemah dan mengajak damai, padahal kamulah yang lebih unggul dan Allah (pun) bersamamu dan tidak akan mengurangi (pahala) amalan-amalanmu." (QS. Muhammad: 35). Tidak pula dikonfrontasi dengan ayat seperti firman Allah Ta'ala: "Ingatlah, kamu ini adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada orang yang kikir. Siapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya, sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan. Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu." (QS. Muhammad: 38).

Mereka juga tidak lagi membutuhkan dorongan-dorongan motivasi yang kuat untuk maju berjihad melalui penjelasan tentang para syuhada beserta kemuliaan yang telah Allah siapkan bagi mereka di sisi-Nya. Mereka tidak pula membutuhkan penjelasan mengenai hikmah ujian di dalam peperangan beserta segala kesulitannya, sebagaimana yang terdapat di dalam Surah Muhammad ketika Allah Ta'ala berfirman: "Demikianlah (perintah Allah). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi petunjuk kepada mereka, memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka." (QS. Muhammad: 4-6).

Sebaliknya, perbincangan kini beralih pada masalah ketenangan (as-sakinah) yang Allah turunkan ke dalam hati orang-orang mukmin, atau yang Allah curahkan atas mereka. Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah menenangkan gejolak semangat mereka, meredam luapan emosi mereka, serta memantapkan ketenangan hati mereka dalam menerima keputusan Allah dan hikmah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menempuh jalan gencatan senjata dan kelembutan sikap, serta pembicaraan mengenai keridhaan Allah terhadap orang-orang yang berbaiat di bawah pohon. Di samping itu, dihadirkan pula gambaran yang indah di akhir surah ini mengenai potret Rasul beserta orang-orang yang bersamanya.

Adapun pembicaraan mengenai pemenuhan janji setia (al-wafa' bil-bai'ah) dan pengingkarannya (an-nakats) di dalam firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Siapa yang melanggar janji (setia itu), sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahinya pahala yang besar." (QS. Al-Fath: 10), maka isyarat di dalamnya lebih menonjolkan sisi penghormatan terhadap orang-orang yang berbaiat serta pengagungan terhadap kedudukan baiat itu sendiri. Sedangkan isyarat mengenai pengingkaran janji setia dimunculkan dalam kaitan pembicaraan tentang orang-orang Arab badui yang tertinggal. Demikian pula halnya dengan isyarat mengenai orang-orang munafik laki-laki dan perempuan; ia hanyalah sebuah isyarat yang lewat sepintas lalu (isyārah 'ābirah), yang menunjukkan betapa lemahnya posisi kelompok tersebut, sekaligus menunjukkan betapa bersih, matang, dan homogennya komponen jamaah kaum Muslimin di kota Madinah. Bagaimanapun juga, ia merupakan isyarat selintas yang tidak menyita porsi pembahasan surah ini sebagaimana porsi pembahasan tentang orang-orang munafik yang menyita ruang di dalam Surah Muhammad, di mana pada saat itu orang-orang munafik beserta sekutu-sekutu Yahudi mereka masih memiliki eksistensi dan pengaruh yang signifikan. Ini merupakan bentuk perkembangan lain dalam peta kondisi jamaah kaum Muslimin dilihat dari sisi eksternal mereka, yang berjalan beriringan dengan perkembangan yang telah mapan di dalam jiwa mereka dari sisi internal. Tampak jelas pula kekuatan kaum Muslimin jika dibandingkan dengan kekuatan kaum musyrik di dalam atmosfer surah ini secara keseluruhan dan pada ayat-ayatnya secara tekstual. Adanya isyarat-isyarat mengenai kemenangan-kemenangan di masa depan, ambisi orang-orang yang tertinggal untuk mendapatkan harta rampasan yang mudah didapat disertai pengajuan alasan dari mereka, hingga masalah kemenangan agama Islam ini di atas seluruh agama lainnya; semua itu mengindikasikan tingkat kekuatan yang telah dicapai kaum Muslimin pada periode antara penurunan kedua surah ini.

Maka, baik pada hakikat kondisi jiwa, keadaan jamaah, maupun pada situasi dan kondisi yang melingkupinya, telah terjadi sebuah perkembangan yang sangat jelas, yang dapat ditangkap oleh siapa saja yang menelusuri garis sejarah perjuangan (khathth as-sīrah) di dalam teks-teks Al-Qur'an. Perkembangan ini memiliki nilai tersendiri, sebagaimana ia juga memiliki petunjuk yang jelas mengenai pengaruh dari manhaj Al-Qur'an dan pola pendidikan Muhammad (at-tarbiyah al-muhammadiyyah) terhadap kelompok jamaah yang berbahagia dan unik di dalam sejarah ini. Lebih dari itu, perkembangan ini memberikan isyarat penting bagi para penggerak yang mengurusi kelompok-kelompok manusia: agar dada mereka tidak merasa sempit oleh adanya kekurangan, kelemahan, sisa-sisa masa lalu beserta residunya, pengaruh lingkungan dan strata sosial, daya tarik duniawi, serta beban kecenderungan fisik dan biologis [hawa nafsu manusia] yang ada pada kelompok yang diurusnya. Faktor-faktor tersebut memang sering kali tampak sangat kuat, mendalam, dan bergejolak pada masa-masa awal transisi. Akan tetapi, dengan adanya ketekunan (mutsabarah), kebijaksanaan (hikmah), serta kesabaran dalam memberikan terapi perbaikan, kondisi tersebut lambat laun akan mulai membaik dan mengalami perkembangan. Berbagai ragam eksperimen kehidupan serta ujian-ujian (al-ibtila'at) akan turut membantu proses perbaikan dan perkembangan ini, manakala semua itu dijadikan sebagai momentum untuk memberikan pendidikan (tarbiyah) dan pengarahan (taujīh). Maka, selangkah demi selangkah, beban kecenderungan tanah [sifat buruk manusia] akan semakin meringan, kepekatan hawa nafsu fisik dan biologis akan semakin menipis, pengaruh buruk lingkungan akan memudar, residu masa lalu akan menjadi bersih, dan hati manusia akan mulai menatap cakrawala yang semakin tinggi, hingga akhirnya ia mampu melihat cahaya benderang terpancar di sana, di ujung cakrawala yang indah lagi jauh. Sungguh, bagi kita ada teladan yang baik pada diri Rasulullah, dan bagi kita ada jalan yang lurus pada manhaj Al-Qur'an.

Berita Gembira Ihwal Kemenangan dan Karunia Allah bagi Rasulullah

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ ١ لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ ٢ وَّيَنْصُرَكَ اللّٰهُ نَصْرًا عَزِيْزًا ٣

"Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata (1) agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, membimbingmu ke jalan yang lurus (2) dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (3)." (QS. Al-Fath: 1-3).

Surah ini dibuka dengan limpahan karunia ilahi kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam: Kemenangan yang nyata, ampunan yang menyeluruh, nikmat yang sempurna, petunjuk yang kokoh, dan pertolongan yang kuat. Semua itu merupakan balasan bagi ketenangan yang sempurna terhadap ilham dan arahan Allah, sikap pasrah penuh keridhaan terhadap wahyu dan isyarat-Nya, ketulusan mutlak yang terbebas dari segala kehendak pribadi, serta kepercayaan yang mendalam terhadap pemeliharaan-Nya yang penuh kasih sayang. Beliau (Nabi) melihat mimpi, lalu bergerak berdasarkan petunjuk wahyu dari mimpi tersebut. Ketika unta beliau menderum [mogok], orang-orang saling berteriak: "Al-Qashwa' [nama unta Nabi] telah mogok!" Maka beliau bersabda:

مَا خَلَأَتْ، وَمَا هُوَ لَهَا بِخُلُقٍ، وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيلِ عَنْ مَكَّةَ، لَا تَدْعُونِي قُرَيْشٌ الْيَوْمَ إِلَى خُطَّةٍ يَسْأَلُونَنِي فِيهَا صِلَةَ الرَّحِمِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

"Dia tidak mogok, dan mogok bukanlah tabiatnya. Akan tetapi, dia telah ditahan oleh Zat yang menahan pasukan gajah dari kota Makkah. Tidaklah kaum Quraisy mengajakku pada hari ini kepada suatu rencana yang di dalamnya mereka memintaku untuk menyambung tali silaturahmi, melainkan aku pasti akan mengabulkannya."

Dan Umar bin Al-Khaththab bertanya kepada beliau dengan penuh emosi [semangat pembelaan agama]: "Mengapa kita harus memberikan kehinean dalam agama kita?" Maka beliau menjawab:

أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، لَنْ أُخَالِفَ أَمْرَهُ، وَلَنْ يُضَيِّعَنِي

"Aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, aku tidak akan pernah menyelisihi perintah-Nya, dan Dia tidak akan pernah menelantarkanku."

Demikian pula ketika tersiar kabar burung bahwa Utsman telah dibunuh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا نَبْرَحُ حَتَّى نُنَاجِزَ الْقَوْمَ

"Kita tidak akan meninggalkan tempat ini hingga kita memerangi kaum tersebut."

Beliau lalu menyeru manusia untuk melakukan baiat, maka terjadilah Baiat Ridhnan (Bai'atur Ridlwan) yang kebaikannya melimpah ruah kepada orang-orang yang meraih kemenangan dan kebahagiaan dengannya.

Dan inilah kemenangan [yang sejati]; di samping kemenangan lainnya yang terepresentasi dalam Perjanjian Hudaibiyah (Shulh al-Hudaibiyah), serta rentetan kemenangan setelahnya dalam berbagai bentuk yang beraneka ragam:

Ia merupakan kemenangan dalam jalan dakwah. Az-Zuhri berkata: "Tidak ada satu pun kemenangan dalam Islam sebelum itu yang lebih agung darinya. Pertempuran hanyalah terjadi ketika orang-orang saling bertemu [berhadapan di medan perang]. Namun, ketika gencatan senjata terjadi, perang dihentikan, dan manusia saling merasa aman satu sama lain, mereka pun saling bertemu lalu berdialog dalam pembicaraan dan perdebatan. Maka tidaklah ada seorang pun yang diajak bicara tentang Islam dan dia memiliki akal sehat, melainkan dia pasti masuk Islam. Sungguh, dalam kurun waktu dua tahun tersebut (antara Perjanjian Hudaibiyah dan Penaklukan kota Makkah), orang yang masuk Islam berjumlah setara dengan jumlah seluruh orang yang masuk Islam sebelum masa itu, bahkan lebih banyak lagi."

Ibnu Hisyam berkata: "Bukti atas perkataan Az-Zuhri adalah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat menuju Hudaibiyah bersama seribu empat ratus orang menurut pendapat Jabir bin Abdullah. Kemudian beliau berangkat pada tahun Penaklukan kota Makkah dua tahun setelah itu dengan membawa sepuluh ribu personel."

Di antara tokoh yang masuk Islam [pada periode ini] adalah Khalid bin al-Walid dan 'Amr bin al-'Ash.

Ia juga merupakan kemenangan dalam hal ekspansi wilayah [teritorial]. Kaum Muslimin telah merasa aman dari gangguan buruk Quraisy, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengalihkan fokus untuk membersihkan Jazirah Arab dari sisa-sisa bahaya laten Yahudi—setelah sebelumnya berhasil menuntaskan urusan dengan Bani Qainuqa', Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Bahaya ini terepresentasi pada benteng-benteng Khaibar yang kokoh yang mengancam jalur perdagangan menuju Syam. Allah pun menaklukkannya untuk kaum Muslimin, dan mereka memperoleh harta rampasan perang (ghana'im) yang sangat besar dari sana, yang oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pembagiannya dikhususkan hanya bagi orang-orang yang menghadiri peristiwa Hudaibiyah, tidak untuk yang lainnya.

Ia juga merupakan kemenangan dalam hal reposisi kedudukan di antara kaum Muslimin di Madinah, kaum Quraisy di Makkah, serta seluruh kaum musyrik di sekitarnya. Ustadz Muhammad Izzat Darwazah berkata dengan benar di dalam kitabnya, Sīrat ar-Rasūl: Shuwarun Muqtabasatun min al-Qur'ān al-Karīm:

"Tidak diragukan lagi bahwa perjanjian damai ini, yang dinamakan oleh Al-Qur'an sebagai kemenangan yang besar, sangat layak menyandang deskripsi tersebut dengan segala kelayakannya. Bahkan, perjanjian ini benar-benar valid untuk dikategorikan sebagai salah satu peristiwa krusial dan agung dalam sirah nabawiyah, serta dalam sejarah Islam, kekuatannya, dan konsolidasinya, atau bahkan merupakan peristiwa yang paling agung. Sebab, Quraisy telah mengakui eksistensi Nabi dan Islam, baik kekuatan maupun entitas keduanya. Mereka memandang Nabi dan kaum Muslimin sebagai rival yang setara. Bahkan, mereka menolak kedatangan mereka dengan cara yang terbaik [diplomasi damai], padahal sebelumnya mereka telah menyerang Madinah sebanyak dua kali dalam kurun waktu dua tahun. Perang yang terakhir terjadi setahun sebelum kunjungan [ke Hudaibiyah] ini, dengan mobilisasi pasukan besar-besaran yang terdiri atas pasukan mereka dan sekutu-sekutu mereka (al-ahzab) guna menumpas kaum Muslimin sampai ke akar-akarnya. Perang tersebut sempat menimbulkan keguncangan dan ketakutan yang hebat di dalam jiwa kaum Muslimin karena kelemahan dan sedikitnya jumlah mereka di hadapan para penyerang. Peristiwa [perjanjian] ini memiliki kedudukan yang sangat agung di mata bangsa Arab, yang selama ini memandang Quraisy sebagai pemimpin dan patron, serta mereka sangat terpengaruh oleh sikap penolakan Quraisy. Apabila dicermati pula bahwa orang-orang Arab badui sebelumnya memprediksi bahwa Nabi dan kaum Muslimin tidak akan pernah kembali dengan selamat dari perjalanan ini, dan orang-orang munafik berprasangka dengan prasangka yang paling buruk, maka tampaklah bagi kita salah satu dimensi dari urgensi kemenangan ini serta dampaknya yang luas."

"Sungguh, berbagai peristiwa sejarah telah membuktikan kebenaran ilham Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam apa yang beliau lakukan, yang mana Al-Qur'an pun menguatkan beliau dalam hal itu. Peristiwa ini menampakkan besarnya kemanfaatan material, spiritual, politik, militer, dan keagamaan yang kembali kepada kaum Muslimin darinya. Hal itu karena posisi mereka menjadi kuat di mata suku-suku Arab, orang-orang Arab badui yang tertinggal pun bergegas menyampaikan permohonan maaf, suara orang-orang munafik di Madinah semakin redup dan eksistensi mereka kian mengecil. Di samping itu, bangsa Arab mulai berdatangan menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari wilayah-wilayah yang jauh. Beliau juga berhasil mematahkan kekuatan Yahudi di Khaibar dan perkampungan mereka lainnya yang tersebar di jalur menuju Syam. Beliau pun menjadi mampu untuk mengirimkan ekspedisi pasukan militernya (sarāyā) ke wilayah-wilayah terpencil seperti Najd, Yaman, dan Balqa'. Hingga akhirnya dua tahun kemudian beliau mampu menginvasi Makkah dan menaklukkannya. Peristiwa tersebut menjadi titik akhir yang krusial, ketika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong."

Dan kami kembali menegaskan bahwa di sana—di samping semua ini—terdapat kemenangan yang lain. Yaitu kemenangan di dalam jiwa dan hati manusia, yang digambarkan oleh Baiat Ridhnan, yang mana Allah meridhai peristiwa tersebut dan meridhai para pelakunya dengan keridhaan yang disifatkan oleh Al-Qur'an. Di atas pijakan itulah Al-Qur'an melukiskan untuk mereka sebuah potret yang indah lagi mulia di akhir surah: "Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya... dst." Maka, ini merupakan sebuah kemenangan dalam sejarah pergerakan dakwah yang memiliki bobot perhitungan tersendiri, memiliki petunjuk konseptual, serta memiliki implikasi yang luas setelahnya dalam panggung sejarah.

Sungguh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat gembira dengan turunnya surah ini. Hati beliau yang agung merasa gembira dengan limpahan karunia rabbani ini atas diri beliau dan orang-orang mukmin yang bersama beliau. Beliau gembira dengan kemenangan yang nyata (Al-Fath al-mubīn), gembira dengan ampunan yang menyeluruh, gembira dengan nikmat yang sempurna, gembira dengan petunjuk menuju jalan Allah yang lurus, gembira dengan pertolongan yang kuat lagi mulia, serta gembira dengan keridhaan Allah terhadap orang-orang mukmin dan penyematan deskripsi yang indah bagi mereka. Beliau bersabda—dalam sebuah riwayat:

نَزَلَتْ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ سُورَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

"Telah turun kepadaku tadi malam sebuah surah yang ia lebih aku cintai daripada dunia beserta seluruh isinya."

Dan dalam riwayat lain:

لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

"Sungguh, telah diturunkan kepadaku malam ini sebuah surah yang ia lebih aku cintai daripada apa yang disinari oleh matahari."

Jiwa beliau yang suci pun dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhannya atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Rasa syukur itu meluap dalam bentuk shalat yang sangat panjang dan lama, yang digambarkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mendirikan shalat, beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak-bengkak. Maka Aisyah radhiyallahu 'anha berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" Maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَا عَائِشَةُ، أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟

"Wahai Aisyah, tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?"

Pembukaan tersebut merupakan bagian khusus bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian runtunan ayat (siyāq) berlanjut menyifati nikmat Allah kepada orang-orang mukmin melalui kemenangan ini, sentuhan tangan-Nya yang memberikan ketenangan (as-sakīnah) ke dalam hati mereka, serta apa yang Dia simpan untuk mereka di akhirat berupa ampunan, kemenangan, dan kenikmatan:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗوَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ ٤ لِّيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عِنْدَ اللّٰهِ فَوْزًا عَظِيْمًاۙ ٥

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan di atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (4) agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan Dia menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu di sisi Allah adalah kemenangan yang agung (5)." (QS. Al-Fath: 4-5).

Kata as-sakinah merupakan sebuah term yang ekspresif, penuh gambaran, dan memiliki kedalaman makna (dzu zhilāl). Ketika Allah menurunkan ketenangan (as-sakinah) ke dalam suatu hati, ia menjelma menjadi ketenteraman, kedamaian, keyakinan, kepercayaan diri, kewibawaan, keteguhan, kepasrahan, dan keridhaan.

Sungguh, hati orang-orang mukmin dalam peristiwa ini sempat bergejolak dengan berbagai macam perasaan dan meluap dengan aneka emosi. Di dalamnya ada rasa harap-harap cemas dan penantian yang tinggi terhadap pembuktian mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memasuki Masjidilharam; yang kemudian berbenturan dengan realitas sikap Quraisy serta kesediaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk pulang kembali tanpa mendatangi Ka'bah pada tahun ini, padahal mereka telah berihram, serta telah menandai (isy'ār) hewan kurban dan mengalungkan tanda (taqlīd) padanya. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan perkara yang sangat berat bagi jiwa mereka. Telah diriwayatkan dari Umar radhiyallahu 'anhu bahwa ia mendatangi Abu Bakar dalam keadaan emosi yang meluap-luap, di antara yang ia katakan kepada Abu Bakar—di luar apa yang telah kami tetapkan di dalam inti riwayat peristiwa tersebut—adalah: "Bukankah beliau selalu menyampaikan kepada kita bahwa kita akan mendatangi Ka'bah dan melakukan tawaf di sana?" Abu Bakar—seorang yang hatinya tertaut erat dengan hati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang detak jantungnya berdenyut selaras dengan detak jantung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam—menjawab: "Benar. Namun, apakah beliau mengabarkan kepadamu bahwa engkau akan mendatanginya pada tahun ini?" Umar menjawab: "Tidak." Abu Bakar berkata: "Sesungguhnya engkau pasti akan mendatanginya dan melakukan tawaf di sana." Maka Umar radhiyallahu 'anhu meninggalkannya lalu mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan menanyakan hal yang sama: "Bukankah engkau selalu menyampaikan kepada kita bahwa kita akan mendatangi Ka'bah dan melakukan tawaf di sana?" Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بَلَى، أَفَأَخْبَرْتُكَ أَنَّا نَأْتِيهِ الْعَامَ؟

"Benar. Namun, apakah aku mengabarkan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya pada tahun ini?"

Umar menjawab: "Tidak." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّكَ آتِيهِ وَمُطَّوِّفٌ بِهِ

"Sesungguhnya engkau pasti akan mendatanginya dan melakukan tawaf di sana."

Maka inilah salah satu potret dari apa yang sedang bergejolak di dalam hati...

Kaum Muslimin juga merasa sesak dada oleh syarat-syarat lain yang diajukan Quraisy, seperti keharusan mengembalikan orang yang masuk Islam dan datang kepada Muhammad tanpa izin walinya. Juga akibat fanatisme jahiliah (hamiyyah jāhiliyyah) mereka yang menolak penulisan nama "Ar-Rahman Ar-Rahim" serta menolak penyematan predikat "Rasulullah" (Utusan Allah). Diriwayatkan bahwa Ali radhiyallahu 'anhu sempat enggan menghapus predikat tersebut sebagaimana yang diminta oleh Suhail bin 'Amr setelah ditulis. Maka Rasulullah menghapusnya sendiri seraya bersabda:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي رَسُولُكَ

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku adalah utusan-Mu."

Semangat pembelaan (hamiyyah) terhadap agama mereka dan antusiasme untuk menghadapi kaum musyrik telah mencapai puncaknya, yang mana hal ini tampak jelas dalam baiat yang mereka lakukan secara bulat. Namun, urusan tersebut pada akhirnya berujung pada perdamaian, gencatan senjata, dan kepulangan. Maka bukanlah perkara mudah bagi jiwa mereka ketika urusan tersebut berakhir pada konklusi yang terjadi. Hal ini tampak pada kelambatan mereka dalam menyembelih hewan kurban (nahr) dan mencukur rambut (halq), sampai-sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali. Padahal, mereka adalah orang-orang yang track record ketaatan dan kepatuhannya terhadap perintah Rasulullah sangat luar biasa, sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi kepada Quraisy tentang mereka. Mereka tidak kunjung menyembelih kurban dan mencukur atau memendekkan rambut hingga mereka melihat Rasulullah melakukannya sendiri. Tindakan praktis dari beliau ini menghentak mereka dengan hentakan yang tidak bisa dihasilkan oleh sekadar ucapan, sehingga mereka pun langsung kembali pada ketaatan seolah-olah tersadar dari keterpanaan yang membingungkan!

Padahal, pada awalnya mereka keluar dari Madinah dengan niat murni untuk melaksanakan umrah, tidak berniat melakukan peperangan, serta tidak mempersiapkan diri untuk hal itu baik secara psikologis maupun praktis. Kemudian mereka dikejutkan oleh sikap Quraisy, serta adanya rumor tentang terbunuhnya Utsman, juga dikirimnya sekelompok orang yang melempari perkemahan kaum Muslimin dengan anak panah dan batu. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memutuskan untuk berperang dan menuntut komitmen baiat, mereka pun memberikannya secara total tanpa terkecuali. Namun, hal ini tidak menegasikan adanya faktor kejutan yang bertolak belakang dengan niat awal keberangkatan mereka. Dan itulah sebagian dari apa yang sedang bergejolak di dalam hati mereka berupa luapan emosi dan pengaruh psikologis. Jumlah mereka hanya seribu empat ratus orang, sementara Quraisy berada di markas besarnya sendiri, ditambah lagi di belakang mereka ada orang-orang Arab badui dan kaum musyrik lainnya.

Ketika seseorang memanggil kembali potret-potret sejarah ini, dia akan memahami makna dari firman Allah Ta'ala: "Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin..."

Dia akan mencicipi cita rasa kata dan ungkapan tersebut, membayangkan situasi pada hari itu serta hidup di dalamnya bersama teks-teks ini, dan merasakan kesejukan ketenangan (as-sakinah) serta kedamaiannya di dalam hati tersebut.

Karena Allah mengetahui isi hati orang-orang mukmin pada hari itu, bahwa apa yang bergejolak di dalamnya murni bersumber dari keimanan dan semangat pembelaan berbasis iman, bukan karena kepentingan ego mereka, bukan pula karena fanatisme jahiliah yang ada pada diri mereka. Maka Allah memberikan karunia berupa ketenangan ini kepada mereka: "untuk menambah keimanan di atas keimanan mereka". Ketenangan (ath-thuma'nīnah) merupakan satu tingkatan setelah adanya semangat dan antusiasme; di dalamnya terdapat rasa percaya yang tidak menyisakan kegelisahan, serta keridhaan yang merasa tenteram dengan keyakinan.

Oleh karena itu, tampak jelas bahwa kemenangan dan keunggulan bukanlah perkara yang sulit atau jauh. Sebaliknya, hal itu sangatlah mudah dan ringan bagi Allah sekiranya hikmah-Nya pada hari itu menghendaki urusan berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang-orang mukmin. Karena Allah memiliki bala tentara yang tidak terhitung jumlahnya dan tidak akan pernah terkalahkan, yang mampu meraih kemenangan dan merealisasikan keunggulan kapan pun Dia kehendaki: "Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Maka itulah hikmah-Nya dan itulah ilmu-Nya; segala urusan berjalan selaras dengan keduanya sesuai dengan kehendak-Nya.

Dan bersumber dari ilmu dan hikmah-Nya: "Dia telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan di atas keimanan mereka." Hal itu bertujuan untuk merealisasikan bagi mereka apa yang telah Dia takdirkan berupa kemenangan dan kenikmatan:

"agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan Dia menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu di sisi Allah adalah kemenangan yang agung."

Apabila hal ini dalam kalkulasi Allah merupakan kemenangan yang agung, maka ia benar-benar sebuah kemenangan yang agung! Kemenangan yang agung dalam hakikatnya, serta kemenangan yang agung di dalam jiwa orang-orang yang mendapatkannya dari sisi Allah, yang ditakar dengan takaran-Nya dan ditimbang dengan timbangan-Nya. Sungguh, orang-orang mukmin pada hari itu merasa sangat gembira dengan apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Sebelumnya, setelah mereka mendengar pembukaan surah dan mengetahui limpahan karunia yang Allah berikan kepada Rasul-Nya, mereka sempat menanti-nanti bagian mereka sendiri lalu menanyakannya. Begitu mereka mendengar dan mengetahuinya, jiwa mereka pun dipenuhi dengan keridhaan, kegembiraan, dan keyakinan.

Kemudian Allah mengabarkan kepada mereka dimensi lain dari hikmah-Nya pada apa yang Dia gariskan dalam peristiwa ini; yaitu pemberian balasan kepada orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan atas amal perbuatan dan tindakan yang lahir dari mereka:

وَّيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكٰتِ الظَّاۤنِّيْنَ بِاللّٰهِ ظَنَّ السَّوْءِۗ عَلَيْهِمْ دَاۤىِٕرَةُ السَّوْءِۚ وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ٦ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا ٧

"dan agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Nasib buruk akan menimpa mereka. Allah memurkai mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (neraka) Jahanam bagi mereka. (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali (6). Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (7)." (QS. Al-Fath: 6-7).

Teks ayat ini telah menghimpun antara orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan dalam karakteristik berprasangka buruk kepada Allah (zhann as-sū'), serta ketiadaan rasa percaya mereka terhadap pertolongan-Nya kepada orang-orang mukmin. Teks ini juga menghimpun mereka dalam hal bahwa mereka semua akan ditimpa oleh lingkaran kemalangan (dā'irat as-sū'), sehingga mereka terkepung di dalamnya, di mana lingkaran itu berputar mengitari mereka dan menimpa mereka. Mereka juga dihimpun dalam kemurkaan Allah atas mereka, laknat-Nya kepada mereka, serta pada apa yang telah Dia siapkan untuk mereka berupa tempat kembali yang buruk. Hal itu karena nifak [kemunafikan] merupakan sifat yang sangat tercela yang keburukannya tidak lebih rendah daripada syirik, bahkan ia berada pada tingkatan yang lebih rendah [hina]; selain itu, gangguan orang-orang munafik laki-laki dan perempuan terhadap jamaah kaum Muslimin tidaklah lebih ringan daripada gangguan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan, meskipun manifestasi dan jenis gangguan dari kedua belah pihak tersebut berbeda.

Allah telah menetapkan bahwa karakteristik orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan adalah berprasangka buruk kepada Allah. Sebaliknya, hati yang mukmin akan selalu berprasangka baik (husnuzh-zhann) kepada Tuhannya, selalu mengharapkan kebaikan dari-Nya. Ia mengharapkan kebaikan dari-Nya baik dalam kondisi lapang maupun sempit, serta beriman bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya dalam kedua kondisi tersebut. Rahasia di balik hal itu adalah karena hatinya bertaut erat dengan Allah, sementara limpahan kebaikan dari Allah tidak akan pernah terputus. Maka kapan pun hati bertaut dengan-Nya, ia akan menyentuh hakikat yang mendasar ini, merasakannya secara langsung, dan mencicipinya. Adapun orang-orang munafik dan orang-orang musyrik, mereka adalah orang-orang yang terputus hubungannya dengan Allah. Oleh karena itu, mereka tidak merasakan hakikat tersebut dan tidak menemukannya, sehingga prasangka mereka kepada Allah menjadi buruk. Hati mereka bergantung pada aspek lahiriah dari segala urusan, lalu membangun penilaian di atasnya. Mereka selalu memprediksi keburukan dan kemalangan bagi diri mereka sendiri serta bagi orang-orang mukmin setiap kali aspek lahiriah urusan mengisyaratkan hal tersebut; semua itu terjadi akibat ketiadaan rasa percaya mereka terhadap takdir Allah, kekuasaan-Nya, serta pengaturan-Nya yang samar lagi penuh kelembutan.

Allah telah menghimpun di dalam ayat ini musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin dari berbagai macam golongan; Dia menjelaskan kondisi mereka di sisi-Nya, serta apa yang telah Dia persiapkan untuk mereka pada akhir kesudahannya. Kemudian Allah mengiringi penjelasan ini dengan penegasan yang menunjukkan kekuasaan serta hikmah-Nya:

"Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Fath: 7).

Maka tidak ada sesuatu pun dari urusan mereka yang dapat melemahkan-Nya, dan tidak ada sesuatu pun dari urusan mereka yang tersembunyi bagi-Nya. Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tugas Rasulullah dan Baiat kepada Rasulullah

Kemudian Allah kembali mengarahkan khitab [redaksi pembicaraan] kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seraya memuji fungsi tugas beliau, menjelaskan tujuan utama darinya, serta mengarahkan orang-orang mukmin menuju kewajiban mereka terhadap Tuhan mereka setelah penyampaian risalah-Nya kepada mereka. Hal ini dibarengi dengan mengembalikan urusan baiat mereka secara langsung kepada Allah, serta mengadakan ikatan perjanjian dengan-Nya Jalla Jalaluh. Urusan itu terjadi ketika mereka berbaiat kepada Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengadakan ikatan perjanjian dengan beliau. Di dalam hal tersebut terdapat sebuah bentuk pemuliaan terhadap baiat Rasul serta penghormatan yang sangat jelas bagi ikatan perjanjian ini:

اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ ٨ لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا ٩ اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗيَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ ١٠

"Sesungguhnya Kami mengutusmu (Muhammad) sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, memuliakan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Siapa yang melanggar janji, sesungguhnya akibat pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahkan pahala yang besar kepadanya." (QS. Al-Fath: 8-10).

Maka Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam adalah saksi atas umat manusia yang beliau diutus kepada mereka; beliau bersaksi bahwa beliau telah menyampaikan apa yang diperintahkan kepada beliau, dan bahwa umat manusia telah menyambut beliau dengan berbagai macam bentuk sambutan. Di antara mereka ada yang menjadi mukmin, ada yang kafir, dan ada pula yang munafik. Di antara mereka ada yang menjadi pelaku perbaikan (mushlihūn) dan ada pula pelaku kerusakan (mufsidūn). Maka beliau menunaikan kesaksian tersebut sebagaimana beliau telah menunaikan risalah. Beliau juga menjadi pembawa kabar gembira berupa kebaikan, ampunan, keridhaan, dan balasan yang baik bagi orang-orang mukmin yang taat. Sebaliknya, beliau menjadi pemberi peringatan tentang buruknya tempat kembali, kemurkaan, laknat, serta azab bagi orang-orang kafir, munafik, pelaku maksiat, dan pelaku kerusakan.

Ini adalah fungsi tugas Rasul. Kemudian khitab beralih kepada orang-orang mukmin untuk menyingkap bagi mereka tentang tujuan akhir yang diharapkan bagi mereka dari risalah ini. Tujuan tersebut adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian bangkit memikul beban-beban kewajiban iman (takālīf al-īmān). Mereka menolong Allah dengan cara memenangkan manhaj [sistem hidup] dan syariat-Nya, memuliakan-Nya di dalam jiwa mereka dengan merasakan keagungan-Nya, serta mensucikan-Nya dengan bertasbih dan bertahmid di kedua ujung siang, yaitu pada waktu pagi dan petang. Ungkapan ini merupakan kinayah [metafora] untuk menggambarkan keseluruhan hari, karena kedua ujung siang itu merangkum waktu-waktu yang ada di antara keduanya. Tujuannya adalah keterikatan hati dengan Allah pada setiap waktu. Maka inilah buah keimanan yang diharapkan bagi orang-orang mukmin dari diutusnya Rasul sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan.

Sungguh, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam datang untuk menghubungkan mereka dengan Allah, serta mengadakan ikatan baiat yang berlaku selamanya di antara mereka dengan-Nya, yang tidak akan pernah terputus meskipun dengan kegaiban [wafatnya] Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari mereka. Oleh karena itu, ketika beliau meletakkan tangan beliau di atas tangan mereka untuk berbaiat, sesungguhnya beliau hanyalah membaiat atas nama Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka..." Ini merupakan sebuah penggambaran yang dahsyat lagi agung mengenai baiat di antara mereka dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setiap orang dari mereka merasakan ketika meletakkan tangannya di atas tangan beliau, bahwa tangan Allah berada di atas tangan mereka. Maka Allah hadir dalam baiat tersebut. Allah adalah pemiliknya. Allah adalah Zat yang mengambilnya, dan tangan-Nya berada di atas tangan orang-orang yang saling berbaiat... Siapa? Allah! Alangkah dahsyatnya! Alangkah indahnya! Dan alangkah agungnya!

Sungguh, potret penggambaran ini benar-benar mencabut dari dalam jiwa segala lintasan pikiran untuk melanggar (nakts) baiat ini—bagaimanapun persona Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah tiada. Sebab Allah Maha Hadir dan tidak pernah gaib. Allah adalah Zat yang mengambil dan memberi dalam baiat ini, dan Dia Maha Mengawasi atasnya.

"Siapa yang melanggar janji, sesungguhnya akibat pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri." (QS. Al-Fath: 10).

Maka dialah orang yang merugi di setiap sisi. Dia adalah orang yang merugi karena menarik diri dari transaksi yang menguntungkan (ash-shafqah ar-rābihah) di antara dirinya dengan Allah Ta'ala. Tidak ada satu pun baiat di antara Allah dan seorang hamba dari hamba-hamba-Nya, melainkan hamba tersebutlah yang beruntung di dalamnya karena karunia Allah, sedangkan Allah Maha Kaya dari seluruh alam. Dia juga menjadi orang yang merugi ketika melanggar dan membatalkan perjanjiannya dengan Allah, sehingga dia menghadapkan dirinya pada kemurkaan dan azab-Nya atas pelanggaran yang Dia benci dan murkai. Sebab Allah mencintai pemenuhan janji dan mencintai orang-orang yang menepatinya.

"Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahkan pahala yang besar kepadanya." (QS. Al-Fath: 10).

Demikianlah disebutkan secara mutlak: "pahala yang besar" (ajran 'azhīmā)... tanpa memerinci bentuknya dan tanpa membatasinya. Ia adalah pahala yang disifati oleh Allah sendiri sebagai sesuatu yang besar. Besar menurut kalkulasi Allah, timbangan-Nya, dan sifat-Nya yang tidak akan pernah terjangkau tingkat penggambarannya oleh nalar penduduk bumi yang serba sedikit, serba terbatas, lagi fana!

Ketika pembicaraan telah sampai pada hakikat baiat, serta lintasan pikiran tentang pelanggaran dan penepatan janji, maka arah pembicaraan dialihkan kepada orang-orang Arab badui (al-a'rāb) yang tertinggal [tidak ikut berangkat]. Yaitu orang-orang yang enggan untuk keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena buruknya prasangka mereka kepada Allah, serta karena prediksi mereka akan datangnya keburukan dan bahaya bagi orang-orang mukmin yang keluar berangkat menuju Quraisy di pusat kediaman mereka sendiri. Padahal Quraisy telah menginvasi Madinah sebelum peristiwa itu selama dua tahun berturut-turut... Pembicaraan dialihkan kepada mereka untuk mengabarkan kepada Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam tentang apa yang akan mereka jadikan sebagai alasan pembelaan diri kepada beliau setelah kepulangan beliau dalam keadaan selamat bersama orang-orang yang menyertainya. Padahal Quraisy justru menempuh jalan damai dengan beliau dan tidak memeranginya, bahkan mengadakan perjanjian damai dengan beliau yang di dalamnya tampak—bagaimanapun syarat-syaratnya—adanya langkah mundur dari pihak Quraisy, serta pengakuan terhadap Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rival yang setara bagi mereka, yang mana mereka mau berdamai dan menghindari permusuhan dengannya.

Ayat ini menyingkap bagi beliau tentang sebab-sebab yang sebenarnya di balik ketidakikutsertaan mereka keluar bersama beliau, memalukan mereka, serta membuat mereka berdiri telanjang tanpa topeng di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan di hadapan orang-orang mukmin. Sebagaimana ayat ini juga mengabarkan kepada beliau tentang apa yang di dalamnya terdapat kabar gembira bagi beliau dan bagi orang-orang yang keluar bersama beliau; yaitu bahwa mereka akan berangkat menuju harta rampasan perang (maghānim) yang dekat lagi mudah didapat, dan bahwa orang-orang Arab badui yang tertinggal itu akan meminta izin untuk keluar bersama beliau demi mendapatkan bagian dari harta rampasan yang mudah ini.

Ayat ini pun mendiktekan kepada beliau tentang cara memperlakukan mereka pada saat itu serta cara memberikan jawaban kepada mereka. Maka tidak boleh diterima keikutsertaan mereka untuk keluar bersama beliau menuju arah yang dekat lagi mudah ini, yang mana pembagiannya akan dibatasi khusus hanya bagi orang-orang yang telah keluar sebelumnya dan menghadiri peristiwa Hudaibiyah. Melainkan beliau diperintahkan untuk mengabarkan kepada mereka bahwa di sana ada arah tujuan lain yang di dalamnya terdapat kesulitan dan peperangan melawan kaum yang mempunyai kekuatan yang besar (ūlī ba'sin syadīd). Jika mereka benar-benar jujur ingin keluar bertempur, maka hendaklah mereka keluar pada hari itu, di mana Allah akan membagikan untuk mereka sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Jika mereka taat, mereka akan mendapatkan pahala yang besar, dan jika mereka durhaka sebagaimana mereka telah durhaka sebelumnya, mereka akan mendapatkan azab yang sangat pedih:

سَيَقُوْلُ لَكَ الْمُخَلَّفُوْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ شَغَلَتْنَآ اَمْوَالُنَا وَاَهْلُوْنَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا ۚيَقُوْلُوْنَ بِاَلْسِنَتِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ لَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا اِنْ اَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا اَوْ اَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا ۗبَلْ كَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا ١١ بَلْ ظَنَنْتُمْ اَنْ لَّنْ يَّنْقَلِبَ الرَّسُوْلُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ اِلٰٓى اَهْلِيْهِمْ اَبَدًا وَّزُيِّنَ ذٰلِكَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِۚ وَكُنْتُمْ قَوْمًاۢ بُوْرًا ١٢ وَمَنْ لَّمْ يُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ فَاِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَعِيْرًا ١٣ وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ١٤ سَيَقُوْلُ الْمُخَلَّفُوْنَ اِذَا انْطَلَقْتُمْ اِلٰى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوْهَا ذَرُوْنَا نَتَّبِعْكُمْ ۚ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّبَدِّلُوْا كَلٰمَ اللّٰهِ ۗ قُلْ لَّنْ تَتَّبِعُوْنَا كَذٰلِكُمْ قَالَ اللّٰهُ مِنْ قَبْلُ ۖفَسَيَقُوْلُوْنَ بَلْ تَحْسُدُوْنَنَا ۗ بَلْ كَانُوْا لَا يَفْقَهُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا ١٥ قُلْ لِّلْمُخَلَّفِيْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ اِلٰى قَوْمٍ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ تُقَاتِلُوْنَهُمْ اَوْ يُسْلِمُوْنَ ۚ فَاِنْ تُطِيْعُوْا يُؤْتِكُمُ اللّٰهُ اَجْرًا حَسَنًا ۚ وَاِنْ تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِّنْ قَبْلُ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ١٦

"Orang-orang badui yang tertinggal (tidak ikut ke Hudaibiyah) akan berkata kepadamu, 'Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, 'Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah sedikit pun jika Dia menghendaki bencana bagimu atau jika Dia menghendaki keuntungan bagimu? Sebenarnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Bahkan, kamu semula menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya. Kepercayaan yang demikian itu dijadikan terasa indah dalam hatimu. Kamu telah berprasangka dengan prasangka yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.' Siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi orang-orang kafir. Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Orang-orang yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat menuju harta rampasan perang untuk mengambilnya, 'Biarkanlah kami mengikutimu.' Mereka bermaksud mengubah ketetapan Allah. Katakanlah, 'Kamu sekali-kali tidak boleh mengikuti kami. Demikianlah yang telah ditetapkan Allah sebelum ini.' Mereka akan berkata, 'Sebenarnya kamu dengki kepada kami.' Padahal, mereka tidak mengerti kecuali sedikit sekali. Katakanlah kepada orang-orang badui yang tertinggal itu, 'Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Jika kamu patuh, Allah akan menganugerahkan kepadamu pahala yang baik. Namun, jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelum ini, Dia akan mengazabmu dengan azab yang pedih.'" (QS. Al-Fath: 11-16).

Dan Al-Qur'an tidak sekadar mencukupkan diri dengan menghikayatkan ucapan orang-orang yang tertinggal tersebut lalu memberikan bantahan atasnya; akan tetapi Al-Qur'an menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk mengobati penyakit-penyakit jiwa, bisikan-bisikan hati, serta menyusup ke tempat-tempat bersarangnya kelemahan dan penyimpangan guna menyingkapnya sebagai langkah awal bagi proses pengobatan dan terapinya. Kemudian dilanjutkan untuk menetapkan hakikat-hakikat yang kekal, nilai-nilai yang mapan, serta kaidah-kaidah dalam hal perasaan, konsepsi berpikir, dan perilaku.

Maka orang-orang badui yang tertinggal—dan mereka itu termasuk dari kalangan Arab badui suku Ghifar, Muzainah, Asyja', Aslam, dan suku-suku lainnya yang berada di sekitar Madinah—akan berkata sebagai alasan atas ketidakikutsertaan mereka: "Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami..." Padahal ini sama sekali bukanlah sebuah uzur [alasan yang sah]. Sebab manusia selamanya akan selalu memiliki keluarga dan harta. Sekiranya perkara semacam ini boleh dijadikan alasan yang menyibukkan mereka dari beban-beban kewajiban akidah serta dari menunaikan haknya, niscaya tidak akan pernah ada seorang pun yang bangkit memperjuangkannya... Dan mereka akan berkata: "maka mohonkanlah ampunan untuk kami..." Padahal mereka tidaklah jujur dalam meminta permohonan ampunan tersebut, sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam: "Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya..."

Di sini, beliau diperintahkan untuk memberikan bantahan kepada mereka dengan menetapkan hakikat takdir (haqīqat al-qadar) yang tidak akan pernah bisa ditolak oleh sikap mundur, dan tidak akan pernah bisa diubah oleh sikap maju; serta dengan hakikat kekuasaan (haqīqat al-qudrah) yang meliputi manusia dan bertindak dalam menentukan takdir mereka sesuai dengan apa yang Dia kehendaki; juga dengan hakikat ilmu yang sempurna (haqīqat al-'ilm al-kāmil) yang mana Allah menjalankan takdir-Nya selaras dengannya:

"Katakanlah, 'Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah sedikit pun jika Dia menghendaki bencana bagimu atau jika Dia menghendaki keuntungan bagimu? Sebenarnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.'" (QS. Al-Fath: 11).

Ini merupakan sebuah pertanyaan yang mengisyaratkan pesan untuk berserah diri secara pasrah kepada takdir Allah, serta menaati perintah-Nya tanpa henti dan tanpa ragu-ragu. Sebab sikap mandek atau ragu-ragu tidak akan pernah bisa menolak bahaya, dan tidak pula bisa menunda datangnya manfaat. Selain itu, tindakan membuat-buat alasan palsu tidak akan pernah tersembunyi dari ilmu Allah, serta tidak akan memengaruhi balasan-Nya yang selaras dengan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Ini merupakan sebuah arahan edukatif (taujīh tarbawī) yang sangat tepat pada waktunya, suasananya, dan momentumnya berdasarkan metode Al-Qur'an.

"Bahkan, kamu semula menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya. Kepercayaan yang demikian itu dijadikan terasa indah dalam hatimu. Kamu telah berprasangka dengan prasangka yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa." (QS. Al-Fath: 12).

Demikianlah Allah membuat mereka berdiri telanjang tanpa topeng, berhadap-hadapan langsung dengan apa yang mereka sembunyikan di dalam niat, apa yang mereka tutupi di dalam prediksi, serta apa yang mereka prasangkakan secara buruk terhadap Allah. Sungguh, mereka telah berprasangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin yang bersamanya sedang berjalan menuju kebinasaan mereka, sehingga mereka tidak akan pernah kembali lagi kepada keluarga mereka di Madinah. Mereka berkata: "Dia pergi mendatangi kaum yang telah menginvasi dirinya di pusat kediamannya sendiri di Madinah, serta telah membunuh sahabat-sahabatnya, lalu sekarang dia pergi untuk memerangi mereka!"—mereka mengisyaratkan pada Perang Uhud dan Perang Ahzab. Mereka sama sekali tidak memasukkan kalkulasi tentang pemeliharaan Allah serta perlindungan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang jujur lagi tulus mutlak.

Sebagaimana mereka—berdasarkan tabiat konsepsi berpikir mereka terhadap segala urusan serta kosongnya hati mereka dari kehangatan akidah—tidak mampu mengukur bahwa kewajiban tetaplah merupakan kewajiban, tanpa memandang beban-beban biayanya bagaimanapun adanya; dan bahwa ketaatan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wajib dilakukan tanpa melihat pada keuntungan lahiriah dan kerugian formal semata. Sebab ia merupakan kewajiban yang difardhukan yang harus ditunaikan tanpa melihat pada dampak lain di baliknya.

Sungguh, mereka telah membangun prasangka mereka, dan prasangka ini telah dijadikan terasa indah di dalam hati mereka, hingga mereka tidak melihat selainnya dan tidak memikirkan alternatif di luar itu. Dan inilah prasangka buruk (zhann as-sū') kepada Allah, yang lahir akibat hati mereka yang būr [mati/tandus]. Ini merupakan sebuah ungkapan yang menakjubkan lagi penuh pesan. Tanah yang būr adalah tanah yang mati lagi tandus. Demikian pulalah kondisi hati mereka. Demikian pulalah eksistensi mereka dengan seluruh kedirian mereka. Būr. Tidak ada kehidupan, tidak ada kesuburan, dan tidak ada pembuahan. Maka akan menjadi seperti apakah hati apabila ia kosong dari prasangka baik kepada Allah? Karena ia telah terputus dari hubungan dengan ruh [rahmat] Allah? Ia akan menjadi būr; mati, tandus, dan kesudahannya adalah menuju pada kebinasaan dan kehancuran.

Demikian pulalah orang-orang menilai jamaah mukmin. Orang-orang dari jenis kaum Arab badui tersebut yang terputus hubungannya dari Allah. Kaum būr yang hati mereka kosong dari ruh dan kehidupan. Demikianlah mereka selalu berprasangka terhadap jamaah mukmin ketika tampak secara lahiriah bahwa bobot timbangan kebatilan sedang unggul, dan bahwa kekuatan bumi yang kasatmata berada di pihak pelaku keburukan dan kesesatan; serta ketika orang-orang mukmin berjumlah sedikit, atau sedikit dalam perlengkapan, atau sedikit dalam hal posisi, kedudukan, dan harta.

Demikianlah orang-orang Arab badui dan yang sejenis dengan mereka pada setiap zaman berprasangka bahwa orang-orang mukmin tidak akan pernah kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya apabila mereka berhadapan dengan kebatilan yang sedang membusungkan dada dengan kekuatannya yang lahiriah. Oleh karena itu, mereka menjauhkan diri dari orang-orang mukmin demi memburu keselamatan diri; mereka memprediksi pada setiap detik bahwa orang-orang mukmin akan ditumpas habis dan dakwah mereka akan berakhir, sehingga mereka pun mengambil langkah yang paling aman menurut mereka dan menjauh dari jalan kaum mukmin yang diliputi oleh berbagai mara bahaya!

Akan tetapi Allah mengecewakan prasangka buruk ini; Dia mengubah peta situasi dan kondisi berdasarkan pengetahuan-Nya sendiri, pengaturan-Nya sendiri, serta menurut neraca kekuatan yang sejati. Neraca yang dipegang oleh Allah dengan tangan-Nya yang kuat, yang dengannya Dia merendahkan suatu kaum dan meninggikan kaum yang lain, dari arah yang tidak diketahui oleh orang-orang munafik yang selalu berprasangka buruk kepada Allah di setiap tempat dan di setiap waktu!

Sesungguhnya neraca tersebut adalah neraca keimanan. Oleh karena itu, Allah mengembalikan orang-orang Arab badui itu kepadanya; Dia menetapkan kaidah umum bagi pemberian balasan selaras dengan neraca ini, dibarengi dengan memberikan isyarat kepada mereka tentang rahmat Allah yang dekat serta memberikan pesan kepada mereka untuk bersegera mengambil kesempatan, dan menikmati ampunan Allah serta rahmat-Nya:

"Siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi orang-orang kafir. Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Fath: 13-14).

Sungguh, mereka sebelumnya membuat-buat alasan dengan harta dan keluarga mereka. Maka apakah gunanya harta dan keluarga mereka di dalam neraka yang menyala-nyala (sa'īr) yang dipersiapkan untuk mereka ini apabila mereka tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? Keduanya merupakan dua pilihan timbangan, maka hendaklah mereka memilih yang ini atau yang itu di atas keyakinan. Sebab Allah yang memberikan ancaman ini kepada mereka adalah satu-satunya pemilik kerajaan langit dan bumi. Maka Dialah yang memiliki otoritas ampunan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Dialah yang memiliki otoritas azab bagi siapa yang Dia kehendaki.

Dan Allah membalas manusia berdasarkan amal perbuatan mereka, akan tetapi masyiat-Nya [kehendak-Nya] bersifat mutlak tanpa ada bayang-bayang ikatan batas apa pun. Beliau menetapkan hakikat ini di sini agar ia menetap di dalam hati, tanpa kontradiksi dengan adanya urutan balasan berdasarkan amal perbuatan, karena urutan ini merupakan pilihan mutlak bagi masyiat ini.

Dan ampunan Allah serta rahmat-Nya adalah perkara yang lebih dekat. Maka hendaklah mengambilnya sebagai keuntungan bagi siapa saja yang menghendakinya, sebelum ketetapan Allah benar-benar jatuh berupa azab bagi orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan neraka menyala-nyala yang hadir lagi dipersiapkan bagi orang-orang kafir.

Kemudian Allah memberikan isyarat tentang sebagian dari apa yang telah Dia takdirkan bagi orang-orang mukmin, yang mana hal itu menyelisihi prasangka orang-orang yang tertinggal. Isyarat ini disampaikan dengan gaya bahasa yang memberikan kesan bahwa urusan tersebut sudah dekat:

"Orang-orang yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat menuju harta rampasan perang untuk mengambilnya, 'Biarkanlah kami mengikutimu.' Mereka bermaksud mengubah ketetapan Allah. Katakanlah, 'Kamu sekali-kali tidak boleh mengikuti kami. Demikianlah yang telah ditetapkan Allah sebelum ini.' Mereka akan berkata, 'Sebenarnya kamu dengki kepada kami.' Padahal, mereka tidak mengerti kecuali sedikit sekali." (QS. Al-Fath: 15).

Mayoritas ahli tafsir berpandangan bahwa ayat ini merupakan isyarat menuju Penaklukan Khaibar (Fathu Khaibar). Dan perkara itu bisa jadi memang demikian. Akan tetapi, teks ayat (an-nash) tetap memiliki pesan isyaratnya tersendiri sekiranya ia bukan merupakan teks yang spesifik tentang Khaibar. Teks ini memberikan isyarat bahwa kaum Muslimin akan dibukakan bagi mereka sebuah kemenangan yang dekat lagi mudah, dan bahwa orang-orang yang tertinggal ini akan menyadari hal tersebut, lalu mereka berkata: "Biarkanlah kami mengikutimu..."

Barangkali faktor yang membuat para ahli tafsir mengkhususkan peristiwa Khaibar adalah karena peristiwa itu terjadi tidak lama setelah Perjanjian Hudaibiyah. Sebab ia terjadi pada bulan Muharram tahun ke-7 Hijriah; yaitu kurang dari dua bulan setelah Perjanjian Hudaibiyah. Selain itu, Khaibar merupakan tempat yang melimpah harta rampasannya. Benteng-benteng Khaibar adalah markas kuat lagi kaya yang terakhir tersisa bagi kaum Yahudi di Jazirah Arab. Ke sana pulalah tempat pelarian sebagian Bani Nadhir dan Bani Quraizhah dari kalangan orang-orang yang telah diusir dari Jazirah Arab sebelumnya.

Pendapat para ahli tafsir mutawatir menyatakan bahwa Allah telah menjanjikan kepada para peserta baiat di Hudaibiyah bahwa harta rampasan perang Khaibar adalah khusus milik mereka, tidak ada seorang pun yang boleh berserikat bersama mereka di dalamnya. Namun, aku tidak menemukan adanya teks nas yang sharih [eksplisit] mengenai hal ini. Barangkali mereka mengambil kesimpulan ini dari apa yang nyata-nyata terjadi secara faktual. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memang membatasi pembagiannya hanya pada para peserta Hudaibiyah, dan beliau tidak membawa serta seorang pun selain mereka.

Bagaimanapun situasinya, Allah telah memerintahkan Nabi-Nya untuk menolak orang-orang badui yang tertinggal itu apabila mereka menawarkan diri untuk keluar demi memburu harta rampasan yang mudah lagi dekat. Allah menetapkan bahwa keluarnya mereka adalah bentuk pelanggaran terhadap perintah Allah. Dia juga mengabarkan kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa mereka akan berkata apabila dilarang untuk keluar: "Sebenarnya kamu dengki kepada kami..."—maka kamu melarang kami keluar agar kamu dapat menghalangi kami dari mendapatkan harta rampasan. Kemudian Allah menetapkan bahwa ucapan mereka ini lahir akibat tipisnya fikih [kefahaman] mereka terhadap hikmah Allah dan takdir-Nya.

Maka balasan bagi orang-orang tertinggal yang bersikap tamak adalah diharamkan [dari kebaikan], sedangkan balasan bagi orang-orang taat yang tulus mutlak adalah diberi dari karunia Allah, serta dikhususkan dengan harta rampasan ketika Allah mentakdirkannya; sebagai balasan atas kekhususan mereka dalam hal ketaatan dan keberanian maju, pada hari ketika mereka tidak memprediksi apa pun selain kesulitan di dalam jihad.

Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengabarkan kepada mereka bahwa mereka akan diuji dengan adanya ajakan untuk berjihad melawan kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, yang mana mereka akan memerangi kaum tersebut di atas prinsip Islam. Jika mereka berhasil dalam ujian ini, mereka akan mendapatkan pahala, namun jika mereka terus berada di atas kedurhakaan dan sikap tertinggal mereka, maka itulah ujian yang terakhir:

"Katakanlah kepada orang-orang badui yang tertinggal itu, 'Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Jika kamu patuh, Allah akan menganugerahkan kepadamu pahala yang baik. Namun, jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelum ini, Dia akan mengazabmu dengan azab yang pedih.'" (QS. Al-Fath: 16).

Pendapat-pendapat juga berbeda mengenai siapakah kaum yang mempunyai kekuatan yang besar tersebut; apakah mereka berada pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ataukah pada masa para khalifah setelah beliau. Pendapat yang paling dekat adalah bahwa peristiwa itu terjadi pada masa hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, agar Allah menyaring keimanan orang-orang Arab badui di sekitar Madinah ini.

Perkara yang penting untuk kita cermati adalah metode edukasi Al-Qur'an (tharīqat at-tarbiyah al-qur'āniyyah), serta metode pengobatan jiwa dan hati melalui arahan-arahan Al-Qur'an dan ujian-ujian yang bersifat nyata. Semua ini tampak jelas dalam hal menyingkap kedirian jiwa mereka bagi diri mereka sendiri dan bagi orang-orang mukmin, serta dalam mengarahkan mereka menuju hakikat-hakikat, nilai-nilai, dan kaidah-kaidah perilaku keimanan yang lurus.

Dan tatkala perkara yang dipahami dari ujian tersebut adalah kewajiban keluar memikul tugas bagi semua orang, maka Allah menjelaskan tentang orang-orang yang memiliki uzur yang sebenarnya (ash-hāb al-a'dzār al-haqīqiyyah), yaitu orang-orang yang sah secara hukum untuk tertinggal dari jihad tanpa ada dosa dan tanpa ada azab:

لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا اَلِيْمًا ࣖ ١٧

"Tidak ada dosa atas orang yang buta, orang yang pincang, dan orang yang sakit (jika tidak ikut berperang). Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Siapa yang berpaling, niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih." (QS. Al-Fath: 17).

Maka orang yang buta dan orang yang pincang memiliki uzur yang bersifat permanen ('udzr dā'im), yaitu ketidakmampuan yang terus-menerus untuk memikul beban keluar dan berjihad. Sedangkan orang yang sakit memiliki uzur yang bersifat temporer ('udzr mauqūt) berdasarkan kondisi sakitnya hingga dia sembuh.

Dan urusan ini pada hakikatnya adalah urusan ketaatan (thā'ah) dan kedurhakaan ('ishyān). Ia merupakan sebuah kondisi kejiwaan (hālah nafsiyyah) dan bukan sekadar format formalitas lahiriah semata. Maka barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka surga adalah balasannya. Dan barang siapa yang berpaling, maka azab yang pedih telah menantinya. Maka silakan bagi siapa saja yang ingin menimbang di antara kesulitan-kesulitan jihad beserta pahala balasannya, dengan kenyamanan duduk santai [tertinggal] beserta apa yang ada di baliknya... kemudian silakan memilih!

"Sungguh, Allah telah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepalamu dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka, Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan sebelum itu Dia telah menganugerahkan kemenangan yang dekat (18) Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama. Cukuplah Allah sebagai saksi (19) Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya... dst." (QS. Al-Fath: 28-29).

Pengantar

Pelajaran ini seluruhnya merupakan pembicaraan tentang orang-orang mukmin, dan dialog bersama orang-orang mukmin. Yaitu bersama kelompok unik yang berbahagia, yang telah berbaiat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di bawah pohon [Hudaibiyah]. Allah hadir dalam baiat tersebut, menyaksikannya, mengukuhkannya, dan tangan-Nya berada di atas tangan mereka di dalamnya. Kelompok yang telah mendengar Allah Ta'ala berfirman mengenai mereka kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sungguh, Allah telah meredai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat." Mereka juga mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:

أَنْتُمُ الْيَوْمَ خَيْرُ أَهْلِ الْأَرْضِ

"Kalian pada hari ini adalah penduduk bumi yang terbaik."

Ia merupakan pembicaraan tentang mereka dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, dan dialog bersama mereka dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang memberikan kabar gembira kepada mereka tentang apa yang telah Dia persiapkan bagi mereka berupa harta rampasan perang yang banyak serta berbagai kemenangan; juga tentang apa yang telah Dia liputkan kepada mereka berupa pemeliharaan dan perlindungan dalam perjalanan ini serta pada masa-masa setelahnya; serta tentang apa yang telah Dia takdirkan bagi mereka berupa kemenangan yang tersambung secara kontinu dengan sunah-Nya yang tidak akan pernah mengalami perubahan selama-lamanya. Ayat ini pun mengecam musuh-musuh mereka yang kafir dengan kecaman yang sangat keras. Ayat ini juga menyingkap bagi mereka tentang hikmah-Nya dalam memilih jalan damai dan gencatan senjata pada tahun ini, serta menegaskan bagi mereka tentang kebenaran mimpi yang dilihat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai kepastian memasuki Masjidilharam. Bahwa kaum Muslimin benar-benar akan memasukinya dalam keadaan aman tanpa ada rasa takut, dan bahwa agama-Nya akan menang di atas seluruh agama yang ada di bumi secara keseluruhan.

Pelajaran dan surah ini kemudian ditutup dengan potret penggambaran yang mulia lagi bercahaya bagi jamaah yang unik lagi berbahagia ini dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; karakteristik mereka di dalam Taurat dan karakteristik mereka di dalam Injil, serta janji Allah bagi mereka berupa ampunan dan pahala yang besar.

Sanjungan atas Kaum Mukminin, Penjelasan Sifatnya, dan Hikmah Perdamaian Hudaibiyah

"Sungguh, Allah telah meredai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (18) serta harta rampasan perang yang banyak yang mereka peroleh. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (19) Allah menjanjikan kepadamu harta rampasan perang yang banyak yang dapat kamu peroleh, maka Dia menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu dan menahan tangan manusia dari kamu (agar kamu tidak diserang) dan agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia membimbing kamu ke jalan yang lurus (20) dan (kemenangan-kemenangan) lain yang tidak dapat kamu perkirakan, tetapi Allah telah mengepungnya (menentukannya). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (21) Dan sekiranya orang-orang yang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka akan berbalik ke belakang (kalah) dan mereka tidak akan menemukan pelindung dan tidak pula penolong (22) (Sebagai) sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu. Kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu (23) Dialah yang menahan tangan mereka dari kamu dan menahan tangan kamu dari mereka di lembah Makkah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (24) Merekalah orang-orang kafir yang menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam dan (menghalang-halangi) hewan kurban yang tertahan untuk sampai ke tempat penyembelihannya yang sah. Sekiranya tidak ada laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin yang tidak kamu ketahui, tentulah kamu akan menginjak-injak mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa pengetahuan (kamu), karena Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka terpisah, niscaya Kami akan mengazab orang-orang yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih (25) Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, dan (Allah) mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan (kalimat) itu dan patut memilikinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (26) Sungguh, Allah telah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepalamu dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka, Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan sebelum itu Dia telah menganugerahkan kemenangan yang dekat (27) Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama. Cukuplah Allah sebagai saksi (28) Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar (29)." (QS. Al-Fath: 18-29).

Dan sungguh, hari ini—dari balik bentangan waktu seribu empat ratus tahun—aku mencoba untuk menatap ke arah momen kudus tersebut, saat seluruh eksistensi menyaksikan penyampaian vertikal yang mulia lagi agung dari Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung kepada Rasul-Nya yang tepercaya mengenai jamaah orang-orang mukmin. Aku mencoba menatap lembaran eksistensi pada momen tersebut beserta nurani tersembunyinya; yang mana ia seluruhnya saling menyambut firman ilahi yang mulia tentang para [Hal: 3326] lelaki yang tegak berdiri pada saat itu di satu petak wilayah tertentu dari eksistensi ini... Dan aku mencoba untuk merasakan secara personal sesuatu dari kondisi orang-orang yang berbahagia tersebut yang mendengar dengan telinga mereka sendiri, bahwa mereka—secara personal dan persona mereka masing-masing—adalah orang-orang yang difirmankan oleh Allah tentang mereka: "Sungguh, Allah telah meredai mereka." Allah pun menentukan tempat di mana mereka berada, serta format kondisi mereka saat mereka berhak mendapatkan keridhaan ini: "ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon..." Mereka mendengar hal ini dari Nabi mereka yang jujur lagi dibenarkan perbuatannya (ash-shādiq al-mashdūq), melalui lisan Tuhannya Yang Maha Agung lagi Maha Mulia...

Duhai Allah! Bagaimana mereka—orang-orang yang berbahagia itu—menyambut momen kudus serta penyampaian ilahi tersebut? Penyampaian yang menunjuk kepada setiap orang, pada dirinya sendiri, seraya berkata kepadanya: "Kamu. Kamu secara kedirianmu sendiri. Allah sedang menyampaikan pesan kepadamu. Sungguh Dia telah ridha kepadamu. Saat kamu berbaiat. Di bawah pohon! Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam dirimu. Maka Dia menurunkan ketenangan atasmu!"

Sesungguhnya salah seorang dari kita saat membaca atau mendengar ayat: "Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman..." maka dia akan merasa bahagia. Dia berkata di dalam dirinya: "Bukankah aku sangat berharap untuk masuk ke dalam keumuman ayat ini?" Dan ketika dia membaca atau mendengar ayat: "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar..." maka dia akan merasa tenteram. Dia berkata di dalam dirinya: "Bukankah aku berharap untuk menjadi bagian dari orang-orang yang sabar ini?" Sementara para lelaki itu mendengarnya dan disampaikan pesan tersebut secara personal, satu per satu, bahwa Allah memang memaksudkan dirinya secara spesifik dan secara kediriannya sendiri, serta menyampaikan pesan kepadanya: "Sungguh Dia telah ridha kepadamu!" Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam dirinya, serta ridha terhadap apa yang ada di dalam dirinya!

Duhai Allah! Sungguh ini merupakan sebuah perkara yang teramat dahsyat!

۞ لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ ١٨ وَّمَغَانِمَ كَثِيْرَةً يَّأْخُذُوْنَهَا ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا ١٩

"Sungguh, Allah telah meredai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. .   dan harta rampasan perang yang banyak yang dapat mereka ambil. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana " (QS. Al-Fath: 18-19).

Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka berupa semangat pembelaan terhadap agama mereka, bukan karena ego diri mereka sendiri. Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka berupa kejujuran dalam baiat mereka. Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka berupa kemampuan menahan gejolak emosi terhadap provokasi musuh, serta pengendalian terhadap perasaan mereka agar mereka tetap berdiri tegak di belakang titah kata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan taat, pasrah, lagi sabar.

"lalu Dia menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka..." Ungkapan ini melukiskan ketenangan (as-sakīnah) yang turun dengan penuh kelembutan, kedamaian, dan kewibawaan; yang mengalirkan rasa sejuk, keselamatan, ketenteraman, dan kenyamanan ke dalam hati yang tadinya panas bergejolak, bersemangat membara, bersiaga penuh, lagi dipengaruhi emosi.

"dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat." Kemenangan yang dekat tersebut adalah perdamaian ini [Perjanjian Hudaibiyah] beserta situasi yang meliputinya, yang mana situasi tersebut telah menjadikannya sebagai sebuah kemenangan (fath), serta menjadikannya sebagai titik awal bagi berbagai penaklukan yang banyak setelahnya. Bisa jadi Penaklukan Khaibar merupakan salah satu di antaranya, dan ia merupakan penaklukan yang disebutkan oleh mayoritas ahli tafsir sebagai kemenangan dekat yang disediakan oleh Allah bagi kaum Muslimin...

"serta harta rampasan perang yang banyak yang mereka peroleh." Harta rampasan tersebut bisa jadi didapatkan bersamaan dengan penaklukan tersebut jika yang dimaksud adalah Penaklukan Khaibar, atau terjadi setelahnya jika yang dimaksud dengan kemenangan adalah perdamaian ini, yang dengannya kaum Muslimin menjadi memiliki waktu luang untuk melakukan berbagai ekspansi penaklukan yang beraneka ragam.

"Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Ini merupakan penutup (ta'qīb) yang sangat serasi bagi ayat-ayat sebelumnya. Sebab di dalam keridhaan, kemenangan, dan janji akan harta rampasan perang, di sanalah termanifestasikan kekuatan dan kekuasaan, sebagaimana termanifestasikan pula hikmah dan pengaturan. Dan dengan keduanya itulah janji ilahi yang mulia dapat terealisasi secara sempurna.

Setelah penyampaian vertikal yang mulia dari Rasul yang tepercaya mengenai orang-orang mukmin yang berbaiat tersebut, pembicaraan kemudian diarahkan kepada orang-orang mukmin itu sendiri; pembicaraan mengenai perdamaian ini, atau mengenai kemenangan ini, yang mereka sambut dengan penuh kesabaran lagi kepasrahan diri:

وَعَدَكُمُ اللّٰهُ مَغَانِمَ كَثِيْرَةً تَأْخُذُوْنَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هٰذِهٖ وَكَفَّ اَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْۚ وَلِتَكُوْنَ اٰيَةً لِّلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ ٢٠ وَّاُخْرٰى لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَيْهَا قَدْ اَحَاطَ اللّٰهُ بِهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا ٢١

"Allah menjanjikan kepadamu harta rampasan perang yang banyak yang dapat kamu peroleh, maka Dia menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu dan menahan tangan manusia dari kamu (agar kamu tidak diserang) dan agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia membimbing kamu ke jalan yang lurus (20) dan (kemenangan-kemenangan) lain yang tidak dapat kamu perkirakan, tetapi Allah telah mengepungnya (menentukannya). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (21)." (QS. Al-Fath: 20-21).

Ini merupakan kabar gembira dari Allah untuk orang-orang mukmin yang mereka dengar dan mereka yakini sepenuhnya. Mereka mengetahui bahwa Allah telah menyediakan bagi mereka harta rampasan perang yang banyak, dan mereka pun hidup setelah itu sepanjang sisa umur mereka dengan menyaksikan bukti kebenaran dari janji yang tidak akan pernah diingkari ini. Di sini Allah berfirman kepada mereka bahwa Dia telah menyegerakan untuk mereka perkara ini. Dan perkara "ini" bisa jadi merupakan Perjanjian Hudaibiyah—sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas—guna menguatkan substansi makna bahwa ia adalah sebuah kemenangan dan sumber keuntungan. Dan pada hakikatnya ia memang demikian, sebagaimana yang telah kami paparkan sebelumnya dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serta dari realitas fakta yang menyuarakan kebenaran dari penilaian ini. Sebagaimana ia juga bisa jadi merupakan Penaklukan Khaibar—sebagaimana diriwayatkan dari Mujahid—dengan pertimbangan bahwa ia merupakan harta rampasan perang terdekat yang terjadi setelah peristiwa Hudaibiyah. Namun, pendapat yang pertama adalah yang lebih dekat dan lebih kuat.

Allah juga memberikan karunia nikmat kepada mereka berupa tindakan-Nya yang menahan tangan manusia dari mereka. Sungguh, Allah telah menahan tangan kaum musyrik Quraisy dari mereka, sebagaimana Dia juga menahan tangan musuh-musuh selain mereka yang selama ini selalu mengintai untuk menimpakan kemalangan bagi mereka. Padahal bagaimanapun juga posisi kaum Muslimin adalah sedikit secara jumlah, sedangkan manusia musuh mereka sangatlah banyak. Akan tetapi karena mereka telah menepati baiat mereka dan bangkit memikul beban-beban kewajibannya, maka Allah menahan tangan manusia dari mereka serta memberikan rasa aman kepada mereka.

"dan agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin..." Peristiwa yang awalnya mereka benci dan terasa berat di dalam jiwa mereka ini, justru dikabarkan oleh Allah bahwa ia akan menjadi tanda (āyah) bagi mereka. Di dalamnya mereka dapat melihat muara akhir dari pengaturan Allah bagi mereka, serta balasan atas ketaatan mereka kepada Rasulullah dan kepasrahan diri mereka. Hal tersebut menanamkan keteguhan di dalam jiwa mereka bahwa peristiwa ini merupakan sebuah perkara yang agung dan kebaikan yang berlimpah ruah, serta mengalirkan ketenangan (as-sakīnah), ketenteraman, keridhaan, dan keyakinan ke dalam hati mereka.

"dan agar Dia membimbing kamu ke jalan yang lurus." Ini sebagai balasan atas ketaatan kalian, kepatuhan kalian, serta kejujuran batin kalian. Demikianlah Allah menghimpun bagi mereka antara keuntungan yang mereka dapatkan dengan petunjuk hidayah yang dikaruniakan kepada mereka. Maka sempurnalah kebaikan bagi mereka dari segala penjuru, di dalam perkara yang tadinya mereka benci dan mereka pandang teramat berat. Demikianlah Allah mendidik mereka bahwa pilihan Allah bagi mereka adalah pilihan yang terbaik; serta mendidik hati mereka untuk berada di atas ketaatan yang mutlak dan kepatuhan penuh.

Demikian pula Allah memberikan karunia nikmat kepada mereka dan memberikan kabar gembira tentang kemenangan yang lain selain dari ini. Suatu kemenangan yang tidak akan mampu mereka raih dengan kekuatan mereka sendiri, akan tetapi Allah-lah yang langsung menangani urusannya untuk mereka dengan kekuasaan-Nya dan ketentuan-Nya: "dan (kemenangan-kemenangan) lain yang tidak dapat kamu perkirakan, tetapi Allah telah mengepungnya (menentukannya). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Riwayat-riwayat berbeda pandangan mengenai apakah kemenangan yang lain ini. Apakah ia merupakan Penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah)? Ataukah Penaklukan Khaibar? Ataukah penaklukan terhadap dua imperium besar Kisra [Persia] dan Kaisar [Romawi]? Ataukah seluruh rangkaian penaklukan kaum Muslimin yang terjadi secara berurutan setelah peristiwa ini seluruhnya?

Pendapat yang paling dekat dan serasi dengan runtunan ayat (siyāq) adalah bahwa ia merupakan Penaklukan kota Makkah; yang terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah dan disebabkan oleh adanya jalur perjanjian damai ini. Perjanjian damai yang tidak bertahan lama melainkan hanya dua tahun saja, kemudian kaum musyrik merusaknya, sehingga Allah membukakan kota Makkah bagi kaum Muslimin hampir tanpa peperangan sama sekali. Padahal kota itulah yang sebelumnya teramat sulit bagi mereka, yang menginvasi mereka di pusat kediaman mereka sendiri di Madinah, serta menolak kedatangan mereka pada tahun Hudaibiyah. Kemudian Allah mengepungnya [menentukannya] dan menyerahkannya kepada mereka tanpa peperangan—"Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Maka ini merupakan kabar gembira yang dikemas rapi di tempat ini, tidak ditentukan secara definitif karena ia pada saat turunnya ayat ini masih berupa perkara gaib di antara perkara gaib milik Allah. Dia mengisyaratkannya dengan isyarat ini guna menyemaikan ketenteraman, keridhaan, penantian penuh harap, dan kabar gembira.

Bersamaan dengan momentum isyarat menuju harta rampasan yang hadir saat ini serta harta rampasan yang telah dikepung oleh Allah sementara mereka sedang menanti-nantikannya, Allah menetapkan bagi mereka sebuah ketetapan bahwa mereka adalah orang-orang yang pasti ditolong. Bahwa perdamaian pada tahun ini bukanlah terjadi karena posisi mereka yang lemah, atau karena kaum musyrik berada di posisi yang kuat. Akan tetapi ia terjadi demi sebuah hikmah yang dikehendaki-Nya. Sekiranya orang-orang kafir itu memerangi mereka, niscaya orang-orang kafir itu pasti akan kalah terhina. Sebab itulah sunatullah yang berlaku kapan pun orang-orang mukmin bertemu dengan orang-orang kafir di medan pertempuran yang menentukan:

وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوَلَّوُا الْاَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُوْنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا ٢٢ سُنَّةَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا ٢٣

"Dan sekiranya orang-orang yang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka akan berbalik ke belakang (kalah) dan mereka tidak akan menemukan pelindung dan tidak pula penolong. (Sebagai) sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu. Kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu." (QS. Al-Fath: 22-23).

Demikianlah Allah mengaitkan kemenangan mereka serta kekalahan kaum kafir dengan hukum alam semesta-Nya (sunnah kauniyyah) yang bersifat mapan lagi tidak akan pernah berubah. Maka ketenangan (sakīnah) macam apakah ini? Rasa percaya diri macam apakah ini? Dan keteguhan macam apakah yang didapatkan oleh orang-orang mukmin itu di dalam jiwa mereka; saat mereka mendengar langsung dari Allah bahwa kemenangan mereka serta kekalahan musuh-musuh mereka merupakan sebuah sunah di antara sunah-sunah-Nya yang berjalan di dalam eksistensi alam semesta ini?

Ia merupakan sunah yang bersifat permanen lagi tidak akan pernah berubah. Akan tetapi ia terkadang ditunda kedatangannya hingga batas waktu tertentu; karena sebab-sebab yang boleh jadi berkaitan dengan tingkat kemapanan orang-orang mukmin di atas jalan mereka serta kelurusan mereka di atas garis istikamah yang diketahui oleh Allah bagi mereka. Atau berkaitan dengan pengondisian suasana yang melahirkan kemenangan bagi orang-orang mukmin serta kekalahan bagi orang-orang kafir, agar ia memiliki nilai konseptual serta implikasi dampaknya tersendiri. Atau karena faktor di luar itu semua dari apa yang diketahui oleh Allah. Akan tetapi sunah tersebut tidak akan pernah meleset. Dan Allah adalah Zat yang paling jujur perkataan-Nya: "Kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu."

Demikian pula Allah memberikan karunia nikmat kepada mereka berupa tindakan-Nya yang menahan tangan kaum musyrik dari mereka, serta menahan tangan mereka dari kaum musyrik setelah Allah memberikan kemenangan kepada mereka atas orang-orang yang menyerang mereka. Ini mengisyaratkan pada insiden nyata yang terjadi, ketika ada empat puluh orang dari kaum musyrik—atau lebih, atau kurang—yang ingin menyusup dan mencelakai perkemahan kaum Muslimin, namun mereka berhasil ditangkap dan kemudian dimaafkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَهُوَ الَّذِيْ كَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ اَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًا ٢٤

"Dialah yang menahan tangan mereka dari kamu dan menahan tangan kamu dari mereka di lembah Makkah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Fath: 24).

Ia merupakan sebuah insiden nyata yang telah terjadi dan diketahui dengan baik oleh para pendengarnya. Allah mengingatkannya kembali kepada mereka dengan gaya bahasa ini guna mengembalikan setiap pergerakan dan setiap insiden yang terjadi pada mereka menuju pada pengaturan-Nya secara langsung; serta untuk menanamkan di dalam hati mereka rasa kesadaran yang mendalam ini terhadap eksistensi tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala saat Dia mengatur segala sesuatu untuk mereka, memimpin langkah kaki mereka, sebagaimana Dia juga memimpin lintasan pikiran mereka. Tujuannya adalah agar mereka memasrahkan seluruh diri mereka secara total kepada Allah, tanpa ada keraguan dan tanpa ada sikap berpaling; serta dengan sikap itu mereka dapat masuk ke dalam kedamaian secara keseluruhan (as-silmi kāffah) bersama seluruh perasaan, lintasan pikiran, arah orientasi, dan aktivitas mereka. Mereka hidup dengan meyakini bahwa segala urusan seluruhnya berada di tangan Allah, bahwa pilihan yang terbaik adalah apa yang dipilih oleh Allah, dan bahwa mereka berjalan di atas kendali takdir dan masyiat-Nya di dalam apa yang mereka pilih dan di dalam apa yang mereka tolak. Dan bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi mereka. Maka apabila mereka telah berserah diri secara pasrah kepada-Nya, niscaya akan terealisasi bagi mereka kebaikan seluruhnya melalui jalan yang paling mudah. Dan Dia Maha Melihat terhadap mereka, baik yang tampak dari mereka maupun yang tersembunyi, maka Dia memilihkan untuk mereka di atas pijakan ilmu dan penglihatan-Nya. Dia tidak akan pernah menelantarkan mereka, dan tidak pula menyia-nyiakan sesuatu yang menjadi hak mereka: "Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Kemudian Allah berbicara kepada mereka tentang musuh-musuh mereka; siapakah mereka di dalam neraca timbangan Allah? Bagaimanakah Allah memandang amal perbuatan mereka serta tindakan mereka yang menghalang-halangi orang-orang mukmin dari rumah-Nya yang suci [Masjidilharam]? Dan bagaimanakah Allah memandang diri kaum mukmin secara berbalikan dari cara Dia memandang musuh-musuh mereka yang melampaui batas tersebut:

هُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوْفًا اَنْ يَّبْلُغَ مَحِلَّهٗ ۚوَلَوْلَا رِجَالٌ مُّؤْمِنُوْنَ وَنِسَاۤءٌ مُّؤْمِنٰتٌ لَّمْ تَعْلَمُوْهُمْ اَنْ تَطَـُٔوْهُمْ فَتُصِيْبَكُمْ مِّنْهُمْ مَّعَرَّةٌ ۢبِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ لِيُدْخِلَ اللّٰهُ فِيْ رَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۚ لَوْ تَزَيَّلُوْا لَعَذَّبْنَا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ٢٥ اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى وَكَانُوْٓا اَحَقَّ بِهَا وَاَهْلَهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ ٢٦

"Merekalah orang-orang kafir yang menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam dan (menghalang-halangi) hewan kurban yang tertahan untuk sampai ke tempat penyembelihannya yang sah. Sekiranya tidak ada laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin yang tidak kamu ketahui, tentulah kamu akan menginjak-injak mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa pengetahuan (kamu), karena Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka terpisah, niscaya Kami akan mengazab orang-orang yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih (25) Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, dan (Allah) overwajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan (kalimat) itu dan patut memilikinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (26)." (QS. Al-Fath: 25-26).

Mereka di dalam neraca timbangan Allah dan penilaian-Nya adalah orang-orang kafir yang sejati, yang sangat berhak menyandang sifat yang dibenci ini: "Merekalah orang-orang kafir..."

Allah menyematkan sifat itu atas mereka seolah-olah mereka adalah persona yang menyendiri dengannya, berakar kuat dalam penisbatan kepadanya, maka mereka adalah makhluk yang paling dibenci di sisi Allah yang membenci kekufuran dan orang-orang kafir! Demikian pula Allah mencatat atas mereka perbuatan buruk mereka yang lain, yaitu tindakan mereka yang menghalang-halangi orang-orang mukmin dari Masjidilharam, serta tindakan menghalangi hewan kurban (al-hadyu) dan membiarkannya tertahan dari menempuh jalur perjalanannya menuju tempat penyembelihannya yang disyariatkan:

"yang menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam dan (menghalang-halangi) hewan kurban yang tertahan untuk sampai ke tempat penyembelihannya yang sah." (QS. Al-Fath: 25).

Padahal perkara semacam ini merupakan sebuah dosa besar (kabīrah) baik di masa jahiliah maupun di dalam Islam. Dosa besar di dalam seluruh agama yang mereka ketahui di Jazirah Arab yang bersumber dari warisan ayah mereka, Nabi Ibrahim. Perbuatan yang dibenci di dalam tradisi mereka, di dalam akidah mereka, dan di dalam akidah orang-orang mukmin... Maka tindakan Allah menahan tangan orang-orang mukmin dari mereka bukanlah terjadi karena adanya upaya untuk memelihara eksistensi mereka akibat kecilnya dosa yang mereka perbuat. Sama sekali tidak! Melainkan hal itu terjadi demi sebuah hikmah yang lain yang mana Allah Subhanahu wa Ta'ala menyingkapkannya secara lembut kepada orang-orang mukmin:

"Sekiranya tidak ada laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin yang tidak kamu ketahui, tentulah kamu akan menginjak-injak mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa pengetahuan (kamu)..." (QS. Al-Fath: 25).

Sebab di sana dahulunya terdapat sebagian orang-orang yang tertindas (al-mustadh'afīn) dari kalangan kaum Muslimin di Makkah yang belum berhijrah, dan mereka tidak menampakkan keislaman mereka demi menjaga keselamatan diri (taqiyyah) di tengah-tengah kepungan kaum musyrik. Sekiranya peperangan berkecamuk dan kaum Muslimin menginvasi Makkah sementara mereka tidak mengetahui persona orang-orang tersebut secara kedirian mereka, maka boleh jadi kaum Muslimin akan menginjak-injak mereka, melindas mereka, dan membunuh mereka. Sehingga akibatnya akan muncul opini: "Sesungguhnya kaum Muslimin telah membunuh sesama Muslim!" Selain itu, kaum Muslimin juga akan diwajibkan untuk membayar denda diat mereka ketika jelas terbukti bahwa mereka telah membunuh secara tersalah (khatha') padahal korban adalah orang Islam... Kemudian di sana ada pula hikmah yang lain, yaitu bahwa Allah mengetahui bahwa di antara orang-orang kafir yang menghalangi mereka dari Masjidilharam itu, ada orang-orang yang telah digariskan baginya hidayah, dan telah ditakdirkan oleh Allah untuk masuk ke dalam rahmat-Nya berdasarkan apa yang diketahui oleh-Nya dari tabiat karakter dan hakikat kediriannya. Sekiranya mereka itu saling terpisah secara jelas antara golongan yang ini dengan golongan yang itu, niscaya Allah akan mengizinkan kaum Muslimin untuk berperang, dan niscaya Dia akan mengazab orang-orang kafir dengan azab yang sangat pedih:

"karena Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka terpisah, niscaya Kami akan mengazab orang-orang yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih." (QS. Al-Fath: 25).

Demikianlah Allah menyingkap bagi jamaah yang terpilih, yang unik, lagi berbahagia ini tentang dimensi dari hikmah-Nya yang tadinya gaib di balik ketentuan takdir-Nya dan pengaturan-Nya.

Dan Allah melanjutkan untuk menyifati orang-orang yang kafir; yaitu menyifati kondisi jiwa mereka dari bagian dalam, setelah sebelumnya mencatat karakteristik mereka dan amal perbuatan lahiriah mereka:

"Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah..." (QS. Al-Fath: 26).

Sebuah kesombongan/fanatisme (hamiyyah) yang bukan bersandar pada akidah dan bukan pula pada manhaj [sistem hidup]. Ia hanyalah merupakan fanatisme yang bersumber dari keangkuhan, kesombongan, kecongkakan, dan sikap keras kepala. Fanatisme yang membuat mereka berdiri menghalangi jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beserta orang-orang yang bersamanya, membendung mereka dari mendatangi Masjidilharam, serta menahan hewan kurban yang mereka bawa agar tidak sampai ke tempat penyembelihannya. Tindakan mereka itu menyelisihi seluruh tradisi konvensional dan menyelisihi seluruh akidah yang ada. Semua itu mereka lakukan semata-mata agar bangsa Arab tidak memunculkan opini bahwa Muhammad telah memasuki wilayah mereka secara paksa. Maka demi memburu kesombongan sentimen jahiliah (na'rah jāhiliyyah) ini, mereka berani menerjang dosa besar yang dibenci di dalam setiap tradisi dan agama; mereka melanggar kehormatan tanah suci (tanah haram) yang mana mereka sendiri hidup menumpang di atas nilai kesuciannya; dan mereka melanggar kehormatan bulan-bulan haram yang tidak pernah dilanggar baik di masa jahiliah maupun di dalam Islam!

Ia merupakan fanatisme yang tampak nyata dalam sikap kasar mereka terhadap siapa saja yang memberikan usulan kepada mereka—di awal perkara—untuk menempuh jalur damai, serta mengecam tindakan mereka yang menghalangi Muhammad beserta rombongannya dari rumah Allah yang suci. Ia juga merupakan fanatisme yang tampak nyata dalam penolakan Suhail bin 'Amr terhadap penulisan nama "Ar-Rahman Ar-Rahim" serta penolakan terhadap predikat "Rasulullah" di tengah-tengah proses penulisan naskah perjanjian. Dan itu semua bersumber dari watak jahiliah yang angkuh lagi keras kepala tanpa berpijak pada kebenaran.

Dan Allah telah menjadikan fanatisme di dalam jiwa mereka berada di atas format jahiliah semacam ini karena apa yang Dia ketahui di dalam jiwa mereka berupa sikap antipati terhadap kebenaran serta keengganan untuk tunduk kepadanya. Adapun orang-orang mukmin, maka Allah melindungi mereka dari fanatisme semacam ini. Dia menempatkan ketenangan (as-sakīnah) serta ketakwaan sebagai penggantinya:

"lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, dan (Allah) mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan (kalimat) itu dan patut memilikinya..." (QS. Al-Fath: 26).

Ketenangan yang berwibawa lagi damai, sebagaimana ketakwaan yang penuh kehati-hatian lagi tawaduk, kedua-duanya merupakan karakter yang sangat serasi bagi hati yang mukmin yang tersambung erat dengan Tuhannya, serta merasa damai dengan adanya keterikatan ini. Hati yang merasa tenteram dengan rasa percaya yang ada di dalamnya, serta selalu merasa diawasi oleh Tuhannya pada setiap getaran rasa dan setiap pergerakan. Maka dia tidak akan bersikap congkak dan tidak pula melampaui batas; dia tidak akan marah demi membela egonya sendiri, melainkan dia hanya marah demi Tuhannya dan demi agamanya. Oleh karena itu, apabila dia diperintahkan untuk menjadi tenang dan damai, maka dia akan tunduk khusyuk dan taat dalam keadaan ridha lagi tenteram.

Olah karena itu, orang-orang mukmin menjadi pihak yang paling berhak terhadap kalimat takwa, dan mereka adalah orang-orang yang patut memilikinya. Ini merupakan bentuk pujian yang lain dari Tuhan mereka atas mereka, di samping karunia nikmat atas mereka berupa apa yang telah Dia turunkan ke dalam hati mereka berupa ketenangan, serta apa yang telah Dia titipkan di dalamnya berupa ketakwaan. Maka mereka benar-benar telah berhak mendapatkannya di dalam neraca timbangan Allah, serta berdasarkan kesaksian-Nya; dan ini merupakan bentuk pemuliaan di atas pemuliaan, yang lahir bersumber dari ilmu dan ketentuan takdir-Nya:

"Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Fath: 26).

Dan sungguh telah lewat bersama kita sebuah pemaparan bahwa sebagian orang-orang mukmin yang keluar berangkat dengan membawa kabar gembira dari mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sempat merasa terkejut dan berat hati karena mimpi tersebut tidak langsung terealisasi secara faktual pada tahun ini; serta karena mereka ditolak dari mendatangi Masjidilharam. Maka di sini Allah menegaskan kepada mereka tentang kebenaran dari mimpi ini, mengabarkan kepada mereka bahwa mimpi itu bersumber dari-Nya, dan bahwa ia pasti akan terjadi secara mutlak. Serta mengabarkan bahwa di balik mimpi tersebut ada perkara yang jauh lebih besar daripada sekadar memasuki Masjidilharam saja:

لَقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِالْحَقِّ ۚ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَۙ لَا تَخَافُوْنَ ۗفَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا ٢٧ هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا ٢٨

"Sungguh, Allah telah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepalamu dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka, Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan sebelum itu Dia telah menganugerahkan kemenangan yang dekat (27) Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama. Cukuplah Allah sebagai saksi (28)" (QS. Al-Fath: 27-28).

Maka adapun kabar gembira yang pertama; yaitu kabar gembira tentang pembuktian kebenaran mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kepastian mereka untuk memasuki Masjidilharam dalam keadaan aman, serta tindakan mencukur gundul rambut mereka atau memendekkannya setelah selesainya pelaksanaan syiar haji atau umrah tanpa ada rasa takut... maka adapun perkara ini sungguh telah terealisasi secara faktual setelah berlalu satu tahun kemudian [pada peristiwa Umratul Qadha']. Kemudian ia terealisasi secara lebih besar dan lebih jelas lagi setelah berlalu dua tahun penuh dari peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Yaitu ketika telah sempurna bagi mereka peristiwa Penaklukan kota Makkah, serta unggulnya agama Allah di atasnya.

Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta'ala mendidik orang-orang mukmin dengan adab keimanan saat Dia berfirman kepada mereka: "kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah..." Maka, peristiwa masuknya mereka ke sana adalah sebuah kepastian yang tak terelakkan, karena Allah sendiri yang mengabarkannya. Kendati demikian, masyiat [kehendak bebas Allah] harus tetap tertanam di dalam jiwa kaum Muslimin dalam wujudnya yang mutlak tanpa terikat oleh apa pun, sehingga hakikat ini mantap di dalam hati dan menjadi fondasi persepsi terhadap kehendak ilahi. Al-Qur'an senantiasa menekankan makna ini, menetapkan hakikat ini, dan menyebutkan pengecualian (istitsnā') ini [kalimat insya Allah] di setiap tempat, bahkan di tempat-tempat yang menyebutkan janji Allah sekalipun. Padahal, janji Allah tidak akan pernah diingkari. Akan tetapi, keterikatan kehendak-Nya terhadap janji tersebut selamanya bersifat mutlak. Ini adalah sebuah adab yang ditiupkan oleh Allah ke dalam jiwa orang-orang mukmin, agar ia menghujam dalam-dalam di ceruk hati dan kesadaran mereka.

Kita kembali kepada kisah pembuktian janji ini. Berbagai riwayat menyebutkan bahwa ketika memasuki bulan Zulkaidah tahun ke-7 Hijriah—yaitu setahun setelah Perjanjian Hudaibiyah—Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan umrah bersama orang-orang yang ikut dalam peristiwa Hudaibiyah. Beliau berihram dari Dzulhulaifah dan menuntun hewan kurban (al-hadyu) bersama beliau—sebagaimana beliau berihram dan menuntun hewan kurban pada tahun sebelumnya—dan para sahabat beliau berjalan sembari bertalbiah. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah dekat dari Marrazh-Zhahran, beliau mengutus Muhammad bin Maslamah untuk membawa pasukan berkuda dan persenjataan di depan beliau. Tatkala kaum musyrik melihatnya, mereka dicekam rasa takut yang sangat hebat. Mereka mengira Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak memerangi mereka dan telah merusak perjanjian gencatan senjata selama sepuluh tahun yang disepakati di antara mereka. Maka mereka segera pergi dan mengabarkannya kepada penduduk Makkah. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba lalu singgah di Marrazh-Zhahran hingga dapat melihat tanda-tanda batas tanah haram, beliau mengirimkan persenjataan berupa busur, anak panah, dan tombak ke bagian dalam wilayah Yajaj. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke Makkah dengan pedang-pedang yang tetap tersimpan di dalam sarungnya, sebagaimana yang telah beliau syaratkan dalam perjanjian bersama mereka. Di tengah perjalanan, kaum Quraisy mengutus Mikraz bin Hafsh, lalu dia berkata, "Wahai Muhammad, kami tidak pernah mengenalmu sebagai orang yang merusak perjanjian." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apa maksudmu?" Dia menjawab, "Kamu memasuki wilayah kami dengan membawa senjata, busur, dan tombak." Maka beliau bersabda, "Tidak demikian, kami telah mengirimkan senjata-senjata itu ke Yajaj." Mikraz pun berkata, "Dengan sifat inilah kami mengenalmu, yaitu dengan kebaikan dan pemenuhan janji!"

Para pembesar kaum kafir keluar meninggalkan Makkah agar tidak melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beserta para sahabatnya radhiyallahu 'anhum karena didorong oleh rasa berang dan murka. Adapun penduduk Makkah yang tersisa, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, mereka duduk-duduk di pinggir jalan dan di atas atap rumah menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Beliau memasuki kota Makkah sementara para sahabat di hadapan beliau mengumandangkan talbiah, sedangkan hewan kurban telah beliau kirim ke Dzi Thuwa. Beliau menunggangi untanya, Al-Qashwa, yang dahulu juga beliau tunggangi pada hari Hudaibiyah, sementara Abdullah bin Rawahah Al-Anshari memegang tali kendali unta tersebut seraya menuntunnya.

Demikianlah, mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terbukti benar dan janji Allah terealisasi. Kemudian terjadilah Penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) pada tahun berikutnya, sehingga agama Allah unggul di Makkah, lalu menyebar dan unggul di seluruh Jazirah Arab setelahnya. Kemudian terealisasilah janji Allah dan kabar gembira-Nya yang terakhir di mana Dia berfirman:

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama. Cukuplah Allah sebagai saksi." (QS. Al-Fath: 28).

Maka sungguh, agama yang benar ini telah unggul, tidak hanya di Jazirah Arab semata, melainkan telah tampil unggul di wilayah bumi yang berpenghuni seluruhnya sebelum berlalu waktu setengah abad. Agama ini tampil di seluruh Imperium Kisra [Persia], di sebagian besar Imperium Kaisar [Romawi], tampil di India dan di Cina, kemudian di Asia Tenggara seperti Malaya dan sekitarnya, serta di Kepulauan Hindia Timur (Indonesia)... Dan wilayah-wilayah inilah yang menjadi bagian terbesar dari bumi yang berpenghuni pada abad ke-6 dan pertengahan abad ke-7 Masehi.

Dan agama yang benar ini akan senantiasa unggul di atas seluruh agama—bahkan setelah surutnya dominasi politik Islam dari sebagian besar wilayah bumi yang dahulu pernah ditaklukkannya, terutama di Eropa dan kepulauan Laut Mediterania; serta surutnya kekuatan para pemeluknya di seluruh bumi jika dibandingkan dengan kekuatan-kekuatan yang muncul di Timur dan Barat pada zaman ini.

Benar, agama yang benar ini akan senantiasa unggul di atas seluruh agama, ditinjau dari eksistensinya sebagai sebuah agama. Sebab, ia adalah agama yang kuat dengan kediriannya sendiri, kuat secara tabiat dasarnya, yang bergerak maju merambah tanpa membutuhkan pedang maupun meriam dari pemeluknya! Hal itu dikarenakan tabiat dasarnya yang selaras dengan fitrah manusia dan hukum-hukum alam semesta (nawāmīs) yang orisinal, serta karena di dalamnya terdapat pemenuhan yang sederhana namun mendalam bagi kebutuhan akal dan ruh, kebutuhan peradaban dan kemajuan, hingga kebutuhan berbagai macam lingkungan yang heterogen, mulai dari penduduk gubuk-gubuk reot hingga penduduk gedung-gedung pencakar langit!

Tidak ada seorang pun pemeluk agama lain selain Islam, yang melihat kepada Islam dengan pandangan yang bersih dari fanatisme golongannya dan hawa nafsu, melainkan dia pasti akan mengakui kelurusan agama ini, kekuatan laten yang tersimpan di dalamnya, serta kemampuannya untuk memimpin umat manusia dengan kepemimpinan yang terbimbing cerdas (rasyīdah), sekaligus memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang terus tumbuh dan berkembang dengan penuh kemudahan dan kelurusan... "Cukuplah Allah sebagai saksi." Maka janji Allah sungguh telah terealisasi dalam wujud politik yang tampak sebelum berlalu satu abad setelah diutusnya Muhammad. Dan janji Allah akan senantiasa terealisasi dalam wujud objektif yang mapan, dan agama ini akan terus unggul di atas seluruh agama dalam hakikat realitasnya. Bahkan, ia adalah satu-satunya agama yang tersisa yang mampu untuk bekerja dan memimpin dalam segala kondisi.

Namun boleh jadi, para pemeluk agama ini adalah satu-satunya pihak yang justru tidak menyadari hakikat ini pada hari ini! Sementara orang-orang di luar pemeluknya sangat menyadari dan mengkhawatirkannya, bahkan mereka selalu memperhitungkannya dengan matang di dalam setiap kebijakan politik mereka!

Sekarang kita sampai pada bagian penutup surah. Penutup yang menyajikan potret penggambaran yang bercahaya yang dilukiskan oleh Al-Qur'an tentang realitas para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, serta ditutup dengan pujian yang mulia bagi jamaah yang unik lagi berbahagia tersebut, yang mana Allah telah ridha kepada mereka, dan menyampaikan keridhaan-Nya kepada mereka secara personal, satu per satu:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ ۖوَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗوَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ ٢٩

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fath: 29).

Sungguh ini merupakan sebuah potret penggambaran yang menakjubkan yang dilukiskan oleh Al-Qur'an Al-Karim dengan gaya bahasanya yang indah memukau (badī'). Sebuah potret yang tersusun dari beberapa bidikan lensa (laqathāt) bagi kondisi yang paling menonjol dari jamaah pilihan ini, baik kondisi lahiriah maupun batiniah mereka. Satu bidikan lensa melukiskan kondisi mereka terhadap orang-orang kafir dan di antara sesama mereka sendiri: "adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka". Bidikan lensa berikutnya melukiskan format postur mereka dalam ibadah: "Kamu lihat mereka rukuk dan sujud". Bidikan lensa lain melukiskan kondisi hati mereka, apa yang menyibukkannya dan apa yang bergejolak di dalamnya: "mencari karunia Allah dan keridaan-Nya". Bidikan lensa lainnya lagi melukiskan pengaruh ibadah dan orientasi menghadap kepada Allah yang membekas pada sikap tampang, raut wajah, dan karakteristik mereka: "tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud". "Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat..." Dan inilah karakteristik mereka di dalamnya... Serta bidikan-bidikan lensa yang berurutan melukiskan mereka sebagaimana keberadaan mereka di dalam Injil... "yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat..." "lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya..." "tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya...": "karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir..."

Ayat ini dimulai dengan menetapkan sifat kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sebuah sifat yang dahulu diingkari oleh Suhail bin 'Amr dan orang-orang musyrik di belakangnya: "Muhammad adalah utusan Allah..." Kemudian terlukislah potret penggambaran yang bercahaya itu dengan gaya bahasa yang indah tersebut. Orang-orang mukmin sejatinya memiliki kondisi yang beraneka ragam. Akan tetapi bidikan-bidikan lensa ini mengambil kondisi-kondisi yang bersifat permanen dalam kehidupan mereka, serta titik-titik tumpu yang orisinal di dalam kehidupan ini. Ayat ini menonjolkan kondisi tersebut dan membentuknya menjadi garis-garis besar dalam potret penggambaran yang bercahaya... Kehendak untuk memuliakan (ikrām) tampak sangat jelas dalam pemilihan bidikan-bidikan lensa ini, serta dalam pemantapan raut wajah dan karakteristik yang dilukiskannya; sebuah pemuliaan ilahi bagi jamaah yang berbahagia ini.

Kehendak untuk memuliakan tampak sangat jelas ketika Dia mencatat bagi mereka pada bidikan lensa yang pertama bahwa mereka: "adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..." Mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir yang di dalamnya terdapat ayah-ayah mereka, saudara-saudara mereka, kerabat dekat mereka, dan karib kerabat mereka sendiri, akan tetapi mereka tega memutuskan semua ikatan kekerabatan tersebut. Mereka berkasih sayang sesama mereka padahal mereka hanyalah saudara seiman. Maka dari itu, sikap kerasnya adalah karena Allah dan kasih sayangnya pun karena Allah. Ia adalah wujud fanatisme demi akidah, dan kelapangan dada demi akidah. Sehingga tidak ada lagi porsi bagi ego kedirian mereka dalam hubungan tersebut, dan ego kedirian mereka tidak memiliki andil apa pun di dalamnya. Mereka menyandarkan luapan emosi dan perasaan mereka, sebagaimana mereka menyandarkan perilaku dan ikatan hubungan mereka, semata-mata di atas fondasi akidah mereka saja. Mereka bersikap keras kepada musuh-musuh mereka di dalam akidah tersebut, dan bersikap lembut kepada saudara-saudara seiman mereka di dalamnya. Mereka telah bersih total dari sifat egois, hawa nafsu, serta luapan emosi demi selain Allah, dan ikatan yang mengikat mereka hanyalah ikatan dengan Allah.

Kehendak untuk memuliakan juga tampak sangat jelas ketika Dia memilih dari sekian format postur dan kondisi mereka, yaitu format rukuk dan sujud serta kondisi ibadah: "Kamu lihat mereka rukuk dan sujud..." Ungkapan ini memberikan kesan seolah-olah inilah format postur permanen mereka yang akan dilihat oleh siapa saja yang melihat mereka kapan pun waktunya. Hal itu dikarenakan format rukuk dan sujud merepresentasikan kondisi ibadah, yang mana ia merupakan kondisi yang orisinal bagi mereka dalam hakikat jiwa mereka; maka dari itu Dia mengungkapkannya dengan ungkapan yang memantapkan kondisi tersebut pada dimensi waktu mereka, hingga seakan-akan mereka menghabiskan seluruh waktu mereka dalam keadaan rukuk dan sujud.

Bidikan lensa yang ketiga pun serupa dengannya. Akan tetapi ia merupakan bidikan bagi bagian dalam jiwa mereka dan ceruk sanubari mereka yang paling dalam: "mencari karunia Allah dan keridaan-Nya..."

Maka inilah potret dari perasaan mereka yang bersifat permanen lagi mapan. Segala hal yang menyibukkan pikiran mereka, dan segala hal yang menjadi muara dari kerinduan mereka, hanyalah karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tidak ada satu perkara pun di balik karunia dan keridhaan yang mereka dambakan dan mereka sibukkan diri dengannya.

Bidikan lensa yang keempat memantapkan pengaruh ibadah lahiriah dan pendambaan batiniah pada raut wajah mereka, serta bagaimana ia memancar keluar pada karakteristik mereka: "tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud..." Tanda-tanda pada raut wajah mereka berupa rona cahaya yang bersih, pancaran sinar yang cerah, keheningan, dan transparansi jiwa, serta berupa bekas keletihan ibadah yang hidup, bercahaya, lagi lembut. Tanda ini bukanlah berupa noda hitam atau tanda kapalan tertentu pada wajah sebagaimana yang langsung terbetik di dalam benak sebagian orang ketika mendengar firman-Nya: "dari bekas sujud..." Karena yang dimaksud dengan bekas sujud adalah pengaruh dari ibadah. Dipilihnya diksi "sujud" karena ia merepresentasikan kondisi kekhusyukan, ketundukan, dan penghambaan diri ('ubūdiyyah) kepada Allah dalam wujudnya yang paling sempurna. Maka tanda itu adalah pengaruh dari kekhusyukan ini; pengaruhnya pada garis-garis wajah, yang mana darinya sirna segala bentuk keangkuhan, kesombongan, dan kemewahan lahiriah. Lalu menempati tempatnya sikap تواضع [rendah hati] yang mulia, transparansi yang jernih, pancaran cahaya yang tenang, serta bekas keletihan yang tipis yang justru menambah wajah orang mukmin semakin bercahaya, berseri-seri, dan mulia.

Potret penggambaran bercahaya yang diwakili oleh bidikan-bidikan lensa ini bukanlah perkara baru yang baru diada-adakan. Melainkan ia telah mapan ditetapkan bagi mereka di dalam lembaran takdir; oleh karena itu ia bersifat terdahulu dan telah datang penyebutannya di dalam Taurat: "Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat..." Karakteristik itulah yang dengannya Allah memperkenalkan mereka di dalam kitab Musa, sekaligus menjadi kabar gembira bagi bumi sebelum mereka benar-benar datang menginjakkan kaki di atasnya.

"dan sifat-sifat mereka dalam Injil..." Karakteristik mereka di dalam kabar gembira yang dibawa oleh Injil mengenai Muhammad dan orang-orang yang bersamanya, bahwa mereka: "yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya..." Ia adalah tanaman yang tumbuh subur lagi kuat, yang mengeluarkan tunasnya dari basis kekuatannya dan kesuburannya. Akan tetapi tunas ini tidak memperlemah batang utamanya melainkan justru memperkokohnya: "maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat..." Atau batang utama itulah yang menopang tunasnya sehingga menjadikannya kuat. "lalu menjadi besar..." tanaman itu sehingga batangnya menjadi gemuk kokoh dan berisi penuh. "dan tegak lurus di atas batangnya..." dalam keadaan tidak bengkok ataupun melengkung, melainkan lurus, kuat, lagi proporsional...

Inilah potret tanaman tersebut pada kediriannya sendiri. Adapun dampaknya di dalam jiwa para pakar yang ahli di bidang cocok tanam, yang mengerti mana tanaman yang tumbuh subur dan mana yang layu, mana yang berbuah dan mana yang mandul; maka dampaknya adalah melahirkan rasa sukacita dan kekaguman: "tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya..." Dan dalam satu ragam bacaan (qirā'ah) menggunakan bentuk tunggal "menyenangkan hati penanam" (yu'jibuz-zāri'a)... dan dia adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selaku pemilik dari tanaman yang tumbuh subur, kuat, produktif, lagi indah memukau ini... Adapun dampaknya di dalam jiwa orang-orang kafir adalah sebaliknya. Ia melahirkan dampak kemarahan, kejengkelan, dan rasa sesak di dada: "karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir..." Tindakan sengaja untuk membuat jengkel orang-orang kafir ini memberikan kesan isyarat bahwa tanaman ini adalah tanaman milik Allah, atau tanaman milik Rasul-Nya, dan para sahabat itu merupakan tirai penutup bagi bekerjanya kekuasaan Allah sekaligus instrumen untuk membuat jengkel musuh-musuh Allah!

Perumpamaan ini pun sama halnya bukan merupakan perkara baru yang diada-adakan, melainkan ia telah mapan tertulis di dalam lembaran takdir. Oleh karena itu, penyebutannya telah termaktub sebelum kedatangan Muhammad dan orang-orang yang bersamanya ke bumi ini; mapan tertulis di dalam Injil dalam wujud kabar gembira mengenai Muhammad dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka kelak datang.

Demikianlah Allah memantapkan di dalam kitab-Nya yang kekal abadi tentang karakteristik jamaah pilihan ini... para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam... Karakteristik itu pun mantap di dalam inti eksistensi alam semesta seluruhnya, dan penjuru-penjurunya saling menyambut gema karakteristik tersebut, saat ia mendengarkan langsung dari Pencipta eksistensi. Karakteristik ini akan tetap abadi menjadi model keteladanan bagi generasi-generasi setelahnya, yang mencoba untuk merealisasikannya demi mewujudkan makna iman pada derajatnya yang paling tinggi.

Di atas seluruh bentuk pemuliaan ini, Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar: "Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." Ini merupakan janji yang datang dalam format redaksi yang bersifat umum, setelah sebelumnya didahului oleh pemaparan karakteristik mereka yang menjadikan mereka sebagai golongan yang pertama kali masuk ke dalam cakupan format redaksi yang bersifat umum ini.

Ampunan dan pahala yang besar... Sungguh pemuliaan itu sendiri sebenarnya sudah teramat cukup bagi mereka. Dan keridhaan itu sendiri sudah merupakan pahala yang sangat besar. Akan tetapi, ia merupakan limpahan karunia ilahi yang tanpa batas dan tanpa sekat, serta pemberian ilahi yang tidak akan pernah terputus.

Sekali lagi, aku mencoba dari balik bentangan waktu empat belas abad untuk menatap wajah-wajah para lelaki yang berbahagia ini beserta hati mereka, saat mereka menerima limpahan karunia ilahi berupa keridhaan, pemuliaan, dan janji yang agung ini. Saat mereka melihat diri mereka berada dalam kedudukan yang sedemikian rupa dalam penilaian Allah, dalam neraca timbangan Allah, dan di dalam kitab Allah. Aku memandang kepada mereka saat mereka sedang dalam perjalanan pulang dari Hudaibiyah, dalam kondisi surah ini telah diturunkan dan telah dibacakan kepada mereka. Mereka hidup di dalam surah ini bersama ruh mereka, hati mereka, perasaan mereka, dan karakteristik mereka. Sebagian mereka memandang kepada wajah sebagian yang lain, lalu melihat adanya bekas nikmat yang dirasakan pula oleh dirinya di dalam eksistensi kediriannya.

Aku mencoba untuk hidup bersama mereka selama beberapa saat di dalam festival vertikal yang agung ini, yang mana mereka dahulu hidup di dalamnya... Akan tetapi, masakan bagi seorang manusia yang tidak ikut menghadiri festival ini akan dapat mencicipi rasanya, kecuali hanya dari kejauhan saja?!

Ya Allah, terkecuali bagi orang yang telah Engkau muliakan dengan kemuliaan seperti mereka; sehingga Engkau dekatkan baginya perkara yang jauh?!

Maka ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa aku sangat mendambakan untuk mendapatkan bekal yang unik ini!!!

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat