Tafsir Surah Al-Fath
Surah Al-Fath Makkiyyah. Dan ayat-ayatnya berjumlah dua puluh sembilan
Bismillahirrahmanirrahim
“Sesungguhnya
Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,” (1) “agar Allah
memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan
datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, membimbingmu ke jalan yang lurus,”
(2) “dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan dan kejayaan yang kuat.” (3)
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk
menambah keimanan di atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allah-lah
bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (4)
“Agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan Dia
menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Hal itu di sisi Allah adalah kemenangan
yang agung.” (5) “Dia (juga) mengazab orang-orang munafik laki-laki dan
perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka
buruk terhadap Allah. Bagian merekalah perputaran (keburukan) yang buruk itu.
Allah murka terhadap mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (neraka) Jahanam
bagi mereka. (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali.” (6) “Milik Allah-lah
bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (7)
“Sesungguhnya Kami mengutusmu (Nabi Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita
gembira, dan pemberi peringatan,” (8) “agar kamu sekalian beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, memuliakan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya
pada waktu pagi dan petang.” (9) “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia
kepadamu (Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada
Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Siapa yang melanggar janji (setia
itu), sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri.
Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahinya pahala
yang besar.” (10) “Orang-orang badui yang tertinggal (tidak ikut ke Hudaibiyah)
akan berkata kepadamu, 'Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami,
maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa
yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, 'Maka, siapakah yang dapat
menghalang-halangi kehendak Allah sedikit pun jika Dia menghendaki bencana
bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu?' Sebaliknya, Allah Maha Teliti
terhadap apa yang kamu kerjakan.” (11) “Bahkan, kamu menyangka bahwa Rasul dan
orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka
selama-lamanya. (Prasangka) itu dihiadikan (setan) dalam hatimu. Kamu telah berprasangka
dengan prasangka yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (12) “Siapa
yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Kami telah
menyediakan bagi orang-orang kafir itu neraka yang menyala-nyala.” (13) “Milik
Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan
mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(14) “Orang-orang yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk
mengambil harta rampasan (perang), 'Biarkanlah kami mengikutimu.' Mereka hendak
mengubah firman Allah. Katakanlah, 'Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti
kami. Demikianlah yang telah difirmankan Allah sebelumnya.' Mereka akan
berkata, 'Sebenarnya kamu dengki kepada kami.' Sebaliknya, mereka tidak
memahami kecuali sedikit sekali.” (15) Katakanlah kepada orang-orang badui yang
tertinggal, “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan
yang besar. Kamu akan memerangi mereka atau mereka berserah diri (masuk Islam).
Jika kamu patuh, Allah akan menganugerahimu pahala yang baik. Namun, jika kamu
berpaling sebagaimana kamu berpaling sebelumnya, Dia akan mengazabmu dengan
azab yang pedih.” (16) “Tidak ada halangan (untuk tidak pergi berperang) bagi
orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, dan tidak ada pula halangan
bagi orang sakit. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya
ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Siapa yang berpaling,
Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih.” (17) (QS. Al-Fath: 1-17).
Pengantar
Surah
ini tergolong Madaniyyah [turun setelah hijrah], diturunkan pada tahun
keenam Hijriah, tak lama setelah peristiwa Perdamaian Hudaibiyah (Shulh
al-Hudaibiyah). Surah ini membahas peristiwa besar yang krusial tersebut
beserta segala situasi yang melingkupinya, serta menggambarkan kondisi jamaah
kaum Muslimin dan keadaan di sekitar mereka pada masa itu. Jeda waktu antara
penurunan surah ini dengan penurunan Surah "Muhammad"—yang
mendahuluinya dalam urutan mushaf—adalah sekitar tiga tahun. Dalam kurun waktu
tersebut, telah terjadi perubahan-perubahan penting dan signifikan dalam peta
kondisi jamaah kaum Muslimin di Madinah; baik perubahan pada posisi tawar
mereka maupun posisi pihak-pihak yang memusuhi mereka. Namun, perubahan yang
paling penting adalah pada kondisi kejiwaan dan karakteristik keimanan mereka,
serta kematangan dan kedalaman pemahaman mereka dalam menetapi manhaj keimanan.
Sebelum
kita membahas lebih jauh mengenai surah ini, atmosfernya, serta
petunjuk-petunjuknya, ada baiknya kita menilik kembali gambaran kronologi
peristiwa yang menjadi latar belakang penurunannya (asbabun nuzul). Hal
ini bertujuan agar kita dapat menghayati atmosfer yang dirasakan kaum Muslimin
saat mereka menerima wahyu yang mulia ini:
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bermimpi dalam tidurnya bahwa beliau
bersama kaum Muslimin memasuki Kakbah dalam keadaan mencukur rambut kepala
mereka (muhalliqin) dan sebagian mencukur pendek (muqashshirin).
Padahal, kaum musyrik telah menghalangi mereka untuk memasuki Makkah sejak
peristiwa Hijrah, bahkan pada bulan-bulan haram (al-asyhur al-hurum)
sekalipun—bulan-bulan yang sangat diagungkan oleh seluruh bangsa Arab pada masa
Jahiliah. Pada bulan-bulan itu, bangsa Arab biasanya meletakkan senjata,
menganggap tabu peperangan, serta mengharamkan tindakan menghalangi orang lain
dari Masjidilharam. Bahkan, orang-orang yang memiliki dendam kesumat akibat
pertumpahan darah sekalipun akan menahan diri di bawah naungan kehormatan bulan
ini; jika seseorang bertemu dengan pembunuh ayah atau saudaranya, ia tidak akan
menghunuskan pedang di hadapannya dan tidak akan menghalanginya dari Baitullah
yang suci. Namun, kaum Quraisy justru melanggar tradisi kuat mereka sendiri
demi kepentingan ini, dan mereka menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersama kaum Muslimin selama enam tahun penuh pasca-Hijrah.
Hingga akhirnya tibalah tahun keenam, di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam mendapatkan mimpi tersebut. Beliau pun menceritakan mimpi itu
kepada para sahabatnya radhiyallahu 'anhum, sehingga mereka menyambutnya
dengan penuh suka cita dan kabar gembira.
Riwayat
Ibnu Hisyam mengenai fakta-fakta peristiwa Hudaibiyah merupakan sumber paling
lengkap yang dapat kita jadikan sandaran untuk menggambarkan peristiwa
tersebut. Secara garis besar, riwayat ini sejalan dengan riwayat Al-Bukhari,
riwayat Imam Ahmad, serta ringkasan Ibnu Hazm dalam Jawami' as-Sirah,
dan ulama lainnya.
Ibnu
Ishaq berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menetap
di Madinah selama bulan Ramadan dan Syawal (setelah Perang Bani Musthaliq dan
peristiwa gempar yang mengiringinya yaitu Haditsul Ifki [berita bohong
mengenai Aisyah]). Beliau lalu berangkat pada bulan Dzulqa'dah untuk
melaksanakan umrah tanpa ada niat untuk berperang. Beliau juga mengajak bangsa
Arab dan penduduk pedalaman (A'rab) di sekitar beliau untuk ikut
berangkat bersamanya, karena beliau khawatir pihak Quraisy akan menghadang
dengan peperangan atau menghalangi mereka dari Baitullah. Namun, banyak dari
kaum badui pedalaman tersebut yang enggan dan memperlambat diri untuk ikut.
Maka, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetap berangkat bersama
orang-orang yang ada dari kalangan Muhajirin dan Ansar, serta orang-orang Arab
pedalaman yang menyusul beliau. Beliau membawa serta hewan kurban (hadyu)
dan telah berihram untuk umrah, agar orang-orang merasa aman dari peperangan
dengannya, dan agar khalayak mengetahui bahwa beliau keluar murni untuk
berziarah ke Baitullah serta mengagungkannya.
Ibnu
Ishaq berkata: Dan Jabir bin Abdullah—berdasarkan informasi yang sampai
kepadaku—pernah berkata, "Jumlah kami yang ikut dalam peristiwa Hudaibiyah
adalah seribu empat ratus orang."
Az-Zuhri
berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terus melanjutkan
perjalanan hingga sesampainya di 'Usfan, beliau berpapasan dengan Bisyr bin
Sufyan Al-Ka'bi. Bisyr berkata, "Wahai Rasulullah! Kaum Quraisy telah
mendengar perihal keberangkatan Anda. Mereka telah keluar dengan membawa
unta-unta yang baru melahirkan beserta anaknya (al-'uudz al-mathafiil).
Mereka telah mengenakan pakaian dari kulit macan tutul dan telah berkemah di
Dzi Thuwa, seraya bersumpah demi Allah bahwa Anda tidak akan pernah bisa
memasuki kota Makkah demi mengalahkan mereka selama-lamanya. Sementara itu,
Khalid bin Walid berada di pasukan berkuda mereka, dan mereka telah
menempatkannya di Kura' al-Ghamim." Az-Zuhri melanjutkan: Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
«يَا
وَيْحَ قُرَيْشٍ! لَقَدْ أَكَلَتْهُمُ الْحَرْبُ. مَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ خَلَّوْا
بَيْنِي وَبَيْنَ سَائِرِ الْعَرَبِ؟ فَإِنْ هُمْ أَصَابُونِي كَانَ ذَلِكَ
الَّذِي أَرَادُوا، وَإِنْ أَظْهَرَنِي اللهُ عَلَيْهِمْ دَخَلُوا فِي
الْإِسْلَامِ وَافِرِينَ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلُوا قَاتَلُوا وَبِهِمْ قُوَّةٌ.
فَمَا تَظُنُّ قُرَيْشٌ؟ فَوَاللهِ لَا أَزَالُ أُجَاهِدُ عَلَى الَّذِي بَعَثَنِي
اللهُ بِهِ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ، أَوْ تَنْفَرِدَ هَذِهِ السَّالِفَةُ»
Artinya:
"Aduhai celakanya Quraisy! Mereka telah binasa dimakan peperangan. Apa
ruginya bagi mereka jika mereka membiarkan aku berurusan dengan bangsa Arab
lainnya? Jika bangsa Arab itu berhasil membinasakanku, maka itulah yang
diinginkan Quraisy. Namun jika Allah memenangkanku atas mereka, maka kaum
Quraisy dapat masuk Islam dalam keadaan terhormat dan utuh. Jika mereka enggan
masuk Islam, mereka dapat memerangiku dalam keadaan masih memiliki kekuatan.
Jadi, apa yang dipikirkan oleh Quraisy? Demi Allah, aku akan terus berjihad di
atas jalan agama yang mengutusku ini sampai Allah memenangkannya, atau sampai
leher ini terputus." Kemudian beliau bersabda, "Siapakah laki-laki
yang mau menuntun kami keluar melalui jalan lain yang tidak dilewati oleh pasukan
Quraisy?"
Ibnu
Ishaq berkata: Abdullah bin Abi Bakar menceritakan kepadaku, bahwa ada seorang
laki-laki dari suku Aslam berkata, "Saya, wahai Rasulullah."
Laki-laki itu pun membawa mereka melalui jalan yang terjal, berbatu, dan
berliku di antara celah-celah bukit. Ketika mereka berhasil keluar dari jalan
tersebut—setelah melalui perjalanan yang sangat berat bagi kaum Muslimin—dan
sampai di tanah yang datar di ujung lembah, Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda kepada orang-orang, "Katakanlah: Kami memohon
ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya." Orang-olah pun
mengucapkannya. Beliau lalu bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya ini adalah
kalimat Hiththah [permohonan gugur dosa] yang pernah ditawarkan kepada
Bani Israil, namun mereka enggan mengucapkannya."
Ibnu
Syihab az-Zuhri berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
memerintahkan orang-orang seraya bersabda, "Ambillah jalan ke arah
kanan," di antara vegetasi pohon Al-Hamdh pada jalan menuju bukit
Tsaniyyat al-Marar, yaitu jalur turun ke Hudaibiyah dari bagian bawah Makkah.
Az-Zuhri berkata: Pasukan pun menempuh jalan tersebut. Ketika pasukan berkuda
Quraisy melihat debu yang mengepul dari pasukan Muslimin yang telah memotong
jalur dan menyimpang dari jalan utama mereka, mereka segera berkuda kembali
menuju Quraisy untuk melapor. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
terus berjalan hingga ketika beliau melewati bukit Tsaniyyat al-Marar, unta
beliau tiba-tiba menderum dan mogok jalan. Orang-orang pun berseru, "Khala'at
an-Naqah" (unta ini telah lelah/mogok tanpa sebab). Namun beliau
bersabda:
«مَا
خَلَأَتْ. وَمَا هُوَ لَهَا بِخُلُقٍ. وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيلِ عَنْ
مَكَّةَ. لَا تَدْعُونِي قُرَيْشٌ الْيَوْمَ إِلَى خُطَّةٍ يَسْأَلُونَنِي فِيهَا
صِلَةَ الرَّحِمِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا»
Artinya:
"Ia tidak mogok, dan mogok bukanlah perangai tabiatnya. Akan tetapi, ia
ditahan oleh Dzat yang dahulu menahan pasukan gajah dari kota Makkah. Tidaklah
kaum Quraisy pada hari ini mengajakku pada suatu opsi kesepakatan yang di
dalamnya mereka memintaku untuk menyambung tali silaturahmi, melainkan aku
pasti akan mengabulkannya kepada mereka." (Dalam riwayat Al-Bukhari
disebutkan: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mereka
memintaku suatu opsi kesepakatan yang di dalamnya mereka mengagungkan
kehormatan-kehormatan Allah Ta'ala, melainkan aku pasti akan mengabulkannya
kepada mereka"). Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang,
"Turunlah dan berkemahlah!" Lalu dikatakan kepada beliau, "Wahai
Rasulullah, di lembah ini tidak ada sumber air yang memadai untuk dijadikan
tempat singgah." Beliau lalu mengambil sebuah anak panah dari tempat
panahnya (kinanah) dan memberikannya kepada salah seorang sahabatnya.
Sahabat tersebut turun ke salah satu sumur kering dari sumur-sumur yang ada di
sana, lalu menancapkan anak panah itu di dasarnya. Seketika itu juga, air
memancar dengan derasnya hingga semua orang dapat minum sepuasnya.
Setelah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beristirahat dengan tenang,
datanglah Budail bin Warqa' al-Khuza'i bersama rombongan dari suku Khuza'ah.
Mereka berbicara dengan beliau dan bertanya mengenai maksud kedatangan beliau.
Beliau mengabarkan kepada mereka bahwa beliau datang bukan untuk berperang,
melainkan sekadar berkunjung ke Baitullah dan mengagungkan kehormatannya.
Beliau menyampaikan kepada mereka perkataan yang serupa dengan apa yang beliau
sampaikan kepada Bisyr bin Sufyan. Rombongan itu pun kembali kepada kaum
Quraisy dan berkata, "Wahai sekalian kaum Quraisy, sesungguhnya kalian
terlalu tergesa-gesa menilai Muhammad. Sesungguhnya Muhammad tidak datang untuk
berperang, dia hanya datang untuk berziarah ke Baitullah ini." Namun, kaum
Quraisy justru menuduh mereka dan menghardik mereka seraya berkata,
"Meskipun dia datang bukan untuk berperang, demi Allah, dia tidak boleh
memasuki kota ini mengalahkan kita dengan cara paksa ('anwatan)
selama-lamanya, dan bangsa Arab tidak boleh memperbincangkan hal itu tentang
kita!"
Suku
Khuza'ah sendiri merupakan wadah penasihat yang tepercaya bagi Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, baik mereka yang sudah Muslim maupun yang masih musyrik;
mereka tidak pernah menyembunyikan rahasia apa pun yang terjadi di Makkah dari
beliau. Kemudian, pihak Quraisy mengutus Mikraz bin Hafsh bin al-Akhyaf,
saudara dari Bani Amir bin Lu'ay. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam melihatnya datang, beliau bersabda, "Orang ini adalah seorang
pengkhianat." Ketika Mikraz sampai di hadapan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan berbicara dengan beliau, beliau menyampaikan
kepadanya perkataan yang serupa dengan apa yang disampaikan kepada Budail dan
rekan-rekannya. Mikraz pun kembali kepada Quraisy dan melaporkan apa yang
dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepadanya.
Selanjutnya, kaum Quraisy mengutus Al-Hulais bin 'Alqamah atau Ibnu Zabban.
Pada masa itu, ia merupakan pemimpin pasukan Al-Ahabisy [pasukan aliansi
suku-suku Arab], dan ia berasal dari Bani al-Harits bin Abdi Manat bin Kinanah.
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihatnya, beliau
bersabda, "Sesungguhnya orang ini berasal dari kaum yang gemar ber-tallah—yakni
taat beribadah—maka lepaskanlah hewan-hewan kurban di hadapannya agar dia bisa
melihatnya langsung." Ketika Al-Hulais melihat hewan-hewan kurban mengalir
memenuhi lembah dengan kalung penanda (qala'id) di lehernya, sementara
bulu-bulunya telah rontok akibat terlalu lama tertahan dari tempat
penyembelihannya, ia segera kembali kepada Quraisy tanpa sempat menemui
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena merasa sangat agung dan
takjub dengan apa yang dilihatnya. Ia pun menyampaikan hal itu kepada mereka.
Namun kaum Quraisy justru mengejeknya dengan berkata, "Duduklah kamu!
Sesungguhnya kamu hanyalah seorang Arab pedalaman yang tidak memiliki
pengetahuan!"
Ibnu
Ishaq berkata: Abdullah bin Abi Bakar menceritakan kepadaku bahwa Al-Hulais
sangat marah mendengar perkataan itu. Ia berkata, "Wahai sekalian kaum
Quraisy! Demi Allah, bukan untuk perlakuan seperti ini kita bersekutu, dan
bukan untuk hal ini kita mengikat perjanjian! Apakah seseorang yang datang
dalam rangka mengagungkan rumah Allah harus dihalangi dari Baitullah? Demi Dzat
yang jiwa Hulais berada di tangan-Nya, kalian harus membiarkan Muhammad
melakukan apa yang menjadi tujuannya datang ke sini, atau jika tidak, aku akan
menarik mundur seluruh pasukan Ahabisy dalam satu gerakan mundur
serentak!" Ibnu Ishaq melanjutkan: Pihak Quraisy pun merujuknya seraya
berkata, "Tahan dulu, tenangkan dirimu dari kami wahai Hulais, sampai kami
mendapatkan kesepakatan bagi diri kami yang kami ridhai."
Az-Zuhri
berkata: Kemudian kaum Quraisy mengutus Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Urwah sebelumnya berkata
kepada Quraisy, "Wahai sekalian kaum Quraisy, sesungguhnya aku telah
melihat perlakuan kasar dan kata-kata buruk yang kalian timpakan kepada
utusan-utusan yang kalian kirim kepada Muhammad ketika mereka kembali kepada
kalian. Kalian pun telah mengetahui bahwa kalian adalah orang tua dan aku
adalah anak (karena nasab ibunya bersambung pada Bani Abdi Syams). Aku telah
mendengar kesulitan yang menimpa kalian, maka aku mengumpulkan kaumku yang
menaatiku, lalu aku datang kepada kalian untuk ikut menanggung beban bersama
kalian." Mereka menjawab, "Kamu benar, kami tidak menuduhmu yang
tidak-tidak." Maka Urwah keluar hingga sampai ke hadapan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam lalu duduk di depan beliau. Ia kemudian berkata,
"Wahai Muhammad! Apakah kamu mengumpulkan kumpulan manusia yang bercampur
baur (awsyab an-nas), lalu membawa mereka ke tempat asalmu sendiri untuk
menghancurkannya bersama mereka? Sesungguhnya kaum Quraisy telah keluar dengan
membawa unta-unta yang baru melahirkan beserta anaknya, mereka telah mengenakan
pakaian dari kulit macan tutul, seraya bersumpah demi Allah bahwa kamu tidak
akan pernah bisa memasuki kota ini mengalahkan mereka dengan cara paksa
selama-lamanya. Demi Allah, seolah-olah aku melihat orang-orang di sekelilingmu
ini akan lari mencerai-beraikan diri darimu esok hari." Saat itu, Abu Bakar
duduk di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia pun
menghardik Urwah dengan keras seraya berkata, "Apakah kami akan lari
meninggalkan beliau?" Urwah bertanya, "Siapa orang ini, wahai
Muhammad?" Beliau menjawab, "Ini adalah Ibnu Abi Quhafah (Abu
Bakar)." Urwah berkata, "Ketahuilah, demi Allah, sekiranya bukan
karena ada sebuat utang budi yang pernah kamu berikan kepadaku yang belum
sempat aku balas, niscaya aku akan membalas kata-katamu ini. Namun utang budi
ini menjadikannya impas." Urwah melanjutkan: Kemudian ia mulai memegang
janggut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika sedang berbicara
dengan beliau. Sementara itu, Al-Mughirah bin Syu'bah berdiri di dekat kepala
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengenakan pakaian
perang dari besi. Al-Mughirah mulai memukul tangan Urwah dengan gagang
pedangnya setiap kali tangan Urwah hendak meraih janggut Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, seraya menghardik, "Jauhkan tanganmu dari wajah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum tanganmu itu tidak bisa
kembali lagi kepadamu!" Urwah pun mengeluh, "Celaka kamu! Alangkah
kasar dan kerasnya perangaimu!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam tersenyum melihat hal itu, lalu Urwah bertanya kepada beliau,
"Siapa orang ini, wahai Muhammad?" Beliau menjawab, "Ini adalah
anak saudaramu, Al-Mughirah bin Syu'bah." Urwah menimpali, "Wahai
pengkhianat! Bukankah aku baru kemarin membasuh keburukan
pengkhianatanmu?"
Ibnu
Hisyam berkata: Maksud perkataan Urwah tersebut adalah bahwa sebelum memeluk
Islam, Al-Mughirah pernah membunuh tiga belas orang laki-laki dari Bani Malik
yang termasuk kabilah Tsaqif. Akibatnya, dua garis keturunan dari suku Tsaqif
saling bertikai, yaitu Bani Malik selaku keluarga korban pembunuhan, dan
kelompok Al-Ahlaf selaku keluarga Al-Mughirah. Maka Urwah-lah yang membayar
tebusan (diyat) bagi ketiga belas korban pembunuhan tersebut sebanyak
tiga belas diyat penuh, sehingga perkara pertumpahan darah tersebut dapat
didamaikan.
Ibnu
Ishaq berkata: Az-Zuhri berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
berbicara dengan Urwah dengan perkataan yang serupa dengan apa yang beliau
sampaikan kepada rekan-rekannya, dan mengabarkan kepadanya bahwa beliau datang
bukan untuk berperang. Urwah pun beranjak dari sisi Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam setelah menyaksikan sendiri apa yang dilakukan para
sahabat kepada beliau: Tidaklah beliau berwudu melainkan mereka berebut sisa
air wudunya, tidaklah beliau meludah melainkan mereka segera menampungnya
dengan tangan mereka, dan tidak ada sehelai rambut pun dari rambut beliau yang
jatuh melainkan mereka segera mengambilnya. Ketika kembali kepada kaum Quraisy,
Urwah berkata, "Wahai sekalian kaum Quraisy! Sesungguhnya aku telah
mendatangi Kisra di kerajaannya, Kaisar di kerajaannya, dan Najasyi di kerajaannya.
Namun demi Allah, aku belum pernah melihat seorang raja pun di tengah kaumnya
yang begitu diagungkan seperti halnya Muhammad di tengah para sahabatnya.
Sungguh, aku telah melihat suatu kaum yang tidak akan pernah menyerahkan
Muhammad demi apa pun selama-lamanya. Oleh karena itu, tentukanlah pilihan
sikap kalian sendiri."
Ibnu
Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku sebagian ahli ilmu, bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Kharasy bin Umayyah
al-Khuza'i untuk diutus kepada kaum Quraisy di Makkah. Beliau menaikkannya di
atas seekor unta miliknya yang bernama At-Tsa'lab agar ia menyampaikan
maksud kedatangan beliau kepada para pemuka Quraisy. Namun, kaum Quraisy justru
menyembelih unta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut dan
berniat membunuh Kharasy, tetapi pasukan Ahabisy menghalangi mereka sehingga
mereka melepaskan jalannya hingga ia kembali menghadap Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam.
Ibnu
Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku orang yang tidak aku ragukan
kejujurannya, dari Ikrimah maula Ibnu Abbas (dari Ibnu Abbas), bahwa kaum
Quraisy pernah mengirim empat puluh atau lima puluh orang laki-laki dari
kalangan mereka, dan memerintahkan mereka untuk mengitari perkemahan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam guna menyergap salah seorang sahabat
beliau. Namun, pasukan Muslimin justru berhasil meringkus mereka seluruhnya dan
membawa mereka ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Beliau pun memaafkan mereka dan membebaskan jalan mereka kembali, padahal
sebelumnya mereka telah melempari perkemahan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam dengan batu dan anak panah.
Kemudian
beliau memanggil Umar bin al-Khattab untuk diutus ke Makkah guna menyampaikan
maksud kedatangan beliau kepada para pemuka Quraisy. Umar berkata, "Wahai
Rasulullah, sesungguhnya aku mengkhawatirkan keselamatan jiwaku dari kemarahan
Quraisy, apalagi di Makkah tidak ada seorang pun dari Bani Adi bin Ka'b yang
dapat melindungiku. Kaum Quraisy pun telah mengetahui bagaimana permusuhanku
terhadap mereka dan sikap kerasku atas mereka. Akan tetapi, aku dapat
menunjukkan kepada Anda seorang laki-laki yang posisinya jauh lebih terhormat
di sana daripada diriku, yaitu Utsman bin Affan." Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam memanggil Utsman bin Affan lalu mengutusnya kepada Abu
Sufyan dan para pemuka Quraisy untuk mengabarkan bahwa beliau datang bukan
untuk berperang, melainkan murni untuk berziarah ke Baitullah ini dan
mengagungkan kehormatannya.
Ibnu
Ishaq berkata: Maka Utsman berangkat menuju Makkah. Ia bertemu dengan Aban bin
Sa'id bin al-Ash ketika baru memasuki Makkah atau sesaat sebelum memasukinya.
Aban menaikkan Utsman di atas hewan tunggangannya di depannya, kemudian
memberikan jaminan keamanan (jiwar) kepadanya hingga Utsman dapat
menyampaikan risalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Utsman
pun berjalan menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy untuk menyampaikan
pesan yang dititipkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
kepadanya. Ketika Utsman selesai menyampaikan risalah Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, pihak Quraisy menahan Utsman di sisi mereka. Akibat
penahanan tersebut, beredar kabar yang sampai kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan kaum Muslimin bahwa Utsman bin Affan telah dibunuh.
Ibnu
Ishaq berkata: Abdullah bin Abi Bakar menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda—ketika sampai kabar kepadanya bahwa Utsman telah
dibunuh—: "Kita tidak akan beranjak meninggalkan tempat ini sampai kita
memerangi kaum tersebut." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menyeru orang-orang untuk melakukan baiat [janji setia]. Peristiwa itu
dinamakan Baiat Ridwan yang berlangsung di bawah sebuah pohon.
Orang-orang pada masa itu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam membaiat mereka di atas kesiapan menyongsong kematian. Namun Jabir
bin Abdullah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak membaiat kami di atas kesiapan mati, melainkan beliau membaiat
kami untuk tidak lari dari medan perang." Maka seluruh orang membaiat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak ada seorang pun dari
kaum Muslimin yang hadir di sana yang absen dari baiat tersebut kecuali Al-Jadd
bin Qais, saudara dari Bani Salimah. Jabir bin Abdullah berkata, "Demi
Allah, seolah-olah aku melihatnya menempelkan dirinya pada ketiak unta
tunggangannya seraya bersembunyi di sana [karena takut] agar terhalang dari
pandangan orang-orang." Tidak lama kemudian, datanglah informasi kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa kabar pembunuhan Utsman
tersebut adalah batil [tidak benar].
Ibnu
Hisyam berkata: Telah menceritakan kepadaku orang yang aku percayai, dari orang
yang menceritakan kepadanya dengan sanadnya, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu
Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan baiat
atas nama Utsman [yang sedang tertahan], di mana beliau menepukkan salah satu
telapak tangannya ke telapak tangan beliau yang lain.
Ibnu
Ishaq berkata: Az-Zuhri berkata: Kemudian kaum Quraisy mengutus Suhail bin Amr,
saudara dari Bani Amir bin Lu'ay, kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam. Mereka berpesan kepada Suhail, "Datangilah Muhammad dan
adakanlah perdamaian dengannya. Namun, jangan ada klausul dalam perdamaian itu
melainkan ia harus pulang meninggalkan kita pada tahun ini. Demi Allah, bangsa
Arab tidak boleh memperbincangkan tentang kita bahwa dia berhasil memasuki kota
ini mengalahkan kita dengan cara paksa selama-lamanya." Maka Suhail bin
Amr datang menemui beliau. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
melihatnya datang, beliau bersabda, "Kaum tersebut menginginkan perdamaian
ketika mereka mengutus laki-laki ini." Ketika Suhail bin Amr sampai di
hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ia mulai berbicara dan
memperpanjang pembicaraannya. Keduanya saling mengajukan usulan, hingga
akhirnya tercapailah kesepakatan damai di antara keduanya.
Ketika
kesepakatan telah bulat dan tinggal menyisakan proses penulisan naskah
perjanjian, Umar bin al-Khattab melompat bangkit lalu mendatangi Abu Bakar.
Umar bertanya, "Wahai Abu Bakar, bukankah beliau itu benar-benar utusan
Allah?" Abu Bakar menjawab, "Tentu saja benar!" Umar bertanya
lagi, "Bukankah kita ini berada di atas jalan Islam?" Abu Bakar
menjawab, "Tentu saja benar!" Umar bertanya lagi, "Bukankah
mereka itu berada di atas jalan kesyirikan?" Abu Bakar menjawab,
"Tentu saja benar!" Umar memprotes, "Lalu mengapa kita
memberikan kehinaan pada agama kita [dengan menerima syarat yang
merugikan]?" Abu Bakar menasihati, "Wahai Umar, tetaplah ikuti
langkah kaki beliau, karena sesungguhnya aku bersaksi bahwa beliau adalah
utusan Allah." Umar berkata, "Aku pun bersaksi bahwa beliau adalah
utusan Allah." Kemudian Umar mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah Anda benar-benar
utusan Allah?" Beliau menjawab, "Tentu saja benar." Umar
bertanya lagi, "Bukankah kita ini berada di atas jalan Islam?" Beliau
menjawab, "Tentu saja benar." Umar bertanya lagi, "Bukankah
mereka itu berada di atas jalan kesyirikan?" Beliau menjawab, "Tentu
saja benar." Umar memprotes, "Lalu mengapa kita memberikan kehinaan
pada agama kita?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku adalah hamba
Allah dan utusan-Nya, aku tidak akan pernah menyelisihi perintah-Nya, dan Dia
tidak akan pernah menelantarkanku." Umar di kemudian hari sering berkata,
"Aku terus-menerus bersedekah, berpuasa, shalat, dan memerdekakan budak
akibat tindakan yang aku perbuat pada hari itu, karena aku merasa takut atas
ucapan yang telah aku lontarkan, padahal saat itu aku mengucapkannya dengan
harapan demi kebaikan."
Ibnu
Ishaq melanjutkan: Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
memanggil Ali bin Abi Thalib—radhiyallahu 'anhu—dan bersabda,
"Tulislah: Bismillahirrahmanirrahim." Namun Suhail menyela,
"Aku tidak mengenal kalimat ini. Akan tetapi, tulislah: Bismika
Allahumma [Dengan nama-Mu, ya Allah]." Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Tulislah: Bismika Allahumma."
Ali pun menulisnya. Kemudian beliau bersabda, "Tulislah: Ini adalah apa
yang disepakati oleh Muhammad Rasulullah bersama Suhail bin Amr." Suhail
menyela lagi, "Sekiranya aku bersaksi bahwa kamu adalah utusan Allah,
niscaya aku tidak akan memerangimu. Akan tetapi, tulislah namamu dan nama
ayahmu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Tulislah: Ini adalah apa yang disepakati oleh Muhammad bin Abdullah
bersama Suhail bin Amr. Keduanya bersepakat untuk melakukan gencatan senjata
terhadap manusia selama sepuluh tahun, di mana manusia merasa aman di dalamnya
dan sebagian menahan diri dari menyerang sebagian yang lain. Dengan syarat:
barang siapa dari kalangan Quraisy yang datang menemui Muhammad tanpa izin dari
walinya, maka Muhammad harus mengembalikannya kepada mereka. Sebaliknya, barang
siapa dari kalangan pengikut Muhammad yang datang menemui Quraisy, maka pihak
Quraisy tidak akan mengembalikannya kepadanya. Dan sesungguhnya di antara kita
terdapat dada yang tertutup dari permusuhan ('aibah makfufah) [saling
menjaga rahasia]. Serta tidak boleh ada aksi pencurian rahasia secara
sembunyi-sembunyi (islaal) dan tidak boleh ada pengkhianatan (ighlaal).
Dan barang siapa yang suka untuk masuk ke dalam ikatan perjanjian Muhammad dan
aliansinya, maka ia boleh masuk ke dalamnya. Dan barang siapa yang suka untuk
masuk ke dalam ikatan perjanjian Quraisy dan aliansinya, maka ia boleh masuk ke
dalamnya." —Mendengar hal itu, suku Khuza'ah melompat seraya berseru,
"Kami masuk ke dalam ikatan perjanjian Muhammad dan aliansinya!"
Sedangkan Bani Bakr melompat seraya berseru, "Kami masuk ke dalam ikatan
perjanjian Quraisy dan aliansinya!"— "Dan syarat bahwa kamu harus
pulang meninggalkan kami pada tahun ini sehingga kamu tidak memasuki Makkah
demi mengalahkan kami. Apabila tahun depan telah tiba, kami akan keluar
mengosongkan kota untukmu, sehingga kamu dapat memasukinya bersama para
sahabatmu dan menetap di sana selama tiga hari. Kamu hanya membawa senjata yang
biasa dibawa oleh musafir, yaitu pedang di dalam sarungnya, dan kamu tidak
boleh memasukinya dengan membawa senjata selain itu."
Ketika
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang menulis naskah surat
tersebut bersama Suhail bin Amr, tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhail bin
Amr dalam keadaan berjalan gontai dengan kaki terbelenggu besi. Ia berhasil
meloloskan diri menuju Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Padahal, para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
sebelumnya berangkat dari Madinah tanpa meragukan sedikit pun bahwa mereka akan
meraih kemenangan terbuka, berdasarkan mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam. Ketika mereka melihat kenyataan perdamaian dan keharusan pulang
ini, serta beban syarat yang diterima Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, guncangan yang sangat besar merasuk ke dalam hati orang-orang
hingga mereka hampir saja binasa [karena sedih]. Ketika Suhail melihat
kedatangan Abu Jandal, ia segera berdiri menghampirinya, memukul wajahnya, dan
mencengkeram kerah bajunya seraya berkata, "Wahai Muhammad! Perjanjian di
antara aku dan kamu telah sah dan mengikat sebelum anak ini datang
kepadamu!" Beliau bersabda, "Kamu benar." Suhail pun mulai
menyentak kerah baju Abu Jandal dan menyeretnya untuk dikembalikan kepada Quraisy,
sementara Abu Jandal berteriak dengan suara tertingginya, "Wahai sekalian
kaum Muslimin! Apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrik agar mereka
memfitnahku dalam agamaku?" Hal itu pun semakin menambah kepedihan hati
yang ada pada diri orang-orang. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
«يَا
أَبَا جَنْدَلٍ، اصْبِرْ وَاحْتَسِبْ، فَإِنَّ اللهَ جَاعِلٌ لَكَ وَلِمَنْ مَعَكَ
مِنَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فَرَجًا وَمَخْرَجًا، إِنَّا قَدْ عَقَدْنَا بَيْنَنَا
وَبَيْنَ الْقَوْمِ صُلْحًا، وَأَعْطَيْنَاهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَأَعْطَوْنَا عَهْدَ
اللهِ. وَإِنَّا لَا نُغَادِرُ بِهِمْ»
Artinya:
"Wahai Abu Jandal! Bersabarlah dan haraplah pahala dari Allah, karena
sesungguhnya Allah akan memberikan kelaparan dan jalan keluar bagimu serta bagi
orang-orang yang bersamamu dari kalangan kaum yang tertindas (mustadh'afin).
Sesungguhnya kita telah mengikat kesepakatan damai antara kita dengan kaum
tersebut, kita telah memberikan janji kita kepada mereka di atas hal itu dan
mereka pun telah memberikan janji Allah kepada kita. Dan sesungguhnya kita
tidak akan mengkhianati mereka." Umar bin al-Khattab lalu melompat
berjalan di samping Abu Jandal seraya menghibur, "Bersabarlah wahai Abu
Jandal, sesungguhnya mereka itu hanyalah kaum musyrik, dan sesungguhnya darah
salah seorang dari mereka tidak lebih berharga daripada darah seekor
anjing." Umar sambil mendekatkan gagang pedangnya ke arah tangan Abu
Jandal. Umar di kemudian hari berkata, "Aku sangat berharap ia mau
mengambil pedang itu lalu menebas ayahnya sendiri." Namun, Abu Jandal
tetap menyayangi ayahnya, dan keputusan hukum pun tetap dijalankan.
Setelah
proses penulisan naskah selesai, beberapa orang dari kalangan Muslimin dan
beberapa orang dari kalangan musyrik turut mempersaksikan perdamaian tersebut,
yaitu: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin al-Khattab, Abdurrahman bin Auf,
Abdullah bin Suhail bin Amr, Sa'ad bin Abi Waqqash, Mahmud bin Maslamah, Mikraz
bin Hafsh (yang pada hari itu masih musyrik), dan Ali bin Abi Thalib selaku
penulis naskah, karena dialah yang menulis lembaran naskah perjanjian tersebut.
Az-Zuhri
berkata: Ketika urusan penulisan naskah perjanjian telah selesai, Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, "Bangkitlah [Hal:
3312] dan sembelihlah hewan kurban kalian, kemudian cukurlah rambut
kalian!" Az-Zuhri berkata: Demi Allah, tidak ada seorang laki-laki pun
dari mereka yang bangkit berdiri, hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam mengulangi perintahnya tersebut sebanyak tiga kali. Ketika tidak ada
seorang pun dari mereka yang bangkit, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam
masuk menemui Ummu Salamah—radhiyallahu 'anha—lalu menceritakan
kepadanya perlakuan enggan yang beliau terima dari orang-orang. Ummu Salamah—radhiyallahu
'anha—berkata, "Wahai Nabi Allah, apakah Anda menginginkan hal itu?
Keluarlah, kemudian jangan berbicara sepatah kata pun dengan salah seorang dari
mereka hingga Anda menyembelih unta kurban Anda sendiri, lalu panggillah tukang
cukur Anda agar ia mencukur rambut Anda." Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam keluar dan tidak berbicara dengan siapa pun dari mereka
hingga beliau melakukan hal tersebut; beliau menyembelih kurban dengan
tangannya sendiri, lalu memanggil tukang cukurnya untuk mencukur rambut beliau.
Ketika orang-orang melihat tindakan beliau tersebut, mereka segera bangkit
menyembelih kurban mereka dan sebagian mereka mulai mencukur rambut sebagian
yang lain, hingga sebagian mereka hampir saja mencelakai sebagian yang lain
karena duka yang sangat mendalam (ghamman).
Ibnu
Ishaq berkata: Abdullah bin Abi Najih menceritakan kepadaku, dari Mujahid, dari
Ibnu Abbas, ia berkata: Beberapa orang laki-laki pada hari Hudaibiyah mencukur
habis rambutnya (hallaqu) dan yang lain hanya mencukur pendek (qashsharu).
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Semoga
Allah merahmati orang-orang yang mencukur habis rambutnya." Para sahabat
bertanya, "Bagaimana dengan orang-orang yang mencukur pendek, wahai
Rasulullah?" Beliau bersabda, "Semoga Allah merahmati orang-orang yang
mencukur habis rambutnya." Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana
dengan orang-orang yang mencukur pendek, wahai Rasulullah?" Beliau tetap
bersabda, "Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur habis
rambutnya." Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana dengan orang-orang
yang mencukur pendek, wahai Rasulullah?" Baru pada kali keempat beliau
bersabda, "Dan juga bagi orang-orang yang mencukur pendek." Para
sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa Anda mengkhususkan doa rahmat
secara berulang bagi orang-orang yang mencukur habis dibandingkan orang-orang
yang mencukur pendek?" Beliau menjawab, "Karena mereka sama sekali
tidak ragu [terhadap perintahku]..."
Az-Zuhri
berkata dalam hadisnya: Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bertolak pulang dari arah tersebut menuju Madinah. Hingga ketika beliau berada
di tengah perjalanan antara Makkah dan Madinah, turunlah Surah Al-Fath.
Imam
Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya, dari Mujammi' bin Haritsah al-Anshari—radhiyallahu
'anhu—yang merupakan salah seorang qurra' [ahli membaca dan
menghafal] Al-Qur'an. Ia berkata: Kami menghadiri peristiwa Hudaibiyah. Ketika
kami bertolak pulang darinya, tiba-tiba orang-orang menghalau unta-unta mereka
dengan cepat. Sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain, "Ada apa
dengan orang-orang?" Mereka menjawab, "Wahai telah diturunkan kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Maka kami pun keluar
bersama orang-orang dengan memacu tunggangan kami dengan cepat. Tiba-tiba kami
mendapati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berada di atas
hewan tunggangannya di dekat Kura' al-Ghamim. Orang-orang pun berkumpul
mengerumuni beliau, lalu beliau membacakan kepada mereka ayat: “Sesungguhnya
Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” Mujammi' melanjutkan:
Maka seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah peristiwa ini merupakan sebuah
kemenangan?" Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
"Benar, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya
peristiwa ini benar-benar sebuah kemenangan."
Imam
Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya, dari Umar bin al-Khattab—radhiyallahu
'anhu—ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam dalam sebuah perjalanan. Umar berkata: Lalu aku bertanya kepada
beliau tentang sesuatu sebanyak tiga kali, namun beliau tidak menjawab
pertanyaanku sedikit pun. Umar berkata: Maka aku membatin dalam hati,
"Celakalah ibumu wahai Ibnu al-Khattab! Kamu telah mendesak dan
mengulang-ulang pertanyaan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
sebanyak tiga kali, namun beliau tidak menjawabmu!" Umar berkata: Maka aku
segera menaiki hewan tungganganku dan memacu untaku mendahului pasukan, karena
aku merasa takut jika ada ayat Al-Qur'an yang turun disebabkan kelakuanku tadi.
Umar berkata: Tiba-tiba aku mendengar suara penyeru memanggil, "Wahai
Umar!" Umar berkata: Maka aku segera kembali menemui beliau dalam keadaan
menyangka bahwa sebuah ayat memang telah turun mengenaku. Umar berkata: Maka
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«نَزَلَ
عَلَيَّ الْبَارِحَةَ سُورَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا:
{إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ}»
Artinya:
"Telah diturunkan kepadaku tadi malam sebuah surah yang ia jauh lebih aku
cintai daripada dunia beserta isinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan
kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas
dosamu yang lalu dan yang akan datang." Hadis ini juga diriwayatkan
oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i melalui berbagai jalur periwayatan
dari Imam Malik rahimahullah.
Inilah
atmosfer yang melingkupi penurunan surah ini. Atmosfer di mana jiwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam merasa tenang dan berserah penuh pada ilham dari
Tuhannya, sehingga beliau melepaskan ego dari segala kehendak pribadi melainkan
hanya mengikuti apa yang diwahyukan oleh ilham ketuhanan yang jujur ini. Beliau
terus melangkah dengan bersandar pada petunjuk wahyu ini dalam setiap langkah
dan setiap gerakan; beliau tidak membiarkan dirinya terprovokasi oleh pihak
mana pun yang mencoba memprovokasinya, baik dari kalangan kaum musyrik maupun
dari kalangan para sahabatnya sendiri yang jiwanya belum merasa tenang pada
awal mulanya dalam menerima provokasi kaum musyrik serta fanatisme jahiliah (hamiyyatul
jahiliyyah) mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan (as-sakinah)
ke dalam hati mereka, sehingga mereka pun kembali merengkuh keridhaan,
keyakinan, dan kepatuhan yang tulus lagi mendalam; serupa dengan
saudara-saudara mereka yang telah memiliki kondisi kejiwaan seperti ini sejak
awal mula, layaknya karakteristik Ash-Shiddiq Abu Bakar yang ruhaninya
tidak pernah kehilangan kontak internal secara langsung sedetik pun dengan
ruhani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu,
jiwanya senantiasa berada dalam ketenangan yang abadi dan kedamaiannya tidak
pernah goyah sama sekali.
Oleh
sebab itu, pembukaan surah ini datang sebagai kabar gembira bagi Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, yang membuat hati beliau yang agung merasa bahagia
dengan kebahagiaan yang sangat mendalam: “Sesungguhnya Kami telah memberikan
kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Nabi
Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya
atasmu, membimbingmu ke jalan yang lurus, dan agar Allah menolongmu dengan
pertolongan dan kejayaan yang kuat.”
Sebagaimana
pembukaan ini juga mengandung penganugerahan nikmat berupa ketenangan kepada
orang-orang mukmin, pengakuan atas keimanan mereka yang telah lalu, pemberian
kabar gembira berupa ampunan dan pahala, serta bantuan dari langit berupa bala
tentara Allah: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati
orang-orang mukmin untuk menambah keimanan di atas keimanan mereka (yang telah
ada). Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana. Agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan
ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di
dalamnya dan Dia menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Hal itu di sisi Allah
adalah kemenangan yang agung.” Hal itu beriringan dengan apa yang telah Allah
siapkan bagi musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang munafik laki-laki dan
perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan berupa kemurkaan
dan azab: “Dia (juga) mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan
serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk
terhadap Allah. Bagian merekalah perputaran (keburukan) yang buruk itu. Allah
murka terhadap mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (neraka) Jahanam bagi
mereka. (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali.”
Kemudian
diberikan sanjungan terhadap baiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan penegasan bahwa baiat tersebut pada hakikatnya adalah baiat kepada Allah.
Selain itu, hati orang-orang mukmin diikat secara langsung dengan Tuhan mereka
melalui jalan ini, dengan ikatan yang tersambung langsung kepada Allah Yang
Mahahidup, Yang Maha Kekal, dan tidak akan pernah mati: "agar kamu
sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya,
memuliakan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS.
Al-Fath: 9). "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi
Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah
di atas tangan mereka. Siapa yang melanggar janji (setia itu), sesungguhnya
(akibat buruk dari) pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang
menepati janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahinya pahala yang
besar." (QS. Al-Fath: 10).
Berkaitan
dengan pembahasan mengenai baiat dan pengingkaran janji setia (nakats),
sebelum pembicaraan tentang orang-orang mukmin beserta sikap mereka di
Hudaibiyah disempurnakan, perhatian dialihkan sejenak kepada orang-orang Arab
badui (A'rab) yang tertinggal tidak ikut berangkat. Konteks ini
membongkar kepalsuan alasan-alasan mereka, serta menyingkap prasangka buruk
terhadap Allah yang terbersit di dalam benak mereka, juga ekspektasi buruk
mereka yang mengira bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan
orang-orang yang bersamanya akan binasa. Ayat ini juga mengarahkan Rasul shallallahu
'alaihi wa sallam mengenai bagaimana seharusnya sikap beliau terhadap
mereka di masa depan. Hal tersebut disampaikan dengan gaya bahasa yang
mengisyaratkan kekuatan kaum Muslimin dan kelemahan orang-orang yang
tertinggal, serta mengisyaratkan bahwa di sana akan ada harta rampasan perang (maghanim)
dan kemenangan-kemenangan dalam waktu dekat, yang dapat membangkitkan air liur
[keserakahan] orang-orang yang tertinggal dan berlambat-lambat tersebut:
Orang-orang
badui yang tertinggal (tidak ikut ke Hudaibiyah) akan berkata kepadamu, 'Kami
telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk
kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.
Katakanlah, 'Maka, siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah
sedikit pun jika Dia menghendaki bencana bagimu atau jika Dia menghendaki
manfaat bagimu?' Sebaliknya, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu
kerjakan.” (11) “Bahkan, kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin
sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya.
(Prasangka) itu dihiadikan (setan) dalam hatimu. Kamu telah berprasangka dengan
prasangka yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (12) “Siapa yang tidak
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi
orang-orang kafir itu neraka yang menyala-nyala.” (13) “Milik Allah-lah
kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab
siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (14)
“Orang-orang yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk
mengambil harta rampasan (perang), 'Biarkanlah kami mengikutimu.' Mereka hendak
mengubah firman Allah. Katakanlah, 'Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti
kami. Demikianlah yang telah difirmankan Allah sebelumnya.' Mereka akan
berkata, 'Sebenarnya kamu dengki kepada kami.' Sebaliknya, mereka tidak
memahami kecuali sedikit sekali.” (15) Katakanlah kepada orang-orang badui yang
tertinggal, “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan
yang besar. Kamu akan memerangi mereka atau mereka berserah diri (masuk Islam).
Jika kamu patuh, Allah akan menganugerahimu pahala yang baik. Namun, jika kamu
berpaling sebagaimana kamu berpaling sebelumnya, Dia akan mengazabmu dengan
azab yang pedih.” (16) (QS. Al-Fath: 11-16).
Dalam
kaitan ini, dijelaskan pula tentang orang-orang yang memiliki uzur jika mereka
tidak ikut berangkat, serta orang-orang yang dibebaskan dari kewajiban jihad
karena ketidakmampuan mereka melaksanakannya, di mana hal tersebut merupakan
satu-satunya uzur yang sah: “Tidak ada halangan (untuk tidak pergi berperang)
bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, dan tidak ada pula
halangan bagi orang sakit. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan
memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Siapa
yang berpaling, Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Fath:
17).
Setelah
selingan ini, alur runtunan (siyāq) surah kembali membicarakan tentang
orang-orang mukmin, sikap-sikap mereka, serta gejolak yang ada di dalam jiwa
mereka; sebuah pembicaraan yang seluruhnya dipenuhi dengan keridhaan,
transparansi ruhani, kejernihan, dan penghormatan. Pembicaraan ini juga sarat
akan kabar gembira bagi jiwa-jiwa yang tulus, kuat, berserah diri, dan
melepaskan kepentingan duniawi. Sebuah pembicaraan yang di dalamnya Allah Jalla
Jalaluhu menampakkan karunia-Nya kepada kelompok manusia pilihan ini. Allah
menampakkan karunia kepada mereka dengan keridhaan-Nya, kabar-kabar gembira
dari-Nya, curahan nikmat-Nya, serta keteguhan dari-Nya. Allah menyampaikan
kepada mereka secara personal dan definitif bahwa Dia ridha kepada mereka, dan
bahwa Dia hadir menyaksikan mereka ketika mereka sedang berbaiat di suatu
tempat yang spesifik: yaitu di bawah pohon. Allah juga menegaskan bahwa Dia
mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, Dia meridhai mereka dan
memberikan keridhaan-Nya atas mereka, serta telah menetapkan untuk mereka
kemenangan di masa depan, harta rampasan perang, dan penaklukan-penaklukan
wilayah. Allah mengaitkan semua ini dengan hukum alam (nāmūs al-wujūd)
dan sunatullah yang berlaku di alam semesta. Hal ini merupakan suatu urusan
besar yang membuat seluruh alam semesta terpaku menyaksikan, mengawasi,
terpengaruh, dan merekam peristiwa agung yang tiada duanya tersebut di dalam
lipatan sejarahnya: “Sungguh, Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin
ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah pohon. Dia
mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas
mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat
(penaklukan Khaibar)” (18) “serta harta rampasan perang yang banyak yang dapat
mereka ambil. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (19) “Allah menjanjikan
kepadamu harta rampasan perang yang banyak yang dapat kamu ambil, lalu Dia
menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia
dari kamu (agar kamu tidak diserang) dan agar menjadi bukti bagi orang-orang
mukmin dan agar Dia membimbingmu ke jalan yang lurus,” (20) “dan
(kemenangan-kemenangan) lain yang belum dapat kamu capai yang sungguh Allah
telah menentukannya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (21) “Sekiranya
orang-orang yang kafir itu memerangimu, niscaya mereka akan berbalik ke
belakang (lari karena kalah) dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan
tidak pula penolong.” (22) “(Itulah) sunatullah yang telah berlaku sejak
dahulu. Kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu.”
(23) (QS. Al-Fath: 18-23).
Allah
juga mencurahkan nikmat kepada mereka dengan cara meringkus musuh mereka, yaitu
sekelompok orang yang berniat mendatangkan keburukan kepada kaum Muslimin.
Allah mengecam musuh-musuh mereka yang telah menghalangi mereka dari
Masjidilharam, serta menghalangi hewan kurban (hadyu) untuk sampai ke
tempat penyembelihannya. Allah juga memperlakukan mereka dengan penuh
kelembutan, seraya menyingkapkan kepada mereka tentang hikmah-Nya di balik
penahanan mereka pada tahun ini agar tidak menyerang musuh, serta karunia-Nya
dalam membuat mereka ridha terhadap ketentuan yang terjadi, sekaligus
menurunkan ketenangan-Nya ke dalam hati mereka demi suatu urusan yang
dilihat-Nya, yang nilainya jauh lebih agung daripada apa yang mereka lihat
sendiri. Urusan agung tersebut adalah penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah),
yang kemudian disusul dengan dominasi agama Islam ini di atas seluruh agama
lainnya berdasarkan perintah dan pengaturan Allah: “Dialah yang menahan tangan
mereka dari kamu dan tanganmu dari mereka di tengah kota Makkah setelah Dia
memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (24)
“Merekalah orang-orang kafir yang menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam
dan (menghalangi) hewan kurban yang tertahan untuk sampai ke tempat
penyembelihannya. Sekiranya tidak ada orang-orang mukmin laki-laki dan
perempuan yang tidak kamu ketahui (bahwa mereka ada di Makkah) sehingga kamu
akan melanda mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa kamu ketahui
(tentulah Allah tidak menahan kamu). (Allah berbuat demikian) agar Dia
memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka
terpisah, tentu Kami telah mengazab orang-orang yang kafir di antara mereka
dengan azab yang pedih.” (25) “Ketika orang-orang yang kafir menanamkan
kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah
menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin dan Dia
mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengannya dan
patut memilikinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (26) “Sungguh, Allah
akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan
sebenar-benarnya, (yaitu) bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika
Allah menghendaki, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan
mencukur pendeknya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka, Allah mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui dan sebelum itu Dia telah menjadikan kemenangan yang
dekat.” (27) “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama
yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama. Cukuplah Allah sebagai
saksi.” (28) (QS. Al-Fath: 24-28).
Surah
ini ditutup dengan penyebutan sifat yang mulia dan indah yang membedakan
kelompok manusia pilihan ini, mengkhususkan mereka dengan karakteristiknya yang
unik, serta menyanjung mereka di dalam kitab-kitab terdahulu: yaitu Taurat dan
Injil. Surah ini juga ditutup dengan janji Allah yang mulia berupa ampunan
serta pahala yang besar: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang
bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah
dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas
sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan
sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, seperti benih yang mengeluarkan
tunasnya, kemudian tunas itu kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas
batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di
antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29).
Dengan
demikian, teks-teks dalam surah ini menjadi dapat dipahami secara jelas, hidup
di dalam atmosfer tempat ditimbulkannya wahyu tersebut, serta menggambarkannya
dengan gambaran yang paling kuat melalui gaya bahasa Al-Qur'an yang khas. Gaya
bahasa ini tidak memaparkan peristiwa berdasarkan urutan kronologis yang
berurutan semata, melainkan mengambil kilasan-kilasan petunjuk berharga dan
nilai-nilai edukatif darinya. Gaya bahasa ini juga mengaitkan peristiwa tunggal
yang spesifik dengan kaidah yang bersifat universal, serta menghubungkan sikap
yang khusus dengan prinsip umum alam semesta. Al-Qur'an menyapa jiwa dan hati
manusia dengan metodenya yang luar biasa serta manahajnya yang unik.
Melalui
runtunan (siyāq) surah dan atmosfernya, serta dengan membuat komparasi
antara surah ini dan isyarat-isyarat yang terdapat dalam Surah Muhammad yang
mendahuluinya dalam urutan mushaf, tampak jelas sejauh mana perubahan mendalam
yang terjadi pada sikap jamaah kaum Muslimin secara menyeluruh dalam kurun
waktu tiga tahun. Kurun waktu tersebut merupakan masa yang kami perkirakan
memisahkan antara kedua surah ini dalam garis waktu penurunan wahyu (zaman
an-nuzul). Di sini terlihat pula sejauh mana efektivitas Al-Qur'an yang
mulia serta pengaruh dari pola pendidikan kenabian (at-tarbiyah
an-nabawiyyah) yang terbimbing dengan baik terhadap jamaah ini, yang telah
berbahagia karena tumbuh dan berkembang di bawah naungan Al-Qur'an dan dalam
asuhan kenabian. Maka, mereka pun menjelma menjadi entitas yang luar biasa
dalam lembaran sejarah manusia yang panjang.
Tampak
jelas dalam atmosfer Surah Al-Fath beserta isyarat-isyaratnya bahwa kita sedang
berhadapan dengan sebuah jamaah yang tingkat pemahaman agamanya telah matang,
level keimanannya telah homogen, dan jiwa-jiwa mereka telah merasa tenang dalam
menerima beban-beban syariat agama ini. Mereka tidak lagi membutuhkan dorongan
motivasi yang menghentak dengan keras agar bersedia memikul beban-beban dakwah
ini, baik dengan pengorbanan jiwa maupun harta. Sebaliknya, mereka justru
berada dalam kondisi membutuhkan figur yang dapat meredam luapan emosi mereka,
menenangkan ketajaman semangat mereka, serta memegang kendali kepemimpinan
mereka agar bersedia tunduk pada suasana tenang dan gencatan senjata untuk
sementara waktu, selaras dengan hikmah yang digariskan oleh komando tertinggi
dakwah.
Jamaah
kaum Muslimin pada fase ini tidak lagi dikonfrontasi dengan ayat-ayat seperti
firman Allah Ta'ala: "Maka, janganlah kamu menjadi lemah dan mengajak
damai, padahal kamulah yang lebih unggul dan Allah (pun) bersamamu dan tidak
akan mengurangi (pahala) amalan-amalanmu." (QS. Muhammad: 35). Tidak pula
dikonfrontasi dengan ayat seperti firman Allah Ta'ala: "Ingatlah, kamu ini
adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah.
Lalu, di antara kamu ada orang yang kikir. Siapa yang kikir, sesungguhnya dia
kikir terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya, sedangkan kamulah
orang-orang yang membutuhkan. Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), Dia akan
mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu."
(QS. Muhammad: 38).
Mereka
juga tidak lagi membutuhkan dorongan-dorongan motivasi yang kuat untuk maju
berjihad melalui penjelasan tentang para syuhada beserta kemuliaan yang telah
Allah siapkan bagi mereka di sisi-Nya. Mereka tidak pula membutuhkan penjelasan
mengenai hikmah ujian di dalam peperangan beserta segala kesulitannya,
sebagaimana yang terdapat di dalam Surah Muhammad ketika Allah Ta'ala
berfirman: "Demikianlah (perintah Allah). Sekiranya Allah menghendaki,
niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji sebagian kamu dengan
sebagian yang lain. Orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan
menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi petunjuk kepada mereka,
memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah
diperkenalkan-Nya kepada mereka." (QS. Muhammad: 4-6).
Sebaliknya,
perbincangan kini beralih pada masalah ketenangan (as-sakinah) yang
Allah turunkan ke dalam hati orang-orang mukmin, atau yang Allah curahkan atas
mereka. Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah menenangkan gejolak semangat
mereka, meredam luapan emosi mereka, serta memantapkan ketenangan hati mereka
dalam menerima keputusan Allah dan hikmah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa
sallam untuk menempuh jalan gencatan senjata dan kelembutan sikap, serta
pembicaraan mengenai keridhaan Allah terhadap orang-orang yang berbaiat di
bawah pohon. Di samping itu, dihadirkan pula gambaran yang indah di akhir surah
ini mengenai potret Rasul beserta orang-orang yang bersamanya.
Adapun
pembicaraan mengenai pemenuhan janji setia (al-wafa' bil-bai'ah) dan
pengingkarannya (an-nakats) di dalam firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad),
sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas
tangan mereka. Siapa yang melanggar janji (setia itu), sesungguhnya (akibat
buruk dari) pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati
janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahinya pahala yang besar." (QS. Al-Fath:
10), maka isyarat di dalamnya lebih menonjolkan sisi penghormatan terhadap
orang-orang yang berbaiat serta pengagungan terhadap kedudukan baiat itu
sendiri. Sedangkan isyarat mengenai pengingkaran janji setia dimunculkan dalam
kaitan pembicaraan tentang orang-orang Arab badui yang tertinggal. Demikian
pula halnya dengan isyarat mengenai orang-orang munafik laki-laki dan
perempuan; ia hanyalah sebuah isyarat yang lewat sepintas lalu (isyārah
'ābirah), yang menunjukkan betapa lemahnya posisi kelompok tersebut,
sekaligus menunjukkan betapa bersih, matang, dan homogennya komponen jamaah
kaum Muslimin di kota Madinah. Bagaimanapun juga, ia merupakan isyarat selintas
yang tidak menyita porsi pembahasan surah ini sebagaimana porsi pembahasan
tentang orang-orang munafik yang menyita ruang di dalam Surah Muhammad, di mana
pada saat itu orang-orang munafik beserta sekutu-sekutu Yahudi mereka masih
memiliki eksistensi dan pengaruh yang signifikan. Ini merupakan bentuk
perkembangan lain dalam peta kondisi jamaah kaum Muslimin dilihat dari sisi
eksternal mereka, yang berjalan beriringan dengan perkembangan yang telah mapan
di dalam jiwa mereka dari sisi internal. Tampak jelas pula kekuatan kaum
Muslimin jika dibandingkan dengan kekuatan kaum musyrik di dalam atmosfer surah
ini secara keseluruhan dan pada ayat-ayatnya secara tekstual. Adanya
isyarat-isyarat mengenai kemenangan-kemenangan di masa depan, ambisi
orang-orang yang tertinggal untuk mendapatkan harta rampasan yang mudah didapat
disertai pengajuan alasan dari mereka, hingga masalah kemenangan agama Islam
ini di atas seluruh agama lainnya; semua itu mengindikasikan tingkat kekuatan
yang telah dicapai kaum Muslimin pada periode antara penurunan kedua surah ini.
Maka,
baik pada hakikat kondisi jiwa, keadaan jamaah, maupun pada situasi dan kondisi
yang melingkupinya, telah terjadi sebuah perkembangan yang sangat jelas, yang
dapat ditangkap oleh siapa saja yang menelusuri garis sejarah perjuangan (khathth
as-sīrah) di dalam teks-teks Al-Qur'an. Perkembangan ini memiliki nilai
tersendiri, sebagaimana ia juga memiliki petunjuk yang jelas mengenai pengaruh
dari manhaj Al-Qur'an dan pola pendidikan Muhammad (at-tarbiyah
al-muhammadiyyah) terhadap kelompok jamaah yang berbahagia dan unik di
dalam sejarah ini. Lebih dari itu, perkembangan ini memberikan isyarat penting
bagi para penggerak yang mengurusi kelompok-kelompok manusia: agar dada mereka
tidak merasa sempit oleh adanya kekurangan, kelemahan, sisa-sisa masa lalu
beserta residunya, pengaruh lingkungan dan strata sosial, daya tarik duniawi,
serta beban kecenderungan fisik dan biologis [hawa nafsu manusia] yang ada pada
kelompok yang diurusnya. Faktor-faktor tersebut memang sering kali tampak
sangat kuat, mendalam, dan bergejolak pada masa-masa awal transisi. Akan
tetapi, dengan adanya ketekunan (mutsabarah), kebijaksanaan (hikmah),
serta kesabaran dalam memberikan terapi perbaikan, kondisi tersebut lambat laun
akan mulai membaik dan mengalami perkembangan. Berbagai ragam eksperimen
kehidupan serta ujian-ujian (al-ibtila'at) akan turut membantu proses
perbaikan dan perkembangan ini, manakala semua itu dijadikan sebagai momentum
untuk memberikan pendidikan (tarbiyah) dan pengarahan (taujīh).
Maka, selangkah demi selangkah, beban kecenderungan tanah [sifat buruk manusia]
akan semakin meringan, kepekatan hawa nafsu fisik dan biologis akan semakin
menipis, pengaruh buruk lingkungan akan memudar, residu masa lalu akan menjadi
bersih, dan hati manusia akan mulai menatap cakrawala yang semakin tinggi,
hingga akhirnya ia mampu melihat cahaya benderang terpancar di sana, di ujung
cakrawala yang indah lagi jauh. Sungguh, bagi kita ada teladan yang baik pada
diri Rasulullah, dan bagi kita ada jalan yang lurus pada manhaj Al-Qur'an.
Berita
Gembira Ihwal Kemenangan dan Karunia Allah bagi Rasulullah
اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ
١ لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ
نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ ٢ وَّيَنْصُرَكَ اللّٰهُ
نَصْرًا عَزِيْزًا ٣
"Sesungguhnya
Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata (1) agar Allah
memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan
datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, membimbingmu ke jalan yang lurus (2)
dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (3)." (QS. Al-Fath:
1-3).
Surah
ini dibuka dengan limpahan karunia ilahi kepada Rasul-Nya shallallahu
'alaihi wa sallam: Kemenangan yang nyata, ampunan yang menyeluruh, nikmat
yang sempurna, petunjuk yang kokoh, dan pertolongan yang kuat. Semua itu
merupakan balasan bagi ketenangan yang sempurna terhadap ilham dan arahan
Allah, sikap pasrah penuh keridhaan terhadap wahyu dan isyarat-Nya, ketulusan
mutlak yang terbebas dari segala kehendak pribadi, serta kepercayaan yang
mendalam terhadap pemeliharaan-Nya yang penuh kasih sayang. Beliau (Nabi)
melihat mimpi, lalu bergerak berdasarkan petunjuk wahyu dari mimpi tersebut.
Ketika unta beliau menderum [mogok], orang-orang saling berteriak:
"Al-Qashwa' [nama unta Nabi] telah mogok!" Maka beliau bersabda:
مَا خَلَأَتْ، وَمَا
هُوَ لَهَا بِخُلُقٍ، وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيلِ عَنْ مَكَّةَ، لَا
تَدْعُونِي قُرَيْشٌ الْيَوْمَ إِلَى خُطَّةٍ يَسْأَلُونَنِي فِيهَا صِلَةَ
الرَّحِمِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا
"Dia
tidak mogok, dan mogok bukanlah tabiatnya. Akan tetapi, dia telah ditahan oleh
Zat yang menahan pasukan gajah dari kota Makkah. Tidaklah kaum Quraisy
mengajakku pada hari ini kepada suatu rencana yang di dalamnya mereka memintaku
untuk menyambung tali silaturahmi, melainkan aku pasti akan
mengabulkannya."
Dan
Umar bin Al-Khaththab bertanya kepada beliau dengan penuh emosi [semangat
pembelaan agama]: "Mengapa kita harus memberikan kehinean dalam agama
kita?" Maka beliau menjawab:
أَنَا عَبْدُ اللَّهِ
وَرَسُولُهُ، لَنْ أُخَالِفَ أَمْرَهُ، وَلَنْ يُضَيِّعَنِي
"Aku
adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, aku tidak akan pernah menyelisihi
perintah-Nya, dan Dia tidak akan pernah menelantarkanku."
Demikian
pula ketika tersiar kabar burung bahwa Utsman telah dibunuh, Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
لَا نَبْرَحُ حَتَّى
نُنَاجِزَ الْقَوْمَ
"Kita
tidak akan meninggalkan tempat ini hingga kita memerangi kaum tersebut."
Beliau
lalu menyeru manusia untuk melakukan baiat, maka terjadilah Baiat Ridhnan (Bai'atur
Ridlwan) yang kebaikannya melimpah ruah kepada orang-orang yang meraih
kemenangan dan kebahagiaan dengannya.
Dan
inilah kemenangan [yang sejati]; di samping kemenangan lainnya yang
terepresentasi dalam Perjanjian Hudaibiyah (Shulh al-Hudaibiyah), serta
rentetan kemenangan setelahnya dalam berbagai bentuk yang beraneka ragam:
Ia
merupakan kemenangan dalam jalan dakwah. Az-Zuhri berkata: "Tidak ada satu
pun kemenangan dalam Islam sebelum itu yang lebih agung darinya. Pertempuran
hanyalah terjadi ketika orang-orang saling bertemu [berhadapan di medan
perang]. Namun, ketika gencatan senjata terjadi, perang dihentikan, dan manusia
saling merasa aman satu sama lain, mereka pun saling bertemu lalu berdialog
dalam pembicaraan dan perdebatan. Maka tidaklah ada seorang pun yang diajak
bicara tentang Islam dan dia memiliki akal sehat, melainkan dia pasti masuk
Islam. Sungguh, dalam kurun waktu dua tahun tersebut (antara Perjanjian
Hudaibiyah dan Penaklukan kota Makkah), orang yang masuk Islam berjumlah setara
dengan jumlah seluruh orang yang masuk Islam sebelum masa itu, bahkan lebih banyak
lagi."
Ibnu
Hisyam berkata: "Bukti atas perkataan Az-Zuhri adalah bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam berangkat menuju Hudaibiyah bersama seribu empat ratus
orang menurut pendapat Jabir bin Abdullah. Kemudian beliau berangkat pada tahun
Penaklukan kota Makkah dua tahun setelah itu dengan membawa sepuluh ribu
personel."
Di
antara tokoh yang masuk Islam [pada periode ini] adalah Khalid bin al-Walid dan
'Amr bin al-'Ash.
Ia
juga merupakan kemenangan dalam hal ekspansi wilayah [teritorial]. Kaum
Muslimin telah merasa aman dari gangguan buruk Quraisy, sehingga Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam mengalihkan fokus untuk membersihkan Jazirah Arab dari
sisa-sisa bahaya laten Yahudi—setelah sebelumnya berhasil menuntaskan urusan
dengan Bani Qainuqa', Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Bahaya ini
terepresentasi pada benteng-benteng Khaibar yang kokoh yang mengancam jalur
perdagangan menuju Syam. Allah pun menaklukkannya untuk kaum Muslimin, dan
mereka memperoleh harta rampasan perang (ghana'im) yang sangat besar
dari sana, yang oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
pembagiannya dikhususkan hanya bagi orang-orang yang menghadiri peristiwa
Hudaibiyah, tidak untuk yang lainnya.
Ia
juga merupakan kemenangan dalam hal reposisi kedudukan di antara kaum Muslimin
di Madinah, kaum Quraisy di Makkah, serta seluruh kaum musyrik di sekitarnya.
Ustadz Muhammad Izzat Darwazah berkata dengan benar di dalam kitabnya, Sīrat
ar-Rasūl: Shuwarun Muqtabasatun min al-Qur'ān al-Karīm:
"Tidak
diragukan lagi bahwa perjanjian damai ini, yang dinamakan oleh Al-Qur'an
sebagai kemenangan yang besar, sangat layak menyandang deskripsi tersebut
dengan segala kelayakannya. Bahkan, perjanjian ini benar-benar valid untuk
dikategorikan sebagai salah satu peristiwa krusial dan agung dalam sirah
nabawiyah, serta dalam sejarah Islam, kekuatannya, dan konsolidasinya, atau
bahkan merupakan peristiwa yang paling agung. Sebab, Quraisy telah mengakui
eksistensi Nabi dan Islam, baik kekuatan maupun entitas keduanya. Mereka
memandang Nabi dan kaum Muslimin sebagai rival yang setara. Bahkan, mereka
menolak kedatangan mereka dengan cara yang terbaik [diplomasi damai], padahal
sebelumnya mereka telah menyerang Madinah sebanyak dua kali dalam kurun waktu
dua tahun. Perang yang terakhir terjadi setahun sebelum kunjungan [ke
Hudaibiyah] ini, dengan mobilisasi pasukan besar-besaran yang terdiri atas
pasukan mereka dan sekutu-sekutu mereka (al-ahzab) guna menumpas kaum
Muslimin sampai ke akar-akarnya. Perang tersebut sempat menimbulkan keguncangan
dan ketakutan yang hebat di dalam jiwa kaum Muslimin karena kelemahan dan
sedikitnya jumlah mereka di hadapan para penyerang. Peristiwa [perjanjian] ini memiliki
kedudukan yang sangat agung di mata bangsa Arab, yang selama ini memandang
Quraisy sebagai pemimpin dan patron, serta mereka sangat terpengaruh oleh sikap
penolakan Quraisy. Apabila dicermati pula bahwa orang-orang Arab badui
sebelumnya memprediksi bahwa Nabi dan kaum Muslimin tidak akan pernah kembali
dengan selamat dari perjalanan ini, dan orang-orang munafik berprasangka dengan
prasangka yang paling buruk, maka tampaklah bagi kita salah satu dimensi dari
urgensi kemenangan ini serta dampaknya yang luas."
"Sungguh,
berbagai peristiwa sejarah telah membuktikan kebenaran ilham Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam dalam apa yang beliau lakukan, yang mana Al-Qur'an pun
menguatkan beliau dalam hal itu. Peristiwa ini menampakkan besarnya kemanfaatan
material, spiritual, politik, militer, dan keagamaan yang kembali kepada kaum
Muslimin darinya. Hal itu karena posisi mereka menjadi kuat di mata suku-suku
Arab, orang-orang Arab badui yang tertinggal pun bergegas menyampaikan
permohonan maaf, suara orang-orang munafik di Madinah semakin redup dan
eksistensi mereka kian mengecil. Di samping itu, bangsa Arab mulai berdatangan
menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari wilayah-wilayah yang
jauh. Beliau juga berhasil mematahkan kekuatan Yahudi di Khaibar dan
perkampungan mereka lainnya yang tersebar di jalur menuju Syam. Beliau pun
menjadi mampu untuk mengirimkan ekspedisi pasukan militernya (sarāyā) ke
wilayah-wilayah terpencil seperti Najd, Yaman, dan Balqa'. Hingga akhirnya dua
tahun kemudian beliau mampu menginvasi Makkah dan menaklukkannya. Peristiwa
tersebut menjadi titik akhir yang krusial, ketika telah datang pertolongan
Allah dan kemenangan, dan manusia masuk ke dalam agama Allah secara
berbondong-bondong."
Dan
kami kembali menegaskan bahwa di sana—di samping semua ini—terdapat kemenangan
yang lain. Yaitu kemenangan di dalam jiwa dan hati manusia, yang digambarkan
oleh Baiat Ridhnan, yang mana Allah meridhai peristiwa tersebut dan meridhai
para pelakunya dengan keridhaan yang disifatkan oleh Al-Qur'an. Di atas pijakan
itulah Al-Qur'an melukiskan untuk mereka sebuah potret yang indah lagi mulia di
akhir surah: "Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama
dengannya... dst." Maka, ini merupakan sebuah kemenangan dalam sejarah
pergerakan dakwah yang memiliki bobot perhitungan tersendiri, memiliki petunjuk
konseptual, serta memiliki implikasi yang luas setelahnya dalam panggung
sejarah.
Sungguh,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat gembira dengan turunnya
surah ini. Hati beliau yang agung merasa gembira dengan limpahan karunia
rabbani ini atas diri beliau dan orang-orang mukmin yang bersama beliau. Beliau
gembira dengan kemenangan yang nyata (Al-Fath al-mubīn), gembira dengan
ampunan yang menyeluruh, gembira dengan nikmat yang sempurna, gembira dengan
petunjuk menuju jalan Allah yang lurus, gembira dengan pertolongan yang kuat
lagi mulia, serta gembira dengan keridhaan Allah terhadap orang-orang mukmin
dan penyematan deskripsi yang indah bagi mereka. Beliau bersabda—dalam sebuah
riwayat:
نَزَلَتْ عَلَيَّ
الْبَارِحَةَ سُورَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
"Telah
turun kepadaku tadi malam sebuah surah yang ia lebih aku cintai daripada dunia
beserta seluruh isinya."
Dan
dalam riwayat lain:
لَقَدْ أُنْزِلَتْ
عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ
الشَّمْسُ
"Sungguh,
telah diturunkan kepadaku malam ini sebuah surah yang ia lebih aku cintai
daripada apa yang disinari oleh matahari."
Jiwa
beliau yang suci pun dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhannya atas nikmat
yang telah dianugerahkan-Nya. Rasa syukur itu meluap dalam bentuk shalat yang
sangat panjang dan lama, yang digambarkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha:
Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mendirikan
shalat, beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak-bengkak. Maka Aisyah radhiyallahu
'anha berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau
melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang
akan datang?" Maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَا عَائِشَةُ، أَفَلَا
أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟
"Wahai
Aisyah, tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?"
Pembukaan
tersebut merupakan bagian khusus bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kemudian runtunan ayat (siyāq) berlanjut menyifati nikmat Allah kepada
orang-orang mukmin melalui kemenangan ini, sentuhan tangan-Nya yang memberikan
ketenangan (as-sakīnah) ke dalam hati mereka, serta apa yang Dia simpan
untuk mereka di akhirat berupa ampunan, kemenangan, dan kenikmatan:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ
قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗوَلِلّٰهِ
جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ ٤ لِّيُدْخِلَ
الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ
فِيْهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عِنْدَ اللّٰهِ فَوْزًا
عَظِيْمًاۙ ٥
"Dialah
yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk
menambah keimanan di atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allah-lah
bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (4)
agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan Dia
menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu di sisi Allah adalah
kemenangan yang agung (5)." (QS. Al-Fath: 4-5).
Kata
as-sakinah merupakan sebuah term yang ekspresif, penuh gambaran, dan
memiliki kedalaman makna (dzu zhilāl). Ketika Allah menurunkan
ketenangan (as-sakinah) ke dalam suatu hati, ia menjelma menjadi
ketenteraman, kedamaian, keyakinan, kepercayaan diri, kewibawaan, keteguhan,
kepasrahan, dan keridhaan.
Sungguh,
hati orang-orang mukmin dalam peristiwa ini sempat bergejolak dengan berbagai
macam perasaan dan meluap dengan aneka emosi. Di dalamnya ada rasa harap-harap
cemas dan penantian yang tinggi terhadap pembuktian mimpi Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam untuk memasuki Masjidilharam; yang kemudian berbenturan
dengan realitas sikap Quraisy serta kesediaan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam untuk pulang kembali tanpa mendatangi Ka'bah pada tahun ini,
padahal mereka telah berihram, serta telah menandai (isy'ār) hewan
kurban dan mengalungkan tanda (taqlīd) padanya. Tidak diragukan lagi
bahwa hal ini merupakan perkara yang sangat berat bagi jiwa mereka. Telah
diriwayatkan dari Umar radhiyallahu 'anhu bahwa ia mendatangi Abu Bakar
dalam keadaan emosi yang meluap-luap, di antara yang ia katakan kepada Abu
Bakar—di luar apa yang telah kami tetapkan di dalam inti riwayat peristiwa
tersebut—adalah: "Bukankah beliau selalu menyampaikan kepada kita bahwa
kita akan mendatangi Ka'bah dan melakukan tawaf di sana?" Abu
Bakar—seorang yang hatinya tertaut erat dengan hati Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, yang detak jantungnya berdenyut selaras dengan detak
jantung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam—menjawab: "Benar.
Namun, apakah beliau mengabarkan kepadamu bahwa engkau akan mendatanginya pada
tahun ini?" Umar menjawab: "Tidak." Abu Bakar berkata:
"Sesungguhnya engkau pasti akan mendatanginya dan melakukan tawaf di sana."
Maka Umar radhiyallahu 'anhu meninggalkannya lalu mendatangi Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam dan menanyakan hal yang sama: "Bukankah engkau
selalu menyampaikan kepada kita bahwa kita akan mendatangi Ka'bah dan melakukan
tawaf di sana?" Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
بَلَى،
أَفَأَخْبَرْتُكَ أَنَّا نَأْتِيهِ الْعَامَ؟
"Benar.
Namun, apakah aku mengabarkan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya pada tahun
ini?"
Umar
menjawab: "Tidak." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
فَإِنَّكَ آتِيهِ
وَمُطَّوِّفٌ بِهِ
"Sesungguhnya
engkau pasti akan mendatanginya dan melakukan tawaf di sana."
Maka
inilah salah satu potret dari apa yang sedang bergejolak di dalam hati...
Kaum
Muslimin juga merasa sesak dada oleh syarat-syarat lain yang diajukan Quraisy,
seperti keharusan mengembalikan orang yang masuk Islam dan datang kepada
Muhammad tanpa izin walinya. Juga akibat fanatisme jahiliah (hamiyyah
jāhiliyyah) mereka yang menolak penulisan nama "Ar-Rahman
Ar-Rahim" serta menolak penyematan predikat "Rasulullah" (Utusan
Allah). Diriwayatkan bahwa Ali radhiyallahu 'anhu sempat enggan
menghapus predikat tersebut sebagaimana yang diminta oleh Suhail bin 'Amr
setelah ditulis. Maka Rasulullah menghapusnya sendiri seraya bersabda:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ
تَعْلَمُ أَنِّي رَسُولُكَ
"Ya
Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku adalah utusan-Mu."
Semangat
pembelaan (hamiyyah) terhadap agama mereka dan antusiasme untuk
menghadapi kaum musyrik telah mencapai puncaknya, yang mana hal ini tampak
jelas dalam baiat yang mereka lakukan secara bulat. Namun, urusan tersebut pada
akhirnya berujung pada perdamaian, gencatan senjata, dan kepulangan. Maka
bukanlah perkara mudah bagi jiwa mereka ketika urusan tersebut berakhir pada
konklusi yang terjadi. Hal ini tampak pada kelambatan mereka dalam menyembelih
hewan kurban (nahr) dan mencukur rambut (halq), sampai-sampai
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga
kali. Padahal, mereka adalah orang-orang yang track record ketaatan dan
kepatuhannya terhadap perintah Rasulullah sangat luar biasa, sebagaimana yang
pernah diceritakan oleh Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi kepada Quraisy tentang
mereka. Mereka tidak kunjung menyembelih kurban dan mencukur atau memendekkan
rambut hingga mereka melihat Rasulullah melakukannya sendiri. Tindakan praktis
dari beliau ini menghentak mereka dengan hentakan yang tidak bisa dihasilkan
oleh sekadar ucapan, sehingga mereka pun langsung kembali pada ketaatan
seolah-olah tersadar dari keterpanaan yang membingungkan!
Padahal,
pada awalnya mereka keluar dari Madinah dengan niat murni untuk melaksanakan
umrah, tidak berniat melakukan peperangan, serta tidak mempersiapkan diri untuk
hal itu baik secara psikologis maupun praktis. Kemudian mereka dikejutkan oleh
sikap Quraisy, serta adanya rumor tentang terbunuhnya Utsman, juga dikirimnya
sekelompok orang yang melempari perkemahan kaum Muslimin dengan anak panah dan
batu. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memutuskan untuk
berperang dan menuntut komitmen baiat, mereka pun memberikannya secara total
tanpa terkecuali. Namun, hal ini tidak menegasikan adanya faktor kejutan yang
bertolak belakang dengan niat awal keberangkatan mereka. Dan itulah sebagian
dari apa yang sedang bergejolak di dalam hati mereka berupa luapan emosi dan
pengaruh psikologis. Jumlah mereka hanya seribu empat ratus orang, sementara
Quraisy berada di markas besarnya sendiri, ditambah lagi di belakang mereka ada
orang-orang Arab badui dan kaum musyrik lainnya.
Ketika
seseorang memanggil kembali potret-potret sejarah ini, dia akan memahami makna
dari firman Allah Ta'ala: "Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke
dalam hati orang-orang mukmin..."
Dia
akan mencicipi cita rasa kata dan ungkapan tersebut, membayangkan situasi pada
hari itu serta hidup di dalamnya bersama teks-teks ini, dan merasakan kesejukan
ketenangan (as-sakinah) serta kedamaiannya di dalam hati tersebut.
Karena
Allah mengetahui isi hati orang-orang mukmin pada hari itu, bahwa apa yang
bergejolak di dalamnya murni bersumber dari keimanan dan semangat pembelaan
berbasis iman, bukan karena kepentingan ego mereka, bukan pula karena fanatisme
jahiliah yang ada pada diri mereka. Maka Allah memberikan karunia berupa
ketenangan ini kepada mereka: "untuk menambah keimanan di atas keimanan
mereka". Ketenangan (ath-thuma'nīnah) merupakan satu tingkatan
setelah adanya semangat dan antusiasme; di dalamnya terdapat rasa percaya yang
tidak menyisakan kegelisahan, serta keridhaan yang merasa tenteram dengan
keyakinan.
Oleh
karena itu, tampak jelas bahwa kemenangan dan keunggulan bukanlah perkara yang
sulit atau jauh. Sebaliknya, hal itu sangatlah mudah dan ringan bagi Allah
sekiranya hikmah-Nya pada hari itu menghendaki urusan berjalan sesuai dengan
apa yang diinginkan oleh orang-orang mukmin. Karena Allah memiliki bala tentara
yang tidak terhitung jumlahnya dan tidak akan pernah terkalahkan, yang mampu
meraih kemenangan dan merealisasikan keunggulan kapan pun Dia kehendaki:
"Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana." Maka itulah hikmah-Nya dan itulah ilmu-Nya; segala urusan
berjalan selaras dengan keduanya sesuai dengan kehendak-Nya.
Dan
bersumber dari ilmu dan hikmah-Nya: "Dia telah menurunkan ketenangan ke
dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan di atas keimanan
mereka." Hal itu bertujuan untuk merealisasikan bagi mereka apa yang telah
Dia takdirkan berupa kemenangan dan kenikmatan:
"agar
Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan Dia menghapus
kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu di sisi Allah adalah kemenangan
yang agung."
Apabila
hal ini dalam kalkulasi Allah merupakan kemenangan yang agung, maka ia
benar-benar sebuah kemenangan yang agung! Kemenangan yang agung dalam
hakikatnya, serta kemenangan yang agung di dalam jiwa orang-orang yang
mendapatkannya dari sisi Allah, yang ditakar dengan takaran-Nya dan ditimbang
dengan timbangan-Nya. Sungguh, orang-orang mukmin pada hari itu merasa sangat
gembira dengan apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Sebelumnya, setelah
mereka mendengar pembukaan surah dan mengetahui limpahan karunia yang Allah
berikan kepada Rasul-Nya, mereka sempat menanti-nanti bagian mereka sendiri
lalu menanyakannya. Begitu mereka mendengar dan mengetahuinya, jiwa mereka pun
dipenuhi dengan keridhaan, kegembiraan, dan keyakinan.
Kemudian
Allah mengabarkan kepada mereka dimensi lain dari hikmah-Nya pada apa yang Dia
gariskan dalam peristiwa ini; yaitu pemberian balasan kepada orang-orang
munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan
perempuan atas amal perbuatan dan tindakan yang lahir dari mereka:
وَّيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ
وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكٰتِ الظَّاۤنِّيْنَ بِاللّٰهِ ظَنَّ السَّوْءِۗ عَلَيْهِمْ
دَاۤىِٕرَةُ السَّوْءِۚ وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَاَعَدَّ لَهُمْ
جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ٦ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ
اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا ٧
"dan
agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang
musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Nasib
buruk akan menimpa mereka. Allah memurkai mereka, melaknat mereka, dan
menyediakan (neraka) Jahanam bagi mereka. (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat
kembali (6). Milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana (7)." (QS. Al-Fath: 6-7).
Teks
ayat ini telah menghimpun antara orang-orang munafik laki-laki dan perempuan
serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan dalam karakteristik
berprasangka buruk kepada Allah (zhann as-sū'), serta ketiadaan rasa
percaya mereka terhadap pertolongan-Nya kepada orang-orang mukmin. Teks ini
juga menghimpun mereka dalam hal bahwa mereka semua akan ditimpa oleh lingkaran
kemalangan (dā'irat as-sū'), sehingga mereka terkepung di dalamnya, di
mana lingkaran itu berputar mengitari mereka dan menimpa mereka. Mereka juga
dihimpun dalam kemurkaan Allah atas mereka, laknat-Nya kepada mereka, serta
pada apa yang telah Dia siapkan untuk mereka berupa tempat kembali yang buruk.
Hal itu karena nifak [kemunafikan] merupakan sifat yang sangat tercela yang
keburukannya tidak lebih rendah daripada syirik, bahkan ia berada pada
tingkatan yang lebih rendah [hina]; selain itu, gangguan orang-orang munafik
laki-laki dan perempuan terhadap jamaah kaum Muslimin tidaklah lebih ringan
daripada gangguan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan, meskipun
manifestasi dan jenis gangguan dari kedua belah pihak tersebut berbeda.
Allah
telah menetapkan bahwa karakteristik orang-orang munafik laki-laki dan
perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan adalah berprasangka
buruk kepada Allah. Sebaliknya, hati yang mukmin akan selalu berprasangka baik
(husnuzh-zhann) kepada Tuhannya, selalu mengharapkan kebaikan dari-Nya.
Ia mengharapkan kebaikan dari-Nya baik dalam kondisi lapang maupun sempit,
serta beriman bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya dalam kedua kondisi
tersebut. Rahasia di balik hal itu adalah karena hatinya bertaut erat dengan
Allah, sementara limpahan kebaikan dari Allah tidak akan pernah terputus. Maka
kapan pun hati bertaut dengan-Nya, ia akan menyentuh hakikat yang mendasar ini,
merasakannya secara langsung, dan mencicipinya. Adapun orang-orang munafik dan
orang-orang musyrik, mereka adalah orang-orang yang terputus hubungannya dengan
Allah. Oleh karena itu, mereka tidak merasakan hakikat tersebut dan tidak
menemukannya, sehingga prasangka mereka kepada Allah menjadi buruk. Hati mereka
bergantung pada aspek lahiriah dari segala urusan, lalu membangun penilaian di
atasnya. Mereka selalu memprediksi keburukan dan kemalangan bagi diri mereka
sendiri serta bagi orang-orang mukmin setiap kali aspek lahiriah urusan
mengisyaratkan hal tersebut; semua itu terjadi akibat ketiadaan rasa percaya
mereka terhadap takdir Allah, kekuasaan-Nya, serta pengaturan-Nya yang samar
lagi penuh kelembutan.
Allah
telah menghimpun di dalam ayat ini musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin dari
berbagai macam golongan; Dia menjelaskan kondisi mereka di sisi-Nya, serta apa
yang telah Dia persiapkan untuk mereka pada akhir kesudahannya. Kemudian Allah
mengiringi penjelasan ini dengan penegasan yang menunjukkan kekuasaan serta
hikmah-Nya:
"Milik
Allah-lah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana." (QS. Al-Fath: 7).
Maka
tidak ada sesuatu pun dari urusan mereka yang dapat melemahkan-Nya, dan tidak
ada sesuatu pun dari urusan mereka yang tersembunyi bagi-Nya. Milik Allah-lah
bala tentara langit dan bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Tugas
Rasulullah dan Baiat kepada Rasulullah
Kemudian
Allah kembali mengarahkan khitab [redaksi pembicaraan] kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam seraya memuji fungsi tugas beliau, menjelaskan tujuan
utama darinya, serta mengarahkan orang-orang mukmin menuju kewajiban mereka
terhadap Tuhan mereka setelah penyampaian risalah-Nya kepada mereka. Hal ini
dibarengi dengan mengembalikan urusan baiat mereka secara langsung kepada
Allah, serta mengadakan ikatan perjanjian dengan-Nya Jalla Jalaluh.
Urusan itu terjadi ketika mereka berbaiat kepada Rasul shallallahu 'alaihi
wa sallam dan mengadakan ikatan perjanjian dengan beliau. Di dalam hal
tersebut terdapat sebuah bentuk pemuliaan terhadap baiat Rasul serta
penghormatan yang sangat jelas bagi ikatan perjanjian ini:
اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا
وَّنَذِيْرًاۙ ٨ لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ
وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا ٩ اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا
يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗيَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا
يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ
اَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ ١٠
"Sesungguhnya
Kami mengutusmu (Muhammad) sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi
peringatan, agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan
(agama)-Nya, memuliakan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan
petang. Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad),
sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas
tangan mereka. Siapa yang melanggar janji, sesungguhnya akibat pelanggaran itu
akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, Dia
akan menganugerahkan pahala yang besar kepadanya." (QS. Al-Fath: 8-10).
Maka
Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam adalah saksi atas umat manusia yang
beliau diutus kepada mereka; beliau bersaksi bahwa beliau telah menyampaikan
apa yang diperintahkan kepada beliau, dan bahwa umat manusia telah menyambut
beliau dengan berbagai macam bentuk sambutan. Di antara mereka ada yang menjadi
mukmin, ada yang kafir, dan ada pula yang munafik. Di antara mereka ada yang
menjadi pelaku perbaikan (mushlihūn) dan ada pula pelaku kerusakan (mufsidūn).
Maka beliau menunaikan kesaksian tersebut sebagaimana beliau telah menunaikan
risalah. Beliau juga menjadi pembawa kabar gembira berupa kebaikan, ampunan,
keridhaan, dan balasan yang baik bagi orang-orang mukmin yang taat. Sebaliknya,
beliau menjadi pemberi peringatan tentang buruknya tempat kembali, kemurkaan,
laknat, serta azab bagi orang-orang kafir, munafik, pelaku maksiat, dan pelaku
kerusakan.
Ini
adalah fungsi tugas Rasul. Kemudian khitab beralih kepada orang-orang mukmin
untuk menyingkap bagi mereka tentang tujuan akhir yang diharapkan bagi mereka
dari risalah ini. Tujuan tersebut adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian bangkit memikul beban-beban kewajiban iman (takālīf al-īmān).
Mereka menolong Allah dengan cara memenangkan manhaj [sistem hidup] dan
syariat-Nya, memuliakan-Nya di dalam jiwa mereka dengan merasakan
keagungan-Nya, serta mensucikan-Nya dengan bertasbih dan bertahmid di kedua
ujung siang, yaitu pada waktu pagi dan petang. Ungkapan ini merupakan kinayah
[metafora] untuk menggambarkan keseluruhan hari, karena kedua ujung siang itu
merangkum waktu-waktu yang ada di antara keduanya. Tujuannya adalah keterikatan
hati dengan Allah pada setiap waktu. Maka inilah buah keimanan yang diharapkan
bagi orang-orang mukmin dari diutusnya Rasul sebagai saksi, pembawa kabar
gembira, dan pemberi peringatan.
Sungguh,
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam datang untuk menghubungkan mereka
dengan Allah, serta mengadakan ikatan baiat yang berlaku selamanya di antara
mereka dengan-Nya, yang tidak akan pernah terputus meskipun dengan kegaiban
[wafatnya] Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari mereka. Oleh
karena itu, ketika beliau meletakkan tangan beliau di atas tangan mereka untuk
berbaiat, sesungguhnya beliau hanyalah membaiat atas nama Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad),
sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas
tangan mereka..." Ini merupakan sebuah penggambaran yang dahsyat lagi
agung mengenai baiat di antara mereka dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam. Setiap orang dari mereka merasakan ketika meletakkan tangannya
di atas tangan beliau, bahwa tangan Allah berada di atas tangan mereka. Maka
Allah hadir dalam baiat tersebut. Allah adalah pemiliknya. Allah adalah Zat
yang mengambilnya, dan tangan-Nya berada di atas tangan orang-orang yang saling
berbaiat... Siapa? Allah! Alangkah dahsyatnya! Alangkah indahnya! Dan alangkah
agungnya!
Sungguh,
potret penggambaran ini benar-benar mencabut dari dalam jiwa segala lintasan
pikiran untuk melanggar (nakts) baiat ini—bagaimanapun persona
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah tiada. Sebab Allah Maha
Hadir dan tidak pernah gaib. Allah adalah Zat yang mengambil dan memberi dalam
baiat ini, dan Dia Maha Mengawasi atasnya.
"Siapa
yang melanggar janji, sesungguhnya akibat pelanggaran itu akan menimpa dirinya
sendiri." (QS. Al-Fath: 10).
Maka
dialah orang yang merugi di setiap sisi. Dia adalah orang yang merugi karena
menarik diri dari transaksi yang menguntungkan (ash-shafqah ar-rābihah)
di antara dirinya dengan Allah Ta'ala. Tidak ada satu pun baiat di antara Allah
dan seorang hamba dari hamba-hamba-Nya, melainkan hamba tersebutlah yang
beruntung di dalamnya karena karunia Allah, sedangkan Allah Maha Kaya dari
seluruh alam. Dia juga menjadi orang yang merugi ketika melanggar dan
membatalkan perjanjiannya dengan Allah, sehingga dia menghadapkan dirinya pada
kemurkaan dan azab-Nya atas pelanggaran yang Dia benci dan murkai. Sebab Allah
mencintai pemenuhan janji dan mencintai orang-orang yang menepatinya.
"Siapa
yang menepati janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahkan pahala yang besar
kepadanya." (QS. Al-Fath: 10).
Demikianlah
disebutkan secara mutlak: "pahala yang besar" (ajran 'azhīmā)...
tanpa memerinci bentuknya dan tanpa membatasinya. Ia adalah pahala yang
disifati oleh Allah sendiri sebagai sesuatu yang besar. Besar menurut kalkulasi
Allah, timbangan-Nya, dan sifat-Nya yang tidak akan pernah terjangkau tingkat
penggambarannya oleh nalar penduduk bumi yang serba sedikit, serba terbatas,
lagi fana!
Ketika
pembicaraan telah sampai pada hakikat baiat, serta lintasan pikiran tentang
pelanggaran dan penepatan janji, maka arah pembicaraan dialihkan kepada
orang-orang Arab badui (al-a'rāb) yang tertinggal [tidak ikut
berangkat]. Yaitu orang-orang yang enggan untuk keluar bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam karena buruknya prasangka mereka kepada Allah, serta
karena prediksi mereka akan datangnya keburukan dan bahaya bagi orang-orang
mukmin yang keluar berangkat menuju Quraisy di pusat kediaman mereka sendiri.
Padahal Quraisy telah menginvasi Madinah sebelum peristiwa itu selama dua tahun
berturut-turut... Pembicaraan dialihkan kepada mereka untuk mengabarkan kepada
Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam tentang apa yang akan mereka jadikan
sebagai alasan pembelaan diri kepada beliau setelah kepulangan beliau dalam
keadaan selamat bersama orang-orang yang menyertainya. Padahal Quraisy justru
menempuh jalan damai dengan beliau dan tidak memeranginya, bahkan mengadakan
perjanjian damai dengan beliau yang di dalamnya tampak—bagaimanapun
syarat-syaratnya—adanya langkah mundur dari pihak Quraisy, serta pengakuan
terhadap Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rival yang
setara bagi mereka, yang mana mereka mau berdamai dan menghindari permusuhan
dengannya.
Ayat
ini menyingkap bagi beliau tentang sebab-sebab yang sebenarnya di balik
ketidakikutsertaan mereka keluar bersama beliau, memalukan mereka, serta
membuat mereka berdiri telanjang tanpa topeng di hadapan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan di hadapan orang-orang mukmin. Sebagaimana ayat ini
juga mengabarkan kepada beliau tentang apa yang di dalamnya terdapat kabar
gembira bagi beliau dan bagi orang-orang yang keluar bersama beliau; yaitu
bahwa mereka akan berangkat menuju harta rampasan perang (maghānim) yang
dekat lagi mudah didapat, dan bahwa orang-orang Arab badui yang tertinggal itu
akan meminta izin untuk keluar bersama beliau demi mendapatkan bagian dari
harta rampasan yang mudah ini.
Ayat
ini pun mendiktekan kepada beliau tentang cara memperlakukan mereka pada saat
itu serta cara memberikan jawaban kepada mereka. Maka tidak boleh diterima
keikutsertaan mereka untuk keluar bersama beliau menuju arah yang dekat lagi
mudah ini, yang mana pembagiannya akan dibatasi khusus hanya bagi orang-orang
yang telah keluar sebelumnya dan menghadiri peristiwa Hudaibiyah. Melainkan
beliau diperintahkan untuk mengabarkan kepada mereka bahwa di sana ada arah
tujuan lain yang di dalamnya terdapat kesulitan dan peperangan melawan kaum
yang mempunyai kekuatan yang besar (ūlī ba'sin syadīd). Jika mereka
benar-benar jujur ingin keluar bertempur, maka hendaklah mereka keluar pada
hari itu, di mana Allah akan membagikan untuk mereka sesuai dengan apa yang Dia
kehendaki. Jika mereka taat, mereka akan mendapatkan pahala yang besar, dan
jika mereka durhaka sebagaimana mereka telah durhaka sebelumnya, mereka akan
mendapatkan azab yang sangat pedih:
سَيَقُوْلُ لَكَ الْمُخَلَّفُوْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ
شَغَلَتْنَآ اَمْوَالُنَا وَاَهْلُوْنَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا ۚيَقُوْلُوْنَ بِاَلْسِنَتِهِمْ
مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ لَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا
اِنْ اَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا اَوْ اَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا ۗبَلْ كَانَ اللّٰهُ بِمَا
تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا ١١ بَلْ ظَنَنْتُمْ اَنْ لَّنْ يَّنْقَلِبَ الرَّسُوْلُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ
اِلٰٓى اَهْلِيْهِمْ اَبَدًا وَّزُيِّنَ ذٰلِكَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ
السَّوْءِۚ وَكُنْتُمْ قَوْمًاۢ بُوْرًا ١٢ وَمَنْ لَّمْ يُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ
فَاِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَعِيْرًا ١٣ وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ
يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا
رَّحِيْمًا ١٤ سَيَقُوْلُ الْمُخَلَّفُوْنَ اِذَا انْطَلَقْتُمْ اِلٰى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوْهَا
ذَرُوْنَا نَتَّبِعْكُمْ ۚ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّبَدِّلُوْا كَلٰمَ اللّٰهِ ۗ قُلْ
لَّنْ تَتَّبِعُوْنَا كَذٰلِكُمْ قَالَ اللّٰهُ مِنْ قَبْلُ ۖفَسَيَقُوْلُوْنَ بَلْ
تَحْسُدُوْنَنَا ۗ بَلْ كَانُوْا لَا يَفْقَهُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا ١٥ قُلْ لِّلْمُخَلَّفِيْنَ
مِنَ الْاَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ اِلٰى قَوْمٍ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ تُقَاتِلُوْنَهُمْ
اَوْ يُسْلِمُوْنَ ۚ فَاِنْ تُطِيْعُوْا يُؤْتِكُمُ اللّٰهُ اَجْرًا حَسَنًا ۚ وَاِنْ
تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِّنْ قَبْلُ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا
١٦
"Orang-orang
badui yang tertinggal (tidak ikut ke Hudaibiyah) akan berkata kepadamu, 'Kami
telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk
kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.
Katakanlah, 'Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah sedikit
pun jika Dia menghendaki bencana bagimu atau jika Dia menghendaki keuntungan
bagimu? Sebenarnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Bahkan,
kamu semula menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan
kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya. Kepercayaan yang demikian itu
dijadikan terasa indah dalam hatimu. Kamu telah berprasangka dengan prasangka
yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.' Siapa yang tidak beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka yang
menyala-nyala bagi orang-orang kafir. Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi.
Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Orang-orang yang tertinggal itu akan
berkata apabila kamu berangkat menuju harta rampasan perang untuk mengambilnya,
'Biarkanlah kami mengikutimu.' Mereka bermaksud mengubah ketetapan Allah.
Katakanlah, 'Kamu sekali-kali tidak boleh mengikuti kami. Demikianlah yang
telah ditetapkan Allah sebelum ini.' Mereka akan berkata, 'Sebenarnya kamu
dengki kepada kami.' Padahal, mereka tidak mengerti kecuali sedikit sekali.
Katakanlah kepada orang-orang badui yang tertinggal itu, 'Kamu akan diajak
untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kamu akan memerangi
mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Jika kamu patuh, Allah akan
menganugerahkan kepadamu pahala yang baik. Namun, jika kamu berpaling
sebagaimana kamu telah berpaling sebelum ini, Dia akan mengazabmu dengan azab
yang pedih.'" (QS. Al-Fath: 11-16).
Dan
Al-Qur'an tidak sekadar mencukupkan diri dengan menghikayatkan ucapan
orang-orang yang tertinggal tersebut lalu memberikan bantahan atasnya; akan
tetapi Al-Qur'an menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk mengobati
penyakit-penyakit jiwa, bisikan-bisikan hati, serta menyusup ke tempat-tempat
bersarangnya kelemahan dan penyimpangan guna menyingkapnya sebagai langkah awal
bagi proses pengobatan dan terapinya. Kemudian dilanjutkan untuk menetapkan
hakikat-hakikat yang kekal, nilai-nilai yang mapan, serta kaidah-kaidah dalam
hal perasaan, konsepsi berpikir, dan perilaku.
Maka
orang-orang badui yang tertinggal—dan mereka itu termasuk dari kalangan Arab
badui suku Ghifar, Muzainah, Asyja', Aslam, dan suku-suku lainnya yang berada
di sekitar Madinah—akan berkata sebagai alasan atas ketidakikutsertaan mereka:
"Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami..." Padahal ini
sama sekali bukanlah sebuah uzur [alasan yang sah]. Sebab manusia selamanya
akan selalu memiliki keluarga dan harta. Sekiranya perkara semacam ini boleh
dijadikan alasan yang menyibukkan mereka dari beban-beban kewajiban akidah
serta dari menunaikan haknya, niscaya tidak akan pernah ada seorang pun yang
bangkit memperjuangkannya... Dan mereka akan berkata: "maka mohonkanlah
ampunan untuk kami..." Padahal mereka tidaklah jujur dalam meminta
permohonan ampunan tersebut, sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah kepada
Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam: "Mereka mengucapkan dengan
lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya..."
Di
sini, beliau diperintahkan untuk memberikan bantahan kepada mereka dengan
menetapkan hakikat takdir (haqīqat al-qadar) yang tidak akan pernah bisa
ditolak oleh sikap mundur, dan tidak akan pernah bisa diubah oleh sikap maju;
serta dengan hakikat kekuasaan (haqīqat al-qudrah) yang meliputi manusia
dan bertindak dalam menentukan takdir mereka sesuai dengan apa yang Dia
kehendaki; juga dengan hakikat ilmu yang sempurna (haqīqat al-'ilm al-kāmil)
yang mana Allah menjalankan takdir-Nya selaras dengannya:
"Katakanlah,
'Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah sedikit pun jika
Dia menghendaki bencana bagimu atau jika Dia menghendaki keuntungan bagimu?
Sebenarnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.'" (QS. Al-Fath:
11).
Ini
merupakan sebuah pertanyaan yang mengisyaratkan pesan untuk berserah diri
secara pasrah kepada takdir Allah, serta menaati perintah-Nya tanpa henti dan
tanpa ragu-ragu. Sebab sikap mandek atau ragu-ragu tidak akan pernah bisa
menolak bahaya, dan tidak pula bisa menunda datangnya manfaat. Selain itu,
tindakan membuat-buat alasan palsu tidak akan pernah tersembunyi dari ilmu
Allah, serta tidak akan memengaruhi balasan-Nya yang selaras dengan ilmu-Nya
yang meliputi segala sesuatu. Ini merupakan sebuah arahan edukatif (taujīh
tarbawī) yang sangat tepat pada waktunya, suasananya, dan momentumnya
berdasarkan metode Al-Qur'an.
"Bahkan,
kamu semula menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan
kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya. Kepercayaan yang demikian itu
dijadikan terasa indah dalam hatimu. Kamu telah berprasangka dengan prasangka
yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa." (QS. Al-Fath: 12).
Demikianlah
Allah membuat mereka berdiri telanjang tanpa topeng, berhadap-hadapan langsung
dengan apa yang mereka sembunyikan di dalam niat, apa yang mereka tutupi di
dalam prediksi, serta apa yang mereka prasangkakan secara buruk terhadap Allah.
Sungguh, mereka telah berprasangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin yang
bersamanya sedang berjalan menuju kebinasaan mereka, sehingga mereka tidak akan
pernah kembali lagi kepada keluarga mereka di Madinah. Mereka berkata:
"Dia pergi mendatangi kaum yang telah menginvasi dirinya di pusat
kediamannya sendiri di Madinah, serta telah membunuh sahabat-sahabatnya, lalu
sekarang dia pergi untuk memerangi mereka!"—mereka mengisyaratkan pada
Perang Uhud dan Perang Ahzab. Mereka sama sekali tidak memasukkan kalkulasi
tentang pemeliharaan Allah serta perlindungan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang
jujur lagi tulus mutlak.
Sebagaimana
mereka—berdasarkan tabiat konsepsi berpikir mereka terhadap segala urusan serta
kosongnya hati mereka dari kehangatan akidah—tidak mampu mengukur bahwa
kewajiban tetaplah merupakan kewajiban, tanpa memandang beban-beban biayanya
bagaimanapun adanya; dan bahwa ketaatan kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam wajib dilakukan tanpa melihat pada keuntungan lahiriah
dan kerugian formal semata. Sebab ia merupakan kewajiban yang difardhukan yang
harus ditunaikan tanpa melihat pada dampak lain di baliknya.
Sungguh,
mereka telah membangun prasangka mereka, dan prasangka ini telah dijadikan
terasa indah di dalam hati mereka, hingga mereka tidak melihat selainnya dan
tidak memikirkan alternatif di luar itu. Dan inilah prasangka buruk (zhann
as-sū') kepada Allah, yang lahir akibat hati mereka yang būr
[mati/tandus]. Ini merupakan sebuah ungkapan yang menakjubkan lagi penuh pesan.
Tanah yang būr adalah tanah yang mati lagi tandus. Demikian pulalah
kondisi hati mereka. Demikian pulalah eksistensi mereka dengan seluruh kedirian
mereka. Būr. Tidak ada kehidupan, tidak ada kesuburan, dan tidak ada
pembuahan. Maka akan menjadi seperti apakah hati apabila ia kosong dari
prasangka baik kepada Allah? Karena ia telah terputus dari hubungan dengan ruh
[rahmat] Allah? Ia akan menjadi būr; mati, tandus, dan kesudahannya
adalah menuju pada kebinasaan dan kehancuran.
Demikian
pulalah orang-orang menilai jamaah mukmin. Orang-orang dari jenis kaum Arab
badui tersebut yang terputus hubungannya dari Allah. Kaum būr yang hati
mereka kosong dari ruh dan kehidupan. Demikianlah mereka selalu berprasangka
terhadap jamaah mukmin ketika tampak secara lahiriah bahwa bobot timbangan
kebatilan sedang unggul, dan bahwa kekuatan bumi yang kasatmata berada di pihak
pelaku keburukan dan kesesatan; serta ketika orang-orang mukmin berjumlah
sedikit, atau sedikit dalam perlengkapan, atau sedikit dalam hal posisi,
kedudukan, dan harta.
Demikianlah
orang-orang Arab badui dan yang sejenis dengan mereka pada setiap zaman
berprasangka bahwa orang-orang mukmin tidak akan pernah kembali kepada keluarga
mereka selama-lamanya apabila mereka berhadapan dengan kebatilan yang sedang
membusungkan dada dengan kekuatannya yang lahiriah. Oleh karena itu, mereka menjauhkan
diri dari orang-orang mukmin demi memburu keselamatan diri; mereka memprediksi
pada setiap detik bahwa orang-orang mukmin akan ditumpas habis dan dakwah
mereka akan berakhir, sehingga mereka pun mengambil langkah yang paling aman
menurut mereka dan menjauh dari jalan kaum mukmin yang diliputi oleh berbagai
mara bahaya!
Akan
tetapi Allah mengecewakan prasangka buruk ini; Dia mengubah peta situasi dan
kondisi berdasarkan pengetahuan-Nya sendiri, pengaturan-Nya sendiri, serta
menurut neraca kekuatan yang sejati. Neraca yang dipegang oleh Allah dengan
tangan-Nya yang kuat, yang dengannya Dia merendahkan suatu kaum dan meninggikan
kaum yang lain, dari arah yang tidak diketahui oleh orang-orang munafik yang
selalu berprasangka buruk kepada Allah di setiap tempat dan di setiap waktu!
Sesungguhnya
neraca tersebut adalah neraca keimanan. Oleh karena itu, Allah mengembalikan
orang-orang Arab badui itu kepadanya; Dia menetapkan kaidah umum bagi pemberian
balasan selaras dengan neraca ini, dibarengi dengan memberikan isyarat kepada
mereka tentang rahmat Allah yang dekat serta memberikan pesan kepada mereka
untuk bersegera mengambil kesempatan, dan menikmati ampunan Allah serta
rahmat-Nya:
"Siapa
yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Kami telah
menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi orang-orang kafir. Milik Allah-lah
kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab
siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Fath:
13-14).
Sungguh,
mereka sebelumnya membuat-buat alasan dengan harta dan keluarga mereka. Maka
apakah gunanya harta dan keluarga mereka di dalam neraka yang menyala-nyala (sa'īr)
yang dipersiapkan untuk mereka ini apabila mereka tidak beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya? Keduanya merupakan dua pilihan timbangan, maka hendaklah mereka
memilih yang ini atau yang itu di atas keyakinan. Sebab Allah yang memberikan
ancaman ini kepada mereka adalah satu-satunya pemilik kerajaan langit dan bumi.
Maka Dialah yang memiliki otoritas ampunan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan
Dialah yang memiliki otoritas azab bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan
Allah membalas manusia berdasarkan amal perbuatan mereka, akan tetapi
masyiat-Nya [kehendak-Nya] bersifat mutlak tanpa ada bayang-bayang ikatan batas
apa pun. Beliau menetapkan hakikat ini di sini agar ia menetap di dalam hati,
tanpa kontradiksi dengan adanya urutan balasan berdasarkan amal perbuatan,
karena urutan ini merupakan pilihan mutlak bagi masyiat ini.
Dan
ampunan Allah serta rahmat-Nya adalah perkara yang lebih dekat. Maka hendaklah
mengambilnya sebagai keuntungan bagi siapa saja yang menghendakinya, sebelum
ketetapan Allah benar-benar jatuh berupa azab bagi orang yang tidak beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan neraka menyala-nyala yang hadir lagi
dipersiapkan bagi orang-orang kafir.
Kemudian
Allah memberikan isyarat tentang sebagian dari apa yang telah Dia takdirkan
bagi orang-orang mukmin, yang mana hal itu menyelisihi prasangka orang-orang
yang tertinggal. Isyarat ini disampaikan dengan gaya bahasa yang memberikan
kesan bahwa urusan tersebut sudah dekat:
"Orang-orang
yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat menuju harta rampasan
perang untuk mengambilnya, 'Biarkanlah kami mengikutimu.' Mereka bermaksud
mengubah ketetapan Allah. Katakanlah, 'Kamu sekali-kali tidak boleh mengikuti
kami. Demikianlah yang telah ditetapkan Allah sebelum ini.' Mereka akan
berkata, 'Sebenarnya kamu dengki kepada kami.' Padahal, mereka tidak mengerti
kecuali sedikit sekali." (QS. Al-Fath: 15).
Mayoritas
ahli tafsir berpandangan bahwa ayat ini merupakan isyarat menuju Penaklukan
Khaibar (Fathu Khaibar). Dan perkara itu bisa jadi memang demikian. Akan
tetapi, teks ayat (an-nash) tetap memiliki pesan isyaratnya tersendiri
sekiranya ia bukan merupakan teks yang spesifik tentang Khaibar. Teks ini
memberikan isyarat bahwa kaum Muslimin akan dibukakan bagi mereka sebuah
kemenangan yang dekat lagi mudah, dan bahwa orang-orang yang tertinggal ini
akan menyadari hal tersebut, lalu mereka berkata: "Biarkanlah kami
mengikutimu..."
Barangkali
faktor yang membuat para ahli tafsir mengkhususkan peristiwa Khaibar adalah
karena peristiwa itu terjadi tidak lama setelah Perjanjian Hudaibiyah. Sebab ia
terjadi pada bulan Muharram tahun ke-7 Hijriah; yaitu kurang dari dua bulan
setelah Perjanjian Hudaibiyah. Selain itu, Khaibar merupakan tempat yang
melimpah harta rampasannya. Benteng-benteng Khaibar adalah markas kuat lagi
kaya yang terakhir tersisa bagi kaum Yahudi di Jazirah Arab. Ke sana pulalah
tempat pelarian sebagian Bani Nadhir dan Bani Quraizhah dari kalangan
orang-orang yang telah diusir dari Jazirah Arab sebelumnya.
Pendapat
para ahli tafsir mutawatir menyatakan bahwa Allah telah menjanjikan kepada para
peserta baiat di Hudaibiyah bahwa harta rampasan perang Khaibar adalah khusus
milik mereka, tidak ada seorang pun yang boleh berserikat bersama mereka di
dalamnya. Namun, aku tidak menemukan adanya teks nas yang sharih [eksplisit]
mengenai hal ini. Barangkali mereka mengambil kesimpulan ini dari apa yang
nyata-nyata terjadi secara faktual. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam memang membatasi pembagiannya hanya pada para peserta Hudaibiyah,
dan beliau tidak membawa serta seorang pun selain mereka.
Bagaimanapun
situasinya, Allah telah memerintahkan Nabi-Nya untuk menolak orang-orang badui
yang tertinggal itu apabila mereka menawarkan diri untuk keluar demi memburu
harta rampasan yang mudah lagi dekat. Allah menetapkan bahwa keluarnya mereka
adalah bentuk pelanggaran terhadap perintah Allah. Dia juga mengabarkan kepada
Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa mereka akan berkata apabila
dilarang untuk keluar: "Sebenarnya kamu dengki kepada kami..."—maka
kamu melarang kami keluar agar kamu dapat menghalangi kami dari mendapatkan
harta rampasan. Kemudian Allah menetapkan bahwa ucapan mereka ini lahir akibat
tipisnya fikih [kefahaman] mereka terhadap hikmah Allah dan takdir-Nya.
Maka
balasan bagi orang-orang tertinggal yang bersikap tamak adalah diharamkan [dari
kebaikan], sedangkan balasan bagi orang-orang taat yang tulus mutlak adalah
diberi dari karunia Allah, serta dikhususkan dengan harta rampasan ketika Allah
mentakdirkannya; sebagai balasan atas kekhususan mereka dalam hal ketaatan dan
keberanian maju, pada hari ketika mereka tidak memprediksi apa pun selain
kesulitan di dalam jihad.
Kemudian
Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengabarkan kepada mereka bahwa mereka akan
diuji dengan adanya ajakan untuk berjihad melawan kaum yang mempunyai kekuatan
yang besar, yang mana mereka akan memerangi kaum tersebut di atas prinsip
Islam. Jika mereka berhasil dalam ujian ini, mereka akan mendapatkan pahala,
namun jika mereka terus berada di atas kedurhakaan dan sikap tertinggal mereka,
maka itulah ujian yang terakhir:
"Katakanlah
kepada orang-orang badui yang tertinggal itu, 'Kamu akan diajak untuk
(memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kamu akan memerangi mereka
atau mereka menyerah (masuk Islam). Jika kamu patuh, Allah akan menganugerahkan
kepadamu pahala yang baik. Namun, jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah
berpaling sebelum ini, Dia akan mengazabmu dengan azab yang pedih.'" (QS. Al-Fath:
16).
Pendapat-pendapat
juga berbeda mengenai siapakah kaum yang mempunyai kekuatan yang besar
tersebut; apakah mereka berada pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam ataukah pada masa para khalifah setelah beliau. Pendapat yang paling
dekat adalah bahwa peristiwa itu terjadi pada masa hidup Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, agar Allah menyaring keimanan orang-orang Arab badui di
sekitar Madinah ini.
Perkara
yang penting untuk kita cermati adalah metode edukasi Al-Qur'an (tharīqat
at-tarbiyah al-qur'āniyyah), serta metode pengobatan jiwa dan hati melalui
arahan-arahan Al-Qur'an dan ujian-ujian yang bersifat nyata. Semua ini tampak
jelas dalam hal menyingkap kedirian jiwa mereka bagi diri mereka sendiri dan
bagi orang-orang mukmin, serta dalam mengarahkan mereka menuju hakikat-hakikat,
nilai-nilai, dan kaidah-kaidah perilaku keimanan yang lurus.
Dan
tatkala perkara yang dipahami dari ujian tersebut adalah kewajiban keluar
memikul tugas bagi semua orang, maka Allah menjelaskan tentang orang-orang yang
memiliki uzur yang sebenarnya (ash-hāb al-a'dzār al-haqīqiyyah), yaitu
orang-orang yang sah secara hukum untuk tertinggal dari jihad tanpa ada dosa
dan tanpa ada azab:
لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى
الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ
يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ
عَذَابًا اَلِيْمًا ࣖ ١٧
"Tidak
ada dosa atas orang yang buta, orang yang pincang, dan orang yang sakit (jika
tidak ikut berperang). Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Dia
akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Siapa yang berpaling, niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang
pedih." (QS. Al-Fath: 17).
Maka
orang yang buta dan orang yang pincang memiliki uzur yang bersifat permanen ('udzr
dā'im), yaitu ketidakmampuan yang terus-menerus untuk memikul beban keluar
dan berjihad. Sedangkan orang yang sakit memiliki uzur yang bersifat temporer ('udzr
mauqūt) berdasarkan kondisi sakitnya hingga dia sembuh.
Dan
urusan ini pada hakikatnya adalah urusan ketaatan (thā'ah) dan
kedurhakaan ('ishyān). Ia merupakan sebuah kondisi kejiwaan (hālah
nafsiyyah) dan bukan sekadar format formalitas lahiriah semata. Maka barang
siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka surga adalah balasannya. Dan
barang siapa yang berpaling, maka azab yang pedih telah menantinya. Maka
silakan bagi siapa saja yang ingin menimbang di antara kesulitan-kesulitan
jihad beserta pahala balasannya, dengan kenyamanan duduk santai [tertinggal]
beserta apa yang ada di baliknya... kemudian silakan memilih!
"Sungguh,
Allah telah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan
sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah,
dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepalamu dan memendekkannya, sedang
kamu tidak merasa takut. Maka, Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan
sebelum itu Dia telah menganugerahkan kemenangan yang dekat (18) Dialah yang
mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia
memenangkannya di atas segala agama. Cukuplah Allah sebagai saksi (19) Muhammad
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya... dst." (QS. Al-Fath:
28-29).
Pengantar
Pelajaran
ini seluruhnya merupakan pembicaraan tentang orang-orang mukmin, dan dialog
bersama orang-orang mukmin. Yaitu bersama kelompok unik yang berbahagia, yang
telah berbaiat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di bawah
pohon [Hudaibiyah]. Allah hadir dalam baiat tersebut, menyaksikannya,
mengukuhkannya, dan tangan-Nya berada di atas tangan mereka di dalamnya.
Kelompok yang telah mendengar Allah Ta'ala berfirman mengenai mereka kepada
Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sungguh, Allah telah
meredai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di
bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia
menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka dan memberi balasan kepada mereka
dengan kemenangan yang dekat." Mereka juga mendengar Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:
أَنْتُمُ الْيَوْمَ
خَيْرُ أَهْلِ الْأَرْضِ
"Kalian
pada hari ini adalah penduduk bumi yang terbaik."
Ia
merupakan pembicaraan tentang mereka dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada
Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, dan dialog bersama mereka dari
Allah Subhanahu wa Ta'ala yang memberikan kabar gembira kepada mereka tentang
apa yang telah Dia persiapkan bagi mereka berupa harta rampasan perang yang
banyak serta berbagai kemenangan; juga tentang apa yang telah Dia liputkan
kepada mereka berupa pemeliharaan dan perlindungan dalam perjalanan ini serta
pada masa-masa setelahnya; serta tentang apa yang telah Dia takdirkan bagi
mereka berupa kemenangan yang tersambung secara kontinu dengan sunah-Nya yang
tidak akan pernah mengalami perubahan selama-lamanya. Ayat ini pun mengecam
musuh-musuh mereka yang kafir dengan kecaman yang sangat keras. Ayat ini juga
menyingkap bagi mereka tentang hikmah-Nya dalam memilih jalan damai dan
gencatan senjata pada tahun ini, serta menegaskan bagi mereka tentang kebenaran
mimpi yang dilihat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
mengenai kepastian memasuki Masjidilharam. Bahwa kaum Muslimin benar-benar akan
memasukinya dalam keadaan aman tanpa ada rasa takut, dan bahwa agama-Nya akan
menang di atas seluruh agama yang ada di bumi secara keseluruhan.
Pelajaran
dan surah ini kemudian ditutup dengan potret penggambaran yang mulia lagi
bercahaya bagi jamaah yang unik lagi berbahagia ini dari kalangan sahabat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; karakteristik mereka di dalam
Taurat dan karakteristik mereka di dalam Injil, serta janji Allah bagi mereka
berupa ampunan dan pahala yang besar.
Sanjungan
atas Kaum Mukminin, Penjelasan Sifatnya, dan Hikmah Perdamaian Hudaibiyah
"Sungguh,
Allah telah meredai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu
(Muhammad) di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka,
lalu Dia menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka dan memberi balasan kepada
mereka dengan kemenangan yang dekat (18) serta harta rampasan perang yang
banyak yang mereka peroleh. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (19) Allah
menjanjikan kepadamu harta rampasan perang yang banyak yang dapat kamu peroleh,
maka Dia menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu dan menahan tangan
manusia dari kamu (agar kamu tidak diserang) dan agar menjadi bukti bagi
orang-orang mukmin dan agar Dia membimbing kamu ke jalan yang lurus (20) dan
(kemenangan-kemenangan) lain yang tidak dapat kamu perkirakan, tetapi Allah
telah mengepungnya (menentukannya). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (21)
Dan sekiranya orang-orang yang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka akan
berbalik ke belakang (kalah) dan mereka tidak akan menemukan pelindung dan
tidak pula penolong (22) (Sebagai) sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu.
Kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu (23) Dialah
yang menahan tangan mereka dari kamu dan menahan tangan kamu dari mereka di
lembah Makkah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan (24) Merekalah orang-orang kafir yang menghalang-halangi
kamu dari Masjidilharam dan (menghalang-halangi) hewan kurban yang tertahan
untuk sampai ke tempat penyembelihannya yang sah. Sekiranya tidak ada laki-laki
yang mukmin dan perempuan yang mukmin yang tidak kamu ketahui, tentulah kamu
akan menginjak-injak mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa
pengetahuan (kamu), karena Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke
dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka terpisah, niscaya Kami akan mengazab
orang-orang yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih (25) Ketika
orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu)
kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan
kepada orang-orang mukmin, dan (Allah) mewajibkan kepada mereka kalimat takwa
dan mereka lebih berhak dengan (kalimat) itu dan patut memilikinya. Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu (26) Sungguh, Allah telah membuktikan kepada
Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti
akan memasuki Masjidilharam, insya Allah, dalam keadaan aman, dengan mencukur
rambut kepalamu dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka, Allah
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan sebelum itu Dia telah
menganugerahkan kemenangan yang dekat (27) Dialah yang mengutus Rasul-Nya
dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas
segala agama. Cukuplah Allah sebagai saksi (28) Muhammad adalah utusan Allah
dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang
kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud
mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka
dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka
dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu
menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas
batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang
saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar (29)." (QS. Al-Fath:
18-29).
Dan
sungguh, hari ini—dari balik bentangan waktu seribu empat ratus tahun—aku
mencoba untuk menatap ke arah momen kudus tersebut, saat seluruh eksistensi
menyaksikan penyampaian vertikal yang mulia lagi agung dari Allah Yang
Mahatinggi lagi Maha Agung kepada Rasul-Nya yang tepercaya mengenai jamaah
orang-orang mukmin. Aku mencoba menatap lembaran eksistensi pada momen tersebut
beserta nurani tersembunyinya; yang mana ia seluruhnya saling menyambut firman
ilahi yang mulia tentang para [Hal: 3326] lelaki yang tegak berdiri pada
saat itu di satu petak wilayah tertentu dari eksistensi ini... Dan aku mencoba
untuk merasakan secara personal sesuatu dari kondisi orang-orang yang
berbahagia tersebut yang mendengar dengan telinga mereka sendiri, bahwa mereka—secara
personal dan persona mereka masing-masing—adalah orang-orang yang difirmankan
oleh Allah tentang mereka: "Sungguh, Allah telah meredai mereka."
Allah pun menentukan tempat di mana mereka berada, serta format kondisi mereka
saat mereka berhak mendapatkan keridhaan ini: "ketika mereka berjanji
setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon..." Mereka mendengar hal ini dari
Nabi mereka yang jujur lagi dibenarkan perbuatannya (ash-shādiq al-mashdūq),
melalui lisan Tuhannya Yang Maha Agung lagi Maha Mulia...
Duhai
Allah! Bagaimana mereka—orang-orang yang berbahagia itu—menyambut momen kudus
serta penyampaian ilahi tersebut? Penyampaian yang menunjuk kepada setiap
orang, pada dirinya sendiri, seraya berkata kepadanya: "Kamu. Kamu secara
kedirianmu sendiri. Allah sedang menyampaikan pesan kepadamu. Sungguh Dia telah
ridha kepadamu. Saat kamu berbaiat. Di bawah pohon! Dan Dia mengetahui apa yang
ada di dalam dirimu. Maka Dia menurunkan ketenangan atasmu!"
Sesungguhnya
salah seorang dari kita saat membaca atau mendengar ayat: "Allah adalah
Pelindung orang-orang yang beriman..." maka dia akan merasa bahagia. Dia
berkata di dalam dirinya: "Bukankah aku sangat berharap untuk masuk ke
dalam keumuman ayat ini?" Dan ketika dia membaca atau mendengar ayat:
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar..." maka dia akan
merasa tenteram. Dia berkata di dalam dirinya: "Bukankah aku berharap
untuk menjadi bagian dari orang-orang yang sabar ini?" Sementara para lelaki
itu mendengarnya dan disampaikan pesan tersebut secara personal, satu per satu,
bahwa Allah memang memaksudkan dirinya secara spesifik dan secara kediriannya
sendiri, serta menyampaikan pesan kepadanya: "Sungguh Dia telah ridha
kepadamu!" Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam dirinya, serta ridha
terhadap apa yang ada di dalam dirinya!
Duhai
Allah! Sungguh ini merupakan sebuah perkara yang teramat dahsyat!
۞ لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ
اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ
السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ ١٨ وَّمَغَانِمَ كَثِيْرَةً
يَّأْخُذُوْنَهَا ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا ١٩
"Sungguh,
Allah telah meredai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu
(Muhammad) di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka,
lalu Dia menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka dan memberi balasan kepada
mereka dengan kemenangan yang dekat. .
dan harta rampasan perang yang banyak yang dapat mereka ambil. Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana " (QS. Al-Fath: 18-19).
Allah
mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka berupa semangat pembelaan terhadap
agama mereka, bukan karena ego diri mereka sendiri. Dia mengetahui apa yang ada
di dalam hati mereka berupa kejujuran dalam baiat mereka. Dan Dia mengetahui
apa yang ada di dalam hati mereka berupa kemampuan menahan gejolak emosi
terhadap provokasi musuh, serta pengendalian terhadap perasaan mereka agar
mereka tetap berdiri tegak di belakang titah kata Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dalam keadaan taat, pasrah, lagi sabar.
"lalu
Dia menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka..." Ungkapan ini melukiskan
ketenangan (as-sakīnah) yang turun dengan penuh kelembutan, kedamaian,
dan kewibawaan; yang mengalirkan rasa sejuk, keselamatan, ketenteraman, dan
kenyamanan ke dalam hati yang tadinya panas bergejolak, bersemangat membara,
bersiaga penuh, lagi dipengaruhi emosi.
"dan
memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat." Kemenangan
yang dekat tersebut adalah perdamaian ini [Perjanjian Hudaibiyah] beserta
situasi yang meliputinya, yang mana situasi tersebut telah menjadikannya
sebagai sebuah kemenangan (fath), serta menjadikannya sebagai titik awal
bagi berbagai penaklukan yang banyak setelahnya. Bisa jadi Penaklukan Khaibar
merupakan salah satu di antaranya, dan ia merupakan penaklukan yang disebutkan
oleh mayoritas ahli tafsir sebagai kemenangan dekat yang disediakan oleh Allah
bagi kaum Muslimin...
"serta
harta rampasan perang yang banyak yang mereka peroleh." Harta rampasan
tersebut bisa jadi didapatkan bersamaan dengan penaklukan tersebut jika yang
dimaksud adalah Penaklukan Khaibar, atau terjadi setelahnya jika yang dimaksud
dengan kemenangan adalah perdamaian ini, yang dengannya kaum Muslimin menjadi
memiliki waktu luang untuk melakukan berbagai ekspansi penaklukan yang beraneka
ragam.
"Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Ini merupakan penutup (ta'qīb)
yang sangat serasi bagi ayat-ayat sebelumnya. Sebab di dalam keridhaan,
kemenangan, dan janji akan harta rampasan perang, di sanalah termanifestasikan
kekuatan dan kekuasaan, sebagaimana termanifestasikan pula hikmah dan
pengaturan. Dan dengan keduanya itulah janji ilahi yang mulia dapat terealisasi
secara sempurna.
Setelah
penyampaian vertikal yang mulia dari Rasul yang tepercaya mengenai orang-orang
mukmin yang berbaiat tersebut, pembicaraan kemudian diarahkan kepada
orang-orang mukmin itu sendiri; pembicaraan mengenai perdamaian ini, atau
mengenai kemenangan ini, yang mereka sambut dengan penuh kesabaran lagi
kepasrahan diri:
وَعَدَكُمُ اللّٰهُ مَغَانِمَ كَثِيْرَةً
تَأْخُذُوْنَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هٰذِهٖ وَكَفَّ اَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْۚ وَلِتَكُوْنَ
اٰيَةً لِّلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ ٢٠ وَّاُخْرٰى لَمْ
تَقْدِرُوْا عَلَيْهَا قَدْ اَحَاطَ اللّٰهُ بِهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرًا ٢١
"Allah
menjanjikan kepadamu harta rampasan perang yang banyak yang dapat kamu peroleh,
maka Dia menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu dan menahan tangan
manusia dari kamu (agar kamu tidak diserang) dan agar menjadi bukti bagi
orang-orang mukmin dan agar Dia membimbing kamu ke jalan yang lurus (20) dan
(kemenangan-kemenangan) lain yang tidak dapat kamu perkirakan, tetapi Allah
telah mengepungnya (menentukannya). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu
(21)." (QS. Al-Fath: 20-21).
Ini
merupakan kabar gembira dari Allah untuk orang-orang mukmin yang mereka dengar
dan mereka yakini sepenuhnya. Mereka mengetahui bahwa Allah telah menyediakan
bagi mereka harta rampasan perang yang banyak, dan mereka pun hidup setelah itu
sepanjang sisa umur mereka dengan menyaksikan bukti kebenaran dari janji yang
tidak akan pernah diingkari ini. Di sini Allah berfirman kepada mereka bahwa
Dia telah menyegerakan untuk mereka perkara ini. Dan perkara "ini"
bisa jadi merupakan Perjanjian Hudaibiyah—sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu
Abbas—guna menguatkan substansi makna bahwa ia adalah sebuah kemenangan dan
sumber keuntungan. Dan pada hakikatnya ia memang demikian, sebagaimana yang
telah kami paparkan sebelumnya dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam serta dari realitas fakta yang menyuarakan kebenaran dari penilaian
ini. Sebagaimana ia juga bisa jadi merupakan Penaklukan Khaibar—sebagaimana
diriwayatkan dari Mujahid—dengan pertimbangan bahwa ia merupakan harta rampasan
perang terdekat yang terjadi setelah peristiwa Hudaibiyah. Namun, pendapat yang
pertama adalah yang lebih dekat dan lebih kuat.
Allah
juga memberikan karunia nikmat kepada mereka berupa tindakan-Nya yang menahan
tangan manusia dari mereka. Sungguh, Allah telah menahan tangan kaum musyrik
Quraisy dari mereka, sebagaimana Dia juga menahan tangan musuh-musuh selain
mereka yang selama ini selalu mengintai untuk menimpakan kemalangan bagi
mereka. Padahal bagaimanapun juga posisi kaum Muslimin adalah sedikit secara
jumlah, sedangkan manusia musuh mereka sangatlah banyak. Akan tetapi karena
mereka telah menepati baiat mereka dan bangkit memikul beban-beban
kewajibannya, maka Allah menahan tangan manusia dari mereka serta memberikan
rasa aman kepada mereka.
"dan
agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin..." Peristiwa yang awalnya
mereka benci dan terasa berat di dalam jiwa mereka ini, justru dikabarkan oleh
Allah bahwa ia akan menjadi tanda (āyah) bagi mereka. Di dalamnya mereka
dapat melihat muara akhir dari pengaturan Allah bagi mereka, serta balasan atas
ketaatan mereka kepada Rasulullah dan kepasrahan diri mereka. Hal tersebut
menanamkan keteguhan di dalam jiwa mereka bahwa peristiwa ini merupakan sebuah
perkara yang agung dan kebaikan yang berlimpah ruah, serta mengalirkan
ketenangan (as-sakīnah), ketenteraman, keridhaan, dan keyakinan ke dalam
hati mereka.
"dan
agar Dia membimbing kamu ke jalan yang lurus." Ini sebagai balasan atas
ketaatan kalian, kepatuhan kalian, serta kejujuran batin kalian. Demikianlah
Allah menghimpun bagi mereka antara keuntungan yang mereka dapatkan dengan
petunjuk hidayah yang dikaruniakan kepada mereka. Maka sempurnalah kebaikan
bagi mereka dari segala penjuru, di dalam perkara yang tadinya mereka benci dan
mereka pandang teramat berat. Demikianlah Allah mendidik mereka bahwa pilihan
Allah bagi mereka adalah pilihan yang terbaik; serta mendidik hati mereka untuk
berada di atas ketaatan yang mutlak dan kepatuhan penuh.
Demikian
pula Allah memberikan karunia nikmat kepada mereka dan memberikan kabar gembira
tentang kemenangan yang lain selain dari ini. Suatu kemenangan yang tidak akan
mampu mereka raih dengan kekuatan mereka sendiri, akan tetapi Allah-lah yang
langsung menangani urusannya untuk mereka dengan kekuasaan-Nya dan
ketentuan-Nya: "dan (kemenangan-kemenangan) lain yang tidak dapat kamu
perkirakan, tetapi Allah telah mengepungnya (menentukannya). Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu."
Riwayat-riwayat
berbeda pandangan mengenai apakah kemenangan yang lain ini. Apakah ia merupakan
Penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah)? Ataukah Penaklukan Khaibar?
Ataukah penaklukan terhadap dua imperium besar Kisra [Persia] dan Kaisar
[Romawi]? Ataukah seluruh rangkaian penaklukan kaum Muslimin yang terjadi
secara berurutan setelah peristiwa ini seluruhnya?
Pendapat
yang paling dekat dan serasi dengan runtunan ayat (siyāq) adalah bahwa
ia merupakan Penaklukan kota Makkah; yang terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah
dan disebabkan oleh adanya jalur perjanjian damai ini. Perjanjian damai yang
tidak bertahan lama melainkan hanya dua tahun saja, kemudian kaum musyrik
merusaknya, sehingga Allah membukakan kota Makkah bagi kaum Muslimin hampir
tanpa peperangan sama sekali. Padahal kota itulah yang sebelumnya teramat sulit
bagi mereka, yang menginvasi mereka di pusat kediaman mereka sendiri di
Madinah, serta menolak kedatangan mereka pada tahun Hudaibiyah. Kemudian Allah
mengepungnya [menentukannya] dan menyerahkannya kepada mereka tanpa peperangan—"Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu." Maka ini merupakan kabar gembira yang
dikemas rapi di tempat ini, tidak ditentukan secara definitif karena ia pada
saat turunnya ayat ini masih berupa perkara gaib di antara perkara gaib milik Allah.
Dia mengisyaratkannya dengan isyarat ini guna menyemaikan ketenteraman,
keridhaan, penantian penuh harap, dan kabar gembira.
Bersamaan
dengan momentum isyarat menuju harta rampasan yang hadir saat ini serta harta
rampasan yang telah dikepung oleh Allah sementara mereka sedang
menanti-nantikannya, Allah menetapkan bagi mereka sebuah ketetapan bahwa mereka
adalah orang-orang yang pasti ditolong. Bahwa perdamaian pada tahun ini
bukanlah terjadi karena posisi mereka yang lemah, atau karena kaum musyrik
berada di posisi yang kuat. Akan tetapi ia terjadi demi sebuah hikmah yang
dikehendaki-Nya. Sekiranya orang-orang kafir itu memerangi mereka, niscaya
orang-orang kafir itu pasti akan kalah terhina. Sebab itulah sunatullah yang
berlaku kapan pun orang-orang mukmin bertemu dengan orang-orang kafir di medan
pertempuran yang menentukan:
وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
لَوَلَّوُا الْاَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُوْنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا ٢٢ سُنَّةَ
اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا
٢٣
"Dan
sekiranya orang-orang yang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka akan
berbalik ke belakang (kalah) dan mereka tidak akan menemukan pelindung dan
tidak pula penolong. (Sebagai) sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu. Kamu
sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu." (QS. Al-Fath:
22-23).
Demikianlah
Allah mengaitkan kemenangan mereka serta kekalahan kaum kafir dengan hukum alam
semesta-Nya (sunnah kauniyyah) yang bersifat mapan lagi tidak akan
pernah berubah. Maka ketenangan (sakīnah) macam apakah ini? Rasa percaya
diri macam apakah ini? Dan keteguhan macam apakah yang didapatkan oleh
orang-orang mukmin itu di dalam jiwa mereka; saat mereka mendengar langsung
dari Allah bahwa kemenangan mereka serta kekalahan musuh-musuh mereka merupakan
sebuah sunah di antara sunah-sunah-Nya yang berjalan di dalam eksistensi alam
semesta ini?
Ia
merupakan sunah yang bersifat permanen lagi tidak akan pernah berubah. Akan
tetapi ia terkadang ditunda kedatangannya hingga batas waktu tertentu; karena
sebab-sebab yang boleh jadi berkaitan dengan tingkat kemapanan orang-orang
mukmin di atas jalan mereka serta kelurusan mereka di atas garis istikamah yang
diketahui oleh Allah bagi mereka. Atau berkaitan dengan pengondisian suasana
yang melahirkan kemenangan bagi orang-orang mukmin serta kekalahan bagi
orang-orang kafir, agar ia memiliki nilai konseptual serta implikasi dampaknya
tersendiri. Atau karena faktor di luar itu semua dari apa yang diketahui oleh
Allah. Akan tetapi sunah tersebut tidak akan pernah meleset. Dan Allah adalah
Zat yang paling jujur perkataan-Nya: "Kamu sekali-kali tidak akan
menemukan perubahan pada sunatullah itu."
Demikian
pula Allah memberikan karunia nikmat kepada mereka berupa tindakan-Nya yang
menahan tangan kaum musyrik dari mereka, serta menahan tangan mereka dari kaum
musyrik setelah Allah memberikan kemenangan kepada mereka atas orang-orang yang
menyerang mereka. Ini mengisyaratkan pada insiden nyata yang terjadi, ketika
ada empat puluh orang dari kaum musyrik—atau lebih, atau kurang—yang ingin
menyusup dan mencelakai perkemahan kaum Muslimin, namun mereka berhasil
ditangkap dan kemudian dimaafkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam:
وَهُوَ الَّذِيْ كَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ
وَاَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ اَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ
ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًا ٢٤
"Dialah
yang menahan tangan mereka dari kamu dan menahan tangan kamu dari mereka di
lembah Makkah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Fath: 24).
Ia
merupakan sebuah insiden nyata yang telah terjadi dan diketahui dengan baik
oleh para pendengarnya. Allah mengingatkannya kembali kepada mereka dengan gaya
bahasa ini guna mengembalikan setiap pergerakan dan setiap insiden yang terjadi
pada mereka menuju pada pengaturan-Nya secara langsung; serta untuk menanamkan
di dalam hati mereka rasa kesadaran yang mendalam ini terhadap eksistensi
tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala saat Dia mengatur segala sesuatu untuk mereka,
memimpin langkah kaki mereka, sebagaimana Dia juga memimpin lintasan pikiran
mereka. Tujuannya adalah agar mereka memasrahkan seluruh diri mereka secara
total kepada Allah, tanpa ada keraguan dan tanpa ada sikap berpaling; serta
dengan sikap itu mereka dapat masuk ke dalam kedamaian secara keseluruhan (as-silmi
kāffah) bersama seluruh perasaan, lintasan pikiran, arah orientasi, dan
aktivitas mereka. Mereka hidup dengan meyakini bahwa segala urusan seluruhnya
berada di tangan Allah, bahwa pilihan yang terbaik adalah apa yang dipilih oleh
Allah, dan bahwa mereka berjalan di atas kendali takdir dan masyiat-Nya di
dalam apa yang mereka pilih dan di dalam apa yang mereka tolak. Dan bahwa Allah
menginginkan kebaikan bagi mereka. Maka apabila mereka telah berserah diri
secara pasrah kepada-Nya, niscaya akan terealisasi bagi mereka kebaikan
seluruhnya melalui jalan yang paling mudah. Dan Dia Maha Melihat terhadap
mereka, baik yang tampak dari mereka maupun yang tersembunyi, maka Dia
memilihkan untuk mereka di atas pijakan ilmu dan penglihatan-Nya. Dia tidak
akan pernah menelantarkan mereka, dan tidak pula menyia-nyiakan sesuatu yang
menjadi hak mereka: "Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Kemudian
Allah berbicara kepada mereka tentang musuh-musuh mereka; siapakah mereka di
dalam neraca timbangan Allah? Bagaimanakah Allah memandang amal perbuatan
mereka serta tindakan mereka yang menghalang-halangi orang-orang mukmin dari
rumah-Nya yang suci [Masjidilharam]? Dan bagaimanakah Allah memandang diri kaum
mukmin secara berbalikan dari cara Dia memandang musuh-musuh mereka yang
melampaui batas tersebut:
هُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْكُمْ
عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوْفًا اَنْ يَّبْلُغَ مَحِلَّهٗ ۚوَلَوْلَا
رِجَالٌ مُّؤْمِنُوْنَ وَنِسَاۤءٌ مُّؤْمِنٰتٌ لَّمْ تَعْلَمُوْهُمْ اَنْ تَطَـُٔوْهُمْ
فَتُصِيْبَكُمْ مِّنْهُمْ مَّعَرَّةٌ ۢبِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ لِيُدْخِلَ اللّٰهُ فِيْ رَحْمَتِهٖ
مَنْ يَّشَاۤءُۚ لَوْ تَزَيَّلُوْا لَعَذَّبْنَا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابًا
اَلِيْمًا ٢٥ اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ
الْجَاهِلِيَّةِ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ
وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى وَكَانُوْٓا اَحَقَّ بِهَا وَاَهْلَهَا ۗوَكَانَ
اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ ٢٦
"Merekalah
orang-orang kafir yang menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam dan
(menghalang-halangi) hewan kurban yang tertahan untuk sampai ke tempat
penyembelihannya yang sah. Sekiranya tidak ada laki-laki yang mukmin dan
perempuan yang mukmin yang tidak kamu ketahui, tentulah kamu akan
menginjak-injak mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa
pengetahuan (kamu), karena Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke
dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka terpisah, niscaya Kami akan mengazab orang-orang
yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih (25) Ketika orang-orang yang
kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah,
lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang
mukmin, dan (Allah) overwajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih
berhak dengan (kalimat) itu dan patut memilikinya. Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu (26)." (QS. Al-Fath: 25-26).
Mereka
di dalam neraca timbangan Allah dan penilaian-Nya adalah orang-orang kafir yang
sejati, yang sangat berhak menyandang sifat yang dibenci ini: "Merekalah
orang-orang kafir..."
Allah
menyematkan sifat itu atas mereka seolah-olah mereka adalah persona yang
menyendiri dengannya, berakar kuat dalam penisbatan kepadanya, maka mereka
adalah makhluk yang paling dibenci di sisi Allah yang membenci kekufuran dan
orang-orang kafir! Demikian pula Allah mencatat atas mereka perbuatan buruk
mereka yang lain, yaitu tindakan mereka yang menghalang-halangi orang-orang
mukmin dari Masjidilharam, serta tindakan menghalangi hewan kurban (al-hadyu)
dan membiarkannya tertahan dari menempuh jalur perjalanannya menuju tempat
penyembelihannya yang disyariatkan:
"yang
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam dan (menghalang-halangi) hewan
kurban yang tertahan untuk sampai ke tempat penyembelihannya yang sah."
(QS. Al-Fath: 25).
Padahal
perkara semacam ini merupakan sebuah dosa besar (kabīrah) baik di masa
jahiliah maupun di dalam Islam. Dosa besar di dalam seluruh agama yang mereka
ketahui di Jazirah Arab yang bersumber dari warisan ayah mereka, Nabi Ibrahim.
Perbuatan yang dibenci di dalam tradisi mereka, di dalam akidah mereka, dan di
dalam akidah orang-orang mukmin... Maka tindakan Allah menahan tangan
orang-orang mukmin dari mereka bukanlah terjadi karena adanya upaya untuk
memelihara eksistensi mereka akibat kecilnya dosa yang mereka perbuat. Sama
sekali tidak! Melainkan hal itu terjadi demi sebuah hikmah yang lain yang mana
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyingkapkannya secara lembut kepada orang-orang
mukmin:
"Sekiranya
tidak ada laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin yang tidak kamu
ketahui, tentulah kamu akan menginjak-injak mereka yang menyebabkan kamu
ditimpa kesulitan tanpa pengetahuan (kamu)..." (QS. Al-Fath: 25).
Sebab
di sana dahulunya terdapat sebagian orang-orang yang tertindas (al-mustadh'afīn)
dari kalangan kaum Muslimin di Makkah yang belum berhijrah, dan mereka tidak
menampakkan keislaman mereka demi menjaga keselamatan diri (taqiyyah) di
tengah-tengah kepungan kaum musyrik. Sekiranya peperangan berkecamuk dan kaum
Muslimin menginvasi Makkah sementara mereka tidak mengetahui persona
orang-orang tersebut secara kedirian mereka, maka boleh jadi kaum Muslimin akan
menginjak-injak mereka, melindas mereka, dan membunuh mereka. Sehingga
akibatnya akan muncul opini: "Sesungguhnya kaum Muslimin telah membunuh
sesama Muslim!" Selain itu, kaum Muslimin juga akan diwajibkan untuk
membayar denda diat mereka ketika jelas terbukti bahwa mereka telah membunuh
secara tersalah (khatha') padahal korban adalah orang Islam... Kemudian
di sana ada pula hikmah yang lain, yaitu bahwa Allah mengetahui bahwa di antara
orang-orang kafir yang menghalangi mereka dari Masjidilharam itu, ada
orang-orang yang telah digariskan baginya hidayah, dan telah ditakdirkan oleh
Allah untuk masuk ke dalam rahmat-Nya berdasarkan apa yang diketahui oleh-Nya
dari tabiat karakter dan hakikat kediriannya. Sekiranya mereka itu saling
terpisah secara jelas antara golongan yang ini dengan golongan yang itu,
niscaya Allah akan mengizinkan kaum Muslimin untuk berperang, dan niscaya Dia
akan mengazab orang-orang kafir dengan azab yang sangat pedih:
"karena
Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya
mereka terpisah, niscaya Kami akan mengazab orang-orang yang kafir di antara
mereka dengan azab yang pedih." (QS. Al-Fath: 25).
Demikianlah
Allah menyingkap bagi jamaah yang terpilih, yang unik, lagi berbahagia ini
tentang dimensi dari hikmah-Nya yang tadinya gaib di balik ketentuan takdir-Nya
dan pengaturan-Nya.
Dan
Allah melanjutkan untuk menyifati orang-orang yang kafir; yaitu menyifati
kondisi jiwa mereka dari bagian dalam, setelah sebelumnya mencatat
karakteristik mereka dan amal perbuatan lahiriah mereka:
"Ketika
orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu)
kesombongan jahiliah..." (QS. Al-Fath: 26).
Sebuah
kesombongan/fanatisme (hamiyyah) yang bukan bersandar pada akidah dan
bukan pula pada manhaj [sistem hidup]. Ia hanyalah merupakan fanatisme yang
bersumber dari keangkuhan, kesombongan, kecongkakan, dan sikap keras kepala.
Fanatisme yang membuat mereka berdiri menghalangi jalan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam beserta orang-orang yang bersamanya, membendung mereka
dari mendatangi Masjidilharam, serta menahan hewan kurban yang mereka bawa agar
tidak sampai ke tempat penyembelihannya. Tindakan mereka itu menyelisihi
seluruh tradisi konvensional dan menyelisihi seluruh akidah yang ada. Semua itu
mereka lakukan semata-mata agar bangsa Arab tidak memunculkan opini bahwa
Muhammad telah memasuki wilayah mereka secara paksa. Maka demi memburu
kesombongan sentimen jahiliah (na'rah jāhiliyyah) ini, mereka berani
menerjang dosa besar yang dibenci di dalam setiap tradisi dan agama; mereka
melanggar kehormatan tanah suci (tanah haram) yang mana mereka sendiri
hidup menumpang di atas nilai kesuciannya; dan mereka melanggar kehormatan
bulan-bulan haram yang tidak pernah dilanggar baik di masa jahiliah maupun di
dalam Islam!
Ia
merupakan fanatisme yang tampak nyata dalam sikap kasar mereka terhadap siapa
saja yang memberikan usulan kepada mereka—di awal perkara—untuk menempuh jalur
damai, serta mengecam tindakan mereka yang menghalangi Muhammad beserta
rombongannya dari rumah Allah yang suci. Ia juga merupakan fanatisme yang
tampak nyata dalam penolakan Suhail bin 'Amr terhadap penulisan nama
"Ar-Rahman Ar-Rahim" serta penolakan terhadap predikat
"Rasulullah" di tengah-tengah proses penulisan naskah perjanjian. Dan
itu semua bersumber dari watak jahiliah yang angkuh lagi keras kepala tanpa
berpijak pada kebenaran.
Dan
Allah telah menjadikan fanatisme di dalam jiwa mereka berada di atas format
jahiliah semacam ini karena apa yang Dia ketahui di dalam jiwa mereka berupa
sikap antipati terhadap kebenaran serta keengganan untuk tunduk kepadanya.
Adapun orang-orang mukmin, maka Allah melindungi mereka dari fanatisme semacam
ini. Dia menempatkan ketenangan (as-sakīnah) serta ketakwaan sebagai
penggantinya:
"lalu
Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, dan
(Allah) mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan
(kalimat) itu dan patut memilikinya..." (QS. Al-Fath: 26).
Ketenangan
yang berwibawa lagi damai, sebagaimana ketakwaan yang penuh kehati-hatian lagi
tawaduk, kedua-duanya merupakan karakter yang sangat serasi bagi hati yang
mukmin yang tersambung erat dengan Tuhannya, serta merasa damai dengan adanya
keterikatan ini. Hati yang merasa tenteram dengan rasa percaya yang ada di
dalamnya, serta selalu merasa diawasi oleh Tuhannya pada setiap getaran rasa
dan setiap pergerakan. Maka dia tidak akan bersikap congkak dan tidak pula
melampaui batas; dia tidak akan marah demi membela egonya sendiri, melainkan
dia hanya marah demi Tuhannya dan demi agamanya. Oleh karena itu, apabila dia
diperintahkan untuk menjadi tenang dan damai, maka dia akan tunduk khusyuk dan
taat dalam keadaan ridha lagi tenteram.
Olah
karena itu, orang-orang mukmin menjadi pihak yang paling berhak terhadap
kalimat takwa, dan mereka adalah orang-orang yang patut memilikinya. Ini
merupakan bentuk pujian yang lain dari Tuhan mereka atas mereka, di samping
karunia nikmat atas mereka berupa apa yang telah Dia turunkan ke dalam hati
mereka berupa ketenangan, serta apa yang telah Dia titipkan di dalamnya berupa
ketakwaan. Maka mereka benar-benar telah berhak mendapatkannya di dalam neraca
timbangan Allah, serta berdasarkan kesaksian-Nya; dan ini merupakan bentuk
pemuliaan di atas pemuliaan, yang lahir bersumber dari ilmu dan ketentuan
takdir-Nya:
"Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Fath: 26).
Dan
sungguh telah lewat bersama kita sebuah pemaparan bahwa sebagian orang-orang
mukmin yang keluar berangkat dengan membawa kabar gembira dari mimpi Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, sempat merasa terkejut dan berat hati
karena mimpi tersebut tidak langsung terealisasi secara faktual pada tahun ini;
serta karena mereka ditolak dari mendatangi Masjidilharam. Maka di sini Allah
menegaskan kepada mereka tentang kebenaran dari mimpi ini, mengabarkan kepada
mereka bahwa mimpi itu bersumber dari-Nya, dan bahwa ia pasti akan terjadi
secara mutlak. Serta mengabarkan bahwa di balik mimpi tersebut ada perkara yang
jauh lebih besar daripada sekadar memasuki Masjidilharam saja:
لَقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا
بِالْحَقِّ ۚ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَۙ
مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَۙ لَا تَخَافُوْنَ ۗفَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا
فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا ٢٧ هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ
بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ
شَهِيْدًا ٢٨
"Sungguh,
Allah telah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan
sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah,
dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepalamu dan memendekkannya, sedang
kamu tidak merasa takut. Maka, Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan
sebelum itu Dia telah menganugerahkan kemenangan yang dekat (27) Dialah yang
mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia
memenangkannya di atas segala agama. Cukuplah Allah sebagai saksi (28)"
(QS. Al-Fath: 27-28).
Maka
adapun kabar gembira yang pertama; yaitu kabar gembira tentang pembuktian
kebenaran mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kepastian
mereka untuk memasuki Masjidilharam dalam keadaan aman, serta tindakan mencukur
gundul rambut mereka atau memendekkannya setelah selesainya pelaksanaan syiar
haji atau umrah tanpa ada rasa takut... maka adapun perkara ini sungguh telah
terealisasi secara faktual setelah berlalu satu tahun kemudian [pada peristiwa
Umratul Qadha']. Kemudian ia terealisasi secara lebih besar dan lebih jelas
lagi setelah berlalu dua tahun penuh dari peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.
Yaitu ketika telah sempurna bagi mereka peristiwa Penaklukan kota Makkah, serta
unggulnya agama Allah di atasnya.
Akan
tetapi, Allah Subhanahu wa Ta'ala mendidik orang-orang mukmin dengan
adab keimanan saat Dia berfirman kepada mereka: "kamu pasti akan memasuki
Masjidilharam, insya Allah..." Maka, peristiwa masuknya mereka ke sana
adalah sebuah kepastian yang tak terelakkan, karena Allah sendiri yang
mengabarkannya. Kendati demikian, masyiat [kehendak bebas Allah] harus tetap
tertanam di dalam jiwa kaum Muslimin dalam wujudnya yang mutlak tanpa terikat
oleh apa pun, sehingga hakikat ini mantap di dalam hati dan menjadi fondasi
persepsi terhadap kehendak ilahi. Al-Qur'an senantiasa menekankan makna ini,
menetapkan hakikat ini, dan menyebutkan pengecualian (istitsnā') ini
[kalimat insya Allah] di setiap tempat, bahkan di tempat-tempat yang
menyebutkan janji Allah sekalipun. Padahal, janji Allah tidak akan pernah
diingkari. Akan tetapi, keterikatan kehendak-Nya terhadap janji tersebut
selamanya bersifat mutlak. Ini adalah sebuah adab yang ditiupkan oleh Allah ke
dalam jiwa orang-orang mukmin, agar ia menghujam dalam-dalam di ceruk hati dan
kesadaran mereka.
Kita
kembali kepada kisah pembuktian janji ini. Berbagai riwayat menyebutkan bahwa
ketika memasuki bulan Zulkaidah tahun ke-7 Hijriah—yaitu setahun setelah
Perjanjian Hudaibiyah—Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat
menuju Makkah untuk melaksanakan umrah bersama orang-orang yang ikut dalam
peristiwa Hudaibiyah. Beliau berihram dari Dzulhulaifah dan menuntun hewan
kurban (al-hadyu) bersama beliau—sebagaimana beliau berihram dan
menuntun hewan kurban pada tahun sebelumnya—dan para sahabat beliau berjalan
sembari bertalbiah. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
sudah dekat dari Marrazh-Zhahran, beliau mengutus Muhammad bin Maslamah untuk
membawa pasukan berkuda dan persenjataan di depan beliau. Tatkala kaum musyrik
melihatnya, mereka dicekam rasa takut yang sangat hebat. Mereka mengira
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak memerangi mereka dan
telah merusak perjanjian gencatan senjata selama sepuluh tahun yang disepakati
di antara mereka. Maka mereka segera pergi dan mengabarkannya kepada penduduk
Makkah. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba lalu
singgah di Marrazh-Zhahran hingga dapat melihat tanda-tanda batas tanah haram,
beliau mengirimkan persenjataan berupa busur, anak panah, dan tombak ke bagian
dalam wilayah Yajaj. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke Makkah dengan
pedang-pedang yang tetap tersimpan di dalam sarungnya, sebagaimana yang telah
beliau syaratkan dalam perjanjian bersama mereka. Di tengah perjalanan, kaum
Quraisy mengutus Mikraz bin Hafsh, lalu dia berkata, "Wahai Muhammad, kami
tidak pernah mengenalmu sebagai orang yang merusak perjanjian." Maka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apa
maksudmu?" Dia menjawab, "Kamu memasuki wilayah kami dengan membawa
senjata, busur, dan tombak." Maka beliau bersabda, "Tidak demikian,
kami telah mengirimkan senjata-senjata itu ke Yajaj." Mikraz pun berkata,
"Dengan sifat inilah kami mengenalmu, yaitu dengan kebaikan dan pemenuhan
janji!"
Para
pembesar kaum kafir keluar meninggalkan Makkah agar tidak melihat Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam beserta para sahabatnya radhiyallahu 'anhum karena
didorong oleh rasa berang dan murka. Adapun penduduk Makkah yang tersisa, baik
laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, mereka duduk-duduk di pinggir jalan dan
di atas atap rumah menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan para sahabatnya. Beliau memasuki kota Makkah sementara para sahabat di
hadapan beliau mengumandangkan talbiah, sedangkan hewan kurban telah beliau
kirim ke Dzi Thuwa. Beliau menunggangi untanya, Al-Qashwa, yang dahulu juga
beliau tunggangi pada hari Hudaibiyah, sementara Abdullah bin Rawahah
Al-Anshari memegang tali kendali unta tersebut seraya menuntunnya.
Demikianlah,
mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terbukti benar dan janji
Allah terealisasi. Kemudian terjadilah Penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah)
pada tahun berikutnya, sehingga agama Allah unggul di Makkah, lalu menyebar dan
unggul di seluruh Jazirah Arab setelahnya. Kemudian terealisasilah janji Allah
dan kabar gembira-Nya yang terakhir di mana Dia berfirman:
"Dialah
yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia
memenangkannya di atas segala agama. Cukuplah Allah sebagai saksi." (QS. Al-Fath:
28).
Maka
sungguh, agama yang benar ini telah unggul, tidak hanya di Jazirah Arab semata,
melainkan telah tampil unggul di wilayah bumi yang berpenghuni seluruhnya
sebelum berlalu waktu setengah abad. Agama ini tampil di seluruh Imperium Kisra
[Persia], di sebagian besar Imperium Kaisar [Romawi], tampil di India dan di
Cina, kemudian di Asia Tenggara seperti Malaya dan sekitarnya, serta di
Kepulauan Hindia Timur (Indonesia)... Dan wilayah-wilayah inilah yang menjadi
bagian terbesar dari bumi yang berpenghuni pada abad ke-6 dan pertengahan abad
ke-7 Masehi.
Dan
agama yang benar ini akan senantiasa unggul di atas seluruh agama—bahkan
setelah surutnya dominasi politik Islam dari sebagian besar wilayah bumi yang
dahulu pernah ditaklukkannya, terutama di Eropa dan kepulauan Laut Mediterania;
serta surutnya kekuatan para pemeluknya di seluruh bumi jika dibandingkan
dengan kekuatan-kekuatan yang muncul di Timur dan Barat pada zaman ini.
Benar,
agama yang benar ini akan senantiasa unggul di atas seluruh agama, ditinjau
dari eksistensinya sebagai sebuah agama. Sebab, ia adalah agama yang kuat
dengan kediriannya sendiri, kuat secara tabiat dasarnya, yang bergerak maju
merambah tanpa membutuhkan pedang maupun meriam dari pemeluknya! Hal itu
dikarenakan tabiat dasarnya yang selaras dengan fitrah manusia dan hukum-hukum
alam semesta (nawāmīs) yang orisinal, serta karena di dalamnya terdapat
pemenuhan yang sederhana namun mendalam bagi kebutuhan akal dan ruh, kebutuhan
peradaban dan kemajuan, hingga kebutuhan berbagai macam lingkungan yang
heterogen, mulai dari penduduk gubuk-gubuk reot hingga penduduk gedung-gedung
pencakar langit!
Tidak
ada seorang pun pemeluk agama lain selain Islam, yang melihat kepada Islam
dengan pandangan yang bersih dari fanatisme golongannya dan hawa nafsu,
melainkan dia pasti akan mengakui kelurusan agama ini, kekuatan laten yang
tersimpan di dalamnya, serta kemampuannya untuk memimpin umat manusia dengan
kepemimpinan yang terbimbing cerdas (rasyīdah), sekaligus memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya yang terus tumbuh dan berkembang dengan penuh kemudahan
dan kelurusan... "Cukuplah Allah sebagai saksi." Maka janji Allah
sungguh telah terealisasi dalam wujud politik yang tampak sebelum berlalu satu
abad setelah diutusnya Muhammad. Dan janji Allah akan senantiasa terealisasi
dalam wujud objektif yang mapan, dan agama ini akan terus unggul di atas
seluruh agama dalam hakikat realitasnya. Bahkan, ia adalah satu-satunya agama
yang tersisa yang mampu untuk bekerja dan memimpin dalam segala kondisi.
Namun
boleh jadi, para pemeluk agama ini adalah satu-satunya pihak yang justru tidak
menyadari hakikat ini pada hari ini! Sementara orang-orang di luar pemeluknya
sangat menyadari dan mengkhawatirkannya, bahkan mereka selalu
memperhitungkannya dengan matang di dalam setiap kebijakan politik mereka!
Sekarang
kita sampai pada bagian penutup surah. Penutup yang menyajikan potret
penggambaran yang bercahaya yang dilukiskan oleh Al-Qur'an tentang realitas
para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, serta ditutup
dengan pujian yang mulia bagi jamaah yang unik lagi berbahagia tersebut, yang
mana Allah telah ridha kepada mereka, dan menyampaikan keridhaan-Nya kepada
mereka secara personal, satu per satu:
مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ
مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا
يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ
مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ ۖوَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ
كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ
الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗوَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ ٢٩
"Muhammad
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat
mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka
dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi
besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala
yang besar." (QS. Al-Fath: 29).
Sungguh
ini merupakan sebuah potret penggambaran yang menakjubkan yang dilukiskan oleh
Al-Qur'an Al-Karim dengan gaya bahasanya yang indah memukau (badī').
Sebuah potret yang tersusun dari beberapa bidikan lensa (laqathāt) bagi
kondisi yang paling menonjol dari jamaah pilihan ini, baik kondisi lahiriah
maupun batiniah mereka. Satu bidikan lensa melukiskan kondisi mereka terhadap
orang-orang kafir dan di antara sesama mereka sendiri: "adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka". Bidikan
lensa berikutnya melukiskan format postur mereka dalam ibadah: "Kamu lihat
mereka rukuk dan sujud". Bidikan lensa lain melukiskan kondisi hati
mereka, apa yang menyibukkannya dan apa yang bergejolak di dalamnya:
"mencari karunia Allah dan keridaan-Nya". Bidikan lensa lainnya lagi
melukiskan pengaruh ibadah dan orientasi menghadap kepada Allah yang membekas
pada sikap tampang, raut wajah, dan karakteristik mereka: "tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud". "Demikianlah
sifat-sifat mereka dalam Taurat..." Dan inilah karakteristik mereka di
dalamnya... Serta bidikan-bidikan lensa yang berurutan melukiskan mereka
sebagaimana keberadaan mereka di dalam Injil... "yaitu seperti tanaman
yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat..."
"lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya..."
"tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya...": "karena
Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir..."
Ayat
ini dimulai dengan menetapkan sifat kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi
wa sallam, sebuah sifat yang dahulu diingkari oleh Suhail bin 'Amr dan
orang-orang musyrik di belakangnya: "Muhammad adalah utusan Allah..."
Kemudian terlukislah potret penggambaran yang bercahaya itu dengan gaya bahasa
yang indah tersebut. Orang-orang mukmin sejatinya memiliki kondisi yang
beraneka ragam. Akan tetapi bidikan-bidikan lensa ini mengambil kondisi-kondisi
yang bersifat permanen dalam kehidupan mereka, serta titik-titik tumpu yang
orisinal di dalam kehidupan ini. Ayat ini menonjolkan kondisi tersebut dan
membentuknya menjadi garis-garis besar dalam potret penggambaran yang
bercahaya... Kehendak untuk memuliakan (ikrām) tampak sangat jelas dalam
pemilihan bidikan-bidikan lensa ini, serta dalam pemantapan raut wajah dan
karakteristik yang dilukiskannya; sebuah pemuliaan ilahi bagi jamaah yang
berbahagia ini.
Kehendak
untuk memuliakan tampak sangat jelas ketika Dia mencatat bagi mereka pada
bidikan lensa yang pertama bahwa mereka: "adalah keras terhadap
orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..." Mereka
bersikap keras kepada orang-orang kafir yang di dalamnya terdapat ayah-ayah
mereka, saudara-saudara mereka, kerabat dekat mereka, dan karib kerabat mereka
sendiri, akan tetapi mereka tega memutuskan semua ikatan kekerabatan tersebut.
Mereka berkasih sayang sesama mereka padahal mereka hanyalah saudara seiman.
Maka dari itu, sikap kerasnya adalah karena Allah dan kasih sayangnya pun
karena Allah. Ia adalah wujud fanatisme demi akidah, dan kelapangan dada demi
akidah. Sehingga tidak ada lagi porsi bagi ego kedirian mereka dalam hubungan
tersebut, dan ego kedirian mereka tidak memiliki andil apa pun di dalamnya.
Mereka menyandarkan luapan emosi dan perasaan mereka, sebagaimana mereka
menyandarkan perilaku dan ikatan hubungan mereka, semata-mata di atas fondasi
akidah mereka saja. Mereka bersikap keras kepada musuh-musuh mereka di dalam
akidah tersebut, dan bersikap lembut kepada saudara-saudara seiman mereka di
dalamnya. Mereka telah bersih total dari sifat egois, hawa nafsu, serta luapan
emosi demi selain Allah, dan ikatan yang mengikat mereka hanyalah ikatan dengan
Allah.
Kehendak
untuk memuliakan juga tampak sangat jelas ketika Dia memilih dari sekian format
postur dan kondisi mereka, yaitu format rukuk dan sujud serta kondisi ibadah:
"Kamu lihat mereka rukuk dan sujud..." Ungkapan ini memberikan kesan
seolah-olah inilah format postur permanen mereka yang akan dilihat oleh siapa
saja yang melihat mereka kapan pun waktunya. Hal itu dikarenakan format rukuk
dan sujud merepresentasikan kondisi ibadah, yang mana ia merupakan kondisi yang
orisinal bagi mereka dalam hakikat jiwa mereka; maka dari itu Dia
mengungkapkannya dengan ungkapan yang memantapkan kondisi tersebut pada dimensi
waktu mereka, hingga seakan-akan mereka menghabiskan seluruh waktu mereka dalam
keadaan rukuk dan sujud.
Bidikan
lensa yang ketiga pun serupa dengannya. Akan tetapi ia merupakan bidikan bagi
bagian dalam jiwa mereka dan ceruk sanubari mereka yang paling dalam:
"mencari karunia Allah dan keridaan-Nya..."
Maka
inilah potret dari perasaan mereka yang bersifat permanen lagi mapan. Segala
hal yang menyibukkan pikiran mereka, dan segala hal yang menjadi muara dari
kerinduan mereka, hanyalah karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tidak ada satu
perkara pun di balik karunia dan keridhaan yang mereka dambakan dan mereka
sibukkan diri dengannya.
Bidikan
lensa yang keempat memantapkan pengaruh ibadah lahiriah dan pendambaan batiniah
pada raut wajah mereka, serta bagaimana ia memancar keluar pada karakteristik
mereka: "tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud..." Tanda-tanda pada raut wajah mereka berupa rona cahaya yang
bersih, pancaran sinar yang cerah, keheningan, dan transparansi jiwa, serta
berupa bekas keletihan ibadah yang hidup, bercahaya, lagi lembut. Tanda ini
bukanlah berupa noda hitam atau tanda kapalan tertentu pada wajah sebagaimana
yang langsung terbetik di dalam benak sebagian orang ketika mendengar
firman-Nya: "dari bekas sujud..." Karena yang dimaksud dengan bekas
sujud adalah pengaruh dari ibadah. Dipilihnya diksi "sujud" karena ia
merepresentasikan kondisi kekhusyukan, ketundukan, dan penghambaan diri ('ubūdiyyah)
kepada Allah dalam wujudnya yang paling sempurna. Maka tanda itu adalah
pengaruh dari kekhusyukan ini; pengaruhnya pada garis-garis wajah, yang mana
darinya sirna segala bentuk keangkuhan, kesombongan, dan kemewahan lahiriah.
Lalu menempati tempatnya sikap تواضع [rendah hati] yang mulia, transparansi
yang jernih, pancaran cahaya yang tenang, serta bekas keletihan yang tipis yang
justru menambah wajah orang mukmin semakin bercahaya, berseri-seri, dan mulia.
Potret
penggambaran bercahaya yang diwakili oleh bidikan-bidikan lensa ini bukanlah
perkara baru yang baru diada-adakan. Melainkan ia telah mapan ditetapkan bagi
mereka di dalam lembaran takdir; oleh karena itu ia bersifat terdahulu dan
telah datang penyebutannya di dalam Taurat: "Demikianlah sifat-sifat
mereka dalam Taurat..." Karakteristik itulah yang dengannya Allah
memperkenalkan mereka di dalam kitab Musa, sekaligus menjadi kabar gembira bagi
bumi sebelum mereka benar-benar datang menginjakkan kaki di atasnya.
"dan
sifat-sifat mereka dalam Injil..." Karakteristik mereka di dalam kabar
gembira yang dibawa oleh Injil mengenai Muhammad dan orang-orang yang
bersamanya, bahwa mereka: "yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan
tunasnya..." Ia adalah tanaman yang tumbuh subur lagi kuat, yang
mengeluarkan tunasnya dari basis kekuatannya dan kesuburannya. Akan tetapi
tunas ini tidak memperlemah batang utamanya melainkan justru memperkokohnya:
"maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat..." Atau batang utama
itulah yang menopang tunasnya sehingga menjadikannya kuat. "lalu menjadi
besar..." tanaman itu sehingga batangnya menjadi gemuk kokoh dan berisi
penuh. "dan tegak lurus di atas batangnya..." dalam keadaan tidak
bengkok ataupun melengkung, melainkan lurus, kuat, lagi proporsional...
Inilah
potret tanaman tersebut pada kediriannya sendiri. Adapun dampaknya di dalam
jiwa para pakar yang ahli di bidang cocok tanam, yang mengerti mana tanaman
yang tumbuh subur dan mana yang layu, mana yang berbuah dan mana yang mandul;
maka dampaknya adalah melahirkan rasa sukacita dan kekaguman: "tanaman itu
menyenangkan hati penanam-penanamnya..." Dan dalam satu ragam bacaan (qirā'ah)
menggunakan bentuk tunggal "menyenangkan hati penanam" (yu'jibuz-zāri'a)...
dan dia adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selaku pemilik
dari tanaman yang tumbuh subur, kuat, produktif, lagi indah memukau ini...
Adapun dampaknya di dalam jiwa orang-orang kafir adalah sebaliknya. Ia
melahirkan dampak kemarahan, kejengkelan, dan rasa sesak di dada: "karena
Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir..." Tindakan sengaja untuk
membuat jengkel orang-orang kafir ini memberikan kesan isyarat bahwa tanaman
ini adalah tanaman milik Allah, atau tanaman milik Rasul-Nya, dan para sahabat
itu merupakan tirai penutup bagi bekerjanya kekuasaan Allah sekaligus instrumen
untuk membuat jengkel musuh-musuh Allah!
Perumpamaan
ini pun sama halnya bukan merupakan perkara baru yang diada-adakan, melainkan
ia telah mapan tertulis di dalam lembaran takdir. Oleh karena itu,
penyebutannya telah termaktub sebelum kedatangan Muhammad dan orang-orang yang
bersamanya ke bumi ini; mapan tertulis di dalam Injil dalam wujud kabar gembira
mengenai Muhammad dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka kelak datang.
Demikianlah
Allah memantapkan di dalam kitab-Nya yang kekal abadi tentang karakteristik
jamaah pilihan ini... para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam...
Karakteristik itu pun mantap di dalam inti eksistensi alam semesta seluruhnya,
dan penjuru-penjurunya saling menyambut gema karakteristik tersebut, saat ia
mendengarkan langsung dari Pencipta eksistensi. Karakteristik ini akan tetap
abadi menjadi model keteladanan bagi generasi-generasi setelahnya, yang mencoba
untuk merealisasikannya demi mewujudkan makna iman pada derajatnya yang paling
tinggi.
Di
atas seluruh bentuk pemuliaan ini, Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang
besar: "Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." Ini
merupakan janji yang datang dalam format redaksi yang bersifat umum, setelah
sebelumnya didahului oleh pemaparan karakteristik mereka yang menjadikan mereka
sebagai golongan yang pertama kali masuk ke dalam cakupan format redaksi yang
bersifat umum ini.
Ampunan
dan pahala yang besar... Sungguh pemuliaan itu sendiri sebenarnya sudah teramat
cukup bagi mereka. Dan keridhaan itu sendiri sudah merupakan pahala yang sangat
besar. Akan tetapi, ia merupakan limpahan karunia ilahi yang tanpa batas dan
tanpa sekat, serta pemberian ilahi yang tidak akan pernah terputus.
Sekali
lagi, aku mencoba dari balik bentangan waktu empat belas abad untuk menatap
wajah-wajah para lelaki yang berbahagia ini beserta hati mereka, saat mereka
menerima limpahan karunia ilahi berupa keridhaan, pemuliaan, dan janji yang
agung ini. Saat mereka melihat diri mereka berada dalam kedudukan yang
sedemikian rupa dalam penilaian Allah, dalam neraca timbangan Allah, dan di
dalam kitab Allah. Aku memandang kepada mereka saat mereka sedang dalam
perjalanan pulang dari Hudaibiyah, dalam kondisi surah ini telah diturunkan dan
telah dibacakan kepada mereka. Mereka hidup di dalam surah ini bersama ruh
mereka, hati mereka, perasaan mereka, dan karakteristik mereka. Sebagian mereka
memandang kepada wajah sebagian yang lain, lalu melihat adanya bekas nikmat
yang dirasakan pula oleh dirinya di dalam eksistensi kediriannya.
Aku
mencoba untuk hidup bersama mereka selama beberapa saat di dalam festival
vertikal yang agung ini, yang mana mereka dahulu hidup di dalamnya... Akan
tetapi, masakan bagi seorang manusia yang tidak ikut menghadiri festival ini
akan dapat mencicipi rasanya, kecuali hanya dari kejauhan saja?!
Ya
Allah, terkecuali bagi orang yang telah Engkau muliakan dengan kemuliaan
seperti mereka; sehingga Engkau dekatkan baginya perkara yang jauh?!
Maka
ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa aku sangat mendambakan
untuk mendapatkan bekal yang unik ini!!!
Comments
Post a Comment