Mudzakirat Da'wah Wa Da'iyah (Memoar Al-Banna) (3)
Laporan ke Kejaksaan
Di
antara hal yang unik adalah bahwa para ikhwan yang bersikeras untuk memberontak
ini, keluar dari sesi pertemuan di mana mereka melihat sendiri bagaimana
saudara-saudara mereka saling berlomba dalam memberi dan menebus dakwah dengan
harta dan jiwa jika jiwa itu memintanya. Namun, alih-alih terpengaruh oleh
fenomena-fenomena yang baik ini, mereka justru semakin larut dalam permusuhan
mereka, dan contoh-contoh nyata ini tidak menambah bagi mereka melainkan
kejengkelan dan kedengkian. Tampaknya jiwa manusia itu, jika telah dikuasai
oleh ambisi untuk menang—meskipun tanpa kebenaran—maka ia tidak akan lagi
memikirkan hal selainnya. Walaupun cara-caranya yang berliku itu justru
menggiringnya pada kekalahan yang berulang-ulang hingga mengantarkannya pada
kekalahan total. Dan Allah memiliki ketetapan dalam setiap makhluk-Nya.
Tidak
ada lagi tipu daya di hadapan mereka setelah itu, melainkan saudara ini maju ke
kejaksaan dengan membawa laporan (pengaduan) resmi yang ditandasi oleh tanda
tangannya sendiri. Dan itu adalah sebuah "keutamaan" yang tidak akan
pernah aku lupakan untuknya; sesungguhnya ia tidak pernah mau pada suatu hari
pun kecuali secara terang-terangan dan terbuka. Hal itu merupakan bagian dari
pengaruh keberanian moralnya, serta dampak dakwah di dalam dirinya, meskipun ia
berada dalam posisi yang keliru.
Ia
menyatakan dalam laporan pengaduan ini bahwa Hasan Efendi al-Banna, Ketua
Ikhwanul Muslimin sekaligus guru di Sekolah Dasar Ismailia, telah
menghambur-hamburkan dana jemaah. Ia menyebutkan bahwa dana tersebut dikirim ke
Kairo untuk saudaranya di sana—yang diklaim sebagai ketua cabang Kairo—serta ke
Port Said dan Abu Suwair. Padahal, dana tersebut dihimpun dari masyarakat
Ismailia dan Hasan al-Banna sendiri merupakan bagian dari penduduk Ismailia.
Oleh karena itu, sudah semestinya dana tersebut dialokasikan di Ismailia saja.
Mengingat hal ini berkaitan dengan hak kejaksaan penuntut umum dalam melindungi
harta, kehormatan, dan darah masyarakat, ia meminta pihak kejaksaan untuk
melakukan intervensi dan menghentikan pengeluaran dana yang dialokasikan dengan
cara seperti itu.
Seingat
saya, wakil jaksa saat itu adalah seorang pria yang santun dan sangat teliti
bernama Ustadz Mahmud Mujahid—semoga saat ini beliau berada di korps kehakiman.
Beliau memanggil pelapor tersebut dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam
diskusi yang tenang sekaligus menarik. Beliau bertanya kepadanya, "Apakah
Anda merupakan anggota dari dewan pengurus perhimpunan ini?"
Ia
menjawab, "Dahulu saya adalah anggota dan menjabat sebagai bendahara,
namun saya mengundurkan diri dan pengunduran diri saya telah diterima."
Wakil jaksa bertanya lagi, "Apakah dewan pengurus menyetujui pengiriman
uang ini ke cabang-cabang tersebut?"
Ia
menjawab, "Ya." Wakil jaksa kembali bertanya, "Lalu, apakah Anda
merupakan anggota dalam rapat anggota tahunan [sidang umum jemaah]?" Ia
menjawab, "Dahulu saya adalah anggota dalam segala hal, tetapi sekarang
saya tidak ingin lagi mengenal orang-orang itu dan tidak menganggap diri saya
sebagai bagian dari aktivitas mereka sama sekali." Wakil jaksa bertanya,
"Menurut Anda, jika tindakan pengeluaran ini diajukan kepada rapat anggota
tahunan, apakah mereka akan menyetujui dan mendukung tindakan Hasan Efendi
tersebut?"
Ia
menjawab, "Luar biasa! Jangankan itu, seandainya ia mengatakan kepada
mereka bahwa ia mengambil uang tersebut untuk dirinya sendiri, mereka pasti
akan menyetujuinya dengan penuh sukacita, karena ia telah menyihir mereka,
sehingga mereka mematuhi semua yang ia lakukan tanpa berpikir lagi."
Wakil
jaksa pun berkata kepadanya, "Jika dewan pengurus menyetujuinya, rapat
anggota tahunan juga menyetujuinya, sedangkan Anda sendiri bukan lagi anggota
dewan maupun anggota jemaah, lalu apa urusan Anda dalam masalah ini?"
"Dan
apa pula urusan kejaksaan dalam persoalan ini? Mereka adalah sekelompok orang
yang berkumpul, mengumpulkan uang mereka sendiri, lalu mewakilkan kepada
seseorang atau beberapa orang untuk membelanjakannya, dan mereka menyetujui
metode pembelanjaan tersebut. Atas dasar apa kejaksaan harus ikut campur,
sementara mereka bebas mempergunakan harta mereka sendiri sesuai kehendak
mereka?"
"Wahai
anak muda, Anda tampaknya adalah orang yang tulus, tetapi Anda telah jatuh ke
dalam kekeliruan yang sangat besar. Nasihat saya untuk Anda, kembalilah kepada
kelompok Anda dan beraksilah bersama mereka jika Anda mau, serta tinggalkan
pemikiran-pemikiran seperti ini. Jika Anda tetap tidak menyukai kondisi mereka maka
tinggallah di rumahmu, fokuslah pada pekerjaanmu, dan biarkan orang-orang
bekerja. Itu jauh lebih baik bagimu jika engkau mau menerima nasihat."
Maka pemuda itu pun pergi.
Ketika
Syekh Askariah —rahimahullah— mengetahui persoalan ini, beliau segera
datang dari Syubrakhit dan mencoba memediasi agar orang-orang yang bersikeras
pada pendiriannya itu mau kembali ke barisan jemaah. Namun, mereka menolak dan
tetap memilih untuk membangkang. Syekh Askariah, yang dikenal memiliki
pandangan batin yang tajam dalam urusan-urusan seperti ini, kembali menemui
saya dan berkata, "Mereka itu tidak ada kebaikan di dalamnya. Mereka telah
kehilangan kesadaran akan keluhuran dakwah, dan telah kehilangan keimanan untuk
menaati kepemimpinan. Barangsiapa yang kehilangan dua hal ini, maka tidak ada
kebaikan lagi jika ia berada di barisan kita. Ikhlaskanlah mereka [serahkan
urusannya kepada Allah], lanjutkanlah perjalananmu, dan hanya Allah tempat
memohon pertolongan."
Beliau
menyampaikan pandangannya tersebut secara terang-terangan kepada mereka lalu
kembali ke Syubrakhit. Awalnya saya sempat berpikir untuk mengundang dewan
pengurus guna memutuskan pemecatan mereka dari jemaah, namun mereka
mendahuluinya dengan mengirimkan surat pengunduran diri. Dewan pengurus pun
langsung menerimanya, sehingga selesailah perkara tersebut. Sungguh, 'pada
dirinya sendirlah Buraqish membawa petaka' [sebuah pepatah Arab untuk
menggambarkan orang yang mencelakakan dirinya atau kelompoknya sendiri akibat
tindakannya].
Namun,
mereka merasa berat melihat diri mereka terdepak dari jemaah dan berada di
luar, sehingga mereka tidak bisa lagi melancarkan tipu daya dari dalam.
Akhirnya, mereka mulai menyebarkan berbagai isu miring dan mengirimkan
surat-surat kaleng tanpa identitas kepada pihak-pihak berwenang, mulai dari
Kementerian Pendidikan, kepolisian, hingga kejaksaan. Tidak berhenti di situ,
mereka juga mendatangi tokoh-tokoh yang mereka anggap sebagai pilar dakwah ini
dari kalangan penduduk setempat. Mereka melontarkan berbagai kebohongan untuk
menjauhkan para tokoh tersebut dari jemaah. Target pertama yang mereka tuju
adalah Syekh Muhammad Husain az-Zamlut. Mereka melemparkan fitnah keji
kepadanya dengan mengatakan, "Sesungguhnya orang-orang Ikhwan itu adalah
kelompok yang berbahaya. Mereka memiliki aktivitas-aktivitas rahasia yang andai
saja Anda mengetahuinya, Anda pasti akan lari menjauh dari mereka demi
menyelamatkan diri. Kami akan melaporkan mereka kepada pihak yang berwenang,
tetapi sebelum itu kami ingin memberitahu Anda terlebih dahulu agar Anda
waspada, segera mengundurkan diri dari mereka, dan mengumumkan pengunduran diri
tersebut. Setelah kami merasa tenang atas keselamatan Anda, kami akan segera
melaporkannya sehingga Anda tidak akan terkena..."
"...dampak
buruk apa pun." Syekh Zamlut bertanya kepada mereka, "Apakah kalian
benar-benar yakin dengan apa yang kalian ucapkan ini?" Mereka menjawab,
"Ya, kami sangat yakin, bahkan kami sendiri telah ikut terlibat secara
langsung dalam aktivitas-aktivitas rahasia tersebut." Mendengar hal itu,
Syekh Zamlut yang merupakan seorang pria yang bijaksana, berakal sehat, teguh
keimanan dan agamanya, serta memiliki keterbukaan dan keberanian yang kuat,
langsung berkata kepada mereka, "Di hadapan saya saat ini, kalian hanya
memiliki satu dari dua kemungkinan status: kalian adalah para pengkhianat jika
perkataan itu benar, atau kalian adalah para pembohong jika perkataan itu
batil. Bagaimana mungkin kalian menuntut saya untuk mempercayai dan menghormati
kalian, sedangkan kalian sendiri berstatus sebagai pengkhianat atau pembohong?
Pergilah dari hadapan saya, dan jangan pernah memperlihatkan batang hidung
kalian lagi di sini!"
Saya
tidak akan pernah melupakan momen ketika beliau datang menemui saya dengan
wajah yang berubah merah padam, menampakkan bekas kemarahan dan rasa prihatin
yang mendalam. Beliau meminta izin kepada kepala sekolah, lalu membawa saya
keluar dari ruang kelas. Kami berjalan berdua saja menyusuri pinggiran kota,
kemudian beliau membeberkan secara blak-blakan apa yang telah didengarnya.
Beliau berkata, "Wahai Fulan [Hasan al-Banna], kembalilah ke dalam kota
sekarang juga dengan cepat. Atur dan persiapkan dirimu jika apa yang dikatakan
oleh orang-orang itu benar. Berusahalah sekuat tenaga agar tidak ada satu pun
dari aktivitas kalian yang tampak jika memang kalian memiliki aktivitas
rahasia. Dan seandainya ada sesuatu yang terbongkar atau engkau dimintai
keterangan mengenai hal itu, maka katakanlah: 'Sesungguhnya aku tidak memiliki
hubungan apa pun dengan jemaah ini, dan ketuanya adalah Muhammad Husain.'
Sebab, engkau adalah seorang pemuda yang memiliki masa depan, engkau adalah
seorang pegawai negeri yang bisa ditekan dan dipersulit oleh pemerintah, dan
engkau adalah tamu di lingkungan kami. Engkau menegakkan dakwah ini murni
karena Allah, maka engkau tidak berhak mendapatkan balasan kecuali segala hal
yang indah."
Sungguh,
saya merasa sangat terenyuh dan terharu oleh keluhuran budi pekerti serta
kepahlawanan mukmin ini —rahimahullah—. Saya berkata kepada beliau,
"Wahai Tuanku, tenanglah dan kuatkan hatimu. Kita semua bergerak dan
bekerja di siang hari yang benderang [terang-terangan]. Seandainya
orang-backstabber itu benar-benar jujur dengan apa yang mereka tuduhkan, tentu
mereka sudah melaporkannya sejak lama, karena perselisihan antara mereka dengan
jemaah bukanlah hal yang baru terjadi baru-baru ini."
"Akar
masalah yang sebenarnya adalah karena mereka melihat Anda membantu jemaah ini
dengan kedudukan, pengaruh, serta harta Anda. Sementara Anda adalah seorang
tokoh yang baik, mulia, lagi dihormati. Oleh karena itu, mereka ingin memutus
hubungan Anda dengan jemaah dan menampilkannya di mata masyarakat dengan citra
yang menakutkan seperti ini. Saya sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya
atas sikap dan pembelaan Anda yang mulia ini. Semoga Allah membalas keimanan
dan kesetiaan Anda dengan kebaikan yang melimpah."
Saya
juga tidak akan pernah melupakan perkataan beliau setelah momen itu: "Demi
Allah, wahai saudaraku, aku sering sekali mendengar paman saya, Syekh Eid,
berkata: 'Sesungguhnya aku memohon kepada Allah agar tidak mematikan aku sampai
aku melihat langsung kejayaan Islam, kemenangan bangsa-bangsanya, serta
tegaknya hukum-hukumnya.' Namun nyatanya, beliau telah wafat dan belum sempat
menyaksikan kejayaan Islam tersebut. Aku pun tidak memiliki cita-cita lain
dalam hidup ini melainkan melihat kejayaan Islam, dan aku memohon kepada Allah
agar tidak mematikan aku sebelum melihat kejayaan tersebut. Akan tetapi, aku
merasa bahwa hal itu masih sangat jauh, karena setetes darah pun dirasa masih
terlampau mahal oleh kaum muslimin. Selama setetes darah masih dianggap terlalu
mahal, mereka tidak akan pernah mencapai apa pun, karena harga dari sebuah
kejayaan dan kebebasan hanyalah kerelaan mengorbankan darah."
"Al-Qur'an
menyatakan hal ini, demikian pula dengan sirah [sejarah perjalanan hidup] Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam serta para sahabat beliau seluruhnya menunjukkan hal
tersebut, bukankah begitu?"
Maka
saya menjawab, "Tentu saja... hal itu adalah sebuah kebenaran yang tidak
diragukan lagi. Namun, saya ingin menentramkan hati Anda, bahwa keimanan yang
benar pada realitasnya akan membuat darah terasa murah [untuk dikorbankan]
sekaligus bernilai tinggi karena balasannya berada di sisi Allah Yang Maha
Agung. Saat ini, keimanan tersebut telah mulai menghujam dan kokoh di dalam
hati sekelompok hamba-hamba Allah, yang di tangan merekalah kebaikan dan
keselamatan akan terwujud dengan izin Allah. Anda akan menyaksikan segala
kebaikan dari para pemuda Ikhwan yang baru tumbuh ini dan semoga Allah
memanjangkan umur Anda hingga Anda dapat menyaksikan sendiri kejayaan Islam
tersebut." Beliau berkata, "Tetapi jumlah mereka sangat sedikit,
sedikit sekali." Maka saya menjawab, "Mereka akan bertambah banyak,
dan kebaikan itu ada pada jumlah yang sedikit ini. Berapa banyak kelompok kecil
yang mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah? Dan Allah beserta
orang-orang yang sabar." Beliau menyahut, "Semoga Allah memberikan
kabar gembira kebaikan kepadamu, itulah yang kita harapkan dan kita mohonkan
kepada Allah."
Beliau
menceritakan kepada saya setelah kejadian itu bahwa wakil jaksa sempat bertanya
kepadanya mengenai laporan-laporan pengaduan yang diajukan dalam perkara ini.
Syekh Zamlut kemudian menyarankan kepada wakil jaksa untuk mengabaikan saja
seluruh laporan kaleng tersebut. Sebab, seandainya laporan tersebut benar,
tentu para pelapornya tidak akan menyembunyikan nama-nama mereka dan pasti akan
menghadapi kenyataan secara langsung.
Semoga
Allah merahmati Syekh Muhammad Husain Zamlut dan membalasnya dengan kebaikan.
Selebaran
dan Laporan
Setelah
cara-cara tersebut gagal, empat atau lima orang pembangkang itu tidak menemukan
jalan lain untuk mengacaukan jemaah kecuali dengan mencetak selebaran-selebaran
palsu serta menyusun laporan-laporan tendensius. Di dalamnya mereka menuduh
bahwa kebebasan berpendapat telah hilang di dalam jemaah ini, dan jemaah
bergerak tanpa mempedulikan sistem syura (musyawarah). Sesuatu yang aneh adalah
mereka sendiri yang membatalkan klaim tuduhan tersebut dengan menyebutkan bahwa
bukti dari hilangnya syura adalah dewan pengurus serta rapat anggota tahunan
tidak pernah menentang perintah Al-Ustadz [Hasan al-Banna] dan menatanya secara
buta. Jika rapat anggota tahunan dan dewan pengurus saja selalu dimintai
masukan serta musyawarah—berdasarkan pengakuan mereka sendiri—lalu di mana
letak hilangnya sistem syura tersebut?
Dan
sejak kapan makna dari sebuah syura serta kebebasan berpendapat itu harus
diartikan sebagai tindakan penentangan dan pembangkangan belaka?
Kemudian
mereka menambahkan tuduhan lain setelah itu, dengan mengatakan:
"Sesungguhnya dana masyarakat Ismailia dihabiskan untuk Kairo—yang dikirim
oleh Al-Ustadz kepada saudaranya—serta untuk Abu Suwair dan Port Said."
Seolah-olah diharamkan bagi para pengemban dakwah untuk meminta bantuan dari
orang-orang yang memiliki hubungan kedekatan dengan mereka, terlepas dari
bagaimana pun kualitas keimanan serta kapabilitas orang tersebut. Dan
seakan-akan agar terbebas dari tuduhan, mereka wajib mengucilkan orang-orang
terdekatnya dan membuang mereka dari tempat yang tinggi, meskipun keberadaan
mereka sangat berguna dan membawa manfaat, hanya karena status mereka sebagai
kerabat atau saudara. Padahal seringkali hubungan kekerabatan tersebut justru
merugikan mereka sendiri karena membuat posisi mereka diakhirkan demi
mendahulukan orang lain.
Mereka
juga menuduh bahwa pembukuan keuangan masjid belum diumumkan secara terbuka
kepada publik sampai saat ini, dan mereka mengklaim tidak mengetahui berapa
jumlah pemasukannya serta bagaimana dana tersebut dibelanjakan. Mereka juga
menuduh bahwa pengadaan fasilitas sekolah dibeli tanpa melalui proses lelang
serta tidak menggunakan metode yang legal, dan mereka mengklaim bahwa opini
publik berhak meminta pertanggungjawaban dari para pengelola jemaah ini atas
apa yang mereka lakukan.
Dan
saya pun mengetahui kabar mengenai laporan tuduhan ini. Maka saya segera pergi
menemui tokoh senior jemaah di kediamannya. Beliau adalah seorang pria yang
berakal sehat yang sangat saya hormati karena faktor usia serta senioritasnya.
Saya bertanya kepadanya, "Telah sampai berita kepadaku bahwa kalian telah
bertekad untuk melakukan tindakan ini dan itu, apakah berita ini benar?"
Beliau
sempat mencoba mengelak untuk memberikan jawaban. Namun, ketika saya
mengeluarkan beberapa lembar salinan naskah laporan tersebut di hadapannya,
beliau tidak menemukan pilihan lain kecuali mengakuinya. Beliau berkata,
"Benar, dan laporan itu sekarang sudah berada di percetakan." Maka
saya katakan, "Baik, silakan lakukan apa yang kalian inginkan, wahai paman
Fulan Efendi. Kedatangan saya menemui Anda saat ini sama sekali bukan untuk
memohon agar Anda menahan laporan ini atau menghentikan serangan Anda terhadap
jemaah. Anda berhak menentukan pandangan Anda sendiri dan silakan lakukan apa
yang Anda mau. Akan tetapi, saya tahu dan tetap meyakini bahwa Anda adalah seorang
pria yang berakal sehat, dan segala urusan itu dinilai dari hasil akhir serta
dampaknya."
"Tindakan
yang didasari semata-mata oleh ketergesaan serta pemuasan nafsu balas dendam
tidak akan menghasilkan manfaat apa pun. Lalu apa sebenarnya hasil yang kalian
harapkan dari penerbitan laporan kalian ini?"
Beliau
menjawab, "Kami ingin memberikan pencerahan kepada opini publik dan
menunjukkan hakikat kebenaran kepada mereka." Maka saya katakan kepadanya,
"Saya tidak akan mencoba mendebat Anda mengenai kebenaran yang Anda
asumsikan tersebut, yang mana saya yakini sepenuhnya sebagai sebuah kebatilan.
Namun yang ingin saya tanyakan adalah, apakah Anda mengira bahwa kami ini lemah
atau tidak mampu untuk membalas serta meyakinkan opini publik bahwa kamilah
yang benar sedangkan kalian berada di pihak yang salah? Kalian tidak memiliki
apa-apa selain sebatas klaim dan tuduhan sepihak, sedangkan kami memegang
dokumen-dokumen resmi serta bukti-bukti otentik. Dan Anda, wahai paman Fulan,
adalah orang yang paling mengetahui hal itu. Bukankah pembukuan keuangan masjid
berada di bawah pengawasan Anda sendiri? Dan pengadaan fasilitas sekolah dibeli
atas partisipasi serta persetujuan Anda? Bahkan banyak dari transaksi pembelian
untuk keperluan masjid maupun selain masjid dilakukan melalui perantaraan Anda
sendiri."
"Oleh
karena itu, pencerahan opini publik pada akhirnya justru akan berpihak kepada
kami, bukan kepada kalian. Apalagi kami memiliki sarana dan instrumen yang
tidak kalian miliki. Hubungan kami jauh lebih kuat dan mengakar di
tengah-tengah masyarakat. Kami mampu berorasi, menulis, berdiskusi, mengadakan
pertemuan-pertemuan, menyampaikannya dalam materi-materi pelajaran, serta
menjelaskannya di dalam masjid-masjid, warung kopi, hingga di jalan-jalan umum.
Lidah yang membela kami sangat banyak, dan kebenaran itu pasti akan tampak
nyata."
"Hanya
ada satu hal saja yang benar-benar menyayat hati saya dalam persoalan ini. Hal
itu adalah kenyataan bahwa baru kemarin saya memperkenalkan Anda kepada
masyarakat dengan penuh penghormatan dan takzim sebagaimana seorang anak
memperkenalkan ayahnya sendiri. Saya juga memperkenalkan para pemuda itu
sebagai representasi terbaik dari pemuda mukmin. Namun, sikap kalian ini
nantinya terpaksa akan mendorong saya untuk menjatuhkan, mencela, dan menyerang
kalian dengan tuduhan dusta, pengkhianatan, serta pembangkangan keluar dari
kebenaran dakwah... dan istilah-istilah tuduhan lain semacamnya yang tidak akan
sulit diproduksi oleh siapa pun."
"Bayangkan,
penampilan konflik internal seperti ini saja sudah sangat mengiris hati saya
dan membuatnya teramat perih. Meskipun pihak yang memulai kedzaliman itu tentu
lebih bersalah. Semoga Allah merahmati penyair Arab yang berkata:"
"Kita terpaksa menebas kepala orang-orang yang
sebenarnya sangat berharga bagi kita,
Padahal
dahulu mereka adalah orang-orang yang melampaui batas dan paling dzalim."
"Hal
yang membuat kepedihan ini berlipat ganda adalah karena tidak ada hasil apa pun
dari seluruh pertikaian ini, tidak ada buah yang bisa dipetik dari
pengorbanan-pengorbanan ini, dan tidak ada manfaat yang bisa diharapkan dari
tindakan membakar emosi serta merusak kehormatan dengan celaan dan caci maki.
Maka kebaikan dari segala kebaikan adalah kalian meninggalkan peperangan ini,
yang kalian sendiri sudah mengetahui bagaimana hasil akhirnya bagi kalian. Jika
target kalian adalah balas dendam, maka tidak ada kebaikan dalam balas dendam.
Jika kalian menginginkan nasihat, kalian telah menyampaikannya dan orang-orang
pun telah mengetahui apa yang ingin kalian katakan, dan cukuplah bagi kalian
pengetahuan Allah. Dan jika kalian menginginkan keridaan Allah, maka Allah Maha
Mengetahui segala isi hati."
Tokoh
tersebut langsung terenyuh oleh untaian kalimat ini. Beliau pun berjanji kepada
saya bahwa beliau akan mencegah penyebaran laporan tersebut, dan akan menarik
kembali naskah aslinya dari pihak percetakan.
Saya
pun beranjak pergi meninggalkan rumah beliau dengan memegang janji tersebut.
Pelajaran
yang Membekas
Saya
teringat bahwa di tengah-tengah berkecamuknya rangkaian peristiwa ini, pada
suatu kesempatan saya menyampaikan sebuah pelajaran (kultum) di hadapan jamaah
mengenai keutamaan kebersihan hati, mencintai kebaikan untuk semua orang, serta
mendamaikan pihak-pihak yang sedang berselisih. Setelah selesai memberikan
pelajaran, saya merenung seorang diri, lalu terjadilah gejolak dialog batin
yang sangat hebat di dalam diri saya: "Apakah kamu menyeru manusia
kepada kebaikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?"
Apa-apaan
ini? Sesungguhnya manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah setiap
orang yang bersih hatinya lagi jujur ucapannya, sedangkan manusia yang paling
dibenci di sisi Allah adalah orang yang paling keras membangkang lagi suka
bermusuhan.
Maukah
aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang derajatnya lebih utama daripada
shalat, puasa, dan sedekah? Para sahabat menjawab: "Tentu, wahai
Rasulullah." Beliau bersabda: "Mendamaikan perselisihan di antara
sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama adalah penggugur [agama]. Aku
tidak mengatakan ia mencukur rambut, melainkan mencukur [menggugur]
agama." Maka perbaikilah hubungan di antara keduanya dengan perdamaian
yang baik, karena perdamaian itu jauh lebih baik. Mahabenar Allah dan
rasul-Nya.
Bagaimana
mungkin saya menyuarakan semua nilai luhur ini kepada masyarakat namun diri
saya sendiri tidak tergerak dan terpengaruh olehnya? Hal seperti ini sama
sekali tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, harus ada pembersihan hati,
penyucian jiwa, pengendalian ego, serta perlawanan terhadap amarah dan dominasi
keinginan untuk memenangkan diri sendiri. Saya harus menguji hal tersebut
secara aplikatif pada diri saya sendiri, meskipun dalam persoalan ini saya
tidak melakukan dosa apa pun dan tidak memulai permusuhan. Namun, eksperimen
batin ini wajib dilakukan.
Maka
saya mengambil pena lalu menulis surat kepada tokoh senior jemaah tersebut. Di
dalam surat itu saya menyatakan: "Sesungguhnya saya memiliki kesiapan
penuh untuk melupakan seluruh masa lalu dan mengembalikan mereka ke dalam
barisan Ikhwan jika mereka menghendakinya. Jika mereka menerima rekonsiliasi
ini atas dasar prinsip saling memaafkan, maka semoga Allah membalas mereka
dengan kebaikan; saya telah memaafkan maka hendaknya mereka pun memaafkan.
Namun, jika mereka menginginkan penyelesaian ini dilakukan atas dasar
pembuktian hak secara hukum, maka saya pun siap untuk itu. Saya menyerahkan
sepenuhnya kepada mereka untuk memilih pihak penengah (juri); silakan pilih
siapa saja yang mereka kehendaki dan biarlah kita berhakim kepadanya, baik
perorangan maupun kelompok. Sejak saat ini, saya menyatakan menerima apa pun
keputusannya, siapa pun orangnya." Saya juga menjelaskan kepada mereka
bahwa alasan utama saya menulis surat ini adalah karena saya sangat terpengaruh
oleh pelajaran yang baru saja saya sampaikan sendiri, dan saya merasa sangat takut
andai saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang difirmankan oleh Allah:
“Wahai
orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang
tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3)
Akan
tetapi, surat ini—meskipun membawa getaran emosional yang sangat kuat dan
mengalir deras di setiap baris kalimatnya—sama sekali tidak memberikan pengaruh
apa pun pada mereka. Bahkan, saya bersikeras untuk mengantarkan sendiri surat
tersebut langsung ke rumah tokoh senior mereka dan menyerahkannya dengan tangan
saya sendiri. Tindakan saya ini sempat memicu kemarahan yang sangat hebat dari
anggota Ikhwan lainnya. Mereka mencoba menghalangi saya dengan segala cara,
namun saya tetap kukuh pada pendirian saya dan bersikeras pergi membawa surat
itu sendirian. Hal ini memicu keheranan dan rasa ganjil di kalangan Ikhwan.
Padahal sebenarnya, saya justru merasakan kelezatan batin yang sangat besar di
dalam sikap mengalah ini, yang mana saya anggap dan bayangkan—bahkan sampai
saat ini—sebagai puncak dari kekuatan yang sesungguhnya karena ia tersambung
langsung dengan perintah-perintah Allah.
Kalimat
yang Benar
Untaian
kata di dalam surat tersebut ternyata tidak mampu menembus ke dalam hati
orang-orang itu, dan janji yang diucapkan oleh pria bijaksana tersebut juga
tidak mampu mencegah diterbitkannya laporan tuduhan.
Sebab,
salah seorang dari mereka tetap bersikeras dengan opininya sendiri meskipun
ditentang oleh anggota yang lain. Ia menolak mentah-mentah jalan damai dan
tetap menerbitkan laporan tersebut dengan mencantumkan namanya sendiri. Proses
pencetakan pun selesai dan laporan itu disebarluaskan di tengah masyarakat. Ia
bahkan membawa sendiri laporan tersebut ke Port Said dan Abu Suwair, yaitu
wilayah-wilayah cabang yang bertetangga dengan Ismailia. Merespon hal ini,
dewan pengurus Ikhwan menyusun sebuah selebaran jawaban penyeimbang yang diberi
judul "Kalimat al-Haq" (Kalimat yang Benar). Begitu bantahan
ini diterbitkan, masyarakat langsung menyambutnya dengan antusias. Dinamika
konflik ini justru berhasil menarik perhatian luas dari publik terhadap dakwah.
Masyarakat mulai menaruh perhatian besar pada segala hal yang berkaitan dengan
jemaah ini, sehingga gejolak tersebut berubah menjadi salah satu faktor
terbesar bagi meluasnya ekspansi dakwah serta bergabungnya elemen-elemen baru
yang sangat banyak ke dalam barisan Ikhwan.
Sebuah
Kisah Menarik
Di
antara kisah yang menarik adalah bahwa saya sempat berjanji kepada anggota
dewan pengurus Ikhwan untuk meminta pandangan mereka mengenai rencana membawa
kasus ini ke jalur hukum atas dasar delik pencemaran nama baik melalui media
cetak. Kami pun berkumpul di ruang loteng masjid setelah pelaksanaan shalat
Isya.
Rapat
dibuka dan saya baru saja hendak menjelaskan alur permasalahannya. Tiba-tiba,
salah seorang jamaah shalat yang masih tertinggal di dalam masjid mulai
melantunkan bacaan Al-Qur'an dengan suara keras, membaca firman Allah teringat:
“Dan
demikianlah untuk setiap Nabi Kami jadikan musuh yang terdiri dari setan-setan
manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain
perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya
mereka tidak melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa yang mereka
ada-adakan. Dan agar hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat
tertarik kepada bisikan itu, dan disenangi mereka, dan agar mereka melakukan
apa yang biasa mereka lakukan. Apakah (pantas) aku mencari hakim selain Allah?
Padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu secara rinci. Dan
orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengetahui bahwa (Al-Qur'an) itu
diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang
yang ragu. Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur'an) dengan benar dan adil.
Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha
Mengetahui.” (QS. Al-An'am: 112-115)
Kami
semua terdiam menyimak lantunan ayat yang diulang-ulang oleh pria tersebut
untuk dirinya sendiri namun dengan volume suara yang ditinggikan. Begitu
bacaannya tiba pada akhir ayat yang mulia tersebut, ia langsung terdiam.
Saya
pun ikut terdiam. Melihat hal itu, anggota Ikhwan bertanya: "Untuk apa
kita berkumpul di sini?" Maka saya menjawab, "Perkara ini telah
diputuskan. 'Apakah pantas aku mencari hakim selain Allah?'"
Kemudian
saya menceritakan kepada mereka agenda utama yang mendasari pertemuan malam
itu, lalu saya katakan: "Dan sekarang, saya menarik usulan rencana
tuntutan hukum ini dari agenda kerja dewan, dan cukuplah Allah sebagai hakim di
antara kita. Sungguh Dia telah memberikan keputusan dengan seadil-adilnya, dan
Dia adalah Hakim yang paling adil, Maha Suci Dia."
Nasib
Akhir sang Syekh
Di
tengah pusaran semua peristiwa ini, sang Syekh yang sangat berambisi untuk
menjadi ketua Ikhwanul Muslimin di Ismailia ternyata masih berstatus sebagai
pengajar di sekolah-sekolah milik Ikhwan. Ia terus mengendalikan dan
mengobarkan jalannya fitnah ini dari kejauhan. Ia menggerakkan bidak-bidaknya
dan menyusun rencana, namun ia memiliki tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian
yang sangat tinggi sehingga selalu berhasil melepaskan diri dari segala tuduhan
yang diarahkan kepadanya.
Saya
sengaja tidak ingin menindaknya hanya berdasarkan asumsi atau prasangka belaka,
karena hal itu tidak akan mengubah realitas objektif apa pun. Sembari perkara
yang menjerat para pemuda itu telah selesai diproses, saya selalu berharap agar
akal sehatnya dapat mengembalikan dirinya ke jalan yang benar. Sebab ia adalah
seorang yang berakal sehat karena ia memiliki kedalaman akal, seorang yang
berilmu karena statusnya sebagai ulama, serta seorang yang memiliki adab karena
ia adalah seorang sastrawan. Harapan saya ia bisa kembali kepada kebenaran
sehingga bisa menjadi penopang bagi saya untuk merangkul kembali para pemuda
yang membelot tersebut, bukan malah menjadi penyokong di balik layar bagi aksi
pembangkangan mereka. Namun, ia justru terus menyuburkan benih kejahatan ini
secara sembunyi-sembunyi agar terhindar dari konsekuensi tanggung jawab, hingga
akhirnya fitnah tersebut meluas dan membesar. Sampai pada akhirnya Allah
menghendaki kedoknya terbongkar dalam kondisi tertangkap basah.
Pada
suatu malam, saya tidak dapat memejamkan mata. Akhirnya saya keluar rumah untuk
melaksanakan shalat Subuh di Masjid al-Abbasi sekitar satu jam atau lebih
sebelum masuknya waktu shalat. Di tengah perjalanan, saya melewati rumah salah
seorang dari kelompok pembangkang tersebut. Saya mendapati rumah itu dalam
kondisi menyala terang dengan jendela-jendela yang terbuka lebar. Sayup-sayup
terdengar suara diskusi hangat dari dalam yang langsung memicu perhatian saya.
Ternyata sang Syekh sedang duduk di sana dikelilingi oleh mereka, dan ia sedang
mendiktekan serta merancang metode tipu daya dan permusuhan untuk menyerang
jemaah. Saya pun melanjutkan perjalanan. Keesokan paginya, saya memanggil Syekh
tersebut ke kantor. Di tengah obrolan yang santai, saya bertanya kepadanya
dengan lembut mengenai aktivitasnya tadi malam dan di mana ia menghabiskan
malamnya?
Ia
lalu mengarang sebuah cerita yang sangat panjang yang kesimpulannya mengklaim
bahwa ia menghabiskan seluruh malamnya di dalam rumahnya sendiri. Saya kemudian
mengalihkan pembicaraan pada topik seputar fitnah yang terjadi serta dampak
buruknya, lalu saya menyentil tentang desas-desus yang beredar di masyarakat
mengenai keterlibatan dirinya dalam gerakan tersebut. Mendengar hal itu, ia
langsung bertekad melepaskan diri dari semua tuduhan, membantah keterlibatan
dirinya, serta menampilkan citra seolah-olah dirinya dalam perkara ini jauh
lebih suci daripada air mendung. Ia terus menyusun berbagai argumen dan bukti
palsu. Sungguh, saya merasa sangat takjub melihat kemampuan luar biasanya dalam
menyusun kebohongan yang serapi itu. Hingga akhirnya ia mencoba untuk bersumpah
dengan menggunakan kalimat talak [cerai istrinya]. Di titik ini, saya sudah
tidak mampu lagi menahan kesabaran. Secara refleks saya langsung membekap
mulutnya dengan gerakan cepat, lalu berteriak di depan wajahnya:
"Bertakwalah kepada Allah! Waspadalah dari bersumpah! Jangan pernah engkau
berani bersumpah!" Kemudian saya mengejarnya dengan pertanyaan: "Lalu
di mana keberadaanmu pada jam sekian malam tadi?" Seketika itu juga gurat
keterkejutan dan kepanikan langsung tampak jelas di wajahnya. Ia mencoba
menjawab namun lidahnya kelu dan gagap. Saya tidak memberinya celah sedikit
pun; saya langsung membeberkan hakikat kebenaran di depan wajahnya beserta
bukti-bukti yang tidak terbantahkan.
Saya
menegaskan kepadanya bahwa saya melihat dirinya dengan mata kepala saya
sendiri, dan tidak ada seorang pun yang melaporkannya kepada saya. Ia tidak
menemukan ruang lagi untuk mengelak selain mengakui dan mengonfirmasi
kejahatannya. Ia pun mulai menampakkan penyesalan yang mendalam serta memohon
belas kasihan. Maka saya katakan kepadanya: "Tidak ada masalah bagimu,
percayalah bahwa saya tidak akan pernah berpikir untuk membalasmu dengan
keburukan apa pun. Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin baru kemarin saya
memujimu dan mempromosikan dirimu di hadapan manusia, hingga saya shalat di
belakangmu, menghadiri majelis taklimmu, serta merekomendasikan masyarakat
untuk mengikutinya; lalu hari ini saya harus mencelamu dan membongkar borok
yang saya temukan darimu? Saya tidak sanggup membayangkan hal itu terjadi. Akan
tetapi, mulai hari ini saya tidak lagi dapat menoleransi keberadaanmu bersama
saya dalam satu dakwah maupun satu amal. Maka pilihlah untuk dirimu sendiri
satu dari dua opsi ini: pertama, engkau tetap tinggal di Ismailia namun dengan
catatan saya akan mencarikan pekerjaan lain untukmu dengan taufik Allah,
asalkan berada di luar ruang lingkup Ikhwan, dan engkau silakan beralasan
dengan alasan apa pun yang dapat diterima publik. Opsi kedua, engkau kembali ke
kampung halamanmu, dan kewajiban sayalah untuk membiayai perjalanan
kepulanganmu..."
"...serta
menjamin kenyamananmu sampai engkau tiba di tempat amanmu. Allah adalah
Pelindung kita semua dan Dia menjadi Saksi atas apa yang kita sepakati."
Ia
akhirnya memilih opsi kedua. Namun, ia mengajukan syarat agar saya melunasi
seluruh utang-utang yang menjeratnya, dan saya pun memenuhi serta membayar
seluruh utangnya tersebut. Ia kemudian menulis surat pengunduran diri dari
pekerjaannya, sehingga terputuslah hubungannya dengan markas jemaah maupun
institusi ma'had seketika.
Gugatan
Hukum dan Sekolahnya
Nyatanya,
ia tidak benar-benar pergi kembali ke kampung halamannya sebagaimana yang telah
ia janjikan. Suatu hari saya justru dikejutkan oleh selembar brosur pengumuman
mengenai pembukaan sebuah sekolah baru yang dipimpin dan dikelola langsung oleh
dirinya, di bawah pengawasan komite yang dibentuk oleh lima orang pembangkang
yang bersamanya dulu. Di dalam brosur tersebut dipenuhi dengan kalimat celaan
serta pembunuhan karakter terhadap jerih payah Ikhwan beserta sekolah-sekolah
mereka. Maka saya membatin: "Baguslah, yang terpenting adalah dia sudah
menjauh dari kita, dan biarkan dia melakukan apa saja yang dia kehendaki
setelah ini."
Namun
tidak berhenti di situ, setelah kejadian ini saya kembali dikejutkan oleh
adanya surat panggilan dari pengadilan. Surat itu menyatakan bahwa sang Syekh
mengajukan gugatan hukum menuntut uang kompensasi/pesangon atas masa bakti yang
pernah ia habiskan selama mengajar di Ikhwan. Jumlah nominal yang ia tuntut
sebenarnya sangat kecil dan remeh, namun ia bersikeras untuk mengambilnya
melalui jalur pengadilan. Padahal, di dalam tangan saya tersimpan
dokumen-dokumen bukti pelanggaran yang nilainya dapat mendakwa dirinya
berkali-kali lipat dari jumlah nominal yang ia tuntut. Saya memutuskan untuk
menghadiri sendiri persidangan tersebut di pengadilan. Begitu ia mengajukan
tuntutannya, saya langsung mengakuinya di depan hakim. Namun, setelah itu saya
menyerahkan dokumen-dokumen bukti otentik yang ada di tangan saya kepada hakim.
Hakim pun mempertimbangkan bukti-bukti tersebut, hingga akhirnya memutuskan
untuk menolak gugatan sang Syekh secara total dan membebankan seluruh biaya
perkara persidangan kepadanya.
Sekolah
baru yang ia umumkan tersebut tidak dapat bertahan lama; ia langsung mati di
dalam buaiannya (mati suri). Keberadaan dirinya di kota Ismailia pun tidak
berlangsung lama setelah itu, karena ia segera angkat kaki meninggalkan kota
tersebut.
Melalui
tulisan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepadanya.
Sebab saat ini, beliau telah berubah menjadi salah seorang ulama terbaik
sekaligus sahabat yang paling utama. Semua peristiwa itu hanyalah bagian dari
hari-hari yang telah lama berlalu serta kenangan masa lalu yang telah usai.
Barangkali dahulu beliau memiliki uzur (alasan tersendiri) atas sikapnya,
sementara kita saat itu mencelanya. Dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala
rahasia di dalam dada.
Pernikahan
dan Perpindahan
Seakan-akan
Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin meringankan beban dampak dari rangkaian
fitnah ini—yang benar-benar menjadi kejutan besar bagi saya di awal kehidupan
dakwah. Rangkaian ujian tersebut adalah pelajaran-pelajaran yang sangat luar
biasa. Saya menghadapinya dengan penuh ketakjuban, walaupun taufik dari Allah Tabaraka
wa Ta'ala selalu berhasil melenyapkan seluruh dampak negatifnya dan
mengubahnya menjadi buah kebaikan bagi kami. Dari sana kami dapat menghayati
dengan nyata kebenaran dari untaian hikmah yang berbunyi: "Bisa jadi
sesuatu yang membahayakan itu justru membawa manfaat." Sejak saat itu,
saya menjadi paham bahwa dakwah tidak hanya akan dimusuhi oleh musuh-musuh dari
luar atau orang-orang yang tidak memahaminya, melainkan bisa juga digembosi
dari dalam oleh orang-orang yang berinteraksi dengannya, memahaminya, bahkan
yang telah terdaftar di dalam barisannya dan orang-orang yang mengambil
keuntungan di baliknya. Aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi perang
ini dengan bekal kesabaran, keteguhan hati, dan teladan yang baik. Namun,
ketika bendera permusuhan itu justru dibawa oleh segelintir orang yang paling
ikhlas, yang selama ini menjadi sandaran kami—yang disokong pula oleh sebagian
orang yang hidup di bawah naungan dakwah beserta lembaga-lembaganya tanpa
tujuan yang jelas dan tanpa hasil sama sekali—maka ini sungguh hal yang sangat
mengherankan. Dan Allah memiliki ketetapan tersendiri pada setiap makhluk-Nya.
Seolah-olah
Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin meringankan beban jiwaku dari dampak
fitnah-fitnah ini, Dia memberikan kesempatan kepadaku untuk menikah. Prosesnya
pun berlangsung dengan kemudahan, kelancaran, dan kesederhanaan yang luar
biasa: khitbah (lamaran) terjadi kira-kira pada awal Ramadan, akad nikah
dilaksanakan di masjid pada malam ke-27 Ramadan, dan walimatul urus (resepsi)
dilangsungkan pada tanggal 10 Zulkaidah setelahnya. Maka selesailah urusan
tersebut, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Setelah
itu, aku merasa bahwa tugasku di Ismailia telah usai. Dakwah telah melembaga,
bangunan-bangunan fasilitas telah berdiri kokoh, masyarakat yang mulia
seluruhnya telah menjadi ikhwan (saudara), dan separuh agama yang kedua pun
telah sempurna. Lalu, untuk apa lagi aku berdiam diri di sini?
Sebuah
perasaan aneh berkecamuk di dalam diriku bahwa aku akan dipindahtugaskan
setelah ini. Ketika libur musim panas tahun 1932 tiba, aku bertemu dengan guru
kami, Syekh Abdul Wahhab an-Najjar Rahimahullah. Kami berbincang cukup
lama dan pembicaraan kami mengalir hingga membahas kota Ismailia serta dakwah
di sana, disertai firasatku tentang waktu kepindahan yang sudah dekat dari kota
tersebut. Pada kesempatan itu, aku meminta beliau untuk berbicara dengan Ustaz
al-Bathrawi, pengawas bahasa Arab saat itu, mengenai keinginanku untuk pindah
ke Kairo. Ustaz an-Najjar Rahimahullah kemudian meminta agar aku menulis
surat permohonan resmi terkait hal tersebut, lalu aku pun menulisnya. Akhirnya
Allah mengabulkan keinginan ini, sehingga aku resmi dipindahkan ke Kairo pada
bulan Oktober tahun 1932 Masehi.
Teks-Teks
dari Kenangan di Ismailia Khotbah Pertama di Masjid Al-Ikhwan
Sekarang,
setelah bagian pertama dari memoar ini selesai dengan apa yang kami
publikasikan kemarin, kami menerbitkan beberapa teks mengenai kenangan di
Ismailia, dan akan kami ikuti dengan bagian kedua mengenai dakwah dan dai di
Kairo:
Segala
puji bagi Allah dengan pujian yang melimpah atas taufik yang Dia berikan untuk
melakukan ketaatan, atas kemaksiatan yang Dia jauhkan, dan atas kelapangan dada
yang Dia anugerahkan demi kebaikan.
Aku
bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak
ada sekutu bagi-Nya, sebagai kesaksian iman, pengakuan, dan ketundukan. Dan aku
bersaksi bahwa junjungan kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya , pribadi
paling utama yang mendirikan salat, berpuasa, bertahajud, berdiri beribadah,
dan menghidupkan malam di saat manusia terlelap; pemimpin setiap ahli ibadah
dan sebaik-baik pribadi yang membangun masjid. Ya Allah, limpahkanlah selawat
dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, beserta keluarga, para
sahabatnya, dan siapa saja yang mengambil petunjuk dengan bimbingannya hingga
hari kiamat.
Amma
ba'du, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya sedekat-dekatnya amalan dan
seagung-agungnya kebaikan adalah membangun masjid-masjid, memakmurkannya, serta
berinfak di jalan pendiriannya. Hanya orang-orang yang dicintai-Nya di antara
hamba-hamba-Nya yang taat yang diberikan taufik oleh Allah untuk melakukan hal
tersebut, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya
yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah
dan hari akhir, menunaikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada
siapa pun) selain kepada Allah. Maka, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang
yang mendapat petunjuk." (QS. At-Tawbah [9]: 18) .
Mereka
adalah kaum yang mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada
di dalam perbendaharaan harta mereka, serta lebih memercayai apa yang ada di
tangan Allah daripada apa yang ada di tangan mereka sendiri. Mereka mengetahui
bahwa apa yang ada pada mereka akan sirna dan apa yang ada di sisi Allah akan
kekal. Maka mereka memberi, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang
terbaik, sehingga mereka mendapatkan kemudahan dari Allah menuju jalan
kemudahan serta balasan yang paling mulia.
"...dan
bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan bahwa usahanya
itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan
kepadanya dengan balasan yang paling sempurna." (QS. An-Najm [53]: 39-41)
.
Apakah
ada amal yang penuh bakti, usaha yang disyukuri, dan keutamaan turun-temurun
yang lebih mulia, lebih utama, lebih tinggi, serta lebih agung daripada
memakmurkan rumah-rumah Allah?
"(Cahaya
itu) di rumah-rumah (masjid) yang Allah telah perintahkan untuk meninggikannya
dan menyebut nama-Nya di dalam(nya). Bertasbihlah kepada-Nya di sana pada pagi
dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli
dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut
pada suatu hari yang (di dalamnya) hati dan penglihatan menjadi guncang."
(QS. An-Nur [24]: 36-37) .
Masjid-masjid
di dalam umat Islam adalah tempat ibadah salat sekaligus sekolah tempat
diajarkannya ayat-ayat Allah. Salat tidak lain merupakan ikatan yang kuat
antara penduduk bumi dan Tuhan pemilik langit, ketika mereka berdiri di hadapan
Sang Mahapengasih dengan khusyuk, serta tersungkur dalam sujud dan rukuk karena
keagungan-Nya. Lidah dan sanubari mereka bermunajat dalam hadirat-Nya yang suci
dengan zikir dan doa, sehingga turunlah ketenangan kepada mereka, rahmat
meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut
mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Dia melapangkan kesulitan
mereka, menghilangkan kesedihan mereka, dan menolak kekuatan musuh mereka dari
mereka.
"Sesungguhnya
Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
tiap-tiap orang yang suka berkhianat lagi mengingkari nikmat." (QS.
Al-Hajj [22]: 38) .
Dia
membanjiri mereka dengan kelembutan-Nya, melindungi mereka dalam penjagaan-Nya,
dan memperlakukan mereka sesuai dengan prasangka baik mereka kepada-Nya.
"Yang
demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman dan
karena orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung." (QS. Muhammad
[47]: 11) .
Dan
sesungguhnya seorang hamba, jika mendekatkan diri kepada Allah dengan
ibadah-ibadah sunah dan salat, maka Allah akan menjadi pendengarannya yang dia
gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat,
tangannya yang dia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang dia gunakan untuk
berjalan. Jika dia meminta kepada-Nya, niscaya Dia akan memberinya, dan jika
dia memohon perlindungan kepada-Nya, niscaya Dia akan melindunginya.
Jika
salah seorang dari kita sangat mendambakan kecintaan orang-orang besar dan
keridaan para pemimpin, serta suatu bangsa berupaya menarik simpati
negara-negara lain, memperkuat hubungan antara negaranya dan
pemerintah-pemerintah lain, hingga menginfakkan harta yang banyak untuk hal
tersebut serta mendirikan kedutaan-kedutaan besar maupun konsulat-konsulat;
maka tidakkah lebih patut dan wajib bagi kita untuk mencari keridaan Penguasa
Langit, yang di puncak segala-galanya adalah Tuhan semesta alam, yang memiliki
bala tentara langit dan bumi, dan di tangan-Nya lah segala urusan?
"Sesungguhnya
urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya,
"Jadilah!" Maka, jadilah ia." (QS. Yasin [36]: 82) .
Kita
mencari keridaan-Nya dengan membangun masjid-masjid, memakmurkannya, dan
menegakkan salat di dalamnya tepat pada waktunya, sehingga Dia akan membantu
kita dengan bala tentara-Nya yang tidak akan terkalahkan, pasukan-Nya yang
tidak dapat ditundukkan, serta pertolongan-Nya yang kuat yang telah Dia
janjikan:
"...Allah
pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat
lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi,
mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat..." (QS.
Al-Hajj [22]: 40-41).
"...makruf
dan mencegah dari yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala
urusan." (QS. Al-Hajj [22]: 41) .
Sesungguhnya
jika suatu umat telah mencari keridaan Tuhannya, berlindung kepada Penciptanya,
dan menjadikan Allah sebagai pelindungnya, niscaya Allah akan menolongnya atas
umat yang lain dan menghindarkannya dari keburukan musuhnya.
"Dan
Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh
kejengkelan, (karena) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah
cukupkan bagi orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat
lagi Mahaperkasa." (QS. Al-Ahzab [33]: 25) .
Namun,
jika umat tersebut lebih mengutamakan keridaan makhluk daripada Al-Haq (Allah),
serta mengambil hati selain-Nya dengan pemberian dan taklid (pengekoran buta),
niscaya Allah akan menyerahkan umat tersebut kepada dirinya sendiri, dan
menyerahkan urusan perlindungannya kepada kemampuannya sendiri. Akibatnya, ia
menjadi lemah di tengah-tengah kekuatannya dan terkalahkan dalam urusannya.
Padahal,
masjid adalah syiar agama, simbol Islam, dan tanda bagi orang-orang mukmin. Di
dalamnya kewajiban-kewajiban dari Allah ditunaikan, di atas mimbar-mimbarnya
dikhotbahkan kitab Allah dan sunah Rasulullah, serta dari menara-menaranya
dikumandangkan kalimat Allah: Allahu Akbar, wa asyhadu alla ilaha illallah,
wa anna Muhammadan Rasulullah, hayya 'alas-shalah, hayya 'alal-falah. Itu
semua adalah tanda-tanda yang nyata dan keutamaan yang jelas yang memperkuat
keyakinan, menyadarkan para pemeluk agama, menjadi peringatan bagi orang-orang
yang bertakwa, penyesalan bagi orang-orang kafir, kegembiraan bagi orang-orang
mukmin, dan kehancuran bagi sekutu-sekutu setan.
Seandainya
Anda singgah di suatu negeri yang belum pernah Anda datangi sebelumnya,
tidakkah Anda melihat bahwa masjid-masjid di sana adalah bukti nyata atas agama
penduduknya? Jika jumlahnya banyak dan menjamur, Anda tahu bahwa mereka adalah
kaum yang saleh, bertakwa, dan beruntung. Namun jika jumlahnya sedikit dan
jarang, Anda tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sibuk dengan urusan
dunia mereka dan lalai dari agama mereka. Karena suatu alasan yang besar
pulalah, Abu Bakar Radiyallahu 'Anhu pernah berkata dalam wasiatnya
kepada pasukannya: "Jika kalian mendatangi suatu kaum, maka tunggulah
hingga datangnya waktu salat. Jika mereka mengumandangkan azan, maka
tinggalkanlah mereka (jangan diperangi), namun jika tidak, maka perangilah mereka
sampai kalimat Allah menjadi yang paling tinggi." Hal itu karena
syiar-syiar yang tampak akan menarik perhatian, memikat pendengaran, dan
menautkan hati orang-orang yang menebus Islam yang dicintai ini.
"...Demikianlah
(perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka
sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. Al-Hajj [22]: 32) .
Masjid-masjid
juga merupakan sekolah umum, universitas rakyat, dan akademi pembinaan moral
bagi umat. Di dalamnya orang dewasa, pemuda, orang tua, dan anak-anak
mempelajari apa yang memperbaiki urusan kehidupan dunia dan akhirat mereka. Di
sana mereka dibekali dengan hukum-hukum agama mereka, asupan bagi akal mereka,
dan obat bagi dada mereka melalui nasihat-nasihat yang mereka dengar, serta
melalui halakah-halakah ilmu yang para pengajarnya tidak meminta upah materi
sedikit pun, dan tidak memberatkan para pendengar baik dalam jumlah sedikit
maupun banyak.
Jika
kita menaruh perhatian pada pendirian sekolah-sekolah dan menyebarluaskannya di
antara lapisan masyarakat, serta mempersiapkan rumah sakit untuk mengobati
kesehatan fisik, maka sudah seharusnya kita lebih memperhatikan pendirian
masjid-masjid yang sejatinya merupakan rumah ibadah, sekolah ilmu, dan rumah
sakit bagi penyakit-penyakit jiwa.
Para
pendahulu kita—Ridwanullahi 'Alaihim—sangat memperhatikan pengajaran di
dalam masjid untuk kalangan khusus maupun awam. Mereka mengintegrasikan sebuah
sekolah pada setiap masjid, dan terkadang diikuti pula dengan asrama tempat
tinggal bagi para penuntut ilmu, agar ilmu menyatu dengan amal, perkataan
beriringan dengan perbuatan, dan studi bersifat aplikatif sebelum bersifat
teoretis (wacana). Hal ini dilakukan agar ruh agama terpancar di dalam diri
para pelajar, serta memantapkan manifestasinya di dalam jiwa para penuntut
ilmu, sehingga mereka lulus dengan memiliki keutamaan dan akhlak Muhammad yang
mulia.
Kondisi
ini berbeda dengan sekolah-sekolah yang mereka ada-adakan dan institut-institut
yang mereka ciptakan; anak-anak kita memasukinya dalam keadaan muslim, lalu
keluar dari sana dalam keadaan ateis atau tanpa agama. Akal mereka telah
diracuni oleh pemikiran-pemikiran asing [Fransis/Barat] yang keji, otak mereka
dijejali opini-opini ateistik, dan mereka tumbuh di atas taklid serta
serba-boleh (liberalisme moral).
Pendidikan
manakah yang lebih tinggi daripada pendidikan masjid seandainya orang-orang
yang mengembangnya menguasainya dengan baik dan memahaminya secara benar?
Padahal pilarnya adalah kerelaan hati (motivasi), bukan ketakutan, dan asasnya
adalah jalinan hubungan serta kasih sayang.
Di
samping semua itu, masjid adalah medan taaruf (saling mengenal) bagi
orang-orang mukmin dan tempat bertemunya fisik mereka. Di dalam masjid mereka
berkumpul, dan di bawah naungannya mereka saling bersaudara dan mengenal. Pada
masa lalu, masjid merupakan balai pertemuan kaum muslimin, tempat perdamaian
mereka, dan tempat perayaan pernikahan mereka, demi melaksanakan wasiat
Rasulullah alaihish-shalatu was-salam di mana beliau bersabda:
"Umumkanlah pernikahan ini dan laksanakanlah di masjid-masjid."
Dengan demikian, mereka dapat menghindari dampak buruk dari pesta-pesta yang
biasa dilakukan, seperti pemborosan, mubazir, riya, kesombongan, dan saling membanggakan
kebatilan. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan
diri.
Jika
masjid memiliki dampak seperti ini dalam kehidupan umat, maka masjid merupakan
hal pertama yang wajib diperhatikan pembangunannya oleh para pekerja, dan
dipikirkan perbaikannya oleh para pemikir. Demikian pulalah amal pertama
Rasulullah alaihish-shalatu was-salam dalam hijrah beliau, yaitu
membangun Masjid Quba selama masa tinggal beliau di Bani Salim bin Auf. Itulah
masjid yang Allah turunkan ayat tentangnya:
"...Sesungguhnya
masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut
kamu salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan
diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih." (QS. At-Tawbah [9]: 108)
.
Dan
amal pertama yang beliau lakukan setelah memasuki Madinah adalah membangun
masjid beliau alaihish-shalatu was-salam, yang merupakan tempat suci
kedua (setelah Masjidil Haram), yang di dalamnya terdapat Raudhah
(taman) di antara taman-taman surga. Beliau bekerja sendiri di dalamnya seraya
bersabda:
Ya
Allah, tidak ada kehidupan melainkan kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum
Ansar dan Muhajirin.
Para
sahabat beliau pun bekerja seraya melantunkan bait syair: Sungguh jika kita
duduk santai sedangkan Nabi bekerja, Maka tindakan kita itu merupakan perbuatan
yang sesat. Tidaklah sama orang yang memakmurkan masjid, Ia bekerja di dalamnya
dengan bersungguh-sungguh dan tidak duduk diam, Dibandingkan orang yang
terlihat menyimpang dari jalan benarnya.
Dan
Usman Radiyallahu 'Anhu adalah orang pertama yang menyambut seruan
Rasulullah ﷺ
dalam memperluas masjid beliau, sehingga ia menambahkan luasnya sekira seukuran
lima tiang.
Maka
pujilah Allah Tabaraka wa Ta'ala atas taufik yang diberikan kepada kalian
berupa bantuan bagi perkumpulan Ikhwanul Muslimin dalam membangun masjid ini
dengan harta dan jiwa kalian. Semoga Allah membalas kalian dengan sebaik-baik
balasan orang-orang yang beramal, memberikan pahala terbaik bagi orang-orang
yang ikhlas, dan melipatgandakan ganjaran bagi orang-orang yang berinfak.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
"Barangsiapa
membangun masjid karena mengharapkan rida Allah, maka Allah akan membangunkan
untuknya sebuah rumah di surga." (HR. Bukhari dan Muslim serta selain
keduanya) .
Dan
dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya
masjid-masjid itu memiliki pasak-pasaknya (orang-orang yang mukim di dalamnya),
malaikat menjadi teman duduk mereka. Jika mereka tidak ada, malaikat kehilangan
mereka; jika mereka sakit, malaikat menjenguknya; dan jika mereka memiliki keperluan,
malaikat membantunya."
"Teman
duduk di masjid itu mendapatkan salah satu dari tiga perkara: saudara yang
bermanfaat, kalimat hikmah, atau rahmat yang dinanti." (HR. Al-Hakim, dan
ia mengatakan hadis ini sahih sesuai syarat keduanya [Bukhari dan Muslim]) .
Potongan-Potongan
Catatan
Di
antara potongan catatan yang aku temukan secara tidak sengaja ketika aku sedang
bersiap-siap untuk menulis tentang dakwah dan dai setelah kepindahan ke Kairo
adalah potongan-potongan catatan yang unik. Aku suka untuk menuliskannya
berikut ini, seraya memohon maaf untuk tidak menyebutkan nama-nama tokohnya
hingga waktu yang tepat:
Karakter
Jiwa
Dia
tidak berterus terang kepadaku... mengenai apa yang terjadi antara dirinya dan
si Fulan terkait nafkah (pendanaan) dalam proyek perdagangan mereka berdua...
Padahal sebelumnya aku mengira bahwa jiwanya telah bersih dari kecintaan
terhadap materi dan metode yang mengandalkan kelicikan serta berbelit-belit
ini. Namun ternyata sisa-sisa karakter tersebut masih melekat pada dirinya...
Hal
itu tidak membuatku putus asa dari memperbaikinya, namun hal itu membuatku
meyakini bahwa membersihkan jiwa dari kotoran-kotorannya adalah pekerjaan
paling berat dalam hidup ini , dan mengingatkanku pada perkataan penyair
Syauqi:
Dan
menyembuhkan manusia dari kecenderungan-kecenderungan jahatnya, Sama beratnya
dengan menghilangkan tabiat serigala dari dirinya.
Hal
ini membuatku harus lebih berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menaruh
kepercayaan kepada manusia, kecuali setelah adanya pengalaman dan pengenalan
yang sempurna.
Jejak
Kekuasaan Allah
Sungguh
aku merasa heran terhadap orang-orang yang melihat jejak-jejak kekuasaan Allah
pada segala sesuatu dan pada diri mereka sendiri, namun mereka tetap tidak
beriman kepada-Nya dan tidak memahami pesan-Nya.
Sesungguhnya
memahami pesan dari Allah Ta'ala adalah hakikat keimanan kepada-Nya. Dahulu aku
sering membaca kalimat ini di dalam buku-buku, dan aku melihatnya sebagai
sesuatu yang samar (abstrak), hingga akhirnya Allah membuka bagi hatiku salah
satu pintu dari pintu-pintu pemahaman ini.
Maka
aku pun mengetahui hakikat bahwa iman itu bukanlah akhir, melainkan ia adalah
awal dari makrifat (pengenalan) dan permulaan jalan untuk sampai kepada-Nya.
Dahulu
jiwaku merasa sangat tenang dan yakin terhadap kemampuan para murid dalam
menguasai kaidah-kaidah bahasa, namun aku ragu terhadap kemampuan mereka dalam
aspek insya (mengarang/menulis kreatif). Hal itu karena aku telah bersusah
payah bersama mereka dalam menjelaskan kaidah-kaidah tersebut serta
penerapannya, dan aku mengandalkan usaha keras ini. Namun, hasilnya justru
menunjukkan keahlian mereka pada hal yang aku khawatirkan (mengarang), dan
kelalaian mereka pada hal yang aku andalkan (kaidah). Maka aku pun teringat
firman Allah Ta'ala:
"Sungguh,
Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badr..." (QS. Ali 'Imran [3]:
123) dan "...pada hari Hunain, ketika jumlahmu yang banyak itu
membanggakan kamu..." (QS. At-Tawbah [9]: 25).
Piagam
Arab
Surat
kabar "Adh-Dhiya'" edisi tanggal 22 Al-Muharram 1350 menerbitkan
berita berikut: Telah dibentuk di Amerika Serikat sebuah perkumpulan yang
bertujuan untuk menyebarkan gagasan persatuan Arab dan menuntut kemerdekaan
mereka.
Di
antara program kerjanya adalah sumpah ini, yang diikrarkan oleh setiap orang
Arab, yaitu:
Atas
nama Arab kami hidup dan atas nama Arab kami mati. Aku bersumpah demi Tuhanku,
demi kehormatanku, dan demi tanah kuburan leluhurku, bahwa aku akan bekerja
demi persatuan Arab dan berusaha meraih kemerdekaan Arab dengan segala sarana
dan cara, tanpa memandang apa pun bentuknya selama hal itu menyampaikan kepada
tujuan yang tertinggi. Aku sama sekali tidak mengakui pembagian wilayah yang
dilakukan oleh sekutu di negeri-negeri Arab, tidak pula mengakui mandat apa pun
atau janji seperti Janji Balfour. Aku juga tidak mengakui solusi apa pun yang
tidak sejalan dengan cita-cita bangsa Arab. Sebaliknya, aku menganggap seluruh
negeri Arab sebagai satu tubuh yang tidak dapat terbagi-bagi. Aku mengakui
bahwa keberadaan unsur-unsur asing dan para imigran asing di negeri Arab adalah
hal yang tidak murni (tidak natural), zalim, bentuk perampasan terhadap
hak-hakku dan hak-hak umatku, serta perampasan terhadap kebebasanku dan
kebebasan negeriku. Dan aku berjanji akan membersihkan negeri ini dari setiap
bentuk kolonialisme, penjajahan, atau mandat asing , serta akan menghancurkan
setiap rintangan di jalan mencapai tujuan umum, dan tidak akan menjadikan
tujuan pribadi atau regional apa pun menghalangi persatuan Arab. Dan Allah
menjadi saksinya. Tertanda: Ksatria Persatuan Arab.
Mereka
juga menetapkan tanggal 17 Juni sebagai awal pemberlakuan piagam ini, yaitu
hari ketika otoritas Inggris mengeksekusi para syuhada Palestina.
Lintasan
Pikiran (Khawatir)
Hari
ini datang kepadaku... dan... dari Mahmudiyah, dan kami berbincang banyak hal
mengenai cabang-cabang perkumpulan Ikhwanul Muslimin.
Aku
ingin menulis tentangnya namun ruang penulisan tidak menampungnya, maka aku
menyerahkan urusannya kepada Allah, dan aku memohon kepada Allah agar
menjelaskan kepadaku jalan yang aku tempuh ini.
Hanya
saja, ringkasan dari lintasan pikiranku adalah bahwa dua cabang perkumpulan
Ikhwanul Muslimin di Mahmudiyah dan Syubrakhit tidak akan memberikan banyak
manfaat, karena keduanya didirikan tidak menggunakan metodeku. Dan tidak ada
yang berguna dalam membangun dakwah ini kecuali apa yang aku bangun sendiri
dengan tanganku serta dengan usaha dari para ikhwan sejati, yaitu mereka yang
memandang adanya kemitraan antara diriku dan diri mereka dalam hal pembinaan
moral (tazkiyah) dan pengajaran, dan jumlah mereka itu sedikit.
Sedangkan
untuk cabang Ismailia sendiri, akan terjadi banyak penyesuaian di dalamnya,
namun ia akan terus berjalan dengan memberikan manfaat insya Allah ...
Sesungguhnya dia... adalah seorang pemimpin yang berbakat, namun dia menghabiskan
kepemimpinan dan bakat-bakat ini untuk hal-hal yang sepele, tidak menghargai
nilai waktunya, hatinya dipenuhi oleh ilusi-ilusi yang tidak ada hakikatnya,
dan perhatiannya tercurah pada sisi yang tidak membuahkan apa pun kecuali
keletihan. Maka, bersandar kepadanya merupakan bentuk pertaruhan yang sia-sia.
Sementara
saudara kita, sang Syekh... memiliki metode-metode tersendiri yang khusus
baginya. Dia memandangku hanya sebagai saudara sejawat, sehingga dia hanya
sedikit mendengarkan pendapat-pendapatku. Dari sisi inilah, menyatukan
pemikiran menjadi suatu hal yang sulit. Maka bersandar kepadanya juga merupakan
sebuah pertaruhan.
Uruslah
dirimu sendiri wahai manusia, dan waspadalah terhadap makhluk... Tuhanmu dan
dirimu, dan cukuplah Allah bagimu serta bagi orang-orang mukmin yang
mengikutimu.
Merupakan
hal yang unik bahwa saudara yang berkunjung dari Mahmudiyah melihat tulisan ini
pada saat itu, lalu dia menulis dengan tulisan tangannya sendiri pada halaman
yang berhadapan, berupa kalimat berikut: "Semoga Allah mengampunimu, wahai
saudaraku yang mulia. Sungguh Allah mengetahui bahwa engkau telah berlebihan
dalam prasangkamu ini, dan apa yang aku harapkan adalah agar hari-hari
mendatangkan kepadamu hal yang berbeda dari apa yang engkau prasangkakan."
Aku
tidak menganggap diriku suci, dan Allah lebih mengetahui. Hanya saja, engkau
pasti akan kembali pada kesadaranmu di suatu alam yang mengetahui bahwa jiwa
yang aku bawa di antara kedua lambungku ini adalah jiwa—yang Allah ketahui
dengan ilmu-Nya yang terdahulu lagi azali—bahwa ia bergejolak penuh kecemburuan
[pembelaan terhadap agama] dan hancur berkeping-keping karena kesedihan serta
kepedihan atas apa yang menimpa Islam dan pemeluknya.
Diferensiasi
(Independensi Dakwah)
Hari
ini datang ke Ismailia... dari Al-Qashashin, dan dia menyeru kepada tarekatnya
serta memiliki pemikiran-pemikiran khusus yang bertolak belakang dengan
cita-cita Islamku.
Padahal,
aku hanya mewakafkan diriku untuk sebuah dakwah yang aku pandang sebagai
sebaik-baik jalan bagi perbaikan Islam. Orang-orang seperti mereka itu ingin
mengubah dan membentuk dakwah ini agar serupa dengan bentuk dakwah-dakwah
mereka, dan itulah hal yang tidak aku inginkan.
Sungguh
telah tiba saatnya bagiku untuk bersikap tegas dan memisahkan diri dari seluruh
klaim-klaim yang syubhat (samar) ini.
Di
dalamnya aku akan menyingkap tujuan perbaikan Islam, yang diringkas dalam
tindakan kembali kepada Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya, membersihkan akal dari
khurafat-khurafat dan ilusi-ilusi ini, serta mengembalikan manusia kepada
petunjuk Islam yang hanif (lurus).
Metodologi
(Uslub)
Tidaklah
menjadi suatu keharusan dalam dakwah ini untuk selalu menggunakan nama
perkumpulan "Ikhwanul Muslimin". Sebab, tujuan kita tidak lain adalah
memperbaiki jiwa dan membina ruhani. Maka biarlah dakwah ini diarahkan menuju
"Sekolah-Sekolah Ansar", "Institut-Institut Hira", dan
"Klub-Klub Taaruf", baru setelah itu kelompok-kelompok jemaah akan
terbentuk dengan sendirinya dan orang-orang yang mengambil keuntungan di
baliknya. Aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi perang ini dengan bekal
kesabaran, keteguhan hati, dan teladan yang baik. Namun, ketika bendera
permusuhan itu justru dibawa oleh segelintir orang yang paling ikhlas, yang
selama ini menjadi sandaran kami—yang disokong pula oleh sebagian orang yang
hidup di bawah naungan dakwah beserta lembaga-lembaganya tanpa tujuan yang
jelas dan tanpa hasil sama sekali—maka ini sungguh hal yang sangat
mengherankan, dan Allah memiliki ketetapan tersendiri pada setiap makhluk-Nya.
Seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin meringankan beban jiwaku
dari dampak fitnah-fitnah ini, Dia memberikan kesempatan kepadaku untuk
menikah. Prosesnya pun berlangsung dengan kemudahan, kelancaran, dan
kesederhanaan yang luar biasa: khitbah (lamaran) terjadi kira-kira pada awal
Ramadan, akad nikah dilaksanakan di masjid pada malam ke-27 Ramadan, dan
walimatul urus (resepsi) dilangsungkan pada tanggal 10 Zulkaidah setelahnya;
maka selesailah urusan tersebut, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta
alam.
Setelah
itu, aku merasa bahwa tugasku di Ismailia telah usai. Dakwah telah melembaga,
bangunan-bangunan fasilitas telah berdiri kokoh, masyarakat yang mulia
seluruhnya telah menjadi ikhwan (saudara), dan separuh agama yang kedua pun
telah sempurna; lalu, untuk apa lagi aku berdiam diri di sini?
Sebuah
perasaan aneh berkecamuk di dalam diriku bahwa aku akan dipindahtugaskan
setelah ini. Ketika libur musim panas tahun 1932 tiba, aku bertemu dengan guru
kami, Syekh Abdul Wahhab an-Najjar Rahimahullah. Kami berbincang cukup
lama dan pembicaraan kami mengalir hingga membahas kota Ismailia serta dakwah
di sana, disertai firasatku tentang waktu kepindahan yang sudah dekat dari kota
tersebut. Pada kesempatan itu, aku meminta beliau untuk berbicara dengan Ustaz
al-Bathrawi, pengawas bahasa Arab saat itu, mengenai keinginanku untuk pindah
ke Kairo. Ustaz an-Najjar Rahimahullah kemudian meminta agar aku menulis
surat permohonan resmi terkait hal tersebut, lalu aku pun menulisnya. Akhirnya
Allah mengabulkan keinginan ini, sehingga aku resmi dipindahkan ke Kairo pada
bulan Oktober tahun 1932 Masehi.
Lemahnya
Orang Kepercayaan dan Buruknya Orang Kuat
Pada
hari ini berbicara kepadaku ... dan ... mengenai sistem majelis idarah (dewan
pengurus): Sesungguhnya orang-orang tersebut belum memahami dakwah Ikhwanul
Muslimin, dan sedikit sekali dari mereka yang mampu memikul beban
administrasinya serta melaksanakan metodenya yang luas.
Aku
sangat berharap agar di sisiku ada tokoh-tokoh yang paham dan mampu mengelola,
sehingga aku dapat menyerahkan pekerjaan ini kepada mereka, agar aku bisa
sedikit beristirahat karena mereka dan merasa tenang terhadap kemampuan mereka,
tetapi di manakah mereka berada?
Sesungguhnya
kebanyakan orang tidak memahami majelis idarah melainkan sebatas kata
keanggotaan saja; mereka saling bersaing memperebutkannya, sehingga terjadilah
permusuhan dan kebencian di antara mereka.
Perubahan
yang dinanti ini akan diikuti oleh kegaduhan yang bagaikan fatamorgana; tampak
jelas terlihat namun akan sirna begitu saja saat didekati.
Ya
Allah, jika Engkau mengetahui adanya maksud yang baik dan ketulusan niat maka
berikanlah taufik, dan jika selain itu maka tuntunlah kami ke jalan
hamba-hamba-Mu yang ikhlas, amin.
Bagian
Kedua Dakwah di Kairo
Gang
Nafik Nomor 24 Aku berpindah ke Kairo, lalu majelis idarah Ikhwan di
Ismailia mengadakan perkumpulan dan memutuskan untuk menetapkan Kairo sebagai
Markas Besar (Pusat) bagi Ikhwanul Muslimin. Berhubung jemaah pada waktu itu
belum memiliki tempat khusus yang memadai, maka Ikhwan Kairo memutuskan untuk
menjadikan rumah tinggal yang aku tempati—yang lantai pertamanya dalam keadaan
kosong—sebagai markasnya: yaitu di Gang Nafik nomor 24 yang bercabang dari Gang
Abdullah Bey, salah satu gang di Jalan As-Surujiyyah.
Reaksi
di Ismailia Kepindahan tersebut merupakan kejutan bagi kota Ismailia,
sehingga datanglah delegasi besar dari penduduknya menemui Menteri Pendidikan
yang saat itu dijabat oleh Hilmi Pasya Isa, untuk meminta pembatalan kepindahan
tersebut. Delegasi ini juga mengunjungi sekolah Abbas dan menemui kepala
sekolahnya (Hasanain Bey Ra'fat Rahimahullah) serta berbicara kepadanya
agar tidak mempertahankan keberadaanku di Kairo. Begitu aku mengetahui hal itu,
aku segera memohon kepada mereka untuk mengurungkan niat mereka.
Aku
mengirim telegram ke Kementerian Pendidikan mengenai keinginanku untuk tetap
berada di Kairo, dan menjelaskan bahwa kepindahan ini terlaksana berdasarkan
permohonanku dan demi kemaslahatanku.
Namun,
para wartawan surat kabar mendengar janji Menteri kepada delegasi Ismailia
untuk membatalkan kepindahan tersebut. Maka koran-koran pagi terbit dengan
memuat berita ini. Kebetulan aku sedang melakukan perjalanan ke Ismailia untuk
menjemput keluargaku, sehingga penduduk menyangka berita itu benar. Akibatnya,
kerumunan massa mulai berdatangan ke rumah Ikhwan guna mengucapkan selamat atas
kepulangan kembali, sementara aku tersenyum melihat hal itu dan menjelaskan
kenyataan yang sebenarnya kepada mereka.
Kemudian
terjadi peristiwa di mana kepala sekolah Abbas memperlihatkan kepada delegasi
Ismailia sebuah surat yang datang kepadanya dengan tanda tangan dari seorang
mantan anggota yang keluar dari dakwah, yang di dalamnya terdapat cercaan dan
makian, sehingga mereka merasa tersakiti dan menyampaikan berita itu ke
penduduk kota.
Belum
lama aku meninggalkan kota, beberapa pemuda setempat yang fanatik telah
mengintainya di tengah jalan, lalu mereka memukulinya habis-habisan dengan
tongkat dan tangan hingga dia tidak berdaya untuk berjalan maupun berdiri.
Dia
pun mengajukan tuntutan dengan menuduh beberapa anggota Ikhwan, dan dia
bersikeras menuduhku juga sebagai dalang (provokator) atas pemukulannya, dengan
argumen keberadaanku di kota pada saat itu. Persidangan pun ditetapkan dan
diikuti oleh persidangan-persidangan berikutnya; kasus ini memberiku kesempatan
untuk mengunjungi Ismailia berulang kali, hingga akhirnya diputuskan vonis
bebas pada tingkat pertama maupun banding.
Permulaan
Aktivitas Ikhwan di Kairo Yaitu pada Masa Sebelum Perang Dunia Kedua - Markas
Ikhwanul Muslimin
Dalam
periode yang memotong tujuh tahun dari umur dakwah dan dai ini, Markas Besar
telah berpindah-pindah melalui banyak tempat: dari Gang Nafik 24, ke gedung di
Pasar As-Silah, ke Gang Asy-Syamasyirji nomor 5, ke Jalan An-Nashiriyyah nomor
13, ke Al-Atabah Al-Khadra di gedung Waqaf nomor 5, dan terakhir ke gedung di
Jalan Ahmad Bey Umar nomor 13 yang juga merupakan kantor redaksi surat kabar
Ikhwanul Muslimin saat ini.
Jenis-Jenis
Aktivitas Ikhwan pada Periode Ini Aktivitas dakwah pada periode ini
tersusun atas jenis-jenis berikut ini:
- Ceramah-ceramah dan
pelajaran di gedung-gedung serta masjid-masjid, dan merintis Kuliah
Selasa.
- Menerbitkan buletin Risalatul
Mursyid Al-Aam (yang terbit dua nomor saja), kemudian majalah mingguan
Ikhwanul Muslimin pertama dan kedua, dan di sela-sela itu majalah An-Nadzir
selama dua tahun pada masa awal terbitnya.
- Menerbitkan sejumlah risalah
(buku saku) dan selebaran.
- Mendirikan cabang-cabang di
Kairo, menambah cabang-cabang di daerah-daerah (provinsi), serta
menyebarkan cabang di luar negeri.
- Mengorganisasi formasi
kepanduan (pramuka) dan olahraga.
- Memusatkan dakwah di
universitas dan sekolah-sekolah, mendirikan divisi mahasiswa, serta
memanfaatkan kontribusi para ulama dan mahasiswa Al-Azhar Asy-Syarif.
- Menyelenggarakan beberapa
muktamar periodik bagi Ikhwan di Kairo dan daerah-daerah.
- Berkontribusi dalam
menghidupkan perayaan-perayaan Islam dan kenangan-kenangan agung di Kairo
maupun di daerah-daerah.
- Berkontribusi dalam membela
isu-isu Islam nasional, khususnya urusan Palestina.
- Menangani sisi perbaikan
politik dan sosial melalui penjelasan, pemaparan, pengarahan, serta
menulis memoar, artikel, dan risalah khusus mengenai hal ini.
- Berkontribusi dalam
gerakan-gerakan Islam seperti gerakan melawan misionaris (kristenisasi)
dan gerakan mendukung pendidikan agama.
- Mengkritik pemerintah yang
lalai terhadap Islam, menyerang sistem kepartaian, menyeru secara
terang-terangan kepada manhaj (sistem) Islam, serta membentuk
komite-komite untuk studi teknis dalam bidang-bidang tersebut.
Kami
akan mengulas setiap aspek ini dengan penjelasan singkat, dan semuanya hampir
saling terhubung serta terdokumentasi dengan tanggal-tanggalnya di majalah Ikhwanul
Muslimin tahun pertama dan kedua. Namun, tidak ada salahnya jika aku
mencantumkan di sini beberapa langkah yang aku temukan tertulis dalam potongan
catatan sebagai pengingat dan catatan sejarah.
Di
Jalan Kebangkitan
Pilar
utama bagi kebangkitan haruslah pendidikan (tarbiyah); umat dididik terlebih
dahulu, dipahamkan hak-haknya secara utuh, diajarkan sarana-sarana untuk meraih
hak-hak tersebut, serta dididik untuk beriman kepadanya. Dengan kata lain,
manhaj kebangkitan kita dipelajari secara teoretis, praktis, dan ruhani.
Hal
tersebut menuntut waktu yang panjang karena ia merupakan manhaj studi yang
diajarkan kepada suatu umat; maka umat wajib membekali diri dengan kesabaran,
ketabahan, dan perjuangan yang panjang. Setiap umat yang mencoba melompati
batas-batas sunatullah (hukum alam), maka bagian yang diterimanya hanyalah
kegagalan.
Oleh
karena itu, negara yang mendambakan kebangkitan harus dijadikan layaknya sebuah
sekolah; yang muridnya adalah seluruh warga negara, gurunya adalah para
pemimpin beserta para pembantunya, dan ilmu yang diajarkan adalah hak-hak serta
kewajiban umum, atau tujuan dan sarana. Atas dasar itu pula, dua hal penting
harus diatur, yaitu: manhaj (kurikulum) dan kepemimpinan.
Mengenai
manhaj, maka materi-materinya sedapat mungkin harus sedikit, murni aplikatif,
dan dapat dirasakan hasilnya sekecil apa pun. Sedangkan mengenai kepemimpinan,
ia harus dipilih dan dikritisi, sehingga apabila telah mencapai tingkat
kepercayaan, ia ditaati dan didukung. Pemimpin itu haruslah seorang pemimpin
yang dididik untuk menjadi seorang pemimpin, bukan pemimpin yang lahir karena
darurat dan dipimpin oleh keadaan belaka, atau sekadar menjadi pemimpin karena
ketiadaan pemimpin yang lain.
Di
atas kaidah-kaidah inilah Mustafa Kamil dan Farid membangun kebangkitan Mesir,
dan sebelum mereka berdua adalah Jamaluddin serta Syekh Muhammad Abduh.
Seandainya kebangkitan itu berjalan di atas jalurnya ini dan tidak menyimpang,
niscaya ia akan sampai pada tujuannya, atau setidaknya akan maju dan tidak
mundur, beruntung dan tidak merugi.
Namun,
para pemimpin yang dilahirkan oleh keadaan ingin menyegerakan hasil sebelum
sarana-sarananya siap; mereka teperdaya oleh kenaifan mereka dalam memimpin
massa dan tipu daya politik, sehingga mereka mengira fatamorgana sebagai air
lalu mengejarnya. Akibatnya, ketika mereka mendatanginya, mereka tidak
mendapati sesuatu apa pun setelah menghabiskan tenaga, mengorbankan waktu, dan
menghabiskan bekal. Mereka pun terpaksa kembali ke tempat semula mereka
memulai, mundur ke belakang, merugi, dan tidak mendapatkan keuntungan.
Jika
umat memeriksa hakikat-hakikat yang jernih ini, mencukupkan diri dengan
pengalaman masa lalu, kembali kepada kebangkitan yang benar, memperhatikan
hal-hal yang nyata, meremehkan ilusi, serta mempersiapkan kesabaran yang
panjang untuk perjuangan dan pergulatan, niscaya ia akan beruntung insya Allah.
Namun
jika ia tetap bergantung pada angan-angan kosong, tenggelam dalam lautan
syahwat dan hawa nafsu, serta berserah diri pada kemalasan dan kelalaian, maka
ia akan kehilangan sisa-sisa kekuatan, pembelaan, atau harta yang dimilikinya
secara berturut-turut. Perumpamaannya adalah seperti ucapan orang yang berkata:
Aku menjual rumahku beserta keledaiku bersamaan, Lalu aku duduk dalam
keadaan tidak ada alas di bawahku dan tidak ada atap di atasku.
Maka
jalan manakah yang akan ditempuh oleh umat kita yang tercinta? Kita berharap ia
menempuh jalan pencapaian tujuan; dan untuk memahamkan manusia akan hakikat
inilah, jemaah Ikhwanul Muslimin berdiri.
Di
Jalan Kebangkitan
Tidak
ada kebangkitan bagi suatu umat tanpa adanya akhlak; jika umat mampu meresapi
ruh jihad, pengorbanan, serta mengekang syahwat dan nafsu, niscaya ia akan
berhasil. Artinya, jika umat
mampu
membebaskan diri dari belenggu tuntutan nafsu dan kesempurnaan materi gaya
hidup, niscaya ia akan mampu membebaskan diri dari segala hal. Maka jadikanlah
hal ini sebagai batu pertama bagi perbaikan akhlak umat.
Sungguh,
adat kebiasaan dan manifestasi kehidupan non-Islam telah melanda kita,
sampai-sampai seorang reformis berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan
kekuatan tekad, kewaspadaan, dan pencarian terhadap manifestasi Islam di tengah
aliran deras manifestasi-manifestasi asing ini.
Namun,
waspadalah jangan sampai dia bersikap terlalu keras kepada orang awam, sehingga
dia memberatkan dirinya sendiri, kemudian memberatkan para pengikutnya yang
telah memahami tujuannya, lalu akhirnya dia meninggalkan manusia.
Hendaklah
mereka memengaruhi orang-orang tersebut dengan jalan pembauran (interaksi
sosial), bukan dengan cara perintah yang kaku dan kekerasan.
Sesungguhnya
gerakan kebangkitan kita masih samar; belum memiliki sarana, tujuan, manhaj,
maupun program yang jelas.
Tanyakanlah
kepada pemimpin politik mana pun: ketua partai Wafd, ketua partai Ahrar, ketua
partai Sya'bi, atau ketua partai Ittihad, mengenai manhaj yang telah
disiapkannya untuk membangkitkan umat dan membimbingnya menuju pencapaian
tujuan-tujuannya!
Sama
sekali tidak ada apa-apa!
Segala
yang ada hanyalah pertikaian demi kekuasaan, saling menjatuhkan dengan
kata-kata, intrik, mendekatkan diri kepada musuh, serta menunggu apa yang
dilemparkan kepada mereka dari sisa-sisa meja makannya atas pengorbanan Mesir
dan rakyat Mesir.
Katakanlah
hal yang persis sama terhadap para pemimpin reformasi agama. Tanyakan kepada
perkumpulan-perkumpulan Islam tentang program kerja mereka! Tidak ada apa-apa
juga.
Tampaknya
kebangkitan pada masa fajar mulanya dahulu adalah lebih baik dan berada di
jalan yang lebih lurus.
Dahulu
Mustafa Kamil dan tokoh-tokohnya ingin mempersiapkan umat untuk perjuangan
panjang yang dengannya jiwa dan akhlak mereka menjadi merdeka sehingga tidak
mudah goyah, serta mengetahui tempat-tempat tipu daya agar tidak jatuh ke dalam
jurang kehancuran.
Mustafa
menyerukan pembentukan Kementerian Pendidikan Nasional, lalu Jawisy meletakkan
proyek sekolah-sekolah pembinaan moral malam hari bagi para pekerja dan lapisan
rakyat, sedangkan Abdul Rahman Al-Rafi'i mengkhususkan diri menulis karya
tentang hak-hak umat, yang di antaranya adalah bukunya yang pernah aku lihat
namun aku tidak ingat judulnya. Buku-buku itu merupakan mata rantai yang
teratur dan saling bersambung yang ujung-ujungnya bertemu pada satu medan
tujuan. Sedangkan sekarang, telah bermunculan para pemimpin baru yang naif,
yang tidak matang oleh pengalaman para pemimpin terdahulu, sehingga mereka rida
kembali hanya dengan membawa sekadar kepulangan tanpa hasil nyata.
Dahulu
Jamaluddin, Muhammad Abduh, dan Al-Kawakibi membimbing manusia secara keagamaan
dan moral menuju arah yang membuahkan hasil, yaitu meluruskan akidah dan
memperbaiki pemikiran dalam ranah perkumpulan-perkumpulan Islam kita. Sedangkan
sekarang, mutlak diperlukan adanya pembagian yang serasi bagi cabang-cabang
kebangkitan ini.
Buku
Saku (Risalah) dan Buletin
Buku
saku yang pertama kali terbit tentunya adalah Anggaran Dasar Ikhwanul Muslimin
dan Anggaran Rumah Tangga. Kemudian terbit buletin Risalatul Mursyid
yang hanya muncul dua nomor saja; nomor pertama terbit tertanggal kira-kira 5
Ramadan tahun 1349 H yang bertepatan dengan 2 Januari tahun 1931 M, dan nomor
kedua tertanggal 20 Sya'ban tahun 1349 H [19 Desember tahun 1932 M]. Di bagian
awalnya termuat pengarahan berikut ini, yang bersumber dari prinsip-prinsip
Ikhwanul Muslimin:
- Kelurusan akidah dan
bersungguh-sungguh dalam menaati Allah Tabaraka wa Ta'ala sesuai dengan
Al-Kitab dan As-Sunnah.
- Cinta karena Allah dan
berpegang teguh pada persatuan Islam.
- Berakhlak dengan akhlak Islam
yang lurus (hanif).
- Mendidik jiwa (tarbiyatun
nafs) dan meningkatkannya menuju makrifat kepada Allah Ta'ala serta
mengutamakan akhirat di atas dunia.
- Teguh di atas prinsip dan
setia pada janji, disertai keyakinan bahwa prinsip yang paling suci adalah
"Agama".
- Bersungguh-sungguh dalam
menyebarkan dakwah Islam di antara lapisan umat demi mengharapkan rida
Allah.
- Mencintai kebenaran dan
kebaikan lebih daripada apa pun yang ada di alam wujud ini.
Setelah
itu, secara berturut-turut terbit berbagai risalah dan buletin dalam bidang
ini; di antaranya ada yang berfungsi menunjukkan aktivitas sosial Ikhwan, ada
yang menjelaskan tujuan-tujuan dakwah mereka, dan ada yang berupa pengarahan
bagi pemerintah agar mengambil ajaran-ajaran Islam. Risalah-risalah ini masih
terus berada di tangan Ikhwan.... Nahuwun Nur (Menuju Cahaya), Da'watuna
(Dakwah Kami), Ila Ayyi Sya'in Nad'un Nas (Kepada Apakah Kami Menyeru
Manusia), Al-Ma'tsurat, Ilat Syabab (Kepada Pemuda), Muhadharatut
Tsulatsa' (Ceramah Hari Selasa), dan Risalatul Jihad yang cetakannya
telah habis.
Majalah
Mingguan Ikhwan
Ikhwan
memandang bahwa risalah-risalah (buku saku) milik Mursyid Am tidaklah cukup
untuk menyebarluaskan dakwah serta memuat berita-beritanya dengan cara yang
seharusnya tersampaikan kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, mereka
memutuskan untuk menerbitkan sebuah majalah mingguan yang dinamakan Jaridatui
Ikhwanil Muslimin, dengan harapan kelak ia akan menjadi surat kabar harian.
Ketika mencoba melaksanakan keputusan ini, kas Ikhwan di Kairo tidak memiliki
saldo sama sekali, tetapi keputusan tersebut harus tetap dilaksanakan. Lantas,
apa yang mereka lakukan?
Saat
itu ada saudara kita, Syekh Radwan Muhammad Radwan, yang di dalam kantongnya
terdapat uang sebesar dua pound penuh. Maka, kami memutuskan untuk meminjam
uang tersebut agar menjadi modal bagi majalah ini, dan begitulah yang terjadi.
Aku membawa uang dua pound tersebut lalu pergi dengan penuh kesederhanaan dan
keimanan menuju Maktabah Salafiyyah yang terletak di Bab Al-Khalq di belakang
Mahkamah Isti'naf.
Di
sana aku membuat kesepakatan dengan Sayid Muhibbuddin al-Khatib—semoga Allah
membalasnya dengan kebaikan atas segala hal—agar beliau bersedia menjadi
direktur majalah tersebut, dengan ketentuan dicetak di percetakan Salafiyyah,
dan uang dua pound tersebut dijadikan sebagai uang muka, sedangkan sisanya
berserah diri kepada Allah. Tokoh pejuang yang mukmin dan dicintai itu pun
tersenyum, lalu menyetujui hal tersebut dengan penuh kesederhanaan dan
keimanan. Maka izin penerbitan pun keluar dan pencetakan pun dimulai. Akhirnya,
Jaridatul Ikhwanil Muslimin mingguan nomor perdana terbit pada hari
Kamis, 28 Safar 1352 Hijriah, yang bertepatan dengan akhir bulan Mei tahun 1933
Masehi, di mana penanggalan di bagian awal nomor-nomornya saat itu hanya
terbatas pada kalender Hijriah saja.
Anggota
Ikhwan yang berada di Gang Nafik bersiap-siap untuk melakukan pengemasan,
pendistribusian, dan publikasi. Mereka membawanya sendiri pada hari terbitnya
dan keesokan paginya untuk dibagikan secara langsung dengan tangan mereka
kepada masjid-masjid dan masyarakat umum.
Dengan
modal awal berupa utang sebesar dua pound ini, berdirilah sebuah majalah yang
mampu hidup selama empat tahun penuh. Majalah tersebut dipimpin redaksinya oleh
Ustaz Syekh Tantawi Jauhari Rahimahullah, dan direkturnya adalah Sayid
Muhibbuddin al-Khatib. Sementara itu, administrasi majalah ini dijalankan oleh
para tokoh dakwah, yaitu Ustaz Muhammad As'ad al-Hakim selaku sekretaris Ikhwan
saat itu, Ustaz Abdul Rahman as-Sa'ati selaku wakilnya, Ustaz Hilmi Nuruddin,
serta tokoh-tokoh lainnya.
Namun,
suatu ketika ada salah seorang yang pandai bersilat lidah dan melakukan tipu
daya berhasil menyusup ke bagian redaksi—kami menahan diri untuk tidak
menyebutkan namanya saat ini—lalu ia hendak menjadikan majalah mingguan Ikhwan
yang suci ini sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pribadinya. Akan
tetapi, dakwah ini senantiasa membersihkan kotorannya sebagaimana tungku api
membersihkan karat-karat pada besi; dakwah pun mendepak dan mengusirnya dengan
pengusiran yang tidak ada jalan kembali setelahnya. Hanya saja, akibat
pengusiran tersebut, jemaah kehilangan izin penerbitan majalah ini bersamanya,
sehingga ia menamainya dengan nama lain. Ia memilih sebuah nama yang justru
dikehendaki Allah menjadi antonim dari kenyataannya, yaitu ia menamainya "Al-Khulud"
(Keabadian), tetapi Allah menetapkan kepunahan atas majalah tersebut. Majalah
itu tidak sempat terbit melainkan hanya satu atau dua nomor saja lalu urusannya
pun selesai. Demikianlah kebatilan, ia tidak akan memiliki keabadian, dan
kezaliman itu tempat kesudahannya sangatlah buruk.
Majalah
An-Nadzir
Setelah
peristiwa tersebut, Ikhwan mengurus izin baru untuk majalah An-Nadzir
sebagai majalah politik mingguan. Nomor perdananya terbit pada hari Senin, 29
Rabiul Awal 1357 Hijriah, yang bertepatan dengan bulan Mei tahun 1938 Masehi.
Melalui majalah ini, tampak jelas arah pergerakan nasional Ikhwan serta
permulaan keikutsertaan mereka dalam perjuangan politik di dalam maupun di luar
negeri, mengingat dakwah saat itu telah genap berusia sepuluh tahun. Ada
baiknya aku kutip di sini tulisan tajuk rencana dari nomor perdana tersebut,
karena ia dapat menggambarkan arah pergerakan Ikhwan saat itu secara utuh:
Langkah
Kita Teguh
Bismillahirrahmanirrahim
Ditulis oleh yang terhormat guru kami, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin. Maju terus
ke depan, dakwah khusus setelah dakwah umum. Wahai Ikhwan, bersiaplah!
Sejak
sepuluh tahun yang lalu, dakwah Ikhwanul Muslimin dimulai dengan tulus ikhlas
karena mengharap rida Allah semata, dengan mengikuti jejak Rasul yang agung,
pemimpin para tokoh, penunjuk jalan terbaik, dan makhluk yang paling mulia di
sisi Allah. Dakwah ini menjadikan Al-Qur'an sebagai manhajnya yang senantiasa
dibaca, ditadaburi, ditelaah, diperiksa, diserukan, diamalkan, dipatuhi
hukumnya, serta diarahkan pandangan orang-orang yang lalai kepadanya, baik dari
kalangan kaum muslimin maupun selain muslim.
Demikianlah
dakwah ini bermula dan akan terus konsisten sebagai dakwah Islamiah,
Muhammadiatun, Qur'aniatun, yang tidak mengenal corak selain Islam, tidak
bercelup dengan celupan warna selain celupan (shibghah) Allah Yang Mahaperkasa
lagi Mahabijaksana, tidak bersandar pada kepemimpinan selain kepemimpinan
Rasulullah ﷺ,
dan tidak mengenal manhaj selain Kitabullah Ta'ala yang tidak datang kebatilan
kepadanya, baik dari depan maupun dari belakangnya.
Islam
adalah ibadah dan kepemimpinan, agama dan negara, spiritualitas dan amal, salat
dan jihad, ketaatan dan hukum, serta musyaf [kitab hukum] dan pedang. Antara
satu dan lainnya tidak dapat dipisahkan. "Sesungguhnya Allah mencegah
dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan Al-Qur'an."
Pada
hari ketika dakwah yang memperbarui ini tumbuh, Mesir sama sekali tidak
memiliki otoritas atas urusannya sendiri, baik sedikit maupun banyak. Urusannya
dikuasai oleh para perampas dan ditindas oleh para penjajah, sementara
putra-putra bangsanya berjuang demi merebut kembali kebebasannya dan menuntut
kemerdekaannya. Suasana pun tidak sepi dari pertikaian kepartaian dan gesekan
politik yang disulut oleh kepentingan-kepentingan pribadi. Pada masa tersebut,
Ikhwanul Muslimin tidak ingin menjerumuskan diri mereka ke dalam medan-medan
konflik ini, yang hanya akan menambah perselisihan di antara orang-orang yang
berselisih, memperkokoh kedudukan para penjajah, serta mengotori dakwah mereka
yang masih berada dalam buaian dengan corak warna yang bukan corak aslinya,
atau menampakkannya kepada manusia dalam rupa yang bukan rupa sejatinya.
Maka,
biarpun pemerintahan silih berganti dan kabinet-kabinet berubah, Ikhwan tetap
berjuang bersama para pejuang dan beramal bersama para pekerja. Mereka
memfokuskan diri pada medan yang produktif dan membuahkan hasil, yaitu medan
mendidik umat (tarbiyatul ummah), menyadarkan rakyat, mengubah uruf (kebiasaan
umum), menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs), membersihkan ruh, serta
menyebarluaskan prinsip-prinsip kebenaran, jihad, amal, dan keutamaan di antara
manusia.
Aku
meyakini bahwa mereka telah berhasil dalam hal tersebut hingga mencapai tahapan
yang mereka syukuri kepada Allah, seraya memohon tambahan dari-Nya. Kini,
Ikhwanul Muslimin telah memiliki rumah (kantor cabang) di setiap tempat,
dakwahnya berada di setiap lisan, dan memiliki lebih dari tiga ratus cabang
yang bekerja demi memajukan pemikiran ini, memimpin menuju kebaikan, dan
menunjukkan jalan yang lurus.
Begitu
pula di Mesir, kini telah terbentuk kesadaran Islam yang kuat dan mengalir
deras, yang menjadi tempat bersandar bagi orang yang kuat
dan
menjadi tempat berlindung yang membanggakan bagi orang yang lemah, serta semua
orang menaruh harapan pada buah dan hasilnya. Segala puji bagi Allah yang telah
menunjuki kami kepada hal ini, dan kami tidak akan mendapat petunjuk seandainya
Allah tidak menunjuki kami. Terima kasih kami ucapkan kepada rakyat yang cerdas
ini atas kesiapan mereka yang baik dalam menerima kebenaran dan kesegeraan
mereka yang indah menuju jalan kebaikan.
Ini
adalah salah satu fase dari fase-fase pergerakan Ikhwan yang telah kita lalui
dengan selamat sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan untuknya, serta
selaras dengan rancangan yang telah digariskan oleh taufik dari Allah.
Sekarang,
wahai Ikhwan, sesungguhnya telah tiba waktu untuk beramal dan telah datang
saatnya untuk bersungguh-sungguh. Tidak ada lagi ruang untuk bermalas-malasan,
sebab rencana-rencana di luar sana mulai bermunculan dan manhaj-manhaj mulai
diterapkan, namun semuanya tidak ada yang menyampaikan kepada tujuan dan tidak
membuahkan hasil, sementara para pemimpin berada dalam kebingungan dan para
tokoh terombang-ambing serta ragu-ragu.
Apakah
langkah kedua kalian? Aku katakan kepada kalian, maka dengarkanlah:
Kita
akan berpindah dari kebaikan dakwah umum menuju kebaikan dakwah khusus; dan
dari dakwah yang hanya berupa ucapan semata menuju dakwah ucapan yang disertai
dengan perjuangan (nidal) serta amal perbuatan. Kita akan mengarahkan dakwah
kita kepada para penanggung jawab dari kalangan pemimpin negeri,
tokoh-tokohnya, menteri-menterinya, penguasanya, para tetuanya, anggota dewan
perwakilannya, serta partai-partainya. Kita akan menyeru mereka kepada manhaj
kita dan meletakkan program kerja kita di hadapan mereka. Kita akan menuntut
mereka agar membawa negeri Muslim ini—bahkan pemimpin dari negeri-negeri Islam
ini—berjalan di atas jalan Islam dengan keberanian yang tanpa keraguan, serta
dalam kejelasan yang tidak ada kesamaran di dalamnya, tanpa ada sikap basa-basi
atau berbelit-belit, karena waktu sudah tidak lagi menyisakan ruang untuk sikap
berbelit-belit. Jika mereka menerima seruan ini dan menempuh jalan menuju
tujuan tersebut, maka kita akan mendukung mereka. Namun, jika mereka memilih
untuk basa-basi, mengelak, serta berlindung di balik alasan-alasan yang lemah
dan argumen-argumen yang tertolak, maka kita nyatakan perang terhadap setiap
pemimpin, ketua partai, atau lembaga
yang
tidak bekerja untuk menolong Islam dan tidak berjalan di atas jalan untuk
mengembalikan hukum Islam serta kejayaan Islam. Kita akan mengumumkannya
sebagai permusuhan yang tidak ada kedamaian di dalamnya dan tidak ada
kelonggaran bersamanya, sampai Allah memberi keputusan antara kita dan kaum
kita dengan hak, dan Dia adalah sebaik-baik Pemberi keputusan.
Sampai
saat ini, wahai Ikhwan, kalian belum pernah memusuhi suatu partai atau lembaga
mana pun, sebagaimana kalian juga belum pernah bergabung dengan mereka.
Orang-orang telah banyak menggunjingkan kalian; di antara mereka ada yang
mengatakan bahwa kalian adalah pengikut partai Wafd pendukung Nahas, ada yang
mengatakan kalian adalah pengikut partai Sa'di pendukung Maher, ada yang
mengatakan kalian adalah anggota partai Ahrar Dusturi, dan ada pula yang
mengatakan kalian
berhubungan
dengan Partai Watani. Ada yang mengatakan kalian bernasab kepada gerakan Mishrul
Fatah (Mesir Muda), dan ada yang mengatakan kalian berafiliasi kepada
partai-partai lainnya di luar itu. Allah mengetahui, demikian pula orang-orang
yang mengenal kalian, bahwa kalian berlepas diri dari semua itu. Kalian tidak
mengikuti pemimpin selain Rasul-Nya, tidak meridai manhaj selain Kitab-Nya, dan
tidak mengambil tujuan selain Islam. Oleh karena itu, kesampingkanlah perkataan
manusia itu dan bersungguh-sunggulah dalam beramal, sebab waktu yang akan
menjamin tersingkapnya hakikat kebenaran, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan
iman kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
manusia.
Sikap
kalian yang demikian itu adalah sikap pasif di masa lalu. Adapun hari ini, dan
dalam langkah baru ini, sikap tersebut tidak akan lagi sama. Kalian akan
memusuhi mereka semua, baik yang berada di dalam pemerintahan maupun di
luarnya, dengan permusuhan yang sengit dan keras, apabila mereka tidak
menyambut seruan kalian dan tidak menjadikan ajaran Islam sebagai manhaj yang
mereka lalui dan mereka perjuangkan. Sebaliknya, mereka semua akan menjadi
bagian yang bersatu bersama kalian dalam ikatan yang kuat dan barisan yang
kokoh serta saling menopang, apabila mereka menyambut penyeru Allah dan beramal
bersamanya.
Ketika
itu, mereka akan bersatu dan tidak bercerai-berai, mereka akan saling berbicara
dan tidak saling mencela. Ini adalah sikap aktif yang jelas, yang tidak
mengenal keraguan, dan tidak berada di posisi tengah antara cinta dan benci;
pilihannya hanyalah loyalitas (wala') atau permusuhan (ada'). Dalam hal ini,
kita tidaklah menyelisihi rencana kita, tidak menyimpang dari jalan kita, dan
tidak pula mengubah garis pergerakan kita dengan ikut campur dalam urusan
politik sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak mengetahui. Akan
tetapi, dengan langkah ini kita sedang berpindah menuju tahapan kedua dalam
jalan Islam kita, rencana Muhammadiyah kita, dan manhaj Qur'ani kita. Bukanlah
kesalahan kita jika politik merupakan bagian dari agama, dan jika Islam itu
meliputi pihak penguasa maupun rakyat yang dikuasai.
Sebab,
di dalam ajaran-ajarannya tidak ada prinsip "Berikan apa yang menjadi
milik Kaisar kepada Kaisar, dan apa yang menjadi milik Allah kepada
Allah." Akan tetapi, di dalam ajaran-ajarannya menegaskan bahwa
"Kaisar dan apa yang dimiliki Kaisar adalah milik Allah Yang Maha Esa lagi
Maha Menundukkan."
Wahai
Ikhwan, aku umumkan langkah ini kepada kalian di atas halaman-halaman majalah
kalian ini pada nomor perdananya, dan aku menyeru kalian kepada jihad amali
(perjuangan nyata) setelah adanya dakwah qauliyah (seruan lisan). Jihad itu
memerlukan tebusan, dan di dalamnya terdapat pengorbanan-pengorbanan. Di antara
hasil dari jihad kalian di jalan Allah dan Islam ini adalah bahwa para pegawai
di antara kalian akan menghadapi penindasan, bahkan lebih dari sekadar
penindasan.
Orang-orang
yang merdeka di antara kalian akan menghadapi rintangan, bahkan lebih dari
sekadar rintangan. Orang-orang yang terbiasa hidup mewah di antara kalian akan
digiring ke dalam penjara, bahkan ke tempat yang lebih berat daripada penjara.
Dan sesungguhnya kalian benar-benar akan diuji pada harta dan diri kalian.
Maka, barangsiapa yang siap bersama kita dalam langkah ini, hendaklah ia
bersiap-siap dan membekali dirinya. Namun, barangsiapa yang terkendala oleh
kondisi-kondisinya atau merasa berat menanggung beban-beban
jihad
ini, baik ia merupakan sebuah kantor cabang dari cabang-cabang Ikhwan maupun
seorang individu dari anggota jemaah, maka hendaklah ia mengambil jarak sedikit
dari barisan. Biarkanlah pasukan Allah ini berjalan, lalu silakan ia menemui
kita setelah itu di medan kemenangan insya Allah. Aku tidak mengatakan kepada
kalian melainkan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrahim sebelumnya: "Maka
barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan
barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang."
Sesungguhnya
kita memiliki harapan yang nyata pada Yang Mulia Raja Muslim—semoga Allah
menguatkannya—dan pada rakyat Mesir yang telah ditempa oleh berbagai peristiwa
serta disadarkan oleh berbagai pengalaman, yang didukung pula oleh
bangsa-bangsa Islam yang dipersaudarakan oleh akidah Islam dengan pandangan
yang jujur, serta dukungan Allah dan pertolongan-Nya sebelum dan sesudah semua
itu; maka maju terus ke depan selalu. — Hasan al-Banna
Majalah
An-Nadzir terus terbit selama dua tahun penuh. Di dalamnya, majalah ini
menjelaskan dakwah Ikhwan, menyebarluaskan memoar-memoar mereka kepada para
penguasa dari berbagai kabinet pemerintahan yang berbeda-beda, serta menyerang
kerusakan sosial ini dengan kuat dan jelas. Namun, dengan berpisahnya pemilik
majalah tersebut, yaitu Ustaz Mahmud Abu Zaid, dari Ikhwan setelah itu, maka
majalah tersebut beralih menyuarakan nama "Pemuda Junjungan Kita Muhammad ﷺ" sampai
sekarang. Setelah itu, Ikhwan mengurus izin penerbitan untuk majalah Ikhwanul
Muslimin pada periode keduanya, dan kami akan membicarakannya pada waktunya
insya Allah.
Kembali
ke Pembahasan Awal
Merupakan
suatu keberuntungan bahwa majalah mingguan Ikhwan pada periode pertamanya dari
tahun 1933 Masehi sampai tahun 1936 Masehi, atau dari tahun 1350 Hijriah sampai
tahun 1354 Hijriah, kemudian majalah An-Nadzir setelah itu, dianggap
sebagai rekam jejak bagi peristiwa-peristiwa pada masa ini dari kehidupan
dakwah dan dai. Kita akan bersandar kepada keduanya dalam meringkas
peristiwa-peristiwa ini secara ringkas, di samping menggunakan beberapa memoar
pribadi yang tersebar di sana-sini.
Barangsiapa
yang menginginkan pemaparan yang panjang lebar, hendaklah ia merujuk kepada
kumpulan majalah tersebut, sebab di dalamnya terdapat apa yang memuaskan dan
menghilangkan dahaga insya Allah mengenai dakwah. Adapun mengenai dai sendiri,
tidak ada hal baru dalam kehidupan pribadinya, karena ia menghabiskan seluruh
periode ini sebagai seorang guru di Sekolah Dasar Negeri Laki-Laki Abbas di
Sabtiyyah.
Cabang-Cabang
Ikhwanul Muslimin pada Masa Itu
Perkumpulan
Ikhwanul Muslimin memiliki lima belas cabang di wilayah Mesir, yaitu:
- Kairo: Alamat pusatnya
berada di Gang Nafik nomor 24 di jalan simpang Abdullah Bey di
As-Surujiyyah, Kairo. Wakilnya adalah Ustaz Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati,
seorang pegawai di Jawatan Kereta Api Mesir.
- Ismailia: Pusatnya di
Jalan Jumar, dan wakilnya adalah Ustaz Ali Ahmad al-Jidawi.
- Port Said: Pusatnya di
Jalan Taufik di depan Rumah Sakit Mata, dan wakilnya adalah Muhammad
Efendi Mustafa Thirah, agen dari Perusahaan Ar-Ribath.
- Al-Balah: Pusatnya di
kawasan tambang gips Al-Balah, dan wakilnya adalah Ustaz Syekh Muhammad
Farghali, imam masjid tambang gips tersebut.
- Syubrakhit: Pusatnya
di kota Syubrakhit, dan wakilnya adalah Ustaz Hamid Askariyah, seorang
mubalig di pusat kota tersebut. Cabang ini membawahi ranting Al-Asmaniyyah
Dan ranting Minsyah Jadid...
- Mahmudiyah (Al-Buhairah):
Pusatnya di kota Mahmudiyah, dan wakilnya adalah Ustaz Ahmad Efendi
as-Sukkari.
- Al-Manzilah
(Ad-Dakahliyyah): Pusatnya di kota Al-Manzilah, dan wakilnya adalah
Ustaz Syekh Mustafa Muhammad at-Thair dari kalangan ulama spesialis.
Cabang ini membawahi ranting Mit Khudair.
- Al-Jamaliyyah
(Ad-Dakahliyyah): Pusatnya di Al-Jamaliyyah, dan wakilnya adalah
saudara pejuang Muhammad Efendi Abdul Lathif.
- Mit Marja (Ad-Dakahliyyah):
Pusatnya di Mit Marja yang menginduk ke Kafrul Jadid, dan wakilnya adalah
Syekh Ahmad Muhammad al-Madani.
- Syiblanjah
(Al-Qalyubiyyah): Wakilnya adalah Ustaz Syekh Abdul Fatah Abdul Salam
Fayid.
- Tanta: Di sana
terdapat cabang Ikhwan yang sedang berkembang namun belum menyelesaikan
pembentukan resminya. Cabang ini dikelola jalannya oleh Ustaz Muhammad
Efendi al-Ja'ar, seorang pengajar di Ma'had Ahmadi, dengan dibantu oleh
seorang pemuda yang progresif, Muhammad Efendi Fauzi Khalil.
- Suez: Memiliki dua
cabang; salah satunya di dalam kota yang dipimpin oleh Ustaz Syekh Abdul
Razzaq al-Buhairi, kepala panitera Mahkamah Syar'iyyah. Yang kedua berada
di lingkungan Al-Arba'in yang dipimpin oleh Ustaz Syekh Afifi asy-Syafi'i
Atwah, seorang pencatat nikah (ma'dzun) di wilayah tersebut.
- Dumyat: Cabang muda
yang sedang digerakkan untuk melengkapi pembentukannya oleh seorang pemuda
Muslim, Mustafa Efendi Hasan al-Muwafi.
- Abu Hammad
(Asy-Syarqiyyah): Cabang yang juga sedang digerakkan untuk melengkapi
pembentukannya oleh saudara Muslim, Haj Muhammad Ismail al-Asluji.
- Cabang Djibouti:
Merupakan cabang luar negeri bagi Perkumpulan Ikhwanul Muslimin. Hal ini
bermula ketika sebagian pemuda Djibouti yang memiliki gairah keagamaan
berkeinginan untuk membentuk cabang perkumpulan di sana. Maka Maktab
Irsyad (Kantor Panduan Pusat) mendelegasikan saudara kita yang santun,
Abdul Lathif Efendi Husein Ali Nur al-Yamani, untuk menjadi penghubung
antara mereka dan pihak Maktab.
Pertemuan
Majelis Syura Am Yang Merupakan Muktamar Pertama bagi Ikhwan
Pendahuluan
Mursyid
Am yang mulia mengundang para wakil dari cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di
wilayah Mesir untuk menghadiri perkumpulan di kota Ismailia pada hari Kamis
yang lalu, bertepatan dengan tanggal 22 Safar tahun 1352 Hijriah, guna membahas
urusan-urusan perkumpulan. Mereka pun menyambut undangan tersebut dengan
bersegera. Belum lagi jam pertemuan tiba, mereka telah berada di gedung
perkumpulan di Ismailia dari berbagai daerah, meskipun di tengah kondisi krisis
yang memuncak dan kesibukan masing-masing orang dengan urusannya. Pertemuan
tersebut berlangsung sejak setelah salat Isya sampai waktu salat Fajar. Sidang
kemudian ditutup dan para wakil menunaikan salat Subuh di Masjid Ikhwanul
Muslimin. Pada saat salat Jumat, setiap wakil dari mereka menyampaikan khotbah
Jumat dan memberikan nasihat kepada jamaah setelahnya di masjid-masjid yang ada
di Ismailia. Sambutan serta penghormatan dari penduduk kota dan para anggota
perkumpulan kepada mereka sangatlah luar biasa besar.
Setelah
salat Asar, pengurus perkumpulan di Ismailia mengadakan acara penghormatan
untuk mereka di halaman Sekolah Ummahatul Mu'minin untuk anak perempuan
yang berada di bawah naungan perkumpulan. Di sana, para orator dari kalangan
anggota perkumpulan dan para wakil bergantian menyampaikan pidato. Dr. Abdul
Hamid Isa, pengawas kesehatan Ismailia, menyampaikan kata sambutan dan terima kasih
yang bernilai tinggi kepada penduduk kota, yang disambut dengan rasa kagum dan
kegembiraan yang mendalam.
Anggaran
Dasar Pasukan Ikhwan
Sebagai
catatan sejarah, kami cantumkan di sini anggaran dasar pertama bagi Al-Akhawatul
Muslimat (Muslimah Ikhwan), yang mana aturan ini menjadi pedoman kerja di
Ismailia dan di Kairo setelah itu.
Pada
awal bulan Muharram tahun 1352 H, bertepatan dengan 26 April tahun 1933 M, di
Ismailia dibentuk sebuah pasukan sastra Islam yang dinamakan "Pasukan
Akhawat Muslimat". Tujuan dari pembentukan pasukan ini adalah:
Berpegang
teguh pada adab-adab Islam, menyeru kepada keutamaan, serta menjelaskan
dampak-dampak buruk dari khurafat yang tersebar di kalangan wanita muslimah.
Sarana-Sarana
Pasukan:
Pemberian
pelajaran-pelajaran dan ceramah-ceramah di perkumpulan-perkumpulan khusus
wanita, nasihat secara personal (pendekatan pribadi), serta melalui tulisan dan
publikasi.
Sistem
Pasukan:
- Dianggap sebagai anggota
pasukan bagi setiap wanita muslimah yang ingin beramal di atas
prinsip-prinsipnya dan mengucapkan sumpahnya, yaitu: "Atas janji
Allah dan ikatan-Nya, aku akan berpegang teguh pada adab-adab Islam, dan
menyeru kepada keutamaan semampuku."
- Ketua pasukan adalah Mursyid
Am bagi perkumpulan-perkumpulan Ikhwanul Muslimin, dan ia berkomunikasi
dengan para anggotanya melalui seorang wakil wanita dari sisinya yang
menjadi penghubung antara para anggota dan dirinya.
- Seluruh anggota pasukan,
termasuk wanita yang menjadi wakil tersebut, adalah saudara (ikhwan) yang
setara dalam tingkatan dan prinsip. Tugas-tugas yang diperlukan untuk
mewujudkan pemikiran ini dibagikan kepada mereka, masing-masing sesuai
dengan bidangnya.
- Para anggota pasukan
mengadakan pertemuan khusus bagi mereka secara mingguan, yang di dalamnya
dicatat apa saja amal yang telah mereka lakukan selama satu minggu yang
lalu, dan apa yang mereka rencanakan untuk satu minggu yang akan datang.
Dalam kondisi apabila jumlah anggota telah terlampau banyak, maka
pertemuan ini boleh dibatasi hanya bagi mereka yang dibebani tugas-tugas
amal saja.
- Diberlakukan iuran keuangan
secara sukarela sesuai dengan kemampuan, dan disimpan di dalam wewenang
salah seorang saudari (akhwat) untuk digunakan sebagai infak bagi
proyek-proyek pasukan.
- Sistem ini boleh
disebarluaskan di luar kota Ismailia dalam batas-batas anggaran dasar ini.
- Anggaran dasar ini mulai
diberlakukan segera setelah mendapatkan pengesahan dari para anggota
pasukan pendiri (formatur).
...dan
penandatanganan dari mereka (para akhwat) dengan hal-hal yang menyatakan
demikian. Majalah Jaridah memberikan komentar terhadap anggaran dasar
ini dengan pernyataannya:
"Kami
sangat berharap dapat menemukan di kalangan pemudi Islam yang memiliki gairah
keagamaan, sosok-sosok yang mau berusaha untuk mewujudkan prinsip-prinsip ini
pada diri mereka serta keluarga mereka, dan membentuk 'Pasukan Akhawat
Muslimat' di lingkungan mereka masing-masing jika mereka memiliki kemampuan
untuk menempuh jalan tersebut. Bagi pemudi yang menginginkan hal itu, hendaklah
ia menyurati Nona yang santun, Wakil Pasukan Akhawat Muslimat di Sekolah Ummahatul
Mu'minin di Ismailia, guna mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan.
Majalah Jaridah senantiasa menyambut baik setiap pandangan yang
konstruktif demi mengambil manfaat dari gagasan ini."
Perkumpulan
Ikhwanul Muslimin dan Gerakan Misionaris (Kristenisasi)
Pendahuluan
Sungguh,
Ikhwanul Muslimin telah berjuang dengan sebaik-baiknya perjuangan dalam
menghadapi gerakan misionaris yang puncaknya muncul pada masa periode ini.
Berikut ini adalah apa yang ditulis oleh jemaah Ikhwanul Muslimin berkaitan
dengan perkara tersebut:
Kami
tidak mengetahui, apakah ini bagian dari keberuntungan atau justru kemalangan,
bahwasanya pusat-pusat jemaah Ikhwanul Muslimin di wilayah Mesir selalu
bersebelahan dengan pusat-pusat misionaris.
Di
Mahmudiyah, Al-Manzilah (Dakahliyyah), Ismailia, Port Said, Abu Suwair, dan di
Kairo, terdapat pusat-pusat misionaris yang sangat aktif, yang dibarengi pula
dengan lingkaran aktivitas yang aktif dari jemaah Ikhwanul Muslimin. Maka,
merupakan suatu hal yang sangat wajar apabila terjadi gesekan (benturan) antara
kedua lembaga tersebut, mengingat lembaga yang satu bertugas membela Islam
sementara lembaga yang kedua melakukan penyerangan terhadap Islam. Akan tetapi,
para penanggung jawab urusan administrasi di dalam jemaah Ikhwanul Muslimin
senantiasa membentengi diri dengan kelapangan dada, berpegang teguh pada
kebijaksanaan, berjuang dengan cara yang paling baik, serta selalu memosisikan
diri sebagai pihak yang bertahan (membela diri) bukan pihak yang menyerang. Di
dalam menjalankan strateginya, mereka bersandar pada dua pilar utama yang
bergerak secara senyap: pertama, memberikan pemahaman kepada masyarakat
mengenai bahaya yang mengintai mereka akibat interaksi dengan misi-misi
misionaris tersebut; dan kedua, menggunakan sarana-sarana praktis yang sejenis
dengan sarana yang digunakan oleh para misionaris. Strategi ini,
walhamdulillah, telah berhasil dengan kesuksesan yang sangat gemilang, sehingga
jemaah mampu menjalankan kewajibannya; kami tidak mengatakan telah menunaikan
seluruh kewajiban, melainkan sebatas apa yang dimampukan dan berdasarkan kemampuan
yang maksimal yang ada. Kami memohon pertolongan kepada Allah agar dapat
menyempurnakan kekurangan ini. Berkaitan dengan gerakan misionaris yang tengah
berjalan saat ini, kami bermaksud memindahkan beberapa peristiwa yang dihadapi
oleh jemaah serta strategi yang ditempuhnya kepada para pembaca budiman.
Melalui hal tersebut, kami membidik dua tujuan: pertama, memaparkan suatu
strategi yang terbukti manjur sehingga dapat diamalkan oleh lembaga-lembaga
yang ingin berkhidmat kepada Islam; dan kedua, memberikan kabar gembira kepada
umat mengenai sejauh mana kesuksesan serta taufik yang dicapai oleh jemaah
dalam gerakan damainya melawan misionaris.
Antara
Al-Manzilah (Dakahliyyah) dan Port Said 1
Laporan
dari Al-Manzilah mengenai peristiwa penyelamatan yang dilakukan oleh jemaah
terhadap seorang pemudi, yang mana Sekolah "As-Salam" di kota
tersebut berupaya untuk menasranikannya (mengkristenkannya). Laporan ini
diajukan kepada Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat) tertanggal 18 Syawal tahun
1351 H, yaitu sekitar empat bulan yang lalu.
Kepada
yang utama, guru kami Mursyid Am yang mulia. Assalamu'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh, semoga keselamatan pula atas orang-orang yang bersamamu dari
kalangan Ikhwanul Muslimin. Amma ba'du:
Sebelumnya
saya telah menulis surat nomor (1) kepada Anda seraya berjanji untuk
menyampaikan perkembangan terbaru kepada Anda. Berikut ini adalah laporan
mengenai apa yang terjadi selama periode tersebut : Pada tanggal 24 Ramadan,
telah sampai sebuah surat kepada yang mulia Ustaz Wakil Daerah dari Husaini
Efendi Muhammad al-Waisyi, salah seorang anggota Ikhwan terafiliasi pada
tanggal tersebut, yang kemudian resmi bergabung secara utuh ke dalam jemaah pada
malam keesokan harinya. Surat tersebut menjelaskan tentang dimulainya langkah
Sekolah Protestan "As-Salam" di Al-Manzilah untuk menasranikan salah
seorang anak perempuan dari keluarga miskin. Seandainya bukan karena karunia
Allah kepada kami serta kepada keluarga yang tertimpa musibah tersebut—di mana
kepala keluarganya sedang sakit dan istrinya tidak memiliki mata pencaharian
untuk menghasilkan nafkah—niscaya maksud dari lembaga misionaris, yang
sejatinya merupakan pusat kerusakan, akan berhasil terlaksana pada anak
perempuan yang masih di bawah umur (gadis qashir) tersebut, melalui metode yang
berada di puncak kelicikan dan kenistaan. Metode tersebut berupa curahan kasih
sayang yang berlebihan serta pemberian santunan yang terus-menerus kepada
keluarga miskin tersebut, dengan berpura-pura membela nilai kemanusiaan;
padahal nilai kemanusiaan berlepas diri dari tindakan-tindakan mereka yang
sesungguhnya dimanfaatkan oleh setan.
Berdasarkan
surat tersebut, Ikhwan segera mengadakan rapat kilat (darurat), yang dihadiri
oleh siapa saja yang sempat kami undang. Dalam seketika itu juga dipilih
beberapa orang untuk dibentuk menjadi sebuah komite yang diketuai oleh yang
mulia Wakil Daerah, lalu mereka langsung meluncur menuju rumah keluarga
tersebut. Mereka mencoba meyakinkan keluarga itu, namun pada awalnya tidak
membuahkan hasil karena begitu besarnya rasa kecewa yang mereka rasakan akibat
sikap acuh tak acuh kaum muslimin terhadap kondisi kemiskinan mereka. Akan
tetapi, setelah melalui berbagai upaya keras yang tidak sedikit, atas
pertolongan Allah dan taufik-Nya, akhirnya tercapai kesepakatan dengan kedua
orang tua pemudi tersebut untuk menariknya keluar dari sekolah tersebut. Maka pada
tanggal 25 Ramadan, Sayid Efendi Nadim berangkat mendampingi ayah pemudi
tersebut untuk menemui kepala sekolah wanita di sana dan memahamkan kepadanya
mengenai apa yang menjadi tuntutan kami.
Setelah
melalui perdebatan yang sengit, akhirnya kepala sekolah tersebut tunduk pada
kenyataan yang tidak pernah ia persiapkan sebelumnya. Pemudi itu pun berhasil
diselamatkan, dan kami segera bergerak mengumpulkan dana untuknya.
Kami
telah memantapkan tekad dengan bersandar pada pertolongan Allah, berdasarkan
keputusan dari jemaah yang terus mengadakan pertemuan sejak hari diterimanya
surat tersebut hingga saat ini, untuk membahas langkah-langkah melawan sekolah
tersebut sampai ia angkat kaki dari negeri ini tanpa ada rasa penyesalan
sedikit pun dari penduduk. Di antara poin yang diputuskan adalah membuka sebuah
tempat kursus menjahit (مشغل)
atas nama jemaah yang dikhususkan bagi anak perempuan tersebut, mengingat ia
telah mengantongi ijazah kelulusan sekolah dasar dan sempat dipekerjakan
sebagai guru pada awal Januari di sekolah misionaris itu sendiri. Demi membujuk
kedua orang tuanya, kepala misionaris wanita sempat mengembuskan isu bahwa ia
telah menetapkan gaji bulanan sebesar dua pound bagi pemudi tersebut yang akan
diserahkan kepada keluarganya, sementara selama berada di dalam sekolah ia sama
sekali tidak membebani kedua orang tuanya dalam hal biaya hidup. Semua itu
merupakan bujukan yang hina dan upaya membutakan mata keluarga miskin tersebut,
yang sejatinya tidak menyadari bahaya apa yang tengah mengintainya, yang dapat
menjerumuskannya dari satu keburukan menuju keburukan yang lebih buruk lagi
akibat dididik dengan pola asuh tersebut, yang telah memutus tali hubungan
pemudi itu dengan keluarganya sendiri. Keberadaannya di sekolah yang terkutuk
itu telah membuatnya menjelma menjadi sosok yang tidak mendengar melainkan
dengan telinga mereka, dan tidak melihat melainkan dengan mata mereka.
Pihak
administrasi sekolah telah menempuh metode ini kepada pemudi tersebut beserta
keluarganya sebagai langkah awal untuk menyempurnakan kejahatan yang keji itu.
Namun, begitu Ikhwan mengetahui peran licik yang disebutkan di atas, mereka
langsung bergerak melakukan tindakan yang kami paparkan sebelumnya. Kami
berhasil menyelamatkan pemudi tersebut beserta keluarganya dari jurang
kehancuran dengan izin Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami pun
membuka tempat kursus menjahit tersebut dengan bersandar pada pertolongan Allah
Ta'ala pada hari Sabtu, tanggal 9 Syawal, setelah sebelumnya dilakukan
pengumuman secara luas di bawah nama "Tempat Kursus Menjahit Jemaah
Ikhwanul Muslimin". Pada hari pertama tersebut, sebanyak tujuh puluh siswi
langsung mendaftar, dan jumlah tersebut terus merangkak naik hingga melampaui
seratus siswi. Di antara mereka ada yang masuk secara gratis, ada yang membayar
iuran sebesar tiga qursy per bulan, dan sebagian kecil dari mereka membayar
empat atau lima qursy per bulan; yang mana seluruh pendapatan tersebut
dialokasikan untuk menyokong operasional tempat kursus yang kami jaga
bersama-sama dengan segenap hati kami.
Harapan
kami sangatlah kokoh untuk meraih kesuksesan atas kekuatan Allah serta
perjuangan dari ustaz kami yang mulia, Syekh Mustafa Muhammad al-Hadidi
at-Thair, selaku Wakil Ikhwan.
Tidaklah
kami membuka tempat kursus menjahit ini dengan tempo yang begitu cepat, di awal
bangkitnya kesadaran masyarakat yang diberkahi berkat karunia Allah serta
keridaan Anda, melainkan didasari atas rasa cinta demi menyelamatkan pemudi
tersebut bersama keluarganya dari jurang kehancuran.
Kini,
dengan penuh rasa bahagia, kami sampaikan kepada Anda kabar gembira bahwasanya
para guru wanita, termasuk di antaranya Wafiqah, kini senantiasa mendirikan
salat lima waktu tepat pada waktunya. Selain itu, yang mulia Wakil kami pun
terus konsisten mendiktekan kepada mereka pokok-pokok ajaran agama yang lurus
lagi hanif di setiap akhir hari setelah jam pelajaran usai.
Sekretaris
(Katimul Sirr):
Umar
as-Sayid Ghanim
Ikhwan
dan Gerakan Misionaris
Pengurus
daerah Al-Manzilah juga mendapatkan informasi dari pemudi yang berhasil
diselamatkan, Nona Afkar Mansur, mengenai keberadaan seorang pemudi lain yang
berada di ambang penasranian, yang dilarikan secara sembunyi-sembunyi dari Port
Said menuju Sekolah "As-Salam" di Al-Manzilah.
Maka
pengurus Al-Manzilah segera mengirimkan surat kepada yang mulia Wakil Ikhwanul
Muslimin di Port Said serta kepada Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat), dengan
surat berikut ini tertanggal 3 Syawal tahun 1351 H:
Kepada
saudara kami yang utama, Wakil Jemaah Ikhwan di Port Said: Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh, semoga keselamatan atas Anda beserta
orang-orang yang bersamamu. Selamat tahun baru bagi Anda, seluruh Ikhwan,
keluarga, serta orang-orang yang mereka cintai, semoga senantiasa berada dalam
keberkahan dan kebahagiaan.
Amma
ba'du: Sesungguhnya lembaga-lembaga misionaris di wilayah Mesir pada
tahun-tahun terakhir ini telah melancarkan gerakan-gerakan yang sangat agresif
dalam melawan Islam. Hal tersebut tidaklah menunjukkan melainkan besarnya rasa
putus asa yang menguasai diri mereka akibat panjangnya waktu yang telah mereka
habiskan, besarnya jerih payah yang telah mereka korbankan, serta banyaknya
harta benda melimpah yang telah mereka gelontorkan tanpa membuahkan hasil apa
pun dalam menghadapi agama yang kokoh, kuat, lagi senantiasa dijaga oleh
Pemiliknya—Jallaat Qudratuhu—ini. Akan tetapi, kelalaian kaum muslimin dalam
menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam serta adab-adabnya pada akhirnya membuat
lembaga-lembaga tersebut menjadi tamak terhadap kita, yang dipicu oleh kondisi
kemerosotan akhlak yang melanda kita; padahal tegaknya suatu umat sangat
bergantung pada akhlaknya selama akhlak itu masih ada. Sekolah Misionaris
Protestan "As-Salam" di Al-Manzilah telah melakukan upaya penasranian
terhadap seorang pemudi.
Namun
berkat karunia Allah kepada kami, kami berhasil menyelamatkannya. Kami pun
mulai merintis pembuatan sekolah dan tempat kursus menjahit bagi anak-anak
perempuan guna mengajarkan ilmu agama kepada mereka, serta membekali mereka
dengan hal-hal yang dibutuhkan oleh seorang wanita di dalam rumah tangga
suaminya yang muslim kelak, serta bagaimana ia dapat melahirkan generasi
laki-laki dan perempuan yang muslim. Langkah ini tidak lain ditujukan untuk
menandingi sekolah tersebut, di samping karena pemudi yang hendak dinasranikan
tersebut berasal dari keluarga miskin yang tidak memiliki penanggung nafkah;
sehingga alih-alih menjadi beban bagi jemaah, proyek ini justru dapat
mendatangkan keuntungan ganda bagi jemaah.
Kami
juga telah mendeteksi keberadaan pemudi lain yang bernama "Afkar",
anak perempuan dari istri Rais Husein yang tinggal di Minsyah al-Balah di
lingkungan Arab divisi lima, yang dimasukkan ke sekolah di Al-Manzilah ini.
Tidaklah mereka memindahkannya ke sekolah tersebut melainkan dengan tujuan
untuk menyembunyikan proses penasraniannya dari pandangan keluarganya, di saat
keluarganya berada dalam kelalaian sementara pemudi tersebut dalam keadaan
labil (kurang waspada). Oleh karena itu, kami sangat berharap agar Anda dapat
menggalang sebuah gerakan untuk mengeluarkan pemudi ini serta menyelamatkannya
dari pusat kerusakan ini. Allah-lah yang akan membalas jasa-jasa kalian, dan
Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Sekretaris
(Katimul Sirr):
Umar
as-Sayid Ghanim
Pengurus
daerah Al-Manzilah yang diberkahi tidak hanya mencukupkan diri dengan tindakan
tersebut. Mereka bahkan melakukan pelacakan terhadap para siswi asal Port Said
yang dilarikan secara sembunyi-sembunyi ke Al-Manzilah, hingga akhirnya
berhasil mengidentifikasi lima orang di antara mereka. Mereka pun menulis surat
kepada Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat) mengenai hal tersebut agar dapat
menghubungkan mereka dengan pengurus daerah Port Said, sehingga pengurus Port
Said dapat menjalankan kewajibannya dalam proses penyelamatan ini. Berikut ini
adalah teks dari surat tersebut:
Kepada
yang utama, profesor dan murshid besar kami. Assalamu'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh, semoga keselamatan pula atas orang-orang yang bersamamu dari
kalangan Ikhwanul Muslimin:
Amma
ba'du: Sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam surat di atas, bahwasanya
kami telah menulis surat kepada saudara Wakil Jemaah Ikhwan di Port Said
mengenai tindakan yang harus dilakukan demi menyelamatkan pemudi bernama Afkar
Mansur yang berada di Sekolah Lembaga Misionaris Protestan "As-Salam"
di Al-Manzilah. Kami pun telah melakukan investigasi mendalam mengenai para
siswi asal Port Said tersebut.
- Afkar Mansur: Berusia
13 tahun, ibunya menikah dengan Usta Husein Ali yang tinggal di Minsyah
al-Balah di divisi dua di lingkungan Arab.
- Nazlah Ahmad al-Khuli:
Berusia 14 tahun, dahulu ayahnya bekerja sebagai nelayan namun sekarang
dalam kondisi sakit.
- Zakiyah Muhammad:
Berusia 12 tahun, tidak diketahui keberadaan keluarganya.
- Sayidah Abdu ar-Rayyan:
Berusia 13 tahun, seorang yatim yang tidak memiliki keluarga.
- Atiyat Muhammad Zaqzuq:
Berusia 7 tahun, ia tidak mengenali ibunya melainkan sebatas tanda yang
ada pada wajahnya.
Demikianlah
pemaparan mengenai nama-nama siswi asal Port Said yang berada di sekolah
Al-Manzilah. Menghadapi kenyataan ini, kami memohon dengan hormat kepada Anda
agar sudi kiranya memberikan instruksi (peringatan) kepada Ikhwan di Port Said
serta seluruh wilayah yang memiliki cabang jemaah yang diberkahi ini—yang mana
di wilayahnya terdapat sekolah-sekolah semacam ini—agar mengambil tindakan apa
pun yang dapat mengantarkan pada penyelamatan para pemudi muslimah. Hal itu
karena tindakan tersebut akan membuat kita semua mampu meletakkan tangan kita
tepat pada sumber penyakit, sehingga obat yang diberikan dapat mendatangkan
manfaat dengan izin Allah. Melalui sarana ini pula, insya Allah, akan menjadi
jalan kehancuran total bagi sekolah-sekolah yang merupakan "pusat
kerusakan" ini. Akhir kata, silakan terima rasa hormat kami yang
setinggi-tingginya serta kerinduan dari seluruh Ikhwanul Muslimin yang ada di
sisi kami, khususnya Wakil kami, yang utama Ustaz Mustafa Muhammad al-Hadidi
at-Thair. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sekretaris
(Katimul Sirr):
Umar
as-Sayid Ghanim
Maktab
(Kantor Pusat) pun segera menjalankan tugas ini. Mereka menulis surat ke Port
Said serta ke cabang-cabang jemaah lainnya, dan mendelegasikan yang mulia
Mursyid Am untuk mengunjungi Port Said berulang kali demi mengawal perkara ini.
Pengurus daerah Port Said menaruh perhatian yang sangat luar biasa besar
terhadap urusan ini, yang diikuti pula dengan kepedulian yang besar dari
penduduk kota yang mulia; hingga akhirnya berkat semangat ini, tersingkaplah
tabir dari peristiwa-peristiwa mengerikan yang sempat diberitakan oleh surat
kabar dan terus diberitakan di setiap harinya. Dengan penuh rasa suka cita,
kami umumkan bahwasanya pihak pemerintah telah berhasil menerima penyerahan
Nazlah al-Khuli dan Atiyat Zaqzuq yang namanya sempat disebutkan dalam surat
dari Al-Manzilah. Kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa kedua pemudi tersebut
bersama pemudi lainnya sempat disembunyikan di sebuah tempat persembunyian di
Al-Manzilah. Kami berharap agar yang mulia Gubernur Jenderal sudi kiranya
melakukan pelacakan terhadap sisa pemudi lainnya hingga berhasil menyelamatkan
mereka.
Sekretaris
Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat)
Pembentukan
Komite-Komite Cabang Jemaah Ikhwanul Muslimin Guna Mengingatkan Masyarakat Agar
Tidak Terperosok ke Dalam Tipu Daya Misionaris Telah sampai informasi
kepada kami bahwasanya di antara keputusan Majelis Syura Am Ikhwan adalah
membentuk komite-komite cabang di seluruh daerah operasional jemaah, yang
bertugas untuk bekerja dalam memberikan peringatan kepada masyarakat agar tidak
terperosok ke dalam jaring-jaring misionaris, melalui jalan-jalan damai yang
konstitusional (sah). Kami senantiasa mendoakan taufik yang sempurna bagi
komite-komite ini di dalam mengemban tugas sucinya.
[Halaman
192]
Salinan
Surat Petisi yang Diajukan oleh Majelis Syura Am Kepada Yang Mulia Raja Fuad
Bismillahirrahmanirrahim, Segala puji bagi Allah, dan semoga selawat
serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Muhammad, beserta
keluarga dan para sahabatnya.
Ke
hadapan hadirat Pemimpin Yang Mulia Raja, Pelindung benteng agama, Penolong
Islam dan kaum muslimin, Raja Mesir yang ditebus.
Para
anggota Majelis Syura Am Ikhwanul Muslimin yang berkumpul di kota Ismailia pada
tanggal 22 Safar tahun 1352 H, yang mewakili lima belas cabang dari
cabang-cabang Jemaah Ikhwanul Muslimin, datang menghadap untuk menyampaikan
sedalam-dalamnya rasa loyalitas dan ketulusan kepada takhta yang ditebus, serta
kepada Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Putra Mahkota yang dicintai. Mereka
bersandar kepada yang mulia dengan penuh harapan agar sudi kiranya melindungi
rakyat Anda yang tulus lagi setia dari tindakan agresi misionaris yang
terang-terangan menyerang akidah, anak-anak, serta belahan jiwa mereka. Gerakan
tersebut telah mengafirkan mereka, mencerai-beraikan mereka, menyembunyikan
mereka, serta menikahkan mereka dengan orang-orang yang bukan pemeluk agama mereka;
sebuah perkara yang dilarang dan diharamkan oleh Islam, serta diancam pelakunya
dengan ancaman siksa yang paling berat. Sungguh Allah Tabaraka wa Ta'ala telah
menjadikan Anda sebagai para pelindung agama-Nya, penegak bagi penjagaan
syariat-Nya, dan pembela bagi lingkaran sunah Nabi-Nya. Seluruh dunia telah
mengetahui sikap-sikap Yang Mulia yang masyhur serta rekam jejak yang
membanggakan dalam hal berpegang teguh pada tali agama yang kokoh,
menjaga
adab-adab serta syiar-syiarnya, melindunginya dari orang-orang yang berbuat
zalim kepadanya, menyebarluaskan ajaran-ajarannya, mendukung para pemeluknya,
serta memberikan perhatian yang sangat melimpah kepada Kitabullah Tabaraka wa
Ta'ala. Sesungguhnya Mesir adalah pemimpin dunia Timur dan merupakan rakyat
dari Raja Muslim yang adil, yang tidak akan pernah sudi pada suatu hari nanti
untuk dijadikan sebagai sarang misionaris atau tempat pengafiran; yang mana
kekuatan itu bersumber dari gairah keagamaan rajanya serta kekuatan imannya.
Oleh
karena itu, kami datang berlindung ke hadapan hadirat Anda yang tinggi dengan
penuh harapan agar sudi kiranya mengeluarkan perintah mulia dari Yang Mulia
Raja kepada pemerintahan Anda yang diberikan taufik, untuk menindak tegas
kelompok ini, menyelamatkan umat dari keburukannya, serta mewujudkan tujuan ini
dengan segala sarana yang memungkinkan. Kami meyakini bahwa di antara
sarana-sarana yang manjur adalah:
Pertama:
Memperlakukan pengawasan yang sangat ketat terhadap sekolah-sekolah,
institut-institut, serta rumah-rumah misionaris ini, beserta para siswa dan
siswi yang ada di dalamnya, apabila telah terbukti keterlibatan lembaga
tersebut dalam aktivitas misionaris. Kedua: Mencabut izin operasional
dari rumah sakit atau sekolah mana pun yang terbukti secara sah menjalankan
aktivitas misionaris.
Ketiga:
Mengusir (mendeportasi) setiap orang yang terbukti oleh pemerintah bahwasanya
ia bekerja demi merusak akidah masyarakat serta menyembunyikan anak laki-laki
maupun perempuan. Keempat: Menghentikan sama sekali segala bentuk
bantuan kepada lembaga-lembaga ini, baik berupa bantuan tanah maupun dana. Kelima:
Membangun komunikasi dengan para menteri berkuasa penuh (duta besar) baik yang
berada di dalam Mesir maupun di luar negeri, agar mereka dapat membantu
pemerintah dalam menerapkan rencana ketegasan ini, demi menjaga stabilitas
keamanan serta memelihara hubungan baik antarnegara.
Sesungguhnya
apabila kami mengemukakan pandangan-pandangan ini, maka kami meyakini
bahwasanya ketegasan Yang Mulia Raja yang ditebus, ketepatan pandangannya yang
lurus, serta gairah keagamaan beliau yang telah dikenal luas, semua itu akan
mampu menutup celah keretakan ini, membahagiakan umat, serta menyelamatkan
rakyat dari tangan-tangan para agresor. Ke hadapan Anda, wahai Yang Mulia Raja,
kami haturkan sedalam-dalamnya rasa loyalitas dan pengagungan dari orang-orang
yang tulus kepada takhta Anda yang ditebus.
Hasan
al-Banna (Mursyid Ikhwanul Muslimin), Muhammad As'ad al-Hakim
(Sekretaris Maktab Irsyad), Abdul Rahman as-Sa'ati (Wakil Kairo), Ahmad
as-Sukkari (Wakil Mahmudiyah), Hamid Askariyah (Wakil Syubrakhit), Mustafa
at-Thair (Wakil Al-Manzilah), Afifi asy-Syafi'i (Wakil Al-Arba'in di
Suez), Abdul Fatah Fayid (Wakil Syiblanjah, Al-Qalyubiyyah), Muhammad
Mustafa Thirah (Wakil Port Said), Mahmud Abdul Lathif (Wakil
Al-Jamaliyyah), Muhammad Farghali Abdullah Salim (Wakil Abu Suwair), Thaha
Karawiyah (Sekretaris Al-Jamaliyyah), Ali al-Jidawi (Wakil
Ismailia), Muhammad Husein as-Sayid (Sekretaris Al-Arba'in), Sulaiman
Uwaidhah (Anggota Al-Arba'in), dan Hafiz Abdul Hamid (Pengawas
Ismailia).
Salinan
yang serupa juga telah diajukan kepada yang mulia Ketua Perdana Menteri
Sementara, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Menteri Wakaf, Ketua
Majelis Perwakilan Rakyat (DPR), serta Ketua Majelis Senat (DPD).
Model
Perjalanan di Jalan Dakwah Kami cantumkan pula di sini sebuah model dari
perjalanan-perjalanan terdahulu di jalan dakwah, yang mana perjalanan tersebut
berlangsung selama musim panas tahun 1933 Masehi. Ini adalah salinan surat yang
diarahkan oleh Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat) kepada yang mulia para
Wakil Ikhwan di daerah-daerah yang akan dikunjungi dalam rute perjalanan
tersebut:
An-Nadzir
Bismillahirrahmanirrahim, Segala puji bagi Allah, dan semoga selawat
serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Muhammad, beserta
keluarga dan para sahabatnya.
Kepada
Tuan yang terhormat, Wakil Ikhwanul Muslimin. Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba'du:
Saya
merasa terhormat untuk menyampaikan kepada Anda pemaparan mengenai rute
perjalanan yang mulia Mursyid Am dalam rangka mengunjungi cabang-cabang jemaah,
agar Anda dapat membangun komunikasi dengan beliau di tengah-tengah masa
kunjungan tersebut apabila diperlukan. Selama masa tersebut, tugas-tugas di
Kantor Pusat (Maktab) akan dijalankan sebagai pelaksana tugas (Plt) oleh Ustaz
Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati, Wakil Kairo. Wassalamu'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Tabel
Rute Perjalanan
|
Kota |
Dari
Tanggal |
Sampai
Tanggal |
Durasi |
|
Abu
Suwair (Syarqiyyah) |
Hari
ke-11 Rabiul Thani 1352 |
Tanggal
12 |
Satu
Hari |
|
Ismailia |
Hari
ke-12 Rabiul Thani 1352 |
Tanggal
16 darinya |
Empat
Hari |
|
Suez |
Hari
ke-16 Rabiul Thani 1352 |
Tanggal
19 darinya |
Tiga
Hari |
|
Port
Said |
Hari
ke-19 Rabiul Thani 1352 |
Tanggal
21 darinya |
Dua
Hari |
|
Dakahliyyah
dengan cabang-cabangnya¹ |
Hari
ke-21 Rabiul Thani 1352 |
Tanggal
29 darinya |
Delapan
Hari |
|
Tanta |
Hari
ke-29 Rabiul Thani 1352 |
Awal
(Ghurrah) Jumadil Ula |
Dua
Hari |
|
Syubrakhit |
Hari
awal Jumadil Ula |
Tanggal
3 Jumadil Ula |
Dua
Hari |
|
Mahmudiyah
(Buhairah) |
Hari
ke-3 Jumadil Ula |
Tanggal
6 Jumadil Ula |
Tiga
Hari |
|
Damanhur
(Buhairah) |
Hari
ke-6 Jumadil Ula |
Tanggal
8 Jumadil Ula |
Dua
Hari |
|
Syiblanjah
(Qalyubiyyah) |
Hari
ke-8 Jumadil Ula |
Tanggal
9 Jumadil Ula |
Satu
Hari |
Silakan
terima rasa hormat kami yang setinggi-tingginya.
Muhammad
As'ad al-Hakim Sekretaris Maktab Irsyad
Kepindahan
Ustaz at-Thair ke Kairo Berkaitan dengan kepindahan Ustaz Syekh Mustafa
at-Thair ke Kairo, maka Maktab Irsyad telah menetapkan...
¹ Catatan
Kaki (Footnote): Al-Manzilah, Al-Jamaliyyah, Mit Khudair, Mit Marja
al-Jadidah.
...Kantor
Panduan Pusat (Maktabul Irsyad Al-Am) menetapkan Yang Mulia Al-Ustaz Syekh
Khattab Qurah dan Syekh Taufik Hamadah dari kalangan ulama sebagai dua orang
perwakilan untuk wilayah Al-Manzilah. Pihak Kantor Pusat mendelegasikan
beberapa ikhwan yang terhormat, yaitu Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati, Muhammad
Efendi As'ad al-Hakim, Muhammad Efendi Hilmi Nuruddin, dan Muhammad Efendi
Syalas menuju Al-Manzilah guna memberikan ucapan selamat kepada para ikhwan di
sana sekaligus menyampaikan keputusan ini.
Maka
para ikhwan di sana menyambut kedatangan mereka dengan acara penyambutan yang
sangat meriah. Anggota-anggota dari ranting-ranting yang bertetangga dengan
Al-Manzilah pun turut keluar untuk menyongsong mereka. Perkumpulan tersebut
berlangsung sangat besar dan penuh dengan kehangatan yang mendalam. Dalam
kesempatan itu, untaian kalimat yang penuh kesan disampaikan guna memberikan
penghormatan kepada dua orang perwakilan yang baru serta kepada Kantor Panduan
Pusat dalam eksistensi anggota-anggotanya, sekaligus menegaskan tentang
kewajiban beramal demi kebangkitan Islam yang produktif. Akhirnya, para ikhwan
tersebut kembali pulang dengan lisan yang penuh dengan pujian atas kemuliaan
para anggota di wilayah Al-Manzilah.
Pengunduran
Diri Perwakilan Kairo demi Ketua Al-Manzilah
Tuan
yang mulia lagi utama, Ustaz Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati, telah mengundurkan
diri dari jabatannya sebagai Perwakilan Kairo untuk diserahkan kepada Al-Ustaz
yang agung lagi mulia, Syekh Mustafa Muhammad at-Thair, seorang pengajar di
Ma'had Azhari yang termasuk dalam jajaran ulama spesialis. Di samping itu,
tugas-tugas sebagai pembantu di surat kabar Ikhwan juga diserahkan
kepada yang mulia.
Berkenaan
dengan peristiwa ini, majalah Ikhwan menerbitkan sebuah tulisan karya
Ustaz As-Sa'ati, yang mana kami memandang penting untuk menukilnya di sini
sebagai pengingat, iktibar, serta teladan yang baik.
Mari
Kita Korbankan Jabatan dan Gelar Jika Hal Itu Dapat Membantu Tercapainya Tujuan
Anggaplah
engkau sedang melakukan pelayaran di atas permukaan laut menuju suatu destinasi
tertentu dengan maksud untuk sampai ke sana, dan bersamamu ada sekelompok orang
yang tujuannya sama-sama ingin sampai ke destinasi tersebut. Dengan demikian,
kalian semua mengarah pada satu tujuan yang sama dan bersekutu bersama-sama
dalam mengarungi jalan menuju tujuan ini.
Malam
teramat gelap, langit hitam pekat, dan lautan sedang bergelombang dahsyat.
Kegelapan itu berlapis-lapis, sebagiannya di atas sebagian yang lain
[gadis-gadis]. "Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka
dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun." (QS. An-Nur: 40) . Sementara itu,
kapal hampir saja menghantam batu-batu karang besar yang merintangi jalannya,
dan ia nyaris membelah jalanan terjal yang tidak bisa mengantarkan pada tujuan
serta tidak dapat menunjukkan jalan yang lurus. Kegelapan malam beserta
keasingannya kian menambah situasi menjadi semakin...
...kritis
dan berat. Angin kencang dan badai laut hampir saja mengempaskan kapal ke dalam
jurang yang sangat dalam. Situasi ini terlampau kejam jika hanya dihadapi
dengan berdiam diri berpangku tangan. Tugas kepemimpinan pun terlampau berisiko
untuk dijalankan oleh selain nakhoda yang ahli, yang mengetahui seluk-beluk
jalan, paham mana jalur yang mudah dan mana jalur yang terjal, berani mengambil
risiko hingga batas yang paling jauh, siap berkorban demi tujuan yang
tertinggi, serta beriman kepada tujuannya dengan sebenar-benar iman.
Kepemimpinan seperti ini tidak akan goyah atau berbalik arah dari tujuannya
hanya karena jauhnya jarak yang harus ditempuh atau banyaknya rintangan yang
menghadang.
Barangsiapa yang beriman dengan sebenar-benar iman kepada
dakwahnya,
Maka cakrawala yang berputar pun akan menyambutnya dengan
penuh kesetiaan.
Dan barangsiapa yang niatnya tulus ikhlas karena Allah
semata,
Niscaya
kesuksesan yang terjamin akan ia raih seiring berjalannya waktu.
Kala
itu, engkaulah yang menjadi pemimpin kafilah dan nakhoda bagi kapal tersebut.
Namun, perkara tersebut hampir saja membingungkanmu dan jalan itu nyaris
membuatmu tersesat. Di tengah momen yang kritis dan waktu yang berbahaya itu,
engkau mendapati bahwasanya di antara orang-orang yang bersamamu ada sosok yang
lebih cakap darimu dalam memimpin serta lebih utama darimu dalam hal keilmuan.
Jika sudah demikian, bukankah kebenaran dan keimanan mewajibkanmu untuk
menyerahkan kemudi kepemimpinan kepadanya? Bukankah kewajiban dan hati nuranimu
mendiktekan agar engkau meninggalkan urusan tersebut kepada orang yang mampu
menjalankannya dengan lebih baik darimu? Setelah itu, engkau berada di dalam
ketaatan kepadanya; apabila ia memerintah maka engkau patuh, dan apabila ia
memberi isyarat maka engkau paham.
Kemudian,
sudah menjadi kewajibannya pula untuk tidak menunggumu sampai engkau
menyerahkan kepemimpinan kafilah kepadanya, melainkan ia harus bersegera
memperbaiki apa yang hampir engkau rusak dan menyusul apa yang nyaris engkau
lalaikan.
Dalam
akidahku, sesungguhnya suatu tujuan tidak pernah mengenal personalitas dan
tidak akan pernah berpihak kepada siapa pun. Aku berpandangan bahwasanya orang
yang bertugas di dalam kapal untuk menguras air dari dasarnya ketika bahaya
mengintai, itu jauh lebih baik daripada seorang pemuda bodoh yang tidak tahu
kadar dirinya lalu mengajukan diri untuk memimpin padahal ia tidak cakap di
dalamnya. Keberadaan pemimpin yang tidak cakap seperti itu hanya akan menjadi
malapetaka bagi dirinya sendiri dan membawa kesialan bagi kaumnya. Maka orang
yang pertama tadi, ia mengetahui apa yang menjadi keahliannya lalu
menjalankannya sebagaimana mestinya, sehingga hasil yang ia berikan sangatlah
besar meskipun penampilannya tampak sederhana.
Adapun
orang yang kedua, ia sangat gila hormat dan telah dikuasai oleh penyakit cinta
jabatan, sehingga ia menyeret kaumnya beserta dirinya sendiri ke dalam jurang
kehancuran. Sosok yang semacam ini tidak akan pernah bisa mewujudkan suatu
tujuan pada kedua tangannya, dan tidak ada kemanfaatan yang dapat diharapkan di
balik amalnya.
Oleh
karena itu, janganlah manusia merasa heran terhadap Ikhwanul Muslimin apabila
ada sebuah personalitas yang dahulunya menduduki posisi terdepan—di saat
situasi memang membutuhkan hal tersebut dan pada waktu tidak ada orang lain
yang memimpin selain dirinya—kemudian ia bersedia melepaskan kendali tersebut
untuk diserahkan kepada orang yang telah dipilih oleh saudara-saudaranya demi
menyebarluaskan prinsip dan kemanfaatan pemikiran ini. Langkah ini diambil agar
ia dapat memenuhi harapan dari saudara-saudaranya serta menerbangkan pemikiran
ini menuju langit pengorbanan dan keabadian, sekaligus membawanya melambung
tinggi di dalam atmosfer keikhlasan dan amal. Sementara itu, personalitas
tersebut dapat bergerak untuk beramal di medan yang lain dari medan-medan khidmat
terhadap pemikiran umum ini.
Sama
sekali tidak ada ruginya bagiku apabila aku menjadi salah satu dari
personalitas yang melepaskan jabatannya demi mewujudkan tujuan dan menunaikan
kewajiban ini. — Abdul Rahman Ahmad as-Sa'ati (Mantan Anggota Kantor
Panduan Pusat dan Mantan Perwakilan Kairo).
Komentar
Surat Kabar Al-Ikhwan: "Semoga Allah memberikan kehidupan bagi
jiwa-jiwa yang murni, dan semoga Allah memperbanyak di kalangan kaum muslimin
sosok-sosok yang semisal Ustaz Abdul Rahman as-Sa'ati, agar mereka dapat
memberikan banyak teladan praktis kepada manusia. Sesungguhnya teladan-teladan
tersebut merupakan pelajaran yang paling fasih di dalam bab pengorbanan diri
dan keikhlasan."
Struktur
Kantor Panduan Pusat Ikhwanul Muslimin
Setelah
peristiwa tersebut, dibentuklah struktur Kantor Panduan Pusat (Maktabul Irsyad
Al-Am) Ikhwanul Muslimin untuk pertama kalinya berdasarkan keputusan-keputusan
dari Majelis Syura. Sekretaris Kantor Pusat, Ustaz Muhammad As'ad al-Hakim,
mengirimkan surat ini kepada para ikhwan guna memberitahukan perihal
pembentukan struktur tersebut:
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, dan semoga selawat serta salam senantiasa tercurah
kepada junjungan kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Kepada
Saudara yang terhormat: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Amma ba'du:
Dalam
rangka melaksanakan keputusan Majelis Syura Am yang diselenggarakan di Ismailia
pada tanggal 22 Safar tahun 1352 H, maka Kantor Panduan Pusat kini telah
dibentuk dari para ikhwan yang mulia yang nama-namanya tercantum di bawah ini.
Dengan penuh rasa bahagia, saya sampaikan informasi ini kepada Anda sekalian
untuk diketahui. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang
Mulia Mursyid Am.
- Yang Mulia Al-Ustaz Syekh
Mustafa Muhammad at-Thair (Perwakilan Administrasi Kairo, Pengajar di
Ma'had Azhari, dan termasuk ulama spesialis).
- Yang Mulia Al-Ustaz Syekh
Abdul Hafiz Farghali (Pengajar di Ma'had Azhari dan termasuk ulama
spesialis).
- Yang Mulia Al-Ustaz Syekh
Hamid Askariyah (Perwakilan Syubrakhit sekaligus mubalig di sana, dari
kalangan ulama Azhar, selaku "Anggota Delegasi").
- Yang Mulia Al-Ustaz Syekh
Afifi asy-Syafi'i Atwah (Perwakilan Al-Arba'in di Suez sekaligus pencatat
nikah syar'i di sana, dari kalangan ulama Azhar, selaku "Anggota
Delegasi").
- Tuan yang terhormat, Ustaz
Ahmad Efendi as-Sukkari (Perwakilan Mahmudiyah dan termasuk tokoh
terpandang di Sekolah Dasar di sana, selaku "Anggota Delegasi").
- Tuan yang terhormat, Ustaz
Khalid Abdul Lathif Efendi (Salah seorang perwakilan Al-Jamaliyyah dan
termasuk tokoh terpandangnya, selaku "Anggota Delegasi").
- Tuan yang terhormat, Ustaz
Muhammad Efendi Fathullah Darwisy (Pegawai di Kantor Keuangan di Kairo).
- Tuan yang terhormat, Ustaz
Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati (Pegawai di Bagian Teknik Permesinannya
Kereta Api di Kairo).
- Tuan yang terhormat, Ustaz
Muhammad As'ad al-Hakim Efendi (Pegawai di Bagian Teknik Permesinannya
Kereta Api di Kairo).
- Tuan yang terhormat, Ustaz
Muhammad Efendi Hilmi Nuruddin (Pegawai di Jawatan Inspeksi Irigasi Giza
di Kairo).
Seluruh
dari yang terhormat tersebut berada dalam tingkatan perwakilan dari para
perwakilan Ikhwanul Muslimin. Dalam hal ini, saudara kita As'ad al-Hakim Efendi
telah dipilih untuk menjalankan fungsi Sekretaris Kantor Pusat. Sementara
Muhammad Efendi Hilmi Nuruddin dipilih sebagai Bendahara Kantor Pusat, dan yang
terhormat Abdul Rahman as-Sa'ati Efendi ditunjuk untuk mengelola urusan surat
kabar. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
— Sekretaris
Kantor Panduan Pusat
Dakwah
di Universitas dan Sekolah-Sekolah Tinggi
Dakwah
yang diberkahi ini mulai meretas jalannya di Kairo hingga berhasil menjangkau
fakultas-fakultas di universitas serta sekolah-sekolah tinggi. Sebagian
mahasiswa dari lembaga tersebut menemui Ustaz yang besar, Syekh Tantawi Jauhari
Rahimahullah—yang saat itu menjabat sebagai Pemimpin Redaksi mingguan
surat kabar Ikhwan—latus mereka saling bertukar pemahaman mengenai
urusan dakwah serta keinginan mereka untuk bergabung di dalamnya dan bekerja
demi memenangkannya. Aku tidak akan pernah melupakan suratnya yang mulia yang
dikirimkan kepadaku ketika aku sedang berada dalam salah satu rute perjalanan
di wilayah Mesir Hilir. Di dalam surat tersebut, beliau menyampaikan kabar
gembira ini kepadaku dan mengekspresikannya di dalam suratnya dengan ungkapan
bahwa peristiwa ini merupakan "Fathan Mubina" (Kemenangan yang
Nyata). Sungguh telah benar apa yang beliau sampaikan, semoga Allah
merahmatinya. Sebab, universitas yang dahulu dipandang oleh masyarakat luas
sebagai sebuah lembaga yang sama sekali tidak memiliki kaitan dengan Islam,
kini kondisinya telah berubah berkat dakwah yang mulia ini hingga menjelma
menjadi salah satu benteng dari benteng-benteng pertahanannya. Perkara ini
tidak diragukan lagi merupakan sebuah kemenangan yang nyata.
Selanjutnya,
Yang Mulia Syekh Tantawi mendesakku agar segera kembali ke Kairo guna menemui
para mahasiswa tersebut. Maka aku pun datang ke Kairo dan bersua dengan mereka.
Sungguh hari itu adalah hari yang penuh berkah, yaitu hari bergabungnya mereka
ke dalam dakwah serta pengikraran baiat mereka untuk bekerja demi
memenangkannya. Di antara orang-orang yang pertama dan paling terdahulu di
dalam mengikrarkan baiat adalah enam orang bersaudara ini, yang mana kami
menjuluki mereka sebagai "Para Sesepuh Mahasiswa Ikhwanul Muslimin",
yaitu:
- Ustaz Muhammad Abdul
Hamid Ahmad: Saat itu beliau masih berstatus sebagai mahasiswa di
Fakultas Sastra, sedangkan sekarang beliau bekerja di Kementerian
Pendidikan Umum dan telah ditugaskan untuk mengabdi di lembaga-lembaga
yang berada di Transyordania (Yordania Timur).
- Dr. Ibrahim Abu al-Naja
al-Jazzar: Saat itu beliau merupakan mahasiswa di Fakultas Kedokteran,
sedangkan sekarang beliau telah menjadi pengajar di fakultas tersebut.
- Ustaz Ahmad Efendi
Mustafa: Dahulu beliau menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi
Perdagangan, sedangkan sekarang beliau bekerja di Jawatan Perpajakan.
- Ustaz Muhammad Jamal
asy-Syandi: Dahulu berada di Fakultas Sains, dan sekarang beliau juga
telah menjadi pengajar di sana.
- Ustaz Muhammad Rasyad
al-Hawari: Dahulu berada di Fakultas Hukum, dan sekarang berprofesi
sebagai pengacara di Al-Manshurah.
- Saudara Mahmud Efendi
Sabri: Dahulu menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pertanian, dan
sekarang beliau mengabdi di lingkungan Urusan Khusus Kerajaan.
Berkenaan
dengan momen ini, majalah Ikhwan menerbitkan tulisan berikut ini:
Prinsip-prinsip
Ikhwanul Muslimin itu lurus lagi mudah dipahami. Akan tetapi, ia menuntut
adanya keikhlasan dan amal nyata. Prinsip ini hanya membidik pada satu hal,
yaitu membentuk karakter Islami yang sahih di dalam tubuh umat dengan
pembentukan yang saleh. Di dalam mewujudkan hal itu, ia bersandar pada satu
sarana saja, yaitu rasa cinta, persaudaraan, dan saling mengenal yang mana
semua itu akan melahirkan keteladanan yang baik serta perbaikan diri. Umat
manusia di dalam kebangkitan modernnya ini, sangatlah membutuhkan jalan yang
lurus semacam ini.
Hal
ini telah disadari oleh para pemuda kita yang tercerahkan. Maka bergeraklah
sekelompok orang yang murni di antara mereka, yang terdiri dari para mahasiswa
sekolah-sekolah tinggi dan fakultas-fakultas universitas, lalu mereka
memaklumkan kesiapannya untuk menolong prinsip ini, berkhidmat kepadanya, serta
beramal demi memenangkannya. Kami tidak dapat melakukan apa pun melainkan
menyampaikan selamat kepada para ikhwan yang mulia ini atas limpahan cahaya
pemahaman serta keteguhan tekad yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Kami
juga mengucapkan selamat kepada jajaran Ikhwan atas bergabungnya konstelasi
pendukung ini ke dalam barisan para pejuang amalnya. Berkenaan dengan momen ini
pula, pihak administrasi surat kabar telah mengkhususkan sebuah rubrik bagi
mahasiswa, yang menjadi ajang bagi pena-pena mereka untuk saling berlomba di
dalam memberikan kemanfaatan dan bimbingan. Di rubrik tersebut dimuat sebuah
tulisan dari salah seorang saudara kita ini yang diberi judul "Fityatul
Ashr" (Pemuda Zaman Ini). Semoga Allah memperbanyak orang-orang yang
beramal demi agama-Nya serta membekali mereka dengan kompetensi dan keikhlasan.
Majelis
Syura Am Ikhwan yang Merupakan Muktamar Kedua bagi Mereka
Setelah
itu, Majelis Syura Am menyelenggarakan sidangnya yang kedua di kota Port Said.
Sekretaris mengirimkan surat undangan ini kepada para ikhwan:
"Majelis
Syura Am Ikhwanul Muslimin dengan izin Allah Ta'ala akan melangsungkan
sidangnya di kota Port Said pada hari kedua di bulan Syawal tahun 1350 H, tepat
setelah pelaksanaan salat Isya. Sidang ini akan dipimpin langsung oleh Yang
Mulia Mursyid Am guna membahas urusan-urusan jemaah secara umum. Para
perwakilan, ketua ranting (naqib), serta sekretaris cabang diundang untuk
menghadiri pertemuan ini, demikian pula bagi siapa saja yang mendapatkan izin
untuk itu dari jajaran anggota Kantor Panduan Pusat."
Undangan
ini dipublikasikan oleh surat kabar Ikhwan, dan alhamdulillah
persidangan berjalan dengan sebaik-baiknya. Di antara keputusan yang dihasilkan
adalah membentuk sebuah perusahaan kecil guna mendirikan percetakan khusus bagi
Ikhwanul Muslimin. Ketentuannya, harga bagi satu lembar saham ditetapkan sebesar
dua puluh qursy. Setelah itu, majalah Ikhwan memublikasikan seruan
khusus berkaitan dengan proyek ini:
Proyek
Percetakan Pertama dan Kewajiban Ikhwan Terhadapnya
Keberadaan
mesin-mesin cetak bagi harakah yang bergerak untuk menyebarluaskan suatu
pemikiran umum, merupakan pilar utama yang menjadi tempat bersandar bagi
amal-amal mereka serta dalam memublikasikan dakwah mereka. Oleh karena itu,
Majelis Syura Am di dalam sidangnya yang berlangsung di Port Said pada momen
Hari Raya Idulfitri telah memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan saham
gabungan yang bersifat khusus bagi para anggota perkumpulan Ikhwanul Muslimin.
Kantor Panduan Pusat di Kairo telah mencetak anggaran dasar bagi perusahaan
percetakan saham gabungan ini, lalu menyebarluaskannya ke seluruh cabang di
berbagai penjuru wilayah negeri, serta menetapkan tanggal 15 Maret sebagai
batas akhir untuk ikut serta dalam kepemilikan saham-saham ini.
Kantor
Panduan Pusat menaruh harapan yang sangat besar agar sebelum tenggat waktu
tersebut tiba, urusan pembelian mesin cetak beserta segala hal yang berkaitan
dengannya telah selesai dilakukan. Dengan demikian, jemaah akan mampu
menerbitkan seluruh hal yang menjadi kebutuhan amal Ikhwanul Muslimin di dalam
percetakan milik mereka sendiri.
Maka,
sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang yang memikul amanah Ikhwanul Muslimin
di seluruh cabang untuk menunaikan tugas mereka terhadap proyek perdana dari
proyek-proyek masa depan jemaah ini. Hendaklah kontribusi yang mereka berikan
ini didasari atas rasa ikhlas karena mengharap rida Allah semata dan demi
meninggikan kalimat-Nya.
— Sekretaris
Kantor Panduan Pusat
Perpindahan
Kantor Administrasi Perkumpulan Ikhwan
Kantor
administrasi Perkumpulan Ikhwanul Muslimin kini telah berpindah menuju Gang
Al-Mi'mar nomor 6 di Jalan Suqis Silah. Surat kabar Ikhwan telah
memublikasikan berita perpindahan ini di dalam nomor penerbitannya yang ketiga
puluh pada hari Kamis, 15 Zulkaidah tahun 1352 Hijriah.
Muslimah
Ikhwan (Al-Akhawatul Muslimat) di Kairo
Di
Kairo telah dibentuk sebuah pasukan Muslimah Ikhwan yang anggotanya terdiri
dari para wanita di dalam rumah tangga ikhwan serta kerabat-kerabat perempuan
mereka. Dalam pembentukan ini, wanita yang saleh, Nyonya Labibah Ahmad,
terpilih menjadi ketua bagi pasukan tersebut, sekaligus memimpin
pasukan-pasukan muslimah yang berada di Ismailia dan Port Said. Setelah
terpilih, beliau menyampaikan sebuah untaian kalimat yang santun yang dimuat
oleh majalah. Berikut ini di antara isinya:
"Saudari-saudariku
dan putri-putriku: Aku memuji Allah kepada kalian, yang tiada Tuhan yang berhak
disembah selain Dia, dan aku menyampaikan selawat serta salam kepada junjungan
kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Aku ucapkan salam kepada
kalian dengan salam Islam: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Betapa
bahagia dan gembiranya diriku dalam menerima undangan dari Yang Mulia Mursyid
Am Ikhwanul Muslimin ini, yang memberikan kehormatan kepadaku untuk berkhidmat
bagi prinsip-prinsip kalian serta maju memimpin pasukan-pasukan kalian.
Sungguh, di tengah adanya kelemahan pada diriku dalam memikul beban ini serta
adanya ketidakmampuanku dalam menjalankan tugas penting ini, aku meyakini
bahwasanya aku akan mendapatkan gairah keagamaan serta bantuan dari kalian. Hal
itulah yang akan mengantarkan kita sampai pada tujuan yang kita dambakan, yaitu
menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam serta menanamkan adab dan prinsipnya di
dalam jiwa pemudi muslimah dan keluarga muslimah. Hanya Allah-lah tempat
memohon pertolongan.
Wahai
putri-putriku dan saudari-saudariku: Sesungguhnya umat ini, sebagaimana yang
kalian saksikan sendiri, sedang berada dalam kondisi kemerosotan akhlak dan
kerusakan sosial. Gejala-gejalanya telah tampak jelas di setiap lini kehidupan:
di dalam rumah, di jalanan, di pabrik, di toko, di setiap lingkungan, dan di
setiap lapisan masyarakat. Terus berlanjutnya kondisi yang demikian ini akan
menyeret kita menuju kesudahan yang paling buruk dan hasil yang paling rendah.
Adapun
fondasi utama bagi perbaikan umat ini adalah dengan memperbaiki institusi
keluarga. Langkah awal untuk memperbaiki keluarga adalah dengan memperbaiki
sosok pemudinya. Hal itu karena wanita adalah pendidik bagi dunia. Wanita yang
mengayunkan kereta bayi dengan tangan kanannya, sesungguhnya ia sedang
menggoncang dunia dengan tangan kirinya.
Sesungguhnya
wajib bagi pemudi muslimah untuk memahami bahwasanya tugas yang dipikulnya
termasuk dalam tugas yang paling suci dan bahwasanya pengaruh yang ia miliki di
dalam kehidupan umatnya merupakan pengaruh yang paling mendalam. Sesungguhnya
ia memiliki kemampuan untuk memperbaiki umat apabila ia mengarahkan
perhatiannya demi perbaikan ini.
Oleh
karena itu, kita ingin melakukan perbaikan. Aku meyakini bahwasanya di dalam
ajaran-ajaran Islam serta hukum-hukumnya—apabila kita mau mempelajari dan
mengamalkannya—terdapat jaminan yang dapat mengantarkan kita menuju perbaikan
yang didambakan ini. Jika sudah demikian, maka marilah wahai saudari-saudariku dan
putri-putriku, kita mulai dengan memperbaiki diri kita sendiri agar kita dapat
memahami Islam dan mengamalkannya, serta menanamkan ajaran-ajarannya di dalam
jiwa wanita muslimah. Apabila diri kita telah baik, niscaya keluarga pun akan
ikut menjadi baik berkat kebaikan kita, dan bermula dari sanalah akan tercipta
kebaikan bagi seluruh umat manusia.
Demikianlah
apa yang ingin aku jelaskan kepada kalian mengenai manhaj kerja kita, yang mana
kita telah mewajibkan diri kita sendiri untuk beramal demi memenangkannya.
Kepada Allah aku memohon agar sudi kiranya memberikan taufik kepada kita menuju
apa saja yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi umat kita yang mulia lagi
ditebus ini. — Labibah Ahmad
Model-Model
Konferensi Ikhwan di Tingkat Daerah (Provinsi)
Kantor
Panduan Pusat telah memberikan arahan kepada para ikhwan untuk menyelenggarakan
konferensi-konferensi daerah secara berkala bagi setiap kumpulan dari
ranting-ranting yang saling bertetangga. Keinginan ini berhasil diwujudkan oleh
ranting-ranting yang berada di wilayah Al-Bahrush Shaghir. Mereka mengadakan
perkumpulan rutin di setiap tiga bulan sekali yang bertempat di salah satu
markas ranting secara bergantian. Berikut ini merupakan model dari
konferensi-konferensi tersebut, yaitu berupa salinan risalah (berita acara)
persidangan yang ketujuh bagi Konferensi Perkumpulan Ikhwanul Muslimin di
Al-Bahrush Shaghir:
Atas
pertolongan Allah dan taufik-Nya yang luhur, konferensi telah menyelenggarakan
sidangnya pada hari Jumat, 19 Jumadil Akhir tahun 1353 H, yang bertepatan
dengan tanggal 28 September tahun 1934 M. Pertemuan dilangsungkan di kawasan
Mit Khudair yang bertempat di kediaman Syekh Radwan Radwan Ibrahim pada jam 3
siang waktu Arab. Sidang ini diselenggarakan berdasarkan undangan dari
Sekretaris, dengan dipimpin oleh Syekh Muhammad Hijazi Mujahid selaku
Perwakilan Mit Khudair, serta dihadiri oleh yang terhormat:
Syekh
Muhammad Qasim Saqar dan Syekh Muhammad ath-Thanthawi Sa'ad (mewakili cabang
Al-Manzilah); Syekh Yusuf Thawilah, Syekh Abul Ma'athi al-Arabi, Syekh Muhammad
Syalabi, dan Syekh Muhammad al-Imam (mewakili cabang Jadidah Al-Manzilah);
Syekh Mahmud Mahmud Musa (mewakili cabang Al-Bishrath); Syekh Ibrahim ad-Dasuqi
Ulwan, Syekh Thaha al-Asymawi Amir, dan Syekh Sulaiman Basyuni (mewakili cabang
Al-Jawabir); Muhammad Efendi as-Sayid asy-Syafi'i (mewakili cabang Barmbal
al-Qadimah); Yang Mulia Syekh Basyuni Umairah (mewakili cabang Al-Kurdi);
Muhammad Efendi Amasyah Ahmad Efendi Muhammad as-Sayid (mewakili cabang Mit
Marja Salsil); Syekh Muhammad Badwi Ismail, Yunus Efendi Yunus, Muhammad Efendi
al-Husaini Yunus, Syekh Salim Ghanim, Syekh Abdu Ismail, Syekh Burai Ahmad,
Syekh Ali Muhammad al-Basyuni, Taufik Efendi Ibrahim Radwan, Syekh Sayid Ali
Yunus, Syekh Mahmud Muqbil Muhammad, Syekh Ahmad al-Mansi, Syekh Abdul Majid
Muhammad, Syekh Sayid Badwi, Syekh Muhammad Jumah, Syekh Ramadan Ramadan, Syekh
Ahmad Abdullah, Syekh Sa'ad Hijazi, Syekh Sayid al-Hamis, Syekh Abun Nur
Muhammad Farah, Syekh Sayid Mutawalli Muhammad, Syekh Ibrahim Muhammad Yusuf,
Syekh Muhammad Muhammad Rifa'i, Syekh Ismail as-Sayid, Syekh Muawwadh Farah,
Syekh Ahmad Muhammad Radwan, Syekh Ismail Khalil , Syekh Subhi Ibrahim, dan
Syekh Jumah Jumah Muhammad (selaku perwakilan dari cabang Mit Khudair).
Adapun
pihak yang menyampaikan uzur (berhalangan hadir) adalah: Yang Mulia Abdul Fatah
Bek Rifat; Muhammad Efendi Ajiz (dari Mit al-Qamsh); Haj Suwailam Muhammad
Suwailam, Muhammad Efendi Muhammad Suwailam, dan Syekh Husein Yusuf (dari
cabang Barmbal al-Qadimah); Syekh Khattab Muhammad Khattab (Perwakilan
Al-Manzilah); Syekh Yusuf al-Muzayyin dan Muhammad Efendi Umar (dari cabang
Al-Bishrath); Ramadan Efendi Abdul Jalil dan Syekh Abdu Mahmudi (dari Mit Marja
Salsil); Syekh Muhammad Zar'u (Perwakilan Al-Jawabir); Syekh Muhammad Ali
Bahiuddin, serta Syekh Radwan Radwan Ibrahim (dari Mit Khudair). Semua itu
dikarenakan kesibukan mereka yang tengah berada dalam masa panen hasil bumi.
Acara
pembukaan persidangan diawali dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang
dibacakan oleh saudara kita, Syekh Muhammad Badwi selaku Sekretaris Mit
Khudair. Kemudian Syekh Muhammad Hijazi selaku Ketua Konferensi berdiri
memberikan sambutan guna menyapa para hadirin dengan untaian kalimat yang
santun, yang mana sambutan tersebut disambut dengan gema takbir oleh para
peserta. Selanjutnya, Muhammad Efendi as-Sayid asy-Syafi'i selaku Sekretaris
Konferensi berdiri menyampaikan rasa terima kasih kepada para hadirin atas
perkenan mereka memenuhi undangan serta kehormatan yang mereka berikan untuk
mengunjungi Mit Khudair.
Beliau
melaporkan bahwasanya seluruh keputusan konferensi yang dihasilkan pada sidang
sebelumnya telah berhasil dilaksanakan, kecuali mengenai urusan anggaran rumah
tangga (internal) dari cabang Al-Jamaliyyah yang belum diserahkan, padahal
perwakilannya telah berjanji pada sidang yang lalu. Namun, barangkali mereka
memiliki uzur di dalam keterlambatan tersebut. Dalam kesempatan itu, beliau
menyerahkan kepada majelis berupa dokumen-dokumen tertata yang khusus mencatat
perihal konferensi ini, serta berjanji akan menyerahkan buku registrasi resmi
pada sidang yang akan datang insya Allah. Terakhir, berdasarkan adanya
permintaan dari rekan-rekannya sesama sekretaris cabang, beliau menyerahkan
sebuah kumpulan...
Dari
catatan-catatan, berkas-berkas, dan publikasi dengan cara yang telah diterapkan
oleh cabang Brambal Al-Qadimah agar dapat diikuti oleh seluruh cabang demi
menjamin keteraturan sistem yang baik. Dijelaskan pula tata cara pengerjaannya,
sebagaimana beliau juga menyampaikan laporan mengenai aktivitas cabang Brambal
Al-Qadimah sejak awal pendiriannya hingga saat ini. Beliau mempresentasikan
kepada dewan pengurus surat dari direktur administrasi surat kabar mengenai
harga publikasi yang diperlukan untuk muktamar [pertemuan/konferensi], seraya
meminta izin untuk membelinya. Dewan pengurus pun menyetujui pembelian tersebut
dengan harga yang dianggapnya sesuai.
Kepada
dewan pengurus, diajukan agenda kerja berikut ini untuk dipertimbangkan, yaitu:
- Usulan dari Syekh Muhammad
Tantawi Saad agar setiap cabang memfasilitasi hafalan Al-Qur'an bagi
sejumlah anak sesuai dengan kemampuannya, dengan ketentuan mereka akan
dihadirkan dalam muktamar saat berlangsung di cabang tersebut untuk diuji,
dan hal ini menjadi syiar terbesar bagi perkumpulan.
- Usulan dari Syekh Muhammad
Hijazi, wakil dari Mit Khudair, agar Yang Mulia Al-Mursyid Al-'Am
[Pimpinan Umum] diundang untuk menghadiri sidang muktamar ini agar beliau
mengetahui waktu pelaksanaannya, dan agar muktamar ini mendapat kehormatan
atas kehadiran beliau—atau siapa pun yang mewakili beliau—jika beliau
memiliki kelonggaran di sela-sela waktu berharganya untuk hadir.
- Dua usulan dari Muhammad
Effendi As-Sayyid Asy-Syafi'i, sekretaris muktamar:
- Pertama: Penarikan
iuran untuk Maktab Al-Irsyad Al-'Am [Kantor Panduan Umum] dilakukan pada
saat muktamar berlangsung, sebagaimana yang dilakukan oleh cabang
Al-Asirat pada sidang sebelumnya, di mana mereka melunasi seluruh
tunggakan iuran yang ada pada mereka. Hal ini untuk menghemat tenaga dan
biaya. Dituntut pula untuk mempertimbangkan upaya pemasaran surat kabar,
dan setiap cabang dipersilakan meminta jumlah yang mampu mereka
distribusikan.
- Kedua: Setiap
cabang yang menjadi tempat diselenggarakannya muktamar di wilayahnya
hendaknya memberikan saran kepada sekretaris untuk mengundang orang-orang
dari daerah sekitar yang dinilai memiliki kecintaan terhadap fikrah
[ideologi/konsep gerakan] ini, di mana di daerah-daerah tersebut belum
berdiri cabang perkumpulan. Hal ini bertujuan untuk menyebarluaskan
fikrah dan menggairahkan potensi jamaah.
- Usulan dari Syekh Yusuf
Thawilah mengenai keharusan adanya perwakilan dari seluruh cabang dalam
muktamar, dengan syarat bahwa cabang-cabang tersebut diwakili oleh wakil,
sekretaris, dan dua orang anggota. Beliau berharap agar tokoh-tokoh
seperti Abdul Fattah Bek Rifat dan Muhammad Effendi Ajiz tidak absen dalam
setiap sidang Effendi Ajiz, Al-Haj Suwailam Muhammad Suwailam, Muhammad
Effendi Muhammad Suwailam, Syekh Taha Al-Hawari, Khalid Effendi Abdul
Lathif, Syekh Khattab Muhammad Khattab, Syekh Muhammad Zar', Syekh
Muhammad Khalifah, Syekh Yusuf Al-Muzayin, Muhammad Effendi Umar, dan
Syekh Muhammad Hijazi.
- Usulan dari Muhammad Effendi
Al-Husaini agar setiap cabang menugaskan juru dakwahnya untuk berkeliling
ke daerah-daerah sekitar yang belum memiliki cabang perkumpulan, guna
menyebarkan dakwah dan menanamkan fikrah di dalam jiwa penduduk setempat.
- Usulan dari Syekh Muhammad
Muhammad Rifa'i, bahwa sehubungan dengan informasi yang dibacanya pada
surat kabar Al-Ikhwan Al-Muslimun nomor 21 mengenai wafatnya putra
dari Syekh Taha Al-Hawari (wakil cabang Al-Kafr Al-Jadid), di mana masa
takziah telah berlalu tanpa adanya pengetahuan dari kita untuk menunaikan
kewajiban takziah pada waktunya. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar setiap
sekretaris cabang yang mengalami peristiwa yang memerlukan takziah segera
memberi tahu seluruh cabang lainnya agar dapat menunaikan kewajiban ini.
Ketika waktu salat Jumat telah tiba, sidang ditangguhkan.
Pada
jam tujuh setengah siang menurut perhitungan waktu Arab, setelah menunaikan
fardhu salat Jumat di Masjid Mit Khudair dan selesai menyantap jamuan makan
siang, sidang kembali dilanjutkan. Sekretaris muktamar berdiri dan menyampaikan
rasa terima kasih kepada Syekh Basyuni 'Umairah, Syekh Muhammad Qasim Saqar,
dan Muhammad Effendi Ant-Tantawi Saad atas apa yang telah mereka lakukan di
masjid setelah salat Jumat, berupa ajakan kepada keutamaan-keutamaan,
menyebarluaskan fikrah Ikhwanul Muslimin, serta menampakkan keagungan Islam.
Hal itu membuat seluruh jemaah salat keluar dalam keadaan berdoa kepada Allah
Yang Maha Agung kekuasaan-Nya agar menguatkan kejayaan Islam dan kaum muslimin,
serta menyiapkan pemimpin-pemimpin yang tulus dari putra-putranya untuk
memimpin di medan kemenangan, serta menuliskan taufik bagi Yang Mulia
Al-Mursyid Al-'Am dan menguatkannya dengan pertolongan dari sisi-Nya agar dapat
mengemudikan bahtera keselamatan, sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa.
Secara
keseluruhan, para orator telah meninggalkan kesan yang sangat baik di dalam
jiwa penduduk Mit Khudair yang suci.
Kemudian
dewan pengurus meninjau agenda kerja:
- Dewan pengurus mendiskusikan
usulan pertama dan memutuskan untuk menyetujuinya. Setiap cabang harus berperan
serta membantu siapa saja yang melaksanakan program hafalan Al-Qur'an,
yaitu dengan membantunya dalam hal urusan santri-santri yang fakir dan
membayarkan upah yang layak untuk mereka. Cabang tersebut wajib
menyerahkan nama-nama mereka beserta upah yang diterimanya kepada
perkumpulan, sehingga semuanya berada di bawah pengawasan perkumpulan.
- Dewan pengurus menyetujui
usulan kedua, dan sekretaris muktamar menyampaikan bahwa ia telah
mengundang Yang Mulia Al-Mursyid Al-'Am untuk menghadiri sidang ini.
- Dewan pengurus meninjau
usulan ketiga mengenai poin pertamanya dan menyatakan persetujuannya.
Seluruh cabang akan bersiap untuk melunasi iuran pada sidang berikutnya.
Adapun mengenai pemasaran surat kabar, semuanya telah berkomitmen untuk
memasarkannya semaksimal mungkin.
- Dewan pengurus menyetujui
usulan keempat. Setiap cabang yang terwakili dalam sidang ini harus tetap
terwakili setelahnya. Adapun cabang-cabang yang tidak hadir, maka
sekretaris wajib menyurati mereka. Dewan pengurus sangat berharap agar
para tokoh yang disebutkan dalam usulan tersebut dapat memastikan
kehadiran mereka di setiap sidang guna memberikan pencerahan melalui
pandangan-pandangan mereka.
- Dewan pengurus menyetujui
usulan kelima. Setiap perkumpulan wajib menugaskan juru dakwahnya untuk
menjalankan tujuan tersebut demi menyebarluaskan fikrah di daerah-daerah
sekitarnya.
- Dewan pengurus menyetujui
usulan keenam. Setiap sekretaris wajib memberi tahu seluruh cabang jika
terjadi suatu peristiwa di tempatnya yang memerlukan takziah agar
memudahkan semua pihak untuk menunaikan kewajiban tersebut. Dalam
kesempatan ini, dewan pengurus menugaskan sekretaris untuk menyampaikan
ucapan takziah kepada Syekh Taha Al-Hawari atas nama muktamar. Diputuskan
pula untuk menghentikan sidang selama lima menit sebagai bentuk berkabung
atas wafatnya almarhum, semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di
surga-Nya yang luas. Semua yang hadir membacakan Surah Al-Fatihah yang
dihadiahkan untuk ruhnya yang suci. Adapun yang berkaitan dengan regulasi
internal, maka sekretaris diminta untuk memohonnya dari cabang
Al-Jamaliyah dan menyerahkannya pada sidang berikutnya.
Di
sini, sekretaris muktamar berkata: "Termasuk faktor yang dapat
membangkitkan semangat di cabang-cabang lainnya adalah jika dewan pengurus
mengizinkan pembacaan laporan yang diajukan oleh cabang Brambal Al-Qadimah
mengenai aktivitasnya hingga saat ini." Dewan pengurus pun menyetujui
pembacaannya, lalu laporan tersebut dibacakan dan seluruh isinya menunjukkan
aktivitas yang menumbuhkan kebaikan dan berkah.
Kemudian,
Al-Akh [Saudara] Syekh Muhammad Qasim Saqar, sekretaris cabang Al-Manzilah,
berdiri dan menyebutkan sebagian aktivitas cabang Al-Manzilah, khususnya dalam
menghadapi kelompok misionaris. Hal tersebut memberikan kesan yang sangat baik
di dalam jiwa para hadirin hingga disambut dengan gema takbir.
Sidang
ditutup sebagaimana ia dibuka, yaitu dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an,
pada saat jam sepuluh siang menurut perhitungan waktu Arab, dengan kesepakatan
bahwa pertemuan berikutnya akan diadakan di wilayah Jadidat Al-Manzilah. Hanya
Allah-lah pemberi taufik.
Sekretaris
Muktamar Muhammad As-Sayyid Asy-Syafi'i
Contoh
Pertemuan Sidang Umum Perkumpulan Ikhwan di Daerah-Daerah
Perkumpulan
Ikhwanul Muslimin Di Kota Port Fuad Sidang Umum
Dalam
rangka memperingati satu tahun berdirinya perkumpulan Ikhwan di Port Fuad, dan
sebagai pelaksanaan dari poin ketiga dari keputusan dewan direksi perkumpulan
yang diterbitkan pada tanggal 29 Agustus tahun 1934, Hasan Ibrahim Faraj
menyampaikan undangan umum kepada seluruh anggota perkumpulan untuk hadir di
gedung perkumpulan pada jam delapan malam, hari Sabtu, 1 September tahun 1934,
guna berkumpul dalam kapasitasnya sebagai dewan sidang umum untuk meninjau
agenda-agenda berikut:
- Aktivitas perkumpulan pada
tahun yang lalu.
- Pemasukan dan pengeluaran
perkumpulan pada tahun yang lalu.
- Pemilihan wakil perkumpulan
dan anggota dewan direksinya.
- Agenda-agenda lain yang
dipandang perlu oleh para anggota yang hadir untuk diajukan kepada
perkumpulan. Belum lagi jam menunjukkan pukul delapan malam, jumlah
hadirin yang datang sudah melebihi separuh dari total anggota, sehingga
keabsahan sidang [kuorum] terpenuhi.
- Pertemuan dibuka dengan
pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
- Fahmi Effendi meminta izin
untuk menyampaikan sambutannya, dan para hadirin mengizinkannya. Beliau
pun menyampaikan pidato yang sangat berharga mengenai manfaat perkumpulan
Ikhwanul Muslimin di wilayah negeri ini serta manfaat
perkumpulan-perkumpulan keagamaan secara umum.
- Hasan Ibrahim Faraj
Effendi, wakil perkumpulan, membuka pembahasan mengenai topik pertemuan.
Setelah menyampaikan terima kasih kepada para hadirin atas pemenuhan
undangan mereka—yang menunjukkan perhatian mereka terhadap hal yang paling
mulia, dan cukuplah bahwa ini adalah murni urusan agama—beliau menjelaskan
kepada mereka apa saja yang telah dilakukan oleh perkumpulan selama tahun
lalu berupa aktivitas-aktivitas yang agung, di antaranya:
- Pertama: Mengadakan
tempat salat [mushala] bagi kaum muslimin, yang mana di tempat tersebut
sekarang didirikan salat fardhu lima waktu secara berjemaah tepat pada
waktunya secara rutin.
- Kedua: Menyatukan
suara kaum muslimin di kota tersebut, menanamkan semangat persaudaraan dan
kerja sama di antara sesama, serta mengupayakan perdamaian di antara
pihak-pihak yang berselisih.
- Ketiga:
Menyebarluaskan wawasan keagamaan dan akhlak di antara sesama melalui
pelajaran-pelajaran dan ceramah-ceramah yang disampaikan di perkumpulan
dari waktu ke waktu.
- Keempat:
Menghidupkan seluruh malam-malam yang seyogianya diperingati di kalangan
kaum muslimin, baik dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an maupun
dengan khotbah dan ceramah yang sesuai.
- Kelima: Mengupayakan
pembangunan masjid umum di Port Fuad bagi kaum muslimin, mengingat di kota
tersebut tidak ada tempat ibadah lain kecuali mushala perkumpulan Ikhwan
saja, sementara di sana terdapat gereja yang megah. Perkumpulan telah
mengajukan petisi kepada Yang Berbahagia Gubernur Terusan [Suez] untuk
diteruskan kepada Yang Mulia Baginda Raja yang agung, agar kota ini
tercakup dalam perhatian beliau yang tinggi dan agar beliau mengeluarkan
perintah mulianya untuk membangun masjid di sana.
- Keenam: Mendidik
anak-anak fakir atas biaya perkumpulan di sekolah, hingga jumlah mereka
saat ini mencapai sepuluh anak.
- Ketujuh: Perkumpulan
memberikan bantuan kepada banyak orang yang membutuhkan yang meminta
pertolongan dalam berbagai situasi. Mengingat sebagian dari bantuan ini
bersifat finansial sementara kondisi keuangan perkumpulan belum memadai,
perkumpulan menyiasatinya dengan mengumpulkan sumbangan sukarela seadanya
dari kaum muslimin di kota tersebut tanpa mengusik uang kas milik
perkumpulan itu sendiri.
Tamu
yang Mulia
Kaum
Ikhwan selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk menjalin komunikasi dengan
para tokoh dari negeri-negeri Arab dan Islam guna memperkuat ikatan
persaudaraan dan menyebarluaskan dakwah. Di antaranya adalah kunjungan mereka
kepada Tuan Abbas Al-Qatthan sehubungan dengan sakit yang dideritanya, dan
surat kabar Al-Ikhwan telah mempublikasikannya dalam untaian kalimat
berikut:
"Yang
Mulia Al-Ustadz Hasan Al-Banna, Al-Mursyid Al-'Am Ikhwanul Muslimin, bersama
Ustadz Syekh Mustafa At-Thair (Wakil Maktab Al-Irsyad), serta dua orang ustadz
yaitu Fathullah Darwisy Effendi dan As'ad Rajih Effendi, telah menjenguk Yang
Mulia Tuan Abbas Al-Qatthan, Gubernur Madinah Al-Munawwarah, sehubungan dengan
keberhasilan operasi medis yang dijalani oleh Mohammad Bek Subhi pada salah
satu matanya. Mereka berbincang cukup lama mengenai urusan wilayah Hijaz dan
urusan kaum muslimin secara umum, kemudian mereka memohon izin pamit kepada
beliau. Beliau pun mengantarkan mereka hingga tangga hotel seraya menyampaikan
rasa terima kasih kepada Ikhwanul Muslimin atas penghormatan mereka kepadanya,
dan beliau berjanji akan membalas kunjungan mereka ke kantor pusat mereka di
Jalan Suq As-Silah, Lorong Al-Mi'mar Nomor 6. Surat kabar Al-Ikhwan
Al-Muslimun tidak dapat melakukan apa-apa selain mengucapkan selamat kepada
Tuan yang mulia atas karunia yang Allah berikan berupa keberhasilan operasi
tersebut, serta mendoakannya agar senantiasa berada dalam kesehatan dan
keafiatan."
Contoh
Keputusan-Keputusan Maktab Al-Irsyad Al-'Am
Maktab
Al-Irsyad Al-'Am mengadakan pertemuan secara berkala, mengatur jalannya dakwah,
dan mengeluarkan keputusan-keputusannya setelah setiap pertemuan. Di antara
keputusan tersebut ada yang dipublikasikan dan ada pula yang langsung
dilaksanakan tanpa publikasi. Di antara contoh keputusan dalam salah satu
sidangnya adalah sebagai berikut:
- Ditugaskan kepada Mahmud
Effendi Abdul Lathif, di samping tugasnya mengelola percetakan, untuk
mengawasi hal-hal yang berkaitan dengan Uni Kairo.
- Ditugaskan kepada Umar
Effendi Ghanim untuk mengawasi pengelolaan surat kabar dan hal-hal yang
berkaitan dengan sekretariat Maktab Al-Irsyad.
- Menjadi kewajiban bagi
keduanya untuk menyampaikan urusan-urusan yang mendesak kepada Al-Ustadz
Al-Mursyid untuk berkonsultasi dalam mengambil tindakan. Keduanya juga
wajib menyampaikan kepada Maktab dalam setiap sidang mengenai
urusan-urusan baru yang terjadi di antara dua waktu pertemuan.
- Yang Mulia Al-Mursyid
bertugas menyusun laporan yang diperlukan mengenai jamaah selama tahun
yang lalu untuk dipresentasikan kepada Majelis Syura Al-'Am [Sidang Dewan
Syura Umum].
- Sekretariat Maktab mulai
saat ini bertugas mempersiapkan segala perlengkapan untuk penyelenggaraan
Majelis Syura Al-'Am bagi Ikhwan pada Hari Raya Idulfitri yang akan
datang.
- Setiap orang yang diserahi
suatu tugas administratif di Maktab memiliki hak untuk mendelegasikan
kepada saudara mana pun dari kalangan Ikhwan yang menjadi anggota Maktab
untuk membantunya. Bagi saudara yang didelegasikan, jika memiliki kendala
yang menghalanginya untuk melaksanakan tugas tersebut, wajib menyampaikan
permohonan maaf [uzur] pada waktu yang tepat.
Berdasarkan
keputusan-keputusan ini, sekretariat Maktab memohon kepada segenap ikhwan untuk
memperhatikan hal-hal berikut:
- Pertama: Semua surat
khusus untuk Yang Mulia Al-Mursyid Al-'Am yang dikehendaki oleh pemiliknya
agar diserahkan langsung kepada beliau, wajib dituliskan kata "KHAS"
[Rahasia/Pribadi] dengan tulisan yang jelas.
- Kedua: Semua surat
yang berkaitan dengan surat kabar dikirimkan atas nama Umar Effendi Ghanim
dengan dituliskan kata "SURAT KABAR" dengan tulisan yang
jelas, dan ditambahkan kata "REDAKSI" jika berkaitan
dengan redaksi, atau "ADMINISTRASI" jika berkaitan dengan
distribusi, akunting, iuran, atau yang lainnya. Demikian pula seluruh
surat khusus untuk Maktab dikirimkan atas nama beliau dengan dituliskan
kata "MAKTAB".
- Ketiga: Semua surat
khusus untuk percetakan atau Uni Kairo serta dakwah ke cabang-cabangnya
dikirimkan atas nama Mahmud Effendi Abdul Lathif dan dituliskan kata "PERCETAKAN"
atau "UNI" dengan tulisan yang jelas.
- Keempat: Setiap
surat menyurat yang memerlukan jawaban wajib disertakan prangko pos
senilai lima milim, jika tidak, maka penerima surat berhak untuk tidak
membalasnya. Dan Allah adalah pemberi petunjuk ke jalan yang lurus.
Sekretaris
Maktab Muhammad As'ad Al-Hakim
Comments
Post a Comment