Mudzakirat Da'wah Wa Da'iyah (Memoar Al-Banna) (3)

Laporan ke Kejaksaan

Di antara hal yang unik adalah bahwa para ikhwan yang bersikeras untuk memberontak ini, keluar dari sesi pertemuan di mana mereka melihat sendiri bagaimana saudara-saudara mereka saling berlomba dalam memberi dan menebus dakwah dengan harta dan jiwa jika jiwa itu memintanya. Namun, alih-alih terpengaruh oleh fenomena-fenomena yang baik ini, mereka justru semakin larut dalam permusuhan mereka, dan contoh-contoh nyata ini tidak menambah bagi mereka melainkan kejengkelan dan kedengkian. Tampaknya jiwa manusia itu, jika telah dikuasai oleh ambisi untuk menang—meskipun tanpa kebenaran—maka ia tidak akan lagi memikirkan hal selainnya. Walaupun cara-caranya yang berliku itu justru menggiringnya pada kekalahan yang berulang-ulang hingga mengantarkannya pada kekalahan total. Dan Allah memiliki ketetapan dalam setiap makhluk-Nya.

Tidak ada lagi tipu daya di hadapan mereka setelah itu, melainkan saudara ini maju ke kejaksaan dengan membawa laporan (pengaduan) resmi yang ditandasi oleh tanda tangannya sendiri. Dan itu adalah sebuah "keutamaan" yang tidak akan pernah aku lupakan untuknya; sesungguhnya ia tidak pernah mau pada suatu hari pun kecuali secara terang-terangan dan terbuka. Hal itu merupakan bagian dari pengaruh keberanian moralnya, serta dampak dakwah di dalam dirinya, meskipun ia berada dalam posisi yang keliru.

Ia menyatakan dalam laporan pengaduan ini bahwa Hasan Efendi al-Banna, Ketua Ikhwanul Muslimin sekaligus guru di Sekolah Dasar Ismailia, telah menghambur-hamburkan dana jemaah. Ia menyebutkan bahwa dana tersebut dikirim ke Kairo untuk saudaranya di sana—yang diklaim sebagai ketua cabang Kairo—serta ke Port Said dan Abu Suwair. Padahal, dana tersebut dihimpun dari masyarakat Ismailia dan Hasan al-Banna sendiri merupakan bagian dari penduduk Ismailia. Oleh karena itu, sudah semestinya dana tersebut dialokasikan di Ismailia saja. Mengingat hal ini berkaitan dengan hak kejaksaan penuntut umum dalam melindungi harta, kehormatan, dan darah masyarakat, ia meminta pihak kejaksaan untuk melakukan intervensi dan menghentikan pengeluaran dana yang dialokasikan dengan cara seperti itu.

Seingat saya, wakil jaksa saat itu adalah seorang pria yang santun dan sangat teliti bernama Ustadz Mahmud Mujahid—semoga saat ini beliau berada di korps kehakiman. Beliau memanggil pelapor tersebut dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi yang tenang sekaligus menarik. Beliau bertanya kepadanya, "Apakah Anda merupakan anggota dari dewan pengurus perhimpunan ini?"

Ia menjawab, "Dahulu saya adalah anggota dan menjabat sebagai bendahara, namun saya mengundurkan diri dan pengunduran diri saya telah diterima." Wakil jaksa bertanya lagi, "Apakah dewan pengurus menyetujui pengiriman uang ini ke cabang-cabang tersebut?"

Ia menjawab, "Ya." Wakil jaksa kembali bertanya, "Lalu, apakah Anda merupakan anggota dalam rapat anggota tahunan [sidang umum jemaah]?" Ia menjawab, "Dahulu saya adalah anggota dalam segala hal, tetapi sekarang saya tidak ingin lagi mengenal orang-orang itu dan tidak menganggap diri saya sebagai bagian dari aktivitas mereka sama sekali." Wakil jaksa bertanya, "Menurut Anda, jika tindakan pengeluaran ini diajukan kepada rapat anggota tahunan, apakah mereka akan menyetujui dan mendukung tindakan Hasan Efendi tersebut?"

Ia menjawab, "Luar biasa! Jangankan itu, seandainya ia mengatakan kepada mereka bahwa ia mengambil uang tersebut untuk dirinya sendiri, mereka pasti akan menyetujuinya dengan penuh sukacita, karena ia telah menyihir mereka, sehingga mereka mematuhi semua yang ia lakukan tanpa berpikir lagi."

Wakil jaksa pun berkata kepadanya, "Jika dewan pengurus menyetujuinya, rapat anggota tahunan juga menyetujuinya, sedangkan Anda sendiri bukan lagi anggota dewan maupun anggota jemaah, lalu apa urusan Anda dalam masalah ini?"

"Dan apa pula urusan kejaksaan dalam persoalan ini? Mereka adalah sekelompok orang yang berkumpul, mengumpulkan uang mereka sendiri, lalu mewakilkan kepada seseorang atau beberapa orang untuk membelanjakannya, dan mereka menyetujui metode pembelanjaan tersebut. Atas dasar apa kejaksaan harus ikut campur, sementara mereka bebas mempergunakan harta mereka sendiri sesuai kehendak mereka?"

"Wahai anak muda, Anda tampaknya adalah orang yang tulus, tetapi Anda telah jatuh ke dalam kekeliruan yang sangat besar. Nasihat saya untuk Anda, kembalilah kepada kelompok Anda dan beraksilah bersama mereka jika Anda mau, serta tinggalkan pemikiran-pemikiran seperti ini. Jika Anda tetap tidak menyukai kondisi mereka maka tinggallah di rumahmu, fokuslah pada pekerjaanmu, dan biarkan orang-orang bekerja. Itu jauh lebih baik bagimu jika engkau mau menerima nasihat." Maka pemuda itu pun pergi.

Ketika Syekh Askariah —rahimahullah— mengetahui persoalan ini, beliau segera datang dari Syubrakhit dan mencoba memediasi agar orang-orang yang bersikeras pada pendiriannya itu mau kembali ke barisan jemaah. Namun, mereka menolak dan tetap memilih untuk membangkang. Syekh Askariah, yang dikenal memiliki pandangan batin yang tajam dalam urusan-urusan seperti ini, kembali menemui saya dan berkata, "Mereka itu tidak ada kebaikan di dalamnya. Mereka telah kehilangan kesadaran akan keluhuran dakwah, dan telah kehilangan keimanan untuk menaati kepemimpinan. Barangsiapa yang kehilangan dua hal ini, maka tidak ada kebaikan lagi jika ia berada di barisan kita. Ikhlaskanlah mereka [serahkan urusannya kepada Allah], lanjutkanlah perjalananmu, dan hanya Allah tempat memohon pertolongan."

Beliau menyampaikan pandangannya tersebut secara terang-terangan kepada mereka lalu kembali ke Syubrakhit. Awalnya saya sempat berpikir untuk mengundang dewan pengurus guna memutuskan pemecatan mereka dari jemaah, namun mereka mendahuluinya dengan mengirimkan surat pengunduran diri. Dewan pengurus pun langsung menerimanya, sehingga selesailah perkara tersebut. Sungguh, 'pada dirinya sendirlah Buraqish membawa petaka' [sebuah pepatah Arab untuk menggambarkan orang yang mencelakakan dirinya atau kelompoknya sendiri akibat tindakannya].

Namun, mereka merasa berat melihat diri mereka terdepak dari jemaah dan berada di luar, sehingga mereka tidak bisa lagi melancarkan tipu daya dari dalam. Akhirnya, mereka mulai menyebarkan berbagai isu miring dan mengirimkan surat-surat kaleng tanpa identitas kepada pihak-pihak berwenang, mulai dari Kementerian Pendidikan, kepolisian, hingga kejaksaan. Tidak berhenti di situ, mereka juga mendatangi tokoh-tokoh yang mereka anggap sebagai pilar dakwah ini dari kalangan penduduk setempat. Mereka melontarkan berbagai kebohongan untuk menjauhkan para tokoh tersebut dari jemaah. Target pertama yang mereka tuju adalah Syekh Muhammad Husain az-Zamlut. Mereka melemparkan fitnah keji kepadanya dengan mengatakan, "Sesungguhnya orang-orang Ikhwan itu adalah kelompok yang berbahaya. Mereka memiliki aktivitas-aktivitas rahasia yang andai saja Anda mengetahuinya, Anda pasti akan lari menjauh dari mereka demi menyelamatkan diri. Kami akan melaporkan mereka kepada pihak yang berwenang, tetapi sebelum itu kami ingin memberitahu Anda terlebih dahulu agar Anda waspada, segera mengundurkan diri dari mereka, dan mengumumkan pengunduran diri tersebut. Setelah kami merasa tenang atas keselamatan Anda, kami akan segera melaporkannya sehingga Anda tidak akan terkena..."

"...dampak buruk apa pun." Syekh Zamlut bertanya kepada mereka, "Apakah kalian benar-benar yakin dengan apa yang kalian ucapkan ini?" Mereka menjawab, "Ya, kami sangat yakin, bahkan kami sendiri telah ikut terlibat secara langsung dalam aktivitas-aktivitas rahasia tersebut." Mendengar hal itu, Syekh Zamlut yang merupakan seorang pria yang bijaksana, berakal sehat, teguh keimanan dan agamanya, serta memiliki keterbukaan dan keberanian yang kuat, langsung berkata kepada mereka, "Di hadapan saya saat ini, kalian hanya memiliki satu dari dua kemungkinan status: kalian adalah para pengkhianat jika perkataan itu benar, atau kalian adalah para pembohong jika perkataan itu batil. Bagaimana mungkin kalian menuntut saya untuk mempercayai dan menghormati kalian, sedangkan kalian sendiri berstatus sebagai pengkhianat atau pembohong? Pergilah dari hadapan saya, dan jangan pernah memperlihatkan batang hidung kalian lagi di sini!"

Saya tidak akan pernah melupakan momen ketika beliau datang menemui saya dengan wajah yang berubah merah padam, menampakkan bekas kemarahan dan rasa prihatin yang mendalam. Beliau meminta izin kepada kepala sekolah, lalu membawa saya keluar dari ruang kelas. Kami berjalan berdua saja menyusuri pinggiran kota, kemudian beliau membeberkan secara blak-blakan apa yang telah didengarnya. Beliau berkata, "Wahai Fulan [Hasan al-Banna], kembalilah ke dalam kota sekarang juga dengan cepat. Atur dan persiapkan dirimu jika apa yang dikatakan oleh orang-orang itu benar. Berusahalah sekuat tenaga agar tidak ada satu pun dari aktivitas kalian yang tampak jika memang kalian memiliki aktivitas rahasia. Dan seandainya ada sesuatu yang terbongkar atau engkau dimintai keterangan mengenai hal itu, maka katakanlah: 'Sesungguhnya aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan jemaah ini, dan ketuanya adalah Muhammad Husain.' Sebab, engkau adalah seorang pemuda yang memiliki masa depan, engkau adalah seorang pegawai negeri yang bisa ditekan dan dipersulit oleh pemerintah, dan engkau adalah tamu di lingkungan kami. Engkau menegakkan dakwah ini murni karena Allah, maka engkau tidak berhak mendapatkan balasan kecuali segala hal yang indah."

Sungguh, saya merasa sangat terenyuh dan terharu oleh keluhuran budi pekerti serta kepahlawanan mukmin ini —rahimahullah—. Saya berkata kepada beliau, "Wahai Tuanku, tenanglah dan kuatkan hatimu. Kita semua bergerak dan bekerja di siang hari yang benderang [terang-terangan]. Seandainya orang-backstabber itu benar-benar jujur dengan apa yang mereka tuduhkan, tentu mereka sudah melaporkannya sejak lama, karena perselisihan antara mereka dengan jemaah bukanlah hal yang baru terjadi baru-baru ini."

"Akar masalah yang sebenarnya adalah karena mereka melihat Anda membantu jemaah ini dengan kedudukan, pengaruh, serta harta Anda. Sementara Anda adalah seorang tokoh yang baik, mulia, lagi dihormati. Oleh karena itu, mereka ingin memutus hubungan Anda dengan jemaah dan menampilkannya di mata masyarakat dengan citra yang menakutkan seperti ini. Saya sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya atas sikap dan pembelaan Anda yang mulia ini. Semoga Allah membalas keimanan dan kesetiaan Anda dengan kebaikan yang melimpah."

Saya juga tidak akan pernah melupakan perkataan beliau setelah momen itu: "Demi Allah, wahai saudaraku, aku sering sekali mendengar paman saya, Syekh Eid, berkata: 'Sesungguhnya aku memohon kepada Allah agar tidak mematikan aku sampai aku melihat langsung kejayaan Islam, kemenangan bangsa-bangsanya, serta tegaknya hukum-hukumnya.' Namun nyatanya, beliau telah wafat dan belum sempat menyaksikan kejayaan Islam tersebut. Aku pun tidak memiliki cita-cita lain dalam hidup ini melainkan melihat kejayaan Islam, dan aku memohon kepada Allah agar tidak mematikan aku sebelum melihat kejayaan tersebut. Akan tetapi, aku merasa bahwa hal itu masih sangat jauh, karena setetes darah pun dirasa masih terlampau mahal oleh kaum muslimin. Selama setetes darah masih dianggap terlalu mahal, mereka tidak akan pernah mencapai apa pun, karena harga dari sebuah kejayaan dan kebebasan hanyalah kerelaan mengorbankan darah."

"Al-Qur'an menyatakan hal ini, demikian pula dengan sirah [sejarah perjalanan hidup] Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam serta para sahabat beliau seluruhnya menunjukkan hal tersebut, bukankah begitu?"

Maka saya menjawab, "Tentu saja... hal itu adalah sebuah kebenaran yang tidak diragukan lagi. Namun, saya ingin menentramkan hati Anda, bahwa keimanan yang benar pada realitasnya akan membuat darah terasa murah [untuk dikorbankan] sekaligus bernilai tinggi karena balasannya berada di sisi Allah Yang Maha Agung. Saat ini, keimanan tersebut telah mulai menghujam dan kokoh di dalam hati sekelompok hamba-hamba Allah, yang di tangan merekalah kebaikan dan keselamatan akan terwujud dengan izin Allah. Anda akan menyaksikan segala kebaikan dari para pemuda Ikhwan yang baru tumbuh ini dan semoga Allah memanjangkan umur Anda hingga Anda dapat menyaksikan sendiri kejayaan Islam tersebut." Beliau berkata, "Tetapi jumlah mereka sangat sedikit, sedikit sekali." Maka saya menjawab, "Mereka akan bertambah banyak, dan kebaikan itu ada pada jumlah yang sedikit ini. Berapa banyak kelompok kecil yang mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." Beliau menyahut, "Semoga Allah memberikan kabar gembira kebaikan kepadamu, itulah yang kita harapkan dan kita mohonkan kepada Allah."

Beliau menceritakan kepada saya setelah kejadian itu bahwa wakil jaksa sempat bertanya kepadanya mengenai laporan-laporan pengaduan yang diajukan dalam perkara ini. Syekh Zamlut kemudian menyarankan kepada wakil jaksa untuk mengabaikan saja seluruh laporan kaleng tersebut. Sebab, seandainya laporan tersebut benar, tentu para pelapornya tidak akan menyembunyikan nama-nama mereka dan pasti akan menghadapi kenyataan secara langsung.

Semoga Allah merahmati Syekh Muhammad Husain Zamlut dan membalasnya dengan kebaikan.

Selebaran dan Laporan

Setelah cara-cara tersebut gagal, empat atau lima orang pembangkang itu tidak menemukan jalan lain untuk mengacaukan jemaah kecuali dengan mencetak selebaran-selebaran palsu serta menyusun laporan-laporan tendensius. Di dalamnya mereka menuduh bahwa kebebasan berpendapat telah hilang di dalam jemaah ini, dan jemaah bergerak tanpa mempedulikan sistem syura (musyawarah). Sesuatu yang aneh adalah mereka sendiri yang membatalkan klaim tuduhan tersebut dengan menyebutkan bahwa bukti dari hilangnya syura adalah dewan pengurus serta rapat anggota tahunan tidak pernah menentang perintah Al-Ustadz [Hasan al-Banna] dan menatanya secara buta. Jika rapat anggota tahunan dan dewan pengurus saja selalu dimintai masukan serta musyawarah—berdasarkan pengakuan mereka sendiri—lalu di mana letak hilangnya sistem syura tersebut?

Dan sejak kapan makna dari sebuah syura serta kebebasan berpendapat itu harus diartikan sebagai tindakan penentangan dan pembangkangan belaka?

Kemudian mereka menambahkan tuduhan lain setelah itu, dengan mengatakan: "Sesungguhnya dana masyarakat Ismailia dihabiskan untuk Kairo—yang dikirim oleh Al-Ustadz kepada saudaranya—serta untuk Abu Suwair dan Port Said." Seolah-olah diharamkan bagi para pengemban dakwah untuk meminta bantuan dari orang-orang yang memiliki hubungan kedekatan dengan mereka, terlepas dari bagaimana pun kualitas keimanan serta kapabilitas orang tersebut. Dan seakan-akan agar terbebas dari tuduhan, mereka wajib mengucilkan orang-orang terdekatnya dan membuang mereka dari tempat yang tinggi, meskipun keberadaan mereka sangat berguna dan membawa manfaat, hanya karena status mereka sebagai kerabat atau saudara. Padahal seringkali hubungan kekerabatan tersebut justru merugikan mereka sendiri karena membuat posisi mereka diakhirkan demi mendahulukan orang lain.

Mereka juga menuduh bahwa pembukuan keuangan masjid belum diumumkan secara terbuka kepada publik sampai saat ini, dan mereka mengklaim tidak mengetahui berapa jumlah pemasukannya serta bagaimana dana tersebut dibelanjakan. Mereka juga menuduh bahwa pengadaan fasilitas sekolah dibeli tanpa melalui proses lelang serta tidak menggunakan metode yang legal, dan mereka mengklaim bahwa opini publik berhak meminta pertanggungjawaban dari para pengelola jemaah ini atas apa yang mereka lakukan.

Dan saya pun mengetahui kabar mengenai laporan tuduhan ini. Maka saya segera pergi menemui tokoh senior jemaah di kediamannya. Beliau adalah seorang pria yang berakal sehat yang sangat saya hormati karena faktor usia serta senioritasnya. Saya bertanya kepadanya, "Telah sampai berita kepadaku bahwa kalian telah bertekad untuk melakukan tindakan ini dan itu, apakah berita ini benar?"

Beliau sempat mencoba mengelak untuk memberikan jawaban. Namun, ketika saya mengeluarkan beberapa lembar salinan naskah laporan tersebut di hadapannya, beliau tidak menemukan pilihan lain kecuali mengakuinya. Beliau berkata, "Benar, dan laporan itu sekarang sudah berada di percetakan." Maka saya katakan, "Baik, silakan lakukan apa yang kalian inginkan, wahai paman Fulan Efendi. Kedatangan saya menemui Anda saat ini sama sekali bukan untuk memohon agar Anda menahan laporan ini atau menghentikan serangan Anda terhadap jemaah. Anda berhak menentukan pandangan Anda sendiri dan silakan lakukan apa yang Anda mau. Akan tetapi, saya tahu dan tetap meyakini bahwa Anda adalah seorang pria yang berakal sehat, dan segala urusan itu dinilai dari hasil akhir serta dampaknya."

"Tindakan yang didasari semata-mata oleh ketergesaan serta pemuasan nafsu balas dendam tidak akan menghasilkan manfaat apa pun. Lalu apa sebenarnya hasil yang kalian harapkan dari penerbitan laporan kalian ini?"

Beliau menjawab, "Kami ingin memberikan pencerahan kepada opini publik dan menunjukkan hakikat kebenaran kepada mereka." Maka saya katakan kepadanya, "Saya tidak akan mencoba mendebat Anda mengenai kebenaran yang Anda asumsikan tersebut, yang mana saya yakini sepenuhnya sebagai sebuah kebatilan. Namun yang ingin saya tanyakan adalah, apakah Anda mengira bahwa kami ini lemah atau tidak mampu untuk membalas serta meyakinkan opini publik bahwa kamilah yang benar sedangkan kalian berada di pihak yang salah? Kalian tidak memiliki apa-apa selain sebatas klaim dan tuduhan sepihak, sedangkan kami memegang dokumen-dokumen resmi serta bukti-bukti otentik. Dan Anda, wahai paman Fulan, adalah orang yang paling mengetahui hal itu. Bukankah pembukuan keuangan masjid berada di bawah pengawasan Anda sendiri? Dan pengadaan fasilitas sekolah dibeli atas partisipasi serta persetujuan Anda? Bahkan banyak dari transaksi pembelian untuk keperluan masjid maupun selain masjid dilakukan melalui perantaraan Anda sendiri."

"Oleh karena itu, pencerahan opini publik pada akhirnya justru akan berpihak kepada kami, bukan kepada kalian. Apalagi kami memiliki sarana dan instrumen yang tidak kalian miliki. Hubungan kami jauh lebih kuat dan mengakar di tengah-tengah masyarakat. Kami mampu berorasi, menulis, berdiskusi, mengadakan pertemuan-pertemuan, menyampaikannya dalam materi-materi pelajaran, serta menjelaskannya di dalam masjid-masjid, warung kopi, hingga di jalan-jalan umum. Lidah yang membela kami sangat banyak, dan kebenaran itu pasti akan tampak nyata."

"Hanya ada satu hal saja yang benar-benar menyayat hati saya dalam persoalan ini. Hal itu adalah kenyataan bahwa baru kemarin saya memperkenalkan Anda kepada masyarakat dengan penuh penghormatan dan takzim sebagaimana seorang anak memperkenalkan ayahnya sendiri. Saya juga memperkenalkan para pemuda itu sebagai representasi terbaik dari pemuda mukmin. Namun, sikap kalian ini nantinya terpaksa akan mendorong saya untuk menjatuhkan, mencela, dan menyerang kalian dengan tuduhan dusta, pengkhianatan, serta pembangkangan keluar dari kebenaran dakwah... dan istilah-istilah tuduhan lain semacamnya yang tidak akan sulit diproduksi oleh siapa pun."

"Bayangkan, penampilan konflik internal seperti ini saja sudah sangat mengiris hati saya dan membuatnya teramat perih. Meskipun pihak yang memulai kedzaliman itu tentu lebih bersalah. Semoga Allah merahmati penyair Arab yang berkata:"

"Kita terpaksa menebas kepala orang-orang yang sebenarnya sangat berharga bagi kita,

Padahal dahulu mereka adalah orang-orang yang melampaui batas dan paling dzalim."

"Hal yang membuat kepedihan ini berlipat ganda adalah karena tidak ada hasil apa pun dari seluruh pertikaian ini, tidak ada buah yang bisa dipetik dari pengorbanan-pengorbanan ini, dan tidak ada manfaat yang bisa diharapkan dari tindakan membakar emosi serta merusak kehormatan dengan celaan dan caci maki. Maka kebaikan dari segala kebaikan adalah kalian meninggalkan peperangan ini, yang kalian sendiri sudah mengetahui bagaimana hasil akhirnya bagi kalian. Jika target kalian adalah balas dendam, maka tidak ada kebaikan dalam balas dendam. Jika kalian menginginkan nasihat, kalian telah menyampaikannya dan orang-orang pun telah mengetahui apa yang ingin kalian katakan, dan cukuplah bagi kalian pengetahuan Allah. Dan jika kalian menginginkan keridaan Allah, maka Allah Maha Mengetahui segala isi hati."

Tokoh tersebut langsung terenyuh oleh untaian kalimat ini. Beliau pun berjanji kepada saya bahwa beliau akan mencegah penyebaran laporan tersebut, dan akan menarik kembali naskah aslinya dari pihak percetakan.

Saya pun beranjak pergi meninggalkan rumah beliau dengan memegang janji tersebut.

Pelajaran yang Membekas

Saya teringat bahwa di tengah-tengah berkecamuknya rangkaian peristiwa ini, pada suatu kesempatan saya menyampaikan sebuah pelajaran (kultum) di hadapan jamaah mengenai keutamaan kebersihan hati, mencintai kebaikan untuk semua orang, serta mendamaikan pihak-pihak yang sedang berselisih. Setelah selesai memberikan pelajaran, saya merenung seorang diri, lalu terjadilah gejolak dialog batin yang sangat hebat di dalam diri saya: "Apakah kamu menyeru manusia kepada kebaikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?"

Apa-apaan ini? Sesungguhnya manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah setiap orang yang bersih hatinya lagi jujur ucapannya, sedangkan manusia yang paling dibenci di sisi Allah adalah orang yang paling keras membangkang lagi suka bermusuhan.

Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang derajatnya lebih utama daripada shalat, puasa, dan sedekah? Para sahabat menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Mendamaikan perselisihan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama adalah penggugur [agama]. Aku tidak mengatakan ia mencukur rambut, melainkan mencukur [menggugur] agama." Maka perbaikilah hubungan di antara keduanya dengan perdamaian yang baik, karena perdamaian itu jauh lebih baik. Mahabenar Allah dan rasul-Nya.

Bagaimana mungkin saya menyuarakan semua nilai luhur ini kepada masyarakat namun diri saya sendiri tidak tergerak dan terpengaruh olehnya? Hal seperti ini sama sekali tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, harus ada pembersihan hati, penyucian jiwa, pengendalian ego, serta perlawanan terhadap amarah dan dominasi keinginan untuk memenangkan diri sendiri. Saya harus menguji hal tersebut secara aplikatif pada diri saya sendiri, meskipun dalam persoalan ini saya tidak melakukan dosa apa pun dan tidak memulai permusuhan. Namun, eksperimen batin ini wajib dilakukan.

Maka saya mengambil pena lalu menulis surat kepada tokoh senior jemaah tersebut. Di dalam surat itu saya menyatakan: "Sesungguhnya saya memiliki kesiapan penuh untuk melupakan seluruh masa lalu dan mengembalikan mereka ke dalam barisan Ikhwan jika mereka menghendakinya. Jika mereka menerima rekonsiliasi ini atas dasar prinsip saling memaafkan, maka semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan; saya telah memaafkan maka hendaknya mereka pun memaafkan. Namun, jika mereka menginginkan penyelesaian ini dilakukan atas dasar pembuktian hak secara hukum, maka saya pun siap untuk itu. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada mereka untuk memilih pihak penengah (juri); silakan pilih siapa saja yang mereka kehendaki dan biarlah kita berhakim kepadanya, baik perorangan maupun kelompok. Sejak saat ini, saya menyatakan menerima apa pun keputusannya, siapa pun orangnya." Saya juga menjelaskan kepada mereka bahwa alasan utama saya menulis surat ini adalah karena saya sangat terpengaruh oleh pelajaran yang baru saja saya sampaikan sendiri, dan saya merasa sangat takut andai saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang difirmankan oleh Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3)

Akan tetapi, surat ini—meskipun membawa getaran emosional yang sangat kuat dan mengalir deras di setiap baris kalimatnya—sama sekali tidak memberikan pengaruh apa pun pada mereka. Bahkan, saya bersikeras untuk mengantarkan sendiri surat tersebut langsung ke rumah tokoh senior mereka dan menyerahkannya dengan tangan saya sendiri. Tindakan saya ini sempat memicu kemarahan yang sangat hebat dari anggota Ikhwan lainnya. Mereka mencoba menghalangi saya dengan segala cara, namun saya tetap kukuh pada pendirian saya dan bersikeras pergi membawa surat itu sendirian. Hal ini memicu keheranan dan rasa ganjil di kalangan Ikhwan. Padahal sebenarnya, saya justru merasakan kelezatan batin yang sangat besar di dalam sikap mengalah ini, yang mana saya anggap dan bayangkan—bahkan sampai saat ini—sebagai puncak dari kekuatan yang sesungguhnya karena ia tersambung langsung dengan perintah-perintah Allah.

Kalimat yang Benar

Untaian kata di dalam surat tersebut ternyata tidak mampu menembus ke dalam hati orang-orang itu, dan janji yang diucapkan oleh pria bijaksana tersebut juga tidak mampu mencegah diterbitkannya laporan tuduhan.

Sebab, salah seorang dari mereka tetap bersikeras dengan opininya sendiri meskipun ditentang oleh anggota yang lain. Ia menolak mentah-mentah jalan damai dan tetap menerbitkan laporan tersebut dengan mencantumkan namanya sendiri. Proses pencetakan pun selesai dan laporan itu disebarluaskan di tengah masyarakat. Ia bahkan membawa sendiri laporan tersebut ke Port Said dan Abu Suwair, yaitu wilayah-wilayah cabang yang bertetangga dengan Ismailia. Merespon hal ini, dewan pengurus Ikhwan menyusun sebuah selebaran jawaban penyeimbang yang diberi judul "Kalimat al-Haq" (Kalimat yang Benar). Begitu bantahan ini diterbitkan, masyarakat langsung menyambutnya dengan antusias. Dinamika konflik ini justru berhasil menarik perhatian luas dari publik terhadap dakwah. Masyarakat mulai menaruh perhatian besar pada segala hal yang berkaitan dengan jemaah ini, sehingga gejolak tersebut berubah menjadi salah satu faktor terbesar bagi meluasnya ekspansi dakwah serta bergabungnya elemen-elemen baru yang sangat banyak ke dalam barisan Ikhwan.

Sebuah Kisah Menarik

Di antara kisah yang menarik adalah bahwa saya sempat berjanji kepada anggota dewan pengurus Ikhwan untuk meminta pandangan mereka mengenai rencana membawa kasus ini ke jalur hukum atas dasar delik pencemaran nama baik melalui media cetak. Kami pun berkumpul di ruang loteng masjid setelah pelaksanaan shalat Isya.

Rapat dibuka dan saya baru saja hendak menjelaskan alur permasalahannya. Tiba-tiba, salah seorang jamaah shalat yang masih tertinggal di dalam masjid mulai melantunkan bacaan Al-Qur'an dengan suara keras, membaca firman Allah teringat:

“Dan demikianlah untuk setiap Nabi Kami jadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa yang mereka ada-adakan. Dan agar hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat tertarik kepada bisikan itu, dan disenangi mereka, dan agar mereka melakukan apa yang biasa mereka lakukan. Apakah (pantas) aku mencari hakim selain Allah? Padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu secara rinci. Dan orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengetahui bahwa (Al-Qur'an) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur'an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An'am: 112-115)

Kami semua terdiam menyimak lantunan ayat yang diulang-ulang oleh pria tersebut untuk dirinya sendiri namun dengan volume suara yang ditinggikan. Begitu bacaannya tiba pada akhir ayat yang mulia tersebut, ia langsung terdiam.

Saya pun ikut terdiam. Melihat hal itu, anggota Ikhwan bertanya: "Untuk apa kita berkumpul di sini?" Maka saya menjawab, "Perkara ini telah diputuskan. 'Apakah pantas aku mencari hakim selain Allah?'"

Kemudian saya menceritakan kepada mereka agenda utama yang mendasari pertemuan malam itu, lalu saya katakan: "Dan sekarang, saya menarik usulan rencana tuntutan hukum ini dari agenda kerja dewan, dan cukuplah Allah sebagai hakim di antara kita. Sungguh Dia telah memberikan keputusan dengan seadil-adilnya, dan Dia adalah Hakim yang paling adil, Maha Suci Dia."

Nasib Akhir sang Syekh

Di tengah pusaran semua peristiwa ini, sang Syekh yang sangat berambisi untuk menjadi ketua Ikhwanul Muslimin di Ismailia ternyata masih berstatus sebagai pengajar di sekolah-sekolah milik Ikhwan. Ia terus mengendalikan dan mengobarkan jalannya fitnah ini dari kejauhan. Ia menggerakkan bidak-bidaknya dan menyusun rencana, namun ia memiliki tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian yang sangat tinggi sehingga selalu berhasil melepaskan diri dari segala tuduhan yang diarahkan kepadanya.

Saya sengaja tidak ingin menindaknya hanya berdasarkan asumsi atau prasangka belaka, karena hal itu tidak akan mengubah realitas objektif apa pun. Sembari perkara yang menjerat para pemuda itu telah selesai diproses, saya selalu berharap agar akal sehatnya dapat mengembalikan dirinya ke jalan yang benar. Sebab ia adalah seorang yang berakal sehat karena ia memiliki kedalaman akal, seorang yang berilmu karena statusnya sebagai ulama, serta seorang yang memiliki adab karena ia adalah seorang sastrawan. Harapan saya ia bisa kembali kepada kebenaran sehingga bisa menjadi penopang bagi saya untuk merangkul kembali para pemuda yang membelot tersebut, bukan malah menjadi penyokong di balik layar bagi aksi pembangkangan mereka. Namun, ia justru terus menyuburkan benih kejahatan ini secara sembunyi-sembunyi agar terhindar dari konsekuensi tanggung jawab, hingga akhirnya fitnah tersebut meluas dan membesar. Sampai pada akhirnya Allah menghendaki kedoknya terbongkar dalam kondisi tertangkap basah.

Pada suatu malam, saya tidak dapat memejamkan mata. Akhirnya saya keluar rumah untuk melaksanakan shalat Subuh di Masjid al-Abbasi sekitar satu jam atau lebih sebelum masuknya waktu shalat. Di tengah perjalanan, saya melewati rumah salah seorang dari kelompok pembangkang tersebut. Saya mendapati rumah itu dalam kondisi menyala terang dengan jendela-jendela yang terbuka lebar. Sayup-sayup terdengar suara diskusi hangat dari dalam yang langsung memicu perhatian saya. Ternyata sang Syekh sedang duduk di sana dikelilingi oleh mereka, dan ia sedang mendiktekan serta merancang metode tipu daya dan permusuhan untuk menyerang jemaah. Saya pun melanjutkan perjalanan. Keesokan paginya, saya memanggil Syekh tersebut ke kantor. Di tengah obrolan yang santai, saya bertanya kepadanya dengan lembut mengenai aktivitasnya tadi malam dan di mana ia menghabiskan malamnya?

Ia lalu mengarang sebuah cerita yang sangat panjang yang kesimpulannya mengklaim bahwa ia menghabiskan seluruh malamnya di dalam rumahnya sendiri. Saya kemudian mengalihkan pembicaraan pada topik seputar fitnah yang terjadi serta dampak buruknya, lalu saya menyentil tentang desas-desus yang beredar di masyarakat mengenai keterlibatan dirinya dalam gerakan tersebut. Mendengar hal itu, ia langsung bertekad melepaskan diri dari semua tuduhan, membantah keterlibatan dirinya, serta menampilkan citra seolah-olah dirinya dalam perkara ini jauh lebih suci daripada air mendung. Ia terus menyusun berbagai argumen dan bukti palsu. Sungguh, saya merasa sangat takjub melihat kemampuan luar biasanya dalam menyusun kebohongan yang serapi itu. Hingga akhirnya ia mencoba untuk bersumpah dengan menggunakan kalimat talak [cerai istrinya]. Di titik ini, saya sudah tidak mampu lagi menahan kesabaran. Secara refleks saya langsung membekap mulutnya dengan gerakan cepat, lalu berteriak di depan wajahnya: "Bertakwalah kepada Allah! Waspadalah dari bersumpah! Jangan pernah engkau berani bersumpah!" Kemudian saya mengejarnya dengan pertanyaan: "Lalu di mana keberadaanmu pada jam sekian malam tadi?" Seketika itu juga gurat keterkejutan dan kepanikan langsung tampak jelas di wajahnya. Ia mencoba menjawab namun lidahnya kelu dan gagap. Saya tidak memberinya celah sedikit pun; saya langsung membeberkan hakikat kebenaran di depan wajahnya beserta bukti-bukti yang tidak terbantahkan.

Saya menegaskan kepadanya bahwa saya melihat dirinya dengan mata kepala saya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang melaporkannya kepada saya. Ia tidak menemukan ruang lagi untuk mengelak selain mengakui dan mengonfirmasi kejahatannya. Ia pun mulai menampakkan penyesalan yang mendalam serta memohon belas kasihan. Maka saya katakan kepadanya: "Tidak ada masalah bagimu, percayalah bahwa saya tidak akan pernah berpikir untuk membalasmu dengan keburukan apa pun. Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin baru kemarin saya memujimu dan mempromosikan dirimu di hadapan manusia, hingga saya shalat di belakangmu, menghadiri majelis taklimmu, serta merekomendasikan masyarakat untuk mengikutinya; lalu hari ini saya harus mencelamu dan membongkar borok yang saya temukan darimu? Saya tidak sanggup membayangkan hal itu terjadi. Akan tetapi, mulai hari ini saya tidak lagi dapat menoleransi keberadaanmu bersama saya dalam satu dakwah maupun satu amal. Maka pilihlah untuk dirimu sendiri satu dari dua opsi ini: pertama, engkau tetap tinggal di Ismailia namun dengan catatan saya akan mencarikan pekerjaan lain untukmu dengan taufik Allah, asalkan berada di luar ruang lingkup Ikhwan, dan engkau silakan beralasan dengan alasan apa pun yang dapat diterima publik. Opsi kedua, engkau kembali ke kampung halamanmu, dan kewajiban sayalah untuk membiayai perjalanan kepulanganmu..."

"...serta menjamin kenyamananmu sampai engkau tiba di tempat amanmu. Allah adalah Pelindung kita semua dan Dia menjadi Saksi atas apa yang kita sepakati."

Ia akhirnya memilih opsi kedua. Namun, ia mengajukan syarat agar saya melunasi seluruh utang-utang yang menjeratnya, dan saya pun memenuhi serta membayar seluruh utangnya tersebut. Ia kemudian menulis surat pengunduran diri dari pekerjaannya, sehingga terputuslah hubungannya dengan markas jemaah maupun institusi ma'had seketika.

Gugatan Hukum dan Sekolahnya

Nyatanya, ia tidak benar-benar pergi kembali ke kampung halamannya sebagaimana yang telah ia janjikan. Suatu hari saya justru dikejutkan oleh selembar brosur pengumuman mengenai pembukaan sebuah sekolah baru yang dipimpin dan dikelola langsung oleh dirinya, di bawah pengawasan komite yang dibentuk oleh lima orang pembangkang yang bersamanya dulu. Di dalam brosur tersebut dipenuhi dengan kalimat celaan serta pembunuhan karakter terhadap jerih payah Ikhwan beserta sekolah-sekolah mereka. Maka saya membatin: "Baguslah, yang terpenting adalah dia sudah menjauh dari kita, dan biarkan dia melakukan apa saja yang dia kehendaki setelah ini."

Namun tidak berhenti di situ, setelah kejadian ini saya kembali dikejutkan oleh adanya surat panggilan dari pengadilan. Surat itu menyatakan bahwa sang Syekh mengajukan gugatan hukum menuntut uang kompensasi/pesangon atas masa bakti yang pernah ia habiskan selama mengajar di Ikhwan. Jumlah nominal yang ia tuntut sebenarnya sangat kecil dan remeh, namun ia bersikeras untuk mengambilnya melalui jalur pengadilan. Padahal, di dalam tangan saya tersimpan dokumen-dokumen bukti pelanggaran yang nilainya dapat mendakwa dirinya berkali-kali lipat dari jumlah nominal yang ia tuntut. Saya memutuskan untuk menghadiri sendiri persidangan tersebut di pengadilan. Begitu ia mengajukan tuntutannya, saya langsung mengakuinya di depan hakim. Namun, setelah itu saya menyerahkan dokumen-dokumen bukti otentik yang ada di tangan saya kepada hakim. Hakim pun mempertimbangkan bukti-bukti tersebut, hingga akhirnya memutuskan untuk menolak gugatan sang Syekh secara total dan membebankan seluruh biaya perkara persidangan kepadanya.

Sekolah baru yang ia umumkan tersebut tidak dapat bertahan lama; ia langsung mati di dalam buaiannya (mati suri). Keberadaan dirinya di kota Ismailia pun tidak berlangsung lama setelah itu, karena ia segera angkat kaki meninggalkan kota tersebut.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepadanya. Sebab saat ini, beliau telah berubah menjadi salah seorang ulama terbaik sekaligus sahabat yang paling utama. Semua peristiwa itu hanyalah bagian dari hari-hari yang telah lama berlalu serta kenangan masa lalu yang telah usai. Barangkali dahulu beliau memiliki uzur (alasan tersendiri) atas sikapnya, sementara kita saat itu mencelanya. Dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia di dalam dada.

Pernikahan dan Perpindahan

Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin meringankan beban dampak dari rangkaian fitnah ini—yang benar-benar menjadi kejutan besar bagi saya di awal kehidupan dakwah. Rangkaian ujian tersebut adalah pelajaran-pelajaran yang sangat luar biasa. Saya menghadapinya dengan penuh ketakjuban, walaupun taufik dari Allah Tabaraka wa Ta'ala selalu berhasil melenyapkan seluruh dampak negatifnya dan mengubahnya menjadi buah kebaikan bagi kami. Dari sana kami dapat menghayati dengan nyata kebenaran dari untaian hikmah yang berbunyi: "Bisa jadi sesuatu yang membahayakan itu justru membawa manfaat." Sejak saat itu, saya menjadi paham bahwa dakwah tidak hanya akan dimusuhi oleh musuh-musuh dari luar atau orang-orang yang tidak memahaminya, melainkan bisa juga digembosi dari dalam oleh orang-orang yang berinteraksi dengannya, memahaminya, bahkan yang telah terdaftar di dalam barisannya dan orang-orang yang mengambil keuntungan di baliknya. Aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi perang ini dengan bekal kesabaran, keteguhan hati, dan teladan yang baik. Namun, ketika bendera permusuhan itu justru dibawa oleh segelintir orang yang paling ikhlas, yang selama ini menjadi sandaran kami—yang disokong pula oleh sebagian orang yang hidup di bawah naungan dakwah beserta lembaga-lembaganya tanpa tujuan yang jelas dan tanpa hasil sama sekali—maka ini sungguh hal yang sangat mengherankan. Dan Allah memiliki ketetapan tersendiri pada setiap makhluk-Nya.

Seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin meringankan beban jiwaku dari dampak fitnah-fitnah ini, Dia memberikan kesempatan kepadaku untuk menikah. Prosesnya pun berlangsung dengan kemudahan, kelancaran, dan kesederhanaan yang luar biasa: khitbah (lamaran) terjadi kira-kira pada awal Ramadan, akad nikah dilaksanakan di masjid pada malam ke-27 Ramadan, dan walimatul urus (resepsi) dilangsungkan pada tanggal 10 Zulkaidah setelahnya. Maka selesailah urusan tersebut, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Setelah itu, aku merasa bahwa tugasku di Ismailia telah usai. Dakwah telah melembaga, bangunan-bangunan fasilitas telah berdiri kokoh, masyarakat yang mulia seluruhnya telah menjadi ikhwan (saudara), dan separuh agama yang kedua pun telah sempurna. Lalu, untuk apa lagi aku berdiam diri di sini?

Sebuah perasaan aneh berkecamuk di dalam diriku bahwa aku akan dipindahtugaskan setelah ini. Ketika libur musim panas tahun 1932 tiba, aku bertemu dengan guru kami, Syekh Abdul Wahhab an-Najjar Rahimahullah. Kami berbincang cukup lama dan pembicaraan kami mengalir hingga membahas kota Ismailia serta dakwah di sana, disertai firasatku tentang waktu kepindahan yang sudah dekat dari kota tersebut. Pada kesempatan itu, aku meminta beliau untuk berbicara dengan Ustaz al-Bathrawi, pengawas bahasa Arab saat itu, mengenai keinginanku untuk pindah ke Kairo. Ustaz an-Najjar Rahimahullah kemudian meminta agar aku menulis surat permohonan resmi terkait hal tersebut, lalu aku pun menulisnya. Akhirnya Allah mengabulkan keinginan ini, sehingga aku resmi dipindahkan ke Kairo pada bulan Oktober tahun 1932 Masehi.

Teks-Teks dari Kenangan di Ismailia Khotbah Pertama di Masjid Al-Ikhwan

Sekarang, setelah bagian pertama dari memoar ini selesai dengan apa yang kami publikasikan kemarin, kami menerbitkan beberapa teks mengenai kenangan di Ismailia, dan akan kami ikuti dengan bagian kedua mengenai dakwah dan dai di Kairo:

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang melimpah atas taufik yang Dia berikan untuk melakukan ketaatan, atas kemaksiatan yang Dia jauhkan, dan atas kelapangan dada yang Dia anugerahkan demi kebaikan.

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai kesaksian iman, pengakuan, dan ketundukan. Dan aku bersaksi bahwa junjungan kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya , pribadi paling utama yang mendirikan salat, berpuasa, bertahajud, berdiri beribadah, dan menghidupkan malam di saat manusia terlelap; pemimpin setiap ahli ibadah dan sebaik-baik pribadi yang membangun masjid. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, beserta keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengambil petunjuk dengan bimbingannya hingga hari kiamat.

Amma ba'du, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya sedekat-dekatnya amalan dan seagung-agungnya kebaikan adalah membangun masjid-masjid, memakmurkannya, serta berinfak di jalan pendiriannya. Hanya orang-orang yang dicintai-Nya di antara hamba-hamba-Nya yang taat yang diberikan taufik oleh Allah untuk melakukan hal tersebut, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menunaikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Tawbah [9]: 18) .

Mereka adalah kaum yang mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di dalam perbendaharaan harta mereka, serta lebih memercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangan mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa apa yang ada pada mereka akan sirna dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. Maka mereka memberi, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, sehingga mereka mendapatkan kemudahan dari Allah menuju jalan kemudahan serta balasan yang paling mulia.

"...dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna." (QS. An-Najm [53]: 39-41) .

Apakah ada amal yang penuh bakti, usaha yang disyukuri, dan keutamaan turun-temurun yang lebih mulia, lebih utama, lebih tinggi, serta lebih agung daripada memakmurkan rumah-rumah Allah?

"(Cahaya itu) di rumah-rumah (masjid) yang Allah telah perintahkan untuk meninggikannya dan menyebut nama-Nya di dalam(nya). Bertasbihlah kepada-Nya di sana pada pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di dalamnya) hati dan penglihatan menjadi guncang." (QS. An-Nur [24]: 36-37) .

Masjid-masjid di dalam umat Islam adalah tempat ibadah salat sekaligus sekolah tempat diajarkannya ayat-ayat Allah. Salat tidak lain merupakan ikatan yang kuat antara penduduk bumi dan Tuhan pemilik langit, ketika mereka berdiri di hadapan Sang Mahapengasih dengan khusyuk, serta tersungkur dalam sujud dan rukuk karena keagungan-Nya. Lidah dan sanubari mereka bermunajat dalam hadirat-Nya yang suci dengan zikir dan doa, sehingga turunlah ketenangan kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Dia melapangkan kesulitan mereka, menghilangkan kesedihan mereka, dan menolak kekuatan musuh mereka dari mereka.

"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang suka berkhianat lagi mengingkari nikmat." (QS. Al-Hajj [22]: 38) .

Dia membanjiri mereka dengan kelembutan-Nya, melindungi mereka dalam penjagaan-Nya, dan memperlakukan mereka sesuai dengan prasangka baik mereka kepada-Nya.

"Yang demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman dan karena orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung." (QS. Muhammad [47]: 11) .

Dan sesungguhnya seorang hamba, jika mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunah dan salat, maka Allah akan menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang dia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Nya, niscaya Dia akan memberinya, dan jika dia memohon perlindungan kepada-Nya, niscaya Dia akan melindunginya.

Jika salah seorang dari kita sangat mendambakan kecintaan orang-orang besar dan keridaan para pemimpin, serta suatu bangsa berupaya menarik simpati negara-negara lain, memperkuat hubungan antara negaranya dan pemerintah-pemerintah lain, hingga menginfakkan harta yang banyak untuk hal tersebut serta mendirikan kedutaan-kedutaan besar maupun konsulat-konsulat; maka tidakkah lebih patut dan wajib bagi kita untuk mencari keridaan Penguasa Langit, yang di puncak segala-galanya adalah Tuhan semesta alam, yang memiliki bala tentara langit dan bumi, dan di tangan-Nya lah segala urusan?

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka, jadilah ia." (QS. Yasin [36]: 82) .

Kita mencari keridaan-Nya dengan membangun masjid-masjid, memakmurkannya, dan menegakkan salat di dalamnya tepat pada waktunya, sehingga Dia akan membantu kita dengan bala tentara-Nya yang tidak akan terkalahkan, pasukan-Nya yang tidak dapat ditundukkan, serta pertolongan-Nya yang kuat yang telah Dia janjikan:

"...Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat..." (QS. Al-Hajj [22]: 40-41).

"...makruf dan mencegah dari yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al-Hajj [22]: 41) .

Sesungguhnya jika suatu umat telah mencari keridaan Tuhannya, berlindung kepada Penciptanya, dan menjadikan Allah sebagai pelindungnya, niscaya Allah akan menolongnya atas umat yang lain dan menghindarkannya dari keburukan musuhnya.

"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (karena) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah cukupkan bagi orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS. Al-Ahzab [33]: 25) .

Namun, jika umat tersebut lebih mengutamakan keridaan makhluk daripada Al-Haq (Allah), serta mengambil hati selain-Nya dengan pemberian dan taklid (pengekoran buta), niscaya Allah akan menyerahkan umat tersebut kepada dirinya sendiri, dan menyerahkan urusan perlindungannya kepada kemampuannya sendiri. Akibatnya, ia menjadi lemah di tengah-tengah kekuatannya dan terkalahkan dalam urusannya.

Padahal, masjid adalah syiar agama, simbol Islam, dan tanda bagi orang-orang mukmin. Di dalamnya kewajiban-kewajiban dari Allah ditunaikan, di atas mimbar-mimbarnya dikhotbahkan kitab Allah dan sunah Rasulullah, serta dari menara-menaranya dikumandangkan kalimat Allah: Allahu Akbar, wa asyhadu alla ilaha illallah, wa anna Muhammadan Rasulullah, hayya 'alas-shalah, hayya 'alal-falah. Itu semua adalah tanda-tanda yang nyata dan keutamaan yang jelas yang memperkuat keyakinan, menyadarkan para pemeluk agama, menjadi peringatan bagi orang-orang yang bertakwa, penyesalan bagi orang-orang kafir, kegembiraan bagi orang-orang mukmin, dan kehancuran bagi sekutu-sekutu setan.

Seandainya Anda singgah di suatu negeri yang belum pernah Anda datangi sebelumnya, tidakkah Anda melihat bahwa masjid-masjid di sana adalah bukti nyata atas agama penduduknya? Jika jumlahnya banyak dan menjamur, Anda tahu bahwa mereka adalah kaum yang saleh, bertakwa, dan beruntung. Namun jika jumlahnya sedikit dan jarang, Anda tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sibuk dengan urusan dunia mereka dan lalai dari agama mereka. Karena suatu alasan yang besar pulalah, Abu Bakar Radiyallahu 'Anhu pernah berkata dalam wasiatnya kepada pasukannya: "Jika kalian mendatangi suatu kaum, maka tunggulah hingga datangnya waktu salat. Jika mereka mengumandangkan azan, maka tinggalkanlah mereka (jangan diperangi), namun jika tidak, maka perangilah mereka sampai kalimat Allah menjadi yang paling tinggi." Hal itu karena syiar-syiar yang tampak akan menarik perhatian, memikat pendengaran, dan menautkan hati orang-orang yang menebus Islam yang dicintai ini.

"...Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. Al-Hajj [22]: 32) .

Masjid-masjid juga merupakan sekolah umum, universitas rakyat, dan akademi pembinaan moral bagi umat. Di dalamnya orang dewasa, pemuda, orang tua, dan anak-anak mempelajari apa yang memperbaiki urusan kehidupan dunia dan akhirat mereka. Di sana mereka dibekali dengan hukum-hukum agama mereka, asupan bagi akal mereka, dan obat bagi dada mereka melalui nasihat-nasihat yang mereka dengar, serta melalui halakah-halakah ilmu yang para pengajarnya tidak meminta upah materi sedikit pun, dan tidak memberatkan para pendengar baik dalam jumlah sedikit maupun banyak.

Jika kita menaruh perhatian pada pendirian sekolah-sekolah dan menyebarluaskannya di antara lapisan masyarakat, serta mempersiapkan rumah sakit untuk mengobati kesehatan fisik, maka sudah seharusnya kita lebih memperhatikan pendirian masjid-masjid yang sejatinya merupakan rumah ibadah, sekolah ilmu, dan rumah sakit bagi penyakit-penyakit jiwa.

Para pendahulu kita—Ridwanullahi 'Alaihim—sangat memperhatikan pengajaran di dalam masjid untuk kalangan khusus maupun awam. Mereka mengintegrasikan sebuah sekolah pada setiap masjid, dan terkadang diikuti pula dengan asrama tempat tinggal bagi para penuntut ilmu, agar ilmu menyatu dengan amal, perkataan beriringan dengan perbuatan, dan studi bersifat aplikatif sebelum bersifat teoretis (wacana). Hal ini dilakukan agar ruh agama terpancar di dalam diri para pelajar, serta memantapkan manifestasinya di dalam jiwa para penuntut ilmu, sehingga mereka lulus dengan memiliki keutamaan dan akhlak Muhammad yang mulia.

Kondisi ini berbeda dengan sekolah-sekolah yang mereka ada-adakan dan institut-institut yang mereka ciptakan; anak-anak kita memasukinya dalam keadaan muslim, lalu keluar dari sana dalam keadaan ateis atau tanpa agama. Akal mereka telah diracuni oleh pemikiran-pemikiran asing [Fransis/Barat] yang keji, otak mereka dijejali opini-opini ateistik, dan mereka tumbuh di atas taklid serta serba-boleh (liberalisme moral).

Pendidikan manakah yang lebih tinggi daripada pendidikan masjid seandainya orang-orang yang mengembangnya menguasainya dengan baik dan memahaminya secara benar? Padahal pilarnya adalah kerelaan hati (motivasi), bukan ketakutan, dan asasnya adalah jalinan hubungan serta kasih sayang.

Di samping semua itu, masjid adalah medan taaruf (saling mengenal) bagi orang-orang mukmin dan tempat bertemunya fisik mereka. Di dalam masjid mereka berkumpul, dan di bawah naungannya mereka saling bersaudara dan mengenal. Pada masa lalu, masjid merupakan balai pertemuan kaum muslimin, tempat perdamaian mereka, dan tempat perayaan pernikahan mereka, demi melaksanakan wasiat Rasulullah alaihish-shalatu was-salam di mana beliau bersabda: "Umumkanlah pernikahan ini dan laksanakanlah di masjid-masjid." Dengan demikian, mereka dapat menghindari dampak buruk dari pesta-pesta yang biasa dilakukan, seperti pemborosan, mubazir, riya, kesombongan, dan saling membanggakan kebatilan. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Jika masjid memiliki dampak seperti ini dalam kehidupan umat, maka masjid merupakan hal pertama yang wajib diperhatikan pembangunannya oleh para pekerja, dan dipikirkan perbaikannya oleh para pemikir. Demikian pulalah amal pertama Rasulullah alaihish-shalatu was-salam dalam hijrah beliau, yaitu membangun Masjid Quba selama masa tinggal beliau di Bani Salim bin Auf. Itulah masjid yang Allah turunkan ayat tentangnya:

"...Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih." (QS. At-Tawbah [9]: 108) .

Dan amal pertama yang beliau lakukan setelah memasuki Madinah adalah membangun masjid beliau alaihish-shalatu was-salam, yang merupakan tempat suci kedua (setelah Masjidil Haram), yang di dalamnya terdapat Raudhah (taman) di antara taman-taman surga. Beliau bekerja sendiri di dalamnya seraya bersabda:

Ya Allah, tidak ada kehidupan melainkan kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Ansar dan Muhajirin.

Para sahabat beliau pun bekerja seraya melantunkan bait syair: Sungguh jika kita duduk santai sedangkan Nabi bekerja, Maka tindakan kita itu merupakan perbuatan yang sesat. Tidaklah sama orang yang memakmurkan masjid, Ia bekerja di dalamnya dengan bersungguh-sungguh dan tidak duduk diam, Dibandingkan orang yang terlihat menyimpang dari jalan benarnya.

Dan Usman Radiyallahu 'Anhu adalah orang pertama yang menyambut seruan Rasulullah dalam memperluas masjid beliau, sehingga ia menambahkan luasnya sekira seukuran lima tiang.

Maka pujilah Allah Tabaraka wa Ta'ala atas taufik yang diberikan kepada kalian berupa bantuan bagi perkumpulan Ikhwanul Muslimin dalam membangun masjid ini dengan harta dan jiwa kalian. Semoga Allah membalas kalian dengan sebaik-baik balasan orang-orang yang beramal, memberikan pahala terbaik bagi orang-orang yang ikhlas, dan melipatgandakan ganjaran bagi orang-orang yang berinfak.

Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan rida Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga." (HR. Bukhari dan Muslim serta selain keduanya) .

Dan dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya masjid-masjid itu memiliki pasak-pasaknya (orang-orang yang mukim di dalamnya), malaikat menjadi teman duduk mereka. Jika mereka tidak ada, malaikat kehilangan mereka; jika mereka sakit, malaikat menjenguknya; dan jika mereka memiliki keperluan, malaikat membantunya."

"Teman duduk di masjid itu mendapatkan salah satu dari tiga perkara: saudara yang bermanfaat, kalimat hikmah, atau rahmat yang dinanti." (HR. Al-Hakim, dan ia mengatakan hadis ini sahih sesuai syarat keduanya [Bukhari dan Muslim]) .

Potongan-Potongan Catatan

Di antara potongan catatan yang aku temukan secara tidak sengaja ketika aku sedang bersiap-siap untuk menulis tentang dakwah dan dai setelah kepindahan ke Kairo adalah potongan-potongan catatan yang unik. Aku suka untuk menuliskannya berikut ini, seraya memohon maaf untuk tidak menyebutkan nama-nama tokohnya hingga waktu yang tepat:

Karakter Jiwa

Dia tidak berterus terang kepadaku... mengenai apa yang terjadi antara dirinya dan si Fulan terkait nafkah (pendanaan) dalam proyek perdagangan mereka berdua... Padahal sebelumnya aku mengira bahwa jiwanya telah bersih dari kecintaan terhadap materi dan metode yang mengandalkan kelicikan serta berbelit-belit ini. Namun ternyata sisa-sisa karakter tersebut masih melekat pada dirinya...

Hal itu tidak membuatku putus asa dari memperbaikinya, namun hal itu membuatku meyakini bahwa membersihkan jiwa dari kotoran-kotorannya adalah pekerjaan paling berat dalam hidup ini , dan mengingatkanku pada perkataan penyair Syauqi:

Dan menyembuhkan manusia dari kecenderungan-kecenderungan jahatnya, Sama beratnya dengan menghilangkan tabiat serigala dari dirinya.

Hal ini membuatku harus lebih berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menaruh kepercayaan kepada manusia, kecuali setelah adanya pengalaman dan pengenalan yang sempurna.

Jejak Kekuasaan Allah

Sungguh aku merasa heran terhadap orang-orang yang melihat jejak-jejak kekuasaan Allah pada segala sesuatu dan pada diri mereka sendiri, namun mereka tetap tidak beriman kepada-Nya dan tidak memahami pesan-Nya.

Sesungguhnya memahami pesan dari Allah Ta'ala adalah hakikat keimanan kepada-Nya. Dahulu aku sering membaca kalimat ini di dalam buku-buku, dan aku melihatnya sebagai sesuatu yang samar (abstrak), hingga akhirnya Allah membuka bagi hatiku salah satu pintu dari pintu-pintu pemahaman ini.

Maka aku pun mengetahui hakikat bahwa iman itu bukanlah akhir, melainkan ia adalah awal dari makrifat (pengenalan) dan permulaan jalan untuk sampai kepada-Nya.

Dahulu jiwaku merasa sangat tenang dan yakin terhadap kemampuan para murid dalam menguasai kaidah-kaidah bahasa, namun aku ragu terhadap kemampuan mereka dalam aspek insya (mengarang/menulis kreatif). Hal itu karena aku telah bersusah payah bersama mereka dalam menjelaskan kaidah-kaidah tersebut serta penerapannya, dan aku mengandalkan usaha keras ini. Namun, hasilnya justru menunjukkan keahlian mereka pada hal yang aku khawatirkan (mengarang), dan kelalaian mereka pada hal yang aku andalkan (kaidah). Maka aku pun teringat firman Allah Ta'ala:

"Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badr..." (QS. Ali 'Imran [3]: 123) dan "...pada hari Hunain, ketika jumlahmu yang banyak itu membanggakan kamu..." (QS. At-Tawbah [9]: 25).

Piagam Arab

Surat kabar "Adh-Dhiya'" edisi tanggal 22 Al-Muharram 1350 menerbitkan berita berikut: Telah dibentuk di Amerika Serikat sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk menyebarkan gagasan persatuan Arab dan menuntut kemerdekaan mereka.

Di antara program kerjanya adalah sumpah ini, yang diikrarkan oleh setiap orang Arab, yaitu:

Atas nama Arab kami hidup dan atas nama Arab kami mati. Aku bersumpah demi Tuhanku, demi kehormatanku, dan demi tanah kuburan leluhurku, bahwa aku akan bekerja demi persatuan Arab dan berusaha meraih kemerdekaan Arab dengan segala sarana dan cara, tanpa memandang apa pun bentuknya selama hal itu menyampaikan kepada tujuan yang tertinggi. Aku sama sekali tidak mengakui pembagian wilayah yang dilakukan oleh sekutu di negeri-negeri Arab, tidak pula mengakui mandat apa pun atau janji seperti Janji Balfour. Aku juga tidak mengakui solusi apa pun yang tidak sejalan dengan cita-cita bangsa Arab. Sebaliknya, aku menganggap seluruh negeri Arab sebagai satu tubuh yang tidak dapat terbagi-bagi. Aku mengakui bahwa keberadaan unsur-unsur asing dan para imigran asing di negeri Arab adalah hal yang tidak murni (tidak natural), zalim, bentuk perampasan terhadap hak-hakku dan hak-hak umatku, serta perampasan terhadap kebebasanku dan kebebasan negeriku. Dan aku berjanji akan membersihkan negeri ini dari setiap bentuk kolonialisme, penjajahan, atau mandat asing , serta akan menghancurkan setiap rintangan di jalan mencapai tujuan umum, dan tidak akan menjadikan tujuan pribadi atau regional apa pun menghalangi persatuan Arab. Dan Allah menjadi saksinya. Tertanda: Ksatria Persatuan Arab.

Mereka juga menetapkan tanggal 17 Juni sebagai awal pemberlakuan piagam ini, yaitu hari ketika otoritas Inggris mengeksekusi para syuhada Palestina.

Lintasan Pikiran (Khawatir)

Hari ini datang kepadaku... dan... dari Mahmudiyah, dan kami berbincang banyak hal mengenai cabang-cabang perkumpulan Ikhwanul Muslimin.

Aku ingin menulis tentangnya namun ruang penulisan tidak menampungnya, maka aku menyerahkan urusannya kepada Allah, dan aku memohon kepada Allah agar menjelaskan kepadaku jalan yang aku tempuh ini.

Hanya saja, ringkasan dari lintasan pikiranku adalah bahwa dua cabang perkumpulan Ikhwanul Muslimin di Mahmudiyah dan Syubrakhit tidak akan memberikan banyak manfaat, karena keduanya didirikan tidak menggunakan metodeku. Dan tidak ada yang berguna dalam membangun dakwah ini kecuali apa yang aku bangun sendiri dengan tanganku serta dengan usaha dari para ikhwan sejati, yaitu mereka yang memandang adanya kemitraan antara diriku dan diri mereka dalam hal pembinaan moral (tazkiyah) dan pengajaran, dan jumlah mereka itu sedikit.

Sedangkan untuk cabang Ismailia sendiri, akan terjadi banyak penyesuaian di dalamnya, namun ia akan terus berjalan dengan memberikan manfaat insya Allah ... Sesungguhnya dia... adalah seorang pemimpin yang berbakat, namun dia menghabiskan kepemimpinan dan bakat-bakat ini untuk hal-hal yang sepele, tidak menghargai nilai waktunya, hatinya dipenuhi oleh ilusi-ilusi yang tidak ada hakikatnya, dan perhatiannya tercurah pada sisi yang tidak membuahkan apa pun kecuali keletihan. Maka, bersandar kepadanya merupakan bentuk pertaruhan yang sia-sia.

Sementara saudara kita, sang Syekh... memiliki metode-metode tersendiri yang khusus baginya. Dia memandangku hanya sebagai saudara sejawat, sehingga dia hanya sedikit mendengarkan pendapat-pendapatku. Dari sisi inilah, menyatukan pemikiran menjadi suatu hal yang sulit. Maka bersandar kepadanya juga merupakan sebuah pertaruhan.

Uruslah dirimu sendiri wahai manusia, dan waspadalah terhadap makhluk... Tuhanmu dan dirimu, dan cukuplah Allah bagimu serta bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.

Merupakan hal yang unik bahwa saudara yang berkunjung dari Mahmudiyah melihat tulisan ini pada saat itu, lalu dia menulis dengan tulisan tangannya sendiri pada halaman yang berhadapan, berupa kalimat berikut: "Semoga Allah mengampunimu, wahai saudaraku yang mulia. Sungguh Allah mengetahui bahwa engkau telah berlebihan dalam prasangkamu ini, dan apa yang aku harapkan adalah agar hari-hari mendatangkan kepadamu hal yang berbeda dari apa yang engkau prasangkakan."

Aku tidak menganggap diriku suci, dan Allah lebih mengetahui. Hanya saja, engkau pasti akan kembali pada kesadaranmu di suatu alam yang mengetahui bahwa jiwa yang aku bawa di antara kedua lambungku ini adalah jiwa—yang Allah ketahui dengan ilmu-Nya yang terdahulu lagi azali—bahwa ia bergejolak penuh kecemburuan [pembelaan terhadap agama] dan hancur berkeping-keping karena kesedihan serta kepedihan atas apa yang menimpa Islam dan pemeluknya.

Diferensiasi (Independensi Dakwah)

Hari ini datang ke Ismailia... dari Al-Qashashin, dan dia menyeru kepada tarekatnya serta memiliki pemikiran-pemikiran khusus yang bertolak belakang dengan cita-cita Islamku.

Padahal, aku hanya mewakafkan diriku untuk sebuah dakwah yang aku pandang sebagai sebaik-baik jalan bagi perbaikan Islam. Orang-orang seperti mereka itu ingin mengubah dan membentuk dakwah ini agar serupa dengan bentuk dakwah-dakwah mereka, dan itulah hal yang tidak aku inginkan.

Sungguh telah tiba saatnya bagiku untuk bersikap tegas dan memisahkan diri dari seluruh klaim-klaim yang syubhat (samar) ini.

Di dalamnya aku akan menyingkap tujuan perbaikan Islam, yang diringkas dalam tindakan kembali kepada Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya, membersihkan akal dari khurafat-khurafat dan ilusi-ilusi ini, serta mengembalikan manusia kepada petunjuk Islam yang hanif (lurus).

Metodologi (Uslub)

Tidaklah menjadi suatu keharusan dalam dakwah ini untuk selalu menggunakan nama perkumpulan "Ikhwanul Muslimin". Sebab, tujuan kita tidak lain adalah memperbaiki jiwa dan membina ruhani. Maka biarlah dakwah ini diarahkan menuju "Sekolah-Sekolah Ansar", "Institut-Institut Hira", dan "Klub-Klub Taaruf", baru setelah itu kelompok-kelompok jemaah akan terbentuk dengan sendirinya dan orang-orang yang mengambil keuntungan di baliknya. Aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi perang ini dengan bekal kesabaran, keteguhan hati, dan teladan yang baik. Namun, ketika bendera permusuhan itu justru dibawa oleh segelintir orang yang paling ikhlas, yang selama ini menjadi sandaran kami—yang disokong pula oleh sebagian orang yang hidup di bawah naungan dakwah beserta lembaga-lembaganya tanpa tujuan yang jelas dan tanpa hasil sama sekali—maka ini sungguh hal yang sangat mengherankan, dan Allah memiliki ketetapan tersendiri pada setiap makhluk-Nya. Seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin meringankan beban jiwaku dari dampak fitnah-fitnah ini, Dia memberikan kesempatan kepadaku untuk menikah. Prosesnya pun berlangsung dengan kemudahan, kelancaran, dan kesederhanaan yang luar biasa: khitbah (lamaran) terjadi kira-kira pada awal Ramadan, akad nikah dilaksanakan di masjid pada malam ke-27 Ramadan, dan walimatul urus (resepsi) dilangsungkan pada tanggal 10 Zulkaidah setelahnya; maka selesailah urusan tersebut, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Setelah itu, aku merasa bahwa tugasku di Ismailia telah usai. Dakwah telah melembaga, bangunan-bangunan fasilitas telah berdiri kokoh, masyarakat yang mulia seluruhnya telah menjadi ikhwan (saudara), dan separuh agama yang kedua pun telah sempurna; lalu, untuk apa lagi aku berdiam diri di sini?

Sebuah perasaan aneh berkecamuk di dalam diriku bahwa aku akan dipindahtugaskan setelah ini. Ketika libur musim panas tahun 1932 tiba, aku bertemu dengan guru kami, Syekh Abdul Wahhab an-Najjar Rahimahullah. Kami berbincang cukup lama dan pembicaraan kami mengalir hingga membahas kota Ismailia serta dakwah di sana, disertai firasatku tentang waktu kepindahan yang sudah dekat dari kota tersebut. Pada kesempatan itu, aku meminta beliau untuk berbicara dengan Ustaz al-Bathrawi, pengawas bahasa Arab saat itu, mengenai keinginanku untuk pindah ke Kairo. Ustaz an-Najjar Rahimahullah kemudian meminta agar aku menulis surat permohonan resmi terkait hal tersebut, lalu aku pun menulisnya. Akhirnya Allah mengabulkan keinginan ini, sehingga aku resmi dipindahkan ke Kairo pada bulan Oktober tahun 1932 Masehi.

Lemahnya Orang Kepercayaan dan Buruknya Orang Kuat

Pada hari ini berbicara kepadaku ... dan ... mengenai sistem majelis idarah (dewan pengurus): Sesungguhnya orang-orang tersebut belum memahami dakwah Ikhwanul Muslimin, dan sedikit sekali dari mereka yang mampu memikul beban administrasinya serta melaksanakan metodenya yang luas.

Aku sangat berharap agar di sisiku ada tokoh-tokoh yang paham dan mampu mengelola, sehingga aku dapat menyerahkan pekerjaan ini kepada mereka, agar aku bisa sedikit beristirahat karena mereka dan merasa tenang terhadap kemampuan mereka, tetapi di manakah mereka berada?

Sesungguhnya kebanyakan orang tidak memahami majelis idarah melainkan sebatas kata keanggotaan saja; mereka saling bersaing memperebutkannya, sehingga terjadilah permusuhan dan kebencian di antara mereka.

Perubahan yang dinanti ini akan diikuti oleh kegaduhan yang bagaikan fatamorgana; tampak jelas terlihat namun akan sirna begitu saja saat didekati.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui adanya maksud yang baik dan ketulusan niat maka berikanlah taufik, dan jika selain itu maka tuntunlah kami ke jalan hamba-hamba-Mu yang ikhlas, amin.

Bagian Kedua Dakwah di Kairo

Gang Nafik Nomor 24 Aku berpindah ke Kairo, lalu majelis idarah Ikhwan di Ismailia mengadakan perkumpulan dan memutuskan untuk menetapkan Kairo sebagai Markas Besar (Pusat) bagi Ikhwanul Muslimin. Berhubung jemaah pada waktu itu belum memiliki tempat khusus yang memadai, maka Ikhwan Kairo memutuskan untuk menjadikan rumah tinggal yang aku tempati—yang lantai pertamanya dalam keadaan kosong—sebagai markasnya: yaitu di Gang Nafik nomor 24 yang bercabang dari Gang Abdullah Bey, salah satu gang di Jalan As-Surujiyyah.

Reaksi di Ismailia Kepindahan tersebut merupakan kejutan bagi kota Ismailia, sehingga datanglah delegasi besar dari penduduknya menemui Menteri Pendidikan yang saat itu dijabat oleh Hilmi Pasya Isa, untuk meminta pembatalan kepindahan tersebut. Delegasi ini juga mengunjungi sekolah Abbas dan menemui kepala sekolahnya (Hasanain Bey Ra'fat Rahimahullah) serta berbicara kepadanya agar tidak mempertahankan keberadaanku di Kairo. Begitu aku mengetahui hal itu, aku segera memohon kepada mereka untuk mengurungkan niat mereka.

Aku mengirim telegram ke Kementerian Pendidikan mengenai keinginanku untuk tetap berada di Kairo, dan menjelaskan bahwa kepindahan ini terlaksana berdasarkan permohonanku dan demi kemaslahatanku.

Namun, para wartawan surat kabar mendengar janji Menteri kepada delegasi Ismailia untuk membatalkan kepindahan tersebut. Maka koran-koran pagi terbit dengan memuat berita ini. Kebetulan aku sedang melakukan perjalanan ke Ismailia untuk menjemput keluargaku, sehingga penduduk menyangka berita itu benar. Akibatnya, kerumunan massa mulai berdatangan ke rumah Ikhwan guna mengucapkan selamat atas kepulangan kembali, sementara aku tersenyum melihat hal itu dan menjelaskan kenyataan yang sebenarnya kepada mereka.

Kemudian terjadi peristiwa di mana kepala sekolah Abbas memperlihatkan kepada delegasi Ismailia sebuah surat yang datang kepadanya dengan tanda tangan dari seorang mantan anggota yang keluar dari dakwah, yang di dalamnya terdapat cercaan dan makian, sehingga mereka merasa tersakiti dan menyampaikan berita itu ke penduduk kota.

Belum lama aku meninggalkan kota, beberapa pemuda setempat yang fanatik telah mengintainya di tengah jalan, lalu mereka memukulinya habis-habisan dengan tongkat dan tangan hingga dia tidak berdaya untuk berjalan maupun berdiri.

Dia pun mengajukan tuntutan dengan menuduh beberapa anggota Ikhwan, dan dia bersikeras menuduhku juga sebagai dalang (provokator) atas pemukulannya, dengan argumen keberadaanku di kota pada saat itu. Persidangan pun ditetapkan dan diikuti oleh persidangan-persidangan berikutnya; kasus ini memberiku kesempatan untuk mengunjungi Ismailia berulang kali, hingga akhirnya diputuskan vonis bebas pada tingkat pertama maupun banding.

Permulaan Aktivitas Ikhwan di Kairo Yaitu pada Masa Sebelum Perang Dunia Kedua - Markas Ikhwanul Muslimin

Dalam periode yang memotong tujuh tahun dari umur dakwah dan dai ini, Markas Besar telah berpindah-pindah melalui banyak tempat: dari Gang Nafik 24, ke gedung di Pasar As-Silah, ke Gang Asy-Syamasyirji nomor 5, ke Jalan An-Nashiriyyah nomor 13, ke Al-Atabah Al-Khadra di gedung Waqaf nomor 5, dan terakhir ke gedung di Jalan Ahmad Bey Umar nomor 13 yang juga merupakan kantor redaksi surat kabar Ikhwanul Muslimin saat ini.

Jenis-Jenis Aktivitas Ikhwan pada Periode Ini Aktivitas dakwah pada periode ini tersusun atas jenis-jenis berikut ini:

  1. Ceramah-ceramah dan pelajaran di gedung-gedung serta masjid-masjid, dan merintis Kuliah Selasa.
  2. Menerbitkan buletin Risalatul Mursyid Al-Aam (yang terbit dua nomor saja), kemudian majalah mingguan Ikhwanul Muslimin pertama dan kedua, dan di sela-sela itu majalah An-Nadzir selama dua tahun pada masa awal terbitnya.
  3. Menerbitkan sejumlah risalah (buku saku) dan selebaran.
  4. Mendirikan cabang-cabang di Kairo, menambah cabang-cabang di daerah-daerah (provinsi), serta menyebarkan cabang di luar negeri.
  5. Mengorganisasi formasi kepanduan (pramuka) dan olahraga.
  6. Memusatkan dakwah di universitas dan sekolah-sekolah, mendirikan divisi mahasiswa, serta memanfaatkan kontribusi para ulama dan mahasiswa Al-Azhar Asy-Syarif.
  7. Menyelenggarakan beberapa muktamar periodik bagi Ikhwan di Kairo dan daerah-daerah.
  1. Berkontribusi dalam menghidupkan perayaan-perayaan Islam dan kenangan-kenangan agung di Kairo maupun di daerah-daerah.
  2. Berkontribusi dalam membela isu-isu Islam nasional, khususnya urusan Palestina.
  3. Menangani sisi perbaikan politik dan sosial melalui penjelasan, pemaparan, pengarahan, serta menulis memoar, artikel, dan risalah khusus mengenai hal ini.
  4. Berkontribusi dalam gerakan-gerakan Islam seperti gerakan melawan misionaris (kristenisasi) dan gerakan mendukung pendidikan agama.
  5. Mengkritik pemerintah yang lalai terhadap Islam, menyerang sistem kepartaian, menyeru secara terang-terangan kepada manhaj (sistem) Islam, serta membentuk komite-komite untuk studi teknis dalam bidang-bidang tersebut.

Kami akan mengulas setiap aspek ini dengan penjelasan singkat, dan semuanya hampir saling terhubung serta terdokumentasi dengan tanggal-tanggalnya di majalah Ikhwanul Muslimin tahun pertama dan kedua. Namun, tidak ada salahnya jika aku mencantumkan di sini beberapa langkah yang aku temukan tertulis dalam potongan catatan sebagai pengingat dan catatan sejarah.

Di Jalan Kebangkitan

Pilar utama bagi kebangkitan haruslah pendidikan (tarbiyah); umat dididik terlebih dahulu, dipahamkan hak-haknya secara utuh, diajarkan sarana-sarana untuk meraih hak-hak tersebut, serta dididik untuk beriman kepadanya. Dengan kata lain, manhaj kebangkitan kita dipelajari secara teoretis, praktis, dan ruhani.

Hal tersebut menuntut waktu yang panjang karena ia merupakan manhaj studi yang diajarkan kepada suatu umat; maka umat wajib membekali diri dengan kesabaran, ketabahan, dan perjuangan yang panjang. Setiap umat yang mencoba melompati batas-batas sunatullah (hukum alam), maka bagian yang diterimanya hanyalah kegagalan.

Oleh karena itu, negara yang mendambakan kebangkitan harus dijadikan layaknya sebuah sekolah; yang muridnya adalah seluruh warga negara, gurunya adalah para pemimpin beserta para pembantunya, dan ilmu yang diajarkan adalah hak-hak serta kewajiban umum, atau tujuan dan sarana. Atas dasar itu pula, dua hal penting harus diatur, yaitu: manhaj (kurikulum) dan kepemimpinan.

Mengenai manhaj, maka materi-materinya sedapat mungkin harus sedikit, murni aplikatif, dan dapat dirasakan hasilnya sekecil apa pun. Sedangkan mengenai kepemimpinan, ia harus dipilih dan dikritisi, sehingga apabila telah mencapai tingkat kepercayaan, ia ditaati dan didukung. Pemimpin itu haruslah seorang pemimpin yang dididik untuk menjadi seorang pemimpin, bukan pemimpin yang lahir karena darurat dan dipimpin oleh keadaan belaka, atau sekadar menjadi pemimpin karena ketiadaan pemimpin yang lain.

Di atas kaidah-kaidah inilah Mustafa Kamil dan Farid membangun kebangkitan Mesir, dan sebelum mereka berdua adalah Jamaluddin serta Syekh Muhammad Abduh. Seandainya kebangkitan itu berjalan di atas jalurnya ini dan tidak menyimpang, niscaya ia akan sampai pada tujuannya, atau setidaknya akan maju dan tidak mundur, beruntung dan tidak merugi.

Namun, para pemimpin yang dilahirkan oleh keadaan ingin menyegerakan hasil sebelum sarana-sarananya siap; mereka teperdaya oleh kenaifan mereka dalam memimpin massa dan tipu daya politik, sehingga mereka mengira fatamorgana sebagai air lalu mengejarnya. Akibatnya, ketika mereka mendatanginya, mereka tidak mendapati sesuatu apa pun setelah menghabiskan tenaga, mengorbankan waktu, dan menghabiskan bekal. Mereka pun terpaksa kembali ke tempat semula mereka memulai, mundur ke belakang, merugi, dan tidak mendapatkan keuntungan.

Jika umat memeriksa hakikat-hakikat yang jernih ini, mencukupkan diri dengan pengalaman masa lalu, kembali kepada kebangkitan yang benar, memperhatikan hal-hal yang nyata, meremehkan ilusi, serta mempersiapkan kesabaran yang panjang untuk perjuangan dan pergulatan, niscaya ia akan beruntung insya Allah.

Namun jika ia tetap bergantung pada angan-angan kosong, tenggelam dalam lautan syahwat dan hawa nafsu, serta berserah diri pada kemalasan dan kelalaian, maka ia akan kehilangan sisa-sisa kekuatan, pembelaan, atau harta yang dimilikinya secara berturut-turut. Perumpamaannya adalah seperti ucapan orang yang berkata: Aku menjual rumahku beserta keledaiku bersamaan, Lalu aku duduk dalam keadaan tidak ada alas di bawahku dan tidak ada atap di atasku.

Maka jalan manakah yang akan ditempuh oleh umat kita yang tercinta? Kita berharap ia menempuh jalan pencapaian tujuan; dan untuk memahamkan manusia akan hakikat inilah, jemaah Ikhwanul Muslimin berdiri.

Di Jalan Kebangkitan

Tidak ada kebangkitan bagi suatu umat tanpa adanya akhlak; jika umat mampu meresapi ruh jihad, pengorbanan, serta mengekang syahwat dan nafsu, niscaya ia akan berhasil. Artinya, jika umat

mampu membebaskan diri dari belenggu tuntutan nafsu dan kesempurnaan materi gaya hidup, niscaya ia akan mampu membebaskan diri dari segala hal. Maka jadikanlah hal ini sebagai batu pertama bagi perbaikan akhlak umat.

Sungguh, adat kebiasaan dan manifestasi kehidupan non-Islam telah melanda kita, sampai-sampai seorang reformis berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan kekuatan tekad, kewaspadaan, dan pencarian terhadap manifestasi Islam di tengah aliran deras manifestasi-manifestasi asing ini.

Namun, waspadalah jangan sampai dia bersikap terlalu keras kepada orang awam, sehingga dia memberatkan dirinya sendiri, kemudian memberatkan para pengikutnya yang telah memahami tujuannya, lalu akhirnya dia meninggalkan manusia.

Hendaklah mereka memengaruhi orang-orang tersebut dengan jalan pembauran (interaksi sosial), bukan dengan cara perintah yang kaku dan kekerasan.

Sesungguhnya gerakan kebangkitan kita masih samar; belum memiliki sarana, tujuan, manhaj, maupun program yang jelas.

Tanyakanlah kepada pemimpin politik mana pun: ketua partai Wafd, ketua partai Ahrar, ketua partai Sya'bi, atau ketua partai Ittihad, mengenai manhaj yang telah disiapkannya untuk membangkitkan umat dan membimbingnya menuju pencapaian tujuan-tujuannya!

Sama sekali tidak ada apa-apa!

Segala yang ada hanyalah pertikaian demi kekuasaan, saling menjatuhkan dengan kata-kata, intrik, mendekatkan diri kepada musuh, serta menunggu apa yang dilemparkan kepada mereka dari sisa-sisa meja makannya atas pengorbanan Mesir dan rakyat Mesir.

Katakanlah hal yang persis sama terhadap para pemimpin reformasi agama. Tanyakan kepada perkumpulan-perkumpulan Islam tentang program kerja mereka! Tidak ada apa-apa juga.

Tampaknya kebangkitan pada masa fajar mulanya dahulu adalah lebih baik dan berada di jalan yang lebih lurus.

Dahulu Mustafa Kamil dan tokoh-tokohnya ingin mempersiapkan umat untuk perjuangan panjang yang dengannya jiwa dan akhlak mereka menjadi merdeka sehingga tidak mudah goyah, serta mengetahui tempat-tempat tipu daya agar tidak jatuh ke dalam jurang kehancuran.

Mustafa menyerukan pembentukan Kementerian Pendidikan Nasional, lalu Jawisy meletakkan proyek sekolah-sekolah pembinaan moral malam hari bagi para pekerja dan lapisan rakyat, sedangkan Abdul Rahman Al-Rafi'i mengkhususkan diri menulis karya tentang hak-hak umat, yang di antaranya adalah bukunya yang pernah aku lihat namun aku tidak ingat judulnya. Buku-buku itu merupakan mata rantai yang teratur dan saling bersambung yang ujung-ujungnya bertemu pada satu medan tujuan. Sedangkan sekarang, telah bermunculan para pemimpin baru yang naif, yang tidak matang oleh pengalaman para pemimpin terdahulu, sehingga mereka rida kembali hanya dengan membawa sekadar kepulangan tanpa hasil nyata.

Dahulu Jamaluddin, Muhammad Abduh, dan Al-Kawakibi membimbing manusia secara keagamaan dan moral menuju arah yang membuahkan hasil, yaitu meluruskan akidah dan memperbaiki pemikiran dalam ranah perkumpulan-perkumpulan Islam kita. Sedangkan sekarang, mutlak diperlukan adanya pembagian yang serasi bagi cabang-cabang kebangkitan ini.

Buku Saku (Risalah) dan Buletin

Buku saku yang pertama kali terbit tentunya adalah Anggaran Dasar Ikhwanul Muslimin dan Anggaran Rumah Tangga. Kemudian terbit buletin Risalatul Mursyid yang hanya muncul dua nomor saja; nomor pertama terbit tertanggal kira-kira 5 Ramadan tahun 1349 H yang bertepatan dengan 2 Januari tahun 1931 M, dan nomor kedua tertanggal 20 Sya'ban tahun 1349 H [19 Desember tahun 1932 M]. Di bagian awalnya termuat pengarahan berikut ini, yang bersumber dari prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin:

  1. Kelurusan akidah dan bersungguh-sungguh dalam menaati Allah Tabaraka wa Ta'ala sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.
  2. Cinta karena Allah dan berpegang teguh pada persatuan Islam.
  3. Berakhlak dengan akhlak Islam yang lurus (hanif).
  4. Mendidik jiwa (tarbiyatun nafs) dan meningkatkannya menuju makrifat kepada Allah Ta'ala serta mengutamakan akhirat di atas dunia.
  5. Teguh di atas prinsip dan setia pada janji, disertai keyakinan bahwa prinsip yang paling suci adalah "Agama".
  6. Bersungguh-sungguh dalam menyebarkan dakwah Islam di antara lapisan umat demi mengharapkan rida Allah.
  7. Mencintai kebenaran dan kebaikan lebih daripada apa pun yang ada di alam wujud ini.

Setelah itu, secara berturut-turut terbit berbagai risalah dan buletin dalam bidang ini; di antaranya ada yang berfungsi menunjukkan aktivitas sosial Ikhwan, ada yang menjelaskan tujuan-tujuan dakwah mereka, dan ada yang berupa pengarahan bagi pemerintah agar mengambil ajaran-ajaran Islam. Risalah-risalah ini masih terus berada di tangan Ikhwan.... Nahuwun Nur (Menuju Cahaya), Da'watuna (Dakwah Kami), Ila Ayyi Sya'in Nad'un Nas (Kepada Apakah Kami Menyeru Manusia), Al-Ma'tsurat, Ilat Syabab (Kepada Pemuda), Muhadharatut Tsulatsa' (Ceramah Hari Selasa), dan Risalatul Jihad yang cetakannya telah habis.

Majalah Mingguan Ikhwan

Ikhwan memandang bahwa risalah-risalah (buku saku) milik Mursyid Am tidaklah cukup untuk menyebarluaskan dakwah serta memuat berita-beritanya dengan cara yang seharusnya tersampaikan kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk menerbitkan sebuah majalah mingguan yang dinamakan Jaridatui Ikhwanil Muslimin, dengan harapan kelak ia akan menjadi surat kabar harian. Ketika mencoba melaksanakan keputusan ini, kas Ikhwan di Kairo tidak memiliki saldo sama sekali, tetapi keputusan tersebut harus tetap dilaksanakan. Lantas, apa yang mereka lakukan?

Saat itu ada saudara kita, Syekh Radwan Muhammad Radwan, yang di dalam kantongnya terdapat uang sebesar dua pound penuh. Maka, kami memutuskan untuk meminjam uang tersebut agar menjadi modal bagi majalah ini, dan begitulah yang terjadi. Aku membawa uang dua pound tersebut lalu pergi dengan penuh kesederhanaan dan keimanan menuju Maktabah Salafiyyah yang terletak di Bab Al-Khalq di belakang Mahkamah Isti'naf.

Di sana aku membuat kesepakatan dengan Sayid Muhibbuddin al-Khatib—semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas segala hal—agar beliau bersedia menjadi direktur majalah tersebut, dengan ketentuan dicetak di percetakan Salafiyyah, dan uang dua pound tersebut dijadikan sebagai uang muka, sedangkan sisanya berserah diri kepada Allah. Tokoh pejuang yang mukmin dan dicintai itu pun tersenyum, lalu menyetujui hal tersebut dengan penuh kesederhanaan dan keimanan. Maka izin penerbitan pun keluar dan pencetakan pun dimulai. Akhirnya, Jaridatul Ikhwanil Muslimin mingguan nomor perdana terbit pada hari Kamis, 28 Safar 1352 Hijriah, yang bertepatan dengan akhir bulan Mei tahun 1933 Masehi, di mana penanggalan di bagian awal nomor-nomornya saat itu hanya terbatas pada kalender Hijriah saja.

Anggota Ikhwan yang berada di Gang Nafik bersiap-siap untuk melakukan pengemasan, pendistribusian, dan publikasi. Mereka membawanya sendiri pada hari terbitnya dan keesokan paginya untuk dibagikan secara langsung dengan tangan mereka kepada masjid-masjid dan masyarakat umum.

Dengan modal awal berupa utang sebesar dua pound ini, berdirilah sebuah majalah yang mampu hidup selama empat tahun penuh. Majalah tersebut dipimpin redaksinya oleh Ustaz Syekh Tantawi Jauhari Rahimahullah, dan direkturnya adalah Sayid Muhibbuddin al-Khatib. Sementara itu, administrasi majalah ini dijalankan oleh para tokoh dakwah, yaitu Ustaz Muhammad As'ad al-Hakim selaku sekretaris Ikhwan saat itu, Ustaz Abdul Rahman as-Sa'ati selaku wakilnya, Ustaz Hilmi Nuruddin, serta tokoh-tokoh lainnya.

Namun, suatu ketika ada salah seorang yang pandai bersilat lidah dan melakukan tipu daya berhasil menyusup ke bagian redaksi—kami menahan diri untuk tidak menyebutkan namanya saat ini—lalu ia hendak menjadikan majalah mingguan Ikhwan yang suci ini sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pribadinya. Akan tetapi, dakwah ini senantiasa membersihkan kotorannya sebagaimana tungku api membersihkan karat-karat pada besi; dakwah pun mendepak dan mengusirnya dengan pengusiran yang tidak ada jalan kembali setelahnya. Hanya saja, akibat pengusiran tersebut, jemaah kehilangan izin penerbitan majalah ini bersamanya, sehingga ia menamainya dengan nama lain. Ia memilih sebuah nama yang justru dikehendaki Allah menjadi antonim dari kenyataannya, yaitu ia menamainya "Al-Khulud" (Keabadian), tetapi Allah menetapkan kepunahan atas majalah tersebut. Majalah itu tidak sempat terbit melainkan hanya satu atau dua nomor saja lalu urusannya pun selesai. Demikianlah kebatilan, ia tidak akan memiliki keabadian, dan kezaliman itu tempat kesudahannya sangatlah buruk.

Majalah An-Nadzir

Setelah peristiwa tersebut, Ikhwan mengurus izin baru untuk majalah An-Nadzir sebagai majalah politik mingguan. Nomor perdananya terbit pada hari Senin, 29 Rabiul Awal 1357 Hijriah, yang bertepatan dengan bulan Mei tahun 1938 Masehi. Melalui majalah ini, tampak jelas arah pergerakan nasional Ikhwan serta permulaan keikutsertaan mereka dalam perjuangan politik di dalam maupun di luar negeri, mengingat dakwah saat itu telah genap berusia sepuluh tahun. Ada baiknya aku kutip di sini tulisan tajuk rencana dari nomor perdana tersebut, karena ia dapat menggambarkan arah pergerakan Ikhwan saat itu secara utuh:

Langkah Kita Teguh

Bismillahirrahmanirrahim Ditulis oleh yang terhormat guru kami, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin. Maju terus ke depan, dakwah khusus setelah dakwah umum. Wahai Ikhwan, bersiaplah!

Sejak sepuluh tahun yang lalu, dakwah Ikhwanul Muslimin dimulai dengan tulus ikhlas karena mengharap rida Allah semata, dengan mengikuti jejak Rasul yang agung, pemimpin para tokoh, penunjuk jalan terbaik, dan makhluk yang paling mulia di sisi Allah. Dakwah ini menjadikan Al-Qur'an sebagai manhajnya yang senantiasa dibaca, ditadaburi, ditelaah, diperiksa, diserukan, diamalkan, dipatuhi hukumnya, serta diarahkan pandangan orang-orang yang lalai kepadanya, baik dari kalangan kaum muslimin maupun selain muslim.

Demikianlah dakwah ini bermula dan akan terus konsisten sebagai dakwah Islamiah, Muhammadiatun, Qur'aniatun, yang tidak mengenal corak selain Islam, tidak bercelup dengan celupan warna selain celupan (shibghah) Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, tidak bersandar pada kepemimpinan selain kepemimpinan Rasulullah , dan tidak mengenal manhaj selain Kitabullah Ta'ala yang tidak datang kebatilan kepadanya, baik dari depan maupun dari belakangnya.

Islam adalah ibadah dan kepemimpinan, agama dan negara, spiritualitas dan amal, salat dan jihad, ketaatan dan hukum, serta musyaf [kitab hukum] dan pedang. Antara satu dan lainnya tidak dapat dipisahkan. "Sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan Al-Qur'an."

Pada hari ketika dakwah yang memperbarui ini tumbuh, Mesir sama sekali tidak memiliki otoritas atas urusannya sendiri, baik sedikit maupun banyak. Urusannya dikuasai oleh para perampas dan ditindas oleh para penjajah, sementara putra-putra bangsanya berjuang demi merebut kembali kebebasannya dan menuntut kemerdekaannya. Suasana pun tidak sepi dari pertikaian kepartaian dan gesekan politik yang disulut oleh kepentingan-kepentingan pribadi. Pada masa tersebut, Ikhwanul Muslimin tidak ingin menjerumuskan diri mereka ke dalam medan-medan konflik ini, yang hanya akan menambah perselisihan di antara orang-orang yang berselisih, memperkokoh kedudukan para penjajah, serta mengotori dakwah mereka yang masih berada dalam buaian dengan corak warna yang bukan corak aslinya, atau menampakkannya kepada manusia dalam rupa yang bukan rupa sejatinya.

Maka, biarpun pemerintahan silih berganti dan kabinet-kabinet berubah, Ikhwan tetap berjuang bersama para pejuang dan beramal bersama para pekerja. Mereka memfokuskan diri pada medan yang produktif dan membuahkan hasil, yaitu medan mendidik umat (tarbiyatul ummah), menyadarkan rakyat, mengubah uruf (kebiasaan umum), menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs), membersihkan ruh, serta menyebarluaskan prinsip-prinsip kebenaran, jihad, amal, dan keutamaan di antara manusia.

Aku meyakini bahwa mereka telah berhasil dalam hal tersebut hingga mencapai tahapan yang mereka syukuri kepada Allah, seraya memohon tambahan dari-Nya. Kini, Ikhwanul Muslimin telah memiliki rumah (kantor cabang) di setiap tempat, dakwahnya berada di setiap lisan, dan memiliki lebih dari tiga ratus cabang yang bekerja demi memajukan pemikiran ini, memimpin menuju kebaikan, dan menunjukkan jalan yang lurus.

Begitu pula di Mesir, kini telah terbentuk kesadaran Islam yang kuat dan mengalir deras, yang menjadi tempat bersandar bagi orang yang kuat

dan menjadi tempat berlindung yang membanggakan bagi orang yang lemah, serta semua orang menaruh harapan pada buah dan hasilnya. Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada hal ini, dan kami tidak akan mendapat petunjuk seandainya Allah tidak menunjuki kami. Terima kasih kami ucapkan kepada rakyat yang cerdas ini atas kesiapan mereka yang baik dalam menerima kebenaran dan kesegeraan mereka yang indah menuju jalan kebaikan.

Ini adalah salah satu fase dari fase-fase pergerakan Ikhwan yang telah kita lalui dengan selamat sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan untuknya, serta selaras dengan rancangan yang telah digariskan oleh taufik dari Allah.

Sekarang, wahai Ikhwan, sesungguhnya telah tiba waktu untuk beramal dan telah datang saatnya untuk bersungguh-sungguh. Tidak ada lagi ruang untuk bermalas-malasan, sebab rencana-rencana di luar sana mulai bermunculan dan manhaj-manhaj mulai diterapkan, namun semuanya tidak ada yang menyampaikan kepada tujuan dan tidak membuahkan hasil, sementara para pemimpin berada dalam kebingungan dan para tokoh terombang-ambing serta ragu-ragu.

Apakah langkah kedua kalian? Aku katakan kepada kalian, maka dengarkanlah:

Kita akan berpindah dari kebaikan dakwah umum menuju kebaikan dakwah khusus; dan dari dakwah yang hanya berupa ucapan semata menuju dakwah ucapan yang disertai dengan perjuangan (nidal) serta amal perbuatan. Kita akan mengarahkan dakwah kita kepada para penanggung jawab dari kalangan pemimpin negeri, tokoh-tokohnya, menteri-menterinya, penguasanya, para tetuanya, anggota dewan perwakilannya, serta partai-partainya. Kita akan menyeru mereka kepada manhaj kita dan meletakkan program kerja kita di hadapan mereka. Kita akan menuntut mereka agar membawa negeri Muslim ini—bahkan pemimpin dari negeri-negeri Islam ini—berjalan di atas jalan Islam dengan keberanian yang tanpa keraguan, serta dalam kejelasan yang tidak ada kesamaran di dalamnya, tanpa ada sikap basa-basi atau berbelit-belit, karena waktu sudah tidak lagi menyisakan ruang untuk sikap berbelit-belit. Jika mereka menerima seruan ini dan menempuh jalan menuju tujuan tersebut, maka kita akan mendukung mereka. Namun, jika mereka memilih untuk basa-basi, mengelak, serta berlindung di balik alasan-alasan yang lemah dan argumen-argumen yang tertolak, maka kita nyatakan perang terhadap setiap pemimpin, ketua partai, atau lembaga

yang tidak bekerja untuk menolong Islam dan tidak berjalan di atas jalan untuk mengembalikan hukum Islam serta kejayaan Islam. Kita akan mengumumkannya sebagai permusuhan yang tidak ada kedamaian di dalamnya dan tidak ada kelonggaran bersamanya, sampai Allah memberi keputusan antara kita dan kaum kita dengan hak, dan Dia adalah sebaik-baik Pemberi keputusan.

Sampai saat ini, wahai Ikhwan, kalian belum pernah memusuhi suatu partai atau lembaga mana pun, sebagaimana kalian juga belum pernah bergabung dengan mereka. Orang-orang telah banyak menggunjingkan kalian; di antara mereka ada yang mengatakan bahwa kalian adalah pengikut partai Wafd pendukung Nahas, ada yang mengatakan kalian adalah pengikut partai Sa'di pendukung Maher, ada yang mengatakan kalian adalah anggota partai Ahrar Dusturi, dan ada pula yang mengatakan kalian

berhubungan dengan Partai Watani. Ada yang mengatakan kalian bernasab kepada gerakan Mishrul Fatah (Mesir Muda), dan ada yang mengatakan kalian berafiliasi kepada partai-partai lainnya di luar itu. Allah mengetahui, demikian pula orang-orang yang mengenal kalian, bahwa kalian berlepas diri dari semua itu. Kalian tidak mengikuti pemimpin selain Rasul-Nya, tidak meridai manhaj selain Kitab-Nya, dan tidak mengambil tujuan selain Islam. Oleh karena itu, kesampingkanlah perkataan manusia itu dan bersungguh-sunggulah dalam beramal, sebab waktu yang akan menjamin tersingkapnya hakikat kebenaran, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Sikap kalian yang demikian itu adalah sikap pasif di masa lalu. Adapun hari ini, dan dalam langkah baru ini, sikap tersebut tidak akan lagi sama. Kalian akan memusuhi mereka semua, baik yang berada di dalam pemerintahan maupun di luarnya, dengan permusuhan yang sengit dan keras, apabila mereka tidak menyambut seruan kalian dan tidak menjadikan ajaran Islam sebagai manhaj yang mereka lalui dan mereka perjuangkan. Sebaliknya, mereka semua akan menjadi bagian yang bersatu bersama kalian dalam ikatan yang kuat dan barisan yang kokoh serta saling menopang, apabila mereka menyambut penyeru Allah dan beramal bersamanya.

Ketika itu, mereka akan bersatu dan tidak bercerai-berai, mereka akan saling berbicara dan tidak saling mencela. Ini adalah sikap aktif yang jelas, yang tidak mengenal keraguan, dan tidak berada di posisi tengah antara cinta dan benci; pilihannya hanyalah loyalitas (wala') atau permusuhan (ada'). Dalam hal ini, kita tidaklah menyelisihi rencana kita, tidak menyimpang dari jalan kita, dan tidak pula mengubah garis pergerakan kita dengan ikut campur dalam urusan politik sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak mengetahui. Akan tetapi, dengan langkah ini kita sedang berpindah menuju tahapan kedua dalam jalan Islam kita, rencana Muhammadiyah kita, dan manhaj Qur'ani kita. Bukanlah kesalahan kita jika politik merupakan bagian dari agama, dan jika Islam itu meliputi pihak penguasa maupun rakyat yang dikuasai.

Sebab, di dalam ajaran-ajarannya tidak ada prinsip "Berikan apa yang menjadi milik Kaisar kepada Kaisar, dan apa yang menjadi milik Allah kepada Allah." Akan tetapi, di dalam ajaran-ajarannya menegaskan bahwa "Kaisar dan apa yang dimiliki Kaisar adalah milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan."

Wahai Ikhwan, aku umumkan langkah ini kepada kalian di atas halaman-halaman majalah kalian ini pada nomor perdananya, dan aku menyeru kalian kepada jihad amali (perjuangan nyata) setelah adanya dakwah qauliyah (seruan lisan). Jihad itu memerlukan tebusan, dan di dalamnya terdapat pengorbanan-pengorbanan. Di antara hasil dari jihad kalian di jalan Allah dan Islam ini adalah bahwa para pegawai di antara kalian akan menghadapi penindasan, bahkan lebih dari sekadar penindasan.

Orang-orang yang merdeka di antara kalian akan menghadapi rintangan, bahkan lebih dari sekadar rintangan. Orang-orang yang terbiasa hidup mewah di antara kalian akan digiring ke dalam penjara, bahkan ke tempat yang lebih berat daripada penjara. Dan sesungguhnya kalian benar-benar akan diuji pada harta dan diri kalian. Maka, barangsiapa yang siap bersama kita dalam langkah ini, hendaklah ia bersiap-siap dan membekali dirinya. Namun, barangsiapa yang terkendala oleh kondisi-kondisinya atau merasa berat menanggung beban-beban

jihad ini, baik ia merupakan sebuah kantor cabang dari cabang-cabang Ikhwan maupun seorang individu dari anggota jemaah, maka hendaklah ia mengambil jarak sedikit dari barisan. Biarkanlah pasukan Allah ini berjalan, lalu silakan ia menemui kita setelah itu di medan kemenangan insya Allah. Aku tidak mengatakan kepada kalian melainkan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrahim sebelumnya: "Maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sesungguhnya kita memiliki harapan yang nyata pada Yang Mulia Raja Muslim—semoga Allah menguatkannya—dan pada rakyat Mesir yang telah ditempa oleh berbagai peristiwa serta disadarkan oleh berbagai pengalaman, yang didukung pula oleh bangsa-bangsa Islam yang dipersaudarakan oleh akidah Islam dengan pandangan yang jujur, serta dukungan Allah dan pertolongan-Nya sebelum dan sesudah semua itu; maka maju terus ke depan selalu. — Hasan al-Banna

Majalah An-Nadzir terus terbit selama dua tahun penuh. Di dalamnya, majalah ini menjelaskan dakwah Ikhwan, menyebarluaskan memoar-memoar mereka kepada para penguasa dari berbagai kabinet pemerintahan yang berbeda-beda, serta menyerang kerusakan sosial ini dengan kuat dan jelas. Namun, dengan berpisahnya pemilik majalah tersebut, yaitu Ustaz Mahmud Abu Zaid, dari Ikhwan setelah itu, maka majalah tersebut beralih menyuarakan nama "Pemuda Junjungan Kita Muhammad " sampai sekarang. Setelah itu, Ikhwan mengurus izin penerbitan untuk majalah Ikhwanul Muslimin pada periode keduanya, dan kami akan membicarakannya pada waktunya insya Allah.

Kembali ke Pembahasan Awal

Merupakan suatu keberuntungan bahwa majalah mingguan Ikhwan pada periode pertamanya dari tahun 1933 Masehi sampai tahun 1936 Masehi, atau dari tahun 1350 Hijriah sampai tahun 1354 Hijriah, kemudian majalah An-Nadzir setelah itu, dianggap sebagai rekam jejak bagi peristiwa-peristiwa pada masa ini dari kehidupan dakwah dan dai. Kita akan bersandar kepada keduanya dalam meringkas peristiwa-peristiwa ini secara ringkas, di samping menggunakan beberapa memoar pribadi yang tersebar di sana-sini.

Barangsiapa yang menginginkan pemaparan yang panjang lebar, hendaklah ia merujuk kepada kumpulan majalah tersebut, sebab di dalamnya terdapat apa yang memuaskan dan menghilangkan dahaga insya Allah mengenai dakwah. Adapun mengenai dai sendiri, tidak ada hal baru dalam kehidupan pribadinya, karena ia menghabiskan seluruh periode ini sebagai seorang guru di Sekolah Dasar Negeri Laki-Laki Abbas di Sabtiyyah.

Cabang-Cabang Ikhwanul Muslimin pada Masa Itu

Perkumpulan Ikhwanul Muslimin memiliki lima belas cabang di wilayah Mesir, yaitu:

  1. Kairo: Alamat pusatnya berada di Gang Nafik nomor 24 di jalan simpang Abdullah Bey di As-Surujiyyah, Kairo. Wakilnya adalah Ustaz Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati, seorang pegawai di Jawatan Kereta Api Mesir.
  2. Ismailia: Pusatnya di Jalan Jumar, dan wakilnya adalah Ustaz Ali Ahmad al-Jidawi.
  3. Port Said: Pusatnya di Jalan Taufik di depan Rumah Sakit Mata, dan wakilnya adalah Muhammad Efendi Mustafa Thirah, agen dari Perusahaan Ar-Ribath.
  4. Al-Balah: Pusatnya di kawasan tambang gips Al-Balah, dan wakilnya adalah Ustaz Syekh Muhammad Farghali, imam masjid tambang gips tersebut.
  5. Syubrakhit: Pusatnya di kota Syubrakhit, dan wakilnya adalah Ustaz Hamid Askariyah, seorang mubalig di pusat kota tersebut. Cabang ini membawahi ranting Al-Asmaniyyah Dan ranting Minsyah Jadid...
  6. Mahmudiyah (Al-Buhairah): Pusatnya di kota Mahmudiyah, dan wakilnya adalah Ustaz Ahmad Efendi as-Sukkari.
  7. Al-Manzilah (Ad-Dakahliyyah): Pusatnya di kota Al-Manzilah, dan wakilnya adalah Ustaz Syekh Mustafa Muhammad at-Thair dari kalangan ulama spesialis. Cabang ini membawahi ranting Mit Khudair.
  8. Al-Jamaliyyah (Ad-Dakahliyyah): Pusatnya di Al-Jamaliyyah, dan wakilnya adalah saudara pejuang Muhammad Efendi Abdul Lathif.
  9. Mit Marja (Ad-Dakahliyyah): Pusatnya di Mit Marja yang menginduk ke Kafrul Jadid, dan wakilnya adalah Syekh Ahmad Muhammad al-Madani.
  10. Syiblanjah (Al-Qalyubiyyah): Wakilnya adalah Ustaz Syekh Abdul Fatah Abdul Salam Fayid.
  1. Tanta: Di sana terdapat cabang Ikhwan yang sedang berkembang namun belum menyelesaikan pembentukan resminya. Cabang ini dikelola jalannya oleh Ustaz Muhammad Efendi al-Ja'ar, seorang pengajar di Ma'had Ahmadi, dengan dibantu oleh seorang pemuda yang progresif, Muhammad Efendi Fauzi Khalil.
  2. Suez: Memiliki dua cabang; salah satunya di dalam kota yang dipimpin oleh Ustaz Syekh Abdul Razzaq al-Buhairi, kepala panitera Mahkamah Syar'iyyah. Yang kedua berada di lingkungan Al-Arba'in yang dipimpin oleh Ustaz Syekh Afifi asy-Syafi'i Atwah, seorang pencatat nikah (ma'dzun) di wilayah tersebut.
  3. Dumyat: Cabang muda yang sedang digerakkan untuk melengkapi pembentukannya oleh seorang pemuda Muslim, Mustafa Efendi Hasan al-Muwafi.
  4. Abu Hammad (Asy-Syarqiyyah): Cabang yang juga sedang digerakkan untuk melengkapi pembentukannya oleh saudara Muslim, Haj Muhammad Ismail al-Asluji.
  5. Cabang Djibouti: Merupakan cabang luar negeri bagi Perkumpulan Ikhwanul Muslimin. Hal ini bermula ketika sebagian pemuda Djibouti yang memiliki gairah keagamaan berkeinginan untuk membentuk cabang perkumpulan di sana. Maka Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat) mendelegasikan saudara kita yang santun, Abdul Lathif Efendi Husein Ali Nur al-Yamani, untuk menjadi penghubung antara mereka dan pihak Maktab.

Pertemuan Majelis Syura Am Yang Merupakan Muktamar Pertama bagi Ikhwan

Pendahuluan

Mursyid Am yang mulia mengundang para wakil dari cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di wilayah Mesir untuk menghadiri perkumpulan di kota Ismailia pada hari Kamis yang lalu, bertepatan dengan tanggal 22 Safar tahun 1352 Hijriah, guna membahas urusan-urusan perkumpulan. Mereka pun menyambut undangan tersebut dengan bersegera. Belum lagi jam pertemuan tiba, mereka telah berada di gedung perkumpulan di Ismailia dari berbagai daerah, meskipun di tengah kondisi krisis yang memuncak dan kesibukan masing-masing orang dengan urusannya. Pertemuan tersebut berlangsung sejak setelah salat Isya sampai waktu salat Fajar. Sidang kemudian ditutup dan para wakil menunaikan salat Subuh di Masjid Ikhwanul Muslimin. Pada saat salat Jumat, setiap wakil dari mereka menyampaikan khotbah Jumat dan memberikan nasihat kepada jamaah setelahnya di masjid-masjid yang ada di Ismailia. Sambutan serta penghormatan dari penduduk kota dan para anggota perkumpulan kepada mereka sangatlah luar biasa besar.

Setelah salat Asar, pengurus perkumpulan di Ismailia mengadakan acara penghormatan untuk mereka di halaman Sekolah Ummahatul Mu'minin untuk anak perempuan yang berada di bawah naungan perkumpulan. Di sana, para orator dari kalangan anggota perkumpulan dan para wakil bergantian menyampaikan pidato. Dr. Abdul Hamid Isa, pengawas kesehatan Ismailia, menyampaikan kata sambutan dan terima kasih yang bernilai tinggi kepada penduduk kota, yang disambut dengan rasa kagum dan kegembiraan yang mendalam.

Anggaran Dasar Pasukan Ikhwan

Sebagai catatan sejarah, kami cantumkan di sini anggaran dasar pertama bagi Al-Akhawatul Muslimat (Muslimah Ikhwan), yang mana aturan ini menjadi pedoman kerja di Ismailia dan di Kairo setelah itu.

Pada awal bulan Muharram tahun 1352 H, bertepatan dengan 26 April tahun 1933 M, di Ismailia dibentuk sebuah pasukan sastra Islam yang dinamakan "Pasukan Akhawat Muslimat". Tujuan dari pembentukan pasukan ini adalah:

Berpegang teguh pada adab-adab Islam, menyeru kepada keutamaan, serta menjelaskan dampak-dampak buruk dari khurafat yang tersebar di kalangan wanita muslimah.

Sarana-Sarana Pasukan:

Pemberian pelajaran-pelajaran dan ceramah-ceramah di perkumpulan-perkumpulan khusus wanita, nasihat secara personal (pendekatan pribadi), serta melalui tulisan dan publikasi.

Sistem Pasukan:

  1. Dianggap sebagai anggota pasukan bagi setiap wanita muslimah yang ingin beramal di atas prinsip-prinsipnya dan mengucapkan sumpahnya, yaitu: "Atas janji Allah dan ikatan-Nya, aku akan berpegang teguh pada adab-adab Islam, dan menyeru kepada keutamaan semampuku."
  2. Ketua pasukan adalah Mursyid Am bagi perkumpulan-perkumpulan Ikhwanul Muslimin, dan ia berkomunikasi dengan para anggotanya melalui seorang wakil wanita dari sisinya yang menjadi penghubung antara para anggota dan dirinya.
  3. Seluruh anggota pasukan, termasuk wanita yang menjadi wakil tersebut, adalah saudara (ikhwan) yang setara dalam tingkatan dan prinsip. Tugas-tugas yang diperlukan untuk mewujudkan pemikiran ini dibagikan kepada mereka, masing-masing sesuai dengan bidangnya.
  4. Para anggota pasukan mengadakan pertemuan khusus bagi mereka secara mingguan, yang di dalamnya dicatat apa saja amal yang telah mereka lakukan selama satu minggu yang lalu, dan apa yang mereka rencanakan untuk satu minggu yang akan datang. Dalam kondisi apabila jumlah anggota telah terlampau banyak, maka pertemuan ini boleh dibatasi hanya bagi mereka yang dibebani tugas-tugas amal saja.
  5. Diberlakukan iuran keuangan secara sukarela sesuai dengan kemampuan, dan disimpan di dalam wewenang salah seorang saudari (akhwat) untuk digunakan sebagai infak bagi proyek-proyek pasukan.
  6. Sistem ini boleh disebarluaskan di luar kota Ismailia dalam batas-batas anggaran dasar ini.
  7. Anggaran dasar ini mulai diberlakukan segera setelah mendapatkan pengesahan dari para anggota pasukan pendiri (formatur).

...dan penandatanganan dari mereka (para akhwat) dengan hal-hal yang menyatakan demikian. Majalah Jaridah memberikan komentar terhadap anggaran dasar ini dengan pernyataannya:

"Kami sangat berharap dapat menemukan di kalangan pemudi Islam yang memiliki gairah keagamaan, sosok-sosok yang mau berusaha untuk mewujudkan prinsip-prinsip ini pada diri mereka serta keluarga mereka, dan membentuk 'Pasukan Akhawat Muslimat' di lingkungan mereka masing-masing jika mereka memiliki kemampuan untuk menempuh jalan tersebut. Bagi pemudi yang menginginkan hal itu, hendaklah ia menyurati Nona yang santun, Wakil Pasukan Akhawat Muslimat di Sekolah Ummahatul Mu'minin di Ismailia, guna mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan. Majalah Jaridah senantiasa menyambut baik setiap pandangan yang konstruktif demi mengambil manfaat dari gagasan ini."

Perkumpulan Ikhwanul Muslimin dan Gerakan Misionaris (Kristenisasi)

Pendahuluan

Sungguh, Ikhwanul Muslimin telah berjuang dengan sebaik-baiknya perjuangan dalam menghadapi gerakan misionaris yang puncaknya muncul pada masa periode ini. Berikut ini adalah apa yang ditulis oleh jemaah Ikhwanul Muslimin berkaitan dengan perkara tersebut:

Kami tidak mengetahui, apakah ini bagian dari keberuntungan atau justru kemalangan, bahwasanya pusat-pusat jemaah Ikhwanul Muslimin di wilayah Mesir selalu bersebelahan dengan pusat-pusat misionaris.

Di Mahmudiyah, Al-Manzilah (Dakahliyyah), Ismailia, Port Said, Abu Suwair, dan di Kairo, terdapat pusat-pusat misionaris yang sangat aktif, yang dibarengi pula dengan lingkaran aktivitas yang aktif dari jemaah Ikhwanul Muslimin. Maka, merupakan suatu hal yang sangat wajar apabila terjadi gesekan (benturan) antara kedua lembaga tersebut, mengingat lembaga yang satu bertugas membela Islam sementara lembaga yang kedua melakukan penyerangan terhadap Islam. Akan tetapi, para penanggung jawab urusan administrasi di dalam jemaah Ikhwanul Muslimin senantiasa membentengi diri dengan kelapangan dada, berpegang teguh pada kebijaksanaan, berjuang dengan cara yang paling baik, serta selalu memosisikan diri sebagai pihak yang bertahan (membela diri) bukan pihak yang menyerang. Di dalam menjalankan strateginya, mereka bersandar pada dua pilar utama yang bergerak secara senyap: pertama, memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya yang mengintai mereka akibat interaksi dengan misi-misi misionaris tersebut; dan kedua, menggunakan sarana-sarana praktis yang sejenis dengan sarana yang digunakan oleh para misionaris. Strategi ini, walhamdulillah, telah berhasil dengan kesuksesan yang sangat gemilang, sehingga jemaah mampu menjalankan kewajibannya; kami tidak mengatakan telah menunaikan seluruh kewajiban, melainkan sebatas apa yang dimampukan dan berdasarkan kemampuan yang maksimal yang ada. Kami memohon pertolongan kepada Allah agar dapat menyempurnakan kekurangan ini. Berkaitan dengan gerakan misionaris yang tengah berjalan saat ini, kami bermaksud memindahkan beberapa peristiwa yang dihadapi oleh jemaah serta strategi yang ditempuhnya kepada para pembaca budiman. Melalui hal tersebut, kami membidik dua tujuan: pertama, memaparkan suatu strategi yang terbukti manjur sehingga dapat diamalkan oleh lembaga-lembaga yang ingin berkhidmat kepada Islam; dan kedua, memberikan kabar gembira kepada umat mengenai sejauh mana kesuksesan serta taufik yang dicapai oleh jemaah dalam gerakan damainya melawan misionaris.

Antara Al-Manzilah (Dakahliyyah) dan Port Said 1

Laporan dari Al-Manzilah mengenai peristiwa penyelamatan yang dilakukan oleh jemaah terhadap seorang pemudi, yang mana Sekolah "As-Salam" di kota tersebut berupaya untuk menasranikannya (mengkristenkannya). Laporan ini diajukan kepada Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat) tertanggal 18 Syawal tahun 1351 H, yaitu sekitar empat bulan yang lalu.

Kepada yang utama, guru kami Mursyid Am yang mulia. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga keselamatan pula atas orang-orang yang bersamamu dari kalangan Ikhwanul Muslimin. Amma ba'du:

Sebelumnya saya telah menulis surat nomor (1) kepada Anda seraya berjanji untuk menyampaikan perkembangan terbaru kepada Anda. Berikut ini adalah laporan mengenai apa yang terjadi selama periode tersebut : Pada tanggal 24 Ramadan, telah sampai sebuah surat kepada yang mulia Ustaz Wakil Daerah dari Husaini Efendi Muhammad al-Waisyi, salah seorang anggota Ikhwan terafiliasi pada tanggal tersebut, yang kemudian resmi bergabung secara utuh ke dalam jemaah pada malam keesokan harinya. Surat tersebut menjelaskan tentang dimulainya langkah Sekolah Protestan "As-Salam" di Al-Manzilah untuk menasranikan salah seorang anak perempuan dari keluarga miskin. Seandainya bukan karena karunia Allah kepada kami serta kepada keluarga yang tertimpa musibah tersebut—di mana kepala keluarganya sedang sakit dan istrinya tidak memiliki mata pencaharian untuk menghasilkan nafkah—niscaya maksud dari lembaga misionaris, yang sejatinya merupakan pusat kerusakan, akan berhasil terlaksana pada anak perempuan yang masih di bawah umur (gadis qashir) tersebut, melalui metode yang berada di puncak kelicikan dan kenistaan. Metode tersebut berupa curahan kasih sayang yang berlebihan serta pemberian santunan yang terus-menerus kepada keluarga miskin tersebut, dengan berpura-pura membela nilai kemanusiaan; padahal nilai kemanusiaan berlepas diri dari tindakan-tindakan mereka yang sesungguhnya dimanfaatkan oleh setan.

Berdasarkan surat tersebut, Ikhwan segera mengadakan rapat kilat (darurat), yang dihadiri oleh siapa saja yang sempat kami undang. Dalam seketika itu juga dipilih beberapa orang untuk dibentuk menjadi sebuah komite yang diketuai oleh yang mulia Wakil Daerah, lalu mereka langsung meluncur menuju rumah keluarga tersebut. Mereka mencoba meyakinkan keluarga itu, namun pada awalnya tidak membuahkan hasil karena begitu besarnya rasa kecewa yang mereka rasakan akibat sikap acuh tak acuh kaum muslimin terhadap kondisi kemiskinan mereka. Akan tetapi, setelah melalui berbagai upaya keras yang tidak sedikit, atas pertolongan Allah dan taufik-Nya, akhirnya tercapai kesepakatan dengan kedua orang tua pemudi tersebut untuk menariknya keluar dari sekolah tersebut. Maka pada tanggal 25 Ramadan, Sayid Efendi Nadim berangkat mendampingi ayah pemudi tersebut untuk menemui kepala sekolah wanita di sana dan memahamkan kepadanya mengenai apa yang menjadi tuntutan kami.

Setelah melalui perdebatan yang sengit, akhirnya kepala sekolah tersebut tunduk pada kenyataan yang tidak pernah ia persiapkan sebelumnya. Pemudi itu pun berhasil diselamatkan, dan kami segera bergerak mengumpulkan dana untuknya.

Kami telah memantapkan tekad dengan bersandar pada pertolongan Allah, berdasarkan keputusan dari jemaah yang terus mengadakan pertemuan sejak hari diterimanya surat tersebut hingga saat ini, untuk membahas langkah-langkah melawan sekolah tersebut sampai ia angkat kaki dari negeri ini tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun dari penduduk. Di antara poin yang diputuskan adalah membuka sebuah tempat kursus menjahit (مشغل) atas nama jemaah yang dikhususkan bagi anak perempuan tersebut, mengingat ia telah mengantongi ijazah kelulusan sekolah dasar dan sempat dipekerjakan sebagai guru pada awal Januari di sekolah misionaris itu sendiri. Demi membujuk kedua orang tuanya, kepala misionaris wanita sempat mengembuskan isu bahwa ia telah menetapkan gaji bulanan sebesar dua pound bagi pemudi tersebut yang akan diserahkan kepada keluarganya, sementara selama berada di dalam sekolah ia sama sekali tidak membebani kedua orang tuanya dalam hal biaya hidup. Semua itu merupakan bujukan yang hina dan upaya membutakan mata keluarga miskin tersebut, yang sejatinya tidak menyadari bahaya apa yang tengah mengintainya, yang dapat menjerumuskannya dari satu keburukan menuju keburukan yang lebih buruk lagi akibat dididik dengan pola asuh tersebut, yang telah memutus tali hubungan pemudi itu dengan keluarganya sendiri. Keberadaannya di sekolah yang terkutuk itu telah membuatnya menjelma menjadi sosok yang tidak mendengar melainkan dengan telinga mereka, dan tidak melihat melainkan dengan mata mereka.

Pihak administrasi sekolah telah menempuh metode ini kepada pemudi tersebut beserta keluarganya sebagai langkah awal untuk menyempurnakan kejahatan yang keji itu. Namun, begitu Ikhwan mengetahui peran licik yang disebutkan di atas, mereka langsung bergerak melakukan tindakan yang kami paparkan sebelumnya. Kami berhasil menyelamatkan pemudi tersebut beserta keluarganya dari jurang kehancuran dengan izin Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami pun membuka tempat kursus menjahit tersebut dengan bersandar pada pertolongan Allah Ta'ala pada hari Sabtu, tanggal 9 Syawal, setelah sebelumnya dilakukan pengumuman secara luas di bawah nama "Tempat Kursus Menjahit Jemaah Ikhwanul Muslimin". Pada hari pertama tersebut, sebanyak tujuh puluh siswi langsung mendaftar, dan jumlah tersebut terus merangkak naik hingga melampaui seratus siswi. Di antara mereka ada yang masuk secara gratis, ada yang membayar iuran sebesar tiga qursy per bulan, dan sebagian kecil dari mereka membayar empat atau lima qursy per bulan; yang mana seluruh pendapatan tersebut dialokasikan untuk menyokong operasional tempat kursus yang kami jaga bersama-sama dengan segenap hati kami.

Harapan kami sangatlah kokoh untuk meraih kesuksesan atas kekuatan Allah serta perjuangan dari ustaz kami yang mulia, Syekh Mustafa Muhammad al-Hadidi at-Thair, selaku Wakil Ikhwan.

Tidaklah kami membuka tempat kursus menjahit ini dengan tempo yang begitu cepat, di awal bangkitnya kesadaran masyarakat yang diberkahi berkat karunia Allah serta keridaan Anda, melainkan didasari atas rasa cinta demi menyelamatkan pemudi tersebut bersama keluarganya dari jurang kehancuran.

Kini, dengan penuh rasa bahagia, kami sampaikan kepada Anda kabar gembira bahwasanya para guru wanita, termasuk di antaranya Wafiqah, kini senantiasa mendirikan salat lima waktu tepat pada waktunya. Selain itu, yang mulia Wakil kami pun terus konsisten mendiktekan kepada mereka pokok-pokok ajaran agama yang lurus lagi hanif di setiap akhir hari setelah jam pelajaran usai.

Sekretaris (Katimul Sirr):

Umar as-Sayid Ghanim

Ikhwan dan Gerakan Misionaris

Pengurus daerah Al-Manzilah juga mendapatkan informasi dari pemudi yang berhasil diselamatkan, Nona Afkar Mansur, mengenai keberadaan seorang pemudi lain yang berada di ambang penasranian, yang dilarikan secara sembunyi-sembunyi dari Port Said menuju Sekolah "As-Salam" di Al-Manzilah.

Maka pengurus Al-Manzilah segera mengirimkan surat kepada yang mulia Wakil Ikhwanul Muslimin di Port Said serta kepada Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat), dengan surat berikut ini tertanggal 3 Syawal tahun 1351 H:

Kepada saudara kami yang utama, Wakil Jemaah Ikhwan di Port Said: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga keselamatan atas Anda beserta orang-orang yang bersamamu. Selamat tahun baru bagi Anda, seluruh Ikhwan, keluarga, serta orang-orang yang mereka cintai, semoga senantiasa berada dalam keberkahan dan kebahagiaan.

Amma ba'du: Sesungguhnya lembaga-lembaga misionaris di wilayah Mesir pada tahun-tahun terakhir ini telah melancarkan gerakan-gerakan yang sangat agresif dalam melawan Islam. Hal tersebut tidaklah menunjukkan melainkan besarnya rasa putus asa yang menguasai diri mereka akibat panjangnya waktu yang telah mereka habiskan, besarnya jerih payah yang telah mereka korbankan, serta banyaknya harta benda melimpah yang telah mereka gelontorkan tanpa membuahkan hasil apa pun dalam menghadapi agama yang kokoh, kuat, lagi senantiasa dijaga oleh Pemiliknya—Jallaat Qudratuhu—ini. Akan tetapi, kelalaian kaum muslimin dalam menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam serta adab-adabnya pada akhirnya membuat lembaga-lembaga tersebut menjadi tamak terhadap kita, yang dipicu oleh kondisi kemerosotan akhlak yang melanda kita; padahal tegaknya suatu umat sangat bergantung pada akhlaknya selama akhlak itu masih ada. Sekolah Misionaris Protestan "As-Salam" di Al-Manzilah telah melakukan upaya penasranian terhadap seorang pemudi.

Namun berkat karunia Allah kepada kami, kami berhasil menyelamatkannya. Kami pun mulai merintis pembuatan sekolah dan tempat kursus menjahit bagi anak-anak perempuan guna mengajarkan ilmu agama kepada mereka, serta membekali mereka dengan hal-hal yang dibutuhkan oleh seorang wanita di dalam rumah tangga suaminya yang muslim kelak, serta bagaimana ia dapat melahirkan generasi laki-laki dan perempuan yang muslim. Langkah ini tidak lain ditujukan untuk menandingi sekolah tersebut, di samping karena pemudi yang hendak dinasranikan tersebut berasal dari keluarga miskin yang tidak memiliki penanggung nafkah; sehingga alih-alih menjadi beban bagi jemaah, proyek ini justru dapat mendatangkan keuntungan ganda bagi jemaah.

Kami juga telah mendeteksi keberadaan pemudi lain yang bernama "Afkar", anak perempuan dari istri Rais Husein yang tinggal di Minsyah al-Balah di lingkungan Arab divisi lima, yang dimasukkan ke sekolah di Al-Manzilah ini. Tidaklah mereka memindahkannya ke sekolah tersebut melainkan dengan tujuan untuk menyembunyikan proses penasraniannya dari pandangan keluarganya, di saat keluarganya berada dalam kelalaian sementara pemudi tersebut dalam keadaan labil (kurang waspada). Oleh karena itu, kami sangat berharap agar Anda dapat menggalang sebuah gerakan untuk mengeluarkan pemudi ini serta menyelamatkannya dari pusat kerusakan ini. Allah-lah yang akan membalas jasa-jasa kalian, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sekretaris (Katimul Sirr):

Umar as-Sayid Ghanim

Pengurus daerah Al-Manzilah yang diberkahi tidak hanya mencukupkan diri dengan tindakan tersebut. Mereka bahkan melakukan pelacakan terhadap para siswi asal Port Said yang dilarikan secara sembunyi-sembunyi ke Al-Manzilah, hingga akhirnya berhasil mengidentifikasi lima orang di antara mereka. Mereka pun menulis surat kepada Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat) mengenai hal tersebut agar dapat menghubungkan mereka dengan pengurus daerah Port Said, sehingga pengurus Port Said dapat menjalankan kewajibannya dalam proses penyelamatan ini. Berikut ini adalah teks dari surat tersebut:

Kepada yang utama, profesor dan murshid besar kami. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga keselamatan pula atas orang-orang yang bersamamu dari kalangan Ikhwanul Muslimin:

Amma ba'du: Sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam surat di atas, bahwasanya kami telah menulis surat kepada saudara Wakil Jemaah Ikhwan di Port Said mengenai tindakan yang harus dilakukan demi menyelamatkan pemudi bernama Afkar Mansur yang berada di Sekolah Lembaga Misionaris Protestan "As-Salam" di Al-Manzilah. Kami pun telah melakukan investigasi mendalam mengenai para siswi asal Port Said tersebut.

  1. Afkar Mansur: Berusia 13 tahun, ibunya menikah dengan Usta Husein Ali yang tinggal di Minsyah al-Balah di divisi dua di lingkungan Arab.
  2. Nazlah Ahmad al-Khuli: Berusia 14 tahun, dahulu ayahnya bekerja sebagai nelayan namun sekarang dalam kondisi sakit.
  3. Zakiyah Muhammad: Berusia 12 tahun, tidak diketahui keberadaan keluarganya.
  4. Sayidah Abdu ar-Rayyan: Berusia 13 tahun, seorang yatim yang tidak memiliki keluarga.
  5. Atiyat Muhammad Zaqzuq: Berusia 7 tahun, ia tidak mengenali ibunya melainkan sebatas tanda yang ada pada wajahnya.

Demikianlah pemaparan mengenai nama-nama siswi asal Port Said yang berada di sekolah Al-Manzilah. Menghadapi kenyataan ini, kami memohon dengan hormat kepada Anda agar sudi kiranya memberikan instruksi (peringatan) kepada Ikhwan di Port Said serta seluruh wilayah yang memiliki cabang jemaah yang diberkahi ini—yang mana di wilayahnya terdapat sekolah-sekolah semacam ini—agar mengambil tindakan apa pun yang dapat mengantarkan pada penyelamatan para pemudi muslimah. Hal itu karena tindakan tersebut akan membuat kita semua mampu meletakkan tangan kita tepat pada sumber penyakit, sehingga obat yang diberikan dapat mendatangkan manfaat dengan izin Allah. Melalui sarana ini pula, insya Allah, akan menjadi jalan kehancuran total bagi sekolah-sekolah yang merupakan "pusat kerusakan" ini. Akhir kata, silakan terima rasa hormat kami yang setinggi-tingginya serta kerinduan dari seluruh Ikhwanul Muslimin yang ada di sisi kami, khususnya Wakil kami, yang utama Ustaz Mustafa Muhammad al-Hadidi at-Thair. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sekretaris (Katimul Sirr):

Umar as-Sayid Ghanim

Maktab (Kantor Pusat) pun segera menjalankan tugas ini. Mereka menulis surat ke Port Said serta ke cabang-cabang jemaah lainnya, dan mendelegasikan yang mulia Mursyid Am untuk mengunjungi Port Said berulang kali demi mengawal perkara ini. Pengurus daerah Port Said menaruh perhatian yang sangat luar biasa besar terhadap urusan ini, yang diikuti pula dengan kepedulian yang besar dari penduduk kota yang mulia; hingga akhirnya berkat semangat ini, tersingkaplah tabir dari peristiwa-peristiwa mengerikan yang sempat diberitakan oleh surat kabar dan terus diberitakan di setiap harinya. Dengan penuh rasa suka cita, kami umumkan bahwasanya pihak pemerintah telah berhasil menerima penyerahan Nazlah al-Khuli dan Atiyat Zaqzuq yang namanya sempat disebutkan dalam surat dari Al-Manzilah. Kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa kedua pemudi tersebut bersama pemudi lainnya sempat disembunyikan di sebuah tempat persembunyian di Al-Manzilah. Kami berharap agar yang mulia Gubernur Jenderal sudi kiranya melakukan pelacakan terhadap sisa pemudi lainnya hingga berhasil menyelamatkan mereka.

Sekretaris Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat)

Pembentukan Komite-Komite Cabang Jemaah Ikhwanul Muslimin Guna Mengingatkan Masyarakat Agar Tidak Terperosok ke Dalam Tipu Daya Misionaris Telah sampai informasi kepada kami bahwasanya di antara keputusan Majelis Syura Am Ikhwan adalah membentuk komite-komite cabang di seluruh daerah operasional jemaah, yang bertugas untuk bekerja dalam memberikan peringatan kepada masyarakat agar tidak terperosok ke dalam jaring-jaring misionaris, melalui jalan-jalan damai yang konstitusional (sah). Kami senantiasa mendoakan taufik yang sempurna bagi komite-komite ini di dalam mengemban tugas sucinya.

[Halaman 192]

Salinan Surat Petisi yang Diajukan oleh Majelis Syura Am Kepada Yang Mulia Raja Fuad Bismillahirrahmanirrahim, Segala puji bagi Allah, dan semoga selawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ke hadapan hadirat Pemimpin Yang Mulia Raja, Pelindung benteng agama, Penolong Islam dan kaum muslimin, Raja Mesir yang ditebus.

Para anggota Majelis Syura Am Ikhwanul Muslimin yang berkumpul di kota Ismailia pada tanggal 22 Safar tahun 1352 H, yang mewakili lima belas cabang dari cabang-cabang Jemaah Ikhwanul Muslimin, datang menghadap untuk menyampaikan sedalam-dalamnya rasa loyalitas dan ketulusan kepada takhta yang ditebus, serta kepada Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Putra Mahkota yang dicintai. Mereka bersandar kepada yang mulia dengan penuh harapan agar sudi kiranya melindungi rakyat Anda yang tulus lagi setia dari tindakan agresi misionaris yang terang-terangan menyerang akidah, anak-anak, serta belahan jiwa mereka. Gerakan tersebut telah mengafirkan mereka, mencerai-beraikan mereka, menyembunyikan mereka, serta menikahkan mereka dengan orang-orang yang bukan pemeluk agama mereka; sebuah perkara yang dilarang dan diharamkan oleh Islam, serta diancam pelakunya dengan ancaman siksa yang paling berat. Sungguh Allah Tabaraka wa Ta'ala telah menjadikan Anda sebagai para pelindung agama-Nya, penegak bagi penjagaan syariat-Nya, dan pembela bagi lingkaran sunah Nabi-Nya. Seluruh dunia telah mengetahui sikap-sikap Yang Mulia yang masyhur serta rekam jejak yang membanggakan dalam hal berpegang teguh pada tali agama yang kokoh,

menjaga adab-adab serta syiar-syiarnya, melindunginya dari orang-orang yang berbuat zalim kepadanya, menyebarluaskan ajaran-ajarannya, mendukung para pemeluknya, serta memberikan perhatian yang sangat melimpah kepada Kitabullah Tabaraka wa Ta'ala. Sesungguhnya Mesir adalah pemimpin dunia Timur dan merupakan rakyat dari Raja Muslim yang adil, yang tidak akan pernah sudi pada suatu hari nanti untuk dijadikan sebagai sarang misionaris atau tempat pengafiran; yang mana kekuatan itu bersumber dari gairah keagamaan rajanya serta kekuatan imannya.

Oleh karena itu, kami datang berlindung ke hadapan hadirat Anda yang tinggi dengan penuh harapan agar sudi kiranya mengeluarkan perintah mulia dari Yang Mulia Raja kepada pemerintahan Anda yang diberikan taufik, untuk menindak tegas kelompok ini, menyelamatkan umat dari keburukannya, serta mewujudkan tujuan ini dengan segala sarana yang memungkinkan. Kami meyakini bahwa di antara sarana-sarana yang manjur adalah:

Pertama: Memperlakukan pengawasan yang sangat ketat terhadap sekolah-sekolah, institut-institut, serta rumah-rumah misionaris ini, beserta para siswa dan siswi yang ada di dalamnya, apabila telah terbukti keterlibatan lembaga tersebut dalam aktivitas misionaris. Kedua: Mencabut izin operasional dari rumah sakit atau sekolah mana pun yang terbukti secara sah menjalankan aktivitas misionaris.

Ketiga: Mengusir (mendeportasi) setiap orang yang terbukti oleh pemerintah bahwasanya ia bekerja demi merusak akidah masyarakat serta menyembunyikan anak laki-laki maupun perempuan. Keempat: Menghentikan sama sekali segala bentuk bantuan kepada lembaga-lembaga ini, baik berupa bantuan tanah maupun dana. Kelima: Membangun komunikasi dengan para menteri berkuasa penuh (duta besar) baik yang berada di dalam Mesir maupun di luar negeri, agar mereka dapat membantu pemerintah dalam menerapkan rencana ketegasan ini, demi menjaga stabilitas keamanan serta memelihara hubungan baik antarnegara.

Sesungguhnya apabila kami mengemukakan pandangan-pandangan ini, maka kami meyakini bahwasanya ketegasan Yang Mulia Raja yang ditebus, ketepatan pandangannya yang lurus, serta gairah keagamaan beliau yang telah dikenal luas, semua itu akan mampu menutup celah keretakan ini, membahagiakan umat, serta menyelamatkan rakyat dari tangan-tangan para agresor. Ke hadapan Anda, wahai Yang Mulia Raja, kami haturkan sedalam-dalamnya rasa loyalitas dan pengagungan dari orang-orang yang tulus kepada takhta Anda yang ditebus.

Hasan al-Banna (Mursyid Ikhwanul Muslimin), Muhammad As'ad al-Hakim (Sekretaris Maktab Irsyad), Abdul Rahman as-Sa'ati (Wakil Kairo), Ahmad as-Sukkari (Wakil Mahmudiyah), Hamid Askariyah (Wakil Syubrakhit), Mustafa at-Thair (Wakil Al-Manzilah), Afifi asy-Syafi'i (Wakil Al-Arba'in di Suez), Abdul Fatah Fayid (Wakil Syiblanjah, Al-Qalyubiyyah), Muhammad Mustafa Thirah (Wakil Port Said), Mahmud Abdul Lathif (Wakil Al-Jamaliyyah), Muhammad Farghali Abdullah Salim (Wakil Abu Suwair), Thaha Karawiyah (Sekretaris Al-Jamaliyyah), Ali al-Jidawi (Wakil Ismailia), Muhammad Husein as-Sayid (Sekretaris Al-Arba'in), Sulaiman Uwaidhah (Anggota Al-Arba'in), dan Hafiz Abdul Hamid (Pengawas Ismailia).

Salinan yang serupa juga telah diajukan kepada yang mulia Ketua Perdana Menteri Sementara, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Menteri Wakaf, Ketua Majelis Perwakilan Rakyat (DPR), serta Ketua Majelis Senat (DPD).

Model Perjalanan di Jalan Dakwah Kami cantumkan pula di sini sebuah model dari perjalanan-perjalanan terdahulu di jalan dakwah, yang mana perjalanan tersebut berlangsung selama musim panas tahun 1933 Masehi. Ini adalah salinan surat yang diarahkan oleh Maktab Irsyad (Kantor Panduan Pusat) kepada yang mulia para Wakil Ikhwan di daerah-daerah yang akan dikunjungi dalam rute perjalanan tersebut:

An-Nadzir Bismillahirrahmanirrahim, Segala puji bagi Allah, dan semoga selawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Kepada Tuan yang terhormat, Wakil Ikhwanul Muslimin. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba'du:

Saya merasa terhormat untuk menyampaikan kepada Anda pemaparan mengenai rute perjalanan yang mulia Mursyid Am dalam rangka mengunjungi cabang-cabang jemaah, agar Anda dapat membangun komunikasi dengan beliau di tengah-tengah masa kunjungan tersebut apabila diperlukan. Selama masa tersebut, tugas-tugas di Kantor Pusat (Maktab) akan dijalankan sebagai pelaksana tugas (Plt) oleh Ustaz Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati, Wakil Kairo. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tabel Rute Perjalanan

Kota

Dari Tanggal

Sampai Tanggal

Durasi

Abu Suwair (Syarqiyyah)

Hari ke-11 Rabiul Thani 1352

Tanggal 12

Satu Hari

Ismailia

Hari ke-12 Rabiul Thani 1352

Tanggal 16 darinya

Empat Hari

Suez

Hari ke-16 Rabiul Thani 1352

Tanggal 19 darinya

Tiga Hari

Port Said

Hari ke-19 Rabiul Thani 1352

Tanggal 21 darinya

Dua Hari

Dakahliyyah dengan cabang-cabangnya¹

Hari ke-21 Rabiul Thani 1352

Tanggal 29 darinya

Delapan Hari

Tanta

Hari ke-29 Rabiul Thani 1352

Awal (Ghurrah) Jumadil Ula

Dua Hari

Syubrakhit

Hari awal Jumadil Ula

Tanggal 3 Jumadil Ula

Dua Hari

Mahmudiyah (Buhairah)

Hari ke-3 Jumadil Ula

Tanggal 6 Jumadil Ula

Tiga Hari

Damanhur (Buhairah)

Hari ke-6 Jumadil Ula

Tanggal 8 Jumadil Ula

Dua Hari

Syiblanjah (Qalyubiyyah)

Hari ke-8 Jumadil Ula

Tanggal 9 Jumadil Ula

Satu Hari

Silakan terima rasa hormat kami yang setinggi-tingginya.

Muhammad As'ad al-Hakim Sekretaris Maktab Irsyad

Kepindahan Ustaz at-Thair ke Kairo Berkaitan dengan kepindahan Ustaz Syekh Mustafa at-Thair ke Kairo, maka Maktab Irsyad telah menetapkan...

¹ Catatan Kaki (Footnote): Al-Manzilah, Al-Jamaliyyah, Mit Khudair, Mit Marja al-Jadidah.

...Kantor Panduan Pusat (Maktabul Irsyad Al-Am) menetapkan Yang Mulia Al-Ustaz Syekh Khattab Qurah dan Syekh Taufik Hamadah dari kalangan ulama sebagai dua orang perwakilan untuk wilayah Al-Manzilah. Pihak Kantor Pusat mendelegasikan beberapa ikhwan yang terhormat, yaitu Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati, Muhammad Efendi As'ad al-Hakim, Muhammad Efendi Hilmi Nuruddin, dan Muhammad Efendi Syalas menuju Al-Manzilah guna memberikan ucapan selamat kepada para ikhwan di sana sekaligus menyampaikan keputusan ini.

Maka para ikhwan di sana menyambut kedatangan mereka dengan acara penyambutan yang sangat meriah. Anggota-anggota dari ranting-ranting yang bertetangga dengan Al-Manzilah pun turut keluar untuk menyongsong mereka. Perkumpulan tersebut berlangsung sangat besar dan penuh dengan kehangatan yang mendalam. Dalam kesempatan itu, untaian kalimat yang penuh kesan disampaikan guna memberikan penghormatan kepada dua orang perwakilan yang baru serta kepada Kantor Panduan Pusat dalam eksistensi anggota-anggotanya, sekaligus menegaskan tentang kewajiban beramal demi kebangkitan Islam yang produktif. Akhirnya, para ikhwan tersebut kembali pulang dengan lisan yang penuh dengan pujian atas kemuliaan para anggota di wilayah Al-Manzilah.

Pengunduran Diri Perwakilan Kairo demi Ketua Al-Manzilah

Tuan yang mulia lagi utama, Ustaz Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati, telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perwakilan Kairo untuk diserahkan kepada Al-Ustaz yang agung lagi mulia, Syekh Mustafa Muhammad at-Thair, seorang pengajar di Ma'had Azhari yang termasuk dalam jajaran ulama spesialis. Di samping itu, tugas-tugas sebagai pembantu di surat kabar Ikhwan juga diserahkan kepada yang mulia.

Berkenaan dengan peristiwa ini, majalah Ikhwan menerbitkan sebuah tulisan karya Ustaz As-Sa'ati, yang mana kami memandang penting untuk menukilnya di sini sebagai pengingat, iktibar, serta teladan yang baik.

Mari Kita Korbankan Jabatan dan Gelar Jika Hal Itu Dapat Membantu Tercapainya Tujuan

Anggaplah engkau sedang melakukan pelayaran di atas permukaan laut menuju suatu destinasi tertentu dengan maksud untuk sampai ke sana, dan bersamamu ada sekelompok orang yang tujuannya sama-sama ingin sampai ke destinasi tersebut. Dengan demikian, kalian semua mengarah pada satu tujuan yang sama dan bersekutu bersama-sama dalam mengarungi jalan menuju tujuan ini.

Malam teramat gelap, langit hitam pekat, dan lautan sedang bergelombang dahsyat. Kegelapan itu berlapis-lapis, sebagiannya di atas sebagian yang lain [gadis-gadis]. "Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun." (QS. An-Nur: 40) . Sementara itu, kapal hampir saja menghantam batu-batu karang besar yang merintangi jalannya, dan ia nyaris membelah jalanan terjal yang tidak bisa mengantarkan pada tujuan serta tidak dapat menunjukkan jalan yang lurus. Kegelapan malam beserta keasingannya kian menambah situasi menjadi semakin...

...kritis dan berat. Angin kencang dan badai laut hampir saja mengempaskan kapal ke dalam jurang yang sangat dalam. Situasi ini terlampau kejam jika hanya dihadapi dengan berdiam diri berpangku tangan. Tugas kepemimpinan pun terlampau berisiko untuk dijalankan oleh selain nakhoda yang ahli, yang mengetahui seluk-beluk jalan, paham mana jalur yang mudah dan mana jalur yang terjal, berani mengambil risiko hingga batas yang paling jauh, siap berkorban demi tujuan yang tertinggi, serta beriman kepada tujuannya dengan sebenar-benar iman. Kepemimpinan seperti ini tidak akan goyah atau berbalik arah dari tujuannya hanya karena jauhnya jarak yang harus ditempuh atau banyaknya rintangan yang menghadang.

Barangsiapa yang beriman dengan sebenar-benar iman kepada dakwahnya,

Maka cakrawala yang berputar pun akan menyambutnya dengan penuh kesetiaan.

Dan barangsiapa yang niatnya tulus ikhlas karena Allah semata,

Niscaya kesuksesan yang terjamin akan ia raih seiring berjalannya waktu.

Kala itu, engkaulah yang menjadi pemimpin kafilah dan nakhoda bagi kapal tersebut. Namun, perkara tersebut hampir saja membingungkanmu dan jalan itu nyaris membuatmu tersesat. Di tengah momen yang kritis dan waktu yang berbahaya itu, engkau mendapati bahwasanya di antara orang-orang yang bersamamu ada sosok yang lebih cakap darimu dalam memimpin serta lebih utama darimu dalam hal keilmuan. Jika sudah demikian, bukankah kebenaran dan keimanan mewajibkanmu untuk menyerahkan kemudi kepemimpinan kepadanya? Bukankah kewajiban dan hati nuranimu mendiktekan agar engkau meninggalkan urusan tersebut kepada orang yang mampu menjalankannya dengan lebih baik darimu? Setelah itu, engkau berada di dalam ketaatan kepadanya; apabila ia memerintah maka engkau patuh, dan apabila ia memberi isyarat maka engkau paham.

Kemudian, sudah menjadi kewajibannya pula untuk tidak menunggumu sampai engkau menyerahkan kepemimpinan kafilah kepadanya, melainkan ia harus bersegera memperbaiki apa yang hampir engkau rusak dan menyusul apa yang nyaris engkau lalaikan.

Dalam akidahku, sesungguhnya suatu tujuan tidak pernah mengenal personalitas dan tidak akan pernah berpihak kepada siapa pun. Aku berpandangan bahwasanya orang yang bertugas di dalam kapal untuk menguras air dari dasarnya ketika bahaya mengintai, itu jauh lebih baik daripada seorang pemuda bodoh yang tidak tahu kadar dirinya lalu mengajukan diri untuk memimpin padahal ia tidak cakap di dalamnya. Keberadaan pemimpin yang tidak cakap seperti itu hanya akan menjadi malapetaka bagi dirinya sendiri dan membawa kesialan bagi kaumnya. Maka orang yang pertama tadi, ia mengetahui apa yang menjadi keahliannya lalu menjalankannya sebagaimana mestinya, sehingga hasil yang ia berikan sangatlah besar meskipun penampilannya tampak sederhana.

Adapun orang yang kedua, ia sangat gila hormat dan telah dikuasai oleh penyakit cinta jabatan, sehingga ia menyeret kaumnya beserta dirinya sendiri ke dalam jurang kehancuran. Sosok yang semacam ini tidak akan pernah bisa mewujudkan suatu tujuan pada kedua tangannya, dan tidak ada kemanfaatan yang dapat diharapkan di balik amalnya.

Oleh karena itu, janganlah manusia merasa heran terhadap Ikhwanul Muslimin apabila ada sebuah personalitas yang dahulunya menduduki posisi terdepan—di saat situasi memang membutuhkan hal tersebut dan pada waktu tidak ada orang lain yang memimpin selain dirinya—kemudian ia bersedia melepaskan kendali tersebut untuk diserahkan kepada orang yang telah dipilih oleh saudara-saudaranya demi menyebarluaskan prinsip dan kemanfaatan pemikiran ini. Langkah ini diambil agar ia dapat memenuhi harapan dari saudara-saudaranya serta menerbangkan pemikiran ini menuju langit pengorbanan dan keabadian, sekaligus membawanya melambung tinggi di dalam atmosfer keikhlasan dan amal. Sementara itu, personalitas tersebut dapat bergerak untuk beramal di medan yang lain dari medan-medan khidmat terhadap pemikiran umum ini.

Sama sekali tidak ada ruginya bagiku apabila aku menjadi salah satu dari personalitas yang melepaskan jabatannya demi mewujudkan tujuan dan menunaikan kewajiban ini. — Abdul Rahman Ahmad as-Sa'ati (Mantan Anggota Kantor Panduan Pusat dan Mantan Perwakilan Kairo).

Komentar Surat Kabar Al-Ikhwan: "Semoga Allah memberikan kehidupan bagi jiwa-jiwa yang murni, dan semoga Allah memperbanyak di kalangan kaum muslimin sosok-sosok yang semisal Ustaz Abdul Rahman as-Sa'ati, agar mereka dapat memberikan banyak teladan praktis kepada manusia. Sesungguhnya teladan-teladan tersebut merupakan pelajaran yang paling fasih di dalam bab pengorbanan diri dan keikhlasan."

Struktur Kantor Panduan Pusat Ikhwanul Muslimin

Setelah peristiwa tersebut, dibentuklah struktur Kantor Panduan Pusat (Maktabul Irsyad Al-Am) Ikhwanul Muslimin untuk pertama kalinya berdasarkan keputusan-keputusan dari Majelis Syura. Sekretaris Kantor Pusat, Ustaz Muhammad As'ad al-Hakim, mengirimkan surat ini kepada para ikhwan guna memberitahukan perihal pembentukan struktur tersebut:

Bismillahirrahmanirrahim Segala puji bagi Allah, dan semoga selawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Kepada Saudara yang terhormat: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba'du:

Dalam rangka melaksanakan keputusan Majelis Syura Am yang diselenggarakan di Ismailia pada tanggal 22 Safar tahun 1352 H, maka Kantor Panduan Pusat kini telah dibentuk dari para ikhwan yang mulia yang nama-namanya tercantum di bawah ini. Dengan penuh rasa bahagia, saya sampaikan informasi ini kepada Anda sekalian untuk diketahui. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang Mulia Mursyid Am.

  1. Yang Mulia Al-Ustaz Syekh Mustafa Muhammad at-Thair (Perwakilan Administrasi Kairo, Pengajar di Ma'had Azhari, dan termasuk ulama spesialis).
  1. Yang Mulia Al-Ustaz Syekh Abdul Hafiz Farghali (Pengajar di Ma'had Azhari dan termasuk ulama spesialis).
  2. Yang Mulia Al-Ustaz Syekh Hamid Askariyah (Perwakilan Syubrakhit sekaligus mubalig di sana, dari kalangan ulama Azhar, selaku "Anggota Delegasi").
  3. Yang Mulia Al-Ustaz Syekh Afifi asy-Syafi'i Atwah (Perwakilan Al-Arba'in di Suez sekaligus pencatat nikah syar'i di sana, dari kalangan ulama Azhar, selaku "Anggota Delegasi").
  4. Tuan yang terhormat, Ustaz Ahmad Efendi as-Sukkari (Perwakilan Mahmudiyah dan termasuk tokoh terpandang di Sekolah Dasar di sana, selaku "Anggota Delegasi").
  5. Tuan yang terhormat, Ustaz Khalid Abdul Lathif Efendi (Salah seorang perwakilan Al-Jamaliyyah dan termasuk tokoh terpandangnya, selaku "Anggota Delegasi").
  6. Tuan yang terhormat, Ustaz Muhammad Efendi Fathullah Darwisy (Pegawai di Kantor Keuangan di Kairo).
  7. Tuan yang terhormat, Ustaz Abdul Rahman Efendi as-Sa'ati (Pegawai di Bagian Teknik Permesinannya Kereta Api di Kairo).
  8. Tuan yang terhormat, Ustaz Muhammad As'ad al-Hakim Efendi (Pegawai di Bagian Teknik Permesinannya Kereta Api di Kairo).
  9. Tuan yang terhormat, Ustaz Muhammad Efendi Hilmi Nuruddin (Pegawai di Jawatan Inspeksi Irigasi Giza di Kairo).

Seluruh dari yang terhormat tersebut berada dalam tingkatan perwakilan dari para perwakilan Ikhwanul Muslimin. Dalam hal ini, saudara kita As'ad al-Hakim Efendi telah dipilih untuk menjalankan fungsi Sekretaris Kantor Pusat. Sementara Muhammad Efendi Hilmi Nuruddin dipilih sebagai Bendahara Kantor Pusat, dan yang terhormat Abdul Rahman as-Sa'ati Efendi ditunjuk untuk mengelola urusan surat kabar. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sekretaris Kantor Panduan Pusat

Dakwah di Universitas dan Sekolah-Sekolah Tinggi

Dakwah yang diberkahi ini mulai meretas jalannya di Kairo hingga berhasil menjangkau fakultas-fakultas di universitas serta sekolah-sekolah tinggi. Sebagian mahasiswa dari lembaga tersebut menemui Ustaz yang besar, Syekh Tantawi Jauhari Rahimahullah—yang saat itu menjabat sebagai Pemimpin Redaksi mingguan surat kabar Ikhwan—latus mereka saling bertukar pemahaman mengenai urusan dakwah serta keinginan mereka untuk bergabung di dalamnya dan bekerja demi memenangkannya. Aku tidak akan pernah melupakan suratnya yang mulia yang dikirimkan kepadaku ketika aku sedang berada dalam salah satu rute perjalanan di wilayah Mesir Hilir. Di dalam surat tersebut, beliau menyampaikan kabar gembira ini kepadaku dan mengekspresikannya di dalam suratnya dengan ungkapan bahwa peristiwa ini merupakan "Fathan Mubina" (Kemenangan yang Nyata). Sungguh telah benar apa yang beliau sampaikan, semoga Allah merahmatinya. Sebab, universitas yang dahulu dipandang oleh masyarakat luas sebagai sebuah lembaga yang sama sekali tidak memiliki kaitan dengan Islam, kini kondisinya telah berubah berkat dakwah yang mulia ini hingga menjelma menjadi salah satu benteng dari benteng-benteng pertahanannya. Perkara ini tidak diragukan lagi merupakan sebuah kemenangan yang nyata.

Selanjutnya, Yang Mulia Syekh Tantawi mendesakku agar segera kembali ke Kairo guna menemui para mahasiswa tersebut. Maka aku pun datang ke Kairo dan bersua dengan mereka. Sungguh hari itu adalah hari yang penuh berkah, yaitu hari bergabungnya mereka ke dalam dakwah serta pengikraran baiat mereka untuk bekerja demi memenangkannya. Di antara orang-orang yang pertama dan paling terdahulu di dalam mengikrarkan baiat adalah enam orang bersaudara ini, yang mana kami menjuluki mereka sebagai "Para Sesepuh Mahasiswa Ikhwanul Muslimin", yaitu:

  1. Ustaz Muhammad Abdul Hamid Ahmad: Saat itu beliau masih berstatus sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra, sedangkan sekarang beliau bekerja di Kementerian Pendidikan Umum dan telah ditugaskan untuk mengabdi di lembaga-lembaga yang berada di Transyordania (Yordania Timur).
  2. Dr. Ibrahim Abu al-Naja al-Jazzar: Saat itu beliau merupakan mahasiswa di Fakultas Kedokteran, sedangkan sekarang beliau telah menjadi pengajar di fakultas tersebut.
  3. Ustaz Ahmad Efendi Mustafa: Dahulu beliau menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Perdagangan, sedangkan sekarang beliau bekerja di Jawatan Perpajakan.
  4. Ustaz Muhammad Jamal asy-Syandi: Dahulu berada di Fakultas Sains, dan sekarang beliau juga telah menjadi pengajar di sana.
  5. Ustaz Muhammad Rasyad al-Hawari: Dahulu berada di Fakultas Hukum, dan sekarang berprofesi sebagai pengacara di Al-Manshurah.
  6. Saudara Mahmud Efendi Sabri: Dahulu menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pertanian, dan sekarang beliau mengabdi di lingkungan Urusan Khusus Kerajaan.

Berkenaan dengan momen ini, majalah Ikhwan menerbitkan tulisan berikut ini:

Prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin itu lurus lagi mudah dipahami. Akan tetapi, ia menuntut adanya keikhlasan dan amal nyata. Prinsip ini hanya membidik pada satu hal, yaitu membentuk karakter Islami yang sahih di dalam tubuh umat dengan pembentukan yang saleh. Di dalam mewujudkan hal itu, ia bersandar pada satu sarana saja, yaitu rasa cinta, persaudaraan, dan saling mengenal yang mana semua itu akan melahirkan keteladanan yang baik serta perbaikan diri. Umat manusia di dalam kebangkitan modernnya ini, sangatlah membutuhkan jalan yang lurus semacam ini.

Hal ini telah disadari oleh para pemuda kita yang tercerahkan. Maka bergeraklah sekelompok orang yang murni di antara mereka, yang terdiri dari para mahasiswa sekolah-sekolah tinggi dan fakultas-fakultas universitas, lalu mereka memaklumkan kesiapannya untuk menolong prinsip ini, berkhidmat kepadanya, serta beramal demi memenangkannya. Kami tidak dapat melakukan apa pun melainkan menyampaikan selamat kepada para ikhwan yang mulia ini atas limpahan cahaya pemahaman serta keteguhan tekad yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Kami juga mengucapkan selamat kepada jajaran Ikhwan atas bergabungnya konstelasi pendukung ini ke dalam barisan para pejuang amalnya. Berkenaan dengan momen ini pula, pihak administrasi surat kabar telah mengkhususkan sebuah rubrik bagi mahasiswa, yang menjadi ajang bagi pena-pena mereka untuk saling berlomba di dalam memberikan kemanfaatan dan bimbingan. Di rubrik tersebut dimuat sebuah tulisan dari salah seorang saudara kita ini yang diberi judul "Fityatul Ashr" (Pemuda Zaman Ini). Semoga Allah memperbanyak orang-orang yang beramal demi agama-Nya serta membekali mereka dengan kompetensi dan keikhlasan.

Majelis Syura Am Ikhwan yang Merupakan Muktamar Kedua bagi Mereka

Setelah itu, Majelis Syura Am menyelenggarakan sidangnya yang kedua di kota Port Said. Sekretaris mengirimkan surat undangan ini kepada para ikhwan:

"Majelis Syura Am Ikhwanul Muslimin dengan izin Allah Ta'ala akan melangsungkan sidangnya di kota Port Said pada hari kedua di bulan Syawal tahun 1350 H, tepat setelah pelaksanaan salat Isya. Sidang ini akan dipimpin langsung oleh Yang Mulia Mursyid Am guna membahas urusan-urusan jemaah secara umum. Para perwakilan, ketua ranting (naqib), serta sekretaris cabang diundang untuk menghadiri pertemuan ini, demikian pula bagi siapa saja yang mendapatkan izin untuk itu dari jajaran anggota Kantor Panduan Pusat."

Undangan ini dipublikasikan oleh surat kabar Ikhwan, dan alhamdulillah persidangan berjalan dengan sebaik-baiknya. Di antara keputusan yang dihasilkan adalah membentuk sebuah perusahaan kecil guna mendirikan percetakan khusus bagi Ikhwanul Muslimin. Ketentuannya, harga bagi satu lembar saham ditetapkan sebesar dua puluh qursy. Setelah itu, majalah Ikhwan memublikasikan seruan khusus berkaitan dengan proyek ini:

Proyek Percetakan Pertama dan Kewajiban Ikhwan Terhadapnya

Keberadaan mesin-mesin cetak bagi harakah yang bergerak untuk menyebarluaskan suatu pemikiran umum, merupakan pilar utama yang menjadi tempat bersandar bagi amal-amal mereka serta dalam memublikasikan dakwah mereka. Oleh karena itu, Majelis Syura Am di dalam sidangnya yang berlangsung di Port Said pada momen Hari Raya Idulfitri telah memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan saham gabungan yang bersifat khusus bagi para anggota perkumpulan Ikhwanul Muslimin. Kantor Panduan Pusat di Kairo telah mencetak anggaran dasar bagi perusahaan percetakan saham gabungan ini, lalu menyebarluaskannya ke seluruh cabang di berbagai penjuru wilayah negeri, serta menetapkan tanggal 15 Maret sebagai batas akhir untuk ikut serta dalam kepemilikan saham-saham ini.

Kantor Panduan Pusat menaruh harapan yang sangat besar agar sebelum tenggat waktu tersebut tiba, urusan pembelian mesin cetak beserta segala hal yang berkaitan dengannya telah selesai dilakukan. Dengan demikian, jemaah akan mampu menerbitkan seluruh hal yang menjadi kebutuhan amal Ikhwanul Muslimin di dalam percetakan milik mereka sendiri.

Maka, sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang yang memikul amanah Ikhwanul Muslimin di seluruh cabang untuk menunaikan tugas mereka terhadap proyek perdana dari proyek-proyek masa depan jemaah ini. Hendaklah kontribusi yang mereka berikan ini didasari atas rasa ikhlas karena mengharap rida Allah semata dan demi meninggikan kalimat-Nya.

Sekretaris Kantor Panduan Pusat

Perpindahan Kantor Administrasi Perkumpulan Ikhwan

Kantor administrasi Perkumpulan Ikhwanul Muslimin kini telah berpindah menuju Gang Al-Mi'mar nomor 6 di Jalan Suqis Silah. Surat kabar Ikhwan telah memublikasikan berita perpindahan ini di dalam nomor penerbitannya yang ketiga puluh pada hari Kamis, 15 Zulkaidah tahun 1352 Hijriah.

Muslimah Ikhwan (Al-Akhawatul Muslimat) di Kairo

Di Kairo telah dibentuk sebuah pasukan Muslimah Ikhwan yang anggotanya terdiri dari para wanita di dalam rumah tangga ikhwan serta kerabat-kerabat perempuan mereka. Dalam pembentukan ini, wanita yang saleh, Nyonya Labibah Ahmad, terpilih menjadi ketua bagi pasukan tersebut, sekaligus memimpin pasukan-pasukan muslimah yang berada di Ismailia dan Port Said. Setelah terpilih, beliau menyampaikan sebuah untaian kalimat yang santun yang dimuat oleh majalah. Berikut ini di antara isinya:

"Saudari-saudariku dan putri-putriku: Aku memuji Allah kepada kalian, yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan aku menyampaikan selawat serta salam kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Aku ucapkan salam kepada kalian dengan salam Islam: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Betapa bahagia dan gembiranya diriku dalam menerima undangan dari Yang Mulia Mursyid Am Ikhwanul Muslimin ini, yang memberikan kehormatan kepadaku untuk berkhidmat bagi prinsip-prinsip kalian serta maju memimpin pasukan-pasukan kalian. Sungguh, di tengah adanya kelemahan pada diriku dalam memikul beban ini serta adanya ketidakmampuanku dalam menjalankan tugas penting ini, aku meyakini bahwasanya aku akan mendapatkan gairah keagamaan serta bantuan dari kalian. Hal itulah yang akan mengantarkan kita sampai pada tujuan yang kita dambakan, yaitu menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam serta menanamkan adab dan prinsipnya di dalam jiwa pemudi muslimah dan keluarga muslimah. Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Wahai putri-putriku dan saudari-saudariku: Sesungguhnya umat ini, sebagaimana yang kalian saksikan sendiri, sedang berada dalam kondisi kemerosotan akhlak dan kerusakan sosial. Gejala-gejalanya telah tampak jelas di setiap lini kehidupan: di dalam rumah, di jalanan, di pabrik, di toko, di setiap lingkungan, dan di setiap lapisan masyarakat. Terus berlanjutnya kondisi yang demikian ini akan menyeret kita menuju kesudahan yang paling buruk dan hasil yang paling rendah.

Adapun fondasi utama bagi perbaikan umat ini adalah dengan memperbaiki institusi keluarga. Langkah awal untuk memperbaiki keluarga adalah dengan memperbaiki sosok pemudinya. Hal itu karena wanita adalah pendidik bagi dunia. Wanita yang mengayunkan kereta bayi dengan tangan kanannya, sesungguhnya ia sedang menggoncang dunia dengan tangan kirinya.

Sesungguhnya wajib bagi pemudi muslimah untuk memahami bahwasanya tugas yang dipikulnya termasuk dalam tugas yang paling suci dan bahwasanya pengaruh yang ia miliki di dalam kehidupan umatnya merupakan pengaruh yang paling mendalam. Sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk memperbaiki umat apabila ia mengarahkan perhatiannya demi perbaikan ini.

Oleh karena itu, kita ingin melakukan perbaikan. Aku meyakini bahwasanya di dalam ajaran-ajaran Islam serta hukum-hukumnya—apabila kita mau mempelajari dan mengamalkannya—terdapat jaminan yang dapat mengantarkan kita menuju perbaikan yang didambakan ini. Jika sudah demikian, maka marilah wahai saudari-saudariku dan putri-putriku, kita mulai dengan memperbaiki diri kita sendiri agar kita dapat memahami Islam dan mengamalkannya, serta menanamkan ajaran-ajarannya di dalam jiwa wanita muslimah. Apabila diri kita telah baik, niscaya keluarga pun akan ikut menjadi baik berkat kebaikan kita, dan bermula dari sanalah akan tercipta kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Demikianlah apa yang ingin aku jelaskan kepada kalian mengenai manhaj kerja kita, yang mana kita telah mewajibkan diri kita sendiri untuk beramal demi memenangkannya. Kepada Allah aku memohon agar sudi kiranya memberikan taufik kepada kita menuju apa saja yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi umat kita yang mulia lagi ditebus ini. — Labibah Ahmad

Model-Model Konferensi Ikhwan di Tingkat Daerah (Provinsi)

Kantor Panduan Pusat telah memberikan arahan kepada para ikhwan untuk menyelenggarakan konferensi-konferensi daerah secara berkala bagi setiap kumpulan dari ranting-ranting yang saling bertetangga. Keinginan ini berhasil diwujudkan oleh ranting-ranting yang berada di wilayah Al-Bahrush Shaghir. Mereka mengadakan perkumpulan rutin di setiap tiga bulan sekali yang bertempat di salah satu markas ranting secara bergantian. Berikut ini merupakan model dari konferensi-konferensi tersebut, yaitu berupa salinan risalah (berita acara) persidangan yang ketujuh bagi Konferensi Perkumpulan Ikhwanul Muslimin di Al-Bahrush Shaghir:

Atas pertolongan Allah dan taufik-Nya yang luhur, konferensi telah menyelenggarakan sidangnya pada hari Jumat, 19 Jumadil Akhir tahun 1353 H, yang bertepatan dengan tanggal 28 September tahun 1934 M. Pertemuan dilangsungkan di kawasan Mit Khudair yang bertempat di kediaman Syekh Radwan Radwan Ibrahim pada jam 3 siang waktu Arab. Sidang ini diselenggarakan berdasarkan undangan dari Sekretaris, dengan dipimpin oleh Syekh Muhammad Hijazi Mujahid selaku Perwakilan Mit Khudair, serta dihadiri oleh yang terhormat:

Syekh Muhammad Qasim Saqar dan Syekh Muhammad ath-Thanthawi Sa'ad (mewakili cabang Al-Manzilah); Syekh Yusuf Thawilah, Syekh Abul Ma'athi al-Arabi, Syekh Muhammad Syalabi, dan Syekh Muhammad al-Imam (mewakili cabang Jadidah Al-Manzilah); Syekh Mahmud Mahmud Musa (mewakili cabang Al-Bishrath); Syekh Ibrahim ad-Dasuqi Ulwan, Syekh Thaha al-Asymawi Amir, dan Syekh Sulaiman Basyuni (mewakili cabang Al-Jawabir); Muhammad Efendi as-Sayid asy-Syafi'i (mewakili cabang Barmbal al-Qadimah); Yang Mulia Syekh Basyuni Umairah (mewakili cabang Al-Kurdi); Muhammad Efendi Amasyah Ahmad Efendi Muhammad as-Sayid (mewakili cabang Mit Marja Salsil); Syekh Muhammad Badwi Ismail, Yunus Efendi Yunus, Muhammad Efendi al-Husaini Yunus, Syekh Salim Ghanim, Syekh Abdu Ismail, Syekh Burai Ahmad, Syekh Ali Muhammad al-Basyuni, Taufik Efendi Ibrahim Radwan, Syekh Sayid Ali Yunus, Syekh Mahmud Muqbil Muhammad, Syekh Ahmad al-Mansi, Syekh Abdul Majid Muhammad, Syekh Sayid Badwi, Syekh Muhammad Jumah, Syekh Ramadan Ramadan, Syekh Ahmad Abdullah, Syekh Sa'ad Hijazi, Syekh Sayid al-Hamis, Syekh Abun Nur Muhammad Farah, Syekh Sayid Mutawalli Muhammad, Syekh Ibrahim Muhammad Yusuf, Syekh Muhammad Muhammad Rifa'i, Syekh Ismail as-Sayid, Syekh Muawwadh Farah, Syekh Ahmad Muhammad Radwan, Syekh Ismail Khalil , Syekh Subhi Ibrahim, dan Syekh Jumah Jumah Muhammad (selaku perwakilan dari cabang Mit Khudair).

Adapun pihak yang menyampaikan uzur (berhalangan hadir) adalah: Yang Mulia Abdul Fatah Bek Rifat; Muhammad Efendi Ajiz (dari Mit al-Qamsh); Haj Suwailam Muhammad Suwailam, Muhammad Efendi Muhammad Suwailam, dan Syekh Husein Yusuf (dari cabang Barmbal al-Qadimah); Syekh Khattab Muhammad Khattab (Perwakilan Al-Manzilah); Syekh Yusuf al-Muzayyin dan Muhammad Efendi Umar (dari cabang Al-Bishrath); Ramadan Efendi Abdul Jalil dan Syekh Abdu Mahmudi (dari Mit Marja Salsil); Syekh Muhammad Zar'u (Perwakilan Al-Jawabir); Syekh Muhammad Ali Bahiuddin, serta Syekh Radwan Radwan Ibrahim (dari Mit Khudair). Semua itu dikarenakan kesibukan mereka yang tengah berada dalam masa panen hasil bumi.

Acara pembukaan persidangan diawali dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh saudara kita, Syekh Muhammad Badwi selaku Sekretaris Mit Khudair. Kemudian Syekh Muhammad Hijazi selaku Ketua Konferensi berdiri memberikan sambutan guna menyapa para hadirin dengan untaian kalimat yang santun, yang mana sambutan tersebut disambut dengan gema takbir oleh para peserta. Selanjutnya, Muhammad Efendi as-Sayid asy-Syafi'i selaku Sekretaris Konferensi berdiri menyampaikan rasa terima kasih kepada para hadirin atas perkenan mereka memenuhi undangan serta kehormatan yang mereka berikan untuk mengunjungi Mit Khudair.

Beliau melaporkan bahwasanya seluruh keputusan konferensi yang dihasilkan pada sidang sebelumnya telah berhasil dilaksanakan, kecuali mengenai urusan anggaran rumah tangga (internal) dari cabang Al-Jamaliyyah yang belum diserahkan, padahal perwakilannya telah berjanji pada sidang yang lalu. Namun, barangkali mereka memiliki uzur di dalam keterlambatan tersebut. Dalam kesempatan itu, beliau menyerahkan kepada majelis berupa dokumen-dokumen tertata yang khusus mencatat perihal konferensi ini, serta berjanji akan menyerahkan buku registrasi resmi pada sidang yang akan datang insya Allah. Terakhir, berdasarkan adanya permintaan dari rekan-rekannya sesama sekretaris cabang, beliau menyerahkan sebuah kumpulan...

Dari catatan-catatan, berkas-berkas, dan publikasi dengan cara yang telah diterapkan oleh cabang Brambal Al-Qadimah agar dapat diikuti oleh seluruh cabang demi menjamin keteraturan sistem yang baik. Dijelaskan pula tata cara pengerjaannya, sebagaimana beliau juga menyampaikan laporan mengenai aktivitas cabang Brambal Al-Qadimah sejak awal pendiriannya hingga saat ini. Beliau mempresentasikan kepada dewan pengurus surat dari direktur administrasi surat kabar mengenai harga publikasi yang diperlukan untuk muktamar [pertemuan/konferensi], seraya meminta izin untuk membelinya. Dewan pengurus pun menyetujui pembelian tersebut dengan harga yang dianggapnya sesuai.

Kepada dewan pengurus, diajukan agenda kerja berikut ini untuk dipertimbangkan, yaitu:

  1. Usulan dari Syekh Muhammad Tantawi Saad agar setiap cabang memfasilitasi hafalan Al-Qur'an bagi sejumlah anak sesuai dengan kemampuannya, dengan ketentuan mereka akan dihadirkan dalam muktamar saat berlangsung di cabang tersebut untuk diuji, dan hal ini menjadi syiar terbesar bagi perkumpulan.
  2. Usulan dari Syekh Muhammad Hijazi, wakil dari Mit Khudair, agar Yang Mulia Al-Mursyid Al-'Am [Pimpinan Umum] diundang untuk menghadiri sidang muktamar ini agar beliau mengetahui waktu pelaksanaannya, dan agar muktamar ini mendapat kehormatan atas kehadiran beliau—atau siapa pun yang mewakili beliau—jika beliau memiliki kelonggaran di sela-sela waktu berharganya untuk hadir.
  3. Dua usulan dari Muhammad Effendi As-Sayyid Asy-Syafi'i, sekretaris muktamar:
    • Pertama: Penarikan iuran untuk Maktab Al-Irsyad Al-'Am [Kantor Panduan Umum] dilakukan pada saat muktamar berlangsung, sebagaimana yang dilakukan oleh cabang Al-Asirat pada sidang sebelumnya, di mana mereka melunasi seluruh tunggakan iuran yang ada pada mereka. Hal ini untuk menghemat tenaga dan biaya. Dituntut pula untuk mempertimbangkan upaya pemasaran surat kabar, dan setiap cabang dipersilakan meminta jumlah yang mampu mereka distribusikan.
    • Kedua: Setiap cabang yang menjadi tempat diselenggarakannya muktamar di wilayahnya hendaknya memberikan saran kepada sekretaris untuk mengundang orang-orang dari daerah sekitar yang dinilai memiliki kecintaan terhadap fikrah [ideologi/konsep gerakan] ini, di mana di daerah-daerah tersebut belum berdiri cabang perkumpulan. Hal ini bertujuan untuk menyebarluaskan fikrah dan menggairahkan potensi jamaah.
  4. Usulan dari Syekh Yusuf Thawilah mengenai keharusan adanya perwakilan dari seluruh cabang dalam muktamar, dengan syarat bahwa cabang-cabang tersebut diwakili oleh wakil, sekretaris, dan dua orang anggota. Beliau berharap agar tokoh-tokoh seperti Abdul Fattah Bek Rifat dan Muhammad Effendi Ajiz tidak absen dalam setiap sidang Effendi Ajiz, Al-Haj Suwailam Muhammad Suwailam, Muhammad Effendi Muhammad Suwailam, Syekh Taha Al-Hawari, Khalid Effendi Abdul Lathif, Syekh Khattab Muhammad Khattab, Syekh Muhammad Zar', Syekh Muhammad Khalifah, Syekh Yusuf Al-Muzayin, Muhammad Effendi Umar, dan Syekh Muhammad Hijazi.
  1. Usulan dari Muhammad Effendi Al-Husaini agar setiap cabang menugaskan juru dakwahnya untuk berkeliling ke daerah-daerah sekitar yang belum memiliki cabang perkumpulan, guna menyebarkan dakwah dan menanamkan fikrah di dalam jiwa penduduk setempat.
  2. Usulan dari Syekh Muhammad Muhammad Rifa'i, bahwa sehubungan dengan informasi yang dibacanya pada surat kabar Al-Ikhwan Al-Muslimun nomor 21 mengenai wafatnya putra dari Syekh Taha Al-Hawari (wakil cabang Al-Kafr Al-Jadid), di mana masa takziah telah berlalu tanpa adanya pengetahuan dari kita untuk menunaikan kewajiban takziah pada waktunya. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar setiap sekretaris cabang yang mengalami peristiwa yang memerlukan takziah segera memberi tahu seluruh cabang lainnya agar dapat menunaikan kewajiban ini. Ketika waktu salat Jumat telah tiba, sidang ditangguhkan.

Pada jam tujuh setengah siang menurut perhitungan waktu Arab, setelah menunaikan fardhu salat Jumat di Masjid Mit Khudair dan selesai menyantap jamuan makan siang, sidang kembali dilanjutkan. Sekretaris muktamar berdiri dan menyampaikan rasa terima kasih kepada Syekh Basyuni 'Umairah, Syekh Muhammad Qasim Saqar, dan Muhammad Effendi Ant-Tantawi Saad atas apa yang telah mereka lakukan di masjid setelah salat Jumat, berupa ajakan kepada keutamaan-keutamaan, menyebarluaskan fikrah Ikhwanul Muslimin, serta menampakkan keagungan Islam. Hal itu membuat seluruh jemaah salat keluar dalam keadaan berdoa kepada Allah Yang Maha Agung kekuasaan-Nya agar menguatkan kejayaan Islam dan kaum muslimin, serta menyiapkan pemimpin-pemimpin yang tulus dari putra-putranya untuk memimpin di medan kemenangan, serta menuliskan taufik bagi Yang Mulia Al-Mursyid Al-'Am dan menguatkannya dengan pertolongan dari sisi-Nya agar dapat mengemudikan bahtera keselamatan, sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa.

Secara keseluruhan, para orator telah meninggalkan kesan yang sangat baik di dalam jiwa penduduk Mit Khudair yang suci.

Kemudian dewan pengurus meninjau agenda kerja:

  1. Dewan pengurus mendiskusikan usulan pertama dan memutuskan untuk menyetujuinya. Setiap cabang harus berperan serta membantu siapa saja yang melaksanakan program hafalan Al-Qur'an, yaitu dengan membantunya dalam hal urusan santri-santri yang fakir dan membayarkan upah yang layak untuk mereka. Cabang tersebut wajib menyerahkan nama-nama mereka beserta upah yang diterimanya kepada perkumpulan, sehingga semuanya berada di bawah pengawasan perkumpulan.
  1. Dewan pengurus menyetujui usulan kedua, dan sekretaris muktamar menyampaikan bahwa ia telah mengundang Yang Mulia Al-Mursyid Al-'Am untuk menghadiri sidang ini.
  2. Dewan pengurus meninjau usulan ketiga mengenai poin pertamanya dan menyatakan persetujuannya. Seluruh cabang akan bersiap untuk melunasi iuran pada sidang berikutnya. Adapun mengenai pemasaran surat kabar, semuanya telah berkomitmen untuk memasarkannya semaksimal mungkin.
  3. Dewan pengurus menyetujui usulan keempat. Setiap cabang yang terwakili dalam sidang ini harus tetap terwakili setelahnya. Adapun cabang-cabang yang tidak hadir, maka sekretaris wajib menyurati mereka. Dewan pengurus sangat berharap agar para tokoh yang disebutkan dalam usulan tersebut dapat memastikan kehadiran mereka di setiap sidang guna memberikan pencerahan melalui pandangan-pandangan mereka.
  4. Dewan pengurus menyetujui usulan kelima. Setiap perkumpulan wajib menugaskan juru dakwahnya untuk menjalankan tujuan tersebut demi menyebarluaskan fikrah di daerah-daerah sekitarnya.
  5. Dewan pengurus menyetujui usulan keenam. Setiap sekretaris wajib memberi tahu seluruh cabang jika terjadi suatu peristiwa di tempatnya yang memerlukan takziah agar memudahkan semua pihak untuk menunaikan kewajiban tersebut. Dalam kesempatan ini, dewan pengurus menugaskan sekretaris untuk menyampaikan ucapan takziah kepada Syekh Taha Al-Hawari atas nama muktamar. Diputuskan pula untuk menghentikan sidang selama lima menit sebagai bentuk berkabung atas wafatnya almarhum, semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di surga-Nya yang luas. Semua yang hadir membacakan Surah Al-Fatihah yang dihadiahkan untuk ruhnya yang suci. Adapun yang berkaitan dengan regulasi internal, maka sekretaris diminta untuk memohonnya dari cabang Al-Jamaliyah dan menyerahkannya pada sidang berikutnya.

Di sini, sekretaris muktamar berkata: "Termasuk faktor yang dapat membangkitkan semangat di cabang-cabang lainnya adalah jika dewan pengurus mengizinkan pembacaan laporan yang diajukan oleh cabang Brambal Al-Qadimah mengenai aktivitasnya hingga saat ini." Dewan pengurus pun menyetujui pembacaannya, lalu laporan tersebut dibacakan dan seluruh isinya menunjukkan aktivitas yang menumbuhkan kebaikan dan berkah.

Kemudian, Al-Akh [Saudara] Syekh Muhammad Qasim Saqar, sekretaris cabang Al-Manzilah, berdiri dan menyebutkan sebagian aktivitas cabang Al-Manzilah, khususnya dalam menghadapi kelompok misionaris. Hal tersebut memberikan kesan yang sangat baik di dalam jiwa para hadirin hingga disambut dengan gema takbir.

Sidang ditutup sebagaimana ia dibuka, yaitu dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, pada saat jam sepuluh siang menurut perhitungan waktu Arab, dengan kesepakatan bahwa pertemuan berikutnya akan diadakan di wilayah Jadidat Al-Manzilah. Hanya Allah-lah pemberi taufik.

Sekretaris Muktamar Muhammad As-Sayyid Asy-Syafi'i

Contoh Pertemuan Sidang Umum Perkumpulan Ikhwan di Daerah-Daerah

Perkumpulan Ikhwanul Muslimin Di Kota Port Fuad Sidang Umum

Dalam rangka memperingati satu tahun berdirinya perkumpulan Ikhwan di Port Fuad, dan sebagai pelaksanaan dari poin ketiga dari keputusan dewan direksi perkumpulan yang diterbitkan pada tanggal 29 Agustus tahun 1934, Hasan Ibrahim Faraj menyampaikan undangan umum kepada seluruh anggota perkumpulan untuk hadir di gedung perkumpulan pada jam delapan malam, hari Sabtu, 1 September tahun 1934, guna berkumpul dalam kapasitasnya sebagai dewan sidang umum untuk meninjau agenda-agenda berikut:

  1. Aktivitas perkumpulan pada tahun yang lalu.
  2. Pemasukan dan pengeluaran perkumpulan pada tahun yang lalu.
  3. Pemilihan wakil perkumpulan dan anggota dewan direksinya.
  4. Agenda-agenda lain yang dipandang perlu oleh para anggota yang hadir untuk diajukan kepada perkumpulan. Belum lagi jam menunjukkan pukul delapan malam, jumlah hadirin yang datang sudah melebihi separuh dari total anggota, sehingga keabsahan sidang [kuorum] terpenuhi.
  5. Pertemuan dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
  1. Fahmi Effendi meminta izin untuk menyampaikan sambutannya, dan para hadirin mengizinkannya. Beliau pun menyampaikan pidato yang sangat berharga mengenai manfaat perkumpulan Ikhwanul Muslimin di wilayah negeri ini serta manfaat perkumpulan-perkumpulan keagamaan secara umum.
  1. Hasan Ibrahim Faraj Effendi, wakil perkumpulan, membuka pembahasan mengenai topik pertemuan. Setelah menyampaikan terima kasih kepada para hadirin atas pemenuhan undangan mereka—yang menunjukkan perhatian mereka terhadap hal yang paling mulia, dan cukuplah bahwa ini adalah murni urusan agama—beliau menjelaskan kepada mereka apa saja yang telah dilakukan oleh perkumpulan selama tahun lalu berupa aktivitas-aktivitas yang agung, di antaranya:
  • Pertama: Mengadakan tempat salat [mushala] bagi kaum muslimin, yang mana di tempat tersebut sekarang didirikan salat fardhu lima waktu secara berjemaah tepat pada waktunya secara rutin.
  • Kedua: Menyatukan suara kaum muslimin di kota tersebut, menanamkan semangat persaudaraan dan kerja sama di antara sesama, serta mengupayakan perdamaian di antara pihak-pihak yang berselisih.
  • Ketiga: Menyebarluaskan wawasan keagamaan dan akhlak di antara sesama melalui pelajaran-pelajaran dan ceramah-ceramah yang disampaikan di perkumpulan dari waktu ke waktu.
  • Keempat: Menghidupkan seluruh malam-malam yang seyogianya diperingati di kalangan kaum muslimin, baik dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an maupun dengan khotbah dan ceramah yang sesuai.
  • Kelima: Mengupayakan pembangunan masjid umum di Port Fuad bagi kaum muslimin, mengingat di kota tersebut tidak ada tempat ibadah lain kecuali mushala perkumpulan Ikhwan saja, sementara di sana terdapat gereja yang megah. Perkumpulan telah mengajukan petisi kepada Yang Berbahagia Gubernur Terusan [Suez] untuk diteruskan kepada Yang Mulia Baginda Raja yang agung, agar kota ini tercakup dalam perhatian beliau yang tinggi dan agar beliau mengeluarkan perintah mulianya untuk membangun masjid di sana.
  • Keenam: Mendidik anak-anak fakir atas biaya perkumpulan di sekolah, hingga jumlah mereka saat ini mencapai sepuluh anak.
  • Ketujuh: Perkumpulan memberikan bantuan kepada banyak orang yang membutuhkan yang meminta pertolongan dalam berbagai situasi. Mengingat sebagian dari bantuan ini bersifat finansial sementara kondisi keuangan perkumpulan belum memadai, perkumpulan menyiasatinya dengan mengumpulkan sumbangan sukarela seadanya dari kaum muslimin di kota tersebut tanpa mengusik uang kas milik perkumpulan itu sendiri.

Tamu yang Mulia

Kaum Ikhwan selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk menjalin komunikasi dengan para tokoh dari negeri-negeri Arab dan Islam guna memperkuat ikatan persaudaraan dan menyebarluaskan dakwah. Di antaranya adalah kunjungan mereka kepada Tuan Abbas Al-Qatthan sehubungan dengan sakit yang dideritanya, dan surat kabar Al-Ikhwan telah mempublikasikannya dalam untaian kalimat berikut:

"Yang Mulia Al-Ustadz Hasan Al-Banna, Al-Mursyid Al-'Am Ikhwanul Muslimin, bersama Ustadz Syekh Mustafa At-Thair (Wakil Maktab Al-Irsyad), serta dua orang ustadz yaitu Fathullah Darwisy Effendi dan As'ad Rajih Effendi, telah menjenguk Yang Mulia Tuan Abbas Al-Qatthan, Gubernur Madinah Al-Munawwarah, sehubungan dengan keberhasilan operasi medis yang dijalani oleh Mohammad Bek Subhi pada salah satu matanya. Mereka berbincang cukup lama mengenai urusan wilayah Hijaz dan urusan kaum muslimin secara umum, kemudian mereka memohon izin pamit kepada beliau. Beliau pun mengantarkan mereka hingga tangga hotel seraya menyampaikan rasa terima kasih kepada Ikhwanul Muslimin atas penghormatan mereka kepadanya, dan beliau berjanji akan membalas kunjungan mereka ke kantor pusat mereka di Jalan Suq As-Silah, Lorong Al-Mi'mar Nomor 6. Surat kabar Al-Ikhwan Al-Muslimun tidak dapat melakukan apa-apa selain mengucapkan selamat kepada Tuan yang mulia atas karunia yang Allah berikan berupa keberhasilan operasi tersebut, serta mendoakannya agar senantiasa berada dalam kesehatan dan keafiatan."

Contoh Keputusan-Keputusan Maktab Al-Irsyad Al-'Am

Maktab Al-Irsyad Al-'Am mengadakan pertemuan secara berkala, mengatur jalannya dakwah, dan mengeluarkan keputusan-keputusannya setelah setiap pertemuan. Di antara keputusan tersebut ada yang dipublikasikan dan ada pula yang langsung dilaksanakan tanpa publikasi. Di antara contoh keputusan dalam salah satu sidangnya adalah sebagai berikut:

  1. Ditugaskan kepada Mahmud Effendi Abdul Lathif, di samping tugasnya mengelola percetakan, untuk mengawasi hal-hal yang berkaitan dengan Uni Kairo.
  2. Ditugaskan kepada Umar Effendi Ghanim untuk mengawasi pengelolaan surat kabar dan hal-hal yang berkaitan dengan sekretariat Maktab Al-Irsyad.
  3. Menjadi kewajiban bagi keduanya untuk menyampaikan urusan-urusan yang mendesak kepada Al-Ustadz Al-Mursyid untuk berkonsultasi dalam mengambil tindakan. Keduanya juga wajib menyampaikan kepada Maktab dalam setiap sidang mengenai urusan-urusan baru yang terjadi di antara dua waktu pertemuan.
  1. Yang Mulia Al-Mursyid bertugas menyusun laporan yang diperlukan mengenai jamaah selama tahun yang lalu untuk dipresentasikan kepada Majelis Syura Al-'Am [Sidang Dewan Syura Umum].
  2. Sekretariat Maktab mulai saat ini bertugas mempersiapkan segala perlengkapan untuk penyelenggaraan Majelis Syura Al-'Am bagi Ikhwan pada Hari Raya Idulfitri yang akan datang.
  3. Setiap orang yang diserahi suatu tugas administratif di Maktab memiliki hak untuk mendelegasikan kepada saudara mana pun dari kalangan Ikhwan yang menjadi anggota Maktab untuk membantunya. Bagi saudara yang didelegasikan, jika memiliki kendala yang menghalanginya untuk melaksanakan tugas tersebut, wajib menyampaikan permohonan maaf [uzur] pada waktu yang tepat.

Berdasarkan keputusan-keputusan ini, sekretariat Maktab memohon kepada segenap ikhwan untuk memperhatikan hal-hal berikut:

  • Pertama: Semua surat khusus untuk Yang Mulia Al-Mursyid Al-'Am yang dikehendaki oleh pemiliknya agar diserahkan langsung kepada beliau, wajib dituliskan kata "KHAS" [Rahasia/Pribadi] dengan tulisan yang jelas.
  • Kedua: Semua surat yang berkaitan dengan surat kabar dikirimkan atas nama Umar Effendi Ghanim dengan dituliskan kata "SURAT KABAR" dengan tulisan yang jelas, dan ditambahkan kata "REDAKSI" jika berkaitan dengan redaksi, atau "ADMINISTRASI" jika berkaitan dengan distribusi, akunting, iuran, atau yang lainnya. Demikian pula seluruh surat khusus untuk Maktab dikirimkan atas nama beliau dengan dituliskan kata "MAKTAB".
  • Ketiga: Semua surat khusus untuk percetakan atau Uni Kairo serta dakwah ke cabang-cabangnya dikirimkan atas nama Mahmud Effendi Abdul Lathif dan dituliskan kata "PERCETAKAN" atau "UNI" dengan tulisan yang jelas.
  • Keempat: Setiap surat menyurat yang memerlukan jawaban wajib disertakan prangko pos senilai lima milim, jika tidak, maka penerima surat berhak untuk tidak membalasnya. Dan Allah adalah pemberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Sekretaris Maktab Muhammad As'ad Al-Hakim

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat