Mazhab Empat dan Manhajnya
Mengenal Madzhab Fiqih yang Empat
Salah
satu bukti penjagaan Allah ﷻ terhadap agama Islam
adalah dengan dibangkitkannya para ulama ahli fiqih dari zaman ke zaman. Allah
menganugerahi mereka kemampuan mengambil kesimpulan hukum langsung dari
ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasul ﷺ.
Kemudian
murid-murid mereka menulis dan mengajarkan secara turun-temurun ilmu yang
didapatkan dari para ahli fiqih tersebut. Hingga akhirnya terbentuklah
madzhab-madzhab fiqih yang sangat banyak. Dan yang paling terkenal hingga zaman
ini adalah empat madzhab fiqih; madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.
Madzhab
Hanafi
Pendiri
Madzhab
Pendiri
madzhab Hanafi adalah Imam Abu Hanifah rahimahullah. Namanya adalah Nu’man bin
Tsabit. Lahir di Kufah pada tahun 80 H, dan wafat pada tahun 150 H. Beliau
dijuluki dengan ‘Al-Imam Al-A’zham’, yaitu seorang imam yang paling agung.
Selain
dikenal sebagai ahli fiqih, Imam Abu Hanifah juga termasuk ‘Huffazul Hadits’,
Imam penghafal hadits-hadits Nabi ﷺ.
Di zaman Abu Hanifah, masih ada beberapa sahabat Nabi yang hidup, seperti :
Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Abi Aufa, Sahl bin Sa’d, dan Abu At-Thufail,
radhiyallahu ‘anhum.
Guru
Imam Abu Hanifah yang paling terkenal adalah Hammad bin Abi Sulaiman. Imam Abu
Hanifah berguru kepadanya selama 18 tahun, hingga wafatnya sang guru. Salah
satu keistimewaan Abu Hanifah adalah beliau mewarisi ilmu sahabat Nabi ﷺ yang terkenal yaitu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
Penjelasannya
demikian, guru Imam Abu Hanifah yang bernama Hammad bin Sulaiman, berguru
kepada Ibrahim An-Nakh’i. Ibrahim An-Nakh’i berguru kepada ‘Alqamah. Sedangkan
‘Alqamah berguru kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
Imam
Waki’ mengatakan,
“Aku belum
pernah bertemu orang yang lebih ‘alim dan lebih baik shalatnya dibandingkan
dengan Imam Abu Hanifah.”
Imam
Syafi’i mengatakan,
“Para
ulama sangat membutuhkan Abu Hanifah dalam hal fiqih.”
Tiga
Murid Terkenal Imam Abu Hanifah dan Sebagian Kitab Penting Madzhab
Ada
tiga murid Imam Abu Hanifah yang sangat terkenal dan berperan penting dalam
menyebarluaskan fiqih Imam Abu Hanifah. Mereka adalah Abu Yusuf Ya’qub bin
Ibrahim, Muhammad bin Hasan dan Zufar, rahimahumullah.
Abu
Yusuf mengatakan,
“Aku
berguru kepada Imam Abu Hanifah selama17 tahun, dan aku tidak pernah
meninggalkannya, baik ketika ‘Idul Fithri maupun ‘Idul Adha, kecuali karena
sakit.”
Abu
Yusuf pernah meminta Muhammad bin Hasan untuk menulis kitab yang berisi
riwayat-riwayat yang dia dapatkan dari Imam Abu Hanifah. Hingga akhirnya
Muhammad bin Hasan menulis kitab “Al-Jami’ Ash-Shaghir”.
Madzhab
Maliki
Pendiri
Madzhab
Pendiri
madzhab Maliki adalah Imam Malik bin Anas rahimahullah, yang dijuluki ‘Imam
Daril Hijrah’, yaitu Imamnya kota hijrah Nabi ﷺ.
Lahir di kota Madinah pada tahun 93 H, dan wafat pada tahun 179 H
Imam
Malik mencurahkan segala yang dimiliki untuk bisa mencari ilmu agama. Di antara
riwayat yang terkenal tentang hal ini adalah ketika beliau mencopot sebagian
dari atap rumahnya lalu dijual untuk biaya mencari ilmu.
Salah
satu keistimewaan Imam Malik adalah mendengar langsung hadits-hadits Nabi ﷺ dari Nafi’, yang merupakan murid langsung dari Ibnu ‘Umar
radhiyallahu ‘anhuma.
Sampai-sampai
Imam Bukhari mengatakan,
“Sanad
(mata rantai hadits) yang paling shahih adalah riwayat dari Imam Malik, dari
Nafi’, dari Ibnu ‘Umar.”
Imam
Syafi’i juga mengatakan,
“Seandainya
bukan karena Imam Malik dan Sufyan bin ‘Uyainah, pasti ilmu wilayah Hijaz
hilang.” Beliau juga mengatakan, “Imam Malik adalah guruku, darinya aku
mengambil ilmu.”
Imam
Wahb bin Khalid mengatakan,
“Tidak ada
seorang pun di antara belahan timur maupun barat bumi yang lebih aku percaya
tentang hadits Rasulullah dibandingkan dengan Imam Malik.”
Madzhab
Syafi’i
Pendiri
Madzhab
Pendiri
mazhab Syafi’i adalah Imam Muhammad bin Idris, yang lebih dikenal dengan nama
Imam Syafi’i. Beliau dijuluki sebagai ‘Nashirus Sunnah’, yaitu pembela sunnah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lahir
di Ghaza pada tahun 150 H, dan wafat di Mesir pada tahun 204 H.
Setelah
dua tahun dari kelahirannya, ibunda Imam Syafi’i membawanya ke Mekah. Hidup
dalam keadaan yatim dan miskin di bawah pengasuhan ibunya. Beliau hafal
Al-Qur’an ketika berusia 7 tahun.
Imam
Syafi’i berguru kepada para Imam ahli hadits dan ahli Fiqih kota Mekah, seperti
Imam Sufyan bin ‘Uyainah, Muslim bin Khalid Az-Zanji, Sa’id bin Salim
Al-Qaddah, dan lain-lain.
Di
usia 13 tahun Imam Syafi’i pergi ke Madinah untuk melanjutkan perjalanannya
mencari ilmu. Di Madinah Imam Syafi’i berguru kepada seorang Imam yang terkenal
yaitu Imam Malik rahimahullah. Dan Imam Syafi’i berhasil menghafalkan kitab
“Al-Muwaththa” karya Imam Malik. Selain itu Imam Syafi’i juga berguru kepada
para Imam kota Madinah, seperti Imam Ibrahim bin Sa’d Al-Anshari, Ibrahim bin
Abi Yahya Al-Aslami, dan lain-lain.
Imam
Syafi’i juga mempunyai guru di kota Baghdad, yaitu Imam Muhammad bin Hasan.
Yang merupakan murid dari Imam Abu Hanifah. Di sinilah Imam Syafi’i mempelajari
mazhab Hanafi. Gurunya yang lain di kota Baghdad masih banyak, seperti Imam
Waki’ bin Jarrah, Hammad bin Usamah Al-Kufi, dan lain-lain. Setelah di tinggal
beberapa lama di Baghdad, Imam Syafi’i kembali ke Mekah, untuk mengajarkan
ilmunya.
Imam
Yahya bin Sa’id Al-Qaththan mengatakan :
“Aku tidak
pernah melihat orang yang lebih cerdas dan lebih alim dari Imam Syafi’i. Dan
aku selalu memberikan doa khusus untuk Imam Syafi’i di setiap shalatku.”
Imam
Ahmad berkata :
“Aku belum
paham tentang ‘nasikh’ dan ‘mansukh’ hadits, hingga berguru kepada Imam
Syafi’i.”
Murid-murid
Imam Syafi’i
Setelah
menjadi seorang ulama besar, Imam Syafi’i mempunyai murid-murid yang tersebar
di berbagai wilayah Mekah, Baghdad dan Mesir. Mereka inilah yang kemudian
menyebarkan ilmu Imam Syafi’i ke penjuru dunia.
Contoh
murid yang di Mekah Abu Bakr ‘Abdullah bin Zubair Al-Asdi Al-Humaidi. Adapun
contoh murid yang di Baghdad seperti Abu
Tsaur Al-Kalbi. Dan contoh murid yang di Mesir adalah Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al-Buwaithi, dan Abu Ibrahim
Isma’il bin Yahya Al-Muzani.
Sebagian
Kitab Fiqih Penting Madzhab Syafi’i
Kitab-kitab
yang diatasnamakan kepada Imam Syafi’i terbagi menjadi dua, yaitu:
Pertama,
kitab karya Imam Syafi’i sendiri. Misalnya kitab Al-Umm, kitab Al-Imla’ dan
kitab Ar-Risalah. Jenis yang ke dua adalah ringkasan dari kitab-kitab karya
Imam Syafi’i. Misalnya kitab Mukhtashar Al-Muzani dan kitab Mukhtashar
Al-Buwaithi.
Menurut
sebagian ahli sejarah, beberapa kitab ini kemudian diringkas oleh Imam Haramain
Al-Juwaini menjadi kitab yang baru dan diberi nama An-Nihayah. Kemudian Imam
Ghazali meringkas kitab An-Nihayah menjadi kitab yang baru dan diberi nama
Al-Bashith. Kemudian diringkas lagi menjadi kitab Al-Wasith. Kemudian diringkas
lagi menjadi kitab Al-Wajiz.
Kemudian
Imam Ar-Rafi’i meringkas kitab “Al-Wajiz” menjadi kitab “Al-Muharror”. Kemudian
Imam Nawawi meringkas kitab ini menjadi kitab “Minhajut Thalibin”, yang
merupakan salah satu kitab terpenting dalam madzhab Syafi’i.
Madzhab
Hanbali
Pendiri
Madzhab
Pendiri
madzhab Hanbali adalah Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah. Kata
‘Hanbal’ adalah nama kakek Imam Ahmad. Dan akhirnya beliau dikenal dengan
sebutan ‘Ahmad bin Hanbal’. Beliau dijuluki ‘Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah’.
Beliau lahir di Baghdad pada tahun 164 H, dan wafat di sana.
Imam
Ahmad dikenal dengan perjalanannya yang luar biasa ketika mencari ilmu. Beliau
melakukan perjalanan mengelilingi dunia. Di antara wilayah yang pernah
didatangi adalah Mekah, Madinah, Syam, Yaman, Kufah, Bashrah, dan Jazirah.
Guru
Imam Ahmad sangat banyak, diantaranya Imam Sufyan bin ‘Uyainah, Ibrahim bin
Sa’d, Yahya Al-Qaththan, Ibnu Mahdi, dan lain-lain. Bahkan Imam Syafi’i
termasuk guru Imam Ahmad.
Tokoh-tokoh
Penting yang Meriwayatkan Madzhab Imam Ahmad
Para
ulama yang meriwayatkan madzhab Imam Ahmad adalah Imam Ahmad bin Hani
Al-Atsram, Abu Bakr Al-Marwazi, Harb bin Isma’il Al-Kirmani, dan Ibrahim bin
Ishaq Al-Harbi. Dua putra Imam Ahmad juga termasuk yang meriwayatkan madzhab
Imam Ahmad, yaitu Shalih dan ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Melalui mereka
madzhab Imam Ahmad terjaga dan tersebar di beberapa wilayah.
Penulis:
Fajri Nur Setyawan, Lc
Sumber
dan referensi
Al-Fathul
Mubin Fi Mushthalahatil Fuqaha’ wal Ushuliyyin, Prof. Dr. Muhammad Ibrahim
Al-Hafnawi.
Tarikh
At-Tasyri’ Al-Islami, Syaikh Manna’ Al-Qaththan.
Al-Madkhal
Ila Dirasati Al-Madzahib Al-Fiqhiyyah.
Sumber
https://almanhaj.or.id/138831-mengenal-madzhab-fiqih-yang-empat.html
Definisi
Madzhab
❓
Pertanyaan
Assalamu
'alaikum Wr Wb
Pertanyaan
saya bagaimana sebuah madzhab dapat terbentuk, definisinya, pada abad keberapa
dan di mana letak madzhab bila disejajarkan dengan dasar hukum Islam yang lain.
Terima
kasih banyak, semoga Allah SWT memberikan pahala yang besar bagi anda.
Wasalamu
'alaikum Wr Wb
💡
Jawaban
Assalamu
'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Rasulullah
saw. tidak meninggalkan dunia ini, kecuali setelah bangunan syariat Islam
lengkap dengan nash yang tegas dan jelas. Allah SWT berfirman:
“Pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa
terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 3)
Namun
demikian Rasulullah saw. tidak meninggalkan “buku fiqh tertulis” yang berisi
hukum-hukum Islam baku. Namun beliau meninggalkan sejumlah kaidah global,
sebagian hukum-hukum juz’i (penggalan masalah), dan hukum-hukum pengadilan yang
ada di Al-Quran dan Sunnah. Sebagian kecil dan ringkas ini hampir mencukupi
untuk menata hidup mereka. Namun (umat) Islam berkembang dan memenuhi jazirah
Arab dan sekitarnya. Mereka menemukan realitas dan tradisi yang sebelumnya
tidak di alami. Kondisi ini menuntut ijtihad fiqh untuk meletakkan
dasar-dasarnya (kaidah) untuk mengaturnya sesuai dengan syariat Islam.
Kaidah-kaidah yang kemudian disebut kaidah fiqh itu merupakan nilai yang
diambil dari Al-Quran.
Kejadian
dan peristiwa semakin berkembang seiring semakin bertambahnya populasi umat
Islam. Kebutuhan terhadap fiqh dan kaidah-kaidah umumnya pun semakin meningkat.
Terutama di negara dan wilayah baru yang dibuka oleh umat Islam. Kian hari fiqh
kian berkemang dari generasi ke generasi sehingga fiqh menjadi disiplin ilmu
tersendiri yang sangat luas dan sistematis. Jika diteliti, fiqh sejak zaman
Rasulullah hingga masa-masa berikutnya melalui sejumlah fase pertumbuhan yang
berbeda-beda dalam empat generasi atau empat abad pertama (hijriyah).
Diawali
dari penulisan (kodifikasi) fiqh madzhab, dilanjutkan syuruh (penjelasan
rinci), ihtisharat (ringkasan), penulisan matan (teks inti pendapat seorang
imam), mausuat (eksiklopedi) fiqh, penulisan kaidah fiqh, ashbah wan nadlair
(masalah-masalah yang memiliki kesamaan dan perbedaan dalam tinjauan fiqh),
fiqhul muqorin (fiqh perbandingan), nadlariyah fiqhiyah (teori fiqh), hingga
fiqh menjadi ketetapan undang-undang dan hukum Islam.
Fase
I:
Berikut
adalah fase-fase tersebut:
Masa
Risalah dimulai dan diakhiri selama Rasulullah saw. hidup hingga wafat. Di masa
ini bangunan syariat dan agama telah sempurna.
Fase
II:
Masa
Khulafaur rashidin hingga pertengahan abad pertama hijriyah. Dua fase I dan II
adalah fase pengantar penulisan fiqh.
Fase
III:
Diawali
sejak pertengahan abad pertama hijriyah hingga awal abad kedua hijriyah. Ilmu
fiqh menjadi disiplin ilmu tersendiri. Di fase ini sekolah-sekolah fiqh tumbuh
pesat yang sesungguhnya adalah setiap sekolah itu sebagai media bagi setiap
madzhab fiqh. Fase ini bisa disebut sebagai fase peletakan dasar bagi
kodifikasi fiqh.
Fase
IV:
Diawali
dari pertengahan abad keempat hijriyah hingga pertengahan abad empat hijriyah.
Di fase ini fiqh telah sempurna terbentuk.
Fase
V:
Diawali
pertengahan abad lima hijriyah hingga jatuhnya Baghdad, ibu kota daulah
abbasiyah sebagai pusat ilmu dan peradaban Islam ke tangan Tartar di
pertengahan abad tujuh. Di fase ini fiqh mulai memasuki masa statis dan taqlid
dalam penulisan fiqh.
Fase
VI:
Diawali
dari pertengahan abad tujuh hijriyah hingga awal abad modern. Fase ini adalah
fase kelemahan dalam sistematika dan metodologi penulisan fiqh.
Fase
VII: diawali dari pertengahan abad 13 hijriyah hingga sekarang. Di fase ini
studi fiqh, terutama studi perbandingan fiqh berkembang.
Sekilas
tentang ahli fiqh (fuqaha) madzhab
Al-Faqiih,
mufti atau mujtahid, adalah orang yang sudah memiliki kemampuan mengambil
kesimpulan hukum-hukum (istinbathul ahkam) dari dalil-dalilnya. Sementara yang
dimaksud madzhab, secara bahasa adalah tempat pergi atau jalan. Secara istilah
adalah pandangan seseorang atau kelompok tentang hukum-hukum yang mencakup
sejumlah masalah.
Benih
madzhab muncul sejak masa sahabat. Sehingga dikenal ada madzhab Aisyah, madzhab
Abdullah bin Umar, madzhab Abdullah bin Masud. Di masa tabiin juga terkenal
tujuh ahli fiqh dari kota Madinah; Said bin Musayyib, Urwah bin Zubair, Qasim
bin Muhammad, Kharijah bin Zaid, Abu Bakr bin Abdullah bin Utbah bin Masud,
Sulaiman bin Yasar, Ubaid bin Abdillah, Nafi’ Maula Abdullah bin Umar. Dari
penduduk Kufah; Alqamah bin Masud, Ibrahim An Nakha’i, guru Hammad bin Abi
Sulaiman, guru Abu Hanifah. Dari penduduk Basrah; Hasan Al-Basri.
Dari
kalangan tabiin ada ahli fiqh yang juga cukup terkenal; Ikrimah Maula Ibnu
Abbas dan Atha’ bin Abu Rabbah, Thawus bin Kiisan, Muhammad bin Sirin, Al-Aswad
bin Yazid, Masruq bin Al-A’raj, Alqamah An Nakha’i, Sya’by, Syuraih, Said bin
Jubair, Makhul Ad Dimasyqy, Abu Idris Al-Khaulani.
Di
awal abad II hingga pertengahan abad IV hijriyah yang merupakan fase keemasan
bagi itjihad fiqh, muncul 13 mujtahid yang madzhabnya dibukukan dan diikuti
pendapatnya. Mereka adalah Sufyan bin Uyainah dari Mekah, Malik bin Anas di
Madinah, Hasan Al-Basri di Basrah, Abu Hanifah dan Sufyan Ats Tsury (161 H) di
Kufah, Al-Auzai (157 H) di Syam, Syafii, Laits bin Sa’d di Mesir, Ishaq bin
Rahawaih di Naisabur, Abu Tsaur, Ahmad bin Hanbal, Daud Adz Dzhahiri dan Ibnu
Jarir At Thabary, keempatnya di Baghdad.
Namun
kebanyakan madzhab di atas hanya tinggal di kitab dan buku-buku seiring dengan
wafatnya para pengikutnya. Sebagian madzhab lainnya masih tetap terkenal dan
bertahan hingga hari ini. Berikut adalah sekilas tentang madzhab-madzhab
tersebut:
1.
Abu Hanifah.
Nama
aslinya An Nu’man bin Tsabit (80-150 H); pendiri madzhab Hanafi. Ia berasal
dari Kufah dari keturunan bangsa Persia. Beliau hidup dalam dua masa, Daulah
Umaiyah dan Abbasiyah. Beliau termasuk pengikut Tabiin (tabi’utabiin), sebagian
ahli sejarah menyebutkan, ia bahkan termasuk Tabi’in. Beliau pernah bertemu
dengan Anas bin Malik (Sahabat) dan meriwayatkan hadis terkenal, ”Mencari ilmu
itu wajib bagi setiap Muslim, ”
Imam
Abu Hanifah dikenal sebagai terdepan dalam “ahlu ra’y”, ulama yang baik dalam
penggunaan logika sebagai dalil. Beliau adalah ahli fiqh dari penduduk Irak. Di
samping sebagai ulama fiqh, Abu Hanifah berprofesi sebagai pedagang kain di
Kufah. Tentang kredibelitasnya sebagai ahli fiqh, Imam Syafi’i mengatakan,
”Dalam fiqh, manusia bergantung kepada Abu Hanifah, ”. Imam Abu Hanifah menimba
ilmu hadis dan fiqh dari banyak ulama terkenal. Untuk fiqh, selama 18 tahun
beliau berguru kepada Hammad bin Abu Sulaiman, murid Ibrahim An Nakha’i. Abu
Hanifah sangat selektif dalam menerima hadis dan lebih banyak menggunakan Qiyas
dan Istihsan. Dasar madzhab Imam Abu Hanifah adalah; Al-Quran, As Sunnah,
Ijma’, Qiyas, Istihsan. Dalam ilmu akidah Imam Abu Hanifah memiliki buku
berjudul “Kitabul fiqhul akbar” (fiqh terbesar; akidah).
Beberapa
murid Imam Abu Hanifah yang terkenal:
Abu
Yusuf Ya’qub bin Ibrahim dari Kufah (113 – 182 H). Beliu menjadi hakim agung di
masa Khalifah Harun Al-Rasyid. Beliau juga sebagai mujtahid mutlak (mujtahid
yang menguasai seluruh disiplin ilmu fiqh).
Muhammad
bin Hasan Asy Syaibani (132 – 189 H). Lahir di Damaskus (Syuriah) dan besar di
Kufah dan menimbah ilmu di Baghdad. Pernah menimba ilmu kepada Abu Hanifah,
kemudian Abu Yusuf. Pernah menimba ilmu kepada Imam Malik bin Anas. Ia juga
termasuk mujtahid mutlak. Ia menulis kitab “dlahirur riwayah” sebagai pegangan
madzhab Abu Hanifah.
Abu
Hudzail Zufar bin Hudzail bin Qais (110 – 158 H) ia juga sebagai mujtahid
mutlak.
Hasan
bin Ziyad Al-Lu’lu’iy (w 204 H). Dalam urusan fiqh beliau belum mencapai Abu
Hanifah dan dua muridnya.
2.
Malik bin Anas bin Abi Amir Al-Ashbahi (93 – 179 H)
Beliau
adalah pendiri madzhab Maliki. Beliau adalah Imam penduduk Madinah dalam urusan
fiqh dan hadis setelah Tabi’in. Beliau dilahirkan di masa Khalifah Al-Walid bin
Abdul Malik dan meninggal di masa khalifah Al-Rasyid di Madinah. Beliau tidak
pernah melakukan perjalanan keluar dari Madinah ke wilayah lain. Sebagaimana
Abu Hanifah, Imam Malik juga hidup dalam dua masa pemerintahan Daulah Umawiyah
dan Abbasiyah. Di masa dua Imam besar inilah, kekuasaan pemerintahan Islam
meluas hingga Samudra Pasifik di barat dan hingga Cina di timur, bahkan ke
jantung Eropa dengan dibukanya Andalusia.
Imam
Malik berguru kepada ulama Madinah. Dalam jangka cukup panjang beliau mulazamah
(berguru langsung) kepada Abdur Rahman Hurmuz. Beliau juga menimba ilmu kepada
Nafi’ maula Ibnu Umar, Ibnu Syihab Az Zuhri. Guru fiqh beliu adalah Rabiah bin
Abdur Rahman.
Imam
Malik adalah ahli hadis dan fiqh. Ia memiliki kitab “Al-Muwattha’” yang berisi
hadis dan fiqh. Imam Syafi’i berkata tentangnya, ”Malik adalah guru besarku,
darinya aku menimba ilmu, beliau adalah hujjah antaraku dan Allah. Tak seorang
pun yang lebih banyak memberi ilmu melebihi Malik. Jika disebut ulama-ulama,
maka Malik seperti bintang yang bersinar, ”
Imam
Malik membangun madzhabnya dengan 20 dasar; Al-Quran, As Sunnah (dengan lima
rincian dari masing-masing Al-Quran dan As Sunnah; tekstualitas, pemahaman
dlahir, lafadl umum, mafhum mukhalafah, mafhum muwafakah, tanbih alal illah),
Ijma’, Qiyas, Amal ahlul madinah (perbuatan penduduk Madinah), perkataan
sahabat, Istihsan, Saddudzarai’, muraatul khilaf, Istishab, maslahah mursalah,
syaru man qablana (syariat nabi terdahulu).
Murid
Imam Malik tersebar di Mesir, utara Afrika, dan Andalus. Di antara mereka
adalah Abu Abdillah; Abdur Rahman bin Al-Qasim (w 191 H) ia dikenal murid
paling mumpuni tentang madzhab Malik dan paling dipercaya. Ia juga yang
mentashih kitab pegangan madzhab ini “Al-Mudawwnah”. Murid Imam Malik lainnya
adalah Abu Muhammad (125 – 197 H) ia menyebarkan madzhabnya di Mesir, Asyhab
bin Abdul Aziz, Abu Muhammad; Abdullah bin Abdul Hakam, Muhammad bin Abdullah
bon Abdul Hakam, Muhammad bin Ibrahim. Murid Imam Malik dari wilayah Maroko;
Abul Hasan; Ali bin Ziyad, Abu Abdillah, Asad bin Furat, Yahya bin Yahya,
Sahnun; Abdus Salam dll.
3.
Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (150 – 204 H)
Beliau
adalah pendiri madzhab Syafi’i. Dipanggil Abu Abdullah. Nama aslinya Muhammad
bin Idris. Nasab beliau bertemu dengan Rasulullah saw. pada kakek beliau Abdu
Manaf. Beliau dilahirkan di Gaza Palestina (Syam) tahun 150 H, tahun wafatnya
Abu Hanifah dan wafat di Mesir tahun 203 H.
Setelah
ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke
Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim.
Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra
sampai-sampai Al-Ashma’i berkata, ”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari
seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris, ” Imam Syafi’i
adalah imam bahasa Arab.
Di
Mekah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az
Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berusia 15 tahun.
Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas.
Beliau mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9
malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin
Iyadl dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.
Imam
Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Kemudian pergi ke
Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan.
Beliau memiliki tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.
Imam
Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad
tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya,
ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi’i
menulis madzhab lamanya (madzhab qodim). Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun
200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di sana beliau wafat sebagai
syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.
Salah
satu karangannya adalah “Ar Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab
“Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang
mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli
Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i, ”Beliau
adalah orang yang paling faqih dalam Al-Quran dan As Sunnah, ” “Tidak seorang
pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di
‘leher’ Syafi’i, ”. Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah, ”Ulama ahli
fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa
Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan
moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya
yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih
kurang lengkap, ”
Dasar
madzhabnya: Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan
sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak
mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya,
menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan,
”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat, ”.
Penduduk Baghdad mengatakan, ”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela
sunnah), ”
Kitab
“Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak;
Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam Syafi’i.
Sementara
kitab “Al-Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh
pengikutnya di Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam
Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya, ”Jika sebuah hadits shahih bertentangan
dengan perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku
di belakang tembok, ”
4.
Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani (164 – 241 H)
Beliu
adalah pendiri madzhab Hanbali. Beliau dipanggil Abu Abdillah. Nama aslinya
Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Adz Dzhali Asy Syaibani. Dilahirkan di
Baghdad dan tumbuh besar di sana hingga meninggal pada bulan Rabiul Awal.
Beliau memiliki pengalaman perjalanan mencari ilmu di pusat-pusat ilmu, seperti
Kufah, Bashrah, Mekah, Madinah, Yaman, Syam.
Beliau
berguru kepada Imam Syafi’i ketika datang ke Baghdad sehingga menjadi mujtahid
mutlak mustaqil. Gurunya sangat hingga mencapai ratusan. Ia menguasai sebuah
hadis dan menghafalnya sehingga menjadi ahli hadis di zamannya dengan berguru
kepada Hasyim bin Basyir bin Abi Hazim Al-Bukhari (104 – 183 H).
Imam
Ahmad adalah seorang pakar hadis dan fiqh. Ibrahim Al-Harbi berkata tentangnya,
”Saya melihat Ahmad seakan Allah menghimpun baginya ilmu orang-orang terdahulu
dan orang belakangan, ” Imam Syafi’i berkata ketika melakukan perjalanan ke
Mesir, ”Saya keluar dari Baghdad dan tidaklah saya tinggalkan di sana orang
yang paling bertakwa dan paling faqih melebihi Ibnu Hanbal (Imam Ahmad), ”
Di
masa hidupnya, di zaman khalifah Al-Makmum, Al-Mu’tasim da Al-Watsiq, Imam
Ahmad merasakan ujian siksaan dan penjara karena mempertahankan kebenaran
tentang “Al-Quran kalamullah” (firman dan perkataan Allah), ia dipaksa untuk
mengubahnya bahwa Al-Quran adalah makhluk (ciptaan Allah). Namun beliau
menghadapinya dengan kesabaran membaja seperti para nabi. Ibnu Al-Madani
mengatakan, ”Sesungguhnya Allah memuliakan Islam dengan dua orang laki-laki;
Abu Bakar di saat terjadi peristiwa riddah (banyak orang murtad menyusul
wafatnya Rasulullah saw.) dan Ibnu Hambal di saat peristiwa ujian khalqul quran
(ciptaan Allah), ”. Bisyr Al-Hafi mengatakan, ”Sesungguhnya Ahmad memiliki
maqam para nabi, ”
Dasar
madzhab Ahmad adalah Al-Quran, Sunnah, fatwah sahahabat, Ijam’, Qiyas,
Istishab, Maslahah mursalah, saddudzarai’.
Imam
Ahmad tidak mengarang satu kitab pun tentang fiqhnya. Namun pengikutnya yang
membukukannya madzhabnya dari perkataan, perbuatan, jawaban atas pertanyaan dan
lain-lain. Namun beliau mengarang sebuah kitab hadis “Al-Musnad” yang memuat
40.000 lebih hadis. Beliau memiliki kukuatan hafalan yang kuat. Imam Ahmad
mengunakan hadis mursal dan hadis dlaif yang derajatnya meningkat kepada hasan
bukan hadis batil atau munkar.
Di
antara murid Imam Ahmad adalah Salh bin Ahmad bin Hanbal (w 266 H) anak
terbesar Imam Ahmad, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (213 – 290 H). Shalih bin
Ahmad lebih menguasai fiqh dan Abdullah bin Ahmad lebih menguasai hadis. Murid
yang adalah Al-Atsram dipanggil Abu Bakr dan nama aslinya; Ahmad bin Muhammad
(w 273 H), Abdul Malik bin Abdul Hamid bin Mihran (w 274 H), Abu Bakr
Al-Khallal (w 311 H), Abul Qasim (w 334 H) yang terakhir ini memiliki banyak
karangan tentang fiqh madzhab Ahmad. Salah satu kitab fiqh madzhab Hanbali
adalah “Al-Mughni” karangan Ibnu Qudamah.
Wallahu
a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
KH.
Dr. Ahmad Sarwat, Lc.,MA
Sumber:
https://www.rumahfiqih.com/konsultasi/972
Penjelasan Mazhab
❓ Pertanyaan
Assalaamualaikum wr. wb.
Ustadz, minta tolong dijelaskan pengertian mazhab,
macam-macamnya, dan mengapa yang berkembang di Indonesia mahzab Syafi'i, dan
yang membedakan masing-masing mahzab tersebut. Syukron
Wassalaamualaikum wr. wb.
💡 Jawaban
Kata-kata mazhab merupakan sighat isim makan darifi'il madli
zahaba. Zahaba artinya pergi; oleh karena itu mazhab artinya : tempat pergi
atau jalan. Kata-kata yang semakna ialah : maslak, thariiqah dan sabiil yang
kesemuanya berarti jalan atau cara. Demikian pengertian mazhab menurut bahasa.
Pengertian mazhab menurut istilah dalam kalangan umat Islam
ialah : "Sejumlah dari fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat seorang alim
besar di dalam urusan agama, baik ibadah maupun lainnya."
Setiap mazhab punya guru dan tokoh-tokoh yang
mengembangkannya. Biasanya mereka punya lembaga pendididikan yang mengajarkan
ilmu-ilmu kepada ribuan muridnya. Berkembangnya suatu mazhan di sebuah wilayah
sangat bergantung dari banyak hal. Salah satunya dari keberadaan pusat-pusat
pengajaran mazhab itu sendiri.
Selain itu sedikit banyak dipengaruhi juga oleh mazhab yang
dianut oleh penguasa, dimana penguasa biasanya mendirikan universitas keagamaan
dan mengajarkan mazhab tertentu di dalamnya. Nanti para mahasiswa yang
berdatangan dari berbagai penjuru dunia akan membuka perguruan tinggi dan akan
menyebarkan mazhab trsebut di negeri masing-masing.
Bila pengelilaan perguruan itu berjalan baik dan berhasil,
biasanya akan mempengaruhi ragam mazhab penduduk suatu negeri. Di Mesir
misalnya, mazhab As-Syafi'i disana berhasil mengajarkan dan mendirikan
perguruan tinggi, lalu punya banyakmurid diantaranya dair Indonesia. Maka di
kemudian hari, mazhab As-Syafi;i pun berkembang banyak di Indonesia.
Sekilas tentang 4 Mazhab
1. Mazhab Hanafi
Pendiri mazhab Hanafi ialah : Nu'man bin Tsabit bin
Zautha.Diahirkan pada masa sahabat, yaitu pada tahun 80 H = 699 M. Beliau wafat
pada tahun 150 H bertepatan dengan lahirnya Imam Syafi'i R.A. Beliau lebih
dikenal dengan sebutan : Abu Hanifah An Nu'man.
Abu Hanifah adalah seorang mujtahid yang ahli ibadah. Dalam
bidang fiqh beliau belajar kepada Hammad bin Abu Sulaiman pada awal abad kedua
hijriah dan banyak belajar pada ulama-ulama Ttabi'in, seperti Atha bin Abi
Rabah dan Nafi' Maula Ibnu Umar.
Mazhab Hanafi adalah sebagai nisbah dari nama imamnya, Abu
Hanifah. Jadi mazhab Hanafi adalah nama dari kumpulan-kumpulan
pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta
pendapat-pendapat yang berasal dari para pengganti mereka sebagai perincian dan
perluasan pemikiran yang telah digariskan oleh mereka yang kesemuanya adalah
hasil dari pada cara dan metode ijtihad ulama-ulama Irak (Ahlu Ra'yi). Maka
disebut juga mazhab Ahlur Ra'yi masa Tsabi'it Tabi'in.
Dasar-dasar Mazhab Hanafi
Abu Hanifah dalam menetapkan hukum fiqh terdiri dari tujuh
pokok, yaitu : Al Kitab, As Sunnah, Perkataan para Sahabat, Al Qiyas, Al
Istihsan, Ijma' dan Uruf.
Murid-murid Abu Hanifah adalah sebagai berikut :
1.
Abu Yusuf bin Ibrahim Al
Anshari (113-183 H)
2.
Zufar bin Hujail bin Qais
al Kufi (110-158 H)
3.
Muhammad bin Hasn bin
Farqad as Syaibani (132-189 H)
4.
Hasan bin Ziyad Al Lu'lu Al
Kufi Maulana Al Anshari (....-204 H).
Daerah-daerah Penganut Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi mulai tumbuh di Kufah (Irak),kemudian tersebar
ke negara-negara Islam bagian Timur. Dan sekarang ini mazhab Hanafi merupakan
mazhab resmi di Mesir, Turki, Syiria dan Libanon. Dan mazhab ini dianut
sebagian besar penduduk Afganistan,Pakistan,Turkistan,Muslimin India dan
Tiongkok.
2. Mazhab Maliki
Mazhab Maliki adalah merupakan kumpulan pendapat-pendapat
yang berasal dari Imam Malik dan para penerusnya di masasesudah beliau
meninggal dunia. Nama lengkap dari pendiri mazhab ini ialah : Malik bin Anas
bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 M = 712 M di Madinah. Selanjutnya dalam
kalangan umat Islam beliau lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik. Imam Malik
terkenal dengan imam dalam bidang hadis Rasulullah SAW.
Imam Malik belajar pada ulama-ulama Madinah. Yang menjadi
guru pertamanya ialah Abdur Rahman bin Hurmuz. Beliau juga belajar kepada Nafi'
Maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab Az Zuhri. Adapun yang menjadi gurunya dalam
bidang fiqh ialah Rabi'ah bin Abdur Rahman. Imam Malik adalah imam (tokoh)
negeri Hijaz, bahkan tokohnya semua bidang fiqh dan hadits.
Dasar-dasar Mazhab Maliki
Dasar-dasar mazhab Maliki diperinci dan diperjelas sampai
tujuh belas pokok(dasar) yaitu :
1.
Nashul Kitab
2.
Dzaahirul Kitab (umum)
3.
Dalilul Kitab (mafhum
mukhalafah)
4.
Mafhum muwafaqah
5.
Tanbihul Kitab, terhadap
illat
6.
Nash-nash Sunnah
7.
Dzahirus Sunnah
8.
Dalilus Sunnah
9.
Mafhum Sunnah
10. Tanbihus Sunnah
11. Ijma'
12. Qiyas
13. Amalu Ahlil Madinah
14. Qaul Shahabi
15. Istihsan
16. Muraa'atul Khilaaf
17. Saddud Dzaraa'i.
Sahabat-sahabat Imam Maliki dan Pengembangan Mazhabnya
Di antara ulama-ulama Mesir yang berkunjung ke Medinah dan
belajar pada Imam Malik ialah :
1.
Abu Muhammad Abdullah bin
Wahab bin Muslim.
2.
Abu Abdillah Abdur Rahman
bin Qasim al Utaqy.
3.
Asyhab bin Abdul Aziz al
Qaisi.
4.
Abu Muhammad Abdullah bin
Abdul Hakam.
5.
Asbagh bin Farj al Umawi.
6.
Muhammad bin Abdullah bin
Abdul Hakam.
7.
Muhammad bin Ibrahim bin
Ziyad al Iskandari.
Adapun ulama-ulama yang mengembangkan mazhab Maliki di
Afrika dan Andalus ialah :
1.
Abu Abdillah Ziyad bin
Abdur Rahman al Qurthubi.
2.
Isa bin Dinar al Andalusi.
3.
Yahya bin Yahya bin Katsir
Al Laitsi.
4.
Abdul Malik bin Habib bin
Sulaiman As Sulami.
5.
Abdul Hasan Ali bin Ziyad
At Tunisi.
6.
Asad bin Furat.
7.
Abdus Salam bin Said At
Tanukhi.
Sedang Fuqaha-fuqaha Malikiyah yang terkenal sesudah
generasi tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1.
Abdul Walid al Baji
2.
Abdul Hasan Al Lakhami
3.
Ibnu Rusyd Al Kabir
4.
Ibnu Rusyd Al Hafiz
5.
Ibnu 'Arabi
6.
Ibnul Qasim bin Jizzi
Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Maliki.
Awal mulanya tersebar di daerah Medinah, kemudian tersebar
sampai saat ini di Marokko, Aljazair, Tunisi, Libia, Bahrain, dan Kuwait.
3.Mazhab Syafi'i.
Mazhab ini dibangun oleh Al Imam Muhammad bin Idris Asy
Syafi'i seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib. Beliau lahir di Guzah
(Siria) tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang
menjadi Mazhab yang pertama.
Guru Imam Syafi'i yang pertama ialah Muslim bin Khalid,
seorang Mufti di Mekah. Imam Syafi'i sanggup hafal Al Qur-an pada usia sembilan
tahun. Setelah beliau hafal Al Qur-an barulah mempelajari bahasa dan syi'ir ;
kemudian beliau mempelajari hadits dan fiqh.
Mazhab Syafi'i terdiri dari dua macam ; berdasarkan atas
masa dan tempat beliau mukim. Yang pertama ialah Qaul Qadim; yaitu mazhab yang
dibentuk sewaktu hidupdi Irak. Dan yang kedua ialah Qul Jadid; yaitu mazhab
yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Mesir pindah dari Irak.
Keistimewaan Imam Syafi'i dibanding dengan Imam Mujtahidin
yaitu bahwa beliau merupakan peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqh dengan
kitabnya Ar Risaalah. Dan kitabnya dalam bidang fiqh yang menjadi induk dari
mazhabnya ialah : Al-Um.
Dasar-dasar Mazhab Syafi'i
Dasar-dasar atau sumber hukum yang dipakai Imam Syafi'i
dalam mengistinbat hukum sysra' adalah :
1.
Al Kitab.
2.
Sunnah Mutawatirah.
3.
Al Ijma'.
4.
Khabar Ahad.
5.
Al Qiyas.
6.
Al Istishab.
Sahabat-sahabat beliau yang berasal dari Irak antara lain :
1.
Abu Tsaur Ibrahim bin
Khalid bin Yaman al-Kalabi al-Bagdadi.
2.
Ahmad bin Hanbal yang
menjadi Imam Mazhab keeempat.
3.
Hasan bin Muhammad bin
Shabah Az Za'farani al-Bagdadi.
4.
Abu Ali Al Husain bin Ali
Al Karabisi.
5.
Ahmad bin Yahya bin Abdul
Aziz al Bagdadi.
Adapun sahabat beliau dari Mesir :
1.
Yusuf bin Yahya al Buwaithi
al Misri.
2.
Abu Ibrahim Ismail bin
Yahya al Muzani al Misri.
3.
Rabi' bin Abdul Jabbar al
Muradi.
4.
5.
Harmalah bin Tahya bin
Abdullah AttayibiYunus bin Abdul A'la Asshodafi al Misri.
6.
Abu Bakar Muhammad bin
Ahmad.
Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Syafi'i
Mazhab Syafi'i sampai sekarang dianut oleh umat Islam di :
Libia, Mesir, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Somalia, Arabia Selatan,
Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Pakistan, India, Jazirah Indo
China, Sunni-Rusia dan Yaman.
4. Mazhab Hambali.
Pendiri Mazhab Hambali ialah : Al Imam Abu Abdillah Ahmad
bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani. Beliau lahir di Bagdad pada tahun
164 H. dan wafat tahun 241 H. Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak
berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain :
Siria, Hijaz, Yaman, Kufah dan Basrsh. Dan beliau dapat menghimpun sejumlah
40.000 hadis dalam kitab Musnadnya.
Dasar-dasar Mazhabnya.
Adapun dasar-dasar mazhabnya dalam mengistinbatkan hukum
adalah :
1.
Nash Al Qur-an atau nash
hadits.
2.
Fatwa sebagian Sahabat.
3.
Pendapat sebagian Sahabat.
4.
Hadits Mursal atau Hadits
Doif.
5.
Qiyas.
Dalam menjelaskan dasar-dasar fatwa Ahmad bin Hanbal ini
didalam kitabnya I'laamul Muwaaqi'in.
Pengembang-pengembang Mazhabnya
Adapun ulama-ulama yang mengembangkan mazhab Ahmad bin
Hanbal adalah sebagai berikut :
1.
Abu Bakar Ahmad bin
Muhammad bin Hani yang terkenal dengan nama Al Atsram; dia telah mengarang
Assunan Fil Fiqhi 'Alaa Mazhabi Ahamd.
2.
Ahmad bin Muhammad bin
Hajjaj al Marwazi yang mengarang kitab As Sunan Bisyawaahidil Hadis.
3.
Ishaq bin Ibrahim yang
terkenal dengan nama Ibnu Ruhawaih al Marwazi dan termasuk ashab Ahmad terbesar
yang mengarang kitab As Sunan Fil Fiqhi.
Ada beberapa ulama yang mengikuti jejak langkah Imam Ahmad
yang menyebarkan mazhab Hambali, diantaranya :
1.
Muwaquddin Ibnu Qudaamah al
Maqdisi yang mengarang kitab Al Mughni.
2.
Syamsuddin Ibnu Qudaamah al
Maqdisi pengarang Assyarhul Kabiir.
3.
Syaikhul Islam Taqiuddin
Ahmad Ibnu Taimiyah pengarang kitab terkenal Al Fataawa.
4.
Ibnul Qaiyim al Jauziyah
pengarang kitab I'laamul Muwaaqi'in dan Atturuqul Hukmiyyah fis Siyaasatis
Syar'iyyah.Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qaiyim adalah dua tokoh yang membela dan
mengembangkan mazhab Hambali.
Daerah yang Menganut Mazhab Hambali.
Awal perkembangannya, mazhab Hambali berkembang di Bagdad,
Irak dan Mesir dalam waktu yang sangat lama. Pada abad XII mazhab Hambali
berkembang terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz As Su'udi. Dan masa
sekarang ini menjadi mazhab resmi pemerintahan Saudi Arabia dan mempunyai
penganut terbesar di seluruh Jazirah Arab, Palestina, Siria dan Irak.
Demikian
sekilas sejarah dan penjelasan dari keempat mazhab yang terkenal.
Sumber:
https://www.rumahfiqih.com/konsultasi/17
Perbedaan
Antar Mazhab
❓
Pertanyaan
Asalamualikum
wr. wb.
Ustadz
yang dirahmati Allah, saya memiliki beberapa pertanyaan:
1.
Apa sebenarnya perbedaan yang mendasar antara mazhab Hanafi, Syafi'i, Maliki
dan Hambali?
2.
Apakah aliran/golongan Hizbuttahrir dan Jama'ah Tabligh itu sama? Mengaju
kepada imam siapakah golongan tersebut? Apa kelemahan dari-dari golongan
tersebut?
Syukron,Jazakumullah
Khairan Khatsiran
Wassalamu'alikum
wr. wb.
💡
Jawaban
Assalamu
'alaikm warahmatullahi wabarakatuh,
Di
antara tonggak penegang ajaran Islam di muka bumi adalah muncul beberapa mazhab
raksasa di tengah ratusan mazhab kecil lainnya. Keempat mazhab itu adalah
Al-Hanabilah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah. Sebenarnya jumlah
mazhab besar tidak hanya terbatas hanya 4 saja, namun keempat mazhab itu memang
diakui eksistensi dan jati dirinya oleh umat selama 15 abad ini.
Keempatnya
masih utuh tegak berdiri dan dijalankan serta dikembangkan oleh mayoritas
muslimin di muka bumi. Masing-masing punya basis kekuatan syariah serta masih
mampu melahirkan para ulama besar di masa sekarang ini.
Berikut
sekelumit sejarah keempat mazhab ini dengan sedikit gambaran landasan manhaj
mereka.
1.
MazhabAl-Hanifiyah.
Didirikan
oleh An-Nu’man bin Tsabit (80-150 H) atau lebih dikenal sebagai Imam Abu
Hanifah. Beliau berasal dari Kufah dari keturunan bangsa Persia. Beliau hidup
dalam dua masa, Daulah Umaiyah dan Abbasiyah. Beliau termasuk pengikut tabiin
(tabi’utabiin), sebagian ahli sejarah menyebutkan, ia bahkan termasuk Tabi’in.
Mazhab
Al-Hanafiyah sebagaimana dipatok oleh pendirinya, sangat dikenal sebagai
terdepan dalam masalah pemanfaatan akal/ logika dalam mengupas masalah fiqih.
Oleh para pengamat dianalisa bahwa di antaralatar belakangnya adalah:
Karena
beliau sangat berhati-hati dalam menerima sebuah hadits. Bila beliau tidak
terlalu yakin atas keshahihah suatu hadits, maka beliau lebih memlih untuk
tidak menggunakannnya. Dan sebagai gantinya, beliau menemukan begitu banyak
formula seperti mengqiyaskan suatu masalah dengan masalah lain yang punya dalil
nash syar'i.
Kurang
tersedianya hadits yang sudah diseleksi keshahihannya di tempat di mana beliau
tinggal. Sebaliknya, begitu banyak hadits palsu, lemah dan bermasalah yang
beredar di masa beliau. Perlu diketahui bahwa beliau hidup di masa 100 tahun
pertama semenjak wafat nabi SAW, jauh sebelum era imam Al-Bukhari dan imam
Muslim yang terkenal sebagai ahli peneliti hadits.
Di
kemudian hari, metodologi yang beliau perkenalkan memang sangat berguna buat
umat Islam sedunia. Apalagi mengingat Islam mengalami perluasan yang sangat
jauh ke seluruh penjuru dunia. Memasuki wilayah yang jauh dari pusat sumber
syariah Islam. Metodologi mazhab ini menjadi sangat menentukan dalam dunia
fiqih di berbagai negeri.
2.
Mazhab Al-Malikiyah
Mazhab
ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin Abi Amir Al-Ashbahi (93 –
179H).Berkembang sejak awal di kota Madinah dalam urusan fiqh.
Mazhab
ini ditegakkan di atas doktrin untuk merujuk dalam segala sesuatunya kepada
hadits Rasulullah SAW dan praktek penduduk Madinah. Imam Malik membangun
madzhabnya dengan 20 dasar; Al-Quran, As-Sunnah (dengan lima rincian dari
masing-masing Al-Quran dan As Sunnah; tekstualitas, pemahaman zhahir, lafaz
umum, mafhum mukhalafah, mafhum muwafakah, tanbih alal illah), Ijma’, Qiyas,
amal ahlul madinah (perbuatan penduduk Madinah), perkataan sahabat, istihsan,
saddudzarai’, muraatul khilaf, istishab, maslahah mursalah, syar'u man qablana
(syariat nabi terdahulu).
Mazhab
ini adalah kebalikan dari mazhan Al-Hanafiyah. Kalau Al-Hanafiyah banyak sekali
mengandalkan nalar dan logika, karena kurang tersedianya nash-nash yang valid
di Kufah, mazhab Maliki justru 'kebanjiran' sumber-sumber syariah. Sebab mazhab
ini tumbuh dan berkembang di kota Nabi SAW sendiri, di mana penduduknya adalah
anak keturunan para shahabat. Imam Malik sangat meyakini bahwa praktek ibadah
yang dikerjakan penduduk Madinah sepeninggal Rasulullah SAW bisa dijadikan
dasar hukum, meski tanpa harus merujuk kepada hadits yang shahih para umumnya.
3.
Mazhab As-Syafi'iyah
Didirikan
oleh Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (150 – 204 H). Beliau dilahirkan di Gaza
Palestina (Syam) tahun 150 H, tahun wafatnya Abu Hanifah dan wafat di Mesir
tahun 203 H.
Di
Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qodim). Kemudian beliu
pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di
sana beliau wafat sebagai syuhadaul 'ilm di akhir bulan Rajab 204 H.
Salah
satu karangannya adalah “Ar-Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab
“Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang
mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli
ra'yi (Al-Hanafiyah) dan fiqh ahli hadits (Al-Malikiyah).
Dasar
madzhabnya: Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan
sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak
mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya,
menolak maslahah mursalah dan perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i
mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan
syariat.” Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah
(pembela sunnah),”
Kitab
“Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak;
Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam Syafi’i.
Sementara kitab “Al-Umm” sebagai madzhab yang baru yang diriwayatkan oleh
pengikutnya di Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar-Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam
Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan
dengan perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku
di belakang tembok,”
4.
Mazhab Al-Hanabilah
Didirikan
oleh Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani (164 – 241 H). Dilahirkan di Baghdad
dan tumbuh besar di sana hingga meninggal pada bulan Rabiul Awal. Beliau
memiliki pengalaman perjalanan mencari ilmu di pusat-pusat ilmu, seperti Kufah,
Bashrah, Mekah, Madinah, Yaman, Syam.
Beliau
berguru kepada Imam Syafi’i ketika datang ke Baghdad sehingga menjadi mujtahid
mutlak mustaqil. Gurunya sangat banyak hingga mencapai ratusan. Ia menguasai
sebuah hadis dan menghafalnya sehingga menjadi ahli hadis di zamannya dengan
berguru kepada Hasyim bin Basyir bin Abi Hazim Al-Bukhari (104 – 183 H).
Imam
Ahmad adalah seorang pakar hadis dan fiqh. Imam Syafi’i berkata ketika
melakukan perjalanan ke Mesir,”Saya keluar dari Baghdad dan tidaklah saya
tinggalkan di sana orang yang paling bertakwa dan paling faqih melebihi Ibnu
Hanbal (Imam Ahmad),”
Dasar
madzhab Ahmad adalah Al-Quran, Sunnah, fatwah sahahabat, Ijam’, Qiyas,
Istishab, Maslahah mursalah, saddudzarai’.
Imam
Ahmad tidak mengarang satu kitab pun tentang fiqhnya. Namun pengikutnya yang
membukukannya madzhabnya dari perkataan, perbuatan, jawaban atas pertanyaan dan
lain-lain. Namun beliau mengarang sebuah kitab hadis “Al-Musnad” yang memuat
40.000 lebih hadis. Beliau memiliki kukuatan hafalan yang kuat. Imam Ahmad
mengunakan hadis mursal dan hadis dlaif yang derajatnya meningkat kepada hasan
bukan hadis batil atau munkar.
Di
antara murid Imam Ahmad adalah Salh bin Ahmad bin Hanbal (w 266 H) anak
terbesar Imam Ahmad, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (213 – 290 H). Shalih bin
Ahmad lebih menguasai fiqh dan Abdullah bin Ahmad lebih menguasai hadis. Murid
yang adalah Al-Atsram dipanggil Abu Bakr dan nama aslinya; Ahmad bin Muhammad
(w 273 H), Abdul Malik bin Abdul Hamid bin Mihran (w 274 H), Abu Bakr
Al-Khallal (w 311 H), Abul Qasim (w 334 H) yang terakhir ini memiliki banyak
karangan tentang fiqh madzhab Ahmad. Salah satu kitab fiqh madzhab Hanbali
adalah “Al-Mughni” karangan Ibnu Qudamah.
Wallahu
a'lam bish-shawab, wassalamu 'alaikm warahmatullahi wabarakatuh,
KH.
Dr. Ahmad Sarwat, Lc.,MA
Sumber:
https://www.rumahfiqih.com/konsultasi/64
Comments
Post a Comment