Mudzakirat Da'wah Wa Da'iyah (Memoar Al-Banna) (5)
Acara Penutupan Divisi Mahasiswa Ikhwanul Muslimin
Dan
dalam rangka berakhirnya tahun ajaran serta dekatnya waktu keberangkatan
delegasi musim panas Ikhwanul Muslimin, perkumpulan mengundang para anggotanya
dari kalangan mahasiswa ke acara yang diadakannya di gedung perkumpulan pada
hari Kamis bertepatan dengan tanggal 28 Rabi' [Rabi'ul Awwal/Akhir] tahun 1355
H tepat jam lima. Kami berharap bagi para Ikhwan dari kalangan mahasiswa
kesuksesan yang gemilang, istirahat yang nyaman, serta semangat yang
diperbarui, dan bagi para anggota delegasi musim panas Ikhwan perlindungan,
kelurusan, serta pahala yang besar dari Allah.
Kabar
Mengenai Delegasi Musim Panas Ikhwanul Muslimin
Mulai
tanggal 5 Juli yang akan datang, komite-komite berikut akan memulai tugasnya
berdasarkan sistem berikut, insya Allah:
- Dua Provinsi Qena dan
Aswan: Tuan Muhammad Fahmi Abu Ghadir dan Tuan Syakir Muhammad Hasan.
- Dua Provinsi Jirja dan
Asyuth: Tuan Abdul Muhsin Al-Husaini dan Syaikh Nuruddin. Provinsi
Al-Minya, Bani Suwaif, Al-Fayyum, dan Giza: Tuan Abdul Hakim Abidin dan
Tuan Thahir Abdul Muhsin.
- Provinsi Asy-Syarqiyah:
Tuan Muhammad Ibrahim Abdul Hafizh dan Syaikh Muhammad al-Banna.
- Provinsi Al-Buhairah: Tuan
Rasyad Salamah dan Syaikh Abdul Lathif asy-Sya'sya'i.
Dan
telah menyumbang untuk biaya proyek ini, serta menyerahkan nilai sumbangan
mereka secara nyata kepada bendahara komite, الحاج (Al-Haj) Ahmad Efendi Athiyyah, para
Ikhwan yang nama-namanya tertera di bawah ini:
Dua
Jeneh [Pound] Mesir dari yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid, dua Jeneh Mesir dari
yang mulia Al-Ustadz Syaikh Hamid Askariyyah, dua Jeneh Mesir dari Al-Haj Ahmad
Efendi Athiyyah, dan satu Jeneh Mesir dari masing-masing para Ustadz: Ahmad
Syarafuddin Efendi dan Muhammad Efendi Abdu Al-Aziz Khatir, Ustaz Muhammad
Effendi Ali asy-Syahawi, Hasan Effendi Utsman, Muhammad Fahmi Abu Ghadir
Effendi, Muhammad Sulaiman Effendi, Jamal Effendi al-Fandi, Ali al-Jundi
Sulaiman; dan masing-masing lima puluh qarsy dari Hasan Effendi Fahmi dan Athiyah
Effendi Abdul Qadir; serta satu junaih dari Yang Terhormat Ahmad al-Baquri,
satu junaih dari Yang Terhormat Ahmad Effendi Mustafa Awadullah, dan satu
junaih dari Ustaz Syaikh Abdullah Salim. Kantor Irsyad Am tidak bisa melakukan
apa pun selain menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka,
meskipun tidak ada ucapan terima kasih untuk sebuah kewajiban.
Perjalanan
Al-Ustaz Al-Mursyid ke Wilayah Nil Utara (Wajah Bahri) dan Mesir Hulu (Sa'id)
Setelah
itu, dilakukan perjalanan ke wilayah Nil Utara dan Mesir Hulu berdasarkan
jadwal berikut:
- Hari Jumat, 28 Rabi'ul
Akhir bertepatan dengan 17 Juli: Shibin al-Kum dan Shubrakhit.
- Hari Sabtu, 29 Rabi'ul
Akhir bertepatan dengan 18 Juli: Al-Mahmudiyah, Beheira.
- Hari Ahad, 30 Rabi'ul Akhir
bertepatan dengan 19 Juli: Al-Mahmudiyah, Beheira. (Catatan teks asli:
Lammah)
- Hari Senin, awal Jumadil
Ula bertepatan dengan 20 Juli: Kafrud Dawwar.
- Hari Selasa, 2 Jumadil Ula
bertepatan dengan 21 Juli: Iskandariyah (Alexandria).
- Hari Rabu, 3 Jumadil Ula
bertepatan dengan 22 Juli: Tanta.
- Hari Jumat, 5 Jumadil Ula
bertepatan dengan 24 Juli: Mit Ghamr.
- Hari Sabtu, 6 Jumadil Ula
bertepatan dengan 25 Juli: Zifta.
- Hari Ahad, 7 Jumadil Ula
bertepatan dengan 26 Juli: Al-Manshurah.
- Hari Senin, 8 Jumadil Ula
bertepatan dengan 27 Juli: Dikarnis.
- Hari Selasa, 9 Jumadil Ula
bertepatan dengan 28 Juli: Az-Zaqaziq.
- Hari Rabu, 10 Jumadil Ula
bertepatan dengan 29 Juli: Abu Shuwair.
- Hari Kamis, 11 Jumadil Ula
bertepatan dengan 30 Juli: Minya al-Qamh.
- Hari Jumat, 12 Jumadil Ula
bertepatan dengan 31 Juli: Banha.
Perjalanan
kedua dimulai dari Kairo pada hari Senin, 15 Jumadil Ula bertepatan dengan 3
Agustus menuju Aswan, kemudian ke ibu kota-ibu kota wilayah Mesir Hulu (Sa'id)
dan cabang-cabang jamaah di sana hingga tanggal 30 bulan tersebut. Selama masa
ketidakhadiran beliau, tugas-tugas kantor akan dijalankan oleh Abdurrahman
Effendi as-Sa'ati. Wallahul musta'an (Hanya kepada Allah kita memohon
pertolongan).
Kepada
Yang Mulia Presiden/Perdana Menteri yang Agung, Mustafa An-Nahas
Di
antara memo-memo perbaikan (mudarakat ishlahiyah) adalah surat
bersejarah yang dikirimkan kepada Yang Mulia Mustafa An-Nahas, Kepala
Pemerintahan Mesir, menyusul sebuah pernyataan beliau kepada kantor berita
Anadolu di Istanbul, yang teksnya dimuat oleh surat kabar Al-Ahram
sebagai berikut:
Dikutip
dari Al-Ahram pada tanggal 15 Rabi'ul Awwal, Istanbul: "Seluruh
surat kabar memuat pernyataan yang disampaikan oleh Nahas Basya kepada
koresponden khusus kantor berita telegraf Anadolu di Kairo. An-Nahas
menyatakan: 'Sebelum segala sesuatunya, saya ingin mengatakan bahwa saya adalah
salah seorang pengagum tanpa cadangan [tanpa syarat] terhadap Kemal Ataturk,
yang dengan kejeniusannya telah membentuk Turki Baru, sebuah negara yang dunia
suka menyebutnya sebagai Turki Ataturk. Beliau telah menciptakan sebuah negara
muda yang memiliki vitalitas luar biasa, yang kini menjadi faktor yang
diperhitungkan dalam urusan-urusan Eropa. Saya tidak hanya kagum pada
kejeniusan militernya semata, melainkan saya juga kagum pada kejeniusannya yang
murni serta pemahamannya tentang makna negara modern, yang dengannya saja—dalam
situasi dunia saat ini—negara tersebut mampu untuk hidup dan berkembang.'
"
Surat
kabar Al-Ikhwan telah memuatnya, begitu pula memuat surat yang ditujukan
kepada Yang Mulia Perdana Menteri, yaitu sebagai berikut:
Yang
Mulia Mustafa An-Nahas Basya, Kepala Pemerintahan. Aku memuji Allah kepadamu,
yang tiada Tuhan selain Dia, dan aku bersalawat serta bersalam kepada junjungan
kita Muhammad, sebaik-baik pemberi petunjuk, dan kepada keluarga serta para
sahabatnya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, waba'du:
Yang
Mulia adalah pemimpin Timur terbesar yang dikenal oleh semua orang memiliki
keselamatan agama dan ketulusan keyakinan. Sementara itu, sikap pemerintah
Turki modern terhadap Islam, hukum-hukumnya, ajaran-ajarannya, dan
syariat-syariatnya telah diketahui di seluruh dunia tanpa ada kesamaran lagi.
Pemerintah Turki telah mengubah sistem Khilafah menjadi Republik, menghapus
hukum Islam, dan memutuskan perkara dengan hukum Swiss, padahal Allah Ta'ala
berfirman: “...Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. Al-Ma'idah: 44).
Pemerintah Turki juga menyatakan dalam konstitusinya bahwa ia adalah negara
sekuler [tidak beragama], dan berdasarkan ajaran-ajaran ini, ia mengizinkan
wanita Muslimah menikah dengan pria non-Muslim, serta wanita mewarisi bagian yang
sama dengan pria. Hal ini bertabrakan dengan firman Allah Ta'ala: “...bagian
seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan...” (QS.
An-Nisa': 11). Ini baru sedikit dari banyak hal terkait sikap pemerintah Turki
terhadap Islam. Adapun sikapnya terhadap Timur, dalam suatu waktu ia telah
menyatakan melalui lisan menteri luar negerinya bahwa ia bukanlah negara Timur.
Ia telah memutuskan hubungannya dengan Timur bahkan dalam bentuk
huruf-hurufnya, pakaiannya, adat istiadatnya , serta segala sesuatu yang
berkaitan dengannya...
Perkara-perkara
ini, jika dahulu menjadi ajang perselisihan, maka saat ini telah menjadi hal
yang diakui oleh sahabat paling setia dari Turki modern sekalipun. Oleh karena
itu, pernyataan Yang Mulia kepada koresponden khusus kantor berita telegraf
Anadolu di Kairo —yang dimuat oleh surat kabar Al-Ahram pada tanggal 9
Juni 1936—bahwa Anda mengagumi Kemal Ataturk tanpa syarat, dan bahwa Anda tidak
membatasi kekaguman ini pada sisi militer saja melainkan melampauinya kepada
kejeniusan khususnya serta pemahamannya tentang makna negara modern yang
dengannya saja dalam situasi dunia saat ini mampu untuk hidup dan berkembang,
terasa asing bagi orang-orang yang tidak mengenal Yang Mulia kecuali sebagai
seorang pemimpin Timur yang Muslim, yang bangga dengan ke-Timur-annya dan
berpegang teguh pada ke-Islamannya di tengah umat yang dianggap sebagai
pemimpin bagi seluruh Timur.
Banyak
orang yang membaca pernyataan ini mulai bertanya-tanya: Apakah dapat dipahami
dari hal ini bahwa An-Nahas Basya, selaku pemimpin Muslim yang bijaksana,
menyetujui bahwa umatnya—setelah selesainya persoalan politik—akan memiliki
program seperti program Kemal Ataturk, yang mengambil alih seluruh tatanan di
dalamnya, memisahkannya dari Timur dan orang-orang Timur, serta menjatuhkan
panji kepemimpinan dari tangannya? Kami memohon perlindungan kepada Allah untuk
Yang Mulia Perdana Menteri dari maksud tersebut, yang kami yakini bahwa beliau
adalah orang yang paling jauh dari maksud semacam itu.
Wahai
Perdana Menteri: Mesir modern yang mulia sedang melewati salah satu fase paling
berbahaya dalam kehidupan masa depannya, yaitu fase transisi. Hawa nafsu,
fitnah, kepentingan-kepentingan, serta syahwat berkecamuk di tengah manusia
sebagaimana penyakit rabies menguasai pengidapnya, dan keluhan begitu nyaring
lagi getir akibat kemerosotan akhlak dan hancurnya nilai-nilai keutamaan.
Pernyataan seperti ini akan dijadikan sandaran oleh setiap orang yang mengikuti
hawa nafsu demi mencapai tujuannya.
Sungguh,
di antara cita-cita yang paling mulia adalah agar Allah menguatkan Anda,
sehingga melalui Anda, Dia menguatkan agama dan akhlak, dan Anda menuntun umat
ini ke jalan yang mengembalikan kemerdekaan politiknya, perundang-undangan
Islamnya, dan moral sosialnya yang telah hilang. Oleh karena itu, wahai Yang
Mulia, kami menyampaikan kalimat ini kepada Anda, yang merupakan kalimat
loyalitas yang tulus, nasihat yang murni, dan rasa kekhawatiran yang besar,
dengan harapan Yang Mulia berkenan menyertai pernyataan ini dengan penjelasan
yang menenteramkan jiwa-jiwa yang gelisah, menenangkan hati yang gundah, dan
menutup jalan bagi prasangka serta ilusi.
Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Kairo, 24 Rabi'ul Awwal tahun 1355 H - 14 Juni
tahun 1936 M. Hasan Al-Banna.
Manhaj
dan Arahan-Arahan
Pada
bulan Agustus 1936, ditandatanganilah perjanjian yang membawa kesialan, dan
Ikhwanul Muslimin termasuk pihak yang menentang dan mengeluhkan hal tersebut.
Namun demikian, mereka memanfaatkan kesempatan meredanya masalah luar negeri
ini dan beralih ke perbaikan internal (ishlah dakhili) di lingkungan
mereka sendiri maupun di lingkungan umat secara keseluruhan. Maka Maktab Irsyad
mulai menyusun arahan-arahan dan risalah-risalah panduan yang kuat, seperti “Da'watuna”
(Dakwah Kami) dan “Ila Ayye Syai'in Nad'un Nas?” (Kepada Apakah Kami
Menyeru Manusia?), serta “Risalatush Syabab” (Risalah Pemuda) dan yang
lainnya, sebagaimana mereka juga menyusun “Risalatul Manhaj” (Risalah
Manhaj). Mereka juga menyampaikan surat kepada para pemimpin dan penguasa
berupa risalah “Nahwan Nur” (Menuju Cahaya) yang menuntut kembalinya
tatanan Islam, dan di akhir risalah tersebut dicantumkan tuntutan praktis dan
aplikatif dari tuntutan perbaikan internal.
Berikut
adalah sebagian dari arahan internal dan setelahnya adalah lima puluh tuntutan
sebagaimana yang diterbitkan oleh Ikhwanul Muslimin.
Sepuluh
Kewajiban (Al-Wajibat Al-Asyr)
- Membawa lambang/syiar kami.
- Menjaga akidah kami.
- Membaca wirid/tugas harian
kami (Wazhifah).
- Menghadiri pertemuan/majelis
kami.
- Memenuhi seruan/dakwah kami.
- Mendengar wasiat kami.
- Merahasiakan urusan internal
kami (sirr).
- Menjaga kehormatan kami.
- Mencintai saudara-saudara
kami (ikhwan).
- Menjaga kesinambungan
hubungan kami.
Sepuluh
Perkara yang Membinasakan (Al-Mubiqat Al-Asyr)
- Kolonialisme/Penjajahan.
- Perselisihan politik,
pribadi, dan mazhab.
- Riba.
- Perusahaan-perusahaan
asing.
- Taklid (mengekor) Barat.
- Hukum positif (buatan
manusia).
- Ateisme dan kekacauan
pemikiran.
- Syahwat dan permisivisme
(kebebasan moral).
- Kerusakan akhlak dan
pengabaian nilai-nilai keutamaan jiwa.
- Lemahnya kepemimpinan dan
ketiadaan manhaj ilmiah.
Sepuluh
Perkara yang Menyelamatkan (Al-Munjiyat Al-Asyr)
- Persatuan.
- Kebebasan.
- Pengaturan zakat.
- Mendukung/mendorong
proyek-proyek nasional.
- Menghormati nasionalisme (Al-Qaumiyah).
- Mengamalkan syariat Islam.
- Mengukuhkan akidah keimanan.
- Menegakkan hudud (hukum
pidana) Islam.
- Memperkuat nilai-nilai
keutamaan akhlak.
- Mengikuti sirah/teladan Nabi
Muhammad.
Lima
Puluh Tuntutan (Al-Mathalib Al-Khamsun)
Pada
pekan ini, Al-Ustaz Al-Mursyid Al-Aam Ikhwanul Muslimin mengajukan sebuah surat
ringkas kepada Yang Mulia para raja dan pangeran Islam, para kepala
pemerintahan Islam yang agung, anggota lembaga legislatif, lembaga-lembaga
Islam, serta para cendekiawan dan tokoh yang memiliki ghirah di dunia Islam. Di
dalamnya, beliau memaparkan pandangan umum yang harus mendominasi negara-negara
dan bangsa-bangsa Islam di era baru mereka yang penuh dengan berbagai peristiwa
dan tuntutan.
Di
akhir surat ini terdapat penjelasan mengenai lima puluh tuntutan praktis yang
didasarkan pada komitmen kaum Muslimin terhadap Islam mereka dan kembalinya
mereka kepada Islam dalam segala urusan mereka. Di bagian pengantar tuntutan
ini disebutkan bahwa setiap tuntutan membutuhkan kajian yang luas dan mendalam
yang mengandalkan keahlian serta kompetensi para pakar, dan bahwa tuntutan
tersebut belum mencakup seluruh kebutuhan umat dan manifestasi kebangkitannya.
Banyak di antaranya yang menghadapi hambatan bercabang yang membutuhkan
kesabaran yang panjang, kebijaksanaan yang agung, serta tekad yang kuat.
Walaupun demikian, jika tekad itu jujur, maka jalan akan menjadi terang, dan
umat yang memiliki kemauan yang kuat pasti akan mencapai apa yang
dicita-citakannya.
Kami
sebutkan tuntutan-tuntutan ini secara keseluruhan sebagaimana tercantum di
akhir surat yang menarik ini sebagai contoh dari cita-cita Ikhwanul Muslimin.
Semoga pada edisi-edisi mendatang kami berhasil menerbitkan surat ini secara
utuh dan memberikan ulasan atas topik-topik berharga ini, insya Allah.
Pertama:
Dalam Bidang Politik dan Ekonomi
- Menghapuskan kepartaian dan
mengarahkan kekuatan politik umat ke satu arah dan satu barisan.
- Memperbaiki hukum agar
sesuai dengan syariat Islam, khususnya dalam masalah kriminalitas (jinayat)
dan hudud.
- Memperkuat tentara,
memperbanyak pasukan pemuda, dan mengobarkan semangat mereka di atas
landasan jihad Islami.
- Memperkuat hubungan antara
seluruh negeri Islam, khususnya negeri-negeri Arab, sebagai persiapan
untuk pemikiran serius dan praktis mengenai urusan Khilafah yang hilang.
- Menanamkan ruh Islam di
kementerian/lembaga pemerintahan agar seluruh warga negara merasakan bahwa
mereka dituntut untuk menjalankan ajaran Islam.
- Mengawasi perilaku pribadi
para pegawai negeri dan tidak memisahkan antara kehidupan pribadi dan
kehidupan profesional.
- Memajukan jam kerja di
kementerian/lembaga pemerintahan, baik di musim panas maupun musim dingin,
guna membantu pelaksanaan ibadah fardu dan menghentikan kebiasaan
bergadang yang berlebihan.
- Memberantas suap dan
nepotisme, serta hanya bersandar pada kompetensi dan kualifikasi hukum
saja.
- Menimbang seluruh tindakan
pemerintah dengan timbangan hukum dan ajaran Islam; sehingga sistem
penjara dan rumah sakit tidak bertentangan dengan ajaran Islam, pembagian
sif kerja diatur sedemikian rupa agar tidak bertabrakan dengan waktu-waktu
shalat kecuali karena darurat, acara-acara resmi menampilkan syiar Islam,
dan seterusnya.
- Menyerahkan sebagian
jabatan militer dan administrasi kepada para lulusan Al-Azhar.
Kedua:
Dalam Bidang Sosial dan Keilmuan
- Membiasakan masyarakat
untuk menghormati norma-norma umum (kesopanan publik), menyusun panduan
yang diperkuat dengan perlindungan hukum dalam hal tersebut, serta
memperberat hukuman bagi kejahatan moral/kesusilaan.
- Menyelesaikan persoalan
wanita dengan solusi yang memadukan antara kemajuan bagi dirinya dan
penjagaan terhadap dirinya sesuai dengan ajaran Islam, agar persoalan yang
merupakan persoalan sosial terpenting ini tidak dibiarkan berada di bawah
kendali pena-pena yang tendensius dan opini-opini menyimpang dari
orang-orang yang memiliki niat buruk (baik laki-laki maupun perempuan).
- Memberantas prostitusi, baik
yang terselubung maupun yang terang-terangan, dan menganggap
perzinaan—bagaimanapun kondisinya—sebagai kejahatan keji yang pelakunya
harus dikenai hukuman had.
- Memberantas judi dalam
segala bentuknya, baik berupa permainan, lotre, sayembara [yang mengandung
unsur judi], dan lainnya.
- Memerangi khamr sebagaimana
memerangi narkotika, mengharamkannya, dan membebaskan umat dari
keburukannya.
- Menentang tabarruj
(bersolek berlebihan) dan ketidakpatutan (perilaku seronok), mengarahkan
para wanita kepada apa yang semestinya, serta bersikap tegas dalam hal
tersebut, khususnya terhadap para guru wanita, siswi, dokter wanita,
mahasiswi, dan yang sederajat dengan mereka.
- Meninjau kembali kurikulum
pendidikan anak perempuan, dan wajib membedakan antara kurikulum anak
perempuan dan kurikulum anak laki-laki di banyak tahapan pendidikan.
- Melarang campur baur (ikhtilat)
antara mahasiswa dan mahasiswi, serta menganggap tindakan berduaan (khalwat)
antara pria dan wanita mana pun sebagai kejahatan yang menyebabkan
keduanya dimintai pertanggungjawaban.
- Mendorong pernikahan dan
keturunan dengan segala sarana yang mengarah ke sana, serta membuat
undang-undang untuk melindungi keluarga, menganjurkannya, dan
menyelesaikan masalah pernikahan.
- Menutup aula-aula dan tempat
pertunjukan dansa yang seronok, serta mengharamkan tarian, pelukan (dalam
dansa), dan yang sejenisnya.
- Mengawasi tempat-tempat
hiburan malam dan film-film bioskop, serta memperketat seleksi terhadap
lakon cerita dan pita rekaman film.
- Memperbaiki mutu lagu-lagu,
memilihnya, mengawasinya, dan bersikap tegas dalam hal tersebut.
- Memilih dengan baik materi
ceramah, lagu, dan topik yang disiarkan kepada umat, serta menggunakan
stasiun radio untuk pendidikan nasional dan akhlak yang mulia.
- Menyita novel-novel yang
merangsang syahwat, buku-buku yang meragukan [merusak akidah] dan merusak,
serta surat kabar yang bekerja menyebarkan kefasikan dan mengeksploitasi
syahwat secara keji.
- Mengatur tempat-tempat
wisata musim panas (resort) dengan pengaturan yang menghentikan
kekacauan dan permisivisme yang menghilangkan tujuan dasar dari berwisata
musim panas.
- Menetapkan waktu buka dan
tutup bagi kedai-kedai kopi umum (kafe), mengawasi orang yang bekerja di
sana dan para pengunjungnya, mengarahkan mereka kepada apa yang bermanfaat
bagi mereka, serta tidak mengizinkan kafe-kafe tersebut buka dalam waktu
yang sangat lama.
- Memanfaatkan kedai-kedai
kopi ini untuk mengajarkan orang-orang yang buta huruf membaca dan
menulis, di mana pemuda yang bersemangat dari kalangan pengajar pendidikan
wajib dan para pelajar ikut membantu program ini.
- Melawan adat istiadat yang
merugikan secara ekonomi atau moral, dan mengalihkan arus masyarakat
darinya menuju adat istiadat lain yang bermanfaat, atau memperbaiki adat
tersebut agar selaras dengan kemaslahatan; seperti adat dalam pesta
pernikahan, kematian, maulid, zar [ritual mistik], musim, dan hari
raya, di mana pemerintah harus menjadi teladan yang baik dalam hal
tersebut.
- Memberlakukan gugatan hisbah
[hak menuntut demi membela hak Allah/kepentingan umum] dan menindak siapa
saja yang terbukti melanggar salah satu ajaran Islam atau melecehkannya,
seperti tidak berpuasa di bulan Ramadan secara terang-terangan,
meninggalkan shalat dengan sengaja, mencaci agama, dan urusan-urusan
serupa lainnya.
- Mengintegrasikan
sekolah-sekolah wajib di desa-desa ke dalam masjid-masjid, dan mengubahnya
agar memancarkan nilai-nilai perbaikan yang menyeluruh dari segi staf,
kebersihan, dan perhatian yang penuh, sehingga anak-anak terbiasa
mendirikan shalat dan orang dewasa terbiasa menuntut ilmu.
- Menetapkan pendidikan agama
sebagai materi pelajaran pokok di semua sekolah dalam berbagai jenisnya
masing-masing, begitu pula di universitas.
- Mendorong penghafalan
Al-Qur'an di sekolah-sekolah umum dan swasta, serta menjadikan hafal
Al-Qur'an sebagai syarat untuk memperoleh ijazah ilmiah yang berkaitan
dengan bidang keagamaan dan bahasa, di samping mewajibkan hafalan sebagian
Al-Qur'an di setiap sekolah.
- Menyusun kebijakan tetap
untuk pendidikan yang memajukan dan mengangkat tingkatannya, serta
menyatukan jenis-jenisnya yang memiliki tujuan dan maksud yang sama,
mendekatkan berbagai budaya yang berbeda di tengah umat, serta menjadikan
tahap pertama dari fasenya khusus untuk mendidik ruh nasional yang mulia
dan akhlak yang lurus.
- Memberikan perhatian besar
terhadap bahasa Arab di semua tahapan pendidikan, dan mengkhususkannya
pada tahap pertama tanpa mencampurnya dengan bahasa-bahasa asing lainnya.
- Memberikan perhatian besar
terhadap sejarah Islam, sejarah nasional, dan sejarah peradaban Islam.
- Memikirkan cara terbaik
untuk menyatukan jenis pakaian di tengah umat secara bertahap.
- Menghilangkan ruh asing di
dalam rumah-rumah, baik dari segi bahasa, adat istiadat, pakaian, pengasuh
anak, maupun ibu susuan, serta menasionalisasi [mempribumikan] itu semua,
khususnya di rumah-rumah kelas atas.
- Mengarahkan pers kepada
arahan yang baik, serta mendorong para penulis dan pengarang untuk
mengkaji topik-topik Islam dan Timur.
- Memberikan perhatian besar
terhadap urusan kesehatan masyarakat, seperti menyebarkan edukasi
kesehatan dengan berbagai cara, memperbanyak rumah sakit, dokter, dan
klinik keliling, serta mempermudah akses pengobatan.
- Memberikan perhatian besar
terhadap urusan pedesaan dari segi tata ruangnya, pemurnian airnya, serta
sarana budaya, kenyamanan, dan pembinaan di dalamnya.
Ketiga:
Dalam Bidang Ekonomi
- Mengatur zakat, baik dari
segi pendapatan maupun penyalurannya, sesuai dengan ajaran syariat yang
toleran, serta memanfaatkannya dalam proyek-proyek kebajikan yang
mendesak, seperti panti jompo, tempat penampungan orang miskin, anak
yatim, dan memperkuat tentara.
- Mengharamkan riba dan
mengatur perbankan dengan pengaturan yang mengarah pada tujuan ini, di
mana pemerintah harus menjadi teladan yang baik dalam hal tersebut dengan
melepaskan bunga pada proyek-proyek khusus miliknya, seperti bank kredit (Bank
as-Taslif), pinjaman industri, dan lain-lain.
- Mendorong proyek-proyek
ekonomi dan memperbanyaknya, mempekerjakan warga negara yang menganggur di
dalamnya, serta mengambil alih proyek-proyek yang berada di tangan asing
untuk dialihkan menjadi kepentingan nasional murni.
- Melindungi masyarakat dari
kesewenang-wenangan perusahaan, membatasi ruang gerak mereka pada
batas-batasnya, serta memperoleh setiap kemanfaatan yang memungkinkan bagi
kemaslahatan publik.
- Memperbaiki kondisi para
pegawai rendahan dengan menaikkan gaji mereka, serta memenuhi tunjangan
dan bonus mereka, seiring dengan mengurangi gaji para pegawai tinggi.
- Membatasi
jabatan/pekerjaan, khususnya yang berjumlah banyak, dan mencukupkan pada
hal-hal yang penting saja, serta mendistribusikan pekerjaan kepada para
pegawai secara adil dan teliti dalam hal tersebut.
- Mendorong
bimbingan/penyuluhan pertanian dan industri, serta memperhatikan
peningkatan taraf hidup petani dan pekerja dari sisi produktivitas.
- Memperhatikan urusan teknis
dan sosial para pekerja (buruh), serta meningkatkan taraf hidup mereka di
berbagai bidang kehidupan yang vital.
- Memanfaatkan sumber daya
alam, seperti lahan tidur (tanah telantar), tambang yang terabaikan, dan
lain sebagainya.
- Mendahulukan proyek-proyek
yang mendesak/penting daripada hal-hal yang bersifat sekunder/tersier
(kemewahan) dalam pembangunan dan pelaksanaan.
Kantor
Irsyad Am Ikhwanul Muslimin di Kairo
Dari
Ikhwanul Muslimin kepada Duta Besar Britania
Dalam
momentum isu Palestina, Kantor Pusat mengirimkan surat berikut kepada Duta
Besar Britania, yang barangkali merupakan korespondensi resmi pertama antara
Kantor Irsyad Am dan Kedutaan Besar Britania di Kairo. Di dalam surat tersebut
tertulis:
Kepada
Yang Terhormat Duta Besar Britania di Kairo.
Setelah
salam penghormatan: Momentum ini adalah peringatan Deklarasi Balfour. Komunitas
Ikhwanul Muslimin menyampaikan memo ini kepada Anda dengan harapan dapat
diteruskan kepada pemerintah Anda.
Wahai
Yang Mulia:
Umat
Arab telah mengorbankan darah putra-putra mereka yang suci dan berdiri
bahu-membahu bersama Sekutu dalam Perang Besar [Perang Dunia I] demi bersandar
pada kehormatan internasional Britania, serta berkeinginan untuk mewujudkan
kemerdekaan dan kebebasan Arab yang merupakan hak alami mereka.
Atas
dasar inilah, janji-janji Inggris kepada mereka sangat jelas, tanpa ada
kerancuan ataupun kesamaran, sebagaimana antara Syarif Husain dan Sir McMahon.
Namun
meskipun demikian, Deklarasi Balfour justru diterbitkan dengan kontradiktif
terhadap prinsip yang lurus ini, yaitu prinsip kemerdekaan penuh bagi umat
Arab. Tidak ada satu pun orang Arab yang menyetujuinya, bahkan seluruh umat
Arab menganggap deklarasi tersebut sama sekali tidak mengikat mereka, karena
mereka adalah pihak yang paling gigih menjaga hak-hak mereka secara utuh tanpa
dikurangi.
Orang-orang
Arab dari penduduk Palestina dan wilayah lainnya telah berusaha meyakinkan
pemerintah Britania mengenai hak mereka dengan segala sarana. Mereka meminta,
bernegosiasi, berteriak, memprotes, dan bekerja sama dengan banyak komite.
Namun, semua usaha itu justru menghasilkan proyek pembagian wilayah Palestina,
yang berarti menghapuskan seluruh hak bangsa Arab. Hal ini tidak akan pernah
terlintas di benak satu orang Arab pun untuk memikirkannya, apalagi
menerimanya.
Liga
Bangsa-Bangsa pun memandang perlu untuk mengingatkan Inggris agar memikirkan
solusi lain yang dapat memberikan hak kepada setiap pemiliknya. Akan tetapi,
pemerintah Britania justru menempuh kebijakan yang aneh pada saat yang
seharusnya sangat penting bagi mereka untuk menjaga persahabatan dengan dunia
Islam dan kesepahaman yang baik dengannya. Britania sengaja merampas kebebasan,
mengasingkan para tokoh pemimpin, meneror orang-orang yang aman, dan menimpakan
cambuk siksaan kepada orang-orang yang tidak bersalah. Dalam hal ini, Britania
telah keluar dari tradisi baik yang dikenal orang tentang Inggris: mereka
mengusik para pemuka agama, berbuat buruk kepada mereka, serta mengganggu
aset-aset wakaf umat Islam.
Menghadapi
hal ini, Ikhwanul Muslimin memandang bahwa mereka terpaksa menyatakan protes
keras mereka terhadap kebijakan yang zalim ini. Mereka berharap pemerintah
Britania mematuhinya dengan membatalkan kebijakan tersebut, membebaskan para
tahanan, mengembalikan para pemimpin yang diasingkan, memberikan rasa aman bagi
orang-orang tak berdosa yang terusir, serta mengembalikan hak-hak dan otoritas
Majelis Islam. Mereka juga mengumumkan solidaritas penuh bersama
saudara-saudara mereka Arab Palestina dan para tetangga Baitul Maqdis dalam
tuntutan mereka yang adil dan benar, yaitu: menghentikan imigrasi [Yahudi] dan
mewujudkan kemerdekaan penuh berdasarkan kesepakatan terhormat yang menjamin
hak-hak bangsa Arab, di mana kaum Yahudi diperlakukan sebagaimana layaknya
kelompok minoritas di seluruh negara. Wahai Yang Mulia:
Sesungguhnya
masalah Palestina adalah masalah setiap Muslim. Jika pemerintah-pemerintah
Islam dan bangsa-bangsa Muslim tertahan dari mengekspresikan perasaan yang
tertanam kuat di dalam jiwa mereka ini dengan sarana ekspresi yang memadai
karena kondisi-kondisi khusus tertentu, maka hal ini justru menambah kepedihan
mereka dan melipatgandakan kecemasan mereka. Akibatnya, suatu hari nanti pasti
akan terjadi ledakan dari perasaan yang terpendam tersebut, sehingga Inggris
akan kehilangan persahabatan dengan dunia Islam untuk selama-lamanya.
Kami
berharap pemerintah Britania menyadari hakikat ini sebelum terlambat, terlepas
dari segala tipu daya yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadapnya. Kami
memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan penghormatan kepada Anda.
28
Sya'ban tahun 1356 H - 2 November tahun 1937 M. Hasan Al-Banna Ketua Pusat Umum
Ikhwanul Muslimin di Kairo.
Dari
Ikhwanul Muslimin kepada Yang Mulia Perdana Menteri
Dunia
Arab menantikan aksi nyata dari pemerintah Mesir untuk menyelesaikan masalah
Palestina serta menghentikan kezaliman dan agresi yang menimpa penduduk
Palestina yang sedang berjihad.
Kantor
Pusat Umum Ikhwanul Muslimin, dalam momentum peringatan Deklarasi Balfour yang
tidak adil ini, memandang bahwa waktunya telah tiba. Maka bertindaklah, dan
Allah bersama Anda. Al-Mursyid Al-Aam - Hasan Al-Banna
Karakter
Dakwah Kami adalah Membangun dan Bukan Meruntuhkan: "Betapa Miripnya Malam
Ini dengan Kemarin"
Pada
awal tahun kelima majalah Al-Ikhwan Al-Muslimun, ditulis sebuah untaian
kata yang dianggap sebagai arahan bagi Ikhwan, bahkan mengenai apa yang akan
mereka hadapi di masa depan dakwah mereka, sebagai bentuk sunnatullah dalam
jalan dakwah.
Kata
sambutan ini disampaikan dalam acara penutupan bagi para mahasiswa Ikhwanul
Muslimin dan diterbitkan pada edisi pertama dengan judul ini:
Hendaklah
Para Pemimpin Merasa Tenang
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Saya
akan berbicara kepada Anda sekalian saat ini melalui tulisan, padahal biasanya
saya berbicara langsung secara lisan sehingga perkataan menjadi lebih jelas dan
ungkapan lebih akurat serta gamblang mengenai pemikiran yang ingin saya
sampaikan ke hadapan Anda sekalian dalam momentum langkah-langkah baru yang
diambil oleh dakwah kita yang penuh taufik ini di jalan kebaikan menuju tujuan
yang dicita-citakannya.
Saya
senang mengabarkan kepada Anda di sini bahwa dakwah kita tengah berjalan maju.
Anda sendiri dapat melihat kemajuannya di Kairo, sedangkan di wilayah-wilayah
provinsi kemajuannya jauh lebih luas, walhamdulillahi rabbil 'alamin.
Kemajuan
ini telah menarik perhatian orang-orang kepada Anda sekalian dan membuat mereka
bertanya-tanya tentang Anda serta menganggap Anda sebagai salah satu harapan
dari harapan-harapan perbaikan yang benar di negeri kita yang sedang bangkit
ini, serta tumpuan bagi orang-orang beriman yang menghendaki kebaikan bagi
Islam dan pemeluknya. Maka pujilah Allah atas karunia ini dan bermohonlah
kepada-Nya selalu agar meluruskan langkah kita, menerima amal kita, dan tidak
menyerahkan diri kita kepada nafsu kita sendiri, serta ketahuilah bahwa ini
adalah tanggung jawab baru yang dibebankan di atas pundak Anda sekalian.
Di
sini saya akan berbicara kepada Anda dalam tiga poin: pertama, karakter/tabiat
dakwah kita; kedua, sikap yang harus kita ambil terhadap lembaga-lembaga yang
bekerja untuk kemaslahatan umum; dan ketiga, pembagian kerja menurut pandangan
saya.
Hanya
kepada Allah saya memohon taufik dan kepasrahan.
Pertama:
Karakter Dakwah Kami
Setiap
dakwah memiliki karakteristik. Di antara karakteristik dakwah Ikhwan, menurut
hemat saya, ada hal-hal yang telah kita wujudkan sebagian dan kita lalaikan
sebagian lainnya. Alangkah baiknya jika kita memperhatikan semuanya agar
kesuksesan menjadi sempurna dan taufik menjadi lengkap, insya Allah. Di antara
karakteristik positif tersebut adalah: Membangun. Dakwah kita membangun dan
tidak meruntuhkan, serta selalu mengambil langkah positif, maka kewajiban kita
adalah memperbaiki diri kita sendiri sebelum segala sesuatu. Di antara
karakteristiknya pula adalah kesesuaian antara perbuatan dan perkataan, maka
kita wajib mempelajari aturan/undang-undang kita karena di dalamnya terdapat
kecukupan, lalu kita meneladani apa yang dikatakannya. Di antara karakteristiknya
juga adalah Rabbaniyyah [berorientasi kepada Allah], maka kita wajib
melanggengkan hubungan kita dengan Allah sekuat kemampuan kita dengan cara
merutinkan zikir dan doa yang bersumber dari dalil-dalil sahih (matsur)—dan
di dalam Risalatul Ma'tsurat sudah terdapat kecukupan. Di antara
karakteristiknya lagi adalah bertajammuk [berhimpun/bersatu], maka kita
wajib untuk selalu berhimpun, merindukan pertemuan, serta merasakan hak-hak
persaudaraan (ukhuwah). Di antara karakteristiknya juga adalah berlapang
dada [daya tahan] dan berjuang, maka mari kita melatih diri kita untuk hal
tersebut dan hendaklah dada kita terbuka luas untuk menerima segala sesuatu.
Ini
adalah poin-poin global yang perinciannya telah Anda sekalian ketahui, dan
semuanya disatukan oleh prinsip membangun dan beramal, maka beramallah!
Kedua:
Sikap Kita terhadap Dakwah Lain
Sikap
kita terhadap gerakan-gerakan atau seruan-seruan lain di negeri ini—baik yang
bersifat keagamaan, sosial, ekonomi, maupun politik—berdasarkan karakter dakwah
kita, adalah satu sikap saja menurut hemat saya: kita mengharapkan kebaikan
untuk mereka semua dan mendoakan taufik bagi mereka. Jalan terbaik yang kita
tempuh adalah jangan sampai perhatian kita kepada orang lain memalingkan kita
dari memperhatikan diri kita sendiri.
Sesungguhnya
kita membutuhkan bekal dan mobilisasi, dan umat kita serta medan-medan yang
kosong di dalamnya sangat membutuhkan prajurit dan perjuangan (jihad).
Waktu tidak akan cukup bagi kita jika kita hanya menoleh kepada orang lain dan
sibuk mengurusinya.
Masing-masing
berada di medannya, dan Allah bersama orang-orang yang berbuat baik, sampai
Allah memberikan keputusan antara kita dan kaum kita dengan kebenaran.
Kalian
akan mendengar bahwa suatu lembaga membicarakan tentang kalian. Jika
pembicaraan itu baik, maka berterima kasihlah kepada mereka dalam hati kalian,
namun jangan sampai hal itu mengecoh kalian dari hakikat diri kalian yang
sebenarnya. Jika pembicaraan itu sebaliknya, maka carikanlah uzur [alasan
pemaaf] bagi mereka dan tunggulah sampai waktu menyingkap hakikat yang
sebenarnya. Jangan membalas kesalahan ini dengan kesalahan yang serupa, dan
jangan sampai kesibukan membantahnya memalingkan kalian dari kesungguhan dalam
menempuh jalan yang telah kalian tetapkan bagi diri kalian. Yakinlah bahwa hal
tersebut tidak akan menjauhkan seorang pun dari kalian, dan tidak akan
membahayakan kalian jika kalian bersabar dan bertakwa, karena sesungguhnya yang
demikian itu termasuk urusan yang diutamakan.
Kalian
juga akan mendengar bahwa ada suatu lembaga yang menuduh kalian menjalin
hubungan dengan lembaga-lembaga lain yang mereka benci atau mereka musuhi. Maka
jangan pedulikan hal itu, dan jangan pula mencoba untuk membantah atau
membenarkannya, karena beban pembuktian ada pada pihak yang menuduh, dan bukti
wajib dihadirkan oleh orang yang mendakwa.
Perkara
ini tidak akan keluar dari salah satu dari dua kondisi: adakalanya penuduh itu
bersungguh-sungguh lalu ia mencoba memastikan untuk membuktikannya, dan pembuktiannya
itu—walaupun setelah beberapa lama—pasti akan membawanya pada pengetahuan
tentang hakikat dakwah kalian, bahwa kalian tidak berhubungan kecuali dengan
Allah dan Rasul-Nya serta tidak bekerja kecuali untuk Islam dan pemeluknya.
Adakalanya pula ia tidak bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya,
melainkan hanya sekadar bermain-main dengan tuduhan dan menikmati perbuatan ghibah
[menggunjing]. Hal itu sama sekali tidak akan merugikan urusan kalian sedikit
pun, maka biarkanlah ia menghibur diri dengan perkataan itu sesuka hatinya, dan
bermohonlah kepada Allah Ta'ala agar memberikan petunjuk serta pertolongan
kepada kita dan kepadanya.
Kalian
pun akan mendengar bahwa ada sekelompok orang dari para aktivis yang ingin
berhubungan dengan kalian atau kalian berhubungan dengan mereka, baik mereka
jujur maupun tidak jujur. Maka saya ingin menyampaikan kepada kalian di sini
dengan sangat jelas bahwa dakwah kalian ini adalah dakwah paling mulia yang
pernah dikenal oleh kemanusiaan, dan sesungguhnya kalian adalah pewaris
Rasulullah ﷺ,
khalifah-khalifahnya yang menjaga Al-Qur'an Rabb-nya, orang-orang kepercayaan
yang mengemban syariat-Nya, serta kelompok yang mendedikasikan segala sesuatu
demi menghidupkan kembali Islam di masa ketika hawa nafsu dan syahwat
merajalela, sementara pundak-pundak manusia melemah untuk memikul beban ini.
Karena
kalian berada dalam kondisi demikian, maka dakwah kalian lebih berhak untuk
didatangi oleh manusia, dan bukan dia yang mendatangi siapa pun. Dakwah ini
tidak membutuhkan yang lain karena ia memadukan segala kebaikan, sedangkan
selainnya tidak selamat dari kekurangan. Oleh karena itu, fokuslah pada urusan
kalian, jangan berkompromi atau tawar-menawar atas manhaj kalian, dan
tampakkanlah ia kepada manusia dengan penuh kemuliaan dan kekuatan. Barang
siapa yang mengulurkan tangannya kepada kalian di atas landasan manhaj
tersebut, maka ucapan selamat datang yang sebesar-besarnya di fajar yang
benderang dan cahaya siang hari; dia adalah saudara bagi kalian yang bekerja
bersama kalian, mengimani keimanan kalian, dan menjalankan ajaran-ajaran
kalian. Dan barang siapa yang enggan, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu
kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.
Wahai
sekalian Ikhwan, janganlah terburu-buru, karena waktu di hadapan kalian masih
terbentang luas. Kelak kalian akan menjadi pihak yang dicari, bukan yang
mencari, karena sesungguhnya kemuliaan itu semuanya milik Allah, dan
sesungguhnya kalian akan mengetahui keniscayaan beritanya setelah beberapa
waktu lagi.
Demikianlah,
menurut pandangan saya, apa yang semestinya menjadi sikap kita di hadapan
seluruh lembaga: kita menghendaki kebaikan untuk mereka, mencarikan uzur bagi
mereka, kita tidak meminta dan tidak menolak, serta janganlah kalian mengatakan
kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu, "Kamu bukan seorang
mukmin."
Bantuan
Pemerintah Pertama bagi Ikhwan
Hasan
Al-Banna Al-Mursyid Al-Aam Ikhwanul Muslimin
Bantuan
pemerintah yang pertama kali diperoleh Ikhwan adalah bantuan yang disetujui
oleh Dewan Pemerintahan Wilayah [Majlis Mudiriyah] Dakahlia untuk cabang
Manshourah. Majalah Ikhwan menerbitkannya dengan judul:
Dewan
Pemerintahan Wilayah Dakahlia Mendukung Dakwah Ikhwanul Muslimin
Dewan
Pemerintahan Wilayah Dakahlia dalam sidangnya yang diselenggarakan pada tanggal
14 Rabi'ul Awwal tahun 1356 H bertepatan dengan 24 Mei tahun 1937 M, di bawah
pimpinan Yang Terhormat Ahmad Bek Fahmi, Wakil Kepala Wilayah, mewakili Yang
Mulia Kepala Wilayah, memutuskan untuk memberikan bantuan tahunan kepada cabang
Ikhwanul Muslimin di Manshourah sebesar seratus lima puluh junaih Mesir.
Ikhwanul
Muslimin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus dan doa kepada jajaran dewan
yang terhormat serta kepada Yang Mulia Ketua Dewan.
Empat
Tahun di Universitas
Di
bawah judul ini, pidato ini disampaikan dalam salah satu momentum pertemuan
mahasiswa juga.
Kami
mengabadikannya di sini sebagai kenangan sekaligus sebagai arahan di antara
arahan-arahan Kantor Pusat kepada para mahasiswanya pada masa lalu dan masa
kini.
Semoga
Allah memberi keselamatan kepada para pemuda:
Enam
Orang yang Membangkitkan Kejayaan Umat
Nukilan
dari khotbah Yang Terhormat Al-Mursyid Al-Aam di hadapan para mahasiswa
Ikhwanul Muslimin dari kalangan pemuda Universitas Mesir:
Wahai
sekalian Ikhwan—wahai para pemuda yang membela Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya:
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh, waba'du:
Sesungguhnya
dalam peringatan semacam ini, berbagai harapan kembali diperbarui dan
perasaan-perasaan kembali dihidupkan. Sudah menjadi hak dari kenangan-kenangan
ini atas kita untuk kita bicarakan bersama dengan segenap emosi, rasa,
kepedihan, serta harapan kita, dan hendaklah kita bersikap sangat jujur dalam
hal tersebut.
Tidak
lupa di awal pidato ini saya sampaikan salam penghormatan kepada saat yang
diberkahi itu, di mana saya duduk bersama Constitutional enam orang dari
saudara-saudara kalian sejak empat tahun yang lalu untuk saling mengingatkan
tentang kewajiban pemuda universitas terhadap Islam. Dari keenam orang
tersebut, dua di antaranya telah lulus dan kini menjadi pegawai. Kalaulah bukan
karena saya tahu mereka tidak menyukai nama mereka disebut, dan kalaulah bukan
karena saya merasa bahagia mendukung sikap tawaduk mereka ini, niscaya sudah
saya sebutkan nama-nama mereka. Namun, cukuplah bagi mereka pahala dari Allah
atas perjuangan mereka. Di akhir tahun kedua, pertemuan ini menghimpun empat
puluh orang dari saudara-saudara kalian, dan di akhir tahun ketiga jumlah
kalian mencapai tiga ratus orang. Dan kini kalian berada di tahun keempat,
jumlah kalian terus bertambah dan tidak berkurang; dan tanah yang baik itu
menghasilkan tanaman-tanamannya dengan izin Rabb-nya.
Wahai
sekalian Ikhwan: sebelum saya masuk bersama kalian ke dalam perbincangan
tentang dakwah, saya ingin mengajukan pertanyaan ini kepada kalian: Apakah
kalian benar-benar memiliki kesiapan yang sungguh-sungguh untuk berjuang demi
memberikan kenyamanan bagi orang lain?
Serta
menanam agar orang lain yang menuai? Dan pada akhirnya, siapkah kalian mati
agar umat kalian hidup? Serta apakah kalian benar-benar telah mempersiapkan
diri kalian untuk menjadi persembahan [qurban] yang dengannya Allah akan
mengangkat umat ini menuju kedudukannya yang mulia?
Di
antara orang-orang yang beramal, ada yang beramal karena mengharapkan harta,
kedudukan, pekerjaan, jabatan, atau kesenangan dari kesenangan-kesenangan dunia
ini. Di antara mereka ada pula yang beramal karena mengharapkan pahala dari
Allah dan keridaan-Nya di akhirat. Dan di antara mereka ada yang jiwanya telah
mulia, kepekaannya telah lembut, serta perasaannya begitu halus hingga
melampaui segala bentuk materi, berpindah menuju tingkat spiritual yang tinggi;
ia mencintai kebaikan demi kebaikan itu sendiri, mengamalkan keindahan demi
zatnya, serta merasakan bahwa kemanisan taufik yang diperolehnya dalam
kedudukan ini sudah sangat mencukupi atas segala pengorbanan yang telah ia
berikan di jalannya. Ia memahami rahasia perkataan seorang arif: "Cukuplah
bagimu sebagai pahala atas ketaatan, berupa keridaan Pelindungmu yang memilihmu
menjadi ahli untuk menjalankannya." Bahkan ia memahami rahasia firman
Allah Ta'ala:
"Sebaliknya,
Allahlah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkanmu kepada keimanan,
jika kamu orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujurat: 17)
Jika
kalian termasuk golongan pertama, maka tinggalkanlah medan yang mulia ini
sekarang juga, karena orang yang mencari keuntungan materi tidak akan pernah
beruntung di dalamnya. Allah enggan jika agama-Nya yang lurus ini dijadikan
sebagai jerat untuk menarik keuntungan duniawi yang fana. Dan jika kalian
termasuk golongan kedua, maka beramallah di atas petunjuk, karena sesungguhnya
Allah tidak akan menyia-نیاkan
pahala orang yang berbuat baik dengan sebaik-baiknya, dan kalian akan dibalas
satu dirham dengan satu dinar, serta satu kebaikan dengan berlipat-lipat ganda,
sebagaimana firman-Nya:
"Jika
ada kebajikan, niscaya Dia akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang
besar dari sisi-Nya." (QS. An-Nisa': 40)
Dan
jika kalian termasuk golongan ketiga, maka sungguh luar biasa dan selamat atas
kalian karena telah membubung tinggi menuju alam malakut tersebut, terhubung
dengan alam spiritual ini, serta masuk ke dalam cakupan firman Allah Ta'ala:
"Dan
kelak dia benar-benar akan puas [menerima pahala-Nya]." (QS. Al-Lail: 21)
Wahai
sekalian Ikhwan: apabila hal ini telah jelas bagi kalian, maka saya ingin
berbicara kepada kalian dalam tiga poin: hakikat dakwah kalian, dan sikap
kalian terhadap apa yang diwajibkan atas kalian.
Saya
kira kalian menyadari bahwa saya sering kali berbicara kepada kalian tentang
kerangka ini dan mengingatkan kalian dengannya, maka saya memohon maaf karena
sesungguhnya saya selalu merasa bahwa kita berada dalam kondisi yang sangat
membutuhkan pengingatan yang terus-menerus.
Dakwah
kalian, wahai sekalian Ikhwan, sangatlah mulia. Kalian ingin memahami Islam
sesuai dengan hakikatnya, kemudian mengamalkannya sesuai dengan tuntunannya,
lalu meyakinkan manusia dengan apa yang telah kalian yakini, sehingga apabila
barisan kalian telah lurus dan pasukan Allah telah berhimpun di sekeliling
kalian, kalian melangkah dari amal individual menuju amal kolektif; atau dengan
ungkapan lain, kewajiban-kewajiban individual telah kalian selesaikan dan
tinggallah kewajiban-kewajiban sosial yang menjadi tanggung jawab kalian.
Ini
adalah sisi positif dalam dakwah kalian. Adapun sisi negatifnya, kalian
bukanlah para pencari kekuasaan, melainkan kalian adalah para pencari manhaj
[sistem], perbaikan, dan prinsip. Maka pada hari di mana manhaj kalian telah
terwujud, maka tempat tinggal kalian adalah di mihrab-mihrab, dan tempat kalian
beraktivitas di waktu pagi dan petang adalah ke masjid-masjid.
Sesuai
firman Allah Ta'ala:
"Maka
apabila engkau telah selesai [dari sesuatu urusan], tetaplah bekerja keras
[untuk urusan yang lain], dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap."
(QS. Asy-Syarh: 7-8)
Permusuhan
antara kalian dan manusia bukanlah permusuhan antar-personal atau
antar-individu, melainkan permusuhan dalam hal akidah dan manhaj. Pada hari di
mana orang yang paling keras memusuhi kalian beralih memeluk prinsip-prinsip
kalian, maka kita semua akan membasuh kedua kakinya dan menyerahkan panji
dakwah kepadanya dengan rasa bahagia, bangga, dan gembira, karena kita tahu
bahwa bersikap samar di jalan ini lebih baik daripada tampil menonjol. Dan kita
membaca firman-Nya Ta'ala:
"Jika
mereka bertobat, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, mereka adalah
saudara-saudaramu seagama. Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Kami
bagi kaum yang mengetahui." (QS. At-Tawbah: 11)
Sungguh
keliru besar orang yang mengejek permusuhan dari suatu pemerintah di antara
pemerintah-pemerintah Islam atau suatu lembaga umum; sebab sikap pemerintah
tersebut tidak keluar dari salah satu dari dua kondisi: adakalanya ia
mengamalkan Islam dan berkhidmat untuk Islam dalam batas-batas kondisi dan
kemampuannya, maka kita adalah penolong pertamanya, pendukung paling tulusnya,
serta sebaik-baik orang yang menguatkan punggungnya dan membantunya di atas
Islam. Dan adakalanya ia merasa bosan dengan Islam serta bersekongkol
melawannya, maka apakah ada kelonggaran bagi seorang Muslim mana pun—bahkan
bagi penuduh itu sendiri—kecuali untuk bersikap menentangnya, bukan
mendukungnya?
Ikhwanul
Muslimin memiliki keistimewaan dalam hal ini dibandingkan manusia pada umumnya,
di mana mereka memprioritaskan pemberian nasihat daripada melakukan pencelaan
dan pembongkaran aib, mendahulukan perdamaian dan cinta daripada benturan dan
perang, serta mengutamakan penjelasan tentang situasi dan perkataan yang lembut
daripada sikap kasar dan kaku.
Demikian
itulah pengajaran Allah kepada para rasul-Nya dalam firman-Nya:
"Maka
ber bicaralah kamu berdua kepadanya [Firaun] dengan kata-kata yang lemah
lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." (QS. Thaha: 44)
Orang-orang
mengkritik kalian dalam dakwah kalian bahwa kalian tidak mewujudkan manhaj
kalian pada diri kalian sendiri secara sempurna.
Saya
sependapat dengan orang-orang bahwa hal ini benar dalam kadar yang besar. Kita
memang masih belum mampu mewujudkan manhaj kita secara utuh dan sempurna pada
diri kita sendiri.
Dan
saya tidak suka kita beralasan bahwa sebagian besar ketidakmampuan ini
disebabkan oleh kondisi lingkungan melebihi faktor individu, karena momentum
saat ini adalah momentum untuk mencita-citakan kesempurnaan, bukan untuk
membela kekurangan.
Namun,
saya ingin mengingatkan tentang perbedaan antara Ikhwan dan selain mereka dalam
hal ini: sesungguhnya Ikhwan menyadari hal ini dalam diri mereka dan
mengakuinya, sementara orang selain mereka justru sibuk dengan klaim-klaim yang
besar serta berlindung di balik keindahan kata-kata yang menipu.
Meskipun
ada pengakuan ini, Ikhwan terus-menerus berusaha mencari kesempurnaan hingga
mereka memperoleh bagian darinya sesuai dengan kadar yang telah Allah takdirkan
bagi mereka.
Sebagian
orang juga mengkritik kalian bahwa kalian bersikap tenang dan tidak
revolusioner [meledak-ledak], lamban di era yang serbacepat ini. Mereka
mengaitkan hal tersebut dari kalian sebagai bentuk kelemahan tekad, kerapuhan
semangat, sikap mencari muka, serta kepura-puraan. Maka ingatkanlah mereka
dengan perkataan seorang penyair: "Betapa banyak ketergesa-gesaan justru
membuahkan kelambatan." Dan sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala tatkala
mengajarkan kepada Nabi-Nya jalan dakwah menuju kepada-Nya, Dia berfirman
kepadanya:
"Serulah
[manusia] ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..." (QS.
An-Nahl: 125)
dan
Dia tidak berfirman kepadanya dengan ketergesa-gesaan, sikap kaku, ataupun
kekasaran.
Itulah
perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kalian. Berilah kepahaman kepada
mereka bahwa jika Ikhwan mengetahui bahwa ketergesa-gesaan akan memberikan
mereka keberhasilan sebesar 99% sedangkan kebijaksanaan [hikmah] akan
memberikan mereka keberhasilan 100%, maka mereka pasti akan memilih kelambatan
yang bijaksana demi meraih keberhasilan yang sempurna.
Demikianlah
ijtihad mereka dan inilah pandangan mereka. Namun apabila datang momentum
kecepatan yang di situ Ikhwan menyadari bahwa kelambatan dan ketenangan justru
akan menghentikan kemajuan mereka atau mengurangi kemenangan mereka, maka pada
saat itu mereka pasti akan tahu bagaimana cara membela dakwah mereka, dan
bagaimana cara menjemput kematian yang mulia di jalan tujuan yang agung. Sesuai
firman-Nya:
"Maka
bersabarlah engkau [Muhammad], sesungguhnya janji Allah itu benar dan jangan
sekali-kali orang-orang yang tidak meyakini [kebenaran ayat-ayat Allah] itu
membuatmu gelisah." (QS. Ar-Rum: 60)
Sesungguhnya
kalian adalah para penyeru tarbiyah [pendidikan] dan tiang penopang kemenangan.
Tugas
kalian adalah memberikan pemahaman kepada rakyat ini, meyakinkannya, serta
menggugah kesadarannya dari segala sisi di atas landasan-landasan Islam,
ajaran-ajaran Islam, dan prinsip-prinsip Islam.
Ini
adalah tujuan yang tidak dapat dicapai dalam hitungan hari, tidak pula diraih
dalam beberapa tahun yang singkat. Melainkan ia adalah perjuangan [jihad]
yang tiada henti, kerja yang terus-menerus, serta peperangan melawan bala
tentara kebodohan, buta huruf, penyakit, kemiskinan, kedengkian, dendam
kesumat, kedangkalan berpikir, pemutusan tali silaturahmi, serta membersihkan
endapan-endapan dari beberapa abad lampau yang kerusakannya telah merayap ke
segala tempat.
Apakah
kalian atau orang-orang melihat bahwa ini adalah perkara yang mudah?
Sebaliknya, tujuan kalian jauh lebih luas dari ini; karena kalian menghendaki
agar rakyat ini menjadi umat teladan yang diikuti jejaknya oleh seluruh bangsa
Timur, dan kalian menghendaki agar dari bangsa-bangsa ini terbentuk sebuah
persatuan Islam yang membimbing seluruh umat manusia menuju ajaran-ajaran
Islam.
Inilah
batas-batas tugas kalian yang dipandang jauh oleh manusia, sementara kalian
memandangnya dekat atau jauh sesuai ketentuan Islam yang Allah fardukan atas
hamba-hamba-Nya?
Sesuai
firman-Nya Ta'ala:
"Jika
mereka berpaling, katakanlah [Muhammad], 'Aku telah menyampaikan kepada kamu
[kesaksian] yang sama dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu
itu sudah dekat atau masih jauh'." (QS. Al-Anbiya': 109)
Dan
demikian itulah seberkas cahaya yang menyinari hati kalian dari matahari
firman-Nya Ta'ala:
"Kami
tidak mengutus engkau [Muhammad], melainkan kepada semua umat manusia sebagai
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan..." (QS. Saba': 28)
Cukuplah
bagi kalian untuk malam ini, dan barangkali saya akan membicarakan sisa dari
perbincangan ini kepada kalian setelah berakhirnya ujian saudara-saudara kalian
serta bergabungnya mereka bersama kalian, insya Allah Ta'ala. Sampai jumpa.
Kantor
Irsyad Am (Biro Panduan Pusat)
Dan
selama periode ini, Kantor Pusat Ikhwanul Muslimin berpindah dari Al-Nashiriyah
di Sayyidah Zainab ke Al-Ataba Al-Khadra, tepatnya di Gedung Wakaf, dan Kantor
Irsyad Am mengeluarkan buletin berikut:
Kepada
Saudara yang Terhormat: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, wa ba’du:
Sesungguhnya kami berharap semoga Anda sekalian berada dalam keadaan baik dan
bahagia, serta semoga dakwah di tengah-tengah kalian menempuh jalannya menuju
kemajuan dan kejayaan, insya Allah. Kami menulis surat ini kepada Anda sekalian
terkait dengan hal-hal berikut:
Pertama:
Kantor Pusat akan mengirimkan delegasi-delegasi musim panas untuk menyebarkan
dakwah di cabang-cabang Ikhwan itu sendiri dan wilayah-wilayah di sekitarnya.
Anggota delegasi ini terdiri dari para mahasiswa Universitas Mesir, mahasiswa
Al-Azhar Al-Syarif, para ulama, atau para pegawai. Setiap delegasi akan membawa
surat pengantar resmi dari Kantor Pusat. Para ikhwan yang secara sukarela
mencurahkan upaya mereka di musim panas ini telah memilih jalan perjuangan [mujahadah]
ini daripada bersenang-senang dan beristirahat, dengan harapan semoga Allah
Tabaraka wa Ta’ala menyatukan hati umat Islam di atas kebaikan. Oleh karena
itu, diharapkan dari Anda sekalian apabila delegasi ini telah sampai kepada
Anda, agar membantu mereka dalam menjalankan tugasnya dan bekerja sama dengan
mereka demi kebaikan ini semampu Anda, dan pahala Anda dalam hal ini ada pada
Allah.
Kedua:
Bersama surat ini dikirimkan kepada Anda majalah edisi keempat, yang di
dalamnya memuat penjelasan singkat mengenai aktivitas jamaah dan alamat
cabang-cabangnya sampai tanggal penerbitannya, di luar dari apa yang baru
diperbarui. Maka catatlah alamat-alamat tersebut di tempat Anda dan jalinlah
komunikasi dengan siapa saja yang Anda kehendaki di dalamnya. Kami akan
mengumumkan setiap penambahan, perubahan, atau pembaruan dalam edisi-edisi
Majalah Ikhwan. Kami berharap Anda memperhatikan hal tersebut dan mengubah
daftar cabang Anda sesuai dengan buletin-buletin yang akan diterbitkan secara
berkala di dalam majalah.
Ketiga:
Alamat Ikhwan di Kairo dan alamat Kantor Irsyad adalah Al-Ataba Al-Khadra Nomor
5 di Kairo. Kami berharap surat-menyurat Anda dikirimkan ke alamat ini dan
ditujukan atas nama yang terhormat Muhammad Hilmi Ahmad Bek, Pengawas Umum [Al-Muraqib
al-’Am] Ikhwanul Muslimin, demi menyatukan koordinasi kerja. 295
Keempat:
Alamat majalah adalah Al-Ataba Al-Khadra Nomor 5 juga, sedangkan pemilik dan
direkturnya adalah Muhammad Efendi Al-Syafi'i. Kami berharap seluruh
surat-menyurat Anda yang khusus mengenai majalah ditujukan atas nama beliau ke
alamat tersebut demi kelancaran kerja. Kami juga mengharapkan Anda untuk
memasok Majalah Ikhwan dan surat kabar harian Islam lainnya dengan
berita-berita perkumpulan [jam'iyah] di tempat Anda, kuliah-kuliah
berkala, lembaga-lembaga, serta rapat-rapatnya, guna mengarahkan pandangan dan
menarik hati. Tentu saja hal ini di luar urusan-urusan yang sebaiknya tidak
diketahui umum.
Kelima:
Terhitung sejak tanggal ini, pengelolaan Percetakan Ikhwanul Muslimin telah
menjadi independen dan terpisah sepenuhnya dari yang lain. Tugas ini telah
diserahkan kepada saudara kita yang aktif, yang terhormat Muhammad Efendi Abdul
Fattah Al-Rifa'i, dan lokasinya berpindah ke Al-Ghuriyah Nomor 14, Nomor
Telepon 55986. Percetakan tersebut kini telah siap untuk mencetak buku-buku
yang dipesan atau pekerjaan komersial dan sejenisnya, serta siap untuk melayani
penjilidan buku dengan segala jenisnya, pembuatan klise [pelat cetak], dan
hal-hal yang berkaitan dengannya. Jika Anda melihat adanya kebutuhan akan hal
tersebut bagi Ikhwan di tempat Anda, silakan hubungi Saudara Al-Rifa'i secara
langsung di alamat tersebut di atas.
Keenam:
Sebagian ikhwan mendesak untuk meminta cetakan/publikasi perkumpulan. Karena
publikasi ini cepat habis dan sering kali dicetak ulang, kami berharap para
ikhwan dapat memahami bahwa jika ada keterlambatan dalam membalas
permintaan-permintaan ini, hal itu bukan karena kelalaian, melainkan karena
habisnya stok publikasi yang diminta dan sedang menunggu kesempatan untuk
dicetak ulang.
Ketujuh:
Demi memperkuat hubungan antara para ikhwan dan Kantor Pusat, kami berharap
Anda mengarahkan perhatian para ikhwan untuk mengunjungi markas perkumpulan di
Kairo setiap kali salah seorang dari mereka bepergian ke sana. Di dalam hal
tersebut terdapat pahala bagi mereka, karena tidak ada amal yang lebih utama
daripada saling mencintai dan saling mengunjungi karena Allah. Kami juga
berharap Anda mengarahkan perhatian mereka agar kunjungan ini dilakukan antara
waktu Magrib dan Isya, yaitu waktu di mana yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid
[Mursyid Am] berada di markas Ikhwan, sehingga beliau dapat berbahagia bertemu
dengan mereka dan mereka dapat saling memahami dengan beliau mengenai apa yang
mereka inginkan. Di luar waktu ini, kemungkinan besar beliau tidak berada di
markas sehingga kesempatan tersebut akan terlewatkan. 296
Dengan
catatan bahwa beliau akan melakukan perjalanannya mulai dari awal Juli hingga
awal September. Sebagai penutup, kami berharap semoga Anda sekalian berada
dalam kebaikan, dan hendaknya Anda mengerahkan upaya untuk menyebarkan dakwah
dan menampakkannya di wilayah Anda dengan selalu menjaga komunikasi bersama
Kantor Pusat. Kami sangat berharap Anda menulis laporan singkat namun
terperinci kepada Kantor Pusat di setiap awal bulan Arab mengenai kondisi
cabang di tempat Anda. Kami berharap tidak perlu lagi mengingatkan Anda tentang
kewajiban ini untuk kedua kalinya demi kerapian berkas cabang dan melengkapi
data-data yang diperlukan untuknya. Kami menanti jawaban Anda dan pemberitahuan
kepada kami tentang sampainya surat ini kepada Anda, dengan melampirkan surat
jawaban berupa daftar nama-nama anggota dewan pengurus cabang jika cabang
tersebut telah membentuk dewan pengurus, dan jika belum terbentuk maka hal itu
harap disebutkan juga. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ditulis
pada tanggal 4 Rabiul Awal tahun 1356 H. Sekretaris.
Tim
Perjalanan (Rihlah) Ikhwan Tim perjalanan Ikhwanul Muslimin telah
bertambah banyak jumlahnya pada waktu itu, dan mereka itu tidak lain adalah tim
Pandu (Al-Jawwalah). Tim ini telah terbentuk di Ismailiyah, Port Said,
Suez, Abu Suwair, Al-Bahr Al-Saghir dan desa-desanya, serta di hampir setiap
cabang dari cabang-cabang Ikhwan. Tim-tim ini didirikan segera setelah
berdirinya dakwah, dan hampir selalu menyertai keberadaan cabang-cabang
pertamanya. Saya sendiri yang membentuk tim pertama dan melatihnya secara
langsung dengan beberapa latihan fisik yang biasa kami lakukan di
sekolah-sekolah, sampai akhirnya Allah menyediakan bagi tim tersebut seorang
saudara yang ahli olahraga dan mulia, yaitu Muhammad Mukhtar Ismail Efendi.
Beliau memiliki andil yang besar dalam pendirian, pelatihan, perjalanan, dan
inspeksi tim-tim tersebut, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Karakter
olahraga dan sufistik yang dimilikinya turut membantu keberhasilan beliau,
karena beliau adalah orang yang saleh dan lurus. Beliau adalah seorang guru
olahraga, sehingga terkumpul pada dirinya kedua sifat tersebut: olahraga ruhani
dan olahraga jasmani.
Guru
Tetap Pertama untuk Tim-Tim Ini Kantor Irsyad memandang perlu untuk
menugaskan seorang pelatih yang ditunjuk dengan kompensasi yang sesuai guna
mengatur tim-tim ini dan mengawasinya, dengan syarat ia mendedikasikan waktu
sepenuhnya untuk tugas ini. Maka, Saudara Ali Khalil Efendi, pelatih tim Abu
Suwair, mengajukan diri secara sukarela untuk tugas tersebut, menyerahkan
dirinya ke Kantor Pusat, dan mulai menjalankan tugasnya pada bulan Zulkaidah
1357 H. Kantor Pusat pun mengirimkan buletin ini kepada cabang-cabangnya:
"Kantor Irsyad Am Ikhwanul Muslimin telah mengesahkan Saudara Ali Khalil
Efendi sebagai pelatih umum Ikhwanul Muslimin. Maka wajib bagi para ikhwan di
seluruh cabang ketika beliau menghadiri tim mana pun untuk melakukan persiapan
yang diperlukan berupa menyiapkan tim-tim Ikhwan guna melatih mereka." 298
Al-Ustadz
Ahmad Al-Sukkari di Kairo Al-Ustadz Ahmad Al-Sukkari telah berpindah tugas
dari tempat kerjanya di Sekolah Dasar Rasyid ke kantor Kementerian Pendidikan
selama tahun 1357 Hijriah ini. Saya sangat gembira dengan kepindahan ini,
karena hal itu merupakan impian yang sudah lama dicita-citakan oleh
masing-masing dari kami, dan merupakan mata rantai yang menyempurnakan hubungan
yang telah dimulai sejak lama sebelumnya. Setelah keberadaan beliau di Kairo,
saya memandang agar beliau menggantikan saya dalam mengawasi urusan-urusan
administratif dan pekerjaan sehari-hari di kantor, sehingga saya dapat
meluangkan waktu untuk melakukan perjalanan, belajar, memberikan ceramah, dan
aktivitas dakwah lainnya. Saya pun mengirimkan surat ini kepada cabang-cabang
Ikhwan dan komite-komite mereka: "Dari Hasan Al-Banna, Mursyid Am Ikhwanul
Muslimin, kepada saudara-saudaranya karena Allah Ta’ala dan para penolong
dakwah yang diberkahi. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Amma ba’du:
Sehubungan dengan perpindahan saudara yang utama, Ahmad Efendi Al-Sukkari, ke
kantor Kementerian Pendidikan di Kairo, saya telah memohon petunjuk kepada
Allah Ta’ala [beristikharah] untuk menyerahkan pengawasan penuh atas urusan
administratif dan praktis di kantor kepada beliau, agar saya mendapatkan waktu
untuk urusan ilmiah dan bimbingan [irsyad]. Maka saya berharap kepada
seluruh ikhwan, para ketua cabang, formasi, komite, dan sejenisnya untuk
bekerja sama secara penuh dengan beliau sehingga beliau dapat mengemban beban
tugas yang diamanahkan kepadanya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kami
dan Anda sekalian menuju apa yang Dia cintai dan ridai. Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh." Hasan Al-Banna
Di
Antara Bentuk Manajemen Keuangan Ikhwan: Saham Dakwah
Hingga
kini, sumber daya, manajemen keuangan, dan sumber pengeluaran Ikhwan masih
menjadi teka-teki bagi banyak orang yang tidak berhubungan langsung dengan
mereka dan tidak mencoba mengenali urusan tersebut sebagaimana adanya. Banyak
orang ketika melihat aktivitas yang berkesinambungan, kerja yang tiada henti,
kekayaan yang melimpah, publikasi yang berturut-turut, perayaan yang besar, dan
pertemuan yang dipadati massa ini, bertanya-tanya di dalam dirinya sendiri:
dari mana Ikhwan mendapatkan semua ini? Bagaimana mereka memperoleh harta, dan
dari pihak mana mereka mendatangkannya, padahal kebanyakan dari mereka adalah
orang-orang yang hanya mendapatkan apa yang mencukupi kebutuhan mereka saja,
dan tidak banyak orang kaya atau miliuner di antara mereka? Terlebih lagi jika
orang yang bertanya ini berasal dari kalangan partai politik atau kelompok yang
membelanjakan banyak uang untuk aktivitas serupa, namun tidak menemukan sedikit
pun pengorbanan dari para anggota dan penolongnya.
Bahkan,
banyak dari para penanya tersebut yang berprasangka buruk hingga sampai pada
tingkat tuduhan palsu, dengan mengatakan: "Mereka menerima dana dari
negara tertentu atau lembaga anu, atau pihak tinggi ini atau pihak tersembunyi
itu yang mendanai mereka." Semua itu adalah persangkaan yang batil, asumsi
yang rusak, tuduhan yang berani, dan perkataan yang diada-adakan yang tidak
bersandarkan pada dalil maupun kemiripan dalil sama sekali. Padahal urusannya
jauh lebih mudah daripada apa yang dibayangkan oleh mereka semua. Sesungguhnya
iman itu apabila telah bersemayam di dalam hati, memenuhi sanubari, dan
meliputi jiwa, ia akan mendorong pemiliknya dengan kuat untuk mengorbankan
seluruh hartanya, seluruh darahnya, dan seluruh jiwanya demi akidah yang ia yakini
dan ia hidup karenanya. Sejarah akidah, risalah, dan dakwah-dakwah dipenuhi
oleh bukti-bukti nyata yang dianggap sebagai hal yang aksiomatik [badehiyat].
Ikhwanul Muslimin tidak lain adalah anak-anak dari sebuah dakwah yang mereka
yakini, mereka tulus kepadanya, dan mereka dididik dalam pangkuannya. Maka
terasa ringan bagi mereka untuk menyumbangkan makanan anak-anak mereka dan
kebutuhan pokok hidup mereka demi dakwah dan medan perjuangan mereka. Para
pengelola dakwah telah menetapkan dua fakta konkrit di depan mata mereka sejak
awal urusan, yang mereka pegang teguh sehingga mereka mengambil manfaat
sepenuhnya dari penerapannya. Pertama: tidak melihat, memikirkan, atau
bergantung pada bantuan-bantuan pemerintah. Kedua: keputusasaan total terhadap
apa yang ada di tangan orang-orang kaya, praktisi politik, murid-murid
penjajah, serta seluruh perusahaan asing; karena telah masuk dalam perhitungan
dakwah sejak hari pertama bahwa mereka semua akan menjadi penentang pertama
bagi dakwah, sebab dakwah menempuh suatu jalan sedangkan mereka menempuh jalan
yang lain. Kebetulan dakwah membutuhkan dana pada masa-masa ini setelah
aktivitasnya agak meluas di Kairo pada tahun 1357 H yang bertepatan dengan
tahun 1938 M. Maka Al-Ustadz Abdul Hakim Abidin mengajukan usulan untuk
memberlakukan "Saham Dakwah". Beliau memperkuat usulannya dengan
laporan panjang lebar yang menggambarkan secara lebih akurat tentang kewajiban
Ikhwan, semangat pengorbanan mereka, dan pemahaman mereka terhadap tuntutan
dakwah mereka. Komite Umum pun mendukung usulan ini, yang ringkasannya adalah
agar setiap pemegang saham menyerahkan seperlima dari pendapatannya atau
minimal sepersepuluhnya untuk dakwah. Para ikhwan pun saling berlomba untuk
melaksanakannya dengan penuh rasa syukur, dan daftar generasi pertama dipenuhi
dengan banyak nama dari orang-orang yang berlomba ini, semoga Allah membalas
mereka dengan kebaikan. Adalah hal yang baik jika laporan ini diterbitkan untuk
kedua kalinya, dan ia telah diterbitkan di majalah An-Nadzir pada edisi
kesepuluh dari tahun pertama tertanggal 5 Jumadil Akhir tahun 1357 Hijriah.
Berikut ini adalah teks undangan yang ditujukan kepada Ikhwan untuk
mempertimbangkan pengesahan usulan tersebut: "Rapat berkala bagi pengurus
Kairo dan para delegasi wilayah akan diselenggarakan pada Kamis malam, 2
Jumadil Akhir tahun 1357 H. Di antara agenda yang akan dipresentasikan adalah
laporan tentang kebijakan keuangan jamaah oleh Saudara Abdul Hakim Abidin
Efendi, serta usulan mengenai perkemahan Aleksandria dan sikap kita terhadap
isu Palestina serta hak bangsa Arab di dalamnya oleh dua orang saudara kita:
Fahmi Abu Ghadir Efendi dan Syekh Muhammad Hasanain Umar. Maka kami berharap
kepada para ikhwan untuk tidak absen karena pentingnya pertemuan ini."
Lihat edisi keempat dari tahun pertama majalah An-Nadzir tertanggal 21
Rabiul Tsani 1357 H.
Muktamar
Berkala Kelima Ikhwan
Di
Istana Alu Luthfiah di Giza - Kairo Pada hari ketiga belas dari bulan Zulhijah
tahun 1357 Hijriah, diselenggarakan Muktamar Berkala Kelima Ikhwanul Muslimin.
Surat kabar Minbarul Syarq telah menguraikan deskripsinya dengan
ungkapan-ungkapan yang sangat akurat dan mengagumkan, serta mendoakan
kesuksesan bagi Ikhwan dalam seluruh aktivitas mereka. Begitu pula surat kabar
harian dan mingguan yang turut mengulas deskripsi ini dengan penjelasan dan
gambaran. Muktamar tersebut, alhamdulillah, sangat sukses dari segala sisi;
penampilannya, semangatnya, persiapannya, pidato-pidatonya, serta keputusan-keputusannya.
Berikut ini adalah keputusan-keputusan tersebut:
Keputusan-Keputusan
Muktamar
Pertama:
Para peserta muktamar memutuskan untuk mendukung Kantor Irsyad Am Ikhwanul
Muslimin dalam langkahnya yang sukses, dan berterima kasih kepada para
anggotanya atas keberhasilan mereka dalam mengemban beban dakwah.
Kedua:
Bekerja untuk menyebarkan dakwah Ikhwan di setiap lingkaran yang
mengelilinginya, baik desa maupun kota, serta bekerja untuk membentuk batalion
[kitab] dan tim pandu [jawwalah] di cabang-cabang mereka.
Ketiga:
Para peserta muktamar mengusulkan kepada Kantor Irsyad Am untuk mempercepat
pembentukan komite-komite berikut: a - Komite Konstitusi yang terdiri dari
anggota jamaah yang ahli untuk mempelajari teks-teks Konstitusi Mesir dan
membandingkannya dengan kaidah-kaidah dasar dalam sistem pemerintahan Islam,
dalam rangka berupaya mengganti sistem-sistem tersebut dengan sistem Islam pada
hal-hal yang tidak sejalan dengannya. b - Komite Hukum untuk membandingkan
antara hukum positif dalam seluruh cabangnya dengan hukum Islam, menjelaskan
sisi-sisi perbedaannya, serta menuntut pemerintah untuk mengamendemen
undang-undang agar sesuai dengan hukum-hukum Islam. c - Komite Ilmiah untuk
menyusun buku ringkas yang bermanfaat tentang akidah, ibadah, akhlak, dan
muamalah Islam, yang didukung oleh dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah,
serta menjauh dari ranah perbedaan pendapat dan cabang-cabang opini yang rumit,
agar menjadi rujukan bagi Ikhwan dan siapa saja yang menghendakinya. d - Komite
Teknis yang bertugas mempelajari proyek pembangunan gedung untuk Kantor Irsyad
Am di Kairo serta mengetahui apa saja yang diperlukan untuk hal tersebut dari
berbagai aspek. e - Komite Khusus untuk mempelajari isu Tripoli [Libya] dan
mengambil langkah-langkah yang memungkinkan demi menjaga entitas Arab dan
Islamnya.
Keempat:
Menyampaikan salam penghormatan kepada Mufti Agung dan para mujahidin yang
mulia di Palestina yang diberkahi, para anggota Komite Tinggi Arab, serta para
anggota delegasi Islam yang mulia di Konferensi London. Bersamaan dengan itu,
mengirimkan telegram kepada Yang Mulia Mufti di kediamannya di Lebanon, kepada
Yang Mulia Ketua Delegasi Mesir di London dalam konferensi tersebut, serta
kepada Menteri Luar Negeri Inggris untuk mendukung tuntutan bangsa Arab
bertepatan dengan diselenggarakannya Muktamar Kelima Ikhwanul Muslimin.
Kelima:
Menuntut pemerintah Mesir untuk mempercepat pengesahan undang-undang yang
diperlukan guna melindungi moral, akhlak, dan akidah. Para peserta muktamar
mengusulkan kepada pemerintah untuk segera membentuk sebuah komite yang terdiri
dari para ulama Al-Azhar, tokoh-tokoh organisasi Islam, dan ahli hukum untuk
membimbing pemerintah tentang apa yang harus dilakukan di jalan ini dalam
seluruh aspek pendidikan yang penting serta menyiapkan undang-undang yang
diperlukan untuk itu, karena perkara ini tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Keenam:
Mengangkat keputusan-keputusan ini ke hadapan Yang Mulia Raja, menyampaikannya
kepada pihak-pihak yang berwenang, serta menyebarluaskannya di surat kabar dan
kepada cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di dalam negeri maupun di luar negeri.
Telegram-telegram yang dimaksud telah dikirimkan kepada para penerimanya, dan
Kantor Pusat mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk melaksanakan
keputusan-keputusan ini. 303
Muktamar
ini pada hakikatnya merupakan representasi yang luar biasa dan kuat atas
tersebarnya dakwah. Di dalamnya disampaikan sebuah pidato komprehensif yang
menghabiskan satu edisi penuh dari majalah An-Nadzir. Dalam pidato
tersebut, saya mengulas secara tuntas dan memuaskan tentang dakwah Ikhwan,
sejarahnya, tujuan-tujuannya, serta pandangannya terhadap lembaga, tokoh, dan
peristiwa. Pidato tersebut diterbitkan pada akhir tahun pertama majalah An-Nadzir
di edisi ke-35 tertanggal Senin, 17 Zulhijah tahun 1357 H, dan belum dicetak
secara terpisah setelah itu. Adalah hal yang baik jika ia dicetak secara
terpisah demi kebenaran, kenangan, bimbingan, dan sejarah. Begitu pula
keputusan-keputusan muktamar tersebut diterbitkan di edisi kedua dari tahun
kedua majalah An-Nadzir juga tertanggal awal Muharam tahun 1358 H.
Di
Antara Contoh Arahan-Arahan Ikhwan
Buletin
Berkala pada Periode Awal Tahun 1358 H Segera setelah muktamar, Kantor Irsyad
memberikan perhatian besar untuk mengarahkan para ikhwan dan mengatur formasi
internal mereka serta aspek-aspek aktivitas mereka. Ini adalah contoh dari
sebagian arahan tersebut, yaitu buletin pertama untuk tahun 1358 Hijriah.
"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, wa ba’du: Sesungguhnya kami
memuji Allah Azza wa Jalla, serta bersalawat dan mengucapkan salam kepada
Rasul-Nya yang mulia, keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang
mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Kami bersyukur kepada-Nya
Tabaraka wa Ta’ala, Dialah yang telah memberikan karunia dan nikmat kepada kita
dengan persaudaraan yang suci dan baik ini, mengarahkan kita di dalamnya menuju
arah amal yang bermanfaat di jalan-Nya, serta berjihad dalam meninggikan
kalimat-Nya dan mengibarkan panji-Nya. Kita memohon kepada-Nya Ta’ala agar
memberkahi persaudaraan ini dan memahkotainya dengan keberhasilan yang nyata dalam
kehidupan dan pada hari ketika saksi-saksi bangkit berdiri. Dan sungguh, di
antara pengaruh persaudaraan dan ikatan suci yang menyatukan kita adalah apa
yang Allah karuniakan kepada kita dalam muktamar terakhir berupa kemenangan
yang nyata, sehingga orang-orang memahami dakwah kita, dan para pejabat di
antara mereka mengetahui bahwa kita adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh
dan tidak bermain-main, dan bahwa kita, dengan karunia Allah, terus berjalan di
atas jalan kita hingga Allah mewujudkan bagi kita apa yang kita harapkan
sebagai cita-cita, atau kita gugur di medan perjuangan. Kami telah menunaikan
kewajiban kami berupa amal usaha yang agung. Oleh karena itu, wahai saudaraku,
kami tidak ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Anda atas segala upaya
yang telah Anda curahkan, begitu pula dengan para ikhwan mulia yang bersama
Anda, hingga Allah menyukseskan muktamar ini melalui perantaraan kalian. Kami
tidak ingin menyampaikan terima kasih dari kami, melainkan kami menyerahkannya
kepada Pelindung kalian (Allah), karena apa yang Dia simpan untuk kalian di
sisi-Nya adalah sebaik-baik balasan dan seagung-agungnya pahala.
Selanjutnya,
Anda sekalian telah mengetahui, setelah adanya seruan yang menggema dan khotbah
yang kuat lagi terarah ini—yang dijelaskan kepada kalian oleh yang mulia
Al-Ustadz Al-Mursyid Al-'Aam dalam pidatonya yang komprehensif lagi mendapat
taufik—bahwa kita telah memulai kehidupan baru dan perjuangan baru, yang
seluruhnya penuh dengan kesungguhan, ketegasan, dan aktivitas. Kita pun telah
memikul janji di hadapan Allah dan di hadapan umat yang wajib kita tunaikan dan
penuhi, yaitu janji perbaikan (ishlah) dan perjuangan (kifah)
hingga Allah mewujudkan cita-cita tersebut, sehingga panji Islam berkibar,
kalimat-Nya meninggi, dan agama ini seluruhnya hanya milik Allah.
Oleh
karena itu, kami memandang perlu untuk memaparkan program berikut ini ke
hadapan Anda dengan harapan dapat dilaksanakan seluruhnya secara terperinci dan
penuh ketelitian. Perlu diperhatikan bahwa titik tumpu terpenting dalam
pelaksanaan seluruh program ini adalah komunikasi yang berkelanjutan dengan
Maktab Irsyad (Kantor Pimpinan Pusat), karena ia merupakan pusat kerja dan
markas pengarahan. Maka, saya berharap Anda terus menjaga komunikasi dengan
Maktab dan menulis surat kepadanya mengenai segala hal yang terjadi di sekitar
Anda. Semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan Anda menuju kebaikan yang
Dia cintai dan ridai.
Pertama:
Kami memublikasikan kembali kepada Anda keputusan-keputusan muktamar.
Telegram-telegram telah dikirimkan dan Maktab telah mulai membentuk
komite-komite kerja.
Kedua:
Mengingat Palestina merupakan bagian dari tanah air Islam secara umum, dan
Allah telah memberikan taufik kepada Al-Ikhwan Al-Muslimun untuk melayani
urusannya dengan pelayanan yang agung; serta karena urusannya memerlukan
peningkatan perhatian, langkah maju demi memenangkan, serta menyokongnya. Saat
ini, lembaga-lembaga Islam telah bersatu dalam pemberian sokongan ini, dan
telah dibentuk sebuah komite untuk mengumpulkan donasi "Koin (Qirsy)
Palestina", di mana Al-Ikhwan Al-Muslimun turut terwakili di dalamnya.
Oleh karena itu, kami mengharapkan perhatian yang besar terhadap propaganda
yang kuat untuk mengumpulkan koin ini, serta agar para Ikhwan membuktikan bahwa
mereka selalu berada di barisan terdepan dalam urusan Arab dan Islam.
Buku-buku
tanda terima donasi akan sampai kepada kalian pada tanggal sepuluh Muharram,
insya Allah. Maka, saya berharap kalian mencurahkan segenap upaya untuk
mengumpulkan donasi sebesar mungkin dari daerah di sekitar kalian, dengan
memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa koin-koin ini dikumpulkan
atas nama Komite Tinggi Koin Palestina dari seluruh perkumpulan Islam.
Formulir
sukarelawan akan dikirimkan kepada kalian, yang diharapkan dapat
didistribusikan kepada para sukarelawan dan dikembalikan lagi ke Maktab agar
dapat diajukan secara langsung dalam kesempatan pertama yang paling
memungkinkan...
Ketiga:
An-Nadzir (majalah resmi jamaah yang menyebarluaskan prinsip-prinsipnya
dan menyuarakan strateginya). Kami berharap para Ikhwan memberikan perhatian
untuk menyebarluaskannya di kalangan masyarakat. Setiap cabang (Syu'bah)
diwajibkan untuk berlangganan minimal satu eksemplar majalah yang akan
dikirimkan atas namanya, serta memberikan perhatian untuk mendorong langganan
di antara individu-individu setelah itu. Terlebih lagi karena Maktab akan
mencukupkan diri dengan memublikasikan keputusan-keputusannya di dalam majalah
tersebut sebagai pengganti pengiriman surat edaran berkala kepada
cabang-cabang, demi menghemat waktu dan biaya. Demikian pula, kalian harus
senantiasa memasok redaksi An-Nadzir dengan berita-berita kalian dan
kabar cabang kalian, dan redaksi telah bersiap untuk memberikan perhatian serta
menerbitkannya secara berturut-turut.
Keempat:
Dakwah di Desa-desa. Harus ada perhatian penuh terhadap penyebaran dakwah
di desa-desa dan daerah-daerah di sekitar kalian. Untuk itu, komite-komite
harus dibentuk dan rencana-rencana harus disusun sesuai dengan kondisi kalian,
tanpa ada penundaan dalam membentuk pasukan kepanduan (Al-Jawwalah) dan
membentuk (pasukan) Al-Katibah.
Kelima:
Manifestasi Aktivitas Bulanan Ikhwan. Maktab mengusulkan agar para Ikhwan
menetapkan hari-hari tertentu setiap bulannya untuk melaksanakan program
berikut:
- Hari Nasihat: Pada
hari ini, para Ikhwan membagi diri mereka untuk menunaikan kewajiban amar
makruf nahi mungkar—dengan cara yang paling baik. Mereka mengidentifikasi
titik-titik kelemahan akhlak pada individu-individu yang bertetangga dengan
mereka, lalu mengunjungi mereka, memberikan nasihat dengan lemah lembut
dan santun, mencegah mereka dari kemungkaran, serta menghiasi diri mereka
dengan kebaikan dan keberuntungan. Sebaiknya nasihat-nasihat ini bersifat
personal dan rahasia sebisa mungkin, demi kesuksesan dan jaminan
efektivitasnya. Dan hanya Allah tempat memohon pertolongan.
- Hari Akhirat: Pada
hari ini, para Ikhwan mengasah hati dan jiwa mereka, keluar dari dunia
kebisingan dan hiruk-pikuk menuju dunia ketenteraman, serta berziarah ke
kota akhirat. Mereka keluar pergi ke pemakaman untuk mengambil pelajaran
dan iktibar, mengintrospeksi diri atas apa yang telah mereka perbuat,
serta memohon ampunan kepada Tuhan mereka. Cukuplah kematian sebagai
pemberi nasihat.
- Hari Kunjungan Orang
Sakit ('Iyadah): Para Ikhwan menetapkan hari ini untuk
menjenguk orang-orang muslim yang sakit, guna memasukkan rasa bahagia ke
dalam hati mereka serta memperkokoh pilar-pilar keakraban.
- Hari Pengenalan (Ta'aruf):
Setiap bulan, para Ikhwan mengadakan acara yang mencerminkan kesederhanaan
sedapat mungkin. Mereka berkumpul di dalamnya bersama saudara-saudara
mereka yang kondisinya tidak memungkinkan untuk sering berkunjung ke
markas, sehingga acara ini menjadi seperti ikatan yang menambah jalinan
persaudaraan di antara mereka.
Keenam:
Manifestasi Aktivitas Mingguan:
- Malam Pelajaran (Lailatud
Dars): Para Ikhwan mengkhususkan satu malam setiap minggu untuk
mempelajari ringkasan pelajaran yang disampaikan oleh yang mulia Al-Ustadz
Al-Mursyid di Kairo setiap minggu. Dengan demikian, para Ikhwan di
daerah-daerah terhubung dengan para Ikhwan di Kairo, sehingga mata rantai
terjalin, hati saling bertautan, dan ruh-ruh diberi makan dengan satu
makanan dan dari satu sumber mata air yang sama. Ringkasan pelajaran ini
akan dimuat di majalah An-Nadzir secara berturut-turut, insya
Allah.
- Malam Batalion (Lailatul
Katibah): Di mana kejernihan ruh terwujud dalam keheningan malam ,
lantunan-lantunan suci bergema di waktu sahur, limpahan rahmat Allah
turun, serta adanya kebebasan dari kebiasaan istirahat dan bermewah-mewah,
sebagai persiapan untuk memikul kesulitan dan berjihad melawan hawa nafsu
di jalan Allah. Kami berharap para Ikhwan yang kondisinya memungkinkan
dapat memberikan perhatian penuh pada olahraga spiritual ini.
- Hari Berkemah (Yaumul
Mu'askar): Kejiwaan militer, pelatihan, dan kesiapan untuk jihad
yang suci. Itulah hal yang sangat diperhatikan oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun
dengan sepenuh perhatian. Di dalamnya, tentara Islam dibentuk dan
dengannya ia dapat mewujudkan cita-cita serta mengibarkan panji
setinggi-tingginya. Kami berharap aspek ini mendapatkan porsi terbesar
dari perhatian para Ikhwan, sehingga mereka mengadakan parade militer
setiap minggu untuk melatih diri mereka, atau melakukan perjalanan wisata
(rihlah) mengunjungi kota-kota tetangga, sehingga mereka
mendapatkan pahala dan menjadi teladan yang baik serta contoh yang tinggi
bagi masyarakat.
Dan
disyaratkan agar pasukan bersiap untuk mendirikan salat di tempat-tempat
terbuka (dalam perjalanan tersebut).
Inilah
apa yang telah kami sesuaikan dari rencana dan program agar kalian
melaksanakannya dengan perhatian dan semangat yang kami ketahui ada pada diri
kalian, hingga membuahkan hasil, dan kita mencapai puncak dari apa yang kita
inginkan berupa harapan dan cita-cita. Serta agar Al-Ikhwan Al-Muslimun di
negeri-negeri dan daerah mereka menjadi contoh-contoh tertinggi dan teladan
yang sempurna bagi Islam yang benar.
Allah-lah
tempat memohon pertolongan, dan di tangan-Nya lah segala kendali urusan.
Kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya kami kembali, dan Dia cukuplah bagi
kami dan sebaik-baik pelindung, sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penolong.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pada
kenyataannya, kebutuhan masih sangat mendesak terhadap arahan-arahan seperti
ini dan penerapannya kembali di lingkungan Ikhwan, dan semoga kita diberikan
taufik dalam hal tersebut.
Contoh
Kedua dari Model Aktivitas Khusus di Musim Panas
Para
Ikhwan memiliki aktivitas khusus pada bulan-bulan musim panas yang tercermin
dalam program seperti ini, yang diperintahkan kepada para Ikhwan dalam bentuk
surat edaran umum.
Wahai
para Ikhwan: Jadikanlah liburan musim panas sebagai mata rantai perjuangan yang
saling sambung-menyambung, hingga kita dapat mengibarkan panji-panji kemenangan
dalam kemuliaan, kekuatan, dan kebanggaan.
Orang-orang
biasanya menunggu liburan musim panas dengan kesabaran yang hampir habis untuk
menikmati istirahat. Namun Al-Ikhwan Al-Muslimun—yang merupakan sosok-sosok
ideal dalam setiap lini kehidupan—menolak melainkan menjadikan liburan musim
panas sebagai rangkaian jihad yang terus-menerus demi mengibarkan panji-panji
Allah tinggi-tinggi berkibar, karena mereka merasakan beratnya beban dan
besarnya tanggung jawab di hadapan Allah.
Maka,
begitu liburan dimulai, setiap saudara muslim langsung menerima tugasnya di
medan jihad di Kairo atau daerah-daerah, sebagai prajurit di dalam
batalion-batalion Allah yang mencurahkan segenap usahanya demi kemenangan dan
menyambung malamnya dengan siangnya, hingga liburan tidak berakhir melainkan
dakwah telah maju menuju tujuan tertingginya dengan langkah-langkah cepat yang
mendapat taufik, insya Allah...
Dan
kami sangat berharap agar para Ikhwan menerima formulir-formulir khusus
mengenai aspek-aspek aktivitas di liburan musim panas dari sekretariat
perkumpulan dan dari para delegasi perguruan tinggi serta sekolah-sekolah.
Aspek-Aspek
Aktivitas
Pertama:
Bagian Perjalanan Wisata (Rihlah) Musim Panas Tujuan dari
perjalanan-perjalanan ini adalah pelatihan militer, saling mengenal (ta'aruf),
dan menyebarkan dakwah di daerah pinggiran Kairo. Pengorganisasian perjalanan
dilakukan pada hari Jumat setiap minggu selama bulan-bulan libur musim panas,
dari awal Juni hingga akhir September. Disyaratkan bagi anggota yang ikut untuk
memiliki pakaian kepanduan (Al-Jawwalah) atau pakaian pelatihan militer.
Tidak wajib bagi seorang anggota untuk berpartisipasi dalam setiap perjalanan
bagian ini, karena hal itu mengikuti keinginan dan kondisinya, namun ia akan
diberi tahu jadwal setiap perjalanan.
Kedua:
Perkemahan (Mu'askar) Musim Panas Tujuan dari perkemahan-perkemahan ini
adalah pelatihan militer, olahraga fisik di udara terbuka, dan olahraga
spiritual. Perkemahan akan didirikan di Thura Faruqiyyah di kaki gunung,
menggunakan tenda-tenda Maktab dari awal Juni hingga akhir September, insya
Allah. Para Ikhwan yang berpartisipasi dalam perkemahan dibagi menjadi beberapa
regu, di mana jumlah anggota satu regu tidak lebih dari empat puluh orang.
Durasi untuk satu regu adalah sepuluh hari penuh yang ditetapkan sesuai dengan
keinginan para anggota regu. Disyaratkan bagi anggota untuk memiliki pakaian
kepanduan atau pakaian pelatihan militer. Biaya partisipasi adalah sebesar lima
puluh koin (qirsy) untuk pegawai dan tiga puluh koin untuk pelajar untuk
satu periode durasi tersebut. Ia juga harus membawa serta selimut dan peralatan
makannya sendiri, serta usianya harus lebih dari lima belas tahun hijriah.
Diharapkan
dari para Ikhwan di daerah-daerah yang ingin berpartisipasi dalam
perkemahan-perkemahan ini untuk berbaik hati memberi tahu Maktab mengenai
durasi waktu yang sesuai bagi mereka. Jika seorang anggota telah menyelesaikan
masa perkemahan dengan kondisi yang memuaskan, ia akan diberikan sertifikat
dari komandannya (hukmdariyyah).
Ketiga:
Regu-regu Khotbah dan Pengarahan (Al-Wa'zh wa Al-Irsyad) Musim Panas
(Tujuan dari regu-regu ini adalah melatih para Ikhwan dalam bidang khotbah dan
pengarahan secara keilmuan dan praktik) . Yang mulia Al-Ustadz Al-Mursyid
Al-'Aam akan menyampaikan pelajaran-pelajaran pelatihan praktis di markas
Ikhwan di Shubra dari awal Juni hingga akhir September, insya Allah. Durasi
belajar untuk satu regu adalah lima belas hari, sehingga total regu berjumlah
delapan regu, dengan ketentuan jumlah anggota satu regu tidak melebihi lima
puluh orang. Adapun tempat-tempat pelajaran praktis adalah markas-markas Ikhwan
di distrik-distrik Kairo dan tempat-tempat lain yang sesuai.
Disyaratkan
bagi anggota yang ingin berpartisipasi dalam regu-regu ini untuk memiliki
kualifikasi keilmuan yang memungkinkannya mengambil manfaat dari
pelajaran-pelajaran ini, yaitu minimal berada pada tingkat pendidikan menengah
Al-Azhar (Tsanawiyyah Al-Azhar) atau sekolah menengah umum. Para Ikhwan
di daerah-daerah memiliki hak untuk mendaftar ke regu-regu ini di Kairo. Maktab
akan mengirimkan utusan-utusan dari pihaknya ke ibu kota-ibu kota provinsi yang
penting untuk melatih para Ikhwan yang cakap untuk tugas ini di dalam cabang
mereka masing-masing. Jika seorang anggota telah menyelesaikan masa pelatihan
dengan kondisi yang memuaskan dan menunjukkan kemampuan untuk memikul tugas
khotbah dan pengarahan, ia akan diberi sertifikat untuk hal tersebut dari komite
pelatihan.
Allah
Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah.
Di
Medan Ekonomi
Telah
tampak bagi sebagian Ikhwan, yaitu seorang saudara yang bertakwa, Sagh [Mayor]
Haji Muhammad Abdul Wahhab—yang saat itu merupakan pegawai di Kementerian
Pertahanan dan sekarang telah pensiun—agar para Ikhwan ikut berkontribusi dalam
amal-amal ekonomi. Serta agar mereka memiliki aktivitas nyata yang bermanfaat
dalam proyek-proyek keuangan Islam yang menjaga kekayaan umat Islam dan melatih
mereka untuk mengarungi medan-medan yang selama ini dimonopoli oleh orang-orang
asing, kaum Yahudi, dan orang-orang yang tidak memiliki akhlak.
Saya
sejalan dengan beliau dalam prinsip ini secara penuh, namun dengan dua syarat:
- Pertama: Kita tidak
mencampuradukkan antara aktivitas dakwah dan aktivitas ekonomi, baik dalam
bentuk maupun substansi. Maka nama-nama badan usaha tidak menggunakan nama
Ikhwan dan tidak bertempat di markas mereka. Badan usaha tersebut harus
memiliki sistem materi ekonomi murni yang tidak ternoda oleh sedikit pun
sentimen atau kelalaian. Sebab, dakwah adalah satu hal dan harta ekonomi
adalah hal lain, meskipun masing-masing saling membantu satu sama lain,
tetapi setiap hal memiliki warna, sarana, dan metodenya sendiri. Dan kita
tetap memperhatikan penerapan kaidah-kaidah Islam yang lurus.
- Syarat kedua: Saya
tidak memiliki hubungan dengan amal usaha ekonomi ini, baik dari dekat
maupun dari jauh, demi menjaga pribadi saya, waktu saya, dan konsentrasi
usaha saya; serta agar beliau memikul tanggung jawab tersebut secara penuh
pada mulanya.
Pria
tersebut telah bersiap—semoga Allah membalasnya dengan kebaikan—dan memikul
beban tersebut, lalu mengumumkan proyek ekonomi pertama, yaitu Perusahaan Saham
Transaksi Islami untuk Ikhwan (Syarikat Al-Mu'amalat Al-Islamiyyah
Al-Musahamah lil Ikhwan).
Pernyataan
berikut mengenai perusahaan tersebut telah dipublikasikan pada nomor ketujuh
belas dari tahun kedua, tertanggal 24 Rabiul Akhir 1358 H:
Prinsip-Prinsip
Islam yang Benar Mendorong Pengembangan Kekayaan
Mengingat
di antara prinsip-prinsip Al-Ikhwan Al-Muslimun adalah mendorong pengembangan
kekayaan Islam secara umum di atas fondasi Islam yang benar, maka para Ikhwan
di Kairo telah bekerja untuk membentuk sebuah perusahaan saham Islam dengan
nama: "Perusahaan Transaksi Islami untuk Al-Ikhwan Al-Muslimun" (Syarikat
Al-Mu'amalat Al-Islamiyyah lil Ikhwan al-Muslimin), dan mereka menetapkan
undang-undang dengan pasal-pasal dasar berikut ini:
- Tujuan dari perusahaan ini
adalah melakukan, baik untuk akunnya sendiri atau untuk akun pihak lain,
seluruh operasi investasi harta dengan cara-cara halal yang diijinkan oleh
syariat Islam yang agung. Baik investasi itu melalui jalur produksi atau
melalui jalur pertukaran perdagangan berupa jual-beli, sewa-menyewa,
mengambil proyek, kontraktor, atau operasi investasi apa pun yang bersih
dari riba atau syubhat riba.
- Modal perusahaan adalah
empat ribu pound Mesir, yang dibagi menjadi seribu saham , nilai setiap
saham adalah empat pound Mesir.
- Dianggap sebagai sekutu
dengan satu saham bagi siapa saja yang membayar ke kas perusahaan di pusat
Perkumpulan Al-Ikhwan Al-Muslimun Umum di Mesir sebesar sepuluh koin (qirsy)
setiap bulan selama empat puluh bulan penuh tanpa terputus. Diperbolehkan
membayar nilai saham sekaligus atau dalam beberapa kali pembayaran dalam
waktu yang lebih singkat dari itu.
- Perusahaan dikelola oleh
sebuah dewan direksi yang terdiri dari seorang ketua, seorang bendahara,
dan tujuh anggota. Ketua dan bendahara dipilih dari mereka yang memiliki
minimal sepuluh saham. Sedangkan anggota dipilih dari mereka yang memiliki
minimal lima saham, dengan syarat mereka termasuk dari kalangan Al-Ikhwan
Al-Muslimun.
- Perkumpulan Al-Ikhwan
Al-Muslimun Umum di Kairo saat ini dan setelah pendirian perusahaan selama
masa berdirinya, memiliki hak untuk mengaudit pembukuan perusahaan dan
mengambil 2,5% dari modal, keuntungan, dan tambahannya setiap tahun, yang
disalurkan ke dalam pos-pos zakat syar'i melalui pengetahuannya.
- Dewan direksi perusahaan
memulai, sejak tanggal pendirian hingga terkumpulnya modal yang cukup
untuk menjalankan operasi investasi besar, dengan menginvestasikan hasil
penagihan dari angsuran bulanan dan lainnya untuk mendapatkan seluruh
kebutuhan para Ikhwan sesuai dengan permintaan mereka dengan harga grosir,
serta menyampaikannya kepada mereka dengan harga yang sesuai.
- Keuntungan didistribusikan
setiap tahun sebagai berikut:
- 10 persen sebagai bonus
untuk dewan direksi.
- 20 persen untuk dana
cadangan.
- 50 persen dibagikan
kepada para pemilik saham sesuai dengan persentase dari apa yang telah
mereka bayarkan secara nyata dari harga saham tersebut.
Selanjutnya,
pihak manajemen telah menetapkan jangka waktu satu bulan dari tanggal ini untuk
menerima pendaftaran saham di perusahaan. Maka, barang siapa yang memiliki
keinginan untuk berkontribusi dengan satu saham atau lebih dalam perusahaan
ini, hendaklah menghubungi Al-Ikhwan Al-Muslimun di Medan Ratu Farida di Mesir
mengenai keinginannya. Diharapkan para Ikhwan akan bersegera untuk
berkontribusi dalam perusahaan ini yang—dengan karunia Allah—akan menjadi salah
satu sarana untuk meningkatkan apa yang akan diberikan oleh Al-Ikhwan
Al-Muslimun berupa pelayanan bagi Islam dan kaum muslimin. Setelah ini akan
diumumkan pelaksanaan acara peletakan batu pertama/pendirian perusahaan, insya
Allah, dan Allah-lah pemilik taufik.
Dalam
Rangka Menetapkan Pendidikan Agama sebagai Mata Pelajaran Pokok di
Lembaga-Lembaga dan Sekolah-Sekolah Mesir
Telah
dan masih menjadi bagian dari tujuan-tujuan para Ikhwan dan tuntutan-tuntutan
mereka agar agama memiliki kedudukannya di antara kurikulum pendidikan di
sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga Mesir. Mereka telah mengajukan dalam jalan
ini banyak memo dan petisi yang ditandatangani oleh mereka pada suatu waktu,
dan oleh masyarakat pada waktu yang lain.
Saya
ingat bahwa pada bulan Agustus tahun 1935, telah terkumpul di pihak kami
sejumlah besar petisi tuntutan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Pada saat
itu yang memimpin kementerian (perdana menteri) adalah Nasim Basya—semoga Allah
merahmatinya—dan di Kementerian Pendidikan adalah Naguib Al-Hilali Basya, serta
di pimpinan tertinggi Al-Azhar adalah yang mulia Al-Ustadz Al-Maraghi—semoga
Allah merahmatinya. Maka kami mengumpulkan petisi-petisi ini dan membentuk
sebuah delegasi besar yang di ketuanya terdapat yang mulia Syaikh Muhammad
Abdullah Draz (pengajar di Al-Azhar), Al-Ustadz Syaikh Hamid Askariyyah—semoga
Allah merahmatinya, Syaikh Abdurrahman Draz (kepala desa Mahallat Syay saat
itu)—semoga Allah merahmatinya, Syaikh Abdu Ahmad Hasan (pengajar di
Kementerian Pendidikan saat ini), serta beberapa kepala desa dan tokoh
masyarakat, lalu kami pergi ke Aleksandria di mana kementerian berada.
Kami
meminta untuk menemui Said Zulfikar Basya, Kepala Rumah Tangga Istana (Kabir
al-Umana), dan kami menyerahkan kepadanya salinan dari petisi-petisi ini.
Beliau mendiskusikannya bersama kami kemudian berkata bahwa ini adalah wewenang
Kepala Dewan Jenderal (Ra'is ad-Diwan), yang saat itu dijabat oleh Ali
Basya Maher. Karena kami tidak menemukannya, kami meninggalkan satu salinan
untuknya dan kami menitipkannya dengan baik kepada yang terhormat Said Zulfikar
Basya—semoga Allah merahmatinya.
Dan
kami menemui yang mulia Al-Ustadz Al-Akbar Syaikh Al-Maraghi. Kami terlibat
pembicaraan yang panjang bersama beliau mengenai prinsip itu sendiri, dan
diskusi yang terkadang mencapai tingkat ketegangan yang hangat. Beliau
menyampaikan kepada kami kisah berikut ini yang saya sebutkan sebagai bentuk
pelajaran ('ibrah).
Beliau
berkata bahwa hati kita telah mengeras, kita telah menjauh dari Islam, kita
telah meniru orang-orang asing (khawajat), dan kita tenggelam dalam
peniruan ini. Tampaknya bagi saya bahwa kita tidak akan kembali kepada Islam
melainkan setelah mereka (orang asing) memeluknya, lalu kita kembali kepadanya
melalui jalur mereka.
Kemudian
beliau juga berkata: "Saya sekarang baru datang dari Kairo dan bersama
saya putri kecil saya. Telah duduk bersama kami di kompartemen kereta seorang
wanita asing yang mulai berbicara panjang lebar bersamanya. Setelah kami turun
dari kereta dan menaiki mobil, si kecil langsung meminta kepada saya sejarah
hidup Umar bin Khattab dengan mendesak dan gigih. Saya merasa heran dengan
pertanyaannya karena itu mengejutkan dan tidak ada hal yang mendorong ke arah
sana. Saya katakan kepadanya: 'Mengapa kamu menginginkan sejarah hidup ini
dengan ketergesaan seperti ini?' "
Maka
ia menjawab: "Karena wanita asing itu menceritakan kepadaku tentang beliau
dengan cerita yang bagus." Maka saya berkata: "Subhanallah! Aku telah
menceritakan kepadamu tentang beliau—sedangkan aku adalah Syaikhul
Islam—sebanyak tujuh puluh kali, namun cerita itu tidak mendorongmu untuk
mencari sejarah hidupnya. Dan dalam satu sesi singkat serta obrolan selintas
bersama wanita asing, keinginanmu langsung terarah kepada sejarah hidupnya
dengan bentuk seperti ini! "
Kemudian
beliau juga berkata seraya mengucapkan apa yang dahulu diucapkan oleh Al-Ustadz
Al-Imam: "Aku khawatir kita akan merusak mereka sebelum mereka memperbaiki
kita."
Meskipun
dalam pandangan-pandangan tersebut terdapat kebenaran dan kekerasan, beliau
menjanjikan kepada kami bahwa beliau akan menjadi penolong bagi kami di hadapan
pemerintah dalam menetapkan pendidikan agama sebagai mata pelajaran pokok di
lembaga-lembaga dan sekolah-sekolah sipil Mesir.
Tampak
bagi kami setelah itu untuk menemui Musthafa An-Nahas Basya agar beliau
meratakan jalan bagi kami bersama Nasim Basya dan bersama Naguib Al-Hilali
Basya, karena didelegasikan bahwa beliau sangat sepaham dengan kementerian. Ini
adalah pertama kalinya saya menemui beliau—dan kami semua maju menemui beliau
atas nama kami sebagai para kepala desa, kecuali yang mulia Syaikh Muhammad
Abdullah Draz, karena pakaiannya, keutamaannya, ilmunya, dan metodenya dalam
berbicara telah menunjukkan jati dirinya. Meskipun Basya tidak memberikan kami
kesempatan berbicara melainkan sebatas kami menjelaskan urusan tersebut secara
ringkas, kemudian beliau menjanjikan bahwa beliau akan menghubungi Nasim Basya
dan Naguib Basya untuk mewujudkan keinginan ini. Keberadaan pria saleh yang
terhormat, Muhammad Basya Al-Maghazi bersama kami, memiliki pengaruh besar
dalam memudahkan pertemuan ini dan pemenuhan janji Basya kepada kami, di mana
beliau benar-benar menghubungi Kepala Pemerintahan (Perdana Menteri).
Berikut
adalah terjemahan lengkap, utuh, dan akademis dari teks Kitab Mudzakkirat
ad-Da'wah wa ad-Da'iyah karya Imam Hasan al-Banna yang Anda unggah,
disajikan halaman demi halaman sesuai dengan instruksi dan standar penerjemahan
maknawi-konseptual yang ketat:
[252]
...yang kita harapkan berupa cita-cita, atau kita gugur di medan perjuangan.
Kami telah menunaikan kewajiban kami berupa amal usaha yang agung. Oleh karena
itu, wahai Saudaraku, kami tidak ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada
Anda atas segala upaya yang telah Anda curahkan, begitu pula dengan para ikhwan
mulia yang bersama Anda, hingga Allah menyukseskan muktamar ini melalui
perantaraan kalian. Kami tidak ingin menyampaikan terima kasih dari kami,
melainkan kami menyerahkannya kepada Pelindung kalian (Allah), karena apa yang
Dia simpan untuk kalian di sisi-Nya adalah sebaik-baik balasan dan
seagung-agungnya pahala.
Selanjutnya,
Anda sekalian telah mengetahui—setelah adanya seruan yang menggema dan khotbah
yang kuat lagi terarah ini, yang dijelaskan kepada kalian oleh yang mulia
Al-Ustadz Al-Mursyid Al-‘Aam dalam pidatonya yang komprehensif lagi mendapat
taufik—bahwa kita telah memulai kehidupan baru dan perjuangan baru, yang
seluruhnya penuh dengan kesungguhan, ketegasan, dan aktivitas. Kita pun telah
memikul janji di hadapan Allah dan di hadapan umat yang wajib kita tunaikan dan
penuhi, yaitu janji perbaikan (ishlah) dan perjuangan (kifah)
hingga Allah mewujudkan cita-cita tersebut, sehingga panji Islam berkibar,
kalimat-Nya meninggi, dan agama ini seluruhnya hanya milik Allah.
Oleh
karena itu, kami memandang perlu untuk memaparkan program berikut ini ke
hadapan Anda dengan harapan dapat dilaksanakan seluruhnya secara terperinci dan
penuh ketelitian. Perlu diperhatikan bahwa titik tumpu terpenting dalam
pelaksanaan seluruh program ini adalah komunikasi yang berkelanjutan dengan
Maktab Irsyad (Kantor Pimpinan Pusat), karena ia merupakan pusat kerja dan
markas pengarahan. Maka, saya berharap Anda terus menjaga komunikasi dengan
Maktab dan menulis surat kepadanya mengenai segala hal yang terjadi di sekitar
Anda. Semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan Anda menuju kebaikan yang
Dia cintai dan ridai.
Pertama:
Kami memublikasikan kembali kepada Anda keputusan-keputusan muktamar.
Telegram-telegram telah dikirimkan dan Maktab telah mulai membentuk
komite-komite kerja.
Kedua:
Mengingat Palestina merupakan bagian dari tanah air Islam secara umum, dan
Allah telah memberikan taufik kepada Al-Ikhwan Al-Muslimun untuk melayani
urusannya dengan pelayanan yang agung; serta karena urusannya memerlukan
peningkatan perhatian dan langkah maju demi memenangkan serta menyokongnya.
Saat
ini, lembaga-lembaga Islam telah bersatu dalam pemberian sokongan ini, dan
telah dibentuk sebuah komite untuk mengumpulkan donasi "Koin (Qirsy)
Palestina", di mana Al-Ikhwan Al-Muslimun turut terwakili di dalamnya.
Oleh karena itu, kami mengharapkan perhatian yang besar terhadap propaganda
yang kuat untuk mengumpulkan koin ini, serta agar para Ikhwan membuktikan bahwa
mereka selalu berada di barisan terdepan dalam urusan Arab dan Islam.
Buku-buku
tanda terima donasi akan sampai kepada kalian pada tanggal sepuluh Muharram,
insya Allah. Maka, saya berharap kalian mencurahkan segenap upaya untuk
mengumpulkan donasi sebesar mungkin dari daerah di sekitar kalian, dengan
memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa koin-koin ini dikumpulkan
atas nama Komite Tinggi Koin Palestina dari seluruh perkumpulan Islam.
Formulir
sukarelawan akan dikirimkan kepada kalian, yang diharapkan dapat
didistribusikan kepada para sukarelawan dan dikembalikan lagi ke Maktab agar
dapat diajukan secara langsung dalam kesempatan pertama yang paling
memungkinkan...
Ketiga:
An-Nadzir (majalah resmi jamaah yang menyebarluaskan prinsip-prinsipnya
dan menyuarakan strateginya). Kami berharap para Ikhwan memberikan perhatian
untuk menyebarluaskannya di kalangan masyarakat. Setiap cabang (Syu'bah)
diwajibkan untuk berlangganan minimal satu eksemplar majalah yang akan
dikirimkan atas namanya, serta memberikan perhatian untuk mendorong langganan
di antara individu-individu setelah itu. Terlebih lagi karena Maktab akan
mencukupkan diri dengan memublikasikan keputusan-keputusannya di dalam majalah
tersebut sebagai pengganti pengiriman surat edaran berkala kepada
cabang-cabang, demi menghemat waktu dan biaya. Demikian pula, kalian harus
senantiasa memasok redaksi An-Nadzir dengan berita-berita kalian dan
kabar cabang kalian, dan redaksi telah bersiap untuk memberikan perhatian serta
menerbitkannya secara berturut-turut.
Keempat:
Dakwah di Desa-desa. Harus ada perhatian penuh terhadap penyebaran dakwah
di desa-desa dan daerah-daerah di sekitar kalian. Untuk itu, komite-komite
harus dibentuk dan rencana-rencana harus disusun sesuai dengan kondisi kalian,
tanpa ada penundaan dalam membentuk pasukan kepanduan (Al-Jawwalah) dan
membentu batalion (Al-Katibah).
Kelima:
Manifestasi Aktivitas Bulanan Ikhwan. Maktab mengusulkan agar para Ikhwan
menetapkan hari-hari tertentu setiap bulannya untuk melaksanakan program
berikut:
1.
Hari Nasihat:
Pada hari ini, para Ikhwan membagi diri mereka untuk menunaikan kewajiban amar
makruf nahi mungkar—dengan cara yang paling baik. Mereka mengidentifikasi
titik-titik kelemahan akhlak pada individu-individu yang bertetangga dengan
mereka, lalu mengunjungi mereka, memberikan nasihat dengan lemah lembut dan
santun, mencegah mereka dari kemungkaran, serta menghiasi diri mereka dengan
kebaikan dan keberuntungan. Sebaiknya nasihat-nasihat ini bersifat personal dan
rahasia sebisa mungkin, demi kesuksesan dan jaminan efektivitasnya. Dan hanya
Allah tempat memohon pertolongan.
2.
Hari Akhirat:
Pada hari ini, para Ikhwan mengasah hati dan jiwa mereka, keluar dari dunia
kebisingan dan hiruk-kupuk menuju dunia ketenteraman, serta berziarah ke kota
akhirat. Mereka keluar menuju pemakaman untuk mengambil pelajaran dan iktibar,
mengintrospeksi diri atas apa yang telah mereka perbuat, serta memohon ampunan
kepada Tuhan mereka. Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat.
3.
Hari
Pengobatan/Penjengukan ('Iyadah): Para Ikhwan menetapkan hari ini
untuk menjenguk orang-orang muslim yang sakit, guna memasukkan rasa bahagia ke
dalam hati mereka serta memperkokoh pilar-pilar keakraban.
4.
Hari Pengenalan (Ta'aruf):
Setiap bulan, para Ikhwan mengadakan acara yang mencerminkan kesederhanaan
sedapat mungkin. Mereka berkumpul di dalamnya bersama saudara-saudara mereka
yang kondisinya tidak memungkinkan untuk sering berkunjung ke markas mereka,
sehingga acara ini menjadi seperti ikatan yang menambah jalinan persaudaraan di
antara mereka.
Keenam:
Manifestasi Aktivitas Mingguan:
1 - Malam
Pelajaran (Lailatud Dars): Para Ikhwan mengkhususkan satu malam
setiap minggu untuk mempelajari ringkasan pelajaran yang disampaikan oleh yang
mulia Al-Ustadz Al-Mursyid di Kairo setiap minggu. Dengan demikian, para Ikhwan
di daerah-daerah terhubung dengan para Ikhwan di Kairo, sehingga mata rantai
terjalin, hati saling bertautan, dan ruh-ruh diberi makan dengan satu makanan
dan dari satu sumber mata air yang sama. Ringkasan pelajaran ini akan dimuat di
majalah An-Nadzir secara berturut-turut, insya Allah.
2 - Malam
Batalion (Lailatul Katibah): Di mana kejernihan ruh terwujud dalam
keheningan malam.
Dan
di mana lantunan-lantunan suci bergema di waktu sahur, limpahan rahmat Allah
turun, serta adanya kebebasan dari kebiasaan istirahat dan bermewah-mewah,
sebagai persiapan untuk memikul kesulitan dan berjihad melawan hawa nafsu di
jalan Allah.
Kami
berharap para Ikhwan yang kondisinya memungkinkan dapat memberikan perhatian
penuh pada olahraga spiritual (riyadhah ruhiyyah) ini.
3 - Hari
Berkemah (Yaumul Mu'askar): Kejiwaan militer, pelatihan, dan
kesiapan untuk jihad yang suci; itulah hal yang sangat diperhatikan oleh
Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan sepenuh perhatian. Di dalamnya, tentara Islam
dibentuk dan dengannya ia dapat mewujudkan cita-cita serta mengibarkan panji
setinggi-tingginya.
Kami
berharap aspek ini mendapatkan porsi terbesar dari perhatian para Ikhwan,
sehingga mereka mengadakan parade militer setiap minggu untuk melatih diri
mereka, atau melakukan perjalanan wisata (rihlah) mengunjungi kota-kota
tetangga, sehingga mereka mendapatkan pahala dan menjadi teladan yang baik
serta contoh yang tinggi bagi masyarakat.
Dan
disyaratkan agar pasukan bersiap di setiap perjalanan untuk mendirikan salat di
tempat terbuka.
Inilah
sebagian rencana dan program yang kami sesuaikan agar kalian melaksanakannya
dengan perhatian dan semangat yang kami ketahui ada pada diri kalian, hingga
membuahkan hasil, dan kita mencapai puncak dari apa yang kita inginkan berupa
harapan dan cita-cita. Serta agar Al-Ikhwan Al-Muslimun di negeri-negeri dan
daerah mereka menjadi contoh-contoh tertinggi dan teladan yang sempurna bagi
Islam yang benar.
Allah-lah
tempat memohon pertolongan, dan di tangan-Nya lah segala kendali urusan.
Kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya kami kembali, dan Dia cukuplah bagi
kami.
Dan
Dialah sebaik-baik pelindung, sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penolong.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pada
kenyataannya, kebutuhan masih sangat mendesak terhadap arahan-arahan seperti
ini dan penerapannya kembali di lingkungan Ikhwan.
Dan
semoga kita diberikan taufik dalam hal tersebut.
Contoh
Kedua dari Model Aktivitas Khusus di Musim Panas
Para
Ikhwan memiliki aktivitas khusus pada bulan-bulan musim panas yang tercermin
dalam program seperti ini.
Yang
mana diperintahkan kepada para Ikhwan dalam bentuk surat edaran umum (nusyrah
'ammah).
Wahai
para Ikhwan:
Jadikanlah
liburan musim panas sebagai mata rantai perjuangan yang saling
sambung-menyambung.
Hingga
kita dapat mengibarkan panji-panji kemenangan dalam kemuliaan, kekuatan, dan
kebanggaan.
Orang-orang
biasanya menunggu liburan musim panas dengan kesabaran yang hampir habis untuk
menikmati istirahat. Namun Al-Ikhwan Al-Muslimun—yang merupakan sosok-sosok
ideal dalam setiap lini kehidupan—menolak melainkan menjadikan liburan musim
panas sebagai rangkaian jihad yang terus-menerus demi mengibarkan panji-panji
Allah tinggi-tinggi berkibar, karena mereka merasakan beratnya beban dan
besarnya tanggung jawab di hadapan Allah.
Maka,
begitu liburan dimulai, setiap saudara muslim langsung menerima tugasnya di
medan jihad di Kairo atau daerah-daerah, sebagai prajurit di dalam
batalion-batalion Allah yang mencurahkan segenap usahanya demi kemenangan dan
menyambung malamnya dengan siangnya.
Hingga
liburan tidak berakhir melainkan dakwah telah maju menuju tujuan tertingginya
dengan langkah-langkah cepat yang mendapat taufik, insya Allah...
Dan
kami sangat berharap agar para Ikhwan menerima formulir-formulir khusus
mengenai aspek-aspek aktivitas di liburan musim panas dari sekretariat
perkumpulan dan dari para delegasi perguruan tinggi serta sekolah-sekolah.
Aspek-Aspek
Aktivitas
Pertama:
Bagian Perjalanan Wisata (Rihlah) Musim Panas
Tujuan
dari perjalanan-perjalanan ini adalah pelatihan militer, saling mengenal (ta'aruf),
dan menyebarkan dakwah.
Di
daerah pinggiran Kairo.
Pengorganisasian
perjalanan dilakukan pada hari Jumat setiap minggu selama bulan-bulan libur
musim panas, dari awal Juni hingga akhir September.
Disyaratkan
bagi anggota yang ikut untuk memiliki pakaian kepanduan (Al-Jawwalah)
atau pakaian pelatihan militer.
Dan
tidak wajib bagi seorang anggota untuk berpartisipasi dalam setiap perjalanan
bagian ini, karena hal itu mengikuti keinginan dan kondisinya.
Namun
ia akan diberi tahu jadwal setiap perjalanan.
Kedua:
Perkemahan (Mu'askar) Musim Panas
Tujuan
dari perkemahan-perkemahan ini adalah pelatihan militer, olahraga fisik di
udara terbuka, dan olahraga spiritual.
Perkemahan
akan didirikan di Thura Faruqiyyah di kaki gunung, menggunakan tenda-tenda
Maktab dari awal Juni hingga akhir September, insya Allah.
Para
Ikhwan yang berpartisipasi dalam perkemahan dibagi menjadi beberapa regu, di
mana jumlah anggota satu regu tidak lebih dari empat puluh orang. Durasi untuk
satu regu adalah sepuluh hari penuh yang ditetapkan sesuai dengan keinginan
para anggota regu. Disyaratkan bagi anggota untuk memiliki pakaian kepanduan
atau pakaian pelatihan militer. Biaya partisipasi adalah sebesar lima puluh
koin (qirsy) untuk pegawai dan tiga puluh koin untuk pelajar untuk satu
periode durasi tersebut. Ia juga harus membawa serta selimut dan peralatan
makannya sendiri, serta usianya harus lebih dari lima belas tahun hijriah.
Diharapkan
dari para Ikhwan di daerah-daerah yang ingin berpartisipasi dalam
perkemahan-perkemahan ini untuk berbaik hati memberi tahu Maktab mengenai
durasi waktu yang sesuai bagi mereka.
Jika
seorang anggota telah menyelesaikan masa perkemahan dengan kondisi yang
memuaskan, ia akan diberikan sertifikat dari komandannya (hukmdariyyah).
Third:
Regu-regu Khotbah dan Pengarahan (Al-Wa'zh wa Al-Irsyad) Musim Panas
(Tujuan dari regu-regu ini adalah melatih para
Ikhwan dalam bidang khotbah dan pengarahan secara keilmuan.dan praktik).
Yang
mulia Al-Ustadz Al-Mursyid Al-'Aam akan menyampaikan pelajaran-pelajaran
pelatihan praktis di markas Ikhwan di Shubra dari awal Juni hingga akhir
September, insya Allah. Durasi belajar untuk satu regu adalah lima belas hari,
sehingga total regu berjumlah delapan regu, dengan ketentuan jumlah anggota
satu regu tidak melebihi dua puluh lima atau lima puluh orang.
Adapun
tempat-tempat pelajaran praktis adalah markas-markas Ikhwan di distrik-distrik
Kairo dan tempat-tempat lain yang sesuai.
Disyaratkan
bagi anggota yang ingin berpartisipasi dalam regu-regu ini untuk memiliki
kualifikasi keilmuan yang memungkinkannya mengambil manfaat dari
pelajaran-pelajaran ini, yaitu minimal berada pada tingkat pendidikan menengah
Al-Azhar (Tsanawiyyah Al-Azhar) atau sekolah menengah umum.
Para
Ikhwan di daerah-daerah memiliki hak untuk mendaftar ke regu-regu ini di Kairo.
Maktab akan mengirimkan utusan-utusan dari pihaknya ke ibu kota-ibu kota
provinsi yang penting untuk melatih para Ikhwan yang cakap untuk tugas ini di
dalam cabang mereka masing-masing.
Jika
seorang anggota telah menyelesaikan masa pelatihan dengan kondisi yang
memuaskan dan menunjukkan kemampuan untuk memikul tugas khotbah dan pengarahan.
Ia
akan diberi sertifikat untuk hal tersebut dari komite pelatihan.
Allah
Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah.
Di
Medan Ekonomi
Telah
tampak bagi sebagian Ikhwan, yaitu seorang saudara yang bertakwa, Sagh [Mayor]
Haji Muhammad Abdul Wahhab—yang saat itu merupakan pegawai di Kementerian
Pertahanan dan sekarang telah pensiun—agar para Ikhwan ikut berkontribusi dalam
amal-amal ekonomi. Serta agar mereka memiliki aktivitas nyata yang bermanfaat
dalam proyek-proyek keuangan Islam yang menjaga kekayaan umat Islam dan melatih
mereka untuk mengarungi medan-medan yang selama ini dimonopoli oleh orang-orang
asing, kaum Yahudi, dan orang-orang yang tidak memiliki akhlak.
Saya
sejalan dengan beliau dalam prinsip ini secara penuh, namun dengan dua syarat:
Pertama, kita tidak mencampuradukkan antara aktivitas dakwah dan aktivitas
ekonomi, baik dalam bentuk maupun substansi. Maka nama-nama badan usaha tidak
menggunakan nama Ikhwan dan tidak bertempat di markas mereka, serta badan usaha
tersebut harus memiliki sistem materi ekonomi murni yang tidak ternoda oleh
sedikit pun sentimen atau kelalaian. Sebab, dakwah adalah satu hal dan harta
ekonomi adalah hal lain, meskipun masing-masing saling membantu satu sama lain,
tetapi setiap hal memiliki warna, sarana, dan metodenya sendiri. Dan kita tetap
memperhatikan penerapan kaidah-kaidah Islam yang lurus.
Syarat
kedua: Saya tidak memiliki hubungan dengan amal usaha ekonomi ini, baik dari
dekat maupun dari jauh, demi menjaga pribadi saya, waktu saya, dan konsentrasi
usaha saya; serta agar beliau memikul tanggung jawab tersebut secara penuh pada
mulanya.
Pria
tersebut telah bersiap—semoga Allah membalasnya dengan kebaikan—dan memikul
beban tersebut, lalu mengumumkan proyek ekonomi pertama, yaitu Perusahaan Saham
Transaksi Islami untuk Ikhwan (Syarikat Al-Mu'amalat Al-Islamiyyah
Al-Musahamah lil Ikhwan).
Pernyataan
berikut mengenai perusahaan tersebut telah dipublikasikan pada nomor ketujuh
belas dari tahun kedua, tertanggal 24 Rabiul Akhir 1358 H:
Prinsip-Prinsip
Islam yang Benar Mendorong Pengembangan Kekayaan
Mengingat
di antara prinsip-prinsip Al-Ikhwan Al-Muslimun adalah mendorong pengembangan
kekayaan Islam secara umum di atas fondasi Islam yang benar, maka para Ikhwan
di Kairo telah bekerja untuk membentuk sebuah perusahaan saham Islam dengan
nama: "Perusahaan Transaksi Islami untuk Al-Ikhwan Al-Muslimun" (Syarikat
Al-Mu'amalat Al-Islamiyyah lil Ikhwan al-Muslimin), dan mereka menetapkan
undang-undang dengan pasal-pasal dasar berikut ini:
1 -
Bahwa tujuan dari perusahaan ini adalah melakukan, baik untuk akunnya sendiri
atau untuk akun pihak lain, seluruh operasi investasi harta dengan cara-cara
halal yang diizinkan oleh syariat Islam yang agung. Baik investasi itu melalui
jalur produksi atau melalui jalur pertukaran perdagangan berupa jual-beli,
sewa-menyewa, mengambil proyek, kontraktor, atau operasi investasi apa pun yang
bersih dari riba atau syubhat riba.
2 -
Modal perusahaan adalah empat ribu pound Mesir, yang dibagi menjadi seribu
saham.
Nilai
setiap saham adalah empat pound Mesir.
3 -
Dianggap sebagai sekutu dengan satu saham bagi siapa saja yang membayar ke kas
perusahaan di pusat Perkumpulan Al-Ikhwan Al-Muslimun Umum di Mesir sebesar
sepuluh koin (qirsy) setiap bulan selama empat puluh bulan penuh tanpa
terputus. Diperbolehkan membayar nilai saham sekaligus atau dalam beberapa kali
pembayaran dalam waktu yang lebih singkat dari itu.
4 -
Perusahaan dikelola oleh sebuah dewan direksi yang terdiri dari seorang ketua,
seorang bendahara, dan tujuh anggota. Ketua dan bendahara dipilih dari mereka
yang memiliki minimal sepuluh saham. Sedangkan anggota dipilih dari mereka yang
memiliki minimal lima saham, dengan syarat mereka termasuk dari kalangan
Al-Ikhwan Al-Muslimun.
5 -
Perkumpulan Al-Ikhwan Al-Muslimun Umum di Kairo saat ini dan setelah pendirian
perusahaan selama masa berdirinya, memiliki hak untuk mengaudit pembukuan
perusahaan dan mengambil 2,5% dari modal, keuntungan, dan tambahannya setiap
tahun, yang disalurkan ke dalam pos-pos zakat syar'i melalui pengetahuannya.
6 -
Dewan direksi perusahaan memulai, sejak tanggal pendirian hingga terkumpulnya
modal yang cukup untuk menjalankan operasi investasi besar, dengan
menginvestasikan hasil penagihan dari angsuran bulanan dan lainnya untuk
mendapatkan seluruh kebutuhan para Ikhwan sesuai dengan permintaan mereka
dengan harga grosir, serta menyampaikannya kepada mereka dengan harga yang
sesuai.
7 -
Keuntungan didistribusikan setiap tahun sebagai berikut:
10
persen sebagai bonus/mewakili kompensasi untuk dewan direksi.
20
persen untuk dana cadangan.
50
persen dibagikan kepada para pemilik saham sesuai dengan persentase dari apa
yang telah mereka bayarkan secara nyata dari harga saham tersebut.
Selanjutnya,
pihak manajemen telah menetapkan jangka waktu satu bulan dari tanggal ini untuk
menerima pendaftaran saham di perusahaan. Maka, barang siapa yang memiliki
keinginan untuk berkontribusi dengan satu saham atau lebih dalam perusahaan
ini, hendaklah menghubungi Al-Ikhwan Al-Muslimun di Medan Ratu Farida di Mesir
mengenai keinginannya. Diharapkan para Ikhwan akan bersegera untuk
berkontribusi dalam perusahaan ini yang—dengan karunia Allah—akan menjadi salah
satu sarana untuk meningkatkan apa yang akan diberikan oleh Al-Ikhwan
Al-Muslimun berupa pelayanan bagi Islam dan kaum muslimin. Setelah ini akan
diumumkan pelaksanaan acara pendirian perusahaan, insya Allah, dan Allah-lah
pemilik taufik.
Dalam
Rangka Menetapkan Pendidikan Agama sebagai Mata Pelajaran Pokok di
Lembaga-Lembaga dan Sekolah-Sekolah Mesir
Telah
dan masih menjadi bagian dari tujuan-tujuan para Ikhwan dan tuntutan-tuntutan
mereka agar agama memiliki kedudukannya di antara kurikulum pendidikan di
sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga Mesir. Mereka telah mengajukan dalam jalan
ini banyak memo dan petisi yang ditandatangani oleh mereka pada suatu waktu,
dan oleh masyarakat pada waktu yang lain.
Saya
ingat bahwa pada bulan Agustus tahun 1935, telah terkumpul di pihak kami
sejumlah besar petisi tuntutan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Pada saat
itu yang memimpin kementerian (perdana menteri) adalah Nasim Basya—semoga Allah
merahmatinya—dan di Kementerian Pendidikan adalah Naguib Al-Hilali Basya, serta
di pimpinan tertinggi Al-Azhar adalah yang mulia Al-Ustadz Al-Maraghi—semoga
Allah merahmatinya. Maka kami mengumpulkan petisi-petisi ini dan membentuk
sebuah delegasi besar yang diketuai oleh yang mulia Syaikh Muhammad Abdullah
Draz (pengajar di Al-Azhar), Al-Ustadz Syaikh Hamid Askariyyah—semoga Allah
merahmatinya, Syaikh Abdurrahman Draz (kepala desa Mahallat Syay saat
itu)—semoga Allah merahmatinya, Syaikh Abdu Ahmad Hasan (pengajar di Kementerian
Pendidikan saat ini), serta beberapa kepala desa dan tokoh masyarakat, lalu
kami pergi ke Aleksandria di mana kementerian berada.
Kami
meminta untuk menemui Said Zulfikar Basya, Kepala Rumah Tangga Istana (Kabir
al-Umana), dan kami menyerahkan kepadanya salinan dari petisi-petisi ini,
lalu beliau mendiskusikannya bersama kami. Kemudian beliau berkata bahwa ini
adalah wewenang Kepala Dewan Jenderal (Ra'is ad-Diwan), yang saat itu
dijabat oleh Ali Basya Maher. Karena kami tidak menemukannya, kami meninggalkan
satu salinan untuknya dan kami menitipkannya dengan baik kepada yang terhormat
Said Zulfikar Basya—semoga Allah merahmatinya.
Dan
kami menemui yang mulia Al-Ustadz Al-Akbar Syaikh Al-Maraghi. Kami terlibat
pembicaraan yang panjang bersama beliau mengenai prinsip itu sendiri, dan
diskusi yang terkadang mencapai tingkat ketegangan yang hangat. Beliau
menyampaikan kepada kami kisah berikut ini yang saya sebutkan sebagai bentuk
pelajaran ('ibrah).
Beliau
berkata bahwa hati kita telah mengeras, kita telah menjauh dari Islam, kita
telah meniru orang-orang asing (khawajat), dan kita tenggelam dalam
peniruan ini. Tampaknya bagi saya bahwa kita tidak akan kembali kepada Islam
melainkan setelah mereka (orang asing) memeluknya, lalu kita kembali kepadanya
melalui jalur mereka.
Kemudian
beliau juga berkata: "Saya sekarang baru datang dari Kairo dan bersama
saya putri kecil saya. Telah duduk bersama kami di kompartemen kereta seorang
wanita asing yang mulai berbicara panjang lebar bersamanya. Setelah kami turun
dari kereta dan menaiki mobil, si kecil langsung meminta kepada saya sejarah
hidup Umar bin Khattab dengan mendesak dan gigih. Saya merasa heran dengan
pertanyaannya karena itu mengejutkan dan tidak ada hal yang mendorong ke arah
sana. Saya katakan kepadanya: 'Mengapa kamu menginginkan sejarah hidup ini
dengan ketergesaan seperti ini?'"
Maka
ia menjawab: "Karena wanita asing itu menceritakan kepadaku tentang beliau
dengan cerita yang bagus." Maka saya berkata: "Subhanallah! Aku telah
menceritakan kepadamu tentang beliau—sedangkan aku adalah Syaikhul
Islam—sebanyak tujuh puluh kali, namun cerita itu tidak mendorongmu untuk
mencari sejarah hidupnya. Dan dalam satu sesi singkat serta obrolan selintas
bersama wanita asing, keinginanmu langsung terarah kepada sejarah hidupnya
dengan bentuk seperti ini!"
Kemudian
beliau juga berkata seraya mengucapkan apa yang dahulu diucapkan oleh Al-Ustadz
Al-Imam: "Aku khawatir kita akan merusak mereka sebelum mereka memperbaiki
kita."
Meskipun
dalam pandangan-pandangan tersebut terdapat kebenaran dan kekerasan, beliau
menjanjikan kepada kami bahwa beliau akan menjadi penolong bagi kami di hadapan
pemerintah dalam menetapkan pendidikan agama sebagai mata pelajaran pokok di
lembaga-lembaga dan sekolah-sekolah sipil Mesir.
Tampak
bagi kami setelah itu untuk menemui Musthafa An-Nahas Basya agar beliau
meratakan jalan bagi kami bersama Nasim Basya dan bersama Naguib Al-Hilali
Basya, karena didelegasikan bahwa pihak Wafd sangat sepaham dengan kementerian.
Ini adalah pertama kalinya saya menemui beliau—dan kami semua maju menemui
beliau atas nama kami sebagai para kepala desa, kecuali yang mulia Syaikh
Muhammad Abdullah Draz, karena pakaiannya, keutamaannya, ilmunya, dan metodenya
dalam berbicara telah menunjukkan jati dirinya. Meskipun Basya tidak memberikan
kami kesempatan berbicara melainkan sebatas kami menjelaskan urusan tersebut
secara ringkas, kemudian beliau menjanjikan bahwa beliau akan menghubungi Nasim
Basya dan Naguib Basya untuk mewujudkan keinginan ini. Keberadaan pria saleh
yang terhormat, Muhammad Basya Al-Maghazi bersama kami, memiliki pengaruh besar
dalam memudahkan pertemuan ini.
Serta
pemenuhan janji Basya kepada kami, di mana beliau benar-benar menghubungi
Kepala Pemerintahan dan Menteri Pendidikan, serta memudahkan bagi kami melalui
jalan ini untuk meyakinkan Menteri Pendidikan mengenai apa yang kami pandang
benar, dan mengajukan petisi-petisi kepada Kepala Pemerintah.
Kami
menemui Naguib Al-Hilali Basya dan berbincang panjang lebar dengannya. Beliau
sempat mencoba mengalihkan kami dari sudut pandang kami secara keseluruhan,
namun kemudian beliau berjanji untuk mewujudkan sebagian darinya. Dan benar,
dari hasil upaya ini, terjadilah beberapa perubahan dalam program studi
keagamaan, di antaranya: ketetapan untuk memajukan jam pelajarannya agar berada
di awal hari bukan di akhir hari, penetapan sebagian hafalan Al-Qur'an, serta
penggantungan kelulusan pada keberhasilan melewati ujian lisan dalam Al-Qur'an
al-Karim.
Dan
itu merupakan sebuah langkah awal di Majelis Perwakilan Rakyat (Parlemen)
setelah itu, Komite Pendidikan maju dan didukung oleh Al-Ustadz Sa'd al-Labban
dengan mengajukan laporan yang membela ide untuk menjadikan agama sebagai mata
pelajaran pokok. Maka para Ikhwan memandang perlu untuk melibatkan serta
mengikat komite tersebut, para anggota parlemen, serta anggota senat dalam
urusan ini. Mereka menyampaikan undangan kepada para tokoh tersebut untuk
menghadiri acara penghormatan umum yang komprehensif, yang diserukan oleh
majalah An-Nadzir dalam nomor kesembilan belas dari tahun kedua,
tertanggal 8 Jumadil Ula tahun 1358 H, dengan kalimat berikut:
Acara
Besar Al-Ikhwan Al-Muslimun di Istana Keluarga Luthfallah
Al-Ikhwan
Al-Muslimun bersikap lugas dalam dakwah mereka, tidak pernah ragu mengerahkan
waktu dan jiwa mereka di jalannya, serta tidak pernah melewatkan kesempatan dan
momen untuk memperkuat kebenaran, menghancurkan kebatilan, dan mengibarkan
panji Islam.
Mereka
telah melihat di dalam Majelis Perwakilan Rakyat dan Senat adanya perdebatan
lisan yang sekian lama telah mereka sulut dan persiapkan jalan untuknya.
Sekarang mereka ingin memperkokohnya, dan mereka akan mengumpulkan para anggota
parlemen serta senat yang terhormat dalam satu tempat, tanpa memandang
perbedaan kepartaian dan warna politik mereka. Pertemuan itu akan berlangsung
dalam spirit kekuatan dan kerja nyata demi membela agama Allah, dan hal
tersebut akan menjadi sebuah kemenangan nyata yang membawa dampak besar
setelahnya, insya Allah.
Acara
komprehensif ini akan diselenggarakan di Istana Keluarga Luthfallah di Zamalek
pada hari Rabu depan jam delapan malam, insya Allah. Dan tujuan dari acara ini
adalah:
Pertama:
Untuk menghormati spirit Islam yang tampak di Majelis Perwakilan Rakyat dan
Senat yang direpresentasikan oleh para wakil rakyat yang membela agama Allah.
Kedua:
Untuk memberikan dorongan semangat bagi orang-orang yang masih ragu-ragu dalam
menyokong orang-orang beriman.
Ketiga:
Untuk menyeru orang-orang yang di dalam hatinya terdapat dinding penutup dan di
telinganya tersumbat, agar beralih membela agama Allah dan meninggikan
kalimat-Nya, karena hal itu lebih utama bagi mereka.
Keempat:
Sebagai peringatan bagi orang-orang yang berdiri menjadi batu sandungan di
jalan kebangkitan Islam, dan menghalangi manusia dari jalan Allah serta
menghendaki jalan yang bengkok.
Dan
akhirnya, untuk mengajak semua orang dari berbagai macam partai menuju
persatuan yang suci di bawah panji Islam.
Oleh
karena itu, ini akan menjadi sebuah perayaan luar biasa yang memperlihatkan
dakwah Al-Ikhwan Al-Muslimun dalam manifestasinya yang paling agung, insya
Allah.
Di
antara para orator yang mulia yang akan hadir adalah: Yang Mulia Pangeran
Syakib Arslan, Yang Mulia Aluba Basya, Al-Ustadz Besar Mahmud Basayuni, Anggota
Parlemen yang Terhormat Sa'd al-Labban, yang mulia Syaikh Abdul Lathif Draz,
Dr. Abdul Hamid Said, Madkur Bek, Dr. Abdul Wahhab Azzam... dan lain-lain.
Serta
yang mulia Al-Mursyid Al-'Aam akan menyampaikan penjelasan mengenai sudut
pandang Al-Ikhwan Al-Muslimun yang digali dari spirit Islam.
Acara
ini akan dihadiri oleh para pembesar Kerajaan Mesir, tokoh-tokoh partai
politik, dan para pemimpin opini untuk mendengarkan kalimat Al-Ikhwan
Al-Muslimun. Dan Allah menyeru ke Darussalam (kampung kedamaian) dan memberikan
petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus.
Di
Antara Dampak Acara Penghormatan Wakil Rakyat di Istana Keluarga Luthfallah
Acara
penghormatan wakil rakyat di Istana Keluarga Luthfallah telah berakhir, dan
tampak jelas di dalamnya kehadiran para perwakilan dari berbagai partai politik
Mesir yang berbeda, begitu pula dari strata sosial yang bermacam-macam.
Acara
ini memiliki dampak-dampak yang awalnya terlihat kecil dan ringan, namun
berubah menjadi mendalam dan keras setelah berlalunya waktu yang singkat.
Sebab, sekelompok Ikhwan menilai bahwa Al-Ustadz Ahmad as-Sukkari—yang bertugas
mengawasi jalannya protokol acara dan memperkenalkan para orator—telah bersikap
menjilat sebagian tokoh; suatu bentuk penjilatan yang dibenci oleh para Ikhwan.
Beliau juga dinilai berusaha tampil menonjol sebagai pengatur utama yang
memerintah dan melarang, padahal hal itu bukan bagian dari karakter Ikhwan.
Beliau
dianggap mengutamakan sebagian orang untuk maju berpidato dan menghalangi orang
lain dari mimbar, serta mengarahkan urusan dengan cara yang menonjolkan
tendensi pribadi, padahal para Ikhwan tidak memahami kecuali bahasa kejelasan
dan istikamah yang sempurna.
Pada
pertemuan pertama setelah acara tersebut, catatan-catatan ini bermunculan. Saya
pun mulai membela beliau dan menafsirkan manifestasi-manifestasi tersebut
kepada para Ikhwan dengan penafsiran yang baik serta membawanya pada
kemungkinan yang paling positif, namun mereka tetap tidak merasa puas.
Perasaan
ini menjadi benih bagi penafsiran-penafsiran berikutnya terhadap banyak
tindakan serupa yang bermunculan. Masalah ini terus membesar hingga menjadi
fondasi fitnah yang melenyapkan sekelompok Ikhwan pilihan dan menghalangi
mereka dari aktivitas di medan perjuangan ini.
Penjelasan
detail mengenai hal tersebut akan kita lalui pada waktunya, dan Allah memiliki
ketetapan atas makhluk-Nya.
Buku
Al-Insya' al-Fanni
Sepanjang
tahun 1356 H / 1936 M, guru kami yang agung, Al-Ustadz Abdul Aziz Athiyyah—yang
telah saya sebutkan di awal memoar ini bahwa beliau adalah guru tarbiyah bagi
kami di Sekolah Dasar Keguruan di Damanhur, kemudian Allah menganugerahi kami
kebahagiaan menjadi rekan sejawatnya di Sekolah Dasar Umum Abbas—mengusulkan
kepada saya agar kami menulis sebuah buku mengenai komposisi sekolah (al-insya'
al-madrasi) yang dapat membantu para siswa mengatasi kesulitan-kesulitan
yang mereka hadapi dalam materi pelajaran ini. Arahan beliau adalah sebuah
perintah yang tidak bisa saya sikapi kecuali dengan ketaatan. Maka saya
menyetujuinya hingga kerja keras yang bersahaja ini menghasilkan buku Al-Insya'
al-Fanni yang tebalnya sekitar dua ratus enam puluh halaman ukuran
kuarto/sedang, dan saya kira salinannya sudah habis saat ini.
Demi
menetapkan kebenaran, saya sebutkan bahwa saya tidak memiliki kontribusi yang
besar di dalamnya. Al-Ustadz—semoga Allah membalasnya dengan kebaikan—telah
menyelesaikan sebagian besar aspek keilmuan hingga pengawasan cetak dan koreksi
teks, maka beliau adalah sebaik-baik mitra yang diberi taufik.
Majalah
Al-Manar
Pada
Kamis malam, 23 Jumadil Ula tahun 1354 H, bertepatan dengan 22 Agustus 1935,
Sayyid
Muhammad Rasyid Ridha, pemilik majalah Islam Al-Manar, wafat setelah
majalah tersebut memasuki usianya yang ketiga puluh lima. Dari volume ini baru
terbit dua nomor, yaitu nomor pertama dan kedua, kemudian majalah tersebut
berhenti terbit setelah sekian lama menjadi madrasah pemikiran yang melahirkan
banyak tokoh kebangkitan Islam modern.
Lalu
aktivitasnya sempat berlanjut kembali setelah beberapa waktu, di mana nomor
ketiga dari volume ketiga puluh lima terbit pada bulan Muharram 1355 H / Maret
1936 M, begitu pula dengan nomor keempat, sebelum akhirnya majalah tersebut
kembali berhenti terbit untuk kedua kalinya.
Para
Ikhwan merasa sangat berat jika cahaya dari lentera yang bersinar dengan ilmu
dan makrifat dari khazanah Islam yang lurus ini harus padam. Maka mereka
bertekad untuk bekerja sama dengan para ahli waris Sayyid—semoga Allah
merahmatinya—untuk menerbitkan kembali Al-Manar. Kesepakatan pun
berhasil dicapai, dan nomor kelima dari tahun ketiga puluh lima terbit pada
awal Jumadil Akhir 1358 H / 18 Juli 1939 M, yaitu beberapa bulan sebelum
meletusnya Perang Dunia Kedua. Langkah ini diikuti dengan penerbitan lima nomor
berikutnya yang menyempurnakan tahun ketiga puluh lima dari majalah tersebut,
sebelum akhirnya keluar perintah dari Penguasa Militer di bawah pemerintahan
Hussein Sirri Basya untuk mencabut izin terbitnya. Merupakan kewajiban bagi
para ahli waris Sayyid untuk menyerahkan amanah kelanjutan penerbitannya kepada
salah satu lembaga atau sebagian ulama agar dapat terbit kembali, karena di
dalamnya terdapat kebaikan yang banyak, insya Allah.
Yang
mulia Al-Ustadz Al-Akbar Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi, Syaikh Al-Azhar,
telah menulis sebuah pengantar untuk nomor kelima bertepatan dengan kembalinya
majalah tersebut untuk terbit. Berikut adalah teks tulisan beliau sebagai
bentuk pengingat dan catatan sejarah:
Semoga
Allah merahmati kedua Syaikh tersebut dan melimpahkan rida serta ampunan-Nya
kepada mereka, amin.
"Majalah
Al-Manar dahulu merupakan salah satu rujukan Islam yang tinggi, yang
mengurai problematika akidah dan fikih, serta merangkum persoalan sosial
kemasyarakatan, dunia Islam, beserta peristiwa, penyakit, dan kelemahannya.
Pemiliknya,
Sayyid Rasyid Ridha—semoga Allah merahmatinya—adalah seorang ulama yang
mengamalkan ilmunya, sosok yang penuh ghirah dan ikhlas terhadap Islam,
mencintai Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, serta atsar dari para salafus saleh.
Beliau mewakafkan hidupnya demi melayani agamanya dan umat Islam, serta
merupakan sosok yang berani dalam menyuarakan kebenaran, tidak takut kepada
siapa pun, dan tidak pernah bersikap menjilat atau pilih kasih.
Beliau
tumbuh di atas prinsip ini dan terus konsisten dengannya hingga menemui
Tuhannya. Setelah itu, majalah Al-Manar terhenti, sehingga dunia Islam
merasakan besarnya musibah dan kehilangan ini, karena tidak ditemukan lagi sepanjang
pengetahuan saya saat ini—sosok pria yang memiliki keluasan wawasan, tata
kelola yang baik, kearifan pandangan, serta ketajaman persepsi dalam urusan
politik syariat (al-siyasah al-syar'iyyah) yang dapat menyamai almarhum
Sayyid Rasyid.
Itu
adalah masa lalu yang agung yang kita lepas bersama rasa bangga sekaligus duka
mendalam. Sekarang, saya telah mengetahui bahwa Al-Ustadz Hasan al-Banna ingin
membangkitkan kembali Al-Manar dan mengembalikan rekam jejak awalnya,
maka hal ini membahagiakan saya. Karena Al-Ustadz Al-Banna adalah seorang
muslim yang memiliki ghirah tinggi terhadap agamanya, memahami lingkungan
tempat ia hidup, mengetahui titik penyakit di dalam tubuh umat Islam, serta
memahami rahasia-rahasia Islam. Beliau telah menjalin komunikasi yang sangat
kuat dengan masyarakat dari berbagai strata sosial mereka, dan menyibukkan
dirinya dengan perbaikan keagamaan dan sosial berdasarkan metode yang diridai
oleh para pendahulu (salaf) umat ini.
Akhirnya,
saya berharap untuk Al-Ustadz Al-Banna agar dapat berjalan mengikuti jejak
langkah Sayyid Rasyid Ridha, dan semoga taufik senantiasa menyertainya
sebagaimana taufik telah menyertai Sayyid Rasyid Ridha. Dan Allah adalah
sebaik-baik penolong, kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya kami memohon
pertolongan."
Contoh-Contoh
dari Perkemahan Al-Ikhwan Al-Muslimun...
Perkemahan
Wasithah Asyuth
Pada
musim panas tahun ini, 1358 H / 1939 M, para Ikhwan mendirikan sebuah
perkemahan kepanduan di Wasithah Asyuth di tepi sungai, yang berjalan mengikuti
model Perkemahan ad-Dakhilah di Aleksandria—yang telah disebutkan
sebelumnya—baik dari sisi sistem olahraga, spiritual, maupun kebudayaan.
Namun,
hal yang ingin saya catat adalah sikap dari saudara yang saleh dan orang tua
yang bertakwa, Haji Sulaiman Shalih al-Habarun, Syaikh (pimpinan) Ikhwan di
Bani Majd yang berada di bawah naungan Markas Manfaluth. Pria tersebut telah
melewati usia tujuh puluh tahun dan mendekati delapan puluh tahun, namun beliau
menolak kecuali ikut berpartisipasi bersama para Ikhwan di dalam perkemahan
ini. Ketika komandan perkemahan ingin mengistimewakannya dengan tempat dan
tugas yang nyaman, beliau menolak keras dan menuntut persamaan hak seutuhnya
antara dirinya dengan seluruh pemuda peserta perkemahan. Beliau mengikuti
seluruh latihan secara lengkap, menunaikan tugas piket harian secara utuh baik
dalam hal kebersihan, dapur, maupun air, serta berkontribusi dalam piket jaga
malam dan siang hari.
Beliau—semoga
Allah merahmatinya—bercerita langsung kepada saya bahwa dalam salah satu dinas
jaga malam sebelum fajar, beliau berkeliling memeriksa tenda-tenda yang diberi
nama dengan nama-nama pahlawan dari kalangan Sahabat: tenda ini bernama tenda
Abu Bakar, ini tenda Abu Ubaidah, ini tenda Khalid, dan yang lain tenda Sa'd
bin Abi Waqqash, demikian seterusnya. Di saat itu, terbayang oleh beliau
seolah-olah melihat para pemilik nama tersebut berada di dalam tenda-tenda
mereka, sehingga beliau dilingkupi rasa emosional dan hamasiah yang membuatnya
mengacungkan pedangnya di udara—dan pedang ini memiliki kisah tersendiri
nanti—lalu berseru dengan seluruh kekuatannya dengan suara lirih agar tidak
membangunkan orang tidur: "Allah Akbar walillahil hamd!" Beliau
berkata: "Tidak ada yang mengejutkanku melainkan ketika aku melihat
seberkas cahaya yang menghubungkan antara langit perkemahan dan buminya,
menyelimuti dan melingkupinya. Cahaya itu mengingatkanku pada seutas cahaya
yang aku lihat pada waktu maghrib di hari Arafah, yang membentang dari langit
menuju batu-batu besar di Jabal Rahmah pada tahun 1324 Hijriah saat aku
menunaikan ibadah haji. Maka aku tersibukkan menyaksikannya hingga berhenti
berseru. Cahaya itu berlangsung selama beberapa momen singkat kemudian segala
sesuatu kembali seperti semula, lalu aku melanjutkan tugasku membangunkan para
Ikhwan untuk bersiap mendirikan salat subuh. Aku tidak menceritakan hal ini
kepada siapa pun selain dirimu agar engkau merasa tenang dengan perkemahan ini,
dan agar engkau mengetahui bahwa kita—alhamdulillah—berada di atas cahaya dari
Tuhan kita..."
"...Aku
teralihkan oleh pemandangan tersebut hingga tidak melanjutkan seruan. Hal itu
berlangsung selama beberapa saat, kemudian semuanya kembali seperti semula,
lalu saya melanjutkan tugas saya membangunkan para Ikhwan untuk bersiap
mendirikan salat subuh. Dan saya tidak menceritakan hal ini kepada seorang pun
selain Anda agar Anda merasa tenang dengan kondisi perkemahan, dan agar Anda
mengetahui bahwa kita berada di atas cahaya petunjuk dari Tuhan kita..."
Adapun
kisah pedang tersebut adalah bahwa ketika Haji Sulaiman—semoga Allah
merahmatinya—diterima di perkemahan dan namanya dipanggil di antara barisan
prajurit, beliau berkata: "Saya sangat berharap untuk menjadi penghuni
tenda Abu Bakar, namun saya tidak meminta hal tersebut agar tidak dinilai
sebagai prajurit pembangkang yang memilih sendiri jalannya dan menyalahi
sistem. Namun tidak lama kemudian saya dikejutkan oleh ucapan Akh Yusuf,
komandan perkemahan, yang berkata: 'Haji Sulaiman, di tenda Abu Bakar!' Maka
saya berkata dalam hati: 'Ini adalah awal dari taufik,' dan saya pun memuji
Allah."
"Dan
ketika pembagian jadwal tugas jaga, komandan peleton memanggil saya untuk
memberi tahu giliran jaga saya. Saya pun keluar bersamanya dan berkata: 'Apakah
ada penjaga yang bertugas tanpa memegang senjata? Dan di mana pedang yang akan
saya gunakan untuk berjihad?' Maka beliau tersenyum dan berkata: 'Senjata itu
ada dan saya akan memerintahkan agar diserahkan kepadamu.' Tidak lama kemudian
beliau memerintahkan untuk membawakan sebuah pedang kuno bersejarah (atsariyyah)
yang telah disumbangkan oleh salah seorang Ikhwan untuk perkemahan, lalu
menyerahkannya kepada saya seraya tersenyum. Saya pun menerimanya dengan penuh
rasa gembira dan langsung menyandangnya saat itu juga, serta meyakini bahwa hal
tersebut merupakan bentuk taufik yang lain, dan bahwa amal usaha kita di
perkemahan ini adalah rangkaian dari taufik-taufik Allah, walhamdulillah."
Dengan
ruh semacam inilah para Ikhwan mendirikan perkemahan-perkemahan mereka dan
menjalankan berbagai dimensi aktivitas mereka di dalamnya. Semoga Allah
merahmati Haji Sulaiman dan memberikan keluasan baginya di dalam surga-Nya,
amin.
Perjalanan
Menuju Sa'id (Mesir Hulu)
Pada
bulan Jumadil Akhir tahun 1358 H, bertepatan dengan bulan Agustus 1931 M, saya
melakukan perjalanan menuju wilayah Sa'id dengan jadwal perjalanan sebagai
berikut:
Senin,
7 Agustus 1939 M: berangkat dari Kairo dengan kereta jam 15.40 sore menuju
Maghagha dan tiba dengan kereta jam 19.00 malam.
Selasa,
8 Agustus: dari Maghagha dengan kereta jam 18.59 sore menuju Bani Mazar dan
tiba dengan kereta jam 19.17 malam.
Rabu,
9 Agustus: dari Bani Mazar dengan kereta jam 19.17 malam menuju Al-Minya dan
tiba dengan kereta jam 20.11 malam.
Kamis:
dari Al-Minya dengan kereta jam 16.41 sore menuju Mallawi dan tiba jam 17.50
sore.
Jumat:
dari Mallawi dengan kereta jam 17.50 sore menuju Dairuth dan tiba jam 18.20
sore.
Sabtu,
12 Agustus: dari Dairuth dengan kereta jam 18.20 sore menuju Manfaluth dan tiba
jam 19.10 malam.
Ahad,
13 Agustus: dari Manfaluth menggunakan mobil menuju Sawadah dan Bani Majd.
Senin,
14 Agustus: dari Sawadah dan Bani Majd menggunakan mobil menuju Bani Adiyyat.
Selasa:
dari Manfaluth dengan kereta jam 19.20 malam menuju Asyuth dan tiba jam 19.42
malam.
Rabu,
16 Agustus: dari Asyuth menuju Al-Wasithah – Al-Sawalim – Al-Iqal.
Jumat,
18 Agustus: dari Asyuth dengan kereta jam 18.00 sore menuju Abu Tij dan tiba
jam 18.32 sore.
Senin,
21 Agustus: dari Abu Tij dengan kereta jam 14.44 siang menuju Jirja dan tiba
jam 16.04 sore.
Selasa,
22 Agustus: dari Jirja dengan kereta jam 18.51 sore menuju Al-Balyana dan tiba
jam 19.12 malam.
Jumat,
25 Agustus: dari Jirja dengan kereta jam 21.30 malam menuju Naj' Hammadi dan
tiba jam 22.25 malam.
Senin,
28 Agustus: dari Naj' Hammadi dengan kereta jam 17.49 sore menuju Qena dan tiba
jam 19.00 malam.
Selasa,
29 Agustus: dari Qena dengan kereta jam 16.51 sore menuju Qush dan tiba jam
17.30 sore.
Rabu,
30 Agustus: dari Qush dengan kereta jam 17.30 sore menuju Luxor dan tiba jam
18.00 sore.
Sabtu,
2 September: dari Luxor dengan kereta jam 16.15 sore menuju Esna dan tiba jam
17.20 sore.
Ahad,
3 September: dari Esna dengan kereta jam 16.15 sore menuju Asfun dan tiba jam
17.20 sore.
Senin,
4 September: dari Asfun menuju Thafnis.
Selasa,
5 September: dari Thafnis menuju Al-Kiman.
Rabu,
6 September: dari Esna dengan kereta jam 17.30 menuju Al-Kilkh jam 18.30.
Kamis,
7 September: dari Al-Kilkh menuju Edfu.
Jumat,
8 September: dari Edfu dengan kereta jam 8.40 menuju Daraw jam 9.50.
Jumat,
8 September: dari Daraw dengan kereta jam 16.07 sore menuju Aswan dan tiba jam
16.50 sore.
Ahad:
dari Aswan dengan kereta jam 5.20 pagi menuju Kairo.
Pengumuman
Perang Dunia Kedua
Saya
masih ingat hari itu, tanggal 3 September, ketika saya sedang berada di Esna
dan Perhang Dunia Kedua diumumkan. Pada sore harinya, kami berpindah menuju
Asfun al-Matha'nah dan kami disambut di sana dengan tembakan senapan ke udara.
Saya pun memandang para Ikhwan dan berkata kepada mereka: "Tenanglah wahai
para Ikhwan, medan laga bukan di sini dan masanya bukan hari ini. Jika umur
kalian panjang, kalian akan melihat banyak hal setelah ini. "Bersabarlah
kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu),
dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran:
200)"
Kementerian
Ali Maher Basya Tahun 1358 H – 1939 M
Dan
Sebuah Contoh Mengenai Sikap Al-Ikhwan Al-Muslimun terhadap Berbagai Kabinet
Pemerintahan
Kabinet
pemerintahan Muhammad Mahmud Basya telah jatuh, dan Ali Maher Basya membentuk
kabinet baru pada bulan Agustus 1939 M. Majalah An-Nadzir selaku organ
resmi Al-Ikhwan Al-Muslimun menyambutnya dengan artikel utama pada nomor 27
tertanggal 6 Rajab tahun 1358 H, yang ditulis oleh Al-Ustadz Sabir Asymawi
selaku pemimpin redaksinya, dengan judul: Kementerian Baru dan Sikap yang
Lama.
Di
dalam artikel tersebut termuat tulisan berikut ini:
"...Dan
hari ini, kendali urusan pemerintahan dipegang oleh kementerian baru yang
dipimpin oleh yang terhormat Ali Maher Basya, yang dibantu di dalamnya oleh
para menteri dari kalangan Sa'diyyin serta menteri-menteri independen lainnya,
sementara kalangan liberal konstitusional (Al-Ahrar ad-Dusturiyyun)
memilih absen dari keikutsertaan kabinet seraya berjanji untuk tetap mendukung
dan bekerja sama dengannya.
Mungkin
akan terlintas di dalam benak pembaca sebuah pertanyaan: Apakah sikap Al-Ikhwan
Al-Muslimun terhadap kementerian baru ini?
Dan
sebelum kami menjawab pertanyaan ini, kami ingin memberikan pengantar berupa
sebuah hakikat yang kokoh, yaitu bahwa Al-Ikhwan Al-Muslimun bukanlah sebuah
partai di antara partai-partai politik yang memberikan dukungan atau melakukan
oposisi berdasarkan tendensi kepartaian atau demi mengejar kemanfaatan
personal. Namun, Al-Ikhwan Al-Muslimun adalah sebuah dakwah Islamiah
Muhammadiah yang menjadikan Allah sebagai tujuannya, Rasul—shalawatullah
'alaihi wa salam—sebagai teladannya, dan Al-Qur'an sebagai konstitusinya. Ia
memiliki program dengan batasan-batasan yang jelas serta karakteristik menonjol
yang bertujuan untuk memperbarui nilai Islam pada abad ke-14, menorehkan corak
Islam pada kehidupan Mesir, serta menegakkan dominasi ajaran Al-Qur'an atas
segala manifestasi kehidupan, baik dari aspek legislasi, sosial, politik,
maupun ekonomi. Sebagaimana ia juga bertujuan untuk membebaskan setiap jengkal
tanah yang di atasnya terdapat embusan napas yang melantunkan La ilaha
illallah Muhammad Rasulullah, dan akhirnya menyebarkan Islam serta
mengibarkan panji Al-Qur'an di setiap tempat hingga tidak ada lagi fitnah dan
agama ini seluruhnya hanya milik Allah.
Ini
merupakan sebuah program besar yang tidak dapat ditandingi oleh program mana
pun dari partai-partai politik yang ada, jika memang mereka memilikinya.
Hal
ini di mata banyak orang mungkin dinilai sebagai salah satu bentuk fantasi atau
bagian dari angan-angan semata, namun kami mengimaninya, dan kami percaya pada
diri kami dengan bersandar pada pertolongan Allah.
Oleh
karena itu, sikap kami terhadap kabinet Ali Basya Maher adalah sikap kami
terhadap kabinet mana pun; sebuah sikap lama yang tidak pernah berubah karena
bergantinya kabinet dan tidak berganti dengan bergantinya para menteri. Barang
siapa yang mendukung fikrah Islamiah, beramal untuknya, istikamah pada dirinya
dan rumah tangganya, serta berpegang teguh pada ajaran Al-Qur'an dalam
kehidupan privat maupun publiknya, maka kami akan menjadi pendukung dan
penyemangat baginya. Sebaliknya, barang siapa yang menentang dakwah Islamiah,
tidak beramal untuknya, bahkan berdiri menghalangi jalannya atau mencoba
menindasnya, maka kami akan menjadi musuh dan penentang baginya. Dan kami dalam
kedua kondisi tersebut hanyalah mendukung, menentang, mencintai, dan membenci
karena Allah semata.
Dan
di sekitar Ali Maher Basya dilingkupi oleh propaganda baik yang besar, serta
didahului oleh harapan-harapan yang manis dan cita-cita yang indah dalam hal
perbaikan dan penyelamatan. Yang المفروض [seharusnya] dilakukan oleh seorang muslim
adalah berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak ada hal yang menghalangi
kami untuk berprasangka baik kepada Ali Basya Maher beserta para menterinya.
Namun, berbagai pengalaman telah mengajarkan kami...
Agar
kita tidak memercayai janji-janji, tidak membenarkan perkataan-perkataan, dan
tidak berlebihan dalam menaruh harapan.
Biarlah
Ali Pasya Mahir menjadi seperti apa yang mereka katakan dan bahkan lebih dari
apa yang mereka katakan. Biarlah kementeriannya menghasilkan
perbaikan-perbaikan sebagaimana yang mereka harapkan dan bahkan lebih banyak
dari apa yang mereka harapkan. Namun, kami tidak akan memperbarui sikap kami
dan tidak akan menjatuhkan keputusan kami kecuali berdasarkan perbuatan nyata,
bukan sekadar kata-kata. Dugaan kuat saya, seorang pria seperti Ali Pasya Mahir
yang dikenal cepat dalam bekerja dan berani dalam melakukan reformasi, akan
segera memaksa kita untuk berbicara guna mendukungnya atau menentangnya.
Mari
kita mengharapkan kebaikan dan mari kita menunggu, karena penantian kita tidak
akan lama.
Contoh-Contoh
dari Kultum Hari Selasa dan Kamis
Pelajaran
hari Selasa telah berjalan secara konsisten dan para pengunjung yang
menghadirinya pun semakin banyak. Mereka mengusulkan agar pelajaran ini
dibentuk menjadi sebuah rangkaian ceramah kebudayaan Islam yang memiliki
silabus (daftar isi) yang jelas.
Sebagaimana
para mahasiswa dari kalangan Ikhwan juga mengusulkan agar mereka memiliki sesi
ceramah tersendiri pada hari Kamis malam Jumat. Sebab, ini adalah waktu yang
paling sesuai bagi mereka, dengan memilih tema-tema yang cocok dan dapat
menjawab syubhat (keraguan) yang ada di dalam jiwa sebagian dari mereka.
Usulan-usulan ini ternyata sejalan dengan keinginan di dalam hati saya. Oleh
karena itu, disusunlah daftar isi pertama ini untuk ceramah hari Selasa, dan
daftar isi kedua ini untuk ceramah hari Kamis. Sebagian besar dari materi
tersebut telah disampaikan secara nyata sebelum dikeluarkannya instruksi
militer dan sebelum adanya larangan berkumpul. Sedianya materi-materi tersebut
akan dirangkum dan diterbitkan rangkumannya, namun keterbatasan waktu
menghalangi hal itu. Semoga kekurangan ini dapat dikejar di masa yang akan
datang, dan segala urusan berada di tangan Allah.
A -
Ceramah Hari Selasa:
- 10 Syawal 1358 H / 21
November 1939 M: Islam sebagaimana yang seharusnya kita pahami.
- 17 Syawal / 28 November:
Sumber-sumber pemikiran Islam, fase-fase perkembangannya, serta ilmu-ilmu
yang berkaitan dengan Islam.
- 24 Syawal / 5 Desember
1939 M: Ilmu-ilmu Al-Qur'anul Karim dan para tokohnya.
- Awal Zulkaidah / 12
Desember: Tafsir, kitab-kitabnya, dan para tokohnya.
- 8 Zulkaidah / 19
Desember: Hadis, istilahnya (musthalah), ilmu-ilmunya, dan
kitab-kitabnya.
- 15 Zulkaidah / 26
Desember: Ilmu Kalam, sekte-sektenya, dan kitab-kitabnya.
- 22 Zulkaidah / 2 Januari
1940 M: Fikih cabang (furu'), kitab-kitabnya, ushul fikih, dan para
tokohnya.
- 29 Zulkaidah / 9
Januari: Tasawuf, nasihat (wa'zh), kitab-kitabnya, dan para tokohnya.
- 16 Januari:
Kisah-kisah, sirah (sejarah hidup), tarikh (sejarah umum), thabaqat
(biografi tokoh), dan para tokohnya.
- 23 Januari:
Ilmu-ilmu alat, kemunculannya, dan pengaruhnya di dalam kitab-kitab Islam.
- 30 Januari:
Sekte-sekte politik dan pengaruh politik terhadap pemikiran Islam di masa
lalu "Syiah dan Khawarij".
- 6 Februari:
Kebangkitan Barat modern dan pengaruhnya terhadap pemikiran Islam.
- 13 Februari: Arus
perbaikan modern dan kelompok-kelompok pembaru kontemporer.
- 20 Februari: Invasi
Barat secara ilmiah dan spiritual terhadap dunia Islam serta dampaknya di
dalamnya.
- 27 Februari:
Kaidah-kaidah tasyri' (legislasi/hukum) yang umum dalam Islam.
- 5 Maret: Islam,
penelitian ilmiah, dan filsafat eksperimental.
- 12 Maret: Akidah
Islam - Sang Pencipta Subhanahu wa Ta'ala.
- 19 Maret: Dunia di
balik materi (alam gaib) sebagaimana yang digambarkan oleh Islam -
Malaikat dan Jin.
- 26 Maret: Akhir
perjalanan hidup individu sebagaimana yang digambarkan oleh Islam -
Kematian, Kebangkitan, Hisab (Perhitungan amal), Jaza' (Balasan), ... dst.
- 2 April 1940 M:
Akhir dunia dan permulaannya sebagaimana yang dipandang oleh Islam -
Permulaan penciptaan, Hari Kiamat beserta tanda-tandanya.
- 9 April: Hubungan
manusia dengan alam malakut tertinggi - Kenabian, Kewalian, dan hal-hal
yang berkaitan dengannya.
- 16 April:
Kitab-kitab samawi terdahulu dan sikap Islam terhadapnya.
- 23 April:
Ibadah-ibadah dalam Islam: ibadah pikiran, ilmu, penampilan, dan tilawah.
- 30 April: Ibadah
hati - Shalat dan rukun-rukun penguatnya.
- 7 Mei 1940 M:
Masjid.
- 14 Mei: Ibadah badan
"Puasa dan qiyamul lail".
- 21 Mei: Ibadah
bernilai ekonomi: Mata pencaharian, infak, kepemilikan, dan zakat.
- 28 Mei: Ibadah
sosial "Haji".
- 4 Juni 1940 M:
Ibadah-ibadah sunnah: shalat, puasa, zikir, dan doa.
- 11 Juni: Ibadah
tujuan "Niat yang saleh".
B -
Ceramah Hari Kamis
- 3 Zulkaidah 1358 H / 14
Desember 1939 M: Tentang kepekaan perasaan dan memahami sisi-sisi
kelemahan serta kekuatan.
- 10 Zulkaidah / 21
Desember: Tentang kesiapan total untuk berkorban dan keimanan terhadap
hak jamaah atas diri individu.
- 17 Zulkaidah / 28
Desember: Tentang ketulusan (tajarrud) demi pemikiran.
- 24 Zulkaidah / 4 Januari
1939 M: Tentang iman yang mendalam terhadap karakteristik dakwah.
- 18 Januari: Tentang
iman terhadap prinsip-prinsip dakwah yang aplikatif.
- 25 Januari: Tentang
penyempurnaan diri (takamul).
- 2 Februari: Tentang
penyucian diri (tathahhur).
- 9 Februari: Tentang
pengaruh (ta'tsir).
- 16 Februari: Dalam
bidang politik "Tujuan-tujuan perbaikannya".
- 23 Februari: Dalam
bidang administrasi.
- 1 Maret 1940 M:
Dalam bidang militer (jundiyah).
- 8 Maret: Dalam
bidang peradilan.
- 15 Maret: Dalam
bidang pendidikan.
- 22 Maret: Dalam
bidang kebudayaan.
- 29 Maret: Dalam
bidang akhlak.
- 5 April: Dalam
bidang ekonomi.
- 12 April: Dalam
bidang kesehatan.
- 19 April: Dalam
bidang rumah tangga.
- 26 April: Dalam
bidang masyarakat.
Kepada
Yang Terhormat Perdana Menteri
Pada
bulan Sya'ban tahun 1358 H yang bertepatan dengan bulan Oktober tahun 1939
M—yaitu beberapa hari setelah deklarasi perang—saya mengajukan memorandum ini
kepada Perdana Menteri:
Ke
hadapan yang memiliki kedudukan tinggi, Ali Mahir Pasya, Perdana Menteri.
Saya
memuji kepada Allah bersama Anda, yang tiada Tuhan selain Dia, dan saya
bersalawat serta mengucapkan salam kepada junjungan kita Muhammad, semoga
shalawat dan salam Allah tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabatnya,
serta siapa saja yang mengikuti petunjuknya. Saya ucapkan tahniah kepada Anda: Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du:
Sesungguhnya
Allah telah menghendaki Anda untuk memikul beban pemerintahan dalam
situasi-situasi yang sangat sulit dan kritis, yang penuh dengan kejutan serta
gejolak. Kondisi ini menuntut kewaspadaan penuh, perhatian besar, kontinuitas
dalam berpikir, serta tindakan yang tepat. Kita tidak tahu, barangkali Allah
Tabaraka wa Ta'ala—yang Maha Penyayang terhadap negeri ini dan penduduknya—akan
melahirkan kesatuan langkah yang nyata, jihad yang berkesinambungan, serta
manfaat-manfaat yang tidak pernah terlintas dalam pikiran dari situasi yang
sulit ini.
Dalam
situasi seperti ini, Anda sangat membutuhkan seluruh komponen umat untuk berada
di sisi Anda, agar Anda dapat menyerap kekuatan pendapat dari mereka serta
mendapatkan dukungan dalam menghadapi situasi-situasi yang menyulitkan,
intimidasi, saat-saat bahaya, dan kesewenang-wenangan. Sesungguhnya saat ini
adalah waktu yang genting yang menyeru setiap warga Mesir untuk mempersembahkan
segala apa yang dimilikinya.
Anda
telah menunjukkan perhatian Anda yang terhormat terhadap urusan-urusan sosial
dan perbaikan internal, yang direpresentasikan dalam pembentukan Kementerian
Urusan Sosial dan gagasan tentang Pasukan Pengawal (al-Jaisy al-Murabith).
Sungguh,
Ikhwanul Muslimin telah mengambil sikap netral yang sepenuhnya terhadap
kementerian-kementerian sebelumnya, termasuk kementerian Anda yang lalu. Mereka
tidak mengajukan bantuan kepada satu pun dari kementerian tersebut, sebagaimana
mereka juga tidak akan pernah meminta dan tidak akan pernah menerima bantuan
dari salah satu pun darinya. Karena Ikhwan mengetahui bahwa apa yang mereka
bebankan pada diri mereka sendiri berupa mendidik rakyat dan menanamkan
pemikiran-pemikiran yang saleh lagi kuat di dalam jiwa mereka, jauh lebih
membawa hasil dan lebih bermanfaat bagi mereka dan umat, daripada berhubungan
dengan pemerintah-pemerintah yang saat ini tidak disibukkan kecuali oleh
pertikaian kepartaian yang tidak bermutu. Poin yang kokoh inilah yang memberikan
pengaruh dalam menjauhkan Ikhwan dari sentimen gejolak kepartaian dan
pemerintahan.
Dan
sekarang, ketika situasi telah mengepung negeri ini dengan kondisi yang menyeru
setiap warga Mesir untuk berterus terang kepada Anda mengenai pendapatnya dan
menyokong Anda dengan pemikirannya, serta pemerintah telah memulai
tindakan-tindakan yang mewajibkan setiap orang yang memiliki ghirah (semangat
membela Islam) untuk menolong dan bekerja demi keberhasilannya, maka Ikhwan
menyampaikan pernyataan ini kepada Anda guna menjelaskan pandangan mereka serta
menawarkan bantuan dan dukungan mereka kepada pemerintah. Jika pemerintah
benar-benar serius dalam melakukan perbaikan, maka kami bersamanya. Namun, jika
ia menempuh jalan selain itu dan rida terhadap perbaikan sekadar dengan
mengumumkannya saja, menyusun proposal-proposal serta pandangan di dalamnya, dan
membentuk komite-komite yang tidak kompeten serta tidak bekerja, maka kami akan
tetap terus bekerja di medan kami sampai Allah memberikan keputusan di antara
kami dan kaum kami dengan kebenaran, dan Dia adalah sebaik-baik Pemberi
Keputusan. Dengan begitu, kami telah memiliki uzur di hadapan Allah, para penguasa,
dan manusia, serta kami keluar dari tusukan hati nurani dan tanggung jawab atas
kelalaian. Dan Allah adalah Pemberi Petunjuk ke jalan yang lurus.
Pandangan
Ikhwanul Muslimin Terhadap Posisi Internasional Mesir
Wahai
Tuan yang Terhormat, sesungguhnya posisi internasional Mesir harus jelas dan
tegas , dan pemerintah tidak boleh melibatkan diri dalam sesuatu yang bukan
urusannya dan tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Sesungguhnya
kita adalah umat yang merdeka dengan kemerdekaan yang sepenuhnya berdasarkan
hukum internasional. Di antara kita dan Inggris terdapat perjanjian aliansi
yang diterima oleh orang yang menerimanya di bawah tekanan situasi dan kondisi
khusus, bukan sebagai tujuan akhir yang dicita-citakan oleh Mesir, melainkan
sebagai sebuah langkah di jalan merealisasikan tujuan-tujuan Mesir yang mulia.
Pasal
(7) dari perjanjian ini menegaskan bahwa bantuan-bantuan Mesir kepada Inggris
hanyalah berada di dalam wilayah negeri Mesir dan terbatas dalam batas-batas
tertentu.
Mesir
telah senantiasa setia dengan sepenuh kesetiaan terhadap komitmen-komitmen ini
dan telah berbuat semaksimal mungkin yang dapat dilakukan dalam hal itu. Maka,
setiap penambahan atas hal ini tidak dapat diterima oleh orang Mesir mana pun,
apa pun warna kepartaian atau politiknya. Setiap penambahan atas hal ini
merupakan tindakan meremehkan serta menyia-nyiakan hak-hak tanah air ini,
sekaligus kejahatan terhadap umat yang sedang bangkit lagi setia ini.
Ikhwanul
Muslimin—yang memandang bahwa perjanjian Mesir-Inggris tersebut mengandung
ketidakadilan yang besar terhadap hak-hak Mesir dan kemerdekaannya yang
penuh—menginginkan agar pemerintah Mesir tidak melewati batas-batas yang telah
digariskan ini bagaimanapun kondisinya, terlepas dari apa pun motifnya. Mereka
juga ingin agar pemerintah memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengambil
keuntungan dari situasi saat ini guna menghancurkan belenggu dan rantai yang
mengikat kebebasan kita, kemerdekaan kita, serta hak-hak kebangkitan kita. Jika
ada negara mana pun yang menyerang kita sementara kita berada di tanah kita,
maka setiap jengkal dari tanah Mesir yang berharga ini tebusannya adalah darah,
nyawa, harta, dan anak-anak. Ikhwanul Muslimin pada saat itu berada dalam
kesiapan penuh untuk mempertahankan wilayah tanah air ini dengan segala apa
yang mereka miliki dari jiwa dan harta.
Sesungguhnya
negara-negara Eropa itu, wahai Bapak Presiden, apa pun coraknya, tidak memiliki
perjanjian dan tidak dapat dipegang janjinya. Bagaimanapun mereka menampakkan
kenetralan dan persahabatan, sesungguhnya mereka menyembunyikan hal yang
berbeda dari apa yang mereka tampakkan. Mereka tidak akan ragu untuk
mendustakan diri mereka sendiri jika mereka menemukan kemaslahatan mereka di
dalam pendustaan tersebut. Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk tidak
tertipu oleh kenetralan pihak yang netral, melainkan harus ada kesiapan total
dengan segala maknanya, dengan segala kecepatan dan kesungguhan, sehingga kita
menghadapi bahaya sementara kita berada dalam kesiapan yang sempurna. Maka mari
kita berdiri pada posisi netral, dan kita akan bekerja keras untuk
bersiap-siap.
Pandangan
Ikhwan Mengenai Perbaikan Internal
Adapun
perbaikan internal, maka aspek-aspeknya sangat banyak dan beragam, dan telah
diuraikan oleh para penulis serta konseptor dengan penjelasan dan klarifikasi.
Akan tetapi, Ikhwanul Muslimin ingin membatasi pembicaraan dalam pernyataan
mereka ini pada dua hal, yaitu: spirit (ruh) yang harus mendominasi perbaikan
ini, dan orang-orang yang melaksanakannya.
Kemudian
mereka menerapkan hal tersebut pada gagasan Pasukan Pengawal dan gagasan
Kementerian Urusan Sosial.
Wahai
Tuan yang Terhormat: Sesungguhnya kita telah mewarisi Islam dan
ajaran-ajarannya sejak beberapa generasi, dan kepemimpinan Islam serta keimaman
kaum muslimin telah berakhir di Mesir tanpa ada keraguan dalam hal itu. Namun,
telah menyusup kepada kita dari Eropa sistem-sistem dan pemikiran-pemikiran
yang di antaranya ada yang sejalan dengan pemikiran Islam, dan di antaranya ada
yang membentur serta bertentangan dengannya. Pemikiran-pemikiran Eropa ini
masih terus menjalankan perannya dan mencengkeram jiwa banyak kaum terpelajar
di Mesir.
Ikhwanul
Muslimin meyakini bahwa satu-satunya jalan untuk perbaikan adalah Mesir kembali
kepada ajaran-ajaran Islam lalu menerapkannya dengan penerapan yang benar,
serta mengadopsi setiap pemikiran lama maupun baru, timur maupun barat, yang
tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran ini dan mengandung kebaikan bagi umat.
Spirit yang harus mendominasi gagasan perbaikan pada kita adalah gagasan
bersandar pada kaidah-kaidah Islam, ushul (prinsip), serta spiritnya.
Adapun
orang-orang yang melaksanakan perbaikan ini dan diserahkan urusannya kepada
mereka, maka mereka harus termasuk orang-orang yang dikenal menghormati
pemikiran ini, dan setidaknya tidak menampakkan secara terang-terangan apa yang
menyelisihinya.
Adapun
orang-orang yang telah teracuni oleh kewajiban taklid (membebek) kepada
orang-orang Barat dalam segala hal, dan mereka berjalan dalam kehidupan pribadi
mereka serta kurikulum umum mereka di atas kaidah Eropa murni ini , maka mereka
ini tidak mungkin dapat mewujudkan perbaikan di tangan mereka, dan pemikiran
mereka tidak akan menghasilkan apa yang sejalan dengan gagasan kembali kepada
ajaran-ajaran Islam.
Saya
yakin bahwa Anda yang terhormat sependapat dengan saya bahwa memilih
orang-orang yang diserahi tugas menyusun program-program perbaikan dan
melaksanakannya, jauh lebih penting daripada program-program itu sendiri.
Karena undang-undang pada hakikatnya adalah hakim yang memahami dan bertugas
untuk melaksanakan serta menggunakannya.
Di
atas kedua fondasi inilah, wahai Tuan yang Terhormat, Ikhwanul Muslimin
menginginkan pemerintah berjalan dalam perbaikan-perbaikannya.
Mereka
meyakini bahwa jika pemerintah ikhlas dalam hal ini, memperhatikannya,
benar-benar berniat untuk itu, serta tidak mempedulikan desas-desus orang-orang
yang menyebarkan berita bohong, tuduhan orang-orang yang melakukan kebatilan
lagi terurai ikatannya, serta kekesalan orang-orang permisif yang lalai, maka
sesungguhnya Allah akan menolongnya dan rakyat akan mendukungnya. Barang siapa
yang ditolong oleh Allah dan didukung oleh rakyat, maka ia tidak akan pernah
dikalahkan.
Pemerintah
telah memilih Profesor Abdurrahman Azzam untuk memimpin Pasukan Pengawal, dan
beliau dikenal menghormati gagasan kembali kepada ajaran Islam serta tidak
menampakkan apa yang menyelisihinya. Pilihan pemerintah terhadap beliau untuk
melaksanakan tugas ini adalah pilihan yang sukses, insya Allah.
Pemerintah
juga telah memilih Dr. Abdel Monem Riad untuk sekretariat Urusan Sosial, dan
beliau juga mengagumi ajaran agamanya serta menjaga agar orang-orang tidak
mengetahui darinya apa yang bertentangan dengan ajaran ini.
Akan
tetapi, masing-masing dari kedua tokoh tersebut—di samping kapabilitas yang
mereka miliki—sangat membutuhkan para pembantu yang ikhlas serta asisten yang
kompeten yang memenuhi syarat ini. Maka, apakah pemerintah telah memperhatikan
hal ini?
Apa
yang kami lihat adalah bahwa pemerintah telah memilih untuk banyak urusan
penting di Pasukan Pengawal dan di Kementerian Urusan Sosial orang-orang yang
menganggap diri mereka hanya sekadar pegawai saja. Seluruh pekerjaan mereka
hanyalah mengisi kolom-kolom absen dan menerima insentif. Dengan demikian,
perbaikan tidak akan terealisasi, dan jerih payah Azzam Bey serta Abdel Monem
Riad Bey dan selain keduanya akan hilang sia-sia. Karena jantung tidak akan
bisa bangkit tanpa adanya sayap yang membuatnya terbang, wahai Tuan yang
Terhormat: Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin telah mempraktikkan kedua profesi
tersebut secara praktik nyata sejak bertahun-tahun yang lalu. Telah terbentuk
pada diri mereka pengalaman dalam banyak urusan sosial di negeri ini, dan mereka
masih terus berkesinambungan dalam berkhidmat untuk perbaikan sosial ini dengan
segala jerih payah dan harta yang mereka miliki, tanpa mengharapkan balasan
dari siapa pun kecuali dari Allah. Mereka siap sepenuhnya untuk berkontribusi
memberikan bagian mereka dalam kewajiban-kewajiban ini. Ketika mereka
menjalankannya, mereka tidak melakukannya dengan spirit seorang pegawai yang
diberi beban tugas, melainkan dengan spirit seorang pembaru yang berkorban lagi
meleburkan diri dalam tujuannya.
Pemerintah
tinggal menyeru mereka dan melapangkan jalan bagi mereka untuk melihat
bagaimana kontribusi mereka.
Kami
tidak bermaksud dengan hal itu untuk memonopoli jalan kebaikan, tidak pula
untuk mendominasi sarana-sarana dan metode-metodenya.
Melainkan
kami ingin agar kami memiliki pandangan di dalam hal itu bersama dengan apa
yang telah kami peroleh berupa pengalaman, serta ikut berpartisipasi dalam
berkhidmat pada bidang spesialisasi kami yang telah kami geluti selama
bertahun-tahun.
Kami
tidak bermaksud dengan hal itu untuk membuka pintu pekerjaan dan mata
pencaharian bagi para pengangguran dari kalangan Ikhwanul Muslimin. Karena
orang-orang yang mengajukan diri untuk tugas ini semuanya adalah para pegawai
yang sudah merasa sangat nyaman di dalam pekerjaan mereka. Jika mereka
didelegasikan untuk khidmat ini, mereka akan melakukan pekerjaan ganda dan
jerih payah yang melelahkan lagi besar. Yang mendorong mereka melakukan itu
hanyalah keinginan untuk melakukan perbaikan, serta merealisasikan
tujuan-tujuan yang telah lama mereka usahakan untuk mencapainya dan mereka
tunggu-tunggu saat kedatangannya.
Orang-orang
akan mengatakan bahwa kaum reaksioner ingin mendominasi kebangkitan negeri ini,
dan menjulurkan jari-jari mereka dalam segala hal. Perkataan ini tidak ada
nilainya untuk didengar dan tidak sebanding dengan harga tinta yang ditulis
untuk menjawabnya. Maka kami memalingkan muka darinya menuju kepada apa yang
lebih membawa hasil dan lebih bermanfaat. Orang-orang yang mengatakan hal
tersebut akan melihat setelah perjalanan panjang dan banyaknya pengalaman,
bahwa kemenangan negeri ini, kejayaannya, serta penyediaan kebaikan baginya
akan berada di tangan orang-orang reaksioner ini—yaitu mereka yang memperbaiki
hubungan mereka dengan Allah, sehingga Allah menjamin dukungan bagi mereka dan
membekali mereka dengan taufik. "Serta Allah pasti akan menolong orang
yang menolong (agama)-Nya." [Catatan: Disadur dari QS. Al-Hajj:
40].
Jika
termasuk hak penguasa atas manusia adalah mereka menyampaikan nasihat kepadanya
setiap kali mereka melihat adanya manfaat dalam hal itu, maka saya memanfaatkan
kesempatan ini untuk menyampaikan catatan-catatan ini atas nama Ikhwanul
Muslimin kepada Anda yang terhormat.
Sudah
menjadi kewajiban Anda, wahai Bapak Presiden, dalam situasi saat ini yang
menuntut seluruh pemilik pandangan untuk bekerja sama menghadapi, mengambil
manfaat, serta membendung bahaya-bahayanya—terlebih lagi telah berlalu atas
Mesir fase-fase yang menghancurkan akhlak dan keutamaan-keutamaannya:
- Toleransi yang sepenuhnya
terhadap para penentang politik Anda, menghargai catatan-catatan mereka,
memberikan pujian atas hal-hal yang baik darinya, mencarikan uzur bagi
mereka dalam serangan-serangan yang sengit serta kritik-kritik khusus,
memanfaatkan setiap kesempatan untuk saling memahami dengan mereka, dan
memberikan hak-hak mereka secara sempurna dengan kemudahan serta tanpa
memberatkan dalam batas keadilan dan undang-undang. Dengan demikian,
matilah spirit kepartaian politik yang tidak memiliki makanan saat ini
selain kemaslahatan dan dendam kesumat. Hal-hal ini dapat diterima oleh
sifat santun dan keadilan. Anda telah menyeru mereka menuju persatuan dan
kerja sama, maka perkuatlah seruan ini dengan tindakan nyata.
- Keberlanjutan hubungan
dengan rakyat melalui kunjungan-kunjungan dari Anda yang terhormat dan
dari para pejabat tinggi dengan kesederhanaan serta ketawaduan, jauh dari
beban formalitas kedinasan dan kemegahan jabatan. Atau dengan berbicara
kepada manusia mengenai urusan-urusan penting mereka, dan dengan
membersamai sentimen serta perasaan mereka dalam bentuk kerakyatan yang
bukan berwujud belas kasihan. Juga dengan memberikan wasiat kepada para
pegawai agar memperbaiki muamalah (perlakuan) terhadap publik, serta
mengawasi mereka dalam hal itu dengan pengawasan yang ketat, disertai
penyederhanaan prosedur kedinasan yang rumit.
- Pemberantasan total
terhadap suap, nepotisme, dan penyakit perantara (titipan/orang dalam)
yang telah mewabah dalam segala hal pada seluruh kalangan. Maka biarlah
undang-undang dan kebenaran yang menjadi perantara dalam segala hal, dan
itu sudah cukup. Siarkan hal ini di tengah manusia dan terapkanlah secara
praktik nyata. Biarlah di dalam undang-undang terdapat kekuatan dan
ketegasan. Mari kita menanggalkan sebagian waktu dari perasaan belas kasih
kita terhadap kerabat dan kenalan, sampai kepercayaan terhadap keadilan
orang-orang yang mengurus kemaslahatan mereka kembali kepada manusia,
sehingga mereka merasakan keagungan kebenaran dan menghormati otoritas
keadilan.
- Penghematan total dalam hal
fasilitas sekunder (kemewahan) serta kemegahan jabatan, penyesuaian
gaji-gaji yang besar, dan penghapusan manifestasi kemewahan resmi di
kantor-kantor pemerintah beserta instansinya. Hendaklah hal ini dimulai
oleh para menteri itu sendiri, kemudian para pegawai tinggi setelah mereka.
Meskipun di dalam hal itu mungkin terdapat beberapa hal yang memberatkan,
maka biarlah hal itu terjadi. Biarlah beberapa orang dari umat ini
terbebani—walaupun sebagian menteri—demi memberikan contoh teladan yang
saleh dan memperbaiki apa yang telah rusak di dalam jiwa para pegawai
secara umum, dan di belakang mereka adalah masyarakat luas secara umum.
- Perhatian terhadap
urusan-urusan ekonomi. Sesungguhnya kondisi kemiskinan mutlak yang
diderita oleh manusia membuat kebangkitan spiritual menjadi suatu hal yang
tidak mudah dilakukan selama belum tersedia bagi mereka makanan pokok,
yang mana banyak dari mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan kepayahan
jiwa yang berat. Hal ini disertai dengan melimpahnya proyek-proyek
perbaikan yang andai saja pemerintah mengambilnya, niscaya akan
meringankan kesengsaraan kemiskinan atas banyak manusia. Tidak ada hal yang
mendorong orang-orang untuk mendukung pemerintah dan berpegang teguh
kepadanya, melebihi perhatian pemerintah terhadap mata pencaharian mereka
dan pemikirannya dalam urusan-urusan ekonomi mereka. Dan termasuk
kesalahan yang sangat besar jika pemerintah sengaja situasi yang sulit ini
untuk memecat sebagian pekerja perlawanan atau memberhentikan beberapa
pegawai. Padahal pemerintah bisa mendistribusikan pekerjaan dan mengurangi
upah sebagai ganti dari pemecatan yang telah mendatangkan kesengsaraan
bagi banyak keluarga dan rumah tangga.
- Sikap tegas yang sepenuhnya
terhadap hak-hak nasional umat dan tidak bersikap lemah di dalamnya
bagaimanapun situasi menekan, serta berterus terang kepada umat mengenai
posisi seperti ini, dan meminta bantuan mereka untuk mengatasinya. Sebab,
tidak ada yang dapat menumbuhkan kepercayaan antara penguasa dan rakyat
seperti halnya keterusterangan dan kerja sama.
- Dan yang terakhir, bahkan
yang paling utama, adalah menjaga syiar-syiar Islam secara sepenuhnya,
menjauhi tempat-tempat yang mengundang kritik, serta berkomitmen pada
adab-adab nasional dalam setiap perkumpulan, pesta-pesta umum, dan seluruh
tindakan. Hendaklah hal tersebut menjadi syiar para menteri yang mulia
serta para pegawai tinggi, dan hendaklah mereka mengupayakan hal ini
dengan hikmah dan nasihat yang baik [mau'izhah hasanah] agar jalan
ini diikuti oleh para bawahan mereka, dan kemudian oleh seluruh rakyat di
belakang mereka.
- Dan Palestina, wahai
Perdana Menteri yang terhormat, kaum muslimin di Mesir tidak akan pernah
melupakan penderitaan, harapan, serta hak-haknya. Sungguh, Anda telah
memiliki keutamaan terlebih dahulu dalam sukarela berkhidmat untuk
urusannya. Kondisi saat ini, menurut keyakinan kami, sangatlah tepat untuk
mengulang kembali upaya tersebut. Tidak ada ruginya bagi pihak sekutu
untuk menenangkan hati nurani para sekutunya dengan membebaskan para
tahanan politik di Palestina, mengizinkan kembalinya para imigran
[pengungsi], serta mengakui hak-hak tanah air Arab yang berani lagi mulia
ini secara sempurna tanpa dikurangi sedikit pun. Bekerjalah untuk hal ini,
wahai Perdana Menteri, dan berjihadlah di jalannya, karena itu adalah hal
terbaik untuk menyambut musim-musim yang mulia ini dan untuk mendekatkan
diri kepada Allah.
Inilah,
wahai Perdana Menteri yang terhormat, apa yang ingin kami sampaikan kepada Anda
di masa yang sulit ini. Kami memohon kepada Allah agar menyelamatkan masa depan
dengan rahmat-Nya dan menjaga Mesir yang sedang bangkit dengan kebaikan dan
taufik.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Kairo,
20 Sya'ban tahun 1358 Hijriah Hasan al-Banna Mursyid Am Ikhwanul Muslimin
Di
Jalan Palestina Arab
Ali
Mahir Pasya bersama Abdurrahman Azzam Pasya telah menghadiri Konferensi
Palestina di London, maka Ikhwan pun melepas keduanya dengan pelepasan yang
paling hangat. Setelah kedatangannya kembali, sebuah delegasi dari Ikhwan pergi
ke stasiun untuk menyambutnya, yang dipimpin oleh Ustaz Ahmad as-Sukkari.
Beliau meneriakkan yel-yel untuk keselamatan hidupnya dan memerintahkan Ikhwan
untuk ikut meneriakkan yel-yel bagi keselamatannya juga. Sebagian Ikhwan ikut
meneriakkan yel-yel tersebut, sedangkan sebagian lainnya menolak. Mereka
kembali dalam keadaan marah dan mengajukan protes yang keras kepada saya, serta
menyebutkan di dalamnya bahwa Ikhwan bukanlah orang-orang tukang bersorak [hatafin],
dan mereka tidak meneriakkan yel-yel untuk individu, melainkan hanya mengingat
Allah semata serta meneriakkan yel-yel untuk jihad dan amal perbuatan. Maka
saya pun menenangkan hati mereka dengan menjelaskan bahwa ini hanyalah bentuk
penghormatan bagi musafir, dan kita tidak menghormati pribadinya melainkan kita
menghormati usahanya untuk Palestina. Maka anggaplah hal itu di sisi Allah
sebagai bagian dari perjuangan di jalan Palestina Arab.
Pemerintah
telah memutuskan untuk memberikan bantuan bagi para korban bencana di
Palestina, dan peristiwa tersebut pun selesai. Kemudian saya menulis surat ini
kepada Kepala Pemerintahan:
Ke
hadapan yang memiliki kedudukan tinggi, Ali Mahir Pasya, Perdana Menteri
Pemerintah Mesir. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du:
Sungguh,
hari ini kami telah membaca berita tentang bantuan yang diputuskan oleh
pemerintah Mesir untuk keluarga-keluarga Palestina yang berjihad. Kami
berterima kasih kepada pemerintah karena telah memperhatikan kewajiban ini,
yang mana pelaksanaannya di sisi pemerintah sudah sangat terlambat. Padahal
sudah semestinya bagi pemerintah Mesir—yang telah sering kali memberikan
bantuan dalam berbagai kesempatan kepada bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok
yang tidak memiliki hubungan dengannya melainkan hanya hubungan yang paling
lemah jika dibandingkan dengan hubungan yang mengikatnya dengan bangsa Arab
Palestina—untuk menjadi pihak pertama yang mengulurkan tangan bantuan kepada
para mujahidin. Bagaimanapun juga, tindakan dari pemerintah Mesir ini tidak dihadapi
melainkan dengan rasa syukur, maka semoga Allah membalas kebaikan kepada
orang-orang yang beramal.
Dan
alangkah baiknya jika pemerintah menyegerakan pengiriman bantuan yang telah
ditetapkan tersebut, serta mengkhususkan apa yang telah dijanjikannya berupa
pasokan makanan dan pakaian bagi keluarga Ikhwan yang berjihad. Pemerintah juga
sebaiknya menambahkan bentuk perhatian yang paling dekat terhadap anak-anak
mereka dengan menerima mereka di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan
Mesir secara gratis, kapan pun terbukti bagi pemerintah bahwa tulang punggung
[pencari nafkah] mereka telah gugur syahid di jalan Allah dan tanah air Islam
yang dicintai.
Kami
memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik perhatian pemerintah Mesir kepada dua
perkara penting:
Pertama:
Bahwa ketetapan bantuan ini pada hakikatnya tidaklah lebih penting daripada
pengawasan terhadap distribusinya, dengan distribusi yang menjamin sampainya
bantuan tersebut kepada orang-orang yang berhak menerimanya dari kalangan
anak-anak mujahidin. Guna menjamin hal itu, distribusi ini harus dilakukan
melalui lembaga-lembaga Arab yang murni, seperti Komite Utama Arab [al-Lajnah
al-'Arabiyyah al-'Ulya] atau Komite Wanita Arab misalnya, dan harus
dijauhkan sejauh-jauhnya dari campur tangan pemerintah Palestina, tangan-tangan
pembelot, serta kaki tangan imperialisme [penjajah], agar tujuan yang
dimaksudkan tidak hilang dan bantuan tidak merembes ke tangan orang yang tidak
berhak menerimanya.
Kedua:
Bahwa sumbangan kemanusiaan yang patut disyukuri ini bukanlah segalanya dalam
persoalan Arab. Sebab, bangsa Palestina yang mulia telah mengorbankan harta
benda dan jiwa raga demi sebuah tujuan mulia yang telah maklum, yaitu agar
mereka mencapai kemerdekaan dan kebebasan mereka, serta menyelamatkan tanah air
mereka dari bahaya kezaliman Yahudi Zionis.
Kaum
muslimin dan bangsa Arab di seluruh penjuru dunia telah ikut merasakan perasaan
ini dan mendukung mereka di dalamnya. Pemerintah Mesir, dan kedudukan Anda
sendiri secara khusus, telah memiliki andil dalam jihad yang penuh berkah ini.
Berdasarkan
hal ini, maka upaya politik untuk menyelesaikan urusan Palestina jauh lebih
penting daripada upaya kemanusiaan ini, meskipun upaya kemanusiaan ini agung
dan penuh kasih sayang. Barangkali kondisi saat ini adalah kondisi yang paling
sesuai untuk meninjau kembali persoalan ini.
Tidak
ada kewajiban atas Anda, wahai Perdana Menteri, melainkan berterus terang
kepada para politisi Inggris dengan sejelas-jelasnya mengenai hakikat situasi
yang ada, dan meminta mereka untuk menyelesaikan persoalan Palestina
berdasarkan kaidah-kaidah berikut:
- Menghentikan imigrasi
Yahudi yang legal secara total, dan menindak para penyelundup dengan
tindakan yang paling tegas, sehingga mayoritas di Palestina tetap berada
di tangan bangsa Arab.
- Pengampunan menyeluruh bagi
seluruh tahanan, orang-orang yang diasingkan, dan para mujahidin, serta
mengizinkan kembalinya para imigran [pengungsi]. Berada di garda terdepan
dari mereka adalah yang mulia pemimpin Palestina, Al-Mufti Al-Haj Muhammad
Amin al-Husaini. Sesungguhnya imigran mana pun tidak akan rida untuk
kembali ke tanah air kecuali jika hak ini diberikan kepada Yang Mulia
Al-Mufti.
- Menunjukkan perhatian dari
pemerintah Palestina terhadap keluarga para imigran [pengungsi] dengan
memberikan mereka bantuan-bantuan dan fasilitas-fasilitas yang
menggantikan sebagian dari apa yang telah mereka hilangkan berupa jiwa dan
harta, serta menjamin bagi mereka kenyamanan dalam penghidupan dan kondisi
kehidupan mereka.
- Pengakuan dari pemerintah
Inggris terhadap kemerdekaan Palestina sebagai negeri Arab yang muslim,
dan mengikat perjanjian yang terhormat dengannya sebagaimana yang terjadi
di Mesir dan Irak sebagai contoh.
Kami
meyakini bahwa dengan hal itu, Anda telah mempersembahkan khidmat yang agung
bagi Britania [Inggris] sebagaimana Anda berkhidmat untuk bangsa Arab
Palestina. Maka manfaatnya adalah untuk kedua belah pihak secara bersamaan.
Kami
juga meyakini bahwa jika Anda menjelaskan kepada para politisi Britania
mengenai hakikat perasaan rakyat Mesir—yang mana ia tidak diragukan lagi
merupakan gambaran dari perasaan seluruh bangsa-bangsa Islam lainnya—dan Anda
meyakinkan mereka bahwa ketika Britania melakukan hal ini, ia akan mendapatkan
dukungan yang sepenuhnya dari hati dan tindakan dari seluruh bangsa Islam dan
Arab secara keseluruhan, menutup pintu bagi orang-orang yang mencelanya, serta
memberikan bukti dengan hal itu bahwa ia menghargai keadilan dan kelayakan—maka
hal itu akan menjadi sebab untuk bekerja kembali demi menegakkan keadilan di
Palestina yang berani serta mengakui hak-haknya secara sempurna.
Semoga
Allah memberikan taufik kepada Anda menuju kebaikan dan memudahkannya di tangan
Anda.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Hasan
al-Banna Mursyid Am Ikhwanul Muslimin
Selesailah
"Muzakkirat ad-Da'wah wa ad-Da'iyah" [Catatan Harian Dakwah dan Dai].
Segala puji bagi-Nya dan syukur atas apa yang telah Dia berikan taufik kepada
kita, dan semoga shalawat Allah tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad,
keluarga, para sahabatnya, serta siapa saja yang menyeru dengan dakwahnya
hingga Hari Pembalasan.
[Lampiran
Biografi Tokoh]
Muzakkirat
ad-Da'wah wa ad-Da'iyah
- Kelahiran: Hasan
al-Banna dilahirkan pada tahun 1906 M di Al-Mahmudiyyah, Provinsi
Al-Buhairah.
- Pendidikan: Lulus
dari Fakultas Darul Ulum di Kairo pada tahun 1927 M.
- Karier: Bekerja
sebagai guru dalam pendidikan umum selama sembilan belas tahun.
- Karya Tulis:
Menerbitkan artikel pertama di majalah Al-Fath pada tahun 1346 H
dengan judul "Ad-Da'watu ilallah" [Dakwah menuju Allah].
- Aktivitas: Ceramah
umum pertama yang disampaikannya adalah di gedung Perkumpulan Pemuda
Muslim [Jam'iyyah asy-Syubban al-Muslimin] pada tahun 1347 H.
- Keluarga:
Meninggalkan seorang anak laki-laki, yaitu Ahmad Saif al-Islam al-Banna
yang berprofesi sebagai pengacara, dan lima orang anak perempuan.
- Wafat: Dibunuh
[di-assasinasi secara gelap] pada malam hari tanggal 12 Februari 1949 M.
Apa
yang Mereka Katakan tentang Al-Banna:
- "Pada minggu ini saya
mengunjungi seorang pria yang mungkin akan menjadi salah satu pria paling
menonjol dalam sejarah kontemporer, dan namanya bisa saja menghilang jika
peristiwa-peristiwa yang terjadi lebih besar darinya. Tokoh itu adalah
Syekh Hasan al-Banna, pemimpin Ikhwanul Muslimin." — Robert
Jackson (Penulis Amerika).
- "Hasan al-Banna adalah
salah satu orang yang telah Allah bukakan hati mereka dan terangi jalan
dakwah-Nya untuk mereka jalani, dan di belakangnya datanglah barisan
pengikut yang mataharinya tidak akan pernah tenggelam." — Ustaz
Salah Azzam.
- "Sesungguhnya Imam
Syahid Hasan al-Banna adalah salah satu dari orang-orang yang sebutannya
tidak akan pernah sirna, dan kelupaan tidak akan mampu mencapai kedudukan
mereka, karena beliau—semoga Allah merahmatinya—tidak hidup untuk dirinya
sendiri melainkan hidup untuk manusia, dan tidak bekerja untuk
kemaslahatan pribadinya sendiri, melainkan bekerja untuk kemaslahatan
umum." — Jenderal Muhammad Naguib.
Comments
Post a Comment