Iman Kepada Kitab

Keimanan kepada Kitab-Kitab Allah Azza wa Jalla

Di antara rukun iman adalah kita beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi dan rasul-Nya. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah menurunkan Al-Qur'an kepada Muhammad SAW (shallallahu 'alaihi wa sallam), Dia juga telah menurunkan kitab-kitab-Nya sebelum itu kepada seluruh rasul lainnya.

Di antara kitab-kitab ini ada yang disebutkan namanya oleh Allah di dalam Al-Qur'an al-Karim, dan ada pula yang tidak disebutkan namanya. Kitab-kitab yang dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla namanya kepada kita adalah:

  1. Taurat, yang diturunkan kepada Musa 'alaihis salam, sebagaimana firman-Nya yang Mahasuci: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat yang di dalamnya (mengandung) petunjuk dan cahaya. Dengan kitab itulah para nabi yang berserah diri memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama mereka dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.” (QS. Al-Ma'idah: 44).
  2. Injil, yang diturunkan kepada Isa 'alaihis salam, sebagaimana firman-Nya Yang Mahatinggi: “Kami meneruskan jejak mereka dengan (mengutus) Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Kami telah menganugerahinya Injil yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat, dan menjadi petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma'idah: 46).
  3. Zabur, yang diturunkan kepada Dawud 'alaihis salam, sebagaimana Allah Yang Mahatinggi berfirman: “...Dan Kami telah memberikan Zabur kepada Dawud.” (QS. Al-Isra': 55).
  4. Suhuf (lembaran-lembaran), yang diturunkan oleh Allah kepada Ibrahim dan Musa, yang dikabarkan oleh Allah Yang Mahatinggi melalui firman-Nya: “Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).” (QS. An-Najm: 36-42). Serta firman-Nya juga: “Sungguh, beruntunglah orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat. Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya (ketentuan) ini benar-benar terdapat dalam lembaran-lembaran (kitab-kitab) yang terdahulu, (yaitu) lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A'la: 14-19).

Adapun kitab-kitab lain yang diturunkan kepada seluruh rasul, Allah Yang Mahatinggi tidak mengabarkan kepada kita nama-namanya. Melainkan Dia Yang Mahasuci mengabarkan kepada kita bahwa bagi setiap nabi yang diutus-Nya, ada risalah yang disampaikannya kepada kaumnya. Allah berfirman: “Manusia itu (dahulunya) umat yang satu. Lalu, Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah: 213).

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk beriman secara global (ijmali) kepada kitab-kitab yang tidak disebutkan namanya ini. Kita tidak diperbolehkan menyandarkan suatu kitab kepada Allah Yang Mahatinggi selain apa yang telah Dia sandarkan kepada diri-Nya sendiri melalui apa yang Dia kabarkan kepada kita di dalam Al-Qur'an al-Karim.

Sebagaimana wajib pula bagi kita untuk beriman bahwa kitab-kitab ini diturunkan dengan kebenaran, cahaya, dan petunjuk, serta mengandung tauhid kepada Allah Yang Mahasuci dalam rububiyah, uluhiyah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Adapun apa yang dinisbatkan kepada kitab-kitab tersebut yang menyelisihi hal itu, sesungguhnya itu merupakan bentuk distorsi (tahrif) dan buatan manusia. Allah Yang Mahatinggi berfirman tentang Taurat: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat yang di dalamnya (mengandung) petunjuk dan cahaya.” (QS. Al-Ma'idah: 44). Dan Dia Yang Mahatinggi berfirman tentang Injil: “Kami meneruskan jejak mereka dengan (mengutus) Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Kami telah menganugerahinya Injil yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat, dan menjadi petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma'idah: 46).

Wajib bagi kita untuk beriman bahwa Al-Qur'an yang agung adalah kitab terakhir yang diturunkan dari sisi Allah Yang Mahatinggi, dan bahwa Allah Azza wa Jalla telah mengistimewakannya dengan keutamaan-keutamaan yang membedakannya dari seluruh kitab terdahulu yang diturunkan. Di antara yang paling penting adalah:

  1. Bahwa Al-Qur'an mencakup inti dari ajaran-ajaran ketuhanan, serta datang sebagai penguat dan pembenar bagi apa yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya berupa tauhid kepada Allah, ibadah kepada-Nya, dan kewajiban menaati-Nya. Al-Qur'an menghimpun segala bentuk kebaikan dan keutamaan yang tersebar di dalam kitab-kitab terdahulu tersebut. Al-Qur'an juga datang sebagai muhaimin (batu ujian/pengawas) yang menetapkan kebenaran yang ada di dalamnya serta menjelaskan distorsi (tahrif) dan perubahan yang telah memasukinya. Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Kami telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya...” (QS. Al-Ma'idah: 48). Al-Qur'an juga datang membawa syariat yang bersifat umum bagi seluruh umat manusia, yang memuat segala hal yang mereka butuhkan demi kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Dengannya, Allah menghapus seluruh syariat praktis yang khusus bagi kaum-kaum terdahulu, serta menetapkan hukum-hukum final yang abadi dan relevan untuk setiap waktu dan tempat.
  2. Bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya Kitab Rabbani yang dijamin pemeliharaannya oleh Allah. Allah Yang Mahaperkasa berfirman: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9). Dan Dia juga berfirman: “Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) adalah kitab yang sangat mulia (dan kuat). (Kitab) itu tidak akan didatangi oleh kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya. (Ia) diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fussilat: 41-42).

Dan keutamaan ini merupakan cabang dari keutamaan lainnya, yaitu bahwa Al-Qur'an diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW, untuk seluruh umat manusia secara keseluruhan, dan tidak khusus bagi kaum tertentu saja sebagaimana kitab-kitab terdahulu diturunkan. Oleh karena itu, penjagaannya dari distorsi dan pemeliharaannya dari campur tangan manusia bertujuan agar apa yang ada di dalamnya tetap menjadi hujah Allah atas manusia yang tegak hingga Allah mewarisi bumi beserta siapa saja yang ada di atasnya.

Adapun kitab-kitab lainnya, pembicaraan di dalam setiap kitab tersebut ditujukan kepada umat yang khusus, bukan untuk seluruh umat manusia. Meskipun kitab-kitab tersebut bersepakat dalam pokok agama (ashluddin), namun syariat dan hukum yang diturunkan di dalamnya bersifat khusus bagi waktu tertentu dan kaum tertentu. Allah Yang Mahatinggi berfirman: “...Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang...” (QS. Al-Ma'idah: 48). Karena alasan itulah, Allah Yang Mahasuci tidak menjamin pemeliharaan terhadap satu pun dari kitab-kitab tersebut di sepanjang zaman, berbeda halnya dengan Al-Qur'an. Bahkan Allah Azza wa Jalla mengabarkan di dalam kitab terakhir-Nya tentang distorsi (tahrif) yang telah terjadi pada kitab-kitab terdahulu tersebut. Mengenai distorsi dan perubahan yang dimasukkan oleh orang-orang Yahudi ke dalam Taurat, Allah Yang Mahasuci berfirman: “Apakah kamu (muslim) sangat mengharapkan mereka akan beriman kepadamu, padahal segolongan mereka mendengar firman Allah, lalu mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedangkan mereka mengetahuinya?” (QS. Al-Baqarah: 75). Dia juga berfirman: “Di antara orang-orang Yahudi, ada yang mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya...” (QS. An-Nisa': 46).

Adapun mengenai distorsi yang dimasukkan oleh orang-orang Nasrani ke dalam Injil, Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Di antara orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang Nasrani,' Kami pun telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Maka, Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka perbuat. Wahai Ahli Kitab, sungguh Rasul Kami telah datang kepadamu untuk menjelaskan banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan dan memaafkan banyak hal (pula). Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang jelas (Al-Qur’an).” (QS. Al-Ma'idah: 14-15).

Di antara bentuk distorsi yang dimasukkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani ke dalam agama mereka adalah klaim orang-orang Yahudi bahwa Uzair adalah putra Allah Yang Mahasuci, serta klaim orang-orang Nasrani bahwa Al-Masih adalah putra Allah. Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Orang-orang Yahudi berkata, 'Uzair putra Allah,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Al-Masih putra Allah.' Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir terdahulu. Allah melaknat mereka. Bagaimana mereka sampai dipalingkan?” (QS. At-Tawbah: 30).

Maka Al-Qur'an meluruskan penyimpangan yang mereka buat sendiri ini dengan menjelaskan kepada mereka bahwa Allah Yang Mahasuci Mahasuci dari memiliki anak. Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.'” (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Al-Qur'an juga menetapkan bahwa seluruh rasul adalah manusia yang dikhususkan oleh Allah dengan wahyu dan apa yang melayakkan mereka untuk menerima dan menyampaikannya kepada manusia. Allah Yang Mahasuci berfirman saat berbicara (khitab) kepada Rasul-Nya: “Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa...'” (QS. Al-Kahf: 110).

Di antara distorsi yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani, yang dikabarkan kepada kita oleh Allah Azza wa Jalla di dalam Al-Qur'an al-Karim, adalah apa yang mereka masukkan ke dalam hakikat kenabian berupa pengetuhanan oleh sekelompok dari mereka terhadap Isa putra Maryam, serta ucapan sebagian dari mereka tentang trinitas (tatslits). Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam'...” (QS. Al-Ma'idah: 72). Dan Dia juga berfirman: “Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari yang tiga (trinitas),' padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa...” (QS. Al-Ma'idah: 73). Maka datanglah Al-Qur'an al-Karim untuk menjelaskan distorsi ini dan menerangkan akidah yang selamat mengenai Isa dan ibunya. Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Ibunya adalah seorang yang sangat membenarkan (ayat-ayat Allah). Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran)!” (QS. Al-Ma'idah: 75).

Dan kebenaran yang tidak didebat oleh orang yang bersikap adil adalah bahwa pada hari ini tidak ada satu pun kitab di atas permukaan bumi yang valid penisbatannya kepada Sang Pencipta Yang Mahaberkah lagi Mahatinggi selain Al-Qur'an al-Karim. Kebenaran ini ditunjukkan oleh dalil-dalil indrawi (nyata), di samping apa yang dikabarkan oleh Al-Qur'an tentang distorsi yang terjadi pada kitab-kitab yang ada saat ini. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:

a. Bahwa kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur'an telah hilang naskah-naskah aslinya, dan tidak tersisa di tangan manusia melainkan terjemahan-terjemahannya saja. Adapun Al-Qur'an, ia senantiasa terjaga surah-surahnya, ayat-ayatnya, kata-katanya, hingga harakat-harakatnya sebagaimana yang dideklamasikan oleh Jibril kepada Rasulullah SAW dan sebagaimana yang dibacakan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya ridwanullahi 'alaihim. (Mabadi' al-Islam, Al-Maududi, hlm. 77)

b. Bahwa kitab-kitab tersebut telah bercampur di dalamnya firman Allah dengan perkataan manusia, berupa tafsir, sejarah, sirah (biografi) para nabi dan murid-murid mereka, serta kesimpulan-kesimpulan para ahli fikih. Sehingga tidak dapat dibedakan di dalamnya mana firman Allah dan mana perkataan manusia. Sedangkan Al-Qur'an, seluruhnya adalah firman Allah Ta'ala, dan tidak bercampur sedikit pun dengan yang lain, baik dari hadis Rasul SAW, perkataan sahabat, maupun yang lainnya (Rujukan yang sama (Mabadi' al-Islam)). Abu al-Wafa' Ali bin Aqil berkata: “Jika engkau ingin mengetahui bahwa Al-Qur'an itu bukan perkataan Rasulullah SAW melainkan disampaikan kepadanya, maka perhatikanlah perkataannya bagaimana ia berbeda secara jelas dari Al-Qur'an, dan amatilah perbedaan di antara kedua perkataan dan kedua gaya bahasa tersebut. Sudah dimaklumi bahwa perkataan manusia itu serupa satu sama lain, dan tidak ada satu kata pun milik Nabi yang menyerupai Al-Qur'an.”. (Lihat: Al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa, Jilid 1, hlm. 270) Beliau juga berkata: “Dan di antara kemukjizatan Al-Qur'an adalah tidak ada seorang pun yang mampu mengeluarkan darinya suatu ayat yang maknanya diambil dari perkataan yang telah berlalu sebelum itu. Sebab manusia senantiasa menyingkap dari satu sama lain, sehingga dikatakan misalnya: Al-Mutanabbi mengambil dari Al-Buhturi.”. (Rujukan yang sama)

c. Bahwa kitab-kitab tersebut tidak ada satu pun yang valid penisbatannya kepada rasul yang dinisbatkan kepadanya, karena tidak satu pun dari kitab-kitab itu memiliki sanad sejarah yang tepercaya. Kitab-kitab (asfar) yang ada di dalam apa yang disebut dengan Perjanjian Lama dan dinamakan sebagai Taurat, sesungguhnya baru dibukukan beberapa abad setelah wafatnya Musa 'alaihis salam.

Muhammad Farid Wajdi menukil dari Ensiklopedia Larousse yang ringkasannya berbunyi: “Sains modern, khususnya kritik Jerman setelah penelitian mendalam terhadap peninggalan purbakala, sejarah, dan filologi, telah membuktikan bahwa Taurat tidak ditulis oleh Musa 'alaihis salam, melainkan karya para rahib yang tidak menyebutkan nama mereka, yang mereka susun secara berurutan dengan bersandar dalam penyusunannya pada riwayat-riwayat lisan yang mereka dengar sebelum pembuangan ke Babel (Asar Babil). Bahkan sebagian ulama berpandangan bahwa kelima kitab ini tidak memuat seluruh riwayat Israel, melainkan berisi isyarat, simbol, dan cerita semata.”. (Lihat: Al-Aqa'id al-Islamiyyah oleh Nadim al-Mallah, hlm. 57)

Adapun Al-Qur'an yang agung adalah satu-satunya kitab yang keabsahan penisbatannya terbukti secara pasti (qath'i) kepada Rasul yang diwahyukan kepadanya, yaitu Muhammad SAW. Kitab ini telah dinukil surah-surahnya, ayat-ayatnya, metode urutannya, dan tata cara membacanya ke setiap generasi yang datang setelah masa turunnya secara mutawatir, sehingga tidak ada keraguan sedikit pun bahwa Al-Qur'an yang kita baca saat ini adalah yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya yang mulia. (Mabadi' al-Islam - Al-Maududi, hlm. 78)

Di antara dalil atas terjadinya distorsi pada kitab-kitab tersebut adalah banyaknya versi naskahnya dan perbedaan di antara naskah-naskah tersebut mengenai perkataan dan pandangan yang dinukilkan. (Lihat: Al-Aqa'id al-Islamiyyah - Sayyid Sabiq, hlm. 168. Disebutkan di dalamnya: "Cukuplah untuk membatasi pembuktian atas distorsi pada Injil-injil yang beredar di tangan orang-orang Nasrani saat ini bahwa Injil tersebut ada empat yang dipilih dari sekitar tujuh puluh Injil. Injil-injil ini membahas penulisan tentang sirah (biografi) junjungan kita Isa 'alaihis salam, dan para penulisnya diketahui serta nama mereka tertulis di atasnya. Kritikus Kristen sendiri telah menetapkan bahwa akidah Injil-injil tersebut adalah pendapat Paulus, bukan pendapat kaum Hawariyyun lainnya, dan bukan pula pendapat orang yang paling dekat dengan Isa. Dan telah ditemukan di perpustakaan salah seorang pangeran di Paris sebuah salinan dari Injil Barnabas. Percetakan Al-Manar telah mencetaknya setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan ia sangat menyelisihi keempat Injil dengan perbedaan yang besar.".)

Di antara indikasi kuat atas terjadinya distorsi pada kitab-kitab ini adalah apa yang dikandungnya berupa akidah-akidah yang rusak dan gambaran-gambaran yang batil tentang Sang Pencipta Yang Mahasuci serta tentang para rasul-Nya yang mulia 'alaihimus salam. Sebab, engkau akan mendapati di dalamnya penyerupaan Sang Pencipta dengan manusia serta celaan terhadap para nabi dengan hal-hal yang mencederai kehormatan mereka dan bertentangan dengan kemaksuman ('ishmah) mereka. (Di antara hal tersebut adalah apa yang tercantum dalam Taurat yang beredar saat ini di dalam Kitab Kejadian 3:22, yang berbunyi: "Dan Tuhan Allah berfirman: Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat." Di dalamnya juga terdapat: "Maka menyesallah Tuhan bahwa Ia telah menjadikan manusia dan Ia bersedih hati." Dan di antara hal yang tercantum di dalamnya yang mencederai kehormatan para nabi dan bertentangan dengan kemaksuman mereka adalah perkataan mereka tentang Ibrahim 'alaihis salam bahwa beliau adalah seorang pendusta, bahwa Luth berzina dengan kedua putrinya, bahwa Harun mengajak orang-orang Israel untuk menyembah anak sapi, bahwa Dawud berzina, dan bahwa Sulaiman menyembah berhala demi menyenangkan istrinya. Maka adakah dalil distorsi yang lebih kuat daripada ini? – Dinukil dari Al-Aqa'id al-Islamiyyah oleh Sayyid Sabiq, hlm. 167)

Dan menghadapi distorsi serta perubahan yang menimpa kitab-kitab terdahulu ini, maka keimanan kepada kitab-kitab tersebut adalah dengan membenarkan bahwa kitab-kitab itu pada dasarnya berasal dari sisi Allah yang diturunkan kepada para rasul-Nya untuk tujuan yang sama dengan diturunkannya Al-Qur'an. Kita tidak mengimani sesuatu pun dari isinya sebagai sesuatu yang berasal dari sisi Allah kecuali apa yang disebutkan oleh Al-Qur'an. Maka wajib bagi kita untuk mengimani bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah yang murni, merupakan kebenaran, dan setiap lafaz di dalamnya terjaga, serta wajib mengikuti perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan kabarnya, dan menolak apa saja yang menyelisihinya.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat