Muslimah Daiyah dalam Pandangan Syariat

KAMU HARUS MENJADI SEORANG DA’IYAH!

Persembahan

Pengantar oleh Syekh Al-'Audah

Pendahuluan Penulis

Mengapa Kita Harus Berdakwah kepada Allah dan Melipatgandakan Usaha Saat Ini?

Keutamaan seorang Da’iyah dan Pahala yang Menantinya

Bagaimana Mempersiapkan Diri Anda untuk Berdakwah?

  1. Ikhlas dan Jujur
  2. Cita-Cita yang Tinggi ('Uluwwul Himmah)
  3. Sabar dan Mengharap Pahala (Al-Ihtisab)
  4. Akhlak yang Baik
  5. Senjata Al-Qur'an, Ilmu Syar'i, dan Wawasan
  6. Hancurkan Penghalang Ini
  7. Jangan Tinggalkan Mereka
  8. Wasiat Ringkas dan Penting

Ayo, Mulailah!

  • Di Rumah dan Bersama Keluarga
  • Pertemuan/Arisan Keluarga
  • Bidang Pendidikan
  • Di Ruang Guru
  • Para Siswi/Mahasiswi Da’iyah
  • Tetangga Anda
  • Tempat-Tempat Umum
  • Peran Anda Saat Musibah dan Fitnah Menimpa Umat
  • Isu Perempuan Menanti Anda dengan Penuh Harap
  • Buku dan Referensi Mengenai Isu Ini
  • Bagaimana Anda Mengangkat Isu Ini dalam Dakwah Setelah Memahaminya?

Penutup

 

Persembahan

Kami mempersembahkan halaman-halaman yang bercahaya ini kepada setiap wanita yang memiliki hati yang berdenyut dengan kecintaan pada Islam dan kecemasan untuk berdakwah kepadanya...

Pengantar oleh Syekh Al-'Audah

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, amma ba'du:

Saya telah membaca buku yang terlampir ini, dan saya sungguh kagum dengan gagasannya, keindahan gayanya, serta kemuliaan tujuannya. Buku ini mengisi kekosongan penting dalam kehidupan seorang gadis muslimah, terlebih lagi ketika ditulis oleh pena salah seorang dari kaumnya sendiri. Saya tidak menemukan komentar atas buku ini selain pujian atasnya, baik secara bentuk maupun isi, bahasa maupun gagasan, serta doa untuk saudari mulia yang telah menulisnya. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan, memberkahi usahanya, dan menjadikannya sebagai teladan bagi generasinya. Walhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaramu,

Salman bin Fahd al-'Audah

Senin, 13 Rabiul Akhir 1423 H

Pendahuluan Penulis

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada hamba-Nya yang paling mulia dari para nabi dan rasul, kekasih kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan. Amma ba'du:

Kepada setiap kekasih Ar-Rahman, cucu dari Khadijah, Aisyah, Nusaibah, dan Ar-Rumaisha', yang telah dipilih Allah atas wanita-wanita lainnya dengan mengikuti jalan-Nya, wanita asing yang memegang teguh agamanya meskipun bara api membakarnya di tengah gemuruh fitnah namun ia tidak peduli /

Pohonkanlah keteguhan (tsabat) kepada Allah, dan lakukanlah sebab-sebab yang membantu keteguhan tersebut... Sebab Anda berada dalam kenikmatan yang andaikata disadari oleh wanita-wanita lain, niscaya mereka akan segera kembali kepada Islam sebagai jalan hidup dan praktik nyata.

Oleh karena itu, Anda tidak boleh merasa cukup hanya dengan memperbaiki diri sendiri dan berjalan sendirian, tetapi Anda harus merangkul orang-orang yang pandangannya tertutup oleh kabut materialisme sehingga mereka tersesat di perjalanan... Pada saat yang sama, Anda juga harus menghalau para pencuri kehormatan dan menentang mereka.

Pandanglah orang-orang yang bersembunyi di balik kesesatan dan penyimpangan itu dengan kacamata belas kasih terlebih dahulu... Sebab ada banyak hal yang akan berubah di sekitar kita, kemudian tempuhlah jalan-jalan dakwah yang benar dan bervariasi.

"Sebab, akidah terkadang kehilangan efektivitasnya karena kehilangan daya pancar sosialnya, sehingga ia menjadi daya tarik individual belaka. Iman pun berubah menjadi iman seorang individu yang terlepas dari hubungannya dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, masalahnya bukanlah mengajari seorang muslim tentang akidah yang telah ia miliki, melainkan yang terpenting adalah mengembalikan efektivitas, kekuatan positif, dan pengaruh sosial kepada akidah tersebut. Dalam satu kata: masalah kita bukanlah membuktikan keberadaan Allah kepada seorang muslim, melainkan sejauh mana kita membuatnya merasakan keberadaan-Nya, serta memenuhi jiwanya dengan keberadaan-Nya sebagai sumber energi."

"Dan syiar kebenaran sepatutnya mendominasi dalam kehidupan yang transparan, terbebas dari kotoran sudut-sudut gelap tempat jiwa-jiwa jahat bertemu untuk bersekongkol melawan jalannya, sebagaimana para penyamun biasanya saling bahu-membahu menentang keamanan suatu negara."

Mari kita ingat bahwa umat tidak akan bisa bangkit dengan masyarakat yang tergerogoti dari dalam, dan bahwa umat harus memperbaiki dirinya sendiri terlebih dahulu agar mampu menghadapi dunia di sekitarnya...

Kita harus menolong (agama) Allah agar Dia menolong kita; kita harus menolong agama-Nya dalam diri dan masyarakat kita agar Dia menolong kita melawan musuh-musuh kita, baik di dalam maupun di luar.

Sesungguhnya kemenangan tidak akan datang melainkan dengan kerja keras yang tak kenal lelah dan kesabaran... Bukan dengan berserah diri pasrah (tawakul) dan sekadar berdoa semata, meskipun masa kerja keras dan kesabaran itu memakan waktu bergenerasi-generasi. Bagi umur sebuah bangsa, waktu sepanjang itu hanyalah bagaikan kilatan cepat!

Dan pihak yang paling agung dalam menjalankan tugas ini—tugas menciptakan kemenangan—adalah: (Wanita), separuh masyarakat yang melahirkan dan mendidik separuh sisanya; wanita yang mengguncang ayunan dengan tangan satunya dan menggoncang dunia dengan tangan lainnya.

Maka, kebangkitan (shahwah) kaum wanita harus dimanfaatkan secara lebih mendalam dan luas, agar tidak sekadar menjadi energi terpendam yang rentan menyusut, sirna, atau terisolasi di sudut-sudut tertentu.

Hasil tidak akan pernah mendahului sebabnya... Maka renungkanlah!

Oleh sebab itu, kami persembahkan kepada Anda usaha yang sedikit ini, dengan harapan ia dapat menjadi salah satu sebab yang melahirkan hasil tersebut...

Jika benar, maka itu berasal dari Allah Azza wa Jalla, dan jika salah, maka itu berasal dari diri kami sendiri dan dari setan.

Dan Allah adalah pelindung serta penentu arah dari apa yang dituju.

"Asy-Syahwah" (Sang Kebangkitan)

Mengapa Kita Harus Berdakwah kepada Allah dan Melipatgandakan Usaha Saat Ini?

Di samping apa yang telah disebutkan sebelumnya, kita harus mengingat bahwa tujuan utama Islam adalah menyelamatkan umat manusia, mengeluarkan mereka dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kegelapan menuju cahaya, dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.

Olah karena itu, Rasulullah SAW bersabda:

إنَّما مَثَلِي ومَثَلُ النَّاسِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ جَعَلَ الفَرَاشُ وَهذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي تَقَعُ فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا، وَجَعَلَ يَنْزِعُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيهَا، فَأَنَا آخُذُ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، وَأَنْتُمْ تَقْتَحِمُونَ فِيهَا

Terjemahan: "Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan manusia adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekelilingnya, serangga-serangga dan hewan-hewan malam yang biasa jatuh ke dalam api mulai menjatuhkan diri ke dalamnya. Laki-laki itu pun berusaha menghalau hewan-hewan tersebut, namun mereka mengalahkannya dan tetap menerobos masuk ke dalamnya. Maka aku memegang lipatan kain pinggang kalian agar tidak jatuh ke dalam api, namun kalian tetap menerobos masuk ke dalamnya." (HR. Bukhari).

Manusia hari ini sangat membutuhkan orang yang menggandeng tangan mereka menuju jalan agama yang lurus dan pemenuhan dahaga spiritual, setelah mereka menempuh jalur kemerosotan yang merendahkan kemanusiaan mereka yang sejati dan menyeret mereka pada materialisme serta kebangkrutan spiritual. Hal ini tidak hanya berlaku bagi orang yang belum mengenal Islam, tetapi juga bagi kaum muslimin yang hanya menyandang namanyanya saja tanpa memahami hakikatnya yang sebenarnya!

Orang-orang yang tenggelam ini membutuhkan uluran tangan yang menyelamatkan mereka dari kubangan tersebut. Adalah sebuah kezaliman membiarkan mereka dalam kebingungan yang menyesatkan diri mereka sendiri.

Siapakah yang sanggup menyelamatkan mereka jika bukan para da'i? Dan bagaimanakah jadinya jika para da'i justru berpaling dari tugas yang agung ini? Padahal pada saat yang sama, langkah kaum perusak semakin dipercepat dengan membawa alat-alat penghancur!

Seorang wanita Nasrani pernah menghadiri sebuah konferensi yang diadakan untuk mengenalkan agama Islam. Setelah mendengarkan penjelasan singkat mengenai karakteristik dan keistimewaan agama ini, wanita itu berkata: "Jika apa yang kalian sebutkan tentang agama kalian itu benar, maka sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang zalim!" Ketika ditanyakan kepadanya: "Mengapa demikian?", ia menjawab: "Karena kalian tidak berusaha untuk menyebarkannya di antara manusia dan berdakwah kepadanya!"

Sangat disayangkan, sebagian wanita yang telah berkomitmen pada agama (mustaqimat) ragu-ragu di jalan dakwah karena adanya kabut di perjalanan, atau mereka bimbang karena keraguan (syubhat) yang merintangi, atau mereka mundur karena penolakan dari orang-orang yang memperlemah semangat (muthabbithin) serta para pengikut hawa nafsu yang sesat. Padahal, kewajiban mereka adalah mempercayai diri mereka sendiri dan dakwah mereka, membulatkan tekad, serta tidak menoleh pada bisikan setan dari golongan manusia dan jin. Bahkan, mereka harus membelah jalan dakwah menuju Allah dengan bekal komitmen agama yang telah Allah karuniakan kepada mereka. Merekalah orang-orang terbaik di medan ini dan merekalah yang paling layak melakukan perbaikan.

Saudariku yang mulia:

Renungkanlah firman Allah Ta'ala:

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'?" (QS. Fussilat: 33)

Kata tanya (istifham) dalam ayat ini bermakna penafian (nafi), artinya: "Tidak ada seorang pun yang lebih baik perkataannya."

Tujuannya adalah meniadakan hal tersebut sekaligus menantang lawan bicara untuk mendatangkan sesuatu yang lebih baik dari ini. Jika ia memiliki sesuatu yang lebih baik dari ini, hendaknya ia mendatangkannya!

Wahai Saudariku:

Lihatlah usaha para misionaris, penginjil, dan ahli kesesatan; betapa besarnya pengorbanan yang mereka keluarkan untuk menyesatkan manusia! Sementara kita yang telah dipilih oleh Allah untuk mengemban risalah-Nya justru bersikap lemah dan malas!

Salah seorang da'i pernah ditugaskan bersama sekelompok da'i oleh Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud untuk berdakwah di beberapa negara Afrika...

Ia menceritakan: "Dalam sebuah perjalanan yang melelahkan menuju salah satu desa, mobil kami melaju di tengah hutan yang lebat. Jalanan sangat terjal dan sulit sehingga tidak memungkinkan bagi mobil untuk melaju lebih dari 20 km/jam. Rasa lelah kami telah mencapai puncaknya, seolah-olah sebagian dari kami merasa sesak dada karena panjangnya perjalanan dan mulai mengeluh akibat panas yang menyengat, banyaknya lalat, serta debu yang memenuhi ruangan mobil.

Tiba-tiba di pinggir jalan kami melihat seorang wanita Eropa menunggangi seekor keledai, mengalungkan salib besar di dadanya, dan memegang teropong/keker di tangannya... Ketika ditanyakan mengenai alasan keberadaannya di hutan ini, ternyata ia sedang berdakwah mengajak kepada salib di sebuah gereja di dalam desa tersebut, dan ia telah berada di sana selama dua tahun. Maka para da'i itu berkata: 'Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari keteguhan orang yang fajir dan kelemahan orang yang tepercaya.'"

Sekarang, bandingkanlah antara Anda wahai putri tauhid dengan wanita yang sesat dan menyesatkan ini... Kemudian tanyakanlah pada diri Anda sendiri: Apa yang telah aku persembahkan untuk agama ini? Dan apakah agama ini tidak layak mendapatkan sedikit saja usaha dari kita untuk berdakwah kepadanya?

Keutamaan seorang Da’iyah dan Pahala yang Menantinya

  • Da’iyah adalah sebab datangnya pertolongan dan kejayaan (tamkin) di dunia:

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..." (QS. Ali 'Imran: 110)

  • Menyampaikan dakwah membuat da’iyah mendapatkan doa dari Rasulullah SAW bagi orang-orang yang menyampaikan ilmu:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَبَلَّغَهُ إِلَى مَنْ لَمْ يَسْمَعْهُ

Terjemahan: "Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar suatu hadis dari kami, lalu menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya..." (HR. Ahmad).

  • Da melebihkan da’iyah sebagai bagian dari orang-orang yang diliputi oleh rahmat Allah yang melimpah:

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. At-Taubah: 71)

  • Da’iyah memiliki pahala yang sangat besar yang melipat ganda sesuai dengan jumlah orang yang menyambut dakwahnya:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Terjemahan: "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim).

  • Cukuplah menjadi kemuliaan dan kehormatan bagi seorang da’iyah bahwa perkataannya dianggap sebagai perkataan terbaik, dan ucapannya dalam menyampaikan risalah adalah ucapan paling utama:

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'?" (QS. Fussilat: 33)

  • Da’iyah termasuk orang-orang yang beruntung (al-muflihun) dan bahagia di dunia dan akhirat:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104)

  • Cukuplah menjadi kebanggaan bagi da’iyah bahwa menjadi sebab hidayah seseorang itu lebih baik daripada tempat terbit dan terbenamnya matahari:

فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Terjemahan: "...Maka demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah kepada seorang laki-laki melalui perantaraanmu adalah lebih baik bagimu daripada unta-unta merah." (HR. Bukhari). Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: "...lebih baik bagimu dari apa yang disinari oleh matahari saat terbit dan terbenam."

  • Da’iyah mengokohkan nilai-nilai kebaikan dan kesalehan di tengah umat:

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..." (QS. Ali 'Imran: 110)

  • Da’iyah adalah katup pengaman masyarakat dan faktor lenyapnya kejahatan serta kerusakan:

"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas." (QS. Al-Ma'idah: 78)

  • Da’iyah membangkitkan rasa persaudaraan, kepedulian sosial, dan rasa saling memperhatikan antar kaum muslimin:

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar..." (QS. At-Taubah: 71)

Bagaimana Mempersiapkan Diri Anda untuk Berdakwah?

Mempersiapkan diri wanita da’iyah dengan baik untuk peran ini dan memikul tanggung jawab yang dibebankan kepadanya terhadap prinsip-prinsipnya dan orang lain merupakan hal yang agung, bahkan bisa menjadi tujuan itu sendiri. Hal tersebut tidak akan terwujud melainkan dengan terpenuhinya syarat-syarat yang diperlukan baginya untuk menjalankan peran tersebut, baik secara kualitatif maupun kuantitatif jika ia memang memenuhi kualifikasi, serta senantiasa dievaluasi dari dalam dirinya maupun dari orang lain.

Tanamkanlah dalam pikiran Anda bahwa jika Anda telah mempersiapkan diri dengan baik untuk tugas dakwah ini, berarti Anda telah menyelesaikan separuh dari tugas tersebut.

Oleh karena itu, kami menyajikan di hadapan Anda beberapa hal yang sepatutnya dihiasi dan diperhatikan:

1. Ikhlas dan Jujur (Al-Ikhlash wa ash-Shidq):

Anda membutuhkan ramuan ajaib (eksir) amal yang tak terbatas dan kuncinya, yaitu (Ikhlas) dalam ucapan dan perbuatan, agar amal Anda diterima, serta terlahir dalam diri Anda kesabaran, harapan pahala (al-ihtisab), tekad yang kuat, dan tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun...

Jangan tinggalkan keikhlasan dalam beramal dengan memperhatikan selain Allah di dalamnya... Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, sedangkan beramal karena manusia adalah syirik. Adapun ikhlas adalah keselamatan dari kedua hal tersebut, maka janganlah Anda mencari saksi bagi amal Anda selain Allah.

Niatkanlah wujud Allah semata dalam berdakwah kepada-Nya dan niatkanlah untuk menolong agama-Nya. Janganlah menunggu balasan maupun ucapan terima kasih, sebab keikhlasan tidak akan pernah menyatu dengan kecintaan pada pujian dalam satu hati. Maka berusahalah untuk menyembunyikan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan Anda sebagaimana Anda menyembunyikan keburukan-keburukan Anda. Jadikanlah celaan dan pujian dari orang awam bernilai sama di mata Anda, lupakan penglihatan manusia terhadap amal-amal Anda, dan tinggalkan sikap menuntut balasan amal di dunia.

Ingatlah selalu bahwa keikhlasan adalah sebab diterimanya amal di sisi Allah Ta'ala, dan ia juga merupakan sebab kesempurnaan (itqan). Tidaklah seseorang ikhlas dalam sesuatu melainkan ia akan menyempurnakannya. Keikhlasan menuntut adanya prasangka buruk terhadap diri sendiri (at-taham un-nafs) atas kekurangan dan ketakutan akan tidak maksimalnya amal. Hal itulah yang mendorong pada perbaikan diri secara terus-menerus menuju yang lebih baik, sebab orang yang menganggap dirinya penuh kekurangan akan selalu berusaha naik ke tingkat yang lebih tinggi agar selamat dari kekurangan tersebut.

Ketahuilah bahwa keikhlasan membangkitkan kesabaran dan harapan yang tiada putus. Karena orang yang mengikhlaskan amalnya untuk Allah, ia hanya mengharapkan pahala-Nya. Sedangkan pahala dari Allah telah tertulis, baik manusia menerima dakwahnya ataupun menolaknya. Oleh karena itu, jika ia menjadikan keikhlasan di depan matanya, ia tidak akan peduli dengan penerimaan atau keberpalingan manusia, karena ia tahu bahwa Allah mencatat pahalanya dalam kedua kondisi tersebut. Berbeda dengan orang yang tidak ikhlas, ia menjadikan perhatian utamanya pada penerimaan manusia; jika manusia tidak menerima, ia akan bosan dan meninggalkan dakwahnya.

Jadikanlah langkah-langkah Anda di jalan dakwah seperti langkah orang yang berjalan di atas pasir halus; tidak terdengar suaranya, tetapi dipastikan bekasnya terpampang nyata.

Dan jangan lupa bahwa barangsiapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan membuktikannya...

Kejujuran Anda dalam mengemban dan menyampaikan dakwah adalah hal yang sangat penting. Maka jujurlah kepada Allah dalam berdakwah demi Dia, dan jujurlah pada dakwah dengan menyelaraskan antara lahiriah dan batiniah Anda.

Utamakanlah kejujuran dalam amal-amal Anda dan carilah kejujuran itu agar amal tersebut murni demi Wajah Allah. Jika tidak demikian, maka ketahuilah sejak awal bahwa apa yang Anda lakukan akan menjadi debu yang berterbangan (haba'an mansyura)...!

Peliharalah kejujuran dalam ucapan dan perbuatan, serta jauhilah kedustaan atau tauriyah (kata bermakna ganda untuk mengeluh) dalam situasi apa pun, agar Anda tidak menjadi pintu masuk yang ditembus oleh anak panah celaan.

Tanamkanlah selalu dalam pikiran Anda bahwa ketika Anda jujur kepada Allah dalam dakwah dan kejujuran itu mengalir dalam kehidupan serta jalan hidup Anda, maka Allah akan membalas kejujuran Anda. Anda akan menjadi orang yang jujur, dicintai, didekatkan, dan dipercayai di sisi Allah dan manusia. Mereka akan menerima apa yang Anda serukan karena mereka telah menerima diri Anda, sebab barangsiapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan membenarkannya!

2. Cita-Cita yang Tinggi ('Uluwwul Himmah):

Kecilkanlah apa pun yang berada di bawah puncak kemuliaan dakwah menuju Allah. Tetapkanlah target bagi diri Anda untuk mencapai tujuan akhir yang Allah kehendaki untuk Anda capai, sebagaimana para rasul yang mulia berada di puncak daftar orang-orang yang bercita-cita tinggi dalam bidang ini. Sebagaimana pula Nabi Muhammad SAW menjadi puncak tujuan terbesar dan teladan tertinggi dalam hal ini, di mana cita-cita beliau tidak hanya terbatas pada hidayah kaumnya dari Quraisy atau bangsa Arab saja, tetapi beliau berkirim surat kepada raja-raja dan pemimpin dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.

"Percayalah kepada Allah Azza wa Jalla dan jujurlah dalam bertawakal kepada-Nya serta berprasangka baik pada-Nya. Karena memperkuat unsur-unsur ini dianggap sebagai sarana mendasar untuk memperoleh keutamaan kekuatan tekad dan cita-cita yang tinggi. Lemahnya tekad dan cita-cita berakar dari ketidakpercayaan pada diri sendiri. Sedangkan kepercayaan kepada Allah yang disertai tawakal dan prasangka baik kepada-Nya akan memberikan manusia secara umum dan da’iyah secara khusus sebuah kepercayaan akan kebenaran dari apa yang dijelaskannya sebagai perkara yang ditawakalkannya kepada Rabbnya, serta harapan akan pertolongan Allah dalam mencapai hasil yang diharapkannya. Dengan demikian, tekadnya menjadi kuat dan cita-citanya menjadi tinggi."

Jadikanlah ridha Allah Azza wa Jalla sebagai tujuan Anda selalu, dan ingatlah bahwa hadiah terbesarnya adalah surga. Dan barang dagangan Allah ini tidaklah murah!

3. Sabar dan Mengharap Pahala (Al-Ash-Shabru wal Ihtisab):

"Sabar itu adalah sinar (dhiya')." (HR. Muslim).

Sabar adalah sifat agung yang dibutuhkan oleh manusia secara umum dan da’iyah secara khusus... Hal itu karena di jalan dakwah ia akan menghadapi banyak ujian yang membutuhkan kesabaran yang dapat meluluhkannya tanpa mematahkan tulangnya, sehingga ia mampu melanjutkan perjalanan...

Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siagalah (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran: 200)

Dari sini, Anda harus membiasakan diri untuk bersabar dan tidak berputus asa. Ketahuilah bahwa akan datang hari-hari yang sulit bagi Anda di mana Anda dihadapkan pada gangguan, ejekan, pengetelan semangat (tatsbit), kesulitan, dan kelelahan...

Ketika hal itu menimpa Anda, ingatlah kesabaran orang-orang yang lebih baik dari Anda dalam rangka menyampaikan risalah Allah dari kalangan para nabi dan rasul. Ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan orang yang lebih baik dari Anda untuk bersabar atas gangguan orang-orang kafir dan munafik... Maka bagaimana dengan keadaan Anda...?

Tentu saja Anda jauh lebih membutuhkannya...

"Maka bersabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya; dan bertasbihlah pula pada waktu-waktu di malam hari dan pada pinggir-pinggir siang hari, supaya kamu merasa senang." (QS. Taha: 130)

Sesungguhnya Rasul kita yang mulia telah menimpa berbagai macam bentuk ujian: dipukul, dicela, serta disempitkan ruang geraknya dan para sahabatnya. Namun kesabaran beliau berada di puncak tertinggi di medan ujian.

Maka kenalilah jenis-jenis gangguan yang pernah menimpa kekasih dan nabi kita Muhammad SAW, serta hadirkanlah selalu dalam ingatan Anda. Niscaya urusan tersebut akan terasa ringan dan jiwa Anda akan menjadi tenteram setelah mengingat pahala yang telah Allah siapkan bagi orang-orang yang bersabar:

"Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan selamat di dalamnya." (QS. Al-Furqan: 75)

"Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar." (QS. Fussilat: 35)

"Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera." (QS. Al-Insan: 12)

Janganlah Anda seperti daun pelepah kurma (sa'fah) yang cepat terbakar dan cepat pula padam. Sadarilah keindahan dari amal yang Anda lakukan ini, dan berbanggalah bahwa di zaman sibuknya manusia dengan urusan dunia ini Anda disibukkan dengan hal yang lebih baik dari itu. Anda tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, dan harapkanlah pahala di sisi-Nya. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa kesulitan tidak akan berlangsung selamanya bagi orang yang mengharapkan pahala dan bersabar serta mengetahui bahwa apa yang menimpanya adalah takdir Allah dan tidak ada jalan lari darinya.

Dalam kesabaran memang ada sedikit kekerasan dan kepahitan, tetapi buah akhirnya lebih manis daripada madu.

Bersabarlah dengan kesabaran yang indah, betapa dekatnya jalan keluar Barangsiapa mengawasi Allah dalam segala urusan, niscaya ia akan selamat

Barangsiapa yang jujur kepada Allah, ia tidak akan ditimpa bahaya Dan barangsiapa berharap kepada-Nya, Dia akan ada di mana pun ia berharap

4. Akhlak yang Baik (Al-Akhlaq al-Hasanah):

"Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik."

Rasulullah SAW diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Akhlak adalah benang tenun dan jalinan Islam, bukan sekadar bingkai yang menjaga batasan-batasannya lalu berhenti di sana...!

Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan akhlak yang baik kepada manusia terhimpun dalam dua hal: mencurahkan kebaikan baik ucapan maupun perbuatan, serta menahan gangguan baik ucapan maupun perbuatan.

Jalan Anda menuju hati manusia adalah akhlak Anda yang baik di hadapan dan bersama mereka:

"...Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu..." (QS. Ali 'Imran: 159)

Akhlak adalah salah satu sarana paling berbekal untuk mempengaruhi jiwa jika teladan yang baik terwujud dalam diri Anda. Anda tidak akan bisa melapangkan manusia dengan harta atau kedudukan Anda, tetapi Anda bisa melapangkan mereka dengan wajah yang berseri-seri dan akhlak yang baik.

Bacalah sirah Rasulullah SAW; Anda akan menemukan bahwa beliau senantiasa memegang teguh akhlak yang baik dalam seluruh keadaannya, khususnya dalam berdakwah kepada Allah Ta'ala. Maka manusia pun berbondong-bondong datang kepada beliau dan masuk ke dalam agama Allah secara bergelombang karena akhlak yang agung ini.

Sesungguhnya Anda harus berusaha mempersiapkan jiwa orang-orang tersebut dengan akhlak Anda yang baik, semangat kasih sayang, serta toleransi (samahah), agar mereka dapat menyerap pemikiran-pemikiran Islam dan memahami maknanya, sehingga masuk ke dalam lubuk hati dan alur pemikiran mereka yang pada akhirnya menentukan tindakan dan perilaku mereka!

Ingatlah bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak, maka bagaimana mungkin Anda berdakwah kepada manusia sementara Anda sendiri tidak berkomitmen dengannya? Padahal pandangan mata lebih cepat tertuju kepada Anda dan kritik terhadap Anda akan lebih tajam...!

Oleh karena itu, berakhlak dengan akhlak yang mulia bagi Anda adalah hal yang lebih wajib dan mendesak. Berusahalah untuk meraih kemuliaan akhlak, perangi dan latihlah jiwa Anda agar terhiasi dengannya... Serta dawamkanlah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pembinaannya agar dakwah Anda terpancar melalui sikap (hal) Anda sebelum ucapan (qal) Anda.

5. Senjata Al-Qur'an, Ilmu Syar'i, dan Wawasan (Sulahu al-Qur'an wa al-'Ulum asy-Syar'iyyah wal Tsaqafah):

"Bagi seorang da’iyah yang menyeru kepada Allah, memerintahkan yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, wajib hukumnya memiliki ilmu, berdasarkan firman-Nya yang Mahasuci: (Katakanlah: 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata' (QS. Yusuf: 108)). Ilmu itu adalah apa yang difirmankan Allah dalam Kitab-Nya yang Mulia, atau yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya yang shahih. Hal itu dilakukan dengan memberi perhatian pada Al-Qur'an al-Karim dan Sunnah yang disucikan; agar Anda mengetahui apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah, serta mengetahui metode Rasulullah SAW dalam berdakwah kepada Allah dan mengingkari kemungkaran, begitu pula metode para sahabatnya ridhallahu 'anhum. Anda harus membuka wawasan dalam hal ini dengan merujuk pada buku-buku hadis dan pendapat para ulama dalam bab ini, karena mereka telah memperluas pembahasan mengenai hal ini dan menjelaskan apa yang wajib.

Dan wanita yang menegakkan urusan ini wajib memperhatikan hal tersebut agar meletakkan segala perkara pada tempatnya; sehingga meletakkan ajakan pada kebaikan pada tempatnya, dan amar makruf pada tempatnya, di atas bashirah (ilmu/hujjah) dan pengetahuan. Hal ini dilakukan agar pencederaan terhadap kemungkaran tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar dari kemungkaran itu sendiri, dan agar perintah amar makruf tidak dilakukan dengan cara yang justru menimbulkan kemungkaran yang lebih berbahaya daripada meninggalkan perbuatan makruf yang diserukannya tersebut."

Di samping itu, membaca Al-Qur'an al-Karim yang merupakan bekal utama para da'i dapat lapangkan dada, mengusir kegelisahan, dan menambah iman:

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus: 57)

Sesungguhnya Al-Qur'an menceritakan kepada Anda hakikat pertarungan antara kebenaran dan kebathilan, memberi kabar gembira akan kemenangan yang dekat, meneguhkan Anda dalam ujian, serta menjanjikan kebaikan dan pahala:

"Sehingga apabila para rasul tidak menaruh harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang-orang yang berdosa." (QS. Yusuf: 110)

..Maka jika Anda membacanya, resapilah dalam diri Anda dan hiduplah bersama ayat-ayatnya detik demi detik. Anda akan menemukan diri Anda di dalamnya, meresapi makna-maknanya, dan mengarahkan seruannya kepada diri Anda sendiri.

Sebagaimana Anda juga harus selalu memperbarui wawasan tentang apa yang terjadi di sekitar Anda berupa peristiwa-peristiwa dan berita-berita di tengah masyarakat. Pengamatan ini sangat diperlukan untuk mengevaluasi peristiwa, menentukan mana yang bermanfaat dan mewaspadai mana yang berbahaya, bukan malah mengurung diri dalam dunia khusus Anda yang jauh dari alur peristiwa yang terjadi...

Sesungguhnya mayoritas manusia tidak mengetahui apa yang dipertaruhkan untuk mereka oleh musuh-musuh mereka, dan mereka mencampuradukkan antara kawan dan lawan. Maka memperlihatkan hakikat musuh kepada manusia adalah sebuah keharusan, dan ini adalah salah satu tugas Anda... Bacalah dan bacalah setiap hal yang bermanfaat, agar Anda menjadi wanita yang memiliki ilmu, wawasan, dan kesadaran, yang mendorong Anda ke depan dengan kokoh, mantap, dan percaya diri.

6. Hancurkan Penghalang Ini:

Penghalang "rasa malu" yang tercela dari berdakwah kepada orang lain, amar makruf, dan nahi munkar; rasa malu yang tidak mendatangkan kebaikan bagi pemiliknya jika ia berada di atas kebenaran. Padahal kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti...!

Lihatlah para pengikut kebathilan, betapa mahirnya mereka membela kesesatan mereka tanpa ada rasa malu sedikit pun kepada Allah maupun kepada makhluk-Nya...

Betapa sebuah paradoks yang menyakitkan!

Seorang penari atau seniman cabul membela perbuatannya dan mengajak wanita lain untuk masuk ke dalam kubangan yang dimasukinya, sementara wanita salehah justru ragu-ragu dalam berdakwah mengajak orang lain kepada Allah dan mencegah kemungkaran meskipun hanya dengan satu kata!

Bukan hal yang mengherankan jika pengikut kebathilan terus menerus dalam kesesatannya, tetapi kita berhak bertanya: Di manakah engkau wahai wanita salehah? Mengapa engkau meninggalkan medan ini untuk mereka?

Pilihannya hanya dua: Anda membuang rasa malu itu dan maju dengan keberanian... atau wanita-wanita penyeru kebathilan yang akan maju mengambil posisi Anda. Dan sejauh mana kelalaian Anda, sejauh itulah keberanian mereka...

Wahai Saudariku yang diam:

Cukuplah rasa malu itu! Hancurkanlah penghalang yang Anda jadikan alasan atas kelemahan dan sikap berdiam diri ini dengan cara menghancurkannya secara total melalui perubahan diri, yang harus didahului oleh rasa butuh akan perubahan tersebut:

"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Maka ikhlaskanlah niat dan tekad untuk berubah demi diri Anda sendiri dan demi dakwah.

Cobalah secara bertahap, mulai dari berdakwah kepada orang-orang yang sangat dekat dengan Anda, kemudian orang-orang di sekitar Anda, lalu masyarakat umum...

Selain itu, ada banyak sarana dakwah tidak langsung yang akan memindahkan Anda ke ranah praktik nyata secara bertahap, yang sebagian darinya akan dijelaskan kemudian...

Perbanyaklah mengulang doa ini:

"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan melepaskan kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku." (QS. Taha: 25-28)

7. Jangan Tinggalkan Mereka:

Keluarga Anda, kerabat Anda, sahabat-sahabat Anda, rekan-rekan kerja Anda, dan semua orang di sekitar Anda... Bersamalah dengan mereka, jangan mengurung diri sendiri... Keberadaan Anda bersama mereka itu sendiri sudah merupakan dakwah melalui perilaku Anda, di samping praktik-praktik dakwah lainnya...

Bukanlah yang diminta agar Anda hanya menyampaikan kata-kata lalu pergi tanpa berbagi duka dan suka dengan mereka. Yang diminta adalah Anda bergaul dengan mereka dan merasuk ke dalam hati mereka dengan tutur kata yang baik, wajah ceria, dan uluran tangan bagi setiap orang yang membutuhkan. Hal itu akan menarik hati mereka kepada Anda, sehingga keadaan mereka dapat diubah.

Orang yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka adalah lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak bersabar atas gangguan mereka... Dan orang yang bergaul dengan manusia, turun ke derajat mereka, lalu mengangkat mereka menuju iman, takwa, dan amal saleh adalah orang yang agung sejati.

Jauhilah mereka hanya jika Anda tidak mampu mengubah kemungkaran saat terjadinya, atau jika Anda tidak merasa aman dari fitnah dan pengerusan iman...

Hal lainnya adalah Anda tidak boleh terputus atau mengisolasi diri dari saudari-saudari salehah Anda dan tidak berbaur dengan mereka. Sebab seseorang itu lemah jika sendirian dan menjadi kuat bersama saudara-saudaranya. Sesungguhnya serigala hanya akan memakan domba yang menyendiri dari rombongannya, maka bagaimana jadinya jika serigala itu semakin banyak sebagaimana yang terjadi di zaman kita ini?!

"...Kami akan menguatkan pemeliharaanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan..." (QS. Al-Qashas: 35)

Hubungilah saudari-saudari salehah agar Anda dapat saling terhubung, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Kemudian ajaklah wanita-wanita lain ke majelis-majelis zikir Anda yang baik untuk mengambil manfaat, saling mengingatkan akan tobat Allah, rahmat-Nya, ampunan-Nya, serta balasan-Nya, dan menambah karunia-Nya Ta'ala.

8. Wasiat Ringkas dan Penting:

  • Banyak berdoa dan memohon dengan sangat (ilhah) adalah ciri khas yang mengakar pada diri para da'i yang tidak pernah terlepas sekejap pun, dan inilah rahasia keberhasilan mereka. Barangsiapa yang tidak memohon dengan sangat dalam doanya, maka ia tidak berada di atas jalan dan sunnah. Maka perbanyaklah memohon (tadharru') kepada Rabb Yang Mahamulia lagi Mahatinggi agar mengilhamkan kebenaran kepada Anda dan membimbing Anda untuk mengamalkannya. Serta agar Dia mengaruniakan keteguhan jiwa, kebaikan sikap, dan pengaturan bagi diri Anda. Sebab orang yang memohon kepada Rabbnya telah berlepas diri dari daya dan upayanya sendiri, bertawakal kepada Allah, serta menyerahkan urusannya kepada-Nya. Jika Allah telah mengurusnya, Dia akan mengaruniakan kepadanya kebaikan sikap, dan dalam hal itulah letak keberhasilan dakwahnya.
  • Seorang da’iyah harus memperbanyak mengucapkan: (La haula wala quwwata illa billah) "Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah", sebab kalimat ini akan memikul beban-beban setinggi gunung dari dirinya. Hendaknya ia menyadari bahwa ia tidak bekerja dengan kekuatan dan tipu dayanya sendiri; jika bukan karena pertolongan Allah, ia tidak akan mampu menggerakkan satu batu pun dari tempatnya, tidak akan mampu melangkah satu langkah pun, dan tidak akan mampu mengajak seorang manusia pun.
  • Wajib bagi da’iyah untuk menggantungkan hati manusia hanya kepada Allah Ta'ala. Inilah titik tolak yang digunakan oleh para nabi, di mana mereka selalu menggantungkan hati makhluk kepada Rabbnya. Ini adalah sarana paling mudah dan paling manjur untuk membawa hati manusia menuju jalan hidayah. Sebab jika hati telah mencintai Rabbnya, maka meninggalkan maksiat akan terasa mudah baginya, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintainya daripada ketaatan kepada-Nya... Menggantungkan hati ini dilakukan dengan dua hal: dengan menyebutkan sifat-sifat dan nama-nama-Nya, serta dengan menyebutkan karunia dan nikmat-nikmat-Nya. Al-Qur'an banyak berputar pada kedua hal ini.

Setiap dakwah yang tidak dimulai dari titik ini adalah dakwah yang gagal.

  • Wajib merujuk pada Sirah Nabi SAW dalam mempelajari metode dakwah. Merupakan sebuah kesalahan jika hanya bersandar pada buku-buku penulis kontemporer semata. Sirah beliau telah tertulis dengan sahih di tangan kita, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Setiap dakwah yang tidak terpancar darinya adalah dakwah yang gagal.
  • Penting juga untuk mempelajari perjalanan hidup (sirah) para sahabat, salafus saleh, dan para imam terkemuka. Hal itu akan membuat para da'i memahami jalan-jalan yang benar menuju dakwah yang berhasil. Barangsiapa yang ingin meneladani, hendaklah ia meneladani orang yang telah wafat, sebab orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah.
  • Pilihlah waktu yang tepat untuk berdakwah. Tidak semua waktu itu sama, dan tidak semua waktu cocok untuk mengajak orang lain. Bahkan, pilihlah pula orang yang akan Anda ajak sebisa mungkin.
  • Utamakan dakwah dari hal yang paling penting kemudian yang penting. Artinya, Anda harus memperhatikan perbaikan hal-hal yang menyentuh akidah terlebih dahulu, kemudian hal-hal fardu, lalu sunnah, dan demikian seterusnya.
  • Gunakan kata-kata yang sesuai dengan orang yang Anda ajak kepada Allah Ta'ala. Terlebih lagi bahwa setiap manusia memiliki tingkat pemikiran, gaya, dan cara berpikir tersendiri. Sarana ini sangat penting sekali; oleh karena itu Ali RA meletakkan sarana ini dalam maknanya yang paling tinggi dengan perkataannya: "Aku diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka."
  • Jangan memulai pembicaraan dengan orang yang Anda ajak melainkan sebatas apa yang Anda rasakan bahwa ia mengizinkannya bagi Anda. Kemudian berbertahaplah setelah itu sesuai dengan apa yang dimungkinkan oleh kondisi dan keadaan. Sangat penting sekali bagi Anda untuk tidak mengatakan segala sesuatu dalam satu sesi atau satu momen dakwah saja; yang terpenting adalah menyisakan bagian yang membuat orang lain penasaran untuk waktu berikutnya.
  • Manfaatkan momen-momen spontan yang tidak direncanakan dalam dakwah Anda dengan cerdas dan murni. Sebab hal itu memiliki pengaruh positif yang tiada tandingannya. Jauhilah sama sekali sikap yang dibuat-buat (muthashanni'); karena banyak dari usaha dakwah menjadi sia-sia akibat perasaan orang lain bahwa ada jenis pemaksaan atas dirinya.
  • Berikan perhatian kepada orang yang Anda ajak secara wajar, dan hindarilah perhatian yang berlebihan. Sebab hal itu membuat orang lain menjadi terlalu percaya diri secara berlebihan, yang pada akhirnya menyulitkan tugas Anda untuk meyakinkannya setelah itu.
  • Tidak harus kita melihat keyakinan/persetujuan pada wajah setiap orang yang kita ajak. Sebab sebagian dari mereka menampakkan ketidaksetujuan di hadapan Anda, tetapi ia mempercayai semua yang Anda katakan.
  • Hanya membatasi pada satu sarana saja dalam berdakwah akan mendatangkan kebosanan, melahirkan jenis sikap apatis pada pihak lain, serta membuang waktu dakwah dan da’iyah. Oleh karena itu, sepatutnya digunakan sarana yang bervariasi dalam berdakwah. Cari dan temukanlah selalu sarana-sarana baru yang menarik.
  • Jangan membuat orang lain merasa bahwa Anda bertanggung jawab atas dirinya, dan jangan sekali-kali meremehkan perilaku orang lain. Berbertahaplah dalam melarang kemungkaran; sebab seringkali akibatnya menjadi tidak aman ketika kita bertabrakan langsung dengan pikiran atau keyakinan manusia.
  • Manfaatkan setiap buah yang mendekat kepada Anda dalam momen-momen dakwah Anda; agar menjadi pendorong bagi aktivitas dan cita-cita yang lebih besar, sehingga Anda memetik banyak buah setelah dengan kehendak Allah Ta'ala.
  • Jangan sekali-kali mencampuri urusan orang lain (tathafful) atau melukai privasinya. Sebab jika Anda melakukan hal itu, Anda telah membuka pintu kegagalan Anda lebar-lebar. Jangan memaksakan diri Anda, jadilah orang yang ringan dan lembut yang tidak memberatkan siapa pun.
  • Jangan mengolok-olok siapa pun dan mohonlah keselamatan serta perlindungan kepada Allah, sebab takdir itu berputar. Allah Ta'ala berfirman: (Dan sekiranya Kami tidak meneguhkan (hati)mu, niscaya engkau hampir-hampir cenderung sedikit kepada mereka) (QS. Al-Isra': 74). Jadikanlah semboyan Anda: "Wahai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."
  • Jangan meremehkan amalan kebaikan yang sedikit apa pun bentuknya. Boleh jadi satu kata kecil atau amalan yang ringan mampu menciptakan perubahan besar dari arah yang tidak Anda ketahui.
  • Lakukanlah pertemuan berkala dengan diri sendiri untuk melakukan introspeksi (muhasabah). Namun jangan jadikan kesalahan-kesalahan Anda sebagai batu sandungan di jalan dakwah yang menghalangi Anda untuk melanjutkan perjalanan. Justru jadikanlah kesalahan itu sebagai lilin-lilin yang menerangi jalan Anda menuju kebenaran.
  • Ingatlah bahwa tidak harus kita mendapatkan hasil secara langsung. Sebab masalahnya bukanlah masalah bahwa kita telah lelah demi dakwah, atau bahwa kita telah benar-benar ikhlas karena Allah dalam momen ini lalu kita menginginkan buahnya. Masalahnya adalah kita hanya mengambil sebab-sebabnya saja, sedangkan hasil sepenuhnya berada di tangan Allah semata.
  • Tidak ada benih melainkan ia akan tumbuh. Boleh jadi tidak tumbuh hari ini atau esok hari, tetapi ia akan tumbuh pada suatu hari nanti. Oleh karena itu, da’iyah harus menyeru kepada kebenaran dengan segala sarana, dan tidak disyaratkan ia harus melihat buah dari amalnya. Boleh jadi ia tidak akan pernah melihatnya sama sekali, tetapi hal itu tidak berarti benih tersebut tidak akan tumbuh.
  • Ingatlah selalu bahwa kebenaran itulah yang akan abadi, dan bahwa kata-kata yang diucapkan yang mengusung petunjuk itulah yang akan menetap. Adapun kebathilan, maka ia akan lenyap menjadi debu pada suatu hari nanti, meskipun penantian akan hari itu memakan waktu yang lama.

Ayo, Mulailah!

Wahai Saudariku Da’iyah:

Itulah garis-garis dasar dan penting dalam berdakwah yang telah kami lukiskan dengan usaha yang sedikit ini untuk Anda. Tidak ada yang tersisa melainkan Anda mengaplikasikannya... Sebab mengolah teori tidaklah sulit, tetapi aplikasi dan mekanisme pelaksanaannya dialah batu ujian yang sebenarnya...

Berikut beberapa gagasan dan sarana dakwah yang menanti untuk diaplikasikan dalam beberapa bidang dan isu, yang dapat Anda jadikan kiasan untuk apa yang sepatutnya dilakukan di bidang-bidang lainnya:

Di Rumah dan Bersama Keluarga

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (QS. Asy-Syu'ara': 214)

  • Jadilah teladan yang baik (qudwah shalihah) terlebih dahulu, dan berusahalah memenangkan hati mereka dengan kasih sayang, kerja sama, dan kelapangan dada.
  • Kembalikanlah kedudukan Al-Qur'an al-Karim di rumah-rumah kaum muslimin dalam hal tilawah, hafalan, dan pengamalan... Melalui nasihat... atau meminta mereka bergabung dengan halaqah tahfiz Al-Qur'an, mengadakan perlombaan kecil di rumah, atau memberikan hadiah perangsang semangat...
  • Mengadakan pelajaran syariat di rumah, atau mengajak keluarga Anda untuk menghadirinya di masjid-masjid.
  • Perbanyaklah menyebutkan istilah-istilah syariat dan menjelaskannya dengan metode yang sederhana.
  • Memanfaatkan perkumpulan keluarga untuk memberikan arahan dan bimbingan.
  • Mengomentari ucapan anggota keluarga sesuai dengan tuntunan syariat, seperti memanfaatkan setiap waktu atau momen dan mengaitkannya dengan topik momen tersebut melalui hadis atau ayat.
  • Jika Anda melihat anak-anak Anda, saudara-saudara Anda, atau salah seorang dari keluarga Anda sedang asyik menonton televisi (lagu atau film... dll), dan dakwah langsung tidak mempan bagi mereka, tempuhlah dakwah tidak langsung. Seperti Anda pergi ke ruangan lain dan duduk mendengarkan Al-Qur'an atau ceramah yang menyentuh hati, yang suaranya sampai kepada mereka.
  • Ketika tiba waktu kepulangan orang lain ke rumah atau saat Anda berada di dapur, nyalakanlah Radio Al-Qur'an Karim atau ceramah—hendaknya kaset tersebut sesuai dengan kebutuhan orang-orang yang bersangkutan—sehingga setiap orang yang masuk dapat mendengarkannya. Berusahalah pula membuat televisi selalu menyala pada saluran zikir, shalat Haram, atau program agama dan fatwa. Semua orang secara bertahap akan terbiasa mendengarkan hal-hal yang baik seperti ini.
  • Mintalah anak-anak Anda atau saudara-saudara Anda yang berbakat—khususnya dalam menggambar—untuk menggambar bentuk-bentuk geometris atau ornamen Islam berwarna-warni—sebagai ganti dari menggambar makhluk bernyawa dan manusia—kemudian beri bingkai dan gantungkan di kamar tidur mereka... Lalu berikanlah hadiah atas karya mereka ini.
  • Menyambung poin sebelumnya... Berikan semangat kepada anak-anak dan saudara-saudara Anda yang masih kecil untuk menuliskan zikir-zikir harian, lalu letakkan di tempat yang menonjol agar anak-anak terbiasa mengulangnya selalu.
  • Anda harus mengenalkan anak-anak pada Sirah Rasulullah SAW, dengan mempertimbangkan bahwa sirah beliau 'alaihis salam tidak diajarkan melainkan pada jenjang pendidikan yang belakangan. Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk tidak menunggu hingga anak mencapai usia sepuluh tahun.
  • Menghidupkan seluruh sunnah di rumah serta mematikan dan memerangi bid'ah.
  • Mendidik anak-anak untuk pergi ke masjid, menghadiri shalat Jumat, dan menghadiri ceramah-ceramah agama, disertai dorongan dan motivasi bagi orang dewasa untuk melakukan hal itu.
  • Menyediakan majalah-majalah Islam yang bermanfaat sebagai pengganti majalah-majalah lainnya.
  • Berusaha mengganti kaset-kaset lagu dengan kaset-kaset agama yang bermanfaat dan menyenangkan... disertai penjelasan tentang hukum lagu dan pengaruhnya terhadap hati menggunakan hikmah dan pengajaran yang baik (mou'izhah hasanah).
  • Membangun perpustakaan rumah yang bervariasi dan komprehensif sehingga mencakup seluruh usia dan tingkat pemikiran, dengan menonjolkan pentingnya membaca.
  • Sebelum Anda berdiskusi dengan anggota keluarga mengenai salah satu isu, Anda harus merujuk terlebih dahulu pada salah satu buku atau fatwa yang berkaitan dengan topik tersebut agar ucapan Anda sampai pada akal mereka dan Anda mampu meyakinkan mereka.
  • Berusahalah mengenalkan orang-orang di sekitar Anda pada isu-isu umat dan masyarakat Anda dari sudut pandang Islam yang benar.
  • Lemparkanlah pertanyaan syari kepada anggota keluarga Anda agar mereka berpikir tentang jawabannya dan mencarinya jika tidak mengetahuinya... Dengan demikian Anda menyibukkan pikiran mereka dengan hal yang memberikan manfaat bagi mereka.
  • Adopsilah salah satu amalan kebaikan—sesuai kemampuan Anda—dan mintalah bantuan serta doronglah mereka untuk berpartisipasi bersama Anda disertai pujian atas mereka dan penjelasan tentang besarnya pahala mereka, agar sisi-sisi kebaikan dalam diri mereka menonjol... Misalnya menanggung anak yatim, memberi makan orang lapar, berkontribusi dalam pembangunan masjid... dll.
  • Hidupkanlah zikir kepada Allah di rumah sepanjang waktu... Seperti berzikir kepada Allah dengan suara jelas di hadapan anak-anak dan orang lain, atau menyalakan kaset-kaset agama dengan suara yang terdengar.
  • Mengaktifkan silaturahmi, bertobat dari pemutusan hubungan, menyambung tali dengan orang yang memutuskan kita, serta meninggalkan perselisihan, karena hal itu menghambat diterimanya amal-amal saleh.
  • Mengajak keluarga di malam yang terang bulan, atau di hari yang udaranya indah, dengan niat untuk bertafakur akan keagungan Allah dan membiasakan anak-anak untuk memperbanyak kalimat "Subhanallah", karena hal itu termasuk ibadah yang paling agung.
  • Jika ada pembantu di rumah, ajarkanlah kepadanya pokok-pokok agama, hal-hal fardu, dan ibadah-ibadah sesuai dengan cara yang benar. Berikanlah kepadanya buku-buku terjemahan dengan bahasanya yang membantunya memahami agamanya secara benar. Sebab segmen masyarakat ini kerap tersebar bid'ah, khurafat, serta ketidaktahuan akan agama dan fiqih ibadah di antara mereka.

 

Berikut adalah terjemahan lengkap, utuh, dan akurat dari teks yang Anda unggah ke dalam bahasa Indonesia baku, formal, dan komunikatif, sesuai dengan kaidah keilmuan Islam, aturan penerjemahan teks syariat, serta tata bahasa PUEBI/EYD:

Pertemuan/Pertemuan Keluarga

  • Sambutlah orang lain dengan senyuman yang tulus dan wajah yang berseri-seri, serta tunjukkan kebahagiaanmu atas kehadiran mereka, agar mereka dapat menerima apa pun yang berasal darimu.
  • Berupayalah untuk mempererat tali silaturahmi, memperdalam ikatan kekeluargaan, menyelesaikan serta menghentikan perselisihan, dan menyebarkan suasana keakraban serta kasih sayang.
  • Bawa serta sejumlah brosur/selebaran, kaset, dan buku-buku kecil pilihan, atau siapkanlah sebagai hadiah sederhana untuk mereka jika mereka berkunjung ke rumahmu.
  • Tampilkan kepada mereka kumpulan artikel pilihan, majalah-majalah Islam, atau kaset video mengenai kondisi umat Islam maupun ciptaan-ciptaan Allah.
  • Hidupkan majelis-majelis dengan zikir kepada Allah jauh dari pembicaraan mengenai kehormatan orang lain dan ghibah [menggunjing]... serta bukalah ruang diskusi mengenai hal-hal yang penting.
  • Engkau dapat mengadakan berbagai kuis/perlombaan budaya yang bervariasi, serta memberikan hadiah-hadiah dakwah sederhana seperti kaset atau buku kecil.
  • Berilah perhatian untuk mendakwahi wanita-wanita lanjut usia dan mengajarkan mereka urusan agama yang belum mereka ketahui, terutama ajaran-ajaran yang bersifat mendasar (pokok).
  • Siapkan sekumpulan kisah dan nasyid dakwah untuk anak-anak, kumpulkan mereka, lalu selenggarakan perlombaan ringan bagi mereka yang berkaitan dengan kisah dan nasyid tersebut.
  • Engkau dapat mengorganisasi beberapa kegiatan kelompok saat pertemuan keluarga, seperti menghadiri ceramah, menjenguk orang sakit, atau berpuasa sunnah bersama.
  • Berikan tanggapan/teguran terhadap kekeliruan yang terjadi di hadapanmu secara lembut dan bijaksana.

Bidang Pendidikan

Jika seorang guru wanita adalah seorang dai (pengajak kebaikan), maka hal itu menandakan bahwa ia termasuk salah satu dai yang paling besar pengaruhnya!

  • Seorang guru wanita harus menyadari bahwa bidang ini ada pertama-tama untuk pendidikan karakter (tarbiyah), dan kedua untuk pengajaran (ta'lim)... Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam pekerjaannya dan memperhatikan sisi tarbiyah... Sebab, para siswi sangat terpengaruh oleh guru-guru wanita mereka, baik dalam gerak-gerik, perilaku, maupun cara berinteraksi. Oleh karena itu, ia harus menjadi teladan yang baik terlebih dahulu.
  • Seorang guru wanita harus berfokus pada sisi emosional/hati siswi, serta memanfaatkan setiap poin dalam pelajaran untuk mengingatkan mereka kepada Allah dan menjadikannya sarana agar mereka terikat pada agama-Nya yang hak.
  • "Tas Dakwah Sekolah" merupakan ide sederhana namun sangat bermanfaat. Ini adalah sebuah tas yang disiapkan oleh guru wanita yang berisi bermacam-macam kaset beserta alat pemutarnya (tape recorder kecil), buku-buku, gambar, majalah dakwah, lembaran kuis/teka-teki, brosur, lembaran doa/zikir, dan kartu-kartu cantik berisikan faedah yang bervariasi. Ia membawanya saat jam pelajaran kosong (al-intizhar) maupun jam wali kelas (al-riyadah), dengan tetap memperhatikan unsur-unsur yang menarik, bervariasi, dan selalu baru.
  • Menyiapkan "Ruang Dakwah" di sekolah dengan bantuan para siswi, yang berisi alat perekam, video, perpustakaan kecil, kaset yang beranekaragam, serta mading (mading dinding) yang berkaitan dengan isu-isu mendasar dalam kehidupan remaja putri Muslimah dan hal-hal lain yang sesuai... Para siswi dapat diarahkan ke ruangan tersebut pada waktu-waktu luang dan jam pelajaran kosong, atau menjadikannya sebagai tempat rujukan.
  • Memasang mading dinding yang indah dan menarik yang kontennya dapat diubah-ubah. Misalnya, papan khusus fatwa yang fatwanya diganti dari waktu ke waktu; papan khusus dunia Islam yang memuat pengenalan tentang minoritas Muslim, penyebaran foto, berita, serta pengumuman donasi/sedekah; papan khusus isu wanita; papan untuk menempelkan kliping koran dan majalah penting yang dikumpulkan para siswi; papan untuk artikel serba-serbi, dan demikian seterusnya.
  • "Papan Tulis Terpadu/Berulang": Terdapat papan tulis yang dapat ditulis dengan spidol lebar dan mudah dihapus. Letakkan salah satunya di tempat yang terlihat oleh semua orang... Minta bantuan siswi yang memiliki tulisan tangan indah, lalu tuliskan pada papan tersebut setiap dua hari sekali sebuah ayat, hadis, atau hikmah yang mendalam untuk menghidupkan hati dan pikiran, atau disesuaikan dengan momen/acara tertentu.
  • Mengadakan perlombaan berkala yang bervariasi, seperti hafalan Al-Qur'an, tafsir, kisah-kisah Al-Qur'an, perumpamaan, dan keajaiban (i'jaz) Al-Qur'an; hafalan hadis beserta pertanyaan seputar kisah, perawi, perumpamaan, dan keajaibannya; karangan/ekspresi terbaik; cerita terbaik; karya tulis/penelitian terbaik (dengan syarat mengangkat topik yang krusial dan penting); komentar terbaik atas sebuah gambar (misalnya gambar penderitaan umat Islam atau gambar pakaian/abaya yang tidak sopan/tidak menutup aurat, dan lain-lain); perlombaan budaya umum untuk meningkatkan taraf wawasan; serta perlombaan solusi terbaik untuk masalah-masalah yang terus dilontarkan. Setiap perlombaan hendaknya menumbuhkan keterikatan para siswi terhadap Islam dan nilai-nilainya, dengan memperhatikan penyediaan hadiah yang bernilai.
  • Memberikan penghargaan yang layak bagi siswi-siswi yang mengenakan jilbab sempurna (syar'i), serta memotivasi siswi-siswi lainnya untuk berpegang teguh pada jilbab dan tidak meremehkannya.
  • Mengadakan halaqah hafalan Al-Qur'an dan halaqah zikir.
  • Menyampaikan seminar dan ceramah dengan memperhatikan variasi, gaya penyampaian yang menarik, serta membahas topik-topik penting yang berkontribusi dalam membangun pemikiran dan kepribadian generasi muda secara benar.
  • Memperhatikan program Siaran Radio Sekolah, serta menekankan pentingnya variasi, pembaruan, dan kualitas. Jangan hanya mengandalkan metode pidato/ceramah satu arah yang menimbulkan kebosanan pada jiwa remaja putri... Cobalah untuk memasukkan metode dialog, kisah, drama, dialog interaktif, dan peragaan gerakan.
  • Menerbitkan majalah mingguan atau bulanan yang melibatkan partisipasi para siswi, dengan memperhatikan keanekaragaman, kualitas, keatraktifan, dan pembaruan konten.
  • Memanfaatkan Pertemuan Orang Tua Murid/Komite Sekolah (Majlis al-Ummahāt) untuk memberikan edukasi dan nasihat kepada para ibu, sekaligus membimbing mereka tentang cara memperhatikan putri-putri mereka dan mendidik mereka dengan pendidikan Islam yang benar.
  • Memperhatikan metode penasihatan secara individu (pribadi) kepada siswi, jauh dari nasihat terbuka di depan umum yang dapat membuatnya malu dan justru bisa memperburuk keadaannya.
  • Menciptakan suasana pada waktu istirahat untuk menunaikan sunnah Salat Dhuha, disertai dengan memasang papan yang tertulis di atasnya hadis mulia yang menjelaskan keutamaannya.
  • Memfasilitasi pertukaran kaset-kaset yang merusak dengan kaset-kaset yang bermanfaat melalui kerja sama dengan salah satu studio perekaman, meskipun dengan harga yang murah/simbolis.
  • Saling bertukar kaset keagamaan dengan para siswi... Guru wanita, misalnya, dapat meminta mereka memberikan kaset terbaik yang pernah mereka dengarkan, lalu kaset tersebut ditanggapi dan dibahas bersama.
  • Jika guru wanita dan para siswi menggunakan internet, hendaknya guru tersebut saling berbagi situs-situs bermanfaat dengan mereka, serta mengarahkan mereka untuk menjauhi ruang obrolan (chat room) dan Messenger, agar mereka dapat memanfaatkan fasilitas ini secara baik. Diutamakan bagi guru untuk berkomunikasi dengan mereka melalui email serta menunjukkan situs-situs yang baik guna mengalihkan mereka dari situs-situs yang buruk.
  • Jangan melupakan para pekerja/staf kebersihan di sekolah dari aktivitas dakwah dan nasihatmu.

Di Ruang Guru:

  • Letakkan kotak infak/sedekah kecil, dan tuliskan di atasnya ayat Al-Qur'an yang mulia tentang sedekah... Serta kelola pengumpulan sedekah dari waktu ke waktu (seperti orang tua asuh/orang tua angkat anak yatim, donasi untuk saudara-saudari Muslim kita, pembangunan masjid, memberi makan orang berpuasa, dan sebagainya).
  • Tempelkan papan di dinding yang tertulis di dalamnya doa Kaffaratul Majelis [penutup majelis], ayat tentang larangan ghibah [menggunjing], dan sejenisnya.
  • Berikan perhatian kepada rekan-rekan sejawatmu dan berikan mereka hadiah-hadiah dakwah yang sederhana.
  • Jadilah unsur yang positif dan aktif, damaikanlah perselisihan di antara sesama (ishlah dzāt al-bain), jauhi pertengkaran/perdebatan, dan maklumilah hal-hal yang sepele/kurang penting.
  • Kenalkan kepada mereka persoalan-persoalan dunia Islam serta invasi pemikiran dan budaya (al-ghazw al-fikri) yang dilancarkan kepadanya, sebab banyak wanita yang tidak mengetahui apa yang sedang direncanakan di sekitar mereka, serta mintalah mereka untuk mengenalkan hal tersebut kepada para siswi.
  • Ketika berdiskusi... Diskusikanlah dengan mereka secara tenang, penuh hikmah, dan pengajaran yang baik (al-mau'izhah al-hasanah), jauh dari teriakan, celaan, dan perdebatan yang sia-sia.
  • Berusahalah untuk menjadikan seluruh guru wanita sebagai teladan yang baik bagi para siswi sekaligus sebagai para dai.
  • Letakkan kotak yang anggun atau keranjang cantik berisikan buku-buku kecil dan kaset yang dapat dimanfaatkan oleh rekan-rekan gurumu pada waktu-waktu luang.

Para Siswi yang Menjadi Dai (Pelopor Dakwah):

Engkau mampu melakukan banyak hal sebagaimana yang dilakukan oleh guru wanita. Engkau dapat memberikan pengaruh kepada rekan-rekan sekelasmu dan teman-teman dekatmu melalui akhlak yang terpuji dan pertemanan yang baik... Dan kembalilah (berkonsultasilah) kepada guru-guru yang kompeten jika engkau menemui kesulitan.

Tetanggamu

  • Kenalilah tetanggamu terlebih dahulu dan berbuat baiklah kepada mereka... Serta berupayalah untuk menjaga silaturahmi dengan mereka dan mencairkan kekakuan/penghalang antara engkau dan mereka.
  • Jagalah agar majelis-majelismu bersama mereka menjadi majelis zikir, jauh dari ghibah [menggunjing] dan namimah [adu domba] yang kerap kali mendominasi majelis kaum wanita, serta sampaikanlah nasihat kepada mereka dengan hikmah dan pengajaran yang baik.
  • Selenggarakanlah sejauh kemampuanmu pertemuan berkala untuk setoran/setor hafalan Al-Qur'an dan mempelajari hukum-hukum agama.
  • Raihlah simpati dan kasih sayang mereka dengan memberikan hadiah pada momen-momen tertentu, serta mengirimkan masakan/makanan hasil buatan tanganmu dari waktu ke waktu...

يَا نِسَاءَ المُسْلِمَاتِ، لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا، وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ

"Wahai wanita-wanita Muslimah, janganlah sekali-kali seorang tetangga meremehkan pemberian untuk tetangganya, walaupun hanya berupa kaki/kuku remah seekor kambing." (HR. Bukhari)[^1]

  • Pilihlah kaset, buku, dan brosur dakwah secara cermat... Kemudian berikanlah kepada mereka sebagai hadiah, atau saling bertukarlah dengan mereka dengan niat saling meminjamkan.
  • Jadilah sosok yang selalu siap membantu mereka, terutama pada masa-masa krisis dan saat dibutuhkan.

Tempat-Tempat Umum

Mengenai dakwah di tempat-tempat umum seperti pasar, rumah sakit, dan sejenisnya, memang terdapat keterbatasan.

Namun, sarana dakwah yang paling utama di tempat-tempat ini adalah melalui nasihat, amar ma'ruf nahi munkar [mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran], serta membagikan brosur yang membahas fenomena-fenomena negatif di masyarakat, memperingatkan darinya, dan mengingatkan kepada Allah...

Di rumah sakit, misalnya, dapat diletakkan sebuah kotak yang di dalamnya berisi selebaran dan kisah-kisah nyata tentang para pasien, agar menyentuh realitas mereka dan memberikan dampak yang lebih kuat bagi mereka... Kotak ini dapat disediakan oleh para dokter pria, dokter wanita, dan perawat melalui perantaramu... Sedangkan untuk selebaran, setiap orang yang berkunjung ke rumah sakit dapat mengambilnya dan meletakkannya di sana.

Di sini kita tekankan kembali pentingnya memilih brosur, buku-buku kecil, dan kaset secara cermat.

Peranmu Saat Musibah dan Fitnah Menimpa Umat

Dunia Islam kita sedang mengalami berbagai tragedi yang gejolaknya berkobar dari waktu ke waktu. Sayangnya, sering kali kita berdiri di hadapannya hanya dengan menatap saja, dan jarang sekali kita menjadikannya sebagai momentum untuk kembali (bertobat) kepada Allah...! Maka, di tengah situasi tersebut, lakukanlah beberapa tindakan yang berkontribusi meringankan sebagian dari apa yang menimpa umat:

  • Menyebarkan kesadaran mengenai isu ini dan tidak memandangnya hanya dari sudut pandang emosional semata, melainkan engkau harus menghubungkannya dengan segala hal di sekitarmu. Serta menjelaskan fakta-fakta yang tidak diketahui oleh awam, seperti hakikat Masjidil Aqsa, rencana-rencana yang dirancang, pernyataan-pernyataan kaum Yahudi-Nasrani dan Protokol para Tetua (Protocols of the Elders of Zion) mereka... serta hakikat klaim 'pemberantasan terorisme' —ini merupakan poin penting, karena sangat banyak wanita yang meyakini bahwa para mujahidin adalah teroris dan bahwa aksi-aksi istisyhad [pengorbanan diri] adalah aksi terorisme bunuh diri..!— Hal itu dapat dilakukan misalnya melalui: mencetak dan membagikan selebaran, data statistik, serta artikel-artikel yang objektif/adil; mencetak dan menyebarkan foto-foto yang menggugah; menyampaikan ceramah dan seminar yang memberikan pengaruh mendalam...
  • Menyalakan pemantik kecintaan terhadap jihad dan mati syahid, beserta keutamaan, ganjaran, dan upaya menuju ke arahnya di dalam jiwa laki-laki di sekitarmu, bahkan hingga anak-anak kecil.
  • Menanamkan gagasan bahwa permusuhan yang utama adalah ditujukan terhadap (Islam semata), dan bahwa kita wajib berpegang teguh padanya serta menghidupkannya secara praktis dalam realitas kehidupan kita, yang dengan demikian mereka tidak akan mampu mengalahkan kita... Serta tekankan dengan kuat hubungan antara penerapan agama Islam dalam kehidupan kita dan menjadikannya sebagai pedoman dalam seluruh urusan kita dengan datangnya pertolongan Allah, sebab pertolongan tidak akan menjadi milik kita selama kita tidak menolong (agama) Allah.
  • Menghubungkan apa yang terjadi di setiap negeri Muslim dengan apa yang sedang dan telah terjadi di negeri-negeri Muslim lainnya.
  • Mengaktifkan pemboikotan ekonomi terhadap negara-negara yang membantu musuh, serta mengajak kepadanya melalui segala sarana...

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ

"Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi [menahan] karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan imannya." (HR. Abu Dawud)[^2]

  • Buatlah perbandingan secara terbuka antara kondisi umat Islam yang tertindas dengan kondisi kita, agar pemikiran mereka meningkat jauh dari hal-hal sepele, serta menyadari nikmat-nikmat yang sedang mereka nikmati dan sejauh mana kelalaian mereka terhadap hak Allah.
  • Bicarakanlah tentang fitnah-fitnah dan perang-perang besar (al-malāhim) yang telah dikabarkan oleh Rasulullah , serta jelaskanlah agar orang-orang di sekitarmu memahaminya dan menyadari peran mereka di dalamnya.
  • Organisasi kampanye penggalangan donasi di berbagai tingkatan.
  • Mintalah kepada orang-orang di sekitarmu untuk berdoa secara tulus bagi Islam dan kaum Muslimin.

Isu Wanita Menunggumu dengan Penuh Harapan

Kita semua mengetahui apa yang dihembuskan untuk menyerang wanita Muslimah, dengan berdalih berbagai argumen dan istilah... Dan muara dari seluruh kebijakan tersebut adalah (memecah gelombang pertahanan).

Sebagian hasil dari upaya gigih mereka untuk merusak masyarakat kita telah tampak, di antaranya adalah peremehan terhadap jilbab, tuntutan pengemudian mobil oleh wanita, serta bermunculannya seniman-seniman dan presenter-presenter wanita, di samping apa yang kita lihat dan dengar berupa pemikiran dan konsep-konsep Barat yang saling berdatangan yang membuat mereka berada dalam kesiapan penuh untuk berubah. Barang siapa yang telah siap untuk berubah atau tidak memberikan perlawanan, maka akan sangat mudah diubah oleh siapa pun yang menghendakinya, dan hasil-hasil yang akan datang darinya pasti merupakan hal yang tak terelakkan dan sulit ditolak!

Orang-orang saleh dan para dai dalam jangka waktu yang lama telah berjuang membela wanita dan berdiri menghadang para penyeru penyesatan wanita. Namun, hal ini harus dihentikan (yakni ketergantungan hanya pada kaum pria)!

Ya, itulah kenyataannya, sekarang adalah waktumu, dan engkaulah yang seharusnya berdiri menentang serangan yang kejam ini serta membendungnya... Karena engkaulah wanita yang menjadi sasaran serangan ini, dan engkaulah orang terbaik yang dapat membela dirimu sendiri. Kami tidak ingin engkau menjadi seperti pion dalam permainan catur yang mereka letakkan di kotak mana saja yang mereka kehendaki demi kepentingan mereka..!

Marilah kita mulai bersama-sama sejak saat ini pembebasan wanita yang hakiki... Pembebasan yang telah dianugerahkan oleh Islam kepadanya, yang darinya ia memperoleh kekuatan yang menempa kepribadian dan jatidirinya dalam realitas kehidupan; sehingga ia pasti akan merasakan betapa kerdilnya seluruh batasan lainnya, fakta-fakta akan tersingkap di hadapannya tanpa rekayasa, dan secara otomatis gambaran yang tertanam dalam benak akan berubah serta pola pikir yang menyimpang akan menjadi lurus kembali.

Engkau harus meningkatkan kadar kesadaran pribadi terlebih dahulu terhadap isu ini, serta mengenali lebih jauh dimensi-dimensinya di dalam maupun luar negeri, melalui membaca buku-buku, artikel, data statistik, dan studi-studi yang berkaitan dengan isu ini agar engkau lebih mendekatinya serta memahami tujuan dan dampaknya...

Yakinilah gagasan dan isumu terlebih dahulu, yakini hingga taraf keyakinan yang membara, yang dengan demikian engkau akan mampu menyampaikannya kepada wanita-wanita lainnya.

Engkau membutuhkan beberapa rujukan karena isu ini cukup rumit, di antaranya:

  • Al-Mar'ah Baina al-Fiqh wa al-Qānūn [Wanita di Antara Fikih dan Hukum Positif] karya As-Siba'i.
  • Al-Mar'ah wa Huqūquhā fī al-Islām [Wanita dan Hak-haknya dalam Islam] karya Samahah Abu An-Nashr.
  • Qadhiyyah Tahrīr al-Mar'ah fī Mishr [Isu Pembebasan Wanita di Mesir] karya Muhammad Qutb.
  • 'Amal al-Mar'ah fī al-Mīzān [Pekerjaan Wanita dalam Timbangan] karya Muhammad al-Bar.
  • Hirāsat al-Fadhīlah [Menjaga Kehormatan] karya Bakr bin Abdullah Abu Zaid.
  • Innahum Yatafarrajūna 'alā Ightishābihā [Mereka Menonton Pemerkosaannya] karya Muhammad al-'Uwaid.
  • Al-Hijāb [Jilbab] karya Mustafa Lutfi al-Manfaluti.
  • Al-Mar'ah Baina Du'āt al-Islām wa Ad'iyā' al-Taqaddum [Wanita di Antara Penyeru Islam dan Pengklaim Kemajuan] karya 'Umar al-Asyqar.
  • Al-Mar'ah al-Muslimah Hiwār Ma'a Du'āt al-Tahrīr [Wanita Muslimah: Dialog Bersama Para Penyeru Pembebasan] karya Muhammad Farid Wajdi.
  • Qaulī fī al-Mar'ah [Pendapatku Tentang Wanita] karya Mustafa Sabri.
  • 'Audaat al-Hijāb [Kembalinya Jilbab] karya Muhammad bin Ismail al-Muqaddim.
  • Qiyādat al-Mar'ah li al-Sayyārah Baina al-Haqq wa al-Bāthil [Wanita Mengemudikan Mobil Antara Hak dan Kebatilan] karya Dziyab al-Ghamdi.

Bagaimana engkau mengemas isu ini dalam dakwah setelah engkau memahaminya?

  • Memperkuat rasa bangga terhadap identitas keislaman, membuktikan kepribadian Muslimah yang menerapkan ajaran-ajaran agama Rabbani, serta menanamkan kepercayaan penuh terhadap hukum-hukum keagamaan yang berkaitan dengan isu ini.
  • Meluruskan istilah-istilah dan menempatkannya pada kerangka yang benar, yang terdepan adalah konsep "Pembebasan Wanita" (Tahrīr al-Mar'ah) dan "Hak-Hak Wanita" (Huqūq al-Mar'ah). Serta menegaskan bahwa Islam adalah agama yang membebaskan wanita dari tradisi, pengekoran terhadap Barat, penyimpangan, dan pemenuhan hawa nafsu.
  • Membahas dan membicarakannya di majelis-majelis dengan gaya bahasa yang menarik yang memadukan antara tinjauan keagamaan, medis, psikologis, dan sosial yang didukung oleh studi dan data statistik global yang membongkar klaim-klaim palsu mereka.
  • Menyusun buku/catatan yang penuh dengan kliping tulisan yang berkaitan dengan topik ini yang ditulis secara menarik... lalu memperlihatkannya kepada wanita lain.
  • Memiliki kaset dan buku-buku kecil yang berkaitan dengan isu wanita, membagikannya, atau membuat ringkasannya untuk dibaca isinya... Kami menekankan pentingnya memilih yang berkualitas terbaik, sebab tidak semua kaset dapat melayani tujuan ini secara tepat.
  • Memiliki brosur-brosur yang berkaitan dengan aspek-aspek ini dan membagikannya.
  • Memanfaatkan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi untuk dihubungkan dengan topik ini, dengan memperkuat penjelasanmu menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an, hadis-hadis mulia, data statistik, dan angka-angka.
  • Membandingkan antara kedudukan wanita dalam Islam dengan kedudukannya sebelum Islam pada umat-umat terdahulu maupun umat-umat masa kini yang jauh dari ajaran Islam, dengan memperkuat perbandingan tersebut menggunakan data statistik yang membongkar keadaan wanita modern yang terbebas dari nilai moral.
  • Sorotilah kehidupan wanita-wanita Salafush Shalih [generasi pendahulu yang saleh] secara mendalam —baik melalui kisah, kaset, maupun buku kecil— untuk memberitahukan kepada wanita lain tentang betapa jauhnya perbedaan antara cita-cita wanita salaf dengan kondisi wanita kita di zaman ini, serta menampilkan teladan wanita yang lurus bagi mereka, yang pada gilirannya merupakan upaya untuk mengangkat derajat mereka menuju kemuliaan.
  • Patahkanlah syubhat-syubhat (keraguan/tuduhan) yang diembuskan terhadap posisi Islam mengenai wanita dengan membantahnya, serta membantah orang-orang yang mengadopsinya dari kalangan umat Islam.
  • Memperhatikan media massa karena pengaruhnya yang besar, seperti menulis artikel bagi wanita yang memiliki bakat menulis, atau membantah sebagian artikel yang menyesatkan.
  • Surat-menyurat dengan penulis-penulis wanita yang terkenal dan mendorong mereka untuk mengangkat isu ini dari landasan syariat yang lurus, disertai memberikan pujian serta dorongan bagi yang benar, dan menasihati yang keliru dengan hikmah dan pengajaran yang baik.
  • Ketika terbit keputusan apa pun yang merugikan kedudukan wanita —di Kerajaan (Arab Saudi)— maka hendaknya segera dilakukan pengingkaran/penolakan melalui nomor 969 agar penolakan tersebut diteruskan kepada para pejabat, disertai mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
  • Memperhatikan anak-anak perempuan dan remaja putri serta menanamkan konsep-konsep yang benar dalam jiwa mereka, dengan bersungguh-sungguh menjelaskan hikmah dari setiap perintah Rabbani yang berkaitan dengan wanita... Khususnya mengenai jilbab dan rasa malu.
  • Hadiah memiliki pengaruh yang menakjubkan, maka berupayalah semampumu untuk menyebarkan hadiah-hadiah yang mengembalikan martabat jilbab, seperti menghadiahkan jilbab/kerudung kepala yang longgar, atau sarung tangan dan kaus kaki dengan cara yang indah dan lembut, atau buku-buku dan kaset-kaset yang memperhatikan isu-isu ini.
  • "Tas Dakwah": Hendaknya engkau memiliki tas yang relatif besar dan anggun, lalu letakkan di dalamnya sekumpulan kaset dan buku-buku kecil untuk dibagikan ketika engkau pergi ke mana saja... Ini akan membantumu saat berada di pasar, rumah sakit, maupun saat berkunjung.
  • Menghadang segala hal yang disiarkan, dipancarkan, dan ditampilkan yang mengajak kepada pergaulan bebas (ikhtilath), menyebarkan kekejian, atau menampilkan hal-hal yang diharamkan dalam bentuk yang dapat diterima dan disukai.
  • Menyurati para penanggung jawab surat kabar, majalah, televisi, dan radio untuk menasihati mereka, mengingatkan mereka kepada Allah, serta menyampaikan pesan penolakan terhadap segala hal yang melanggar syariat.
  • Menyurati para ulama dan penuntut ilmu (para penuntut ilmu syar'i), berkomunikasi dengan mereka, menyampaikan segala pelanggaran dan kemungkaran yang terjadi dan beredar di masyarakat, serta meminta nasihat dan arahan dari mereka.
  • Menyurati para pejabat negara, menasihati mereka, dan mengajak mereka untuk mencegah pelanggaran-pelanggaran syariat serta membendung dakwaan dan keinginan kaum sekuler dan Barat yang jahat.
  • Mencegah kemungkaran di pasar-pasar dengan cara menasihati para wanita secara bijaksana dan pengajaran yang baik... Atau menghubungi pihak Hai'ah Aamri bil Ma'ruf wa Nahyi 'anil Munkar [Lembaga Amar Ma'ruf Nahi Munkar] jika melihat kemungkaran besar yang tidak mampu engkau ubah sendiri.
  • Ingatlah selalu bahwa engkau sebagai seorang wanita —sebelum engkau menjadi seorang dai— berada di atas salah satu benteng pertahanan Islam.

Penutup

Adapun setelah engkau mengetahui tanggung jawab yang dibebankan di atas pundakmu, dan telah diberi pemahaman tentang cara memikulnya secara layak, maka tidak ada alasan bagimu hari ini jika engkau enggan/berpangku tangan. Engkau akan ditanya tentang apa yang telah engkau pelajari di sini: apakah engkau mengamalkannya atau tidak?!

Ya, engkau pasti mampu...

Maka bangkitlah, kibaskanlah debu dari kebangkitan wanita (al-shahwah al-nisā'iyyah) yang sedang pasif ini, dan mulailah sejak detik ini, sebab kita telah sangat terlambat...

Kita memohon kepada Allah bagi diri kita dan bagimu keteguhan dalam urusan (agama) dan tekad yang kuat di atas petunjuk.

Dan penutup doa kami adalah Alhamdulillāhi Rabbil 'ālamīn (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).

Wassalāmu 'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Catatan Kaki (Footnotes)

[1] Malik bin Nabi, Syuurut un-Nahdhah (Syarat-Syarat Kebangkitan).

[2] Dr. Mustafa Mahmud, Min Asrar il-Qur'an (Di Antara Rahasia-Rahasia Al-Qur'an).

[3] Dipetik dari buku Al-Muntakhab min Qhashash id-Da'wah (Kisah-Kisah Pilihan tentang Dakwah) karya Syekh Ibrahim al-Huqail.

[4] Syekh Muhammad bin Hasan bin 'Aqil Musa, 'Uluwwul Himmah (Cita-Cita Tinggi).

[5] Syekh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baz, Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah (Kumpulan Fatwa dan Artikel Bervariasi).

[6] Diambil dengan sedikit ringkasan dari buku Kaifa Tad'u (Bagaimana Anda Berdakwah) karya Ibrahim al-Juwair, dan lembaran Hatta La Takuna Kulla idh-Dhan (Agar Anda Tidak Menjadi Korban Prasangka) karya Syekh Muhammad ad-Duwaysh.

 

 

Dai Wanita (Al-Mar'ah ad-Da'iyah)

Aktivitas Dakwahnya adalah Bentuk Penghormatan Terbaik Baginya Sepanjang Masa

Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan Adam 'Alaihis Salam, Dia menciptakan Hawa dari tulang rusuknya agar keduanya saling membantu di bumi, serta menjadikan rasa kasih sayang dan kelembutan sebagai ikatan dan landasan utama antara suami dan istri. Hal ini bertujuan untuk membangun keluarga muslim yang menjadi batu bata [fondasi dasar] dalam tatanan masyarakat muslim yang besar. Di sisi lain dari kehidupan rumah tangga yang lurus, kita mendapati masalah perselingkuhan (pengkhianatan suami-istri) yang memiliki banyak sebab dan dampak, tidak hanya bagi individu, tetapi juga mencakup keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Dalam investigasi [laporan khusus] ini, kami akan mencoba menyoroti masalah penting ini karena dampaknya yang sangat merusak.

Dr. Salman al-Audah

Dakwah di jalan Allah merupakan perintah yang ditujukan kepada laki-laki dan perempuan secara setara, yang sangat ditekankan oleh Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang mulia. Ketika seorang wanita memikul tanggung jawab tugas ini, ia harus beramal dan melangkah dalam aktivitasnya berdasarkan nilai-nilai serta ajaran Islam. Risalah Muhammad Sallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mencetak dai-dai wanita sejak awal kelahirannya. Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda mengenai Sayyidatur-Nisa' Khadijah Radhiyallahu 'Anha dalam sebuah hadis:

«لاَ وَاللهِ مَا أَبْدَلَنِي اللهُ خَيْرًا مِنْهَا.. آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ.. وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ.. وَرَزَقَنِي اللهُ مِنْهَا الوَلَدَ دُونَ غَيْرِهَا مِنَ النِّسَاءِ..»

"Tidak, demi Allah! Allah tidak menggantikan bagiku wanita yang lebih baik darinya. Ia beriman kepadaku saat orang-orang ingkar kepadaku, ia membenarkanku saat orang-orang mendustakanku, ia menopangku dengan hartanya saat orang-orang tidak memberiku, dan Allah mengaruniakanku anak darinya saat wanita-wanita lain tidak memberikannya." (HR. Ahmad)[^1]

Beliau adalah orang pertama yang menolong Islam, berkontribusi dalam menegakkan dakwah Islam, dan meletakkan batu bata pertamanya. Begitu pula Sayyidah Aisyah Radhiyallahu 'Anha, di mana Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda mengenainya:

«خُذُوا نِصْفَ دِينِكُمْ عَنْ هَذِهِ الحُمَيْرَاءِ»

"Ambillah separuh agama kalian dari wanita yang kemerah-merahan pipinya (Aisyah) ini."

Hal ini merupakan bukti atas kuatnya kapasitas dakwah dan keilmuan wanita dalam Islam. Namun, bagaimana seorang wanita menjalankan kewajiban dakwah di jalan Allah? Apa saja sarana untuk itu, dan bagaimana seorang wanita bisa menjadi dai yang sukses?

Serta berbagai persoalan lain yang membentuk konsep tentang "Dai Wanita". Majalah Al-Bushra melalui investigasi ini berusaha memetakan dan merumuskan sebuah pandangan yang kesimpulannya adalah bahwa wanita memiliki peran dalam dakwah di jalan Allah yang tidak kalah pentingnya dibandingkan peran laki-laki. Berikut laporannya untuk Anda:

Dr. Haifa as-San'usi, Dosen Fakultas Sastra Universitas Kuwait, menuturkan: "Saya ingin menegaskan pentingnya peran wanita dalam dakwah. Ada peran yang dituntut darinya, yaitu keharusan menjalankan pekerjaannya secara profesional (kufu'), karena dengan begitu ia akan memancarkan citra yang anggun bagi wanita muslimah. Wanita adalah separuh dari masyarakat dan merupakan pilar utama dalam pembangunannya yang tidak dapat diabaikan. Wanita muslimah secara alamiah sangat menjaga keridaan Allah melalui keikhlasan dalam bekerja dan tidak bermalas-malasan dalam segala kondisi. Namun, hal ini tidak berarti ia begitu tenggelam dalam pekerjaannya hingga mengabaikan tugas utamanya dalam membangun keluarga yang ideal."

Tugas yang Mulia

Adapun terkait kontribusi wanita dalam aktivitas dakwah, ia dapat menjalankan tugas ini melalui berbagai cara. Yang paling utama adalah kesungguhannya untuk berhias dengan akhlak mulia dan menampilkan perilaku terpuji yang menarik perhatian wanita lain kepadanya. Ketika kita melihat seseorang yang ikhlas dalam bekerja, takut kepada Allah dalam ucapan dan perbuatannya, bersungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai mulia, serta bangga dan memiliki rasa keterikatan (intima') terhadap Islam, kita merasa bahagia berteman dengannya dan mendengarkan tutur katanya. Demikian pula halnya dengan wanita muslimah. Kapan saja ia berhasil memikat hati wanita lain melalui keagungan akhlak, perilaku, dan kebiasaannya dalam pelbagai situasi, maka ia akan berhasil menyampaikan risalah dakwahnya. Hal ini tentu dengan keharusan menjauhi metode nasihat secara langsung di hadapan orang banyak, yang dapat melukai perasaan orang yang dinasihati dan membuat mereka lari. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah dalam bait syairnya:

تَعَمَّدْنِي بِنُصْحِكَ فِي انْفِرَادِي *** وَجَنِّبْنِي النَّصِيحَةَ فِي جَمَاعَةْ

فَإِنَّ النَّصْحَ بَيْنَ النَّاسِ نَوْعٌ *** مِنَ التَّوْبِيخِ لاَ أَرْضَى اسْتِمَاعَهْ

Sengajalah menasihatiku saat aku seorang diri,

Dan jauhilah memberi nasihat di tengah keramaian.

Sebab nasihat di tengah khalayak adalah salah satu bentuk

Celaan, yang aku tidak sudi mendengarnya.

Dakwah Melalui Profesi

Mengenai metode dakwah, Dr. As-San'usi melanjutkan: "Wanita mampu mewujudkan hal tersebut. Sebagaimana diriwayatkan dari salah seorang ulama Salaf: (Seorang mukmin itu bagaikan pelita, di mana pun ia diletakkan, ia akan menerangi). Demikian pula wanita; di mana pun ia berada, ia adalah seorang dai di jalan Allah. Ia mendakwahi suaminya dan membimbingnya ke arah yang seharusnya, sebab suami adalah pemimpin (ra'in) dan istri adalah penopang baginya dalam kepemimpinan tersebut. Begitu pula ia dapat mendakwahi saudari-saudari mukminahnya melalui komitmennya terhadap aturan dan ajaran Islam, memperdalam pemahaman agama (tafaqquh fiddin), serta mengajak mereka untuk berkomitmen dengannya. Demikian juga kepada wanita-wanita non-muslim, yaitu melalui dakwah dengan cara hikmah dan pengajaran yang baik (al-mau'izhah al-hasanah), serta berhias dengan akhlak Islam yang dampaknya mampu menjadi jalan masuk Islam bagi banyak wanita non-muslim."

Beliau menambahkan bahwa wanita dapat berdakwah melalui profesinya, baik sebagai guru, dokter, perawat, maupun insinyur, yaitu melalui komitmen kerja dan kesungguhannya dalam menerapkan apa yang diperintahkan Allah dalam berinteraksi dengan sesama. Oleh karena itu, wanita hendaknya bersungguh-sungguh dalam menuntut dan mengamalkan ilmunya, karena hal itu merupakan salah satu sarana terkuat dalam berdakwah di jalan Allah.

Separuh Masyarakat

Terkait peran wanita sebagai dai dan bagaimana menjalankan peran tersebut, seorang dai wanita, Dr. Azza ar-Rabbat, yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia dakwah, mengutip firman Allah Ta'ala:

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar..." (QS. At-Taubah: 71)

Umat Islam telah berjuang menyebarkan dakwah mereka melalui media massa pada masa kerasulan, serta melalui sarana-sarana lain yang mereka tambahkan dan kembangkan secara kreatif. Perpustakaan-perpustakaan Islam, misalnya, menjadi sarana media inovatif yang bermula dari masjid-masjid; pasar-pasar berfungsi sebagai ajang konferensi dan seminar pemikiran; pembangunan sekolah-sekolah meluas; serta jihad, toleransi beragama, dan keteladanan yang baik (al-qudwah al-hasanah) menjadi sarana media Islam yang paling penting. Selain itu, terdapat pula bidang-bidang khusus untuk dakwah wanita yang bergerak menggunakan seluruh sarana ini. Wanita adalah separuh dari masyarakat; ia melahirkan dan mendidik separuh lainnya. Seorang pendidik dialah yang membentuk nilai-nilai dan konsep-konsep secara umum, termasuk konsep media secara khusus. Inilah tugas utama seorang wanita.

Dr. Ar-Rabbat memuji kedudukan wanita dengan menyatakan: "Dalam diri wanita terdapat kehormatan (muru'ah), kesucian diri ('iffah), dan rasa kemanusiaan. Dialah wanita yang didengar perkataannya oleh Allah saat ia mengajukan gugatan/perdebatan; dialah wanita yang anaknya dikembalikan kepadanya agar hatinya menjadi tenang dan tidak bersedih, serta agar ia mengetahui bahwa janji Allah itu benar; dan dialah wanita yang Allah turunkan ayat-ayat-Nya untuk meneguhkan hatinya. Allah Ta'ala berfirman:

"Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (turunan) dari sebagian yang lain...'" (QS. Ali 'Imran: 195)

Kata 'wanita' (al-mar'ah) disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 24 kali: mulai dari istri Imran, hingga istri Al-Aziz yang memuliakan tempat tinggal Yusuf; dari wanita mandul, hingga wanita yang kami beri kabar gembira tentang kelahiran Ishaq sebagai seorang nabi; dari Balqis yang memegang kekuasaan dan dianugerahi segala sesuatu, hingga dua gadis putri Syuaib beserta pendapat keduanya yang sangat tepat; dari istri Fir'aun yang memohon tetangga sebelum rumah ("Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim") [QS. At-Tahrim: 11], hingga wanita mukminah Radhiyallahu 'Anha yang menyerahkan dirinya untuk sebaik-baik makhluk Allah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Sebaliknya, ada pula wanita-wanita yang telah Kami tetapkan termasuk dalam golongan orang-orang yang tertinggal (dibinasakan), seperti istri Nuh, istri Lut, dan wanita pembawa kayu bakar (istri Abu Lahab). Al-Qur'an al-Karim telah memberitahukan tentang wanita dalam seluruh kondisinya dan mengabarkan seluruh perannya. Adapun perintah media (al-amr al-i'lami) khusus bagi wanita dalam Al-Qur'an al-Karim dimulai dari rumah kenabian. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan ingatlah apa yang dibaca di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sungguh, Allah Mahalembut, Mahamengetahui." (QS. Al-Ahzab: 34)

Maka, apa yang dibaca di rumah kenabian selain Al-Qur'an al-Karim, adab-adab Islam yang luhur, serta ajaran-ajarannya yang toleran? Kata kerja perintah "Qulna" [katakanlah wahai wanita] dan "Uzkurna" [ingatlah/sampaikanlah wahai wanita] merupakan perintah penyampaian (tabligh) dan penyebaran informasi (i'lam) khusus bagi istri-istri Nabi Sallallahu 'Alaihi wa Sallam dan secara umum bagi seluruh wanita muslimah.

Wanita pada Era Kenabian

Dr. Ar-Rabbat menyajikan berbagai keteladanan peran media wanita pada era kenabian yang relevan dengan zamannya, yang sarat dengan kecerdasan, kefasihan, dan keindahan bahasa, seperti Sayyidah Hafshah binti Umar Ummul Mu'minin Radhiyallahu 'Anha. Peran media dari sang penjaga Mushaf Syarif ini tecermin dalam riwayat 147 hadis dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam. Beliau memiliki 20 orang murid, di samping wanita-wanita ternama lainnya pada masa kenabian.

Utusan Kaum Wanita (Wafidatun-Nisa')

Dr. Ar-Rabbat terus mengenangkan kita pada tokoh-tokoh media wanita yang agung. Beliau berkata: "Asma' binti Yazid, sang juru bicara (khathibah) kaum wanita, merupakan salah seorang perawi hadis yang mulia, cerdas, dan taat beragama. Ia pernah mendatangi Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam dan berkata: 'Aku adalah utusan kaum wanita kepadamu...' Ia menyampaikan keluh kesah kaumnya kepada Nabi. Maka Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab dan bersabda kepadanya:

«إِعْلَمِي مَنْ خَلْفَكِ مِنَ النِّسَاءِ»

"Beri tahu dan sampaikanlah kepada wanita-wanita di belakangmu!"

Bukankah sabda beliau "A'limi" (beri tahulah) merupakan bentuk aktivitas media (i'lam)? Beliau telah meriwayatkan 81 hadis dari Nabi Sallallahu 'Alaihi wa Sallam, serta diriwayatkan pula oleh banyak Sahabat dan Tabi'in, dan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Abu Dawud, dan Ibn Majah.

Pengabaian oleh Media (Ta'tim I'lami)

Dr. Ar-Rabbat menyayangkan kelalaian media Islam kita yang mengabaikan nama-nama wanita yang rekam jejak harumnya tertutupi. Di antaranya adalah Shafiyyah binti Syaibah al-Abdariyyah, seorang perawi hadis perempuan yang tepercaya (tsiqah). Ia meriwayatkan 116 hadis dari Aisyah, Umm Habibah, dan Umm Salamah, serta mencetak 19 murid, di mana Al-Hasan bin Muslim dan Qatadah meriwayatkan darinya. Ada pula Umm Shalih binti Shalih yang diriwayatkan darinya oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i.

Selain itu, ada Ummu Kurz al-Khuza'iyyah yang meriwayatkan 5 hadis dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam, meluluskan 7 murid, dan berpredikat tsiqah dari kalangan Sahabat. Begitu pula Ummu al-Hushain binti Ishaq, pernahkah Anda mendengarnya?

Ia meriwayatkan 27 hadis dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam dan memiliki seorang murid. Serta masih banyak wanita lainnya yang memiliki rekam jejak panjang dalam menyebarkan Islam.

Dr. Ar-Rabbat bertanya: "Bukankah hal ini menunjukkan penghormatan Islam terhadap peran wanita dalam kehidupan, khususnya dalam peran dakwahnya?"

Menjawab pertanyaan kami mengenai alasan mengapa kita belum menemukan gerakan dakwah wanita yang kuat, serta apa saja tantangan yang dihadapi oleh dakwah wanita, Dr. Ar-Rabbat menjawab: "Di dunia Islam telah lahir gerakan-gerakan dakwah wanita dari sekolah, organisasi, masjid, dan lembaga lainnya. Namun, gerakan-gerakan ini belum cukup memiliki daya tarik, kurang efektif, belum mencapai taraf keislaman yang komprehensif (syumuliyyah), dan belum sejalan dengan keterbukaan era modern."

Beliau menegaskan pentingnya mengaktifkan peran para dai wanita di seluruh lini untuk membenahi realitas wanita muslimah, karena hal tersebut merupakan tuntutan syariat dan kebutuhan sosial. Selain itu, seorang dai wanita wajib terintegrasi dalam kerja kolektif (amal jama'i), karena hal itu lebih mampu mengarahkan dan mengoptimalkan potensi secara ideal.

Dr. Ar-Rabbat juga mengisyaratkan bahwa dai wanita muslimah yang memulai kiprahnya di usia muda dan mencurahkan seluruh waktu serta tenaganya untuk dakwah, sering kali terputus dari dunia dakwah ketika berpindah ke rumah tangga (menikah), di mana terdapat kondisi baru dan kewajiban-kewajiban tambahan. Meskipun demikian, ia tetap menjadi teladan Islam dalam berdakwah melalui contoh yang baik (al-qudwah al-hasanah) bersama suami, keluarganya, tetangga, dan masyarakat barunya. Yang terpenting dari itu semua adalah perannya sebagai ibu yang mendidik anak-anaknya; karena pendidikan yang bijak dan matang adalah jaminan utama bagi setiap kebangkitan, dan rumah adalah sekolah pertama bagi pendidikan tersebut. Perbaikan umat ini tidak akan dimulai kecuali dari rumah, bahkan dari diri sang ibu itu sendiri.

Wawasan Dai Wanita

Beliau menunjukkan bahwa kita sangat membutuhkan dai-dai wanita yang beriman, berwawasan luas, serta memahami arti modernitas (mu'asharah). Mereka harus meyakini urgensi modernitas sebagaimana teguhnya mereka dalam memegang syariat dan ruh Islam. Dengan demikian, mereka mampu melahirkan generasi di mana wanitanya maju dan unggul secara keduniaan dengan ilmu pengetahuan, namun tetap berkomitmen terhadap perintah syariat, sehingga terwujud persamaan yang sulit yaitu memadukan antara ilmu dan agama.

Tantangan yang Dihadapi Dai Wanita

Mengenai tantangan terpenting yang dihadapi wanita muslimah yang menjadi dai, Dr. Ar-Rabbat berkata: "Ketahuannya tentang Islam dan hak-haknya, serta distorsi citra wanita di media massa. Oleh karena itu, peran media dalam dakwah di jalan Allah harus diaktifkan."

Dr. Ar-Rabbat mempertanyakan: Mengapa kita tidak memanfaatkan teknologi yang ada, sehingga kita memiliki situs-situs internet yang dikelola oleh orang-orang spesialis yang memegang kunci-kunci Islam berupa kejujuran, kasih sayang, dan pengorbanan, untuk membuka keterkuncian akal dan hati? Media Barat memanfaatkan internet untuk misi kristenisasi/misionaris melalui situs dan ruang obrolan (chat room). Mengapa kita tidak menghadapi Barat dengan media ilmiah yang menarik dan terencana? Peristiwa pembebasan Samarkand adalah bukti terbesar dalam hal ini. Seorang muslim diciptakan untuk memimpin arus, bukan untuk dikendalikan oleh arus.

Perasaan Kurang (Inferioritas)

Mengenai hambatan-hambatan yang merintangi dai wanita, Syaikh Salman bin Fahd al-Audah menuturkan: "Terdapat hambatan psikologis, di antaranya perasaan bersalah atau merasa kurang (asy-syu'ur bit-taqsir). Banyak dai wanita merasa tidak mampu memikul tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka. Sebenarnya ini adalah sebuah keutamaan dan bukan hambatan, sebab masalah justru timbul jika seorang pemudi merasa dirinya telah sempurna dan memiliki kapabilitas penuh; yang artinya ia tidak akan berusaha menyempurnakan dirinya atau membenahi kekurangannya, serta tidak mau menerima nasihat dari orang lain. Ada pun perasaannya akan kekurangan atau kelalaian justru menjadi pendorong baginya untuk mengambil manfaat dari orang lain dan menerima nasihat. Begitu pula rasa takut (tahayyub) untuk berdakwah dan berbicara di hadapan orang banyak; hal ini tidak akan hilang kecuali dengan latihan dan praktik. Pada tahap awal, memungkinkan bagi seorang pemudi untuk berbicara di tengah kelompok kecil, atau menyampaikan materi yang bermanfaat meskipun dalam bentuk tulisan teks. Kemudian ditingkatkan ke kelompok yang lebih besar, seperti berpartisipasi di masjid atau dalam majelis ilmu yang diadakan di sekolah. Setelah itu, ia mulai menyusun poin-poin materi, lalu menyampaikan kalimat secara singkat. Harus ada tahapan bertahap (tadarruj), sebab jika tidak, baik laki-laki maupun perempuan akan terus menyuarakan apa yang tidak sanggup mereka lakukan."

Lingkungan (Al-Bi'ah)

Kemudian Syaikh Al-Audah beralih ke hambatan lainnya, yaitu hambatan sosial. Beliau berkata: "Rusaknya lingkungan tempat dai wanita beraktivitas sangat memengaruhinya secara drastis." Syaikh Al-Audah menjelaskan bahwa solusi untuk menghilangkan atau mengurangi hambatan tersebut adalah dengan terus berkomunikasi dengan para ulama, penuntut ilmu, dan para dai yang memiliki rasa cemburu terhadap agama (ghirah) mengenai segala hal yang terjadi di dalam masyarakat tersebut. Solusi lainnya adalah turun langsung ke lapangan bagaimanapun pengorbanannya. Lari dari medan ini merupakan hadiah sangat berharga yang diberikan secara cuma-cuma kepada kaum sekuler dan para perusak di bumi. Menurut ijtihad saya, merambah medan-medan ini merupakan suatu keharusan, serta seorang pemudi harus menanggung apa yang ia hadapi di jalan dakwah kepada Allah Azza wa Jalla, kecuali jika ia mengkhawatirkan fitnah atas dirinya dan melihat fitnah itu benar-benar menimpanya, maka pada saat itulah dakwah harus tetap menjadi kegelisahan utama dalam pikirannya.

Pusat Kegiatan Wanita

Syaikh Al-Audah terus memberikan solusi dengan menyatakan: "Para dai, pengusaha, dan orang-orang yang ikhlas harus bersungguh-sungguh mendirikan lembaga-lembaga Islam yang murni. Bukan lagi hal yang mustahil untuk mendirikan rumah sakit khusus wanita atau pasar-pasar khusus wanita; bahkan hal itu sudah ada dan harus diperluas serta dikembangkan. Demikian pula, bukan lagi hal yang mustahil untuk mendirikan sekolah-sekolah khusus wanita maupun universitas-universitas khusus wanita di setiap negara Islam."

Beliau menilai bahwa kurangnya respons dari wanita lain merupakan salah satu hambatan yang dihadapi dai wanita, serta penolakan sebagian orang terhadap dakwah. Mengenai sebab-sebab kurangnya respons terhadap dai wanita, Syaikh Al-Audah mengembalikannya pada karakter yang ada pada diri objek dakwah (al-mad'u) itu sendiri, seperti penyimpangan yang sudah sangat jauh, atau terlalu lama berkubang dalam keburukan sehingga keluar darinya bukanlah hal yang mudah. Hal ini diatasi dengan kesabaran, kelapangan dada, ketenangan, pengintensifan upaya, serta menghubungkan pemudi tersebut dengan lingkungan Islam yang baru sebagai pengganti lingkungan rusak yang ia tinggali.

Beliau melanjutkan bahwa ada pula sebab-sebab yang bersumber dari diri dai itu sendiri, seperti ketidakmampuan menggunakan metode yang tepat yang dapat meresap ke dalam hati objek dakwah dan memengaruhinya. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh sikapnya yang kasar, keras, terlalu berfokus pada kesalahan orang lain, atau adanya kesan bahwa dai tersebut sedang melakukan semacam dominasi/otoritariasme yang memicu mereka untuk menentang dan membangkang.

Syaikh Al-Audah menentukan solusinya dan membatasinya pada kesungguhan dai untuk menggunakan metode pendekatan, penawaran, dan sindiran halus (talmih) tanpa perlu konfrontasi langsung sebisa mungkin; serta tidak membuat wanita lain merasa bahwa sang dai melampaui atau berada di atas mereka. Solusi lainnya adalah memperhatikan kepribadian wanita dari segi akidah, wawasan, perilaku, dan penampilan.

Selain itu, tidak mencari-cari kesalahan dan kekhilafan, karena hal itu bukan bagian dari metode pendidikan (uslub tarbawi). Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam terkadang memberikan pujian dan menyanjung seseorang atas karakter kebaikan yang ada padanya agar kebaikan itu tumbuh, membesar, dan diteladani oleh orang lain.

Sifat-Sifat yang Dituntut

Mengenai sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang dai wanita, Syaikh Al-Audah memaparkan:

Sifat Pertama: Berilmu tentang apa yang didakwahkannya. Tidak mungkin ia mengajak kepada sesuatu sementara ia tidak mengetahuinya: apakah hal itu bagian dari syariat atau bukan? Apakah termasuk ibadah atau sekadar adat kebiasaan? Apakah termasuk perkara agama atau tradisi sosial warisan?

Sifat Kedua: Keteladanan yang baik (al-qudwah al-hasanah). Allah Ta'ala berfirman melalui lisan Nabi-Nya, Syu'aib 'Alaihis Salam:

"Dia (Syu'aib) berkata, 'Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyelisihinya?). Aku tidak bermaksud menyelisihimu dengan melakukan apa yang aku larang. Aku hanya bermaksud (perbaikan) sekuat kemampuanku. Dan petunjuk (kelancaran) bagiku hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.'" (QS. Hud: 88)

Sifat Ketiga: Akhlak yang baik, tawaduk, dan lemah lembut. Menanamkan rasa cinta di dalam jiwa objek dakwah merupakan sebab utama diterimanya dakwah dalam banyak kondisi.

Sifat Keempat: Memperhatikan penampilan luar yang harus disandang oleh seorang dai, karena penampilan merupakan pintu utama yang harus dilalui untuk menuju hati wanita-wanita lain.

Sifat Kelima: Moderasi (al-i'tidal) dalam segala hal, termasuk dalam mengelola emosi antara sikap berlebihan (ifrath) dan meremehkan (tafrith).

Usulan-Usulan Dakwah

Pengawas dan Dai di Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, Manal Al-Anjari, menilai bahwa gerakan dakwah wanita di Kuwait telah bangkit dibandingkan sebelumnya. Hal ini ditandai dengan munculnya majalah-majalah yang berkontribusi membina kader-kader dakwah, seperti majalah Al-Bushra, Al-Furqan, Al-Wa'yul Islami, Al-Mujtama', dan majalah keagamaan lainnya, serta rubrik keagamaan di surat kabar harian. Beliau mengisyaratkan bahwa kita sangat membutuhkan masuknya dai wanita ke dalam media cetak harian, bukan sekadar mingguan. Hal ini memerlukan pengintensifan partisipasi media di berbagai sarana informasi. Al-Anjari menuntut adanya pusat-pusat pelatihan jurnalistik yang diawasi oleh tokoh-tokoh media wanita unggulan di bidang dakwah, yang bertujuan mengarahkan kelompok wanita berpemikiran unggul serta membekali mereka dengan perangkat yang dibutuhkan dalam bidang komunikasi media.

Al-Anjari mengusulkan agar sebagian majalah wanita ditransformasikan menjadi majalah-majalah Islam yang membahas seluruh permasalahan wanita dan tata cara berdakwah di dalamnya, serta menerbitkan surat kabar harian Islam yang fokus pada urusan wanita. Selain itu, perlu didirikan saluran televisi parabola (stasiun TV) yang ditujukan untuk wanita, di mana seluruh programnya disiapkan oleh wanita dan dipresentasikan oleh laki-laki.

Komunikasi Berkelanjutan

Al-Anjari menambahkan bahwa komunikasi dengan organisasi-organisasi wanita Islam internasional serta penyelenggaraan pertemuan dan konferensi bersama dapat mengembangkan dan menggairahkan gerakan dakwah. Hal ini dilakukan melalui perhatian terhadap kualifikasi pemateri wanita, wadah kegiatan sukarela bagi para pemudi meskipun secara jarak jauh, serta penyebaran konsep kegiatan ini agar menjadi penopang bagi masa depan dakwah yang lebih baik.

Demikian pula, tingkat keilmuan para dai wanita harus ditingkatkan melalui perhatian pada masalah akidah beserta dalil-dalilnya, hukum-hukum fikih, dan amalan-amalan hati (a'malul qulub); dengan mengarahkan sejumlah dari mereka untuk mendakwahi komunitas non-Arab dalam pelbagai bahasa. Hal ini akan membuahkan kesadaran pada sejumlah wanita serta memfasilitasi partisipasi bersama Komite Pengenalan Islam (Lajnatu at-Ta'rif bil Islam) dalam menjalankan peran dakwahnya sekaligus menimba pengalaman darinya.

Peran Dokter Wanita

Mengenai peran wanita di bidang kedokteran dan dakwah kepada komunitas lain yang beragam, Dr. Nabatah al-Barghasy menuturkan: "Sejak fajar Islam, wanita muslimah memiliki peran besar dalam berdakwah di jalan Allah dan menyebarkan agama ini. Wanita adalah pencetak kaum pria dan pendidik generasi, sebagaimana wanita memiliki kedudukan yang agung dalam Islam. Secara khusus di sini kita menyebut wanita yang bekerja di bidang kesehatan: ia wajib bertakwa kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, berkomitmen terhadap agama dan kewajibannya, menjaga busana muslimah disertai rasa bangga terhadap agamanya, serta berhias dengan adab, perilaku, dan akhlak Islam."

Beliau menegaskan bahwa setiap wanita yang bekerja di bidang medis mampu menjadi seorang dai di jalan Allah jika berkomitmen pada batasan-batasan ini. Dr. Al-Barghasy berharap adanya gerakan dakwah wanita di dalam lembaga-lembaga kesehatan, sembari mengingatkan pentingnya dakwah lisan maupun dakwah melalui sarana audio seperti kaset, atau media baca seperti buku dan brosur sebagaimana yang dilakukan oleh Komite Pengenalan Islam.

Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Beliau mengisyaratkan bahwa kiprah wanita muslimah yang bekerja di bidang kesehatan dalam berdakwah merupakan unsur efektif dalam membangun kejayaan agama dan umat, serta menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat baginya, sebagai perwujudan dari firman Allah Ta'ala:

"Barang siapa mengerjakannya kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)

Mengenai bagaimana dai wanita yang bekerja di bidang medis dapat mencapai tujuan dakwahnya, Dr. Al-Barghasy menyatakan bahwa dokter wanita harus memperhatikan pentingnya studi dan pelatihan, serta terlibat dalam kursus-kursus khusus penyiapan dai wanita agar sejalan dengan pola kehidupan kerjanya.

Beliau menegaskan bahwa keberhasilan membutuhkan perencanaan, studi, pemantauan, serta penetapan tujuan-tujuan khusus pada tahapan tertentu, dan hendaknya dilatih secara terstruktur di bawah bimbingan dai-dai wanita yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia dakwah.

Beliau memberikan catatan bahwa seorang dai hendaknya merenungkan kandungan Al-Qur'an sebagaimana orang lain merenungkannya. Dalam firman Allah Ta'ala:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..." (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini dibuka dengan kata kerja perintah "Ud'u" [serulah], dan kata kerja perintah ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah syariat menunjukkan hukum wajib. Kewajiban ini bertumpu pada penjelasan kaidah dasar dalam berdakwah ke jalan Allah.

Maka hikmah saja—dengan segala keagungan tingkat kepentingannya—tidak akan cukup, demikian pula halnya dengan nasihat. Masing-masing tidak akan mencapai tujuannya tanpa dihimpun dan dibalut dengan penyampaian yang baik (al-hasan).

(Sumber: Majalah Al-Bushra)

Catatan Kaki Tambahan / Penjelasan Istilah Teknis:

[^1]: HR. Ahmad: Takhrij hadis riwayat Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya (No. 24864).


Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat