Muslimah Daiyah dalam Pandangan Syariat
KAMU
HARUS MENJADI SEORANG DA’IYAH!
Persembahan
Pengantar
oleh Syekh Al-'Audah
Pendahuluan
Penulis
Mengapa
Kita Harus Berdakwah kepada Allah dan Melipatgandakan Usaha Saat Ini?
Keutamaan
seorang Da’iyah dan Pahala yang Menantinya
Bagaimana
Mempersiapkan Diri Anda untuk Berdakwah?
- Ikhlas dan Jujur
- Cita-Cita yang Tinggi ('Uluwwul
Himmah)
- Sabar dan Mengharap Pahala (Al-Ihtisab)
- Akhlak yang Baik
- Senjata Al-Qur'an, Ilmu
Syar'i, dan Wawasan
- Hancurkan Penghalang Ini
- Jangan Tinggalkan Mereka
- Wasiat Ringkas dan Penting
Ayo,
Mulailah!
- Di Rumah dan Bersama Keluarga
- Pertemuan/Arisan Keluarga
- Bidang Pendidikan
- Di Ruang Guru
- Para Siswi/Mahasiswi Da’iyah
- Tetangga Anda
- Tempat-Tempat Umum
- Peran Anda Saat Musibah dan
Fitnah Menimpa Umat
- Isu Perempuan Menanti Anda
dengan Penuh Harap
- Buku dan Referensi Mengenai
Isu Ini
- Bagaimana Anda Mengangkat Isu
Ini dalam Dakwah Setelah Memahaminya?
Penutup
Persembahan
Kami
mempersembahkan halaman-halaman yang bercahaya ini kepada setiap wanita yang
memiliki hati yang berdenyut dengan kecintaan pada Islam dan kecemasan untuk
berdakwah kepadanya...
Pengantar
oleh Syekh Al-'Audah
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh, amma ba'du:
Saya
telah membaca buku yang terlampir ini, dan saya sungguh kagum dengan
gagasannya, keindahan gayanya, serta kemuliaan tujuannya. Buku ini mengisi
kekosongan penting dalam kehidupan seorang gadis muslimah, terlebih lagi ketika
ditulis oleh pena salah seorang dari kaumnya sendiri. Saya tidak menemukan
komentar atas buku ini selain pujian atasnya, baik secara bentuk maupun isi,
bahasa maupun gagasan, serta doa untuk saudari mulia yang telah menulisnya.
Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan, memberkahi usahanya, dan
menjadikannya sebagai teladan bagi generasinya. Walhamdulillahi Rabbil
'Alamin.
Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Saudaramu,
Salman
bin Fahd al-'Audah
Senin,
13 Rabiul Akhir 1423 H
Pendahuluan
Penulis
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi
Rabbil 'Alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada hamba-Nya yang
paling mulia dari para nabi dan rasul, kekasih kita Muhammad, beserta keluarga
dan para sahabatnya sekalian, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik hingga hari pembalasan. Amma ba'du:
Kepada
setiap kekasih Ar-Rahman, cucu dari Khadijah, Aisyah, Nusaibah, dan
Ar-Rumaisha', yang telah dipilih Allah atas wanita-wanita lainnya dengan
mengikuti jalan-Nya, wanita asing yang memegang teguh agamanya meskipun bara
api membakarnya di tengah gemuruh fitnah namun ia tidak peduli /
Pohonkanlah
keteguhan (tsabat) kepada Allah, dan lakukanlah sebab-sebab yang
membantu keteguhan tersebut... Sebab Anda berada dalam kenikmatan yang
andaikata disadari oleh wanita-wanita lain, niscaya mereka akan segera kembali
kepada Islam sebagai jalan hidup dan praktik nyata.
Oleh
karena itu, Anda tidak boleh merasa cukup hanya dengan memperbaiki diri sendiri
dan berjalan sendirian, tetapi Anda harus merangkul orang-orang yang
pandangannya tertutup oleh kabut materialisme sehingga mereka tersesat di
perjalanan... Pada saat yang sama, Anda juga harus menghalau para pencuri
kehormatan dan menentang mereka.
Pandanglah
orang-orang yang bersembunyi di balik kesesatan dan penyimpangan itu dengan
kacamata belas kasih terlebih dahulu... Sebab ada banyak hal yang akan berubah
di sekitar kita, kemudian tempuhlah jalan-jalan dakwah yang benar dan
bervariasi.
"Sebab,
akidah terkadang kehilangan efektivitasnya karena kehilangan daya pancar
sosialnya, sehingga ia menjadi daya tarik individual belaka. Iman pun berubah
menjadi iman seorang individu yang terlepas dari hubungannya dengan lingkungan
sosialnya. Oleh karena itu, masalahnya bukanlah mengajari seorang muslim
tentang akidah yang telah ia miliki, melainkan yang terpenting adalah
mengembalikan efektivitas, kekuatan positif, dan pengaruh sosial kepada akidah
tersebut. Dalam satu kata: masalah kita bukanlah membuktikan keberadaan Allah
kepada seorang muslim, melainkan sejauh mana kita membuatnya merasakan
keberadaan-Nya, serta memenuhi jiwanya dengan keberadaan-Nya sebagai sumber
energi."
"Dan
syiar kebenaran sepatutnya mendominasi dalam kehidupan yang transparan,
terbebas dari kotoran sudut-sudut gelap tempat jiwa-jiwa jahat bertemu untuk
bersekongkol melawan jalannya, sebagaimana para penyamun biasanya saling
bahu-membahu menentang keamanan suatu negara."
Mari
kita ingat bahwa umat tidak akan bisa bangkit dengan masyarakat yang
tergerogoti dari dalam, dan bahwa umat harus memperbaiki dirinya sendiri
terlebih dahulu agar mampu menghadapi dunia di sekitarnya...
Kita
harus menolong (agama) Allah agar Dia menolong kita; kita harus menolong
agama-Nya dalam diri dan masyarakat kita agar Dia menolong kita melawan
musuh-musuh kita, baik di dalam maupun di luar.
Sesungguhnya
kemenangan tidak akan datang melainkan dengan kerja keras yang tak kenal lelah
dan kesabaran... Bukan dengan berserah diri pasrah (tawakul) dan sekadar
berdoa semata, meskipun masa kerja keras dan kesabaran itu memakan waktu
bergenerasi-generasi. Bagi umur sebuah bangsa, waktu sepanjang itu hanyalah
bagaikan kilatan cepat!
Dan
pihak yang paling agung dalam menjalankan tugas ini—tugas menciptakan
kemenangan—adalah: (Wanita), separuh masyarakat yang melahirkan dan
mendidik separuh sisanya; wanita yang mengguncang ayunan dengan tangan satunya
dan menggoncang dunia dengan tangan lainnya.
Maka,
kebangkitan (shahwah) kaum wanita harus dimanfaatkan secara lebih
mendalam dan luas, agar tidak sekadar menjadi energi terpendam yang rentan
menyusut, sirna, atau terisolasi di sudut-sudut tertentu.
Hasil
tidak akan pernah mendahului sebabnya... Maka renungkanlah!
Oleh
sebab itu, kami persembahkan kepada Anda usaha yang sedikit ini, dengan harapan
ia dapat menjadi salah satu sebab yang melahirkan hasil tersebut...
Jika
benar, maka itu berasal dari Allah Azza wa Jalla, dan jika salah, maka itu
berasal dari diri kami sendiri dan dari setan.
Dan
Allah adalah pelindung serta penentu arah dari apa yang dituju.
"Asy-Syahwah"
(Sang Kebangkitan)
Mengapa
Kita Harus Berdakwah kepada Allah dan Melipatgandakan Usaha Saat Ini?
Di
samping apa yang telah disebutkan sebelumnya, kita harus mengingat bahwa tujuan
utama Islam adalah menyelamatkan umat manusia, mengeluarkan mereka dari
penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata, dari
kegelapan menuju cahaya, dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan dari
kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.
Olah
karena itu, Rasulullah SAW bersabda:
إنَّما مَثَلِي ومَثَلُ النَّاسِ
كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ جَعَلَ
الفَرَاشُ وَهذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي تَقَعُ فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا،
وَجَعَلَ يَنْزِعُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيهَا، فَأَنَا آخُذُ
بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، وَأَنْتُمْ تَقْتَحِمُونَ فِيهَا
Terjemahan:
"Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan manusia adalah seperti seorang
laki-laki yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekelilingnya,
serangga-serangga dan hewan-hewan malam yang biasa jatuh ke dalam api mulai
menjatuhkan diri ke dalamnya. Laki-laki itu pun berusaha menghalau hewan-hewan
tersebut, namun mereka mengalahkannya dan tetap menerobos masuk ke dalamnya.
Maka aku memegang lipatan kain pinggang kalian agar tidak jatuh ke dalam api,
namun kalian tetap menerobos masuk ke dalamnya." (HR. Bukhari).
Manusia
hari ini sangat membutuhkan orang yang menggandeng tangan mereka menuju jalan
agama yang lurus dan pemenuhan dahaga spiritual, setelah mereka menempuh jalur
kemerosotan yang merendahkan kemanusiaan mereka yang sejati dan menyeret mereka
pada materialisme serta kebangkrutan spiritual. Hal ini tidak hanya berlaku
bagi orang yang belum mengenal Islam, tetapi juga bagi kaum muslimin yang hanya
menyandang namanyanya saja tanpa memahami hakikatnya yang sebenarnya!
Orang-orang
yang tenggelam ini membutuhkan uluran tangan yang menyelamatkan mereka dari
kubangan tersebut. Adalah sebuah kezaliman membiarkan mereka dalam kebingungan
yang menyesatkan diri mereka sendiri.
Siapakah
yang sanggup menyelamatkan mereka jika bukan para da'i? Dan bagaimanakah
jadinya jika para da'i justru berpaling dari tugas yang agung ini? Padahal pada
saat yang sama, langkah kaum perusak semakin dipercepat dengan membawa
alat-alat penghancur!
Seorang
wanita Nasrani pernah menghadiri sebuah konferensi yang diadakan untuk
mengenalkan agama Islam. Setelah mendengarkan penjelasan singkat mengenai
karakteristik dan keistimewaan agama ini, wanita itu berkata: "Jika apa
yang kalian sebutkan tentang agama kalian itu benar, maka sesungguhnya kalian
adalah orang-orang yang zalim!" Ketika ditanyakan kepadanya: "Mengapa
demikian?", ia menjawab: "Karena kalian tidak berusaha untuk
menyebarkannya di antara manusia dan berdakwah kepadanya!"
Sangat
disayangkan, sebagian wanita yang telah berkomitmen pada agama (mustaqimat)
ragu-ragu di jalan dakwah karena adanya kabut di perjalanan, atau mereka
bimbang karena keraguan (syubhat) yang merintangi, atau mereka mundur
karena penolakan dari orang-orang yang memperlemah semangat (muthabbithin)
serta para pengikut hawa nafsu yang sesat. Padahal, kewajiban mereka adalah
mempercayai diri mereka sendiri dan dakwah mereka, membulatkan tekad, serta
tidak menoleh pada bisikan setan dari golongan manusia dan jin. Bahkan, mereka
harus membelah jalan dakwah menuju Allah dengan bekal komitmen agama yang telah
Allah karuniakan kepada mereka. Merekalah orang-orang terbaik di medan ini dan
merekalah yang paling layak melakukan perbaikan.
Saudariku
yang mulia:
Renungkanlah
firman Allah Ta'ala:
"Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan kebajikan, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
berserah diri'?" (QS. Fussilat: 33)
Kata
tanya (istifham) dalam ayat ini bermakna penafian (nafi),
artinya: "Tidak ada seorang pun yang lebih baik perkataannya."
Tujuannya
adalah meniadakan hal tersebut sekaligus menantang lawan bicara untuk
mendatangkan sesuatu yang lebih baik dari ini. Jika ia memiliki sesuatu yang
lebih baik dari ini, hendaknya ia mendatangkannya!
Wahai
Saudariku:
Lihatlah
usaha para misionaris, penginjil, dan ahli kesesatan; betapa besarnya
pengorbanan yang mereka keluarkan untuk menyesatkan manusia! Sementara kita
yang telah dipilih oleh Allah untuk mengemban risalah-Nya justru bersikap lemah
dan malas!
Salah
seorang da'i pernah ditugaskan bersama sekelompok da'i oleh Universitas Islam
Imam Muhammad bin Saud untuk berdakwah di beberapa negara Afrika...
Ia
menceritakan: "Dalam sebuah perjalanan yang melelahkan menuju salah satu
desa, mobil kami melaju di tengah hutan yang lebat. Jalanan sangat terjal dan
sulit sehingga tidak memungkinkan bagi mobil untuk melaju lebih dari 20 km/jam.
Rasa lelah kami telah mencapai puncaknya, seolah-olah sebagian dari kami merasa
sesak dada karena panjangnya perjalanan dan mulai mengeluh akibat panas yang
menyengat, banyaknya lalat, serta debu yang memenuhi ruangan mobil.
Tiba-tiba
di pinggir jalan kami melihat seorang wanita Eropa menunggangi seekor keledai,
mengalungkan salib besar di dadanya, dan memegang teropong/keker di
tangannya... Ketika ditanyakan mengenai alasan keberadaannya di hutan ini,
ternyata ia sedang berdakwah mengajak kepada salib di sebuah gereja di dalam
desa tersebut, dan ia telah berada di sana selama dua tahun. Maka para da'i itu
berkata: 'Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari keteguhan orang
yang fajir dan kelemahan orang yang tepercaya.'"
Sekarang,
bandingkanlah antara Anda wahai putri tauhid dengan wanita yang sesat dan
menyesatkan ini... Kemudian tanyakanlah pada diri Anda sendiri: Apa yang
telah aku persembahkan untuk agama ini? Dan apakah agama ini tidak layak
mendapatkan sedikit saja usaha dari kita untuk berdakwah kepadanya?
Keutamaan
seorang Da’iyah dan Pahala yang Menantinya
- Da’iyah adalah sebab
datangnya pertolongan dan kejayaan (tamkin) di dunia:
"Kamu
(umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu)
menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah..." (QS. Ali 'Imran: 110)
- Menyampaikan dakwah
membuat da’iyah mendapatkan doa dari Rasulullah SAW bagi orang-orang yang
menyampaikan ilmu:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ
مِنَّا حَدِيثًا فَبَلَّغَهُ إِلَى مَنْ لَمْ يَسْمَعْهُ
Terjemahan:
"Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar suatu hadis dari
kami, lalu menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya..." (HR.
Ahmad).
- Da melebihkan da’iyah
sebagai bagian dari orang-orang yang diliputi oleh rahmat Allah yang
melimpah:
"Dan
orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan
mencegah dari yang munkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat
kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh,
Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. At-Taubah: 71)
- Da’iyah memiliki pahala
yang sangat besar yang melipat ganda sesuai dengan jumlah orang yang
menyambut dakwahnya:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ
مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا
Terjemahan:
"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti
pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit
pun." (HR. Muslim).
- Cukuplah menjadi
kemuliaan dan kehormatan bagi seorang da’iyah bahwa perkataannya dianggap
sebagai perkataan terbaik, dan ucapannya dalam menyampaikan risalah adalah
ucapan paling utama:
"Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan kebajikan, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
berserah diri'?" (QS. Fussilat: 33)
- Da’iyah termasuk
orang-orang yang beruntung (al-muflihun) dan bahagia di dunia dan
akhirat:
"Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah
orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104)
- Cukuplah menjadi
kebanggaan bagi da’iyah bahwa menjadi sebab hidayah seseorang itu lebih
baik daripada tempat terbit dan terbenamnya matahari:
فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ
بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Terjemahan:
"...Maka demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah kepada seorang
laki-laki melalui perantaraanmu adalah lebih baik bagimu daripada unta-unta
merah." (HR. Bukhari). Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: "...lebih
baik bagimu dari apa yang disinari oleh matahari saat terbit dan
terbenam."
- Da’iyah mengokohkan
nilai-nilai kebaikan dan kesalehan di tengah umat:
"Kamu
(umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu)
menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah..." (QS. Ali 'Imran: 110)
- Da’iyah adalah katup
pengaman masyarakat dan faktor lenyapnya kejahatan serta kerusakan:
"Orang-orang
kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam.
Yang demikian itu disebabkan karena mereka durhaka dan selalu melampaui
batas." (QS. Al-Ma'idah: 78)
- Da’iyah membangkitkan
rasa persaudaraan, kepedulian sosial, dan rasa saling memperhatikan antar
kaum muslimin:
"Dan
orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan
mencegah dari yang munkar..." (QS. At-Taubah: 71)
Bagaimana
Mempersiapkan Diri Anda untuk Berdakwah?
Mempersiapkan
diri wanita da’iyah dengan baik untuk peran ini dan memikul tanggung jawab yang
dibebankan kepadanya terhadap prinsip-prinsipnya dan orang lain merupakan hal
yang agung, bahkan bisa menjadi tujuan itu sendiri. Hal tersebut tidak akan
terwujud melainkan dengan terpenuhinya syarat-syarat yang diperlukan baginya
untuk menjalankan peran tersebut, baik secara kualitatif maupun kuantitatif
jika ia memang memenuhi kualifikasi, serta senantiasa dievaluasi dari dalam
dirinya maupun dari orang lain.
Tanamkanlah
dalam pikiran Anda bahwa jika Anda telah mempersiapkan diri dengan baik untuk
tugas dakwah ini, berarti Anda telah menyelesaikan separuh dari tugas tersebut.
Oleh
karena itu, kami menyajikan di hadapan Anda beberapa hal yang sepatutnya
dihiasi dan diperhatikan:
1.
Ikhlas dan Jujur (Al-Ikhlash wa ash-Shidq):
Anda
membutuhkan ramuan ajaib (eksir) amal yang tak terbatas dan kuncinya,
yaitu (Ikhlas) dalam ucapan dan perbuatan, agar amal Anda diterima, serta
terlahir dalam diri Anda kesabaran, harapan pahala (al-ihtisab), tekad
yang kuat, dan tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun...
Jangan
tinggalkan keikhlasan dalam beramal dengan memperhatikan selain Allah di
dalamnya... Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, sedangkan beramal
karena manusia adalah syirik. Adapun ikhlas adalah keselamatan dari kedua hal
tersebut, maka janganlah Anda mencari saksi bagi amal Anda selain Allah.
Niatkanlah
wujud Allah semata dalam berdakwah kepada-Nya dan niatkanlah untuk menolong
agama-Nya. Janganlah menunggu balasan maupun ucapan terima kasih, sebab
keikhlasan tidak akan pernah menyatu dengan kecintaan pada pujian dalam satu
hati. Maka berusahalah untuk menyembunyikan kebaikan-kebaikan dan
keutamaan-keutamaan Anda sebagaimana Anda menyembunyikan keburukan-keburukan
Anda. Jadikanlah celaan dan pujian dari orang awam bernilai sama di mata Anda,
lupakan penglihatan manusia terhadap amal-amal Anda, dan tinggalkan sikap
menuntut balasan amal di dunia.
Ingatlah
selalu bahwa keikhlasan adalah sebab diterimanya amal di sisi Allah Ta'ala, dan
ia juga merupakan sebab kesempurnaan (itqan). Tidaklah seseorang ikhlas
dalam sesuatu melainkan ia akan menyempurnakannya. Keikhlasan menuntut adanya
prasangka buruk terhadap diri sendiri (at-taham un-nafs) atas kekurangan
dan ketakutan akan tidak maksimalnya amal. Hal itulah yang mendorong pada
perbaikan diri secara terus-menerus menuju yang lebih baik, sebab orang yang
menganggap dirinya penuh kekurangan akan selalu berusaha naik ke tingkat yang
lebih tinggi agar selamat dari kekurangan tersebut.
Ketahuilah
bahwa keikhlasan membangkitkan kesabaran dan harapan yang tiada putus. Karena
orang yang mengikhlaskan amalnya untuk Allah, ia hanya mengharapkan pahala-Nya.
Sedangkan pahala dari Allah telah tertulis, baik manusia menerima dakwahnya
ataupun menolaknya. Oleh karena itu, jika ia menjadikan keikhlasan di depan
matanya, ia tidak akan peduli dengan penerimaan atau keberpalingan manusia,
karena ia tahu bahwa Allah mencatat pahalanya dalam kedua kondisi tersebut.
Berbeda dengan orang yang tidak ikhlas, ia menjadikan perhatian utamanya pada
penerimaan manusia; jika manusia tidak menerima, ia akan bosan dan meninggalkan
dakwahnya.
Jadikanlah
langkah-langkah Anda di jalan dakwah seperti langkah orang yang berjalan di
atas pasir halus; tidak terdengar suaranya, tetapi dipastikan bekasnya
terpampang nyata.
Dan
jangan lupa bahwa barangsiapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan
membuktikannya...
Kejujuran
Anda dalam mengemban dan menyampaikan dakwah adalah hal yang sangat penting.
Maka jujurlah kepada Allah dalam berdakwah demi Dia, dan jujurlah pada dakwah
dengan menyelaraskan antara lahiriah dan batiniah Anda.
Utamakanlah
kejujuran dalam amal-amal Anda dan carilah kejujuran itu agar amal tersebut
murni demi Wajah Allah. Jika tidak demikian, maka ketahuilah sejak awal bahwa
apa yang Anda lakukan akan menjadi debu yang berterbangan (haba'an mansyura)...!
Peliharalah
kejujuran dalam ucapan dan perbuatan, serta jauhilah kedustaan atau tauriyah
(kata bermakna ganda untuk mengeluh) dalam situasi apa pun, agar Anda tidak
menjadi pintu masuk yang ditembus oleh anak panah celaan.
Tanamkanlah
selalu dalam pikiran Anda bahwa ketika Anda jujur kepada Allah dalam dakwah dan
kejujuran itu mengalir dalam kehidupan serta jalan hidup Anda, maka Allah akan
membalas kejujuran Anda. Anda akan menjadi orang yang jujur, dicintai,
didekatkan, dan dipercayai di sisi Allah dan manusia. Mereka akan menerima apa
yang Anda serukan karena mereka telah menerima diri Anda, sebab barangsiapa
yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan membenarkannya!
2.
Cita-Cita yang Tinggi ('Uluwwul Himmah):
Kecilkanlah
apa pun yang berada di bawah puncak kemuliaan dakwah menuju Allah. Tetapkanlah
target bagi diri Anda untuk mencapai tujuan akhir yang Allah kehendaki untuk
Anda capai, sebagaimana para rasul yang mulia berada di puncak daftar
orang-orang yang bercita-cita tinggi dalam bidang ini. Sebagaimana pula Nabi
Muhammad SAW menjadi puncak tujuan terbesar dan teladan tertinggi dalam hal
ini, di mana cita-cita beliau tidak hanya terbatas pada hidayah kaumnya dari
Quraisy atau bangsa Arab saja, tetapi beliau berkirim surat kepada raja-raja
dan pemimpin dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.
"Percayalah
kepada Allah Azza wa Jalla dan jujurlah dalam bertawakal kepada-Nya serta
berprasangka baik pada-Nya. Karena memperkuat unsur-unsur ini dianggap sebagai
sarana mendasar untuk memperoleh keutamaan kekuatan tekad dan cita-cita yang
tinggi. Lemahnya tekad dan cita-cita berakar dari ketidakpercayaan pada diri
sendiri. Sedangkan kepercayaan kepada Allah yang disertai tawakal dan prasangka
baik kepada-Nya akan memberikan manusia secara umum dan da’iyah secara khusus
sebuah kepercayaan akan kebenaran dari apa yang dijelaskannya sebagai perkara
yang ditawakalkannya kepada Rabbnya, serta harapan akan pertolongan Allah dalam
mencapai hasil yang diharapkannya. Dengan demikian, tekadnya menjadi kuat dan
cita-citanya menjadi tinggi."
Jadikanlah
ridha Allah Azza wa Jalla sebagai tujuan Anda selalu, dan ingatlah bahwa hadiah
terbesarnya adalah surga. Dan barang dagangan Allah ini tidaklah murah!
3.
Sabar dan Mengharap Pahala (Al-Ash-Shabru wal Ihtisab):
"Sabar
itu adalah sinar (dhiya')." (HR. Muslim).
Sabar
adalah sifat agung yang dibutuhkan oleh manusia secara umum dan da’iyah secara
khusus... Hal itu karena di jalan dakwah ia akan menghadapi banyak ujian yang
membutuhkan kesabaran yang dapat meluluhkannya tanpa mematahkan tulangnya,
sehingga ia mampu melanjutkan perjalanan...
Allah
Ta'ala berfirman:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap-siagalah (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah
agar kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran: 200)
Dari
sini, Anda harus membiasakan diri untuk bersabar dan tidak berputus asa.
Ketahuilah bahwa akan datang hari-hari yang sulit bagi Anda di mana Anda
dihadapkan pada gangguan, ejekan, pengetelan semangat (tatsbit),
kesulitan, dan kelelahan...
Ketika
hal itu menimpa Anda, ingatlah kesabaran orang-orang yang lebih baik dari Anda
dalam rangka menyampaikan risalah Allah dari kalangan para nabi dan rasul.
Ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan orang yang lebih baik dari Anda
untuk bersabar atas gangguan orang-orang kafir dan munafik... Maka bagaimana
dengan keadaan Anda...?
Tentu
saja Anda jauh lebih membutuhkannya...
"Maka
bersabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah
dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya; dan
bertasbihlah pula pada waktu-waktu di malam hari dan pada pinggir-pinggir siang
hari, supaya kamu merasa senang." (QS. Taha: 130)
Sesungguhnya
Rasul kita yang mulia telah menimpa berbagai macam bentuk ujian: dipukul,
dicela, serta disempitkan ruang geraknya dan para sahabatnya. Namun kesabaran
beliau berada di puncak tertinggi di medan ujian.
Maka
kenalilah jenis-jenis gangguan yang pernah menimpa kekasih dan nabi kita
Muhammad SAW, serta hadirkanlah selalu dalam ingatan Anda. Niscaya urusan
tersebut akan terasa ringan dan jiwa Anda akan menjadi tenteram setelah
mengingat pahala yang telah Allah siapkan bagi orang-orang yang bersabar:
"Mereka
itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena
kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan selamat di
dalamnya." (QS. Al-Furqan: 75)
"Dan
sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang
sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai
keuntungan yang besar." (QS. Fussilat: 35)
"Dan
Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan
(pakaian) sutera." (QS. Al-Insan: 12)
Janganlah
Anda seperti daun pelepah kurma (sa'fah) yang cepat terbakar dan cepat
pula padam. Sadarilah keindahan dari amal yang Anda lakukan ini, dan
berbanggalah bahwa di zaman sibuknya manusia dengan urusan dunia ini Anda
disibukkan dengan hal yang lebih baik dari itu. Anda tidak boleh berputus asa dari
rahmat Allah, dan harapkanlah pahala di sisi-Nya. Rasulullah SAW telah
menegaskan bahwa kesulitan tidak akan berlangsung selamanya bagi orang yang
mengharapkan pahala dan bersabar serta mengetahui bahwa apa yang menimpanya
adalah takdir Allah dan tidak ada jalan lari darinya.
Dalam
kesabaran memang ada sedikit kekerasan dan kepahitan, tetapi buah akhirnya
lebih manis daripada madu.
Bersabarlah
dengan kesabaran yang indah, betapa dekatnya jalan keluar Barangsiapa mengawasi
Allah dalam segala urusan, niscaya ia akan selamat
Barangsiapa
yang jujur kepada Allah, ia tidak akan ditimpa bahaya Dan barangsiapa berharap
kepada-Nya, Dia akan ada di mana pun ia berharap
4.
Akhlak yang Baik (Al-Akhlaq al-Hasanah):
"Pergaulilah
manusia dengan akhlak yang baik."
Rasulullah
SAW diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Akhlak
adalah benang tenun dan jalinan Islam, bukan sekadar bingkai yang menjaga
batasan-batasannya lalu berhenti di sana...!
Tidak
ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari
kiamat daripada akhlak yang baik. Orang mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang paling baik akhlaknya. Dan akhlak yang baik kepada manusia
terhimpun dalam dua hal: mencurahkan kebaikan baik ucapan maupun perbuatan,
serta menahan gangguan baik ucapan maupun perbuatan.
Jalan
Anda menuju hati manusia adalah akhlak Anda yang baik di hadapan dan bersama
mereka:
"...Sekiranya
engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekitarmu..." (QS. Ali 'Imran: 159)
Akhlak
adalah salah satu sarana paling berbekal untuk mempengaruhi jiwa jika teladan
yang baik terwujud dalam diri Anda. Anda tidak akan bisa melapangkan manusia
dengan harta atau kedudukan Anda, tetapi Anda bisa melapangkan mereka dengan
wajah yang berseri-seri dan akhlak yang baik.
Bacalah
sirah Rasulullah SAW; Anda akan menemukan bahwa beliau senantiasa memegang
teguh akhlak yang baik dalam seluruh keadaannya, khususnya dalam berdakwah
kepada Allah Ta'ala. Maka manusia pun berbondong-bondong datang kepada beliau
dan masuk ke dalam agama Allah secara bergelombang karena akhlak yang agung
ini.
Sesungguhnya
Anda harus berusaha mempersiapkan jiwa orang-orang tersebut dengan akhlak Anda
yang baik, semangat kasih sayang, serta toleransi (samahah), agar mereka
dapat menyerap pemikiran-pemikiran Islam dan memahami maknanya, sehingga masuk
ke dalam lubuk hati dan alur pemikiran mereka yang pada akhirnya menentukan
tindakan dan perilaku mereka!
Ingatlah
bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak, maka bagaimana
mungkin Anda berdakwah kepada manusia sementara Anda sendiri tidak berkomitmen
dengannya? Padahal pandangan mata lebih cepat tertuju kepada Anda dan kritik
terhadap Anda akan lebih tajam...!
Oleh
karena itu, berakhlak dengan akhlak yang mulia bagi Anda adalah hal yang lebih
wajib dan mendesak. Berusahalah untuk meraih kemuliaan akhlak, perangi dan
latihlah jiwa Anda agar terhiasi dengannya... Serta dawamkanlah penyucian jiwa
(tazkiyatun nafs) dan pembinaannya agar dakwah Anda terpancar melalui
sikap (hal) Anda sebelum ucapan (qal) Anda.
5.
Senjata Al-Qur'an, Ilmu Syar'i, dan Wawasan (Sulahu al-Qur'an wa al-'Ulum
asy-Syar'iyyah wal Tsaqafah):
"Bagi
seorang da’iyah yang menyeru kepada Allah, memerintahkan yang makruf, dan
mencegah dari yang munkar, wajib hukumnya memiliki ilmu, berdasarkan firman-Nya
yang Mahasuci: (Katakanlah: 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang
yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata' (QS.
Yusuf: 108)). Ilmu itu adalah apa yang difirmankan Allah dalam Kitab-Nya
yang Mulia, atau yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya yang
shahih. Hal itu dilakukan dengan memberi perhatian pada Al-Qur'an al-Karim dan
Sunnah yang disucikan; agar Anda mengetahui apa yang diperintahkan dan dilarang
oleh Allah, serta mengetahui metode Rasulullah SAW dalam berdakwah kepada Allah
dan mengingkari kemungkaran, begitu pula metode para sahabatnya ridhallahu
'anhum. Anda harus membuka wawasan dalam hal ini dengan merujuk pada buku-buku
hadis dan pendapat para ulama dalam bab ini, karena mereka telah memperluas
pembahasan mengenai hal ini dan menjelaskan apa yang wajib.
Dan
wanita yang menegakkan urusan ini wajib memperhatikan hal tersebut agar
meletakkan segala perkara pada tempatnya; sehingga meletakkan ajakan pada
kebaikan pada tempatnya, dan amar makruf pada tempatnya, di atas bashirah
(ilmu/hujjah) dan pengetahuan. Hal ini dilakukan agar pencederaan terhadap
kemungkaran tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar dari kemungkaran itu
sendiri, dan agar perintah amar makruf tidak dilakukan dengan cara yang justru
menimbulkan kemungkaran yang lebih berbahaya daripada meninggalkan perbuatan
makruf yang diserukannya tersebut."
Di
samping itu, membaca Al-Qur'an al-Karim yang merupakan bekal utama para da'i
dapat lapangkan dada, mengusir kegelisahan, dan menambah iman:
"Wahai
manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu,
penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman." (QS. Yunus: 57)
Sesungguhnya
Al-Qur'an menceritakan kepada Anda hakikat pertarungan antara kebenaran dan
kebathilan, memberi kabar gembira akan kemenangan yang dekat, meneguhkan Anda
dalam ujian, serta menjanjikan kebaikan dan pahala:
"Sehingga
apabila para rasul tidak menaruh harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan
telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu
pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan siksa
Kami tidak dapat ditolak dari orang-orang yang berdosa." (QS. Yusuf: 110)
..Maka
jika Anda membacanya, resapilah dalam diri Anda dan hiduplah bersama
ayat-ayatnya detik demi detik. Anda akan menemukan diri Anda di dalamnya,
meresapi makna-maknanya, dan mengarahkan seruannya kepada diri Anda sendiri.
Sebagaimana
Anda juga harus selalu memperbarui wawasan tentang apa yang terjadi di sekitar
Anda berupa peristiwa-peristiwa dan berita-berita di tengah masyarakat.
Pengamatan ini sangat diperlukan untuk mengevaluasi peristiwa, menentukan mana
yang bermanfaat dan mewaspadai mana yang berbahaya, bukan malah mengurung diri
dalam dunia khusus Anda yang jauh dari alur peristiwa yang terjadi...
Sesungguhnya
mayoritas manusia tidak mengetahui apa yang dipertaruhkan untuk mereka oleh
musuh-musuh mereka, dan mereka mencampuradukkan antara kawan dan lawan. Maka
memperlihatkan hakikat musuh kepada manusia adalah sebuah keharusan, dan ini
adalah salah satu tugas Anda... Bacalah dan bacalah setiap hal yang bermanfaat,
agar Anda menjadi wanita yang memiliki ilmu, wawasan, dan kesadaran, yang
mendorong Anda ke depan dengan kokoh, mantap, dan percaya diri.
6.
Hancurkan Penghalang Ini:
Penghalang
"rasa malu" yang tercela dari berdakwah kepada orang lain, amar
makruf, dan nahi munkar; rasa malu yang tidak mendatangkan kebaikan bagi
pemiliknya jika ia berada di atas kebenaran. Padahal kebenaran itu lebih berhak
untuk diikuti...!
Lihatlah
para pengikut kebathilan, betapa mahirnya mereka membela kesesatan mereka tanpa
ada rasa malu sedikit pun kepada Allah maupun kepada makhluk-Nya...
Betapa
sebuah paradoks yang menyakitkan!
Seorang
penari atau seniman cabul membela perbuatannya dan mengajak wanita lain untuk
masuk ke dalam kubangan yang dimasukinya, sementara wanita salehah justru
ragu-ragu dalam berdakwah mengajak orang lain kepada Allah dan mencegah
kemungkaran meskipun hanya dengan satu kata!
Bukan
hal yang mengherankan jika pengikut kebathilan terus menerus dalam
kesesatannya, tetapi kita berhak bertanya: Di manakah engkau wahai wanita
salehah? Mengapa engkau meninggalkan medan ini untuk mereka?
Pilihannya
hanya dua: Anda membuang rasa malu itu dan maju dengan keberanian... atau
wanita-wanita penyeru kebathilan yang akan maju mengambil posisi Anda. Dan
sejauh mana kelalaian Anda, sejauh itulah keberanian mereka...
Wahai
Saudariku yang diam:
Cukuplah
rasa malu itu! Hancurkanlah penghalang yang Anda jadikan alasan atas kelemahan
dan sikap berdiam diri ini dengan cara menghancurkannya secara total melalui
perubahan diri, yang harus didahului oleh rasa butuh akan perubahan tersebut:
"...Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri..." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Maka
ikhlaskanlah niat dan tekad untuk berubah demi diri Anda sendiri dan demi
dakwah.
Cobalah
secara bertahap, mulai dari berdakwah kepada orang-orang yang sangat dekat
dengan Anda, kemudian orang-orang di sekitar Anda, lalu masyarakat umum...
Selain
itu, ada banyak sarana dakwah tidak langsung yang akan memindahkan Anda ke
ranah praktik nyata secara bertahap, yang sebagian darinya akan dijelaskan
kemudian...
Perbanyaklah
mengulang doa ini:
"Ya
Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan melepaskan
kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku." (QS. Taha:
25-28)
7.
Jangan Tinggalkan Mereka:
Keluarga
Anda, kerabat Anda, sahabat-sahabat Anda, rekan-rekan kerja Anda, dan semua
orang di sekitar Anda... Bersamalah dengan mereka, jangan mengurung diri
sendiri... Keberadaan Anda bersama mereka itu sendiri sudah merupakan dakwah
melalui perilaku Anda, di samping praktik-praktik dakwah lainnya...
Bukanlah
yang diminta agar Anda hanya menyampaikan kata-kata lalu pergi tanpa berbagi
duka dan suka dengan mereka. Yang diminta adalah Anda bergaul dengan mereka dan
merasuk ke dalam hati mereka dengan tutur kata yang baik, wajah ceria, dan
uluran tangan bagi setiap orang yang membutuhkan. Hal itu akan menarik hati
mereka kepada Anda, sehingga keadaan mereka dapat diubah.
Orang
yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka adalah lebih baik
daripada orang yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak bersabar atas
gangguan mereka... Dan orang yang bergaul dengan manusia, turun ke derajat
mereka, lalu mengangkat mereka menuju iman, takwa, dan amal saleh adalah orang
yang agung sejati.
Jauhilah
mereka hanya jika Anda tidak mampu mengubah kemungkaran saat terjadinya, atau
jika Anda tidak merasa aman dari fitnah dan pengerusan iman...
Hal
lainnya adalah Anda tidak boleh terputus atau mengisolasi diri dari
saudari-saudari salehah Anda dan tidak berbaur dengan mereka. Sebab seseorang
itu lemah jika sendirian dan menjadi kuat bersama saudara-saudaranya.
Sesungguhnya serigala hanya akan memakan domba yang menyendiri dari
rombongannya, maka bagaimana jadinya jika serigala itu semakin banyak
sebagaimana yang terjadi di zaman kita ini?!
"...Kami
akan menguatkan pemeliharaanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu
berdua kekuasaan..." (QS. Al-Qashas: 35)
Hubungilah
saudari-saudari salehah agar Anda dapat saling terhubung, saling menasihati
dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Kemudian ajaklah
wanita-wanita lain ke majelis-majelis zikir Anda yang baik untuk mengambil
manfaat, saling mengingatkan akan tobat Allah, rahmat-Nya, ampunan-Nya, serta
balasan-Nya, dan menambah karunia-Nya Ta'ala.
8.
Wasiat Ringkas dan Penting:
- Banyak berdoa dan memohon
dengan sangat (ilhah) adalah ciri khas yang mengakar pada diri para
da'i yang tidak pernah terlepas sekejap pun, dan inilah rahasia
keberhasilan mereka. Barangsiapa yang tidak memohon dengan sangat
dalam doanya, maka ia tidak berada di atas jalan dan sunnah. Maka
perbanyaklah memohon (tadharru') kepada Rabb Yang Mahamulia lagi
Mahatinggi agar mengilhamkan kebenaran kepada Anda dan membimbing Anda
untuk mengamalkannya. Serta agar Dia mengaruniakan keteguhan jiwa,
kebaikan sikap, dan pengaturan bagi diri Anda. Sebab orang yang memohon
kepada Rabbnya telah berlepas diri dari daya dan upayanya sendiri,
bertawakal kepada Allah, serta menyerahkan urusannya kepada-Nya. Jika
Allah telah mengurusnya, Dia akan mengaruniakan kepadanya kebaikan sikap,
dan dalam hal itulah letak keberhasilan dakwahnya.
- Seorang da’iyah harus
memperbanyak mengucapkan: (La haula wala quwwata illa billah)
"Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah", sebab
kalimat ini akan memikul beban-beban setinggi gunung dari dirinya.
Hendaknya ia menyadari bahwa ia tidak bekerja dengan kekuatan dan tipu
dayanya sendiri; jika bukan karena pertolongan Allah, ia tidak akan mampu
menggerakkan satu batu pun dari tempatnya, tidak akan mampu melangkah satu
langkah pun, dan tidak akan mampu mengajak seorang manusia pun.
- Wajib bagi da’iyah untuk
menggantungkan hati manusia hanya kepada Allah Ta'ala. Inilah titik
tolak yang digunakan oleh para nabi, di mana mereka selalu menggantungkan
hati makhluk kepada Rabbnya. Ini adalah sarana paling mudah dan paling
manjur untuk membawa hati manusia menuju jalan hidayah. Sebab jika hati
telah mencintai Rabbnya, maka meninggalkan maksiat akan terasa mudah
baginya, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintainya daripada
ketaatan kepada-Nya... Menggantungkan hati ini dilakukan dengan dua hal:
dengan menyebutkan sifat-sifat dan nama-nama-Nya, serta dengan menyebutkan
karunia dan nikmat-nikmat-Nya. Al-Qur'an banyak berputar pada kedua hal
ini.
Setiap
dakwah yang tidak dimulai dari titik ini adalah dakwah yang gagal.
- Wajib merujuk pada Sirah
Nabi SAW dalam mempelajari metode dakwah. Merupakan sebuah kesalahan
jika hanya bersandar pada buku-buku penulis kontemporer semata. Sirah
beliau telah tertulis dengan sahih di tangan kita, di dalamnya terdapat
petunjuk dan cahaya. Setiap dakwah yang tidak terpancar darinya adalah
dakwah yang gagal.
- Penting juga untuk
mempelajari perjalanan hidup (sirah) para sahabat, salafus saleh,
dan para imam terkemuka. Hal itu akan membuat para da'i memahami
jalan-jalan yang benar menuju dakwah yang berhasil. Barangsiapa yang ingin
meneladani, hendaklah ia meneladani orang yang telah wafat, sebab orang
yang masih hidup tidak aman dari fitnah.
- Pilihlah waktu yang tepat
untuk berdakwah. Tidak semua waktu itu sama, dan tidak semua waktu
cocok untuk mengajak orang lain. Bahkan, pilihlah pula orang yang akan
Anda ajak sebisa mungkin.
- Utamakan dakwah dari hal
yang paling penting kemudian yang penting. Artinya, Anda harus
memperhatikan perbaikan hal-hal yang menyentuh akidah terlebih dahulu,
kemudian hal-hal fardu, lalu sunnah, dan demikian seterusnya.
- Gunakan kata-kata yang
sesuai dengan orang yang Anda ajak kepada Allah Ta'ala. Terlebih lagi
bahwa setiap manusia memiliki tingkat pemikiran, gaya, dan cara berpikir
tersendiri. Sarana ini sangat penting sekali; oleh karena itu Ali RA
meletakkan sarana ini dalam maknanya yang paling tinggi dengan
perkataannya: "Aku diperintahkan untuk berbicara kepada manusia
sesuai dengan kadar akal mereka."
- Jangan memulai pembicaraan
dengan orang yang Anda ajak melainkan sebatas apa yang Anda rasakan bahwa
ia mengizinkannya bagi Anda. Kemudian berbertahaplah setelah itu
sesuai dengan apa yang dimungkinkan oleh kondisi dan keadaan. Sangat
penting sekali bagi Anda untuk tidak mengatakan segala sesuatu dalam satu
sesi atau satu momen dakwah saja; yang terpenting adalah menyisakan bagian
yang membuat orang lain penasaran untuk waktu berikutnya.
- Manfaatkan momen-momen
spontan yang tidak direncanakan dalam dakwah Anda dengan cerdas dan murni.
Sebab hal itu memiliki pengaruh positif yang tiada tandingannya. Jauhilah
sama sekali sikap yang dibuat-buat (muthashanni'); karena banyak
dari usaha dakwah menjadi sia-sia akibat perasaan orang lain bahwa ada
jenis pemaksaan atas dirinya.
- Berikan perhatian kepada
orang yang Anda ajak secara wajar, dan hindarilah perhatian yang
berlebihan. Sebab hal itu membuat orang lain menjadi terlalu percaya
diri secara berlebihan, yang pada akhirnya menyulitkan tugas Anda untuk
meyakinkannya setelah itu.
- Tidak harus kita melihat
keyakinan/persetujuan pada wajah setiap orang yang kita ajak. Sebab
sebagian dari mereka menampakkan ketidaksetujuan di hadapan Anda, tetapi
ia mempercayai semua yang Anda katakan.
- Hanya membatasi pada satu
sarana saja dalam berdakwah akan mendatangkan kebosanan, melahirkan jenis
sikap apatis pada pihak lain, serta membuang waktu dakwah dan da’iyah.
Oleh karena itu, sepatutnya digunakan sarana yang bervariasi dalam
berdakwah. Cari dan temukanlah selalu sarana-sarana baru yang menarik.
- Jangan membuat orang lain
merasa bahwa Anda bertanggung jawab atas dirinya, dan jangan sekali-kali
meremehkan perilaku orang lain. Berbertahaplah dalam melarang
kemungkaran; sebab seringkali akibatnya menjadi tidak aman ketika kita
bertabrakan langsung dengan pikiran atau keyakinan manusia.
- Manfaatkan setiap buah
yang mendekat kepada Anda dalam momen-momen dakwah Anda; agar menjadi
pendorong bagi aktivitas dan cita-cita yang lebih besar, sehingga Anda
memetik banyak buah setelah dengan kehendak Allah Ta'ala.
- Jangan sekali-kali
mencampuri urusan orang lain (tathafful) atau melukai privasinya.
Sebab jika Anda melakukan hal itu, Anda telah membuka pintu kegagalan Anda
lebar-lebar. Jangan memaksakan diri Anda, jadilah orang yang ringan dan
lembut yang tidak memberatkan siapa pun.
- Jangan mengolok-olok siapa
pun dan mohonlah keselamatan serta perlindungan kepada Allah, sebab
takdir itu berputar. Allah Ta'ala berfirman: (Dan sekiranya Kami tidak
meneguhkan (hati)mu, niscaya engkau hampir-hampir cenderung sedikit kepada
mereka) (QS. Al-Isra': 74). Jadikanlah semboyan Anda: "Wahai
Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."
- Jangan meremehkan amalan
kebaikan yang sedikit apa pun bentuknya. Boleh jadi satu kata kecil
atau amalan yang ringan mampu menciptakan perubahan besar dari arah yang
tidak Anda ketahui.
- Lakukanlah pertemuan
berkala dengan diri sendiri untuk melakukan introspeksi (muhasabah).
Namun jangan jadikan kesalahan-kesalahan Anda sebagai batu sandungan di
jalan dakwah yang menghalangi Anda untuk melanjutkan perjalanan. Justru
jadikanlah kesalahan itu sebagai lilin-lilin yang menerangi jalan Anda
menuju kebenaran.
- Ingatlah bahwa tidak harus
kita mendapatkan hasil secara langsung. Sebab masalahnya bukanlah
masalah bahwa kita telah lelah demi dakwah, atau bahwa kita telah
benar-benar ikhlas karena Allah dalam momen ini lalu kita menginginkan
buahnya. Masalahnya adalah kita hanya mengambil sebab-sebabnya saja,
sedangkan hasil sepenuhnya berada di tangan Allah semata.
- Tidak ada benih melainkan
ia akan tumbuh. Boleh jadi tidak tumbuh hari ini atau esok hari,
tetapi ia akan tumbuh pada suatu hari nanti. Oleh karena itu, da’iyah
harus menyeru kepada kebenaran dengan segala sarana, dan tidak disyaratkan
ia harus melihat buah dari amalnya. Boleh jadi ia tidak akan pernah
melihatnya sama sekali, tetapi hal itu tidak berarti benih tersebut tidak
akan tumbuh.
- Ingatlah selalu bahwa
kebenaran itulah yang akan abadi, dan bahwa kata-kata yang diucapkan
yang mengusung petunjuk itulah yang akan menetap. Adapun kebathilan, maka
ia akan lenyap menjadi debu pada suatu hari nanti, meskipun penantian akan
hari itu memakan waktu yang lama.
Ayo,
Mulailah!
Wahai
Saudariku Da’iyah:
Itulah
garis-garis dasar dan penting dalam berdakwah yang telah kami lukiskan dengan
usaha yang sedikit ini untuk Anda. Tidak ada yang tersisa melainkan Anda
mengaplikasikannya... Sebab mengolah teori tidaklah sulit, tetapi aplikasi dan
mekanisme pelaksanaannya dialah batu ujian yang sebenarnya...
Berikut
beberapa gagasan dan sarana dakwah yang menanti untuk diaplikasikan dalam
beberapa bidang dan isu, yang dapat Anda jadikan kiasan untuk apa yang
sepatutnya dilakukan di bidang-bidang lainnya:
Di
Rumah dan Bersama Keluarga
"Dan
berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (QS.
Asy-Syu'ara': 214)
- Jadilah teladan yang baik (qudwah
shalihah) terlebih dahulu, dan berusahalah memenangkan hati mereka
dengan kasih sayang, kerja sama, dan kelapangan dada.
- Kembalikanlah kedudukan
Al-Qur'an al-Karim di rumah-rumah kaum muslimin dalam hal tilawah,
hafalan, dan pengamalan... Melalui nasihat... atau meminta mereka
bergabung dengan halaqah tahfiz Al-Qur'an, mengadakan perlombaan kecil di
rumah, atau memberikan hadiah perangsang semangat...
- Mengadakan pelajaran syariat
di rumah, atau mengajak keluarga Anda untuk menghadirinya di
masjid-masjid.
- Perbanyaklah menyebutkan
istilah-istilah syariat dan menjelaskannya dengan metode yang sederhana.
- Memanfaatkan perkumpulan
keluarga untuk memberikan arahan dan bimbingan.
- Mengomentari ucapan anggota
keluarga sesuai dengan tuntunan syariat, seperti memanfaatkan setiap waktu
atau momen dan mengaitkannya dengan topik momen tersebut melalui hadis
atau ayat.
- Jika Anda melihat anak-anak
Anda, saudara-saudara Anda, atau salah seorang dari keluarga Anda sedang
asyik menonton televisi (lagu atau film... dll), dan dakwah langsung tidak
mempan bagi mereka, tempuhlah dakwah tidak langsung. Seperti Anda pergi ke
ruangan lain dan duduk mendengarkan Al-Qur'an atau ceramah yang menyentuh
hati, yang suaranya sampai kepada mereka.
- Ketika tiba waktu kepulangan
orang lain ke rumah atau saat Anda berada di dapur, nyalakanlah Radio
Al-Qur'an Karim atau ceramah—hendaknya kaset tersebut sesuai dengan
kebutuhan orang-orang yang bersangkutan—sehingga setiap orang yang masuk
dapat mendengarkannya. Berusahalah pula membuat televisi selalu menyala
pada saluran zikir, shalat Haram, atau program agama dan fatwa. Semua
orang secara bertahap akan terbiasa mendengarkan hal-hal yang baik seperti
ini.
- Mintalah anak-anak Anda atau
saudara-saudara Anda yang berbakat—khususnya dalam menggambar—untuk
menggambar bentuk-bentuk geometris atau ornamen Islam
berwarna-warni—sebagai ganti dari menggambar makhluk bernyawa dan
manusia—kemudian beri bingkai dan gantungkan di kamar tidur mereka... Lalu
berikanlah hadiah atas karya mereka ini.
- Menyambung poin sebelumnya...
Berikan semangat kepada anak-anak dan saudara-saudara Anda yang masih
kecil untuk menuliskan zikir-zikir harian, lalu letakkan di tempat yang
menonjol agar anak-anak terbiasa mengulangnya selalu.
- Anda harus mengenalkan
anak-anak pada Sirah Rasulullah SAW, dengan mempertimbangkan bahwa sirah
beliau 'alaihis salam tidak diajarkan melainkan pada jenjang pendidikan
yang belakangan. Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk tidak menunggu
hingga anak mencapai usia sepuluh tahun.
- Menghidupkan seluruh sunnah
di rumah serta mematikan dan memerangi bid'ah.
- Mendidik anak-anak untuk
pergi ke masjid, menghadiri shalat Jumat, dan menghadiri ceramah-ceramah
agama, disertai dorongan dan motivasi bagi orang dewasa untuk melakukan
hal itu.
- Menyediakan majalah-majalah
Islam yang bermanfaat sebagai pengganti majalah-majalah lainnya.
- Berusaha mengganti
kaset-kaset lagu dengan kaset-kaset agama yang bermanfaat dan
menyenangkan... disertai penjelasan tentang hukum lagu dan pengaruhnya
terhadap hati menggunakan hikmah dan pengajaran yang baik (mou'izhah
hasanah).
- Membangun perpustakaan rumah
yang bervariasi dan komprehensif sehingga mencakup seluruh usia dan
tingkat pemikiran, dengan menonjolkan pentingnya membaca.
- Sebelum Anda berdiskusi
dengan anggota keluarga mengenai salah satu isu, Anda harus merujuk
terlebih dahulu pada salah satu buku atau fatwa yang berkaitan dengan
topik tersebut agar ucapan Anda sampai pada akal mereka dan Anda mampu
meyakinkan mereka.
- Berusahalah mengenalkan
orang-orang di sekitar Anda pada isu-isu umat dan masyarakat Anda dari
sudut pandang Islam yang benar.
- Lemparkanlah pertanyaan syari
kepada anggota keluarga Anda agar mereka berpikir tentang jawabannya dan
mencarinya jika tidak mengetahuinya... Dengan demikian Anda menyibukkan
pikiran mereka dengan hal yang memberikan manfaat bagi mereka.
- Adopsilah salah satu amalan
kebaikan—sesuai kemampuan Anda—dan mintalah bantuan serta doronglah mereka
untuk berpartisipasi bersama Anda disertai pujian atas mereka dan
penjelasan tentang besarnya pahala mereka, agar sisi-sisi kebaikan dalam
diri mereka menonjol... Misalnya menanggung anak yatim, memberi makan
orang lapar, berkontribusi dalam pembangunan masjid... dll.
- Hidupkanlah zikir kepada
Allah di rumah sepanjang waktu... Seperti berzikir kepada Allah dengan
suara jelas di hadapan anak-anak dan orang lain, atau menyalakan
kaset-kaset agama dengan suara yang terdengar.
- Mengaktifkan silaturahmi,
bertobat dari pemutusan hubungan, menyambung tali dengan orang yang
memutuskan kita, serta meninggalkan perselisihan, karena hal itu
menghambat diterimanya amal-amal saleh.
- Mengajak keluarga di malam
yang terang bulan, atau di hari yang udaranya indah, dengan niat untuk
bertafakur akan keagungan Allah dan membiasakan anak-anak untuk
memperbanyak kalimat "Subhanallah", karena hal itu termasuk
ibadah yang paling agung.
- Jika ada pembantu di rumah,
ajarkanlah kepadanya pokok-pokok agama, hal-hal fardu, dan ibadah-ibadah
sesuai dengan cara yang benar. Berikanlah kepadanya buku-buku terjemahan
dengan bahasanya yang membantunya memahami agamanya secara benar. Sebab
segmen masyarakat ini kerap tersebar bid'ah, khurafat, serta ketidaktahuan
akan agama dan fiqih ibadah di antara mereka.
Berikut
adalah terjemahan lengkap, utuh, dan akurat dari teks yang Anda unggah ke dalam
bahasa Indonesia baku, formal, dan komunikatif, sesuai dengan kaidah keilmuan
Islam, aturan penerjemahan teks syariat, serta tata bahasa PUEBI/EYD:
Pertemuan/Pertemuan
Keluarga
- Sambutlah orang lain dengan
senyuman yang tulus dan wajah yang berseri-seri, serta tunjukkan
kebahagiaanmu atas kehadiran mereka, agar mereka dapat menerima apa pun
yang berasal darimu.
- Berupayalah untuk mempererat
tali silaturahmi, memperdalam ikatan kekeluargaan, menyelesaikan serta
menghentikan perselisihan, dan menyebarkan suasana keakraban serta kasih
sayang.
- Bawa serta sejumlah
brosur/selebaran, kaset, dan buku-buku kecil pilihan, atau siapkanlah
sebagai hadiah sederhana untuk mereka jika mereka berkunjung ke rumahmu.
- Tampilkan kepada mereka
kumpulan artikel pilihan, majalah-majalah Islam, atau kaset video mengenai
kondisi umat Islam maupun ciptaan-ciptaan Allah.
- Hidupkan majelis-majelis
dengan zikir kepada Allah jauh dari pembicaraan mengenai kehormatan orang
lain dan ghibah [menggunjing]... serta bukalah ruang diskusi
mengenai hal-hal yang penting.
- Engkau dapat mengadakan
berbagai kuis/perlombaan budaya yang bervariasi, serta memberikan
hadiah-hadiah dakwah sederhana seperti kaset atau buku kecil.
- Berilah perhatian untuk
mendakwahi wanita-wanita lanjut usia dan mengajarkan mereka urusan agama
yang belum mereka ketahui, terutama ajaran-ajaran yang bersifat mendasar (pokok).
- Siapkan sekumpulan kisah dan
nasyid dakwah untuk anak-anak, kumpulkan mereka, lalu selenggarakan
perlombaan ringan bagi mereka yang berkaitan dengan kisah dan nasyid
tersebut.
- Engkau dapat mengorganisasi
beberapa kegiatan kelompok saat pertemuan keluarga, seperti menghadiri
ceramah, menjenguk orang sakit, atau berpuasa sunnah bersama.
- Berikan tanggapan/teguran
terhadap kekeliruan yang terjadi di hadapanmu secara lembut dan bijaksana.
Bidang
Pendidikan
Jika
seorang guru wanita adalah seorang dai (pengajak kebaikan), maka hal itu
menandakan bahwa ia termasuk salah satu dai yang paling besar pengaruhnya!
- Seorang guru wanita harus
menyadari bahwa bidang ini ada pertama-tama untuk pendidikan karakter (tarbiyah),
dan kedua untuk pengajaran (ta'lim)... Maka hendaklah ia bertakwa
kepada Allah dalam pekerjaannya dan memperhatikan sisi tarbiyah...
Sebab, para siswi sangat terpengaruh oleh guru-guru wanita mereka, baik
dalam gerak-gerik, perilaku, maupun cara berinteraksi. Oleh karena itu, ia
harus menjadi teladan yang baik terlebih dahulu.
- Seorang guru wanita harus
berfokus pada sisi emosional/hati siswi, serta memanfaatkan setiap poin
dalam pelajaran untuk mengingatkan mereka kepada Allah dan menjadikannya
sarana agar mereka terikat pada agama-Nya yang hak.
- "Tas Dakwah
Sekolah" merupakan ide sederhana namun sangat bermanfaat. Ini
adalah sebuah tas yang disiapkan oleh guru wanita yang berisi
bermacam-macam kaset beserta alat pemutarnya (tape recorder kecil),
buku-buku, gambar, majalah dakwah, lembaran kuis/teka-teki, brosur,
lembaran doa/zikir, dan kartu-kartu cantik berisikan faedah yang
bervariasi. Ia membawanya saat jam pelajaran kosong (al-intizhar)
maupun jam wali kelas (al-riyadah), dengan tetap memperhatikan
unsur-unsur yang menarik, bervariasi, dan selalu baru.
- Menyiapkan "Ruang
Dakwah" di sekolah dengan bantuan para siswi, yang berisi alat
perekam, video, perpustakaan kecil, kaset yang beranekaragam, serta mading
(mading dinding) yang berkaitan dengan isu-isu mendasar dalam kehidupan
remaja putri Muslimah dan hal-hal lain yang sesuai... Para siswi dapat
diarahkan ke ruangan tersebut pada waktu-waktu luang dan jam pelajaran
kosong, atau menjadikannya sebagai tempat rujukan.
- Memasang mading dinding yang
indah dan menarik yang kontennya dapat diubah-ubah. Misalnya, papan khusus
fatwa yang fatwanya diganti dari waktu ke waktu; papan khusus dunia Islam
yang memuat pengenalan tentang minoritas Muslim, penyebaran foto, berita,
serta pengumuman donasi/sedekah; papan khusus isu wanita; papan untuk
menempelkan kliping koran dan majalah penting yang dikumpulkan para siswi;
papan untuk artikel serba-serbi, dan demikian seterusnya.
- "Papan Tulis
Terpadu/Berulang": Terdapat papan tulis yang dapat ditulis dengan
spidol lebar dan mudah dihapus. Letakkan salah satunya di tempat yang
terlihat oleh semua orang... Minta bantuan siswi yang memiliki tulisan
tangan indah, lalu tuliskan pada papan tersebut setiap dua hari sekali
sebuah ayat, hadis, atau hikmah yang mendalam untuk menghidupkan hati dan
pikiran, atau disesuaikan dengan momen/acara tertentu.
- Mengadakan perlombaan
berkala yang bervariasi, seperti hafalan Al-Qur'an, tafsir, kisah-kisah
Al-Qur'an, perumpamaan, dan keajaiban (i'jaz) Al-Qur'an; hafalan
hadis beserta pertanyaan seputar kisah, perawi, perumpamaan, dan
keajaibannya; karangan/ekspresi terbaik; cerita terbaik; karya
tulis/penelitian terbaik (dengan syarat mengangkat topik yang krusial dan
penting); komentar terbaik atas sebuah gambar (misalnya gambar penderitaan
umat Islam atau gambar pakaian/abaya yang tidak sopan/tidak menutup aurat,
dan lain-lain); perlombaan budaya umum untuk meningkatkan taraf wawasan;
serta perlombaan solusi terbaik untuk masalah-masalah yang terus dilontarkan.
Setiap perlombaan hendaknya menumbuhkan keterikatan para siswi terhadap
Islam dan nilai-nilainya, dengan memperhatikan penyediaan hadiah yang
bernilai.
- Memberikan penghargaan yang
layak bagi siswi-siswi yang mengenakan jilbab sempurna (syar'i),
serta memotivasi siswi-siswi lainnya untuk berpegang teguh pada jilbab dan
tidak meremehkannya.
- Mengadakan halaqah hafalan
Al-Qur'an dan halaqah zikir.
- Menyampaikan seminar dan
ceramah dengan memperhatikan variasi, gaya penyampaian yang menarik, serta
membahas topik-topik penting yang berkontribusi dalam membangun pemikiran
dan kepribadian generasi muda secara benar.
- Memperhatikan program Siaran
Radio Sekolah, serta menekankan pentingnya variasi, pembaruan, dan
kualitas. Jangan hanya mengandalkan metode pidato/ceramah satu arah yang
menimbulkan kebosanan pada jiwa remaja putri... Cobalah untuk memasukkan
metode dialog, kisah, drama, dialog interaktif, dan peragaan gerakan.
- Menerbitkan majalah mingguan
atau bulanan yang melibatkan partisipasi para siswi, dengan memperhatikan
keanekaragaman, kualitas, keatraktifan, dan pembaruan konten.
- Memanfaatkan Pertemuan Orang
Tua Murid/Komite Sekolah (Majlis al-Ummahāt) untuk memberikan
edukasi dan nasihat kepada para ibu, sekaligus membimbing mereka tentang
cara memperhatikan putri-putri mereka dan mendidik mereka dengan
pendidikan Islam yang benar.
- Memperhatikan metode
penasihatan secara individu (pribadi) kepada siswi, jauh dari
nasihat terbuka di depan umum yang dapat membuatnya malu dan justru bisa
memperburuk keadaannya.
- Menciptakan suasana pada
waktu istirahat untuk menunaikan sunnah Salat Dhuha, disertai dengan
memasang papan yang tertulis di atasnya hadis mulia yang menjelaskan
keutamaannya.
- Memfasilitasi pertukaran
kaset-kaset yang merusak dengan kaset-kaset yang bermanfaat melalui kerja
sama dengan salah satu studio perekaman, meskipun dengan harga yang
murah/simbolis.
- Saling bertukar kaset
keagamaan dengan para siswi... Guru wanita, misalnya, dapat meminta mereka
memberikan kaset terbaik yang pernah mereka dengarkan, lalu kaset tersebut
ditanggapi dan dibahas bersama.
- Jika guru wanita dan para
siswi menggunakan internet, hendaknya guru tersebut saling berbagi
situs-situs bermanfaat dengan mereka, serta mengarahkan mereka untuk
menjauhi ruang obrolan (chat room) dan Messenger, agar
mereka dapat memanfaatkan fasilitas ini secara baik. Diutamakan bagi guru
untuk berkomunikasi dengan mereka melalui email serta menunjukkan
situs-situs yang baik guna mengalihkan mereka dari situs-situs yang buruk.
- Jangan melupakan para
pekerja/staf kebersihan di sekolah dari aktivitas dakwah dan nasihatmu.
Di
Ruang Guru:
- Letakkan kotak infak/sedekah
kecil, dan tuliskan di atasnya ayat Al-Qur'an yang mulia tentang
sedekah... Serta kelola pengumpulan sedekah dari waktu ke waktu (seperti
orang tua asuh/orang tua angkat anak yatim, donasi untuk saudara-saudari
Muslim kita, pembangunan masjid, memberi makan orang berpuasa, dan
sebagainya).
- Tempelkan papan di dinding
yang tertulis di dalamnya doa Kaffaratul Majelis [penutup majelis],
ayat tentang larangan ghibah [menggunjing], dan sejenisnya.
- Berikan perhatian kepada
rekan-rekan sejawatmu dan berikan mereka hadiah-hadiah dakwah yang
sederhana.
- Jadilah unsur yang positif
dan aktif, damaikanlah perselisihan di antara sesama (ishlah dzāt
al-bain), jauhi pertengkaran/perdebatan, dan maklumilah hal-hal yang
sepele/kurang penting.
- Kenalkan kepada mereka
persoalan-persoalan dunia Islam serta invasi pemikiran dan budaya (al-ghazw
al-fikri) yang dilancarkan kepadanya, sebab banyak wanita yang tidak
mengetahui apa yang sedang direncanakan di sekitar mereka, serta mintalah
mereka untuk mengenalkan hal tersebut kepada para siswi.
- Ketika berdiskusi...
Diskusikanlah dengan mereka secara tenang, penuh hikmah, dan pengajaran
yang baik (al-mau'izhah al-hasanah), jauh dari teriakan, celaan,
dan perdebatan yang sia-sia.
- Berusahalah untuk menjadikan
seluruh guru wanita sebagai teladan yang baik bagi para siswi sekaligus
sebagai para dai.
- Letakkan kotak yang anggun
atau keranjang cantik berisikan buku-buku kecil dan kaset yang dapat
dimanfaatkan oleh rekan-rekan gurumu pada waktu-waktu luang.
Para
Siswi yang Menjadi Dai (Pelopor Dakwah):
Engkau
mampu melakukan banyak hal sebagaimana yang dilakukan oleh guru wanita. Engkau
dapat memberikan pengaruh kepada rekan-rekan sekelasmu dan teman-teman dekatmu
melalui akhlak yang terpuji dan pertemanan yang baik... Dan kembalilah (berkonsultasilah)
kepada guru-guru yang kompeten jika engkau menemui kesulitan.
Tetanggamu
- Kenalilah tetanggamu terlebih
dahulu dan berbuat baiklah kepada mereka... Serta berupayalah untuk
menjaga silaturahmi dengan mereka dan mencairkan kekakuan/penghalang
antara engkau dan mereka.
- Jagalah agar
majelis-majelismu bersama mereka menjadi majelis zikir, jauh dari ghibah
[menggunjing] dan namimah [adu domba] yang kerap kali mendominasi
majelis kaum wanita, serta sampaikanlah nasihat kepada mereka dengan
hikmah dan pengajaran yang baik.
- Selenggarakanlah sejauh
kemampuanmu pertemuan berkala untuk setoran/setor hafalan Al-Qur'an dan
mempelajari hukum-hukum agama.
- Raihlah simpati dan kasih
sayang mereka dengan memberikan hadiah pada momen-momen tertentu, serta
mengirimkan masakan/makanan hasil buatan tanganmu dari waktu ke waktu...
يَا نِسَاءَ المُسْلِمَاتِ، لاَ
تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا، وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ
"Wahai
wanita-wanita Muslimah, janganlah sekali-kali seorang tetangga meremehkan
pemberian untuk tetangganya, walaupun hanya berupa kaki/kuku remah seekor
kambing." (HR. Bukhari)[^1]
- Pilihlah kaset, buku, dan
brosur dakwah secara cermat... Kemudian berikanlah kepada mereka sebagai
hadiah, atau saling bertukarlah dengan mereka dengan niat saling
meminjamkan.
- Jadilah sosok yang selalu
siap membantu mereka, terutama pada masa-masa krisis dan saat dibutuhkan.
Tempat-Tempat
Umum
Mengenai
dakwah di tempat-tempat umum seperti pasar, rumah sakit, dan sejenisnya, memang
terdapat keterbatasan.
Namun,
sarana dakwah yang paling utama di tempat-tempat ini adalah melalui nasihat, amar
ma'ruf nahi munkar [mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran], serta
membagikan brosur yang membahas fenomena-fenomena negatif di masyarakat,
memperingatkan darinya, dan mengingatkan kepada Allah...
Di
rumah sakit, misalnya, dapat diletakkan sebuah kotak yang di dalamnya berisi
selebaran dan kisah-kisah nyata tentang para pasien, agar menyentuh realitas
mereka dan memberikan dampak yang lebih kuat bagi mereka... Kotak ini dapat
disediakan oleh para dokter pria, dokter wanita, dan perawat melalui
perantaramu... Sedangkan untuk selebaran, setiap orang yang berkunjung ke rumah
sakit dapat mengambilnya dan meletakkannya di sana.
Di
sini kita tekankan kembali pentingnya memilih brosur, buku-buku kecil, dan
kaset secara cermat.
Peranmu
Saat Musibah dan Fitnah Menimpa Umat
Dunia
Islam kita sedang mengalami berbagai tragedi yang gejolaknya berkobar dari
waktu ke waktu. Sayangnya, sering kali kita berdiri di hadapannya hanya dengan
menatap saja, dan jarang sekali kita menjadikannya sebagai momentum untuk
kembali (bertobat) kepada Allah...! Maka, di tengah situasi tersebut,
lakukanlah beberapa tindakan yang berkontribusi meringankan sebagian dari apa
yang menimpa umat:
- Menyebarkan kesadaran
mengenai isu ini dan tidak memandangnya hanya dari sudut pandang emosional
semata, melainkan engkau harus menghubungkannya dengan segala hal di
sekitarmu. Serta menjelaskan fakta-fakta yang tidak diketahui oleh awam,
seperti hakikat Masjidil Aqsa, rencana-rencana yang dirancang,
pernyataan-pernyataan kaum Yahudi-Nasrani dan Protokol para Tetua (Protocols
of the Elders of Zion) mereka... serta hakikat klaim 'pemberantasan
terorisme' —ini merupakan poin penting, karena sangat banyak wanita yang
meyakini bahwa para mujahidin adalah teroris dan bahwa aksi-aksi istisyhad
[pengorbanan diri] adalah aksi terorisme bunuh diri..!— Hal itu dapat
dilakukan misalnya melalui: mencetak dan membagikan selebaran, data
statistik, serta artikel-artikel yang objektif/adil; mencetak dan
menyebarkan foto-foto yang menggugah; menyampaikan ceramah dan seminar
yang memberikan pengaruh mendalam...
- Menyalakan pemantik
kecintaan terhadap jihad dan mati syahid, beserta keutamaan, ganjaran, dan
upaya menuju ke arahnya di dalam jiwa laki-laki di sekitarmu, bahkan
hingga anak-anak kecil.
- Menanamkan gagasan bahwa
permusuhan yang utama adalah ditujukan terhadap (Islam semata), dan bahwa
kita wajib berpegang teguh padanya serta menghidupkannya secara praktis
dalam realitas kehidupan kita, yang dengan demikian mereka tidak akan
mampu mengalahkan kita... Serta tekankan dengan kuat hubungan antara
penerapan agama Islam dalam kehidupan kita dan menjadikannya sebagai
pedoman dalam seluruh urusan kita dengan datangnya pertolongan Allah,
sebab pertolongan tidak akan menjadi milik kita selama kita tidak menolong
(agama) Allah.
- Menghubungkan apa yang
terjadi di setiap negeri Muslim dengan apa yang sedang dan telah terjadi
di negeri-negeri Muslim lainnya.
- Mengaktifkan pemboikotan
ekonomi terhadap negara-negara yang membantu musuh, serta mengajak
kepadanya melalui segala sarana...
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ
لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ
"Barang
siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah,
dan tidak memberi [menahan] karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan
imannya." (HR. Abu Dawud)[^2]
- Buatlah perbandingan secara
terbuka antara kondisi umat Islam yang tertindas dengan kondisi kita, agar
pemikiran mereka meningkat jauh dari hal-hal sepele, serta menyadari
nikmat-nikmat yang sedang mereka nikmati dan sejauh mana kelalaian mereka
terhadap hak Allah.
- Bicarakanlah tentang
fitnah-fitnah dan perang-perang besar (al-malāhim) yang telah
dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ, serta jelaskanlah agar orang-orang
di sekitarmu memahaminya dan menyadari peran mereka di dalamnya.
- Organisasi kampanye
penggalangan donasi di berbagai tingkatan.
- Mintalah kepada orang-orang
di sekitarmu untuk berdoa secara tulus bagi Islam dan kaum Muslimin.
Isu
Wanita Menunggumu dengan Penuh Harapan
Kita
semua mengetahui apa yang dihembuskan untuk menyerang wanita Muslimah, dengan
berdalih berbagai argumen dan istilah... Dan muara dari seluruh kebijakan
tersebut adalah (memecah gelombang pertahanan).
Sebagian
hasil dari upaya gigih mereka untuk merusak masyarakat kita telah tampak, di
antaranya adalah peremehan terhadap jilbab, tuntutan pengemudian mobil oleh
wanita, serta bermunculannya seniman-seniman dan presenter-presenter wanita, di
samping apa yang kita lihat dan dengar berupa pemikiran dan konsep-konsep Barat
yang saling berdatangan yang membuat mereka berada dalam kesiapan penuh untuk
berubah. Barang siapa yang telah siap untuk berubah atau tidak memberikan
perlawanan, maka akan sangat mudah diubah oleh siapa pun yang menghendakinya,
dan hasil-hasil yang akan datang darinya pasti merupakan hal yang tak
terelakkan dan sulit ditolak!
Orang-orang
saleh dan para dai dalam jangka waktu yang lama telah berjuang membela wanita
dan berdiri menghadang para penyeru penyesatan wanita. Namun, hal ini harus
dihentikan (yakni ketergantungan hanya pada kaum pria)!
Ya,
itulah kenyataannya, sekarang adalah waktumu, dan engkaulah yang seharusnya
berdiri menentang serangan yang kejam ini serta membendungnya... Karena
engkaulah wanita yang menjadi sasaran serangan ini, dan engkaulah orang terbaik
yang dapat membela dirimu sendiri. Kami tidak ingin engkau menjadi seperti pion
dalam permainan catur yang mereka letakkan di kotak mana saja yang mereka
kehendaki demi kepentingan mereka..!
Marilah
kita mulai bersama-sama sejak saat ini pembebasan wanita yang hakiki...
Pembebasan yang telah dianugerahkan oleh Islam kepadanya, yang darinya ia
memperoleh kekuatan yang menempa kepribadian dan jatidirinya dalam realitas
kehidupan; sehingga ia pasti akan merasakan betapa kerdilnya seluruh batasan
lainnya, fakta-fakta akan tersingkap di hadapannya tanpa rekayasa, dan secara
otomatis gambaran yang tertanam dalam benak akan berubah serta pola pikir yang
menyimpang akan menjadi lurus kembali.
Engkau
harus meningkatkan kadar kesadaran pribadi terlebih dahulu terhadap isu ini,
serta mengenali lebih jauh dimensi-dimensinya di dalam maupun luar negeri,
melalui membaca buku-buku, artikel, data statistik, dan studi-studi yang
berkaitan dengan isu ini agar engkau lebih mendekatinya serta memahami tujuan
dan dampaknya...
Yakinilah
gagasan dan isumu terlebih dahulu, yakini hingga taraf keyakinan yang membara,
yang dengan demikian engkau akan mampu menyampaikannya kepada wanita-wanita
lainnya.
Engkau
membutuhkan beberapa rujukan karena isu ini cukup rumit, di antaranya:
- Al-Mar'ah Baina al-Fiqh
wa al-Qānūn [Wanita di Antara Fikih dan Hukum Positif] karya
As-Siba'i.
- Al-Mar'ah wa Huqūquhā fī
al-Islām [Wanita dan Hak-haknya dalam Islam] karya Samahah Abu
An-Nashr.
- Qadhiyyah Tahrīr
al-Mar'ah fī Mishr [Isu Pembebasan Wanita di Mesir] karya Muhammad
Qutb.
- 'Amal al-Mar'ah fī
al-Mīzān [Pekerjaan Wanita dalam Timbangan] karya Muhammad al-Bar.
- Hirāsat al-Fadhīlah
[Menjaga Kehormatan] karya Bakr bin Abdullah Abu Zaid.
- Innahum Yatafarrajūna
'alā Ightishābihā [Mereka Menonton Pemerkosaannya] karya Muhammad
al-'Uwaid.
- Al-Hijāb [Jilbab]
karya Mustafa Lutfi al-Manfaluti.
- Al-Mar'ah Baina Du'āt
al-Islām wa Ad'iyā' al-Taqaddum [Wanita di Antara Penyeru Islam dan
Pengklaim Kemajuan] karya 'Umar al-Asyqar.
- Al-Mar'ah al-Muslimah
Hiwār Ma'a Du'āt al-Tahrīr [Wanita Muslimah: Dialog Bersama Para
Penyeru Pembebasan] karya Muhammad Farid Wajdi.
- Qaulī fī al-Mar'ah
[Pendapatku Tentang Wanita] karya Mustafa Sabri.
- 'Audaat al-Hijāb
[Kembalinya Jilbab] karya Muhammad bin Ismail al-Muqaddim.
- Qiyādat al-Mar'ah li
al-Sayyārah Baina al-Haqq wa al-Bāthil [Wanita Mengemudikan Mobil
Antara Hak dan Kebatilan] karya Dziyab al-Ghamdi.
Bagaimana
engkau mengemas isu ini dalam dakwah setelah engkau memahaminya?
- Memperkuat rasa bangga
terhadap identitas keislaman, membuktikan kepribadian Muslimah yang
menerapkan ajaran-ajaran agama Rabbani, serta menanamkan kepercayaan penuh
terhadap hukum-hukum keagamaan yang berkaitan dengan isu ini.
- Meluruskan istilah-istilah
dan menempatkannya pada kerangka yang benar, yang terdepan adalah konsep
"Pembebasan Wanita" (Tahrīr al-Mar'ah) dan "Hak-Hak
Wanita" (Huqūq al-Mar'ah). Serta menegaskan bahwa Islam adalah
agama yang membebaskan wanita dari tradisi, pengekoran terhadap Barat,
penyimpangan, dan pemenuhan hawa nafsu.
- Membahas dan membicarakannya
di majelis-majelis dengan gaya bahasa yang menarik yang memadukan antara
tinjauan keagamaan, medis, psikologis, dan sosial yang didukung oleh studi
dan data statistik global yang membongkar klaim-klaim palsu mereka.
- Menyusun buku/catatan yang
penuh dengan kliping tulisan yang berkaitan dengan topik ini yang ditulis
secara menarik... lalu memperlihatkannya kepada wanita lain.
- Memiliki kaset dan buku-buku
kecil yang berkaitan dengan isu wanita, membagikannya, atau membuat
ringkasannya untuk dibaca isinya... Kami menekankan pentingnya memilih
yang berkualitas terbaik, sebab tidak semua kaset dapat melayani tujuan
ini secara tepat.
- Memiliki brosur-brosur yang
berkaitan dengan aspek-aspek ini dan membagikannya.
- Memanfaatkan
peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi untuk dihubungkan dengan topik
ini, dengan memperkuat penjelasanmu menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an,
hadis-hadis mulia, data statistik, dan angka-angka.
- Membandingkan antara
kedudukan wanita dalam Islam dengan kedudukannya sebelum Islam pada
umat-umat terdahulu maupun umat-umat masa kini yang jauh dari ajaran
Islam, dengan memperkuat perbandingan tersebut menggunakan data statistik
yang membongkar keadaan wanita modern yang terbebas dari nilai moral.
- Sorotilah kehidupan
wanita-wanita Salafush Shalih [generasi pendahulu yang saleh]
secara mendalam —baik melalui kisah, kaset, maupun buku kecil— untuk
memberitahukan kepada wanita lain tentang betapa jauhnya perbedaan antara
cita-cita wanita salaf dengan kondisi wanita kita di zaman ini,
serta menampilkan teladan wanita yang lurus bagi mereka, yang pada
gilirannya merupakan upaya untuk mengangkat derajat mereka menuju
kemuliaan.
- Patahkanlah syubhat-syubhat
(keraguan/tuduhan) yang diembuskan terhadap posisi Islam mengenai
wanita dengan membantahnya, serta membantah orang-orang yang mengadopsinya
dari kalangan umat Islam.
- Memperhatikan media massa
karena pengaruhnya yang besar, seperti menulis artikel bagi wanita yang
memiliki bakat menulis, atau membantah sebagian artikel yang menyesatkan.
- Surat-menyurat dengan
penulis-penulis wanita yang terkenal dan mendorong mereka untuk mengangkat
isu ini dari landasan syariat yang lurus, disertai memberikan pujian serta
dorongan bagi yang benar, dan menasihati yang keliru dengan hikmah dan
pengajaran yang baik.
- Ketika terbit keputusan apa
pun yang merugikan kedudukan wanita —di Kerajaan (Arab Saudi)— maka
hendaknya segera dilakukan pengingkaran/penolakan melalui nomor 969 agar
penolakan tersebut diteruskan kepada para pejabat, disertai mendorong
orang lain untuk melakukan hal yang sama.
- Memperhatikan anak-anak
perempuan dan remaja putri serta menanamkan konsep-konsep yang benar dalam
jiwa mereka, dengan bersungguh-sungguh menjelaskan hikmah dari setiap
perintah Rabbani yang berkaitan dengan wanita... Khususnya mengenai jilbab
dan rasa malu.
- Hadiah memiliki pengaruh
yang menakjubkan, maka berupayalah semampumu untuk menyebarkan
hadiah-hadiah yang mengembalikan martabat jilbab, seperti menghadiahkan
jilbab/kerudung kepala yang longgar, atau sarung tangan dan kaus kaki
dengan cara yang indah dan lembut, atau buku-buku dan kaset-kaset yang
memperhatikan isu-isu ini.
- "Tas Dakwah":
Hendaknya engkau memiliki tas yang relatif besar dan anggun, lalu letakkan
di dalamnya sekumpulan kaset dan buku-buku kecil untuk dibagikan ketika
engkau pergi ke mana saja... Ini akan membantumu saat berada di pasar,
rumah sakit, maupun saat berkunjung.
- Menghadang segala hal yang
disiarkan, dipancarkan, dan ditampilkan yang mengajak kepada pergaulan
bebas (ikhtilath), menyebarkan kekejian, atau menampilkan hal-hal
yang diharamkan dalam bentuk yang dapat diterima dan disukai.
- Menyurati para penanggung
jawab surat kabar, majalah, televisi, dan radio untuk menasihati mereka,
mengingatkan mereka kepada Allah, serta menyampaikan pesan penolakan
terhadap segala hal yang melanggar syariat.
- Menyurati para ulama dan
penuntut ilmu (para penuntut ilmu syar'i), berkomunikasi dengan
mereka, menyampaikan segala pelanggaran dan kemungkaran yang terjadi dan
beredar di masyarakat, serta meminta nasihat dan arahan dari mereka.
- Menyurati para pejabat
negara, menasihati mereka, dan mengajak mereka untuk mencegah
pelanggaran-pelanggaran syariat serta membendung dakwaan dan keinginan
kaum sekuler dan Barat yang jahat.
- Mencegah kemungkaran di
pasar-pasar dengan cara menasihati para wanita secara bijaksana dan
pengajaran yang baik... Atau menghubungi pihak Hai'ah Aamri bil Ma'ruf
wa Nahyi 'anil Munkar [Lembaga Amar Ma'ruf Nahi Munkar] jika melihat
kemungkaran besar yang tidak mampu engkau ubah sendiri.
- Ingatlah selalu bahwa engkau
sebagai seorang wanita —sebelum engkau menjadi seorang dai— berada di atas
salah satu benteng pertahanan Islam.
Penutup
Adapun
setelah engkau mengetahui tanggung jawab yang dibebankan di atas pundakmu, dan
telah diberi pemahaman tentang cara memikulnya secara layak, maka tidak ada
alasan bagimu hari ini jika engkau enggan/berpangku tangan. Engkau akan ditanya
tentang apa yang telah engkau pelajari di sini: apakah engkau mengamalkannya
atau tidak?!
Ya,
engkau pasti mampu...
Maka
bangkitlah, kibaskanlah debu dari kebangkitan wanita (al-shahwah
al-nisā'iyyah) yang sedang pasif ini, dan mulailah sejak detik ini, sebab
kita telah sangat terlambat...
Kita
memohon kepada Allah bagi diri kita dan bagimu keteguhan dalam urusan (agama)
dan tekad yang kuat di atas petunjuk.
Dan
penutup doa kami adalah Alhamdulillāhi Rabbil 'ālamīn (segala puji bagi
Allah, Tuhan semesta alam).
Wassalāmu
'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Catatan
Kaki (Footnotes)
[1]
Malik bin Nabi, Syuurut un-Nahdhah (Syarat-Syarat Kebangkitan).
[2]
Dr. Mustafa Mahmud, Min Asrar il-Qur'an (Di Antara Rahasia-Rahasia
Al-Qur'an).
[3]
Dipetik dari buku Al-Muntakhab min Qhashash id-Da'wah (Kisah-Kisah
Pilihan tentang Dakwah) karya Syekh Ibrahim al-Huqail.
[4]
Syekh Muhammad bin Hasan bin 'Aqil Musa, 'Uluwwul Himmah (Cita-Cita
Tinggi).
[5]
Syekh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baz, Majmu' Fatawa wa Maqalat
Mutanawwi'ah (Kumpulan Fatwa dan Artikel Bervariasi).
[6]
Diambil dengan sedikit ringkasan dari buku Kaifa Tad'u (Bagaimana Anda
Berdakwah) karya Ibrahim al-Juwair, dan lembaran Hatta La Takuna Kulla
idh-Dhan (Agar Anda Tidak Menjadi Korban Prasangka) karya Syekh Muhammad
ad-Duwaysh.
Dai
Wanita (Al-Mar'ah ad-Da'iyah)
Aktivitas
Dakwahnya adalah Bentuk Penghormatan Terbaik Baginya Sepanjang Masa
Ketika
Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan Adam 'Alaihis Salam, Dia
menciptakan Hawa dari tulang rusuknya agar keduanya saling membantu di bumi,
serta menjadikan rasa kasih sayang dan kelembutan sebagai ikatan dan landasan
utama antara suami dan istri. Hal ini bertujuan untuk membangun keluarga muslim
yang menjadi batu bata [fondasi dasar] dalam tatanan masyarakat muslim yang
besar. Di sisi lain dari kehidupan rumah tangga yang lurus, kita mendapati
masalah perselingkuhan (pengkhianatan suami-istri) yang memiliki banyak sebab
dan dampak, tidak hanya bagi individu, tetapi juga mencakup keluarga dan
masyarakat secara keseluruhan. Dalam investigasi [laporan khusus] ini, kami
akan mencoba menyoroti masalah penting ini karena dampaknya yang sangat
merusak.
Dr.
Salman al-Audah
Dakwah
di jalan Allah merupakan perintah yang ditujukan kepada laki-laki dan perempuan
secara setara, yang sangat ditekankan oleh Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang
mulia. Ketika seorang wanita memikul tanggung jawab tugas ini, ia harus beramal
dan melangkah dalam aktivitasnya berdasarkan nilai-nilai serta ajaran Islam.
Risalah Muhammad Sallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mencetak dai-dai
wanita sejak awal kelahirannya. Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam
bersabda mengenai Sayyidatur-Nisa' Khadijah Radhiyallahu 'Anha dalam
sebuah hadis:
«لاَ وَاللهِ مَا أَبْدَلَنِي اللهُ
خَيْرًا مِنْهَا.. آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ
كَذَّبَنِي النَّاسُ.. وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ..
وَرَزَقَنِي اللهُ مِنْهَا الوَلَدَ دُونَ غَيْرِهَا مِنَ النِّسَاءِ..»
"Tidak,
demi Allah! Allah tidak menggantikan bagiku wanita yang lebih baik darinya. Ia
beriman kepadaku saat orang-orang ingkar kepadaku, ia membenarkanku saat
orang-orang mendustakanku, ia menopangku dengan hartanya saat orang-orang tidak
memberiku, dan Allah mengaruniakanku anak darinya saat wanita-wanita lain tidak
memberikannya." (HR. Ahmad)[^1]
Beliau
adalah orang pertama yang menolong Islam, berkontribusi dalam menegakkan dakwah
Islam, dan meletakkan batu bata pertamanya. Begitu pula Sayyidah Aisyah Radhiyallahu
'Anha, di mana Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah
bersabda mengenainya:
«خُذُوا نِصْفَ دِينِكُمْ عَنْ هَذِهِ
الحُمَيْرَاءِ»
"Ambillah
separuh agama kalian dari wanita yang kemerah-merahan pipinya (Aisyah)
ini."
Hal
ini merupakan bukti atas kuatnya kapasitas dakwah dan keilmuan wanita dalam
Islam. Namun, bagaimana seorang wanita menjalankan kewajiban dakwah di jalan
Allah? Apa saja sarana untuk itu, dan bagaimana seorang wanita bisa menjadi dai
yang sukses?
Serta
berbagai persoalan lain yang membentuk konsep tentang "Dai Wanita".
Majalah Al-Bushra melalui investigasi ini berusaha memetakan dan
merumuskan sebuah pandangan yang kesimpulannya adalah bahwa wanita memiliki
peran dalam dakwah di jalan Allah yang tidak kalah pentingnya dibandingkan
peran laki-laki. Berikut laporannya untuk Anda:
Dr.
Haifa as-San'usi, Dosen Fakultas Sastra Universitas Kuwait, menuturkan:
"Saya ingin menegaskan pentingnya peran wanita dalam dakwah. Ada peran
yang dituntut darinya, yaitu keharusan menjalankan pekerjaannya secara
profesional (kufu'), karena dengan begitu ia akan memancarkan citra yang
anggun bagi wanita muslimah. Wanita adalah separuh dari masyarakat dan
merupakan pilar utama dalam pembangunannya yang tidak dapat diabaikan. Wanita
muslimah secara alamiah sangat menjaga keridaan Allah melalui keikhlasan dalam
bekerja dan tidak bermalas-malasan dalam segala kondisi. Namun, hal ini tidak
berarti ia begitu tenggelam dalam pekerjaannya hingga mengabaikan tugas
utamanya dalam membangun keluarga yang ideal."
Tugas
yang Mulia
Adapun
terkait kontribusi wanita dalam aktivitas dakwah, ia dapat menjalankan tugas
ini melalui berbagai cara. Yang paling utama adalah kesungguhannya untuk
berhias dengan akhlak mulia dan menampilkan perilaku terpuji yang menarik
perhatian wanita lain kepadanya. Ketika kita melihat seseorang yang ikhlas
dalam bekerja, takut kepada Allah dalam ucapan dan perbuatannya,
bersungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai mulia, serta bangga dan memiliki rasa
keterikatan (intima') terhadap Islam, kita merasa bahagia berteman
dengannya dan mendengarkan tutur katanya. Demikian pula halnya dengan wanita
muslimah. Kapan saja ia berhasil memikat hati wanita lain melalui keagungan
akhlak, perilaku, dan kebiasaannya dalam pelbagai situasi, maka ia akan
berhasil menyampaikan risalah dakwahnya. Hal ini tentu dengan keharusan
menjauhi metode nasihat secara langsung di hadapan orang banyak, yang dapat
melukai perasaan orang yang dinasihati dan membuat mereka lari. Hal tersebut
sebagaimana diungkapkan oleh Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah dalam bait
syairnya:
تَعَمَّدْنِي بِنُصْحِكَ فِي
انْفِرَادِي *** وَجَنِّبْنِي النَّصِيحَةَ فِي جَمَاعَةْ
فَإِنَّ النَّصْحَ بَيْنَ النَّاسِ
نَوْعٌ *** مِنَ التَّوْبِيخِ لاَ أَرْضَى اسْتِمَاعَهْ
Sengajalah
menasihatiku saat aku seorang diri,
Dan
jauhilah memberi nasihat di tengah keramaian.
Sebab
nasihat di tengah khalayak adalah salah satu bentuk
Celaan,
yang aku tidak sudi mendengarnya.
Dakwah
Melalui Profesi
Mengenai
metode dakwah, Dr. As-San'usi melanjutkan: "Wanita mampu mewujudkan hal
tersebut. Sebagaimana diriwayatkan dari salah seorang ulama Salaf: (Seorang
mukmin itu bagaikan pelita, di mana pun ia diletakkan, ia akan menerangi).
Demikian pula wanita; di mana pun ia berada, ia adalah seorang dai di jalan
Allah. Ia mendakwahi suaminya dan membimbingnya ke arah yang seharusnya, sebab
suami adalah pemimpin (ra'in) dan istri adalah penopang baginya dalam
kepemimpinan tersebut. Begitu pula ia dapat mendakwahi saudari-saudari
mukminahnya melalui komitmennya terhadap aturan dan ajaran Islam, memperdalam
pemahaman agama (tafaqquh fiddin), serta mengajak mereka untuk
berkomitmen dengannya. Demikian juga kepada wanita-wanita non-muslim, yaitu
melalui dakwah dengan cara hikmah dan pengajaran yang baik (al-mau'izhah
al-hasanah), serta berhias dengan akhlak Islam yang dampaknya mampu menjadi
jalan masuk Islam bagi banyak wanita non-muslim."
Beliau
menambahkan bahwa wanita dapat berdakwah melalui profesinya, baik sebagai guru,
dokter, perawat, maupun insinyur, yaitu melalui komitmen kerja dan
kesungguhannya dalam menerapkan apa yang diperintahkan Allah dalam berinteraksi
dengan sesama. Oleh karena itu, wanita hendaknya bersungguh-sungguh dalam
menuntut dan mengamalkan ilmunya, karena hal itu merupakan salah satu sarana
terkuat dalam berdakwah di jalan Allah.
Separuh
Masyarakat
Terkait
peran wanita sebagai dai dan bagaimana menjalankan peran tersebut, seorang dai
wanita, Dr. Azza ar-Rabbat, yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia
dakwah, mengutip firman Allah Ta'ala:
"Dan
orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan
mencegah dari yang mungkar..." (QS. At-Taubah: 71)
Umat
Islam telah berjuang menyebarkan dakwah mereka melalui media massa pada masa
kerasulan, serta melalui sarana-sarana lain yang mereka tambahkan dan
kembangkan secara kreatif. Perpustakaan-perpustakaan Islam, misalnya, menjadi
sarana media inovatif yang bermula dari masjid-masjid; pasar-pasar berfungsi
sebagai ajang konferensi dan seminar pemikiran; pembangunan sekolah-sekolah
meluas; serta jihad, toleransi beragama, dan keteladanan yang baik (al-qudwah
al-hasanah) menjadi sarana media Islam yang paling penting. Selain itu,
terdapat pula bidang-bidang khusus untuk dakwah wanita yang bergerak
menggunakan seluruh sarana ini. Wanita adalah separuh dari masyarakat; ia
melahirkan dan mendidik separuh lainnya. Seorang pendidik dialah yang membentuk
nilai-nilai dan konsep-konsep secara umum, termasuk konsep media secara khusus.
Inilah tugas utama seorang wanita.
Dr.
Ar-Rabbat memuji kedudukan wanita dengan menyatakan: "Dalam diri wanita
terdapat kehormatan (muru'ah), kesucian diri ('iffah), dan rasa
kemanusiaan. Dialah wanita yang didengar perkataannya oleh Allah saat ia
mengajukan gugatan/perdebatan; dialah wanita yang anaknya dikembalikan
kepadanya agar hatinya menjadi tenang dan tidak bersedih, serta agar ia
mengetahui bahwa janji Allah itu benar; dan dialah wanita yang Allah turunkan
ayat-ayat-Nya untuk meneguhkan hatinya. Allah Ta'ala berfirman:
"Maka
Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), 'Sesungguhnya Aku
tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki
maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (turunan) dari sebagian yang
lain...'" (QS. Ali 'Imran: 195)
Kata
'wanita' (al-mar'ah) disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 24 kali: mulai
dari istri Imran, hingga istri Al-Aziz yang memuliakan tempat tinggal Yusuf;
dari wanita mandul, hingga wanita yang kami beri kabar gembira tentang
kelahiran Ishaq sebagai seorang nabi; dari Balqis yang memegang kekuasaan dan
dianugerahi segala sesuatu, hingga dua gadis putri Syuaib beserta pendapat
keduanya yang sangat tepat; dari istri Fir'aun yang memohon tetangga sebelum
rumah ("Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam
surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah
aku dari kaum yang zalim") [QS. At-Tahrim: 11], hingga wanita mukminah
Radhiyallahu 'Anha yang menyerahkan dirinya untuk sebaik-baik makhluk
Allah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Sebaliknya,
ada pula wanita-wanita yang telah Kami tetapkan termasuk dalam golongan
orang-orang yang tertinggal (dibinasakan), seperti istri Nuh, istri Lut, dan
wanita pembawa kayu bakar (istri Abu Lahab). Al-Qur'an al-Karim telah
memberitahukan tentang wanita dalam seluruh kondisinya dan mengabarkan seluruh
perannya. Adapun perintah media (al-amr al-i'lami) khusus bagi wanita
dalam Al-Qur'an al-Karim dimulai dari rumah kenabian. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
ingatlah apa yang dibaca di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah
Nabimu). Sungguh, Allah Mahalembut, Mahamengetahui." (QS. Al-Ahzab: 34)
Maka,
apa yang dibaca di rumah kenabian selain Al-Qur'an al-Karim, adab-adab Islam
yang luhur, serta ajaran-ajarannya yang toleran? Kata kerja perintah "Qulna"
[katakanlah wahai wanita] dan "Uzkurna" [ingatlah/sampaikanlah
wahai wanita] merupakan perintah penyampaian (tabligh) dan penyebaran
informasi (i'lam) khusus bagi istri-istri Nabi Sallallahu 'Alaihi wa
Sallam dan secara umum bagi seluruh wanita muslimah.
Wanita
pada Era Kenabian
Dr.
Ar-Rabbat menyajikan berbagai keteladanan peran media wanita pada era kenabian
yang relevan dengan zamannya, yang sarat dengan kecerdasan, kefasihan, dan
keindahan bahasa, seperti Sayyidah Hafshah binti Umar Ummul Mu'minin
Radhiyallahu 'Anha. Peran media dari sang penjaga Mushaf Syarif ini
tecermin dalam riwayat 147 hadis dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa
Sallam. Beliau memiliki 20 orang murid, di samping wanita-wanita ternama
lainnya pada masa kenabian.
Utusan
Kaum Wanita (Wafidatun-Nisa')
Dr.
Ar-Rabbat terus mengenangkan kita pada tokoh-tokoh media wanita yang agung.
Beliau berkata: "Asma' binti Yazid, sang juru bicara (khathibah)
kaum wanita, merupakan salah seorang perawi hadis yang mulia, cerdas, dan taat
beragama. Ia pernah mendatangi Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam
dan berkata: 'Aku adalah utusan kaum wanita kepadamu...' Ia menyampaikan keluh
kesah kaumnya kepada Nabi. Maka Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam
menjawab dan bersabda kepadanya:
«إِعْلَمِي مَنْ خَلْفَكِ مِنَ
النِّسَاءِ»
"Beri
tahu dan sampaikanlah kepada wanita-wanita di belakangmu!"
Bukankah
sabda beliau "A'limi" (beri tahulah) merupakan bentuk
aktivitas media (i'lam)? Beliau telah meriwayatkan 81 hadis dari Nabi Sallallahu
'Alaihi wa Sallam, serta diriwayatkan pula oleh banyak Sahabat dan Tabi'in,
dan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Abu Dawud, dan Ibn Majah.
Pengabaian
oleh Media (Ta'tim I'lami)
Dr.
Ar-Rabbat menyayangkan kelalaian media Islam kita yang mengabaikan nama-nama
wanita yang rekam jejak harumnya tertutupi. Di antaranya adalah Shafiyyah binti
Syaibah al-Abdariyyah, seorang perawi hadis perempuan yang tepercaya (tsiqah).
Ia meriwayatkan 116 hadis dari Aisyah, Umm Habibah, dan Umm Salamah, serta
mencetak 19 murid, di mana Al-Hasan bin Muslim dan Qatadah meriwayatkan
darinya. Ada pula Umm Shalih binti Shalih yang diriwayatkan darinya oleh Abu
Dawud dan An-Nasa'i.
Selain
itu, ada Ummu Kurz al-Khuza'iyyah yang meriwayatkan 5 hadis dari Rasulullah Sallallahu
'Alaihi wa Sallam, meluluskan 7 murid, dan berpredikat tsiqah dari
kalangan Sahabat. Begitu pula Ummu al-Hushain binti Ishaq, pernahkah Anda
mendengarnya?
Ia
meriwayatkan 27 hadis dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam dan
memiliki seorang murid. Serta masih banyak wanita lainnya yang memiliki rekam
jejak panjang dalam menyebarkan Islam.
Dr.
Ar-Rabbat bertanya: "Bukankah hal ini menunjukkan penghormatan Islam
terhadap peran wanita dalam kehidupan, khususnya dalam peran dakwahnya?"
Menjawab
pertanyaan kami mengenai alasan mengapa kita belum menemukan gerakan dakwah
wanita yang kuat, serta apa saja tantangan yang dihadapi oleh dakwah wanita,
Dr. Ar-Rabbat menjawab: "Di dunia Islam telah lahir gerakan-gerakan dakwah
wanita dari sekolah, organisasi, masjid, dan lembaga lainnya. Namun,
gerakan-gerakan ini belum cukup memiliki daya tarik, kurang efektif, belum
mencapai taraf keislaman yang komprehensif (syumuliyyah), dan belum
sejalan dengan keterbukaan era modern."
Beliau
menegaskan pentingnya mengaktifkan peran para dai wanita di seluruh lini untuk
membenahi realitas wanita muslimah, karena hal tersebut merupakan tuntutan
syariat dan kebutuhan sosial. Selain itu, seorang dai wanita wajib terintegrasi
dalam kerja kolektif (amal jama'i), karena hal itu lebih mampu
mengarahkan dan mengoptimalkan potensi secara ideal.
Dr.
Ar-Rabbat juga mengisyaratkan bahwa dai wanita muslimah yang memulai kiprahnya
di usia muda dan mencurahkan seluruh waktu serta tenaganya untuk dakwah, sering
kali terputus dari dunia dakwah ketika berpindah ke rumah tangga (menikah), di
mana terdapat kondisi baru dan kewajiban-kewajiban tambahan. Meskipun demikian,
ia tetap menjadi teladan Islam dalam berdakwah melalui contoh yang baik (al-qudwah
al-hasanah) bersama suami, keluarganya, tetangga, dan masyarakat barunya.
Yang terpenting dari itu semua adalah perannya sebagai ibu yang mendidik
anak-anaknya; karena pendidikan yang bijak dan matang adalah jaminan utama bagi
setiap kebangkitan, dan rumah adalah sekolah pertama bagi pendidikan tersebut.
Perbaikan umat ini tidak akan dimulai kecuali dari rumah, bahkan dari diri sang
ibu itu sendiri.
Wawasan
Dai Wanita
Beliau
menunjukkan bahwa kita sangat membutuhkan dai-dai wanita yang beriman,
berwawasan luas, serta memahami arti modernitas (mu'asharah). Mereka
harus meyakini urgensi modernitas sebagaimana teguhnya mereka dalam memegang
syariat dan ruh Islam. Dengan demikian, mereka mampu melahirkan generasi di
mana wanitanya maju dan unggul secara keduniaan dengan ilmu pengetahuan, namun
tetap berkomitmen terhadap perintah syariat, sehingga terwujud persamaan yang
sulit yaitu memadukan antara ilmu dan agama.
Tantangan
yang Dihadapi Dai Wanita
Mengenai
tantangan terpenting yang dihadapi wanita muslimah yang menjadi dai, Dr.
Ar-Rabbat berkata: "Ketahuannya tentang Islam dan hak-haknya, serta
distorsi citra wanita di media massa. Oleh karena itu, peran media dalam dakwah
di jalan Allah harus diaktifkan."
Dr.
Ar-Rabbat mempertanyakan: Mengapa kita tidak memanfaatkan teknologi yang ada,
sehingga kita memiliki situs-situs internet yang dikelola oleh orang-orang
spesialis yang memegang kunci-kunci Islam berupa kejujuran, kasih sayang, dan
pengorbanan, untuk membuka keterkuncian akal dan hati? Media Barat memanfaatkan
internet untuk misi kristenisasi/misionaris melalui situs dan ruang obrolan (chat
room). Mengapa kita tidak menghadapi Barat dengan media ilmiah yang menarik
dan terencana? Peristiwa pembebasan Samarkand adalah bukti terbesar dalam hal
ini. Seorang muslim diciptakan untuk memimpin arus, bukan untuk dikendalikan
oleh arus.
Perasaan
Kurang (Inferioritas)
Mengenai
hambatan-hambatan yang merintangi dai wanita, Syaikh Salman bin Fahd al-Audah
menuturkan: "Terdapat hambatan psikologis, di antaranya perasaan bersalah
atau merasa kurang (asy-syu'ur bit-taqsir). Banyak dai wanita merasa
tidak mampu memikul tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka. Sebenarnya
ini adalah sebuah keutamaan dan bukan hambatan, sebab masalah justru timbul
jika seorang pemudi merasa dirinya telah sempurna dan memiliki kapabilitas
penuh; yang artinya ia tidak akan berusaha menyempurnakan dirinya atau
membenahi kekurangannya, serta tidak mau menerima nasihat dari orang lain. Ada
pun perasaannya akan kekurangan atau kelalaian justru menjadi pendorong baginya
untuk mengambil manfaat dari orang lain dan menerima nasihat. Begitu pula rasa
takut (tahayyub) untuk berdakwah dan berbicara di hadapan orang banyak;
hal ini tidak akan hilang kecuali dengan latihan dan praktik. Pada tahap awal,
memungkinkan bagi seorang pemudi untuk berbicara di tengah kelompok kecil, atau
menyampaikan materi yang bermanfaat meskipun dalam bentuk tulisan teks.
Kemudian ditingkatkan ke kelompok yang lebih besar, seperti berpartisipasi di
masjid atau dalam majelis ilmu yang diadakan di sekolah. Setelah itu, ia mulai
menyusun poin-poin materi, lalu menyampaikan kalimat secara singkat. Harus ada
tahapan bertahap (tadarruj), sebab jika tidak, baik laki-laki maupun
perempuan akan terus menyuarakan apa yang tidak sanggup mereka lakukan."
Lingkungan
(Al-Bi'ah)
Kemudian
Syaikh Al-Audah beralih ke hambatan lainnya, yaitu hambatan sosial. Beliau
berkata: "Rusaknya lingkungan tempat dai wanita beraktivitas sangat
memengaruhinya secara drastis." Syaikh Al-Audah menjelaskan bahwa solusi
untuk menghilangkan atau mengurangi hambatan tersebut adalah dengan terus
berkomunikasi dengan para ulama, penuntut ilmu, dan para dai yang memiliki rasa
cemburu terhadap agama (ghirah) mengenai segala hal yang terjadi di
dalam masyarakat tersebut. Solusi lainnya adalah turun langsung ke lapangan
bagaimanapun pengorbanannya. Lari dari medan ini merupakan hadiah sangat
berharga yang diberikan secara cuma-cuma kepada kaum sekuler dan para perusak
di bumi. Menurut ijtihad saya, merambah medan-medan ini merupakan suatu
keharusan, serta seorang pemudi harus menanggung apa yang ia hadapi di jalan
dakwah kepada Allah Azza wa Jalla, kecuali jika ia mengkhawatirkan
fitnah atas dirinya dan melihat fitnah itu benar-benar menimpanya, maka pada
saat itulah dakwah harus tetap menjadi kegelisahan utama dalam pikirannya.
Pusat
Kegiatan Wanita
Syaikh
Al-Audah terus memberikan solusi dengan menyatakan: "Para dai, pengusaha,
dan orang-orang yang ikhlas harus bersungguh-sungguh mendirikan lembaga-lembaga
Islam yang murni. Bukan lagi hal yang mustahil untuk mendirikan rumah sakit
khusus wanita atau pasar-pasar khusus wanita; bahkan hal itu sudah ada dan
harus diperluas serta dikembangkan. Demikian pula, bukan lagi hal yang mustahil
untuk mendirikan sekolah-sekolah khusus wanita maupun universitas-universitas
khusus wanita di setiap negara Islam."
Beliau
menilai bahwa kurangnya respons dari wanita lain merupakan salah satu hambatan
yang dihadapi dai wanita, serta penolakan sebagian orang terhadap dakwah.
Mengenai sebab-sebab kurangnya respons terhadap dai wanita, Syaikh Al-Audah
mengembalikannya pada karakter yang ada pada diri objek dakwah (al-mad'u)
itu sendiri, seperti penyimpangan yang sudah sangat jauh, atau terlalu lama
berkubang dalam keburukan sehingga keluar darinya bukanlah hal yang mudah. Hal
ini diatasi dengan kesabaran, kelapangan dada, ketenangan, pengintensifan
upaya, serta menghubungkan pemudi tersebut dengan lingkungan Islam yang baru
sebagai pengganti lingkungan rusak yang ia tinggali.
Beliau
melanjutkan bahwa ada pula sebab-sebab yang bersumber dari diri dai itu
sendiri, seperti ketidakmampuan menggunakan metode yang tepat yang dapat
meresap ke dalam hati objek dakwah dan memengaruhinya. Hal ini bisa jadi
disebabkan oleh sikapnya yang kasar, keras, terlalu berfokus pada kesalahan
orang lain, atau adanya kesan bahwa dai tersebut sedang melakukan semacam
dominasi/otoritariasme yang memicu mereka untuk menentang dan membangkang.
Syaikh
Al-Audah menentukan solusinya dan membatasinya pada kesungguhan dai untuk
menggunakan metode pendekatan, penawaran, dan sindiran halus (talmih)
tanpa perlu konfrontasi langsung sebisa mungkin; serta tidak membuat wanita
lain merasa bahwa sang dai melampaui atau berada di atas mereka. Solusi lainnya
adalah memperhatikan kepribadian wanita dari segi akidah, wawasan, perilaku,
dan penampilan.
Selain
itu, tidak mencari-cari kesalahan dan kekhilafan, karena hal itu bukan bagian
dari metode pendidikan (uslub tarbawi). Rasulullah Sallallahu 'Alaihi
wa Sallam terkadang memberikan pujian dan menyanjung seseorang atas
karakter kebaikan yang ada padanya agar kebaikan itu tumbuh, membesar, dan
diteladani oleh orang lain.
Sifat-Sifat
yang Dituntut
Mengenai
sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang dai wanita, Syaikh Al-Audah
memaparkan:
Sifat
Pertama: Berilmu tentang apa yang didakwahkannya. Tidak mungkin ia mengajak
kepada sesuatu sementara ia tidak mengetahuinya: apakah hal itu bagian dari
syariat atau bukan? Apakah termasuk ibadah atau sekadar adat kebiasaan? Apakah
termasuk perkara agama atau tradisi sosial warisan?
Sifat
Kedua: Keteladanan yang baik (al-qudwah al-hasanah). Allah Ta'ala
berfirman melalui lisan Nabi-Nya, Syu'aib 'Alaihis Salam:
"Dia
(Syu'aib) berkata, 'Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti
yang nyata dari Tuhanku dan Aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku
menyelisihinya?). Aku tidak bermaksud menyelisihimu dengan melakukan apa yang
aku larang. Aku hanya bermaksud (perbaikan) sekuat kemampuanku. Dan petunjuk
(kelancaran) bagiku hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya
aku kembali.'" (QS. Hud: 88)
Sifat
Ketiga: Akhlak yang baik, tawaduk, dan lemah lembut. Menanamkan rasa cinta
di dalam jiwa objek dakwah merupakan sebab utama diterimanya dakwah dalam
banyak kondisi.
Sifat
Keempat: Memperhatikan penampilan luar yang harus disandang oleh seorang
dai, karena penampilan merupakan pintu utama yang harus dilalui untuk menuju
hati wanita-wanita lain.
Sifat
Kelima: Moderasi (al-i'tidal) dalam segala hal, termasuk dalam
mengelola emosi antara sikap berlebihan (ifrath) dan meremehkan (tafrith).
Usulan-Usulan
Dakwah
Pengawas
dan Dai di Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, Manal Al-Anjari, menilai
bahwa gerakan dakwah wanita di Kuwait telah bangkit dibandingkan sebelumnya.
Hal ini ditandai dengan munculnya majalah-majalah yang berkontribusi membina
kader-kader dakwah, seperti majalah Al-Bushra, Al-Furqan, Al-Wa'yul
Islami, Al-Mujtama', dan majalah keagamaan lainnya, serta rubrik
keagamaan di surat kabar harian. Beliau mengisyaratkan bahwa kita sangat
membutuhkan masuknya dai wanita ke dalam media cetak harian, bukan sekadar
mingguan. Hal ini memerlukan pengintensifan partisipasi media di berbagai
sarana informasi. Al-Anjari menuntut adanya pusat-pusat pelatihan jurnalistik
yang diawasi oleh tokoh-tokoh media wanita unggulan di bidang dakwah, yang
bertujuan mengarahkan kelompok wanita berpemikiran unggul serta membekali
mereka dengan perangkat yang dibutuhkan dalam bidang komunikasi media.
Al-Anjari
mengusulkan agar sebagian majalah wanita ditransformasikan menjadi
majalah-majalah Islam yang membahas seluruh permasalahan wanita dan tata cara
berdakwah di dalamnya, serta menerbitkan surat kabar harian Islam yang fokus
pada urusan wanita. Selain itu, perlu didirikan saluran televisi parabola (stasiun
TV) yang ditujukan untuk wanita, di mana seluruh programnya disiapkan oleh
wanita dan dipresentasikan oleh laki-laki.
Komunikasi
Berkelanjutan
Al-Anjari
menambahkan bahwa komunikasi dengan organisasi-organisasi wanita Islam
internasional serta penyelenggaraan pertemuan dan konferensi bersama dapat
mengembangkan dan menggairahkan gerakan dakwah. Hal ini dilakukan melalui
perhatian terhadap kualifikasi pemateri wanita, wadah kegiatan sukarela bagi
para pemudi meskipun secara jarak jauh, serta penyebaran konsep kegiatan ini
agar menjadi penopang bagi masa depan dakwah yang lebih baik.
Demikian
pula, tingkat keilmuan para dai wanita harus ditingkatkan melalui perhatian
pada masalah akidah beserta dalil-dalilnya, hukum-hukum fikih, dan
amalan-amalan hati (a'malul qulub); dengan mengarahkan sejumlah dari
mereka untuk mendakwahi komunitas non-Arab dalam pelbagai bahasa. Hal ini akan
membuahkan kesadaran pada sejumlah wanita serta memfasilitasi partisipasi
bersama Komite Pengenalan Islam (Lajnatu at-Ta'rif bil Islam) dalam
menjalankan peran dakwahnya sekaligus menimba pengalaman darinya.
Peran
Dokter Wanita
Mengenai
peran wanita di bidang kedokteran dan dakwah kepada komunitas lain yang
beragam, Dr. Nabatah al-Barghasy menuturkan: "Sejak fajar Islam, wanita
muslimah memiliki peran besar dalam berdakwah di jalan Allah dan menyebarkan
agama ini. Wanita adalah pencetak kaum pria dan pendidik generasi, sebagaimana
wanita memiliki kedudukan yang agung dalam Islam. Secara khusus di sini kita
menyebut wanita yang bekerja di bidang kesehatan: ia wajib bertakwa kepada
Allah, merasa diawasi oleh-Nya, berkomitmen terhadap agama dan kewajibannya,
menjaga busana muslimah disertai rasa bangga terhadap agamanya, serta berhias
dengan adab, perilaku, dan akhlak Islam."
Beliau
menegaskan bahwa setiap wanita yang bekerja di bidang medis mampu menjadi
seorang dai di jalan Allah jika berkomitmen pada batasan-batasan ini. Dr.
Al-Barghasy berharap adanya gerakan dakwah wanita di dalam lembaga-lembaga
kesehatan, sembari mengingatkan pentingnya dakwah lisan maupun dakwah melalui
sarana audio seperti kaset, atau media baca seperti buku dan brosur sebagaimana
yang dilakukan oleh Komite Pengenalan Islam.
Kebahagiaan
Dunia dan Akhirat
Beliau
mengisyaratkan bahwa kiprah wanita muslimah yang bekerja di bidang kesehatan
dalam berdakwah merupakan unsur efektif dalam membangun kejayaan agama dan
umat, serta menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat baginya, sebagai perwujudan
dari firman Allah Ta'ala:
"Barang
siapa mengerjakannya kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sungguh, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan
Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)
Mengenai
bagaimana dai wanita yang bekerja di bidang medis dapat mencapai tujuan
dakwahnya, Dr. Al-Barghasy menyatakan bahwa dokter wanita harus memperhatikan
pentingnya studi dan pelatihan, serta terlibat dalam kursus-kursus khusus
penyiapan dai wanita agar sejalan dengan pola kehidupan kerjanya.
Beliau
menegaskan bahwa keberhasilan membutuhkan perencanaan, studi, pemantauan, serta
penetapan tujuan-tujuan khusus pada tahapan tertentu, dan hendaknya dilatih
secara terstruktur di bawah bimbingan dai-dai wanita yang memiliki rekam jejak
panjang dalam dunia dakwah.
Beliau
memberikan catatan bahwa seorang dai hendaknya merenungkan kandungan Al-Qur'an
sebagaimana orang lain merenungkannya. Dalam firman Allah Ta'ala:
"Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..."
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat
ini dibuka dengan kata kerja perintah "Ud'u" [serulah], dan
kata kerja perintah ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah syariat menunjukkan
hukum wajib. Kewajiban ini bertumpu pada penjelasan kaidah dasar dalam
berdakwah ke jalan Allah.
Maka
hikmah saja—dengan segala keagungan tingkat kepentingannya—tidak akan cukup,
demikian pula halnya dengan nasihat. Masing-masing tidak akan mencapai
tujuannya tanpa dihimpun dan dibalut dengan penyampaian yang baik (al-hasan).
(Sumber:
Majalah Al-Bushra)
Catatan
Kaki Tambahan / Penjelasan Istilah Teknis:
[^1]:
HR. Ahmad: Takhrij hadis riwayat Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya
(No. 24864).
Comments
Post a Comment