Ridha

RIDHA (AL-RIDHĀ)

Ridha Secara Bahasa (Lughatan):

Al-Ridhā adalah bentuk mashdar dari kata radhiya – yardhā (رَضِيَ - يَرْضَى). Kata ini berakar dari huruf rā-dhād-wāw (ر ض و) yang menunjukkan makna kebalikan dari murka (as-sukhth). Dalam sebuah hadis doa disebutkan:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ»

(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu).

Bentuk tatsniyah (dualis) dari kata al-ridhā adalah ridhwān dan ridhiyān. Bentuk ism-nya adalah al-ridhā’ (dengan madd [dibaca panjang]) dan al-ridhā (dengan qashr [dibaca pendek]). Al-Quhaif Al-'Uqaili berkata dalam syairnya:

Apabila Bani Qusyair ridha kepadaku...

Demi umur Allah, ridha mereka sungguh menakjubkanku.

Pedang-pedang Bani Qusyair tidak akan tumpul...

Dan mata tombak tidak akan sanggup menembus batu karang mereka.

Penyair menggunakan kata 'alā pada radhiyat 'alayya (yang secara harfiah berarti "ridha atas saya") karena apabila mereka ridha kepadanya, mereka mencintainya dan menyambutnya. Oleh karena itu, huruf 'alā di sini digunakan dengan makna 'an (ridha dari/terhadap).

Firman Allah Azza wa Jalla: "Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 8), maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala ridha terhadap perbuatan-perbuatan mereka, dan mereka pun ridha terhadap balasan yang Allah berikan kepada mereka.

Al-Raghib Al-Asfahani berkata: "Ridha seorang hamba terhadap Allah adalah ia tidak membenci apa yang berlaku melalui ketetapan-Nya (takdir-Nya). Sedangkan ridha Allah terhadap hamba-Nya adalah Dia melihat hamba tersebut melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya." Kata ardhāhu berarti: Dia memberinya sesuatu yang membuatnya ridha. Dan kata taraddhāhu berarti: Ia mencari keridhaannya. Penyair berkata:

Apabila wanita tua itu marah maka ceraikanlah...

Dan janganlah engkau mencari keridhaannya serta jangan pula membujuknya.

Di dalam kitab Ash-Shihāh disebutkan: Al-Ridhwān artinya adalah al-ridhā, begitu pula kata urdwān (dengan harakat dhammah pada huruf rā'), dan kata al-mardhāh bermakna serupa dengannya. Kata al-mardhāh dan al-ridhwān keduanya adalah mashdar. Dikatakan mengenai ayat 'fī 'īsyatin rādhiyah', maknanya adalah murdhiyyah (kehidupan yang diridhai), yaitu kehidupan yang memiliki keridhaan. Adapun al-ridhwān maknanya adalah keridhaan yang sangat besar. Karena keridhaan yang paling agung adalah keridhaan Allah Subhānahu, maka lafal al-ridhwān di dalam Al-Qur'an dikhususkan untuk keridhaan yang datang dari Allah Azza wa Jalla. Allah Subhānahu berfirman: "mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya" (QS. Al-Fath: 29). Dan Allah Yang Maha Agung Firman-Nya juga berfirman: "Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan" (QS. At-Taubah: 21).

Dikatakan pula: Radhiytu bihi shāhiban (aku ridha/rela bersahabat dengannya), ardhaituhu 'annī (aku membuatnya ridha kepadaku), dan radhaituhu (dengan tasydid pada huruf dhād, bermakna sama). Maka ia pun menjadi ridha (fa radhiya). Dan tarādhā al-qaumu artinya: Masing-masing dari kaum tersebut saling menampakkan keridhaan kepada rekannya, serta meridhainya. [Lisān al-'Arab karya Ibn Manzhūr (14/324), Ash-Shihāh karya Al-Jauharī (p. 2353), Maqāyīs al-Lughah (2/402), dan Mufradāt Alfāzh al-Qur'ān karya Al-Rāghib (hlm. 197).]

Ridha Secara Istilah (Ishthilāhan):

Ridha secara istilah adalah kelapangan dan kegembiraan hati saat menerima kepahitan takdir (surūr al-qalb bi murri al-qadhā'). Ada pula yang berpendapat: Ridha adalah hilang atau sirnanya rasa keluh kesah (al-jazā') dalam hukum/ketetapan apa pun. Dan pendapat lain menyatakan: Ridha adalah benarnya pengetahuan yang sampai dan meresap ke dalam hati. Maka apabila hati telah menyatu langsung dengan hakikat pengetahuan, hal itu akan mengantarkannya pada keridhaan.

Ada pula yang berpendapat bahwa ridha adalah menyambut semua ketetapan hukum Allah dengan kegembiraan. Dikatakan pula: Ridha adalah tenangnya hati di bawah berlakunya takdir dan ketentuan Allah. Pendapat lain menyatakan: Ridha adalah pandangan hati terhadap kebaikan dari pilihan Allah yang telah ada sejak azali (qadīm) untuk hamba-Nya, karena sesungguhnya Allah senantiasa memilihkan yang terbaik baginya. Ridha juga diartikan sebagai meninggalkan sikap murka/membenci (tark as-sukhth) [Al-Ta'rīfāt karya Al-Jurjani (hlm. 111), Madārij as-Sālikīn karya Ibn al-Qayyim (2/185), dan At-Tawqīf 'alā Muhimmāt at-Ta'ārīf karya Al-Munawi (hlm. 178).].

Al-Munawi berkata: "Ridha adalah kelapangan jiwa seseorang terhadap apa yang menimpanya atau apa yang luput darinya tanpa mengalami perubahan (sikap/kondisi batin)." Adapun perkataan para fuqaha: "Disaksikan atas ridhanya"—maksudnya adalah izinnya; mereka menjadikan "izin" sebagai tanda "ridha" karena izin tersebut menunjukkan adanya keridhaan.

Jenis-jenis Ridha (Anwā' ar-Ridhā):

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullāh berkata:

Barang siapa yang senantiasa berpegang teguh pada apa yang diridhai Allah—berupa menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, terlebih lagi jika ia menegakkan amalan yang wajib dan yang sunnah—niscaya Allah akan ridha kepadanya, sebagaimana barang siapa yang senantiasa berpegang pada hal-hal yang dicintai Al-Haqq (Allah), maka Allah akan mencintainya. Hal ini sebagaimana sabda-Nya dalam hadis shahih yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari:

«مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَنِي بِالْمُحَارَبَةِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ...»

(Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh ia telah mengumumkan perang melawan-Ku. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada menunaikan apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya...) —hingga akhir hadis.

Hal itu disebabkan karena ridha terbagi menjadi dua jenis:

Jenis Pertama: Ridha dalam melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Jenis ini mencakup pula apa yang dihalalkan oleh Allah tanpa melampaui batas ke dalam hal yang diharamkan. Allah berfirman: "Dan mereka berkata, 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.'" (QS. At-Taubah: 59). Ridha jenis ini hukumnya wajib.

Oleh karena itu, Allah mencela orang yang meninggalkannya melalui firman-Nya: "Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan seketika mereka bergembira (marah/gusar). Dan sekiranya mereka benar-benar ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata, 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya...'" (QS. At-Taubah: 58-59).

Jenis Kedua: Ridha terhadap musibah-musibah: Seperti kemiskinan, penyakit, dan kehinaan/penderitaan. Ridha jenis ini hukumnya muktahab (sunnah) menurut salah satu dari dua pendapat para ulama, dan bukan merupakan kewajiban. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa hukumnya wajib, namun pendapat yang shahih adalah bahwa yang wajib itu adalah sabarr. Sebagaimana Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Ridha adalah sebuah pembawaan/anugerah jiwa, namun kesabaran adalah sandaran utama seorang mukmin." Sungguh telah diriwayatkan dalam hadis Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَعْمَلَ بِالرِّضَا مَعَ الْيَقِينِ فَافْعَلْ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَإِنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا»

(Jika engkau mampu beramal dengan penuh keridhaan disertai keyakinan maka lakukanlah. Namun jika engkau tidak mampu, maka sesungguhnya di dalam kesabaran atas apa yang tidak engkau sukai terdapat kebaikan yang sangat banyak).

Adapun ridha terhadap kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan: Maka para imam mazhab agama sepakat bahwa hal tersebut tidak boleh diridhai. Sebab Allah sendiri tidak meridhai hal tersebut, sebagaimana firman-Nya: "dan Dia tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya" (QS. Az-Zumar: 7), dan firman-Nya: "dan Allah tidak menyukai kerusakan" (QS. Al-Baqarah: 205), serta firman-Nya Ta'ala: "Maka jika kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada kaum yang fasik itu" (QS. At-Taubah: 96) [Majmū' al-Fatāwā karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (10/681-683).].

Ibn al-Qayyim rahimahullāh berkata setelah memaparkan dua hadis:

Pertama: Sabda Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam:

«ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبالإِسْلاَمِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً»

(Sungguh telah merasakan manisnya/lezatnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul). [HR. Muslim].

Dan kedua: Sabda Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam: "Barang siapa yang mengucapkan ketika mendengarkan panggilan adzan...

...«رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ»

(...barang siapa yang ketika mendengarkan panggilan adzan mengucapkan: 'Aku ridha Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Rasul', maka diampuni dosa-dosanya).

Ibnu al-Qayyim rahimahullāh berkata: "Kedua hadis ini merupakan muara (madār) dari seluruh tingkatan (maqāmāt) agama, dan kepadanyalah segalanya berujung. Kedua hadis tersebut mencakup keridhaan terhadap rubūbiyyah (pemerintahan/pengaturan) dan ulūhiyyah (peribadahan) Allah Subhānahu wa Ta'ālā, keridhaan terhadap Rasul-Nya serta ketundukan kepadanya, serta keridhaan terhadap agama-Nya dan penyerahan diri secara penuh kepada-Nya.

Barang siapa yang berhasil menghimpun keempat hal ini dalam dirinya, maka dialah seorang Ash-Shiddīq (hamba yang sangat jujur dan teguh imannya) yang sejati.

Hal ini memang terasa mudah dalam pengakuan dan ucapan lidah, namun ia termasuk perkara yang paling sulit ketika menghadapi ujian yang sebenarnya (haqīqat al-imtihān). Terlebih lagi apabila datang sesuatu yang menyelisihi hawa nafsu dan keinginan jiwanya. Dari situlah terbukti [Demikian yang tertulis pada teks asli (مِنْ ذَلِكَ تَبَيَّنَ). Namun, yang dimaksud kemungkinan adalah: "Dan dari situlah menjadi jelas barang siapa yang ridha..." (وَمَنْ تَبَيَّنَ أَنَّ الرِّضَا).] apakah ridha tersebut benar-benar meresap dalam batinnya atau sekadar lisan yang mengucapkannya saja—yakni hanya berada di lidah, bukan pada kondisi jiwanya yang nyata (hālihi).

Dimensi Keridhaan Menurut Ibnu al-Qayyim

  • Ridha terhadap Ulūhiyyah-Nya:

Mencakup keridhaan untuk mencintai-Nya semata, takut hanya kepada-Nya, berharap kepada-Nya, kembali (inābah) kepada-Nya, fokus beribadah (tabattul) kepada-Nya, serta pengerahan seluruh daya kehendak dan cinta hanya tertuju kepada-Nya; sebagaimana perbuatan seseorang yang ridha sepenuhnya kepada yang dicintainya. Hal ini berkonsekuensi pada pemurnian ibadah dan keikhlasan hanya bagi-Nya.

  • Ridha terhadap Rubūbiyyah-Nya:

Mencakup keridhaan terhadap segala takdir dan pengaturan (tadbīr) Allah atas hamba-Nya. Hal ini berkonsekuensi pada pengesaan Allah dalam bertawakal, memohon pertolongan (isti'ānah), menaruh kepercayaan (tsiqah), bersandar (i'timād), serta ridha terhadap apa pun yang Allah perbuat atas dirinya.

Sisi pertama (ulūhiyyah) mencakup ridha terhadap apa yang diperintahkan Allah, sedangkan sisi kedua (rubūbiyyah) mencakup ridha terhadap apa yang ditakdirkan Allah atas dirinya.

  • Ridha terhadap Nabi-Nya sebagai Rasul:

Mencakup kesempurnaan ketundukan (inqiyād) dan penyerahan diri secara mutlak kepada beliau, sedemikian rupa hingga beliau lebih utama bagi dirinya daripada jiwanya sendiri. Maka, ia tidak mengambil petunjuk kecuali dari kalimat-kalimat beliau, tidak berhukum kecuali kepada beliau, tidak menjadikan selain beliau sebagai pemutus perkara, dan sama sekali tidak ridha dengan hukum selain hukum beliau—baik dalam hukum-hukum zhahir maupun batin.

Apabila seseorang terpaksa dan tidak mampu berhukum kepada hukum beliau, maka pilihannya berhukum kepada selain beliau hanyalah berstatus seperti makanan bagi orang yang darurat (ghidā' al-mudhtharr), yang tidak menemukan makanan untuk bertahan hidup kecuali dari bangkai dan darah. Kondisi terbaiknya adalah seperti kedudukan debu yang hanya digunakan bertayamum saat tidak mampu menggunakan air yang suci lagi menyucikan.

  • Ridha terhadap Agama-Nya (Dīn):

Apabila Rasulullah bersabda, menetapkan hukum, memerintahkan, atau melarang sesuatu, ia ridha dengan sepenuh keridhaan. Tidak tersisa sedikit pun rasa keberatan (haraj) di dalam hatinya terhadap hukum beliau dan ia menerima serta pasrah sepenuhnya (taslīm), meskipun hukum tersebut menyelisihi keinginan jiwanya, hawa nafsunya, ataupun pendapat taklidnya, gurunya, dan kelompoknya [Madārij as-Sālikīn karya Ibn al-Qayyim (2/179-180); dan rujuk juga: Bashā'ir Dzawī at-Tamyīz (3/79-81).].

Untuk Pendalaman Lebih Lanjut, Lihat Sifat-sifat Berikut:

  • Al-Ittibā' (Mengikuti Sunnah)
  • As-Surūr (Kegembiraan Batin)
  • Ash-Shabr wa Al-Mushābarah (Kesabaran dan Ketabahan)
  • Al-Yaqīn (Keyakinan Mutlak)
  • As-Samāhah (Kelapangan Hati/Toleransi)
  • Al-Qanā'ah (Merasa Cukup)
  • Az-Zuhd (Zuhud)

Adapun Lawan dari Sifat Ini, Lihat Sifat-sifat Berikut:

  • As-Sukhth (Murka/Ketidakridhaan)
  • Al-Jaza' (Keluh Kesah/Gelisah)
  • Al-Qalaq (Kecemasan)
  • Al-Ghadhab (Marah)
  • Al-Hasad (Dengki)
  • Al-Hiqd (Dendam)
  • Al-Ghill (Rasa Benci/Kedengkian Batin)

[Ayat-Ayat yang Menerangkan tentang "Ridha"]

Kewajiban Mencari Keridhaan Allah (Mardhāatillāh) Azza wa Jalla dalam Setiap Amal:

  1. "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Baqarah: 207).
  2. "Wahai orang-orang yang beriman, jangan batalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada manusia serta tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah batu itu bersih (dari debu). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang ditimpa hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiramnya, maka hujan gerimis (pun cukup). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 264-265).
  3. "Tidak ada kebaikan pada banyak bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." (QS. An-Nisā': 114).
  4. "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kesucian) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhan mereka. Apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas nama Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan azlām (anak panah), (karena) itu suatu kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Mā'idah: 2-3). [Ayat 2 tergolong Madaniyyah, sedangkan Ayat 3 turun di Arafah pada saat Haji Wada']
  5. "Wahai Ahli Kitab, sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari isi kitab yang kamu sembunyikan, dan membiarkan banyak hal (yang tidak dijelaskan). Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas. (Dengan Kitab itulah) Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus." (QS. Al-Mā'idah: 15-16).
  6. "Mereka bersumpah dengan nama Allah kepadamu untuk menyenangkan hatimu, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih berhak untuk mereka cari keridhaan-Nya jika mereka adalah orang-orang yang beriman." (QS. At-Taubah: 62).
  7. "Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. At-Taubah: 109).
  8. "Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kenabian dan Kitab pada keturunan keduanya, di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik. Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan Injil kepadamu dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah (kehidupan kebiaraan), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka melainkan (mereka sendiri yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, tetapi mereka tidak memeliharanya sebagaimana mestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka yang fasik." (QS. Al-Hadīd: 26-27).
  9. "(Harta rampasan perang itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halamannya dan ditinggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, serta membantu (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (jujur imannya)." (QS. Al-Hasyr: 8).
  10. "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia, kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sungguh mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang membuatnya, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Mumtahanah: 1).

Allah Azza wa Jalla Meridhai Rasul-Nya shallallāhu 'alaihi wa sallam dan Orang-orang Beriman di Dunia dan Akhirat:

  1. "Sungguh, Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau ridhai. Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sungguh, orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 144).
  1. "Katakanlah, 'Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari yang demikian itu?' Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya, dan (ada) pasangan-pasangan yang disucikan serta keridhaan dari Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya." (QS. Āli 'Imrān: 15).
  2. "Maka apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya adalah neraka Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. Āli 'Imrān: 162).
  3. "(Yaitu) orang-orang yang menaati permohonan Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang ketika ada) manusia berkata kepada mereka, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' maka (perkataan) itu malah menambah iman mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.' Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana pun dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Āli 'Imrān: 172-174).
  4. "Allah berfirman, 'Inilah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenarannya. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.'" (QS. Al-Mā'idah: 119).
  5. "Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga-surga yang di dalamnya mereka memperoleh kenikmatan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar." (QS. At-Taubah: 20-22).
  6. "Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Dan keridhaan dari Allah adalah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah: 72).
  7. "Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah: 100).
  8. "Maka sabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbihlah pula pada waktu-waktu di malam hari dan pada ujung-ujung siang, supaya engkau merasa ridha (senang)." (QS. Tāhā: 130).
  9. "Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik. Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sungguh, Dia pasti akan memasukkan mereka ke tempat masuk yang mereka sukai (ridhai). Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun." (QS. Al-Hajj: 58-59).
  1. "Sungguh, Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fath: 18).
  2. "Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan kelalaian, perhiasan dan saling membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak cucu, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (ada) azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." (QS. Al-Hadīd: 20).
  3. "Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau kerabatnya. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hatinya dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung." (QS. Al-Mujādilah: 22).
  4. "Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, 'Ambillah, bacalah kitabku (ini).' Sesungguhnya aku yakin bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitunganku. Maka dia berada dalam kehidupan yang diridhai." (QS. Al-Hāqqah: 19-21).
  5. "Banyak wajah pada hari itu berseri-seri, merasa senang (ridha) karena usahanya, dalam surga yang tinggi." (QS. Al-Ghāsyiyah: 8-10).
  6. "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27-30).
  7. "Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya, dan tidak ada seorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, melainkan (dia menginfakkannya) semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan merasa ridha." (QS. Al-Lail: 17-21).
  8. "Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu. Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi ridha (senang)." (QS. Ad-Dhuhā: 1-5).
  1. "Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. Al-Bayyinah: 7-8).
  2. "Hari Kiamat, apakah Hari Kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang berterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Maka adapun orang yang berat timbangan (kebajikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang diridhai (memuaskan). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebajikan)nya, maka tempat kembalikannya adalah neraka Hāwiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hāwiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (QS. Al-Qāri'ah: 1-11).

Ridha Allah Azza wa Jalla adalah Cita-Cita Tertinggi Para Nabi:

  1. "Kāf Hā Yā 'Aīn Shād. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia (Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang ahli waris, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.'" (QS. Maryam: 1-6).
  2. "Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur'an). Dia benar-benar seorang yang menepati janji, seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya." (QS. Maryam: 54-55).
  3. "Dan apakah yang menyegerakan engkau (berangkat) meninggalkan kaummu, wahai Musa? Dia (Musa) berkata, 'Merekulah yang sedang menyusul di belakangku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau ridha (kepadaku).'" (QS. Tāhā: 83-84).
  4. "Dan untuk Sulaiman dikumpulkan tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, 'Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, 'Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.'" (QS. An-Naml: 17-19).
  1. "Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungkannya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, 'Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang mengalir kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'" (QS. Al-Ahqāf: 15).
  2. "Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat dan perumpamaan mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu makin kuat kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan keadaannya). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fath: 29).

[Tidak Ada Syafaat Kecuali Bagi Orang yang Diridhai Allah]:

  1. "Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, 'Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, lalu Dia membiarkannya (bekas gunung-gunung itu) datar sama sekali, tidak ada yang sedikit pun kamu lihat jalan yang berbelok-belok dan yang berbukit-bukit.' Pada hari itu manusia mengikuti (panggilan) penyeru tanpa berbelok-belok (membantah); dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga kamu tidak mendengar melainkan bisikan belaka. Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan Yang telah Dia ridhai perkataannya." (QS. Tāhā: 105-109).
  2. "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. Dan mereka berkata, 'Tuhan Yang Maha Pengasih telah mengambil (mengangkat) anak.' Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang sedang/akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (QS. Al-Anbiyā': 25-28).
  3. "Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (bantuan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah telah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai." (QS. An-Najm: 26).
  4. "(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan pengawal-pengawal (malaikat) di depan dan di belakangnya." (QS. Al-Jinn: 26-27).

[Allah Azza wa Jalla Menseyariatkan Apa yang Diridhai-Nya untuk Hamba-Hamba-Nya]:

  1. "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Aku. Barangsiapa yang kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nūr: 55).

[Syariat Tidak Melarang Pelepasan Hak Melalui Saling Ridha (Kerelaan Bersama)]:

  1. "Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai akhir idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah ada kerelaan di antara mereka dengan cara yang patut. Demikianlah dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah menanggung rezeki dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kemampuannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (dikenakan kewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) berdasarkan kerelaan dan musyawarah antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 232-233).
  2. "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar kerelaan (saling ridha) di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisā': 29).

[Saksi Utang Disyaratkan Keridhaan dari Kedua Belah Pihak Terhadapnya]:

  1. "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu meyakinkannya dengan menuliskan. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu meyakinkannya dengan adil. Janganlah penulis menolak untuk meyakinkannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah dia meyakinkan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika orang yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya) atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekan dengan adil. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara saksi-saksi yang kamu ridhai, agar jika seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan meyakinkannya, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagimu jika kamu tidak meyakinkannya. Dan ambillah saksi apabila kamu jual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan jangan (pula) saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan padamu. Bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 282).

[Kewajiban Ridha dalam Kehidupan Rumah Tangga/Nafkah Naungan (Al-Ma'āsy)]:

  1. "Engkau boleh menangguhkan (menggilir) siapa yang engkau kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan boleh (pula) menggauli siapa di antara mereka yang engkau kehendaki. Dan siapa yang engkau ingini dari istri-istrimu yang telah engkau sisihkan, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu lebih dekat untuk menenteramkan hati mereka, sehingga mereka tidak berduka cita, dan mereka semuanya ridha dengan apa yang telah engkau berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun." (QS. Al-Azāb: 51).

[Teguran Allah Azza wa Jalla Kepada Rasul-Nya shallallāhu 'alaihi wa sallam]:

  1. "Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu, (hanya) karena mencari keridhaan istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Dan ingatlah ketika secara rahasia Nabi membicarakan suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah). Maka ketika dia (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu kepadanya (Nabi), lalu dia (Nabi) memberitahukan sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Maka ketika dia (Nabi) memberitahukan pembicaraan itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, 'Siapakah yang memberitahukan hal ini kepadamu?' Nabi menjawab, 'Yang memberitahukan kepaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui, Mahateliti.'" (QS. At-Tarīm: 1-3).

[Hadis-Hadis yang Menerangkan tentang "Ridha"]

  1. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«آخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ، فَهُوَ يَمْشِي مَرَّةً وَيَكْبُو مَرَّةً، وَتَسْفَعُهُ النَّارُ مَرَّةً، فَإِذَا مَا جَاوَزَهَا الْتَفَتَ إِلَيْهَا، فَقَالَ: تَبَارَكَ الَّذِي نَجَّانِي مِنْكِ، لَقَدْ أَعْطَانِي اللَّهُ شَيْئًا مَا أَعْطَاهُ أَحَدًا مِنَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ. فَتُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، أَدْنِنِي مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا وَأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا. فَيَقُولُ اللَّهُ - عَزَّ وَجَلَّ -: يَا ابْنَ آدَمَ، لَعَلِّي إِنْ أَعْطَيْتُكَهَا سَأَلْتَنِي غَيْرَهَا. فَيَقُولُ: لاَ يَا رَبِّ، وَيُعَاهِدُهُ أَنْ لاَ يَسْأَلَهُ غَيْرَهَا، وَرَبُّهُ يَعْذِرُهُ لأَنَّهُ يَرَى مَا لاَ صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ. فَيُدْنِيهِ مِنْهَا، فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا، ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ هِيَ أَحْسَنُ مِنَ الأُولَى، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، أَدْنِنِي مِنْ هَذِهِ لأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا وَأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا. فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، أَلَمْ تُعَاهِدْنِي أَنْ لاَ تَسْأَلَنِي غَيْرَهَا؟ فَيَقُولُ: لَعَلِّي إِنْ أَدْنَيْتُكَ مِنْهَا تَسْأَلُنِي غَيْرَهَا؟، فَيُعَاهِدُهُ أَنْ لاَ يَسْأَلَهُ غَيْرَهَا، وَرَبُّهُ يَعْذِرُهُ لأَنَّهُ يَرَى مَا لاَ صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ، فَيُدْنِيهِ مِنْهَا فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا. ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ هِيَ أَحْسَنُ مِنَ الأُولَيَيْنِ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، أَدْنِنِي مِنْ هَذِهِ لأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا وَأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا، لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا. فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، أَلَمْ تُعَاهِدْنِي أَنْ لاَ تَسْأَلَنِي غَيْرَهَا؟. قَالَ: بَلَى يَا رَبِّ، هَذِهِ لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا. وَرَبُّهُ يَعْذِرُهُ لأَنَّهُ يَرَى مَا لاَ صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ، فَيُدْنِيهِ مِنْهَا، فَإِذَا أَدْنَاهُ مِنْهَا، فَيَسْمَعُ أَصْوَاتَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، أَدْخِلْنِيهَا، فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَا يَصْرِينِي مِنْكَ؟ أَيُرْضِيكَ أَنْ أُعْطِيَكَ الدُّنْيَا وَمِثْلَهَا مَعَهَا؟. قَالَ: يَا رَبِّ، أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّي وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟»

(Orang yang paling terakhir masuk surga adalah seorang laki-laki. Ia berjalan sesekali, tersungkur [Yakbū: Maknanya adalah jatuh tersungkur di atas wajahnya] sesekali, dan dijilat oleh api neraka [Tasfa'uhu an-nār: Hantaman/sambaran api neraka mengenai wajahnya, menghitangkannya, dan meninggalkan bekas padanya] sesekali. Maka apabila ia telah melewatinya, ia menoleh ke arah neraka seraya berkata, "Mahasuci Allah yang telah menyelamatkanku darimu. Sungguh Allah telah memberiku sesuatu yang belum pernah Dia berikan kepada seorang pun dari orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang kemudian." Lalu diperlihatkan kepadanya sebuah pohon, maka ia berkata, "Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku ke pohon ini agar aku dapat berteduh di bawah naungannya dan meminum airnya." Maka Allah Azza wa Jalla berfirman, "Wahai anak Adam, boleh jadi jika Aku memberikannya kepadamu, engkau akan meminta kepada-Ku yang lainnya?" Ia menjawab, "Tidak, wahai Tuhanku," dan ia berjanji kepada-Nya untuk tidak meminta yang lainnya lagi. Dan Tuhannya memakluminya karena Dia melihat sesuatu yang ia tidak sanggup bersabar atasnya [Mā lā shabra lahu 'alaihi: Maknanya adalah kenikmatan yang ia tidak sanggup bersabar darinya]. Maka Allah mendekatkannya ke pohon itu, lalu ia berteduh di bawah naungannya dan meminum airnya. Kemudian diperlihatkan lagi kepadanya pohon lain yang lebih indah dari yang pertama. Ia pun berkata, "Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku ke pohon ini agar aku dapat meminum airnya dan berteduh di bawah naungannya, aku tidak akan meminta yang lainnya kepadamu." Maka Allah berfirman [Yang berkata di sini adalah Allah Azza wa Jalla, dan dalam kalimat ini terdapat pemendekan (ījāz) dengan menghapus ucapan anak Adam: "Benar, wahai Tuhanku."], "Wahai anak Adam, bukankah engkau telah berjanji kepada-Ku untuk tidak meminta yang lainnya?" Allah berfirman, "Boleh jadi jika Aku mendekatkanmu kepadanya engkau akan meminta kepada-Ku yang lainnya?" Maka ia berjanji kepada-Nya untuk tidak meminta yang lainnya lagi. Dan Tuhannya memakluminya karena Dia melihat sesuatu yang ia tidak sanggup bersabar atasnya, lalu Allah mendekatkannya ke pohon tersebut, maka ia berteduh di bawah naungannya dan meminum airnya. Kemudian diperlihatkan lagi kepadanya sebuah pohon di dekat pintu surga yang lebih indah dari kedua pohon sebelumnya, maka ia berkata, "Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku ke pohon ini agar aku dapat berteduh di bawah naungannya dan meminum airnya, aku tidak akan meminta selainnya kepadamu." Allah berfirman, "Wahai anak Adam, bukankah engkau telah berjanji kepada-Ku untuk tidak meminta kepada-Ku selainnya?" Ia berkata, "Benar wahai Tuhanku, kali ini aku tidak meminta selainnya." Dan Tuhannya memakluminya karena Dia melihat sesuatu yang ia tidak sanggup bersabar atasnya, maka Allah mendekatkannya ke pohon itu. Ketika Allah telah mendekatkannya ke pohon tersebut, ia mendengar suara-suara penghuni surga, lalu ia berkata, "Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalamnya." Maka Allah berfirman, "Wahai anak Adam, apakah yang dapat menghentikan permohonanmu kepada-Ku? [Mā yashrīnī minka: Apa yang dapat memutuskan/menghentikan permohonanmu dari-Ku? Atau: Apakah sesuatu yang membuatmu ridha dan memutuskan permohonan antara Aku dan kamu?] Apakah engkau ridha jika Aku berikan kepadamu dunia beserta seperangkat yang serupa dengannya?" Ia berkata, "Wahai Tuhanku, apakah Engkau memperolok-olokku padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?").

Maka Ibnu Mas'ud tertawa, lalu berkata, "Mengapa kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?" Mereka bertanya, "Mengapa engkau tertawa?" Ia menjawab, "Demikianlah Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam tertawa." Lalu para sahabat bertanya, "Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda:

«مِنْ ضَحِكِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حِينَ قَالَ: أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّي وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ فَيَقُولُ: إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ مِنْكَ، وَلَكِنِّي عَلَى مَا أَشَاءُ قَادِرٌ»

(Karena tawa Tuhan semesta alam ketika hamba itu berkata, "Apakah Engkau memperolok-olokku padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?" Lalu Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku tidak memperolok-olokmu, melainkan Aku Mahakuasa atas apa yang Aku kehendaki"). [HR. Muslim (187) dan lafal ini milik-Nya; serta Ahmad dalam Al-Musnad (1/392) No. 3713]

  1. Dari Anas radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam lalu berkata, "Sesungguhnya aku sangat berkeinginan untuk ikut berjihad, namun aku tidak mampu melakukannya." Beliau bersabda:

«هَلْ بَقِيَ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ؟»

(Apakah masih ada salah satu dari kedua orang tuamu yang masih hidup?)

Ia menjawab, "Ibuku." Beliau bersabda:

«قَابِلِ اللَّهَ فِي بِرِّهَا، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ كَانَ لَكَ أَجْرُ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَمُجَاهِدٍ، فَإِذَا رَضِيَتْ عَنْكَ أُمُّكَ فَاتَّقِ وَبِرَّهَا»

(Hadapkanlah dirimu kepada Allah dalam berbuat baik kepadanya. Jika engkau telah melakukan hal itu, maka engkau mendapatkan pahala orang yang berhaji, berumrah, dan berjihad. Apabila ibumu telah ridha kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan teruslah berbuat baik kepadanya). [HR. Al-Haitsami dalam Majma' al-Zawā'id (8/138), dan ia mengatakan: Diriwayatkan oleh Abu Ya'la] [7].

  1. Dari Abu ad-Darda' radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَرْضَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَمِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ، وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟»

(Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang amalan yang terbaik bagi kalian, yang paling diridhai di sisi Raja (Tuhan) kalian, yang paling meninggikan derajat kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh kalian lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?)

Para sahabat bertanya, "Apakah itu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda:

«ذِكْرُ اللَّهِ»

(Zikrullah [mengingat Allah]). [HR. At-Tirmidzi (3377), Ibnu Majah (2/3790) dan lafal ini milik-Nya; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahīh Ibn Mājah (3057)].

  1. Dari Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Mu'awiyah bin Abi Sufyan memerintahkan Sa'ad seraya berkata, "Apakah yang menghalangimu untuk mencela Abu Turab (Ali bin Abi Thalib)?" Maka Sa'ad menjawab, "Adapun mengenai apa yang engkau sebutkan, ada tiga perkara yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam untuk Ali, sehingga aku tidak akan pernah mencelanya. Sungguh, jika aku memiliki satu saja dari ketiga hal tersebut, itu lebih aku cintai daripada unta-unta merah. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya ketika beliau meninggalkannya dalam sebagian peperangannya, lalu Ali berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, apakah engkau meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak?' Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

«أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى، إِلاَّ أَنَّهُ لاَ نُبُوَّةَ بَعْدِي»

(Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada kenabian setelahku?)

Dan aku mendengar beliau bersabda pada hari Perang Khaibar: 'Sungguh aku akan memberikan panji perang ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.' Sa'ad berkata: Maka kami pun saling mementangkan diri mengharapkannya. Lalu beliau bersabda: 'Panggilkan Ali untukku.' Lantas Ali didatangkan dalam keadaan sakit mata (armad), maka beliau meludahi matanya dan menyerahkan panji perang kepadanya, lalu Allah memberikan kemenangan melaluinya. Dan ketika ayat ini turun: 'Faqul ta'ālaw nad'u abnā'anā wa abnā'akum' (QS. Āli 'Imrān: 61), Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain, seraya berdoa:

«اللَّهُمَّ هَؤُلاَءِ أَهْلِي»

(Ya Allah, mereka inilah keluargaku). [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 7 (3706), Muslim (2404) dan lafal ini milik-Nya][2].

  1. Dari 'Amir bin Rabi'ah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya seorang wanita dari Bani Fazarah menikah dengan mahar sepasang sandal. Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ؟»

(Apakah engkau ridha atas dirimu dan hartamu [diganti] dengan sepasang sandal?)

Wanita itu menjawab, "Ya." Beliau bersabda: Maka beliau membolehkannya (mengesahkannya). [HR. At-Tirmidzi (1113) dan ia berkata: Hadis hasan shahīh; Ibnu Majah (1888), serta Ahmad (3/445)].

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya beberapa orang dari kaum Anshar berkata pada hari Perang Hunain, ketika Allah memberikan harta rampasan perang (fai') kepada Rasul-Nya dari harta-harta suku Hawazin. Lantas Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam memberikan kepada beberapa orang laki-laki dari kaum Quraisy masing-masing seratus ekor unta. Maka kaum Anshar berkata, "Semoga Allah mengampuni Rasulullah. Beliau memberi kaum Quraisy dan meninggalkan kita, padahal pedang-pedang kita masih meneteskan darah mereka."

Anas bin Malik berkata: Lalu perkataan mereka itu disampaikan kepada Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam. Maka beliau mengutus utusan kepada kaum Anshar dan mengumpulkan mereka di dalam sebuah kemah kulit (qubbah min adam) [Fī qubbatin min adam: Qubbah pada struktur kemah adalah kemah kecil berbentuk bulat. Ia merupakan salah satu tempat tinggal bangsa Arab. Dan min adam artinya dari kulit-kulit hewan. Ia adalah bentuk jamak dari adīm yang bermakna kulit yang telah disamak, dan dijamakkan pula menjadi ādam]. Ketika mereka telah berkumpul, Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam mendatangi mereka lalu bersabda:

«مَا حَدِيثٌ بَلَغَنِي عَنْكُمْ؟»

(Perkataan apakah ini yang telah sampai kepadaku dari kalian?)

Maka para cendekiawan/ahli fikih dari kaum Anshar berkata, "Adapun orang-orang yang berakal di antara kami, wahai Rasulullah, mereka tidak mengatakan sesuatu pun. Namun adapun orang-orang muda di antara kami, mereka berkata: Semoga Allah mengampuni Rasul-Nya, beliau memberi kaum Quraisy dan meninggalkan kita, padahal pedang-pedang kita masih meneteskan darah mereka."

Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنِّي أُعْطِي رِجَالاً حَدِيثِي عَهْدٍ بِكُفْرٍ أَتَأَلَّفُهُمْ، أَفَلاَ تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالأَمْوَالِ...»

(Sesungguhnya aku memberi beberapa orang yang baru saja meninggalkan kekafiran untuk melunakkan/menautkan hati mereka [At-a'allafuhum: Yaitu aku melunakkan/memikat hati mereka dengan kebaikan agar mereka teguh di atas Islam karena mengharapkan harta]. Tidakkah kalian ridha jika orang-orang pulang membawa harta kekayaan dan kalian kembali ke kediaman (rahāl) kalian bersama Rasulullah? Maka demi Allah, sungguh apa yang kalian bawa pulang itu jauh lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang." Mereka (kaum Anshar) menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah, sungguh kami telah ridha." Beliau bersabda: "Sesungguhnya kalian akan mendapati sikap egois/pengutamaan (atsarah) [Atsarah syadīdah: Yaitu seseorang mementingkan dirinya sendiri atas kalian dan mengutamakan orang lain daripada kalian tanpa hak] yang sangat setelahku. Maka bersabarlah hingga kalian bertemu dengan Allah dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya aku berada di telaga (Al-Haudh)." Mereka berkata, "Kami akan bersabar." [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 7 (3793), Muslim (1059) dan lafal ini milik-Nya].

  1. Dari Abu Qatadah al-Anshari radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam lalu berkata, "Bagaimanakah engkau berpuasa?" Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam marah. Ketika Umar radhiyallāhu 'anhu melihat kemarahan beliau, ia berkata, "Kami ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi. Kami berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan kemurkaan Rasul-Nya." Maka Umar radhiyallāhu 'anhu terus-menerus mengulang-ulang perkataan ini hingga reda kemarahan beliau.

Lalu Umar berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berpuasa sepanjang tahun (shiyaam ad-dahr)?" Beliau bersabda: "Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka" (atau beliau bersabda) "Dia tidak berpuasa dan tidak berbuka." Umar bertanya, "Bagaimana dengan orang yang berpuasa dua hari dan berbuka sehari?" Beliau bersabda: "Apakah ada orang yang sanggup melakukan hal itu?" Umar bertanya, "Bagaimana dengan orang yang berpuasa sehari dan berbuka sehari?" Beliau bersabda: "Itu adalah puasanya (Nabi) Dawud 'alaihissalām." Umar bertanya, "Bagaimana dengan orang yang berpuasa sehari dan berbuka dua hari?" Beliau bersabda: "Aku berharap sekiranya aku diberi kemampuan untuk itu."

Kemudian Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tiga hari dari setiap bulan, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya, maka itu adalah puasa sepanjang tahun. Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. Dan puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun sebelumnya." [HR. Muslim (1162)].

  1. Dari Ibnu Umar radhiyallāhu 'anhumā, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam apabila telah tegak di atas untanya untuk keluar melakukan perjalanan (safar), beliau bertakbir tiga kali, kemudian berdoa:

«سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ»

("Mahasuci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya [Wa mā kunnā lahu muqrinīn: Yaitu kami tidak akan sanggup menundukkan dan menggunakannya jika bukan karena Allah Ta'ala yang menundukkannya untuk kami]. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, permudahlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah/singkatkanlah jaraknya yang jauh bagi kami. Ya Allah, Engkau adalah Pendamping dalam perjalanan dan Pelindung bagi keluarga yang ditinggalkan. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran (wa'tsā') [Wa'tsā': Kelelahan, kesulitan, dan kesukaran] perjalanan, pemandangan yang menyedihkan (ka'ābah) [Ka'ābah: Perubahan jiwa akibat kesedihan dan sejenisnya], dan tempat kembali (al-munqalab) [Al-Munqalab: Tempat/keadaan kembali] yang buruk pada harta dan keluarga.")

Dan apabila beliau kembali dari perjalanan, beliau mengucapkan kalimat-kalimat tersebut dan menambahkan di dalamnya: "Āibūna tā'ibūna 'ābidūna lirabbinā āmidūn" (Kami kembali dengan bertobat, beribadah, dan memuji Tuhan kami). [HR. Muslim (1342)].

  1. Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya orang-orang pada zaman Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat?" Maka mereka berkata: Wahai Rasulullah, seolah-olah engkau dahulu pernah menggembala di padang sahara. Beliau bersabda: "Maka mereka keluar seperti mutiara, di leher mereka terdapat kalung-kalung/stempel (khawātīm) [Al-Khawātīm: Bentuk jamak dari khātam (dengan fathah atau kasrah pada huruf ta'), yaitu sesuatu dari emas atau selainnya yang dikalungkan di leher mereka sebagai tanda agar mereka dapat diresapi/dikenali darinya] yang dikenal oleh para penghuni surga. Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan oleh Allah, yang Allah masukkan ke dalam surga tanpa amal perbuatan yang pernah mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang pernah mereka persembahkan. Kemudian Allah berfirman: "Masuklah kalian ke dalam surga, maka apa yang kalian lihat adalah milik kalian." Lantas mereka berkata: "Wahai Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada kami apa yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari seluruh alam." Maka Allah berfirman: "Bagi kalian di sisi-Ku ada yang lebih utama dari ini." Mereka bertanya: "Wahai Tuhan kami, apakah yang lebih utama dari ini?" Lalu Allah berfirman: "Keridhaan-Ku, maka Aku tidak akan murka kepada kalian setelahnya selama-lamanya." [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 13 (7439), dan Muslim (183) dan lafal ini milik-Nya].
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, hingga ketika Dia selesai dari menciptakannya, rahim (tali silaturahmi) berdiri lalu berkata: 'Ini adalah tempat berdiri orang yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan hubungan.' Allah berfirman: 'Ya, tidakkah engkau ridha jika Aku menyambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?' Rahim menjawab: 'Tentu, wahai Tuhan.' Allah berfirman: 'Maka hal itu adalah untukmu.'" Kemudian Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah jika kalian mau: 'Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu?' (QS. Muammad: 22)" [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 10 (5987) dan lafal ini milik-Nya, Muslim (2554)].
  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan (al-aklah) [Al-Aklah: Dengan fathah pada hamzah, yaitu satu kali makan, seperti makan siang atau makan malam] lalu ia memuji-Nya atas makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu ia memuji-Nya atas minuman tersebut." [HR. Muslim (2734)].
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah ridha bagi kalian tiga hal dan membenci bagi kalian tiga hal. Dia ridha bagi kalian jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan kalian berpegang teguh pada tali Allah [Berpegang teguh pada tali Allah (Al-I'tishām bi ablillāh): Berpegang teguh pada janji-Nya, mengikuti Kitab-Nya, dan beradab dengan adab-adab-Nya] semuanya serta tidak bercerai-berai. Dan Dia membenci bagi kalian qīla wa qāla (katanya dan katanya/desas-desus) [Qīla wa qāla: Yaitu tenggelam/terlarut dalam membicarakan kabar dan desas-desus manusia], banyak bertanya/meminta (katsrat as-su'āl) [Banyak bertanya/meminta (Katsrat as-su'āl): Yang dimaksud adalah berlebih-lebihan (tanaththu') dalam permasalahan agama dan memperbanyak pertanyaan tentang hal-hal yang belum terjadi atau tidak ada kebutuhan mendesak kepadanya (serta banyak meminta-minta harta)], dan menghambur-hamburkan harta (idhā'at al-māl)." [HR. Muslim (1715), dan sebagian dari hadis ini terdapat dalam Al-Bukhari 10 (5975)].
  1. Dari Abu Talhah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam datang pada suatu hari dengan wajah yang berseri-seri gembira, lalu kami berkata: "Sesungguhnya kami benar-benar melihat berita gembira pada wajahmu." Maka beliau bersabda: "Sesungguhnya Malaikat telah datang kepadaku lalu berkata: 'Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman: Tidakkah engkau ridha bahwa tidak ada seorang pun dari umatmu yang berselawat kepadamu melainkan Aku berselawat kepadanya sepuluh kali, dan tidak ada seorang pun yang mengucapkan salam kepadamu melainkan Aku mengucapkan salam kepadanya sepuluh kali?'" [HR. An-Nasa'i (3/44), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/420) dan ia membenarkannya (menshahihkannya) serta disepakati oleh Adz-Dzahabi. Dan penyunting Jāmi' al-Ushūl (4/405) berkata: Hadis ini memiliki penguat-penguat (syawāhid) yang mengangkat derajatnya ke tingkat hasan atau shahīh].
  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam mendoakan keburukan atas orang-orang yang membunuh para sahabat di Bi'r Ma'unah [Bi'r Ma'unah: Sebuah sumur di wilayah suku Bani Sulaim yang terletak di antara Mekkah dan Madinah] selama tiga puluh subuh; beliau mendoakan keburukan atas suku Ri'l, Dzakwan, Lihyan, dan 'Ushayyah yang telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Anas berkata: Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat Al-Qur'an mengenai orang-orang yang terbunuh di Bi'r Ma'unah yang pernah kami baca hingga akhirnya di-nasakh (dihapus pembacaannya) kemudian: "Sampaikanlah kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu dengan Tuhan kami, maka Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya." [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 6 (3046), Muslim (677) dan lafal ini milik-Nya. Dalam riwayat Al-Bukhari: "Maka Dia ridha kepada kami dan membuat kami ridha", kemudian ayat tersebut diangkat/di-nasakh setelahnya].
  1. Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallāhu 'anhumā, dari Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

«رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ»

(Ridha Tuhan terletak pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Tuhan terletak pada kemurkaan orang tua). [HR. At-Tirmidzi (1899) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahīh At-Tirmidzī (1549), dan penyunting Jāmi' al-Ushūl (1/401) berkata: Sanadnya shahih].

  1. Dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallāhu 'anhu, ia merafa'kan hadis ini (menyiarkannya dari Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam); beliau bersabda: Nabi Musa 'alaihissalām pernah bertanya kepada Tuhannya, "Apakah derajat penghuni surga yang paling rendah?" Allah berfirman: "Dia adalah seorang laki-laki yang datang setelah seluruh penghuni surga dimasukkan ke dalam surga. Lalu dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga!' Maka ia berkata: 'Wahai Tuhanku, bagaimana (aku bisa masuk), padahal orang-orang telah menempati tempat-tempat tinggal mereka dan mengambil bagian-bagian (karunia) mereka?' [Wa akhadzū akhadzātihim: Yaitu apa yang telah mereka ambil dari kemuliaan yang diberikan oleh Pelindung (Allah) mereka] Maka dikatakan kepadanya: 'Apakah engkau ridha jika engkau memiliki kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja dari raja-raja dunia?' Ia menjawab: 'Aku ridha, wahai Tuhanku.' Allah berfirman: 'Bagi mu hal itu, dan yang semisalnya, yang semisalnya, yang semisalnya, dan yang semisalnya.' Lalu pada yang kelima kali ia berkata: 'Aku ridha, wahai Tuhanku.' Allah berfirman: 'Ini untukmu dan sepuluh kali lipat yang semisalnya. Dan bagimu apa yang diinginkan oleh jiwamu dan dilezatkan oleh matamu.' Maka ia berkata: 'Aku ridha, wahai Tuhanku.'"

Musa bertanya: "Wahai Tuhanku, lalu bagaimanakah dengan orang-orang yang derajatnya paling tinggi?" Allah berfirman: "Merekalah orang-orang yang Aku kehendaki (pilih/pilih khusus) [Aradtu: Aku pilih dan Aku pilih secara khusus (isthafaitu)], Aku tanamkan [Gharastu: Aku pilih mereka sehingga kemuliaan mereka tidak dapat tersentuh oleh perubahan] kemuliaan mereka dengan tangan-Ku Sendiri, dan Aku tutup rapat (meterai) darinya. Maka tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia." [Lam yakhthur 'alā qalbi basyar: Yaitu tidak pernah terlintas dalam hati manusia tentang apa yang Aku muliakan dan persiapkan untuk mereka]

Nabi bersabda: Dan pembenarannya di dalam Kitab Allah Azza wa Jalla adalah firman-Nya: "Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (berbagai nikmat) yang menyenang kan hati..." (QS. As-Sajdah: 17). [HR. Muslim (189)][6].

  1. Dari Ibnu Umar radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki bersumpah dengan menyebut nama ayahnya. Maka beliau bersabda:

«لاَ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ، مَنْ حَلَفَ بِاللَّهِ فَلْيَصْدُقْ، وَمَنْ حُلِفَ لَهُ بِاللَّهِ فَلْيَرْضَ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ بِاللَّهِ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ»

(Janganlah kalian bersumpah dengan nama ayah-ayah kalian! Barangsiapa yang bersumpah dengan nama Allah maka hendaklah ia jujur, dan barangsiapa yang disumpahi baginya dengan nama Allah maka hendaklah ia ridha (menerimanya). Dan barangsiapa yang tidak ridha dengan nama Allah, maka ia tidak termasuk dalam golongan Allah). [HR. Ibnu Majah (2101), dan Al-Bousiri berkata dalam Al-Zawā'id: Para perawi sanadnya tepercaya (tsiqaat). Serta dihasankan oleh Al-Hafiz dalam Al-Fath (11/536)].

  1. Dari Aisyah radhiyallāhu 'anhā, dari Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

«السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ»

(Bersiwak itu menyucikan mulut dan mendatangkan keridhaan Tuhan). [HR. An-Nasa'i (1/10) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahīh al-Jāmi' (3695) serta Shahīh Sunan an-Nasā'ī (5). Al-Hafiz Ad-Dimyathi berkata: Diriwayatkan oleh An-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Bukhari secara mu'allaq majzum].

  1. Dari 'Utbah bin 'Uwaim bin Sa'idah al-Anshari radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِالأَبْكَارِ، فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا، وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا، وَأَرْضَى بِالْيَسِيرِ»

(Hendaklah kalian menikahi gadis-gadis perawan, karena sesungguhnya mereka lebih manis tutur katanya/mulutnya, lebih subur rahimnya, dan lebih ridha (menerima) dengan pemberian yang sedikit). [HR. Ibnu Majah (1/1861) dan dihasankan oleh Al-Albani, serta terdapat dalam Ash-Shahīhah (623)].

  1. Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepada kami:

«أَمَا تَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟»

(Tidakkah kalian ridha jika kalian menjadi seperempat dari penghuni surga?)

Ibnu Mas'ud berkata: Maka kami pun bertakbir. Kemudian beliau bersabda:

«أَمَا تَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟»

(Tidakkah kalian ridha jika kalian menjadi sepertiga dari penghuni surga?)

Ibnu Mas'ud berkata: Maka kami pun bertakbir. Kemudian beliau bersabda:

«إِنِّي لأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا شَطْرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَسَأُخْبِرُكُمْ عَنْ ذَلِكَ، مَا الْمُسْلِمُونَ فِي الْكُفَّارِ إِلاَّ كَشَعْرَةٍ بَيْضَاءَ فِي ثَوْرٍ أَسْوَدَ، أَوْ كَشَعْرَةٍ سَوْدَاءَ فِي ثَوْرٍ...»

(Sesungguhnya aku benar-benar berharap kalian menjadi separuh dari penghuni surga, dan aku akan memberitahukan kepada kalian tentang hal itu: Tidaklah perbandingan kaum muslimin di tengah-tengah kaum kafir melainkan seperti sehelai bulu putih pada tubuh lembu jantan yang hitam, atau seperti sehelai bulu hitam pada tubuh lembu jantan putih." [HR. Muslim (221)].

  1. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabatnya istikharah dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan satu surah dari Al-Qur'an. Beliau bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian berkehendak melakukan suatu urusan, maka hendaklah ia ruku' (shalat) dua rakaat di luar shalat fardhu, kemudian membaca (doa): 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu, dan memohon karunia-Mu yang agung. Karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini —lalu menyebutkan namanya secara khusus— adalah baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat —atau beliau bersabda: dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku— maka takdirkanlah ia bagiku, mudahkanlah ia bagiku, lalu berkahilah aku di dalamnya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku —atau beliau bersabda: dalam urusanku di dunia dan di akhirat— maka palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan bagiku di mana pun ia berada, kemudian jadikanlah aku ridha kepadanya (menerimanya)'." [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 13 (7390)].
  1. Dari Asma' بنت Yazid radhiyallāhu 'anhā, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kedustaan tidak dihalalkan kecuali dalam tiga hal: seorang suami yang berbicara kepada istrinya untuk menyenangkan/meridhakan hatinya, kedustaan dalam peperangan, dan kedustaan untuk mendamaikan di antara manusia." [HR. At-Tirmidzi (4/1939) dan ia berkata: Hadis hasan, serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahīh Sunan At-Tirmidzī (1582)].
  1. Dari Abu Sallam radhiyallāhu 'anhu —pelayan Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam— dari Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Tidaklah seorang muslim, atau manusia, atau seorang hamba, mengucapkan ketika petang dan ketika pagi: 'Aku ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi', melainkan menjadi kewajiban/janji atas Allah untuk memuaskan/meridhakannya pada hari kiamat." [HR. Ibnu Majah (2/3870). Dalam Al-Zawā'id: Sanadnya shahih dan para perawinya tepercaya].
  1. Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Aku menunggu selama satu tahun berkeinginan untuk bertanya kepada Umar bin Al-Khaththab tentang sebuah ayat, namun aku tidak mampu bertanyanya karena rasa segan/hormat kepadanya. Maka aku berkata [Yang berkata di sini adalah Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu]: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Kisra (Raja Persia) dan Kaisar (Raja Romawi) berada dalam kemewahan sebagaimana keadaan mereka, sedangkan engkau adalah Utusan Allah." Maka beliau bersabda: "Tidakkah engkau ridha bahwa bagi mereka adalah dunia dan bagi kita adalah akhirat?" [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 8 (4913) dan lafal ini milik-Nya, serta Muslim (1479)].
  1. Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallāhu 'anhu, dari Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barangsiapa yang menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah menyukai pertemuan dengannya. Dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya." Aisyah —atau sebagian dari istri-istri beliau— berkata: "Sesungguhnya kami benar-benar membenci kematian." Beliau bersabda: "Bukan demikian (maksudnya), melainkan seorang mukmin apabila kematian menghampirinya, ia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah dan kemuliaan-Nya. Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia cintai daripada apa yang ada di hadapannya, lalu ia menyukai pertemuan dengan Allah dan Allah pun menyukai pertemuan dengannya. Dan sesungguhnya orang kafir apabila kematian menghampirinya, ia diberi kabar gembira dengan azab Allah dan hukuman-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci daripada apa yang ada di hadapannya, lalu ia membenci pertemuan dengan Allah dan Allah pun membenci pertemuan dengannya." [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 11 (6507), dan Muslim (2683)].
  1. Dari Aisyah radhiyallāhu 'anhā, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah meskipun dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan mencukupkan baginya beban manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia." [HR. Shahīh Sunan At-Tirmidzī (1967), dan terdapat dalam Ash-Shahīhah (2311)].
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ؟»

(Siapakah yang mau mengambil dariku kalimat-kalimat ini lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang mengamalkannya?)

Maka Abu Hurairah berkata: Aku menjawab, "Aku, wahai Rasulullah." Lalu beliau memegang tanganku dan menghitung lima hal, seraya bersabda:

«اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ، وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكِ تَكُنْ مُسْلِمًا، وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كُثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ»

(Peliharalah dirimu dari hal-hal yang diharamkan niscaya engkau menjadi orang yang paling beribadah di antara manusia, ridhalah dengan apa yang telah dibagikan Allah untukmu niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya di antara manusia, berbuat baiklah kepada tetanggamu niscaya engkau menjadi seorang mukmin, cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri niscaya engkau menjadi seorang muslim, dan janganlah engkau memperbanyak tawa karena sesungguhnya banyak tawa itu mematikan hati). [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/310), At-Tirmidzi (2305) dan lafal ini milik-Nya serta dihasankan oleh Al-Albani; Ibnu Majah (4217). Penyunting Jāmi' al-Ushūl (11/687) berkata: Hadis hasan].

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا»

(Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu sang istri menolak, melainkan Zat yang di atas langit akan murka kepadanya hingga suaminya ridha kepadanya). [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 9 (5193), dan Muslim (1436) dan lafal ini milik-Nya].

  1. Dari Aisyah radhiyallāhu 'anhā, ia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang gadis perawan itu merasa malu." Beliau bersabda:

«رِضَاهَا صَمْتُهَا»

(Pernyataan ridhanya (persetujuannya) adalah diamnya). [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 9 (5137), dan yang semisalnya terdapat dalam Muslim (1420)].

[Hadis-Hadis yang Membahas Makna "Ridha"]

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepada wanita-wanita Anshar:

«لاَ يَمُوتُ لإِحْدَاكُنَّ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ فَتَحْتَسِبَهُ إِلاَّ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ»

(Tidaklah tiga orang anak dari salah seorang di antara kalian meninggal dunia lalu ia mengharapkan pahala (bersabar/ikhlas) melainkan ia pasti masuk surga).

Maka seorang wanita di antara mereka berkata: "Bagaimana jika dua orang anak, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda:

«أَوِ اثْنَيْنِ»

(Begitu pula dua orang anak). [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 3 (1249), dan Muslim (2632) dan lafal ini milik-Nya].

  1. Dari Umm Salamah radhiyallāhu 'anhā, bahwasanya ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا»

(Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah: "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Allāhumma'-jurnī fī mushībatī wakhluf lī khairan minhā" [Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantikanlah untukku yang lebih baik daripadanya], melainkan Allah akan menggantikan baginya yang lebih baik daripadanya). [HR. Muslim (918)].

  1. Dari Anas radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Haritsah gugur pada Perang Badar —saat itu ia masih anak-anak/remaja— lalu ibunya mendatangi Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam seraya berkata: "Wahai Rasulullah, engkau sungguh telah mengetahui kedudukan Haritsah di hatiku. Jika ia berada di surga aku akan bersabar dan mengharapkan pahala (atasib). Namun jika yang terjadi adalah selain itu, engkau akan melihat apa yang akan aku perbuat." Maka beliau bersabda:

«وَيْحَكِ، أَوَهَبِلْتِ؟! أَوَ جَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ؟! إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ، وَإِنَّهُ لَفِي جَنَّةِ الْفِرْدَوْسِ»

(Celaka engkau, apakah engkau telah hilang akal [Habilti: Dengan fathah pada huruf ha dan kasrah pada huruf ba, bermakna: Apakah engkau telah kehilangan akalmu karena kehilangan anakmu hingga engkau menganggap surga itu hanya satu?]?! Apakah surga itu hanya satu?! Sesungguhnya surga itu ada banyak, dan sungguh Haritsah berada di surga Firdaus). [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 11 (6550)].

  1. Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ، قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ»

(Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya: "Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?" Mereka menjawab: "Ya." Allah berfirman: "Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?" Mereka menjawab: "Ya." Allah berfirman: "Apakah yang diucapkan oleh hamba-Ku?" Mereka menjawab: "Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja' [innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn]." Maka Allah berfirman: "Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan berilah nama Rumah Pujian [Bait al-Hamd]"). [HR. At-Tirmidzi (1021) dan sanadnya dihasankan oleh Al-Albani].

  1. Dari Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku kagum terhadap ketetapan/takdir Allah Azza wa Jalla bagi seorang mukmin; jika ia ditimpa kebaikan, ia memuji Tuhannya dan bersyukur, dan jika ia ditimpa musibah, ia memuji Tuhannya dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal, hingga pada suapan makanan yang ia angkat ke mulut istrinya." [HR. Ahmad (1/173, 177, 178), Syarh as-Sunnah (1540) dan pengeluarnya berkata: Sanadnya hasan; Al-Baihaqi dalam Al-Sunan (3/375, 376), dan Al-Haitsami dalam Majma' al-Zawā'id (7/209) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad dengan beberapa sanad dan para perawinya semuanya perawi kitab Ash-Shahīh].
  1. Dari Shuhaib radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia ditimpa kesenangan/kebahagiaan (sarrā'), ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan/penderitaan (dharrā'), ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya." [HR. Muslim (2999)].
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang mukmin di sisi-Ku, apabila Aku mencabut nyawa orang yang dicintainya (shafiyy) dari kalangan penghuni dunia kemudian ia mengharapkan pahala (ikhlas/bersabar) atasnya, melainkan baginya adalah surga." [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 11 (6424)].

[Contoh Penerapan Praktis dari Kehidupan Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam dalam "Ridha"]

  1. Dari Malik bin Sha'sha'ah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Nabi Allah shallallāhu 'alaihi wa sallam menceritakan kepadanya tentang malam beliau diisra'kan (dijalankan di malam hari), beliau bersabda: "Ketika aku berada di Al-Hathim —dan terkadang beliau bersabda: di Al-Hijr— dalam keadaan berbaring, tiba-tiba seseorang mendatangiku lalu membelah —ia berkata: dan aku mendengar beliau bersabda: maka ia membelah— antara ini hingga ini. Aku bertanya kepada Al-Jarud yang berada di sampingku: Apa yang beliau maksudkan dengannya? Ia menjawab: Dari lekukan lehernya hingga tempat tumbuh rambut kemaluannya. Kemudian dibawakan kepadaku sebuah bejana berisi khamar, sebuah bejana berisi susu, dan sebuah bejana berisi madu. Lalu aku mengambil susu. Maka dikatakan: "Itu adalah fitrah yang engkau dan umatmu berada di atasnya." Kemudian diwajibkan atasku shalat sebanyak lima puluh kali shalat setiap hari. Lalu aku kembali dan melewati Musa, maka ia bertanya: "Apakah yang diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab: "Aku diperintahkan shalat lima puluh kali setiap hari." Musa berkata: "Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukan lima puluh kali shalat setiap hari, dan demi Allah sungguh aku telah menguji manusia sebelummu, dan aku telah menggembleng Bani Israil dengan penggemblengan yang sangat keras. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah keringanan untuk umatmu."

Maka aku kembali, lalu Allah mengurangkan sepuluh shalat dariku. Lantas aku kembali kepada Musa, dan ia mengatakan hal yang sama. Maka aku kembali lagi, lalu Allah mengurangkan sepuluh shalat dariku. Aku kembali kepada Musa, dan ia mengatakan hal yang sama. Aku kembali lagi, lalu Allah mengurangkan sepuluh shalat dariku. Aku kembali kepada Musa, dan ia mengatakan hal yang sama. Lantas aku kembali, lalu aku diperintahkan shalat sepuluh kali setiap hari. Aku kembali, lalu Musa mengatakan hal yang sama. Maka aku kembali lagi, lalu aku diperintahkan shalat lima kali setiap hari. Aku kembali kepada Musa, lalu ia berkata: "Apakah yang diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab: "Aku diperintahkan shalat lima kali setiap hari." Musa berkata: "Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukan lima kali shalat setiap hari, dan sesungguhnya aku telah menguji manusia sebelummu, dan aku telah menggembleng Bani Israil dengan penggemblengan yang sangat keras. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah keringanan untuk umatmu." Beliau bersabda:

«سَأَلْتُ رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ، وَلَكِنْ أَرْضَى وَأُسَلِّمُ»

("Aku telah memohon kepada Tuhanku hingga aku merasa malu, akan tetapi aku ridha dan berserah diri.")

Beliau bersabda: Ketika aku telah lewat, terdengar suara penyeru berseru: "Aku telah menetapkan kewajiban-Ku dan Aku telah meringankan beban hamba-hamba-Ku)." [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 7 (3887) dan lafal ini milik-Nya, serta Muslim (164)].

  1. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam duduk di atas mimbar lalu bersabda:

«إِنَّ عَبْدًا خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ أَنْ يُؤْتِيَهُ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَهُ»

(Sesungguhnya seorang hamba telah diberi pilihan oleh Allah antara diberikan kenikmatan/perhiasan dunia atau memilih apa yang ada di sisi-Nya, maka hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi-Nya).

Lalu Abu Bakar menangis dan berkata: "Kami jadikan ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu." Maka kami merasa heran kepadanya, dan orang-orang berkata: "Lihatlah orang tua ini, Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah antara diberikan perhiasan dunia atau apa yang ada di sisi-Nya, namun ia malah berkata: 'Kami jadikan ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu'." Padahal Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam sendirilah hamba yang diberi pilihan tersebut, dan Abu Bakar adalah orang yang paling paham di antara kami tentang beliau. Lalu Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً مِنْ أُمَّتِي لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ، وَلَكِنْ خُلَّةُ الإِسْلاَمِ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ خَوْخَةٌ إِلاَّ خَوْخَةُ أَبِي بَكْرٍ»

(Sesungguhnya orang yang paling bermurah hati kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih (khalīl) dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku, akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam. Janganlah ada satu pun pintu kecil (khaukhah) [Al-Khaukhah: Pintu kecil yang berada di antara dua rumah atau dua tempat tinggal] di masjid yang tersisa melainkan pintu kecil Abu Bakar). [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 7 (3904) dan lafal ini milik-Nya, serta Muslim (2382)].

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Kami masuk bersama Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam menemui Abu Saif Al-Qain (seorang tukang besi), dan ia adalah suami dari ibu susuan [Azh-ZhI'r: Wanita yang menyusui anak dari orang lain, dan suaminya adalah zhI'r (ayah susuan) bagi bayi tersebut] Ibrahim 'alaihissalām. Lalu Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam mengambil Ibrahim, menciumnya, dan menghirup baunya. Kemudian kami masuk lagi menemui beliau setelah itu —saat Ibrahim sedang mengembuskan napas terakhirnya (sakaratul maut)— maka kedua mata Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bertetesan air mata. Lalu Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu 'anhu berkata kepada beliau: "Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda:

«يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ»

(Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini adalah rasa kasih sayang).

Kemudian beliau melanjutkannya dengan kalimat yang lain, bersabda:

«إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ»

(Sesungguhnya mata menangis dan hati berduka, namun kami tidak mengucapkan melainkan apa yang diridhai Tuhan kami. Dan sesungguhnya kami dengan perpisahan darimu, wahai Ibrahim, benar-benar merasa bersedih). [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 3 (1303) dan lafal ini milik-Nya, serta Muslim (2315)][6].

  1. Dari Aisyah radhiyallāhu 'anhā, ia berkata: Aku kehilangan Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam pada suatu malam dari tempat tidur. Maka aku mencari beliau, lalu tanganku menyentuh telapak kaki beliau saat beliau sedang berada di masjid (dalam keadaan sujud/di tempat shalatnya) [Al-Masjid: Yaitu dalam keadaan sujud atau di tempat beliau biasa shalat di dalam kamarnya] dalam posisi tegak, dan beliau mengucapkan:

«اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكِ»

(Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari (siksaan)-Mu. Aku tidak mampu menghitung/membatasi pujian kepada-Mu [Lā ushī tsanā'an 'alaik: Yaitu aku tidak mampu menghitung nikmat-Mu, kebaikan-Mu, serta pujian atas hal itu kepada-Mu meskipun aku telah bersungguh-sungguh dalam memuji-Mu], Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri). [HR. Muslim (486)].

[Dari Riwayat-Riwayat dan Perkataan Ulama tentang "Ridha"]

  1. Luqman berkata kepada putranya: "Aku berwasiat kepadamu dengan perkara-perkara yang mendekatkanmu kepada Allah dan menjauhkanmu dari kemurkaan-Nya: yaitu hendaklah engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, serta hendaklah engkau ridha terhadap takdir Allah dalam hal yang engkau sukai maupun yang engkau benci." [Lihat: Madārij as-Sālikīn karya Ibnul Qayyim (2/229)].
  1. Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallāhu 'anhu: "Amma ba'du, sesungguhnya seluruh kebaikan itu ada pada ridha. Jika engkau mampu untuk ridha (terhadap takdir), maka lakukanlah. Namun jika tidak mampu, maka bersabarlah." [Lihat: Madārij as-Sālikīn (2/185)].
  1. Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: "Ketika terjadi perselisihan antara Ibrahim dan keluarganya, beliau pergi membawa Ismail dan ibunya Ismail (Hajar). Bersama mereka ada sehabat tempat air (syannah) [Asy-Syannah: Yaitu tempat air kecil dari kulit (qirbah kecil)] yang berisi air. Maka ibunya Ismail minum dari tempat air itu sehingga air susunya melimpah untuk bayinya, hingga mereka tiba di Mekkah, lalu beliau menempatkannya di bawah sebuah pohon besar (dauah) [Ad-Dauah: Pohon yang berukuran besar]. Kemudian Ibrahim kembali kepada keluarganya, maka ibunya Ismail mengikutinya hingga ketika mereka sampai di Kudaa, ia memanggilnya dari belakang: 'Wahai Ibrahim, kepada siapakah engkau meninggalkan kami?' Ibrahim menjawab: 'Kepada Allah.' Ia berkata: 'Aku ridha kepada Allah'." [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 6 (3365)].
  1. Abdullah bin 'Amr radhiyallāhu 'anhumā berkata: "Apabila seorang hamba mukmin diwafatkan, Allah mengutus dua malaikat kepadanya dan mengirimkan hadiah dari surga kepadanya. Lalu dikatakan: 'Keluarlah wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ketenteraman, rezeki/wewangian, dan Tuhan yang ridha kepadamu (tidak murka)'." [Lihat: Madārij as-Sālikīn (2/186)].
  1. Dari Aisyah radhiyallāhu 'anhā mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak peduli dari suaminya..." (QS. An-Nisā': 128), ia berkata: "Maksudnya adalah seorang suami yang melihat sesuatu yang tidak disukainya pada istrinya seperti usia tua atau lainnya, lalu ia ingin menceraikannya. Maka sang istri berkata: 'Tetap pertahankan aku (jangan ceraikan) atau bagilah (gilir malam) untukku sekehendakmu.' Aisyah berkata: Maka hal itu tidak mengapa apabila keduanya saling ridha (bersepakat)." [HR. Al-Bukhari - Al-Fath 5 (2694)].
  1. Maymun bin Mihran berkata: "Barangsiapa yang tidak ridha dengan takdir (qadhā'), maka tidak ada obat bagi kebodohannya." [Lihat: Iyā' 'Ulūm ad-Dīn karya Al-Ghazali (3/346)].
  1. Ar-Rabi' bin Anas berkata: "Tanda cinta kepada Allah adalah banyaknya mengingat-Nya (zikir), karena sesungguhnya engkau tidak mencintai sesuatu melainkan engkau akan banyak mengingatnya. Tanda agama adalah keikhlasan kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Dan tanda kesyukuran adalah ridha terhadap takdir Allah serta berserah diri pada ketetapan-Nya." [Lihat: Madārij as-Sālikīn (2/227)].
  1. Dari Malik bin Anas rahimahullāh, ia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa seorang laki-laki dari sebagian ahli fikih menulis surat kepada Ibnuz Zubair radhiyallāhu 'anhumā seraya berkata: "Ketahuilah bahwa orang-orang bertakwa memiliki tanda-tanda yang dengannya mereka dapat dikenali dan mereka mengenali diri mereka sendiri darinya: yaitu siapa saja yang ridha dengan takdir, sabar menghadapi cobaan, bersyukur atas nikmat, jujur dalam ucapan, menepati janji dan kesepakatan, serta membaca hukum-hukum Al-Qur'an. Dan sesungguhnya pemimpin itu tak ubahnya pasar di antara pasar-pasar; jika pemimpin itu orang-orang yang membawa kebenaran (ahlul haq), maka mereka akan membawakan kebenaran kepadanya. Dan jika ia termasuk orang-orang yang membawa kebatilan, maka orang-orang yang membawa kebatilan akan membawakan kebatilan kepadanya." [Lihat: Jāmi' al-Ushūl (11/703-704)].
  1. Abdullah bin Al-Mubarak berkata: Nabi Dawud berkata kepada putranya, Sulaiman 'alaihimassalām: "Wahai anakku, sesungguhnya ketakwaan seseorang hanya dapat ditunjukkan melalui tiga perkara: melaui indahnya tawakal kepada Allah dalam musibah/masalah yang menimpanya, indahnya keridhaan terhadap apa yang Allah berikan kepadanya, dan indahnya kesederhanaan/zuhud terhadap apa yang luput darinya." [Lihat: Ad-Durr al-Mansatsūr karya As-Suyuthi (1/62)].
  1. Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata: "Buah dari keridhaan adalah kegembiraan dan kebahagiaan bersama Tuhan (Allah) Tabāraka wa Ta'ālā." [Lihat: Ibnu Abi ad-Dunya dalam Al-Taqwā].
  1. Al-Fairuzabadi berkata: "Keridhaan seorang hamba terhadap Allah adalah dengan tidak membenci apa yang terjadi melalui takdir-Nya. Sedangkan Ar-Ridhwan adalah keridhaan yang sangat besar. Karena keridhaan yang paling agung adalah keridhaan Allah, maka lafal 'Ar-Ridhwan' dalam Al-Qur'an dikhususkan untuk keridhaan yang datang dari Allah Ta'ala." [Lihat: Bashā'ir Dzawī at-Tamyīz karya Al-Fairuzabadi (3/77)].
  1. Mahmud Al-Warraq berkata dalam bait syairnya:

Aku telah membuat lelah seluruh manusia untuk meraih ridha/kepuasan dari diriku...

Kecuali orang yang dengki (pendengki), sungguh ia telah membuatku tak berdaya.

Aku sama sekali tidak memiliki dosa kepadanya yang pernah kuperbuat...

Melainkan tampak jelasnya nikmat dari Tuhan Yang Maha Pengasih (kepadaku).

Namun ia enggan, dan tidak ada yang membuat keridhaannya melainkan kehinaanku...

Serta lenyapnya harta-hartaku dan terputusnya lidahku.

[Lihat: Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn karya Al-Mawardi (hal. 329)].

  1. Al-Mutanabbi berkata dalam bait syairnya:

Mata keridhaan (kasih sayang) terhadap setiap aib itu tumpul/rabun...

Sebagaimana mata kemurkaan (kebencian) akan menampakkan keburukan-keburukan.

[Lihat: Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn karya Al-Mawardi (hal. 283)].

  1. Kushajim berkata dalam bait syairnya:

Aku tidak pernah ridha (puas) terhadap diriku karena takut akan kemurkaannya...

Dan keridhaan seorang pemuda terhadap dirinya sendiri adalah penyebab kemurkaannya.

Seandainya aku ridha terhadap diriku, niscaya ia akan melalaikan...

Dari apa yang adab-adabnya senantiasa tambahkan padanya.

Dan tampak jelaslah bekas-bekas hal itu, sehingga ia memperbanyak...

Celaan kepadaku atasnya, maka jadilah cercaannya berlangsung lama.

[Lihat: Madārij as-Sālikīn karya Ibnul Qayyim (2/183)].

[Di Antara Manfaat "Ridha"]

  1. Membuahkan kecintaan Allah dan keridhaan-Nya serta menjauhkan dari kemurkaan-Nya.
  2. Bukti atas kesempurnaan iman dan baiknya kualitas keislaman seseorang.
  3. Meraih keberuntungan berupa surga dan selamat dari siksa neraka.
  4. Bentuk manifestasi dari kesalehan seorang hamba dan ketakwaannya.
  5. Janji akan kabar gembira di akhirat kelak.
  6. Bukti indahnya prasangka (husnuzhan) seorang hamba kepada Tuhannya.
  7. Jalan menuju pencapaian keridhaan Allah Ta'ala.
  8. Melimpahkan kenyamanan psikologis dan spiritual bagi seorang muslim.
  9. Menjauhkan seorang muslim dari krisis psikologis berupa kecemasan berlebih dan ketegangan/stres.
  10. Jalan yang terang menuju terwujudnya kedamaian sosial.

 

Sumber:

Ibn Humayd, Ṣāli ibn ‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Narat an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li an-Nashr wa at-Tawzī‘

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat