Iman Kepada Rasul

BERIMAN KEPADA PARA NABI DAN RASUL

Dan di antara rukun iman adalah beriman kepada nabi-nabi Allah dan rasul-rasul-Nya. Maknanya adalah: Beriman kepada siapa saja yang telah Allah Ta'ala sebutkan namanya di dalam Kitab-Nya dari kalangan rasul-rasul-Nya dan nabi-nabi-Nya. Selain itu, juga beriman bahwasanya Allah Azza wa Jalla telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka yang jumlah dan nama-namanya tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta'ala yang telah mengutus mereka. Allah Jalla wa Ala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Gafir: 78). Allah Ta'ala juga berfirman: “...Dan tidak ada satu pun umat melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fatir: 24). Dan Dia juga berfirman: “Dan setiap umat mempunyai rasul...” (QS. Yunus: 47).

Para Nabi dan Rasul yang Disebutkan di dalam Al-Qur'an

[Nabi adalah setiap orang yang diberi wahyu kepadanya oleh Allah Ta'ala baik diperintahkan untuk menyampaikan kepada orang lain maupun tidak diperintahkan. Jika tidak diperintahkan menyampaikan maka ia seorang nabi dan bukan rasul. Dan jika diperintahkan menyampaikan maka ia seorang nabi sekaligus rasul. Dengan demikian, setiap rasul adalah nabi dan tidak setiap nabi adalah rasul. Lihat Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah hal. 167, dan Syarh Mulla Ali Al-Qari 'ala Al-Fiqh Al-Akbar hal. 60]

Para nabi dan rasul yang disebutkan namanya di dalam Al-Qur'an al-Karim ada dua puluh lima orang, yaitu: Adam, Nuh, Idris, Saleh, Ibrahim, Hud, Lut, Yunus, Ismail, Ishak, Yakub, Yusuf, Ayub, Syuaib, Musa, Harun, Alyasa', Dzulkifli, Dawud, Zakaria, Sulaiman, Ilyas, Yahya, Isa, dan Muhammad, semoga selawat Allah dan salam-Nya tercurah kepada mereka semua.

Sungguh, delapan belas orang di antara mereka telah disebutkan di dalam firman Allah Ta'ala: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan Ismail, Alyasa‘, Yunus, dan Lut. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat seisi alam (pada masanya).” (QS. Al-An'am: 83-86).

Sedangkan para nabi dan rasul lainnya disebutkan di berbagai tempat terpisah di dalam Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman: “Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud...” (QS. Hud: 50; QS. Al-A'raf: 65). Dia juga berfirman: “Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh...” (QS. Hud: 61; QS. Al-A'raf: 73). Dia juga berfirman: “Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib...” (QS. Al-A'raf: 85; QS. Hud: 84). Dia juga berfirman: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh...” (QS. Ali 'Imran: 33). Dia juga berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anbya': 85). Dan Dia berfirman: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir...” (QS. Al-Fath: 29).

Terhadap para rasul dan nabi ini, kita wajib mengimani risalah dan kenabian mereka secara terperinci (tafshili). Maknanya adalah seandainya nama salah seorang dari mereka disebutkan kepada seseorang, ia tidak boleh mengingkari kenabiannya, tidak pula risalahnya jika ia seorang rasul. Maka dari itu, barangsiapa yang mengingkari kenabian salah seorang di antara mereka, atau mengingkari risalah dari siapa yang diutus membawa risalah, maka ia telah kafir. [Hanya saja untuk kalangan orang awam, tidaklah dihukumi kafir kecuali setelah adanya proses pengajaran terlebih dahulu. Lihat Syarh Al-Baijuri 'ala Al-Jauharah hal. 47]

Adapun para nabi dan rasul yang tidak diceritakan oleh Al-Qur'an kepada kita, kita diperintahkan untuk mengimani mereka secara garis besar (ijmali). Kita tidak berhak menetapkan risalah atau kenabian seseorang dari kalangan manusia selama Al-Qur'an tidak menyebutkannya dalam deretan para nabi dan rasul, serta tidak pula dikabarkan kepada kita oleh Rasulullah .

Ululazmi dari Kalangan Rasul:

[Asal kata Al-'Azm dalam suatu urusan artinya adalah kesungguhan dan keseriusan di dalamnya, lihat Al-Mishbah Al-Munir. Dan sungguh telah termaktub di dalam Al-Qur'an isyarat bahwa termasuk karakteristik terpenting Ulul 'Azmi adalah sabar dan takwa kepada Allah, Allah Ta'ala berfirman: "...Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang harus diutamakan." QS. Ali 'Imran: 186. Dan Dia juga berfirman: "Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati (Ululazmi) telah bersabar..." QS. Al-Ahqaf: 35. Dan Dia juga berfirman: "Dan sungguh, telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa dan Kami tidak mendapati padanya keteguhan hati." QS. Taha: 115.]

Rasul Ululazmi, sebagaimana disebutkan oleh banyak ulama, berjumlah lima orang, yaitu: Muhammad, Ibrahim, Musa, Nuh, dan Isa, atas mereka selawat yang paling utama dan salam [Lihat Al-As'ilah wal Ajwibah Al-Ushuliyyah hal. 23 dan Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah hal. 349]. Allah Ta'ala telah menyebutkan mereka di dalam firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan darimu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam...” (QS. Al-Ahzab: 7).

Tema Inti Risalah:

Wajib bagi kita untuk beriman bahwasanya Allah mengutus para rasul-Nya kepada makhluk untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan kepada mereka. Memberi kabar gembira berupa keridaan Allah, pahala-Nya, dan surga-Nya jika mereka beriman kepada-Nya beserta rasul-rasul-Nya dan menaati-Nya ; serta memberi peringatan akan kemurkaan Allah jika mereka kafir dan bermaksiat. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Para rasul itu Kami utus tidak lain melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Barangsiapa beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa azab karena mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-An'am: 48-49).

Sebagaimana wajib pula bagi kita untuk beriman bahwasanya seluruh rasul ini diutus oleh Allah untuk mewujudkan satu tujuan pokok yang sama, yaitu beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, menegakkan agama-Nya, dan mentauhidkan-Nya dalam hal Rububiyah [tauhid bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur], Uluhiyah [tauhid bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah], serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sungguh Allah Subhanahu berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.”” (QS. Al-Anbya': 25).

Dia juga berfirman: “Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu sebagian dari agama yang telah Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu, “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.”” (QS. Asy-Syura: 13). Serta Allah Ta'ala berfirman: “And sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah thagut!”...” (QS. An-Nahl: 36).

Kewajiban Kita Terhadap Para Rasul

Wajib bagi kita untuk membenarkan seluruh rasul Allah setelah beriman kepada mereka dan kepada risalah mereka, serta tidak membeda-bedakan di antara mereka. Maka barangsiapa yang membeda-bedakan di antara para rasul Allah, lalu beriman kepada sebagian mereka dan kafir kepada sebagian yang lain, atau membenarkan sebagian mereka dan mendustakan sebagian yang lain, maka ia termasuk golongan orang-orang kafir berdasarkan teks Al-Qur'an al-Karim. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah di antara yang demikian, merekalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya...” (QS. An-Nisa': 150-151). [Imam At-Thabari berkata ketika menafsirkan ayat "mereka mengatakan: Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir kepada sebagian...", maknanya adalah: mereka berkata kami membenarkan nabi ini dan mendustakan nabi ini sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi berupa mendustakan 'Isa dan Muhammad serta membenarkan Musa dan seluruh nabi sebelumnya menurut klaim mereka, dan sebagaimana yang dilakukan kaum Nasrani berupa mendustakan Muhammad dan membenarkan 'Isa serta seluruh nabi sebelumnya menurut klaim mereka. Lihat Tafsir At-Thabari, Juz 9, hal. 352]

Sebagaimana wajib pula bagi kita untuk beriman bahwasanya setiap rasul yang diutus oleh Allah telah menunaikan amanahnya, menyampaikan risalahnya secara sempurna, serta menjelaskannya dengan penjelasan yang gamblang, memulihkan, dan mencukupi.

Wajib bagi kita untuk menaati mereka dan tidak menyelisihi mereka, karena menaati mereka merupakan bagian dari menaati Allah Subhanahu. Allah Ta'ala berfirman: “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah...” (QS. An-Nisa': 80). Dan Dia juga berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah...” (QS. An-Nisa': 64).

Wajib juga bagi kita untuk meyakini bahwasanya mereka adalah makhluk yang paling sempurna ilmu dan amalnya, paling jujur, dan paling mulia akhlaknya, serta bahwasanya Allah Subhanahu telah mengkhususkan mereka dengan keutamaan-keutamaan yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun. Kita harus meyakini bahwasanya Allah menjaga mereka [maksum] serta menyucikan mereka dari dusta, khianat, menyembunyikan risalah, dan kelalaian dalam penyampaian, serta dari seluruh dosa besar maupun dosa kecil [Lihat Al-Fiqh Al-Akbar beserta syarahnya oleh Mulla Ali Al-Qari hal. 56]. Dan sungguh, terkadang terjadi dari mereka ketergelinciran atau kekhilafan, yaitu kesalahan-kesalahan ringan jika dibandingkan dengan kedudukan mereka yang sangat tinggi, sebagaimana yang terjadi pada Adam Alaihis Salam ketika ia memakan buah dari pohon karena lupa [Lihat Al-Fiqh Al-Akbar oleh Abu Hanifah beserta syarahnya oleh Mulla Ali Al-Qari hal. 57, dan Syarh Al-Aqa'id An-Nasafiyyah hal. 467]. Kendati demikian, mereka tidak dibiarkan begitu saja di atas kekhilafan tersebut, melainkan segera diberikan taufik oleh Allah untuk bertobat darinya.

Sebagaimana wajib bagi kita untuk beriman bahwasanya seluruh rasul Allah adalah laki-laki dari kalangan manusia. Mereka bukan dari kalangan malaikat, dan Allah tidak pernah mengutus seorang wanita pun sebagai rasul. Allah Ta'ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang-orang laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka...” (QS. Al-Anbya': 7).

Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu tidak mengkhususkan mereka dengan tabiat fisik yang berbeda di luar tabiat manusia. Allah Subhanahu memilih mereka dari kalangan laki-laki yang juga makan, minum, berjalan di pasar-pasar, tidur, duduk, tertawa, serta memiliki istri dan keturunan. Mereka pun mengalami gangguan, terkena tindakan zalim dari orang-orang jahat, mendapatkan penindasan, dan bahwasanya mereka pun mati, bahkan sebagian ada yang dibunuh tanpa alasan yang benar. Mereka juga merasakan sakit, tertimpa penyakit, serta mengalami seluruh gejala kemanusiaan lainnya yang sama sekali tidak mengurangi kedudukan mereka yang tinggi di antara makhluk.

Banyak nash yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya firman Allah Ta'ala: “Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, yang sesungguhnya telah didahului oleh rasul-rasul sebelumnya. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun...” (QS. Ali 'Imran: 144). Dan firman-Nya Ta'ala: “Dan Kami tidak mengutus para rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar...” (QS. Al-Furqan: 20). Dan firman-Nya Ta'ala: “Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami menganugerahkan kepada mereka istri-istri dan keturunan...” (QS. Ar-Ra'd: 38). Serta firman-Nya Ta'ala: “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah didahului oleh rasul-rasul sebelumnya; dan ibunya seorang yang sangat membenarkan (ayat-ayat Allah). Keduanya biasa memakan makanan...” (QS. Al-Ma'idah: 75).

Dan Rasulullah telah bersabda mengenai tabiat kemanusiaan beliau:

وَلَكِنِّي أصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ

“Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku salat dan aku tidur, dan aku pun menikahi wanita.” (HR. Bukhari di awal Kitab an-Nikah).

Beliau juga mengalami sakit dan merasakan perih , serta tertimpa rasa panas, dingin, lapar, dahaga, amarah, kejengkelan, kelelahan, dan hal-hal sejenisnya yang tidak mengurangi derajat luhur beliau sedikit pun [Hal itu tampak jelas dari studi sirah nabawiyah beliau 'alaihis shalatu was salam, dan telah ditulis kitab-kitab tersendiri yang agung mengenai sifat fisik (syamā'il) beliau, kabar-kabar, serta keadaannya. Lihat misalnya kitab Tirmidzi (Al-Syama'il Al-Nabawiyyah) dan kitab (Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa) oleh Ibnu Al-Jauzi dan selain keduanya].

Kita mengimani bahwasanya mereka tidak memiliki satu pun dari karakteristik Uluhiyah (ketuhanan). Mereka tidak dapat mengatur alam semesta, tidak memiliki kuasa mendatangkan manfaat atau mudarat, tidak dapat memengaruhi kehendak Allah Ta'ala, dan tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang diperlihatkan oleh Allah kepada mereka. Allah Ta'ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa kemalangan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi kaum yang beriman.”” (QS. Al-A'raf: 188). Dan Dia juga berfirman: “(Dialah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan yang gaib itu kepada seorang pun, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya...” (QS. Al-Jinn: 26-27).

Hanyalah Allah Azza wa Jalla mengkhususkan mereka dengan kualifikasi berupa keistimewaan, keutamaan, dan akhlak luhur yang melayakkan mereka untuk menerima wahyu dan memikul beban risalah, agar mereka menjadi teladan bagi manusia dan panutan yang diikuti dalam urusan agama maupun dunia. Maka wajib bagi kita untuk beriman bahwasanya rasul-rasul Allah terjaga [maksum] dari segala kekurangan yang dapat menodai agama mereka dan ketaatan mereka kepada Allah Jalla wa Ala, atau menodai kemampuan mereka dalam menyampaikan risalah yang mereka pikul [Lihat Syarh An-Nawawi 'ala Shahih Muslim, Juz 3, hal. 53]. Sungguh Allah Subhanahu berfirman mengenai mereka: “Mereka itulah orang-orang yang telah Kami anugerahkan Kitab, hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (Suku Quraisy) itu mengingkarinya, maka sungguh Kami telah menyerahkannya kepada kaum yang sama sekali tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka...” (QS. Al-An'am: 89-90).

Allah Subhanahu telah menyempurnakan mereka dalam hal amanah, kejujuran, kecerdasan, penyampaian risalah, dan akhlak-akhlak lainnya yang mutlak dibutuhkan demi memikul beban yang Allah bebankan kepada mereka serta tanggung jawab yang Allah pasrahkan kepada mereka. Sungguh Allah Ta'ala telah bersaksi atas kejujuran mereka, di mana Dia yang Mahamulia urusan-Nya berfirman mengenai Ismail Alaihis Salam: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54). Dan Dia berfirman mengenai Ibrahim Alaihis Shalatu was Salam: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi.” (QS. Maryam: 41) , di samping ayat-ayat rabbani lainnya yang bersaksi atas kejujuran dan petunjuk mereka.

Wajib bagi kita untuk beriman bahwasanya Allah Subhanahu menguatkan mereka dengan mukjizat-mukjizat yang memukau dan tanda-tanda yang nyata yang menunjukkan kejujuran mereka atas apa yang mereka bawa dari sisi Tuhan mereka Tabaraka wa Ta'ala. Mukjizat itu adalah perkara luar biasa (khawariq al-adat) yang Allah jalankan melalui tangan para rasul dan nabi-Nya yang digunakan sebagai pembuktian di hadapan para hamba [Lihat Luma' Al-Adillah oleh Imam Al-Haramain, hal. 110]. Maka kita mengimani segala hal yang disebutkan di dalam Al-Qur'an al-Karim darinya serta apa yang termaktub di dalam hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah .

Kadar keistimewaan ini setara bagi seluruh orang yang Allah pilih dari kalangan rasul. Namun kita mengimani, bersama adanya kesamaan ini, bahwasanya Allah melebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain berdasarkan firman-Nya dari Dzat yang Mahabenar firman-Nya: “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka daripada sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah hadapi berbicara langsung dan sebagian mereka ditinggikan-Nya beberapa derajat. Dan Kami telah menganugerahkan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti yang sangat nyata (mukjizat) dan Kami memperkuat dia dengan Ruhulkudus...” (QS. Al-Baqarah: 253).

Kita beriman bahwa yang paling utama di antara mereka dan makhluk yang paling utama secara mutlak adalah Nabi kita, Muhammad bin Abdullah . Sebagian ulama salaf menafsirkan firman-Nya Ta'ala: "dan sebagian mereka ditinggikan-Nya beberapa derajat" bahwasanya yang dimaksud adalah junjungan kita Muhammad . [Lihat Tafsir At-Thabari, Juz 5, hal. 378] Dalam hal itu terdapat hadis-hadis yang sahih, di antaranya apa yang sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu Ta'ala 'anhu bahwasanya Rasulullah bersabda:

 أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ، وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Aku adalah junjungan anak cucu Adam pada hari kiamat, orang yang pertama kali dibelah kuburnya, pemberi syafaat yang pertama, dan orang yang pertama kali dikabulkan syafaatnya.” (HR. Muslim; lihat Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, Juz 15, hlm. 37-38) .

Serta hadis yang diriwayatkan oleh Watsilah bin al-Asqa' radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

 إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi, dan ia mengatakan hadis ini hasan sahih; lihat Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, Juz 15, hlm. 26, dan at-Tirmidzi bi Syarh Ibn al-Arabi, Juz 13, hlm. 102) . Hadis-hadis ini dan yang lainnya menunjukkan dengan sangat jelas bahwasanya Muhammad bin Abdullah adalah makhluk yang paling utama secara keseluruhan. [Adapun apa yang diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: "Janganlah kalian melebihkanku di atas Musa," yang merupakan hadis muttafaqun 'alaih, maka jawaban atas hal tersebut adalah: bahwa perkara yang dicela dan dilarang oleh Rasul 'alaihis shalatu was salam adalah melebihkan atas dasar kesombongan/membanggakan diri atau atas dasar merendahkan nabi yang dibandinginya. Karena hadis tersebut memiliki sebab (sababul wurūd) yang menunjukkan hal ini, di mana ada seorang Yahudi berkata: "Tidak, demi Dzat yang telah memilih Musa di atas manusia," lalu seorang muslim menamparnya dan berkata: "Apakah kamu berani mengucapkan ini padahal Rasulullah ada di hadapan kita?" Maka orang Yahudi itu datang dan mengadu dari perlakuan muslim yang menamparnya, lalu Nabi bersabda demikian. Atas dasar inilah dibawa makna sabda beliau yang lain: "Janganlah membeda-bedakan di antara para nabi Allah." Lihat Shahih Muslim dan Syarh An-Nawawi atasnya, Juz 15, hal. 37, 120, serta Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah hal. 171]

Beriman kepada Muhammad :

Wajib bagi kita untuk beriman bahwasanya Muhammad bin Abdullah adalah nabi Allah, rasul-Nya, hamba-Nya, dan pilihan-Nya ; beliau tidak pernah menyembah berhala, tidak pernah menyekutukan Allah sekejap mata pun, dan tidak pernah melakukan dosa besar sama sekali. [Lihat Al-Fiqh Al-Akbar beserta syarahnya oleh Mulla Ali Al-Qari hal. 59-61]

Kita beriman bahwasanya beliau adalah penutup para nabi (khatam al-anbiya') karena keterangan yang termaktub di dalam Kitabullah Ta'ala dan Sunah Rasul . Adapun di dalam Al-Qur'an, sungguh Allah Subhanahu telah berfirman: “...tetapi dia adalah Utusan Allah dan penutup para nabi...” (QS. Al-Ahzab: 40). Adapun di dalam Sunah, sungguh beliau telah bersabda:

 مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَجَمَّلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَاوَايَاهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ: هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ؟ قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ

“Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah bangunan, lalu ia membaguskan dan memperindahnya kecuali tempat satu batu bata di salah satu sudut dari sudut-sudutnya. Maka manusia mulai mengelilinginya dan mereka takjub kepadanya seraya berkata, “Mengapa batu bata ini tidak diletakkan?” Beliau bersabda: “Maka akulah batu bata itu, dan akulah penutup para nabi.”” (Muttafaq 'Alaih, dan lafaz ini milik Muslim; lihat Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, Juz 15, hlm. 51) .

Beliau juga bersabda:

 أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الْكُفْرَ، وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي، وَأَنَا الْعَاقِبُ، وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

“Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah al-Mahi (penghapus) yang denganku Allah menghapus kekafiran, aku adalah al-Hasyir (pengumpul) yang manusia dikumpulkan di atas tumitku [di belakangku], dan aku adalah al-'Aqib (penerus), dan al-'Aqib adalah yang tidak ada nabi setelahnya.” (Muttafaq 'Alaih, dan lafaz ini milik Muslim; lihat Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, Juz 15, hlm. 104-105) .

[Disebutkan dalam riwayat lain: "manusia dikumpulkan di atas kedua kakiku", dan makna keduanya adalah: mereka dikumpulkan di atas waktu kerasulan dan zaman kenabianku dan tidak ada nabi setelahku, dan ada yang mengatakan artinya: mereka mengikutiku. Lihat Syarh An-Nawawi 'ala Shahih Muslim, Juz 15, hal. 105]

Kita meyakini dengan keyakinan yang bulat bahwasanya tidak ada kenabian setelah beliau , dan bahwasanya setiap orang yang mendakwanya setelah beliau adalah pendusta besar. Rasulullah telah bersabda:

 وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Dan sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta, mereka semua mengaku sebagai nabi, padahal akulah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku.” (HR. Muslim; lihat Syarh Aqidah al-Thahawiyah, hlm. 168) .

Demikian pula kita wajib beriman bahwasanya beliau Alaihis Shalatu was Salam adalah imam bagi orang-orang yang bertakwa, yang dijadikan panutan dalam segala kebaikan, dan bahwasanya beliau sendirianlah yang paling berhak untuk diikuti dan dijadikan teladan tanpa selainnya. Allah Ta'ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu...” (QS. Ali 'Imran: 31). Dan Dia juga berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak mendapati rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa': 65).

Sebagaimana kita beriman bahwasanya beliau Alaihis Shalatu was Salam adalah kekasih Ar-Rahman (habib ar-rahman), dan bahwasanya beliau memiliki tingkatan tertinggi dalam kecintaan Allah Azza wa Jalla, yaitu derajat al-khullah (kekasih intim). Sungguh Rasulullah telah bersabda:

 لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي، وَقَدِ اتَّخَذَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صَاحِبَكُمْ خَلِيلًا

“Sekiranya aku boleh mengambil seorang kekasih intim, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih intim, akan tetapi dia adalah saudaraku dan sahabatku, dan sungguh Allah Azza wa Jalla telah mengambil sahabat kalian ini [yaitu diri beliau sendiri] sebagai kekasih intim.” (HR. Muslim; lihat Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, Juz 15, hlm. 152) .

Wajib pula kita yakini bahwasanya beliau diutus kepada seluruh jin dan segenap manusia dengan membawa kebenaran dan petunjuk. Sungguh Allah Subhanahu telah menceritakan di dalam Al-Qur'an perkataan jin: “Wahai kaum kami, penuhilah (seruan) penyeru (kepada) Allah (Muhammad) dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menyelamatkanmu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31).

Adapun mengenai bahwasanya beliau Shalawatullah wa Salamuhu 'Alaih diutus untuk seluruh umat manusia tanpa terkecuali, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman mengenai hal itu: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan...” (QS. Saba': 28). Dan Dia berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua...”” (QS. Al-A'raf: 158). Dan Dia juga berfirman: “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1). Dan Rasulullah telah bersabda:

 فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ

“Aku diberikan kelebihan di atas para nabi dengan enam perkara: Aku dianugerahi jawami' al-kalim [kata-kata singkat padat makna], aku ditolong dengan rasa takut yang ditanamkan pada musuh, dihalalkan bagiku harta rampasan perang, dijadikan bagiku bumi dalam keadaan suci dan sebagai tempat sujud, aku diutus kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali, dan disudahi denganku para nabi.” (Muttafaq 'Alaih, dan lafaz ini milik Muslim; lihat Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, Juz 5, hlm. 5. Di samping itu, Ibnu Al-Jauzi telah menyebutkan banyak hal mengenai keutamaan Muhammad di atas sejumlah nabi dan rasul di akhir juz pertama dari kitab Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa) .

Berkata pensyarah (penjelas) Kitab al-Aqidah al-Thahawiyah: “Dan keberadaan beliau diutus kepada seluruh manusia adalah perkara yang telah diketahui dari agama Islam secara darurat [pasti, mutlak, dan mendasar].” (Lihat: Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah, hlm. 178).

Wajib bagi kita untuk mendahulukan kecintaan kepada beliau di atas orang tua, anak, dan diri sendiri [Lihat Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa, Juz 1, hal. 382]. Dari Ali radhiyallahu Ta'ala 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

 لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (Muttafaq 'Alaih; lihat Shahih Bukhari, Juz 1, hlm. 49, dan Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, hlm. 15) .

Dari Abdullah bin Hisyam, ia berkata: “Kami pernah bersama Nabi dan beliau memegang tangan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, lalu Umar berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi bersabda:

 لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata kepada beliau, “Maka sekarang, demi Allah, engkau sungguh lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi bersabda, “Sekarang, wahai Umar.”” (HR. Bukhari di dalam Kitab al-Aiman wan-Nudzur) .

Demikian pula wajib bagi kita untuk beriman bahwasanya Allah Jalla wa Ala telah menguatkan beliau dengan mukjizat-mukjizat yang menunjukkan dengan seyakin-yakinnya atas kejujuran segala hal yang beliau bawa , dan bahwasanya Al-Qur'an yang agung adalah mukjizat beliau yang memukau, yang digunakan untuk menantang seluruh alam, lalu mereka tidak berdaya untuk mendatangkan yang semisal dengannya, atau semisal sebagian kecil dari surahnya. Allah Ta'ala berfirman: “Dan jika kamu dalam keadaan ragu pada apa (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak (mampu) membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan (mampu) membuat(nya) — maka takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24).

Kita beriman bahwasanya Allah Azza wa Jalla menguatkan beliau dengan mukjizat-mukjizat indrawi (hissiyah) yang disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih. Di antaranya seperti terbelahnya bulan, ucapan salam batu kepada beliau, rintihan tangis batang pohon kurma kepada beliau, memancarnya air dari sela-sela jari jemari beliau, mengenyangkan orang banyak dengan porsi makanan yang sangat sedikit, kesaksian daging paha kambing bakar di hadapan beliau, naungan awan bagi beliau sebelum diutus menjadi rasul, apa yang dialami oleh Abu Jahal beserta batunya saat ia hendak melemparkannya ke atas kepala beliau, apa yang terjadi pada kambing Ummu Ma'bad saat beliau mengusap tangan beliau yang berkah ke atas ambing susunya, lemparan segenggam debu oleh beliau ke wajah-wajah orang musyrik hingga mengenai mereka, pengabaran beliau mengenai perkara-perkara gaib masa depan yang terjadi persis sebagaimana yang beliau kabarkan Alaihis Shalatu was Salam, dikabulkannya doa beliau oleh Allah Subhanahu, penjagaan fisik beliau dari pembunuhan, serta hal-hal lain yang telah ditulis buku-buku mengenainya secara luas. [Anda dapat menemukan mukjizat-mukjizat ini dan tanda-tanda kenabian Muhammad lainnya di banyak kitab sirah dan hadis, sebagaimana Al-Bukhari mengkhususkan satu bab untuk hal tersebut yang beliau namai "Bab Tanda-Tanda Kenabian", demikian pula yang dilakukan oleh Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi dalam bab "Mukjizat-Mukjizat Rasul". Sebagian ulama juga mengkhususkan karya tulis mandiri untuk hal tersebut, seperti: kitab (Dala'il Al-Nubuwwah) oleh Imam Abu Nu'aim Ahmad bin Abdullah Al-Asbahani penulis kitab Hilyatul Auliya', kitab (A'lam Al-Nubuwwah) oleh Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi, kitab (Dala'il Al-Nubuwwah) oleh Al-Baihaqi, dan kitab (Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa) oleh Ibnu Al-Jauzi.]

Telah ada riwayat yang sangat banyak mengenai mukjizat indrawi beliau ini, sebagiannya mutawatir dan banyak darinya yang masyhur. Secara akumulatif, riwayat tersebut memberikan ilmu yang pasti (ilmu yaqini) tentang terjadinya mukjizat-mukjizat tersebut dan tentang kejujuran Rasul ini, shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepadanya. [Lihat: Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa, Juz 1, hal. 339]

Sebagaimana kita beriman bahwasanya Allah Subhanahu telah menguatkan beliau dengan argumen-argumen yang telak (hujah balighah), dan dalil-dalil yang nyata yang tampak pada kepribadian beliau, sifat-sifat beliau, serta keagungan akhlak beliau.

Maka kita beriman bahwasanya Allah Azza wa Jalla menganugerahi beliau perawakan fisik dan rupa wajah yang dinilai langsung oleh orang yang memiliki ketajaman firasat bahwasanya hal itu menunjukkan atas kenabian dan kejujuran beliau Alaihis Shalatu was Salam. [Itsar Al-Haq 'ala Al-Khalq, hal. 80] Alangkah indahnya perkataan sahabat Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu:

 لو لم يكن فيه آيات مبينة ... كانت بديهته تأتيك بالخبر

“Sekiranya tidak ada padanya tanda-tanda kenabian yang jelas, Niscaya perawakan pertamanya saja sudah membawakan kabar itu kepadamu.”

Kita beriman bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahi beliau seluruh akhlak Al-Qur'an, yang menunjukkan kejujuran beliau dan dukungan Allah untuknya. Tidak pernah ada seorang pun yang mendengar beliau berdusta, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia, tidak pula sebelum beliau diutus menjadi rasul maupun setelahnya. Sekiranya bersumber dari beliau hal tersebut satu kali saja, niscaya musuh-musuh beliau akan bersungguh-sungguh untuk menyebarkan dan mempublikasikannya. Beliau tidak pernah melakukan satu pun perbuatan tercela atau yang menjauhkan orang, baik sebelum kenabian maupun setelahnya. Beliau tidak pernah lari dari seorang pun musuhnya betapa pun besarnya rasa takut dan gentingnya urusan pada hari perang Uhud dan hari perang Ahzab. Beliau adalah seorang yang sangat penyayang kepada umatnya, hingga Tuhan beliau Tabaraka wa Ta'ala menegur beliau untuk meringankan hal itu , sebagaimana firman-Nya Ta'ala: “...Maka, janganlah dirimu (Muhammad) binasa karena kesedihan terhadap mereka...” (QS. Fatir: 8). Dan Dia berfirman juga: “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Tubah: 128).

Beliau berada pada tingkatan tertinggi dalam kedermawanan dan kemurahan hati, beliau adalah seorang yang zuhud terhadap dunia, merasa cukup dengan perkara yang sedikit darinya dan tidak pernah menimbun sesuatu pun. Beliau berada pada puncak kefasihan, dianugerahi jawami' al-kalim, seorang yang santun lagi pemaaf, tidak pernah marah kecuali karena Allah Ta'ala, rendah hati kepada orang-orang mukmin, rajin beribadah kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, dan senantiasa bertawakal kepada-Nya. Beliau senantiasa menetapi sifat-sifat dan akhlak rabbaniyah ini dari awal umurnya hingga akhir hayatnya tanpa pernah mengubah atau menggantinya sedikit pun. Inilah yang diisyaratkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: “...dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada.” (QS. Sad: 86). Orang yang mengada-ada (mutakallif) tidak akan mungkin bisa istikamah menetapi kepura-puraan itu di sepanjang umurnya. Karakter-karakter ini beserta akhlak mulia lainnya, pada setiap poin darinya berada pada puncak kesempurnaan tertinggi, dan hal itu tidak akan pernah berpadu pada seorang pun dari makhluk selain mereka yang dijaga [maksum] oleh Allah Ta'ala. Maka berkumpulnya sifat-sifat dan akhlak ini pada diri beliau Alaihis Shalatu was Salam merupakan salah satu bukti terbesar atas kenabian beliau. [Lihat Itsar Al-Haq 'ala Al-Khalq, hal. 80]

Oleh karena itu, kita mendapati banyak orang yang berakal sehat langsung memutuskan kejujuran beliau Alaihis Shalatu was Salam karena apa yang mereka ketahui dari keagungan akhlak beliau, kejujuran beliau, dan sirah beliau yang harum. Inilah Khadijah radhiyallahu Ta'ala 'anha, tatkala ia mengetahui dari Nabi bahwasanya beliau adalah orang yang jujur lagi terpercaya. Ketika beliau mengabarkan kepadanya apa yang beliau alami dari peristiwa turunnya wahyu, dan beliau berkata kepadanya, “Sungguh aku mengkhawatirkan diriku,” maka Khadijah berkata: “Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau senantiasa menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang kesusahan, memberi harta kepada orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong dalam menghadapi petaka-petaka kebenaran.” (HR. Bukhari; lihat Shahih al-Bukhari ma'a Fath al-Bari, Juz 1, hlm. 20).

Demikian pula Heraklius raja Romawi. Sesungguhnya ketika Nabi menulis surat kepadanya yang mengajak dirinya masuk Islam, Heraklius segera mencari orang Arab yang sedang berada di wilayah negerinya. Kebetulan Abu Sufyan sedang berada dalam sekelompok rombongan dagang orang Quraisy yang sedang berniaga ke negeri Syam. Maka Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, sementara di sekelilingnya terdapat para pembesar Romawi. Lalu ia memanggil penerjemahnya dan mulai mengajukan pertanyaan kepada mereka mengenai keadaan Nabi . Ia sampai pada kesimpulan yang pasti setelah mendengar penuturan tersebut: yaitu bahwa apa yang ia dengar dari keadaan Muhammad, sifat-sifatnya, dan sirahnya di tengah-tengah mereka benar-benar menunjukkan atas kejujurannya pada apa yang ia bawa dan bahwasanya ia adalah nabi yang diutus.

Adalah berfaedah dalam kedudukan ini untuk kita menetapkan dialog yang berlangsung antara Heraklius dan Abu Sufyan ini sebagaimana yang dinukil oleh imam ahli hadis dan amir mereka, al-Bukhari di dalam kitab Shahih-nya. Sebab, di dalamnya terkandung petuah, pelajaran, dan dalil bahwasanya Rasul kita yang mulia, atasnya selawat yang paling utama dan salam yang paling sempurna, telah dianugerahi oleh Tuhannya Tabaraka wa Ta'ala argumen-argumen yang telak dan bukti-bukti yang pasti atas kejujurannya yang tampak nyata pada akhlak, sifat, dan keadaan beliau, di samping apa yang dikuatkan dengannya berupa Al-Qur'an yang agung dan mukjizat-mukjizat yang memukau. Sungguh al-Bukhari rahimahullah Ta'ala telah berkata:

“Telah menceritakan kepada kami Abu al-Yaman al-Hakam bin Nafi', ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari az-Zuhri, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud bahwasanya Abdullah bin Abbas mengabarkan kepadanya bahwasanya Abu Sufyan bin Harb mengabarkan kepadanya bahwasanya Heraklius mengirim utusan kepadanya saat ia berada di dalam rombongan dagang Quraisy yang sedang berniaga di Syam pada masa perjanjian damai [Yaitu pada masa perjanjian damai Hudaibiyah] yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy [yaitu masa gencatan senjata Perjanjian Hudaibiyah]. Lalu mereka mendatangi Heraklius saat berada di Iliya' [Yerusalem]. Kemudian Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, sementara di sekelilingnya terdapat para pembesar Romawi, kemudian ia mengundang mereka dan memanggil penerjemahnya.”

Maka ia berkata: “Siapakah di antara kalian yang paling dekat nasab kekeluargaannya dengan laki-laki yang mengaku dirinya sebagai nabi ini?”

Maka Abu Sufyan berkata: “Aku berkata: Akulah yang paling dekat nasabnya dengan dia.”

Maka ia berkata: “Dekatkanlah dia kepadaku, dan dekatkanlah sahabat-sahabatnya lalu jadikanlah mereka berada di belakang punggungnya.”

Kemudian ia berkata kepada penerjemahnya: “Katakanlah kepada mereka bahwasanya aku akan bertanya kepada orang ini mengenai laki-laki tersebut, maka jika ia mendustakanku maka kalian dustakanlah dia.”

Abu Sufyan berkata: “Maka demi Allah, kalaulah bukan karena rasa malu sekiranya mereka akan merekam kedustaan atas diriku, niscaya aku akan berdusta mengenai dirinya.” Kemudian hal pertama yang ia tanyakan kepadaku adalah: Ia berkata: “Bagaimanakah kedudukan nasabnya di tengah-tengah kalian?” Aku berkata: “Dia di kalangan kami adalah seorang yang memiliki nasab yang mulia.” Ia berkata: “Apakah ada seorang pun dari kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelum dirinya?” Aku berkata: “Tidak.” Ia berkata: “Apakah ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja?” Aku berkata: “Tidak.” Ia berkata: “Apakah orang-orang terpandang yang mengikutinya ataukah orang-orang yang lemah di antara mereka?” Aku berkata: “Bahkan orang-orang yang lemah di antara mereka.” Ia berkata: “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?” Aku berkata: “Bahkan semakin bertambah.”

Ia berkata: “Apakah ada salah seorang di antara mereka yang murtad karena benci kepada agamanya setelah ia masuk ke dalamnya?”

Aku berkata: “Tidak.”

Ia berkata: “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan?”

Aku berkata: “Tidak.”

Ia berkata: “Apakah ia pernah berkhianat?”

Aku berkata: “Tidak, dan kami sekarang sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di dalamnya.” Abu Sufyan berkata: “Dan aku tidak mampu memasukkan satu kalimat pun yang dapat menjelekkannya selain kalimat ini.”

Ia berkata: “Apakah kalian pernah memeranginya?”

Aku berkata: “Ya.”

Ia berkata: “Bagaimanakah peperangan kalian dengannya?”

Aku berkata: “Peperangan di antara kami dan dia silih berganti, ia mengalahkan kami dan kami pun mengalahkannya.”

Ia berkata: “Apakah yang ia perintahkan kepada kalian?”

Aku berkata: “Ia berkata: Sembahlah Allah semata, dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian, dan ia memerintahkan kami untuk mendirikan salat, jujur, menjaga kesucian diri (afaf), dan menyambung tali silaturahmi.”

Maka Heraklius berkata kepada penerjemahnya: “Katakanlah kepadanya: Aku telah bertanya kepadamu tentang nasabnya, lalu engkau menyebutkan bahwasanya ia memiliki nasab yang mulia di antara kalian, dan demikianlah para rasul diutus di tengah nasab kaumnya. Dan aku bertanya kepadamu apakah ada seorang pun dari kalian yang mengucapkan perkataan ini sebelum dirinya, lalu engkau menyebutkan bahwa tidak ada, maka aku berkata seandainya ada seseorang yang telah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, niscaya aku akan mengira bahwa ia adalah seorang laki-laki yang meniru perkataan yang telah diucapkan sebelumnya. Dan aku bertanya kepadamu apakah ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja, lalu engkau menyebutkan tidak ada, maka aku berkata seandainya ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja, niscaya aku akan mengira bahwa ia adalah seorang laki-laki yang sedang menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya. Dan aku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan, lalu engkau menyebutkan tidak ada, maka sungguh aku mengetahui bahwasanya ia tidak akan meninggalkan dusta kepada manusia lalu ia berani berdusta kepada Allah. Dan aku bertanya kepadamu apakah orang-orang terpandang yang mengikutinya ataukah orang-orang yang lemah di antara mereka, lalu engkau menyebutkan bahwa orang-orang yang lemahlah yang mengikutinya, dan mereka itulah para pengikut rasul-rasul. Dan aku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang, lalu engkau menyebutkan bahwa mereka semakin bertambah, dan demikianlah urusan keimanan hingga ia menjadi sempurna. Dan aku bertanya kepadamu apakah ada salah seorang di antara mereka yang keluar karena benci kepada agamanya setelah ia masuk ke dalamnya, lalu engkau menyebutkan tidak ada, dan demikianlah keimanan ketika kemanisannya telah meresap dan menyatu di dalam lubuk hati. Dan aku bertanya kepadamu apakah ia pernah berkhianat, lalu engkau menyebutkan tidak ada, dan demikian pula para rasul tidak akan pernah berkhianat. Dan aku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, lalu engkau menyebutkan bahwa ia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, melarang kalian dari menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk mendirikan salat, jujur, dan menjaga kesucian diri. Maka jika apa yang engkau katakan itu benar, niscaya ia akan menguasai tempat kedua telapak kakiku ini, dan sungguh aku telah mengetahui bahwasanya ia akan keluar, namun aku tidak mengira bahwasanya ia berasal dari kalangan kalian. Maka seandainya aku tahu bahwasanya aku akan dapat sampai kepadanya, niscaya aku akan bersusah payah untuk menemuinya, dan seandainya aku berada di sisinya, niscaya aku akan membasuh kedua telapak kakinya.” (HR. Bukhari; lihat Shahih al-Bukhari ma'a Fath al-Bari, Juz 1, hlm. 21-26).

Catatan Kaki dan Penjelasan Istilah :

  • Asal kata al-Azmu [أصل العزم]: Secara bahasa bermakna kesungguhan, tekad bulat, dan kerja keras dalam suatu urusan. Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa di antara karakteristik utama Ululazmi adalah kesabaran dan ketakwaan yang kokoh.
  • An-Nabi [النبي]: Nabi adalah setiap manusia (laki-laki) yang diberikan wahyu oleh Allah Ta'ala berupa syariat, baik ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang lain maupun tidak. Jika ia tidak diperintahkan menyampaikan, maka ia adalah Nabi dan bukan Rasul. Namun jika diperintahkan untuk menyampaikan, maka ia adalah Nabi sekaligus Rasul. Dengan demikian, setiap Rasul pasti seorang Nabi, tetapi tidak setiap Nabi adalah seorang Rasul.
  • Al-Afaf [العفاف]: Menjaga kehormatan diri, menjauhi segala hal yang diharamkan, serta menahan diri dari syahwat yang merusak kesucian moral.
  • Al-Khullah [الخلة]: Puncak tertinggi dari rasa kecintaan yang murni dan mendalam, di mana cinta tersebut telah meresap ke dalam seluruh rongga hati tanpa menyisakan ruang bagi selainnya. Derajat ini hanya dimiliki oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad .

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat