Iman Kepada Rasul
BERIMAN KEPADA PARA NABI DAN RASUL
Dan
di antara rukun iman adalah beriman kepada nabi-nabi Allah dan rasul-rasul-Nya.
Maknanya adalah: Beriman kepada siapa saja yang telah Allah Ta'ala sebutkan
namanya di dalam Kitab-Nya dari kalangan rasul-rasul-Nya dan nabi-nabi-Nya.
Selain itu, juga beriman bahwasanya Allah Azza wa Jalla telah mengutus
rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka yang jumlah dan nama-namanya tidak
diketahui kecuali oleh Allah Ta'ala yang telah mengutus mereka. Allah Jalla
wa Ala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum
engkau (Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di
antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Gafir: 78).
Allah Ta'ala juga berfirman: “...Dan tidak ada satu pun umat melainkan telah
ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fatir: 24). Dan Dia juga
berfirman: “Dan setiap umat mempunyai rasul...” (QS. Yunus: 47).
Para
Nabi dan Rasul yang Disebutkan di dalam Al-Qur'an
[Nabi
adalah setiap orang yang diberi wahyu kepadanya oleh Allah Ta'ala baik
diperintahkan untuk menyampaikan kepada orang lain maupun tidak diperintahkan.
Jika tidak diperintahkan menyampaikan maka ia seorang nabi dan bukan rasul. Dan
jika diperintahkan menyampaikan maka ia seorang nabi sekaligus rasul. Dengan
demikian, setiap rasul adalah nabi dan tidak setiap nabi adalah rasul. Lihat
Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah hal. 167, dan Syarh Mulla Ali Al-Qari 'ala
Al-Fiqh Al-Akbar hal. 60]
Para
nabi dan rasul yang disebutkan namanya di dalam Al-Qur'an al-Karim ada dua
puluh lima orang, yaitu: Adam, Nuh, Idris, Saleh, Ibrahim, Hud, Lut, Yunus,
Ismail, Ishak, Yakub, Yusuf, Ayub, Syuaib, Musa, Harun, Alyasa', Dzulkifli,
Dawud, Zakaria, Sulaiman, Ilyas, Yahya, Isa, dan Muhammad, semoga selawat Allah
dan salam-Nya tercurah kepada mereka semua.
Sungguh,
delapan belas orang di antara mereka telah disebutkan di dalam firman Allah
Ta'ala: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk
menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki.
Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah
menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Masing-masing telah Kami beri
petunjuk; dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan kepada
sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa,
dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang
saleh. Dan Ismail, Alyasa‘, Yunus, dan Lut. Masing-masing Kami lebihkan
derajatnya di atas umat seisi alam (pada masanya).” (QS. Al-An'am: 83-86).
Sedangkan
para nabi dan rasul lainnya disebutkan di berbagai tempat terpisah di dalam
Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman: “Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara
mereka, Hud...” (QS. Hud: 50; QS. Al-A'raf: 65). Dia juga berfirman: “Dan
kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh...” (QS. Hud: 61; QS.
Al-A'raf: 73). Dia juga berfirman: “Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus)
saudara mereka, Syuaib...” (QS. Al-A'raf: 85; QS. Hud: 84). Dia juga
berfirman: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh...” (QS. Ali
'Imran: 33). Dia juga berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan
Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anbya':
85). Dan Dia berfirman: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang
bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir...” (QS.
Al-Fath: 29).
Terhadap
para rasul dan nabi ini, kita wajib mengimani risalah dan kenabian mereka
secara terperinci (tafshili). Maknanya adalah seandainya nama salah
seorang dari mereka disebutkan kepada seseorang, ia tidak boleh mengingkari
kenabiannya, tidak pula risalahnya jika ia seorang rasul. Maka dari itu,
barangsiapa yang mengingkari kenabian salah seorang di antara mereka, atau
mengingkari risalah dari siapa yang diutus membawa risalah, maka ia telah
kafir. [Hanya saja untuk kalangan orang awam, tidaklah dihukumi kafir kecuali
setelah adanya proses pengajaran terlebih dahulu. Lihat Syarh Al-Baijuri 'ala
Al-Jauharah hal. 47]
Adapun
para nabi dan rasul yang tidak diceritakan oleh Al-Qur'an kepada kita, kita
diperintahkan untuk mengimani mereka secara garis besar (ijmali). Kita
tidak berhak menetapkan risalah atau kenabian seseorang dari kalangan manusia
selama Al-Qur'an tidak menyebutkannya dalam deretan para nabi dan rasul, serta
tidak pula dikabarkan kepada kita oleh Rasulullah ﷺ.
Ululazmi
dari Kalangan Rasul:
[Asal
kata Al-'Azm dalam suatu urusan artinya adalah kesungguhan dan keseriusan di
dalamnya, lihat Al-Mishbah Al-Munir. Dan sungguh telah termaktub di dalam
Al-Qur'an isyarat bahwa termasuk karakteristik terpenting Ulul 'Azmi adalah
sabar dan takwa kepada Allah, Allah Ta'ala berfirman: "...Jika kamu
bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang
harus diutamakan." QS. Ali 'Imran: 186. Dan Dia juga berfirman: "Maka
bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana rasul-rasul yang memiliki keteguhan
hati (Ululazmi) telah bersabar..." QS. Al-Ahqaf: 35. Dan Dia juga
berfirman: "Dan sungguh, telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi
dia lupa dan Kami tidak mendapati padanya keteguhan hati." QS. Taha: 115.]
Rasul
Ululazmi, sebagaimana disebutkan oleh banyak ulama, berjumlah lima orang,
yaitu: Muhammad, Ibrahim, Musa, Nuh, dan Isa, atas mereka selawat yang paling
utama dan salam [Lihat Al-As'ilah wal Ajwibah Al-Ushuliyyah hal. 23 dan Syarh
Al-Aqidah At-Thahawiyyah hal. 349]. Allah Ta'ala telah menyebutkan mereka di
dalam firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para
nabi dan darimu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam...”
(QS. Al-Ahzab: 7).
Tema
Inti Risalah:
Wajib
bagi kita untuk beriman bahwasanya Allah mengutus para rasul-Nya kepada makhluk
untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan kepada mereka. Memberi kabar
gembira berupa keridaan Allah, pahala-Nya, dan surga-Nya jika mereka beriman
kepada-Nya beserta rasul-rasul-Nya dan menaati-Nya ; serta memberi peringatan
akan kemurkaan Allah jika mereka kafir dan bermaksiat. Allah Azza wa Jalla
berfirman: “Para rasul itu Kami utus tidak lain melainkan sebagai pembawa
kabar gembira dan pemberi peringatan. Barangsiapa beriman dan mengadakan
perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih
hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa azab
karena mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-An'am: 48-49).
Sebagaimana
wajib pula bagi kita untuk beriman bahwasanya seluruh rasul ini diutus oleh
Allah untuk mewujudkan satu tujuan pokok yang sama, yaitu beribadah kepada
Allah Azza wa Jalla, menegakkan agama-Nya, dan mentauhidkan-Nya dalam
hal Rububiyah [tauhid bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan
Pengatur], Uluhiyah [tauhid bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak
disembah], serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sungguh Allah Subhanahu
berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau
(Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwa tidak ada tuhan (yang
berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.”” (QS. Al-Anbya': 25).
Dia
juga berfirman: “Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu sebagian dari
agama yang telah Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan
kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan
Isa, yaitu, “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.””
(QS. Asy-Syura: 13). Serta Allah Ta'ala berfirman: “And sungguh, Kami telah
mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah
dan jauhilah thagut!”...” (QS. An-Nahl: 36).
Kewajiban
Kita Terhadap Para Rasul
Wajib
bagi kita untuk membenarkan seluruh rasul Allah setelah beriman kepada mereka
dan kepada risalah mereka, serta tidak membeda-bedakan di antara mereka. Maka
barangsiapa yang membeda-bedakan di antara para rasul Allah, lalu beriman
kepada sebagian mereka dan kafir kepada sebagian yang lain, atau membenarkan
sebagian mereka dan mendustakan sebagian yang lain, maka ia termasuk golongan
orang-orang kafir berdasarkan teks Al-Qur'an al-Karim. Allah Azza wa Jalla
berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan
rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya,
dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian
(yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah di antara yang demikian,
merekalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya...” (QS. An-Nisa':
150-151). [Imam At-Thabari berkata ketika menafsirkan ayat "mereka
mengatakan: Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir kepada
sebagian...", maknanya adalah: mereka berkata kami membenarkan nabi ini
dan mendustakan nabi ini sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi berupa
mendustakan 'Isa dan Muhammad ﷺ serta membenarkan
Musa dan seluruh nabi sebelumnya menurut klaim mereka, dan sebagaimana yang
dilakukan kaum Nasrani berupa mendustakan Muhammad ﷺ
dan membenarkan 'Isa serta seluruh nabi sebelumnya menurut klaim mereka. Lihat
Tafsir At-Thabari, Juz 9, hal. 352]
Sebagaimana
wajib pula bagi kita untuk beriman bahwasanya setiap rasul yang diutus oleh
Allah telah menunaikan amanahnya, menyampaikan risalahnya secara sempurna,
serta menjelaskannya dengan penjelasan yang gamblang, memulihkan, dan
mencukupi.
Wajib
bagi kita untuk menaati mereka dan tidak menyelisihi mereka, karena menaati
mereka merupakan bagian dari menaati Allah Subhanahu. Allah Ta'ala
berfirman: “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia
telah menaati Allah...” (QS. An-Nisa': 80). Dan Dia juga berfirman: “Dan
Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah...”
(QS. An-Nisa': 64).
Wajib
juga bagi kita untuk meyakini bahwasanya mereka adalah makhluk yang paling
sempurna ilmu dan amalnya, paling jujur, dan paling mulia akhlaknya, serta
bahwasanya Allah Subhanahu telah mengkhususkan mereka dengan
keutamaan-keutamaan yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun. Kita harus
meyakini bahwasanya Allah menjaga mereka [maksum] serta menyucikan mereka dari
dusta, khianat, menyembunyikan risalah, dan kelalaian dalam penyampaian, serta
dari seluruh dosa besar maupun dosa kecil [Lihat Al-Fiqh Al-Akbar beserta
syarahnya oleh Mulla Ali Al-Qari hal. 56]. Dan sungguh, terkadang terjadi dari
mereka ketergelinciran atau kekhilafan, yaitu kesalahan-kesalahan ringan jika
dibandingkan dengan kedudukan mereka yang sangat tinggi, sebagaimana yang
terjadi pada Adam Alaihis Salam ketika ia memakan buah dari pohon karena
lupa [Lihat Al-Fiqh Al-Akbar oleh Abu Hanifah beserta syarahnya oleh Mulla Ali
Al-Qari hal. 57, dan Syarh Al-Aqa'id An-Nasafiyyah hal. 467]. Kendati demikian,
mereka tidak dibiarkan begitu saja di atas kekhilafan tersebut, melainkan
segera diberikan taufik oleh Allah untuk bertobat darinya.
Sebagaimana
wajib bagi kita untuk beriman bahwasanya seluruh rasul Allah adalah laki-laki
dari kalangan manusia. Mereka bukan dari kalangan malaikat, dan Allah tidak
pernah mengutus seorang wanita pun sebagai rasul. Allah Ta'ala berfirman: “Dan
Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang-orang laki-laki
yang Kami wahyukan kepada mereka...” (QS. Al-Anbya': 7).
Kita
mengimani bahwa Allah Subhanahu tidak mengkhususkan mereka dengan tabiat
fisik yang berbeda di luar tabiat manusia. Allah Subhanahu memilih
mereka dari kalangan laki-laki yang juga makan, minum, berjalan di pasar-pasar,
tidur, duduk, tertawa, serta memiliki istri dan keturunan. Mereka pun mengalami
gangguan, terkena tindakan zalim dari orang-orang jahat, mendapatkan
penindasan, dan bahwasanya mereka pun mati, bahkan sebagian ada yang dibunuh
tanpa alasan yang benar. Mereka juga merasakan sakit, tertimpa penyakit, serta
mengalami seluruh gejala kemanusiaan lainnya yang sama sekali tidak mengurangi
kedudukan mereka yang tinggi di antara makhluk.
Banyak
nash yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya firman Allah Ta'ala: “Dan
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, yang sesungguhnya telah
didahului oleh rasul-rasul sebelumnya. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu
berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak
dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun...” (QS. Ali 'Imran:
144). Dan firman-Nya Ta'ala: “Dan Kami tidak mengutus para rasul sebelummu
(Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di
pasar-pasar...” (QS. Al-Furqan: 20). Dan firman-Nya Ta'ala: “Dan
sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami
menganugerahkan kepada mereka istri-istri dan keturunan...” (QS. Ar-Ra'd:
38). Serta firman-Nya Ta'ala: “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang
rasul yang sesungguhnya telah didahului oleh rasul-rasul sebelumnya; dan ibunya
seorang yang sangat membenarkan (ayat-ayat Allah). Keduanya biasa memakan
makanan...” (QS. Al-Ma'idah: 75).
Dan
Rasulullah ﷺ
telah bersabda mengenai tabiat kemanusiaan beliau:
وَلَكِنِّي أصُومُ
وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ
“Akan
tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku salat dan aku tidur, dan aku pun
menikahi wanita.” (HR. Bukhari di awal Kitab an-Nikah).
Beliau
ﷺ juga mengalami sakit
dan merasakan perih , serta tertimpa rasa panas, dingin, lapar, dahaga, amarah,
kejengkelan, kelelahan, dan hal-hal sejenisnya yang tidak mengurangi derajat
luhur beliau sedikit pun [Hal itu tampak jelas dari studi sirah nabawiyah
beliau 'alaihis shalatu was salam, dan telah ditulis kitab-kitab tersendiri
yang agung mengenai sifat fisik (syamā'il) beliau, kabar-kabar, serta
keadaannya. Lihat misalnya kitab Tirmidzi (Al-Syama'il Al-Nabawiyyah) dan kitab
(Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa) oleh Ibnu Al-Jauzi dan selain keduanya].
Kita
mengimani bahwasanya mereka tidak memiliki satu pun dari karakteristik Uluhiyah
(ketuhanan). Mereka tidak dapat mengatur alam semesta, tidak memiliki kuasa
mendatangkan manfaat atau mudarat, tidak dapat memengaruhi kehendak Allah
Ta'ala, dan tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang diperlihatkan oleh
Allah kepada mereka. Allah Ta'ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak
kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang
dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat
kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa kemalangan. Aku tidak lain
hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi kaum yang beriman.””
(QS. Al-A'raf: 188). Dan Dia juga berfirman: “(Dialah Tuhan) Yang Mengetahui
yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan yang gaib itu kepada seorang pun,
kecuali kepada rasul yang diridai-Nya...” (QS. Al-Jinn: 26-27).
Hanyalah
Allah Azza wa Jalla mengkhususkan mereka dengan kualifikasi berupa
keistimewaan, keutamaan, dan akhlak luhur yang melayakkan mereka untuk menerima
wahyu dan memikul beban risalah, agar mereka menjadi teladan bagi manusia dan
panutan yang diikuti dalam urusan agama maupun dunia. Maka wajib bagi kita
untuk beriman bahwasanya rasul-rasul Allah terjaga [maksum] dari segala
kekurangan yang dapat menodai agama mereka dan ketaatan mereka kepada Allah Jalla
wa Ala, atau menodai kemampuan mereka dalam menyampaikan risalah yang
mereka pikul [Lihat Syarh An-Nawawi 'ala Shahih Muslim, Juz 3, hal. 53].
Sungguh Allah Subhanahu berfirman mengenai mereka: “Mereka itulah
orang-orang yang telah Kami anugerahkan Kitab, hikmah, dan kenabian. Jika
orang-orang (Suku Quraisy) itu mengingkarinya, maka sungguh Kami telah
menyerahkannya kepada kaum yang sama sekali tidak akan mengingkarinya. Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah
petunjuk mereka...” (QS. Al-An'am: 89-90).
Allah
Subhanahu telah menyempurnakan mereka dalam hal amanah, kejujuran,
kecerdasan, penyampaian risalah, dan akhlak-akhlak lainnya yang mutlak
dibutuhkan demi memikul beban yang Allah bebankan kepada mereka serta tanggung
jawab yang Allah pasrahkan kepada mereka. Sungguh Allah Ta'ala telah bersaksi
atas kejujuran mereka, di mana Dia yang Mahamulia urusan-Nya berfirman mengenai
Ismail Alaihis Salam: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di
dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya,
seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54). Dan Dia berfirman mengenai
Ibrahim Alaihis Shalatu was Salam: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah
Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat
membenarkan lagi seorang nabi.” (QS. Maryam: 41) , di samping ayat-ayat
rabbani lainnya yang bersaksi atas kejujuran dan petunjuk mereka.
Wajib
bagi kita untuk beriman bahwasanya Allah Subhanahu menguatkan mereka
dengan mukjizat-mukjizat yang memukau dan tanda-tanda yang nyata yang
menunjukkan kejujuran mereka atas apa yang mereka bawa dari sisi Tuhan mereka Tabaraka
wa Ta'ala. Mukjizat itu adalah perkara luar biasa (khawariq al-adat)
yang Allah jalankan melalui tangan para rasul dan nabi-Nya yang digunakan
sebagai pembuktian di hadapan para hamba [Lihat Luma' Al-Adillah oleh Imam
Al-Haramain, hal. 110]. Maka kita mengimani segala hal yang disebutkan di dalam
Al-Qur'an al-Karim darinya serta apa yang termaktub di dalam hadis-hadis yang
sahih dari Rasulullah ﷺ.
Kadar
keistimewaan ini setara bagi seluruh orang yang Allah pilih dari kalangan
rasul. Namun kita mengimani, bersama adanya kesamaan ini, bahwasanya Allah
melebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain berdasarkan firman-Nya
dari Dzat yang Mahabenar firman-Nya: “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian
mereka daripada sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah hadapi
berbicara langsung dan sebagian mereka ditinggikan-Nya beberapa derajat. Dan
Kami telah menganugerahkan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti yang sangat
nyata (mukjizat) dan Kami memperkuat dia dengan Ruhulkudus...” (QS.
Al-Baqarah: 253).
Kita
beriman bahwa yang paling utama di antara mereka dan makhluk yang paling utama
secara mutlak adalah Nabi kita, Muhammad bin Abdullah ﷺ. Sebagian ulama salaf menafsirkan
firman-Nya Ta'ala: "dan sebagian mereka ditinggikan-Nya beberapa
derajat" bahwasanya yang dimaksud adalah junjungan kita Muhammad ﷺ. [Lihat Tafsir
At-Thabari, Juz 5, hal. 378] Dalam hal itu terdapat hadis-hadis yang sahih, di
antaranya apa yang sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu Ta'ala 'anhu
bahwasanya Rasulullah ﷺ
bersabda:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ
آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ، وَأَوَّلُ
شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ
“Aku
adalah junjungan anak cucu Adam pada hari kiamat, orang yang pertama kali
dibelah kuburnya, pemberi syafaat yang pertama, dan orang yang pertama kali
dikabulkan syafaatnya.” (HR. Muslim; lihat Shahih Muslim bi Syarh
an-Nawawi, Juz 15, hlm. 37-38) .
Serta
hadis yang diriwayatkan oleh Watsilah bin al-Asqa' radhiyallahu 'anhu,
ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى
كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ،
وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
“Sesungguhnya
Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari
Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.”
(HR. Muslim dan at-Tirmidzi, dan ia mengatakan hadis ini hasan sahih; lihat Shahih
Muslim bi Syarh an-Nawawi, Juz 15, hlm. 26, dan at-Tirmidzi bi Syarh Ibn
al-Arabi, Juz 13, hlm. 102) . Hadis-hadis ini dan yang lainnya menunjukkan
dengan sangat jelas bahwasanya Muhammad bin Abdullah ﷺ adalah makhluk yang paling utama secara
keseluruhan. [Adapun apa yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: "Janganlah kalian melebihkanku di atas
Musa," yang merupakan hadis muttafaqun 'alaih, maka jawaban atas hal
tersebut adalah: bahwa perkara yang dicela dan dilarang oleh Rasul 'alaihis
shalatu was salam adalah melebihkan atas dasar kesombongan/membanggakan diri
atau atas dasar merendahkan nabi yang dibandinginya. Karena hadis tersebut
memiliki sebab (sababul wurūd) yang menunjukkan hal ini, di mana ada seorang
Yahudi berkata: "Tidak, demi Dzat yang telah memilih Musa di atas
manusia," lalu seorang muslim menamparnya dan berkata: "Apakah kamu
berani mengucapkan ini padahal Rasulullah ﷺ
ada di hadapan kita?" Maka orang Yahudi itu datang dan mengadu dari
perlakuan muslim yang menamparnya, lalu Nabi bersabda demikian. Atas dasar
inilah dibawa makna sabda beliau yang lain: "Janganlah membeda-bedakan di
antara para nabi Allah." Lihat Shahih Muslim dan Syarh An-Nawawi atasnya,
Juz 15, hal. 37, 120, serta Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah hal. 171]
Beriman
kepada Muhammad ﷺ:
Wajib
bagi kita untuk beriman bahwasanya Muhammad bin Abdullah ﷺ adalah nabi Allah,
rasul-Nya, hamba-Nya, dan pilihan-Nya ; beliau tidak pernah menyembah berhala,
tidak pernah menyekutukan Allah sekejap mata pun, dan tidak pernah melakukan
dosa besar sama sekali. [Lihat Al-Fiqh Al-Akbar beserta syarahnya oleh Mulla
Ali Al-Qari hal. 59-61]
Kita
beriman bahwasanya beliau adalah penutup para nabi (khatam al-anbiya')
karena keterangan yang termaktub di dalam Kitabullah Ta'ala dan Sunah Rasul ﷺ. Adapun di dalam
Al-Qur'an, sungguh Allah Subhanahu telah berfirman: “...tetapi dia
adalah Utusan Allah dan penutup para nabi...” (QS. Al-Ahzab: 40). Adapun di
dalam Sunah, sungguh beliau ﷺ
telah bersabda:
مَثَلِي وَمَثَلُ
الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَجَمَّلَهُ إِلَّا
مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَاوَايَاهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ
بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ: هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ؟ قَالَ:
فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ
“Perumpamaanku
dan perumpamaan para nabi adalah seperti seorang laki-laki yang membangun
sebuah bangunan, lalu ia membaguskan dan memperindahnya kecuali tempat satu
batu bata di salah satu sudut dari sudut-sudutnya. Maka manusia mulai
mengelilinginya dan mereka takjub kepadanya seraya berkata, “Mengapa batu bata
ini tidak diletakkan?” Beliau bersabda: “Maka akulah batu bata itu, dan akulah
penutup para nabi.”” (Muttafaq 'Alaih, dan lafaz ini milik Muslim; lihat Shahih
Muslim bi Syarh an-Nawawi, Juz 15, hlm. 51) .
Beliau
ﷺ juga bersabda:
أَنَا مُحَمَّدٌ،
وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الْكُفْرَ،
وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي، وَأَنَا الْعَاقِبُ،
وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ
“Aku
adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah al-Mahi (penghapus) yang denganku
Allah menghapus kekafiran, aku adalah al-Hasyir (pengumpul) yang manusia
dikumpulkan di atas tumitku [di belakangku], dan aku adalah al-'Aqib (penerus),
dan al-'Aqib adalah yang tidak ada nabi setelahnya.” (Muttafaq 'Alaih, dan
lafaz ini milik Muslim; lihat Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, Juz 15,
hlm. 104-105) .
[Disebutkan
dalam riwayat lain: "manusia dikumpulkan di atas kedua kakiku", dan
makna keduanya adalah: mereka dikumpulkan di atas waktu kerasulan dan zaman
kenabianku dan tidak ada nabi setelahku, dan ada yang mengatakan artinya:
mereka mengikutiku. Lihat Syarh An-Nawawi 'ala Shahih Muslim, Juz 15, hal. 105]
Kita
meyakini dengan keyakinan yang bulat bahwasanya tidak ada kenabian setelah
beliau ﷺ,
dan bahwasanya setiap orang yang mendakwanya setelah beliau adalah pendusta
besar. Rasulullah ﷺ
telah bersabda:
وَإِنَّهُ سَيَكُونُ
فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ،
وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
“Dan
sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta, mereka semua
mengaku sebagai nabi, padahal akulah penutup para nabi, tidak ada nabi
setelahku.” (HR. Muslim; lihat Syarh Aqidah al-Thahawiyah, hlm. 168)
.
Demikian
pula kita wajib beriman bahwasanya beliau Alaihis Shalatu was Salam
adalah imam bagi orang-orang yang bertakwa, yang dijadikan panutan dalam segala
kebaikan, dan bahwasanya beliau sendirianlah yang paling berhak untuk diikuti
dan dijadikan teladan tanpa selainnya. Allah Ta'ala berfirman: “Katakanlah
(Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mencintaimu...” (QS. Ali 'Imran: 31). Dan Dia juga berfirman: “Maka demi
Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad)
sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak mendapati
rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan
mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa': 65).
Sebagaimana
kita beriman bahwasanya beliau Alaihis Shalatu was Salam adalah kekasih
Ar-Rahman (habib ar-rahman), dan bahwasanya beliau memiliki tingkatan
tertinggi dalam kecintaan Allah Azza wa Jalla, yaitu derajat al-khullah
(kekasih intim). Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda:
لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا
خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي،
وَقَدِ اتَّخَذَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صَاحِبَكُمْ خَلِيلًا
“Sekiranya
aku boleh mengambil seorang kekasih intim, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar
sebagai kekasih intim, akan tetapi dia adalah saudaraku dan sahabatku, dan
sungguh Allah Azza wa Jalla telah mengambil sahabat kalian ini [yaitu diri
beliau sendiri] sebagai kekasih intim.” (HR. Muslim; lihat Shahih Muslim
bi Syarh an-Nawawi, Juz 15, hlm. 152) .
Wajib
pula kita yakini bahwasanya beliau diutus kepada seluruh jin dan segenap
manusia dengan membawa kebenaran dan petunjuk. Sungguh Allah Subhanahu
telah menceritakan di dalam Al-Qur'an perkataan jin: “Wahai kaum kami,
penuhilah (seruan) penyeru (kepada) Allah (Muhammad) dan berimanlah kepada-Nya,
niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menyelamatkanmu dari azab
yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31).
Adapun
mengenai bahwasanya beliau Shalawatullah wa Salamuhu 'Alaih diutus untuk
seluruh umat manusia tanpa terkecuali, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
berfirman mengenai hal itu: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad),
melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan...” (QS. Saba': 28). Dan Dia berfirman: “Katakanlah
(Muhammad), “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu
semua...”” (QS. Al-A'raf: 158). Dan Dia juga berfirman: “Mahasuci Allah
yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar
dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1).
Dan Rasulullah ﷺ
telah bersabda:
فُضِّلْتُ عَلَى
الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ،
وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا،
وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ
“Aku
diberikan kelebihan di atas para nabi dengan enam perkara: Aku dianugerahi
jawami' al-kalim [kata-kata singkat padat makna], aku ditolong dengan rasa
takut yang ditanamkan pada musuh, dihalalkan bagiku harta rampasan perang,
dijadikan bagiku bumi dalam keadaan suci dan sebagai tempat sujud, aku diutus
kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali, dan disudahi denganku para nabi.”
(Muttafaq 'Alaih, dan lafaz ini milik Muslim; lihat Shahih Muslim bi Syarh
an-Nawawi, Juz 5, hlm. 5. Di samping itu, Ibnu Al-Jauzi telah menyebutkan
banyak hal mengenai keutamaan Muhammad di atas sejumlah nabi dan rasul di akhir
juz pertama dari kitab Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa) .
Berkata
pensyarah (penjelas) Kitab al-Aqidah al-Thahawiyah: “Dan keberadaan
beliau diutus kepada seluruh manusia adalah perkara yang telah diketahui dari
agama Islam secara darurat [pasti, mutlak, dan mendasar].” (Lihat: Syarh
al-Aqidah al-Thahawiyah, hlm. 178).
Wajib
bagi kita untuk mendahulukan kecintaan kepada beliau di atas orang tua, anak,
dan diri sendiri [Lihat Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa, Juz 1, hal. 382]. Dari
Ali radhiyallahu Ta'ala 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ
“Tidaklah
beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada
orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (Muttafaq 'Alaih; lihat Shahih
Bukhari, Juz 1, hlm. 49, dan Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, hlm.
15) .
Dari
Abdullah bin Hisyam, ia berkata: “Kami pernah bersama Nabi ﷺ dan beliau memegang
tangan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, lalu Umar berkata kepada
beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu
kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi ﷺ bersabda:
لَا وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ
“Tidak,
demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai
daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata kepada beliau, “Maka sekarang, demi
Allah, engkau sungguh lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Sekarang,
wahai Umar.”” (HR. Bukhari di dalam Kitab al-Aiman wan-Nudzur) .
Demikian
pula wajib bagi kita untuk beriman bahwasanya Allah Jalla wa Ala telah
menguatkan beliau dengan mukjizat-mukjizat yang menunjukkan dengan
seyakin-yakinnya atas kejujuran segala hal yang beliau bawa , dan bahwasanya
Al-Qur'an yang agung adalah mukjizat beliau yang memukau, yang digunakan untuk
menantang seluruh alam, lalu mereka tidak berdaya untuk mendatangkan yang
semisal dengannya, atau semisal sebagian kecil dari surahnya. Allah Ta'ala
berfirman: “Dan jika kamu dalam keadaan ragu pada apa (Al-Qur’an) yang Kami
turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah yang semisal
dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang
yang benar. Jika kamu tidak (mampu) membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan
(mampu) membuat(nya) — maka takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya
manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah:
23-24).
Kita
beriman bahwasanya Allah Azza wa Jalla menguatkan beliau dengan
mukjizat-mukjizat indrawi (hissiyah) yang disebutkan di dalam
hadis-hadis yang sahih. Di antaranya seperti terbelahnya bulan, ucapan salam
batu kepada beliau, rintihan tangis batang pohon kurma kepada beliau,
memancarnya air dari sela-sela jari jemari beliau, mengenyangkan orang banyak
dengan porsi makanan yang sangat sedikit, kesaksian daging paha kambing bakar
di hadapan beliau, naungan awan bagi beliau sebelum diutus menjadi rasul, apa
yang dialami oleh Abu Jahal beserta batunya saat ia hendak melemparkannya ke
atas kepala beliau, apa yang terjadi pada kambing Ummu Ma'bad saat beliau
mengusap tangan beliau yang berkah ke atas ambing susunya, lemparan segenggam
debu oleh beliau ke wajah-wajah orang musyrik hingga mengenai mereka,
pengabaran beliau mengenai perkara-perkara gaib masa depan yang terjadi persis
sebagaimana yang beliau kabarkan Alaihis Shalatu was Salam,
dikabulkannya doa beliau oleh Allah Subhanahu, penjagaan fisik beliau
dari pembunuhan, serta hal-hal lain yang telah ditulis buku-buku mengenainya
secara luas. [Anda dapat menemukan mukjizat-mukjizat ini dan tanda-tanda
kenabian Muhammad ﷺ lainnya di banyak
kitab sirah dan hadis, sebagaimana Al-Bukhari mengkhususkan satu bab untuk hal
tersebut yang beliau namai "Bab Tanda-Tanda Kenabian", demikian pula
yang dilakukan oleh Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi dalam bab "Mukjizat-Mukjizat
Rasul". Sebagian ulama juga mengkhususkan karya tulis mandiri untuk hal
tersebut, seperti: kitab (Dala'il Al-Nubuwwah) oleh Imam Abu Nu'aim Ahmad bin
Abdullah Al-Asbahani penulis kitab Hilyatul Auliya', kitab (A'lam Al-Nubuwwah)
oleh Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi, kitab (Dala'il Al-Nubuwwah) oleh
Al-Baihaqi, dan kitab (Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa) oleh Ibnu Al-Jauzi.]
Telah
ada riwayat yang sangat banyak mengenai mukjizat indrawi beliau ini,
sebagiannya mutawatir dan banyak darinya yang masyhur. Secara akumulatif,
riwayat tersebut memberikan ilmu yang pasti (ilmu yaqini) tentang
terjadinya mukjizat-mukjizat tersebut dan tentang kejujuran Rasul ini, shalawat
Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepadanya. [Lihat: Al-Wafa bi Ahwal
Al-Musthafa, Juz 1, hal. 339]
Sebagaimana
kita beriman bahwasanya Allah Subhanahu telah menguatkan beliau dengan
argumen-argumen yang telak (hujah balighah), dan dalil-dalil yang nyata
yang tampak pada kepribadian beliau, sifat-sifat beliau, serta keagungan akhlak
beliau.
Maka
kita beriman bahwasanya Allah Azza wa Jalla menganugerahi beliau
perawakan fisik dan rupa wajah yang dinilai langsung oleh orang yang memiliki
ketajaman firasat bahwasanya hal itu menunjukkan atas kenabian dan kejujuran
beliau Alaihis Shalatu was Salam. [Itsar Al-Haq 'ala Al-Khalq, hal. 80] Alangkah
indahnya perkataan sahabat Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu:
لو لم يكن فيه آيات
مبينة ... كانت بديهته تأتيك بالخبر
“Sekiranya
tidak ada padanya tanda-tanda kenabian yang jelas, Niscaya perawakan
pertamanya saja sudah membawakan kabar itu kepadamu.”
Kita
beriman bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahi beliau
seluruh akhlak Al-Qur'an, yang menunjukkan kejujuran beliau dan dukungan Allah
untuknya. Tidak pernah ada seorang pun yang mendengar beliau berdusta, baik
dalam urusan agama maupun urusan dunia, tidak pula sebelum beliau diutus menjadi
rasul maupun setelahnya. Sekiranya bersumber dari beliau hal tersebut satu kali
saja, niscaya musuh-musuh beliau akan bersungguh-sungguh untuk menyebarkan dan
mempublikasikannya. Beliau tidak pernah melakukan satu pun perbuatan tercela
atau yang menjauhkan orang, baik sebelum kenabian maupun setelahnya. Beliau
tidak pernah lari dari seorang pun musuhnya betapa pun besarnya rasa takut dan
gentingnya urusan pada hari perang Uhud dan hari perang Ahzab. Beliau adalah
seorang yang sangat penyayang kepada umatnya, hingga Tuhan beliau Tabaraka
wa Ta'ala menegur beliau untuk meringankan hal itu , sebagaimana firman-Nya
Ta'ala: “...Maka, janganlah dirimu (Muhammad) binasa karena kesedihan
terhadap mereka...” (QS. Fatir: 8). Dan Dia berfirman juga: “Sungguh,
telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan)
bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS.
At-Tubah: 128).
Beliau
berada pada tingkatan tertinggi dalam kedermawanan dan kemurahan hati, beliau
adalah seorang yang zuhud terhadap dunia, merasa cukup dengan perkara yang
sedikit darinya dan tidak pernah menimbun sesuatu pun. Beliau berada pada
puncak kefasihan, dianugerahi jawami' al-kalim, seorang yang santun lagi
pemaaf, tidak pernah marah kecuali karena Allah Ta'ala, rendah hati kepada
orang-orang mukmin, rajin beribadah kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, dan
senantiasa bertawakal kepada-Nya. Beliau senantiasa menetapi sifat-sifat dan
akhlak rabbaniyah ini dari awal umurnya hingga akhir hayatnya tanpa pernah
mengubah atau menggantinya sedikit pun. Inilah yang diisyaratkan oleh Allah
Ta'ala dalam firman-Nya: “...dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mengada-ada.” (QS. Sad: 86). Orang yang mengada-ada (mutakallif)
tidak akan mungkin bisa istikamah menetapi kepura-puraan itu di sepanjang
umurnya. Karakter-karakter ini beserta akhlak mulia lainnya, pada setiap poin
darinya berada pada puncak kesempurnaan tertinggi, dan hal itu tidak akan
pernah berpadu pada seorang pun dari makhluk selain mereka yang dijaga [maksum]
oleh Allah Ta'ala. Maka berkumpulnya sifat-sifat dan akhlak ini pada diri
beliau Alaihis Shalatu was Salam merupakan salah satu bukti terbesar
atas kenabian beliau. [Lihat Itsar Al-Haq 'ala Al-Khalq, hal. 80]
Oleh
karena itu, kita mendapati banyak orang yang berakal sehat langsung memutuskan
kejujuran beliau Alaihis Shalatu was Salam karena apa yang mereka
ketahui dari keagungan akhlak beliau, kejujuran beliau, dan sirah beliau yang
harum. Inilah Khadijah radhiyallahu Ta'ala 'anha, tatkala ia mengetahui
dari Nabi ﷺ
bahwasanya beliau adalah orang yang jujur lagi terpercaya. Ketika beliau
mengabarkan kepadanya apa yang beliau alami dari peristiwa turunnya wahyu, dan
beliau berkata kepadanya, “Sungguh aku mengkhawatirkan diriku,” maka Khadijah
berkata: “Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan pernah
menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau senantiasa menyambung
silaturahmi, memikul beban orang yang kesusahan, memberi harta kepada orang
yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong dalam menghadapi petaka-petaka
kebenaran.” (HR. Bukhari; lihat Shahih al-Bukhari ma'a Fath al-Bari,
Juz 1, hlm. 20).
Demikian
pula Heraklius raja Romawi. Sesungguhnya ketika Nabi ﷺ menulis surat kepadanya yang mengajak
dirinya masuk Islam, Heraklius segera mencari orang Arab yang sedang berada di
wilayah negerinya. Kebetulan Abu Sufyan sedang berada dalam sekelompok
rombongan dagang orang Quraisy yang sedang berniaga ke negeri Syam. Maka
Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, sementara di sekelilingnya terdapat
para pembesar Romawi. Lalu ia memanggil penerjemahnya dan mulai mengajukan
pertanyaan kepada mereka mengenai keadaan Nabi ﷺ. Ia sampai pada kesimpulan yang pasti
setelah mendengar penuturan tersebut: yaitu bahwa apa yang ia dengar dari
keadaan Muhammad, sifat-sifatnya, dan sirahnya di tengah-tengah mereka
benar-benar menunjukkan atas kejujurannya pada apa yang ia bawa dan bahwasanya
ia adalah nabi yang diutus.
Adalah
berfaedah dalam kedudukan ini untuk kita menetapkan dialog yang berlangsung
antara Heraklius dan Abu Sufyan ini sebagaimana yang dinukil oleh imam ahli
hadis dan amir mereka, al-Bukhari di dalam kitab Shahih-nya. Sebab, di
dalamnya terkandung petuah, pelajaran, dan dalil bahwasanya Rasul kita yang
mulia, atasnya selawat yang paling utama dan salam yang paling sempurna, telah
dianugerahi oleh Tuhannya Tabaraka wa Ta'ala argumen-argumen yang telak
dan bukti-bukti yang pasti atas kejujurannya yang tampak nyata pada akhlak,
sifat, dan keadaan beliau, di samping apa yang dikuatkan dengannya berupa
Al-Qur'an yang agung dan mukjizat-mukjizat yang memukau. Sungguh al-Bukhari rahimahullah
Ta'ala telah berkata:
“Telah
menceritakan kepada kami Abu al-Yaman al-Hakam bin Nafi', ia berkata: Telah
mengabarkan kepada kami Syu'aib dari az-Zuhri, ia berkata: Telah mengabarkan
kepada kami Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud bahwasanya Abdullah
bin Abbas mengabarkan kepadanya bahwasanya Abu Sufyan bin Harb mengabarkan
kepadanya bahwasanya Heraklius mengirim utusan kepadanya saat ia berada di
dalam rombongan dagang Quraisy yang sedang berniaga di Syam pada masa
perjanjian damai [Yaitu pada masa perjanjian damai Hudaibiyah] yang dilakukan
oleh Rasulullah ﷺ
terhadap Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy [yaitu masa gencatan senjata
Perjanjian Hudaibiyah]. Lalu mereka mendatangi Heraklius saat berada di Iliya'
[Yerusalem]. Kemudian Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, sementara di
sekelilingnya terdapat para pembesar Romawi, kemudian ia mengundang mereka dan
memanggil penerjemahnya.”
Maka
ia berkata: “Siapakah di antara kalian yang paling dekat nasab
kekeluargaannya dengan laki-laki yang mengaku dirinya sebagai nabi ini?”
Maka
Abu Sufyan berkata: “Aku berkata: Akulah yang paling dekat nasabnya dengan
dia.”
Maka
ia berkata: “Dekatkanlah dia kepadaku, dan dekatkanlah sahabat-sahabatnya
lalu jadikanlah mereka berada di belakang punggungnya.”
Kemudian
ia berkata kepada penerjemahnya: “Katakanlah kepada mereka bahwasanya aku
akan bertanya kepada orang ini mengenai laki-laki tersebut, maka jika ia
mendustakanku maka kalian dustakanlah dia.”
Abu
Sufyan berkata: “Maka demi Allah, kalaulah bukan karena rasa malu sekiranya
mereka akan merekam kedustaan atas diriku, niscaya aku akan berdusta mengenai
dirinya.” Kemudian hal pertama yang ia tanyakan kepadaku adalah: Ia
berkata: “Bagaimanakah kedudukan nasabnya di tengah-tengah kalian?” Aku
berkata: “Dia di kalangan kami adalah seorang yang memiliki nasab yang
mulia.” Ia berkata: “Apakah ada seorang pun dari kalian yang pernah
mengucapkan perkataan ini sebelum dirinya?” Aku berkata: “Tidak.” Ia
berkata: “Apakah ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja?” Aku
berkata: “Tidak.” Ia berkata: “Apakah orang-orang terpandang yang
mengikutinya ataukah orang-orang yang lemah di antara mereka?” Aku berkata:
“Bahkan orang-orang yang lemah di antara mereka.” Ia berkata: “Apakah
jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?” Aku berkata: “Bahkan
semakin bertambah.”
Ia
berkata: “Apakah ada salah seorang di antara mereka yang murtad karena benci
kepada agamanya setelah ia masuk ke dalamnya?”
Aku
berkata: “Tidak.”
Ia
berkata: “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan
apa yang ia ucapkan?”
Aku
berkata: “Tidak.”
Ia
berkata: “Apakah ia pernah berkhianat?”
Aku
berkata: “Tidak, dan kami sekarang sedang berada dalam masa perjanjian damai
dengannya, kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di dalamnya.” Abu
Sufyan berkata: “Dan aku tidak mampu memasukkan satu kalimat pun yang dapat
menjelekkannya selain kalimat ini.”
Ia
berkata: “Apakah kalian pernah memeranginya?”
Aku
berkata: “Ya.”
Ia
berkata: “Bagaimanakah peperangan kalian dengannya?”
Aku
berkata: “Peperangan di antara kami dan dia silih berganti, ia mengalahkan
kami dan kami pun mengalahkannya.”
Ia
berkata: “Apakah yang ia perintahkan kepada kalian?”
Aku
berkata: “Ia berkata: Sembahlah Allah semata, dan janganlah kalian
menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh
nenek moyang kalian, dan ia memerintahkan kami untuk mendirikan salat, jujur,
menjaga kesucian diri (afaf), dan menyambung tali silaturahmi.”
Maka
Heraklius berkata kepada penerjemahnya: “Katakanlah kepadanya: Aku telah
bertanya kepadamu tentang nasabnya, lalu engkau menyebutkan bahwasanya ia
memiliki nasab yang mulia di antara kalian, dan demikianlah para rasul diutus
di tengah nasab kaumnya. Dan aku bertanya kepadamu apakah ada seorang pun dari
kalian yang mengucapkan perkataan ini sebelum dirinya, lalu engkau menyebutkan
bahwa tidak ada, maka aku berkata seandainya ada seseorang yang telah
mengucapkan perkataan ini sebelumnya, niscaya aku akan mengira bahwa ia adalah
seorang laki-laki yang meniru perkataan yang telah diucapkan sebelumnya. Dan
aku bertanya kepadamu apakah ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja,
lalu engkau menyebutkan tidak ada, maka aku berkata seandainya ada di antara
nenek moyangnya yang menjadi raja, niscaya aku akan mengira bahwa ia adalah
seorang laki-laki yang sedang menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya. Dan
aku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia
mengucapkan apa yang ia ucapkan, lalu engkau menyebutkan tidak ada, maka sungguh
aku mengetahui bahwasanya ia tidak akan meninggalkan dusta kepada manusia lalu
ia berani berdusta kepada Allah. Dan aku bertanya kepadamu apakah orang-orang
terpandang yang mengikutinya ataukah orang-orang yang lemah di antara mereka,
lalu engkau menyebutkan bahwa orang-orang yang lemahlah yang mengikutinya, dan
mereka itulah para pengikut rasul-rasul. Dan aku bertanya kepadamu
apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang, lalu engkau menyebutkan
bahwa mereka semakin bertambah, dan demikianlah urusan keimanan hingga ia
menjadi sempurna. Dan aku bertanya kepadamu apakah ada salah seorang di antara
mereka yang keluar karena benci kepada agamanya setelah ia masuk ke dalamnya,
lalu engkau menyebutkan tidak ada, dan demikianlah keimanan ketika kemanisannya
telah meresap dan menyatu di dalam lubuk hati. Dan aku bertanya kepadamu apakah
ia pernah berkhianat, lalu engkau menyebutkan tidak ada, dan demikian pula para
rasul tidak akan pernah berkhianat. Dan aku bertanya kepadamu tentang apa yang
ia perintahkan kepada kalian, lalu engkau menyebutkan bahwa ia memerintahkan
kalian untuk menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun,
melarang kalian dari menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk mendirikan
salat, jujur, dan menjaga kesucian diri. Maka jika apa yang engkau katakan itu
benar, niscaya ia akan menguasai tempat kedua telapak kakiku ini, dan sungguh
aku telah mengetahui bahwasanya ia akan keluar, namun aku tidak mengira
bahwasanya ia berasal dari kalangan kalian. Maka seandainya aku tahu bahwasanya
aku akan dapat sampai kepadanya, niscaya aku akan bersusah payah untuk
menemuinya, dan seandainya aku berada di sisinya, niscaya aku akan membasuh
kedua telapak kakinya.” (HR. Bukhari; lihat Shahih al-Bukhari ma'a Fath
al-Bari, Juz 1, hlm. 21-26).
Catatan
Kaki dan Penjelasan Istilah :
- Asal kata al-Azmu [أصل العزم]:
Secara bahasa bermakna kesungguhan, tekad bulat, dan kerja keras dalam
suatu urusan. Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa di antara karakteristik utama
Ululazmi adalah kesabaran dan ketakwaan yang kokoh.
- An-Nabi [النبي]:
Nabi adalah setiap manusia (laki-laki) yang diberikan wahyu oleh Allah
Ta'ala berupa syariat, baik ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada
orang lain maupun tidak. Jika ia tidak diperintahkan menyampaikan, maka ia
adalah Nabi dan bukan Rasul. Namun jika diperintahkan untuk menyampaikan,
maka ia adalah Nabi sekaligus Rasul. Dengan demikian, setiap Rasul pasti
seorang Nabi, tetapi tidak setiap Nabi adalah seorang Rasul.
- Al-Afaf [العفاف]:
Menjaga kehormatan diri, menjauhi segala hal yang diharamkan, serta
menahan diri dari syahwat yang merusak kesucian moral.
- Al-Khullah [الخلة]:
Puncak tertinggi dari rasa kecintaan yang murni dan mendalam, di mana
cinta tersebut telah meresap ke dalam seluruh rongga hati tanpa menyisakan
ruang bagi selainnya. Derajat ini hanya dimiliki oleh Nabi Ibrahim dan
Nabi Muhammad ﷺ.
Comments
Post a Comment