Iman Kepada Hari Akhir

Beriman kepada Hari Akhir

Maknanya secara garis besar (ijmali) adalah: membenarkan dengan penuh keyakinan atas segala hal yang dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya dan dikabarkan oleh Rasul-Nya mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah kematian ; mulai dari fitnah kubur, azab dan nikmat kubur, hari kebangkitan (al-ba'th), hari pengumpulan (al-hasyr), catatan amal (as-shuhuf), perhitungan amal (al-hisab), timbangan (al-mizan), telaga (al-haudh), jembatan (as-shirath), syafaat, surga dan neraka, serta apa saja yang telah Allah Ta'ala sediakan bagi para penghuni keduanya masing-masing.

Perhatian Al-Qur'an terhadap Rukun Ini dan Hikmahnya

Al-Qur'an al-Karim sangat sarat dengan penyebaran sebutan Hari Akhir, memberikan perhatian besar untuk menetapkannya di setiap tempat, mengingatkannya dalam setiap kesempatan , serta menegaskan kepastian terjadinya dengan berbagai macam gaya bahasa Arab.

Di antara bentuk perhatian yang besar terhadap hari yang agung ini di dalam Kitabullah adalah bahwa Allah sering kali mengaitkan iman kepada Hari Akhir dengan iman kepada Allah Azza wa Jalla. Di antara contohnya adalah firman Allah Ta'ala:

“...Akan tetapi, kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir...” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 177)

Dan firman Allah Ta'ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir serta melakukan kebajikan, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 62)

Dan firman Allah Ta'ala:

“...Demikian itu dinasihatkan kepada orang-orang di antaramu yang beriman kepada Allah dan hari akhir...” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 232)

Dan firman Allah Ta'ala:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir...” (Q.S. At-Taubah [9]: 29)

Dan firman Allah Ta'ala:

“...Sembahlah Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan janganlah kamu berkeliaran di bumi dengan berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-'Ankabut [29]: 36)

Ayat-ayat sejenis ini sangat banyak sekali di dalam Kitabullah Azza wa Jalla.

Di antara bentuk perhatiannya yang lain adalah betapa seringnya Al-Qur'an menyebutkan Hari Akhir, sampai-sampai engkau hampir tidak melewati satu lembar pun dari lembaran-lembaran Al-Qur'an melainkan engkau akan menemukan di dalamnya pembicaraan tentang Hari Akhir beserta peristiwa dan keadaan yang akan terjadi di dalamnya melalui metode penyampaian yang kaya dan bervariasi. Demikian pula, engkau akan mendapati Al-Qur'an merincikan keadaan hari tersebut dengan rincian yang jarang engkau temukan pada perkara-perkara gaib lainnya.

Termasuk manifestasi dari perhatian ini pula adalah banyaknya nama yang Allah berikan untuk hari tersebut, di mana setiap nama menunjukkan kengerian-kengerian yang akan terjadi di dalamnya. Di antara nama-namanya di dalam Al-Qur'an adalah: Al-Qiyamah (Hari Kiamat), As-Sa'ah (Waktu/Kiamat), Al-Akhirah (Hari Akhir), Yaumud Din (Hari Pembalasan), Yaumul Hisab (Hari Perhitungan), Yaumul Fath (Hari Kemenangan/Keputusan), Yaumut Talaq (Hari Pertemuan), Yaumul Jam'i (Hari Pengumpulan), Yaumut Taghabun (Hari Dinampakkannya Kesalahan), Yaumul Khulud (Hari Kekekalan), Yaumul Khuruj (Hari Keluar dari Kubur), Yaumul Hasrah (Hari Penyesalan), Yaumut Tanad (Hari Saling Memanggil), Al-Azifah (Hari yang Dekat Terjadinya), At-Thammah (Malapetaka Terbesar), As-Shakhah (Tiupan yang Memekakkan), Al-Haqqah (Hari yang Pasti Terjadi), Al-Ghasyiyah (Peristiwa yang Menyelubungi), Al-Waqi'ah (Peristiwa yang Pasti Terjadi), dan lain sebagainya.[Lihat: Al-Aqaid Al-Islamiyah karya Sayyid Sabiq, hlm. 261-264]

Adapun hikmah dari perhatian yang sangat mendalam terhadap rukun ini, di antaranya adalah:

Bahwa iman kepada Hari Akhir memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Hal itu karena iman kepadanya beserta apa yang ada di dalamnya—berupa surga, neraka, perhitungan amal, siksaan, pahala, keberuntungan, dan kerugian—memiliki dampak paling kuat dalam mengarahkan manusia, mendisiplinkannya, serta menjaganya untuk berkomitmen dalam amal saleh dan bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla. Sungguh jauh berbeda antara dua orang: yang satu tidak meyakini adanya hari kebangkitan maupun perhitungan atas amal perbuatan dan perkataannya, di mana tidak ada yang menguntungkannya selain kemaslahatan pribadi dan manfaat egoisnya semata; sedangkan yang lain meyakini adanya suatu hari di mana manusia akan diadili atas amal perbuatan dan perkataannya di hadapan Hakim yang paling adil dari segala hakim (Ahkamul Hakimin), sehingga dia diberi pahala atas kebaikan dan disiksa atas keburukan. Orang pertama akan lepas kendali dari ikatan apa pun selain hawa nafsu dan syahwatnya , serta baginya tujuan yang egois dapat menghalalkan segala cara, akhlak, dan perbuatan bagaimanapun bentuk bahayanya. Sebaliknya, orang kedua akan disiplin di dalam batasan kebenaran, kebaikan, dan kesalehan; yaitu perkara-perkara yang memiliki bobot nilai dan pertimbangan di sisi Allah pada hari tersebut, sebagaimana firman-Nya Ta'ala:

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebajikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebajikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan diri sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (Q.S. Al-A'raf [7]: 8-9)

Metode Al-Qur'an dalam mengaitkan antara iman kepada Hari Akhir dengan amal saleh dalam banyak kesempatan mengisyaratkan kepada hikmah ini. Di antara contohnya adalah firman Allah Ta'ala:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Q.S. Al-Ma'un [107]: 1-3)

And firman Allah Azza wa Jalla:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir...” (Q.S. At-Taubah [9]: 18)

Dan firman-Nya juga:

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan.” (Q.S. At-Taubah [9]: 44-45)

Dan firman Allah Ta'ala:

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya...” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 22)

Dan firman-Nya:

“Sungguh, pada (diri) mereka benar-benar terdapat teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (kedatangan) hari akhir...” (Q.S. Al-Mumtahanah [60]: 6)

Dan firman-Nya:

“...Demikianlah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir diberi pengajaran...” (Q.S. At-Thalaq [65]: 2)

Dan firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman pada (kehidupan) akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Qur'an) dan mereka selalu memelihara shalatnya.” (Q.S. Al-An'am [6]: 92) serta masih banyak lagi ayat lainnya.

Karena manusia secara fitrah diciptakan untuk mencari kemaslahatan bagi dirinya dan menolak kemudaratan dari dirinya, maka iman kepada Hari Akhir menjadi penguat bagi benteng psikologis (al-wazi' an-nafsi) yang ada di dalam dirinya; yaitu benteng yang mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Oleh karena itu, Al-Qur'an memberikan perhatian besar dengan memperbanyak peringatan tentangnya serta bervariasi dalam menggambarkan suasananya, agar benteng psikologis tersebut semakin menghujam kuat di dalam hati seorang mukmin dan semakin kokoh pengaruhnya.

Bisa jadi, di antara hikmah dari perhatian yang luar biasa untuk mengingatkan tentang Hari Akhir ini adalah banyaknya hamba yang lupa dan lalai darinya akibat kecenderungan mereka yang berat terikat pada bumi (keduniawian) serta kecintaan mereka pada kesenangan duniawi. Maka, iman kepada Hari Akhir beserta azab dan nikmat yang ada di dalamnya akan memitigasi sikap berlebihan dalam mencintai dunia. Dengan begitu, para hamba mengetahui bahwa seluruh syahwat dunia tidaklah layak untuk dikejar, diperjuangkan, dan diperebutkan. Sebaliknya, hal yang layak untuk diperjuangkan hanyalah apa yang telah disediakan bagi mereka pada hari yang agung tersebut. Firman Allah Ta'ala mengisyaratkan makna ini:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa apabila dikatakan kepadamu, 'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan kehidupan dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) akhirat hanyalah sedikit.” (Q.S. At-Taubah [9]: 38)

Dan barangkali di antara hikmahnya juga adalah bahwa keberadaan hari tersebut sejak dahulu hingga sekarang senantiasa memicu keheranan dan ketakjuban orang-orang kafir. Hal itu disebabkan oleh pandangan mata batin mereka yang dangkal melihat adanya kontradiksi dari kebangkitan setelah kematian yang mengubah mereka menjadi tulang-belulang dan hancur lumat setelah mati. Allah Ta'ala berfirman mengenai orang-orang seperti mereka:

“Qaf. Demi Al-Qur'an yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya,) bahkan mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri. Orang-orang kafir itu berkata, 'Ini adalah suatu hal yang sangat ajaib. Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah (kami akan kembali hidup)? Itu adalah pengembalian yang jauh (tidak mungkin).'” (Q.S. Qaf [50]: 1-3)

Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada mereka di dalam banyak ayat—yang akan kami sebutkan sebagian darinya nanti—bahwa indra yang mereka gunakan untuk menghadapi hakikat ini adalah indra yang lemah dan terbatas. Sebab, perumpamaan hari kebangkitan dalam kehidupan manusia itu sangat banyak, namun sejatinya bukanlah mata bendawi yang buta, melainkan hati yang ada di dalam dada itulah yang buta.

Dalil-Dalil Iman kepada Hari Akhir dan Bantahan atas Syubhat Orang-Orang yang Mengingkarinya

Sungguh, iman kepada Hari Akhir telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, sebagaimana akal sehat dan fitrah yang lurus juga menunjukkannya. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala banyak menyebutkannya di dalam Kitab-Nya, menegakkan dalil-dalil atasnya, serta membantah syubhat (kerancuan berpikir) orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan di banyak tempat. Al-Qur'an juga merinci perkara-perkara hari tersebut beserta peristiwa-peristiwanya dengan rincian yang belum pernah ada bandingannya dalam kitab-kitab terdahulu. Padahal, setiap rasul yang Allah utus telah menyampaikan kabar gembira kepada kaumnya dan memperingatkan mereka tentang hari yang agung ini, serta dihukumi kafir bagi siapa saja yang mengingkarinya atau meragukannya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan di dalamnya...” (Q.S. An-Nisa [4]: 87)

Dan Dia berfirman:

“...Akan tetapi, kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir...” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 177)

Dan Dia juga berfirman:

“...Siapa yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, sungguh dia telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An-Nisa [4]: 136)

Al-Qur'an mengabarkan kepada kita tentang Nuh Alaihissalam bahwa dia berkata kepada kaumnya:

“Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan senyata-nyatanya.” (Q.S. Nuh [71]: 17-18)

Dan dari Ibrahim Alaihissalam bahwa dia berkata:

“...dan yang sangat kuinginkan agar Dia mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan.” (Q.S. Asy-Syu'ara' [26]: 82)

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Musa Alaihissalam:

“Sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang. Aku hampir (benar-benar) menyembunyikannya agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. Maka, janganlah engkau dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan mengikuti hawa nafsunya yang menyebabkan engkau binasa.” (Q.S. Taha [20]: 15-16)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad , untuk bersumpah demi Nama-Nya atas kepastian hari kebangkitan di lebih dari satu tempat, di antaranya adalah firman-Nya Ta'ala:

“Orang-orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan...'” (Q.S. At-Taghabun [64]: 7)

Orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan sesungguhnya telah mendustakan seluruh rasul Allah , yang mana dalil-dalil akli maupun indrawi yang mutlak telah tegak atas kebenaran mereka dalam setiap apa yang mereka kabarkan. Mendustakan mereka dalam kabar apa pun merupakan bentuk pengekangan terhadap akal yang telah memutuskan kebenaran mereka, sekaligus sebuah pendustaan serta penentangan yang sama sekali tidak masuk akal.

Orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan tidak memiliki dalil sepeser pun atas pengingkaran mereka , sebab hari kebangkitan adalah bagian dari perkara gaib yang tidak diketahui melainkan oleh Allah. Aturan standar (al-dhabit) dalam perkara-perkara semacam ini adalah bahwa tidak ada jalan bagi siapa pun untuk menetapkan atau mengingkarinya kecuali melalui satu jalan tunggal, yaitu pemberitahuan dari Allah Azza wa Jalla.[Aturan standar ini merupakan salah satu perkara aksiomatis bagi akal sehat (badihiyyatul uqul). Kita mengetahui secara aksiomatis bahwa tidak mungkin bagi seseorang untuk menetapkan atau menafikan keberadaan sesuatu di suatu tempat atau waktu tertentu kecuali dengan melihatnya langsung atau diberitahu oleh orang yang mengetahuinya, sepanjang keberadaan atau ketiadaan sesuatu tersebut tidak kontradiktif dengan akal dan tidak mustahil dalam hikmah-Nya. Jika ada seseorang dari kalangan awam menetapkan atau menafikan keberadaan sebuah bintang di suatu posisi langit tanpa diberitahu oleh ahli astronomi, tentulah kita menghukuminya berdusta. Begitu pula siapa pun yang mengklaim tahu tentang keberadaan Hari Akhir tanpa ada yang memberitahunya, pastilah ia dihukumi dusta. Maka bagaimana halnya ketika perkara tersebut dikabarkan oleh sosok yang mustahil berdusta, yaitu para nabi dan rasul? Seluruh manusia jika dibandingkan dengan alam gaib statusnya adalah awam, dan yang mengetahuinya secara mutlak hanyalah Allah semata. Oleh karena itu, janganlah engkau mengikuti urusannya kecuali dari orang yang telah diajarkan oleh Allah, yaitu para rasul-Nya yang mulia]. Maka, barangsiapa yang hujah-hujah mutlak telah tegak atas dirinya bahwa dia menerima wahyu dari sisi Allah Ta'ala, dialah yang jujur (benar) dalam apa yang dikabarkannya mengenai perkara-perkara tersebut. Dan perkara ini adalah hal yang tidak terbukti melainkan bagi para rasul yang mulia—alaihimus shalatu was salam. Merekalah orang-orang yang dikukuhkan oleh Allah dengan mukjizat-mukjizat serta diperlihatkan kepada mereka sebagian dari perkara gaib. Dan telah berlalu penjelasan mengenai kesepakatan mereka dalam mengabarkan tentang Hari Akhir.

Orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan hanyalah melontarkan beberapa syubhat dan keraguan di seputar keberadaan hari tersebut, seperti menganggap mustahil kembalinya kehidupan setelah mereka berubah menjadi tulang belulang, hancur lumat, dan menjadi tanah. Mereka berkata, sebagaimana yang Allah kabarkan mengenai mereka:

“...Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah (kami akan kembali hidup)? Itu adalah pengembalian yang jauh (tidak mungkin).” (Q.S. Qaf [50]: 3)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

“Mereka berkata, 'Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita melainkan masa.' Mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga.” (Q.S. Al-Jasiyah [45]: 24)

Syubhat mereka semua tidak keluar dari menganggapnya mustahil (al-istib'ad), menganggapnya terlalu besar (al-isti'zham), dan merasa heran (at-ta'ajjub).

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membantah syubhat-syubhat ini dan menjelaskan kelemahannya di lebih dari satu tempat di dalam Kitab-Nya yang Mulia. Dia menjelaskan kepada mereka bahwa iman kepada hari kebangkitan (al-ma'ad) tidak diingkari oleh akal bahkan didukung olehnya, serta tidak menyalahi hal yang biasa terjadi (al-ma'hud), melainkan ia memiliki contoh-contoh nyata dalam kehidupan manusia serta bukti-bukti konkret dari ciptaan Sang Khalik. Di antaranya adalah:

1. Firman Allah Ta'ala:

“Mereka berkata, 'Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, mungkinkah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?' Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Jadilah kamu batu, besi, atau makhluk lain yang membebani pikiranmu (yang menurutmu tidak mungkin dihidupkan kembali).' Maka, mereka akan bertanya, 'Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?' Katakanlah, '(Dia) yang telah menciptakan kamu pertama kali.' Lalu, mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu dan bertanya, 'Kapankah (hari kebangkitan) itu?' Katakanlah, 'Boleh jadi ia sudah dekat,' (yaitu) pada hari (ketika) Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira bahwa kamu hanyalah tinggal (di dunia) sebentar saja.” (Q.S. Al-Isra' [17]: 49-52)

Maka perhatikanlah syubhat-syubhat yang mereka lontarkan ini, di mana apa yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengingkari di setiap zaman tidak pernah bergeser darinya : mereka menganggap mustahil bagi Allah untuk mengubah jasad-jasad yang telah hancur lumat dan menjadi tulang belulang menjadi makhluk baru yang dapat mengindra serta merasa. Mereka menganggap kemampuan Allah terlampau besar untuk itu, dan menjauhkannya karena mereka tidak tahu kapan terjadinya. Syubhat-syubhat tersebut—sebagaimana yang engkau lihat—sumber utamanya adalah kebodohan terhadap hakikat kehidupan dan kematian, serta kelalaian terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla , serta kebutaan dari melihat jejak-jejak kekuasaan mutlak ini dalam mewujudkan sesuatu dari ketiadaan (al-insya' minal 'adam).

Sebenarnya cukuplah bagi mereka—jika mereka mau berakal—untuk mengingat kekuasaan Allah ketika Dia menciptakan mereka pertama kali, padahal sebelumnya mereka bukanlah berupa apa pun, agar mereka yakin akan kebenaran Sang Pencipta dalam apa yang dikabarkan-Nya kepada mereka mengenai hari kebangkitan, perhitungan amal, pahala, serta siksaan. Persoalannya sangat sederhana, dan jawabannya sangat telak di balik kesederhanaan dan kejelasannya : bahwasanya manusia telah mendapati dirinya tercipta setelah sebelumnya tidak ada, maka pasti ada Pencipta yang mewujudkannya dari ketiadaan. Kemudian dia berubah dari satu keadaan ke keadaan lain dengan berpisahnya kehidupan (kematian), maka pasti ada Pelaku di balik perubahan ini, dan Dia tidak lain adalah Allah yang telah menciptakan pertama kali. Seandainya ada yang lain selain Dia, tentulah makhluk tersebut mampu menolak kematian dari dirinya sendiri. Jika setelah itu Sang Pencipta yang Maha Menghidupkan lagi Maha Mematikan ini mengabarkan bahwa Dia akan menghidupkan kembali manusia pada kesempatan lain dan mengulangi penciptaannya, maka perdebatan mereka dalam hal itu tidak lain hanyalah bentuk pembangkangan dan kesombongan. Allah Ta'ala berfirman:

“Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Allah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, lalu mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan di dalamnya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'” (Q.S. Al-Jasiyah [45]: 26)

2. Dan Allah Ta'ala berfirman:

“Dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya. Dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur lumat?' Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang membentukkannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau. Maka, seketika itu kamu menyalakan (api) darinya.' Bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan kembali yang serupa dengan mereka (manusia yang sudah mati itu)? Benar, Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Yasin [36]: 78-81)

Penulis kitab Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah berkata dalam menjelaskan ayat-ayat mulia ini:

"Seandainya manusia yang paling berilmu, paling fasih, dan paling mumpuni dalam memberikan penjelasan bermaksud mendatangkan hujah yang lebih baik dari hujah ini, atau yang semisalnya dengan lafaz-lafaz yang menyerupai lafaz-lafaz ini dalam hal keringkasan (ijaz), kejelasan dalil, serta kesahihan bukti, niscaya ia tidak akan sanggup. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta'ala membuka hujah ini dengan sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang ateis (mulhid) yang menuntut jawaban. Maka di dalam firman Allah Ta'ala (“dan melupakan asal kejadiannya”) terdapat pemenuhan jawaban yang menegakkan hujah sekaligus melenyapkan syubhat. Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala hendak menegaskan hujah tersebut dan menambah penetapannya, Dia berfirman: (“Katakanlah, Yang akan menghidupkannya ialah yang membentukkannya pertama kali”) , maka Dia berhujah dengan ciptaan awal (al-ibda') atas pengulangan ciptaan (al-i'adah), serta dengan kejadian pertama atas kejadian berikutnya. Sebab, setiap orang yang berakal mengetahui secara aksiomatis bahwa siapa yang mampu atas hal ini, pasti mampu pula atas hal itu, dan seandainya Dia lemah dari yang kedua, niscaya dari yang pertama Dia akan lebih lemah lagi.

Karena penciptaan menuntut kemampuan Sang Pencipta atas makhluk-Nya serta pengetahuan-Nya terhadap rincian ciptaan-Nya, maka Allah mengiringi hal tersebut dengan firman-Nya: (“Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”). Dia Maha Mengetahui rincian ciptaan yang pertama, bagian-bagiannya, bahan-bahannya, serta bentuknya; begitu pula dengan ciptaan yang kedua. Jika Dia memiliki ilmu yang sempurna dan kekuasaan yang paripurna, bagaimana mungkin sulit bagi-Nya untuk menghidupkan tulang belulang yang telah hancur lumat?

Kemudian Dia menegaskan perkara tersebut dengan hujah yang kuat dan bukti yang nyata yang mengandung jawaban atas pertanyaan ateis lainnya yang mengatakan: 'Tulang belulang apabila telah menjadi hancur lumat, secara tabiatnya akan kembali menjadi dingin lagi kering, padahal kehidupan itu wajib memiliki bahan dan pembawa berupa tabiat yang panas lagi basah...'

Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: (“yaitu yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau. Maka, seketika itu kamu menyalakan darinya”). Allah mengabarkan tentang pengeluaran unsur ini—yang berada dalam puncak panas dan kering—dari pohon hijau yang sarat dengan kebasahan dan dingin, yang mengeluarkan sesuatu dari lawannya, dan bahan-bahan makhluk serta unsur-unsurnya tunduk kepada-Nya tanpa bisa membangkang terhadap-Nya. Dialah yang melakukan apa yang diingkari dan ditolak oleh ateis tersebut.

Selanjutnya, Dia menegaskan hal ini dengan mengambil dalil dari sesuatu yang lebih agung dan besar atas sesuatu yang lebih mudah dan kecil. Sebab setiap orang yang berakal mengetahui bahwa siapa yang mampu mengangkat satu kuintal (qinthar), tentulah untuk mengangkat satu ons (uqiyah) dia akan jauh lebih mampu lagi. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: (“Bukankah yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan kembali yang serupa dengan mereka”). Maka Dzat yang telah mewujudkan langit dan bumi di atas keagungan keduanya, besarnya kedudukan keduanya, besarnya ukuran jasad keduanya, luasnya keduanya, serta keajaiban ciptaan keduanya, tentu jauh lebih mampu untuk menghidupkan tulang belulang yang telah hancur lumat, lalu mengembalikannya kepada keadaannya semula."

3. Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu; dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (kamu dibimbing) sampai mencapai usia dewasa. Di antaramu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antaramu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun) sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulu telah diketahuinya. Kamu lihat bumi itu kering, maka apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, ia bergerak, mengembang, dan menumbuhkan berbagai jenis (tumbuhan) yang indah. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Haq (Yang Mahabenar), sesungguhnya Dia menghidupkan segala yang mati, dan sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 5-7)

Maka renungkanlah ayat-ayat yang mulia ini dari Surat Al-Hajj, karena di dalamnya terdapat dalil-dalil atas hari kebangkitan serta tanda-tanda yang nyata atas kekuasaan Allah dalam menghidupkan orang mati, yang mana hal itu dapat menghapus setiap keraguan dari dalam hati mengenai hakikat ini, melenyapkan setiap keheranan, serta meruntuhkan syubhat orang-orang yang menentang.

A. Di dalam ayat tersebut pertama-tama terdapat dalil tentang permulaan penciptaan makhluk (dalil insya'il khalq) dan awal mula mereka dari tanah yang di dalamnya tidak ada tanda-tanda kehidupan sedikit pun, dan telah berlalu penjelasan mengenai dalil ini.

B. Di dalamnya juga ditampakkan bentuk dari manifestasi kekuasaan Allah dalam menciptakan manusia, serta memindahkannya dari satu fase ke fase yang lain (min thaurin ila thaur), dan dari satu kondisi ke kondisi lain yang berbeda sama sekali dari kondisi pertama.

Maka Dzat yang telah memindahkannya dari setetes mani (nuthfah) menjadi segumpal darah ('alaqah), kemudian menjadi segumpal daging (mudhghah), lalu membelah pendengaran dan penglihatannya, serta menyusun di dalam dirinya indra-indra, kekuatan, tulang belulang, saraf, dan lain sebagainya, kemudian menyempurnakan penciptaannya dengan puncak kesempurnaan dan mengeluarkannya dalam bentuk serta rupa yang merupakan rupa paling sempurna dan paling baik, sebagaimana firman-Nya Ta'ala:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. At-Tin [95]: 4)

bagaimana mungkin Dia lemah untuk membangkitkannya kembali serta mengembalikan kehidupan kepadanya? Maka ini tidak lain hanyalah proses pemindahan dari satu kondisi ke kondisi yang lain, dan orang yang menentang dapat melihat perumpamaannya di dalam dirinya sendiri dan pada setiap manusia di atas permukaan bumi ini.

Sungguh, Al-Ustadz Sayyid Quthb—rahimahullah Ta'ala—setelah menafsirkan ayat-ayat di atas telah mengisyaratkan kepada sebuah makna yang lembut yang dikandung oleh ayat-ayat tersebut, beliau mengatakan:

"Sesungguhnya fase-fase yang dilewati oleh janin ini, kemudian dilewati oleh bayi setelah ia melihat cahaya (lahir), memberikan isyarat bahwa Kehendak yang mengatur (Al-Iradah Al-Mudabbirah) fase-fase ini akan mendorong manusia menuju tempat di mana ia mencapai kesempurnaan yang mungkin baginya di negeri kesempurnaan (akhirat). Sebab, manusia tidak mencapai kesempurnaan dalam kehidupan di bumi, ia sempat berdiri lalu kembali mundur: “sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulu telah diketahuinya”. Maka harus ada negeri lain (dar ukhra) yang di dalamnya kesempurnaan manusia diparipurnakan.

Dengan demikian, penunjukan fase-fase ini terhadap hari kebangkitan bersifat ganda: ia menunjukkan hari kebangkitan dari sisi bahwa Dzat yang mampu memulai penciptaan pasti mampu untuk mengulangnya; dan ia menunjukkan hari kebangkitan karena Kehendak yang mengatur akan menyempurnakan perkembangan manusia di negeri akhirat."

Dan begitulah hukum-hukum penciptaan dan pengulangan bertemu dengan hukum-hukum kehidupan dan kebangkitan, serta hukum-hukum perhitungan dan pembalasan amal; semuanya memberikan kesaksian atas rukun ini. Di dalam penciptaan manusia dan keberadaan fase air mani serta segumpal darah terdapat kilasan lain : yaitu mengarahkan pandangan orang-orang yang menentang lagi mengingkari hari kebangkitan dan penghidupan orang mati, kepada fakta bahwa perbuatan rabbani ini nyata adanya pada setiap individu mereka dan pada setiap manusia. Karena sebelum menjadi manusia yang sempurna (basyaran sawiyya), ia dahulunya adalah setetes mani dari air yang hina yang tidak bernilai, lalu menjadi segumpal darah dan segumpal daging, yaitu potongan daging yang belum berbentuk dan belum terencana garisnya. Semua itu merupakan fase-fase yang rendah, yang di dalamnya manusia sangat mirip dengan sesuatu yang mati. Namun demikian, Allah Subhanahu wa Wa Jalla menciptakan kehidupan di dalamnya, membentuknya, serta menitipkan di dalamnya sebab-sebab kehidupan hingga pada akhir urusannya ia menjadi manusia sempurna yang dapat berpikir, merasa, berdebat, dan menyanggah. Maka betapa miripnya mahakarya rabbani ini dengan penghidupan orang-orang mati yang diingkari oleh orang-orang yang ingkar terhadap hari kebangkitan. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Bukankah dia mulanya setetes mani yang dipancarkan, kemudian (mani itu) menjadi segumpal darah, lalu (Allah) menciptakan dan menyempurnakannya? Lalu, Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian itu berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (Q.S. Al-Qiyamah [75]: 37-40)[^6]

C. Dan di dalam ayat-ayat terdahulu terdapat dalil lain bagi hari kebangkitan serta tanda nyata lainnya atas kekuasaan Allah dalam menghidupkan orang mati: yaitu bumi yang gersang ini, engkau tidak melihat adanya jejak kehidupan di atasnya dan tidak tumbuh apa pun padanya. Namun apabila Allah menurunkan hujan di atasnya, tampaklah kehidupan padanya dan ia menumbuhkan tanaman serta beraneka ragam tumbuhan dengan perbedaan warna, rasa, aroma, bentuk, dan manfaatnya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

“...Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Fushshilat [41]: 39)

Sungguh Rasulullah pernah ditanya: "Bagaimana Allah menghidupkan orang mati? Dan apa tandanya di dalam ciptaan-Nya?" Beliau menjawab:

أَمَا مَرَرْتَ بِوَادِي أَهْلِكَ مُمْحِلًا؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: ثُمَّ مَرَرْتَ بِهِ يَهْتَزُّ خَضِرًا؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: فَكَذَلِكَ يُحْيِي اللهُ الْمَوْتَى، وَذَلِكَ آيَتُهُ فِي خَلْقِهِ

(“Bukankah engkau pernah melewati lembah kaummu dalam keadaan gersang?” Dia menjawab: “Benar.” Beliau bertanya lagi: “Kemudian engkau melewatinya lagi dalam keadaan subur menghijau?” Dia menjawab: “Benar.” Beliau bersabda: “Maka begitulah cara Allah menghidupkan orang mati, dan itulah tanda-Nya di dalam ciptaan-Nya.”) [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Lihat Tafsir Ibn Katsir (Jilid 2, hlm. 208) dan Shahih Al-Jami' As-Shaghir (Jilid 1, hlm. 420).]

4. Dan Allah Ta'ala berfirman:

“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara bersenang-senang (saja) dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al-Mu'minun [23]: 115)

Dan Dia juga berfirman:

“Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Q.S. Al-Qiyamah [75]: 36)

Kedua ayat ini dan yang sejenis dengannya menetapkan bahwa iman kepada hari kebangkitan, perhitungan amal, dan pembalasan merupakan bagian dari konsekuensi tauhid kepada Allah dalam sifat-sifat-Nya yang sempurna serta nama-nama-Nya yang indah (Asma'ul Husna). Maka rukun ini merupakan kelaziman dari rukun pertama di antara rukun-rukun iman, dan barangsiapa yang kufur kepadanya, ia tidaklah beriman kepada Allah Azza wa Jalla, karena hal itu melazimkan kekufurannya terhadap hikmah Tuhannya serta keadilan-Nya dalam ciptaan-Nya, sekaligus meniadakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di antara konsekuensi dari kekufuran ini adalah penghinaan manusia terhadap dirinya sendiri, dengan keyakinannya bahwa ia diciptakan secara sia-sia tanpa adanya hikmah yang mendalam. Serta menganggap bahwa keberadaannya di bumi dibatasi dan diikat oleh umur yang pendek yang dipenuhi dengan kesengajaan, kesedihan, musibah, kezaliman, kesewenang-wenangan, dan dosa, lalu ia dibiarkan begitu saja; sehingga orang yang zalim tidak dibalas atas kezalimannya, orang yang adil tidak dibalas atas keadilannya, orang yang berbuat perbaikan tidak dibalas atas perbaikannya, orang yang merusak tidak dibalas atas perusakannya , dan orang yang berbuat buruk tidak dibalas atas keburukannya. Maka iman kepada hari kebangkitan dan Hari Akhir inilah yang selayaknya bagi keagungan Allah, keadilan-Nya, serta hikmah-Nya, yang diputuskan oleh akal sehat serta ditenterami oleh fitrah yang lurus.

Rincian Iman kepada Hari Akhir

Jika iman kepada Hari Akhir termasuk rukun paling penting yang menjadi landasan iman, maka sesungguhnya ia tidak akan terwujud dan tidak akan menjadi sempurna melainkan dengan dua perkara: [Lihat: Al-Wahyu Al-Muhammadi hlm. 178-179, Mabadi' Al-Islam karya Al-Maududi hlm. 91, dan Al-Aqidah Al-Wasithiyyah hlm. 179-180.]

Pertama: Seorang hamba mengimani Hari Akhir secara garis besar (shuratan ijmaliyyatan), dan ini merupakan batas minimal untuk memenuhi rukun ini dari rukun-rukun iman.

Kedua: Mengimani segala apa yang dikabarkan oleh Rasulullah berupa perkara-perkara gaib yang terjadi setelah kematian. Kami akan menyebutkan di bawah ini perkara paling penting yang telah disebutkan dalam hadis-hadis yang sahih dan ayat-ayat yang mulia dari urusan-urusan tersebut:

1. Fitnah Kubur dan Pertanyaan Dua Malaikat:

Maka wajib bagi kita untuk mengimani apa yang dikabarkan oleh Rasulullah mengenai fitnah kubur dan pertanyaan dua malaikat kepada manusia tentang Tuhannya, agamanya, dan nabinya. Sungguh beliau Alaihis shalatu was salam telah mengabarkan dalam hadis-hadis yang sahih bahwa manusia akan diuji di dalam kubur mereka, lalu dikatakan kepada seorang hamba: "Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?"

Maka orang mukmin akan menjawab: "Tuhanku adalah Allah, Islam adalah agamaku, dan Muhammad adalah nabiku." Adapun orang yang ragu (al-murtab) akan berkata: "Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku pun mengatasinya (mengatakannya)," maka ia dipukul dan disiksa.

Di antara hadis-hadis yang turun mengenai hal tersebut adalah:

Hadis yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Asma' Radhiyallahu 'Anha bahwa Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَكُنْ أُرِيتُهُ إِلَّا رَأَيْتُهُ فِي مَقَامِي هَذَا ، حَتَّى الْجَنَّةَ وَالنَّارَ ، فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ مِثْلَ — أَوْ قَرِيبًا مِنْ — فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ، يُقَالُ : مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ ؟ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوِ الْمُوقِنُ فَيَقُولُ : هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ ، جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى ، فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا ، هوَ مُحَمَّدٌ — ثَلَاثًا — فَيُقَالُ لَهُ : نَمْ صَالِحًا ، قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ . وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوِ الْمُرْتَابُ فَيَقُولُ : لَا أَدْرِي ، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ

(“Tidak ada sesuatu pun yang belum pernah diperlihatkan kepadaku melainkan aku telah melihatnya di tempat berdiriku ini, hingga surga dan neraka. Lalu diwahyukan kepadaku bahwasanya kalian akan diuji di dalam kubur-kubur kalian seperti —atau mendekati— fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Dikatakan kepada kalian: 'Apa pengetahuanmu tentang laki-laki ini?' Adapun orang mukmin atau orang yang yakin, ia akan menjawab: 'Dia adalah Muhammad utusan Allah, dia datang kepada kami membawa bukti-bukti yang nyata dan petunjuk, maka kami pun menyambutnya dan mengikutinya, dialah Muhammad' —tiga kali—. Maka dikatakan kepadanya: 'Tidurlah dengan saleh (baik), sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau benar-benar meyakininya.' Adapun orang munafik atau orang yang ragu, ia akan berkata: 'Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku pun mengatakannya'.”) [Hadis ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari bersama Fathul Bari (Jilid 1, hlm. 148), dan merupakan hadis yang disepakati kesahihannya (Muttafaq 'Alaih) dengan lafaz milik Al-Bukhari]

Dan hadis yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ ، وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ ، إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ ، قَالَ : يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ ، فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ قَالَ : فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ ، قَالَ : فَيُقَالُ لَهُ : انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ ، قَالَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ : فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا

(“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan para sahabatnya telah berpaling meninggalkannya, ia benar-benar mendengar suara ketukan sandal-sandal mereka. Beliau bersabda: 'Dua malaikat mendatanginya lalu mendudukkannya, kemudian keduanya bertanya kepadanya: Apa yang dahulu engkau katakan tentang laki-laki ini?' Beliau bersabda: 'Adapun orang mukmin, ia akan menjawab: Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.' Beliau bersabda: 'Maka dikatakan kepadanya: Lihatlah tempat dudukmu di neraka, sungguh Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat duduk di surga.' Nabi Allah bersabda: 'Maka ia pun melihat keduanya sekaligus'.”)

Qatadah berkata: “Dan disebutkan kepada kami bahwasanya kuburnya akan dilapangkan sejauh tujuh puluh hasta dan dipenuhi dengan kesejukan (tanaman hijau) hingga hari mereka dibangkitkan. Adapun orang munafik dan kafir, dikatakan kepadanya: 'Apa yang dahulu engkau katakan tentang laki-laki ini?' Maka ia menjawab: 'Aku tidak tahu, aku dahulu mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang.' Maka dikatakan kepadanya: 'Engkau tidak tahu dan tidak mau membaca (mengikuti).' Lalu ia dipukul dengan palu dari besi dengan sekali pukulan, sehingga ia berteriak dengan teriakan yang dapat didengar oleh makhluk di sekitarnya kecuali jin dan manusia.” [Lihat: Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah karya Muhammad Khalil Harras, hlm. 129-130]

Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

(يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ) قَالَ: نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ، فَيُقَالُ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ﷺ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: (يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ(

Artinya: "(Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh) [Surah Ibrahim - Ayat 27.], beliau bersabda: Ayat ini turun mengenai azab kubur. Maka dikatakan kepadanya: 'Siapa Tuhanmu?' Lalu ia menjawab: 'Tuhanku adalah Allah dan Nabiku adalah Muhammad .' Maka itulah firman Allah 'Azza wa Jalla: 'Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat'." (HR. Bukhari dan Muslim, dan lafal ini milik Muslim) (Dan hadis ini Muttafaq 'Alaih dan lafalnya milik Muslim - Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 204 dan Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 2 hal. 181.).

Dan ada banyak hadis sahih lainnya yang menceritakan tentang penetapan adanya fitnah kubur [ujian/pertanyaan di dalam kubur] dan pertanyaan dua malaikat.

2 - Azab Kubur dan Nikmatnya:

Setelah fitnah kubur, kita wajib mengimani apa yang dikabarkan oleh Ash-Shadiq (orang yang jujur/Nabi Muhammad) 'alaihi ash-shalatu wa as-salam mengenai azab kubur dan nikmatnya. Dalil-dalil dari Al-Kitab (Al-Qur'an) dan As-Sunnah telah saling menguatkan dalam perkara ini. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!" (QS. Ghafir: 45-46)

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengancam Firaun dan pengikutnya dengan dua jenis azab:

  • Pertama: Apa yang Allah isyaratkan dalam firman-Nya: "Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang."
  • Kedua: Apa yang Allah isyaratkan dalam firman-Nya: "Dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!'"

Sebab azab yang kedua diathafkan [disambungkan dengan kata sambung] kepada azab yang pertama, dan athaf itu mengonsekuensikan adanya perbedaan antara ma'thuf (yang disambung) dan ma'thuf 'alaihi (yang disambungkan kepadanya). Maka, perkara yang diisyaratkan pertama kali haruslah berbeda dengan perkara yang kedua.

Oleh karena azab yang kedua terjadi setelah tegaknya hari Kiamat, maka azab yang pertama pastilah terjadi pada mereka di antara kematian dan hari kebangkitan (Nasyur), yaitu azab kubur (44).

Allah 'Azza wa Jalla juga mengisyaratkan adanya azab yang terjadi setelah kematian dalam firman-Nya:

"Alangkah ngerinya sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim berada dalam kejutan-kejutan sakaratulmaut, sedang para malaikat memukulkan tangan mereka (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu!" Pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang sangat menghinakan..." (QS. Al-An'am: 93)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengenai ayat ini, beliau berkata: "Ini terjadi ketika mati, dan al-basthu artinya pukulan, mereka memukul wajah-wajah mereka  dan punggung-punggung mereka." Ibnu Hajar berkata: "Hal ini dikuatkan oleh firman Allah Ta'ala dalam surah Al-Qital (Surah Muhammad): 'Maka bagaimanakah (nasib mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul wajah dan punggung mereka?' Kemudian beliau berkata: 'Ini, meskipun terjadi sebelum penguburan, termasuk dalam bagian azab yang terjadi sebelum hari Kiamat, dan azab tersebut disandarkan kepada kubur karena mayoritasnya terjadi di dalam kubur'." (Lihat Fathul Bari juz 3 hal. 180.).

Adapun hadis-hadis sahih yang menetapkan adanya azab kubur sangatlah banyak hingga mencapai derajat mutawatir. Imam An-Nawawi berkata dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim: "Ketahuilah bahwa mazhab Ahlussunnah menetapkan adanya azab kubur, dan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah telah saling menguatkan dalam hal ini. Allah Ta'ala berfirman: 'Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang', dan hadis-hadis sahih dari Nabi dari riwayat sekelompok sahabat di berbagai tempat juga menguatkannya. Secara akal, tidaklah mustahil bagi Allah Ta'ala untuk mengembalikan kehidupan pada sebagian jasad lalu mengazabnya . Apabila akal tidak menghalanginya dan syariat telah datang membawanya, maka wajib menerima dan meyakininya." (Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 17 hal. 200, 201.).

Imam Muslim telah mencantumkan banyak hadis dalam kitab Shahih-nya mengenai penetapan azab kubur, pendengaran Nabi terhadap orang yang sedang diazab di dalamnya, pendengaran orang mati terhadap ketukan sandal orang-orang yang menguburkannya, perkataan Nabi kepada para penghuni sumur (Badr) dan sabda beliau: "Kalian tidak lebih mendengar daripada mereka", kelapangan bagi mayit di dalam kuburnya jika ia termasuk orang-orang yang selamat, penampakan tempat duduknya di surga atau neraka kepadanya, dan hal-hal lainnya (Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 200 - 207.).

Di antara hadis yang ada dalam perkara ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Ketika Nabi berada di sebuah kebun milik Bani Najjar di atas bighal [peranakan kuda dan keledai] milik beliau, dan kami bersama beliau, tiba-tiba hewan itu berbelok hingga hampir menjatuhkan beliau. Ternyata di sana ada kuburan yang berjumlah enam, lima, atau empat kubur. Beliau bertanya: 'Siapa yang mengenali penghuni kubur-kubur ini?'

Seorang lelaki menjawab: 'Saya.' Beliau bertanya: 'Kapan mereka mati?'

Orang itu menjawab: 'Mereka mati dalam kemusyrikan.' Beliau bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا، فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ

Artinya: 'Sesungguhnya umat ini diuji di dalam kubur mereka. Sekiranya kalian tidak akan saling menguburkan, niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian azab kubur yang aku dengar'."

Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari azab neraka.' Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari azab neraka.'

Beliau bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari azab kubur.' Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari azab kubur.' Beliau bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari fitnah-fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.' Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.' Beliau bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari fitnah Dajjal.' Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal.' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 202.).

Di antaranya juga adalah apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim serta selain keduanya dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

Artinya: 'Sesungguhnya keduanya benar-benar sedang diazab, dan keduanya tidak diazab karena perkara yang besar (dalam pandangan mereka untuk ditinggalkan).' Kemudian beliau bersabda: 'Benar (perkara itu besar). Adapun salah satunya, dia dahulu berjalan melakukan namimah (adu domba), sedangkan yang satunya lagi, dia dahulu tidak menutup diri (tidak bersuci dengan baik) dari kencingnya'." (Muttafaq 'Alaih dan lafalnya milik Al-Bukhari - Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 3 hal. 188.).

Di antaranya juga apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكُ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: 'Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila mati, akan ditampakkan kepadanya tempat duduknya pada waktu pagi dan petang. Jika ia termasuk penduduk surga, maka (ditampakkan) sebagai penduduk surga, dan jika ia termasuk penduduk neraka, maka (ditampakkan) sebagai penduduk neraka. Lalu dikatakan kepadanya: Ini adalah tempat dudukmu sampai Allah membangkitkanmu pada hari Kiamat'." (Muttafaq 'Alaih - Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 203 dan Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 3 hal. 184)  

Adapun mengenai kaifiat [tata cara/hakikat bentuk] azab kubur dan nikmatnya, serta bagaimana kembalinya ruh kepada mayit, maka tidak boleh ada penambahan di dalamnya melebihi apa yang sahih dari Rasulullah . Pensyarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah berkata: "Telah mutawatir hadis-hadis dari Rasulullah mengenai tetapnya azab kubur dan nikmatnya bagi orang yang berhak mendapatkannya, serta pertanyaan dua malaikat. Maka wajib meyakini ketetapan hal tersebut dan mengimaninya, dan kita tidak membicarakan tentang kaifiatnya. Sebab akal tidak memiliki jangkauan untuk mengetahui kaifiatnya, karena ia tidak memiliki pengalaman yang serupa di alam dunia ini. Syariat tidak datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, akan tetapi ia terkadang membawa perkara yang membingungkan akal. Sesungguhnya kembalinya ruh ke jasad bukanlah dengan cara yang biasa di dunia, melainkan ruh dikembalikan kepadanya dengan pengembalian yang berbeda dari pengembalian yang biasa dikenal di dunia.

Ketahuilah bahwa azab kubur adalah azab barzakh. Setiap orang yang mati dalam keadaan berhak menerima azab, maka ia akan mendapatkan bagian azabnya, baik ia dikuburkan ataupun tidak dikuburkan. Seandainya ia dimakan oleh binatang buas, atau terbakar hingga menjadi abu lalu ditiup angin, atau disalib, atau tenggelam di laut, niscaya azab akan sampai kepada ruh dan badannya sebagaimana yang sampai kepada orang yang dikubur. Apa yang diriwayatkan mengenai mayit didudukkan, tulang rusuknya saling bersilangan, dan yang sejenisnya, wajib dipahami sesuai maksud Rasulullah tanpa bersikap ekstrem (ghuluw) maupun meremehkan (taqshir). Janganlah membebani perkataan beliau dengan apa yang tidak dikandungnya, dan jangan pula mengurangi maksud dan petunjuk serta penjelasan yang beliau kehendaki." (Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 451, 452.).

Ibnu Al-Qayyim berkata: "Mazhab salaf umat ini dan para imamnya adalah bahwa mayit apabila telah mati, ia berada dalam kenikmatan atau azab, dan hal itu terjadi pada ruh dan badannya . Ruh tetap ada setelah berpisah dari badan dalam keadaan diberi nikmat atau diazab, dan ia terkadang tersambung dengan badan sehingga badan merasakan nikmat atau azab bersama ruh. Kemudian, apabila hari Kiamat besar telah tiba, ruh-ruh akan dikembalikan ke jasad-jasadnya dan mereka bangkit dari kubur mereka menghadap Tuhan semesta alam. Kebangkitan jasad-jasad adalah perkara yang disepakati di antara kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani." (Al-Aqa'id Al-Islamiyyah Sayyid Sabiq hal. 237.).

3. Asyrat As-Sa'ah [Tanda-Tanda Kiamat]:

Kita wajib mengimani bahwa hari Kiamat pasti datang tanpa ada keraguan di dalamnya, dan waktu terjadinya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Allah menyembunyikannya dari seluruh manusia, termasuk para rasul dan nabi. Tidak ada jalan bagi seorang pun untuk mengetahui berapa sisa umur dunia ini. Allah Ta'ala berfirman:

"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, "Kapan terjadinya?" Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba." Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Al-A'raf: 187) (54).

Akan tetapi, kita wajib mengimani apa yang telah tetap dari Rasulullah mengenai tanda-tanda dan syarat-syaratnya.

Telah sahih dari Rasulullah bahwa beliau menyebutkan tanda-tanda kecil (tanda-tanda minor) untuk hari Kiamat, yang mayoritas berkisar pada kerusakan manusia di akhir zaman, munculnya fitnah di antara mereka, dan jauhnya mereka dari petunjuk Allah serta jalan para rasul, serta tanda-tanda besar (tanda-tanda maknor). Adapun mengenai tanda-tanda kecil, telah diriwayatkan sekumpulan hadis sahih, kami sebutkan di antaranya:

a - Apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari sabda Rasulullah :

«بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»

Artinya: 'Aku diutus, sedangkan jarak antara aku dan hari Kiamat adalah seperti dua jari ini.' Dan beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi - Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 293.). (56) Al-Aqa'id Al-Islamiyyah karya Sayyid Sabiq hal. 245, Fathul Bari juz 11 hal. 293.

Hal ini menunjukkan bahwa diutusnya Rasulullah dan ditutupnya kenabian serta kerasulan dengan beliau termasuk tanda dekatnya hari Kiamat. Di dalam hadis ini terdapat dalil bahwa tidak ada nabi lain antara Nabi dan hari Kiamat, sehingga Kiamat itu mengiringi beliau dan datang setelah beliau, dan ini merupakan kabar tentang dekatnya waktu terjadinya Kiamat.

b - Di dalam hadis Jibril, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah tentang hari Kiamat, maka beliau menjawab: "Tidaklah yang ditanya tentangnya lebih mengetahui daripada yang bertanya." Jibril berkata: "Maka kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya?" Beliau bersabda:

أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ

Artinya: 'Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, dan jika kamu melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing saling bermegah-megahan dalam mendirikan bangunan'  [Muttafaq 'Alaih - Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 1 hal. 99, 100 dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 1 hal. 158. Dan redaksi Al-Bukhari adalah: "An taleda al-amatu rabbaha." Mengenai makna bermegah-megah penggembala kambing dalam bangunan, Al-Qurthubi berkata: "Maksudnya adalah mengabarkan tentang perubahan keadaan di mana orang-orang pedalaman (badui) menguasai urusan pemerintahan dan memiliki wilayah dengan paksaan, lalu harta mereka melimpah dan fokus perhatian mereka beralih untuk meninggikan bangunan dan saling menyombongkannya, dan sungguh kami telah menyaksikan hal tersebut di zaman-zaman ini." Ditukil dari Al-Qurthubi oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juz 1 hal. 101.] [Ibnu Hajar berkata mengenai maknanya: "Bahwasanya durhaka kepada orang tua sangat banyak terjadi pada anak-anak, sehingga anak memperlakukan ibunya seperti perlakuan seorang majikan kepada budak wanitanya, berupa penghinaan dengan makian, pukulan, dan mempekerjakannya. Maka lafal 'rabbaha' (tuannya) dilekatkan secara majas (metafora) karena alasan tersebut. Atau yang dimaksud dengan 'Ar-Rabb' adalah pendidik/pemelihara, maka ini menjadi makna hakikinya, dan ini adalah pendapat yang paling kuat menurutku karena keumumannya... Dan kesimpulannya bahwa hari Kiamat sudah dekat terjadinya ketika perkara-perkara menjadi terbalik, di mana pendidik (orang tua) menjadi yang dididik, dan orang yang rendah posisinya menjadi tinggi, dan ini sesuai dengan sabda beliau pada tanda yang lain: 'Bahwa orang yang tidak beralas kaki menjadi raja-raja bumi'." (Lihat Fathul Bari juz 1 hal. 122).]

c - Al-Bukhari mengeluarkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda:

«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ يَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ، وَحَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلٌّ يَزْعَمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ، وَحَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ، وَحَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمُ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَهُ، وَحَتَّى يَعْرِضَهُ فَيَقُولَ الَّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ: لَا أَرَبَ لِي بِهِ، وَحَتَّى يَتَطَاوَلَ النَّاسُ فِي الْبُنْيَانِ، وَحَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ: يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ، وَحَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ آمَنُوا أَجْمَعُونَ، فَذَلِكَ حِينَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا...»

Artinya: 'Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga dua kelompok besar saling berperang, yang mana di antara keduanya terjadi pembunuhan yang besar padahal seruan keduanya sama. Dan hingga muncul para dajjal pendusta yang jumlahnya mendekati tiga puluh orang, semuanya mengaku bahwa dirinya adalah utusan Allah. Dan hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa bumi, waktu saling berdekatan (terasa singkat), fitnah-fitnah bermunculan, dan banyak al-harj yaitu pembunuhan. Dan hingga harta melimpah ruah di antara kalian sampai-sampai pemilik harta merasa bingung siapa yang mau menerima sedekah darinya, dan hingga ia menawarkannya lalu orang yang ditawari berkata: "Aku tidak butuh harta itu." Dan hingga manusia saling bermegah-megahan dalam membangun bangunan. Dan hingga seorang lelaki melewati kuburan orang lain lalu berkata: "Aduhai, seandainya aku berada di tempatnya." Dan hingga matahari terbit dari arah barat. Maka apabila ia telah terbit dan manusia melihatnya, mereka semua akan beriman. Pada hari itu tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau belum mengusahakan kebaikan dalam imannya...' (Ibnu Hajar berkata: "Maksudnya adalah kelompok Ali dan orang-orang yang bersamanya, serta kelompok Muawiyah dan orang-orang yang bersamanya." Fathul Bari juz 13 hal. 72.)

(60) Yakni bermunculan. (61) Dan contoh mereka adalah Al-Aswad Al-Ansi penguasa Sana'a, Musailamah Al-Kaddzab penguasa Yamamah, dan di antara yang mendaku nabi adalah Thulaihah bin Khuwailid, dan Sajah. Dua orang yang terakhir ini telah rujuk (bertaubat) dari dakwaannya. Dan di antara orang-orang kontemporer saat ini adalah para pendiri Qadianiyah (Ahmadiyyah) dan Bahaiyyah - Lihat Fathul Bari juz 12 hal. 73 dan Al-Aqa'id Al-Islamiyyah Sayyid Sabiq hal. 246. (62) Yakni wafatnya para ulama agama dan para dai yang menyeru kepada Allah 'Azza wa Jalla. (63) Yang dimaksud adalah dicabutnya keberkahan dari segala sesuatu bahkan dari waktu, sehingga satu tahun dalam keberkahannya dan pemanfaatannya terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti satu jumat (pekan), satu jumat seperti satu hari, dan satu hari seperti satu jam - Fathul Bari juz 13 hal. 12 dan Taysirul Wushul juz 4 hal. 91. (64) Ini termasuk tanda-tanda besar, sedangkan sisa tanda-tanda yang disebutkan di dalam hadis adalah tanda-tanda kecil.

... وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ نَشَرَ الرَّجُلَانِ ثَوْبَهُمَا بَيْنَهُمَا فَلَا يَتَبَايَعَانِهِ وَلَا يَطْوِيَانِهِ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدِ انْصَرَفَ الرَّجُلُ بِلَبَنِ لِقْحَتِهِ فَلَا يَطْعَمُهُ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَهُوَ يَلِيطُ حَوْضَهُ فَلَا يَسْقِي فِيهِ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ رَفَعَ أُكْلَتَهُ إِلَى فِيهِ فَلَا يَطْعَمُهَا

Artinya: '...Dan hari Kiamat benar-benar akan terjadi ketika dua orang sedang menggelar kain dagangan di antara keduanya, namun keduanya belum sempat berjual beli dan belum sempat melipatnya. Dan hari Kiamat benar-benar akan terjadi ketika seorang lelaki pulang membawa susu hasil perahan untanya [Al-Laqhah: adalah unta yang memiliki susu (menyusui).], namun ia belum sempat meminumnya. Dan hari Kiamat benar-benar akan terjadi ketika seseorang sedang memperbaiki kolam airnya [Yakni memperbaikinya dengan tanah liat.], namun ia belum sempat memberi minum (ternaknya) di kolam itu. Dan hari Kiamat benar-benar akan terjadi ketika seseorang telah mengangkat suapan makanannya ke mulutnya, namun ia belum sempat memakannya'." (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari - Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 13 hal. 70 - 76.)  

d - Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ، وَيَفْشُوَ الزِّنَا، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ، وَيَقِلَّ الرِّجَالُ حَتَّى لِكُونِ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ

Artinya: 'Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, maraknya perzinaan, diminumnya khamr, banyaknya wanita, dan sedikitnya lelaki, sampai-sampai bagi lima puluh wanita hanya ada satu orang lelaki yang mengurus mereka'." (Lihat: Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 279.)

e - Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah : "Kapan hari Kiamat?" Beliau bersabda:

إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ» قَالَ: وَكَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: «إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

Artinya: 'Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat.' Orang itu bertanya: 'Bagaimana cara menyia-nyiakannya?' Beliau menjawab: 'Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat'."

f - Dari Abu Hurairah juga, bahwa Nabi bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ، فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ، إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

Artinya: 'Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu kaum muslimin membunuh mereka sampai-sampai seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, kemudian batu atau pohon itu berkata: "Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia!" Kecuali pohon Gharqad, karena sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi'." (Dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani (Bukhari & Muslim) dan lafalnya milik Muslim - Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 44.)

Dan ada banyak hadis sahih lainnya yang menyebutkan tanda-tanda lain yang muncul sebelum tegaknya hari Kiamat, dan perkara itu dapat dirujuk di dalam kitab-kitab Shahih (Anda dapat menemukan hal tersebut di dalam Shahihain pada Kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah serta Kitab Ar-Riqaq dan di tempat-tempat terpisah lainnya.).

Adapun tanda-tanda besar, telah disebutkan dalam sebagian riwayat yang sahih dari Rasulullah yang menyebutkan sepuluh tanda di antaranya, yaitu seperti hadis Hudzaifah bin Asid Al-Ghifari, di mana ia berkata: "Nabi muncul menemui kami saat kami sedang saling mengingat (berdiskusi) . Beliau bertanya: 'Apa yang sedang kalian bicarakan?' Mereka menjawab: 'Kami sedang mengingat hari Kiamat.' Beliau bersabda:

«إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْا قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ» فَذَكَرَ الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

Artinya: 'Sesungguhnya Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian melihat sepuluh tanda sebelumnya.' Lalu beliau menyebutkan: Dukhan (asap), Dajjal, Dabbah (hewan melata), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam 'alaihi as-salam, Ya'juj dan Ma'juj, tiga khusuf (penenggelaman bumi): penenggelaman di timur, penenggelaman di barat, dan penenggelaman di jazirah Arab, dan akhir dari semua itu adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat mahsyar mereka." (Lihat: Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 27.)

Berikut di bawah ini kami jelaskan kepadamu tanda-tanda yang paling penting dan paling masyhur berdasarkan apa yang disebutkan oleh para ulama, khususnya para pensyarah hadis yang mulia:

a - Terbitnya Matahari dari Barat:

Tanda ini merupakan permulaan perubahan yang Allah lakukan terhadap tatanan alam semesta dalam kehidupan dunia, sebagai maklumat atas dekatnya waktu terjadinya hari Kiamat. Yang mana peristiwa tersebut dibarengi dengan perubahan total bagi tatanan alam semesta sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam banyak surah di Al-Qur'an al-Karim. Maka permulaan dari perubahan ini—sebagaimana yang terdapat dalam banyak hadis—adalah terbitnya matahari dari arah barat, berbeda dengan apa yang biasa terjadi yaitu terbit dari arah timur. Dzat yang telah menerbitkannya dari arah timur Maha Kuasa untuk mengubah jalurnya, sebab Dia adalah Penciptanya dan Pengatur urusannya.

Telah diriwayatkan dalam sebagian hadis sahih dari Rasulullah bahwa tanda ini merupakan tanda besar yang pertama kali muncul [Ibnu Hajar berkata mengenai urutan munculnya tanda-tanda besar hari Kiamat, teksnya berbunyi: "Maka yang kuat dari totalitas riwayat adalah bahwa keluarnya Dajjal merupakan tanda besar pertama yang mengabarkan perubahan kondisi umum di mayoritas bumi, dan itu diakhiri dengan wafatnya Isa bin Maryam. Dan bahwasanya terbitnya matahari dari barat adalah tanda besar pertama yang mengabarkan perubahan kondisi alam atas, dan itu berakhir dengan terjadinya hari Kiamat. Dan barangkali keluarnya Dabbah terjadi pada hari yang sama saat matahari terbit dari barat... Hikmah di dalam hal tersebut adalah bahwa ketika matahari terbit dari barat, pintu taubat telah ditutup, maka Dabbah keluar membawa tongkat Musa untuk memberi tanda pada orang kafir sebagai penyempurna dari maksud penutupan pintu taubat. Dan tanda pertama yang mengabarkan tegaknya hari Kiamat adalah api yang menggiring manusia dari timur ke barat." Fathul Bari juz 11 hal. 296, 297. Maka kesimpulan dari perkataan Ibnu Hajar adalah bahwa tanda-tanda besar ada tiga jenis: Yang mengabarkan perubahan keadaan umum di bumi, yang mengabarkan perubahan keadaan alam atas, dan yang mengabarkan tegaknya Kiamat. Dan yang dimaksud dengan keawalan terbitnya matahari dari barat yang terdapat dalam hadis Abdullah bin Umar adalah ia merupakan tanda pertama dari jenis yang kedua, yaitu jenis yang apabila telah muncul maka tertutuplah pintu taubat dan pintu keimanan.]. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Aas radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi bersabda:

«إِنَّ أَوَّلَ الْآيَاتِ خُرُوجًا طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحًى، وَأَيَّتُهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا فَالْأُخْرَى عَلَى أَثَرِهَا قَرِيبًا»

Artinya: 'Sesungguhnya tanda yang pertama kali keluar adalah terbitnya matahari dari arah baratnya, dan keluarnya Dabbah (hewan melata) kepada manusia pada waktu dhuha. Mana saja di antara keduanya yang mendahului temannya, maka yang satunya lagi akan menyusul setelahnya dalam waktu dekat'." (Dikeluarkan oleh Muslim dan Abu Dawud - Lihat Fathul Bari juz 11 hal. 297, Sunan Abi Dawud pada bab Amarat As-Sa'ah, Taysirul Wushul pada bab Asyrat Mutafarriqah, dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 77.)

Telah disebutkan dalam hadis Abu Hurairah terdahulu bahwa tanda ini apabila telah muncul dan manusia melihatnya, mereka semua akan beriman. Pada saat itulah tidak bermanfaat lagi iman seseorang jika ia belum beriman sebelum itu. Hal itu adalah apa yang diisyaratkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya:

"...Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebaikan terhadap imannya..." (QS. Al-An'am: 158).

Banyak ahli tafsir yang menyimpulkan maknanya: Arti ayat tersebut adalah bahwa orang kafir tidak bermanfaat imannya setelah terbitnya matahari dari barat, begitu pula orang yang bermaksiat tidak bermanfaat lagi taubatnya. Dan barang siapa yang belum beramal saleh sebelum itu, meskipun ia seorang mukmin, tidak bermanfaat lagi amalannya setelah terbitnya matahari dari barat (Fathul Bari juz 11 hal. 297.).

b - Keluarnya Dabbah [Hewan Melata]:

Tanda ini telah diisyaratkan oleh Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an di mana Dia yang Maha Perkasa berfirman:

"Apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran) telah pasti atas mereka, Kami mengeluarkan seekor binatang bergerak dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak yakin pada ayat-ayat Kami." (QS. An-Naml: 82)

Penyebutan tentang keluarnya Dabbah telah ada di dalam banyak hadis yang sebagiannya sahih, dan sebagiannya telah disebutkan di depan. Tidak ada satu pun deskripsi fisik yang sahih dari khabar-khabar tersebut mengenai bentuk Dabbah ini yang dikeluarkan oleh Allah 'Azza wa Jalla menjelang hari Kiamat. Apa yang disebutkan mengenai sifat-sifat fisiknya di sebagian buku, berasal dari riwayat-riwayat yang tidak mencapai derajat sahih. Seorang mukmin tidak perlu menyibukkan diri untuk mengetahui sifat-sifat fisik tersebut, cukuplah baginya berhenti pada teks Al-Qur'an dan hadis sahih yang memberikan faidah bahwa keluarnya Dabbah termasuk tanda Kiamat. Dan bahwasanya apabila ajal penenerimaan taubat telah berakhir, dan ketetapan azab telah pasti atas orang-orang yang tersisa, maka tidak diterima lagi taubat dari mereka setelah itu, melainkan mereka diputuskan berdasarkan keadaan mereka saat itu. Pada saat itulah Allah mengeluarkan Dabbah untuk berbicara kepada mereka serta memberikan tanda pembeda atas orang mukmin dan atas orang kafir. Jika manusia biasanya tidak mengenal adanya hewan yang berbicara, maka Sang Pencipta yang Maha Kuasa mampu membuat hewan tersebut berbicara, sehingga manusia memahaminya dan mereka mengetahui bahwa hewan itu adalah tanda luar biasa yang mengabarkan terjadinya Kiamat atau dekatnya Kiamat. Padahal mereka sebelum itu tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan tidak membenarkan adanya hari Kiamat (Fi Zhilalil Qur'an - Jilid 6 hal. 308.).

c - Munculnya Dajjal:

Dajjal secara bahasa berarti pendusta yang sangat parah kedustaannya. Kata Ad-Dajl dalam bahasa Arab bermakna menutupi (at-taghthiyah). Pendusta dinamakan dajjal karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilannya. Termasuk tanda Kiamat besar adalah munculnya seseorang yang dinamakan oleh Rasulullah dengan sebutan Dajjal karena banyaknya tipu daya dan kedustaannya. Ia mengaku memiliki uluhiyyah (ketuhanan) dan mencoba memfitnah [menguji] manusia agar keluar dari agama mereka dengan bantuan perkara-perkara luar biasa (khariqul 'adah) dan hal-hal ajaib yang diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala terjadi melaluinya. Maka sebagian manusia terfitnah karenanya, namun Allah meneguhkan orang-orang yang beriman sehingga mereka tidak tertipu oleh kedustaan dan kesesatannya. Kemudian Allah mengizinkan berakhirnya fitnah tersebut, lalu Isa 'Alaihissalam turun kemudian membunuhnya.

Disebutkan dalam Syarah An-Nawawi atas Shahih Muslim: "Hadis-hadis yang disebutkan oleh Muslim dan selainnya mengenai kisah Dajjal adalah hujah bagi mazhab Ahlul Haq (Ahlussunnah) dalam benarnya eksistensi Dajjal, dan bahwasanya ia adalah

seorang person (manusia) tertentu, yang Allah jadikan sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya . Allah memberikan kemampuan kepadanya untuk melakukan beberapa hal yang berada dalam lingkup takdir Allah, seperti menghidupkan orang mati yang telah ia bunuh, munculnya kesenangan dunia dan kesuburan bersamanya, adanya surga dan neraka miliknya, dua sungainya, mengikutinya perbendaharaan kekayaan bumi, perintahnya kepada langit untuk menurunkan hujan lalu hujan pun turun, dan kepada bumi untuk menumbuhkan tanaman lalu tanaman pun tumbuh. Semua itu terjadi dengan takdir Allah Ta'ala dan kehendak-Nya. Kemudian setelah itu Allah menjadikannya lemah sehingga ia tidak mampu lagi membunuh lelaki tersebut maupun orang lainnya, lalu urusannya menjadi batil dan ia dibunuh oleh Isa . Allah meneguhkan orang-orang yang beriman. Ini adalah mazhab Ahlussunnah, seluruh ahli hadis, ahli fikih, dan ahli kalam, berbeda dengan orang yang mengingkarinya dan membatalkan urusannya dari golongan Khawarij, Jahmiyyah, dan sebagian Mu'tazilah. Serta berbeda dengan orang yang mengklaim bahwa ia benar eksistensinya namun apa yang ia bawa hanyalah tipuan mata dan khayalan yang tidak ada hakikatnya, mereka mengklaim bahwa seandainya hal itu nyata, niscaya tidak akan ada kepercayaan lagi terhadap mukjizat para nabi shalawatullahi wa salamuhu 'alaihim .

Ini adalah kesalahan dari mereka semua, karena Dajjal tidak mendakwakan kenabian sehingga apa yang bersamanya menjadi pembenaran baginya. Ia hanyalah mendakwakan ketuhanan, padahal dalam dakwaannya tersebut keadaan dirinya sendiri telah mendustakannya, dengan adanya tanda-tanda kebaharuan makhluk (huduts) pada dirinya, kekurangan bentuk fisiknya, ketidakmampuannya untuk menghilangkan cacat (picing) yang ada pada matanya, serta ketidakmampuannya menghapus tanda kekafirannya yang tertulis di antara kedua matanya. Karena dalil-dalil ini dan yang lainnya, tidak ada yang tertipu olehnya kecuali orang-orang rendahan di antara manusia demi memenuhi kebutuhan dan kefakiran mereka untuk sekadar bertahan hidup, atau karena taqiyyah (mencari selamat) dan takut akan bahayanya, sebab fitnahnya sangat besar yang mengejutkan akal dan membingungkan pikiran ditambah lagi dengan kecepatannya dalam bergerak di bumi, sehingga orang-orang yang lemah tidak sempat merenungkan keadaan dirinya serta tanda-tanda kekurangan dan kebaharuan makhluk pada dirinya, lalu orang yang mempercayainya menjadi percaya dalam kondisi tersebut (Lihat Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 18 hal. 58, 59.).

Oleh karena itu, para nabi shalawatullahi wa salamuhu 'alaihim ajma'in memperingatkan dari fitnahnya, dan mereka mengingatkan atas kekurangannya serta dalil-dalil kebatilannya. Adapun orang-orang yang mendapatkan taufik, mereka tidak akan tertipu olehnya dan tidak teperdaya dengan apa yang bersamanya, dikarenakan dalil-dalil yang mendustakannya sebagaimana yang telah kami sebutkan beserta ilmu yang telah mereka miliki sebelumnya mengenai keadaannya." (Lihat Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 18 hal. 58, 59.).

Telah diriwayatkan sekumpulan hadis sahih mengenai penyebutan Dajjal, kami sebutkan di antaranya:

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah berdiri di hadapan manusia, lalu beliau memuji Allah dengan pujian yang menjadi hak-Nya, kemudian beliau menyebutkan tentang Dajjal, beliau bersabda:

إِنِّي لَأُنْذِرُكُمُوهُ، وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ، وَلَكِنِّي سَأَقُولُ لَكُمْ فِيهِ قَوْلًا لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ: إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ

Artinya: 'Sesungguhnya aku memperingatkan kalian darinya. Tidak ada seorang nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan mengatakan kepada kalian sebuah perkataan yang belum pernah dikatakan oleh seorang nabi pun kepada kaumnya: Sesungguhnya ia bermata juling (cacat sebelah) sedangkan Allah tidaklah bermata juling'." (Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 13 hal. 80 dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 59.)

Diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah bahwasanya beliau bersabda:

«لَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا مَعَ الدَّجَّالِ مِنْهُ: مَعَهُ نَهْرَانِ يَجْرِيَانِ، أَحَدُهُمَا رَأْيَ الْعَيْنِ مَاءٌ أَبْيَضُ، وَالْآخَرُ رَأْيَ الْعَيْنِ نَارٌ تَأَجَّجُ، فَإِمَّا أَدْرَكَنَّ أَحَدٌ فَلْيَأْتِ النَّهْرَ الَّذِي يَرَاهُ نَارًا، وَلْيُغَمِّضْ ثُمَّ لْيُطَأْطِئْ رَأْسَهُ فَيَشْرَبَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مَاءٌ بَارِدٌ، وَإِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ، عَلَيْهَا ظَفَرَةٌ غَلِيظَةٌ، مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ، يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ»

'Sungguh aku lebih mengetahui apa yang ada bersama Dajjal daripada dia sendiri: Bersamanya ada dua sungai yang mengalir, salah satunya sejauh pandangan mata berupa air putih, dan yang satunya lagi sejauh pandangan mata berupa api yang berkobar. Jika salah seorang dari kalian menjumpainya, maka datangilah sungai yang ia lihat berupa api, pejamkanlah mata lalu tundukkanlah kepalanya kemudian minumlah darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin. Dan sesungguhnya Dajjal itu terhapus matanya (buta sebelah), di atasnya ada selaput tebal [Dengan fathah pada huruf Zha' dan Fa' (Zhafarah), yaitu lapisan kulit yang menutupi pandangan mata, atau daging yang tumbuh di sudut mata dekat hidung.], tertulis di antara kedua matanya "Kafir", yang dapat dibaca oleh setiap mukmin, baik yang bisa menulis maupun yang tidak bisa menulis'." (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 91)

Dari An-Nawwas bin Sam'an, ia berkata: "Rasulullah menyebutkan tentang Dajjal pada suatu pagi, beliau merendahkan dan meninggikan suaranya (dalam menjelaskan fitnahnya) hingga kami mengira Dajjal itu berada di sekelompok pohon kurma. Ketika kami mendatangi beliau, beliau mengetahui hal itu pada diri kami, lalu beliau bertanya: 'Ada apa dengan kalian?'

Kami menjawab: 'Wahai Rasulullah, engkau menyebutkan Dajjal pagi tadi, engkau merendahkan dan meninggikan suara hingga kami mengira ia berada di sekelompok pohon kurma.' Beliau bersabda:

غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَيْكُمْ، إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ، وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيجُ نَفْسِهِ، وَاللَّهُ خَلِيفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ: إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِئَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ، فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ، إِنَّهُ خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّامِ وَالْعِرَاقِ، فَعَاثَ يَمِينًا وَعَاثَ شِمَالًا، يَا عِبَادَ اللَّهِ فَاثْبُتُوا

Artinya: 'Bukan Dajjal yang paling aku takuti atas kalian. Jika ia keluar sedangkan aku berada di antara kalian, maka akulah yang akan menghadapinya (berhujah melawannya) demi melindungi kalian. Dan jika ia keluar sedangkan aku tidak berada di antara kalian, maka setiap orang menjadi pembela bagi dirinya sendiri, dan Allah adalah penggantiku dalam menjaga setiap muslim. Sesungguhnya ia adalah pemuda berambut sangat keriting, matanya menonjol pecah, seakan-akan aku menyamakannya dengan Abdul Uzza bin Qathan. Maka barang siapa di antara kalian yang menjumpainya, bacakanlah atasnya ayat-ayat pembuka surah Al-Kahfi. Sesungguhnya ia keluar dari jalan di antara Syam dan Irak (Ia akan muncul di suatu tempat antara Syam dan Irak), lalu ia membuat kerusakan ke kanan dan membuat kerusakan ke kiri. Wahai hamba-hamba Allah, teguhkanlah iman kalian!'

Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, berapa lama ia tinggal di bumi?'

Beliau menjawab: 'Empat puluh hari: satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu jumat (satu pekan), dan sisa hari-harinya adalah seperti hari-hari kalian.' Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, pada hari yang seperti satu tahun itu, apakah cukup bagi kami shalat satu hari?'

Beliau menjawab: 'Tidak, ukurlah kadar waktunya.' Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi?'

Beliau menjawab: 'Bagaikan hujan yang ditiup angin. Ia mendatangi suatu kaum lalu menyeru mereka, mereka pun beriman kepadanya dan memenuhi seruannya. Ia memerintahkan langit lalu langit menurunkan hujan, dan memerintahkan bumi lalu bumi menumbuhkan tanaman, hingga hewan ternak mereka pulang pada sore hari dalam keadaan punuknya paling panjang [Adz-Dzura dengan dhummah pada huruf Dzal bermakna bagian atas dan punuk-punuk unta], teteknya paling penuh berisi susu, dan lambungnya paling berisi penuh (karena kenyang) [Amaddahu khawashir: Yakni karena sangat penuhnya perut lantaran kenyang]. Kemudian ia mendatangi kaum yang lain lalu menyeru mereka, namun mereka menolak perkataannya, maka ia berpaling dari mereka, lalu mereka menjadi paceklik dan tidak ada sedikit pun harta yang tersisa di tangan mereka. Ia melewati reruntuhan tanah lalu berkata kepadanya: "Keluarkanlah perbendaharaan kekayaanmu!" Maka kekayaan tanah tersebut mengikutinya bagaikan kelompok lebah jantan [Yakni seperti kumpulan lebah, dan Ya'asib adalah lebah jantan]. Kemudian ia memanggil seorang pemuda yang penuh dengan masa mudanya, lalu ia memukulnya dengan pedang hingga memotongnya menjadi dua bagian [potong] sejauh jarak lemparan panah [Yakni ia menjadikan jarak di antara dua potongan tubuh tersebut sejauh jarak lemparan anak panah ke sasaran]. Kemudian ia memanggilnya kembali, lalu pemuda itu datang dalam keadaan wajahnya berseri-seri sambil tertawa. Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah mengutus

Al-Masih putra Maryam, lalu beliau turun di menara putih sebelah timur Damaskus di antara dua lembar pakaian yang dicelup (mahruudatain) seraya meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Apabila beliau menundukkan kepalanya, maka air menetes, dan apabila beliau mengangkatnya, maka berjatuhanlah butiran-butiran air bagaikan mutiara. Maka tidaklah halal (tidak mungkin) bagi orang kafir yang mendapati embusan napasnya melainkan ia pasti mati , dan embusan napasnya berakhir sejauh pandangan matanya. Lalu beliau mencari Dajjal hingga menemukannya di pintu Ludd, kemudian beliau membunuhnya. (Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 12 dan setelahnya.)

Hadis-hadis ini dan hadis selainnya merupakan hujah (dalil) bagi mazhab Ahlussunnah mengenai kewajiban meyakini munculnya Dajjal sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah , sifat-sifat yang beliau sebutkan tentangnya, serta akhir dari urusannya. Dan bahwasanya peristiwa tersebut termasuk tanda-tanda besar bagi tegaknya hari Kiamat.

Jika ada yang bertanya: Bagaimana mungkin Allah memberlakukan tanda-tanda yang luar biasa melalui tangannya, padahal mukjizat itu tidaklah ada kecuali bagi para nabi?. Maka Al-Khaththabi telah memberikan jawaban atas pertanyaan ini: "Jawabannya adalah bahwa hal itu terjadi sebagai bentuk fitnah (ujian) bagi para hamba. Sebab, di sisi mereka sudah ada perkara yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembatal (kebatilan) yang tidak benar dalam dakwaannya, yaitu bahwasanya ia bermata juling (cacat sebelah), dan tertulis di dahinya kata 'Kafir' yang dapat dibaca oleh setiap muslim. Maka dakwaannya gugur bersamaan dengan adanya tanda kekafiran serta kekurangan pada fisik dan kedudukannya. Seandainya ia adalah tuhan, niscaya ia akan menghilangkan cacat tersebut dari wajahnya. Sementara itu, mukjizat para nabi selamat dari penentangan (cacat serupa), sehingga keduanya tidaklah serupa.".[Ditukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juz 12 hal. 89.] Ibnu Hajar berkata: "Di dalam diri Dajjal, di samping hal itu, terdapat dalil yang nyata bagi orang yang berakal tentang kedustaannya. Karena ia adalah makhluk yang tersusun dari bagian-bagian tubuh, dan pengaruh buatan makhluk sangat tampak jelas pada dirinya, disertai penampakan cacat padanya berupa kejulingan kedua matanya . Maka apabila ia menyeru manusia bahwa ia adalah Tuhan mereka, kondisi paling buruk bagi orang berakal yang melihatnya adalah ia mengetahui bahwa ia tidak mampu menyamai penciptaan makhluk lain, tidak mampu menyeimbangkan dan membaguskannya, serta tidak mampu menolak kekurangan dari dirinya sendiri. Maka minimal perkara yang wajib ia katakan adalah: 'Wahai orang yang mengklaim dirinya sebagai pencipta langit dan bumi, bentuklah dirimu sendiri dan seimbangkanlah ia, serta hilangkanlah cacat picing ini darinya. Jika engkau mengklaim bahwa Tuhan tidak mengadakan perubahan pada diri-Nya, maka hapuslah apa yang tertulis di antara kedua matamu!'". [Merujuk pada rujukan yang sama sebelumnya.]

d - Turunnya Nabi Isa 'Alaihissalam

As-Sunnah telah menunjukkan, dan umat telah bersepakat (ijmak) bahwa Isa 'Alaihissalam akan turun di akhir zaman menjelang hari Kiamat, yaitu di sela-sela keberadaan Dajjal, lalu beliau membunuhnya, memimpin dengan syariat Islam, dan menghidupkan kembali urusan syariat yang telah ditinggalkan oleh manusia. Kemudian beliau tinggal di bumi selama waktu yang dikehendaki Allah untuk tinggal, lalu beliau wafat, dishalatkan oleh kaum muslimin, dan dimakamkan. Mengenai hal tersebut telah ada banyak hadis sahih, yang sebagiannya telah disebutkan terdahulu. Maka wajib bagi setiap muslim untuk membenarkannya, dan meyakini apa yang dikabarkan oleh Kitab Tuhan kita, bahwasanya Isa 'Alaihissalam tidaklah dibunuh oleh orang-orang Yahudi, melainkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya, dan ia tidak akan wafat hingga ia turun sebelum tegaknya hari Kiamat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

"dan (Kami hukum juga mereka) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang hal itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti dia (Isa) akan menjadi saksi terhadap mereka." (QS. An-Nisa': 157-159)

Maka perhatikanlah firman Allah Ta'ala: "padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.". Dan dalam tafsir firman-Nya Ta'ala: "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya," Ibnu Katsir berkata: "Ibnu Jarir berkata: Pendapat yang paling utama untuk dinilai sahih dari perkataan-perkataan yang ada adalah pendapat yang pertama, yaitu bahwasanya tidak tersisa seorang pun dari Ahli Kitab setelah turunnya Isa 'Alaihissalam melainkan ia akan beriman kepadanya sebelum wafatnya Isa 'Alaihissalam. Dan tidak ada keraguan bahwa apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini adalah yang sahih, karena itulah yang dimaksudkan dari konteks ayat dalam menetapkan kebatilan klaim Yahudi tentang pembunuhan Isa dan penyaliban-nya, serta kepasrahan orang-orang yang pasrah dari kalangan Nasrani yang bodoh terhadap hal tersebut. Maka Allah mengabarkan bahwasanya urusannya tidaklah demikian, melainkan diserupakan bagi mereka, lalu mereka membunuh orang yang diserupakan tersebut dalam keadaan mereka tidak mengetahuinya secara jelas . Kemudian Allah mengangkatnya kepada-Nya, dan ia berada dalam kondisi tetap hidup, dan ia akan turun sebelum hari Kiamat sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis-hadis mutawatir ... Ia akan membunuh Al-Masih kesesatan (Dajjal), menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah (pajak). Maka ayat yang mulia ini mengabarkan bahwa seluruh Ahli Kitab akan beriman kepadanya saat itu, dan tidak ada satu pun yang tertinggal untuk membenarkannya..." (Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal. 577.).

Di antara hadis-hadis yang ada dalam penyebutan turunnya Isa 'Alaihissalam adalah apa yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Artinya: 'Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil, lalu ia akan menghancurkan salib [Yang dimaksud dengan beliau menghancurkannya adalah menghancurkannya secara hakiki, dan membatalkan apa yang diklaim oleh orang Nasrani berupa pengagungan terhadap salib. Dan dikatakan: Bahwa maksud dari menghancurkannya adalah menampakkan kedustaan Nasrani di mana mereka mengklaim bahwa orang Yahudi telah menyalib Isa 'Alaihissalam di atas kayu - Lihat Ad-Din Al-Khalis juz 1 hal. 92.], membunuh babi, menghapuskan jizyah [Maksud dari menghapuskan jizyah: Bahwasanya Isa 'Alaihissalam menggugurkannya dari Ahli Kitab, maka tidak diterima dari mereka kecuali Islam. Dan makna hal itu bukanlah Isa 'Alaihissalam menghapus suatu hukum dari syariat Islam, melainkan hadis ini menunjukkan bahwa penerimaan jizyah di dalam syariat Islam telah berakhir dengan turunnya Nabi Isa 'Alaihissalam - Rujukan yang sama juz 1 hal. 93.], dan harta akan melimpah ruah [Yaitu harta menjadi banyak disebabkan oleh apa yang disebarkan oleh Isa 'Alaihissalam berupa keadilan di antara manusia.] hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya [Maksudnya adalah keinginan manusia berkurang dalam mengumpulkan harta karena pendeknya angan-angan mereka dan pengetahuan mereka tentang dekatnya waktu terjadinya Kiamat, serta besarnya keinginan mereka dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla.], sampai-sampai sekali sujud lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya'." (Muttafaq 'Alaih.) . Dan hadis-hadis dalam perkara ini sangat banyak lagi sahih [Lihat: Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 7 hal. 302, cetakan Al-Bab Al-Halabi, Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 2 hal. 189, Shahih At-Tirmidzi juz 9 hal. 76, Sunan Ibnu Majah jilid kedua Kitab Al-Fitan cetakan Isa Al-Bab Al-Halabi, dan Al-Fath Ar-Rabbani juz 2 hal. 143 cetakan pertama.].

Al-Qadhi 'Iyadh berkata: "Turunnya Isa 'Alaihissalam dan pembunuhannya terhadap Dajjal adalah perkara yang hak dan sahih menurut madhab Ahlussunnah karena adanya hadis-hadis sahih dalam hal tersebut . Tidak ada di dalam akal dan tidak pula di dalam syariat perkara yang membatalkannya, sehingga wajib menetapkannya. Sebagian Mu'tazilah dan orang-orang yang sepaham dengan mereka mengingkari hal tersebut, dan mereka mengklaim bahwa hadis-hadis itu tertolak oleh firman Allah Ta'ala: '(dan dia adalah) penutup para nabi,' dan oleh sabda Nabi : 'Tidak ada nabi setelahku,' serta oleh ijmak kaum muslimin bahwasanya tidak ada nabi setelah nabi kita , dan bahwa syariatnya abadi sampai hari Kiamat tidak akan dihapus (dinasakh). Ini adalah pendalilan yang rusak (fasid), karena yang dimaksud dengan turunnya Isa 'Alaihissalam bukanlah ia turun sebagai nabi membawa syariat yang menghapus syariat kita. Tidak ada di dalam hadis-hadis ini dan tidak pula di dalam selainnya perkara yang menunjukkan hal itu , melainkan hadis-hadis ini telah menjelaskan dengan gamblang bahwasanya ia turun sebagai hakim yang adil, yang menghukum dengan syariat kita, dan menghidupkan kembali perkara-perkara dari syariat kita yang telah ditinggalkan oleh manusia [Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim - 18 hal. 75, 76.]."

e- Munculnya Ya'juj dan Ma'juj:

Penyebutan tentang tanda ini telah ada di dalam Al-Qur'an al-Karim. Allah Ta'ala berfirman:

"Kemudian, dia menempuh suatu jalan (yang lain). Hingga ketika sampai di antara dua gunung, dia mendapati di belakang kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan. Mereka berkata, “Wahai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj adalah (kaum) pembuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami memberimu suatu imbalan agar engkau membuatkan dinding penyekat antara kami dan mereka?” Dia (Dzulkarnain) berkata, “Apa yang telah dianugerahkan Tuhanku kepadaku lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan agar aku dapat membuatkan dinding penyekat antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan besi) itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua puncak gunung itu, dia berkata, “Blatlah (apinya)!” Hingga ketika dia menjadikannya (besi itu) membara (seperti api), dia pun berkata, “Berilah aku tembaga cair agar kutuangkan ke atasnya.” Maka, mereka (Ya'juj dan Ma'juj) tidak mampu mendakinya dan tidak mampu (pula) melubanginya. Dia (Dzulkarnain) berkata, “(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku telah datang, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.”" (QS. Al-Kahf: 92-98)

Dan Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Hingga apabila (pintu) Ya'juj dan Ma'juj dibuka dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi, dan (apabila) janji yang benar (hari Kiamat) telah dekat, tiba-tiba mata orang-orang yang kafir terbelalak. (Mereka berkata,) “Aduhai, celakalah kami! Sesungguhnya kami benar-benar kelalaian tentang hal ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.”" (QS. Al-Anbiya': 96-97)

Di antara hadis-hadis sahih yang datang menyebutkan tentang mereka adalah apa yang dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha, bahwasanya Rasulullah masuk menemuinya pada suatu hari dalam keadaan terkejut seraya berkata:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ» وَحَلَّقَ بِأُصْبُعَيْهِ: الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا

Artinya: 'Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, celakalah bagi orang Arab karena keburukan yang telah dekat. Hari ini telah dibuka dari dinding penyekat Ya'juj dan Ma'juj seperti ini,' dan beliau membuat lingkaran dengan kedua jarinya: ibu jari dan jari yang di sebelahnya (jari telunjuk).

Zainab binti Jahsy bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa padahal di tengah-tengah kami ada orang-orang yang saleh?". Beliau menjawab:

«نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ»

'Ya, apabila kemaksiatan/kejahatan telah merajalela' (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 13 hal. 91 dan setelahnya, Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 18.).

Di antaranya juga adalah apa yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dan selainnya dari hadis An-Nawwas bin Sam'an yang telah disebutkan terdahulu, yang di dalamnya terdapat kabar tentang Dajjal, turunnya Isa, dan penyebutan Ya'juj dan Ma'juj, di mana Rasulullah bersabda:

وَيَبْعَثُ اللَّهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ، فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا، وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ: لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ

Artinya: 'Dan Allah akan membangkitkan Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Maka bagian awal dari mereka melewati Danau Thabariyah lalu meminum seluruh air yang ada di dalamnya, dan bagian akhir dari mereka melewatinya seraya berkata: Sungguh dahulu di tempat ini pernah ada air' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 18.).

Dan ada banyak hadis sahih lainnya yang menyebutkan tentang Ya'juj dan Ma'juj. Totalitas teks yang ada mengenai penyebutan mereka memberikan pengetahuan yang meyakinkan (ilmu yaqini) akan munculnya umat perusak ini di akhir umur dunia ini. Oleh karena itu, seorang mukmin wajib membenarkan apa yang disebutkan di dalam Al-Qur'an dan kabar yang sahih mengenai urusan mereka. Adapun penentuan waktu munculnya umat ini serta rincian yang berkaitan dengan bentuk fisik, sifat-sifat, dan tempat keberadaan mereka sebelum mereka muncul, maka semua itu termasuk perkara gaib yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Ta'ala.

4- Permulaan Hari Akhir:

Kita wajib mengimani setelah itu apa yang dikabarkan oleh Allah 'Azza wa Jalla di dalam Kitab-Nya yang Mulia, terkhusus di dalam surah At-Takwir dan Al-Infithar, mengenai segala hal yang terjadi pada hari terakhir dari hari-hari dunia, dan permulaan bagi hari Akhir. Sesungguhnya kumpulan ayat-ayat yang mulia menunjukkan bahwa hari Akhir dimulai dengan terjadinya perubahan umum pada alam semesta ini, maka langit terbelah, bintang-bintang berjatuhan, planet-planet saling bertabrakan, bumi hancur lebur dan menjadi tanah yang tandus lagi rata, gunung-gunung menjadi tumpukan pasir yang berterbangan, segala sesuatu rusak, dan dihancurkanlah segala apa yang dikenal manusia di dalam wujud ini. Allah Ta'ala berfirman:

"(Yaitu) pada hari (kesudahan dunia) ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa." (QS. Ibrahim: 48)

Peristiwa ini terjadi setelah adanya tiupan yang pertama , yang ditiup oleh Malaikat Israfil atas perintah Tuhannya, maka matilah seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala (Lihat Fathul Bari juz 11 hal. 313.). Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Sangkakala pun ditiup, maka matilah siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian, ia ditiup sekali lagi, maka seketika itu mereka berdiri menunggu (putusan Tuhannya)." (QS. Az-Zumar: 68)

Dan Dia berfirman:

"Maka, apabila sangkakala ditiup sekali tiupan, bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan sekali benturan, pada hari itulah terjadi kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh." (QS. Al-Haqqah: 13-16)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi bahwasanya beliau bersabda:

«يَقْبِضُ اللَّهُ الْأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ»

Artinya: 'Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia berfirman: Akulah Raja, di manakah para raja bumi?' (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 313.) .

5 - Al-Ba'ats [Kebangkitan]:

Kita mengimani setelah itu bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk dilakukan tiupan yang kedua [Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengisyaratkan adanya tiupan pertama dan kedua di dalam firman-Nya 'Azza wa Jalla: "(Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncang alam, (tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua." Maka ar-rajifah adalah tiupan pertama dan ar-radifah adalah tiupan kedua, begitulah yang datang dari tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma - Lihat: Shahih Al-Bukhari wa Fathul Bari juz 11 hal. 310, 311.] , maka kembalilah kehidupan kepada orang-orang mati setelah adanya tiupan tersebut. Inilah yang dinamakan hari Kebangkitan (yaumul ba'ats), yaitu mengembalikan manusia dalam bentuk ruh dan jasad sebagaimana keberadaan mereka dahulu di dunia. Dan tidaklah Allah mengeluarkan manusia dari kubur dalam keadaan hidup melainkan orang-orang kafir dan munafik saat itu berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Dan orang-orang mukmin berkata: "Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul (Nyan)" (Surah Yasin - Ayat 52.) .

Telah ada di dalam hadis-hadis sahih bahwasanya Muhammad adalah orang yang pertama kali keluar dari kuburnya (Surah Yasin - Ayat 52.). Allah [Nabi ] telah bersabda:

يُصْعَقُ النَّاسُ حِينَ يُصْعَقُونَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ قَامَ فَإِذَا مُوسَى آخِذٌ بِالْعَرْشِ فَمَا أَدْرِي أَكَانَ فِيمَنْ صَعِقَ

Artinya: 'Manusia pingsan (mati) ketika mereka dipingsankan, maka akulah orang yang pertama kali bangkit. Tiba-tiba Musa telah memegang erat tiang Arsy, maka aku tidak tahu apakah ia termasuk orang yang pingsan' (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 312.) .

6 - Al-Hasyr [Pengumpulan]:

Kita mengimani bahwasanya akan terjadi pengumpulan (Al-Hasyr) setelah dibangkitkannya para makhluk dan dikeluarkannya mereka dari kubur-kubur mereka. Allah Ta'ala berfirman:

"(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada (Allah) Yang Maha Pengasih bagaikan delegasi yang terhormat, dan Kami akan menggiring orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga." (QS. Maryam: 85-86)

Al-Hasyr adalah menggiring mereka semua ke tempat perhentian (Al-Mauqif), yaitu tempat yang mereka tempati untuk berdiri guna menanti keputusan hukum di antara mereka. Maka setelah kebangkitan manusia, Allah memerintahkan para malaikat-Nya untuk menggiring mereka ke tempat perhentian tersebut, dalam keadaan diri mereka sebagaimana saat mereka diciptakan pertama kali : tidak beralas kaki, telanjang tidak berpakaian, dan belum dikhitan. Telah sah dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ قَالَ: يَا عَائِشَةُ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ»

Artinya: 'Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wanita dan lelaki semuanya berkumpul saling melihat satu sama lain? Beliau menjawab: Wahai Aisyah, perkara saat itu jauh lebih dahsyat daripada sekadar sebagian mereka melihat kepada sebagian yang lain' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 192, 193 dan Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 325.) .

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah berkhotbah seraya bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan menuju Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan," kemudian beliau membaca: "Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulangnya. Itu adalah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya," sampai akhir ayat, kemudian beliau bersabda: "Ketahuilah bahwa makhluk yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat adalah Ibrahim. Ketahuilah bahwa akan didatangkan beberapa orang dari umatku, lalu mereka digiring ke arah sebelah kiri (neraka), maka aku berkata: Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku! Maka dikatakan: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelahmu. Maka aku mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh hamba yang saleh [yakni Nabi Isa]: 'dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka,' lalu dikatakan: Sesungguhnya mereka ini senantiasa murtad kembali ke belakang sejak engkau meninggalkan mereka." (Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 8 hal. 230 dan juz 11 hal. 322.) .

Di tempat perhentian tersebut, makhluk-makhluk ditimpa oleh kesengsaraan yang sangat dahsyat. Diriwayatkan oleh Al-Miqdad bin Al-Aswad dari Rasulullah , beliau bersabda:

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمَنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمَنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمَنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمَنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا» وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ

Artinya: 'Matahari akan didekatkan pada hari Kiamat kepada makhluk hingga jaraknya dari mereka seukuran satu mil [Sulaim bin Amir—perawi hadis dari Al-Miqdad—berkata: "Maka demi Allah aku tidak tahu apa yang beliau maksud dengan mil: apakah jarak ukuran bumi ataukah mil (tangkai besi) yang digunakan untuk mencelak mata," Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 196.]. Maka manusia berada dalam keringat sesuai kadar amalan mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya mencapai kedua mata kakinya, di antara mereka ada yang mencapai kedua lututnya, di antara mereka ada yang mencapai kedua pinggangnya, dan di antara mereka ada yang dikunci oleh keringatnya secara total,' dan Rasulullah mengisyaratkan dengan tangannya ke arah mulutnya (Rujukan yang sama.) .

Di sela-sela peristiwa tersebut, ada manusia-manusia yang berada dalam naungan Allah 'Azza wa Jalla sebagaimana yang dikabarkan oleh Al-Musthafa . Dari Abu Hurairah dan Abu Said radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya: 'Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku takut kepada Allah", seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lalu kedua matanya berlinang air mata' (Lihat: Shahih Al-Bukhari bi Hasyiyah As-Sindi juz 1 hal. 170 dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 7 hal. 120, 131, 132 dan lafal ini miliknya, As-Sunan Al-Kubra juz 10 hal. 87, serta Sunan An-Nasa'i juz 8 hal. 222, 223.) .

Maka apabila urusan telah semakin berat menimpa manusia, dan kesengsaraan telah memuncak atas mereka di tempat perhentian yang agung ini, mereka meminta syafaat kepada Allah 'Azza wa Jalla melalui para rasul dan nabi agar menyelamatkan mereka dari kondisi yang mereka alami, serta menyegerakan keputusan hukum di antara mereka. Setiap rasul melimpahkan urusan tersebut kepada rasul setelahnya, hingga akhirnya mereka mendatangi nabi kita Muhammad , lalu beliau memberikan syafaat bagi mereka dan Sang Pencipta menerima syafaat beliau [Dan ini adalah syafaat yang paling agung (Syafaat Uzhma) yang dikhususkan bagi nabi kita Muhammad di antara seluruh saudara-saudaranya dari kalangan para nabi dan rasul 'alaihim ash-shalatu wa as-salam. Perkara ini disepakati di antara umat karena telah tetap berdasarkan hadis-hadis sahih, dan ia merupakan Al-Maqam Al-Mahmud (kedudukan yang terpuji) yang dijanjikan kepada Rasul dalam firman-Nya Ta'ala: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra': 79). Lihat: Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 252, 253 dan hadis-hadis syafaat di dalam Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 3 hal. 54-77, Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyyah hal. 128, dan Al-Aqa'id Al-Islamiyyah karya Sayyid Sabiq hal. 274.]. Maka manusia pun beralih menuju proses keputusan hukum .

7. Balasan Atas Amal Perbuatan:

Kita mengimani adanya  balasan atas amal perbuatan pada hari Akhir, di mana para hamba diberi balasan dan dituntut pertanggungjawaban atas segala apa yang mereka usahakan selama kehidupan di dunia, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Pada hari itu Allah menyempurnakan balasan yang sebenarnya bagi mereka dan mereka tahu bahwa Allah Mahabenar lagi Maha Menjelaskan." (QS. An-Nur: 25)

Dan Ad-Din bermakna balasan (al-jaza'), maka dikatakan: "Sebagaimana kamu memperlakukan (tadinu), begitu pula kamu akan diperlakukan (tudanu)," (Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 465.) maksudnya sebagaimana kamu membalas, begitu pula kamu akan dibalas. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Siapa yang datang membawa kebaikan, dia akan memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya. Siapa yang datang membawa kejahatan, orang-orang yang melakukan kejahatan itu tidak dibalas, kecuali sesuai dengan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-Qashash: 84)

Dan Rasulullah bersabda dalam apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya 'Azza wa Jalla [Hadis Qudsi]:

«يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ»

Artinya: 'Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah amal perbuatan kalian yang Aku catat semuanya bagi kalian, kemudian Aku sempurnakan balasan amalan itu untuk kalian. Maka barang siapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah, dan barang siapa yang mendapati selain dari itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri' (Bagian dari hadis qudsi yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim - Lihat Riyadhus Shalihin hal. 62.).

8- Al-Ardh wa Al-Hisab [Pemaparan dan Perhitungan Amal]:

Kita mengimani bahwasanya balasan tersebut terjadi setelah adanya proses peradilan yang adil, yang mana manusia dipaparkan di dalamnya ke hadapan Tuhan mereka, ditegakkan berbagai hujah atas mereka dan untuk pembelaan mereka, mereka diperlihatkan pada amalan-amalan mereka, dan mereka membaca catatan-catatan amal mereka. Maka wajib mengimani adanya pemaparan amal (Al-Ardh), perhitungan amal (Al-Hisab), dan pembacaan kitab catatan amal (Qira'atul Kitab), sebab semuanya adalah perkara yang hak, yang ditunjukkan oleh Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijmak ulama kaum muslimin.

Adapun mengenai Al-Ardh (pemaparan), maka dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:

"Pada hari itulah terjadi kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh. Malaikat-malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu). Tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya)." (QS. Al-Haqqah: 15-18)

Dan firman Allah Ta'ala:

"Mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman,) “Sungguh, kamu telah datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali..." (QS. Al-Kahf: 48)

Maka wajib bagi setiap muslim untuk mengimani bahwasanya setiap hamba akan dipaparkan ke hadapan Tuhannya, lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri yang menangani perhitungan amalnya secara langsung tanpa adanya perantara. Dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi bersabda:

«مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ ثُمَّ يَنْظُرُ فَلَا يَرَى شَيْئًا قُدَّامَهُ ثُمَّ يَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَتَسْتَقْبِلُهُ النَّارُ فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَّقِيَ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ»

Artinya: 'Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan Allah akan mengajaknya bicara pada hari Kiamat, yang mana tidak ada penerjemah antara Allah dan dirinya. Kemudian ia melihat ke arah depannya maka ia tidak melihat sesuatu pun, kemudian ia melihat ke arah depan kedua tangannya, lalu neraka menyambut wajahnya. Maka barang siapa di antara kalian yang mampu menjaga dirinya dari api neraka meskipun hanya dengan sebutir belahan kurma, (hendaklah ia melakukannya)' (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 340.) .

Dan termasuk ke dalam makna Al-Ardh adalah penampakan amalan-amalan dan penjelasannya, sehingga pelakunya mengetahui dosa-dosanya. Maka jika ia termasuk golongan orang yang selamat, yaitu orang yang diberikan kitab catatannya dari sebelah tangan kanannya, Allah mengampuni dosa-dosanya, tidak memperketat perhitungan amalnya (munaqasyah), memasukkannya ke dalam surga, dan tidak mengazabnya dengan api neraka. Adapun orang yang banyak maksiatnya, dan diberikan kitab catatannya dari arah belakang punggungnya, maka dialah orang yang diperketat perhitungan amalnya, serta ditanya dari setiap perkara besar maupun kecil. Sungguh Aisyah radhiyallahu 'anha telah menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda: "Tidak ada seorang pun yang dihisab pada hari Kiamat melainkan ia pasti binasa."

Maka aku bertanya: "Wahai Rasulullah, bukankah Allah berfirman: 'Maka, orang yang catatannya diberikan di tangan kanannya, dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah'?"

Maka Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا عُذِّبَ

Artinya: 'Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah Al-Ardh (pemaparan amal), dan tidak ada seorang pun yang diperketat (munaqasyah) perhitungan amalnya pada hari Kiamat melainkan ia pasti diazab' (.Shahih Al-Bukhari juz 11 hal. 138.) .

Dan yang dimaksud dengan Al-Munaqasyah adalah bersikap mendalam/detail di dalam melakukan perhitungan amal, menuntut perkara yang besar maupun yang remeh, serta tidak adanya toleransi/kemudahan (Fathul Bari juz 11 hal. 337.).

Adapun mengenai peristiwa para hamba mengambil lembaran-lembaran catatan amal mereka pada hari Kiamat serta pembacaan mereka terhadap catatan tersebut, maka hal itu merupakan perkara hak yang wajib diimani, dan barang siapa yang mengingkarinya maka ia kafir. Allah Ta'ala berfirman:

"Setiap manusia telah Kami tetapkan (nasib) amal perbuatannya di lehernya. Kami keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang ditemuinya dalam keadaan terbuka. “Bacalah kitabmu! Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung (amal) terhadapmu.”" (QS. Al-Isra': 13-14)

Dan wajib bagi kita untuk mengimani apa yang datang di dalam firman Allah Ta'ala mengenai perkara ini, di mana Dia berfirman:

"Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, maka engkau pasti akan menemui-Nya (atau balasan amalanmu). Adapun orang yang catatannya diberikan di tangan kanannya, dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang punggungnya, dia akan berteriak, “Celakalah aku!” Dia akan memasuki api (neraka) yang menyala-nyala. Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia mengira tidak akan kembali (kepada Tuhannya). Tidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya." (QS. Al-Inshiqaq: 6-15)

Dan yang dimaksud dengan lembaran-lembaran (ash-shuhuf) yang dibaca oleh para hamba ini adalah buku-buku catatan yang ditulis oleh para malaikat mengenai apa yang mereka lakukan selama kehidupan di dunia (Syarah Al-Baijuri 'ala Jauharatut Tauhid hal. 212). Sungguh engkau telah mengetahui bahwa di antara rukun iman adalah membenarkan apa yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala mengenai para malaikat-Nya dan amalan-amalan mereka. Dan iman kepada mereka terjadi dengan cara membenarkan segala apa yang dikabarkan tentang mereka oleh Tuhan mereka secara global maupun terperinci. Serta bahwasanya wajib bagi kita untuk mengimani bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah mewakilkan kepada kita bagian dari malaikat-Nya untuk menjaga kita, dan menulis amalan-amalan serta ucapan-ucapan kita. Mereka adalah para penjaga, yang mulia, lagi mencatat amal perbuatan (Al-Hafizhun al-Kiram al-Katibun), yang mana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang mereka:

"Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas, yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (amal perbuatanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Infithar: 10-12)

Dan Dia berfirman juga:

"...(Inilah) Kitab Kami yang menceritakan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”" (QS. Al-Jatsiyah: 29)

Maka apa yang dicatat oleh para malaikat yang mulia ini akan dibaca oleh para hamba pada hari Kiamat.

Adapun yang dimaksud dengan Al-Hisab (perhitungan amal), maknanya adalah pemberitahuan Allah Ta'ala kepada para hamba—sebelum mereka bertolak dari Padang Mahsyar—mengenai amalan-amalan, ucapan-ucapan, dan keyakinan-keyakinan mereka, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Yang demikian itu terjadi setelah mereka mengambil lembaran-lembaran catatan mereka, lalu mereka diperkenalkan pada amalan-amalan mereka, serta apa yang menjadi hak mereka dan apa yang menjadi kewajiban atas mereka. Allah Ta'ala berfirman:

"...Kemudian, kepada Tuhannyalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 108)

Kemudian, sesungguhnya manusia di dalam proses hisab tersebut saling berbeda tingkatannya:

Di antara mereka ada yang dihisab dengan hisab yang mudah (hisaban yasira), yaitu dipaparkan amalannya kepadanya, lalu Allah memperlihatkan kesalahan-kesalahannya dalam keadaan tidak ada seorang pun makhluk yang melihatnya, kemudian Allah mengampuninya dan memerintahkan agar ia dibawa menuju surga .

Dan di antara mereka ada yang diperketat hisabnya (yunaqasyu al-hisab), dengan cara ditanya dari setiap bagian yang detail, dituntut untuk memberikan alasan (al-udzr) dan argumen (al-hujah), maka tidak diterima darinya alasan tidak pula argumen, sehingga ia binasa bersama orang-orang yang binasa. Dan Allah Ta'ala memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan di hadapan makhluk mengenai keburukan-keburukan amalnya, hingga ia mendapatkan kehinaan di tengah-tengah seluruh makhluk. Maka wajib bagi seorang mukmin untuk menghisap dirinya sendiri sebelum ia dihisab kelak, dan bersegera melakukan amalan-amalan saleh sebelum hilangnya kesempatan, serta mengimani adanya hisab dan bersiap-siap untuk menghadapinya. Sungguh Allah Ta'ala telah berfirman:

"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. Sekalipun (amalan itu) hanya seberat biji sawi, Kami pasti mendatangkannya (untuk ditimbang). Cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan." (QS. Al-Anbiya': 47)

Dan Rasulullah bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Artinya: 'Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba (pada hari Kiamat) hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan padanya? Tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia infakkan? Serta tentang tubuhnya dalam perkara apa ia gunakan hingga rusak?' (Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata tentangnya: hadis hasan sahih, lihat Shahih At-Tirmidzi bi Syarh Ibnil Arabi juz 9 hal. 253.) .

Dan telah ditunjukkan oleh hadis-hadis sahih bahwasanya ada segolongan kaum dari umat Muhammad yang Allah berikan keutamaan kepada mereka, Allah memberikan pengecualian kepada mereka dari proses hisab ini, dan memasukkan mereka ke dalam surga tanpa adanya hisab tidak pula azab. Sungguh Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi bersabda:

يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِي الْجَنَّةَ سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: 'Akan masuk surga dari kalangan umatku sebanyak tujuh puluh ribu orang tanpa melalui proses hisab' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 3 hal. 88.).

Adapun mengenai bagaimana kaifiat (tata cara) hisab tersebut, maka kita mengimani apa yang datang di dalam Al-Qur'an mengenainya, serta di dalam hadis Rasulullah , dan kita tidak menambah tidak pula mengurangi, serta tidak bertanya melampaui apa yang telah datang. Maka kita mengimani bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan setiap hamba terhadap apa yang telah ia kerjakan selama kehidupan di dunia, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Dan memberikan kesaksian atas para hamba tersebut seluruh pihak yang Allah minta untuk menjadi saksi atas mereka [Mahmud Khattab As-Subki berkata: "Ketahuilah bahwasanya akan memberikan kesaksian atas orang yang bermaksiat sebanyak sebelas saksi pada hari yang disaksikan tersebut: lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, kulit, bumi, malam, siang, malaikat hafadzah yang mulia, dan harta," kemudian ia membawakan sejumlah ayat dan hadis atas hal tersebut - Lihat Ad-Din Al-Khalis juz 1 hal. 105 dan setelahnya] , maka bumi memberikan kesaksian terhadap apa yang terjadi di atas punggungnya, sebagaimana firman-Nya 'Azza wa Jalla:

"Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar (dari kubur) dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) amalan mereka. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 1-8).

Sungguh telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah membaca ayat: "Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya," lalu beliau bertanya: "Apakah kalian tahu apa berita-beritanya?". Para sahabat menjawab: "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.". Beliau bersabda:

وَإِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا، أَنْ تَقُولَ: عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا كَذَا، قَالَ: فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا

Artinya: 'Sesungguhnya di antara berita-beritanya adalah ia memberikan kesaksian atas setiap hamba laki-laki maupun hamba perempuan terhadap apa yang telah diamalkannya di atas punggung bumi, dengan bumi berkata: "Ia telah mengamalkan begini dan begitu pada hari ini dan itu." Beliau bersabda: Maka inilah berita-beritanya' (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: hasan gharib - Lihat Shahih At-Tirmidzi bi Syarh Ibnil Arabi juz 1 hal. 260.).

Dan kita mengimani juga bahwasanya di dalam proses hisab ini akan ada kesaksian dari anggota-anggota tubuh : berupa lisan, tangan, kaki, kulit, dan selainnya atas segala apa yang dilakukan oleh seorang hamba. Serta mengimani apa yang dikabarkan oleh Allah Ta'ala mengenai dialog antara musuh-musuh Allah dengan para saksi ini. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"(Ingatlah) hari (عندما) ketika musuh-musuh Allah digiring ke neraka lalu mereka dipisah-pisahkan. Hingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara telah menjadikan kami dapat berbicara (pula), dan Dialah yang menciptakan kamu pada pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan. Kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan.”" (QS. Fussilat: 19-22)

Dan kita mengimani juga apa yang dikabarkan oleh Rasulullah mengenai rahmat Allah 'Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya yang mukmin ketika proses hisab berlangsung, tanpa orang-orang kafir. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berdua saja dengan hamba-Nya yang mukmin, lalu Dia membuatnya mengakui dosa-dosanya dan memberikan kemudahan kepadanya, serta tidak memperketat perhitungan amalnya (munaqasyah). Sungguh telah diriwayatkan bahwasanya pernah ditanyakan kepada Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma: "Bagaimana Anda mendengar Rasulullah bersabda tentang An-Najwa (perbincangan rahasia antara Allah dan hamba-Nya yang mukmin pada hari kiamat)?" Ibnu Umar menjawab: Aku mendengar beliau bersabda:

يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ، حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولُ: أَعَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ. وَيَقُولُ: أَعَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ. فَيُقَرِّرُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: إِنِّي سَتَرْتُ عَلَيْك فِى الدُّنْيَا، وَإِنِّي أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ

Artinya: 'Salah seorang di antara kalian akan mendekat kepada Tuhannya, hingga Allah meletakkan naungan perlindungan-Nya di atasnya, lalu Allah berfirman: "Apakah engkau telah mengamalkan begini dan begitu?" Maka ia menjawab: "Benar." Dan Allah berfirman lagi: "Apakah engkau telah mengamalkan begini dan begitu?" Maka ia menjawab: "Benar." Lalu Allah membuatnya mengakui dosanya, kemudian Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa itu untukmu di dunia, dan sesungguhnya Aku mengampuninya bagimu pada hari ini," kemudian diberikanlah kepadanya kitab catatan kebaikan-kebaikannya'. (HR. Bukhari dan Muslim) .

Adapun orang-orang kafir, maka mereka diseru di hadapan seluruh saksi (makhluk): "Orang-orang inilah yang telah mendustakan Tuhan mereka. Ingatlah, laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.". (Muttafaq 'Alaih. Lihat: Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 12 hal. 407, 408.)

9. Al-Haudh [Telaga]:

Wajib bagi kita untuk mengimani apa yang dikabarkan oleh Al-Musthafa mengenai Telaga (Al-Haudh) yang Allah karuniakan sebagai keutamaan bagi beliau dan umatnya. Sesungguhnya hadis-hadis yang datang mengenai perkara ini telah mencapai derajat mutawatir, yang diriwayatkan dari kalangan sahabat oleh lebih dari tiga puluh orang sahabat [Lihat: Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 250, Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 15 hal. 53, Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyyah oleh Muhammad Khalil Harras hal. 115, Syarah Al-Baijuri 'ala Al-Jauharah hal. 223, dan Ad-Din Al-Khalis juz 1 hal. 111.]. Orang yang pertama kali mendatanginya adalah Nabi kita Muhammad , kemudian setelah beliau barulah umatnya mendatangi telaga tersebut. Sementara orang-orang kafir serta segolongan orang-orang yang bermaksiat dan pelaku dosa besar akan diusir darinya, yaitu setelah selesainya peristiwa di tempat perhentian (Al-Mauqif) beserta segala kedahsyatan, pemaparan, perhitungan amal, pembacaan lembaran-lembaran catatan amal, dan peristiwa lainnya yang ada di dalamnya [Ad-Din Al-Khalis juz 1 hal. 111.].

Rasulullah bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، مَنْ وَرَدَ شَرِبَ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا، وَلَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونَنِي، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ، فَيَقُولُ اللَّهُ: إِنَّهُمْ أُمَّتِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي

Artinya: 'Aku adalah pendahulu kalian menuju Telaga [yaitu orang yang mendahului orang-orang yang datang untuk mempersiapkan tempat bagi mereka]. Barang siapa yang mendatanginya niscaya ia akan minum, dan barang siapa yang minum niscaya ia tidak akan pernah haus selama-lamanya. Dan sungguh akan benar-benar datang kepadaku beberapa kaum yang aku mengenali mereka dan mereka pun mengenali aku, kemudian dihalangi antara aku dan mereka. Maka aku berkata: "Sesungguhnya mereka adalah umatku!" Lalu dikatakan: "Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu." Maka aku berkata: "Celaka, celakalah bagi orang yang mengubah (ajaran agama) setelahku".' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 15 hal. 53.) .

[Al-Farath adalah orang yang mendahului rombongan yang datang untuk mempersiapkan tempat pemberhentian dan segala keperluannya bagi mereka. Maknanya di sini adalah: "Aku adalah orang yang mendahului kalian dan mendahului kalian menuju Telaga."]

Dan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah keluar pada suatu hari lalu menshalatkan para syuhada Uhud sebagaimana shalat beliau terhadap mayit. Kemudian beliau beranjak menuju mimbar lalu bersabda:

إِنِّي فَرَطٌ لَكُمْ، وَأَنَا شَهِيدٌ عَلَيْكُمْ، وَاللَّهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الْآنَ، وَإِنِّي قَدْ أُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الْأَرْضِ أَوْ مَفَاتِيحَ الْأَرْضِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي، وَلَكِنْ أَخَافُ أَنْ تَتَنَافَسُوا فِيهَا

Artinya: 'Sesungguhnya aku adalah pendahulu bagi kalian, dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sungguh aku benar-benar melihat telagaku sekarang ini. Dan sesungguhnya aku telah dianugerahi kunci-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi. Dan sesungguhnya aku, demi Allah, tidaklah mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalmu, akan tetapi aku mengkhawatirkan kalian akan saling berlomba-lomba untuk memperebalkannya (harta dunia)'. (Muttafaq 'Alaih - Lihat: Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Jana'iz - Bab Ash-Shalah 'ala Asy-Syahid, dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi - 15 hal. 57.) .

Dan Al-Bukhari serta Muslim mengeluarkan hadis dari Asma' binti Abi Bakr bahwasanya Rasulullah bersabda:

إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ مِنْكُمْ، وَسَيُؤْخَذُ أُنَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ: يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي، فَيُقَالُ: أَمَا شَعُرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ؟ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا بَعْدَكَ يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ

Artinya: 'Sesungguhnya aku berada di dekat Telaga hingga aku melihat siapa di antara kalian yang mendatanginya. Dan sungguh akan ada beberapa orang yang ditangkap sebelum sampai kepadaku, maka aku berkata: "Wahai Tuhanku, mereka dariku dan dari umatku!" Lalu dikatakan: "Apakah engkau tidak menyadari apa yang mereka kerjakan sepeninggalmu? Demi Allah, mereka senantiasa kembali ke belakang (murtad) sejak engkau tinggalkan".' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 15 hal. 55.) .

Di samping itu, kita mengimani apa yang datang mengenai sifat-sifat telaga tersebut melalui lisan Rasulullah , dan kita memahaminya sesuai dengan makna lahiriahnya tanpa menambah-nambahi dan tidak pula mengurangi. Pensyarah Kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah berkata: "Kesimpulan dari hadis-hadis yang datang mengenai sifat Telaga adalah: Bahwasanya ia adalah telaga yang sangat agung, tempat minum yang mulia, yang airnya dialirkan dari minuman surga, yaitu dari sungai Al-Kautsar, yang mana airnya lebih putih daripada susu, lebih dingin daripada salju, lebih manis daripada madu, dan keharumannya lebih wangi daripada minyak kasturi. Telaga tersebut berada dalam puncak keluasan, panjang dan lebarnya sama, di mana setiap sudut dari sudut-sudutnya berjarak sepanjang perjalanan satu bulan. Dan dalam sebagian hadis disebutkan: Bahwasanya setiap kali airnya diminum, telaga tersebut justru semakin bertambah luas... Maka Mahasuci Sang Pencipta yang tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya.". [(157) Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 351.]

Di antara hadis-hadis yang datang mengenai sifat telaga adalah apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi bersabda:

حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا

Artinya: 'Telagaku sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih wangi daripada minyak kasturi, dan gayung-gayungnya [cangkir/bejananya] bagaikan jumlah bintang di langit. Barang siapa yang minum darinya, niscaya ia tidak akan pernah haus selama-lamanya'. (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 396-398 dan ia terdapat di dalam Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 15 hal. 55.) .

Hadis-hadis sahih yang datang menyebutkan tentang telaga Nabi kita sangatlah banyak, bahkan mencapai derajat mutawatir, dan membenarkannya adalah bagian dari iman. Al-Qadhi 'Iyadh rahimahullah Ta'ala berkata: "Hadis-hadis tentang Telaga adalah sahih, mengimaninya adalah fardu (wajib), dan membenarkannya termasuk bagian dari iman. Keberadaan telaga ini sesuai dengan makna lahiriahnya menurut pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, tidak boleh ditakwil, dan tidak diperselisihkan. Hadisnya mutawatir dalam hal penukilan, yang diriwayatkan oleh banyak sekali sahabat. Muslim menyebutkannya dari riwayat Ibnu Amr bin Al-Ash, Aisyah, Ummu Salamah, Uqbah bin Amir, Ibnu Mas'ud, Hudzaifah, Haritsah bin Wahb, Al-Mustaurid, Abu Dzar, Tsauban, Anas, dan Jabir bin Samurah. Sementara selain Muslim meriwayatkannya dari riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiq, Zaid bin Arqam, Abu Umamah, Abdullah bin Zaid, Abu Barzah, Suwaid bin Jabalah, Abdullah bin Ash-Shunabihi, Al-Bara' bin Azib, Asma' binti Abi Bakr, Khaulah binti Qais, dan selain mereka... Di dalam sebagian penukilan ini saja sudah terdapat perkara yang menetapkan bahwa hadis tersebut berstatus mutawatir.". [Dinukil dari Al-Qadhi 'Iyadh oleh An-Nawawi dalam syarahnya atas Shahih Muslim juz 15 hal. 53.]

Selain itu, telah datang pula dalam sebagian hadis sahih bahwasanya bagi setiap nabi memiliki telaga masing-masing, dan bahwasanya telaga nabi kita adalah telaga yang paling agung, paling manis, dan paling banyak orang yang mendatanginya. [Lihat: Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 151, Syarah Al-Baijuri 'ala Al-Jauharah hal. 223, dan Ad-Din Al-Khalis juz 1 hal. 111.]

10. Al-Mizan [Timbangan Amal]:

Wajib bagi kita untuk mengimani apa yang dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, bahwasanya amal perbuatan para hamba, baik yang berupa kebaikan maupun keburukan, akan ditimbang pada hari Kiamat dengan sebuah timbangan (Mizan), sebagai bentuk penampakan keadilan Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. Sekalipun (amalan itu) hanya seberat biji sawi, Kami pasti mendatangkannya (untuk ditimbang). Cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan." (QS. Al-Anbiya': 47) .

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Timbangan pada hari itu adalah kebenaran (yang hak). Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." (QS. Al-A'raf: 8-9) .

Dan Dia berfirman juga:

"Maka, adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah." (QS. Al-Qari'ah: 6-9) .

Banyak riwayat menunjukkan bahwasanya mizan tersebut adalah timbangan yang hakiki, yang memiliki dua daun timbangan (kaffatain), dan bahwasanya Allah Subhanahu mengubah amal perbuatan para hamba menjadi jasad-jasad yang memiliki berat fisik, lalu diletakkanlah kebaikan-kebaikan pada satu daun timbangan dan keburukan-keburukan pada daun timbangan yang lain [(165) Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 472, Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyyah oleh Muhammad Khalil Harras hal. 123, dan Ad-Din Al-Khalis juz 1 hal. 107.]. Mengenai hal tersebut, Ibnu al-Qayyim berkata dalam qasidahnya yang masyhur:.

"Apakah engkau tidak membenarkan bahwa amal perbuatan para hamba akan diletakkan pada hari pemaparan di dalam Timbangan? Begitu pula amalan itu terkadang berat dan di waktu lain menjadi ringan, hal itu di dalam Al-Qur'an memiliki penjelasan yang nyata Timbangan itu memiliki lisan (jarum penunjuk) dan dua daun timbangan yang menegakkannya, dan kedua daun timbangan itu saling berhadapan satu sama lain Perkara itu bukanlah urusan yang bersifat maknawi semata, melainkan ia adalah perkara yang dapat diindrai secara nyata di sisi orang yang memiliki iman.". [Lihat Qasidah Ibnu al-Qayyim beserta syarahnya juz 2 hal. 593.]

Di samping itu, penimbangan amal perbuatan dilakukan setelah selesainya proses perhitungan amal (Al-Hisab), karena penimbangan itu ditujukan untuk penentuan balasan amalan. Maka ia terjadi setelah proses hisab yang berfungsi untuk menetapkan amal perbuatan yang telah terjadi, sehingga penimbangan berfungsi untuk menampakkan kadar/ukuran amalan tersebut agar balasan yang diberikan sesuai dengannya [Hal itu dinukil dari Al-Qurthubi oleh pensyarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 472.]. Akan tetapi, tidak ada penimbangan amal bagi para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang dikecualikan oleh Allah dari proses hisab [Syarah Al-Baijuri 'ala Al-Jauharah hal. 215.].

11. As-Shirat [Jembatan]:

Kita mengimani bahwasanya setelah selesainya proses hisab dan mizan, manusia bertolak dari tempat perhentian untuk berjalan melewati jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahanam, yaitu Ash-Shirat [Jembatan].

Proses berjalan melewati shirat ini berlaku umum bagi seluruh manusia: para nabi, orang-orang shiddiq, orang-orang mukmin, orang-orang kafir, orang yang dihisab maupun orang yang tidak dihisab. Barang siapa yang teguh di atas shirat Allah di dunia—yaitu agama yang hak—maka ia akan teguh di atas shirat ini di akhirat [Asal kata Ash-Shirat berarti jalan, dan dapat dilafalkan juga dengan huruf Sin (As-Shirat), etimologinya diambil dari kata saratha yang berarti menelan. Dan ada yang berpendapat dinamakan demikian karena jembatan tersebut menelan orang-orang yang berjalan di atasnya - Lihat Al-Mishbah Al-Munir.]. Telah datang di dalam sebagian hadis sahih bahwasanya manusia berjalan melewatinya, dan tingkat kemudahan dalam menyeberanginya adalah sesuai dengan kadar amalan mereka selama kehidupan di dunia. Di antara mereka ada yang menyeberang secepat lesatan bintang, di antara mereka ada yang secepat angin, di antara mereka ada yang secepat kedipan mata, dan di antara mereka ada yang berlari kecil. Mereka melintasinya sesuai kadar amalan mereka, hingga lewatlah orang yang sedikit amal salehnya dalam keadaan satu tangannya jatuh dan satu tangan lainnya berpegangan, satu kakinya tergelincir dan kaki lainnya tersangkut, serta bagian badannya terkena sentuhan siksa. Maka ketika mereka berhasil selamat, mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami darimu setelah memperlihatkanmu kepada kami. Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kami perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun.". [Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 470 dan Al-Aqidah Al-Wasithiyyah ma'a Syarhiha oleh Muhammad Khalil Harras hal. 136.]

Mengenai penyebutan shirat ini, telah ada sekumpulan hadis sahih, kami sebutkan untukmu di antaranya hadis yang dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:.

Bahwasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah : "Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari Kiamat?".

Maka Rasulullah bersabda: "Apakah kalian saling menghalangi [merasa silau/kesulitan] dalam melihat bulan pada malam purnama?".

Mereka menjawab: "Tidak, wahai Rasulullah." Beliau bertanya lagi: "Apakah kalian saling menghalangi dalam melihat matahari yang tidak terhalang oleh awan?".

Mereka menjawab: "Tidak, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Maka sesungguhnya kalian akan melihat-Nya demikian pula. Allah mengumpulkan manusia pada hari Kiamat, lalu Allah berfirman: 'Barang siapa yang menyembah sesuatu maka hendaklah ia mengikutinya.' Maka orang yang menyembah matahari akan mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan akan mengikuti bulan, dan orang yang menyembah thaghut-thaghut [segala sesuatu yang disembah selain Allah Ta'ala] akan mengikuti thaghut [Ahli bahasa berkata: Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah Ta'ala - Lihat Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 3 hal. 18.]. Dan tersisalah umat ini yang di dalamnya terdapat orang-orang munafik dari umat tersebut [Para ulama berkata: Sesungguhnya mereka tetap berada di dalam barisan orang-orang mukmin karena dahulu semasa di dunia mereka menyembunyikan diri (berkedok) bersama orang mukmin, maka mereka pun berkedok bersama orang mukmin di akhirat, menempuh jalur mereka, masuk ke dalam rombongan mereka, dan berjalan di atas cahaya mereka hingga akhirnya Allah membuat dinding pemisah di antara mereka dan memadamkan cahaya kaum mukmin dari mereka, sampai tempat menetap mereka berakhir di tingkatan paling bawah dari neraka - Lihat Syarah An-Nawawi 'ala Muslim juz 3 hal. 19.]. Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala datang kepada mereka dalam wujud (shurah) selain wujud-Nya yang mereka kenali, lalu Allah berfirman: 'Akulah Tuhan kalian.' Maka mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah darimu [Al-Qurthubi berkata dalam takwil perkara tersebut: "Itu adalah kedudukan yang sangat mengerikan yang digunakan oleh Allah untuk menguji para hamba-Nya guna memisahkan yang buruk dari yang baik. Hal itu terjadi karena ketika orang-orang munafik masih tersisa bercampur dengan orang-orang mukmin seraya mengeklaim bahwa mereka bagian dari kaum mukmin, mereka mengira bahwa hal itu diperbolehkan pada waktu tersebut sebagaimana diperbolehkannya di dunia. Maka Allah menguji mereka dengan mendatangi mereka dalam wujud yang menakutkan seraya berfirman kepada semuanya: 'Akulah Tuhan kalian.' Maka orang-orang mukmin menjawabnya dengan pengingkaran terhadap hal tersebut karena telah ada makrifat (pengenalan) terdahulu di sisi mereka mengenai Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwasanya Dia disucikan dari sifat-sifat wujud ini. Oleh karena itulah mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah darimu, kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun'." Perkataan Al-Qurthubi ini dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juz 11 hal. 380, 381.]. Ini adalah tempat keberadaan kami hingga datang Tuhan kami kepada kami. Maka apabila Tuhan kami telah datang, kami pasti mengenali-Nya.' Kemudian Allah Ta'ala datang kepada mereka dalam wujud-Nya yang mereka kenali, lalu Allah berfirman: 'Akulah Tuhan kalian.' Maka mereka berkata: 'Engkau adalah Tuhan kami,' lalu mereka mengikuti-Nya. Dan dibentangkanlah jembatan (Ash-Shirat) di antara dua sisi neraka Jahanam, maka akulah dan umatku yang menjadi orang pertama kali menyeberanginya. Tidak ada yang berbicara pada hari itu kecuali para rasul, dan seruan para rasul pada hari itu adalah: 'Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah!'. Dan di dalam Jahanam [Lafal Imam Al-Bukhari berbunyi (wa bihi) maksudnya adalah: di atas jembatan yang dibentangkan di atas Jahanam.] terdapat besi-besi pengait (kalalib) [Bentuk jamak dari kata Kallub dengan memfathahkan huruf Kaf dan mendhommahkan huruf Lam yang bertasydid, yaitu sepotong besi yang ujung kepalanya melengkung.] yang berbentuk seperti duri pohon Sa'dan [Tumbuhan yang memiliki duri yang sangat besar di seluruh penjuru sisinya.]. Apakah kalian pernah melihat pohon Sa'dan?".

Para sahabat menjawab: "Benar, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Maka sesungguhnya besi pengait itu seperti duri pohon Sa'dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui kadar besarnya kecuali Allah. Besi-besi pengait itu menyambar manusia disebabkan oleh amal perbuatan mereka [Boleh jadi maknanya adalah menyambar mereka disebabkan oleh amal perbuatan mereka, dan boleh jadi maknanya adalah menyambar mereka sesuai kadar timbangan amal perbuatan mereka - Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 3 hal. 21.]. Maka di antara mereka ada orang mukmin yang tetap teguh karena amalnya [Lafal Al-Bukhari berbunyi: (faminhum al-muwbaqu bi 'amalihi wa minhum al-mukhardal) artinya orang yang dibinasakan karena amalnya dan orang yang terpotong-potong atau terlempar jatuh.], dan di antara mereka ada yang terpotong-potong/terlempar namun pada akhirnya berhasil selamat.". (Potongan dari hadis yang dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani dan lafal ini milik Muslim, lihat Shahih Al-Bukhari juz 11 hal. 367 dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 3 hal. 17.)

Dan peristiwa berjalan melewati shirat ini merupakan esensi dari kata Al-Wurud [mendatangi/melewati] yang disebutkan di dalam firman Allah Ta'ala: "Dan tidak ada seorang pun di antara kamu, melainkan mendatangi neraka itu." (Surah Maryam - Ayat 71.). Maka tidak ada seorang pun yang terluput dari melewatinya. Sungguh Imam Muslim telah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah bersabda: "Tidak akan masuk neraka, insya Allah, seorang pun dari kalangan sahabat pohon (Bai'atur Ridhal) yang membaiat di bawah pohon tersebut.". Maka Hafshah berkata: "Bukankah Allah berfirman: 'Dan tidak ada seorang pun di antara kamu, melainkan mendatangi neraka itu'?" Maka Nabi menjawab: Sungguh Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman setelah itu: "Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.".( Surah Maryam - Ayat 72 dan hadis ini dikeluarkan oleh Imam Muslim - Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 16 hal. 57.) Melalui hal ini, beliau memberikan isyarat bahwasanya sekadar mendatangi (wurud) neraka tidaklah mengharuskan masuk ke dalamnya secara mutlak [Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 471.]. Maka semuanya berjalan di atas neraka melewati shirat, lalu Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. Kemudian, apabila orang-orang mukmin telah berhasil menyeberangi shirat, mereka tertahan di sebuah jembatan kecil (qantharah) yang terletak di antara surga dan neraka, lalu dilakukanlah qishash di antara sebagian mereka atas sebagian yang lain. Maka apabila diri mereka telah dibersihkan dan disucikan, barulah mereka diizinkan untuk memasuki surga. Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah , beliau bersabda:

يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهُمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمَ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

Artinya: 'Orang-orang mukmin selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di atas jembatan kecil (qantharah) antara surga dan neraka, maka dilakukanlah qishash bagi sebagian mereka atas sebagian yang lain terhadap kezaliman-kezaliman yang terjadi di antara mereka dahulu di dunia. Hingga apabila mereka telah dibersihkan dan disucikan, barulah mereka diizinkan untuk memasuki surga. Maka demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang di antara mereka jauh lebih mengenali tempat tinggalnya di surga daripada pengenalannya terhadap tempat tinggalnya dahulu semasa di dunia'. (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 336.) .

12 - Al-Jannah wa An-Nar [Surga dan Neraka]:

Setelah melalui itu semua, kita wajib mengimani keberadaan Surga dan Neraka, dan bahwasanya keduanya merupakan dua makhluk di antara makhluk-makhluk Allah Azza wa Jalla yang telah Dia persiapkan sebagai tempat pemberian pahala dan penjatuhan siksa. Serta mengimani bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan keduanya sebelum Dia menciptakan para makhluk, bahwasanya keduanya telah ada wujudnya sekarang ini, dan keduanya bersifat kekal abadi selama-lamanya, tidak akan pernah sirna dan tidak pula punah. Allah Ta'ala berfirman mengenai neraka:

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6) .

Dan Dia berfirman juga:

"(Ingatlah) hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahanam, “Apakah kamu sudah penuh?” Ia menjawab, “Apakah masih ada tambahan?”" (QS. Qaf: 30).

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman seraya mengabarkan tentang sebagian apa yang ada di dalam neraka:

"Apakah (hidangan) itu hidangan tempat tinggal yang lebih baik ataukah pohon zaqum? Sesungguhnya Kami menjadikannya (pohon zaqum itu) sebagai azab bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon die tumbuh dari dasar neraka Jahim. Mayangnya bagaikan kepala setan-setan. Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian darinya dan memenuhi perut dengannya. Kemudian, sesungguhnya mereka setelah makan (buah pohon zaqum) itu pasti mendapat minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas." (QS. As-Saffat: 62-67) .

Dan Rasulullah bersabda dalam mensimulasikan sifat neraka: "Api kalian ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari api neraka Jahanam." Ditanyakan kepada beliau: "Wahai Rasulullah, seandainya api dunia ini saja sungguh sudah sangat mencukupi?". Beliau bersabda: "Api neraka Jahanam itu dilebihkan atas api dunia sebanyak enam puluh sembilan bagian, yang mana setiap bagiannya memiliki tingkat kepanasan yang sama dengan api dunia." (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 6 hal. 256, 257, dan Al-Muwaththa' hal. 614.) . Dan beliau bersabda dalam menyifatkan siksaan yang paling ringan di dalam neraka: "Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksanya pada hari Kiamat adalah seseorang yang diletakkan di bawah lekukan telapak kakinya bara api yang membuat otaknya mendidih." (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 361.) .

Adapun mengenai Surga, maka Allah Subhanahu telah banyak menyebutkan tentang kenikmatannya di dalam Kitab-Nya yang Mulia, di antaranya adalah firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal, (dalam keadaan) berhadapan. Demikianlah (balasan Kami). Kami menikahkan mereka dengan bidadari yang bermata indah. Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala gangguan). Di dalamnya mereka tidak akan merasakan mati, kecuali kematian pertama (di dunia). Allah melindungi mereka dari azab (neraka) Jahim, sebagai karunia dari Tuhanmu. Demikian itulah kemenangan yang agung." (QS. Ad-Dukhan: 51-57) .

Dan Dia berfirman juga:

"Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh. (Kepada mereka dikatakan,) “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap orang yang bertobat lagi memelihara (semua peraturan-peraturan Allah), (yaitu) orang yang takut kepada (Allah) Yang Maha Pengasih dalam keadaan tidak terlihat (oleh orang lain) dan dia datang dengan hati yang bertobat. Masukilah dengan damai! Itulah hari keabadian.” Mereka di dalamnya mendapatkan apa yang mereka inginkan dan di sisi Kami ada tambahannya." (QS. Qaf: 31-35) .

Dan Dia berfirman juga:

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka bersenang-senang dengan apa yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka dan Tuhan melindungi mereka dari azab (neraka) Jahim. (Dikatakan kepada mereka,) “Makan dan minumlah dengan nyaman sebagai balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.” Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami menikahkan mereka dengan bidadari yang bermata indah. Orang-orang yang beriman diikuti oleh anak cucu mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka (di dalam surga) dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kami (selalu) memasok mereka dengan buah-buahan dan daging dari jenis yang mereka inginkan. Di dalam (surga) itu mereka saling mengulurkan gelas (berisi minuman) yang tidak (menimbulkan) perkataan yang sia-sia dan tidak pula perbuatan dosa. Di sekitar mereka ada anak-anak muda yang berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan." (QS. At-Thur: 17-24) .

Dan Rasulullah bersabda di dalam menyifatkan kenikmatan surga: "Allah berfirman [Hadis Qudsi]: Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah tebersit di dalam hati manusia." Maka bacalah jika kalian menghendaki: "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yang menyedapkan mata." (QS. As-Sajdah: 17) (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 6 hal. 347.).

Demikian pula kita mengimani adanya peristiwa saling berdialog dan saling berbicara antara penduduk surga dengan penduduk neraka, maka perhatikanlah pemandangan ini di dalam Surah Al-A'raf:

"Para penghuni surga menyeru para penghuni neraka, “Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami secara benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu secara benar?” Mereka (penghuni neraka) menjawab, “Benar.” Seterusnya seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu bengkok, dan mereka adalah orang-orang yang mengingkari hari akhir.”" (QS. Al-A'raf: 44-45).

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Para penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah sedikit air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah Allah anugerahkan kepadamu.” Mereka (penghuni surga) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir,”" (QS. Al-A'raf: 50).

Adapun mengenai kekekalan surga dan neraka, serta keabadian orang-orang mukmin di dalam surga dan orang-orang kafir di dalam neraka, maka hal tersebut telah berulang kali disebutkan dan ditekankan di dalam mayoritas tempat yang menyebutkan perihal surga dan neraka di dalam Kitab Allah Azza wa Jalla. Mengenai hal tersebut, Rasulullah bersabda: "Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga dan penduduk neraka telah masuk ke dalam neraka, maka didatangkanlah kematian hingga diletakkan di antara surga dan neraka, kemudian kematian tersebut disembelih. Lalu ada seorang penyeru yang menyerukan: 'Wahai penduduk surga, sekarang tidak ada lagi kematian! Wahai penduduk neraka, sekarang tidak ada lagi kematian!' Maka bertambahlah kegembiraan penduduk surga di atas kegembiraan mereka, dan bertambahlah kesedihan penduduk neraka di atas kesedihan mereka." (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 351) .

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat