Iman Kepada Hari Akhir
Beriman kepada Hari Akhir
Maknanya
secara garis besar (ijmali) adalah: membenarkan dengan penuh keyakinan
atas segala hal yang dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya dan
dikabarkan oleh Rasul-Nya mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah
kematian ; mulai dari fitnah kubur, azab dan nikmat kubur, hari kebangkitan (al-ba'th),
hari pengumpulan (al-hasyr), catatan amal (as-shuhuf),
perhitungan amal (al-hisab), timbangan (al-mizan), telaga (al-haudh),
jembatan (as-shirath), syafaat, surga dan neraka, serta apa saja yang
telah Allah Ta'ala sediakan bagi para penghuni keduanya masing-masing.
Perhatian
Al-Qur'an terhadap Rukun Ini dan Hikmahnya
Al-Qur'an
al-Karim sangat sarat dengan penyebaran sebutan Hari Akhir, memberikan
perhatian besar untuk menetapkannya di setiap tempat, mengingatkannya dalam
setiap kesempatan , serta menegaskan kepastian terjadinya dengan berbagai macam
gaya bahasa Arab.
Di
antara bentuk perhatian yang besar terhadap hari yang agung ini di dalam
Kitabullah adalah bahwa Allah sering kali mengaitkan iman kepada Hari Akhir
dengan iman kepada Allah Azza wa Jalla. Di antara contohnya adalah firman Allah
Ta'ala:
“...Akan
tetapi, kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari
akhir...” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 177)
Dan
firman Allah Ta'ala:
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan
orang-orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman
kepada Allah dan hari akhir serta melakukan kebajikan, mereka akan menerima
pahala dari Tuhan mereka, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka
tidak bersedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 62)
Dan
firman Allah Ta'ala:
“...Demikian
itu dinasihatkan kepada orang-orang di antaramu yang beriman kepada Allah dan
hari akhir...” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 232)
Dan
firman Allah Ta'ala:
“Perangilah
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir...” (Q.S.
At-Taubah [9]: 29)
Dan
firman Allah Ta'ala:
“...Sembahlah
Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan janganlah kamu berkeliaran di bumi
dengan berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-'Ankabut [29]: 36)
Ayat-ayat
sejenis ini sangat banyak sekali di dalam Kitabullah Azza wa Jalla.
Di
antara bentuk perhatiannya yang lain adalah betapa seringnya Al-Qur'an
menyebutkan Hari Akhir, sampai-sampai engkau hampir tidak melewati satu lembar
pun dari lembaran-lembaran Al-Qur'an melainkan engkau akan menemukan di
dalamnya pembicaraan tentang Hari Akhir beserta peristiwa dan keadaan yang akan
terjadi di dalamnya melalui metode penyampaian yang kaya dan bervariasi.
Demikian pula, engkau akan mendapati Al-Qur'an merincikan keadaan hari tersebut
dengan rincian yang jarang engkau temukan pada perkara-perkara gaib lainnya.
Termasuk
manifestasi dari perhatian ini pula adalah banyaknya nama yang Allah berikan
untuk hari tersebut, di mana setiap nama menunjukkan kengerian-kengerian yang
akan terjadi di dalamnya. Di antara nama-namanya di dalam Al-Qur'an adalah: Al-Qiyamah
(Hari Kiamat), As-Sa'ah (Waktu/Kiamat), Al-Akhirah (Hari Akhir), Yaumud
Din (Hari Pembalasan), Yaumul Hisab (Hari Perhitungan), Yaumul
Fath (Hari Kemenangan/Keputusan), Yaumut Talaq (Hari Pertemuan), Yaumul
Jam'i (Hari Pengumpulan), Yaumut Taghabun (Hari Dinampakkannya
Kesalahan), Yaumul Khulud (Hari Kekekalan), Yaumul Khuruj (Hari
Keluar dari Kubur), Yaumul Hasrah (Hari Penyesalan), Yaumut Tanad
(Hari Saling Memanggil), Al-Azifah (Hari yang Dekat Terjadinya), At-Thammah
(Malapetaka Terbesar), As-Shakhah (Tiupan yang Memekakkan), Al-Haqqah
(Hari yang Pasti Terjadi), Al-Ghasyiyah (Peristiwa yang Menyelubungi), Al-Waqi'ah
(Peristiwa yang Pasti Terjadi), dan lain sebagainya.[Lihat: Al-Aqaid
Al-Islamiyah karya Sayyid Sabiq, hlm. 261-264]
Adapun
hikmah dari perhatian yang sangat mendalam terhadap rukun ini, di antaranya
adalah:
Bahwa
iman kepada Hari Akhir memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan
manusia. Hal itu karena iman kepadanya beserta apa yang ada di dalamnya—berupa
surga, neraka, perhitungan amal, siksaan, pahala, keberuntungan, dan
kerugian—memiliki dampak paling kuat dalam mengarahkan manusia,
mendisiplinkannya, serta menjaganya untuk berkomitmen dalam amal saleh dan
bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla. Sungguh jauh berbeda antara dua orang:
yang satu tidak meyakini adanya hari kebangkitan maupun perhitungan atas amal
perbuatan dan perkataannya, di mana tidak ada yang menguntungkannya selain
kemaslahatan pribadi dan manfaat egoisnya semata; sedangkan yang lain meyakini
adanya suatu hari di mana manusia akan diadili atas amal perbuatan dan
perkataannya di hadapan Hakim yang paling adil dari segala hakim (Ahkamul
Hakimin), sehingga dia diberi pahala atas kebaikan dan disiksa atas
keburukan. Orang pertama akan lepas kendali dari ikatan apa pun selain hawa
nafsu dan syahwatnya , serta baginya tujuan yang egois dapat menghalalkan
segala cara, akhlak, dan perbuatan bagaimanapun bentuk bahayanya. Sebaliknya,
orang kedua akan disiplin di dalam batasan kebenaran, kebaikan, dan kesalehan;
yaitu perkara-perkara yang memiliki bobot nilai dan pertimbangan di sisi Allah
pada hari tersebut, sebagaimana firman-Nya Ta'ala:
“Timbangan
pada hari itu ialah kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebajikan)-nya,
mereka itulah orang-orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan
(kebajikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan diri sendiri karena
mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (Q.S. Al-A'raf [7]: 8-9)
Metode
Al-Qur'an dalam mengaitkan antara iman kepada Hari Akhir dengan amal saleh
dalam banyak kesempatan mengisyaratkan kepada hikmah ini. Di antara contohnya
adalah firman Allah Ta'ala:
“Tahukah
kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Q.S. Al-Ma'un [107]:
1-3)
And
firman Allah Azza wa Jalla:
“Sesungguhnya
yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah
dan hari akhir...” (Q.S. At-Taubah [9]: 18)
Dan
firman-Nya juga:
“Orang-orang
yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak akan meminta izin kepadamu untuk
(tidak ikut) berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui
orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang meminta izin kepadamu (untuk tidak
berjihad) hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir,
dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam
keragu-raguan.” (Q.S. At-Taubah [9]: 44-45)
Dan
firman Allah Ta'ala:
“Kamu
tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling
berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya...”
(Q.S. Al-Mujadilah [58]: 22)
Dan
firman-Nya:
“Sungguh,
pada (diri) mereka benar-benar terdapat teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi
orang yang mengharap (pahala) Allah dan (kedatangan) hari akhir...” (Q.S.
Al-Mumtahanah [60]: 6)
Dan
firman-Nya:
“...Demikianlah
orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir diberi pengajaran...” (Q.S.
At-Thalaq [65]: 2)
Dan
firman-Nya:
“Orang-orang
yang beriman pada (kehidupan) akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Qur'an) dan
mereka selalu memelihara shalatnya.” (Q.S. Al-An'am [6]: 92) serta masih
banyak lagi ayat lainnya.
Karena
manusia secara fitrah diciptakan untuk mencari kemaslahatan bagi dirinya dan
menolak kemudaratan dari dirinya, maka iman kepada Hari Akhir menjadi penguat
bagi benteng psikologis (al-wazi' an-nafsi) yang ada di dalam dirinya;
yaitu benteng yang mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Oleh
karena itu, Al-Qur'an memberikan perhatian besar dengan memperbanyak peringatan
tentangnya serta bervariasi dalam menggambarkan suasananya, agar benteng
psikologis tersebut semakin menghujam kuat di dalam hati seorang mukmin dan
semakin kokoh pengaruhnya.
Bisa
jadi, di antara hikmah dari perhatian yang luar biasa untuk mengingatkan
tentang Hari Akhir ini adalah banyaknya hamba yang lupa dan lalai darinya
akibat kecenderungan mereka yang berat terikat pada bumi (keduniawian) serta
kecintaan mereka pada kesenangan duniawi. Maka, iman kepada Hari Akhir beserta
azab dan nikmat yang ada di dalamnya akan memitigasi sikap berlebihan dalam
mencintai dunia. Dengan begitu, para hamba mengetahui bahwa seluruh syahwat
dunia tidaklah layak untuk dikejar, diperjuangkan, dan diperebutkan.
Sebaliknya, hal yang layak untuk diperjuangkan hanyalah apa yang telah
disediakan bagi mereka pada hari yang agung tersebut. Firman Allah Ta'ala
mengisyaratkan makna ini:
“Wahai
orang-orang yang beriman, mengapa apabila dikatakan kepadamu, 'Berangkatlah
(untuk berperang) di jalan Allah,' kamu merasa berat dan ingin tinggal di
tempatmu? Apakah kamu lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan
akhirat? Padahal kenikmatan kehidupan dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan)
akhirat hanyalah sedikit.” (Q.S. At-Taubah [9]: 38)
Dan
barangkali di antara hikmahnya juga adalah bahwa keberadaan hari tersebut sejak
dahulu hingga sekarang senantiasa memicu keheranan dan ketakjuban orang-orang
kafir. Hal itu disebabkan oleh pandangan mata batin mereka yang dangkal melihat
adanya kontradiksi dari kebangkitan setelah kematian yang mengubah mereka
menjadi tulang-belulang dan hancur lumat setelah mati. Allah Ta'ala berfirman
mengenai orang-orang seperti mereka:
“Qaf.
Demi Al-Qur'an yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya,) bahkan mereka
heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari
kalangan mereka sendiri. Orang-orang kafir itu berkata, 'Ini adalah suatu hal
yang sangat ajaib. Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah (kami
akan kembali hidup)? Itu adalah pengembalian yang jauh (tidak mungkin).'”
(Q.S. Qaf [50]: 1-3)
Maka
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada mereka di dalam banyak ayat—yang
akan kami sebutkan sebagian darinya nanti—bahwa indra yang mereka gunakan untuk
menghadapi hakikat ini adalah indra yang lemah dan terbatas. Sebab, perumpamaan
hari kebangkitan dalam kehidupan manusia itu sangat banyak, namun sejatinya
bukanlah mata bendawi yang buta, melainkan hati yang ada di dalam dada itulah
yang buta.
Dalil-Dalil
Iman kepada Hari Akhir dan Bantahan atas Syubhat Orang-Orang yang
Mengingkarinya
Sungguh,
iman kepada Hari Akhir telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya,
sebagaimana akal sehat dan fitrah yang lurus juga menunjukkannya. Maka Allah
Subhanahu wa Ta'ala banyak menyebutkannya di dalam Kitab-Nya, menegakkan
dalil-dalil atasnya, serta membantah syubhat (kerancuan berpikir) orang-orang
yang mengingkari hari kebangkitan di banyak tempat. Al-Qur'an juga merinci
perkara-perkara hari tersebut beserta peristiwa-peristiwanya dengan rincian
yang belum pernah ada bandingannya dalam kitab-kitab terdahulu. Padahal, setiap
rasul yang Allah utus telah menyampaikan kabar gembira kepada kaumnya dan
memperingatkan mereka tentang hari yang agung ini, serta dihukumi kafir bagi
siapa saja yang mengingkarinya atau meragukannya.
Allah
Ta'ala berfirman:
“Allah,
tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat
yang tidak ada keraguan di dalamnya...” (Q.S. An-Nisa [4]: 87)
Dan
Dia berfirman:
“...Akan
tetapi, kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari
akhir...” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 177)
Dan
Dia juga berfirman:
“...Siapa
yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, sungguh dia telah tersesat sangat jauh.”
(Q.S. An-Nisa [4]: 136)
Al-Qur'an
mengabarkan kepada kita tentang Nuh Alaihissalam bahwa dia berkata kepada
kaumnya:
“Allah
menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan
kamu ke dalamnya dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan
senyata-nyatanya.” (Q.S. Nuh [71]: 17-18)
Dan
dari Ibrahim Alaihissalam bahwa dia berkata:
“...dan
yang sangat kuinginkan agar Dia mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan.”
(Q.S. Asy-Syu'ara' [26]: 82)
Dan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Musa Alaihissalam:
“Sesungguhnya
hari Kiamat itu pasti datang. Aku hampir (benar-benar) menyembunyikannya agar
setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. Maka, janganlah
engkau dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan
mengikuti hawa nafsunya yang menyebabkan engkau binasa.” (Q.S. Taha [20]:
15-16)
Allah
Subhanahu wa Ta'ala juga telah memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad ﷺ, untuk bersumpah demi
Nama-Nya atas kepastian hari kebangkitan di lebih dari satu tempat, di
antaranya adalah firman-Nya Ta'ala:
“Orang-orang
kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Nabi Muhammad),
'Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan...'” (Q.S.
At-Taghabun [64]: 7)
Orang-orang
yang mengingkari hari kebangkitan sesungguhnya telah mendustakan seluruh rasul
Allah , yang mana dalil-dalil akli maupun indrawi yang mutlak telah tegak atas
kebenaran mereka dalam setiap apa yang mereka kabarkan. Mendustakan mereka
dalam kabar apa pun merupakan bentuk pengekangan terhadap akal yang telah
memutuskan kebenaran mereka, sekaligus sebuah pendustaan serta penentangan yang
sama sekali tidak masuk akal.
Orang-orang
yang mengingkari hari kebangkitan tidak memiliki dalil sepeser pun atas
pengingkaran mereka , sebab hari kebangkitan adalah bagian dari perkara gaib
yang tidak diketahui melainkan oleh Allah. Aturan standar (al-dhabit)
dalam perkara-perkara semacam ini adalah bahwa tidak ada jalan bagi siapa pun
untuk menetapkan atau mengingkarinya kecuali melalui satu jalan tunggal, yaitu
pemberitahuan dari Allah Azza wa Jalla.[Aturan standar ini merupakan salah satu
perkara aksiomatis bagi akal sehat (badihiyyatul uqul). Kita mengetahui
secara aksiomatis bahwa tidak mungkin bagi seseorang untuk menetapkan atau
menafikan keberadaan sesuatu di suatu tempat atau waktu tertentu kecuali dengan
melihatnya langsung atau diberitahu oleh orang yang mengetahuinya, sepanjang
keberadaan atau ketiadaan sesuatu tersebut tidak kontradiktif dengan akal dan
tidak mustahil dalam hikmah-Nya. Jika ada seseorang dari kalangan awam
menetapkan atau menafikan keberadaan sebuah bintang di suatu posisi langit
tanpa diberitahu oleh ahli astronomi, tentulah kita menghukuminya berdusta.
Begitu pula siapa pun yang mengklaim tahu tentang keberadaan Hari Akhir tanpa
ada yang memberitahunya, pastilah ia dihukumi dusta. Maka bagaimana halnya
ketika perkara tersebut dikabarkan oleh sosok yang mustahil berdusta, yaitu
para nabi dan rasul? Seluruh manusia jika dibandingkan dengan alam gaib
statusnya adalah awam, dan yang mengetahuinya secara mutlak hanyalah Allah
semata. Oleh karena itu, janganlah engkau mengikuti urusannya kecuali dari
orang yang telah diajarkan oleh Allah, yaitu para rasul-Nya yang mulia]. Maka,
barangsiapa yang hujah-hujah mutlak telah tegak atas dirinya bahwa dia menerima
wahyu dari sisi Allah Ta'ala, dialah yang jujur (benar) dalam apa yang
dikabarkannya mengenai perkara-perkara tersebut. Dan perkara ini adalah hal
yang tidak terbukti melainkan bagi para rasul yang mulia—alaihimus shalatu was
salam. Merekalah orang-orang yang dikukuhkan oleh Allah dengan
mukjizat-mukjizat serta diperlihatkan kepada mereka sebagian dari perkara gaib.
Dan telah berlalu penjelasan mengenai kesepakatan mereka dalam mengabarkan
tentang Hari Akhir.
Orang-orang
yang mengingkari hari kebangkitan hanyalah melontarkan beberapa syubhat dan
keraguan di seputar keberadaan hari tersebut, seperti menganggap mustahil
kembalinya kehidupan setelah mereka berubah menjadi tulang belulang, hancur
lumat, dan menjadi tanah. Mereka berkata, sebagaimana yang Allah kabarkan
mengenai mereka:
“...Apakah
apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah (kami akan kembali hidup)? Itu
adalah pengembalian yang jauh (tidak mungkin).” (Q.S. Qaf [50]: 3)
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
“Mereka
berkata, 'Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita, kita mati dan
kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita melainkan masa.' Mereka tidak
mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga.” (Q.S. Al-Jasiyah
[45]: 24)
Syubhat
mereka semua tidak keluar dari menganggapnya mustahil (al-istib'ad),
menganggapnya terlalu besar (al-isti'zham), dan merasa heran (at-ta'ajjub).
Sungguh
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membantah syubhat-syubhat ini dan menjelaskan
kelemahannya di lebih dari satu tempat di dalam Kitab-Nya yang Mulia. Dia
menjelaskan kepada mereka bahwa iman kepada hari kebangkitan (al-ma'ad)
tidak diingkari oleh akal bahkan didukung olehnya, serta tidak menyalahi hal
yang biasa terjadi (al-ma'hud), melainkan ia memiliki contoh-contoh
nyata dalam kehidupan manusia serta bukti-bukti konkret dari ciptaan Sang
Khalik. Di antaranya adalah:
1.
Firman Allah Ta'ala:
“Mereka
berkata, 'Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang
hancur, mungkinkah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk
yang baru?' Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Jadilah kamu batu, besi, atau makhluk
lain yang membebani pikiranmu (yang menurutmu tidak mungkin dihidupkan
kembali).' Maka, mereka akan bertanya, 'Siapa yang akan menghidupkan kami
kembali?' Katakanlah, '(Dia) yang telah menciptakan kamu pertama kali.' Lalu,
mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu dan bertanya, 'Kapankah
(hari kebangkitan) itu?' Katakanlah, 'Boleh jadi ia sudah dekat,' (yaitu) pada
hari (ketika) Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan
kamu mengira bahwa kamu hanyalah tinggal (di dunia) sebentar saja.” (Q.S.
Al-Isra' [17]: 49-52)
Maka
perhatikanlah syubhat-syubhat yang mereka lontarkan ini, di mana apa yang
dilontarkan oleh orang-orang yang mengingkari di setiap zaman tidak pernah
bergeser darinya : mereka menganggap mustahil bagi Allah untuk mengubah
jasad-jasad yang telah hancur lumat dan menjadi tulang belulang menjadi makhluk
baru yang dapat mengindra serta merasa. Mereka menganggap kemampuan Allah
terlampau besar untuk itu, dan menjauhkannya karena mereka tidak tahu kapan
terjadinya. Syubhat-syubhat tersebut—sebagaimana yang engkau lihat—sumber
utamanya adalah kebodohan terhadap hakikat kehidupan dan kematian, serta
kelalaian terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla , serta kebutaan dari melihat
jejak-jejak kekuasaan mutlak ini dalam mewujudkan sesuatu dari ketiadaan (al-insya'
minal 'adam).
Sebenarnya
cukuplah bagi mereka—jika mereka mau berakal—untuk mengingat kekuasaan Allah
ketika Dia menciptakan mereka pertama kali, padahal sebelumnya mereka bukanlah
berupa apa pun, agar mereka yakin akan kebenaran Sang Pencipta dalam apa yang
dikabarkan-Nya kepada mereka mengenai hari kebangkitan, perhitungan amal,
pahala, serta siksaan. Persoalannya sangat sederhana, dan jawabannya sangat
telak di balik kesederhanaan dan kejelasannya : bahwasanya manusia telah
mendapati dirinya tercipta setelah sebelumnya tidak ada, maka pasti ada
Pencipta yang mewujudkannya dari ketiadaan. Kemudian dia berubah dari satu
keadaan ke keadaan lain dengan berpisahnya kehidupan (kematian), maka pasti ada
Pelaku di balik perubahan ini, dan Dia tidak lain adalah Allah yang telah
menciptakan pertama kali. Seandainya ada yang lain selain Dia, tentulah makhluk
tersebut mampu menolak kematian dari dirinya sendiri. Jika setelah itu Sang
Pencipta yang Maha Menghidupkan lagi Maha Mematikan ini mengabarkan bahwa Dia
akan menghidupkan kembali manusia pada kesempatan lain dan mengulangi
penciptaannya, maka perdebatan mereka dalam hal itu tidak lain hanyalah bentuk
pembangkangan dan kesombongan. Allah Ta'ala berfirman:
“Katakanlah
(Nabi Muhammad), 'Allah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, lalu
mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan di dalamnya, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.'” (Q.S. Al-Jasiyah [45]: 26)
2.
Dan Allah Ta'ala berfirman:
“Dia
membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya. Dia berkata,
'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur lumat?'
Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang
membentukkannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu
(Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau. Maka, seketika itu
kamu menyalakan (api) darinya.' Bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan
bumi mampu menciptakan kembali yang serupa dengan mereka (manusia yang sudah
mati itu)? Benar, Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Yasin [36]:
78-81)
Penulis
kitab Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah berkata dalam menjelaskan ayat-ayat
mulia ini:
"Seandainya
manusia yang paling berilmu, paling fasih, dan paling mumpuni dalam memberikan
penjelasan bermaksud mendatangkan hujah yang lebih baik dari hujah ini, atau
yang semisalnya dengan lafaz-lafaz yang menyerupai lafaz-lafaz ini dalam hal
keringkasan (ijaz), kejelasan dalil, serta kesahihan bukti, niscaya ia
tidak akan sanggup. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta'ala membuka hujah ini dengan
sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang ateis (mulhid) yang
menuntut jawaban. Maka di dalam firman Allah Ta'ala (“dan melupakan asal
kejadiannya”) terdapat pemenuhan jawaban yang menegakkan hujah sekaligus
melenyapkan syubhat. Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala hendak menegaskan hujah
tersebut dan menambah penetapannya, Dia berfirman: (“Katakanlah, Yang akan
menghidupkannya ialah yang membentukkannya pertama kali”) , maka Dia
berhujah dengan ciptaan awal (al-ibda') atas pengulangan ciptaan (al-i'adah),
serta dengan kejadian pertama atas kejadian berikutnya. Sebab, setiap orang
yang berakal mengetahui secara aksiomatis bahwa siapa yang mampu atas hal ini,
pasti mampu pula atas hal itu, dan seandainya Dia lemah dari yang kedua,
niscaya dari yang pertama Dia akan lebih lemah lagi.
Karena
penciptaan menuntut kemampuan Sang Pencipta atas makhluk-Nya serta
pengetahuan-Nya terhadap rincian ciptaan-Nya, maka Allah mengiringi hal
tersebut dengan firman-Nya: (“Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”).
Dia Maha Mengetahui rincian ciptaan yang pertama, bagian-bagiannya,
bahan-bahannya, serta bentuknya; begitu pula dengan ciptaan yang kedua. Jika
Dia memiliki ilmu yang sempurna dan kekuasaan yang paripurna, bagaimana mungkin
sulit bagi-Nya untuk menghidupkan tulang belulang yang telah hancur lumat?
Kemudian
Dia menegaskan perkara tersebut dengan hujah yang kuat dan bukti yang nyata
yang mengandung jawaban atas pertanyaan ateis lainnya yang mengatakan: 'Tulang
belulang apabila telah menjadi hancur lumat, secara tabiatnya akan kembali
menjadi dingin lagi kering, padahal kehidupan itu wajib memiliki bahan dan
pembawa berupa tabiat yang panas lagi basah...'
Maka
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: (“yaitu yang menjadikan api untukmu
dari kayu yang hijau. Maka, seketika itu kamu menyalakan darinya”). Allah
mengabarkan tentang pengeluaran unsur ini—yang berada dalam puncak panas dan
kering—dari pohon hijau yang sarat dengan kebasahan dan dingin, yang
mengeluarkan sesuatu dari lawannya, dan bahan-bahan makhluk serta
unsur-unsurnya tunduk kepada-Nya tanpa bisa membangkang terhadap-Nya. Dialah
yang melakukan apa yang diingkari dan ditolak oleh ateis tersebut.
Selanjutnya,
Dia menegaskan hal ini dengan mengambil dalil dari sesuatu yang lebih agung dan
besar atas sesuatu yang lebih mudah dan kecil. Sebab setiap orang yang berakal
mengetahui bahwa siapa yang mampu mengangkat satu kuintal (qinthar),
tentulah untuk mengangkat satu ons (uqiyah) dia akan jauh lebih mampu
lagi. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: (“Bukankah yang menciptakan
langit dan bumi mampu menciptakan kembali yang serupa dengan mereka”). Maka
Dzat yang telah mewujudkan langit dan bumi di atas keagungan keduanya, besarnya
kedudukan keduanya, besarnya ukuran jasad keduanya, luasnya keduanya, serta
keajaiban ciptaan keduanya, tentu jauh lebih mampu untuk menghidupkan tulang
belulang yang telah hancur lumat, lalu mengembalikannya kepada keadaannya
semula."
3.
Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Wahai
manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal
darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu; dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang
Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu
sebagai bayi, kemudian (kamu dibimbing) sampai mencapai usia dewasa. Di
antaramu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antaramu yang dikembalikan
sampai usia sangat tua (pikun) sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun
yang dahulu telah diketahuinya. Kamu lihat bumi itu kering, maka apabila telah
Kami turunkan air (hujan) di atasnya, ia bergerak, mengembang, dan menumbuhkan
berbagai jenis (tumbuhan) yang indah. Yang demikian itu karena sesungguhnya
Allah, Dialah Al-Haq (Yang Mahabenar), sesungguhnya Dia menghidupkan segala
yang mati, dan sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya
hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sesungguhnya
Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” (Q.S. Al-Hajj [22]:
5-7)
Maka
renungkanlah ayat-ayat yang mulia ini dari Surat Al-Hajj, karena di dalamnya
terdapat dalil-dalil atas hari kebangkitan serta tanda-tanda yang nyata atas
kekuasaan Allah dalam menghidupkan orang mati, yang mana hal itu dapat
menghapus setiap keraguan dari dalam hati mengenai hakikat ini, melenyapkan
setiap keheranan, serta meruntuhkan syubhat orang-orang yang menentang.
A.
Di dalam ayat tersebut pertama-tama terdapat dalil tentang permulaan penciptaan
makhluk (dalil insya'il khalq) dan awal mula mereka dari tanah yang di
dalamnya tidak ada tanda-tanda kehidupan sedikit pun, dan telah berlalu
penjelasan mengenai dalil ini.
B.
Di dalamnya juga ditampakkan bentuk dari manifestasi kekuasaan Allah dalam
menciptakan manusia, serta memindahkannya dari satu fase ke fase yang lain (min
thaurin ila thaur), dan dari satu kondisi ke kondisi lain yang berbeda sama
sekali dari kondisi pertama.
Maka
Dzat yang telah memindahkannya dari setetes mani (nuthfah) menjadi
segumpal darah ('alaqah), kemudian menjadi segumpal daging (mudhghah),
lalu membelah pendengaran dan penglihatannya, serta menyusun di dalam dirinya
indra-indra, kekuatan, tulang belulang, saraf, dan lain sebagainya, kemudian
menyempurnakan penciptaannya dengan puncak kesempurnaan dan mengeluarkannya
dalam bentuk serta rupa yang merupakan rupa paling sempurna dan paling baik,
sebagaimana firman-Nya Ta'ala:
“Sungguh,
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S.
At-Tin [95]: 4)
bagaimana
mungkin Dia lemah untuk membangkitkannya kembali serta mengembalikan kehidupan
kepadanya? Maka ini tidak lain hanyalah proses pemindahan dari satu kondisi ke
kondisi yang lain, dan orang yang menentang dapat melihat perumpamaannya di
dalam dirinya sendiri dan pada setiap manusia di atas permukaan bumi ini.
Sungguh,
Al-Ustadz Sayyid Quthb—rahimahullah Ta'ala—setelah menafsirkan ayat-ayat di
atas telah mengisyaratkan kepada sebuah makna yang lembut yang dikandung oleh
ayat-ayat tersebut, beliau mengatakan:
"Sesungguhnya
fase-fase yang dilewati oleh janin ini, kemudian dilewati oleh bayi setelah ia
melihat cahaya (lahir), memberikan isyarat bahwa Kehendak yang mengatur (Al-Iradah
Al-Mudabbirah) fase-fase ini akan mendorong manusia menuju tempat di mana
ia mencapai kesempurnaan yang mungkin baginya di negeri kesempurnaan (akhirat).
Sebab, manusia tidak mencapai kesempurnaan dalam kehidupan di bumi, ia sempat
berdiri lalu kembali mundur: “sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun
yang dahulu telah diketahuinya”. Maka harus ada negeri lain (dar ukhra)
yang di dalamnya kesempurnaan manusia diparipurnakan.
Dengan
demikian, penunjukan fase-fase ini terhadap hari kebangkitan bersifat ganda: ia
menunjukkan hari kebangkitan dari sisi bahwa Dzat yang mampu memulai penciptaan
pasti mampu untuk mengulangnya; dan ia menunjukkan hari kebangkitan karena
Kehendak yang mengatur akan menyempurnakan perkembangan manusia di negeri
akhirat."
Dan
begitulah hukum-hukum penciptaan dan pengulangan bertemu dengan hukum-hukum
kehidupan dan kebangkitan, serta hukum-hukum perhitungan dan pembalasan amal;
semuanya memberikan kesaksian atas rukun ini. Di dalam penciptaan manusia dan
keberadaan fase air mani serta segumpal darah terdapat kilasan lain : yaitu
mengarahkan pandangan orang-orang yang menentang lagi mengingkari hari
kebangkitan dan penghidupan orang mati, kepada fakta bahwa perbuatan rabbani
ini nyata adanya pada setiap individu mereka dan pada setiap manusia. Karena
sebelum menjadi manusia yang sempurna (basyaran sawiyya), ia dahulunya
adalah setetes mani dari air yang hina yang tidak bernilai, lalu menjadi
segumpal darah dan segumpal daging, yaitu potongan daging yang belum berbentuk
dan belum terencana garisnya. Semua itu merupakan fase-fase yang rendah, yang
di dalamnya manusia sangat mirip dengan sesuatu yang mati. Namun demikian,
Allah Subhanahu wa Wa Jalla menciptakan kehidupan di dalamnya, membentuknya,
serta menitipkan di dalamnya sebab-sebab kehidupan hingga pada akhir urusannya
ia menjadi manusia sempurna yang dapat berpikir, merasa, berdebat, dan
menyanggah. Maka betapa miripnya mahakarya rabbani ini dengan penghidupan
orang-orang mati yang diingkari oleh orang-orang yang ingkar terhadap hari
kebangkitan. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Bukankah
dia mulanya setetes mani yang dipancarkan, kemudian (mani itu) menjadi segumpal
darah, lalu (Allah) menciptakan dan menyempurnakannya? Lalu, Dia menjadikan
darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat)
demikian itu berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (Q.S. Al-Qiyamah
[75]: 37-40)[^6]
C.
Dan di dalam ayat-ayat terdahulu terdapat dalil lain bagi hari kebangkitan
serta tanda nyata lainnya atas kekuasaan Allah dalam menghidupkan orang mati:
yaitu bumi yang gersang ini, engkau tidak melihat adanya jejak kehidupan di
atasnya dan tidak tumbuh apa pun padanya. Namun apabila Allah menurunkan hujan
di atasnya, tampaklah kehidupan padanya dan ia menumbuhkan tanaman serta
beraneka ragam tumbuhan dengan perbedaan warna, rasa, aroma, bentuk, dan
manfaatnya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
“...Sesungguhnya
(Allah) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan orang-orang yang mati.
Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Fushshilat [41]: 39)
Sungguh
Rasulullah ﷺ
pernah ditanya: "Bagaimana Allah menghidupkan orang mati? Dan apa
tandanya di dalam ciptaan-Nya?" Beliau menjawab:
أَمَا مَرَرْتَ
بِوَادِي أَهْلِكَ مُمْحِلًا؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: ثُمَّ مَرَرْتَ بِهِ يَهْتَزُّ
خَضِرًا؟ قَالَ: بَلَى،
قَالَ: فَكَذَلِكَ يُحْيِي اللهُ الْمَوْتَى، وَذَلِكَ آيَتُهُ فِي خَلْقِهِ
(“Bukankah
engkau pernah melewati lembah kaummu dalam keadaan gersang?” Dia menjawab:
“Benar.” Beliau bertanya lagi: “Kemudian engkau melewatinya lagi dalam keadaan
subur menghijau?” Dia menjawab: “Benar.” Beliau bersabda: “Maka begitulah cara
Allah menghidupkan orang mati, dan itulah tanda-Nya di dalam ciptaan-Nya.”)
[Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Lihat Tafsir Ibn Katsir
(Jilid 2, hlm. 208) dan Shahih Al-Jami' As-Shaghir (Jilid 1, hlm. 420).]
4.
Dan Allah Ta'ala berfirman:
“Apakah
kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara bersenang-senang (saja) dan
kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al-Mu'minun [23]: 115)
Dan
Dia juga berfirman:
“Apakah
manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa
pertanggungjawaban)?” (Q.S. Al-Qiyamah [75]: 36)
Kedua
ayat ini dan yang sejenis dengannya menetapkan bahwa iman kepada hari
kebangkitan, perhitungan amal, dan pembalasan merupakan bagian dari konsekuensi
tauhid kepada Allah dalam sifat-sifat-Nya yang sempurna serta nama-nama-Nya
yang indah (Asma'ul Husna). Maka rukun ini merupakan kelaziman dari
rukun pertama di antara rukun-rukun iman, dan barangsiapa yang kufur kepadanya,
ia tidaklah beriman kepada Allah Azza wa Jalla, karena hal itu melazimkan
kekufurannya terhadap hikmah Tuhannya serta keadilan-Nya dalam ciptaan-Nya,
sekaligus meniadakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Di
antara konsekuensi dari kekufuran ini adalah penghinaan manusia terhadap
dirinya sendiri, dengan keyakinannya bahwa ia diciptakan secara sia-sia tanpa
adanya hikmah yang mendalam. Serta menganggap bahwa keberadaannya di bumi
dibatasi dan diikat oleh umur yang pendek yang dipenuhi dengan kesengajaan,
kesedihan, musibah, kezaliman, kesewenang-wenangan, dan dosa, lalu ia dibiarkan
begitu saja; sehingga orang yang zalim tidak dibalas atas kezalimannya, orang
yang adil tidak dibalas atas keadilannya, orang yang berbuat perbaikan tidak
dibalas atas perbaikannya, orang yang merusak tidak dibalas atas perusakannya ,
dan orang yang berbuat buruk tidak dibalas atas keburukannya. Maka iman kepada
hari kebangkitan dan Hari Akhir inilah yang selayaknya bagi keagungan Allah,
keadilan-Nya, serta hikmah-Nya, yang diputuskan oleh akal sehat serta
ditenterami oleh fitrah yang lurus.
Rincian
Iman kepada Hari Akhir
Jika
iman kepada Hari Akhir termasuk rukun paling penting yang menjadi landasan
iman, maka sesungguhnya ia tidak akan terwujud dan tidak akan menjadi sempurna
melainkan dengan dua perkara: [Lihat: Al-Wahyu Al-Muhammadi hlm. 178-179,
Mabadi' Al-Islam karya Al-Maududi hlm. 91, dan Al-Aqidah Al-Wasithiyyah hlm.
179-180.]
Pertama:
Seorang hamba mengimani Hari Akhir secara garis besar (shuratan ijmaliyyatan),
dan ini merupakan batas minimal untuk memenuhi rukun ini dari rukun-rukun iman.
Kedua:
Mengimani segala apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ berupa perkara-perkara gaib yang terjadi
setelah kematian. Kami akan menyebutkan di bawah ini perkara paling penting
yang telah disebutkan dalam hadis-hadis yang sahih dan ayat-ayat yang mulia
dari urusan-urusan tersebut:
1.
Fitnah Kubur dan Pertanyaan Dua Malaikat:
Maka
wajib bagi kita untuk mengimani apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ mengenai fitnah kubur
dan pertanyaan dua malaikat kepada manusia tentang Tuhannya, agamanya, dan
nabinya. Sungguh beliau Alaihis shalatu was salam telah mengabarkan dalam
hadis-hadis yang sahih bahwa manusia akan diuji di dalam kubur mereka, lalu
dikatakan kepada seorang hamba: "Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa
nabimu?"
Maka
orang mukmin akan menjawab: "Tuhanku adalah Allah, Islam adalah
agamaku, dan Muhammad ﷺ
adalah nabiku." Adapun orang yang ragu (al-murtab) akan
berkata: "Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu
lalu aku pun mengatasinya (mengatakannya)," maka ia dipukul dan
disiksa.
Di
antara hadis-hadis yang turun mengenai hal tersebut adalah:
Hadis
yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Asma' Radhiyallahu 'Anha bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ
أَكُنْ أُرِيتُهُ إِلَّا رَأَيْتُهُ فِي مَقَامِي هَذَا ، حَتَّى الْجَنَّةَ
وَالنَّارَ ، فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ مِثْلَ —
أَوْ قَرِيبًا مِنْ — فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ، يُقَالُ : مَا عِلْمُكَ
بِهَذَا الرَّجُلِ ؟ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوِ الْمُوقِنُ فَيَقُولُ : هُوَ
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ ، جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى ، فَأَجَبْنَا
وَاتَّبَعْنَا ، هوَ مُحَمَّدٌ — ثَلَاثًا — فَيُقَالُ لَهُ : نَمْ صَالِحًا ،
قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ
. وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوِ الْمُرْتَابُ فَيَقُولُ :
لَا أَدْرِي ، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ
(“Tidak
ada sesuatu pun yang belum pernah diperlihatkan kepadaku melainkan aku telah
melihatnya di tempat berdiriku ini, hingga surga dan neraka. Lalu diwahyukan
kepadaku bahwasanya kalian akan diuji di dalam kubur-kubur kalian seperti —atau
mendekati— fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Dikatakan kepada kalian: 'Apa
pengetahuanmu tentang laki-laki ini?' Adapun orang mukmin atau orang yang
yakin, ia akan menjawab: 'Dia adalah Muhammad utusan Allah, dia datang kepada
kami membawa bukti-bukti yang nyata dan petunjuk, maka kami pun menyambutnya
dan mengikutinya, dialah Muhammad' —tiga kali—. Maka dikatakan kepadanya:
'Tidurlah dengan saleh (baik), sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau
benar-benar meyakininya.' Adapun orang munafik atau orang yang ragu, ia akan
berkata: 'Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku
pun mengatakannya'.”) [Hadis ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari bersama Fathul
Bari (Jilid 1, hlm. 148), dan merupakan hadis yang disepakati kesahihannya
(Muttafaq 'Alaih) dengan lafaz milik Al-Bukhari]
Dan
hadis yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik
Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا
وُضِعَ فِي قَبْرِهِ ، وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ ، إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ
نِعَالِهِمْ ، قَالَ : يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ ، فَيَقُولَانِ لَهُ :
مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ قَالَ : فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ
فَيَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ ، قَالَ : فَيُقَالُ لَهُ
: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا
مِنَ الْجَنَّةِ ، قَالَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ : فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا
(“Sesungguhnya
seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan para sahabatnya
telah berpaling meninggalkannya, ia benar-benar mendengar suara ketukan
sandal-sandal mereka. Beliau bersabda: 'Dua malaikat mendatanginya lalu
mendudukkannya, kemudian keduanya bertanya kepadanya: Apa yang dahulu engkau
katakan tentang laki-laki ini?' Beliau bersabda: 'Adapun orang mukmin, ia akan
menjawab: Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.' Beliau
bersabda: 'Maka dikatakan kepadanya: Lihatlah tempat dudukmu di neraka, sungguh
Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat duduk di surga.' Nabi Allah ﷺ bersabda: 'Maka ia
pun melihat keduanya sekaligus'.”)
Qatadah
berkata: “Dan disebutkan kepada kami bahwasanya kuburnya akan dilapangkan
sejauh tujuh puluh hasta dan dipenuhi dengan kesejukan (tanaman hijau) hingga
hari mereka dibangkitkan. Adapun orang munafik dan kafir, dikatakan kepadanya:
'Apa yang dahulu engkau katakan tentang laki-laki ini?' Maka ia menjawab: 'Aku
tidak tahu, aku dahulu mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang.' Maka
dikatakan kepadanya: 'Engkau tidak tahu dan tidak mau membaca (mengikuti).'
Lalu ia dipukul dengan palu dari besi dengan sekali pukulan, sehingga ia
berteriak dengan teriakan yang dapat didengar oleh makhluk di sekitarnya
kecuali jin dan manusia.” [Lihat: Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah karya
Muhammad Khalil Harras, hlm. 129-130]
Dan
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu
'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
(يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ) قَالَ: نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ، فَيُقَالُ لَهُ:
مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ﷺ، فَذَلِكَ
قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: (يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ
الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي
الْآخِرَةِ(
Artinya:
"(Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh) [Surah
Ibrahim - Ayat 27.], beliau bersabda: Ayat ini turun mengenai azab kubur. Maka
dikatakan kepadanya: 'Siapa Tuhanmu?' Lalu ia menjawab: 'Tuhanku adalah Allah
dan Nabiku adalah Muhammad ﷺ.'
Maka itulah firman Allah 'Azza wa Jalla: 'Allah meneguhkan (iman) orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat'." (HR. Bukhari dan Muslim, dan lafal ini milik Muslim) (Dan hadis
ini Muttafaq 'Alaih dan lafalnya milik Muslim - Lihat Shahih Muslim bi Syarh
An-Nawawi juz 17 hal. 204 dan Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 2 hal.
181.).
Dan
ada banyak hadis sahih lainnya yang menceritakan tentang penetapan adanya
fitnah kubur [ujian/pertanyaan di dalam kubur] dan pertanyaan dua malaikat.
2
- Azab Kubur dan Nikmatnya:
Setelah
fitnah kubur, kita wajib mengimani apa yang dikabarkan oleh Ash-Shadiq
(orang yang jujur/Nabi Muhammad) 'alaihi ash-shalatu wa as-salam
mengenai azab kubur dan nikmatnya. Dalil-dalil dari Al-Kitab (Al-Qur'an) dan
As-Sunnah telah saling menguatkan dalam perkara ini. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka
diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat
(dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab
yang sangat keras!" (QS. Ghafir: 45-46)
Allah
Subhanahu wa Ta'ala mengancam Firaun dan pengikutnya dengan dua jenis azab:
- Pertama: Apa yang
Allah isyaratkan dalam firman-Nya: "Kepada mereka diperlihatkan
neraka pada pagi dan petang."
- Kedua: Apa yang Allah
isyaratkan dalam firman-Nya: "Dan pada hari terjadinya Kiamat
(dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab
yang sangat keras!'"
Sebab
azab yang kedua diathafkan [disambungkan dengan kata sambung] kepada azab yang
pertama, dan athaf itu mengonsekuensikan adanya perbedaan antara ma'thuf
(yang disambung) dan ma'thuf 'alaihi (yang disambungkan kepadanya).
Maka, perkara yang diisyaratkan pertama kali haruslah berbeda dengan perkara
yang kedua.
Oleh
karena azab yang kedua terjadi setelah tegaknya hari Kiamat, maka azab yang
pertama pastilah terjadi pada mereka di antara kematian dan hari kebangkitan
(Nasyur), yaitu azab kubur (44).
Allah
'Azza wa Jalla juga mengisyaratkan adanya azab yang terjadi setelah kematian
dalam firman-Nya:
"Alangkah
ngerinya sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim berada dalam
kejutan-kejutan sakaratulmaut, sedang para malaikat memukulkan tangan mereka
(sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu!" Pada hari ini kamu dibalas
dengan azab yang sangat menghinakan..." (QS. Al-An'am: 93)
Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengenai ayat ini, beliau berkata:
"Ini terjadi ketika mati, dan al-basthu artinya pukulan, mereka memukul
wajah-wajah mereka dan punggung-punggung
mereka." Ibnu Hajar berkata: "Hal ini dikuatkan oleh firman Allah
Ta'ala dalam surah Al-Qital (Surah Muhammad): 'Maka bagaimanakah (nasib mereka)
apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul wajah dan punggung mereka?'
Kemudian beliau berkata: 'Ini, meskipun terjadi sebelum penguburan, termasuk
dalam bagian azab yang terjadi sebelum hari Kiamat, dan azab tersebut
disandarkan kepada kubur karena mayoritasnya terjadi di dalam kubur'." (Lihat
Fathul Bari juz 3 hal. 180.).
Adapun
hadis-hadis sahih yang menetapkan adanya azab kubur sangatlah banyak hingga
mencapai derajat mutawatir. Imam An-Nawawi berkata dalam syarahnya terhadap
Shahih Muslim: "Ketahuilah bahwa mazhab Ahlussunnah menetapkan adanya azab
kubur, dan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah telah saling menguatkan
dalam hal ini. Allah Ta'ala berfirman: 'Kepada mereka diperlihatkan neraka pada
pagi dan petang', dan hadis-hadis sahih dari Nabi ﷺ dari riwayat sekelompok sahabat di
berbagai tempat juga menguatkannya. Secara akal, tidaklah mustahil bagi Allah
Ta'ala untuk mengembalikan kehidupan pada sebagian jasad lalu mengazabnya .
Apabila akal tidak menghalanginya dan syariat telah datang membawanya, maka
wajib menerima dan meyakininya." (Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim
juz 17 hal. 200, 201.).
Imam
Muslim telah mencantumkan banyak hadis dalam kitab Shahih-nya mengenai
penetapan azab kubur, pendengaran Nabi ﷺ terhadap orang yang sedang diazab di
dalamnya, pendengaran orang mati terhadap ketukan sandal orang-orang yang
menguburkannya, perkataan Nabi ﷺ kepada para penghuni sumur (Badr) dan sabda beliau:
"Kalian tidak lebih mendengar daripada mereka", kelapangan bagi mayit
di dalam kuburnya jika ia termasuk orang-orang yang selamat, penampakan tempat
duduknya di surga atau neraka kepadanya, dan hal-hal lainnya (Lihat Shahih
Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 200 - 207.).
Di
antara hadis yang ada dalam perkara ini adalah apa yang diriwayatkan oleh
Muslim dalam Shahih-nya dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: "Ketika Nabi ﷺ
berada di sebuah kebun milik Bani Najjar di atas bighal [peranakan kuda dan
keledai] milik beliau, dan kami bersama beliau, tiba-tiba hewan itu berbelok
hingga hampir menjatuhkan beliau. Ternyata di sana ada kuburan yang berjumlah
enam, lima, atau empat kubur. Beliau bertanya: 'Siapa yang mengenali penghuni
kubur-kubur ini?'
Seorang
lelaki menjawab: 'Saya.' Beliau bertanya: 'Kapan mereka mati?'
Orang
itu menjawab: 'Mereka mati dalam kemusyrikan.' Beliau bersabda:
إِنَّ هَذِهِ
الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا، فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ
اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ
Artinya:
'Sesungguhnya umat ini diuji di dalam kubur mereka. Sekiranya kalian tidak akan
saling menguburkan, niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan
kepada kalian azab kubur yang aku dengar'."
Kemudian
beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: 'Berlindunglah kepada
Allah dari azab neraka.' Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari
azab neraka.'
Beliau
bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari azab kubur.' Mereka berkata: 'Kami
berlindung kepada Allah dari azab kubur.' Beliau bersabda: 'Berlindunglah
kepada Allah dari fitnah-fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.'
Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah, baik yang
tampak maupun yang tersembunyi.' Beliau bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah
dari fitnah Dajjal.' Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari fitnah
Dajjal.' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 202.).
Di
antaranya juga adalah apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim serta
selain keduanya dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ melewati dua kuburan,
lalu beliau bersabda:
إِنَّهُمَا
لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، أَمَّا
أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا
يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ
Artinya:
'Sesungguhnya keduanya benar-benar sedang diazab, dan keduanya tidak diazab
karena perkara yang besar (dalam pandangan mereka untuk ditinggalkan).'
Kemudian beliau bersabda: 'Benar (perkara itu besar). Adapun salah satunya, dia
dahulu berjalan melakukan namimah (adu domba), sedangkan yang satunya lagi, dia
dahulu tidak menutup diri (tidak bersuci dengan baik) dari kencingnya'." (Muttafaq
'Alaih dan lafalnya milik Al-Bukhari - Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul
Bari juz 3 hal. 188.).
Di
antaranya juga apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah
bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا
مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ
أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكُ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya:
'Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila mati, akan ditampakkan
kepadanya tempat duduknya pada waktu pagi dan petang. Jika ia termasuk penduduk
surga, maka (ditampakkan) sebagai penduduk surga, dan jika ia termasuk penduduk
neraka, maka (ditampakkan) sebagai penduduk neraka. Lalu dikatakan kepadanya:
Ini adalah tempat dudukmu sampai Allah membangkitkanmu pada hari Kiamat'."
(Muttafaq 'Alaih - Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 203 dan
Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 3 hal. 184)
Adapun
mengenai kaifiat [tata cara/hakikat bentuk] azab kubur dan nikmatnya, serta
bagaimana kembalinya ruh kepada mayit, maka tidak boleh ada penambahan di
dalamnya melebihi apa yang sahih dari Rasulullah ﷺ. Pensyarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah
berkata: "Telah mutawatir hadis-hadis dari Rasulullah ﷺ mengenai tetapnya
azab kubur dan nikmatnya bagi orang yang berhak mendapatkannya, serta
pertanyaan dua malaikat. Maka wajib meyakini ketetapan hal tersebut dan
mengimaninya, dan kita tidak membicarakan tentang kaifiatnya. Sebab akal tidak
memiliki jangkauan untuk mengetahui kaifiatnya, karena ia tidak memiliki
pengalaman yang serupa di alam dunia ini. Syariat tidak datang membawa perkara
yang mustahil bagi akal, akan tetapi ia terkadang membawa perkara yang
membingungkan akal. Sesungguhnya kembalinya ruh ke jasad bukanlah dengan cara
yang biasa di dunia, melainkan ruh dikembalikan kepadanya dengan pengembalian
yang berbeda dari pengembalian yang biasa dikenal di dunia.
Ketahuilah
bahwa azab kubur adalah azab barzakh. Setiap orang yang mati dalam keadaan
berhak menerima azab, maka ia akan mendapatkan bagian azabnya, baik ia
dikuburkan ataupun tidak dikuburkan. Seandainya ia dimakan oleh binatang buas,
atau terbakar hingga menjadi abu lalu ditiup angin, atau disalib, atau
tenggelam di laut, niscaya azab akan sampai kepada ruh dan badannya sebagaimana
yang sampai kepada orang yang dikubur. Apa yang diriwayatkan mengenai mayit
didudukkan, tulang rusuknya saling bersilangan, dan yang sejenisnya, wajib
dipahami sesuai maksud Rasulullah ﷺ tanpa bersikap ekstrem (ghuluw) maupun meremehkan (taqshir).
Janganlah membebani perkataan beliau dengan apa yang tidak dikandungnya, dan
jangan pula mengurangi maksud dan petunjuk serta penjelasan yang beliau
kehendaki." (Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 451, 452.).
Ibnu
Al-Qayyim berkata: "Mazhab salaf umat ini dan para imamnya adalah bahwa
mayit apabila telah mati, ia berada dalam kenikmatan atau azab, dan hal itu
terjadi pada ruh dan badannya . Ruh tetap ada setelah berpisah dari badan dalam
keadaan diberi nikmat atau diazab, dan ia terkadang tersambung dengan badan
sehingga badan merasakan nikmat atau azab bersama ruh. Kemudian, apabila hari
Kiamat besar telah tiba, ruh-ruh akan dikembalikan ke jasad-jasadnya dan mereka
bangkit dari kubur mereka menghadap Tuhan semesta alam. Kebangkitan jasad-jasad
adalah perkara yang disepakati di antara kaum muslimin, Yahudi, dan
Nasrani." (Al-Aqa'id Al-Islamiyyah Sayyid Sabiq hal. 237.).
3.
Asyrat As-Sa'ah [Tanda-Tanda Kiamat]:
Kita
wajib mengimani bahwa hari Kiamat pasti datang tanpa ada keraguan di dalamnya,
dan waktu terjadinya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Allah
menyembunyikannya dari seluruh manusia, termasuk para rasul dan nabi. Tidak ada
jalan bagi seorang pun untuk mengetahui berapa sisa umur dunia ini. Allah
Ta'ala berfirman:
"Mereka
menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, "Kapan terjadinya?"
Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku;
tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.
(Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di
bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba." Mereka
bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad),
"Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Allah, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Al-A'raf: 187) (54).
Akan
tetapi, kita wajib mengimani apa yang telah tetap dari Rasulullah ﷺ mengenai tanda-tanda
dan syarat-syaratnya.
Telah
sahih dari Rasulullah ﷺ
bahwa beliau menyebutkan tanda-tanda kecil (tanda-tanda minor) untuk hari
Kiamat, yang mayoritas berkisar pada kerusakan manusia di akhir zaman,
munculnya fitnah di antara mereka, dan jauhnya mereka dari petunjuk Allah serta
jalan para rasul, serta tanda-tanda besar (tanda-tanda maknor). Adapun mengenai
tanda-tanda kecil, telah diriwayatkan sekumpulan hadis sahih, kami sebutkan di
antaranya:
a
- Apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari sabda Rasulullah ﷺ:
«بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ
كَهَاتَيْنِ»
Artinya:
'Aku diutus, sedangkan jarak antara aku dan hari Kiamat adalah seperti dua jari
ini.' Dan beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya (Dikeluarkan
oleh Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi - Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a
Fathul Bari juz 11 hal. 293.). (56) Al-Aqa'id Al-Islamiyyah karya
Sayyid Sabiq hal. 245, Fathul Bari juz 11 hal. 293.
Hal
ini menunjukkan bahwa diutusnya Rasulullah ﷺ dan ditutupnya kenabian serta kerasulan
dengan beliau termasuk tanda dekatnya hari Kiamat. Di dalam hadis ini terdapat
dalil bahwa tidak ada nabi lain antara Nabi ﷺ dan hari Kiamat, sehingga Kiamat itu
mengiringi beliau dan datang setelah beliau, dan ini merupakan kabar tentang
dekatnya waktu terjadinya Kiamat.
b
- Di dalam hadis Jibril, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hari Kiamat,
maka beliau menjawab: "Tidaklah yang ditanya tentangnya lebih mengetahui
daripada yang bertanya." Jibril berkata: "Maka kabarkanlah kepadaku
tentang tanda-tandanya?" Beliau bersabda:
أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ
رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ
يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ
Artinya:
'Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, dan jika kamu melihat
orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala
kambing saling bermegah-megahan dalam mendirikan bangunan' [Muttafaq 'Alaih - Lihat Shahih Al-Bukhari
ma'a Fathul Bari juz 1 hal. 99, 100 dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi
juz 1 hal. 158. Dan redaksi Al-Bukhari adalah: "An taleda al-amatu
rabbaha." Mengenai makna bermegah-megah penggembala kambing dalam
bangunan, Al-Qurthubi berkata: "Maksudnya adalah mengabarkan tentang
perubahan keadaan di mana orang-orang pedalaman (badui) menguasai urusan
pemerintahan dan memiliki wilayah dengan paksaan, lalu harta mereka melimpah
dan fokus perhatian mereka beralih untuk meninggikan bangunan dan saling
menyombongkannya, dan sungguh kami telah menyaksikan hal tersebut di
zaman-zaman ini." Ditukil dari Al-Qurthubi oleh Ibnu Hajar dalam Fathul
Bari juz 1 hal. 101.] [Ibnu Hajar berkata mengenai maknanya:
"Bahwasanya durhaka kepada orang tua sangat banyak terjadi pada anak-anak,
sehingga anak memperlakukan ibunya seperti perlakuan seorang majikan kepada
budak wanitanya, berupa penghinaan dengan makian, pukulan, dan
mempekerjakannya. Maka lafal 'rabbaha' (tuannya) dilekatkan secara majas
(metafora) karena alasan tersebut. Atau yang dimaksud dengan 'Ar-Rabb' adalah
pendidik/pemelihara, maka ini menjadi makna hakikinya, dan ini adalah pendapat
yang paling kuat menurutku karena keumumannya... Dan kesimpulannya bahwa hari
Kiamat sudah dekat terjadinya ketika perkara-perkara menjadi terbalik, di mana
pendidik (orang tua) menjadi yang dididik, dan orang yang rendah posisinya
menjadi tinggi, dan ini sesuai dengan sabda beliau pada tanda yang lain: 'Bahwa
orang yang tidak beralas kaki menjadi raja-raja bumi'." (Lihat Fathul
Bari juz 1 hal. 122).]
c
- Al-Bukhari mengeluarkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«لَا
تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ يَكُونُ بَيْنَهُمَا
مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ، وَحَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ
كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلٌّ يَزْعَمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ،
وَحَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ،
وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ، وَحَتَّى يَكْثُرَ
فِيكُمُ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ
صَدَقَتَهُ، وَحَتَّى يَعْرِضَهُ فَيَقُولَ الَّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ: لَا
أَرَبَ لِي بِهِ، وَحَتَّى يَتَطَاوَلَ النَّاسُ فِي الْبُنْيَانِ، وَحَتَّى
يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ: يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ،
وَحَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا
النَّاسُ آمَنُوا أَجْمَعُونَ، فَذَلِكَ حِينَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا
لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا...»
Artinya:
'Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga dua kelompok besar saling berperang,
yang mana di antara keduanya terjadi pembunuhan yang besar padahal seruan
keduanya sama. Dan hingga muncul para dajjal pendusta yang jumlahnya mendekati
tiga puluh orang, semuanya mengaku bahwa dirinya adalah utusan Allah. Dan
hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa bumi, waktu saling berdekatan (terasa
singkat), fitnah-fitnah bermunculan, dan banyak al-harj yaitu pembunuhan. Dan
hingga harta melimpah ruah di antara kalian sampai-sampai pemilik harta merasa
bingung siapa yang mau menerima sedekah darinya, dan hingga ia menawarkannya
lalu orang yang ditawari berkata: "Aku tidak butuh harta itu." Dan
hingga manusia saling bermegah-megahan dalam membangun bangunan. Dan hingga
seorang lelaki melewati kuburan orang lain lalu berkata: "Aduhai,
seandainya aku berada di tempatnya." Dan hingga matahari terbit dari arah
barat. Maka apabila ia telah terbit dan manusia melihatnya, mereka semua akan
beriman. Pada hari itu tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman
sebelum itu atau belum mengusahakan kebaikan dalam imannya...' (Ibnu Hajar
berkata: "Maksudnya adalah kelompok Ali dan orang-orang yang bersamanya,
serta kelompok Muawiyah dan orang-orang yang bersamanya." Fathul Bari
juz 13 hal. 72.)
(60)
Yakni bermunculan. (61) Dan contoh mereka adalah Al-Aswad Al-Ansi penguasa
Sana'a, Musailamah Al-Kaddzab penguasa Yamamah, dan di antara yang mendaku nabi
adalah Thulaihah bin Khuwailid, dan Sajah. Dua orang yang terakhir ini telah
rujuk (bertaubat) dari dakwaannya. Dan di antara orang-orang kontemporer saat
ini adalah para pendiri Qadianiyah (Ahmadiyyah) dan Bahaiyyah - Lihat Fathul
Bari juz 12 hal. 73 dan Al-Aqa'id Al-Islamiyyah Sayyid Sabiq hal.
246. (62) Yakni wafatnya para ulama agama dan para dai yang menyeru kepada
Allah 'Azza wa Jalla. (63) Yang dimaksud adalah dicabutnya keberkahan dari
segala sesuatu bahkan dari waktu, sehingga satu tahun dalam keberkahannya dan
pemanfaatannya terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti satu jumat
(pekan), satu jumat seperti satu hari, dan satu hari seperti satu jam - Fathul
Bari juz 13 hal. 12 dan Taysirul Wushul juz 4 hal. 91. (64) Ini
termasuk tanda-tanda besar, sedangkan sisa tanda-tanda yang disebutkan di dalam
hadis adalah tanda-tanda kecil.
... وَلَتَقُومَنَّ
السَّاعَةُ وَقَدْ نَشَرَ الرَّجُلَانِ ثَوْبَهُمَا بَيْنَهُمَا فَلَا
يَتَبَايَعَانِهِ وَلَا يَطْوِيَانِهِ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدِ
انْصَرَفَ الرَّجُلُ بِلَبَنِ لِقْحَتِهِ فَلَا يَطْعَمُهُ، وَلَتَقُومَنَّ
السَّاعَةُ وَهُوَ يَلِيطُ حَوْضَهُ فَلَا يَسْقِي فِيهِ، وَلَتَقُومَنَّ
السَّاعَةُ وَقَدْ رَفَعَ أُكْلَتَهُ إِلَى فِيهِ فَلَا يَطْعَمُهَا
Artinya:
'...Dan hari Kiamat benar-benar akan terjadi ketika dua orang sedang menggelar
kain dagangan di antara keduanya, namun keduanya belum sempat berjual beli dan
belum sempat melipatnya. Dan hari Kiamat benar-benar akan terjadi ketika
seorang lelaki pulang membawa susu hasil perahan untanya [Al-Laqhah: adalah
unta yang memiliki susu (menyusui).], namun ia belum sempat meminumnya. Dan
hari Kiamat benar-benar akan terjadi ketika seseorang sedang memperbaiki kolam
airnya [Yakni memperbaikinya dengan tanah liat.], namun ia belum sempat memberi
minum (ternaknya) di kolam itu. Dan hari Kiamat benar-benar akan terjadi ketika
seseorang telah mengangkat suapan makanannya ke mulutnya, namun ia belum sempat
memakannya'." (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari - Lihat Shahih Al-Bukhari
ma'a Fathul Bari juz 13 hal. 70 - 76.)
d
- Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ
السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ، وَيَفْشُوَ الزِّنَا،
وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ، وَيَقِلَّ الرِّجَالُ حَتَّى
لِكُونِ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ
Artinya:
'Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu, munculnya
kebodohan, maraknya perzinaan, diminumnya khamr, banyaknya wanita, dan
sedikitnya lelaki, sampai-sampai bagi lima puluh wanita hanya ada satu orang
lelaki yang mengurus mereka'." (Lihat: Al-Bukhari ma'a Fathul Bari
juz 11 hal. 279.)
e
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang lelaki
bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
"Kapan hari Kiamat?" Beliau bersabda:
إِذَا ضُيِّعَتِ
الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ» قَالَ: وَكَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ:
«إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
Artinya:
'Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat.' Orang itu
bertanya: 'Bagaimana cara menyia-nyiakannya?' Beliau menjawab: 'Apabila suatu
urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat'."
f
- Dari Abu Hurairah juga, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ
حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ، فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ
حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ
الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي
فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ، إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ
Artinya:
'Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi,
lalu kaum muslimin membunuh mereka sampai-sampai seorang Yahudi bersembunyi di
balik batu dan pohon, kemudian batu atau pohon itu berkata: "Wahai muslim,
wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah
dia!" Kecuali pohon Gharqad, karena sesungguhnya ia adalah pohon
Yahudi'." (Dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani (Bukhari & Muslim) dan
lafalnya milik Muslim - Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18
hal. 44.)
Dan
ada banyak hadis sahih lainnya yang menyebutkan tanda-tanda lain yang muncul
sebelum tegaknya hari Kiamat, dan perkara itu dapat dirujuk di dalam
kitab-kitab Shahih (Anda dapat menemukan hal tersebut di dalam Shahihain pada
Kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah serta Kitab Ar-Riqaq dan di tempat-tempat
terpisah lainnya.).
Adapun
tanda-tanda besar, telah disebutkan dalam sebagian riwayat yang sahih dari
Rasulullah ﷺ
yang menyebutkan sepuluh tanda di antaranya, yaitu seperti hadis Hudzaifah bin
Asid Al-Ghifari, di mana ia berkata: "Nabi ﷺ muncul menemui kami saat kami sedang
saling mengingat (berdiskusi) . Beliau bertanya: 'Apa yang sedang kalian
bicarakan?' Mereka menjawab: 'Kami sedang mengingat hari Kiamat.' Beliau
bersabda:
«إِنَّهَا
لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْا قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ» فَذَكَرَ الدُّخَانَ،
وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ
عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَثَلَاثَةَ
خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ
الْعَرَبِ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى
مَحْشَرِهِمْ
Artinya:
'Sesungguhnya Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian melihat sepuluh tanda
sebelumnya.' Lalu beliau menyebutkan: Dukhan (asap), Dajjal, Dabbah (hewan
melata), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam 'alaihi
as-salam, Ya'juj dan Ma'juj, tiga khusuf (penenggelaman bumi): penenggelaman di
timur, penenggelaman di barat, dan penenggelaman di jazirah Arab, dan akhir
dari semua itu adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke
tempat mahsyar mereka." (Lihat: Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18
hal. 27.)
Berikut
di bawah ini kami jelaskan kepadamu tanda-tanda yang paling penting dan paling
masyhur berdasarkan apa yang disebutkan oleh para ulama, khususnya para
pensyarah hadis yang mulia:
a
- Terbitnya Matahari dari Barat:
Tanda
ini merupakan permulaan perubahan yang Allah lakukan terhadap tatanan alam
semesta dalam kehidupan dunia, sebagai maklumat atas dekatnya waktu terjadinya
hari Kiamat. Yang mana peristiwa tersebut dibarengi dengan perubahan total bagi
tatanan alam semesta sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam banyak surah di
Al-Qur'an al-Karim. Maka permulaan dari perubahan ini—sebagaimana yang terdapat
dalam banyak hadis—adalah terbitnya matahari dari arah barat, berbeda dengan
apa yang biasa terjadi yaitu terbit dari arah timur. Dzat yang telah
menerbitkannya dari arah timur Maha Kuasa untuk mengubah jalurnya, sebab Dia
adalah Penciptanya dan Pengatur urusannya.
Telah
diriwayatkan dalam sebagian hadis sahih dari Rasulullah ﷺ bahwa tanda ini
merupakan tanda besar yang pertama kali muncul [Ibnu Hajar berkata mengenai
urutan munculnya tanda-tanda besar hari Kiamat, teksnya berbunyi: "Maka
yang kuat dari totalitas riwayat adalah bahwa keluarnya Dajjal merupakan tanda
besar pertama yang mengabarkan perubahan kondisi umum di mayoritas bumi, dan
itu diakhiri dengan wafatnya Isa bin Maryam. Dan bahwasanya terbitnya matahari
dari barat adalah tanda besar pertama yang mengabarkan perubahan kondisi alam
atas, dan itu berakhir dengan terjadinya hari Kiamat. Dan barangkali keluarnya
Dabbah terjadi pada hari yang sama saat matahari terbit dari barat... Hikmah di
dalam hal tersebut adalah bahwa ketika matahari terbit dari barat, pintu taubat
telah ditutup, maka Dabbah keluar membawa tongkat Musa untuk memberi tanda pada
orang kafir sebagai penyempurna dari maksud penutupan pintu taubat. Dan tanda pertama
yang mengabarkan tegaknya hari Kiamat adalah api yang menggiring manusia dari
timur ke barat." Fathul Bari juz 11 hal. 296, 297. Maka kesimpulan
dari perkataan Ibnu Hajar adalah bahwa tanda-tanda besar ada tiga jenis: Yang
mengabarkan perubahan keadaan umum di bumi, yang mengabarkan perubahan keadaan
alam atas, dan yang mengabarkan tegaknya Kiamat. Dan yang dimaksud dengan
keawalan terbitnya matahari dari barat yang terdapat dalam hadis Abdullah bin
Umar adalah ia merupakan tanda pertama dari jenis yang kedua, yaitu jenis yang
apabila telah muncul maka tertutuplah pintu taubat dan pintu keimanan.].
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Aas radhiyallahu 'anhuma bahwa
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَوَّلَ الْآيَاتِ خُرُوجًا طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوجُ
الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحًى، وَأَيَّتُهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ
صَاحِبَتِهَا فَالْأُخْرَى عَلَى أَثَرِهَا قَرِيبًا»
Artinya:
'Sesungguhnya tanda yang pertama kali keluar adalah terbitnya matahari dari
arah baratnya, dan keluarnya Dabbah (hewan melata) kepada manusia pada waktu
dhuha. Mana saja di antara keduanya yang mendahului temannya, maka yang satunya
lagi akan menyusul setelahnya dalam waktu dekat'." (Dikeluarkan oleh
Muslim dan Abu Dawud - Lihat Fathul Bari juz 11 hal. 297, Sunan Abi
Dawud pada bab Amarat As-Sa'ah, Taysirul Wushul pada bab Asyrat
Mutafarriqah, dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 77.)
Telah
disebutkan dalam hadis Abu Hurairah terdahulu bahwa tanda ini apabila telah
muncul dan manusia melihatnya, mereka semua akan beriman. Pada saat itulah
tidak bermanfaat lagi iman seseorang jika ia belum beriman sebelum itu. Hal itu
adalah apa yang diisyaratkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya:
"...Pada
hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang
yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebaikan terhadap
imannya..." (QS. Al-An'am: 158).
Banyak
ahli tafsir yang menyimpulkan maknanya: Arti ayat tersebut adalah bahwa orang
kafir tidak bermanfaat imannya setelah terbitnya matahari dari barat, begitu
pula orang yang bermaksiat tidak bermanfaat lagi taubatnya. Dan barang siapa
yang belum beramal saleh sebelum itu, meskipun ia seorang mukmin, tidak
bermanfaat lagi amalannya setelah terbitnya matahari dari barat (Fathul Bari
juz 11 hal. 297.).
b
- Keluarnya Dabbah [Hewan Melata]:
Tanda
ini telah diisyaratkan oleh Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an di mana Dia yang
Maha Perkasa berfirman:
"Apabila
perkataan (ketentuan masa kehancuran) telah pasti atas mereka, Kami
mengeluarkan seekor binatang bergerak dari bumi yang akan mengatakan kepada
mereka bahwa manusia dahulu tidak yakin pada ayat-ayat Kami." (QS.
An-Naml: 82)
Penyebutan
tentang keluarnya Dabbah telah ada di dalam banyak hadis yang sebagiannya
sahih, dan sebagiannya telah disebutkan di depan. Tidak ada satu pun deskripsi
fisik yang sahih dari khabar-khabar tersebut mengenai bentuk Dabbah ini yang
dikeluarkan oleh Allah 'Azza wa Jalla menjelang hari Kiamat. Apa yang
disebutkan mengenai sifat-sifat fisiknya di sebagian buku, berasal dari
riwayat-riwayat yang tidak mencapai derajat sahih. Seorang mukmin tidak perlu
menyibukkan diri untuk mengetahui sifat-sifat fisik tersebut, cukuplah baginya
berhenti pada teks Al-Qur'an dan hadis sahih yang memberikan faidah bahwa
keluarnya Dabbah termasuk tanda Kiamat. Dan bahwasanya apabila ajal
penenerimaan taubat telah berakhir, dan ketetapan azab telah pasti atas
orang-orang yang tersisa, maka tidak diterima lagi taubat dari mereka setelah
itu, melainkan mereka diputuskan berdasarkan keadaan mereka saat itu. Pada saat
itulah Allah mengeluarkan Dabbah untuk berbicara kepada mereka serta memberikan
tanda pembeda atas orang mukmin dan atas orang kafir. Jika manusia biasanya
tidak mengenal adanya hewan yang berbicara, maka Sang Pencipta yang Maha Kuasa
mampu membuat hewan tersebut berbicara, sehingga manusia memahaminya dan mereka
mengetahui bahwa hewan itu adalah tanda luar biasa yang mengabarkan terjadinya
Kiamat atau dekatnya Kiamat. Padahal mereka sebelum itu tidak beriman kepada
ayat-ayat Allah dan tidak membenarkan adanya hari Kiamat (Fi Zhilalil Qur'an
- Jilid 6 hal. 308.).
c
- Munculnya Dajjal:
Dajjal
secara bahasa berarti pendusta yang sangat parah kedustaannya. Kata Ad-Dajl
dalam bahasa Arab bermakna menutupi (at-taghthiyah). Pendusta dinamakan
dajjal karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilannya. Termasuk tanda Kiamat
besar adalah munculnya seseorang yang dinamakan oleh Rasulullah ﷺ dengan sebutan Dajjal
karena banyaknya tipu daya dan kedustaannya. Ia mengaku memiliki uluhiyyah
(ketuhanan) dan mencoba memfitnah [menguji] manusia agar keluar dari agama
mereka dengan bantuan perkara-perkara luar biasa (khariqul 'adah) dan hal-hal
ajaib yang diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala terjadi melaluinya. Maka
sebagian manusia terfitnah karenanya, namun Allah meneguhkan orang-orang yang
beriman sehingga mereka tidak tertipu oleh kedustaan dan kesesatannya. Kemudian
Allah mengizinkan berakhirnya fitnah tersebut, lalu Isa 'Alaihissalam turun
kemudian membunuhnya.
Disebutkan
dalam Syarah An-Nawawi atas Shahih Muslim: "Hadis-hadis yang disebutkan
oleh Muslim dan selainnya mengenai kisah Dajjal adalah hujah bagi mazhab Ahlul
Haq (Ahlussunnah) dalam benarnya eksistensi Dajjal, dan bahwasanya ia adalah
seorang
person (manusia) tertentu, yang Allah jadikan sebagai ujian bagi
hamba-hamba-Nya . Allah memberikan kemampuan kepadanya untuk melakukan beberapa
hal yang berada dalam lingkup takdir Allah, seperti menghidupkan orang mati
yang telah ia bunuh, munculnya kesenangan dunia dan kesuburan bersamanya,
adanya surga dan neraka miliknya, dua sungainya, mengikutinya perbendaharaan
kekayaan bumi, perintahnya kepada langit untuk menurunkan hujan lalu hujan pun
turun, dan kepada bumi untuk menumbuhkan tanaman lalu tanaman pun tumbuh. Semua
itu terjadi dengan takdir Allah Ta'ala dan kehendak-Nya. Kemudian setelah itu
Allah menjadikannya lemah sehingga ia tidak mampu lagi membunuh lelaki tersebut
maupun orang lainnya, lalu urusannya menjadi batil dan ia dibunuh oleh Isa ﷺ. Allah meneguhkan
orang-orang yang beriman. Ini adalah mazhab Ahlussunnah, seluruh ahli hadis,
ahli fikih, dan ahli kalam, berbeda dengan orang yang mengingkarinya dan
membatalkan urusannya dari golongan Khawarij, Jahmiyyah, dan sebagian
Mu'tazilah. Serta berbeda dengan orang yang mengklaim bahwa ia benar
eksistensinya namun apa yang ia bawa hanyalah tipuan mata dan khayalan yang
tidak ada hakikatnya, mereka mengklaim bahwa seandainya hal itu nyata, niscaya
tidak akan ada kepercayaan lagi terhadap mukjizat para nabi shalawatullahi
wa salamuhu 'alaihim .
Ini
adalah kesalahan dari mereka semua, karena Dajjal tidak mendakwakan kenabian
sehingga apa yang bersamanya menjadi pembenaran baginya. Ia hanyalah
mendakwakan ketuhanan, padahal dalam dakwaannya tersebut keadaan dirinya
sendiri telah mendustakannya, dengan adanya tanda-tanda kebaharuan makhluk
(huduts) pada dirinya, kekurangan bentuk fisiknya, ketidakmampuannya untuk
menghilangkan cacat (picing) yang ada pada matanya, serta ketidakmampuannya
menghapus tanda kekafirannya yang tertulis di antara kedua matanya. Karena
dalil-dalil ini dan yang lainnya, tidak ada yang tertipu olehnya kecuali
orang-orang rendahan di antara manusia demi memenuhi kebutuhan dan kefakiran
mereka untuk sekadar bertahan hidup, atau karena taqiyyah (mencari selamat) dan
takut akan bahayanya, sebab fitnahnya sangat besar yang mengejutkan akal dan
membingungkan pikiran ditambah lagi dengan kecepatannya dalam bergerak di bumi,
sehingga orang-orang yang lemah tidak sempat merenungkan keadaan dirinya serta
tanda-tanda kekurangan dan kebaharuan makhluk pada dirinya, lalu orang yang
mempercayainya menjadi percaya dalam kondisi tersebut (Lihat Syarah
An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 18 hal. 58, 59.).
Oleh
karena itu, para nabi shalawatullahi wa salamuhu 'alaihim ajma'in
memperingatkan dari fitnahnya, dan mereka mengingatkan atas kekurangannya serta
dalil-dalil kebatilannya. Adapun orang-orang yang mendapatkan taufik, mereka
tidak akan tertipu olehnya dan tidak teperdaya dengan apa yang bersamanya,
dikarenakan dalil-dalil yang mendustakannya sebagaimana yang telah kami
sebutkan beserta ilmu yang telah mereka miliki sebelumnya mengenai
keadaannya." (Lihat Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 18 hal.
58, 59.).
Telah
diriwayatkan sekumpulan hadis sahih mengenai penyebutan Dajjal, kami sebutkan
di antaranya:
Dari
Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan
manusia, lalu beliau memuji Allah dengan pujian yang menjadi hak-Nya, kemudian
beliau menyebutkan tentang Dajjal, beliau bersabda:
إِنِّي
لَأُنْذِرُكُمُوهُ، وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ،
وَلَكِنِّي سَأَقُولُ لَكُمْ فِيهِ قَوْلًا لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ:
إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
Artinya:
'Sesungguhnya aku memperingatkan kalian darinya. Tidak ada seorang nabi pun
melainkan telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan mengatakan kepada
kalian sebuah perkataan yang belum pernah dikatakan oleh seorang nabi pun
kepada kaumnya: Sesungguhnya ia bermata juling (cacat sebelah) sedangkan Allah
tidaklah bermata juling'." (Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul
Bari juz 13 hal. 80 dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal.
59.)
Diriwayatkan
oleh Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah ﷺ bahwasanya beliau
bersabda:
«لَأَنَا
أَعْلَمُ بِمَا مَعَ الدَّجَّالِ مِنْهُ: مَعَهُ نَهْرَانِ يَجْرِيَانِ،
أَحَدُهُمَا رَأْيَ الْعَيْنِ مَاءٌ أَبْيَضُ، وَالْآخَرُ رَأْيَ الْعَيْنِ نَارٌ
تَأَجَّجُ، فَإِمَّا أَدْرَكَنَّ أَحَدٌ فَلْيَأْتِ النَّهْرَ الَّذِي يَرَاهُ
نَارًا، وَلْيُغَمِّضْ ثُمَّ لْيُطَأْطِئْ رَأْسَهُ فَيَشْرَبَ مِنْهُ فَإِنَّهُ
مَاءٌ بَارِدٌ، وَإِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ، عَلَيْهَا ظَفَرَةٌ
غَلِيظَةٌ، مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ، يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ
كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ»
'Sungguh
aku lebih mengetahui apa yang ada bersama Dajjal daripada dia sendiri:
Bersamanya ada dua sungai yang mengalir, salah satunya sejauh pandangan mata
berupa air putih, dan yang satunya lagi sejauh pandangan mata berupa api yang
berkobar. Jika salah seorang dari kalian menjumpainya, maka datangilah sungai
yang ia lihat berupa api, pejamkanlah mata lalu tundukkanlah kepalanya kemudian
minumlah darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin. Dan
sesungguhnya Dajjal itu terhapus matanya (buta sebelah), di atasnya ada selaput
tebal [Dengan fathah pada huruf Zha' dan Fa' (Zhafarah), yaitu lapisan kulit
yang menutupi pandangan mata, atau daging yang tumbuh di sudut mata dekat
hidung.], tertulis di antara kedua matanya "Kafir", yang dapat dibaca
oleh setiap mukmin, baik yang bisa menulis maupun yang tidak bisa
menulis'." (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 91)
Dari
An-Nawwas bin Sam'an, ia berkata: "Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang Dajjal pada suatu
pagi, beliau merendahkan dan meninggikan suaranya (dalam menjelaskan fitnahnya)
hingga kami mengira Dajjal itu berada di sekelompok pohon kurma. Ketika kami
mendatangi beliau, beliau mengetahui hal itu pada diri kami, lalu beliau
bertanya: 'Ada apa dengan kalian?'
Kami
menjawab: 'Wahai Rasulullah, engkau menyebutkan Dajjal pagi tadi, engkau
merendahkan dan meninggikan suara hingga kami mengira ia berada di sekelompok
pohon kurma.' Beliau bersabda:
غَيْرُ الدَّجَّالِ
أَخْوَفُنِي عَلَيْكُمْ، إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ
دُونَكُمْ، وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيجُ نَفْسِهِ،
وَاللَّهُ خَلِيفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ: إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ، عَيْنُهُ
طَافِئَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ، فَمَنْ
أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ، إِنَّهُ
خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّامِ وَالْعِرَاقِ، فَعَاثَ يَمِينًا وَعَاثَ
شِمَالًا، يَا عِبَادَ اللَّهِ فَاثْبُتُوا
Artinya:
'Bukan Dajjal yang paling aku takuti atas kalian. Jika ia keluar sedangkan aku
berada di antara kalian, maka akulah yang akan menghadapinya (berhujah
melawannya) demi melindungi kalian. Dan jika ia keluar sedangkan aku tidak
berada di antara kalian, maka setiap orang menjadi pembela bagi dirinya
sendiri, dan Allah adalah penggantiku dalam menjaga setiap muslim. Sesungguhnya
ia adalah pemuda berambut sangat keriting, matanya menonjol pecah, seakan-akan
aku menyamakannya dengan Abdul Uzza bin Qathan. Maka barang siapa di antara
kalian yang menjumpainya, bacakanlah atasnya ayat-ayat pembuka surah Al-Kahfi.
Sesungguhnya ia keluar dari jalan di antara Syam dan Irak (Ia akan muncul di
suatu tempat antara Syam dan Irak), lalu ia membuat kerusakan ke kanan dan
membuat kerusakan ke kiri. Wahai hamba-hamba Allah, teguhkanlah iman kalian!'
Kami
bertanya: 'Wahai Rasulullah, berapa lama ia tinggal di bumi?'
Beliau
menjawab: 'Empat puluh hari: satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti
satu bulan, satu hari seperti satu jumat (satu pekan), dan sisa hari-harinya
adalah seperti hari-hari kalian.' Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, pada hari
yang seperti satu tahun itu, apakah cukup bagi kami shalat satu hari?'
Beliau
menjawab: 'Tidak, ukurlah kadar waktunya.' Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah,
bagaimana kecepatannya di bumi?'
Beliau
menjawab: 'Bagaikan hujan yang ditiup angin. Ia mendatangi suatu kaum lalu
menyeru mereka, mereka pun beriman kepadanya dan memenuhi seruannya. Ia
memerintahkan langit lalu langit menurunkan hujan, dan memerintahkan bumi lalu
bumi menumbuhkan tanaman, hingga hewan ternak mereka pulang pada sore hari
dalam keadaan punuknya paling panjang [Adz-Dzura dengan dhummah pada huruf Dzal
bermakna bagian atas dan punuk-punuk unta], teteknya paling penuh berisi susu,
dan lambungnya paling berisi penuh (karena kenyang) [Amaddahu khawashir: Yakni
karena sangat penuhnya perut lantaran kenyang]. Kemudian ia mendatangi kaum
yang lain lalu menyeru mereka, namun mereka menolak perkataannya, maka ia
berpaling dari mereka, lalu mereka menjadi paceklik dan tidak ada sedikit pun
harta yang tersisa di tangan mereka. Ia melewati reruntuhan tanah lalu berkata
kepadanya: "Keluarkanlah perbendaharaan kekayaanmu!" Maka kekayaan
tanah tersebut mengikutinya bagaikan kelompok lebah jantan [Yakni seperti
kumpulan lebah, dan Ya'asib adalah lebah jantan]. Kemudian ia memanggil seorang
pemuda yang penuh dengan masa mudanya, lalu ia memukulnya dengan pedang hingga
memotongnya menjadi dua bagian [potong] sejauh jarak lemparan panah [Yakni ia
menjadikan jarak di antara dua potongan tubuh tersebut sejauh jarak lemparan
anak panah ke sasaran]. Kemudian ia memanggilnya kembali, lalu pemuda itu
datang dalam keadaan wajahnya berseri-seri sambil tertawa. Ketika mereka dalam
keadaan demikian, tiba-tiba Allah mengutus
Al-Masih
putra Maryam, lalu beliau turun di menara putih sebelah timur Damaskus di
antara dua lembar pakaian yang dicelup (mahruudatain) seraya meletakkan
kedua telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Apabila beliau menundukkan
kepalanya, maka air menetes, dan apabila beliau mengangkatnya, maka
berjatuhanlah butiran-butiran air bagaikan mutiara. Maka tidaklah halal (tidak
mungkin) bagi orang kafir yang mendapati embusan napasnya melainkan ia pasti
mati , dan embusan napasnya berakhir sejauh pandangan matanya. Lalu beliau
mencari Dajjal hingga menemukannya di pintu Ludd, kemudian beliau membunuhnya. (Lihat
Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 12 dan setelahnya.)
Hadis-hadis
ini dan hadis selainnya merupakan hujah (dalil) bagi mazhab Ahlussunnah
mengenai kewajiban meyakini munculnya Dajjal sesuai dengan apa yang dikabarkan
oleh Rasulullah ﷺ,
sifat-sifat yang beliau sebutkan tentangnya, serta akhir dari urusannya. Dan
bahwasanya peristiwa tersebut termasuk tanda-tanda besar bagi tegaknya hari
Kiamat.
Jika
ada yang bertanya: Bagaimana mungkin Allah memberlakukan tanda-tanda yang luar
biasa melalui tangannya, padahal mukjizat itu tidaklah ada kecuali bagi para
nabi?. Maka Al-Khaththabi telah memberikan jawaban atas pertanyaan ini:
"Jawabannya adalah bahwa hal itu terjadi sebagai bentuk fitnah (ujian)
bagi para hamba. Sebab, di sisi mereka sudah ada perkara yang menunjukkan bahwa
ia adalah seorang pembatal (kebatilan) yang tidak benar dalam dakwaannya, yaitu
bahwasanya ia bermata juling (cacat sebelah), dan tertulis di dahinya kata
'Kafir' yang dapat dibaca oleh setiap muslim. Maka dakwaannya gugur bersamaan
dengan adanya tanda kekafiran serta kekurangan pada fisik dan kedudukannya.
Seandainya ia adalah tuhan, niscaya ia akan menghilangkan cacat tersebut dari
wajahnya. Sementara itu, mukjizat para nabi selamat dari penentangan (cacat
serupa), sehingga keduanya tidaklah serupa.".[Ditukil oleh Ibnu Hajar
dalam Fathul Bari juz 12 hal. 89.] Ibnu Hajar berkata: "Di dalam
diri Dajjal, di samping hal itu, terdapat dalil yang nyata bagi orang yang
berakal tentang kedustaannya. Karena ia adalah makhluk yang tersusun dari
bagian-bagian tubuh, dan pengaruh buatan makhluk sangat tampak jelas pada
dirinya, disertai penampakan cacat padanya berupa kejulingan kedua matanya .
Maka apabila ia menyeru manusia bahwa ia adalah Tuhan mereka, kondisi paling
buruk bagi orang berakal yang melihatnya adalah ia mengetahui bahwa ia tidak
mampu menyamai penciptaan makhluk lain, tidak mampu menyeimbangkan dan
membaguskannya, serta tidak mampu menolak kekurangan dari dirinya sendiri. Maka
minimal perkara yang wajib ia katakan adalah: 'Wahai orang yang mengklaim
dirinya sebagai pencipta langit dan bumi, bentuklah dirimu sendiri dan
seimbangkanlah ia, serta hilangkanlah cacat picing ini darinya. Jika engkau
mengklaim bahwa Tuhan tidak mengadakan perubahan pada diri-Nya, maka hapuslah
apa yang tertulis di antara kedua matamu!'". [Merujuk pada rujukan yang
sama sebelumnya.]
d
- Turunnya Nabi Isa 'Alaihissalam
As-Sunnah
telah menunjukkan, dan umat telah bersepakat (ijmak) bahwa Isa 'Alaihissalam
akan turun di akhir zaman menjelang hari Kiamat, yaitu di sela-sela keberadaan
Dajjal, lalu beliau membunuhnya, memimpin dengan syariat Islam, dan
menghidupkan kembali urusan syariat yang telah ditinggalkan oleh manusia.
Kemudian beliau tinggal di bumi selama waktu yang dikehendaki Allah untuk
tinggal, lalu beliau wafat, dishalatkan oleh kaum muslimin, dan dimakamkan.
Mengenai hal tersebut telah ada banyak hadis sahih, yang sebagiannya telah
disebutkan terdahulu. Maka wajib bagi setiap muslim untuk membenarkannya, dan
meyakini apa yang dikabarkan oleh Kitab Tuhan kita, bahwasanya Isa
'Alaihissalam tidaklah dibunuh oleh orang-orang Yahudi, melainkan Allah telah
mengangkatnya kepada-Nya, dan ia tidak akan wafat hingga ia turun sebelum
tegaknya hari Kiamat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
"dan
(Kami hukum juga mereka) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah
membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, rasul Allah,” padahal mereka tidak
membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang
diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih
paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang hal itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali
mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh
itu adalah Isa. Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Allah Mahaperkasa
lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman
kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti dia (Isa) akan
menjadi saksi terhadap mereka." (QS. An-Nisa': 157-159)
Maka
perhatikanlah firman Allah Ta'ala: "padahal mereka tidak membunuhnya dan
tidak menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan
dengan Isa bagi mereka.". Dan dalam tafsir firman-Nya Ta'ala: "Tidak
ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum
kematiannya," Ibnu Katsir berkata: "Ibnu Jarir berkata: Pendapat yang
paling utama untuk dinilai sahih dari perkataan-perkataan yang ada adalah
pendapat yang pertama, yaitu bahwasanya tidak tersisa seorang pun dari Ahli
Kitab setelah turunnya Isa 'Alaihissalam melainkan ia akan beriman kepadanya
sebelum wafatnya Isa 'Alaihissalam. Dan tidak ada keraguan bahwa apa yang
dikatakan oleh Ibnu Jarir ini adalah yang sahih, karena itulah yang dimaksudkan
dari konteks ayat dalam menetapkan kebatilan klaim Yahudi tentang pembunuhan
Isa dan penyaliban-nya, serta kepasrahan orang-orang yang pasrah dari kalangan
Nasrani yang bodoh terhadap hal tersebut. Maka Allah mengabarkan bahwasanya
urusannya tidaklah demikian, melainkan diserupakan bagi mereka, lalu mereka
membunuh orang yang diserupakan tersebut dalam keadaan mereka tidak
mengetahuinya secara jelas . Kemudian Allah mengangkatnya kepada-Nya, dan ia
berada dalam kondisi tetap hidup, dan ia akan turun sebelum hari Kiamat sebagaimana
yang ditunjukkan oleh hadis-hadis mutawatir ... Ia akan membunuh Al-Masih
kesesatan (Dajjal), menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah
(pajak). Maka ayat yang mulia ini mengabarkan bahwa seluruh Ahli Kitab akan
beriman kepadanya saat itu, dan tidak ada satu pun yang tertinggal untuk
membenarkannya..." (Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal. 577.).
Di
antara hadis-hadis yang ada dalam penyebutan turunnya Isa 'Alaihissalam adalah
apa yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim) dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا
فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ
الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ
خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
Artinya:
'Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hampir tiba saatnya putra
Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil, lalu ia akan
menghancurkan salib [Yang dimaksud dengan beliau menghancurkannya adalah
menghancurkannya secara hakiki, dan membatalkan apa yang diklaim oleh orang
Nasrani berupa pengagungan terhadap salib. Dan dikatakan: Bahwa maksud dari
menghancurkannya adalah menampakkan kedustaan Nasrani di mana mereka mengklaim
bahwa orang Yahudi telah menyalib Isa 'Alaihissalam di atas kayu - Lihat Ad-Din
Al-Khalis juz 1 hal. 92.], membunuh babi, menghapuskan jizyah [Maksud dari
menghapuskan jizyah: Bahwasanya Isa 'Alaihissalam menggugurkannya dari Ahli
Kitab, maka tidak diterima dari mereka kecuali Islam. Dan makna hal itu
bukanlah Isa 'Alaihissalam menghapus suatu hukum dari syariat Islam, melainkan
hadis ini menunjukkan bahwa penerimaan jizyah di dalam syariat Islam telah
berakhir dengan turunnya Nabi Isa 'Alaihissalam - Rujukan yang sama juz 1 hal.
93.], dan harta akan melimpah ruah [Yaitu harta menjadi banyak disebabkan oleh
apa yang disebarkan oleh Isa 'Alaihissalam berupa keadilan di antara manusia.]
hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya [Maksudnya adalah keinginan
manusia berkurang dalam mengumpulkan harta karena pendeknya angan-angan mereka
dan pengetahuan mereka tentang dekatnya waktu terjadinya Kiamat, serta besarnya
keinginan mereka dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla.], sampai-sampai
sekali sujud lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya'." (Muttafaq
'Alaih.) . Dan hadis-hadis dalam perkara ini sangat banyak lagi sahih [Lihat: Shahih
Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 7 hal. 302, cetakan Al-Bab Al-Halabi, Shahih
Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 2 hal. 189, Shahih At-Tirmidzi juz 9
hal. 76, Sunan Ibnu Majah jilid kedua Kitab Al-Fitan cetakan Isa Al-Bab
Al-Halabi, dan Al-Fath Ar-Rabbani juz 2 hal. 143 cetakan pertama.].
Al-Qadhi
'Iyadh berkata: "Turunnya Isa 'Alaihissalam dan pembunuhannya terhadap
Dajjal adalah perkara yang hak dan sahih menurut madhab Ahlussunnah karena
adanya hadis-hadis sahih dalam hal tersebut . Tidak ada di dalam akal dan tidak
pula di dalam syariat perkara yang membatalkannya, sehingga wajib
menetapkannya. Sebagian Mu'tazilah dan orang-orang yang sepaham dengan mereka
mengingkari hal tersebut, dan mereka mengklaim bahwa hadis-hadis itu tertolak
oleh firman Allah Ta'ala: '(dan dia adalah) penutup para nabi,' dan oleh sabda
Nabi ﷺ: 'Tidak ada nabi
setelahku,' serta oleh ijmak kaum muslimin bahwasanya tidak ada nabi setelah
nabi kita ﷺ,
dan bahwa syariatnya abadi sampai hari Kiamat tidak akan dihapus (dinasakh).
Ini adalah pendalilan yang rusak (fasid), karena yang dimaksud dengan turunnya
Isa 'Alaihissalam bukanlah ia turun sebagai nabi membawa syariat yang menghapus
syariat kita. Tidak ada di dalam hadis-hadis ini dan tidak pula di dalam
selainnya perkara yang menunjukkan hal itu , melainkan hadis-hadis ini telah
menjelaskan dengan gamblang bahwasanya ia turun sebagai hakim yang adil, yang
menghukum dengan syariat kita, dan menghidupkan kembali perkara-perkara dari
syariat kita yang telah ditinggalkan oleh manusia [Syarah An-Nawawi 'ala
Shahih Muslim - 18 hal. 75, 76.]."
e-
Munculnya Ya'juj dan Ma'juj:
Penyebutan
tentang tanda ini telah ada di dalam Al-Qur'an al-Karim. Allah Ta'ala
berfirman:
"Kemudian,
dia menempuh suatu jalan (yang lain). Hingga ketika sampai di antara dua
gunung, dia mendapati di belakang kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak
memahami pembicaraan. Mereka berkata, “Wahai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj
dan Ma'juj adalah (kaum) pembuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami
memberimu suatu imbalan agar engkau membuatkan dinding penyekat antara kami dan
mereka?” Dia (Dzulkarnain) berkata, “Apa yang telah dianugerahkan Tuhanku
kepadaku lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan agar aku dapat
membuatkan dinding penyekat antara kamu dan mereka. Berilah aku
potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan besi) itu telah (terpasang)
sama rata dengan kedua puncak gunung itu, dia berkata, “Blatlah (apinya)!”
Hingga ketika dia menjadikannya (besi itu) membara (seperti api), dia pun
berkata, “Berilah aku tembaga cair agar kutuangkan ke atasnya.” Maka, mereka
(Ya'juj dan Ma'juj) tidak mampu mendakinya dan tidak mampu (pula) melubanginya.
Dia (Dzulkarnain) berkata, “(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka
apabila janji Tuhanku telah datang, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan
janji Tuhanku itu adalah benar.”" (QS. Al-Kahf: 92-98)
Dan
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Hingga
apabila (pintu) Ya'juj dan Ma'juj dibuka dan mereka turun dengan cepat dari
seluruh tempat yang tinggi, dan (apabila) janji yang benar (hari Kiamat) telah
dekat, tiba-tiba mata orang-orang yang kafir terbelalak. (Mereka berkata,)
“Aduhai, celakalah kami! Sesungguhnya kami benar-benar kelalaian tentang hal
ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.”" (QS. Al-Anbiya': 96-97)
Di
antara hadis-hadis sahih yang datang menyebutkan tentang mereka adalah apa yang
dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha,
bahwasanya Rasulullah ﷺ
masuk menemuinya pada suatu hari dalam keadaan terkejut seraya berkata:
لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ
رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ» وَحَلَّقَ بِأُصْبُعَيْهِ:
الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا
Artinya:
'Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, celakalah bagi orang Arab
karena keburukan yang telah dekat. Hari ini telah dibuka dari dinding penyekat
Ya'juj dan Ma'juj seperti ini,' dan beliau membuat lingkaran dengan kedua
jarinya: ibu jari dan jari yang di sebelahnya (jari telunjuk).
Zainab
binti Jahsy bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa padahal
di tengah-tengah kami ada orang-orang yang saleh?". Beliau menjawab:
«نَعَمْ
إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ»
'Ya,
apabila kemaksiatan/kejahatan telah merajalela' (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari
ma'a Fathul Bari juz 13 hal. 91 dan setelahnya, Shahih Muslim bi Syarh
An-Nawawi juz 18 hal. 18.).
Di
antaranya juga adalah apa yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dan selainnya dari
hadis An-Nawwas bin Sam'an yang telah disebutkan terdahulu, yang di dalamnya
terdapat kabar tentang Dajjal, turunnya Isa, dan penyebutan Ya'juj dan Ma'juj,
di mana Rasulullah ﷺ
bersabda:
وَيَبْعَثُ اللَّهُ
يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ، فَيَمُرُّ
أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا، وَيَمُرُّ
آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ: لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ
Artinya:
'Dan Allah akan membangkitkan Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat
dari seluruh tempat yang tinggi. Maka bagian awal dari mereka melewati Danau
Thabariyah lalu meminum seluruh air yang ada di dalamnya, dan bagian akhir dari
mereka melewatinya seraya berkata: Sungguh dahulu di tempat ini pernah ada air'
(Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 18 hal. 18.).
Dan
ada banyak hadis sahih lainnya yang menyebutkan tentang Ya'juj dan Ma'juj.
Totalitas teks yang ada mengenai penyebutan mereka memberikan pengetahuan yang
meyakinkan (ilmu yaqini) akan munculnya umat perusak ini di akhir umur dunia
ini. Oleh karena itu, seorang mukmin wajib membenarkan apa yang disebutkan di
dalam Al-Qur'an dan kabar yang sahih mengenai urusan mereka. Adapun penentuan
waktu munculnya umat ini serta rincian yang berkaitan dengan bentuk fisik,
sifat-sifat, dan tempat keberadaan mereka sebelum mereka muncul, maka semua itu
termasuk perkara gaib yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Ta'ala.
4-
Permulaan Hari Akhir:
Kita
wajib mengimani setelah itu apa yang dikabarkan oleh Allah 'Azza wa Jalla di
dalam Kitab-Nya yang Mulia, terkhusus di dalam surah At-Takwir dan Al-Infithar,
mengenai segala hal yang terjadi pada hari terakhir dari hari-hari dunia, dan
permulaan bagi hari Akhir. Sesungguhnya kumpulan ayat-ayat yang mulia
menunjukkan bahwa hari Akhir dimulai dengan terjadinya perubahan umum pada alam
semesta ini, maka langit terbelah, bintang-bintang berjatuhan, planet-planet
saling bertabrakan, bumi hancur lebur dan menjadi tanah yang tandus lagi rata,
gunung-gunung menjadi tumpukan pasir yang berterbangan, segala sesuatu rusak,
dan dihancurkanlah segala apa yang dikenal manusia di dalam wujud ini. Allah
Ta'ala berfirman:
"(Yaitu)
pada hari (kesudahan dunia) ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan
(demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar)
menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa." (QS. Ibrahim: 48)
Peristiwa
ini terjadi setelah adanya tiupan yang pertama , yang ditiup oleh Malaikat
Israfil atas perintah Tuhannya, maka matilah seluruh makhluk yang ada di langit
dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala (Lihat Fathul
Bari juz 11 hal. 313.). Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Sangkakala
pun ditiup, maka matilah siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi,
kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian, ia ditiup sekali lagi, maka
seketika itu mereka berdiri menunggu (putusan Tuhannya)." (QS. Az-Zumar:
68)
Dan
Dia berfirman:
"Maka,
apabila sangkakala ditiup sekali tiupan, bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu
dibenturkan sekali benturan, pada hari itulah terjadi kiamat, dan terbelahlah
langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh." (QS. Al-Haqqah: 13-16)
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda:
«يَقْبِضُ
اللَّهُ الْأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا
الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ»
Artinya:
'Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian
Dia berfirman: Akulah Raja, di manakah para raja bumi?' (Shahih Al-Bukhari
ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 313.) .
5
- Al-Ba'ats [Kebangkitan]:
Kita
mengimani setelah itu bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk
dilakukan tiupan yang kedua [Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengisyaratkan
adanya tiupan pertama dan kedua di dalam firman-Nya 'Azza wa Jalla:
"(Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama
mengguncang alam, (tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua." Maka
ar-rajifah adalah tiupan pertama dan ar-radifah adalah tiupan kedua, begitulah
yang datang dari tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma - Lihat: Shahih
Al-Bukhari wa Fathul Bari juz 11 hal. 310, 311.] , maka kembalilah
kehidupan kepada orang-orang mati setelah adanya tiupan tersebut. Inilah yang
dinamakan hari Kebangkitan (yaumul ba'ats), yaitu mengembalikan manusia
dalam bentuk ruh dan jasad sebagaimana keberadaan mereka dahulu di dunia. Dan
tidaklah Allah mengeluarkan manusia dari kubur dalam keadaan hidup melainkan
orang-orang kafir dan munafik saat itu berkata: "Aduhai celakalah kami!
Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Dan
orang-orang mukmin berkata: "Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih
dan benarlah para rasul (Nyan)" (Surah Yasin - Ayat 52.) .
Telah
ada di dalam hadis-hadis sahih bahwasanya Muhammad ﷺ adalah orang yang pertama kali keluar dari
kuburnya (Surah Yasin - Ayat 52.). Allah [Nabi ﷺ] telah bersabda:
يُصْعَقُ النَّاسُ
حِينَ يُصْعَقُونَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ قَامَ فَإِذَا مُوسَى آخِذٌ بِالْعَرْشِ
فَمَا أَدْرِي أَكَانَ فِيمَنْ صَعِقَ
Artinya:
'Manusia pingsan (mati) ketika mereka dipingsankan, maka akulah orang yang
pertama kali bangkit. Tiba-tiba Musa telah memegang erat tiang Arsy, maka aku
tidak tahu apakah ia termasuk orang yang pingsan' (Shahih Al-Bukhari ma'a
Fathul Bari juz 11 hal. 312.) .
6
- Al-Hasyr [Pengumpulan]:
Kita
mengimani bahwasanya akan terjadi pengumpulan (Al-Hasyr) setelah
dibangkitkannya para makhluk dan dikeluarkannya mereka dari kubur-kubur mereka.
Allah Ta'ala berfirman:
"(Ingatlah)
hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada (Allah) Yang
Maha Pengasih bagaikan delegasi yang terhormat, dan Kami akan menggiring
orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga." (QS.
Maryam: 85-86)
Al-Hasyr
adalah menggiring mereka semua ke tempat perhentian (Al-Mauqif), yaitu
tempat yang mereka tempati untuk berdiri guna menanti keputusan hukum di antara
mereka. Maka setelah kebangkitan manusia, Allah memerintahkan para malaikat-Nya
untuk menggiring mereka ke tempat perhentian tersebut, dalam keadaan diri
mereka sebagaimana saat mereka diciptakan pertama kali : tidak beralas kaki,
telanjang tidak berpakaian, dan belum dikhitan. Telah sah dari Aisyah radhiyallahu
'anha bahwasanya ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«يُحْشَرُ
النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا، قُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟
قَالَ: يَا عَائِشَةُ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى
بَعْضٍ»
Artinya:
'Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki,
telanjang, dan belum dikhitan. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wanita
dan lelaki semuanya berkumpul saling melihat satu sama lain? Beliau menjawab:
Wahai Aisyah, perkara saat itu jauh lebih dahsyat daripada sekadar sebagian
mereka melihat kepada sebagian yang lain' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi
juz 17 hal. 192, 193 dan Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal.
325.) .
Dan
diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
berkhotbah seraya bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian
akan dikumpulkan menuju Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan
belum dikhitan," kemudian beliau membaca: "Sebagaimana Kami telah
memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulangnya. Itu adalah janji
yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya,"
sampai akhir ayat, kemudian beliau bersabda: "Ketahuilah bahwa makhluk
yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat adalah Ibrahim. Ketahuilah
bahwa akan didatangkan beberapa orang dari umatku, lalu mereka digiring ke arah
sebelah kiri (neraka), maka aku berkata: Wahai Tuhanku, mereka adalah
sahabat-sahabatku! Maka dikatakan: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa
yang mereka ada-adakan setelahmu. Maka aku mengatakan sebagaimana yang
dikatakan oleh hamba yang saleh [yakni Nabi Isa]: 'dan aku menjadi saksi
terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau
wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka,' lalu dikatakan: Sesungguhnya
mereka ini senantiasa murtad kembali ke belakang sejak engkau meninggalkan mereka."
(Lihat Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 8 hal. 230 dan juz 11 hal.
322.) .
Di
tempat perhentian tersebut, makhluk-makhluk ditimpa oleh kesengsaraan yang
sangat dahsyat. Diriwayatkan oleh Al-Miqdad bin Al-Aswad dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
تُدْنَى الشَّمْسُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ
فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمَنْهُمْ مَنْ
يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمَنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمَنْهُمْ
مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمَنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا»
وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ
Artinya:
'Matahari akan didekatkan pada hari Kiamat kepada makhluk hingga jaraknya dari
mereka seukuran satu mil [Sulaim bin Amir—perawi hadis dari Al-Miqdad—berkata:
"Maka demi Allah aku tidak tahu apa yang beliau maksud dengan mil: apakah
jarak ukuran bumi ataukah mil (tangkai besi) yang digunakan untuk mencelak
mata," Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 17 hal. 196.]. Maka
manusia berada dalam keringat sesuai kadar amalan mereka. Di antara mereka ada
yang keringatnya mencapai kedua mata kakinya, di antara mereka ada yang
mencapai kedua lututnya, di antara mereka ada yang mencapai kedua pinggangnya,
dan di antara mereka ada yang dikunci oleh keringatnya secara total,' dan
Rasulullah ﷺ
mengisyaratkan dengan tangannya ke arah mulutnya (Rujukan yang sama.) .
Di
sela-sela peristiwa tersebut, ada manusia-manusia yang berada dalam naungan
Allah 'Azza wa Jalla sebagaimana yang dikabarkan oleh Al-Musthafa ﷺ. Dari Abu Hurairah
dan Abu Said radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ
اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ،
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي
الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ
وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ
فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا
حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ
خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Artinya:
'Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari
yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang
tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya terpaut dengan
masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul
karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak (berzina) oleh
seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu ia berkata:
"Sesungguhnya aku takut kepada Allah", seseorang yang bersedekah
dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya
tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang
mengingat Allah dalam keadaan sendirian lalu kedua matanya berlinang air mata'
(Lihat: Shahih Al-Bukhari bi Hasyiyah As-Sindi juz 1 hal. 170 dan Shahih
Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 7 hal. 120, 131, 132 dan lafal ini miliknya, As-Sunan
Al-Kubra juz 10 hal. 87, serta Sunan An-Nasa'i juz 8 hal. 222, 223.)
.
Maka
apabila urusan telah semakin berat menimpa manusia, dan kesengsaraan telah
memuncak atas mereka di tempat perhentian yang agung ini, mereka meminta
syafaat kepada Allah 'Azza wa Jalla melalui para rasul dan nabi agar
menyelamatkan mereka dari kondisi yang mereka alami, serta menyegerakan
keputusan hukum di antara mereka. Setiap rasul melimpahkan urusan tersebut
kepada rasul setelahnya, hingga akhirnya mereka mendatangi nabi kita Muhammad ﷺ, lalu beliau
memberikan syafaat bagi mereka dan Sang Pencipta menerima syafaat beliau [Dan
ini adalah syafaat yang paling agung (Syafaat Uzhma) yang dikhususkan bagi nabi
kita Muhammad ﷺ
di antara seluruh saudara-saudaranya dari kalangan para nabi dan rasul 'alaihim
ash-shalatu wa as-salam. Perkara ini disepakati di antara umat karena telah
tetap berdasarkan hadis-hadis sahih, dan ia merupakan Al-Maqam Al-Mahmud
(kedudukan yang terpuji) yang dijanjikan kepada Rasul ﷺ dalam firman-Nya Ta'ala: "Dan pada
sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu;
mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra':
79). Lihat: Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 252, 253 dan
hadis-hadis syafaat di dalam Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 3 hal.
54-77, Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyyah hal. 128, dan Al-Aqa'id
Al-Islamiyyah karya Sayyid Sabiq hal. 274.]. Maka manusia pun beralih
menuju proses keputusan hukum .
7.
Balasan Atas Amal Perbuatan:
Kita
mengimani adanya balasan atas amal
perbuatan pada hari Akhir, di mana para hamba diberi balasan dan dituntut
pertanggungjawaban atas segala apa yang mereka usahakan selama kehidupan di
dunia, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Pada
hari itu Allah menyempurnakan balasan yang sebenarnya bagi mereka dan mereka
tahu bahwa Allah Mahabenar lagi Maha Menjelaskan." (QS. An-Nur: 25)
Dan Ad-Din
bermakna balasan (al-jaza'), maka dikatakan: "Sebagaimana kamu
memperlakukan (tadinu), begitu pula kamu akan diperlakukan (tudanu),"
(Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 465.) maksudnya sebagaimana kamu
membalas, begitu pula kamu akan dibalas. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
"Siapa
yang datang membawa kebaikan, dia akan memperoleh (balasan) yang lebih baik
daripadanya. Siapa yang datang membawa kejahatan, orang-orang yang melakukan
kejahatan itu tidak dibalas, kecuali sesuai dengan apa yang selalu mereka
kerjakan." (QS. Al-Qashash: 84)
Dan
Rasulullah ﷺ
bersabda dalam apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya 'Azza wa Jalla [Hadis
Qudsi]:
«يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ
أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ
خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ
إِلَّا نَفْسَهُ»
Artinya:
'Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah amal perbuatan kalian yang Aku
catat semuanya bagi kalian, kemudian Aku sempurnakan balasan amalan itu untuk
kalian. Maka barang siapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah,
dan barang siapa yang mendapati selain dari itu, maka janganlah ia mencela
kecuali dirinya sendiri' (Bagian dari hadis qudsi yang panjang yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim - Lihat Riyadhus Shalihin hal. 62.).
8-
Al-Ardh wa Al-Hisab [Pemaparan dan Perhitungan Amal]:
Kita
mengimani bahwasanya balasan tersebut terjadi setelah adanya proses peradilan
yang adil, yang mana manusia dipaparkan di dalamnya ke hadapan Tuhan mereka,
ditegakkan berbagai hujah atas mereka dan untuk pembelaan mereka, mereka
diperlihatkan pada amalan-amalan mereka, dan mereka membaca catatan-catatan
amal mereka. Maka wajib mengimani adanya pemaparan amal (Al-Ardh),
perhitungan amal (Al-Hisab), dan pembacaan kitab catatan amal (Qira'atul
Kitab), sebab semuanya adalah perkara yang hak, yang ditunjukkan oleh
Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijmak ulama kaum muslimin.
Adapun
mengenai Al-Ardh (pemaparan), maka dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:
"Pada
hari itulah terjadi kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit
menjadi rapuh. Malaikat-malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari
itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala)
mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu). Tidak ada sesuatu pun
dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya)." (QS. Al-Haqqah: 15-18)
Dan
firman Allah Ta'ala:
"Mereka
akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman,) “Sungguh,
kamu telah datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama
kali..." (QS. Al-Kahf: 48)
Maka
wajib bagi setiap muslim untuk mengimani bahwasanya setiap hamba akan
dipaparkan ke hadapan Tuhannya, lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri yang
menangani perhitungan amalnya secara langsung tanpa adanya perantara. Dari 'Adi
bin Hatim radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
«مَا
مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ
بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ ثُمَّ يَنْظُرُ فَلَا يَرَى شَيْئًا قُدَّامَهُ
ثُمَّ يَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَتَسْتَقْبِلُهُ النَّارُ فَمَنْ اسْتَطَاعَ
مِنْكُمْ أَنْ يَتَّقِيَ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ»
Artinya:
'Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan Allah akan mengajaknya bicara
pada hari Kiamat, yang mana tidak ada penerjemah antara Allah dan dirinya.
Kemudian ia melihat ke arah depannya maka ia tidak melihat sesuatu pun,
kemudian ia melihat ke arah depan kedua tangannya, lalu neraka menyambut
wajahnya. Maka barang siapa di antara kalian yang mampu menjaga dirinya dari
api neraka meskipun hanya dengan sebutir belahan kurma, (hendaklah ia
melakukannya)' (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 340.) .
Dan
termasuk ke dalam makna Al-Ardh adalah penampakan amalan-amalan dan
penjelasannya, sehingga pelakunya mengetahui dosa-dosanya. Maka jika ia
termasuk golongan orang yang selamat, yaitu orang yang diberikan kitab
catatannya dari sebelah tangan kanannya, Allah mengampuni dosa-dosanya, tidak
memperketat perhitungan amalnya (munaqasyah), memasukkannya ke dalam
surga, dan tidak mengazabnya dengan api neraka. Adapun orang yang banyak
maksiatnya, dan diberikan kitab catatannya dari arah belakang punggungnya, maka
dialah orang yang diperketat perhitungan amalnya, serta ditanya dari setiap
perkara besar maupun kecil. Sungguh Aisyah radhiyallahu 'anha telah
menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda: "Tidak ada seorang pun yang dihisab pada hari Kiamat melainkan
ia pasti binasa."
Maka
aku bertanya: "Wahai Rasulullah, bukankah Allah berfirman: 'Maka, orang
yang catatannya diberikan di tangan kanannya, dia akan diperiksa dengan
pemeriksaan yang mudah'?"
Maka
Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِنَّمَا ذَلِكِ
الْعَرْضُ وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا
عُذِّبَ
Artinya:
'Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah Al-Ardh (pemaparan amal), dan tidak
ada seorang pun yang diperketat (munaqasyah) perhitungan amalnya pada hari
Kiamat melainkan ia pasti diazab' (.Shahih Al-Bukhari juz 11 hal. 138.)
.
Dan
yang dimaksud dengan Al-Munaqasyah adalah bersikap mendalam/detail di
dalam melakukan perhitungan amal, menuntut perkara yang besar maupun yang
remeh, serta tidak adanya toleransi/kemudahan (Fathul Bari juz 11 hal.
337.).
Adapun
mengenai peristiwa para hamba mengambil lembaran-lembaran catatan amal mereka
pada hari Kiamat serta pembacaan mereka terhadap catatan tersebut, maka hal itu
merupakan perkara hak yang wajib diimani, dan barang siapa yang mengingkarinya
maka ia kafir. Allah Ta'ala berfirman:
"Setiap
manusia telah Kami tetapkan (nasib) amal perbuatannya di lehernya. Kami
keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang ditemuinya dalam keadaan
terbuka. “Bacalah kitabmu! Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai
penghitung (amal) terhadapmu.”" (QS. Al-Isra': 13-14)
Dan
wajib bagi kita untuk mengimani apa yang datang di dalam firman Allah Ta'ala
mengenai perkara ini, di mana Dia berfirman:
"Wahai
manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu dengan
sungguh-sungguh, maka engkau pasti akan menemui-Nya (atau balasan amalanmu).
Adapun orang yang catatannya diberikan di tangan kanannya, dia akan diperiksa
dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang
sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang catatannya diberikan dari
sebelah belakang punggungnya, dia akan berteriak, “Celakalah aku!” Dia akan
memasuki api (neraka) yang menyala-nyala. Sesungguhnya dia dahulu (di dunia)
bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia
mengira tidak akan kembali (kepada Tuhannya). Tidak demikian, sesungguhnya
Tuhannya selalu melihatnya." (QS. Al-Inshiqaq: 6-15)
Dan
yang dimaksud dengan lembaran-lembaran (ash-shuhuf) yang dibaca oleh
para hamba ini adalah buku-buku catatan yang ditulis oleh para malaikat
mengenai apa yang mereka lakukan selama kehidupan di dunia (Syarah
Al-Baijuri 'ala Jauharatut Tauhid hal. 212). Sungguh engkau telah
mengetahui bahwa di antara rukun iman adalah membenarkan apa yang dikabarkan
oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala mengenai para malaikat-Nya dan amalan-amalan
mereka. Dan iman kepada mereka terjadi dengan cara membenarkan segala apa yang dikabarkan
tentang mereka oleh Tuhan mereka secara global maupun terperinci. Serta
bahwasanya wajib bagi kita untuk mengimani bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah
mewakilkan kepada kita bagian dari malaikat-Nya untuk menjaga kita, dan menulis
amalan-amalan serta ucapan-ucapan kita. Mereka adalah para penjaga, yang mulia,
lagi mencatat amal perbuatan (Al-Hafizhun al-Kiram al-Katibun), yang
mana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang mereka:
"Sesungguhnya
bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas, yang mulia (di sisi Allah), dan
yang mencatat (amal perbuatanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu
kerjakan." (QS. Al-Infithar: 10-12)
Dan
Dia berfirman juga:
"...(Inilah)
Kitab Kami yang menceritakan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah
menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”" (QS. Al-Jatsiyah: 29)
Maka
apa yang dicatat oleh para malaikat yang mulia ini akan dibaca oleh para hamba
pada hari Kiamat.
Adapun
yang dimaksud dengan Al-Hisab (perhitungan amal), maknanya adalah
pemberitahuan Allah Ta'ala kepada para hamba—sebelum mereka bertolak dari
Padang Mahsyar—mengenai amalan-amalan, ucapan-ucapan, dan keyakinan-keyakinan
mereka, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Yang demikian itu terjadi
setelah mereka mengambil lembaran-lembaran catatan mereka, lalu mereka
diperkenalkan pada amalan-amalan mereka, serta apa yang menjadi hak mereka dan
apa yang menjadi kewajiban atas mereka. Allah Ta'ala berfirman:
"...Kemudian,
kepada Tuhannyalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka
apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 108)
Kemudian,
sesungguhnya manusia di dalam proses hisab tersebut saling berbeda
tingkatannya:
Di
antara mereka ada yang dihisab dengan hisab yang mudah (hisaban yasira),
yaitu dipaparkan amalannya kepadanya, lalu Allah memperlihatkan
kesalahan-kesalahannya dalam keadaan tidak ada seorang pun makhluk yang
melihatnya, kemudian Allah mengampuninya dan memerintahkan agar ia dibawa
menuju surga .
Dan
di antara mereka ada yang diperketat hisabnya (yunaqasyu al-hisab),
dengan cara ditanya dari setiap bagian yang detail, dituntut untuk memberikan
alasan (al-udzr) dan argumen (al-hujah), maka tidak diterima
darinya alasan tidak pula argumen, sehingga ia binasa bersama orang-orang yang
binasa. Dan Allah Ta'ala memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan di
hadapan makhluk mengenai keburukan-keburukan amalnya, hingga ia mendapatkan kehinaan
di tengah-tengah seluruh makhluk. Maka wajib bagi seorang mukmin untuk
menghisap dirinya sendiri sebelum ia dihisab kelak, dan bersegera melakukan
amalan-amalan saleh sebelum hilangnya kesempatan, serta mengimani adanya hisab
dan bersiap-siap untuk menghadapinya. Sungguh Allah Ta'ala telah berfirman:
"Kami
akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun
dirugikan walau sedikit. Sekalipun (amalan itu) hanya seberat biji sawi, Kami
pasti mendatangkannya (untuk ditimbang). Cukuplah Kami sebagai pembuat
perhitungan." (QS. Al-Anbiya': 47)
Dan
Rasulullah ﷺ
bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا
عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ
فَعَلَ فِيهِ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ؟
وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
Artinya:
'Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba (pada hari Kiamat) hingga ia
ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya apa yang telah
ia amalkan padanya? Tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa
ia infakkan? Serta tentang tubuhnya dalam perkara apa ia gunakan hingga rusak?'
(Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata tentangnya: hadis hasan sahih,
lihat Shahih At-Tirmidzi bi Syarh Ibnil Arabi juz 9 hal. 253.) .
Dan
telah ditunjukkan oleh hadis-hadis sahih bahwasanya ada segolongan kaum dari
umat Muhammad ﷺ
yang Allah berikan keutamaan kepada mereka, Allah memberikan pengecualian
kepada mereka dari proses hisab ini, dan memasukkan mereka ke dalam surga tanpa
adanya hisab tidak pula azab. Sungguh Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِي
الْجَنَّةَ سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya:
'Akan masuk surga dari kalangan umatku sebanyak tujuh puluh ribu orang tanpa
melalui proses hisab' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 3 hal. 88.).
Adapun
mengenai bagaimana kaifiat (tata cara) hisab tersebut, maka kita mengimani apa
yang datang di dalam Al-Qur'an mengenainya, serta di dalam hadis Rasulullah ﷺ, dan kita tidak
menambah tidak pula mengurangi, serta tidak bertanya melampaui apa yang telah
datang. Maka kita mengimani bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan
setiap hamba terhadap apa yang telah ia kerjakan selama kehidupan di dunia,
baik berupa kebaikan maupun keburukan. Dan memberikan kesaksian atas para hamba
tersebut seluruh pihak yang Allah minta untuk menjadi saksi atas mereka [Mahmud
Khattab As-Subki berkata: "Ketahuilah bahwasanya akan memberikan kesaksian
atas orang yang bermaksiat sebanyak sebelas saksi pada hari yang disaksikan
tersebut: lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, kulit, bumi, malam,
siang, malaikat hafadzah yang mulia, dan harta," kemudian ia membawakan
sejumlah ayat dan hadis atas hal tersebut - Lihat Ad-Din Al-Khalis juz 1
hal. 105 dan setelahnya] , maka bumi memberikan kesaksian terhadap apa yang
terjadi di atas punggungnya, sebagaimana firman-Nya 'Azza wa Jalla:
"Apabila
bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan
beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi
pada bumi ini?” Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya
Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu
manusia keluar (dari kubur) dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk
diperlihatkan kepada mereka (balasan) amalan mereka. Maka barang siapa
mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan
barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 1-8).
Sungguh
telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
membaca ayat: "Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya," lalu
beliau bertanya: "Apakah kalian tahu apa berita-beritanya?". Para
sahabat menjawab: "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.". Beliau
bersabda:
وَإِنَّ أَخْبَارَهَا
أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا، أَنْ
تَقُولَ: عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا كَذَا، قَالَ: فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا
Artinya:
'Sesungguhnya di antara berita-beritanya adalah ia memberikan kesaksian atas
setiap hamba laki-laki maupun hamba perempuan terhadap apa yang telah
diamalkannya di atas punggung bumi, dengan bumi berkata: "Ia telah
mengamalkan begini dan begitu pada hari ini dan itu." Beliau bersabda:
Maka inilah berita-beritanya' (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata:
hasan gharib - Lihat Shahih At-Tirmidzi bi Syarh Ibnil Arabi juz 1 hal.
260.).
Dan
kita mengimani juga bahwasanya di dalam proses hisab ini akan ada kesaksian
dari anggota-anggota tubuh : berupa lisan, tangan, kaki, kulit, dan selainnya
atas segala apa yang dilakukan oleh seorang hamba. Serta mengimani apa yang
dikabarkan oleh Allah Ta'ala mengenai dialog antara musuh-musuh Allah dengan
para saksi ini. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"(Ingatlah)
hari (عندما)
ketika musuh-musuh Allah digiring ke neraka lalu mereka dipisah-pisahkan.
Hingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit
mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka
berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit
mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara telah
menjadikan kami dapat berbicara (pula), dan Dialah yang menciptakan kamu pada
pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan. Kamu tidak dapat
bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu
bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu
lakukan.”" (QS. Fussilat: 19-22)
Dan
kita mengimani juga apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ mengenai rahmat Allah
'Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya yang mukmin ketika proses hisab
berlangsung, tanpa orang-orang kafir. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala
berdua saja dengan hamba-Nya yang mukmin, lalu Dia membuatnya mengakui
dosa-dosanya dan memberikan kemudahan kepadanya, serta tidak memperketat
perhitungan amalnya (munaqasyah). Sungguh telah diriwayatkan bahwasanya
pernah ditanyakan kepada Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma: "Bagaimana
Anda mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda tentang An-Najwa (perbincangan rahasia antara Allah dan
hamba-Nya yang mukmin pada hari kiamat)?" Ibnu Umar menjawab: Aku
mendengar beliau bersabda:
يَدْنُو أَحَدُكُمْ
مِنْ رَبِّهِ، حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولُ: أَعَمِلْتَ كَذَا
وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ. وَيَقُولُ: أَعَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ:
نَعَمْ. فَيُقَرِّرُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: إِنِّي سَتَرْتُ عَلَيْك فِى الدُّنْيَا، وَإِنِّي
أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ
Artinya:
'Salah seorang di antara kalian akan mendekat kepada Tuhannya, hingga Allah
meletakkan naungan perlindungan-Nya di atasnya, lalu Allah berfirman:
"Apakah engkau telah mengamalkan begini dan begitu?" Maka ia
menjawab: "Benar." Dan Allah berfirman lagi: "Apakah engkau
telah mengamalkan begini dan begitu?" Maka ia menjawab: "Benar."
Lalu Allah membuatnya mengakui dosanya, kemudian Allah berfirman:
"Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa itu untukmu di dunia, dan
sesungguhnya Aku mengampuninya bagimu pada hari ini," kemudian
diberikanlah kepadanya kitab catatan kebaikan-kebaikannya'. (HR. Bukhari dan
Muslim) .
Adapun
orang-orang kafir, maka mereka diseru di hadapan seluruh saksi (makhluk):
"Orang-orang inilah yang telah mendustakan Tuhan mereka. Ingatlah, laknat
Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.". (Muttafaq 'Alaih. Lihat:
Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 12 hal. 407, 408.)
9.
Al-Haudh [Telaga]:
Wajib
bagi kita untuk mengimani apa yang dikabarkan oleh Al-Musthafa ﷺ mengenai Telaga (Al-Haudh)
yang Allah karuniakan sebagai keutamaan bagi beliau dan umatnya. Sesungguhnya
hadis-hadis yang datang mengenai perkara ini telah mencapai derajat mutawatir,
yang diriwayatkan dari kalangan sahabat oleh lebih dari tiga puluh orang
sahabat [Lihat: Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 250, Syarah
An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 15 hal. 53, Syarah Al-Aqidah
Al-Wasithiyyah oleh Muhammad Khalil Harras hal. 115, Syarah Al-Baijuri
'ala Al-Jauharah hal. 223, dan Ad-Din Al-Khalis juz 1 hal. 111.].
Orang yang pertama kali mendatanginya adalah Nabi kita Muhammad ﷺ, kemudian setelah
beliau barulah umatnya mendatangi telaga tersebut. Sementara orang-orang kafir
serta segolongan orang-orang yang bermaksiat dan pelaku dosa besar akan diusir
darinya, yaitu setelah selesainya peristiwa di tempat perhentian (Al-Mauqif)
beserta segala kedahsyatan, pemaparan, perhitungan amal, pembacaan
lembaran-lembaran catatan amal, dan peristiwa lainnya yang ada di dalamnya [Ad-Din
Al-Khalis juz 1 hal. 111.].
Rasulullah
ﷺ bersabda:
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى
الْحَوْضِ، مَنْ وَرَدَ شَرِبَ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا،
وَلَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونَنِي، ثُمَّ يُحَالُ
بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ، فَيَقُولُ اللَّهُ: إِنَّهُمْ أُمَّتِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ
لَا تَدْرِي مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ
بَعْدِي
Artinya:
'Aku adalah pendahulu kalian menuju Telaga [yaitu orang yang mendahului
orang-orang yang datang untuk mempersiapkan tempat bagi mereka]. Barang siapa
yang mendatanginya niscaya ia akan minum, dan barang siapa yang minum niscaya
ia tidak akan pernah haus selama-lamanya. Dan sungguh akan benar-benar datang
kepadaku beberapa kaum yang aku mengenali mereka dan mereka pun mengenali aku,
kemudian dihalangi antara aku dan mereka. Maka aku berkata: "Sesungguhnya
mereka adalah umatku!" Lalu dikatakan: "Sesungguhnya engkau tidak
mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu." Maka aku berkata:
"Celaka, celakalah bagi orang yang mengubah (ajaran agama)
setelahku".' (Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 15 hal. 53.) .
[Al-Farath
adalah orang yang mendahului rombongan yang datang untuk mempersiapkan tempat
pemberhentian dan segala keperluannya bagi mereka. Maknanya di sini adalah:
"Aku adalah orang yang mendahului kalian dan mendahului kalian menuju
Telaga."]
Dan
dari Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ keluar pada suatu
hari lalu menshalatkan para syuhada Uhud sebagaimana shalat beliau terhadap
mayit. Kemudian beliau beranjak menuju mimbar lalu bersabda:
إِنِّي فَرَطٌ لَكُمْ،
وَأَنَا شَهِيدٌ عَلَيْكُمْ، وَاللَّهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الْآنَ، وَإِنِّي
قَدْ أُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الْأَرْضِ أَوْ مَفَاتِيحَ الْأَرْضِ،
وَإِنِّي وَاللَّهِ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي، وَلَكِنْ أَخَافُ
أَنْ تَتَنَافَسُوا فِيهَا
Artinya:
'Sesungguhnya aku adalah pendahulu bagi kalian, dan aku menjadi saksi atas
kalian. Demi Allah, sungguh aku benar-benar melihat telagaku sekarang ini. Dan
sesungguhnya aku telah dianugerahi kunci-kunci perbendaharaan bumi atau
kunci-kunci bumi. Dan sesungguhnya aku, demi Allah, tidaklah mengkhawatirkan
kalian akan berbuat syirik sepeninggalmu, akan tetapi aku mengkhawatirkan
kalian akan saling berlomba-lomba untuk memperebalkannya (harta dunia)'. (Muttafaq
'Alaih - Lihat: Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Jana'iz - Bab Ash-Shalah
'ala Asy-Syahid, dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi - 15 hal. 57.) .
Dan
Al-Bukhari serta Muslim mengeluarkan hadis dari Asma' binti Abi Bakr bahwasanya
Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ
حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ مِنْكُمْ، وَسَيُؤْخَذُ أُنَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ:
يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي، فَيُقَالُ: أَمَا شَعُرْتَ مَا عَمِلُوا
بَعْدَكَ؟ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا بَعْدَكَ يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ
Artinya:
'Sesungguhnya aku berada di dekat Telaga hingga aku melihat siapa di antara
kalian yang mendatanginya. Dan sungguh akan ada beberapa orang yang ditangkap
sebelum sampai kepadaku, maka aku berkata: "Wahai Tuhanku, mereka dariku
dan dari umatku!" Lalu dikatakan: "Apakah engkau tidak menyadari apa
yang mereka kerjakan sepeninggalmu? Demi Allah, mereka senantiasa kembali ke
belakang (murtad) sejak engkau tinggalkan".' (Shahih Muslim bi Syarh
An-Nawawi juz 15 hal. 55.) .
Di
samping itu, kita mengimani apa yang datang mengenai sifat-sifat telaga
tersebut melalui lisan Rasulullah ﷺ, dan kita memahaminya sesuai dengan makna lahiriahnya tanpa
menambah-nambahi dan tidak pula mengurangi. Pensyarah Kitab Al-Aqidah
Ath-Thahawiyyah berkata: "Kesimpulan dari hadis-hadis yang datang
mengenai sifat Telaga adalah: Bahwasanya ia adalah telaga yang sangat agung,
tempat minum yang mulia, yang airnya dialirkan dari minuman surga, yaitu dari
sungai Al-Kautsar, yang mana airnya lebih putih daripada susu, lebih dingin
daripada salju, lebih manis daripada madu, dan keharumannya lebih wangi
daripada minyak kasturi. Telaga tersebut berada dalam puncak keluasan, panjang
dan lebarnya sama, di mana setiap sudut dari sudut-sudutnya berjarak sepanjang
perjalanan satu bulan. Dan dalam sebagian hadis disebutkan: Bahwasanya setiap
kali airnya diminum, telaga tersebut justru semakin bertambah luas... Maka
Mahasuci Sang Pencipta yang tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya.". [(157)
Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 351.]
Di
antara hadis-hadis yang datang mengenai sifat telaga adalah apa yang
dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma,
ia berkata: Nabi ﷺ
bersabda:
حَوْضِي مَسِيرَةُ
شَهْرٍ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ،
وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا
Artinya:
'Telagaku sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih daripada susu,
aromanya lebih wangi daripada minyak kasturi, dan gayung-gayungnya
[cangkir/bejananya] bagaikan jumlah bintang di langit. Barang siapa yang minum
darinya, niscaya ia tidak akan pernah haus selama-lamanya'. (Shahih
Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 396-398 dan ia terdapat di dalam Shahih
Muslim bi Syarh An-Nawawi juz 15 hal. 55.) .
Hadis-hadis
sahih yang datang menyebutkan tentang telaga Nabi kita sangatlah banyak, bahkan
mencapai derajat mutawatir, dan membenarkannya adalah bagian dari iman.
Al-Qadhi 'Iyadh rahimahullah Ta'ala berkata: "Hadis-hadis tentang
Telaga adalah sahih, mengimaninya adalah fardu (wajib), dan membenarkannya
termasuk bagian dari iman. Keberadaan telaga ini sesuai dengan makna
lahiriahnya menurut pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, tidak boleh ditakwil, dan
tidak diperselisihkan. Hadisnya mutawatir dalam hal penukilan, yang
diriwayatkan oleh banyak sekali sahabat. Muslim menyebutkannya dari riwayat
Ibnu Amr bin Al-Ash, Aisyah, Ummu Salamah, Uqbah bin Amir, Ibnu Mas'ud,
Hudzaifah, Haritsah bin Wahb, Al-Mustaurid, Abu Dzar, Tsauban, Anas, dan Jabir
bin Samurah. Sementara selain Muslim meriwayatkannya dari riwayat Abu Bakr
Ash-Shiddiq, Zaid bin Arqam, Abu Umamah, Abdullah bin Zaid, Abu Barzah, Suwaid
bin Jabalah, Abdullah bin Ash-Shunabihi, Al-Bara' bin Azib, Asma' binti Abi
Bakr, Khaulah binti Qais, dan selain mereka... Di dalam sebagian penukilan ini
saja sudah terdapat perkara yang menetapkan bahwa hadis tersebut berstatus
mutawatir.". [Dinukil dari Al-Qadhi 'Iyadh oleh An-Nawawi dalam syarahnya
atas Shahih Muslim juz 15 hal. 53.]
Selain
itu, telah datang pula dalam sebagian hadis sahih bahwasanya bagi setiap nabi
memiliki telaga masing-masing, dan bahwasanya telaga nabi kita ﷺ adalah telaga yang
paling agung, paling manis, dan paling banyak orang yang mendatanginya. [Lihat:
Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 151, Syarah Al-Baijuri 'ala
Al-Jauharah hal. 223, dan Ad-Din Al-Khalis juz 1 hal. 111.]
10.
Al-Mizan [Timbangan Amal]:
Wajib
bagi kita untuk mengimani apa yang dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla
dan Rasul-Nya, bahwasanya amal perbuatan para hamba, baik yang berupa kebaikan
maupun keburukan, akan ditimbang pada hari Kiamat dengan sebuah timbangan (Mizan),
sebagai bentuk penampakan keadilan Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala
telah berfirman:
"Kami
akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun
dirugikan walau sedikit. Sekalipun (amalan itu) hanya seberat biji sawi, Kami
pasti mendatangkannya (untuk ditimbang). Cukuplah Kami sebagai pembuat
perhitungan." (QS. Al-Anbiya': 47) .
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
"Timbangan
pada hari itu adalah kebenaran (yang hak). Siapa yang berat timbangan
(kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Siapa yang ringan
timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya
sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." (QS. Al-A'raf:
8-9) .
Dan
Dia berfirman juga:
"Maka,
adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, dia berada dalam kehidupan
yang memuaskan (senang). Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya,
tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah." (QS. Al-Qari'ah: 6-9) .
Banyak
riwayat menunjukkan bahwasanya mizan tersebut adalah timbangan yang hakiki,
yang memiliki dua daun timbangan (kaffatain), dan bahwasanya Allah Subhanahu
mengubah amal perbuatan para hamba menjadi jasad-jasad yang memiliki berat
fisik, lalu diletakkanlah kebaikan-kebaikan pada satu daun timbangan dan
keburukan-keburukan pada daun timbangan yang lain [(165) Syarah Al-Aqidah
Ath-Thahawiyyah hal. 472, Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyyah oleh
Muhammad Khalil Harras hal. 123, dan Ad-Din Al-Khalis juz 1 hal. 107.].
Mengenai hal tersebut, Ibnu al-Qayyim berkata dalam qasidahnya yang masyhur:.
"Apakah
engkau tidak membenarkan bahwa amal perbuatan para hamba akan diletakkan pada
hari pemaparan di dalam Timbangan? Begitu pula amalan itu terkadang berat dan
di waktu lain menjadi ringan, hal itu di dalam Al-Qur'an memiliki penjelasan
yang nyata Timbangan itu memiliki lisan (jarum penunjuk) dan dua daun timbangan
yang menegakkannya, dan kedua daun timbangan itu saling berhadapan satu sama
lain Perkara itu bukanlah urusan yang bersifat maknawi semata, melainkan ia
adalah perkara yang dapat diindrai secara nyata di sisi orang yang memiliki
iman.". [Lihat Qasidah Ibnu al-Qayyim beserta syarahnya juz 2 hal. 593.]
Di
samping itu, penimbangan amal perbuatan dilakukan setelah selesainya proses
perhitungan amal (Al-Hisab), karena penimbangan itu ditujukan untuk
penentuan balasan amalan. Maka ia terjadi setelah proses hisab yang berfungsi
untuk menetapkan amal perbuatan yang telah terjadi, sehingga penimbangan
berfungsi untuk menampakkan kadar/ukuran amalan tersebut agar balasan yang
diberikan sesuai dengannya [Hal itu dinukil dari Al-Qurthubi oleh pensyarah Al-Aqidah
Ath-Thahawiyyah hal. 472.]. Akan tetapi, tidak ada penimbangan amal bagi
para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang dikecualikan oleh Allah dari
proses hisab [Syarah Al-Baijuri 'ala Al-Jauharah hal. 215.].
11.
As-Shirat [Jembatan]:
Kita
mengimani bahwasanya setelah selesainya proses hisab dan mizan, manusia
bertolak dari tempat perhentian untuk berjalan melewati jembatan yang
dibentangkan di atas neraka Jahanam, yaitu Ash-Shirat [Jembatan].
Proses
berjalan melewati shirat ini berlaku umum bagi seluruh manusia: para nabi,
orang-orang shiddiq, orang-orang mukmin, orang-orang kafir, orang yang dihisab
maupun orang yang tidak dihisab. Barang siapa yang teguh di atas shirat Allah
di dunia—yaitu agama yang hak—maka ia akan teguh di atas shirat ini di akhirat
[Asal kata Ash-Shirat berarti jalan, dan dapat dilafalkan juga dengan
huruf Sin (As-Shirat), etimologinya diambil dari kata saratha
yang berarti menelan. Dan ada yang berpendapat dinamakan demikian karena
jembatan tersebut menelan orang-orang yang berjalan di atasnya - Lihat Al-Mishbah
Al-Munir.]. Telah datang di dalam sebagian hadis sahih bahwasanya manusia
berjalan melewatinya, dan tingkat kemudahan dalam menyeberanginya adalah sesuai
dengan kadar amalan mereka selama kehidupan di dunia. Di antara mereka ada yang
menyeberang secepat lesatan bintang, di antara mereka ada yang secepat angin,
di antara mereka ada yang secepat kedipan mata, dan di antara mereka ada yang
berlari kecil. Mereka melintasinya sesuai kadar amalan mereka, hingga lewatlah
orang yang sedikit amal salehnya dalam keadaan satu tangannya jatuh dan satu
tangan lainnya berpegangan, satu kakinya tergelincir dan kaki lainnya
tersangkut, serta bagian badannya terkena sentuhan siksa. Maka ketika mereka
berhasil selamat, mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah
menyelamatkan kami darimu setelah memperlihatkanmu kepada kami. Sungguh Allah
telah menganugerahkan kepada kami perkara yang tidak diberikan kepada seorang
pun.". [Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 470 dan Al-Aqidah
Al-Wasithiyyah ma'a Syarhiha oleh Muhammad Khalil Harras hal. 136.]
Mengenai
penyebutan shirat ini, telah ada sekumpulan hadis sahih, kami sebutkan untukmu
di antaranya hadis yang dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani dari Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu:.
Bahwasanya
orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, apakah kita akan
melihat Tuhan kita pada hari Kiamat?".
Maka
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Apakah kalian saling menghalangi [merasa silau/kesulitan] dalam
melihat bulan pada malam purnama?".
Mereka
menjawab: "Tidak, wahai Rasulullah." Beliau bertanya lagi:
"Apakah kalian saling menghalangi dalam melihat matahari yang tidak
terhalang oleh awan?".
Mereka
menjawab: "Tidak, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Maka
sesungguhnya kalian akan melihat-Nya demikian pula. Allah mengumpulkan manusia
pada hari Kiamat, lalu Allah berfirman: 'Barang siapa yang menyembah sesuatu
maka hendaklah ia mengikutinya.' Maka orang yang menyembah matahari akan
mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan akan mengikuti bulan, dan orang
yang menyembah thaghut-thaghut [segala sesuatu yang disembah selain Allah
Ta'ala] akan mengikuti thaghut [Ahli bahasa berkata: Thaghut adalah
segala sesuatu yang disembah selain Allah Ta'ala - Lihat Syarah An-Nawawi
'ala Shahih Muslim juz 3 hal. 18.]. Dan tersisalah umat ini yang di
dalamnya terdapat orang-orang munafik dari umat tersebut [Para ulama berkata:
Sesungguhnya mereka tetap berada di dalam barisan orang-orang mukmin karena
dahulu semasa di dunia mereka menyembunyikan diri (berkedok) bersama orang
mukmin, maka mereka pun berkedok bersama orang mukmin di akhirat, menempuh
jalur mereka, masuk ke dalam rombongan mereka, dan berjalan di atas cahaya
mereka hingga akhirnya Allah membuat dinding pemisah di antara mereka dan
memadamkan cahaya kaum mukmin dari mereka, sampai tempat menetap mereka
berakhir di tingkatan paling bawah dari neraka - Lihat Syarah An-Nawawi 'ala
Muslim juz 3 hal. 19.]. Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala datang kepada
mereka dalam wujud (shurah) selain wujud-Nya yang mereka kenali, lalu
Allah berfirman: 'Akulah Tuhan kalian.' Maka mereka berkata: 'Kami berlindung
kepada Allah darimu [Al-Qurthubi berkata dalam takwil perkara tersebut:
"Itu adalah kedudukan yang sangat mengerikan yang digunakan oleh Allah
untuk menguji para hamba-Nya guna memisahkan yang buruk dari yang baik. Hal itu
terjadi karena ketika orang-orang munafik masih tersisa bercampur dengan
orang-orang mukmin seraya mengeklaim bahwa mereka bagian dari kaum mukmin,
mereka mengira bahwa hal itu diperbolehkan pada waktu tersebut sebagaimana
diperbolehkannya di dunia. Maka Allah menguji mereka dengan mendatangi mereka dalam
wujud yang menakutkan seraya berfirman kepada semuanya: 'Akulah Tuhan kalian.'
Maka orang-orang mukmin menjawabnya dengan pengingkaran terhadap hal tersebut
karena telah ada makrifat (pengenalan) terdahulu di sisi mereka mengenai Allah
Subhanahu wa Ta'ala bahwasanya Dia disucikan dari sifat-sifat wujud ini. Oleh
karena itulah mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah darimu, kami tidak
menyekutukan Allah dengan sesuatu pun'." Perkataan Al-Qurthubi ini dinukil
oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juz 11 hal. 380, 381.]. Ini adalah
tempat keberadaan kami hingga datang Tuhan kami kepada kami. Maka apabila Tuhan
kami telah datang, kami pasti mengenali-Nya.' Kemudian Allah Ta'ala datang
kepada mereka dalam wujud-Nya yang mereka kenali, lalu Allah berfirman: 'Akulah
Tuhan kalian.' Maka mereka berkata: 'Engkau adalah Tuhan kami,' lalu mereka
mengikuti-Nya. Dan dibentangkanlah jembatan (Ash-Shirat) di antara dua
sisi neraka Jahanam, maka akulah dan umatku yang menjadi orang pertama kali
menyeberanginya. Tidak ada yang berbicara pada hari itu kecuali para rasul, dan
seruan para rasul pada hari itu adalah: 'Ya Allah, selamatkanlah,
selamatkanlah!'. Dan di dalam Jahanam [Lafal Imam Al-Bukhari berbunyi (wa
bihi) maksudnya adalah: di atas jembatan yang dibentangkan di atas Jahanam.]
terdapat besi-besi pengait (kalalib) [Bentuk jamak dari kata Kallub
dengan memfathahkan huruf Kaf dan mendhommahkan huruf Lam yang bertasydid,
yaitu sepotong besi yang ujung kepalanya melengkung.] yang berbentuk seperti
duri pohon Sa'dan [Tumbuhan yang memiliki duri yang sangat besar di seluruh
penjuru sisinya.]. Apakah kalian pernah melihat pohon Sa'dan?".
Para
sahabat menjawab: "Benar, wahai Rasulullah." Beliau bersabda:
"Maka sesungguhnya besi pengait itu seperti duri pohon Sa'dan, hanya saja
tidak ada yang mengetahui kadar besarnya kecuali Allah. Besi-besi pengait itu
menyambar manusia disebabkan oleh amal perbuatan mereka [Boleh jadi maknanya
adalah menyambar mereka disebabkan oleh amal perbuatan mereka, dan boleh jadi
maknanya adalah menyambar mereka sesuai kadar timbangan amal perbuatan mereka -
Syarah An-Nawawi 'ala Shahih Muslim juz 3 hal. 21.]. Maka di antara
mereka ada orang mukmin yang tetap teguh karena amalnya [Lafal Al-Bukhari
berbunyi: (faminhum al-muwbaqu bi 'amalihi wa minhum al-mukhardal)
artinya orang yang dibinasakan karena amalnya dan orang yang terpotong-potong
atau terlempar jatuh.], dan di antara mereka ada yang
terpotong-potong/terlempar namun pada akhirnya berhasil selamat.". (Potongan
dari hadis yang dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani dan lafal ini milik Muslim,
lihat Shahih Al-Bukhari juz 11 hal. 367 dan Shahih Muslim bi Syarh
An-Nawawi juz 3 hal. 17.)
Dan
peristiwa berjalan melewati shirat ini merupakan esensi dari kata Al-Wurud
[mendatangi/melewati] yang disebutkan di dalam firman Allah Ta'ala: "Dan
tidak ada seorang pun di antara kamu, melainkan mendatangi neraka itu." (Surah
Maryam - Ayat 71.). Maka tidak ada seorang pun yang terluput dari melewatinya.
Sungguh Imam Muslim telah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak
akan masuk neraka, insya Allah, seorang pun dari kalangan sahabat pohon
(Bai'atur Ridhal) yang membaiat di bawah pohon tersebut.". Maka Hafshah
berkata: "Bukankah Allah berfirman: 'Dan tidak ada seorang pun di antara
kamu, melainkan mendatangi neraka itu'?" Maka Nabi ﷺ menjawab: Sungguh
Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman setelah itu: "Kemudian Kami akan
menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim
di dalam neraka dalam keadaan berlutut.".( Surah Maryam - Ayat 72 dan
hadis ini dikeluarkan oleh Imam Muslim - Lihat Shahih Muslim bi Syarh
An-Nawawi juz 16 hal. 57.) Melalui hal ini, beliau ﷺ memberikan isyarat
bahwasanya sekadar mendatangi (wurud) neraka tidaklah mengharuskan masuk
ke dalamnya secara mutlak [Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 471.].
Maka semuanya berjalan di atas neraka melewati shirat, lalu Allah menyelamatkan
orang-orang yang beriman dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka
dalam keadaan berlutut. Kemudian, apabila orang-orang mukmin telah berhasil
menyeberangi shirat, mereka tertahan di sebuah jembatan kecil (qantharah)
yang terletak di antara surga dan neraka, lalu dilakukanlah qishash di antara
sebagian mereka atas sebagian yang lain. Maka apabila diri mereka telah
dibersihkan dan disucikan, barulah mereka diizinkan untuk memasuki surga.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
يَخْلُصُ
الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ
وَالنَّارِ، فَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهُمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمَ كَانَتْ بَيْنَهُمْ
فِي الدُّنْيا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ
الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى
بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا
Artinya:
'Orang-orang mukmin selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di atas jembatan
kecil (qantharah) antara surga dan neraka, maka dilakukanlah qishash bagi
sebagian mereka atas sebagian yang lain terhadap kezaliman-kezaliman yang
terjadi di antara mereka dahulu di dunia. Hingga apabila mereka telah
dibersihkan dan disucikan, barulah mereka diizinkan untuk memasuki surga. Maka
demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang di
antara mereka jauh lebih mengenali tempat tinggalnya di surga daripada
pengenalannya terhadap tempat tinggalnya dahulu semasa di dunia'. (Shahih
Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal. 336.) .
12
- Al-Jannah wa An-Nar [Surga dan Neraka]:
Setelah
melalui itu semua, kita wajib mengimani keberadaan Surga dan Neraka, dan
bahwasanya keduanya merupakan dua makhluk di antara makhluk-makhluk Allah Azza
wa Jalla yang telah Dia persiapkan sebagai tempat pemberian pahala dan
penjatuhan siksa. Serta mengimani bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
menciptakan keduanya sebelum Dia menciptakan para makhluk, bahwasanya keduanya
telah ada wujudnya sekarang ini, dan keduanya bersifat kekal abadi
selama-lamanya, tidak akan pernah sirna dan tidak pula punah. Allah Ta'ala
berfirman mengenai neraka:
"Wahai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat
yang kasar lagi keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia
perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. At-Tahrim: 6) .
Dan
Dia berfirman juga:
"(Ingatlah)
hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahanam, “Apakah kamu sudah penuh?” Ia
menjawab, “Apakah masih ada tambahan?”" (QS. Qaf: 30).
Dan
Allah Azza wa Jalla berfirman seraya mengabarkan tentang sebagian apa
yang ada di dalam neraka:
"Apakah
(hidangan) itu hidangan tempat tinggal yang lebih baik ataukah pohon zaqum?
Sesungguhnya Kami menjadikannya (pohon zaqum itu) sebagai azab bagi orang-orang
yang zalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon die tumbuh dari dasar neraka
Jahim. Mayangnya bagaikan kepala setan-setan. Sesungguhnya mereka benar-benar
memakan sebagian darinya dan memenuhi perut dengannya. Kemudian, sesungguhnya
mereka setelah makan (buah pohon zaqum) itu pasti mendapat minuman yang
dicampur dengan air yang sangat panas." (QS. As-Saffat: 62-67) .
Dan
Rasulullah ﷺ
bersabda dalam mensimulasikan sifat neraka: "Api kalian ini adalah satu
bagian dari tujuh puluh bagian dari api neraka Jahanam." Ditanyakan kepada
beliau: "Wahai Rasulullah, seandainya api dunia ini saja sungguh sudah
sangat mencukupi?". Beliau bersabda: "Api neraka Jahanam itu
dilebihkan atas api dunia sebanyak enam puluh sembilan bagian, yang mana setiap
bagiannya memiliki tingkat kepanasan yang sama dengan api dunia." (Shahih
Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 6 hal. 256, 257, dan Al-Muwaththa'
hal. 614.) . Dan beliau ﷺ
bersabda dalam menyifatkan siksaan yang paling ringan di dalam neraka:
"Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksanya pada hari Kiamat
adalah seseorang yang diletakkan di bawah lekukan telapak kakinya bara api yang
membuat otaknya mendidih." (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz
11 hal. 361.) .
Adapun
mengenai Surga, maka Allah Subhanahu telah banyak menyebutkan tentang
kenikmatannya di dalam Kitab-Nya yang Mulia, di antaranya adalah firman Allah
Ta'ala:
"Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam
taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutra yang halus dan sutra
yang tebal, (dalam keadaan) berhadapan. Demikianlah (balasan Kami). Kami
menikahkan mereka dengan bidadari yang bermata indah. Di dalamnya mereka dapat
meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala gangguan). Di
dalamnya mereka tidak akan merasakan mati, kecuali kematian pertama (di dunia).
Allah melindungi mereka dari azab (neraka) Jahim, sebagai karunia dari Tuhanmu.
Demikian itulah kemenangan yang agung." (QS. Ad-Dukhan: 51-57) .
Dan
Dia berfirman juga:
"Surga
didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh.
(Kepada mereka dikatakan,) “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada
setiap orang yang bertobat lagi memelihara (semua peraturan-peraturan Allah),
(yaitu) orang yang takut kepada (Allah) Yang Maha Pengasih dalam keadaan tidak
terlihat (oleh orang lain) dan dia datang dengan hati yang bertobat. Masukilah
dengan damai! Itulah hari keabadian.” Mereka di dalamnya mendapatkan apa yang
mereka inginkan dan di sisi Kami ada tambahannya." (QS. Qaf: 31-35) .
Dan
Dia berfirman juga:
"Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka
bersenang-senang dengan apa yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka dan Tuhan
melindungi mereka dari azab (neraka) Jahim. (Dikatakan kepada mereka,) “Makan
dan minumlah dengan nyaman sebagai balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.”
Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami menikahkan mereka
dengan bidadari yang bermata indah. Orang-orang yang beriman diikuti oleh anak
cucu mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka
(di dalam surga) dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka.
Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kami (selalu)
memasok mereka dengan buah-buahan dan daging dari jenis yang mereka inginkan.
Di dalam (surga) itu mereka saling mengulurkan gelas (berisi minuman) yang
tidak (menimbulkan) perkataan yang sia-sia dan tidak pula perbuatan dosa. Di
sekitar mereka ada anak-anak muda yang berkeliling untuk (melayani) mereka,
seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan." (QS. At-Thur: 17-24) .
Dan
Rasulullah ﷺ
bersabda di dalam menyifatkan kenikmatan surga: "Allah berfirman [Hadis
Qudsi]: Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang
belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum
pernah tebersit di dalam hati manusia." Maka bacalah jika kalian
menghendaki: "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk
mereka yang menyedapkan mata." (QS. As-Sajdah: 17) (Shahih Al-Bukhari
ma'a Fathul Bari juz 6 hal. 347.).
Demikian
pula kita mengimani adanya peristiwa saling berdialog dan saling berbicara
antara penduduk surga dengan penduduk neraka, maka perhatikanlah pemandangan
ini di dalam Surah Al-A'raf:
"Para
penghuni surga menyeru para penghuni neraka, “Sungguh, kami telah memperoleh
apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami secara benar. Apakah kamu telah
memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu secara benar?” Mereka (penghuni
neraka) menjawab, “Benar.” Seterusnya seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di
antara mereka, “Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim, (yaitu)
orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan
agar jalan itu bengkok, dan mereka adalah orang-orang yang mengingkari hari
akhir.”" (QS. Al-A'raf: 44-45).
Kemudian
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Para
penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah sedikit air kepada
kami atau rezeki apa saja yang telah Allah anugerahkan kepadamu.” Mereka
(penghuni surga) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya bagi
orang-orang kafir,”" (QS. Al-A'raf: 50).
Adapun
mengenai kekekalan surga dan neraka, serta keabadian orang-orang mukmin di
dalam surga dan orang-orang kafir di dalam neraka, maka hal tersebut telah
berulang kali disebutkan dan ditekankan di dalam mayoritas tempat yang
menyebutkan perihal surga dan neraka di dalam Kitab Allah Azza wa Jalla.
Mengenai hal tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam
surga dan penduduk neraka telah masuk ke dalam neraka, maka didatangkanlah
kematian hingga diletakkan di antara surga dan neraka, kemudian kematian
tersebut disembelih. Lalu ada seorang penyeru yang menyerukan: 'Wahai penduduk
surga, sekarang tidak ada lagi kematian! Wahai penduduk neraka, sekarang tidak
ada lagi kematian!' Maka bertambahlah kegembiraan penduduk surga di atas
kegembiraan mereka, dan bertambahlah kesedihan penduduk neraka di atas
kesedihan mereka." (Shahih Al-Bukhari ma'a Fathul Bari juz 11 hal.
351) .
Comments
Post a Comment