Tafsir Surah Muhammad
Surah Muhammad
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
١
اَلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ
اللّٰهِ اَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ ١ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوْا
بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ كَفَّرَ عَنْهُمْ
سَيِّاٰتِهِمْ وَاَصْلَحَ بَالَهُمْ ٢ ذٰلِكَ بِاَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا
الْبَاطِلَ وَاَنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَذٰلِكَ
يَضْرِبُ اللّٰهُ لِلنَّاسِ اَمْثَالَهُمْ ٣ فَاِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
فَضَرْبَ الرِّقَابِۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَثْخَنْتُمُوْهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَۖ فَاِمَّا
مَنًّاۢ بَعْدُ وَاِمَّا فِدَاۤءً حَتّٰى تَضَعَ الْحَرْبُ اَوْزَارَهَا ەۛ ذٰلِكَ
ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ
بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ
٤ سَيَهْدِيْهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْۚ ٥ وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ
٦ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ
اَقْدَامَكُمْ ٧ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَاَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ
٨ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَرِهُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ٩
۞ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ دَمَّرَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۖوَلِلْكٰفِرِيْنَ اَمْثَالُهَا ١٠ ذٰلِكَ
بِاَنَّ اللّٰهَ مَوْلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاَنَّ الْكٰفِرِيْنَ لَا مَوْلٰى لَهُمْ
ࣖ ١١ اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ
تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗوَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ
كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ ١٢ وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ
هِيَ اَشَدُّ قُوَّةً مِّنْ قَرْيَتِكَ الَّتِيْٓ اَخْرَجَتْكَۚ اَهْلَكْنٰهُمْ فَلَا
نَاصِرَ لَهُمْ ١٣ اَفَمَنْ كَانَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ كَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ
سُوْۤءُ عَمَلِهٖ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ ١٤ مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ
الْمُتَّقُوْنَ ۗفِيْهَآ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّاۤءٍ غَيْرِ اٰسِنٍۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ
لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚوَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ
ەۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۗوَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ
مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَاۤءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ
اَمْعَاۤءَهُمْ ١٥
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
"Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi
(manusia) dari jalan Allah, Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka."
(QS. Muhammad: 1)
"Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan
mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada
Muhammad—dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka—Allah menghapus
kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka." (QS. Muhammad:
2)
"Yang demikian itu karena sesungguhnya orang-orang
kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti
kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan
bagi manusia." (QS. Muhammad: 3)
"Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang
kafir (di medan perang), pukullah tengkuk mereka. Selanjutnya, apabila kamu
telah mengalahkan mereka dengan melumpuhkannya, tawanlah mereka dengan erat.
Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan
sampai perang usai. Demikianlah (perintah Allah). Seandainya Allah menghendaki,
niscaya Dia membinasakan mereka. Akan tetapi, Dia hendak menguji sebagian kamu
dengan sebagian yang lain. Orang-orang yang gugur di jalan Allah, Dia tidak
akan menyia-nyiakan amal mereka." (QS. Muhammad: 4)
"Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada mereka dan
memperbaiki keadaan mereka," (QS. Muhammad: 5)
"dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah
diperkenalkan-Nya kepada mereka." (QS. Muhammad: 6)
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong
(agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
(QS. Muhammad: 7)
"Orang-orang yang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan
Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 8)
"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka membenci
apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Dia menghapus amal-amal
mereka." (QS. Muhammad: 9)
"Apakah mereka tidak pernah bepergian di bumi lalu
memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Allah telah
membinasakan mereka. Bagi orang-orang kafir (akan menerima) nasib yang serupa
itu." (QS. Muhammad: 10)
"Yang demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi
orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai
pelindung." (QS. Muhammad: 11)
"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai. Orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia) dan makan
seperti makannya hewan-hewan ternak, dan neraka adalah tempat tinggal bagi
mereka." (QS. Muhammad: 12)
"Betapa banyak negeri yang (penduduknya) lebih kuat
daripada (penduduk) negerimu (Makkah) yang telah mengusirmu (wahai Muhammad)
yang telah Kami binasakan, maka tidak ada seorang pun penolong bagi
mereka." (QS. Muhammad: 13)
"Apakah orang yang hidup di atas bukti yang nyata dari
Tuhannya sama dengan orang yang dijadikan terasa indah baginya keburukan
amalnya dan mereka mengikuti keinginannya?" (QS. Muhammad: 14)
"Perumpamaan
surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah bahwa [ Hal. 3278
] di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya,
sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang
lezat bagi para peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Di
dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan
mereka. Apakah (orang yang memperoleh kenikmatan ini) sama dengan orang yang
kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga
memotong-motong ususnya?" (QS. Muhammad: 15)
Pengantar
Surah
ini adalah Madaniyyah, dan ia memiliki nama lain. Namanya adalah Surah al-Qital
(Perang). Dan itu adalah nama yang nyata baginya. Sebab, perang adalah temanya.
Perang adalah unsur yang paling menonjol di dalamnya. Perang ada dalam gambaran
dan bayang-bayangnya. Perang ada dalam nada dan iramanya.
Perang
adalah temanya. Ia dimulai dengan penjelasan tentang hakikat orang-orang kafir
dan hakikat orang-orang yang beriman dalam bentuk serangan sastrawi terhadap
orang-orang kafir, sekaligus pengagungan bagi orang-orang yang beriman,
disertai isyarat bahwa Allah adalah musuh bagi kelompok pertama dan pelindung
bagi kelompok kedua, serta bahwa ini adalah hakikat yang pasti dalam ketetapan
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, ini merupakan deklarasi perang dari
Allah Ta'ala terhadap musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh agama-Nya sejak lafal
pertama dalam surah ini:
"Orang-orang
yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Dia (Allah)
menyia-nyiakan amal-amal mereka. Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah)
dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada
Muhammad—dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka—Allah menghapus
kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian itu
karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya
orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia." (QS. Muhammad: 1-3)
Setelah
deklarasi perang dari Allah terhadap orang-orang kafir ini, muncul perintah
yang tegas bagi orang-orang yang beriman untuk mengobarkan perang melawan
mereka. Perintah ini disampaikan dalam bentuk redaksi yang bergemuruh kuat,
disertai penjelasan tentang hukum para tawanan setelah terjadinya pertempuran
hebat dan pembunuhan yang sengit:
"Maka,
apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), pukullah
tengkuk mereka. Selanjutnya, apabila kamu telah mengalahkan mereka dengan
melumpuhkannya, tawanlah mereka dengan erat. Setelah itu, kamu boleh
membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan..." (QS. Muhammad:
4)
Bersamaan
dengan perintah ini, terdapat penjelasan tentang hikmah perang, motivasi untuk
melakukannya, penghormatan terhadap kesyahidan di dalamnya, serta janji dari
Allah untuk memuliakan para syuhada, memberikan kemenangan bagi siapa saja yang
terjun ke medan pertempuran demi membela (agama) Allah, serta kebinasaan bagi
orang-orang kafir dan kesia-siaan amal-amal mereka:
"...sampai
perang usai. Demikianlah (perintah Allah). Seandainya Allah menghendaki,
niscaya Dia membinasakan mereka. Akan tetapi, Dia hendak menguji sebagian kamu
dengan sebagian yang lain. Orang-orang yang gugur di jalan Allah, Dia tidak
akan menyia-nyiakan amal mereka. Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada
mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga
yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka. Wahai orang-orang yang beriman!
Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu. Orang-orang yang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan Dia (Allah)
menyia-nyiakan amal-amal mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka
membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Dia menghapus amal-amal
mereka." (QS. Muhammad: 4-9)
Disertai
pula dengan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang kafir, deklarasi tentang
perlindungan Allah serta pertolongan-Nya bagi orang-orang yang beriman, dan
kebinasaan orang-orang kafir, kehinaan mereka, kelemahan mereka, serta
pembiaran mereka tanpa adanya penolong maupun pelindung:
"Apakah
mereka tidak pernah bepergian di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan
orang-orang sebelum mereka? Allah telah membinasakan mereka. Bagi orang-orang
kafir (akan menerima) nasib yang serupa itu. Yang demikian itu karena Allah
adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang
kafir itu tidak mempunyai pelindung." (QS. Muhammad: 10-11)
Demikian
pula ancaman lainnya bagi negeri yang telah mengusir Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam:
"Betapa
banyak negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu
(Makkah) yang telah mengusirmu (wahai Muhammad) yang telah Kami binasakan, maka
tidak ada seorang pun penolong bagi mereka." (QS. Muhammad: 13)
Kemudian
surah ini, setelah serangan yang keras dan terang-terangan tersebut, berlanjut
ke dalam berbagai corak pembicaraan mengenai kekafiran dan keimanan, serta
kondisi orang-orang mukmin dan orang-orang kafir di dunia maupun di akhirat.
Surah ini membedakan antara kenikmatan orang mukmin dengan hal-hal yang baik,
dan kesenangan orang-orang kafir dengan kelezatan bumi layaknya binatang:
"Sesungguhnya
Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Orang-orang yang kafir
menikmati kesenangan (dunia) dan makan seperti makannya hewan-hewan ternak, dan
neraka adalah tempat tinggal bagi mereka." (QS. Muhammad: 12)
Sebagaimana
digambarkan pula kenikmatan orang-orang mukmin di dalam surga dengan aneka
minuman yang lezat mulai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, susu yang
tidak berubah rasanya, khamar yang lezat bagi para peminumnya, serta madu yang
disaring, semuanya dalam jumlah yang melimpah dan mengalir... dalam bentuk
sungai-sungai yang mengalir... itu semua disertai aneka buah-buahan, ampunan,
serta keridaan. Kemudian muncul sebuah pertanyaan:
"...Apakah
(orang yang memperoleh kenikmatan ini) sama dengan orang yang kekal dalam
neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong
ususnya?" (QS. Muhammad: 15)
Setelah
selesainya putaran pertama dalam pertempuran yang terbuka dan langsung antara
orang-orang beriman dan orang-orang kafir ini, surah ini melanjutkannya dengan
putaran bersama orang-orang munafik. Mereka, bersama orang-orang Yahudi di
Madinah, pada masa itu membentuk ancaman bagi komunitas Islam yang baru tumbuh,
yang bahayanya tidak kalah besar dibandingkan bahaya orang-orang musyrik yang
memerangi mereka dari Makkah dan kabilah-kabilah di sekitarnya.
Peristiwa-peristiwa yang diisyaratkan oleh surah ini menunjukkan bahwa ia turun
setelah Perang Badar, dan sebelum Perang Ahzab serta peristiwa setelahnya yang
mematahkan kekuatan Yahudi dan melemahkan posisi orang-orang munafik
(sebagaimana telah kami sebutkan dalam tafsir Surah al-Ahzab).
Pembicaraan
tentang orang-orang munafik dalam surah ini membawa bayang-bayangnya sendiri.
Bayang-bayang serangan dan peperangan, sejak isyarat pertama. Pembicaraan ini
menggambarkan kelalaian mereka dari menyimak sabda Rasulullah, serta hilangnya
kesadaran dan perhatian mereka saat berada di majelis beliau. Penjelasan ini
diiringi dengan ungkapan yang mencap mereka dengan kesesatan dan hawa nafsu:
"Di
antara mereka ada yang mendengarkanmu (wahai Muhammad), tetapi apabila mereka
berdiri meninggalkanmu, mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi
ilmu, 'Apakah yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang dikunci
mati hatinya oleh Allah dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka." (QS.
Muhammad: 16)
Serta
mengancam mereka dengan hari Kiamat, hari di mana mereka tidak akan mampu
menyadarinya dan tidak pula memiliki kesempatan untuk mengambil pelajaran:
"Maka,
tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan datang kepada
mereka secara tiba-tiba karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka, apa
gunanya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari Kiamat itu telah
datang?" (QS. Muhammad: 17)
Kemudian
digambarkan pula kegelisahan, kepengecutan, dan keruntuhan mental mereka ketika
dihadapkan pada ayat Al-Qur'an yang membebankan kewajiban berperang kepada
mereka—padahal mereka menampakkan keimanan—serta perbedaan antara mereka pada
hari itu dengan orang-orang mukmin yang jujur:
"Orang-orang
yang beriman berkata, 'Mengapa tidak ada suatu surah yang diturunkan?' Maka,
apabila ada suatu surah yang jelas maksudnya diturunkan dan di dalamnya
disebutkan (perintah) perang, kamu melihat orang-orang yang di dalam hatinya
ada penyakit memandang kepadamu dengan pandangan orang yang pingsan karena
takut mati..." (QS. Muhammad: 20)
Serta
mendorong mereka untuk taat, jujur, dan teguh. Diperlihatkan pula betapa
buruknya kecenderungan mereka, seraya menyatakan perang, pengusiran, dan laknat
atas mereka:
"...(Ketaatan
dan ucapan yang baik) lebih utama bagi mereka. Apabila perintah (perang)
ditetapkan (mereka tidak menyukainya). Padahal, jika mereka tulus kepada Allah,
niscaya itu lebih baik bagi mereka. Apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan
berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah
orang-orang yang dilaknat Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) mereka dan
membutakan penglihatan mereka." (QS. Muhammad: 20-23)
Serta
menyingkap kedok mereka dalam mengikuti setan, persekongkolan mereka dengan
kaum Yahudi, dan mengancam mereka dengan azab saat kematian serta dengan
kehinaan yang akan menyingkap identitas mereka satu demi satu di tengah
masyarakat Islam—tempat mereka membaurkan diri padahal mereka bukan bagian
darinya, bahkan mereka kerap membuat tipu daya terhadapnya:
"Sesungguhnya
orang-orang yang berbalik ke belakang (murtad) setelah petunjuk itu jelas bagi
mereka, setan telah merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang
demikian itu karena sesungguhnya mereka telah mengatakan kepada orang-orang
(Yahudi) yang tidak menyukai apa yang diturunkan Allah, 'Kami akan mematuhimu
dalam beberapa urusan.' Padahal, Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah
(keadaan mereka) apabila para malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul
wajah dan punggung mereka? Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka
mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan membenci keridaan-Nya. Maka,
Dia menghapus amal-amal mereka. Atau apakah orang-orang yang di dalam hatinya
ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?
Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami memperlihatkan mereka kepadamu
sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Kamu
benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya. Allah mengetahui (segala)
amalmu. Kami benar-benar akan mengujimu hingga Kami mengetahui orang-orang yang
berjihad dan bersabar di antaramu serta menguji perihalmu." (QS. Muhammad:
25-31)
Pada
putaran ketiga sekaligus terakhir dalam surah ini, terdapat pengembalian
pembahasan kepada orang-orang kafir dari kalangan Quraisy dan Yahudi, serta
serangan terhadap mereka:
"Sesungguhnya
orang-orang yang kafir, menghalangi (orang lain) dari jalan Allah, dan memusuhi
Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, sedikit pun tidak dapat
mendatangkan mudarat kepada Allah dan Dia (Allah) akan menghapus amal-amal
mereka." (QS. Muhammad: 32)
Serta
peringatan bagi orang-orang yang beriman agar jangan sampai ditimpa musibah
seperti yang menimpa musuh-musuh mereka:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta janganlah
kamu merusak amal-amalmu. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan
menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam
keadaan kafir, Allah tidak akan mengampuni mereka." (QS. Muhammad: 33-34)
Serta
dorongan kuat bagi mereka untuk tetap teguh saat bertempur:
"Maka,
janganlah kamu lemah dan mengajak berdamai, padahal kamulah yang lebih unggul
dan Allah (pun) bersamamu serta Dia tidak akan mengurangi (pahala)
amal-amalmu." (QS. Muhammad: 35)
Serta
meremehkan perkara kehidupan dunia beserta perhiasannya. Serta anjuran untuk
berinfak yang telah dimudahkan oleh Allah, di mana Dia tidak menjadikannya
sebagai pembersihan terhadap seluruh harta demi mengasihi mereka, karena Dia
mengetahui sifat kikir yang ada di dalam jiwa manusia, serta kejengkelan dan
kesempitannya andai Allah mendesak mereka dalam meminta harta:
"Sesungguhnya
kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta
bertakwa, Allah akan memberikan pahalamu kepadamu dan Dia tidak akan meminta
hartamu. Jika Dia memintanya kepadamu lalu mendesakmu (agar memberikan semuanya),
niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu." (QS.
Muhammad: 36-37)
Surah
ini ditutup dengan sesuatu yang menyerupai ancaman bagi orang-orang muslim jika
mereka kikir dalam menginfakkan harta dan enggan berkorban dalam peperangan:
"Ingatlah,
kamu ini adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan
Allah. Lalu, di antara kamu ada yang kikir. Siapa yang kikir sesungguhnya dia
kikir terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya, sedangkan kamulah
orang-orang yang membutuhkan. Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), niscaya Dia
akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu
(yang kikir)." (QS. Muhammad: 38)
Sungguh,
ini adalah pertempuran yang terus berkesinambungan dari awal surah hingga
akhirannya; yang dinaungi oleh suasana peperangan, dan diselimuti oleh
karakternya dalam setiap paragrafnya.
Bunyi
akhiran ayat (fashilah) dan iramanya sejak awal bagaikan dentuman meriam
yang berat: "a'malahum, balahum, amtsalahum, ahwa'ahum,
am'a'ahum..."
Bahkan
ketika ia melemah, ia tetap menyerupai kibasan pedang di udara: "awzaraha,
amtsalaha, aqfalaha..."
Di
sana terdapat kekerasan dalam penggambaran sebagaimana kekerasan dalam bunyi
lafal yang mengekspresikannya. Mengenai peperangan atau pembunuhan, Dia
berfirman: "maka pukullah tengkuk mereka". Mengenai pembunuhan
hebat dan penawanan, Dia menggambarkannya dengan keras: "apabila kamu
telah mengalahkan mereka dengan melumpuhkannya, tawanlah mereka dengan
erat". Doa kebinasaan atas orang-orang kafir datang dalam lafal yang
kasar: "kecelakaanlah bagi mereka dan Dia (Allah) menyia-nyiakan
amal-amal mereka". Kebinasaan orang-orang terdahulu dilukiskan dalam
bentuk yang menggelegar secara bayang maupun lafal: "Allah telah
membinasakan mereka. Bagi orang-orang kafir (akan menerima) nasib yang serupa
itu". Gambaran azab di neraka datang dalam pemandangan ini: "dan
diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya".
Keadaan pengecut dan ketakutan pada orang-orang munafik juga datang dalam
pemandangan yang tak kalah keras: "kamu melihat orang-orang yang di
dalam hatinya ada penyakit memandang kepadamu dengan pandangan orang yang
pingsan karena takut mati!". Bahkan peringatan bagi orang-orang mukmin
dari berpaling datang dalam bentuk ancaman akhir yang tegas: "Jika kamu
berpaling (dari jalan-Nya), niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang
lain dan mereka tidak akan seperti kamu".
Begitulah
keserasian antara tema, penggambaran, bayang-bayang, dan irama dalam Surah
al-Qital...
Sikap
Menghadapi Orang Kafir dalam Perang
اَلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ
اللّٰهِ اَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ ١ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوْا
بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ كَفَّرَ عَنْهُمْ
سَيِّاٰتِهِمْ وَاَصْلَحَ بَالَهُمْ ٢ ذٰلِكَ بِاَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا
الْبَاطِلَ وَاَنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَذٰلِكَ
يَضْرِبُ اللّٰهُ لِلنَّاسِ اَمْثَالَهُمْ ٣
"Orang-orang
yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Dia (Allah)
menyia-nyiakan amal-amal mereka. Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah)
dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada
Muhammad—dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka—Allah menghapus
kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian itu
karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya
orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia." (QS. Muhammad: 1-3)
Sebuah
pembukaan yang merepresentasikan serangan tanpa mukadimah maupun pengantar!
Tindakan
menyesatkan atau menyia-nyiakan amal (idhlal al-a'mal) yang dihadapi
oleh orang-orang kafir dan orang-orang yang menghalang-halangi jalan Allah—baik
mereka menghalangi diri mereka sendiri maupun menghalangi diri mereka dan orang
lain—mengandung makna hilangnya amal-amal tersebut dan kebatilannya. Namun, makna
ini digambarkan dalam sebuah gerakan. Tiba-tiba saja kita melihat amal-amal ini
tersesat dan liar, dan kita sekilas melihat akibat dari kesesatan dan keliaran
ini, ternyata akibatnya adalah kebinasaan dan kesia-siaan. Ini adalah gerakan
yang meniupkan bayang kehidupan ke dalam amal-amal tersebut, seolah-olah amal
itu adalah sosok-sosok hidup yang tersesat lalu binasa. Ini memperdalam makna
dan melemparkan bayang-bayangnya; bayang-bayang pertempuran di mana amal-amal
tersebut tersesat dari kaum itu, dan kaum itu tersesat dari amalnya, hingga
berakhir pada kesesatan dan kebinasaan!
Amal-amal
yang disia-siakan (adhallat) ini barangkali yang dimaksud secara khusus
dengannya adalah amal-amal yang mereka harapkan membawa kebaikan darinya, yang
secara lahiriah tampak sebagai kesalehan. Sebab, tidak ada nilai bagi suatu
amal saleh tanpa adanya iman. Kesalehan semacam ini bersifat formalitas semata
yang tidak mengekspresikan hakikat di baliknya. Yang menjadi tolok ukur adalah
motif yang melahirkan amal tersebut, bukan bentuk lahiriah amalnya. Terkadang
motifnya baik, namun ketika ia tidak berdiri di atas landasan iman, ia hanya
akan menjadi kebetulan yang lewat atau gejolak sesaat. Ia tidak terhubung
dengan manhaj yang kokoh dan jelas di dalam jiwa, yang tersambung dengan garis
perjalanan hidup yang luas, tidak pula dengan hukum alam semesta yang asli (namus
al-wujud al-ashil). Maka, harus ada iman guna mengikat jiwa pada asas yang
menjadi sumber seluruh orientasinya, dan yang memengaruhinya dalam setiap
gejolaknya. Pada saat itulah amal saleh memiliki maknanya, memiliki tujuannya,
memiliki kontinuitasnya, serta memiliki dampak-dampaknya sesuai dengan manhaj
Ilahi yang mengikat bagian-bagian alam semesta ini secara keseluruhan dalam
hukum alam (namus); dan menjadikan setiap amal serta setiap gerakan
memiliki fungsi dan dampak dalam struktur eksistensi ini, dalam pelaksanaan
perannya, serta dalam pencapaian tujuannya.
Di
sisi lain:
"...Dan
orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman
kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad—dan itulah kebenaran dari Tuhan
mereka..." (QS. Muhammad: 2)
Keimanan
yang pertama sudah mencakup keimanan kepada apa yang diturunkan kepada
Muhammad. Akan tetapi, konteks kalimat (siyâq) memunculkan dan
menampakkannya secara khusus untuk menyifatinya dengan sifatnya: “dan itulah
kebenaran dari Tuhan mereka”, guna menegaskan makna ini dan menetapkannya.
Di samping keimanan yang bersemayam di dalam jiwa, terdapat amal yang tampak
nyata dalam kehidupan. Amal tersebut merupakan buah dari keimanan yang
menunjukkan keberadaan, vitalitas, serta dorongannya.
Mereka
ini:
"...Allah
menghapus kesalahan-kesalahan mereka..." (QS. Muhammad: 2)
Sebagai
lawan dari pembatalan amal-amal orang kafir meskipun secara bentuk dan
lahiriahnya tampak sebagai kebaikan. Manakala amal orang-orang kafir itu batal
meskipun tampak saleh, maka keburukan orang-orang yang beriman justru diampuni.
Ini merupakan perbandingan yang sempurna dan mutlak yang menampakkan nilai iman
dan kedudukannya di sisi Allah, serta dalam hakikat kehidupan...
"...dan
memperbaiki keadaan mereka." (QS. Muhammad: 2)
Dan
perbaikan keadaan (ishlah al-bal) merupakan nikmat yang sangat besar
yang kedudukannya berada tepat setelah nikmat iman dalam hal ukuran, nilai, dan
dampaknya. Ungkapan ini memberikan bayang-bayang ketenteraman, kenyamanan,
keyakinan, keridaan, dan kedamaian. Manakala keadaan pikiran dan hati (al-bal)
telah baik, maka luruslah perasaan dan pemikiran, tenanglah kalbu dan nurani,
nyamankah perasaan dan saraf, serta ridalah jiwa dan ia pun dapat menikmati
rasa aman serta kedamaian... Dan adakah nikmat atau kesenangan yang melebihi
hal ini? Sungguh, ia merupakan ufuk yang benderang, bercahaya, dan bergetar
indah.
Mengapa
hal ini terjadi pada kelompok ini dan hal itu terjadi pada kelompok itu? Ini
bukanlah masalah pilih kasih. Bukan pula kebetulan. Bukan pula kesia-siaan
tanpa perhitungan. Melainkan suatu perkara yang memiliki asasnya yang kokoh,
yang terkait dengan hukum alam asli yang menjadi landasan eksistensi pada hari
Allah menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran (al-haqq), dan
menjadikan kebenaran itu sebagai fondasinya:
"Yang
demikian itu karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan
sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan
mereka..." (QS. Muhammad: 3)
Sesuatu
yang batil tidak memiliki akar yang menghunjam dalam struktur eksistensi ini;
oleh karena itu, ia akan pergi dan binasa; dan setiap orang yang mengikutinya
serta segala hal yang lahir darinya akan pergi dan binasa pula. Tatkala
orang-orang kafir itu mengikuti kebatilan, maka tersesat dan sanyaplah
amal-amal mereka, dan tidak tersisa sedikit pun darinya yang mendatangkan
manfaat.
Sedangkan
kebenaran itu kokoh, menjadi landasan berdirinya langit dan bumi, serta akarnya
menghunjam ke dalam lubuk alam semesta ini. Oleh karena itu, segala hal yang
berhubungan dengannya dan tegak di atasnya akan tetap kekal. Tatkala
orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka, maka tidak
heran jika Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan
mereka.
Maka,
ini adalah perkara yang jelas dan pasti yang tegak di atas asas-asasnya yang
kokoh, serta kembali kepada sebab-sebabnya yang asli. Ia bukanlah kebetulan
lewat, bukan ketidaksengajaan, dan bukan pula kesia-siaan tanpa perhitungan.
"...Demikianlah
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia." (QS. Muhammad: 3)
Dan
begitulah Dia menetapkan bagi mereka kaidah-kaidah yang dengannya mereka
menimbang diri mereka dan amal-amal mereka. Maka, mereka pun mengetahui
perumpamaan yang mereka nisbatkan dan mereka jadikan ukuran padanya. Sehingga
mereka tidak lagi bingung dalam menimbang dan mengukur!
Asas
yang ditetapkan oleh ayat pertama dalam surah ini menjadi landasan bagi
pengarahan orang-orang mukmin untuk memerangi orang-orang kafir. Orang-orang
mukmin berada di atas kebenaran kokoh yang sepantasnya tegak di bumi, serta
menjulang tinggi dan mengendalikan takdir manusia serta kehidupan agar manusia
dapat terhubung dengan kebenaran dan agar kehidupan dapat tegak di atas
asasnya. Sedangkan orang-orang kafir berada di atas kebatilan yang sepantasnya
dihancurkan dan dihilangkan dampak-dampaknya dari kehidupan:
فَاِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
فَضَرْبَ الرِّقَابِۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَثْخَنْتُمُوْهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَۖ فَاِمَّا
مَنًّاۢ بَعْدُ وَاِمَّا فِدَاۤءً حَتّٰى تَضَعَ الْحَرْبُ اَوْزَارَهَا ەۛ ذٰلِكَ
ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ
بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ
٤
"Maka,
apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), pukullah
tengkuk mereka. Selanjutnya, apabila kamu telah mengalahkan mereka dengan
melumpuhkannya, tawanlah mereka dengan erat. Setelah itu, kamu boleh
membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan sampai perang
usai..." (QS. Muhammad: 4)
Pertemuan
yang dimaksud dalam ayat di sini adalah pertemuan untuk perang dan pertempuran,
bukan sekadar pertemuan biasa. Sebab, hingga turunnya surah ini, orang-orang
musyrik di Jazirah Arab ada yang berstatus sebagai musuh yang diperangi (muharib)
dan ada pula yang terikat perjanjian damai (mu'ahid). Pada saat itu
belum turun Surah "Bara'ah" (at-Tawbah) yang mengakhiri
perjanjian-perjanjian kaum musyrik yang memiliki batas waktu tertentu hingga
batas waktunya habis, dan yang tanpa batas waktu hingga empat bulan; serta
memerintahkan untuk membunuh kaum musyrik setelah itu di mana pun mereka
ditemukan di seantero Jazirah Arab—sebagai basis utama Islam—atau mereka masuk
Islam, agar basis tersebut bersih murni bagi Islam.
Perintah
memukul tengkuk (darb ar-riqab) saat bertemu musuh ini tentunya terjadi
setelah Islam ditawarkan kepada mereka namun mereka menolaknya. Ini adalah
visualisasi dari tindakan pembunuhan dengan bentuk fisiknya yang langsung dan
dengan gerakan yang merepresentasikannya, selaras dengan atmosfer surga dan
bayang-bayangnya.
"...Selanjutnya,
apabila kamu telah mengalahkan mereka dengan melumpuhkannya, tawanlah mereka
dengan erat..." (QS. Muhammad: 4)
Al-Itskhan
adalah tindakan memperbanyak pembunuhan dengan sengit, hingga kekuatan musuh
hancur lebur dan runtuh, sehingga mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk
menyerang maupun bertahan. Pada saat itulah—bukan sebelumnya—tawanan perang
boleh diambil dari mereka yang menyerah, lalu diikat dengan kuat. Adapun selagi
musuh masih kuat, maka pembunuhan yang sengit (al-itskhan) dan
pertempuranlah yang menjadi tujuan utama demi menghancurkan bahaya tersebut.
Atas
dasar ini, tidak ada kontradiksi—sebagaimana pandangan mayoritas mufasir—antara
kandungan ayat ini dengan kandungan ayat dalam Surah al-Anfal ketika Allah
menegur Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin karena
terlalu banyak mengambil tawanan pada Perang Badar, padahal pembunuhan hebat (al-taktil)
jauh lebih utama pada saat itu. Hal itu sebagaimana firman-Nya:
"Tidak
pantas bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan
musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Sekiranya tidak ada ketetapan terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa azab
yang besar karena (tebusan) yang kamu ambil." (QS. al-Anfal: 67-68)
Maka,
melumpuhkan musuh (al-itskhan) dilakukan terlebih dahulu demi
menghancurkan kekuatan musuh dan mematahkan taringnya; barulah setelah itu
proses penawanan dilakukan. Hikmahnya sangat jelas, karena melenyapkan kekuatan
yang memusuhi dan menyerang Islam adalah tujuan pertama dari peperangan.
Terlebih lagi ketika jumlah kekuatan personel umat Islam masih sedikit dan
terbatas, sementara kaum musyrik sangat dominan jumlahnya. Membunuh seorang
kombatan musuh memiliki nilai yang sangat besar dalam neraca kekuatan pada masa
itu. Aturan ini tetap berlaku dalam keumumannya di setiap zaman dengan bentuk
yang menjamin hancurnya kekuatan musuh, serta ketidakmampuan mereka untuk
menyerang maupun bertahan.
Adapun
hukum mengenai tawanan perang setelah itu, maka ayat inilah yang menetapkannya.
Ini adalah satu-satunya teks Al-Qur'an yang memuat hukum tentang tawanan
perang:
"...Setelah
itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta
tebusan..." (QS. Muhammad: 4)
Artinya:
adakalanya membebaskan mereka setelah itu tanpa imbalan apa pun berupa harta
maupun tebusan tawanan muslim (al-mann). Dan adakalanya membebaskan
mereka dengan imbalan tebusan berupa harta, jasa, atau sebagai ganti dari
pembebasan tawanan muslim yang ditawan oleh musuh (al-fida').
Di
dalam ayat ini tidak disebutkan opsi ketiga, seperti perbudakan (al-istiqraq)
atau pembunuhan (al-qatl), terkait dengan tawanan kaum musyrik.
Namun,
kenyataan yang terjadi adalah bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
dan para khalifah setelah beliau memperbudak sebagian tawanan—dan ini yang
paling sering terjadi—serta membunuh sebagian lainnya dalam kondisi-kondisi
tertentu.
Kami
nukilkan di sini apa yang disebutkan mengenai ayat ini dalam kitab Ahkam
al-Qur'an karya Imam al-Jasshas al-Hanafi, dan kami akan memberikan catatan
terhadap apa yang kami pandang perlu diberi catatan di sela-selanya, sebelum
kami menetapkan hukum yang kami pilih:
Allah
Ta'ala berfirman: "Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang
kafir (di medan perang), pukullah tengkuk mereka..." Abu Bakar
(al-Jasshas) berkata: Lahiriah ayat ini menuntut wajibnya pembunuhan dan tidak
ada opsi lain kecuali setelah melumpuhkan mereka (al-itskhan). Hal ini
senada dengan firman Allah Ta'ala: "Tidak pantas bagi seorang nabi
mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi..."
(Dan ini adalah hal yang benar, tidak ada kontradiksi antara kedua teks
tersebut).
Muhammad
bin Ja'far bin Muhammad bin al-Hakam menceritakan kepada kami, ia berkata:
Ja'far bin Muhammad bin al-Yaman menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu
Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Shalih menceritakan
kepada kami, dari Mu'awiyah bin Shalih, dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu
Abbas mengenai firman Allah Ta'ala: "Tidak pantas bagi seorang nabi
mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi..."
Beliau berkata: "Itu terjadi pada Perang Badar saat jumlah kaum muslimin
masih sedikit. Ketika jumlah mereka telah banyak dan kekuasaan mereka telah
kokoh, Allah Ta'ala menurunkan ayat setelah ini mengenai para tawanan: 'Setelah
itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...'
Maka Allah memberikan pilihan kepada Nabi dan orang-orang beriman dalam
memperlakukan tawanan. Jika mau, mereka boleh membunuhnya; jika mau, mereka
boleh memperbudaknya; dan jika mau, mereka boleh meminta tebusan atasnya."
Abu Ubaid ragu dalam periwayatan kalimat "dan jika mau, mereka boleh
memperbudaknya" (dan status perbudakan ini diragukan keabsahan
penisbatannya dari ucapan Ibnu Abbas, maka kami meninggalkannya. Adapun
kebolehan membunuh, kami tidak melihat adanya sandaran baginya di dalam ayat,
melainkan teksnya hanya menyebutkan pembebasan tanpa imbalan atau tebusan).
Dan
Ja'far bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ubaid
menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mahdi dan Hajjaj menceritakan kepada
kami, keduanya dari Sufyan, ia berkata: Aku mendengar as-Suddi berkata mengenai
firman-Nya: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau
meminta tebusan...” Ia berkata: "Ayat ini telah dinasakh [dihapus
hukumnya], dinasakh oleh firman-Nya: 'Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu
di mana saja kamu jumpai mereka...'" Abu Bakar berkata: Adapun
firman-Nya: "Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir
(di medan perang), pukullah tengkuk mereka..." dan firman-Nya: "Tidak
pantas bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan
musuhnya di bumi..." serta firman-Nya: "Jika kamu menemui
mereka dalam peperangan, cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka
dengan (menumpas) mereka..." maka sangat mungkin ini adalah hukum yang
tetap dan tidak dinasakh. Hal itu karena Allah Ta'ala memerintahkan Nabi-Nya
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk melumpuhkan musuh dengan pembunuhan dan
melarang beliau menawan musuh—kecuali setelah menghinakan kaum musyrik dan
menundukkan mereka—dan itu terjadi pada masa sedikitnya jumlah kaum muslimin
dan banyaknya jumlah musuh mereka dari kalangan musyrik. Maka, kapan pun kaum
musyrik telah dilumpuhkan dan dihinakan dengan pembunuhan serta pengusiran,
barulah boleh membiarkan mereka hidup (menawannya). Maka kewajibannya adalah
menjadikan ini sebagai hukum yang tetap apabila terdapat kondisi yang serupa
dengan kondisi kaum muslimin pada masa awal Islam. (Dan kami katakan:
Sesungguhnya perintah untuk membunuh kaum musyrik di mana pun mereka berada
adalah khusus bagi kaum musyrik Jazirah Arab. Sementara teks dalam Surah
Muhammad bersifat umum. Maka kapan pun pelumpuhan di bumi telah terwujud, maka
pengambilan tawanan diperbolehkan. Dan inilah yang dipraktikkan oleh para
khalifah setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan setelah turunnya
Surah Bara'ah secara tabiatnya, dan mereka tidak membunuh mereka kecuali dalam
kasus-kasus tertentu yang penjelasannya akan datang)...
Adapun
firman-Nya: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau
meminta tebusan...” Lahiriahnya menuntut salah satu dari dua hal:
pembebasan tanpa imbalan (mann) atau tebusan (fida'). Hal
tersebut menafikan kebolehan membunuh. Dan para ulama salaf telah berbeda
pendapat dalam masalah ini. Hajjaj menceritakan kepada kami dari Mubarak bin
Fadhalah dari al-Hasan bahwa beliau membenci tindakan membunuh tawanan, dan
beliau berkata: "Bebaskanlah ia tanpa imbalan atau mintalah tebusan
darinya." Dan Ja'far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ubaid
menceritakan kepada kami, ia berkata: Husyaim mengabarkan kepada kami, ia
berkata: Asy'ats mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada
'Atha' tentang membunuh tawanan, maka ia menjawab: "Bebaskan tanpa imbalan
atau mintalah tebusan." Ia berkata: Dan aku bertanya kepada al-Hasan, maka
beliau menjawab: "Lakukanlah kepadanya apa yang dilakukan oleh Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terhadap para tawanan Badar; dibebaskan tanpa
imbalan atau ditebus."
Diriwayatkan
pula dari Ibnu Umar bahwa diserahkan kepada beliau salah seorang pembesar
Istakhr untuk dibunuh, namun beliau enggan membunuhnya dan beliau membaca
firman-Nya: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau
meminta tebusan...”
Diriwayatkan
pula dari Mujahid dan Muhammad bin Sirin mengenai kemakruhan membunuh tawanan.
Dan kami telah meriwayatkan dari as-Suddi bahwa firman-Nya: “Setelah itu,
kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...”
dinasakh oleh firman-Nya: “Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana
saja kamu jumpai mereka...” Diriwayatkan hal senada dari Ibnu Juraij.
Ja'far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ubaid menceritakan kepada
kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, ia
berkata: "Ayat tersebut dinasakh." Dan ia berkata: "Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam membunuh Uqbah bin Abi Mu'aith pada hari Badar
secara shabran [dieksekusi dalam keadaan tertawan]." Abu Bakar
berkata: Para fuqaha di berbagai negeri telah sepakat tentang kebolehan
membunuh tawanan, kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara
mereka dalam hal ini. Sungguh telah mutawatir riwayat-riwayat dari Nabi
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengenai tindakan beliau membunuh tawanan, di
antaranya tindakan beliau membunuh Uqbah bin Abi Mu'aith dan an-Nadhr bin
al-Harits setelah ditawan pada hari Badar. Beliau juga membunuh Abu 'Azzah sang
penyair pada hari Uhud setelah ia ditawan. Beliau juga membunuh Bani Quraizhah
setelah mereka turun untuk tunduk pada hukum Sa'ad bin Mu'adz, lalu Sa'ad
memutuskan hukuman bunuh bagi mereka dan menawan keturunan mereka. Beliau
membebaskan az-Zubair bin Bata di antara mereka. Beliau juga menaklukkan
sebagian Khaibar secara damai dan sebagiannya lagi secara paksa ('anwatan),
dan beliau menetapkan syarat kepada Ibnu Abi al-Huqaiq agar tidak
menyembunyikan sesuatu pun, namun tatkala terbukti pengkhianatan dan
penyembunyiannya, beliau membunuhnya. Beliau juga menaklukkan kota Makkah dan
memerintahkan untuk membunuh Hilal bin Khathal, Miqyas bin Hubabah, Abdullah
bin Abi Sarh, dan yang lainnya, seraya bersabda:
"اقتلوهم وإن وجدتموهم متعلقين بأستار الكعبة"
"Bunuhlah
mereka meskipun kalian menemukan mereka berpegangan pada tirai Kakbah."
Beliau
membebaskan penduduk Makkah dan tidak mengambil harta rampasan perang dari
mereka. Diriwayatkan dari Shalih bin Kaisan dari Muhammad bin Abdurrahman dari
ayahnya, Abdurrahman bin Auf, bahwa ia mendengar Abu Bakar as-Siddiq berkata: "Aku
sangat berharap pada hari ketika dihadapkan kepadaku al-Fuja'ah, aku tidak
membakarnya, melainkan membunuhnya dengan cepat atau melepaskannya dengan
selamat." Dan dari Abu Musa bahwa beliau membunuh Dehkan as-Sus
setelah beliau memberinya jaminan keamanan atas kaum yang ia sebutkan namanya,
namun ia melupakan dirinya sendiri sehingga ia tidak termasuk ke dalam jaminan
keamanan tersebut, lalu Abu Musa membunuhnya. Ini adalah riwayat-riwayat yang
mutawatir dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan dari para sahabat
mengenai kebolehan membunuh tawanan dan membiarkannya hidup. Dan para fuqaha di
berbagai negeri telah sepakat atas hal itu. (Dan kebolehan membunuh ini tidak
diambil dari ayat Al-Qur'an, melainkan diambil dari tindakan Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan sebagian sahabat. Penelusuran terhadap
kasus-kasus terjadinya pembunuhan tersebut memberikan kesimpulan bahwa itu
adalah kasus-kasus khusus yang memiliki sebab-sebab tertentu di baliknya, bukan
sekadar karena mereka terlibat pertempuran dan ditawan. An-Nadhr bin al-Harits
dan Uqbah bin Abi Mu'aith, keduanya memiliki sikap khusus dalam menyakiti
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan menyakiti dakwah beliau. Demikian
pula Abu 'Azzah sang penyair, dan Bani Quraizhah juga memiliki sikap khusus
dengan keridaan mereka terhadap hukum Sa'ad bin Mu'adz sebelumnya. Begitulah
kita dapati pada seluruh kasus tersebut adanya sebab-sebab tertentu yang
mengecualikan kasus-kasus ini dari hukum umum tawanan yang ditetapkan oleh
ayat: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau
meminta tebusan...”).
Akan
tetapi, mereka berselisih pendapat mengenai penebusannya. Seluruh sahabat kami
(yaitu mazhab Hanafi) berkata: "Tawanan perang tidak boleh ditebus dengan
harta, dan tidak boleh pula menjual tawanan (sabyi) kepada musuh (ahlul
harb) sehingga mereka kembali menjadi musuh yang memerangi." Abu
Hanifah berkata: "Mereka juga tidak boleh ditebus dengan tawanan muslim,
dan tidak boleh dikembalikan menjadi musuh yang memerangi selama-lamanya."
Sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad berkata: "Tidak mengapa menebus tawanan
muslim dengan tawanan musyrik." Ini juga merupakan pendapat ats-Tsauri dan
al-Auza'i. Al-Auza'i berkata: "Tidak mengapa menjual tawanan kepada musuh,
dan tidak boleh menjual tawanan laki-laki dewasa kecuali jika kaum muslimin
ditebus dengan mereka." Al-Muzani meriwayatkan dari asy-Syafii: "Bagi
imam [pemimpin] memiliki hak untuk membebaskan tanpa imbalan (al-mann)
atas laki-laki dewasa yang telah dikalahkan, atau menebus mereka (al-fida')."
Adapun
kelompok yang membolehkan penebusan dengan tawanan muslim dan dengan harta,
mereka berhujah dengan firman-Nya:
"...Setelah
itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta
tebusan..." (QS. Muhammad: 4)
Lahiriah
ayat ini menuntut kebolehan penebusan tersebut, baik dengan harta maupun dengan
(pertukaran tawanan) muslim. Begitu pula dengan hujah bahwa Nabi Shallallahu
'Alaihi wa Sallam menebus para tawanan Perang Badar dengan harta. Mereka juga
berhujah untuk penebusan dengan tawanan muslim berdasarkan riwayat yang
dibawakan oleh Ibnu al-Mubarak, dari Ma'mar, dari Ayyub, dari Abi Qilabah, dari
Abi al-Muhallab, dari Imran bin Hushain. Ia berkata:
"Kabilah
Tsaqif menawan dua orang laki-laki dari sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam, lalu para sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menawan seorang
laki-laki dari Bani Amir bin Sha'sha'ah. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
melewatinya ketika ia sedang diikat, lalu ia memanggil beliau. Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun menghampirinya, lalu tawanan itu bertanya:
'Atas dasar apa aku ditahan?' Beliau menjawab: 'Karena kesalahan
sekutu-sekutumu.' Tawanan itu berkata: 'Sesungguhnya aku adalah seorang
muslim.' Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
نَقَلَ
الأثرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَوْ قُلْتَهَا
وَأَنْتَ تَمْلِكُ أَمْرَكَ لَأَفْلَحْتَ كُلَّ الْفَلَاحِ"
'Seandainya
kamu mengucapkannya (kalimat Islam) saat kamu masih menguasai urusanmu (sebelum
ditawan), niscaya kamu akan beruntung dengan sebenar-benarnya keberuntungan.'
Kemudian
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pergi, lalu ia memanggil beliau lagi.
Beliau pun menghampirinya, lalu ia berkata: 'Sesungguhnya aku lapar, maka
berilah aku makan.' Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
نَقَلَ
الأثرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَذِهِ حَاجَتُكَ"
'Ini
adalah kebutuhanmu.'
Setelah
itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menebusnya dengan dua orang laki-laki
yang telah ditawan oleh kabilah Tsaqif." (HR. Muslim) [^1]
(Dan
hujah golongan yang membolehkan penebusan ini lebih kuat menurut penilaian kami
dibandingkan dengan hujah para sahabat Imam al-Jasshas mengenai perbedaan
pendapat tentang penebusan dengan harta atau dengan tawanan muslim).
Imam
al-Jasshas mengakhiri pembahasan dalam masalah ini dengan menguatkan (tarjih)
pendapat sahabat-sahabatnya dari kalangan mazhab Hanafi. Beliau berkata:
"Adapun apa yang ada di dalam ayat berupa penyebutan pembebasan tanpa
imbalan (al-mann) dan penebusan (al-fida'), serta apa yang
diriwayatkan mengenai para tawanan Perang Badar, sesungguhnya hal itu telah
dinasakh [dihapus hukumnya] oleh firman-Nya:
"...Maka,
bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka, tangkaplah
mereka, kepunglah mereka, dan awasilah di setiap tempat pengintaian. Jika
mereka bertobat, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, berilah kebebasan
kepada mereka..." (QS. at-Tawbah: 5)
Dan
kami telah meriwayatkan hal itu dari as-Suddi dan Ibnu Juraij. Begitu pula
dengan firman Allah Ta'ala:
"Perangilah
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir..." hingga
firman-Nya "...sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka
dalam keadaan tunduk." (QS. at-Tawbah: 29)
Kedua
ayat tersebut mengandung kewajiban memerangi orang-orang kafir hingga mereka
masuk Islam atau membayar jizyah. Sedangkan penebusan dengan harta atau
selainnya bertentangan dengan hal tersebut. Para ahli tafsir dan pembawa
riwayat (naqalatu al-atsar) tidak berbeda pendapat bahwa Surah
"Bara'ah" (at-Tawbah) turun setelah Surah "Muhammad"
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, wajib menjadikan hukum yang
disebutkan di dalamnya sebagai nasakh bagi hukum penebusan yang disebutkan di
surah selainnya."
(Dan
telah dikemukakan sebelumnya bahwa perintah membunuh kaum musyrik ini—atau
masuk Islam—dimaksudkan untuk kaum musyrik di Jazirah Arab, sehingga ia
merupakan hukum khusus bagi mereka. Adapun selain mereka di luar Jazirah Arab
maka diterima jizyah dari mereka sebagaimana ia diterima dari Ahli Kitab.
Penerimaan jizyah saat ketundukan tidak menafikan terjadinya penawanan di
tangan kaum muslimin sebelum ketundukan tersebut. Maka, para tawanan ini,
bagaimanakah hukum mengenai mereka? Kami katakan: Sesungguhnya boleh
membebaskan mereka tanpa imbalan jika imam melihat adanya maslahat, atau
menebus mereka dengan harta atau dengan tawanan muslim, apabila kaum mereka
masih memiliki kekuatan yang belum tunduk dan belum menerima jizyah. Adapun
ketika telah tunduk pada jizyah, maka perkara tersebut dengan sendirinya telah
selesai dan ini adalah kondisi yang lain. Maka hukum tawanan tetap berlaku pada
kondisi yang tidak berakhir dengan jizyah).
Kesimpulan
yang kami peroleh adalah bahwa teks ini merupakan satu-satunya teks yang memuat
hukum tentang tawanan. Sementara seluruh teks lainnya memuat kondisi-kondisi
lain di luar kondisi penawanan. Dan sesungguhnya teks ini adalah asas yang
permanen bagi masalah ini. Adapun apa yang terjadi secara nyata di luar teks
tersebut adalah untuk menghadapi kondisi-kondisi khusus dan keadaan kontemporer
pada masanya. Pembunuhan terhadap sebagian tawanan terjadi pada kasus-kasus
individual yang selalu memiliki presedennya; mereka dijatuhi hukuman atas
tindakan-tindakan yang mereka lakukan sebelum ditawan, bukan semata-mata karena
mereka keluar untuk berperang. Contoh dari hal itu adalah apabila seorang
mata-mata jatuh sebagai tawanan, maka ia diadili atas tindakan spionasenya,
bukan atas statusnya sebagai tawanan perang. Penawanan tersebut hanyalah sarana
untuk menangkapnya.
Tinggallah
perkara perbudakan (al-istiqraq). Dan telah kami kemukakan sebelumnya di
berbagai tempat dalam Zhilal ini bahwa perbudakan itu ada untuk
menghadapi kondisi global yang berlaku saat itu, serta tradisi umum dalam
peperangan. Tidaklah mungkin bagi Islam untuk menerapkan teks yang bersifat
umum dalam seluruh kondisi:
"...Setelah
itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta
tebusan..." (QS. Muhammad: 4)
Di
saat musuh-musuh Islam memperbudak siapa saja yang mereka tawan dari kalangan
kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
menerapkannya dalam sebagian kondisi, beliau membebaskan sebagian tawanan dari
kami (kaum muslimin). Beliau menebus sebagian mereka dengan tawanan muslim, dan
menebus sebagian lainnya dengan harta. Pada kondisi-kondisi lainnya, terjadilah
perbudakan guna menghadapi kondisi nyata yang tidak dapat diatasi kecuali
dengan tindakan tersebut.
Maka,
apabila terjadi kesepakatan di antara seluruh kubu pertahanan untuk tidak
memperbudak tawanan perang, maka Islam pada saat itu akan kembali kepada
satu-satunya kaidah positifnya, yaitu: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan
mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...” karena telah berakhirnya
kondisi-kondisi yang menuntut adanya perbudakan. Maka perbudakan bukanlah suatu
kemestian, dan bukan pula kaidah dari kaidah-kaidah memperlakukan tawanan di
dalam Islam.
Inilah
pendapat yang kami ambil dari teks Al-Qur'an yang tegas ini, serta dari studi
terhadap berbagai keadaan, kondisi, dan peristiwa... Dan Allah-lah yang memberi
taufik kepada kebenaran.
Dan
sangat baik untuk dipahami bahwa saya cenderung kepada pendapat ini karena
teks-teks Al-Qur'an serta penelusuran terhadap berbagai peristiwa dan
kondisinya mendukung hal tersebut, bukan karena terlintas di dalam benak saya
bahwa perbudakan tawanan adalah sebuah tuduhan yang saya coba bersihkan dari
Islam! Pikiran semacam itu tidak pernah terlintas dalam jiwa saya sama sekali.
Seandainya Islam memandang hal itu (sebagai aturan tetap), niscaya hal itulah
yang terbaik, karena tidak ada seorang pun yang memiliki adab yang dapat
mengatakan bahwa ia melihat sesuatu yang lebih baik daripada apa yang dipandang
oleh Allah. Sesungguhnya saya hanyalah berjalan bersama teks Al-Qur'an dan
ruhaninya, sehingga saya cenderung pada pendapat tersebut berdasarkan isyarat
teks dan arah tujuannya.
Dan
yang demikian itu...—yaitu: peperangan, memukul tengkuk, mengikat dengan kuat,
dan mengikuti kaidah ini pada para tawanan—“sampai perang usai”...
Yakni: sampai berakhirnya peperangan antara Islam dan musuh-musuh yang
menentangnya. Maka itulah kaidah menyeluruh yang permanen. Hal itu karena "Jihad
akan terus berjalan hingga hari Kiamat" sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, hingga kalimat Allah menjadi yang paling tinggi.
Dan
Allah tidak membebani orang-orang yang beriman dengan perkara ini, dan tidak
pula mewajibkan jihad ini kepada mereka, karena Dia meminta bantuan kepada
mereka—Maha Suci Dia dari hal itu—untuk mengalahkan orang-orang kafir. Dia
Subhanahu wa Ta'ala Mahakuasa untuk membinasakan mereka secara langsung;
melainkan hal itu adalah ujian dari Allah bagi hamba-hamba-Nya antara sebagian
mereka dengan sebagian yang lain; ujian yang dengannya derajat-derajat mereka
ditentukan:
فَاِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
فَضَرْبَ الرِّقَابِۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَثْخَنْتُمُوْهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَۖ فَاِمَّا
مَنًّاۢ بَعْدُ وَاِمَّا فِدَاۤءً حَتّٰى تَضَعَ الْحَرْبُ اَوْزَارَهَا ەۛ ذٰلِكَ
ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ
بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ
٤ سَيَهْدِيْهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْۚ ٥ وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ
٦
"...Demikianlah
(perintah Allah). Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan
mereka. Akan tetapi, Dia hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang
lain. Orang-orang yang gugur di jalan Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal
mereka. Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan
mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya
kepada mereka." (QS. Muhammad: 4-6)
Sesungguhnya
orang-orang kafir dan orang-orang yang menghalang-halangi jalan Allah, serta
yang serupa dengan mereka di seluruh penjuru bumi di setiap zaman dari kalangan
para pembangkang, diktator, dan perusak, yang menampakkan diri dalam jubah
kekerasan dan kesombongan, serta menganggap diri mereka dan para pengikut
mereka yang sesat sebagai orang-orang yang berkuasa lagi kuat. Sesungguhnya
mereka semua hanyalah segelintir makhluk. Mereka hidup di atas permukaan debu
kecil yang bernama bumi ini, di antara planet-planet, bintang-bintang, gugusan
bintang, galaksi, dan alam semesta yang tidak diketahui jumlahnya dan batasnya
kecuali oleh Allah di angkasa ini, di mana galaksi dan alam semesta ini tampak
bagaikan titik-titik yang tersebar, hampir-hampir lenyap, tidak ada yang
menahan, mengumpulkan, dan menyelaraskannya kecuali Allah.
Maka,
tidaklah sampai mereka dan para pengikut di belakang mereka, bahkan tidak pula
sampai seluruh penduduk bumi ini, untuk sekadar menjadi semut-semut kecil.
Bahkan, mereka tidak sampai untuk menjadi debu yang ditiup oleh embusan angin.
Bahkan, mereka tidak sampai menjadi sesuatu apa pun sama sekali ketika mereka
berdiri di hadapan kekuatan Allah.
Sesungguhnya
Allah hanyalah menjadikan orang-orang mukmin—ketika memerintahkan mereka untuk
memukul tengkuk orang-orang kafir dan mengikat mereka dengan kuat setelah
melumpuhkan mereka—menjadikan mereka Subhanahu wa Ta'ala sebagai tabir bagi
kekuasaan-Nya. Seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan membinasakan
orang-orang kafir secara nyata. Sebagaimana Dia membinasakan sebagian mereka
dengan banjir bandang, suara yang menggelegar, dan angin topan yang mandul.
Bahkan, Dia dapat membinasakan mereka tanpa sebab-sebab ini semua, akan tetapi
Dia menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia menguji mereka,
mendidik mereka, memperbaiki mereka, dan memudahkan bagi mereka sebab-sebab
untuk meraih kebaikan-kebaikan yang besar.
Dia
menghendaki untuk menguji mereka. Di dalam ujian ini, Dia membangkitkan di
dalam jiwa orang-orang mukmin potensi dan kecenderungan yang paling mulia dalam
jiwa manusia. Maka tidak ada yang lebih mulia di dalam jiwa selain kebenaran
yang diimaninya terasa sangat berharga baginya, hingga ia berjihad di jalannya,
lalu ia membunuh dan terbunuh, dan ia tidak menyerahkan kebenaran yang ia hidup
untuknya dan dengannya, serta ia tidak mampu menjalani kehidupan tanpanya, dan
ia tidak menyukai kehidupan ini di luar naungannya.
Dan
Dia menghendaki untuk mendidik mereka. Maka Dia terus mengeluarkan dari dalam
jiwa mereka setiap hawa nafsu dan setiap keinginan terhadap perhiasan bumi yang
fana ini, yang terasa berat bagi mereka untuk meninggalkannya. Dia terus
menguatkan setiap kelemahan di dalam jiwa mereka, menyempurnakan setiap
kekurangan, dan membersihkan setiap kekeruhan serta noda, hingga seluruh
keinginan mereka berada di satu timbangan dan di timbangan lainnya adalah
pemenuhan seruan Allah untuk berjihad, serta mengharap wajah Allah dan
keridaan-Nya. Maka timbangan ini pun menjadi berat dan mengesampingkan yang
itu. Dan Allah mengetahui dari jiwa-jiwa ini bahwa mereka telah diberi pilihan
lalu mereka memilih, dan bahwa mereka telah dididik lalu mereka mengetahui, dan
bahwa mereka tidak bergerak tanpa kesadaran, melainkan mereka menimbang dan
memilih.
Dan
Dia menghendaki untuk memperbaiki mereka. Sebab, di dalam penderitaan jihad di
jalan Allah, dan kerelaan menghadapi kematian di setiap putaran, terdapat hal
yang membiasakan jiwa untuk meremehkan bahaya yang menakutkan ini, yang
dengannya manusia mengorbankan banyak hal dari jiwa, akhlak, timbangan, dan
nilai-nilai mereka untuk menghindarinya. Padahal, kematian itu sangatlah ringan
bagi orang yang terbiasa menghadapinya, baik ia selamat darinya maupun ia
menjumpainya. Penyerahan diri kepada Allah dalam hal ini di setiap waktu akan
melakukan sesuatu pada jiwa di saat-saat bahaya, yang mendekatkan
visualisasinya seperti pengaruh aliran listrik pada tubuh! Seolah-olah itu
adalah pembentukan kembali bagi hati dan ruh di atas kejernihan, kesucian, dan
kesalehan.
Kemudian,
ia adalah sebab-sebab lahiriah bagi perbaikan seluruh komunitas manusia,
melalui jalan kepemimpinan di tangan para mujahid yang jiwanya telah kosong
dari segala perhiasan dunia dan segala kemegahannya; dan kehidupan terasa remeh
bagi mereka saat mereka mengarungi samudera kematian di jalan Allah. Tidak ada
lagi di dalam hati mereka hal yang menyibukkan mereka dari Allah dan mengharap
keridaan-Nya... Dan manakala kepemimpinan berada di tangan-tangan seperti ini,
maka baiklah seluruh bumi dan baik pula para hamba. Dan menjadi hal yang sangat
berat bagi tangan-tangan ini untuk menyerahkan panji kepemimpinan kepada
kekafiran, kesesatan, dan kerusakan; padahal mereka telah membelinya dengan
darah dan jiwa, dan setiap hal yang berharga serta mahal telah mereka korbankan
untuk menerima panji ini, bukan untuk diri mereka sendiri melainkan untuk
Allah!
Kemudian,
di samping itu semua, ia adalah kemudahan sarana bagi siapa saja yang Allah
kehendaki kebaikan bagi mereka untuk meraih keridaan-Nya dan balasan-Nya tanpa
perhitungan. Dan kemudahan sarana bagi siapa saja yang Allah kehendaki
keburukan bagi mereka untuk melakukan apa yang membuat mereka layak menerima
kemurkaan-Nya dan azab-Nya. Dan setiap orang dimudahkan untuk apa ia
diciptakan, sesuai dengan apa yang diketahui oleh Allah dari rahasia dan
batinnya.
Oleh
karena itu, Dia menyingkap tempat kembali bagi orang-orang yang gugur di jalan
Allah:
"Orang-orang
yang gugur di jalan Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Dia
(Allah) akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan
memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada
mereka." (QS. Muhammad: 4-6)
Dia
tidak akan menyia-nyiakan amal mereka... Sebagai lawan dari apa yang datang
mengenai orang-orang kafir bahwa Dia menyia-nyiakan amal mereka. Maka amal-amal
mereka adalah amal yang mendapat petunjuk, sampai, dan terikat pada kebenaran
kokoh yang melahirkannya, dan dibangkitkan untuk melindunginya serta
berorientasi kepadanya. Dan oleh karena itu ia kekal karena kebenaran itu
kekal, tidak akan sia-sia dan tidak akan lenyap.
Kemudian
kita berdiri di hadapan hakikat yang agung ini... hakikat kehidupan para
syuhada di jalan Allah... Ia adalah hakikat yang telah ditetapkan sebelumnya
dalam firman-Nya Ta'ala:
"Janganlah
kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu telah mati.
Sebenarnya, mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS.
al-Baqarah: 154)
Akan
tetapi, ia disajikan di sini dengan penyajian yang baru. Disajikan dalam
kondisi kelangsungan dan perkembangan di jalannya yang ia tinggalkan di
kehidupan dunia saat ia meniti dan menujunya. Jalan ketaatan, hidayah,
ketulusan, dan kesucian:
"...Dia
(Allah) akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan
mereka..." (QS. Muhammad: 5)
Maka
Allah adalah Tuhan mereka yang mereka gugur di jalan-Nya, Dia terus mengasuh
mereka dengan petunjuk—setelah kesyahidan—dan mengasuh mereka dengan
memperbaiki keadaan pikiran dan hati (ishlah al-bal), serta membersihkan
ruh dari sisa-sisa kotoran bumi; atau menambah kesuciannya agar selaras dengan
kesucian alam malakut tertinggi yang mereka naiki ke sana, beserta cahayanya
dan kemegahannya. Maka ia adalah kehidupan yang terus berlangsung di jalannya,
tidak terputus kecuali dalam pandangan penduduk bumi yang terhijab. Dan ia
adalah kehidupan yang diasuh oleh Allah Tuhan-nya di alam malakut tertinggi.
Dia menambah petunjuk baginya. Dia menambah kesucian baginya, dan Dia menambah
cahaya baginya. Dan ia adalah kehidupan yang berkembang di bawah naungan Allah.
Dan akhirnya Dia mewujudkan bagi mereka apa yang dijanjikan-Nya:
"...dan
memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada
mereka." (QS. Muhammad: 6)
Sungguh
telah ada hadis mengenai pengenalan Allah akan surga bagi para syuhada yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, ia berkata: Yazid bin Numair
ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, Ibnu Tsauban menceritakan kepada kami,
dari ayahnya, dari Makhul, dari Katsir bin Murrah, dari Qais al-Judzami—seorang
laki-laki yang memiliki hubungan persahabatan dengan Nabi (sahabat)—ia berkata:
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
نَقَلَ الأثرُ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يُعْطَى الشَّهِيدُ سِتَّ
خِصَالٍ: عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهِ، تُكَفَّرُ عَنْهُ كُلُّ خَطِيئَةٍ؛
وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ،
وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيُحَلَّى
حُلَّةَ الْإِيمَانِ"
"Seorang
syahid diberikan enam perkara: pada tetesan darahnya yang pertama, dihapuskan
darinya setiap dosa; ia diperlihatkan tempat duduknya di surga; dinikahkan
dengan bidadari; diamankan dari ketakutan yang besar dan dari azab kubur; serta
dihiasi dengan hiasan keimanan." (HR. Ahmad, hadis ini diriwayatkan secara
bersendiri oleh Ahmad). Beliau juga meriwayatkan hadis lain yang mendekati
makna ini. Di dalamnya terdapat teks mengenai penglihatan seorang syahid akan
tempat duduknya di surga. Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh
Ibnu Majah. [^2]
Maka
inilah pengenalan Allah akan surga bagi para syuhada di jalan-Nya. Dan inilah
akhir dari hidayah yang membentang, dan perbaikan keadaan yang baru setelah
mereka meninggalkan bumi ini. Serta perkembangan kehidupan mereka, petunjuk
mereka, dan kesalehan mereka di sana di sisi Allah.
Kaum
Mukminin Pasti Menang
Di
bawah naungan kemuliaan ini bagi orang-orang yang gugur di jalan Allah, di
bawah naungan keridaan tersebut, pemeliharaan itu, dan pencapaian kedudukan
tersebut, Allah memotivasi orang-orang yang beriman untuk memurnikan diri bagi
Allah, dan berorientasi untuk menolong manhaj-Nya dalam kehidupan; serta
menjanjikan kepada mereka atas kemenangan dan keteguhan ini di dalam
pertempuran; serta kecelakaan dan kesesatan bagi musuh-musuh mereka dan
musuh-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا
اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ ٧ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَتَعْسًا
لَّهُمْ وَاَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ ٨ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَرِهُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ
فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ٩
"Wahai
orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Orang-orang yang kafir, kecelakaanlah
bagi mereka dan Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka. Yang demikian itu
karena sesungguhnya mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka
Dia menghapus amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 7-9)
Dan
bagaimanakah orang-orang yang beriman menolong Allah, sehingga mereka memenuhi
syarat tersebut dan meraih apa yang disyaratkan bagi mereka berupa pertolongan
dan keteguhan?
Sesungguhnya
hak Allah di dalam jiwa mereka adalah agar jiwa mereka memurnikan diri
untuk-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, baik syirik yang
tampak maupun yang tersembunyi, dan tidak menyisakan di dalamnya bersama-Nya
seorang pun dan sesuatu pun, dan agar Allah lebih dicintainya daripada dirinya
sendiri dan dari setiap apa yang dicintai dan diinginkannya, dan agar ia
menjadikan-Nya sebagai hakim dalam keinginan-keinginan, gejolak-gejolak,
gerakan-gerakan, diamnya, rahasianya, terangnya, seluruh aktivitasnya, dan
bisikan-bisikannya... Maka inilah pertolongan kepada Allah di dalam diri
jiwa-jiwa.
Dan
sesungguhnya bagi Allah ada syariat dan manhaj bagi kehidupan, yang tegak di
atas kaidah-kaidah, timbangan-timbangan, nilai-nilai, dan konsepsi khusus bagi
eksistensi secara keseluruhan dan bagi kehidupan. Dan pertolongan kepada Allah
terwujud dengan menolong syariat-Nya dan manhaj-Nya, serta upaya untuk
menjadikannya sebagai hakim dalam kehidupan seluruhnya tanpa pengecualian, maka
inilah pertolongan kepada Allah di dalam realitas kehidupan.
Dan
kita berdiri sejenak di hadapan firman-Nya Ta'ala: "Orang-orang yang
gugur di jalan Allah..." dan firman-Nya: "Jika kamu menolong
(agama) Allah..."
Dan
dalam kedua kondisi tersebut. Kondisi gugur. Dan kondisi pertolongan.
Disyaratkan agar hal ini murni karena Allah dan di jalan Allah. Dan ia adalah
isyarat yang aksiomatis, akan tetapi banyak kekaburan yang menutupinya ketika
akidah mengalami penyimpangan pada sebagian generasi. Dan ketika kata-kata
syahid, para syuhada, dan jihad disalahgunakan serta diremehkan, lalu
menyimpang dari maknanya yang satu lagi lurus.
Sesungguhnya
tidak ada jihad, tidak ada kesyahidan, dan tidak ada surga, kecuali ketika
jihad itu berada di jalan Allah semata, dan kematian berada di jalan-Nya
semata, dan pertolongan itu murni untuk-Nya semata, di dalam diri jiwa dan di
dalam manhaj kehidupan.
Tidak
ada jihad, tidak ada kesyahidan, dan tidak ada surga kecuali ketika tujuannya
adalah agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi. Dan agar syariat-Nya
serta manhaj-Nya mengendalikan hati manusia, akhlak mereka, perilaku mereka,
serta dalam kondisi mereka, legislasi mereka, dan sistem mereka secara
bersamaan.
Dari
Abu Musa Radhiallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberanian,
berperang karena fanatisme (hamiyyah), dan berperang karena riya.
Manakah dari hal itu yang berada di jalan Allah? Maka beliau bersabda:
نَقَلَ الأثرُ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ
كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ"
"Siapa
yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di
jalan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim) [^3]
Dan
tidak ada panji lainnya, atau tujuan lainnya, yang dengannya seorang mujahid
berjihad, dan seorang syahid gugur di bawahnya, sehingga ia berhak menerima
janji Allah berupa surga, kecuali panji tersebut dan kecuali tujuan ini. Dari
setiap apa yang marak pada generasi-generasi yang menyimpang konsepsinya berupa
panji-panji, nama-nama, dan tujuan-tujuan!
Dan
sangat baik bagi para pengemban dakwah untuk menyadari isyarat yang aksiomatis
ini, dan agar mereka memurnikannya di dalam jiwa mereka dari noda-noda yang
menempel padanya dari logika lingkungan dan konsepsi generasi-generasi yang
menyimpang, dan agar mereka tidak mencampuradukkan panji mereka dengan panji
lainnya, dan tidak mencampuradukkan konsepsi mereka dengan konsepsi asing yang
merusak akidah.
Tidak
ada jihad kecuali agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi. Tinggi di
dalam jiwa dan hati. Dan tinggi di dalam akhlak dan perilaku. Dan tinggi di
dalam kondisi dan sistem. Dan tinggi di dalam hubungan dan ikatan di seluruh
penjuru kehidupan. Dan apa yang selain ini maka bukanlah karena Allah,
melainkan karena setan. Dan selain dari ini tidak ada kesyahidan dan tidak pula
gugur sebagai syahid. Dan selain dari ini tidak ada surga dan tidak pula
pertolongan dari sisi Allah, serta tidak ada keteguhan bagi kaki-kaki.
Melainkan ia hanyalah kekaburan, keburukan konsepsi, dan penyimpangan.
Dan
jika terasa berat bagi selain para pengemban dakwah kepada Allah untuk
membebaskan diri dari kekaburan ini, keburukan konsepsi, dan penyimpangan, maka
tidak kurang bagi para dai kepada Allah untuk memurnikan diri mereka sendiri,
perasaan mereka, dan konsepsi mereka dari logika lingkungan yang tidak sejalan
dengan aksioma pertama dalam syarat Allah...
Dan
selanjutnya, inilah syarat Allah atas orang-orang yang beriman. Adapun
syarat-Nya bagi mereka adalah pertolongan dan keteguhan kaki-kaki. Janji Allah
tidak akan diingkari-Nya. Maka apabila ia tertunda beberapa saat, maka itu
adalah batas waktu yang ditakdirkan karena hikmah lainnya yang terwujud
bersamaan dengan terwujudnya pertolongan dan keteguhan tersebut. Hal itu
terjadi ketika dipastikan bahwa orang-orang yang beriman telah memenuhi syarat
tersebut, namun tertunda dari mereka—beberapa saat—pertolongan Allah.
Kemudian
kita berdiri sejenak di hadapan isyarat khusus dalam redaksi: "niscaya
Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (kaki-kakimu)..."
Sesungguhnya
persangkaan akan pergi pada pandangan pertama bahwa keteguhan kaki mendahului
pertolongan, dan ia menjadi sebab padanya. Dan ini adalah hal yang benar. Akan
tetapi, penundaan penyebutannya di dalam kalimat mengisyaratkan bahwa yang
dimaksud adalah makna lain dari makna-makna keteguhan. Yaitu makna keteguhan
atas pertolongan dan konsekuensi-konsekuensinya. Sebab pertolongan bukanlah
akhir dari pertempuran antara kekafiran dan keimanan, serta antara kebenaran
dan kesesatan. Maka bagi pertolongan ada konsekuensi-konsekuensinya di dalam
diri jiwa dan di dalam realitas kehidupan. Bagi pertolongan ada
konsekuensi-konsekuensinya dalam hal tidak merasa jumawa dengannya dan sombong.
Dan dalam hal tidak bermalas-malasan setelahnya dan meremehkan. Dan banyak dari
jiwa yang teguh atas ujian dan cobaan, akan tetapi sedikit sekali yang teguh
atas pertolongan dan kenikmatan. Dan kesalehan hati serta keteguhannya di atas
kebenaran setelah pertolongan merupakan kedudukan lain di balik pertolongan.
Dan barangkali inilah apa yang diisyaratkan oleh redaksi Al-Qur'an. Dan ilmu
adalah milik Allah.
"Orang-orang
yang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal
mereka." (QS. Muhammad: 8)
Dan
yang demikian itu adalah kebalikan dari pertolongan dan keteguhan kaki-kaki.
Maka doa dengan kecelakaan (ta'san) merupakan keputusan dari Allah
Subhanahu wa Ta'ala berupa kecelakaan, kerugian, dan kehinaan. Dan
penyia-nyiaan amal merupakan kesia-siaan setelah itu dan kebinasaan...
"Yang
demikian itu karena sesungguhnya mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang
diturunkan Allah, maka Dia menghapus amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 9)
Dan
ia adalah visualisasi dari apa yang bergejolak di dalam hati mereka dan
bergetar di dalam jiwa mereka berupa kebencian terhadap apa yang diturunkan
oleh Allah berupa Al-Qur'an, syariat, manhaj, dan orientasi. Dan inilah yang
mendorong mereka kepada kekafiran, penentangan, permusuhan, dan perdebatan. Dan
ia adalah kondisi dari banyak jiwa yang rusak yang membenci dengan tabiatnya
akan manhaj yang selamat lagi lurus tersebut, dan membenturkannya dari dalam
dirinya, dikarenakan perbedaan tabiatnya dengan tabiat manhaj tersebut. Dan
mereka adalah jiwa-jiwa yang sering dijumpai oleh manusia di setiap zaman dan
di setiap tempat, dan ia merasakan darinya adanya kejauhan dan kebencian
terhadap agama ini dan apa yang berhubungan dengannya; hingga sesungguhnya ia
merasa ketakutan dari sekadar penyebutannya seolah-olah ia telah disengat oleh
kalajengking! Dan ia menghindari agar penyebutannya atau isyarat kepadanya
tidak datang di dalam apa yang didengarnya di sekitarnya berupa pembicaraan!
Dan barangkali kita menyaksikan pada hari-hari ini adanya kondisi dari model
ini yang tidak tersembunyi dari pengamatan!
Dan
adalah balasan dari kebencian terhadap apa yang diturunkan oleh Allah ini,
bahwa Allah menghapus (ahbatha) amal-amal mereka. Dan penghapusan amal (ihbath
al-a'mal) merupakan ungkapan visualisasi di atas metode Al-Qur'anul Karim
dalam berekspresi dengan visualisasi. Maka al-habth adalah
menggelembungnya perut hewan ternak ketika memakan jenis rumput liar yang
beracun, yang berakhir padanya kematian dan kebinasaan. Dan demikian pula
menggelembungnya amal-amal mereka, membengkak, dan membesar... kemudian
berakhir pada kebinasaan dan kesia-siaan! Sesungguhnya ia adalah gambar dan
gerakan, serta akhir yang sesuai bagi kondisi orang-orang yang membenci apa
yang diturunkan oleh Allah kemudian mereka menyombongkan diri dengan amal-amal
yang besar, yang menggelembung bagaikan perut hewan ternak, ketika ia merumput
dari tanaman yang beracun tersebut!
Kemudian
Dia memalingkan leher-leher mereka kepada tempat-tempat kebinasaan orang-orang
terdahulu sebelum mereka dengan keras dan sengit:
۞ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا
كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ دَمَّرَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ
ۖوَلِلْكٰفِرِيْنَ اَمْثَالُهَا ١٠
"Apakah
mereka tidak pernah bepergian di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan
orang-orang sebelum mereka? Allah telah membinasakan mereka. Bagi orang-orang
kafir (akan menerima) nasib yang serupa itu." (QS. Muhammad: 10)
Dan
ia adalah isyarat yang sengit lagi mengerikan, di dalamnya terdapat kegaduhan
dan kehancuran. Dan di dalamnya terdapat pemandangan bagi orang-orang sebelum
mereka yang dihancurkan atas mereka segala apa yang ada di sekitar mereka, dan
seluruh harta mereka, maka tiba-tiba saja ia menjadi puing-puing yang
bertumpuk, dan tiba-tiba saja mereka berada di bawah puing-puing yang bertumpuk
tersebut. Dan pemandangan yang dilukiskan oleh ungkapan tersebut dimaksudkan
dengan gambaran ini dan gerakannya, dan ungkapan tersebut membawa di dalam
irama dan bunyinya akan gambaran pemandangan ini dan kehancurannya dalam
keruntuhan dan kerusakannya!
Dan
di atas pemandangan penghancuran, kerusakan, dan puing-puing tersebut, tampak
bagi orang-orang yang hadir dari kalangan orang-orang kafir, dan bagi setiap
orang yang bersifat dengan sifat ini setelahnya, bahwa ia sedang menunggu
mereka. Kejadian yang menghancurkan ini yang menghancurkan atas mereka segala
sesuatu dan mengubur mereka di antara puing-puing: “Bagi orang-orang kafir
(akan menerima) nasib yang serupa itu”!
Dan
penjelasan bagi perkara yang agung lagi mengerikan ini yang menghancurkan atas
orang-orang kafir dan menolong orang-orang yang beriman adalah kaidah yang asli
lagi permanen:
ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ مَوْلَى الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا وَاَنَّ الْكٰفِرِيْنَ لَا مَوْلٰى لَهُمْ ࣖ ١١
"Yang
demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman dan
sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung." (QS.
Muhammad: 11)
Dan
barang siapa yang Allah adalah Pelindungnya dan Penolongnya maka cukuplah
baginya, dan di dalamnya terdapat kecukupan dan kekayaan; dan setiap apa yang
menimpanya hanyalah ujian yang di baliknya terdapat kebaikan. Bukan pengabaian
dari Allah atas perlindungan-Nya baginya, dan bukan pula pengingkaran bagi
janji Allah dengan pertolongan bagi siapa saja yang Dia lindungi dari
hamba-hamba-Nya. Dan barang siapa yang Allah bukan Pelindungnya maka tidak ada
pelindung baginya, walaupun ia menjadikan manusia dan jin seluruhnya sebagai
pelindung-pelindung. Maka ia pada akhirnya adalah orang yang tersia-sia lagi
lemah; walaupun terkumpul baginya seluruh sebab perlindungan dan seluruh sebab
kekuatan yang dikenal oleh manusia!
Kemudian
Dia menimbang antara bagian orang-orang yang beriman dan bagian orang-orang
yang kafir dari kesenangan setelah apa yang dijelaskan berupa bagian mereka ini
dan mereka itu di dalam apa yang terjadi di antara mereka berupa peperangan dan
pertempuran. Bersamaan dengan penjelasan perbedaan yang asli antara kesenangan
dan kesenangan:
اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗوَالَّذِيْنَ
كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ
مَثْوًى لَّهُمْ ١٢
"Sesungguhnya
Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Orang-orang yang kafir
menikmati kesenangan (dunia) dan makan seperti makannya hewan-hewan ternak, dan
neraka adalah tempat tinggal bagi mereka." (QS. Muhammad: 12)
Dan
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan menikmati kesenangan di bumi
terkadang dari sebaik-baik kesenangan; akan tetapi penimbangan di sini hanyalah
tegak di antara bagian yang hakiki lagi besar bagi orang-orang yang beriman—dan
ia adalah bagian mereka di dalam surga—dan bagian yang menyeluruh bagi
orang-orang kafir yang tidak ada bagian bagi mereka selainnya.
Dan
bagian orang-orang yang beriman mereka menerimanya dari tangan Allah di dalam
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Maka Allah-lah yang
memasukkan mereka. Dan ia oleh karena itu adalah bagian yang mulia, tinggi,
lagi luhur. Dan mereka menerimanya dari hadapan Allah di kedudukan-Nya yang
tinggi sebagai balasan atas keimanan dan kesalehan, selaras dalam ketinggiannya
dan kemuliaannya dengan ketinggian yang bersumber dari keimanan dan kesalehan.
Dan
bagian orang-orang yang kafir adalah kesenangan dan makan sebagaimana makannya
hewan-hewan ternak... Dan ia adalah visualisasi yang hina, yang menghilangkan
seluruh sifat manusia dan tanda-tandanya; dan melemparkan bayang-bayang makan
hewani yang rakus, dan kesenangan hewani yang kasar. Tanpa adanya cita rasa,
dan tanpa adanya penjagaan diri dari yang indah atau yang buruk... Sesungguhnya
ia adalah kesenangan yang tidak ada kendali baginya dari kehendak, tidak pula
dari pilihan, dan tidak ada penjaga atasnya dari ketakwaan, serta tidak ada
penghalang darinya dari hati nurani.
Dan
kehewanan itu terwujud di dalam kesenangan dan makan, walaupun di sana terdapat
cita rasa yang halus bagi makanan, dan perasaan yang terlatih dalam memilih
aneka kesenangan, sebagaimana hal ini terjadi bagi banyak orang yang tumbuh di
dalam rumah kemewahan dan kekayaan. Dan bukanlah ini yang dimaksud. Melainkan
yang dimaksud adalah sensitivitas manusia yang menguasai dirinya dan
kehendaknya, dan yang baginya ada nilai-nilai khusus bagi kehidupan; maka ia
memilih yang baik di sisi Allah. Atas kehendak yang tidak ditundukkan oleh
tekanan syahwat, dan tidak dilemahkan oleh panggilan kelezatan. Dan tidak
menganggap kehidupan seluruhnya sebagai meja makan, dan kesempatan kesenangan;
tanpa adanya tujuan setelah itu dan ketakwaan di dalam apa yang diperbolehkan
dan apa yang tidak diperbolehkan!
Sesungguhnya
perbedaan yang utama antara manusia dan hewan: adalah bahwa bagi manusia ada
kehendak, tujuan, dan konsepsi khusus bagi kehidupan yang tegak di atas
asas-asasnya yang benar, yang diterima dari Allah Pencipta kehidupan. Maka
apabila ia kehilangan ini seluruhnya, maka ia telah kehilangan karakteristik
manusia yang paling penting yang membedakan jenisnya, dan keistimewaan paling
penting yang karena hal itu Allah memuliakannya.
Catatan
Kaki (Footnote)
[^1]:
Hadis ini diriwayatkan secara lengkap oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya,
Kitab al-Jihad wa as-Siyar, Bab Jawaz al-Fida' bi al-Musyrikin
(Hadis No. 1641).
[^2]:
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (No. 17304),
at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (No. 1663) dan ia menyatakan hadis hasan
shahih gharib, serta diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya
(No. 2799).
[^3]:
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Ilm,
Bab Man Sa'ala wa Huwa Qa'imun al-Alim (Hadis No. 123) dan Imam Muslim
dalam Shahih-nya, Kitab al-Imarah, Bab Man Qatala li Takuna
Kalimatullahi Hiya al-Ulya Fahuwa fi Sabilillah (Hadis No. 1904).
Dan
memotong rangkaian penimbangan antara orang-orang yang beriman dan orang-orang
yang kafir sebuah isyarat kepada negeri yang mengusir Rasul—Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam—dan penimbangan antara ia dan negeri-negeri yang binasa padahal
mereka lebih kuat darinya:
وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ هِيَ اَشَدُّ
قُوَّةً مِّنْ قَرْيَتِكَ الَّتِيْٓ اَخْرَجَتْكَۚ اَهْلَكْنٰهُمْ فَلَا نَاصِرَ لَهُمْ
١٣
"Betapa
banyak negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu
(Makkah) yang telah mengusirmu ini yang telah Kami binasakan. Maka, tidak ada
seorang penolong pun bagi mereka." (QS. Muhammad: 13)
Ini
adalah ayat yang diriwayatkan turun di tengah jalan antara Makkah dan Madinah
saat perjalanan keluar dan hijrah, sebagai penyejuk hati bagi Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan penghibur baginya; serta untuk meremehkan
urusan orang-orang musyrik yang sombong lagi sewenang-wenang yang telah
menghalangi dakwah dan menyakiti para pengikutnya, hingga mereka berhijrah dari
tanah air, keluarga, dan harta benda mereka demi menyelamatkan akidah mereka.
Kemudian
penulis melanjutkan dalam menimbang perbandingan antara kondisi kedua golongan;
dan menjelaskan alasan mengapa Allah menjadi Pelindung bagi orang-orang yang
beriman dengan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai di akhirat, setelah adanya pertolongan dan kemuliaan di dunia?
Dan mengapa orang-orang kafir tidak memiliki pelindung sehingga mereka terancam
kebinasaan di dunia—setelah menjalani kehidupan hewani yang rendah—serta azab
di akhirat dan tempat tinggal di dalam neraka yang abadi:
اَفَمَنْ كَانَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ
كَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ ١٤
"Apakah
orang yang memiliki penjelasan yang nyata dari Tuhannya sama dengan orang yang
dijadikan terasa indah baginya keburukan amalnya dan mereka mengikuti hawa
nafsu mereka?" (QS. Muhammad: 14)
Maka
ia adalah perbedaan yang mendasar pada kondisi yang dialami oleh kedua golongan
tersebut, baik dalam manhaj maupun perilaku secara bersamaan. Orang-orang yang
beriman berada di atas penjelasan yang nyata dari Tuhan mereka... mereka
melihat kebenaran dan mengetahuinya, serta meyakini sumbernya dan tersambung
dengan Tuhan mereka, lalu mereka menerima dari-Nya dalam keadaan yakin terhadap
apa yang mereka terima. Mereka tidak tertipu dan tidak pula disesatkan.
Sedangkan orang-orang kafir dijadikan terasa indah bagi mereka keburukan amal
mereka, sehingga mereka melihatnya sebagai kebaikan padahal ia adalah
keburukan; mereka tidak melihat dan tidak pula meyakini, serta mereka mengikuti
hawa nafsu mereka. Tanpa adanya kendali yang mereka jadikan rujukan, tidak ada
asas yang mereka jadikan ukuran, dan tidak ada cahaya yang menyingkap bagi
mereka antara kebenaran dan kebatilan.
Apakah
mereka ini sama dengan mereka itu? Sesungguhnya mereka berbeda secara kondisi,
manhaj, dan orientasi. Maka tidaklah mungkin mereka sama dalam timbangan,
balasan, maupun tempat kembali!
Dan
ini adalah salah satu bentuk visualisasi perbedaan antara mereka ini dan mereka
itu pada tempat kembali:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ
ۗفِيْهَآ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّاۤءٍ غَيْرِ اٰسِنٍۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ
طَعْمُهٗ ۚوَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ەۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ
مُّصَفًّى ۗوَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ
ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَاۤءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَاۤءَهُمْ
١٥
"(Gambaran)
surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah bahwa di dalamnya
ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah (rasa dan baunya), sungai-sungai
dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat bagi
para peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Di dalamnya mereka
memperoleh segala macam buah dan ampunan dari Tuhan mereka. (Apakah orang yang
dimanjakan dengan berbagai kenikmatan ini) sama dengan orang yang kekal dalam
neraka dan diberi minum air yang mendidih sehingga memotong-motong
ususnya?" (QS. Muhammad: 15)
Sesungguhnya
visualisasi inderawi tentang kenikmatan dan azab ini disebutkan di berbagai
tempat dalam Al-Qur'an. Terkadang ia datang bersama dengan visualisasi maknawi
atau datang secara murni (inderawi saja). Sebagaimana visualisasi kenikmatan
dan azab yang bersih dari unsur inderawi juga disebutkan di tempat-tempat yang
lain.
Dan
Allah yang telah menciptakan manusia, Maha Mengetahui siapa yang Dia ciptakan,
dan Maha Mengetahui apa yang memengaruhi hati mereka, serta apa yang layak
untuk mendidik mereka. Kemudian apa yang layak bagi kenikmatan mereka dan azab
mereka. Manusia itu beraneka ragam, jiwa itu bermacam-macam warna, dan tabiat
itu berbeda-beda. Semuanya bertemu dalam fitrah manusia, kemudian berbeda dan
bervariasi sesuai dengan masing-masing manusia. Oleh karena itu, Allah
memerinci aneka warna kenikmatan dan azab, serta macam-macam kesenangan dan
kepedihan, sesuai dengan ilmu-Nya yang mutlak tentang para hamba-Nya...
Di
sana ada manusia yang layak untuk pendidikan mereka, dan untuk membangkitkan
tekad mereka dalam beramal—sebagaimana ia layak sebagai balasan bagi mereka dan
memuaskan jiwa mereka—bahwa bagi mereka ada sungai-sungai dari air yang tidak
berubah rasa dan baunya, atau sungai-sungai dari susu yang tidak berubah
rasanya, atau sungai-sungai dari madu yang disaring, atau sungai-sungai dari
khamar yang lezat bagi para peminumnya. Atau aneka jenis dari segala macam
buah-buahan. Bersamaan dengan ampunan dari Tuhan mereka yang menjamin bagi
mereka keselamatan dari neraka dan kesenangan di dalam surga... Maka bagi
mereka ini ada apa yang layak untuk mendidik mereka, dan apa yang pantas untuk
balasan bagi mereka.
Dan
di sana ada manusia yang beribadah kepada Allah karena mereka bersyukur
kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang tidak dapat mereka hitung. Atau karena
mereka mencintai-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ketaatan seperti
mendekatnya seorang kekasih kepada kekasihnya. Atau karena mereka merasa malu
jika Allah melihat mereka dalam kondisi yang tidak disukai-Nya. Dan mereka
tidak melihat di balik itu semua kepada surga atau kepada neraka, dan tidak
pula kepada kenikmatan atau azab secara mutlak. Dan mereka ini layak bagi
mereka pendidikan dan layak bagi mereka balasan bahwa Allah berfirman kepada
mereka:
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih
akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka)." (QS. Maryam: 96)
Atau
agar mereka mengetahui bahwa mereka kelak akan berada:
"Di
tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa." (QS. al-Qamar: 55)
Dan
sungguh telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa
beliau pernah mengerjakan salat hingga kedua kaki beliau bengkak. Maka Aisyah
Radhiallahu 'Anha berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau
melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang
akan datang?" Maka beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
نَقَلَ الأثرُ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا عَائِشَةُ أَفَلَا أَكُونُ
عَبْدًا شَكُورًا؟"
"Wahai
Aisyah, tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?" (HR.
Bukhari dan Muslim) [^1]
Dan
Rabiah al-Adawiyyah berkata: "Seandainya tidak ada surga dan tidak ada
neraka, apakah tidak ada seorang pun yang akan menyembah Allah, dan tidak ada
seorang pun yang takut kepada-Nya?"
Dan
ia menjawab Sufyan ats-Tsauri ketika ia bertanya kepadanya: "Apakah
hakikat imanmu?" Ia berkata: "Aku tidak menyembah-Nya karena takut
akan neraka-Nya, dan tidak pula karena cinta kepada surga-Nya, sehingga aku
menjadi seperti buruh yang buruk. Aku menyembah-Nya karena rindu
kepada-Nya..."
Dan
di antara model ini dan itu terdapat aneka warna jiwa, perasaan, dan tabiat...
Dan semuanya menemukan—pada apa yang telah Allah jadikan berupa kenikmatan dan
azab, serta aneka warna balasan—apa yang layak untuk mendidik di bumi; dan apa
yang sesuai untuk balasan di sisi Allah.
Dan
hal yang patut diperhatikan secara umum adalah bahwa visualisasi kenikmatan dan
azab itu menjadi lebih halus dan transparan setiap kali para pendengar naik
pada tingkatan pendidikan dan pembinaan seiring dengan turunnya Al-Qur'an. Dan
sesuai dengan jenis orang-orang yang diajak bicara, serta aneka kondisi yang
diajak bicara dengan ayat-ayat tersebut. Dan ia adalah kondisi dan model yang
terus berulang pada diri manusia di setiap masa.
Dan
di sini ada dua jenis balasan: sungai-sungai ini bersama seluruh buah-buahan
disertai ampunan dari Allah. Dan jenis yang lainnya:
"...sama
dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minum air yang mendidih
sehingga memotong-motong ususnya?" (QS. Muhammad: 15)
Dan
ia adalah visualisasi inderawi yang sengit dari azab, yang sesuai dengan
atmosfer surah peperangan (Surah Qital/Muhammad), dan selaras dengan kasarnya
tabiat kaum tersebut. Dan mereka menikmati kesenangan dan makan sebagaimana
makannya hewan-hewan ternak. Maka suasananya adalah suasana kesenangan yang
kasar dan makan yang kasar. Dan balasannya adalah air mendidih yang panas dan
pemotongan usus-usus, yang tadinya dijejali dan melahap makanan bagaikan hewan
ternak!
Dan
tidaklah mereka ini sama dengan mereka itu dalam hal balasan, sebagaimana
mereka di dalam kondisi dan manhaj juga tidaklah sama...
Dengan
ini berakhir putaran pertama yang dimulai dengan serangan saat pembukaan surah,
dan terus berlanjut dalam pertempuran yang bersambung, sengit, hingga akhir...
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ اِلَيْكَۚ حَتّٰىٓ
اِذَا خَرَجُوْا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوْا لِلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ
اٰنِفًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ طَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَاتَّبَعُوْٓا
اَهْوَاۤءَهُمْ ١٦ وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ
١٧ فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۚ فَقَدْ جَاۤءَ
اَشْرَاطُهَا ۚ فَاَنّٰى لَهُمْ اِذَا جَاۤءَتْهُمْ ذِكْرٰىهُمْ ١٨ فَاعْلَمْ اَنَّهٗ
لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ ١٩ وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
لَوْلَا نُزِّلَتْ سُوْرَةٌ ۚفَاِذَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ مُّحْكَمَةٌ وَّذُكِرَ فِيْهَا
الْقِتَالُ ۙرَاَيْتَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يَّنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ
نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِۗ فَاَوْلٰى لَهُمْۚ ٢٠ طَاعَةٌ وَّقَوْلٌ
مَّعْرُوْفٌۗ فَاِذَا عَزَمَ الْاَمْرُۗ فَلَوْ صَدَقُوا اللّٰهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۚ
٢١ فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا
اَرْحَامَكُمْ ٢٢ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى
اَبْصَارَهُمْ ٢٣ اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا
٢٤ اِنَّ الَّذِيْنَ ارْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ
لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطٰنُ سَوَّلَ لَهُمْۗ وَاَمْلٰى لَهُمْ ٢٥ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ
قَالُوْا لِلَّذِيْنَ كَرِهُوْا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ سَنُطِيْعُكُمْ فِيْ بَعْضِ الْاَمْرِۚ
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِسْرَارَهُمْ ٢٦ فَكَيْفَ اِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ
يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْ ٢٧ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمُ اتَّبَعُوْا مَآ
اَسْخَطَ اللّٰهَ وَكَرِهُوْا رِضْوَانَهٗ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ࣖ ٢٨ اَمْ حَسِبَ
الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ اَنْ لَّنْ يُّخْرِجَ اللّٰهُ اَضْغَانَهُمْ
٢٩ وَلَوْ نَشَاۤءُ لَاَرَيْنٰكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيْمٰهُمْ ۗوَلَتَعْرِفَنَّهُمْ
فِيْ لَحْنِ الْقَوْلِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اَعْمَالَكُمْ ٣٠ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتّٰى
نَعْلَمَ الْمُجٰهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَالصّٰبِرِيْنَۙ وَنَبْلُوَا۟ اَخْبَارَكُمْ
٣١
"Di
antara mereka ada yang mendengarkanmu (Nabi Muhammad), tetapi apabila keluar
dari sisimu, mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Apakah
yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh
Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Orang-orang yang mendapat petunjuk,
Allah menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada
mereka. Maka, tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan
datang kepada mereka secara tiba-tiba karena tanda-tandanya sungguh telah
datang. Maka, bagaimanakah kesadaran mereka (akan berguna) jika hari Kiamat itu
telah datang kepada mereka? Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada tuhan
(yang berhak disembah) selain Allah, mohonlah ampunan atas dosamu serta (dosa)
orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan Allah mengetahui tempat kamu
beraktivitas dan tempat kamu beristirahat. Orang-orang yang beriman berkata,
'Mengapa tidak diturunkan suatu surah?' Akan tetapi, apabila ada suatu surah
yang jelas maksudnya diturunkan dan di dalamnya disebutkan (perintah) perang,
kamu melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit memandangmu dengan
pandangan orang yang pingsan karena takut mati. Maka, kelayakanlah bagi mereka,
(yaitu) taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Apabila urusan (perang)
ditetapkan, jika mereka jujur kepada Allah, niscaya itu lebih baik bagi mereka.
Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi
dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat
Allah, lalu ditulikan-Nya (pendengaran mereka) dan dibutakan-Nya penglihatan
mereka. Maka, apakah mereka tidak menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka
sudah terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang berbalik ke belakang (murtad)
setelah petunjuk jelas bagi mereka, setanlah yang merayu mereka dan
memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka
telah mengatakan kepada orang-orang (Yahudi) yang membenci apa yang diturunkan
Allah, 'Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan.' Allah mengetahui rahasia
mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka
sambil memukul wajah dan punggung mereka? Yang demikian itu karena sesungguhnya
mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan membenci
keridaan-Nya, maka Dia menghapus amal-amal mereka. Ataukah orang-orang yang di
dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan
kedengkian mereka? Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka
kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan
tanda-tandanya dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan perkataan
mereka. Allah mengetahui amal-amalmu. Kami pasti benar-benar akan mengujimu hingga
Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang sabar di
antaramu serta menguji segala ihwalmu." (QS. Muhammad: 16-31)
Pengantar
Putaran
ini adalah bersama orang-orang munafik, dan sikap mereka terhadap pribadi
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta terhadap Al-Qur'an. Kemudian
sikap mereka terhadap jihad yang diwajibkan oleh Allah atas kaum muslimin untuk
meninggikan kalimat Allah. Dan akhirnya sikap mereka terhadap orang-orang
Yahudi dan konspirasi rahasia mereka bersama Yahudi untuk menjatuhkan Islam dan
kaum muslimin.
Dan
gerakan kemunafikan adalah gerakan di fase Madinah (madaniyyah), yang
tidak memiliki eksistensi di Makkah, karena di sana tidak ada hal yang menuntut
adanya kemunafikan tersebut. Maka kaum muslimin di Makkah berada dalam kondisi
tertindas, yang tidak membutuhkan seorang pun untuk bermuka dua (munafik)
kepada mereka! Maka ketika Allah memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan
kabilah Aus dan Khazraj di Madinah, serta tersebarnya Islam di Madinah, dan
tersebarnya ia di dalam kabilah-kabilah dan rumah-rumah sehingga tidak tersisa
satu rumah pun kecuali Islam telah memasukinya, terpaksa sebagian manusia yang
membenci Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan Islam menjadi mulia lagi
tinggi, padahal mereka di waktu yang sama tidak memiliki kekuatan untuk
menampakkan permusuhan secara terang-terangan, mereka terpaksa menampakkan
keislaman dalam keadaan benci. Sedangkan mereka menyembunyikan kedengkian dan
kebencian. Dan mereka menunggu-nunggu musibah menimpa Rasul dan para
sahabatnya. Dan di pimpinan mereka adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong
kemunafikan yang dikenal.
Dan
keberadaan orang-orang Yahudi di Madinah serta kepemilikan mereka di sana akan
kekuatan militer, kekuatan ekonomi, dan kekuatan organisasi di awal era
Madinah, begitu pula kebencian mereka terhadap kemunculan Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam, agamanya, dan para pengikutnya; keberadaan Yahudi di atas
kondisi ini menjadi penyemangat bagi orang-orang munafik. Dan dengan cepat
kebencian dan kedengkian menyatukan mereka sehingga mereka mulai merajut
konspirasi dan menyebarkan desas-desus di setiap kesempatan yang ada. Maka
apabila kaum muslimin berada dalam kesulitan, mereka menampakkan permusuhan
mereka dan menyuarakan kebencian mereka; dan apabila kaum muslimin berada dalam
kemudahan, desas-desus tersebut tetap bersifat rahasia dan tipu daya berada di
dalam kegelapan! Dan mereka hingga pertengahan era Madinah membentuk ancaman
yang nyata bagi Islam dan kaum muslimin.
Dan
sungguh telah berulang-ulang penyebutan orang-orang munafik, visualisasi
desas-desus mereka, dan kecaman atas konspirasi serta akhlak mereka di dalam
surah-surah Madaniyyah; sebagaimana berulang pula penyebutan hubungan mereka
dengan Yahudi, penerimaan mereka dari Yahudi, dan keikutsertaan mereka bersama
Yahudi dalam sebagian konspirasi yang dirajut. Dan ini adalah salah satu tempat
yang di dalamnya terdapat isyarat kepada orang-orang munafik, dan isyarat pula
kepada orang-orang Yahudi.
Kaum
Munafik
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ اِلَيْكَۚ حَتّٰىٓ
اِذَا خَرَجُوْا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوْا لِلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ
اٰنِفًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ طَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَاتَّبَعُوْٓا
اَهْوَاۤءَهُمْ ١٦
"Di
antara mereka ada yang mendengarkanmu (Nabi Muhammad), tetapi apabila keluar
dari sisimu, mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Apakah
yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh
Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka." (QS. Muhammad: 16)
Dan
kata: "Di antara mereka..." mengandung kemungkinan bahwa ia
adalah isyarat bagi orang-orang kafir yang pembicaraan tentang mereka berputar
pada putaran sebelumnya di dalam surah: dengan pertimbangan bahwa orang-orang
munafik pada hakikatnya adalah golongan dari orang-orang kafir yang tertutup
lahiriahnya, dan Allah membicarakan mereka dengan hakikat mereka di dalam ayat
ini.
Sebagaimana
ia juga mengandung kemungkinan bahwa ia adalah isyarat bagi kaum muslimin
dengan pertimbangan bahwa orang-orang munafik membaur di tengah-tengah mereka,
menampakkan keislaman bersama mereka. Dan sungguh mereka diperlakukan dengan
perlakuan kaum muslimin sesuai dengan lahiriah mereka, sebagaimana ia merupakan
manhaj Islam dalam memperlakukan manusia.
Akan
tetapi, mereka dalam kedua kondisi tersebut adalah orang-orang munafik
sebagaimana ditunjukkan oleh sifat mereka di dalam ayat dan tindakan mereka,
dan sebagaimana ditunjukkan oleh konteks (siyaq) pada putaran ini dari
surah, dan pembicaraan di dalamnya adalah tentang orang-orang munafik.
Dan
pertanyaan mereka tersebut setelah mereka mendengarkan Rasul Shallallahu
'Alaihi wa Sallam—dan mendengarkan maknanya adalah mendengar dengan penuh
perhatian—menunjukkan bahwa mereka menampakkan diri dengan tampak seolah-olah
mereka mengarahkan pendengaran dan perhatian mereka kepada Rasul Shallallahu
'Alaihi wa Sallam padahal hati mereka lalai lagi lengah. Atau tertutup lagi
terkunci. Sebagaimana ia juga menunjukkan dari sisi lain adanya sindiran halus
yang keji di mana mereka ingin mengatakan dengan pertanyaan ini kepada para
ulama (ahli ilmu): "Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Muhammad
tidak dapat dipahami, atau tidak mengandung sesuatu yang dapat dipahami. Maka
inilah mereka bersamaan dengan pendengaran mereka kepadanya, mereka tidak
menemukan baginya kandungan makna dan tidak memegang darinya sesuatu pun!"
Demikian pula mereka bermaksud dengan pertanyaan ini untuk mengolok-olok
kesibukan para ulama dengan setiap apa yang dikatakan oleh Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam dan ketamakan mereka untuk memahami makna-maknanya dan
menghafal lafal-lafalnya—sebagaimana kondisi para sahabat Radhiallahu 'Anhum
bersama setiap kalimat yang diucapkan oleh Rasul yang mulia—maka mereka meminta
kepada para ulama untuk mengulang lafal-lafalnya yang mereka dengar dengan
jalan olok-olok yang tampak atau yang tersembunyi... Dan semuanya adalah
kemungkinan-kemungkinan yang menunjukkan atas kekejian, keburukan,
ketertutupan, dan hawa nafsu yang terpendam:
"...Mereka
itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu
mereka." (QS. Muhammad: 16)
Demikianlah
kondisi orang-orang munafik. Adapun kondisi orang-orang yang mendapat petunjuk
adalah sebaliknya:
وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى
وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧
"Orang-orang
yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan
menganugerahkan ketakwaan kepada mereka." (QS. Muhammad: 17)
Dan
urutan fakta di dalam ayat ini patut menarik perhatian. Maka orang-orang yang
mendapat petunjuk memulai diri mereka dengan mencari petunjuk, maka Allah
membalas mereka dengan tambahan petunjuk, dan membalas mereka dengan apa yang
lebih dalam dan lebih sempurna: "dan menganugerahkan ketakwaan kepada
mereka..." Dan takwa adalah kondisi di dalam hati yang menjadikannya
senantiasa bergetar karena keagungan Allah, merasakan pengawasan-Nya, takut
akan murka-Nya, mengharap keridaan-Nya, merasa berat jika Allah melihatnya
dalam bentuk atau kondisi yang tidak diridai-Nya... Kepekaan yang halus inilah
yang dinamakan takwa... Dan ia adalah anugerah yang Allah berikan kepada siapa
saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, ketika mereka mencari petunjuk
dan berkeinginan untuk mencapai keridaan Allah.
Dan
petunjuk, takwa, serta kepekaan adalah kondisi yang berlawanan dengan kondisi
kemunafikan, ketertutupan, dan kelalaian pada ayat sebelumnya.
Dan
selanjutnya, setelah isyarat ini, pembicaraan kembali kepada orang-orang
munafik yang tertutup lagi lalai tersebut, yang keluar dari majelis Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam keadaan tidak memahami apa pun dari apa
yang beliau katakan yang dapat bermanfaat bagi mereka dan memberi petunjuk
kepada mereka. Serta membangkitkan hati mereka untuk bertakwa, dan mengingatkan
mereka dengan apa yang menunggu manusia berupa perhitungan dan balasan:
فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ
تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۚ فَقَدْ جَاۤءَ اَشْرَاطُهَا ۚ فَاَنّٰى لَهُمْ اِذَا جَاۤءَتْهُمْ
ذِكْرٰىهُمْ ١٨
"Maka,
tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan datang kepada
mereka secara tiba-tiba karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka,
bagaimanakah kesadaran mereka (akan berguna) jika hari Kiamat itu telah datang
kepada mereka?" (QS. Muhammad: 18)
Dan
ia adalah tarikan kuat yang mengeluarkan orang-orang yang lalai dari kelalaian
dengan keras, seolah-olah Anda memegang kerah baju orang yang mabuk dan
mengguncangnya dengan guncangan yang kuat! Apakah yang ditunggu oleh
orang-orang yang lalai ini yang masuk ke majelis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam dan keluar darinya dalam keadaan tidak memahami, tidak menghafal, dan
tidak pula mengingat? Apakah yang mereka tunggu? "Maka, tidak ada yang
mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan datang kepada mereka secara
tiba-tiba..." maka ia mengejutkan mereka dalam keadaan mereka terlena,
tertipu, lagi lalai.
Apakah
mereka menunggu hari Kiamat? "karena tanda-tandanya sungguh telah
datang"... dan telah ditemukan tanda-tandanya. Dan risalah terakhir
(Islam) adalah tanda yang paling besar dari tanda-tanda ini, maka ia adalah
pemberitahuan bahwa ia merupakan peringatan terakhir dekatnya ajal yang
ditentukan. Dan sungguh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah
bersabda:
نَقَلَ الأثرُ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ
كَهَاتَيْنِ"
"Aku
diutus dan hari Kiamat adalah seperti dua jari ini," dan beliau memberi
isyarat dengan kedua jari telunjuknya dan jari yang setelahnya. (HR. Bukhari
dan Muslim) [^2]
Dan
jika waktu tampak membentang sejak risalah terakhir ini; sesungguhnya hari-hari
Allah tidaklah seperti hari-hari kita. Akan tetapi ia di dalam perhitungan
Allah sungguh telah datang tanda-tanda pertamanya; dan tidak ada lagi bagi
orang yang berakal untuk lalai hingga hari Kiamat mengambilnya secara tiba-tiba
di mana ia tidak lagi memiliki kesadaran dan tidak pula ingatan:
"...Maka,
bagaimanakah kesadaran mereka (akan berguna) jika hari Kiamat itu telah datang
kepada mereka?" (QS. Muhammad: 18)
Sesungguhnya
ia adalah guncangan kuat lagi sengit yang mengeluarkan orang-orang yang lalai
dari kelalaian mereka; yang selaras pula dengan tabiat surah yang sengit ini.
Kemudian
khitbah (pembicaraan) diarahkan kepada Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan
orang-orang bersamanya dari kalangan mereka yang mendapat petunjuk, bertakwa,
lagi mengharap; agar mereka mengambil jalan yang lain. Jalan ilmu, makrifat,
zikir, istigfar, dan perasaan akan pengawasan Allah serta ilmu-Nya yang
menyeluruh lagi meliputi; dan mereka hidup dengan kepekaan ini dalam mengawasi
hari Kiamat dalam keadaan mereka waspada lagi bersiap-siap:
فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ
مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ ١٩
"Ketahuilah
(Nabi Muhammad) bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah,
mohonlah ampunan atas dosamu serta (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan
perempuan, dan Allah mengetahui tempat kamu beraktivitas dan tempat kamu
beristirahat." (QS. Muhammad: 19)
Dan
ia adalah arahan untuk mengingat hakikat pertama yang di atasnya berdiri
perkara Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan orang-orang bersamanya:
"Ketahuilah
(Nabi Muhammad) bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain
Allah..." (QS. Muhammad: 19)
Dan
di atas asas ilmu dengan hakikat ini serta menghadirkannya di dalam hati,
mulailah arahan-arahan yang lain:
"...mohonlah
ampunan atas dosamu..." (QS. Muhammad: 19)
Dan
beliau adalah orang yang telah diampuni baginya dosanya yang terdahulu dan yang
akan datang. Akan tetapi ini adalah kewajiban hamba yang mukmin, yang menyadari
lagi sensitif yang senantiasa merasakan kekurangannya bagaimanapun usahanya;
dan ia merasakan—padahal ia telah diampuni—bahwa istigfar adalah zikir dan
syukur atas pengampunan. Kemudian ia adalah pengajaran yang terus-menerus bagi
orang-orang di belakang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dari kalangan
mereka yang mengetahui kedudukan beliau di sisi Tuhannya; dan mereka melihat
beliau diarahkan kepada zikir dan istigfar bagi dirinya sendiri. Kemudian bagi
orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan beliau adalah orang yang
dikabulkan doanya di sisi Tuhannya. Maka mereka merasakan nikmat Allah atas
mereka dengan Rasul yang mulia ini. Dan dengan keutamaan Allah atas mereka di
mana Dia mengarahkan beliau untuk memohonkan ampunan bagi mereka, agar Dia
mengampuni mereka!
Dan
sentuhan terakhir di dalam arahan ini:
"...dan
Allah mengetahui tempat kamu beraktivitas dan tempat kamu beristirahat."
(QS. Muhammad: 19)
Di
mana hati yang mukmin merasakan ketenangan dan ketakutan secara bersamaan.
Ketenangan di saat ia berada dalam pengawasan Allah di mana pun ia beraktivitas
atau beristirahat. Dan ketakutan dari kedudukan ini yang di dalamnya ilmu Allah
meliputi dan mengawasinya di setiap kondisinya, dan melihat atas rahasianya dan
bisikannya...
Sesungguhnya
ia adalah tarbiyah. Tarbiyah dengan kesadaran yang terus-menerus dan kepekaan
yang halus, serta pengharapan, kewaspadaan, dan penantian...
Ancaman
untuk Orang Munafik dan Murtad
Dan
konteks berpindah kepada visualisasi sikap orang-orang munafik terhadap jihad,
dan apa yang bergejolak di dalam jiwa mereka berupa kepengecutan, kelemahan,
ketakutan, dan kegelisahan saat menghadapi kewajiban ini, dan menyingkap batin
mereka dalam perkara ini, sebagaimana ia menyingkap bagi mereka apa yang
menunggu mereka jika mereka tetap di atas kemunafikan ini, dan tidak tulus
serta tidak menyambut dan tidak jujur kepada Allah saat urusan itu ditetapkan
dan jihad diwajibkan:
وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَوْلَا
نُزِّلَتْ سُوْرَةٌ ۚفَاِذَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ مُّحْكَمَةٌ وَّذُكِرَ فِيْهَا الْقِتَالُ
ۙرَاَيْتَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يَّنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ
عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِۗ فَاَوْلٰى لَهُمْۚ ٢٠ طَاعَةٌ وَّقَوْلٌ مَّعْرُوْفٌۗ فَاِذَا
عَزَمَ الْاَمْرُۗ فَلَوْ صَدَقُوا اللّٰهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۚ ٢١ فَهَلْ عَسَيْتُمْ
اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ
٢٢ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ
٢٣ اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا ٢٤
"Orang-orang
yang beriman berkata, 'Mengapa tidak diturunkan suatu surah?' Akan tetapi,
apabila ada suatu surah yang jelas maksudnya diturunkan dan di dalamnya
disebutkan (perintah) perang, kamu melihat orang-orang yang di dalam hatinya
ada penyakit memandangmu dengan pandangan orang yang pingsan karena takut mati.
Maka, kelayakanlah bagi mereka, (yaitu) taat dan mengucapkan perkataan yang
baik. Apabila urusan (perang) ditetapkan, jika mereka jujur kepada Allah,
niscaya itu lebih baik bagi mereka. Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa,
kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu?
Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu ditulikan-Nya (pendengaran
mereka) dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka, apakah mereka tidak
menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?" (QS. Muhammad:
20-24)
Dan
pengharapan orang-orang yang beriman terhadap diturunkannya suatu surah:
adakalanya ia berupa ungkapan dari kerinduan mereka kepada surga yang baru dari
Al-Qur'an ini yang mereka cintai, dan mereka menemukan di setiap surah darinya
bekal baru yang dicintai. Dan adakalanya ia berupa pengharapan kepada surah
yang menjelaskan suatu perkara dari perkara-perkara jihad, dan memerinci dalam
kasus dari kasus-kasus peperangan yang menyibukkan hati mereka. Maka mereka
berkata: "Mengapa tidak diturunkan suatu surah?"...
Maka
apabila diturunkan suatu surah yang jelas maksudnya (muhkamah)... yang
tegas lagi jelas yang tidak mengandung takwil "dan di dalamnya
disebutkan (perintah) perang..." yakni: perintah dengannya. Atau
penjelasan hukum orang-orang yang tertinggal darinya, atau perkara apa pun dari
perkara-perkaranya, tiba-tiba saja orang-orang yang di dalam hatinya ada
penyakit... dan ia adalah sifat dari sifat-sifat orang-orang munafik...
kehilangan keteguhan mereka, dan runtuhlah dari mereka tabir riya yang mereka
gunakan untuk menutupi diri, dan tersingkaplah ketakutan mereka serta kelemahan
jiwa mereka dari menghadapi kewajiban ini, dan mereka tampak dalam kondisi yang
menghinakan bagi kaum laki-laki, yang divisualisasikan oleh ungkapan Al-Qur'an
yang indah sebagai gambaran unik seolah-olah ia dipajang di hadapan pandangan
mata:
"...kamu
melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit memandangmu dengan
pandangan orang yang pingsan karena takut mati..." (QS. Muhammad: 20)
Dan
ia adalah ungkapan yang tidak mungkin ditiru, dan tidak pula diterjemahkan ke
dalam kalimat yang lain. Dan ia melukiskan ketakutan hingga batas kegelisahan
yang sangat. Dan kelemahan hingga batas gemetar. Dan ketakutan hingga batas
pingsan! Dan ia tetap setelah itu menyendiri dengan sarat akan bayang-bayang
dan gerakan yang memikat imajinasi! Dan ia adalah gambaran abadi bagi setiap
jiwa yang lemah yang tidak berpegang dengan keimanan, tidak pula dengan fitrah
yang jujur, dan tidak pula dengan rasa malu yang dengannya ia menghias diri di
hadapan bahaya. Dan ia adalah tabir penyakit dan kemunafikan itu sendiri!
Dan
di saat mereka berada di dalam kelemahan, kehancuran, dan keruntuhan ini,
terulurlah kepada mereka tangan keimanan dengan bekal yang menguatkan tekad dan
meneguhkan kaki-kaki seandainya mereka menerimanya dengan ketulusan:
"...Maka,
kelayakanlah bagi mereka, (yaitu) taat dan mengucapkan perkataan yang baik.
Apabila urusan (perang) ditetapkan, jika mereka jujur kepada Allah, niscaya itu
lebih baik bagi mereka." (QS. Muhammad: 20-21)
Ya.
Lebih layak bagi mereka dari kehinaan ini. Dan dari kelemahan ini. Dan dari
kegelisahan ini. Dan dari kemunafikan ini... lebih layak bagi mereka ketaatan
dan perkataan yang baik... ketaatan yang berserah diri kepada perintah Allah
atas dasar ketenangan, dan bangkit dengan perintah-Nya atas dasar kepercayaan.
Dan perkataan yang baik yang menunjukkan kebersihan rasa dan kelurusan hati,
serta kesucian jiwa. Dan lebih layak bagi mereka apabila urusan perang
ditetapkan, dan kesungguhan datang, serta mereka menghadapi jihad agar mereka
jujur kepada Allah. Mereka jujur kepada-Nya secara tekad, dan mereka jujur
kepada-Nya secara perasaan. Maka Dia mengikat hati mereka, menguatkan tekad
mereka, meneguhkan kaki mereka, dan memudahkan kesulitan atas mereka, serta
meringankan bahaya yang mereka visualisasikan sebagai hantu yang membuka
mulutnya untuk melahap mereka! Dan Dia menuliskan bagi mereka salah satu dari
dua kebaikan: keselamatan dan kemenangan, atau gugur sebagai syahid dan
surga... Inilah yang lebih layak. Dan inilah bekal yang disuguhkan oleh
keimanan maka ia menguatkan tekad, meneguhkan kaki, menghilangkan ketakutan,
dan meletakkan di tempatnya keteguhan serta ketenangan.
Andaikata
penulis sedang membicarakan tentang mereka, beliau langsung berpaling kepada
mereka untuk berbicara kepada mereka dengan nada mencela lagi mengancam dengan
kesudahan yang buruk jika kondisi mereka ini mengarahkan mereka kepada
kemunduran dan berpaling kepada kekafiran; serta menyingkap tabir tipis dari
Islam tersebut:
"Maka,
apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaanmu?" (QS. Muhammad: 22)
Dan
ungkapan ini... "Maka, apakah kiranya jika kamu..." memberikan
faedah apa yang diharapkan dari kondisi orang-orang yang diajak bicara. Dan
tampak bagi mereka dengan peringatan dan kewaspadaan... waspadalah karena
sesungguhnya kalian akan berakhir kepada kembalinya kalian kepada jahiliyah
yang kalian berada di dalamnya dahulu. Kalian berbuat kerusakan di bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan, sebagaimana kondisi kalian sebelum Islam...
Dan
setelah isyarat yang menakutkan lagi memperingatkan bagi mereka ini, beliau
kembali kepada pembicaraan tentang mereka jika mereka berakhir kepada apa yang
diperingatkan-Nya kepada mereka:
"Mereka
itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu ditulikan-Nya (pendengaran mereka)
dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka, apakah mereka tidak menghayati
Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?" (QS. Muhammad: 23-24)
Mereka
itulah orang-orang yang tetap berada di dalam penyakit dan kemunafikan mereka
hingga mereka berpaling dari perkara ini yang mereka masuk ke dalamnya dengan
lahiriah mereka dan mereka tidak jujur kepada Allah di dalamnya, serta mereka
tidak meyakininya. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah... dan
dijauhkan-Nya serta ditutup-Nya mereka dari petunjuk, "lalu
ditulikan-Nya (pendengaran mereka) dan dibutakan-Nya penglihatan
mereka..." padahal mereka tidak kehilangan pendengaran, dan tidak pula
kehilangan penglihatan; akan tetapi mereka menonaktifkan pendengaran dan
menonaktifkan penglihatan, atau menonaktifkan kekuatan pemahaman di balik
pendengaran dan penglihatan; maka tidak ada lagi bagi indera-indera ini fungsi
karena ia tidak lagi menjalankan fungsi tersebut.
Dan
Allah bertanya dalam nada pengingkaran: "Maka, apakah mereka tidak
menghayati Al-Qur’an..." Dan menghayati Al-Qur'an menghilangkan
penutup, membuka jendela-jendela, mengalirkan cahaya, menggerakkan perasaan,
membangkitkan hati, dan memurnikan jiwa. Serta menumbuhkan kehidupan bagi ruh
yang dengannya ia berdenyut, bersinar, dan mendapat penerangan, "ataukah
hati mereka sudah terkunci?" Maka kunci-kunci itu menghalangi antara
hati mereka dan Al-Qur'an serta menghalangi antaranya dan cahaya? Maka
sesungguhnya tertutupnya hati mereka adalah seperti tertutupnya kunci-kunci
yang tidak memperbolehkan masuknya udara dan cahaya!
Dan
penulis melanjutkan dalam memvisualisasikan kondisi orang-orang munafik, dan
sebab berpalingnya mereka dari keimanan setelah mereka mendekatinya, maka
tampaklah bahwa ia adalah konspirasi mereka bersama Yahudi, dan janji mereka
kepada Yahudi dengan ketaatan di dalam apa yang mereka rencanakan:
اِنَّ الَّذِيْنَ ارْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ
مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطٰنُ سَوَّلَ لَهُمْۗ وَاَمْلٰى
لَهُمْ ٢٥ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لِلَّذِيْنَ كَرِهُوْا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ
سَنُطِيْعُكُمْ فِيْ بَعْضِ الْاَمْرِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِسْرَارَهُمْ ٢٦
"Sesungguhnya
orang-orang yang berbalik ke belakang (murtad) setelah petunjuk jelas bagi
mereka, setanlah yang merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang
demikian itu karena sesungguhnya mereka telah mengatakan kepada orang-orang
(Yahudi) yang membenci apa yang diturunkan Allah, 'Kami akan mematuhimu dalam
beberapa urusan.' Allah mengetahui rahasia mereka." (QS. Muhammad: 25-26)
Dan
ungkapan tersebut melukiskan makna kembalinya mereka dari petunjuk setelah
jelas bagi mereka, dalam bentuk gerakan inderawi, yaitu gerakan berbalik ke
belakang (al-irtidad 'ala al-adbar). Dan ia menyingkap apa yang ada di
baliknya berupa bisikan setan, hiasannya, dan bujukannya. Maka jadilah lahiriah
gerakan ini dan batinnya tersingkap lagi dapat dipahami!
Dan
mereka adalah orang-orang munafik yang menyembunyikan diri dan menutup diri!
Kemudian beliau menyebutkan sebab yang menjadikan setan memiliki kekuasaan ini
atas mereka, dan berakhir dengan mereka kepada berbalik ke belakang setelah
mereka mengetahui petunjuk dan jelas bagi mereka:
"Yang
demikian itu karena sesungguhnya mereka telah mengatakan kepada orang-orang
(Yahudi) yang membenci apa yang diturunkan Allah, 'Kami akan mematuhimu dalam
beberapa urusan.'..." (QS. Muhammad: 26)
Dan
orang-orang Yahudi di Madinah adalah orang-orang pertama yang membenci apa yang
diturunkan oleh Allah; karena mereka mengharapkan agar risalah terakhir berada
di tengah-tengah mereka, dan agar penutup para rasul berasal dari kalangan
mereka. Dan mereka dahulu memohon kemenangan atas orang-orang kafir dan
menjanjikan kepada mereka akan kemunculan Nabi yang memimpin mereka dan
memberikan kekuasaan bagi mereka di bumi, serta mengembalikan kerajaan dan
kekuasaan mereka. Maka ketika Allah memilih rasul terakhir-Nya dari keturunan
Ibrahim, bukan dari Yahudi, mereka membenci risalahnya. Hingga ketika beliau
berhijrah ke Madinah mereka membenci hijrahnya, yang mengancam apa yang tersisa
bagi mereka dari kedudukan di sana. Dan oleh karena itu mereka menjadi musuh
baginya sejak hari pertama, dan mereka menyalakan peperangan desas-desus, tipu
daya, dan makar kepadanya, di kala mereka lemah untuk menampakkan permusuhan
secara terang-terangan di medan peperangan; dan bergabunglah bersama mereka
setiap orang yang benci, dan setiap orang yang munafik, dan perang tersebut
senantiasa bergejolak antara mereka dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam hingga akhirnya beliau mengusir mereka dari Jazirah Arab seluruhnya dan
memurnikannya untuk Islam.
Dan
mereka yang berbalik ke belakang setelah jelas bagi mereka petunjuk berkata
kepada Yahudi: "Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan..."
Dan yang paling kuat adalah bahwa hal itu terjadi di dalam desas-desus, tipu
daya, dan konspirasi atas Islam dan Rasul Islam.
"...Allah
mengetahui rahasia mereka." (QS. Muhammad: 26)
Dan
ia adalah komentar (ta'qib) yang semuanya mengandung ancaman. Maka ke
manakah akan pergi konspirasi mereka dan rahasia mereka serta apa yang dapat
dipengaruhinya; padahal ia tersingkap bagi ilmu Allah? Dan dihadapkan kepada
kekuatan Allah?
Kemudian
ancaman yang terang-terangan dengan tentara Allah, di saat para konspirator
berada di akhir kehidupan:
فَكَيْفَ اِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ
يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْ ٢٧
"Bagaimanakah
(keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukul wajah
dan punggung mereka?" (QS. Muhammad: 27)
Catatan
Kaki (Footnote)
[^1]:
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir
al-Qur'an, Bab Liyaghfira Lakallahu ma Taqaddama min Dhanbika wa ma
Ta'akhkhara (Hadis No. 4837) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab
Shifat al-Qiyāmah wa al-Jannah wa an-Nār, Bab Iktsar al-A'mal wa
al-Ijtihad fi al-Ibadah (Hadis No. 2819).
[^2]:
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ar-Riqaq,
Bab al-Qashr fi al-Amal (Hadis No. 6504) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya,
Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah, Bab Qurb as-Sa'ah (Hadis No.
2951).
Dan
ia adalah visualisasi yang sangat menakutkan lagi menghinakan. Yaitu ketika
mereka sedang menghadapi sakaratulmaut, dalam keadaan tidak memiliki daya dan
kekuatan sama sekali. Mereka berada di akhir kehidupan mereka di bumi ini, dan
di awal kehidupan mereka yang lain. Suatu kehidupan yang dibuka dengan
pemukulan pada wajah-wajah dan punggung-punggung, di saat kematian, saat
kesempitan, kesengsaraan, dan ketakutan. Punggung-punggung yang dengannya
mereka berbalik ke belakang setelah petunjuk jelas bagi mereka! Sungguh,
alangkah mengerikannya tragedi tersebut!
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمُ اتَّبَعُوْا مَآ اَسْخَطَ
اللّٰهَ وَكَرِهُوْا رِضْوَانَهٗ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ࣖ ٢٨
"Yang
demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan
kemurkaan Allah dan membenci keridaan-Nya, maka Dia menghapus amal-amal
mereka." (QS. Muhammad: 28)
Maka
merekalah yang menginginkan bagi diri mereka sendiri tempat kembali ini dan
memilihnya. Merekalah yang sengaja menuju kepada apa yang memicu kemurkaan
Allah berupa kemunafikan, kemaksiatan, dan konspirasi bersama musuh-musuh Allah
serta musuh-musuh agama dan rasul-Nya, lalu mereka mengikutinya. Dan merekalah
yang membenci keridaan Allah sehingga tidak beramal untuk meraihnya, melainkan
melakukan apa yang memicu kemurkaan dan amarah-Nya... "maka Dia
menghapus amal-amal mereka..." yang dahulunya mereka banggakan dan
pamerkan; serta mereka sangka sebagai kecerdasan dan kelihaian di saat mereka
berkomplot dan membuat tipu daya terhadap orang-orang yang beriman. Tiba-tiba
saja amal-amal ini membesar dan menggelembung, kemudian binasa dan lenyap tanpa
bekas!
Dan
di akhir putaran ini, Allah mengancam mereka dengan menyingkap perkara mereka
kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin, di mana
mereka hidup di tengah-tengah kaum muslimin secara sembunyi-sembunyi;
berpura-pura masuk Islam padahal mereka membuat tipu daya terhadap kaum
muslimin:
اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ
مَّرَضٌ اَنْ لَّنْ يُّخْرِجَ اللّٰهُ اَضْغَانَهُمْ ٢٩ وَلَوْ نَشَاۤءُ لَاَرَيْنٰكَهُمْ
فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيْمٰهُمْ ۗوَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِيْ لَحْنِ الْقَوْلِۗ وَاللّٰهُ
يَعْلَمُ اَعْمَالَكُمْ ٣٠ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتّٰى نَعْلَمَ الْمُجٰهِدِيْنَ مِنْكُمْ
وَالصّٰبِرِيْنَۙ وَنَبْلُوَا۟ اَخْبَارَكُمْ ٣١
"Ataukah
orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan
menampakkan kedengkian mereka? Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami
perlihatkan mereka kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga kamu benar-benar dapat
mengenal mereka dengan tanda-tandanya dan kamu benar-benar akan mengenal mereka
dari kiasan perkataan mereka. Allah mengetahui amal-amalmu. Kami pasti
benar-benar akan mengujimu hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan
orang-orang yang sabar di antaramu serta menguji segala ihwalmu." (QS.
Muhammad: 29-31)
Dan
sungguh orang-orang munafik itu bersandar pada kemahiran mereka dalam seni
kemunafikan, dan pada tersamarkannya perkara mereka secara umum bagi kaum
muslimin. Maka Al-Qur'an memperbodoh prasangka mereka bahwa perkara ini akan
senantiasa tersamar, dan mengancam mereka dengan menyingkap kondisi mereka
serta menampakkan kedengkian dan kebencian mereka kepada kaum muslimin. Dan
Allah berfirman kepada Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Seandainya
Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu sehingga kamu
benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya..." Yaitu:
seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami singkapkan kepadamu tentang diri
mereka dan sosok mereka, sehingga kamu dapat melihat salah seorang dari mereka
lalu mengenalinya dari raut wajahnya (dan ini terjadi sebelum Allah
menyingkapkan kepadanya tentang segolongan dari mereka beserta nama-nama
mereka). Namun demikian, sesungguhnya nada bicara dan intonasi suara mereka,
serta kecenderungan mereka memalingkan perkataan dari kelurusannya, serta
penyimpangan logika mereka dalam berbicara kepadamu akan menunjukkan kepadamu
atas kemunafikan mereka: "dan kamu benar-benar akan mengenal mereka
dari kiasan perkataan mereka..."
Dan
beralih kepada ilmu Allah yang meliputi segala amal perbuatan beserta
motif-motifnya: "Allah mengetahui amal-amalmu..." Maka tidak
ada sesuatu pun darinya yang tersembunyi bagi-Nya... Kemudian ada janji dari
Allah dengan ujian (ابتلاء)...
ujian bagi seluruh umat Islam, agar tersingkap orang-orang yang berjihad dan
orang-orang yang sabar serta mereka menjadi tampak berbeda, dan menjadilah
ihwal mereka diketahui, dan tidak terjadi kesamaran di dalam barisan, serta
tidak tersisa celah bagi tersamarkannya perkara orang-orang munafik maupun
perkara orang-orang yang lemah dan gelisah:
"Kami
pasti benar-benar akan mengujimu hingga Kami mengetahui orang-orang yang
berjihad dan orang-orang yang sabar di antaramu serta menguji segala
ihwalmu." (QS. Muhammad: 31)
Padahal
Allah Maha Mengetahui hakikat jiwa dan kadar kualitasnya, serta melihat apa
yang tersembunyi dan tersimpan di dalamnya, dan mengetahui apa yang akan
terjadi dari perkaranya sebagaimana pengetahuan-Nya terhadap apa yang telah
nyata terjadi. Maka apakah gerangan ujian ini? Dan untuk siapakah pengetahuan
di balik apa yang tersingkap darinya itu ditujukan?
Sesungguhnya
Allah—Maha Agung hikmah-Nya—memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang berada
dalam batas kemampuan mereka, dan apa yang merupakan tabiat serta kesiapan
mereka. Sedangkan mereka tidak mengetahui tentang hakikat-hakikat yang
terpendam sebagaimana yang Dia ketahui. Maka tidak boleh tidak bagi mereka
untuk menyingkap hakikat-hakikat tersebut agar mereka dapat menjangkaunya,
mengetahuinya, meyakininya, kemudian mengambil manfaat darinya.
Dan
ujian dengan kelapangan (sara') maupun kesempitan (dhara'),
dengan kenikmatan maupun penderitaan, dengan kelonggaran maupun kesempitan,
serta dengan kemudahan maupun kesengsaraan... semuanya menyingkap apa yang
tersembunyi dari kadar kualitas jiwa, dan apa yang tidak diketahui dari
perkaranya bahkan oleh pemiliknya sendiri...
Adapun
yang dimaksud dengan ilmu Allah terhadap apa yang tersingkap dari jiwa setelah
adanya ujian adalah keterkaitan ilmu-Nya dengan hal tersebut pada kondisinya
yang nyata yang dapat dilihat oleh manusia.
Sebab
pandangan manusia terhadapnya dalam bentuk nyata yang dijangkau oleh panca
indera mereka adalah hal yang memengaruhi mereka, membentuk perasaan mereka,
dan mengarahkan kehidupan mereka dengan sarana-sarana mereka yang berada dalam
batas kemampuan mereka. Demikianlah hikmah Allah dalam ujian ini terlaksana
dengan sempurna.
Meskipun
demikian, sesungguhnya hamba yang mukmin senantiasa berharap agar tidak
dihadapkan kepada ujian dan cobaan dari Allah. Dan ia senantiasa mengharapkan
keselamatan serta rahmat-Nya. Namun apabila cobaan Allah menimpanya setelah
itu, ia bersabar menghadapinya dalam keadaan menyadari apa yang ada di baliknya
berupa hikmah; dan ia berserah diri kepada kehendak Allah dalam keadaan percaya
akan hikmah-Nya, seraya mengharapkan rahmat dan keselamatan-Nya setelah adanya
ujian.
Dan
sungguh telah diriwayatkan dari Fudhail al-Abid [Fudhail bin Iyadh], seorang
ahli ibadah yang sufi, bahwa ia apabila membaca ayat ini menangis dan berkata: "Ya
Allah, janganlah Engkau menguji kami. Karena sesungguhnya jika Engkau menguji
kami, niscaya Engkau mempermalukan kami, merobek tirai penutup kami, dan
menyiksa kami..."
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ
سَبِيْلِ اللّٰهِ وَشَاۤقُّوا الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدٰى
لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيُحْبِطُ اَعْمَالَهُمْ ٣٢ ۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ
٣٣ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ مَاتُوْا وَهُمْ
كُفَّارٌ فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ٣٤ فَلَا تَهِنُوْا وَتَدْعُوْٓا اِلَى السَّلْمِۖ
وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَۗ وَاللّٰهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَّتِرَكُمْ اَعْمَالَكُمْ
٣٥ اِنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَاِنْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا
يُؤْتِكُمْ اُجُوْرَكُمْ وَلَا يَسْـَٔلْكُمْ اَمْوَالَكُمْ ٣٦ اِنْ يَّسْـَٔلْكُمُوْهَا
فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوْا وَيُخْرِجْ اَضْغَانَكُمْ ٣٧ هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ تُدْعَوْنَ
لِتُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۚ فَمِنْكُمْ مَّنْ يَّبْخَلُ ۚوَمَنْ يَّبْخَلْ
فَاِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّفْسِهٖ ۗوَاللّٰهُ الْغَنِيُّ وَاَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ
ۗوَاِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْٓا اَمْثَالَكُمْ
ࣖ ٣٨
"Sesungguhnya
orang-orang yang kufur, menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, dan
memusuhi Rasul setelah petunjuk jelas bagi mereka, sedikit pun tidak dapat
mendatangkan mudarat kepada Allah dan Dia akan menghapus amal-amal mereka.
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan janganlah
kamu merusak amal-amalmu! Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan
menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, kemudian mereka mati dalam
keadaan kafir, Allah tidak akan mengampuni mereka. Maka, janganlah kamu menjadi
lemah dan mengajak berdamai, padahal kamulah yang lebih unggul dan Allah (pun)
bersamamu serta tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu. Sesungguhnya
kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman dan
bertakwa, Allah akan memberikan pahalamu kepadamu dan Dia tidak akan meminta
hartamu. Jika Dia meminta hartamu lalu mendesakmu (agar memberikan semuanya),
niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kamu
ini adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah.
Lalu, di antara kamu ada yang kikir. Siapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir
terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya, sedangkan kamulah
orang-orang yang membutuhkan. Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), Dia akan
menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti
kamu." (QS. Muhammad: 32-38)
Pengantar
Pembicaraan
di bagian pertama dari putaran terakhir dari surah ini adalah tentang "orang-orang
yang kufur, menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, dan memusuhi
Rasul setelah petunjuk jelas bagi mereka..." Dan mereka ini, yang
paling dekat adalah bahwa mereka adalah orang-orang musyrik yang pembicaraannya
berada di awal surah. Merekalah yang berlaku lancang dalam menghadang dakwah
Islam. Kelancangan yang diungkapkan dengan menghalang-halangi dari jalan Allah
dan memusuhi Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Meskipun di sana ada
kemungkinan lain, yaitu bahwa pembicaraan ini bersifat umum bagi siapa saja
yang mengambil sikap seperti ini; mencakup orang-orang Yahudi di Madinah dan
mencakup pula orang-orang munafik, sebagai bentuk ancaman bagi mereka apabila
mereka bermaksud mengambil sikap seperti ini baik secara terang-terangan maupun
sembunyi-sembunyi. Akan tetapi kemungkinan pertama adalah yang paling dekat
dalam segala hal.
Adapun
pembicaraan di bagian kedua dan terakhir hingga penutup surah adalah khitbah
(seruan) bagi orang-orang yang beriman, yang mengajak mereka untuk melanjutkan
jihad dengan jiwa dan harta, tanpa adanya kelesuan atau ajakan untuk berdamai
dengan kekafiran yang memusuhi lagi zalim, di bawah pengaruh apa pun baik
berupa kelemahan, menjaga hubungan kekerabatan, maupun menjaga kemaslahatan.
Dan tanpa bersikap kikir dengan harta yang tidaklah Allah wajibkan atas mereka
untuk menafkahkannya kecuali dalam batas-batas kemampuan, dengan tetap
mempertimbangkan sifat kikir yang merupakan fitrah di dalam jiwa! Dan jika
mereka tidak bangkit memikul beban dakwah ini, sesungguhnya Allah akan
mengharamkan mereka dari kemuliaan mengembannya dan mandat untuknya, serta
menggantikan mereka dengan kaum yang lain yang akan bangkit memikul
beban-bebannya, dan mengetahui nilainya. Dan ia adalah ancaman yang sengit lagi
menakutkan yang selaras dengan atmosfer surah, sebagaimana ia mengisyaratkan
bahwa ia dahulunya merupakan obat bagi kondisi kejiwaan yang ada di dalam
barisan kaum muslimin kala itu—selain orang-orang munafik—di samping adanya
kondisi pengorbanan, kepasrahan, keberanian, dan kesiapan menebus dengan jiwa
yang masyhur di dalam riwayat-riwayat sejarah. Maka di dalam jamaah muslimah
saat itu ada golongan ini dan golongan itu. Dan Al-Qur'an mendidik serta
membina untuk membangkitkan mereka yang tertinggal menuju tingkatan mulia yang
tinggi...
Ancaman
untuk Orang Kafir
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ
سَبِيْلِ اللّٰهِ وَشَاۤقُّوا الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدٰى
لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيُحْبِطُ اَعْمَالَهُمْ ٣٢
"Sesungguhnya
orang-orang yang kufur, menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, dan
memusuhi Rasul setelah petunjuk jelas bagi mereka, sedikit pun tidak dapat
mendatangkan mudarat kepada Allah dan Dia akan menghapus amal-amal
mereka." (QS. Muhammad: 32)
Ia
adalah ketetapan dari Allah yang pasti, dan janji dari-Nya yang nyata: bahwa
orang-orang yang kafir, dan menghalangi kebenaran untuk sampai kepada manusia;
serta menghalangi manusia darinya dengan kekuatan, harta, tipu daya, atau
sarana apa pun, dan memusuhi Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di masa hidup
beliau dengan mengumumkan perang kepadanya, menyalahi jalannya, dan berdiri di
barisan yang berseberangan dengan beliau. Atau setelah wafat beliau dengan
memerangi agama-Nya, syariat-Nya, manhaj-Nya, para pengikut sunah-Nya, dan para
penegak dakwah-Nya. Yang demikian itu terjadi setelah jelas bagi mereka
petunjuk... dan mereka mengetahui bahwa ia adalah kebenaran; akan tetapi mereka
mengikuti hawa nafsu, dikuasai oleh sikap keras kepala, dibutakan oleh
kepentingan pribadi, dan dituntun oleh kemaslahatan sesaat...
Ketetapan
dari Allah yang pasti, dan janji dari Allah yang nyata bahwa mereka ini "sedikit
pun tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah..." Dan mereka
terlalu kerdil serta terlalu lemah untuk disebut-sebut dalam ruang lingkup
mendatangkan mudarat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka bukan ini yang
dimaksud. Akan tetapi yang dimaksud adalah bahwa mereka tidak akan dapat
mendatangkan mudarat kepada agama Allah, tidak pula manhaj-Nya, dan tidak pula
para penegak dakwah-Nya. Serta mereka tidak akan dapat membuat perubahan pada
hukum-hukum alam dan sunah-sunah-Nya. Bagaimanapun kekuatan mereka bertambah,
dan bagaimanapun mereka mampu menyakiti sebagian kaum muslimin dalam kurun
waktu tertentu. Karena sesungguhnya ini adalah cobaan sementara yang terjadi
dengan izin Allah untuk suatu hikmah yang Dia kehendaki; dan ia bukanlah
mudarat yang nyata bagi hukum alam Allah, sunah-Nya, sistem-Nya, manhaj-Nya,
serta para hamba-Nya yang tegak di atas sistem dan manhaj-Nya. Dan kesudahan
yang ditetapkan adalah: "dan Dia akan menghapus amal-amal
mereka..." maka ia berakhir kepada kegagalan dan kehancuran.
Sebagaimana berakibat buruknya hewan ternak yang memakan tumbuhan beracun itu!
Dan
di bawah naungan tempat kembali yang menakutkan bagi orang-orang yang kafir,
menghalang-halangi dari jalan Allah, dan memusuhi Rasul... pandangan
dipalingkan kepada orang-orang yang beriman untuk memperingatkan mereka dari
bayang-bayang tempat kembali ini, dan mengarahkan mereka kepada ketaatan kepada
Allah dan ketaatan kepada Rasul:
۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا
اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ ٣٣
"Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan janganlah kamu
merusak amal-amalmu!" (QS. Muhammad: 33)
Dan
arahan ini mengisyaratkan bahwa di dalam jamaah muslimah kala itu ada orang
yang tidak mencari ketaatan yang sempurna; atau ada orang yang merasa berat
dengan sebagian kewajiban, dan merasa payah dengan sebagian pengorbanan, yang
dituntut oleh jihad menghadapi golongan-golongan kuat yang berbeda-beda ini
yang berdiri menentang Islam, dan menyerangnya dari segala penjuru; serta yang
menghubungkan mereka dengan kaum muslimin berupa kemaslahatan dan tali
kekerabatan yang sulit untuk diputuskan dan ditinggalkan secara total
sebagaimana yang dituntut oleh akidah tersebut.
Dan
sungguh pengaruh dari arahan ini sangat sengit lagi mendalam di dalam jiwa kaum
muslimin yang jujur; maka bergetarlah hati mereka karenanya, dan mereka takut
jika terjadi dari mereka apa yang dapat merusak amal-amal mereka, serta
melenyapkan kebaikan-kebaikan mereka...
Imam
Ahmad bin Nasr al-Marwazi berkata di dalam Kitab ash-Shalah: Telah
menceritakan kepada kami Abu Qudamah, telah menceritakan kepada kami Waki',
telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far ar-Razi, dari ar-Rabi' bin Anas, dari
Abul Aliyah, ia berkata: "Dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam berpandangan bahwa tidak ada dosa yang dapat mendatangkan
mudarat bersama kalimat 'La ilaha illallah', sebagaimana tidak ada amal yang
bermanfaat bersama kesyirikan, maka turunlah ayat: 'taatilah Allah, taatilah
Rasul, dan janganlah kamu merusak amal-amalmu'... maka mereka takut jika dosa
dapat merusak amal perbuatan."
Dan
diriwayatkan dari jalur Abdullah bin al-Mubarak, telah mengabarkan kepadaku
Bakr bin Ma'ruf, dari Muqatil bin Hayyan, dari Nafi', dari Ibnu Umar
Radhiallahu 'Anhuma, ia berkata: "Kami dari kalangan sahabat Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dahulu berpandangan bahwa tidak ada sesuatu pun
dari kebaikan melainkan pasti diterima, hingga turunlah ayat: 'taatilah Allah,
taatilah Rasul, dan janganlah kamu merusak amal-amalmu'... maka kami berkata:
Apakah
ini yang dapat merusak amal-amal kita? Maka kami berkata: Dosa-dosa besar yang
mewajibkan siksa dan perbuatan-perbuatan keji. Hingga turunlah firman Allah
Ta'ala: 'Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya'... Maka ketika ayat ini turun, kami menahan diri dari
berbicara tentang hal tersebut. Dan jadilah kami takut atas orang yang tertimpa
dosa-dosa besar serta perbuatan keji, dan kami berharap (ampunan) bagi orang
yang tidak tertimpa olehnya."
Dan
dari teks-teks ini tampak jelas bagaimana dahulu jiwa kaum muslimin yang jujur
menerima ayat-ayat Al-Qur'an: bagaimana jiwa mereka bergetar dan berguncang
karenanya, dan bagaimana mereka gemetar serta takut darinya, dan bagaimana
mereka waspada agar tidak terjatuh di bawah ancamannya, serta bagaimana mereka
berupaya keras agar kondisi mereka selaras dengannya, dan agar diri mereka
sesuai dengannya... Dan dengan kepekaan dalam menerima kalimat-kalimat Allah
inilah kaum muslimin menjadi muslim dari model yang agung tersebut!
Kemudian
Allah menjelaskan kepada mereka pada ayat berikutnya tentang tempat kembali
orang-orang yang memusuhi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan keluar
dari ketaatan kepadanya, kemudian mereka bersikeras di atas hal ini, dan pergi
dari bumi ini dalam keadaan kafir:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ
سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ مَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ
٣٤
"Sesungguhnya
orang-orang yang kufur dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah,
kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, Allah tidak akan mengampuni
mereka." (QS. Muhammad: 34)
Maka
kesempatan hanya terbuka untuk mendapatkan ampunan di dunia ini; dan pintu
tobat akan senantiasa terbuka bagi orang kafir maupun pelaku maksiat hingga ruh
sampai di tenggorokan (yugharghir). Maka apabila ruh telah mencapai
kerongkongan, tidak ada lagi tobat dan tidak ada pula ampunan, karena telah
lenyap kesempatan yang tidak akan pernah kembali lagi.
Dan
ayat seperti ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana ia
ditujukan kepada orang-orang kafir. Adapun bagi mereka (orang kafir) ia adalah
peringatan bagi mereka agar memperbaiki perkara mereka dan bertobat sebelum
pintu-pintu ditutup. Dan adapun bagi mereka (orang beriman) ia adalah
peringatan bagi mereka dan perhatian untuk menjauhi seluruh sebab yang
mendekatkan mereka kepada jalan yang berbahaya lagi sial ini!
Kita
memahami hal ini dari urutan larangan dari sikap lemah (al-wahn) dan
ajakan untuk berdamai (as-silm) pada ayat berikutnya atas apa yang
disebutkan pada ayat sebelumnya berupa penjelasan bagi tempat kembali
orang-orang kafir yang memusuhi Rasul:
فَلَا تَهِنُوْا وَتَدْعُوْٓا اِلَى السَّلْمِۖ
وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَۗ وَاللّٰهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَّتِرَكُمْ اَعْمَالَكُمْ
٣٥
"Maka,
janganlah kamu menjadi lemah dan mengajak berdamai, padahal kamulah yang lebih
unggul dan Allah (pun) bersamamu serta tidak akan mengurangi (pahala)
amal-amalmu." (QS. Muhammad: 35)
Maka
inilah yang diperingatkan kepada orang-orang yang beriman, dan diletakkan di
hadapan mereka tempat kembali orang-orang kafir yang memusuhi Rasul, agar
mereka mewaspadai bayang-bayangnya dari kejauhan!
Dan
peringatan ini mengisyaratkan adanya individu-individu dari kaum muslimin yang
merasa berat dengan beban jihad yang panjang dan kepayahan yang terus-menerus;
dan tekad mereka menjadi lemah di hadapannya; serta mereka condong kepada
perdamaian dan gencatan senjata agar dapat beristirahat dari kepayahan
peperangan. Dan barangkali sebagian dari mereka memiliki hubungan kekerabatan
pada orang-orang musyrik, atau memiliki kepentingan dan harta benda; dan hal
ini menjerumuskan mereka kepada perdamaian dan gencatan senjata. Maka jiwa
manusia adalah tetap jiwa manusia; dan tarbiyah Islamiah mengobati kelemahan
ini dan bisikan-bisikan fitrah ini dengan sarana-sarananya. Dan sungguh ia
telah berhasil dengan kesuksesan yang luar biasa. Akan tetapi hal ini tidak
menafikan adanya sisa-sisa di dalam sebagian jiwa, dan khususnya di masa-masa
awal dari era Madinah. Dan ayat ini adalah sebagian obat bagi sisa-sisa
tersebut. Maka mari kita perhatikan bagaimana Al-Qur'an mendidik jiwa manusia.
Maka kita sangat butuh untuk melacak langkah-langkah Al-Qur'an dalam mendidik.
Dan jiwa manusia adalah tetap jiwa manusia:
"Maka,
janganlah kamu menjadi lemah dan mengajak berdamai, padahal kamulah yang lebih
unggul dan Allah (pun) bersamamu serta tidak akan mengurangi (pahala)
amal-amalmu." (QS. Muhammad: 35)
Kamulah
yang lebih unggul (al-a'lawn). Maka janganlah kalian menjadi lemah dan
mengajak berdamai. Kamulah yang lebih unggul secara akidah dan konsepsi tentang
kehidupan. Dan kamulah yang lebih unggul secara hubungan dan ikatan dengan Yang
Maha Tinggi lagi Maha Luhur (al-Aliyy al-A'la). Dan kamulah yang lebih
unggul secara manhaj, tujuan, dan sasaran. Dan kamulah yang lebih unggul secara
perasaan, akhlak, dan perilaku... kemudian... kamulah yang lebih unggul secara
kekuatan, kedudukan, dan pertolongan. Maka bersama kalian ada kekuatan yang
paling besar: "dan Allah (pun) bersamamu..." maka kalian
tidaklah sendirian. Sesungguhnya kalian berada dalam kebersamaan bersama Yang
Maha Tinggi, Maha Perkasa, Maha Kuasa, lagi Maha Menundukkan. Dan Dia bagi
kalian adalah Penolong yang hadir bersama kalian. Membela kalian. Maka siapakah
musuh-musuh kalian ini sementara Allah bersama kalian? Dan setiap apa yang
kalian korbankan, dan setiap apa yang kalian lakukan, dan setiap apa yang
menimpa kalian berupa pengorbanan adalah dihitung bagi kalian, tidak ada
sesuatu pun darinya yang sia-sia atas kalian: "serta tidak akan
mengurangi (pahala) amal-amalmu..." dan tidak akan memotong sedikit
pun darinya yang tidak sampai pengaruhnya, hasilnya, dan balasannya kepada
kalian.
Maka
atas dasar apa akan menjadi lemah, lunglai, dan mengajak kepada perdamaian
orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala tetapkan baginya bahwa dialah yang
paling unggul, dan bahwa Dia bersamanya, dan bahwa dia tidak akan kehilangan
sedikit pun dari amalnya? Maka dia adalah orang yang dimuliakan, ditolong, lagi
diberi pahala?
Inilah
sentuhan pertama. Dan sentuhan kedua adalah meremehkan perkara kehidupan dunia
ini, yang barangkali menimpa mereka sebagian pengorbanan di dalamnya. Dan
pemberian yang sempurna di akhirat berupa pahala-pahala bersamaan dengan tidak
diberatkannya mereka dengan pengorbanan harta sebagai ganti dari pahala-pahala
ini!
اِنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ
ۗوَاِنْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا يُؤْتِكُمْ اُجُوْرَكُمْ وَلَا يَسْـَٔلْكُمْ اَمْوَالَكُمْ
٣٦
"Sesungguhnya
kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman dan
bertakwa, Allah akan memberikan pahalamu kepadamu dan Dia tidak akan meminta
hartamu." (QS. Muhammad: 36)
Dan
kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau ketika tidak ada di baliknya
tujuan yang lebih mulia dan lebih kekal. Yaitu ketika ia dijalani untuk dirinya
sendiri dalam keadaan terputus dari manhaj Allah di dalamnya. Manhaj yang
menjadikannya sebagai ladang akhirat; dan menjadikan kebaikan kekhalifahan di
dalamnya sebagai hal yang berhak mewarisi negeri yang kekal. Dan inilah yang
diisyaratkan oleh paragraf berikutnya di dalam ayat: "Jika kamu beriman
dan bertakwa, Allah akan memberikan pahalamu kepadamu..." Maka
keimanan dan ketakwaan di dalam kehidupan dunia adalah hal yang mengeluarkannya
dari sekadar permainan dan senda gurau; dan mencapnya dengan cap keseriusan,
serta mengangkatnya dari tingkatan kesenangan hewani, menuju tingkatan
kekhalifahan yang rasyid, yang tersambung dengan mala'ul a'la (para malaikat di
langit). Dan pada hari itu tidaklah apa yang dikorbankan oleh orang mukmin yang
bertakwa berupa kesenangan kehidupan dunia ini menjadi sia-sia dan terputus;
melainkan darinya akan tumbuh pahala yang paling sempurna, di negeri yang
paling kekal... Bersamaan dengan ini sesungguhnya Allah tidak meminta manusia
untuk mengorbankan seluruh harta mereka, dan tidak memberatkan mereka di dalam
kewajiban-kewajiban dan beban-beban-Nya, karena ilmu-Nya Subhanahu wa Ta'ala
terhadap kekikiran jiwa mereka secara fitrah dan ciptaan. Dan Dia tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Dan Dia lebih sayang
kepada mereka dari membebani mereka untuk mengorbankan seluruhnya, sehingga
menjadi sempitlah dada mereka dan tampaklah kedengkian mereka:
اِنْ يَّسْـَٔلْكُمُوْهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوْا
وَيُخْرِجْ اَضْغَانَكُمْ ٣٧
"Jika
Dia meminta hartamu lalu mendesakmu (agar memberikan semuanya), niscaya kamu
akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu." (QS. Muhammad: 37)
Dan
teks ini mengisyaratkan atas hikmah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui (al-Lathif
al-Khabir), sebagaimana ia mengisyaratkan atas rahmat-Nya dan
kelembutan-Nya terhadap jiwa manusia. Dan menyingkap tentang takaran yang
presisi di dalam kewajiban-kewajiban agama ini, dan pertimbangannya terhadap
fitrah, serta keserasiannya dengan kemanusiaan manusia dengan segala kesiapan,
kemampuan, dan kondisinya. Maka ia adalah akidah rabbaniah untuk mendirikan
sistem rabbani insani. Sistem rabbani dari sisi bahwa Allah-lah yang menegakkan
manhaj dan kaidah-kaidahnya; dan insani dari sisi bahwa Allah mempertimbangkan
di dalam kewajiban-kewajibannya akan kemampuan manusia dan kebutuhannya. Dan
Allah-lah yang menciptakan, dan Dia Maha Mengetahui siapa yang Dia ciptakan,
dan Dialah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
Dan
pada akhirnya, Allah menghadapkan mereka dengan realitas kondisi mereka
terhadap ajakan mereka untuk berinfak di jalan Allah; dan mengobati kekikiran
jiwa terhadap harta dengan sarana-sarana Al-Qur'an, sebagaimana Dia mengobati
kekikirannya pada diri sendiri saat berjihad:
هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوْا
فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۚ فَمِنْكُمْ مَّنْ يَّبْخَلُ ۚوَمَنْ يَّبْخَلْ فَاِنَّمَا يَبْخَلُ
عَنْ نَّفْسِهٖ ۗوَاللّٰهُ الْغَنِيُّ وَاَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ ۗوَاِنْ تَتَوَلَّوْا
يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْٓا اَمْثَالَكُمْ ࣖ ٣٨
"Ingatlah,
kamu ini adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan
Allah. Lalu, di antara kamu ada yang kikir. Siapa yang kikir, sesungguhnya dia
kikir terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya, sedangkan kamulah
orang-orang yang membutuhkan. Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), Dia akan
menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti
kamu." (QS. Muhammad: 38)
Dan
ayat ini melukiskan gambaran deskriptif bagi realitas jamaah muslimah kala itu.
Dan bagi realitas manusia terhadap ajakan untuk berinfak di setiap lingkungan.
Maka ia menetapkan bahwa di antara mereka ada yang kikir. Dan makna hal ini
adalah bahwa di sana ada orang-orang yang tidak kikir dengan sesuatu pun. Dan
sungguh ini adalah realitas yang nyata, yang dicatat oleh riwayat-riwayat yang
banyak lagi jujur, dan dicatat oleh Al-Qur'an di tempat-tempat yang lain. Dan
sungguh Islam telah mewujudkan di dalam bidang ini permisalan-permisalan yang
dihitung sebagai mukjizat permisalan di dalam pengorbanan dan pemberian atas
dasar keridaan dan kegembiraan dengan pengorbanan dan pemberian tersebut. Akan
tetapi hal ini tidak menghalangi adanya orang yang kikir dengan harta. Dan
barangkali kedermawanan dengan jiwa lebih murah bagi sebagian mereka daripada
kedermawanan dengan harta!
Dan
Al-Qur'an mengobati kekikiran ini di dalam ayat ini:
"...Siapa
yang kikir, sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri..." (QS.
Muhammad: 38)
Maka
apa yang dikorbankan oleh manusia tidak lain adalah simpanan bagi mereka yang
disimpan, yang mereka temukan pada hari di saat mereka membutuhkan simpanan
tersebut, yaitu pada hari mereka dihimpun dalam keadaan telanjang dari segala
apa yang mereka miliki. Maka mereka tidak menemukan kecuali simpanan yang
disimpan tersebut. Maka apabila mereka kikir dengan pengorbanan, sesungguhnya
mereka hanyalah kikir atas diri mereka sendiri; dan hanyalah mengurangi dari
simpanan mereka; dan hanyalah menyayangkan harta bagi diri dan sosok mereka;
serta hanyalah mengharamkannya dengan tangan mereka sendiri!
Benar.
Maka Allah tidak meminta kepada mereka pengorbanan, kecuali Dia menginginkan
bagi mereka kebaikan, menginginkan bagi mereka kelimpahan, dan menginginkan
bagi mereka harta karun serta simpanan. Dan tidak ada sesuatu pun yang sampai
kepada-Nya dari apa yang mereka korbankan, dan Dia tidaklah membutuhkan apa
yang mereka nafkahkan:
"...Allah-lah
Yang Mahakaya, sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan..." (QS.
Muhammad: 38)
Maka
Dialah yang memberikan kepada kalian harta-harta kalian, dan Dialah yang
menyimpan bagi kalian di sisi-Nya apa yang kalian nafkahkan darinya. Dan Dialah
Yang Maha Kaya dari apa yang Dia berikan kepada kalian di dunia, Yang Maha Kaya
dari simpanan-simpanan kalian yang disimpan di akhirat. Sedangkan kamulah
orang-orang yang membutuhkan di kedua negeri (dunia dan akhirat) dan dalam
kedua kondisi. Kalian adalah orang-orang yang membutuhkan kepada rezeki-Nya di
dunia, maka tidak ada bagi kalian kemampuan atas sesuatu pun dari rezeki
kecuali jika Dia menganugerahkannya kepada kalian. Dan kalian adalah
orang-orang yang membutuhkan kepada pahala-Nya di akhirat, maka Dialah yang
memberikan keutamaan dengannya atas kalian, sedangkan kalian tidaklah dapat
memenuhi sesuatu pun dari apa yang wajib atas kalian, terlebih lagi untuk
menyisakan sesuatu bagi kalian di akhirat, kecuali jika Dia memberikan
keutamaan atas kalian.
Maka
atas dasar apa kekikiran itu jika demikian dan atas dasar apa kesempitan itu?
Padahal segala apa yang ada di tangan kalian, dan segala apa yang kalian
peroleh berupa pahala atas apa yang kalian nafkahkan adalah berasal dari sisi
Allah, dan dari keutamaan Allah?
Kemudian
kalimat terakhir yang merupakan pemutus perkataan...
Sesungguhnya
pilihan Allah bagi kalian untuk memikul dakwah-Nya adalah bentuk pemuliaan,
anugerah, dan pemberian. Maka apabila kalian tidak berusaha untuk menjadi orang
yang layak bagi keutamaan ini, dan apabila kalian tidak bangkit memikul
beban-beban kedudukan ini, dan apabila kalian tidak menyadari nilai dari apa
yang kalian berikan sehingga menjadi mudahlah bagi kalian segala apa yang
selainnya... sesungguhnya Allah akan mengambil kembali apa yang Dia
anugerahkan, dan memilih selain kalian untuk anugerah ini dari kalangan mereka
yang menghargai keutamaan Allah:
"...Jika
kamu berpaling (dari jalan-Nya), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang
lain dan mereka tidak akan seperti kamu." (QS. Muhammad: 38)
Dan
sesungguhnya ia adalah ancaman yang sangat menakutkan bagi siapa saja yang
telah merasakan manisnya iman, dan merasakan kemuliaannya di sisi Allah, serta
kedudukannya di alam semesta ini dalam keadaan dia memikul rahasia ketuhanan
yang agung ini. Dan berjalan di bumi dengan kekuasaan Allah di dalam hatinya;
dan cahaya Allah di dalam eksistensinya; serta pergi dan datang dalam keadaan
dia memakai lencana tuannya...
Dan
tidaklah sanggup menjalani kehidupan dan tidak pula merasakannya seorang
manusia yang telah mengetahui hakikat iman dan hidup dengannya kemudian ia
dicabut darinya, dan ia diusir dari perlindungan, serta ditutup pintu-pintu di
hadapannya. Tidak, bahkan sesungguhnya kehidupan akan berubah menjadi neraka
yang tidak tertahankan bagi siapa saja yang tersambung dengan Tuhannya kemudian
ditutup hijab di hadapannya.
Sesungguhnya
iman adalah anugerah yang sangat besar, tidak ada yang menandinginya di dalam
wujud ini sesuatu pun; dan kehidupan adalah murah, dan harta adalah
sangat-sangat tidak berharga, ketika iman diletakkan di satu daun timbangan,
dan diletakkan di daun timbangan yang lain segala apa yang selainnya...
Dan
oleh karena itu, peringatan ini adalah hal yang paling mengerikan yang dihadapi
oleh orang yang beriman, di saat dia menerimanya dari Allah...
Comments
Post a Comment