Tafsir Surah Muhammad

 Surah Muhammad

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١

اَلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ ١ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوْا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَاَصْلَحَ بَالَهُمْ ٢ ذٰلِكَ بِاَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَاَنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ لِلنَّاسِ اَمْثَالَهُمْ ٣ فَاِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَضَرْبَ الرِّقَابِۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَثْخَنْتُمُوْهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَۖ فَاِمَّا مَنًّاۢ بَعْدُ وَاِمَّا فِدَاۤءً حَتّٰى تَضَعَ الْحَرْبُ اَوْزَارَهَا ەۛ ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ ٤ سَيَهْدِيْهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْۚ ٥ وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ ٦ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ ٧ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَاَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ ٨ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَرِهُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ٩ ۞ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ دَمَّرَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۖوَلِلْكٰفِرِيْنَ اَمْثَالُهَا ١٠ ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ مَوْلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاَنَّ الْكٰفِرِيْنَ لَا مَوْلٰى لَهُمْ ࣖ ١١ اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗوَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ ١٢ وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ هِيَ اَشَدُّ قُوَّةً مِّنْ قَرْيَتِكَ الَّتِيْٓ اَخْرَجَتْكَۚ اَهْلَكْنٰهُمْ فَلَا نَاصِرَ لَهُمْ ١٣ اَفَمَنْ كَانَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ كَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ ١٤ مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗفِيْهَآ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّاۤءٍ غَيْرِ اٰسِنٍۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚوَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ەۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۗوَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَاۤءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَاۤءَهُمْ ١٥

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

"Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 1)

"Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad—dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka—Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka." (QS. Muhammad: 2) 

"Yang demikian itu karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia." (QS. Muhammad: 3)

"Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), pukullah tengkuk mereka. Selanjutnya, apabila kamu telah mengalahkan mereka dengan melumpuhkannya, tawanlah mereka dengan erat. Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan sampai perang usai. Demikianlah (perintah Allah). Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka. Akan tetapi, Dia hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Orang-orang yang gugur di jalan Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka." (QS. Muhammad: 4)

"Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka," (QS. Muhammad: 5)

"dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka." (QS. Muhammad: 6)

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)

"Orang-orang yang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 8)

"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Dia menghapus amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 9)

"Apakah mereka tidak pernah bepergian di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Allah telah membinasakan mereka. Bagi orang-orang kafir (akan menerima) nasib yang serupa itu." (QS. Muhammad: 10)

"Yang demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung." (QS. Muhammad: 11)

 

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia) dan makan seperti makannya hewan-hewan ternak, dan neraka adalah tempat tinggal bagi mereka." (QS. Muhammad: 12)

"Betapa banyak negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu (Makkah) yang telah mengusirmu (wahai Muhammad) yang telah Kami binasakan, maka tidak ada seorang pun penolong bagi mereka." (QS. Muhammad: 13)

"Apakah orang yang hidup di atas bukti yang nyata dari Tuhannya sama dengan orang yang dijadikan terasa indah baginya keburukan amalnya dan mereka mengikuti keinginannya?" (QS. Muhammad: 14)

"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah bahwa [ Hal. 3278 ] di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat bagi para peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Apakah (orang yang memperoleh kenikmatan ini) sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?" (QS. Muhammad: 15)

Pengantar

Surah ini adalah Madaniyyah, dan ia memiliki nama lain. Namanya adalah Surah al-Qital (Perang). Dan itu adalah nama yang nyata baginya. Sebab, perang adalah temanya. Perang adalah unsur yang paling menonjol di dalamnya. Perang ada dalam gambaran dan bayang-bayangnya. Perang ada dalam nada dan iramanya.

Perang adalah temanya. Ia dimulai dengan penjelasan tentang hakikat orang-orang kafir dan hakikat orang-orang yang beriman dalam bentuk serangan sastrawi terhadap orang-orang kafir, sekaligus pengagungan bagi orang-orang yang beriman, disertai isyarat bahwa Allah adalah musuh bagi kelompok pertama dan pelindung bagi kelompok kedua, serta bahwa ini adalah hakikat yang pasti dalam ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, ini merupakan deklarasi perang dari Allah Ta'ala terhadap musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh agama-Nya sejak lafal pertama dalam surah ini:

"Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka. Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad—dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka—Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia." (QS. Muhammad: 1-3)

Setelah deklarasi perang dari Allah terhadap orang-orang kafir ini, muncul perintah yang tegas bagi orang-orang yang beriman untuk mengobarkan perang melawan mereka. Perintah ini disampaikan dalam bentuk redaksi yang bergemuruh kuat, disertai penjelasan tentang hukum para tawanan setelah terjadinya pertempuran hebat dan pembunuhan yang sengit:

"Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), pukullah tengkuk mereka. Selanjutnya, apabila kamu telah mengalahkan mereka dengan melumpuhkannya, tawanlah mereka dengan erat. Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan..." (QS. Muhammad: 4)

Bersamaan dengan perintah ini, terdapat penjelasan tentang hikmah perang, motivasi untuk melakukannya, penghormatan terhadap kesyahidan di dalamnya, serta janji dari Allah untuk memuliakan para syuhada, memberikan kemenangan bagi siapa saja yang terjun ke medan pertempuran demi membela (agama) Allah, serta kebinasaan bagi orang-orang kafir dan kesia-siaan amal-amal mereka:

"...sampai perang usai. Demikianlah (perintah Allah). Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka. Akan tetapi, Dia hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Orang-orang yang gugur di jalan Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka. Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Orang-orang yang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Dia menghapus amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 4-9)

Disertai pula dengan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang kafir, deklarasi tentang perlindungan Allah serta pertolongan-Nya bagi orang-orang yang beriman, dan kebinasaan orang-orang kafir, kehinaan mereka, kelemahan mereka, serta pembiaran mereka tanpa adanya penolong maupun pelindung:

"Apakah mereka tidak pernah bepergian di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Allah telah membinasakan mereka. Bagi orang-orang kafir (akan menerima) nasib yang serupa itu. Yang demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung." (QS. Muhammad: 10-11)

Demikian pula ancaman lainnya bagi negeri yang telah mengusir Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

"Betapa banyak negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu (Makkah) yang telah mengusirmu (wahai Muhammad) yang telah Kami binasakan, maka tidak ada seorang pun penolong bagi mereka." (QS. Muhammad: 13)

Kemudian surah ini, setelah serangan yang keras dan terang-terangan tersebut, berlanjut ke dalam berbagai corak pembicaraan mengenai kekafiran dan keimanan, serta kondisi orang-orang mukmin dan orang-orang kafir di dunia maupun di akhirat. Surah ini membedakan antara kenikmatan orang mukmin dengan hal-hal yang baik, dan kesenangan orang-orang kafir dengan kelezatan bumi layaknya binatang:

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia) dan makan seperti makannya hewan-hewan ternak, dan neraka adalah tempat tinggal bagi mereka." (QS. Muhammad: 12)

Sebagaimana digambarkan pula kenikmatan orang-orang mukmin di dalam surga dengan aneka minuman yang lezat mulai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, susu yang tidak berubah rasanya, khamar yang lezat bagi para peminumnya, serta madu yang disaring, semuanya dalam jumlah yang melimpah dan mengalir... dalam bentuk sungai-sungai yang mengalir... itu semua disertai aneka buah-buahan, ampunan, serta keridaan. Kemudian muncul sebuah pertanyaan:

"...Apakah (orang yang memperoleh kenikmatan ini) sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?" (QS. Muhammad: 15)

Setelah selesainya putaran pertama dalam pertempuran yang terbuka dan langsung antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir ini, surah ini melanjutkannya dengan putaran bersama orang-orang munafik. Mereka, bersama orang-orang Yahudi di Madinah, pada masa itu membentuk ancaman bagi komunitas Islam yang baru tumbuh, yang bahayanya tidak kalah besar dibandingkan bahaya orang-orang musyrik yang memerangi mereka dari Makkah dan kabilah-kabilah di sekitarnya. Peristiwa-peristiwa yang diisyaratkan oleh surah ini menunjukkan bahwa ia turun setelah Perang Badar, dan sebelum Perang Ahzab serta peristiwa setelahnya yang mematahkan kekuatan Yahudi dan melemahkan posisi orang-orang munafik (sebagaimana telah kami sebutkan dalam tafsir Surah al-Ahzab).

Pembicaraan tentang orang-orang munafik dalam surah ini membawa bayang-bayangnya sendiri. Bayang-bayang serangan dan peperangan, sejak isyarat pertama. Pembicaraan ini menggambarkan kelalaian mereka dari menyimak sabda Rasulullah, serta hilangnya kesadaran dan perhatian mereka saat berada di majelis beliau. Penjelasan ini diiringi dengan ungkapan yang mencap mereka dengan kesesatan dan hawa nafsu:

"Di antara mereka ada yang mendengarkanmu (wahai Muhammad), tetapi apabila mereka berdiri meninggalkanmu, mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Apakah yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hatinya oleh Allah dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka." (QS. Muhammad: 16)

Serta mengancam mereka dengan hari Kiamat, hari di mana mereka tidak akan mampu menyadarinya dan tidak pula memiliki kesempatan untuk mengambil pelajaran:

"Maka, tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka, apa gunanya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari Kiamat itu telah datang?" (QS. Muhammad: 17)

Kemudian digambarkan pula kegelisahan, kepengecutan, dan keruntuhan mental mereka ketika dihadapkan pada ayat Al-Qur'an yang membebankan kewajiban berperang kepada mereka—padahal mereka menampakkan keimanan—serta perbedaan antara mereka pada hari itu dengan orang-orang mukmin yang jujur:

"Orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tidak ada suatu surah yang diturunkan?' Maka, apabila ada suatu surah yang jelas maksudnya diturunkan dan di dalamnya disebutkan (perintah) perang, kamu melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit memandang kepadamu dengan pandangan orang yang pingsan karena takut mati..." (QS. Muhammad: 20)

Serta mendorong mereka untuk taat, jujur, dan teguh. Diperlihatkan pula betapa buruknya kecenderungan mereka, seraya menyatakan perang, pengusiran, dan laknat atas mereka:

"...(Ketaatan dan ucapan yang baik) lebih utama bagi mereka. Apabila perintah (perang) ditetapkan (mereka tidak menyukainya). Padahal, jika mereka tulus kepada Allah, niscaya itu lebih baik bagi mereka. Apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) mereka dan membutakan penglihatan mereka." (QS. Muhammad: 20-23)

Serta menyingkap kedok mereka dalam mengikuti setan, persekongkolan mereka dengan kaum Yahudi, dan mengancam mereka dengan azab saat kematian serta dengan kehinaan yang akan menyingkap identitas mereka satu demi satu di tengah masyarakat Islam—tempat mereka membaurkan diri padahal mereka bukan bagian darinya, bahkan mereka kerap membuat tipu daya terhadapnya:

"Sesungguhnya orang-orang yang berbalik ke belakang (murtad) setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah mengatakan kepada orang-orang (Yahudi) yang tidak menyukai apa yang diturunkan Allah, 'Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan.' Padahal, Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila para malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul wajah dan punggung mereka? Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan membenci keridaan-Nya. Maka, Dia menghapus amal-amal mereka. Atau apakah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami memperlihatkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Kamu benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya. Allah mengetahui (segala) amalmu. Kami benar-benar akan mengujimu hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antaramu serta menguji perihalmu." (QS. Muhammad: 25-31)

Pada putaran ketiga sekaligus terakhir dalam surah ini, terdapat pengembalian pembahasan kepada orang-orang kafir dari kalangan Quraisy dan Yahudi, serta serangan terhadap mereka:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir, menghalangi (orang lain) dari jalan Allah, dan memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, sedikit pun tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah dan Dia (Allah) akan menghapus amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 32)

Serta peringatan bagi orang-orang yang beriman agar jangan sampai ditimpa musibah seperti yang menimpa musuh-musuh mereka:

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta janganlah kamu merusak amal-amalmu. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, Allah tidak akan mengampuni mereka." (QS. Muhammad: 33-34)

Serta dorongan kuat bagi mereka untuk tetap teguh saat bertempur:

"Maka, janganlah kamu lemah dan mengajak berdamai, padahal kamulah yang lebih unggul dan Allah (pun) bersamamu serta Dia tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu." (QS. Muhammad: 35)

Serta meremehkan perkara kehidupan dunia beserta perhiasannya. Serta anjuran untuk berinfak yang telah dimudahkan oleh Allah, di mana Dia tidak menjadikannya sebagai pembersihan terhadap seluruh harta demi mengasihi mereka, karena Dia mengetahui sifat kikir yang ada di dalam jiwa manusia, serta kejengkelan dan kesempitannya andai Allah mendesak mereka dalam meminta harta:

"Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahalamu kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu. Jika Dia memintanya kepadamu lalu mendesakmu (agar memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu." (QS. Muhammad: 36-37)

Surah ini ditutup dengan sesuatu yang menyerupai ancaman bagi orang-orang muslim jika mereka kikir dalam menginfakkan harta dan enggan berkorban dalam peperangan:

"Ingatlah, kamu ini adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada yang kikir. Siapa yang kikir sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya, sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan. Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu (yang kikir)." (QS. Muhammad: 38)

Sungguh, ini adalah pertempuran yang terus berkesinambungan dari awal surah hingga akhirannya; yang dinaungi oleh suasana peperangan, dan diselimuti oleh karakternya dalam setiap paragrafnya.

Bunyi akhiran ayat (fashilah) dan iramanya sejak awal bagaikan dentuman meriam yang berat: "a'malahum, balahum, amtsalahum, ahwa'ahum, am'a'ahum..."

Bahkan ketika ia melemah, ia tetap menyerupai kibasan pedang di udara: "awzaraha, amtsalaha, aqfalaha..."

Di sana terdapat kekerasan dalam penggambaran sebagaimana kekerasan dalam bunyi lafal yang mengekspresikannya. Mengenai peperangan atau pembunuhan, Dia berfirman: "maka pukullah tengkuk mereka". Mengenai pembunuhan hebat dan penawanan, Dia menggambarkannya dengan keras: "apabila kamu telah mengalahkan mereka dengan melumpuhkannya, tawanlah mereka dengan erat". Doa kebinasaan atas orang-orang kafir datang dalam lafal yang kasar: "kecelakaanlah bagi mereka dan Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka". Kebinasaan orang-orang terdahulu dilukiskan dalam bentuk yang menggelegar secara bayang maupun lafal: "Allah telah membinasakan mereka. Bagi orang-orang kafir (akan menerima) nasib yang serupa itu". Gambaran azab di neraka datang dalam pemandangan ini: "dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya". Keadaan pengecut dan ketakutan pada orang-orang munafik juga datang dalam pemandangan yang tak kalah keras: "kamu melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit memandang kepadamu dengan pandangan orang yang pingsan karena takut mati!". Bahkan peringatan bagi orang-orang mukmin dari berpaling datang dalam bentuk ancaman akhir yang tegas: "Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu".

Begitulah keserasian antara tema, penggambaran, bayang-bayang, dan irama dalam Surah al-Qital...

Sikap Menghadapi Orang Kafir dalam Perang

اَلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ ١ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوْا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَاَصْلَحَ بَالَهُمْ ٢ ذٰلِكَ بِاَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَاَنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ لِلنَّاسِ اَمْثَالَهُمْ ٣

"Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka. Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad—dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka—Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia." (QS. Muhammad: 1-3)

Sebuah pembukaan yang merepresentasikan serangan tanpa mukadimah maupun pengantar!

Tindakan menyesatkan atau menyia-nyiakan amal (idhlal al-a'mal) yang dihadapi oleh orang-orang kafir dan orang-orang yang menghalang-halangi jalan Allah—baik mereka menghalangi diri mereka sendiri maupun menghalangi diri mereka dan orang lain—mengandung makna hilangnya amal-amal tersebut dan kebatilannya. Namun, makna ini digambarkan dalam sebuah gerakan. Tiba-tiba saja kita melihat amal-amal ini tersesat dan liar, dan kita sekilas melihat akibat dari kesesatan dan keliaran ini, ternyata akibatnya adalah kebinasaan dan kesia-siaan. Ini adalah gerakan yang meniupkan bayang kehidupan ke dalam amal-amal tersebut, seolah-olah amal itu adalah sosok-sosok hidup yang tersesat lalu binasa. Ini memperdalam makna dan melemparkan bayang-bayangnya; bayang-bayang pertempuran di mana amal-amal tersebut tersesat dari kaum itu, dan kaum itu tersesat dari amalnya, hingga berakhir pada kesesatan dan kebinasaan!

Amal-amal yang disia-siakan (adhallat) ini barangkali yang dimaksud secara khusus dengannya adalah amal-amal yang mereka harapkan membawa kebaikan darinya, yang secara lahiriah tampak sebagai kesalehan. Sebab, tidak ada nilai bagi suatu amal saleh tanpa adanya iman. Kesalehan semacam ini bersifat formalitas semata yang tidak mengekspresikan hakikat di baliknya. Yang menjadi tolok ukur adalah motif yang melahirkan amal tersebut, bukan bentuk lahiriah amalnya. Terkadang motifnya baik, namun ketika ia tidak berdiri di atas landasan iman, ia hanya akan menjadi kebetulan yang lewat atau gejolak sesaat. Ia tidak terhubung dengan manhaj yang kokoh dan jelas di dalam jiwa, yang tersambung dengan garis perjalanan hidup yang luas, tidak pula dengan hukum alam semesta yang asli (namus al-wujud al-ashil). Maka, harus ada iman guna mengikat jiwa pada asas yang menjadi sumber seluruh orientasinya, dan yang memengaruhinya dalam setiap gejolaknya. Pada saat itulah amal saleh memiliki maknanya, memiliki tujuannya, memiliki kontinuitasnya, serta memiliki dampak-dampaknya sesuai dengan manhaj Ilahi yang mengikat bagian-bagian alam semesta ini secara keseluruhan dalam hukum alam (namus); dan menjadikan setiap amal serta setiap gerakan memiliki fungsi dan dampak dalam struktur eksistensi ini, dalam pelaksanaan perannya, serta dalam pencapaian tujuannya.

Di sisi lain:

"...Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad—dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka..." (QS. Muhammad: 2)

Keimanan yang pertama sudah mencakup keimanan kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad. Akan tetapi, konteks kalimat (siyâq) memunculkan dan menampakkannya secara khusus untuk menyifatinya dengan sifatnya: “dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka”, guna menegaskan makna ini dan menetapkannya. Di samping keimanan yang bersemayam di dalam jiwa, terdapat amal yang tampak nyata dalam kehidupan. Amal tersebut merupakan buah dari keimanan yang menunjukkan keberadaan, vitalitas, serta dorongannya.

Mereka ini:

"...Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka..." (QS. Muhammad: 2)

Sebagai lawan dari pembatalan amal-amal orang kafir meskipun secara bentuk dan lahiriahnya tampak sebagai kebaikan. Manakala amal orang-orang kafir itu batal meskipun tampak saleh, maka keburukan orang-orang yang beriman justru diampuni. Ini merupakan perbandingan yang sempurna dan mutlak yang menampakkan nilai iman dan kedudukannya di sisi Allah, serta dalam hakikat kehidupan...

"...dan memperbaiki keadaan mereka." (QS. Muhammad: 2)

Dan perbaikan keadaan (ishlah al-bal) merupakan nikmat yang sangat besar yang kedudukannya berada tepat setelah nikmat iman dalam hal ukuran, nilai, dan dampaknya. Ungkapan ini memberikan bayang-bayang ketenteraman, kenyamanan, keyakinan, keridaan, dan kedamaian. Manakala keadaan pikiran dan hati (al-bal) telah baik, maka luruslah perasaan dan pemikiran, tenanglah kalbu dan nurani, nyamankah perasaan dan saraf, serta ridalah jiwa dan ia pun dapat menikmati rasa aman serta kedamaian... Dan adakah nikmat atau kesenangan yang melebihi hal ini? Sungguh, ia merupakan ufuk yang benderang, bercahaya, dan bergetar indah.

Mengapa hal ini terjadi pada kelompok ini dan hal itu terjadi pada kelompok itu? Ini bukanlah masalah pilih kasih. Bukan pula kebetulan. Bukan pula kesia-siaan tanpa perhitungan. Melainkan suatu perkara yang memiliki asasnya yang kokoh, yang terkait dengan hukum alam asli yang menjadi landasan eksistensi pada hari Allah menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran (al-haqq), dan menjadikan kebenaran itu sebagai fondasinya:

"Yang demikian itu karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka..." (QS. Muhammad: 3)

Sesuatu yang batil tidak memiliki akar yang menghunjam dalam struktur eksistensi ini; oleh karena itu, ia akan pergi dan binasa; dan setiap orang yang mengikutinya serta segala hal yang lahir darinya akan pergi dan binasa pula. Tatkala orang-orang kafir itu mengikuti kebatilan, maka tersesat dan sanyaplah amal-amal mereka, dan tidak tersisa sedikit pun darinya yang mendatangkan manfaat.

Sedangkan kebenaran itu kokoh, menjadi landasan berdirinya langit dan bumi, serta akarnya menghunjam ke dalam lubuk alam semesta ini. Oleh karena itu, segala hal yang berhubungan dengannya dan tegak di atasnya akan tetap kekal. Tatkala orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka, maka tidak heran jika Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.

Maka, ini adalah perkara yang jelas dan pasti yang tegak di atas asas-asasnya yang kokoh, serta kembali kepada sebab-sebabnya yang asli. Ia bukanlah kebetulan lewat, bukan ketidaksengajaan, dan bukan pula kesia-siaan tanpa perhitungan.

"...Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia." (QS. Muhammad: 3)

Dan begitulah Dia menetapkan bagi mereka kaidah-kaidah yang dengannya mereka menimbang diri mereka dan amal-amal mereka. Maka, mereka pun mengetahui perumpamaan yang mereka nisbatkan dan mereka jadikan ukuran padanya. Sehingga mereka tidak lagi bingung dalam menimbang dan mengukur!

Asas yang ditetapkan oleh ayat pertama dalam surah ini menjadi landasan bagi pengarahan orang-orang mukmin untuk memerangi orang-orang kafir. Orang-orang mukmin berada di atas kebenaran kokoh yang sepantasnya tegak di bumi, serta menjulang tinggi dan mengendalikan takdir manusia serta kehidupan agar manusia dapat terhubung dengan kebenaran dan agar kehidupan dapat tegak di atas asasnya. Sedangkan orang-orang kafir berada di atas kebatilan yang sepantasnya dihancurkan dan dihilangkan dampak-dampaknya dari kehidupan:

فَاِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَضَرْبَ الرِّقَابِۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَثْخَنْتُمُوْهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَۖ فَاِمَّا مَنًّاۢ بَعْدُ وَاِمَّا فِدَاۤءً حَتّٰى تَضَعَ الْحَرْبُ اَوْزَارَهَا ەۛ ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ ٤

"Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), pukullah tengkuk mereka. Selanjutnya, apabila kamu telah mengalahkan mereka dengan melumpuhkannya, tawanlah mereka dengan erat. Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan sampai perang usai..." (QS. Muhammad: 4)

Pertemuan yang dimaksud dalam ayat di sini adalah pertemuan untuk perang dan pertempuran, bukan sekadar pertemuan biasa. Sebab, hingga turunnya surah ini, orang-orang musyrik di Jazirah Arab ada yang berstatus sebagai musuh yang diperangi (muharib) dan ada pula yang terikat perjanjian damai (mu'ahid). Pada saat itu belum turun Surah "Bara'ah" (at-Tawbah) yang mengakhiri perjanjian-perjanjian kaum musyrik yang memiliki batas waktu tertentu hingga batas waktunya habis, dan yang tanpa batas waktu hingga empat bulan; serta memerintahkan untuk membunuh kaum musyrik setelah itu di mana pun mereka ditemukan di seantero Jazirah Arab—sebagai basis utama Islam—atau mereka masuk Islam, agar basis tersebut bersih murni bagi Islam.

Perintah memukul tengkuk (darb ar-riqab) saat bertemu musuh ini tentunya terjadi setelah Islam ditawarkan kepada mereka namun mereka menolaknya. Ini adalah visualisasi dari tindakan pembunuhan dengan bentuk fisiknya yang langsung dan dengan gerakan yang merepresentasikannya, selaras dengan atmosfer surga dan bayang-bayangnya.

"...Selanjutnya, apabila kamu telah mengalahkan mereka dengan melumpuhkannya, tawanlah mereka dengan erat..." (QS. Muhammad: 4)

Al-Itskhan adalah tindakan memperbanyak pembunuhan dengan sengit, hingga kekuatan musuh hancur lebur dan runtuh, sehingga mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyerang maupun bertahan. Pada saat itulah—bukan sebelumnya—tawanan perang boleh diambil dari mereka yang menyerah, lalu diikat dengan kuat. Adapun selagi musuh masih kuat, maka pembunuhan yang sengit (al-itskhan) dan pertempuranlah yang menjadi tujuan utama demi menghancurkan bahaya tersebut.

Atas dasar ini, tidak ada kontradiksi—sebagaimana pandangan mayoritas mufasir—antara kandungan ayat ini dengan kandungan ayat dalam Surah al-Anfal ketika Allah menegur Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin karena terlalu banyak mengambil tawanan pada Perang Badar, padahal pembunuhan hebat (al-taktil) jauh lebih utama pada saat itu. Hal itu sebagaimana firman-Nya:

"Tidak pantas bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Sekiranya tidak ada ketetapan terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa azab yang besar karena (tebusan) yang kamu ambil." (QS. al-Anfal: 67-68)

Maka, melumpuhkan musuh (al-itskhan) dilakukan terlebih dahulu demi menghancurkan kekuatan musuh dan mematahkan taringnya; barulah setelah itu proses penawanan dilakukan. Hikmahnya sangat jelas, karena melenyapkan kekuatan yang memusuhi dan menyerang Islam adalah tujuan pertama dari peperangan. Terlebih lagi ketika jumlah kekuatan personel umat Islam masih sedikit dan terbatas, sementara kaum musyrik sangat dominan jumlahnya. Membunuh seorang kombatan musuh memiliki nilai yang sangat besar dalam neraca kekuatan pada masa itu. Aturan ini tetap berlaku dalam keumumannya di setiap zaman dengan bentuk yang menjamin hancurnya kekuatan musuh, serta ketidakmampuan mereka untuk menyerang maupun bertahan.

Adapun hukum mengenai tawanan perang setelah itu, maka ayat inilah yang menetapkannya. Ini adalah satu-satunya teks Al-Qur'an yang memuat hukum tentang tawanan perang:

"...Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan..." (QS. Muhammad: 4)

Artinya: adakalanya membebaskan mereka setelah itu tanpa imbalan apa pun berupa harta maupun tebusan tawanan muslim (al-mann). Dan adakalanya membebaskan mereka dengan imbalan tebusan berupa harta, jasa, atau sebagai ganti dari pembebasan tawanan muslim yang ditawan oleh musuh (al-fida').

Di dalam ayat ini tidak disebutkan opsi ketiga, seperti perbudakan (al-istiqraq) atau pembunuhan (al-qatl), terkait dengan tawanan kaum musyrik.

Namun, kenyataan yang terjadi adalah bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para khalifah setelah beliau memperbudak sebagian tawanan—dan ini yang paling sering terjadi—serta membunuh sebagian lainnya dalam kondisi-kondisi tertentu.

Kami nukilkan di sini apa yang disebutkan mengenai ayat ini dalam kitab Ahkam al-Qur'an karya Imam al-Jasshas al-Hanafi, dan kami akan memberikan catatan terhadap apa yang kami pandang perlu diberi catatan di sela-selanya, sebelum kami menetapkan hukum yang kami pilih:

Allah Ta'ala berfirman: "Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), pukullah tengkuk mereka..." Abu Bakar (al-Jasshas) berkata: Lahiriah ayat ini menuntut wajibnya pembunuhan dan tidak ada opsi lain kecuali setelah melumpuhkan mereka (al-itskhan). Hal ini senada dengan firman Allah Ta'ala: "Tidak pantas bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi..." (Dan ini adalah hal yang benar, tidak ada kontradiksi antara kedua teks tersebut).

Muhammad bin Ja'far bin Muhammad bin al-Hakam menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja'far bin Muhammad bin al-Yaman menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Mu'awiyah bin Shalih, dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah Ta'ala: "Tidak pantas bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi..." Beliau berkata: "Itu terjadi pada Perang Badar saat jumlah kaum muslimin masih sedikit. Ketika jumlah mereka telah banyak dan kekuasaan mereka telah kokoh, Allah Ta'ala menurunkan ayat setelah ini mengenai para tawanan: 'Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...' Maka Allah memberikan pilihan kepada Nabi dan orang-orang beriman dalam memperlakukan tawanan. Jika mau, mereka boleh membunuhnya; jika mau, mereka boleh memperbudaknya; dan jika mau, mereka boleh meminta tebusan atasnya." Abu Ubaid ragu dalam periwayatan kalimat "dan jika mau, mereka boleh memperbudaknya" (dan status perbudakan ini diragukan keabsahan penisbatannya dari ucapan Ibnu Abbas, maka kami meninggalkannya. Adapun kebolehan membunuh, kami tidak melihat adanya sandaran baginya di dalam ayat, melainkan teksnya hanya menyebutkan pembebasan tanpa imbalan atau tebusan).

Dan Ja'far bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mahdi dan Hajjaj menceritakan kepada kami, keduanya dari Sufyan, ia berkata: Aku mendengar as-Suddi berkata mengenai firman-Nya: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...” Ia berkata: "Ayat ini telah dinasakh [dihapus hukumnya], dinasakh oleh firman-Nya: 'Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka...'" Abu Bakar berkata: Adapun firman-Nya: "Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), pukullah tengkuk mereka..." dan firman-Nya: "Tidak pantas bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi..." serta firman-Nya: "Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka..." maka sangat mungkin ini adalah hukum yang tetap dan tidak dinasakh. Hal itu karena Allah Ta'ala memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk melumpuhkan musuh dengan pembunuhan dan melarang beliau menawan musuh—kecuali setelah menghinakan kaum musyrik dan menundukkan mereka—dan itu terjadi pada masa sedikitnya jumlah kaum muslimin dan banyaknya jumlah musuh mereka dari kalangan musyrik. Maka, kapan pun kaum musyrik telah dilumpuhkan dan dihinakan dengan pembunuhan serta pengusiran, barulah boleh membiarkan mereka hidup (menawannya). Maka kewajibannya adalah menjadikan ini sebagai hukum yang tetap apabila terdapat kondisi yang serupa dengan kondisi kaum muslimin pada masa awal Islam. (Dan kami katakan: Sesungguhnya perintah untuk membunuh kaum musyrik di mana pun mereka berada adalah khusus bagi kaum musyrik Jazirah Arab. Sementara teks dalam Surah Muhammad bersifat umum. Maka kapan pun pelumpuhan di bumi telah terwujud, maka pengambilan tawanan diperbolehkan. Dan inilah yang dipraktikkan oleh para khalifah setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan setelah turunnya Surah Bara'ah secara tabiatnya, dan mereka tidak membunuh mereka kecuali dalam kasus-kasus tertentu yang penjelasannya akan datang)...

Adapun firman-Nya: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...” Lahiriahnya menuntut salah satu dari dua hal: pembebasan tanpa imbalan (mann) atau tebusan (fida'). Hal tersebut menafikan kebolehan membunuh. Dan para ulama salaf telah berbeda pendapat dalam masalah ini. Hajjaj menceritakan kepada kami dari Mubarak bin Fadhalah dari al-Hasan bahwa beliau membenci tindakan membunuh tawanan, dan beliau berkata: "Bebaskanlah ia tanpa imbalan atau mintalah tebusan darinya." Dan Ja'far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Husyaim mengabarkan kepada kami, ia berkata: Asy'ats mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada 'Atha' tentang membunuh tawanan, maka ia menjawab: "Bebaskan tanpa imbalan atau mintalah tebusan." Ia berkata: Dan aku bertanya kepada al-Hasan, maka beliau menjawab: "Lakukanlah kepadanya apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terhadap para tawanan Badar; dibebaskan tanpa imbalan atau ditebus."

Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar bahwa diserahkan kepada beliau salah seorang pembesar Istakhr untuk dibunuh, namun beliau enggan membunuhnya dan beliau membaca firman-Nya: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...”

Diriwayatkan pula dari Mujahid dan Muhammad bin Sirin mengenai kemakruhan membunuh tawanan. Dan kami telah meriwayatkan dari as-Suddi bahwa firman-Nya: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...” dinasakh oleh firman-Nya: “Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka...” Diriwayatkan hal senada dari Ibnu Juraij. Ja'far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, ia berkata: "Ayat tersebut dinasakh." Dan ia berkata: "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam membunuh Uqbah bin Abi Mu'aith pada hari Badar secara shabran [dieksekusi dalam keadaan tertawan]." Abu Bakar berkata: Para fuqaha di berbagai negeri telah sepakat tentang kebolehan membunuh tawanan, kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara mereka dalam hal ini. Sungguh telah mutawatir riwayat-riwayat dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengenai tindakan beliau membunuh tawanan, di antaranya tindakan beliau membunuh Uqbah bin Abi Mu'aith dan an-Nadhr bin al-Harits setelah ditawan pada hari Badar. Beliau juga membunuh Abu 'Azzah sang penyair pada hari Uhud setelah ia ditawan. Beliau juga membunuh Bani Quraizhah setelah mereka turun untuk tunduk pada hukum Sa'ad bin Mu'adz, lalu Sa'ad memutuskan hukuman bunuh bagi mereka dan menawan keturunan mereka. Beliau membebaskan az-Zubair bin Bata di antara mereka. Beliau juga menaklukkan sebagian Khaibar secara damai dan sebagiannya lagi secara paksa ('anwatan), dan beliau menetapkan syarat kepada Ibnu Abi al-Huqaiq agar tidak menyembunyikan sesuatu pun, namun tatkala terbukti pengkhianatan dan penyembunyiannya, beliau membunuhnya. Beliau juga menaklukkan kota Makkah dan memerintahkan untuk membunuh Hilal bin Khathal, Miqyas bin Hubabah, Abdullah bin Abi Sarh, dan yang lainnya, seraya bersabda:

"اقتلوهم وإن وجدتموهم متعلقين بأستار الكعبة"

"Bunuhlah mereka meskipun kalian menemukan mereka berpegangan pada tirai Kakbah."

Beliau membebaskan penduduk Makkah dan tidak mengambil harta rampasan perang dari mereka. Diriwayatkan dari Shalih bin Kaisan dari Muhammad bin Abdurrahman dari ayahnya, Abdurrahman bin Auf, bahwa ia mendengar Abu Bakar as-Siddiq berkata: "Aku sangat berharap pada hari ketika dihadapkan kepadaku al-Fuja'ah, aku tidak membakarnya, melainkan membunuhnya dengan cepat atau melepaskannya dengan selamat." Dan dari Abu Musa bahwa beliau membunuh Dehkan as-Sus setelah beliau memberinya jaminan keamanan atas kaum yang ia sebutkan namanya, namun ia melupakan dirinya sendiri sehingga ia tidak termasuk ke dalam jaminan keamanan tersebut, lalu Abu Musa membunuhnya. Ini adalah riwayat-riwayat yang mutawatir dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan dari para sahabat mengenai kebolehan membunuh tawanan dan membiarkannya hidup. Dan para fuqaha di berbagai negeri telah sepakat atas hal itu. (Dan kebolehan membunuh ini tidak diambil dari ayat Al-Qur'an, melainkan diambil dari tindakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan sebagian sahabat. Penelusuran terhadap kasus-kasus terjadinya pembunuhan tersebut memberikan kesimpulan bahwa itu adalah kasus-kasus khusus yang memiliki sebab-sebab tertentu di baliknya, bukan sekadar karena mereka terlibat pertempuran dan ditawan. An-Nadhr bin al-Harits dan Uqbah bin Abi Mu'aith, keduanya memiliki sikap khusus dalam menyakiti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan menyakiti dakwah beliau. Demikian pula Abu 'Azzah sang penyair, dan Bani Quraizhah juga memiliki sikap khusus dengan keridaan mereka terhadap hukum Sa'ad bin Mu'adz sebelumnya. Begitulah kita dapati pada seluruh kasus tersebut adanya sebab-sebab tertentu yang mengecualikan kasus-kasus ini dari hukum umum tawanan yang ditetapkan oleh ayat: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...”).

Akan tetapi, mereka berselisih pendapat mengenai penebusannya. Seluruh sahabat kami (yaitu mazhab Hanafi) berkata: "Tawanan perang tidak boleh ditebus dengan harta, dan tidak boleh pula menjual tawanan (sabyi) kepada musuh (ahlul harb) sehingga mereka kembali menjadi musuh yang memerangi." Abu Hanifah berkata: "Mereka juga tidak boleh ditebus dengan tawanan muslim, dan tidak boleh dikembalikan menjadi musuh yang memerangi selama-lamanya." Sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad berkata: "Tidak mengapa menebus tawanan muslim dengan tawanan musyrik." Ini juga merupakan pendapat ats-Tsauri dan al-Auza'i. Al-Auza'i berkata: "Tidak mengapa menjual tawanan kepada musuh, dan tidak boleh menjual tawanan laki-laki dewasa kecuali jika kaum muslimin ditebus dengan mereka." Al-Muzani meriwayatkan dari asy-Syafii: "Bagi imam [pemimpin] memiliki hak untuk membebaskan tanpa imbalan (al-mann) atas laki-laki dewasa yang telah dikalahkan, atau menebus mereka (al-fida')."

Adapun kelompok yang membolehkan penebusan dengan tawanan muslim dan dengan harta, mereka berhujah dengan firman-Nya:

"...Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan..." (QS. Muhammad: 4)

Lahiriah ayat ini menuntut kebolehan penebusan tersebut, baik dengan harta maupun dengan (pertukaran tawanan) muslim. Begitu pula dengan hujah bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menebus para tawanan Perang Badar dengan harta. Mereka juga berhujah untuk penebusan dengan tawanan muslim berdasarkan riwayat yang dibawakan oleh Ibnu al-Mubarak, dari Ma'mar, dari Ayyub, dari Abi Qilabah, dari Abi al-Muhallab, dari Imran bin Hushain. Ia berkata:

"Kabilah Tsaqif menawan dua orang laki-laki dari sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, lalu para sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menawan seorang laki-laki dari Bani Amir bin Sha'sha'ah. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melewatinya ketika ia sedang diikat, lalu ia memanggil beliau. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun menghampirinya, lalu tawanan itu bertanya: 'Atas dasar apa aku ditahan?' Beliau menjawab: 'Karena kesalahan sekutu-sekutumu.' Tawanan itu berkata: 'Sesungguhnya aku adalah seorang muslim.' Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

نَقَلَ الأثرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَوْ قُلْتَهَا وَأَنْتَ تَمْلِكُ أَمْرَكَ لَأَفْلَحْتَ كُلَّ الْفَلَاحِ"

'Seandainya kamu mengucapkannya (kalimat Islam) saat kamu masih menguasai urusanmu (sebelum ditawan), niscaya kamu akan beruntung dengan sebenar-benarnya keberuntungan.'

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pergi, lalu ia memanggil beliau lagi. Beliau pun menghampirinya, lalu ia berkata: 'Sesungguhnya aku lapar, maka berilah aku makan.' Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

نَقَلَ الأثرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَذِهِ حَاجَتُكَ"

'Ini adalah kebutuhanmu.'

Setelah itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menebusnya dengan dua orang laki-laki yang telah ditawan oleh kabilah Tsaqif." (HR. Muslim) [^1]

(Dan hujah golongan yang membolehkan penebusan ini lebih kuat menurut penilaian kami dibandingkan dengan hujah para sahabat Imam al-Jasshas mengenai perbedaan pendapat tentang penebusan dengan harta atau dengan tawanan muslim).

Imam al-Jasshas mengakhiri pembahasan dalam masalah ini dengan menguatkan (tarjih) pendapat sahabat-sahabatnya dari kalangan mazhab Hanafi. Beliau berkata: "Adapun apa yang ada di dalam ayat berupa penyebutan pembebasan tanpa imbalan (al-mann) dan penebusan (al-fida'), serta apa yang diriwayatkan mengenai para tawanan Perang Badar, sesungguhnya hal itu telah dinasakh [dihapus hukumnya] oleh firman-Nya:

"...Maka, bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka, tangkaplah mereka, kepunglah mereka, dan awasilah di setiap tempat pengintaian. Jika mereka bertobat, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, berilah kebebasan kepada mereka..." (QS. at-Tawbah: 5)

Dan kami telah meriwayatkan hal itu dari as-Suddi dan Ibnu Juraij. Begitu pula dengan firman Allah Ta'ala:

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir..." hingga firman-Nya "...sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka dalam keadaan tunduk." (QS. at-Tawbah: 29)

Kedua ayat tersebut mengandung kewajiban memerangi orang-orang kafir hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah. Sedangkan penebusan dengan harta atau selainnya bertentangan dengan hal tersebut. Para ahli tafsir dan pembawa riwayat (naqalatu al-atsar) tidak berbeda pendapat bahwa Surah "Bara'ah" (at-Tawbah) turun setelah Surah "Muhammad" Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, wajib menjadikan hukum yang disebutkan di dalamnya sebagai nasakh bagi hukum penebusan yang disebutkan di surah selainnya."

(Dan telah dikemukakan sebelumnya bahwa perintah membunuh kaum musyrik ini—atau masuk Islam—dimaksudkan untuk kaum musyrik di Jazirah Arab, sehingga ia merupakan hukum khusus bagi mereka. Adapun selain mereka di luar Jazirah Arab maka diterima jizyah dari mereka sebagaimana ia diterima dari Ahli Kitab. Penerimaan jizyah saat ketundukan tidak menafikan terjadinya penawanan di tangan kaum muslimin sebelum ketundukan tersebut. Maka, para tawanan ini, bagaimanakah hukum mengenai mereka? Kami katakan: Sesungguhnya boleh membebaskan mereka tanpa imbalan jika imam melihat adanya maslahat, atau menebus mereka dengan harta atau dengan tawanan muslim, apabila kaum mereka masih memiliki kekuatan yang belum tunduk dan belum menerima jizyah. Adapun ketika telah tunduk pada jizyah, maka perkara tersebut dengan sendirinya telah selesai dan ini adalah kondisi yang lain. Maka hukum tawanan tetap berlaku pada kondisi yang tidak berakhir dengan jizyah).

Kesimpulan yang kami peroleh adalah bahwa teks ini merupakan satu-satunya teks yang memuat hukum tentang tawanan. Sementara seluruh teks lainnya memuat kondisi-kondisi lain di luar kondisi penawanan. Dan sesungguhnya teks ini adalah asas yang permanen bagi masalah ini. Adapun apa yang terjadi secara nyata di luar teks tersebut adalah untuk menghadapi kondisi-kondisi khusus dan keadaan kontemporer pada masanya. Pembunuhan terhadap sebagian tawanan terjadi pada kasus-kasus individual yang selalu memiliki presedennya; mereka dijatuhi hukuman atas tindakan-tindakan yang mereka lakukan sebelum ditawan, bukan semata-mata karena mereka keluar untuk berperang. Contoh dari hal itu adalah apabila seorang mata-mata jatuh sebagai tawanan, maka ia diadili atas tindakan spionasenya, bukan atas statusnya sebagai tawanan perang. Penawanan tersebut hanyalah sarana untuk menangkapnya.

Tinggallah perkara perbudakan (al-istiqraq). Dan telah kami kemukakan sebelumnya di berbagai tempat dalam Zhilal ini bahwa perbudakan itu ada untuk menghadapi kondisi global yang berlaku saat itu, serta tradisi umum dalam peperangan. Tidaklah mungkin bagi Islam untuk menerapkan teks yang bersifat umum dalam seluruh kondisi:

"...Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan..." (QS. Muhammad: 4)

Di saat musuh-musuh Islam memperbudak siapa saja yang mereka tawan dari kalangan kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerapkannya dalam sebagian kondisi, beliau membebaskan sebagian tawanan dari kami (kaum muslimin). Beliau menebus sebagian mereka dengan tawanan muslim, dan menebus sebagian lainnya dengan harta. Pada kondisi-kondisi lainnya, terjadilah perbudakan guna menghadapi kondisi nyata yang tidak dapat diatasi kecuali dengan tindakan tersebut.

Maka, apabila terjadi kesepakatan di antara seluruh kubu pertahanan untuk tidak memperbudak tawanan perang, maka Islam pada saat itu akan kembali kepada satu-satunya kaidah positifnya, yaitu: “Setelah itu, kamu boleh membebaskan mereka (tanpa imbalan) atau meminta tebusan...” karena telah berakhirnya kondisi-kondisi yang menuntut adanya perbudakan. Maka perbudakan bukanlah suatu kemestian, dan bukan pula kaidah dari kaidah-kaidah memperlakukan tawanan di dalam Islam.

Inilah pendapat yang kami ambil dari teks Al-Qur'an yang tegas ini, serta dari studi terhadap berbagai keadaan, kondisi, dan peristiwa... Dan Allah-lah yang memberi taufik kepada kebenaran.

Dan sangat baik untuk dipahami bahwa saya cenderung kepada pendapat ini karena teks-teks Al-Qur'an serta penelusuran terhadap berbagai peristiwa dan kondisinya mendukung hal tersebut, bukan karena terlintas di dalam benak saya bahwa perbudakan tawanan adalah sebuah tuduhan yang saya coba bersihkan dari Islam! Pikiran semacam itu tidak pernah terlintas dalam jiwa saya sama sekali. Seandainya Islam memandang hal itu (sebagai aturan tetap), niscaya hal itulah yang terbaik, karena tidak ada seorang pun yang memiliki adab yang dapat mengatakan bahwa ia melihat sesuatu yang lebih baik daripada apa yang dipandang oleh Allah. Sesungguhnya saya hanyalah berjalan bersama teks Al-Qur'an dan ruhaninya, sehingga saya cenderung pada pendapat tersebut berdasarkan isyarat teks dan arah tujuannya.

Dan yang demikian itu...—yaitu: peperangan, memukul tengkuk, mengikat dengan kuat, dan mengikuti kaidah ini pada para tawanan—“sampai perang usai”... Yakni: sampai berakhirnya peperangan antara Islam dan musuh-musuh yang menentangnya. Maka itulah kaidah menyeluruh yang permanen. Hal itu karena "Jihad akan terus berjalan hingga hari Kiamat" sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, hingga kalimat Allah menjadi yang paling tinggi.

Dan Allah tidak membebani orang-orang yang beriman dengan perkara ini, dan tidak pula mewajibkan jihad ini kepada mereka, karena Dia meminta bantuan kepada mereka—Maha Suci Dia dari hal itu—untuk mengalahkan orang-orang kafir. Dia Subhanahu wa Ta'ala Mahakuasa untuk membinasakan mereka secara langsung; melainkan hal itu adalah ujian dari Allah bagi hamba-hamba-Nya antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain; ujian yang dengannya derajat-derajat mereka ditentukan:

فَاِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَضَرْبَ الرِّقَابِۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَثْخَنْتُمُوْهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَۖ فَاِمَّا مَنًّاۢ بَعْدُ وَاِمَّا فِدَاۤءً حَتّٰى تَضَعَ الْحَرْبُ اَوْزَارَهَا ەۛ ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ ٤ سَيَهْدِيْهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْۚ ٥ وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ ٦

 

"...Demikianlah (perintah Allah). Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka. Akan tetapi, Dia hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Orang-orang yang gugur di jalan Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka." (QS. Muhammad: 4-6)

Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang yang menghalang-halangi jalan Allah, serta yang serupa dengan mereka di seluruh penjuru bumi di setiap zaman dari kalangan para pembangkang, diktator, dan perusak, yang menampakkan diri dalam jubah kekerasan dan kesombongan, serta menganggap diri mereka dan para pengikut mereka yang sesat sebagai orang-orang yang berkuasa lagi kuat. Sesungguhnya mereka semua hanyalah segelintir makhluk. Mereka hidup di atas permukaan debu kecil yang bernama bumi ini, di antara planet-planet, bintang-bintang, gugusan bintang, galaksi, dan alam semesta yang tidak diketahui jumlahnya dan batasnya kecuali oleh Allah di angkasa ini, di mana galaksi dan alam semesta ini tampak bagaikan titik-titik yang tersebar, hampir-hampir lenyap, tidak ada yang menahan, mengumpulkan, dan menyelaraskannya kecuali Allah.

Maka, tidaklah sampai mereka dan para pengikut di belakang mereka, bahkan tidak pula sampai seluruh penduduk bumi ini, untuk sekadar menjadi semut-semut kecil. Bahkan, mereka tidak sampai untuk menjadi debu yang ditiup oleh embusan angin. Bahkan, mereka tidak sampai menjadi sesuatu apa pun sama sekali ketika mereka berdiri di hadapan kekuatan Allah.

Sesungguhnya Allah hanyalah menjadikan orang-orang mukmin—ketika memerintahkan mereka untuk memukul tengkuk orang-orang kafir dan mengikat mereka dengan kuat setelah melumpuhkan mereka—menjadikan mereka Subhanahu wa Ta'ala sebagai tabir bagi kekuasaan-Nya. Seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan membinasakan orang-orang kafir secara nyata. Sebagaimana Dia membinasakan sebagian mereka dengan banjir bandang, suara yang menggelegar, dan angin topan yang mandul. Bahkan, Dia dapat membinasakan mereka tanpa sebab-sebab ini semua, akan tetapi Dia menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia menguji mereka, mendidik mereka, memperbaiki mereka, dan memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk meraih kebaikan-kebaikan yang besar.

Dia menghendaki untuk menguji mereka. Di dalam ujian ini, Dia membangkitkan di dalam jiwa orang-orang mukmin potensi dan kecenderungan yang paling mulia dalam jiwa manusia. Maka tidak ada yang lebih mulia di dalam jiwa selain kebenaran yang diimaninya terasa sangat berharga baginya, hingga ia berjihad di jalannya, lalu ia membunuh dan terbunuh, dan ia tidak menyerahkan kebenaran yang ia hidup untuknya dan dengannya, serta ia tidak mampu menjalani kehidupan tanpanya, dan ia tidak menyukai kehidupan ini di luar naungannya.

Dan Dia menghendaki untuk mendidik mereka. Maka Dia terus mengeluarkan dari dalam jiwa mereka setiap hawa nafsu dan setiap keinginan terhadap perhiasan bumi yang fana ini, yang terasa berat bagi mereka untuk meninggalkannya. Dia terus menguatkan setiap kelemahan di dalam jiwa mereka, menyempurnakan setiap kekurangan, dan membersihkan setiap kekeruhan serta noda, hingga seluruh keinginan mereka berada di satu timbangan dan di timbangan lainnya adalah pemenuhan seruan Allah untuk berjihad, serta mengharap wajah Allah dan keridaan-Nya. Maka timbangan ini pun menjadi berat dan mengesampingkan yang itu. Dan Allah mengetahui dari jiwa-jiwa ini bahwa mereka telah diberi pilihan lalu mereka memilih, dan bahwa mereka telah dididik lalu mereka mengetahui, dan bahwa mereka tidak bergerak tanpa kesadaran, melainkan mereka menimbang dan memilih.

Dan Dia menghendaki untuk memperbaiki mereka. Sebab, di dalam penderitaan jihad di jalan Allah, dan kerelaan menghadapi kematian di setiap putaran, terdapat hal yang membiasakan jiwa untuk meremehkan bahaya yang menakutkan ini, yang dengannya manusia mengorbankan banyak hal dari jiwa, akhlak, timbangan, dan nilai-nilai mereka untuk menghindarinya. Padahal, kematian itu sangatlah ringan bagi orang yang terbiasa menghadapinya, baik ia selamat darinya maupun ia menjumpainya. Penyerahan diri kepada Allah dalam hal ini di setiap waktu akan melakukan sesuatu pada jiwa di saat-saat bahaya, yang mendekatkan visualisasinya seperti pengaruh aliran listrik pada tubuh! Seolah-olah itu adalah pembentukan kembali bagi hati dan ruh di atas kejernihan, kesucian, dan kesalehan.

Kemudian, ia adalah sebab-sebab lahiriah bagi perbaikan seluruh komunitas manusia, melalui jalan kepemimpinan di tangan para mujahid yang jiwanya telah kosong dari segala perhiasan dunia dan segala kemegahannya; dan kehidupan terasa remeh bagi mereka saat mereka mengarungi samudera kematian di jalan Allah. Tidak ada lagi di dalam hati mereka hal yang menyibukkan mereka dari Allah dan mengharap keridaan-Nya... Dan manakala kepemimpinan berada di tangan-tangan seperti ini, maka baiklah seluruh bumi dan baik pula para hamba. Dan menjadi hal yang sangat berat bagi tangan-tangan ini untuk menyerahkan panji kepemimpinan kepada kekafiran, kesesatan, dan kerusakan; padahal mereka telah membelinya dengan darah dan jiwa, dan setiap hal yang berharga serta mahal telah mereka korbankan untuk menerima panji ini, bukan untuk diri mereka sendiri melainkan untuk Allah!

Kemudian, di samping itu semua, ia adalah kemudahan sarana bagi siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan bagi mereka untuk meraih keridaan-Nya dan balasan-Nya tanpa perhitungan. Dan kemudahan sarana bagi siapa saja yang Allah kehendaki keburukan bagi mereka untuk melakukan apa yang membuat mereka layak menerima kemurkaan-Nya dan azab-Nya. Dan setiap orang dimudahkan untuk apa ia diciptakan, sesuai dengan apa yang diketahui oleh Allah dari rahasia dan batinnya.

Oleh karena itu, Dia menyingkap tempat kembali bagi orang-orang yang gugur di jalan Allah:

"Orang-orang yang gugur di jalan Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka." (QS. Muhammad: 4-6)

Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka... Sebagai lawan dari apa yang datang mengenai orang-orang kafir bahwa Dia menyia-nyiakan amal mereka. Maka amal-amal mereka adalah amal yang mendapat petunjuk, sampai, dan terikat pada kebenaran kokoh yang melahirkannya, dan dibangkitkan untuk melindunginya serta berorientasi kepadanya. Dan oleh karena itu ia kekal karena kebenaran itu kekal, tidak akan sia-sia dan tidak akan lenyap.

Kemudian kita berdiri di hadapan hakikat yang agung ini... hakikat kehidupan para syuhada di jalan Allah... Ia adalah hakikat yang telah ditetapkan sebelumnya dalam firman-Nya Ta'ala:

"Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu telah mati. Sebenarnya, mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. al-Baqarah: 154)

Akan tetapi, ia disajikan di sini dengan penyajian yang baru. Disajikan dalam kondisi kelangsungan dan perkembangan di jalannya yang ia tinggalkan di kehidupan dunia saat ia meniti dan menujunya. Jalan ketaatan, hidayah, ketulusan, dan kesucian:

"...Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka..." (QS. Muhammad: 5)

Maka Allah adalah Tuhan mereka yang mereka gugur di jalan-Nya, Dia terus mengasuh mereka dengan petunjuk—setelah kesyahidan—dan mengasuh mereka dengan memperbaiki keadaan pikiran dan hati (ishlah al-bal), serta membersihkan ruh dari sisa-sisa kotoran bumi; atau menambah kesuciannya agar selaras dengan kesucian alam malakut tertinggi yang mereka naiki ke sana, beserta cahayanya dan kemegahannya. Maka ia adalah kehidupan yang terus berlangsung di jalannya, tidak terputus kecuali dalam pandangan penduduk bumi yang terhijab. Dan ia adalah kehidupan yang diasuh oleh Allah Tuhan-nya di alam malakut tertinggi. Dia menambah petunjuk baginya. Dia menambah kesucian baginya, dan Dia menambah cahaya baginya. Dan ia adalah kehidupan yang berkembang di bawah naungan Allah. Dan akhirnya Dia mewujudkan bagi mereka apa yang dijanjikan-Nya:

"...dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka." (QS. Muhammad: 6)

Sungguh telah ada hadis mengenai pengenalan Allah akan surga bagi para syuhada yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, ia berkata: Yazid bin Numair ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, Ibnu Tsauban menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Makhul, dari Katsir bin Murrah, dari Qais al-Judzami—seorang laki-laki yang memiliki hubungan persahabatan dengan Nabi (sahabat)—ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

نَقَلَ الأثرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يُعْطَى الشَّهِيدُ سِتَّ خِصَالٍ: عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهِ، تُكَفَّرُ عَنْهُ كُلُّ خَطِيئَةٍ؛ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ"

"Seorang syahid diberikan enam perkara: pada tetesan darahnya yang pertama, dihapuskan darinya setiap dosa; ia diperlihatkan tempat duduknya di surga; dinikahkan dengan bidadari; diamankan dari ketakutan yang besar dan dari azab kubur; serta dihiasi dengan hiasan keimanan." (HR. Ahmad, hadis ini diriwayatkan secara bersendiri oleh Ahmad). Beliau juga meriwayatkan hadis lain yang mendekati makna ini. Di dalamnya terdapat teks mengenai penglihatan seorang syahid akan tempat duduknya di surga. Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Majah. [^2]

Maka inilah pengenalan Allah akan surga bagi para syuhada di jalan-Nya. Dan inilah akhir dari hidayah yang membentang, dan perbaikan keadaan yang baru setelah mereka meninggalkan bumi ini. Serta perkembangan kehidupan mereka, petunjuk mereka, dan kesalehan mereka di sana di sisi Allah.

Kaum Mukminin Pasti Menang

Di bawah naungan kemuliaan ini bagi orang-orang yang gugur di jalan Allah, di bawah naungan keridaan tersebut, pemeliharaan itu, dan pencapaian kedudukan tersebut, Allah memotivasi orang-orang yang beriman untuk memurnikan diri bagi Allah, dan berorientasi untuk menolong manhaj-Nya dalam kehidupan; serta menjanjikan kepada mereka atas kemenangan dan keteguhan ini di dalam pertempuran; serta kecelakaan dan kesesatan bagi musuh-musuh mereka dan musuh-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ ٧ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَاَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ ٨ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَرِهُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ٩

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Orang-orang yang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Dia menghapus amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 7-9)

Dan bagaimanakah orang-orang yang beriman menolong Allah, sehingga mereka memenuhi syarat tersebut dan meraih apa yang disyaratkan bagi mereka berupa pertolongan dan keteguhan?

Sesungguhnya hak Allah di dalam jiwa mereka adalah agar jiwa mereka memurnikan diri untuk-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, baik syirik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan tidak menyisakan di dalamnya bersama-Nya seorang pun dan sesuatu pun, dan agar Allah lebih dicintainya daripada dirinya sendiri dan dari setiap apa yang dicintai dan diinginkannya, dan agar ia menjadikan-Nya sebagai hakim dalam keinginan-keinginan, gejolak-gejolak, gerakan-gerakan, diamnya, rahasianya, terangnya, seluruh aktivitasnya, dan bisikan-bisikannya... Maka inilah pertolongan kepada Allah di dalam diri jiwa-jiwa.

Dan sesungguhnya bagi Allah ada syariat dan manhaj bagi kehidupan, yang tegak di atas kaidah-kaidah, timbangan-timbangan, nilai-nilai, dan konsepsi khusus bagi eksistensi secara keseluruhan dan bagi kehidupan. Dan pertolongan kepada Allah terwujud dengan menolong syariat-Nya dan manhaj-Nya, serta upaya untuk menjadikannya sebagai hakim dalam kehidupan seluruhnya tanpa pengecualian, maka inilah pertolongan kepada Allah di dalam realitas kehidupan.

Dan kita berdiri sejenak di hadapan firman-Nya Ta'ala: "Orang-orang yang gugur di jalan Allah..." dan firman-Nya: "Jika kamu menolong (agama) Allah..."

Dan dalam kedua kondisi tersebut. Kondisi gugur. Dan kondisi pertolongan. Disyaratkan agar hal ini murni karena Allah dan di jalan Allah. Dan ia adalah isyarat yang aksiomatis, akan tetapi banyak kekaburan yang menutupinya ketika akidah mengalami penyimpangan pada sebagian generasi. Dan ketika kata-kata syahid, para syuhada, dan jihad disalahgunakan serta diremehkan, lalu menyimpang dari maknanya yang satu lagi lurus.

Sesungguhnya tidak ada jihad, tidak ada kesyahidan, dan tidak ada surga, kecuali ketika jihad itu berada di jalan Allah semata, dan kematian berada di jalan-Nya semata, dan pertolongan itu murni untuk-Nya semata, di dalam diri jiwa dan di dalam manhaj kehidupan.

Tidak ada jihad, tidak ada kesyahidan, dan tidak ada surga kecuali ketika tujuannya adalah agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi. Dan agar syariat-Nya serta manhaj-Nya mengendalikan hati manusia, akhlak mereka, perilaku mereka, serta dalam kondisi mereka, legislasi mereka, dan sistem mereka secara bersamaan.

Dari Abu Musa Radhiallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberanian, berperang karena fanatisme (hamiyyah), dan berperang karena riya. Manakah dari hal itu yang berada di jalan Allah? Maka beliau bersabda:

نَقَلَ الأثرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ"

"Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim) [^3]

Dan tidak ada panji lainnya, atau tujuan lainnya, yang dengannya seorang mujahid berjihad, dan seorang syahid gugur di bawahnya, sehingga ia berhak menerima janji Allah berupa surga, kecuali panji tersebut dan kecuali tujuan ini. Dari setiap apa yang marak pada generasi-generasi yang menyimpang konsepsinya berupa panji-panji, nama-nama, dan tujuan-tujuan!

Dan sangat baik bagi para pengemban dakwah untuk menyadari isyarat yang aksiomatis ini, dan agar mereka memurnikannya di dalam jiwa mereka dari noda-noda yang menempel padanya dari logika lingkungan dan konsepsi generasi-generasi yang menyimpang, dan agar mereka tidak mencampuradukkan panji mereka dengan panji lainnya, dan tidak mencampuradukkan konsepsi mereka dengan konsepsi asing yang merusak akidah.

Tidak ada jihad kecuali agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi. Tinggi di dalam jiwa dan hati. Dan tinggi di dalam akhlak dan perilaku. Dan tinggi di dalam kondisi dan sistem. Dan tinggi di dalam hubungan dan ikatan di seluruh penjuru kehidupan. Dan apa yang selain ini maka bukanlah karena Allah, melainkan karena setan. Dan selain dari ini tidak ada kesyahidan dan tidak pula gugur sebagai syahid. Dan selain dari ini tidak ada surga dan tidak pula pertolongan dari sisi Allah, serta tidak ada keteguhan bagi kaki-kaki. Melainkan ia hanyalah kekaburan, keburukan konsepsi, dan penyimpangan.

Dan jika terasa berat bagi selain para pengemban dakwah kepada Allah untuk membebaskan diri dari kekaburan ini, keburukan konsepsi, dan penyimpangan, maka tidak kurang bagi para dai kepada Allah untuk memurnikan diri mereka sendiri, perasaan mereka, dan konsepsi mereka dari logika lingkungan yang tidak sejalan dengan aksioma pertama dalam syarat Allah...

Dan selanjutnya, inilah syarat Allah atas orang-orang yang beriman. Adapun syarat-Nya bagi mereka adalah pertolongan dan keteguhan kaki-kaki. Janji Allah tidak akan diingkari-Nya. Maka apabila ia tertunda beberapa saat, maka itu adalah batas waktu yang ditakdirkan karena hikmah lainnya yang terwujud bersamaan dengan terwujudnya pertolongan dan keteguhan tersebut. Hal itu terjadi ketika dipastikan bahwa orang-orang yang beriman telah memenuhi syarat tersebut, namun tertunda dari mereka—beberapa saat—pertolongan Allah.

Kemudian kita berdiri sejenak di hadapan isyarat khusus dalam redaksi: "niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (kaki-kakimu)..."

Sesungguhnya persangkaan akan pergi pada pandangan pertama bahwa keteguhan kaki mendahului pertolongan, dan ia menjadi sebab padanya. Dan ini adalah hal yang benar. Akan tetapi, penundaan penyebutannya di dalam kalimat mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah makna lain dari makna-makna keteguhan. Yaitu makna keteguhan atas pertolongan dan konsekuensi-konsekuensinya. Sebab pertolongan bukanlah akhir dari pertempuran antara kekafiran dan keimanan, serta antara kebenaran dan kesesatan. Maka bagi pertolongan ada konsekuensi-konsekuensinya di dalam diri jiwa dan di dalam realitas kehidupan. Bagi pertolongan ada konsekuensi-konsekuensinya dalam hal tidak merasa jumawa dengannya dan sombong. Dan dalam hal tidak bermalas-malasan setelahnya dan meremehkan. Dan banyak dari jiwa yang teguh atas ujian dan cobaan, akan tetapi sedikit sekali yang teguh atas pertolongan dan kenikmatan. Dan kesalehan hati serta keteguhannya di atas kebenaran setelah pertolongan merupakan kedudukan lain di balik pertolongan. Dan barangkali inilah apa yang diisyaratkan oleh redaksi Al-Qur'an. Dan ilmu adalah milik Allah.

"Orang-orang yang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan Dia (Allah) menyia-nyiakan amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 8)

Dan yang demikian itu adalah kebalikan dari pertolongan dan keteguhan kaki-kaki. Maka doa dengan kecelakaan (ta'san) merupakan keputusan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala berupa kecelakaan, kerugian, dan kehinaan. Dan penyia-nyiaan amal merupakan kesia-siaan setelah itu dan kebinasaan...

"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Dia menghapus amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 9)

Dan ia adalah visualisasi dari apa yang bergejolak di dalam hati mereka dan bergetar di dalam jiwa mereka berupa kebencian terhadap apa yang diturunkan oleh Allah berupa Al-Qur'an, syariat, manhaj, dan orientasi. Dan inilah yang mendorong mereka kepada kekafiran, penentangan, permusuhan, dan perdebatan. Dan ia adalah kondisi dari banyak jiwa yang rusak yang membenci dengan tabiatnya akan manhaj yang selamat lagi lurus tersebut, dan membenturkannya dari dalam dirinya, dikarenakan perbedaan tabiatnya dengan tabiat manhaj tersebut. Dan mereka adalah jiwa-jiwa yang sering dijumpai oleh manusia di setiap zaman dan di setiap tempat, dan ia merasakan darinya adanya kejauhan dan kebencian terhadap agama ini dan apa yang berhubungan dengannya; hingga sesungguhnya ia merasa ketakutan dari sekadar penyebutannya seolah-olah ia telah disengat oleh kalajengking! Dan ia menghindari agar penyebutannya atau isyarat kepadanya tidak datang di dalam apa yang didengarnya di sekitarnya berupa pembicaraan! Dan barangkali kita menyaksikan pada hari-hari ini adanya kondisi dari model ini yang tidak tersembunyi dari pengamatan!

Dan adalah balasan dari kebencian terhadap apa yang diturunkan oleh Allah ini, bahwa Allah menghapus (ahbatha) amal-amal mereka. Dan penghapusan amal (ihbath al-a'mal) merupakan ungkapan visualisasi di atas metode Al-Qur'anul Karim dalam berekspresi dengan visualisasi. Maka al-habth adalah menggelembungnya perut hewan ternak ketika memakan jenis rumput liar yang beracun, yang berakhir padanya kematian dan kebinasaan. Dan demikian pula menggelembungnya amal-amal mereka, membengkak, dan membesar... kemudian berakhir pada kebinasaan dan kesia-siaan! Sesungguhnya ia adalah gambar dan gerakan, serta akhir yang sesuai bagi kondisi orang-orang yang membenci apa yang diturunkan oleh Allah kemudian mereka menyombongkan diri dengan amal-amal yang besar, yang menggelembung bagaikan perut hewan ternak, ketika ia merumput dari tanaman yang beracun tersebut!

Kemudian Dia memalingkan leher-leher mereka kepada tempat-tempat kebinasaan orang-orang terdahulu sebelum mereka dengan keras dan sengit:

۞ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ دَمَّرَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۖوَلِلْكٰفِرِيْنَ اَمْثَالُهَا ١٠

"Apakah mereka tidak pernah bepergian di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Allah telah membinasakan mereka. Bagi orang-orang kafir (akan menerima) nasib yang serupa itu." (QS. Muhammad: 10)

Dan ia adalah isyarat yang sengit lagi mengerikan, di dalamnya terdapat kegaduhan dan kehancuran. Dan di dalamnya terdapat pemandangan bagi orang-orang sebelum mereka yang dihancurkan atas mereka segala apa yang ada di sekitar mereka, dan seluruh harta mereka, maka tiba-tiba saja ia menjadi puing-puing yang bertumpuk, dan tiba-tiba saja mereka berada di bawah puing-puing yang bertumpuk tersebut. Dan pemandangan yang dilukiskan oleh ungkapan tersebut dimaksudkan dengan gambaran ini dan gerakannya, dan ungkapan tersebut membawa di dalam irama dan bunyinya akan gambaran pemandangan ini dan kehancurannya dalam keruntuhan dan kerusakannya!

Dan di atas pemandangan penghancuran, kerusakan, dan puing-puing tersebut, tampak bagi orang-orang yang hadir dari kalangan orang-orang kafir, dan bagi setiap orang yang bersifat dengan sifat ini setelahnya, bahwa ia sedang menunggu mereka. Kejadian yang menghancurkan ini yang menghancurkan atas mereka segala sesuatu dan mengubur mereka di antara puing-puing: “Bagi orang-orang kafir (akan menerima) nasib yang serupa itu”!

Dan penjelasan bagi perkara yang agung lagi mengerikan ini yang menghancurkan atas orang-orang kafir dan menolong orang-orang yang beriman adalah kaidah yang asli lagi permanen:

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ مَوْلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاَنَّ الْكٰفِرِيْنَ لَا مَوْلٰى لَهُمْ ࣖ ١١

"Yang demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung." (QS. Muhammad: 11)

Dan barang siapa yang Allah adalah Pelindungnya dan Penolongnya maka cukuplah baginya, dan di dalamnya terdapat kecukupan dan kekayaan; dan setiap apa yang menimpanya hanyalah ujian yang di baliknya terdapat kebaikan. Bukan pengabaian dari Allah atas perlindungan-Nya baginya, dan bukan pula pengingkaran bagi janji Allah dengan pertolongan bagi siapa saja yang Dia lindungi dari hamba-hamba-Nya. Dan barang siapa yang Allah bukan Pelindungnya maka tidak ada pelindung baginya, walaupun ia menjadikan manusia dan jin seluruhnya sebagai pelindung-pelindung. Maka ia pada akhirnya adalah orang yang tersia-sia lagi lemah; walaupun terkumpul baginya seluruh sebab perlindungan dan seluruh sebab kekuatan yang dikenal oleh manusia!

Kemudian Dia menimbang antara bagian orang-orang yang beriman dan bagian orang-orang yang kafir dari kesenangan setelah apa yang dijelaskan berupa bagian mereka ini dan mereka itu di dalam apa yang terjadi di antara mereka berupa peperangan dan pertempuran. Bersamaan dengan penjelasan perbedaan yang asli antara kesenangan dan kesenangan:

اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗوَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ ١٢

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia) dan makan seperti makannya hewan-hewan ternak, dan neraka adalah tempat tinggal bagi mereka." (QS. Muhammad: 12)

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan menikmati kesenangan di bumi terkadang dari sebaik-baik kesenangan; akan tetapi penimbangan di sini hanyalah tegak di antara bagian yang hakiki lagi besar bagi orang-orang yang beriman—dan ia adalah bagian mereka di dalam surga—dan bagian yang menyeluruh bagi orang-orang kafir yang tidak ada bagian bagi mereka selainnya.

Dan bagian orang-orang yang beriman mereka menerimanya dari tangan Allah di dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Maka Allah-lah yang memasukkan mereka. Dan ia oleh karena itu adalah bagian yang mulia, tinggi, lagi luhur. Dan mereka menerimanya dari hadapan Allah di kedudukan-Nya yang tinggi sebagai balasan atas keimanan dan kesalehan, selaras dalam ketinggiannya dan kemuliaannya dengan ketinggian yang bersumber dari keimanan dan kesalehan.

Dan bagian orang-orang yang kafir adalah kesenangan dan makan sebagaimana makannya hewan-hewan ternak... Dan ia adalah visualisasi yang hina, yang menghilangkan seluruh sifat manusia dan tanda-tandanya; dan melemparkan bayang-bayang makan hewani yang rakus, dan kesenangan hewani yang kasar. Tanpa adanya cita rasa, dan tanpa adanya penjagaan diri dari yang indah atau yang buruk... Sesungguhnya ia adalah kesenangan yang tidak ada kendali baginya dari kehendak, tidak pula dari pilihan, dan tidak ada penjaga atasnya dari ketakwaan, serta tidak ada penghalang darinya dari hati nurani.

Dan kehewanan itu terwujud di dalam kesenangan dan makan, walaupun di sana terdapat cita rasa yang halus bagi makanan, dan perasaan yang terlatih dalam memilih aneka kesenangan, sebagaimana hal ini terjadi bagi banyak orang yang tumbuh di dalam rumah kemewahan dan kekayaan. Dan bukanlah ini yang dimaksud. Melainkan yang dimaksud adalah sensitivitas manusia yang menguasai dirinya dan kehendaknya, dan yang baginya ada nilai-nilai khusus bagi kehidupan; maka ia memilih yang baik di sisi Allah. Atas kehendak yang tidak ditundukkan oleh tekanan syahwat, dan tidak dilemahkan oleh panggilan kelezatan. Dan tidak menganggap kehidupan seluruhnya sebagai meja makan, dan kesempatan kesenangan; tanpa adanya tujuan setelah itu dan ketakwaan di dalam apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan!

Sesungguhnya perbedaan yang utama antara manusia dan hewan: adalah bahwa bagi manusia ada kehendak, tujuan, dan konsepsi khusus bagi kehidupan yang tegak di atas asas-asasnya yang benar, yang diterima dari Allah Pencipta kehidupan. Maka apabila ia kehilangan ini seluruhnya, maka ia telah kehilangan karakteristik manusia yang paling penting yang membedakan jenisnya, dan keistimewaan paling penting yang karena hal itu Allah memuliakannya.

Catatan Kaki (Footnote)

[^1]: Hadis ini diriwayatkan secara lengkap oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, Bab Jawaz al-Fida' bi al-Musyrikin (Hadis No. 1641).

[^2]: Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (No. 17304), at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (No. 1663) dan ia menyatakan hadis hasan shahih gharib, serta diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (No. 2799).

[^3]: Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Ilm, Bab Man Sa'ala wa Huwa Qa'imun al-Alim (Hadis No. 123) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Imarah, Bab Man Qatala li Takuna Kalimatullahi Hiya al-Ulya Fahuwa fi Sabilillah (Hadis No. 1904).

Dan memotong rangkaian penimbangan antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir sebuah isyarat kepada negeri yang mengusir Rasul—Shallallahu 'Alaihi wa Sallam—dan penimbangan antara ia dan negeri-negeri yang binasa padahal mereka lebih kuat darinya:

وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ هِيَ اَشَدُّ قُوَّةً مِّنْ قَرْيَتِكَ الَّتِيْٓ اَخْرَجَتْكَۚ اَهْلَكْنٰهُمْ فَلَا نَاصِرَ لَهُمْ ١٣

"Betapa banyak negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu (Makkah) yang telah mengusirmu ini yang telah Kami binasakan. Maka, tidak ada seorang penolong pun bagi mereka." (QS. Muhammad: 13)

Ini adalah ayat yang diriwayatkan turun di tengah jalan antara Makkah dan Madinah saat perjalanan keluar dan hijrah, sebagai penyejuk hati bagi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan penghibur baginya; serta untuk meremehkan urusan orang-orang musyrik yang sombong lagi sewenang-wenang yang telah menghalangi dakwah dan menyakiti para pengikutnya, hingga mereka berhijrah dari tanah air, keluarga, dan harta benda mereka demi menyelamatkan akidah mereka.

Kemudian penulis melanjutkan dalam menimbang perbandingan antara kondisi kedua golongan; dan menjelaskan alasan mengapa Allah menjadi Pelindung bagi orang-orang yang beriman dengan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai di akhirat, setelah adanya pertolongan dan kemuliaan di dunia? Dan mengapa orang-orang kafir tidak memiliki pelindung sehingga mereka terancam kebinasaan di dunia—setelah menjalani kehidupan hewani yang rendah—serta azab di akhirat dan tempat tinggal di dalam neraka yang abadi:

اَفَمَنْ كَانَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ كَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ ١٤

"Apakah orang yang memiliki penjelasan yang nyata dari Tuhannya sama dengan orang yang dijadikan terasa indah baginya keburukan amalnya dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka?" (QS. Muhammad: 14)

Maka ia adalah perbedaan yang mendasar pada kondisi yang dialami oleh kedua golongan tersebut, baik dalam manhaj maupun perilaku secara bersamaan. Orang-orang yang beriman berada di atas penjelasan yang nyata dari Tuhan mereka... mereka melihat kebenaran dan mengetahuinya, serta meyakini sumbernya dan tersambung dengan Tuhan mereka, lalu mereka menerima dari-Nya dalam keadaan yakin terhadap apa yang mereka terima. Mereka tidak tertipu dan tidak pula disesatkan. Sedangkan orang-orang kafir dijadikan terasa indah bagi mereka keburukan amal mereka, sehingga mereka melihatnya sebagai kebaikan padahal ia adalah keburukan; mereka tidak melihat dan tidak pula meyakini, serta mereka mengikuti hawa nafsu mereka. Tanpa adanya kendali yang mereka jadikan rujukan, tidak ada asas yang mereka jadikan ukuran, dan tidak ada cahaya yang menyingkap bagi mereka antara kebenaran dan kebatilan.

Apakah mereka ini sama dengan mereka itu? Sesungguhnya mereka berbeda secara kondisi, manhaj, dan orientasi. Maka tidaklah mungkin mereka sama dalam timbangan, balasan, maupun tempat kembali!

Dan ini adalah salah satu bentuk visualisasi perbedaan antara mereka ini dan mereka itu pada tempat kembali:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗفِيْهَآ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّاۤءٍ غَيْرِ اٰسِنٍۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚوَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ەۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۗوَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَاۤءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَاۤءَهُمْ ١٥

"(Gambaran) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah bahwa di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah (rasa dan baunya), sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat bagi para peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah dan ampunan dari Tuhan mereka. (Apakah orang yang dimanjakan dengan berbagai kenikmatan ini) sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minum air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?" (QS. Muhammad: 15)

Sesungguhnya visualisasi inderawi tentang kenikmatan dan azab ini disebutkan di berbagai tempat dalam Al-Qur'an. Terkadang ia datang bersama dengan visualisasi maknawi atau datang secara murni (inderawi saja). Sebagaimana visualisasi kenikmatan dan azab yang bersih dari unsur inderawi juga disebutkan di tempat-tempat yang lain.

Dan Allah yang telah menciptakan manusia, Maha Mengetahui siapa yang Dia ciptakan, dan Maha Mengetahui apa yang memengaruhi hati mereka, serta apa yang layak untuk mendidik mereka. Kemudian apa yang layak bagi kenikmatan mereka dan azab mereka. Manusia itu beraneka ragam, jiwa itu bermacam-macam warna, dan tabiat itu berbeda-beda. Semuanya bertemu dalam fitrah manusia, kemudian berbeda dan bervariasi sesuai dengan masing-masing manusia. Oleh karena itu, Allah memerinci aneka warna kenikmatan dan azab, serta macam-macam kesenangan dan kepedihan, sesuai dengan ilmu-Nya yang mutlak tentang para hamba-Nya...

Di sana ada manusia yang layak untuk pendidikan mereka, dan untuk membangkitkan tekad mereka dalam beramal—sebagaimana ia layak sebagai balasan bagi mereka dan memuaskan jiwa mereka—bahwa bagi mereka ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, atau sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, atau sungai-sungai dari madu yang disaring, atau sungai-sungai dari khamar yang lezat bagi para peminumnya. Atau aneka jenis dari segala macam buah-buahan. Bersamaan dengan ampunan dari Tuhan mereka yang menjamin bagi mereka keselamatan dari neraka dan kesenangan di dalam surga... Maka bagi mereka ini ada apa yang layak untuk mendidik mereka, dan apa yang pantas untuk balasan bagi mereka.

Dan di sana ada manusia yang beribadah kepada Allah karena mereka bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang tidak dapat mereka hitung. Atau karena mereka mencintai-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ketaatan seperti mendekatnya seorang kekasih kepada kekasihnya. Atau karena mereka merasa malu jika Allah melihat mereka dalam kondisi yang tidak disukai-Nya. Dan mereka tidak melihat di balik itu semua kepada surga atau kepada neraka, dan tidak pula kepada kenikmatan atau azab secara mutlak. Dan mereka ini layak bagi mereka pendidikan dan layak bagi mereka balasan bahwa Allah berfirman kepada mereka:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka)." (QS. Maryam: 96)

Atau agar mereka mengetahui bahwa mereka kelak akan berada:

"Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa." (QS. al-Qamar: 55)

Dan sungguh telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa beliau pernah mengerjakan salat hingga kedua kaki beliau bengkak. Maka Aisyah Radhiallahu 'Anha berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" Maka beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

نَقَلَ الأثرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا عَائِشَةُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟"

"Wahai Aisyah, tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?" (HR. Bukhari dan Muslim) [^1]

Dan Rabiah al-Adawiyyah berkata: "Seandainya tidak ada surga dan tidak ada neraka, apakah tidak ada seorang pun yang akan menyembah Allah, dan tidak ada seorang pun yang takut kepada-Nya?"

Dan ia menjawab Sufyan ats-Tsauri ketika ia bertanya kepadanya: "Apakah hakikat imanmu?" Ia berkata: "Aku tidak menyembah-Nya karena takut akan neraka-Nya, dan tidak pula karena cinta kepada surga-Nya, sehingga aku menjadi seperti buruh yang buruk. Aku menyembah-Nya karena rindu kepada-Nya..."

Dan di antara model ini dan itu terdapat aneka warna jiwa, perasaan, dan tabiat... Dan semuanya menemukan—pada apa yang telah Allah jadikan berupa kenikmatan dan azab, serta aneka warna balasan—apa yang layak untuk mendidik di bumi; dan apa yang sesuai untuk balasan di sisi Allah.

Dan hal yang patut diperhatikan secara umum adalah bahwa visualisasi kenikmatan dan azab itu menjadi lebih halus dan transparan setiap kali para pendengar naik pada tingkatan pendidikan dan pembinaan seiring dengan turunnya Al-Qur'an. Dan sesuai dengan jenis orang-orang yang diajak bicara, serta aneka kondisi yang diajak bicara dengan ayat-ayat tersebut. Dan ia adalah kondisi dan model yang terus berulang pada diri manusia di setiap masa.

Dan di sini ada dua jenis balasan: sungai-sungai ini bersama seluruh buah-buahan disertai ampunan dari Allah. Dan jenis yang lainnya:

"...sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minum air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?" (QS. Muhammad: 15)

Dan ia adalah visualisasi inderawi yang sengit dari azab, yang sesuai dengan atmosfer surah peperangan (Surah Qital/Muhammad), dan selaras dengan kasarnya tabiat kaum tersebut. Dan mereka menikmati kesenangan dan makan sebagaimana makannya hewan-hewan ternak. Maka suasananya adalah suasana kesenangan yang kasar dan makan yang kasar. Dan balasannya adalah air mendidih yang panas dan pemotongan usus-usus, yang tadinya dijejali dan melahap makanan bagaikan hewan ternak!

Dan tidaklah mereka ini sama dengan mereka itu dalam hal balasan, sebagaimana mereka di dalam kondisi dan manhaj juga tidaklah sama...

Dengan ini berakhir putaran pertama yang dimulai dengan serangan saat pembukaan surah, dan terus berlanjut dalam pertempuran yang bersambung, sengit, hingga akhir...

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ اِلَيْكَۚ حَتّٰىٓ اِذَا خَرَجُوْا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوْا لِلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ اٰنِفًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ طَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ ١٦ وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧ فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۚ فَقَدْ جَاۤءَ اَشْرَاطُهَا ۚ فَاَنّٰى لَهُمْ اِذَا جَاۤءَتْهُمْ ذِكْرٰىهُمْ ١٨ فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ ١٩ وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُوْرَةٌ ۚفَاِذَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ مُّحْكَمَةٌ وَّذُكِرَ فِيْهَا الْقِتَالُ ۙرَاَيْتَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يَّنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِۗ فَاَوْلٰى لَهُمْۚ ٢٠ طَاعَةٌ وَّقَوْلٌ مَّعْرُوْفٌۗ فَاِذَا عَزَمَ الْاَمْرُۗ فَلَوْ صَدَقُوا اللّٰهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۚ ٢١ فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ ٢٢ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ ٢٣ اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا ٢٤ اِنَّ الَّذِيْنَ ارْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطٰنُ سَوَّلَ لَهُمْۗ وَاَمْلٰى لَهُمْ ٢٥ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لِلَّذِيْنَ كَرِهُوْا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ سَنُطِيْعُكُمْ فِيْ بَعْضِ الْاَمْرِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِسْرَارَهُمْ ٢٦ فَكَيْفَ اِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْ ٢٧ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمُ اتَّبَعُوْا مَآ اَسْخَطَ اللّٰهَ وَكَرِهُوْا رِضْوَانَهٗ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ࣖ ٢٨ اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ اَنْ لَّنْ يُّخْرِجَ اللّٰهُ اَضْغَانَهُمْ ٢٩ وَلَوْ نَشَاۤءُ لَاَرَيْنٰكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيْمٰهُمْ ۗوَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِيْ لَحْنِ الْقَوْلِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اَعْمَالَكُمْ ٣٠ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتّٰى نَعْلَمَ الْمُجٰهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَالصّٰبِرِيْنَۙ وَنَبْلُوَا۟ اَخْبَارَكُمْ ٣١

"Di antara mereka ada yang mendengarkanmu (Nabi Muhammad), tetapi apabila keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Apakah yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka. Maka, tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka, bagaimanakah kesadaran mereka (akan berguna) jika hari Kiamat itu telah datang kepada mereka? Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, mohonlah ampunan atas dosamu serta (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan Allah mengetahui tempat kamu beraktivitas dan tempat kamu beristirahat. Orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tidak diturunkan suatu surah?' Akan tetapi, apabila ada suatu surah yang jelas maksudnya diturunkan dan di dalamnya disebutkan (perintah) perang, kamu melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit memandangmu dengan pandangan orang yang pingsan karena takut mati. Maka, kelayakanlah bagi mereka, (yaitu) taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Apabila urusan (perang) ditetapkan, jika mereka jujur kepada Allah, niscaya itu lebih baik bagi mereka. Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu ditulikan-Nya (pendengaran mereka) dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka, apakah mereka tidak menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang berbalik ke belakang (murtad) setelah petunjuk jelas bagi mereka, setanlah yang merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah mengatakan kepada orang-orang (Yahudi) yang membenci apa yang diturunkan Allah, 'Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan.' Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukul wajah dan punggung mereka? Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan membenci keridaan-Nya, maka Dia menghapus amal-amal mereka. Ataukah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan perkataan mereka. Allah mengetahui amal-amalmu. Kami pasti benar-benar akan mengujimu hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang sabar di antaramu serta menguji segala ihwalmu." (QS. Muhammad: 16-31)

Pengantar

Putaran ini adalah bersama orang-orang munafik, dan sikap mereka terhadap pribadi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta terhadap Al-Qur'an. Kemudian sikap mereka terhadap jihad yang diwajibkan oleh Allah atas kaum muslimin untuk meninggikan kalimat Allah. Dan akhirnya sikap mereka terhadap orang-orang Yahudi dan konspirasi rahasia mereka bersama Yahudi untuk menjatuhkan Islam dan kaum muslimin.

Dan gerakan kemunafikan adalah gerakan di fase Madinah (madaniyyah), yang tidak memiliki eksistensi di Makkah, karena di sana tidak ada hal yang menuntut adanya kemunafikan tersebut. Maka kaum muslimin di Makkah berada dalam kondisi tertindas, yang tidak membutuhkan seorang pun untuk bermuka dua (munafik) kepada mereka! Maka ketika Allah memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan kabilah Aus dan Khazraj di Madinah, serta tersebarnya Islam di Madinah, dan tersebarnya ia di dalam kabilah-kabilah dan rumah-rumah sehingga tidak tersisa satu rumah pun kecuali Islam telah memasukinya, terpaksa sebagian manusia yang membenci Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan Islam menjadi mulia lagi tinggi, padahal mereka di waktu yang sama tidak memiliki kekuatan untuk menampakkan permusuhan secara terang-terangan, mereka terpaksa menampakkan keislaman dalam keadaan benci. Sedangkan mereka menyembunyikan kedengkian dan kebencian. Dan mereka menunggu-nunggu musibah menimpa Rasul dan para sahabatnya. Dan di pimpinan mereka adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong kemunafikan yang dikenal.

Dan keberadaan orang-orang Yahudi di Madinah serta kepemilikan mereka di sana akan kekuatan militer, kekuatan ekonomi, dan kekuatan organisasi di awal era Madinah, begitu pula kebencian mereka terhadap kemunculan Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, agamanya, dan para pengikutnya; keberadaan Yahudi di atas kondisi ini menjadi penyemangat bagi orang-orang munafik. Dan dengan cepat kebencian dan kedengkian menyatukan mereka sehingga mereka mulai merajut konspirasi dan menyebarkan desas-desus di setiap kesempatan yang ada. Maka apabila kaum muslimin berada dalam kesulitan, mereka menampakkan permusuhan mereka dan menyuarakan kebencian mereka; dan apabila kaum muslimin berada dalam kemudahan, desas-desus tersebut tetap bersifat rahasia dan tipu daya berada di dalam kegelapan! Dan mereka hingga pertengahan era Madinah membentuk ancaman yang nyata bagi Islam dan kaum muslimin.

Dan sungguh telah berulang-ulang penyebutan orang-orang munafik, visualisasi desas-desus mereka, dan kecaman atas konspirasi serta akhlak mereka di dalam surah-surah Madaniyyah; sebagaimana berulang pula penyebutan hubungan mereka dengan Yahudi, penerimaan mereka dari Yahudi, dan keikutsertaan mereka bersama Yahudi dalam sebagian konspirasi yang dirajut. Dan ini adalah salah satu tempat yang di dalamnya terdapat isyarat kepada orang-orang munafik, dan isyarat pula kepada orang-orang Yahudi.

Kaum Munafik

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ اِلَيْكَۚ حَتّٰىٓ اِذَا خَرَجُوْا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوْا لِلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ اٰنِفًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ طَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ ١٦

"Di antara mereka ada yang mendengarkanmu (Nabi Muhammad), tetapi apabila keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Apakah yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka." (QS. Muhammad: 16)

Dan kata: "Di antara mereka..." mengandung kemungkinan bahwa ia adalah isyarat bagi orang-orang kafir yang pembicaraan tentang mereka berputar pada putaran sebelumnya di dalam surah: dengan pertimbangan bahwa orang-orang munafik pada hakikatnya adalah golongan dari orang-orang kafir yang tertutup lahiriahnya, dan Allah membicarakan mereka dengan hakikat mereka di dalam ayat ini.

Sebagaimana ia juga mengandung kemungkinan bahwa ia adalah isyarat bagi kaum muslimin dengan pertimbangan bahwa orang-orang munafik membaur di tengah-tengah mereka, menampakkan keislaman bersama mereka. Dan sungguh mereka diperlakukan dengan perlakuan kaum muslimin sesuai dengan lahiriah mereka, sebagaimana ia merupakan manhaj Islam dalam memperlakukan manusia.

Akan tetapi, mereka dalam kedua kondisi tersebut adalah orang-orang munafik sebagaimana ditunjukkan oleh sifat mereka di dalam ayat dan tindakan mereka, dan sebagaimana ditunjukkan oleh konteks (siyaq) pada putaran ini dari surah, dan pembicaraan di dalamnya adalah tentang orang-orang munafik.

Dan pertanyaan mereka tersebut setelah mereka mendengarkan Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam—dan mendengarkan maknanya adalah mendengar dengan penuh perhatian—menunjukkan bahwa mereka menampakkan diri dengan tampak seolah-olah mereka mengarahkan pendengaran dan perhatian mereka kepada Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam padahal hati mereka lalai lagi lengah. Atau tertutup lagi terkunci. Sebagaimana ia juga menunjukkan dari sisi lain adanya sindiran halus yang keji di mana mereka ingin mengatakan dengan pertanyaan ini kepada para ulama (ahli ilmu): "Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Muhammad tidak dapat dipahami, atau tidak mengandung sesuatu yang dapat dipahami. Maka inilah mereka bersamaan dengan pendengaran mereka kepadanya, mereka tidak menemukan baginya kandungan makna dan tidak memegang darinya sesuatu pun!" Demikian pula mereka bermaksud dengan pertanyaan ini untuk mengolok-olok kesibukan para ulama dengan setiap apa yang dikatakan oleh Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan ketamakan mereka untuk memahami makna-maknanya dan menghafal lafal-lafalnya—sebagaimana kondisi para sahabat Radhiallahu 'Anhum bersama setiap kalimat yang diucapkan oleh Rasul yang mulia—maka mereka meminta kepada para ulama untuk mengulang lafal-lafalnya yang mereka dengar dengan jalan olok-olok yang tampak atau yang tersembunyi... Dan semuanya adalah kemungkinan-kemungkinan yang menunjukkan atas kekejian, keburukan, ketertutupan, dan hawa nafsu yang terpendam:

"...Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka." (QS. Muhammad: 16)

Demikianlah kondisi orang-orang munafik. Adapun kondisi orang-orang yang mendapat petunjuk adalah sebaliknya:

وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧

"Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka." (QS. Muhammad: 17)

Dan urutan fakta di dalam ayat ini patut menarik perhatian. Maka orang-orang yang mendapat petunjuk memulai diri mereka dengan mencari petunjuk, maka Allah membalas mereka dengan tambahan petunjuk, dan membalas mereka dengan apa yang lebih dalam dan lebih sempurna: "dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka..." Dan takwa adalah kondisi di dalam hati yang menjadikannya senantiasa bergetar karena keagungan Allah, merasakan pengawasan-Nya, takut akan murka-Nya, mengharap keridaan-Nya, merasa berat jika Allah melihatnya dalam bentuk atau kondisi yang tidak diridai-Nya... Kepekaan yang halus inilah yang dinamakan takwa... Dan ia adalah anugerah yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, ketika mereka mencari petunjuk dan berkeinginan untuk mencapai keridaan Allah.

Dan petunjuk, takwa, serta kepekaan adalah kondisi yang berlawanan dengan kondisi kemunafikan, ketertutupan, dan kelalaian pada ayat sebelumnya.

Dan selanjutnya, setelah isyarat ini, pembicaraan kembali kepada orang-orang munafik yang tertutup lagi lalai tersebut, yang keluar dari majelis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam keadaan tidak memahami apa pun dari apa yang beliau katakan yang dapat bermanfaat bagi mereka dan memberi petunjuk kepada mereka. Serta membangkitkan hati mereka untuk bertakwa, dan mengingatkan mereka dengan apa yang menunggu manusia berupa perhitungan dan balasan:

فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۚ فَقَدْ جَاۤءَ اَشْرَاطُهَا ۚ فَاَنّٰى لَهُمْ اِذَا جَاۤءَتْهُمْ ذِكْرٰىهُمْ ١٨

"Maka, tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka, bagaimanakah kesadaran mereka (akan berguna) jika hari Kiamat itu telah datang kepada mereka?" (QS. Muhammad: 18)

Dan ia adalah tarikan kuat yang mengeluarkan orang-orang yang lalai dari kelalaian dengan keras, seolah-olah Anda memegang kerah baju orang yang mabuk dan mengguncangnya dengan guncangan yang kuat! Apakah yang ditunggu oleh orang-orang yang lalai ini yang masuk ke majelis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan keluar darinya dalam keadaan tidak memahami, tidak menghafal, dan tidak pula mengingat? Apakah yang mereka tunggu? "Maka, tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba..." maka ia mengejutkan mereka dalam keadaan mereka terlena, tertipu, lagi lalai.

Apakah mereka menunggu hari Kiamat? "karena tanda-tandanya sungguh telah datang"... dan telah ditemukan tanda-tandanya. Dan risalah terakhir (Islam) adalah tanda yang paling besar dari tanda-tanda ini, maka ia adalah pemberitahuan bahwa ia merupakan peringatan terakhir dekatnya ajal yang ditentukan. Dan sungguh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah bersabda:

نَقَلَ الأثرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ"

"Aku diutus dan hari Kiamat adalah seperti dua jari ini," dan beliau memberi isyarat dengan kedua jari telunjuknya dan jari yang setelahnya. (HR. Bukhari dan Muslim) [^2]

Dan jika waktu tampak membentang sejak risalah terakhir ini; sesungguhnya hari-hari Allah tidaklah seperti hari-hari kita. Akan tetapi ia di dalam perhitungan Allah sungguh telah datang tanda-tanda pertamanya; dan tidak ada lagi bagi orang yang berakal untuk lalai hingga hari Kiamat mengambilnya secara tiba-tiba di mana ia tidak lagi memiliki kesadaran dan tidak pula ingatan:

"...Maka, bagaimanakah kesadaran mereka (akan berguna) jika hari Kiamat itu telah datang kepada mereka?" (QS. Muhammad: 18)

Sesungguhnya ia adalah guncangan kuat lagi sengit yang mengeluarkan orang-orang yang lalai dari kelalaian mereka; yang selaras pula dengan tabiat surah yang sengit ini.

Kemudian khitbah (pembicaraan) diarahkan kepada Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan orang-orang bersamanya dari kalangan mereka yang mendapat petunjuk, bertakwa, lagi mengharap; agar mereka mengambil jalan yang lain. Jalan ilmu, makrifat, zikir, istigfar, dan perasaan akan pengawasan Allah serta ilmu-Nya yang menyeluruh lagi meliputi; dan mereka hidup dengan kepekaan ini dalam mengawasi hari Kiamat dalam keadaan mereka waspada lagi bersiap-siap:

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ ١٩

"Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, mohonlah ampunan atas dosamu serta (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan Allah mengetahui tempat kamu beraktivitas dan tempat kamu beristirahat." (QS. Muhammad: 19)

Dan ia adalah arahan untuk mengingat hakikat pertama yang di atasnya berdiri perkara Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan orang-orang bersamanya:

"Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah..." (QS. Muhammad: 19)

Dan di atas asas ilmu dengan hakikat ini serta menghadirkannya di dalam hati, mulailah arahan-arahan yang lain:

"...mohonlah ampunan atas dosamu..." (QS. Muhammad: 19)

Dan beliau adalah orang yang telah diampuni baginya dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Akan tetapi ini adalah kewajiban hamba yang mukmin, yang menyadari lagi sensitif yang senantiasa merasakan kekurangannya bagaimanapun usahanya; dan ia merasakan—padahal ia telah diampuni—bahwa istigfar adalah zikir dan syukur atas pengampunan. Kemudian ia adalah pengajaran yang terus-menerus bagi orang-orang di belakang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dari kalangan mereka yang mengetahui kedudukan beliau di sisi Tuhannya; dan mereka melihat beliau diarahkan kepada zikir dan istigfar bagi dirinya sendiri. Kemudian bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan beliau adalah orang yang dikabulkan doanya di sisi Tuhannya. Maka mereka merasakan nikmat Allah atas mereka dengan Rasul yang mulia ini. Dan dengan keutamaan Allah atas mereka di mana Dia mengarahkan beliau untuk memohonkan ampunan bagi mereka, agar Dia mengampuni mereka!

Dan sentuhan terakhir di dalam arahan ini:

"...dan Allah mengetahui tempat kamu beraktivitas dan tempat kamu beristirahat." (QS. Muhammad: 19)

Di mana hati yang mukmin merasakan ketenangan dan ketakutan secara bersamaan. Ketenangan di saat ia berada dalam pengawasan Allah di mana pun ia beraktivitas atau beristirahat. Dan ketakutan dari kedudukan ini yang di dalamnya ilmu Allah meliputi dan mengawasinya di setiap kondisinya, dan melihat atas rahasianya dan bisikannya...

Sesungguhnya ia adalah tarbiyah. Tarbiyah dengan kesadaran yang terus-menerus dan kepekaan yang halus, serta pengharapan, kewaspadaan, dan penantian...

Ancaman untuk Orang Munafik dan Murtad

Dan konteks berpindah kepada visualisasi sikap orang-orang munafik terhadap jihad, dan apa yang bergejolak di dalam jiwa mereka berupa kepengecutan, kelemahan, ketakutan, dan kegelisahan saat menghadapi kewajiban ini, dan menyingkap batin mereka dalam perkara ini, sebagaimana ia menyingkap bagi mereka apa yang menunggu mereka jika mereka tetap di atas kemunafikan ini, dan tidak tulus serta tidak menyambut dan tidak jujur kepada Allah saat urusan itu ditetapkan dan jihad diwajibkan:

وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُوْرَةٌ ۚفَاِذَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ مُّحْكَمَةٌ وَّذُكِرَ فِيْهَا الْقِتَالُ ۙرَاَيْتَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يَّنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِۗ فَاَوْلٰى لَهُمْۚ ٢٠ طَاعَةٌ وَّقَوْلٌ مَّعْرُوْفٌۗ فَاِذَا عَزَمَ الْاَمْرُۗ فَلَوْ صَدَقُوا اللّٰهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۚ ٢١ فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ ٢٢ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ ٢٣ اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا ٢٤

"Orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tidak diturunkan suatu surah?' Akan tetapi, apabila ada suatu surah yang jelas maksudnya diturunkan dan di dalamnya disebutkan (perintah) perang, kamu melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit memandangmu dengan pandangan orang yang pingsan karena takut mati. Maka, kelayakanlah bagi mereka, (yaitu) taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Apabila urusan (perang) ditetapkan, jika mereka jujur kepada Allah, niscaya itu lebih baik bagi mereka. Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu ditulikan-Nya (pendengaran mereka) dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka, apakah mereka tidak menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?" (QS. Muhammad: 20-24)

Dan pengharapan orang-orang yang beriman terhadap diturunkannya suatu surah: adakalanya ia berupa ungkapan dari kerinduan mereka kepada surga yang baru dari Al-Qur'an ini yang mereka cintai, dan mereka menemukan di setiap surah darinya bekal baru yang dicintai. Dan adakalanya ia berupa pengharapan kepada surah yang menjelaskan suatu perkara dari perkara-perkara jihad, dan memerinci dalam kasus dari kasus-kasus peperangan yang menyibukkan hati mereka. Maka mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan suatu surah?"...

Maka apabila diturunkan suatu surah yang jelas maksudnya (muhkamah)... yang tegas lagi jelas yang tidak mengandung takwil "dan di dalamnya disebutkan (perintah) perang..." yakni: perintah dengannya. Atau penjelasan hukum orang-orang yang tertinggal darinya, atau perkara apa pun dari perkara-perkaranya, tiba-tiba saja orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit... dan ia adalah sifat dari sifat-sifat orang-orang munafik... kehilangan keteguhan mereka, dan runtuhlah dari mereka tabir riya yang mereka gunakan untuk menutupi diri, dan tersingkaplah ketakutan mereka serta kelemahan jiwa mereka dari menghadapi kewajiban ini, dan mereka tampak dalam kondisi yang menghinakan bagi kaum laki-laki, yang divisualisasikan oleh ungkapan Al-Qur'an yang indah sebagai gambaran unik seolah-olah ia dipajang di hadapan pandangan mata:

"...kamu melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit memandangmu dengan pandangan orang yang pingsan karena takut mati..." (QS. Muhammad: 20)

Dan ia adalah ungkapan yang tidak mungkin ditiru, dan tidak pula diterjemahkan ke dalam kalimat yang lain. Dan ia melukiskan ketakutan hingga batas kegelisahan yang sangat. Dan kelemahan hingga batas gemetar. Dan ketakutan hingga batas pingsan! Dan ia tetap setelah itu menyendiri dengan sarat akan bayang-bayang dan gerakan yang memikat imajinasi! Dan ia adalah gambaran abadi bagi setiap jiwa yang lemah yang tidak berpegang dengan keimanan, tidak pula dengan fitrah yang jujur, dan tidak pula dengan rasa malu yang dengannya ia menghias diri di hadapan bahaya. Dan ia adalah tabir penyakit dan kemunafikan itu sendiri!

Dan di saat mereka berada di dalam kelemahan, kehancuran, dan keruntuhan ini, terulurlah kepada mereka tangan keimanan dengan bekal yang menguatkan tekad dan meneguhkan kaki-kaki seandainya mereka menerimanya dengan ketulusan:

"...Maka, kelayakanlah bagi mereka, (yaitu) taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Apabila urusan (perang) ditetapkan, jika mereka jujur kepada Allah, niscaya itu lebih baik bagi mereka." (QS. Muhammad: 20-21)

Ya. Lebih layak bagi mereka dari kehinaan ini. Dan dari kelemahan ini. Dan dari kegelisahan ini. Dan dari kemunafikan ini... lebih layak bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik... ketaatan yang berserah diri kepada perintah Allah atas dasar ketenangan, dan bangkit dengan perintah-Nya atas dasar kepercayaan. Dan perkataan yang baik yang menunjukkan kebersihan rasa dan kelurusan hati, serta kesucian jiwa. Dan lebih layak bagi mereka apabila urusan perang ditetapkan, dan kesungguhan datang, serta mereka menghadapi jihad agar mereka jujur kepada Allah. Mereka jujur kepada-Nya secara tekad, dan mereka jujur kepada-Nya secara perasaan. Maka Dia mengikat hati mereka, menguatkan tekad mereka, meneguhkan kaki mereka, dan memudahkan kesulitan atas mereka, serta meringankan bahaya yang mereka visualisasikan sebagai hantu yang membuka mulutnya untuk melahap mereka! Dan Dia menuliskan bagi mereka salah satu dari dua kebaikan: keselamatan dan kemenangan, atau gugur sebagai syahid dan surga... Inilah yang lebih layak. Dan inilah bekal yang disuguhkan oleh keimanan maka ia menguatkan tekad, meneguhkan kaki, menghilangkan ketakutan, dan meletakkan di tempatnya keteguhan serta ketenangan.

Andaikata penulis sedang membicarakan tentang mereka, beliau langsung berpaling kepada mereka untuk berbicara kepada mereka dengan nada mencela lagi mengancam dengan kesudahan yang buruk jika kondisi mereka ini mengarahkan mereka kepada kemunduran dan berpaling kepada kekafiran; serta menyingkap tabir tipis dari Islam tersebut:

"Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu?" (QS. Muhammad: 22)

Dan ungkapan ini... "Maka, apakah kiranya jika kamu..." memberikan faedah apa yang diharapkan dari kondisi orang-orang yang diajak bicara. Dan tampak bagi mereka dengan peringatan dan kewaspadaan... waspadalah karena sesungguhnya kalian akan berakhir kepada kembalinya kalian kepada jahiliyah yang kalian berada di dalamnya dahulu. Kalian berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan, sebagaimana kondisi kalian sebelum Islam...

Dan setelah isyarat yang menakutkan lagi memperingatkan bagi mereka ini, beliau kembali kepada pembicaraan tentang mereka jika mereka berakhir kepada apa yang diperingatkan-Nya kepada mereka:

"Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu ditulikan-Nya (pendengaran mereka) dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka, apakah mereka tidak menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?" (QS. Muhammad: 23-24)

Mereka itulah orang-orang yang tetap berada di dalam penyakit dan kemunafikan mereka hingga mereka berpaling dari perkara ini yang mereka masuk ke dalamnya dengan lahiriah mereka dan mereka tidak jujur kepada Allah di dalamnya, serta mereka tidak meyakininya. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah... dan dijauhkan-Nya serta ditutup-Nya mereka dari petunjuk, "lalu ditulikan-Nya (pendengaran mereka) dan dibutakan-Nya penglihatan mereka..." padahal mereka tidak kehilangan pendengaran, dan tidak pula kehilangan penglihatan; akan tetapi mereka menonaktifkan pendengaran dan menonaktifkan penglihatan, atau menonaktifkan kekuatan pemahaman di balik pendengaran dan penglihatan; maka tidak ada lagi bagi indera-indera ini fungsi karena ia tidak lagi menjalankan fungsi tersebut.

Dan Allah bertanya dalam nada pengingkaran: "Maka, apakah mereka tidak menghayati Al-Qur’an..." Dan menghayati Al-Qur'an menghilangkan penutup, membuka jendela-jendela, mengalirkan cahaya, menggerakkan perasaan, membangkitkan hati, dan memurnikan jiwa. Serta menumbuhkan kehidupan bagi ruh yang dengannya ia berdenyut, bersinar, dan mendapat penerangan, "ataukah hati mereka sudah terkunci?" Maka kunci-kunci itu menghalangi antara hati mereka dan Al-Qur'an serta menghalangi antaranya dan cahaya? Maka sesungguhnya tertutupnya hati mereka adalah seperti tertutupnya kunci-kunci yang tidak memperbolehkan masuknya udara dan cahaya!

Dan penulis melanjutkan dalam memvisualisasikan kondisi orang-orang munafik, dan sebab berpalingnya mereka dari keimanan setelah mereka mendekatinya, maka tampaklah bahwa ia adalah konspirasi mereka bersama Yahudi, dan janji mereka kepada Yahudi dengan ketaatan di dalam apa yang mereka rencanakan:

اِنَّ الَّذِيْنَ ارْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطٰنُ سَوَّلَ لَهُمْۗ وَاَمْلٰى لَهُمْ ٢٥ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لِلَّذِيْنَ كَرِهُوْا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ سَنُطِيْعُكُمْ فِيْ بَعْضِ الْاَمْرِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِسْرَارَهُمْ ٢٦

"Sesungguhnya orang-orang yang berbalik ke belakang (murtad) setelah petunjuk jelas bagi mereka, setanlah yang merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah mengatakan kepada orang-orang (Yahudi) yang membenci apa yang diturunkan Allah, 'Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan.' Allah mengetahui rahasia mereka." (QS. Muhammad: 25-26)

Dan ungkapan tersebut melukiskan makna kembalinya mereka dari petunjuk setelah jelas bagi mereka, dalam bentuk gerakan inderawi, yaitu gerakan berbalik ke belakang (al-irtidad 'ala al-adbar). Dan ia menyingkap apa yang ada di baliknya berupa bisikan setan, hiasannya, dan bujukannya. Maka jadilah lahiriah gerakan ini dan batinnya tersingkap lagi dapat dipahami!

Dan mereka adalah orang-orang munafik yang menyembunyikan diri dan menutup diri! Kemudian beliau menyebutkan sebab yang menjadikan setan memiliki kekuasaan ini atas mereka, dan berakhir dengan mereka kepada berbalik ke belakang setelah mereka mengetahui petunjuk dan jelas bagi mereka:

"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah mengatakan kepada orang-orang (Yahudi) yang membenci apa yang diturunkan Allah, 'Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan.'..." (QS. Muhammad: 26)

Dan orang-orang Yahudi di Madinah adalah orang-orang pertama yang membenci apa yang diturunkan oleh Allah; karena mereka mengharapkan agar risalah terakhir berada di tengah-tengah mereka, dan agar penutup para rasul berasal dari kalangan mereka. Dan mereka dahulu memohon kemenangan atas orang-orang kafir dan menjanjikan kepada mereka akan kemunculan Nabi yang memimpin mereka dan memberikan kekuasaan bagi mereka di bumi, serta mengembalikan kerajaan dan kekuasaan mereka. Maka ketika Allah memilih rasul terakhir-Nya dari keturunan Ibrahim, bukan dari Yahudi, mereka membenci risalahnya. Hingga ketika beliau berhijrah ke Madinah mereka membenci hijrahnya, yang mengancam apa yang tersisa bagi mereka dari kedudukan di sana. Dan oleh karena itu mereka menjadi musuh baginya sejak hari pertama, dan mereka menyalakan peperangan desas-desus, tipu daya, dan makar kepadanya, di kala mereka lemah untuk menampakkan permusuhan secara terang-terangan di medan peperangan; dan bergabunglah bersama mereka setiap orang yang benci, dan setiap orang yang munafik, dan perang tersebut senantiasa bergejolak antara mereka dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hingga akhirnya beliau mengusir mereka dari Jazirah Arab seluruhnya dan memurnikannya untuk Islam.

Dan mereka yang berbalik ke belakang setelah jelas bagi mereka petunjuk berkata kepada Yahudi: "Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan..." Dan yang paling kuat adalah bahwa hal itu terjadi di dalam desas-desus, tipu daya, dan konspirasi atas Islam dan Rasul Islam.

"...Allah mengetahui rahasia mereka." (QS. Muhammad: 26)

Dan ia adalah komentar (ta'qib) yang semuanya mengandung ancaman. Maka ke manakah akan pergi konspirasi mereka dan rahasia mereka serta apa yang dapat dipengaruhinya; padahal ia tersingkap bagi ilmu Allah? Dan dihadapkan kepada kekuatan Allah?

Kemudian ancaman yang terang-terangan dengan tentara Allah, di saat para konspirator berada di akhir kehidupan:

فَكَيْفَ اِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْ ٢٧

"Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukul wajah dan punggung mereka?" (QS. Muhammad: 27)

Catatan Kaki (Footnote)

[^1]: Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir al-Qur'an, Bab Liyaghfira Lakallahu ma Taqaddama min Dhanbika wa ma Ta'akhkhara (Hadis No. 4837) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shifat al-Qiyāmah wa al-Jannah wa an-Nār, Bab Iktsar al-A'mal wa al-Ijtihad fi al-Ibadah (Hadis No. 2819).

[^2]: Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Qashr fi al-Amal (Hadis No. 6504) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah, Bab Qurb as-Sa'ah (Hadis No. 2951).

Dan ia adalah visualisasi yang sangat menakutkan lagi menghinakan. Yaitu ketika mereka sedang menghadapi sakaratulmaut, dalam keadaan tidak memiliki daya dan kekuatan sama sekali. Mereka berada di akhir kehidupan mereka di bumi ini, dan di awal kehidupan mereka yang lain. Suatu kehidupan yang dibuka dengan pemukulan pada wajah-wajah dan punggung-punggung, di saat kematian, saat kesempitan, kesengsaraan, dan ketakutan. Punggung-punggung yang dengannya mereka berbalik ke belakang setelah petunjuk jelas bagi mereka! Sungguh, alangkah mengerikannya tragedi tersebut!

ذٰلِكَ بِاَنَّهُمُ اتَّبَعُوْا مَآ اَسْخَطَ اللّٰهَ وَكَرِهُوْا رِضْوَانَهٗ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ࣖ ٢٨

"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan membenci keridaan-Nya, maka Dia menghapus amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 28)

Maka merekalah yang menginginkan bagi diri mereka sendiri tempat kembali ini dan memilihnya. Merekalah yang sengaja menuju kepada apa yang memicu kemurkaan Allah berupa kemunafikan, kemaksiatan, dan konspirasi bersama musuh-musuh Allah serta musuh-musuh agama dan rasul-Nya, lalu mereka mengikutinya. Dan merekalah yang membenci keridaan Allah sehingga tidak beramal untuk meraihnya, melainkan melakukan apa yang memicu kemurkaan dan amarah-Nya... "maka Dia menghapus amal-amal mereka..." yang dahulunya mereka banggakan dan pamerkan; serta mereka sangka sebagai kecerdasan dan kelihaian di saat mereka berkomplot dan membuat tipu daya terhadap orang-orang yang beriman. Tiba-tiba saja amal-amal ini membesar dan menggelembung, kemudian binasa dan lenyap tanpa bekas!

Dan di akhir putaran ini, Allah mengancam mereka dengan menyingkap perkara mereka kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin, di mana mereka hidup di tengah-tengah kaum muslimin secara sembunyi-sembunyi; berpura-pura masuk Islam padahal mereka membuat tipu daya terhadap kaum muslimin:

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ اَنْ لَّنْ يُّخْرِجَ اللّٰهُ اَضْغَانَهُمْ ٢٩ وَلَوْ نَشَاۤءُ لَاَرَيْنٰكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيْمٰهُمْ ۗوَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِيْ لَحْنِ الْقَوْلِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اَعْمَالَكُمْ ٣٠ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتّٰى نَعْلَمَ الْمُجٰهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَالصّٰبِرِيْنَۙ وَنَبْلُوَا۟ اَخْبَارَكُمْ ٣١

"Ataukah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan perkataan mereka. Allah mengetahui amal-amalmu. Kami pasti benar-benar akan mengujimu hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang sabar di antaramu serta menguji segala ihwalmu." (QS. Muhammad: 29-31)

Dan sungguh orang-orang munafik itu bersandar pada kemahiran mereka dalam seni kemunafikan, dan pada tersamarkannya perkara mereka secara umum bagi kaum muslimin. Maka Al-Qur'an memperbodoh prasangka mereka bahwa perkara ini akan senantiasa tersamar, dan mengancam mereka dengan menyingkap kondisi mereka serta menampakkan kedengkian dan kebencian mereka kepada kaum muslimin. Dan Allah berfirman kepada Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya..." Yaitu: seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami singkapkan kepadamu tentang diri mereka dan sosok mereka, sehingga kamu dapat melihat salah seorang dari mereka lalu mengenalinya dari raut wajahnya (dan ini terjadi sebelum Allah menyingkapkan kepadanya tentang segolongan dari mereka beserta nama-nama mereka). Namun demikian, sesungguhnya nada bicara dan intonasi suara mereka, serta kecenderungan mereka memalingkan perkataan dari kelurusannya, serta penyimpangan logika mereka dalam berbicara kepadamu akan menunjukkan kepadamu atas kemunafikan mereka: "dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan perkataan mereka..."

Dan beralih kepada ilmu Allah yang meliputi segala amal perbuatan beserta motif-motifnya: "Allah mengetahui amal-amalmu..." Maka tidak ada sesuatu pun darinya yang tersembunyi bagi-Nya... Kemudian ada janji dari Allah dengan ujian (ابتلاء)... ujian bagi seluruh umat Islam, agar tersingkap orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang sabar serta mereka menjadi tampak berbeda, dan menjadilah ihwal mereka diketahui, dan tidak terjadi kesamaran di dalam barisan, serta tidak tersisa celah bagi tersamarkannya perkara orang-orang munafik maupun perkara orang-orang yang lemah dan gelisah:

"Kami pasti benar-benar akan mengujimu hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang sabar di antaramu serta menguji segala ihwalmu." (QS. Muhammad: 31)

Padahal Allah Maha Mengetahui hakikat jiwa dan kadar kualitasnya, serta melihat apa yang tersembunyi dan tersimpan di dalamnya, dan mengetahui apa yang akan terjadi dari perkaranya sebagaimana pengetahuan-Nya terhadap apa yang telah nyata terjadi. Maka apakah gerangan ujian ini? Dan untuk siapakah pengetahuan di balik apa yang tersingkap darinya itu ditujukan?

Sesungguhnya Allah—Maha Agung hikmah-Nya—memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang berada dalam batas kemampuan mereka, dan apa yang merupakan tabiat serta kesiapan mereka. Sedangkan mereka tidak mengetahui tentang hakikat-hakikat yang terpendam sebagaimana yang Dia ketahui. Maka tidak boleh tidak bagi mereka untuk menyingkap hakikat-hakikat tersebut agar mereka dapat menjangkaunya, mengetahuinya, meyakininya, kemudian mengambil manfaat darinya.

Dan ujian dengan kelapangan (sara') maupun kesempitan (dhara'), dengan kenikmatan maupun penderitaan, dengan kelonggaran maupun kesempitan, serta dengan kemudahan maupun kesengsaraan... semuanya menyingkap apa yang tersembunyi dari kadar kualitas jiwa, dan apa yang tidak diketahui dari perkaranya bahkan oleh pemiliknya sendiri...

Adapun yang dimaksud dengan ilmu Allah terhadap apa yang tersingkap dari jiwa setelah adanya ujian adalah keterkaitan ilmu-Nya dengan hal tersebut pada kondisinya yang nyata yang dapat dilihat oleh manusia.

Sebab pandangan manusia terhadapnya dalam bentuk nyata yang dijangkau oleh panca indera mereka adalah hal yang memengaruhi mereka, membentuk perasaan mereka, dan mengarahkan kehidupan mereka dengan sarana-sarana mereka yang berada dalam batas kemampuan mereka. Demikianlah hikmah Allah dalam ujian ini terlaksana dengan sempurna.

Meskipun demikian, sesungguhnya hamba yang mukmin senantiasa berharap agar tidak dihadapkan kepada ujian dan cobaan dari Allah. Dan ia senantiasa mengharapkan keselamatan serta rahmat-Nya. Namun apabila cobaan Allah menimpanya setelah itu, ia bersabar menghadapinya dalam keadaan menyadari apa yang ada di baliknya berupa hikmah; dan ia berserah diri kepada kehendak Allah dalam keadaan percaya akan hikmah-Nya, seraya mengharapkan rahmat dan keselamatan-Nya setelah adanya ujian.

Dan sungguh telah diriwayatkan dari Fudhail al-Abid [Fudhail bin Iyadh], seorang ahli ibadah yang sufi, bahwa ia apabila membaca ayat ini menangis dan berkata: "Ya Allah, janganlah Engkau menguji kami. Karena sesungguhnya jika Engkau menguji kami, niscaya Engkau mempermalukan kami, merobek tirai penutup kami, dan menyiksa kami..."

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَشَاۤقُّوا الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدٰى لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيُحْبِطُ اَعْمَالَهُمْ ٣٢ ۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ ٣٣ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ مَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ٣٤ فَلَا تَهِنُوْا وَتَدْعُوْٓا اِلَى السَّلْمِۖ وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَۗ وَاللّٰهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَّتِرَكُمْ اَعْمَالَكُمْ ٣٥ اِنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَاِنْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا يُؤْتِكُمْ اُجُوْرَكُمْ وَلَا يَسْـَٔلْكُمْ اَمْوَالَكُمْ ٣٦ اِنْ يَّسْـَٔلْكُمُوْهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوْا وَيُخْرِجْ اَضْغَانَكُمْ ٣٧ هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۚ فَمِنْكُمْ مَّنْ يَّبْخَلُ ۚوَمَنْ يَّبْخَلْ فَاِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّفْسِهٖ ۗوَاللّٰهُ الْغَنِيُّ وَاَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ ۗوَاِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْٓا اَمْثَالَكُمْ ࣖ ٣٨

"Sesungguhnya orang-orang yang kufur, menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, dan memusuhi Rasul setelah petunjuk jelas bagi mereka, sedikit pun tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah dan Dia akan menghapus amal-amal mereka. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan janganlah kamu merusak amal-amalmu! Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, Allah tidak akan mengampuni mereka. Maka, janganlah kamu menjadi lemah dan mengajak berdamai, padahal kamulah yang lebih unggul dan Allah (pun) bersamamu serta tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu. Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahalamu kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu. Jika Dia meminta hartamu lalu mendesakmu (agar memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kamu ini adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada yang kikir. Siapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya, sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan. Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu." (QS. Muhammad: 32-38)

Pengantar

Pembicaraan di bagian pertama dari putaran terakhir dari surah ini adalah tentang "orang-orang yang kufur, menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, dan memusuhi Rasul setelah petunjuk jelas bagi mereka..." Dan mereka ini, yang paling dekat adalah bahwa mereka adalah orang-orang musyrik yang pembicaraannya berada di awal surah. Merekalah yang berlaku lancang dalam menghadang dakwah Islam. Kelancangan yang diungkapkan dengan menghalang-halangi dari jalan Allah dan memusuhi Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Meskipun di sana ada kemungkinan lain, yaitu bahwa pembicaraan ini bersifat umum bagi siapa saja yang mengambil sikap seperti ini; mencakup orang-orang Yahudi di Madinah dan mencakup pula orang-orang munafik, sebagai bentuk ancaman bagi mereka apabila mereka bermaksud mengambil sikap seperti ini baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Akan tetapi kemungkinan pertama adalah yang paling dekat dalam segala hal.

Adapun pembicaraan di bagian kedua dan terakhir hingga penutup surah adalah khitbah (seruan) bagi orang-orang yang beriman, yang mengajak mereka untuk melanjutkan jihad dengan jiwa dan harta, tanpa adanya kelesuan atau ajakan untuk berdamai dengan kekafiran yang memusuhi lagi zalim, di bawah pengaruh apa pun baik berupa kelemahan, menjaga hubungan kekerabatan, maupun menjaga kemaslahatan. Dan tanpa bersikap kikir dengan harta yang tidaklah Allah wajibkan atas mereka untuk menafkahkannya kecuali dalam batas-batas kemampuan, dengan tetap mempertimbangkan sifat kikir yang merupakan fitrah di dalam jiwa! Dan jika mereka tidak bangkit memikul beban dakwah ini, sesungguhnya Allah akan mengharamkan mereka dari kemuliaan mengembannya dan mandat untuknya, serta menggantikan mereka dengan kaum yang lain yang akan bangkit memikul beban-bebannya, dan mengetahui nilainya. Dan ia adalah ancaman yang sengit lagi menakutkan yang selaras dengan atmosfer surah, sebagaimana ia mengisyaratkan bahwa ia dahulunya merupakan obat bagi kondisi kejiwaan yang ada di dalam barisan kaum muslimin kala itu—selain orang-orang munafik—di samping adanya kondisi pengorbanan, kepasrahan, keberanian, dan kesiapan menebus dengan jiwa yang masyhur di dalam riwayat-riwayat sejarah. Maka di dalam jamaah muslimah saat itu ada golongan ini dan golongan itu. Dan Al-Qur'an mendidik serta membina untuk membangkitkan mereka yang tertinggal menuju tingkatan mulia yang tinggi...

Ancaman untuk Orang Kafir

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَشَاۤقُّوا الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدٰى لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيُحْبِطُ اَعْمَالَهُمْ ٣٢

"Sesungguhnya orang-orang yang kufur, menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, dan memusuhi Rasul setelah petunjuk jelas bagi mereka, sedikit pun tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah dan Dia akan menghapus amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 32)

Ia adalah ketetapan dari Allah yang pasti, dan janji dari-Nya yang nyata: bahwa orang-orang yang kafir, dan menghalangi kebenaran untuk sampai kepada manusia; serta menghalangi manusia darinya dengan kekuatan, harta, tipu daya, atau sarana apa pun, dan memusuhi Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di masa hidup beliau dengan mengumumkan perang kepadanya, menyalahi jalannya, dan berdiri di barisan yang berseberangan dengan beliau. Atau setelah wafat beliau dengan memerangi agama-Nya, syariat-Nya, manhaj-Nya, para pengikut sunah-Nya, dan para penegak dakwah-Nya. Yang demikian itu terjadi setelah jelas bagi mereka petunjuk... dan mereka mengetahui bahwa ia adalah kebenaran; akan tetapi mereka mengikuti hawa nafsu, dikuasai oleh sikap keras kepala, dibutakan oleh kepentingan pribadi, dan dituntun oleh kemaslahatan sesaat...

Ketetapan dari Allah yang pasti, dan janji dari Allah yang nyata bahwa mereka ini "sedikit pun tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah..." Dan mereka terlalu kerdil serta terlalu lemah untuk disebut-sebut dalam ruang lingkup mendatangkan mudarat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka bukan ini yang dimaksud. Akan tetapi yang dimaksud adalah bahwa mereka tidak akan dapat mendatangkan mudarat kepada agama Allah, tidak pula manhaj-Nya, dan tidak pula para penegak dakwah-Nya. Serta mereka tidak akan dapat membuat perubahan pada hukum-hukum alam dan sunah-sunah-Nya. Bagaimanapun kekuatan mereka bertambah, dan bagaimanapun mereka mampu menyakiti sebagian kaum muslimin dalam kurun waktu tertentu. Karena sesungguhnya ini adalah cobaan sementara yang terjadi dengan izin Allah untuk suatu hikmah yang Dia kehendaki; dan ia bukanlah mudarat yang nyata bagi hukum alam Allah, sunah-Nya, sistem-Nya, manhaj-Nya, serta para hamba-Nya yang tegak di atas sistem dan manhaj-Nya. Dan kesudahan yang ditetapkan adalah: "dan Dia akan menghapus amal-amal mereka..." maka ia berakhir kepada kegagalan dan kehancuran. Sebagaimana berakibat buruknya hewan ternak yang memakan tumbuhan beracun itu!

Dan di bawah naungan tempat kembali yang menakutkan bagi orang-orang yang kafir, menghalang-halangi dari jalan Allah, dan memusuhi Rasul... pandangan dipalingkan kepada orang-orang yang beriman untuk memperingatkan mereka dari bayang-bayang tempat kembali ini, dan mengarahkan mereka kepada ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul:

۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ ٣٣

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan janganlah kamu merusak amal-amalmu!" (QS. Muhammad: 33)

Dan arahan ini mengisyaratkan bahwa di dalam jamaah muslimah kala itu ada orang yang tidak mencari ketaatan yang sempurna; atau ada orang yang merasa berat dengan sebagian kewajiban, dan merasa payah dengan sebagian pengorbanan, yang dituntut oleh jihad menghadapi golongan-golongan kuat yang berbeda-beda ini yang berdiri menentang Islam, dan menyerangnya dari segala penjuru; serta yang menghubungkan mereka dengan kaum muslimin berupa kemaslahatan dan tali kekerabatan yang sulit untuk diputuskan dan ditinggalkan secara total sebagaimana yang dituntut oleh akidah tersebut.

Dan sungguh pengaruh dari arahan ini sangat sengit lagi mendalam di dalam jiwa kaum muslimin yang jujur; maka bergetarlah hati mereka karenanya, dan mereka takut jika terjadi dari mereka apa yang dapat merusak amal-amal mereka, serta melenyapkan kebaikan-kebaikan mereka...

Imam Ahmad bin Nasr al-Marwazi berkata di dalam Kitab ash-Shalah: Telah menceritakan kepada kami Abu Qudamah, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far ar-Razi, dari ar-Rabi' bin Anas, dari Abul Aliyah, ia berkata: "Dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berpandangan bahwa tidak ada dosa yang dapat mendatangkan mudarat bersama kalimat 'La ilaha illallah', sebagaimana tidak ada amal yang bermanfaat bersama kesyirikan, maka turunlah ayat: 'taatilah Allah, taatilah Rasul, dan janganlah kamu merusak amal-amalmu'... maka mereka takut jika dosa dapat merusak amal perbuatan."

Dan diriwayatkan dari jalur Abdullah bin al-Mubarak, telah mengabarkan kepadaku Bakr bin Ma'ruf, dari Muqatil bin Hayyan, dari Nafi', dari Ibnu Umar Radhiallahu 'Anhuma, ia berkata: "Kami dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dahulu berpandangan bahwa tidak ada sesuatu pun dari kebaikan melainkan pasti diterima, hingga turunlah ayat: 'taatilah Allah, taatilah Rasul, dan janganlah kamu merusak amal-amalmu'... maka kami berkata:

Apakah ini yang dapat merusak amal-amal kita? Maka kami berkata: Dosa-dosa besar yang mewajibkan siksa dan perbuatan-perbuatan keji. Hingga turunlah firman Allah Ta'ala: 'Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya'... Maka ketika ayat ini turun, kami menahan diri dari berbicara tentang hal tersebut. Dan jadilah kami takut atas orang yang tertimpa dosa-dosa besar serta perbuatan keji, dan kami berharap (ampunan) bagi orang yang tidak tertimpa olehnya."

Dan dari teks-teks ini tampak jelas bagaimana dahulu jiwa kaum muslimin yang jujur menerima ayat-ayat Al-Qur'an: bagaimana jiwa mereka bergetar dan berguncang karenanya, dan bagaimana mereka gemetar serta takut darinya, dan bagaimana mereka waspada agar tidak terjatuh di bawah ancamannya, serta bagaimana mereka berupaya keras agar kondisi mereka selaras dengannya, dan agar diri mereka sesuai dengannya... Dan dengan kepekaan dalam menerima kalimat-kalimat Allah inilah kaum muslimin menjadi muslim dari model yang agung tersebut!

Kemudian Allah menjelaskan kepada mereka pada ayat berikutnya tentang tempat kembali orang-orang yang memusuhi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan keluar dari ketaatan kepadanya, kemudian mereka bersikeras di atas hal ini, dan pergi dari bumi ini dalam keadaan kafir:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ مَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ٣٤

"Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, Allah tidak akan mengampuni mereka." (QS. Muhammad: 34)

Maka kesempatan hanya terbuka untuk mendapatkan ampunan di dunia ini; dan pintu tobat akan senantiasa terbuka bagi orang kafir maupun pelaku maksiat hingga ruh sampai di tenggorokan (yugharghir). Maka apabila ruh telah mencapai kerongkongan, tidak ada lagi tobat dan tidak ada pula ampunan, karena telah lenyap kesempatan yang tidak akan pernah kembali lagi.

Dan ayat seperti ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana ia ditujukan kepada orang-orang kafir. Adapun bagi mereka (orang kafir) ia adalah peringatan bagi mereka agar memperbaiki perkara mereka dan bertobat sebelum pintu-pintu ditutup. Dan adapun bagi mereka (orang beriman) ia adalah peringatan bagi mereka dan perhatian untuk menjauhi seluruh sebab yang mendekatkan mereka kepada jalan yang berbahaya lagi sial ini!

Kita memahami hal ini dari urutan larangan dari sikap lemah (al-wahn) dan ajakan untuk berdamai (as-silm) pada ayat berikutnya atas apa yang disebutkan pada ayat sebelumnya berupa penjelasan bagi tempat kembali orang-orang kafir yang memusuhi Rasul:

فَلَا تَهِنُوْا وَتَدْعُوْٓا اِلَى السَّلْمِۖ وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَۗ وَاللّٰهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَّتِرَكُمْ اَعْمَالَكُمْ ٣٥

"Maka, janganlah kamu menjadi lemah dan mengajak berdamai, padahal kamulah yang lebih unggul dan Allah (pun) bersamamu serta tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu." (QS. Muhammad: 35)

Maka inilah yang diperingatkan kepada orang-orang yang beriman, dan diletakkan di hadapan mereka tempat kembali orang-orang kafir yang memusuhi Rasul, agar mereka mewaspadai bayang-bayangnya dari kejauhan!

Dan peringatan ini mengisyaratkan adanya individu-individu dari kaum muslimin yang merasa berat dengan beban jihad yang panjang dan kepayahan yang terus-menerus; dan tekad mereka menjadi lemah di hadapannya; serta mereka condong kepada perdamaian dan gencatan senjata agar dapat beristirahat dari kepayahan peperangan. Dan barangkali sebagian dari mereka memiliki hubungan kekerabatan pada orang-orang musyrik, atau memiliki kepentingan dan harta benda; dan hal ini menjerumuskan mereka kepada perdamaian dan gencatan senjata. Maka jiwa manusia adalah tetap jiwa manusia; dan tarbiyah Islamiah mengobati kelemahan ini dan bisikan-bisikan fitrah ini dengan sarana-sarananya. Dan sungguh ia telah berhasil dengan kesuksesan yang luar biasa. Akan tetapi hal ini tidak menafikan adanya sisa-sisa di dalam sebagian jiwa, dan khususnya di masa-masa awal dari era Madinah. Dan ayat ini adalah sebagian obat bagi sisa-sisa tersebut. Maka mari kita perhatikan bagaimana Al-Qur'an mendidik jiwa manusia. Maka kita sangat butuh untuk melacak langkah-langkah Al-Qur'an dalam mendidik. Dan jiwa manusia adalah tetap jiwa manusia:

"Maka, janganlah kamu menjadi lemah dan mengajak berdamai, padahal kamulah yang lebih unggul dan Allah (pun) bersamamu serta tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu." (QS. Muhammad: 35)

Kamulah yang lebih unggul (al-a'lawn). Maka janganlah kalian menjadi lemah dan mengajak berdamai. Kamulah yang lebih unggul secara akidah dan konsepsi tentang kehidupan. Dan kamulah yang lebih unggul secara hubungan dan ikatan dengan Yang Maha Tinggi lagi Maha Luhur (al-Aliyy al-A'la). Dan kamulah yang lebih unggul secara manhaj, tujuan, dan sasaran. Dan kamulah yang lebih unggul secara perasaan, akhlak, dan perilaku... kemudian... kamulah yang lebih unggul secara kekuatan, kedudukan, dan pertolongan. Maka bersama kalian ada kekuatan yang paling besar: "dan Allah (pun) bersamamu..." maka kalian tidaklah sendirian. Sesungguhnya kalian berada dalam kebersamaan bersama Yang Maha Tinggi, Maha Perkasa, Maha Kuasa, lagi Maha Menundukkan. Dan Dia bagi kalian adalah Penolong yang hadir bersama kalian. Membela kalian. Maka siapakah musuh-musuh kalian ini sementara Allah bersama kalian? Dan setiap apa yang kalian korbankan, dan setiap apa yang kalian lakukan, dan setiap apa yang menimpa kalian berupa pengorbanan adalah dihitung bagi kalian, tidak ada sesuatu pun darinya yang sia-sia atas kalian: "serta tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu..." dan tidak akan memotong sedikit pun darinya yang tidak sampai pengaruhnya, hasilnya, dan balasannya kepada kalian.

Maka atas dasar apa akan menjadi lemah, lunglai, dan mengajak kepada perdamaian orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala tetapkan baginya bahwa dialah yang paling unggul, dan bahwa Dia bersamanya, dan bahwa dia tidak akan kehilangan sedikit pun dari amalnya? Maka dia adalah orang yang dimuliakan, ditolong, lagi diberi pahala?

Inilah sentuhan pertama. Dan sentuhan kedua adalah meremehkan perkara kehidupan dunia ini, yang barangkali menimpa mereka sebagian pengorbanan di dalamnya. Dan pemberian yang sempurna di akhirat berupa pahala-pahala bersamaan dengan tidak diberatkannya mereka dengan pengorbanan harta sebagai ganti dari pahala-pahala ini!

اِنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَاِنْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا يُؤْتِكُمْ اُجُوْرَكُمْ وَلَا يَسْـَٔلْكُمْ اَمْوَالَكُمْ ٣٦

"Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahalamu kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu." (QS. Muhammad: 36)

Dan kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau ketika tidak ada di baliknya tujuan yang lebih mulia dan lebih kekal. Yaitu ketika ia dijalani untuk dirinya sendiri dalam keadaan terputus dari manhaj Allah di dalamnya. Manhaj yang menjadikannya sebagai ladang akhirat; dan menjadikan kebaikan kekhalifahan di dalamnya sebagai hal yang berhak mewarisi negeri yang kekal. Dan inilah yang diisyaratkan oleh paragraf berikutnya di dalam ayat: "Jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahalamu kepadamu..." Maka keimanan dan ketakwaan di dalam kehidupan dunia adalah hal yang mengeluarkannya dari sekadar permainan dan senda gurau; dan mencapnya dengan cap keseriusan, serta mengangkatnya dari tingkatan kesenangan hewani, menuju tingkatan kekhalifahan yang rasyid, yang tersambung dengan mala'ul a'la (para malaikat di langit). Dan pada hari itu tidaklah apa yang dikorbankan oleh orang mukmin yang bertakwa berupa kesenangan kehidupan dunia ini menjadi sia-sia dan terputus; melainkan darinya akan tumbuh pahala yang paling sempurna, di negeri yang paling kekal... Bersamaan dengan ini sesungguhnya Allah tidak meminta manusia untuk mengorbankan seluruh harta mereka, dan tidak memberatkan mereka di dalam kewajiban-kewajiban dan beban-beban-Nya, karena ilmu-Nya Subhanahu wa Ta'ala terhadap kekikiran jiwa mereka secara fitrah dan ciptaan. Dan Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Dan Dia lebih sayang kepada mereka dari membebani mereka untuk mengorbankan seluruhnya, sehingga menjadi sempitlah dada mereka dan tampaklah kedengkian mereka:

اِنْ يَّسْـَٔلْكُمُوْهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوْا وَيُخْرِجْ اَضْغَانَكُمْ ٣٧

"Jika Dia meminta hartamu lalu mendesakmu (agar memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu." (QS. Muhammad: 37)

Dan teks ini mengisyaratkan atas hikmah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui (al-Lathif al-Khabir), sebagaimana ia mengisyaratkan atas rahmat-Nya dan kelembutan-Nya terhadap jiwa manusia. Dan menyingkap tentang takaran yang presisi di dalam kewajiban-kewajiban agama ini, dan pertimbangannya terhadap fitrah, serta keserasiannya dengan kemanusiaan manusia dengan segala kesiapan, kemampuan, dan kondisinya. Maka ia adalah akidah rabbaniah untuk mendirikan sistem rabbani insani. Sistem rabbani dari sisi bahwa Allah-lah yang menegakkan manhaj dan kaidah-kaidahnya; dan insani dari sisi bahwa Allah mempertimbangkan di dalam kewajiban-kewajibannya akan kemampuan manusia dan kebutuhannya. Dan Allah-lah yang menciptakan, dan Dia Maha Mengetahui siapa yang Dia ciptakan, dan Dialah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.

Dan pada akhirnya, Allah menghadapkan mereka dengan realitas kondisi mereka terhadap ajakan mereka untuk berinfak di jalan Allah; dan mengobati kekikiran jiwa terhadap harta dengan sarana-sarana Al-Qur'an, sebagaimana Dia mengobati kekikirannya pada diri sendiri saat berjihad:

هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۚ فَمِنْكُمْ مَّنْ يَّبْخَلُ ۚوَمَنْ يَّبْخَلْ فَاِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّفْسِهٖ ۗوَاللّٰهُ الْغَنِيُّ وَاَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ ۗوَاِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْٓا اَمْثَالَكُمْ ࣖ ٣٨

"Ingatlah, kamu ini adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada yang kikir. Siapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya, sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan. Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu." (QS. Muhammad: 38)

Dan ayat ini melukiskan gambaran deskriptif bagi realitas jamaah muslimah kala itu. Dan bagi realitas manusia terhadap ajakan untuk berinfak di setiap lingkungan. Maka ia menetapkan bahwa di antara mereka ada yang kikir. Dan makna hal ini adalah bahwa di sana ada orang-orang yang tidak kikir dengan sesuatu pun. Dan sungguh ini adalah realitas yang nyata, yang dicatat oleh riwayat-riwayat yang banyak lagi jujur, dan dicatat oleh Al-Qur'an di tempat-tempat yang lain. Dan sungguh Islam telah mewujudkan di dalam bidang ini permisalan-permisalan yang dihitung sebagai mukjizat permisalan di dalam pengorbanan dan pemberian atas dasar keridaan dan kegembiraan dengan pengorbanan dan pemberian tersebut. Akan tetapi hal ini tidak menghalangi adanya orang yang kikir dengan harta. Dan barangkali kedermawanan dengan jiwa lebih murah bagi sebagian mereka daripada kedermawanan dengan harta!

Dan Al-Qur'an mengobati kekikiran ini di dalam ayat ini:

"...Siapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri..." (QS. Muhammad: 38)

Maka apa yang dikorbankan oleh manusia tidak lain adalah simpanan bagi mereka yang disimpan, yang mereka temukan pada hari di saat mereka membutuhkan simpanan tersebut, yaitu pada hari mereka dihimpun dalam keadaan telanjang dari segala apa yang mereka miliki. Maka mereka tidak menemukan kecuali simpanan yang disimpan tersebut. Maka apabila mereka kikir dengan pengorbanan, sesungguhnya mereka hanyalah kikir atas diri mereka sendiri; dan hanyalah mengurangi dari simpanan mereka; dan hanyalah menyayangkan harta bagi diri dan sosok mereka; serta hanyalah mengharamkannya dengan tangan mereka sendiri!

Benar. Maka Allah tidak meminta kepada mereka pengorbanan, kecuali Dia menginginkan bagi mereka kebaikan, menginginkan bagi mereka kelimpahan, dan menginginkan bagi mereka harta karun serta simpanan. Dan tidak ada sesuatu pun yang sampai kepada-Nya dari apa yang mereka korbankan, dan Dia tidaklah membutuhkan apa yang mereka nafkahkan:

"...Allah-lah Yang Mahakaya, sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan..." (QS. Muhammad: 38)

Maka Dialah yang memberikan kepada kalian harta-harta kalian, dan Dialah yang menyimpan bagi kalian di sisi-Nya apa yang kalian nafkahkan darinya. Dan Dialah Yang Maha Kaya dari apa yang Dia berikan kepada kalian di dunia, Yang Maha Kaya dari simpanan-simpanan kalian yang disimpan di akhirat. Sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan di kedua negeri (dunia dan akhirat) dan dalam kedua kondisi. Kalian adalah orang-orang yang membutuhkan kepada rezeki-Nya di dunia, maka tidak ada bagi kalian kemampuan atas sesuatu pun dari rezeki kecuali jika Dia menganugerahkannya kepada kalian. Dan kalian adalah orang-orang yang membutuhkan kepada pahala-Nya di akhirat, maka Dialah yang memberikan keutamaan dengannya atas kalian, sedangkan kalian tidaklah dapat memenuhi sesuatu pun dari apa yang wajib atas kalian, terlebih lagi untuk menyisakan sesuatu bagi kalian di akhirat, kecuali jika Dia memberikan keutamaan atas kalian.

Maka atas dasar apa kekikiran itu jika demikian dan atas dasar apa kesempitan itu? Padahal segala apa yang ada di tangan kalian, dan segala apa yang kalian peroleh berupa pahala atas apa yang kalian nafkahkan adalah berasal dari sisi Allah, dan dari keutamaan Allah?

Kemudian kalimat terakhir yang merupakan pemutus perkataan...

Sesungguhnya pilihan Allah bagi kalian untuk memikul dakwah-Nya adalah bentuk pemuliaan, anugerah, dan pemberian. Maka apabila kalian tidak berusaha untuk menjadi orang yang layak bagi keutamaan ini, dan apabila kalian tidak bangkit memikul beban-beban kedudukan ini, dan apabila kalian tidak menyadari nilai dari apa yang kalian berikan sehingga menjadi mudahlah bagi kalian segala apa yang selainnya... sesungguhnya Allah akan mengambil kembali apa yang Dia anugerahkan, dan memilih selain kalian untuk anugerah ini dari kalangan mereka yang menghargai keutamaan Allah:

"...Jika kamu berpaling (dari jalan-Nya), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu." (QS. Muhammad: 38)

Dan sesungguhnya ia adalah ancaman yang sangat menakutkan bagi siapa saja yang telah merasakan manisnya iman, dan merasakan kemuliaannya di sisi Allah, serta kedudukannya di alam semesta ini dalam keadaan dia memikul rahasia ketuhanan yang agung ini. Dan berjalan di bumi dengan kekuasaan Allah di dalam hatinya; dan cahaya Allah di dalam eksistensinya; serta pergi dan datang dalam keadaan dia memakai lencana tuannya...

Dan tidaklah sanggup menjalani kehidupan dan tidak pula merasakannya seorang manusia yang telah mengetahui hakikat iman dan hidup dengannya kemudian ia dicabut darinya, dan ia diusir dari perlindungan, serta ditutup pintu-pintu di hadapannya. Tidak, bahkan sesungguhnya kehidupan akan berubah menjadi neraka yang tidak tertahankan bagi siapa saja yang tersambung dengan Tuhannya kemudian ditutup hijab di hadapannya.

Sesungguhnya iman adalah anugerah yang sangat besar, tidak ada yang menandinginya di dalam wujud ini sesuatu pun; dan kehidupan adalah murah, dan harta adalah sangat-sangat tidak berharga, ketika iman diletakkan di satu daun timbangan, dan diletakkan di daun timbangan yang lain segala apa yang selainnya...

Dan oleh karena itu, peringatan ini adalah hal yang paling mengerikan yang dihadapi oleh orang yang beriman, di saat dia menerimanya dari Allah...

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat