Hazihi Sabili (Inilah Jalanku)
Allah swt menerangkan dengan jelas perjalanan Nabi Yusuf dalam berda’wah di tengah keterasingan keluarga dan sanak saudara yang membuangnya, nabi Yusuf as tiada henti melakukan manuver-manuver da’wah di setiap ruang dan waktu, sejak difitnah oleh isteri pejabat, masuk ke dalam penjara, dan kedudukan penting yang dijabatnya
Firman
Allah :
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى
اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ
اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٠٨
Artinya:
Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Yusuf: 108)
Seruan
ini terdapat dalam surah Yusuf ayat 108, termasuk dalam golongan surah
Makkiyah. Pesan ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw yang merasa berada
dalam kesendirian karena ditinggalkan oleh du bemper da’wahnya yaitu Abu Thalib
pamannya dan Khaijah, isterinya.
Allah
swt menerangkan dengan jelas perjalanan Nabi Yusuf dalam berda’wah di tengah
keterasingan keluarga dan sanak saudara yang membuangnya, nabi Yusuf as tiada
henti melakukan manuver-manuver da’wah di setiap ruang dan waktu, sejak
difitnah oleh isteri pejabat, masuk ke dalam penjara, dan kedudukan penting
yang dijabatnya. Kesemuanya memberikan alur da’wah yang istiqamah dalam satu
manhaj rabbani yang tidak pernah bergeser sejengkalpun.
Setelah
pemaparan itu Allah swt menjelaskan dengan tegas jalur da’wah yang harus
dilalui oleh setiap pembawa dan penerus jejak risalah.
Kalimat
pembuka ayat dinyatakan dengan Qul (katakanlah). Kalimat ini dengan
tagas menjelaskan bahwa tugas da’wah adalah tugas dari Allah. Para da’i adalah
orang yang telah menempatkan dirinya dalam jajaran pesuruh Allah. Konsep kerja
yang dilakukan adalah konsep kerja yang datangnya dari Allah. Inovasi seorang
da’i dalam aktifitas da’wahnya tidak boleh keluar dari frame yang telah Allah
buat.
Hadzihi
Sabili (Inilah Jalanku) inilah kata pemisah yang sangat tegas dan jelas.
Jalan yang ditempuh Rasulullah dalam berda’wah sebagai garis batas antara iman
dan kufur, jalan pemisah antara Tauhid dan Syirk, jalur pemisah antara Islam
dan jahiliyah, dan ketetapan hukum yang membedakan antara Al Haq dan Al Bathil.
Inilah
posisi seorang da’i yang harus jelas dalam bersikap. Tampil beda dengan
keyakinan tinggi, terpisah dari komunitas yang berbeda dengan dirinya. Seorang
dai tidak cukup hanya menyerukan kebaikan, sementara kehidupannya tidak
menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan komunitas jahiliyah yang dia
tentang. Konfrontasi dengan jahiliyah sejak subuh hari da’wah dikumandangkan
telah terjadi dan akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Karena antara
Islam dan jahiliyah adalah dua kutub magnet yang selamanya tidak akan pernah
bertemu. Ketidak jelasan sikap seorang dai terhadap nilai-nilai dan sistem yang
ada di luar Islam akan sangat mengganngu orsinalitas risalah yang disampaikan
dalam berda’wah.
Keyakinan
dan keteguhan inilah yang akan membentuk sikap seorang dai sebagai penyeru
kepada Dinullah. Ad’u ilallah (Aku Menyeru kepada Allah).
Kata
“da’wah” dan sejenisnya dalam Al Qur’an selalu dikaitkan dengan Allah. Ada tiga
hal penting dalam redaksi ini, yaitu :
Pertama,
untuk mempertegas bahwa aktifitas da’wah adalah mengajak dan mengantarkan umat
manusia mengenal dan mematuhi Allah, bukan untuk mengenal dan mematuhi da’inya.
Kedua,
yang harus ditinggikan, dibesarkan dan dilindungi dalam da’wah adalah Dinullah
(agama Allah), bukan kepentingan dai dan sejenisnya.
Ketiga,
untuk menunjukkan bahwa jalan da’wah yang dilalui oleh para dai adalah jalan
hidup yang datangnya dari Allah, bukan buatan manusia.
Jalan
Allah yang ditempuh para dai itu adalah Ash Shirat al Mustaqim (jalan lurus)
yang mengantarkan manusia kepada subulas-salam (jalan kebahagiaan) hakiki di
dunia dan di akhirat.
Dengan
penegasan ini da’wah adalah tawaran obyektif dari para dai kepada umat manusia.
Tidak ada kepentingan pribadi da’i di dalamnya. Penerimaan dan penolakan obyek
da’wah bergantung kepada seberapa besar kesadaran obyek da’wah itu dalam
menyerap kebenaran Dinullah. Dengan demikian keberhasilan dalam da’wah tidak
membuat dai merasa bangga diri, dan kegagalan dalam da’wah tidak membuat dao
menjadi frustasi.
Jalan
panjang seperti yang diserukan pada ayat di atas difahami oleh Asysyahid Hasan
Al Bana sebagai jalan yang sangat panjang dan berliku, serta tidak pilihan lain
selain jalan ini, yang dapat ditempuh untuk membangun kejayaan umat.
Perhatikanlah perjalanan da’wah Nabi Nuh as, ia berda’wah siang dan malam tanpa
pernah bosan, meskipun kaumnya tetap sombong dan memusuhinya. Nabi Ibrahim
dalam berda’wah harus berkonfrontasi dengan ayah dan kaumnya. Liku-liku
da’wahnya terasa sangat melelahkan dengan berbagai dinamika yang memerlukan
daya tahan prima. Tetapi nabi Ibrahim as menyadari bahwa tidak ada jalan lain
kecuali sabilullah (jalan Allah) maka Ibrahim tetap istiqomah di jalan da’wah
itu meskipun tantangan kuat menghadang. Rasulullah saw dalam da’wahnya selama
di Makkah membuktikan dengan jelas bahwa rute perjalanan da’wah adalah rute
perjalanan yang telah Allah gariskan. Tawaran-tawaran yang diajukan kaum kafir
Quraisy untuk mencoba mengalihkan da’wah Nabi Muhammad tidak dapat sedikitpun
mempengaruhi jalan da’wahnya. Rasulullah menyadari betul bahwa yang berhak
menentukan arah perjalan da’wah hanyalah Allah swt, bukan dirinya atau
permintaan kaum yang terus menerus menentangnya.
Dakwah
menuju jalan Allah ini merupakan tugas para rasul dan seluruh pengikutnya, ana
wa manittaba’ani ( aku dan orang-orang yang mengikutiku) dengan tujuan
untuk mengeluarkan umat manusia dari zhulumat (kegelapan kufur) menuju kepada
nur (cahaya Islam). Karakter dasar orang beriman adalah da’i, penyeru kebaikan
untuk diri sendiri dan orang-orang yang berada dalam otoritasnya. Tidak ada
satupun dari umat Islam ini yang dapat berlepas diri dari tugas dan tanggung
jawab da’wah. Firman Allah:
Artinya:
Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. QS. 3:110
Sabda
Nabi :
Artinya:
Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan bertanggung jawab atas
kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin di ruamh suaminya dan ia
bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang khadim (pelayan) adalah
pemimpin bagi harta tuannya dan ia akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
Hadits Muttafaq alaih.
Seorang
da’i dalam aktifitas da’wahnya selalu berdasar kepada pengetuhan dan keyakinan
yang benar, ‘ala bashirah. Da’wah Islam adalah da’wah ilmiyah, selalu
berlandaskan kepada hujjah yang nyata tidak cukup dengan zhan (asumsi) atau
dugaa-dugaan pragmatis. Al Qur’an menantang orang-orang yang memiliki pemahaman
yang tidak sesuai dengan kebenaran atau kenyataan dengan mengatakan:
… قُلْ هَاتُوْا
بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١١١
Artinya:
Katakan : Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar. (QS.
2: 111)
Tradisi
da’wah Islam adalah tradisi ilmiah, bukan tradisi taqlid (mengekor). Al Qur’an
sering mengidentikkan budaya taqlid dengan sikap kaum kafir yang jauh dari
hidayah dan kebenaran. Firman Allah:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ
اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ
كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ ١٧٠
Artinya:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”
mereka menjawab:”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami
dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. “(Apakah mereka akan mengikuti juga)
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak
mendapat petunjuk. (QS. 2: 170)
Dari
itulah diperlukan kesiapan ilmiah yang cukup bagi setiap dai dalam aktifitas
da’wahnya. Dengan demikian maka da’wah Islam akan mencerahkan kehidupan umat
dengan ilmu pengatahuan. Da’wah Islam akan mengangkat peradaban umat umat
menjadi umat madani dengan karakter ilmiah, membaca, mengkaji dan memahami
persoalan dengan berlandaskan kepada sumber-sumber ilmiyah yang kuat dan valid.
Orang-orang
yang menjadi pengikut da’wah ini akan merasakan kekaguman karena menemukan
izzah (kehormatan) diri. Kekaguman itu mereka nyatakan dalam ungkapan
subhanallah (maha suci Allah). Sisi lain yang tertangkap dari kalimat ini
adalah nuansa kesadaran penuh, terjauh dari kelalaian. Hal ini terlihat dari
penggunaan kalimat tasbih ini untuk mengingatkan orang lain yang dianggap lupa
atau salah.
Kesadaran
diri dengan izzah Islam ini membentuk pribadi kuat yang mampu menyatakan jati
dirinya di tengah komunitas lain yang melingkupinya. Aqidah yang benar
mendorongnya untuk berseru wama ana minal musyrikin ( dan aku tidaklah termasuk
orang-orang yang musyrik). Pernyataan seperti ini tidak akan pernah keluar dari
seorang pengecut. Menyatakan identitas diri di tengah komunitas yang berbeda
hanya bisa dilakukan oleh orang yang bernyali kuat.
Demikianlah
da’wah Islam memproduksi orang-orang berkepribadian tangguh yang memiliki
identitas jelas, berpengetahuan luas, bertanggung jawab dan produktif dalam
menebarkan kebaikan di tengah-tengah umatnya.
Mustafa
Masyhur menjelaskan bahwa “ jalan da’wah adalah jalan yang satu. Di atas jalan
inilah Rasulullah saw dan para sahabatnya berjalan. Demikian juga kita, para
pendukung da’wah berjalan dengan taufiq (pertolongan) Allah swt. Kita dan
mereka berjalan berbekal iman, amal, mahabbah (kasih sayang), dan ukhuwah
(persaudaraan).
Aktifitas
da’wah adalah aktifitas terorganisir untuk mencapai tujuan mulia. Ayat di atas
menggambarkan bentuk organisasi primer dalam da’wah ini. Organisasi da’wah akan
efektif jika memiliki tiga kaki pijakan ini, yaitu :
Pemimpin
yang ikhlas (ana)
Rasulullah
saw menyeru mereka kepada iman dan amal, kemudian menyatu-padukankan hati
mereka di atas dasar cinta dan ukhuwah. Berpadulah kekuatan iman dan kekuatan
aqidah dengan persatuan. Maka jadilah jamaah Nabi ini menjadi jamaah contoh
teladan. Seruannya satu yaitu : seruan tauhid “La ilaha Illallah, Muhammad
rasulullah”.
Rasulullah
saw menyadari betul perlunya pemimpin yang berkualitas untuk memimpin jamaah
kaum muslimin. Hal ini dapat kita lihat dari usaha Nabi mengkader
sahabat-sahabat tertentu untuk menjadi calon pengganti dirinya di kemudian
hari. Kedekatan hubungan yang Rasulullah bangun dengan Abu Bakar, Umar, Utsman
dan Ali, tidak hanya hubungan persahabatan, atau kekeluargaan semata. Tetapi
lebih jauh dari itu, Rasulullah sering memberikan kesempatan kepada mereka
untuk berlatih dan mempersiapkan diri memimpin umat, jika suatu saat Rasulullah
kembali ke hadirat Allah. Pendelegasian dan sariyah (ekspedisi pasukan) menjadi
salah satu bukti perhatian Rasulullah pada masalah kaderisasi pemimpin umat
ini.
Kepemimpinan
dalam organisasi adalah syarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi. Kualitas
pemimpin dalam sebuah jamaah akan sangat mempengaruhi perjalanan sebuag jamaah.
Di sisi lain munculnya seorang pemimpin dalam sebuah jamaah adalah representasi
kualitas jamaah itu sendiri. Ali bin Abi Thalib ketika menjadi khlaifah pernah
ditanya oleh salah seorang rakyatnya. Mengapa di zaman Abu Bakar menjadi
khalifah, dalam waktu singkat ia mampu menyelesaikan permasalahan negara yang
sedang sangat terancam, dan di masa tuan permasalahan yang jauh lebih kecil
dari masalah Abu Bakar, menjadi berlarut-larut tidak terselesaikan? Ali
menjawab: “ Abu Bakar dapat dengan cepat menyelesaikan problem yang sangat
besar karena rakyatnya seperti aku, dan aku tidak bisa dengan cepat
menyelesaikan problem yang tidak begitu besar karena rakyatnya seperti kamu”.
Pendukung
yang beriman/jama’ah ( wamanittaba’ani)
Perjalanan
sebuah jamaah dalam melintasi sejarah sangat ditentukan oleh kualitas pendukung
yang menjadi pembelanya, penegak perannya, menjaga ashalahnya (keasliannya) dan
pelindungnya dari pengaruh-pengaruh lainnya. Organisasi yang kuat selalu
didukung oleh para pengikut yang berkualitas, loyal, solid dan bertanggung
jawab penuh.
Allah
swt mendorong umat ini untuk bersatu dan mengorgnaisir diri di bawah bendera
Allah. Firman Allah:
Artinya:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai…. (QS. 3:103)
Al
Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah ibnul Yaman, berkata: Orang-bertanya kepada
Rasulullah tentang kebajikan, dan saya menanyakannya tentang keburukan karena
khawatir jika kami menemuinya…lalu saya bertanya: Apa yang engkau perintahkan
kepadaku jika aku menemuinya? Jawab Nabi: Kamu tetap dalam Jama’ah kaum
Muslimin dan imamnya.
At
Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Tangan Allah bersama dengan jama’ah”.
Umar
bin Khaththab berkata:
“Sesungguhnya
Islam tidak akan tegak tanpa jama’ah, dan tidak ada jama’ah tanpa imarah
(pemimpin) dan tidak ada kepemimpinan tanpa taat (loyalitas)”.
Nabi
Isa as pernah menguji loyalitas pengikutnya dengan mengatakan :
۞ فَلَمَّآ اَحَسَّ عِيْسٰى مِنْهُمُ الْكُفْرَ
قَالَ مَنْ اَنْصَارِيْٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ قَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ اَنْصَارُ
اللّٰهِ ۚ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ ۚ وَاشْهَدْ بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ٥٢ رَبَّنَآ اٰمَنَّا
بِمَآ اَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ ٥٣
“Siapakah
yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para
hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: Kamilah penolong-penolong (agama)
Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada
apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu
masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang
keesaan Allah). (QS. 3:52-53)
Dari
ayat di atas dapat ditarik ciri-ciri pendukung da’wah yang baik adalah :
·
Beriman kepada Allah
·
Berserah diri kepada Allah
·
Beriman kepada kitab Allah
·
Beriman kepada rasulullah
·
Telah menunjukkan jati
dirinya
·
Pernyataan kesediaan untuk
menjadi pendukung da’wah.
Manhaj
yang benar. (‘ala bashirah)
Manhaj
yang benar akan menjadi pemandu da’i dalam aktifitas da’wahnya mencapai
cita-cita da’wah yang agung. Hal hal penting yang harus diketahui oleh setiap
da’i dalam memahami manhaj ini adalah:
Memahami
ghoyah (tujuan utama) da’wah ini, yaitu menjadikan Allah swt sebagai puncak
semua tujuan aktifitas da’wah. Sehingga produk dari proses da’wah adalah
masyarakat Rabbani yang selalu berorientasi kepada Allah.
Memahami
amaliah (proses) berda’wah dalam mengantarkan umat manusia agar keluar dari
zhulumat jahiliyah menuju kepada cahaya Islam. Mulai dari pencerahan ilmiah,
pembentukan kesadaran, hingga menjadi aktifitas muslim yang berangkat dari
pemahaman yang benar dan kesadaran penuh. Proses ini dilakukan terus menerus
tanpa pernah berhenti madal-hayah (sepanjang hidup).
Memahami
marhalah (fase) da’wah. Ada tiga marhalah penting dalam da’wah, yaitu: a).
marhalah pembentukan opini dan pencerahan publik, dengan menyebarkan
pemikiran-pemikiran yang mencerahkan kepada seluruh lapisan masyarakat, b).
marhalah kaderisasi dan pemilihan bibit-bibit berkualitas untuk dipersiapkan
menjadi junud (prajurit) da’wah, c). marhalah tanfidz (aksi), yaitu amal
produktif dari pemikiran yang telah difahami.
Memahami
materi da’wah. Materi terpenting dalam da’wah adalah: a). penanaman iman yang
kuat/dalam, b). pembentukan kepribadian yang utuh dan detail.
Dengan
demikian ashalah da’wah dan produktifitas da’wah akan dapat diharapkan berbuah
dengan baik dan sempurna.
Orang-orang
yang mengikuti jalan dakwah ini senantiasa mensucikan Allah ‘Subhanallah’ dan
dengan tegas menyatakan dengan sikap dan I’tiqad yang sungguh-sungguh bahwa
mereka bukanlah orang-orang yang mensekutukanNya (‘dan aku tidaklah termasuk
orang yang musyrik’).
Wallahu
a’lam.
Sumber: KeadilanOnline, 30 Juni 2002
Comments
Post a Comment